KIDUNG MEGAT KUNG
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
KIDUNG MEGAT KUNG
Dii. '(f':...A·:•,; r,11 •r.:"i r.!8 F f ··"''_')f ,:;., I/,' ,l;t' I
'"99
i·r :•.;.. i Oleil :TGL. lih;l ! Drs. Putu •.!? (}ji Drs. Ida Bagus Mayun Drs. Wayan Rupa
Editor : Dloyana Kusumah
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NI LAI TRADISIONAL BAGIAN PROYEK PENELITIAN DAN PENGKAJIAN .KEBUDAYAAN NUSANTARA TAHUN 1992 I 1993
OMON TA9IM ENHM
KATA PENGANTAR
Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan telah mengkaji dan menganalisis naskah naskah lama di antaranya naskah kuno Bali, yang berjudul Kidung Megat Kung.
Nilai-nilai yang terkandung di dalam naskah ini adalah nilai Pitutur (nasehat) yang harus dipahami baik ayah, ibu, anak maupun anggota keluarga lainnya yang dapat menunjang pem bangunan, baik fisik maupun spiritual.
Kami menyadari bahwa buku ini masih mempunyai ke lemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu, semua saran untuk perbaikan yang disampaikan akan kami terima dengan senang ha ti.
Harapan kami, semoga buku ini dapat merupakan sumbangan yang berarti dan berrnanfaat serta dapat menambah wawasan budaya bagi para pembaca.
iii
mengucapkan sebesar-besarnya
| Kami | terima | kasih yang |
|---|---|---|
| kepada para peneliti dan semua pihak atas jerih payah mereka | ||
| yang telah membantu terwujudnya buku ini. | Jakarta, Pemimpin Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara | September |
14 ef/;
Sri Mintosih, BA. NIP. 130 3 58 045
iv
SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL KEBUDAY AAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAY AAN
Usaha untuk mengetahui dan memahami kebudayaan dae rah lain selain kebudayaan daerahnya sendiri lewat karya-karya sastra lama (naskah kuno) merupakan sikap yang terpuji dalam rangka pengembangan kebudayaan bangsa. Keterbukaan sedemi kian itu akan membantu anggota masyarakat untuk memperluas cakrawala budaya dan menghilangkan sikap etnosentris yang dilandasi oleh pandangan stereotip. Dengan mengetahui dan memahami kebudayaan-kebudayaan yang ada dan berkembang di daerah-daerah di seluruh Indonesia secara benar, maka akan sangat besar sumbangannya dalam pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk membantu mempermudah pembinaan saling pengerti an dan memperluas cakrawala budaya dalam masyarakat ma jemuk itulah pemerintah telah melaksanakan berbagai program, antara lain dengan menerbitkan buku-buku yang bersumber dari naskah-naskah lama seperti apa yang diusahakan oleh Ba gian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. Mengingat arti pentingnya usaha tersebut, saya dengan senang hati menyambut terbitnya buku yang berdujul Kidung Megat Kung.
v
Saya mengharapkan dengan terbitnya buku ini, maka peng galian nilai budaya yang terkandung dalam naskah lama yang ada di daerah-daerah di seluruh Indonesia dapat lebih ditingkat kan sehingga tujuan pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional yang sedang kita laksanakan dapat segera tercapai.
Namun demikian perlu disadari bahwa buku-buku hasil penerbitan Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudaya an Nusantara ini baru merupakan langkah awal, dan ada ke mungkinan masih terdapat kelemahan dan kekurangan. Diharap kan hal ini dapat disempurnakan di masa yang akan datang terutama yang berkaitan dengan teknik pengkajian dan peng ungkapannya.
Akhimya saya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan buku ini.
Jakarta, September 1992
Direktur Jenderal Kebudayaan
Drs. GBPH. Poe1er NIP. 130
vi
DAFTAR ISi
| KAT A PENG ANT AR............................. | iii | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| SAMBUTAN | DIREKTUR JEND ERAL KEBUDAYAAN | .. v | |||
| DAFT AR ISi................................... | vii | ||||
| Bab | PENDAHULU | AN....................... | I | ||
| I. I Latar Belakang Masalah........................ | I | ||||
| 1.1. l | Latar Belakang............................ | l | |||
| 1. I. 2 | Masalah | ................................. | 5 | ||
| 1.2 Tujuan | ..................................... | 5 | |||
| 1.2.1 | Tujuan Umum | ............................ | 5 | ||
| 1.2.2 | Tujuan Khusus............................ | 5 | |||
| 1. 3 Landasan Teori............................... | 6 | ||||
| 1.4 Ruang Lingkup............................... | 7 | ||||
| 1. 5 Pertanggungjawaban Penulisan ....... '............ | 8 | ||||
| 1.5.1 | Tahap Persiapan........................... | 8 | |||
| 1. 5. 2 | Tahap Pengumpulan Data.................... | 8 | |||
| Bab | 2 ALIH AKSARA KIDUNG MEGAT KUNG | 12 | |||
| Bab | 3 ALIH BAHASA | KI DUNG MEGA | T KUNG | ... 35 | |
| Bab | 4 KAHAN | NILAI KIDUNG MEGAT | KUNG... | 70 | |
| 4.1 Sepintas St ruktur Kidung Megat Kung............. | 70 | ||||
| 4.1.1 | Ringkasan lsi Naskah....................... | 70 | |||
| 4.1.2 | Catatan Tentang Naskah Kidung Megat Kung..... | 7 3 |
vii
| 4. 1. 3 | Bahasa yang digunakan...................... 7 4 | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| 4.1.4 | Gaya Bahasa.............................. | 77 | |||
| 4.2 Kajian Nilai Kidung Megat Kung | ................. | 80 | |||
| 4.2. 1 | Nilai Perasaan (sentimen) yang abstrak.......... | 80 | |||
| 4.2.2 | Nilai Nonna-Nonna Moral................... | 86 | |||
| Bab | 5 RELEV ANSI DAN | PERANANNY A DALAM | |||
| PEMBINAAN | DAN | PENGEMBANGAN | KE | ||
| BUDAY | AAN NASIONAL................ | 96 | |||
| Bab | 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... | ......... 103 | |||
| 6.1 Kesimpulan. ..................... | .......... 103 | ||||
| 6. 2 Saran | .......... | ....... ............... | . 1 04 | ||
| DAFT AR PUST AKA .................. | . ..... | . 105 | |||
| LAMPIRAN DAFTAR INFORMAN | 109 |
... · · · ·
... ·
viii
BABI PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
1. 1. 1. La tar Belakang Bali merupakan salah satu pulau tujuan wisata Indonesia Bagian Timur, sampai saat ini masih menyimpan berbagai
| Bagian | Timur, | sampai | saat | ini masih | menyimpan | berbagai | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| warisan Budaya nenek moyang. Salah satu di antaranya adalah | |||||||
| naskah | kuno. | Naskah | kuno | merupakan | arsip | kebudayaan | |
| yang kebudayaan daerail. kebudayaan daerah naskah kuno juga memuat berbagai peris | merekam | data dan Sebagai sumber informasi kesejarahan dan | informasi tentang | kesejarahan dan | |||
| tiwa sehingga dapat memberikan bahan rekontruksi untuk meninjau | bersejarah | dan | kronologi | perkembangan | masyarakat | ||
| akar naskah kuno juga merupakan sumber informasi sosial budaya, | peristiwa | yang terjadi | pada | masa lamapu. | Di pihak lain | ||
| terutama kaitannya dengan kehidupan sosial budaya masyarakat dimana naskah-naskah tersebut | sebagai | sumber | warisan lahir dan mendapat dukungan. | rohani | yang | sangat | erat Selain |
| yang | diuraikan | di atas, | naskah | kuno | pun memuat berbagai | ||
| aspek masih hidup subur di tengah-tengah masyaraka t Bali dan tetap | kehidupan | masyarakat | misalnya | seni sastra | Seni | ini | |
| dipelihara | sejak | jaman | dahulu, | yakni | dalam perkembangan | ||
| karya (abad ke-15 M). Perkembangan sastra di Bali waktu itu merupa- | sastra | setelah runtuhnya | kerajaan | Majapahit | di | Jawa |
kan kelanjutan tradisi sastra Jawa Kuna yang berkem bang cukup pesat. Hal ini dapat dibuktikan dengan munculnya ber bagai hasil karya sastra pada masa Kerajaan Geigel di Klungkung Bali. Karya sastra tersebut antara lain berupa Kakawin, Ge guritan, Tutur yang sampai sekarang tetap memperkaya kha sanah sastra Bali khususnya dan Jawa Kuna umumnya. Zaman Geigel sementara ini, kita anggap sebagai puncak kesuburan pertumbuhan dan perkembangan kesusastraan Bali, karena pada masa itu bukan saja terjadi perkembangan kesusastraan kawi dengan intensif tetapi juga merupakan masa subumya penciptaan karya-karya sastra Bali, sehingga kita mengenal nama Dang Hyang Nirartha dengan murid beliau Ki Gusti Dauh Baleagung yang merupakan dua orang pengawi produktif pada jaman tersebut (Berg, 1974: 148). Melalui Kidung Pamancangah dan Dwijendra Tatwa ki ta mengetahui beberapa judul karangan dari kedua orang pengawi tersebut. Dang Hyang Nirartha antara lain mengarang : Kidung Sebun Bangkung, Sara Kusuma, Ampik, Legarang, Mahisa Megat Kung, Mahisa Langit, Ewer, Mayadanawantaka, Dhar Pitutur, Wasista, Sraya, Kawya Dharma, Putus, Dharma Sunya Keling, Anyang Nirartha, Wilet Demung Sawit, Gegurutuk Menur, Brati Sasana, Siwa. Sasana, Tuan Semeru, Kidung Aji Pengukiran, Sedangkan Ki Gusti Dauh Baleagung mengarang: Rareng Canggu, Wilet, Wukir, Padelegan, Sagara Gunung, Karas Nagara, Jagul Tua, Wilet Mayura, Anting-Anting Timah dan sebagainya (Agastia, 1980: 9). elihat hasil karya para pujangga yang cukup besar itu, sudah semestinya ki ta melakukan usaha pelestarian warian budaya. Upaya pelestarian tersebut di atas tidak terlepas dari penggalian sumber-sumber kebudayaan daerah yang tersebar di pelosok tanah air, karena kebudayaan daerah merupakan sumber potensial bagi terwujudnya Kebudayaan Nasional yang memberikan corak karakteristik kepribadian bangsa. Pentingnya peranan Kebudayaan Daerah dalam pembangunan di sektor Kebudayaan, tertuang di dalam penjelasan Pasal 32 UUD 1945, bahwa Kebudayaan laim dan asli yang terdapat sebagai puncak-
puncak Kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia ter hitung sebagai Kebudayaan bangsa. Di Bali misalnya, naskah kuna masih memiliki fungsi kul tural dalam masyarakat di samping mengandung dua hal pokok yaitu:
- mempunyai nilai artistik tersendiri..
- memp unyai nilai-nilai spiritual, kemanusiaan dan
| memp unyai | nilai-nilai | spiritual, | |
|---|---|---|---|
| kebenaran | yang universal dan hakiki (Agastia, |
1980 :
2).
Di samping itu naskah kuno pun mengandung berbagai bahan keterangan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat di ma sa lampau, mengandung ide-ide gagasn utama, berbagai pengetahuan tentang alam semesta menurut_persepsi masyarakat bersangkutan, ajaran moral filsafat, keagamaan dan unsur-unsur yang lainnya yang mendukung nilai-nilai luhur. Ini menandakan sastra Bali klasik sebagai bagian dari warisan budaya lama, perlu dikaji baik untuk kepentingan ilmu sastra maupun untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap sastra Bali. Dengan meningkatnya pengetahuan dan apresiasi masyarakat terhadap sastra Bali diharapkan nilai yang terkandung dalam naskah tersebut dapat dihayati dengan baik. Karya sastra tradisional bagi masyarakat Bali dianggap sebagai suatu yang dapat memberikan tuntunan atau pegangan dalam kehidupan. Pernyataan tersebut sama seperti apa yang dikatakan oleh Mursal Esten, yakni bahwa karya sastra dapat me ngungkapkan masalah-masalah manusia dan kemanusiaan, serta tentang makna hidup dan kehidupan. Dengan mencipta sastra pengarang ingin menyampaikan nilai-nilai yang tinggi dan agung serta sekaligus menafsirkan tentang hakekat hidup ( 1978 : 8). Dengan demikian sastra memang berkaitan erat dengan Universal truth atau kebenaran yang universal (Teeuw 1982 : 22). Termasuk di dalamnya karya sastra Bali tradisional yang berbentuk Kidung dan Geguritan.
Misalnya Kidung Megat Kung merupakan salah satu bukti bagi masyarakat Bali dan sebagai cermin dari budaya tradisional
Bali, walaupun kidung ini belum begitu terkenal bagi pecinta sastra Bali tetapi dari segi isi dan mutu tidak kalah bila diban dingkan dengan kidung atau geguritan yang lainnya Di dalam Kidung Megat Kung ini hanya tercermin tentang kehidupan pengarang yang menyatakan bahwa dirinya tiada arti di dunia ini karena hidup penuh dengan penderitaan. Disarnping itu pula karya bukan saja ditujukan kepada dirinya sendiri melainkan juga untuk orang lain dari semenjak lahir. Bila hal ini kita simak betapa kehebatan pengawi pada waktu itu, dalam ke adaan menderita mereka marnpu menciptakan sebuah karya sastra yang bernilai.
Bertitik tolak dari kenyataan di atas, karya sastra tersebut perlu dikaji dan dipetik hikmahnya bahkan diinformasikan ke tingkat daerah maupun ke tingkat Nasional. Sepanjang penge tahuan penulis Kidung Megat Kung ini kurang populer di masyarakat dan belum ada yang menggarap. Hal inilah men dorong upaya pengkajian lebih intensif untuk memahami dan menghayati nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana telah diakui bahwa bahasa dan sastra suatu bangsa pada dasarnya merupakan rekaman pengalaman hidup rohani bangsa, yang bersangkutan maka bahasa dan sastra tidak hanya untuk memanusiakan manusia melainkan juga untuk menyerap dan menggali sifat-sifat kepribadian bangsa. Melalui karya sastra yang baik, mengajak orang untuk merenungkan masalah-masalah hidup yang muskil, mengajak orang untuk berkontemplasi, menyadarkan dan membebaskannya dari be lenggu-belenggu pikiran jahat dan keliru. Sebuah karya sastra mengajak orang untuk mengasihi manusia lain (Ibid 1978 : 8).
Di dalam Kidung Megat Kung pengarang menyampaikan nilai-nilai tidak secara ekplisit menuangkan mana nilai yang baik dan mana nilai yang tidak bernilai. Dalam. hal ini George Santayana mengemukakan, bahwa sastra adalah semacam agama, sastra tida k memberikan petunjuk tentang tingkah laku yang baik dan yang tidak baik. Tetapi ba gaimanapun sastra adalah penuntun hidup, hanya saja penuntun tersebut tersublim sedemikian rupa, sehingga tidak bersifat mendikte (Via Suyitno, 1986:4).
| 1.1. 2. | Masalah | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| Pacla permasalahan yang perlu diteliti. Sebagaimana telah diketahui kidung adalah suatu karya sastra tradisional yang mempunyai | latar | belakang | telah | diuraikan | gambaran |
| sistim permasalahan di sini adalah : | konvensi | sastra | tertentu. | Yang akan dijadikan | pokok |
| I. | Nilai-nilai apa yang terkandung clalam Naskah Ki.dung Megat Kung? .. | ||||
| 2. | Bagaimana relevansi clan peranannya clalam pembinaan dan pengembangan Kebudayaan Nasional ? |
mengenai
1.2. Tujuan Penelitian
Setiap pekerjaan yang dilakukan sudah jelas mempunyai tujuan tertentu. Begitu pula dengan penelitian ini mempunyai dua tujuan yaitu umum clan tujuan khusus.
- 2.1. Tujuan Umum Nilai budaya Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa, harus dibina dan dikembangkan guna memperkuat penghayatan dan pengamalan Panc.asila, memperkuat kepri badian bangsa, mempertebal rasa harga diri dan kebanggaan Nasional serta memperkokoh jiwa persatuan. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka tujuan umum dari penelitian ini adalah ikut melestarikan karya sastra tradisi onal, sehingga dapat dipakai sebagai penunjang pengembangan kebudayaan Daerah khususnya clan Nasional umumnya.
1.2.2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus clari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana unsur-unsur yang membangun karya sastra Kid:ung Megat Kung, menelusuri lebih mendalam unsur-unsur yang membentuk keutuhan karya sastra serta struktur yang mem bentuknya.
1.3. Landasan Teori Di dalam mengadakan analisis terhadap suatu permasalahan, biasanya tidak terlepas dari suatu teori, karena teori mempu nyai peranan penting bagi kelangsungan jalannya analisis.
| Berikut | ini | dikutip | teori struktural, | dari | Paul M. | Levitt |
|---|---|---|---|---|---|---|
| beliau mengemukakan sebagai berikut : Struktur adalah analisis | ||||||
| yang bungan antara bagian yang tercakup dalam suatu keseluruhan | mengungkapkan | penataan suatu karya | sastra yaitu | hu | ||
| katan yang kaitan antara satu dengan yang lainnya. Hubungan unsur itulah | struktural bulat yang dibangun oleh | sastra | dapat dilihat unsur-unsur yang saling ber | sebagai suatu | kesatuan | |
| yang | membangun | struktur | secara | keseluruhan. | (Nani Tololi | |
| Via Yudiono, 1986 | 52). Pendapat ini juga didukung oleh Jan | |||||
| Van berarti sebuah karya sastra atau peristiwa di dalam masyarakat | Luxemburg | dkk mengatakan | struktur | pada pokoknya | ||
| menjadi | suatu | keseluruhan | karena | ada timbal | balik | antara |
| bagian- bagiannya | dan antara bagian | dengan | keseluruhan. | Ke | ||
| satuan | struktur | mencakup | setiap bagian menunjuk pada | ke | ||
| seluruhan | ini | bukan yang | lain | |||
| atau kajian utuhan dapat dipisah-pisahkan satu dengan yang lain. (Sulastin Sutris | struktur karya sastra atau unsur dan bagian karya sastra tidak | menomorsatukan | keseluruhan | atau | ke | |
| no, 1975 Pendekatan struktur sangat berhasil untuk mengupas karya | 5). | |||||
| sastra, pendahuluan, masih berhadapan dengan norma dan nilai, maka dengan demi | akan | tetapi pendekatan karena di | dalam masyarakat sesungguhnya kita | ii1i merupakan | pendekatan | |
| kian ukuran prilaku yang oleh anggota masyarakat diterima sebagai cara yang | jelas menunjukkan benar untuk bertindak dan mengumpulkan sesuatu. | atau mencerrninkan | norma | yakni | ||
| Sastra lasi dan yang diusahakan untuk dilaksanakan di dalam masya rakat oleh warganya. (Damono, 1979: 4-5). | juga mencerminkan | nilai | yang secara sadar | diformu |
(1971 : 9). Paham strukturalisme mengatakan, melalui pende : (1984 : 38). Strukturalisme : ·
Setclah dilakukan analisis struktur secara ringkas terhadap penelitian Kidung Megat Kung ini maka dilanjutkan dengan mengkaji nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Di dalam analisis ini akan mengacu pada pendapat S. Suhari anto. Beliau mengatakan karya sastra bukan saja memberikan hiburan kepada penikmatnya tetapi juga menyuguhkan nilai nilai yang anggun. ( 1982 : 18). Koenctjaraningrat di dalam studinya tentang Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan mengemukakan, nilai adalah ide-ide yang mengkonsepsikan hal-hal yang paling bernilai di dalam kehidupan. Konsepsi konsepsi serupa itu biasanya luas dan kabur, walaupun demi kian, atau justru karena kabur dan tidak rasional, biasanya berakar dalam bagian emosional dari alam jiwa manusia. ( 1974 :
20). Dengan telah dikutipnya berbagai pendapat mengenai pengertian struktur dan nilai dari para sarjana, maka saugat diharapkan dapat menunjang dalam penelitian ini.
1.4. Ruang Lingkup
Untuk memperkecil kesalahan dan tidak terlalu luasnya permasalahan yang diteliti maka perlu diadakan pembatasan ruang lingkup penelitian.
Seringkali seorang peneliti demikian bersemangat meneliti persoalan sehingga ia tak sadar akan kesukaran-kesukaran yang dihadapi karena ruang lingkup yang terlampau luas. (G. Tan. Melly, 1985: 15). Agar po kok permasalahan dapat diperinci secara sistimatik, maka ruang lingkupnya dapat dijabarkan sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
I. 2. Tujuan Penelitian
1. 3. Landasan Teori
1.4. Ruang Lingkup
1. 5. Pertanggungjawaban Penulisan
BAB II ALIH AKSARA BAB III ALIH BAHASA BAB IV KAJIAN/PENGUNGKAP AN NILAI TRADISI-ONAL DARI ISi NASKAH BAB v RELEV ANSI DAN PERANANNY A DALAM PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN KE-BUDAYAAN NASIONAL BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN DAFT AR PUST AKA LAMP IRAN-LAMPI RAN
- Pertanggungjawaban Penulisan
1.5. 1. Tahap Persiapan Tahap persiapan merupakan tahap awal dari kegiatan penelitian. Tahap ini merupakan tahap perencanaan yang dilakukan oleh tim pusat dan tim daerah. Adapun persiapan yang dilakukan oleh tim pusat kepada tim daerah yaitu menge nai rumusan penelitian, kerangka Laporan, rumusan Petunjuk Pelaksanaan Penelitian. Kemudian di daerah dilakukan kegiatan sesuai dengan petunjuk yng diberikan dari pusat sehingga kegiatan tidak tumpangtindih dan tetep berpedoman pada TOR. Dalam tahapan ini yang menjadi sasaran penelitian adalah naskah kuna, sehubungan dengan itu sebelum terjun ke la pangan diadakan pertemuan untuk memilih naskah yang akan dikaji.
- Pertanggungjawaban Penulisan
- S. 2. Tahap Pengumpulan Data Tahap pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi:
(l) Studi Kepustakaan. Studi ini dilaksanakan terutama untuk membantu tim merumuskan berbagai permasalahan, merumuskan konsep dan kerangka teoritis untuk kepentingan analisis. Dengan studi kepustakaan diharapkan dapat memperdalam pengetahuan tentang obyek penelitian naskah terutama dalam mencari
naskah ke berbagai tempat, yang banyak menyimpan naskah naskah kuna. Di samping itu dilakukan juga penjajagan ke rumah sastrawan, budayawan, Gerla (rumah Brahmana), Puri (rumah Ksatriya) dan yang lainnya. Ternyata dari upaya ter sebut diperoleh naskah yang akan dikaji yaitu naskah Kidung Megat Kung. Begitu pula buku-buku yang relevan dalam penelitian ini seperti : buku teori yang diterjemahkan, buku ejaan yang di sempurnakan dalam Bahasa Bali dan buku-buku penunjang yang erat kaitannya dengan penelitian ini. Untuk lebih sempurnanya penelitian ini, di ban tu dengan transliterasi dan terjemahan. Transliterasi yang dimaksudkan di sini adalah transliterasi ke dalam huruf Latin, agar masyarakat pembaca yang berasal dari luar Bali dapat memahami isi yang terkandung dalam naskah terse but. Tuti Munawar memberikan pengertian mengenai alih aksara atau transliterasi adalah sebagai upaya pengubahan tata tulis, dari tata tulis aksara daerah/tradisional menjadi tata tulis yang menggunakan aksara Latin, tanpa mengubah bahasa. Yang tujuannya juga disebutkan tiada lain adalah untuk mem permudah pembacaan teks tersebut. (1991 : 3).
(2) Metode Wawancara Penggunaan metode wawancara dalam penelitian ini me rupakan hal yang sangat penting, karena berfungsi sebagai penunjang untuk mendapatkan data yang valid. Dalam pene rapannya, metode ini merupakan proses interaksi antara infor man dan peneliti. Metode ini sedikit mengalami kelemahan tetapi dapat ditanggulangi dengan mencari informan pem banding. Para informan di pilih kemampuannya yaitu mereka yang memahami obyek yang diteliti. Dengan langkah itu diharapkan hasil laporan ya ng memadai dan dapat dipertanggung jawabkan. Adapun tokoh inasyarakat yang mempunyai peranan pen ting dalam penelitian ini antara lain :
( 1) Buda ya wan
(2) Sastrawan
(3) Para pakar naskah kuno dan
(4) Pemilik naskah
(3) Tahap Pengolahan Data Tahap pengolahan data yang dimaksud di sini adalah peng inventarisasian dan pengklasifikasian data dari naskah yang di pilih yaitu Kidung Megat Kung. Kemudian setelah data selesai diklasifikasikan, tahap berikutnya adalah menganalisa data. Ini adalah tahap yang penting dan menentukan: Pada tahap inilah data dikerjakan dan dimanfaatkan sedemikian rupa sampai berhasil menyimpulkan keb enaran-kebenaran yang dapat dipakai untuk menjawab persoalan-persoalan yang diajukan dalam penelitian. (Soetandyo Wignjosoebroto, 1977 : 328). Tujuan analisis data adalah menyederhanakan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Arti nya diadakan infrensi tentang hubungan yang diteliti. Peneliti melakukan infrensi ini dalam usaha untuk mencari makna yang lebih luas dari hasil-hasil penelitiannya. Ini dilakukan dengan dua cara, pertama, hanya data yang ada hubungan dalam penelitian itu yang diinterpretasikan, kedua, peneliti mencari pengertian yang lebih luas dari data penelitiannya. Ini dilakukan oleh peneliti dengan membandingkan hasil analisanya dengan kesimpulan peneliti lain dan dengan menghubungkan kembali hasil infrensinya dengan teori. (Sofian Effendi dan Chris Man ning, 1987: 213). Di dalam tahap pengolahan data dilakukan juga integrasi data serta informasi dari yang primer dan tambahan yang sekunder dan dilanjutkan dengan mengorganisir data sesuai dengan kerangka laporan yang telah tersusun. ( 4) Tahap Penulisan La po ran
| Penulisan | laporan ini | berpedoman | pada kerangka laporan |
|---|---|---|---|
| buku petunjuk | pelaksanaan | penelitian. | Masing-masing bagian |
(TOR) dan sistem penulisan laporan yang "telah ditentukan oleh
atau sub bagian sudah dijelaskan dalam kerangka Japoran, sehingga tidak mengalami kesulitan dalam penyusunan. Untuk mencapai keseragaman dalam penulisan ini, di lakukan beberapa kali diskusi oleh team peneliti. Seandainya penulisan draf pertama tumpang tindih atau ada kekurangan maka perlu diadakan diskusi draf kedua yang diikuti oleh seluruh team, seandainya dalam penulisan berikut nya tidak mengalami hambatan, hasil tersebut dibahas dalam sidang team, untuk menghasilkan laporan terakhir, yang akan dievaluasi oleh team dari pusat.
BAB II ALIH AKSARA KIDUNG MEGAT KUNG
PUPUH I
l.b. OM AWIGHNAN ASTU NAMA SIDHEM Penget duk mangawe kidung buda pon ing medangkungan panglong lima welas sasih ipun masa sapuluh rah welu tenggek lima isakanya brahmana bhuta ratu jumar marusit songar amangun geguyon.
(2) Katuju pehing ati anggawe palalyan angrincik gurit palalyan wong muda punggung makapanglipur janmane ne suka mapalalyan kidung bobocow an sina ada cening-cening mamaca kidung guguyon.
(3) Nene kacarita awak padidiin anelsel awake tan porat inget tekening duke bawu pesu saking bhagawasa milu tumitis manaca uli bawu ada kapencil salwirning janma katemu ya makada inget ring awak baya tan patapakan to ri nguni.
