Baca PDF (OCR): Belajar Bersama Ganesha

119 halaman · 21 halaman diproses dengan OCR· 14218 ms

Daftar isi
  1. Seri 1
  2. BELAJAR BERSAMA GANESHA: PRASASTI
  3. Halo! Perkenalkan saya Ganesha. Kali ini saya akan
  4. menemani kalian untuk mengenai prasasti yang merupakan warisan
  5. budaya Indonesia. Yuk, belajar bersama, Ganesha!
  6. BELAJAR BERSAMA GANESHA: PRASASTI
  7. S AMB U TA N
  8. Fitra Arda
  9. KATA PENGANTAR
  10. DAFTAR ISI
  11. SAMBUTAN..........................................................................ii KATA PENGANTAR..........................................................iii
  12. Belajar Bersama Ganesha: Prasasti
  13. AKHIR MASA
  14. 01PRASEJARAH
  15. Ppresiden, menteri, atau gubernur, ketika hanya dilakukan pada masa sekarang.
  16. Pr a s a s t i Yup a
  17. Syang pernah ditemukan di Indonesia
  18. AKSARA, BAHASA, DAN
  19. 02PERTANGGALAN
  20. Stentu saja aksara dan bahasa yang digunakan
  21. 叮 5 5S
  22. 535 知
  23. 5 S 25
  24. orS SSO SS
  25. S 5 m
  26. J L E 刀
  27. 0 777
  28. b5 U E1 5
  29. Dua Bahasakebudayaan.kemdikbud.go.id)
  30. s l am
  31. Pr a s a s t i Ma s a I
  32. Belajar Bersama Ganesha: Prasasti
  33. BFGR
  34. STCEI
  35. MH0EEN
  36. N i s a n Be l a nd a
  37. Ca nd r a s a n gk a l a
  38. Me n amb a h 7 8
  39. Belajar Bersama Ganesha: Prasasti
  40. JENIS PRASASTI
  41. Pr a s a s t i Bat u
  42. JENIS PRASASTI
  43. Pr a s a s t i L o g am
  44. Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia
  45. UDAUgE
  46. OnUSASGENSnSUSOの SY
  47. SDSIMSELGDEUOADLAFISIES
  48. SUNEUUTEESUSUBEO
  49. CEUN
  50. GULEENEASSSASENUSATNS
  51. JESESESSIEIS(AOLOLUL
  52. Belajar Bersama Ganesha: Prasasti
  53. BENTUK PRASASTI
  54. D batu yang memiliki berbagai variasi bentuk.
  55. Polos d an Berhiasan
  56. ISI PRASASTI
  57. Beragam I nform asi
  58. Kep utusan P ilan hingga Kutuk an
  59. S o s i a l Po l i t ik
  60. U p ac ara Kasod o
  61. Pertunjuk an Way ang
  62. Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia
  63. Belajar Bersama Ganesha: Prasasti
  64. Pe ny e l e w e n g a n Pa j ak
  65. H a r i Ke l a h i r a n
  66. MEMBACA PRASASTI
  67. Adialihaksarakan ke dalam aksara
  68. Pr a s a s t i G a j a h Mad a
  69. A bk
  70. l at s
  71. F ak s im i l e
  72. F o t o g r a f i
  73. PEMBERIAN NAMA
  74. 07PRASASTI
  75. Smemiliki nama. Penamaan prasasti dilakukan oleh para
  76. Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia
  77. D124
  78. n gk a ata u u r u f
  79. Belajar Bersama Ganesha: Prasasti
  80. S e l e r a Pe n e l i t i
  81. dengan Candi Sewu.
  82. Belajar Bersama Ganesha: Prasasti
  83. Ku t uk a n
  84. I rasasti
  85. Daftar si P
  86. S M S Zam a n Du l u
  87. PRASASTI SUMBER
  88. TERPENTING
  89. Kr o n o l o g i s
  90. Pe ny u s u n a n Buk u
  91. Pec a h a n u s
  92. Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia
  93. Disengaja
  94. Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia
  95. Va nd a l i sm e
  96. KENDALA PENELITIAN
  97. 09 PRASASTI
  98. K adalah memahami prasasti itu. Banyak langkah yang harus
  99. Prasasti
  100. Pa l e o g r a f i
  101. e n a f s i rk I
  102. M a n s i Pr a s a s t i
  103. Kr i t ik e r
  104. P e r b a n d i n g a n
  105. S umb e r S e j a r a h
  106. S umb
  107. Belajar Bersama Ganesha: Prasasti
  108. Contract
  109. Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia94
  110. MENARIK PERHATIAN
  111. BARAT
  112. S a r j a n a Ba r at
  113. a l i n g Me n g i s i
  114. T erjem ahan d an Kup asan
  115. Pe rk emb a n g a n Ba r u
  116. Pr a s a s t i Ba l i
  117. Da r i Beb e r ap a N e g a r a
  118. Mem i n ta Kemb a l i
  119. PERINTIS EPIGRAFI
  120. INDONESIA
  121. Osebagai perintis epigrafi adalah Poerbatjaraka.
  122. Ma s i h Mi n im
  123. Ma s i h L a n gk a
  124. S i n a u A k s a r a
  125. Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia
  126. NCIATER
  127. 0.78
  128. DAFTAR PUSTAKA

Seri 1

BELAJAR BERSAMA GANESHA: PRASASTI

Halo! Perkenalkan saya Ganesha. Kali ini saya akan

menemani kalian untuk mengenai prasasti yang merupakan warisan

budaya Indonesia. Yuk, belajar bersama, Ganesha!

i Belajar Bersama Ganesha: Prasasti

BELAJAR BERSAMA GANESHA: PRASASTI

Penanggung Jawab: Dhanu Wibowo

Penulis: Djulianto Susantio Berthold D. H. Sinaulan

Penyunting: Diazeva Fathia

Desain dan Perwajahan: Muhammad Utsman Muhamad Rizal Salam

Cetakan Pertama, 2018 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

ISBN: Diterbitkan oleh Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia bekerja sama dengan Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia.

Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia ii

S AMB U TA N

Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman

Indonesia kaya akan tinggalan masa lalu, salah satunya berupa prasasti. Kehadiran prasasti menandai akhir masa prasejarah. Parasasti dijumpai di berbagai daerah di Indonesia dalam berbagai bentuk, bahasa dan aksara. Bukan saja dari masa kerajaan bercorak Hindu Buddha, tapi juga dari periode Islam dan Kolonial.

Sebagai tinggalan masa lalu yang tersebar di berbagai wilayah, prasasti banyak terlantar. Apalagi prasasti batu yang beratnya berton-ton. Saat ini banyak prasasti masih berada di tengah sawah, terjepit di antara pohon, diletakkan di dekat kandang ternak, bahkan dicoret-coret hingga dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Selama bertahun-tahun prasasti kurang mendapat perhatian masyarakat. Mungkin karena aksara dan bahasanya sulit dimengerti. Hanya orang-orang tertentu yang tetap berminat

pada beberapa instansi seperti perguruan tinggi, museum, dan lembaga ilmiah lain.

Di luar itu mulai tumbuh beberapa komunitas yang berupaya melestarikan kebudayaan masa lalu lewat aktivitas yang mereka lakukan. Upaya mereka seperti menyelenggarakan sinau aksara atau pembelajaran Jawa Kuno patut diapresiasi.

Saya menyambut baik upaya yang dilakukan Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia (KPBMI) dalam menyelenggarakan Sinau Aksara dan Bedah Prasasti di Jakarta. Bahkan untuk mendukung kegiatan tersebut diterbitkan buku prasasti ini. Buku ini tidak ditujukan untuk kalangan ilmuwan, dalam arti bukan bersifat referensi, meskipun lebih ditujukan untuk kalangan awam dan bersifat informasi. Kehadiran buku yang disusun oleh KPBMI sangatlah membanggakan.

Saya memberikan penghargaan setinggi-tingginya untuk kerja keras dan semangat komunitas yang telah berkontribusi menerbitkan buku ini. Semoga buku ini memberikan manfaat bagi segala lapisan masyarakat dan menjadikan tantangan buat komunitas untuk menghasilkan karya nyata lainnya.

Fitra Arda

iii Belajar Bersama Ganesha: Prasasti

KATA PENGANTAR

Sejak tahun 2017, Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia (KPBMI) mengadakan Sinau Aksara dan Bedah Prasasti yang bekerja sama dengan Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, serta Museum Nasional Indonesia. Ternyata peminat kegiatan ini di luar dugaan kami. Rencana semula, kami batasi hanya 40 peserta dikarenakan terbatasnya jumlah ahli aksara atau epigraf sebagai pengajar dalam kegiatan ini. Namun dengan memperhatikan animo masyarakat, pada setiap sesi kegiatannya berkembang menjadi 70 peserta. Mereka berasal dari berbagai kalangan, seperti pelajar, mahasiswa, guru, karyawan, dan pemerhati. KPBMI merencanakan Sinau Aksara dan Bedah Prasasti menjadi acara rutin setiap dua bulan sekali—atau bahkan sebulan sekali. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk menyebarkan sekaligus melestarikan budaya nenek moyang dan kearifan lokal Indonesia. Oleh karena itu, masyarakat perlu dibekali buku pegangan yang ditulis secara populer. Maka kami terpikir membuat buku ini sebagai panduan praktis bagi peminat prasasti dan aksara kuna. Buku ini merupakan bacaan ringan yang memuat berbagai informasi umum tentang prasasti dan aksara kuna. Kami menyadari buku ini belum sempurna. Untuk itu kami memerlukan masukan dari para pembaca. Selamat menambah wawasan dari buku ini. Semoga menambah kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya Indonesia. Salam Sepurmudaya: Sejarah, Purbakala, Museum, Budaya.

