Baca PDF (OCR): 2018-Penguatan Kehidupan Karakter di Aceh

88 halaman · 88 halaman diproses dengan OCR· 78376 ms

Daftar isi
  1. PENGUATAN KEHIDUPAN
  2. KARAKTER DI ACEH
  3. KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
  4. BALAI PELESTARIAN NILAI BUDAYA ACEH
  5. ISBN: 978-602-9457-83-4
  6. Penguatan Kehidupan Karakter di Aceh
  7. Penguatan Kehidupan Karakter di Aceh
  8. Telepon: 0651 23226-24216 E-mail:[email protected]
  9. (BPNB) ACEH
  10. Banda Acch, November 2018
  11. KATA PENGANTAR PENULIS
  12. DAFTAR ISI
  13. BAB SATU
  14. yang sebagian teksnya mengandung nilai-nilai pendidikan karakter.
  15. seperti etika seorang anak kepada orang tua, guru, teman, berperilaku
  16. karakter telah diimplementasi dalam dunia pendidikan agama
  17. (dayah/pesantren), keseharian masyarakat, dan pemerintahan. Namun, sampai saat ini, belum banyak kajian yang sistematis untuk
  18. mendapatkan gambaran tentang pendidikan karakter yang dilakukan
  19. Bentuk program kegiatan yang dilakukan melalui kajian
  20. filologis dan interdisipliner ilmu terhadap teks naskah “Bayān al-Adāb
  21. BAB DUA LANDASAN TEORI
  22. karakter menurut pendekatan ini dilihat sebagai perkembangan tingkat
  23. berpikir dalam membuat pertimbangan moral, dari suatu tingkat lebih
  24. Definisi operasional pada penelitian adalah unsur penelitian
  25. proses penentuan naskah yang dianalisis. Peneliti melakukan
  26. naskah-naskah yang ditemukan yang mempunyai kesamaan judul,
  27. Kajian lainnya terkait pendidikan karakter berbasis manuskrip pernah dilakuakn oleh Venny Indria Ekowati, dkk9 dengan
  28. menggunakan metode penelitian filologi, karena sumber data merupakan manuskrip Jawa. Metode kualitatif digunakan untuk
  29. menjelaskan representasi simbol yang digunakan dalam iluminasi
  30. Renggan) yang terdapat dalam naskah Babad Pecinna koleksi Museum
  31. BAB TIGA
  32. TELAAH NASKAH
  33. pula yang menjadi landasan kenapa teks itu dipilih dan dideskripsi dari
  34. sisi umur secara filologis dan kodikologis, kondisi naskah, dan hal-hal
  35. naskah hingga berada di tangan masyarakat saat ini.
  36. Hasil inventarisasi yang dilakukan bahwa naskah yang
  37. Secara umum naskah MTM ini dapat dikategorikan sebagai
  38. etika dan karakter antara guru dan murid, mendidik moral,
  39. 10. 77v-77r : Teks Syair Mabyiddin dan Hadits Lubāb. Teks
  40. 11. 78v-83v : Tcks Syair/Nazam berbahasa Arab dari ulama sufi
  41. terjemahan bahasa Melayu yang membahas
  42. Halaman kosong atau tidak ada tulisan terdapat di halaman
  43. SeFiaes oi
  44. BAB EMPAT
  45. SUNTINGAN TEKS
  46. : untuk menandai Hadis Nabi
  47. 2. Maka segala puji tertentu bagi Allah Tuhan yang menguasai akan
  48. kami sebaik-baik pusaka dan akan segala ilmu mengajari akan
  49. 3. Kemudian maka Rahmat Allah dan salamnya atas Nabi yang
  50. 7. Istimewa pula serta dengan segala adab dan dengan segala
  51. makrifat, maka dengar oleh kamu akan kataku hai segala yang
  52. 1. Dan serta orang yang lain daripada mereka itu seperti bāqī segala,
  53. bagai takut-takut olch kamu akan Allah hai segala saudaraku pada
  54. 18 Teks: jumum
  55. 1. Inilah kenyataan Adab serta Syekh dan serta Orang yang
  56. 3. Dan insafkan oleh kamu hai saudaraku daripada orang sah dengan
  57. 7. Dan yang ketujuh, adakah dengan tolongnya kamu kenal atau
  58. 8. Dan kamu bacakan Qur’an yang bernama cahaya dan kamu baca
  59. 19 Teks : pilihnya
  60. [10]
  61. Bayān al-Kitāb al-Fa ā’il
  62. Inilah Kenyataan Mengusahakan Kelebihan
  63. Bayān al-Mijāz Muta'ayyanu Ijtinābuhā
  64. 3. Dan baik olehmu akan perangai hai saudaraku seibu sebapak,
  65. 1. Bcrmula Allah Ta’ala jua yang membaik akan segala hati dan
  66. segala tubuh, dan ampun olehmu dan maaf olehmu hai Tuhanku
  67. [15]
  68. 37 Keji
  69. 38 Teks:p-d-h-1- k-w
  70. 9. Wasllla à kai kaq di Maa wa aiwa
  71. BAB LIMA PENGUATAN KEHIDUPAN
  72. KARAKTER DI ACEH
  73. tetap antara hidup batinnya. Karakter dapat dilihat dari tingkah laku
  74. perkembangan orang lain dalam hidup mereka.40
  75. dengan berbagai gelar, seperti hati (qalb), diri (nafs), akal (aqł), atau ruh
  76. (rwb). Keempat gelar tersebut pada hakikatnya adalah sama, tetapi
  77. C1415ali
  78. manusia. Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya menjadi orang
  79. Selain itu, keluarga memiliki tugas mengajarkan agama,
  80. memasuki kchidupan yang lebih baik dan mulia. Selanjumya, anak
  81. karena usia dini merupakan masa cmas perkembangan (golden age) yang
  82. keberhasilannya sangat menentukan kualitas anak masa dewasanya.
  83. dini memasuki tahap atau periode yang sangat peka. Artinya, jika
  84. yang produktif maka perkembangan anak masa dewasa, juga akan
  85. orang tua, serta akan cenderung meniadakan kasih sayang terhadap
  86. Dalam nazam Aceh juga disebutkan:
  87. Poma ngon Ayah keulhee ngon guree, ureueng nyan ban lhee meubék tadhot-dhot,
  88. benar akan meningkatkan prestasi akademik.
  89. agar semua pelajaran kegiatan dapat dijadikan wahana
  90. Sekolah. Jakarta: Gramedia, 2013, hlm. 204.
  91. Kabr
  92. Orang yang lebih tua adalah orang yang memiliki usia yang
  93. menghormati orang lain dan tidak memandang rendah dan hina
  94. penghormatan itu. Menghormati orang yang lebih tua dinilai sebagai
  95. salah satu sikap dasar yang paling penting yang menjadi identitas Islam
  96. disajikan aspek ontologis akhlak, schingga dapat memberi khaz
  97. 52 lihat Johansyah, "Pendidikan Karakter dalam Islam; Kajian dari
  98. 54 Ahmad Amin, Etika (Imu AKhlk) Jakarta: Bulan Bintang, 1995,
  99. kata yang indah terkait dengan akhlak: "“Sesunggu
  100. berakhlak/berbudi perangai utama, jika pada
  101. Aspek penting yang perlu diketahui indikator
  102. keberhasilan pendidikan karakter. Menurut Umar Sulai
  103. sebagaimana dikutip Jalaluddin dapat dilihat dari sebagai
  104. 1) Perbuatan mendidik itu sendir
  105. tindakan atau perbuatan, dan sikap yang dilakukan oleh
  106. sJalaluddin. Teologi Pendidikan. Cet I. Jakarta: Raja Grafindo
  107. 2N. Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia.
  108. pendidik sewaktu menghadapi/mengasuh anak didik.
  109. bahan-bahan Materi pendidikan pengalaman-pengalaman belajarilmu agama Islam yang disusun sedemikian rupa (deng
  110. susunan yang lazim tetapi
  111. logis) untuk disajikan atau d
  112. a terhadap hasil belajar
  113. selama melaksanakan tujuan
  114. 6Ramaliyus. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia. 2010,
  115. adalah data dan fakta-fakta, entah berupa tindakan maupun dampak-
  116. dampak dari keputusan yang dapat diverifikasikan olch semua orang.
  117. Kriteria dan objek yang dibahas di sini hanya berkaitan dengan hal-hal
  118. 16) Peduli lingkungan, yakni sikap dan tindakan
  119. berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya
  120. mempebaiki kerusakan alam yang suda teradi.
  121. 17) Peduli sosial, yakni sikap dan tindakan yang selalu berupaya
  122. mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan
  123. 18) Tanggung jawab, yakni sikap dan perilaku seseorang untuk
  124. terwujud dalam pikiran, sikap, perasan, perkataan, dan perbuatan
  125. Sura-karta: Yuma Pustaka.
  126. Dr. Denys Lombard (Cet. 1 ed.). Jakarta: Yayasan Obor
  127. Guru Terhadap Pembentukan Karakter (Characer Building
  128. Siswa SMP Al-Izzah Islamic Boarding School Batu." Tesis. Program Magister Manajemen Pendidikan Islam
  129. Universitas Islam Negeri Malang. Tidak Diterbitkan.
  130. Majid, Abdul, Dian Andayani. 2011. Pendidikan Karakter Perspektif
  131. Muslic, Masnur, 2011. Pendidikan Karakter Menjab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: PT Bumi Aksara.
  132. Pendidikan dan Kebudavan Balai Pustaka PN (1995).
  133. Ramaliyus. 2010. Im Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
  134. Tafsir, A. 2008. Filsafat Pendidikan Islami.Bandung:
  135. Indonesia." Makalah.
  136. Jakarta: Gema Insani Press.
  137. Suyanto, Ph.D. 2010. Model Pembinaan Pendidikan
  138. Banda Acch
  139. 年をら唯し。
  140. LLtん
  141. Halaman Akhir Kolofon Bayanul Adab. No. 07.0784 Museum Negeri

W

PENGUATAN KEHIDUPAN

KARAKTER DI ACEH

Teks dan Konteks Naskah Bayan Al-Adab

HERMANSYAH

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN

BALAI PELESTARIAN NILAI BUDAYA ACEH

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN BALAI PELESTARIAN NILAI BUDAYA ACEH (Wilayah Kerja Provinsi Aceh -Sumut)

Jln. TWK. Hasyim Banta Muda No. 17, Kp. Mulia, Kec. Kuta Alam, Banda Aceh - 23123. [email protected] bpnbaceh sobatbudaya http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbaceh/

ISBN: 978-602-9457-83-4

PENGUATAN KEHIDUPAN KARAKTER DI ACEH

(TEKS DAN KONTEKS NASKAH BAYAN AL-ADAB)

OLEH: HERMANSYAH, M.Th., M.Hum.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN BALAI PELESTARIAN NILAI BUDAYA ACEH

Penguatan Kehidupan Karakter di Aceh

(Teks dan Konteks Naskah Bayan Al-Adab) ix + 76 hlm.: 14.8 x 21 cm ISBN: 978-602-9457-83-4

Penguatan Kehidupan Karakter di Aceh

Penulis■ Hermansyah, M.Th., M.Hum. Editor Drs. Nurdin AR., M.Hum. Layout■ Nur Irsyakdiah

Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang All rights reserved

Diterbitkan oleh: Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh Jln. Twk. Hasyim Banta Muda No.17 Kp. Mulia, Banda Aceh

Telepon: 0651 23226-24216 E-mail:[email protected]

http: kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbaceh

ii

SAMBUTAN KEPALA BALAI PELESTARIAN NILAI BUDAYA

(BPNB) ACEH

Para pembaca yang budiman, pertama-tama kita memanjatkan puji beserta syukur kepada Allah, atas rahmat dan kurnia-Nya, buku ini dapat dipublikasikan. Publikasi hasil penelitian ini merupakan bagian dari komitmen BPNB Aceh dalam perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, serta penyebarluasan aspek sejarah dan nilai budaya. Oleh karena itu, saya menyambut bahagia penerbitan buku ini. Buku ini mengandung berbagai nilai kearifan dan nilai karakter bangsa sebagai warisan intelektual bangsa yang dihasilkan dari khazanah intelektual Aceh masa lalu, sehingga sangat diperlukan guna penguatan moral dan etika dalam pembangunan bangsa. Oleh karena itu, BPNB Acch berinisiatif menerbitkan buku ini. Kami melihat, buku ini tidak hanya penting bagi masyarakat Aceh, tetapi penting, diperlukan, dan menjadi milik seluruh bangsa Indonesia. Mengenal sejarah dan budaya Aceh merupakan bagian dalam usaha mengenal sejarah dan budaya Nusantara. Saya yakin, apabila setiap kita dapat pula menyusun dan menerbitkan tulisan-tulisan semacam ini maka semakin banyak unsur- unsur sejarah dan budaya Nusantara yang kini belum diketahui, dapat diungkapkan dan dikembangkan ke depan. Dengan demikian, kita lebih kaya akan bahan-bahan yang diperlukan untuk mempelajari dan mengenal identitas bangsa.

iii

Terbitnya buku ini, selain menambah informasi tentang sejarah dan budaya Aceh, juga memperkaya khazanah litcratur tentang Aceh. Dengan demikian, diharapkan dapat menjadi masukan, baik untuk kepentingan penyusunan kebijakan, maupun untuk memperluas wawasan masyarakat terhadap negara dan bangsanya. Banyak pihak yang telah membantu sehingga buku ini dapat diterbitkan. Untuk itu, kami menyampaikan ucapan terima kasih. Kami menyadari pula bahwa buku ini masih memiliki kekurangan, baik isi maupun penampilannya. Oleh karena itu, saran dan masukan dari pembaca kami terima dengan lapang dada untuk perbaikan pada penerbitan selanjutnya.

Banda Acch, November 2018

Irini Dewi Wanti, S.S., M.SP. NIP 197105231996012001

iv

KATA PENGANTAR PENULIS

Alhamdulillah, penelitian naskah kuno atau manuskrip tentang Penguatan Kehidupan Karakter di Aceh (Teks dan Konteks Naskah Bayan al-Adab) telah selesai. Penulisan ini merupakan laporan dari penelitian tersebut yang dilakukan pada tahun 2018. Penelitian ini bertujuan menggali nilai-nilai karakter yang terkandung dalam manuskrip sebagai sumber primer warisan intelektual bangsa yang dihasilkan dari kekayaan khazanah intelektual Aceh masa silam guna penguatan moral dan etika yang sedang digalakkan pemerintah dalam wadah "revolusi mental". Aceh, memiliki khazanah berlimpah dari para cendekiawan (alim ulama dan tokoh intelektual) yang produktif dalam menulis dan mewarisi keilmuannya dari abad ke-16 sampai abad ke-21 dalam beragam ranah keilmuan. Khazanah tersebut juga meliputi perkembangan dunia pendidikan, generasi pemimpin dan masyarakat yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain, khususnya dalam tradisi intelektual dan menjadi masyarakat yang berkarakter. Mengingat pentingnya nilai-nilai karakter dalam kehidupan masyarakat di Aceh yang terbentuk dari dunia pendidikan rumah, lembaga pendidikan sekolah agama (dayab), dan masyarakat yang humanis, penelitian dilakukan guna mengangkat nilai-nilai tersebut menjadi bahan bacaan dan pengetahuan masyarakat, terutama generasi muda dan peserta didik yang menghadapi zaman global. Terima kasih kepada pimpinan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Acch, terutama Ibu Irini Dewi Wanti, S.S., M.SP. selaku Kepala BPNB Aceh dan para staf serta peneliti di BPNB Aceh yang telah memberi berbagai dukungan dan membuka peluang dilakukannya penelitian, khususnya terhadap kajian naskah kuno/manuskrip ini sehingga penelitian ini selesai dengan baik. Semoga penelitian ini bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan dan informasi sebagai salah satu upaya pelestarian nilai

V

budaya di Aceh dan Indonesia, serta memperkaya khazanah kepustakaan tentang karakter dan budaya bagi para pembaca. Semoga, saran dan ide yang konstruktif dapat menyempurnakan penelitian berikutnya. Semoga penelitian ini bermanfaat.