(4) Saangkuhing anak suba kaliyatin angkuh anake jele melah masih ya tong kena baan manira jani kudyang baya ada nggana ing tuwuh kapisuka yan mangrasanin wet- 2a. ning ta linguse mangrasa berag ungkah-angkih, manggah manggah osek ing cita sayan matindih.
12
(5) Kadudut duke cinik pangamu-amui bapa bibi iya kadudut tan patowas sihe mapyanan pyanake ngrebahaken kasu sastran jatining anake apada mapyanak maka penuntun swarga lamu n kene andadi Jalma dija dewane sakti mraga tang.
(6) Jani ko bana mabasasuh suba ngrasa sakit ukuhana baan mangrasa uling · cenik tun tun yan inget madalem bapa bibi duke mara bisa maibuk- ibukan mameta mangeling mangibukang meme bapa tat kalaning seduk nagih ngamah.
(7) Yen bana bawu bisa wacanda mapalalyan balik de pati ci nging tek en rowang apanga pada kasih, yan bana ngelah amah-amahan camah bareng ya pada makedik eda cupar apang saling idihin.
(8) I bapa meme pada suka tan parasa ring ati mwah yen bisa nganggon sampi da pati (r) amang apang yatna macadang tali yen pugehang panga eda ya mamegat. 2b. yen elebang da maninggal kincungin ngebang apanga eda nguwugin apanga eda eda kataban.
(9) Apan awake reko tuhu madalem i ba pa bibi makapanuntun swarga lewih yan bana suba bisa anakap carik mwang abyan makadi papayon eda ta yatna eda hardi ring gelah anak sepelih pelihan awak akikit ya liyu twah gelah awak. 2b.
(10) Eda mamaling congah ring braya wadesa balik-balikin sarwinya kamalingan eda ke ya pati brangti paguneman di cita angkuhe nene melah mahawanan tuyuh ya mangulah melah ambek dana wirati.
(11) Apang stata melah pineh brati rat diasti sukeh magawe melah yen tingkahing mabraya tan len la gawene makada sasar muni angalap sih teken braya ne usil mwah makadi ring pamitra tan patigeget ri kala pada sihe teken braya makejang.
(12) Wirati mangajahin nambada angkuh brayane usil mwah makeling brayane atinya 3a Ibuk mambadah teka ring ati eda manalahang braya
manjar salah, kudu magawe melah pangrasanya yen mamba dah awak didian, yen nayangang meme bapa. ( 13) Kanya twah teka ring ati sating sakah apan magawe ayu bakti, ring baraya kawan bakti ring gusti, karaning gusti s deng sayangang pan panunggalaning ala ayu, panangkala nng awak sadalan maniwi.
( 14) Yan karasa baan mandadi panjak twah wenang kapongor gustine twah wenang duka sahimbang teken bapaya jatining gusti temahaning bapa ya wenang magawe ala ayu karaning prih leganing gusti yan gusti tan suka ri panjak tan urung panjake kagilang-gilang. (15) Y ening panjake tan suka magus ti tan urung kagilang-gilang gustine kandayang karaning patuhang mabraya pada trepi tongosin ala-ayu reko pada ring awak padidiin wenang lamun prih suka yan dadi janma sarunyan tuyuh magawe melah. 3b. (16) Yan kagugu saking ati teken samanta tatkalaning amati-mati tan padosa satata ambek penging makira-kira aranjana aneluh nggawe dosa wong sadu gugu ambek murka muni ' capaleng mijil. (17) Yen keto dija melah gawah melahe suba ya joh ya gugu ambek dursila maba angkara dowang tambane tan sapira ya ditu awake mangrasa mabasasuh, tawu ke ya ring ka sangsaran, tawu ya ri angkuh ne melah mabakal pang anggcranggo mangrasa. (18) Kenkenang jwa jani kadung tiba ambek rusit kapi tong dadi ko makiba mapan ada nuduh kenkenang manuduk buwin kadi angganing sajawa pinara pitu pulang tengahing sagara duduk buwin apanga bakat sukehe angkuhing dadi janma. ( 1 9) Balikan lamun suba maguwunin ne melah dyastu tan ka tepuk rasane ne ayu apang ada salsa! di ati, suka ponga ada wales apan tan keneng ulah tingkahe ala ayu 4a. Lugra ha babagyan arang anake manggih.
(20) Muwah yan suba bisa demen teken anak istri, eda nden pati mangugu apa budilisyenya liyu-liyu katon kakenan rupa warna kenehang ndenan malu di ati lamun suba tuwakaing cita tong ada malih karsa bwin lenan, tatulusang jalanin ne karsayang.
(21) Yan makita mapilih teken anak luh balik da kudu ring rupa melah ingani di angkuhna lamun lakunya darana nawi matitingkah mabraya wa-desa ngulah semu kasoran, semunnane tan asih tan duka sinemoa ya teken braya makejang.
(22) Mirib tan kudu ring anak mwani semunya samar tong kena patiinget-ingetina to anak nayangang bapa-bibi makabak tinya teken gusti mwang tekeng nama apang edanan mana hangin paplungguhan ring bapa ring gusti. (23) Ne keketo anake sarwinya marabi adini da kudu lyu kalin deyang ati brusah, lamun suba ne, ne demenin bakat kudu liyu ngrameyang kedekan lamun kate 4b. keneng asih apang eda angge pasel-selan yadin ala-ayu twara sangsaya.
(24) Lamun katekanan dadi janma twah manawang br angti payuk lawan tutup angkuhnya twah makakrumpun pan swarnaning mahurip mala wisaya tan pegat, sandangi tumuh lemun rowang jele-melah mu nine padadwayan. (25) Lamun kagengen teken eda mwikang apan awak manung galin, jele-melah ,Pilih ya dadi radin, tingkah anake manadi janma masomahan tan lyan kasungsung i meme i bapa tapayang dadi janma. (26) Apangna dadi amanggih Swarga niskala karaning bana inget ring awak araning eda yen takut apang kuwat nahen diati saling salahang teken somah lemah-lemeng gunamang · padadwayan. (27) Angkuh anake ala-ayu anggen tempang rasanin pilihin ne beneh benehnya sikut-Sa. ang padadwayan angkuhing anake jumahnya ne darana
tuhu nayangang sornah somah takut nglinggenin we mwani pangrasan anake eluh, iya tan wenang mangaba kasusantran. (28) Sasornya anake mwani wenang mangaba karaning al)ake !uh nene mangrasa takut teken ne mwani, nuhutang saam bek ne mwani satata demen angkuh ipun tawu semun somah satata wineng budi.
(29) Luwas-luwasan tan sah marowang apan ngraksa uripning
somah kahitung demen-demen ya sih mabraya ngawe sih satata semu mabakti ring Ratu mwah teken anak lenan, ne keto anake satya dharmaning istri iya inget teken dewek.
(30) Apan anake mwani maka guru guru laki wenang amilih mwah aninggal anake luh tahu karaning takut manglingenin somah sahananya pangrasanane melah ne mwani twah Sb. meswang yadin ala ayu di baan ne mwani ento anak !uh melah.
(31) Palaning anake keto sakala-niskala tan urung Swarga ka panggih tekening anak putu buyut manggih ada anake nene mwani ngidepang samunin anake !uh pati temahanya braya mitra joh sami. (3 2) Tuhutang karsan anake luh m angasorang anak m wani jinunjung sayan murka kang pamrihnya kasusilan ya.din braya· mitra joh ya suka apang danan kena idihin anak aninggen kasugihannya ken mangajak somah sengit ring braya apang bana kuwang makejang ada. (33) Tidong ane keto ulahing anake dumadi apanga suka jwa makejang braya gusti mwang mitra ya nto entiping kawah katepuk yan kajaring aji yan nora tan ya keweh dadi janma budine twah makita ne melah, margane ne melah tuhutang, erang anake ne makita tan patut, lyu makita patut anging lyu pada nggaduhing budi. (34) 6a. Ada kene ada keto engken beneh salah pada tan ka tepuk, beneh kaden salah. salahe kaden becik.
(35) Yan paksa mangalih kabenehan, yen karasa awake tiwas tur sigug dadi jadma ubuh patut magawe keneng-kenengin,
jalane emar suun mulih mara manakan abrangti ring amah jalan nane ada suka ya twah pasang-surud buka sagara.
(36) Suwud ngamah maguling-gulingan mamaca gending-gen dingnya kaya nak tani ya pan awak ta lingus bangun mabo reh mamorehin awak, suwud maboreh mara manganggur kenehang awak tan porat mahuna-huna teken pada braya tagihin brayane konkon mapadah. (37) Ngunya dan kuda makedekan teken rowang pada baan ngerasanin makedekan pada saling dayanin, suud maguywa guywan pada sating salahang badah pelih ya katepuk nene me lah rasanin di hati. (38) Lamun makita nayangan awak brayane !uh mwani anake luh eda pati asih, eda (6b) tan asih, yen bisa asih mawanan ya bancana apan budining anake m wani mapapas teken arsan anake !uh alawanan ya.
(39) Karaning kuat nahenang kitane makarsa tan, nuti saliyun anake mwani twahna makarsa ring anak !uh, saliyun anak luh twah anake mwani karsayanga sakarani tahanang lamun makarsa madalem awak, braya sama baan teken nama lamun ana karsa di ati twah tatakrama melah di malu en to jalanang braya suka magusti, da ngutang-utang kalalanangan yan kena en to reko pura jati adanya yen to ta tinging aji.
(40) Yan ya beneh baan teken awake padidiin braya wadesa lawun mitra gustia pada suka ento kasugihanne lana kena yen ajak mati kojarannya yen ta suka ring awak mangam bekang budi tan patut yadin sugih tong ada pisan gawenya. (41) (7a) Yan brayane mwang gusti tan suka pada ngambulin pada ngawetwang kajeleyan mwang ne andel gugu pada medpedang mati tekaning sarwa sato kumilip ya tan suka galak pada aprang pati tekaning pati kasangsaran tekaning manadma tiba ring triyak. (42) Karaning yatna sahidup-hidupan dadi janma tan pegat gunemang di atine melah sina ya katindihin marganya tekeng suka mabraya muwa desa suka duka twara mangi tung tuyuh krasayang nggawe padidiin.
(43) Da pati kudu teken mangamah sarwinya ngamah mulih krasa sayang tamyu brayane saking kadohan, kewala pang nak kasropen apan awake milu nandang wirang yan kurang panamunya satuyuhe mangayahin braya twara reko pawo lasane ilang. (44) Apan awake nayangang awak, yan bana ilang sarwinya miyutangang lampah teken teken kapyutangan, yen kena baan dana santosa mwang pangayah ring gusti tan pahitung sadurgamaning lampah yen kena baan twara manglinokin gusti anutang sapangan (7b) dika.
(45) Krana beneh yen keto apan panjake tuwahnya dadi baan gusti ala-ayu kapratingkah baan gusti, yan jele melah balm mangrasa supeksayang apang · dane tawu ala ayuning lamp ah jati awak magusti.
(46) Yen ne melah doang kapupu tawu padidiin, yan ne jele supeksayang ring gustine pang tawu apan baantanen dadi ang awak pan anake mapilih i dong nguda keto baktine ma gusti apan gusti suba tawu teken angkuh awake makejang kejang.
(4 7) Apan ane mapangawak Surya tawu ring panjak langit, jele melahing bikas danensuba tawu ardaning panjak upa yaning panjak, mwang ngawe solah-gusti dane wikan mwang cinging teken braya yadin jelene tonden pesuwang dane suba tawu ring sahananyan. (48) Apan ane bisa ngentos saangkuhing panjak yadin ala ayu karegep ing daya kase (8a) pel saking ati tidong ke kaden gustine, tong ada tamu teken angkuh awake cinging maka kirang mwang manalahang gusti. ·(49) Yen kewala dane manawuhang panjak twah ngerasayang awaknya padidiin, jele melah mwang ada tong ada mwang tiwas lawan sugih twah ring awak jalanya jele melah kara ning bakti tekening awak sangkaning eda engsap tekening awak.
(50) Sangkaning eda pati mangulah gawene sering eda pati manganggur eda pati ngimut pedeman balikan ya pada kar-
sayang ada ibukang ati pajinjinang kenne katuju braya nemnene suba mangrasa abecik, ne maambek dana santosa.
(51) Ne keto jalma tan ko nawang bana eda ngedenang awak padidiin, apang bana ngeh abesik-abesik, eda magirang girangan uling ke pang pasaja ya ada twahna di ati jele malah ingetin sari-sari (52) (8b) Katuyuhan jwa apang tuyuh sarang-surung puntang panting uli kedik kanarakan balik sakitin jwa pang bana nawang sakit angkuhing jele melah apangna katepuk, apan dahat sukeh mandadi wong Iamun makita ne melah melahe kaliputan baan ala.
(53) Kenken ja baan jani kapisalah mandang-minding kapitulus kado mekejang twara karwan entul, kadena dong kaden iya pada jamu r apan kaliyunan rupa warna mapelagan gobana enot pasang-surud, tuna Iiwat tong kena kaduduk, tong kena kutang.
(54) Yen duduk bukanya tidong kutang buka iya, yen kadi umpamanya di pas ya tan, sedeng ramening jurit duke ton den masyat twara ngrasa takut kaden ibane tuhu magusti twah kitane jalu matoh pati.
(55) Suba mapagut ring syat rame tan ton surak gumeter rame bedile kumutug ditu atine mabalik ngrana takut mangenot bangkene pajulempang, budi malahib salah dening tatun awak pacerongkah, budi mara takute tan papeka, (56) Dadi patine kado tulus twara karwan ungsi jalanang pati kasangsaran, n//n lampahe (9a) kado pisan mangadowang awak padidiin dadyanya patine di paunduran pan kadulun tresna twara gawenya mangayah uli sesai sok milu mati tuhunya. (57) Jani bana inget teken awak tan papolah, enen jani anake nene salahang kudyang awake jani, suba ulah sakeng tingkah anake ne melah masih jwa twara kapanggih masih jwa sedihe sayan matindih. (58) Yan rasaning di ati uliken rahina wengi peteng pisan, twara
karana dadi bana ngambul yen ambulang tulus kaden makejang ento ko atine salah midehan yen mendep twara pisan paksa menglalung ulah manuhut kangine tan katutu gan,
(59) Ulah sajohnane masih nu Kangin, twara ada kapanggih paksa ngalih tanggunya sai bana tuyuh manuhutmja;ane dahating sengka menek-tuwun ajro nuhut pangkung marga lebah galintung jalan rupi t, bwin buwug mabaloran beneng bana labuh//bas ka (9b) jleyan jalan. (60)Yan liwating buug majalan manuhut tegal akon tigang tahun panesan ujanan pakebonan tusing, yan suba liwat tegal majalan nuhut alas-alas, sak dening duwi palulengkrah bas kalyunan nanipi.
(61) Lyu pada mrega galak-galak, liwat alase jani amanggih bangawan linggahe tan pahingan ditu atine ngrasa mang mang masih jwa enu Kangine nu dawa kenken jwa baan, polah paling awak tan pajalaran, ditu awake makita mali petan, (62) Budi malipetan ken tuhut, awak suba paling buwin bekele telah ona awak suba kuru suba tani mampuh magedi dadi wetu-wetu tangis nelsel awak ngonkon pejah dewane sakti mamedang apang enggal awake mati apang suud mana yangang. (63) (9b) Dadi ngrasa-rasa ring ati jani ya mamanah manglalu awake suba kaliputan paling, jani ya mangagema kenehan di atinya yen ba//na mati mawali liwat (10a) reko papa kajaring aji.
(64) Sarwinya mati tuyuh majalan lamun mangungsi Kangin, kaget inget teken Kangin kagetan ya bingar negakin padawu kutang_ anak malayar dayung. lima. maka dadwa nak mati nak hidup pasulengkat bwayane manyaga kakya be aya kalawan lembukara, (65) Jani twah mangrasa takut kadya di sisi Kangin kangin nu jwa sawat, jani suba tuun sagara-dudut kapanggih padawune
jalanang ya tong dadi majalan malaib kasah-kasah apan ya suka pejah, twarangrasa takut-takutnya ona,
(66) Arsaduk tan karasa ibuk atiya sinang atine manglalu mati hidup suka-kasah-kasah manglangi, tan sap ira lawasnya manglangi ring endut, suba teked di sisi Kangin, enu dawa jwa ya Kangin masih. (67) Kapanggih sagara geni murub mangaber ngebekin siti ditu atine makesyab kanggek pajalannya dadi inget teken suka suka//pejah apang bana mati kalebur baan api (l Ob) mun tab tan gumirisin anus up roaring tengahing agni tong ada geseng awaknya,
(68) Liwat sagara agni kaget katepuk natahe bersih angin baret, satata kayu-kayu tong ada suba sinah baan angin kapi tan suud jwa Kanne nu dawa masih ya majalan-majalan bah bangun kaliputan ing angin, Kangine masih katungkap. (69) Baret angine suba kaliwatan, peteng dedet jani ya katepuk, mariyat riyutan linglung awake jani, katon tan pajalaran jani angken antug dadi ne jani awake paling kasaputan kija laku jani.
(70) Tong ada karwan Kangin Kawuh, tong ada Kaja Kelod, tong kaingetan jengahnya beten mwang di duhur pada tong kena ingetin Bulan Matanai teken Bintang teranggana twara katon, tongosnya baan peteng libut twara lemahnya bwin pe tengsala wasnya, (71) (11 a) Kija laku jani mengulati tanggun Kangi//nbudi maja lan twara karwan angken jani antug, kenehang jani twara ada gawenya jani angrasa ·ma ti jalan mula tan urung ma ti berag mati paling mati kapetengan mangantyang lemahe tong ada lemah.
(72) Jani ngrasa-rasa angkuh anak dadi jadmi, api kene ko ya jani katepuk suka eman dadi jadmi dugan banban mangrasa kaden gampang dadya lana milu magirang-girangan angkuh saling limpadin. (73) Twah karasa awake sigug, kurang pangantost ntos, yenukuh nya twah takonang jwa ndenan malu teken Ida nene singgih
apang tawu bana yen abot kalawan dangan yen muga tan manemuga apang bana da uka tungkulang manungkulang awake padidian,
(74) (l la) Kene saja bana jani kapitulus bana kado mangam bekang punggung mangugu atine dudu anemu bakal mang rasa kawuri, jani awak suba mangrasa kebus, ada pang (11 b) rasane kawari ya kapi twara ada gawenya mana// lanang punggung kwangan daya.
(75) Jani bana mangrasa angkuhe dadi jadma sukane tan sipi sipi yen pangrasan anake ngulah becik, yen anake ne ma ngulah gampang dadi janma sawetuning angkuh nene tuhu tonga ya gampang_dadi jadmi.
(76) Njalanang ambek pangpang-pungpung loba angkara aliring makira-kira ala denggi. ambeke murka tresna ortine ri gelah anak gelah aku apanga jwa kagelah-gelah anak, gelahang angkara budine tan an uting anak, pang twara anak, linggenin awak.
(77) Sukane mangwada anak lenan adoh semune ring anake nene braya kawelas arsa tan saha malihatin, semune tong kena gawah regah maluhur sing ne demininna tan sipi asihe yan malop-lopan sig gelahnya tan mamakanya. (78) Yen ada salah braya gigi.s budi matyang ento gampang anake dadi jalma ambegal amamaling, sok mabaan nene jani tambenya twara dadi ja-//nma bwin apan suba ti (l 2a) ba ring triyak mulih.
(79) Lawate sepaha satus temwang ping pitu duk kapanggih nrakaJ<.alawing kawah nene keto ya gampang tingkah andadi jadmi twara sukehna sipating budi tinuut karsa ing ya gam pang andadi jadmi pada len sato sarba medem teken ngamah ken to sukanya. (80) Yan pangrasan anake ne tiwas tan dadi jadmine makarsa mawalin jadma ento ngrasa keyuh karaning tan sipi sedih pati jinjin, teken baraya ne bisa suba manawang Iara mana gi.h semune ne kasoran, nenekalah ambek lemah pinanah.
{81) Twah sapunika pangrasan ira rielsel awak, sok awake padi diin ban manadi janma ne kasyasih, jro maca kidung tuhu bocoh-bocohan palalyan wong cenik-cenik, kidung bobad mangrincik wang paling.
PUPUH II
| (l) Hana rarya sanak tuhu | tuwuh kang katinggal i bapa bi bi | |||
|---|---|---|---|---|
| saparan | ira mor | anging | roro | sanak |
ajujuluk, sang//atwa Ki Kabwa milih si Kabwa ngraga anom.
(2) (l 2b) Ya angrebut rasa durung antuk kasesengit sangkan anom mwang ring sami-sami pada ne tan pangangkenin sa nak kadang warga nora sadya nggonya meta sawarga norana tong sari sama lanang wadon,
(3) M wang kadang saking pa mane tan s udi le mah lunga doh aja ngering riki pan sira rare ningrat lah lunga don adon uga ya jana katon deni ngong karya manasi twas ingong.
(4) Ana ta gurit mijil sah saking pohing ati apupuh Megat Kung, anesel awak tan pangkuh sandanging among tumu wuh tan pegat ryawak ingong tinindih pada klesa tulu-tulus sangsaya gong wirong.
(5) Ken ko baan jani mangrasanin awake twah dusun baan ambek laba purtggung angkuhe satata sungsut anake dinto dinto, tang ada ko buka iba dadi janma anggawe guguyon.
(6) (13a) Ne keto imbane milu amor sok mapinda jadma milu milu manglila-//yang atin anake nene lawuh kangen ko jani bana inget teken awak papa tan sameng rowange duh jani kapi kene awake,
(7) Awan makambek punggung budi girang angob tur corah cara baka atinya gede abot mabengkil suka mangan angi mum loba nganggo geget ametik kasugyan, yen suba betek basange lemah-lemeng di pedeman digel.
(8) lnget teken kasyasih Iara mala atindih mangurini acum sing munine ngambul-ambul salah ame mreta gemeretug,
mojar pati cocogok rowange pada puwikang semu brusut manguda manjangor.
(9) Kebek brangti atinya heman rugt1g awaknya ki mojar misuh-misuh engken mati awak ipune manjadma ambula nen jwa mangonkon tumitis kaherang-erang tan pangkuh milu-milu ewer.
(I 0) Lamun twah kene angkuhe mandadi ya tong leheng suka pejah dija jwa de wane ne (13 b) ne sakti amragatang tuwuh apang ada/jwa bwin tumurun dadi jadma kene sakit san awake seumur pegat wignane,
(11) Sayan kangen kadudut laran yawak ingong peteng ikang cita kasaputan matemahan tangis asasambat melas ayun wruh bapa bibi dija tangos i bapa dija tangos i meme tontonen pyanake buka kene.
(12) I Bapa i meme ngardi mawerdi pyanak tan papolah buka tong manawur utang malih jwang jati tyang rampung bras tayang apang suud dadi jalma pada lamun suba buka kene baya tan pakreti tumitis. (12 ). (13) Angreresang ati kapisaja ko jani awake twah dusun gugu ambek pangpang-pungpung tan pantara pati kacuh tulus ko bana kado mangadowang awak-awake nen jani anake welas tumon. (14) Ana rwangnya ngasihin asih teka ring ati panam badanya melas hyun uduh nini ariningsun eda kuda pati gugu brangti kadung manongkol sari-sari palar-palar ulun-ulun di ambek mah um or.
(15) (14a) Ada ta reko tutur ri nguni kat padingehang apang tatas ada ta reko sang Tapa Sakti umungguh sireng Gunung, · ada ta reko kawulan ipun twah dadwa ang ing meyong lawan rase makang gawe patakut bikul,
(16) Dahat asih sang dukuh angi.ng kutuke mangelah pyanak mangrasa ya berag tani lwa gawenya mangalih bikul jani mangamah meyonge twah manggurape syape cenik-cenik pangane.
(17) Patigurapyak mating sing maleh lah ne paling ko pangan ipun rasene ambekang tuwuh tuhu wedi ring sang dukuh nn angkan dina bawu njongkong ring arepan dukuhe muja suka maningehang puja angob.
(18) Tan pelya amet bukti sapaweh Sang Ta pa makasukan ipun swe-swe tekang kutuk mangalih pangan ipun anake bareng mangko kaget ya dinikap macan anaknya luput agelis pilayon. (19) Sok matanya ginahuk buta gelis pilayon nungtang-nungtang marga teked jumah ma (l 4b) ngortayang mati memenya demak ka-//suhun raris mangeling rasene tagihin ubad tuhu awelas rasene twara ko bibi bisa tatamban. (20) Sang tapa suba tawu ri patining meyong tan adrewe rasa suba lama reko meyong mati gangkeh kari bangun rahina wengi mangeling tani mangamah akuru awake tokgrek sabran dina den salupel awake, (21) Sang Rase welas ningalin dadi milu mangeling "Nini ana kingsun tuhukin atine uyang sahidupan sai apan edoh ta mangko amalawa Iara sangsara kapangguh deni Hyang tan katon, (22) Balik-balikan angkuhe suba nguni da nuhukin punggung da nuhut ambek pangpang-pungpung sating iya ke kadudut aning yasa yan ejoh melahe sumangkin rengas nene dasarin pradene ejoh. (23) Ada sambadan bi bi kudyang jwa awake jani tingkahing tumuwuh bagya ne tong kena kepung yadyan bikas ala ayu pada tong reko ulah makadadwa lepas balik wirangin Sang Hyang among wong,
(24) (l 5a) Yen ortane karungu//balik balik nya anak in gong tingkahing dumadya tan .Iyan reko tapa-brata rahina wengi ketung maka panuntun sihning Hyang Among nging lampah pilihan asih Dewane karaning aywa ngugu brangtine, (25) Yen rasa-rasaninsun sira dadi meyong dahet manggih bagya angawelasing sang. Tapa saktinira kalawan iku balikan kesti
baktine maring sang Tapa dadi meyong dadi Rase mala kasupat awake tambe.
(26) Karanan aku awedi anolong ing sang Tapi ngrasa tulah manuh yen ortannane rengon aku tan wenang linok ring Dukuh. yan rasa-rasaningong ibunira mati tulah Ion apung gung angutil anolong.
(27) Tumus ri sira jani tut awan aningalin apan siranggaduh twasta kari putu buyut ala-ayu pada tumus karana anaking ong sedeng ta mangke hesti ya katuntun ulih anakingong. (28) Aji Bra ta kahi tung sari-sari among ambaka dara dana pri prihen langgapi (I Sb) ati hening tur aja pa ti gugu wuwusi parane aywa pa//ti resepang kagugu tapa bratane keto sedihe teken i meme, (29) Nanging ta dahat keweh ambek ane kento yenna tong katakon kewala tuhut bedahe isti sapatuduh Sang Dukuh da malih budi galangan sapa mudanya suhun pejang di sirahe da ngrasani satuyuh-tuyuhe.
(30) Yening anake baan matapa nene keto yen suba lenggengang apan awak natak mreta sahi tur yen kena ban anut budi astiti abresih tilem purnama katandan dang Aji Bratane tur asih dana teken samane, (31) Eda pati babeki, eda manuwen kasyasih eda pa ti ajum eda pati linok, eda geget, eda pati jendul ring amali eda dodok naka ada naka tong ada kud u yen bungah panganggo.
(3 2) Balik de ngrasanin tingkah a karma nini pan tong kena hitung bikase ne keto pan ada reko widi amrunggu balikan yan anakingong nakit ati satata pan ne kasung (l 6a) sungpu //rusa kawot.