Jakarta, September 2018 Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia (KPBMI)

Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia iv

DAFTAR ISI

SAMBUTAN..........................................................................ii KATA PENGANTAR..........................................................iii

01 AKHIR MASA PRASEJARAH ............................................2 02 AKSARA, BAHASA, DAN PERTANGGALAN................5
03 JENIS PRASASTI..............................................................19 04BENTUK PRASASTI........................................................30
05ISI PRASASTI....................................................................35 06 MEMBACA PRASASTI.....................................................47
07 PEMBERIAN NAMA PRASASTI.....................................55 08 PRASASTI SUMBER TERPENTING...............................71
09 KENDALA PENELITIAN PRASASTI.............................83 10 MENARIK PERHATIAN BARAT.....................................95
11 PERINTIS EPIGRAFI INDONESIA..............................105
DAFTAR PUSTAKA........................................................111

Belajar Bersama Ganesha: Prasasti

Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia

AKHIR MASA

01PRASEJARAH

Gambar 1 - Prasasti peresmian Museum Basoeki Abdullah (Dok. Djulianto Susantio)

erhatikan para pejabat negara, semisal Ternyata, kegiatan seperti itu bukan

Ppresiden, menteri, atau gubernur, ketika hanya dilakukan pada masa sekarang.

meresmikan proyek-proyek pembangunan. Berabad-abad yang lampau pun kegiatan Mereka sering kali membubuhkan tanda “penandatanganan” prasasti sudah tangan pada sebuah batu atau marmer. dilakukan pejabat-pejabat kerajaan pada Upacara peresmian memang seakan belum masa itu. Karena pada masa itu belum sah apabila pejabat belum membubuhkan dikenal alat tulis, maka nama raja atau tanda tangan pada batu yang disediakan. pejabat tersebut ditorehkan di atas batu. Kegiatan pejabat negara seperti itu lazim Yang melakukannya adalah penulis disebut upacara penandatanganan prasasti. prasasti atau bahasa kerennya citraleka.

Belajar Bersama Ganesha: Prasasti

Penemuan prasasti tertua pada sejumlah situs arkeologi menjadi pertanda berakhirnya masa prasejarah atau praaksara. Masa prasejarah merupakan babakan dalam sejarah kuno Indonesia. Pada masa itu masyarakat belum mengenal tradisi tulisan.

Kata prasasti sendiri berasal dari bahasa Sanskerta. Arti sebenarnya adalah pujian. Namun kemudian diangggap sebagai “piagam, maklumat, surat keputusan, undang- undang, dan tulisan”. Prasasti didefinisikan sebagai artefak berupa huruf-huruf, kata-kata atau tanda-tanda konvensional yang dipahatkan pada bahan-bahan yang tidak mudah rusak dimakan usia, contohnya batu, logam, tanah liat bakar, dan bahan keras lain.

Di kalangan ilmuwan, prasasti bertulisan cukup panjang, sementara prasasti yang bertulisan pendek—biasanya hanya beberapa aksara—dikenal dengan nama inskripsi. Masyarakat awam sering kali menyebut prasasti, baik dengan tulisan panjang maupun pendek, sebagai batu bertulis atau batu bersurat.

Pr a s a s t i Yup a

ampai kini prasasti tertua Indonesia

Syang pernah ditemukan di Indonesia

teridentifikasi bertarikh abad ke-5 M. Prasasti tersebut berupa sebuah tugu atau monumen batu yang dibuat oleh kaum Brahmana guna mengenang kemuliaan Raja Mulawarman. Bentuk prasasti seperti itu lazim disebut yupa. Beberapa yupa diketahui berasal dari Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur.

Periode terbanyak pengeluaran prasasti ter- jadi pada abad ke-8 hingga ke-14 M. Ketika itu yang berkuasa di Nusantara adalah kerajaan-kerajaan bercorak Hindu dan Buddha. Periode itu dikenal sebagai masa klasik. Beberapa kerajaan kuno yang dikenal dari masa itu antara lain Mataram Hindu, Sri- wijaya, Singhasari, dan Majapahit.

Gambar 2 - Duplikasi Prasasti Yupa D.2 (Dok. kemendikbud. go.id)

AKSARA, BAHASA, DAN

02PERTANGGALAN

esuai etnisitas atau pengaruh kebudayaan,

Stentu saja aksara dan bahasa yang digunakan

dalam prasasti amat beragam. Pada masa klasik, yang terbanyak adalah aksara Pallawa, Prenagari, Dewanagari, dan Jawa Kuno.

Sementara bahasa yang digunakan adalah Sanskerta, Jawa Kuno, Melayu Kuno, Sunda Kuno, dan Bali Kuno. Pada masa selanjutnya aksara-aksara ini berkembang menjadi Jawa Tengahan dan Jawa Baru.

Gambar 3 - Perkembangan Aksara Bali Kuno dan Sunda Kuno (Epigrafi dan Sejarah Nusantara, 1995)

Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia

Turuñan II BALI BALI Sanur Tambligan I BALI BALI Pejen 1 BALI Bwahan I Bwahan II BALI Bañu Rara BALI Air Tabar C BALI BALI Dharma Hañar BALI Banli III HyanPutih BALI BALI Her Abar II BALI Tamblinan III

G. Panulisan V
BALI SUNDA San Hyan Tapak SUNDA Tělaga Rěna SUNDA Jayagiri SUNDA Linga Warji SUNDA Kawali SUNDA Naskah

911 914

c.938 953 995 1026 1072 1115 1195 1204 1324 1384 1398 1430 1030 1333 1411
ma pa ra sa ta 5 5

叮 5 5S

E5 9 U T 刀 520

535 知

U 5 UT T J5 U 8 S 55 UT br U 丁 5 J B7 U 5 55 5 59 5 5 SS E5 UES

5 S 25

or U 5 心 25 DT E JJ U 5 STS 5s 5s

orS SSO SS

--

S 5 m

U の ひ 5 L a C E JJ

J L E 刀

1 9 -一 U S # C三

0 777

b5 U E1 5

c.abad XIV
c.abad XV abad XVI

Gambar 4 - Prasasti Kayumwungan atau Prasasti Karangtengah (Dok.

Dua Bahasakebudayaan.kemdikbud.go.id)

Uniknya, di negara kita pernah Prasasti ini ditemukan di Dusun ditemukan sejumlah prasasti yang Karangtengah, Kabupaten Temanggung, menggunakan dua bahasa. Mungkin Jawa Tengah, sehingga sering disebut ini karena di kerajaan tersebut Prasasti Karangtengah. Baris 1 hingga 24 bermukim dua komunitas besar. berbahasa Sanskerta. Baris selanjutnya Prasasti-prasasti dwibahasa itu antara berbahasa Jawa Kuno. lain Kayumwungan (824 M). Prasasti Kayumwungan terdiri atas lima buah Prasasti dwibahasa lain terdapat pada arca penggalan batu. Amoghapasa (1286 M) yang ditemukan di Sumatra Barat pada 1884. Prasasti itu menggunakan bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno.

Gambar 5 - Bagian Belakang Arca Amoghapasa yang Memuat Prasasti dalam Dua Bahasa (wikimedia.org)

Gambar 6 - Salah Satu Nisan Aceh di Kompleks Makam Kuno Leubok Tuwe dengan Tulisan Arab (https:// kebudayaan.kemdikbud.go.id)

s l am

Pr a s a s t i Ma s a I

Selain kerajaan Hindu dan Buddha, di negara kita juga pernah berkuasa kerajaan atau kesultanan Islam, seperti Samudra Pasai, Demak, Gresik, dan Cirebon. Prasasti dari periode Islam cukup banyak tersebar di Nusantara. Prasasti dari masa itu berusia lebih muda daripada prasasti-prasasti dari periode Hindu-Buddha.

Pada masa Islam digunakan aksara serta bahasa Tamil (India) dan Arab. Prasasti-prasasti dari masa itu umumnya berupa tulisan pada batu nisan yang memuat keterangan tentang nama, tanggal wafat seseorang, kutipan ayat suci Al-Qur’an, serta berkenaan dengan pendirian masjid, kraton, dan gapura.

Pr a s a s t i Ma s a Ko l o n i a l

Prasasti-prasasti dari masa kolonial relatif lebih mudah dibaca karena beraksara Latin. Bahasa yang digunakan antara lain Portugis, Belanda, dan Inggris. Prasasti beraksara Latin umumnya dijumpai pada batu makam, tugu peringatan, gereja, rumah tinggal, benteng, dan pergudangan. Selain itu, ada pula prasasti-prasasti beraksara dan berbahasa Mandarin yang sebagian terbesar terdapat pada batu makam.

Gambar 7 - Padrao (Sumber: Dok. Museum Sejarah Jakarta)

Belajar Bersama Ganesha: Prasasti

SYN STEEH

BFGR

STCEI

MH0EEN

HE

N i s a n Be l a nd a

Pada bagian belakang Museum Dulu sebelum dimanfaatkan sebagai Wayang di Jakarta Kota terdapat Museum Wayang, di tempat itu sebuah taman kecil. Di dindingnya pernah berdiri sebuah gereja. Karena terpasang sejumlah prasasti berbahasa gempa bumi, gereja itu rusak Belanda untuk mengenang pejabat-berat. Pada 1937 gedung itu dibeli pejabat tinggi yang pernah dikuburkan Bataviaasch Genotschap dan diubah di sana. Salah seorang di antaranya menjadi Stedelijk Museum atau Gubernur Jenderal J.P. Coen. Museum Kota.