Banda Acch, November 2018 Penulis

vi

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
B. Bentuk dan Nama Program
C. Rumusan dan Batasan Kajian
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
E. Metode Penelitian
BAB II : LANDASAN TEORITIS

A. Kerangka Teori
B. Definisi Operasional
C. Tinjauan Pustaka
BAB III : TELAAH NASKAH

A. Inventarisasi Naskah
B. Deskripsi Naskah
C. Struktur Naskah dan Isi
BAB IV : SUNTINGAN TEKS

A. Pertanggung jawaban Edisi
B. Suntingan Teks ACEH
A. Pengertian Karakter
vii

iii V 1 1 4 4 5 6 9 9 11 13 16 16 17 22 23 23 24

39 BAB V : PENGUATAN KEHIDUPAN KARAKTER DI

B. Media Pendidikan Membentuk Karakter
56

C. Karakter dalam Perspektif Islam
64

D. Nilai-nilai Karakter dalam Kehidupan
DAFTAR PUSTAKA 69 72 LAMPIRAN

viii

BAB SATU

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tradisi penulisan, penyalinan, dan persebaran naskah-naskah keagamaan di dunia Melayu-Indonesia memiliki hubung kait dengan proses Islamisasi yang terjadi.1 Secara umum, naskah-naskah tersebut ditulis untuk kepentingan transmisi pengetahuan keislaman, penguatan karakter manusia, dan pelestarian kebudayaan di pelbagai bidang kebudayaan, keagamaan dan kehidupan, seperti dayah, zawiyah, rangkang, kesultanan (pemerintahan), dan lain-lain.

Di kalangan masyarakat Aceh, tradisi penulisan dan penyalinan naskah-naskah keagamaan ini dapat dipastikan diamalkan secara berkelanjutan dan konsisten, sesuai dengan perkembangan Islam. Para sejarawan sepakat bahwa Islam di wilayah Nusantara berkembang sejak awalnya dengan corak tasawuf2, naskah-naskah kuno yang muncul-pun mayoritas memuat pembahasan-pembahasan mengenai akhlak, etika, tauhid, keagamaan, dan kearifan lokal (local wisdom). Oleh karena itu, Islam dan kearifan masyarakat dalam konteks

1 Uka Tjandrasasmita. Sejarah Nasional Indonesia III. Depdikbud. Jakarta, 1999,201. 2 Azyumardi Azra. Pergolakan politik Islam dari fundamentalisme, modernisme hingga post-modernisme. Paramadina: Jakarta, 1996. Hamka. Pelajaran Agama Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1984. Hasan Muarif Ambari. Aspek-aspek Arkeologi Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, 1995. Denys Lombard; Henri Chambert-Loir; Hasan Muarif Ambary. Panggung sejarah : persembahan kepada Prof. Dr. Denys Lombard (Cet. 1 ed.), Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999.

pembentukan karakter dan moral manusia scjalan dengan perkembangan Islam yang dapat meresap dengan baik. Naskah-naskah klasik yang muncul di era Kesultanan Aceh umumnya berbahasa Arab dan Jawi. Kitab Fiqih, Gramatikal (»ahw- sarf), Tafsir, Hadist, Syair-syair di antaranya sekian banyak contoh berbahasa Arab. Kitab-kitab para ulama di Jazirah Arab menjadi bacaan wajib bagi penuntut ilmu dari Aceh-Nusantara dan berbahasa Arab selama di sana. Namun, saat mereka pulang dan tampil di daerah masing-masing, salah satu kewajiban mereka menerjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab ke bahasa lokal. Hal tersebut harus dilakukan untuk menggapai tujuan yang dimaksud. Manuskrip di Acch tidak sebatas bidang peribadatan dan atau tata belajar bahasa Arab. Akan tetapi, sebagian naskah berkaitan dengan penguatan mental, perilaku dan moral masyarakat. Sebagian kandungan isi manuskrip tampil utuh mengkaji karakter manusia atau sebagai naskah utama. Sebagian lainnya menjadi bagian pembelajaran tentang karakter tersebut. Misalnya, pendidikan karakter dalam naskah Tāj as-Salātin, Tanbih al-Ghāfilin, Mawā’id al-Badī'ab, dan naskah lainnya

yang sebagian teksnya mengandung nilai-nilai pendidikan karakter.

Naskah utama yang di dalamnya mengupas secara khusus dan fokus mengkaji pendidikan karakter, di antaranya naskah Bāb al-Adāb dan Bayån al-Adāb yang khusus membahas tentang karakter seseorang,

seperti etika seorang anak kepada orang tua, guru, teman, berperilaku

baik di rumah, kelas dan lingkungan, berpikiran positif dan energik. Manuskrip tersebut memiliki persamaan dan perbedaan yang menunjukkan karakter masing-masing. Apabila ditinjau dari kesamaannya mengandung unsur pendidikan dan pengajaran dari sisi transmisi keilmuan dan penerjemahan. Dengan kata lain, naskah berbahasa Arab memiliki terjemahan berbaris dalam bahasa Melayu (Indonesia), bentuk penerjemahan tersebut dipandang sebagai wujud terlaksananya tradisi belajar mengajar antara santri dan guru.

Teks Bayān al-Adāb satu-satunya teks yang ditemui dan merupakan koleksi Museum Aceh dengan nomor Inv. 07.784 ditulis dalam bahasa Arab dan terjemahan berbaris dalam aksara Jawi berbahasa Melayu atau Indonesia. Teks dalam bentuk puisi atau nazam, terjemahan bebas, tetapi dengan bahasa yang singkat dan tersusun. Teks berisikan tentang etika dan bersikap kepada guru, orang tua, kemudian pembersihan diri dan hati, penjelasan silaturahmi, penjelasan tentang nasehat dan zikir, penjelasan tentang istilah, larangan-larangan, anjuran saling menerima dalam kebaikan, dan lainnya.

Ternyata nilai-nilai yang diangkat dalam pendidikan karakter-yang menjadi perhatian bangsa saat ini- telah lama ditulis dan diajarkan oleh masyarakat Aceh, sebagaimana yang tersebut dalam teks Bayān al-Adāb. Naskah tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dalam penguatan karakter di dalam dunia pendidikan ataupun masyarakat menjadi bagian utama dalam pembentukan generasi yang baik.

Scirama dengan pendidikan adab dan karakter yang telah diajarkan pada masa kesultanan Aceh, menjadi perhatian para alim ulama untuk memupuk karakter yang baik, sebagaimana karya Syckh Abdurrauf al-Jawi al-Fansuri kitab Risalah Adab Murid akan Syaikh dan Risalah Mukhtasarah fi Bayan Syurūt al-Syaikh wa al-Murid (Azra, 2005:

254). Baginya, pendidikan bagi scorang murid bukan hanya terkait intelektual (IQ) saja, tetapi juga akhlak dan karakternya. Walau Syekh Abdurrauf al-Fansuri terkenal sebagai guru perdana penyebar tarekat Syattariyah di Asia Tenggara, tetapi karyanya juga menyentuh pendidikan karakter yang tidak hanya untuk murid, tetapi juga guru. Kitab Risalah Adab Murid akan Syaikh karya Syekh Abdurrauf al-Fansuri jelas menunjukkan pentingnya pendidikan karakter pada seorang anak, pelajar, murid ataupun seseorang kepada orang yang lebih tua, terutama ayah ibu dan guru. Keutamaan tersebut juga disebut dalam dunia pendidikan dan pengajaran, Syekh Abdurrauf al-

Fansuri membahasnya dalam konteks tarekat yang sedang dikembangkannya di Aceh dan Nusantara. Akan tetapi, kajian dan perhatiannya juga mendalam terhadap pendidikan karakter, sebab dalam Pendidikan bidang apa pun yang dibutuhkan modal dasar adalah akhlak dan karakter yang baik. Selama ini, kajian-kajian yang telah dilakukan terhadap naskah lebih dititik fokuskan pada teks-teks keagamaan, gramatika bahasa, dan terbaru tentang kebencanaan. Dalam dunia pendidikan karakter, adab dan akhlak dapat disebut minim, apalagi jika dikaitkan dengan kajian berbasis manuskrip. Walaupun dalam praktiknya, pendidikan

karakter telah diimplementasi dalam dunia pendidikan agama

(dayah/pesantren), keseharian masyarakat, dan pemerintahan. Namun, sampai saat ini, belum banyak kajian yang sistematis untuk

mendapatkan gambaran tentang pendidikan karakter yang dilakukan

di Aceh.

B. Bentuk dan Nama Program

Bentuk program kegiatan yang dilakukan melalui kajian

filologis dan interdisipliner ilmu terhadap teks naskah “Bayān al-Adāb

Penguatan Pendidikan Karakter di Acch"

C. Rumusan dan Batasan Kajian Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini berkaitan
dengan teks Bayān al-Adāb, yaitu pedoman kehidupan karakter di Aceh dengan rumusan sebagai berikut.

  1. Kajian filologi teks Bayān al-Adāb yang meliputi deskripsi isi, suntingan teks dan analisis isi. Kajian filologi menjadi salah satu bagian paling penting dalam kajian sumber-sumber primer dengan didukung beberapa ilmu bantu lainnya, seperti paleografi dan kodikologi.

  2. Adaptasi naskah dengan masyarakat atau komunitas pendidikan keilmuan dalam penguatan pendidikan karakter. Teks-teks dalam bahasa Arab tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dengan aksara Arab-Jawi. Kontekstual tersebut perlu dikaji lebih jauh untuk melihat penggunaan dan pengaruh teks tersebut di masyarakat. Batasan penelitian teks Bayān al-Adāb koleksi Museum Negeri Aceh nomor aktuil 07.784 adalah codex unicus, yaitu teks naskah tunggal atau teks satu-satunya yang ditemukan sejauh ini. Namun demikian, teks-teks naskah lainnya yang berkaitan dalam konteks penguatan kehidupan karakter akan menjadi bahan bacaan sekunder untuk mendapatkan kontekstual pendidikan karakter Aceh yang komprehensif dan menyeluruh pada era kesultanan Aceh dan saat ini.
    D. Tujuan dan Manfaat Penelitian Secara umum penelitian ini bertujuan untuk;

  3. Menghadirkan teks yang bersih dari kesalahan dan mudah dibaca. Dalam rangka mencapai teks yang bersih, perlu dilakukan langkah-langkah filologi, mulai dari inventarisasi naskah, deskripsi naskah secara kodikologis, dan penyuntingan teks Bayān al-Adāb. Oleh karena teks tersebut tunggal (codex uniaus) maka tidak mungkin dilakukan perbandingan.
    2.Dalam mengungkapkan isi kandungannya diuraikan nilai-nilai pendidikan karakter dalam konten teks Bayā» al-Adāb, di mana kandungannya memberikan informasi terhadap konteks naskah lebih jauh tentang pendidikan dan pengajaran di masyarakat tempo dulu yang dapat dijadikan pelajaran untuk generasi sckarang.

Manfaat penelitian ini menambah sumber referensi dan kontribusi dalam rangka memperkaya khazanah dan bahan bacaan tentang nilai-nilai karakter yang terdapat di masyarakat.

E. Metode Penelitian Pada prinsipnya penelitian terhadap naskah Bayān al-Adāb adalah penelitian kepustakaan dan penelitian filologi. Dalam penelitian filologi yang menjadi objeknya adalah naskah dan teks (Baried, 1983:
3). Filologi menurut Robson (1988: 9-10) lebih dari pada sekedar “kritik teks" Secara ringkas, tugas seorang filolog adalah 'membuat teks terbaca atau dimengerti’ yang harus dilakukan melalui penyajian dan penafsiran teks. Oleh karena itu, seorang filolog dianggap belum menyelesaikan tugasnya jika dia belum berhasil mengeluarkan sifat dasar teks itu untuk pembacanya. Caranya adalah dengan melihat bahwa sebuah teks akan memiliki signifikansi penuh jika dilihat dari konteks yang tepat atau ia merupakan bagian dari kescluruhan yang muncul bersama dengan karya lain yang sejenis. Menurut A. Teeuw (2003: 205), penelitian filologis mendasarkan cara kerjanya yang cenderung melihat teks karya sastra selalu bersifat tidak stabil atau tidak mantap. Ketidakstabilan teks ini memang akibat langsung dari sejarah proses penyalinan teks itu sendiri. Munculnya perubahan dan penyimpangan dapat terjadi pada teks yang diturunkan secara lisan dan pada teks yang diturunkan secara tulisan dalam bentuk naskah tulisan. Akibatnya, muncul varian bahkan versi dari satu naskah yang berimplikasi pada penggunaan cara tertentu dalam melakukan kritik teks. Sebagaimana diketahui bahwa teks Bayå» al-Adāb merupakan teks (naskah) tunggal. Untuk menghasilkan edisi teks Bayān a-.Adāb dalam penelitan ini, peneliti menggunakan metode flologi, setiap teks disunting, diperbaiki, dan dilakukan kritikan dan lainnya diberi catatan

(footwote) sebagaimana mestinya.3 Guna memudahkan penelitian ini ditempuh beberapa langkah, sebagaimana panduan filologi yang ditulis oleh Oman4, di antaranya:

Pertama, penyajian data sumber, yaitu inventarisasi dalam proses penentuan naskah yang dianalisis. Kedua, deskripsi naskah, yaitu langkah untuk menyajikan informasi tentang naskah. Ketiga, penilaian naskah, diawali dengan perbandingan teks-teks yang serumpun yang ditemukan yang mempunyai kesamaan tema. Keempat, suntingan teks, yaitu bertujuan untuk berusaha menjernihkan teks dari penyimpangan teks autoritatif yang diperkirakan terjadi dalam proses

transmisi atau penyalinan teks dengan tujuan untuk memperoleh teks bersih dan bebas dari kesalahan.⁵

Mengingat teks Bayån al-Adāb merupakan naskah tunggal, maka langkah-langkah perbandingan naskah tidak dilakukan, sehingga langsung ditempuh cara lain, alih aksara. Langkah alih aksara disebut juga transliterasi atau transkripsi merupakan inti dari filologi. Tujuan utamanya adalah menghadirkan teks yang siap baca oleh publik. Suntingan teks merupakan cara untuk memperoleh informasi yang terkandung di dalamnya, baik dari segi kualitas, struktur, maupun perbaikan-perbaikan atau kritik terhadap teks. Guna mencapai tujuan itu adalah dengan membetulkan dan mempcrbaiki segala macam

3Siti Baroroh Baried, Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: Badan Penelitian dan Publikasi Fakultas (BPPF) Seksi Filologi, Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. 1994: 67. 4Oman Fathurahman dalam bukunya Filologi Indonesia: Teori dan Metode (Jakarta: Prenadamedia group, 2015), hlm. 69-97 menjelaskan “tata tertib” bagaimana penelitian filologi dilakukan, dimulai dengan 1) penentuan teks, 2) inventarisasi naskah, 3) deskripsi naskah, 4) perbandingan naskah dan teks, 5) suntingan teks, 6) terjemahan teks, dan 7) analisis isi. Langkah ini tidak bersifat baku. 5 S.O. Robson, Prinsip-prinsip Filologi Indonesia. Jakarta: RUL, 1994,24

kesalahan bacaan (corrupt), mengganti bacaan yang tidak sesuai (emandation), menambah bacaan yang terlewatkan (interpolatio). Segala keterangan dicantumkan dalam apparatus criticuıs. Dalam penyuntingan tcks yang dilakukan bukan matan teks dalam bahasa Arab, tetapi yang disunting terjemahan teks dalam bahasa Melayu. Hal tersebut dilakukan untuk mencapai tujuan dari penelitian ini, bukan hanya sebatas tekstual, tetapi pada konteks kajian yang berkaitan dengan kehidupan karakter masyarakat. lokus kajian selain pada matan teks (teks utama) merupakan salah satu penelitian yang belum popular di Nusantara, termasuk Acch disebut kajian parateks. Parateks merupakan salah satu langkah dalam sastra yang meneliti teks-teks tambahan oleh para penyalin, editor (tahqiq) ataupun penulis sendiri selain dari teks utama, seperti terjemahan berbaris, kolofon, syarah, perenggan teks, catatan, sinopsis, dan lainnya. Terakhir, analisis teks atau naskah, yaitu metode pola pikir yang digunakan dalam perumusan hasil penyuntingan. Penalaran sintesa-induktif guna mengclaborasi lebih mendalam kandungan teks dan konstektual melalui pendekatan sejarah dan interteks, yaitu suatu tori dalam penelitian sastra yang mencoba memaknai sebuah teks melalui teks-teks lain yang muncul sezaman atau sesudahnya. Analisa tersebut dat memberi gambaran latar belakang sosio-historis dan pendidikan Islam di Aceh, diupayakan tidak keluar dari konteks naskah.