(33) Yen katekana asih teken -sang purusa dadi lewih sukanipun teken karma anakisun lwih ke bana anggaduh naraka tan sameng wong nen ja sang maliyat suba ketung tan paguna katon, (34) Balikan ya anakisun sira sari alakona tapa bra ta daharing Hyang tutur Iara nini sok langgenge kahitung suka ya mati
anggaduha Iara wigna pan kaagengan dosane pilih apanggih · Swargane tembe,
(35) Yen ortane Sang Dukuh yan ting kahi .larapan lawan kas wargan telah pagawen awak padidiin makadi alaayu elingan nini inget-inget ayo lupa nini anakisun mangke pilih-pilihen ta sambadane.
(36) Sang kalaran sruta ngisruk saring ati wuwus sang tiga wulung maka rase wistanipun tan kocapan lampah ipun suwe suba alakonana Aji Tapa Brata nda tan lutur dinayun tan panglong,
(37) Mwang suka sang Atapi anglepas tapa-tapi sangka gunting galung pada tutu-// (l 6b) badah tuduh tan tan padreweya keneh kayun sang meyong tutur mangko utanira sampun sirna wus lin ugrahaning Hyang Tan ka ton.
(38) Telas brasta kaasung ku nambat bujaga tan long tekeng pangajian, tekeng padewa sraya tan kari Aji Dharma karang kus pepek tingkahing tapa-Brata wus kasaksyan dera sang tapa asihe pan katiga tunggal Ian karsane. (39) Purnamaning kacatur sang Tapa dandanan wus moksa pahoman katiga Ian meyong rase raris mangkin swarga sang putus mangkana ling sang matutur-tutur satwa sang tinutur tan sabdane meneng paran-paran ing idepe.
(40) Dadi sira abalik lampahira ri nguni sainpun puma rampung wikaraning atin ipun denira katungyang pitutur satwan meyong duk rase asung sambada dadi kaisti tingkahing meyong, (41) Pira lawasnya angisti tingkah meyong makreti lawan sang tinggalung katakon sinadyan ipun ipun, Agung sih ning Widi asung tan kaucapan mangko wekasan a-//manggih Swar(l 7a) ga sang meyong polih ta tapa kawot.
PUPUH III
(1) Purwakaning amrik arumning wana ukir kadang labuh maseng Kartika panedenging sari angayon tangguli ketur aringring jangga mure,
(2) Sukanya aya wangun warnanen sekar ri rum-i"um ni puspa priyakaning olih tangis sampun i riris sumar umunggwi srengganing rejeng.
(3) Kyastaponeng Sapukul Sang aputrya ya anomararas a was ta Dyah Weda Rasmi nyang rasa kalangon, ana ta anak iraa tunggu Dharma satanding sama listwayu awasta Dyah Narawati sang lwir tangguli gending arja tinon.
(4) Mungguwing dungusni parung ni ngoling mandalika Ian jangga kasturi angde ragi terang nira wit gunung kalih sulaksmi wahu papakon darpan irangganing wuwus taruna anom mapekik pradesa i wewentis jana anom.
(5) Kasyasih patyaning indung yayah sang anama Wargasari nini Datu Nareswari (ara (l 7b)) ne punika angamu-amu amalar-malar tuhwa sih kang apotraka sasiki lagya mendra mong panon ki Wargasekar Ki nedeng makaning istri,
(6) Lwir kawya magantyaken rumning wanadri raraneng jinem mrik sedeng anukaning istri tan wruh kelangan kakanya asuma linampahan rasmi sedeng o ira tamtam ragi kadi brahmara ngambang angaryani lulut sokarsa geng wingit.
(7) Tuhu nira maka langun pracacah kungtan tan karaksa tan sang acihna Wargasari warna apengi sisira Datu Nares wari amelas ayun Duh Putuningong kaki pawuwusa denta anut sakayun den lebur saka wisayante nguni wulik para keneng kasadun pangungsi rahayu.
(8) Pangaskara ri masku pepengen wayahta lagyanom kakinta
ri mahospahit warah den mami sira amupuh pada legane ya tiru prakretani yukti tan panirnama la (18a) ku tusta murca pagawe sudani amelas jati amretanjanawinong tan urung swarga katemu.
(9) Sang winikalpa tan sahur ndan rumaseng atine sapa ri kramaning laku apang prayan citane sore saksana dalu sira Datu wus aguling saha cihna wargasari amati nininya wong kantuna pukulun sahanulih mijil,
(10) Sigra prapta yawi lumaris kalih tityange kakalih ujil kahyun-
hyun. pun kukudon arane kasat tang marga agung a was sumeno hyang sasih liwata pradesa Wawantis asamun tegal tegal prapti aru-aru ring udyanamegil.
(11) Enjang wusnya suci ring beji andarung lampahnyang alor wastranyasang ireng mirir rangdi arja sabuk lubeng luwih karianya cinitreng biru tuhwa ngrawit trap-trapan rukmi murub ratnani slute kalpikanya bang wilis amanis waja mantalati tumurut dadu, (12) Akusut mangkin abagus si wong kapapag lanang wadon angacapan asru pekik saweruh lingnya ris" kakin aku saking wewentis baya sungsut kang awarah mong kapti byakta Dewaning gadung kacubung nora gene amretani taruni adyan kang wus akarma (l 8b) rara wulanjar wulangun.
(13) Tan wana lingning andulu ndan lumaris lakune liwat ing jirah sada murwe ri sila Pangaren akeh desa kahanuwan yang rerepi balentik prapti Kamal sama enjing rame kang ura gadon rawuh ing sapukul amatoken jurit,
(14) Sang Awarga sekar tumut anonton prayane sinarwinya namtam indriya mong kapti malara manggiha kusuma rumning tirahning tirta hening sungsunga sada gati adulur pater alon papagani sangut saba riris alit. (15) Prapta sagad gada sigra lunggwi maharya ngungang saka ton sang Awargasekar kanglihan samareng tiyang asemu mangu mulat sodyana rum awas langening ukir pasawahnya paluk tur lebak lukluke_ boya katon aputih angrut wit lapa tan doh tusnira but lamurung, (16) (19a) Daweg ing ajurit sampun atatamu ramya wawangkon suka sang Atunggu Dharma angadu njurit sarwa ya nginum ring_ bale panjang_ alurigguh pan akaiya. noon jurit sira stapaka lungguh len para mpungku kabeh agumi ta surak atri muni tabeh-tabehen kang anonton supenuh. (17) Kapwa ngure mangke sampun kang wong amet karanan Ki Wargasekar dinulu dene pekik tan sareh tan lyan parani dulu anjaya watang pawestri sang Atunggu Dharma paran tinonton i wong parapate matur wanten wong apekik,
( 18) Alah gelis kon maraheng ri sun alungguha ring kene malayu punang ingutus parapti kahanan linge daweg reke pukulun katuhura kaki yayi sang Atunggu Dharma na ling sira tusta pangling sang inundang anglungsur basahan lumaris. (19) Lampah amenggep abagus kang wong arsanunggu nging panca kuneng kyastapaka e (l 9b) ling Kyawargasari anaki sun putunira bini datu sira saking wewentis sang sinapa semu guyu eling mangke pamane sira Stapaka eling mami sanya yayah karana ngarowange atun,
(20) Sang Atunggu Dharma muwus "Ih kang wong katemu kadange truna anom pekik aparek ya alapen mantu punang wong sama gumuyu lah daweg malih kaki sira Stapaka wuwus punapa luputane nanging manawya kaki ki Warga sekar masa hyuneng rara gunung.
(21) Sang tamu sampun alungguh marmani sayan rame sumesep katon asemu jana ika papolahe pinrih winatwa.tu pamu- minab dane arum mamanis pada wruh ing. ramping, ya bungah ra an ya atin sumusup · aponakane lew1h ayu ang1dung para nira tung tinengu tahwing kakawin lengleng kapranan kang wong sawur paksi lengkara amuji-muji. (23) (20a) Maseki tumunggang gunung aluwaran nya tunggu dharma noran inupit-upi t ki Wargasari wong anulus Raspa ti menggep abagus mwah kawarna teki sira Stapaka mantuk den kanti tatamune lah ta anakisun kaki ta mareng bibinira saprana umah isun,
(24) Istrine katemwa lungguh ri jro made sumambrana amapa kunang sira sang taruni ane kina angunduh manusa solahnya raras arum awastra apik 'rinandi asale cepuk dadu lubeng lewih bebede asekar sarijati layang patah pamer Iara roma mek-mek ajamus.
PUPUH IV
(1) Tan wruh yan ana tatamu Dyah Weda Rasmin ana mantuk saka ri kubon tan sah denya ngiring amawantukeng sekar pun ngiring amawantukeng sekar pun tawang sinom arane pangandani hyang antanu surat ikang karmane dadi apagut panon ndan ki Wargasari kalangon lwir langu-langu wor neneran a tine.
(2) Sang rara balik mangsul asemu wirang pan katon semune sang tami maras hati lindining netra anawung smara namo nin guyu markepon Sang Dyah kadurus katudu (20b) han dening landepning aksi angungun guling atilam sinom,
(3) Sigra lekas anginum sira Stapaka soma asegeh sang tami tusta budine mangkwa antuk madusun pan citane tan lyan mantuningong kaki Wargasekar rawuh sasat tinuntuning widi amajaraken karmanya anakingong. ( 4) Wasi tan ya pinda hara tur andul wang rabine nini mangke kerepisun anakira marangke anganturana suruh kembang iki Wargasari malar kaweruhanireki yan sanak ira mingro sira rum maseheng arinira kaki.
(5) Ki Wargasekar tumungkul sambirana semune ndan atine sinang tenuh garjita ngrungu ujare sira Stapaka muwus katon kinida den apti lingnya ris Ki Wargasekar asanggup angraksa nana ngering sapakuleman paman budi.
(6) Sira Stapaka amuwus ing lare Aturnya anakingong ingun dang pisang ping kalih Dyah Weda Rasmi tan katutur ninya Stapaka tumurun anging paksa turuni sira (21 a) Stapaka mu wus dyah acangki tan saerah arini nireku kaki sang winarah linggyalan sampun winidi pukulun.
(7) Mwah tan warnan dalu pakulemi ingong ring enjing mwang wus sira Stapaka alilip pali-pali den apupul tan papilih weh rahayu pajeng karya ring enjing prayojnana katermu sampun cumadang kabeh papajangan wus ring pamreman salu ki lyan mrik arum gandaning ukup.
(8) Enjang akramas adyus sang truni asaman Ian sang kakung
paparempon kampuhe cepuk anatas dadu lalampahan silih asih ujaring nini alit tan bosen ingong tumon kang pangantenan anut sadewa sadewi.
(9) Wong apekik lanan ayu sedeng maka wayahe sahur paksi pada muwus anulus pan kadange adweman wong iku enggal tummu lyan anak rabi bibine gumuywa balik lah paran karepta mbok denya lawas suhung amaweni.
(10) (21 b) Rowange pada gumuyu bindar paranya anom sira yasan asemu ragi abungah sing kapendak lulut neki ya pinaran sama swabawaningstri rantik kasmaran kandahan kung kunang sang papa nganten sampun ing pinasilih mider i tutuhun aneng pamraman kinanggut.
( 11) Tumuli lekas anginum sira Stapaka rawuh mangko sapukul kwehing makadi ya tunggu dharma soma rawuh muni kang saron anglunga lawan tuleganti arak berem kumintu tan pegat lalawuhe ramya luwaran wangi kunang sang papa ngantyan uneng jro jinem mrik arum makuna wruh paksa langkara angimbangi riantuk sang kawi putus wisti lwrim soda manerang kenaring sasadura cumantaka milwing patuh. (12) Kacarita sang Nata ring Janggala Sang Prabu asanak titiga ri Daha wuruju panuwa ri Gagelang mijil sira matur. ( 13) Antyan asih ira manak wus samaputra mang keki sang i Gegelang karuhun aputra jalu sang katong emar kalangu amukti moktah sira sang katong Sri Pramiswari wus ebal.
(14) (22a) Tan warna larani sang kari Raden Mantri mangkin apekik anom madyalus ari roro lakyanom antyan ta sihira sanak tatan kawarna deni wong sang Nateng keling kocapan.
PUPUH V
( 1) Winu wusan sira sang nata ring magada sumungku wirang ira alamar pindo winangsul mangkya ndon maring Daha kadi sagara la laku.
(2) Sang Nata ring putrasena milu wari wuruju nusuruhan sira sang dateng pawon-awon wani kakartala balanira kadi guntur.
(3) Amengpeng lampahira kendang gong tan ana muni rum ni ng ring kadiri sampung kinepung tan pacipta kang wong bisa denira pet silib ndan sang abohbohan lor Nrepati ing putra sena.
(4) (22a) Wetan sang Nateng magada balanira ngrusak tani geger tang paminggir binaranang wus enti tan kena angili punang sumangkin kang wadon asalin kapti sing wong amalat smara.
(5) Alilira susuhun sampung age kawuwusa akweh akedik ujare amelas hyun amekul pada (22b) kaya milu ya kahantu.
(6) Ling wong anang rawit tan wruh polahan ipun agung dewa sambat Rahaden Dewi Dewa katuwon pakanira kinapa wetan sinuhun. ( 7) Kang tangis tan- parungwan lewih ta pan kuda riris sam ba t nya melas asih aduh pukulun manira wurung osek sateka lubuhan langit tan mantukeng kadaton manira amulih lunga.
(8) Mati ya ri paran-paran bapa bibi tan katolih pan rahaden mantri kadi anuhura kanciwan doh tan pawang matra sira alilira Ki Arjani ku bon pada metu saha waspa.
PUPUH VI
( 1) Rame pamuk i yuda wong ing Gagelang kondura on arya maring desa lumaju sira parek satrya wong Gegelang
| maring | desa | lumaju | sira parek | satrya | wong | Gegelang |
|---|---|---|---|---|---|---|
| mangseh ring ayun. | ||||||
| ( 2) Rahaden Arya | angucap | aja we di ingadu | mangka | prayo | ||
| ganing panawur. | anahun | hutang | sihira sri | Nara | nata_ jwita | maka |
| gelang amisinggih | puku | (23a) lun | karasa sakadi anarnbek | |||
| jroni | pasir rowang | liwating | kedik | lawan | kadi | samudra. |
(3) Swarg
(4) Lah aja iku rinasan pan masa wurung mati kang bala lu mindihp pasarambang kingastra asulam Nrepati ing pajang anging ih sapa ta reko maka nararya mani yuda.
PUPUH VII
(I) Malih yan tan adrewe
| saisun | Pangeran | linok | ing ahurip | |||
|---|---|---|---|---|---|---|
| du du t tan ingsun. | alungguh | asemu | rudita | yen angucapana | pejah | Pangeran |
(2) Tibanana Iara roga age isun pukulun amapageng kadewatan
(3) Sira magelara angrungu sambat ira Panji welas ira tan
karsa atma jiwaningsun baya sira wus ku swarganira yayi wong ira ka beh pada ngusapi luh.
sipi ri ati asih
kapa irengang alawas dene sangsara
(4) Ken Braita tekana melah kayun mannira puniki pan rasa i sari-sari ari pukulun jata nana mangko was manira lwir janahit sasambat ira amelas asih lingira mangilara.
PUPUH VIII
(l) (23b) Karaningsun parnajiwa uning titis ikang luh amr tanira saha malekan tutur parwengsun utang jiwa ulun apanawur isun.
(2) Ndan Ki Bramita wus prapta i kamagetan asru katemwing tapes twan Dewya angrurah yan akusut tuhwa raras akam puh petak semu lusuh.
(3) Arjasinjang patawala anatar gedah tuhu angrawit anguwah karma akusut mangkin araras tinon ndan ing warna-warna jali awajanrang galuga Pad geseng anyuha prana.
(4) An Ion Ka Bramita nambah matur ring raden Dewi pakanira Pangeran si raka pakanira ken angaturana de pu n agelis ngilis ingantyananah pukulun ling nira ngrurah arsa.
| BAB | Ill | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| ALIH BAHASA | KIDUNG MEGAT PUPUH | I | KUNG | ||
| l.b. MUDAH-MUDAHAN LANGAN | TIDAK | MENDAPATKAN | HA | ||
| Merupakan suatu peringatan | pada saat menyusun Kidung | ||||
| pada hari | Rabu | Pon wuku Medangkungan panglong ke-15 | |||
| bulan berumur tahun saka 1858 (1936 Masehi). | dari dorongan | hari Sasih pikiran | Kedasa untuk | (bulan April-menyusun | Mei) suatu |
| hiburan hiburan bagi orang yang sangat bodoh dan berjiwa kaku. | kemudian | menyusun | geguritan | yang | |
| merupakan | alat | penghibur | bagi orang yang berkeinginan | ||
| untuk | dapat melupakan | penderitaan | dengan kidung yang | ||
| tiada membaca kidung guyon ini .. diri, yang menyadari akan keadaan diri sendiri tidak mem | memenuhi | syarat. mudah-mudahan | ada orang | yang | |
| punyai | arti teringat | dengan | diri ketika | baru | lahir dari |
| perut giatan hanya penderitaan, segala bentuk penderitaan manu | lalu menjelma | sebagai manusia tidak memiliki | ke | ||
| sia kuwarisi | kesemuanya | itu membuat | sadar pada | diri. |
(3) Adapun yang menjadi bahan ceritanya adalah diriku sen
(2) Akibat
merupakan
di dalam menghadapi bahaya yang tanpa alasan sejak dahulu.
(4) Semua perbuatan orang lain telah kuperhatikan, perbuatan orang yang tergolong baik dan buruk, namun tidak bisa untuk menirunya, Jalu kini apa yang harus diperbuat sebab bahaya itu sendiri berada pada umur, maka relakanlah pikiran itu untuk menghadapi (2a) // sebab air mukanya merasakan kekurusan hingga meringis terengah-engah sehingga kegelisahan semakin menindih.
(5) Didorong oleh pikiran ketika masih kanak-kanak, sering mengada-ada kepada ayah dan ibu hal itu yang mendorong sehingga tidak mempunyai. arti, ayah dan ibu tidak mem berikan buah kasih sayangnya kepada si anak, sendiri yang merendahkan martabat, namun sebenarnya bagi seseorang yang mempunyai anak adalah merupakan penuntun untuk dapat mencapai sorga, akan tetapi jika seperti ini keadaan nya sebagai manusia mana mungkin para Dewa akan berke nan menyelesaikan.
(6) Dan kini kita ini terlanjur telah merasakan bahwa sedari kecil harus dituntun agar jangan sampai Jupa menaruh rasa belas kasihan kepada ayah dan ibu, ketika baru saja pandai menanyakan sesuatu, meminta sesuatu sambil menangis menanyakan ayah dan ibu pada saat lapar meminta diberi kan makan.
(7) Jika kita baru pandai bermain dan bergurau, sebaiknya jangan suka menyaki ti teman, hendaknya saling mengasihi, jika kita mempunyai makanan makanlah bersama-sama wa laupun sama-sama sedikit, jangan kikir agar sa ling mem berikan dan saling menerima.
(8) Membuat ayah dan ibu menjadi senang dan jika sudah bisa menggembalakan sapi, janganlah kurang waspada, agar selalu waspada dengan mempersiapkan tali yang kuat agar jangan sampai dapat diputuskan, (2b) jika melepaskan jangan ditinggalkan, ikutilah dan harus dijaga agar jangan membuat kerusakan dan agar jangan ditawan oleh tetangga.
(9) Sebab ki ta seharusnya berbelas kasihan kepada ayah dan ibu, karena hal itu merupakan penuntut untuk dapat mencapai Sorga yang sempurna. jika kita telah pandai mengolah tanah persawahan atau tanah perkebunan, me melihara tanaman lainnya janganlah kurang waspada, jangan berkeinginan kepada milik orang lain segala yang merupakan jerih payah sedikit atau banyak tetap milik kita sendiri.
(l 0) Janganlah mencuri serta tidak memiliki rasa malu kepada wa rga masyarakat Desa, telitilah dengan cermat penyebab kemalingan itu, janganlah suka marah pertimbangkanlah di dalam hati segala perbuatan yang dianggap baik sangat sulit untuk mencapai kebaikan itu agar senantiasa berbuat dana/berdana.
( 11) Agar senantiasa memiliki pikiran keselamatan Dunia di dalam hati, sangat sulit menciptakan kebaikan. adapun perbuatan untuk berrnasyarakat adalah rasa menerima dengan senang hati berkata-kata di tujukan kepada warga masyarakat sehingga dapat menimbulkan rasa kasih sayang dari mereka yang usil, terutama terhadap sahabat, jangan berbuat yang dapat menyulitkan orang lain disaat saling mengasihi terhadap seluruh warga.
(l 2) Tidak pernah putus asa meladeni serta merendahkan diri terhadap perbuatan warga yang usil dan memberikan pe ringatan/menasehati mereka yang pikirannya bingung // (3 a) menembus hingga menyusup ke dalam hatinya, jangan lah menyalahkan orang lain, jangan mengatakan sesuatu dengan nada kasar karena didorong oleh nafsu untuk berbuat kebaikan untuk dirasakan, jika memikirkan keada an diri sendiri juga kasih sayang kepada ayah dan ibu.
(13) Keutuhan hanya datang pada pikiran yang saling mem pengaruhi, sebab untuk menciptakan kebaikan adalah per buatan hormat kepada warga yang menjadi junjungan, orang-orang yang menjadi junjungan wajar disegani, sebab dari perwujudan yang disebut ala ityu yang membuat diri kita mendapatkan bahaya selama mengabdikan diri.
(14) Jika dapat menyadari bahwa kita sebagai seorang abdi telah sewajarnya dijatuhi hukuman dari orang yang di pertuan serta wajar beliau memarahinya, sebenarnya yang dipertuan sejajar dengan seorang ayah, beliau mempunyai wewenang berbuat baik dan buruk terhadap diri kita, oleh karena itu usahakanlah berbuat demi kesenangan orang yang dipertuan, jika orang yang dipertuan tidak senang kepada rakyat maka tidak sering rakyat itu akan kehilangan pedoman.
(15) Sebaliknya jika rakyat tidak mau mengabdi kepada yang dipertuan, maka tidak urung yang dipertuan akan ke hilangan pedoman, berikanlah kesempatan untuk me mikirkan keadaan yang dipertuan, oleh karena itu bersatu lah sebagai warga desa agar merasa bahagia baik pada saat ditimpa kebaikan dan keburukan, tak ada bedanya seperti diri kita sendiri wajar untuk mendapatkan kebahagiaan/ kesenangan jika dijelmakan sebagai manusia sangat sulit untuk dapat menciptakan suatu kebaikan.
(16) Jika mendapat kepercayaan secara tulus iklas// (3b) dari sesamamu pada saat melakukan pembunuhan terhadap yang tidak berdosa, senantiasa bersifat dengki" .tanpa hentinya melakukan/menjalankan ilmu hitam seperti: Aneluh anran jana, membahayakan orang yang berbudi luhur mengandal kan sifat murka/kemurkaan dan sering mengeluarkan kata-kata yang kotor.
(17) Jika sudah seperti itu tidak mungkin akan mendapatkan kebaikan karena tempat kebaikan itu semakin jauh, karena terlalu menggantungkan diri kepada perbuatan Asusila/ jahat, melakukan perbuatan angkara murka melulu, mem buat di dalam penjelmaan kemudian bukan main me nanggung deri ta, di saa t seperti i tu barulah sadar dan ber keinginan untuk merubah setelah digelut oleh kesengsaraan, jika menyadari mana perbuatan yang baik, maka akan mem bawa bekal serta yerlengkapan yang serba dapat dirasakan. (18) l..alu kini apa yang harus diperbuat sebab telah terlanjur membuat kesulitan hingga tidak kuasa menggerakkan tubuh
karena telah ada yang menentukan, lalu bagaimana caranya untuk dapat mengembalikan yang telah terjadi tak ubahnya biji buah jawa yang dijadikan tujuh bagian yang ditengge lamkan ke dalam samudra, lalu ingin diambil kembali, maka sangat sulit berbuat sesuatu jika dijelmakan sebagai manusia.
(19) Sebelumnya jika sudah sering menerapkan segala yang di sebut kebaikan walau tidak berhasil menikmati rasa dari kebaikan itu, janganlah ada rasa penyesalan, rela dan yakin lah akan me ndapat pemb alasan, sebab tak kuasa dicari per buatan yang baik dan buruk itu, telah merupakan pemba gian dan anugrah // (4a) dan jarang orang dapat menemu kannya. (20) Lagi pula jika mulai jatuh cinta kepada seorang wanita, janganlah secepatnya menaruh kepercayaan kepadanya, ketahuilah sebanyak mungkin kelemahannya, karena tidak terhitung banyaknya merniliki ujud dan warna pikirkanlah terlebih dahulu, jika telah bulat pikiranmu serta tak ada pilihan lainnya barulah dilaksanakan cintamu itu kepada siapa yang menjadi idaman hatimu
(21) Jika bermaksud untuk mendapatkan seorang wanita yang baik, janganlah tertarik kepada wajahnya yang cantik, perhatikanlah tingkah lakunya, jika telah nyata perbuatan nya baik terhadap masyarakat selalu merendahkan diri, tidak menunjukkan rasa kasih atau duka kepada seluruh masyarakat banyak. (22) Jika terlihat tanda-tandanya yang tidak terlalu mengharap kan kedatangan seorang laki-laki di mana air mukanya sulit untuk diterka, maka wanita yang seperti itulah yang benar-benar horma t dan kasih sayang kepada ayah dan ibunya terutama rasa hormatnya kepada orang yang di pertuan, juga kepada saudara-saudaranya, agar jangan suka mendatangkan pengaduan dari tetangga, yang disampai kan kepada ayahnya atau kepada junjungannya.
(23) Wanita yang seperti itulah yang hams dipinang, dan jangan beristri lebih dari seorang jangan menghendaki istri banyak,
pikiran menjadi tenang jika yang dicin tai// ( 4b) berhasil didapatkan, tak usah banyak istri kalau hal itu hanya mem buat tertawaan orang banyak, jika membuat datangnya rasa kasih sayang agar jangan membuat penyesalan walau dalam keadaan baik dan buruk tanpa merasa ragu-ragu. (24) Jika sudah waktunya. untuk menjelma sebagai manusia yang hanya mengenal kemarahan, tak ubahnya periuk dengan penutupnya yang jika akan bersentuhan sehingga mengeluarkan suara, karena suara hidup ini memang penuh dengan nafsu yang tidak henti-hentinya selama hidup, jika mendapat panggilan dari istri janganlah hal itu sampai dapat diketahui oleh pembantumu, pembicaraannya yang baik dan buruk agar cukup didengar berdua saja. (25) Jika dipanggil oleh si istri janganlah tidak menjawab sebab kalian harus manunggal di dalam menghadapi suka dan duka, pilihlah jalan untuk dapat rukun di dalam menjelma sebagai manusia yang kemudian bersuami-istri, tidak lain yang dipuja ialah si ayah dan si ibu, mohonkan kepadanya agar dapat hidup.sebagai manusia wajar.
(26) Agar berhasil mencapai sorga niskala (alam tidak nyata), untuk dapat mengenal diri kita maka janganlah takut akan kesibukan agar dapat menahan di dalam hati jangan saling menyalahkan bersama istri, sesuatunya rundingkan kembali berdua, (27) Perbuatan seseorang yang baik dan buruk pergunakanlah sebagai contoh dan rasakan, pilihlah mana yang termasuk baik/benar,// (5a) ukur bersama-sama dengan istrimu, keangkuhan bagi seorang .wani ta se belumnya harus di perhatikan semasih di ·rumahnya, apakah benar-benar kasih sayang kepada suaffii, sebagai seorang istri seharusnya takut menentang suaminya perasaan seorang wanita tidak sewajarnya mengekang.