Namun karena makam Coen tidak diketahui lagi letaknya, maka dipasang prasasti kenangannya. Beberapa nisan itu dibawa dari pekuburan Tanah Abang pada akhir 1930-an. Sebagian lagi ditemukan di sini ketika dilakukan penggalian.

Gambar 8 - Nisan Belanda (Sumber: cagarbudaya.kemdikbud.go.id)

Gambar 10 - Prasasti Beraksara Mandarin Kuno dari Abad ke-17 (Dok. Djulianto Susantio)

Ca nd r a s a n gk a l a

Sebagian besar prasasti memiliki unsur Candrasangkala berbahasa Sunda Kuno angka tahun atau pertanggalan yang disebut itu menunjuk angka tahun 1455 Saka. candrasangkala. Candrasangkala adalah Jadi bukan 5541 Saka. Contoh lain adalah angka tahun yang dinyatakan dalam bentuk candrasangkala Prasasti Canggal berbunyi kalimat dengan kata-kata yang mempunyai sruti indrya rasa (sruti = 4, indrya = 5, dan nilai angka tertentu. Untuk memperoleh rasa = 6) yang menunjuk 654 S atau 732 angka tahun yang tepat, kata-kata itu M. Prasasti ini berbahasa Sanskerta. Di harus dibaca dari belakang. Contohnya Indonesia tarikh Saka sangat dominan candrasangkala dari Prasasti Batutulis selama berabad-abad. panca pandawa ngemban bhumi (panca = 5, pandawa = 5, ngemban = 4, dan bhumi = 1).

Gambar 10 - Prasasti Batutulis (http://referensi. data.kemdikbud.go.id)

Belajar Bersama Ganesha: Prasasti 15

Gambar 11-Prasasti Canggal (https://upload.wikimedia.org/ wikipedia/commons/8/81/Canggal_inscription.jpg)

Me n amb a h 7 8

T a h u n T a h u n S a n j ay a

Untuk mendapatkan tahun Masehi, kita Meskipun begitu ada beberapa prasasti harus menambahkan 78 tahun. Dengan yang menggunakan tarikh Sanjaya, demikian tahun 1455 S identik dengan misalnya Prasasti Taji Gunung, 1533 M. Kecuali bila sebuah prasasti Timbangan Wungkal, Tihang, dan Tulang dikeluarkan pada bulan Magha, bulan Er. Permulaan tahun Sanjaya adalah tahun Phalguna, atau tanggal 10 Suklapaksa 638 Saka. Artinya tahun 1 Sanjaya identik sampai 15 Kresnapaksa bulan Posya, dengan tahun 638 Saka. maka kita harus menambahkan 79 tahun.

Gambar 12 - Prasasti Timbangan Wungkal (https:// upload.wikimedia.org/ wikipedia/commons/0/0f/ TimbanganWungkal Inscription20180620142022. jpg)

Belajar Bersama Ganesha: Prasasti

Gambar 13 - Prasasti Taji Gunung (https://cagarbudaya. kemdikbud.go.id/public/objek/ newdetail/PO2017090700439/ prasasti-taji-gunung-no- inv-d-6)

JENIS PRASASTI

03

Pr a s a s t i Bat u

Budaya tulis sudah dikenal sejak lama. Ketika itu sarana menulis bukan menggunakan tinta dan kertas, melainkan dengan menggunakan batu dan pahat. Batu merupakan bahan yang mudah didapat sekaligus tahan lama, contohnya andesit, batu kapur dan basalt. Di kalangan arkeologi, prasasti batu disebut Upala prasasti.

JENIS PRASASTI

Gambar 14 - Prasasti Mulavarmman 02 (Koleksi Museum Nasional)

Pr a s a s t i L o g am

Di luar batu, bahan yang tak kalah awetnya adalah logam. Prasasti berbahan tembaga atau perunggu disebut Tamra prasasti. Selain itu ada ripta prasasti, yakni prasasti yang ditulis di atas lontar atau daun tal. Prasasti logam dan lontar relatif banyak ditemukan di Nusantara.

Gambar 15 - Prasasti Canggu (Sumber: http:// nationalgeographic.grid.id/read/13310903/keping- terakhir-prasasti-canggu-trowulan-i?page=all)

Gambar 16 - Recto Prasasti Canggu (Sumber: https:// anangpaser. files.wordpress. com/2015/04/kern- e54a-recto-canggu- trowulan-i.jpg)

Gambar 17 - Verso Prasasti Canggu (Sumber: https://: anangpaser. files.wordpress. com/2015/04/kern- e54a-verso-canggu- trowulan-i.jpg)

Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia

UDAUgE

OnUSASGENSnSUSOの SY

SDSIMSELGDEUOADLAFISIES

SUNEUUTEESUSUBEO

CEUN

aS 22

GULEENEASSSASENUSATNS

us OD

JESESESSIEIS(AOLOLUL

T ab l e t d a n L emb a r a n E m a s

Yang sedikit jumlahnya tapi tergolong unik adalah prasasti berbahan tanah liat atau tablet. Isi tablet adalah mantra-mantra agama Buddha. Selain itu ada tulisan singkat atau inskripsi berupa meterai (votive tablet). Yang langka, ada prasasti dituliskan di atas lembaran perak atau emas. Prasasti demikian cenderung menunjukkan nama orang atau raja.

Gambar 18 - Lempengan Prasasti Emas Ratu Boko (Koleksi BPCB Yogyakarta)

Belajar Bersama Ganesha: Prasasti

台 8

Gambar 19 – Lempengan Gerabah Bertulisan dari Situs Batujaya (https:// www.photodharma. net/Indonesia/27- Batujaya-Sites/images/ Batujaya-Sites-Original-00039.jpg)

Gambar 20 - Prasasti Munggu Antan (https://upload. wikimedia.org/ wikipedia/commons/c/ c3/MungguAntan inscription_20180620. jpg)

BENTUK PRASASTI

04

i antara sekian jenis prasasti, hanya prasasti

D batu yang memiliki berbagai variasi bentuk.

Ada yang tanpa proses pembentukan, artinya batu yang digunakan sebagaimana adanya. Ada juga melalui proses pembentukan. Mungkin disesuaikan dengan batu yang ada atau karena keterampilan sang pemahat. Yang terbanyak adalah berbentuk balok (segiempat), lingga (bulat panjang), dan yupa (tiang batu).

Prasasti berbentuk stele, dengan bagian atas bulat atau lancip, juga banyak ditemukan. Demikian halnya dengan prasasti berbentuk wadah (jambangan, gentong, peti batu, lumbung) dan alamiah (batu alam). Sejumlah prasasti malah dipahatkan pada bagian candi dan badan arca.

Polos d an Berhiasan

Dari berbagai bentuk prasasti, ada yang Bentuk fisik prasasti tersebut sangat polos dan ada yang berhiasan, termasuk istimewa. Bagian atas prasasti itu dihias ukiran, simbol kerajaan, dan simbol dengan tujuh kepala ular kobra berbentuk keagamaan. Salah satu prasasti yang pipih dengan mahkota berupa permata tergolong megah dan unik adalah Prasasti bulat, sementara leher ularnya mengembang Telaga Batu dari masa Kerajaan Sriwijaya. dengan hiasan kalung.

Gambar 21 – Prasasti Telaga Batu (https://1. bp.blogspot.com/-h_G35XyDx5Y/Vr2WQfyzKVI/ AAAAAAAAACw/PHXPnpgQWbY/s1600/ PA310518.JPG)

Pr a s a s t i d i Be l ak a n g A r c a

Di Museum Mpu Purwa, Malang, terdapat Prasasti serupa terdapat pada temuan dari sebuah arca Ganesha. Arca itu tidak Karangrejo. Kondisi arca Ganesha dari utuh, ada tanda-tanda bekas dipotong. Karangrejo ini cukup baik. Menyedihkan, jelas sengaja dirusak karena pangkasannya relatif rata. Ganesha adalah dewa ilmu pengetahuan berujud gajah. Di belakang wujud Ganesha ternyata ada tulisan kuno tersusun dalam beberapa baris. Gambar 22 - Arca Ganesha Bulul Prasasti Bulul atau Kanuruhan bertarikh (Dok. Djulianto Susantio) 935 Masehi menjadi asal nama Bunulrejo.

Gambar 23 - Prasasti Bulul (Dok. Djulianto Susantio)

ISI PRASASTI

05

Beragam I nform asi

Hasil pembacaan terhadap ratusan prasasti, banyak sekali menginformasikan kehidupan masyarakat Indonesia kuno. Informasi terbanyak adalah mengenai uang administrasi, birokrasi pemerintahan, kehidupan ekonomi, pelaksanaan hukum, keadilan, sistem pembagian kerja, perdagangan, agama, adat-istiadat, kesenian, sengketa tanah, pembuatan bendungan, manipulasi pajak, perjudian, dan pelacuran (Boechari, 1977).

Gambar 24 - Prasasti Kuti (https://anangpaser.files. wordpress.com/2015/03/kern- e2a.jpg)

engad

Kep utusan P ilan hingga Kutuk an

Meskipun berarti pujian, tidak semua prasasti mengandung puji-pujian kepada raja. Sebagian besar prasasti justru diketahui memuat keputusan mengenai penetapan sebuah desa atau daerah menjadi perdikan atau sima (tanah yang dilindungi).

Sebagian lagi berupa keputusan pengadilan tentang perkara-perkara perdata (disebut prasasti jayapattra atau jayasong), sebagai tanda kemenangan (jayacikna), tentang utang-piutang (suddhapattra), dan berisi kutukan atau sumpah.

