Baca PDF (OCR): UNSUR SEJARAH

92 halaman · 91 halaman diproses dengan OCR· 152453 ms

Daftar isi
  1. UNSUR SEJARAH
  2. DALAM NASKAH MELAYU
  3. KOLEKSI MUSEUM NASIONAL
  4. DRA YUMSARI YUSUF
  5. MUSEUM NASIONAL
  6. OALAM NA SKAH MELAYt1
  7. KOLEKSI MUSEUM NASIONAL
  8. DAFTAR ISI
  9. d ego or intete
  10. Sn E
  11. ePderisa a maeka.
  12. デブつ
  13. Sンい
  14. しをいし 山意
  15. Dalam naskah sejarah Tambusai (ML. 100a), ceritera langsung dimulai dari Raja
  16. Tambusai yang bergelar Yang Dipertuan Tua dengan ketiga putranya. Salah seorang
  17. 心力
  18. 北北
  19. Bagian pendahuluan Sejarah Melayu.
  20. Sejak Malaka jatuh ke tangan Portugis, pedagang-pedagang Muslim memindahkan
  21. kegiatannya ke pelabuhan-pelabuhan lain, seperti Aceh dan Banten.
  22. Malaka ke tangan Portugis; dari sumber lain, kita dapatkan penanggalan itu secara
  23. bernama Bintan Bukit Batu (sekarang). Dalam, abad ke XIII itu juga datang. Sang
  24. Bintan diserahkan kepada Tun Telanai (putra Demang Lebar Daun). Pada masa Pra-
  25. Malaka terus dapat menguasai daerah-daerah sekitarnya yang langsung tunduk di bawah
  26. bergelar Sultan· Abdul Jalil Syah II (1571—1580). Sultan ini menjadi raja ketika berusia
  27. taklukannya seperti Raja Hasan menjadi raja di Siak, Raja Husin di Kelantan, dan
  28. Raja Mahmud di Kampar. Sebenarnya Sultan Abdul Jalil Syah I adalah putra raja
  29. Umar dengan raja Fatimah (adik Sultan Muzafar Syah II). Sebelum mangkat, Sultan
  30. Sultan Muzafar Syah dengan janda Raja Umar. Namun Raja Fatimah tidak menyetujui
  31. (1580-1597). Pada tahun 1582 Kemaharajaan Melayu mengadakan kerjasama di
  32. Pada tahun 1587 Sultan Abdul Jalil Syah II melakukan serangan ke benteng Portugis
  33. hara Sri Maharaja Tun Isap Nisai digantikan oleh Datuk Bendahara Tun Sri Lanang.
  34. pemerintahan Sultan Abdul Jalil Syah II (abad 16). Tun Sri Lanang bergelar Bendahara
  35. menyebutkan bahwa Tun Sri Lanang yang pada waktu itu menjabat sebagai Bendahara,
  36. Rlayat Syah 11 (f597—1615). Sultan ini meneruskan perjuangan menentang Aceh dan

UNSUR SEJARAH

DALAM NASKAH MELAYU

KOLEKSI MUSEUM NASIONAL

OLEH

DRA YUMSARI YUSUF

MUSEUM NASIONAL

t1NSt1R SEJARAH

OALAM NA SKAH MELAYt1

KOLEKSI MUSEUM NASIONAL

OLEH

ORA YUMSARI YUSUF

MUS·EUM NASIONAL

UNSUR SEJARAH DALAM NASKAH MELAYU KOLEKSI MUSEUM NASIONAL.

Karya Ora. Yumsari Yusuf. Editor Teguh Asmar, M.A.

Foto Saliman.

Desain Dadang Udansyah.

Diterbitkan oleh Proyek Pengembangan Museum Nasional. Direktorat Jenderal Kebudayaan. De partemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Tahun anggaran 1987 I 1988.

ii

|Karya|Dra. |Foto Desain|Saliman. Dadang Udansyah.|

SAMBUTAN KEPALA MUSEUM NASIONAL

Bukanlah hal baru, jika kita membincangkan adanya kandungan unsur sejarah pada naskah-naskah kuno tanpa dipertanyakan kebenarannya sehingga keraguan yang muncul ini menjadi naskah-naskah tersebut hanyalah sering dianggap sebagai hasil kesusastraan lama.

Penerbitan buku "Unsur Sejarah Dalam Naskah Melayu" tulisan Dra. Yumsari Yusuf adalah usaha Museum Nasional mengetengahkan hasil kajian naskah-naskah Melayu dalam hubungannya dengan sejarah sebagian dari wilayah Republik kita, yang diharapkan akan bermanfaat bagi pengembangan penelitian selanjutnya.

Jakarta, 11 Juni 1987.

Teguh Asmar

iii

PENGANTAR

Naskah-naskah yang dipakai sebagai bahan penyusunan mono grafi ini merupakan koleksi Museum Nasional Jakarta. Semuanya ada sepuluh buah, yaitu Sejarah Melayu (v.d.w. 188). Sejarah Tambusai (ML. 100a). Hikayat Raja 8anjar dan Kotaringin (ML. 2). Hikayat Aceh (v.d.w. 196). Hikayat Johor (v.d.w. 193). Hikayat Pasemah (ML. 234), Hikayat Raja Mampawah (Pit. 5). Hikayat Wangsagoprana Sagara Kerang (ML. 268). Syair Menteng (v.d.w. 272) dan Syair Singapura dimakan api (v.d.w. 270). Dalam rangka menunjang program pemerintah di bidang peng adaan buku-buku pelajaran, Museum Nasional dalam beberapa ta hun terakhir ini giat melakukan penerbitan penerbitan katalog dan monografi, yang bahannya diambil dari koleksi Museum sendiri. Penyusunan monografi tidak lepas dari kekurangan dan kekhi lafan, untuk ini kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami mengucapkan terima kasih kepada Kepala Museum Nasional, 8apak Teguh Asmar, M.A. Saudara Drs. Hamzuri Kepala Bagian Tata Usaha; Kepala Bidang Pembinaan Koleksi Naskah, Saudara Drs. Tuti Mu nawar yang telah memberikan kesempatan untuk menyusun mono grafi ini dan Pemimpin Proyek Pengembangan Museum Nasional, Saudara Drs. Dadang Udansyah yang telah menerbitkannya. Ucapan terima kasih kami tujukan pula kepada Sdr. Suhadi dan Sanusi yang telah memberikan pinjaman buku-buku yang diperlukan. Juga ke pada Sdr .. Saliman yang telah membantu kami membuatkan foto foto. Dan yang terakhir ucapan terima kasih kami tujukan kepada Sdri. Fadilah Yudiharto yang telah mengetik semua bahan mono grafi ini. Mudah-mudahan buku ini dapat bermanfaat bagi pembacanya.

iv

DAFTAR ISI

SAMBUTAN KEPALA MUSEUM NASIONAL PENGANTAR DAFTAR ISI PENDAHULUAN BAB I. SASTRA DAN SEJARAH

MELAYU BAB II. RAH.

A. PEMBICARAAN BEBERAPA NASKAH SEJARAH
C. SEJARAH MELAYU
BAB III.

A. MASALAH PERNASKAHAN RAH KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA
Halaman iii iv V 1

16 41 43

66 75 77

V

A. PENGERTIAN SEJARAH DALAM SASTRA MELAYU LAMA
B. BEBERAPA PENDAPAT TENTANG KARYA SASTRA SEJARAH BEBERAPA NASKAH MELAYU YANG MENGANDUNG UNSUR SEJA-
B. NASKAH SASTRA SEJARAH MELAYU (v.d.w. 188) CERITERA PENGISLAMAN DALAM NASKAH SEJARAH.
B. CERITERA PENGISLAMAN DALAM NASKAH DAN SEJARA-

PENDAHULUAN

Tujuan penyusunan monografi ini untuk memperkenalkan naskah-naskah Melayu koleksi Museum Nasional kepada masyarakat luas. khususnya mengenai unsur sejarah yang terdapat dalam naskah itu. Seperti diketahui, penulisan sejarah pada masa lalu berbeda dengan masa kini. Penulis an sejarah pada masa lalu mempunyai tujuan tertentu, yaitu selain untuk meninggikan martabat raja yang berkuasa pada waktu itu juga untuk memberikan pelajaran kepada anak cucu. Beberapa karya sastra Sejarah Melayu, seperti Sejarah Melayu, Sejarah Tambusai, Hikayat Raja Banjar, Hikayat Aceh dan lain-lain itu bersifat historis-legendaris, artinya berita sejarah yang ditimbuni cerita khayal, sehingga peristiwa sejarahnya menjadi kabur. Pada dasarnya memang sulit untuk meneliti latar belakang suatu negara melalui sebuah karya sastra sejarah. Kita tidak mungkin mendapatkan fakta-fakta yang dapat dipercaya. Hampir sebagian besar isinya. merupakan cerita mitologi dan dongeng setempat atau pemujaan secara berlebihan terhadap seorang tokoh atau sebuah negeri, sehingga banyak bercampur dengan ceritera fantasi. Untuk dapat mengetahui nilai historis dari sebuah karya Sastra sejarah, kita harus mengadakan penelitian terhadap catatan-catatan lokal dan membandingkannya dengan beberapa sumber asing. Selanjutnya diadakan pemilihan secara cermat, mana bagian yang bersifat sejarah dan mana yang dongeng. Dengan demi kian kita dapat mengikutsertakan karya sastra sejarah itu dalam rangka usaha penelitian sejarah di Indonesia. Monografi ini terdiri dari tiga bab. Bab I, merupakan pembicaraannya tentang Sastra dan Sejarah, meliputi pengertian sejarah dalam sastra Melayu dan beberapa sarjana pene liti. Bab II, berisi pembicaraan tentang beberapa naskah Melayu yang mengandung unsur sejarah, meliputi pembicaraan naskah sejarah, dan naskah Sejarah Melayu. Bab Ill, ceritera pengislaman dalam naskah sejarah, yang meliputi masalah pernaskahan serta ceritera peng islaman dalam naskah dan sejarah. Selanjutnya diusahakan melengkapinya dengan kata pengantar, pendahuluan, daftar kepustakaan serta sebuah kesimpulan.

Peta Semenanjung Melayu

(Sumber: Atlas Sejarah, Muhammad Yamin 1956, Jambatan, Jakarta)

BABI SASTRA DAN SEJARAH

A. PENGERTIAN SEJARAH DALAM SASTRA MELAYU LAMA Pengertian sejarah dalam sastra Melayu lama berbeda dengan pengertian sejarah masa kini. Pengertian sejarah masa kini adalah segala peristiwa di masa lampau yang ditulis secara kronologis. Kata lnggris "history" yang berarti sejarah berasal dari kata benda Junani "istoria", yang berarti ilmu. Dalam penggunaannya oleh filosuf Junani Aristoteles, istoria berarti suatu pertelaan sistematis mengenai seperangkat gejala alam, entah susunan kronologis merupakart faktor atau tidak di dalam pertelaan. Penggunaan itu, meskipun jarang masih tetap hidup di dalam bahasa lnggris dalam sebutan natural history. Akan tetapi dalam perkembangan jaman, kata Latin yang sama artinya yakni Scientia lebih sering dipergunakan untuk menyebutkan pertelaan sistematis non-kronologis mengenai gejala alam; sedangkan kata istoria biasanya diper untukkan bagi pertelaan mengenai gejala-gejala (terutama hal-ihwal manusia) dalam urutan kronologis. Menurut definisi yang paling umum, kata history kini berarti masa lampau umat manusia (Nugroho Notosusanto, 1975:27). Pengertian sejarah dalam karya sastra Melayu lama adalah segala peristiwa di masa lampau yang ditulis untuk keperluan raja yang berkuasa pada waktu itu, tanpa memen tingkan faktor waktu. Dalam karya sastra itu sebenarnya ditemukan beberapa peristiwa penting atau perkembangan sejarah dari suatu kerajaan, tetapi karena seringkali ditim buni oleh ceritera-ceritera fantasi, maka sulitlah untuk dapat dipercaya. Hanya sebagian kecil saja yang berisi fakta sejarah. Tujuan utama penulisan sejarah pada masa lalu di Indonesia adalah untuk meninggi kan martabat raja yang berkuasa pada waktu itu, serta memuliakannya. Raja dianggap sebagai pusat sakral yang mempunyai kekuatan gaib. Dalam usaha meninggikan marta bat rajanya, penulis akan menelusuri garis keturunan raja itu. Kadang-kadang mereka telusuri sampai kepada raja Iskandar Zulkarnain, bahkan seringkali pula kepada Nabi Adam. Penulis-penulis karya sastra sejarah Melayu selalu memasukkan tokoh Iskandar Zulkarnaik dalam ceriteranya serta menyebutkan sebagai nenek moyang raja-raja Melayu. Maksudnya ialah untuk mengagungkan rajanya, karena pada masa itu garis keturunan memegang peranan bagi kedudukan raja yang memerintah. Sebenarnya dalam berita sejarah disebutkan bahwa Iskandar Zulkarnain itu tokoh yang hidup dan menjadi raja di Macedonia pada tahun 336-323 SM. Dalam rangka usahanya memperluas kerajaan, Iskandar Zulkarnain melakukan peperangan ke negeri negeri Timur, termasuk India. Ia berjasa dalam mempertemukan kebudayaan Barat dan Timur, yang terkenal dengan sebutan Hellenisme. Namun ia tidak pemah disebut-
3

kan singgah di Sumatra, apalagi menurunkan raja-rajanya. Dalam Sejarah Melayu (naskah. v.d.w. 188) diceriterakan bahwa Iskandar Zulkar nain berjalan hendak melihat matahari terbit, dan sampai pada serokan negeri Hindi. Setelah mengalahkan raja Kida Hindi, Iskandar Zulkarnain menikah dengan putri raja Kida Hindi yang bernama Syahru '1-Bariah. Kemudian sepuluh hari setelah perka winannya, raja Iskandar Zulkarnain pergi meninggalkan isterinya untuk melanjutkan perjalanan. Selanjutnya diceriterakan tentang tiga orang putera raja keturunan Iskandar Zulkarnain muncul di bukit Siguntang Palembang. Salah seorang di antara mereka, Sang Sapurba, menikah dengan puteri seorang penguasa setempat. Kemudian Sang Sapurba pergi ke Bintan. Di sana ia menikahkan puteranya yang bernama Nila Utama, Sang Sapurba melanjutkan perjalanannya ke Kuantan, terus ke Minangkabau. Rakyat Minangkabau yang kebetulan pada waktu itu tidak mempunyai raja, ingin sekali menobatkan Sang Sapurba. · Setelah Sang Sapurba dapat membunuh naga sakti, ia diangkat menjadi raja. di Minangkabau. Daripada anak cucu bagindalah asal raja Pagar ruyung yang turun temurun hingga sekarang. Dalam pandangan penulis Sejarah Melayu. Sang Purba merupakan tokoh raja yang ideal yang mempunyai kesaktian luar biasa, melebihi manusia. Salah satu naskah Sejarah Tambusai memulai kisahnya dengan nabi Adam dan Siti Hawa diusir dari Surga, karena telah melanggar larangan Tuhan. Mereka diturunkan ke dunia dan menetap di sana turun temurun sampai kepada keturunannya yanQ. berama Sultan Iskandar Zulkarnain. Keturunan Iskandar Zulk-arnain inilah yang kemudian ber kuasa di Tambusai, bergelar Sultan Mahyudin (ML. 100b). Ceritera Sejarah Tambusai ini merupakan sebuah daftar keturunan yang dibuat berdasarkan silsilah Raja Tambu sai, yang berasal dari keturunan Sultan Seri Maharaja Diraja, putera Raja Iskandar Zul karnain. Dalam sejarah Indonesia d1sebutkan bahwa raja di Sumatra yang bergelar Seri Maharaja Diraja adalah Raja Adityawarman .. pendiri Kerajaan Pagarruyung/Mi nangkabau pada tahun 1339 (Minerva Mutiara, 1979: 115). Teuku Iskandar yang telah meneliti Hikayat Aceh secara mendalam, menyebutkan bahwa Hikayat Aceh ditulis semata-mata untuk memuliakan raja Iskandar Muda. Hampir separuh hikayat ini dipakai untuk menceriterakan kebesarannya, mulai dari gejala alam yang nampak sebelum kelahiran Iskandar Muda, masa kanak-kanak yang penuh keajaiban dan dibumbui dengan perbuatan kepahlawanan sampai masa akil baliq. Semua ini diceriterakan secara panjang Iebar. Menurut Teuku Iskandar, Hikayat Aceh lebih sesuai kalau diberi judul Hikayat Sultan Iskandar Muda. Namun anehnya, dalam Hikayat Aceh tidak disebutkan nama Iskandar Muda. Ada kemungkinan nama itu diberikan kepadanya setelah mangkat.

Munculnya Sang Sapurba di Bukit Saguntang-Palembang. v.d.w. 190.

9 m2an

オのか m Gpmrr 2 is A

Cerithuig u ua uM.) 5 gma 5d atimnee mpynTTg cpsadan rarda

d ego or intete

? 122~520 2 Mェにー5 y

Sn E

Ceritt g u uag u.)

Paling sedikit disebutkan, mereka adalah keturunan raja yang luar biasa kesaktian annya, dari putri bambu, dari putri bu;h, dari kayangan, dan dari hasil pertapaan. Centera semacam ini dapat disebut Dynastic Myth atau kepercayaan tentang dinasti atau kesultanan. Berarti bahwa ceritera-ceritera itu bukan sekedar menerangkan asal usul kesultanan itu tetapi untuk memupuk kepercayaan terhadap kedudukan istimewa raja-raja itu. Dalam corak masyarakat di mana raja yang memerintah itu menjadi pusat atau tumpuan hidup masyarakat itu, kepercayaan rakyat terhadap kedudukan istimewa raja-raja yang memerintah itu sangat penting. Tidak ada yang lebih berkesan daripada kepercayaan bahwa raja-raja itu mempunyai kekuatan yang luar biasa, melebihi ma nusia biasa (Taib Osman, 1965:43-44). Dalam Hikayat Raja Banjar dan Kotaringin, Silsilah Kutai dan Sejarah Melayu terdapat kisah putri Junjung Buih, seorang putri cantik yang ke luar dari buih laut, dan akhirnya melahirkan raja-raja berkuasa. Sedang kan dalam Hikayat Aceh, kakek Raja Iskandar Muda yang bernama raja Syech Alam menikah dengan putri Buluh, yaitu putri yang ke luar dari buluh/bambu. Dari perka winan ini lahirlah dua orang putera. Dalam Sejarah Melayu, kehebatan raj<:-raja Malaka sangat ditonjolkan oleh penu- lisnya. Salah satu alkisah Sejarah Melayu menceriterakan tentang kewibawaan raja-raja Malaka itu sampai ke benua Cina. Setiap tahun raja Cina mengirimkan utusan dan hadiah hadiah kepada raja Malaka, demikian pula sebaliknya. Hadiah dari raja Cina selalu dibalas dengan hadiah yang setimpal. Namun pada suatu ketika terjadi musibah. Raja Cina menderita penyakit gatal-gatal P,ada seluruh tubuhnya yang sukar diobati. Asal mulanya adalah raja Malaka terlebih dahulu mengirimkan sembah kepada raja Cina. Akibatnya raja Cina kena tulah. Untuk dapat menyembuhkan penyakitnya itu, raja Cina diharuskan minum air cuci .kaki raja Malaka dan memakainya pula untuk men cuci muka raja Cina. Setelah sembuh, raja Cina tidak mau lagi disembah oleh raja Malaka, karena takut kena tulah/sumpah. Selanjutnya diceriterakan pula tentang raja Malaka meminang puteri batara Majapahit,bernama Candra Kirana. Ketika raja Malaka mendengar kecantikan Candra Kirana, maka ia segera melamarnya. Lamaran itu dite rima oleh batara Majapahit. Sebagai hadiah perkawinan raja Malaka dianugrahi bebera pa pulau di Semenanjung Melayu oleh Batara Majapahit. Dari perkawinan itu lahir seorang putera laki-laki yang diberi nama Raden Gelang. Namun usia Raden Gelang tidak lama. Ia meninggal dunia ketika masih kanak-kanak. Di sini penulis ingin mem perlihatkan kebesaran kerajaan Malaka serta kewibawaan rajanya. Dalam hikayat Raja Banjar dan Kotaringin (M L. 2) diceriterakan tentang Ampu Jatmaka, seorang putera saudagar Keling. Ampu Jatmaka berlayar dari negeri Keling ke Pulau Hujung Tanah untuk mencari tempat yang dapat dijadikan kerajaan. Di sanalah

Terbakarnya Singapura.

v.d.w. 270.
北 气的 シ EA A 二6 K 到 CBEEG 一冬色北

5 饱化 急

S气 气 26 少点 3 8

ia memdirikan kerajaan Negara Dipa, yang makin lama makin besar kekuasaannya. Namun demikian ia tidak berani memc:kai gelar raja, karena ia menyadari asal usul keturunannya yang bukan bangsawan. Ia melarang kedua putranya untuk menjadi raja di Negara Dipa, dan menyuruh mencarikan se0rang calon raja yang lain. Akhirnya ditemukan seorang putra raja dari Majapahit bernama Raden Putra. Ia lahir dari hasil pertapaan. Suatu perbuatan mulia telah diperlihatkan oleh Ampu Jatmaka di sini. Sebagai seorang keturunan saudagar, ia tidak berani memakai gelar raja; ka rena takut kena tulah. Hikayat Aceh mempunyai keistimewaan tersendiri, karena hampir separuh hika yatnya diisi dengan ceritera tentang kebesaran Raja Iskandar Muda, mulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Disebutkan pula tentang timbulnya gejala-gejala alam sewaktu Iskandar Muda masih dalam kandungan ibunya. Masa kanak-kanak sampai akil baliq, kehidupan Iskandar Muda diwarnai dengan perbuatan-perbuatan yang terpuji. Teuku Iskandar yang telah meneliti Hikayat Aceh secara mendalam berpendapat bahwa hikayat ini lebih tepat disebut Hikavat lska:-:dar Muda, karena isinya bersifat pendewa an terhadap Iskandar Mud a yang pernah memerintah kerajaan Aceh pada tahun 1607 - 1636 M. Dalam Syair Perang Muntinghe terdapat kisah kepahlawanan rakyat Palembang yang dipimpin oleh Sultan Badaruddin berjuang mati-matian melawan penjajah Be landa. Pada waktu itu pasukan Belanda yang dipimpin oleh Komisaris Belanda Mun tinghe mendarat di Palembang. Mereka mendapat perlawanan yang sengit dari rakyat Palembang. Sultan Badaruddin telah mengobarkan semahgat juang rakyatnya, sehingga akhirnya pasukan Belanda mengundurkan diri ke Batavia. Dalam peristiwa ini kita lihat Sultan Badaruddin sebagai tokoh pahlawan yang pantang mundur dalam pepe rangan. Pasukan Belanda yang terlatih dan lengkap peralatan militernya harus menga kui kekalahan terhadap rakyat Palembang yang sebagian besar terdiri dari ulama (haji) dan hanya bersenjatakan golok serta senapan sekedarnya saja. Sebenarnya hal ini mustahil, kalau dilihat dari siasat strategi peperangan. Namun kehebatan dan ke mustahilan inilah yang sering ditonjolkan oleh para penulis Sejarah Melayu Lama. Sifat pemujaan ini terdapat pula daam Syair Singapura dimakan api (v.d.w. 270). Syair ini yang dikarang sendiri oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, menceriterakan peristiwaterjadinya kebakaran besar di kota Singapura pada 12 Februari 1847. Pada bagian permulaan disebutkan bahwa pada waktu itu Abdullah sedang terbaring sakit di rumahnya. Ketika mendengar tanda bahaya, ia segera bangkit dan pergi keluar rumah. Tanpa menghiraukan kesehatan dirinya, Abdullah Munsyi mendatangi tempat musibah itu. Ia tidak lupa membawa pensil dan kertas. Maksudnya untuk merekam peristiwa yang terjadi pada waktu itu, sementara iapun turut memadamkan api.

Setiba ditempat kebakaran, Abdullah merasa heran karena melihat perilaku penduduk negeri yang tidak mau ikut membantu. Mereka hanya menonton dan kadang-kadang mengambil barang sesuatu. Lain halnya dengan para pejabat lnggris, yang berusaha mencegah berkobarnya api. Dalam Syairnya Abdullah sangat memuji perbuatan mereka itu dan mencela sikap penduduk negeri yang tidak mau membantu, Akhirnya api dapat dipadamkan dan Abdullah segera kembali ke rumahnya. Walaupun letih, hatinya puas karena telah dapat merekam peristiwa besar itu. Selain untuk meninggikan martabat raja yang berkuasa serta memuliakannya, penulisan sejarah bertujuan pula memberi pelajaran dan semangat kepada pembacanya. Penulis menampilkan tokoh-tokoh pahlawan, raja-raja yang arif serta bermoral tinggi, di samping mempunyai kesaktian yang luar biasa. Kadang-kadang ditampilkan pula tokoh-tokoh yang jahat dan serakah. Diharapkan, anak cucu kelak akan mengikuti perbuatan yang baik dan menghindari perbuatan yang tercela dari tokoh-tokohnya. Dalam kata pendahuluan Sejarah Melayu (v.d.w. 188) disebutkan tentang asal mula penyusunan Sejarah Melayu oleh Tun Seri Lanang, "Pada suatu masa bahwa fakir duduk pada suatu majelis dengan orang-orang besar bersendau gurau. Pada antara itu ada seorang-orang besar terlebih mulianya dan terlebih besar martabatnya daripada yang lain. Maka berkata ia kepada fakir; Hamba dengar adalah Hikayat Melayu dibawa oleh orang dari Goa, baik kita perbaiki kiranya itu dengan istiadatnya, supaya di ketahui oleh segala anak cucu kita yang kemudian daripada kita ini dan boleh diingat nya oleh segala mereka itu. Maka adalah ia beroleh faedah daripadanya itu". Selanjut nya disebutkan dalam alkisah 34; sebelum terjadinya serangan Portugis ke Malaka, para hulublang bersiap-siap menunggu serangan musuh. Karena kesal menantikan. musuh, mereka mohon kepada Sultan Ahmad agar dipinjami hikayat perang yang dapat membangkitkan semangat juang mereka. Apa kita buat bertunggu di Balairung diam sahaja, baik kita membaca hikayat perang, supaya kita beroleh faedah daripada nya. Kemudian Sultan Ahmad memberikan hikayat Amir Hamzah dan Muhammad Hanafiyyah, sehingga mereka dapat menghadapi serangan musuh dengan berani. Hampir tiap-tiap daerah di Nusantara mempunyai sejarah sendiri. Sejarah itu erat berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi dalam daerah itu sendiri. Untuk mengetahui latar belakang peristiwa itu secara jelas, baiklah kita menengok beberapa peristiwa yang sebenarnya pernah terjadi dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Dalam Sejarah Melayu diceriterakan tentang jatuhnya kota Malaka ke ta ngan Portugis, tanpa disebutkan tahun kejadiannya. Dari berita sejarah dapat diketahui bahwa kota Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511 M. Sejak kota Malaka jatuh, pedagang-pedagang Islam memindahkan kegiatannya ke pelabuhan-pelabuhan lain, yaitu Aceh dan Banten. Dengan jalan demikian mereka dapat melanjutkan usaha-

Peta Malaka dan sekitarnya.