(28) Kekurangan yang ada pada diri suami berkewajiban me megang yang menyebabkan/membuat si istri memiliki rasa takut kepada si suami, mengikuti segala yang dilakukan
oleh si suami, agar selalu menunjukkan rasa dan sikap cinta agar dapat memaklumi segala yang menjadi pemikiran suaminya, serta senantiasa 111enunjukkan ketulusan pikiran/ ha ti.
(29) Jika bepergian agar selalu didampingi oleh pembantu, sebab dia akan menjaga keselamatan si suami /si istri hitung lah kecintaannya bermasyarakat serta rasa kasih sayangnya itu, dan selalu menunjukkan adanya rasa kasih, walaupun dalam keadaan menderita agar selalu menunjukkan rasa kasih sayang, penuh kebaktian kepada Raja, juga terhadap orang lain, perbuatan yang demikian itulah merupakan ke setiaan dan kebajikan, seorang istri yang takut akan dirinya. (30) Sebab si suamilah merupakan seorang guru yang disebut "Guru Laki" berhak memilih dan meninggalkan, bagi se orang istri agar sadar bahwa dirinya harus memiliki rasa takut menentang suami agar segalanya dapat mewujudkan sesuatu yang baik, yang laki-laki hanya mengeluarkan walau berbentuk baik dan buruk// (Sb) yang dapat diterima oleh sang istri, .maka itulah seorang wanita yang baik.
(31) Pahala dari orang yang seperti itu secara nyata dan secara tidak nyata tidak urung akan dapat mencapai sorga sampai1 pada anak cucu dan buyut akan dapat menikmati, bagi seorang laki-laki yang selalu menuruti kehendak istrinya akibatnya akan menemui kematian, warga dan sahabat semua pada menjauhkan diri. (32) Jika selalu mengikuti yang menjadi kehendak si istri yang tujuannya ingin mengalahkan si suami, dan jika disanjung semakin menjadi pemurka, perbuatannya akan membuat para sahabat semakin menjauh namun ia sendiri akan se makin menjadi senang, bertujuan agar jarang memberikan sesuatu yang diminta oleh orang lain, menumpuk kekayaan bersama suami, membenci orang banyak dan segala yang merupakan kekurangan pada dirinya menjadi serba ada. (33) Bukannya yang semacam itu yang dikehendaki oleh pen jelmaan ini, .namun sebenamya agar para warga merasa
senang juga orang yang dipertuan dan para sahabat, per buatan yang salah itu akan berpahala sebagai Dasar Kawah, sesuai dengan ajaran agama, kalau memang tidak sulit hidup sebagai manusia di mana pikiran itu selalu menghendaki kebaikanlyang baik lalu jalan kebaikan itu tidak mau di telusuri, .akan menjadi malu orang yang berbuat salah, banyak orang berkeinginan melakukan kebenaran namun semua pada membuat keributan yang mengacaukan pikiran.
(34) Ada yang berbuat begini ada yang be.rbuat begitu II (6a) semua pada menyatakan diri benar, tidak metihat perbuat annya yang salah dan mana yang benar diperkirakan salah sebatiknya yang salah diperkirakan benar.
(35) Kalau dipaksakan mencari kebenaran dan jika menyadari akan keadaan diri miskin serta bersifat kaku dan yatim piatu, bekerjalah dengan penuh ketekunan, pada saat me rasa letih jangan merasa segan pulang, baru saja menanak nasi telah merasa marah terhadap cara makan, siapa tahu ada yang membuat bahagia karena akan pasang-surut bagaikan lautan.
(36) Sehabis makan tergolek di tempat tidur sambil membaca gentling, sebuah gentling yang tak tahu tujuannya, karena diri kita sangat malas, kemudian bangun berbedak mem bedaki badan, selesai berbedak lalu pergi bertandang, pikir kanlah bahwa diri kita yang tak mempunyai arti lalu ber kunjung ke rumah tetangga, kemudian meminta kepada tetangg dan memerintahkan agar memberikan suguhan. (37) Jika berkunjung ke rumah teman janganlah terlalu sering main tertawa, agar sama-sama dapat menyadari, berhati hatilah jika tertawa, selanjutnya tidak jarang setelah ter tawa-tawa lalu sating menyalahkan, sating berusaha mencari kesalahan kawan, setelah· berhasil mendapatkan yang baik maka seharusnya dipikirkan dalam hati.
(38) Jika bermaksud menyayangi masyarakat laki-laki atau wanita janganlah berlebihan memberikan sikap kasih sayang 11 ( 6b) kepada para wani ta dan se batiknya janganlah tidak memberikan sikap rasa kasih sayang kepada mereka, jika
berkelebihan memberikan kasih sayang kepada mereka akan dapat menimbulkan bencana, sebab pikiran laki-laki ber
| dapat | menimbulkan | bencana, | sebab pikiran | laki-laki | ber | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| lawanan cepat menaruh nafsu, semua laki-laki pada menaruh minat | dengan | pikiran | seorang | wanita | senantiasa | |
| kepada | seorang perempuan, demikian | pula | para | wanita, | ||
| hanya laki-laki | yang diidam-idamkan, | oleh | karena itulah | |||
| kendalikanlah rakat sama dengan saudara-saudara kita, jika ada niat dalam | nafsu | jika | sayang | akan diri, | warga | masya |
| pikiran yang harus dilaksanakan agar membuat para warga menjadi senang, jangan lupa mengabdi kepada orang yang dipertuan, janganlah boros akan milik kelaki-lakian, jika hal itu kuasa mengatasinya maka itulah merupakan Pura yang sejati se suai dengan Ajaran S'!S tra. Desa, sahabat, serta orang yang dipertuan semua akan men | utamakanlah | pelaksanaan | "tata krama" hal itulah | |||
| jadi senang, kekal serta dapat dibawa mati, jika merasa senang terhadap diri kita dengan senang pada menjelaskan keburukan .kifa, a tau beliau yang merupa | hal yang suka berbuat' salah, walaupun hidup penuh kekayaan namun kesemuanya itu tak ada artinya. atau tidak menaruh | itulah | yang merupakan perhatian | kekayaan | yang | |
| kan sehingga | tumpuan semua binatang sampai | menghendaki | kita | agar secepatnya pada "Kumilip" merasa | mati, | |
| tidak nyerang berkeinginan | senang dan | menjadi membunuh, kemudian setelah mat.i | galak, | serta semua | pada | me |
| penuh akan berperujudan sebagai "Triak". | dengan | penderitaan, | dan | jika menjelma | kembali | |
| jangan | putus-putusnya | mempertimbangkan | dalam | hati, | ||
| siapa | tahu dapat | dituntun | menuju | ketempat | pembuat | |
| kebahagiaan banyak, pikirkanlah untuk dapat menciptakan sendiri. | orang juga dalam | banyak suka dan duka tanpa mengenal lelah, | dan | para warga | masyarakat |
(39) Oleh karena itu kuat-kuatlah menahan diri agar tidak cepat
(40) Jika tepat caranya terhadap diri kita ini, warga masyarakat
(41) Jika masyarakat banyak orang yang dipertuan tidak merasa // (7a) serta semua
(42) Oleh karenanya waspadalah selama hidup sebagai manusia
(43) Janganlah bertindak gegabah asal mendapatkan makanan, dan jangan merasa enggan makan ke rumah, berikanlah suguhan kepada seorang tamu yang datang tempat jauh agar mereka dapat menyesuaikan diri, karena kita sendiri akan turut pula menanggung malu jika kurang caranya memberikan suguhan, segala bentuk kepayahan untuk meladeni warga masyarakat banyak akan tak ada gunanya. (44) Sebab bagi orang yang sayang akan dirinya itu, dilenyapkan (dihilangkan) serta masih memberikan pinjaman suatu ke giatan kepada orang yang masih merasa berhutang jika dapat berdana kesentausaan serta pengabdian kepada orang yang Dipertuan, tidak menghitung kesulitan yang akan dilaksanakan, kemudian jika berhasil melaksanakannya tanpa melakukan kebohongan kepada // (7b) orang yang Dipertuan, turutilah semua perinah beliau.
(45) Kesemuanya itu perbuatan yang baik, sebab kita selalu rakyat diperintah oleh orang yang Dipertuan, jika suatu keburukan lalu dirasakan oleh kebaikan, maka seharusnya dihaturkan agar beliau mengetahui tentang baik dan buruk nya yang kita telah lakukan, dan itulah merupakan tindak an yang sangat tepat bagi seorang abdi.
(46) Jika kita menerima yang baik saja kemudian yang buruk lalu disampaikan kepada beliau agar beliau dapat menge tahuinya, lalu apa sebenamya nama yang diberikan kepada diri kita ini, sebab kita yang melakukan pilihan, hai meng apa demikian terhadap beliau yang Dipertuan, sebab beliau yang Dipertuan dapat megetahui segala yang kita perbuat kesemuanya itu.
(4 7) Karena beliau itu tak ubahnya matahari yang telah dapat mengetahui segala yang diperbuat oleh rakyatnya yang sama dengan langit, baik dan buruk segala perbuatan kita beliau
| telah | mengetahuinya, upaya demi kebaikan dan perbuataj | |
|---|---|---|
| salah, mengetahui, sifat dengki kepada masyarakat serta pikiran | yang | diperbuat |
| jahat | yang | belum |
oleh rakyatnya beliau telah dapat
dikeluarkan beliau telah dapat menge tahuinya.
(48) Sebab beliau yang kuasa menunggu setiap yang diperbuat oleh rakyat beliau, juga tentang kebaikan dan keburukan yang masih tersimpan di dalam ha ti, sangat keliru jika diper kirakan bahwa beliau yang Dipertuan //(8a) tid ak mengetahui segala perbuatan kita yang penuh kedengkian, banyak yang masih kurang dan sangat sering menyalahkan diri beliau yang Dipertuan.
(49) Setiap beliau menjelaskan s<:>gala yang telah diperbuat oleh pa ra rakyat, agar para rakyat itu sendiri dapat menya dari seg ala apa yang telah mereka perbuat, baik dan buruk, yang ada maupun tidak, kaya dan miskin, hanya pada diri kita jalannya kebaikan dan keburukan itu, oleh karena itu hormatilah dirimu sendiri dan janganlah sampai melupakan badan ki ta ini. (50) Oleh karena itu janganlah mengutamakan pekerjaan yang tidak berkeputusan, janganlah sering bertandang, janganlah sering me mbenci tempat tidur, sebaliknya agar sama-sama dirasakan sehingga jangan sampai menyusahkan pikiran, persiapkan segala yang ingin dicapai seperti warga yang telah dapat merasakan kebaikan serta yang berdana dan sentosa.
(51) Kepada orang yang belum banyak mengetahui janganlah terlalu memuji diri, agar dikau dapat menyadari satu-per satu, jangan tertarik kepada yang selalu mendatangkan kegembiraan, agar timbul dari tujuan yang benar, dan jangan hanya dalam pikiran, waspadalah kepada kebaikan dan ke burukan setiap saat. (52) Yang wajar diberikan perhatian banyak seharusnya memer lukan tenaga banyak sekalipun dengan cara membanting tulang, demi semakin menipis menuju ke neraka, sakitilah diri kita ini agar mengetahui apa sakit itu, perbuatan yang baik dan buruk // (8b) agar dapat dipahahim/agar dapat diketemukan, karena sangat sulit menjadi manusia, jika berkeinginan kepada yang baik, maka berawal dari ke burukan.
(53) Usakanlah
| apa | yang | hams | diperbuat | terserah | ke | sana | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| kemari | membanting | tulang | namun | tidak | mendapatkan | ||
| yang menerka yang tidak wajar diterka, semua pada bertebaran, karena banyak bentuk dan rupa wamanya beraneka-ragam, tampak pasang surut kurang dan berlebihan, tak dapat di ambil dan tak dapat dibuang. | ingin dicapai, | semua | pada | tidak menentu, | selalu |
(54) Kalau dipungut sepertinya kurang tepat, jika dibuang maka tak ubahnya di dalam peperangan yang sangat ramainya, sebelum melakukan peperangan tidak merasakan ketakutan, memperkirakan diri bahwa benar-benar mengabdikan diri, hanya kehendak sebagai laki-laki sehingga mempertaruhkan nyawa.
(55) Setelah melakukan peperangan di medan laga disertai dengan sorak-sorai, gemuruh, suara bedil ramai meng gelegar, di saat seperti itu hati menjadi terbalik ketakutan karena melihat mayat-mayat bergelimpangan, jika lari tak ada artinya lagi karena telah banyak Iuka pada tubuh, bermaksud maju lagi nemun rasa takut itu mengejek.
(56) Sehingga jiwa itu tak mendapatkan hasil, tidak menentu yang ingin dicapai, hanya merupakan penuntun jiwa ke dalam kesengsaraan, // (9a) semua tak mendapatkan pahala serta tidak memberikan pahala diri sendiri, pada akhirnya jiwa itu berada ditempat tidur, karena terpaut oleh rasa kasih-sayang, maka tak ada artinya mengabdikan diri setiap hari .. (57) Kini telah menyadari akan keadaan yang tak berarti, lalu siapa yang akan disalahkan, apa yang kini harus diperbuat karena kesemuanya disebabkan oleh perbuatan kita, semua perbuatan orang yang berbudi luhur tidak berhasil didapat kan, hanya kesediaan yang semakin menindih.
(58) Jika perasaan yang terdapat dalam hati diperhatikan setiap hari, setiap malam, sangat gelap tak dapat dirasakan, maka membuat putus asa, jika putus asa hanya membuat semakin parah, apakah diperkirakan semua pikiran itu salah di-
mana-mana, jika diam sediki tpun tidak mempunyai tujuan nekat untuk menyusuri arah ke timur yang tidak akan tertelusuri. (59) Susuri sejauh-jauhnya ma sih tetap timur, tak akan berjumpa apabila berkeinginan mencari hujungnya, akan setiap hari engkau merasa lelah menyusuri dalam yang sangat sulit, naik turun melintasi jurang yang sangat dalam, jalan-jalan yang rendah banyak bebatuan, jalan sempit berlumpur serta tergenang sukar dikeringkan, yang dapat kita jatuh // (9b) disebabkan oleh keburukan jalan. (60) Jika jalan terlalu berlumpur lewatilah tanah tegalan, selama tiga tahun kepanasan kehujanan ak ada tempat berteduh, jika telah melewati/lewat tanah tegalan lalu menyusuri daerah hutan, hutan yang penuh dengan duri yang tampak di sana-sini dan banyak ular. (61) Sangat banyak binatang yang galak dan membahayakan, bertemu dengan sungai yang sangat lebar di sana kembali merasakan kebingbangan, masih jauh dari panjang timur itu, lalu apa yang harus diperkuat, sehingga kebingungan tanpa arah yang harus disusuri, di sana pikiran bermaksud kembali. (62) Bermaksud untuk kembali lalu jalan mana yang ditelusuri karena telah kebingungan, ditambah lagi perbekalan telah habis, telah sangat lesu tidak kuasa lagi melanjutkan per jalanan, lalu timbullah tangis sesalkan diri memerintahkan diri agar mati dimana Para Dewa yang sangat sakti, bermo hon agar dirinya lekas mati agar usai menderita. (63) Lalu telah dapat dirasakan dalam hati sehingga timbul pi kiran nekad, karena keadaan diri telah terbelenggu oleh kebingungan, kini mempertimbangkan di dalam hati jika aku ini // (1 Oa) ma ti, konon masuk neraka sesuai dengan ajaran sastra. (64) Mati diakibatkan kepenatan untuk dapat mencapai timur/ arah timur, tiba-tiba. teringat akan arah timur, dan tiba tiba saja menjadi sangat kegirangan, menaiki perahu pun-
tung, oranorang berlayar dan berdayung/mengayuh dengan kedua buah tangannya entah hidup atau entah akan mati, di sana-sini tampak binatang buaya yang berjaga jaga, ikan yu yang berbahaya dan ikan lembuwara.
(65) Kini hanya merasakan ketakutan bagaikan berada di pin giran arah timur, sedangkan arah timur masih sangat jauh, kini telah turun dan bertemu dengan lautan yang sangat menarik, mulai menggerakkan perahu namun tidak dapat berlayar/berjalan, hanya bergerak di tempat membuat rela mati, tidak merasakan takut lagi karena rasa itu telah lenyap. (66) Lesu pada saat masih merasakan kegelisahan, hatinya menja di terang dengan mengambil tindakan nekad, rela mati atau masih hidup, menggerak-gerakkan badan untuk dapat berenang, entah berapa lama berenang di lumpur, tiba dipinggiran arah timur, namun masih sangat panjang ujung dari arah timur itu. (6 7) Bertemu dengan lautan api yang menyala-nyala memenuhi pertiwi, hatinya terkejut serta menghentikan langkah/ tertegun, lalu teringat akan kebahagiaan hidup rela // (10b) mati dilebur deh api yang menyala-nyala, tidak per duli lalu masuk ke dalam api, namun tubuh itu tidlk ter bakar. (68) Setelah melewati lautan api tiba-tiba bertemu dengan halaman yang sangat bersih disertai dengan angin kencang tidak hentinya, pepohonan tak ada lagi disebabkan angin itu, namun arah timur itu belum selesai masih sangat pan jang harus berjalan, dengan jatuh bangun melanjutkan per jalanan serta diserang oleh angin, sedangkan arah timur masih jauh di sana. (69) Kedahsyatan angin itu telah terlewatkan lalu tiba di tempat yang gelap-gulita, sempoyongan ke sana-ke marl dan lin lung keadaan badan itu, tampak tak ada suatu arah, lalu mana yang dapat disentuh, a!
(70) Tak clapat ditentukan mana barat dan mana timur tak ada utara dan selatan sulit dapat dikenal, mana pertengahan mana bawah clan mana bagi<µl atas, semua pada suiit dapat dikenal. mana bu lan mana matahari bintang clan tata surya lainnya, tidak kelihatan tempatnya karena keadaan sangat gelap, tak ada hari siang, malam selamanya.
(71) Lalu ke mana harus pergi untuk dapat mencapai ujung dari arah timur, 11 (I I a) bermaksud untuk melanjutkan perjalanan namun tidak tentu arah kemana, jalan mana yang harus disusuri dan mana yang harus disentuh, kal au di piki rkan tak ada artinya, kini dapat merasakan akan mati di tempat itu, berusaha agar jangan mati dalam keadaan kurus, mati kebingungan mati kegelapan, menunggu hari siang namun tak acla siang.
(72) Kini berpikir memikirkan tentang hidup sebagai manusia wa laupun keadaan ini yang didapatkan, sangat me rasa senang dan bangga dijelmakan sebagai manusia, harus di- pi ki rkan dengan cara pel an-pelan diperkirakan gampang melakukan sedekah dan ikut serta bersikap suka-ria, dengan penuh kesombongan saling mendahuiui. (73) Hanya dengan dapat merasakan bahwa diri kita, tidak me mikirkan keadaan orang lain kekurangan pertimbangan, sebenamya harus ditanyakan terlebih dahulu, jangan kesusu dan tanyakan kepada orang yang memahami hal itu, agar kita dapat mengetahui apakah hal itu berat atau ringan, apabila belum juga menemukan, agar jangan kita inildikau bagaikan merayu yakni merayu diri sendiri. (74) Beginilah caranya sekarang agar dapat meiakukan apa yang menjadi tujuan dan pelaksanaan itu, karena kita teiah meng andaikan kekakuan pikiran, terlalu percaya kepada pikiran yang salah, menjanjikan akan menemukan, dengan pe mikiran bahwa kita telah tertinggal di belakang, kini telah merasakan panas, maka janganlah berpikiran teiah jauh di belakang, walaupun tak ada yang harus diperbuat di dalam melakukanlme nerapkan 11 (11 b) kebodohan yang keku rangan akal.
(75) Kini dikau telah dapat merasakan bagaimana seharusnya hidup sebagai manusia, sebenamya mengecap bahagia yang tak ada bandingnya, apabila memikirkan perbuatan orang yang ingin mencapai kesempurnaan/kebaikan, jika seseorang yang sok gampang hid up sebagai manusia, maka segala yang diperbuatnya penuh dengan keangkuhan, namun sebenamya tidak semudah itu hid up sebagai manusia.
(76) Melakukan perbuatan yang tidak menentu, rakus angkara murka suka menghina dan berbuat yang dapat menimbulkan bahaya, iri dengki serta pemurka, sikap sayang hanya suka dengan milik orang lain namun sangat kikir dengan inilik sendiri, selalu berusaha untuk dapat memiliki milik orang lain, usahakanlah agar jangan kita mempengaruhi orang lain.
(77) Kesenangan mengejek orang lain memalingkan muka kepada orang yang dalam keadaan sengsara dan kepada warga yang dalam keadaan menderita, serta menunjukkan air muka yang angker sukar digugah, setiap yang menjadi kecintaan nya/idamannya bukan main caranya menunjukkan rasa kasih-sayang jika bertalian dengan setiap miliknya maka tidak merasa sayang akan kematian orang itu
(7 8) Jika salah seorang warga desa yang berbua t salah yang tidak berarti, lalu bermaksud untuk segera membunuhnya, apakah semudah itu hidup sebagai manusia, membegal mencuri sok mendapat hasil, dan pada penjelmaan di ke mudian nanti tak akan menjelma sebagai manusia// (l 2a) lagi karena telah jatuh dan kembali sebagai "Triak".
(79) Selama seratus tujuh puluh lima tahun sebanyak tujuh kali masuk neraka dimasukkan ke dalam kawah, apakah yang seperti itu kegampangannya hidup sebagai manusia dan tidak sulitnya mengarahkan pikiran, serta mengikuti pikiran bahwa tidak sulit hidup sebagai manusia, pendapat itu sama dengan binatang yang hanya makan dan tidur dan itu yang menjadi kesenangannya.
(80) Bagi pemikiran orang miskin, bukan menjadi manusia ini yang bertujuan untuk menjelma sebagai manusia itu ber-
pikiran gelisah, membuat sangat sedih, hingga ke sana ke marl minta pendapat dari para warga masyarakat, yang telah memahami tentang penderitaan itu, mengharapkan air muka yang menunjukkan kerendahan, gerak yang lemah ingin dibidik.
(81) Hanya seperti itulah penyesalan atas dirinya, sok dirinya itu dijelmakan sebagai manusia yang hidup di dalam pen deritaan, di dalam membaca Kidung yang benar-benar jauh dari kesempurnaan, hanya merupakan permainan anak-anak, sebuah Kidung yang isinya menceritakan orang kebingung an.
PUPUH II
(1) Tersebutlah/ada dua orang anak, dua bersaudara yang di tinggalkan oleh ayah dan ibunya, ke manapun mereka pergi tak pernah berpisah namun selalu berdua, bemama Sang // (l 2b) Atwa dan Ki Kabwa, jatuh pada Ki Kabwa lah ke rupawanan itu.
(2) Keduanya itu berebutan untuk mendapatkan "rasa" namun belum berhasil,_ berselisih sedari muda dan terhadap segala nya, yang berakibatkan tidak mengaku bersaudara dan bermasyarakat, tidak berhasil mendapatkan di mana adanya sorga itu, tak ada yang tidak tertarik terhadap laki-laki dan wanita.
(3) Dan keluarga dari ibu dari paman tidak sudi, pergilah jauh jauh pada siang hari jangan iku serta di tempat ini/di sini, sebab engkau anak-anak dari dunia/rat, segeralah pergi ke tempat jauh, agar jangan terlihat olehku, karena hanya membuat panas hatiku.
(4) Ada sebuah Geguritan yang tercipta dari akibat dorongan · pikiran, mempergunakan Pupuh Megat Kung, menyesalkan keadaan diri yang_ tak berarti, segala yang merupakan beban hidup tidak berkeputu5an; pada tubuh/badanku ini, serta ditindih oleh neraka/papa-neraka dan kecemaran, senantiasa penuh keraguan penuh dengan rasa malu.
(5) Lalu apa yang harus diperbuat sekarang, untuk rnernikirkan diri kita yang sangat pedalarnan, sangat rakus berjiwa kaku, senantiasa hidup dalam penderitaan, orang lain pada tak ada orang yang sepertirnu, hid up sebagai rnanusia hanya rnenjadi tertawaan.
(6) Yang seperti itulah rnenjadi perbandingannya, berperujudan manusia, turut serta menghibur // (13a) hati orang yang dalam keadaan kebingungan, .kini menjadi sangat sedih
| dalam | keadaan | kebingungan, | menjadi | sangat | sedih | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| sadar dengan orang lain,•dan inilah keadaan sekarang. girang rnernbuat keheranan dan jahat, bagaikan si Baka hati nya sangat besar dan berat, suka makan dan rninurn rakus | akan diri | penuh | den n | tidak | sama | |
| berpakaian, suka | tak rnengarnbil kekayaan orang lain, jika perutnya telah | suka mengernbalikan | barang | orang | lain, | |
| kenyang rnenindih\ maka rnurarn rn'enntih setiap perkataan bernada berputus asa dan salah, rnengharapkan Air-Kehidupan yang | rnaka akan | siang penderitaan, | rnalarn menari .kesedihan | di serta | teinpat petaka | tidur. yang |
| rnengalir | bagaikan | banjir, | mengeluarkan | kata-kata | yang | |
| tidak dengan rnulut rnengernbung. | beretika, | para keluarga | sernua | pada | tak cernberut | |
| dirinya rnaki, seperti rnernbunuh badannya sendiri pada saat kem bali pada penjelrnaannya, siapa yang rnenyuruh menjelrna penuh dengan kedendarnan serta tak ada arti narnun ikut ikutan rnerasa bangga dan rnenghina. | sendiri, .sering rnengeluarkan | kata-kata | mencaci | |||
| mernbuat dewa yang sangat sakti, untuk menyelesaikan hid up ini agar | tidak | rela rnati, | lalu di mana | kedudukan para | ||
| jangan penderitaan itu selama hidup sehingga terputus derita itn | // {l 3b) | turun | rnenjelrna | lagi, karena seperti | ini | |
| badanku | ini, | rnenjadi gelap pikiranku diselirnutinya, | me- |
penderitaan,
(7) Jalan yang merupakan perbuatan bodoh adalah pikiran yang
(8) Teringat ·
(9) Hatinya pen uh dengan kebencian sayang bagaikan rnernukul
(10) Jika seperti ini segala perbuatan yang diperbuat itu, hanya
(11) Sernakin membuat sangat sedih dan ditarik oleh penderitaan
nangis dengan kata-kata rnenghancurkan hati, serta ber keinginan dapat rnengetahui di mana ayah dan ibunya, di mana tempat ayahku dan di mana tempat ibuku, lihatlah keadaan anakmu seperti ini.
(12) Ayah dan Ibu rnembuat anak sangat banyak namun tak ada artinya, seolah-olah tak kuasa rnembayar hutang, ambil kembali aku ini, selesaikan serta hancurkan agar berhenti selaku manusia, apabila harus seperti ini, sangat berbahaya dan tidak berarti penjelmaan ini.
(13) Membuat hati menjadi ngeri kalau benar diri kita orang pedesaan, percaya terhadap perbuatan yang tak ada artinya dengan mengeluarkan kata-kata mencaci maki, akhirnya membuat tidak mendapatkan pahala, merugikan diri sendiri, dan kini siapa diri kita ini, orang lain berbelas-kasihan me lihatnya.
(14) Ada pembantunya berbelas-kasihan di mana rasa belas kasihannya i tu benar-benar dari ha tiny a sehingga cara me nyampaikan nasehatnya menyayat hati, "Duhai nini adinda ku, janganlah terlalu mengutamakan kemarahan yang men dongkol setiap hari, salurkan, telan, dengan perbuatan hingga tidak berbekas ".