BAB DUA LANDASAN TEORI

A. Kerangka Teori Masing-masing naskah mempunyai latar belakang berbeda- beda dan baru terungkap setelah "dibuka", dibaca, dan diteliti. Naskah-naskah itu sendiri juga tidak jarang mengalami perubahan, sehingga melahirkan wujud teks yang bervariasi. Munculnya variasi teks memperlihatkan sifat penurunan teks yang sering kali tidak setia (terbuka) yang dikaji dalam multidisipliner ilmu.6 Demikian terjadi pada teks-teks berbahasa Jawi (Melayu) dan terkhusus pada naskah keagamaan, pendidikan/pengajaran, dan tata bahasa. Naskah yang berada dalam bidang tersebut akan selalu terjadi "editing" (perubahan) dari teks utamanya, baik dilakukan yang berkaitan dengan teks utama maupun tidak. Sesuai dengan orientasi di atas, penelitian ini menggunakan dua pendekatan yang mengurai kehidupan karakter masyarakat di Aceh, yakni; pertama pendekatan filologi dan ilmu pernaskahan. Pendekatan filologi merupakan salah satu upaya memahami teks naskah dan kandungannya dengan melihat wujud fisik (kodikologi) dan parateks.7 Kajian ini memanfaatkan teori parateks sebagaimana yang dikembangkan oleh Gerard Genette8 yang masih terkait dengan kajian 6Robson, S.O. Prinsip-prinsip Filologi Indonesia. Jakarta: RUL, 1994 7 Siti Baroroh Baried, dkk. Pengantar Teori Filologi, Yogyakarta: Badan Penelitian dan Publikasi Fakultas (BPPF) Seksi Filologi, Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. 1994. 8 Gerard Genette, Paratext. 1997. Ia lahir tahun 1930 adalah seorang kritikus sastra asal Perancis, yang lebih khususnya terkait kajian strukturalisme yang mencetuskan teori narasi (naratologi) dalam kajian kritik sastra strukturalisme.

naratologi, mendefinisikan parateks sebagai hal-hal yang diterbitkan untuk menyertai matan teks (teks utama). Dalam buku modern, parateks adalah perangkat liminial dan konvensi, baik di dalam maupun di luar buku yang membentuk bagian antara buku, penulis, penerbit, dan pembaca; judul, kata pengantar, prasasti, dan kover penerbit yang merupakan bagian dari buku dan bagian masyarakat. Kaitan parateks dengan filologi dan kodikologi bahwa terkadang informasi tentang teks tersebut berada bukan pada bagian teks utama. Hal itu dapat diketahui siapa yang menulis naskah tersebut, penyalin naskah tersebut, editor ataupun pentabqiq naskah tersebut, terbitan manuskrip buku terscbut, kapan, dan di mana naskah tersebut ditulis dan selesai ditulis, kertas apa yang dipakai jika ada catatannya, dan segala sesuatu yang mungkin tidak diperolch dalam isi teks utamanya. Objek kajian filologi adalah teks, sedangkan sasaran kerjanya berupa naskah/manuskrip. Dalam hal ini manuskrip merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan peninggalan tulisan masa lampau, dan teks merupakan kandungan yang tersimpan dalam suatu manuskrip. Kedua, pendekatan ilmu sosio-historis yang menekankan pengkajian melalui perspektif sejarah dan sosial-keagamaan. Penelitian ini mengkolaborasi kedua pendekatan tersebut dengan ilmu-ilmu yang relevan sesuai konteks kajian multidispliner ilmu. Setidaknya, terdapat beberapa pendekatan pendidikan nilai karakter yang dapat dijabarkan lebih jauh oleh masyarakat dan kelembagaan pendidikan dalam rangka mengembangkan nilai karakter dan budaya, seperti pendekatan perkembangan kognitif; pendekatan analisis dan klarifikasi nilai; serta pendekatan pembelajaran berbuat. Pendekatan ini mendorong setiap individu untuk berpikir aktif tentang masalah-masalah moral dan

karaktcr dalam membuat keputusan-keputusan. Perkembangan

karakter menurut pendekatan ini dilihat sebagai perkembangan tingkat

berpikir dalam membuat pertimbangan moral, dari suatu tingkat lebih

rendah menuju ke suatu tingkat yang lebih tinggi

B. Definisi Operasional

Definisi operasional pada penelitian adalah unsur penelitian

yang terkait dengan variabel yang terdapat dalam judul penelitian atau yang tercakup dalam paradigma penelitian sesuai dengan hasil

perumusan masalah. Untuk dapat diobservasi atau diukur maka suatu konsep harus didefinisikan secara operasional. Definisi operasional ini dimaksudkan untuk memberikan rujukan-rujukan empiris apa saja yang dapat ditemukan di lapangan untuk menggambarkan secara tepat konsep yang dimaksud, sehingga konsep tersebut dapat diamati dan diukur.

Dalam hal ini, manuskrip atau tulisan tangan adalah salah satu bentuk tinggalan budaya yang menyimpan kekayaan intelektual masa lalu. Melalui naskah dapat diketahui untuk apa dan bagaimana sebuah naskah ditulis, misalnya, untuk menjelaskan persoalan dan peristiwa yang dialami oleh suatu masyarakat pada suatu masa. Perekaman peristiwa masa lampau oleh naskah, pada waktu yang sama juga merekam latar yang menyertai lahirnya naskah. Oleh karena itu, penelitian ini tidak semata melalui pendekatan filologis, tetapi juga ilmu terkait lainnya, seperti kodikologi dan paleografi ataupun ilmu bantu di antaranya pendckatan parateks, antropologi, dan sejarah. Untuk memudahkan penelitian ini ditempuh beberapa langkah teorctik, di antaranya:

Pertama, penyajian data sumber, yaitu inventarisasi dalam

proses penentuan naskah yang dianalisis. Peneliti melakukan

pelacakan naskah di berbagai sumber yang kuat dugaan menyimpan

manuskrip kuno (naskah), terutama di muscum negeri dan daerah, lembaga yayasan, kolektor atau masyarakat awam. Kedua, deskripsi naskah, yaitu langkah untuk menyajikan informasi tentang naskah. Untuk kegiatan deskripsi naskah, peneliti memulai dengan membuat form yang memuat clemen-elemen yang diteliti, baik secara filologis, kodikologis ataupun paleografi dan diuraikan dalam deskripsi naskah, seperti kode/nomor, tahun salinan, kondisi fisik, jumlah halaman, watermark, khat, aksara, warna tinta, dan sebagainya. Ketiga, perbandingan naskah diawali dengan pengelompokan

naskah-naskah yang ditemukan yang mempunyai kesamaan judul,

pengarang, dan isi naskah. Dalam melakukan perbandingan ini, biasanya ada tahap pertimbangan (recentio), pengguguran (eliminatio), dan perbandingan teks guna memberikan gambaran beberapa bagian naskah yang ditentukan. Keempat, suntingan teks bertujuan untuk berusaha menjernihkan teks dari penyimpangan teks autoritatif yang diperkirakan terjadi dalam proses transmisi atau penyalinan teks, dengan tujuan untuk memperoleh tcks bersih dalam keadaan atau bentuk yang paling dekat dengan aslinya (autograph) dengan mengadakan perbaikan-perbaikan apabila ada hal-hal yang dianggap menganggu pemahaman teks apabila dibiarkan sebagaimana adanya. Terakhir, analisis, yaitu metode pola pikir yang digunakan dalam perumusan hasil penyuntingan. Penalaran sintesa-induktif guna mengelaborasi lebih mendalam kandungan tcks dan konstektual melalui pendekatan intertekstual, yaitu suatu teori dalam penelitian sastra yang mencoba memaknai sebuah teks melalui teks-teks lain yang muncul sezaman atau sebelumnya, analisis tersebut dapat memberi gambaran latar belakang sosio-historis dan budaya, pemikiran

pengarang, peranan, dan pengaruh tokoh, serta perkembangan Islam di Aceh, diupayakan tidak keluar dari konteks naskah.

Selain itu, penelitian ini juga tidak mengabaikan kritik sumber sejarah, yaitu upaya untuk mendapatkan otentisitas dan kredibilitas sumber. Adapun caranya, yaitu dengan melakukan kritik teks (tahqiq). Kritik adalah kerja intelektual dan rasional yang mengikuti metodologi sejarah guna mendapat objektivitas suatu kejadian.

C. Tinjauan Pustaka Kajian-kajian terhadap naskah karakter dan adab belum banyak dilakukan, terlebih dalam manuskrip yang memiliki dwi-bahasa atau terjemahan berbaris seperti yang ditunjukkan oleh naskah Bayämul Adāb. Scjauh yang diketahui, naskah-naskah adab dan karakter berbasis manuskrip masih sangat sedikit. Alasan yang dapat dikemukakan bisa jadi discbabkan sumber-sumber informasi awal yang kebanyakan berupa manuskrip, dari segi jumlah naskah karakter tidak sebanyak naskah tasawuf dan tata bahasa, di samping persoalan kajian karakter penckanannya lebih pada praktisi daripada teori dan konsep. Sulit untuk memberikan deskripsi kajian-kajian manuskrip dalam bidang adab di Aceh dan Indonesia. Kalau pun ada, kebanyakan berbicara dalam konteks pendidikan, bukan pada persoalan aplikatif di masyarakat. Hal ini disebabkan oleh karena kebutuhan langsung secara riil problem yang dihadapi di tengah masyarakat. Padahal kajian-kajian karakter berbasis naskah terdahulu sangat penting untuk menemukan gap antara periode dulu dengan masa kini. Bebcrapa kajian karakter berbasis manuskrip pernah dilakukan, di antaranya kajian Zeni Mufida “Nilai Pendidikan Karakter dalam Kitab Ta’limul Muta'allim dan Ayyubal W'alad serta Relevansinya Terhadap Pendidikan Agama Islam" (Skripsi UIN Sunan Kalijaga,

2013), yang menyimpulkan bahwa pendidikan merupakan proses pembelajaran yang bertujuan menjadikan manusia yang potensial secara intelektual semata melalui transfer of knorledge yang kental, tetapi proses tersebut bermuara pada upaya pembentukan watak. Pada kenyataannya pendidikan hanya menjadikan para peserta didik menjadi manusia yang berpengetahuan tanpa dimbangi dengan akhlak dan kepribadian yang baik. Penelitan tersebut menunjukkan bahwa nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam kitab antara lain keimanan, disiplin, kerja keras, demokratis, rasa ingin tahu, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, tanggung jawab, jujur,toleransi, kerja keras, mandiri, dan peduli sosial. Relevansi nilai pendidikan karakter dengan Pendidikan Agama Islam sangat relevan, baik tujuan dan materi, maupun metode yang digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Bahasan dengan basis manuskrip yang sama juga pernah dilakukan oleh M. Zamhari dan Ulfa Masamah dalam "Relevansi Metode Pembentukan Pendidikan Karakter dalam Kitab Ta'lim al-Muta'llm Terhadap Dunia Pendidikan Modern" yang menyebutkan bahwa pendidikan karakter dalam kitab Ta'lim al-Mnta'allim oleh Burhanuddin al-Zarnuji adalah internalisasi nilai-nilai adab (karakter) ke dalam pribadi pelajar. Internalisasi ini merupakan proses pembangunan jiwa yang berasaskan konsep keimanan. Untuk membentuk thalib yang berkarakter dan beradab, pendidikan Islam harus mengarahkan target pendidikan pada pembangunan individu yang memahami tentang kedudukannya, baik kedudukan di hadapan Tuhan dan masyarakat, maupun dirinya sendiri. Kitab Ta'lim al-Muta'llim merumuskan tiga metode penting dalam pembentukan karakter yang mencakup adab lahir dan batin, meliputi metode ilqa'al- nasihah (pemberian naschat) dan kasih sayang; metode Mudzakarab, Munadharah, dan Mutharahah; Metode pembentukan mental jiwa.

Kajian lainnya terkait pendidikan karakter berbasis manuskrip pernah dilakuakn oleh Venny Indria Ekowati, dkk9 dengan

menggunakan metode penelitian filologi, karena sumber data merupakan manuskrip Jawa. Metode kualitatif digunakan untuk

menjelaskan representasi simbol yang digunakan dalam iluminasi

naskah-naskah Jawa. Sumber data penelitian ialah iluminasi (Wedana

Renggan) yang terdapat dalam naskah Babad Pecinna koleksi Museum

Sonobudoyo Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rerenggan yang tergambar dalam teks antara lain mulai dari kuncup bunga dan bunga yang sedang mekar yang menunjukkan sebagai penggambaran pola kehidupan. Rerenggan bunga yang sedang mekar jika dikaitkan dengan isi teks mclambangkan adanya keindahan dalam cerita tersebut seperti watak baik seorang pemimpin sebagai cerminan pendidikan karakter. Pendidikan karakter yang terkandung di dalam iluminasi naskah Babad Pecinna adalah kesucian hati seorang pemimpin; kerendahan hati; karakter berani; karakter kepemimpinan berwibawa, disegani oleh rakyat, dan religius (beriman kepada Tuhan).