(Sumber: Atlas Sejarah, Muhammad Yamin 1956, Jambatan, Jakarta)

nya secara aman. Penyaluran rempah-rempah dari daerah Indonesia ke daerah Laut Merah tetap dapat dikuasai sekali pun harus menghadapi serangan orang-orang Portugis. Petualangan orang Portugis tidak berhenti di Malaka. Mereka meneruskan usahanya untuk sepenuhnya menguasai perdagangan rempah-rempah dengan mengadakan pela yaran ke kepulauan Indonesia. Di Indonesia bagian timur, khususnya Maluku, orang Portugis mengadakan monopoli perdagangan rempah-rempah, seperti pala dan cengkih. Jejak orang Portugis ke Indonesia pada akhirnya diketahui oleh orang-orang Eropa lainnya. Pada abad ke 16 dan awal abad 17 orang Spanyol, Belanda, lnggris, Denmark dan Perancis telah datang pula ke Indonesia. Tidak berbeda dengan Portugis, mereka juga mempunyai maksud yang sama. Mereka masing-masing ingin memakankan mono poli perdagangan, menguasai bahan-bahan perdagangan yang penting di Indonesia, seperti rempah-rempah. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila kedatangan mere ka menimbulkan ketegangan-ketegangan. Selain mengadakan persaingan di antara mereka sendiri mereka semuanya mencoba memaksakan kehendaknya kepada para penguasa pribumi. Apabila kedatangan orang Portugis di Indonesia didorong oleh tiga faktor, yaitu agama, ekonomi dan petualangan; maka kedatangan orang Belanda hanya didorong oleh dua faktor, yaitu ekonomi dan petualangan. Merekatidak berminat kepada usaha penyebaran agama. Kesulitan ekonomi yang dialami oleh orang-orang Belanda, telah memaksa mereka mereka untuk melakukan petualangan mencari jalan yang menuju ke pusat produksi rempah-rempah. Semula Belanda secara bebas meng angkut bahan-bahan itu dari pelabuhan-pelabuhan Portugis. Tetapi sejak tahun 1580 daerah Portugis dikuasai oleh Spanyol. Karena orang Belanda sedang berperang mela wan Spanyol, maka tertutuplah daerah Portugis bagi mereka. Karena itulah mereka dipaksa mencari dan membeli bahan-bahan itu langsung ke Indonesia. Pada tahun 1596 orang Belanda berhasil tiba cii Banten, mereka berangkat pada tahun 1595 dengan empat buah kapal di bawah pimpinan Cornelis de Houtman, dan selama empat belas bulan mengarungi lautan. Semula kedatangan mereka di Banten disambut baik oleh para pengusaha setempat. Pada waktu itu Banten telah menjadi pusat perdagangan renpah-rempah dan bahan-bahan perdagangan lainnya yang datang dari pelbagai daerah di Indonesia. Kedatangan orang asing itu dianggap dapat meningkatkan perdagangan sehingga akan menambah laba yang diperoleh. Mula-mula orang Belanda menunjukkan sikap bersahabat dan kemudian melakukan perjanjian dengan orang Banten. Hubungan perdagangan dapat dilakukan dengan lancar. Tetapi akhirnya orang Belanda memper lihatkan keserakahannya dan ingin mengejar keuntungannya sendiri. Di tahun-tahun kemudian muncullah kapal-kapal Belanda lainnya di Banten, sebagian melanjutkan perjalanannya ke Ambon, di mana orang Belanda itu mendirikan pangkalan. Perda gangan Belanda terutama dipLisatkan kepada lada, pala dan cengkih. Tidak lama ke-

mudian pedagang-pedagang Belanda itu bersekutu dan mendirikan sebuah kongsi yang dinamakan Verenigde Oos-lndische Compagnis atau disingkat VOC, pada tahun 1602. Perdagangan VOC lambat laun berkembang. Lapangan perdagangannya membentang dari Tanjung Harapan di ujung selatan Afdka sampai Jepang. Di mana-mana VOC mendirikan pangkalan-pangkalan, demikian juga di India. Pada permulaan abad ke 17 Belanda sekali-sekali belum mempunyai maksud men jajah tanah air kita. Pada masa itu sikap VOC sangat bersahabat dengan penguasa penguasa pribumi, sehingga hubungan mereka baik sekali. Lama kelamaan sikap VOC itu berubah. Mereka menginginkan kekuasaan mutlak dalam monopoli perdagangan sehingga akan mendatangkan laba yang maksimal. Usaha untuk memperoleh kekuasa an mutlak dalam perdagangan itu perJu didukung oleh kekuasaan politik. Untuk men capai itu perlu digunakan kekuasaan militer. Maka mulailah mereka secara tidak segan segan menanamkan kekuasaannya secara fisik terhadap kerajaan-kerajaan di Indonesia yang tidak mau mengakui monopolinya. Arah politik yang demikian itu mulai tampak dengan jelas semenjak J.P. Coen menjadi Gubernur Jendral tahun 1619. Ia berkeduduk an di Batavia. Sementara itu bangsa-bangsa Eropa lainnya juga menaruh perhatian besar terhadap perdagangan di Asia yang sangat menguntungkan itu. Pada tahun 1600 lnggris men dirikan sebuah Kongsi bernama East India Company. Yang mengirimkan kapal-kapal dagang ke Indonesia dan India. Sejak berdirinya VOC dan EIC, inilah merupakan awal terjadinya bencana bagi bangsa Indonesia. Dengan mempergunakan politik me mecah belah da!"' adu domba, kedua bangsa itu dapat menguasai beberapa kerajaan serta menghancurkan kekuasaan para raja-raja di bumi Nusantara ini. Sudah barang tentu raja-raja di Indonesia tidak tinggal diam. Mereka mengadakan perlawanan ter hadap sikap kedua penjajah itu. Sejumlah kerajaan Islam telah sejak lama mengadakan perlawanan terhadap Portugis. Ketika VOC dan E IC mulai melaksanakan monopoli nya, maka mereka pun menentangnya. Berturut-turut terjadi peperangan antara VOC dan EIC dengan penguasa -penguasa pribumi. Dimana-mana di seluruh Nusantara ini terdapat perlawanan terhadap kedua bangsa penjajah itu. Namun di mana-mana moder nisasi orang Barat dalam menyusun dan taktik peperangan berhasil mengalahkan orang Indonesia yang masih sederhana peralatannya. Akhirnya bangsa lndoneaia dapat di jajah oleh mereka, khususnya Belanda, selama beberapa abad. Beberapa peristiwa yang pernah terjadi dalam sejarah itu kemudi an direkam dan dituangkan ke dalam bentuk karya sastra yang indah. Sekelompok karya sastra yang memuat peristiwa sejarah ini disebut sastra Sejarah, yang ditulis dalam bentuk prosa maupun puisi (Syair). Contoh dalam bentuk prosa, yaitu Hikayat (Hikayat Johor, Hikayat Aceh, dan Hikayat Banjar), Sejarah (Sejarah Melayu, Sejarah Raja-raja Riau, dan Sejarah

Tambusai), serta Silsilah (Silsilah Kutai). Sedangkan dalam bentuk puisi (syair), yaitu Syair Perang Muntinghe, Syair Perang Banjarmasin, Syair Imhoff, dan Syair Raja Siak). Jenis syair ini disebut pula syair sejarah atau syair perang. Walaupun banyak ditimbuni ceritera motologi dan legenda, karya sastra sejarah ini cukup penting, karena merekam beberapa peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Nusantara, terutama mencatat silsilah raja-raja, kisah peperangan yang dilakukan oleh para raja, bentuk pemerintahan dan adat istiadat istana.

B. BEBERAPA PENDAPAT TENTANG KARYA SASTRA SEJARAH MELAYU Ternyata karya sastra sejarah ini banyak menarik perhatian para sarjana, baik dalam maupun luar negeri. Mereka telah mengadakan penelitian secara mendalam terhadap beberapa karya sastra Sejarah Melayu. Tetapi sampai sekarang belum ada kesepakatan pendapat tentang nilai karya sastra tersebut. Pada umumnya mereka berpendapat bahwa naskah-naskah yang mengandung unsur sejarah itu tidak dapat digunakan sebagai bahan penelitian sejarah, karena banyak bercampur dengan ceritera mitologi dan legenda. R.A. Kern berpendapat bahwa dalam karya sastra Sejarah itu sebenarnya dapat ditemukan beberapa peristiwa penting atau perkembangan sejarah dari suatu kerajaan, tetapi karena seringkali ditimbuni ceritera fantasi, maka sukarlah untuk dapat diikutsertakan dalam usaha penelitian sejarah; lebih baik dikesampingkan saja ( Ras, 1968: 12). J .C. Bottoms yang menganjurkan penelitian sastra sejarah sebagai sumber sejarah, masih berpendirian bahwa sastra sejarah Melayu itu tidak lebih dari hiburan orang-orang Melayu. Sartono, seorang ahli sejarah bangsa Indonesia menye butkan naskah sejarah ini sebagai sejarah lokal, yaitu penulisan sejarah menurut pan dangan dan kepercayaan masyarakat setempat secara turun temurun. Penulisan teks sejarah menurut pendapat Worsley adalah penulisan mengenai silsilah dinasti Klan yang berkuasa dipadu dengan nukilan-nukilan ceritera (Worsley, 1972: 12). Demikian pula penelitian terhadap Tambo Minangkabau membuktikan bahwa unsur sejarahnya hanya ada sedikit sekali. Dalam Tambo Minangkabau terdapat 2% fakta sejarah, selebihnya yang 98% adalah ceritera mitologi semata-rnata. Menurut Djamaris, tujuan penulisan Tambo Minangkabau adalah untuk menimbulkan rasa bangsa orang Minangkabau terhadap rajanya dan ketinggian kedudukan adat istiadat serta menanamkan rasa cinta terhadap negerinya. Sebaliknya, beberapa sarjana lainnya berbeda pendapat mengenai karya sastra sejarah ini. Pada tahun 1888, ketika membicarakan suatu karangan mengenai Silsilah Kutai, Snouck Hurgronje telah mengatakan bahwa sastra sejarah merupakan suatu cabang kesusastraan yang amat menarik. Kalau sudah mengetahui sifat-sifat penulisan sastra sejarah ini, maka akan diperoleh bahan-bahan yang kaya tentang watak bangsa 14

Melayu serta undang-undang dan adat istiadatnya. Hoesein Djajadiningrat telah pula memberikan penghargaannya kepada sastra sejarah. Sastra sejarah ini yang disebut nya sebagai tradisi lokal merupakan sumber sejarah yang berharga. Tanpa adanya Hikayat Raja-raja Pasai, Tokoh Malikui-Saleh yang batu nisannya terdapat di Samudra pasti tidak dapat ditentukan siapa dia. Selanjui.n·y d A. Teeuw mengingatkari kita bahwa dengan adanya naskah sejarah Raja-raja Pasai itu, para peneliti dapat mengetahui dengan jelas tentang mulainya negeri Pasai dan Samudra masuk Islam. Demikian pula, dari Sejarah Melayu bisa diketahui tentang pengislaman Malaka serta jatuhnya Malaka ke tangan Portugis. Namun pendapatnya itu keml•dian ditentangnya sendiri oleh

A. Teeuw. Ia mengatakan bahwa di dalam penelitiannya, para ahli sejarah seringkali tertarik dengan hikayat, babad, sejarah dan sebagainya; tetapi pada akhirnya mereka akan kecewa karena ternyata data-data faktual teks semacam itu seringkali tidak ada atau sedikit sekali. Dalam hal ini harus dibedakan antara teks susastra dan teks bukan susastra. R.O. Winstedt memandang sastra Melayu dari sudut Sejarah Tanah Melayu. Dalam pendekatan sejarah, teks-teks sastra dipakai sebagai sarana untuk studi sejarah. Winstedt yang juga seorang ahli sejarah telilh memakai teks-teks sastra sejarah untuk buku-buku sejarahnya. Misalnya, A History of Johor (1932) dan A History of Malaya (1935) seorang Sarjana lnggris, John Leyden, pada tahun 1811 mengatakan bahwa walaupun kadang-kadang ada hiasan fiksi, karya sastra sejarah itu penting untuk bahan penelitian sejarah dan masyarakat Melayu. Ia memasukkan pula Hikayat Hang Tuah ke dalam roman sejarah ini (Sulastin Sutrisno, 1979:28). Pada dasarnya memang sulit bagi kita untuk meneliti latar belakang suatu negara melalui sebuah karya sastra sejarah. Kita tidak mungkin mendapatkan fakta-fakta yang dapat dipercaya. Hampir sebagian besar isinya merupakan ceritera mitologi dan do ngeng setempat atau pemujaan secara berlebihan terhadap seseorang tokoh atau sebuah negeri, sehingga banyak bercampur dengan ceritera fantasi. Untuk dapat mengetahui nilai historis dari sebuah sastra sejarah, kita harus mengadakan penelitian terhadap ca tatan-catatan lokal dan membandingkannya dengan beberapa sumber asing. Selanjut nya diadakan pemilihan secara cermat, mana bagian yang bersifat sejarah dan mana yang dongeng. Dengan demikian kita dapat mengikutsertakan karya sastra sejarah itu, dalam rangka usaha penelitian sejarah di Indonesia.
15

BAB II BEBERAPA NASKAH MELAYU YANG MENGANDUNG UNSUR SEJARAH

A. PEMBICARAAN BEBERAPA NASKAH SEJARAH Dalam naskah Melayu lama dapat dijumpai berbagai unsur, antara lain unsur jenaka (humor), unsur perlambangan (simbolik), unsur pendidikan (didaktik), dan unsur sejarah (historik). Pembicaraan di sini terbatas pada naskah-naskah yang mengandung unsur sejarah, seperti Sejarah Melayu, Sejarah Tambusai, Hikayat Raja Banjar dan Kotaringin, Hikayat Aceh, Hikayat Johor dan lain sebagainya. Ditinjau dari susunannya, naskah yang mengandung unsur sejarah atau lazim pula disebut sastra sejarah biasanya terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah bagian yang bersifat mitos dan dongeng. lsinya menceriterakan keadaan jaman dahulu, asal mula raja-raja dalam negeri, permulaan berlakunya adat istiadat dan sebagainya. Bagian yang ke dua merupakan bagian historis, terutama bila penulis menceriterakan peristiwa semasa hidupnya sendiri; walaupun kadang-kadang masih disipkan beberapa ceritera khayalan (Liaw Tock Fang, 1932:204). Unsur Dongeng. Sastra sejarah lahir di istana dan diciptakan untuk kepentingan raja yang sedang berkuasa pada masa itu. ltulah sebabnya, dalam bagian pertama sastra sejarah seringkali dijumpai ceritera-ceritera yang mengagungkan kebesaran raja, teru tama nenek moyang raja yang memerintah serta perbuatan mereka yang mulia yang pernah dilakukannya. Raja dianggap sebagai pusat sakral yang menyimpan kekuatan gaib. Dalam rangka usaha menambah kepercayaan rakyat terhadap rajanya · penulis akan menelusuri garis keturunan raja itu. Kadang-kadang mereka telusuri silsilah nenek moyang raja-raja itu sampai kepada Iskandar Zulkarnain, bahkan sering pula kepada Nabi Adam. Pada masa itu persoalan garis keturunan memegang peranan penting bagi kedudukan raja-raja yang sedang memerintah. Bagian pertama Sejarah Melayu mengandung asal usul raja-raja Melayu dari kein deraan dan permulaan kepahlawanan Sang Sapurba. serta melambangkan timbulnya kerajaan Malaka. Karena itu lukisannya cukup panjang. Lukisan yang panjang Iebar ini berfungsi untuk memberi arti kepada peranan pelaku-pelaku dalam sejarah itu. Tokoh Sang Sapurba di sini sangat diistimewakan dalam kisahnya. Ia adalah putra raja keturunan Iskandar Zulkarnain. Bersama-sama dengan kedua saudaranya, Sang Sapurba turun di bukit Siguntang Palembang. Dari ketiga raja inilah terpencar raja raja yang kemudian memerintah di daerah Melayu, seperti Palembang, Minangkabau, Bintan, Singapura, Malaka dan lain-lain. Perbuatan-perbuatan mereka yang mulia dahulu itu dihubungkan dengan adanya pembangunan negeri-negeri baru, seperti Singapura, Malaka, Samudra dan Pasai. 16

Bagian permulaan Hikayat Aceh menceriterakan tentang raja Syah Alam yang menikah dengan putri buluh (bambu) dan mempunyai dua orang putra. Kemudian putri buluh itu meninggal dunia, karena dicabut bulu roma yang ada pada tubuhnya oleh Syah Alam. Sedangkan saudara raja Syah Alam yang bernama Syah Mahmud menikah dengan putri kayangan, dan mempunyai dua orang putra. Pada akhirnya putri itu kembali kekayangan, karena tidak tahan merighadapi hinaan suaminya. Selanjutnya diceriterakan tentang cucu raja Syah Alam yang bernama Perkasa Johan A lam (Iskandar Muda), mulai dari saat kelahiran sampai masa muda yang penuh dengan perbuatan keperwiraan. Disebutkan pula .sewaktu ia masih dalam kandungan, ibunya bermimpi bersanggulkan rembulan. Pada usia tiga tahun, Perkasa Johan Alam diberi nama raja Munawar Syah. Kemudian pada usia yang masih muda, ia telah dapat menjerat gajah dan membunuh kerbau liar. Setelah bercerita dengan panjang Iebar tentang kepahlawanan Perkasa Johan Alam, dari masa kanak-kanak sampai dewasa, Hikayat Aceh kembali menyebutkan tentang raja Syah Alam (kakek Perkasa Johan Alam). Ketika raja Syah Alam sa kit keras, Perkasa Johan Alam (Iskandar Muda) ditunjuk sebagai penggantinya. Namun Johan Alam menolak, karena masih ada dua pamannya yang lebih berhak atas tahta kerajaan Aceh. Salah satu naskah Sejarah Tambusai diawali dengan ceritera Nabi Adam dan Siti Hawa diusir dari Surga, karena melanggar larangan Tuhan. Mereka diturunkan ke dunia dan menjadi penghuni dunia turun-temurun sampai kepada Iskandar Zulkarnain. Keturunan Iskandar Zulkarnain ini kemudian berkuasa di Tambusai, bergelar Duli Yang Dipertuan Tua (Naskah ML. 1008). Paling sedikit disebutkan, mereka adalah keturunan raja yang luar biasa kesaktian nya, dari putri bambu, dari putri buih, dari kayangan, dari hasil pertapaar.. Ceritera ciritera semacam ini dapat disebut Dynastic Myth atau kepercayaan tentang dinasti atau kesultanan. Berarti bahwa ceritera-ceritera itu bukan sekedar menerangkan asal usul kesultanan itu tetapi untuk memupuk kepercayaan terhadap kedudukan istimewa raja-raja itu. Dalam corak masyarakat di mana raja-raja yang memerintah itu, keperca-· yaan rakyat terhadap kedudukan istimewa ·raja-raja yang memerintah itu sangat pen ting.

Pengislaman Malaka.

v.d.w. 190. 18

北 水 二越北北

比

Bagian permulaan ceritera Ampu Jatmaka. MI. 2.

Tidak ada yang lebih berkesan dari pada kepercayaan bahwa raja-raja itu mempunyai kekuatan yang luar biasa, melbihi manusia biasa (Taib Osman.1965:43-44). Sejarah Melayu yang diawali dengan kisah tentang tiga orang putra raja ketururan Iskandar Zulkarnain yang muncul di bukit Siguntang Palembang. $eorang di antaranya yang bernama Sang apurba, menjadi raja pertama di Minangkabau. Sekali peristiwa, ia menemukan seorang putri cantik yang keluar dari buih laut. Putri itu diberi nama putri Junjung Buih, yang kemudian dikawinkan dengan seorang ksatria Cina yang dirajakan di Palembang (naskah no. v.d.w. 188). Dalam Hi kay at Raja Banjar dan Kotaringin (M L. 2) disebutkan bahwa pada waktu Lambung Mangkurat, salah satu putra Ampu Jatmaka dari Negara Dipa, sedang dalam perjalanan mencari seorang calon raja, maka ia telah menemukan seorang putri cantik yang keluar dari buih laut. Lalu PL!tri itu diberi nama putri Junjung Buih. Ketika dewa sa, putri Junjung Buih ingin menikah hanya dengan putra raJa yang diperoleh dari hasil pertapaan. Kemudian Lambung Mangkurat berusaha mencari putra raja tersebut. Melalui impiannya, ia dapat menemukan putra raja itu, yaitu putra raja dari Majapahit bernama Raden Putra. Kemudian diceriterakan pula tentang putri Lambung Mangkurat yang bernama putri Huripan, yang lahir setelah baqan ibunya sebelah kiri disayat. Tak lama kemudian ibunya itu meninggal, dan putri Huripan tidak mau menyusu pada orang lain, hanya kepada sekor kerbau putih. Silsilah Kutei menyebutkan pula kisah putri Junjung Buih, yang kemudian menikah dengan putra raja yang diperoleh dari hasil pertapaan. Dalam bagian permulaan Silsilah Kutei diceriterakan tentang seorang petinggi (raja) bernama Jaitan Jalar yang pergi bertapa, karena ingin menda patkan seorang putra. Permohonannya terkabul. Ia mendapatkan seorang anak yang keluar dari Naga Mas. Anak itu diberi nama Batara Agung Dewa Sakti. Seorang petinggi lainnya, yaitu petinggi Ulu Dusun dan istrinya ingin sekali mempunyai seorang putra. Kemudian petinggi itu bermimpi seolah-olah ada suara yang memintanya untuk mem belah sepatang kayu. Mimpi itu dilaksanakannya dan keluarlah seekor naga. Naga itu dipelihara oleh mereka dengan sebaik-baiknya. Setelah besar naga itu diturunkan ke sungai, maka muncullah seorang anak perempuan cantik dari buih, yang segera dipelihara serta diberi nama putri Junjung Buih. Kemudian putri Junjung Buih dikawin kan dengan Batara Agung Dewa Sakti. Menurut Ras, bagian pertama dari Hikayat Raja Banjar ini ceriteranya banyak se jajar dengan bagian pertama Silsilah Kutei dan Sejarah Melayu, terutama, dengan tokoh putri Junjung Buih. Semua ini menunjukkan adanya proto-type asal yang sama dan disebut oleh Ras dengan istilah "Malay-myth of Origin". Bagian ini adalah "Saered text", untuk upacara tertentu di kraton (Ras, 1968:93). Unsur Sejarah. Bagian kedua dari sastra sejarah adalah bag ian yang bersifat historis. Untuk mengetahui nilai historis dari sebuah karya sastra sejarah, perlu diadakan pene-

litian terhadap catatan-catatan lokal, dan membandingkan dengan sumber asing. Kemudian dipilih secara cermat mana bagian yang bersifat sejarah, mana yang dongeng :;P.mata:mata. Pada umumnya penulis menceriterakan peristiwa-peristiwa yang terjadi baik sebelum maupun sejaman dengan hidurnya sendiri. Dalam bagian ini, hal-hal yang dapat merugikan nama raja yang memerintah sering kali diringkaskan saja cerite ranya, bahkan dikesampingkan sama sekali. Walaupun dituliskan, peristiwanya sudah ditambah dengan beberapa cerita kayalan. · Contohnya dapat dilihat dalam beberapa riaskah ini. Naskah Sejarah Melayu isinya menceriterakan tentang asal-usul keturunan raja raja Melayu, masa pertumbuhan, masa jaya, dan masa keruntuhannya di tangan Portu gis. Dalam Sejarah Melayu, peristiwa jatuhnya> Mal aka ke tangan Portugis serta nasib raja-raja Malaka yang kalah perang itu diceriterakan secara pintas saja. Penulis tidak berani mengemukakan fakta dengan mencerjtE)rakan kekalahan raja-rajanya dan kehan curan kerajaan mereka. Selama ini raja dianggap oleh rakyatnya sebagai pusat sakral yang memiliki kekuatan gaib,·sehingga tidak mungkin terkalahkan oleh musuh, apalagi musuh asing. Tak pernah terbayangkan o:c:h mereka sebelumnya bahwa raja-raja yang selalu dipuja itu akan menderita kekalahan dalam perang. Peristiwa jatuhnya kota Malaka dirasakan sangat pahit oleh penulis sejarah Melayu. Dalam usaha memu liaka raja dan memberi pelajaran kepada generasi mudanya, si penulis terpaksa menga baikan peristiwa tersebut (kekalahan raja Malaka) dan menceriterakan hal-hal lain yang berhubungan dengan kesaktian serta kebesaran raja-raja Malaka yang selalu unggul dalam peperangan. Penulis bahkan menceriterakan hal lain yang menyenangkan, seperti hbungan persahabatan yang dilakukan oleh raja-raja Malaka dengan negeri jauh (Rum, Tu rki, Gina dan Majapahit). Sebenarnya peristiwa jatuhnya Malaka ke tangan Portugis itu ada disebutkan dalam be rita sejarah, yaitu terjadi pada tahun 1511.7' Berita kehadiran orang Portugis telah sampai di Bandar Malaka dan sepak terjang serta tujuan orang Portugis sudah pula diketahui oleh Raja Malaka pada masa itu. Dengan demikian bahaya yang mengancam bandar Malaka apabila orang Portugis menyerang, sudah pula disadari oleh Raja Malaka maupun oleh pedagang-pedagang Islam lainnya. Oleh karena itu utusan Portugis untuk menyampaikan surat-surat kepercayaannya kepada raja Malaka, tidak diterima. Sultan Mahmud Syah yang pada waktu itu berkuasa di Malaka enggan berhubungan dengan orang-orang Portugis, setelah mempertimbangkan untung ruginya. Dengan penolakan itu, orang Portugus memutuskan untuk memaksakan kehendaknya dengan kekerasan senjata. Mereka mengirimkan armada yang unggul dan pada tahun 1511 Malaka berha sil direbutnya, sedangkan Sultan Mahmud Syah mengundurkan diri ke Bintan lalu ke Kampar. Sejak Malaka jatuh ke tangan Portugis, .. "' ' ·-... lslain ... ,. merhin- ' ,,

dahkan kegiatannya ke pelabuhan-pelabuhan lain seperti Aceh dan Banten, ·sehingga

;21

22 vW.d.1.

ePderisa a maeka.

m

ブリグーTグ Aar 分一

m 2mTe Sm

デブつ

Pengislaman Samudra.

