, .r
Milik Depdikbud Tidak Diperdagangkan
KAJIAN NILAI BUDAYA NASKAH KUNA MAPALINA SAWERIGADING RI SALIWENG LANGI
Milik Oepdikbud T1dak 01perdagangkan
KAJIAN NILAI BUDAYA NASKAH KUNA
MAPALINA SAWERIGADING RI SALIWENG LANGI
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI JAKARTA 1998
KAJIAN NILAI BUDAYA NASKAH KUNA MAPALINA SAWERIGAD ING RI SALIWENG LANGI Tim Penulis Wiwik Pertiwi Hartati Pananrangi Hamid Airlangga Penyunting Sukiyah Hok cipta dilindungi oleh Undang-undang
| Diterbitkan oleh | Proyek | Pengkajian don | Pembinaan Nilai-nilai | |||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Budaya | Pusat | Direktorat | Sejorah | don | Nilai | |
| Tradisional | Direktorat | Jenderal | Kebudayaan | |||
| Departemen Pendidikan don Kebudayaan | ||||||
| Jakarta 1998 | ||||||
| Edisi I 1998 | ||||||
| Dicetak oleh | CV. PIALAMAS PERMAI |
Diterbitkan oleh Proyek Pengkajian don Pembinaan Nilai-nilai
SAMBUT AN DIREKTUR JENDERAL KEBUDA Y AAN
Penerbitan buku sebagai upaya untuk memperluas cakrawala budaya masyarakat patut dihargai. Pengenalan aspek-aspek kebudayaan dari berbagai daerah di Indonesia diharapkan dapat mengikis etnosentrisme yang sempit di dalam masyarakat kita yang majemuk. Oleh karena itu, kami dengan gembira menyambut terbitnya buku hasil kegiatan Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai nilai Budaya Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Penerbitan buku ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai aneka ragam kebudayaan di Indonesia. Upaya ini menimbulkan kesalingkenalan dengan harapan akan tercapai tujuan pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional.
Berkat kerjasama yang baik antara tim penulis dengan para pengurus proyek, buku ini dapat diselesaikan. Buku ini belum merupakan basil suatu penelitian yang mendalam sehingga masih terdapat kekurangan-kekurangan. Diharapkan hat tersebut dapat disempurnakan pada masa yang akan datang.
v
vi Sebagai penutup kami sampaikan terima kasih kepada pihak yang telah menyumbang pikiran dan tenaga bagi penerbitan buku ini. Jakarta, September 1998 Direktur Jenderal Kebudayaan
Prof. Dr. Edi Sedyawati
PENGANTAR
Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Pusat telah melakukan pengkajian naskah-naskah lama di antaranya Kajian Nilai Budaya Naskah Kuna Mapalina Sawerigading Ri Saliweng Langi.
Nilai-nilai yang terkandung dalam naskah atau dokumen tertulis melalui semua aspek kehidupan budaya bangsa mencakup bidang bidang filsafat, agama, kepemimpinan, ajaran dan hal lain yang menyangkut kebutuhan hidup. Karena itu menggali, meneliti, dan menelusuri karya sastra dalam naskah-naskah kima di berbagai daerah di Indonesia pada hakekatnya sangat diperlukan dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.
Kami menyadari bahwa kajian naskah ini belum mendalam sehingga hasilnya pun belum memadai. Diharapkan kekurangan kekurangan itu dapat disempurnakan pada masa yang akan datang.
Semoga buku ini ada manfaatnya serta menjadi petunjuk bagi kajian selanjutnya.
vii
viii
Kepada tim penulis dan semua pihak yang telah membantu sehingga terwujudnya karya ini, disampaikan terima kasih.
Jakarta, September 1998 Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Pusat Pemimpin,
Soejanto, B.Sc. NIP. 130 604 670
DAFfAR ISi
Halaman
.... v
Sambutan Direktur Jenderal Kebudayaan..........................
...................................................................................... v11
Pengantar
................................................................................... 1x
Daftar lsi....
Bab I Pendabuluan
| I. I | I | |
|---|---|---|
| 1.2 | ..................................................... | 7 |
| 1.3 | 8 | |
| 1.4 | .......................................... .................. | 8 |
| 1.5 | ................ ........ ............................................ .............................................. .................. .......................................................... | I 0 13 73 |
Latar dan Masaiah.......................................................
... Rumusan Masaiah
Tujuan dan Kegunaan...................................................
. Ruang Lingkup Metodologi
.
| Bab II | Alib Aksara |
|---|---|
| Bab III | Alib Bahasa ... |
| Bab IV | Analisis Isi Naskab dan Relevansinya dengan |
....
Pembinaan Kebudayaan Nasional
4.1Dalam Nilai-Nilai Luhur yang Terkandung
137
Naskah...........................................................................
4.2Pembinaan Relevansi lsi Naskah dalam
...................................... 173
danPengembangan Kebudayaan Nasional
V Bab Simpulan dan Saran
5.1.......................................................... 181
Simpulan.............
5.2....... 184
Saran-Saran............................................................
.............................................................................. 187
Daftar Pustaka
ix
| Pengantar ... | vii | |
|---|---|---|
| Daftar Isi . | ||
| Bab I | Pendahuluan | |
| 1.1 | Latar dan Masalah.. | |
| 1.2 | Rumusan Masalah .. | 7 |
| 1.3 | Tujuan dan Kegunaan. | 8 |
| 1.4 | 8 | |
| 1.5 | 10 | |
| Bab II | Alih Aksara | 13 |
| Bab III Alih Bahasa | 73 |
BAB!
PENDAHULUAN
1.1 Latar dan Masalah Sejarah umat manusia telah membuktikan bahwa di segala zaman, tiap individu, tiap masyarakat dan tiap bangsa senantiasa menghadapi perjuangan hidup untuk dapat maju, atau paling tidak untuk mempertahankan eksistensinya di atas permukaan bumi. Sehubungan dengan itu manusia sebagai makhluk hidup tidak hanya berjuang dengan mengandalkan kekuatan otot, melainkan juga dengan mengerahkan kemampuan otak dan akal pikiran yang secara funda mental dilandaskan pada sistem pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya. Sejak jaman dahulu kala manusia telah secara sadar belajar dari pengalaman-pengalamanya. sekaligus memperdalam dan menumbuhkembangkan sistem pengetahuan tentang lingkungan sekitar. Dari pengalaman dan penerapan sistem pengetahuan tersebut manusia purba menemukan cara-cara tertentu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka secara berangsur-angsur mulai menemukan api, membuat alat-alat pencaharian makanan serta mengembangkan teknik penangkapan ikan dan alat angkutan air yang amat sederhana (Mattulada, 1977: 14). Setelah melalui proses perkembangan dalam kurun waktu beribu ribu tahun lamanya, maka dengan susah payah dan dengan segala
l
penderitaan manusia telah mendapatkan pengalaman hidup, pengalaman tentang penggunaan daya pikirnya serta ilmu pengetahuan yang beraneka ragam. Menu rut Dr. Med. Warouw ( 1970 : 60) pengalaman hidup dan ilmu pengetahuan tidak hanya mengantarkan kita pada abad energi atom, melainkan juga telah memungkinkan manusia mendarat di bulan. Bahkan, seperti dalam kenyataanya penerapan ilmu pengetahuan dan sistem teknologi modern itu sendiri telah mengantarkan masyarakat manusia hampir di seluruh belahan dunia untuk memasuki era globalisasi.
Pada era globalisasi yang pada hakikatnya didukung oleh penerapan sistem teknologi telekomunikasi massa modern, arus informasi yang semakin deras tidak hanya mengalir ke kota-kota besar, melainkan juga merambah sampai ke pelosok desa-desa di seluruh gugusan Kepulauan Nusantara. Proses penyebaran aneka ragam informasi yang berlangsung terutama melalui media cetak dan elektronika itu tidak seluruhnya memberi manfaat positif, tetapi sebagian dari padanya mengandung dampak negatif.
GBHN-1993 menandaskan antara lain bahwa salah satu dampak negatif dari era globalisasi ialah mas.uknya nilai-nilai budaya asing yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa (Tap.MPR RI No. II, 1993). Sehubungan_.dengan itu. maka arah dan sasaran pembangunan bidang kebudayaan difokuskan antara lain pada usaha menumbuhkan kemampuan masyarakat untuk mengangkat nilai-nilai sosial budaya yang luhur dari daerah-daerah yang ada di Indonesia.
Relevan dengan kebijakan pembangunan yang telah dicanangkan dalam GBHN tersebut di atas, Mattulada sejak beberapa tahun
berselang mengingatkan, bahwa " .......... agar tercipta iklim sosial yang
dapat mendukung nilai yang sedang tumbuh dan berkembang, diperlukan nilai-nilai standard yang memberikan tuntunan, untuk menghindari timbulnya keracunan nilai-nilai luhur budaya bangsa senantiasa harus berjalan pararel dengan usaha pembangunan bidang fisik material.
Dalam konteks yang lebih kurang sama dengan pandangan diatas.
Prof.Dr. Ralph Linton menandaskan, bahwa " ......... yang sebenarnya
terutama dibutuhkan oleh dunia modern dewasa ini ialah serangkaian
ide-ide dan nilai-nilai yang tetap keadaanya, yang diikuti oleh semua anggota masyarakat" ( 1984 : 2 15 ).
Bertolak dari beberapa kutipan tersebut di atas maka jelaslah bahwa usaha pembinaan nilai-nilai luhur bangsa termasuk nilai-nilai sosial budaya daerah yang luhur merupakan faktor esensial bagi keberhasilan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. lni berarti pula bahwa usaha-usaha pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional Indonesia tidak dapat dilepaskan dari upaya penggalian sumber-sumber kebudayaan daerah yang tersebar di seluruh pelosok tanah air.
Pendekatan tersebut bertolak dari suatu asumsi dasar bahwa kebudayaan daerah pada hakckatnya adalah sumber potcnsial bagi terwujudnya kebudayaan nasional, di samping potensialitasnya untuk memberikan corak monopluralistik maupun karakteristik kepribadian bangsa Indonesia. Dalam konteks ini unsur-unsur kebudayaan daerah perlu dibina dan dikembangkan ke arah yang lebih positif untuk mendukung proses pembaharuan dalam rangka pembangunan kebudayaan nasional.
Dalam kaitannya dengan konsep pembangunan yang senantiasa memerlukan pembaharuan. Presiden Republik Indonesia menandaskan. antara lain sebagai berikut :
Dan jika dikatakan bahwa pembangunan memerlukan pembaharuan, maka pembaharuan ini sama sekali bukan "pembaratan"(Westernisasi). yang akan berarti pengetrapan kebudayaan lain yang asing bagi kita. Pembaharuan tidak lain usaha dari bangsa sendiri, dengan membuang yang buruk dan yang menguatkan yang baik. mengadakan penyesuaian dengan tuntutan serta kebutuhan pembangunan masyarakat modern ( 1974 : 15).
Pandangan tersebut menunjukan bahwa dalam konteks pembangunan nasional yang senantiasa memerlukan adanya usaha pembaharuan, maka seluruh lapisan masyarakat terpanggil untuk menyerap unsur-unsur kebudayaan asing sepanjang tidak bertentangan dengan nilai-nilai luhur dan kepribadian bangsa. lni berarti bahwa
masyarakat Indonesia yang bersifat majemuk terpanggil pula untuk menumbuhkembangkan kebudayaan nasional yang bercorak monopluralistik dan bersifat Bhineka Tunggal lka.
Dalam kaitan dengan usaha menumbuhkan kebudayaaan nasional yang bercorak monopluralistik tersebut diperlukan data dan informasi lengkap mengenai nilai-nilai luhur budaya daerah yang secara historis telah tumbuh dan mendapatkan dukungan dari kelompok-kelompok suku bangsa di seluruh pelosok tanah air. Sehubungan dengan itu perlu adanya penelitian khusus untuk menginventarisasikan sumber-sumber data dan informasi, sekaligus mengungkapkan nilai-nilai luhur budaya daerah yang dikandungnya.
Satu di antara sumber data yang banyak memuat informasi tentang unsur-unsur kebudayaan daerah ialah naskah kuno atau buku-buku lama. Sejak zaman silam masyarakat Sulawesi Selatan mengenal aneka ragam naskah kuno yang disebut "Lontarak". Fungsi dan potensialitas naskah kuno lontarak dalam konteks usaha penggalian kebudayaan daerah antara lain diungkapkan oleh Pananrangi Hamid, dkk. sebagai berikut :
Berkat adanya naskah kuno lontarak yang mengandung berbagai bahan keterangan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat Sulawesi Selatan dan ditulis oleh leluhur pada masa lalu, maka aneka ragam ide, gagasan vital, sistem pengetahuan, moral, filsafat. keagamaan yang telah mengalami proses sejarah cukup lama masih dapat dibaca dan dikaji hingga sekarang ( 1991 : 3).
Dari kutipan tersebut di atas dapat dikatakan bahwa secara um um nilai-nilai luhur yang telah tumbuh dan berkembang dalam masyarakat pendukungnya di daerah Sulawesi Selatan sebagian besar masih dapat dikaji dan diungkapkan melalui kajian lontarak. Demikianlah maka Pananrangi Hamid. dkk. Mengungkapkan antara lain bahwa naskah kuno lontarak bukan hanya mempunyai arti penting sebagai sumber informasi sejarah dan kebudayaan daerah, tetapi juga memuat nilai-nilai budaya luhur yang positif dan dapat dimanfaatkan sebagai tilter untuk menyaring sekaligus menangkal pengaruh negatif unsur unsur kebudayaan asing yang terserap, baik melalui media cetak maupun dari media elektronika ( 1994 : 4).
Jika dilihat dari segi bahasa dan proses penulisannya maka naskah kuno lontarak adalah hasil kesusastraan orang Bugis Makasar yang ditulis dengan menggunakan aksara lontarak. Bahasa yang digunakan dalam berbagai naskah lontarak dapat dibagi manjadi tiga kelompok, masing-masing adalah naskah lontarak yang tertulis dalam bahasa Bugis, bahasa Makasar dan sebagainya tertulis dalam bahasa Mandar. Penggunaan ketiga bahasa tersebut dalam penulisan naskah lontarak adalah sesuai pula dengan jenis bahasa yang digunakan anggota masyarakat dalam ketiga kelompok etnik yang menjadi pendukung dan pemilik masing-masing lontarak bersangkutan.
Sejarah penulisan naskah lontarak bennula pada abad XVI. Pada mulanya kesusastraan orang Bugis yang dituliskan dalam naskah naskah lontarak terbatas pada jenis kesusastraan suci, berupa mantra mantra dan kepercayaan-kepercayaan mitologis. Barulah kemudian, secara lambat laun kesusastraan yang bersifat keduniaan berkembang pula. sesuai dengan perkembangan lontarak dan sikap hidup masyarakat dan kebudayaan (Prof. Dr. Mattulada, 1985 : 8).
Pada abad berikutnya, sekitar pertengahan abad XVII ketika agama Islam telah telah diterima dan dianut oleh sebagian besar masyarakat Sulawesi Selatan, berbagai naskah kuno lontarak dituliskan dalam aksara Arab yang disebut "hurupuk Serang". Prof.Dr. Mattulada mengajukan sebuah dugaan, bahwa kata "Serang" itu berasal dari kata "Seram" ( 1985 : I 0). Dugaan tersebut tampaknya dapat diterima oleh semua pihak, karena pada masa itu masyarakat Bugis-Makasar memang banyak berhubungan dengan orang seram yang bukan hanya lebih dahulu menganut agama Islam tetapi juga biasa menggunakan huruf Arab sebagai tulisan dalam aktivitas penyebaran agama Islam.
Satu di antara naskah terpenting dalam kesusastraan Bugis ialah "Lontarak Galigo". Naskah ini memuat himpunan cerita mitologis yang bagi kebanyakan orang Bugis terutama di pelosok pedalaman Sulawesi Selatan masih dipandang sebagai suatu buku keramat yang mengandung nilai sakral. Pandangan tersebut mempunyai relevansi dengan isi naskah yang secara garis besar menceritakan perihal dewa Patotoe yang bertahta di "botillangi" (Petala langit) dan perikehidupan
keturunannya yang sengaja diturunkan sebagai tunas yang akan meramaikan "ale lino" (permukaan bumi).
Himpunan cerita tersebut meliputi ribuan lembar dan tertulis dalam berbagai serial. Salah satu di antaranya yang sampai sekarang tetap menarik perhatian masyarakat Bugis terutama generasi tua ialah serial lontarak Galigo "Mapalina Sawerigading ri Saliweng Langi" (Terdapatnya Sawerigading di luar angkasa). Dalam serial ini diceritakan tentang pelayaran Sawerigading yang gagah perkasa mengarungi samudera luas, kendati ia hanya ditemani oleh tujuh puluh enam orang sepupunya serta ribuan laskar pengawal dari kerajaan Luwu yang semuanya masih terhitung pemuda tanggung.
Setelah berlayar cukup lama armada Sawerigadingpun terdampar di angkasa luar, di mana kakeknya (Guttu Tellemma) menduduki tahta kerajaan yang disebut "Rumpa Mega". Menyadari hat tersebut, Sawerigading memerintahkan segenap armadanya berlabuh dan membuang jangkar dengan tujuan untuk menyambangi sang kakek yang belum pernah dikenal sebelumnya. Namun sang kakek mengerahkan pasukan bersenjata dan menyambut Sawerigading dengan serangan bertubi-tubi.
Serangan tersebut disambut pasukan Sawerigading dengan kekuatan senjata pula. sehingga pecahlah perang sengit melibatkan kedua belah pihak. Dalam peperangan tersebut Sawerigading sebagai seorang pangeran putera mahkota di kerajaan Luwu tidak hanya tinggal diam dan bersembunyi. melainkan ia tampil memimpin pasukannya di medan laga.
Setelah peperangan berlangsung cukup lama dan kedua belah pihak mengorbankan nyawa laskar yang tidak sedikit, baginda raja negeri Rumpa Mega akhirnya mengetahui bahwa musuhnya itu tidak lain adalah cucunya sendiri. Karena itu sang raja menghentikan peperangan dan berusaha berdamai dengan cucunya, dibarengi dengan kesediaan memberikan hadiah yang banyak. Namun demikian, tawaran damai dan harta kekayaan tersebut ditolak oleh pihak Sawerigading. Sebaliknya ia menuntut kakeknya untuk menghidupkan kembali seluruh laskarnya yang tewas dalam pertempuran. Tim penulis merasa terpanggil untuk melakukan penelitian mendalam dan mengungkapkan
secara rinci mengcnai nilai-nilai luhur budaya daerah yang terkandung dalam naskah kuno Serial Lontarak Galigo Bagian I ("Mapalina Sawerigading ri Saliweng Langi"). Pemilihan dan penetapan naskah kuno tersebut sebagai sasaran pengkajian dilandaskan pada beberapa alasan pokok sebagai berikut :
I. I. I Sampai sekarang be I urn di lakukan penelitian yang mengungkapkan secara khusus mengenai nilai-nilai budaya luhur yang terkandung dalam naskah kuno tersebut di atas.
1.1.2 Banyak naskah kuno lontarak Galigo yang disimpan oleh pemiliknya bukan untuk dibaca dan dikaji kandungan isinya, melainkan sebagai benda sakral, sebagai benda pusaka kebanggan leluhur yang harus disimpan, dan dihormati.
1.1.3 Banyak naskah kuno lontarak Galigo yang rusak baik karena dimakan usia maupun karena dirusak rayap dan kutu pemakan kertas. lni berarti naskah Galigo terancam punah, jika tidak ada upaya melestarikan dan mengungkapkan nilai-nilainya yang luhur.
1.1.4 Kenyataaan menunjukan kurangnya min at generasi muda untuk memahami kandungan isi lontarak Galigo, baik karena sulitnya membaca maupun memahami maknanya. Selain itu sebagian besar pemuda dan remaja lebih tertarik pada buku bacaan lain seperti komik, novel dan media cetak sejenisnya.
1.2 Masalah Penelitian dan pengkajian naskah kuno serial lontarak Galigo ini berorientasi pada dua masalah pokok di bawah ini :
1.2.1 Serial lontarak Galigo pada umumnya memuat data maupun informasi budaya yang telah tumbuh dan berkembang dalam masyarakat zamannya, namun untuk masyarakat zaman kini tidak diketahui isinya.
1.2.2 Dalam rangka pembinaan kebudayaan nasional Indonesia, informasi budaya masa lalu tersebut perlu ditelaah.
1.3 Tujuan dan kegunaan
1.3.1 Tujuan penelitian Sesuai dengan masalah pokok yang dirumuskan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan secara mendetail mengenai nilai-nilai budaya luhur yang terkandung dalam naskah Galigo. Se lain itu, penelitian ini juga mengkaji kesesuaian isi naskah dan relevansinya dengan usaha pembinaan kebudayaan nasional.
1.3.2 Kegunaan penelitian
1.3.2.1 Hasil penelitian ini diharapkan berguna sebagai sumber informasi nilai budaya, khususnya nilai budaya yang tumbuh dan mendapatkan dukungan dalam kehidupan masyarakat di daerah Sulawesi Selatan.
1.3.2.2 Hasil penelitian ini berguna bagi pelestarian isi dan nilai nilai luhur budaya daerah. Penyelamatan semacam ini perlu dilakukan sebelum naskah kuno lontarak Galigo terlanjur musnah baik karena tua maupun karena gangguan rayap dan kutu-kutu pemakan kertas.
1.3.2.3 Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya arti dan peranan naskah kuno lontarak Gal igo di dalam konteks pembangunan budaya nasional.
1.3.2.4 Bagi mereka yang kurang memahami bacaan maupun makna isi naskah, hasil penelitian ini berguna sebagai bah an bacaan yang mud ah dipaham i karena menggunakan aksara dan bahasa Indonesia yang sekarang lebih populer.
1.3.2.5 Akhirnya generasi muda diharapkan menjadi tergugah. sekaligus terdorong untuk menyimak dan pada gilirannya mencintai warisan leluhur.
1.4 Ruang Lingkup Ruang lingkup penelitian ini mencakup sebuah naskah kuno yang dipilih dari serial lontarak Galigo dengan materi pokok sebagai berikut :
1.4.1 Alih aksara Nasakah serial lontarak Galigo (Bagianl) tertulis dalam aksara Bugis, sehingga perlu dialih aksarakan atau ditransliterasikan dengan menggunakan aksara Latin, agar dapat dibaca oleh masyarakat zaman sekarang.
1.4.2 Alih Bahasa Setelah alih aksara, dari aksara Bugis keaksara Latin, kemudian dialih bahasakan. Dalam hal ini seluruh isi naskah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.
1.4.3 Analisis lsi Naskah Dalam melakukan analisis isi naskah, fokus bahasa dan pengkajian diarahkan pada dua materi pokok, yaitu pengungkapan nilai-nilai budaya luhur yang terkandung dalam naskah lontarak Galigo, dan relevansinya dengan pembangunan kebudayaan nasiaonal. Secara terminologis pengertian nilai budaya dirumuskan Koentjaraningrat. dkk sebagai "Konsep abstrak mengenai masalah dasar yang amat penting dan bernilai dalam kehidupan manusia" ( 1984 : 123). Relevan dengan rumusan tersebut, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional mengonsepsikan bahwa nilai budaya mengandung pengertian tentang apa yang diharapkan dan atau dapat diharapkan, apa yang baik atau dianggap baik (t.th : 35). Senada dengan pengertian subjektif seperti itu, Sidi Gazalba mengatakan
antara lain, bahwa " ..... soal nilai bukan soal benar atau salah, tetapi
soal disenangi atau tidak ...... " (1978: 93--94)
Dihadapkan pada luasnya cakupan pengertian nilai budaya tersebut, penelitian ini harus menentukan pilihan. Maka analisis dan interpretasi isi naskah lontarak dilandaskan pada kerangka konsep yang dikembangkan oleh Prof.S. Takdir Alisjahbana. Menurut Takdir dalam setiap kebudayaan terdapat enam jenis nilai,masing-masing terdiri atas : nilai teori/nilai ilmu, nilai ekonomi, nilai agama, nilai seni serta nilai kuasa dan nilai solidaritas (1977: 10).
Telaah atas keseluruhan nilai luhur budaya daerah yang terkandung dalam naskah lontarak yang menjadi sasaran pengkajian ini, didasarkan atas kerangka konsep Takdir tersebut.
1.5 Metodologi
1.5.1 Metode Pemilihan Naskah Proses pemilihan naskah yang ditetapkan menjadi sasaran pengkajian dilakukan secara selektif berdasarkan kriteria sebagai berikut: (a) naskah bersangkutan belum pernah digarap, (b) isi naskah dianggap bermanfaat bagi masyarakat luas, dan (c) naskah yang dipilih berumur 50 tahun ke atas. sesuai dengan Monumenten Ordonantie STLB 238.193 I.
1.5.2 Metode Alih Aksara Proses alih aksara dari aksara Bugis ke aksara Latin dilakukan dengan menggunakan metode runtut. Penerapan metode ini memungkinkan terlaksananya transeliterasi naskah mulai dari halaman pertama hingga selesai. Hasil alih aksara/transliterasi diberi tanda berupa nomor urut. mulai dari nomor 00 I hingga nomor 158. Penomoran ini menandai nomor halaman pada setiap lembaran naskah asli yang digarap. Dalam naskah asli terdapat kata atau kalimat yang tidak dapat dibaca. maka dalam alih aksara diberikan tanda berupa lima titik
bersela ( ..... ). sedangkan apabila bagian naskah yang rusak hilang
sebanyak satu halaman, maka titik bersela dibuat sepanjang satu baris
( ............................................................................. )
1.5.3 Metode Alih Bahasa Dalam alih bahasa digunakan pula metode runtut. maksudnya ialah bahwa proses penerjemahan dilakukan dari halaman pertama (001) hingga halaman terakhir ( 158). sesuai dengan urutan alih aksara. Usaha penerjemahan isi naskah itu sendiri dilakukan secara terpisah antara tiap kata, namun jika isi naskah asli tidak ditemukan padanannya dalam bahasa Indonesia, maka penerjemahan dilakukan per-kalimat. Mengenai istilah bahasa Bugis yang tidak ada padanannya sehingga tidak dimungkinkan alih bahasa secara tepat, istilah bahasa
daerah tersebut dituliskan sesuai dengan aslinya, kemudian diberi penjelasan yang ditempatkan di antara tanda kurung. Contohnya Putteng (Sejenis burung berbulu putih yang biasanya suka bertengger di puncak pohon kayu besar).
1.5.4 Metode Analisis Dalam melakukan analisis, naskah digunakan metode Content Analysis. Metode ini berorientasi pada usaha peningkatan nilai-nilai budaya luhur. khusus yang terkait secara langsung dengan isi naskah lontarak. Selanjutnya dilihat relevansi dan potensi isi naskah lontarak dalam rangka pembangunan bidang kebudayaan nasional.
| Penerapan metode tersebut di atas | tidak mutlak | rnenutup | |||
|---|---|---|---|---|---|
| kemungkinan digunakannya metode lain yang | dianggap dapat | ||||
| memperlancar memperdalam pemahaman tentang isi naskah yang menjadi sasaran pengkajian ini. | penelitian | maupun | di dalam | upaya |
proses
BAB II
ALIH AKSARA
00 I. Nari tumpuna genram pulaweng sepammana na lolangenge ri Ale Luwu/ Nama rewo na gauk datunna La Tenritappu/ Ala ritaropaga mangedda manaung sammeng sappo lipue/Mappana guttu le sunrawae/ Lao ri olo le dodoe/ monro ri munri rupa ajuwe I Nari ulo na sinrangengnge/ Sinrangrem pero ripo lalena Sawerigading I Natarakkana La Maddukkeleng ripasorokeng sinrangem pero ripa sokkori pajun rakkile annaungenna/ Risalangkani sinrangengnge lao nadulu le coreng coreng narowasisi tumpu kadidi nawarompongi ojen rakkile narumameki jowo ripile lalo saliweng ri minar.gae/ Joppa masiga panrulue/ Sowe marakka pass in rang nge/ Ala maressak le marae/
- Natakkad dapi ri minangae/ Riparaddek ni sinrangeng nge/ Nata rakkana La Tenritappu sawe manpaek i ajorek kati lete ri ati potto cekkai barateng kading liweng ngalawa sawang jonongen pole maccokkong ri pempolana wakku werowe/ Kuwa adanna Sawerigading appangaro kaka La Nanrang le nari watak renrek katie/ Nari pakkonnya guling lakkoe/ Telleppek ada madeceng topa la Maddukkelleng natijjan ronnang La Pananrang makjellokang ngi tettin carinna le/ Nari watak renrek katie/ Nari pakkon nyo gulng lakkowe/ Kuwa adanna La Pananrang wiseo mennang le Luwuk e akgajot tokko to Warek e/Telleppek
13
ada madecet topa La Pananrang nasamang kiting soeam pise le Luwuk e/Nasamal leppang tulekkeng gajong to Warek e/ Kuwa muwa ni to mas simpuwang pallonyang nge napa tuppui gajos sawedi
- to maegae I Ala maressak le marae nabokori wi ri toddampelle to makka jae/ Mappangara ni La Massaguni pangung lolosu potto pakkasang sompek patola/ lya mengenrek aput tanae iya mallaring marasumpa e iya makkenna maneng lingkajo setangaren na wakka wero we kuwa muwa ni le manuk manuk luttu wakka e/ Nabitte laja nawawa empo le na lureng ngi le marasumpa/ Na tellum penni muwas sompek na la Maddukkelleng le na nyilik ni ri Tana Bali/ Nanyilik toni ri Tana Raja/ Napemmak gani ri Watampare/ Na ita toni ri Tompok Tikka/ Napemmak gani ri Singki Wero ri Sawammega/ Nanyilik toni ri we \vanriu ri Senrijawa/ Napemmagga ni ri Tana Ugi ri Ale Cina/ Kuwa adanna La Maddukkeleng riaga sawe mai asenna kaka La Gau La Sinilele alau e
- Malagenni e tudang ngalek na le ri pemmakga/ Mabbali ada La Sinilele ronnang makkeda iyana ro anri aseng ri Tana Bali malagenni e tudang ngalek na le ripemmakga/ Na iya ro ri attang nge iyana ro anri riaseng ri Tana Raja/ Na iya siak le ri ajae iyana ro ri Watampare/ Na iya ro ri attang nge iya naro anri riaseng ri Tompok Tikka/ Na iya ro alau e le menciji reng tudang ngalek na iyana ro anri riaseng ri Sing ki wero Wevvanriwu ri Senrijawa/ Na iya ro le ri ajanna iya naro anri ri aseng ri Tana Ugi ri Ale Cina/ Kuwa adanna Savverigading taleppang wae kaka La Gau La Sinilele kaka mak benni/ Tama baja pas sompek alau ri Wirillangi. Nase kadong ukka timun na massappo siseng I Takkddapi nip pasore wakka ri minangae ri turungen na taue
- Cemme ri tana Bali/ Na labu tikka mawajik muwa nao renrenna leppi laja na nassama samang soro matinro/ Narete langi/ Napappa baja/ lnappam punga mawajik muwa le tikka e/ Natokkon ronnang La Maddukkelleng le makjumata ri pinceng pute/ Makka linong ri wajampajang pulaweng nge/ Timpak salenra lako mak cella motanyameng ngi inin nawan na/ Na
puram mota La Tenri Tappu ngkiling makkeda appangarao kaka Saguni La Sinilele/ le nari watak renrek kati e nari pakkonnyo gull lakko e/ Telleppek ada madecet topa La Maddukkelleng le nari watak renrek katie nari pakkonnyo gulil lakko e/ Mappangara n i la Mattoreyang pangung loluso pottom pakkasang sompek patola/ iya mangenrek aput tanae iya mallari marasumpa e iya mangiring salareng nge iya taddelle lao sompek patola/ lya mangenrek aput tanae iya mallari marasumpa e iya mangiring salareng nge iya taddelle lao sompek na wakka
- Weoro we kuwa muwa ni le manuk manuk luttu wakkae/ Nawitte laja nawawa empo le napa rengngi le marasumpa/ Na pitumpenni muwas sompek na La Tenri Tappu nabokorinna ri Tana Bali napemmagga ni ri Wirillangi/ Nanyilik toni pao jengki e/ Na pemmaga ni ri assabureng pallonyang nge Sawerigading/ Nama rewo na le manuk manuk tesserupa el Nae adan na cuwi ma ningkek to Samburowe inai arek anak to lino maccowo cowa temmallarangeng sungek datunna lolan ri lino/ Lao makdanren ri assabureng pallonyang nge tengnga tengnga i solok siduppa massulili e/ Makbali ada le dangnga cina Silaja e ronnam makkeda ojem mapaddem manenni ro bannam patin na/ Nasitun nged duwa makkeda le putteng Solok towapungnge pitum pulenni ronnang wate na tao sumangek ri
Lolangen na/ pura nasaka manenni ro le to Sunta el Mabbali ada alo biraja Mancampai e ronnang makkeda muwasep pai wed ding takdagga ri Wirillangi lalo makdanreng ri assabureng pallojang nge enrek taniya tunek wijan na manurung nge/ Apa eppa i kuwissengnge datu manurung ri alenio/ lya miro ri Ale Luwu Maddeppa e ri lappa tellang pulaweng nge na iya ro ri Tompok Tikka Polaleng nge le aju wara lako ritungo na iya ro ri wewanriup Polaleng nge le tarawue pitunrupa e riaseng nge Talettu Sompa/ lya miro le sekuwa e le ri panurung nonno ri lino/ Baranna ro palalo wakka maddiwu ri Wirillangi/ Nae adanna Pallawa Gau majekko riu anri La Tappu I Pulo ko lette anri Dukkelleng samudda perik mai ri olo/ Natarakkana Sawerigading menrek manaik
ri menek kurun le/ Napasang ngi saloko kati to botil langi lakke ulaweng to toddat tojang suwa kampili bulu beppaja to Letenriwu gajam pulaweng solo na tompo makkatawareng mai ri lino/ Na pura muwa mappasinruwa tudal lingkajo napaddumpu iraung sakkek na buwang ngittello ota makbekkeng ittello manuk le mangngamporeng le cacu banna sompa manaik ri botil langi makduwam palek ri paretiwi ronnang makkeda tuling ngimatu la puwang nge/ Nae rekkuwa to botillangi teppe sawe i lalo wakka u/ lyak wijan na munurung nge ri Ale Luwu Makdeppa e ri lappa tel lam pulaweng nge/ Nae rekkua to peretiwi teppe sawe i lalo wakka u/ lyak wijanna we Datut Tompo Ribusa Empo solang sinrangeng lako nadulu elong pallonyang/ Napura muwa sompa manaik ri ruwa lette makduwam pale ri peretiwi na inappa nang
- Ki ling makkeda Sawerigading appangara o kaka La Nanrang La Massaguni le nari watak renrek kati e nari pakkonnyo gulillakko el Tel leppek ada madecet topa La Maddukkelleng nagilin ronnang La pananrang makjellokang ngi tettin carinna/ Na urenriu tem mallawangeng/ Si anre anre lette werowe siala ola papak e si betta betta le olingnge/Pole uraik salareng nge/Pole maniang marasumpae Pole manorang salatang nge/ Sala si susang wakka wero we/ Malim manen ni to maesa e le/ Malit toni le anak koda dangkangeng nge le biyasa em mola samudda Tenna issennit tiro padomang le juru mudi le biasa e le mat tengngai saddeng menraleng/ Nassi bittei bombang
Silatuk/ Kuwa adanna La Massinala le mapali nik mai palaek ri saliwenna le langi e/ Na mawelek na le pabboja na/ Mawelek mane I le pannyilik na sin ii lisek na wakka wero\ve/ Nae adan na La Maddukkelleng ri aga sawe mai asenna kaka La Nanrang La Massaguni/ Mabbali ada La Sinilele ronnang makeda iya na mai anri riyaseng ri Saliwenna le langi e le/ Na nyilik ni ronnang ng:alau La Tenri Tappu ri attomporeng mata dettiya/ Nanyilik toni ri accabbengem palinonoe/ Na pemmagga ni aju warana le keteng nge na tau bulel le napo buwa/ Paselle sakkek le nakdaungeng/ Unre suttaro le nakcollikeng/ Napalolang ngi le pannyilik na Sawerigading napemmaggai ron nang nguraik le assabureng mata dettiya/ Nanyilik toni/ le assabureng palinonoe/ Napa lolassi le pannyilik na napemmak ga i tudang ngalek na ri
Rumpa Mega La Maddukkeleng/ Kuwa danna Sawerigading ri aga sawe kaka asenna malagennie tudang ngalek na/ Mabbaliada La Sinilele ronnang makkeda iyana ro anri riaseng riattomporem mata dettiya/ Na iya ro ri attang nge iya naro riaseng ri accabbengeng palinono e/ Pakkuling ngada La Sinilele ron nang makkeda iyana ro anri riaseng ri assabureng mata dettiya/ Na iyaro ri attang nge iyana ro anri riaseng ri assabureng palinono e/ Na iya ro le ri ajan na Daeko Cani Saramai el lya naro anri riaseng ri Rumpa Mega malagenni e tudang ngalek na ripemmagga/ Rijajianna gare ponratu datu puwatta To palanroe gare riasen ronnang maccokkong ri Rumpa Mega/ Engka seuwa gare ponratu pajajian na palallo betta/ Tena tauwang
- Padanna datu ri botillangi/ lyaem manim maseng ngalena anak dewata ri ruwa lette/ Mate manuk na pabeta to/ Puli manukna pabeta to/ Iya naro saseang mana sakkek na ri botil langi le nari pali ri saliwena le langi e nari sallereng tana tudangeng ri Rum pa Mega/ lyana ro datu puwatta Guttu Tellemma Punna Lipuk e ri Rumpa Mega/ lyana ro garek maega ri jajianna datu puwatta Guttu Tellemma le/ Patappulo gerak riaseng/ Mabbali ada Sawerigading ronnang makkeda taleppang waek kaka La Gau La Sinilele bela mabbenni paissengiwi ale puwatta/ Mala simperu tonapa rellek saddeng lipuk na/ Talepang wae kaka La Nanrang La Massaguni mala simperu tona parellek saddeng lipuk na/ Teleppang wae kaka Sinala La Matoreyang mala simperu to naparellek saddeng lipuk na/
- Nasi kadom pal i adanna torn a raja e massappo siseng/ Pakkul ing ngada La Sinilele ronnang makkeda na telu tona garek ponratu ri jajianna datu puwatta Guttu Tellemma powasengnge lipu malakka/ Na iya garek le macowa e ronnang maccokkon ri accabbengeng mata dettiya na iya to garek riaseng datu mangkau ri assabureng mata dettiya na iya to garek riaseng datu mangkau ri accabbengem palinonoe/ Na iya to garek ponratu datu mangkau ri assabureng mata dettia rijajiana garek ponratu mangkauk e ri assabureng mata dettia/ lya mangkauk e ri asaburem polinone e iyana ro le potunek i mangkauk e ri Ulu
wongeng/ !ya rappi na mangkauk e ri assabureng mata dettiya riaseng I mara wellu/ !ya rappi na I marawellu iya riaseng Ia Tenrisompa/ !ya rappi na Lette Risompa iya riaseng La Sengngempali/ !ya rappi na
- La Sengngempali iya riaseng Apummangenre/ Iya rappina Apung Mangenre iya riaseng Riwu Risompa/ Iya rappi na Riwu Risompa iya riaseng Talettu Langi/ Iya rappi na Talettu Langi ia riaseng Simpuru Keteng/ lya rappi na Simpuru Keteng iya riseng La Weroile/ !ya rappi na La Weroile iya riaseng Angimpalie/ !ya rappina Angimpaline iya riaseng I Lasalareng/ Iya rappi na I Lasalareng iya riaseng La Pawewangi/ Iya rappina La Pawewangi iya riaseng La Tanra Tellu/ lya rappi na La Tanra Tellu iya riaeng I La Wettowing/ !ya rappi na I La Wettowing iya riaseng La Palaguna/lya rappi na I Lapalaguna ia riaseng dettiya Langi/ lya rappi na La Siang Langi ia riaseng dettiya Langi/ !ya rappina Dettia Langi iya riaseng La Wero Lette/lya rappi na La Wero Lette iya riaseng Simpuru Guttu/ !ya rappi na Simpuru Guttu iya riaseng La owang Pinceng ri tuling
- Owang Pinceng Rituling/ Naria mmva rituju mata sialuk kalu ula lassa e ula keulu \vali wali e/ Nariak tona ula menreli/ Manajan ratu muwa rinyili le makki nanre ri takke bila mari awa e/ Nariak tona to ri aju,ve rakka ecawa le darek e/ Pada natal lo manen ni rio to ri rakka ecawa le darek el Pada nattalo manen ni rio to ri aju e/ Kuwa dana to ri Sinaung pajullako e ri Ale Luwu To Mapamenek Wara wara e ri Watam pare aga ri olo La Sinilele manajan ratu muwa wawo na malotong maneng le ripemmagga mapute rnaneng jiji isinna rakka ecawa kuengkalinga/ Mabbali ada La Sinilele ronnang makkeda iyana ro anri riasel le to ri yaju ri botillangi/ Darek asen na ri ale lino/ Na rini tona alipem pebbu kuwa rajanna langkana lakko pabbarani e/ Nanyilik toni Sawerigading batu kamennyang nasorei e pabbellek e/ Napem magga si La Maddukkelleng La tau Buleng manajan ratu sitinro/ Wakka ulawemmaneng naola/ Wise tanrajong maneng
- natiwi/ Padat tereangjala pasele ripattoweri batu sawedi/ Narini tona pabbellek e manajan ratu muwa sitinroi Wakka ula \em
manen naola/ Wise tanrajong unre suttara maneng na tiwi Lalo muttama ri minanga e wakka ulawen ripo lalen na To ri Sinaung Pajul Lakowe ri Ale Luwu To Mapparnenek Wara Wara e ri Watarnpare/ Conga mabboja Sawerigading massappo siseng/ Napemmagga i to massari e/ Manajan ratu muwa sitinro/ Na pada mempe maneng temmi/ Na tenrem pulaweng maneng na ola/ Nalawo cammil le pattimpo na/ Na takkaddapi pasore wakka le ri turungeng palagunae/ Na takka jennek Langi Pawewang massapposiseng tuju mata i ancijiren na balubu kelling tesserupa e/ le mattuppu rel le ri wirin na pallonanyang nge/ Pasele sakkek le napo lumu/ Napemmagga si le kessik e kuwa muwa ni le cacu banna sakke rinyilik/ Engka ma lotong engka ma pule engka ma cellak/ Na batu intang le ri tengnga na pallonyang nge/ Conga mannyili Sawerigading massappo siseng napemmagga i langkana Lette Pareppak e maktimpak laja wittowing nge le
- Mabbeungeng Palaguna e/ Makcoppok bola rakkilek e le/ Nari !iii wajam patara le/ Mappalapa le rume e le/ Makkad deneng rakkilek e le/ Massussurel le olingnge/ Natakkappo na Lasisial Langi/ Takkappo toni I Lasalareng/ Takkappo toni Angim Palie/ Takkappo toni Angillalo \ve/ Takkappo toni Rakkarakka I Labanawa/ Na cabbet tona pattudangnge/ Mannajan ratu muwa sitinro/ Pada ma elo timpa uwa e/ Busu sekati manen natiwi le/ Engkam pawa balubu kalling/ Nasaka maneng pabbessorenna kalaru kati/ Nateppo lolan riparamata ciccin riruwa rakka ri kabbek pabbulatte/ Na tettin carinna kanuku laju belo jarinna/ Pada massampu pute surapi maneng/ Padap patonang bunga simpolong/ pitu sinrangeng makkatu ritongkok maneng pepem pulaweng natudangi e uwaem moni nainung nge Guttu Tel lemma timpurang nge le rassamaleng
- Makgalimpuwa ere tangkilil le re ri tengnga na pallonyangnge/ Nanyilik toni Opunna Ware pabbanuwa e soeam maneng gidin ri wisak/ Massulo maneng !use na dekkek gajam pulaweng/ Kuwa adanna Sawerigading lebbi mana na pale puwatta Guttu Tellemma le napo mana datu puwatta Maddeppa e ri lappa tellang pulawengnge/ Kuwai pale napasseuwwa asugiren na To
palanroe le ri puwatta Guttu Tellemma/ Mabbali ada La Sinilele nasitunrenged duwa makkeda La Pananrang na iya topa anri Dukelleng le pomana i ri Pisimpatu lipuk malakka ri wekkerenna Datu Pakiki/ Takked dapi ni patuudang nge le ri wirin na pallonyang nge/ Na takkajennek We Ati Mega tuju matai sawenan rappeng to ri wakka e/ Manajan ratu muwa wawo na le/ Naseuwa wakka ulaweng palallo raja teppesawe i
- Lalo maccolo pallonyangnge/ Tappa lolangeng palingkajo na/ Suloi lipu belo joncongeng ripo lalen na tori wakka e/ Pada ternmala toni uwae pattudang nge narewek sawe ri Rumpamega/ Mattou tou tuppu addeneng guttu sebali sampeam palisussuren ngoling majjalekkai panampes soda le.ijak palapa le remman remmang/ Nasitujuwam peggam muwa i We Ati Mega pangere tudang to mallipu e ri olo lammil le ruma e/ Lalo mak cokkong We Ati Mega ri olo lammin rakkilek e na cokkongi e Guttu tel lemma/ Nasessu sornpa wali natudang We Ati Mega ronnang makkeda rara palek ku lapuwang nge/ Awai lasuna pangemmerek ku/ Tekku matulab balio ada/ Wakka ulaweng puwang saliweng ri minanga e/ Mannajan ratu muwa wawo na/ Semva muwa ro
- Mai denre palallo raja teppe sawe i lalo maccolok pallonyannge/ Tappa lolangeng belo joncongen ripo lalen na tori wakka e/ Natallalo rio Guttu Tellemma mengkalinga i ukka timun na We Ati Mega/ Kuwa muwa ni lopi malegak le koli-koli tenri atiri mallega lega ri tudangen na/ Kuwa danna Guttt1 Tellemrna inai arek anak to lino maccowa cowap pasore wakka ri saliwen na le langi e/ Temmennaja i sungek datun na te ccirinnai pangngemmeren na/ Oje mapaddem manen niro bannampatin na/ Pitumpulen niron nang \vatena lao sumangek ri lolangen na/ Pajanet toni rnappadan riwu bajo bajo na/ Pura nasaka manen niro pak dengngeng nge peresola e I La Suwala I Labeccocing Towalebboreng pulakali e/ Pakkuling ngada Gutu Tellemma ronnang makkeda tarakka sao Taletti Langi le musi tinro palisu Langi mupassanrang ngi
- Lao suro mu larak larak i palili bessi ritunruwat ta tomarola e tanra-tanran na/ Assuro tokko le mobbiri wi pabbanu wa e ajak
na rini maccowo cowap paddi bola i to riwakke e/ Natarakka na Teletti Langi sitarakkaseng Palisu Langi/ Lalo saliweng ronnang mattoddang/ Mattou tou ri barugaem maseng pangara makjellokang ngi tettin carin na napassanrang ngi lao suro na lirak lirak i palili bessi ritunruwan na Punna lipuk e ri Rumpa Mega tomarola e tanra tanran na/ Massuro to ni le mobbiri wi to mallipuk e/Natarakka na parennungnge naobbiri wito malipuk e ronnang makkeda perennung nge arengkalinga manek ko mennang to mallipuk e/ Tenna lawai le waramparang pangngemmerem mu tampa tulingngi La Sinilele/ Ukka
- timunna perennung nge/ Kuwa danna La Sinilele/ Obi kutulinanri Saguni kuwa tujun na ri Rumpa Mega/ ldik wate na rias sakkowang tenri eloreng ripakdi bola/ Sakko makkeda perennung nge arengkalinga manek ko mennang to mallipuk el Tenna lawa i le waramparang pangemmeren na maelok e maccowa cowa paddi bola i tori wakka e/ Mabbali ada pallawa Gau nasitunrenged dua makkeda Sawerigading nassajakes sia tau e datu warani datu puwatta Guttu Tellemma teppo utanang \vija rilangi/ Rewek ni perennung nge ri baruga el Ala maressak/ le mera e natimummu na palili bessi ritunruwan na punna lipu e ri Rumpa Mega to marola e tanra tanran na/ Timummu ni toma ega e/ Narini tona datu pakiki/ Oro
- Pasaka/ Paddengeng nge/ Peresolae le/ Tosunra el To Walebbo reng Pula Kali el Engka manen ni to maega na Guttu Tellemma Tesse wereang welle baritu nacokkongi e le ri olo na Guttu Tellemrna/ Patonam maneng saloko kati I Padap pakkenna babuwa luddu kebbel luse na/ Na padat tiwi kanna ulaweng ngallinrungenna/ Pangngere tudang ri sao Lette Pareppak e/ Kuwa adan na Guttu Tellernrna angattanao paddengngeng nge rnallawa tau ate to lino/ Ajak naengke bela rnusesa tori wakka e/ Anre rnaneng ngi/ Inai arek anak to lino rnaccowa cowa pasore wakka le ri turungeng pelaguna e/ Ternmennajai sunge datun na/ Tek cirinnai pangemmeren na/ Pakkuling ngada Guttu Tellemma ronang makkeda tarakka sao La Rurnpa Langi
- le musi tinro Palisu Langi Oddarnpatara lao saliweng ri minanga e/ Mupemrnagga i tau kubba e/ Toware rnai ujul lolangen
ricokkongen na makke jon congeng pulaweng nge/ Arek na taro ri nawa-nawa tau kubba e na takkaddapi pasore wakka ri saliwenna le langi el Napajanep pa bela taisseng ujung lolangeng ri cokkangen na le tainappa bali wi musu/ Tapo rappai wakka ulawen ripo lalen na/ Natarakka na mennang duwa el Mallebba pulo muwa sitinro mattowu towu lao saliweng ri minanga e/ Na sawet tijjang ri ujun tana pelagunae makkeda bon ngori matu makkutana e/ Patiwi memek kana dekkuwa teppais seng ngik/ Towarek mai ujul lolangeng ri cokkongem mu/ Pega tete na lipuk malakka riwekkeremmu/ Mabbali ada La Sinilele
- ronang makkeda mabela sia ujul lolangeng ricokkongek ku le Tenri nyilik tana ranrukeng laju tinio sesumangek ku/ Pak kuling ngada La Sinilele ronnang makkeda iyana ro kamo ponratu munawa-na\va paddissengek ku le to mabela ujul lolangeng ricokkongek ku/ Kuparilau siwi labela le accabbengeng palinono e/ Nagilim muwa Palisu Langi saung palalo betta tongenna sio le kawelaki to kubba e pabali ada/ Kiling makkeda Palisu Langi aga makkatta kamo ponratu mutenrowangal laja musompek mutakkad dapi pasore wakka ri sal iwen na le langi e/ Mukawalaki maneng kunyili sepakjowareng/ Tenri lenggapa ge I lam pu laweng leri ajern u/ Tern ma pettu pa