9Venny Indria Ekowati, Sri Hertanti Wulan, Aran Handoko, dan Nur Hanifah Insani “Pendidikan Karakter dalam Iluminasi Naskah Babad Pecinna," Jurnal Penelitian Humaniora, Vol. 22, No. 1, April 2017: 32-44,

BAB TIGA

TELAAH NASKAH

Salah satu langkah dalam melakukan penelitian berbasis manuskrip (naskah kuno) adalah inventarisasi dan deskripsi naskah. Kedua langkah tersebut merupakan awal dalam penentuan sumber primer yang dikaji. Langkah tersebut menjadi bagian penting sebelum dilakukan pemilihan teks dan alih aksara dilakukan sebagai pertanggungjawaban dalam pemilihan tersebut. Dalam beberapa kasus, langkah ini dapat menentukan pilihan naskah yang dikaji dan dialihaksara, terutama pada naskah jamak (multi naskah). Langkah itu

pula yang menjadi landasan kenapa teks itu dipilih dan dideskripsi dari

sisi umur secara filologis dan kodikologis, kondisi naskah, dan hal-hal

yang berkenaan di luar teks. Oleh karenanya, langkah tersebut menjadi bagian dalam penelitian naskah, bahkan perkembangan perjalanan

naskah hingga berada di tangan masyarakat saat ini.

A. Inventarisasi Naskah Langkah awal dalam penelitian filologi adalah inventarisasi naskah. Langkah ini dilakukan untuk mendapatkan informasi seberapa banyak naskah dengan judul yang sama, yaitu teks Bayān al-Adāb (Bayānul Adāb). Bayānul Adāb dimaknai interpretasi adab, etika/mental. Inventarisasi dilakukan dengan cara menclusuri katalog-katalog naskah yang ada di Aceh. Sejauh ini terdapat tiga lembaga yang telah memiliki katalog naskah di Acch, yaitu katalog naskah Museum Aceh,10 katalog naskah Yayasan dan Museum Pendidikan Ali 10 Tim Museum Aceh. 2008-2010. Katalog Naskah Museum Aceh Jilid 1-3. Banda Aceh: Museum Aceh

Hasjmy,"1 dan katalog naskah Zawiyah Tanoh Abee,12 sedangkan beberapa koleksi lainnya belum memiliki katalog.

Walaupun demikian, para kolektor naskah yang memiliki koleksi manuskrip di Banda Acch, Aceh Besar, dan sekitarnya di Aceh tetap ditelusuri dan diinventaris. Inventarisasi tanpa katalog dapat dilakukan dengan mengunjungi langsung pemilik dan memilih beberapa teks yang memiliki tema yang sama tentang adab, etika ataupun karakter yang berkaitan dengan pendidikan ataupun edukasi. Dengan langkah demikian dapat diperoleh informasi tentang keberadaan naskah yang dicari.

Hasil inventarisasi yang dilakukan bahwa naskah yang berjudul Bayānul.Adāb adalah teks/naskah tunggal (codex unicus). Sejauh ini belum ditemukan teks lain yang sama. Naskah Bayānul Adāb diperoleh dari koleksi Museum Aceh dengan nomor Inv. 07.784. Naskah ini Multi Text Manuscript (MTM), yaitu terdiri atas beberapa teks. Dalam kajian filologi, teks tunggal tidak diperlukan perbandingan naskah/teks. Langkah tersebut akan gugur sendirinya jika berhadapan dengan naskah tunggal. Selanjutnya dilakukan langkah deskripsi dan transkripsi.

B. Deskripsi Naskah Secara fisik naskah ini sudah direstorasi oleh pihak Museum Aceh atas kerja sama Pemerintah Aceh dengan Pemerintah Jepang " Oman Fathurrahman, dkk. 2007. Katalog Naskah Ali Hasjmy Aceh. Jakarta: Manassa 12 Oman Fathurahman, dkk, 2010. Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee Aceh Besar. Jakarta: Komunitas Bambu, bekerjasama dengan C-DATS, PPIM UIN Jakarta, Manassa, PKPM Aceh dan Museum Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam

dalam program restorasi pascarehab-rekon gempa dan tsunami Aceh tahun 2004. Sampul halaman naskah berwarna coklat gelap terbuat dari sampul karton tebal yang sudah terkelupas bagian atasnya, sedangkan dalamnya langsung dilem dengan lembar halaman pertama naskah. Penambahan sampul tersebut dilakukan olch para kolektor atau pengoleksi yang memperbaiki naskah, sebab sampul naskah tidak terjilid. Beberapa bagian sampul, terutama bagian atas, tengah, dan bagian ujung bawah kiri sudah ditabal dengan kertas nashi Jepang dalam program restorasi. Ukuran naskah 23 x 16.5 cm, sedangkan ukuran teks bervariasi, tetapi umumnya 17 x 13 cm. Media (kertas) naskah berasal dari Eropa yang memiliki watermark (cap air) bergambar Bulan Sabit Bersusun Tiga yang diterbitkan antara tahun 1823-1824 M.13 Cap air dengan gambar demikian banyak diperolch di Acch, sebab gambar tersebut lebih mendekati dengan gambar Islami. Lembaran-lembaran naskah banyak dimakan rayap, dalam bahasa Acch dikenal pité (silverfish). Sebagian besar bolong di delapan halaman pertama naskah dan sepuluh halaman terakhir naskah. Kedua bagian tersebut rusak dimakan rayap pada bagian tengah yang menghilangkan bagian dari teks. Demikian juga pada bagian tengah naskah terdapat beberapa halaman bolong akibat dimakan rayap. Teks naskah ditulis dalam aksara Arab dan aksara Jawi. Gaya tulisan dengan khat »askhi berwarna hitam, dan rubrikasi berwarna merah, baik tulisan teks matan maupun terjemahan berbaris. Baris setiap teks minimal 5 baris dan maksimal 11 baris. Jumlah baris tersebut tidak termasuk baris terjemahan pada syair/nazam teks yang

13 Edward Heawood, 2003. Watermarks. Mainly of the 1 7h and 18th. Holland. The Paper Publication Society, 1986:139. No. 880

Hasjmy,"1 dan katalog naskah Zawiyah Tanoh Abee,12 sedangkan beberapa koleksi lainnya belum memiliki katalog.

Walaupun demikian, para kolektor naskah yang memiliki kolcksi manuskrip di Banda Acch, Aceh Besar, dan sekitarnya di Aceh tetap ditelusuri dan diinventaris. Inventarisasi tanpa katalog dapat dilakukan dengan mengunjungi langsung pemilik dan memilih beberapa teks yang memiliki tema yang sama tentang adab, etika ataupun karakter yang berkaitan dengan pendidikan ataupun edukasi. Dengan langkah demikian dapat diperoleh informasi tentang keberadaan naskah yang dicari.

Hasil inventarisasi yang dilakukan bahwa naskah yang

berjudul Bayānul Adāb adalah teks/naskah tunggal (codex unicus). Sejauh ini belum ditemukan teks lain yang sama. Naskah Bayānu/ Adāb diperoleh dari koleksi Museum Aceh dengan nomor Inv. 07.784. Naskah ini Multi Text Manuscript (MTM), yaitu terdiri atas beberapa teks. Dalam kajian filologi, teks tunggal tidak diperlukan perbandingan naskah/teks. Langkah tersebut akan gugur sendirinya jika berhadapan dengan naskah tunggal. Selanjutnya dilakukan langkah deskripsi dan transkripsi.

B. Deskripsi Naskah Secara fisik naskah ini sudah direstorasi oleh pihak Museum Acch atas kerja sama Pemerintah Aceh dengan Pemerintah Jepang 1 Oman Fathurrahman, dkk. 2007. Katalog Naskah Ali Hasjmy Aceh. Jakarta: Manassa 12 Oman Fathurahman, dkk, 2010. Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee Aceh Besar. Jakarta: Komunitas Bambu, bekerjasama dengan C-DATS, PPIM UIN Jakarta, Manassa, PKPM Aceh dan Museum Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam

dalam program restorasi pascarchab-rekon gempa dan tsunami Aceh tahun 2004. Sampul halaman naskah berwarna coklat gelap terbuat dari sampul karton tebal yang sudah terkelupas bagian atasnya, sedangkan dalamnya langsung dilem dengan lembar halaman pertama naskah. Penambahan sampul terscbut dilakukan olch para kolektor atau pengoleksi yang memperbaiki naskah, sebab sampul naskah tidak terjlid. Beberapa bagian sampul, terutama bagian atas, tengah, dan bagian ujung bawah kiri sudah ditabal dengan kertas washi Jepang dalam program restorasi. Ukuran naskah 23 x 16.5 cm, sedangkan ukuran teks bervariasi, tetapi umumnya 17 x 13 cm. Media (kertas) naskah berasal dari Eropa yang memiliki watermark (cap air) bergambar Bulan Sabit Bersusun Tiga yang diterbitkan antara tahun 1823-1824 M.13 Cap air dengan gambar demikian banyak diperoleh di Acch, sebab gambar tersebut lebih mendekati dengan gambar Islami. Lembaran-lembaran naskah banyak dimakan rayap, dalam bahasa Acch dikenal pité (sihrerfish). Sebagian besar bolong di delapan halaman pertama naskah dan sepuluh halaman terakhir naskah. Kedua bagian tersebut rusak dimakan rayap pada bagian tengah yang menghilangkan bagian dari teks. Demikian juga pada bagian tengah naskah terdapat beberapa halaman bolong akibat dimakan rayap. Teks naskah ditulis dalam aksara Arab dan aksara Jawi. Gaya tulisan dengan khat naskhi berwarna hitam, dan rubrikasi berwarna merah, baik tulisan teks matan maupun terjemahan berbaris. Baris setiap teks minimal 5 baris dan maksimal 11 baris. Jumlah baris tersebut tidak termasuk baris terjemahan pada syair/nazam teks yang 13 Edward Heawood, 2003. Watermarks. Mainly of the 1 7th and 18h. Holland. The Paper Publication Society, 1986:139. No. 880

ditulis dalam posisi miring. Pada beberapa halaman terdapat tulisan syarah (keterangan) dan hasyiyah (catatan) yang tidak teratur di sekitar

matan teks, misalnya pada halaman 5, 6, 7, 18, 35, 55, dan sebagainya. Sementara alihan kata hanya ada pada beberapa halaman.

Secara umum naskah MTM ini dapat dikategorikan sebagai

naskah “pendidikan karakter", karena di dalamnya membahas seputar

etika dan karakter antara guru dan murid, mendidik moral,

membentuk kepribadian yang mulia. Oleh karena itu, walaupun naskah ini berbeda-beda judulnya, tetapi tetap masih membahas tentang adab dan etika.

Naskah dapat diperoleh di koleksi Museum Aceh dengan nomor Inv. 07.784, merupakan MTM yang terdiri atas beberapa teks, di antaranya:

  1. 1v-4r : Teks Adāb al-Muta'allim dalam bentuk syair Arab
    dengan terjemahan berbaris dalam bahasa Melayu berisikan tentang nasihat kepada para penuntut ilmu.

2.4r-6v : Teks Syair/Nazam dalam bahasa Arab dari Imam
Syafi’i tentang nasihat kepada para murid yang hendak menuntut ilmu.

  1. 7r-11r : Teks tentang beberapa nasihat kepada orang yang
    menuntut ilmu dan tidak, syair orang hafiz, tentang ta’at dan ibadah.

4.14v-47r : Teks “Hidayah untuk Pencari Kebaikan di Akhirat"
dalam bentuk syair berbahasa Arab yang terdiri atas beberapa bab: ilmu, taubat, dunia, menahan serakah dan tamak, takwa, kecukupan, zuhud, zikir kepada Allah, persahabatan, mujahadah, tawaduk dan takabur, membantu mukmin, sedekah dan bertamu, kasih sayang, cinta kemegahan, dan nasihat.

  1. 48v-r: Teks tentang niat sebelum dan sesudah aktivitas
    disertai beberapa simbol sufistik.

  2. 49v-r: Teks tentang nasihat salat dimulai dari filosofi salat,
    rukun, syarat dan beberapa nasihat tentang salat.

7.50v-52r : Tcks tentang istighfar dan doa dalam bahasa Arab
yang memiliki terjemahan berbaris dalam bahasa Melayu.

8.54v-63r : Tcks Hadist Arbai'in berisikan tentang Hadist
Rasulullah sebanyak 40 hadis tentang etika, nasihat, tasawuf, tauhid, dan dasar-dasar Islam. Selesai disalin hari Senin bulan Zulhijjah.

9.66v-73r : Tcks Bayān al-Adāb mengungkapkan tentang
deskripsi adab, ctika atau karakter. Tcks ini menjadi kajian dalam penelitian ini.

10. 77v-77r : Teks Syair Mabyiddin dan Hadits Lubāb. Teks

pertama tidak lengkap dan bersambung dengan teks kedua.

11. 78v-83v : Tcks Syair/Nazam berbahasa Arab dari ulama sufi

asal Persia Syckh Umar Suhrawardi'4 disertai

terjemahan bahasa Melayu yang membahas

tentang ilmu dan adab.

Halaman kosong atau tidak ada tulisan terdapat di halaman

13v-r, 52r, 53v-r, 65r, 75r, 76v. Halaman kosong tersebut terjadi diasumsikan karena berbeda bahasan, schingga seorang penyalin teks memberi jarak antara bahasannya.

4Syekh Syihabuddin Abu Hafas Umar Suhrawardi (1145-1234 H) adalah seorang Sufi dan keponakan Abu al-Najib Suhrawardi. Dia memperluas tatanan Sufi dari Suhrawardiyyah yang telah diciptakan oleh pamannya Abu al-Najib Suhrawardi, dan adalah orang yang bertanggung jawab untuk mengembangkan pemahamannya secara resmi. Suhrawardi adalah penulis Awarif al-Maarif, yang diakui sebagai karya agung dalam bidang Tasawuf.

Pada bagian awal teks Bayānul Adāb dimulai dengan kalimat Bismillāhirrahmānirrahīm di tengah halaman:

m4 L

SeFiaes oi

Bagian akhir teks di halaman 73r ditutup dengan kolofon yang menyebutkan judul teks, tanpa penanggalan ataupun keterangan penyalin dan lainnya.

S0

skts Asy can hoideubil

Teks penutup "Tammat al-kitāb al-musammā Bayān al-Adāb"’, tetapi tidak diketahui tentang penulis ataupun penyalin teks tersebut.

Sebagaimana terlihat pada dua gambar di atas, matan teks dalam bahasa Arab ditulis lebih besar daripada terjemahan berbaris berbahasa Melayu. Terjemahan matan teks bahasa Arab dilakukan per- baris, sehingga lebih mudah dipahami jika terdapat beberapa kata dalam bahasa Arab yang salah atau keliru.

C. Struktur Naskah dan Isi Teks dalam bahasa Arab (matan teks) ditulis dalam bentuk syair yang ditulis perbaris dan diberikan tanda pemisah antara satu bait
di setiap baris. Dalam karakter dengan bait lainnya dengan tanda penulisan teks di Acch, penambahan ikon, kode, tanda-tanda lain untuk menarik pembaca terjadi pada abad ke-19 M. Pemberian batas ataupun tanda khusus dari seorang penyalin yang ingin tampil khusus dan berbeda dengan penyalin lainnya. Dengan adanya tanda tersebut, seorang penyalin akan mudah menandakan atau mengetahui karya tulisnya. Naskah dimulai dengan kata basmallab, kemudian pujian kepada Allah, salawat dan salam kepada Nabi Muhammad, para sahabat Nabi, kemudian takzim (penghormatan) kepada orang tua, guru, dan para ulama. Selanjutnya pembahasan teks dibagi ke dalam beberapa bagian bab: Pertama; adab/etika guru (syckh), orang tua, dan ana, Kedua, etika kepada orang tua dan selain mereka, Ketiga; etika kepada para ulama, guru, dan pengajar, Keempat penjelasan tentang itrospeksi diri dan hati. Keempat penjelasan tentang norma berada di tempat umum, Keempat; penjelasan tentang metafora, Ketujuh enjelasan teait hal-hal yang haus dhindar atau dijauhi, Penutup terkait doa dan usaha dan lain-lain.

