Transliterasi Naskah Kuno di Propinsi Sumatera Barat
Tradisi Keagamaan Dalam Naskah
Oleh
Hariadi
Rismadona
Suriani
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN
BALAI PELESTARIAN NILAI BUDAYA
SUMATERA BARAT
ii TRANSLITERASI NASKAH KUNO
Transliterasi Naskah Kuno
Hak Cipta terpelihara dan Dilindungi Undang-Undang No 19 Tahun 2002. Tidak dibenarkan menerbitkan ulang atau keseluruhan Monografi Adat ini dalam bentuk apapun sebelum mendapai izin khusus dari Kerapatan Adat
Nagari Koto Gadang VI Koto, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam
Oleh Hariadi Rismadona Suriani
Translator Chairullah Ahmad, M.Hum
Editor: Dr. Ahmad Taufik Hidayat
Layout/Disain Cover: Rolly Fardinan
ISBN : 978-602-6554-03-7 Percetakan: CV. Graphic Delapan Belas Komp. Puri Sumakencana Blok G No.18 Tabing Padang
Diterbitkan oleh : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat
iii
KATA PENGANTAR
Kalimat Puji dan rasa syukur kehadirat Allah SWT berkat rahmat dan hidayahnya tim transliterasi naskah kuno di Sumatera Barat tahun 2016 dapat menyelesaikan transliterasi enam naskah kuno. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan rutin kantor Balai Pelestaria Nilai Budaya Sumatera Barat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Enam naskah yang di transliterasi tersebut sebagai berikut: Naskah Jalan Ma’rifat, Naskah Kisah Muhammad Arif, Naskah Mantra dan Jimat, Naskah Campuran, Naskah Sifat Dua Puluh, dan Naskah Wirid.
Tim mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah berkontribusi dalam kegiatan ini, terutama kepada bapak Ahmad Taufik Hidayat dan bapak Khairullah Ahmad yang telah bekerjasama dengan tim untuk mentransliterasi naskah-naskah tersebut.
Transliterasi ini tentu saja bukan sesuatu yang sempurna, oleh karena itu, tim mengharapkan sumbang
saran dari pembaca semua untuk lebih sempurnanya Buku
iv
ini. Mudah-mudahan Transliterasi ini bermanfaat bagi para pembaca.
Padang, Agustus 2016 Ketua Tim
Hariadi, S.S, M.A
v
PENGANTAR EDITOR
Alhamdulillah untuk segala rahmat yang telah dilimpahkan Allah SWT atas selesainya pengerjaan transliterasi ini. Sebagaimana dimaklumi, penerbitan edisi ini merupakan upaya berkesinambungan dari program pelestarian dan tentu saja transliterasi naskah yang telah dilaksanakan sejak tahun 2013 yang lalu oleh BPNB Sumatera Barat dengan melibatkan sejumlah akademisi dari Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang. Sepanjang tiga tahun kegiatan ini dilaksanakan, kiranya selalu berhadapan dengan kenyataan bahwa kegiatan ini senantiasa berpacu dengan kepunahan secara perlahan dan konstan naskah-naskah yang belum terselamatkan di luar sana. Jadi, pada dasarnya, enam teks yang berhasil diterbitkan ini, masih terlalu sedikit dari kategori memadai. Namun demikian, ‘ala kulli hâl, hasil transliterasi keenam teks ini pun patut disambut dengan suka cita, dengan tidak lupa berharap bahwa kegiatan ini terus ditingkatkan dari waktu ke waktu.
Sebanyak enam teks Naskah kuno yang diambil dari berbagai wilayah di Minangkabau ini berlatar teks-teks abad ke- 19 dan awal abad ke-20, yang berkarakter tasauf dan berpadu
vi
dengan kultur dan khazanah lokal, sehingga membentuk identitas keislaman lokal yang pernah diberlangsungkan pada kurun waktu lampau.
Dalam pengerjaan edisi dari keenam teks ini, editor menemukan sedikit kendala, terutama menyatukan bagian halaman-halaman teks yang memang secara umum tidak tersusun secara teratur. Selain itu, dalam sejumlah lembar naskah jimat dan mantra, ditemukan istilah dan nama-nama yang tidak lazim lagi pada masa sekarang, sehingga untuk mengidentifikasi dan mencari maknanya diperlukan waktu sedikit lebih lama. Selebihnya berkaitan dengan kondisi naskah yang sudah usang, sehingga terdapat bagian-bagian teks yang tidak terbaca lagi. Untuk hal itu, tentu tidak dapat dipaksakan. Dalam hal ini editor menawarkan bacaan berupa rangkaian huruf-huruf yang diasumsikan merepresentasikan teks dan diletakkan dalam tanda kurung <..>. Tugas-tugas semacam ini tentu merupakan keinginan editor untuk menjadikan teks agar lebih dapat terbaca oleh khalayak umum.
Harapan terakhir itulah yang menjadi tujuan transliterasi naskah ini, apalagi apabila edisi naskah yang telah diterbitkan ini, kiranya dapat menjadi sarana belajar dan menggali generasi muda kita. Akhirnya, dari editor, kami menyampaikan selamat membaca, dan dengan setia menunggu kritik dan saran pembaca.
Padang, 26 November 2016
Ahmad Taufik Hidayat
vii
KATA SAMBUTAN
Program pelestarian naskah kuno menjadi program rutin beberapa tahun belakangan. Setidaknya ada beberapa alasan: diantaranya kondisi naskah yang sudah semakin tua, dikahwatirkan naskah-naskah tersebut akan hancur dan tidak bisa terbaca lagi. Faktor alam seperti bencana yang terjadi juga berpotensi besar menjadi penyebab rusak dan hilangnya naskah-naskah yang ada.
Beberapa program yang pernah dilakanakan tersebut antara lain pelatihan konservasi naskah, bekerjasama dengan lembaga-lembaga penggiat pelestarian naskah dan perguruan tinggi. Program lainnya adalah digitalisasi dan transliteasi naskah kuno yang tersebar di surau-surau dan pemilik naskah.
Program pelestarian naskah kuno tahun 2016 adalah Digitalisasi dan Transliterasi Naskah kuno yang terdapat di Sumatera Barat. Berkaitan dengan hal itu, tim yang ditugaskan telah menyelesaikan pekerjaan tersebut. Adapaun naskah-naskah yang telah selesai di transliterasi sebagai berikut: Naskah Jalan Ma’rifat, Naskah Kisah Muhammad Arif, Naskah Mantra
viii
dan Jimat, Naskah Campuran, Naskah Sifat Dua Puluh, dan Naskah Wirid.
Dengan mengucapkan segala puji kepada Allah, Saya menyambut baik atas selesainya laporan transliterasi ini. Mudah-mudahan hasil translitersi ini memperkaya khazanah ilmu pengetahuan bagi pembaca semuanya.
Padang, Agustus 2016 Kepala BPNB Sumatera Barat
Jumhari, SS
ix
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................... iii
KATA SAMBUTAN...................................................................................... v
DAFTAR ISI..................................................................................... vii
PEDOMAN TRANSLITERASI.................................................................. ix
BAB I: PENDAHULUAN................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ..................................................................... 1 1.2 Tujuan....................................................................................... 3
1.3 Manfaat..................................................................................... 3 1.4 Metode...................................................................................... 3
BAB II: TRANSLITERASI NASKAH KUNO ............................... 5
2.1 Trasliterasi Naskah Jalan Ma’rifat Syekh Lubuk
Landur...................................................................................... 5
2.2 Transliterasi Naskah Kisah Muhammad Arif
Karya Syekh Sulaiman ..................................................... 13
2.3 Transliterasi Naskah Mantra dan Jimat................... 75
2.4 Transliterasi Naskah di Pasaman (Campuran) .... 101
2.5 Transliterasi Naskah Sifat Dua Puluh ...................... 171
2.6 Transliterasi Naskah Wirid dan doa ......................... 191
x
BAB III: PENUTUP......................................................................... 205
3.1 Kesimpulan ........................................................................... 205
3.2 Saran......................................................................................... 206
DAFTAR NASKAH......................................................................... 207
xi
PEDOMAN TRANSLITERASI
Pedoman transliterasi merujuk pada pedoman yang dikeluarkan McGill University (turabian style dengan font times new arabic), dengan penambahan sedikit catatan pada aksen Minangkabau berdasarkan kasus-kasus yang ditemukan dalam teks. Oleh karena itu, bagian terakhir ini diletakkan dalam kasus khusus.
Pedoman transliterasi Arab-Latin
| b = ب | z = ز | f = ف |
|---|---|---|
| t = ت | s = س | q = ق |
| th = ث | sh = ش | k = ك |
| j = ج | s{= ص | l = ل |
| h{= ح | d{= ض | m = م |
| kh = خ | t{= ط | n = ن |
xii
| d = د | z{= ظ | h = ه |
|---|---|---|
| dh = ذ | ع = ‘ | w = و |
| r = ر | gh = غ | y = ي |
ُ Vokal pendek : a = ´; i = ِ; u =
Vokal panjang : a< = ا; i> = ي; ū = و
Diftong : ay = ي ا**; aw =** و ا
Kasus Khusus
ث = nya/nyo چ = c ف = p ڤ = p ک = g ع= ng غ = g ي = nya/nyo
Bentuk-bentuk perbaikan dalam terjemahan dari teks Arab mengikuti aturan kaedah bahasa Arab yang baku. Demikian pula dengan teks-teks Pegon, transliterasi juga mengikuti aturan kaedah bahasa Indonesia yang baku dengan bentuk-bentuk perbaikan sebagai berikut:
- Penambahan kata atau kalimat yang tidak muncul dalam teks asli ketika dialihbahasakan karena perbedaan struktur bahasa Arab dan bahasa Indonesia dalam meletakkan dan memfungsikan kata ganti (dhamir), kata
xiii
kerja (fi’il), keterangan waktu dan tempat (dzharaf), kata dasar (mashdar) dan bentukannya, dan lain sebagainya. Untuk menjembatani perbedaan tersebut, maka diperjelas dengan penambahan kata atau kalimat tertentu yang diletakkan dalam tanda {…}.
- Jika dalam penilaian translitor terjadi kekeliruan penyalin dari segi letak dan fungsi kata ganti, kata kerja dan berbagai keterangan di atas, maka akan dijelaskan dalam catatan kaki.
- Jika terdapat huruf atau kata yang tidak perlu dibaca, maka akan diletakkan dalam tanda <…>. Tanda ini juga digunakan untuk meletakkan huruf, kata atau kalimat yang tidak dapat dibaca atau diterjemahkan sama sekali, baik karena keterbatasan kemampuan penulis dalam mentransliterasi ataupun menterjemahkannyam maupun karena hurufnya yang kurang jelas, maka huruf atau kata yang diletakkan dalam tanda ini disertai dengan ejaannya.
- Penomoran halaman mengikuti nomor halaman yang terdapat dalam teks dengan meletakkan nomor halaman dalam tanda //
- Kutipan al-Quran dalam teks akan diperjelas dalam catatan kaki dengan mencantumkan nama surah, nomor surah dan nomor ayat.
- Untuk kata-kata tertentu yang tidak dapat dialihbahasakan karena pertimbangan dapat merusak bacaan atau dapat menghilangkan konteksnya, dalam edisi terjemahan dicetak italic dan diberikan penjelasan dalam catatan kaki.
- Pungtuasi atau tanda baca seperti titik (.), koma (,), tanda tanya (?), titik dua (:) dan tanda seru (!) digunakan sepenuhnya dalam terjemahan ini guna memudahkan pembaca.
- Rubrikasi dalam teks ketika diterjemahkan dirubah ke bentuk cetak tebal (bold). Berkenaan dengan fungsi
xiv
rubrikasi sebagai kata atau kalimat yang dianggap penting oleh penyalin/pengarang, baik sebagai penjelas, maupun pembatas pembahasan baru, maka dalam edisi terjemahan diupayakan memberikan diksi setepat mungkin sehingga dapat mendekati apa yang ingin dimaksud oleh penyalin/penyalin teks.
- Bagian penjelasan yang terletak pada bagian pinggir halaman (scolia) diletakkan di catatan kaki untuk pertimbangan layout transliterasi, dengan memberi tanda pada kata/kalimat yang dijelaskan oleh pengarang.
- Berkenaan dengan kode-kode huruf dalam naskah falaq ini tidak dapat dialihaksarakan karena berhubungan dengan petunjuk unik dan tidak memiliki acuan huruf yang jelas, seperti huruf ya tanpa titik ( ); nun tanpa titik
( ) dan kode-kode khusus lainnya.
xv
GUIDELINE FOR TRANSLITERATION
This guideline for transliteration is based on work of McGill University (turabian style with times new Arabic), with a little additional notes on Minangkabau accent based on the cases found in the texts. Therefore, the latter is put in the specific case.
Guideline of transliteration from Arabic into Latin
| b = ب | z = ز | f = ف |
|---|---|---|
| t = ت | s = س | q = ق |
| th = ث | sh = ش | k = ك |
| j = ج | s{= ص | l = ل |
| h{= ح | d{= ض | m = م |
| kh = خ | t{= ط | n = ن |
| d = د | z{= ظ | h = ه |
| dh = ذ | ع = ‘ | w = و |
xvi
| r | ر = | gh = غ | y = ي |
|---|---|---|---|
| Long vowel Diphtong | Short vowel Specific Cases ث= nya/nyo چ = c ف = p ڤ = p | : a = ´; i = ِ; u = : a< = ا; i> = ي; ū = و : ay = ا ي; aw = | ُ ا و |
| ک= g ع= ng | |||
| غ= g ي= nya/nyo |
The revision forms of Arabic translation follow the standard Arabic Grammars. So do with Pegon texts, the transliteration is also based on standard Indonesian with some additional revisions as follows:
- The addition of words or sentences that are not written in the original text when they are translated because of the difference structures of Arabic and Indonesian in the placement of pronouns, verb, adverb of time and place, entry and its formation, etc. To fill these gaps, then, they are clarified with the addition of certain word or sentence which are paced between brackets {…}.
xvii
- When there is a mistake in the copy of the text (eg., position, verb, and other adverbs), it will be explained in the footnotes..
- When there is unnecessary letter or word, they will be placed in <…>. This mark is also used to place letter, word or sentence that cannot be read or translated, either because of the inability of the writer to translate or unclear letter, then those letters or words will be completed with their spellings.
- Page numbering follows page number in the original text, and they are placed in double slice (//)
- Quotation of the Qur’an in the text is clarified in the footnotes by inserting the name of the verses as well as its number.
- For certain words which cannot be translated because of some considerations (such as: it will break the text, or release the context), they will be printed in italic in the translation and they will also be explained in the footnotes.
- Punctuations such as full-stop (.), comma (,), question mark (?), colon (:) and semi colon and acclamation (!) are used in the translation to help the readers.
- When rubrics are translated, they are changed into bold typed. Since rubrics function as important word or sentence, they are clarified as clear as possible in the translation edition to reveal the writer’s idea.
xviii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang “Sebagian besar khazanah naskah kuno belum terpelihara
dengan baik. Padahal dalam tradisi bangsa apapun, naskah kuno menyimpan rekaman sejarah kebudayaan masyarakat yang menghasilkannya”.1
Ungkapan di atas disampaikan oleh Oman Fathurahman dalam sebah jumpa pers di Jakarta. Beliau adalah guru besar di Universitas Islam Negeri ( UIN) Jakarta. Ungkapan yang dilontarkan itu sejatinya menjadi perhatian untuk pelbagai kalangan yang peduli terhadap perjalanan sejarah dan budaya bangsa agar bergiat dalam pelestarian naskah kuno yang masih ada.
Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang mempunyai tugas dan fungsi pelestarian kebudayaan berkewajiban untuk berperan aktif dalam upaya
Antara News.com 1 Maret 2016 20:51 WIB
pelestarian naskah kuno. Sebagai bentuk nyata usaha pelestarian tersebut tahun 2016 BPNB Sumatera Barat memprogramkan kegiatan digitalisasi dan transliterasi naskah kuno yang terdapat di Propinsi Sumatera Barat. Kegiatan serupa telah berlangsung beberapa tahun belakangan.
Mengenai kuantitas naskah kuno di Sumatera Barat Pramono mengungkapkan “ hingga kini (2014) setidaknya telah tercatat hampir seribu naskah yang masih tersimpan di Minangkabau (Sumatera Barat) baik yang sudah tersimpan pada lembaga resmi maupun yang masih tersebar di tangan masyarakat sebagai koleksi pribadi. Sebagian besar naskah yang ditemukan merupakan naskah-naskah Islam yang tersimpan di surau-surau tarekat sebagai hasil dari tradisi intelektual di kalangan ulama-ulama Minangkabau.
Setidaknya ada beberapa alasan Pelestarian naskah-naskah tersebut mendesak dilakukan diataranya: pertama; pelestarian budaya, termasuk di dalamnya naskah kuno merupakan amanat dari UUD 1945. Kedua; karena umur naskah yang telah lama, dikhawatirkan akan hancur dan tidak dapat di baca lagi. Ketiga; bencana alam yang sering terjadi, seperti gempa bumi, banjir dan bencana lainnya yang dikhawatirkan akan berdampak kepada hilang dan rusaknya naskah-naskah yang masih ada. Keempat, perdangangan barang-barang antik juga berpotensi besar mengancam keberadaan naskah diri tempat aslinya. Kelima, Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam naskah sangat berguna sebagai pembangun karakter bangsa.
Pendigitalisasian penting dilakukan sebagai antisipasi kalau-kalau fisik naskah rusak atau hancur karena dimakan usia atau bencana. Sedangkan Transliteasi bermanfaat agar naskah bisa dipahami oleh masyarakat umum. Hal ini seiring dengan keterbatasan masyarakat dalam membaca tulisan arab melayu yang digunakan dalam kebanyakan naskah di Sumatera Barat.
1.2. Tujuan
Kegiatan Digitalisasi dan Transliterasi Naskah Kuno di Propinsi Sumatera Barat bertujuan untuk melestarikan naskah kuno yang tersebar di surau-surau dan yang dipegang oleh pemiliknya dalam bentuk digital dan mengalih tulis naskah yang memakai tulisan arab berbahasa Melayu ke tulisan latin.
1.3. Manfaat
Manfaat kegiatan digitalisasi dan translitrasi adalah sebagai upaya untuk penyelamatan tulisan naskah agar senantiasa dapat
dibaca walaupun nanti fisik naskah sudah rusak atau hancur karena usia dan memberikan kemudahan kepada mayarakat yang
berminat mengetahui kandungan naskah kuno dan mengkajinya. Bagi akademisi, peneliti dan mahasiswa di bidang filologi dan
pernaskahan hasil kegiatan ini akan memperkaya bahan kajian.
1.4. Metode Transliterasi merujuk kepada pedoman transliterasi yang
dikeluarkan McGill University (turabian style dengan font times new arabic), dengan penambahan sedikit catatan pada aksen
Minangkabau berdasarkan kasus-kasus yang ditemukan dalam teks.