S o s i a l Po l i t ik

Secara umum, bagian terbesar dari prasasti membicarakan masalah sosial politik. Hanya sedikit yang mengupas masalah budaya atau ekonomi, sehingga para epigraf harus bekerja sama dengan para filolog (ahli naskah kuno) untuk melengkapinya.

U p ac ara Kasod o

Berlangsungnya upacara Kasodo di Sedangkan Prasasti Walandit (1381 M) Gunung Bromo, bisa dilacak dari beberapa menyebutkan penduduk Desa Walandit prasasti. Prasasti Muncang (944 M) sejak dulu dikenal sebagai pemuja Sang menyebutkan Gunung Bromo dengan Hyang Gunung Brahma (Gunung Bromo) ungkapan Sang Hyang Swayambhuwa yang taat. Dikatakan juga pada 9 Kresnapaksa I Walandit, yaitu tempat para pendeta bulan Asada tahun 1405 M para warga Desa melakukan persembahan kepada bhatara Walandit membuat piagam yang berisi Swayambhuwa, nama lain Dewa Brahma. perintah Bhatara Hyang Wekas ing Suka, gelar anumerta Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit, mengenai status Desa Walandit yang keramat itu. Kemungkinan besar nama kasodo berasal dari kata asada yang kemudian menjadi kasada.

Gambar 25 - Prasasti Muncang (https:// cagarbudaya.kemdikbud.go.id/doc/ objek/1109010277-20150218-063313.jpg)

Gambar 26 - Prasasti Walandit (Dok. Museum Nasional Indonesia)

Pertunjuk an Way ang

Asal mula pertunjukan wayang, juga bisa dilacak dari prasasti. Pada Prasasti Sangguran (928 M), misalnya, tertulis
kalimat “...ta sira wayang mangaran...”,
sementara pada Prasasti Alasantan (939 M) tertera “...manangap tang rakryan wayang mangaran...” sementara dari Prasasti Wukayana (angka tahunnya tidak jelas, hanya diketahui dari masa Raja Balitung) dijumpai kalimat “...si galigi mawayang buat hyang macarita bimma ya kumara...” artinya, Si Galigi memainkan wayang untuk penghormatan kepada para dewa dengan mengambil cerita Bimma Kumara (A.S. Wibowo, 1976).

Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia

Belajar Bersama Ganesha: Prasasti

Gambar 27 - Ilustrasi Batu Minto atau Prasasti Sangguran (https:// upload.wikimedia.org/wikipedia/ commons/a/ae/Minto_stone.jpg)

Gambar 28 - Prasasti Luitan (https://kebudayaan. kemdikbud.go.id/bpcbjateng/wp-content/uploads/ sites/31/2014/07/4.jpg)

Pe ny e l e w e n g a n Pa j ak

Sejak dulu, ternyata penyelewengan pajak sering dilakukan aparat pemerintahan. Informasi yang agak panjang bisa diperoleh dari Prasasti Luitan (901 M). Konon setiap tampah (ukuran tanah waktu itu) tanah penduduk akan dikenai pajak 6 dharana. Seorang kaya pernah diharuskan membayar 40 ½ tampah x 6 dharana = 243 dharana. Ternyata setelah diprotes dan diadakan pengukuran ulang, luas tanahnya hanya 27 tampah. Kalau tidak teliti, orang kaya tersebut akan merugi 13 ½ tampah x 6 dharana = 81 dharana. Rupanya tampah yang digunakan si petugas pajak nakal itu, berukuran lebih kecil daripada ukuran sesungguhnya sehingga tanahnya kelihatan semakin luas.

Namun untuk melaporkan aparat pajak yang curang itu, si wajib pajak harus memberikan “uang administrasi” kepada petugas pengadilan. Meskipun masih dalam skala kecil-kecilan, “mafia peradilan” juga sudah ada sejak zaman dulu. Selain “uang administrasi”, banyak petugas Gambar 29 - Prasasti diberitakan meminta “upeti” atau “traktir” kepada warga Harinjing (Dok. yang sedang ditimpa masalah.Museum Nasional Indonesia)

H a r i Ke l a h i r a n

Kalau suatu daerah atau kota belum memiliki “hari kelahiran”, biasanya yang dicari adalah seorang epigraf. Tercatat sudah banyak prasasti yang dipakai untuk melegitimasi sebuah kota. Dalam Prasasti Kumala (14 Desember 1350), misalnya, disebutkan nama Raja Matahun. Dari segi etimologi (asal-usul kata), kata Matahun dianggap dekat kaitannya dengan Tawun dan Madihun. Itulah asal nama Madiun sekaligus penetapan hari jadinya.

Dasar penentuan hari jadi adalah penyebutan nama kota tersebut pertama kalinya dalam sebuah prasasti. Prasasti Harinjing (25 Maret 804) pernah menyebutkan nama Kadiri. Jadilah tanggal itu sebagai awal berdirinya kota Kediri. Begitu juga Prasasti Canggu (7 Juli 1358) yang menyinggung Ngawi.

Gambar 30 - Prasasti Canggu (https:// anangpaser.files.wordpress.com/2015/04/ kern-e54a-recto-canggu-trowulan-i.jpg)

MEMBACA PRASASTI

06

“swasti sakawarsatita 824 posa masa tithi dasami kresnapaksa. tunglai. kaliwuan. soma wara. daksinastha jaista naksatra. mitra dewata. sukarmma yoga...” pa arti tulisan di atas? Sudah

Adialihaksarakan ke dalam aksara

Latin saja, banyak orang tidak paham. Apalagi kalau masih tertulis dalam aksara aslinya, lebih tidak tahu. Tidak dimungkiri, sebagian besar masyarakat Indonesia masih merasa awam terhadap tulisan di atas. Nah, bagaimana kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kata demi kata, seperti berikut: “Selamat! Tahun Saka telah berlangsung 824 tahun, bulan Posa, tanggal 10 paro gelap, pada hari tunglai, kaliwuan dan hari senin, kedudukan planet di selatan, bintang Jaista: dewa Mitra, yoga...” (Sumber: Tiga Prasasti dari Masa Balitung, 1982)

Gambar 31 – Kegiatan Pembacaan Prasasti untuk Alih Aksara (Dok. Marfuah)

E p igrafi

Penggalan baris pertama dari puluhan baris yang ada pada Prasasti Panggumulan itu memang masih terasa asing di telinga kita. Tidak sembarang orang mampu mengalihaksarakan dan membacanya. Apalagi menerjemahkan dan menafsirkannya sekaligus ke dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Hanya segelintir orang yang mampu melakukannya, yakni para arkeolog. Itu pun tidak seluruh arkeolog, melainkan mereka yang mendalami bidang epigrafi. Epigrafi adalah subdisiplin dari arkeologi yang memelajari segala aksara dan bahasa kuno beserta seluk-beluknya. Berdasarkan hasil kajian para epigraflah, maka penulisan sejarah kuno Indonesia seperti yang dikenal sekarang, bisa tersusun dengan baik.

Pr a s a s t i G a j a h Mad a

Kalau tidak ada epigraf, kita tidak mungkin mengenal Kerajaan Majapahit dengan Rajanya Hayam Wuruk dan Patihnya Gajah Mada. Kita pun mungkin tidak tahu akan kebesaran tokoh Jayabaya, Airlangga, dan Ken Arok atau Kerajaan Tarumanagara, Sriwijaya, dan Singhasari. Tentu tak terbayangkan jadinya bila sejarah kuno Indonesia begitu gelap. Dari mana kita akan berkaca, kalau tidak mempunyai masa lampau yang cemerlang?

Dari prasasti kita juga tahu nama Gajah Mada, bukan Gaj Ahmada sebagaimana yang disebutkan para “pakar” dadakan. Penafsiran berdasarkan “ilmu cocoklogi” itu mampu dipatahkan oleh para pakar dengan ilmu epigrafi.

Gambar 32 – Prasasti Gajah Mada (https://cagarbudaya. kemdikbud.go.id/doc/ objek/PO2017090700610- 20170907154641.jpg)

美 Belajar Bersama Ganesha: Prasasti

A bk

l at s

Banyak prasasti ketika ditemukan masih memiliki bentuk fisik yang baik. Artinya, aksara-aksara kunonya masih jelas terbaca. Keadaan seperti itu tentu saja sangat menguntungkan para epigraf. Begitu pula bila objek penelitian berupa prasasti logam. Karena bentuknya relatif kecil dan ringan, prasasti logam mudah dibawa-bawa.

Kerepotan justru terjadi bila epigraf mendapatkan prasasti batu yang berat, besar, dipahatkan pada batu tunggal (monolit), dan masih berada di tempat aslinya (misalnya di tengah hutan, di atas bukit, dan di lereng gunung). Maka untuk memudahkan kerja, biasanya para epigraf membuat rekaman prasasti dalam bentuk foto. Karena foto dinilai terlalu kecil, sering pula dibuat abklatsch atau abklats.

Abklats adalah prasasti cetakan yang terbuat dari kertas singkong atau kertas roti. Cara membuatnya adalah membasuhnya dengan air lalu ditekan-tekan di atas prasasti batu. Setelah sekian lama akan terbentuk lekukan-lekukan aksara. Aksara-aksara yang timbul itulah yang akan dibaca oleh seorang epigraf.

Meskipun sudah ada teknik baru, sebagaimana dikemukakan Machi Suhadi pada Lokakarya Arkeologi 1978, teknik lama selalu digunakan. Teknik baru tidak lagi menggunakan kertas, melainkan campuran bahan-bahan kimia yang mengandung banyak unsur karet. Pertama, batu dibersihkan dari segala macam kotoran, lalu disiram vaselin. Setelah itu diolesi cairan bahan kimia secara merata sehingga aksara yang ada bisa tercakup semua. Namun karena bahannya sulit diperoleh, pembuatan abklats dengan cairan kimia kurang populer.