BAB EMPAT

SUNTINGAN TEKS

A. Pertanggung jawaban Edisi Transkripsi (alih aksara) dari aksara Arab-Jawi ke aksara Latin
bertujuan untuk memudahkan bacaan bagi kalangan umum. Pengalih aksara harus bersifat objektif, jujur, dan konsentrasi penuh untuk menilai teks setiap variannya di setiap versi naskah tersebut, sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Kegiatan kritik teks bertujuan untuk menghasilkan teks yang sedekat-dekatnya dengan teks aslinya (constitutio textus), yaitu memurnikan teks dari kesalahan, memberikan evaluasi terhadap teks, meneliti, dan menempatkan teks pada tempatnya yang tepat.15

Penulis mengambil alternatif untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan sepanjang tidak menghilangkan pemahaman konteks teks naskah tersebut. Kegiatan transliterasi dan transkripsi ini meliputi pemberian tanda-tanda sesuai standar dalam bahasa Indonesia (pungtuasi, koma, titik koma, tanda hubung, paragraf, dan sebagainya). Berikut ini beberapa prinsip yang dijadikan landasan dalam proses penyuntingan:

a.Susunan teks diusahakan mendekati aslinya,
b. Pembagian transliterasi yang dibuat berdasarkan baris teks dalam naskah,
C.Penomoran halaman diberikan di samping kiri, 15 Siti Baroroh Baried, dkk, Pengantar Teori Filologi, (Yogyakarta: Badan Penelitian dan Publikasi Fakultas (BPPF) Universitas Gadjah Mada,
1994), hlm. 61.

d. Kata yang sama tetapi ditulis berbeda dalam teks diseragamkan penulisannya dengan memberikan keterangan di aparat kritik,
e. Pemakaian huruf besar pada awal kalimat atau penyebutan lain didasarkan pada sistem EYD dalam bahasa Indonesia,
f. Beberapa tanda yang digunakan dalam suntingan teks: {..}
: untuk menandai ayat-ayat Alquran

  • (.….)
    : untuk menandai Hadis Nabi

*** : teks tidak terbaca akibat rusak, hilang (lacuna) atau arkais

g. Kata yang merupakan varian arkais atau bentuk lain dari kata yang umum digunakan, ditranskripsi seperti pada teks asli lalu diberi tersebut, penjelasan pada catatan kaki pada pertama kalinya ditemukan kata
h.
i. Keterangan sumber ayat dan surat Alquran serta sumber Hadis diletakkan dalam aparat kritik atau catatan kaki, Hadis Nabi dalam teks,
j.Tulisan cetak miring (italic) menandai rubrikasi, ayat Alquran dan
k. Tulisan cetak tebal (bold) menandai judul bab baru, bahasan/tokoh penting yang dibahas,
1. aksara aslinya pada catatan kaki, Kata-kata yang meragukan atau tidak jelas maksudnya, dituliskan Transliterasi yang digunakan dalam edisi teks merujuk pada pedoman transliterasi Arab-Latin berdasarkan kepada Keputusan 1987 - Nomor 0543b/u/1987. Bersama Menteri Agama dan Menteri P & K Nomor 158 Tahun
B. Suntingan Teks
Bismillābi ar-Ramāni ar-Raim

  1. Bermula suatu yang kami mulakan dengan kalaml. Segala puji kami akan Tuhan yang memberi la akan kami sekalian pemberi, kemudian maka memberi akan kami sekalian.

2. Maka segala puji tertentu bagi Allah Tuhan yang menguasai akan

kami sebaik-baik pusaka dan akan segala ilmu mengajari akan

kami

3. Kemudian maka Rahmat Allah dan salamnya atas Nabi yang

pilihan lagi yang menyudahi sekalian Anbiya’

  1. Yaitu Muhammad yang dibangkitkan akan dia daripada anak cucu Adnan lagi Quraisy lagi yang dibangsakan kepada negeri Madinah
  2. Dan atas segala keluarganya yang menunjuki kepada jalan yang betul dan atas segala merekal6 maka mereka itulah yang mempunyai kelebihan dan mempunyai segala martabat
  3. Dan atas sekalian yang mengikut sahabat maka atas segala yang mengikut bagi mereka itu selama ada segala ikan dengan air mengambil manfaat [1]
  4. Adapun kemudian dari itu, maka mengusahakan dengan membaikkan adab itu, jikalau atas orang yang jahat ibu dan bapak sekalipun
  5. Patut maka tiadalah kebajikan pada ketiadaan adab, dan jika ada engkau duduk atas hampa empus17 sekalipun
  6. Bermula syukur akan Allah dan akan segala ibu bapak, dan bagi segala syeikh dan bagi orang yang mengajar itu
    4.Wajib seperti barang yang telah tsabit dalam Qur’an, [dalam perkataan] bapak Hasan yaitu Sayyidina ‘Ali
  7. Inilah kenyataan adab serta segala Syekh dan akan segala bapak dan serta anak
  8. Dan permuliakan olehmu akan segala syeikh dan akan segala bapak, dan berbuat baik kamu dengan ibumu dan segala anakmu 16 Teks : atas segala maka mereka 17 Teks:a-m-f-s Kebun/tegalan

7. Istimewa pula serta dengan segala adab dan dengan segala

makrifat, maka dengar oleh kamu akan kataku hai segala yang

mempunya insaf

8.Dan perbaiki oleh kamu akan duduk dan perkataan serta seorang daripada mereka itu seperti barang yang telah diketahui akan keduanya
9.Dan perbaiki oleh kamu serta segala orang yang bebal, dan serta orang yang mempunyai kaya dan serta orang yang mempunyai akal pula [2]

1. Dan serta orang yang lain daripada mereka itu seperti bāqī segala,

bagai takut-takut olch kamu akan Allah hai segala saudaraku pada

segala jamuant8

2.Maka sekalian mereka itu limpahan qudrat Tuhan yang aman mengetahui, dan sekalian itu Nabi yang bernama ummiy
3.Dan berikan oleh kamu akan segala yang empunya hak sekadar hak, dan akan seorang jangan kamu hinakan dengan sebab dosanya
4. Maka ismah itu tertentu dengan para nabi, dan hifzm itu tertentu dengan segala Aulia
5.Inilah kenyataan Adab serta Dua Ibu Bapak dan serta Orang yang lain daripada keduanya
6.Dan jangan kau ringankan akan segala bapak kamu dan akan segala ibu kamu, dan segala hamba laki-laki dan segala hamba perempuan
7. Dan jangan akan tiap-tiap seorang hai segala saudaraku, maka orang yang kurang lebih itu dan yang tersembunyi keduanya
8. Bermula Tuhan kamu mengetahui akan tiap-tiap seorang daripada keduanya, maka suruhkan olehmu akan lebih itu kepada Tuhan keduanya

18 Teks: jumum
  1. Inilah pekerjaan seperti barang yang telah kamu ketahui, dan scyogyalah bagi tiap-tiap orang yang berakal dan berilmunya dengan bahwasanya dirinya sangat bebal. [3]

    1. Inilah kenyataan Adab serta Syekh dan serta Orang yang

Mengajar pula

2.Dan pelihara akan oleh kamu akan hak syekh dan hak orang yang mengajar, maka jika tiada kamu peliharakan hak keduanya maka kamulah orang yang menyesal diri.

3. Dan insafkan oleh kamu hai saudaraku daripada orang sah dengan

dia iman kamu

  1. Bermula syak dan taqlid itu ditanggalkan, [bermula] ilmu dan yakin itu dan diambil keduanya
    5.Dengan tolongnya dan kamu kenal akan Tuhan yang hidup dan akan Nabi yang pilihant9, adakah dengan tolongnya atau dengan tolong segala ibumu dan tolong segala bapak kamu.
  2. Maka akan halal dan makruh dan wajib dan sah dan batal dan Sunnah

    7. Dan yang ketujuh, adakah dengan tolongnya kamu kenal atau

dengan tolong keduanya atau dengan tolong sekalian hai segala saudaraku

8. Dan kamu bacakan Qur’an yang bernama cahaya dan kamu baca

akan ilmu serta suatu hingga jadilah kamu alim

  1. Maka adakah pengajarannya bagi kamu daripada jumlah berbuat kebajikan atau daripada jumlah berbuat kejahatan hai segala anak saudaraku [4]

    19 Teks : pilihnya

  2. Maka mengambil ibaratlah kamu hal segala Thalibul 'Ilmi dengan orang yang menuntun jabatan, maka bahwasanya ia yang mempunyai cita-cita yang amat tinggi

  3. Dan mem[bellanja2º ia akan nyawa dan badan, istimewa pula segala harta dan kedai
    3.Bermula halnya bahwasanya kepada neraka Jahanam berjalan ia dan durhaka ia akan Tuhan kamu yang amat tahu
    4.Maka betapalah perusah²1 dengan [orang berilmu], maka bahwasanya menunjuki ia kepada agama Islam
    5.Dan seumpamanya tauhid dan iman dan yang keempat makrifat maka perhimpunan yang empat itulah yang bernama agama²2
    6.Bermula haji dan sembahyang dan puasa, jikalau tiada orang yang mengajar, maka adakah kamu ketahui
  4. Maka tiap-tiap barang siapa yang tiada mentaufiq akan dia, oleh Tuhan yang bersifat ‘alim dengan kata yang sedikit, maka ketahui olehmu
    8.Maka tiap-tiap barang siapa yang tiada menolong akan dia oleh Tuhan yang dipujikan, bermuka pakaian mereka itu takabur dan bantahan.
  5. Inilah kenyataan menimbang diri dan menimbang segala hati [5]
  6. Akan sendirimu timbang olchmu hai saudaraku dengan saudaramu hai barang siapa yang berilmu dan tilik olehmu akan barang yang telah hasil bagimu dengan tolong siapa 20 Teks: memelanja 21 teks: perusah = bersusah payah / berusaha sungguh-sungguh 22 Yang dimaksud agama yang sempurna adalah yang memenuhi unsur rukun Islam, Tauhid, rukun Iman dan makrifat

  7. Maka gah²3 dengan segala harta dan segala ilmu, dan limpah anugerah kamu yang amat murah
    3.Dengan tolong siapa mengeluarkan akan dia kepadamu oleh Tuhan yang bernama Bari’», ucap olehmu selawat dan salam kamu atas Nabi yang pilihan

  8. Jangan kamu lupa sekali-kali daripada orang menengah antara kamu [antara Nabi] yang pilihan, tiadakah kau lihat akan masyrzit dan segala syaratnya.
    5.Bahwasanya segala hati bagi segala hati obat, maka jika kamu obat niscaya kamu perolehi penawar
    6.Maka tiap-tiap hati hai saudaraku dalil atas sekalian hati, maka mengambil dalillah kamu
  9. Timbang olch kamu akan segala hati dengan segala hati jua hai saudaraku bahwasanya segala hati bagi segala hati bersaudaraku
  10. Barang siapa akan segala hati dengan segala hati tiada menimbang ia, maka henti akan olehmu akan dia pada salah suatu daripada daun neraca kemudian maka timbang olehmu akan dia
  11. Dengan kuda atau dengan unta atau dengan segala kambing atau dengan segala ayam atau dengan segala kerbau [6]
  12. Inilah kenyataan Ziarah kepada Madinah
  13. Dan hendaklah mengendara akan unta, atau keledai oleh orang yang berjalan kepada Nabi kita yang disucikan Allah akan dia daripada segala dosa
  14. diwotlah²4 atas belanga²5 keduanya akan tepung dan gulai dan minyak dan pelita²6 23 Aceh: besar, hebat, gagah, megah, masyhur 24 Aceh: diaduklah 25 Teks: beulangong (Aceh) 26 Teks: f-1- y -t

  15. maka pada setengah daripada segala waktu dan setengah daripada segala ketika digantung keduanya kemudian maka dipukul keduanya

  16. hingga apabila sampailah ia kepada Nabi yang pilihan, maka keduanya berbuang keduanya di dalam segala padang
  17. dan menuntutlah keduanya akan padang kemudian maka tuntut ia akan air, dan akan daun kayu dan orang yang menaung dan akan rumput.
  18. Jangan ada kamu seperti orang peri unta dan orang peri keledai, dan jadikan dirimu serta segala taulanmu seperti empus dan pagar27
    8.1Bermula tiap-tiap pohon kayu yang empunya bunganya, dan buah-buahan dharırah-lah ia dengan sebab bunganya, dan dengan sebab buahnya
  19. Dan tilik olehmu kepada bijinya dan kepada kulitnya dan tilik olehmu perut kecil dan orang yang berjalan
  20. Apabila ada engkau kaya lagi alim, maka katakan olehmu dari mana ilmu ini dan dari mana harta itu [7] Bayān al-Amtsilah Inilah Kenyataan Segala Aqsām
  21. Bermula tiap-tiap anak yang keluar daripada segala telur. Bermula tempatnya di bawah sayap yang empunya telur
    2.Hingga apabila adalah segala bulu itu melengkapi sangkar, maka tatkala terbanglah ia kepada segala bukit dan kepada ateueng?º 27 Teks: empus dan f – t − r 28 Aceh: batasan tumbukan tanah / pematang

  22. Pikir olehmu hai segala saudaraku yang berakal, maka berapa daripada segala anak lupa mereka itu akan segala bapaknya

  23. Demikian lagi segala cucu laki-laki dan segala cucu perempuan, teristimewa pula orang yang tidur serta segala bantal
  24. Bermula orang yang makan biji buka biji jua mengajari ia, dan serta yang demikian itu bagi segala kulit membuang ia
    6.Dan jangan kau jadikan dirimu hai saudaraku seperti Ummu Amir, yaitu dhib’» maka bahwasanya memakan ia biji dan yaitu hati
  25. Dan jangan kau jadikan dirimu pula seperti kubur akan orang yang membawa bunga atas kelakuan tahun dan bulan
  26. Bermula lembu yang dilepaskan daripada segala telaga menuruti ia akan barang siapa yang melepaskan dia dan barang siapa yang menilik kepadanya
  27. Bermula tiap-tiap gajah dan tiap-tiap biri dan tiap-tiap lembu, bermula cita-citanya semata-mata kepada perhumaan dan pohon kayu
  28. Dan tiada menghirau ia sematanya akan orang yang membawa ia kebun, maka mengambil ibaratlah kamu hai segala empunya hati yang bertukik. [8] Bayān an-Naşīhat wa at-Tadhkirat Inilah Kenyataan Nasihat dan Pengingat
  29. Maka dengarkan oleh kamu bagi noktah yang tiga maka bahwasanya sekalian itu semulia-mulia peri segalanya²9
    2.Maka pekerjaan sekalian itu tersampailah ia pada tiga bahagian, jangan kamu katakan, tetapi tersimpan pada empat bahagian 29 Teks:p-r-s-g-l-ny