BAB II
2.1 Transliterasi Naskah Jalan Ma’rifat Syekh Lubuk Landur
Bismillâh al-rahmân al-rahîm Al-hamdu lillâhi rabb al- ‘âlamîn, wa al-shalâtu wa al-salâmu ‘alâ sayyidinâ Muhammadun wa ‘alâ âlihi wa shahbihi ajma’în. Syahdan maka aapun kemudian daripada itu maka inilah suatu risalah yang amat sampono setengah daripada mukhtashar ta’lif syaykh masyayikh yang kamil mukammil yaitu Syaykh Yusuf Misra nama negerinya mengarangkan risalah ini supaya mudah bagi orang yang mubtadi dan orang yang mutawassith dan orang yang muntahi jalan ma’rifat akan dirinya serta dijalankan kepada Allah ta’ala maka ketahui olehmu akan kelakuan jalan mengenal Allah itu. Inilah perbuatannya mengetahui akan nafsu yang empat perkara itu, yaitu: suatu nafsu, kedua anfas, dan ketiga tanaffus dan keempat nufus. Maka adapun nafsu itu yaitu yang keluar ke dalam daripada tubuh manusia. Maka adapun anfas itu yaitu tiada keluar ke dalam daripada tubuh insan. Maka adapun tanaffus itu yaitu kelakuan keluar ke dalam daripada tubuh insan. Maka adapun nufus itu yaitu tiada keluar dan tiada ke dalam dan tiada di kanan dan tiada di kiri dan tiada dihadapan dan tiada di belakang dan tiada di bawah dan tiada di atas dan tiada di tengah dan tiada di tepi daripada tubuh insan. Lenyap akan tubuh insan yang meliputi
akan sekalian tubuh karena sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam. Bermula nafsu itu suatu jauhar akan yang keluar ke dalam dan tubuh insan yang pilihan orang yang tahu bagi //1// manfaat akan segala insan barang siapa tiada mengenal akan nafsu yang empat perkara itu, maka terlalu bebalnya akan tubuhnya tiada dimilikan tubuhnya di akhirat pada hari kiamat tiada putus akan ketakutannya yang mudharat dalam akhirat maka barangsiapa telah sudah mengenal orang itu akan keluar ke dalam nafsunya tatkala ke dalam suci daripada Tuhan yang Maha Besar dan tatkala keluar lutfi, yaitu keluar daripada Tuhan yang Maha Besar, karena sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam: barangsiapa melangkah dua langkah dan duduk sedudukan dua sangat seketika kata dua patah maka masuk surga orang itu dengan tiada dikiralah yaitu ke dalam bumi selangkah, yaitu dinamai ilmu orang arif billah di dalam hadis. Maka barangsiapa mengenal akan ilmu ini maka yaitu beroleh kesukaan serta kemuliaan di dalam akhirat. Maka masuk kan akan pintu rahmat Allah. Dan jika belum mengetahui orang itu akan puncak pangkat gurunya akan nafsu dan hidupnya sia-sia dan banyak takutnya dalam kubur sampai akan hari kiamat dan mudharat akan sakratul maut dan dibawa arwahnya ke dalam yang ketujuh dicampurkan dengan ruh segala kafir dan nyawa segala jin dan segala binatang sekalian, maka adapun tanaffus itu masuk belaka, maka insan yang telah sudah keluar daripada perut ibunya, maka tiada ke dalam dan tiada keluar nafsu budak itu daripada mulutnya dan tiada daripada hidungnya dan tiada daripada pintanya dan tiada daripada zikirnya //2// yaitu dianugrahi Allah ta’ala memuji akan Tuhannya tempatnya memadakan akan Allah ta’ala, artinya lengkap dengan sendirinya. Maka adapun jika telah sudah orang itu menjalankan akan ilmu nafsu ini, maka dihilangkan Allah ta’ala segala bala dunia bahaya tubuhnya, dan selamat daripada bahaya dunia akhirat, dan diberi Allah ta’ala akan darajat awliya Allah. Maka jika menetapkan akan agama Islam yang lima seperti syahadat dan sembahyang dan puasa dan zakat dan naik haji dan beroleh pekerjaan dunia akhirat dan tiada dibinasakan Allah ta’ala tubuhnya orang itu dalam kuburnya hilang matinya dan dipeliharakan Allah, diberinya
daripada sesat imannya maka ke dalam itu murunnya semata-mata dengan Allah kepalanya dan dayanya wa zatnya yaitu jisim halus namanya. Maka inilah menyatakan wajibnya orang yang akil baligh yang hidup menentukan kesempurnaannya akan nafsu yang empat perkara itu. Suatu nafsu dan kedua anfas dan ketiga tanaffus keempat nufus, yaitu yang menggerakkan akan tubuh kita ini maka nafsu itu ibadah tali dan anfas itu ibarat yang dikatakan, dan tanaffus itu ibarat yang mengikat dan nafsun nufus itu yang dinamai rahidanya, artinya halifah Allah ta’ala. Dan kata ahli sufi maqam ruh pada o[rang]yang tiada baginya dan tiada boleh dikatakannya melainkan dengan guru yang sempurna dan murid yang bijaksana dengan bersungguh-sungguh hati seperti orang yang mati atas mana yang diperbuat dengan //3// orang yang hidup dan demikian lagi adanya. Maka adapun arti tali itu hidup yakni hidupnya ruhani, maka adapun artinya anfas itu jisim yang halus yaitu yang menggerakkan alam sekalian yaitu yang dinamai talinya nyawa, yaitu bersuatu dengan nyawa, dan nyawa itu bersuatu akan Allah adanya. Allah itu Tuhan segala alam, yaitu ruh, dan ruh itu hidup, yaitu nyata akan zat Allah Yang Maha Suci daripadanya. Maka adapun martabat zat Allah dan wujud Allah itu empat yang jadi tafsirnya. Bermula yang bernama Allah ta’ala yang Maha Tinggi itu zat semata-mata namanya yaitu sukma rahasia yang lenyap yang terlebih ghaib daripada segala yang ghaib yang tiada boleh dibukanya segala-gala karena ghaib yang terlebih ghaib daripada segala yang ghaib. Maka segala-gala yang dikatakan itu telah sudah kenal akan ilmu ini, ilmu al-haqq, hai thâlib, engkau kenal lah dengan pengenal yang sempurna dan engkau gurukan dengan guru yang sempurna. Maka orang yang telah sudah tinggi akan mengenal itu maka jangan lain yang dibacanya dan yang didengar dan yang dilihat melainkan itu jua akn yang dituntutnya jika telah sudah nyata maka maka engkau diam yang menetapkan agama slam> [Islam] yang lima perkara. Pertama syahadat, kedua sembahyang, dan ketiga puasa, keempat memberi zakat, dan kelima naik haji kepada orang yang kuasa. Baik-baik engkau peliharakan dan engkau sempurnakan ilmu ini, tiada boleh dibukanya dan bacanya dan jika kau kedengaran oleh
orang yang bebal, maka jadilah //4// bersalahan i’tiqadnya, maka jadi bertuhan kan kepada nyawa jika demikian itu terlebih kafir daripada Yahudi dan Nasrani karena firman Allah ta’ala qul al-ruh min amri rabbi. Katakan olehmu ya Muhammad, nyawa itu daripada perbuatan Tuhan ku. Hai thalib, engkau gurukan kepada orang yang alim Quran adanya orang usul dan orang faqih dan orang yang tasauf, maka jangan lah engkau gurukan orang yang bebal. Jika me[me]rintahkan akan ilmu syara’, maka jika jadi kafir orang itu, maka gurukan ilmu nafsu akan guru kan ilmu. Maka seyogyanya engkau lakukan dalam hati, janganlah engkau putuskan akan menyebut Allah Allah dan huwa. Huwa itu yang dituntutnya karena puji nafsu itu memenuhi akan ilmu sekalian yaitu seyogyanya kita bersungguh-sungguh lah jangan engkau lupa dan lalai akan puji nafsu ini engkau kenangkan dan engkau ingatkan siang dan malam seketika jika seperti menilik perhiasan janganlah engkau akan rupanya gurunya ketikanya fikir nafsu atau lainnya karena rupa Tuhan itu tiada boleh dibukanya rupa gurunya yang dibuat jalan dan buat tali, dan maka inilah menyatakan martabat insan akan yang empat perkara itu. Pertama nafsu dan kedua hati, dan ketiga akal, dan keempat nyawa. Maka adapun nafsu itu berkehendak kepada Allah ta’ala. Maka adapun akal itu membicarakan kesucian Allah ta’ala, maka adapun artinya hati itu kenyatawan Allah ta’ala. Maka adapun artinya nyawa itu mehadapkan zikir zat puji maka nyawa ternyatalah suatu sekalian itu maka manalah lainnya //5// daripada nafsu dan hati dan akal dan nyawa karena tiada boleh berciri yaitu bersuatu wujudnya yang berkehendak dan yang ingat dan yang melihat dan yang dibicara itulah nyawa jua daripada qudrat Allah dan kedekatan Allah kepadanya dianugrahi Allah akan dia, artinya daripada Allah jua umpamanya karena perhiasan akan zat Allah yaitu bersuatu akan penglihatnya orang yang banyak yang dapat sekarang ini, yaitu bicara maka manalah kehendak nyawa dan ingat nyawa karena tiada boleh tiada diperbuat karena perbuatan jimat karena hendak nyawa itu dan ingat nyawa daripada kehendak zat Allah dan kehendak wujud Allah, maka mengenal nyawa itu diberi dengan Tuhan janganlah engkau sungguh akan lainnya, maka jadi
nyatalah penglihatnya nyawa itu penglihat Allah jua, yaitu sempurna imannya dan tauhidnya jangan dan jika sungguh maka jadilah engkau semata akan sesat akan yang terlebih jauh. Maka berkata segala masyayikh ahlu al-shawaf, maka adapun nafsu itu dua bahagi, suatu yang keluar ke dalam akan tubuh insan, dan jika ke dalam lengkap akan sekalian di luar dan di dalam jika keluar daripada tubuh insan, maka lengkap alam zahirnya dan batinnya karena kata Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, maka adapun nafsu itu permata ra’una yang terlebih indah yang masuk keluar daripada insan. Maka terlebih bebalnya orang itu, maka tiadalah mulia hari akhirat, hidupnya pun seperti mata binatang. Maka sayyid Abu Bakr Shiddiq //6// radhiyallâhu ‘anhu, adapun yang huruf itu huruf wujub yaitu tempat sebenarnya. Maka asal huruf itu empat perkara, yaitu huruf ‘fa’, maka dibuang salah suatu daripadanya empat huruf itu, yaitu satu, ‘alif’, dan kedua ‘lam’ awal, dan ketiga ‘lam’ akhir, keempat ‘ha’. Maka jadi nama yang Mulia itu yaitu lafaz Allah. Maka dihimpunkan yang empat huruf ‘huwa’ yaitu memenuhi akan bunyinya. Maka adapun nafsu itu tatkala naik ke langit huruf ‘huwa’ yaitu memenuhi akan tujuh lapis langit, maka turun ke bumi, maka hurufnya yaitu memenuhi akan tujuh petala bumi, maka yaitu puji nafsu barangsiapa membiasakan membaca kitab ini, maka terbuka pintu rahmat Allah, dan selamat dunia akhirat. Adapun nafsu insan itu tetap ada sebelah kanan. Maka tatkala engkau makan akan makanan, maka engkau ambil mabiq‘af nafsu yang kanan jua. Maka jika tidur, dahulukan yang kanan jua. Janganlah engkau lupa dan lalai akan perbuatan ini, dan janganlah tinggal, maka engkau ikuti nafsu jika engkau manjakan akan amal ini, maka seyogyanya engkau tetapi supaya hadir puji yang tiada berkeputusan. Maka yaituluah bernama puji daim. Maka jika telah sudah biasa ia maka engkau himpunkan akan segala amal batin akan segala perbuatan dan segala kelakuanmu. Maka nyawanya karena kata Nabi shallallâhu ‘alayhi wa sallam, jika engkau jalankan amal zahir dan amal batin akan kelakuanmu //7// jika engkau jalankan amal zahir dan batin, maka yaitu yang dinamai sembahyang daimun, hendaklah dikerjakan sembahyang lima waktu karena sembahyang lima waktu itu tiang agama. Maka
karena sabda Nabi shallallâhu ‘alayhi wa sallam, barangsiapa mendirikan sembahyang maka berdirilah agamanya, dan barangsiapa tiada mendirikan sembahyang niscaya runtuh agamanya. Maka inilah menyatakan ibarat yang tiga perkara itu. Adapun nafsu yang keluar ke dalam daripada hidung yaitu tajalli Muhammad yang amat nyata yaitu puji yang tiada berkeputusan karena keluar ke dalam dengan zikir ‘lâ ilâha illallâh muhammad rasulullah’. Maka tatkala keluar nafsunya sebutnya ‘illallâh’ atau tatkala ke dalam ‘illallâh’ dan tatkala keluar karena banyaknya keluar ke dalam sehari sebilangan dua ratus. Demikian lagi dalam sehari semalam delapan empat ribu empat ratus dalam sehri semalam karena sabda Nabi shallallâhu ‘alayhi wa sallam: ‘man ‘arafa nafsahu fa qad ‘arafa rabbahu.’ Artinya: barangsiapa mengenal akan dirinya maka bahwasanya menganal akan Tuhannya. Dan telah berkata ‘arif billah yang khash al-khâsh dalam sembahyang ra’a nafsuhu al-anfus Allah khâshah, artinya melihat mukmin khas al-khâsh akan dirinya hanya Allah semata-mata, yaitu lah sempurna pengenal karena yang berkata tubuh itu tiga perkara, suatu nafsu, dan kedua anfas, ketiga tanaffus yaitu tu[buh] halus yang tiada menerima mati dan dan segala jala, dan kedua tanaffus nama, yaitu masuk ke dalam hatikuat- kuat, maka diam di dalam dada, yaitu ahmad, yaitu puji daimun namanya, dan jika menjalankan akan ilmu tanaffus, maka engkau henyap. Tammat. //8//
Bismillâhirrahmânirrahîm
Al-hamdulillahi wahdah, wa al-shalâtu wa al-salâmu ‘alâ man lâ nabiyya ba’dahu. Segala puja puji bagi Allah . Bermula rahmat Allah dan salamnya atas tiada Nabi yang kemudiannya. Adapun kemudiannya dari itu, maka inilah kitab yang sempono daripada hadis Nabi shallallâhu ‘alayhi wa sallam, ‘qala nabiyyu shallallâhu ‘alayhi wa sallam man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu’. Artinya: ‘barangsiapa mengenal dirinya bahwa sesungguhnya mengenal Allah, karena yang dinamai dirinya itu zahir pun batin pun ada, maka yang zahir itu tubuh, karena asal tubuh itu daripada jawhar awal, yaitu ilmu shafir serta
ada daripada jawhar awal nuthfah namanya, tatkala berlaku kan rasa nikmat turun daripada bapa itu dinamai mani, dan mani itulah bernama dzuriyyah. Adapun tatkala pada kepala mâ’ al- hayah namanya tatkala lengkap kepada tubuh jamid namanya, tatkala kepada shulbi ‘aqil namanya, tatkala kepada perempuan mani namanya, tatkala ia turun kepada rahim ibunya nuthfah namanya, yakni air yang setitik datang kepada empat puluh hari, ‘aqal namanya yakni darah yang segumpal datang kepada enam puluh hari mudhaffah namanya, yakni daging yang segumpal dan sampailah empat bulan, yakni seratus dua puluh hari huni namanya artinya tempat rupa berdiri dengan zat tatkala ia nama huni itulah maka dititahkan Allah seorang malaikat bernama Raham, memasukkan nyawa ke dalam dzuriyah, maka disuratkan empat kalimah, pertama ajalnya, kedua amalnya, ketiga bahagianya, keempat rizkinya. //9// maka bergeraklah kanak-kanak itu dalam perut ibunya, maka hiduplah tubuh sebab serta nyawa itu, dan tatkala memakan darah ibunya hayawani namanya. Apabila genaplah bulannya maka dinamai ia insan. Maka kemudian keluar budak itu daripada perut ibunya, nyawanya dinamai ruhani. Adapun insan terlebih mulia mulia kepada Tuhan. Inilah rupa hayawani, maka fahamkan olehmu. Adapun ini pada menyatakan jalan kepada Allah yang sempurna dunia sempurna [akhirat], yakni rahasia yang terbuni, artinya menyatakan jalan kepada Allah ta’ala yang sempurna dunia akhirat. Adapun yang dinamai ilmu Allah ada tempatnya dalam mungabitil pusar-pusar kepala kita. Itu rupanya seperti rupa manusia dalam manusia itu, manusia pula itulah hidup dalam dua negeri tatkala ia ke mata kerjanya memandang, tatkala ia ke telinga mendengar, tatkala ia ke hidung mencium, tatkala ia ke lidah berkata, yaitu demikianlah Tuhan menjadikan semut, sekalian pohon hidup dan pohon mati, dan Ia yang menjadikan matahari dan bulan dan bintang dan masyriq dan maghrib, dan syurga dan neraka di ketujuh petala langit dan bumi. Inilah nama ilmu Allah, supaya diketahui oleh segala [p]enuntut ilmu jalan kepada Allah dan segala auliya Allah dan anbiyaullah dan hendaklah dilakukan dalam zikir la ilaha illallah dalam duduk dan dalam tidurnya dan dalam berjalan dan dalam berdiri dan dalam
//10// makan dan dalam minumnya dan dalam malam masih dalam kaya dan dalam papa, atau kematian dan kejurian semata sekaliannya itu kembali namanya lagi kamil ahlullâh beroleh jalan kepada Allah daripada Allah. Adapun tatkala kita pulang ke rahmatullah, maka terbukalah pemandang kita itu, maka berpandang lah kita dengan rupa itu, yakni cahaya arwah kita. Rahasia itu lah membawa kita kepada Allah seperti kilat yang yang tiada diambil mâlik al-maut nyawanya seperti makhuk yang lain karena nyawanya sendirinya pulang ke hadirat Allah subhânahu wa ta’âla. Ini sejarah awliya’ Allah pertamanya turun kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alayhi wa sallam daripada Nabi Muhammad turun kepada baginda Ali, daripada baginda Ali kepada syaikh ‘Abdul Qadir rahimahullah ‘alayhi karena ilmu.
2.2. Transliterasi Muhammad Arif
Pedoman Hidup di Minangkabau Karya Syaikh Sulaiman ar-Rasuli
Pendahuluan
Bagailah ke ujung karang tertusuk ke pulau batu Dengan nama Allah kami mengarang memuji Tuhan yang satu
Berlarat-larat ke tanah haji singgah sebentar ke Surian Kami shalawat atas Nabi sahabat dan Ali kemudian
Balari-lari kaSianyak singgah makan ka limpasi Maminta maaf ba[a]gih nan banyak kami mengarang khabar penanti..
Bakejar-kejar ka subarang balari-lari bendi baroda Kabar tamtsil kami karang untuk pengajar bagi nan muda
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Adapun kemudian dari itu ada seorang perempuan Siti Budiman itu namanya anak Tuanku Lebar Alam dunsanak Datuk Raja Adil sukunya budi caniago di kampung talago manis dalam negri teluk paham di luhak nan tigo nangko pemerintahan laras nan duo di tanah alam Minangkabau. Lorong kapado Siti Budiman
orang baik asal baik tau mudharat dan manfaat, tau di awal dengan akhir, ingat di rintang ka mancucuak, tau di dahan ka manimpo, tau di ereang dengan gandeang, tau di adat jo pusako, baso basi nan lebih bana bijaksana arif budiman sifat cerdik candokio patut namonyo Siti Budiman.
Lorong kepada agamanya, Siti taat menyembah Allah. Hati suci, khusuk, tawadhu’ iman teguh, amalan banyak, hati ikhlas beribadah, sabar ridha hati, tawakkal tidak di gaduah apa-apa, tantang kepada paromanan itupun bentuk rendah tinggi//3// sedang elok mata memandang, tidak melebihi hak-hak, tidak mengurangi sia-sia. Lorong kepada kelakuan, sifat pemalu dipakainya, jarang keluar dari rumah, bamain nan tidak bana, salah sedikit tidak kaya, padi tidak sadang ka dimakan, sudah menyabit enam bulan tetap hidupnya membeli beras, bakaian sepuluh lusin tidak menyimpan di almari, adalah garin sakutiko setelah patut basuami umur cukup salapan belas, orang nan datang pun lah banyak, hendak kawin dengan si Siti. Bakato Tuanku Lebar Alam, anak den Siti Budiman, dengarlah nak den katokan maksud den di masa kini dek mancaliak miskin anak, anak lah patut basuami, nak mancari ka minantu, singkek kito kok lai baulas, nan kurang kok lai batukuak, bakato Siti Budiman bapak den Tuanku Lebar Alam, kato bapak iyo bana talatak satu di tempatnyo, di adat bapakai bana, kok di syarak tantu basuruah, tapi saketek den tanyokan umum biaso bakhususkan kalam biaso batarangan singkek mano maksud bapak kurang nan mano ka ditukuak, kok tantang harta benda, sawah ladang, kabau jo bantiang, cukuplah sarupo kini, malah den tidak mangicuah, curi maling nan tidak bana, tapi kok ilmu jo amalan, ka bakal pulang ka akhirat, patut sekali kito tukuak, lah sawajibnyo kito ulas, belum cukup sarupo kini. Mendengar kato nan bak kian, bakato Tuanku Lebar Alam, anak den Siti Budiman, kok baitu kato anak lah sanang hati mandangakan, cubolah anak pikir-pikir, pandang hampir ditukikkan, pandang jauh dilayangkan, kato pepatah Minangkabau, kok lamak di nan ka mamakan elok di nan ka mamakai. Bak bunyi pantun urang siko :
Kelabak bao ka pakan
kadaikan di bawah sungai Kok lamak nan ka mamakan elok di nan ka mamakai
Eloklah anak bapancarian. Bakato Siti Budiman, tantang itu bapak tahu, laut darat di dada bapak, bun[y]i pepatah Minangkabau lama hidup banyak di rasoi, jauah bajalan banyak basuo*.* Larangan adat Minangkabau babanak ka ampu kaki, batariah ka ujung dahan*,*//4// dengarlah pantun Minangkabau:
Kok balaras ka Sialahan bataranak amuah mandaki Ibarat manusia ka santosa kok batariah ka ujung dahan Babanak ka ampu kaki alamat dunia ka binasa
Kini baitulah dek bapak tantangan etongan itu anak manyarah bulat-bulat, anak nan tidak tahu pandai, kok kilat caminlah ka muko, kok kilat baliunglah ka kaki, bapak sajolah manimbang. Bakato Tuanku Lebar Alam, kok baitu kato anak berjanji bapak dahulu bapikir palita hati bamanuang sarugo akal, nak bapak manuang-manuangkan buliah ditimang habis-habis jangan menyesal kemudian. Sesal celaka tu kironyo. Sampailah garin tujuh hari risalah tampak nan katuju nan patut jodoh siupiak ialah Muhammad Siddiq nan bergelar Faqih Arifin mandeh bapaknyo tak disebut tapi nagari iko juo. Bakato Tuanku Lebir Alam, anak den Siti Budiman lah den pikir den manuangkan, lah tampak garin nan katuju si buyuang Muhammad Sidiq bergelar Faqih Arifin, kini timbanglah di anak. Bakato Siti Budiman, tantang itu bapak tahu, anak tidak tahu pandai hanyo menyarah bulat-bulat, kato pepatah Minangkabau, kok anak saparintah bapak, kok kamanakan saparintah mamak, kato pusako nan baitu. Kini baitulah dek bapak, kok lah basuo nan den sabut nan ka manukuak ka manambah tantang ilmu jo amalan lakukan sajolah dek bapak tak perlu maminta izin mufakat nan tidak bana iyo jo badan diri hamba.