Gambar 33 - Kegiatan Pelepasan Abklats Pada Prasasti (Dok.Diazeva Fathia)

F ak s im i l e

Mirip dengan abklats adalah faksimile. Kalau abklats bersifat basah, maka faksimile bersifat kering. Cara membuat faksimile adalah menekan-nekan batu yang beraksara dengan tinta hitam, arang, atau pensil. Metode lain menekan area di luar aksara dengan tinta hitam, arang, atau pensil. Dengan demikian aksaranya menjadi berwarna putih. Yang membuat repot adalah bila bentuk prasasti itu bundar. Membaca atau membuat abklats/faksimile tentu harus memutar atau berkeliling.

Gambar 34 - Faksimile Prasasti Ulubelu dari Daerah Lampung Selatan Abad ke-14 (Doc. Hasan Djafar)

F o t o g r a f i

Perkembangan dunia fotografi berperan besar dalam upaya menyempurnakan pembuatan dokumentasi foto prasasti sekaligus pembacaan prasasti. Dulu prasasti yang jauh letaknya, jika dipotret hasilnya terlihat kabur. Namun sekarang dengan kamera digital ditambah lensa khusus, aksara prasasti bisa diperbesar beberapa kali. Bahkan kalau ukuran pixel-nya besar, bisa menggunakan proyektor dan layar.

PEMBERIAN NAMA

07PRASASTI

eperti halnya manusia, pada awalnya prasasti pun belum

Smemiliki nama. Penamaan prasasti dilakukan oleh para

peneliti berdasarkan empat pertimbangan.

Pertama, berdasarkan lokasi penemuan prasasti tersebut. Misalnya Prasasti Tugu, disebut demikian karena prasasti tersebut ditemukan di Kampung Tugu, Jakarta; Prasasti Pasir Koleangkak, ditemukan di Bukit Pasir Koleangkak; dan Prasasti Ciaruteun, ditemukan di tepi Kali Ciaruteun.

Gambar 35 - Prasasti Tugu (https:// cagarbudaya.kemdikbud.go.id/ doc/objek/PO2016031000014- 20170111111501.jpg)

Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia

to

D124

Gambar 36 – Prasasti Pasir Koleangkak atau Prasasti Pasir Jambu Sebelum Tahun 1900 (https://upload.wikimedia.org/wikipedia/ commons/thumb/9/9e/KITLV87651-_ IsidorevanKinsbergen_-Inscribedstoneat SyzygiumatBuitenzorg_-Before1900.tif/ lossy-page1-4410px-KITLV87651-Isidore vanKinsbergen-InscribedstoneatSyzygium_ atBuitenzorg-Before1900.tif.jpg)

Gambar 37 - Prasasti Ciaruteun di Lokasi Awal Ditemukannya di Tepi Kali Ciaruteun Sebelum Tahun 1900

Kedua, berdasarkan nama raja atau pejabat yang mengeluarkan prasasti tersebut. Contohnya Prasasti Gajah Mada, mengenai peresmian sebuah caitya (tempat pemujaan) oleh Patih Gajah Mada dari Kerajaan Gambar 38 - Prasasti Gajah Mada (Dok. Museum Majapahit. Nasional Indonesia)

bahru-and-wijaya-to-king-daksa.jpg) wordpress.com/2012/06/the-charter-records-the-protest-of-dewa-Gambar 39 - Prasasti Wintang Mas (https://anangpaser.files.

Ketiga, berdasarkan nama tempat yang disebutkan dalam prasasti tersebut. Contohnya Prasasti Kudadu, mengenai peresmian Desa Kudadu menjadi perdikan dan Prasasti Tuhanaru, mengenai hak perdikan bagi Desa Tuhanaru.

Keempat, berdasarkan nama bangunan suci yang disebutkan dalam prasasti. Misalnya Prasasti Wintang Mas, yang isi pokoknya mengenai pendirian bangunan suci Wintang Mas (lihat gambar 38).

A H

n gk a ata u u r u f

Nah, bagaimana kalau ditemukan lebih dari satu prasasti di lokasi yang sama? Dulu, di daerah Kedu pernah ditemukan tiga prasasti sekaligus. Maka untuk membedakannya diberi nama Mantyasih I, Mantyasih II, dan Mantyasih III.

Ada juga prasasti yang tertulis pada dua muka, seperti pada Prasasti Panggumulan. Untuk membedakannya disebut Panggumulan A dan Panggumulan B. Jadi yang umum memakai angka atau huruf.

Gambar 40 - Prasasti Mantyasih (https:// anangpaser.files.wordpress.com/2015/05/od-8737- mantyasih-ia.jpg)

Belajar Bersama Ganesha: Prasasti

S e l e r a Pe n e l i t i

Yang unik, prasasti sering disebut sesuai selera si peneliti. Tidak urung sebuah prasasti memiliki dua atau tiga nama sekaligus karena pernah dibaca oleh beberapa orang yang berbeda. Maklum, zaman dulu pendokumentasian masih belum baik.

Seorang epigraf, misalnya, pernah menyebut Prasasti Gedangan, karena ditemukan di Desa Gedangan, Sidoarjo. Tapi oleh epigraf lain dinamakan Prasasti Kancana, karena menyinggung bangunan suci Kancana. Epigraf selanjutnya mengidentifikasi sebagai Prasasti Bungur, karena isinya berupa penguatan daerah Bungur sebagai perdikan. Ternyata Gedangan, Kancana, dan Bungur mengacu pada satu prasasti yang sama.

Gambar 41 - Prasasti Canggal (https://upload.wikimedia.org/ wikipedia/commons/8/81/Canggal_inscription.jpg)

Gambar 42 - Candi Gunung Wukir (http://goborobudur. com/2015/12/10/ candi-gunungwukir-candi-siwa-Pemb a n g u n a n Ca nd i peninggalan-raja- sanjaya/) Umumnya prasasti berfungsi untuk memperingati pembangunan

sebuah candi atau bangunan suci. Prasasti Canggal (732

M), misalnya, dianggap sebagai tanda peresmian Candi Gunungwukir, Prasasti Kalasan (778 M) dihubungkan dengan Candi Kalasan, dan Prasasti Kelurak (782 M) diduga berkaitan

dengan Candi Sewu.

Gambar 43 - Prasasti Kalasan (Sumber: https://anangpaser.files. wordpress.com/2012/07/kalasan-copy.jpg

Prasasti juga berfungsi untuk memperingati anugerah tanah atau penetapan sima, seperti untuk pengelolaan bangunan suci, untuk diberikan kepada orang yang berjasa, dan untuk pengelolaan bangunan umum.

Belajar Bersama Ganesha: Prasasti

Ku t uk a n

Fungsi lain dari prasasti adalah sebagai keputusan pengadilan, antara lain mengenai sengketa tanah, utang-piutang, dan tanda kemenangan. Yang agak seram, prasasti digunakan untuk mengutuk atau menyumpahi siapa saja yang berbuat tidak baik terhadap raja dan kerajaan. Uniknya, prasasti kutukan atau sumpah hanya terdapat di Kerajaan Sriwijaya.

Gambar 44 - Candi Kalasan (https:// upload.wikimedia.org/wikipedia/ commons/4/4d/KalasanTemple fromthenorth-east%2C23 November_2013.jpg)

I rasasti

Daftar si P

Seperti halnya buku, prasasti juga mempunyai semacam “daftar isi”. Namun “daftar isi” setiap prasasti tidak selalu sama atau lengkap. Jarang sekali ditemukan sebuah prasasti yang lengkap. Prasasti yang lengkap biasanya terdiri atas sepuluh bagian.

Pertama, seruan pembukaan, berupa seruan selamat atau seruan hormat untuk dewa. Kedua, unsur-unsur penanggalan, yang menyebutkan hari, tanggal, bulan, tahun, dan kadang-kadang dilengkapi dengan unsur-unsur astronomik. Ketiga, nama raja atau pejabat pemberi perintah. Keempat, nama pejabat tinggi yang mengiringi, meneruskan, dan menerima perintah. Kelima, peristiwa pokok, yaitu penetapan suatu desa atau daerah menjadi sima.

Keenam, sambandha, yakni alasan atau sebab-sebab mengapa suatu desa atau daerah itu dijadikan sima. Ketujuh, upacara jalannya penetapan sima. Kedelapan, daftar para saksi atau pejabat yang hadir pada upacara penetapan sima. Kesembilan, sumpah atau kutukan bagi siapa saja yang melanggar atau tidak mengindahkan ketentuan- ketentuan yang telah ditetapkan. Kesepuluh, bagian penutup, misalnya ditulis atau disalin oleh siapa.

S M S Zam a n Du l u

Kalau pada zaman sekarang dikenal SMS atau pesan singkat, prasasti kuno dari zaman dulu pun mengenal SMS. Contohnya pada bagian dasar sebuah mangkuk emas besar temuan dari situs Wonoboyo tertera tulisan tatur  brat su 14 mā 15 sā 3 dalam huruf Jawa Kuna. Kata-kata yang tercetak miring itu berarti “emas berat 14 suwarņa 15 māsa 3 sātak”. Penyingkatan kata sering kali terjadi dikarenakan minimnya ruang untuk penulisan pada prasasti kuno.