- geno rirumpa le ri aro mu/ Tellesso topa boci sitonra sesumangek mu/ Mabbali ada La Sinilele ronnang makkeda sawum misiya napari cita datu anrikku Langi Pa\vewang kitenrowangang laja kisompek/ Apa iyana sinil lelena rirampe ada ri lolangeku le makkedae tenrek nak kuwa rowa nassawung ri saliwenna le langi e/ Tattellu ratu manuk siyuno le nasetikka/ Wenni muwapa pallawangeng ngi tosi beta e ri awa cempa pela guna e/ Pepem pulaweng gare riaseng nalete ie toboto e menrek melleppek ri wala wala ulaweng nge/ Rirotte cempa gare riaseng ule geno el Rikaok wette tenri ranaca potto kati e/ Tenri reppai le patola e/
- Tenri jakkari pakkampi e le/ Tessit tanre pattudang nge nari botoreng/ lyana ro le napo rio datu anrikku Langi Pa\vwang kisompek mai I longengi saung ri saliwen na le lengi e/ Pakkuling
ngada La Sini!ele ronnang makkeda iyana ro kamo ponratu datu anrikku Langi Pawewang le ripallejjak tana menroja le ripaccappu gauk datun na/ Tenna lesso pa boci setonra scsumangek na/ Tenri pettu pa geno rirumpa le ri aro na/ Tenri legga pa gellam pulaweng le ri aje na/ Kisompekmai longengi sav.ung ri saliwenna le langi e/ Mabbali ada La Rurnpa Langi ronnang makkeda temrnaka iko are pa ritu datu Jawa e ribal is sawung/ Kalalla wae datu dewata ri botil langi rabalis sawung na iko ritu kawalaki e mudatu Jawa/ Mattunreng ngada Taletti Langi La Rumpa Langi ronnang makkeda temmanao na sia
- linro mu La Sinilele powada sawung/ Pakkulinggada La Rumpa Langi ronnang rnakkeda iyami sia kuwaseng nge bela rnadeceng taro rnuwano le kupaenrek ri langkana e le/ Kuwala o pabbaja palla luserang tonrong/ Na iya ritu datu anrimmu riasengnge Langi Pawewang taro muwani bela kuwala pangngurung rnanuk/ Kupo rappa i wakka ulaweng ripo lalern mu/ Taro muwa ni kuwala rappa sining lisek na wakka ulaweng ripolalernmu/ Apa rnasuwa sia to lino pasore wakka ri saliwen na La Pananrang La Massaguni/ Makkeddeoddang tenra sula na kaca melleppang lisek matan na solos siduppa tengngararnpen na inin nawan na rnengkalinga i ukka timun na La Rurnpa Langi/ Natijjan ronnang La pananrang La Massaguni rnokko tonangeng san
mera na napallemo i pabbessoren nat tenrek pangulu wara wara na natuddui wi menek wakka e/ Marewo dangnga muwa ritu ling gellam pulaweng le ri aje na/ Mapettu petu geno rirumpak le ri aro na tappali pali boci sitonra sesumangek na Makkeda teri La Pananrang La Massaguni appangarao La Sinilele patat tumpuk i mene wakka e le ri wirinna pallonyangnge/ Na iyyak sa mattekkai wi La Rumpa Langi/ Muwita sa le orowanc rnattebbak gajang ri kessik e/ Masommeng nge matteppa timu tonrong ngada i padan na datu/ Natallallo bacci La Sinilelet tuju mata i sappo sisenna/ Nagilin ronnang La Sini lele mammiccu lampe/ Tuncuki jari sappo sisenna ronnang makkeda magi naiyo La Pananrang La Massaguni marakka rakka mappaddiolo/ Temmuitai le ri munrimmu napo tuwo e pangemmerenna
le Luwu e to warek el Kuwa muwa ni tori paremmak La Pananrang La Massaguni soro maccokkong ri pempola na joncongeng nge/ Kiling makkeda La Sinilele/ Keruk jiwa mu to maraja e/Usompa wali alebbirem mu/ Aga na iyo napo sanreseng inin na wakku kutakkaddapi Pasore wakka ri saliwenna le langi e/ Na iya ritu to maraja e ri maelok mu mala rappawak massappo siseng/ lyana ritu kuwassimangi to maraja el Alao riwu bilakko ketti/ Sorongngak riwu le sebbu kati elli ale ku sipak jowareng kurewek lempu ri lolangekku/ Mabbali ada La Rumpa Langi ronang makkeda teppeyajen no kawalaki e rewek parimeng ri lolangemmu ritakkala mu pasore wakka le ri tu rungeng pelaguna e/ Nae rekkuwa to ri wakka e
- Temmaelok ko kuwala rappa awingngi matu kanna lilaweng ngallinrungem mu tapabbitte i bessi jawata tapasi uno to maegata/ Tapasi tangk.ek toi labela pangemmeretta/ Pakkulingngada La Rumpa Langi tenri rampeaggo labela ri lolangemmu ritana Jawa le makkedae Guttu Tellemma Punna Lipuk e ri Saliwenna le Langi e barang natungka le musu e posamaja e tedong seratu nasisumpala ukka timunna nawangung musu/ Na mamase na Topalanro e mutakkaddapip pasore wakka le ri turungeng pelaguna el Nae labela puppuni ritu sumangek datummu lolan ri lino/ Pajanet toni mappadan ritu bajo bajo mu/ Mabbali ada La Sinilela ronnang makkeda iyana ritu to maraja e ku-palek wali kuwassimangi/ Apak tania musu kutaro ri nawa nawa
- kutakkaddapi pasore wakka ri saliwenna le langi e/ Naiyatopa toma raja e kupekkuwa ni mubali musu tekkuwisseppa mawing tumea tenreng passoreng/ Na sangadin na le mamase o le ri wataku le tama elok paccinaga wa sikki tanringeng mawing tumea tenreng passoreng I Teccappu topa rampe-rampe na La Sinilele nari guguri tona paddawu wakka wero we Taddakka rakka La Pananrang La Massagunisepajjowareng sitta alameng sesumangek na mala kanna na nalupperi wi ri minanga e/ Kanna
na muwa le nanangeam menre mattanang ri kessik e/ Mappasiduppa rampu kalameng La Rumpa langi/ Nama rukka na toma ega e/ mattebbak gajang manenni mennang to maega e/ Nari wetta na tuppa nyumparen ripo sommen na La Rumpa Langi/ Lari lampe ni jowa mappoto sawekkeren na Palisu Langi/ Sakko mak keda La Pananrang Tenrek siri mu
- La Rumpa Langi lari mabboko/ Giling kanna mu bela parimen I Tasi pasareng rampu kalameng pada puwanna sawung kanna e/ Kiting makkeda Palisu Langi temmanao na siak linro mu La Pananrang bela ma elo sipa duppa i rampu kalameng le/ Temmu tedong La pananrang le/ Tebburanget topa tanruk mu/ Tessi wiccanget topa juku mu le tessi cangkirik topa cero mu/ Temmuisseng ngi iyak belammu La Rumpa Langi pallawa musu temmu libu na Guttu Tellemma/ Benteng talettu tettattenren na le punna Lipuk e ri Rumpa Mega/ Kiting makkeda La Massaguni io makkeda alliri musu temmu libu naGuttu Tellemma/ lyak makeda Alliri musu tettat-tenren na Pamadellete/ Worowane na worowane/ Paddiolo e na paddi munri/ Mabbali ada Palisu Langi mula rukka i beta esso e/ Angattai .Vi bela mabaja siak sangngadi/ Muwasengnga i
Musu sicida tebbak si kelo tessi pangatta pabberani e/ Map pangara ni Panrita ngi tette rukkai le genrangnge passakkok jowo malengngengnge/ Siwewangen ni le Luwu e to ware e/ Turung parewa musu manenni mennang to maega e/ Tessi were ang lalen ri-ola ri kessik e/ Nama rukka na ata Jawa na Opunna Ware/ Nari tettek na genran rukka e ri Rumpa Mega/ Passakko Jowo malengngengnge/ Nasi bali na genran rukka e/ Kuwa dan na jemmu ri Cina appangara o puwang ri Luwu Puwan ri Ware/ Mupo rekki wi sapa to Sunra le/ Pappa nini/ Pawoja deng ngeng menek wakka e/ Ripak dumpu ni pak dumpu sakke raukka junna Sawerigading mula losenna ri sinallewa ulawengnge/ Sapa to Sunra le pappanini powajo dengngeng/ Mappangara ni La Mattoreang nari paenrek maneng mattanang parewa musu tesse rupa na pabbarani e/
Nsri paddaung sulekka kati manurung nge ri Ale Luwu le/ Na risusuk tompi kuruda manurung nge ri Tompo Tikka le/ Nari saka sarawum mega le tompo e ri Sawam Mega/ Nari paenre maneng mattanang parewa musu tesserupa el Nari sarampa le alek el Nari tale ki ballilik e/ Nari tereang bessi jawa e/ Natinjan ronnang Sawerigading sitarakkaseng Pallawa Gau map pasinruwa tudal lingkajo parewa musu setangngaren na/ Saloko kati to botillingi/ Lakke ulaweng to toddang to jang/ Suwu kampili bulu beppaja to Ruwa Lette/ Gajampulaweng lanro to Mata Solo/ Natompo makkatawarem mai ri lino/ Alamem mana sepammana na lolangeng nge ri Ale Luwu/ Pada lingkajo massappo siseng/ Natarakka na torisiaau Pajul lakko we ri Aleluwu to mappa menek
Wara wara e ri Watampare/ Siti \i jari massappo siseng/ Kll\va muwa ni pepek to peresola malluwak parewa musu setangngaren na massappo siseng/ Lao ri olo to mari laleng pabberoni e/ Kalawingang ngi salenra guttu accelaken na/ Monro ri munri lalaki Luwu anak sanra e palariangngi bajen rimangke tosenri jawa/ Nasi rakak si \ero ni lako torU\va lette menrek manairi pempola na joncongeng nge/ Lete ri ati potto/ Cekkai baratengkading/ Natarima i sinrangem pero ripo lalen na/ Ripa sekkoreng pajun rakkile annaungen na massappo siseng/ Kuwa muwa ni tikka mammula cabbeng rinyilik le attappa na pajunr akkile annaungenna Sawerigading menrek mattanang ri kessik e/ Kuv.a danna Pallawa Gau 03 7. Mallatunni le sunrawe el Riatteppokam pali ceroe/ Riabbelekem pali ulu we/ Riallejakem pali bakke/ Rebba sisuli tori \etta el Lewu siapi tori poso el Tenri anyuma tonabalue sangi nalewu/ Mallari solo lempek cero el Mau pattuppu batu riwetta tenri saile/ Tenri sero kanna ulaweng/ Tenrekna jo,,a Laoraik ni saloko kati le rijujun na pabbarani e/ Natakkap pona paddengengnge peresola e tosunra e 1 Lasuala I Labec coci Towalebboreng Pula kali e/ Sitakkappowang datu Pakiki/ Ora Pasaka/ Nasi tangkak sirnnnang parimel le tebbak el Siko re wette pabbarani el Mappana guttu ballilik e/ Pada tanren reng tado gel Ian na paddengeng nge peresola e/ Pada natal lo manenni rio le tosunra e/
Pada ma elo pijek tolino/ Kuwa muwa ni la Massaguni riu tea e riassimangi le na samanna jonga takkau lampa e tea e memmau tau/ Oje tellejjak tana rinyilik ujung ngajena/ Napallemo i pabbessoren nat tenrek pangulu wara warana mawil lengeng ngi kanna ulaweng ngallinrungen na mattengngaiwi bali mallapi lapiseng nge mabbelerengngi alamem mana sesumangek na le/ Tenna ulle siyak mori i uli gessa na nasangadinna siak mapolo le passonrong aje tado na mapolo maneng/ Mau seuwa ie temma polo masuwa to/ le passonronna paddengeng nge peresola e/ Natassenren na ri tettongen na paddangen nge/ Datu Pakiki/ Ora Pasaka/ Natarakka na Pallawa Gau sitarak kaseng La Sinilele mappasiutte tompi kuruda/ Kuwa muwa ni Pallawa Gau La Sinilele
- Tona solori tosenri jawa tona passadda toruwa lette/ Nawassung gelli Pallawa/ Gau La Sinilele le/ Nasaman na jonga tak kau lampa tassala/ Oje tellejjak tana rinyilik ujung ngajenam mawil lengeng ngi karma ulaweng ngalinrungen na seliselingang belo musu na/ Mattengngai wi bali mallapi-lapisen nge/ Tettuwang ngi karma ulaweng allinrungen na le ri olona Oddampatara Lette Mangkau/ Natuddui wi tanete lampe natetto ngi e/ marewo dangnga muwa rituling gellam pulaweng le ri aje na/ Mapettu pettu geno rirumpa le ri aro na/ Tappali-pali bocis sitonre le sesumangek na ronnang makkeda tijjak komai maelok e tasippasareng rampukalameng/ Pada makkeda muwaik ritu worowane na worowane/ Solla sola na sola-sola e ri tengnga padang/ Pada biasa
- mabbiceam pali ri appasareng padan rukka e/ Pakkuling ngada I Ladatunna ronnang makkeda temmu wisseggi iyyak belammu La Pallawa Gau La Sinilele/ Alliri musu tettattenren na Pamadeng lette/ Benteng talettu temmu libu na Langi Pawewang po samaja e tedong seratu/ Nasi sumpala ukkak ti mun na tomara jae le wali wali/ Nawangung musu/ Kuwa muwa ni ellum mangenrek turun rupan na Lette Mangkau mengkalinga i wukka timun na Pallawa Gau/ Kaea malleppang lise matanna/ Makked de oddang tanra sula na I Wara rikae babang ngaro na/ Solong siduppa tengngarampen na in in nawan na/ Natallallo bacci Lette Mangkau/ Natinjjan ronnang mangnganjarakeng bessi ja wana/
nawassung gelli Lette Mangkau ronnang makkeda temmanaona siak linro mu Pallawa Gau La Sinilele le/ Temmu tedonritu kalaki tessi wiccanget topa juku mu/
- Tessitao topa cero mu/ le Tebburunget topa tanruk mu/ Paku ling ngada Lette Mangkau naiyyok kenneng ritu makkeda alliri musu rirennuwan na datu anrikku ri appasarep padan ruk ka e/ Naiyyak pasi le temmakkeda benteng talettu temmu libu na ri Rumpa Mega/ Mabbali ada Pallawa Gau le maddanaca telleppang pale Topalanro we kamo ponratu le/ ldik memeng ripasi tujung ri dewata e/ Pada biasa mabbiccam pali ri appa sareng padan rukka e/ Nasi tangkaksi ronnang parimeng tebbak el Sikore wette to maega e sitimpa dada to molo-lo-e na sigalenrong lckko malela pabbarani e/ Pole atau Pallawa Gau La Sinilele/ Mabbelekeng ngi alamen mana sesumangek na/ Kuwa muwa ni Pallawa Gau La Sinilele tompeleri e utti lunrara/ Manajan ratu anak 042 de\vata napasiaseng tanete lampe malowang nge to maega e ri Rumpa Mega/ Mapppeppeng lampe le Luwu eto Ware e/ Ripa e sak ni pajum peruneng annaungen na Guttt1 Tellemma/ Tenna tak buttu topa ola e ritakkala nam mala tettongeng/ Ala paja ga La Pananrang La Massaguni mabbelerang ngi alamen mana sesumangek na/ Lari mabboko La Rumpa.Langi Lette Mangkau ri abbuseren ronnang muttama ri lalet tonrong le/ Tessi taro minung nguwae jowa pangadim pulaweng nge le wali-wali/ Tessi taro nik kede matan na le masing nge to maega e le wali wali/ Soro maccokkong Lette Mangkau La Rumpa Langi le ri pate posi sao we/ Na takka jennek mannau nenneng nawa-nawa i lao musu na/ Kuwa danna Palisu Langi ojes sorongeng kora muwaik le ri padatta pattuppu batu le/ Tama siri tona
- mangnganro ri appaserep padan rukka e le/ Na Pajaneng datu dewata len cajiyang ngik le/ Na pajanen ronnang makkeda datu Jawa wak naekekkuwa le datu Jawa muwa palae maelok e le pangnganrowik/ Mabbali ada Lette Mangkau ronnang makkeda na kawalaki maneng kunyilik tori wakka e sepajjowareng/ Ni iya sia riaseng nge La Pananrang La Massaguni worowane na to ngenna sia worowane/ Paddiolo e na paddimunri I Pajaneng nge le kawalaki le namananrang mawing tumea tenreng passoren ri
padan rukka marowa el Samanna sia datu besa moloi musu le kawalaki tau kubba e/ Mabbali ada Teletti Langi ronnang mak keda madeces sia le menrek engngi paissengi wi datu puwatta Nasi kadong ukka timunna masselingereng/ Natarakkana Teleti Langi
- Palele tudal le ri olo na le anak datu tori ranrenna palengem pali palek/ makkeda Taletti Langi pekkuwana gi nawanawam mu puwang ponratu/ Asauren ni tori wawata/ Lari manenni paddengengnge peresola e I Lasuwala I Labeccoci Towalebbo reng Pula Kalai e/ Pakkuling ngada Taletti Langi ronnang/ Makkeda oje sorongeng kora muwaik matti wate na le ri padat ta pattuppu batu/ Nakawalaki manel labela maelok e le pangangrowik/ Kuwa ni ,.,.ara rikae Guttu Tellemma makkedde oddang tanrasula na tottong tattere pasu pasun na/ W ara ri kae babang ngaro na/ Solo sidupa teng ngarampen na inin nawan na/ Natallallo bacci mengkalinga i ukka timun na Taletti Langi/ Lesso masigak ri sinrangen na Guttu Tellemma/ Tenrek pangngulu wara v.ara na/ Nappasibollom miccu makkeda tenrek
- siri mu paddengngengnge peresolae le tosunra e I Lasuwala/ I Labeccoci/ Towalebboreng/ Pula Kali e/ Mau kol lari tani ko to nasekko pajung ri Rumpa Mega/ Marao mennang mutean rewek mappuli puli datu Jawa e/ Maukol lari taniko to le na lessori pajumpulaweng annaungek ku/ Natallalo bacci Guttu Tellemma tuncuki jari turun rupan na jowa pasading sewekkeren na tuppu nyumparen ripasommenna ronnang makkeda/ Tenrek sirimu mennang labela/ Lari mabboko temmassaile tessaile i pajun rakkile annaungekku/ Mutean re\vek mappuli puli datu Jawa e/ Na inappa na padat taroi siri watan na rijajian na Guttu Tellemma/ Saman revvek ni paddengngeng nge/ Peresola e/ Towalebboreng/ Pula kali e/ Seliselingang belo musu na/ Mawil lengeng ngi kanna ulaweng ngalinrungen na/
- Nacabbet tona Lette Mangkau/ La Sessunriwu/ Datu Pakki/ Oro Pasaka mangngan jarakang bessi jawa na/ Mattengngai wi bali mallapi-lapiseng nge/ Nasi tangkak si ronnang parimeng le tebbak e/ Sikore wette pabbarani e/ Sitimpa dada tomalolo e Nasi galenrong lekko malela jowa biasa ripallaga e/ Laos soro ni saloko kati le rijujunna pabbarani e/ Kuwa muwa ni uren ri
langi bulu-bulu e le/ Nasamanna sampe maruttung lao paddawu bessi jawa e/ Kuwa muwa ni wenno pangngampo wali tattere batangeng nge/ Lattuk ri langi reremmeng ka1111a ulaweng nge/ Mappana guttu oni pabbettu sappo I ipu e tenna tattenreng ri tettongen na La Pananrang La Massaguni Palla Gau La Sinilele ri takkala na mala tettongeng/ Na iya muwa tenna riwetta menek datun na La Sessunriwu wegganna muwa datu
04 7. Pakiki takdakka-rakka paoloki wi kanna ulaweng tori dulunna Nalaowangngi ronnang masiga ri saliwenna le langi e/ Laos soro ni to maega na Guttu Tellemma/ Natallalo bacci Guttu Tel lemma tuju mata i to maega na le laos soro/ Na tijjan ronnang punna lipuk e ri Rumpa Mega/ Najjellokang ngi sunna langi sawun rakkile/ Palluwakluwak api dewata le ri tengngana padan rukka e/ Pabbitte oling pasilurung ngi le pettang nge/ Mali manen ni le Luwu e to Warek el Nassibittei lette pareppa/ Nasiraka si oddan rilangi/ Tenna bajenni ma\ving kanna na le Lll\ll e to Warek c/ Laos soro ni to maegana Sa\erigading/ Natassenreng na ri tettongen na Pallawa Gau La Sinilele/ Tassenreng toni ri tettongen na La Pananrang La Saguni/ Ripaesalk ni tompi kuruda.
- manurung nge ri Ale Luwu/ Ripawewanni sulekka kati manurungnge ri Tompo Tikka/ Nawassu gelli Sawerigading/ Takdakkarakka lesso masiga ri sinrangen na le/ T enna sekko pajunrakkile/ Tenna olai salenra guttu accellaken na/ Napallemo i pabbessoren na tenrek panggulu wara na/ Natuddi wi tanete lampe natettongi e/ Marewo dangnga mu \va rituling gellampulaweng le ri aje na/ Mapettu-pettu geno rirumpa le ri aro na/ Tappali-pali bocis sitonre sesumangek nn le/ Nasitak i saloko kati le rijujun na sen rem pulavveng rise II in gen a/ Nampaereng ngi ri toddat tojang ri urilliyu ri peretiwi paenrek pasal le ri tengnga na padan rukka el Napaddengi \Vi api dewata mallmvak e/ Napak gangka i lette wero we/ Siappo appok le bombang nge le ri tengnga na padan
- rukka e/ Maremme maneng parewa musu setangngaren na toritiwi na To Rumpa Langi/ Teanim mewa tori tiwi na Guttu Tellemma/ Nagilin ronnang Punna Lipuk e ri Rumpa Mega
nasessuk sompa ri botil langi/ Manynyiwi wali ri senn Jawa pasilurung ngi le pettang nge le/ Napaturung urel lallatang le/ Atuturem maneng nyilik na le Luwu e to Ware el Makkakkang maneng ri tettongen na tori tiwi na Sawerigading/ Ala engka ga giling kanna na le Luwu e to Ware e/ Sibetta-betta rijaanna Guttu Tellemma patappulo we mattengngai wi bali mallapi lapiseng nge/ Mabbelerang ngi beo atau alamem mana sesumangek na/ Kuwa muwa ni La Sessunriwu Lette Mangkau riu teaa riassimangi/ Tessi taro nik kede matan na ri masingnge le wali wali/ Pada makkeda aliri musu passola-sola temmaneng nga e
- ri appasareng padan rukka e/ Silelean ni anak datu we le wali wali mappasippopok kanna ulaweng ngallinrungen na/ Nanao bessi-bessi na Pallawa Gau le napasalat teppa ri tana bessi paddawu risettuwan na/ Napole muwa La Sessunriwu lappessangi wi bessi paddawu le/ Nateru wi kanna ulaweng ngallinringen na napasi teru tari sedde na/ Natattulempo bakkedatun na Pallawa Gau ri tanete/ Pole abeo Lette Mangkau lap pessangi wi paddawu kati La Sinilele/ Nateru i kanna ulawen ngallinrungen na/ Napasit teru babang ngaro na/ Tattuliponi ri tanete bakke datun na La Sinilele/ Kuwa muwa ni tori sel leyang tengngarampen na ininnawan na La pananrang La Massaguni pakkaluri wi le pabbessoreng wangukkellon na La Sinilele Pallawa Gau/ Sala makgangka tengngarampenna ininawanna La Pananrang
La Massaguni mattuttu rupa sappo-sisen na/ Teri makkeda La Pananrang La Massaguni/ Kaka ponratu La Sinilele/ Anrik La Gau le/ Patas sani bannampatim mu anrik cinampe/ Mutulissai watim mapeddi pakkamase ku/ Teri makkeda La Pananrang La Massaguni/ Ajak nassidda ritu lao mu anri La Gau La Sinilele/ Ajak muwedding mattekka tungke ri appasarem paliyala e le/ Makdi tengnga ri paccappuren nawa-nawa e/ Teri makkeda La Pananrang La Massaguni/ Tajengngak matu anri La Gau La Sinilele ri anrob hiring le/ Tasi duppa ri appasarem paliala e/ Tasi tinro pal lete ri majel le/ Makdi tengnga riamalingeng/ Kulempo sawe pappedapi i sungek datuk ku/
ri appasareng padan rukka e/ Napura muwam patim mapeddi La Pananrang La Massaguni natijjan ronnang mokko tonangeng sari mera na La Pananrang La Massaguni tenrek pangngulu wara-wara na/ Sele-selingang be lo musu na/ Marla maneng tinek wijan na manurung nge ri Ale Luwu pituppulo e le/ pitullice Napadak kuwa tonasolong ri tosenrijawa to napassadda toruwa Jette mattengngai wi bali mallapi-lapiseng nge/ Taro pura i pangemmeren na/ Nasi tangkak si ronnang parimel le tebbak e Sikore wette anak datu el Pasippopok i karma ulaweng ngallinrungen na/ Mappasiduppa rampu kalameng/ Pole abeo Lasessunriwu Lette Mangkau lappessangi wi paddawu kati La Pananrang La Massaguni le/ Nateru i kanna ulaweng ngallinrungenna La Pananrang La Massaguni/ Ripasitteru tarisedde na/ Tattulempo ni
- bakke datun na La Pananrang La Massaguni ri tante/ Mapaddem maneng bannam patin na tune wijan na manurung nge ri Ale Luwu/ Aleangen ni Sawerigading ri appasareng padan rukka e/ Nabanna muwa La Maranginang naewa duwang le temma paddeng bannam patin na/ Natudam muwa Sawerigading massappo-siseng/ Sessak wakka na uwae mata mabbalobo nan nawa-nawai sapposisen na pituppulo we pitul lice/ Pada natallo manen ni rio rijajian na Guttu Tel lemma patappulo we/ Pallette gora pada maria ri nanyilik na le aleangeng Sawerigading ri awa pajum pulaweng nge/ Napemmagga na le nalebengi bakke sisuli riappasareng padan rukka e/ Pallette gora La Sessunriwu sepak jowareng/ Pada natal lo manen ni rio paddengngeng nge/ Pere Solae/ I Lasuwala/ I Labeccoci/
- Towalebboreng/ Pulakali e/ Pada mallawa tau manen ni pak dengngeng nge datu Pakiki/ Oro Pasaka/ Napada manre ate to lino/ Pada natallo manen ni rio paddengngeng nge/ Manre mat temmi le/ Patinampa lale ecawa e/ Mau seuwa bakke jowa na Sawerigading tudan nasesa masuwa to le/ Pura mane! le Luwu e to Ware e le naparisi rilalek kati padengngeng nge/ Pere Solae/ le to Sunrang nge/ I Lasuwala/ I Labeccoci/ Towaleb boreng/ Pula Kalie/ Nabanna muwa tenna parisi ri lalek-kati tune wijan na manurung nge n Ale Luwu Maddeppa e ri Lappa Tellang
pulaweng nge/ Apak mapai siak cero na le/ Tenna ulle lalo muttama ri tagerok na/ Natarakka na La Sessunriwu napa lesso i parewa musu setangngaren na/ Natijjan ronnang le na buwang ngi ri minanga/
- Teri makkeda La Maranginang/ Tokkonno mai anri La Tappu/ Talao tapemmagga i bakke datun na to ennaja e massappo siseng/ Na inapa na Torisinau Pajullakkoem pangung maccokkong massapo siseng/ Tlmpa salenra lakko maccellak sampeam pali uwae mata mabbalobo na/ Napuram mota Sawerigading natijjan ronnang sitiwi jari La Maranginang I Napemmagga i bakke datun na sappo sisen na le silosengeng ri tanete/ Kuwa muwa ni tori selleang tengngarampen na paricita na Opun na Ware meppean ronnang watan na lewu ri tanete/ Nagilin ronnang pakkaluri wi le pabbessoreng wanguk kellon na La Pananrang La Massaguni/ Teri makkeda Sawerigading/ La Nanrangnge La Massaguni sappo sisekku le iyo maneng/
- Mellek na muwa ininnawam mul lao mabboko tessaileyak/ Teri makkeda La Maddukkelleng/ Rewek ko mai panrita Ugi le/ Iyo maneng sappo sisekku/ Tinrosiang ngak sinrangel lakko ripolalek ku/ Tasi tinropa kaka ponratu lete ri majeng le/ Madditengnga ri paccappuren nawa-nawa e/ Tarowasi wi ri pammassareng le/ Napada si kaka tudatta ri Ale lino/ Meppen ronnang watan nal lewu Langi Pawewang/ Lewu si I use bakkc datun na Jemmu Ricina/ Sala maggangka tengngarampenna ininnawan na/ Teri Makkeda La Maddukkelleng/ Labukak labu le ri kaka ku Pallawa Gau/ Lasinilele/ Ulet tipu e ri Tompo Tikka/ Tappu Pujiye ri Sawammega/ Arattiga na Wala-Wwala e ri Singki Wero/ Sulo Sewekket temmapadden na Awa Cempae ri Tompo Tikka/ Kaka sanresen nawa-nawakku/ Mupe nal lao
- Kaka La Gau/ La Sinilele/ Namasuwa bakke datum nu kutuju mata/ Oje pura no sia wate na le naparisi ri lalek kati paddengngeng nge/ Pere Solae/ Teri makkeda Langi Pawewang ajak nassidda ritul lao mu kaka La Gau La Sinilele naerekkuwa temmutiwik ka/ Tajengngak matu kaka datunna La Sinilele ri anrobiring le/ Tasi duppa ri appasarem paliala e/ Tasitinro pa
kaka datunna La Sinilele lete ri majeng le/ Madditengngari paccappuren nawa-nawa e/ Tariak pasi kaka datunna La Sinilele pada lapole/ Tudang parimeng/ Tarowasi wi to maegata Terri makkeda La Maddukkclleng lewoang galla massappo siseng/ Mappasipepek uni ecawa sipacceule beo atau/ Teri makkeda Torisinau
- Pajullakko e ri Ale Luwu To Mappamene Wara-Wara c ri Watam pare/ Maranak wae kaka La Gau/ Upekkuwa na La Sinilele le/ Iyo maneng sappo sisekku le ri munri mu/ Apa teawak rewek ri Luwu le lolang tungke/ Tennarowasi pattuppu batu le/ Tenna dulu rajem matasa/ Tenna rewo ijowa pagading/ Natea tona leppang rupakku natuju mata a\va na langi menek na tana/ Makkeda i matti tau we iyana ro Sawerigading bakke tuwe/ Tudang ri lino/ lyana ro kaka ponratu tepparewek ka ri Ale Luwu/ Kumaberekas sisem 1ml\ ani mapaddeng nge bannam patikku Apa tea\vak le bakke tuwon rewe ri Luwu/ Meppen ronnang \atanna lewu Sawerigading le siluse bakke datun na La Matto reang/ Teri makkeda Langi Pawewang/
- Amaseangngak lapuwang nge mupaselengi sisem mu\ anak lette pareppak/ Pasi latuki tO\ak la pm,ang oddan rilangi/ Pasibittei tc)-.af... lapuwang ruma makkompong/ Kulabu sia mapedda busa/ Nacabben ronnang sa lareng nge makkeda welokkalapa ri tudangem mu/ Ellon ritangnga/ Malluse majal le ri pemmaggai le tenna ngenrek akessingem mu le/ Tettimummu awajikem mu/ Naruwa rmma Sawerigading tampa tuling ngi ukka timunna salareng nge/ Nagilin ronnang Opunna Ware timpa salenra guttu makkeda otao matu marupek e tekku \ ita el Accellak tokko tekku nyilik ko turun rupammu ritu marupek/ Pakkuling ngada Sawerigading agi pada na rimamasc mu marupek e/ Murini mai baliak ada/ Mabbali ada salareng nge makkeda ta11
- Mette to lino ronnang makkeda iyak kaka mu bajeng tangkilil le biasa e mola lawangeng/ Mabbali ada La Tenri Tappu ronnang makkeda engka ga kuwa kaka salareng/ Samo tuwa ku samn tinro ku moloi musu/ Mate manenna le Luwu e to Ware e/ Pepek
JS
manen na sappo sisekku/ Naiya muwa kaka salarel le napo sara ininnawak ku ri masuwa na bakke datun na Palla Gau La Sinilele/ Mabbali ada salareng nge ronnang/ Makkeda amaseangngak anri La Tappu/ Munyamengi wi ininnawam mu Nataweng ngao uwae mata tenna manyameng ininnawam mu lao malai bakke datun na sappo sisem mu/ Mabbali ada La Maddukkelleng ron nang makkeda naiya muwa le napo sara ininnawak ku kaka salareng ri masuwa na bakke datun na Pallawa Gau La Sini lele Oje pura ni ronnang wate na naparisi
- rilalek kati paddengengnge/ Mabbali ada salareng nge ron nang makkeda naiya muwa le kumaelo muwamaseang mupak gang kai uwae mata mabbalobo mu/ Natawengngao uwae mata tenna manyameng ininnawam mu/ Na iya ritu bakke datun na Pallawa Gau kuwai ritu ri assabureng palonnyang nge le monang konang/ Naiya ritu menek datun na Pallawa Gau kuwai sia le ri urek na pao jenki e monro tasseppi/ Naiya ritu bakke datunna La Sinilele/ Kuwai ritu ri minanga e natuduwang ngi solo mallari/Naiya ritu menek datun na La Sinilele kuwai siale ri urek na daeko can ik saramai e monro tassellek/ Napakgangka ni teri datun na La Maddukkelleng/ Natallo rio mengkalingai ukka timunna salareng nge/ Kuwa danna salareng nge tarakka nao La Maranginang mupuppung ngiwi bakke datunna
sappo sisem mu/ Napijeki wi kanari jawa datu anritta Langi Pawewang/ Na pa janep pa makkina konro sappo sisem mu le tainappa lao alau ri wiril langi/ Natarakka na La Maranginang napuppungi wi bakke datunna sappo sisen na/ Napallappo i le ri olo na Opunna Ware/ Kuwa tanete allapporen na bakke datun na sappo sisen na/ Natarakka na Sawerigading/ Napijekiwi kanari jawa/ Nurumpui wi le dupa rasa/ Narawuki wi siri atakka ri ataun na/ Tellek araso ri aboe na/ Natijjan ronnang torisinau pajul lakko e ri Ale Luwu To Mappamene Wara-Wara e ri watampare le/ Mangguliling le wekka tellu/ Kuwa dan nan Langi Pawewang/ Tokkok ko mai mennang la bela tori wetta el Tori poso e/ Tona cidda e rampu kalameng/ Melleknamuwa inin nawam mu lewu taniya wellek baritu
appeddengem mu mulaewuri wi/ Nasamet tokkong maneng mennang tori wetta e/ Tori posoe/ Tona cidda e rampu kalameng/ Mawelek muwa le pannyilik na ronnang makkeda pegi tappi ku/ Alamen risoeak ku/ Takka memmek i lalo tinro ku/ Tekku taro ni ri nawa-nawa musu arajang ripatijjan na datu anrikku/ Mab bali ada Sawerigading ronnang makkeda purani sia mupammanari le sellao mu le to Sunra e/ Datu pakiki/ Ora Pasaka/ Nasamat tokkong manengna mennang tori wetta e tori poso e tonacidda e rampu kalameng/ Makkina konro manen ni mennang sappo sisen na Sawerigading/ Meppen ronnang watan na lewu La Maddukkel Ieng ri wakkangen na La Pananrang/ Pakkaluri wile pabbessoreng wanguk kellon na sappos sisenna/ Teri makkeda Langi Pawewang tudakko ritu kaka La Nanrang ri
- Appasareng padan rukka e/ Kulempo sawe mola bate i sapposi setta pallawa Gau La Sinilele/ Apa tenrek i bakke datun na sappo sisetta ri appasareng padan rukka e/ Kuwa muani bunne marunu uwae mata mabbalobo na La Pananrang/ Sama terini sinim pijan na munurung nge ri Ale Luwu/ Teri makkcda La Pananrang talokka maneng anri molai bakke datun na sapposi setta/ Bara payare lipu malakka nataddagga i bakke datunna sappo sisetta La Sinilele Pallawa Gau/ Teri makkeda Langi Pawewang tudanno sio kaka La Nanrang ri appasareng padan rukka e/ Mangattai ""i mai cabben na tomaega na Guttu Tellemma/ Massaliweng ngai suro na Torumpa Langi bcla maelo le porappai wakka ulawen ripo laletta/ Ajak La Nanrang le mumatau sipabokori karma ulaweng ngallinrungcmmu le ri munrikku
- Pakkuling ngada La Maddukkeleng I Aja muwedding kaka La Pananrang tunru mangnganro ri appasareng padan rukka e/ Ajak muwedding nasau bessi paddengngengnge/ Nasikadong ukka timunna tomaraja e massappo siseng/ Kuwa danna salareng nge/ Tijjanno mai anri Dukkelleng/ Talao sia mola batei bakke datinna sappo sisemmu/ Natarakka na Sawerigading le risa likkil le ri kaka na salareng nge/ Mola ellek i le ellung nge lao alau ri assabureng pallonyang nge/ Ala maressak le merae I Alak kede ga pannyilik e natakkaddapi ri assabureng pallonyang nge/
Napaleso i datu anrin na salareng nge/ Nae adanna La Maddukkelleng ri takkala mu kaka mamase paenrekan ngak bakke datunna sapposisekku/ Mabbali ada salareng nge ronnang makkeda ajak nak uwa ukka timummu anri Dukkelleng/ Ala inai naposanreseng nawa-nawakku
- le tenna io massapposiseng/ Natarakka na salareng nge nasalikkingngi bakke datunna Pallawa Gau La Sinilele/ Napasiempek bakke datunna Pallawa Gau La Sinilele napaenrek i le ri lusena pao jenki e/ Napasi-luse bakke datunna Pallawagau La Sinilele/ Teri makkeda Langi Pawewang kupekkuwana kaka salareng le kuwalai menek datunna sappo sisekku/ Mabbali ada salareng nge ronnang makkeda selluk-kosia anrik La Tappu le ri awana pallonyang nge le muwala i menek datunna sappo sisemmu/ Natarakkana Sawerigading selluk masiga le ri awana palonnyang nge/ Sese alena pallonyang nge/ Nacabbengi ni menek datunna sappo sisenna/ Kuwa tasseppi le ri urekna pao
- Jengki e/ Natallo rio Langi Pawewang ronnang malai mene datunna sappo sisenna/ Nainappa si palele tudang le ri urekna daeko cani saramai e/ Napemmagga i mene datunna sappo si senna/ Kuwa tassellek le ri urek na daeko cani saramai el Na tallo rio Sawerigading ronnang malai menek datunna sappo si senna napaenrek i le ri luseno pao jengkie/ Napasi tutuk le madecengngi mene datunna Pallawa Gau La Sinilele/ Nainappa na Langi Pawewang napijeki wi kanari jawa sappo sisenna/ Narumpui wi le dupa rasa/ Narawuki wi siri atakka ri ataunna/ Tellek araso ri abeo na/ Kuwa danna Langi Pawewang tok kokko mai kaka La Gau La Sinilele/ Mellek na muwa ininnawam lewu tania wellek baritu appeddengemmu mulewuri wi/
- Temmutaro ni ri nawa-nawa musu arajang ripatiijatta/ Alang kiligga La Sinilele Pallawa Gau/ Rampel limanna Rampengngaje na/ Natassinaung ininnawan na Langi Pawewang tuju matai sappo sisenna/ Meppean ronnang watanna lewu La Maddukkeleng lewu siluse bakke datunna sappo sisenna pakkaluri wi le pab bessoreng wanguk kellonna sappo sisenna/
Teri makkeda La Tenri Tappu labuka labu le ri kakaku/ Labuka labu ri sappo siseng rirennuwakku/ Alliri musu tettattenrekku ri appasareng padan rukkae/ Teri makkeda La Maddukkelleng La Gaue La sinilele/ Puppu tikkana mattampa-tampa le ri seddemu temmu balia ada silappa/ Pangung maccokkong La Maddukkelleng pawakkangngi mene datunna sappo sisenna/ Saulari wi boci sitonreng sesumangek na/ Teri makkeda Langi Pawewang La Gau e La Sinilele le/
- Usa juri tongekko pale/ Nacukuk muwa Langi Pawewang mattutu rupa sappo sisenna/ Sappurusiwi turun rupanna sappo sisenna Teri makkeda Sawerigading tuwoko mai kaka La Gau La Sinilele ri mapaddenna bannampatimmu/ Ajjappa tokko ri temmanyamenna paricita mu le/ Nanre muwa Topalanroe tedong camara mattanru kati natettongi e awo/ Nasaka jawi sungek mu riga reno i katemmu kati le narisampo leppe patola/ Naerekku wa le mamasei Topalanro e tarewek lempu ri Ale Luwu/ Kutarowak ko le buppalallo/ Kupadarak ko awana langi menek na tana kaka La Gau La Sinilele
- Nainappa na Pallav.a Gau La Sinelele rampeng limanna rampeng ngaje nam. pangung maccokkong. / Mawelek muwa le panyayilik na nataddakka-rakka La Tenri Tappu pakkaluri wi le pabbessoren wanguk kellonna sappo sisenna/ Palari solo uwae mata mabbalobo na I Teri makkeda Torisinau Pajullakko we ri Ale Luwu Tomappamene wara-wara e ri Watampare/ Tijjanno mai talao ri appasareng padan rukka e/ Tanennungi wi paddampu-rampu To palanro we/ Linge tassisem pekkaduwan na sangiang ne le ri
- watatta/ Apa tudanni ritu ponratu datu kaka ta La Pananrang La Massaguni le iya maneng sapposiseta tudang mattajeng ri appasareng padang rukka e le/ Tabali wi musu parimeng To Rimpa Langi/ apa teawak kaka La Gau .La Sinilele tunru mannganro ri appasareng padan rukka e/ Nawettana gi menek datukku La Rumpa Langi/ Nasereaggi akkalilireng passigerak
ku La Scssun riwu/ Kurumpuwaggi langi lipuna ri Rumpa Mega/ Teri makkeda Pallawa Gau La Sinilele/ Keruk jiwa mu anri Dukkelleng/ Rini sumangek tori langi mu/ Ala iyo e anri marunu wesse katimmu ri tengnga padang/ Elli ale mu sia natuling to Palanroe/ Sapi watammu naengkalinga sangiang nge/ Ala iyo e mangnganro ri appasareng padan rukka e/ Teri makkeda La Tenri Tappu le engkapa ga kaka ponratu jowa nasesa tudang
- ri Iino/ Pura manengngi sia watena le naparisi ri lalekkati paddengeng nge/ Kuwadanna salareng nge tijjanno mai anri La Tenri Tappu kusalikkikko/ Apa tudanni sapposisemmu anri mat tajeng ri appasareng padan rukka e/ Natarakka na Langi pawewang massappo siseng/ Nari salikki le ri kaka na salareng nge/ Mirinni ro bajeng tengkiling mola lawangeng/ mola elek i le ellung nge/ Sampeangi wi le ruma e/ Natakkaddapi salareng nge ri appasareng padan rukka e/ Lesso masiga ri sinrangen na Sawerigading massappo siseng/ Mirinni ronnang salareng nge/ Kuwa danna Pallawa Gau Appangara o Panrita Ugi tettek rukka i genrong nge/ Muita sai worowane na worowane/ Sola sola na sola-sola e ri tengnga padang/ Telleppek ada madecet topa Pal lawa Gau natarakka na Panrita U gi tettek rukkai le genrang nge/
- Kuwa danna To Rumpa Langi/ Tarakka sao La Sessun riv.u/ Lao saliweng ri minanga e/ Mupaenrek i tori rappa ta ri langkanae/ Natarakka na La Sessunriwu/ Tarakka toni rijajianna Guttu Tellemma patappulo we masselingereng/ Palili bessi ri tunruwana to morala e tanra-tanranana Datu Pakiki/ Ora Pasaka/ Paddengeng nge/ Peresolae/I Lasuwala/ I Labeccoci/ To walebboreng/ Pulakalie/ Masissi maneng to maega e ri Rumpa Mega/ Lao saliweng ri minanga e/ Ala maressak le merae na takkaddapi La Sessunriwu sepajjowareng ri tanete/ Napemmag gai i ronnang ngalau pajun rakkile annaungen na Sawerigading Kuwa muwa ni dettiam pellang rituju mata le attappa na/ Kuwa danna Datu Pakiki/Pekkuwa nagi nawa nawam mu/
- La Sessunriwu Lette Mangkau/ Teppea jengngi sia kunyili riala rappa tori wakka e/ Temmanganro pa Sawerigading/ Tenri
pasoro pajun rakkile annaungen na/ Kuwa muwa ni tikka mammula cabbeng nge rinyilik le attappa na le/ Nasamanna detia pellang le ripemmaga/ Kuwa muwa ni guttu sebali addaneddek na genran rukka e/ Kuwa danna La Sessun Riwu/ Napamalingnga Datu Pakiki to ri wakka e/ Uwasengngeng ngi bela mapaddeng bannam patinna le iya maneng/ Mau semva le temma paddeng bannam patinna masuwa to nasangadinna riaseng nge Savverigading La Maranginang le temma paddeng bannam pat inna le/ Na pajaneng mapaddem madeng bannam patinna to maega na/ Na iya ritu riascng nge La Pananrang La Massaguni pajanen ritu le upaddengi bannampatinna riaseng nge La Pananrang La Massaguni Pallawa Gau/
- La Sinilele/ l)ana ro datu warani le sekuwa e le/ Namapaddem manenna ro bannam patinna/ Mattunreng ngada Lette Mangkau ronnang makkeda iya wate na palili bessi ri tunruwan na pole ri ja,..,a le tombongi wi/ Nasikadong ukka timunna masselingereng/ Kuwa danna La Rumpa Langi angatta nao bela parimeng pabbaranie/ Atikeri wi lao musu mu/ Ajak labela mupappada i musu ri olo/ Apa iyana tasitujuwang \orowane na worowane/ Sola-sola na sola-sola e ri tengnga padang/ Nagiling ronnang Palla \a Gau napemmagga i pajun rakkile annaungen na La Rumpa Langi/ Kuwa lllll\a ni \ero rakkilek le attappa na ri tuju mata/ Kuwa danna Pallawa Gau rini ni mai anri Dukkelleng La Rumpa Langi/ Mabbalinono pajun
- rakkile annaungenna/ Kuwa danna Sawerigading/ Angatta nao kaka La Nanrang La Massaguni La Sinilele/ Atikeri '' i Lao musu mu/ Tassola-sola maneng labela ri padan rukka marowae apa teawa tunruk manganro ri appasareng padan rukka e/ Pak kuling ngada Langi Pawewang engkalinga i matu adakku le idi maneng massappo siseng/ Ajak narini bela maelo le bakke tuwon rewe ri Luwu/ Seuwa sungek tammanengi wi naidik maneng massappo siseng/ Nagalin ronnang pakkaluri wi le pabbesoo reng wanguk kellon na datu anrin na/ Teri makkeda I La Datunna/ Ajak mutijjang anri Dukkelleng mallallo tebbak le/ Kuelorem muwao sia tudang sanreseng nasekko pajung/
Mellauanngik laleng ri ola le ri dewata e/ Napo sanreseng nawan awao sappo sisetta iya maneng/ Nasangadinna anri rekkuwa natunai yak langi mammusu
- le/ Nari wetta bela parimeng mene datukku risereaggi akka lilireng passigerak ku le/ Muinappa mabbarang ngelo le ri munrikku/ Apa teai ininnawakku tuju mata o mawing turnea/ Tenreng passoreng ri appasareng padan rukka e/ Teri makkeda Torisinau Pajullakkowe ri Ale Luwu Tomappamene Wara-Wara e ri watampare/ Teawak sia kaka Datunna tudang sanreseng nasekko pajung/ Tarowak tijjang mallollo tebba/ Nae rekkuwa kaka La Gau temmu turuk ka sawung tumea tenreng passoreng/ taro muwanak monro ri munri kalawingakko salenra lakko accellakemmu/ Nae rekkuwa natunaiyak langi mammusu le namapaddeng bannapatikku le iyo maneng sappo sisekku le kuri aseng tupunyumpareng pada datummu le nari wetta mene datukku nassama samang
- loseng bakke ta ri appasareng padan rukka e/ Ajak ta masing mattekka tungke ri pammassareng/ Kuwa muwa ni bunne marunu uwae mata mabbalobo na sappo sisenna Sawerigading le iyamaneng mengkalingai wukka timunna le anri puwang tori ran renna/ Teri makkeda La Sinilele nasi tunrenged duwa makkeda La Pananrang La Massaguni magiro wae anri Datunna temmu turu i tijjang nganritta mallolo tebba/ Mawing tumea tenreng passo reng/ Nasikadong \vukka timunna massappo siseng to marajae Na samat tijjal le anak datu to Ware e ana karul le Luwu e/ Tarakka toni Sawerigading/ Sitarakkaseng Pallawa Gau/ Tuppuni batu Lamaddukkelleng/ Mallejaki ni leppe patola Langipa wewang/ Sessuk nassompa wali makkeda ri botillangi maduwam pale ri ruwa lette mannyiwi wali ri uri liu/ Nainappa na ri patarakka
- Sulekka kati manurung nge ri Ale Luwu/ Ritumpu toni genrang pulaweng pammusu e/ Kuwa muwani lette pareppa sammeng korana le Luwu e to Ware e/ Napada kuwa tona solori to senrijawa to napassadda to ruwa lette/ Mattengngai wi bal i mullapi lapiseng nge/ Nasi duppa na La Sessun Riwu Lette Mangkau/ Pattumpu tedo ng kanna lakko na/ Nasi tangkak si le
tebbak e Pole abeo La Sinilele tettuwangngi wi kanna olo na La Rumpa Langi Lette Mangkau/ Kuwa danna La Sinilele/ Tijjak ko mai La Rumpa Langi/ Na idik beta sipaduppai rampu kalameng palattuwitta ri tengnga padang/ Makkeda muwai ritu aliri musu passola-sola ri appasareng padan rukka e/ Mabbali ada La Rumpa Langi iyo makkeda alliri musu passola-sola ri appasareng padan rukka e/ Iyyak makkeda
- Alliri musu rirennuwannan cajiyangngengngak/ Benteng taletu tettak tenrenna ri Rumpa Mega/ Nacabbet tona La Pananran La Massaguni mokko tonanges sari merana/ Tenre pangulu wara wara na mangnganjarakang bessi jawa na ronnang makkeda/ Tijjakko mai maelok el Tasippasareng rampu kalameng palattuitta ri tengnga padang/ Iyak belammu La Pananrang/ Sampu pammesso temmalulun na Sawerigading le/ Tabbutturenna lari tau we ri Tana jawa/ Nacabbet tona Datu Pakiki/ Ora Pasaka mappasiduppa rampu kalameng La Pananrang/ Nasi tankak na le tebbak e/ Sikore wette pabbarani el Kuwa muwa ni \Vero sianre rampu kalameng palattuin na ana datu e le wali-\vali/ Sitimpa dada to malolo e/ Nasi galenrong lekko malela joa biasa ripallaga e/ Kuwa mll\va ni guttu sebali raremmeng karma
- ulaweng nge/ Na saman na wenno pangampo wali tattere batangeng nge le wali-wali/ Kuwa muwa ni sampe maruttung./ Lao paddawu bessi jawa e/ Kuwa muwani Sawerigading riwu teae ri assimangi le/ Nasamanna jonga takkau lampa tassala/ Oje tellejjak tana rinyilik ujung ngaje na mawing lengeng ngi kanna ulaweng ngalinru11gen na/ Tabbosam posang banranga tile ritenren na/ Marewo dangnga m. uwa ri tuling gellam pulaweng le ri aje na/ Pettu-pettu geno ri rumpa le ri aro na/ Mokko tonanges sari merana/ Tenrek pangngulu wara-wara na/ Taddak karakka La Massaguni La Maranginang La Mattoreang Lasadakatim pali \ali wi datu anrinna/ Nawassung gelli La Maddukkelleng mattengngai wi bali mallapi-lapisengnge/ Nasiduppa
- La Sessunriwu La Rum pa Langi Lette Mangkau tuncuki wi jari turun rupanna Langi Pawewang ronnang makkeda sommes sommemmu tori wakka e ritu I Maelo pabbokoriak kanna
ulaweng ngallinrungemmu le/ Temmutedong ritu kalaki e/ Tebburungetto patanruk mu/ Tessiwiccangetto pa juku mu Langi Pawewang/ Pak kuling ngada Lette Mangkau/ lyami sia kuwaseng nge beta madeceng/ Tunruk no sia beta manganro ri appasareng padanrukka e/ Kuwatuwo ni pengemmeremmu massappo siseng/ Kupaenrek ko ri langkana e le/ Kuwalao pangngurum manuk/ Kupo rappa i wakka ulaweng ripolalemmu le/ Tainappas sompe alau ri Tana Jawa/ Panyilikiyak lipu malakka ri wekkeremmu le/ Kunyili i tori rappa ku/ Nae rekkuwa temmaelok ko tunru manganro ri appasareng padan rukka e/ Kupaddengi wi bannam patimmu massappo siseng/
- Kuteke lajuk sai ulummu kupaenrek i ri langkane e saolette pareppak e ulu dattumu le/ Kuwalai sellekeng bila cokgo ingek mu/ Naiya ritu sappo sisemmu le iya maneng le/ Kuwalai ulu datunna le akjellereng tanringeng lebbi risettu wakku/ Natallo bacci Sawerigading mengkalingi ukka timunna Lette Mangkau/ Kiling Mammiccu lampe makkeda Pamadel Lette Apperupa o Lette Mangkau/ Appetappao La Rumpa Langi/ Maga rupanna Sawerigading maelok e tunru manganro ri appasareng padan rukka e/ Pakkuling ngada Sawerigading/ Seratu sia pessewalinna tettin carikku Lette Mengkau/ Alas sompa e padanna datu/ Tenrek bati ku tunru manganro ri appasareng padan rukkae/ Ala naisseppaga bajae Sawerigading tuncuki jari turun rupanna Lette Mangkau/ Nappasibollom miccu
- makkeda Sawerigading temmanao na sia linro mu Lette Mangkau beta/ Maelo mala rappawak massappo siseng/ Tenna polo pa le passoronna bessi banranga le ri tenrekku/ Temma lengo pa le pangngulu wara waraku massappo siseng/ Na baranna matti labela le ripa lesso akkalireng passigerak na/ Mabbali ada Lette Mangkau/ Temma naona sia linro mu Langi Pawewang rampeang ngak sikkireng kanna tenreng passoreng ri tengnga padang/ Manuk lolowe mubitte waru massappo siseng le/ Muma sommeng matteppa timu/ Natallo bacci Sawerigading pattumpuk tedong kanna lakko na malluru
sesumangek na beo atau/ Kuwa muwani Langi Pawewang tompelari e utti lunrara/ Rebba sisuli
- tori wetta el Lewu siapping tori poso e nacidda e rampu kalameng/ Kuwa muwa ni solo mallari assaliv.·enna ceroe/ Mattonrom pali alamen mana sesumangek na Ware/ Laos soro ni La Rumpa Langi Lette Mangkau/ Natijjan ronnang La Maddukkellen ri tanetc/ Mokko tonanges sari mera na le/ Nagettengngi taiya tabbulettunna le ammessoreng gading ri wisa risoean na/ Natuddui wi tanete lampe natettongi e/ Marewo dangga muwa rituling gellam pulaweng le ri aje na/ Mapettu pettu genorirumpa le ri aro na/ Tappali pali bocis sitonra sesumangek na ronnang makkeda/ I tawak bela kaka La Nanrang/ Pemmagga towak La Massaguni/ Saile towa kaka La Gau munyilik tmvak La Sinilele/ pada itao le worowane passola sola temmaneng ngae moloi musu ri