  30. Maka yang pertama itu baik dan yang kedua itu jahat, dan yang ketiga itu tiada baik dan tiada jahat. Maka paham olch kamu dengan paham yang sahih
    4.Maka jika ada perbuatannya itu ada baik, maka balas dengan yang memberi manfaat bagimu. Dan jika ada perbuatanmu jahat maka balasnya doa memberi mudarat atasmu
    5.Maka jika ada perbuatanmu tiada baik dan tiada jahat, maka tiadalah doa yang memberi manfaat bagimu, dan tiada doa yang memberi mudarat atas|muļ³º maka terima ajaran olehmu jika ada engkau setengah daripada jumlah orang yang menerima pengajaran. [9]

  31. Bermula dua perkara yang mula-mula keduanya, maka ketahui olehmu diingatkan discbut akan keduanya kemudian daripada berbuat tolong
    2.Bermula perkara yang ketiga menyempurnakan bilangan tiada hirau akan dia sama ada engkau kerjakan dengan dia atau tiada kau kerjakan dengan dia
  32. Dan seyogyalah bagi orang yang berakal lagi yang besar isi menuntut doa yang memberi manfaat baginya daripada ibu dan bapak
  33. Dan daripada segala syekh, dan daripada orang yang menglajar], dan daripada orang yang mempunyai akal dan daripada segala yang mempunyai paham
  34. Dan daripada tiap-tiap laki dan daripada tiap-tiap perempuan dan daripada tiap-tiap hamba laki-laki dan hamba perempuan
    6.Dan akan segala jalan doa seyogianya bahwa tiada menutupi ia artinya tiada menaruh ia akan kuta³1 yang jahat selama-lama 30 Teks : atas 31 Teks : k-w-t = benteng

  35. Tiadalah diberi berkat oleh Tuhan yang disembah, walau sebenar pada orang yang bantahan, dan jikalau ada ia daripada segala orang yang merdeka atau dari segala hamba

  36. Maka celaka sehabis celaka itu bagi orang yang membantah bagi kata guru dan kata ibu bapak
  37. Maka adakah balas bagi orang yang membunyikan khianat akan bapak dan akan guru, hai Tuhan yang mempunyai segala memberi

    [10]

Bayān al-Kitāb al-Fa ā’il

Inilah Kenyataan Mengusahakan Kelebihan

  1. Dan jika kau kehendaki akan martabat dan ketinggian, maka permuliakan olehmu akan sekalian manusia dan jika ada ia hamba perempuan sekalipun
    2.Dan jika kau tuntut akan hati sahih, maka beli olehmu akan hati sekalian orang, dan jangan kau jadikan dirimu ular
    3.Maka qimah segala hati itu [kau beli tanpa] badan, maka bahwasanya dijualkan akan dia dengan berbuat kebajikan

    Bayān al-Mijāz Muta'ayyanu Ijtinābuhā

Inilah Kenyataan Perangai yang Tertentulah Menjauhi Dia

  1. Bermula orang yang lupa bagi kebajikan orang itulah yang binasa akal, bermula citanya segala harta dan segala makanan
    2.Bermula di sana itu segala perempuan dan segala pakaian dan belakangnya kepada orang yang memberi nasihat dan kepada bapak
    3.Bermula perangainya hai taulanku seperti perangai orang yang memberi buruan atau seperti orang mencari ikan, bermula telinganya tiada mendengar ia kata seseorang

4.1Bermula matanya itu tiada melihat ia akan kebajikan orang, dan maksudnya itu suatu yang memenuhi perut
[11]

  1. Orang itulah yang kurang bangsa lagi meniadakan māP?dan berlindunglah kamu kepada Allah daripada lawan māl
    2.Bermula tiap-tiap [orang] yang bangsanya ghaib³ menunjuklah atasnya oleh perbuatan dan nasab
    3.Bermula tiap-tiap bangsanya dan jika ada ia sahih lagi tsābit sekalipun tetapi ia telah menjarak ia akan dia dan diputus akan dia
  2. Maka dengar olehmu hai taulanku akan perkataan laki-laki [jika tidak mendengar] tiada malu kerjalah olehmu apa kehendakmu Bayān Muqābalat al-Isān bil-Isān Inilah kenyataan Membuka Kebajikan dengan Kebajikan Dan betuli olch kamu akan kabajikan dengan kebajikan jua, dengan gah atau dengan harta atau dengan badan
  3. Atau dengan sebutan yang elok atau dengan doa, dan jangan kau betuli akan obat dengan penyakit
  4. Dan jangan kamu betuli akan tiap-tiap penawar dengan tiap-tiap racun dan minta tolong kamu kepada raja yang sama mengetahui
    4.[Telah datanglah kalam daripada Abi Hasan am Rasulullah SAW yang mempunyai perangai yang baik|
  5. [Tiada binasa seorang yang mengenal dirinya sendiri, maka jika kau paham akan kata ini, maka engkaulah yang tahu akan pengingat diri
    6.Dan berikanlah yang punya hak-hak sesuai haknya sesanggup kamu, dan jangan menghina dosanyal 32 Arab: harta 33 Hilang

  6. [Maka ma'sum itu dikhususkan kepada para Nabi, dan hifzu»³ itu dikhususkan kepada Auliya]. [12] Khātimah fī ad-Du’ā wa Ma'rifat al-Qadr wa Ghairihimā Inilah Kesudahan pada Menyatakan Doa Mengenal Pengikat³5 dan yang lain daripada Keduanya

  7. Tclah datanglah kalam daripada Bapak Hasan amm Rasulullah SAW yang mempunyai perangai yang baik
    2.Tiada binasa seorang yang penguat diri mengetahui ia, maka jika kau paham akan kata ini, maka engkaulah yang tahu akan penguat diri

    3. Dan baik olehmu akan perangai hai saudaraku seibu sebapak,

niscaya jadilah engkau sekalian orang yang merdeka

4.Hai taulan berkemaslah olehmu bagi menuntut ilmu dan amal olchmu, dan sabar olehmu atas pahit menuntut olehmu dan sungguh-sungguh olehmu pada menuntut pinta tolong Tuhan yang bernama al-Mannān [13]

1. Bcrmula Allah Ta’ala jua yang membaik akan segala hati dan

segala tubuh, dan ampun olehmu dan maaf olehmu hai Tuhanku

ya Allah hai Tuhan yang Esa

2.Bermula daripada syekh kami dan yang menunjuki akan kami jalan yang betul, dan ikutan kami sebenar-benar sayyid [kami dan habib] kami
3.Maka ialah yang telah dinamai akan dia dengan sayyid Ahmad, bermula Sayyid Ala Bapaknya bermula neneknya Sayyid Ahmad 34 Teks : Kh − f− z 35 Teks:f-a-f-i- k -t

4.Hai Tuhan kami ampun olehmu bagi sekalian forang auliya dan bagi beberapa] yang mengajar daku dan jikalau dengan satu masalah sekalipun
5. Hai orang yang mendengar³6 pintaku, katalah olehmu Ami, dan angkat olehmu kedua tanganmu kemudian maka kata hai Tuhan kami
6.1Berilah olehmu bagi segala orang yang meminta hai Tuhan yang sudi akan pinta mereka itu, maka bahwasanya Tuhanlah yang Mulia lagi yang Amat Murah
7. Sempurnalah nazam ini sebagai sempurna yang beserta dengan puji akan Tuhan pada hari Ahad dengan tolong Tuhan kami yang Maha Kuasa dan Lsa
8. Dan segala puji pujian bagi Allah atas sempurna nazam ini, kemudian maka Rahmat Tuhan yang amat mengasihi
9. Serta salam-Nya atas Nabi yang suci dan atas segala keluarganya yang mempunyai kemuliaan dan gah. [14]
1. Dan atas segala sahabatnya yang Anşari dan yang Mubájirin daripada Ahli Uhud, maka Ahli Badar
2. Demikian lagi Ahli Bai’at Ridhwān berjanji mereka itu dengan Nabi kita daripada awal dunia hingga hari kiamat
3.Dan atas suka yang mengikuti sahabat kemudian maka atas yang mengikuti mereka itu salam ada lagi malam dan siang
4. Pada tahun enam puluh [yang mengikuti dua puluh] dan empat tambah olehmu kemudian dengan yakin
5.Dan tambah olehmu pula seratus dan sepuluh ratus pada hari yang menyempurnakan duanya seperti tiganya bulan
6.Pada akhir Zuhur daripada hari itu pada tahun Ba pada setengah orang alim 36 Teks: menengar

  1. Pengingatku ini seperti yang telah kulihat dinazamkan bagi setengah daripada suka orang yang akil dan setengah daripada ummat Muhammad
    8.Maka tiada tuntut ia bagi orang yang sempurna dan tiada tertuntut bagi orang yang jauh dan tiada tertuntut bagi segala orang merdeka dan tiada tertuntut bagi segala hamba
  2. Pada sckalian yang tersebut ini hai taulanku jangan kau sāfil37 sekali-kali, bahwasanya baginya jika engkau sangka seperti demikian, maka jadilah engkau khianat.

    [15]

  3. Telah meminta kepada aku akan dia oleh seorang laki-laki yang mempunyai kecclaan maka yang dinamai orang dengan Abd al-Karīm
    2.Dan minta ampun oleh kamu bagi orang sangat hina yang mempunyai lemah dan miskin dan taqsir
    3.Dan jika kau dapat akan aib maka tutup olehmu kan jidar maka maha suci Tuhan yang tiada cela padanya dan tinggi Ia
    4.Dan jika kau dapat akan bertambah daripada barang yang [cela] maka palu olchmu akan dia dan dari aku, maka engkaulah yang mengetahui
    5.Bermula Tuhan kami Maha Suci daripada serupa, maka tiap-tiap insan itu tempat lupa
    6.Bermula pengingatkan hai taulanku seumpama bagi barang siapa yang ada baginya taufik daripada taulan yang segala karunia

  4. Aku namai akan dia hai saudaraku mempertakuti segala anak daripada jatuh dalam cela dan dalam binasa
    8.Aku surat akan dia pada halku³8 yang harap bagi pahala dan bagi doa daripada segala anak ibuku dan segala anak bapakku.

    37 Keji

38 Teks:p-d-h-1- k-w

9. Wasllla à kai kaq di Maa wa aiwa

şabihi

  1. Ajma’ina. Tammat al-kitāb al-musammà Byán
  2. al-Adāb. Wallāhu a'lam. Àmin.

BAB LIMA PENGUATAN KEHIDUPAN

KARAKTER DI ACEH

Penanaman penguatan karakter dan budaya bangsa adalah pendidikan karakter (adab atau etika) kebaikan yang menjadi nilai dasar budaya karakter bangsa. Kebaikan yang menjadi atribut pada suatu karakter pada dasarnya adalah pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan budaya karakter bangsa pada dasarnya adalah pengembangan nilai-nilai yang berasal dari pandangan hidup atau ideologi berbangsa, beragama, dan berbudaya.

A. Pengertian Karakter Istilah karakter digunakan secara khusus dalam konteks
pendidikan baru muncul pada akhir abad ke-18. Terminologi karakter mengacu pada pendekatan idealis spiritualis yang juga dikenal dengan teori pendidikan normatif, yang menjadi prioritas adalah nilai-nilai transenden yang dipercaya sebagai motivator sejarah, baik bagi individu maupun bagi perubahan nasional. Istilah karakter berasal dari bahasa Yunani, yang berarti menggoreskan atau mengukir. Membentuk karakter diibaratkan seperti mengukir di atas batu permata atau permukaan besi yang keras. Dengan ukiran atau goresan tersebut dapat membekas dalam jangka waktu yang lama.

Istilah karakter secara harfiah berasal dari bahasa Latin "charakter", antara lain berarti: watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau akhlak. Secara istilah, karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya, manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri. Sebagaimana disebutkan bahwa karakter berasal dari bahasa latin "kharax" atau

"kharacter' vang dalam lingkungan Jazirah Arab dikenal dengan Indonesia memiliki dimaknai dengan kepribadian. Dalam sinonim dengan kata sifat, watak, aksara, dan sifat khas. Karate dala siat kejwan, akhlak au bud ckei vang menjadi cin khas seseorang atau sckelompok orang Karaker juga dapat drtkan sikap, tabiat, akhak, dn kbdian yang stabil Sementara dalam Kamus Babasa Indomesia. kata karakter dartikan sebagai tabiat, atak, sia-sia jaan, khlak au bud pekeri yang membedakan seseorang dari yang lain. Watak dalam kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai batin manusia yag mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku, budi pekerti. dan tabiat dasar". (Depdiknas 2005: 1270) Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekera sama, baik dalam ruang lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang berkarakter adalah individu yang dapat membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusan yang ia buat. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaannya yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Karakter juga dapat discbut “watak”, yaitu paduan segala tabiat manusia yang bersifat tetap schingga menjadi ciri khusus yang 39 Abdul Majid, Dian Andayani, Pedidikan Karakter dalam perspektif Islam. Bandung: Insan Cita Utama, 2010: 11

membedakan orang satu dengan yang lain. Karakter atau watak terjadi karena perkembangan dasar yang telah terpengaruh sehingga dinamakan pendidikan karakter. Karakter adalah timbangan yang

tetap antara hidup batinnya. Karakter dapat dilihat dari tingkah laku

ketika orang berinteraksi, yang memiliki arti psikologis dan etis. Dalam arti psikologis, karakter adalah sifat-sifat yang demikian tampak dan seolah-olah mewakili kepribadiannya.

Dalam arti etis, karakter harus memiliki nilai-nilai yang baik, menunjukkan sifat-sifat yang selalu dapat dipercaya sehingga orang yang berkarakter menunjukkan sifat mempunyai pendirian teguh, baik, terpuji, dan dapat dipercaya. Berkarakter berarti memiliki prinsip dalam arti moral yang perbuatan dan tingkah lakunya dapat dipertanggungjawabkan dan teguh.