v.d.w. 190.
23

にしと S ニはルンニレインーンとしド

小 23

dengan demikian mereka dapat melanjutkan usahanya secara aman (Nugroho, 1980: 122- 23). Dalam bagian permulaan Hikayat Raja Banjar dan Kotaringin (ML. 2), disebu-::kan tentang Ampu Jatmaka, putra seorang saudargar Keling, yang berlayar dari negeri Keling ke Pulau Hujung Tanah dengan kapalnya yang bernama Prabayakan. Di Pulau Hujung Tanah inilah Ampu Jatmaka mendirikan sebuah kerajaan bernama Negara Dipa, yang lama kelamaan menjadi sebuah kerajaan besar. Mengenai nama Keling/ Kaling ini ada beberapa pendapat. Krom berpendapat bahwa keling atau Kaling itu diartikan dengan Kalinga di India (ldwar Saleh, 1982:73). Menurut Van der Tuuk, istilah Keling adalah berhubung an dengan Jawa, bukan Kalingga di India. Di Jawa Timur terdapat sebuah distrik dengan nama Kaling serta dalam ceritera-ceritera Jawa sebagai nama alternatif dari Kuripan atau Janggala. Schrieke mengindentifikasikan Kaling dengan Kediri Utara. Dalam periode Majapahit, Keling diartikan dengan Kahuripan dan diperintah oleh Bhree Keling-Kahuripan. Kartawardhana yang mangkat pada tahun 1386 itu disebut sebagai raja Kaling-Kahuripan (Ras, 1968:186).. Dalam hikayat Raja Banjar dan Kotaringin diceriterakan bahwa Ampu Jatmaka yang berasal dari kalangan rakyat jelata itu tidak berani menyebut dirinya raja, karena takut kena tulah. Sebelum mangkat, ia berpesan kepada kedua putranya agar mencari kan calon raja dari negeri lain. Akhirnya Lambung Mangkurat, salah seorang putra Ampu Jatmaka, berhasil mendapat calon raja itu. Ia adalah putra raja Majapahit yang diperoleh dari hasil pertapaan, bernama Raden Putra. Nama Raden Putra yang sebe narnya Raden Suryanata, yang artinya Raja Matahari (Naskah ML. 2). Ceritera Ampu Jatmaka ini menunjukkan sejumlah unsur kebudayaan Jawa. selain pengaruh politik Jawa dalam tarat mula-mula sekali di Kalimantan Selatan. Menurut J.J. Ras, Kaling sama dengan Tanah Sabrang, sama pula dengan Tanjung pura atau pulau Kencana. Prapanca menuliskan dalam Nagara Kertagama tentang Nusa Tanjung Negara sebagai Pulau Hujung Tanah, yang tak lain dari barisan pegu nungan Meratus, yang menjorok ke Laut Jawa. Ketika Ampu Jatmaka mendirikan candi Agung dan Nagara Dipa di Amuntai, daerah tersebut adalah milik raja Kuripan. Kalau nama Kuripan ini dipertentangkan dengan Negara-Daha kemudian, jelas keraton di atas Amuntai ini adalah Tanjungpuri. Pada saat Tanjungpuri masih Jaya, rupanya daerah Negara Dipa ini adalah bandar utamanya. Setelah Negara Dipa menjadi keraton dan pusat pemerintahan baru, bandar dipindahkan ke Daha. Setelah Daha diubah menjadi keraton maka bandar pindah lagi ke Muara Bahan. Setelah Muara Bahan men jadi keraton maka Banjar berfungsi sebagai bandar utamanya. Namun demikian hal ini masih merupakan teka-teki yang belum bisa terpecahkan. Apakah keraton di atas

Amuntai (Negara Dipa) itu Kuripan, dan Kuripan itu identik dengan Tanjungpuri, masih dipersoalkan. Apakah Kuripan dr, Tanjungpuri itu merupakan dua kerajaan vang berbeda, yaitu Tanjungpu_ri merupakan keraton yang paling terdahulu baru Kuripan kemudian, sebelum timbulnya Negara Dipa? Kraton Tanjungpura/puri adalah Kraton Banjar tertua dan menjadi tempat kedudukan golongan Melayu di Kalimantan Selatan. Mungkin sekali Tanjung pada hari ini di daerah Tabalong ada hubungannya dengan Tanjungpu ra Purba terse but ( ldwar Saleh, 1982:73 dan seterusnya). Selanjut nya mengenai Negara Dipa, ia berpendapat :

  1. Negara Dipa terletak dekat Amuntai sekitar Tabasan sekarang.
  2. Tanjungpura-asal terletak di sekitar TanjL·g pada ali ran sungai Tabalong.
  3. Kemungkinan pula Kuripan dalam hikayat Banjar itu identik dengan negara Nan sarunai hancur kerajaan yang dipuja-puja Suku Naanyan dalam nyanyian walian mereka. Disebutkan bahwa Kerajaan Nanserunai disebabkan "Usak Jawa" yang artinya dirusak orang Jawa. Pada jaman jayanya, kerajaan Nansarunai ini meliputi daerah Barito Tabalong dan pasir. Apakah di sini terselip suatu peristiwa sejarah, yakni penyerbuan orang-orang Jawa dari Keling (Kediri Utara) dipimpin oleh Empu Jatmaka dengan panglima-panglimanya. Tumenggung Tatah Jiwa dan Arya Megatsari. Karena kemenangan ini raja Kuripan menunjuk Empu Jatmaka sebagai penggantinya (ldwar Saleh. 1982: 73). Penelitian filologi terbaru tahun 1968 mengenai Hi kay at Ban jar dari J.J. Ras telah menetapkan bahwa yang kuat dasar dan unsur historisnya dari garis dinasti raja-raja Banjar kemudian, bertolak dari dinasti raja-raja Negara Daha dengan Maharaja Sari Kaburangan sebagai cikal bakalnya, bukan dari Negara Dipa. Sedangkan garis Negara Dipa masih amat legendaris dan masuk ke dalam apa yang disebutnya sebagai "Malay Myth of Origin (Mitos Melayu Asli)".
    J.J. Ras menyebut Negara Dipa sebagai Land of the Light (Ras, 1968:22). Dengan demikian Negara Dipa adalah keraton pertama yang didirikan oleh Empu Jatmaka, baru kemudian berdiri keraton Daha dan Banjar. Hal ini sesuai dengan pendapat Ras, yang mengatakan bahwa raja-raja Daha merupakan cikal-bakal raja-raja Banjar, bukan Negara Dipa. Sekar Sungsang alias Panji Agung Maharaja Sari Kaburangan adalah seorang raja Ciwa, yang dengan bantuan pasukan Jawa berhasil merebut kekuasaan raja Negara Dipa, yang rupa-rupanya beragama Budha. Untuk mengukuhkan kekuasaannya. Sekar Sungsang mendirikan Candi Laras dengan Lingga yang terbesar yang ada di Kalimantan Selatan. Kemudian Sekar Sungsang digantikan oleh maharaja Sukarma, yang mendapat kan kekuasaannya dengan bantuan kelompok Islam. Tetapi Sukarma tidak dapat menahan arus pancaroba pergolakan istana. Ia kembali ke jaman Budha sebagai lawan
    25

dari Ciwalisme. Perebutan kekuasaan berjalan terus. Golongan Ciwa (Hindu) tampil kembali dalam tokoh Pangeran Tumenggung, setelah terjadi pembunuhan atas Pangeran Mangkubumi, yang menggantikan Maharaja Sukarma. C'Jcu Maharaja Sukarma, Parge ran Samudra, melarikan diri ke Muara Barito dengan bantuan Patih Arya Trenggana. Beberapa lama kemudian, Patih Masih, yaitu penguasa daerah orang-orang Melayu, mencari Raden Samudra untuk dirajakan, karena ia tidak ingin lagi menjadi kepala desa yang bertugas terus menerus mengantarkan upeti ke Nagari Daha kepada Pangeran Tumenggung. Selanjutnya terjadi peperangan antara Pangeran Samudra dengan Pange ran Tumenggung. Ketika berhadapan dengan Pangeran Tumenggung, Pangeran Samu dra tidak mau melawan, bahkan menyuruh membunuhnya. Pangeran Tumenggung luluh hatinya, melepaskan senjatanya lalu memeluk Pangeran Samudra yang sebenar nya masih kemenakan itu. Kemudian Pangeran Samudra diangkat menjadi raja yang baru. Rakyat Negara Daha dipindahkan oleh Pangeran Samudra ke Banjarmasin dan Pangeran Tumenggung diminta menunggu Satang Alai dengan penduduk seribu orang. Sedangkan Negara Daha menjadi benua kosong, untuk kemudian lenyap dari sejarah. Dengan diangkutnya seluruh rakyat Negara Daha ke Banjarmasin, maka muncullah kerajaan baru di Banjar. Ketika kemudian terjadi peperangan yang berlarut-larut antara Pangeran Samudra dengan raja-raja lain, maka Patih Masih mengambil inisiatif dengan bantuan militer kepada Demak. Pada waktu itu Demak telah menaklukkan beberapa kerajaan di Jawa dan telah menjadi pengganti kerajaan Majapahit. Demak bersedia membantu Pangeran Samudra, dengan syarat Pangeran Samudra mau memeluk agama islam. Pangeran Samudra menyetujui syarat Demak tersebut. Demikianlah ban tuan tentara Demak datang bersama-sama dengan penghulu yang akan mengislamkan raja dan rakyat Banjar. Adapun pendapat yang mengatCikan bahwa Raden Trenggana alias Surya Alam sebagai raja yang telah mengirimkan bantuan kepada Pangeran Samudra beserta seorang ulama mengislamkan raja dan rakyat Banjar. Diperkirakan peristiwa itu terjadi pada tahun 1526 M. Dari be rita sejarah disebutkan bahwa Raden Trenggana diangkat menjadi SuI tan Demak Il l pada tahun 1521 M. Pada masa pemerintahan Raden Trenggana ( 1521-

1546) inilah Demak mengalami masa kejayaan. Berkali-kali ia mengirimkan ekpedisi ke kerajaan-kerajaan di sekitarnya, dan selalu berhasil. Pada tahun 1524 Demak menye rang dan menaklukkan Banten Girang. Kemudian pada tahun 1527 Demak mengalah kan serta mengislamkan Sunda Kelapa. Maka pengiriman armada dan bantuan tentara ke Banjarmasin itu terus terjadi pada tahun 1526. Setelah Sultan mangkat pada tahun 1546, kerajaan Demak mengalami kemunduran (Solihin 1964:44).
26

Pengislaman Banjar oleh Demak. MI. 2.

Sンい

d 七13 い

しをいし 山意

e 3

Dalam buku sejarahnya, Nugroho Notosusanto menyebutkan bahwa Banjar sebagai suatu kerajaan telah berdiri pada pertengahan abad ke 16. Pengaruh Jawa pada kerajaan · ... Islam irii cukup besar. Selain sistim pemerintahan, berupa unsur budaya Jawa die.:nbil pula oleh kerajaan yang terletak di pantai Kalimantan Selatan ini. Daerah Pengaruh Banjar meliputi Sukadana, Kotaringin dan Lawei. Semula kerajaan ini harus mengirim kan upeti ke Demak setiap tahun. Dahulu pangeran Samudra minta bantuan Demak untuk memerangi musuh, dan sebagai balasannya Pangeran Samudra bersedia masu k agama Islam. Setiap tahun Pangeran Samudra diharuskan mengirimkan upeti dihen tikan sekalipun ,hubungannya dengan raja-raja Jawa tetap berlangsung. Pertentangan seka1i-sekali juga pernah terjadi antara kerajaan Banjar dengan Tuban dan Surabaya yang hendak memaksakan kekuasaan terhadap Banjar. Demikian pula dengan Mataram. Tetapi pertikaian ini kemudian hilang dan terjadi hubungan yang baik, ketika VOC. Belanda mulai muncul di bumi Nusantara (Nugroho, 1980: 138). Mengenai nama kota Banjarmasin, J.J. Ras dalam bukunya menyebutkan demikian: The name Banjarmasin may originally have meant- "Banjar on the Goast" (Banjarmasin adalah Banjar di pinggir pantai. Ras, 1968:533). · ldwar Saleh tidak sependapat dengan J.J. Ras, karena Banjarmasin jelas berarti "Kampung Olah-Masih atau Kampung Melayu". Nama Banjarmasin atau Banjar Olo Masih pada hakekatnva tak Jain dari kampung Melayu yang terdapat di Kuin, di antara kampung-kampung Oloh Ngaju di Balitung, Balandean, Anju Saripat, dan sebagainya. "Kampung Melayu" pertama yang berpusat di Kampung Karaton di Kuin sekarang, terkenal dengan sebutan Banjarmasin atau Banjar, lambat laun menyebar dan meluas menjadi nama wilayah dan kerajaan yang kemudian meliputi wilayah Banjar sekarang (ldwar Saleh, 1982:2). Pada tahun 1936 Dr. J. Eisenberger menulis sebuah buku yang_berjudul "Kroniek der Zuider en Ooster afdeeling van Borneo" (Kronik afdeeling Borneo Selatan dan Timur), menuliskan secara pasti pada halaman 118 tentang penjelasan mengenai tahun-tahun, disusun sesuai raja-raja yang menggantikannya dalam kerajaan Banjarma sin, sebagai berikut :

  1. 1438-1460. Soeria Anata. Pangeran ini diidentifikasikan dengan Pangeran Cakranegara, anak angkat Angka wijaya yang dikirim ke Banjarmasin pada tahun 1438 M, sehingga kepastian cikal bakalnya raja-raja di Nagara Dipa ini kelihatannya mutlak sekali. Soeria Anata memerintah selama 22 tahun.
  2. 1460 -1505. Surya Gangga Wangsa. Diperkirakan memerintah selama 43 tahun.
  3. 1505-1530. Puteri Kalungan dengan suaminya Carang Lalean memerintah selama 25 tahun.
    28

  4. 1530 -1555. Sekar Sungsang alias Raden Sari Kaburangan memerintah selama 25 tahun.

  5. 1555-1585. Raden Soekarma. Ia menunjuk cucunya Raden Samudra yang baru berusia 7 tahun menggantikannya, memerite.h. selama 30 tahun.
  6. 1585 - 1588. Pangeran Mangkubumi. Ia mati dibunuh oleh Pangeran Tumenggung. Ia hanya memerintah selama 3 tahun.
  7. 1588- 1595. Pangeran Tumenggung. Ia akhirnya berdamai dengan kemenakannya yaitu Raden Samudra yang baru berusia 17 tahun, dan menyerahkan seluruh kera jaan Daha kepadanya.
  8. 1595 -1620. Raden Samudra atau Sultan Suriansyah memerintah selama 25 tahun.
  9. 1620-1642. Sultan Rachmat Oella.
  10. 1642-1650. Sultan Hidayat IIIah.
  11. 1650-1678. Sultan Musta'im Billah atau almarhum Panembahan. Beliaulah yang memindahkan keraton ke Martapura. Sayangnya teori patokan-patokan tahun pemerintahan raja-raja Banjar dari Dr. J. Eisenberger ini banyak kelemahannya. Seandainya kuat dasar-dasarnya, maka mudahlah bagi kita untuk menetapkan berdiri nya Banjarmasin di tahun 1595. Kenyataannya tidaklah demikian :
  12. Penelitian filologis terbaru tahun 1968 mengenai Hikayat Banjar dari J.J. Ras telah menetapkan bahwa yang kuat dasar dan unsur historisnya dari garis dinasti raja raja Banjar kemudian, bertolak dari dinasti raja-raja Negara Daha dengan Maharaja Sari Kaburangan sebagai cikal bakalnya, bukan dari Negara Dipa.
  13. Garis Negara Dipa masih amat legendaris dan masuk ke dalam apa yang disebut
    J.J. Ras sebagai "Malay Myth of origin".
  14. Dalam bukunya van Dijk menguraikan dengan luas sekali hubungan Belanda yang paling awal dengan Kalimantan, Kep. Sulu, Kamboja, Siam, dan Cochin China. Bagian sejarah Banjarmasin dari tahun 1604-1660.
  15. Menurut van Oijk, hubungan pertama antara kerajaan Banjarmasin dengan Belanda dimulai tahun 1607. Dalam tahun tersebut J.W. Verschaar mengirim Koopman Gallis Michielssoon ke Banjarmasin. Pada tanggal 7 Juni 1607 ia dibujuk naik ke darat dengan anak buahnya, kemudian ditipu dan dibunuh semuanya. Baru 5 tahun kemudian pembalasan pihak Belanda tiba (ldwar Saleh, 1982:3-4). Mengenai disebutkannya tahun 1595 sebagai berdirinya kerajaan Banjarmasin, dapat diterima oleh kita; karena dalam bukunya, Nugroho menyebutkan bahwa Banjar
    29

sebagai suatu kerajaan telah berdiri sekitar ;Jertengahan abad ke 16. Keraton yang didi rikan di Banjarmasin merupakan keraton ketiga. Keraton yang didirikan o!!"h Pangeran Samudra, setelah berhasil menghalau serangan Negara Daha berkat bantuan Derr.ak. Keraton didirikan sekitar permulaan abad ke 16. Sebelum kerajaan Banjar berdiri, terdapat Negara Dipa yang berada di sekitar Tanjungpura, kemudian ke Muara Bahan sebagai ibukota Negara Daha. Daerah Banjarmasin yang terletak di Muara sungai me mungkinkan kapal besar dari pantai berlabuh di sana. Raja yang pertama ialah Pange ran Samudra yang setelah menjadi raja dan dinobatkan menjadi sultan bernma Sultan Suryanullah atau Suryansyah (Nugroho Notosusanto, 1980:52). Hikayat Aceh adalah karya sastra sejarah yang ditulis pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Jika dibandingkan dengan karya sastra lainnya, hikayat Aceh mempunyai keistimewaan. Hampir separuh hikayat ini diisi dengan ceri tera tentang kebesaran Sultan Iskandar Muda, mulai dari gejala alam yang muncul sebelum Iskandar Muda dilahirkan, masa kanak-kanak yang penuh peristiwa kepahla wanan sampai ia akil baliq. Iskandar disebutkan dengan berbagai nama dan gelar, seperti Raja Munawar Syah,Joham Alam dan Perkasa Alam ( Liaw Tock Fang, 1982: 229). Selanjutnya diceriterakan secara panjang Iebar kegagahan Iskandar Muda. Tatkala berumur tiga belas tahun, Iskandar Muda telah menamatkan Our'an dan pengetahuan agama lainnya. Ia juga mempelajari ilmu berperang. Kakeknya, Raja Syah Alam, yang melihat kepandaian cucunya itu meramalkan bahwa kelak ia akan mengalahkan semua raja-raja yang belum takluk kepada Aceh. Ramalannya ternyata benar. Setelah dewasa, Iskandar Muda menjadi raja yang sangat berkuasa di Aceh serta dapat menaklukkan raja-raja di sekitarnya. Teuku Iskandar yang telah meneliti Hikayat Aceh ini secara mendalam merasa heran, karena tidak menemukan nama Iskandar Muda dalam cerite ranya itu. Ia berpendapat bahwa Hi:ayat Aceh lebih sesuai bila diberi judul Hikayat Iskandar Muda, karena hampir separuh hikayat ini menceriterakan tentang kehidupan raja Iskandar Muda. Ada kemungkinan gelar itu diberikan kepadanya setelah mang kat. Dalam sejarah, Aceh terkenal dengan kegigihannya melawan penjajah. Nama Aceh menanjak dengan cepat pada abad ke 17. Sejak itu seluruh Aceh berada di bawah naungan Aceh Besar yang berpusat di Kutaraja. Pada masa pemerintahan Iskandar Muda kerajaan Aceh mencapai kemakmuran yang luar biasa. Bandar Aceh dibuka luas menjadi bandar internasional dengan jaminan pengamanan gangguan laut dari kapal perang Portugis. Penaklukkan demi penaklukkan tidak hanya dilakukan ter hadap tanah Aceh sekitarnya, tetapi juga meluas jauh ke luar Aceh. Pada waktu Mal aka jatuh ketangan Portugis tahun 1511, para pedagang Islam me mindahkan kegiatan perdagangannya ke pelabuhan Aceh cian Banten. Aceh sebagai kerajaan pantai pada waktu itu masih mampu mempertahankan diri terhadap desakan

orang Barat. Perdagangan lada masih dikuasainya untuk waktu yang cukup lama. Orang Aceh membawa lada sampai ke India dan Laut Merah. Beberapa kali kapal kapal Portugis dikirimkan ke Laut Merah untuk membajak kapal-kapal Aceh dan Gujarat, tetapi tidak banyak berhasil. Orang Aceh pada waktu itu telah dikenal sebagai prajurit ulung yang pantang menyerah. Orang Portugis mengakui ketangkasan prajurit Aceh yang selama satu abad mengganggu keamanan lalu lintas di Selat Malaka bagi orang Barat. Pad a pertengahan a bad ke 16 Aceh merupakan kekuatan yang cu kup pengancam Portugis yang bercokok di Malaka. Orang Portugis mengetahui bahwa Aceh memiliki hubungan erat dengan Turki. Banyak bantuan militer yang dikirimkan oleh Turki ke Aceh. Pada tahun 1567 Aceh mendapat bantuan 500 orang Turki, terdiri dari ahli-ahli senjata api, para penembak dan ahli teknik lainnya. Selain dari Turki, Aceh juga memperoleh bantuan dari tempat lain, misalnya dari Kalikut dan Jepara. Dengan bantuan-bantuan itu Aceh mampu mengimbangi kekuasaan Portugis di Malaka. Orang Portugis juga pernah mencoba mengadakan blokade terhadap Aceh untuk mencegah hubungannya dengan luar. Akan tetapi sebaliknya, Acehpun mampu mengadakan penyerangan dan pengepungan terhadap mereka. Keinginan Portugis untuk menyerang Aceh secara besar-besaran tidak dapat dilaksanakan karena mereka tidak memiliki armada yang cukup besar. Lebih-lebih pada akhir abad ke 16 keadaan di Eropa menyebabkan orang Portugis tidak dapat mengambil tindakan terhadap Aceh. Orang Portugis tidak mampu mem bendung kegiatan perdagangan rempah-rempah oleh Aceh ke Laut Merah. Dalam pe rangnya di laut orang Aceh mempergunakan perahu kecil tetapi gesit, yang dapat di dayung atau mempunyai layar, terdapat juga kapal-kapal atau jung yang lebih besar. Dengan kapal-kapal yang semacam itulah mereka dapat mengarungi samudera sampai ke Laut Merah. Ukuran kapal itu ada yang 500 sampai 2000 ton. Kapal-kapal tersebut berasal dari India, Arab dan ada juga yang dari Turki. Pada masa pemerintahan 'Alauddin Riayat Syah, Aceh mengalami kesulitan, karena bersaing dengan kerajaan Johor. Pada waktu itu Aceh tidak mempunyai kekuat an untuk melakukan serangan ke Malaka. Baru kemudian setelah Sultan Iskandar Muda memerintah di Aceh yaitu pada tahun 1607-1636, kemampuan perangnya meningkat lagi, sehingga mampu mengembalikan daerah-daerah yang pernah lepas dari pengaruhnya ketika Aceh mengalami kemunduran selama akhir abad ke 16. Di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda Aceh mengalami jaman keemasan, bah kan berhasil memperluas daerahnya ke Sumatra Timur dan Semenanjung Melayu. Selain itu Aceh juga mengusai daerah Sumatra Barat yang menghasilkan lada dan emas. Bahan perdagangan itu merupakan bahan yang sangat berharga, karena banyak dicari oleh pedagang dari Gujarat, Cina, Belanda maupun lnggris. Untuk mengamankan

jalan perdagangan itu Iskandar Muda menempatkan pengawas-pengawasnya di pelabuhan Tiku dan Pariaman. Mereka itu sebagian besar adalah para panglima vang diang- kat untuk mengurusi soal pengawasan tersebut. Di antara pedagang-pedagang asing itu, Aceh lebih menyukai orang Gujarat, yang datang ke Aceh membawa bahan pakai- an. Pedagang-pedagang asing lainnya paling-paling hanya diperbolehkan sampai di Kutaraja. Lebih-lebih terhadap pedagang eropa, Aceh tidak begitu menyukainya. Cornelis De Houtman pada tahun 1599 dan James Lancancaster pada tahun 1602 pernah diizinkan untuk singgah di Aceh, karena Aceh membutuhkannya sebagai sekutu melawan Portugis dan Johor. Orang Inggris pernah pula mendapat izin untuk berdagang di beberapa pelabuhan Aceh tetapi tidak lama. Setelah itu orang Belanda mendapat izin pula, tetapi dengan syarat yang:amat berat. Pendek kata Iskandar Muda mempersulit orang-orang Eropa untuk melakukan perdagangan di Aceh. Tetapi setelah ia mengalami kekalahan dalam serbuannya ke Malaka pada tahun 1629. Iskandar Muda memberikan izin dagang kepada Belanda untuk beberapa tahun. Aceh mengalami kemunduran setelah masa pemerintahan Iskandar Muda berakhir dan setelah Belanda merebut Malaka dari tangan Portugis. Beberapa karya sastra sejarah yang patut dikemukakan di sini adalah Sejarah Tambusai, Sejarah Pasemah, Ceritera Raja Mampawah, Hikayat Negeri Johor, dan Sejarah Raja-raja Riau.