- appasareng padan rukka e/ Rekkuwa kaka La Gau La Sinilele nataluruni bali Olo mu/ Mappura peddik are na sia/ Kutaropura toni ponratu pangemmerek ku ri tanete/ Pakkuling ngada La Tenri Tappu/ Nyilik ka bela kaka La Gau/ Saile towak le iyo maneng sa"ppo sisekku/ lya anrimmu La Maddukkelleng benteng matanre rirennuwam mu/ Alliri musu tettattenremmu/ Tak butturen na lari tau e ri tengnga padang/ Kuwa muwani bunne maruna uwae mata mabbalobo na le iya maneng sappo sisen na Opunna Ware mengkalingai ukka timunna anrinna/ Nagalin ronnang Sawerigading massarampakang ngalamem mana sesumangekna massappo siseng/ Natakappo na La Sessun Riwu masselingereng Datu Pakiki/ Ora Pasaka/ Nari lewo na Sawerigading massappo siseng/ Ri temmu libu le ri balin na/ Monro tengnga ni Langi
- Pawewang massappo siseng/ Tenri taro nim minung nguwa e le Luwa e to Ware el Sekuwa toni temmangedda na oni pabbettu sappo lipu e le wali-wali/ Kuwa danna La Sessun Riwu/ Sompao bela tori wakka e.t Angnganro tokko Langi Pawewang/ Kuwatuoi pangemmeremmu massappo siseng/ Ajak tatijjang bela sillawari tanete/ Tapappurai bela musu ta/ Cabberu muwa Sawerigading ronnang makkeda sompaga sia le langi e/ Mang.anro tokga peretiwi e/ Kulemmanganro/ Tattenret togga tanete lampe ku
_
tettongi e/ Kulettattenreng ri tettongekku/ Natallo bacci La Sessunriwu pattumpuk tedong kanna lakko na/ Kuwa muwani Langi Pawewang riwu tea e riassimangi mabbelerangngi alameng mana sesumangek na/ Kuwa muwa ni wero s1anre rampu kalameng palattuinna ana datu e
- le wali-wali/ Laos soro ni La Rumpa Langi/ Lari lampe nipaddengengnge/ Naiya muwa tenna riwetta mene datunna La Sessunriwu/ Wekganna muwa datu Pakiki taddakka rakkap pasero kiwi kanna ulaweng tori dulun na/ Nalaowangngi ronnang masiga ri saliwenna le batara el Lari lampe ni La Rumpa Langi sipajjowareng/ Mau seuwa tettong taddagga masuwa to/ Ripappeppen ni sulekka kati manurung nge ri Ale Luwu/ Ripalawanni pajum perune annaungenna Guttu Tellemma/ Tenna tabbuttutopaola e ri takkala nam mala tettongeng Langi Pawewang mas sappo siseng/ Mangenre senri muwa gellin na Torisinau Pajul lakko we ri Ale Luwu To Mappamenc Wara Warae ri Watampare/ Mappasipopok kanna ulaweng ngallinrungenna siselloreng bessi jawa/ Ala naisseppa ga baja e Pamadellette selis-selinga belo musu na/
- Tappali pali bocis sitonra sesumangek na/ Mabbosam posang banranga tile ri tenrenna mappasiduppa rampu kalameng lette Mangkau La Sessunriwu massappo siseng/ Ripallawa ni pajum perune annaungen na Torumpa Langi/ Mappeppel lampe La Maddukkelleng massappo siseng/ Nari patakkappo Guttu Tellemma ri lapi ellung/ Riabbusseren ronnang muttama ri ellung nge sinrangem pero ripolalenna Torumpa Langi/ Taddakka rakka le ruma e buwang ngale na ronnang masiga le/ Nalawai Opunna Ware/ Mangenrek senri muwa gellinna Sawerigading tuju matai le ruma el Tijjang mallawa le ri olo na Towa Panyompa/ Makkeda tau le ruma el Mette to lino le ellung nge ronnang makeda addampenna o anri we Lael Angngala soro nao Dukkelleng apa lari ni datu puwatta Torumpa Langi lao muttama ri lapi ellung/ Masai muwam
- Pukka timunna La Maddukkelleng/ Baliwi ada le ruma e/ Nappa sibollom miccu makkeda sese ale mu le ruma el Ajak mutijang beta mallawa/ Kuwola sai La Rumpa Langi masselingereng/ Ku teke lajuk sai ulunna/ Kusereangngi akkalilireng passigerak na/
Kucerakangngi jonconges soda ripolalekku/ Kusappek towi bela timunna masommeng nge matteppa timu le ri watakku/ Mae lok e mala rappa wak massappo siseng/ Madimeng nge bela malai sellekeng bila cokko ingekku/ Pakkuling ngada La Maddukkelen ronnang makkeda iyaga ro kaka We Ruma naleng mangala soro gellikku nalemmaggangka sai -;amona ininnawakku/ Mabbali ada le r uma e ronnang makkeda amaseangnga anri La Tappu/ Murampeng gelli/ Mupaggangka i sai sarno na ininnawammu/ Murewek lempu ri minanga e/ Tulikko ada anri ia Tappu Engkalingao
09 l. Pappakainge tori saliweng/ Temmatau go anri rnabusung ri pu\an nene to rilangi mu/ Temmalarangeggao kapappa ri amaure sappo sisenna datu puwattan cajiyangngekko/ Ala \ed ding ga Sa\erigading mangkalinga i ada pangaja tori Mangen re senri muwa gcllina La Maddukkelleng 1najallekl-;ai le ruma e/ Mola lawangngi le ellungnge/ Mola batei Guttu Tellemma ri sinau na le batara e/ Sakko makkeda La Maddukkeleng/ Tenre sirimu La Sessunriwu masselingereng/
l.ari mabboko tessai lei pajun rakkile annaungennan cajiyangngel-;ko/ Giling kanna mu bela parimeng/ Naidi bela sipadduppai rampu kalameng/ Map puli-puli ri sinau na le batara el Natallo bacci Torumpa Langi mengkalinga i ukka timunna Langi Pawewang/ Kuwa danna Torumpa Langi tenrek sirimu mennang labela to maega riRumpa
092. Mega/ Mutean rewe mappuli puli datujav.a e/ Mauko lari taniko to nasekko pajung ri Rumpa Mega/ Pakkuling ngada Guttu rellemma/ Kuwasengngekko La Rurnpa Langi masselingereng datu warani/ Masuwa sia paduppaiyo rampu kalameng palattuinna/ NadaLu jawa 111uwa palae maelo ep pabokorio kanna ulaweng/ Mulari lampe masselingereng datu Pakiki Ora pasaka paddengengnge Pero Solawe I Lasuwala I Labeccoci Towalebboreng pula kali e/ Nassama samang kiling kanna na mappasiduppa rampu kalameng pasippopok i kanna ula\eng allinrungen na/ Kuwamu wani tedong rnattumpu kanna lakko na ana datu we/ Sisello rang ngi hessi paddawu mappana guttu ba 11 i I ik e/ Lattuk ri langi raremmeng kanna u lawengnge/ Laos soro ni saloko kati le rijujunna pabbarani e/ Ala naisseppa ga baja e Sawerigading mattengngai wi
- bali mallapi-!apiseng nge/ Massarampakang ngalameng mana sumangek na/ Kuwa muwani ile takkajo alamem mena risoean na Langi Pawewang/ Manajan ratu tori wawa na Datu Pakiki napasi asel le sianauna le batara e/ Lari lampe ni Torumpa Langi sepajjowareng ri sinauna le batara e/ Taddakka rakka Guttu Tel lemma sawun rakkile/ Paluwak luwak api dewata/ Mangenre senri muwa gellinna Pamadeng Lette le mattonceng -ngi mega makkatu/ Majjalekkai ruma mangkompong/ Mallejjaki wi le ellung nge/ Nawakkasang ngi le dariora senonnorenna Batara Guru Makkatawareng ri Ale Lino/ Napadengi wi api dewata malluwak e/ Lari lampeni Torumpa Langi sepajjowareng/ Ala engkaga wedding teddagga ritettongena/ Lari matteru Guttu Tellemma ri botillangi/ Namasuwa na tau nanyili Sawerigading/ Nasailei ri ataun
- na ri abeo na/ Napemmagga i le ri munrinna le ri olona nawasuwana tau nanyili tettong maddagga ri tettongenna/ Kuwa danna pallawa wi mai cabbenna La Sessunriwu/ Nasikadong ukka timunna to marajae massappo siseng/ Kuwa muwani lette pareppa sammeng korana le Luwu e to Ware e/ Naritumpuna genrang rukka e/ Natarakka na Sawerigading massappo siseng mola lawengeng le ellung nge/ Majjalekkai mega makkatu/ Sampeangngi wi le ruma e napolalengngi ronnang mattoddang i pajun rakkile annaungenna Langi Pawewang/ Kuwadanna Lette Mangkau rewek ni sawe Langi Pawewang ri minanga e/ Kll\va muani tikka mammula cabbeng rinyili dettiam pellang le ripemmagga le at tappa na pajun rakkile annaungenna/ Natassinau ininnawan na Torumpa Langi
- ronnang makkeda napada pada ronnang kunyili pajun rakkile annaungenna selingerekku datu manurungngede ri Lu\vu/ Makddepa e ri lappa tellam pulawengnge/ Bara wijanna sia labela sel ingerekku Batara Guru/ Ku la bu sia pabokori wi kanna ulaweng ngalinrungekku/ Natengnga tikka mawaji muwa natakkaddapi ri minanga e Opunna Ware massappo siseng/ Natallo rio we Ampa Langi/ I We Salareng/ Tuju matai le ana datu ripawekkek na/ Natarakka na puwang ri Luwu puwan ri ware tijjang mattajeng ri pempolana joncongengnge/ Rikalawingang panampeng lakko nalebengi e wenno ulaweng/
Taddakka rakka puwan ri Luwu puwan ri Ware pakkatenn i wi rikowi potto Sawerigading/ Terreangi wi we11110 ulaweng/ Kuwa danna puwan ri Luwu nasitunrengeng duwa makkeda puwan ri Ware keru jiwa mu ana La Tappu massappo siseng
- Cabbeng sumangek to ri langi mu/ Enrek ko mai ri joncongemmu/ Laloko tengnga ri jajarenna wakka wero \ve/ Nainappa na Tori Sinau Pajul Lakkowe ri Ale Luwu To Mappamene warawarae ri Watampare/ Sawem mampae sussreng keno/ Lete ri ati potto cekka i baratek kading/ Lalo maccokkong ri pempola na \vakka wero we/ Timpa salenra guttu maccella mota nyamengngi ininnawanna/ Nalesat tikka mawajik muwa nasini baten rewe parimeng ri lolangenna sepajjowareng/ Pangere tudang le riba ruga pareppak e/ Kuwa danna Punna Lipuk e ri Rumpa Mega assaliweko Palisu Langi le/ Musitinro Laoddam Pero lao saliv·•eng ri minanga e/ Pejeppui \ i tori wakka e/ Naerekkuwa ri jajianna tongel labela Batara Lattu paddai asem pekkaduana selingerekku Batara Guru
- ronnang ri Luwu le/ Palekengngi le waramparang Tanrereangngi le sebbukati sorongang riwule/ Namanyameng ininnawan na tori wakka e massappo siseng/ Makadoiwi Palisu Langi wukka timunna le anri puwan to riranrenna/ Natarakka na mennang duwa c/ Pitu sitinro/ Matteddup pute muwa nalao joppa masiga sowa marakka/ Ala maressak le mera el Natakkadappi ri mi minange e suro datu we/ Napolet tijjan ri ujun tana pelagunae Sessuk nassompa wali makkeda palisu Langi/ Keru jiwamu toma raja e/ Usompa wali alebbiremmu makkejoncongem pulaweng nge Padammu datu mai surowak Torumpa Langi/ Amaseangngi ponratu sekkarajamu marampeangngip potunek ekko/ Pega tongengga lipu malakka riwekkeremmu/ Naranruki e laju tinio sesumangek mu/ Mau seuwa baliwi ada
- Masuwa to/ Pakkulingngada Palisu Langi nasitunrenged duwa makkeda Laoddam Pero/ Amaseangnga to ri wakkae le/ Mubalia ada kurewek palattu ada ri anri puwang to riranrekku/ Ala engkagab baliwi ada suro datu e/ Na wekkatellup pakkulingngada tenna ri bali ada selappa/ Rewek ni sawe to risuro e/ Mattowu towu lalo muttama ri Rumpa Mega/
Natakkaddapi tuppu addeneng baruga gading/ Sampeam palisussureng ngoling/ Majja lekkai panapel lette lejjak palapa le remmanremmang/ Conga marakka rakka makkeda Guttu Tellemma/ Irate mai Telettei Langi lalo mutudang Laoddam Pero massappo siseng ri mene wele bariyu lakko rakkilek e/ Lalo maccokkong mennang duwa e ri mene welle baritu lakko rakkilek e/ Kuwa danna Torumpa Langi/ Kupetekkoko tori torawe gilingeng ngada ri Rumpa Mega/ Kusapa bara tokko
- lenna To Rumpa Langi/ Pura sakani pajum perune annaungen na Natarakka na Punna Lipu e ri Rumpa Mega/ Sawem mampae sussureng ngoling guttu/ Nalalo ronnang mattoddang/ Natarima i sinrangem pero ripolalenna/ Ripasekkoreng pajum perune annaungenna/ Lao riolo sappu katie/ Monro rimunri ballilik e/ Monro rimunri tomabbanranga ulawengnge/ Nari soppona/ lao riolo pabberoni e/ Risalangkani tanjong sanrangeng tudengemmiccu akkeppeangeng bakke mera na Torumpa Langi/ Tunruk ni lao le passalangka sinrangngenge majjalekkai mega makkatu/ Mola lawangngi le ellungnge/ Sampeangngi wi le ruma el Conga mabboja Pallawa Gau/ Napemmagga i pajum perune annaungen na Punna Lipu e ri Rumpa Mega/ Kuwa danna Ila Datunna/ Rinimai anri Dukkelleng datu puwatta Guttu Tellemma/ Mananjak ketti muwa sitinro/ Kuwa muwani esso manawo I 00. Dettiam pellang le attappa na pajum perune annaungenna/ Mabbali ada Torisinau Pajullakko e ri Ale Luwu Tomappamene warawara e ri Watampare ronnang makkeda ajak labela le iyo maneng sappo sisekku marakka rakka bali wi ada datu puwatta Guttu Tel lemma/ Temmanyamengngi ininnawakku napannyiwi kitenri nyilik ku/ Mau seuwa bakke jowa ku masuwa to kutuju mata/ Pura maneng ngi sia wate na le naparisi rilalek kati paddengengnge/ peresolae/ Pakkuling ngada Langi Pawewang/ Nabaranna datu le ri panganro wukka timunna/ Teccappu topa/ Rampe rempena Sawerigading massappo siseng/ Nacabbet tona To Rumpa Langi/ Solompawoi le ujun tana palaguna e/ Ri paraddek ni sinrangem pero ripolalcnna Punna Lipue ri Rumpa Mega/ Ritole toni pajum perune annaungenna/ Natarakka tona Guttu Tellemma maranak Palisu Langi
I 0 I. La Oddam Pero lete ri ati potton cengkai barateng kading/ La lo maccokkong ri jajarenna wakka wero we le ri olo na Langi Pawewang/ Reso alena Sawerigading le/ Maccuppirik ronnang mabboko/ Kuwa muwani ellum mangenre turun rupanna Langi Pawewang tuttum matai Punna Lipu e ri Rumpa Mega/ Kuwa danna Guttu Tellemma/ Pakgangka sani kamo ponratu sai samona inin nawammu/ Tasirampeang wija ri langi/ lnai tongeng po anekekko/ Pega tongegga lipu malakka riwekkeremu naranruki e laju tinio sesumangek mu kawalaki e/
I 02. Rampeangngak potunek ekko/ Rampeang towak mai asennan cajiyangngekko/ Apa pusani bela ri laleng ininnawakku nawanawai sawe mun rape ri saliwenna le langi el Mukawalaki maneng ku nyili sepajjowareng/ Temmu matike palalo wakka ri saliwenna le langi e/ Lalo mattengnga ri assabureng pallonyangnge/ Pak kuling ngada Guttu Tellemma/ Iyana ro kamo ponratu nak uwaweggang pakkutanaku/ Masuwa sia tau palalo wakka ulaweng ri wiring langi enrek taniya tune wijanna ri botillangi/
i 03. Pakkuling ngada To Rum pa Langi ronnang makkeda naiya muwa nak U\a \eggang pakkuiana ku/ Apa eppa mi kuwissengnge ripa nurung nonno ri lino/ Ri Ale Luwu mi kuwisseng maddeppak e ri lappa tel lam pulawcng nge/ Naiya ro ri Tompo Tikka polalengnge le aju wara lakko ritungo/ Naiya tona ri Wewan riwu polalengnge Tojampulaweng/ Naiya Iona ri wide! langi pola lengnge le tarawu e pitun rupa e riasengnge Talettu Sompa/ lyami ro le sekuwa e le ri panurung 11011110 ri lino/ Peganaro kamo ponratu le powija o/ Amaseangnga kawalaki e le murampeang tongengngak mai potu1iek ekko le/ Siulo maddampe rampe nasi uloreng tanra tanratta/ Nasicokkongeng kaliao ta/ Tasi potanra ri peri nyameng/ Tappasengangngi ana rimunri aja na rini le sisumpala wukka timunna/ Alam mettek ga Sawerigading/ Ala nabali ada
104 Silappa datu puwanna/ Kuwa danna La Sinilele/ Magiro \ae/ Anri Dukkeleng/ Temmubali wi ada puwatta To Rumpa Langi/ Temmatau go anri mabusung ri tomatowa/ Temmalarangeggao kapapa ri selingereng to rilangi na datu puwatta Maddeppae ri Lappa Tellang pulaweng nge/ Mutea sia pallempurengngi ada
SI
puwatta/ Mabusung ngai anrik We Lawe/ Pakkuling ngada La Sinilele ronnang makkeda tulinni matu puwang ponratu kurampeakko potunek engngi datu anriku/ Rijajiana ritu ponratu/ Batara Lattu ronnang ri Luwu/ Sebbukatina we Datu Sengngen ri Tompo Tikka/ Paddai asem pekkaduwwana Tarubbela e/ Mellai bini pattola colli riporio na Datu Puwakka Batara Guru Manurung nge ri Ale Luwu Maddeppa e ri Lappa Tellam Pulawengnge/ Pakkuling ngada La Sinilele/ lyana ro datu anriku Pallawa Gau ritella e
I 05. I La Datunna rijajianna Datu Puwakku ri aseng nge We Addi Luwu/ Sebbu katinna I Laji Riwu ri Wirillangi/ Natassinaung ininnawanna To Rumpa Langi mengkalingai wukka timunna Lasinilele/ Takkelek kellek paricitana/ Natudam muwa Guttu Tellemma le takka jennek/ Pasiselluwang tettin carinna makkitateru lawas salima/ Sala nabettu ronnang tana e le ri tengnga na pallonyang nge/ Nawa nawai gauk takjuru tappaliwenna ri pattola na selingerenna/ Maittamani le nainapan rampeng mawaji paricita na Torumpa Langi/ Kiling makkeda Torumpa Langi Tokke tana e palae Palisu Langi pasere wakka ri lolangenna ri Rumpa Mega/ Pakkuling ngada Punna Lipu e riRumpa Mega ronnang makkeda keruk jiwamu La Sappe Wali alebbiremmu Rini sumangek tori langi mu Datu Tunruwang awa na langi menek na tana/ Ajak ro matu Kati Ri Luwu.
Lebbi ri Ware I Mupotassittak ininnawai kuduppaimu parewamusu /Naiyo nuwa maseng ngalem le datu jawa le /Nama teppe ininnawanna ama tanian cajiyang ngekko /Tenna isseko le na powija /lyana ro Kati Luwu Lebbi ri Ware mubillang ketti Taro nmvao le usorongang le sebbu kati soronganriwu ri pa salanna amauremu ri mabongngo na mannawa nawa ri makanan na mapparicita/ Resso ale na Langi Pawewang/ Cuku mammicu lampe makkeda palari solo uwae mata mabbabolo na /Pasiappok i tudangem miccu salenra guttu accellakenna/Marengek muwa pukka timunna ronnang /Makkeda iyana ritu nari guliga nawa nawa e/Nari papenni Paricita e /Naddewe dewek pakkutana e na mau tona sia makkeda datu jawawak mai kurappeng I Waniaga wamai kusore le I Sitinaja.
Muto ro sia maddewe dewe pakkutana mu I Pakulling ngada Langi Pawean ronnang I Makkeda ala iyana sia mutaro rinawa nawa le makkeda e masuwa sia maip polaleng wakka ulaweng /lnai to anak tolino maccowa cowap palalo wakka uleweng ri wiring langi /Pattengngai wi wakka maddiwu ri assabureng pallonnyange enre tanisune wijanna manurungnge ri Ale Luwu Tunek nagi ri Uri Liyu I Namellek muwa ininnawammup paduppai iyak rampu kalameng /Pakkulingngada La maddukkelleng /Tania ritu waramparammu kutangkek siri / Cukuk mammiccu lampe makkeda Sawerigading /Riagi ro datu jawa e le rirarnpeang sebbu kati sorongan riwu /Kipo mabusun rituk kuwa e ri lolangekku le /Cukuk rnuwa cebberu Torumpa Langi ronnang makkeda keruk jiwa mu.
- Kati ri Luwu /Cabbeng sumangek tori langimu I Ala iyoe anak rnabusung le rirampeang sorongan riwu ritanrereang le sebbu kati I Amaseangngak sia ponratu /Munyangiwi ininawarn mu I Kupaenrek ko ri langkana e I Muparisi wi ri lalekkati lengnge tanamu ri Rumpa Mega/ Kutarawakko le buppalallo I Kutenrowakko le wala '.Vala I Kupadarakko awana langi menekna tana I Musitudangeng nakkola ketti riawa cempa I Kutujuwakko le pabboto mu I Mangenge senri muwa gellinna Parnaden lette mengkalingai ukka timunna Punna Lipu e n Rumpa Mega/
- Marenge rnuwam pukka timunna Sawerigading ronnang makkeda tenre pajaku muborekiang asugirengmu /Nae ponratu datu kasi tongeng pu,vakku rnanurungnge ri Ale Luwu Madeppae ri lappa tellam pulawengnge I Nae ponrat11 naulle muwa paranrekang-nga winru tokasi I Napadarangngak awana langi menek na tana /Pak kuling ngada Langi Pa,vewang /Tania weggang waram paramu ku wacinna i kusompe mai ri saliwenna le langi e le I Maelok ma mala simperu tonapparellek saddeng lipu na I Mabbali ada Torumpa langi ronnang makkeda keruk jiwamu La Sappe wali aleb biremu le I Kupattongen ritu adamrnu I Maelok e mala simperu/ Tonaparrellek tona parelle saddel lipu na/ Nae ponratu abong
ngorenna amauremu/ Akannarenna mapparicita/ Tennaisseng ngi rijajianna sappo sisenna Guttu Tellemma/
- lyana ro anak Dukkelleng le/ Kumaelo muamaseang/ Munyamengiwi ininnawammu/Muwala riwu mubilang ketti ripasalana amauremu ri imabongngona mannawa namumasselingereng/ Amaseangngak anak ponratu/Talao pole ri lolangemmu Ri Rumps Mega muparisi wi ri lalekkati lengnge tanamu ri Rumpu Mega/Kuseseakko mana sakkek mu le ri watakku musompekangangi ri Ale Luwu/ Oncongngi sia Langi Pawewang kuwana muwa solo mallari uwae mata mabbalabona/ Tempedis sia waramparangeng paricitana/ Nateato mengkalingai tampa maega/ marenge muwam pukka ronnag makkeda Sawrigading/Teppea jengngi sia kuasen rewek ri Luwu/ Apa teawak pobirittai bakke tuwoen ri Luwu/ Apa tenrek ni le Luwu e to Ware e/ Mau seuwa Luwu taddagga/Masuwa to.
- rituju mata/ Mabbali ada Punna Lipu e ri Rumpa Mega ronnang makkeda taro muwani le kusellei tomaega mu le namanyameng ininnawammu anak ponratu/Mabbali ada Sawerigading ronnang/ Makkeda temmaelol\ ka le riselleiyang to maega ku/ lapa sia le namanyameng ininawakkun rewek maneppi to maegaku/ makkina konro maneppi sia pal iii bessi ritunruwakku/ Mabbali ada Torumpa Langi ronnang /Makkeda napekkuwa na anak la Tappu le puraennibakke jowa mu le naparisi ri lalekkati paddengngenge/ Mau seuwa tudan nasesa masuwato/Resso alena Sawerigading pasiappok i tudangem miccu salenra guttu acella kenna/ Nawassung gel Ii Sawerigading ronnang/ Makkeda iyana ro teppakgangkai sai samona ininawakku/Pura manena le naparisi.
- ri lalekkati paddengngengnge/Peresolae/Pakkuling ngada langi Pawewang ronnang/Makkeda parewekangnga makkina konro jowa pagading sesekkerekku le/Pataranak turusiengngi raju rajukku/Tuppu nyumpareng ripasomemmekku/ Pali Ii bessi ritun ruwakku/ Tomarolae tanra-tanranna/Nae adanna Punna Lipu e ri Rumpa Mega/lyana ritun anak Dukkelelleng munyamengiwi ininnawammu/ Naiya ro tomaega mu rekkuwa sia tellus sebbui taro nuwai le kussellei le pitussebbu/ Mabbali ada
langipawewang ronnang/ Makkeda namau toni Pulo sebbu le passelle na le/ Tekku wala muwa ni sia/ lyana sia le namanyameng ininnawakkun rewek maneppi to mawega ku makkina konro/ Tuwo parimengpalili bessi ritunruwakku/ Natakkajennek Torumpa langi mengkalangai ukka timuna Pattola Colli ripo ri ona.
- sellingerenna I Mabbali ada Punna Lipu e ri Rumpam Mega/ Napek kuwa na anak La Tappu/ Tenna ulle ni le ri parewa le Luwu e to Ware el Apak pura ni le naparisi ri lalekkati padengengnge Peresolae/ Tekkubajenni lep parewek i makkina konro tomaega mu/ Resso ale na Sawerigading/Rekkuwa pale puwang ponratu temmuba jennip parewewekangngak to maega ku/ Enrek no matu matu ri ujunna pelaguna e/ Tasijellorang tanete lampe/ Lompo malowang akkellareng/Tasawung tumea tenreng passoreng/Pallaga kanna/ Pasippok i kanna ulav.eng ngallinrungetal Pakling ngada Naiya kennen ritu ponratu teppaissenna amaure mu/ Torisinau pajullakkowe ri Ale Luwu Tomappamene ara-wara e ri Watampare/Muwasengngai sitengnga-tengnga i ninnawakku maelok e sitenno patti rija.
- jiwamu patappulo e/ Tania ritu le \Oworane tea ebela sitennop pati ri appasareng sawung kanna e/ Mabbali ada Torumpa Langi ronnang/ Makkeda narigilingas sia salima le narirampe rituk kuwa e/ Maelok e sitenno patti anaure na/ Naiya kennen ritu ponratu teppaissenna amaure mul Naduppaiyo parewa musu/ Muwasengngai mati manyameng ininnawanna selingerekku Batara Guru ronnang ri Luwu/ Naerekkuwa le pais sengngi le ripaddengi bannamptinna tune wijanna/ Nawassunggelli Torisinau Pajul lakko we ri Ale Luwu To Mappamene Wara wara e ri Watampare/Menre rnanaung ri pempola na joncongengnge/ Marola maneng sappo sisenna le iya maneng/ Tarakka toni To Rumpa langi sitarakkaseng to ritaro we purai peri ri Rumpa Mega menrek mattanang/ Taddakka rakka Sawerigading lete ri ati potto/Cekkai barateng kading/ Menrek mattanang /Natasenrenna la Sessun Riwu n tuddangenna masselingereng ri nanyilik na
- Nawassung gelli Sawerigading/ Natijjam muwa mattengangai wi Paddengeng nge Peresola e le to Sunra e I Lasuwala I
Labeccoci Towalebboreng Pula Kali e/ Tijjang mattengnga Sawerigading mokko tonangeng sari mera na I Tenrek pangngulu wara-wara na/ Natuddui wi tana rilejja ritetongen na/ Tuncuki jari paddengengnge Paresolae I La Suwala I Labecoci Towa lebboreng Pulakalie ronnang /Makkeda Sawerigading sommessom memmu paddengngenge/ Cari wakkamu le to Sunrai temmuissengngi tune wijanna mennang puwammup pasoloek ko ri ale lino/ Patunruwangngengngi elo teamu/ Pajanengnge le naparola tanra tanramun cajiangngenga le/ Mumasommeng manre menengngi to maega ku/ pakkuling ngada Sawerigading/Pekkuwana gi na wa-nawamu paddengngenge Peresolae le To Sunra e/ Maelok gao parewekangnga to maega ku makkina konro/ Tuwo parimeng/ Jowo pagading taranak engnga/ Naerakkuwa temma elokko paddengenge kupaddengi wi bannam patimmu/ Kupasiasem manek ko mennang tanete lampe akkellarekku/ Ala engkaga waranimmettek paddengnge nge Peresolae Datu Paki.
- oro Pasaka/ Tenre alena paddengngenge/Bembeng jukuna I Lasuwala I La Beccoci/Taddakka rakka La Sessunriwu Lette Mangkau/Palele tudan le ri sedde na Torisinau pajul lakkoe ri Ale Luwu Tomappemene wara-\vara e ri Watampare/ Kuwadanna Lette Mangkau/ Teppea jenni le riparewek to maega mu apa purani le naparisi ri lalekkati paddengngengnge Peresolae I Lasuwala I Labeccoci Towalebboreng Pukalie/ Pakkulingngada Lette Mangkau/ Amaseangnga ana ponratu mupak gangkai sai samo na ininnawamu/ Masai muwa La Maddukel Ieng ronnang/ Makkeda temmanyamengngi ininnawakku naerekkuwa le tenreweki makkina konro to maegaku/ Natijjan ronnang Sawrrigading/ Rampu kalameng nasoeangngi wi alamem mana datu Paddengngeng Paresolae/ Seuwa muwa ronnag mapaddeng bannampatinna taddakka rakka Guttu Tel lemma/ Patete tudal le ri olo na patola col Ii ti torio na selingerenna ronnang/ Makkeda amaseangnga La Sappewali Alebbiremmu/ Murampeng gelli/ Mupakgang.
- kai sai samo na ininnawamu/Taro muwani ripatimummu paddengengenge Peresolae/ Napada rini mai talluwa le ri olomu/ Soro maccokong Sawerigading le ri olo na Guttu Tellemma/ Kuwa danna Punna Lipu e ri eumpa Mega/ Appanagarao la
Sessunnriwu/Lette mangka/Patimummungngi paddengngengnge Peresolae/ Napada rini mai malluwa/ Telleppe ada madecet topa Guttu Tellemma natarakka na La Sessunriwu le mappangara/ Patimumungngi paddengngengnge Peresolae/ Ala Maressak le merae narini manem mai timummung paddengngengnge Peresolae/ Sawe mangkossok le ri olo na Gutu Tellemma/ Ki ling makkeda Punna Lipu e ri Rumpa Megga/ Pada luwai mennang labela Luwu e to Ware e/ Temmanyamengngi ininnawanna pattola colli riporioana selingerekku Batara Guru naerekkuwa tenrek i siajowa pagading sewekkerenna/ Pada talluwa manenni mennang paddengngengnge Peresolae/ Engka malluwa salangka sibawa ulu/ Engka malluwa sikku sibawa jari/ Engka malluwa
11 8. aro sibawa boko/ Engka malluwa pongkok sibawa bongga/ engka uttu sibawa aje/ pada malluwa maneni mennangl Lasuwala I I Labeccoci I Towalebborcng/ Pulakalie/Namallappo na buku-bukukunna le Luwu e to Ware e/ Engka manenni lappa lappa na/ Kuwa tanete benteng matanre allapporenna bakke datunna le Luwu e to Ware e/ Kiling makkeda Guttu Tellemma/ Tarakka nao La Sessunriwu mupijekiwi le dupa rassa/ Murawukiwi tellearaso ri ataunna/ Siri atakka ri abeo na tori wetta e tori posoe tona cidda e rampai kalemeng/ Natarakka na Lasessunriunapijeki wi kanari jawa/ Narumpuiwi le dupa rassa/ Narawuki wi siri atakka ri ataunna tellek araso ri abeo na tori wettae tori posoe tona cidda a rampu kalemeng/ Kuwa danna La Sessunriwu/ Tokkokko mai tori wetta e tori tna ciddae rampu kalameng/
119.
120. ronnang makkeda ulo i mennang renreng katie nari pakkonynyo gulil lakkowe/Telleppe ada madecet topa La Panarang nassama samam maneng mennang le jowa e le/ Nari ulo renrek katie/ Nari pakkonynyo gulil lakkowe le/ Nari wangul le lolosuwe/ Nari pakkenna kai maddiwu buwi-buwinna le sompek e/ Nae adanna la Massinala/ Wiseo mennang le Luwu e/ Aggajottokko to Ware el Telleppe ada madecet topa La Massinala/ Nasamang kiling soeam pise le Luwu e I Nasamal leppang tulekkeng gajong to Ware e/ Kuwa muwani to massimpuwang pallonyangnge/ Napatuppui wi gajos sawedi to maegae/ Ala
maressa le marawe nadapi toni sumpam minanga malo wang nge/ Mappangarani La Massagunim pangung lolosu pottom pakkasang sompe patola/ Iya mangiring salarengnge/ Iya maddelle pasang lampae. Iya mengenre aput tanae/ Iya makkenna maneng lingkajo.
- setanggarenna wakka werowe/ Pole maniang marasumpae tappok tappok i wakka werowe I Kuwa muwani le manuk luttu wakkae/ Nawitti laja/ Nawawa empo le/ Naparengngi le marasumpa/ Natellum penni muwas sompek na/ Nabokorinna sumapang minanga malowangnge ri Rumpa Mega/ Kiling makkeda Langi Pawewang/ Apparangarao kaka La Nanrang La Massaguni le/ Nari olo renrek katie le/ Nari watak gull lakko\ve/ Nari pakkanre le toddok e le/ Nari welek werompae awo tarae/ Telleppe ada madecettopa Langi Pawewang/ Najjellokangngi tettin carinna La Pananrang le/ Nari ulo renreng katie le/ Nari rebba lolosuptto setangrenna wakka werowe/ Sebetta-betta manen ni menang rampu kalameng/ Nabbelerangngi/Nawettai wi awo tarae /Nawetta toi le werompae/ Kuwa muwani bawem mallango to maegae/ Tessi wereang lalen riola/Tessi pesawe soro maccokkong/ Natellut tikka mawajik muwa ronnang mabbelek tomaegae/ Nama lappa na le welompae.
Awo tara e le/ Mapappa na le alek e le I Sabok ni joncongessoda ripolalenna Sawerigading/ KU\va danna le asabo na/ We laki welang mennang labela joncongengnge/ We Laki welang kaka La Nanrang La Massaguni/ We Laki welang kaka Lagau La sinilele I We laki welang kaka Sinala Mattoreang/ We laki Welang kaka Ranginang La Sadakati/ We Laki welang Panritaugi Jemmu ri Cina/Mameng rituling sammeng korana to maegae ri alek e/ Natasello na menre mattanang wakka wero we/ Kuwa muwani solo mallari rituju mata le tassellona wakka wero we Natallo rio Langi Pawewang mappatinroseng wakka ulaweng ri alek e/ Natellum penni le ri tengngana alek karaja malagenni e nainappana ronnang muttama le ri laleng le langi e/ Natalia rio Sawerigading ronnang makkeda appangarao kaka La Nanrang La Massagunni nari paonang wakka werowe le/ Nari ulo renrekkatie/ Nari pakkonynyo.
Gulil lakkoe/Telleppe ada madecet topa La madukkelleng nagiling ronnang la Pananrang majjellokangngi tetticarin na nari pattoddang wakka werowe le/ Nari ulo renrekkatie/Nari pakkonynyo gulil lakkowe/ Ala maressak le marae najaji maneng le pangarana La Pananrang la Massangun i I Mappangarani La Massinalam pangung lolosu pottom pakkasang sompek patola lya mengenre aput tanae/ lya mangngiri salarengnge/ lya tadelle pasal lompae/ lya makenna maneng lingkajo setangngarenna wakka werowe/ Nari pakkenna kai maddiv.u buwi buwin na le sompek e/ lya taggiling lalo sompek na \vakka werowe/ Kuwa muwani le manuk-manuk luttu wakkae Nawawitti laja nawawa empo le/ Naparengngi le marasumpa/ Natallo rio Sawerigading le massappo siseng le ri tenggngana tasi sanjati malowangnge Napitum penn1 muwa sompek na Langi Pawewang.
- Nabokorinna ri \viril langi natakkaddapi pasore \akka rigellengngei Pasappe ati ripadadae/ Mappangarani la Mattoreangle nari ulo_renrekkatie le/ nari leppi laja macetti setangngarenna wakka \erowe /Kiling makkeda Sawerigading/ Tijjanno riya kaka La Nanrang le musitinro La Maranginang mulao pole ri langkanae paissengi \i datu pU\attan cajiyangngengnga/ Natarakkana La Pananrang le nasititinro La Maranginang Mattern tou lalo muttama ri Ale Luwu1 Ala maressak le mere e patakkaddapi maddilalengi tonrong langkana I Pole mampae SL1ssureng keno/ Tuppu addeneng/Menre manai/ pole sampeyang wajorekkati lh\eng ngalawa tengnga/ Cekkai sawal lengkana/ Nasitujmvam pegam muwai Batara LattL1 paddinsu tudang mallaibini/Conga makkeda We Datu Sengngeng/ Rinini pale La pananrang/Lalo maccokkong. La Pananrang le ri olona We Datu Senggeng/ Nae adanna We Datu Sengngeng.
- Nasitunrengeng duwa makkeda Batara Lattu mallaibini/ Napeni siya datu anrimu La Tenri Tappu/ Sompa makkeda La Pananrang/Kuwa muwa pi puwang saliweng ri minangae le/ Nasurowa menre riolop paissengiwik puwang ponratu/ Teri makkeda la Pananrang/Tenrek na kuwa samo tuwana datu
anrikku ri somperekku puwang ponratu/ Tellumpenniwi puwang sompek ku ku bokorinna mai ri Luwu/ Kuleppam muwa puwang mabbeni ri Tana Bali/ Nappa bajai/ Nampam punga mawajik muwa le tikka e kusompek puwang tao alau/ Upitumpenni le pitut tikka puwang sompek ku le/ Tenrebba e le lolosue le/ Tenri leppi le laja e I Sekuwa toni puwang ponratu tessi pesawes soro matinro le/ Sipasulle soro maccokong parulu balang temmalilue/ Kuwoloi ni le assabureng pallonyangnge/ Nalabu tikka mawajik muwa naurenriwu temalangeng/ Napettak kape/
- Tenri waliyang tettincarie I Tenri pemmaga turun rupae /Pole maniang marasumpae I Pole urai sa;arengnge /Pole manorang salatangnge I Pola alau le angingnge I Nassibittei bombang selatu wakka werowe I Mali maneni le Luwu e To Ware e Tenna issenit tiro padomang le juru mudi le biasae le matekkai saddem malowang I lyanaro puwang ponratu le namapali ri saliwenna le langi e I Mapali maneng wakkka ulaweng ripolalekku sipaijoreng ri saliwenna le langi e I Kiling makkeda datu anriku puwang ponratu La Maddukkelleng I Ri agamai sawe asenna kaka La Nanrang I Mabbali ada La Sinilele ronnang makkedda iyana mai anri riaseng ri saliwenna le langi e I lyana ro napemmaggai datu anrikku tudangngalekna ri rumpa Mega I Napoutana datu anrikku le makkedae ri aga mai sawe asenna lipu malakka malagenni e
Tudang ngalek na ka La Gau La Sinillele I Mabbali ada La Sinilele puwang I makkeda iyanari anri riaseng ri Rumpa Mega I Ri jajianna ronnang ponratu datu puwatta Patoto e I Selingerenna datu puwatta Madeppa e ri lappa tellam pulawengnge I lya naro le naporio datu anrikku Langi Pawewang I lyanaro puwang makkeda datu anrikku I Taleppang wae kaka La Gau mala simperu tonaparellek saddeng lipu na I lyana ro kuwise sompek ku takkaddapi pasore wakka le ri turunggeng pelagunae I Kusitu juwam pegam muwani pattudangnge mallebbba ratu muwa sitinro ronnang I Mattoddang ri minangae maelo maneng timpa uwae /Pada temmala toni uwae pattudangnge narewe sawe ri Rumpa Mega ri nanyilik na takkappo maeng wakka werowe I Mattou tou lalo muttama ri Rumpa Mega I Natakkaddapi madddilalengngi langkana I
Polem mappae sussureng ngoling /Sampeam pali tange pareppa I Liweng ngalawa le remmanremmang I Nacabbengiwi to mallipu e pangere tudang ri olo lamming le ruma e I Lalo maccokkong pattudangnge ri olona lammin rakkilek e I Sessuk nassompa wali makkeda pattudangnge le ri olona Guttu Tellemma ronnang I makkeda rara palek ku lapuwangnge I Awai lasuna pangemmerekku I Tekku matulab balio ada I Wakka ulaweng puwang saliweng ri minangae I Manajan ratu muwa wawona I Seuwa muwaro mai denre pallo raja I Teppesawei lalo maccolo pallonyangnge Nae adanna Guttu Tellemma/lnai are anak tolino maccowa cowa pasore wakka ulaweng le riturungeng pelagunae/Pitumpulenni ritu watena lao sumangek ri lolangenna/Pura nasaka manenni ritu paddegengnge peresolae le tosunrae towalebboreng/Pulakalie/Pakkuling ngada.
- puwang makkede Guttu.Tellemma ti.ijakko ri attang Lette Langi/ Lalo saliweng ri barugae/Musakkoi wi perennungnge mupassarangngi lao suromu/Lira-lirak I pal iii bessi ritunru watta to marolae tanra-tanranna/Natijjan ronnang perennungnge nasakkoi wi to mallipu e/ Sakko teppaja perenunge ronnang makkeda arengkalinga manekko mennang to mallipu e/ Tennalawai le waramparang pangemmeremmu maelok e maccowa cowapaddibolai tori wakkae/Naruwa muwa datu anrikku Pallawagau teppat tulingngi ukka timunna perennungnge/ Nae adannna Pallawa Gau obbi kutuling anri Saguni/ Kuwa tujunna ri Rumpa Mega/ Ala maressa le merae narini mai solom pawoi le ujung tana pelagunae/ Tettong makkeda Palisu Langi Lette Mangkau towarek mai ujul lalongeng ricokkongemmu/ Pega.
- tete na lipu malakka riwekkeremmu/ Age makkatta kamo ponratu murini maip pasore wakka le ri turungeng pelagunae/ Mabali ada La Sinilele puwang makkeda sawummi sia le napo rio datu anrikku Langi Pawewang/ Apa iyana sinil lelena rirampe ada ri lolangekku le/ Makkedae tenrek nak kuwa rowana saung ri saliwenna le langi e/ Tattellu ratu manuk siuno le nasitikka/ Pepem pulaweng gare riaseng naletei e menrek mallep pek ri wala wala ulawenge tobboto el Mabbali ada Lette
Mangkau ronnang makkeda kalalla wae datu dewata ribali sawung/ Naiyo ritu kawalakie ribalis sawung/ lyami sia kuwasengnge bela madeceng kupanenrek ko ri langkanae le/ Kuwalao pabbaja.
- luse tonrong/ Kuporappai wakka ulaweng ripolalemmu/ Taro muwani kuwala rappa sining lisek na wakka ulaweng ripolalemmu Naerekkuwa tern ma elok ko kupaddengiwi bannam patimmu/ Apa masuwa si tolinop pasore wakka le ri turungeng pelagunae/ lyanaro puwang ponratu mulai gauk nari guguri tona paddawuk wakka werowe/ Kutijjam muwa mala kanna u kulupperiwi ri minanga e/ Kanna u muwa le kunangeam menre mattanang ri kessi e mattebbak gajang La Rumpa Langi/ Mattebba gajang manen ni mennang le jowa e/ Nasi galenrong lekko male la jowa biasa ri pallaga e/ Sitimpa data tomalo lo e/ Mate manenni le Luwu e/ Pepek manenni to Warek e/ Kuwi napasi puwang ponratu/ Menrek manai ri padan rukka marowa e mattebba gajang Lette Mangkau/ Kuwani ro puwang ponratu mapaddeng maneng bannam patinna.
- sappo sisenna datu anrikku Sawerigading/ Nasangadinna La Maranginang naewa duwang datu anrikku le temma paddeng bannam patinna/ Teri makkeda we Datu Sengngeng/ Nasitunrengeng duwa makkeda Batara Lattu mallaibini mellek na muwa ininna wanna Guttu Tellemma paddengiwi manengngi bannampatinna tune wijanna datu puwatta manurungnge/ Temmellek kuwa ininnawanna paduppaiyo rampu kalameng teppo utanang wija ri langi/ Pajanem mani datu warani datu puwatta Guttu Tellemma/ Namellek muwa ininnawannap paduppai wi parewa musu sebbukatikku/ Kuwa danna We Datu Sengngeng/ Tarakka sao We Orempongeng patarakka i puwang matowa/ Patarakka I mai na enrek ri langkana epassakkekangngi Narini mai passakkekangngi gauk datunna sebbukatikku La Tenri Tappu/ le Napakeru sumangekangngak rijajiakku/ Natarakka na duwa e lao alau.
- patarakka I puwang matowa/ Lalo saliweng ri baruga e/ Mattou tou joppa masiga soe marakka/ Natakkaddapi maddilalengngi
tonrol langkana/ Sa we mampae susureng keno/ Tuppu addeneng menrek manaik liweng ngalawa tengnga/ Cekkai sa wang langkana/ Leijak palapa lalo rnuttama ri JaJaren na puwang matowa/ Conga makkeda puwang rnarowa/ Irate mai lalo mutu dang suro datu we/ Lalo maccokkong suro datue nari sorongan mera naota ri talam messang ulaweng nge/ Kuwa danna puwang matowa/ Aga makkatta suro datuwe nasurowakko to maraja el Mabbali ada We worwmpongeng ronnang makkeda leppek patolang kutiwirekko puwang rnatowa/ Naelorekko datu puwwatta menrek manaik ri langkana e passakkekangngi le pakkawaru le/ Mupak keruk sumangekangngi sebbukatinna.
- Nattarakka na puwang matowa mappasinruwa tudal lingkajo parewa bissu to ruwa lette/ Natijjan ronnang lalo saliweng ri baruga e/ Natarima I sinrangel lakko ripo lalenna/ Ripasek koreng pajumpulaweng ngannaungen na/ Risalangkani sinrangen nge/ Joppa masiga passingrangnge sowa marakka panrulu e/ Ala maressak le rnera e natakkaddapi maddilalengi tonrong langkana/ Sawem mapae sussureng keno/ Tuppu addeneng/ Lejja palapa/ Liweng ngalawa guttu/ Nalalo le remmang-remang/ Lalo muttarna/ Nacabbengiwi pakdinru tudang I Latiuleng mallaibini/ Congak makkeda Batara Lattu arate mai lalu mutudang puwang rnatowa ri rnenek wellek haritu lakko ulawengnge/ Lalo maccokkong puwang matowa ri menek wellek baritu lakko ulawengnge narisorongam mera naota/ Napuram mota puwang matowa kiling.
- makkeda We Datu Sengngeng ulorengngi puwang matov.a mupassakkerang le pakkawaru La Tanri Tappu le/ Mupakeru sumange kangngak rijajiakku/ Ajak nassidda ronnang lao na talawek e ri pammassareng sumangek e/ Musittaki wi passili soda mupasessuki le ri manrawe/ Tellepek ada madecet topa We Datu Sengngeng natarakka na puwang rnatowa mallebba ratu anak pangaji massalamak na/ Tessiwereyang laleng riola anak pangaji massalamak na puwang matowa/ Napituppulo anakarung toale Luwu tungkek tarenrek simpa ulaweng/ Mallebba ratu le maned dara to Watampare tungkek tarenrek adidi soda/ Malebbasebbu le pabberoni to Takke Biro tungkek
tarenrek ojen rakkile naritettenna sau lari el Nari tenro na laola el Nari gettonna ulampu woro palapa el Nasakke sawi anak pangaj i massa lamak na puwang matowa/
- Natarakka na lalo saliwengl Ripaserokeng sinrang lakkol Ripaekkoreng pajum pulaweng lao saliweng ri minanga el Joppa masigak passinrang ngel Sowe marakka panrulu el Ala maressa le mera e natakkaddapi ri minanga el Riparaddek ni sinrangeng nge/ Natarakka na puwang matowa sawe mampae sussureng keno/ Lete ri ati potto/ Cekkai barateng kading/ Kuwa danna to Risinau Pajul Lakkowe ri Ale Luwu To Mappamenek Wara Wara e ri Watampare/ Irate mai puwang matowa lalo mutudang ri jajaren na wakka werowe/ Lalo maccokkong puwang motowa/ Tamet tameng ngi ada dewata La Maddukkeleng/ Pakkaluri wile pabbessoreng wanguk kellonna La Tenri Tappu/ Sapu sapuwi tari seddena/ Teri makkeda puwang matowa/ Namellek kuwa ininnawanna puwang nene mu paduppaiyo parewa musu/ Teppo utanang wija ri langi/ Agi pada na ri mamase na Topalanrowe.
- le takdewek mu mai parimeng ri lolangemmu ri Ale Luwu riangkaukeng powo langi mu ri Watampare/ Onro batara tenri tapumu/ Pakkuling ngada puwang matowa/ Keru jiwamu anak Dukkeleng/ Sawe sumangek tori langimu/ Agi pada na ri mamasena Topalanroe taddewek mu kenneng parimeng ri lolangemmu/ Padewek ada puwang matowa ringenginai anak watammu menrek mattanang/ Talao pole ri Ale Luwu/ Telleppek ada madecetto pa puwang matowa/ Natarakka na Langi Pawewang/ Leteri ati potto/ Cekkai barateng kading/ Lete ri ujung tana/ Makkeda io tatammu La Sinilele popangarai nari paluwe manen lisek na wakka wero we/ Ajak naonro maronek koneng ri minangae/ Natarakka na La Sinilele sitarakkaseng La Pananrang/ La Massanguni/ Majjellokangngi tettin carinna popangarai na ripaluwe sining lisek na makka wero we/
- Telleppek ada madecet topa La Sinilele natarakka na to mae gae napaluwe i sining lisek na wakka wero we/ Napaenrek i ronnang mattanang joncongengnge/ Nainappan ronnang tarakka
Sawerigading ripaserokeng sinrangnem pero ripasekkoreng pajum rakkile annaungenna/ Lao masiga passinrangnge/ Sowe marakka panrulu el Naserok toni puwang matowa sisnrangel lakko/Risalangka ni sinrangeng age/ Lao masiga passinrangnge sowe marakka panrulu el Risalangkani sinrangem pero ripolalenna La Maddukkeleng mattou tou lalo muttama ri Ale Luwu/ Ala mares sak le mera e natakkaddapi maddilalengi tonrong langkana/ Ri paraddek ni sinrangengnge nari pasessuk le ri menrawe/Nawekkatellu magguliling ri langkana e nainappana tuppu addeneng/Sawe mampae sussreng ngoling/ Malebba pulo mai manaik ri langkana e anak karung towale Luwu/ Tungke tarenrek.
- Pareppek soda natudangi e wennok ulaweng/ Manajan ratu anak karung towatampare/ Tungke tarenre simpa ulaweng/ Kuwa muani ongem masero teream penno ulawengnge mai manaik ri langkanae Natijjan ronnang We Da tu Sengngeng makkatenni wi pabbessoren na sebbukatinna/ Nalaowangi ronnang muttama ri jajarenna makkeda keru jiwamu anak Dukkelleng/ Cabbeng sumangek tori langi mu/ Namellek muwa ininnawanna Guttu Tellemma paduppaio parewa musu/ Agi padana rimamasena Topalanrowe le taddewekmu kenneng parimeng ri lolangemmu ri angkaukem powo langi mu/ Onrong batara tenri tappumu anak Dukkeleng/ Namellek muwa ininnawanna Guttu Tellemma 'padupai yo parewa musu teppo utanang wija ri langi/ Natallallo rio We Datu Sengngeng saulari wi bocissitonra sesumangek na sebbukatinna/ Sapu sapu wi tariseddena rijajianna/
- Teccapu topa rampa-rampa1uia We Datu Sengngeng nacabbettona Pallawa Gau/ Pole maccokkol le ri olo na We Datu Sengngeng ronnang makkeda massimas sana puwang kusompe alau ri Tompo Tika/ Apa monroni datu puwakku tajen ri nawa-nawa I sore wakka ulaweng ripolalekku/ Mabbali ada We Datu Sengngeng ronang makkeda le/ Ajak sana siak musompe anak La Gau/ Kupasessuk ko le ri rnenrawe/ Kurettoiyo awo ulaweng/ Kusittakio passili soda/ Teccappu topa rampe rampenna We Datu Sengngen mappangara ni La Temmallureng mattunu tedong tebbannan ratu Nae adanna We
Datu Sengngeng/ wasitunrengeng duwa makkeda mallaibini Batara Lattu ronnang makkeda/ Appengarao kakaponratu patimumungngi Iii na Luwu limpo na Ware/
- Siatarenna ri Sabbamparu ri Takke Biro ri Kawu-Kawu/ Narini mai ri langkanae pocittai wi gauk datunna La Maddukkeleng/ Tellepek ada madecettopa Batara Lattu rnallaibini natijjan ronnang La Ternmalolo rnakjellokangngi tettincarinna/Kuwa muani bombang silatuk le panngara na/ Ala maressak le mara e/ Narini maneng mai tirnummugng lili na Luwu/ Limpona Ware/ Siatarenna ri Kawu-kawu ri Sabbamparu ri Takke Biro solompawoi olo langkana manurungnge/ Mappangara ni La Tenrioddang/ Naripakkenna le walasuji lewowangngengngi nari gattungni lai laiseng kowi sawedi/ Nari aro wi laju macetti rappong makkati nacokkongi e Langi Pawewang massappo siseng/ Watanna muwa We Datu Sengngeng passeleri wi sampu riawa pajajarenna.
- rijajianna/ Naritarowal le bung palallo/Naripasessuk le ri menrawe/ Napituppulo anakarung tO\vatampare tungkek SO\eyang simpa ulavveng/ Mannajan ratu le pabbreroni to Kawu-Kawu tungkek tarenre adidi soda/ Mannajas sebbu le pabberoni to Takke Biro tungkek tarenre ojen rakkile/ Manajassebbu le manekdara to Singki Wero tungke tarenre pellem pulaweng/Nasaka maneng pabbessorenna kalaru kati le/ Nari \valung ulampu wero walasuji e/ Nari cemme na ll\vae majang Langi Pawewang massappo siseng/ Nari turnpuna genrang rukka e mai mano le ri tana e/ Bitumpu toni genrampulaweng siapamana na Iola ngenge ri Ale Luwu/ Ritumpu toni le gompulaweng simpannana lolangengnge ri Watampare/ Riampat toni mai manai le gompu laweng manurungnge ri Ale Luwu/ Riampat toni le gompulaweng.