(15) 11 (l 4a) Dahulu pernah ada ceritera yang pernah aku dengar dan kini dengarkanlah agar menjadi jelas, tersebutlah se orang pertapa yang sangat sakti yang bertempat tinggal di daerah pegunungan, beliau mempunyai dua orang Abdi Ang dan Ing yakni seekor kucing dan seekor rase yang di pergunakan untuk menakut-nakuti tikus.
(16) Si pertapa sangat sayang namun terlanjur telah mengutuk anak betinanya yang berkewajiban menakuti tikus, kini menyadari akan diri dalam keadaan sangat kurus karena tidak pernah makan, sedangkan si kucing menggerakkan tubuh dengan merangkak dan memakan anak ayam yang rna.sih kecil
(17) Dengan tidak hentinya melakukan pencurian, setiap yang tidak tertutup dicurinya dan itu dirnakannya, sedangkan
| si rase | hanya | mengadu | nasib menyerahkari | diri kepada | ||
|---|---|---|---|---|---|---|
| umur, hari berjongkok di hadapan si pertapa melakukan pemujaan | benar-benar | sangat | takut kepada si pertapa, setiap | |||
| dengan menakjubkan. | senang | mendengarkan | pelaksanaan | pujaan | yang | |
| ( 18) Tidak | memiliki | makanaQ | .segala yang | diberikan | oleh | si |
| pertapa | i tulah | yang merupakan | kesenangannya, | lama-ke | ||
| lamaan nimpa anaknya itu, tanpa diduga anaknya lalu disergap hari | tiba waktunya | kutukan itu terjadi yang juga me | ||||
| mau berlari. | namun dapat | meloloskan | diri yang kemudian segera | |||
| cepatnya | berlari | .sering | terpelanting | sepanjang | jalan, | se |
| sampainya | di rumah | memberitakan kematian, | ibunya | di | ||
| dekap | kemudian | menjunjungnya | 11 | (14b) lalu | menangis, | |
| si rase yang dimintai keadaan sangat sedih lalu berkata "Bibi tidak pandai mem berikan pengobatan. namun tak mempengaruhi pikiran beliau, telah lama konon | obat | benar-benar | si rase itu | dalam | ||
| si kucing mati, | terengah-engah | berguru, | siang dan malam | |||
| menangis | tak | pernah makan, | hingga | badannya | menjadi | |
| sangat ikut serta menangis. "Duhai nini anakku berikan jalan hati selama h.idup, karena sangat jauh mengakibatkan menderita | kurus, | setiap hari | dibuat | menderita | dirinya. | |
| dan sengsara, dilihat. | semua | diatur | oleh beliau | yang tidak kuasa | ||
| janganlah jangan terlalu mengikuti pikiran yang tidak menentu, saring lah semua yang rnenjerurnuskan sehingga cita-cita itu men jauh, kebaikan itu akan semakin menjauhi diri, yang selalu | terlalu | mengikuti | pikiran | yang | kakulbodoh, | |
| memberikan | sikap | yang | merendahkan diri semakin | jauh. |
(19) Hanya matanya tergores hingga menjadi bu ta kemudian se
(20) Si pertapa telah mengetahui tentang kematiannya si kucing,
(21) Membuat si rase menjadi sangat kasihan melihatnya lalu
(22) Rubahlah segala perbuatan yang pemah dilakukan dahulu,
(23) Ada yang merupakan nasehat dari bi bi lalu apa yang harus
kita perbuat sekarang, hukum bagi mahluk hidup maka ke bahagiaan itu tak dapat dikejar, demikian pula yang disebut "ala-ayu" sama keduanya itu tak dapat dielakkaQ terlepas kemudian kembali diberikan beban oleh beliau Hyang Penguasa man usia.
(24) Ses uai dengan beri ta yang kudengar oh anakku // (l 5a) yang harus dilaksanakan di dalam penjelmaan ini tidak lain adalah "Tapa Brata" usahakanlah dapat melaksanakan, siang dan malam diperhitungkan, .karena merupakan penuntun untuk mendapatkan rasa kasih ·dari Beliau Hyang Berwe nang, akan tetapi pilihlah jalan untuk mendapatkan jalan rasa belas kasihan dari para Dewa, oleh karena itu janganlah terlalu percaya kepada suka marah itu.
(25) Jika menurut pikiranku mengenai dirimu sebagai kucing sangat banyak mendapatkan kebahagiaan, mendapat rasa kasih dari Sang Pertapa terutama tentang kesaktian beliau itu, sebaliknya usahakanlah berbakti kepada Si Pertapa, sebagai kucing dan rase segala yang merupakan kecemaran akan lenyap di dalam penjelmaan nanti.
(26) Oleh karena itu seharusnya tidak berani mencuri milik Si Pertapa, akan kena kutuk sesuai dengan cerita/tutur, tidak dibenarkan berbohong kepada si pertapa, menurut pemikir anku bahwa ibumu mati karena kena kutuk, sangat bodoh suka menggigit dan mencuri.
(27) Kini menurun kepadarnu mengikuti jalan yang ditelusuri
nya, kau telah melihat dan hatimu telah menguasakan, tinggallah Putu dan Buyut di mana kebaikan dan keburukan (ala-ayu) tidak ada halangannya, oleh karena itu oh anakku telah sewajamya kini anakku usahakan menuntut/tuntutan diri anakku.
(28) Telitilah "Aji Brata" setiap hari pegang dan usahakan ber sikap/melakukan sedekah/dana usahakan, hati yang bening dan jangan cepat-cepat percaya kepada sesuatu kata-kata, ketahuilah apa tujuannya, jangan sok meresapkan sesuatu,
percayalah kepada "Tapa Brata" demikianlah cara untuk menyatakan sedih kepada ibu.
(29) Tetapi tentang hal itu sangat sulit untuk melaksanakan yang seperti itu, apabila tidak kedatangan hal yang demikian itu, asalkan telah mengikuti dengan tujuan ingin dapat men capai, tekunilah setiap perlntah darl Sang Pertapa, usahakan jangan membagi pikiran,. buat seterang-terangnya setiap yang dilalui beliau, letakkan pada kepala, jangan memikir kan setiap kepayahan.
(30) Jika seseorang yang .telah berhasil dengan jalan melakukan tapa, maka orang yang seperti itu wajar diberikan sifat langgeng, sebab kita mengharapkan anugrah Air Kehidupan (mertha) selamanya, lagi pula jika tepat caranya menyesuai kan pikiran, dengan penuh kebaktian menyucikan diri pada Harl Bulan Mati dan Harl Bulan Purnama, menyebarkan tentang "Aji Bra ta" itu serta dengan rasa kasiJl. berdana kepada sesama manusia.
(31) Janganlah suka menghina dan merendahkan/mengejek ke pada orang yang dalam keadaan menderlta, janganlah bangga akan dirl jangan suka berbohong, jangan suka meng gelapkan milik orang lain, janganlah mentertawakan ter hadap makanan, janganlah berkecil hati walau ada atau tidak, janganlah lekas berkeinginan disanjung apabila dikau telah berpakaian pen uh dengan keangkeran. (32) Sebaliknya janganlah mencoba memikirkan perihal tentang perlhal hubungan sek di atas tempat tidur, karena tak dapat kita pikirkan yang seperti itu, sebab konon ada Hyang Widhi yang menentukan, dan sebaliknya jika anakku ber sedih hati tanpa hentinya, sebab yang menjadi junjungan luhur dan // (16a) penuh keangkeran. (33) Jika mendapatkan rasa kasih-sayang darl orang berbudi luhur, akan membuat suatu kebaikan, aku ini merasa bahagia dari hasil perbuatannya oh anakku, baik di dalam kita menghadapi neraka, maka siapapun tak ada yang me nyamai, yang memperhatikan telah diperhitungkan, tak ada gunanya lagi untuk dilihat.
(34) Sebalilmya jika anakku tekun melaksanakan ' Tapa Bra ta' membuat Para Hyang Widhi menjadi sangat kasih serta me lenyapkan petaka dan penderitaan anakku, agar kelanggeng an yang diperhitungkan, lebih baik mati daripada menang gung penderitaan, sebab telah sangat besar berbuat dosa,
| gung | penderitaan, | sebab | telah sangat | besar berbuat dosa, | ||
|---|---|---|---|---|---|---|
| siapa Sorga. masuk Neraka dan yang berhasil mencapai Sorga kesemua | tahu di dalam | penjelmaan nanti | berhasil mencapai | |||
| nya itu | merupakan | hasil perbuatan kita sendiri, terutama | ||||
| yang | mengakibatkan | apa | yang disebut | Ala | Ayu, | jangan |
| dilupakan sekian banyaknya tuntunan. | dan | ingatlah oh anakku. kini pilihlah di antara | ||||
| karena | kegelisahan, | sesuai | dengan | apa yang | dikatakan/ | |
| diucapkan | Sang Tiga Wulung penyebab | dari kebingungan | ||||
| itu, sanakan "Aji Tapa Brata'' namun belum juga merasa putus asa selalu ditekuni tidak pernah menyimpang. | tidak terceritakan | perihalnya | dan telah | lama melak | ||
| Pertapa perti Sangku Gunting Wuking, semua menuruti perintah // | laki-laki | dan Para | Pertapa | wanita/perempuan se | ||
| (l 6b) | melaksanakan | perintah | tan pa | berpikir, | Si. kucing | |
| menjadi | hilang | kesedihannya, | telah | sirna | karena | telah |
| mendapat dengan mata. naga tidak menentang terhadap Sang Mahaguru, juga tidak | anugrah | dari | beliau yang | tidak | dapat | dilihat |
| ketinggalan | terhadap | Pandawasraya | juga | terhadap | "Aji | |
| Dharma" | semua | telah disatukan, | lengkap | dengan | pelak | |
| sanaan, | 'Tapa | Brata", kesemuanya | telah | disaksikan oleh | ||
| Sang Pertapa satu tujuan. | rasa | kasih sayang, karena ketiganya | ||||
| Nopember) | Sang | Pertapa | telah berdandan | kemudian | te- |
(35) Jika menurut berita seorang Pertapa, jika melihat yang
(36) Bagi yang sedang dalam keadaan menderita selalu menangis
(37) Dan menjadi sangat senang Sang Pertapa melepaskan Para
(38) Semua pada hancur diberikan mengangkat senjata panah
(39) Pada Harl Bulan Purnama Sasih Kapat ( Bulan Oktober
dengan
lah Moksa, bertiga lalu berunding yakni Si Kucing dan Si Rase ' Dengan tegarnya Sang Pertapa mencapai Sorga' demikian kata-katanya yang menguraikan cerita, adapun yang diajarkan cerita tidak mengeluarkan kata, kata pikiran mereka tidak menentu.
· ( 40) Maka mereka kembali seperti keadaan semula, semua telah pada sempurna dan rampung semua persoalannya, karena pengaruh dari cerita tentang si Kucing pada saat si Rase memb erikan wejangan memberikan bimbingan ke pada Si Kucing.
(41) Telah beberapa lama kemudian sangat tekun perbuatan Si Kucing menyatukan tujuan dengan Si Tinggalung itu, maka tiba saatnya untuk mendapatkan apa yang menjadi cita-cita/apa yang dicita-citakan, sangat besar anugrah dari Hyang Widhi, tidak diceritakan lagi kepadanya itu // (17a) Si Kucing telah dapat mencapai Sorga karena hasil dari pelaksanaan Tapanya yang sangat tekun.
PUPUH III
( 1) Pada masa permulaannya seluruh daerah Pegunungan mem berikan keharuman baunya, pada saat Sasih Kartika (Ok tober-Nopember) pada musim bunga-bunga berkembang· penuh keindahan, pohon Tangguli yang penuh diselubungi bunga Gadung mengharum
(2) Kesenangannya itu diciptakan oleh beraneka-ragam warna bunga, disebabkan oleh semerbaknya berbagai warna bunga bagaikan sang kekasih seusai menangis, keadaan hujan rintik-rintik yang berpencaran berjatuhan pada keangkeran jurang.
(3) Hasil Tapanya Sang Sapvkul yang kemudian mempunyai seorang putri yang sangat jelita bernama Dyah Wedarasmi dimana kejelitaan beliau itu benar-benar mempesonakan, ada putra beliau hasil dari menekuni Ajaran Dharma,wa jahnya sejajar dengan Bundanya tentang kejelitaan wajah nya, bernama Dyah Narawati yang tak ubahnya beliau tangguli gading sedap dipandang.
( 4) Pada bagian pinggiran yang terjal dari jurang itu dibelit oleh pohon bunga Mandalika dan bunga Gadung menam bah sedap dipandang, menghiasinya pada bagian kaki gu nung, kedua beliau itu semakin tampak jelita ketika · memperbincangkan seorang jejaka yang tampan, berke dudukan di Desa Wawantis.
(5) Hidup penuh dengan penderitaan karena ditinggalkan oleh Ayah bundanya, beliau bernama Sang Wargasari, Nini Datu Nareswari namanya? // (l 7b) beliau itu yang membuat beliau hidup tidak menentu serta benar-benar membuat rasa belas kasih yang kemudian berputra hanya seorang telah berumur jejaka, hanya Dyah Wargasari menjadi idarnan dan wajar sebagai istrinya
(6) Bagaikan seorang pengarang yang menunggu masa kein dahannya daerah Pegunungan seperti itulah perihal beliau di atas tempat tidur yang berbau sangat harum, demikianlah kebahagiaan beliau ketika memberikan kepuasan istrinya, tidak pernah kehilangan rayuan sang suami, penuh dengan kemesraan pada saat beliau mengecap kenikmatan tak ubahnya kumbang berterbangan melakukan kemesraan, sehaluan/satu tujuan terhadap sesuatu yang rahasia
(7) Benar-benar keadaan beliau perujudan segala yang mem persamakan, kuasa menjauhkan rasa asmara tidak dipe ngaruhi, beliau yang disebut Dyah Wargasari yang memiliki wajah yang mempesonakan adapun beliau Datu Nareswari berucap dengan penuh kasih-sayang ' Duhai cucuku jangan lah terlalu menuruti segala yang menjadi keinginanmu usahakanlah melebur segala kebiasaannmu dahuluJtekunilah segala yang mendatangkan keluhuran budi untuk dapat mencapai ke bahagiaan/ke baikan
(8) Usahakanlah melakukan pemujaan oh masku semasih engkau muda, agar selalu memperhatikan kakekmu yang di Majapaliit, beliau mengatakan kepadaku agar dikau sama sama menikmati kebahagiaan itu hal itulah yang harus ditiru karena merupakan suatu tujuan yang benar, tidak
| akan menyirnakan | jika merelakan diri // ( 18a) | ||
|---|---|---|---|
| di dalam | kebingungan, segala | perbuatan | yang |
| kesucian kiran itu, maka tidak urung akan dapat mencapai Sorga. | serta rasa betas kasih, usahakan | menyucikan pi |
perbuatan membuat
(9) Beliau yang. diberikan wejangan terdiam namun telah te rasa di dalam hati beliau, tentang apa yang telah beliau perbuat, agar semuanya itu dapat disucikan kembali, dengan secepatnya hari telah sore dan pada malam harinya Datu telah tertidur, dengan menunjukkan berbagai tanda-tanda Dyah Wargasari mengamati lalu ' tinggallah oh junjungan ku" kemudian menoleh lalu ke luar
( 10) Dengan segera telah tiba di luar kediamannya, berangkat/ berjalan bersama dua orang Abdinya Si Ujil yang sangat menawan hati, dia itu bernama Kukalon, sepi di jalan raya, tampak las cahaya bulan, kini telah lewat dari
-1Jesa pi di tanah-tegalan, kini telah tiba dan
f..F;,.v. unyi di Taman.
lah mandi di Sungai, beliau kembali perJalanan ke arah Utara, kainnya merah hitam ditiup angin, berselendang warna tangi dan ikat pi nggang ya ng sangat indah, kerisnya berukiran dengan warna biru, sangat rapi dan indah dilengkapi dengan warna keemasan yang berkilauan, bunga yang di telinga berwama hijau dan merah, sangat indah dan menarik bentuk giginya, lidah beliau merah da du.
( 12) Kusut tapi indah dipandang, banyak orang laki-laki dan perempuan yang beliau jumpai, mereka mengatakan sangat tampan menurut diri mereka berkata, jujunganku dari Wawantis, membuat derita asmara orang yang // (l 8b) akan didatangi, jelas Dewanya Bunga Gadung kalau bunga kecubung kurang tepat, memberikan kebahagiaan kepada para wanita, demikian pula walau telah bersuami, para remaja yang muda beliau turut terpesona.
( 13) Tidak terceriterakan lagi ucapan orang-orang yang sedang lalu lalang, kini beliau segera melanjutkan perjalanan,
telah lewat dari jirah lalu arah ke tirnur di Solat Pangeran, banyak desa-desa yang telah dilalui kemudian melewati desa Blantik, lalu tiba di amal pada waktu pagi, sangat ramai orang-orang berdatangn dari tempat jauh, datang di Sapukul mengadu keberanian di"medan perang.
(14) Sang Wargasari bermaksud turut serta memohon sambil menikmati segala yang menjadi kesenangan hati beliau, hanya itu yang ingin didapatkan, menjadi menderita me nemukan bunga-bunga serta keharumannya pada tepinya yang sangat jernih/bening yang menyongsong, dengan gerak yang cypat-cepat disertai dengan suara guntur yang sayup-sayup bagaikan menjumput gulungan rambut beliau, disertai hu jan rintik-rintik.
( 15) Maka segeralah tiba lalu beliau duduk di atas batu yang agak tinggi letaknya, Dyah Wargasari (Wargasekar) tampak tidak bertenaga terjatuh pada sang pengasuhnya, wajah beliau cemberut ketika melihat taman indah, tampak ke indahannya daerah pegunungan, daerah persawallannya berliku- liku dan dasar Desa Lukluk tidak kelihatan, sangat putih warna yang menyelirnu ti pohon kelapa, tidak jauh.
(16) Pada waktu di dalam medan perang semua telah // (l 9a) bertemu, sehingga banyak mayat-mayat, sangat senang ha ti Sang Atunggu Dharma menonton peperangan, sam bil minum-minum di bale panjang, di sana beliau duduk karena sengaja menonton terjadinya perang, beliau tidak berjauhan dengan tempat duduk dengan semua Para Mpu, terdengar suara sorak tidak henti-hentinya serta suara gamelan, orang yang menonton penuh sesak.
(17) Kini semua berpencaran orang-orang yang mencari kera maian, Sang Wargasekar diserbu oleh suara pekik tidak hentinya, tidak lain yang menjadi tujuan kedatangannya itu untuk menjayakan tombak untuk mendapatkan putri beliau, Sang Atunggu Dharma penuh keheranan, apa yang dilihat orang itu berkerumun, Para Patih berdatang sembah "Ada orang yang sangat tampan".
( 18) Perintahkan agar segera datang menghadap kepadaku kemudian suruh duduk di tempat ini; yang diutus segera berlari dan setelah tiba lalu mohon ampun, konon Jung junganku dimohon datang deh Adik Paduka Sang Atunggu Dharma, demikian hatllr utusan membuat senang hati beliau yang d.iundang kemudian segera beliau berangkat.
( 19) Dengan langkah yang sedap d.ipandang berwajah tampan, orang-orang yang menunggu kedatangan beliau itu menarik napas, namun senang melihatnya, adapun beliau Ki As tapaka dapat mengenal Ki Wargasari "Oh putraku anak dari Bioi Datu dari // (l 9b) Wawantis", beliau yang disapa menjawab dengan nada guyon, teringat beliau bahwa Ki Astapaka adalah pamannya yaitu sudara misan dengan ayahandanya dan telah membuat beliau disambut dengan sopan. (20) Sang Atunggu Dharma berucap "Hai kebajikan bagi orang yang baru saja bertemu dengan keluarga yang masih muda serta berwajah tampan, kini datang untuk d.iangkat sebagai menantu, "Orang lain yang mendengarkan semua tertawa, mohon diulangi lagi oh Jungjunganku", beliau Sang Asta paka lalu berucap "Apa kesalahannya, akan tetapi mungkin Ki Wargasari masih memilih mana mungkin mau dengan wanita daerah Pegunungan". (21) Si tamu telah mengambil tempat duduk dan keadaan men jadi semakin ramai, tampak jelas ketampanannya, segala perilakunya menghendaki diangkat menantu, demikian tanda-tandannya, mungkin beliau Si Jelita telah bersikap lunak, sama-sama mengerti tujuan dari acara itu, dengan sikap guyon namun menyebabkan kemesraan. (22) Adapun Sang Astapaka rperasa penuh dengan hiasan hati nya, menusup lalu beliau melihat air muka Keponakannya penuh dengan kesempurnaan, mengum andangkan kidung yang ditujukan kepada Sang Atunggu Dharma yang ter pesona oleh ramainya dengungan kekawin, semua orang kagum tidak mengeluarkan kata-kata, kemudian dengan serempak mengucapkan kata-kata pujian.
(23) Pada waktu matahari berada di atas puncak gunung per
| temuan | segera | bubar // (20a) tidak akan diulang lagi, Si | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Wargasari orang | yang | tampan bagaikan | Dewa | Asmara, | ||
| lengkap ketampanannya, | kembali diceritakan, | beliau | Sang | |||
| Astapaka | lalu pulang | sambil menuntun tamunya "Marilah | ||||
| anakku Paman. (2 4) Istrinya didapati sedang duduk di dalam, lalu dengan sopan | datang | ke tempat | Bibimu | dan datang ke rumah | ||
| menyapa | sang | tamu, putri beliau | terpesona | perilakunya, | ||
| tingkah | lakunya | sangat menarik dengan mengenakan kain | ||||
| sangat | menarik, | mengenakan | selendang | kain | cepuk | ber |
| warna sarijati. | dadu sumpang | tampak PUPUH | indah IV | mengenakan bunga |
temuan segera bubar // (20a) tidak akan diulang lagi, Si
(I) Dyah Wedarasmi tidak mengetahui ada tamu, beliau baru
| saja | kembali | dari kebun, | serta | diiringi | ol eh Si | Tawang |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Sinom Asmari, lalu meresap rasa asmaranya, maka terjadilah per | sambil | membawa | bunga, | melayani | beliau | Hyang |
| temuan pesona, tak ubahnya dua keindahan yang bercampur dengan kemerduan hati. maluan, karena terlihat olehnya wajah si tamu yang meng iris hati, kejernihan matanya sejajar // (20b) dengan Hyang Asmara, melihat senyumnya membuat lesu si | pandangan membuat | Sang | Wargasari me11jadi ter | Dara Jelita, | ||
| langsung | saja | diperintah | oleh | ketajaman | pandangannya, | |
| sangat keindahan. | sedih | lalu tergolek | di tempat | tidur | bertilamkan | |
| kepada sang orang | Desa, karena pikiran beliau tidak berbeda "Oh me | tamu, | penuh | kebahagiaan | sebagai | |
| nantuku | Sang | Wargasari | atas tuntunan | dari Hyang Widi | ||
| lalu kawinan. | datang | ke tempat ini, | membicarakan | tentang | per |
(2) Si Dara jelita membalikkan badan dengan wajah kemalu
(3) Dengan segera Sang menyuguhkan minuman
Astapaka dengan
(4) Selanjutnya
| dengan | lemah | lembut | memanggil | putrinya | ||
|---|---|---|---|---|---|---|
| "Nini kini datanglah di hadapanku Oh anakku untuk meng | ||||||
| haturkan agar Anakku mengetahui, dia adalah saudara anakku ping ro, dia ingin mengetahui adiknya. nya, | sirih namun pikirannya menjadi berantakkan sangat senang | dan bunga, | ini adalah kepala menyembunyikan | Sang | Wargasari dan | wajah |
| mendengar | apa | yang diucapkan oleh | Sang Astapaka | itu, | ||
| jelas | akan tercapai | apa | yang menjadi keir.ginannya, | Ki | ||
| Wargasari pamannya untuk bermalam. | berucap | dan | berjanji | memenuhi | permintaan | |
| Astapaka | berucap ditujukan | kepada | Wargasari | "Oh | ||
| anakku | diminta | agar dua | malam | menginap | di rumahku", | |
| Diah | Wedarasmi | ditinggalkan | oleh | Sang | Astapaka | lalu |
| turun dari | atas | balai-balai, | akan | tetapi sebelum | turun | |
| beliau itu" yang diajak bicara lalu menjawab dengan lemah lembut "Hamba telah siap Jungjunganku. | berucap | Duhai | anakku | jagalah adikmu | ||
| bermalam, | keesokan | harinya | Sang | Astapaka | telah | siap |
| dengan berbagai | persiapan | semuanya | telah | be!kumpul, | ||
| tidak | segan-segan | Sang | Astapaka | berbuat | sesuatu | yang |
| memberikan | suatu kebaikkan, | payung | dibuat | pada | hari | |
| itu juga, | segala | yang menjadi | tujuannya | terwujud, | dan | |
| semua | telah berkumpul, | "Papajangan" | telah | berada | di | |
| tempat Barat sangat harum berbau ukup. | tidur, | balai-balai | yang | ditempatkan | di | sebelah |
| an dimandikan, | kemudian | diberikan | samsam | bersama Ki | ||
| Wargasari, | sama-sama | mempergunakan | Kain Kampuh | |||
| Anatar | berwama | dadu dengan | lakon saling | me!lgasihi, | ||
| Sang kata tidak yang menyerupai Para Dewa-Dewi. | Dyah yang berusia masih kecil mengeluarkan merasa bosan aku melihat upacara perkawinan | kata |
(5) Wargasari menundukkan
(6). Sang
// (2 la)
(7) Tiada terceritakan pada malarn harinya dimana beliau itu
(8) Keesokan harinya Sang Dyah diupacarai "Kramat" kemudi
(9) Yang laki sangat tmpan didampingi oleh wajah yang ayu,
kemudian dengan serempak dijawab dan semua mengatakan mu lus tanpa halangan, sebab keluaqmya yang memiliki nya, maka dengan seceptnya menclapatkan pasangan, bibinya berucap dengan nada ·guyon, embok lalu apa kehen dakmu, karena embok telah lama kosong (belum dapat jodoh) belum juga kebagian.
(I 0) Teman-temannya semua tertawa genit ditujukan kepada para // (21 b) pemuda, dimana mereka mendapatkan ke puasan, karena semua penuh dengan kiasan setiap yang dijemput, tergila hatinya ingin didapatkan, semua pada me mperbincangkan wanita, bingung karena nafsu asmara terhimpit rasa cinta asmara, beliau yang diupacarai mela kukan perkawinan setelah bergantian melakukan upacara berkeliling "mid ur" lalu upacara tetes hidung di tempat ti dur. ( 11) Lalu beliau minum dan Sang Astapaka datang demikian pula Si Sapukul, dan banyak lagi terutama Sang Tunggu Dharma semuanya datang, terdengar, suara gamelan saron sangat merdu, diselingi dengan hidangan arak berem, ber gantian, tidak hentinya datangnya Pekecip (makanan yang spesial untuk minuman keras), setelah malam lalu bubar, beliau yang melakukan upacara perkawinan berada di dalam tempat tidur yang berbau sangat harum, membuat timbulnya rasa asmara, ada maksud dari seorang pengarang yang ingin mengetahui keadaan itu, namun hancur beran takan tak ubahnya Kunang-kunang. yang berkeinginan menandingi sinarnya bulan, dengan keangkuhannya ikut ikutan untuk menyamainya. ( 12) Kini diceritakan Baginda Raja Deha, Baginda mempunyai tiga orang Putra, yang bungsu berkedudukan di Deh,a dan yang sulung berkedudukan di Gagelang, lalu beliau ke luar kemudian berdatang sembah. (13) Bukan main rasa kasih sayangnya, Putra beliau semua telah berputra, yang berkedudukan di Gagelang yang lebih dahulu mempunyai seorang Putra laki-laki, Baginda Raja penuh dengan rasa kebahaglaan serta menikmati hasil
jerih payah beliau, akhirnya Baginda Raja wafat sedangkan Permaisuri beliau telah (ebal). ( 14) Tidak terlukiskan kesedian beliau-beliau yang ditinggalkan, Putra Raja // (22a) semakin tampak rupawan, mempunyai adik dua orang, Putra Raja k.eduanya sangat tampan, bukan main rasa kasih sayang Bundanya, kita tinggalkan beliau itu kini disebutkan Baginda Raja Keling.