Lorong kepada Muhammad Sidiq orang alim lagipun taat banyak kitab nan dihafiznyo hadits qur’an jan disabuik tahu ditempat kato-kato, paham dalam, akalnyo tanang, mangaji pantang tasasak, kok ibadatnyo kita sabut banyak sembahyang banyak wirid, siang puaso nan biaso, pantang membuang-buang umur, kok duduk marawat ranjo, kok tagak maninjau jarak, patutlah jodo[h] Siti Budiman. Tidak lama//5// antaranya paham saukur kata masak, sampailah kawin caro miskin, baralat anam orang saja, tidak memotong jawi mandabiah, hanya membeli daging saja. Dapat pagi dimakan petang, dapat petang dimakan pagi, baitu selamanya.
Lorong kepada kerjanya, Muhammad Sidiq Faqih Arifin siang baparak-parak ketek mananam ubi jo kantang atau nan lain sebagainyo. Tibo waktunyo sembahyang sudah sembahyang mengajar pulo, malam hari sudah maghrib faqih mengajar orang banyak hampir tidur maka berhenti mangajar sah jo batal, halal haram sunat paralu, baitu selamanya. Supiak Siti Budiman siang batanun jo mangguntiah adang marendo, manjahit malam, mangajar anak-anak rukun syarat sifat duo puluh, qur’an nan lebih bana, hidup miskin selamanya. Sungguh miskin siang malam, imannya bertambah kuat, amalan bertambah banyak, ka suami semakin taat, kasih jo sayang jan disabut, iblis lalu tak dapat jalan.
Sipendengki Datang Membujuk
Adalah garin sakutiko tumbuhlah dengki orang kayo. Nama gelarnya tak disebut saudagar gadang jayo urang banyak toko jo kadaiyan, sawah ladang nan banyak bana, kabau, jawi, bantiang jan disabut. Sipendengki lalu berkata, wahailah upiak Siti Budiman sarancak ikolah awak, saelok ikolah tampan, mangapo badang dipasusah, elok caraikan suami kau nan miskin sarupo iko, buliah diganti jo nan kayo, nan bapadi lebih dimakan, nan batokoh baniago, badan kau sanang baibadat, tak mancari kediaman, pakaian cukup di lamari, jangan dimabuk tidak juo, sanang hati kau menyembah Allah, tidak apa nan dirusuahkan. Bakato Siti Budiman, tuan tokoh tuan saudagar, kato tuan nan hamba danga taraso bana tu mah di den, tapi samantang pun baitu pihak di
badan diri hamba, nan lebih bana dirusuhkan bukan uang //6// bukan pitih, bukan beras dengan padi, konon rizki di dunia ko cukuplah sarupo iko kini, tetapi ilmu jo amalan, ka bakal badan pulang mati iyo ka rantau liang lahad sampai ka jalan simpang duo di sarugo jo narako, itu nan lebih den risuhkan. Apo sebab mako baitu, bak papatah Minangkabau sajauah-jauah bajalan ka pulang ka kampuang juo, satinggi-tinggi malantiang ka tanah juo kambalinyo, sakayo-kayo manusia liang lahad juo tempatnyo. Konon balanjo di atas dunia cukup sarupo iko kini, malah tak maliang jo mancuri, tidak mangicuah jo manipu, cukup rasonyo itu di hamba, sadang mamintak hamba lai tidak antahko alah kadangaran, tantang suami hamba kini satu tujuan tu jo hamba, bak kapurun jo sawahnyo, parmato lakek ka cincin tak guno dibukak lahi, biarlah lamo kami sapahi bak baliuang jo asahan nak samo bahabis-habis tambilang sajolah mancarikan lorong kapado lorong kayo habis akal hilang pikiran tak dapat jalan tempat ba[a]giah lalu lah diobat lah dimintakkan, lah banyak dukun bakarajo, tapi tak ado memberi bekas, arang habis basi binaso, uang habis tidak baguno, nan dimaksud batambah jauah, bajalan sajo nan jadi, pulang ka {k}atoko kagadaian mambao kapalo bangkak, alang malunyo di urang banyak, bak bunyi pantun Minangkabau:
Parang iblis senantiaso bak bunyi urang barontak Arang habis basi binaso banyak rugi baguno tidak
Supiak Siti Budiman tetap kelakuan nan dahulu baibadat menyembah Allah sedang mengajar anak-anak, siang hari lai batanun, marendo lai adang-adang, asal dapat balanjo sajo, tidak manantang kayo rayo, tantang kapado suaminyo, semakin lamo semakin taat tidak perduli asung fitnah.
Siti Budiman Ka Baranak
Dengan untung takdir Allah, lamolah maso basuami lah hamil Siti Budiman, //7// sembilan bulan lamo mangandung
zhahirlah anak laki-laki patang kamis malam jum’at bulan tahun tak takana, lah sampai garin tujuh hari didabiah kambiang dikekahkan ado manjamu tando suko si buyuang nan jolong zhahir lalu sakali dinamoi, sibiran nama bapaknya ialah Muhammad Arif si buyuang Muhammad Arif gadang bak damba- damba, tinggi bak danjuang-danjuang, cadiak bak daja-daja, laranglah anak ka jodo{h}nyo, lamo sebentar sudah itu sampai umurnyo duo tahun, Siti Budiman lah hamil pulo, sampailah garin sambilan bulan patang kamis malam jum’at bulan dan tahun tidak teringat, zhahirlah anak perempuan, hampir subuh kiranya hari lah hampir ayam bakukuak, murai bakicau tak lamo lai lamo sebentar sakutiko sampailah masa tujuah hari didabiah kambiang se rekor dengan sengaja untuk kekah oleh bapaknya Faqih Arifin dibuat jamu sedikit untuk pengikut suruh saja, nama si upiak dihimbaukan belahan nama tuannya ialah Siti Arifah. Tantang si upiak Siti Arifah sarupo pulo jo kakaknyo antah lebih wallahu a’lam.
Tidak lamo antaronyo kiro satahun lebih kurang malang jo mujur tidak bacari bak pepatah Minangkabau nan banyawo biaso mati nan bapucuak biaso layuar, sakit tak ado waktunyo, mati tak tantu kutiko nyo, si upiak Siti Arifah lah pandai tagak-tagak surang, hukuman tuhan nan lah tibo, ajal Allah nan lah datang Faqih Arifin sampai ajalnyo, nan batakuok nan batabang, nan babaris nan bapahek tidak guno disasali.
Lorong kapado Siti Budiman, anak kecil suami mati, yatimlah anak kaduonyo, miskin pulo ditanggungkan, tetapi samantang pun baitu iman kuat bertambah teguh, amalan bertambah banyak, sabar nan bukan alang-alang, sedikit tidak kaluah kasah, meratap nan tidak bana, orang baik sajak diasal, sampai kini baik juo. Bak pepatah Minangkabau, aia janiah sajak dahulu, ka muaro janiah juo, asal jangan kotor di jalan.//8//
Lama sebentar antaranya, kiro duo tahun lebih kurang datang seorang perempuan banamo Siti Rahimah padusi datuak rajo adil, di kampuang suku di koto dalam nagari itu juo. Bakato siti rahimah, awak den datang kamari iyo disuruah pak sibuyuang nan bergelar datuak rajo adil di hati den takana pulo. Adiak den
Siti Budiman di maso nan kini nangko, darah kami tak amuah sanang, nasi dimakan raso sakam, air diminum sambiluan, mancaliak adiak cando iko, badan surang anak pun ketek, miskin pulo kito tangguang. Kini baitulah dek adiak, kok iddah alah sampai, elok hilang kito ganti, nan patah kito tumbuahkan, kok lai tumbuah tantu singkek akan baulas, nan kurang akan batukuak, dapatlah baiyo-iyo mancari apo nan tidak untuak balanjo patang pagi, kok balabiah ka untuak anak.
Bakato Siti Budiman, kakak den siti rahimah, danga di kakak jalas-jalas, kakak sampaikan katoan den iyo datuak rajo adil pihak di badan diri hamba, belum takana nan baitu ka mangganti bapak si buyuang, biar marando sampai mati, toh kito tidak ka salah, dengar pepatah Minangkabau:
Kok elok bana pangali indak sarupo jo tambilang Tambilang elok ulunyo kok elok bana pangganti Indak sarupo jo nan hilang nan hilang elok lakunyo
Bak ibarat urang makan batambuah jo nasi dingin, mako baitu kato denai lah den caliak den pandangi, laku parangai urang kini, nan banyak pandai mangecek bakarajo jarang basuo, kecek nan banyak maso kini, indak talatak di tempatnyo, parangai tiru-tiruan, rakyat bak cando rajo, kamanakan lebih dari mamak, nan bodoh lebih dari nan pandai, si jahil banyak bafatwa, lebih bak alim ulama besar itu mengusik nagari iko,itu di den indak katuju, tantang rizki minum makan, atau pakaian //9//, rumah tingga, cukup sarupo iko kini, asal iman jangan barubah,amalan tak dikurangi, tuhan Allah kayo sungguh, ado nyawo ado rizki.
Karajo Siti Budiman Samanjak Suami Mati
Beralih kabar sedikit, sungguh beralih sanan juo, tantangan Siti Budiman, samanjak suami mati, siang rintang dek batanun, tetap duduk di tandaian, adang manjahit dan marendo, patangan
mambuang umur, malam hari ditarangkan, sembahyang maghrib alah sudah, ditambah pulo jo pintanyo, dzikir jo doa di belakang, lalu mengajar anyolai kanak-kanak dalam kampuang. Di kampuang talago malas habis berkumpul ka rumah nantun, ka rumah Siti Budiman belajar syarat jo rukun, Qur’an nan lebih banyak, sifat duo puluah lai adang, satangah pulo dikabarkan ado nan tetap siang malam, belajar jahit jo marendo, atau manyuji manarawang, adang batanun jo mahani. Tantang balanjo nafkahnyo Insya Allah belum nan kurang, murid banyak ado manolong, tidak disuruh dikehendaki, hanyo keridhoan halai sajo. Tantangan murid suaminyo Muhammad Siddiq Faqih Arifin tidak kurang datang ziarah, bamacam-macam pambaoan, pendek kato kito sebut, penghidupan Siti Budiman serta anak nan baduo, lebih rasonyo dari cukup. Adolah garin sakutiko, bakato Siti Budiman, tuan datuk rajo adil tantang rizki minum makan, atau pakaian dan perkakas, untuk kami batigo urang, indak marusuah itu di hamba, hanyo sabuah nan marusuh, tantang si buyuang Muhammad Arif, adiaknyo Siti Arifah, kok dahulu kito mati, awaknyo tinggal dalam kampuang, sedikit belum bapangaja, apa saja belum nan dapat, kok ilmu nan banyak nangko, ado sakolahnyo masing-masing, indak kurang guru di sanan, Muhammad Arif buliah belajar, Siti Arifah buliah juo, tetapi duduak dalam kampuang, atau duduk banagari, tidak ada sekolahnya, hanyo nan banyak tiru-tiruan, caliaklah kanak-kanak kini, dibiar saja selelo nyo, adang kehendaknyo nan diturut, nan tak dimakan alur paut, lah babanak ka ampu kaki, //10// batariah ka ujuang dahan, alamat dunia ka binaso, dengarlah pepatah Minangkabau maso ketek taranjo- ranjo, lah gadang tabao-bao, sampai tuo tarubah tidak, dengarkan sabuah lai, tabi’at pantang tarubah, katuju pantang bacarai, mambari teladannyo nan lah den caliak den pandangi, kini baitulah dek tuan, tantangan anak nan baduo, biar den ansua ma[a]jari, beri izinlah dek tuan. Katonyo datuak rajo adil, kalau karajo nan ka elok, di hamba tidak basalahi, kalau ditimbang-timbang bana patutlah kau ma[a]jari mulo-mulo dari kini, mako baitu kato denai sagalo ibu kanak-kanak itu nan mulo jadi guru, kok masuak bana ka sikola{h}, di rumah indak dididik, indak juo itu akan elok, lamo sebentar sudah itu, lorong kapado Siti
Budiman, tidak kurang ma[a]jar anak, lebih-lebih mendidiknyo, dengan tingkah kalakuan atau karajo patang pagi, untuk pendidik nak juo, kelakuan Siti Budiman kalau dihampiri anak kandung tak membawa lain-lain, hanya membaca zikirullah adang shalawat atas nabi, adang Qur’an dilagukan, apa karajo dan buatan, kok dihampir anak cako dipilih nan baik-baik, untuk pendidik maksudnyo, bak pepatah minagkabau, ragu badiang nasi masak, sadang manyuruak galeh lalu, apo tujuan kato nantun, fi’il parangai nan baik-baik perlu juo diperbuat sedang siti membayar hutang, anak lah dapat pulo terdidik.
Muhammad Arif Akan Masuk Ka Sakola
Kabar beralih tantang itu, sungguh beralih sanan juo, tantang si buyung Muhammad Arif lah sampai umur tujuh tahun, masuk salapan jo nan kini, kaji Qur’an alah sampai, rukun jo syarat nan paralu lah tamat pulo dikajinyo, sifat duo puluah alah saketek. Si upiak Siti Arifah, hampir tamat pulo kajinyo, indak banyak lai tinggal, sebab diajari kaduonyo dek mandeh Siti Budiman. Adolah garin sakutiko, datanglah datuak rajo adil karumah Siti Budiman, alah sudah minum //11// jo makan, alah marokok sabatang duo, pikiran sadang tabukak, sadang takana kebenaran, siti bakato anyolai tuan datuk rajo adil, kakak iyo mamak pun iyo, tantang si buyung Muhammad Arif, alah den ansur ma[a]jari bak pitaruah tuan dahulu insyaallah ado berhasil, kini Qur’an alah tamat, rukun syarat alah saketek, nan paralu patang pagi, sifat duo puluah sedang manangah, adiaknyo Siti Arifah tidak pulo katinggalan samo den tunjuak den ajari. Kini maksud sangajo den kok lai sasuai tu jo tuan nak mamasukkan ka sakola, nak tau tulis baco, nak pandai bilang jo baretong, kalaulah pandainyo menyurat atau mambaco dan baretong apo bahagian nan tasurat, buliahnyo turut jo sanang hati, kito melihat lah suko pulo, tapi kok tidak tahu apo barang diturut tak selamat dapat salisiah juo akhirnyo. Manjawab datuak rajo adil, tantang niat sangajo kau oucuk dicinto ulam datang, di den lah lamo tu takana tapi takana-kana sajo, bak sibisu barasian, takana lai, tasabut tidak, dek miskin iko juo sedang anak koa nan di koto kamanakan
datuk rajo budi lebih umurnyo 10 tahun belum juo kasikola, lah malu bana den dek urang. Bakato Siti Budiman, itu jangan dirusuahkan asal pikiran lah sabuah, pendapat alah sasuai, tantang balanjo jo ongkosnyo atau pemberi uang saku atau pambali buku-buku insyaallah indak kakurang asal badan asah juo. Tantang si buyung nan di koto iyo anak kanduang tuan elok nan samo dimasukkan nak samo den balanjoi, mako baitu kato denai, samanjak bapaknyo mati suami hamba Faqih Arifin apo den buek laku balaku tidak nan tinggal sahalai juo, kok hargonyo indak murah, urang suko mambali mahal, kok anak-anak nan mangaji tak kurang mambao beras disuruh mandeh bapaknyo, tak nan amuah den tagahkan, kok murid bapak si buyung nan sakaliliang nagariko, samanjak beliau mati baik hampir ataupun jauh tak kurang datang ziarah tak kurang babuah tangan, adang-adang barupo uang, adang-adang barupo beras, ado barupo barang lain, itu //12// tak habis ka balanjo. Bakato datuk rajo adil, kok baitu kato kau, alahlah sanang hati denai, hanyo sabuah nan takana, elok kini den katokan, si buyung Muhammad Arif kok sampai masuak ka sikola campur gaul jo anak-anak nan tidak bakatantuan, nan tak batunjuak baajari dek bapak urang tuonyo, lihatlah angkuah jo tampannyo, banyak yang salah den pandangi indak talatak di tempatnyo, anak kau kok turut-turut dek bacampur tiap hari banyak sedikit tentu mamindah. Kato Nabi janyo urang tabiat pindah mamindah, parangai tiru maniru, itu nan lebih den rusuahkan, sebelum masuk nyo kasikola elok ditunjuak di ajari, kalau dinanti sampai gadang payah bana manunjuak i, bak mambantuak batuang tuo, jangan ka amuah nyo dibantuak, antah kok pacah nan ka lai. Bakato Siti Budiman, tuan datuk rajo adil, dalam pikiran hati hamba alah takana nan baitu, tetapi maso kini nangko kok ditunjuak di ajari paham belum akal pun belum, indak kalakek tu rasonyo, sabagai hujan jatuah ka kasiak, bak kampia diisi nasi, masuak amuah raso tak dapek, kalaulah masuknyo sikola, alah paham agak saketek, alah berakal agak samiang, lah paham di kato-kato, sanan ditunjuak diajari, insyaallah kok lai malakek, baitu pendapat hati den. Bakato datuak rajo adil, kok baitu kato kau, iyo taraso pulo di den, elok sakolanyo dahulu, bak papatah urang siko, mandaki sajak di
bawah, babilang sajak di aso. Bakato Siti Budiman, kakak den datuak rajo adil, hari barisuak hari jum’at, sikola dibukak kato urang, guru-guru manarimo murid, eloklah tuan mamasukkan, si buyung Muhammad Arif samo si buyung nan di koto kamanakan datuak rajo budi nan banamo si buyung sungguh anak kandung tu di tuan. Manjawab datuak rajo adil, kok baitu kato kau insyaallah baiklah itu, nak den datang pagi-pagi, kini nak pulang den dahulu, ka rumah kampuang di koto, nak mufakat jo mamaknyo, ia datuk rajo budi, turunlah datuk rajo adil. Lalu sakali inyo bajalan, lah tibo dikampuang koto, naik sakali ka ateh rumah, lamo sebentar antaranya, datanglah datuk rajo budi, //13// lah sudah minum jo makan, lah marokok agak sabatang, sadang tabukak kiro-kiro, sadang takana elok jo buruak, sadang takiro labo jo rugi, lalu mufaqat anyolai, tantangan si buyung sungguh. Bakato datuk rajo adil, baik masukkan ka sikola jo si buyung Muhammad Arif. Manjawab datuk rajo budi, tantang maksud bapak sibuyung, kok dihamba alah takiro, tahun kini kito masukkan, hari hampir pukul anam, kato saukua rundingan habis, datuak bacarai kaduonyo, nan surang tinggal di rumah, rajo budi turun janjang, lalu bajalan anyolai. Lorong kapado rajo adil, makan sudah sembahyang sudah, lalu tidur anyolai, murai bakicau ayam bakukuak, fajar terbentang hari subuh, datuk bangun dari tidur, lalu ka surau pai sembahyang, lah tabik garin matohari, rajo adil kembali pulang, alah sudah minum jo makan, turunlah datuak rajo adil, di bao sibuyung sungguh, ka kampuang talago manis, ka rumah Siti Budiman, manjaput Muhammad Arif akan dibawa ka sikola, lamo sabantar antaranya alah tibo garin di sikola, lalu bicaro jo guru gadang nan bagala Sutan Pilihan guru nan pintar maajar anak, sajak mulo jadi guru balum muridnyo nan tak pandai, pandai balaku kasamuonyo, si buyung Muhammad Arif duo jo si buyung sungguh masuk kaduonyo kasikola, namo tasurat dalam buku, rajo adil kambali pulang ka budi ka caniago, ka kampuang talago manis, si buyung Muhammad Arif alah bamulonyo berlajar batampat di kelas satu, lah sampai sahari duo hari, lain bana gelagatnyo, satu kalimat diajakan, empat lima kaji nan dapat, tacangang malah guru gadang, belum pernah dilihatnyo, kok diajanyo baretong mangumpul mambagi-bagi, belum sampai ka
gurunyo, awaknyo tibo dahulu. Pendek kato dikabarkan, lah habis maso empat bulan, Muhammad Arif naik kelas, iolah duduk di kelas duo, habis maso salapan bulan, inyo naik kelas tigo, cukup satahun di sakola, lah tigo kelas talampaui, dalam maso duo tahun tamatlah garin sikolanyo, luar biaso jarang tumbuh, dalam saribu mahal saurang //14// tantang sabab karanonyo, siang bak hari tarang tarang bak bulan, tidak suluah batang pisang malah basuo matohari, tampang elok dari asal, air janiah dari ulu di muaro janiah juo, asal jangan ditimpo kotor. Lorong kapado si buyung sungguh, tatap jo di sikola, tingganyo turut biaso, Muhammad Arif sudah lepas, lah dapat surat dari guru, tamat belajar namo suratnyo, adang palum janyo urang, mano nan betul wallaahu a’lam.