- manurungnge ri Tompo Tikka/ Ritumpu toni genrampulaweng le tompoe ri Sawammega/ Ripaddaunni sulekka kati manurungnge ri Ale Luwu/ Risusuk toni Tompikkuruda manurungnge ri Tompo Tikka/ Risaka toni Sarawummega le tompo e ri Sawammega/ Risunoni ballilik e/ Mappana guttu
sappo lipuk e/ Merummanenni gauk datunna La Madukkeleng massapposiseng/ Moni manenni sining monie/ Napura cemme Langi Pawewang naenrek ronnang le mappetetti ri jarassana ulawengne riseringiang uwae dio le
- taddagga e ri pattikkaseng ari sedena/ Nari taengang apum perunek tolimpobonga/ Mappangarani La Tenrioddang tettak tuwoi le tedongnge/ Pattowanana le tosunrae/ Paddengengnge/ Perosolae/ Mappangarani La Temmukke mattunu tedong tebbannan ratu pakkareana to maegae/ Kuwa muwani bombang selatule pangngarana/ Ala rnaressak le merae napura tunu le tedongnge/ Rilewo bujang sakkalengne/ Rilewo lamming daprengnge ripassarupung manenni rnennang tenna pesso c winru jarin na/ Ala maressak le merae nasaniasa maneng rnangatta jellek sangiang le dewata e/ Natijjan ronnang puwang rnatowa lao saliweng ri padangnge/ Mattou tou lao masiga sowe marakka natakkaddapi ri tana bangkala ri parigi e/ Nawelleriwi wellek baritu/ Natudangi e inanre sakke ripowelo na/
- le dewata e le/ Nari lelluk suru lagenni le/ Nari lili wajampatara le/ Nari walung cinde Pasele/ Nari lili ularnpu wero/ Nagilin ronnang puwang rnatowa napaddumpu \Vi raung sakkek na ronnang rnakkeda puwang matowa tipenni matu lapU\vangnge/ Tabu malowang ritarenrernu puwang ponratu/ Elli ale na La Tenri Tappu rnassappo siseng/ Sapi sungek na La Maddukkelleng sipakjowarcng/ Napura muwa sompa manaik ri botillangi nagil ronnang madduwam pale ri peretiwi ronnang makkedatipenni matu tabu malowang ripowelo mu puwang ponratu/Sapi watanna Langi Pawewang massappo siseng/ Sapi sungek na Sawe rigading sipakjo\vareng/ Napura muwa sompa manaik ri botillangi madduwampale ri peretiwi nagilin ronnang We Ampalangi mangngamporangngi le tedongnge ronnang makkeda alei matu
- Pattowana mu le tosunra el Paddengngengnge/ Peresola el Ajak mutijjam pijek to lino/ Natarakka na puwang matowa/ Nalao pole ri Ale Luwu/ Natakkaddapi tuppu addeneng menrek manaik liweng ngalawa tengnga/ Cekkai guttu/ Nalalo pole maccokong
ri jarassana ulawengnge/ Tessau tekket topa maccokkong nari wempenna tolom pulaweng angngaderenna La Maddukkelleng rnassappo siseng/ Ripasi olang olaro kati atternrnirenna/ Samateppa n i du Ian reti e/ Ripaccingiang tettincarinna La Pawewang massappo siseng/ Sama manre ni le anak datu pituppuloe massappo siseng dipakjowareng/ Nasijellereng Pallawa Gau Lasinilele/ Nasijellereng La Massinala La Mattoreang/ Nasijellereng La Maranginang La Sadakati/ Nasijellereng Jemmu.
- Ricina Panrita Ugi/ Sijellerem maneng anak datuwe massappo siseng/ Nasijellereng Tupnyumpareng lipungel lebbi sialenae Langi Pawewang/ Nasijellereng We Ampalangi I We Salarang/ Manre mattemmi manenni sia anak datu we sepakjowareng le Temmairung akka rakkie nari todongi/ Kuwa muwa ni le putteng luttu akgulilinna mangko jawa el Riakka toni mai ri laleng balubu kelling natudangi e le busa temmi/ Nari tereang le taosama attemmiren na to maega el Na wekka pitu timpu-timpu nasoro Pamadellette/ Ripaccingiang tettincarin na/ Makkaci sumpampali timommo/ Ritanrerenang mera naota ri talang messang ulawengnge/ Ripadapek ni siworengnge/ Ripasoroni dulan reti e/ Samas soro ni anak datu.
we massappo siseng/ Nari sorongam mera naota ri talam messang ulawengnge/ Napada pura ronnang maccella anak datu wemasappo siseng kiling makkeda La Maddukkelleng talempo bela ri baruga e le macceule kaka la Gau La Sinilele/ Talempo bela kaka La Nanrang La Massaguni/ Talempo maneng le macceule le io maneng samppo sisekku/ Nasikadong ukka timun na massappo siseng to maraja el Natarakkana La Madukkeleng ronnang/ Mattoddang natarimai sinrangem pero ripasekko rengpajumpulaweng/ Marola maneng sappo sisenna/ Tinrosiangi si rangel lakko ripolalenna datu anrinna/ Lao riolo le dodoe/ Monro rimunri pabberonie/ Nari soppo na tanjos sanrangeng tudangeng m iccu akkeppeangeng bakke mera na La Maddukkeleng Risalangka ni sinrangeng nge/ Joppa masiga passinrang nge/ Sowe marakka pansulu e/
Ala maressak le mera e natakkaddapi ri awa cempa naumpoddie Riparaddek ni sinrangengnge/ Ripeloto ni pajum pulaweng an naungenna Tomappamenek wara wara e ri Watampara/ Natarakka na La Pananrang La Massaguni/ Tarakka toni Pallawa Gau/ La Sinilele/ Kuwa danna La Pananrang sawung/ Tasawung anri La Gawi Kaka ponratu La Sinilele/ !ya tasawung warumung ngalele samuddae mattimu potto wara-warae ri sekko e lebba sekati le/ Nasi ewa koro mattara ulawengnge/ Mabbulu rompe wenang cina e/ Risekko e lebas sekati/ rvtattemmirie alaro kati Nasikadom pali odanna anak datu we/ Pada mallurus sikki manuk napasilelei tanringel lebbi risettuwan na/ Palurekkati alebbirenna/ Pada makkeda sebbu tarona/ Tessangkalangeng lalo paunna/
- Napadas soro sangi taji/ Napada pakkenna gajun nabulang/ Nasienerken ri wala-wala ulawengnge/ Nasileppereng massappo siseng/ Napadak kuwa riwu siduppa bitte manuk na massappo siseng/Nawekka tellu muwa siraka tanringengenge/ Nababallengeng warumpung ngalek le samudda e I Pallette gora anak datuwe/ Oabberu muwa Langi Pawewang/ Nawakkasang ngi passigerak na La Pananrang sikki manuk na napa mole i pittek pamulang cakkuridinna/ Nawerengngi pangngurum manu rilebbirenna/ Sitowe jari ronnang parimeng massappo siseng mattoddang ri awa cempa naum poddie/ Sipauressi La Massaguni La Sinilele/ Pada makkeda sebbu tarona/ Tessangkalangeng lalo paunna/ Napadas soro sangi tajinna/ Padap pakkenna gajun nabubulang/ Nasi enrekeng ri wala-wala wulawengnge/ Nasi leppererng massappo siseng/ Nawekka tellu muwa siraka.
- Tanringengnge/ Nari wuno na manuk lebbi na La Massaguni/ Mapareppak ni sammeng korana tosibeta e ri awa cempa naumpoddie/ Takdakkarakka la Sinilele sikki manuk na napamolei pitte pammulang cakkuridin na/ Nawereang ngi pangngurung manu rilebbirenna/ Natijjan ronnang sitowe jari ronnang mattoddang ri awa cempa naum poddie/ Sipauressi La Massinala La Mattoreang/ Bakka sidenres sia manuk na La Mattoreang/ Cellak leworeng sia manuk na La Massinala/ Napadossoro sangi taji/ Napadap pakkenna gajung nabulang/ Pada makkeda sebbu ronnang tessangkalangeng lalo paunna/
Nasi enrekengrri wala-wala ulawengnge/ Nasi leppereng massappo siseng/ Nawekka pitu muwa siliweng tanringeng nge/ Nari uno na manuk lebbi na La Mattoreang/ Takdakka-rakka La Massinala/ Sikki manuk na/ Napa molei pitte pammulang cakkuridinna/ Lesso masiga ri sinrangenna Sawerigading nawakkasangngi passigerakna/
- Paincak kincak kettincarinna/pawellu welluk taiyya welluk ammessoreng gadin riwisak risowean na/ Ser mangngawel lowang passingerak na/ Marewo dangnga muwa rituling gellam pulaweng le ri ajena le/ Mappareppa manenni sia anak datu we massappo siseng/ Takdakka rakka La Massinala sikki manuk nawareang ngi pangngurum manuk rilebbirenna/ Natarakkana anak datuwe sitowe jari ronnang mattoddang ri awa cempa naum poddie/ Kiling makkeda Langi Pawewang/ Talempo bela mattana tanang le io maneng sappo sisekku/ Talempo maneng mallopi-lopi/ Talempo to ri Marapettang/ Taita towi ri Pammasareng le/ Tanyilik I pangngalat tana ri Ale Majeng/ Nasikadong ukka timunna massappo siseng la Madukkeleng/ Pakkulingada La Tenri Tappu ronnang/ Makkeda taenrek be la ri langkanae/
- Nattarakka na Sawerigading/ Sitarakkaseng Pallawa Gau risinrangenna/ Tarakka maneng sappo sisenna La Maddukkelleng/Risalangka ni sinrangengnge/ Nari soppo nallao ri olo banranga kati le ritenrenna/ Risalangkani tanjos sanragcng tudangem miccu akkeppeangeng bakke mera na Opunna Ware/ Lao riolo le dodoe/ Monro ri munri pabberoni e/ Mattou-tou lalo muttama/ Natakkaddapi maddilalengi tonrol langkana/ Riparakdek ni sinrangel lakko ripo lalenna Sawerigading/ Natarakka na Langi Pawewang/ Tuppu addeneng/ Makkatenni sussureng keno/ Menrek manaik liweng ngalawa tengnga/ Cekkai sawal lengkana/ Nacabbeng tudang ri jarassana baritu lakko ammessorenna/ Watanna muwa We Datu sengngeng palessorang ngipassigerak na/ Napamolei pabbekkeng awa luluanginna/
- Napalesso i gajam pulaweng sesumangek na rijajianna/ We Pattaungeng palariangngi bajen rimangke/ Nari taengang apum
perune/ Nasirakkasi weroni lakko tolimpo bonga/ Ripalariang bajen rimangke to Sappeile/ Nassibittei simpa ulaweng tusawang kuttu/ Nawali-wali bissu pattudang/ Narowasi wi le pat taranak sewekkerenna/ Natijjan ronnang Pallawa Gau/ Palele tudang le ri olona We Datu Sengngeng ronang makeda massi mas sana puwang kusompek lao alau ri tompo tikka/ Apa monroni ronnang puwakku/ Tudang mattajeng/ Nawa-nawai sore wakkau ri minangae puwang ponratu/ Kiting makkeda We Datu Sengngeng/ Nasitunrengeng duwa makkeda Batara LattL1 mallai bini Tarakkak sao Lalaki Luwu le/ Musitinro La Marempongeng passakkekangngi inanre sakke risomperenna Pallawa Gau/ Natijjan ronnang.
- Lelaki Luwu La Marempongeng/ Maseng pangara/ Majjellokangngi Tettincarinna/ Naripo cittak innanre sakke risompern na Palawa Gau/ Nae adanna Batara Lattu lyana ro anak sangadile naonangang wakka ulaweng ripolalemmu/ Mata pasa na rirua lette/ Esso katinna ri Senrijawa/ Aranginangeng belo musunari Tddattojang/ Tikka talettu tettallemba na ri Peretiwi/ la naro anak madeceng le musomperang/ Natellum penni tenri pesawe soro matinro mennang duwa e/ Nasaniasa maneng mangatta inanre sakke risomperanna I la Datunna sipakjowareng/ Kuwadanna Pallawa Gau appangarao kaka Sinala La Mattoreang nari_paonang wakka werowe/ Nari parurul lao saliweng inanre sakke risomperatta/ Telleppek ada madecet topa I la Datunna.
- Natarakka na La Mattoreang/ Sitarakkaseng la Massinala lao saliweng ri minanga e/ Natakkaddapi ri minanga e majjello kangngi tettincarinna/ Kuwa muwani bombnag silatuk le pangngara na La Massinala/ Ala maressak le merae/ Najaji manengle pangngara na/ Monang manenni wakka ulaweng ripolalen na Pallawa Gau sipajjowareng/ Takkappo toni inanre sakke risomperanna/ Narewek sawe ri langkana e La Massinala La Mattoreang/ Mattou tou jopa massiga sowe marakka/ Natakkaddapi maddilalengi tonrong langkana/ Polem mampae sussureng keno/ Tuppu addeneng/ Menre manaik/ Liweng ngalawa tengnga/Cekkai sawang langkana/ Pole maccokkong ri timummungeng tau kubbae Nae adanna la Massinala/ Monang
manenni anri saliweng joncongeng soda ripo laletta/ Takkappoto ni inanre sakke ri somperatta/ Nadapi toni tanra tikka na datu puwatta Batara Lattu/ Natarakkana Pallawa Gau ripaseleri palingka jona/
I 57. Watanna muwa We Datu Sengngeng Papasangi wi sampu riawa Wellum perune/ Napatonangngi le passigerak jalampiranna/ nappakalu i amanrak kanja welollajuk na/ Napattemmuwi pabbekke awallulu anginna/ Napaseppik i gajam pulaweng sesumangek na/ Napura muwa ronnang mappake Pallawa Gau natarakkanap palele tudang le ri olo na Batara Lattu ronnang/ Makkeda rnassimas sanak puwang ponratu/ Kutakdewek na ri lolangekku/ Mabbal i ada Batara Lattu ronnang rnakkeda lao rnuwano ana La Gau mulettu lempu ri lolangemrnu/ Nari ulo na sinrangengnge/ Risakato ni pajullakko we/ Natarakka na Pallawa Gau/ Si tarakkaseng La Massinala/ La Sadakati ronnang mattoddang/ Na tarimai sinrangeng lakko/ Ripasekkoreng pajurnpulaweng/ Lao ri olo seppu katie/ Monro ri rnunri ballilik e/
- Monro tengnga ni tornabbangranga ulawengnge/ Risalangkani sin rangenge/ Jo ppa masiga panrulu e/ Soe rnarakka passinrangnge/ Mattowu towu lalo saliweng/Natakkaddapi ri minangae/ Riparaddek ni sinrangengnge/ Ritoleto ni pajurn pulangenge/ Natarakka na Pallawa Gau/ Sawern rnampae sussureng keno/ Lete ri ati potto/ Cekkai barateng kading/ Liweng ngalawa sawang joncongeng/ Pole maccokkong ri pempolana joncongngenge/ Kuwa dana I Ladatunna/ Appangarao kaka Sipala La Sadakati le/ Na riwatak renrekkati e/ Nari pakkonnyo guling lakko we/ Teleppek ada madecetto pa Pallawa Gau nagilin ronnang La Massinala Lasadakati majjellokangngi tetincarinna le/ Nari watak renrekkatie/ Nari pakkonnyo guling lakko we/ Kuwa danna La Massinala/ Wiseo rnennang le jowak e/ Aggajottokko to maega e/ Nasarnang kiting soeang I 59. pise le jowak e/ Nasarnal leppang tulekkeng gajong tomaegae/ Kuwa rnuwa ni tornassimpuang pallonyangnge/ Napatuppui gajong sawedi tornaege e/ Ala rnaressak le mera e/ Natakkaddapi le ri sumpanna minanga wekkek malowangnge/ Mapparangarani
La Mattoreang pangung lolosu pottom pakkasang sompek patolang/ Iya mangenrek aputtana el lya manggiring salarengnge/ Iya mallaring marasumpa el lya rnakkenna maneng lingkajo setangngarenna wakka wero we/ Kuwa muwa ni le manuk-manuk luttu wakkae/ Nawitti laja/ Nawawa empo le/ Naparengngi le marasumpa/ Ala maressak le mera e nabokori wi ri toddarnpellek tomakkaja el Natallalo rio Pallawa Gau le rnappallompang massappo siseng ri tengnga tasik/ Nairing nganging/ Nawitti laja/ Nawawa empo le/ Naparengngi le marasumpa/
BAB Ill
ALIH BAHASA
00 I. Maka ditabuhlah genderang emas pusaka negeri di Ale Luwu. sehingga ramailah upacaranya La Tenri tappu. Tiada henti hentinya suara letusan sendav.a menggelegar bagaikan guntur. Sang "dodo" ( Pengawal) berjalan di depan. Para pengiring mengikuti dari belakang. Disiapkanlah tenda usungan. "Sinrangempero" (Nama tandu milik Sawerigading) tadu usungan Sav.erigading. Maka bangkitlah "La Maddukkelleng". (nama lain Sawerigading) lalu dinaikkan di atas tandu Sinrangempero. dinaungi "Pajunrakkilek" (nama payung milik Sawerigading). Maka tandupun diusung pergi. diramaikan oleh para bissu yang dilengkapi dengan "tumpukadidi" (sejenis alat musik tradisional. terbuat dari ikatan batang lidi). diiringkan dengan pengawal pilihan menuju ke sungai. Para pengiring berjalan dengan bergegas. para pem ikul tandu mengayunkan tangan dengan cepat. Sebelum lumat daun sirih.
- tibalah mereka di sungai. tandu usungan pun diturunkan. Maka pergilah La Tenri Tappu ( nama lain Sawerigading) meniti pada kayu cadik. lalu melangkahi ambang pintu langsung duduk di atas ruang utama dalam perahu. Berkatalah Sawerigading. perintahkanlah wahai kakanda La Nanrang untuk mengangkat sauh emas, dan menurunkan kemudi. Belum juga habis ucapan La Maddukkelleng berdirilah La Pananrang mengacungkan
73
telunjuknya. Maka diangkatlah sauh. kemudipun diturunkan ke air. Berkatalah La Pananrang gerakkanlah dayung wahai orang orang Luwu ayunkan pula dayung wahai orang-orang Ware. Behun juga lepas baik ucapan La Pananrang serentaklah orang orang Luwu mengayunkan dayung. Serentaklah orang-orang warek menggerakkan dayung. Airpun tersembur-sembur dilanda dayung emas.
- yang mengayunkan orang banyak, sebelum daun sirih menjadi lumat ( dalam \aktu sekejap mata) sudah ditinggalkannya perairan tempat para nelayan menl·ari ikan. La Massaguni pun memerintahkan untuk menaikkan tiang layar dan mengembangkan layar. Begitu embun hilang lenyap. begitu angin bertiuµ. begitu terpasang seluruh peralatan perahu ('\vakta \Verowe") maka perahupun bagaikan burung-burung yang sedang terbang dengan layar terkembang. dihanyutkan air. didorong oleh angin. Hanya tiga malam jualah La Maddukkelleng berlayar maka dilihatnya Tana Bali. Dilihatnya pula Tana Raja. Dilihatnya Watampare. Dilihatnya juga Tompo Tikka. Dilihatnya Sikki Wero dan Sa\ammegga. Dilihatnya pula Wewanriu dan Senri jawa. Dilihatnya Tanah Bugis dan Ale Cina. Berkatalah La Maddukkellen!! negeri apa namanya \ ahai kakanda La Gau, La Sin i lele ) ang terletak di sebelah timur itu.
yang lebat hutannya. Menyahut La Sinilele sambil berkata itulah. dik yang disebut Tanah Bali yang terlihat lebat hutannya. Adapun yang di sebelah selatan.itulah dik yang disebut Tanah Raja. Adapun yang di sebelah barat.itulah Watam Pare. Adapun yang di seoelah selatan. itulah dik an dinamakan Tompo Tikka. Adapun yang di se oelah timur. yang berderet areal hutannya.itulah dik yang dinamakan Sikki Wero. Sawammega. Adapun yang di sebelah barat. itulah Wewanriu di Senrija\3. Adapun yang di sebe lah baratn a. itulah d ik yang d inamakan Tanah Bugis di Ale Cina. Berkatalah Sawerigading. mari kita singgah bermalan wahai kakanda La Gau,La Sinilele. Nanti besok baru kita berlayar ke timur di Wirillangi. Mereka bersepupu lalu mengambil kata sepakat. Maka mereka pun tiba dan berlabuh di muara sungai.tempat orang
rnandi di Tanah Bali, tepat ketika matahari tenggelam mereka rnembuang sauh dan melipat kain layar, kemudian mereka tidur bersama-sama. Keesokan harinya, baru saja matahari bersinar terang bangunlah La Maddukkelleng membasuh muka, lalu rnembuka Puan tempat sirih dan mengunyah sirih sambil menenangkan perasaan hatinya. Setelah selesai makan sirih berkatalah La Tenri Tappu perintahkanlah wahai kakanda Saguni, La Sinilele untuk mengangkat sauh dan menurunkan kemudi. Belum juga usai denga baik titah La Maddukkelleng, maka sauh pun segera diangkat dan kemudipun diturunkan. La Mattoreang kemudian memberikan perintah agar tiang layar ditegakkan dan kain layar dikembangkan. Begitu embun pagi sirna, begitu angin bertiup, begitu layar terkembang.
- maka perahu pun meluncur bagaikan burung yang sedang terbang, bersayapkan kain layar, dihanyutkan air, diluncurkan oleh angin yang berkesiuran.Setelah t,ujuh malam berlayar, meninggalkan Tanah Bali, dilihatnyalah Wirillangi. Dilihatnya pulalah "pao jengkie" (sejenis mangga yang besar, namun hanya ada dalam dongeng-dongeng). Sawerigading pun telah tiba di pusaran air. Maka riuh-rendahlah bunyi burung-burung yang beraneka macam. Namun berkatalah "cuwi maningkek tosamburowe" (sejenis burung pipit) siapa gerangan anak manusia yang begitu gegabah, tanpa menyayangkan nyawanya hidup di dunia, pergi berlabuh di wilayah perairan yang dapat rnenenggelamkannya, melintasi pusaran air pertemuan arus kencang. Menyahut "dangnga cina silaja e" ( sejenis burung nuri), bahwa agaknya nyawa mereka sernua sudah hilang. Latu berbarengan dua dengan "putteng solo towapungnge" (sejenis burung berwarna putih yang gemar bertengger di puncak pohon tinggi), mungkin sudah tujuh bulan lamanya sukma mereka rneninggalkan raganya di 007 negerinya. Mereka itu sudah terjerat semua oleh roh halus. Menyahut "alo biraja maccampai" e (burung garuda dari Maccampai). mustahil mereka bisa tiba di Wirillangi dengan rnelintasi pusaran air itu kalau mereka bukan turunan sang tomanurung. Sebab yang saya ketahui ada empat raja orang
"manurung" (titisan dewa) di dunia. Hanya itu yang memerintah di Ale Luwu "Maddeppa e ri lappa tellampulawengnge" (Titisan dewa yang turun di Luwu, dikenal dengan nama Batara Guru; kakek Sawerigading). serta yang ada di Tompo Tikka Polalengnge ajuwara lakko ritungo (titisan dewa yang turun ke dunia melalui sebuah pohon beringin yang dalam posisi sungsang), serta yang ada di Wewanriu yang menitis melalui "tojampulaweng" (ayunan emas). serta itu yang ada di Widellangi yang menitis ke bumi melalui pelangi tujuh warna yang bernama Talettu Sompa. Hanya sekian itulah yang dititiskan turun ke bumi. Satu di antaranya itulah yang melayarkan ribuan bahtera menuju ke Wirillangi. Namun berkatalah Pallawa Gau datangkanlah angin wahai adinda La Tappu, turunkanlah petir wahai adinda Dukkelleng, ada kesulitan besar di depan kita, maka naiklah Sawerigading.
- di atas kurungan (kap) perahu sambil mengenakan mahkota mas pusakanya dari patala langit serta men ye I ipkan keris em as pusakanya. Setelah bersalin pakaian dibakarnya dupa. kemudian ia mempersembahkan daun sirih satu ikat serta telur ayam. dibarengi dengan taburan berti emas. sambil menghaturkan sembah sujud ke petala langit dan ke pertiwi lalu berkata dengarkanlah wahai Tuhan. Sekiranya penguasa langit yang tidak memperkenankan perahuku lewat. saya adalah keturunan dari sang Tomanurung di Ale Luwu Madeppa e ri Lappa Tellampulawengnge. Jikalau penguasa pertiwi yang tidak mau membiarkan perahu lewat. maka saya adalah keturunan dari We Datu Tompo ri Busa Empo Solang Sinrangellakko Nadulu elongpallonyang. Setelah memberikan sembah sujud ke petala langit dan ke peret iwi. maka barulah
- Sawerigading berkata,bahwa perintahkanlah wahai kanda La Nanrang, La Massaguni agar sauh emas diangkat dan kemudi di turunkan ke air. Belum juga usai seluruh titah La Maddukkelleng. maka La Pananrang pun mengacungkan jari tangannya, orang banyakpun segera mengayuh dan segenap abdipun merengkuh dayung. Matahari sudah tenggelam,badai tidak henti-hentinya menghantam, kilat sambung menyambung. petir susul-menyusul Angin "salareng" bertiup dari arah barat. angin "marasumpa" bertiup dari arah selatan, sedangkan angin
selatan melanda dari arah utara. Perahu "wakka werowe" (perahu milik Sawerigading) hampir saja terbalik. Bingunglah segenap orang banyak, bingung pulalah sang nakhoda yang sudah berpengalaman mengarungi samudera. Juru mudi yang sudah sering kali menyeberangi laut dalam pun tidak mampu lagi menentukan arah pelayaran, diombang-ambingkan oleh ombak yang bergo-
0 I 0. yang saling berkejaran. Demikian ucapan La Massinala rupanya kita sudah terdampar ke negeri Saliwellangi. Teranglah penglihatannya. Sudah terang pula penglihatan segenap isi "Wakka Werowe". Berkatalah La Maddukelleng apa namanya (negeri) itu wahai kakanda .La Nanrang, La Massaguni ? Menyahut La Sinilele sambil berata, itulah dik yang dinamakan Saliwelangi. La Tenri TappU·AJun sudah melihat ufuk timur tempat terbitnya matahari. Sudah dilihatnya pula pohon beringin yang ada di bulan, sedangkan buahnya terdiri atas manusia bulai. Daunnya terdiri atas busana lengkap. sedangkan pucuknya terdiri atas benang sutera. Sawerigading kemudian melayangkan pandangan matanya, maka dilihatnya di ufuk barat sana tempat tenggelamnya matahari. Dialihkan pula pandangan matanya. lalu dilihatnya areal hutan belantara di
- Rumpa Mega. Demikian ucapan kata Sawerigading. wahai kakanda apa namanya negeri yang ada hutannya itu ?. Menyahut La Sinilele sambil berkata itulah, dik yang dinamakan "attomporeng mata dettiya" (tempat terbitnya matahari). ltu di sebbelah selatannya, itu lah yang disebut Accabbengempalinonoe. La Sinilele mengulangi ucapannya, bahwa itulah, dik yang disebut Assabureng Mata Dettiya. adapun yang di sebelah selatan. itulah dik yang disebut Assaburempalinonoe. Adapun yang di sebelah baratnya Daeko Cani Saramie. itulah dik yang disebut Rumpa Mega, yang tampak padat hutannya. Konon kabarnya. wahai paduka puteranya junjungan kita Topalanroe, yang memerintah di Rum pa Mega. Menurut kabar ada salah seorang puteranya yang sangat nakal.la tidak menghormati
- sesamanya datu di Bottilangi. Hanya dirinya sendiri yang dianggapnya anak dewata di Ruwalette.Kendati ayam sabungan
mati terbunuh ia tetap menang. Ayamnya sama-sama mati iapun menang. Demikianlah maka ia diasingkan di Saliwellangi, lalu diberikan kepadanya tanah tempat tinggal di Rumpa Mega. Dialah junjungan kita Guttu Tell em ma sang penguasa negeri di Rumpa Mega. Konon kabarnya beliau itu pulalah sang baginda junjungan kita Guttu Tellemma yang banyak keturunannya. Konon, ada sebanyak empat puluh orang. Menjawab Sawerigading, sambil berkata kalau demikian mari kita singgah bermalam, wahai kakanda La Gaua La Sinilele. untuk memperkenalkan diri kepada junjungan kita, sekalian bersilaturrahmi dengan sanak keluarga yang berada di negeri seberang. Mari kita mampir wahai kakanda La Hanrang La Massaguni, untuk bersilaturahmi dengan keluarga di negeri seberang. Mari kita mampir wahai kakanda Sinala (dan) La Mattoreang untuk bersilaturrahmi dengan sanak kerabat di negeri seberang.
- Maka orang besar itupun mengambil kata sepakat dengan sesama sepupunya. La Sinilele mengulangi ucapan, katanya. konon ada tiga orang pula putera paduka yang mulia junjungan kita Guttu Tellemma yang memerintah negeri besar. Konon kabarnya yang sulung bermukim di Accabbengeng mata Dettiya. Dia pula yang menjadi raja di kerajaan Accabbengempalinonoe. Adapun kabarnya yang menjadi raja berdaulat di negeri Assaburemmata Dettiya. ialah keturunan baginda raja di Assaburemmata Dettiya. yang memerintah di Assaburempalinonoe ialah keturunan baginda raja di negeri Uluwongeng. Berikutnya setelah mengkauk e ri Assabureng Mata Dettiya dia bernama I Mara Wellu. Adiknya I Marawellu bernama La Tenrisompa. Adiknya La Tenrisompa dinamakan La Sengngempali. Adapun adiknya
- La Sengnggempali. dialah yang bernarna Apummangenre. Adapun adiknya Apung Mangenre, dialah yang bernama Riwu Risompa. Adapun adiknya Riwu Risompa bernama Telettu Langi. Adapun adik dari Telettu Langi, dialah yang bernama Simpuru Keteng. Adik dari Simpuru ketteng dialah yang bernama La Weroile. Berikutnya adik La Weroile bernama Angimpalie. Adapun adiknya lagi Angimpalie dialah bernama I Lasalareng. Adiknya I Lasalareng, dialah yang bernama La
Pawewangi. Adiknya La Pawewangi bernama La Tanra Tellu. Adiknya La Tanra Tellu bernama La Wettowing. Adik La Wettowing disebut La Palaguna. Adapun adiknya La Palagu-na, dialah bernama Lasiallangi. Adapaun adiknya Lassialangi, dialah yang bernama Dettiya Langi. Sesudah Dettiya Langi dialah yang bernama La Wero Lette. Sesudah La Wero Lette, dialah yang bernama Simpuru Guttu, berikutnya adik Simpuru Guttu bernama Owappincen rituli.
- Di sanalah terdapat berbagai jenis ular yang saling belit membelit. ular lassa, ular yang berkepala sebelah-menyebelah, ular piton yang tampak jelas mencari mangsa di tangkai pohon kayu bla yang rendah. Di sana pulalah terdapat binatang monyet yang tertawa-tawa bergembira ria. Berkata Torisinau Pajjullakkoe ri Ale Luwu To Mappamenek Wara-Warae ri Watampare ( nama/gelar Sawerigading) apa gerangan di depan itu wahai kakanda La Sinilele, ratusan ekor jumlahnya semua terlihat serba hitam dengan deretan sigi gigi yang putih, sambil tertawa-tawa kudengar. Menyahutlah La Sinilele sambil berkata. itulah. dik orang pepohonan menurut penamaannya di petala langit.kera namanya di dunia. Di sana pula lipan raksasa yang amat besar. bagaikan sebuah istana. Sawerigading melihat batu kemenyan yang menjadi tambatan perahu para nelayan. La Maddukelleng kemudian melihat pula manusia bulai berjumlah ratusan orang saling beriringan. Masing-masing menumpangi perahu emas. serta dilengkapi dengan dayung panjang.
- Masing-masing menebarkan jala yang digantungi dengan batu batu jala terbuat dari emas. Tiba pulalah para nelayan dengan beriringan sebanyak ratusan orang. masing-masing menggunakan perahu emas dengan dayung panjang. Perahu emas milik Torisinaung Pajullakoe ri Ale Tomappamenek Wara warae ri Watampare dibawanya masuk ke muara sungai. Sawerigading bersepupu mengangkat wajahnya memandang. lalu dilihatnya para penyadap nira, ratusan jugalah beriringan. Mereka semuanya kemudian memanjat pohon aren dengan menggunakan tangga emas, sedangkan tabungnya terbuat dari labu pahit yang mengkilap. Akhirya ia pun tiba di pelabuhan dan Langi Pawewang bersepupu sangat terkesima melihat kendi keling yang berjijir di pinggir sungai. lumutnya terdiri atas
busana /perhiasan lengkap. Dilihatnya pula butiran pasir,tak ubahnya dengan berti beraneka ragam, ada yang hitam, ada putih, dan ada pula yang merah, sedangkan di tengah sungai ada batu intan. Sawerigading bersepupu kemudian melayangkan pandangannya, maka dilihatnyalah istana Lette Pareppak e (istana tempat kediaman Guttu Te lemma) yang timba layangnya terbuat dari bintang-bintang.
- Sementara itu tiba pulalah I Lasiallangi.Tiba pula I Lasalareng. Tiba pula Angimpalie Tiba pula Rakka-Rakka I Labanawa. Kemudian datang pulalah para dayang-dayang ada ratusan or ang beriringan, semuanya bermaksud ingin mengambil air. Masing-masing membawa kendi emas, ada pula membawa kendi keling, pergelangan tangan mereka dililit gelang emas dan jari tangan mereka pun berhiaskan dengan cincin permata yang indah-indah. Masing-masing mengenakan kain sarung putih, dan sanggul masing-masing berhiaskan kembang. Ada sebanyak tujuh buah tandu usungan berderet, semua beralaskan papan emas, tempat meletakkan air berbunyi untuk minuman Guttu Tellemma.
- Opunna Ware melihat pula penduduk setempat sama mengenakan perhiasan emas dan dipinggang masing-masing terselip pula keris bertahtak.an emas. Berkata Sawerigading. ternyata hanya sisa-sisa pusakanya Guttu Tellemma yang dimiliki oleh baginda junjungan kita Madeppa e ri Lappa Tellampulawengnge. Rupanya kekayaan Topalanroe telah ditumpuk Guttu Tellemma. La Sinilele menyahut berbarengan dua dengan La Pananrang sambil berkata, dia pulalah wahai adinda yang mewarisi pisimpatu, negeri tempat kelahiran Datu Pakiki. Para dayang-dayang itupun telah tiba di pinggir sungai. maka We Atimega tercengang mel ihat ratusan perahu yang berlabuh, dan salah satu perahu berukuran sangat besar sehingga membendung
- aliran sungai, perhiasannya menerangi negeri. Para dayang itupun sama kembali ke Rumpa Mega tanpa mengambil air. Langsung menapaki anak tangga sambil berpegangan pada
pegangan tangga, melewati ambang pintu, menjejakkan kaki di lantai papan. Kebetulan sekali We Ati Mega menemukan orang-orang sedang duduk berkumpul di hadapan pelaminan. We Ati Mega pun segera duduk bersimpuh di hadapan pelaminan tempat duduk Guttu Tellemma. We Ati Mega menghaturkan sembah sujud lalu duduk sambil berkata telapak tangan hamba tidak lebih hanya segumpal darah, tenggorokan hamba hanya bagaikan kulit bawang, semoga hamba tidak kualat karena lancang berbicara kepada paduka. Ada perahu emas di luar di muara sungai wahai paduka, selurunya ada ratusan, namun hanya satu buah
- yang amat besar sehingga membendung aliran sungai. Hiasan perahu pendatang itu menyinari seluruh negeri. Maka betapa gembiranya perasaan hati Guttu Tellemma mendengarkan pemberitahuan We Ati Mega. la bagaikan sebuah bahtera yang oleng atau sebuah sampan yang tidak dilengkapi dengan cadik, terombang-ambing di tempat duduknya. Berkata Guttu Tellemma siapa gerangan anak manusia demikian gegabah melabuhkan perahu di Seliwellangi. tidak menyayangkan nyawanya, tidak menjaga tenggorokkannya (keselamaatn dirinya). Niscaya rokh mereka semua sudah melayang. Agaknya sudah tujuh bulan lamanya sukma mereka mcniggalkan raga di negerinya. Niscaya pula arwah mereka sudah berada di padang mahsyar. Mereka pun tentunya sudah terperangkap oleh para "pakdengngeng" (makhluk halus yang gemar berburu manusia) I Lasuwala, I Labeccocing Towalebboreng (dan) Pulakalie. Berkata pula Guttu Tellemma. pergilah kiranya engkau wahai Talletti Langi bersama Pallisu Langi. mengirimkan
- utusanmu mendatangi seluruh negeri taklukkan dan wilayah kekuasaan kita.Titahkan pula untuk mempermaklumkan kepada segenap penduduk, supaya jangan ada di antara mereka berlaku lancang untuk memberikan tumpangan kepada orang-orang perahu itu. Maka berangkatlah Taletti Langi bersama dengan Palisu Langi,langsung ke luar menuju ke pendopo di mana ia menudingkan jari telunjuknya sambil memberikan perintahnya agar para kurir menghubungi seluruh pelosok negeri taklukkan
serta negeri-negeri yang berada di bawah naungan kerajaan Rumpa Mega. Dititahkannya pula agar para kurir memberi maklumat kepada segenap penduduk. Maka para kurir itupun segera mengumumkan kepada segenap penduduk,sambil berkata, wahai segenap penduduk dengarkanlah,kalian yang berlaku lancang menerima orang-orang perahu itu akan dikenakan hukuman pancung, tanpa pengampunan. Kebetulan La Sinilele mendengarkan
- Pengumuman yang diteriakkan para kurir tersebut Berkata La Sinilele, wahai adinda Saguni saya dengar pengumuman dikumandangkan dari arah Rumpu Mega. Rupanya kita yang dipermaklumkan tidak diizinkan untuk diberi penginapan. Berteriak pula sang kurir, dengarkanlah wahai kalian semua penduduk. bagi mereka yang berlaku lancang memberikan tempat menginap kepada orang-orang perahu itu tidak akan diberi ampunan dari hukuman pancung. Berkata Pallawa Gau berbarengan dengan Sawerigading, bahwa konon kabarnya junjungan kita Guttu Tellemma tersohor sebagai raja perkasa, tanpa mangusut hubungan kekeluargaan. Kembalilah para kurir ke pendopo. Tidak lama kemudian. berdatanganlah segenap laskar rakyat dari segenap negeri jajahan dan negeri-negeri bawahan. Datang pula keturunan Guttu Tellemma yang empat puluh orang itu. Rakyatpun sudah berdatangan. telah tiba pula Datu Pakiki, Oro.
Pasaka, para pakdengngeng. Peresolae. Tosunrae,Towaleboreng. Pulakalie. Sudah datanglah segenap rakyat Guttu Tellemma. Mereka berebutan tempat duduk di hadapan Guttu Tellemma. Semuanya mengenakan mahkota emas, lengkap dengan keris di pinggang mereka. Semuanya membawa serta perisai emas perlindungan dirinya, sambil duduk bersimpuh di istana Sao Lette Pareppak e ( lstana tempat kediaman Guttu Tellemma). Berkatalah Guttu Tellemma, bersiaplah ka lian wahai pakdengngeng untuk mengganyang orang, hati manusia. Jangan kiranya ada yang engkau sisakan orang-orang perahu itu, makanlah semuanya. Siapa gerangan anak manusia yang amat gegabah dan berlaku lancang melabuhkan perahu di pelabuhan. Berkata pula Guttu Tellemma, harap engkau berangkat wahai La Rumpa Langi.
bersama dengan Palisu Langi (dan) Oddampatara ke luar ke sungai. Telitilah orang asing itu. Dari mana gerangan negeri asal orang yang berperahu emas itu. Apa gerangan tujuan dan maksud hati orang asing itu sehingga datang berlabuh di Saliwellangi. Nanti kalau sudah jelas negeri asalnya baru kita perangi mereka. Kita rampas perahu emas tumpangan mereka. Maka berangkatlah keduanya,bersama dengan puluhan orang pengawal, langsung menuju ke muara sungai, kemudian ia berdiri tegak di pinggir pelabuhan sambil berkata, mohon maaf, kami bertanya karena tidak tahu, memang sepatutnya kita bertanya jikalau tidak saling mengenal. Dari manakah kiranya negeri asalmu ? Di mana gerangan negeri kediamanmu. Menyahut La Sinilele.
- sambil berkata jauh nian negeri asalku. Tidak terliihat negeri tanah tumpah darahku. Berkata pula La Sinilele, ketahuilah wahai paduka bahwa negeri asalku sangat jauh, letaknya berada di sebelah timur tempat terbitnya matahari. Maka Palisu Langipun mengucapkan kata-kata dalam bahasa burung, hanya bibirnya yang kelihatan bergerak-gerak, namun ucapan katanya tidak kedengaran. Akan tetapi berkatalah Palisu Langi sungguh arif bijaksana nian para bocah asing ini menjawab pertanyaan. Lalu berkata Palisu Langi apa gerangan tujuanmu mengembangkan layar dan mengarungi lautan hingga engkau tiba dan berlabuh di Saliwellangi ini? Sedangkan saya melihat kalian semua masih bocah. Gelang-gelang kakimu pun belum dibuka. Belum juga putus.
kalung bersusun di dada kalian. La Sinilele lalu menyahut, sambil berkata tidak lain hanya sabungan ayam yang menjadi tujuan pelayaran junjunganku, sebab sudah tersebar luas di negeriku,bahwa sungguh ramai sabungan ayam di Saliwilangi. Sebanyak tiga ratus ekor ayam jago diadu setiap hari. Perjudian hanya berhenti di malam hari. Konon kabarnya titian yang dilalui para penyabung ayam naik ke atas gelanggang adalah terbuat dari papan emas. Kalung enas diikat bagaikan buah asam, gelang emas digenggam bagaikan beras tanpa ditakar, gelang-gelang panjangpun tidak diukur.
Para dayang-dayangpun dijadikan barang taruhan tanpa diukur tinggi-rendahnya. ltulah yang diharapkan adik junjungan hamba, sehingga kami mengarungi samudera sekedar untuk datang menyabung ayam di Saliwellangi. Berkatra pula La Sinilele, itulah paduka yang mulia, adindaku Langi Pawewang dibuatkan upacara menginjak tanah, sedangkan kalung bersusun di dadanya belum lagi terputus, gelang kakipun belum terurai, lalu kam i berlayar kemari untuk mengadu a yarn di negeri Saliwellangi. Menyahut La Rumpa Langi sambil berkata, tetapi tidak pantaslah kami melawanmu mengadu ayam wahai datu Jawa. Tidak kurang titisan dewa dari kayangan yang dapat di terriani menyabung ayam, dari pada kalian yang masih bocah-bocah, apalagi kalian itu bangsawan jawa. Menyahut pula Taletti Langi dan La Rumpa Langi sambil berkata tidak pantas.
- kiranya engkau wahai La Sinilele menyebut-nyebut perihal; sabungan ayam. Berkata pula La Rumpa Langi, bahwa tidak lain yang saya anggap baik ialah biarkanlah saya membawa kamu naik ke istana. Engkau kujadikan tukang kebun di pekaranagan rumah. Adapun adikmu itu yang bernama Langi Pawewang biarkanlah kujadikan juru pelihara ayam. Kujadikan pampasan perang perahu emas tumpanganmu. Biarlah kuambil sebagai pampasan perang segenap isi perahu emas tumpanganmu. Sebab tidak ada nian anak manusia berani melabuhkan perahunya di Saliwellangi. Raut wajah La Pananrang bagaikan tertutup awan. demikian pula La Massaguni. berdiri urat di dahinya, biji matanya berkaca-kaca. perasaan hatinya tidak karu-karuan mendengarkan ucapan La Rum pa Langi. Maka bagkitlah La Pananrang dan La Massaguni sambil menggigit bibirnya
- Lalu mengepalkan tinju dan menggenggam hulu kerisnya, kemudian menghentakkan kaki di geladak perahu. Gelang kakinya pun gemerincingan bagaikan burung nuri, putus-putus kalung bersusun di dadanya. Berkatalah La Pananrang dan Massaguni, dengan suara sesenggukan. wahai La Sinilele titahkanlah untuk merapatkan perahu di pinggir sungai. biar saya menghadapi La Rumpa langi. Biar engkau menyaksikan yang
namanya laki-laki bertarung di atas pasir, melawan orang yang amat lancang mulutnya menghina sesama datu. Betapa murkanya La Sinilele memandang sepupunya. La Sinilelepun meludah ke atas tanah lalu menudingkan jari telunjuknya kepada sepupunya, sambil berkata mengapa gerangan sampai engkau ingin mendahuluiku wahai La Pananrang dan La Massaguni, tanpa memikirkan keselamatan nyawanya
o:rn. orang-orang Luwu dan orang-orang Warek itu. Tidak ubahnya dengan orang yang terkena sirep La Pananrang dan La Massaguni, sampai keduanya kembali duduk diatas geladak perahu. Lalu berkatalah La Sinilele. kur jiwamu wahai pembesar negeri. Kupersembahkan sembah sujud di bawah kemuliaanmu. Hanya karena mengharapkan belas kasihmulah maka aku rnelabuhkan perahuku di Saliwellangi. Adapun keinginan untuk rnenjadikanku pampasan dengan segenap sepupuku, hal itu kumohonkan rnaaf kepadamu wahai pernbesar negeri. Saya bersedia menyerahkan ribuan dan jutaan emas. sebagai tumbal atas nyawa karni bersepupu, sehingga kami dapat pulang kernbali ke negeri sendiri. Menyahut La Rumpa Langi, sarnbil berkata wahai bocah tidak rnungkin lagi Engkau kembali ke negerirnu. setelah engkau terlanjur berlabuh di pelabuhan. Akan tetapi wahai rnanusia perahu jikalau engkau
03 I. tidak sudi kujadikan tawanan silahkan angkat perisai emasmu, lalu kita mengadu senjata dan kita sabung laskar kita. serta rnari kita bertarung. Berkata pula La Rumpa Langi, tidakkah tersebar di negerirnu di Tanah Jawa. bahwa Guttu Tellemrna itu sang penguasa di Saliwellangi tidak melakukan apapun kecuali berperang. yang senantiasa bernazar mengorbankan seratus ekor kcrbau agar supaya ia berselisih paham, sehingga ada alasan untuk melakukan peperangan. Maka Topalanroepun telah merahmatrnya sehingga engkau datang berlabuh di pelabuhan (ini). Namun sesungguhnya sudah habis umurmu hidup di dunia. Niscaya pula arwahmu sudah pindah ke padang mahsyar. Menyahut La Sinilele, sarnbil berkata demikianlah wahai paduka yang mulia maka kumohonkan maaf darimu. s.ebab bukanlah pertempuran yang kuidamkan
- sehingga melakukan pelayaran ke Saliwellangi. Selain itu. wahai paduka yang mulia bagaimana aku dapat melawanmu berperang, sedangkan aku ini belum tahu memegang senjata dan belum tahu mengayunkan lembing. Kecuali apabila engkau mau mengasihani diriku dan memberiku petunjuk dalam hal mengadu ayam, memegang senjata dan mengayunkan lembing. Bel um juga usai pembicaraan La Sinilele perahu wakka werowe pun telah dihujani dengan lembing. Bergegas La Pananrang serta La Massaguni bersama dengan segenap laskarnya menghunus "alameng mana sesumangek na" (parang sejenis pedang pusaka) dan mengambil perisai Jalu terjun ke sungai. Hanya perisainya jua yang mereka bawa berenang naik ke darat. Maka ributlah orang banyak itupun saling gempur. Maka terpancunglah pimpinan pasukan andalan La Rumpa Langi. sehingga pengawal pilihan La Palisu Langi mengambil langkah seribu. Berteriaklah La Pa nan rang sambi I berkata tidak ada malumu
- wahai La Rumpa Langi sehingga engkau melarikan din. Angkatlah kembali perisaimu dan mari kita mengadu nyawa. Berkata Palisu Langi lancang nian dikau wahai La Pananrang. sehingga engkau ingin mengadu senjata denganku. Sekiranya engkau seekor kerbau wahai La Pananrang. maka tandukmu belum tumhuh. belum juga sampai segenggam dagingmu. darahmu pun belum sampai secangkir. Tidakkah engkau tahu bahwa lawanmu ini adalah panglima perang handalan Guttu Tellemma. Benteng pertahanan baginda raja di negeri Rumpa Mega yang tidak tergoyahkan. Menyahut La Massaguni. sambil berkata, engkau mengaku sebagai benteng pertahanan handalan Guttu Tellemma, namun saya adalah benteng pertahanan Pamadelette yang tidak tergoyahkan, lelaki jantan dari semua lelaki yang tidak takut berada di depan dan tidak pantang tinggal di belakang.Menyahut Palisu Langi sambil berkata : " Hari ini adalah awal pertempuran, bersiap-siaplah hingga besok ataupun lusa'·, janganlah kiranya engkau menyangka
- bahwa ini adalah pertempuran secara mendadak dan peperangan yang curang, tanpa mempersiapkan para laskar.Panrita Ugipun memerintahkan agar genderang peperangan ditabuh untuk
mengurnpulkan para laskar. Maka berhamburanlah segenap laskar Luwu dan laskar Ware. Orang banyakpun saling berdesakan turun ke pasai ( darat) dengan perlengkapan perangnya yang serba lengkap. Maka para abdi pendukung Opunna Ware pun menjadi ramai. Genderang peperangan di Rumpa Mega pun telah ditabuh, untuk mengumpulkan segenap pasukan perangnya, sehingga genderang peperangan kedua belah pihak saling bersahut-sahutan. Berkatalah Jemmu Ricina, perintahkanlah wahai puwang ri Luwu, puwang ri Ware untuk melakukan upacara penangkal roh jahat, makhluk halus dan pengusir para Pakdengngeng di atas perahu.Maka dikepulkanlah asap dupa, untuk rnenangkal pengaruh roh halus dan peddengeng. La Mattoreang pun lalu rnemberikan perintah agar seluruh peralatan perang ditunmkan ke darat.
- Dikibarkanlah Sulekka Kati Manurungnge ri Ale Luwu ( Panji panji kerajaan pusat Luwu). Dinaikkan panji-panji Tornpi Kuruda Manurungnge ri Tompo Tikka. Sarawummega Tompe e ri Sawammega. dinaikkan pula ke darat segenap peralatan yang beraneka agam jenisnya. Hutan belukarpun dirarnbah. bedil dibagi-bagikan. senjata tajampun disebarkan. Maka. bangkitlah Sawerigading bersama Pallawa Gau untuk bersalin pakaian. mengenakan pakaian perang. dilengkapi dengan mahkota emas sebagaimana layaknya dewa-dewa di petala langit, keris emas tempahan ahli keris dari Mata Solo, serta "alameng" (sejen1s pedang) pusaka dari negeri Ale Luwu. Mereka bersepupu sama berpakaian lengkap kemudian berangkatlah Torisinau Pajullakkowe ri Ale Luwu To Mappamene
- Wara-Warae ri Watarnpare (salah satu nama Sawerigading) sambil bergandengan tangan dengan sepupunya. Tidak ubahnya dengan api yang menyala-nyala pakaian perangnya bersepupu. Abdi dalam berjalan di depan, sarnbil rnembawakan "Puan" tempat sirihnya. Lelaki Luwu berjalan di belakang sambil mengibas-ngibaskan kipas kayangan. Mereka pun lalu berebutan naik kegeladak perahu langsung dinaikkan di atas tandu usungannya. di tudungi dengan "pajunrakkile" ( payung kebesaran) naungannya bersepupu. Bagaikan matahari yang
baru terbit cahaya panjurakkile naungan Sawerigading yang sedang melangkah naik ke darat. Demikian ucapan kata Pallawa Gau
03 7. Sendawa sudah mengepu I. darah sudah tergenang, batok kepala ditebaskan kiri-kanan. mayat-mayat te.rinjak-injak, orang -or ang terluka rebah tum pang tindih, orang-orang sekaratpun jatuh bergelimpangan, orang-orang jatuh terbaring dilanda senjata tajam tidak dapat lagi dilindungi,curahan darahpun sudah membanjir. Walaupun raja berdaulat yang terpancang tidak dapat lagi diperhatikan, tidak disambar dengan perisai emas. Tidak ada lagi abdi. mahkota emas milik para laskar sudah bertebaran. Maka datanglah sang paddengngeng, peresolae. or ang-orang Sunra. I Lasuwala. I Labeccocing. To walebboreng. Pulakalie. berbarengan dengan Datu Pakiki dan Oro Pasaka. Maka berkecamuklah kembali pertempuran. Para laskar bercampur baur. letusan bedil menggelegar. Para padengngeng sama membawa jerat dari besi kuningan. demikian juga peresolae. Roh-roh haluspun sama bergem bira ria
- sama ingin menangkap manusia. Tidak ubahnya La Massaguni dengan angin badai yang tidak rnengenal ampun dan ia bagaikan rusa liar yang enggan mencium bau manusai. Seolah-olah ujung kakinya tidak menginjak bum i. lalu tapak tangan di kepalkannya sambil menekan hulu kerisnya dan membawa serta perisai emas pelindung dirinya.kemudian menghamburkan diri ke barisan musuh yang berlapis-lapis sambil menebaskan pedang pusakanya. Namun kulitnya tidak tergores sedikitpun.bahkan tangkai jerat segenap laskar paddengngeng itu sendiri menjadi patah-patah. Maka bobollah pertahanan laskar paddengngeng, Datu Pakiki. Oro Pasaka. Pallawa Gau pun membaurkan diri dalam pertempuran bersama dengan La Sinilele. sambil mengadu senjata yang terbuat dari cakar garuda. Tidak ubahnya Pallawa Gau dan La Sinilele. 039 dengan orang yang sedang kesurupan roh halus. Kemarahan Pallawa Gau dan La Sinilele sudah memuncak, sehingga keduanya bagaikan rusa liar, ujung kakinyapun seolah tidak menginjak tanah dan dengan perisai emas ditangannya, lengkap
dengan pakaian perang ia menerjunkan diri dalam kancah peperangan. la menyerbu barisan musuh yang berlapis-lapis, langsung menancapkan perisai emasnya dihadapan Oddampatara dan Lette Mangkau, sambil menghentakkan kaki di atas tanah sehingga gelang kakinya berbunyi riuh bagaikan burung nuri,kalung bersusun di dadanyapun putus-putus. lalu berkata: "Kemarilah mereka ingin mengad. u senjata. Kita sama sama menyebut diri laki-laki jantan yang tidak mengenal istilah takut di medan laga. Kita sama-sama biasa
- menentang (batok kepala musuh) di medan pertempuran. I La Datunna mengulangi ucapannya sambil berkata tidakkah engkau tahu. balnva sayalah ini temanmu La Pallawa Gau dan La Sinilele. benteng pertahanan Pamadellette nan tidak tergoyahkan. Panglima perang handalan Langi Pawewang yang selalu mengorbankan seratus ekor kerbau apabila terjadi perselisihan yang menimbulkan peperangan antara kedua raja yang bermusuhan.Bagaikan awan gelap menutupi wajah Lette Mangkau. mendengarkan ucapan Pal lawa Gau. bij i matanya berkaca-kaca.urat dahinya berdiri tegak. dadanya membara dan perasaan hatinyapun menjadi kacau-balau. Memuncak lah kemurkaan Lette Mangkau, maka iapun bangkit mengayunkan lembingnya dan dengan geram berkatalah Lette Mangkau. lancang nian engkau wahai Pallawa Gau dan La Sinilele. Sekiranya engkau itu ibaratkan kerbau wahai bocah cilik. niscaya dagingmu belum sampai segenggam tang.an.