Gambar 45 - Perbandingan Ukuran Uang Koin Rp 25 dengan Uang ‘Ma’ (Dok. Koin Kuno Antik Blog)

PRASASTI SUMBER

08

TERPENTING

Kr o n o l o g i s

Di antara berbagai sumber sejarah kuno Indonesia, seperti naskah dan berita asing, prasasti dipandang merupakan sumber terpenting karena mampu memberikan kronologis suatu peristiwa. Ada banyak hal yang membuat prasasti sangat menguntungkan dunia penelitian masa lampau. Selain mengandung unsur penanggalan, prasasti juga mengungkapkan sejumlah nama dan alasan mengapa prasasti tersebut dikeluarkan.

Pe ny u s u n a n Buk u

Hingga kini prasasti telah banyak membantu penyusunan buku-buku teks sejarah. Berbagai atribut negara pun, seperti bendera merah putih dan lambang burung garuda, digali berdasarkan data dari prasasti.

Gambar 46 - Prasasti Batu yang Pecah-Pecah (Dok. Djulianto Susantio)

d A

Gambar 47 - Prasasti Prapancasarapura (http://fastrans22. blogspot.com/2015/09/ beberapa-koleksi-museum-nasional-museum.html)

Pec a h a n u s

Disayangkan, masih banyak data belum muncul karena berbagai masalah, seperti huruf pada prasasti sudah aus, batunya pecah-pecah, sebagian tulisan hilang, dan belum terbaca karena tenaga ahlinya (pakar epigrafi atau epigraf ) masih langka. Di seluruh Indonesia, mungkin kita hanya memiliki belasan pakar epigrafi yang tersisa. Itu pun sebagian besar sudah berstatus pensiunan.

Sungguh miris menyaksikan beberapa koleksi prasasti batu di Museum Trowulan atau Museum Majapahit di Mojokerto. Batu-batunya pecah di sana-sini, bahkan ada bagian yang hilang, sehingga sulit dibaca secara keseluruhan. Hanya sebagian aksara masih bisa dikenali oleh para epigraf.

Banyak prasasti amburadul juga terdapat di Museum Nasional di Jakarta. Selain terpotong-potong atau terpecah-pecah, sebagian besar prasasti dalam kondisi aus dan rusak.

Di antara berbagai koleksi Museum Nasional itu, yang agak baik adalah nasib Prasasti Prapancasarapura dari daerah Surabaya.

Ketika ditemukan, bagian atas prasasti sudah tidak ada lagi. Diduga kuat sengaja dipangkas karena patahannya merata. Bisa jadi batu besar tersebut akan dijadikan potongan balok-balok batu yang lebih kecil. Terlihat bagian tulisannya sudah ditandai dengan dua pahatan garis melintang dan membujur sehingga sebagian tulisan menjadi rusak. J.L.A Brandes (1913) pernah mengalihaksarakan prasasti itu, tapi masih belum lengkap.

Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia

D38

Gambar 48 - Prasasti Pereng (https://anangpaser.files. wordpress.com/2012/06/kawi-inscription-in-san- skrit-and-old-javanese-language-yogyakarta.jpg)

Disengaja

Ada prasasti yang sengaja dihancurkan oleh masyarakat sezamannya. Hal ini dialami Prasasti Pereng (856 M), temuan dari Bukit Ratu Baka. Ketika pertama kali dijumpai, prasasti tersebut sudah dalam keadaan berkeping-keping.

Penyebab kerusakan lain adalah batunya lapuk (usang) dan konflik antar kerajaan (perang). Prasasti-prasasti dari masa Raja Airlangga kebanyakan mengalami nasib demikian. Prasasti Truneng (Turun Hyang) dari masa akhir pemerintahan Airlangga, hancur lebur dalam keadaan rebah sehingga sulit dibaca ulang.

Tempat-tempat temuan prasasti batu yang aksaranya  aus, menurut tafsiran arkeolog Prof. Dr. Agus Aris Munandar, adalah wilayah yang diperkirakan pernah menjadi area konflik zaman Airlangga.  Lamongan dan Jombang bagian utara merupakan wilayah pengembaraan, jelajah, dan tempat-tempat pertempuran Airlangga ketika harus menundukkan sejumlah kerajaan yang belum mengakui kekuasaannya.

Di tempat itu ditemukan banyak prasasti yang aus. Prasasti-prasasti batu Airlangga yang relatif utuh, ditemukan   di luar wilayah Lamongan selatan dan Jombang. Di kedua wilayah tersebut banyak prasasti yang bercirikan batu prasasti Airlangga meskipun aksaranya hilang.

Di masa silam semua pembesar kerajaan yang kalah akan dihukum mati, dibuang, dipenjara, kecuali segera menyatakan sumpah setia kepada penguasa baru. Agaknya hal demikian juga terjadi dan diterapkan dalam konflik dan peperangan antar kerajaan pada masa Jawa Kuno. Dengan demikian, prasasti-prasasti batu yang dikeluarkan oleh seorang raja akan menjadi salah satu sasaran penghancuran oleh raja pemenang jika saja terjadi peperangan.

Pr a s a s t i d i T e n g a h S aw a h

Umumnya prasasti menggunakan batu berukuran besar berupa batu tunggal. Beratnya bisa mencapai ratusan kilogram, bahkan berton-ton. Dulu prasasti ditempatkan di desa yang jumlah penduduknya belum banyak. Namun, lambat laun jumlah penduduk semakin bertambah, sementara jumlah lahan semakin terbatas. Selama ratusan tahun prasasti pun terabaikan oleh masyarakat yang hidup pada masa kemudian.

Gambar 49 – Prasasti Congapan, Salah Satu Prasasti yang Ditemukan di Tengah Sawah (https://congapan.blogspot.com/2017/12/ prasasti-congapan-dan-asal-mula-desa.html)

Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia

Gambar 50 - Candi Plaosan Lor di tengah Sawah (http://jogjatransport. co.id

Saat ini banyak ditemukan prasasti berada dalam pekarangan orang atau persawahan penduduk. Kondisi demikian tentu saja rawan. Mungkin aman dari maling-maling barang antik. Namun, prasasti-prasasti demikian tidak dapat menahan gempuran cuaca, seperti angin, hujan, dan panas. Banyak prasasti tampak sudah aus. Aksara- aksara yang tertulis di badan batu itu nyaris tidak terbaca lagi oleh generasi sekarang.

Prasasti Kutu ini terletak di tengah sawah di Kecamatan Maospati, Kabupaten Madiun. Hampir tidak ada orang yang memperhatikan prasasti tersebut, kecuali para peminat warisan leluhur.

Va nd a l i sm e

Prasasti Sendang Kamal ini sudah ditempatkan di lokasi yang baik. Prasasti Sendang Kamal berupa tiga prasasti batu. Sayang ada vandalisme pada sebuah prasasti. Kemungkinan dilakukan oleh pengunjung yang tidak menghargai warisan nenek moyangnya.

Memang tragis sekali nasib warisan leluhur. Banyak telantar di tengah sawah dan tempat terpencil. Bahkan sering menjadi korban vandalisme oleh generasi sekarang. Banyak pula yang kurang terpelihara dengan alasan tidak ada anggaran. Entah mengapa banyak instansi tidak memasukkan anggaran untuk pemeliharaan warisan budaya leluhur tersebut. Padahal, sudah diamanatkan oleh Undang- undang Cagar Budaya 2010 bahwa tanggung jawab kelestarian Cagar Budaya berada di tangan pemerintah provinsi, pemerintah kota, atau pemerintah kabupaten.

Gambar 51 – Vandalisme pada Prasasti (https://1.bp.blogspot. com/-n0QYZfBfl-0/WlGuAjS7rpI/AAAAAAAANVs/ xsJuKCxSPh0Z7CKnVOgR7DN8xoj7VZ7gACLcBGAs/s1600/ IMG20170715091220.jpg)

KENDALA PENELITIAN

09 PRASASTI

endala terbesar untuk menguak informasi masa lampau

K adalah memahami prasasti itu. Banyak langkah yang harus

dilakukan untuk menangani prasasti, yakni mengalihaksarakan (ke dalam bahasa Latin), membaca, dan menerjemahkannya. Selain itu kita harus mampu menafsirkannya karena kalimat dalam prasasti sangat pendek sehingga untuk mengertinya kita perlu kemampuan ekstra.

Biasanya para epigraf melakukan perbandingan dengan karya sastra (naskah) dan/atau berita asing yang sezaman. Di pihak lain, banyak bagian kosong harus diisi dengan berbagai hipotesis, yang mengandalkan kekuatan imajinasi dan kejelian si peneliti.

Gambar 52- J. L. Moens (https://www.dutchstudies-sats- ea.nl/deelnemers/moens-j-l/)

A nalisis

Prasasti

Dalam dunia epigrafi dikenal beberapa cara untuk menganalisis suatu prasasti.

Pertama adalah analisis bentuk. Hasilnya adalah klasifikasi yang pada akhirnya dapat menentukan ciri-ciri khusus suatu prasasti dari masa tertentu. Misalnya demikian, dari masa kerajaan A umumnya prasasti berbentuk segiempat, sementara dari kerajaan B berbentuk lonjong.

Kedua, diplomatik, yakni memelajari bentuk prasasti, gaya bahasa, dan ungkapan- ungkapan khusus sehingga menunjukkan ciri-ciri prasasti dari suatu masa tertentu.

Ketiga, analisis bahan, untuk mengetahui bahan-bahan apa saja yang umumnya dikeluarkan oleh suatu kerajaan: batu, logam, ataukah lainnya.

Keempat, analisis hubungan, untuk mengetahui apakah prasasti berhubungan dengan artefak-artefak lain. Semakin berhubungan, tentu semakin mudah penafsirannya.

Kelima, analisis fungsional. Analisis ini dilakukan berdasarkan pembacaan dan penafsiran isi prasasti.