Siti Budiman Memberi Nasehat
Adolah garin sakutiko, pagi-pagi hari jum’at bulan dan tahun antah, garin sadang duduk bersama-sama, hati nan sedang suko riang, pikiran sedang tabukak. Bakato Siti Budiman, anak kanduang Muhammad Arif, duo jo upiak Siti Arifah, dengarkan bana dek kalian, nak den ansur mambayar utang, masukkan ka dalam hati, esok mandeh tambah pulo, anak kok hidup dalam kampuang, dikampuang talago manis, dalam negri teluk paham, anak tak boleh sanang diam, hidup tanggung jangan dipakai, tarang jabatan satu-satu, pakai papatah nenek moyang, kok duduak marawat ranjo, kok tagak maninjau jarah, waktu jangan dibuang-buang, umur jangan disia-siakan, jarum baputar umur rusak, matohari bajalan juo, turun naiak tiok hari, umur nan panjang jadi singkek, eloklah abisi jo jabatan, dunia laweh dijadikan, bukan tempat bersenang-senang, hanyo tempat basusah payah, mancari barang nan tidak, nan manfaat duo kampuang, satu dunia duo akhirat, hidup tanggung den katokan, kayo ketek tanggung bengkok, ka bajak indak namuah, ka singka kok ampang amat, ka dapur kasudahannyo, dalam jabatan masing-masing, ado rukun jo syaratnyo, isuak buliah den tunjuakkan, kini dangalah saketek, kaji bamulo sajo baru, anak den Muhammad Arif, kalau duduak dalam kampuang, nan tuo
handak muliakan, nan mudo handak kasihi, samo gadang lawan mufaqat, nan lebih bana dangai, apo nan elok untuak diri, itu nan elok untuak kawan //15// kalau anak tak katuju, di kawan tantu tak elok, kato junjuangan handak ingati, belum dipandang iman kito, sebelum kasih pado kawan samacam kasih pado diri. Papatah pulo mangatokan, tanak nasi uokkan lado, kana di hati baok ka dado, sabagai pulo den katokan, anak anak kanduang sibirantulang, tetap pendirian kokoh katagak an, sifat rimbang jan dipakai, calako mudo tu mah anak, sifat rimbang anak kanduang, itu taragak itu katuju, bak pimpiang tumbuah di lereang, kamano angin nan kareh, kakayuan rabah pucuaknyo, tidak mamandang alur patut, hawa nafsu diturutkan, celaka anak akhir kelak, anak kanduang Muhammad Arif, nan ketek Siti Arifah, kalau anak hendak mangecek, atau mamakai tiap hari, baik parangai kalakuan, talatak satu di tempatnyo, jangan bak cando mudo kini, angkuh angkuh kalakuan, baik tabiat jo parangai, nan den caliak den pandangi, mancameh marusuah hati, kok tacimpuang anak kian, laku parangai urang kini, angkuh-angkuhnyo nan mudo-mudo, baiak jantan atau padusi, antah mano ka dipiliah, saroman sarupo iyo bak satali tigo uwang, parangai banyak tiru-tiruan, tidak bapikir bagai, tidak bamanuang bahangahkan, baru takana lah malupoi, baru tagak lah bajalan, setelah duduak lah mahunjua, kok nan jantan den katokan, babaju kain palambek i, baupian kalopak laweh, badasi sampai ka pusek, basarawa pantalun gadang, lawehnyo maampang labuah, dalamnyo manyapu tanah, sapatu gadang tumitnyo, bak taji tajam ujuangnyo, adang bakaus adang tidak, dicaliak pulo kapalonyo, abuak babalah basibak duo, potongan taba kahadapan, tiap jam tiap basikek, tiap menit tiap basago, adang sampai baminyak i, lalu kamuko pakai badak, tak ubah jo perempuan, kalau dilihat ka hidungnyo, sarupo camporong kapa, asap mambumbuang ka udaro, pipa dipegang jo nan kida, pangujung sajangka kurang saketek, pahisok putiah nan dihisok, rokok sigeret janyo urang, adang-adang pahisok hitam, rokok maniladang namonyo, banyak ka mandor nan mahisok, antah siapo raso badan, kok bajalan tangah labuah saliriang //16// kawan tigo, ampek, mandaram bunyi sapatunyo, bunyi belanda pulang bariah, kapalo haram kok batutup, antah cino
antah japang, tampan belanda inyo tidak, Minangkabau nan tidak bana, ragu mato den mamandangi, kok batamu urang tangah jalan, baik tuo atau mudo haram mutlak ko basapo, sadang mancaliak inyo tidak, adang batamu jo karibnyo, jalan mamak atau bapak, ampir bisan dikampuang lain, awaknyo disapo urang kama sutan atau bagindo, nyo jawab jo danguah-danguah, antah kalua dihidungnyo, itu nan banyak maso kini, kalau duduk dilapau-lapau, atau di simpang jalan ramai, kecek tidak lain surat koran, penjahit patah duo rupo, beras taserak di tanah japang, lalu dihetong dibilangnyo, tokoh si anu jatuh pelit, kadai si anu tabasalah, awak nyo tahu dahulu si anu banamo jadi damang, jaksa itu ka pensiun, awak pulo nan manakok si anu kini perkaro lah sampai, garin kalendrah, lendrah belum basidang, fonislah sudah dikarangnyo, si anu lah jatuah kalah, duo puluah mambayar ongkos, rumah mandehnyo nan lah condong, kok atab bintang bintangan, lantainyo jungkang jungkatan, sandi ampek tingga duo, belum pernah dilihatnyo, bunyi pantun Minangkabau:
Si manan upas sakawat baju rancak nan dipakainyo Kecil kuman dibalik laut selalu tampak dimatanyo
Orang kancah laweh tangango tajarang di tungku ampek Gadang gajah di bawah mato jarang bana nan diliek
Anak jan bak cando itu, indak katuju tu di mandeh, kok tumbuah musim ka sawah, atau ka ladang mananam ubi, awaknyo jarang pulang, biaso tinggal di lapau, karajo tiap-tiap hari, pai baburu jo angku-angku, urang bagaji dituruikkan, angku pensiun ditampangnyo, alah patang kironyo hari, jam berbunyi pukul empat, digalanggang tibo dahulu, main bola main tenis, atau malakak bulu ayam, lonceng bunyi pukul anam, angku-angku kembali pulang, karumah tingga masing-masing, awaknyo//17// Tinggal di lapau tidur bagaluangan di sanan mangaluah maharang panjang parut lapar pitih tidak ada akan dihandok hutanglah
banyak urang lapau kok indak amuh kapulang takut diibu urang ka sawah awak bamain urang ka ladang tidak di tolong ditahan lapar sampai pagi alang jahatnyo itu anak sakali jangan anak tiru lah sudah manyabit padi nan batuai lah habis pulang nan basabit sudah berhirik kapuak lah panuh barisi padi awaknyo alah mahampir pulang lah banyak kecek banyak tipu panarik hati urang tuanyo maksud lain dalam hati nak mamintak pitih kapado ibu anak den Muhammad Arif anak jangan bak cando itu kok rancak lagak jo tampan tagak saurang balum tahu duduak saurang balum pandai hidup bak ajanyo ibu juo kok tumbuah lapar jo miskin saketek tidak tahu batanggang lari karantaunyo nan pandai ibu tingga dunsanak tingga antah makan antah tidak antah rumah nan lah condong ibu tidak maengong lahi adang-adang marantau ka Kuantan adang-adang ka tanah Jambi ado nan sampai ka tanah kolong duduak manjadi anak samang karajo manakiak gatah ado nan sampai tukang jahit lah sebentar dirantau urang lah dapat pitih dua puluh dapat sakali kagunanyo terus sakali ka rumah Cina kamamalut gigi nan putih kabasenter jo isu-isu kabapalut jo emas kuning lah habis pitih dua belas tingga salapan anyo lahi lah malam kiranya hari pukul tujuh sudah makan lalu sakali kabasahut kamanantuan kemedi gambar lah habis pulo rupiah satu main habis kambali pulang badan talalap hari siang pukul salapan barisuk hari lekat pakaian sapatagak bukan main tampan diri bak rajo jolong dinobatkan angkuh sultan jolong naik terus bajalan ka toko Cina ka rumah tukang potret nak bagambar maksud hati ka dikirim pulang ka kampuang di dalam bagambar diterangkan cincin emas dua pasang lakat di jari keduanya buah baju lima buah cukup tujuh jo konapnyo rantai loji berat dua tahil tersampang sabalah kiri kalau dipandang sapinteh lalu //18// Tampan saudagar nan batokoh, nan sebenarnyo barang itu barang disalang kesemuanya, tukang potret nan punyo bana, habis karajo potret sudah lalu ditabus anyo lahi, pitih tujuh tinggal ampat, nan tigo pambali gambar, ongkos pengirim belum masuk, pulang ka lapau anyo lahi, Barisuak hari pukul salapan, gambar dikirim pulang ka kampung bertambah pokok jo parangkonyo, lah tibo gambar di rumah, surat sepucuk
disamakan khabar baik bacaan surat badan sehat pikiran sanang, urang di rumah suka semuanya dilihat pula gambarnya gigi emas cincin lah emas buah baju pun alah ameh pulo, rantai loji nan santiang bana, kamanakan bagadang hati melihat tampan mamaknyo raso beruang berpuluh ribu, sampai baniat jo banazar kok untuang mamak den pulang, aden beralat seekor kambiang, mamanggil urang barzanji, lorong kapado mamak si upiak, samanjak bakirim gambar, hati nan tidak sanang lahi apo karajo tak salasai, pikiran raso di kampuang, lah habis maso setahun, lah masuak katahun dua, dihitung utang jo piutang kiranyo banyak nan tasaok, balabiah pitih induak samang, untuang baribu kali untuang induak samang urang pamurah, utang lepas belanjo boleh, kira akan ongkos ka bekal pulang, lebihnya pambali tas peti kulit nan banyak kini untuak panyimpan pakaiannyo, lamo sebentar antaronyo, lah tibo garin di kampuang, lalu sakali naiak rumah, alah sudah minum jo makan marokok sabatang dua, kamanakan lalu bertanyo mamak jawab tanyo den, rantai loji jo cincin mamak buah baju nan limo buah cukup tujuh jo konapnyo, dimano mamak latakkan, sabab tidak tampak den pandangi, mandanga kato nan bak kian, muko lah merah-merah padam paluah dibadan lah mangalir, kok duduak lah kaluah kasah, lalu nyo turun dari rumah terus bajalan kalapau sampiang, lah batamu jo urang banyak, kawan-kawan nan dahulu, lah ganti sirah manyirah lah bertimbang kampir rokok, banyaklah kecek-kecek jo barito, bahaso bukan Minangkabau, antah rayu antah palayang, bahaso kolong ciek-ciek, lah gaduah urang mandangakan, habis maso satu bulan, tiap pasar habis di turut lusuah //19// Pakaian sapatagak, utang di lapau alah tumbuah bali rokok api-api, adang-adang minum jo makan baitu pulo sewa bendi, lamo sebentar antaranyo, dihitung hutang di lapau ditambah jo sewa bendi cukuplah garin tangah ampat, dilihat dampak tak berisi, dimanung-manung dipikirkan, dimano pitih kadiambil, eloklah tas digadaikan ditambah jo baju sahalai, tinggal sarawal jo kain saruang, indak cukup sapasang lai, nan janggal pulo den caliak-caliak laku parangai muda kini, tampan nan bukan main-main, rancak nan bukan ulah-ulah, bak raja jolong nobat, angkuh sultan jolong naiak, kok batamu ditangah jalan disangko jaksa atau
damang, tapi dilihat urang tuo nyo mipis tapak dek bajalan, pai manggalas tiap hari pai pagi pulang patang mancaharikan parut nan tak makan, kok kapalo nan tak batukuik pungguang nan tidak basaok, indakkah malu nyo diurang, kok tak kahibo dimandeh nya bujang apa iko namanya, pado hidup baiklah mati, anak den Muhammad Arif laku parangai anak nan bak kian, sekali jangan tiru binasa anak kasudahan, bakato Siti Budiman, alah jadi itu dahulu untuk bamulo kaji sajo, utak anak balum kuat, pikiran balum tatap bana, kok den tambah bana banyak-banyak, kalapas sajo kaluar elok saketek asal tatap, apa gunanya banyak tasirok, bakato Muhammad Arif, patwa ibu kanduang hamba anak pacik harek-harek, anak pagang taguah-taguah, siang hari kajadi tongkat malam kajadi kain salimut, alah kasanang hati mandeh.
Siti Arifah Akan Masuk Sikola
Khabar baralih tantang itusungguh baralih sanan jua lorong kapado Siti Arifah lah sampai umur tujuh tahun masuk salapan jo nan kini quran alahlah tamat rukun syarat alah saketek sambahyang sudah bamulai sifat dua puluh alah pangkanyo lah patut masuak sikola sikola di sanan ado kini pendek kata kito ambil siupiak Siti Arifah dua tahun di sikola lah tamat sajo sikolanyo //20// Utak nan jalang bukan main dua kelas habis satahun tahun katigo inyo kaluar mambawo surat dari gurumenyatakan tempat belajar satu ketika pukul tujuh pagi-pagi hari jumat bulan tahunnya tak disabut sadang duduak basamo-samo dirumah budi caniago di kampuang talago manis bakato Siti Budiman tuan datuak rajo adil tantang siupiak-siupiak siti aringah sikolah desa alah tamat suratpun dapat dari guru mnyatakan tempat belajar den piker-pikir den manuangkan patut disambuang sikolanyo masuak khusus perempuan nak pandai masak mamasak nak tau cuci mancuci pandai manjahit jo marendo sagalo urusan rumah tangga maka baitu kato hamba banyak dicaliak masa kini nan gadis-gadis jolong gadang rancak dilabuah kabanyakan kalau basua tangah jalan takutlah kita memandangi lagak jo tampan balabiahan dikalau lihat ketempatnya saketek tidak pandai basegehdi dapur nan tidak
bana bakato datuak Rajo Adil dihamba tidak basalahan apo karajo nan kabaik tapi samantangpun baitu kok sibuyuang Muhammad Arif sudah kau tunjuak kau ajari sanang hati den mandangakan siupiak Siti Arifah patut bana diajari jangan lakunya tiru-tiruan lihatlah de kau mudo kini kalaulah tinggi sakolanyo saketek tidak tau diadat diagama nan tidak bana kalau dilihat lagak tampannyo antah nyai antah kontrak ragu mato den mamandangi bakato Siti Budiman kato tuan nan talompat hamba pacit harat-harat hamba ganggam taguah-taguah barilah kini den amalkan sementara dihampir tuan kok pandai dapat olesnya kok kurang buliah batokok sasat buliah basurutkan bakato Siti Budiman anak den Siti Arifah anak kok pahi ka sikola masuk mis perempuan bawo bekal agak saketek bawo balanjo agak samiang kini den ansur mambarikan esok buliah den tambah pulo kalau umur ado panjang kok jadi anak masuk mis kapandaian sajo anak cari laku parangai jan ditiru tartib sopan nak den tunjukkan nan qori di adat kita nan lazim dalam syariah den tarimo dari mamak kau //21// Bagelar datuak Rajo Adil panghulu dalam nagari nan dijawat dari bapak kau Muhammad Sidiq Faqih Arifin nan alim dikampuang kito bamurid panuah sukuliliang sungguhpun anak basikola salamo nyawo dikanduang badan agamo jangan anak gadaikan adat jangan anak jual kapandaian buliah kito cari asal manfaat pado kito tapi pandirian tatap-tatap jangan bapaham bak ujuang batuang kamano angin nan keras kakiun rabah ujuangnyo balaku sombong sakali jangan fi‘il sombong jangan dipakai itu pantangan adat kito den dengar dari mamak kau disyarak dilarang sungguah nan fatwa dari bapak kau Muhammad Sidik Faqih Arifin nan den sabut-sabut juo sifat pamalu jangan tinggal itulah benteng perempuan kok batamu jo laki-laki nan bukan muhrim kito bukan kaum bukan family tak buliah banyak mangecek kiro paralu sajo buliahnyo nan labih jahat dari itu duduak sabendi jo urang lain nan bukan family awak mamak tidak suami tidak bapak dan kaka tidak pulo berguru atau sahabat fi‘il sombong itu namanya sabagai laki-laki anak den kalau anak tinggal di rumah laki-laki naiak dihadapan anak nan jangan lalu lintas tatap saja dibalakang galak-galak sakali jangan galak tabahak galak syetan sakali jangan anak pakai apo karajo baik-
baik tanang-tanang apo dibuat jangan serupo urang di lapau hiruk pikuk buninyo perang basongkong satu sama lain anak ku banyak galak-galak banyak mangecek jo laki-laki nan tidak qorib jo muhrim tandanya anak tak pamalu lah runtuah benteng perempuan alamat musuh akan masuk ialah setan jo iblis binasa anak kasudahan sebagai pulo anak kanduang sifat pamalu kalua kurang bak sipulut di tapi jalan siapa urang nan lalu nak mangambil saketek surang dangakan sabuah lahi nan den pandang den caliak-caliak laku parangai gadis kini tantang mamakai jo mangecek ataupun tingkah kalakuan banyak bana nan sombong-sombong sakali jangan anak tiru kok bakawan bak rupo nona batas terbuka enggan lutut tangan terbuka kaduanya dari ujuang sampai kapangka //22// Leher kapalo jan disabut sungguh pakaian serupo nona tapi salendang dilatakkan angkuh tabawo tampan tingga madam inyo bukan gadis kito nan tidak bana antah ular antah belut Tuhan Allah nan katahu ragu mato den mamandangi kok lah gadang nyo saketek kapandaian alah samiang haram kok amuah diparintahi diam di rumah larang basuo di dapur nan tidak bana nan katuju tiap siang malagak kian kamari ilir mudik masuk pasar babaju kabaya songkek baju bakuruang pantangannyo bak sumpit barisi beras baitu tampan tagak nyo indak bantuak saketek jua banyak urang nan manyabut basipatu bajolong juliang kok solob tinggi tumitnyo kain jao tapi balipek panyanggur gadang jalan maungkuak bak rupo hantu den pandangi payuang dipegang jo nan kanan tas dipacik jo nan kida rupo bakapit kakatiak kapalo haram kok batutup tagak bulu den mamandangi kalua pahinyo ka pasar adang bakawan jo mandehnyo sarupo koki mairiangkan alah tibo garin di pasar lah batamu jo kawalnyo bujang sakola nan dahulu adang-adang jo guru-guru guru nan kurang beragama di adat balumnyo tahu jolong batamu nyo lah basalam ado saminit antaronyo sampai baguyang-guyang tangannyo nyo jo tuan-tuan adang salereng inyo bajalan kok kecek karesah pasiah tampan balando jolong basua urang tuanya mandangakan tacangang tangango-ngango hati nan suka-suka bangis didengar anaklah pandai siko tumbuh suko hati dipandang kalakuannyo banyak salah banyak sombong disiko tumbuh hati bangis anak den Siti Arifah laku parangai nan baitu
tidak dimakan ulur patut adat bukan pasak tidak disyarak tarang batagah tagak bulu den mandangakan bangis apo nan ditiru lagak nan mano nan diconto tak ubahnyo den pikirkan bak buni pantun urang siko
Tumangguang mambali padi Dijamur di atas bauk Nyonya tanggung anak tak jadi apo kanamo badan awak //23//
Nan labih jahat dari itu laku parangai gadis kini tiap hari pahi ka pasar masuk toko kaluar toko ka toko bombai nan labih bana mancari kain model kini kain nan jarang rupo tangguak sedikit tidak menutup aurat paubat dingin nan tidak bana alah dapat kain dibali dibuat kabaya senteng pinggang sampit tangannyo sampit kutangnyo kutang basangkut tabiduak badan sakarek leher kapalo jan disabut adang lahi baunduang-unduang rupo batutup kapalonyo tapi kain nan dipakai labiah jarang dari tangguak lahi umpamo tidak jua itu nan banyak maso kini kutuk Allah nan kamamakan tagak bulu den mamandangi adang-adang den caliak-caliak waktu zuhur sudah makan dipasang pulo pakaian tagak lurus dimuko camin dilemok muko bak malepoh hati lah tibo pulo di pasar hendak manonton beko malam melihat komedi gambar pukul empat patang-patang mananti hari pukul tujuh kian kamari inyo bajalan dimano urang nan rami inyopun ado pulo di sanan gadis apo iko namonyo pado lahi baiklah tidak kok lamo bana hidup nyo kamanambah malu ibu kamanokok aib bapak pado hidup baiklah mati kamarusak dalam pun lah salah alah tasorong mulo dahulu menurut kahendak anak anak dibayar salelonyo saketek tidak dibantuak tidak ditimbang pait-pait bak papatah urang siko babanak kaampu kaki batareh kahujuang dahan kini apo kadisabut banyaklah tasorong kaurat lah sukar manyentak kok disentak inyo patah kok lalu kapatah jua lamolah maso nan baitu sampailah kira tiga bulan padi di sawah sudah tabit mandeh nyo naik ka atas lumbang kiranya padi hampir habis tinggal sedikit inyo lahi untuk dimakan agak sabulan nan lain habis dijualnyo dek anak siupiak kinang mandeh turun di atas lambung dibarut dada dikaluahkan tidur mangaluah maharang
panjang malang kamano dihimbaukan kok disabut-sabut bana malu jo aib nan katumbuah elok ditutup mati-mati bakato Siti Budiman //24// anak den Siti Arifah sagitulah dahulu utak anak balum kuat pikiran balum tatap bana kok banyak bana pangajian banyak hilang dari hati bari sadikit asal tatap tidak guna banyak keluar kini pailah sikola buliah dihantar mamak kau iyo Datuak Rajo Adil dalam sikola rajin-rajin banyak lalai sakali jangan bagalut-galut nan jan bana bakato Siti Arifah fatwa mandeh kanduang hamba anak pacit harat-harat anak pegang taguah-taguah siang hari ka jadi tongkat kok malam kakalang hulu alah kasanang hati mandeh.