Dalam naskah sejarah Tambusai (ML. 100a), ceritera langsung dimulai dari Raja

Tambusai yang bergelar Yang Dipertuan Tua dengan ketiga putranya. Salah seorang

putranya yang bernama Tengku Raja Muda, kemudian menjadi raja diRambah, sedang kakaknya yang bernama Duli Yang Dipertuan Akhir Zaman, menggantikan ayahnya menjadi raja di Tambusai. Sebenarnya isi dari Sejarah Tambusai ini (ML. 100a) dibagi dalam empat pasal dan masing-masing pasal merupakan ceritera yang berdiri sendiri. Pasal pertama menceriterakan tentang asal-usul Raja Rambah dengan rakyat dan ketu- runannya. Pasal kedua menceriterakan tentang keturunan raja Mandang Kotaraja. Pasal ketiga menceriterakan tentang keturunan raja Kepenuhan yang berasal dari Jo hor dan menetap di daerah Rokan dengan rajanya yang terakhir bernama Marhum. Akhir Zaman Tambusai. Dan pasal yang keempat berisi daftar keturunan rajaKuan- tan dan penyerangan Aceh ke Johor (Minerva Mutiara, 1979:7). Untuk mengetahui nilai historis dari Sejarah Tambusai ini memang tidak mudah, karena selain tidak terdapatnya angka tahun kejadian juga diperlukan sumber-sumber lain yang dapat membuktikan kebenaran ceritera itu. Sejarah Tambusai ini bukanlah sebuah karangan atau catatan sejarah yang ditulis secara kronologis berdasarkan fakta dan data, melainkan sebuah genealogi dari raja-raja Tambusai. Dalam naskah ini se- bagaimana lazimnya dalam penulisan prosa Melayu lama, banyak dijumpai ceritera

yang bersifat mitos legendaris. Walaupun mungkin ada juga beberapa peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lalu, tetapi karena tidak disertakan penanggalan atau menyebutkan tokoh-tokoh, maka ceritera ini sangat diragukan kebenarannya. Bila melihat ceriteranya, diperkirakan bahwa ceritera ini menyangkut kerajaan Tambusai sekitar abad ke 16 sampai abad ke 19, di mana ai Tetapi dalam naskah Sejarah Tambusai (ML. 100b), dikatakan bahwa Sultan Mahyudin itu putera Raja Pagarruyung, ketu runan Sultan Iskandar Zulkarnain, yang bernama Maharaja Diraja (Ibid, 1979:103-

104). Sejar'ah Pasemah menceriterakan asal usul nama-nama tempat di Sumatera Selatan, seperti Palembang, Remantai, Paduraksa, dan Pasemah. Dikisahkan pada waktu ketu runan raja Majapahit yang bernama Puyang Atung Bungsu berada di daerah Pasemah, sedang melayari sungai, ia bertemu dengan puteri Sendang Bitung yang sedang melim bang (mencuci) beras. ltulah sebabnya negerinya disebut Pelimbangan atao P.alembang. Selanjutnya ketika putra raja itu berhenti di bawah pohon Aremanti dalam perjalanan nya ke muara sungai, maka tempat itu disebut Remantai atau Repatai. Demikian pula ketika ia memeriksa rimba-rimba di sana, rimba itu lalu dinamakan Paduraksa, yang artinya "Yang baru diperiksa". Pada suatu ketika isteri Puyang Atung Bungsu yang bernama putri Senantai Buwai sedang mencuci beras di sungai, maka dengan tidak sengaja terbawa dalam bakulnya seeker ikan semah, sejenis ikan emas. Maka daerah itu dinamakan Pasemah hingga sekarang (naskah no. MI. 234). Ceritera Raja Mampawah menceriterakan pereodesasi raja-raja Mampawah dari jaman permulaan, jaman keemasan sampai jatuhnya, yaitu tatkala Kerajaan Mampawah mengadakan perjanjian dengan pihak Belanda pada tahun 1819. Disebutkan pula ada hubungan Mampawah degan kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya, seperti Sambas, Pontianak, Banjar serta peperangan dengan kerajaan Palembang. Ceritera berakhir dengan perjanjian yang diadakan oleh Raja Mampawah Sultan Oasim dan Panembahan Surya Kusuma dengan Belanda pada tahun 1819 (Pit. 5).
33

Pada umumnya karya sastra sejarah yang ditulis oleh orang-orang Bugis lebih dapat dipercaya kebenaran faktanya. Orang Bugis mempunyai kebiasaan menyimpan catatan-catatan harian, surat perjanjian dan silsilah raja-raja. Mereka juga mencatat tahun-tahun dari peristiwa yang dialaminya, sehingga lebih memudahkan para peneliti. Kadang-kadang ceriteranya agak bersifat Bugis-sentris, yaitu mengagung-agungkan pahlawan Bugis. Bagaimanapun juga catatan-catatan itu lebih dapat dipercaya daripa da karya sastra Melayu lainnya. Beberapa contoh dapat dilihatnya dalam hikayat Johor dan Raja-raja Riau. Penulisan sastra sejarah mulai memasuki jaman baru pada waktu ditulisnya Hika yat Negeri Johor. Sebelum hikayat ini, sastra Sejarah selalu dimulai dengan ceritera mitos dan legenda. Sejarah Melayu dimulai dengan kisah raja Iskandar Zulkarnain dan anak cucunya yang turun di bukit Siguntang Palembang, yang kemudian menurun kan raja-raja Melayu. Baik Hikayat Raja-raja Pasai maupun Hikayat Aceh diawali dengan ceritera raja yang dikawin dengan putri Bambu (Buluh). Tetapi Hikayat Negeri Johor dimulai dengan suatu kejadian sejarah, yaitu sewaktu Johor dikalahkan oleh Jambi. lni merupakan suatu peristiwa yang benar-benar terjadi dalam sejarah. Peperang an itu disebabkan karena adanya perselisihan faham antara Bendahara Johor dengan Laksamana Paduka Raja. Laksamana ingin menambah pengaruhnya dengan mempersembahkan putrinya kepada baginda Raja Johor. Karena itu baginda memutuskan pertunangannya dengan putri raja Jambi yang telah disetujuinya. Raja Jambi merasa dihina dengan perlakuan itu lalu menyerang negeri Johor. Kemudian terjadi peperangan yang hebat yang meng- akibatkan kekalahan Johor. Hi kay at Negeri Johor ini sebenarnya adalah catatan sejarah. Setiap peristiwa di catat dengan cermat dan dibubuhi angka tahun terjadinya peristiwa. Kadang-kadang peristiwa yang dicatat itu tidak penting dan tidak ada hubungannya dengan peristiwa lain, namun toh dicatat juga. lnilah .;uatu kemahiran para penulis Sejarah Bugis dalam mencatat peristiwa-peristiwa terjadi di jamannya. lni merupakan pula suatu ciri penu lisan Sejarah Bugis, yang kemudian mempunyai pengaruh besar sekali dalam Sastra Melayu. Ismail Hussein yang telah meneliti hikayat Johor secara mendalam, mengata kan bahwa hikayat ini tidak ada menceriterakan raja-raja Johor, melainkan tentang raja-raja Bugis di Riau. Hanya bagian permulaan saja yang ada diceriterakan mengenai Johor. Judul yang lebih tepat adalah Sejarah Sultan di Teluk Ketapang (Ismail Hussein, 1963:346-347). Salah satu naskah yang diselidiki oleh Ismail Hussein memang dimulai dengan kalimat "lnilah Sejarah Sultan di Teluk Ketapang". Sultan di Teluk Ketapang ini tidak lain dari raja Haji. Sebagian besar hikayatnya mengisahkan tentang raja Haji. Jaman raja Haji adalah jaman kemegahan raja-raja Bugis di semenanjung Melayu. Sejak kematian Raja Haji, raja-raja Bugis pun berkurang kekuasaannya di sana. Walau-

pun demikian raja-raja Bugis masih meninggalkan pengaruh di Selangor.

Mungkin karena adanya pengaruh Bugis, maka penulisan Sejarah Raja-raja Riau agak berbeda, dengan sastra sejarah Melayu lainnya. Perbedaan itu nampak jelas dengan dicantumkannya tahun-tahun terjadi'lya peristiwa dan juga nama penulisnya. Sebagian besar isi Sejarah Raja-raja Riau menceriterakan raja-raja Johor dan Bugis di kepulauan Riau. Sejarah ini dikenal pula dengan Hikayat Negeri Riau, Silsilah Raja Bugis, dan Aturan Setia B!Jgis dan Melayu. Di Museum Nasional Jakarta terdapat nas- ,kahnya dua buah, yaitu no. v.d.w. 62 dan 197. Kedua naskah itu sebagian besar isinya sudah tidak dapat dibaca lagi, karena kertasnya hancur. Namun sudah ada microfilm nya. lsinya berupa sejarah lengkap tentang hubungan orang Bugis dan Melayu yang dimulai pada tahun 1103 H, ketika raja Johor dan Pahang, Sultan Sulaiman Badr ai-Aiam Syah mengadakan ikatan persahabatan yang kemudian diingkari oleh Raja Muda. Angka tahun penulisan 1274 H dibuat pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Badr ai-Aiam Syah ibn Almahum as-Sultan Abdurrahman Syah. Penu:isnya seorang keturunan Bugis, ditulis di Pusau Penyengat pada tahun 1274 H. Residen Riau pada masa itu bernama Johan Hendrik Tobias. Diceriterakan tentang sejarah Kerajaan Riau mulai tahun 1103 H dan berakhir pada tahun 1223 H. Sedangkan naskah no.

v.d.w. 197 menceriterakan tentang penaklukkan Riau oleh Bugis pada tahun 1134 H. Sebagian besar kertasnya sudah rusak, sehingga tidak jelas isinya (Katalog Naskah Museum Pusat, 1972:203-204). Peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi dalam sejarah tidak hanya direkam dalam bentuk prosa, seperti dalam sejarah dan hikayat; tetapi juga dalam puisi (syair). Kum pulan ini disebut syair sejarah atau syair perang. Menurut Liaw Tock Fang, syair sejarah ini sebenarnya tidak lain dari syair perang ( Liaw Tock Fang, 1982:305). Pen dapat ini ada benarnya, karena sebagian besar syair sejarah ini mengisahkan peristiwa peperangan yang telah dilakukan oleh raja-raja di Nusantara, baik dalam perang mel a wan penjajah seperti Belanda, Portugis dan lnggris, maupun perang yang terjadi di kalangan mereka sendiri. Beberapa contoh yang terkenal di antaranya, Syair Perang Muntinghe, Syair Perang Banjarmasin, Syair Perang Kaliwungu, dan Syair lnggris me nyerang kota. Syair Perang Muntinghe menceriterakan tentang keperwiraan Sultan Badaruddin memimpin rakyatnya untuk menentang penjajahan Belanda di Palembang. Dalam salah satu naskahnya tertulis demikian "Syair Umpatan pada perang Palembang 1819- 1821 dialamatkan kepada Komisaris Belanda Muntinghe atau Idler Menteng". Menurut catatan sejarah, Menteng itu adalah ucapan orang-orang kita untuk menyebutkan Muntinghe, yaitu salah seorang anggota Raad van Ned. lndie (Dewan Hindia Belanda)
35

— Pendaratan Komisaris Muntinghe di Palembang. MI. 12/v.d.w. 272.

心力

北北

水

A河 心病A心

光

城此冰 日正沙北 36

yang diserahi jabatan Komisaris pemerintahan Kolonial untuk wilayah Palembang dan Bangka. Ia diserahi jabatan itu mulai taggal 27 Oktober 1817 M. Dalam usahanya untuK. menanamkan kembali kekuasaan Belanda di Palembang. Muntinghe mengalami kekalahan. Ia kembali ke Batavia pada bulan Juni 1819 M, untuk minta bantuan mili ter. Syair perang Muntinghe diawali dengan ceritera perlawanan rakyat Palembang terhadap Belanda yang dipimpin oleh Komisaris Muntinghe, ketika mendarat di Palem bang (Naskah MI. 12). Disebutkan bahwa salah seorang Pangeran bernama Raja Akil, telah berbuat khianat, dengan membantu Belanda. Hal ini menimbulkan kemarahan para haji (ulama). Mereka mengerahkan pasukan untuk menyerang Belanda. Sultan Palembang bersama putranya berjuang dengan gigih melawan penjajah, sehingga akhirnya tentara Mung tinghe mengalami kekalahan dan melarikan diri ke Jawa, untuk minta bantuan militer. Karena untuk sementara waktu yang unggul perang adalah Palembang, maka sudah seyogyanya bila syair itu diganti judulnya Syair Perang Palembang. Syair Perag Muntinghe ini sebenarnya dilatarbelakangi oleh suatu peristiwa yang pernah terjadi dalam sejarah Palembang. Dalm buku sejarahnya, Sanusi Pane menye butkan tentang kerajaan Pelembang yang diperintah oleh Sultan Badaruddin. Pada tahun 1811, benteng Belanda di Pal em bang telah direbut oleh Sultan Badaruddin, setelah diketahuinya 'orang Belanda tidak berdaya lagi di Pulau Jawa. Orang-orang lnggris tidak pula diizinkannya masuk ke Palembang, sehingga pada tahun 1812 Raffles mengirimkan tentaranya ke sana. Sultan Badaruddin menyingkir ke hulu, dan orang lnggris mengangkat adiknya, raja Najamuddin, menjadi Sultan dengan perjanjian Bangka dan Belitung yang banyak timahnya itu diserahkan kepada lnggris. Dalam kenyataannya Badaruddin masih kuat kedudukannya, dan kerapkali menyerang kota; sehingga orang I nggris takut tidak sanggup membela kedudukan Najamuddin. Residen lnggris ·mengakui Badaruddin kembali menjadi Sultan, dengan perjanjian bahwa sultan itu akan membayar denda, akan mendirikan benteng kembali, monopoli pembelian madat dan lain-lain. Najamuddin bersedia turun tahta dengan syarat kelak ia akan menggantikan Badaruddin. Demikianlah Badaruddin naik tahta kembali pada tahun 1813, tetapi Raffles tidak setuju dengan tindakan residen itu. Lalu dikirimnya laskar yang akan mengangkat Najamuddin. Pada tahun 1816, orang Belanda menerima kembali Palembang dari tnggris. Belanda tidak menyukai Najamuddin dan Badaruddin. Badaruddin diakui sebaga.i Sultan Tua, sedangkan Najamuddin sebagai Sultan Muda. Tidak lama kemudian datang tentara tnggris untuk membantu Najamuddin, namun dapat dipukul mundur oleh Belanda. Najamuddin bersama putra-putranya dikirim ke Jawa, lalu diasingkan ke Cianjur. Pada tahun 1819 terjadi pertempuran antara Bada ruddin dengan Belanda. Belanda minta bantuan kembali di pulau Bangka. Selanjutnya dikirim tentara Belanda ke Palembang di bawah pimpinan panglima lain, namun dapat

dikalahkan oleh Palembang. Kemudian Belanda mengadakan politik adu domba dengan mengadakan perjanjian pada tahun 1821 dengan Najamuddin. Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa setelah Palembang diserbu · kembali oleh Belanda, maka putra sulung Najamuddin akan diangkat menjadi Sultan Palembang. Najamuddin berangkat bersama-sama tentara Belanda yang dipimpin oleh Jendral De Kock ke Palembang. Benteng Palembang dapat direbutnya. Setelah itu Sultan Badaruddin ditawan dan di bawa ke Batavia, kemudian diasingkan ke Ternate, sehingga wafat di sana pada tahun 1852. Putra sulung Najamuddin naik tahta Kerajaan Palem bang dengan gelar Sultan Najamuddin II (Sanusi Pane, 1965: 124). Syair perang Banjarmasin mengisahkan peperangan yang terjadi di Banjarmasin pada tahun 1866. Naskah yang ada di Museum Nasional hanya ada satu-satunya, bernomor MI. 196. lsinya terdiri dari 69 fasal, 13 fasal ditulis oleh Engku Raja ai Haj Daud, negeri Riau, pulau Penyengat; 56 fasal lagi ditulis oleh Raden ai-Habib Muhammad dari negeri Siak. Raden al Habib Muhammad menulis yair ini ketika ia tinggal di Banjarmasin, yaitu pada tahun 1871. Syair Perang Banjarmasin diawali dengan pujian terhadap pemerintah Belanda. Pada masa Mayor verspijk menjadi residen di Banjarmasin, terjadi kekacauan yang dipimpin oleh Pangeran Hidayatullah. Kemu dian Belanda melantik Pangeran Syarif Hasyim untuk menumpas kekacauan itu. Seperti biasanya, Belanda mempergunakan politik adu domba untuk memecah-belah persatuan bangsa kita. Dalam hal ini, Belanda memanfaatkan Pangeran Syarif Hasyim untuk menumpas pem berontakan yang dipimpin Pangeran Hidayatullah. Akhirnya Hidayatullah menyerah, setelah keluarganya ditahan oleh Pangeran Syarif Hasyim. Ia diasingkan ke Batavia. Atas jasanya, Pangeran Syarif Hasyim diangkat oleh Belanda menjadi raja di Cangal Manunggal dan diberi bintang mas ( Liaw Tock Fang, 1982:309-31 0). Dalam Katalo gus Van Ronkel ( 1909) disebutkan penanggalannya yaitu 9 Februari 1872. Sebenarnya Syair Perang Banjarmasin itu dilatarbelakangi oleh suatu peristiwa yang pernah terjadi dalam sejarah. Sebelum meletusnya peristiwa itu, suasana di Kalimantan Selatan sudah terasa panas. Belanda telah beberapa lama dapat melaku kan campur tangan dalam kericuhan dan pertentangan yang terjadi di kalangan keluar ga raja Banjar. Perlawanan terhadap pengaruh Belanda tidak saja datang dari Lingkung an istana, tetapi juga datang dari luar kraton, yaitu rakyat biasa. Hal ini terjadi karena Belanda telah lama berusaha untuk melaksanakan monopoli perdagangan di daerah tersebut. Sebagian besar rakyat menentang karena hal itu mematikn penghidupan mereka. Di kalangan kraton erdapat golongan yang anti Belanda, di antaranya ialah Pangeran Hidayat. Pengangkatan Pangeran Tamjidillah yang tidak disenangi rakyat menjadi sultan telah memperuncing keadaan. Padahal rakyat lebih menyukai dan meng anggap Pangeran Hidayat lebih berhak untuk naik tahta kerajaan. Tetapi Belanda

tetap menobatkan Pangeran Tamjidillah dan mengesampingkan Pangeran Hidayat yang tidak menyukai Belanda. Dengan adanya campur tangan dalam pepggantian sultan, maka rakyat mengadakan perlawanan terhadap sultan baru ·dan kemudian perlawanan diarahkan kepada Belanda. Dalam perlawanan ini Pangeran Hidayat ber pihak kepada rakyat yang mengadakah perlawanan. Pada tahun 1859 perlawanan terhadap Belanda berkobar di bawah pimpinan Pangeran Antasari. Dalam beberapa kali pertempuran itu, Pangeran Hidayat ikut aktif membantu. Sementara pertempuran pertempuran terus berlangsung, pemerintah Belanda memecat Pangeran Hidayat sebagai 'Mangkubumi, karena ia menolak untuk merighentikan perlawanannya. Pada tahun 1860 jabatan sultan kosong dan jabatan Mangkubum i dihapuskan dan daerah tersebut secara langsung diperintah oleh Pemerintah Belanda. Ternyata perlawanan masih berlangsung terus. Setelah Be Ianda mendapat bantu an mil iter tla'ri ltiar; maka setapak demi setapak ia dapat memukul mundur perlawarlan rakyat. Akibat tekanan tekanan yang berat dari pihak Belanda serta adanya politik adu-domba, maka akhirnya beberapa pemimpin pemberontakan menyerah dan ditangkap, Pangeran Hidayat tertangkap pada tahun 1862 dan dibuang ke Jawa. Parigerah Antasari metanjutkan perlawanannya dengan kawan-kawan seperjuangan yang lain; sampai ia meninggal pad a tahu n 1861 ( Nugroho Notosusanto, 1980: 157 -158). Berita sejarah tidak pernah menyebutkan nama Pangeran Syarif Hasyim, yang menghianati perjuangan Hidayat, s'eperti yang terdapat dalani naskah no. MI. 196 itu. Tokoh yang ada Pangeran Tamjidillah, saudara Pangeran Hidayat: Siapakah sebe narnya Pangeran Syarif Hasyim ini, inasih menjadi tanda tanya. Dalam naskahnya disebutkan bahwa Pimgeran Syarif Hasyim diberi anugerah sebuah blntang mas oleh Belanda serta dirajakan di Cangal Manunggal, karena jasanya ikut mEmumpas pembe rontakan rakyat yang dipimpin oleh Pangeran Hidayatullah. Selanjutnya dalam kata logus Van Ronkel (1909-345) disebutkan dernikian: "Syair Perang Banjarmasin; ceriteranya mengenai perang Banjarmasin yang terjadi pada tahun 1866. Sedangkan berita sejarah menyebutkan peperangan mulai berkobar pada tahun 1859 di bawah pimpinan Pangeran Antasari, dengan dibantu oleh Pangeran Hidayat. Pangeran Hidayat tertangkap pada tahun 1862 dan dibuang ke Pulau Jawa. Jadi ada kemungkinan pe nulis mengambil peristiwa peperangan yang terjadi pada tahun 1866, setelah Pangeran Hidayat dibuang ke Jawa. Namun karena tokoh Hidayat itu masih diagungkan oleh ·rakyat, maka penulis mencantumkan pangeran itu dalam syairnya. Syair Kaliwungu (MI. 198F) menceriterakan tentang pemberontakan terhadap Belanda yang terjadi pada tahun 1763 di Semarang. Sedangkan Syair lnggris menye rang kota menceriterakan tentang usaha lnggris menaklukkan Jawa Barat pada tahun 1811, sehingga terjadi perpindahan kekuasaan ke tangan lnggris,. Berupa Frahmen, yang terdiri dari 8 halaman (no. MI. 153).

Syair Hemup atau Hemop menceriterakan tentang pemberontakan orang-orang · Cina di Batavia, serta perang Madura. Sebagai pendahuluan diceriterakan tentang huru-hara yang terjadi di Sailan. Syair ini mempunyai beberapa judul, yaitu Svair Hem up, Syair dan Syair Kompeni Wolanda berperang dengan Cina ( Liaw Tack Fang, 1982:307). Van Ronkel mE!nyebutkannya " sebagai Syair Emup (Ronkel, 1909:344). Nama Hemup atau· Hemop adalah ucapan yang salah dari Gustaf van Imhoff, seotang jendral Belandayang berhasilmenumpas pemberontakan Cina di Batavia. Pada waktu itu yang menjadi Gubernur Jendral di Batavia adalah Volckenier. Mereka sering berse lisih faham. Karena pandainya berbicara, akhirnya Van Imhoff dapat menurunkan Valckenier, sehingga ia sendiri diangkat menjadi Gubernur Jendral. Setelah meninggal, Van Imhoff cfigantikan oleh Jakob Mosel. Syair i·ni sebenarnya dilatarbelakangi ·areh suatu peristiwa yang pernah terjadi da lam sejaraho Sejarah tahun 1740 di kalangan penduduk Cina di Batavia timbul keresah an, karena mereka terus menerus diancam oleh Belanda akan ditangkap dan dibuang ke Srilangka atau Afrika Selatan, jika mereka tidak memberikan sejumlah uang. Selain itu tersiar berita secara luas bahwa mereka tidak diangkut ke Srilangka atau Afrika Selatan, melainkan dihanyutkan 'ke laut. Hal itulah yang menyebabkan banyak orang Cina nieninggalkan kota Batavia. Dari luar Batavia, mereka melakukan serangan dan kekacauan terhadap Belanda.: Oleh karena itu Gubernur Valckenier segera bertindak, menitahkan agar rumah-rumah. penduduk Ciria digeledah dan dibakar. Banyak rumah-rumah Cina yimg dibakar, dan orang-orang Cina dibunuhnya. Kemudian timbul lah pemberontakan orang-orang Cina di Batavia pada tahun 1740, yang dipimpin oleh Tai Wan Sui. Namun pemberontakan itu akhirnya dapat dipadamkan oleh Jendral Gustaf Willem van Imhoff. Gelora pemberontakan orang Cina itu meluas ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang akhirnya berakhir pada tahun 1743 setelah Belanda mendapat bantuan militer dari Madura (Sundhoro, 1968:32-34). Sebenarnya sudah lama raj a-raja di Nusantara mengadakan perlawanan terhadap bangsa penjajah, seperti Belanda dan lnggris, namun mereka selalu dapat dikalahkan,di samping menggunakan modernitas peralatan perang dan taktik peperangan··yang hebat, bangsa penjajah itu menggunakan pula senjatanya yang paling ampuh, yaitu politik adu domba. Banyak di antara raja-raja itu tidak menyadari bahwa dirinya diperalat dan di adu-domba dengan saudara mereka atau raja-raja yang lain, sehingga mudah timbul_ per pecahan di dalam negeri/kerajaan sendiri. Dengan demikian maka bangsa penjajah dapat secara mudah menghancurkan kerajaan-kerajaan di Nusantara, dan menanamkan kekua saannya. Lagi pula, jangan dilupakan adanya para penghianat bangsa yang rela hari mengkorban kan bangsa sendiri untuk kepentingan mereka.

B. NASKAH SASTRA SEJARAH MELAYU (v.d.w.-188). Jumlah naskah sastra sejarah yang· tersimpan di Museum Nasional Jakarta ada sekitar 47 judul. Sebagian besar ditulis dengaFl huruf Arab, bahasa Melayu, yang lazim pula disebut huruf Jawi, bentuk prosa dan puisi.
1. Sejarah Melayu (4 naskah), MI. 11, v.d.w. 188,189,190.
2. Hikayat Raja Banjar dan Kotaringin (6 naskah), Mi. 2, 3, 48, 157, 218, dan
··

v.d.w. 200.
3. Hikayat Misa Melayu (sebuah), MI. 423.
4. Hikayat Negeri Johor (sebuah), v.d.w. 193.
5. Hikayat Raja Alit (sebuah), v.d.w. 194.
6. Sejarah Raja-raja Riau (2 bua!l), v.d.w. 62 dan 197, keduanya rusak.
7. Asal Raja-raja Sambas (sebuah), v.d.w. 198.
8. Tentang Sambas dan Kutei (sebuah), MI. 475.
9. Hikayat Aceh (sebuah), v.d.w. 196.
10. Sejarah Aceh (2 buah), MI. 422, 535.
11. Asal Sultan Aceh (sebuah), MI. 221.
12. Ceritera Gubernemen Walanda perang ke negeri Aceh (sebuah), MI. 271.
13. Asal Usul Bangkahulu (3 buah), MI. 143, 148, 456.
14. Asal Usul Tuan Gadang (sebuah), MI. 160.
15. Asal Turunan Raja Baros (sebuah), MI. 162.
16. Asal Raja-raja Palembang (sebuah), Br. 157.
17. Sejarah Pasemah (sebuah), MI. 234.
18. Sejarah Tambusai (2 buah), MI. 100a, dan 100b.
19. Asal Raja-raja Pagarruyung (sebuah), MI. 483.
20. Kronik Kutei (sebuah), MI. 462.
21. Silsilah Kutei (sebuah), Br. 513.
22. Sejarah Priangan (sebuah), MI. 165.
23. Sejarah Wangsagoprana Sagara Herang (sebuah), MI. 268.
24. Sejarah Bledug Ngembak dan Jono (sebuah), MI. 211.
25. Sejarah Jawa (sebuah), MI. 80.
26. Babad Tanah Madura (sebuah), MI. 530.
27. Ceritera Bandung Bondowoso (sebuah), MI. 49.
28. Kronik Maluku (sebuah), MI. 173.
29. Hikayat Kapitan Yonkor (sebuah), MI. 536.
30. Hikayat lstambul (sebuah), Br. 319.
31. Raja Priangan Kawin ke Negeri Aceh (sebuah), v.d.w. 208.
41

  1. Hikayat Asal Bangsa Jin dan Dewa (sebuah), v.d.w. 187.
  2. Surat Pengangkatan (sebuah), MI. 498.
    ·;34,, Kaba Malim Diman (sebuah), v;d.w. 209.