Pendidikan karakter adalah keseluruhan dinamika relasional antara pribadi dengan berbagai macam dimensi, baik dari dalam maupun dari luar dirinya. Hal itu dimaksudkan supaya pribadi tersebut semakin dapat menghayati kebebasan sehingga dapat bertanggung jawab atas pertumbuhan dirinya sendiri, sebagai pribadi dan

perkembangan orang lain dalam hidup mereka.40

Menurut Khan, pendidikan karakter adalah proses kegiatan yang dilakukan dengan segala daya dan upaya secara sadar dan terencana untuk mengarahkan anak didik. Kchidupan berkarakter juga merupakan proses kegiatan yang mengarah pada peningkatan kualitas kehidupan, pengetahuan, pendidikan, dan pengembangan budi harmoni yang selalu mengajarkan, membimbing, dan membina setiap manusia untuk memiliki kompetensi intelektual, karakter, dan keterampilan menarik. Nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat

4Doni Koesoema Albertus. Pendidikan Karakter Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: PT Gramedia, 201 1, hlm. 123.

dihayati dalam penelitian ini adalah religius, nasionalis, cerdas, tanggung jawab, disiplin, mandiri, jujur, dan arif, hormat dan santun, dermawan, suka menolong, gotong-royong, percaya diri, kerja keras, tangguh, kreatif, kepemimpinan, demokratis, rendah hati, toleransi, solidaritas, dan peduli.41 Menarik sebagaimana yang disebutkan olch Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, penulis buku The Meaning and Experience of Happiness in Islamr2, bahwa kebahagiaan mempunyai pertalian dengan dua dimensi kewujudan, yaitu di akhirat dan dunia. Kebahagiaan di akhirat adalah maklumat tertinggi yang harus dicapai oleh setiap insan dan ciptaan Allah, merupakan sesuatu yang dimpi- impikan oleh setiap manusia, dan -tentunya- dianggap sebagai kebahagiaan, kesenangan, dan kenikmatan yang abadi. Untuk meraih kebahagiaan itu, setiap insan harus menycrahkan diri secara sukarela kepada Tuhan dengan menaati segala perintah dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran serta dibarengi oleh ilmu-pengetahuan. Penjelasan Naquib Al-Attas, bahwa kebahagiaan di akhirat memiliki hubungan yang erat dengan kebahagiaan di dunia, di mana kelakuan dan aktivitas yang dibuat oleh diri (nafsiγyah), tubuh (badanįyyab), dan sesuatu yang selain dari yang dua tersebut (kbarijjyab) manusia terintegrasi dalam nilai-nilai agama Islam. Lanjutnya, supaya ketiga clemen yang terdapat pada setiap manusia tersebut tetap pada hakikat (kedudukan)nya maka kedudukan ilmu dan perbuatan sebagai sifat yang terpuji dalam 1slam merupakan sesuatu yang penting dan asas. Islam menegaskan bahwa ilmu ini akan 41 Yahya Khan, Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri, Yogyakarta : Pelangi Publishing, 2010, hlm. 34. 42Syed Muhammad Naquib al-Attas, "The Meaning and Experience of Happiness in Islam", in Prolegomena to the Metaphysics of Islam, KL: ISTAC, 2001, hlm. 91. Diterjemah oleh Prof. Dr. Muhammad Zainiy Uthman, "Makna Kebahagiaan dan Pengalamannya dalam Islam", Kuala Lumpur: ISTAC, 2002, hlm. 1.

menjadi pelita bagi yang menerimanya yang disimpan pada ruh yang halus (latifah rwhaniyyab). Tempat tersebut dalam Alquran digelari

dengan berbagai gelar, seperti hati (qalb), diri (nafs), akal (aqł), atau ruh

(rwb). Keempat gelar tersebut pada hakikatnya adalah sama, tetapi

dilihat dari fungsi kegiatan dan sifatnya akan berbeda.43

Dalam kehidupan sosial kemanusiaan, pendidikan menjadi bagian utama dalam membentuk karakter. Pendidikan bukan hanya upaya proses pembelajaran yang bertujuan menjadikan manusia yang potensial secara intelcktual semata (intellectual oriented) melalui transfer of

knowledge yang kental. Akan tetapi, proses tersebut juga bermuara pada upaya pembentukan masyarakat berwatak, beretika, dan berestetika

melalui transfer of value yang terkandung di dalamnya. Nilai yang disebutkan oleh Naquib al-Attas berbasis pada Alquran atau agama Islam. Pendidikan hendaknya tidak hanya dipandang sebagai usaha pemberian informasi dan pembentukan keterampilan saja, tetapi diperluas sehingga mencakup usaha untuk mewujudkan keinginan, kebutuhan, dan kemampuan individu supaya tercapai pola hidup pribadi dan sosial yang memuaskan. Pendidikan bukan semata-mata sebagai sarana untuk persiapan kehidupan yang akan datang, tetapi juga untuk kehidupan seorang anak yang sedang mengalami perkembangan menuju kedewasaan.44

Karakter merupakan titian ilmu pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan tanpa landasan kepribadian yang benar berbasis kepada agama dan adab akan menyesatkan, dan keterampilan tanpa kesadaran diri akan menghancurkan. Karakter akan membentuk

43Dr. Malki Ahmad Nasir, Pandangan Islam tentang Pendidikan Karakter: Tela'ah terhadap Kitab Bidayah al-Hidayah Karya Imam al-Ghazali. Artikel telsh diseminarkan di 1st World Congress on Integration & Islamicisation of Acquitrate Human Knowledge. Kuala Lumpur 23-25 Agustus

44Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan Komponen MKDK. Jakarta: Rineka Cipta, 2003, hlm. 3.

bermartabat. motivasi, dibentuk dengan metode dan proses yang melainkan lahiriah, Karakter bukan sekedar penampilan Karakter merupakan aspek yang penting untuk kesuksesan masa depan. Karakter yang kuat akan membentuk mental yang kuat sedangkan mental yang kuat akan menghailkan spirit yang kuat, pantang menyerah, dan berani. Pendidikan karakter adalah hal positif apa saja yang dilakukan olch pendidik dan berpengaruh dengan karakter siswa yang diajarkannya. "Sckolah" (mdia pendidikan) yang dimaksud pertama sekali adalah rumah dan keluarga inti, terutama orang tua dan guru yang membentuk karakter dan pribadi scorang anak. Oleh karena itu, pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengembangkan akhlak mulia (good character) dari sctiap anak dengan mempraktikkan dan mengajrkan nilai-nilai moral dan pengambilan keputusan yang beradab baik dalam hubungan dengan sesama manusia maupun dalam hubungannya dengan Tuhannya.

B. Media Pendidikan Membentuk Karakter Indonesia saat ini sedang menghadapi dua tantangan besar,
yatu desentralisasi atau otonomi dacrah dan era globalisasi total. Kedua tantangan tersebut merupakan ujian berat yang harus dilalui dan dipersiapkan oleh seluruh bangsa Indonesia. Kunci dalam menghadapi tantangan tersebut terletak pada kualitas sumber daya manusia (SDM) yang handal dan berbudaya. Karakter bangsa merupakan aspek penting dari kualitas SDM, karena kualitas karakter menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter berkualitas perlu Jamal Ma'mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter Di Sekolah, Jogjakarta: DIVA press, 2011, hlm. 27.

dibentuk dan dibina sejak dini. Usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter sescorang.

Apa yang dikhawatirkan oleh masyarakat secara umum terhadap karakter gencrasi bangsa sekarang tercermin dari kajian Abuddin Nata yang menggambarkan bahwa gejala keruntuhan moral dewasa ini sudah benar-benar mengkhawatirkan. Kejujuran, kebenaran, keadilan, tolong menolong, dan kasih sayang sudah tertutup oleh penyelewengan, penipuan, penindasan, saling menjegal, dan saling merugikan. Banyak terjadi adu domba dan fitnah, menjilat, menipu, mengambil hak orang lain sesuka hati, dan perbuatan- perbuatan maksiat lainnya.46

Sebenarnya, wacana pengembangan pendidikan karakter dalam sejarah pendidikan bangsa ini bukanlah hal yang baru. Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga dijelaskan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan sarana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Berdasarkan beberapa amanat di atas dapat diartikan bahwa pendidikan merupakan usaha yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan terencana (bertahap) dalam meningkatkan potensi diri generasi bangsa dalam segala aspeknya menuju terbentuknya kepribadian dan akhlak mulia. Caranya adalah dengan menggunakan media dan metode

46 Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan, Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Prenada Media Group, 2003, hlm. 197.

yang berkarakter. fundamental membentuk umat

a. Pendidikan Karakter di Rumah Dalam Teks Bayanul Adab menyebutkan;
110 。 ue

C1415ali

“Adapun kemudian dari itu maka mengusahakan dengan membaikkan adab itu, jikalau atas orang yang jahat ibu dan bapak sekalipun.

Patut maka tiadalah kebajikan pada ketiadaan adab dan jika ada engkau duduk atas hampa empus sekalipun. Bermula syukur akan Allah dan akan segala ibu bapak dan bagi segala syekh dan bagi orang yang mengajar itu. Wajib seperti barang yang telah tsabit dalam Qur’an, [dalam perkataan] bapak Hasan yaitu Sayyidina Ali". (Byannl .Adab, hal. 20) Teks di atas menunjukkan bahwa pendidikan dimulai dari rumah, yaitu dari kedua orang tuanya saat seorang anak dididik dan dibesarkan di tangan mereka. Naskah Byanı/ Adab juga menyebutkan bahwa karakter anak dapat dibentuk sesuai dengan kemauan pendidik (orang tua), sebab karakter tidak terwarisi. Karakter tidak akan terpengaruh secara nasab dari ayah dan ibunya. Membentuk akhlak (karakter) yang baik sekalipun dapat dilakukan kepada anak usia dini, sekalipun orang tuanya kurang baik dari sisi akhlak dan karakter. Mewujudkan anak yang baik dan berkualitas adalah tanggung jawab yang harus dipikul oleh orang tuanya. Anak merupakan amanah yang diberikan oleh Allah kepada orang tuanya yang harus dipertanggung-jawabkannya nanti di akhirat. Oleh karena itu, orang tua wajib memelihara, membesarkan, merawat, menyantuni, dan mendidik anak-anaknya dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang.

Untuk mencapai tujuan itu, orang tualah yang menjadi pendidik pertama dan utaa. Kaidah ini ditetapkan secara kodrati (lahiriyah). Kewajiban tersebut secara otomatis menjadi tanggung jawab kedua orang tua, sebab pada dasarnya pendidikan karakter telah dimulai sejak anak dalam kandungan. Oleh karena itu, mau tidak mau mereka harus menjadi penanggung jawab pertama dan utama. Kaidah ini diakui oleh semua agama dan semua sistem nilai yang dikenal

manusia. Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya menjadi orang

bermanfaat, cerdas, pandai, dan beriman.

dibahas selanjutnya.

seseorang.

Selain itu, keluarga memiliki tugas mengajarkan agama,

memasuki kchidupan yang lebih baik dan mulia. Selanjumya, anak

psikologi dengan diri sendiri dan orang lain, mengenal Alh setiap saat berpegang teguh kepada ajaran-ajaran agama, akhlak mulia, seta mampu bergaul sebaik mungkin dengan manusia lainnya sebagai bagian dari kecintaan terhadap tanah air dan bangsa. 47 Lihat Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisis Psikologis Filsafat dan Pendidikan, Jakarta: Pustaka Husna Baru. 2004, hlm.

303.

Pendidikan karakter hendaknya dilakukan sejak usia dini,

karena usia dini merupakan masa cmas perkembangan (golden age) yang

keberhasilannya sangat menentukan kualitas anak masa dewasanya.

dini memasuki tahap atau periode yang sangat peka. Artinya, jika

yang produktif maka perkembangan anak masa dewasa, juga akan

berlangsung secara produktif. Pendidikan karakter kepada generasi anak sejak dini tersebut⁴8 yang perlu ditanamkan adalah:

1) Pendidikan keagamaan. Ini adalah hal yang pertama dan utama yang perlu tanamkan pada seorang anak. Seorang anak perlu tahu siapa Tuhannya, cara beribadah, dan bagaimana memohon berkat dan mengucap syukur. Tahapan pendidikan tidak sebatas interaksi pengajaran dan himbauan, tetapi juga orang tua (pendidik) haru menjadi contoh teladan, sesuai perkataan dengan sikap dan perbuatannya. Harus memberikan contoh-contoh nyata kepada anak tentang kebaikan. Salah satu caranya mengajak anak-anak untuk ikut ke tempat ibadah bersama. Semakin dini ditanamkan hal yang baik pada scorang anak maka akan semakin kuat akhlak dan keyakinan akan Tuhan di dalam diri seorang anak. Hal itu disebutkan dalam teks Bayanul Adab pada bab pertama yang mempengaruhinya adalah kedua orang tua, syckh (atau guru didiknya), dan orang-orang dekat di 48 Lihat J. A. Rahman, Tahapan Mendidik Anak Teladan Rasulullah.
Bandung: Irsad Baitus Salam, 2005. M. Maswardi Amin, Pendidikan Karakter Anak Bangsa. Jakarta : Badouse Media, 2011.

bentuk akhlak dan karakter scorang anak.

2) Kualitas Pendidikan (Taubid)
(guru/syckh) yang baginya. dapat menjadi pengayom k memiliki fondasi yang kuat dalam prinsip hidup, erpikir, dan tingkah laku. Artinya, semua didengar, dan dirasakan olchnya selamambuhan tersebut dijadikan akan diserap semuanya Anak sebagai dasar atau prinsip ucapan, merupakan peniru dari interaksi 1 seorang penglihatan, dan tingkah laku. ia anak, perlu figur seorang tokoh y ai dan ditiru saat berinteraksi di sekolah perlu mend u yang baik sebagai pengganti orang tuanya, yan untuk panutan untuk ditiru. Adalah tugas memilah dan menentukan hal-hal dan yang perlu dihindari.

3) Menimbang Hati dan Diri (Makrifat) hati daripada diri sendiri dan orang Perkembangan anak (khususnya usia dini) dijadikan perhatian khusus bagi orang tua dan mempengaruhi akan itu disebabkan, proses tumbuh kembang
kehidupan mereka mendatang. Anak usia dini sendiri merupakan

yang berada dalam proses perkembangan unik, karena proses perkembangannya (tumbuh dan kembang) terjadi bersamaan dengan umur masa emas (peka). Patut dijadikan renungan apa yang disebut Dorothy (1945) bahwa: "Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan."49

Kasih dan sayang mempunyai dampak yang luar biasa terhadap karakter dan pola interaksi individu seorang anak. Walaupun demikian, kasih sayang yang berlebihan dan memanjakan berlebihan dapat menimbulkan pengaruh yang tidak diinginkan sebagaimana penolakan atau kurang kasih sayang. Efek yang ditimbulkan pada

orang tua, serta akan cenderung meniadakan kasih sayang terhadap

teman sebayanya.

b. Pembentukan Karakter di Dunia Pendidikan Selain di rumah, pendidikan karakter terbentuk dan sangat terpengaruh dari dunia pendidikan (sekolah). Kchidupan seorang anak 49 Dorothy Law Nolte in classic poem “Children Learn Wahat They
Live" (1945)

dan tua menjadi orang penampilan yang berbeda, atau guru penggantinya. Dalam naskah Bayanul Adab dan n memuliakan

segala anakmu” (Bayanul Adab)

Dalam nazam Aceh juga disebutkan:

Poma ngon Ayah keulhee ngon guree, ureueng nyan ban lhee meubék tadhot-dhot,

menyo na salah meuah talakee peumiyup ulee tacom bak teuot Artinya: Ibu dan ayah beserta dengan guru Mereka bertiga itu tidak boleh dibentak

Jika ada salah maaf dipinta segera Sembari memcium lutut mereka Sebagaimana disebutkan, pendidikan karakter di dalam rumah tangga terhadap perkembangan anak sangat besar, mendasar, dan mendaam, beiu halna dengan pena pendidikan d

tataran praktisnya lebih cenderung pada segi aspck kognitif (pengetahuan) dan psikomotor perkembangan Pengaruh yang diperoleh anak didik di ketcrampilan).

arca tersebut.50 Merujuk pendapat di atas, terdapat beberapa tugas yang menjadii kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang pendidik syarat dan sifat guru, antara lain: pertama, guru harus karakter murid; kedua, guru harus selalu berusaha dalam cara mengajarkannya; dan ketiga, guru harus

antara a perkataan dengan perbuatan, sekaligus guru menjadi “partner” bagi murid. Pendidikan karakter di sekolah, semua komponen 50 Ahmad Tafsir, Ilu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung:

(pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen- komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaa sckolah, pelaksanaan aktivitas, pemberdayaan

pendidikan harus berkarakter. dari Mengacu pada hasil penelitian Marvin Berkowitz secara komprehensif terlibat dalam pendidikan dilakudengan Untuk perlu

benar akan meningkatkan prestasi akademik.

dan saling

pendidikan karakter.51 untuk

agar semua pelajaran kegiatan dapat dijadikan wahana

C. Dalam teks Bayanul Adab disebutkan: yang lain daripada keduanya.

Sekolah. Jakarta: Gramedia, 2013, hlm. 204.