Muhammad Arif Akan Masuk Sikola Agamo
Khabar baraliah tantang itu sungguh baraliah sanan jua bakato Siti Budiman anak den Muhammad Arif adiak ang Siti Arifah lah masuk sikola mis nak pandai jahit manjahit nak tahu mancuci kain sagala hurusan rumah tangga tantang buyuang anak kanduang piliahlah ampat parkaro kajabatan untuak anak mano katuju buliah pakai asal cukup rukun syaratnyo
- manjadi urang alim suluah bendang di nagari camin terus dalam suku tampat batanyo dinan banyak
- Manjadi saudagar atau orang kaya dalam nagari tampat batanggang dek nan bangsat paulas urang keputusan
- Jadi ambtenir jadi ujung jadi jakas jadi damang sebagainya pagar basi dinagari karajo manjago kaamanan
Jadi panghulu kayu gadang di tangah kota tampat balinduang di rakyat kok bajalan batongkat budi kok duduak pegang naraca Anak den Muhammad Arif karajo nan ampat itu sasudah
tamat sikolanyo ado lagi rahasia nyo kajinyo dalam pahamnyo halus isuak buliah mandeh tunjukkan bakato Muhammad Arif karajo nan ampat itu dua saja nan tercintaMenjadi urang alim waris turun dari bapak den suluah bendang di nagari camin terus dalam suku
- Jadi panghulu pusako di Minangkabau buni papatah urang siko //25//
Ramo-ramo sikumbang jati Khotib indah pulang bakudo Patah tumbuah hilang baganti Pusako di sanan jua
Bakato Siti Budiman kok itu nan katuju masuklah anak kasikola mangaji anak dahulu nak tahu di Tuhan Allah tahu sagalo sifat tuhan begitu juga pada rasul supaya dapat percayai apo hukum disampaikannyo baitu pulo halal haram shah batal sunat paralu semuanya anak ketahui parangai hati pulo anak baik dan jahat hendak basukan hukum mahukum baitu pulo dakwa dan jawab siksa bainah semuanya tarang dalam utak jangan sasat anak mahukum tantang balanjo jo ongkosnyo uang sikola bali kitab nak mandeh carikan jua Insya Allah tidak kakurang kalau Tuhan ado manolong tatapi ingat anak sanan iblis jangannyo lalu baikkan niat jo sangajo manuntut karna allah apo ilmu nan lah dapat barang pangajian nan lah matang terus dipakai diamalkan kabekal pulang ka akhirat jangan sangajo untuak dunia tuah pangikat wang jo pitih sakali jangan itu anak sabagai anak kanduang manuntut ado tartib paralu ain dahulukan paralu kifayah nan kadua sudah itu nan sunat-sunat ilmu harus pangabisan jangan bak cando urang kini mangaji tidak batartib mano katuju nan dikaji tak mamandang halur patut adang den caliakkan kajilah sampai ka atas langit tambo alam sangatlah mahir sampai pangajian kaeropa tanah arab jangan disabut kalau dikorek di selidiki mandi janabat balum tahu ado pandai kareseh peseh bahasa inggris dan jerman tapi qobilah balum tantu sambahyang turut-turutan urang taqlid dicacatnyo inyo mambuat tiap hari sabagai pulo pataruh den mambali sabanyak pitih bababan kira katajujuang mamakan kira katalulur jangan bak cando urang kini sifat rimbang dipakainyo itu taragak iko katuju maksud sagalo pandai tuan dutur tengah di awak maneter lambu awak pulo tuan hakim tuan master mentri hewan mentri rimbo tuan tambang tuan toko jadi basitur awak pulo talayan-talayan sabagainyo //26// Sagalo bahaso dapat dihawak anak kanduang Muhammad Arif mandeh tangguang indak sampai antah kok paruak-paruak sajo dapat pakawan tidak mungkin akhirnya anak pitih tanggung pitih taba harga murah sagadang muda lalu sapitih
kok murah amak danga papatah Minangkabau nak (tidak terbaca) jo diujung jari nanlah lapas dengarlah pantut Minangkabau
Anak anduang katitiran Anak barabah ampat-ampat Nan dikanduang baceceran Nan dikajar indak kadapat
Dengar sabuah lai nak duo pantun sairiang
Sikua capang sikua capeh Hinggap dirantiang kayu baringin nan seekor tabang nan seekor lapeh tahawa dihabu dingin
anak kanduang Muhammad Arif isi tujuan kato nantuan nan biasa maso sakarang banyak ilmu nan dituntut pak umum namonyo kini sifat baraliah kasitu den tapi sabuah tak nan sampai agamo nan tidak bana satu ilmu tak nan matang antah kok paruak jo pahut mahiruak disampiang lawah atau dihalaman lapau-lapau dibawo karajo indak mungkin situ tak dapat digunakan tumbuah kamatian dalam kampuang dipanggil urang kasumbayang situ den rukuk awaknyo lah hiruak urang dalam kampuang tumbuah salisiah dinagari kamangaji shah jo batal dimuko imam jo khatib dihadapan datuak jo panghulu alim ulama nan di sanan mambawa kitab furu’ syariah tapi situ den nan bapak umum kitab kifayah dibawonyo pangajian sifat dua puluh alang jangga nyo itu anak nan labiah hebat dari itu tabligh dimuko umum atau pidato jo balesang bukan main lancang mulut banyak pamandangan nan disabut lah tangakoa urang mandangarkan tapi ditanya satu-satu pangajian zakat jo fitrah jarinyo kambang dahulu kadijawab tidak dapat kaditolak dapat malu awaklah pulang //27// dari mesir nan labiah manggalak bana dipanggil urang kenduri situ den ampat jo limo maksud nan punyo rumah nak bakahandak khatam quran atau shalawat jo doanyo tahlil jo barzanji satu urang tidak nan pandai tapi kok Koran dikatangahkan maukur gunuang jo tunjuak raso kasamo tampak jauah barabut inyo mambaco itu nan banyak maso kini anak jangan sarupo itu sabagai laki pataruah
den kaguru hendak beradab atau kapado urang tua mambari salam jolong batamu jabat tangannyo basapahah lalu dicium tu sakali apo suruhnyo hendak diturut berang tagahnyo dihantikan asal jangan malawan syarak suruhkan untuang buat-buat sangkalah dibari dibalinyo buliah nyo jual nyo gadaikan atau nyo suruah apo karajo dangalah kato saidina ali suami siti fathimah binantu kanduang rasulullah rajo alim khalifah nabi dirinyo budak dari gurunyo buliah dijual digadaikan atau disuruah apo karajo baitu kaji bapak ang den danga masonyo hidup jangan sabagai urang kini saketek tidak baparangai kaguru banyak malawan nan labiah bana ka nan tua nan kuluk dipandanginya anak den Muhammad Arif jaso guru bukan sabuah labih sabagai bpak kanduang dari narako dihelakannyo dari bodoh inyo cerdikkan wajib sakali tarimo kasi sabagai syukur mambalas jaso samaso bapak ang hidup inyo mangaji den dangakan kato nabi junjuangan kito kalau urang babuat baik wajib dibalas sadapatnyo kalau tidak kito barutang didunia tidak berkat tapi nan banyak den caliakkan kalau tak lalu nan dihati atau baranjak tempat diam labih-labih bapartai guru kolok dipandangi awak modern jakny awak pandai bahadis baquran bapak umum lah santiang pulo tapi janyo awak saurang balum diuji kanan pandai bak loncek dibawah tampuruang suko malawan bakeh guru guru dipandang hina bana sampai mambehot karajo guru inna lillahi mandeh sabut murid narako kumuah garin tak ubahnyo den pandangi bak ayam mangasuah itik alah gadang nyo saketek inyolah tajun masuak air hanyut karantau ditantangnyo adang-adang den caliakkan bak ayam harga //28//sikupang bak kambiang harga tangah dua bukan main keletiak jari dikacak langan lah bak langan dikacak batis lah bak batis bukan disangka padang datar patwa guru banyak nan salah kaji guru bid’ah sajo tapi kalau diselidiki dihandang ditampi taruih dipiliah ateh ciek-ciek iyo jua kaji guru tapi kalau kamarantau kamancari suaro tingga kamaajar anak-anak atau tabligh dimuko umum urang tak amuah manarimo sabalum surat dari guru siko takana guru lamo lah paguno guru kuluk kambali pulang inyo lahi dating mangadap kaguru lamo duduak manakur suaro lunak maminto surat katarangan pangakuan bahaso murid tak ubahnyo den pandangi bak ampam
kucing sholeh duduaknyo manakur-nakur urang malengah inyo manangkap sabagai laki den katakan urang malawan bakeh guru nan den caliak den pandangi didunia lah dapat ‘iqob adang-adang tabuang pulus kapapua kabawo pandigul ado mulutnyo nan ditutup tidak boleh mangajar lahi atau tabligh dimuko umum adang hidupnyo malesaik tidak tantu katagakan kama datang urang tak suko sabab manggaduah dikampuang urang mangusut dalam nagari dagu dagi kasalahannyo mangguntiang barang nan bantar mahanjak barang nan tatap tukang cukur kasudahannyo atau manakiak-nakiak gatah anak den Muhammad Arif anak jangan sarupo itu sabagai laki pataruh den kalau anak masuk sikola bahaso arab nan dikaji hadis quran nan dipaham kias ijmak nan di bantuak cukupkan alat pakakasnyo shorof nahu mantiq ma’ani ilmu hadis dan tafsir ilmu usul nan labiah bana ilmu lugoh tak boleh kurang kitab kamus kitab sihah atau nan lain sabagainyo nasikh jo mansukh umum jo khusus atau sababnyo turun ayat kata sahabat dan ijmak dapat semuanya tu nak kanduang banyak lagi yang lain-lain nan tidak mandeh sabutkan kaji sajolah jo guru ang hadis quran ank kanduang bahaso arab nan dahulu sifat balaghoh jo pashohah bukan mahacam bahaso kini bahaso banyak masuk campuran bahaso arab nan lamo-lamo bukan (tidak terbaca)//29// mamahankan hadis quran nan labiah bana paralu tahu sabab turun sabagai laki den katakan kalau mangaji disikola kaji kitab sampai-sampai dari awal lalu ka akhir dari pangka sampai ka ujuang maksud matan habiskan bana nan muthlaq ado qoidnyo nan umum ado tahksis latakkan ayat di tempatnyo bagitu hadis kata nabi kata ulama dalam kitab jangan ditukar maksudnyo jangan samacam muda kini mangaji bakarek- karek kaji kutipan nan dipakai diambil mano nan murah atau sekira nan katuju disalin kabuku hijau sangkut pautnyo jo nan lain saketek tidak nan tantu sasatlah paham kasudahan jadi manggaduah dalam kampuang mangusut urang dinagari lah putus silaturahmi bacari anak dengan bapak bisuak mamak jo kamanakan guru jo murid jan disabut sabagai lagi den katakan salamo anak balajar bapatwa nanti dahulu banyak nan alim dari kita pulangkan sajo kanan tua nan lamo hidup banyak dirasoi jauah bajalan banyak basuo itu papatah Minangkabau jangan
samacam ayam gadis kalau batalur agak ciek hiruak kotetnyo dalam kampuang bakucang tando tak panuah bariak tando tak dalam anak den Muhammad Arif sakitulah dahulu kamudian kalau hayat buleh mandeh tambah pulo pahilah anak kasikola rajin-rajin anak balajar sungguah manarimo palajaran supayo lekas anak pandai bakato Muhammad Arif patwa mandeh kanduang hamba pegang taguah-taguah siang buliah jadi tongkat kok malam jadi salimut alah kasanang hati mandeh.
Muhammad Arif Akan Jadi Guru
Bakato Siti Budiman anak kanduang Muhammad Arif anak kok lapas disikola tamat sikola kalas tujuh dapat surat dari guru surat palum maso kini surat ijazah danga namanya disiko anak maka susah sabagai duduak dimato padang bak manitih banang sahalai murah jatahnyo kiri kanan anak kok duduak dalam kampuang jadi guru dinan banyak suluah bendang dinagari camin tarus //30// Dalam suku tempat batanyo dirakyat pandai bargaul latakkan satu ditempatnyo nan tua patut dimuliakan nan muda hendak dikasihi samo gadang lawan mufakat niniak mamak dalam nagari mulutnyo didengar urang pangajar diturut rakyat apo pangajian nan maraso nan balum biaso diamalkan balum tapakai dinagari elok panghulu malakukan ulama tinggal bapatwa buni papatah Minangkabau syarak mangato adat mamakai kamudian bulih den jelaskan anak den Muhammad Arif urang kok datang sakaliliang nak mangaji pado anak bagi-bagi darajatnyo ado kayo ado miskin ado mulia ado hina siko anak tagak lurus samo disayangi dikasihi sangkolah murid anak kanduang jangan bak cando nan den caliak bamurid balabiah kurang agak sayang ka nan kayo agak kasiah ka nan mulia tanda mangajar tak ikhlas itu banamo sifat riya masuak narako kasudahan sabagai pulo anak kanduang kalau datang urang batanyo tantang hukuman agamo kito halal haram shah jo batal sunat paralu jo makruh disiko anak labih susah narako sajo tantangannyo ingatlah anak kato junjungan nan den danga dari bapak ang urang barani bapatwa itu barani masuk narako sabagai pulo den dangakan waktu bapak ang hidup ditanyo urang imam malik alim madinah baliau tu
pangarang hadis muatthok guru diimam kito syafii ampat puluh tanyo nan datang ampat sajo baliau jawab lambok nan dari pado itu baliau bilang indak tahu junjungan kito panghulu alim satu kali ditanyo urang bumi mano nan labiah baik baitu pulo nan labiah jahat kato baliau balum tahu nanti dahulu den tanyokan sabantar turun jibrail mambawo wahyu dari tuhan untuak panjawab tanyo cako tampat nan baik atas bumi ialah tanah jadi masjid nan jahat pula ditarangkan iyo tanah jadi pakan sabagai lagi den katakan kalau anak bapatwa jangan anak barcapat-capat pancapat datang dari syetan elok manyasal tak dikatakan bulih dikatakan bisuak hari tapi manyasal takatokan sukar bana manyintak surat nan labiah jahat dari itu kok lagi hitam atas putih buku bacetak alah sudah //31//Alah kambang kian kamari kalau ditantang ditampi taruih dipilih alah ciek-ciek dibuka kitab nan gadang-gadang dilihat kitab jo sunat dibantuak kias jo ijmak dilatakkan satu di tempatnyo dengan cukup alat pakakasnyo kiranyo banyak nan salah nan haram lah jadi halal amalan sunat jadi bid’ah sabab pancapek mangatakan barabut-rabut bapatwa bakajar mangarang kitab mutah talingo den mandangakan sabuah lahi anak kanduang kalau ado urang nan alim nan lah tua dari anak elok baliau bapatwa anak mandangalah dahulu pado maso sahabat banyak bertolak-tolak bapatwa jangan bak cando muda kini sangat pancapat bapatwa sapotong hadis nan dapat satu ayat hapis quran ujuang pangkanyo balum tantu apo sangkutan jo nan lain apo tujuannyo balum tarang lekas saja diamburkan adang talatak ditampatnyo tapi nan banyak den pandangi indak talatak pado tampatnyo sasat amalan urang banyak dosa batimbun untuak kita anak jangan sarupo itu danga papatah Minangkabau manjadi pantun din an mudo.
Hujan labat hari kiamat Runtuah gunung kajar bakajar biar lambat asal asal selamat tidak kalari gunuang di kajar
biar lambat asal salamat tidak kalari gunuang dikajar nan labih jahat dari itu bapatwa nan ganjil-ganjil nan sasuai jo nafsu tidak mamandang kuat dhoif tidak mamandang nasikh jo
mansukh atau mutlak jo muqaid umum jo khusus nan tidak bana ayat sapotong dihotakan hadis sabuah diruakkan patwa nan lamo-lamo pandakatan imam mujtahid nan dipaham maso dahulu dari quran hadis nabi atau kias jo ijmak sasuai dalil jo madlul dibilang sasat jo bid’ah alang jangga nyo itu anak bak sibuta malanyau piriang urang nan punyo disalahkan indak talatak ditampatnyo tapi sibuta tak manantu tak jalan nan ditampuahnyo jadi talanyau piriang urang sabagai lagi den dengarkan sajak patwa nan ganjil-ganjil hiruak //32// pikuak dalam nagari pacahlah urang nan sarumah anak malawan kabapaknyo durhako murid kapado guru kamanakan tidak bamamak hanyo bakahandak hati sajo nagari tidak bapanghulu rakyat sendiri masiang-masiang silaturahim sudah putus nagari indak dapat aman pemerintah bertambah susah adat kusut dalam nagari pantangan datuak katumangguangan larangan datuak parpatiah dagu dagi namo salahnyo mahanjak barang nan tatap mangguntiang barang nan buntal sabagai pulo den dangakan samanjak patwa ganjil-ganjil satu masjid dua jumat baganti-ganti manyumbahyangkan adang-adang nagari ketek satu jumat sudah cukup dek patwa na ganjil jua sampai jumat duo tigo.