35._Kaba Si Tungga (3 buah); v.d.w. 210, 211 dan MI. 32.
36. Buku Curai Paparan (sebuah), MI. 441.
37. Syair Hemup (Imhoff} sebuah, MI. '217.
. ;}8 Syair ,lnggris Menyerang Kota (sbuah), MI. 153. '39. Syair Perang Banjarmasin (sebuah), MI. 196.
40. Syair Perang Kaliwungu (sebuah), MI. 198.
41. Syair Perang Muntinghe (2 buah), MI. 12, v.d.w. 272.
42. Syair Residen De Brauw (sebuah), Br. 157 (6).
43. Syair Sult'i!n Mahmud (sbuah)) 1. 159.
44. Syair Raja Siak (sebuahL v.d.w. 273,
45. Syair Perang Wangkang (sebuah), MI. 92.
46. Syair Sultan Mahmud di Lihgga (sebuah), v.d.w. 274.
47. Syair Singapura dimakan Api (sebi.Jah), v.d.w. 270.
·.,

C. SEJARAH MELAYU ! I 'i !; :; .,.J Naskah Sejarah Melayu yang dipakai sebagai bahan pembicaraan ini diambil dari koleksi Museum Nasional Jakarta, nomor v.d.w. 188. Jumlah naskah Sejarah Melayu yang a 1 8, 18, 190
_ •. an Ml. 11. _- ve a _ Melayu vers• pendek dan v d.v-.:. 189,. Juml al buah. Ceriera, djQwali _ dengan 'kisah Iskandar zLikarnain C:Jari negerr hendak melihat matahari'terbit, dan sampai di serokan Negeri Hindi. Di 'sini ia ber perang dengan ·Raja Kida Hindi. Ke udian ceritr:a rakhir dengn peristiwa kema tian Tun Alihati, seorang hulubalang kepercayaan Sultan .Ahmad.-· Sultan Ahmad ada tah putra Suij _Mhu? S 1 lSej r t rdiri. dan naskah v.d.w. 188 an 190. a: e 34 centera- nya sama dengan versi cP,en

v.
iQn • rangan Jambi terhadap w. an I., sudah rusak, sehingga tulisann y ter a _I P, 9i. itian R. Roolvmk, naskah v.d.w. 191 1tu .Seiara, Mhtperluas,..

yang isinya menceriterakan tentang Ma t t pada akhir ceritera berbunyi : .... Datuk yang hilang di Tanjung Batu, kepada masa
Johor belum kalah diserang Jambi. lni berlainan dengan naskah v.d.w. 199, yang
kolofonnya berbunyi : .... Datuk yang hilang di Tanjung Batu, masa alah Johor
diserang Jambi. Kata "belum" di sini adalah tambahan dari sipenyalin. Sejarah Melayu adalah sebuah karya sastra sejarah Melayu lama yang paling ter kenal. Dalam sejarah melayu kita temukan sebuah tema pokok, yaitu "Orang Melayu pantang durhaka". Walau bagaimana kejamnya tindakan raja-raja Melayu, rakyatnya tidak pernah memberontak, tidak pernah berbuat durhaka. Raja-raja Melayu, khusus nya di Malaka menjadi pusat sakral yang harus selalu dipuja oleh rakyatnya. Hal ini dilatarbelakangi oleh peristiwa masa lalu ketika raja Melayu pertama, Sang Sapurba mengadakan perjanjian dengan Demang Lebar Daun (v.d.w. 188, alkisah ke 2). Pada waktu itu Sang Sapurba hendak melamar putri Demang Lebar Daun, dan lamarannya diterima dengan syarat. Sang Sapurba serta anak cucunya kelak tidak boleh menghina

Bagian pendahuluan Sejarah Melayu.

Av.d.w. 190.

atau bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Demikian pula anak cucu Demang Lebar Daun tidak boleh berbuat durhaka terhadap rajanya. ltulah sebabnya rakyat Malaka pantang berbuat durhaka terhadap rajanya. Sejarah Melayu menceriterakan tentang asal usul keturunan raja-raja Melayu, masa pertmbuhannya, masa jaya dan masa keruntuhannya di tangan Portugis. Kisah nya diawali dengan ceritera tentang raja Iskandar Zulkarnain dari negeri Makaduniah berjalan hendak melihat matahari terbit sampai di Serokan Negeri Hindi. Di sini ia berperang dengan Raja Kida Hindi. Setelah Iskandar dapat mengalahkan Raja Kida Hindi, maka ia menikah dengan putri raja Kida Hindi yang bernama Syahrui-Bariah. Sepuluh hari setelah menikah, raja Iskandar Zulkarnain melanjutkan perjalanannya tanpa membawa serta putri Syahru 1-Bariah. Selanjutnya diceriterakan tentang tiga orang putra raja keturunan Iskandar Zulkarnain yang muncul di Bukit Siguntang Palembang. Dari ketiga orang inilah terpencar raja-raja yang kelak memerintah di tanah Melayu, seperti Palembang, Minangkabau, Singapura, Malaka dan lain sebagai nya. Diceriterakan pula tentang asal berdirinya kota Singapura, Malaka, Samudra dan Pasai. Kemudian tentang ditetapkannya pe:-aturan memakai warna kuning bagi raja raja serta kisah pengislaman raja Samudra dan Malaka. Jaman keemasan raja-raja Melayu-Malaka ini berakhir dengan jatuhnya Malaka ke tangan Portugis. Selanjutnya diceriterakan tentang raja Malaka terakhir yang bernama Sultan Mahmud Syah I. Setelah Malaka jatuh dan Sultan Ahmad mangkat, ia mengambil alih pemerintahan. Ia mengundurkan diri ke Pahang, terus ke Johor. Namun karena kurang strategis letaknya, ia memindahkan pusat kerajaan ke Bintan. Untuk pertamakalinya Riau muncul dalam sejarah sesudah kejatuhan Malaka pada tahun 1511. Terutama setelah Sultan Mahmud mendirikan istana baru di Bintan, Riau menjadi lebih penting. Bebera pa lama kemudian pindah ke Kampar dan mangkat di sana. Ia digantikan oleh putra nya yang bergelar Sultan Alauddin Riayat Syah II. Karena menikah dengan putri Pahang, ia memindahkan pusat pemerintahannya ke Pahang, tetapi tidak lama ke mudian pindah lagi ke Johor. Secara berturut-turut memerintah di Johor Sultan Muzaffar Syah II, Abdul Jalil Syah I, dan Abdul Jalil Syah II. Portugis datang meng hancurkan ibu kota, sehingga Sultan Abdul Jalil Syah II memindahkan istananya ke Batu Sawar. Pada masa penggantinya yang bernama Sultan Alauddin Riayat Syah Ill terjadi serangan Aceh terhadap kerajaan Johor tahun 1613. Raja Muda Abdullah dan Tun Seri Lanang ditawan dan dibawa ke Aceh. Beberapa lama kemudian pada masa Sultan Abdul Jalil Syah Ill, datang serangan dari Jambi. lstana Sultan di Batu Sawar dihancurkan dan Johor dapat dikalahkan oleh Jambi. Menurut berita sejarah, peristiwa itu terjadi pada tahun 1672. Betapa pentingnya peristiwa tersebut kelihatan juga dari kenyataan bahwa hampir semua naskah mengenai Johor mulai dengan penye butan kejadian ini.

Bagian akhir Sejarah Melayu.

v.d.w. 190. 小 C6
此 we ,

Walaupun Sejarah Melayu belum melukiskan sejarah menurut yang kita artikan seka rang, dalam banyak hal jauh lebih baik daripada buku-bul

yang dijadikan pangkalan untuk menyaingi perdagangan kaum Muslim di Nusantara.

Sejak Malaka jatuh ke tangan Portugis, pedagang-pedagang Muslim memindahkan

kegiatannya ke pelabuhan-pelabuhan lain, seperti Aceh dan Banten.

Walaupun dari Sejarah Melayu kita tidak.menemukan tahun-tahun terjadinya suatu peristiwa, seperti tahun berdirinya kota Singapura, kota Malaka, dan jatuhnya

Malaka ke tangan Portugis; dari sumber lain, kita dapatkan penanggalan itu secara

jelas. Raja Bintan dapat diketahui ialah Iskandarsyah tahun 1100 M. Iskandarsyah di 1dampingi pembesar istananya Índra Bupala dan Aria Bupala. Setelah ia wafat, diganti- kan permaisurinya. Putri Iskandarsyah bernama, Wan Sribeni, Pada masa pemerintahan permaisurinya itu, Marcopolo datang ke, Bintan pada tahun 1292. Ibukota kerajaan

bernama Bintan Bukit Batu (sekarang). Dalam, abad ke XIII itu juga datang. Sang

Sapurba dari Bukit Siguntang Palembang: Sesampai di Tanjung. Pura dan Bintan, Sang Sapuřba mengawinkan putranya dengan putri Wan Sribeni. Putra Sang Sapurba itu bernama Sang Nila Utama kemudian menjadi Raja Bintan. Selanjutnya ia mendirikan kerajaan Singapura, dan langsung menjadi raja Singapura, sedangkan kerajaan

Bintan diserahkan kepada Tun Telanai (putra Demang Lebar Daun). Pada masa Pra-

meswara ataù Permesuira berkuasa di Singapura (Tumasik), pada abad ke XIV Singapura diserang Majapahit, sehingga raja Permesura melarikan diri ke Malaka. Kemudian Permesura mendirikan negeri baru, yaitu Malaka. Di sini dia memerintah dengan gelar Muhammad Iskandarsyah (1380—1424). Semasa Permesura mendirikan Malaka, maka di sini telah hidup penduduk asli dari suku bangsa Laut yang hidup sebagai nelayan. Di samping mengadakan pęmbangunan, Permesura juga mernajukan perdagangan karena Malaka sangat strategis letaknya dalam arus lalu lintas perdagangan dunia, maka kerajaan Malaka berkembang dengan pesat. Untuk menjaga hubungannya dengan Majapahit, Permesura kawin dengan putri Raja Majapahit dan terjadi hubungan baik antara Malaka dengan Majapahit. Selanjutnya pada masa pemerintahan Sultan Mansyur Syah (1439—1477) kerajaan Malaka. mulai naik ke puncak kejayaannya, baik dalam lapangan pemerintahan maupun dalam lapangan perdagangan. Pada waktu Sultan Mansyur Syah sebagai raja Malaka, hidup seorang tokoh angkatan laut yang sangat masyhur dikalangan masyarakat Melayu— Riau yaitu Laksamana Hang Tuah. Karirnya meningkat karena kesetiaannya kepada raja, keberaniannya dan kecakapan yang sangat besar. Laksamana Hang Tuah disama- kan dengan tokoh Gajah Mada dan Aditiawarman dari kerajaan Majapahit. Kerajaan

Malaka terus dapat menguasai daerah-daerah sekitarnya yang langsung tunduk di bawah

kedaulatannya seperti seluruh negeri-negeri di Semenanjung Tanah Melayu, Kepulauan Riau, pesisir timur Sumatera bagian tengah, Brunai, Serawak dan Tanjungpura di Kali- mantan Barat. Sedangkan daerah yang diterima dari majapahit ialah Indragiri, Palembang, Jemaju, Tambilahan, Siantan dan Bunguran. Di Pelabuhan Malaka bertema peda- v

gang-pedagang dari India, Persia, Arab, Cina dan Jawa. Koromandel (India) mengeks port kain palekat ke Malaka. Banggala mengeksport kain sutera, candu dan obat-obat an. Birma dan Siam mendatangkan beras. Sumatera mendatangkan kapur barus, lada gading, kayu cendana dan timah. Dari Indonesia bagian timur dengan perantaraan peda gang dari Jawa didatangkan pala, cengkeh, kayu cendana. Dan dari Jawa sendiri dida tangkan beras, lada hitam dan emas. Karena kejayaan Malaka ini menyebabkan Portugis berusaha merebut kerajaan itu (Monografi Daerah Riau, halaman 12-13). Pada tahun 1511 Malaka diserang Portugis, sehingga Malaka jatuh ke tangan Portugis. Sultan Mahmud Syah I yang memerintah di Malaka terpaksa menyingkir ke Johor tahun 1511 lalu ke Bin tan tahu n 1521. Pad a tahu n 1521 itu SuI tan Mahmud Syah I memindahkan pusat pemerintahan ke Kota Kapur/Bintan. Di sini mendirikan kerajaan Melayu Riau. Kemudian Portugis ikut campur tangan dalam soal sengketa Sultan Abdullan dari kerajaan Kampar yang berpusat di Pakistan dengan kerajaan Melayu Riau. Awal perselisihan itu karena Sultan Abdullah tidak mau tunduk kepada Riau, bahkan minta bantuan Portugis. Karena keinginan Sultan Abdullah yang tidak mau tunduk kepada kerajaan Melayu Riau, maka Sultan Muhammad Syah I menyerang Kampar. Akhirnya Sultan Abdullah kena tipu Portugis, karena setelah kemenangannya itu Sultan Abdullah ditangkap dan di buang ke Gowa sampai meninggal. Selama itu kerajaan Kampar diperintah oleh orang orang besar kerajaan saja. Situasi itu berlangsung sampai kedatangan Sultan Mahmud Syah I ke Kampar pada tahun 1526. Setelah Bintan direbut Portugis Sultan Mahrrud Syah I menyingkir ke Kampar tahun 1526 itu juga. Karena Kampar tidak ada raja, maka Sultan Mahmud Syah I langsung menjadi raja Kampar sampai wafat pada tahun

  1. Sementara putra mahkota di bawah umur, maka pemerintahan di jalankan oleh Tun Fatimah, permaisuri Sultan Mahmud Syah I. Pada tahun 1530 Raja Ali diangkat menjadi raja Kampar, tetapi pada tahun itu juga dia pindah ke Johor lang sung menjadi raja kerajaan Melayu Riau dengan gelar Sultan Alauddin Riayat Syah II (1530-1564). Sultan Alauddin Riayat Syah II menyerahkan daerah Kepulauan Riau kepada Panglima Angkatan Laut, Laksamana Hang Nadim, sedangkan Sultan Alauddin Riayat Syah II berkuasa di Johor. Karena Laksamana berkuasa di lautan, maka Hang Nadim disebut pula Raja Laut. Dia dibantu oleh Si Bija Diraja dan menja dikan Bintan sebagai pusat pemerintahannya. Sultan Alauddin Riayat Syah bernama Laksamana Hang Nadim sangat gigih menentang Portugis, dan berkali-kali menye rang Portugis di Malaka. Pada tahun 1536 Portugis melancarkan serangan balasan di bawah pimpinan Dom Estavo da Gama, sehingga Portugis berkuasa di Muar. Sungguh pun Portugis menguasai Muar, kekuatan kerajaan Melayu Riau tidaklah berkurang. Setelah Malaka jatuh pada tahun 1511, Aceh menjadi kerajaan besar. Pada tahun 1537 Aceh menyerang Portugis di Malaka tetapi gagal, serangan Aceh selanjutnya ialah
    49

tahun 1547, juga tidak berhasil. Kerajaan Riau mencari simp(lti Portugis dengan memi hak Portugis pada waktu penyerangan Aceh ke Malaka. Dalam keadaan demikian kera jaan Melayu Riau pada tahun 1551 melakukan serangan ke Portugis di Malaka, dan ber hasil. Kemudian Aceh melakukan se.rangan mendadak langsung ke pusat pemerintahan kerajaan Melayu Riau .dan menangkap Sultan· Alauddin Riayat Syah II. Kemudian dia ditawan di Aceh sampai wafat. Aceh menyerang. Mal aka, Johor dan Perak pada tahun 1571. Perak dapat dikuasai oleh Aceh selama lebih kurang 100 tahun. Pada tahun 1587 kerajaan Melayu Riau melakukan serangan ke bandar Malaka, namun tidak berhasil, Portugis menyerang kerajaan Melayu Riau sehingga berhasil membumi hanguskan pusat kerajaan Melayu Riau. Karena itu'' Sultan Abdul Jalil Syah I Raja Kerajaan Melayu Riau memindahkan pusat pemerintahan ke Batu Sawar. Sementara itu Laksamana Hang Nadim meninggal dunia dan digantikan oleh cucunya bernama Tun lsap. Pada tahun 1597 Sultan Abdul Jalil Syah I meninggal dunia, dan diganti kan oleh Sultan Alauddin Riayat Syah Ill (1597-1612). Semasapemerintahan Sultan Abdul Jalil Syah I hidup penulis sejarah Melayu yang terkenal yaitu Datuk Tun Sri Lanang. Selanjutnya Sultan Alauddin Riayat Syah Ill meneruskan usaha ayahnya, yaitu menyerang Aceh dan Portugis. Pemerintahan raja-raja Melayu setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis telah diuraikan secara terperinci dalam buku Sejarah Riau, terbitan Pekanbaru 1977. Masa kegemilangan kerajaan Melayu-Malaka berakhir dengan direbutkan Malaka oleh Por tugis tahun 1511. Sultan yang terakhir yaitu Sultan Mahmud Syah I, bergerilya di Semenanjung Melayu selama beberapa waktu, terutama di Pahang dan Johor. Untuk menghidupkan kembali kebesaran kerajaan Melayu, Sultan Mahmud mem bangun pusat Kemaharajaan di Johor. Atas pertimbangan kurang strategis dan jauh dari lalu lintas perdagangan, maka pusat pemerintahan dipindahkan ke pulau Bintan tahun 1513, yaitu disungai Batu. Bintan dipilitY sebagai ibukota yang baru, karena dari Bintan mudah dilakukan serangan,balasan terhadap Portugis di Malaka. Dari Bintan Sultan Mahmud mengadakan mar:kas Komando utama di Kunu Kota Kara dan Kopak dan memperkuat pangkalan "armada Melayu untuk menghantam Portugis dan menguasai kembali lalulintas:di Selat Malaka:· Dengan kerajaan Demak di Jawa telah diadakan pakt9 bersama. Pada tahun 1513 itu juga Sultan Mahmud dan putra nya memberi perintah keberangkatan pasukan Melayu untuk menyerang Malaka. Walaupun pasukan Melayu telah dibantu oleh Jawa yang dipimpin sendiri oleh Patih Unus (Raja Demak), namun mereka dapaf dihancurkan oleh armada Portugis yang lengkap peralatan militernya. Gagallah rencana besa gabungan Melayu dan Jawa itu. Patih Unus kembali ke Demak membawa pasu·kannya. Pada bulan Juli 1514 Jorge d' Albuqueque oleh ·Roy de Brito selaku Gubernur/Panglima Benteng Portugis di Malaka. Selanjutnya Portugis melakukan politik memecah-belah, yaitu dengan terlebih

dahulu menduduki negara bagian Kemaharajaan Melayu, sehingga dengan mudah Portugis dapat mengepung pusat pemerintahan Melayu. Hal ini dibuktikan dengan penyerangan oleh Portugis terhadap Pakaitan dan Batu Kampar di daerah Rokan. Akhirnya kedua daerah itu jatuh ketangan Portugis tahun 1514. Kemenangan Protugis ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang Melayu. Sultan Abdullah dari Kampar yang menjadi menantu Sultan Mahmud Syah I sendiri, secara diam-diam telah berkhianat datang ke Malaka, untuk bekerja sama dengan Portugis. Hal ini membangkitkan kemurkaan Sultan Mahmud Syah I. Kemudian dikirim pasukan tentara· dari Bintan untuk menawan Abdullah. Portugis datang ke Kampar dengan Armada yang kuat untuk membantu Sultan Abdullah. Terja ilah pertempuran hebat antara pasukan Melayu dengan Portugis di Kampar, yang dengan kekalahan pasukan Melayu. Setelah armada Melayu itu dihancurkan Portugis, maka pasukan Melayu terpaksa jalan darat untuk kembali ke Bintan. Semen tara itu Portugis mencurigai Abdullah yang akhirnya langsung ditangkap dan dihukum gantung di Malaka. Kemudian Sultan Mahmud Syah I membuat markas baru di Kampar. Di bawah pemerintahan Sultan Mahmud Syah I itu. Kampar berkembang dengan pesat. lbukota Pekantua dibangun sedemikian rupa sebagai persiapan menghadapi Portugis. Orang Portugis sendiri yaitu Kapitan Benteng Malaka Roy de Brito tanggal 6 Januari 1514 pernah melaporkan bahwa Siak dan Minangkabau takluk kepada Kerajaan Kampar. Setelah keraton Sultan Mahmud Syah I siap di Kampar, maka datanglah Sultan Husin dari Haru dan raja dari negeri lainnya menghadap baginda agar bisa menentang Por tugis. Strategi selanjutnya mengikuti gerak Portugis.. Kini kapal-kapal Nelayan berke liaran secara berkelompok dan menahan kapal-kapal Portugis serta sekutunya yang berlayar di Selat Malaka. Dengan demikian pelayaran dan perdagangan di Selat Malaka tidak aman lagi. Tetapi sayang tiada lama kemudian pada tahuh 1528 Sultan Mahmud Syah I bekas raja Malaka terakhir dan pendiri Kemaharajaan Melayu di Riau itu mang kat. Dalam Sejarah Melayu, baginda disebut Marhum mangkat di Kampar. Ia diganti kan oleh putranya Sultan Alauddin Riayat Syah II (15281564). Sebelum menjadi raja, ia mempunyai nama kecil yang banyak seperti Raja Ali dan orang Aceh menamakannya Raja Radin. Setelah ia naik tahta, abangnya Raja Muda Muzafar Syah diusirnya dari kerajaan. Raja Muda melarikan diri ke Siak. Kejadi an ini sebenarnya terjadi atas hasutan Bendaharanya. Kemudian Raja Muda Muzafar Syah pergi ke Kelang dan oleh rakyat di sana ia diketahui sebagai p:utra raja. Oleh Rakyat lalu dibawa ke Perak dan diangkat sebagai raja di sana selaku Sultan Perak dan Selangor. Ia diberi gelar Sultan Muzafar Syah. Ia adalah keturunan asli dinasti Para meswara dari Malaka yang masih bertahan memegang kekuasaan nanti sampai abad ke 17.

Dal(lm menjalankan pemerintahan, Sultan dibantu oleh ibunya Tun Fatimah, Datuk Benoahara, Laksamana Hang Nadim, Sri Bija Diraja dan Temenggung Wak _Raja. Tidak lama sesudah penobatannya, Tun Fatimah meninggal dunia dan dikubur kan di Pakantua-Kampar. Kemudian Sultan menikah dengan putri Pahang dan atas dasar ini Sultan ingin memindahkan pusat pemerintahan ke Pahang. Untuk menyam paikan maksudnya itu dikumpulkan pembesar-pembesar istana. Karena kesetiaan kepada raja, Sultan dilepaskan keberangkatannya ke Pahang. Sedangkan di Kampar ditugaskan seorang Adipati Kampar. Di Pahang pemerintahan tidak berlangsung lama, karena Sultan memindahkan lagi pusat kerajaan ke Pekantua Johor. Sultan Riayat .Syah II bersama Hang Nadim sangat gigih menentang Portugis, dan berkali-kali menyerang Portugis di Malaka. Pada tahun 1536 Portugis melancarkan serangan balasan di bawah.pimpinan Gubernur Estevao de Gama, dengan menghujani Johor lama dengan artilerinya, sehingga Portugis berkuasa di Muar. Sejak Mal aka jatuh tahun 1511, Aceh berkembang menjadi kerajaan yang besar dan berpengaruh. Berkali-kali Portugis menyerang Aceh, namun selalu berhasil dikalah kan oleh Armada Aceh. Dalam bulan September 1537 Acehtidak sabar lagi dan mulai -mengadakan serangan .balasan ke Malaka, tetapi gagal. Serangan Aceh selanjutnya ialah tahun 1547, juga tidak berhasil. Sultan Alauddin Riayat Syah II tidak mau· mengajak Aceh bersama-sama memba ngun kekuatan untuk menghantam Portugis di Malaka, namun kini tiba-tiba menye rang armada Aceh di Haru (Deli) pada tahun 1540 sehingga musnah semua dan mere but Haru masuk lingkungan Kemaharajaan Melayu. lni menimbulkan dendam yang tak berkesudahan antara Kerajaan Aceh dengan Melayu sampai ke abad 18 nanti. Pada tahun _1547 Aceh mulai menyerang Portugis di Malaka, namun tidak berhasil. Pada tahun -1551 Alauddin Riayat Syah II melakukan serangan ke Portugis di Malaka dan berhasil menduduki bagian-bagian kota Malaka. Benteng A Farmosa dapat dike pung; Tetapi karena ada desas desus yang mengatakan akan tiba satu armada Pottugis yang kuat, maka tiba-tiba Sultan Alauddin Riayat Syah II menghentikan peperangan dan pengepungan yang sudah 3 bulan berjalan itu dan semua pasukan Kemaharajaan Melayu ditarik kembali. Pada tahun 1564 tiba-tiba armada Aceh mengadakan serangan balasan terhadap Melayu dan menduduki Haru serta menghancurkan Johor Lama. Sultan Alauddin Riayat Syah II ditangkap dan dibawa ke Aceh sebagai tawanan. Ia mangkat di Aceh dn digelar Marhum di Kota Lama atau Marhum Sahid Mangkat di Aceh. Pemerintahan dilanjutkan oleh putranya yang bernama Raden Bahar gelar Sultan Muzafar Syah II (1564-1571 ). Pada masa pemerintahannya tidak terdapat perubahan dan kejadian yang berarti bagi Kemaharajaan Melayu. Sultan ini hanya memerintah selama 7 tahun saja.

Setelah mangkat, Sultan Muzafar Syah II digantikan oleh putra angkatnya yang

bergelar Sultan· Abdul Jalil Syah II (1571—1580). Sultan ini menjadi raja ketika berusia

9 tahun dan selalu sakit-sakitan. Putra Muzafar Syah yang lain dirajakan di negara

taklukannya seperti Raja Hasan menjadi raja di Siak, Raja Husin di Kelantan, dan

Raja Mahmud di Kampar. Sebenarnya Sultan Abdul Jalil Syah I adalah putra raja

Umar dengan raja Fatimah (adik Sultan Muzafar Syah II). Sebelum mangkat, Sultan

Abdul Jalil Syah I telah menunjuk Raja Abdullah menjadi raja. Sebab ia adalah putra

Sultan Muzafar Syah dengan janda Raja Umar. Namun Raja Fatimah tidak menyetujui

pengangkatan ini, karéna ia menginginkan suaminya (Raja. Umar) menjadi Sultan. Akhirnya Raja Umar dinobatkan menjadi raja dengan gelar, Sultan Abdul Jalil Syah II

(1580-1597). Pada tahun 1582 Kemaharajaan Melayu mengadakan kerjasama di

antara mereka untuk saling membantu dalam menghadapi serangan Aceh. Kerjasama ini bersifat sementara, karena mereka merasa lemah menghadapi Aceh dan Portugis.

Pada tahun 1587 Sultan Abdul Jalil Syah II melakukan serangan ke benteng Portugis

di Malaka, tetapi gagal. Akibat serangan ini, maka Portugis mengadakan balasan dengan menyerang dan membumi-hanguskan ibukota Kemaharajaan Melayu di Seluyut (Johor) Karena itu ibukota dipindahkan oleh Sultan ke Batu Sawar, Di,sini pemerintahan diatur kembali. Pada maşa pemerintahan Sultan Abdul Jalil Syah Il ini Benda-

hara Sri Maharaja Tun Isap Nisai digantikan oleh Datuk Bendahara Tun Sri Lanang.