- Belum ada secangkir darahmu.Tandukmupun belum tumbuh. Berkata pula Lette Mangkau melanjutkan ucapannya.bahwa sedangkan engkau itu mengatakan diri sebagai panglima perang adindamu. apalagi saya ini adalah benteng pertahanan Rumpa Mega. Menyahut Pallawa Gau menjawab ( ucapan Lette Mangkau) sambil berkata bijaksana nian sang Topalarowe. wahai yang mulia. Rupanya kita suqah ditakdirkan sang dewata untuk bertemu, sama-sama biasa merampas batok kepala di medan pertempuran. Maka pertempuranpun kembali berkecamuk. Para laskar bercampur baur. orang-orang terluka saling menindih. Para laskar sating mengadu keris Pallawa gau
dan La Sinilele bergerak dari sebelah· kanan sambil menebaskan pedang pusakanya.Tidak ubahnya. Pallawa Gau dan La Sinilele dengan orang yang sedang menebang pohon pisang muda. Ada ratusan anak
- dewata yang digugurkannya ke permukaan padang di Rumpa Mega. Orang-orang Luwu dan orang-orang Ware pun mengejar (musuh-musuhnya). Sudah tergeser kedudukan Pajumperune (payung kerajaan) naungan Guttu Tellemma, namun kejaran musuh belum juga mampu dibendung. Sementara itu La Pananrang serta La Massaguni tidak henti-hentinya pula menebaskan pedang pusakanya. La Rumpa Langi dan Lette Mangkau segera melarikan diri dan terdesak ke dalam pekarangan. Para laskar tid;ik saling memberi kesempatan kepada musuhnya 11ntuk minum air. Kedua belah pihak tidak saling memberi ke;,;empatan untuk mengejapkan mata. Lette Mangkau dan La Rumpa Langi pergi duduk di dekat tiang pusat rumah. lalu termenung memikirkan jalannya pertempuran. Berkata Palisu Langi kita bakal menjadi bahan sorak-sorai dari datu (raja) lain sedangkan kita pun sudah malu
bertekuk lutut di medan pertempuran. Padahal jelas kita ini keturunan dewata. sedangkan dia itu mengakui diri sebagai datu Jawa. Namun tidak pantas kalau kita harus dikalahkan oleh datu Jawa. Menyahut Lettc Mangkau sambil berkata padahal saya lihat orang perahu itu terdiri atas bocah cilik bersama seluruh abdinya. Adapun yang bernama La Pananrang dan La Massaguni sungguh adalah lelaki jantan. yang tidak segan tinggal di muka dan tidak takut di belakang. Niscaya dia masih bocah. namun dia sangat mahir membawa senjata tajam dan mengayunkan lembing di medan pertempuran. Tampaknya bocah-bocah asing itu sudah berpengalaman menghadapi peperangan. Menyahut Taletti Langi sambil berkata, sebaiknya kita naik menyampaikan hal ini kepada junjungan kita. Kedua orang bersaudara itu mengambil kata sepakat. Maka bangkitlah Taletti Langi.
pindah duduk di hadapan jun.1ungannya. Berkatalah Teletti Langi, bagaimana gerangan pemikiran paduka junjungan hamba, laskar kita sudah kewalahan. Sudah pada lari sang paddengngeng, peresolae. I Lasuwala, I Labeccoci, Towalebboreng, Pulakalie. Taletti Langi melanjutkan ucapan katanya, bahwa agaknya kita bakal menjadi bahan tertawaan sesama raja-raja, padahal bocah cilik semuanya yang bakal mengalahkan kita. Bagaikan api yang membara Guttu Tellemma, berdiri tegak trisula di dahinya, perasaan hatinyapun kacau balau. Kemarahannyapun memuncak mendengarkan perkataan Taletti Langi. Guttu Tellemma bergegas turun dari tandu usungannya lalu memegang hulu kerisnya, kemudian membuang ludah sambil berk.ata tidak ada
- malumu wahai paddengngeng Peresolae, Tosunrae. I Lasuwala. I Labeccoci. Towalebboreng. Pulakalie. Biarpun engkau melarikan diri bukan juga engkau yang bakal menjadi raja di Rumpa Mega. Kenapa gerangan kalian tidak mau kembali bertarung dengan datu Jawa itu. Kendati engkau melarikan diri tidak bakalan juga engkau yang memerintah kerajaanku. Betapa murkanya Guttu Tel lemma. sambil menudingkan jari tangannya ke wajah para pengawalnya, lalu berkata tidak ada nian malumu sampai melarikan diri tanpa menoleh • tiada memandang payung kebesaranku. Kembalilah engkau bertarung mati-matian dengan datu Jawa itu. Barulah timbul rasa malu pada segenap keturunan Guttu Tellemma. Segenap paddengngeng pun peresolae. Towalebboreng. Pulakalie menyiapkan kembali peralatan perang mereka, kemudian mengangkat perisai emasnya.
- Datang pulalah Lette Mangkau. La Sessunriwu. Datu Pakiki Oro Pasaka mengayunkan tombaknya sambil menyerbu barisan musuh yang berlapis-lapis. Maka berkecamuklah kembali pertempuran. Para laskar saling bercampur baur. saling bertindihan orang-orang yang terluka, sedangkan para kesatria yang sudah berpengalaman di medan laga mengadu keris. Para laskar maju mundursaling berganti. Bunyi tombak bagaikan tenda yang runtuh. Bunyi perisai emas berkumandang sampai ke langit, bunyi letusan bedil menggelagar, namun La
Pananrang, La Massaguni. Pallawa Gau. serta La Sinilele belum juga tergoyahkan dari kubu pertahanannya. Untung saja leher La Sessunriwu tidak terpenggal sebab tiba-tiba Datu
- Pakiki terburu-buru melindunginya dengan perisai emas,lalu ia bergegas membawa lari junjungannya itu ke luar angkasa. Laskar pengawal Guttu Tellemma pun sudah terpukul mundur. Betapa murkanya Guttu Tellemma menyaksikan laskarnya mengundurkan diri. Maka bangkitlah "Punna Lipuk e ri Rumpa Mega" (nama panggilan Guttu Tellemma), lalu mengacungkan telunjuknya ke langit sehingga menimbulkan suara guntur. mendatangkan j ilatan ki lat dan pet ir. disusu I dengan turunnya gelap di medan peperangan. Maka bingunglah segenap laskar Luwu maupun laskar Ware tersambar petir. Orang-orang Luwu dan orang-orang Ware tidak mampu lagi mengangkat perisai emas, sehingga para laskar Sawerigading itupun mengundurkan diri. Maka goyahlah pertahanan Pallawa Gau dan La Sinilele. goyah pulalah pertahanan La Pananrang dan La Massaguni. Panji-panji sang Tompi Kurudapun sudah terdesak dari kedudukan semula.
- Terdesak pulalah panji-panji Sulekka Kati Manurungnge ri Tompo Tikka. Sav.erigading pun menjadi murka dan buru-buru turun dari tandu usungannya. tanpa diiringkan dengan pembawa puan tenpat sirihnya dan tanpa dinaungi dengan pajunrakkile (payung kebesaran). dikepalkan telapak tangannya sambil memegang hulu keris \ara··\'aranya. Dihentakkan kakinya di atas tanah. sehingga gelang "akinya berbunyi riuh bagaikan suara burung nuri. Kalung bersusun yang tergantung di bidang dadanya putus-putus. lalu direnggutkannya mahkota emas dari kepalanya. kemudian ia menghaturkan sembah sujud ke arah langit. "toddang tojang" dan ke "peretiwi". Maka naiklah air pasang di tengah padang. sehingga padamlah api dewata yang sedang menyala-nyala di medan pertempuran. Hantaman petirpun segera terhenti. omhaknya bergulung-gulung saling berkejaran di tengah padang.
- Segenap perlengkapan perang laskar Rumpa Langi telah basah kuyup, laskar Guttu Tellemmapun tidak mampu lagi melakukan
perlawanan. Punna L1puk e ri Rumpa Mega pun segera menghaturkan sembah sujud ke Botillangi dan ke Senrijawa. kemudian menurunkan gelap dan mendatangkan "angin lallatang" (jenis angin yang disertai rasa gatal). Maka laskar Luwu serta laskar Ware tidak dapat lagi melihat apa-apa. Semua hanya sibuk menggaruk batang tubuhnya. Tidak ada lagi laskar Sawerigading yang mampu menggerakkan perisai emasnya, maka berebutanlah anak-anak Guttu Tellernma yang empat puluh itu. menerjunkan diri ke barisan musuh yang berlapis lapis, sambil menebaskan pedang mereka kiri dan kanan. La Sessunriwu dan Lette Mangkau tidak ubahnya dengan angin badai yang tidak mengenal ampun. Kedua belah pihak tidak memberi kesempatan ke pihak lawan untuk mengejapkan mata. Masing-masing memuj i diri · sebagai lelaki jantan yang tidak mengenal takut di medan pertempuran.
- Terjadilah pertarungan antara anak-anak datu kedua pihak. mereka saling mengadu perisai emas.Pallawa Gau menusukkan tombaknya hingga hampir-hampir menyentuh permukaan tanah. namun tiba-tiba La Sessunriwu menyerangnya dengan lontaran tombak. langsung menembus perisai emasnya dan menancap di bagian lambungnya. Maka terkaparlah mayat Pallawa Gau di atas tanah. Adapun Lette Mangkau melakukan serangan terhadap La Sinilele dari arah sebelah kiri. dengan sodokan tombak sehingga mengenai perisai emasnya, tembus hingga menancap di dadanya. Mayat La Sinilelepun jatuh terkapar di tengah padang. Bagaikan teriris-iris perasaan hati La Pananrang dan La Massaguni. sambil mengalungkan lengan pada batang leher La Sinilele dan Pallawa Gau. Napas La Pananrang
- dan La Massaguni terasa sesak dan sambil mengucurkan air mata iapun berkata, wahai kakanda La Sinilele. wahai adinda Pallawa Gau tahankanlah sejenak nyawamu dan dengarkanlah duka citaku. Janganlah kiranya engkau buru-buru pergi, wahai adinda La Gau. La Sinilele. Janganlah kalian menyeberang sendiri kepadang mahsyar, memasuki akhir hayatmu. Berkata pula La Pananrang bersama La Massaguni, nantikanlah saya di
"Anrobbiring", nanti kita bertemu di alarn arwah dan bersama-sarna menyeberang ke padang rnahsyar. Biarlah saya pergi menernukan ajalku.
- Di rnedan perternpuran. Segera sesudah rnengungkapkan rasa, maka La Pananrang dan La Massagunipun rnenghunus keris pusakanya sambil rnenggigit bibir. Tindakan La Pananrang dan La Massagunipun itupun diikuti pula oleh segenap keturunan sang Manurungnge ri Ale Luwu yang berjurnlah tujuh puluh tujuh orang itu. Mereka bagaikan orang-orang kemasukan roh halus dari Ruwalette, langsung rnenyerbu ke barisan musuh yang berlapis-lapis untuk mengadu nyawa.Maka berkecamuklah kernbali perternpuran. Para laskar saling campur baur, sating membenturkan perisai emasnya. saling rnengadu senjata tajam. Dari arah sebelah kiri La Sessunriwu dan Lette Mangkau menyodokkan tombaknya ke arah La Pananrang dan La Massaguni, langsung rnengenai perisai emasnya, dan tembus sampai ke pinggang La Pananrang dan La Massaguni. Maka terkaparlah
- mayat La Pananrang dan mayat La Massaguni di tengah padang. Tewaslah semua keturunan Sang Manurungnge ri Ale Luwu. maka tinggallah Sawerigading sendirian di medan pertempuran. hanya ditemani oleh La Maranginang yang tidak tewas. Maka duduklah Sawerigading bersepupu dengan air mata mernbasahi pangkuannya. sambil menganangkan sepupunya yang tujuh puluh tujuh orang itu. Anak-anak Guttu Tellernrna sama bersuka ria. bersorak sorai dan bergembira ria ketika dilihatnya Sawerigading sudah tinggal sendirian terpekur di bawah naungan payung emasnya. Dilihatnya mayat para laskar bergelimpangan di medan pertempuran. maka La Sessunriwu bersama dengan segenap abdinya bersorak-sorai. Para peddengngeng, peresolae, I Lasuwala. I Labeccoci,
- Towalebboreng, Pulakalie juga bergembira ria.Para "paddengngeng", Datu Pakiki dan Oro Pasaka sama mengganyang mayat, melahap hati manusia.Para "paddengngeng" bergembira ria dan makan-rninurn sambil
tertawa terbahak-bahak. Tidak ada satupun mayat abdi Sawerigading yang tersisa. Segenap abdi dari Luwu dan dari Ware habis dimakan semua sang "paddengngeng", "peresolae", "To Sunrae". "ILasuwala","ILabeccoci"."Towa lebboreng", "Pulakalie". Hanya anak-anak keturunan sang Manurungnge ri Ale Luwu yang tidak dimakannya, karena darahnya pahit, sehingga tidak dapat ditelan. Maka bangkitlah La Sessunriwu meletakkan peralatan perangnya, kemudian pergi membuang (mayat-mayat keturunan Manurungnge ri Ale Luwu) di sungai.
- Berkata La Maranginang sambil menangis. bangunlah. wahai adinda La Tappu. Mari kita pergi mencari mayat orang yang terkena musibah bersepupu (maksudnya segenap sepupu Sawerigading). Maka barulah bangun duduk Torisinau Pajullakkoe ri Ale Luwu bersama sepupunya. kemudian membuka puan tempat sirihnya sambil menenangkan perasaan hatinya. Setelah habis makan sirih. maka bengkitlah Sawerigading sambil berpegangan tangan dengan La Maranginang. Di lihatnyalah mayat sepupunya bergelimpangan di tengah padang. Bagaikan tersayat perasaan hati Opunna Ware. iapun lalu menghempaskan dirinya berbaring ke atas tanah. Dilingkarkannya lengannya pada leher La Pananrang dan La Massaguni dan Sawerigading pun berkata sambil terisak. \ahai La Nanrang, La Massaguni dan segenap sepupuku
tega nian perasan hatimu semua pergi meninggalkan diriku. Sambil menangis berkata pula La Maddukkelleng wahai Panrita ngi dan segenap sepupuku, kembalilah kalian semua untuk mengiringkan tandu usunganku. Nantilah kita beriringan wahai kakanda meniti akhirat, mengarungi sakratul maut. dan kita ramaikan padang mahsyar. sehingga samalah keadaannya kembali sewaktu kita masih hidup di dunia. Langi Pawewang menghempaskan pula dirinya berbaring di samping Jemmu Ricina. bagaikan nafasnya akan terputus. kemudian berkata lah La Maddukkelleng sambil mengucurkan air .mata saya sudah tenggelam dalam kedukaan wahai kakanda "Pallawa Gau". "La Sinilele", "Ulettipue ri Tompo Tikka", "Tamppu Pujie ri Sawammega". "Arattigana Awa Cempae ri Tompo Tikka ". Wahai kakanda sandaran hatiku. Narnun kemanakah engkau perg1
wahai kakanda La Gau, La Sinilele, sehingga saya tidak menemukan mayatmu. Apakah engkau sudah dilalap oleh "Paddengngeng", "Peresolae". Langi Pawewang berkata sambil menangis, jangan engkau buru-buru pergi wahai kakanda La Gau, La Sinilele. Kalau engkau tidak membawaku bersama, nantikan aku di Anrobbiring sampai kita bertemu di padang mahsyar. Nanti di sana kita berkumpul kembali wahai. La Sinilele. La Maddukelleng berkata pula sambil menangis, kita bersuka ria, tertawa dan bermain-main bersepupu ke sana ke mari. Torisinau Pajullakoe ri Ale LU\vu Tomappamene Wara Warae ri Watampare menangis pula sambil berkata. 058 Bagaimana nasib saya sepeninggalmu wahai kakanda La Gau La Sinilele dan segenap sepupuku. sebab saya tidak ingin pulang kembali ke Luwu hidup sendiri. tanpa pengiring, tanpa abdi dalem. Sayapun tidak ada muka lagi hidup di kolong langit di atas bumi. Kelak orang-orang akan berkata itulah sebabnya wahai kakanda maka saya tidak sudi kembali ke Ale Lll\vu. saya rasanya lebih suka memilih mati daripada kembali ke Ale Luwu sebagai mayat hidup. Sawerigading kemudian menghempaskan dirin) a berbaring di sisi mayat La Mattoreang. la lu ia berkata sam bi I menangis
- Kasihanilah aku wahai Tuhan. semoga Engkau berkenan mengagetkanku dengan petir, turunkan juga kepadaku angin badai. terjang pulalah diriku dengan kilat dari langit supaya aku hi lang I en yap bagaikan busa. Maka datanglah Salarengngede. lalu berkata "welo kalapa ri tudangenmu ellong ritangnge malluse majang le ri pemmaga le tenna mangenrek skessingngemmu" (ungkapan Bugis tradisional). Maka kagetlah Sawerigading mendengarkan ucapan Salarengnge. Maka Opunna Ware segera membuka puan tempat siihnya,lalu berkata silakan makan sirih wahai paduka yang gaib. Sawerigading melanjutkan ucapannya, sambil berkata ada apa gerangan wahai paduka sehingga engkau datang ke mari mengajakku berbicara. Menyahut salarengnge sambil berkata bagaikan manusia
- bahwa saya ini kakandamu bajeng tangkiling yang biasa melanda negeri. Menyahut La Tenritappu sambil berkata betapa
sialnya diriku wahai kakanda salareng menghadapi peperangan. Segenap orang Luwu dan orang Ware sudah tewas. Musnahlah segenap sepupuku. Namun yang menyusahkan hatiku, wahai kakanda Salareng karena saya tidak menemukan mayat Pallawa dan La Sinilele. Menyahut salarengnge tadi, lalu berkata maafkanlah aku adinda La Tappu. Tenangkanlah perasaan hatimu, jangan sampai engkau jatuh sakit karena terlalu banyak mengucurkan airmata, sehingga engkau tidak sanggup pergi menjemput mayat sepupumu. Menjawab La Maddukkelleng, sambil berkata itulah yang menyusahkan perasaan hatiku wahai kakanda salareng, karena tidak kutemukan mayat Pallawa Gau dan La Sinilele. Jangan sampai sudah dimakan
- oleh Sang "paddengngeng". Berkata "Salarengnge" itulah sebabnya maka saya mohonkan maaf kiranya engkau menghentikan tangismu, jangan sampai perasaanmu menjadi tidak tidak enak akibat terlalu banyak mengucurkan air mata. Adapun mayat Pallav.a Gau sedang terapung-apung di pusaran air. Adapun batok kepala Pallawa Gau sedang terjepit di antara akar Pao jengkie. Adapun mayat La Siniliele sedang hanyut pada alirann sungai. sedangkan batok kepala La Sinilele sedang tersangkut pada akar pohon daeko canik saramaie. La Maddukkelleng pun segera menghentikan tangisannya. karena merasa gembira mendengarkan penyampaian salarengnge. Berkata Salarengnge pergilah engkau wahai La Maranginang untuk menjemput mayat.
- sepupumu. agar adik kita Langi Pawewang dapat merekatnya dengan kenari Jawa. Nanti setelah sepupumu kembali utuh, barulah kita pergi ke timur di Wirillangi. Maka pergilah La Maranginang mengumpulkan mayat sepupunya,kemudian ditimbunnya dihadapan Opunna Ware. Onggokan mayat sepupu-sepupunya memenuhi seluruh padang luas. maka Sawerigading segera bangkit merekatnya dengan kenari Jawa. kemudian mengasapinya dengan dupa wangi. Ditancapkannya daun sirih serta "atakka" (sejenis dedaunan yang sampai sekarang digunakan oleh orang-orang Bugis di pedalaman. sebagai alat tradisional, juga digunakan sebagai penangkal roh
jahat) di bagian sebelah kanannya. sedangkan "tellek" dan "araso" (jenis tanaman tebu ham pa) pada bagian sebelah kirinya. Barulah kemudian Torisinau Pajullakkoe ri Ale Luwu Tomappamene Wara-Warae ri Watamapare bangkit berdiriJalu mengelitingi sebanyak tiga kali. Berkata Langi Pawewang bangunlah kalian wahai segenap orang-orang yang tertebas, or ang-orang terluka. Tega nian dikau tidur taripa tikar
- Pada bangi.mlah orang-orang Iuka, orang-orang sekarat serta mereka yang sudah terpenggal dengan pedang. Merekapun membuka mata sambil berkata, mana kerisku, mana pedangku. Saya tertidur sehingga menjadi lupa akan perang besar yang dipimpin adinaa junjunganku Menyahut Sawerigading sambil berkata, sesungguhnya kalian itu sudah dijadikan santapan sahabatmu ( yaitu ) orang-orang halus, Datu Pakiki, Oro Pasaka. Maka bangunlah segenap yang sudah terpenggal, orang terluka dan orang-orang yang sudah sekarat. Utuhlah kembali segenap sepupu Sawerigading. l.a Maddukkelleng menghamburkan diri sambil berbaring di atas pangkuan La Pananrang sambil memeluk leher sepupu sekalinya. kemudian Langi Pawewang berkata sambil menangis. duduklah dahulu di
- medan pertempuran. Sementara itu biarkanlah saya pergi mengikuti jejak sepupu kita Pallawa Gau dan La Sinilele, sebab mayat sepupu kita itu tidak ditemukan di medan peperangan. Bagaikan buah anggur yang gugur dari tangkainya air mata La Pananrang. Segenap keturunan Manurungnge ri Ale Luwu pun pada mengucurkan air mata. berkatalah La Pananrang sambil menangis marilah kita semua pergi wahai adinda untuk menyusul mayat sepupu kita La Sinilele dan Pallawa Gau. Berkata Langi Pawewang sambil menangis, tinggallah dikau wahai kakanda La Nanrang di medan pertempuran, menantikan kedatangan laskar pengawalnya Guttu Tel lemma ,jangan sampai utusan Torumpa langi datang untuk merampas perahu emas kita. Janganlah wahai kakanda La Wanrang engkau takut mengangkat senjata dan bertempur sepeninggal saya.
- Berkata pula La Maddukkelleng, janganlah sudi engkau menyerah dalam pertempuran wahai kakanda La Nanrang.
Jangan lah engkau mau bertekuk lutut atas serangan sang paddengngeng itu. Maka sang pangeran bersepupu itupun memperoleh kata sepakat. Berkatalah salarengnge,marilah wahai adinda Dukkelleng, kita pergi menyusul mayat sepupu sekalimu. Maka berangkatlah Sawerigading sambil dikempit oleh Salarengnge, melayang di antara awan menuju timur di "Assabureng Pallonyangnge" (lokasi pertemuan arus yang membentuk pusaran air di lautan). Dalam waktu sekejap mata tibalah dia Assabureng Pallonyangnge. Sang salareng pun menurunkan adiknya lalu berkatalah La Maddukkelleng, mumpung engkau mengasihiku wahai kakanda,mohon naikkanlah mayat sepupuku. Sang salareng pun menyahut sambil berkata jangan berkata begitu wahai adinda Dukkelleng. siapa pula yang menjadi sandaran hamba.
- selain engkau bersepupu. Maka pergilah sang Salareng menyambar mayat Pallawa Gau dan La Sinilele disatukannya lalu dikempit dan dibawanya naik di dekat pohon mangga (pao jengkie). Diletakkannya mayat Pallawa Gau dan mayat La Sainilele berdampingan. menangislah Langi Pawewang sambil berkata, wahai kakanda "Salareng", bagaimanalah caranya saya mendapatkan batok kepala sepupuku. Menyahutlah sang "Salareng" itu sambil berkata, wahai adinda La Tappu selamilah kepala sepupumu di bawah permukaan air. Maka Sawerigading bergegas pergi menyelam di bawah permukaan air. Airpun menyibakkan diri, memberi jalan kepada Sawerigading menu ju ke dasar sungai. Maka ditemukannyalah batok kepala sepupunya terjepit diantara akar mangga ( pao jengki).
- Betapa gembiranya Langi Pawew·ang mendapatkan kembali kepala sepupunya. Setelah itu ia pindah ke akar pohon "daeko cani saramaiye". maka ditemukannya pula kepala sepupunya itu tersangkut pada akar pohon "daeko cani saramaiye". Dengan hati gembira Sawerigading membawa naik kepala sepupunya lalu diletakkannya di samping pohon mangga ("pao jengki"). Batok kepala Pallawa Gau dan La Sinilele disambungkannya secara baik dengan batang tubuhnya masing-masing. Barulah kemudian merekatkannya dengan kenari Jawa, lalu diasapnya
IOO
dengan asap dupa na harum. Pada sisi sebeleh kanannya ditancapkannya "siri" dan "atakka" serta "tellek" dan "arase" pada sisi sebelah kirinya. Berkatalah Langi Pawewang. bangunlah wahai kakanda La Gau dan La Sinilele. Tega nian engkau tidur bukan di tempat tidurmu.
- Sampai-sampai engkau tidak ingat lagi perang besar yang kita hadapi. Namun Pallawa Gau dan La Sinilele tidak bergerak, tangan dan kakinya tetap kaku. Maka Langi Pawewang sangat terkejut menyaksikan keadaan sepupunya. La Maddukkelleng serta merta menjatuhkan dirinya berbaring di samping sepupunya. Dipeluknya leher sepupunya. kemudian berkatalah Langi Pawewang sambil mengucurkan air mata, celakalah aku. Sungguh aku kehilangan dirimu wahai sepupuku, panglima perang handalanku di medan pertempuran. La Maddukkelleng berkata pula sambil rnenangis, wahai La Gau. wahai La Sinilele sudah seharian saya memanggil-manggil di sisimu, namun engkau tidak menjawab sepatah kata pun. La Maddukkel Ieng bangun duduk. lalu memangku kepala kedua sepupunya. Berkata pula Langi Pawewang. wahai La Gau dan La Sinilele
- Sungguh nian aku sudah kehilangan drimu. lalu Langi Pawewang menundukkan kepala dan menatap raut wajah sepupunya sambil berkata di antara isak tangisnya, hiduplah kembali setelah kematianmu wahai kakanda La Gau, La Sinilele. Semoga nian perasaan hatimu yang kacau balau itu kembali pula tenang. Akan kupersembahkan sesajian kepada Topalanroe kerbau muda bertanduk emas diikat dengan rantai emas dan ditutup kain emas. apabila Topalanroe menurunkan rahmat-Nya sehingga kita kembali dengan selamat ke Ale Luwu. Akan kuadakan selamatan yang diramaikan seluruh kolong langit, wahai kanda La Gau, La Sinilele.
- Barulah bergerak kaki tangan Palllawa Gau dan La Sinilele, kemudian ia duduk dengan mernbuka kedua rnatanya. Buru-buru La Tenri Tappu merneluk batang leher sepupunya sambil mengucurkan air rnatanya. Sarnbil menangis berkatalah Torisinau Pajullakkoe ri Ale Luwu Tornapparnene Wara-Warae
ri Watampare, marilah kita pergi ke medan peperangan, menelusuri suratan takdir dari Topalanroe, belas kasihan dewa dewa kepada
- kita. Sebab di sana kakak kita La Pananrang dan La Massaguni sedang menunggu kita di medan peperangan. Kita berperang kembali melawan Torumpa Langi. Sebab saya tidak sudi wahai kakanda La Gau, La Sinilele bertekuk lutut di medan pertempuran. Apakah (nantinya) kepalaku dipancung La Rurnpa Langi ataukah batok kepalaku dikibaskan Lassensuriwu, atau negerinya di Rumpa Mega itu kubumihanguskan. Sambil rnenangis, berkata Pallawa Gau dan La Sinilele kur jiwamu wahai adinda Dukkelleng, semoga nian engkau panjang umur dan semoga nian engkau tidak bakalan gugur di medan pertempuran. Topalanroe dan para dewata niscaya rnengabulkan perrnohonanmu. N iscaya engkau bakal selamat sejahtera dalarn kancah peperangan. Menangislah La Tenri Tappu sambil berkata tidak ada seorang abdipun yang mereka sisakan
- di dunia. Semuanya habis dimakan rnentah oleh sang paddengngeng. Berkatalah Salarengnge. marilah dik La Tenri Tappu saya rnembawamu. sebab tinggallah di sana sepupurnu menanti dirimu di rnedan peperangan. Maka berangkatlah Langi Pawewang, bersama sepupunya dikempit oleh kakandanya sang salarengnge. Maka bertiuplah sang bayu melintasi. perkampungan. menyusup di antara awan, lalu tibalah sang salarengnge di rnedan peperangan. Buru-buru Sawerigading serta sepupunya ke atas tenda usungan, sesudah itu bertiup sang bayu (salarengnge). Berkatalah Pallawa Gau. titahkanlah wahai Panrita Ogi untuk menabuh genderang peperangan dan lihatlah yang disebut lelaki jantan yang pantang rnundur di medan pertempuran.Belum juga usai perkataan Pallawa Gau, Panrita Langipun segera bangkit menabuh genderang peperangan.
- Berkata Torurnpa Langi, harap engkau wahai Lasessunriwu berangkat ke sungai. menjemput tawanan dan bawalah mereka naik ke istana. Berangkatlah Lasessunriwu, berangkatlah anak-
anak Guttu Tellemma yang empat puluh orang itu, bersama dengan laskar taklukan dan negeri-negeri bawahannya, Datu Pakiki, Oro Pasaka, Paddengngengnge. Peresolae, I Lasuwala, I Labeccoci, Towalebboreng. Pulakalie. Habis orang banyak (penduduk) di Rumpa Mega sama pergi ke sungai. Belum juga sirih-pinang menjadi lumat tibalah La Sasessunriwu bersama abdinya di padang luas, lalu dilihatnya di bagian timur sana payung kebesaran Sawerigading, tampak bagaikan sinar mata hari yang menyilaukan mata. Berkatalah Datu Pakiki bagaimana gerangan pikiranmu
- wahai La Sessunriwu, Lette Mangkau, kelihatannya tidak dapat kita menawan orang perahu itu. Sawerigading belum bertekuk lutut, payung kebesarannya belum direbahkan, cahayanya masih bersinar bagaikan matahari yang sedang terbit. Bunyi genderang yang bertalu-talu tidak ubahnya dengan bunyi guntur yang berbalas-balasan. Berkatalah La Sessunriwu saya jadi bingung \vahai Pakiki, melihat orang perahu itu. Saya kira semuanya sudah tewas, tidak seorangpun yang tidak meninggal dunia, kecuali yang bernama Sawerigading. La Maranginang yang tidak tewas. Niscaya segenap laskarnya sudah habis terbunuh. Adapun yang bernama La Pananrang dan La Massaguni niscaya saya yang membunuhnya, Pallawa Gau
La Sinilele. Mereka itulah lelaki perkasa, sedangkan mereka itu sudah terbunuh, menimpali Lette Mangkau sambil berkata mungkin ada bantuannya yang datang dari Jawa. Mereka bersaudara menyepakati hal itu. Berkata La Rumpi Langi bersiap-siaplah kembali wahai segenap laskar perang. Awasilah jalannya pertempuran. Janganlah hendaknya kalian menyamakannya dengan perang yang terdahulu, sebab kita saat ini berhadapan dengan lelaki yang perkasa yang tidak mengenal takut di medan peperangan. Pallawa Gau melayangkan pandangannya lalu dilihatnya payung kebesaran La Rumpa Langi bagaikan terik matahari yang bersinar menyilaukan mata. Demikian ucapan Pallawa Gau, wahai adinda Dukkelleng La Rumpa Langi sudah datang dengan payung kebesarannya yang bercahaya bagaikan sinar mentari
Berkata Sawerigading bersiaplah wahai kakanda La Naranrang, La Massaguni, La Sinillele. Waspadalah dan mari kita mengadu nyawa dalam pertempuran, sebab saya tidak rela menyerah di medan peperangan. Berkatalah pula Langi Pawewang dengarlah kalian wahai segenap sepupuku, janganlah ada yang mau menjadi mayat hidup kembali ke Luwu. Satu nyawa untuk kita semua bersepupu. I Ladatunna memeluk leher adiknya lalu berkata sambil menangis, janganlah hendaknya engkau terjun ke dalam kancah peperangan wahai adinda Dukkelleng. Saya hanya ingin agar engkau tetap tinggal duduk di bawah naungan payung kebesaranmu, sambil memohonkan doa kepada sang dewat. Semua sepupu kita menyandarkan diri kepadamu,kecuali apabila bernasib sial dalam pertempuran
- sehingga kepalaku terpenggal ataupun batang leherku terpancung kembali. Barulah engkau bertindak sekehendak hatimu. sepeninggalku. Sebab perasaan hatiku tidak akan tega melihat dirimu mengayunkan senjata, menyodokkan tombak di medan pertempuran. Menangis sambil berkata Torisinau Pajullakkoe ri Ale Luwu Tomappamene Wara-Warae ri Watampare. saya tidak sudi wahai kakanda Datunna tinggal duduk menganggur di bawah naungan payung kebesaran. Biarkanlah saya turut serta dalam pertempuran. Sekiranya wahai kakanda La Gau engkau tidak merelakan saya ikut mengangkat senjata, mengayunkan tombak maka izinkanlah saya tinggal di garis belakang membawakan puan tempat sirih milikmu. Apabila tidak memberkati sehingga saya gugur di medan peperangan, ataupun kepalaku terpenggal. maka sayalah yang harus memimpin kalian wahai segenap sepupuku, sehingga akan bersama-sama
- terkapar mayat kita di medan peperangan. Janganlah hendaknya kita menyeberang sendiri-sendiri ke padang mahsyar. Bagaikan anggur yang gugur dari tanggkainya cucuran air mata segenap sepupunya mendengarkan ucapan Sawerigading. Sambil menangis berkatalah La Sinilele berbarengan dengan La Pananrang dan La Massaguni, wahai adinda I Ladatunna turutilah keinginan adik kita untuk turut berperang, mengangkat
senjata, mengayunkan tombak. Maka sepakatlah para pangeran itu bersepupu. Maka serentaklah mereka anak-anak datu dari Luwu dan anak-anak keturunan bangsawan dari Ware sama berangkat, berangkat pulalah Sawerigading bersama dengan Pallawa Gau, La Maddukelleng lalu menginjak batu dan menjejakkan kaki di atas bumi, kemudian ia rnenghaturkan sernbah sujud ke "ruwa" "lette" dan "uri" "liung". Sesudah itu barulah
- diberangkatkan panji-panji Sulekha Kati Manurungnge ri Ale Luwu, ditabuh pulalah genderang perang. Suara sorak-sorai orang-orang Luwu dan orang-orang Ware menggelegar begaikan bunyi guntur. Merekapun tidak ubahnya dengan or ang-orang yang sedang kesurupan roh-roh halus tosenrijawa dan ruwalette, sambil menerjang barisan rnusuh yang berlapis-la pis. Mereka lalu berhadapan dengan La Sesussunriwu. Lette Mangkau, sehingga pertempuran kernbali berkecamuk. Dari arah kiri, La Siniele menancapkan perisai emasnya di hadapan La Rumpa Langi dan Lette Mangkau. Berkatalah La Sinilele kernarilah wahai La Rumpa Langi. Biar kita mengadu senjata andalan di medan pertempuran. la tidak lupa memuji dirinya sebagai panglima perang yang tidak menyanyangkan nyawanya di medan pertempuran. Menyahut La Rumpa Langi panglima perang yang tidak takut mengorbankan nyawa di medan pertempuran, maka saya berkata bahwa
- sayalah panglirna perang andalan ayahandaku. Benteng pertahanan Rumpa Mega yang tidak tergoyahkan. Maka datang pula lah La Pananrang dan La Massaguni. sambil rnenggigit bibirnya dan rnernegang hulu kerisnya iapun rnengayunkan tombaknya lalu berkata kemarilah kalian yang berani mengadu senjata di medan laga. Saya rekanrnu La Pananrang, kain sarung Sawerigading yang pantang kusut, pelindung orang-orang teraniaya di tanah Jawa. Tiba pulalah Datu Pakiki, Oro Pasaka lalu bertarung dengan La Pananrang. Maka peperanganpun berkecamuk. Para laskar saling bercampur baur. Ki Iatan pedang para pangeran dari kedua belah pihak bagaikan kilat serta petir sambung menyambung, orang-orang Iuka turnpang tindah, dan
laskar yang berpengalaman di medan laga, saling tikam menikam dengan keris pusaka. Bagaikan guntur berbalasan.
- bunyi perisai emas yang berbenturan. Bunyui tombak bagaikan suara tenda yang sedang roboh. Sawerigading tidak ubahnya dengan badai yang melanda tanpa kenal ampun. la tampak bagaikan rusa liar, seolah-olah ujung kakinya tidak menginjak tanah, dengan perisai emas dan trisulanya yang terayun-ayun. Kalung bersusun di dadanya putus-putus. Sambil menggigit bibimya iapun menggenggam hulu keris pusakanya. Buru-buru La Massaguni, La Maranginang. La Mattoreang, Lasadakati mengapitnya. Dengan sangat murka, La Maddukkelelleng menyerbu ke arah musuh yang berlapis-lapis. Maka berhadapanlah mereka dengan
- La Sessunriv.u. La Rumpa Langi. Lette Mangkau. Mereka menudingkan jari telunjuknya ke wajah Langi Pav.ev.·ang lalu berkata kalian sungguh lancang wahai orang-orang perahu. ingin berperang denganku. Seandainya kamu itu kerbau. wahai bocah bocah. maka niscaya tandukmu belum juga tumbuh. dagingmupun belum sampai segenggam tangan. wahai Langi Pawewang Lette Mangkau berkata pula hanya yang saya anggap baik ialah lebih baik kalian menyerah di medan peperangan. maka nyawamu bersepupu akan saya ampuni. Engkau akan kunaikkan di istana, kujadikan engkau penjaga ayam. Perahu emas tumpanganmu kujadikan pampasan perang. Barulah kemudian kita bisa melihat orang-orang taklukkanku. Tetapi kalau engkau tidak sudi menyerah di medan perang. engkau bersama segenap sepupumu akan kubunuh.
- Biar kepalamu semua kuangkut dengan kuda beban bagaikan buah kelapa. Batok kepalamu akan kubawa naik ke istana. lubang hidungmu akan kujadikan tancapan obor. Adapun sepupumu semua akan kujadikan batok kepalanya untuk tempat makanan ayam jago andalanku. Pamadeng Lette sangat murka setelah mendengarkan ucapan Lette Mangkau. Sawerigading lalu membuang ludah, kemudian berkata jangan sembarangan
wahai Lette Mangkau, La Rumpa Langi. Lihatlah baik-baik bagaimana mukanya Sawerigading yang engkau kira sudi menyerah di medan pertempuran. Berkata pula Sawerigading, seratus pengawal andalanku. Kalaupun mereka semua musnah maka saya pun tidak bakal sudi bertekuk lutut kepada sesarna datu. Saya tidak rnerniliki turunan yang suka menyerah di medan peperangan. Kemarahan Sawerigading tidak dibendungnya lagi. Ditudingnya wajah Lette Mangkau. lalu membuang ludah,
- sambil berkata betapa sombongnya engkau wahai Lette Mangkau, ingin menawanku bersepupu, padahal gagang trisulaku be I urn juga patah. Hulu keriskupun be I urn patah. Entah siapa di antara kita yang bakal terpenggal kepalanya. Lette Mangkau menyahut, lancang nian engkau wahai Langi Pawewang sehingga engkau menentangku bertarung di medan laga,padahal kalian itu tidak lebih hanya berupa ayam-ayam muda yang belum tahu berkelahi. Namun engkau demikian lancang mengumbar kata-kata. Kemarahan Sawerigading sudah memuncak, sehingga ia mengadu perisai emas sambil rnenyerbu mem babi bu ta bersama segenap se pupunya. Bagaikan Pamadellette orang yang kerasukan roh halus menetakkan pedang pusakanya kiri kanan. Langi Pawewang tampak seperti orang yang menebas pohon pisang. Bergelirnpanganlah
- orang-orang yang tersambar pedang. Orang-orang sekarat dan orang-orang terluka saling tumpang tindah. Darahpun rnengalir. La Rurnpa Langi dan Lette Mangkau terpukul mundur, lalu berdirilah La Maddukkelleng di tengah padang sambil menggigit bibirnya, kemudian dihentakkannya kakinya di atas tanah. Bunyi gelang emas di kakinya menjadi riuh bagaikan suara burung nuri, kalung bersusun di dadanyapun putus-putus, lalu ia berkata pandanglah aku wahai kakanda La Nanrang, La Massaguni, kakanda La Gau, La Sinilele. Pandanglah aku kalian semua lelaki perkasa yang tidak segan menghadapi peperangan
- Apabila kalian Wahai kakanda La Gau, La Sinilele sampai di serbu oleh pihak musuh, biarkanlah saya mengadunya di medan pertempuran. La Tenri Tappu berkata pula, lihatlah kepadaku
wahai kakanda La Gau, tilik jugalah kepadaku kalian semua sepupuku. Saya adindamu. La Maddukkelleng, benteng tinggi andalan kalian, benteng pertahananmu yang tidak bakal tcrgoyahkan. tempat berlindungnya orang-orang yang melarikan diri di medan pertempuran. Bagaikan anggur terburai cucuran air mata segenap sepupunya Opunna Ware mendengarkan ucapan adindanya. Sawerigading bersepupu. kemudian menebaskan pedang mereka. maka datanglah La Sessunriwu. bersama segenap saudaranya, Datu Pakiki. Oro Pasaka. Maka Sawerigading bersepupu menjadi terkepung di tengah barisan musuh.
- Laskar Luwu dan Laskar Ware tidak sempat lagi meneguk air. Sementara itu letusan bedil pun tidak henti-hentinya dari kedua belah pihal,.. Berkatalah La Sessunriwu. berlututlah kalian \ahai manusia perahu. Menyerahlah engkau wahai Langi Pawewang. Nyawamu akan kuampuni bersama segenap sepupumu. Janganlah bersikeras saling rnenyerang di medan peperangan. Mari kita menghentikan peperangan. Sambil tersenyum herkatalah Sawerigad ing. say a tidak akan menyem bah. Say a tidak bal,.al hertekuk lutut. kecuali peretiwipun sudah bertekuk I utut. Say a tidal,. akan goyah dari tern patku herd iri. kecual i apabila padang luas ini juga goyah. Bagaikan kerbau yang saling menanduk.Langi Pawewang pun tidak ubahnya lagi dengan badai ) ang tidak mengenal am pun. menebaskan pedang pusakanya. Kilatan pedang pusaka dari kedua belah pihak tidak uhahnya dengan petir yang susul menyusul. 08 7. La Rum pa Langi terdesak 111 undur. Para paddengngeng pun mengambil langkah seribu. Kepala La Sessunri\ u nyaris terpenggal. Sekiranya Datu Pakiki tidak segera melindunginya dengan perisai emas,lalu dibawanya naik ke langit. La Rumpa Langi bersama seluruh abdi sudah melarikan diri. tidak ada lagi seorangpun yang tingga bertahan. "Panji-panji Sulekka kati Manurungnge ri Ale Luwu" dibawa serta untuk mengejar musuh (yang melarikan diri). Pajumperune (payung kebesaran) milik Guttl1 Tellemma pun segera dikerahkan untuk membendung serbuan musuhnya. sebe!um laskar Sawerigading bersepup11
memusnahkan buruan mereka Memuncaklah kemarahan Tosessunri,vu Pajullakkoe ri Ale Luwu Tomappamene Wara ware ri Watampare.iapun mengamuk sambil mengayunkan senjatanya.
- Dengan menggunakan senjata trisulanya Pamadellette bertarung dengan Lette Mangkau dan La Sessunriwu bersaudara. Payung kebesaran Torumpa Langi sudah direbahkan, maka La Maddukkelleng bersepupu segera melakukan pengejaran ,hingga Guttu Tellema terdesak sampai ke awan. dan terpojoklah tandu usungan milik Torumpa Langi di atas awan. Maka bergegas gumpalan awan menjatuhkan dirinya menghalangi "Opunna Ware". Betapa murkanya Sawerigading melihat gumpalan awan itu. Gumpalan awan itu kemudian menghadang di hadapan Toa Penyompa sambil berkata bagaikan manusia, wahai adik Dukkelleng berikan!ah pengampunan wahai yang mulia. mundurlah wahai adinda Dukkelleng sebab junjungan kita Torumpa Langi sudah melarikan diri ke lapisan awan. Dengan murka
- berkatalah La Maddukkelleng menjawab ucapan sang a wan sambil meludah. menyisihlah engkau \ahai sang awan. Janganlah engkau menghalangi jalanku. biarlah ku kejar la Rumpa Langi dan batok kepalanya akan kubawa semua di atas kuda beban sebagaimana halnya buah kelapa. Biar batok kepalanya kuayun-ayunkan. dan kujadikan tumbal di perahuku. Siar kupotong juga mulutnya yang begitu lancang mengucapkan kata-kata, ingin menjadikanku tawanan bersepupu serta ingin menjadikan lubang hidungku sebagai tancapan obor. Berkata pula La Maddukkelleng, itulah sebabnya wahai kakanda sang a wan seh ingga kemarahan tidak dapat reda. Sang a wan menyahut sambil berkata kasihanilah aku wahai adinda La Tappu mohon kiranya engkau menghentikan kemarahan hatimu,selanjutnya kembalilah dengan baik ke sungai. Dengarkanlah nasehat, dengarkan pulalah
- petuah orang luar. Wahai adinda apakah engkau tidak takut durhaka terhadap nenekmu, tidakkah juga engkau khawatir akan kualat terhadap paman dari ayahandamu? Namun Sawerigading
tidak sudi lagi mendengarkan petuah orang luar. La Maddukkelleng tetap saja memuncak kemarahanya,lalu dilangkahinya sang awan itu kemudian menjelajahi angkasa. mengikuti jejak Guttu Tellemma di langit. La Maddukkeleng berteriak sambil berkata tidak ada malumu wahai La Sesussenriwu bersaudara, melarikan diri tanpa memperdulikan payung kebesaran ayahhandamu. Angkatlah kembali perisaimu dan mari kita mengadu senjata, mengadu nyawa di ruang angkasa. Betapa murkanya Torumpa Langi. sungguh tidak bermalu kalian vvahai orang banyak di Rumpa
- Mega. Kembalilah kalian mengadu nyawa dengan sang datu Jawa itu. Walaupun engkau melarikan diri. bukan juga engkau yang memerintah Rumpa Mega. Berkata pula Guttu Tellemma saya kira engkau adalah datu pemberani. wahai La Rumpa Langi bersaudara! Tidak ada nian orang melawanmu bertarung dengan pedang. padahal hanya datu Jawa jua yang memerangimu. namun engkau melarikan diri bersama saudaramu datu Pakiki. Oro Pasaka. Paddengngenge. Peresolae. I Lasuwala. I Labeccoci. Towalebboreng. Pulakalie. Maka serentaklah mereka mengangkat perisai dan mengadu senjata. Tidak ubahnya dengan kerbai saling menanduk suara perisai. Lontaran tombak bersileweran. letusan bedil bagaikan guntur yang menggelegar. Dengungan perisai emas bergema sampai ke langit. Mahkota di kepala para pangeran perkasa maju-mundur. Tanpa pikir panjang lagi Sawerigading menyerbu
- ke da lam bari san m usu h yang berlap is- lapi s sam bi I mem babatkan pedang pusakanya. Babatan pedang pusaka Langi Pawewang bagaikan kilat menyambar-nyambar. Ada ratusan laskar Datu Pakiki yang dipenggalnya di ruang angkasa. Maka La Rumpa Langi bersama abdinya sama melarikan diri di angkasa. Buru-buru Guttu Tellemma menurunkan petir dan menyulut api dewata (mendatangkan kilat). Memuncaklah kemurkaan Pamadel Lette sambil bergelantungan pada awan yang berarak, melangkahi gurnpalan awan, menjejakkan kaki di atas mega. lalu mengibaskan "dariora" (bend a pusaka) yang dibawa serta Bataraguru ketika turun ke dunia. sehingga
padamlah api dewata yang sedang meluap. Torumpa Langi bersama abdinya melarikan diri, tanpa ada seorangpun yang tinggal di benteng pertahanannya. Guttu Tellemmapun melarikan diri sampai ke petala langit, sehingga Sawerigading tidak melihat lagi adanya orang di sekitarnya la melihat ke sebelah kanannya.
- sebelah kirinya, ditiliknya pula ke arah muka dan ditengoknya ke belakang, namun tidak ada seorangpun yang tetap tinggal pada kedudukan semula. Berkata Pallawa Gau, sebaiknya kita kembali dulu ke perahu kita. wahai adinda Dukkelleng, untuk menantikan kedatangan La Sessunriwu. Maka sang pangeran bersepupu mengambil kata sepakat. Sorak-sorai orang Luwu dan orang-orang Ware membahana bagaikan guntur di langit. Genderang peperanganpun ditabuh. kemudian Sawerigading bersepupu berangkat melintasi awan, melangkahi deretan mega, lalu menyibakkan gumpalan awan untuk membuka jalan yang dilaluinya turun ke arah sungai. Langi Pawewang melayangkan pandangan matanya lalu dilihatnya "pajunrakklile"(payung kebesaran) milik Langi Pawewang. Berkata Lette Mangkau. Langi Pawewang sudah kembali ke sungai. Bagaikan matahari yang baru terbit, sinar mentari terik Pajunrakkile (payung kebesaran) nya dipandang mata. Maka terkejutlah perasaan hati Torumpa LangL
lalu berkata, mirip-mirip saya lihat tadi "pajunrakkele" milik saudaraku Sang Manurung di Luwu, Maddeppa e ri Lappa Tellampulawengnge. Jangan sampai dia itu keturunan saudara Batara Guru, maka celakalah saya karena telah memeranginya. Tepat waktu tengah hari ketika Opunna Ware tiba di Sungai bersama dengan sepupunya. Betapa suka citanya We Ampa Langi. I We Salareng melihat anak datu kesayangannya. Maka bangkitlah Puwang ri Luwu dan Puwang ri Ware menyambutnya di ruang perahu, diiringkan oleh pembawa talang yang penuh berti emas.Bergegas Puwang ri Luwu dan Puwang ri Ware menaburinya dengan berti emas. Berkata Puwang ri Luwu berbarengan dengan Puwang ri Ware kur jiwamu ananda la Tappu bersepupu.
Selarnat sejahteralah engkau. Silahkan naik di atas perahurnu dan rnasuklah ke dalam ruangan "wakka werowe" (perahu milik Sawerigading). Barulah Torisinau Pajullakkoe ri Ale Luwu Tornapparnene Wara-warae ri Watampare naik ke atas perahu dan rnasuk ke ruangan "wakka werore". la lalu membuka puan dan rnengunyah sirih menenangkan perasaan hatinya. Pada saat matahari berada di atas ubun-ubun kernbalilah Guttu Tellemma bersama segenap abdinya, lalu berkumpul di istana "pareppak e". Berkatalah Punna Lipu e ri Rurnpa Mega, wahai Palisu Langi pcrgilah ke sungai bersarna La Oddampero. Selidikilah manusia perahu itu. Apabila benar turunan Batara Lattu, cucunya saudaraku Batara Guru
- di Luwu. maka berikanlah kepadanya harta kekayaan. persembahkan kepadanya emas. supaya senang hatinya manusia perahu itu bersarna sepupunya. Palisu Langi mengiyakan titah junjungannya. Maka keduanya pun berangkat, bersama dengan tujuh orang pengiring. Mereka mengembangkan payung putih lalu berangkat dengan tergesa-gesa. Dalam waktu singkat tibalah mereka di sungai. Utusan raja tersebut kemudian beridiri di pinggir pelabuhan. lalu menghaturkan sembah sujud sambil berkata Pal isu Langi kur j iwam u \ ahai orang besar. Say a junjung tinggi kemuliaan \Vahai paduka yang berperahu emas. Scsamamu datu. Torumpa Langi yang mengutusku. Maafkanlah sesamamu raja. kiranya sudilah engkau mengungkapkan kepadanya mengenai asal-usul keturunanmu. Dari manakah asal negerimu yang sesungguhnya. negeri tanah tempat kelahiranmu. Tidak ada yang menyahutinya
- seorang pun juga. Berkata pula Palisu Langi berbarcngan La Oddampero maafkanlah aku wahai manusia perahu. sudilah kiranya engkau memberitahukanku. agar aku i..embali menyampaikan kepada junjunganku. Tidak ada seorang pun juga yang menjawab ucapan sang utusan raja. Sebanyak tiga kali bertanya. tanpa dijawab sepatah katapun. Maka pulanglah orang yang diutus itu .langsung masuk ke Rumpa Mega akhirnya ia tiba di tangga pendopo. terus naik dan masuk ke dalam istana. Guttu Tellernma rnengangkat wajahnya lalu berkata wahai
Taletti Langi silahkan duduk bersama sepupumu di atas tikar "baritu lakko rakkikilek e". Keduanya lalu duduk di atas tikar. Berkatalah Torumpa Langi saya mempercayaimu. wahai sang penasehat di Rumpa Mega.