PUPUH V
(I) Tersebutlah Baginda Raja yang berkedudukan di Magada
termashur keberaniannya, ke mbali untuk kedua kalinya melakukan lamaran, kini beliau datang ke Kerajaan Deha yang tak ubahnya Samudra gerak perjalanan beliau.
(2) Bersama para Putranya maka Baginda Raja ikut serta dengan Putra Sulung beliau lalu beliau mengutus soerang Inang (Pengasuh) yang pemberani, Kakartala senjatanya bagaikan guntur
(3) Diam-diam perjalanannya tak ada suara Kendang dan suara Gong, keindahan yang terdapat di Kerajaan Kediri telah terkepung, tanpa disengaja orang yang ahli mencari jalan secara diam-diam namun orang yang menyerang dari arah utara adalah Putra Raja.
(4) Di sebelah timur Baginda Raja Magada, dimana para rakyat beliau sedang merusak beberapa Pedesaan membuat semua pada ribut orang dibagian perbatasan karena terdesak hing ga habis karena tidak berkesempatan mengungsi, hal itu menyebabkan orang semakin merobah tujuan.
(1) Teringat dengan Jungjungannya jangan secepatnya dibica rakan .dalam percakapan sedikit atau banyak, kata-kata yang menimbulkan rasa belas kasihan dengan memeluk kaki, seperti // (22b) akan ikut serta tidak sadarkan diri.
(2) Kata orang yang memperindah tidak mengetahui perbuatan nya, akan tetapi dengan mengeluarkan kata kata menyayat hati tidak sadarkan diri Sang Putri "Oh Para Dewa keterla luan Paduka relakanlah berpamitan hamba ini.
(3) Tangisnya tak ada yang mendengarkan walaupun sejuk bagaikan hujan rintik-rintik, mengucapkan kata-kata menim bulkan rasa belas kasihan, Duhai J ungjunganku aku ini belum merasa gentar penderitaan, robohkanlah langit aku tak akan kembali ke Istana untuk menikmati keindahan.
(4) Di tempat mana aku akan mati tanpa memikirkan Ayah Bundaku, "Adapun Raden Mantri (Putra Raja Laki-laki) bagaikan membayar kekecewaan pikiran jauh tidak tampak wujudnya, kini beliau mulai sadarkan diri, Ki Arjani dan penghuni Gubuk semua pada ke luar dan meneteskan air ma ta.
PUPUH VI
(1) Sangat ramai jalannya peperangan para rakyat Gegelang ramai jalannya peperangan para rakyat Gegelang dalam keadaan terdesak, oleh Para Ksatria yang cekatan di medan perang, lalu mendesak Para Arya dan rakyat Gegelang di medan perang.
(2) Raden Arya berucap 'Janganlah merasa takut mengadu nyawa kini kesempatan untuk membayar hutang terha dap rasa kesayangannya Baginda Raja, maka Putri Raja me rupakan pembayarannya
(3) Jika mati di medan perang akan mendapatkan Sorga disan jung oleh Baginda Raja', Orang-orang Gagelang dapat me nerima ucapan Raden Arya itu tak ubahnya aku ini menembak air lautan, orang-orang Gagelang terlalu sedikit// (23a) sedangkan para musuh bagaikan Samudra.
(4) Janganlah hal itu dipikirkan sebab tidak urung akan mati, para rakyat Gagelang mendapat serangan senjata dengan bertubi-tubi dari Baginda Raja Pajang, lalu siapa yang ber tugas mengatur kalian di medan laga.
PUPUH VII
(I) Lagi pula beliau Sang Pangeran jika berdusta kepada jiwa itu apabila tidak memiliki tujuan terhadap jiwaku, sangat tidak terpuji, beliau itu yang sarna dengan telah mati, tak dapat dianggap seorang Pangeran menurut pendapatnya.
| menghadapi | aku | ini, adapun | Sorgaku adalah | Sorga bagi | |
|---|---|---|---|---|---|
| dikau Adikku semua orang pada me ngsap air ma ta. | 1ta. | ||||
| membuat | hati beliau | sangat | iba, beliau | duduk | dengan |
| wajah | penuh dengan | kebingungan, | kemudian | berkata | |
| dalarn hati menanggung derita. | "Benar | aku sangat kasihan | karena telah lama | ||
| Akan | kudatangkan | Ken Brarnita | agar pikiranku | menjadi | |
| baik | karena | kurasakan | setiap | hari Adikku | agar |
| mengatakan ucapan beliau membuat rasa kasihan serta akan menimbul kan penderitaan | apa | yang dipikirkan | bagaikan | mengiris-iris |
(2) Ditimpa berbagai penderitaan maka secepatnyalah kalian
(3) Beliau telah dapat mendengar kata-kata Raden Mantri
( 4) kembali,
PUPUH VIII
( 1) Sehinga membuat kesempumaan jiwaku yang disebabkan oleh tetesan air mata // (23b) yang merupakan air Kehidup an serta merupakan putaran "Tutur", di ma na aku ini ber hutang jiwa aku bermaksud membayarnya.
(2) Dan kini Ki Brarnita telah datang di Karnagetan lalu segera menemui kesulitan yang diderita Putri Raja Raden Dewi yang membuat pikiran kusut, penuh dengan keindahan mengenakan Kain Karnpuh putih yang telah lusuh.
(3) Kain dalarnnya tarnpak sangat indah dengan "Anatar Ge dah" tarnpak serasi, semakin tarnpak menarik dilengkapi dengan berbagai wama-wami gigi beliau putih bersih, lidah beliau merah "
(4) Dengan sikap sopan Ki Brarnita menyembah_dan berdatang sembah kepada Raden Dewi "Mohon arnpun oh Jungjungan
| ku | adapun | Kakak | Paduk·a | yang | memerintahkan | untuk |
|---|---|---|---|---|---|---|
| mendatangi cepatnya tanpa merasa ragu-ragu agar dihaturkan demikian lah kata-kata beliau membuat kehancuran pikiran | Paduka, | diperintahkan | oleh | agar se |
ku adapun Kakak Paduk·a yang memerintahkan untuk
beliau
BAB IV
KAJIAN NILAI KIDUNG MEGAT KUNG
| 4.1 Sepintas | Struktur | Kidung Megat | Kung | |||
|---|---|---|---|---|---|---|
| 4.1. l Di dalam naskah ini disebutkan, bahwa pengarang menyata kan dirinya di akhirat tidak berguna, karena semenjak dilahir | Ringkasan | Isi | Naskah | |||
| kan dari dengan penderitaan itulah mereka menyusun sebuah karangan tentang pelukisan dirinya sendiri yang selama hidupnya tidak menerima kasih sayang orang tuanya, bahkan meminta sesuatu | rahim ibunya | dia penuh | dengan | penderitaan, maka | ||
| kepada walaupun dernikian sikap orang tuanya, dia selalu menghormati nya. kehidupan manusia di dunia ini. | orang Di pihak lain dalam naskah ini disebutkan pula mengenai | tuanya | harus didahului oleh | tangis | kesedihan, | |
| Isi | selanjutnya, | jika | sudah pandai menggembalakan sapi, | |||
| jangan | dibiarkan | binatang itu | (sapi) merusak | tanaman | orang | |
| lain, | sebelum | menggembalakan | hendaknya | dipersiapkan | tali | |
| dan | ditambatkan | dengan | sebaik-baiknya. | Bila ingin | melepas | |
| harus pengaduan dari orang lain. | diawasi | dengan | sebaik-baiknya Disebutkan pula jangan suka meng | agar jangan sampai | ada | |
| ganggu | teman, | berbuatlah | agar teman | itu menjadi | senang. | |
| Bila dijadikan istri, jangan mernilih wanita yang cantik tetapi yang | mulai | jatuh | cinta kepada | seorang | wanita | dan ingin |
| 70 |
penting. adalah. perilakunya (susilanya). Jangan beristri lebih dari seorang serta memanjakannya dart_ si suami semestinya tidak dapat diperintah oleh si istri. Jika'. si s\Jami dapat di kendalikan oleh istrinya maka rumah tangga akan menemui kehancuran. Kita harus memilih seorang perempuan yang setia kepada suami (satyeng laki).
Nasehat selanjutnya yaitu bagaimana cara bermasyarakat yang baik, penuh kasih sayang kepada semua anggota masya rakat, memberikan pertolongan kepada warga maupun sahabat yang dalam kesusahan. Tidak diperkenankan membuat ke ributan, keonaran yang semata-mata hanya menyusahkan orang lain, jangan berdusta, jangan berusaha menyembunyikan ke salahan kepada raja, karena beliau tak ubahnya matahari yang seolah-olah mengetahui segala perbuatan rakyatnya, sama hal nya dengan langit dapat diterangi oleh matahari. Lebih jauh pengarang. melukiskan, bahwa di dalam me mimpin masyarakat, dalam praktek kepemimpinan itu tidak dipengaruhi oleh seorang wanita, tidak boleh pilih kasih, karena pemimpin yang akan kena getahnya, jangan suka tertawa bila berkunjung ke rumah tetangga. Untuk dapat mencapai apa yang dicita-citakan terutama untuk dapat mencapai sorga di alam nyata maupun tidak nyata (Bali: sekala niskala) ·yang harus diperbuat terlebih dahulu adalah pengenalan diri sendiri dan untuk mencapai tujuan itu jangan takut kepayahan, Jangan mengukur sesuatu dari lamanya yang dikerjakan jangan cepat puas dengan keberhasilan, jangan menghukum warga masya rakat yang_ hanya berbuat sedikit kesalahan, bila perbuatan ini terus berkelanjutan sama halnya dengan menjegal · hak seseorang.
Di dalam Kidung Megat Kung diceritakan pula dua orang
| bersaudara | laki-laki | dan kedua | orang tuanya telah meninggal | |
|---|---|---|---|---|
| dunia. | Namanya si | Atwa dan Ki | Kabwa dua orang bersaudara | |
| ini ingin | mendapatkan | sesuatu | yang | disebut |
dengan "Rasa" (Bali: kasuksm:m rasa) tetapi tidak berhasil. Dengan kegagalan nya itu mereka sering melakukan perbuatan yang tidak terpuji
sehingga dibenci oleh warga masyarakat, bahkan pamannya sendiri mengusir dan melarangnya tinggal di desa kelahirannya.
Kemudian pengarang menyebutkan adanya seseorang yang menaruh belas kasihan kepada si penderita (tidak disebutkan secara jelas) yaitu dengan mengajarkan sebuah ceritera si Kucing dan Rase, bahwa kedua binatang itu mengabdikan diri kepada seorang pertapa yang tugasnya adalah untuk menakut-nakuti Tikus.
Diceritakan dalam pengabdiannya itu si Kucing telah mem punyai anak seekor, karena itu induknya sering mencuri makan an si Pertapa dan memangsa anak ayam yang ada di sekitar pertapaan. Perbuatan jahat itu akhimya diketahui dan dikutuk oleh Pertapa. Tidak berselang beberapa lama kutukan itu me nimpa diri si Kucing yaitu pada saat mencari makan disergap oleh binatang buas. Dengan sergapan binatang buas itu, maka matanya terluka kemudian lari menuju ke Pertapaan. Meli.hat mata ibunya Iuka sangat parah anak kucing meminta pertolong an kepada si Rase agar berkenan mengobati Iuka ibunya, tetapi ditolak dan ajal si Kucing itu tiba.
Melihat kesedihan yang diderita oleh si anak Kucing, si Rase kemudian memberikan nasehat serta petunjuk apa yang harus dilakukan agar peristiwa yang dialami oleh ibunya tidak ter ulang lagi. Ditekankan pula bahwa perbuatan selama hidup harus terkendali dan tidak menuruti hawa nafsu dan senantiasa bakti kepada si Pertapa dan menghayati yang disebut dengan "Aji Bra ta". Anak Kucing tekun mengikuti petuah si Rase dan akhimya kedua binatang itu berhasil mencapai sorga. Pada pupuh III diuraikan tentang keindahan alam di daerah pegunungan pada waktu sasih kapat (bulan September-Okto ber) bunga-bunga sedang berkembang sehingga menimbulkan bau harum semerbak. Di samping itu banyak lagi nasehat yang dilukiskan oleh pengarang secara implisit sehingga memerlukan interpretasi yang lebih mendalam sifatnya guna mengetahui nilai yang dimaksud.
4.1.2 Catatan tentang naskah Kidung Megat Kung Secara etimologi Kidung Megat Kung berarti: kidung arti nya nyanyian, syair. pegat-megat. artinya putus (Kam us Bali-Indonesia 1978: 422); kung artinya rindu dendam, kangen, gandrung, kasmaran (L. Mardiwarsito 1981 : 298). Jadi dengan melihat arti kata pada uraian di atas kemudian disesuaikan dengan konteks cerita, maka Kidung Megat Kung dapat diarti kan nyanyian a tau syair pemutus kesedihan. lnformasi tentang Kidung Megat Kung didapatkan setelah mengadakan penjajagan ke tempat-tempat penyimpanan baik lembaga swasta maupun negeri. Akhirnya naskah tersebut di temukan di Gedong Kirtya Singaraja, Bali. Gedong Kirtya merupakan salah satu perpustakaan yang menyimpan naskah naskah kuna dalam jumlah yang cukup besar. Adapun tujuan dari · penyimpanan ini adalah menginventarisasi naskah yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuna, bahasa Tengahan, dan bahasa Bali. Dengan diadakannya inventarisasi tersebut para pecinta lebih mudah mendapatkan naskah yang diinginkan. Gedong Kirtya didirikan pada tahun 1928 disebut Gedong Kirtya Lifrinck Van der Tuuk, semula berbentuk yayasan. Pemberian nama ini dimaksudkan untuk memberi penghormat an kepada dua orang ahli Belanda yaitu Liefrinck dan Dr. Van der Tuuk, yang dianggap perintis bangkitnya perhatian masya rakat umum terhadap naskah lama yang ada di Bali. Sampai saat ini Gedong. Kirtya memiliki naskah Ion tar sebanyak ± 5267 buah juga koleksi buku yang erat kaitannya dengan kebudayaan. Dari jumlah lontar tersebut dapat diklasifikasikan menjadi 7 (tujuh) bagian yaitu:
(1) Kelompok Weda (termasuk Weda, Mantra, dan K_alpasastra
(2) Kelompok Agama (termasuk Palakerta, Sasana. dan Niti).
(3) Kelompok Wariga (termasuk Wariga, Tutur, Kanda dan Usada).
(4) Kelompok Itihasa (Parwa, Kakawin Kidung dan Geguritan).
(5) Kelompok Babad (termasuk di dalamnya Pamancangah, Usana, dan Uwug).
(6) Kelompok Tantri dan
(7) Kelompok Lelampahan. Dari ketujuh klasifikasi tersebut di atas, naskah Kidung Megat Kung termasuk kelompok yang nomor empat yaitu kelompok Itihasa. Di tempat penyimpanan yaitu Gedong Kirtya naskah tersebut menggunakan nomor kode IV.c. dengan nomor naskah 1669/8. Dengan ukuran sebagai berikut: panjang 50 cm; le bar 3,5 cm dengan jurnlah lemb ar keseluruhan 23 lembar ter bagi dalam 8 (delapan) buah pupuh dan 171 bait.. Ttap lembarnya ditulis dengan empat baris kalimat dengan hurup Bali berbahasa Jawa Tengahan (Kawi-Bali), terkecuali pada lembaran 23 b ditulisi tiga baris kalimat, tulisannya cukup jelas dan rapi. Menurut pengamatan penulis, naskah ini ditulis oleh satu orang berbentuk puisi yang anonim. Naskah milik Gedong Kirtya ini merupakan naskah salinan dari naskah milik Pan Lungasih, Dusun Emboayu, Desa Padang Bulia, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Daerah Tingkat II Buleleng.
4.1.3 Bahasa dalam naskah Kidung Megat Kung Bahasa merupakan unsur hakiki dalam cipta sastra, bahasa merupakan alat komunikasf yang paling. utama. dalam dunia kesastraan. Melalui bahasa pengarang menyampaika:n pesan kepada pembacanya. Tentunya bahasa yang digunakan adalah bahasa khusus yang berlaku dalam dunia kesastraan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bahasa merupakan pendukung imajinasi, karena imajinasi terkandung dalam wujud lahirnya merupakan alat untuk mewujudkan imajinasi sebagai eksistensi 'batin' (Udara Naryana, 1987: 17). Sastrawan berkarya dan mengekspresikan rasa seninya lewat bahasa yang dimiliki dipakai dan dipilihnya kemudian disuguh kan kepada masyarakat pembaca. Seperti telah dipaparkan di
atas bahwa dalam dunia sastra bahasa merupakan medium utama untuk mewujudkan angan-angan sang pengarang.
Dallman Edi Subroto (1976 : 13) mengatakan bahasa tetap merupakan medium ekspresi sastra yang tak dapat dihindarkan. Medium seseorang untuk menciptakan seni adalah bahasa, baik lisan maupun tulisan. Sehingga dari kalimat ini akan timbul pertanyaan adakah hubungan bahasa dengan sastra? Hubungan bahasa dengan sastra sedemikian eratnya sehingga antara kedua pihak (bahasa dan sastra) sifatnya sating menerima dan saling isi, bahasa merupakan alat satu-satunya yang paling liat, lentur bagi kemungkinan berhasilnya sebuah cipta sastra. Sebaliknya sastra pun membenkan andil cukup besar sebagai penunjang bagi usaha pengembangan bahasa, (Jendra, 1980 : 9-10).
Demikian pula hasil karya sastra klasik, tidak terlepas dari pemyataan tersebut di atas, sehingga pemyataan tersebut dapat. dipakai sebagai pedoman untuk menafsirkan bahasa apa yang dipergunakan oleh cipta sastra Kidung Megat Kung. Oleh karena Kidung ini merupakan sastra Jawa Kuna yang memakai bentuk tembang dengan kata lain, kidung merupakan Sastra Jawa Kuna yang memakai bentuk terikat (puisi) sehingga kidung ini tidak .dap<\t disamakan dengan kakawin karena sama-sama memiliki persyaratan tersendiri. Misalnya kakawin adalah puisi Jawa Kuna yang memakai pola persajakan yang berasal dari India. Sedangkan kidung merupakan puisi Jawa Kuna basil kebudaya an Indonesia asli. Kakawin terikat oleh jumlah baris dalam satu bait, silabel dan metrum dalam tiap barisnya. Kidung terikat pada lingsa (sajak akhir dalam tiap-tiap bait), di samping adanya ciri seperti: kawitan (pendahuluan) dua bait, pupuh pendek dua bait (pemawak) dan dilanjutkan dengan pupuh panjang dua bait (penawa). Untuk seterusnya pupuh pendek dan pupuh panjang digunakan secara bergantian (Sugriwa; 1978 : 5). Selain itu juga ada perbedaan dalam penggunaan bahasa, ka kawin memakai bahasa Jawa Kuna sedangkan kidung memakai bahasa Jawa Tengahan (Zoetmulder, 1974 : 408 Via Partini Sarjono, 1986 : 174 ).
•76
| Dengan. beberapa | kutipan | di atas, | maka | dapat | diJadikan | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| pedoman oleh pengarang (penulis) K.idung Megat Kung dalam menuang kan isi hatinya, sehingga tercipta sebuah karya sastra. | untuk mengetahui | bahasa | apa sebenamya | dipakai | ||
| Berikut digunakan: | ini akan dicoba | amrik | mengutip | bait-bait | da ri Kidung kadang labuh | |
| maseng jangga mure. | kartika | panedenging | sari | angayon | tangguli ketur |
Megat Kung sebagai pembuktian untuk mengetahui bahasa yang Purwakaning arumning wana ukir (Megat Kung, III. 1). Artinya: Pada masa permulaan seluruh daerah pegunungan, memberi kan keharuman baunya, pada saat Sasih Kartika (bulan
| kan keharuman | baunya, | pada | saat Sasih | Kartika | |
|---|---|---|---|---|---|
| Oktober penuh bunga gadung mengi. Sukanya | -Nopember) keindahan, pohon tangguli yang penuh diselubungi aya winangun wamanen sekar ri rumrumni puspa | musim | bunga-bunga | berkembang | |
| priyakaning srengganing rejeng. | olih | tangis | sampun | riris | sum ar umunggwi. |
(Megat Kung, Ill. 6); Artinya :. Seperti seorang pengarang yang menunggu masa keindahan daerah pegunungan, seperti itulah perihalnya beliau di
| daerah | pegunungan, | seperti | itulah | perihalnya | beliau | di |
|---|---|---|---|---|---|---|
| atas tempat tidur | yang berbau harum, demikianlah keba | |||||
| hagiaan tiada pernah kehilangan rayuan sang suami, penuh dengan | beliau | ketika memberikan | kebahagiaan | istrinya, | ||
| kemesraan ubahnya senang terhadap sesuatu yang dirahasiakan. | pada Kumbang beterbangan melakukan | saat beliau | mengecap | kenikmatan, tak | kemesraan, | |
| Melihat kata dari bahasa Jawa Kuno seperti: | kutipan | baik-baik | di atas, | terlihat | adanya | kata |
(a) purwa 'dahulu, permulaan'
(b) rum 'harum, sangat cantik, ma nis, elok '.
(c) wana 'hutan'
(d) puspa 'bunga'
(e) unggu 'tempat'
(f) kawya 'pengarang, penyair'
(g) wanadri 'hutan/gunung'
(h) wruh 'tahu'
(i) brahmara 'kumbang' (Sum ber Kamus Jawa Kuno
Indonesia L. Mardiwarsito, 1981 ). Kata-kata tersebut di atas diselipkan oleh pengrang di dalam Kidung Megat Kung sehingga memberi kesan tersendiri bahwa karya sastra tersebut menggunakan bahasa Kawi-Bali (Jawa Tengahan). Dari segi periodesasi, bahasa ini terletak di antara bahasa Jawa Kuna dan bahasa Jawa Moderen bentuk bahasa ini dijumpai pada akhir Zaman Hindu Jawa Atau dengan kata lain karya sastra Jawa Kuna yang sudah mendapat pengaruh Bahasa Bali, atau sebaliknya karya sastra Bali men dapat pengaruh dari Jawa Kuna cenderung disebut dengan bahasa Jawa Tengahan. Disebutkan pula karya-karya sastra yang berbahasa Jawa Tengahan dikatakan hampir seluruhnya ditulis di Bali (lbi d 19 83 : 3 3 ).
4_1.4 Gaya Bahasa
| Sebuah | karya sastra diciptakan un tuk | dipahami, dihayati | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| dan dinikrnati. Sehingga seorang pengarang dalam menuangkan | ||||||
| isi hatinya | lewat karya sastra yang diciptakan mengharapkan | |||||
| agar ciptaannya berusaha dengan sebaik mu ngkin dan secermat mungkin menu angkan kata-kata yang cocok untuk menghiasi karyanya (Rupa, Keindahan bahasa semacam ini gaya bahasa. | itu dikagumi di | masyarakat, biasanya dituangkan lewat | maka | mereka | ||
| WJS | Poerwadarminta | mengatakan, | gaya | bahasa | sebagai | |
| perhiasan | karya | sastra, | maka penggunaan | gaya bahasa dalam |
1985 : 65).
suatu karya sastra hendaknya supaya dapat diterima secara logis. Beliau juga berpendapat, bahwa gaya bahasa sebagai suatu perhiasan sebuah karya sastra yang nilainya ditentukan oleh ketetapan pengarang dalam memilih gaya bahasa tersebut sesuai dengan penampilan. (1967: 57 -58).
Gaya bahasa (style) berasal dari bahasa Latin (stylus). Stylus artinya suatu alat untuk menulis di atas kertas lilin. Orang yang dapat memainkan alat ini dengan tepat akan meng hasilkan sesuatu yang jernih (clear) dan impresi tajam yang patut dipuji (Shipley 1960: 397 via Sukada 1985/1986: 121). Selamet Mulyana dan Simanjuntak memberikan batasan tentang Gaya Bahasa sebagai berikut :
"Gaya bahasa ialah susunan perkataan yang terjadi · karena perasaan yang tumbuh atau yang hidup dalam hati penulis, dan yang sengaja atau tidak sengaja menimbulkan perasaan tertentu dalam hati pembaca" (tth.: 20-21). Bertitik tolak dari pengertian tersebut di atas, maka sudah cukup memberikan pengertian yang jelas serta dapat merang kum dari pengertian gaya bahasa yang ada. Pada garis besarnya gaya bahasa dapat dibedakan menjadi empat golongan yaitu:
(1) gaya perbandingan
(2) gaya sindiran
(3) gaya penegasan ( 4) gaya pertentangan Dari sekian jumlah gaya bahasa yang ada di atas kemudian
dihubungkan dengan cipta sastra Kidung Megat Kung ternyata yang diketemukan dalam bait-bait hanya gaya bahasa perban dingan. Yang dimaksud dengan gaya bahasa perbandingan
| dingan. | Yang dimaksud | dengan | gaya | perbandingan |
|---|---|---|---|---|
| adalah | gaya bahasa | dengan | membandingkan | sesuatu dengan |
| sesuatu Kidung Megat Kung seperti dalam bait berikut ini : lwir kawya magantyaken rumning wanadri raraneng jenem mrik sedengira anukaning istri tan wruh kelangan kakanya | yang lain. Adapun gaya | bahasa perbandingan |
dalam
asuma linampahan rasmi sedengira tamtam ragi kadi bra mara ngambang angaryani lulut sokarsa geng wingit.
(Megat Kung, III. 5).
Artinya.
Bagaikan seorang pengarang (Bali : Sang Kawi) yang me nunggu masa keindahan daerah pegunungan seperti itulah prihalnya beliau di tempat tidur yang berbau harum, demi kianlah kebahagiaan beliau memberikan kepuasan istrinya, tidak pemah kehilangan rayuan sang suami, penuh dengan kemesraan saat beliau mengecap kenikmatan tak ubahnya kumbang beterbangan melakukan kemesraan senang ter hadap sesuatu yang sangat rahasia.
maseki tumunggang Gunung aluw aranya tunggu dharma noran inupit-upit Ki Wargasari wang anulus raspati meng gep abagus mwah kawama teki sira Stapaka mantuk den kanti tetamune lah ta anakingsun kaki tamareng bibinira saprana umah isun. (Megat Kung, III. 23)
Artinya :.
| Pada | waktu | matahari berada di atas puncak Gunung per | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| temuan | segera | bubat | tak terulang | Ki Wargasari sungguh | ||
| orang ·yang ceritakan beliau Sang Astapaka lalu pulang sambil menun | tampan | bagaikan | dewa asmara | kembali | ||
| tun _dan datang ke rumah Paman. | tamunya | marilah | anakku | datang | ke tempat Bibimu | |
| Dari | kutipan | bait-bait | tersebut | di atas | dapat | dikatakan |
| bahwa porsi yang diketemukan. | pelukisan | gaya bahasa pada karya sastra Kidung | gaya bahasa perbandingan |
di
Megat Kung sangat sedikit, hanya
4.2. Kajian Nilai Kidung Megat Kung Kidung Megat Kung merupakan salah satu karya sastra yang mengandung unsur-unsur nilai tradisional yang mencer minkan pola kehidupan manusia pada suatu lingkungan. Gam baran yang dibuat mengenai.diri manusia menentukan bentuk kebudayaan dan sebaliknya bentuk kebudayaan mengungkap kan gambaran macam apa yang dijunjung oleh suatu masya rakat. Berbagai pendapat mengemukakan bahwa nilai adalah sesuatu yang dipentingkan manusia sebagai subyek menyangkut segala sesuatu yang baik dan yang buruk sebagai abstraksi, pandangan atau maksud dari pengalaman dengan seleksi prilaku yang ketat. Nilai-nilai mempunyai sebuah elemen konsepsi yang lebih mendalam dibandingkan dengan hanya sekedar sensasi, emosi atau kebutuhan. Dalam hal ini nilai dianggap sebagai abstraksi yang ditarik dari pengalama n seseorang. Adapun ting ka tan-tingkatan sesuatu nilai menurut Arnold Green, yaitu pera saan (sentimen) yang abstrak, norma-norma mo ral dan keakuan (kedirian). Ketiga tingkatan tersebut diketemukan di dalam kepribadian seseorang. Perasaan dipakai sebagai suatu landasan bagi orang-orang untuk memb uat putusan dan sebagai standar untuk tingkah laku. Demikian pula norma-nomra moral merupakan standar tingkah laku yang berfungsi sebagai kerangka patokan (frame of re frence) dalam berinteraksi. Adapun keakuan (kedirian) ber peran dalam membentuk kepribadian melalui proses pengala man sosial (M. Munandar Soelaeman 198 7 : 21 ). Bertitik tolak dari pandangan-pandangan tentang nilai nilai di atas, maka dalam bah ini akan dikaji beberapa nilai nilai dominan yang terkandung dalam naskah Kidung Megat Kung.