Sabagai lagi den dangakan dimaso nan kini juo kecil tahu gadanglah pandai disiko urang batabligh disitu urang balesang babagi-bagi patwa nyo mabuaklah urang mandangakan antah nan mano nan kadipakai adang sambahyang bahantikan sabab patwa balain-lain anak manyuruah mambaco qunut tiap sambahyang waktu subuh dating bantuak managahkan bid’ah sasat nan katanya masuk naraka nan mambaco kaditurut patwa anak binantu kok ketek hati siupiak kok ditolaknyo kadipakai kato binantu jo pandakat kurang sasuai tambahan ank lah disarahkan pitih habis barasolah habis mancari kaji kadipakai anak den Muhammad Arif pintu quran hadis nabi sangat lapang maso kini urang masak tua muda baik pandai atau tidak dapatlah kaji nan ganjil-ganjil balum tadanga salamanya urang mangangkat nabi baru atu mambanum rasul muda kutuk allah dijalan laknat lah banyak pulo urang manurut nan tak bautak bapikiran na’uzubillah mandeh sabut innalillah mandeh ucapkan sabagai pulo kadangaran saketek tidak disangko urang manatapkan qudrat diri
mambari bekas pada alam kaum qudriyah danga namanyo lah kambang pulo disiko lah banyak pulo sikolanyo anak den Muhammad Arif iko nan labiah den rusuahkan musang mamakai bulu ayam kitab quran hadis nabi jadi pakakas kaduanya untuak paruntuah, //33//
agamo Allah anak jangan masuk itu, anak den Muhammad Arif pendek kato den tarangkan kitab quran hadis nabi bahasa lamo bukan kini, sangat manyusah mamahaminya bagi urang nan ado kini, tatapi maso abad nan tigo abad sahabat dan tabiin satu abad dibalakangnyo matohari di tangah siang lampu hidup tarang cahayonyo, logat bahaso balum barubah tantulah mudah mamahaminyo, kalau dibandingkan jo maso kini anak den Muhammad Arif, anak salidikilah alquran atau hadis nabi kito, cukupkan alat jo pekakas, kok sasuai pandapek anak jo ulama nan tigo abad, Alhamdulillah banyak syukur tapi baliknyo kito sabuikan kok basalahan faham anak jo ulama tigo abad, tarang anak bafaham salah, manurut adat nan biaso anak lah jauh dari lupo, logat bahaso banyak barubah Nabi pun sudah mangatokan, nan sabaik baik abad adolah abad nan tigo, sadang itu balabiah kurang sudah abad nan tigo itu mashur, disatoanyo lahia hasil kato den tarangkan tantang ilmu jo amalan nan basangkuik jo akhirat labiah tarang maso dahulu sebab hampir kalampau gadang bait junjungan kito kok kapandaian iko itu nan basankuik dengan dunia, tantulah maso kini nan tak dilihek lah dilihek, nan tak didanga lah didnga, apo sebab demikian nyatolah dan hamuah urang dahulu, lain tidak agamonyo dunia sakiro jadi jalan tapi urang maso kini hamuahnyo dunia sajo, sadikit bana ka agamo kok ado di lahir sajo pada bathin dunia juo lieklah tando buktinyo, apo karajo bahambuah puji sajo, nan maksud atau uang ringgit rupiah, luweh pangkek nan labiah bana anak den mahammad arif sagitulah dahulu isuak kok umur ado panjang nak mandeh tambahi pulo, katonyo Muhammad Arif pangajar mandeh nan talimpah anak pacik arek arek, anak ganggam taguah taguah siang hari manjadi tungkek kok malam jadi bantal kaluang alah ka sanang hati mandeh. //34//
Nasihat Siti Budiman kalau anaknyo jadi ambtenir
Bakato Siti Budiman anak den Muhammad Arif hidup manjalang bahagian, apo bahagian nan tasurek itulah nasib kadipakai, papatah diMinangkabau nan babaris nan bapahek nan batukuak nan batabang kok tasurek diluh mahfuz apo nasib kauntuk kito tantulah kito mandapati, tapikul anak kandung usaho utang dikito apo nan jalan kabaikan kok tasurek untuk anak kahidup mamakan gaji jadi ambtenir Nan karajo jadi ujung jadi jaksa atau galeri juru tulis jadi damang sabagainya jadi kapalo di nagari disiko anak tagak lurus batua batua bakarajo, lurus lurus mamegang pangkek ingati sumpah nan dahulu helo rakyaik kanan bana bawolah urang kanan baik majukan kampong jo nagari kuat maurus pahidupan sawah ladang, bandari polongan labuah tapian jangan lalui balai masajik sidang patang, apo kebaikan di nagari adat jo sarak nan labiah bana.banyak kan jaso kaanak buah labiahkan budi kanagari kusuk jo rabah dalam kampuang lakaslah anak mahilangkan, ninik jo mamak lawan sakato imam khitib alim ulama apo kaputusan dalam rapek anak sakiro manjalankan jangan ma aden bakato surang, bataratik bakuat asing adat bodi caniago mupakaik jadi rajonyo kuat paling kito sabut iyo barajo ka Daulat di luhak nan tigo nan ka kuat paling tak dipakai alah pindah garin ka rantau maso ninik maamak nan baduo kini kito mandapati sabagi lagi anak kanduang kalau anak mananyo urang mamariso urang pakaro pariso juo hati kasih ditanyo jo muluik manih sakli jangan jo molut kasar jo hati bangis hinda jauhi sakali tabukak kabanaran apo jawabnyo nan kaluar tuliskan dengan lurus satu huruf jangan batukar jangan bak cando nan den caliak an ado satangah urang bapankek pankek diambik paniayo tuah untuk jadi pakakeh basuluak kajdi gaduah kapanindeh kawan kawan kapalapaskan //35// hati sakik rangik dilindih jo nan panjang dirahuik sajo jo nan laweh barutang pantang babayar manyalang tak amuah manyuaratkan kok sawah indak bapamatang kok ladang tak ado bantalaknyo mana perempuan nan katuju dihambau sajo jo pangkek tabudak manuruk alur patuik di syariaik lan nyato haram masuk narako kasudahan sababagai pulo nan dicaliak ado urang nan ambo liek mananyo urang pakaro maharik mamberang
berang mambulalang mambulalaik manggaretak mahntam hantam takuiklah uarang mandangakan jadi batekar panjawabanyo nan tidak lah di iyokan nan iyo dikaku tidak tahukum di urang nan salah tabayar nan tak bar utang sabagai pulo nan den caliak kalau mananyo urang tatuduah itu tacemo babuek salah tapuak tampa lakek dahulu pengadilan belum basidang hukuman jatuah dahulu adang adang indak tatahan tapuak lakek tampalah lakek nan tidak dikaku iyo tahukum pulo sakali lai nan sabananyo indak basalah hanyolah jawab nan batukar sebab dek takuik kanai tapuak nan tiadak sampai diayukan banyak terjadi macam itu laku satangah urang kini sabagi ladi pitaruh den kalau anan dapek pangkek dapek basuluik mamarintah sipaik sombong jangan dipakai jan anak batinggi hati sipaik takabua tu namonyo urang takabu udu Allah basudaro dengan setan kalau mati masuak narako kalau batanu jo kawan kawan muluik manih baso nan baok itu perlaku anak pakai nan tuo anak muliakan nan ketek hendak kasihisamo gadang lawan musyawarah sungguhpun anak dapek basuluik bangsa nan jangan dilupokan adapt dan sarak jangan dijual jo basulik nan tak ka lamo jo gaji nan tak ka kekal itu pantangan ninik moyang ingek papatah minag kabau satinggi tinggi malanting katanah jou kambali satjauh jauh marantau akhirnyo pulang ka kampuang satinggi tinggi bapankek akhirnto masuak pakuburan sabagi pulo den katokan papatah diminag kabau hidup di ateh dunia nangkoroda padati umpamonyo sakali berambung ka ateh sudah itu bersintak terungang baganti papatah pulo kok kayu sakali surang siang jo malam duo balawan ujan jo paneh baganti ganti samantaro hari siang elok lah //36// malam di pikiri samantaro paneh elok pikiri hari kahujan pendek kato den tarangan kalau hidup mamakan gaji manarimo upah itu namonyo apo karajo nan di upahkan hendak karajokan baik baik jangan berang urang maupah anak den Muhammad Arif nan den calaik den pandangi saurang manjadi laras atau kapalo di nagari waktu pagang basulut gagah nan bukan alang alang rangik disangko budak anak buah raso dibali man den bakato surang apo karajo dalam nagari pantangan bana kamufakat hanyo nan suka bakato surang adat habis agama habis nafsunyo sajo dilakukan tumbuh karajo dalam
nagari lai patuik mamakan ongkos awaknyo tibo dahulu mangguntiang dalam lipatan sadang manyalam minum air itu maksud di hati nyo kok karajo tak beronkos indak kadapek inyo manyalam hatinyo sagan mauruskan salamo mamagang pangkek sawah indak bapambatang ladang tak ado bantalaknyo Bak papatah Minangkabau manden bakato surang bataratik bakato asing datang takdir dari tuhan pihak atas datang kamaesek kironyo kas alah tapakai dek kala kawan banyak salah main muda main judi ba koa hampir tiap malam aduh sakitnyo anak kanduang umur mudo badan sehat karajo sadang dihati kapintaran ado manangah tapi apo kadiabuik laku salah pangkat lah jatuah lun darah sudah bersidang hukuman buang tigo tahun habis karajo badan pulang indak dapek karajo lai ilia mudiak malonjak lonjak surang tak dapek kawan urang banci kasamuonyo maingati laku nan dahulu sungguhpun indak ado karajo basuluik mantari jalan sabulan gaji tigo puluah makan masuak kadalam kain baju nyato diluar kampie rokok kalua masuak iyo akhirnyo iduik sombong sabanta lamo sudah itu lah malas pulo jadi mantari datang pangajaran dari setan bak bunyi pantun urang disiko
Datuk putiah datang di kuti babalik turun ka ranah pado ang bapitih mati elok lah bakalang tanah.//37//
Mati bagantumg kasudahan mati sasek dunia akhirat ingati benar itu anak sabagi lagi nan den like saurang kapalo nagari jadi laris jadi damang jaso banyak ka rakyaik budi baik ka nagari sangaik panyayang ka nan bangsaik sangaik pangasiah ka nan miskin sombong takabua tak dipakai karajo baik untuk umum bali misajik siding patang rumah sekolah lah tiap nagari tampek baraja anak anak sangaik setia pado adaik ka agamo nan labiah bana di bangsa tabidak nyo pandirian sangat tatap sipaik panghulu tapakai bana sampai manggali baliau tu hujan rancak kironyo hari tando alamat urang rusuah sampai baribu urang datang baratuih ratuih bilangan oto bilangan banda jan disabuik isuak harinyo den liekkan baratuih ratuih urang datang mambaco
quran jo tahlil doa panutuik kasudahan mamintak kapado Allah kubur lapang doso ampun rahmat baik datang ka kubur sampai jumat kironyo hari tapi sidang urang tahlil mambaco Qur’an jo fatihah untuk arwah nan mati juo urang kapado urang tidak banyak siap manyuruhmyo dipaso hati masing masing maingati jaso nan dahulu batahun tahun sudah mati urang tak lupo mandoakan mangaji mambaco tahlil untuk arwah nan mati juo adang adang den calik kan babondong bondong urang datang pai ziarah ka kuburnyo sudah ziarah tahlil doa panutup kasudahan anak den Muhammad Arif adolah jadi itu dahulu indak guno pangajaran banyak kalau tak amuah mamakainyo sedikit sajo sudah cukup kalau mamakai lai suko mandeh tutup dengan pantun rahsio adapt minag kabau.
Pulau pandan jauh di tangah Dibaliak pulau angso duo Hancur badan dikanduang tanah Jaso baik ingati juo.
Bakato Muhammad Arif nasehat mandeh kanduang hambo pacik arek arek ambo pegang taguah tahuag siang kajadi tungkek anak malam kajadi bantal guliang //38// alah kasanang hati mandeh.
Nasihat Untuk Saudagar Dan Urang Kayo
Bakato Siti Budiman anak den Muhammad Arif kok takdir pado anak, anak manjadi saudagar duduk di toko di kadaian atau rangkayo di nagari banyak sawah banyak ladang banyak kerbau atau jawi atau nan lain sabagainyo, di siko anak batambah susah kalau tak ado ilmunyo kalau anak jadi saudagar jadi panolong kanagari mahampirkan barang nan jauh mamudahkan hidup anak buah kalau tak ado saudagar alang susah hidup kito, kito hendak kain baju atau makanan dan minuman kaduonyo jauh dari kito ado nan sampai manyubarang bakapal makonyo sampai sungguh baitu ado tandonyo saudagar nan manolong kalau ado labo sadikit barang lantas dijualnyo tidaknyo pandang gadang labo disano
mangicuah pantangannyo kalau barangnyo bar aib tapi tak dapat diketahui inyo suko manarangkan si pambali jangan terkicuh kalau si bodoh datang mambali atau urang sangat hendak haragonyo tidak dimahalkannyo kalau sampai tahun zakatnyo zakat segera dikaluarkan pantangnyo mambuek hilah saudagar kutuak laknat awaknyo nak hidup surang ambil untung sangat banyak labiah labiah kok urang bodoh nan tak tau diharago atau urang sangat handak hargo mambumbuang tinggi disano kicuah sangat murah pamuliakan barang yang hino aib barang inyo suruakkan jangan tampek sipambali sampai tahun tak bazakat banyak hilah dibaulnyo harato jadi ular gadang pamaluik lihia nan punyo nanti dipanggang dinarako anak den Muhammad Arif kok kayo dalam nagari ingek lah guno harato harato dibari Allah guno panutup ongkos diri kaum famili tanggungan kito anak dan bini ibu bapak kalau salabiah dari itu untuk panolong si miskin atau pambantu anak yatim nan tidak ado haratonyo atau sangsaro dalam kampuang paralu umum di nagari untuk masjid madrasah atau jambatan tampek //39// lalu bandar sawah polongan air atau nan lain sabagainyo asal baguno untuak umum kok datang urang pado anak nak batanggang dek miskin hendaklah bari sapatuiknyo kok patuik diparutangi parutangi karano Allah jangan mangambil untung pulo makan riba itu namonyo cukuplah untung di akhirat hasil kato den tarangkan urang kayo tarbagi ampat satu bahagiannyo nan elok nan tigo isi narako satu banamo kayo pamurah nan bak cando mandeh sabuikkan amuah marugi karano Allah harap ka dapek surga Naim nan kaduo kayo ceke kayo loba nak banyak buliah tidak mamandang halal haram bazakat indaknyo amuah banyak hilah nan disabuiknyo tapi urang tahu juo bak manyuruk di bawah lumbuang manunggkuih tulang jo daun talas apo hutang nan wajib wajib labiah labiah nan sunat sunat hatinyo sagan mambarikan datang miskin mintak sedekah atau batenggang nak barutang hatinyo patah dahulu disiko amuahnyo badusta mangatakan tidak ba uang tapi kok amuah mahinok i utang ampek babayar anam sapuluah jadi limo baleh awaknyo bagaluik galuik takuik ka ka lapeh ka nan lain sakurang kurang karajonyo kalau urang datang barutang basyarat juo handaknyo tolong ka sawah jo ka ladang atau nan lain sabagainyo
asal riba hatinyo sanang narako sajo tantangannyo kayo ceke nan buruak bana urang ceke ka dirinyo urang kayo pakaian buruak makanan bakurang kurang untuak urang nan tidak bana pakaian nan dipakainyo kain badawai diirup tidak baulang sakali lai sampai habis tak masuak air baawan ranging rupo bakilek makanannyo pulo den calikkan gulai rasan sambalah lahang bulunyo banyak lah mamutiah belum juo dihabiskan ka tabuang nan tidak bana kalau anaknyo nak mamakan atau mambarikan untuak kuciang sabab rasonyo lah barubah buliah ditukar jo nan lain mukonyo merah merah padam muluik kalua tak manantu untuk barisuak jo baiko awak balum ka mati lai hindakkan sajolah dahulu masukkan ka lamari lah ranging rumah sakarek indak takao maampia lai kok naik urang ka rumah awak nyo makan ditapati atau sadang minum air, air angek indak //40// basobok hati kurang tampak di muko. Lalu bakato ka urang naik rupo babaso pado zahir dilawannyo urang mupakaik kok makan kito baagak saketek sajo jadi urang manjawab hamba kanyang datuk sajolah katonyo hati nan kayo baru sanang dicalik pulo ka tampatnyo kasua sagudang bakambangkan nan sahinggo pinggang kaateh kainnyo berat dek panumbok itu salimuik patang pagi bajamua lai adang adang basasah nan tidak bana bantal bakilek kanai paluah harum kok buliah masuak air kalau malam kito lihat dama apinyo maijok ijok indak buliah lamo dipasang pukul tujuah kironyo hari inyolah tidur dama nyo padam karajo habis siang hari anak den Muhammad Arif iko kayo ceke pandir uangnyo baguno tidak hanyo nan dapek mancaliak sajo dunia lepas akhirat sansai badan mati harto tinggal manfaat tidak pado diri hanyo nan dapek sansaronyo masuak narako kamudian nan manggalak diri itu si kayo ditanyo urang pitih banyak nan banyak iko eloklah kini pagunokan jangan disimpan simpan juo kato nan kayo wahai buyuang harta den akan untuak tuo anak banci kamanakan berang siko paguno harto den tapi badannyo tuo rongkeh kaki nan duo lah jadi tigo bajalan barek ka hadapan setan apokah nan mandayo ? inna lillah mandeh sabuik. Katigo kayo mubazir uang kalua tak batantu banyak paguno ka nan haram main judi main koa apo nafsu dituruikkan babini lai umpamo tidak babaso juo mancari urang nan tak nikah bakawini padi
disisik jo ilalang pendek kato den tarangkan kalau haratonyo kakalua lai manurut hukum Allah kadapek manfaat untuk umum hatinyo sagan dahulu banyak hilah nan di muatnyo kalau nan bukan dibuat urang nan batagah dalam agamo atau tak guno di nagari awaknyo tibo dahulu urang baturun satu rupiah inyo saratuih mambarikan kayo mubazir iko namonyo badunsanak kanduang dengan syaitan masuak narako kasudahan. Kaampek kayo polisir, kayo karano ego namonyo harato untuak diri surang //41// balabiah labiahan rumah tangga atau pakakas isi rumah kain baju jan disabuik minum makan nan labiah bana korong jo kampong jatuh miskin urang nagari banyak tak makan saketak tidak amuah manolong karajo umum dalam nagari balai masjid sidang patang bandar sawah polongan air belum pernah inyo berwakaf anjingnyo nan kadang kadang sampai duo tigo ampek tak kurang makan goreng ayam rumahnyo batahun tahun balun pernah bakanduri mambaco Qur’an jo tahlil patutlah setan diam sinan pakaiaan rumah tingganyo labih labiah pakaian diri banyak bana nan batagah cincin emas loji emas buah bajupun emas pula sampai sendok jo garapu banyak perak den lihat kan main main diateh meja dari perak tampak di den anak den Muhammad Arif kaji bapak ang den dangakan urang polisir macam iko narako juo katampeknyo sakali jangan anak tiru bakato Muhammad Arif nasihat mandeh kanduang hamba dipacik dibuhua mati indak kahilang salamonyo alah kasanang hati mandeh.
Nasihat untuk jadi panghulu
Bakato Siti Budiman anak den Muhammad Arif malang jo mujua tak bacari nan banyawo biaso mati tiok bapucuak biaso layua sakit jo mati den tarangkan titian batu di nagari jalan raya dek urang banyak indak kadapek di ilakkan kok sampai lingkaran mati ka mamak ang nan hidup kini nan bagala datuak Rajo Adil malang tidak buliah kito tulak mujua tidak dapek kito raih manurut papatah Minangkabau manjadi pantun dinan mudo
Ramo ramo sikumbang jati Khatib andah pulang bakudo Patah tumbuah hilang baganti
Pusako disinan juo
Sabagian lagi anak kanduang nak duo pantun sariring nan biaso disabuik urang //42//
Biri biri tabang ka sasak disasak katangah halaman dari ninik turun ka mamak dari mamak kakamanakan
kok sapakaik urang sapayuang nak malatakkan baju nantun ka tubuah anak sandiri tantu tak buliah dihilakkan dibanam kok tidak buliah dilipek nan tidak bana digantung tidak andangnyo dalam payuang tidak salisih uarang sepakat kasamuanyo tantu dipakai baju nan tun paralu anak jadi panghulu pangurus di nagari labiah labiah di suku kito di alam bodi caniago dangalah pantu Minangkabau
rami pakan disari lamak panjual sanduk jo baliung di baliak urang jual pantau kamanakan kok tak bamamak bak biduak indak bapandayuang akhirnyo hanyuik karantau
Anak kok jadi panghulu kaji dulu rukun syaratnyo nan marusakkan panghulu anak kaji dahulu jaleh jaleh nak samparono panghulu anak jangan bak sabuah undang-undang alun tantu jadi panghulu kasudahannyo sabalum kaji den panjangkan danga dahulu sungguh sungguh nak den taunjuak den ajakan asa panghulu dahulunyo maso junjungan kito hidup nabi Muhammad panghulu alam karajo balum babahagian urusan balum bilah hanyo tasarah bulek bulek kapado junjungan Nabi kito rajo dan panghulu pangkek Nabi mamarintah di dalam alam alim ulama baliau pulo bakato patang jo pagi halal jo haram sah jo batal pendek kato den tarangkan rajo tidak panghulu tidak alim ulam imam khatib mufti di dalam alam tidak ado kasamuanyo hanyo dipikul Nabi surang apo sabab nan bak kini ilmu Nabi sangat luas
dado lapang utak waras pandangan terlalu lanjut pengetahuan sanagat dalamnyo satahun baraso kamahal cupak lah sudah dipapeknyo apo kajadi kamudian labiah dahulu //43// baliau tahu apo sabab mako baitu baliau sikola tinggi tidak baguru ka manusia hanyo gurunyo tuhan Alalh jibrail nan manyampaikan waktu nabi junjuangan kito dapek hundian katiko itu karajo tarsarah bulek bulek Abu Bakar nan mamikulnyo maninggal pulo Abu Bakar Sayyidina Umar jadi rajo salamaik alam di tangannyo waktu Umar khalifah duo Sayyidina Usman manggantikan sudah itu Sayyidina Ali Husain sabantar panghabisan habislah maso bakhalifah lapeh tahun tigo puluah manusia tidak nan pintar cando khalifah nan barampek karajo babahagi inyo lai kakuasaan Nabi Muhammad pandai mamarintah dalam alam turun kapado ninik mamak rajo rajo dan panghulu kaaliman junjungan kito tahu di nan halal dengan haram tahu di sah dengan batal turun kapado imam khatib alim ulama dalam nagari mufti kito nan ado kini menurut pandapek mandeh kanduang iko nan pinang dibalah duo maso khalifah sudah habis maso barajo kini lahia disiko ado kato nabi dua golongan umat aku kalau kaduonyo ado baik atau hidupnya ado damai isi nagari tantu salamat duo golongan kalau rusak hidupnyo tidak badamai hanyo salisiah tidak sapakat alamat nagari akan rusak anak buah tidak ka maju nan duo golongan mandeh sabut satu rajo jo panghulu pandayuang dalam nagari malayarkan kamano maksud kaduo alim jo ulamo tukang kamudi di balakang mampaluruih jalan parahu jangan maleset kiri kanan nagari ado umpamonyo danga di anak jalas jalas tak ubah dengan parahu akan balayar kasubarang dimuko duduk juru batu akan mandayuang malayarkan kamano maksud nan dituju di balakang duduk juru mudi mampalurus jalan perahu jangan maleset kiri kanan di tangah banyaknyo sipanumpang nasibnyo manyarah sajo karam jo sasek tak ditangguang hanyo tangguangan nan baduo juru batu dan juru mudi kalau kaduonyo ado damai lai sapakat patang pagi bakarajo lai pandai palayaran sampai ka subarang tidaklah kurang satu apo sipanumpang banyak syukur banyak doa kapado Allah tarimo kasih di ucapkan kapado tuan juru batu bagitu tuan juru //44// mudi, tapi baliknyo mandeh sabuik nan baduo tidak badamai salisiah sajo karajonyo
atau karajo tidak pandai alamat parahu ka tanggalam si panumpang bacarai barai manurut nasib surang surang ka subarang nyato tak sampai anak kandung sibiran tulang nagari nan luas iko manusia banyak di atehnyo disarahkan Tuhan bulek bulek kapado rajo jo panghulu ka mandayuang malayarkan kamano maksud nan dituju di balakang alim ulama imam khatib jo mufti mampalurus jalan kamajuan jangan maleset ka nan salah larangan Allah jo Nabi nan ka mambao masuk narako kalau kaduonyo lai damai alah sepakat bakarajo kaduonyo pulo lai pandai alamat nagari akan damai, apo maksud tantu sampai nagari aman dan makmur. Pado manjadi jaguang maupiah antimun mangarang bungo malayang curi tidak katumbuah sabung judi nan tidak bana anak buah tarimo kasih banyak sukur banyak doa kapado Allah Tuhan kito panjanglah umur mamk kami rajaki murah atas nan halal baitu pulo alim ulam nan salalu manarangi mampaluruih jalan kamajuan baliak nyo pulo mandeh sabuik kalau kaduonyo tidak damai salisih sajo apo karajo atau karajo tidak pandai alamat nagari akan rusak tidak kadapek aman makmur maliang manjadi pancuri banyak main judi nan banyak bana kamjuan tiadak kamungkin antah kok mundur kabalakang anak nagari atau rakyat salalu barusuh hati mandoa kapado Allah pendeklah umur mamak kami nan tidak pandai karajonhanyo mangusuik dalam kampung baitu pulo ulama kami nan tak mangambang alimunyo bafatwa sakali tiadak ulama bisu tu mah garan pendek kato mandeh katakan panghulu di Minangkabau atau rajo dalam alam kamanyuruh babuek baik managah barbuat jahat kamaurus keselamatan alim ulama kita sebut suluah bandang di nagari caminan taruih dalam suku kamambari panarangan disiko ado papatahnyo jadi pantun di Minangkabau //45//
Anak balam jatuah barambau basurik urang di pantai Riuh lah urang kasamuonyo kakuatan alam Minangkabau sarak mangato adapt mamakai samo bajalan kaduonyo.