- "Pjumperune" (payung kebesaran) naungannya telah terpasang, maka berangkatlah Punna Lipue ri Rumpa Mega turun dari istana, langsung didudukkan di atas tandu usungannya, dengan payung kebesarannya yang sudah terkembang, Sumpitan emas berjalan di depan, bedil tinggal di belakang. Pengawal yang bersenjata trisula emas berjalan sambil mengiringkan dari belakang, pengawal pilihan berjalan di depan. Dipikullah tempat meludah dan tempat membuang ampas sirih Torumpa Langi.para pemikul tandupun segera berangkat melangkahi mega yang berjejar, menerobos awan dan menyibakkan gumpalan awan. Pallawa Gau mengangkat wajah dan dilihatnya "pajumperune" naungannya Punna Lipue ri Runmpa Mega. Berkatalah I Ladatunna, wahai adinda Dukkelleng telah datang junjungan kita Guttl1 Tellemma. Berkisar sekati jugalah pengiringnya. Tidak ubahnya dengan matahari terik
- cahaya payung naungannya. Berkata Torisinau Pajullakkoe ri Ale Luwu Tomappamene Wara-Warae ri Watampare janganlah ada di antara kalian wahai sepupuku yang cepat-cepat menyahuti ucapan junjungan kita Guttu Tellemma. Tidak enak perasaan hatiku atas perlakuannya terhadap diriku. Tidak ada satupun mayat abdiku yang kutemukan. Semuanya sudah dimakan oleh sang "paddengngeng", Peresolae. Berkata pula Langi Pawewang, entah siapa gerangan datu yang jadi pecundang ungkapan katanya. Belum juga habis ucapan Sawerigading bersepupu. maka datang pulalah Torumpa Langi memenuhi pelabuhan. Diturunkanlah tandu usungan Punna Lipue ri Rumpa Mega, payung kebesarannyapun sudah dikatupkan, beranjaklah Guttu Tellemma anak beranak Palisu Langi I 00. La Oddampero, meniti di atas kayu cadik, lalu masuk ke dalam perahu, langsung duduk di atas lantai "wakka werowe" (nama perahu milik Sawerigading), di hadapan Langi Pawewang.
Sawerigadingpun merajuk sambil membelakang. Wajahnya bagaikan tertutup awan gelap mamandang Punna Lipu e ri Rumpa Mega. Berkata Guttu Tellemma, hentikanlah dulu kemarahan dan kegusaran hatimu wahai paduka datu. Mari kita saling mengusut asal-usul leluhur. Siapa sebenarnya orang tuamu. Sesungguhnya di mana negeri asal dan tanah kelahiranmu wahai bocah.
I 0 I. Ceritakanlah kepadaku leluhurmu. Beritahukan pula kepadaku yang telah melahirkan dirimu, sebab perasaan hatiku menjadi bingung atas kedatanganmu melabuhkan perahu di Saliwellangi. padahal saya melihat engkau bersama seluruh abdimu masih bocah-bocah. namun engkau begitu berani berlayar melintasi pusaran air. Berkata kembali Guttu Tellemma itulah sebabnya wahai paduka sehingga saya bertanya kepadamu dengan sungguh-sungguh. Tidak ada orang yang berlayar ke Sal iwellangi kalau bukan keturunan dari "boti I langi" (petal a langit)
I 02. Torumpa Langi melanjutkan ucapannya bahwa saya bertanya begitu. karena menu rut pengetahuan saya hanya em pat yang diturunkan di dunia. Saya hanya tahu yang di Luwu. yaitu "Madeppa e ri Lappa Ulawempulawengnge", serta yang di "Tompu Tikka Polalengnge Aju Wara Lakko ri Tungo". ltu pula yang di "Wewanriwu Polalengnge Tojampulaweng". Se1ta yang di "Widellangi Polalengnge Tara\vu Pitunrupae" yang bernama Talettu ·sompa. Hanya sekian itulah yang diturunkan ke dunia yang manakah di antaranya rnenitiskanmu? Mohon kiranya \vahai bocah. supaya kiranya engkau menyebutkan dengan sebenar-benarnya siapa gerangan leluhurmu. Kalau memang kita masih berkerabat. lebih baik kita berdamai, saling berbagi suka dan duka. Kita pesankan kepada anak-anak generasi pelanjut supaya mereka tidak bertikai. Sawerigading tidak menyahut. la tidak menjawab
I 03. ucapan junjungannya sepatah katapun. Berkatalah La Sinilele wahai adinda Dukkelleng, mengapa gerangan engkau tidak menjawab perkataan junjungan kita Torurnpa Langi. Apakah
engkau tidak takut durhaka kepada orang tua. Apakah engkau tidak takut menjadi kualat terhadap saudaranya junjungan kita Madeppa e ri Lappa Tellampulawengnge. Kenapakah engkau tidak bicara terus terang kepada junjungan kita. Jangan sampai kita durhaka wahai adinda. La Sinilele berkata pula, dengarkanlah wahai paduka junjungan hamba akan menceritakan kepadamu yang melahirkan adindaku. la putera dari Batara Lattu di Luwu. Anak kandung We Datu Sengngeng ri Tompo Tikka, puteri dari Turubbelae suami isteri pelanjut generasi yang mulia junjungan hamba Batara Guru sang Manurung di Luwu Maddeppa e ri rilappa tellampulawengnge. Berkata pula La Sinilele, dialah adindaku Pallawa Gau yang bergelar
l 04. I Ladatunna, anak dari junjunganku yang bernama We Addi Luwu, puteranya I Laji Riwu di Wirillangi. Maka terkejutlah Torumpa Langi mendengarkan ucapan La Sinilele. Pikirannya kacau sehingga ia hanya duduk termenung, mempermainkan jari tangannya sambil memandang tak berkedip ke sela-sela lantai perahu. Bagaikan pandangan matanya menembus tanah di dasar sungai, memikirkan kecerobohannya terhadap keturunan saudaranya. Lama nian barulah tenang kembali perasaan hati "Torumpa Langi", wahai Palisu Langi ternyata pemilik tanah (keluarga sendiri) yang datang berkunjung ke ke negerinya sendiri di Rumpa Mega. Berkata pula "Punna Lipue ri Rumpa Mega" (maksudnya Guttu Tellemma) "jiwamu wahai La Sappe Wali Awana Langi Menek na Tana" (maksudnya Sawerigading). Janganlah kiranya wahai Kati ri Luwu (nama lain Sawerigading).
I 05. Lebbi ri Ware (nama lain Sawerigading) engkau merasa berkecil hati karena saya telah menyambutmu dengan senjata. Padahal kamu sendiri yang mengaku sebagai datu Jawa, lalu pamanmu merasa percaya tanpa mengetahui bahwa engkau adalah keluarganya. Karena itulah wahai Kati ri Luwu Lebbi ri Ware biarlah kupersembahkan kepadamu harta kekayaan yang banyak sebagai ganjaran atas kekhilafan pamanmu, atas kebodohan dan atas kesempitan jalan pikirannya. Langi Pawewang merajuk
llS
sambil membuang ludah dengan air mata bercucuran. Dibantingnya tempat meludah dan puan tempat sirihnya, lalu berkata dengan ketus itulah sebabnya maka kita harus menggunakan akal dan pikiran, serta mengulang-ulangi pertanyaan kita. Kendati saya mengatakan bahwa saya ini datu Jawa ataupun Waniaga yang datang berlabuh, tidak ada juga salahnya
I 06. Jikalau engkau bertanya secara berulang kali. Berkata pula Langi Pawewang, seharusnya engkau meyakinkan dirimu. bahwa tidak ada kiranya orang yang berlayar dan siapa pula anak manusia yang begitu berani mengarungi pusaran air dengan perahu emasnya menuju Wirillangi, kalau bukan keturunan Manurungge ri Ale Luwu ataukah keturunan dari Uriliu. Namun tega nian hatimu menyambutku dengan senjata pedang. La Maddukkelleng mengulangi ucapannya. bukan harta kekayaanmu yang kuidam-idamkan. Sawerigading menundukkan kepala. lalu meludah sambil berkata buat apa datu Jawa ini diberi harta kekayaan yang melimpah ruah. Hal seperti itu pantang bagi orang negeriku. Maka sambil tertawa berkatalah "Torumpa Langi Kur jiwamu".
I 07. \ahai "Kati ri Luwu" (nama lain Sawerigading) semoga kiranya panjang umur. Bukanlah engkau nak yang bakal kualat apabila menerima pemberian harta kekayaan yang banyak. Kasihanilah aku \vahai paduka datu. senangkanlah hatimu dan marilah kuba\a engkau naik ke istana untuk menikmati hasil bumimu (maksudnya bersantap) di "Rumpa Mega". "Lalu kubuatkan upacara selamatan untukmu. Kusebarkan undangan ke seluruh kolong langit. untuk menemanimu mengadu a)am. akan kutanggung seluruh biaya taruhanmu". Pamadellette naik pitam mendengarkan ucapan "Punna Lipue ri Rumpa Mega".
I 08. Dengan ketus, berkatalah Sa.verigading tidak henti-hentinya engkau memamerkan kekayaanm u kepadaku. Akan tetapi '' ahai paduka, miskin nian junjunganku sang Manurungnge ri Ale
L.uwu Madeppa e ri Lappa Tellampulawengnge. namun belumpun mampu membuatkan bagiku upacara selamatan,
menghadirkan orang: dari seluruh kolong langit dan seantero permukaan bumi. Langi Pa\'ewang melanjutkan ucapannya. bukanlah harta kekayaanmu yang kuinginkan sehingga aku berlayar ke Wirillangi. Saya hanya ingin bersilaturrahmi dengan sanak kerabat yang bermukim di seberang lautan. Menyahut Torumpa Langi, sambil berkata Kur Jiwamu La Sappe Wali Alebbiremmu. Saya benarkan ucapanmu yang datang untuk bersilaturrahm i dengan sanak kerabat di seberang lautan, akan tetapi \ahai ananda, pamanmu demikian bodoh dan latah, sehingga mengenal Putera dari sepupu Guttu Tellemma.
I 09. Karena itulah wahai ananda Dukkelleng maka saya mohon be las kasihanmu. Sudilah kiranya engkau menerima harta benda sebagai ganti rugi atas kesalahan pamanmu yang berakal pendek dan berfikiran sempit itu. Kasihanilah wahai ananda.marilah kita pula untuk bersantap di Rumpa Mega. kemudian kuberikan kepadamu harta benda yang akan engkau bawa berlayar ke "Ale Luwu". Semakin deraslah cucuran air mata Langi Pawcwang. kemarahannya tidak reda mendengarkan janji-janji kan pemberian harta benda yang melimpah ruah. Dengan ketus berkatalah Sawerigading saya tidak mungkin lagi kembali ke Luwu. sebab saya tidak sudi dijadikan bahan pergunjingan. bagaikan mayat hidup. Bukankah semua abdiku sudah tiada (tewas). Tidak ada lagi orang Luwu maupun orang Ware yang tersisa, kendati hanya seorangpun.
Menyahut Punna Lipue ri Rum pa Mega sambil berkata wahai ananda datu. biarlah kugantikan seluruh abdimu. agar perasaan hatimu menjadi senang. erigading menyahut. sambil berkata saya tidak sudi kalau abdiku digantikan. Baru senang hatiku. kalau seluuh abdiku sudah kembali seperti semula. Torumpa Langi menjawab sambil berkata. tetapi bagaimanakah caranya \ahai ananda La Tappu. sedangkan seluruh abdimu sud ah habis dimakan sang "paddengngeng". Tidak ada seorangpun yang tersisa. Sawerigading menjadi murka dan membanting puan tempat sirihnya dan dengan kemarahannya yang memuncak berkatalah Sawerigading itulah sebabnya maka perasaan hatiku tidak pernah menjadi tenang, karena· segenap abdiku sudah
dimakan oleh sang "paddengngeng", Peresolae, Berkata pula Langi Pawewang, kembalikanlah secara utuh seluruh abdiku. Akan tetapi, karena itulah wahai ananda Dukkelleng makanya tenangkanlah dahulu perasaan hatimu. Kalau abdimu itu ada tiga ribu, biarlah kugantikan tujuh ribu. Lalu menjawab langi Pawewang sambil berkata, sekalipun penggantinya ada puluhan ribu tidak akan kuambil. Barulah akan enak perasaan hatiku apabila abdiku kembali semua secara utuh. Maka Torumpa Langi pun tinggal termenung mendengarkan permintaan cucu kesayangan I I 2. dari saudaranya. Punna Lipue ri Rum pa Mega menyahut, sambil berkata, tidak mungkin lagi wahai ananda La Tappu kita mengembalikan orang-orang Luwu dan orang-orang Ware itu. sebab semuanya sudah disantap oleh sang paddenggeng, Peresolae. Saya tidak mampu lagi mengembalikan abdimu dalam keadaan utuh. Sawerigading berkata saya tidak akan tenang apabila saya tidak melihat kembali orang-orang Luwu serta orang-orang Ware itu. Berkata pula Sawerigading. sekiranya engkau tidak sanggup lagi mengembalikans seluruh abdiku, maka marilah kita naik ke darat untuk bertarung. Berkata pula Torisinau Pajullakkoe ri Ale Luwu Tomappamene Wara-Wara e ri Watampare,jangan sampai engkau beranggapan ba:hwa saya tanggung-tanggung ingin mengadu nyawa sampai hancur bagaikan lilin dengan
keempat puluh puteramu itu. Bukanlah laki-laki yang tidak berani menyabung nyawa di medan pertempuran. Torumpa Langi menyahut saambil berkata tabu nian kita mengucapkan hal seperti itu. Pantang nian timbul dalam hati keinginan untuk menyabung nyawa, sampai hancur-hancuran seperti lilin. Sedangkan kekhilafan pamanmu yang tidak mengenali dirimu saja tidak akan diterima baik oleh saudaraku Batara Guru di Luwu. Apa lagi kalau dia tahu bahwa anak cucunya sudah dibunuh. Betapa murkanya Torisinau Pajullakkoe ri Ale Luwu Tomamppamene Wara-Wara e ri Watampare, sambil naik turun di lantai perahu, diikuti oleh segenap sepupunya. Beranjaklah pu la Torumpa Langi bersama dengan penasehatnya naik ke darat. Lessunriwu bersaudara pun gemetaran di tempat duduknya ketika dilihatnya
Sawerigading naik pitam. Sawerigading menggigit bibir lalu mendatangi kerumunan "sang peddengngeng", "peresolae", "tosunrae", "I Lasuwala", "I Labeccoci", "Towalebboreng". "Pulakalie". dan sambil menggenggam hulu keris pusakanya ia pun menghentakkan kakinya di atas bumi, lalu ditudingnya jari telunjuk muka sang "paddengngeng", "peresolae", "I Lasuwala",. "I Labecoci", "Towalebboreng","Pulakalie". Barulah kemudian Sawerigading berkata betapa lancangnya engkau wahai sang paddengngeng. Betapa gegabahnya engkah wahai "tosunrae" (roh-roh halus), sehingga tidak mengenal turunan tuanmu, yang telah menurunkan engkau ke bumi, yang memaksakan kehendaknya terhadap dirimu. Niscaya engkau semua takluk di bawah kekuasaan ayahandaku, namun kalian begitu lancang menyantap semua abdiku. Sekarang bagaimana pendapatmu wahai sang "paddengngeng", "Persesolae". "Tosunrae". Bersediakah engkau mengembalikan segenap abdiku secara utuh dan dalam keadaan hidup kembali. Jikalau engkau tidak rela wahai sang paddenggeng maka aku bakal membunuhmu. Kalian semua akan kuratakan dengan bumi di mana aku sedang berpijak Tidak ada scorangpun berani menyahut, (baik) sang padengngeng (maupun) "Pere Solae". Datu Pakiki. l 15. Ora Pasaka. Gemetcran badan sang "paddengngeng". I Lasuwala, I Labeccoci. Maka bergegaslah Lasessunriu dan Lette Mangkau mcnggeser tempat duduknya ke dekat Torisinau Pajullakkoe ri Ale Luwu Tomappamene Wara-Warae ri Watampare. Berkata Lette Mangkau, tidak mungkin lagi abdimu dapat dikembalikan, sebab mereka semua sudah disantap sang "paddengengeng", "Peresolae", "I Lasuwala", "ILabeccoci", "Towalebboreng", "Pulakalie". Lette Mangkau melanjutkan ucapannya, mohon kiranya engkau sudi menghentikan amarahmu wahai ananda datu. Namun La Maddukkelleng berkata sambil marah-marah, perasaan hatiku tidak akan menjadi senang apabila segenap abdiku tidak kembali hidup. Sawarigading lalu bangkit berdiri sambil menghunus pedang pusakanya, kemudian ditebaskannya kepada sang "padengngeng presolae". Baru satu orang "paddenggeng" yang dipenggalnya,
maka bergegaslah Guttu Tellemma menggesesr tempat duduknya ke hadapan cucu kesayangan saudaranya itu, lau berkata maafkanlah aku wahai La Sappe Wali Alebbiremrnu. Hentikanlah arnarahrnu.
- Biarlah dikurnpulkan seluruh ''paddengngeng peresolae" di hadapanmu agar mereka rnuntah (maksudnya rnemuntahkan kembali rnayat-rnayat yang telah rnereka rnakan rnentah). Maka duduklah kernbali Saweringading di hadapan Guttu Tellernrna. Berkatalah Punna Lipue ri Rurnpa Mega (narna lain Guttu Tellernrna). berikan lah perintah wahai Lasessunriwu. Lette Mangkau, untuk mengumpulkan para "paddengngeng paresolae", agar mereka semua datang kemari untuk mernuntahkan (mayat yang dirnakannya). Belum juga usai titah Guttu Tellernma. berangkatlah La Sessunriwu pergi memanggil para paddengngeng peresolae. Dalam waktu sekejap. datanglah semua paddengngeng peresolae. langsung bersirnpuh di hadapan Guttu Tellernma Punna Lipue ri Rumpa Mega. muntahkanlah masing-masing orang Luwu dan orang Ware. Cucu kesayangan saudaraku Batara Guru tidak akan senang hatinya apabila tidak kembali hidup segenap abdinya. Serentak "Paddengeng Peresolae" sama muntah. Ada yang memuntahkan bahu dan kepala. Ada yang mernuntahkan siku bersama jari tangan. Ada yang memuntahkn
- bidang dada dan punggung. Ada yang memuntahkan bokong dan paha. Ada yang memuntahkan lutut bersama kaki. sarna rnuntahlah Lasuala. I Labeccoci. Towalebboreng. Pulakalie. sehingga bertumpukan tulang belulang orang-orang Luwu serta orang-orang Were itu. Sudah ada semua bagian tubuhnya. bertumpuk-tumpuk bagaikan benteng pertahanan yang tinggi. mayat-mayat para laskar Luwu dan laskar Ware. Berkatalah Guttu Tellemma, bangkitlah engkau wahai Lasessunriu untuk merekatnya dcngan dupa wangi dan menusuknya dengan tebu hampa di sebelah kiri dan kanan orang-orang yng telah tewas dalam pertempuran itu. Maka bangkitlah Lasessunriu merekatnya dengan kenari Jawa. lalu diasapinya dengan dupa wangi. serta tebu hampa di sebelah kiri dan kanan orang-orang
yang telah tewas terpenggal itu. Berkatalah Lasessunriwu, bangunlah kalian wahai orang-orang yang terpenggal, orang orang yang sekarat, dan orang-orang yang terkena babatan pedang.
- ia berkata angkat jangkar dan turunkan keinudi. Belum juga lepas titah La Pananrang, maka serentaklah orang banyak itu menaikan jangkar ernas dan kemudipun diturunkan. Kaitan kain layar yang bcrjum lah ribuan kemudian dipasang, lalu berkatalah La Massinala,wahai laskar Luwu dan laskar Ware gerakkanlah dayung. Belum juga lcpas ucapan La Massinala, maka serentaklah laskar Luwu dan laskar Ware itu merengkuh dayung. Air pun tersembur-sembur tcrlanda rengkuhan dayung. Dalam waktu singkat, merekapun sudah tiba di muara sungai. La Massagunipun segera menitahkan untuk menegakkan tiang layar. sekalian mengembangkan layar. Begitu kabut tanah sirna. bcgitu angin bertiup,begitu pasang naik, begitu terpasang semua peralatan
lengkap perahu \Vakka werowe. kemudian datanglah angin selatan bertiup. rnaka perahupun ( melaju ) bagaikan burung bu rung yang terbang dengan bersayapkan kain layar. dihanyutkan air di bawah kesiuran angin. Hanya tiga malam juga mereka berlayar setelah meninggalkan muara sungai di Rumpa Mega. berkatalah Langi Pawewang wahai kakanda La Nanrang. La Massaguni perintahkanlah untuk menurunkan jangkar serta menaikkan kemudi, dan menancapkan kayu pasak. Lalu semak belukar dan rumpun bamu kita tebang. Belum juga lepas semua ucapan Langi Pawewang. La Pananrang pun segera mengacungkan jari telunjuknya. Maka jangkar emaspun diturunkan. dan tiang layar wakka werowe pun direbahkan. Orang banyak pun saling mendahului menghunus pedang untuk dipakai membabat rumpun bambu dan semak belukar. Suara orang banyak tidak ubahnya dengan suara burung nuri yang bergema. tidak saling memberi jalan dan tanpa mengenal istirahat. Hanya tiga hari jugalah orang banyak itu merambah,maka hutan belukar
dan rumpun-rumpun bambu sudah habis ditebang. Dinyanyikanlah perahu layar Sawerigading. Demikian bunyi nyany1annya We laki welang mennang labela joncongengnge (sang lelaki lajang nian perahu kita) We laki welang kaka La Nanrang dan La Massaguni (lelaki lajang kakanda La Nanrang dan La Massaguni) We laki welang kaka La gau La Sinilele (lelaki lajang kakanda La gau dan La Sinilele) We laki welang kaka Sinala La Mattoreang (lelaki lajang kakanda Sinala dan La Mattoreang) We laki welang kaka Ranginang La Sadakati (lelaki lajang kakanda Ranginang dan La Sadaklati) We laki welang kaka Panrita Ugi Jemmu Ricina (lelaki lajang kakanda panrita Ugi dan Jemmu Ricina) Sorak-sorai orang banyak kedengaran bergemuruh di hutan. tiba-tiba meluncurlah perahu Wakka Werowe. bagaikan air yang mengal ir deras naik ke daratan. Betapa suka citanya Langi Pav.ewang saling berkejaran dengan perahu di hutan. Selama tiga malam mereka berada di tengah hutan belantara.barulah mereka masuk ke kolong langit. Dengan perasaan sangat gembira berkatalah Sawerigading. titahkanlah. wahai kakanda La Nanrang dan La Massaguni untuk menurunkan perahu ke permukaan air. lalu turunkan kemudi dan angkat jangkar emas.
- Belum juga usai dengan baik titah La Maddukkelleng. segera La Pananrang mengacungkan jari tangannya sambil memerintahkana agar perahu diturunkan ke permukaan air. mengangkat sauh dan menurunkan kemudi. Dalam waktu sekejap. terlaksanalah seluruh perintah La Pananrang dan La Massaguni. La Massinala pun memerintahkan agar tiang layar ditegakkan sekalian mengembangkan layar. Begitu kabut tanah sirna,begitu angin bertiup, begitu pasang naik, begitu terpasang segenap peralatan perahu wakka werowe, maka segenap kaitan kain layar pun segera terpasang, dan begitu layar perahu tertiup
angin, maka perahu wakka werowe tidak ubahnya lagi dengan burung yang sedang terbang. diterbangkan oleh kain layar, dihanyutkan air, didorong angin berkesiur. Betapa gembiranya Sawerigading bersepupu mengarungi samudera nan luas. Hanya tujuh malam setelah Langi Pawewang berlayar
- meninggalkan Wirillangi, maka tibalah ia di pelabuhan. La Mattoreang lalu memberikan perintah untuk membuang jangkar dan menggulung layar wakk.a werowe. Berangkatlah bersama La Maranginang menuju ke istana, untuk memberikan kabar kepada ayah bundaku. Maka La Pananrang pun berangkat bersama La Maranginang, langsung menuju ke Luwu. Dalam waktu sekejap tibalah keduanya di pekarangan istana, langsung naik ke istana. Kebetulan sekali Batara Lattu sedang duduk berdampingan dengan isterinya. We Datu Sengngeng mengangkat wajahnya lalu berkata rupanya La Pananrang sudah tiba. La Pananrang langsung duduk di hadapan We Datu Sengngeng. Lalu berkata We Datu Sengngeng
- berbarengan dua dengan Batara Guru Lattu suami isteri, di manakah gerangan adindamu La Tentri Tappu. La Pananrang menghaturkan sembah sujud lalu berkata. wahai paduka junjungan hamba, betapa berat penderitaan adindamu dalam pelayaran. Tiga malam setelah berlayar meninggalkan Luwu, saya singgah bermalam di Bali. Keesokan harinya, baru saja matahari terbit sayapun melanjutkan pelayaran ke arah timur. Setelah berlayar selama tujuh hari tujuh malam wahai paduka, tanpa merebahkan tiang layar dan tanpa menggulung kain layar, dengan tidak menyempatkan diri untuk tidur.Juru balang yang berpengalaman sating bergantian istirahat, maka kamipun tiba pada pusaran air, bertepatan dengan tenggelamnya matahari, di bareng i dengan suara guntur sambung-menyambung. Keadaanpun gelap gulita.
- Jari tangan dan raut wajah masing-masing tidak dapat dlihat. Angin "marasumpa" ( sejenis angin) bertiup dari arah selatan. Angin salareng dari arah barat, angin selatan bertiup dari arah utara, sang bayu bertiup dari arah timur, perahu "wakka
\erowe" pun dihantam ombak besar. sehingga bingunglah semua orang Luwu dan orang Ware. Juru 111udi yang berpengalaman mengarungi sam udera luaspun t idak dapat lagi 111enentukan arah. Ketika itulah wahai paduka yang mulia junj ungan hamba kam i terdam par di luar langit. Se luruh armada kami terdampar di luar langit. Berkatalah adinda La Maddukkelleng. wahai kakanda La Nanrang negeri apa gerangan namanya ini. La Sinilele menjawab. bahwa inilah. wahai adinda yang disebut Salwenna Langi e (negeri di luar langit ). Ketika itu adindaku melihat keadaan hutan di Ru111pa Mega. Lalu adikku bertanya. balnva negeri apa namanya yang hutannya lebat dan sangat luas itu.
- wahai kakanda La Gau. La Sinilele. La Sinilelepun menjawab bahwa itulah. dik yang dinamakan Rumpa Mega. Puteranya sang Patoto e. saudaranya junjungan kita Maddeppa e ri Lappa Teliampulawengnge. Karena itulah maka adinda Langi Pa\ ewang merasa gem bira. seh ingga ia berkata \ ahai kanda La Gau lebih baik kita singgah menyambangi sanak kerabat yang berm uki111 di seberang lautan. Dem ikian lah maka say a 111erengkuh dayung ke pelabuhan dan 111embuang sauh. Kebetulan para dayang-dayang sekitar ratusan orang beriringan turun ke sungai untuk menga111bil air.Tetapi para dayang-dayang tersebut sama ke111bali ke Rumpa Mega. tanpa mcngambil air. karena dilihatnya perahu \akka \erowe di pelabuhan. Mereka langsung menuju ke dalam negeri Rumpa Mega. lalu mereka tiba di pekarangan istana.
- Mereka langsung nail-. ke istana. kcbetulan sekali di dapatinya penduduk sedang berl-.umpul di depan pelaminan. Para dayang dayang itupun langsung dudul-. di hadapan pelaminan raja. Dayang-dayang itu segera menghaturkan sembah sujud di hadapan Guttu Tellemma. lalu berkata telapak tanganku hanya mcrupakan segumpal darah. tenggorokkanpun hanya bagaikan kulit bawang. semoga saya tidak kualat lancang berbicara kepadamu. Wahai paduka junjungan hamba ada perahu emas di sungai. Ada ratusan buah pengiringnya. namun ada satu diantaranya yang sang.at besar (u kurannya). sehingga
membendung aliran sungai. Lalu berkata Guttu Tellemma. entah siapa gerangan anak manusia yang begitu gegabah merapatkan perahu emas di pelabuhan. Agaknya sudah tujuh bulan lamanya mereka sudah ditinggalkan arwahnya di negeri mereka. Semuanya sudah dijerat oleh padengngeng perseolae serta tosunrae (roh gentayangan) Towalebboreng, Pulakalie Berkata pula Guttu Tellemma
- wahai junjungan hamba, pergilah ke selatan, wahai Lette Langi, untuk memerintahkan kepada para kurir di pendopo, agar mereka mendatangi seluruh negeri taklukan dan negeri bawahan dalam kekuasaan kita. Maka pergilah para kurir itu mempermaklumkan kepada seluruh penduduk. Para kurir itu tidak henti-hentinya berteriak, mengatakan "dengarkanlah", wahai seluruh penduduk tidak dapat diganti dengan harta kekayaan tenggorokan kalian yang berani memberikan tempat berteduh kepada manusia perahu itu. Kebetulan sekali adikku Pal lawa Gau mendengarkan maklumat para kurir tersebut. Maka berkatalah Pallawa Gau. kedengarannya seruan wahai adinda Saguni dari arah Rumpa Mega, tidak lama kemudian merekapun datang memenuhi pelabuhan. Sambil berdiri tegak berkata Palisu Langi dan Lette Mangkau. Dari mana gerangan negeri asalmu.
Apa gerangan maksud kedatangan paduka sehingga datang berlabuh di sungai ini ? "Menyahut La Sinilele sambil berkata "Hanya sabungan ayam yang diinginkan adinda langi Pawewang karena sudah tersebar berita di negeri kami. bahwa sabungan ayam di Wirillangi sangat ramai. Setiap hari ada sebanyak tiga ratus ekor ayam jago diadu. Konon kabamya para penyabung ayam naik ke atas gelanggang. menginjak sebuah papan emas sebagai titian". Menyahut Lette Mangkau.bahwa "Tidak kurang datu dewata yang dapat ditemani mengadu ayam, bukan dengan kalian yang masih bocah. Tidak lain saya anggap baik ialah kalian kubawa naik ke istana, engkau kuangkat menjadi tukang kebun.
Perahu emasmu kusita. Biarlah kusita segenap isi perahu emasmu sebagai pampasan. Kalau engkau tidak sudi, akan ku habisi nyawamu, sebab tidak ada anak manusia yang berani berlabuh di sungai ini ltulah wahai paduka datu yang menjadi gara-gara sehingga perahu wakka werowe dihujani dengan lontaran tombak. Saya segera mengambil perisai lalu terjun ke sungai. Hanya dengan perisai saja, saya berenang ke darat bertarung melawan La Rumpa Langi. Segenap laskar pun terlibat dalam pertarungan. Para abdi yang berpengalaman di medan laga pada bertarung mengadu senjata. Orang-orang yang Iuka jatuh tumpang tindih. Segenap orang Luwu dan orang orang Ware meningggal dunia. Saya bertarung melawan Lette Mangkau di atas pasir. di situlah wahai paduka datu junjungan hamba, tewas segenap
- sepupu adikku Sawerigading. Hanya tinggal Maranginang, berdua dengan adikku itu yang tidak tewas. Sambil menangis berkatalah We Datu Sengngeng berbarengan dengan Batara Lettu suami isteri tega nian perasaan hati Guttu Tellemma menghabisi nyawa segenap anak cucu junjungan kita sang To manurungnge. Dia tidak segan-segan menyambutmu dengan senjata. tanpa menan)akan latar belakang keturunan titisan dewata dari langit. Ternyata Guttu Tellemma menganggap dirinya datu pemberani. sehinggga dia begitu tega menyambut kedatangan puteraku dengan senjata. Berkatalah We Datu Sengngeng. "wahai We Orempongeng pergilah kiranya engkau panggilkan puwang matowa" (maksudnya puwang rnatowa bissu) Jemputlah dia kemari dan bawalah dia naik ke istana. untuk menyiapkan upacara selarnatan ananda "La Tenri Tappu". Maka berangkatlah kedua utusan itu ke timur
- untuk mernanggil puwang rnatowa. Keduanya melangkahkan kaki keluar ke pendopo, langsung berangkat dengan sangat tergesa-gesa. Akhirnya dia tiba di pekarangan, lalu naik melalui tangga hingga rnasuk ke rumah puwang matowa.Puwang matowa mengangkat mukanya lalu berkata silahkan duduk dan mengunyah sirih pineng yang disodorkan oleh Puwang matowa kepadanya. Berkata Puwang Matowa, apa gerangan pesan yang
kalian bawa dari baginda raJa '! We Worempongeng lalu menyahut, sambil bekata "leppek patolang" (sejenis bingkisan) yang kubawakan untukmu wahai puwang matowa. Baginda raja memanggilmu naik ke istana untuk menyiapkan pelaksanaan upacara selamatan bagi puteranya.
- Puwang Matowa segera bersalin pakaian, mengenakan pakaian bissu, kemudian melangkah ke luar melalui pendopo, langsung disambut dengan tandu usungan, lengkap dengan payungnya. Setelah itu tandupun diangkut dan para pembawa tandu berjalan dengan bergegas.Tidak lama kemudian tibalah ia di halaman istana,lalu naik ke istana dan langsung masuk ke dalam ruangan. Didapatinya I Latiuleng (nama lain Batara Lattu) suami-isteri sedang duduk berdampingan. Berkata Batara Lattu, sambil mengangkat \vajahnya, silahkan duduk wahai puwang matowa di atas tikar emas. lalu makan sirih yang disodorkan kepadanya. Sesudah puwang matowa makan sirih. maka
- berkatalah We Datu Sengngeng. wahai puwang matowa saya ingin supaya engkau menyiapkan segala sesuatu menyangkut pelaksanaan upacara selamatan atas diri La Tenri Tappu. Panggilkanlah Sukma Puteraku. jangan tergesa-gesa menyeberang "ke massareng" (alam rokh). Belum juga usai pembicaraan We Datu Sengngeng, maka berangkatlah puwang matowa diiringkan oleh ratusan anak muridnya. Ada sebanyak tujuh puluh orang anak-anak bangsawan Luwu, masing-masing memegang kipas emas. Ratusan anak-anak perawan dari Watampare, masing-masing membawa "adidi soda" ( ikatan lidi yang berfungsi sebagai alat upacara tradisional). Ada ribuan abdi dalem dari Takke Biro, masing-masing membawa "oje" (alat upacara tradisional yang terbuat dari potongan bambu atau rotan sebesar jari tangan). "Laolo"(alat upacara berbentuk ular dari bahan kain) di pasang, dan kain gordenpun ditarik ke sekeliling ruangan, selesailah seluruh tugas anak-anak mengaji bimbingan puwang matowa.
- Berangkatlah ia ( puwang matowa ) ke luar diusung dengan tandu dinaungi dengan payung kebesaran menuju ke sungai.
Para pemikul tandu berjalan dengan bergegas, para pengiring melangkah secara tergesa-gesa. Dalam waktu singkat tibalah mereka di sungai. Tandu usungan pun diturunkan ke atas tanah tanah, lalu puwang matowa berjalan naik ke atas perahu. Berkata Torisinau Pajullakoe ri Ale Luwu Tomappamene Wara Warae ri Watampare wahai puwang matowa silahkan duduk di atas geladak perahu wakka werowe. Puwang matowa lalu duduk membacakan mantera-mantera di atas diri "La Madukkelleng. Dipeluknya leher La Tenri Tappu" sambil mengusap-ngusap punggungnya, lalu berkata sambil menangis "Tega nian perasaan hati kakekmu memerangimu tanpa mengusut latar belakang keluargamu. Untung Topalanroe masih memberkati
- sehingga engkau selamat tiba kembali di negerimu Ale Luwu. tan ah kekuasaanm u di Watam pare". Berka ta pu la pU\vang matmva." Kur jiwamu ananda Dukkelleng. Selamat sejahteralah wkmamu. Syukur atas berkat Topalanroe sehingga engkau tiba kembali di negerimu dengan selamat". Puwang matowa melanjutkan perkataannya. bahwa "Ringankanlah dirimu. nak untuk naik ke darat dan marilah kita pulang ke Ale Lll\vu". Bel um juga selesai dengan baik seluruh ucapan pm.,,ang matO\a. berangkatlah Langi Pawewang turun dari perahu. sambil berkata engkaulah sendiri La sinilele memerintahkan untuk menurunkan segenap isi '\rnkka werowe", jangan ditinggalkan teromhang ambing di sungai. Maka bengkitlah La Sinilele bersama La Pananrang ( dan) La Massaguni mengacungkan jari tangannya sambil memberikan perintah untuk membongkar seluruh muatan rerahu "wakka werowe". 13 7. Bel um juga selesai dengan perintah La Sinilele. bergegaslah orang hanyak membongkar seluruh muatan perahu "wakka werowe". kemudian perahunya dinaikkan ke darat. Barulah kemudian Sawerigading dinaikkan ke atas tandu usungannya. payung kebesarannyapun dikembangkan. Setelah itu berangkatlah para pemikul usungan dengan langkah lebar diikuti para pengiringnya dengan ayunan tangan tergesa-gesa. Puwang. matowapun dinaikkan di atas tandu usungan. kemudian mereka
jalan beriringan langsung menuju ke "Ale Luwu". Dalam waktu singkat tibalah mereka di halaman istana. Tandu usungan lalu diturunkan ke atas tanah. kemudian Sawerigading diarak sambl berjalan mengitari istana sebanyak tiga kali. Sesudah itu barulah Sawerigading menapaki anak tangga naik ke istana. Belasan orang bangsawan Luwu berdiri di ujung tangga istana masing masing membawa
- "pareppek" (sejenis talang digunakan sebagai alas) yang ditempati berti emas. Ada ratusan abdi dalam dari Watampare. masing-masing memegang kipas emas. Taburan berti emas di istana tidak ubahnya dengan angin puyuh. maka datanglah We Datu Sengngeng memegang pergelangan tangan puteranya, lalu dibawanya bersama masuk ke dalam kamarnya, sambil berkata "Kur jiwamu wahai ananda Dukkelleng". Selamat sejahteralah engkau. Sampai hati nian Guttu Tellemma menyambut kedatanganmu dengan pertempuran. Untung saja Topalanrowe menurunkan rahmatnya sehingga engkau masih selamat tiba kembali ke negerimu. wahai ananda Dukkelleng. Tega nian Guttu Tellemma memerangimu tanpa mengusut garis keturunanmu". Dengan penuh suka cita We Datu Sengngeng mengusap-usap punggung puteranya.
Belum juga habis dengan baik ucapan we Datu Sengngeng. maka datang pulalah Pallawa Gau, langsung duduk di hadapan We Datu Sengngeng, lalu berkata "Saya mohon pamit wahai paduka untuk untuk berlayar ke timur di Tompo Tikka, sebab ayah bundaku sudah menantikan kedatangan perahu emasku di pelabuhan". Menyahut We Datu Sengngeng sambil berkata "Jangan
Segenap raja bawahan di Sabbamparu, Takke Biro dan Kawu Kawu agar mereka hadir di istana untuk meramaikan upacara hajatan La Maddukkelleng. Bel um juga habis dengan baik titah Batara Lattu suami-isteri, maka berdirilah La Temmalolo mengacungkan jari telunjuknya. Para utusan kerajaan pun bertebaran, susul menyusul melaksanakan titah baginda, bagaikan gelombang laut yang saling berkejar-kejaran. Dalam waktu singkat datanglah segenap wilayah kekuasaan Luwu, Ware, Kawu-Kawu, Sabbamparu, Takke Biro memenuhi halaman istana. La Tenrioddang segera memerintahkan untuk memasang "walasuji" (salah satu simbol kebangsawanan daerah Luwu. berupa anyaman terbuat dari bahan barn bu) di sekeliling istana, kemudian digantungi kain gorden yang berhiaskan dengan sulaman emas. yang akan diduduki Langi Pawewang bersepupu. We Datu Sengngeng sendiri turun tangan menggantikan kain samng
milik puteranya. Barulah kemudian diupacarakan. Tidak kurang dari tujuh puluh orang abdi dalem dari Watampare yang mengibaskan kipas emas. Tidak kurang dari ratusan abdi dalem dari Kawu-Kawu yang membawa "adidi soda" (alat musik I alat upacara terdiri dari ikatan batang lidi yang dapat mengeluarkan bunyi dengan cara memukul-mukulkannya). dan tidak kurang dari ribuan abdi dalem dari Takke Biro yang masing-masing memegang "oje rakkile" (alat upacara terbuat dari batang bambu atau rotan berukuran kecil-kecil dan tidak terlalu panjang. Alat ini termasuk pula simbol kebangsawanan). serta ada ribuan anak perawan dari Singki Wero yang memegang dian emas. Pergelangan tangan mereka masing-masing di Ii lit dengan gelang emas. Walasujipun kemudian dipasangi kain gorden. Setelah itu Langi Pawewang bersaudara dimandikan dengan air suci dari mayang. Genderang pun ditabuh bertalu-talu di halaman istana. Ditabuhlah genderang kebesaran negeri Ale Luwu. Ditabuh pulalah gong emas pusaka negeri Watampare. Sementara itu di atas istana ditabuh pula gong manurung di Ale Luwu. Ditabuh pulalah gong emas pusaka
manurungnge ri Tompo Tikka. Ditabuh pulalah genderang emas "Tompo e ri Sawammega". Dikibarkan panji-panji "Sulekka Kati Manurungnge ri Ale Luwu". Dinaikkan pulalah panji-panji "Kuruda Manurungnge ri Tompo Tikka". Dinaikkan pulalah panji-panji "Sarawummega Tompoe ri Sawammega". Bedilpun disulut, maka letusannya menggelegar bagaikan guntur. Segenap bunyi-bunyian sudah bergema dalam rangka meramaikan upacara selamatan La Maddukkelleng bersepupu. Seusai mandi, Langi Pawewang segera naik mengeringkan badan, digosokkan segenap sisa air di tubuhnya. 143 la kemudian diasapi dengan dupa dari negeri kayangan. Sesudah itu La Tentioddang memerintahkan untuk meracang kerbau, secara hidup-hidup untuk bahan sesajian yang dipersembahkan kepada arwah leluhur, paddengngeng, peresolae. Barulah kemudian La Temmaukke memerintahkan untuk memanggang kerbau ratusan ekor, untuk santapan orang banyak. Perintahnya terlaksana bagaikan ombak yang susul menyusul. Dalam waktu sekejap maka segenap kerbau sudah selesai dibakar, tungku dapur di kerumuni bagaikan pelaminan. Semua ikut membantu kendati mereka yang tidak pernah memegang apa-apa ( wanita bangsawan). Dalam waktu singkat siaplah segala bahan sesajian untuk dipersembahkan kepada dewa-dewa dan sang dewata. Maka pergilah puwang matowa di tengah padang luas dengan bergegas. Setelah ia tiba di tanah Bangkala ri parigie, tikarpun digelar untuk alas sesajian kesukaan
- sang dewata. Kemudian ditutup bagian atasnya dengan kain, demikian pula pinggirannya ditutup dengan sejenis kain gordin. Sesudah itu puwang matowa lalu membakar dupa lengkap, sambil berkata terimalah persembahan sesajian ini, tumbal La Tenri Tappu bersepupu, pengganti sukmanya La Maddukkelleng bersama segenap abdinya. Sesudah menghaturkan sembah sujud ke Botillangi, puwang matowa pun menghaturkan sembah sujud pula ke peretiwi sambil berkata terimalah persembahan sesajian kesukaanmu wahai sang dewata, pengganti diri Langi Pawewang bersepupu, pengganti sukmanya Sawerigading bersama segenap abdinya. Seusai menghaturkan sembah sujud
ke Botillangi dan ke peretiwi, maka We Ampa Langipun segera menebarkan daging kerbau, sambil berkata, terimalah
- jamuan wahai "tosunrae", "paddengngengnge", "peresolae", janganlah engkau turun menjerat anak manusia. Barulah kemudian puwang matowa pulang kembali ke Luwu. Tibalah ia di halaman istana, menapaki anak tangga naik ke istana. kemudian masuk ke dalam ruangan langsung duduk di atas tempat duduk emas. Belum juga hilang letinya, disajikanlah santapan La Maddukkelleng bersepupu, dibarengi dengan tempat minumannya. Sesudah itu serentaklah disajikan dalam tempat makanan. Jari tangan Langi Pawewang bersepupu pada dibersihkan. Setelah itu serentaklah anak datu pituppuloe bersantap bersama dengan segenap abdinya. Pallawa Gau bersantap bersama dengan La Sinilele. Lamassinala makan bersama La Mattoreang. La Maranginag makan bersama La Sadakati. Bersantap bersama Jemmu
- Ricina dengan Panrita Ugi. Langi Pawewang santap bersama dengan Tappunyumpareng lipungelebbi sialenae, We Ampa Langi makan bersama dengan I We Salareng. Anak-anak datu itu makan minumlah bersama dengan seluruh abdinya. Belum juga berkurang isi piring, namun sudah ditambahkan lagi. Letak mangkuk Jawa yang bertebaran tidak ubahnya dengan burung beterbangan di udara. Diangkat pulalah kendi keling tempal rnenyimpan air berbusa, lalu minuman pun dibagikan kepada orang banyak.Hanya tujuh kali Pamadellette menyuap nasi. lalu iapun berhenti makan. Jari tangannya kernbali dibersihkan (oleh dayang-dayang), iapun menyeka rnulut dan bibirrnya, kemudian ia makan sirih yang disodorkan kepadanya. Setelah itu piring mangkuk diangkat kcmbali ke dapur, para anak datu pun sudah usa i bersantap
- Mereka lalu makan sirih yang disodorkan kepadanya. Setelah anak-anak datu itu bersepupu selesai makan sirih, bcrkatalah La Maddukkelleng mari kita pergi bermain-main di pendopo wahai kakanda La Gau, La Sinilele. Mari kita pergi wahai kakanda La Nanrang, La Massaguni. mari semua kita pergi bermain-main wahai segenap sepupuku. Maka serakatlah para pengeran
bersepupu. Berangkatlah La Maddukkelleng turun dari istana. disambut dengan tandu usungan dan payung kebesarannya pun dikembangkan. Segenap sepupunya menyusul, mengiringkan tandu usungan adiknya. Sang dodo berjalan di depan, para abdi dalem berjalan di belakang. Puan tempat membuang ampas sirih La Maddukkelleng pun diusung. Tandu usungan pun dipikul, para pemikul tandu berjalan dengan bergegas, sedangkan para pengiringnya mengayunkan tangan dengan buru-buru.
- Dalam waktu sekejap rnereka tiba di gelanggang adu ayam "naumpoddie" (nama gelanggang adu ayam rnilik Sawerigading) .Tandu usungan pun diturunkan ke atas tanah. Payung emas naungan Tomapparnene Wara-Warae Ri Watampare sudah dikatupkan pula. Maka turunlah dari usungan La Pananrang, La Massaguni. Turun pulalah Pallawa Gau. La Sinilele. Berkata La Pananrang inari kita menyabung ayam! Mari kita mengadu ayam wahai adik La Gau, kanda La Sinilele. Kita adu ayarn. "jago warumpungngale samuddae mattimu potto wara-warae risekkoe lebassekati "melawan ayam jago" mattara ulawengnge mabbulu rompe wennang cinae risekko e lebassekkati mattemirie alare kati". Kedua anak datu itu mengambil kata sepakat. lalu masing-masing maju menyambar ayamnya. kemudian sating ditukarkan dengan pihak lawannya.Taruhannya mencapai jumlah ribuan,tanpa ada penolakan.
- Mereka kemudian sama-sama menggosok (mengasah) taji, sekalian mengikatkannya pada kaki ayam masing-masing. Sesudah itu keduanya bersama-sama naik ke atas gelanggang, lalu melepas ayam jago masing-masing. Bagaikan angin gebrakan ayam kedua orang bersepupu itu. Namun hanya tiga kali saja a yarn tersebut saling mcnyerang terkaparlan ayam jago "warumpung ngalek sarnuddae". Anak-anak datu itupun bersorak soraai. Tersenyumlah Langi Pawewang. La Pananrang melambaikan kain destarnya lalu menangkap ayarn jagonya sambil mengusap paruhnya. Ayam tersebut kemudian diserahkannya kepada juru pelihara. Setelah itu kedua bersepupu turun dari gelanggang sambil berpegangan tangan. Bersepakatlah pula La Massaguni dan La Sinilele. Masing-
masing menyebutkan jumlah taruhan rnencapai ribuan, tanpa ada salah satu pihak yang mengalah. Keduanya lalu mengasah taji lalu mengikatnya di kaki ayam masing-masing. Setelah itu keduanyapun naik ke gelanggang emas, kemudian kedua orang yang bersaudara sepupu itu melepaskan ayam jagonya. Namun setelah tiga kali
- ayam tersebut saling menyerang, matilah ayarn jago andalan La Massaguni. Suara teriakan orang-orang yang berjudi di gelanggang adu ayam itu rnenggelegar bagaikan suara petir. Bergegas La Sinilele menangkap ayam jagonya, kemudian diserahkannya kepada juru pelihara. Setelah itu keduanya turun dari gelanggang dengan berpegangan tangan. Saling menantang pula La Massinala dengan La Mattoreang. Ayam milik La Mattoreng benvarna "bakka sidenreng" (hijau campur kuning sebagaimana warna buah mangga yang sudah mengkal). Ayam jago milik La Massinala berwarna "cellak leworeng" (merah polos). Keduanyapun mengasah taji dan mengikatnya di kaki ayam masing-masing, dengan jumlah taruhan mencapai ribuan. Keduanya bersama-sama naik ke atas gelanggang, lalu kedua bersepupu itu melepaskan ayam jagonya. Tidak lebih dari tujuh kali kedua ayam jago saling menyerang, matilah ayam jago milik La Mattoreang. La Massinala cepat-cepat menangkap ayamnya dan mengusap paruhnya. Sawerigading segera turun dari tandu usungannya, melambai-lambaikan kain destarnya
- sambil melentik-lentikkan jari tangannya, meliuk-liukkan lengannya yang berhiaskan gelang emas. lapun menari-nari sambil mengibaskan kain destarnya. Gelang emas di kakinya bergemerincingan bagaikan suara burung nuri. Segenap anak datu yang saling bersepupu itu bertepuk tangan. Bergegaslah La Massinala menangkap ayam jagonya. kemudian diserahkannya kepada juru pelihara pilihannya. Lalu turunlah kedua orang bersepupu itu dari atas gelanggang. sambil bergandengan tangan. Berkata Langi Pawewang "wahai kalian semua sepupuku mari kita pergi merantau. Mari kita pergi berpesiar dengan perahu. Kita pergi pula ke Marapettang, sekalian kita melihat Pammassareng, kita ke negeri orang di Majeng". Maka
La Maddukkellleng dan segenap sepupunya mengamhil kata sepakat. Berkata pula La Tenri Tappu "mari kita naik ke istana".
- Maka berangkatlah Sawerigading, bersama Pallawa Gau menuju ke tandu usungannya. Berangkatlah segenap sepupu La Maddukkelleng. Tandu usungan pun dipikul, lalu mereka berangkat di dahului oleh abdi dalem yang bersenjatakan trisula. Dipikul pula puan tempat membuang ludah dan ampas sirih milik Opunna Ware Sang dodo berjalan di depan. sedangkan abdi dalem rnengawal dari belakang. langsung memasuki areal halarnan istana. Tandu usungan milik Sawerigading lalu diturunkan ke atas tanah. Langi Pawewang kemudian menaiki tangga dan masuk ke istana. Lalu duduk di atas tempat duduknya. We Datu Sengangeng sendiri yang meletakkan mahkotanya.