Bendahara Tün Sri Lanang iniláh yang menulis Sejarah Melayu, ditulis pada masa

pemerintahan Sultan Abdul Jalil Syah II (abad 16). Tun Sri Lanang bergelar Bendahara

Paduka Raja: Keterangan mengenai Tun Sri Lanang menulis Sejarah Melayu pada masa pemerintahan Sultan Abdul Jalil Syah ini berlainan dengan apa yang disebutkan dalam kata pendahuluan Sejarah Melayu sendiri. Kata Pendahuluan Sejarah Melayu (v.d.w. 188)

menyebutkan bahwa Tun Sri Lanang yang pada waktu itu menjabat sebagai Bendahara,

telah mendapat perintah untuk memperbaiki sebuah hikayat Melayu yang dibawa oràng darí Goa. Penanggalannya disebutkan pada tahun 1612. Hal ini diperjelas lagi oleh Teuku Iskandar yang menyebutkan bahwa Tun Sri Lanang yang menjabat sebagai Bendahara Johor telah mendapat perintah untuk menulis kembali sebuah hikayat Melayu yang dibawa orang dari Goa. Perintah ini diberikan oleh Raja Abdullah pada tahun 1612, masa pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah III di Johor. Dengan demikian penyebutan Tun Sri Lanang sebagai Bendahara yang menulis Sejarah Melayu semasa Sultan Abdul Jalil Syah II ini tidak benar, kareņa Sultan itu memerintah dari tahun 1580-1597. Pada tahun 1597 Sultan Abdul Jalil Syah II mangkat, dimakamkan di Batu, se- hngga dikenal sebagai Marhum Mangkat di Batu. la digantikan oleh Sultan Alauddin

Rlayat Syah 11 (f597—1615). Sultan ini meneruskan perjuangan menentang Aceh dan

Portugis. Untuk mengalahkan Portugis, Sultan minta bantuan Belanda. Pada tahun 1606 terjadi perundingan antara RaJa Abdullah (Sultan Muda) dengan Kompeni Belan da mengenai penaklukkan kota Malaka. Terjadi perbedaan pendapat, karena Belanda mengira. bahwa setelah Malaka direbut, kota itu harus diserahkan kepada Kompeni. Namun akhirnya perselisihan ini dapat diselesaikan dengan baik. Dengan adanya per janjian tahun 1606 itu belum berarti bahwa Kompeni telah berkuasa atas Kemaharaja an Melayu. Melayu berusaha untuk mengusir infiltrasi Potugis dan pengaruh Aceh dari daerahnya. Portugis tetap mempertahankan Malaka, sedangkan Aceh mengingingkan pembasmian Portugis dari Malaka, sebab mengganggu ketentraman Aceh, baik dalam lapangan perdagangan maupun agama. Pada tanggal 16 Oktober 1610 terjadi perdamaian antara Sultan Alauddin Riayat Syah Ill dengan Portugis yang · perisi kan tentang kerjasama- antara Portugis dengan Melayu dalam menghadapi Aceh .. Hal ini disebabkan karena Sultan Iskandar Muda dari Aceh menyiapkan angkatan perangnya untuk menyerang Kemaharajaan Melayu. Pada tanggal 6 Juni 1613 Aceh menyerang Kemaharajaan Melayu, Bendahara Tun Sri Lanang dan Raja Muda Abdullah ditawan serta di bawa ke Aceh. Menurut laporan kapten kapal lnggris Dragon Ralph Croft, salah satu dari kapal armada lnggris di bawah Tomas Best yang mengunjungi Aceh pada Juli 1613 menulis dalam buku harian nya_ tanggal 15 Jull 1613, bahwa panglima Aceh dimurkai Sultan Iskandar Muda, karefla tidak menawan Sultan Alauddin Riayat Syah Ill. Menurut sumber lain, Sultan telah melarikan diri pada waktu Aceh datang menyerang negerinya. Kemudian ia mangkat dalam pelariannya itu. Setelah Sultan Alauddin Riayat Syah Ill mangkat, putranya menggantikan menjadi raja, bergelar Sultan Abdullah Muayat Syah (1615-

1623). Sejarah Melayu telah diteliti oleh b.eberapa sarjana, antara lain C. C. Blagde, R.O. Winstedt, C.C. Brown. A. Teeuw, Teuku Iskandar dan R. Roolvink. Pada umumnya setelah membaca Sejarah Melayu, mereka merasa kecewa karena isinya tidak meme nuhi syarat penulisan sejarah. Seperti diketahui,· pada abad 19 penulisan sejarah di Barat sudah merupakan penelitian ilmiah yang menghendaki uraian kejadian yang benar dan berdasarkan fakta. Dengan demikian penulisan Sejarah Melayu sangat qisangsikan kebenarannya, karena di dalamnya banyak terdapat ceritera mitologi dan legenda. Sarna halnya dengan kebanyakan naskah:.naskah Melayu, Sejarah Melayu inipun tidak turun kepada kita dalam bentuk yang pertama kali ditulis. Teks itu sendiri mempunyai penanggalan 1021 H, atau, 1612 M.Tetapi dalam sejumlah salinan ada ba gian-bagia.n yang ditambahkan yang ditulis kemudian hari, yaitu mengenai orang orang dan kejadian setelah tahun 1612 M. Naskah Sejarah Melayu yang kita kenai sekarang merupakan salinan daripada 'naskah asli yang berasal dari Goa. Hal itu
54

disebutkan oleh penyalinnya dalam kata pendahuluan Sejarah Melayu. Dalam salah satu naskah Sejarah Melayu koleksi Must::um Nasional (v.d.w. 188), keterangan ini terdapat setelah kalimat pujian:pujian terhadap Tuhan. Dan pada suatu masa bahwa fakir duduk pada suatu majelis dengan oran-orang besar bersendagurau. Pada antara itu ada seorang-orang besar terlebih mulyanya dan terlebih besar martabatnya daripada yang lain maka berkata ia kepada fakir : Hamba dengar adalah hikayat Melayu yang di bawa orang dari Goa, baik kita perbaiki kiranya itu dengan istiadatnya, supaya diketahui oleh segala anak cucu kita yang kemudian daripada kita ini dan boleh diingat kannya oleh segala mereka itu. Maa adalah ia beroleh faedah dari padanya itu. Setelah fakir mendengar demikian, maka menjadi beratlah atas anggota fakir ini Alladzi murak kabun 'alajahlin, Tun Muhammad namanya, Tun Sri Lanang timang-timangnya, Paduka Raja gelarannya Bendahara, anak orang kaya Paduka Raja gelarannya Bendahara, anak orang kaya Paduka raja, cucu bendahara Seri Maharaja, cicit bendahara Tun Marawangsa, piut bendahara Seri Maharaja, anak Seri Nara Diraja Tun Ali, anak Bagin da Nani Puridanqaddasa 'llahu sirrahum Melayu bangsanya, dari Bukit Siguntang Mahameru, Malaka negerinya, Batu Sawar Da;·ussalam'. Pada umumnya Tun Sri Lanang, Bendahara Johor, dianggap sebagai penulis atau penyusun Sejarah Melayu. Disebutkan bahwa Raja Abdullah adil Sultan Alauddin Riayat Syah Ill, menitahkan kepada Bendaharanya untuk memperbaiki sebuah hika yat Melayu yang di bawa orang dari Goa. Perintah itu diberikan pada perajaan Maulud Nabi Muhammad, hari ahad 13 Mei 1612 M, semasa pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah Ill. Tidak lama kemudian, pada tahun 1613 raja Aceh muncul dengan angkatan lautnya. Sultan Alauddin Riayat Syah Ill, Raja Abdullah, serta semua pembe sar negeri termasuk bendahara, tertawan oleh raja Aceh dan di bawa ke Aceh. Kemudi an Sultan Alauddin Riayat Syah Ill mangkat di Aceh. Raja Abdullah menikah dengan saudara perempuan Sultan Iskandar Muda sehingga diampuni, dan dijadikan raja di Johor. Sebagai seorang raja, Raja Abdullah menitahkan bendahara untuk menyelesai kan tugasnya yang dahulu, yaitu memperbaiki hikayat Melayu yang di bawa orang dari Goa. Dengan sungguh-sungguh bendahara menjalankan tugasnya itu. Maka selesai lah Sejarah Melayu hingga Alkisah yang ke 34. Pada tahun 1615 Armada Aceh datang lagi menyerang. Kali ini Raja Abdullah berhasil melarikan diri dari satu tempat ke tempat lainnya. Pad a masa itu diceriterakan dalam al kisah yang ke 35-38, dan ditam bahkan pada semua terbitan Sejarah Melayu. Tidak lama kemudian ditulii sebanyak delapan ceritera lagi yang sampai sekarang masih belum ditambahkan pada Sejarah Melayu yang diterbitkan. Kedelapan ceritera ini sudah diterbitkan oleh C.O. Blagden dengan judul "An unpublished Variant Version of Malay Annala", dalam JMBRAS. Vol. Ill, pt. 1 (1925), 10-52 (Liaw, 1982:211-212). Teuku Iskandar menyebutkan Tun Sri Lanang, Bendahara Johor yang menulis

Sejarah Melayu itu berdasarkan hikayat yang di bawa orang dari Goa. Ia menunjuk kepada pendahuluan Sejarah Melayu, yang menyebutkan bahwa bendahara Johor diperintah oleh Raja Abdullah untuk memperbaiki sebuah hikayat yang dibawa dari Goa. Perintah ini diberikan pada tahun 1612, semasa pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah Ill. Wilkinson tidak sependapat dengan Teuku Iskandar Katanya orang-orang Melayu tidak. biasa menyebut diri sebagai pengarang. Apabila dirinya disebut, selalu dipakai kata-kata merendahkan seperti fakir yang bodoh, fakir yang jahil dan lain sebagainya (Wilkinson, 1933: 148-150). Winstedt yang telah meneliti beberapa naskah di antaranya naskah Raffles 18, juga tidak sependapat dengan Teuku Iskandar. Sejarah Melayu memang benar ditulis kembali pada tahun 1612, tetapi sebelum tahun itu harus sudah .ada sebuah teks yang barangkali ditulis tidak lama setelah tahun 1511, tahun naas tatkala orang Portugis menaklukkan Malaka, Mungkin pula penulis yang pertama mempunyai bahan yang lebih tua, baik berbentuk lisan maupun tulisan. Selanjutnya dikatakan, bahwa naskah Raffles 18 tidak memuat peristiwa yang terjadi sesudah tahun 1536 dan mungkin naskah tersebut adalah naskah Sejarah Melayu yang tertua dan naskah itu adalah hikayat Melayu yang dibawa orang dari Goa. Lebih lanjut dikatakan, pengarang Seja rah Melayu tidak diketahui diduga seorang peranakan Tamil yang mengenal sekali ke hidupan dalam istana raja Malaka. Ia juga mempunyai pengetahuan yang luas tentang a9at istiadat raja-raja Melayu (Winstedt, 1969: 158). Teeuw berpendapat, bahwa seorang yang hidup tiada berupa lama sesudah atau sebelum tahun 1511, tentu mempunyai sikap yang berbeda sekali terhadap masyarakat Melayu dan dunia luar (dia masih mengenal Malaka dalam zaman semaraknya, sewaktu sultan benar-benar tokoh pusat di Semenanjung Melayu) daripada seorang abdi dari raja Johor raja kecil di sekitar tahun 1612- yang dikejar-kejar ataupun yang ditawan. Biar bagaimanapun pastilah ceritera Aleksandee misalnya, menurut asalnya, mem punyai fungsi yang berbeda sekali daripada dongeng tentang seorang putri dari Gunung Ledang (Teeuw, 1958:vii). Roolvink tidak membenarkan pendapat Winstedt. Ia menyatakan bahwa naskah Raffles 18 itu berasal dari tahun 1612 seperti yang dikatakan dalam kata pendahuluan nya. (Roolvink, 1967:311 ). Selanjutnya ia· menyatakan bahwa naskah itu menyebut kan bendahara sebagai pengarangnya dan pernyataan itu diperkuat dalam bab kedua dari Bustanussalatin fasal 12, di mana AI Raniri memperkenalkan Bendahara Paduka Raja yang mengarang Sulalatu 1-Salatin, sebagai salah satu sumbernya, sehubungan dengan asal-usul raja-raja Melayu. Dari berbagai penelitiannya, Roolvink menarik kesimpulan juga, bahwa Sulalatu 1-Salatin yang dikenal sebagai nama Arab bagi Sejarah Melayu itu aslinya adalah daftar keturunan raja-raja. Ia sependapat dengan

Linehan, yang mentr!i"l" r'·'''vv" ··'I"' .I' llilr.l<:>tLI 1111 IJ<'tkernbang dari daftar raja
raja yang menyefJt!ll dli Jdlllif·r•J"''IJ'"' .... : .. t• trli vo:-::;;-;.:· .. ""l·,lf lelllotfl'l lint• lioljl ''' '" !lnildl cl)d raja ini kemudian diperluas
.lc"Ja•' IH;!Io ... 1...,,.11io-1". 1"'1·' 1,e'''" n ·,,,,a,, \:l ;g sesuai dan pada tempatnya,
tr.laloi '"'"'·' I" '"""1'1•.1·"' IVIeldyli \ ''q .;!kenai sekarang ini pertama-tama tnd,u 1/u;,qe•l'l '·•·"'. 111t:K.LleL lllda ldll tJdll Lldfl IJttkan buku sejaarah, walaupun mengan duny ·;Jt•lltlod• ,,, .. J,I l.ulldll st:jalall (lltl!l, 18ll/:306). Akhirnya Roolvink menyebut

h.dn Jl•••tldlt 11d'lk.d1 •,, ''" ''" IVe ay•t :,ciLIIuhnya ada dua puluh sembilan buah,
t."!hllrq>an .11 ( IU). IVIdncltt•ster (1), Leiden (4), Amsterdam (1). '"'·"rtd (5) dctll 1 t:llll·'flud ( 11 ,. h 11al1 11a·.kah lL•ningrad yang untuk sementara tidak '"'''"l tullo( ol!l!•lilt ,I •Jloi">l''"' ldiiiiiYd JdJdYI oleh Roolvink menjadi 7 golong an (Ibid, 196'/.308-309):
1. Duapuluh naskah mewakili naskah Raffles 18
2. Enam naskah tidak lengkap
3. Versi pendek dimuat dai.Jm lima naskah, seperti yang diterbitkan oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi dalam 34 bab (aiKisah) dan berakhir dengan kematian Tun Ali Hati, versi ini juga dimuat dalam versi Shellabear.
4. Dua naskah pendek seperti yang diterbitkan oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi di Singapura.
5. Versi panjang terdapat dalam sembilan naskah, seperti Shellbear, versi ini berakhir dengan menyebutkan serangan Jambi atas Johor ( 1673) dalam kolofonnya. Perpa duan versi pendek dan versi panjang ini melahirkan versi Shellbear.
6. Versi yang diperluas terdapat dalam naskah Jakarta. Versi ini adalah sebuah Sejarah Melayu, yang dari beberapa tempat merupakan naskah singkatan dari Sejarah Melayu, yang diikuti oleh Sejarah Selat Malaka abad 18 dari sudut pandangan Siak. Naskah ini sangat penting dan mungkin dapat disebut Hikayat Raja Akil. Naskah nya ada di Museum Nasional bernnomor v. d.w. 191, tetapi sudah rusak sekali.
7. Versi Palembang. Bagian Sejarah Melayunya berakhir dengan serangan Portugis terhadap Malaka. Naskahnya ada di Museum Nasional, bernomor MI. 11, sebagian besar kertasnya sudah rusak, sehingga tul isannya tidak terbaca lagi. Bagaimanapun juga Sejarah Melayu telah memberikan sumbangan yang besar ter hadap penelitian sejarah kerajaan-kerajaan di Semenanjung Melayu. Seandainya para sarjana ingin menulis tentang sejarah sebuah negeri di tanah Melayu pada masa lalu, Sejarah Melayu dapat memberi kan gambaran yang jelas, terutama mengenai ke hidupan sosial masyarakat Melayu pada abad ke 15. Karena bahasanya yang indah dan gambaran yang diberikan tentang masyarakat Melayu lama serta istana raja-raja Melayu, Sejarah Melayu telah lama menarik perhatian para sarjana,
57

baik dalam maupun luar negeri. Selama duaratus tahun ini"'SejafEih! Mljl('l9a' -telah diterbitkan beberapa kali, di salin ke dalam bahasa lnggris, Perancis, Cilla' daftl lain sebagainya.

RAJA-RAJA YANG MEMERINTAH 01 MALAKA

  1. Parameswara atau Permaisura yang bergelar Muhammad Iskandar Syah, memerintah tahun 1380- 1424.
  2. Sri Maharaja, tahun 1424- 1444.
  3. Sri Prameswara Dewa Syah, 1444 - 1445.
  4. Sultan Muzaffar Syah, 1445- 1459.
  5. Sultan Mansyur Syah 1459- 1477.
  6. Sultan Alauddin Riayat Syah, 1477- 1488.
  7. Sultan Mahmud Syah I, 1488- 1511. RAJA-RAJA MELAYU SETELAH MALAKA JATUH KE TANGAN PORTUGIS
  8. Sultan Mahmud Syah I, tahun 1513- 1528 di Bintan, terus ke Kampar.
  9. Raja Ali gelar Sultan Alauddin Riayat Syah II, tahun 1530 -1564 di Kampar, terus pindah ke Pahang, akhirnya ke Johor.
  10. Sultan Muzaffar Syah II, tahun 1564- 1571 di Johor.
  11. Sultan Abdul Jalil Syah I, tahun 1571 - 1580 di Johor.
  12. Sultan Abdul Jalil Syah II, tahun 1580 -1597 di Johor, terus pindah ke Batu Sawar.
  13. Sultan Alauddin Riayat Syah, tahun 1597- 1615 di Johor.
  14. Sultan Abdul Jalil Muayat Syah, tahun 1615- 1623 di Johor.
  15. Sultan Abdul Jalil Syah Ill, tahun 1623-1677 di Johor.
  16. Sultan Ibrahim Syah, tahun 1677- 1685 di Bintan.
  17. Sultan Mahmud Syah II, tahun 1685- 1699 di Bintan.
  18. Sultan Abdul Jalil Riayat Syah, tahun 1699- 1719 di Bintan.
  19. Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (Raja kecil), tahun 1719 -1722 di Johor, terus pindah ke Siak.
  20. Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah, tahun 1722- 1761 di Johor.
  21. Sultan Mahmud Syah Ill, tahun 1761- 1812 di Bintan terus ke Lingga.
  22. Sultan Abdurrahman Muazam Syah, 1812 -1832 di Lingga (Sejarah Riau, 1977: 140, 197).
    58

BAB III CERITERA PENGISLAMAN DALAM NASKAH SEJARAH

A. MASALAH PERNASKAHAN Pengertian naskah dalam sastra Melayu lama adalah karangan atau surat yang masih ditulis dengan tangan. Koleksi naskah yang sekarang tersimpan di Museum Nasional Jakarta ditulis dalam beberapa bahasa dan huruf daerah, antara lain Sunda, Jawa, Bali, Batak, Rejang dan Arab. Naskah yang berasal dari Aceh dan kepulauan Riau sebagian besar ditulis dalam huruf Arab. Huruf Rejang dipergunakan untuk menulis naskah-naskah yang berasal dari Sumatra Selatan, sedangkan naskah Sunda, Jawa, Bali dan Batak memakai bahasa dan huruf Sunda, Jawa, Bali dan Batak.Walaupun kadang-kadang adapula yang memakai huruf Latin. Khusus untuk naskah Melayu, di sini huruf Arabnya disebut huruf Jawi, yaitu huruf Arab dengan bahasa Melayu. Masalah pernaskahan dipandang sebagai suatu hal yang perlu mendapat sorotan tersendiri, khususnya ditinjau dari segi isi dan bagaimana cara memanfaatkannya dalam rangka usaha penelitian sejarah di Indonesia. Sebagai sumber, naskah lama ada lah sumber yang tidak pernah kering. Tetapi ia akan menjadi benda mati dan tertutup rapat-rapat, bila tidak ada peneliti-peneliti yang tekun dan rajin. Juga apabila peneliti penelitinya tidak cukup memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Sebagai benda budaya peninggalan leluhur, naskah lama dapat disejajarkan kedudukannya dengan peninggalan budaya lainnya, seperti candi-candi, patung dan lain-lain. Meskipun demikian, naskah lama adalah benda budaya yang mempunyai ciri dan sifat yang khas, yang lain daripada yang lain. Naskah lama baru akan dapat dinikmati, bila isinya sudah dipahami. Untuk memahaminya orang perlu membacanya terlebih dahulu. Dan untuk ini pula diperlu kan pengetahuan yang cukup tentang hurufnya, tentang bahasa yang dipakainya, dan yang tidak kalah pula pentingnya adalah ketekujan serta kecermatan si peneliti. Se dangkan untuk menggarapnya lebih lanjut, masih harus ditambah dengan pengetahuan mengenai metode penggarapan naskah. Bila sarana ini tidak ada, maka naskah-naskah lama yang merupakan manifestasi kehidupan jiwa bangsa Indonesia pada abad-abad lalu itu hanya akan tetap menjadi peninggalan leluhur yang mati belaka. Sebab ia hanya disimpan, tidak dibaca, tidak digarap dan seterusnya tidak akan dipahami dan diresapi isinya, untuk kemudian menjadi tidak dikenal sama sekali. Sebaliknya, naskah lama akan hidup dan menimbulkan gairah hidup pula bila dibaca, dinikmati dan diteliti isinya. Jadi naskah-naskah lama yang terutama memuat karya sastra jelas akan memberikan khasanah ilmu pengetahuan yang beraneka ragamnya. Daripadanya kita dapat menggali bahan-bahan yang diperlukan untuk penelitian dalam segala bidang
• ilmu, baik yang eksata maupun yang non-eksakta. Hasil penelitian karya sastra sebagai

Contoh Naskah Arab, huruf Arab, bahasa Arab.

•

sumber pengetahuan ini akan besar. sekali sumbangannya dalam usaha pengarahan pendidikan dan pembinaan Kebudayaan Nasional. Naskah yang sampai ke tangan kita sekarang bukanlah naskah asli yang dibuat pimama kali oleh pengarangnya. Pada masa hlu, naskah-naskah itu dapat disalin dan diperbanyak tanr dikenakan sanksi apa-apa. Naskah diperbanyak karena mungkin orang ingin memiliki sendiri naskah itu, mungkin pula karel"a naskah asli sudah rusak. atau karena kekhawatiran terjadi sesuatu dengan naskah asli, misalnya hilang terbakar dan lain sebagainya. Mungkin naskah disalin dengan tujuan magis, i.alah dengan menya lin suatu naskah tertentu, orang merasa kekuatan magis dari yang, disalin itu. Pada masa itu ·naskah dianggap penting disalin dengan b.erbagai tujuan, misalnya politik, agama, ·_ pendidikan dan lain sebagainya. Dengan demikian terjadilah beberapa atau bahkan banyak naskah mengenai suatu ceritera. Dalam menyalin yang 'berkali-kali itu tidak tertutup kemungkinan timbulnya berbagai kesalahan atau perubahan. Hal itu terjadi antara lain karena mungkin si penyalin kurang memahani. bahasa atau pokok persoal an yang naskah yang disalin itu; mungkin pula karena tuli.san tidak jelas karena salah baca, karena ketidak telitian penyalinnya, sehingga suatu kata atau suatu bagian kalimat atau bahkan beberapa kalimat terlampaui· (disebut haplografi) atau sebalik nya disalin dua kali (disebut dittografi). Di samping itu ada pada tiap penyalinan si penyalin bebas untuk menambah, mengurangi,· mengubah naskah menurut seleranya yang sebaik-baiknya sesuai dengan situasi dan kondisi jaman penyalinan. Dengan demikian dapat dipahami, bahwa naskah salinan belum tentu merupakan salinan (kopi) yang sempurna dari pada naskah yang disalin: Ada kalanya perbedaan hanya ke cil saja, tetapi ada kalanya pula perbedaan besar, sehingga timbul naskah-naskah yang berbeda versi atau berbeda bacaannya. Meneliti naskah lama bukan sekedar membaca nya saja untuk mengetahui isi, melainkan memerlukan penelitian filologi yang seleng kap mungkin dan sedalam-dalamnya. lnilah tugas utama filologi untuk mengadakan fritik terhadap teks lama. Kata filologi berasal dari bahasa Junani philologia yang artinya aslinya adalah kegemaran berbincang-bincang. Perbincangan atau percakapan sedikit banyak sebagai seni sangat dibina oleh bangsa Junani kuno, karena itu kata filologi segera dimulaikan artinya menjadi "Cinta kepada kata" sebagai pengejawantahan fikiran, kemudian menjadi perhatian terhadap sastra dan akhirnya menjadi "Studi llmu Sastra" (Sulastin Sutrisno, 1981:1 ). Pekerjaan utama dalam penelitian filologi itu, mendapatkan kembali naskah yang bersih dari kesalahan yang bisa dipertanggungjawabkan pula sebagai nas kah yang paling dekat pada aslinya serta cocok dengan kebudayaan yang melahirkan nya. ia perlu dibersihkan dari tambahan yang diberikan dalam jaman-j.aman kemudian yang dilakukan waktu menyalinnya. Penelitian filologi bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah atau yang dapat dilakukan dengan cepat. Untuk mendapatkan kembali

naskah tanpa caat misalnya, perlu diadakan perbandingan dengan salinan-salinan baik yang lengkap maupun yang merupakan petikan (fragmen), dalam jumlah yang cukup banyak. Pekerjacin itu tentu tidak dapat dilakukan j, tanpa ' pengetahuan mengenai • bahasa naskah yang bersangkutan secara mendalam. Kemudian perlu dilakukan pula ·perieliti!1 mengenai latar belakang kebudayaan yang melahirkan naskah tersebut secra' h.ias dan mendalam. l'ial itu penting supaya isi naskah tidak diinterprestasikan secara salah. Misalnya, jangan sampai dimasukkan pengertian-pengertian yang tidak cocok de11gan jaman atpu corak kebudayaannya. Dalam_ suatu penelitian sastra peranan filologi. itu besar sekali. Penelitian apapun yang didasarkan atas sebuah teks sebaiknya mengguna kan teks yang dianggap paling asli. Jika tidak demikian, kemungkinan besar penelitian atau kesirnpulan mengenai teks itu sebagai keseluruhan,. mengenai bagian pokok.atau sampingan dari t ks itu akan jah menyimpan'g dari yan'g seh,estinya.. Studi sastra pada hakekatnya adalah studi teks baik yang belum maupun yang sudah dibukukan. Sebagaimana diketahui sastra diturunkan secara lisan dan tertulis. Dalam hal yang pertama pengumpulan bahan penelitian berlangsung dengan berbagai cara antara lain melalui informan, melalui rekaman atau catatan dari orang-orang tua yang masih segar menyimpan ceritera turun temurun itu dalam ingatannya atau melalui orang-orang yang pandai menyajikan ceritera-ceritera tersebut. Dalam mengolah hasil rekaman atau catatan oleh seoran!:j atau beberapa orang peneliti mudah terjadi pentafsiran yang berbeda mengenai pengertian kata, kalimat, atau bermacam-macain unsur ceritera lainnya, sehingga tidak jarang terjadi hal tersebut mengakibatkan ceritera yarig sama disajikan dengan perbedaan yang asasi pada lapisan tertentu. Kemungkinan lain yang menyebabkan terjadinya beberapa bentuk penyajian ialah diadakannya perubahan-perubahan oleh penyusunannya sendiri dengan maksud menyempurnakan teks sesuai dengan pertimbangan atau pandangan yang sebaik-baiknya. Kecuali tangan yang langsung menyusun teks itu sendiri yang dengan sengaja mengadakan perubahan atau tidak sengaja menimbulkan perubahan, misalnya karena salah faham, karena kekhilafan, kecerobohan dan sebagainya, unsur-unsur dari luarpun yang berhubungan dengan teks itu, di antaranya pemerintah, penyalin, pengetik, pencetak dan sebagainya dapat merupakan penyebab timbulnya perbedaan di antara beberapa penyajian atau penerbitan karya yang sama. Dengan demikian teks sastra itu baik yang tulisan tangan (naskah) maupun yang tercetak mudah terbuka untuk berbagai kemungkinan perubahan. Peneliti sastra yang sadar akan persoalan itu memilih teks yang paling sesuai dengan tujuan penelitiannya. Pada umumnya teks yang terbukti paling as.li yang terlebih dulu menarik perhatian para peneliti, sebab teks itu dipandang murni, bersih dari unsur-unsur perusak yang kemudian terjadi dalam sejarah perkembangan teks itu. Segala kegiatan untuk memperoleh teks yang diduga paling asli memang penting sekali, sebab jika tidak demikian sukar sekali dilakukan analisa kritik terhadap teks itu dan ditentukan artinya dalam sejarah. Hal ini lebih-lebih berlaku bagi peneliti