Sabagi lagi anak kandung nak duo pantun bariring Simuncak jatuh tarambau luko badannyo kanai lambiang Tapancar darah dipahonyo Adat jo sarak diMinangkabau Umpamo aur jo tabiang #Sandar manyandar kaduonyo
Anak den Muhammad Arif kok sampai anak jadi panghulu kok bajalan batungkek budi kok duduk pegang naraca arti tujuan kato tuntun banyakkan jaso kanagari kok mahukum adil adil tiok di paruik jan di kempeskan tiok dimato jan dikicingkan lihek de anak mato keris kisaran panghulu Minangkabau matonyo tajam kaduonyo bukan samacam mato sakin sabalah sajo nan tajam itu pakaian muntia muntia bukan pakaian ninik mamak sabagai lagi den katokan anak jangan putiah santan jangan pulo kuning de kunik kato nan benar jangan ditukar waktu urang parkaro datang manjalang anak kanduang langkapi jo bungkus jo unjuiknyo kabajalan bajawek tangan sakali jan ditarimo harato rusuah tu namonyo, fatwa dari bapak ang masuk narako kemudiannyo sabagai lagi den katokan kalau anak jadi panghulu, banyakkan jago dari lalok banyakkan susah dari sanang maurus kasalamatan anak buah tantang dunia agamonyo baitu pulo penghidupan ka sawah ladang bandar polongan danga dek anak pantun siko.
Tarkilek oto dek pajak Tando Balando pulang baris Bari barkilek mato tajak Nak bakilek mato keris
Dangakan sabuah lai nak duo pantun sairing pantun papatah Minangkabau //46//
Bamalam oto di pajak Datang nan dari lubuak sikaping Tajam tajamkan mato tajak Nak rancak lakek sisampiang
Anak den danga pitaruh tanah kito di Minangkabau bumi lueh tanahnyo subur apo ditanam apo tumbuah pulau ameh disabuik urang rimbo banyak kayunyo banyak batu dan kasiak baitu pulo indak patuik kito tingggalkan nan miskin tinggal di siko nan panyagan bakarajo suko bamain patang pagi nan banyak mandeh caliak sabagai lagi anak kandung panghulu di Minangkabau katonyo didangar urang pangajar dituruik rakyat baok rakyat kana baik kamankan handak majukan nagari hendak baiki balai masjid labuah tapian surau surau tampek mangaji atau nan lain sabagainyo ingek papatah Minangkabau sabagai pantun di nan mudo.
Babelok pai baburu Bahujan di kandang kudo Elok nagari dek panghulu Elok tapian de nan mudo
Tapi syaratnyo anak kanduang damai panghulu jo tuanku anak buah manurut sajo kamano didayuang juru batu dipalurus oleh juru mudi tapi kalau tidak damai kamajuan tidak ka dapek aman makmur indak basuo nan bak mandeh sabuik juo danga dek anak pantun siko papatah ninik mamak jo moyang.
Dimano wali nan keramat Batampaik di hulu sungai Dimano nagari ka selamat Panghulu Tuanku tidak damai Dimano kini kadai baju Di baliak urang jua jimat Dimano nagari akan maju Panghulu Tuanku bakhusumat Hendak sangkutkan sabingka balam Jangan rubuah jatuah tatimpo Patut biduak tertenggalam Nahkodo mamacah tambo
Sabagi lagi anak kanduang syarat syarat panghulu den katokan tigo //47// balas parkaro pertamo urang berakal kaduo bailmu pengatahuan dalam pangajian hukum mahukum dakwa dan jawab saksi bitah katigo barani karano bana kaampek pandai mamarintah kalimo urang pamurah kaanam sabar patang pagi katujuh ingek lagi jago kasalapan bamuluik manih lunak lambut dalam barkato kasambilan lurus pamandangan tibo diparuik tak dikampiskan tibo dimato tak dipicingkan kasapuluh jan banyak garah kasabaleh jangan pandusta kaduo belas berhati kasiah katigo belas budi baik kalau tapakai sifat nantun sah panghulunyo dunia akhirat tapi kok kurang sifat nantun tiado sah panghulunyo adang adang jadi panghulunyo atau pangaleh dan pangali adang pangelok dan pangalang atau pangalah dan pangaluh ado pangalik dan pangali ado pangulung dan pangiling. anak kanduang Muhammad Arif satu satunyo den tarangkan danga dek anak jaleh jaleh arti panghulu den katokan pangka dan hulu dalam nagari ka mambao nagari kito arah ka padang kamajuan ka manyuruh babuek baik ka managah babuek jahek nan bak mandeh sabut sabut juo arti panghuluan anak kanduang urang panghisap darah urang paambil harato kamanakan harato pusako nan dipegang di tangannyo habis dijual digadaikan barang amanah ditangannyo pitaruah anak kamanakan mandabih dalam parkaro pantang kambali ka nan punyo kalau salisih dalam kampuang anak buahnyo parkaro hatinyo sanang mandangarkan kalau dijalang malam hari urang nan dalam parkaro mambawo unjuik jo bungkusan bajabat tangan jolong basuo hatinyo gadang bukan main sia nan banyak mangalang roda biarnyo salah manang juo anak den Muhammad Arif laku parangai nan baa kini sakali jangan anak pakai apo karajo dalam kampuang di rumah tibo dahulu di darat pantang basuo arti pangaliah pulo anak urang culiah lakunyo bengkok manampak padang awak nyo lari nampak lamang awak nyo duduak karajo bapantang sudah parkaro baik balipek //48// putuih talatak biasonyo hilah banyak ruokpun banyak tiok hari mambilang susah tapi sumangek kaciak sajo.
Arti pangali den tarangkan anak paham batua batua urang pamalas bakarajo satu tidak nan manyampik haram sabuah nan manyusah lah di singok api mamakan tidurnyo takali juo
salimuiknyo balum tabukak anak kamanakan lah miskin lah banyak pai marantau namun hatinyo sanang juo banyak kajahatan dalam kampuang (s-y-r) bakar maling curi tikam bunuah samun saka hatinyo tidak barubah asal tidurnyo lai sanang kok laloknyo lai dalam.
Arti pangelok anak denai urang pangicuh dan pandusto bajalan tak amuah lurus bakato tak amuah bana pangguntiang dalam lipatan minum air dalam manyalam apo nan tumbuah dalam kampuang atau karajo dalam nagari awak nyo lah main akal nak mamiuah nak mamilin ini tidak maksudnyo paisi saku sajo.
Arti pangalang anak kanduang pahalangi karajo baik apo karajo dalam kampuang ataupun dalam nagari kito sangajo anak kamanakan balum buliah dilakukan tapi didabiah ayam sa ikua dipanggil baliau makan apo karjo nan takana lah buliah kito lakukan tidak dipandang buruak jo baik.
Arti pangalih pulo anak pandakwa anak kamanakan manahan jariah di pantau malukah dalam balango asa sakunyo ka barisi siapo sajo didakwanyo habis bulan baganti bulan habis tahun baganti tahun balum panah jadi hakim hanyo mabuk mandakwa sajo nan basasa karajonyo diasah ruduih tajam tajam batang pisang nan di pakuaknyo.
Arti pangaluah danga pulo nak den tarangkan jaleh jaleh urang paransua parusuah hati tiok duduk tiok maharang tiok tagak tiok mahala apo karajo tidak nan lalu mabuak dek angan angan sajo cito randah kamauan kurang apo karajo ka dibuek ka di muko hati nyo sagan ka di balakang awaknyo maleh.//49//
Nan pangaliek mandeh terangkan dengarkan dek anak jelas-jelas. Urang panakut ka dihulu apo karajo dalam kampung labih-labih dalam nagari. Awaknyo mangiringi sajo baik mufakat di atas balai atau pun rapat di tangah medan. Sedikit tidak bapandangan hanyo manurut-nurut sajo. Tigo kato kapadonyo Angku Datuk nan disuduh tantangan rundingan nan ka tangah, keputusan kami mintak paluahnyo tabik dahulu jawabnyo kamari pai keputusan manyarah sajo. Kalau tumbuh barapat didanga, komandor
kedatangan rapat. Pukul salapan dalam perintah, pukul lima awaknyo jago manyuruh batanak maangekkan kopi satangah anam kironyo hari, minum sudah makan lah sudah pakaian cukup dilakekkan, awaknyo bajalan lai itun ka balai tampek rapek seorang pun belum ado sanan sedangkan upik belum jago. Pukul delapan kironyo hari lah rapat urang di balai tuan komandor alah lah datang awaknyo manyuruk-nyuruk di belakang urang sajo adang-adang sarupo gogong gilo manyahut muko sajo awaknyo takut ka kanai sambah indak ka pai takut bana.
Arti pangali kito sabuik pahamkan anak betul-betul urang jahat lagi pandengki apo karajo dalam kampung, lebih-lebih dalam nagari. Hatinyo dengki dahulu titian dahulu diragaknyo lubang lah sudah inyo gali karajo baik jan manjadi adang adang takdir Tuhan titian sudah diragaknyo awaknyo pulo nan manitih, baitu lubang nan dikali awaknyo masuk dahulu anak den Muhammad Arif.
Arti pangaluk den tarangkan ialah urang mati hati kalau duduk dalam jamuan, lebih-lebih dalam rapat matonyo takantuk sajo kepalonyo acok tatungkur sarupo ayam kanai lakok apo keputusan dalam rapat ciek tidak nan takana kamano kan datang batanyo apo mufakat urang di balai jawabnyo indak takana atau indak kadangaran awak den jauh di sudut mato den terakuk-akuk.
Arti pangulang den katokan danga di anak jelas-jelas penghulu nan rancak jolong //50// sudah beralat potong kabau. Bajulah sudah di kanakkan bukan main elok baliau rundiang elok karajo elok urusan nan lebih bana kamano kan di bawok payuang lantas mamuji kasemuanyo sampailah kiro dua tahun berangsur hilang cahayonyo, bak bulan hampir ka habis sampai malam tigo puluh sedikit tidak kelihatan bak timbago basapuh perak. Mulo-mulo ruponyo putih banyak urang nan tadayo sebentar sajo kito pakai mukonyo berangsur merah dari sahari ka sahari, dari sapakan ka sapakan ruponyo nan putih hampir habis akhirnyo merah kasemuanyo. Disiko jelas palsunyo cincin parogol basapuh perak isi tambago sebetulnya.
Arti pangilang pulo anak jelas-jelas mandangakan panghulu gadang suaro kicik gadang berbatu gadang tetapi tidak dapat dipahamkan kalau tumbuh berapat-rapat atau pun alat jamu kicik
sajo kedengaran tapi tak tentu ujung pangkanyo. Dimano dapat dipahamkan anak den Muhammad Arif tantang kaji nan tasabuik nan basangkuik jo panghulu. Alah jadi itu dahulu kok den curi den papakan indak kahabis dua hari. Kok lupa anak dek banyak kito sudahi itu dahulu.
Nasehat Kepada Muhammad Arif Kalau Akan Berkawin
Anak den Muhammad Arif nan qawi di adat kito nan lazim dalam syariat kok laki-laki iyo babini nan perempuan dipalakikan. Anak kok dijapuik urang sumando ka kampung lain sapakat ninik jo mamak, lah sakato ibu jo bapak. Lihat dahulu perempuan kalau padusi tak bamalu tidak manaruh budi baik walaupun rupo bulan panuh indak ba fi’il batertib indak manaruh sopan santun janganlah anak amuh sajo mambawo cacat jo binasa hino kito kasudahan asal padusi baik budi lahir batinnyo bak jari manaruh malu dengan sopan jangan dipandang rancak rupo syaitan iblis tu nan punyo disiko ado pantun nan tuo pakaian anak mudo-mudo //51//
Babelok babilin-bilin Dicapo tumbuhlah padi Rupo elok kami tak ingin Elok baso kami cari
Sebagai pulo anak kandung kok sampai ka kampung urang pakaikan alur jo patut kok mangecek di bawah-bawah kok manyauk di hilir-hilir. Nyato awak di kampung urang kok nan tuo di kampung nantun patut dijalang dan diturut atau disapo di tangah jalan baitu nan mudo-mudo. Patut ditegur dengan rokok atau disapo dengan sirih. Jangan anak magadang-gadang kalau anak lalu di jalan urang banyak duduk barangguk janganlah anak lalu sajo, manyapo anak saketek, ka rumah angku indak ka samo duduk siko kalau seiring jo nan tuo di belakang anak bajalan kalau anak hendak dahulu minta maaf baik-baik. Hamba bagulut ka rumah inyik dahulu hamba saketek kalau lalu urang di labuah bahampiran jo rumah anak baolah singgah ka rumah sekalipun urang tak amuah baso basi itu namonyo kalau kito di kampuang
urang sekalipun bermando sangkalah diri urang dagang jangan kita bertinggi di kampung orang jangan baqorib jo bini sajo. Kaum famili di atas rumah baik tuo atau mudo jalan mamak atau kakak mantu ipar dan besan itulah karib kasemuanyo jangan sebagai nan den calik. Bakarib jo bini saurang apo barang dibali dimakan baduo sajo pantangan mamberi urang anak den Muhammad Arif, jikalau sudah anak nikah masuk ka korong kampung urang naik ka atas rumah tangga lah duduk di kasur gadang, peganglah bungkal jo naraco ganggam taraju jo katin tahadap kapado karib kok basalisih bini awak jo dunsanak saudaronyo atau jo ibu jo bapaknyo, bacaran samo sarumah kawani jo kebenaran berangi bana bini awak sambil manunjuk maajari usah bak laku urang kini. Kalau salisih padusinyo dicari akal nan buruk dibuat asung //52// jo fitnah. Diasung-asung bini awak suruh malawan ibu bapak atau kapada dunsanaknya lebih-lebih kepada mamak, mamacah urang sarumah, mambatas urang sakampung jilatang miang tu namonyo sebagian pula anak kandung kalau kito jadi sumando kalau tidak akan menambah jangan dicita mengurangi kok tidak kito baharato usaha malah dipabanyak usaha kok tidak pulo tolonglah urang jo bacaro banyakkan budi nan baguno lebih beribu harganya, kok tidak nan sado itu elok anak tatapan sajo. Badagang disurau tinggal usah babini salamonyo. Kok jadi buah tutur urang di akhirat barutang pulo. Maka baitu kato mandeh kato fatwa ninik kito banyak bahaginyo di sumando satu sumando kacang miang dua sumado langau hijau tiga sumando kutu dapur empat sumando lapik buruk lima sumando bapak paja, enam sumando ninik mamak. Anak kandung dangakan bana. Mandeh tarangkan satu-satu.
Arti sumando kacang miang nan mangusut barang selesai nan manggaduh korong jo kampung bumi sempat alam tak suni urang sarumah dipacahnyo lebih sebagai upeh racun.
Arti sumando langau hijau emas tersirok dinan kalam intan tercecer sedang bedo ulat tinggal acu lah tabang langau tak marungiang lahi arti tujuan kato nantun bini hamil awaknyo talak sampai baranak tidak dilihat.
Arti sumando kutu dapur tidak bajalan hilir mudik korong kampung tak tatampuh karib karabat tak dilihat ibu bapak tidak peduli hanyo tetap di rumah bini amuh ka rimbo bakayu api amuh manumbuk jo batanak mambalah kayu manggiling lado manjaput air adang adang lah samak jalan ka pasar lah buto jalan ka nan rami lah elok langkah ka dapur asal bininyo kian kamari tiap pakan dicaliknyo. Biarlah inyo susah payah nak manjadi kutu dapur urang-urang mangasuh anak matilah iman matilah tungau dunialah cukup sado itu.
Arti sumando lapik buruk itulah urang kalungkahan manjadi hijuk //53// panamba sajo patang pagi dikicuh bini awak kasih bini mangandung bini kok dapat malu besar awak ka jadi alas sajo.
Arti sumando bapak paja urang sebagai kumbang jantan datang rancak painyo rancak datang sanjo painyo pagi apo tidak nan diharap pandai manggoreng indak jo minyak tahu manggulai indak jo santan muluik manis batutur pandai apo keceknyo bak raso air. Bininyo kacang diruok sajo tiok hari raso ka buliah sakali tidak nan sampai.
Arti sumando ninik mamak ialah bumi langit kito ka ganti cincin jo kalung payuang panji tempat balinduang jadi satu jo sadingin tempat mengadukan apa apa kalau terpanjang dikareknyo kok singkek dapat diulasnyo laut budi bacaro dalam paham elok rundingan lamak, anak tiri jo anak kandung tidak basuo kaduanyo urang sarumah dan sapayung sama mandapat paidahnyo salamat dunia akhirat lahir batin tak basinggung.
Anak kandung dangakan malah lah banyak urang den dangakan pai bini tak baguru masuk sumando tak batanyo, membuat laku nan tak elok tertib nan tidak patut sadang manyalam minum air. Manggunting dalam lipatan akhir kalakunyo kama den tagadai mandeh kandungnyo. Tajual sawah jo ladangnyo. Pambayar utang dapat malu, sungguhpun utang lah tabayar badan dalam kancing baju. Sebagian pula anak kandung kok barunding jo mantu baik jo bini awak bana sungguh-sungguh anak barunding bana-bana anak bakato bari basantan batangguli lamak manis didengar urang sampai tangah tiga hari di talingo
urang jua. Tidak baranjak dari bibir jangan bak urang nan den danga, kalau mangecek jo mantu ipar bisan jo ninik mamak seketek tidak babaso baso hiruk pikuk kedengaran adang sampai babangisan adat tidak limbago tidak disyarak jauh sakali sebagai laki den katokan nan fatwa dari Bapak ang, kalau perempuan ada taat wajib nafkah balanjonyo. Kain baju minyak //54// rambut segala pakakas pingan cawan sampai ka pangur pariuk sendok dan kasur kain selimut wajib semuanyo atas suami pendeknyo sajo den katokan segala pakakas rukun hidup utang suami tu semuanya kalau perempuan ada taat kok sampai pula baranak bertambah pula utang kito berikan cukup kasemuanya sampai umurnya tujuh hari utang mandabiah akikahnyo ba piutang rambut dinamai sampai umurnyo tujuh tahun suruh sembahyang dan mangaji siang masukkan kasikola kalau lah pandai tulis baca tahu berhitung sadang elok lah dapat surat tamat balajar masukkan pulo sudah itu kasikola banyak kini sikola agama danga namanyo jangan diberikan saliluik nak tahu hidup batuhan apo nan utang di kito budak terhadap kepada tuhan baitu sesama kito ada kewajiban masing-masing dalam agama baru dapat jangan bak cando nan den calik barabut-rabut bini bakejar-kejar baranak tapi sarupo jo binatang tak ma acuhkan apo-apo untung bini tinggal di bini untung anak tinggal di anak, anak jangan samacam itu kini dakwa di akhirat kini tunggu di mahsyar masuk narako kasudahan. Anak den Muhammad Arif tantang ilmu pai babini segitulah dahulu kamudian mandeh tambah kalau umur ado panjang. Bakato Muhammad Arif pangajar mandeh kandung hamba dipacik harek-harek diganggam taguh-taguh tak kalua sampai mati insya allah anak ucapkan.