- meletakkan keri pusaka milik puteranya. Wa Pattaungeng yang mengipasnya. didampingi oleh dayang-dayang. dikerumuni oleh inang pengasuhnya. Maka bangkitlah Pallawa Gau. lalu pindah duduk-duduk di hadapan We Datu Senggeng sambil berkata saya mohon diri dulu wahai paduka. Perkenankanlah saya berlayar ke timur di Tompo Tikka. sebab ayahandaku tentu sudah menantikan kedatangan perahuku di sungai Berkatalah We Datu Sengngeng. berbarengan dua Batara Lattu suam i-isteri, pergilah engkau wahai lelaki Lu\vu bersama dengan La Maremponngcn menyiapkan bekal Pallawa Gau dalam pelayarannya. Maka pergilah
- lelaki Luwu dan La Marempoang mernberikan perintah sambil mengacungkan jari telunjuknya. agar disiapkan bekal pelayaran Pallawa Gau. Sesudah itu berkatalah Batara Lattl1. wahai ananda. besok di Ruwalette. hari emasnya di Senrijawa. hari penjemuran peralatan perang di Toddattojang, hari cerah di Peretiwi. ltulah hari yang baik bagi ananda untuk berlayar. Selama tiga malam (Lalaki Luwu dan La Marempoang), tidak mengenal istirahat hingga selesai mempersiapkan seluruh bekal pelayaran I Ladatunna bersama abdinya. Berkata Pallawa Gau. perintahkanlah wahai kakanda Sinala La Mattoreang untuk
mengapungkan perahu, sekalian mengangkut seluruh bekal pelayaran kita menuju sungai. Belum juga usai secara baik ucapan I Ladatunna
maka berangkatlah La Matoreang dan La Massinala menuju ke rnuara sungai. Setibanya di sungai iapun mengacungkan telu11juknya. Bagaikan ombak berkejaran perintah La Massinala. Dalam jangka vvaktu sekejap terlaksanalah semua perintahnya. Sudah terapung ::;eluruh armada Pallawa Gau ber::.a111a perahu abLiinya. Tiba pulalah bekal pelayarannya. Barulah kemudian La Massinala dan La Mattoreang kembali ke istana dengan langkah bergegas. Setibanya di istana kedua utusan itu duduk di rnang tamu. Berkatalah La Massinala wahai adinda, segenap armada perahu kita sudah terapung (sudah diturunkan ke sungai)
· Sudah tiba pula heka I pelayaran kita.sudah tiba pula hari yang ditentukan_junjungan kita Batara Lattu. Maka Palla\a Gau pun segera bersalin pakaianWe Datu Sengngeng sendiri mengenakan kain saning. lalu dikenakannya mahkota, rnelilitkan sabuk dan rnenyelipkan kerisnya. Sesudah berpakaian, Pallawa Gau lalu menghadap 1-.epada Batara Latltr sambil berkata saya mohon diri dulu wahai paduka junjungan hamb:-i. Pc:rkenankanlah sa:a kembali ke negcriku. Menyahut Batara Lattu sambil berkarn "berangkatlah \ahai ananda La (iau, semoga engkau tiba dengan selamat di negcrirnu". Tandu usunganpun disiapkan dan payung 11au11gan11ya pun dikembangkan. Maka berangkatlah Palla\il Gnu bersa111a L:i Massinala. La Sadakati diusung dengan tandu dan dinaungi dengan payung e111as. Abdi dalem yang bersenjata bedil ber:ialan di belakang.
- Orang yang mernbawa scjata trisula be1jalan di tengah. Tandupn diangkat ke atas ballll para pemikul tandu, kemttdian mereka mclangkah dengan cepat langsung keluar, menuju ke sungai. Setelah tiba di sungai, tandu usunganpun diturunkan dan dikatupkanlah payung e111as. Maka beranjaklah Pallawa Gau naik ke atas perahu, langsung duduk di lantai perahu. Berkatalah I Ladatunna. "berikanlah perintah wahai kakanda Sinala, La
Sadakati untuk mengangkat jangkar emas, dan menurunkan kemudi". Belum juga usai dengan perintahnya, La Massinala, La Sadakati segera mengacungkan jari telunjuknya. Maka diturunkan kemudi dan jangkar emas pun diangkat. Berkata La Massinala, wahai segenap abdiku rengkuhlah dayung. Maka serentaklah mereka merengkuh dayung
- Tidak ubahnya dengan orang banyak yang menyembur nyemburkan air di terpa oleh dayung emas yang digerakkan orang banyak. Tidak lama kemudian mereka telah tiba di muara sungai nan luas. La Mattoreang pun memberikan perintah untuk menegakkan tiang layar sekalian mengembangkan layar. Begitu sirna em bun pagi, begitu angin bertiup, begitu terpasang semua peralatan perahu, maka perahu itupun tidak ubahnya dengan burung-burung yang sedang terbang. Dikepakka oleh kain layar, didorong oleh hembusan angin dan dihanyutkan air pasang. Dalam waktu yang singkat sudah dilewatinya wilayah penangkapan ikan. Betapa suka citanya Pallawa, saling berlomba antara sesama sepupu di tengah samudera, di bawah dorongan angin, dikepakkan oleh kain layar, dihanyutkan air pasang dan didorong dengan angin "marasumpa".
BABIV
ANALISA ISi NASKAH DAN RELEVANSINY A DENG AN PEMBINAAN KE BUDAY AAN NASIONAL
4.1 Nilai-nilai Luhur yang Terkandung dalam Naskah
4.1 1 Nilai Agama Sir James G. Frazer mendefinisikan istilah agama atau religi sebagaimana tertera dalam kutipan berikut ini Religi adalah segala sistem tingkah laku manusia. untuk mencapai suatu maksud dengan cara menyandarkan diri kepada kemauan dan kekuasaan makh luk-makh luk ha I us seperti roh-roh dewa-dewa dan sebagainya yang menempati a lam (Dal am Koentjaraningrat, 1987: 54) Dari kutipan tersebut terlihat secara jelas bahwa dalam konsep agama atau religi terdapat beberapa komponen yang saling berkaitan satu sama lain. sehingga secara keseluruhan merupakan suatu sistem tersendiri dalam kehidupan sosioreligius masyarakat pendukungnya. Komponen-komponen religi pada dasarnya terdiri atas tingkah laku religi yang menjadi pedoman bagi setiap individu dalam suatu kelompok masyarakat tertentu. Selain dari komponen tingkah laku tersebut, maka secara teoritis setiap sistem religi mencakup pula cara pernyembahan dan objek penyembahan yang dianggap memiliki kemauan dan kekuasaan.
137
Konsep ini jelas mengacu pada suatu pengertian yang sangat abstrak. sehingga dalam rangka upaya mengungkapkan sistem religi masyarakat Bugis pendukung lontarak Galigo digunakan deftnisi operasional yang dikembangkan oleh Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, sebagaimana tertera dalam kutipan di bawah ini :
Religi adalah rangkaian keyakinan mengenai supranatural aktivitas upacaranya, serta sarana-sarana yang berfungsi melaksanakan komunikasi antara rnanusia dan supernatural( ... ). Supernatural memiliki kekuatan dan keberadaan serta cara-cara untuk berkomunikasi dengannya, melalui simbol-simbol tertentu (t.th. : 71 ).
Bertolak dari kutipan tersebut di atas maka sistem religi masyarakat pendukung lontarak Gal igo di daerah Sulawesi Se Iatan dapat dikaji dan diungkapkan komponen-komponen utama. seperti sistem keyakinan mengenai supranatural. sistem upacara religi serta sistem simbol yang digunakan untuk berkomunikasi dengan zat supranatuural bersangkutan.
Apabila konsep operasional tersebut dikaitkan dengan isi cerita yang terkandung dalam naskah kuna lontarak Galigo. maka dapat diungkapkan sistem religi masyakat Bugis pendukung naskah tersebut di zaman lampau.
- I. I .1 Sistem Keyakinan Pada zaman dahulu masyakarat Bugis khususnya sub etnik Bugis Luwu menganut keyakinan terhadap beberapa komponen dan unsur unsur supernatural yang terdiri atas :
Dewata Seuwae
Dev,:ata seuwae berarti dewa yang esa, biasa pula disebut "dewata tungkek", maksudnya dewa tunggal. Dewa ini dianggap sebagai dewa tertinggi dalam kehidupan sosioreligius orang-orang Bugis-Luwu.
Dewa Patoto
Dalam bahasa daerah Bugis istilah "dewa patoto" mengandung pengertian sebagai dewa yang menetapkan takdir. Dalam naskah
lontarak Galigo dewa patoto biasa juga disebut "patoto e" (sang penentu takdir): "to palanroe" (sang pencipta). Dewa ini dianggap bersemayam di "boting langi" (petala langit) atau biasa juga disebut "ruwalette".
Sangvang
Sangiyang berarti dewa-dewa, antara lain seperti "Sangiyasseri" (dewi sri; dewi padi): "toboting langi" (penguasa petala langit): "toperetiwi" (penguasa di peretiwi: pemilik dan penguasa benua bawah).
Padde11gnge11g
"Paddengngeng" adalah golongan makhluk halus yang secara etimologis berasal dari dua buah kata, yaitu kata ''pa" dan kata "rengngeng". Dal am konteks in i kata "rengngeng" berart i berburu, sedangkan kata "pa" merupakan kata penunjuk sekaligus sebagai kata ganti untuk menyebut orang yang melakukan pekerjaan berburu. Sejalan dengan itu maka secara terminologis masyarakat Bugis mengenal istilah "paddengngeng" dengan makna si pemburu. namun sasarannya bukan binatang melainkan manusia.
Berdasarkan keyakinan akan adanya makhluk "paddengngeng", rnaka sampai sekarang masih banyak warga masyarakat di wilayah pedesaan melarang anak-anak mereka berkeliaran pada waktu-waktu tertentu yang dianggap rawan "paddengngeng". misaln)a \·aktu matahari berada di atas kepa la (tengah hari ): peral ihan antara siang dan malam (waktu magrib): peralihan dari malam ke waktu siang ( \aktu dinihari).
Dalam lontarak Galigo yang menjadi sasaran kajian ini ditemukan nama-nama yang dianggap menjadi pemimpin golongan makhluk halus yang disebut paddengngeng. antara lain seperti "tosunrae",
| halus | yang disebut | paddengngeng. | antara lain seperti "tosunrae", | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| "datu pakiki": "oro pasaka"; "towalebboreng": "pulakalie". | ||||||||
| rValww | ||||||||
| "Waliala" | pada hakekatnya | adalah arwah orang yang meninggal | ||||||
| dunia. | Dalam sistem kepercayaan masyarakat | Bugis-Luwu. setiap |
orang dianggap memiliki arwah yang disebut "waliala". "Waliala" itu sendiri menyatu dengan diri manusia selama yang bersangkutan masih hidup, namun jikalau orang tersebut sudah meninggal dunia maka waliala-nya meninggalkan jasad dan melanjutkan kehidupannya sendiri di alam roh.
Segenap unsur supranatural tersebut dianggap memiliki kcmauan dan kkuasaan sendiri, sehingga dapat dan malahan sanggup berbuat baik maupun berbuat buruk terhadap golongan manusia menurut kemauan masing-masing. Demikianlah maka umat manusia dipandang perlu menyandarkan diri kepada unsur supranatural dalam menanggulangi setiap masalah dan tantangan yang dihadapi dalam hidup dan kehidupannya. Sehubungan dengan itu masyarakat Bugis di zaman Sawerigading maupun di zaman Galigo menumbuh kembangkan sistem upacara keagamaan, baik untuk pemujaan dalam rangka tolak bala maupun pernyataan syukur dan upacara selamatan.
4.1.1.2 Sistem Upacara Keagamaan Upacara tradisional. termasuk upacara keagamaan pada hakekatnya adalah " ... tingkah laku resmi yang dibakukan untuk peristiwa-peristiwa yang tidak ditujukan kepada kegiatan sehari-hari, akan tetapi mempunyai kaitan dengan kepercayaan di luar kekuasaan manusia atau supernatural power ... ( Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, ( t.th) : 45). Bertumpu pada konsep ini maka dapat dikemukakan analisis tentang upacara keagamaan orang Bugis Luwu, sesuai dengan kandungan isi naskah kuna lontarak Galigo sebagai berikut :
Upacara Tolak Bala
Pada zaman Sawerigading upacara tolak bala biasanya dilakukan apabila seseorang atau sekelompok orang maupun negeri terancam malapetaka dan bencana. Salah satu bagian cerita yang termuat dalam serial lontarak Galigo mengisahkan mengenai cara yang ditempuh Sawerigading untuk mengatasi hantaman badai dan hempasan gelombang di tengah samudera. Dalam naskah kuno lontarak Galigo tertulis sebagai berikut :
Nae adanna Pallawa Gau/ Majekko riwu anri La Tappu/ Pulo ko Lette anri Dukkelleng I Sarnudda perik rnai ri olo I ( transliterasi/ terjemahan nornor 006).
Maksudnya :
Maka berkatalah Pallawa Gau. Datangkanlah angin ribut wahai adinda La Tappu. Turunkanlah petir wahai adik La Dukkelleng. Kita rnenghadapi taut yang susah dilayari.
lsi naskah tersebut di atas rnenunjukkan bahwa pada saat hahtera Sa\erigading mengarungi lautan luas. tiba-tiba di hadapannya terpampang pusaran air laut yang marnpu menenggelamkan armadanya. Menghadapi situasi seperti itu. Pallawa Gau. salah seorang sepupu Sawerigading memohon kepada adik sepupunya itu untuk mencari jalan keselamatan. Guna rnemenuhi pcrmohonan itu maka naskah lontarak mengisahkan selanjutnya sebagai beril-.ut :
Napura muwa mappasinnnva tudang lingkajo/ Napaddumpu i rawung sakkek/ Nabuwang ngittello/ Ota mabbekkeng Mangamporeng le cacubenna/ Sompa manaik ri boting langi mak duwampalek ri perethvi ronnang/ Makkeda tulingngi matu lapuwangnge/ Naerekktt\a tobotinglangi teppesewai lalo \akka u/ I yak wijanna manurungnge ri Ale Luwu maddeppaeri lappa tellarnpulawengnge/ Naerekkuwa toperetiwi teppe sawei lalo wakka u/ Iyak wijanna We Datu Tompo ri Busa empo solang sinrangeng lakko nadulu elong pallon)ang/ (transliterasi nomor:
007)
Artill\a ·
| Segera | sesudah bersalin pakaian. dibakarnya dupa | kngkap. | ||
|---|---|---|---|---|
| kemudian membuang telur ayam dan seil-.at daun sirih sambil | ||||
| rnenaburkan berti. | lalu menghaturkan sembah sujud | |||
| langit dan ke | petal a bum i sam bi I | |||
| tuhanku. mengizinkan bahteraku lewat rnaka saya adalah titisan darah sang | Jika sekiranya sang penguasa langit yang | tidak | ||
| tumanurung di pelayaranku sang penguasa petala blllni. maka saya adalah titisan We Datu yang m uncu I dan diiringi dengan dendang riak air. | Ale Luwu. | di permukaan air bersama tan du usungan | Jika sekiranya yang menghambat |
1-.e petala berkata dengarkan lah wahai
Kutipan tersebut di atas menunjukkan prilaku keagamaan melalui upacara yang cukup sederhana. namun di dalamnya terkandung beberapa dimensi religius yang secara langsung menghubungkan manusia dengan unsur supernatural. Dimensi pertama mengungkkapan adanya pengakuan manusia yang menyadari ketidak berdayaannya dalam mengatasi tantangan alam sekitar. Karena itu manusia menyandarkan diri secara sadar kepada kemauan dan kekuasaan sang dewata.
Dimensi kedua menunjukkan bahwa masyarakat Bugis-Luwu pada zaman Sawerigading memuja dan menyembah dewa langit maupun dewa "peretiwi" (benua bawah). lni berarti bahwa masyarakat pendukug lontarak Galigo ketika itu termasuk golongan penganut politeisme. Mereka memuja dan menyembah lebih dari satu dewa.
Dimensi ketiga menunjukkan adanya kemampuan masyarakat atau leluhur orang Bugis-Luwu menggunakan simbol-simbol tertentu untuk berkomunikasi dengan unsur-unsur supranatural. Simbol-simbol ucapan tersebut tercermin pada sikap. tindakan. gerak dan ucapan ucapan tertentu seperti yang dilakukan tokoh Sawerigading ketika itu.
Dimensi keempat mengungkapkan, bahwa dalam sistem upacara tolak bala masarakat manusia menggunakan perangkat alat-alat dan kelengkapan upacara. antara lain seperti daun sirih. telur ayam yang keseluruhannya berfungsi sebagai bahan sesajian yang dipersembahkan kepada dewa-de\a. Selain itu upacara diawali dengan pembakaran dupa sebagai syarat utama.
Upacara S<1/amatan
Pada bagian akhir isi naskah kuna lontarak Galigo diceritakan perihal tibanya kembali Sawerigading bersama segenap laskar pengawalnya dalam keadaan selamat di negerinya yaitu Tanah Luwu. Ketika bahtera Sawerigadingpun memerintahkan Pallawa Gau untuk segera menghadap kepada baginda Raja Luwu sekal ian melaporkan perihal pelayaran mereka.
Memenuhi perintah Sawerigading tersebut maka Pallawan Gau mendahului berangkat ke istana. di mana dilaporkannya segala pengalaman pahit yang dialami dalam pelayaran terutama mengenai
ulah Guttu Tellemma anak-beranak yang telah menyambut kedatangan mereka di negeri Rumpa Mega dengan senjata. Ulah raja Rumpa Mega tersebut akhimya menimbulkan pertempuran di mana seluruh laskar Sawerigading habis terbunuh kecuali sang pangeran (Sawerigading ) bersama La Maranginang yang selamat.
Mendengar penuturan tersebut maka ayah-bunda Sawerigading selaku raja dan ratu Luwu segera memerintahkan puwang matowa bissu, untuk memimpin pelaksanaan upacara selamatan atas diri putera kandungnya bersama segenap kemanakannya. Demikianlah maka puwang matowa bissu segera melakukan persiapan untuk melakukan upacara dimaksud secara besar-besaran.
Serangkaian dengan proses persiapan upacara tersebut di atas, raja Luwu memerintahkan petugas khusus untuk memenggal hewan kurban sebanyak ratusan ekor. Setelah semuanya dianggap rampung, upacara pemujaan dan persernbahan sesajiannyapun segera dilaksanakan. Perilaku keagamaan yang dilakukan pll\vang matowa bissu selaku pemimpin ketika itu termuat dalam lontarak Galigo sebagaimana tertera di bawah ini :
..... Nagilingronnang puwang matowa napaddumpui raung sakkek
na ronnang/ Makkeda puwang matowa/ Tipenni matu La puwang ponratu/ Elli ale na La Tenri Tappu massappo siseng/ Sapi sungek na La Maddukkelleng sipakjowareng/ Napura muwa sompa manaik boting langi madduwampalek ri peretiwi/ Nagiling ronnang We Ampa Langi mamporangi le tedongnge ronnang makkeda akai matu pattowanamu le tosunrae/ Paddengngengnge/ Peresolae/ Ajak mutijang pijel tolino (transliterasi no : 144--145).
Artinya:
... maka puwang rnatowa itupun membakar dupa lengkap lalu berkata, terimalah nian wahai tuhan tumbal dirinya La Tenri
| berkata, terimalah | nian wahai tuhan tumbal dirinya | La Tenri | |
|---|---|---|---|
| Tappu bersepupu. bersama segenap laskar pengawalnya. Sesudah menyem bah ke | Pengganti nyawanya | La Maddukkelleng | |
| langit dan menyernbah ke peretiwi, maka We ( Puwang Matowa Bissu ) lalu menghamburkan daging kerbau ( hewan | ) sambi I berkata terimalah ini jamuan yang | Ampa | Langi |
korban
kupersembahkan kepadamu wahai toseunrae, paddengngengnge, peresolae. Janganlah nian engkau turun ke dunia untuk menjerat man us ta.
Dari kutipan isi lontarak tersebut di atas terlihat secara jelas bahwa upacara selamatan itu mengandung maksud dan tujuan tertentu, antara lain sebagai berikut :
Pertama upacara selamatan dimaksudkan sebagai suatu media di mana manusia dapat menyampaikan rasa syukur sekaligus media untuk menyampaikan puji-pujian terhadap sang dewata maupun para dewa dan mahkluk halus lainnya.
Kedua. upacara selamatan dilakukan manusia atau-masyarakat pendukungnya sebagai media persembahan sesajian sebagai tumbal atas nyawa seorang atau kelompok masyarakat, setelah mereka terbebas dari suatu malapetaka atau bencana tertentu.
Bertolak dari uraian tersebut di atas maka dapat dikatakan bahwa dalam sistem kepercayaan tradisional orang Luwu di zaman lampau, keberadaan dewa-dewa dan makhluk halus itu dianggap sama dengan keberadaan makhluk manusia yang senantiasa memerlukan berbagai macam kebutuhan, baik berupa kebutuhan fisik maupun kebutuhan psikhis. Kepercayaan seperti ini ditemukan pula dalam kehidupan masyarakat Toraja di Sulawesi Tengah. di mana mereka beranggapan bahwa makhluk halus pun dapat bergembira apabila diperhatikan oleh manusia. namun sebaliknya dapat pula marah apabila diabaikan ( A.C. Kruyt dalam Koentjaraningrat, 1987 : 64 ).
Relevan dengan informasi Kruyt tersebut di atas, maka A. Robertson Smith, seorang ahli teologi, ahli ilmu pasti di samping ahli bahasa dan kesusasteraan Semit. menulis di dalam karangannya yang berjudul "Lectures on Religion of the Semites" (1989), antara lain sebagai berikut :
Pada pokoknya upacara bersaji, di mana manusia menyajikan sebagian dari seekor binatang, terutama darahnya kepada dewa,kemudian memakan sendiri sisa daging dan darahnya dianggap sebagai suatu aktivitas untuk mendorong rasa solidaritas dengan dewa atau para dewa. Dalam hat itu dewa atau para dewa
dipandang juga sebagai warga komunitas walaupun sebagai warga istimewa ( Dalam Koentjaraningrat, 1987 : 68 ).
Dari kedua pandangan tersebut jelaslah bahwa sistem kepercayaan dan upacara persembahan sesajian kepada tokoh dewa yang termuat dalam naskah kuna lontarak Galigo paling tidak terdapat pula di tempat lain, kendati belum dapat diungkapkan kemungkinan adanya hubungan antara masyarakat pendukung kepercayaan yang sama d tempat berbeda.
4.1.1.3 Sistem Peralatan Upacara Keagamaan Berdasarkan hasil kajian naskah kuna lontarak Galigo yang menjadi sasaran penelitian ini dapat dikemukakan beberapa jenis peralatan yang digunakan dalam aktivitas pelaksanaan upacara keagamaan. masing-masing sebagai berikut : Bahun sesajian. terdiri atas telur ayam. daun sirih. daging kerbau Alai pe11111jaa11. perangkat perdupaan bersama dupa lengkap Alai h1111.l'i-hum·ia11. terdi ri at as : gendang. gong. "anak hecc ing" (potongan logam berbentuk pipih dengan ukuran pendek-pendek dan
| dapat menimbulkan bunyi bila | dipukulkan satu sama | lainnya). | |
|---|---|---|---|
| "tumpukadidi" (batangan lidi menimbulkan bunyi bila dipukul-pukulkan). | diikat menjadi satu | dan | dapat |
dapat menimbulkan bunyi bila dipukulkan satu sama lainnya). Ah11/ ha/um perja111ua11. berupa nasi dan daging kerbau sebanyak ratusan ekor. Hasil analisis tersebut menunjukkan balnva warga masyarakat
l.uwu di zaman Sa\verigading memandang sangat utama atau sangat renting adanya nilai-nilai ketakwaan terhadap dewa-dewa dan unsur makhluk halus lainnya yang dianggap sebagai kekuatan supranatural. Selain itu mereka mimiliki gagasan vital tentang keberadaan supranatural yang berkemauan sendiri dan berkuasa alas hidup dan kehidupan makhluk manusia. Keberadaan nilai-nilai agama tersebut kemudian mendorong timbulnya berbagai perilaku religi di kalangan masyarakat pendukungnya, antara lain seperti tercermin pada pelaksanaan upacara
tolak bala, upacara selamatan, upacara bersaji dan persembahan hewan korban sebagai tumbal pengganti nyawa manusia.
Dalam kehidupan masyarakat Indonesia dewasa ini sistem kepercayaan terhadap dewa-dewa maupun unsur supranatural lainnya sudah amat langka. lni sesuai dengan kenyataan, bahwa masyarakat Indonesia di seluruh gugusan kepulauan Nusantara, termasuk kawasan jazirah Sulawesi Selatan sebagian besar sudah menganut agama Is lam, disamping mereka yang menganut agama resmi lainya seperti Kristen, Protestan, Hindu dan Agama Budha. Kendatipun demikian, nilai agama yang termuat dalam naskah kuna lontarak Galigo masih mempunyai arti penting, terutama untuk membangkitkan semangat keagamaan maupun mendorong timbulnya sikap toleransi dan kerukunan beragama.
Seberapa jauh relevansi dan potensialitas nilai-nilai agama tersebut dalam rangka pembangunan di bidang kebudayaan di Indone sia akan dibahas secara khusus pada sub bab 4.2.
4.1.2 Nilai Seni Dalam pengertian umurn. nilai seni tidak lain adalah unsur nilai budaya yang diukur dengan rasa senang yang ditimbulkan oleh bentuk bentuk yang rnenyenangkan itu sendiri tercipta melalui berbagai hal, antara lain bahasa, suara, bunyi, bangunan, dan gerak. Dari seluruh basil ciptaan yang dirasakan menyenangkan itu timbullah bentuk-bentuk seni, seperti seni sastra. seni suara, seni rnusik, seni bangunan seni tari. Dari segi nilai seni, serial naskah kuna lontarakGaligo ditemukan unsur nilai-nilai budaya daerah sebagai berikut :
4.1.2.1 Seni Suara Dalam kaitannya dengan seni suara, rnasyarakat pendukung lontarak Galigo di zaman Sawerigading mengutamakan seni nyanyi/ lagu, seni mambaca naskah kuna dan seni mantra. Mengenai seni nyanyi dapat dikaji dari lontarak Galigo dimana laskar pengawal Sawerigading menyanyikan jenis lagu mars yang berbunyi sebagai
berikut :
We laki welang mennang labela joncongengnge We laki welang kaka La Nanrang La Massaguni We laki welang kaka La Gau La Sinilele We laki welang kaka Sinala La Mattoreang We laki welang Ranginang La Sadakati We laki welang Panrita Ugi Jemmu ri Cina
Artinya :
Lelaki lajang nian sang bahtera Lelaki lajang kakanda La Nanrang La Massaguni Lelaki lajang kakanda La gau La Sinilele Lelaki lajang kakanda Sinala La Mattoreang Lelaki lajang kakanda Ranginang La Sadakati Lelaki lajang Panrita Ugi Jemmu ri Cina
Keindahan lagu mars tersebut di atas terletak pada kesamaan bunyi "we laki \elang" (lelaki lajang) yang tcrtera pada setiap kalimat. Aralagi cara menyanyikannya dilakukan secara bersama-sama di antara ribuan laskar pengawal. sehingga suaranya membahana sampai 1-e langit.
Dari sudut lain.mars tersebut dimaksudkan untuk membangkitkan sekaligus memompakan semangat kepada seluruh laskar pengawal pangeran.agar mereka mengerahkan seluruh perhatian, pikiran dan kekuatan otot untuk menarik hahtera mereka ke daratan.
Apabila nilai seni lagu mars tersebut di atas terletal. pada kesamaan bunyi lelaki lajang ("We laki welang") yang tertera dalam setiap haris. maka keindahan seni membaca naskah kuna lontarak Galigo terletak pada langgam suara si pembacanya. Pembaca lontarak Galigo pada umumnya mengeluarkan suara berirama khas. 1111rip dengan suara orang yang sedang bernyanyi.
Sama halnya dengan seni membaca lontarak Galigo. tata cara pembacaan mantcra-mantera yang biasanya dilakukan para tokoh bisu juga menampilkan langgam suara khusus yang herbeda dari pem bacaan lontarak maupun pad a seni nyanyi. Dal am hal in i pem haca
mantra-mantra biasanya dikaitkan dengan usaha pengobatan dengan do'a kepada sang dewata, sehingga menimbulkan suasana hening, khidmat dan sakral.
4.1.2.2 Seni Musik Seni musik tradisional daerah Bugis-Luwu pada zaman silam terbentuk dari perpaduan suara bunyi-bunyian dengan peralatan yang cukup sederhana. Agar lebih jelas di bawah ini dikemukakan kutipan dari naskah lontarak Galigo sebagai berikut : Nari cemmena uwwae majang Langi Pawewang Massappo siseng Naritumpuna genrang rukkae mai mano le ri tanae Ritumputo ni genrangpulaweng sipammana na lolangengnge ri ale Luwu. Ritumputo ni le gompulaweng sipammana na lolangengnge ri Ale Luwu Riampak toni le gompulaweng manurungnge ri Tompo Tikka Ritumpu toni genrampungpaweng le tompo e ri Sawammega ( ... ) Nari senona gamaru soda le sekatie Ripacellik ni tulalikkati le maddatuna lemongngeng Mongeng rau-rauwe le paccaleppa mala-malae Tetti laguni anak beccinna maddengo rengo le tanrae Merung teppa ja alepangnge Narusino na ballilik e Mappana guttu sappo lipuk e Mereng manenni gauk datunna La Maddukkeleng massoppo Siseng Moni manenni sining monie (Transliterasi no. 141 -142) Dari cuplikan lontarak di atas dapat diketahui jenis-jenis peralatan musik atau bunyi-bunyian yang digunakan masyarakat Luwu di zaman
Sawerigading, antara lain terdiri atas: genderang; gong; gamaru soda: tulangsikkati; raung-raung paccaleppa; tetti laguni; anak beccing bedil dan meriam.
Setiap unit peralatan bunyi-bunyian tersebut mempunyai spesifikasi dan keindahan tersendiri. Namun dalam rangkaian pelaksanaan upacara selamatan bagi sang pengeran mahkota, yaitu Sawerigading segenap peralatan tersebut ternyata dibunyikan secara serentak. sehingga men imbulkan suasana riuh rendah yang membahana ke seluruh pelosok negeri. Ini berarti pula bahwa seni musik dalam masyarakat Luwu tidak hanya dimanfaatkan pada waktu santai, tetapi juga digunakan sebagai pelengkap dalam rangka pen ye lengaraan upacara trad isional.
4.1.2.3 Seni Tari Dalam naskah kuna lontarak Galigo tidak diungkapkan mengenai jenis tari-tarian yang ditumbuhkembangkan masyarakat pendukungnya di kawasan daerah Luwu dan sekitarnya, namun sebagai bahan kajian dapat dikemukakan gerakan tari-tarian yang ditampilkan oleh tokoh Sawerigading sebagai berikut: ... naweka pitu muwa liliweng tanringengnge/ Nariunona manuk lebbi na La Mattororeng.Taddakka-rakka La Massinala sikki manuk na/ Naapamolei pitte pamulang cakkuridinna/ Lesso masigak ri sinrangenna Sawerigading na wakkasangngi passigerak na/Paincak kincak tettin carianna/Pawelluk-welluk taiyya/ Nasere mangngawang mangaweng lowang passigerak na ( ... ) maperrru pettu genorirumpa le ri aro na/Marewo dangnga muwa rituling Gellampulaweng le ri aje na le/Mappareppak maneng sianak datuwe massoppo siseng ... (transliterasi no. 150--151 ). Artinya : ... dan .hanya tujuh kali ayam jago itu saling serang, matilah ayam unggulan La Mattoreng. La Massinala bergegas menyambar ayamnya. kemudian melepaskan tali pengikat tajinya. Sawerigading buru-buru turun dari tandu usungannya, sambil meliuk-liuk lengannya. kemudian menari sambil melambaikan
destarnya. Getang bersusun yang ada di dadanya putus-putus, getang emas di pergetangan kakinya menimbulkan suara riuh bagaikan burung nuri. Segenap sepupunyapun bertepuk tangan.
Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa di zaman Sawerigading masyarakat Luwu memang tetah mengenat, sekaligus menumbuhkembangkan seni tari. Datam hat ini tarian yang digemari kaum remaja putera ialah tari sabung ayam, sesuai dengan kegemaran mereka ketika itu. Setain tari sabung ayam, datam tontarak tersebut ditemukan puta jenis tari parang.
Tidak jetas bagaimana bentuk dan pota gerakan penari perang ketika itu, namun dari kutipan diatas dapat dibayangkan bahwa nitai keindahannya tertetak pada gerakan kaki mereka yang sangat menonjotkan tertetak keringanan ayunan tangkah kaki serta ketangkasan dan kesigapan mereka dalam mengayunkan tombak dan menggerakkan perisai emas masing-masing.
- 1.2.4 Seni Kerajinan Datam tembaran-lembaran isi tontarak Gatigo dapat ditemukan cukup banyak cerita yang mengisahkan jenis busana dan kelengkapan pakaian para pangeran dan anggota taskar pengawal ketika itu. Secara garis besar seorang lelaki waktu itu biasanya mengenakan pakaian berupa kain sarung, di samping berbagai kelengkapan lainnya, antara lain kain destar, mahkota emas, pedang emas, keris emas, getang emas serta katung bersusun. Mengenai busana wanita umumnya terdiri atas kain sarung lengkap dengan hiasan sanggut, tusuk konde emas, getang emas serta cincin emas. Busana dan ketengkapan pakaian tersebut membuktikan bahwa sejak zaman dahutu kata masyarakat pendukung naskah kuna tontarak Gatigo di daerah Luwu memang sudah mengenat sen kerajinan. Dalam hat ini seni kerajinan terdiri atas kerajinan tenun dan kerajinan mengotah perhiasan emas. Proses produksi dan sumber bahan bersama peratatan produksinya tidak dapat diungkapkan secara tengkap, tanpa metalui penelitian khusus.
Dari beberapa analisis dan interpretasi tersebut di atas jelaslah balw.,a dalam naskah kuna lontarak Galigo terkandung pula nilai seni. kendati hanya dalam skop cukup terbatas jen is maupun keragamannya.Namun paling tidak data dan informasi tersebut sudah menggam barkan ad an ya unsur ni lai budaya daerah yang tercerm in dalam seni lagu. seni kerajinan. dan seni musik.
- I .3 Ni lai Ekonom i Nilai ekonomi pada dasamya berkaitan dengan proses pemenuhan kebutuhan hidup manusia. baik dalam bentuk benda maupun berupa jasa. Dalam memenuhi kebutuhan hidup yang umumnya sangat beraneka ragam. manusia menciptakan sistem ekonomi. Dalam konteks ini Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional mengonsepsikan. bahwa sistem ekonomi adalah usaha barang-barang dan jasa atau pelayanan untuk memenuhi kebutuhan biologis dan sosial manusia ( t.th. 7 4)
4.1.3.1 Pajjala "Pajjala" adalah istilah untuk menyebut golongan masyarakat yang hekerja sebagai nelayan Dalam hal ini nalayan "pajjala" melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan jala /jaring sebagai alat utama. Sehagai hahan pengkajian sekaligus sebag.ai bahan pembuktian dapat di kemukakan transl iterasi nomor : 015-016 yang berbunyi sebagai berikut : Napemmagasi la Maddukkelleng Latau buleng mannajen ratu muwa sitinro/ wakka ulaweng meneng naola I Wise tanrajong mcncng natiwi/ Padat-tereang jala ripattoeri batu sewedi Artinya : La maddukkelleng ( Sawerigading ) melihat pula orang bulai ratusan orang berteman. Semuanya menggunakan perahu emas. masing-masing memhawa dayung panjang Semua menebar jala yang digandoli batu jala emas. Berdasarkan kutipan isi lontarak tersebut di atas. jelaslah bahwa di zaman Sawerigading masyaral\at sudah memiliki keterampilan
teknis untuk menangkap ikan dengan alat ja!a /jaring. Mereka bahkan tidak hanya mampu menangkap ikan di kawasan pantai, tetapi juga sanggup menangkap ikan di perairan dalam. Dalam hal ini mereka di topang dengan alat angkutan laut berupa perahu emas.
4.1.3.2 Pabbellek Pabbellek adalah golongan nelayan yang tidak menggunakan peralatan jaring, tetapi menggunakan peralatan tradisional yang dalam bahasa daerah Bugis disebut bellek A lat ini termasuk jenis penangkap ikan yang terbuat dari bahan bamhu. Keberadaan nelayan pabbellek ketika itu diungkapkan di dalam lontarak Galigo sebagai berikut : ... narini tona pabellek e/ Manajanratu muwa sitinro/ Wakka ulaweng maneng naola/ Wise tanrong maneng na unre suttara maneng natiwi/ (T"ransliterasi No. 016). Artinya : Tiba pulalah kelompok nela)an "pabbelek". ada ratusan orang sating beriringan, masing-masing menggunakan perahu emas. Semua membawa dayung panjang dan tali sutera. Kutipan tersebut menunjukkan bahwa sejak zaman silam masyarakat kepu lauan N usantara. termasuk wi I ayah Luwu. sud ah mengenal sistem penangkapan ikan dengan menggunakan alat penangkap tradisional yang disebut bellek. Kelengkapan peralatan produksi yang turut mendukung kelancaran usaha masing-masing ialah perahu.
4.1.3.3 Passari Passari pada prinsipnya adalah golongan manusia I kelompok masyarakat yang hidup sebagai pemadat. lnformasi mengenai golongan pemadat ini ditemukan dalam salah satu petikan naskah lontarak Galigo sebagai berikut : Lalo muttama ri minangae wakka ulaweng ripolalenna Tori Sinau Pajullakkoe ri Ale Luwu Tomappamenek Wara-Warae ri Watampare /Conga mabboja Sawerigading massapposiseng
napemmagai tomassarie/ Manajan ratu muwa sitinro/ Napada mempe maneng temmi/ Natenrempulaweng Maneng naola/ Nalawo cam ming maneng le pattimpona/ (Transliterasi No. 016)
Artinya :
Perahu emas milik Torisinau Pajullakkoe ri Ale Luwu To mappamenek wara-warae ri Watampare berlayar memasuki muara sungai. Sawerigading mengangkat kepala dan melayangkan pandangan bersama sepupunya, maka dilihatnyalah para pemadat. Berkisar ratusan orang berteman. Semuanya memanjat nira, masing-masing menggunakan tangga emas sedangkan tabungnya terbuat dari labu mengkilap.
Kutipan di atas menginformasikan adanya sebagian warga masyarakat yang memiliki keterampilan teknis untuk menggarap sumber kekayaan alam berupa tanaman nipah dan aren, sebagai sumber produksi nira. Air nira itu sendiri merupakan bahan baku yang diproses menjadi gula di samping arak dan cuka.
- 1.3 .4 Peternak Dalam naskah lontarak Galigo tidak ditemukan informasi khusus yang menyatakan adanya golongan masyarakat yang hidup sebagai peternak, namun demikian dapat diduga bahwa ketika itu masyarakat Luwu, paling tidak sudah mengembangkan sistem beternak kerbau dan ayam. Dugaan ini didasarkan atas isi cerita yang mengisahkan perihal pelaksanaan upacara selamatan. dalam hal ini dipersiapkan ratusan ekor kerbau sebagai hewan korban. Sekiranya ketika itu belum ada peternakan kerbau, tentu rakyat Luwu cukup sulit, bahkan mungkin memerlukan waktu cukup lama untuk bisa menangkap ratusan ck.or kerbau liar. Atas dasar pertimbangan ini maka diduga hewan korban itu termasuk salah satu hasil produksi peternakan, kendati belum diketahui secara jelas mengenai proses dan kapasitas produksinya.
4.1.3.5 Pertanian Sama halnya dengan sistem peternakan, maka sistem pertanian tidak diungkapkan secara nyata dalam naskah lontarak Galigo. Namun
dalam naskah tersebut disebutkan perihal hasil bumi atau hasil .tanah. berupa makanan. Agar lebih jelas dikemukakan isi lontarak Galigo yang berbunyi sebagai berikut :
Pakkullingngada Guttu Tellemma I lyanaro anak Dukkellleng I le kumaelo muamaseang I Munyamengiwi ininnawamrnu I Muwala riwu mubilang ketti I Ripasalanna amauremu I Rimabongngona mannawa pole ri lolangemmu ri Rumpa Mega muparisi wi ri lalekkati lengnge tanamu ri Rumpa Mega ... (Transliterasi No. : 109)
Artinya:
Guttu Tellemma mengulangi ucapannya, itulah sebabnya wahai ananda Dkkelleng maka kuharapkan maafmu dan tenangkanlah perasaan hatimu .. Ambillah harta benda yang banyak atas kekhilafan pamandamu, atas kebodohannya bersaudara. Maafkanlah daku wahai ananda pangeran dan marilah kita pulang ke negerimu di Rumpa Mega. untuk mengecap hasil bumimu di Rumpa Mega.
Terlihat dalam kutipan tersebut di atas ,bahwa Sawerigading diajak naik ke istana raja Rumpa Mega untuk bersantap sedangkan santapan tersebut terdiri atas hasil bumi. Apabila interpretasi ini benar adanya. berarti di zaman Sawergading masyarakat memang sudah menerapkan sistem pertanian khusus bahan pangan.
Menu rut sistem pencaharian hid up tersebut di atas, maka jelaslah bahwa dalam naskah kuna lontarak Galigo terkandung nilai budaya luhur, di mana masyarakat manusia tidak hanya mernandang unsur alam sekitar sebagai ciptaan dewata yang harus dihormati dan disakralkan. Sebaliknya rnereka memandang alam sekeliling sebagai sumber dan potensi yang perlu digarap, untuk kepentingan pemenuhan hidup manusia.
Berdasarkan anggapan tersebut di atas, mereka menghayati keberadaan lautan dan permukaan bumi sebagai potensi sumber daya alam yang memiliki nilai ekonomi yang amat penting bagi kelangsungan hidupnya. Demikianlah sehingga mereka kemudian menumbuhkernbangkan nilai kerja, di mana setiap inidividu
diharapkan mau berusaha menggarap unsur-unsur kekayaan a lam. haik berupa ikan yang terpendam di sungai dan laut maupun pengembangbiakan ternak. pengolahan nira dan pembudidayaan tanaman pangan di atas permukaan bumi.
4.1.4 Nilai llmu Secara garis besar ilmu dan pengetahuan masyarakat manusia di zaman Sawerigading sebagian terbesar diperoleh dari pengalaman. di samping pengetahuan yang didapatkan dari generasi terdahulu melalui proses sosialisasi. Jenis-jenis ilmu yang dianggap utama dan sangat penting menurut kandungan isi naskah kuna lontarak Galigo adalah sebagai berikut :
4.1 A. I Astronomi dan Meteorologi llmu astronomi dan meteorologi sangat diutamakan di zaman Sawerigad ing. In i di pengaruhi antara lain oleh sistem kepercayaan yang berorientasi kepada alam gaib dan keyakinan terhadap keberadaan kekuatan supranatural. Selain itu ilmu astronomi dan meteorologi sangat diperlukan sebagai suatu pedoman dalam melakukan aktivitas mereka sebagai masyarakat maritim. Dalam kaitannya dengan sistem kepercayaan tradisional'. leluhur orang Lu\vu di zaman lampau beranggapan balnva planit-planit maupun angkasa luar bukanlah ruang hampa tanpa kehidupan. ktapi dipandangnya sebagai tempat persemayaman de\va-dewa. Demikianlah maka rnereka beranggapan ada dewa yang bertempat tinggal di matahari. bulan dan angkasa luar. Sa lah satu contoh dapat d ikem ukakan Guttu Tel lemma. seperti dikisahkan dalam lontarak Galigo yang menjadi sasaran pengkajian ini. Menurut lontarak tersebut. Guttu Tellemma adalah titisan dewa Patoto. bersaudara dengan Batara Ciuru. Batara Guru diturunkan ke bumi sehagai tunas yang akan meramaikan kolong langit. sambil menyembah keagungan sang de,,ata. Patoto yang dianggap bersemayam di petala langit. Sedangkan Guttu Tel lemma ditempatkan di angkasa luar dengan pusat kerajaannya berkedudukan di Rumpa Mega.
Mengenai gejala alam umumnya dipandang mempunyai potensi yang dapat dimanfaatkan manusia untuk mempertahankan sekaligus melangsungkan hidup dan kehidupan mereka di atas bumi. Dalam hal ini dapat dikemukakan ilmu yang ditampilkan oleh Guttu Tellemma maupun Sawerigading ketika kedua belah pihak terlibat langsung dalam pertempuran sengit. Suatu ketika, Guttu Tellemma menyalakan api dewata di medan pertempuran dengan menggunakan kilat dan petir. Sebaliknya Sawerigading ternyata mampu menjinakkan kobaran api dewata, dengan cara menaikkan pasang laut.
Mungkin saja hal tersebut di atas hanya merupakan sebuah dongeng yang berfungsi sebagai hiburan di zaman Sawerigading, namun jika dikaji secara lebih mendalam, ternyata bahwa gejala alam seperti kilat dan petir memang mengandung listrik dan dapat menimbulkan kebakaran atau nyala api. lni berarti pula bahwa sejak zaman yang lampau masyarakat di daerah Luwu dan sekitarnya memang telah memiliki gagasan vital tentang arti dan pentingnya gejala alam bagi proses hidup dan kehidupan umat manusia.
Dalam kaitannya dengan ilmu meteorologi leluhur masyarakat Luwu di zaman Sawerigading ternyata mengenal baik keadaan cuaca, peredaran musim, arah angin dan naik turunnya gelombang taut. Mereka juga menguasai ilmu tentang jenis-jenis angin. misalnya "anging monie", "salarengnge", "Salatangnge", dan lain sebagainya.
Berdasarkan pengetahuan tersebut mereka kemudian menumbuhkembangkan gagasan vital untuk memanfaatkan matahari, bulan, bintang-bintang dan unsur meteorologi dalam aktivitas pelayaran. Dengan ilmu itu maka segenap petugas dalam bahtera Sawerigading mengetahui secara tepat kapan layar harus dikembangkan secara penuh, kapan harus di gulung. Semua itu menunjukkan bahwa dalam lontarak Galigo termuat nilai budaya luhur yang berorientas pada nilai ilmu.
4.1.4.2 llmu tentang Ruang Dalam lontarak Galigo ini, susunan alam raya dipandang mempunyai nilai ilmu yang berorientasi antara lain pada ilmu keruangan. Dalam hat ini susunan alam raya dianggap terbagi menjadi empat ruang tersendiri yang terletak secara bersusun
Pertarna, ruang paling atas yang disebut "bating langi" (petala langit). Ruang ini dianggap sebagai ternpat persernayaman dewa Patoto atau Topalanroe (sang penentu nasib; sang pencipta).
Pada lapisan kedua terdapat ruang tersendiri yang disebut "salliweng langi" (angkasa luar). Lapisan ini rnenjadi wilayah pemukirnan Guttu Tellemma. putera dewa Patoto yang dikenal sebagai saudara sang tumanurung di Luwu yaitu Batara Guru (kakek Sawerigad ing).
Lapisan ketiga adalah ruang tempat tinggal manusia. disebut "ale lino" (permukaan bumi). Dalam lontarak Galigo ruang atau lapisan alam tersebut seringkali pula dinamakan "alekawa" Dalam "ale lino" atau ale kawa ini bertempat tinggal keturunan sang dewa Patoto. yaitu Batara Guru.
Pada lapisan ruang keernpat terdapat negeri "peretiwi" (petala bumi). sering pula disebut "urik liyung" (dasar samudera) Lapisan ini diceritakan sebagai dunia bawah. di mana bertahta sepasang dewa. yakni saudara dari dewa patoto bersama dengan permaisurinya. lnformasi lontarak tidak merincikan keadaan rnasing-masing lapisan ruang tersebut. narnun diduga balnva masing-masing ruang tersebut merupakan planet tersendiri. Sekiranya cerita dalarn lontarak Galigo itu bukan sekadar dongeng atau khayalan pengarangnya. mungkin sekali waktu kelak ilrnuwan dan para astronot dapat menemukan kebenarannya.
4.1.4.3 llmu Bumi Apabila kita kembali. sekali lagi. menyimak isi lontarak Galigo. serial mapalina Sawerigading ri Saliweng Langi, maka dengan sendirinya akan ditemukan berbagai nama negeri khusus yang telah dilihat oleh Sawerigading dalam pelayarannya. Sebagai bahan kajian dikemukakan kutipan di bawah ini ... Natellumpenni muwa sompekna La Maddukkelleng le nanyilik ni ri Tana Bali/ Nayilik toni ri Tana raja/ Nanyilik pemmagani ri watampare/ naita toni Tompo Tikka/ Napemmagani ri Singki
Wero ri Sawammega/ Nanyilik toni ri Wewanriu ri Senrijawa/
Napemmagani ri Tana Ugi ri Ale Cina .... ( Transliterasi Nomor:
003 ).
Artinya :
... Hanya tiga malam saja setelah berlayarnya Sawerigading iapun telah meilhat Tana Bali. Dilihatnya pula Tana Raja. Dilihatnya Watampare. Dilihatnya Tompo Tikka Dilihatnya Singkui Wero di Sawammega. Dilihatnya Wewanriu di Senrijawa. Dilihatnya Tana Ugi di Ale Cina ...
Berdasarkan isi lontarak tersebut di atas Jelaslah bahwa masyarakat Luwu di zarnan silam telah mengenal negeri lain yang terletak di sebcrang lautan. Pengetahuan tersebut rnendorong mercka untuk mengunjungi negeri-negeri lain, baik untuk kunjungan kekeluargaan maupun untuk hubungan kerajaan.
Sehubungan dengan pengenalan terhadap berhagai negeri di luar Tanah Luwu makan di zaman Sawerigading terkenal adanya pelayar pelayar tangguh yang bukan hanya sangat herpengalaman dalam menanggulangi aneka macam rintangan dan tantangan badai dan ombak lautan, tetapi juga sangat mengenal hampir seluruh negeri di ka\asan nusantara. Ini sekaligus membuktikan balnva dalam naskah kuna lontarak Galigo terkandung pula nilai ilmu. khususnya yang berorientasi pada letak negeri dan kerajaan-kerajaan yang tcrsebar di hcrbagai pulau.
..J.1.1.4. Ilmu dan Teknologi Kelautan Satu di antara jenis ilmu pengetahuan yang dianggap sangat pcnting di zaman Sawerigading adalah ilmu kelautan dan sistem tcknologi pelayaran. Melalui pengaiaman. di samping pengetahuan tradisional yang diwarisi dari leluhur masyarakat Luwu ketika itu rnemiliki pengetahuan luas tentang Iaut. Dalam hal ini lautan tidak hanya dijadikan sumber mata pencaharian yang berorientasi pada aktivitas produksi penangkapan ikan laut, tetapi juga dimanfaatkan sebagai prasarana perhubungan serta angkutan antar pulau.
Dalam setiap perahu terdapat pemimpin yang bertanggung jawab serta pengambil kebijakan dalam pelayaran, yaitu nakhoda yang dalam bahasa daerah Bugis-Luwu disebut "anak koda" "dangkangeng". Selain itu pelaksanaan tugas-tugas pelayaran diselenggarakan atas bantuan petugas lain. seperti juru mudi, serta juru balang. Keberadaan nakhoda dan juru mudi di dalam setiap pelayaran sangat menentukan keselamatan perahu bersama segenap awak perahu dan penumpangnya. lnformasi mengenai hal ini dapat dikaji dari kutipan naskah lontarak sebagai berikut :
Nalabu tona le tikka e/ Nauren riu temmallawangeng/ Sianre-anre ktte werowe/ Siola-ola pareppak e/ Sibetta-betta le olingnge/ Pole uraik salarengnge/ Pole maniang marasumpae/ Pole manorang salatengnge/ Sala sisusang \Vakka werowe/ Maling manenni to maegae le/ Maling toni le anak koda dangkangenge le biasae mola samudda/ Ten naissenni tiro padoma le juru mudi le biasae le tenngai saddeng menraleng/ Nassibittei bombang silatu (Transliterasi No. : 009).
Artima:
Matahari pun tenggelam. sedangkan hantaman badai tidak henti hentin:-a. Guntur sambung-menyambung. gekdek datang saling sus11l-menyusul. kilatpun datang susul-menyusul. Angin selatan bertiup dari utara. angin salareng berhembus dari barat. Angin marasumpa bertiup dari arah selatan. Perahu '\akka werowe" 11 aris terbalik. Segenap laskar pengawal sudah tidak ingat diri. demikian pula nahkoda yang herpengalaman mengharungi samudera. Sang juru mudi yang berpengalaman menjelajahi lilutan. terbiasa menghadapi hantaman gelombang laut tidak mampu lagi menentukan arah pelayaran.
Dari kutipan tersebut di atas jelas terlihat bahwa aktivitas pelayaran dipandang sebagai suatujenis kegiatan dengan resiko tinggi. Karena itu setiap perahu atau bahtera senantiasa memerlukan tenaga trampil amara lain terdiri dari seorang nahkoda dan seorang juru mudi yang dianggap handal. Sehubungan dengan itu masyarakat Luwu di zaman Sawerigading sangat mementingkan pembinaan ilmu kelautan dan tehnologi pelayaran.
Sistem teknologi pelayaran yang diterapkan ketika itu. terdiri atas perahu layar. Dalam serial lontarak Galigo diceritakan ·Terdamparnya Sa,,,verigading di Angkasa Luar Ketika itu perahu Sawcrigading yang discbut "wakka werowe" dikawal oleh sebuah armada berkekuatan bcsar. terdiri dari ribuan perahu yang rata-rata berukuran sedikit lebih keci I dari pada ukuran perahu wakka wero\ve.
Armada perahu layar tersehut mampu menjelajahi laut dalam dan mengarungi samudera luas. kendati hanya memanfaatkan angin dan layar sebagai tenaga penggerak Dalam hal ini sang nahkoda dan segcnap pembantu-pembantunya mengetahui secara tepat \vilayah perairan yang harus dihindarkan. baik karena dangkal maupun di '"ilayah itu banyak terdapat batu karang yang mampu memecahkan perahu mereka. Merekapun mengetahui kapan harus menggunakan layar sepenulrnya. kapan harus menggulang layar dan menurunkan tiang layar. Semua itu terkait dengan ilmu kelautan dan tehno!ogi pelayaran.
4.1.-l.5 llmu tentang Ohat-obatan Dalam naskah kuno lontarak Galigo terkandung nilai ilmu yang be11alian dengan obat-ohatan lln1u tersebut tidak hanya ampuh untuk menyembuhkan Iuka parah akibat sambaran pedang maupun tusukan ujung tombak. tetapi lebih dari itu bahkan digunakan untuk mcnghidupkan kembali laskar yang sudah tewas dalam pertempuran. Sampai sekarang. belum dapat dibuktikan apakah memang ada jenis pengobatan yang mampu menghidupkan orang mati. akan tetapi bagi masyarakat Indonesia yang sedang membangun secara menycluruh dapat mengambil manfaat dengan cara mempelajari kntang bahan-bahan yang digunakan dalam praktck pengobatan tradisional. Sehubungan dengan itu dapat dikemukakan kutipan dari naskah lontarak Galigo sebagai berikut: ... Natarakka na la maranginang napuppungiwi bakke datunna sappo sisenna/ Napallapo I le ri olo na Opunna ware ( ... )/. Natarakka na sawerigading napijekiwi kanari Jawa/ Narumpuiwi le dupa rasa/ Narawu kiwi siri atakka ri ataunna tellek araso ri
abeo na/ Natijjan ronnang To ri Watampare le/ Magguliling le Ale Luwu Tomappamenek wara-warae Langi Pawewang/ Tokkokko mai mennang labela to riwettae toriposowe tonaciddae rampukalameng/ Mellekna muwa inin nawammu lewuk tania welle baritu appeddengemmu mulewuri ciddae rampukalameng. (Transliter.asi No. : 062-063).