Nilai Perasaan (sentimen) yang abstrak.
| 4.2.1. | ||
|---|---|---|
| Jiwa | berada | di dalam |
| yang menyebabkan mahluk hidup | Tetapi oleh karena di dalam |
dari iswara adalah semua mahluk
| tubuh | Ya menjadi | awidya | (kegelapan) | dan | menjadi | pusat |
|---|---|---|---|---|---|---|
| keakuan. | Ya menimbulkan | perasaan | hati pada | manusia | lalu | |
| hidup di seperti naskah Megat Kung : nene kacarita awak padidiin anelsel awake tan para t inget | dunia ini mengawali curahan perasaan yang dituangkan dalam | ini dan | memerlukan | pertumbuhan. | Perasaan | |
| tekening | duke | bawu | pesu saking | bhagawasa | milu tumitis | |
| manaca ya mekada inget ring awak baya tan patapakanto ri nguni. | uli | bawu ada kapencil | salwirning | janma | katemu |
( Megat Kung, 1.3)
Artinya: Adapun yang menjadi bahan ceritanya adalah diriku sendiri yang menyadari akan keadaan diri tiada mempunyai arti, teringat akan diri ketika baru saja dikeluarkan dari dalam perut sebagai manusia tiada memiliki suatu kegiatan, sejak baru dilahirkan hanya penderitaan yang kutemui, segala
| baru | dilahirkan | hanya penderitaan | yang kutemui, segala | |||
|---|---|---|---|---|---|---|
| bentuk | penderitaan | manusia | kuwarisi, | kesemuanya | itu | |
| membuat yang tanpa alasan sejak dulu. | sadar | akan diri | di dalam | menghadapi | bahaya | |
| Manusia nya untuk mengembangkan berbagai macam perasaan, nafsu serta emosi dalam kepribadian individimya, tetapi w\ijud | mempunyai | bakat | yang terkandung dalam gen | hasrat, | ||
| dan pengaktifan dari sangat dipengaruhi dalam sekitar alam dan lingkungan sosial maupun budayanya (Koentjaraningrat 1986 : 228). | berbagai oleh berbagai | macam macam stimuli yang berada | isi kepribadiannya | itu | ||
| Proses hanya pada | belajar proses belajar yang bersifat formal. Dalam hidup | yang dialami | oleh | manusia | tidak terbatas | |
| bermasyarakat | banyak | hal yang | dapat | dipelajari | dengan cara | |
| memperhatikan, | menirukan | dan | kemudia | memahami | sebagai | |
| suatu pengetahuan umur bertambah pengalaman juga bertambah dan pengetahuan | untuk bertindak | selanjutnya. | Setiap saat |
pun berkembang sesuai dengan kemampuan fisik dan mental mengolah pengalaman menjadikan pengetahuan seperti dalam
| mengolah pengalaman | menjadikan pengetahuan seperti dalam | |||
|---|---|---|---|---|
| kutipan berikut ini : | ||||
| saangkuhing | anak suba kaliyatin angkuh anake jele melah | |||
| masih | ya tong | kena baan manira | jani kudyang baya ada | |
| ngganaing | tuwuh kapisuka | yan | mangrasanin | |
| ning ta manggah osek ing cita sayan matindih. | linguse | mangrasa | berag | ungkah angkih, manggah |
wet-(2a)
(Megat Kung, 1.4)
Artinya. Semua perbuatan orang lain telah kuperhatikan, perbuatan orang lain yang tergolong baik dan buruk, namun tiada kuasa untuk menirunya, lalu kini apa yang kuperbuat se bab bahaya itu sendiri berada pada umur maka relakanlah pikiran itu untuk menghadapi, sebab air mukanya mera sakan kekurusan hingga meringis terengah-engah sehingga kegelisahan pikiran semakin menindihi.
Ungkapan di atas menyebutkan bahwa sebagai manusia yang mempunyai keterbatasan kemampuan untuk menelaah pengalaman dan pengetahuan dari orang lain. Kesadaran akan terbatasnya umur manusia menyebabkan tidak mungkinnya ia (pengarang) bisa mempelajari sesuatu lebih banyak di masyarakat. Di samping itu pertimbangan terhadap yang baik dan yang buruk sangat sulit untuk dibedakan karena baik bagi orang lain belum ten tu baik bagi diri sendiri. Walaupun demikian sebagai manusia yang mempunyai pikiran dan perasaan normal .akan selalu mengejar dan mengu tamakan kebaikan. Dalam Sarasamuccaya disebutkan : Apan ikang dadi wwang, uttama juga ya, nimittaning mang kana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsara, maka sadhanang cubhakarma, hinganing kottamaning dadi wwang ika.
Artinya:
Sebab menjadi manusia sungguh utama juga, karena itu. ia dapat menolong dirinya dari keadaan samsara dengan jalan karma yang baik, demikian keistimewaan menjadi manusia.
Ahli antropologi Indonesia Prof. Dr. Koentjaraningrat mengatakan bahwa nilai-nilai budaya berfungsi sebagai pedoman hidup manusia dalam masyarakat, tetapi sebagai konsep suatu nilai budaya itu bersifat sangat umum, mempunyai ruang lingkup yang sangat luas dan biasanya sulit diterangkan secara rasional dan nyata. Sesuai pula dengan pandangan Prof Dr. KoentjaraningrGt,
C. Kluckhohn mengungkap lima masalah dasar dalam kehidupan manusia yang menjadi dasar bagi kerangka variasi sistem nilai budaya, antara lain: masalah mengenai hakekat dari hidup manusia. Pada hakekatnya hidup manusia menyedihkan dan merupakan suatu hal yang buruk dan karena itu harus dihindari. Kebudayaan-kebudayaan yang terpengaruh oleh agama Budha misalnya dapat disangka mengkonsepsikan hidup itu sebagai hal yang buruk. Pola-pola tindakan manusia akan mementing kan segala usaha untuk menuju ke arah tujuan untuk dapat memadamkan hidup itu (niivana= meniup habis) dan meremeh kan segala tindakan yang hanya mengekalkan kelahiran kembali (samsara). Namun demikian ada kebudayaan lain yang me mandang bahwa hidup manusia itu pada hekekatnya buruk, tetapi manusia dapat mengusahakan untuk menjadikannya suatu hal yang baik dan menggembirakan (Koentjaraningrat, 1986: 192). Usaha un tuk merubah kehidupan ya ng buruk menjadi ke hidupan yang baik dan menggembirakan bukanlah merupakan tindakan yang mudah. Sebab di dalam hidup bermasyarakat yang memiliki dan menjunjung suatu kebudayaan banyak faktor yang ikut menentukan jalan hidup seseorang. Di samping itu adanya dualisme (rwa bhineda) yang selalu dekat dalam ke hidupan manusia akan menjadi kendala bagi mereka yang ingin
merubah hidupnya yang buruk menjadi kehidupan yang baik. Seperti apa yang tercantum dalam naskah Silasasana:
Kakung lawan istri, kala lawan ayu, pati lawan urip, papa lawan swarga, suka lawan duka, rahina lawan ratri, hana lawan sorga, surya lawan sasangka, metukaro, lunga teka, metu hala sinangkala kang hayu sida kang hala, apan ujar rahayu ingetering ujar hala, ujar hala ingetering ujar-ujar hayu, ya lera satepeng tuwan, samangke polihtapa, manggih swarga sakala, yan tan alera samangke amanggih papa, inganyang dening yamabala, hyun tuan tan panut silasasana, danda de aparekang kali.
Artinya: Laki-perempuan, baik-buruk, hidup-mati, neraka-sorga, senang-susah, siang-malam, da dan tidak ada, matahari bulan keduanya bersamaan munculnya pergi dan datang jika tidak timbul keburukan, maka pada waktu itu pula ke baikan akan menyertai, jika muncul kebaikan, maka ber sama itu pula keburukan akan muncul, sebab perkataan yang baik akan diantar oleh perkataan yang buruk, per kataan yang buruk akan diantar oleh kata-kata yang baik, sebab baik dan l;rnruk itu tidak terpisahkan, prajurit selalu mengabdi kepada raja dan dengan kukuh mengabdi kepada raja dengan demikian akan me mp eroleh jasa dan menemu kan sorga di alam nyata, bila tidak berbuat demikian maka neraka yang ditemu kan, disiksa oleh prajurit Sang Hyang Yama sebab tidak me ngikuti tata krama yang baik dari keinginan sang Raja, mereka akan dijatuhi hukuman buang an.
Masalah baik dan buruk kehidupan juga banyak diceritakan dan ditulis oleh masyarakat yang ada di luar Pulau Bali seperti apa yang diungkapkan dalam Lontarak Bugis:
Angguriwi gaukna tau waranie enrennge ampena Apa iya gaukna towaranie sepuloi uangenna naseuamua jakna, asera decenna.
Nasabak iyanaro nari aseng jakna, seddie malomoi naola ama tengennge. Naekiya mau tau pelorennge. mate mato, apak dessa tem mantena sinnina makkennyawae.
Artinya: Pelajarilah/ikutilah perbuatan orang serta budi pekertinya. Sebab (adapun) perbuatan orang berani, ada sepuluh ma camnya, sedangkan hanya satu keburukannya, (sehingga) jadilah sembilan kebaikannya. Sebabnya dikatakan satu keburukannya, karena gampangnya menempuh jalan ke matian. Akan tetapi orang pengecut pun akan mati pula, sebab takkan Juput kematian bagi semua yang bemyawa (Budhisantoso dan kawan-kawan 1990: 40
Pada bagian lain dari naskah Megat Kung juga diuraikan tentang bagaimana sebaiknya seseorang bertingkah laku dalam masyarakat. Bagaimana seharusnya seseorang menghayati kehidupan ini. Sebab segala sesuatu yang terjadi pada diri se seorang seolah-olah sudah diatur oleh yang Maha Esa sehingga apa yang bisa dirasakan pada hari ini adalah merupakan buah perbuatan yang dilakukan pada masa lalu. Dernikian juga per buatan yang sedang dilakukan sekarang kemungkinan akan dapat dirasakan pada masa yang akan datang. Oleh karena itu sebagai manusia janganlah berhenti untuk berbuat yang baik walaupun hasilnya tidak bisa dinikmati seketika seperti yang tersirat pada naskah Megat Kung sebagai berikut:
Yen keto dija melah gawah melahe suba ya joh ya gugu ambek dusila maba angkara dowang tambane tan sapira yang ditu awake mangrasa mabasasuh, tawu ke ya ring ka sangsaran tawu ya ri angkuh ne melah mabakal panganggo anggo mangrasa.
(Megat Kung, I. I 7)
Artinya:
Jika sudah seperti itu mana mungkin akan mendapatkan kebaikan karena tempat kebaikan semakin jauh karena terlalu menggantungkan diri kepada perbuatan asusila (jahat), melakukan perbuatan angkara murka selalu menye babkan penjelmaan kemudia hari akan menanggung derita. di saat seperti itu barulah sadar dan berkeinginan untuk merubah setelah digelut oleh kesengsaraan, jika menya dari mana perbuatan yang baik, maka akan membawa bekal serta perlengkapan yang serba dapat dirasakan.
Balikan lamun suba maguwunin ne melah dyastu tan kate puk rasane ne ayu apang eda salsal di ati, suka pangada wales apan tan kneng ulah tingkahe ala ayu lugra ha babag yan arang anake manggih
(Megat Kung, I. 19)
Artinya:
Sebaliknya jika kita sering menerapkan segala yang disebut
| kebaikan | walaupun | berhasil | menikmati | rasa |
|---|---|---|---|---|
| kebaikan itu, janganlah ada rasa penyesalan, | rela dan ya | |||
| kinlah perbuatan yang baik dan buruk itu bagian dan anugrah, jarang orang dapat menemukannya. | akan mendapatkan | balasan, sebab tak kuasa dicari | telah merupakan pem |
kebaikan walaupun tidak berhasil menikmati rasa dari
4.2.2. Norma-Nonna Moral Nonna-nonna moral adalah nonna tentang diri kita sendiri, dimana kita bisa membedakan antara yang halal dengan yang haram, yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan, meskipun dapat dilakukan. Dalam hal ini kita me,lihat sesuatu yang
| dapat | dilakukan. | Dalam | hal | ini kita | me,lihat |
|---|---|---|---|---|---|
| spesifik ada soal tentang yang patut dan tidak patut, yang adil dan tidak adil, sosial dan tidak sosial, cabul dan tidak cabul. Hukum moral adalah khusus hukum manusia. | atau | khusus | manusiawi. | Dalam | dunia hewan tidak |
| Namun | jika | kita meni.rtjau hidup manusia, maka nampak | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| lah bahwa manusia itu tidak dari semula mempunyai kesadaran | ||||||
| moral. Pada waktu pennulaan hidupnya, manusia belum mantpu | ||||||
| menjalankan kemanusiaannya. | ||||||
| J .J. | Bachofen | seorang | ahli hukum | yang tertarik | dengan | |
| ilmu antropologi, kemudian | terkenal | dengan tulisannya yang | ||||
| berjudul | Das Mutterrecht | Dalam | buku | tersebut | di | |
| uraikan | tentang | proses | di muka | |||
| bumi | ini yang | berkembang melalui empat | tingkat | evolusi | ||
| yaitu : adaan ini manusia hidup serupa dengan binatang, berkelompok laki-laki dan perempuan bersetubuh dan melahirkan keturunan | pertama disebut sebagai tingkat promiscuit. | Dalam ke | ||||
| nya tanpa | ikatan. | Tingkat | berikutnya | adalah | matriarchat, | |
| dimana | telah muncul | kesadaran | bahwa | hubungan | antara | si |
| ibu dengan | anak-anaknya | sebagai suatu | kelompok | keluarga | ||
| inti dalam ibunya, tetapi tidak mengenal ayahnya | masyarakat, | anak-anak | hanya Perkawinan ibu dengan | mengenal | ||
| anak | laki-lakinya | dihindari | dan dengan | demikian garis | ketu | |
| runan | selanjutnya diperhitungkan | melalui | garis | ibu. Tingkat | ||
| yang calon istrinya itu ke kelompok mereka sendiri. Dalam keadaan seperti | ketiga disebut itu ayah yang menjadi ketua dalam keluarga sehingga | partiarchat. | Laki-laki | membawa | gadis | |
| garis | keturunan | dihitung melalui | garis | ayah. | Lambat | laun |
| patriarchat | menjadi | semakin | hilang | dan berobah | menjadi | |
| susunan | keluarga | parental | dimana | anak-anak | berhubungan | |
| Iangsung keluarga ayah dan ibunya, yang menjadi ketua dalam keluarga di samping ayah juga si ibu (Koentjaraningrat 1964 : Pandangan JJ. Bachofen tentang tingkat evolusi masyarakat | dalam | waktu seluruh hidup mereka dengan anggota | ||||
| manusia | tersebut | di atas, | juga mengandung | makna | bahwa | |
| manusia semakin pada diri masing-masing. Keadaan moral juga dapat dilihat dan dirasakan pada tulisan naskah Megat Kung sebagai berikut. Angkuh anake | lama semakin ala-ayu anggen tempang rasanin pilihin ne | sadar | akan pentingnya moral | |||
| beneh | benehnya | sikutang | padadwayan | angkuhing | anake |
(1861). perkembangan masyarakat
karena
12-13).
jumahnya ne derana tuhu nayangang somah-somah takut ngelinggenin nemwani pangrasan anake luh, iya tan wenang mangaba kasusantran.
( Megat Kung 1. 27).
Artinya:
Perbuatan seseorang yang baik dan yang buruk pergunakan lah sebagai contoh dan rasakan pilihlah mana yang termasuk baik/benar ukur bersama-sama dengan istrimu keangkuhan bagi seorang wanita sebelumnya harus diketahui semasih di rumahnya, apakah benar-benar kasih sayang kepada suami, sebagai seorang istri seharusnya takut menentang suaminya, perasaan seseorang wanita tiada sewajarnya me me gang.
Adanya kesadaran untuk menyesuaikan diri antara seorang suami dangan istrinya a tau se baliknya seorang istri dengan suaminya merupakan salah satu bentuk dari pembinaan moral manusia dalam kehidupan keluarga. Tanpa hal itu kemungkinan akan sering terjadi ketimpangan-ketimpangan, pertengkaran antara suami.dengan \strinya. Dalam naskah Megat Kung juga disebutkan bahwa seorang istri tidaklah wajar apabila selalu mengatur perilaku suaminya. Sebab tindakan ini akan menghambat perkembangan keluarga dalam mencapai suatu cita-cita. Oleh karena itu disarankan agar seorang gadis yang di pilih menjadi calon istri perlu diper timbangkan atau diseleksi agar nantinya setelah menjadi istri tidak mengecewakan suami. Dalam naskah Niti Castra disebutkan: Lwiring awala Yogya pinaka patni, wara-guna rupadhika kula dhani mapes ikang ambek ghrena ya sucila Kadi pene dengning kusuma wicitra.
Artinya: Yang pantas diambil menjadi istri ialah orang perempuan yang tinggi budinya, elok rupanya, keturunan orang baik-
| baik, | lemah lembut | hatinya, | halus | perasaannya, | baik pe | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| rangainya seperti kusuma wicitra yang sedang berkembang. | ||||||
| Persyaratan jika tidak didasari oleh kesepakatan bersama dalam menjunjung tinggi kebenaran. menghargai kebenaran dan menyadari kesalahan atau kekeliruan | tersebut Masing-masing dari suami maupun istri harus | di | ata tidak | akan | berarti | apa-apa |
| yang pernah hubungan suami istri. Dan masing-masing harus mau memaafkan | diperbuat. | Kebenaran | adalah | inti kerukunan | ||
| kesalahan ungkapan naskah Niti Castra berikut : | yang dibuat | oleh | yang lain | (suami/istri). | Seperti | |
| Tan | ana sudharma | mangkwihana | kasatyan | usiren | tekap | |
| parajana. | Tan | ka wah | mahang kwihaneri kang mresc:. | |||
| tilarkenekang | alenok. | Hyang | Anala | Surya | Candra Yarn a | |
| bayu icenakanang bhuwana matya satya wacana. Artinya: | satya sira | saksyaning | bhuwana | mara | ninamaskara | |
| Tidak | ada kesanggupan | yang lebih | baik | daripada | cinta | |
| kepada | kebenaran; | wajiblah | orang | berusaha | menepati | |
| kebenaran daripada kawah temp at menghukum pembohong, dari itu | itu. | Tidak ada | kawah yang lebih mengerikan | |||
| janganlah | berbohong. | Betara | Agni, | Surya, Candra, | Yama | |
| dan disembah biarpun sampai mendatangkan ajal. | Ba'yu menjadi oleh seluruh dunia dengan menepati kebenaran, | saksi | tiga jagat | agar | Pangeran | tetap |
| Pada | masyarakat | Hindu di | Bali, sejak jaman | |||
| sekarang, penting dalam keluarga, dan selalu berusaha menjaga kelestarian rumah tangga. Kelestarian suatu rumah tangga terletak pada kemampuan suami membina rumah tangganya. Secara tidak langsung tampak kekuasaan terletak pada suami, walaupun tidak mutlak, karena dalam hal-hal tertentu istri hams dimintai pendapatnya serta diajak bermusyawarah dalam mengambil keputusan atau menye lesaikan masalah. Suami tidak boleh nya yang mungkin bertentangan dengan kehendak istri. Suami | seorang | suami mempunyai selain | mencari nafkah untuk keluarga | peranan memaksakan | yang kehendak | sangat |
ana ·
hendaknya jangan mencampuri apa yang sepantasnya dilakukan istri sebagai kepala keluarga, suami seyogyanya bersedia men dengarkan pendapat istri dan anggota keluarga yang lain, bersikap terbuka dan tidak otoriter. Sebagai pemimpin ia juga harus berwibawa, sabar dan berpandangan jauh ke depan. Dengan demikian setiap keluarga mempunyai tugas yang ber beda dan saling membantu (Harl Waluyo, dkk.; 1986 : 6).
Kelestarian suatu rumah tangga tidak hanya ditentukan oleh peranan suami. Peranan istripun tidak kalah pentingnya, bahkan istri dapat menentukan keserasian suatu rumah tangga. Seperti tulisan Suwarsih Warnaen dkk., menguraikan tentang tugas dan kewajiban istri :
I. Harus setia dan patuh kepada suami, sebab su ami
anti orang tua.
dengan suami, setia dalam menghadapi kemanisan, saling senangkan hati, saling dak dan saling memberi.
arus menjaga diri, jangan sampai suka bergaul dengan sesama wanita penggoda lelaki jangan meninggalkan rumah jika suami tidak ada dan harus mengindahkan tata krama.
- Hams mengjaga diri dari pertengkaran, jangan pencem buru, pemboros, sumput salindung (menyembunyikan sesuatu karena tidak setia) salingkuh (tidak berterus terang karena menyembunyikan sesuatu kepentingan diri sendiri) dan memudah-mudahkan perceraian (Su wasih Warnaen dkk. 1987 : 120). Jadi dengan demikian nilai-nilai yang terkandung dalam
kehidupan suami istri sangat perlu dipahami bersama, bukan hanya merupakan pedoman kosong, yang hanya bisa diucapkan tanpa bisa dilaksanakan. Pemahaman ni lai tersebut dipandang perlu karena juga mempengaruhi moral anak-anak yang lahir dari perkawinan itu. Apabila suami istri tidak hairnonis dalam kehidupan sehari-hari dan hal itu diketahui oleh anak-anaknya,
maka anak-anak akan menjadi sangat kecewa, selanjutnya mempengaruhi pula sikap mental anak-anak tersebut.
Oleh karena itu suami istri juga merupakan peneJltU arah dari perkembangan jiwa dan moral anaknya, baik dalam kehi dupan keluarga maupun dalam hubungan dengan masyarakat di luar lingkungan rumah tangga.
4.23. Keakuan dan Pembentukan Keµribadian Adanya kesadaran bahwa badan dan jiwa itu bukanlah dua unsur, melainkan suatu kesatuan, satu substansi, satu keseluruh an. Keseluruhan itulah yang dialami oleh manusia. Tentu saja
| an. Keseluruhan itulah yang dialami oleh manusia. | Tentu saja | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| manusia sadar | tentang badan | tetapi manusia tidak | |||
| menganggap | bahwa | hal itu terpisah-pisah | dan kesadaran ma | ||
| nusia satu kesatuan yang disebut aku. | yang memandang | bahwa badan | dan | jiwa | itu sebagai |
| Kesatuan | antara | jiwa dan | badan yang diuraikan di | atas | |
| secara Y!ing sedang sakit akan mengatakan' "Aku sakit". Pemyataan itu sudah mengandung pengertian bahwa yang sakit keseluruh an badan dan jiwa orang itu. | umum diakui | oleh manusia. | Sebagai | contoh, seorang | |
| Demikian | juga | dalam bahasa | Jawa | : SURA-mu, | keng |
| SALIRA. dannya. Demikian bahasa yang dipakai dalam pergaulan sehari hari menguatkan pendapat bahwa: Kita mengalami diri sendiri | Yang | seluruh | orangnya, | bukan saja ba | |
| sebagai | jasmani (awak) | tetapi dalam | pada | itu sek aligus | me |
| ngalami | diri sendiri | sebagai rohani, | selanjutnya disimpulk an | ||
| bahwa | kepribadian | itu | berdasarkan | kerokhaniannya |
dan jiwa,
dimaksud
(N. Drijarkara S.J. 1978 : 94-96).
Sedangkan menurut seorang tokoh Antropologi Indonesia, Prof. Dr. Koentjaraningrat, susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan dari tiap-tiap individu manusia itu disebut "kepribadian" atau personality. Juga disebutkan bahwa unsur-unsur kepribadian itu ad alah pengetahuan perasaan dan dorongan naluri (Koen-, tjaraningrat 1985 : 102-108).
Apabila kita kaji naskah Megat Kung melalui pandangan kedua tokoh tersebut di atas, maka dapat kita simpulkan be berapa ungkapan yang mengandung nilai-nilai yang mengacu kepada pembentukan kepribadian seseorang, antara lain:
Karaning kuat nahening kitane makarsa tan, nuti saliyun angke mwani twahne makarsa ring anak luh, saliyun anak luh twah anake mwani karsayanga sak arini tahanang la mun makarsa madalem awak, braya ana karsa di ati twah tata krama melah di malu ento jalanang braya suka magusti, da ngutang-ngutang kalalanangan yan kena ento reko pura jati adanya yen to ta lingging aji.
Artinya:
Oleh karena itu kuat-kuatlah menahan diri agar tiada cepat-cepat menuruti nafsu, semua laki-laki pada menaruh minat kepada seorang perempuan, demikian pula para wanita hanya laki-laki yang diidam -idamkan, oleh karena itu kendalikanlah nafsu jika sayang akan diri, warga masya rakat sama dengan saudara-saudara kita, jika ada niat dalam pikiran utamakanlah pelaksanaan tata karama hal itulah yang harus dilaksanakan agar membuat para warga menjadi senang, jangan lupa mengabdi kepada Yang Oipertuan, janganlah boros akan milik kelaki-lakian (Bahasa Bali : nyalanang semara du du), jika hal itu kuasa mengatasinya maka itulah merupakan putra yang sejati sesuai dengan ajaran sastra.