sejarah astra, akan tetapi untuk penelitian kebanyakan karya sastra modern yang mene laah arti literer karya itu, tidak perlu dipakai teks atau versi yang paling asli, sebab ada kalariya bagi pengarang, teks yang mula-mula itu dianggap belum sempurna dan dalam penerbitan-penerbitan kemudian teks trsebut mengalami usaha penyempurna annya baik oleh pengarangnya sendiri, maupun oleh pihak lain. Adapun penelitian mengenai seluk-beluk teks, yaitu sejarahnya, pertumbuhannya, variasinya sampai kepada silsilahnya atau versinya yang dianggap paling asli adalah tugas filologi. Kegiatan filologi mula-mula tumbuh di Eropa, ketika pada jaman huma nisme dan renaissance orang menemukan kembali sastra klasik Junani dan Romawi orang ingin memahami maksud dan makna naskah-naskah kuno yang ditulis dalam bahasa yang sudah tidak dipakai lagi dalam kehidupan sehari-hari. Orang ingin mene rapkan nilai-nilai kebudayaan klasik dalam kehidupan mereka. Maka tumbuh lagi dengan amat pesatnya kegiatan kritik teks, yang amat perlu karena keadaan naskah naskah yang sangat rusak itu. Teks-teks itu diselidiki melalui bahasanya, bacaannya, makna yang terkandung dalam kalimat-kalimatnya. Naskah-naskah dengan teks yang sama diperbandingkan untuk mengisi tempat-tempat yang kosong dan memperbaiki kesalahan. Naskah-naskah yang telah diperbaiki dengan cara demikian pada abad ke 3 sebelum Masehi, ketika para cendekiawan Junani di Perpustakaan dan Museum lskan dariah melakukan kritik teks, oleh para penyalin uapahan diperbanyak untuk pasaran buku. Penemuan dalam abad ke 15 Masehi yang sangat menguntungkan sehubungan dengan memperbanyak naskah itu ialah seni mencetak buku. Karena sebelum diterbit kan berupa cetakan, naskah-naskah itu harus diperbaiki sejauh-jauhnya, maka kegiatan meneliti naskah menjadi bertambah maju. Meskipun teks tercetak itu tidak luput dari kesalahan, namun lengan penyebarluasan eksemplar tercetak dari naskah-naskah yang bersangkutan, tidak dikhawatirkan lagi naskah yang ada itu musnah karena sesuatu sebab. Dengan demikian terjaminlah keiangsungan hidup teks klasik turun temurun. Melalui teks-teks klasik itu para ahli filologi di Eropa telah berhasil menggali nilai-nilai hidup yang terkandung dalam kebudayaan lama (Maas, 1972). Kegiatan filologi di Indonesia mulai dari pertengahan abad ke 19, dirintis oleh sarjana-sarjana Eropa, terutama Belanda. Di antara para peneliti itu kita kenai misal nya Gericke dan Cohen Stuart untuk bahasa Jawa, kuno, untuk bahasa Melayu antara lain Klinkert, van Ronkel dan van de Wall. Dari pihak lnggris diketahui Raffles dan Crawford yang berkecimpung dalam bidang penelitian naskah Jawa dan Melayu. Di samping mereka perlu disebutkan untuk penelitian naskah Melayu nama-nama seperti John Leyden, Shellabear dan Winstedt (Sulastin Sutrisno, 1981: 13). Kemudian dari Belanda muncul nama-nama terkenal seperti Teeuw, Roolvink, Ras dab Brakel un tuk penelitian bahasa Melayu; dan Verhoeve untuk bahasa Batak, serta Ullenbeck un tuk bahasa Jawa. Dari pihak Indonesia dapat dikemukakan nama beberapa perintts ke-

giatan filologi yang kini semuanya sudah wafat, yaitu Hoesein Djajadiningrat, Poerbat tjaraka, Priyana, Prijohutomo dan Tjan Tjoe Siem. Kepeloporan mereka dilanjutkan oleh bekas murid-murid mereka atau ahli-ahli filologi yang kemudian; di antara!lya Soetjipto Wirjosoeparto almarhum, Slamet Mulyana, Tudjimah, Teuku 'Iskandar, Haryati Soebadio, diikuti lagi oleh angkatan yang lebih muda atau lebih kemudian. Sudah dari jaman kuno orang memerlukan teks-teks karya sastra yang dapat dipercaya. Karya-karya tersebut yang selanjutnya siap dipakai sebagai dasar penelitian. Pada hakekatnya filologi mempunyai fungsi mengabdi kepada bidang ilmu lain. Tafsiran yang diberikan ahli filologi atas dasar prinsip-prinsip metodologi kritik teks di latar be lakangi kebudayaan dan sejarah akan memberikan sumbangan yang berharga bagi pene litian ilmu-ilmu lain. Teks yang sebelum diteliti merupakan bahan mentah, setelah diteliti sedalam- dalamnya secara filologi merupakan naskah yang dapat dipertanggungjawabkan sebagai sumber yang otentik. Teks inilah yang sekarang tersedia untuk dimanfaatkan dalam pe nelitian bidang ilmu apapun, asal tetap menggunakan teks tersebut dengan mengindah kan norma-normanya sebagai karya sastra (Sulastin Sutrisno, 1981: 15). Dari berita sejarah kita mengetahui bahwa bahasa-bahasa, yang di pakai di Nusan- tara pada masa penyebaran Islam bermacam-macam. Di Jawa terdapat bahasa JawJ Kuno dan Sunda Kuno. Di daerah Sumatra dan Semenanjung Melayu dipergunakan bahasa Melayu di samping bahasa-bahasa daerah seperti Batak, Kubu, dan Nias. Di Sula wesi, bahasa yang dipakai antara lain bahasa Bugis, Makasar, dan banyak lagi bahasa setempat. Di Kalimantan terdapat bahasa Banjar di samping bahasa-bahasa Melayu dan Dayak. Di antara bahasa yang disebutkan di atas rupanya bahasa Melayulah Y<'""'9 paling memegang peranan penting. Penggunaan bahasa Melayu dapat diketahui sejak abad ke 7 Masehi. Hal ini dibuktikan oleh prasasti-prasasti jaman Sriwijaya. Rupa-rupanya bahasa Melayu makin lama makin berkembang. Penyebaran tersebut disebabkan oleh adanya hubung an lalulintas pelayaran dan perdagangan. Bahasa Melayu kemudian dipergunakan se bagai alat komunikasi antar suku bangsa hingga menjadi bahasa yang umum dipakai sebagai linguafranca. Kedatangan agama Islam telah pula memperkaya perbendaharaan bahasa Melayu dengan kata-kata yang berasal dari bahasa Arab. Bahasa Melayu kemudi an berkembang menjadi bahasa Indonesia (Nugroho Notosusanto, 1980: 13). Diperkira kan dengan berkembang agama Islam di Indonesia maka lahirlah huruf Jawi, yaitu hu ruf Arab dengan memakai bahasa Melayu. Penulisan karya sastra Melayu lama dengan mempergunakan huruf Jawi ini diduga terjadi pada abad ke 14-19. Berdasarkan karya sastra Melayu lama yang sampai kepada kita sebagian besar ditulis dengan huruf Jawi, yaitu huruf Arab dengan bahasa Melayu. Meskipun demikian

tidaklah berarti bahwa karya sastra itu diciptakan sejaman dengan mulainya pemakaian huruf Jawi. Huruf Jawi sendiri muncul seteah kedatangan agama Islam, dan pemakai annya di wilayah Nusantara ini paling dimulai pada tahun-tahun sesudah tahun penulis an batu nisan di Menye Tujuh atau selambat-lambatnya dimulai pada tahun sekitar penulisan inskripsi batu Trengganu 1386/1387!i3u3; yang pasti awal pemakaian huruf Jawi tertua, yaitu naskah Seri Rama yang diperoleh perpustakaan Universitas Oxford, yang dibeli oleh Laud pada tahun 1633 H. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa naskah ini ditulis setelah tahun ditemukannya (Baried, 1878:41- 42). Penulisan karya sastra Melayu lama dengan memakai huruf Jawi diduga terjadi pada abad ke 14 -19. Mengenai penulis aslinya sulit untuk dapat ditentukan karena yang tercantum biasanya hanyalah nama penyalin dan tahun disalinnya. Pada jaman dahulu penyalinan naskah bebas dilakukan tanpa dikenakan hukuman. Hal ini tidak mengherankan karena dahulu sasstra merupakan milik masyarakat. Penyalinan naskah banyak dilakukan sekitar awal abad 19 semasa pemerintahan Gubernur Jendral Baron van der Capellen '(Verhoeve, 1964:258). Tempat-tempat yang seringkali disebutkan sebagai tempat penyalinan naskah, yaitu Batevia dan Riau (terutama di pulau Penye ngat) Di Riau sudah dikenal sebuah organisasi yang bernama Rusydiah Club. Rusydiah club ini telah berhasil mengusahakan percetakan di Pulau Penyengat dengan nama Mathabaatul Riawiyah atau Mathabaal Ahmadiyah, yang sudah mulai aktif sejak tahun 1894 (Hamidy, 1973:31 ). lsi daripada naskah Melayu itu beraneka ragam, antara lain ceritera rakyat, ceritera sejarah, undang-undang, fiksi Islam dan uraian keagamaan, yang semuanya ditulis dalam bentuk prosa dan puisi. Sejarah sastra Melayu lama sulit ditelusuri, karena karya sastranya banyak yang sudah hilang, misalnya dengan peristiwa terbaarnya kapal The Fame pada tanggal 2 Februari 1824 yang memuat khasanah perpustakaan Melayu yang dikumpulkan oleh Raffles dalam pelayaran menuju lnggris. Hal itu dijelaskan lagi oleh Munsyi Abdullah dalam hikayatnya (Ahmad, 1974:viii). Diperkirakan jumlah semua naskah Melayu yang tersimpan di berbagai Museum dan Perpustakaan mencapai lima ribu eksemplar, yang meliputi kira-kira delapan ratusan judul naskah dengan perincian sebagai berikut, seratus lima puluh berupa dongeng, empat puluh tujuh riwayat atau karangan bersejarah, empat puluh satu kitab undang-undang, tigaratus ajaran agama, seratus enam belas berbentuk syair, dan seratus judul berisi aneka ragam karangan (Ismail Husein, 1974:12). Di antara naskah itu sejumlah besar telah menjadi milik Perpustakaan Universitas Leiden dan Museum Nasional Jakarta. Ternyata belum semua naskah Melayu itu sudah dipelajari dan diterbitkan. Menurut Ismail Husein, dari lima ribu naskah itu baru seratus yang sudah diterbit kan. Dua puluh di antaranya digarap secara ilmiah (Ismail Husein, 1974: 12). 65

Naskah-naskah Melayu lama tersebar di seluruh Indonesia. Di satu daerah lebih banyak daripada daerah lainnya. Dibandingkan dengan · masa-masa lampau kesadaran bangsa Indonesia akan pentingnya naskah-naskah lama. telah jauh lebih baik, dan inipun sudah dibuktikan dengan perbuatan-perbuatan yang konkrit. Di samping usaha usaha swasta dan perorangan, yang semula harus bergulat dengan gigih, pada waktu akhir-akhir ini telah muncul pula proyek-proyek pemerintah yang secara aktif terjun di bidang ini. Survey-survey penyelamatan, dan penelitian sudah mulai digerakkan secara intensif. Sehubungan dengan hal itu, kami mencoba untuk meneliti beberapa naskah/ karya sastra Melayu yang isinya cukup penting, karena mengandung unsur Sejarah. Menurut hemat kami, dalam rangka usaha penelitian sejarah di Indonesia, naskah naskah tersebut dapat pula diikutsertakan, asal telah diadakan pemilihan terlebih dahulu secara cermat bagian yang bersifat sejarah dan mana yang dongeng. Sebenar nya naskah-naskah Melayu yang mengandung unsur sejarah cukup banyak tersimpan di Museum Nasional Jakarta, ada sekitar 42 judul. Kami di sini membatasi diri dengan beberapa judul saja, antara lain Sejarah Melayu (v.d.w. 188), Hikayat Raja Banjar dan Kotaringin (MI. 2), Hikayat Aceh (v.d.w. 196), Hikayat Johor (v.d.w. 193), Sejarah Tambusai (MI. 100a), Sejarah Raja-raja Riau (v.d.w. 62 dan 197 dari Katalog Melayu). Silsilah Kutai (Br. 513), Ceritera Raja Mampawah (Pit. 5), Sejarah Pasemah (MI. 234), Syair Perang Muntinghe (MI. 12), Syair Perang Banjarmasin (MI. 196) dan Syair Singapura dimakan api (v.d.w. 270). Sedangkan uraian dititikberatkan kepada naskah Sejarah Melayu No. v.d.w. 188.

BERITA PENGISLAMAN DALAM NASKAH DAN SEJARAH.;

Berita pengislaman suatu daerah seringkali dirangkum dalam suatu ceritera yang amat menarik. Dalam beberapa karya sastra sejarah Melayu dapat dijumpai peristiwa tersebut. Cara mengisahkannya singkat saja, seolah-olah peristiwa tersebut tidak cukup penting. Demikian pula tahun-tahun terjadinya peristiwa tidak pernah dican tumkan. Bagi penulis sastra Sejarah Melayu, faktor waktu tidak memegang peranan p_enting. Lain halnya bila penulis menceriterakan tentang kebesaran dan keagugan raja-raja melayu yang berkuasa pada masa itu. Kisahnya akan diceriterakan secara panjang Iebar. Ceritera pengislaman seorang raja atau pun sebuah negeri dapat dijumpai dalam beberapa naskah Melayu, antara lain Sejarah Melayu, Sejarah Tambusai, Hikayat Raja Banjar dan Kotaringin, dan Hikayat Wangsagoprana Sagara Herang. Pada umumnya kisa itu banyak bercampur dengan ceritera mitologi setempat. Beberapa alkisah (bagi an) dalam Sejarah Melayu menyebutkan tentang agama Islam mulai dianut di Samudra,

Pasai, dan Malaka. Pada alkisah ke 7 Sejarah Melayu (v.d.w. 189), disebutkan bahwa raja Samudra, Kirab Silu memeluk agamc: l:;lam dan diganti namanya menjadi Sultan Malik ai-Saleh. "Maka oleh fakir Muhammad, Mirah Silu itu diislamkannya, dan diajar nya kalimat syahadat. Telah Mirah Silu sudah Islam, maka Mirah Silupun tidur, maka ia bermimpi dirinya berpandangan dengan rasul Allah 'alaihi wa salam. Maka sabda rasul Allah pada Mirah Silu: Hai Mirah Silu, ngangakan mulutmu. Maka dingangakan oleh Mirah Silu mulutnya, maka diludahi rasul Allah. Maka Mirah Silupun jaga dari pada tidurnya, maka diciumnya bau tubuhnya seperti bau narwastu. Telah siang hari maka fakir Muhammad pun naik ke darat membawa Our'an, maka disuruhnya baca pada Mirah Silu; maka dibacanya Our'an itu". Selanjutnya diceriterakan bahwa Malik' ai-Saleh meminang putri raja Perlak, dan daripadanya ia memperoleh dua orang putra laki-laki. Malik ai-Saleh pergi mencari tempat baru, lalu mendapatkan sebuah negeri yang baik letaknya, Negeri itu dinamai Pasai. Kemudian putranya yang bernama Malik ai-Zahir dirajakan di Pasai. Raja Mali ai-Zahir yang memeluk agama Islam itu segera mengislamkan rakyatnya. Pada alkisah 11 disebutkan bahwa raja Malaka pertama yang memeluk agama lslarr, bernama Raja Kecil Besar. Ia bermimpi bertemu dengan nabi Muhammad, yang menitahkan kepadanya agar membaca dua kalimat syahadat. Setelah menjadi muslim, Raja Kecil Besar bergelar Sultan Muham mad Syah. Dari Sejarah Tambusai (MI. 100b) dapat diketahui bahwa pendiri Kerajaan Tambu sai yang bernama Sultan Mahyuddin sudah memeluk agama Islam. Kapan waktunya kerajaan ini berdiri tidak ditemukan keterangan yang tepat, hanya diperkirakan setelah adanya Kerajaan Pagarruyung atau setelah masuknya Islam ke Pagarruyung. Selain Tambusai, di sepanjang sungai rokan terdapat juga beberapa kerajaan lain, yaitu Kera jaan Rambah, Kepenuhan, Kunto Dar as-salam dan Rokan. Di antara kerajaan-kerajaan itu, Kerajaan Tambusai adalah kerajaan yang tertua, yang dahulunya bemama Negeri Karang Besar. Pada bagian permulaan Sejarah Tambusai disebutkan bahwa Sultan Mahyuddin itu putra Raja Pagarruyung, keturunan Sultan Iskandar Zulkarnain, yang bernama Maharaja Diraja. Berdasarkan sumber-sumber sejarah Sumatra khususnya Minangkabau, diketahui bahwa Maharaja Diraja itu adalah Raja Minangkabau pertama dan pendiri Kerajaan Minangkabau. Maharaja Diraja adalah gelar Raja Adityawarman dari Majapahit dan memerintah tahun 1339- 1375 di Minangkabau. Dalam menghadapi naskah seperti Sejarah Tambusai ini sukar bagi kita untuk menentukan apakah ceritera ini mengandung fakta sejarah atau hanya merupakan ceritera mitos legendaris. Karena walaupun disebutkan tokoh-tokohnya, tetapi tanpa pendiri kerajaan Miangkabau. Maharaja Diraja adalah gelar Raja Aditywarman dari Majapahit dan memerintah tahun 1339-1375 di Minangkabau (Minerva, 1979:105). Bukti lainnya ialah dengan ditemukannya prasasti-prasasti di daerah Minangkabau

sehingga dapat diketahui bahwa pada pertengahan abad ke 14 ada seorang raja yang memerintah di Kanakamedinindra yang bernama Adityawarman anak dari raja Adwa ya-warman. Nanianya ini dikenal juga dalam prasasti pada area Manjuarai di candi jago, sekitar tahun 1343 bersama-sama Gajah Mada ia menaklukkan pulau Bali. Sebenarnya ia putra Majapahit keturunan Melayu. Setelah sampai di Sumatra, ia menyusun kembali kerajaan peninggalan Mauliwarmadewa. Tahun 1347, setelah ia meluaskan daerah kekuasaannya sampai ke Pagarruyung (Minangkabau), ia mengangkat dirinya sebagai Maharaja Diraja dengan gelar Udayadityawarman (Minerva Mutiara, 1979:105). Walau pun demikian Adityawarman tetap menganggap dirinya sebagai Sang Mantri yang ter kemuka dari Raja Patmi dan masih sedarah dengan putri itu. Dari prasastinya dapat di ketahui bahwa Adityawarman penganut agama Budha. Ia menganggap dirinya penjel maan Lokeswara, yang berpangkal pada sistim Kalacakra seperti halnya raja-raja Maja pahit. Agama yang dianut penduduk pada masa itu adalah Hindu-Jawa dan baru pada pertengahan abad ke 16 (1569) kerajaan Minangkabau diperintah oleh seorang raja Is lam yang bergelar Sultan Alif, raja yang pertama beragama Islam. Sultan Alif tidak ber putra sehingga pada waktu ia wafat, kerajaannya diwariskan kepada tiga orang ahli wa risnya yang terdekat. Dalam Sejarah Tambusai, ceritera mengenai Sultan Alif ini tidak ada sam a sekali, tetapi dalam naskah Sejarah Tambusai (MI. 1 OOb), diceriterakan bahwa Maharaja Alif adalah putra sulung Sultan Iskandar Zulkarnain dan putranya yang bungsu yang terkenal dalam ceritera-ceritera Melayu adalah Maharaja Diraja, yang dianggap sebagai nenek moyang raja-raja Melayu. Bila pada pertengahan abad ke 16 raja Minangkabau sudah beragama Islam kapan kah agama Islam masuk ke Sumatra. Menurut seorang ahli sejarah bangsa barat tentang kapan Islam masuk ke Indonesia memang sukar dipastikannya. Mungkin di bawa oleh saudagar-saudagar Arab pada abad ke 7, sebab menurutnya orang Arab pada masa itu telah memegang perniagaan di negeri-negeri Timur. Dalam abad ke 8 Masehi seluruh perniagaan di pulau Ceylon ada di tangan orang Arab. Masuknya agama Islam ke dae rah Riau erat hubungannya dengan saudagar-saudagar India, Cina, Arab dan Persia. Sebagian besar kerajaan Melayu di Riau terletak dalam arus lalulintas perdagangan dunia. Pada abad ke 7 Masehi daerah Rokan terkenal sebagai pusat penghasil lada yang sangat penting di Eropa. Perdagangan ini berkembang dengan pesatnya terutama dengan negeri Cina dan Persia. Sejak tahun 720 Masehi pedagang Cina berhasil mende sak pedagang Arab dan Persia. Baru pada abad 13 pedagang Arab dan Persia berhasil mengadakan hubungan kembali dengan daerah ini. Situasi daerah Kalimantan Selatan menjelang masa kedatangan Islam dapat dike tahui dari naskah Hikayat Banjar (naskah MI. 2). Kerajaan yang bercorak Indonesia Hindu di Kalimantan menjelang kedatangan Islam berpusat di Nagara Dipa dan Nagara Daha. Kedua kerajaan tersebut sudah mempunyai hubungan dengan dengan kerajaan

Majapahit semasa pemerintahan Suryanata, karena perkawinannya dengan putri Jun jung Buih. Ketika cucu raja Sukarma yang bernama Pangeran Samudra menjadi raja Banjar, peperangan yang berlarut-larut masih terjadi antara Pangeran Samudra dengan raja-raja disekitarnya. Kemudian Patih Masih mengambil inisiatif dengan minta ban tuan militer kepada Demak. Pada waktu itu Demak telah menaklukkan kerajaan kerajaan di Jawa dan telah menjadi pengganti kerajaan Majapahit. Demak bersedia membantu dengan syarat Pangeran Samudra harus memeluk agama Islam. Pangeran Samudra menyetujui persyaratan itu. Demikianlah bantuan militer Demak datang bersama-sama dengan penghulu yang akan meniglamkan raja dan rakyat Banjar. Setelah masuk Islam. Pangeran Samudra mendapat gelar Sultan Suryanul!ah. Selanjut nya Sultan Suryanullah harus mengirimkan upeti ke Demak setiap tahun. Dalam Hikayat Wangsagoprana Sagara Herang (naskah MI. 268) dapat dijumpai peristiwa pengislaman suatu daerah di Jawa Barat. Walaupun tidak seluruh teks berisi fakta sejarah, hikayat ini mencatat peristiwa masuknya agama Islam ke Cianjur untuk pertamakalinya. Diceriterakan bahwa permulaan sekali agama Islam diajarkan oleh Aria Wangsagoprana Sagara Herang di daeral1 Kerawang, yang lama kelamaan tersebar semakin luas ke daerah pedalaman Cianjur. Selanjutnya dijelaskan tentang keturunan Aria Wangsagoprana terutama Aria Tanu Datar Cikundul Majalaya yang pindah dari Sagara Herang menuju Ciblagung dan membuka desa Cijagung. Kemudian Aris Wira Tanu Datar II menjadi bupati Cianjur yang pertama. Ceritera berakhir dengan silsilah raja-raja dari Prabu Ciung Wanara yang menjadi raja Pakajaran sampai kepada Bupati Cianjur yang terakhir, yaitu Adipati Aria Kusumaningrat. Menurut berita sejarah, pada masa kedatangan dan tersebarnya agama Islam di Nusantara ini sudah terdapat kerajaan-kerajaan yang bercorak Indonesia-Hindu. Di Sumatra pada waktu itu terdapat kerajaan Sriwijaya dan Melayu. Di Jawa terdapat kerajaan Majapahit dan Sunda. Sedangkan di Kalimantan terdapat kerajaan Nagara Dipa, Nagara Daha dan Kutai. Di Bali kerajaan yang bercorak Hindu bahkan masih ada hingga abad ke 20. Di lain pihak ada beberapa daerah lain yang tidak mendapat pengaruh Hindu. Kerajaan-kerajaan semacam itu terdapat di Sulawesi seperti kerajaan Gowa, Wajo dan Bone. Seorang penulis Portugis, Tome Pires yang mengunjungi Indo nesia pada tahun 1522·-1513, menyebutkan bahwa di Sulawesi terdapat 50 kerajaan yang menyembah berhala. Sulawesi pada waktu itu tidak mendapat pengaruh Hindu tetapi masih memiliki adat istiadat leluhur, ialah dalam cara penguburan. Cara pengu buran pada tradisi masa lalu yaitu jenazah dikuburkan mengarah timur-barat dan pada makamnya disertakan sejumlah bekal kubur seperti mangkok, tempayan bahkan barang-barang import buatan Cina, tiram dan lain-lain. Pada dwal abad ke 16 di kepu lauan Maluku terdapat kelompok masyarakat yang bukan Islam dan mungkin banyak di antaranya tidak memperoleh pengaruh budaya Hindu. Tome Pires ketika mengun-