Dan jangan kau ringankan akan segala bapak kamu dan akan segala ibu kamu, dan segala hamba laki-laki dan segala hamba perempuan. Dan jangan akan tiap-tiap seorang hai segala saudaraku maka orang yang kurang lebih itu dan yang tersembunyi keduanya”

atr HnNT

Kabr

L b

Orang yang lebih tua adalah orang yang memiliki usia yang

menghormati orang lain dan tidak memandang rendah dan hina

penghormatan itu. Menghormati orang yang lebih tua dinilai sebagai

salah satu sikap dasar yang paling penting yang menjadi identitas Islam

dalam masyarakat.

Menghormati orang yang lebih tua merupakan indikasi suatu

Bukhari dan Muslim).

C. Karakter dalam Perspektif Islam
a aku hanya Ahmad). khulug. Allah menegaskan, "Dan sesungguhnya adalah disenangi dan dipilih yang baik untuk dipraktikka sedangkan yang buruk dibenci dan dihilangkan Untuk lebih mengenal istilah karakter dalam Islam,

disajikan aspek ontologis akhlak, schingga dapat memberi khaz

pemahaman yang lebih jelas. M. Amin Syukur mengutip pendapat tokoh filsafat akhlak, di antaranya; menurut Moh. Aziz Kully, akhlak adalah sifat jiwa yang sudah terlatih sede kuat, sehingga memudahkan bagi yang melakukan suatu tind tanpa pikir dan direnungkan lagi. Menurut lbn Maskawaih, akhlak adalah khuluq (akhlak adalah keadaan jiwa yang mendorong (mengajak) untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa pikir dan dipertimbangkan lebih dahulu. Menurut İbn Qayyim, akhlak adalah

perangai atau tabi’at, yaitu ibarat dari suatu sifat batin dan perangai jiwa yang dimiliki olch semua manusia. Menurut al-Ghazali, akhlak adalah sifat atau bentuk keadaan yang tertanam dalam jiwa, yang darinya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa perlu dipertimbangkan lagi.52 Mohammad Daud Ali menuturkan bahwa akhlak

buruk.53 Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa karakter perilakunusia yang universal yang meliputi seluruh aktivitas manusia, I dalam rangka berhubungan dengan Tuhannya, dengan gan sesama manusia, maupun dengan lingkungannya, yang dirinya, de terwujuddalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasark norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, dan adat istia at. Dari konsep karakter ini muncul konsep pendidikan karaktercharacter ducation). Ahmad Amin menjadikan kehendak (niat) awal terjadinya akhlak (karakter) pada diri seseorang, jika sebagai

52 lihat Johansyah, "Pendidikan Karakter dalam Islam; Kajian dari

2011, 3 Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Raja Grafindo, 1998, hlm. 347.

Muhammad SAW. U'kuran baik dan buruk berpedoman pada kedua sumber itu, akan berbeda-beda. Seseorang t tetapi orang lain belum tentug lain sebaliknya, sescorang menyebut sesuat dapat saja menycbutnya baik. Kedua : dan Sunnah) diakui olch semua umatai dalil nqli yang tidak diragukan otoritasnya. dipahami dan diyakini bahwa sifat-s tawakal (ridha), syukur, pemaaf, dan k sifat-sifat yang baik dan mulia. Sebaliknya, dapat syirik, kufur, nifaq, ujub, takabur, tercela. Apabila kedua sumber itu t dari sifat-sifat tersebut, akal manusia 7 memberikan penilaian yang berbeda-beda. Islam tidak n lain selain Alquran dan Sunnah/Hadis buruk dalam hal karakter manusia. Standar I dan nurani manusia serta pandangan u

hlm. 62.

54 Ahmad Amin, Etika (Imu AKhlk) Jakarta: Bulan Bintang, 1995,

jujur, takut pada Allah Swt., bersedekah di jalan Allah, berbuat adil, dan pemaaf (QS. al-Qashash [28]: 77; QS. al-Baqarah [2]: 177; QS. al-Mukminun (23): 1-11:QS. al-Nur [241: 37; QS.al-Furqan [25]:35–37; QS. al-Fath [48]: 39; dan QS. Ali Imran β3]: 134). Ayat-ayat ni melaksanakan nilai karakter mulia dalam berbagai aktivitasnya. Karakteristik muslim merupakan ciri, watak maupun kepbadian, dan perilaku seseorang yang berdasarkan konsep-konsep

muslim diharapkan menjadipengabdi (abid) yang menjalankan perintah Allah sesuai dengan petunjuk-Nya. Pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan mana yang (babituation) tentang hal mana yang baik,

). Dengan kata lain, pendidikan karakter "merasakan dengan baik atau loviggood (moral knowing), tetapi dipraktikkan dan dilakukan.5s Dalam Islam, pentingnya pendidikan karakter dapat dilihat dari penckanan pendidikan akhlak yang sccara teoretis berpedoman s5 lihat Johansyah, Johansyah, "Pendidikan Karakter dalam Islam; Kajian dari Aspek Metodologis”, Jurnal Ilmiah Islam Futura, Vol. XI, No. 1, Agustus 2011, lm. 85-103. Lihat juga Howard, Marvin W. Berkowitz, dan Esther f. Schaeffer, 'Politic Of Character Education, Article', SEGA, Jornal Education Policy, January and March 2004, hlm. 120.

kepada Alquran dan secara praktis mengacu kepada kepribadian Nabi

bersabda: "Sesungguhnya aku diutus ke muka bumi i adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.“ (HR Ahmad) akan Tingginya karakter masyarakat sebuahbangsa serta kemajuan rendah maka h kemajuan dan peradaban yang baik dan discgani. Renda akhlak dan rusaknya karakter individu dalam berpotensi banyak menyebabkan musnahnya suatu bangsa. Dalam diceritakan, karena kemerosotan moral scbuah dihancurkan olch Allah Swt. Salah satunya adalah ccrita kau ditenggelamkan dalam banjir besar. Penyair Arabumat merangkai

kata yang indah terkait dengan akhlak: "“Sesunggu

(bangsa) terletak pada mereka hilang

berakhlak/berbudi perangai utama, jika pada

akhlaknya maka jatuhlah umat (bangsa) ini,57

Aspek penting yang perlu diketahui indikator

berikut:-Ashqar,

keberhasilan pendidikan karakter. Menurut Umar Sulai

sebagaimana dikutip Jalaluddin dapat dilihat dari sebagai

Jilid II. Beirut: Dar al-Fikr, 1991, hlm. 381. Ahmad Nabhan, t.th., hlm. 2.

1) Selalu menempuh jalan hidup yang didasarkan didikan ketuhanan dengan melaksanakan bada dalam ari luas.
2) Senantiasa berpedoman kepada petunjuk Allah untuk memperolch bashirah (pemahaman batin) dan furqan (kemampuan membedakan yang baik dan yang beruk).
3)Mereka memperolch kekuatan untuk menyerukan dan berbuat benar dan selalu menyampaikan kebenaran kepada orang lain.
4) Memiliki keteguhan hati untuk berpegang kepada agamanya.
5)Memiliki kemampuan yang kuat dan tegas dalam menghadapi kebatilan.
6) Tetap tabah dalam kebenaran dalam segala kondisi.
7)Memiliki kelapangan dan ketenteraman hati serta kepuasan batin, hingga sabar menerima cobaan.
8) Mengetahui tujuan hidup dan menjadikan akhirat sebagai tujuan akhir yang lebih baik.
9) Kembali kepada kebenaran dengan melakukan tobat dari segala kesalahan yang pernah diperbuat sebelumnya.58
Uhbiyats scbagai berikut

1) Perbuatan mendidik itu sendir

tindakan atau perbuatan, dan sikap yang dilakukan oleh

sJalaluddin. Teologi Pendidikan. Cet I. Jakarta: Raja Grafindo

Persada, 2001, hlm. 99.

2N. Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia.

2005, hlm. 14-15.

pendidik sewaktu menghadapi/mengasuh anak didik.

2) dicita-citakan.
3) menjadi fundamen serta dari segala kegiatan pendidikan Islam itu dilakukan.
4)
atau

5)

bahan-bahan Materi pendidikan pengalaman-pengalaman belajarilmu agama Islam yang disusun sedemikian rupa (deng

susunan yang lazim tetapi

logis) untuk disajikan atau d

6) aikan kepada anak didik. Metode pendidikan Islam g paling tepat dilakukan olch pendidik untuk 7materi pendidikan Islam kepada Evaluasi pendidikan yaitu mengadakan evaluasi atau

a terhadap hasil belajar

anak didik.

8)
agar

selama melaksanakan tujuan

9) pendidikan Islam tersebut lebih berha
terhadap

hlm. 16-17.

6Ramaliyus. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia. 2010,

lain:

a.Tarbiyab Tarbiyah menurut Al-Abrasyi adalah mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan bahagia mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempuma budi pekertinya (akhlaknya), teratur pikirannya, halus perasaannya, mahir dalam pekerjaanya, manis tutur katanya, baik dengan lisan ataupun dengan tulisan.
b.Ta'lim Talim menurut Rasyid Ridho adalah proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu. Pemaknaan ini didasarkan dalam Alquran “Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (Q.S. Al-Baqarah: 31)
C.Ta'dib Menurut An-Naquib Al-Attas, Al-Ta'dib adalah pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu yang di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan di dalam tatanan wujud dan keberadaan-Nya. Pengertian ini didasarkan atas sabda Nabi Saw yang berbunyi: Atinya:" Tuhan telah mendidikku, sehingga menjadi baik pendidikanku."
d.Al-Riadhah Al-Riadhah menurut Al-Ghazali adalah proses pelatihan individu pada masa kanak-kanak, sedang fase yang lain tidak tercakup di dalamnya

Tokoh pendidikan Islam dalam Alquran pun, yaitu Nabi Muhammad Saw sejak pertama kali beliau mensyí'arkan ajaran agama

yaitu menyempurnakan akhlak.

D. Nilai-nilai Karakter dalam Kehidupan menitikberatkan pada fokus perbaikan Olch karena itu, Badan Penclitian Kurikulum Kementerian Pendidika
telah menjelaskan untuk mengukur tingkat kebcrhasila karakter di satuan pendidikan dilakuk penilaian dengan membandingkan kono dalam waktu tertentu. Penilaian kebe melalui langkah-langkah berikut: (1) Meno nilai yang ditetapkan atau disepakati,n berbagai instrumen penilaian, (3) Melakukan peno lanjut. indikator, (3) Melakukan analisis dan evalu

adalah data dan fakta-fakta, entah berupa tindakan maupun dampak-

dampak dari keputusan yang dapat diverifikasikan olch semua orang.

Kriteria dan objek yang dibahas di sini hanya berkaitan dengan hal-hal

sejauh mana siswa dan individu di dalam sekolah telah melaksanakan pendidikan karakter." Nilai nilai yang terkandung dalam pendidikan berkarakter yang dirumuskan olch Kementerian Pendidikan Nasional (2010)

1) Religius, yakni sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2) Jujur. yakni perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipereaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3) Toleransi, yakni sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4) Disiplin, yakni tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5) Kerja keras, yakni tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
6) Kreatif, yakni berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7)Mandiri, yakni sikap dan perilaku yang tidak mudah
8) menila sma hak dan kwajiban dirinya dan oan lan.
idikan Karakter dalam Persfektif Islam" Jurnal di Zaman62 Musrifah,

9)Rasa ingin tahu, yakni sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10) Semangat kebangsaan, yakni cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan dir dan kelompoknya.
11) Cinta tanah air, yakni cara berpikir, betindak, dan bemnegara di atas kepentngan diri dan kelompoknya
1 yang

12) Menghargai prestasi, yakni sikap dan tindakan keberhasilan orang lain. keberhasilan orang lain. dirnya untuk menghasilkan sesuatu yang masyarakat, dan mengakui,seta menghoma orang lain. dirinya.
selalu

16) Peduli lingkungan, yakni sikap dan tindakan

berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya

mempebaiki kerusakan alam yang suda teradi.

17) Peduli sosial, yakni sikap dan tindakan yang selalu berupaya

mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya dan alam yang sudah terjadi.

mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan

18) Tanggung jawab, yakni sikap dan perilaku seseorang untuk

melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara, dan Tuhan Yang Maha Esa. Berdasarkan pengertian pendidikan di atas dapat disimpulkan k sebatas pada proses belajar kurikulum di sekolah.

oral, bermartabat, serta menjadi manusia seutuhnya. berkarakter, berr W'alaupun telah terdapat 18 nilai pembentuk karakter bangsa, satuan tetapi pendidikan dapat menentukan prioritas pengembangann

Berdasarkan uraian di tas yang menjelaskan secara ontologis

didik memahami nilai-nilai

terwujud dalam pikiran, sikap, perasan, perkataan, dan perbuatan

berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.63

63 Johansyah, "Pendidikan Karakter dalam Islam; Kajian dari Aspek Metodologis", Jurnal Ilmiah Islam Futura, Vol. XI, No. 1, Agustus 2011, hlm. 85-103.

DAFTAR PUSTAKA

A, Doni Koesoema. 2011. Pendidikan Karakter Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: PT Gramedia. Akhmad Muhaimin. 2011. Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. Ambari, Hasan Muarif. 1995. Aspek-aspek Arkeologi Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Azra, Azyumardi. 1996. Perolkan Poltik Islam Dari Fndametalsme Moderuisme Hingga Post-modernisme. Jakarta: Paramadina.

Bandung: CV Alfabeta. Hamk. 14. P gm s. a Bintag.

Sura-karta: Yuma Pustaka.

Dr. Denys Lombard (Cet. 1 ed.). Jakarta: Yayasan Obor

Indonesia

Guru Terhadap Pembentukan Karakter (Characer Building

Siswa SMP Al-Izzah Islamic Boarding School Batu." Tesis. Program Magister Manajemen Pendidikan Islam

Universitas Islam Negeri Malang. Tidak Diterbitkan.

Majid, Abdul, Dian Andayani. 2011. Pendidikan Karakter Perspektif

Islam. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.

Muslic, Masnur, 2011. Pendidikan Karakter Menjab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Pendidikan dan Kebudavan Balai Pustaka PN (1995).

Pendidikan dan Kebudayaan.

Ramaliyus. 2010. Im Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Mulya. Pustaka Setia. Remaja

Tafsir, A. 2008. Filsafat Pendidikan Islami.Bandung:

Rosdakarya.

Indonesia." Makalah.

Jakarta: Gema Insani Press.

Karakter

Suyanto, Ph.D. 2010. Model Pembinaan Pendidikan

Nasional.

Syafri, Ulil Amri. 2010. Pendidikan Karakter Berbasis Al-Quran. Jakarta: PT Raja Grafindo.

Syarbini, Amirulloh. 2014. Model Pendidikan Karakter dalam keluarga. Jakarta: PT Gramedia. Tjandrasasmita, Uka. 1999. Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: Depdikbud. Zuriah, Nurul. 2008. Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif Perubaban. Cet. ke-2. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Si3

S 茶 5E は sh ig

Banda Acch

73r

es 4

icl

年をら唯し。

c

6250L Xe ls. ásá

LLtん

AEsenglplepee

A IcanulloLciue idebubi

Halaman Akhir Kolofon Bayanul Adab. No. 07.0784 Museum Negeri

Aceh, Banda Aceh