Sebagai seorang warga masyarakat diharapkan bisa mengen dalikan diri, tidak menyimpang dari nonna-norma dan aturan yang berlaku dalam masyarakat itu. Setiap tindakan yang ingin dilakukan hendaknya dipikirkan terlebih dahulu dan selalu berdasarkan tata krama agar jangan sampai masyarakat banyak menjadi tersinggung dan marah. Dan yang lebih penting lagi bahwa setiap warga masyarakat harus nmduk dengan peraturan pemerintah, mengutamakan kepentingan negara dan bangsa daripada kepentingan pribadi dan golongan.
| Karanilig | yatna | sahidup hidupan | dadi | jadma | tan pegat | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| gunemang | di | atine sina | ya katindakin | marganya tekeng | ||
| suka tuyuh krasayang nggawe padidian | mabraya | muwa | desa suka | duka | twara | ngitungang |
Artinya:
Oleh karenanya waspadalah selama hidup sebagai manusia jangan putus-putusnya mempertimbangkan dalam hati,
| jangan | putus-putusnya | mempertimbangkan | dalam | hati, | ||
|---|---|---|---|---|---|---|
| siapa | tahu dapat | dituntun | menuju | ke tempat | pembuat | |
| kebahagiaan tanpa mengenal lelah pikirkanlah untuk dapat menciptakan sendiri. | orang | banyak, | juga | dalam suka | dan duka | |
| Prof. | Dr. Ida | Bagus Mantra | dalam | kerangkanya | yang | |
| berjudul | Tata Susila | Hindu Darma | menguraikan bahwa tata | |||
| susila yang harus menjadi pedoman hidup manusia. Tujuan tata su sila ialah untuk membina hubungan yang selaras atau hubungan | peraturan | tingkah | laku | yang baik | dan mulia | |
| yang | antara | seseorang | dengan | mahluk | hidup | di |
| sekitarnya, | perhubungan | yang | selaras | antara keluarga | yang | |
| membentuk satu bangsa dengan bangsa yang lain dan antara manusia dengan alam sekitarnya. Telah menjadi kenyataan bahwa perhubungan yang selaras atau rukun antara seseorang dengan mahluk sesa | masyarakt | dengan | masyarakat | itu sendiri, antara | ||
| manya, | antara anggota-anggota | sesuatu | masyarakat, | suatu | ||
| bangsa, | manusia | dan sebagainya, | menyebabkan | hidup yang | ||
| aman dan sentosa (Mantra 1983-1984 Setiap orang diharapkan menjunjung tinggi nilai-nilai yang berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat. Seseorang yang | 5). | |||||
| menjadi | warga masyarakat | patut mengetahui | apa yang | baik | ||
| dipikirkan baik dilakukan agar tetap terjamin dikan pedoman untuk bertindak untuk mengimbangi dorongan naluri dan petasaan dalam diri masing-masing. | serta dikerjakan dan Pengalaman dan pengetahuan hendaknya dija | keseimbangan hubungan sesama manusia | apa yang pantang | dan tidak |
berarti
rukun
:
Apabila setiap orang dalam suatu masyarakat dapat melak sanakan hal itu maka apa yang disebut hubungan selaras dan keserasian sosial akan cepat terwujud
Sangkaning ada pati mangulah gawene sering eda pati me nganggur eda pati ngimut pedeman balikan ya pada karsayang ada..ibukang ati pajinjinang kenne katuju brayane ne suba mangrasa agecik, ne maambek santosa.
Artinya: Oleh karena itu janganlah mengutamakan pekerjaan yang tiada berkeputusan, jangan sering bertandang, janganlah sering membenci tempat tidur sebalinya agar sama dirasa kan sehingga jangan sampai menyusahkan pikiran, per siapkan segala yang ingin dicapai seperti warga yang telah dapat merasakan kebaikan serta yang berdana sentosa. Dalam Tutur Janantaka juga disebutkan: Dursila sahananing ulah tan yhogya inulah akanye ring rat, tan senggaha sor luhur, apan tan pasasana tan susila, mang dahi dharmma, mngkana agung dosanya, mahabhara sinandangnya.
Artinya : Kelakuan buruk, segala sifatnya tidak benar yang dilak sananannya di dunia, tak punya sikap yang hormat, karena tidak punya pedoman, tidak punya kesusilaan, menjauhkan darma, maka itu besar dosanya, terlalu berat penderitaan nya.
( Nuarca & Puma, 1990: 8)
Dengan membaca dan memahami beberapa ungkapan pada bait-ba,it naskah Megat Kung terungkap suatu nilai-nilai yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Nilai nilai tersebut juga mengarah pada pembentukan kepribadian seseorang yang ditekankan pada orientasi hubungan manusia dengan manusia. Manusia sebagai mahluk sosial tidak bisa me-
lepaskan diri dari ikatan dan batas-batas norma yang ada pada liri.gkungan sosial dimana mereka berada. Untuk dapat mengisi dan mengikuti norma-norma yang ada memerlukan suatu
| dan mengikuti norma-norma | yang | ada memerlukan | suatu | |||
|---|---|---|---|---|---|---|
| proses | yaitu proses | belaJar tentang pola berpikir, berkata dan | ||||
| selanjutnya | bertindak. | Proses | belajar | seperti itu | telah | mulai |
| ditanamkan dangkan pedoman | kepada | setiap yang dipakai untuk mengisi proses belajar | individu yang | lahir ke | dunia. | Se |
| itu sebagian | besar | diambil | dari nilai-nilai | yang | ditiriggalkan | |
| oleh | nenekmoyang | kita | yang mempunyai | pengetahuan | ||
| dan wawasan | yang | luas tentang | arti | kehidupan. | Nilai-nilai | |
| tersebut dongeng-dongeng badian dan ada juga yang tersimpan pada lontar-lontar dalam | ada yang | disampaikan yang mengarah | secara kepada pembentuk kepd | lisan | dalam bentuk | |
| bentuk Tutur, | Kekawin, | dan | lain-lain. Nilai-nilai yang terkan | |||
| dung pada | naskah-naskah | kuno | juga merupakan inti dari ke | |||
| budayaan masyarakat, bisa bertahan demikian bukan berarti bahwa suatu masyarakat akan menjadi | dalam | oleh jangka waktu yang cukup lama. Namun | karena | itu nilai-nilai | tersebut | |
| kaku dalam | akibat adanya naskah-naskah | peninggalan kuno. Justru dengan memiliki pedoman | nilai-nilai | yang | terkandung | |
| nilai itu dengan kondisi kehidupan masa kini. Perkembangan kebudayaan yang demikian pesatnya adalah | masyarakat | bisa | dengan cepat | menyesuaikan diri | ||
| merupakan | dorongan | dari | masing-masing kepribadian | masya | ||
| rakat masyarakat dan disesuaikan dengan perkembangan masyarakat masa kini. | pendukung terbentuk dari nilai yang berasal dari jaman dulu | kebudayaan | itu. | Sedangkan | kepribadian |
BAB V
RE LEVANSIDANPERANANNYA DALAM PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN
| DALAM | PEMBINAAN DAN | PENGEMBANGAN | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| KEBUDAY | AAN NASIONAL | |||||
| Kebudayaan | sebagai pengetahuan manusia sebagai mahluk | |||||
| sosial yang huan yang secara selektif digunakan oleh para pendukungnya/ | isinya | adalah perangkat-perangkat model pengeta | ||||
| pelakunya | untuk | menginterpretasi dan memahami lingkungan | ||||
| yang tindak (Parsudi Suparlan, 1988). Manusia dalam kehidupannya mempunyai kebutuhan yang | dihadapi | dan digunakan | sebagai pedoman | untuk | ber | |
| banyak dorong manusia kebutuhan itu. | sekali. | Adanya untuk melakukan tindakan dalam memenuhi Dalam hal ini, menurut Ashley Montagu ( 1961) | kebutuhan | hidup | inilah yang men | |
| kebudayaan | mencerminkan tanggapan | manusia | terhadap | ke | ||
| butuhan dasar bukan saja dalam banyaknya kebutuhan, tetapi juga dalam cara | hidupnya. | Manusia | berbeda | dengan | binatang | |
| memenuhi kebutuhan yang me mbetikan garis pemisah antara manusia dan binatang. | itu. Kebudayaanlah | dalam konteks ini | ||||
| Ketidakmampuan | manusia | untuk bertindak instingtif ini | ||||
| diimbangi | oleh | kemampuan | lain, | yakni | keinampuan | untuk |
| belajar | berkomunikasi | dan menguasai | obyek-obyek yang ber | |||
| sifat fisik. | Kemampuan | untuk | belajar ini dimungkinkan oleh | |||
| berkembangnya | intlegensia | dan | pola berpikiT | simbolik. | Ter- |
| lebih-lebih | lagi | manusia | mempunyai | budi | yang merupakan | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| pola kejiwaan yang di dalamnya terkandung dorongan-dorongan | ||||||
| hidup fantasi. | yang dasar, insting, Budi inilah yang menyeoabkan manusia mengembang | perasaan, | pikiran, | kemauan | dan | |
| kan suatu hubungan yang dengan jalan memberi penilaian terhadap obyek dan. kejadian. Nilai-nilai budaya ini adalah jiwa dari kebudayaan dan menjadi | bermakna | dengan | alam sekitarnya | |||
| dasar | dari segenap | wujud | kebudayaan | (Alisyahbana, | 1975). | |
| Kebudayaan dayaan daerah yang tersebar di seluruh wilayah Negara Repu | Nasional | Indonesia yang | berakar pada kebu | |||
| blik Indonesia | merupakan | pedoman | bertindak | bagi | seluruh | |
| rakyat | Indonesia | Koentjaraningrat | menguraikan | dua | fungsi | |
| Kebudayaan gagasan dan Negara Indonesia dan kedua sebagai suatu sistem gagasan dan perlambang yang dapat dipakai oleh semua Warga Negara Indo nesia yang bhineka itu, untuk saling berkomunikasi dan dengan | Nasional perlambang yang memberi identitas kepada Warga | yaitu | pertama, | sebagai | suatu | sistem |
| demikian | dapat | memperkuat | solidaritas | (Koentjaraningrat, | ||
| Dalam disebutkan : "Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah yaan lama dayaan daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai ke | penjelasan Pasal usaha budaya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebuda | dan asli terdapat sebagai pu ncak-puncak kebu | 32 Undang-Undang | Dasar | 1945 | |
| budayaan | bangsa. | Usaha | kebudayaan | hams | menuju | ke |
| arah | kemajuan | adat, budaya dan persatuan | dengan tidak | |||
| menolak dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan | bahan-bahan | baru dari | kebudayaan | asing | yang | |
| bangsa bangsa Indonesia". Kebudayaan Nasional Indonesia dalam fungsinya yang pertama pengetahuannya | sendiri, mungkin juga mempunyai suatu unsur dalam sistem | serta yang dapat | mempertinggi memberikan kebanggaan kepada | derajat | kemanusiaan | |
| orang | Indonesia | sehingga | dapat | memperkuat | identitasnya. |
1985).
Sistem pengetahuari itu banyak tercantum dalam himpunan naskah-nask,ah kuno dalam berbagai bahasa daerah, seperti bahasa Jawa Kuno, Jawa-Bali, Bali, Bugis, Sasak dan seba gainya.
Dalam tulisan ini diangkat sebuah naskah kuna dari ke budayaan· Bali, yang berjudul Megat Kung. Naskah ini banyak mengandung pedoman untuk bertindak sesuai dengan tindakan yang dikehendaki oleh bangsa dan Negara Indonesia.
Pedoman-pedoman bertindak dan beraktivitas yang ter himpun dalam naskah Megat Kung antara lain pedoman tentang tata krama nasion.al.
Dalam rangka unsur organisasi sosial tata krama adat yang dalam kenyataan berarti tata krama atau sopan santun per gaulan dalam adat istiadat suku bangsa suatu daerah, juga merupakan suatu unsur yang dapat kita angkat ke dalam daftar unsur-unsur kebudayaan Nasional Indonesia untuk memperkuat identitas diri ki ta. Hal ini disebabkan karena sopan santun pergaulan tampak secara konkret dan mudah menarik perhati an orang luar, terutama apabila sopan santun pergaulan itu menunjukkan sikap ramah dan gerak gerik yang halus dan luwes. Dengan demikian adat sopan santun dapat menimbulkan rasa hangga pada orang Indonesia (Koentjaraningrat 1985 : 122). Dalam naskah Megat Kung dapat diungkapkan sebagai berikut : Yen bana bawu bisa macanda mapalalyan balik de pati cinging teken rowang apanga pada kasih, yen bana ngelah amah amahan camah bareng yan pada makedik eda cupar apang saling idihin. (Megat Kung, I. 7)
Artinya:
| Jika kita | baru bisa bergurau dan kemudian bermain-main | ||
|---|---|---|---|
| sebaiknya | janganlah | suka | teman, |
| mengasihi, | jika kita mempunyai | ||
| sama-sama saling memberikan dan saling menerima. | walaupun | sama-sama sedikit, | jangan kikir agar |
menyakiti agar saling makanan makanlah ber
Eda mamaling congah ring braya wadesa balik-balikin sarwinya kamalingan eda ke ya pati brangti paguneman di cita angkuhe nene melah mahawanan tuyuh ya mangulah melah am bek dana wirati. (Megat Kung, I. 10).
Artinya:
Janganlah mencuri tidak memiliki rasa malu kepada warga dan masyarakat desa, telitilah dengan cermat penyebab kemalingan itu jangan suka marah, pertimbangkanlah di dalam hati segala perbuatan yang dianggap baik, karena sangat sulit untuk dapat kebaikan agar senantiasa berbuat dana/berderma.
Kanya twah teka ring saling sakah apan megawe ayu bakti, ring braya kawan bakti ring gusti, karaning gusti sedeng sayangang pan panunggalaniug ala-ayu, panangkala ring awak sadalam mani wi. (Megat Kung I. 13 ).
Artinya :.
| Keutuhan | hanya | datang | pada | pikiran | yang saling mem | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| pengaruhi, atan hormat kepada warga dan | sebab | untuk | berbuat | kebaikan bakti kepada | adalah perbu orang yang | |
| menjadi junjungan, | sebab | orang | yang menjadi | junjungan | ||
| wajar ayu". (baik-buruk) bahaya selama mengabdikan diri. Yen karasa baan mandadi panjak towah wenang kapongor | disegani, karena | yang membuat diri kita mendapatkan | perwujudan | yang | disebut | "Ala |
| gustine jatining gusti temahaning bapa ya wenang magawe ala ayu karaning perih leganing gusti yan gusti tan suka ri panjak dan urung panjak kagilangilang. | towak | wenang | duka | sahimbang | teken bapa | ia |
(Megat Kung, l. 14).
Artinya :.
Jika dapat menyadari bahwa kita sebagai seorang abdi telah
sewajarnya dijatuhi hukuman dari orang yang dipertuan serta wajar beliau memarahinya, sebenarnya yang dipertuan sejajar dengan seorang ayah, beliau mempunyai wewenang berbuat baik terhadap diri kita, oleh karena itu usahakanlah berbuat demi kesenangan orang yang dipertuan, jika orang yang dipertuan tidak senang kepada rakyat maka tidak jarang rakyat itu kehilangan pedoman.
Yening panjake tan suka magusti tan urung kagilang-gilang gustine kandayang karaningpatuhang mebraya pada trepti to ngosin ala-ayu reko pada ring awak padidiin wenang lamu n prih suka yan dadi jadma sarunya tuyuh megawe melah. (Megat Kung, I. 15)
Artinya:
Sebalik nya jika rakyat tidak mau mengabdi kepada dipertuan maka tidak urung orang yang dipertuan akan kehilangan pedoman, berikanlah kesempatan berpikir untuk memikirkan keadaan yang dipertuan oleh karena itu bersatulah sebagai warga desa agar merasa bahagia pada saat ditimpa kebaikan dan keburukan tak ada bedanya seperti diri kita sendiri wajar untuk mendapatkan kebaha giaan, jika dijelmakan sebagai manusia sangat sulit untuk menciptakan kebaikan.
Krana beneh yen keto apan panjake twah nya dadi baan gusti ala-ayu kapratingkah baan gusti yen jele melah baan mangrasa supeksayang apang dane tawu ala-ayuning lampah jati awak magusti. (Megat Kung, I. 45).
Artinya:
| Sebab | kesemuanya | itu perbuatan | yang | baik | sebab kita |
|---|---|---|---|---|---|
| sebagai rakyat diperintah oleh orang yang dipertuan, baik | |||||
| dan buruk burukan lalu dirasakan oleh suatu kebaikan, maka seharus nya dihaturkan agar beliau mengetahui tentang baik dan | diatur | beliau yang | dipertuan, | jika sesuatu k |
buruknya yang telah kita lakukan dan itulah mempakan tindakan yang sangat tepat bagi seorang abdi.
Apan ane mepengawak surya tawu ring panjak langit jele melahing bikas dane suba tawu ardaning panjak upayaning panjak, muwang ngawe salah gusti dane wikan mwang cinging teken braya yadin jelene tonden pesuang, dane suba tawu ring sahananya.
Artinya: Karena beliau itu tak ubahnya Matahari yang telah dapat mengetahui segala yang diperbuat oleh rakyatnya yang sama dengan langit, baik dan buruk perbuatan kita beliau mengetahuinya. usaha kebaikan dan perbuatan salah yang diperbuat oleh rakyatnya, beliau telah dapat mengetahui sifat dengki kepada warga masyarakat serta pikiran jahat yang belum dikeluarkan beliau sudah mengetahui.
Yen ne melah doang kapupu tawu padidiin, yan ne jele supeksayang ring gustine pang tawu apan baantanen dadi yang awak pan anake mapilih dong nguda keto baktine magusti, apan gusti suba tawu teken angkuh awake ma kejankejang. (Megat Kung, I. 46).
Artinya: Jika kita senang kepada yang baik saja kemudian yang buruk disampaikan kepada bel iau agar dapat mengetahuinya lalu apa sebenarnya nama yang diberikan kepada diri kita ini, sebab kita yang melakukan pilihan, kita yang memilih "hai mengapa demikian terhadap beliau yang dipertuan", sebab yang dipertuan telah dapat mengetahui segala hal yang ki ta perbuat.
Ungkapan di atas ternyata sampai sekarang masih dipakai sebagai pedoman untuk bertindak oleh sebagian besar bangsa Indonesia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa naskah Megat Kung mempunyai peranan bagi perkembangan kebudaya an Nasional, hal ini dilihat pula dari konteks kebudayaan Bali
itu sendiri sebagai kebudayaan daerah yang mampu memberi sumbangan bagi khazahan bu daya bangsa.
Nilai yang terkandung di batik tutur naskah Megat Kung selanjutnya dapat dijadikan wujud ideal dari Kebudayaan Nasiona l yang didukung oleh seluruh bangsa Indonesia.
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan Karya sastra Kidung Megat Kung merupakan karya sastra Bali Klasik yang berbentuk puisi dan berbahasa Jawa Tengahan. Karya sastra tersebut dirangkai dengan 8 buah pupuh dan 171 bait dan nama pupuhnya tidak disebutkan secara jelas oleh pengarang. Naskah kidung Megat Kung ini memuat tentang tutur (na sehat) yang erat kaitannya dengan kehidupan kita sehari-hari di masyarakat, hal ini dapat dilihat dalam bait-bait naskah terse but. Pengertian tutur (nasehat) dalam kajian ini adalah ajaran yang bersifat dogmatis yang mengandung unsur dasar penekan an-penekanan agar berbuat baik. lsi yang terkandung dalam naskah Kidung Megat Kung ini juga menyinggung tentang pelukisan konsep "Aji Brata" atau konsep pengendalian diri seseorang mencapai cita-cita. Nilai yang dilukiskan dalam Kidung Megat Kung adalah nilai tata susila yang menandaskan adanya berbagai perilaku yang dilarang dan atau dianggap baik untuk diterapkan di masyarakat.
103
Dalam kaitannya dengan pengembangan Kebudayaan Nasional isi naskah Kidung Megat Kung bermanfaat dalam memperkaya khazanah budaya Nasional kita, karena nilai ter sebut merupakan warisan budaya yang luhur dari nenek moyang yang perlu dilestarikan kegunaannya.
6.2 Saran Upaya pembinaan dan pengembangan Kebudayaan Nasional tidak terlepas dari usaha penelitian dan pengkajian naskah kuna yang merupakan gudang konsep kehidupan budaya nenek moyang yang tidak habis-habisnya digali, sehubungan dengan itu maka kegiatan semacam itu agar berkesinambungan dilak sanakan.
DAFTAR PUSTAKA
Agastia, Ida Bagus Gede, 1980 "Geguritan Sebuah Bentuk Karya Sastra Bali". Makalah dalam Sarasehan Sastra Bali pada Pesta Kesenian Bali III, Denpasar.
Alisjahbana, Sutan Takdir. 1975. Perkembangan Sejarah Ke budayaan Indonesia; Jakarta: Yayasan ldayu.
Budhisantoso, S. Prof. Dr. 1991/1992 "Kerangka Acuan/TOR Pengungkapan Nilai dari Naskah Kuna" Jakarta: Direk torat Sejarah dan Nilai Tradisional.
Berg, CC 1974 Penu/isan Sejarah Jawa Terjemahan S. Gunawan Jakarta. Bhra tara.
Budhisantoso, S. dkk. 1990 Wasiat-wasiat Da/am Lontarak Bugis, Depdikbud, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Jakarta.
Cika, I Wayan. 1990. Cara Menyunting Naskah Tunggal (Codex Uniqus) da/am Maja/ah Widya Pustaka Fakultas Sastra Unud, Denpasar.
Djamaris, Edwar 1977. "Filologi dan Cara Kerja Penelitian Filologi" dalam Maja/ah Bahasa dan Sastra tahun III/
1977.
105
Damono, Sapardi Djoko. 197 9. Novel Sastra Indonesia Sebelum Perang. K. Jakarta: PT. Gramedia.
Drijarkara, N. SJ. 1978. "Percikan Filsafat" Jakarta: PT. Pem bangunan.
Esten, Mursal. 1978 Kesusastraan Pengantar Teori dan Sejarah Sastra. Bandung: Angkasa. Hari Waluyo, dkk. 1988 Terjemahan dan Kajian Piwulang lstri, Depdikbud: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebu
| Depdikbud: | Proyek Penelitian | dan Pengkajian Kebu | |
|---|---|---|---|
| dayaan Nusantara Jakarta. | |||
| Jendra, I Wayan. 1980. "Kesusastraan Jawa Kuna dan Linguis Koentjaraningrat, 1985 Persepsi Masyarakat Tentang Kebudaya | tik sebagai ilmu dan Publikasi Fakultas Sastra Unud Denpasar. an Nasional, Alfian editor, Jakarta: Gramedia. | Bantu" Denpasar: Pusat Dokumentasi | |
| Koentjaraningrat, | Universitas Indonesia. | Pokok-pokok | Antropofogi |
1964 Jakarta:
------, 1986. Pengantar flmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.
Levit, Paul. M. 1971. A. Structural Approach to the Analisis of Drama, Paris: Mouton the Hague.
Lexembur, Jan Van dkk. Pengantar Ilmu Sastra (1984). Diter jemahkan oleh Dick Hartoko. Jakarta: Pt. Gramedia.
Mardiwarsito, L. 1981 Kamus Jawa Kuna-Indonesia, Ende Flores: Arnoldus Nusa lndah.
Medera, I Nengah dkk. 1987. Pengungkapan Latar Belakang Jsi Naskah Lama Silasasana. Depdikbud. IDKD Bali.
Mulyadi, SWR. Dr. 1991. Teknik mengkaji dan Menganalisis Naskah Kuna, Jakarta: Ditjarahnitra, Depdikbud. (Peper).
Munawar, Tuti. 1991. Teknik Alih Aksara dan Alih Bahasa dalam Naskah Kuna, Jakarta: Ditjarahnitra, Depdikbud. (Peper).
Mantra, Ida Bagus. Tata Susi/a Hindu Dharma 1983-1984. Penerbit: Parisada Hindu Darma Pusat.
Montagu, Asheley 1961. Man First Million Years New York: Mentor.
Nuarca, I Ke tut dkk. Tutur Janan taka (1990) Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Depdikbud, Jakarta.
Parsudi Suparlan, 1988 Kebudayaan dan Pembangunan Jakarta: MGMP Sosiologi dan Antropologi.
PGAHAN 6 Tahun Singaraja, Niti Castra dalam bentuk Kakawin 1983 /1984 Penerbit Parisada Hindu Dharma Pusat.
Poerwadarminta, WJS, 1967. ABC Karang Mengarang. Up. In donesia.
Pudja, G. MA. SH. 1984/85 Sarasamuccaya Penerbit: MS.
Rupa, I Wayan. 1985 "Kakawin Wijayasraya Analisis Struktur" Skripsi Sarjana Fakultas Sastra Universitas Udayana. Denpasar.
Sardjono, Partini 1986. "Tokoh Sejarah Sebagai Protagonis dua buah Karya Sastra Jawa Kuna'', dalam A Man of Indo nesian Letters Essays in Honour Of Prof A Teeuw Edited by CMS Hellwing and SO Robson.
Sugriwa, I Gusti Bagus 1970. Penuntun Pelajaran Kakawin, Sarana Bhakti Denpasar.
Slamet Mulyana, R.B. dan Simorangkir Simanjuntak tth. Ragam Bahasa Indonesia J.B. Wolters, Jakarta.
Sukada, Made 1983. "Ni Rawit Ceti Penjual Orang Analisis Struktur dan Semiotik" Yogyakarta: Tesis Pasca Sarjana Sastra Indonesia UGM.
Soelaeman, M. Munandar. 1987 "Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar" Penerbit PT. Eresko : Bandung.
Suharianto, S. 1982 Dasar-dasar Teori Sastra, Surakarta: Widya Duta.
Suyitno 1986. Sastra Tata Ni/ai dan Eksigenesis Yogyakarta: Hanindita.
Teeuw, A. 1982 Khasanah Sastra Indonesia Jakarta: PN Balai Pustaka.
Udara Naryana, Ida Bagus 1987. Kajian Ni/ai Pra/ambang Bha sa Wawatekan Karya Dewa Agung Istri Kanya. Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara Daerah Bali.
Wamaen, Suwarsih dkk. 1987. Pandangan Hidup Orang Sunda Seperti Tercermin Dalam Tradisi Lisan dari Sastra Sunda. Bandung: Proyek Penelitian dan Pengkajian Keb. Sunda (Sundanologi) Depdikbud.
Yudiono, KS. 1984. Te/aah Kritik Sastra Indonesia. Bandung: Angkasa.
Tan, Mely G 1977 "Masalah Perencanaan Penelitian" dalam Metode-metode Penelitian Masyarakat, Koentjaraning rat (ed) Jakarta. PT. Gramedia.
DAFTAR INFORMAN
| I. | Nama | I Nyoman Antasha |
|---|---|---|
| Umur Pendidikan : | 50 tahun Tamat SMP | |
| Pekerjaan | Karyawan Gedong Kirtya, Singaraja | |
| Alamat | Desa Banyuning, Singaraja, Bali | |
| 2. | Nama Umur Pendidikan : | Drs. Ida Bagus Gde Agastia 37 tahun SI Bahasa dan Sastra Bali |
| Pekerjaan | Dosen FS. Unud. | |
| Alamat | Desa Mambal Badung. | |
| 3. | Nama Umur Pendidikan : | Drs. Ida Bagus Udara Naryana 50 tahun SI Bahasa dan Sastra Bali |
| Pekerjaan | Dosen FS Unud, Denpasar | |
| Alamat | Jalan |
Cenigan Sari, Sesetan, Denpasar.
| 110 | ||
|---|---|---|
| 4. Nama | AA. Made Rai | |
| Umur | 36 tahun | |
| Pendidikan : | SMA | |
| Pekerjaan | Pegawai Pustaka Lontar FS, Unud, Denpasar | |
| Alamat | Desa Badung. | Padangsam bian, |
| 5. Nama | Ketut Jana | |
| Umur | 38 tahun | |
| Pendidikan : | SD | |
| Pekerjaan. : | Petani | |
| Alamat | Dusun Pesangkan Tengah, Selat, Karangasem |
Denpasar Barat,
| 4. Nama | AA. Made Rai |
|---|---|
| Umur | 36 tahun |
| Pendidikan : Pekerjaan : Pegawai Pustaka Lontar FS, Unud, Denpasar | SMA |
| Alamat | Desa Padangsambian, Denpasar Barat, |