Keenam, analisis teknologi prasasti, yakni menafsirkan bagaimana penulis prasasti menggores atau mengukir batu maupun logam.

Ketujuh, analisis bahasa, yakni untuk mengetahui makna atau arti suatu kata. Terkadang untuk analisis bahasa saja, para epigraf memerlukan waktu bertahun- tahun, seperti yang pernah terjadi pada Prasasti Wadu Tungki. Di dalam prasasti itu antara lain disebutkan kata-kata bhalang geni (lempar api), ilang (hilang), dan langit (udara). Setelah dikaji mendalam baru diketahui bahwa ketiga kata itu bermakna “ada peperangan di alam terbuka sehingga banyak orang terbunuh”.

Pa l e o g r a f i

Dalam menghadapi prasasti, para epigraf sering menemui berbagai kendala. Apalagi bila prasasti yang ditemukan berupa pecahan atau aksaranya sudah aus. Akibatnya pembacaan menjadi tidak lengkap atau sempurna. Untuk mendapatkan kebenaran pembacaan, dibutuhkan pengetahuan paleografi (ilmu yang mempelajari aksara kuno).

Gambar 53 - C. C. Berg (https://www. dutchstudies-satsea.nl/deelnemers/ cornelis-christiaan-berg/)

Contoh kesalahan pembacaan adalah demikian. Pada arca Camundi terdapat tulisan kuno yang bagian angka tahunnya hampir hilang. J.L. Moens dan C.C. Berg membacanya 1254 S (= 1332 M) sehingga dihubungkan dengan Tribhuwanottunggadewi, salah seorang Raja Majapahit. Epigraf lain

L. Ch. Damais membacanya 1214 S (= 1292 M) sehingga dihubungkan dengan Raja Kertanegara. Karena dari sebuah kepingan prasasti disebutkan nama Sri Maharaja Digwijaya ring Sakalaloka, yang merupakan gelar Raja Kertanegara, pembacaan Damais lah yang kemudian diikuti.
Gambar 54 - L. Ch. Damais (https://www.efeo.fr/biographies/notices/damais.htmhttps:// www.efeo.fr/biographies/notices/ damais.htm)

Gambar 55 - Arca Camundi (http://www.arkeologijawa. com/images/Image/Artikel%20Lepas/2009/camundi/arca_ camundi.jpg)

e n a f s i rk I

M a n s i Pr a s a s t i

Kesulitan lain adalah menafsirkan isi prasasti. Umumnya prasasti ditulis dengan berbagai bahasa yang sekarang sudah tidak digunakan lagi atau disebut juga bahasa mati. Selain itu, struktur kalimat dalam prasasti amat berbeda dengan struktur kalimat dalam kitab-kitab sastra. Umumnya prasasti ditulis dalam bentuk prosa, sementara karya sastra ditulis dalam bentuk puisi (kakawin). Hal ini menyulitkan upaya perbandingan.

Kesulitan penafsiran juga disebabkan kalimat dalam prasasti ditulis sangat ringkas dan tatabahasanya tidak selengkap pada karya sastra. Dalam prasasti pun banyak dijumpai istilah teknis yang tidak pernah dijumpai pada karya sastra.

Contohnya penafsiran mengenai tokoh Haji Wurawari dari Lwaram sebagaimana disebutkan Prasasti Pucangan. Satu pendapat mengatakan Haji Wurawari merupakan Raja Malaysia yang diperalat oleh Sriwijaya untuk menyerang Kerajaan Dharmawangsa Teguh. Menurut pendapat lain, Haji Wurawari berasal dari Pulau Jawa. Soalnya gelar Haji hanya terdapat di Jawa, begitu alasannya.

Kr i t ik e r

Bagaimana suatu prasasti dianggap absah? Untuk meneliti keabsahan prasasti dikenal metode kritik sumber. Kritik sumber ada dua macam, yaitu kritik ekstern dan kritik intern. Kritik ekstern antara lain melakukan analisis bentuk tulisan. Prasasti yang tulisannya jelek, misalnya, harus dicurigai asli atau palsu. Sedangkan kritik intern melihat dari dalam, yakni struktur bahasa dan isi prasasti.

Gambar 56 - Museum Tropen (https://upload.wikimedia. org/wikipedia/commons/2/2a/ Ingang_Tropenmuseum1.jpg)

P e r b a n d i n g a n

S umb e r S e j a r a h

Selain itu para pakar harus mengadakan perbandingan dengan sumber sejarah lain, seperti karya sastra dan berita asing. Masalahnya, kadang-kadang prasasti tidak memuat angka tahun sehingga kita tidak tahu dari masa siapakah prasasti tersebut berasal.

Biasanya para pakar melakukan perbandingan dengan prasasti-prasasti yang ada angka tahunnya, terutama perbandingan bentuk huruf (ortografi), gaya bahasa, istilah-istilah yang dipakai, dan nama-nama pejabat yang dituliskan.

S umb

T e r s imp a n d i Ma nc a n e g a r a

Prasasti-prasasti asal Indonesia pernah menarik perhatian bangsa-bangsa Barat. Dulu, pada masa penjajahan, banyak prasasti diboyongi ke mancanegara. Di Denmark, misalnya, sampai kini masih tersimpan Prasasti Watukura. Prasasti itu merupakan koleksi keluarga L. Norgaard. Di Belanda terdapat Prasasti Wukayana (disimpan di Museum Tropen), Prasasti Sangsang (Koninklijk Instituut voor de Tropen), Prasasti Guntur (Museum Maritim), dan Prasasti Tulangan (Museum voor Volkenkunde).

Prasasti-prasasti yang sudah terlacak keberadaannya pernah dialihaksarakan dan diterjemahkan oleh F.H. van Naerssen (1941) dalam bukunya Oudjavaansche Oorkonden in Duitsche en Deensche Verzamelingen (Prasasti-prasasti Jawa Kuno di Belanda dan Denmark).

Belajar Bersama Ganesha: Prasasti

ygB

bow Ssfmhooessnhsmre meeySmhoSbwedegwonomybywy

Contract

Contract

Gambar 57 - Prasasti Sangsang (https:// hurahura.files.wordpress. com/2012/09/prasasti-sangsang.jpg)

Pr a s a s t i S a n g g u r a n

Ketika Raffles menjadi Gubernur Jenderal Inggris di Hindia-Belanda, dia pun pernah memboyong Prasasti Sangguran ke Skotlandia. Karena ditempatkan di kediaman Lord Minto, prasasti itu sering disebut Batu Minto. Pada masa Raffles pula Prasasti Pucangan dibawa ke India dan disimpan di Museum Kalkutta sehingga dikenal sebagai Batu Kalkutta. Di Prancis tercatat adanya Prasasti Dhimalasrama.

Gambar 58 - Kondisi Batu Minto pada 2006 (Nigel Bullough)

Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia94

MENARIK PERHATIAN

10

BARAT

S a r j a n a Ba r at

Karena rasa ingin tahu yang besar, maka peminat awal studi epigrafi Indonesia justru adalah sarjana-sarjana Barat. Budaya penelitian yang tinggi dan sarana yang mendukung, menyebabkan mereka sangat tertarik pada aksara-aksara kuno.

Kemungkinan besar Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris di Indonesia (1811-1816), merupakan bangsa asing pertama yang menaruh minat terhadap epigrafi Indonesia.

Namun kekurangannya, Raffles tidak dapat membaca prasasti. Dia sepenuhnya menggantungkan diri pada Panembahan Sumenep yang kemudian mendatangkan orang-orang Bali ke Madura untuk menerjemahkan prasasti-prasasti berbahasa Kawi (Jawa Kuno).

Tidak heran Raffles banyak membuat kesalahan, sebagaimana ditunjukkan oleh C.J. van der Vlis. Sayang, pengetahuan Vlis pun sangat tergantung kepada orang lain, terutama kepada Ranggawarsita, seorang pujangga terkenal di Jawa pada masa itu.

Gambar 59 - Sir Thomas Stamford Raffles (https://www.westminster-abbey.org)

S

Tahun 1850-1858 Th. Friederich Holle memublikasikan penelitiannya pada

a l i n g Me n g i s i

mengeluarkan hasil penelitiannya dengan menggunakan suatu sistem yang kelak dipakai sebagai dasar oleh para penyelidik prasasti di kemudian hari. Setelah itu muncul K.F. Holle, H. Kern, dan A.B. Cohen Stuart. Mereka bertiga melakukan penelitian hampir bersamaan sehingga saling mengisi.

Gambar 60 - Karel Frederik Holle (https://id.wikipedia.org)

  1. Meskipun berupa alih aksara, ter- jemahan, dan keterangan singkat, kemudian ditambah dengan daftar abjad atau huruf-huruf yang digolongkan berdasarkan bentuknya, upaya Holle telah membuka wawasan dunia epigrafi Indonesia.

T erjem ahan d an Kup asan

Kern selama 1873-1913 banyak menerbitkan karangan dengan menyebutkan uraian tentang keadaan dan riwayat penemuan prasasti, alih aksara, terjemahan, dan kupasan. Sedangkan Cohen Stuart menerbitkan dua buku (1875) dalam bentuk faksimile dan alih aksara.

Selanjutnya J.L.A. Brandes mulai mengerjakan dengan sungguh- sungguh alih aksara beberapa prasasti. Kemudian N.J. Krom memberikan gambaran luas mengenai apa yang harus diketahui terhadap epigrafi Indonesia. Bahkan Brandes-KromGambar 61 - F. D. K. Bosch (https://3. bp.blogspot.com/--fYSzRF3ZQ/ menerbitkan buku Oud-Javaansch Ws3V6UIzGEI/AAAAAAAAR9k/RwK9K7JA Oorkonden (Prasasti-prasastiqocX9cSb3R0dmXJodzlmRk5QCLcBGAs/s1600/ fdk%2Bbosch.jpg) Berbahasa Jawa Kuno).