jungi Maluku juga melihat adanya pemerintahan di pedalaman yang dipimpin oleh kepala-kepala suku. Pada abad kedatangan dan penyebaran islam, di daerah Maluku masih terdapat kelompok masyarakat yang membuat patung-patung untuk mengr mati kepala nenek moyang. Patung-patung tersebut dibuat dari kayu atau batu. Keper cayaan semacam itu juga terdapat pada suku-suku di Kalimantan antara lain berupa upacara Tiwah. Dalam Hikayat Banjar (naskah MI. 2) dapat kita lihat kisahnya: "Raja hendak menggantikan berhala yang dibuat dari kayu cendana dengan patung berhala dari logam gangsa, akan tetapi di seluruh negeri tidak ada yang pandai membuat berhala gangsa. Hanya diketahui bahwa Cinalah yang bisa membuatnya". Kedatangan Islam di beberapa daerah di Indonesia tidaklah bersamaan. Kerajaan-kerajaan dan daerah yang didatanginya pun mempunyai satuan politik dan sosial budaya yang berlainan. Ketika Kerajaan Sriwijaya sedang mengembangkan kekuasaan sekitar abad ke 7 dan 8 Masehi, Selat Malaka sudah mulai dilalui oleh pedagang-pedagang Muslim. Mereka berlayar melalui Selat Malaka untuk berdagang di daerah Asia Tenggaran dan Asia Timur. Berdasarkan berita Cina dari jaman T'ang pada abad abad tersebut sudah ada orang Muslim baik di Kanton maupun di daerah Sumatra. Perkembangan perdagangan dan pelayaran yang bersifat internasional antara negeri barat dan timur Asia antara lain disebabkan oleh kegiatan Kerajaan Islam di bawah Banu Umayah di bagian Barat dan kerajaan Cina dinasti T'ang di asia Timur, serta kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara. Usaha-usaha kerajaan Sriwijaya untu meluaskan kekuasaannya ke semenjung Malaka erat hubungannya dengan usaha untuk menguasai Selat Malaka yang merupakan kunci bagi pelayaran dan perdagangan internasional. Akibatnya ialah, bahwa kedatangan orang Islam di Asia Tenggara dan Asia Timur pada tahap pertama nampaknya belum terasa bagi kerajaan-kerajaan di kawasn tersebut. Apabila kerajaan Sriwijaya dari abad ke 7 sampai 12 Masehi memegang peranan penting di bidang ekonomi dan perdagangan untuk daerah Asia Tenggara, maka sejak abad ke 12 peranan tersebut mulai menunjukkan kemunduran, Bukti bahwa kerajaan Sriwijaya sudah mundur di bidang ekonomi dan perdagangan dapat diketahui dari berita Chou Ku Fei. Berita tersebut menyebutkan bahwa harga barang perdagangan di Sriwijaya mahal-mahal, karena rupanya tidak lagi menghasilkan hasil alamnya. Untuk mencegah kemunduran ekonomi dan perdagangan kerajaan Sriwijaya kemudian mem buat peraturan cukai yang lebih berat bagi kapal dagang yang singgah di pelabuhannya. Usaha-usaha yang dilakukan Sriwijaya ternyata tidak menghasilkan pendapatan yang lebih menguntungkan tetapi malahan lebih merugikan. Kapal-kapa: dagang seringkali menghindari pelabuhan-pelabuhannya, kadang-kadang menembus blokade dan menuju tempat-tempat lain yang banyak menghasilkan barang dagangan. Kemunduran di bidang perdagangan dan politik kerajaan Sriwijaya telah dipercepat oleh usaha-usaha

kerajaan Singasari di Jawa yang mengadakan ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275. Pengaruh politik Kartanegara terhadap k.erajaan Melayu merupakan usetha untuk menguasai kunci pelayaran dan. perdagangan Sriwijaya. Usaha mengecilkan arti Sriwi jayanya oleh kerajaan Singasari telah dimanfaatkan oleh daerah-daerah lain untuk melepaskan diri dari kekuasaan Sriwijaya. Seja1an dengan kelemahan yang dialami kerajaan Sriwijaya maka pedagang-pedagang. Muslim yang mungkin juga disertai ulama ulamanya, menggunakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan dagang dan politik. Mereka mendukung daerah-daerah yang muncul dan menyatakan dirinya sebagai kerajaan yang bercorak Islam seperti Samudra Pasai yang terletak di pesisir timur Laut Aceh, termasuk Kabupaten Aceh Utara dekat Lok Semawe. Munculnya kerajaan Samudra Pasai sebagai kerajaan Islam yang pertama di Indonesia, diperkirakan terjadi pada abad ke 13 Masehi. Daerah lain yang sudah mempunyai masyarakat Islam pada periode yang sama ialah Perlak. Hal ini dapat kita ketahui berita Marcopolo yang singgah di daerah tersebut pada tahun 1292. Kemunduran dan keruntuhan ke kuasaan Sriwijaya itu, sebagai akibat politik Singasari dan Majapahit, juga karena ekspedisi Cina pada masa Kubilai Khan (c::ad 13) dan masa pemerintahan Dinasti Ming. (abad 14- 15) ke daerah Asih Tenggara. Sebaliknya, pengaruh po!itik kerajaan Majapahit ke Samudra Pasai dan Malaka setelah keruntuhan Sriwijaya mulai kurang, terutama karena dipusat kerajaan Majapahit sendiri timbul kekacauan politik akibat perebutan kekuasaan di kalangan keluarga raja-raja. Dengan demikian, kerajaan-keraja an yang jauh letaknya dari pengawasan Majapahit, berhasil mencapai puncak kekuasaan menjelang abad ke 16. Tentang kedatangan Islam di Jawa, tidak dapat diketahui secara pasti. Bukti nyata bagi kedatangan Islam di Jawa dapat ditunjukkan dengan adanya batu nisan kubur Fatimah binti Maimun di Leran (Gresik), yang bertahun 1082 Masehi. Meskipun demikian ini belum berarti telah adanya proses lslamisasi di Jawa. Bukti-bukti berupa peninggalan purbakala dari abad ke 13 Masehi tentang adanya masyarakat beragama Islam, ditemukan di bekas ibukota Majapahit sekitar daerah Trowulan. Kecuali itu berita dari seorang musafir Cina beragama Islam bernama Ma Huan yang ada pada tahun 14 16 mengunjungi Gresik, menceriterakan bahwa banyak orang Muslim yang tinggal di Gresik. Pertumbuhan masyarakat Muslim di sekitar Majapahit, terutama di kota-kota pelabuhannya, erat sekali hubungannya dengan perkembangan pelayaran dan perdagangan yang dilakukan orang-orang Muslim. Pada tahap pertama, masuknya Islam di pesisir Utara Jawa mungkin belum dirasakan akibat di bidang politik. Kedua belah pihak waktu itu mementingkan usaha untuk memperoleh keuntungan dagang. Kelemahan-kelemahan yang dialami pusat kerajaan Majapahit (di antaranya akibat pemberontakan serta perebutan kekuasaan), telah mempercepat bentuk kek11asaan politik seperti munculnya kerajaan Demak. Ketika Hayamwuruk dan Patih Gaj< 1mada

masih berkuasa, situasi politik pusat kerajaan Majapahit masih tenang. Raja-raja lain di berbagai daerah di Nusantara masih mengakui dan berlindung di bawah kekuasaan Majapahit. Tetapi setelah kedua tokoh tersebut meninggal, situasi politik Majapdhit kembali menunjukkan kegoncangan dan kelemahan yang makin menjadi-jadi sehingga mengakibatkan keruntuhan Majapahit. Dari berita sejarah disebutkan bahwa keruntuhan pusat Majapahit bukan semata mata oleh kalangan Muslim, melainkan oleh adanya perpecahan di antara kalangan kraton Majapahit, seperti misalnya oleh Girindrawardhana dari Kediri. Meskipun kerajaan Indonesia-Hindu yang berpusat di Kediri sekitar tahun 1526 sudah runtuh, namun kerajaan-kerajaan kecil seperti Pasuruan, Panarukan dengan kerajaan Blambang an, belum rnasuk Islam. Pasuruhan baru masuk Islam sesudah tahun 1546, sedangkan Blambangan tetap berdiri sampai pada masa serangan Sultan Agung dan Amangkurat pada abad ke 17. Sejak Demak berdiri sebagai kerajaan dengan Raden Patah sebagai rajanya daerah pesisir utara Jawa Barat seperti Cirebon telah berada di bawah penga ruhnya. Islam di Cirebon sudah mulai berkembang sejak tahun 1470 - 1475. Usaha kerajaan untuk membendung kekuatan Islam dapat dipatahkan oleh Falatehan, seorang yang berasal dari Pasai, yang mendapat perintah dari Sultan Demak serta Sunan Gunungjati dan berhasil merebut Sunda Kelapa sekitar tahun 1527. Banten merupakan pelabuhan yang penting, karena letaknya yang strategis di sekitar Selat Sunda. Posisi nya menjadi sangat penting ketika Selat Malaka sudah dikuasai Portugis. Meskipun sejak tahun 1626 -1527 pelabuhan Pajajaran sudah jatlih ke tangan Muslim, namun daerah pedalaman masih tetap bertahan. Akhirnya sekitar tahun 1579 - 1580 praktis seluruh kerajaan Sunda sudah jatuh karena serangan raja Banten di bawah pimpinan Maulana Yusup. Kedatangan Islam ke Indonesia bagian timur seperti Maluku bertalian erat dengan jalan perdagangan yang terbentang antara pusat lalulintas internasional di Malaka, Jawa dan Maluku. Tradisi setempat menyebutkan bahwa sejak abad ke 14 Islam sudah datang ke daerah Maluku. Raja Ternate yang ke 12 bernama Kalomatiwa (1350-1357) telah bersahabat karib dengan orang Arab yang memberi petunjuk bagaimana cara membuat kapal yang lebih baik. Raja yang dianggap benar-benar memeluk agama Islam ialah Zainal Abidin (1486-1500), ia mendapat pengajaran agama Islam dari Madrasah Giri Prabu Satmaka. Sekembalinya dari Jawa, Zainal Abidin membawa seorang mubaliq yang bernama Tuhubahahul. Hubungan Ternate dan Hitu dengan Giri di Jawa Timur erat sekali. Hubungan antara Maluku dengan Giri terus berlangsung sampai abad ke 17. Hal itu dapat dilihat dari surat raja pendeta Giri yang diberikan kepada masyarakat Hitu, yang oleh mereka dianggap magis dan sangat dihormati. Demikian juga banyak anak Maluku, terutama berasal dari Hitu, yang belajar di Madra sah Giri.

Siatuasi di daerah Kalimantan Selatan menjelang masa kedatangan Islam diawali pada masa Pangeran Samudra dinobatkail menjadi raja Banjang oleh Patih Masih. Untuk dapat mengalahkan raja-raja di sekitarnya, atas nasehat Patih Masih, Pangeran Samudra minta bantuan militer kepada Dem<1k. Demak bersedia mengirimkan bantuan militer dengan syarat raja dan rakyat Banjar harus memeluk agama Islam. Syarat ini disetujui oleh Pangeran Samudra. Demikianlah dengan memenangkan peperangan itu, Pangeran Samudra beserta rakyat Banjar menyatakan dirinya masuk Islam. Proses lslamisasi di daerah Kutai dan sekitarnya diperkirakan terjadi pada tahun

  1. Pengislaman lebih jauh, terutama ke daerah pedalaman, terjadi pada masa Putra Raja Mahkota yang bernama Aji di Langgar. Demikian pula para penggantinya meneruskan pengislaman daerah ini hingga ke daerah Muara Kaman. Islam dapat masuk ke Kutai setelah orang-orang Makasar masuk Islam. Raja Kutai yang bernama Raja Mahkota berkat ajaran mubaliq akhirnya menyatakan dirinya masuk islam. Daerah Sulawesi, terutama bagian Selatannya, telah didatangi pedagang muslim sejak abad ke 15. Mereka datang ketempat ini melalui Sumatra, Malaka dan Jawa. Meskipun sejak abad ke 16sudah banyak pcdagang muslim yang bermukim di Sulawesi Selatan, terutama di Gowa, namun raja-raja Gowa juga mengadakan hubungan dagang dengan orang Portugis walaupun di Gowa dan Tallo raja-rajanya telah memeluk agama Islam secara resmi pada tahun 1605, namun ternyata pada masa berikutnya hubungan dengan Portugis tetap berjalan dengan baik dan agama Katolik yang dianut oleh orang Portugis tidak mengalami kesulitan. Proses lslamisasi di daerah Sulawesi Selatan pada tahap-tahap permulaan berjalan dengan damai, hal ini dapat diketahui dari hikayat setempat yang menceriterakan bagaimana cara-cara yang ditempuh oleh mubaliq Dato'ri Bandang dan Data' Suleman dalam mengajarkan Islam kepada masyarakat dan rajanya. Pendapat beberapa ahli bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 13, berdasarkan dugaan, karena keruntuhan dinasti Abasia oleh Hulagu Khan pada tahun
  2. Bukti tersebut diperkuat oleh ceritera Marcopolo yang pada tahun 1292 Masehi berlayar di Selat Malaka dan Ibn Batutah yang mengunjungi kerajaan Samudra Pasai pada abad ke 14. Batu nisan kubur Sultan Malik as-Saleh yang meninggal pada tahun 1297 lebih memperkuat bukti-bukti di atas bahwa pada waktu itu sudah ada kerajaan Islam di Indonesia. Karena itu abad ke 7 Masehi dianggap sebagai abad permulaan adanya hubungan pedagang Muslim dengan sebagian kecil daerah Indonesia. Kedatang an mereka ke daerah Indonesia barulah pada taraf hubungan dagang saja, sedangkan penyebaran agama Islam baru berkembang 5 atau 6 abad kemudian. Diduga bahwa pedagang-pedagang Muslim yang datang ke Indonesia ini mungkin disertai pula oleh beberapa mubaliq yang pekerjaannya lebih khusus mengajarkan agama. Turut sertanya para mubaliq atau guru agama Islam lebih memudahkan proses lslamisasi dan lebih
    73

memperdalam pengertian tentang agama islam. Guru-guru agama itu dapat menyeleng garakan pesantren-pesantren untuk membentuk kader yang kelak menjadi ulama dan guru agama. Mereka nantinya secara langsung menyebarkan agama Islam sampai ke pelosok-pelosok tanah air kita.

KESIMPULAN

Setelah mengetahui isi beberapa karya sastra sejarah Melayu, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan:

  1. Karya sastra sejarah Melayu merupakan suatu cabang kesusastraan yang amat menarik. Kala kita sudah mengetahui sifat-sifat penulisan sastra sejarah ini, maka akan diperoleh bahan-bahan yang kaya tentang watak bangsa Melayu serta undang-undang dan adat istiadatnya. Untuk mengetahui nilai historis dari sebuah karya sastra sejarah, kita harus mengadakan penelitian terhadap catatan-catatan lokal dan membandingkannya dengan beberapa sumber asing. Selanjutnyd kita harus mengadakan pilihan secara cermat, mana bagian yang bersifat sejarah dan mana yang dongeng semata-mata. Dengan demikian kita dapat mengikutsertakan karya sastra itu dalam usaha penelitian Sejarah Indonesia. Sebagai contoh dapat disebutkan di sini, dalam menghadapi peristi wa jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, selain dari penelitian naskah Sejarah Melayu, kita perlu juga meneliti catatan-catatan lokal yang tersimpan dalam arsip kerajaan Melayu dan dari sumber asing, terutama Portugis dan Belanda.
  2. Beberapa karya sastra sejarah Melayu, seperti Sejarah Melayu, Sejarah Tambusai, Hikayat Raja Banjar, Syair Perang Muntinghe dan Syair Singapura dimakan Api, bersifat historis-legendaris; yaitu dengan disebutkannya peristiwa-peristiwa yang benar-benar terjadi dalam sejarah. Dalam Sejarah Melayu, disebutkan tentang serangan Portugis terhadap kota Malaka secara jelas, walaupun tidak dicantumkan tahun terja dinya peristiwa itu. Dalam Sejarah Tambusai dicantumkan silsilah nenek moyang raja Tambusai yang bernama Sultan Sri Maharaja Diraja. Demikian pula dalam kedua syair ini disebutkan beberapa peristiwa penting dalam sejarah. Misalnya, pendaratan pasukan Belanda di Palembang yang dipimpin oleh Komisaris Mungtinghe dan Kolonel Bakker; dan peristiwa terjadinya kebakaran di Singapura yang disaksikan sendiri oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Kemudian menuangkannya dalam sebuah syair terkenal itu.
  3. Karya sastra Sejarah Melayu jarang mencatumkan tahun-tahun terjadinya suatu peris tiwa, sehingga kita menemui kesulitan dalam menentukan kronologisnya. Masyarakat lama memang tidak mementingkan faktor waktu dalam menuliskan segala peristiwa. Mereka lebih cenderung untuk menonjolkan kepahlawanan dan keagungan raja-rajanya, serta menelusuri garis keturunan nenek moyangnya sampai kepada Raja iskandar Zulkarnain, bahkan Nabi Adam. Dari berita sejarah dapat diketahui bahwa iskandar Zulkarnain itu sebenarnya tokoh yang hidup dan termashyur di dunia pada tahun 356-323 SM. Ia menjadi raja besar di Masedonia pada tahun 336-323 SM. Dalam
    75

rangka usahanya memperluas kerajaan Masedonia, Iskandar Zulkarnain melakukan peperangan ke negeri-negeri timur, termasuk India. Namun tidak pernah disebutkan dalam sejarah bahwa ia singgah di Sumatra. Sebenarnya kisah Iskandar Zulkarn;'lin terdapat pula dalam kitab suci AI Our'an (L.M. Yunus, Tafsir AI Our'an nul Karim, 1951; 273-276), oleh sebab itu agama Islam menyebutnya sebagai pahlawan pra lslam. Dan masyarakat Melayu mengakuinya sebagai nenek moyang raja-raja Melayu; sehubungan dengan itu pula para penulis karya sastra Melayu lama selalu memasukkan tokoh Iskandar Zulkarnain dalam karya-karyanya, dengan tujuan untuk mengangung kan dan memulyakan rajanya; karena pada masa itu garis keturunan memegang peran an penting terhadap kedudukan raja yang memerintah. Satu-satunya tradisi lokal yang dapat dipercaya kebenarannya adalah tradisi lokal yang ditulis oleh orang Bugis. Mereka terkenal sebagai pencatat-pencatat yang cermat dan selalu mencantumkan tahun-tahun peristiwa serta nama pengarangnya.

  1. Penulisan sejarah pada masa lalu berbeda dengan masa kini. Penulisan sejarah pada masa itu mempunyai tujuan tertentu, yaitu selain untuk meninggikan martabat raja yang berkuasa pada waktu itu juga untuk memberi pelajaran kepada anak cucu.
    76

DAFT AR PUST AKA

Ahmad, A. Samad, 1960, Sejarah Kesusastraan Melayu. Dewan Bahasa dan Pustaka, Kualalumpur. Bastian, John dan R. Rolvink, 1964. Malayan and Indonesia studies. Essays presented to Sir Richard Wintedt. Oxford. Blagden, C.C. 1925. "An unpublished variant version of the Malay Annal" JUMBRAS. Ill, 1, halaman 10-52. Bettoms, J.C. 1965. "Some Malay Historical Sources: a bibliographical note". An lntrodt•ction to Indonesia Historiography. Ed. Soedjatmoko etc. Cernell University Press, lthaka, New York. Brown, C.C. 1952. "The Malay Annals. Translate from Raffles MS. 18" JMBRAS. XXV, 2&3. Djajadiningrat, Husein, 1965. "Local Tradition and the study of Indonesia History". An lntruduction to Indonesia Historiography, Ed. Soedjatmoko etc. Cornell University Press, lthaka, New York. Djamaris, Edwar, 1971. "Kitab Undang-undang dalam Kesusastraan Minangkabau". Manu sia Indonesia IV, 3-4. Museum Pusat, Jakarta. Gibeon-Hill, C.A. 1956. "The Malay Annal. The History brought from Goa". JMBRAS, XXIX, 1 halaman 185-188. Iskandar, Te, uku, 1959. "De Hikayat Aceh". Verhandelingen van het Keninklijk lnstituut, XXVI, disertation Leiden. ---------------1964, Tun Sri La nang, Pengarang Sejarah Melayu ". DB. VII I, II, hal am an 484-

492.
Ismail Husein, 1963, "Hikayat Negeri Johor". DB, VII, 8, halaman 341-351, Kuala Lumpur. ---------------1974, The Study of Traditional Malay Literature with a Selected bibiography. Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur. Kretz, Ulrich, 1975, "Sumber-sumber sejarah Riau sekitar tahun 1511-1784". Majulah Bahasa dan Sastra tahun I, no. 4, halaman 41-51, Pusat Bahasa, Jakarta. Liaw Tock Fang, 1982. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik, Pustaka Nasional, Singapura. Linehan, W. 1947. "Notes on the Texts of the Malay Annals" .. JMBRAS, XX, 2, halaman 107-116. Mans, Paul, 1972, Textual Criticims, Translate from the German by Barbara Flower, Oxford. Minerva Mutiara, 1979, Sejarah Tambusai, Skripsi Sarjana Sastra Universitas Indonesia, Jakarta.

Muhammad Yamin, 1956, Atlas Sejarah, Jambatan, Jakarta.

Notosusanto, Nugroho, 1975. Mengerti Sejarah, Terjemahan bahasa lndonsia dari buku karangan Louis Gettechalk, Jakarta. --------------dan kawan-kawan, 1980, Sejarah Nasional Indonesia II, Departemen Pendidik- an dan Kebudayaan, .:Jakarta.1 Ras, J.J. 1968, Hikayat Banjar, A Study in Malay Histor:iography. Disertasi Leiden, 'S : 'Gravenhage,'"· ., ' Roolvink, R. 1967, "The variant versions of the Malay Annal". BKI, CXXIII, halaman 301-324. Salam, Solichin, 1964, Sejarah Islam di Jawa, Jakarta. Saleh, ldwar, 1981/1982, Banjarmasin. Proyek Pengembangan Permuseuman Kalimantan Selatan, Dep. P. dan K. Banjarmasin.· Situmorang, T.D. dan A. Teeuw, 1958, Sejarah Melayu. Jakarta. Sulastin Sutrisno, 1979, Hikayat Hang Tuah. Disertasi Universitas Gadjah Mada, Yogya- karta. Sundhoro, 1968, Sejarah Indonesia II, Djakarta. rl Taib Osman,_ 1965, Kes!,Jsaitraan Melayu Lama. Pnerbit Federai-Berhad, Kuala Lumpur. Teeuw, A; 1964, "Hikayat Raja-rja Pasi. and Sejarah Melayu". Malayan and Indonesia Studies, Essays p.resentec;l; ' .. to Sir'--Richard Winstedt etc. Oxford, halaman 227- 23(

U.U. Hamidy, 1973, Bahasa Melayu Riau. Badan Pembina Kesenian Daerah Propinsi
Riau, Pekanbaru. Universitas Riau, 1977 Sejarah Riau. Percetakan Riau, Pekanbaru. Verhoeve, P., 1964, "A Malay Seriptorium". Malayan and Indonesia Studies, essays presented to Sir Richard Winstedt etc. Oxford, halaman 256-266. Wilkinson, R.J., 1933, "The Sri Lanang Pedigree", JMB_ RAS, XI, 2, halaman a48-150. Winstedt, R.C., 1938, "The Malay Annal, Raffles MS. 18". JMBRAS, XVI, 3. Wersley, P.J., 1972, Babad Buleleng, A Balinese Dinastic Geneclogy, Bibliotheca Indonesia, 8, The Haque.

Buku unsur sejarah dalam naskah Melayu.

TERTULIS

  1. Halaman 6 huruf Arab teks ke dua dalam keterangan ditulis ML. 2.
  2. Halaman 1 0 beris 11 dari be wah, ditulis Sultan Ahmad memberikan Hikayat Muham mad Hanafiyyah dan Amir Hamzah.
  3. Halaman 12 beris 10 dari atas, ditulis memakankan.
  4. Halaman 13 baris 2 dari atas, ditulis Verenigde Oos-lndische compagnie.
  5. Halaman 14 beris 7 dari be wah, ditulis rase oangsa orang Minangkabau.
  6. Halaman 16 beris 12 dari atas, ditulis Liaw Tock Fang.
  7. Halaman 20 baris 4 dari be wah, ditulis Saered text.
  8. Halaman 24 beris 5 dari atas, ditulis Prabeyakan.
  9. Halaman 28 beris 8 dari atas, ditulis Setiap tahun Pangeran Samudra diharuskan meng rimkan upeti dihentikan seka lipun hubungannya dsb.
  10. Halaman 28 baris 15 dari atas, ditulis Banjar on the Goast.
  11. Halaman 28 baris 13 dari be wah, ditulis Dr. J. Eisonberger.
  12. Halaman 30 baris 16 dari atas, ditulis Liaw Tock Fang.
    13.Halaman 31 baris 8 dari atas, ditulis pengancam Portugis-bercokok.
  13. Halaman 32 beris 7 dari atas, ditulis James Lancancaster.
  14. Halaman 33 baris 13 dari atas, ditu lis Pekan.
    RALAT

SEHARUSNYA

Seharusnya V.d.W. 190.

Seharusnya Hi kayat Muhammad Hanafiyyah saja.

Seharusnya menanamkan.

Seharusnya Verenigde Oost-lndis che Compagnie.

Seharusnya rasa bengga orang Mi nangkabeu.

Seharusnya Liaw Yock Fang.

Seharusnya Sacred-text.

Seharusnya Prabeyaksa.

Seharusnya Setiap tahun Pengeran Samudra diharuskan mengirimkan upeti ke Demak. Setelah Demak mundur upeti dihentikan; sekali pun hubungannya dsb. Seharusnya Banjar on the coast.

Seharusnya Dr. J. Eisenberger.

Seharusnya Liaw Yock Fang.

Seharusnya mengancam Portugis bercokol.

Seharusnya Jaes Lancaster.

Seharusnya Rokan.

TERTULIS

16.Halaman 35 baris 16 dari atas, ditulis Pusan Penyengat.
17. Halaman 40 baris 2 dari be· wah, ditulls rele harl-meng korb8nkan.
18. Halaman 41 pada judul, ditulls
B. NASKAH SASTRA SEJA· RAH 'MELAYU (V.d.W. 188).
19. Halaman 44 baris pertama dari atas, ditulis Bagien pendahulu an Sejarah Melayu V.d.W 190.
20. Haiaman 49 baris 13 dari atas, ditulls Pakistan.
21. Haiaman 50 bar is 2 dari ba· wah, ditulls Pada bulan Juli 1514 Jorge cr Albuqueque oleh Roy de Brito.
22. Haiaman 51 baris 3 dari etas, ditulis Batu Kamper.
23.Halaman 53 baris 2 dari etas, dituils Sultan Abdul Jalil Syah II.
24. Halaman 55 bar is 14 dari etas, ditulls Marawangsa.
25. Halaman 57 baris 8, ditulis duapuluh sembilan buah.
26. Halaman 72 bar is 18 dari be wah, ditulls Mesklpun sejak 1626-1527.
27.Piida dafter pustaka ditulis nama Gibeon Hill, CA.
28.Nama Kretz, Ulrich.
29. Nama Mans, Paul
30. Nama Verhoeve
SEHARUSNYA

Seharusnya Pulau Penyengat.

Seharusnya rela hati-mengor· ban ken.

Seharusnya V.d.W. 188 itu diha puskan saja.

Seharusnya Bagian akhir darl Se· jarah Melayu V.d.W. 190. Sedang· kan pada halaman 46, saharusnya Bagian Pendahuluan VdW 190. Seharusnya Pakaitan.

Seharusnya : Jorge d'Aibuqueque diangkat oleh Roy de Brito.

Seharusnya Batu Hamper.

Seharusnya : Abdul Jalil Syah I. (1571 -15801.

Seharusnya : Narewangse. Halaman 55 beris 21, seharusnya adik, bukan adil. Seharusnya : duapuluh due buah.

Seharusnya: 1526-1527.

Seharusnya : Gibson-Hill, C.A.

Seharusnya Kratz, Ulrich. Seharusnya Maas, Paul Saharusnya Voorhoew Bul