Artinya:
... Maka pergilah La Maranginang mengumpulkan mayat sepupunya lalu di timbunnya di hadapan Opunna Ware( ... ). Maka bangkitlah Sawerigading merekatnya dengan kenari Jawa. lalu diasapinya dengan dupa wangi. Dan ditancapkannya batang "siri" dan "atakka" di sebelah kanannya. tebu hampa di sebelah kirinya. Lalu berjalanlah Tosinau Pajullakkowe Ri Ale Luwu Tomappamenek wara-warae ri Wapatampare mengelilinginya sebanyak tiga kali putaran. Lalu berkata lagi Pa \ewang. bangunlah nian \3hai orang yang terpenggal. orang yang sekarat. orang-orang yang terkena sambaran pedang. Tega nian hati kalian tidur. tanpa sekarat. orang-orang yang terpenggal. orang-orang yang terkena sambaran pedang.
Tampaknya praktek pengobatan yang mampu menghidupkan or ang-orang mati seperti tertera dalam kutipan tersebut diatas ini sulit diterima akal sehat. namun dalam lontarak tersebut terkandung beberapa cara dan jenis bahan obat-obatan yang mungkin dijadikan obyek penelitian. antara lain: "dupa wangi": "kenari jawa": "atakka": "telle": dan "araso".
"Dupa \angi" adalah sejen1s menyan yang menyemburkan bau harum apabil<,1 dibakar. Dupa seperti ini selalu digunakan masyarakat
L.uwu dan Bugis hampir dalam setiap usaha pengobatan maupun upacara lainya. Dalam hal ini tidak diperlukannya nyala api dari pembakaran dupa.tetapi yang penting ialah asapnya yang mengandung bau wangi. Kenari jawa, adalah sejenis bahan pengobatan yang selalu dituliskan hampir dalam setiap serial lontarak Galigo. Belum diketahui secara jelas bentuk dan materi kenari jawa itu namun dari
hasil kajian naskah lontarak. bahan tersebut dianggap mempunyai nilai sakral sehingga turut digunakan sebagai alat untuk merekat orang mati yang akan dihidupkan kembali.
"Siri" dan "atakka", adalah dua jenis tetumbuhan yang dalam lontarak Galigo selalu ditampilkan sebagai tumbuhan sakral. Pandangan in i berdasarkan pada kepercayaan masyarakat pendukung naskah lontarak Galigo, bahwa kedua jenis tumbuhan tersebut pada mulanya dibawa serta oleh Batara Guru dari petala langit.
"Tellek" dan "araso" adalah dua jenis tumbuh-tumbuhan yang dalam bahasa Indonesia berarti tebu hampa. Kedua tumbuhan tersebut banyak terdapat di daerah rawa atau dipinggir kali.
Semua bahan pengobatan tersebut perlu diteliti. terutama mengenai zat-zat yang dikandungnya, untuk mengetahui secara pasti apakah zat-zat tersebu memang mengandung hal-hal tertentu yang dapat menyembuhkan penyakit tertentu. Selain dari itu perlu dikaji secara lebih saksama mengenai sikap di samping gerakan-gerakan yang ditampilkan tokoh Sawerigading. khusus dalam proses pengobatan orang sakit. Dalam hal ini timbul berbagai pertanyaan )ang hanya mungkin terjavvab jika didukung dengan suatu penelitian khusus yang melibatkan para ahli dari berbagai disiplin ilmu. termasuk ahli medis.
4.1.5 Nilai kuasa Dalam kaitannya dengan kehidupan sosial budaya masyarakat Luwu seperti diceritakan dalam naskah kuna lontarak Galigo terlihat bahwa kekuasaan politik berada di tangan seorang tokoh pemimpin atau raja yang bergelar "datu" atau "opu", biasa pula djsebut "punna lipuk e" (pemilik negeri). Datu atau opu tersebut senantiasa dihormati, diagungkan dan dimuliakan lebih dari seorang raja biasa. lni disebabkan oleh pemahaman rakyatnya bahwa sang raja adalah titisan dewa langit. Pandangan tentang latar keturunan datu/opu yang dianggap titisan dewa itu mengakibatkan timbulnya anggapan orang banyak, bahwa sctiap orang yang durhaka atau pun membangkang terhadap titah raja
akan berakibat fatal bagi sipelaku. Demikianlah maka siapa saja yang ingin menghadap kepada raja harus berlaku hormat, penuh takzim. Sekiranya penduduk ingin menyampaikan sesuau kepada sang raja, maka biasanya penduduk tersebut menghaturkan sembah sujud dan barulah kemudian menyampaikan maksudnya, namun diawali dengan kata-kata pembuka yang berbunyi sebagai berikut :
Nassessu sompa wali natudang We Ati Mega ronnang makkcda rara palekku lapuangnge /Awang lasuna panemmerekku/Tekku matula bal io ada ... (transsl iterasi No. : 019).
Artinya :
We ati Mega menghaturkan sembah sujud lalu duduk. kemudian berkata telak tanganku hanya bagaikan segumpal darah. Tenggorokanku hanya merupakan kulit bawang. semoga saya tidak kualat karena berbicara kepadamu junjunganku.
Kutipan tersebut di atas menunjukkan betapa besar penghargaan dan penghormatan rakyat terhadap tokoh raja. sehingga siap menerima hukuman manakala dianggap lancang dan bersalah atas sikap. tingkah laku dan ucapan-ucapannya di hadapan rajanya. Namun demikian. sikap. tindakan maupun ucapan tokoh Batara Lattu selaku raja LU\ u maupun tokoh Sawerigading selaku pangeran mahkota kerajaan Lu\ll ternyata menampilkan cukup banyak nilai-nilai budaya luhur. antara lain sebagai berikut :
4.1.5.1 Arif dan Bijaksana Dalam menjalankan kekuasaan sebagai pangeran mahkota di samping kedudukannya sebagai pimpinan tertinggi dalam pelayaran Sawerigading tidak rnengarnbil keputusan dan bertindak sendiri. rnelainkan sebagian dari kewenangannya dilimpahkan kepada pembantu-pembantu utamanya. Hal ini terlihat ketika raja Rumpa Mega bermaksud memaksakan kehendak sendiri untuk rnerampas seluruh armada Sawerigading yang sedang berlabuh di Saliweng langi. Menghadapi sikap bermusuhan dari baginda raja Rurnpa Mega. yaitu Guttu Tellemma bersama putera-puteranya. Sawerigading tidak
bertindak gegabah. melainkan dengan penuh kepercayaan, persoalan tersebut diserahkannya kepada sepupu-sepupunya yaitu La Pananrang. La Massaguni dan La Sinilele. Kearifan dan kebijaksanaan sang pangeran dilaksanakan dengan sungguh hati oleh ketiga sepupu, sekaligus pembantu utamanya itu. Anggapan ini sesuai dengan informasi lontarak sebagai berikut:
... Makkeda teri La Pananrang La Massaguni appangarao La Sinilete patat tumpuk I menek wakkae le ri wirinna le pallonyangnge/ Nainyyak sa mattekkaiwi La Rumpa Langi/ Muwita sai le orowane mattebbak gajang di kessik e/ Masommengnge matteppa timu tonrongngadai padanya datu/ Na tallalo bacci La Sinilele tuju matai sappo sisenna/ Na giling ronnang La Sinilele mammiccu lampe tuncuki jari sappo sisenna ronnang makkeda magi naiyo La pananrang La Massaguni marakka-rakka mappaddiolo temuwitai le ri munrimmu napotuwoe pangemmerenna le Luwu e/ Kuwa muwani toriparemmak La Pananrang La Massaguni sorok maccokkong ri pempola na joncongengnge (Transliterasi No. : 029-030)
Artinya :
.... Berka ta dengan suara isak tang is La Pa nan rang serta La Massaguni titahkanlah wahai La Sinilele untuk merapatkan perahu di pinggir sungai. Biar kuseberangi/kudatangi La Rumpa Langi dan lihatlah yang namanya laki-laki bertarung dengan keris di atas pasir. melawan orang yang lancang mulut. meremehkan sesamanya raja. Betapa murkanya Lasinilele melihat sepupunya, maka iapun meludah lalu menudingkan jari telunjuknya sambil berkata wahai La Pananrang (dan) La Massaguni mengapa engkau buru-buru memulai (pertikaian), tanpa memikirkan keselamatan nyawa orang-orang Luwu dan orang-orang Ware. La Pananrang dan La Massaguni bagaikan orang kena sirep lalu kembali duduk di ruangan perahu.
Kutipan di atas menunjukkan dua sikap dengan nilai berbeda dalam menanggapi masalah yang sama. Sikap pertama ditampilkan oleh tokoh La Pananrang dan La massaguni, di mana keduanya ingin menghadapi kekasaran dan penghinaan lawan dengan mengangkat
senjata dalam pertarungan. Namun sikap tersebut dipandang kurang arif dan kurang bijaksana terutama karena dapat menimbulkan pertempuran sengit yang diduga akan mengorbankan nyawa para laskar Luwu. Demikianlah, maka tokoh La Sinilele menampilkan sikap kedua yang dianggap jauh lebih arif dan lebih bijaksana, yaitu sikap sabar dan tetap berkepala dingin menghadapi rongrongan pihak musuhnya. Sikap serta kebijakan yang ditempuh La Sinilele ketika itu tertera dalam naskah lontarak sebagai berikut :
Ki ling makkeda La Sinilele/Keruk jiwamu to marajae. Kusompa wali alebbiremmu/ Aga paiyo naposanreseng ininna wakku kutakkaddapi pasore wakka ri saliwenna le langi e Naiya ritu to maraja e ri maelok mu rnala rappawak massappo siseng/lyana ritu kuwassimangi tomarajae/ Alao riwu bilakko ketti/ Sorongngak riwu le sebbu kati (transliterasi No. : 030).
Artinya :
Lalu berkata la Sinilele, kur jiwamu paduka yang agung. Hamba rnenghaturkan sembah sujud di hadapan kernuliaanmu. Hanya dikaulah tumpuan pengharapanku maka aku berlabuh di Saliweng Langi ini. Adapun keinginanrnu wahai paduka nan agung untuk rnenawanku bersepupu, kumohonkan arnpunan di ba,vah keagunganmu. Ambillah harta benda yang banyak.
Kutipan tersebut di atas rnenunjukkan bahwa sang tokoh La Sinilele menernpuh jalur diplomasi untuk menghadapi ancaman musuhnya yang bakal rnenimbulkan pertempuran sengit. Kebijakan ini ditempuhnya, demi menjaga keselamatan ji\va dari segenap laskar pengawaL baik dari negeri Luwu maupun negeri Watampare. lni membuktikan, bahwa dalam lontarak Galigo terkandung nilai budaya luhur yang berorientasi pada sistem kepemirnpinan yang dilandasi nilai kearifan dan kebijaksanaan.
4.1.5.2 Mengutamakan Kepentingan Negeri dan Nama Baik Dalam mengendalikan orang banyak Sawerigading selaku pangeran mahkota ternyata lebih mengutamakan kepentingan dan
nama baik keluarga beserta negeri Luwu daripada harta benda/ kekayaan yang melimpah ruah. Sikap ini tercermin dalam sikap tokoh Sawerigading ketika berdialog dengan Guttu Tellemma. sang raja di negeri Saliweng Langi. Dalam dialog itu, Guttu Tellemma menawarkan perdamaian kepada pihak Sawerigading dan seluruh laskar pengawalnya. Sehubungan dengan itu GuttuTellemma bersedia memberikan hadiah kekayaan yang melimpah kepada Sawerigading, dengan syarat Sawerigading mau melupakan pertikaian yang terjadi dengan pihak kerajaan Saliweng Langi.
Menanggapi uluran perdamaian tersebut Sawerigading menyatakan, bahwa memang leluhurnya di Tana Luwu termasuk malarat dan bukan orang kaya, namun demikian mereka sangat pantang menerima pemberian dari siapapun dengan dalih suap. Ini berarti bahwa Sawerigading tidak sudi memanfaatkan kedudukannya sebagai pangeran mahkota untuk mengambil keuntungan, terutama dari pihak musuh.
- 1.5.3 Mengutamakan Keselamatan Rakyat Sawerigading selaku pimpinan perang ketika laskar pengawalnya berperang melawan laskar kerajaan Rumpa Mega ternyata telah menampilkan sikap kesatria sejati. Dalam hubungan ini Sawerigading tidak hanya bersembunyi di belakang kekuatan laskamya, tetapi iapun terjun ke kancah pertempuran bersama dengan segenap pengawal tennasuk ke tujuh puluh enam sepupunya. Pada saat laskar pengawal Sawerigading seluruhnya tewas di tangan musuh. Sawerigading mengajukan tuntutan kepada raja Rumpa Mega, untuk kembali menghidupkan segenap laskar bersangkutan. padahal. ketika itu segenap laskar dimaksud sudah ditelan oleh makluk halus yang disebut "paddengngeng", sehingga ia memaksa seluruh kaum "paddengngeng" untuk memuntahkan para laskar yang telah mereka telan. Berdasarkan uraian tersebut di atas jelaslah bahwa Sawerigading adalah seorang pangeran mahkota yang tidak segan membunuh ataupun terbunuh untuk membela keselamatan rakyatnya.
4.1.5.4 Dermawan Satu di antara nilai budaya luhur yang ditampilkan di dalam naskah kuna lontarak Gal igo ialah sifat kedermawanan seorang raj a. Sikap ini ditampilkan oleh tokoh cerita Batara Lattu, ayahanda Sawerigading. Sebagaimana diceritakan dalam serial lontarak Galigo, ketika Sawerigading dengan seluruh pasukannya kembali di negeri leluliurnya yaitu Tana Luwu, maka orang tuanya mengadakan upacara selamatan. Upacara itu dimaksudkan untuk memberikan semangat hidup yang tangguh kepada putranya. Upacara selamatan tersebut ternyata berlangsung secara ramai. dibarengi dengan penyembel ihan hewan korban sebanyak ribuan ekor. Dalam pada itu. upacara tidak hanya diramaikan secara terbatas di antara keluarga raja. melainkan Batara Lattu selaku raja berdaulat telah menyebarkan undangan ke seluruh penjuru, terutama di \vilayah persahabatan dan wilayah kerajaan taklukannya. Sehubungan dengan itu segenap raja sahabat dan raja-raja taklukan bersama dengan rakyat banyak ikut menikmati segenap sajian yang ada. Uraian singkat tersebut di atas ini menunjukkan, bahwa raja Luwu sangat memperhatikan pemerataan pangan kepada para anggota keluarga. raja-raja sahabat, raja-raja taklukan serta rakyat banyak. Dalam hal ini pelaksanaan upacara selamatan merupakan satu di antara media pemerataan bagi kesejahteraan semua pihak. lni sekaligus membuktikan bahwa dalam mengendalikan kekuasaan negeri/ kerajaan. sang raja berdauiat mendukung keberadaan nil ai kedermawanan.
4.1.6 Nilai solidaritas Hampir dalam setiap lembaran serial naskah kuna lontarak Galigo ditonjolkan nilai solidaritas yang cukup tinggi. Nilai-nilai solidaritas tersebut tercermin pada beberapa hal pokok, sebagai berikut :
4.1.6. l Kehidupan Gotong royong Dalam naskah lontarak Galigo yang diceritakan antara lain bahwa pada saat perahu a tau armada perahu Sawerigading sedang mengalam i
hantaman badai, dipermainkan oleh gelombang pasang laut yang menghempas dari seluruh penjuru lautan, para laskar di bawah koordinasi nakhoda, juru mudi, para sepupu Sawerigading bekerjasama untuk mengatasi keadaan.
Selain itu, Sawerigadingpun turun tangan membantu upaya mengatasi keadaan yang nyaris menenggelamkan segenap armada. Dalam hal ini Sawerigading berupaya mengatasi ancaman badai dan gelombang laut dengan cara mistik, yakni dengan mempersembahkan sesajian kepada dewa-dewa. Mungkin cara penanggulangan seperti ini tidak logis, tidak dapat diterima secara rasional, namun dalam kenyataannya upaya tersebut memberikan pengaruh positif terutama untuk memhangkitkan semangat juang, bahkan juga untuk menumbuhkan semangat hidup segenap anggota laskar. Dem ikianlah maka setiap anggota Laskar secara suka rel a ikut berusaha menanggulangi tantangan alam yang merintangi pelayaran mcreka.
Dari uraian tersehut di atas terlihat bahwa dalam naskah kuna lontarak Galigo terkandung nilai-nilai solidaritas yang terwujud dalam gagasan kegotong-royongan. Nilai luhur tersebut dengan sendirinya dapat bermanfaat sebagai dasar fundamental bagi usaha pembinaan kegotongroyongan nasional yang turut didukung oleh warga masyarakat pendukung naskah lontarak Gal igo.
4.1.6.2 Kesetiakawanan Satu di antara perwujudan nilai solidaritas tercermin pada konsep kesetiakawanan sosial. Dalarn hal ini gagasan kesetiakawanan sosial merupakan satu di antara dasar fundamental di dalam membina kesejahteraan bersarna bagi setiap orang dalam suatu kesatuan sosial. Dalam kaitannya dengan usaha pengkajian nilai-nilai budaya luhur yang terkandung dalam serial lontarak Galigo gagasan kesetiakawanan sosial tercermin pada sikap dan tindakan tokoh Sawerigading maupun tokoh-tokoh lain yang disebut anak "datu pituppuloe". Dalam hal ini segenap tokoh-tokoh cerita tersebut menampilkan watak, sikap dan tindakan yang senantiasa siap sedia dan rela berkorban untuk membela serta rnempertahankan keselarnatan antara sesama laskar.
Dernikianlah rnaka segenap laskar pengawal Sawerigading senantiasa bahu rnembahu dalam menghadapi serangan laskar negeri Rumpa Mega di bawah pimpinan rajanya yang bernama Guttu Tellemma.
Akibat perlawanan yang gigih dari laskar pengawal Sawerigading, tidak sedikit laskar Rum pa Mega yang jatuh terkapar di medan peperangan. Namun di sisi lain, laskar Rumpa Mega memang demikian tangguh sehingga para pimpinan laskar, terutama anak-anak datu Pituppulee harus berjuang keras untuk menyelamatkan pasukan masing-masing. Kendatipun demikian laskar Sawerigading bersarna anak "datu Pituppulee" berguguran satu persatu, bahkan pada akhirnya seluruh laskar Sawerigading mati di rnedan pertempuran. kecuali La Maranginang dan Sawerigading sendiri yang masih hidup.
Bencana yang melanda laskar Sawerigading tersebut antara lain diakibatkan oleh sikap perlawanan mereka yang bukan hanya pantang menyerah kepada pihak rnusuh, tetapi juga karena setiap laskar mernegang suatu prinsip bahwa lebih baik tewas bersarna di rnedan perternpuran daripada lari meninggalkan rnayat ternan-ternan di tangan musuh. Prinsip ini didorong oleh rasa kesetiakawanan antara sesarna laskar.
Kesetiakawanan yang dernikian kukuh terlihat pula dalam sikap tindakan Sawerigading di rnana ketika itu tokoh tersebut menyarnpaikan jeritan hati nuraninya kepada sang dewata.
Dalarn pengaduannya kepada sang dewata Sawerigading menyatakan tidak sudi kernbali lagi ke negeri asalnya di negeri Luwu. kecuali apabila ia pulang bersama dengan segenap sepupu dan laskarnya. Dalam kondisi seperti itu Sawerigading hanya pasrah di bawah kehendak dewata, namun kalau boleh maka tokoh bersangkutan lebih suka mati disarnbar petir agar ia dapat melanjutkan kehidupan bersarna dengan teman-temannya di padang inahsyar. lnformasi lontarak rnengenai hal ini tercakup dalarn kutipan berikut di bawah 1111 :
Terisinau
| Teri rnakkeda | Pajullakkowe | ri Ale Luwu |
|---|---|---|
| Tomapparnenek wara-ware ri Watampare/Maranak wae | kaka La | |
| Gau upekkuwana la Sinilele/ munrimmu/Apak teawak 'nrewek ri Luwu le/ Lelangtungkek ( ..... ) | Le iyo maneng sappeisekku le ri |
Natea tonal-leppang rupakku natuju mata awa na langi menek na tana le/ Makkedai matti tauwe iyanaro Sawerigading bakke towoe tudang ri line/ Iyana ro kaka ponratu tepparewek kak ri Ale Luwu/ Kumaberekkessiseng muwani mapaddengnge bannampatikku apak teawa bakke tuwo 'nrewek ri Luwu/ (No. 058).
Artinya:
Sambil menangis berkatalah Torisinau Pajullakkowe ri Ale Luwu Tomappamenek wara-warae ri Watampare/ Bagaimanakah gerangan saya ini wahai kakanda la Gau dan La Sinilele/ Bersama kalian semua wahai sepupuku di belakangmu (sepeninggalmu),
sebab saya tidak sudi kembali ke Luwu sendirian ( ...... ) Sayapun
tidak bakal dapat mengangkat wajahku memandang seisi dunia di bawah kolong langit dan di atas permukaan bumi. Kelak orang orang akan berkata itulah Sawerigading si mayat hidup. Itulah wahai kakanda yang tidak memungkinkan saya kembali ke Ale Luwu. Saya bahkan lebih suka mengorbankan nyawa daripada menjadi mayat hidup kembali ke Luwu.
Kutipan tersebut di atas menunjukkan bahwa Sawerigading si tokoh cerita memiliki kesetiakawanan yang sungguh kokoh kuat terhadap segenap sepupu dan laskar pengawalnya. sehingga ia mem i I ih mati berka lang tanah daripada hid up dengan bercerm in bangkai. Tekad yang bulat atas dasar kesetiakawanan yang kokoh kuat tercermin pula pada lembaran naskah Galigo, sebagaimana tertera dalam kutipan di bawah ini :
Pakulling ngada Langi Pawewang/ Engkalingai matu adakku le idik maneng massappo siseng/ Ajak narini bela ma elok le bakke tuwo 'nrewek ri Luwu/ Seuwa sungek tammanengi wi naidik maneng massappo siseng I (no.058).
Artinya:
Berkata pula Langi Pawewang (maksudnya Sawerigading), dengarkanlah ucapanku wahai segenap sepupuku. Janganlah ada di antara kita sudi kembali ke Luwu sebagai mayat hidup. Satu nyawa bagi kita bersama, sesama sepupu.
Dari kutipan naskah Gal igo terse but di atas dapat dipaham i secara jelas bahwa tokoh Sawerigading di zaman lampau telah menamkan rasa setia kawan di antara segenap sepupu dan anggota laskarnya. Dalam pada itu. tokoh Sawerigading melandaskan sik.ap dan tindakannya pada prinsip kesetiakawanan sampai akhir hayat. Mereka bagaikan ribuan anggota laskar, namun nyawa mereka hanya satu. Prinsip inilah yang kemudian menumbuhsuburkan rasa setia kawan yang kokoh kuat. sehingga merekapun rela berjuang balrn m em bah u. seia sek.ata. dan sehidup semati dalam membela keselamatan bersama.
4.1.6.3 Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Sejak zaman silam leluhur orang Bugis di kawasan Luwu telah menerapkan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. di mana setiap orang diharapkan mendukung sikap sating mencintai antara sesama manusia tanpa membedakan latar suku bangsa. Dalam serial naskah Galigo yang menjadi sasaran pengkajian ini gagasan kemanusiaan tercerm in pada dialog antara tokoh Sa\"verigading dan Guttu Tellemma seperti tcrtera dalam kutipan di bawah ini : Pakkuling ngada Punna Lipuwe ri Rumpa Mega ronnang makkeda keruk jiwammu La Sappe Wali Alebbiremmu/ Rini sumangok tori langi mu datu tunrll\vang awa na langi menekna tan a/ Ajak ro matu kati ri Lm\u Lebbi ri Ware mupotassintak ininna\ai kuduppaimmu pare\va musu/Naiyo muwa maseng ngale mule datu Jawa le/ Namateppek ininnawanna ama taniyang-cajiyang ngekk.o/ Tenna issekke le napowija. Artinya: (Berkata pula Punna Lipuwe ri Rumpa Mega, halnva kur jiwamu wahai La Sappe Wali Alebbi remmu/ Selamat scjahteralah wahai datu penakluk seluruh kolong langit dan seluruh permukaan bumi. Janganlah hcndaknya wahai Kati Riluwu Lehbi ri Ware dikau merasa tersinggung karena engkau telah kusambur dengan senjata. Padahal engkau jugalah yang menyebut dirimu datu Jawa. sehingga pamanmu percaya. tanpa mengetahui bahwa engkau adalah keluarganya (no. I 04-105).
Resso alena Langi Pawewang/ Cukuk mammiccu lampa makkeda palari solok uwwae mata mabbalabo na 'pasiappok I tudangemmiccu salenra gutu accellakenna rennang makkeda iyana ritu nari guliga nawa-nawa e/ Nari papennip paricitae/ Naddewek dewek pakkutanae/ Namau tonak siamakkeda datu Jawawak mai kurappeng waniagawak mai kusore le/ Sitinaja muteno sia maddewek-dewek pakkutanamu, Artinya : Langi Pawewang menghempaskan diri, kemudian menundukkan kepalanya dengan air mata bercucuran, dibenturkannya tempat pembuangan ludah dan puan tempat sirihnya sambil berkata, itulah sebabnya maka kita harus memperbaiki pemikiran. Menjalankan akal pikiran, bertanya berulang kali. Kendati saya menyatakan bahwa saya adalah datu Jawa. saya hanya waniaga yang singgah untuk berlabuh, wajar jugalah apabila engkau menelitinya secara seksama (no. I 05).
Dari kutipan tersebut di atas terlihat secara jelas bahwa tokoh cerita yang bernama Guttu Tellemma, yang maharaja di kerajaan Rumpa Mega telah memerangi laskar Sawerigading, hanya karena disangkanya tokoh pelaut tersebut adalah seorang pangeran dari negeri Jawa. Ini berarti, bahwa tokoh Guttu Tellemma menampilkan sikap dan tindakan tercel a yang bukan hanya sekadar tidak terpuj i, melainkan juga amat sewenang-wenang dan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.
Dalam menanggapi sikap dan tindakan sewenang-wenang dari pihak raja Rumpa Mega tersebut di atas maka Sawerigading, sang tokoh cerita, kemudian menampilkan gagasan maupun konsep secara fundamental berorientasi pada penerapan nilai kemanusiaan. Konsep ini mengacu kepada suatu pengertian atau pemahaman yang memandang manusia itu sama antara satu dengan lainnya.
Gagasan tentang kesamaan umat manusia tersebut merupakan faktor pendorong yang memungkinkan tumbuhnya sikap saling menghorrnati, saling menghargai harkat dan martabat masing-masing sebagai makhluk insani: Atas dasar gagasan, serta konsepsi abstrak tentang nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab tersebut, tokoh Sawerigading ternyata mempunyai arti yang sangat dalam bagi
masyarakat Bugis terutama dalam menanamkan nilai-nilai luhur, yang pada gilirannya akan mewarnai sikap dan tingkah laku serta kehidupan sosialnya. Dalam hal ini semua individu berhak mendapatkan perlakuan secara manusiawi, tanpa adanya perbedaan atau diskrim inasi atas dasar latar kesukubangsaan.
Berdasarkan hasil analisis dan interpretasi naskah kuna tersebut di atas jelaslah bahwa dalam serial Lontarak Galigo, khusus mengenai cerita Mapalina Sawerigading ri Saliweng Langi terkandung cukup banyak nilai-nilai terpuji warisan leluhur di kawasan jazirah Sulawesi Selatan pada zaman silam. Nilai-nilai luhur tersebut terdiri atas nilai agama. nilai ekonomi. nilai seni. nilai ilmu. nilai kuasa. dan nilai solidaritas.
Keberadaan nilai-nilai luhur itu sendiri tidak hanya merupakan satu di antara kebanggaan suku bangsa Bugis Luwu. tetapi juga termasuk sumber dan potensi kekayaan budaya bangsa sehingga turut menempati posisi penting dalam rangka pembinaan dan pen gem bangan kebudayaan nasional Indonesia.
4.2 Relevansi Isi Naskah dalam Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Nasional Dalam sejarah perkembangan kebudayaan Indonesia istilah kebudayaan nasional bukanlah sekadar merupakan konsepsi abstrak yang baru dikenal setelah hari proklamasi kemerdekaan pada tanggal i 7 Agustus 1945. Dari berbagai sumber kepustakaan dapat diketahui bahwa konsep kebudayaan nasional Indonesia memang telah menjadi bahan pemikiran dan sekaligus menjadi bahan diskusi para cende k i a '>van 1 ndon es ia sej ak I a 111 a. Da I am konte ks in i Koentjaraningrat mengungkapkan antara lain sebagai berikut : Serangkaian tulisan yang mencoba membahas konscp kebudayaan nasional Indonesia dari berbagai sudut pandangan, yaitu suatu polernik tampak terbit pada permulaan dasawarsa ·JO-an. yaitu dasawarsa dalam zaman kolonial ... (Makalah. 1982 : 11 ). Dari kutipan tersebut di atas terlihat secara jelas. bahwa belasan tahun sebelum hari proklamasi kemerdekaan negara Republik Indo nesia. para cendekiawan memang telah menumbuhkembangkan
konsepsi tentang kebudayaan nasional Indonesia. Pada waktu itu kaum intelektual Indonesia paling tidak terbagi menjadi tiga kelompok. masing-masing dengan pandangan yang saling berbeda mengenai gagasan dan konsep kebudayaan nasional Indonesia.
Satu di antara kelompok cendekiawan dipelopori oleh Sutan Takdir Alisjahbana seorang tokoh polemik kebudayaan yang berlangsung pada pennulaan dasawarsa tahun 1930-an. Menurut tokoh ini kebudayaan nasional Indonesia yang disebutkan Kebudayaan Indonesia Raya, merupakan suatu kebudayaan yang dikreasikan dengan mengambil banyak unsur dari kebudayaan barat yang pada waktu itu dikenal sebagai kebudayaan universal. Sehubungan dengan gagasan tersebut. tokoh polem ik bersangkutan menyarankan agar generasi muda tidak terlampau terikat pada kebudayaan zaman pra Indonesia, bahkan sebaliknya mereka dianjurkan agar dapat membebaskan diri dari kebudayaan suku bangsa.
Pandangan tersebut di atas mendapatkan kecaman dari berbagai pihak, antara lain Sanusi Pane. Menurut tokoh ini konsep kebudayaan Indonesia nasional harus tetap mementingkan aspek kerohanian .. perasaan dan gotong royong. Sementara itu, manusia Indonesia tidak boleh melupakan kontinuitas sejarahnya untuk memasuki zaman Indonesia baru. Konsep ini jelas bertentangan dengan gagasan Sutan Takdir Alisjahbana. di mana tokoh yang disebutkan terakhir itu melandaskan gagasannya pada pengambilalihan unsur-unsur kebudayaan barat yang berorientasi kepada aspek materialisme, intelektualisme dan individualisme.
Pandangan ketiga dikemukakan oleh Poerbacaraka. la mengajukan pendirian bahwa untuk membangun suatu kebudayaan Indonesia baru, maka masyakarat Indonesia harus tetap mempelajari sejarah dan kebudayaannya di masa lampau. lni berarti pula bahwa kebudayaan Indonesia baru, bagaimana pun juga harus tetap berakar pada kebudayaan pra Indonesia. Yaitu kebudayaan suku-suku bangsa yang ada di daerah-daerah.
Pandangan tersebut relevan dengan pandangan Ki Hajar Dewantara yang tercermin dalam pernyataannya, bahwa kebudayaan Indonesia nasional adalah "puncak-puncak dari kebudayaan kebudayaan daerah". Dalam konteks pengertian ini Koentjaraningrat
menegaskan, bahwa dengan mentransfer "puncak" itu dimaksudkan unsur-unsur kebudayaan dari kebudayan daerah yang paling tinggi mutunya (Makalah, 1982 : 1 3 ).
Gagasan dan konsepsi kebudayaan nasional yang kelihatannya cukup bervariasi itu ternyata kemudian menjadi baku, diterima dan dihayati bersama berdasarkan rumusan definitif yang tertera dalam Penjelasan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, bahwa :
Kebudayaan Bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi Rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah daerah di seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa (Pasal 32).
Dari materi Penjelasan UUD-45 tersebut di atas jelaslah bahwa kebudayaan nasional bangsa Indonesia bukan merupakan kebudayaan yang baru sama sekali. bukan pula kebudayaan yang hanya menjadi mi I ik sebagian golongan masyarakat, akan tetapi merupakan milik bersama segenap rakyat Indonesia. Dalam pengertian tersebut unsur-unsur kebudayaan daerah yang menempati pos1s1 puncak tetap terhitung sebagai bagian integral dari kebudayaan bangsa.
Menyadari arti pentingnya keberadaan kebudayaan daerah yang merupakan potensi dan sumber kekayaan budaya bangsa di seluruh tanah air, maka sejak Repelita I hingga Repelita VI sasaran dan kebijaksanaan pembangunan nasional ditujukan antara lain kepada usaha pembinaan dan pengembangan kebudayaan daerah. Usaha rengembangan kebudayaan daerah itu sendiri tidak dimaksudkan sebagai suatu usaha untuk rnemperkuat gagasan provinsialisme ataupun sukuisrne. melainkan untuk lebih memperkaya kebudayaan nasional. I ni berarti pu la bahwa unsur-unsur kebudayaan daerah perlu ditumbuhkembangkan sedemikian rupa, sehingga dapat dipahami, dihayati, dimiliki dibanggakan, dan diterapkan oleh sebagian besar warga masyarakat Indonesia yang bersifat bhinneka tunggal ika.
Dalam rangka usaha membina dan menumbuhkembangkan unsur unsur kebudayaan daerah tersebut diperlukan data maupun informasi
lengkap dari seluruh kelompok etnik yang terbesar di seluruh pelosok tanah air. Satu di antara sumber data dan informasi budaya yang sarnpai sekarang masih dapat ditelusuri keberadaannya terutama di wilayah pedesaan ialah hasil kebudayaan fisik berupa naskah kuna.
Naskah kuna yang merupakan peninggalan budaya, warisan leluhur di daerah Sulawesi Selatan lazim disebut lontarak. Dalam pengistilahan bahasa daerah Bugis "lontarak" disebut juga "sure" dan tertulis baik di atas lembaran kertas maupun pada lembaran daun daun lontar (tall). Satu di antara jenis naskah kuna yang cukup menarik perhatian sebagian besar warga masyarakat terutama di wilayah pedesaan ialah serial lontarak Galigo yang menjadi sasaran pengkajian ini. Keberadaan lontarak Galigo, termasuk serial Mapalina Sawerigading ri Saliweng Langi, mempunyai relevansi dengan setiap usaha dan proses pembinaan kebudayaan nasional Indonesia, antara lain seperti tertera pada bahasan berikut di bawah ini :
4.2.1 Relevansi lsi Naskah dan Pelestarian Warisan Budaya Bangsa Secara garis besar dapat dikatakan bahwa naskah kuna lontarak sejak zaman silam merupakan dokumen sejarah dan budaya di daerah Sulawesi Selatan. Dalam hal ini penulis lontarak senantiasa mencatatkan setiap peristiwa sejarah yang terjadi, baik menyangkut raja dan kerajaan maupun peperangan dan riwayat hidup tokoh-tokoh yang hidup sezaman dengan sang penulis. Selain itu naskah kuna lontarak mem uat catatan ten tang dasar-dasar fi Isa fat, dewa-dewa, keagamaan, pesan-pesan leluhur, hukum, aturan-aturan adat, norma norma sosial serta nilai-nilai luhur yang digunakan sebagai pedoman dalam proses hidup dan kehidupan sosial mereka. Berdasarkan kandungan isi lontarak pada umumnya, lontarak Galigo Serial Mapalina Sawerigading ri Saliweng Langi khususnya, maka dengan sendirinya unsur-unsur kebudayaan daerah setempat yang secara tradisional telah mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan selama berabad-abad, masih dapat dikaji, dihayati dan diamalkan hingga saat ini. Kenyataan tersebut berarti pula dengan adanya naskah-naskah kuna lontarak, maka warisan budaya dikawasan jazirah Sulawesi Selatan masih dapat lestari hingga sekarang. Keadaan
ini sekaligus membuktikan, bahwa isi naskah kuna serial lontarak Gal igo sangat reve Ian dengan usaha pelestarian warisan bud a ya bangsa, khususnya di daerah Sulawesi Selatan.
4.2.2 Relevansi lsi Naskah dalam Mengukuhkan Peraturan dan Kesatuan Budaya Bangsa Satu di antara modal dasar pembangunan nasional ialah modal budaya, dalam arti budaya Indonesia yang telah berkembang sepanjang sejarah bangsa. Dalam hal ini bangsa Indonesia merupakan bangsa besar yang sangat majemuk, terdiri atas berbagai suku bangsa dengan latar kebudayaan yang beraneka ragam. Demikianlah maka bangsa Indonesia menumbuhkembangkan wawasan nusantara. Dalam konsep wawasan nusantara tercakup perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan budaya yang berarti, bahwa budaya Indonesia pada hakekatnya satu, sedangkan corak ragam budaya ada menggambarkan kekayaan budaya bangsa yang menjadi modal dan landasan pengembangan budaya bangsa seluruhnya, yang hasil-hasilnya dapat dinikmati bangsa (GBHN-1993). Dalam upaya mewujudkan kesatuan budaya bangsa yang sangat beraneka ragam tersebut, maka bangsa Indonesia memerlukan pengetahuan budaya yang bukan hanya luas cakupannya tetapi juga dalam. terutama mengenai pola-pola budaya dari setiap suku bangsa yang tersebar di seluruh gugusan kepulauan Nusantara. Sehubungan dengan itu. naskah kuna lontarak mempunyai fungsi dan potensi cukup besar. terutama sebagai sumber informasi yang memuat dasar-dasar budaya masyarakat atau suku bangsa pendukungnya. Bertolak dari kerangka pemikiran tersebut di atas. maka jelaslah bahwa naskah kuna lontarak Galigo termasuk pula satu di antara sumber informasi budaya yang dapat berfungsi secara efektif dalam rangka mengukuhkan persatuan dan kesatuan budaya daerah Sulawesi selatan sebagai bagian integral dari kebudayaan budaya bangsa.
4.2.3. lsi Naskah Relevan dengan Usaha Memupuk dan Memperkaya Kebudayaan Nasional Proses pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional secara konsepsional diselenggarakan dengan mengandalkan dua sumber
potensial, yaitu menumbuh kembangkan unsur-unsur kebudayaan daerah. di samping menyerap unsur-unsur kebudayaan asing yang tidak bertentangan dengan kepribadian bangsa. Dalam kaitannya dalam upaya menumbuhkembangkan unsur-unsur kebudayaan daerah khususnya di daerah Sulawesi Selatan, maka naskah kuna lontarak memiliki relevansi sebagai berikut :
Pertama, naskah kuna lontarak memuat catatan tentang jaringan sistem nilai budaya luhur yang telah berkembang dan mendapatkan dukungan warga masyarakat Bugis-Luwu, di mana naskah itu sendiri berasal. Demikianlah,maka melalui naskah kuna nilai-nilai budaya warisan zaman silam itu dapat ditransformasikan dari generasi kegenerasi hingga sekarang.
Kedua, melalui catatan kuna yang termuat dalam lontarak dapat diinventariskan berbagai nilai-nilai budaya daerah Sulawsi Selatan, untuk kemudian ditumbuhkembangkan terutama dalam rangka memperkaya nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Ketiga. naskah kuna lontarak termasuk satu di antara hasil cipta, karsa. dan rasa bangsa Indonesia di kawasan daerah Sulawesi Selatan. Naskah tersebut memiliki spesitikasi dan keunikan tersendiri, sehingga merupakan satu di antara peninggalan sejarah dan peradaban masa silam yang dapat dibanggakan hingga sekarang. Kenyataan tersebut berarti pula, bahwa keberadaan isi lontarak bersama naskah kuna itu sendiri termasuk satu di antara hasil budaya bangsa yangjuga menjadi kebanggaan nasional. Dalam istilah lain dapat dikatakan. bahwa naskah kuna lontarak bersama dengan kandungan isinya turut memperkaya kebudayaan nasional Indonesia.
4.2.4 lsi Naskah Kuna Relevan dengan Usaha Memperkuat Daya Tangkal Terhadap Unsur-unsur Negatif Kebudayaan Asing Satu di antara dampak negatif yang timbul dari era globalisasi ialah masuknya nilai-nilai budaya asing yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Dalam konteks pembangunan nasional yang berorientasi pada usaha untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata, baik dalam arti fisik material maupun mental spiritual maka bangsa Indonesia harus tetap tumbuh dan
berkernbang di atas kepribadian sendiri. lni berati bahwa seluruh lapisan mayarakat harus mampu menyaring nilai-nilai budaya asing, sehingga nilai-nilai yang bertentangan dengan norma-norma sosial, sikap dan nilai-nilai luhur bangsa tidak terserap bersama dengan penyerapan sistem pengetahuan dan teknologi yang pada satu sisi mernang diperlukan untuk memperlancar pernbangunan.
Bertolak dari kerangka pemikiran tentang pentingnya arti dan peranan kebudayaan daerah dalam rangka menangkal pengaruh atau dampak negatif niali-nilai budaya asing. khususnya yang bertentangan dengan nilai-niali luhur budaya bangsa maka dengan sendirinya seluruh lapisan masyarakat Indonesia harus menumbuhkembangkan gagasan vital. konsep-konsep abstrak dan sikap budaya yang tumbuh di daerah-daerah. termasuk daerah Sulawesi Selatan. Dalam hal ini naskah kuna lontarak. sebagai dokumen sejarah budaya bangsa tidak hanya berfungsi sebagai sumber informasi budaya. tetapi juga mernpunyai fungsi efektif untuk dijadikan pedoman. paling tidak sebagai acuan dalam menanggapi unsur-unsur kebudayaan asing yang sengaja atau tidak sengaja terserap melalui pembangunan nasional dan akses dengan dunia luar. Demikianlah. maka secara tegas dapat dikatakan bahwa naskah kuna lontarak termasuk satu di antara potcnsi yang perlu digali dan dikaji dalam rangka usaha rnenumbuh kembangkan kemarnpuan mas:;.arakat. untul-. menangkal dampak negatif kebudayaan asing.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1. Simpulan Sejak lama masyarakat Luwu di daerah Sulawesi Se Iatan mem i I iki pengetahuan dan kemampuan mengungkapkan berbagai macam konsep-konsep abstrak. gagasan vital. norma-norma sosial. dan jaringan sistem nilai-nilai budaya luhur dalam catatan naskah kuna yang disebut "lontarak" atau "s11rek". Dari seluruh jenis naskah kuna "lontarak" terdapat sebagian naskah yang tertulis di atas daun-daun lontar, disamping jenis lontarak yang tertulis di atas lembaran kertas. Jen is-jen is naskah kuna "lontarak" secara gar is besar terbagi pu la menjadi dua kelompok menurut aksara yang digunakan dalam proses penulisannya. Pertama sebagian naskah ditulis dengan menggunakan aksara Bugis·Makasar. sebagian pula tertulis dalam aksara arab. Naskah-naskah tersebut di atas tetap dinamakan "lontarak" atau "surek". baik yang tertulis di atas daun lontar maupun di atas lembaran kertas. Dari seluruh naskah "lontarak", naskah "lontarak" Galigo termasuk satu di antara naskah kuna yang sampai sekarang digemari oleh warga masyarakat terutarna di daerah pedesaan, namun di kalangan generasi rnuda tampaknya lebih suka memilih jenis bacaan lain. baik berupa majalah maupun buku komik dan lain sebagainya.
181
Kurangnya minat kawula muda terhadap naskah kuna "lontarak", antara lain disebabkan kurangnya pengetahuan dan kemampuan mereka untuk membaca dan memahami bahasa yang digunakan dalam naskah kuna tersebut.
Na skah kuna Mapalina Sawerigading ri Saliweng Langi merupakan satu di antara seri dari lontarak Galigo. Dalam naskah kuna tersebut leluhur orang Bugis-Luwu di zaman lampau mencatatkan cerita atau kisah-kisah mitologis tentang tokoh Sawerigading bersama segenap sepupunya yang berjumlah tujuh puluh enam orang.
Tokoh Sawerigading adalah pangeran mahkota dari kerajaan Luwu yang gemar berlayar mengarungi samudera ltias. Sang pangeran tersebut bukanlah manusia sembarangan, tetapi ia adalah titisan dewa dari kayangan. Sebagai seorang keturunan dewa, Sawerigading memiliki berbagai keistimewaan antara lain mampu menghidupkan kembali abdi maupun sepupunya yang telah tewas di medan pertempuran.
Selain keistimewaan tersebut diatas, sang tokoh cerita bersama sepupu ayah-bundanya dipandang sebagai pemeran cerita yang rnemerankan berbagai sikap maupun tindakan yang di anggap niulia dan terpuji di masanya. Demikianlah maka di dalam naskah lontarak tersebut diternukan berbagai nilai-niali budaya luhur. yaitu nilai agama, nilai ilmu. nilai ekonomi. nilai seni. nilai kuasa. dan nilai solidaritas.
Konsepsi nilai agama menurut pemberitaan "lontarak" memuat gagasan orang Bugis-Luwu tentang sistem keyakinan dan kepercayaan terhadap kekuatan supernatural yang secara keseluruhan berada dibawah kekuasaan dewata Seuwae. Sistem keyakinan tersebut kemudian mendorong timbulnya sikap dan perilaku ritual yang terwujud dalam bentuk upacara pemujaan kepada dewata Seuwae, dibarengi dengan upacara persembahan sesajian kepada sang dewata dan makhluk gaib termasuk roh nenek moyang.
Erat kaitannya dengan nilai agama, mayarakat Luwu sangat mengutamakan nilai seni terutama dalam proses penyelenggaraan upacara-upacara ritual. Gagasan tentang seni tradisional yang tertera
dalam naskah serial Galigo antara lain terwujud dalam bentuk seni suara, seni musik, seni tari, dan seni kerajinan.
Dalam usaha memenuhi kebutuhan hidup, masyarakat Luwu di zaman lampau sangat mengutamakan nilai ekonomi yang secara fun damental mendorong sistem mata pencaharian hidup dengan cara memanfaatkan sumber kekayaan alam. Kekayaan laut berupa ikan digarap oleh nelayan-nelayan setempat dengan menggunakan peralatan jaring dan "bellek". Dengan demikianlah maka dikenal adanya nelayan "pajjala" (nelayan jaring) disamping "pabbellek" (nelayan yang menangkap ikan dengan menggunakan alat "bellek").
Selain sektor penangkapan ikan, orang Luwu di zaman silam sudah mengenal pula sistem beternak kerbau, menyadap nira dan berniaga. Aktivitas ini didorong oleh faktor pemenuhan kebutuhan upacara terutama untuk mengadakan hewan kurban berupa kerbau.Sedangkan perniagaan merupakan satu di antara upaya masyarakat untuk memperoleh bahan sandang maupun pangan.
Nilai ilmu yang termuat dalam naskah Galigo berorientasi pada sistem pengetahuan ferdisional, antara lain seperti astronomi dan meteorologi, kosmologi, ilmu kelautan, disamping ilmu-ilmu gaib. Pengetahuan mereka pada waktu itu sebagian besar diperoleh melalui proses transpormasi budaya yang berlangsung secara turun-menurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya
Nilai kuasa pada hakekatnya bertumpu pada kekuasaan raja yang dianggap sebagai manusia turunan dewa-dewa dari petala langit. Namun dalam kehidupan nyata sang raja tidak bertindak dan mengambil keputusan sendiri. Raja selalu mendapatkan saran dan nasehat dari keluarga, dan pihak lain yang turut memikirkan kebaikan negeri dan rakyatnya. Demikianlah, maka Sawerigading senantiasa meminta saran, nasihat dan pendapat dari segenap sepupunya. lni menunjukan bahwa kekuasaan raja-raja Luwu di zaman lampau tidak tak terbatas.
Nilai kuasa tersebut di atas mendorong timbulnya perilaku raja yang arif dan bijaksana, mengutamakan kepentingan rakyat, dermawan. Semua itu mendorong pula timbulnya nilai solidaritas yang
tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, antara lain kehidupan gotong royong, kesetiakawanan sosial, serta kemanusiaan yang adil dan beradab.
Sesuai dengan kandungan isinya, maka naskah kuna serial lontarak Galigo khusus nya Mapalina Sawerigading ri Saliweng Langi mempunyai relevansi dengan usaha dan proses pembinaan kebudayaan nasional. Dalam hat ini hasil analisis ("content analisys") menunjukan adanya paling tidak empat fungsi efektif naskah kuna lontarak, masing-masing sebagai berikut :
ikut melestarikan sebagian warisan budaya bangsa khususnya di daerah Sulawesi Selatan;
ikut memupuk dan memperkaya kebudayaan nasional;
ikut memperkuat daya tangkal terhadap dampak negatif dari unsur-unsur kebudayaan asing; serta
ikut mengukuhkan persatuan dan kesatuan budaya bangsa.
5.2. Saran Serial lontarak Galigo tenyata bukan hanya sekedar kebanggaan leluhur orang Luwu di masa silam, ternyata juga mempunyai arti penting dan potensial di dalam rangka pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional. Sehubungan dengan itu, Departemen Pendidikan dan Kebu
Kedua, hasil pengkajian tersebut perlu diterbitkan dan disebar luaskan ke seluruh lapisan masyarakat di seantero kepulauan nusantara. Hal ini dipandang penting terutama untukmendorong tumbuhnya minat baca. sekaligus membangkitkan semangat persatuan dan kesatuan budaya dikalangan masyarakat luas.
Ketiga, naskah Galigo hasil penelitian tersebut di atas perlu di sebar- luaskan pula kepada murid-murid. pelajar, siswa dan mahasiswa di seluruh jenjang pendidikan. terutama sebagai bahan bacaan maupun bahan diskusi bimbingan tenaga pengajar yang ada di setiap sekolah.
Keempat, Direktur Jenderal Kebudayaan perlu memikirkan dan mengambil langkah kebijakan untuk meningkatkan potensialitas peneliti. antara lain dengan cara pelatihan di samping pelaksanaan seminar-seminar pernaskahan dengan melibatkan tenaga peneliti dari instansi yang terkait. antara lain Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Suaka dan Kepurbakalaan. Balai Bahasa. Taman Budaya dan sebagainya.
Gagasan dan saran tersebut di atas tidak hanya akan berarti mendukung usaha pelestarian naskah kuna lontarak. tetapi JUga diharapkan dapat memacu pertumbuhan dan perkemhangan kebudayaan nasional yang bertumpu pada potensi kebudayaan daerah yang sampai sekarang masih banyak terpendam dalam naskah-naskah kuna. Dalam konteks ini sekaligus perlu adanya perencanaan terpadu dan kerjasama dengan pihak pemerintah daerah. Lembaga pendidikan tinggi dan UPT (unit pelaksana teknis) kebudayaan yang relevan.
DAFT AR PUST AKA
Alisjahbana, S. Takdir : Perkembangan Sejarah Kebudayaan 1977 lndo11esia Dilihat Dari .Jurusan Nlai-Nilai, ldayu Press, Jakarta
Gazalba. Sidi : Asas Kebudayaan Islam. Bulan Bintang. Jakarta. 1978 Ha mid Pananrangi. dkk : Lon/arak Pangissengeng Daeruh 1991 Sulawesi Selatan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Penelitian dan Pengkaj ian Kebudayaan N usantara. Jakarta
-------------: Surek Poada-Adaengngi Tanae ri Soppeng Departemen 1994 Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Pengkajian dan Pemhinaan Nilai-Nilai Budaya. Jakarta
Koentjaraningrat : Kehudayaan Tentang Kebudayaan dan 1974 Pemhangunan. PT. Gramedia, Jakarta.
------------Persepsi Tenrang Kehudayaan Nasional. Lembaga 1982 Research Kebudayaan Naional-LIPJ, Jakarta
------------dkk : Kamus lstilah Antropologi, Pusat Pembinaan 1984 dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.
Linton, Ralph : The Study
Mattulada : Peranan Leadership Dalam mengatasi Hambatan 1970 Hambatan Perkemhangan Mm.yarakat oleh Pola Pikir Tradisional. Artikel Dalam Majalah Universitas Hasanuddin No. I Tahun 1970, Ujung Pandang.
-------------: Mmyarakat Pesisir Dilihat Dari Sudut Pandangan 1977 Antropo/ogi dan Sosiologi, Dalam Pengembangan Sumber Daya Lautan, Vol I Aspek Sosial Budaya, LEPHAS, Ujung Pandang.
-------------: Latoa, Satu Lukisan Analitis Terhadap Antropologi 1985 Politik Orang Bugis, Gajah Mada University Press, Yogakarta.
Punangi, A. A. : Kha::anan Budaya Seri Adat-lstiadat, Yayasan 1983 Kebudaya Sulawesi Selatan, Ujung Pandang.
Pu sat BP-7 :B ahan Penataran (P ed om an Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Garis-Garis Besar Haluan Negara). Jakarta.
Republik Indonesia, MPR : Garis-Garis Besar Haluan Negara. 1993 Ketetapan MPR-RI No II I MPR I 1993
RI, Presiden : Pidato Presiden Pada Upacara Peringatan Ulang Tahun 1974 ke-25 Universitas Gajah Mada. Tanggal 19 Desember 1974 di Yogyakarta, Dalam Bahan Referensi Penataran, Team Pembinaan Penatar dan Bahan Penataran Pegawai Republik Indonesia, Jakarta.
Sejarah dan wilayah : Kebijakan Teknis operasional Direktorat Tradisional, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Jakarta
t.th.
------------Pengungkapan Nilai Budaya Dari Naskah Kuna. Bagian 1992 Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Ni lai Tradisional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.