Pe rk emb a n g a n Ba r u

Perkembangan baru dalam bidang epigrafi muncul dipelopori F.D.K. Bosch (1916-1936). Dia meneliti dan menerbitkan berbagai prasasti disertai sejumlah catatan, sehingga penting untuk bahan perbandingan.

W.F. Stutterheim mempunyai cara tersendiri dalam membahas prasasti. Hasil penelitiannya sangat luas dan mendalam. Dia banyak mengeluarkan karangan singkat yang merupakan penelitian atas persoalan kecil.
Gambar 62 - W. F. Stutterheim

Pr a s a s t i Ba l i

P. V. van Stein Callenfels, meskipun dikenal sebagai pakar prasejarah, rupanya tertarik juga menangani prasasti. Dia memelopori penelitian prasasti-prasasti Bali. Upayanya agak terinci sehingga menguntungkan peneliti-peneliti selanjutnya. Kelak, upayanya dilanjutkan oleh R. Goris.
J. G. de Casparis merupakan orang pertama yang benar-benar mencurahkan perhatiannya kepada prasasti. Hasil penelitiannya tentang prasasti-prasasti banyak dipublikasikan dalam bentuk buku, disertasi, dan karangan ilmiah.

Gambar 63 - J. G. de Casparis

Gambar 64 - P. V. van Stein Callenfels

Gambar 65 - Lukisan situs Batu Tulis di Bogor pada 1770 yang dibuat oleh Rach Me t od e Pe r h i t u n g a n T a r ik h

Berikutnya L. Ch. Damais berhasil menyumbang suatu metode penting bagi epigrafi Indonesia, yaitu metode untuk menentukan perhitungan yang tepat mengenai unsur-unsur hari, tanggal, bulan, dan tahun dalam tarikh Indonesia kuno disertai berbagai gagasan dan teorinya. Tarikh dalam prasasti yang umumnya berupa tahun Saka, dialihkan menjadi tahun Masehi (Wibowo, 1977: 63-106).

Da r i Beb e r ap a N e g a r a

Para peneliti asing lainnya yang juga Setelah 1970-an muncul lagi generasi muda berperan di dunia epigrafi Indonesia adalah peneliti epigrafi Indonesia asal Australia,

J. Ph. Vogel, G. Coedes, G. Ferrand, B. Antoinette M. Barret Jones. Jones banyak Ch. Chhabra, K.A. Nilakanta Sastri, R.C. menelaah prasasti dari zaman klasik dan Majumdar, H. Bh. Sarkar, K.C. Crucq, menulis buku tentang epigrafi.
F.H. van Naerssen, Th. Pigeaud, dan Kozo Nakada. Mereka berasal dari beberapa negara seperti Belanda, Prancis, Inggris, Jerman, India, dan Jepang.

Mem i n ta Kemb a l i

Kemungkinan besar, prasasti-prasasti Berarti anggaran yang diperlukan sangat Indonesia masih berada di 20-an negara. besar. Kalau tetap dibiarkan berada di Yang sekarang patut dipertanyakan, apakah sana, tentu harga diri kita terinjak-injak. kita berpikir untuk meminta kembali Pasti banyak orang akan mengatakan, “Kok prasasti-prasasti itu? Ataukah kita tetap melestarikan warisan budaya bangsa sendiri membiarkannya berada di sana? tidak mampu?”

Memang hanya ada dua pilihan. Kalau kembali ke sini, tentu kita harus mampu merawatnya sebaik mungkin.

PERINTIS EPIGRAFI

11

INDONESIA

rang Indonesia pertama yang dianggap

Osebagai perintis epigrafi adalah Poerbatjaraka.

Poerbatjaraka berhasil meraih gelar sarjana dan doktor dari Universitas Leiden (1926). Dia dinilai sering memberikan pembacaan dan tafsiran yang lebih baik dibandingkan peneliti-peneliti asing. Dia pun dapat memberikan salinan dari prasasti-prasasti yang semula hanya terbit dalam alih aksara.

Kemudian muncul M. Boechari dari Universitas Indonesia. Boechari adalah murid Poerbatjaraka. Sejak 1950-an Boechari banyak membuat abklats dan melakukan pembacaan ulang terhadap sejumlah prasasti.

Seangkatan dengan Boechari adalah

M.M. Soekarto K. Atmodjo dari Universitas Gadjah Mada. Dia pun ibarat ensiklopedia hidup tentang prasasti. Kalau Boechari dikenal sebagai “ahli pemberi nama bayi”, Karto populer sebagai “ahli pencari hari jadi kota-kota di Jawa”. Beberapa kota di Indonesia ditetapkan hari jadinya berdasarkan pembacaan Karto terhadap suatu prasasti. Kota-kota yang sudah memiliki “tanggal lahir” antara lain Ngawi, Sumenep, Lumajang, Tuban, Kediri, Magelang, dan Cilacap. Epigraf-epigraf selanjutnya adalah Machi Suhadi, Habib Mustopo, Djoko Dwiyanto, Kusen, Edhie Wuryantoro, Hasan Djafar,
Gambar 66 - Poerbatjaraka Richadiana Kartakusuma, Ninie Susanti, Titi Surti Nastiti, Trigangga, dan sejumlah nama lagi dari beberapa perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Ada juga epigraf dari kalangan swasta, yakni Sri Ambarwati dan Goenawan A. Sambodo.

Ma s i h Mi n im

Mungkin karena ketiadaan materi,

maka minat sarjana Indonesia untuk

meneliti prasasti masih amat minim.

Dari dulu hingga sekarang boleh

dibilang sulit sekali mencari epigraf

muda yang berkualitas. Soalnya, untuk

menjadi seorang epigrafi dibutuhkan

syarat-syarat yang relatif berat.

Ma s i h L a n gk a

Dia harus mempunyai pengetahuan Banyak sekali informasi yang bisa bahasa daerah yang baik. Minimal digali dari prasasti. Apalagi bila seorang epigraf mengusai tiga bahasa, para epigraf berhasil menafsirkannya seperti Jawa, Bali, dan Melayu. secara jeli. Misalnya tentang berbagai Selain itu harus memahami budaya jenis makanan pada pesta, pakaian Jawa karena sebagian besar prasasti yang dikenakan masyarakat, upeti ditemukan di Jawa. Juga bahasa asing untuk raja, flora dan fauna, alat musik, karena sebagian besar peneliti awal premanisme, perhiasan, dan masih prasasti adalah bangsa asing. banyak lagi. Sayangnya, orang yang

mampu menerjemahkan sekaligus

menafsirkan isi prasasti masih sangat

langka.

Gambar 67 - M. Boechari (http:// epigraphyscorner.blogspot.com/p/para- epigraf-indonesia.html)

S i n a u A k s a r a

Sejak 2016 lalu sejumlah komunitas di Jawa mulai melakukan kegiatan sinau aksara Jawa Kuno. Aktivitas tersebut berlangsung setiap bulan, termasuk mengunjungi sejumlah prasasti di lapangan. Komunitas yang sudah peduli dengan pelestarian Jawa Kuno itu antara lain Komunitas Jawa Kuno Sutasoma (Kediri), Medang Kingdom Community (Magelang), dan Tapak Jejak Kerajaan (Sidoarjo).

Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia (KPBMI) mulai mengadakan Sinau Aksara dan Bedah Prasasti pada 2017. Peserta kegiatan cukup banyak, berasal dari kalangan pelajar, mahasiswa, guru, karyawan, dan pemerhati. Dalam kegiatan Sinau Aksara dan Bedah Prasasti, peserta diberikan materi mengenai prasasti secara umum, lalu melihat prasasti secara langsung, dan terakhir mencoba menuliskan kata ke aksara terkait atau mengalihaksarakannya.

Gambar 68 dan 69 – Kegiatan Sinau Aksara dan Bedah Prasasti (Dok. Marfuah)

Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia

AD

NCIATER

0.78

DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, Sri dan Fifia Wardhani. Sinau Aksara & Bedah Prasasti. Bahan untuk Sinau Akasara & Bedah Prasasti di Museum Nasional, 18 Maret 2018.

Ambary, Hasan Muarif (penanggung jawab). 1994-1995. Proceedings Analisis Hasil Penelitian Arkeologi: Analisis Sumber Tertulis Masa Klasik. Jakarta: Proyek Penelitian Purbakala.

Boechari. 2012. Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Magetsari, Nurhadi (penanggung jawab). 1982. Kamus Arkeologi Indonesia 2. Jakarta: Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Nastiti, Titi Surti, Dyah Wijaya Dewi, dan Richadiana Kartakusuma.

  1. Tiga Prasasti dari Masa Balitung. Jakarta: Proyek Penelitian Purbakala.
    Sumadio, Bambang (ed.). 1984. Sejarah Nasional Indonesia II. Jaman Kuna. Jakarta: PN Balai Pustaka.

Susanti, Ninie. 2010. Airlangga: Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI. Jakarta: Komunitas Bambu.

Trigangga, dkk. 2015. Prasasti & Raja-raja Nusantara. Jakarta: Museum Nasional Indonesia.

Trigangga, dkk. 2016. Prasasti Batu: Pembacaan Ulang dan Alih Aksara. Jakarta: Museum Nasional Indonesia.

Utomo, Bambang Budi. 2007. Prasasti-prasasti Sumatra. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Wibowo, AS. 1977. “Riwayat Penyelidikan Prasasti di Indonesia,” dalam 50 Tahun Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional 1913-1963.