Nasehat Kepado Siti Arifah Tantang Adab Basuami
Bakato Siti Budiman anak den Siti Arifah kamari-marilah kau duduk nak den sabut nan takana adat kito di Minangkabau kalau padusi lah berumur salapan belas tahun arab kok tidak basuami lah aib bana di urang lah malu bana di nan banyak ibu bapak jo ninik mamak indak tacaliak urang lai anak lah hampir salapan belas indak lamo lai basuami mari den ajar anak dahulu
ilmu adab basuami nan den tarimo dari mamak kau. Pangajar bapak anak kandung urang //55// nan patut ditarimo lai babudi bacaro lai basopan batertib jangan dipandang banyak uang lagak dan tampan jangan bana kalau lah dapat nan baitu sarahkan untung bulat-bulat jangan anak manduo hati sangko lah inyo bapak kandung tumpangan dari dunia akhirat. Kalau anak ka bajalan kaluar rumah maksud anak mintak izin lebih dahulu kalau suami baru pulang sonsong ka pintu mus}a>fah}ah. Jawek salam cium tangannyo kalau nyo duduk anak datang apo tercinta di hatinyo anak segera mambayarkan kalau barunding jo suami jangan mangareh jo mangasar rundiang manyakek sakali jangan hanyo rundiang nan lamak manis nan manyuko hati suami minum makannyo sediakan kain baju hendak disuci tempat tidur kasur dan bantal kain selimut dan sebagainyo suci bersih harum-harum jangan diberi kotor busuk iko pakasih nan lebih kuat, tapi pakasih maso kini banyak ramuan nan dicari banyak nan kotor masuk di dalam sampai diberikan ka suami sampai tamakan laki sakit adang-adang mamuntahkan darah indak lamo sudah itu suami mati, inyo lahi adang-adang hidup marano badan pucat bulu maramang daging habis badanlah kurus itu nan banyak maso kini sebagian pulo anak kandung kalo kawan nan mudo kini sakali jangan anak tiru ka suami banyak malawan tidak hormat patang pagi rundiang kasar atau tajam hati suami banyak sakit tentu narako ka mamakan. Sebagai lagi pitaruh den kalau bakahendak ka suami kain baju subang jo kalung atau nan lain sebagainyo jangan nan mahal dikehendakkan nan tak tabali di suami lebih elok diserahkan apo dibalinyo pakai sajo. Kalau suami urang baik tentu nan elok dibalinyo sebagai pulo anak den, suami kok lambat pulang atau tidak pulang, amaik anak jangan manaruh marah kenal kok banyak sangsaronyo} limbago urang laki-laki banyak jalan banyak karajo adang-adang bajalan jauh ado nan sampai bilangan hari mananti hasil apo maksud jangan bak cando mudo kini suami kok tidak pulang sampai dicari ka barang tampek. //56// Ado nan sampai bakalahi bahelo baenjoan-enjoan. Adang-adang mintak talak di hadapan urang rami di muko urang nan banyak suami lah dapek malu. Malu bacampur dengan marah,
talak tigo dijatuhkan buni pepatah Minangkabau manjadi pantun di nan mudo:
Limau manih patah tabuang Salasih anak rang kurai Habis manis sampah tabuang Kasih habis badan bacarai Lah sabulan sudah bacarai takana untung nan lah malang bapak si buyung lah talak tigo putus tak mungkin diulas lai diramas paruik dikaluahkan tak dapek tampek mangadu suami urang japutan lah empat pulo bininyo. Kok amuah bana bacindur ka kambali indak juo. Putih lah mato mamandangi anak jangan sarupo itu. Sebagai pulo anak kandung lah adat di Minangkabau disarak lah nyato buliah nan lamak samo dimakan nan elok samo dipakai suami anak kok dijapuik urang sumando ka kampung lain alhamdulillah anak sabuik. Tando suami urang baik lepaslah jo muluik manis hati suci muko janiah. Gadang nikmat untuk anak awak surang jadi baduo karajo barek lah jadi ringan {sambayan} ambil ka dunsanak sangkolah awak satu bapak jangan batingkah bakalahi usah badandam bakusumat haram sapanjang kitab Allah larangan junjungan kito pantangan datuk nan baduo jangan bak laku mudo kini malah {basuo jo pambaian }tidak bahati elok lai. Rundiang basindir bakiasan caliak mahadu suduik mato sampai bacakak bagarumaih hingga bakoyak kain baju, bak anjing beribu tolong kalau dikenang-kenang bana patut malu kito di sinan. Kok banyak urang nan malihat berapo bisa dengan desus lama sebentar sudah itu di mano-mano tempat rami atau di simpang-simpang labuah lain tak bukan kecek urang hanyo si anu nan bacakak bakalahi jo {pambaian suami madapek kabar bukan main marah hatinyo dek malu marah mendatang dek bangih kasih kok habis pasak nan harek manjadi goyah bak pepatah urang siko hadis melayu Minangkabau //57//:
Limau manis tumbuh dirawang Salasih anak rang kurai Habis manis sampah tabuang Habis kasih badan bacarai
Dangakan bana tu nak kandung kok saiyo bapambaian lai manurut kitab Allah lai mandanga pengajaran. Kok sairing di tangah labuah atau basamo-samo duduk baikpun dalam alat jamu atau di rumah ipar jo bisan saukur saiyo sajo. Hilang sukonyo hati suami pasak nan goyah manjadi harek puji pun dapek di urang banyak anak masyhur tepelajar ibu bapak mandapek tuah sampailah garan tigo bulan anak di muluik urang juo. Anak den Siti Arifah banyak pangajian basuami kok den rentang panjang-panjang indak kahabis duo malam kini baitulah di anak danga sajo ka simpanan bak pepatah Minangkabau hadis melayu pantun tuo.
Urang padang mahani banang Dikumpul mula dilipek Dilipat-lipat patigo Indak elok direntang panjang Elok dikampa nai nyo singkek Diambil sakiro ka paguno
Anak den Siti Arifah danga ka simpanan kato mandeh arti tujuan kato nantun bak buni hadis melayu:
Kok nan merah iyo sago Kok nan kuriak iyo kundi Kok nan indah iyo baso Kok nan baik iyo budi
Babelok babilin-bilin Di capo tumbuhlah padi Roman elok urang tak ingin Elok baso urang cari
Anak den Siti Arifah alah jadi itu dahulu kok lai panjang umur den tambah pulo pangajian. Bakato Siti Arifah pangajaran mandeh kandung den anak pacik harek-harek anak ganggam taguh-taguh. Siang hari manjadi tungkek malam ka jadi bantal guling alah ka sanang hati mandeh.//58//
Pambahagian Manusia Untuk Panutup
Bakato Siti Budiman anak kandung Muhammad Arif nan bungsu Siti Arifah kalian kamari malah duduk bayang kacabik genteng kaputus sabung malepas hari patang si bungsu indak baradiak lai umur den kok tidak panjang pengajar indak batambah anak den dangakan malah manis banyak bahagianyo danga de anak jelas-jelas jangan takicuh di nan tarang usah tajatuh di nan datar panghulu tujuh danga bahaginyo, satu panghulu kayo gadang tumbuhnyo di tangah kota, duo panghulu nan di tanjung, tigo panghulu ayam gadang, empat panghulu buluh bambu, lima panghulu katik-katik, enam panghulu topi tuo, tujuh panghulu pisak sarawal.
Arti panghulu kayo gadang itu panghulu sebenarnyo kayo gadang di tangah kota artinyo tempat berselo batangnyo tempat bersandar dahannyo tempat bergantung daunnyo tempat berteduh apabilo kito kehujanan tempat balindung kepanasan buahnyo makanan rangit bunga pamenan dagang nan lalu.
Arti panghulu nan di tanjung panghulu sifat panurut pantun sapongang dalam ngalau atau pun dalam gua-gua. Baik di runggu- runggu tabing kito maharik inyo maharik kito mahimbau nyo manyahuik kalau dilihat inyo tak ado. Inyo babuni dibuni urang itu panghulu sifat dusta diraih untuk lalu tak ado bapaham dipaham urang elok dicaliak-caliak sajo.
Arti panghulu ayam gadang berkotek hilir jo mudik berkokok kiri jo kanan mambilang tuah kemegahan apo kebaikan di nagari inyo balaku nan pokoknyo walaupun urang nan pangkanyo dilampok sajo jo kecek lamak itulah sifat ayam gadang bakotek tidak bertelur gadang bungkus tak berisi.
Arti panghulu buluh bambu batarih tampak di luar tapi di dalam lapang sajo tidak barisi apo-apo tampan elok pikiran kurang tagak rancak akal tak ado ilmu jauh sekali. Apo tidak nan ditaruh agama nan tidak bana. //59//
Arti panghulu katik-katik ialah tontong urang dalang kalau diguguh inyo babuni kalau tak urang nan mahambu tidak tadangar suaranyo, kabarunding indak pandai kamangecek indak tahu manjadi dek amuah berat bibir.
Arti panghulu topi tuo elok nan tidak mangaluar, gadang indak mangatangah dibawa manyuruk sajo bak karabang talua itik elok tabuang sajo tercampak ka balik dapur tidak diharap naik lai. Baitu sifat topi tuo indak tatampuh ujung dahan dima di bawah tapis sajo alat jamu indak di turuik balai rami indak dijalang gilo manyuruk-nyuruk sajo bakiblat ka rumput mudo barabitah ka jawi gapuk.
Arti panghulu pisak sarawal itu panghulu nan jahannam hino bingas randah pangkatnyo hati mahiang pahamnyo busuk budi hanyir pikiran haring panjang akal nak malilit panjang bacaro nak mangabek cadik nak mangani sajo. Muluik manis bak tangguli tutur lamak bagai santan bak mamakan pisang masak elok tipu manis umbuknyo tukang piyuh tukang pilin pangicuh urang dalam nagari panipu korong jo kampung panjual anak kamanakan bapitih di saku saurang indak mancari emas halal itu panghulu nan jahannam banamo pisak sarawal.
Anak den Muhammad Arif alim ulama den tarangkan tujuh pulo danga bahagiannyo, satu ulama matahari, dua ulama sumbu lampu, tigo ulama nan pamacah, empat ulama banyak lincah, lima ulama bagai kancah, enam ulama ruok sabun, tujuh ulama nan panggawah, anak kandung danga kan bana.
Arti ulama matahari suluh bendang di nagari cermin terus dalam suku kok hidup bakeh batanyo. Kok mati tempat bakawal itu ulama sebenarnyo.
Arti ulama sumbu lampu ulama banyak bapatwa tapi untuk urang sajo sakali tidak diamalkan urang banyak dapat faidah badan sendiri nan dibakar sebab tidak ado mangamalkan.//60//
Arti ulama nan pamacah nan baik dimaso kini fatwanyo baiak nan ganjil keceknyo baik nan baru pamacah urang sakampung pancarai anak jo bapak pamutus silaturrahim pahasung malawan guru, danga nagari nan lah kusut sebab marampas karajo urang naik mimbari jadi khatib indak siapo nan manyuruh sedang awak belum khatib sampai manyusah pemerintah.
Arti ulama palincah iyo ulama nan pamacah ia ulama nan pajalan tiap pasir dijalangnyo tiap pakan diturutinyo habis nagari ditampuhnyo. Satu tidak nan dituruti hanyo samato lincah sajo diama di situ enam bulan beranjak pulo ka sini diama di sini dua bulan pindah pulo ka nan lain lasak badukung tu namannyo, dari lutut naik ka bahu, dari bahu ka kapalo itulah sifat ulama lincah.
Arti ulama nan bak kancah ia ulama nan lah babaso tidak manyuruh babuat baik tidak managah babuat jahat tak mayampaikan hukum Tuhan tumbuh barapat musyawarah beliau tidak mangecek-ngecek hanyo bamanung-manung sajo adang mangango bagai kancah.
Arti ulama ruok sabun ulama nan kurang kaji tapi maruok inyo pandai kalau tablig dimuko umum dihafizh ayat sapotong, dilancar hadis sabuah lalu diruok diotakan ditambah jo kecek baik sampai ka langit ka awan biru lalu ka Makah ka benua Rum manggeser pulo ka tanah Cina hari lah sampai tangah malam si pandangar lah banyak lalok sabuah tidak nan dapat hanyo dikanyang ruok sajo bak makan jo gulai amba daging sapotong dalam pinggan rempahnyo hamper sakatidiang.
Arti ulama nan panggawat apo kaji nan kaluar baik pituah nan katangah lain tak bukan maksudnyo halnyah untung diri sajo mambanyakkan isi sakuse mampagadang isi dompet, bak ilmu urang manggawat mahelo manolak tidak itu ulama sifat riya manjual agamo dengan dunia sakali jangan anak tiru.
Sebagai lagi anak kandung dangakan bana dek kalian urang mudo lima bahagiannyo partamo mudo pasurau, kaduo mudo palapau, katiogo mudo paransu, ka empat mudo //61// pangusu kalimo mudo langkisau.
Arti mudo nan pasurau ialah mudo nan sajati adat teguh agama kuat baso basi jan disabuik biaso diam disurau kalapaunyo adang-adang kalau perlu mambali sajo.
Mudo palapau den tarangkan mambali tidak majual tidak tatapnyo dilapau sajo dari pagi sampai patang indak baranjak inyo di sinan dunsanak ado bini lai minum makan dilapau juo, alah ditawan pisang goreng alah dimabuk katan angat indak takana
anak dan bini. Nan lamak dimakan seorang indak dimakan basmo- samo tando mudo nan cilako.
Arti mudo nan paransu siang malam bahati rindu patang pagi bahati rimbang balam dihambu lah babuni belum dikubik inyolah datang belum di cuci inyolah galak bak katiding tingga bangkai bak payuang tabukak kasau di mano duduk inyo banyanyi di mano tagak lah basiur itu mudo nan calako.
Arti mudo nan pangusu bak buni pantun Minangkabau: Cinicn perak duo permato cincin timbago bakilatan Lah riuk sapanuh kota adat urang kasabutan
Hilir mudik inyo manyusah, kiri kanan mamacah parang dari jorong sapanuh jorong, dari kampuang sapanuh kampuang barang tajumbai nak mahelo apo nan tampak nak manarik apo barang inyo nak iyo mamantak jo keras hati tidak mamandang suka urang mambali indak jo hargo bak alang terbang randah ayam dilasung disambarnyo itu mudo nan cilako sebab dimabuk dosa-dosa.
Mudo langkisau anak kandung itulah mudo lidah air sapantun talingo angin labuh sampik kudo panyipak urang keras lari panyimpang ekor kupit kapalo randah kulit taba ajaran kurang akal busuk I’tikat jahat paham tak suka //62// kinin baik manaruh dengki jo khiyanah sifat takabur dalam hati kok dihalau inyo manyepak kok dihirik inyo manggigit itulah mudo nan cilako.
Anak kandung dangakan bana padusi empat baginyo, satu sejati perempuan, duo banamo samorayuan katigo simambang rayuan, ka ampek gadih palawan.
Adapun sejati permpuan menurut kitab Allah lai manurut Nabi kito, manurut ajaran ibu bapak, ninik jo mamak, diikutinyo adat lai dipakainyo limbago, lai dituanginyo baso jo basi jan disabuik.
Nan banamo samarayuan pahamnyo bak gatah cair iko elok itu katuju pikiran tidak amuh tetap bak cando pamping dilereng,
baling-baling diatas bukit kamano angina nan kareh kakiyun rabah hatinyo walaupun balaki bana bak umpamo tidak juo itu padusi kutuk Allah isi narako tujuh lapis. Di dunia memberi malu kapado ibu bapaknyo ninik jo mamak mandapek aib.
Anak den dangakan bana nan banamo simambang rayuan itu padusi tinggi hati kok mangecek samo gadang atau barunding dinan rami angannyo tidak kinin lain tasambil juo kalakinyo dibonceng bapak si buyung disabuik juo bapak si upik sebagau lebih dari urang babilang ribu jo ratus lakinyo lebih sakali tantang balanjo nafkahnyo baikpun pulang karumahnyo lebih banyak tiap hari adang tidak baranjak amek pendek kato den tarangkan kecek malagak bakih kawan diawak asagalo labih diurang sagalo kurang itu nan banyakk dimaso kini anak usah bacando itu.
Gadih-gadih palawan den curi[to]kan danga dianak jelas-jelas itu padusi busuk hati suka bacaran jo suami nan tak anti basalisiah banyakk bantah jo kalahi kalau takurung agak seketek apo dibali suaminyo atau talambek laki pulang hatinyo masam dahulu duduknyo tamanung sajo mukonyo merah-merah padam mato merah calik liar bak harimau tanggal labu itu padusi nan cilako loba tamak //63// jadi pakaian balaki duo satahun tetap tidak nan selamat sakali jangan anak tiru.
Anak kandung ingati bana nak den curi[to]kan den papakan urang tuo empat macamnyo satu tuo karambil masak, kaduo nyinyir tak manantu, katigo di amuah badak jantan, ke empat riang-riang asam.
Arti tuo karambilmask tuo nan banyak faidahnyo apo katonyo nan kaluar barang tuturnyo nan katangah jadi satu jo sidingin urang salisih dapat damai kok nan bodoh jadi cadiak nan tak tahu jadi pandai jauh jalannyo banyak basua lamo hidupnyo banyak dirasoi jadi patunjuk pangajar kepada anak kamanakan nyinyir nan sarupo iko kini jadi pusako dinan tuo. Bukan cilako itu anak untuk pangajar dinan mudo. Karambil masak den katokan sabuik masik tampurung keras gunanyo banyak di nagari, tantang isinyo mandeh katokan sadang rancak makan pangaur sampai ditanak jadi minyak, minyak banyak lagipun harum hingga sampalah baguno juo.
Tuo nyinyir tak manantu bak balam talampau jinak maangguk-angguk tabung air pancotok kili kilinyo dimabuk kecek lumak lamik rundingan sarasah turun tidak memberi pangajaran kato babuni gunung runtuh tidak ada artinyo bertutur berolok- olok galib manyinggung bisul urang ikolah tuo nan cilako sebabtak ado berilmu.
Arti diamuh badak jantan nan tidak tahu diduri kok duri akan mancucuk kok dahanakan manimpo haram matolak kok lai tahu kulit suriah jangeklah luka namun lingguknyo baitu juo bak kabau jalang keras hiduang parunyuh pambulang tali tidaklah tahu dikandangnyo bak ilmu tukang rabab tak buliah kito salahi hanyo kehendak hatinyo surang bak itulah tuo nan cilako sebab miskin pado budi.
Arti riang-riang asam bak kancah luas harangnyo pahamnyo tabung saruaso //64// kok dapat ka kakok-kakoknyo taruh sajo bak ketiding, kok tak elok hawa-hawanyo tasurut sajo bak jalai siapo pandai maijokan dipuji bamuko-muko bukan main gadang hatinyo bak di ambung banteng kurus siapo urang tak mamuji tak mamuji dimukonyo berapa upat dibelakang sampai dicacat dihinokan buruk jo aib lah bahimpun syetan berjanti dilidahnyo iblis datang manolongi itulah tuo nan cilako sebab tak suka ka agama kasurau bapantang datang guru diambil jadi musuh anak jangan sarupo itu.
Anak den duo bak balam saekor jantan saekor batino alah jadi itu dahulu kok lah tapakai itu di anak salamat dunia dan akhirat. Padi manjadi jagung maupih antimun mangarang bunga di akhirat masuk sarugo akhir kalam panyudahi la> ilaha illa Alla>h Muhammad Rasulullah hamba baca.
Ayam patah di galanggang tak pandai berkokok pagi Kalam patah dawat tatunggang karangan sudah hanyo lai
Danga padang mahani banang dikumpa mula dilipat Dilipat-lipat patigo
kok dirantang amuah panjang Elok dikumpa naknyo singkat diambil kiro kapaguno
Dari pasir kahujung karang anak cino mati tahanyak Khabar tamsil kami karang maminta maaf kanan banyak //65// Patah pangkur panggali ubi dibawa ka hujung karang Anak ayam mati talanyak ya allah Tuhanku rabbi Khabar tamsil kami karang maminta ampun baik-baik //66//
TAMAT
Haji Simajuddin Abbas (Datuk Bandaharo) Dipimpin oleh yang mulia Sulaiman ar-Rasuly Canduang For de Cok
Sedikit syair daripada penyalin Dengan tolongan Allah rab al-‘a>lami>n Berkata faqir Muhammad Amin Di Ampang Gadang min al-muttaqi>n Kelarasan empat Angkat terang bak camin
Wahai saudara sekalian teman Patut dipakai buku pedoman Siang dan malam jadi idaman Cerita putri Siti Budiman
Isinya patut paukur tubuh Melebihi buku rancak di labuh Pergaulan hidup jangannya cabuh Dibaca sedikit hendak bertambuh
Isinya cukup tidaklah kurang Bermacam nasehat ada dikarang Dunia akhirat keduanya terang Adat dan syara’ terang benderang
Wahai saudara taulan ikhwa>na> Saya tompangkan sedikit rencana Mudah-mudahan dapat berguna Bagi saudara di sini sana
Kebanyakan kita di masa kini Suka teriak bergandang bunyi Isi di dalam kosong sunyi Umpama tabuh kita di sini
Begitu memakai banyak lebihnya Sarung sarawal dalam adanya Tanah dan kasik habis disapunya Larangan Nabi itu keduanya
Adang keduanya melepai-lepai Najis di labuh jadi tersepai Dibawa sembahyang jikalau sampai Pahala sembahyang tidak tercapai
Begitu karajo di masa kini Kebanyakan pemuda senyap dan suni Sawah dan ladang tak dibawani Tiap medan penuh beruni //67//
Sawah dan ladang di pulau kita Di Minangkabau semuanya rata Boleh dipandang intan mahkota Siang dan malam patut dicita
Sebagai lagi pula dengarkan Membuang ongkos hendat tertibkan Membeli nan perlu hendak dahulukan Nan tak perlu kita kudiankan
Jangan sebagai nan banyak kini Membuang ongkos sangat berani Tapi aturan tak dijalani Kemauan nafsu tak ditahani
Umpama membeli solop sepatu Tetapi jinjing batung di situ Pasang tahereang tidak menentu Sehendaknya kayu ataupun batu
Atau mehisap rokok segerek Bak tampan ujung tuan gerek Tetapi penghidupan belum harek Kaum pembeli banyak nan larek
Atau batopi batuduang keras Pentalon dan dasi umpama laras Tapi biasa kakurangan beras Akhirnya layu bak sirih raras
Kasimpanan saja saya maklumkan Apa karajo hendak tertibkan Nan patut dahulu dahulukan Nan patut kudian hendak kudiankan
Begitu juga karajo kita Ada ukuran semata-mata Jangan diturut nafsu yang dusta Ukur dahulu supaya nyata
Kitab pedoman yang saya puji Di situ boleh apa diuji
Patut ditaruh ganti arloji Laksana bendera ataupun panji //68//
Dalam pedoman banyak ukuran Siapa menaruh selamat pelayaran Haroklah taruh ganti pelajaran Isinya remas membawa heran
Katau ditlik dipikir-pikiri Kelakuan bujang muda jauhari Kitab pedoman inan biduri Patut sekali menzahirkan diri
Menzahirkan diri ke atas dunia Pimpin pemuda segala bangsa Disapuh pergaul jangan terdaya Lihat dahulu apakah dia
Sebab kebanyakan pada masa kini Manusia terdaya dielok buni Daripada nyawa kosong dan suni Umpama karampun kita di sini
Begitu juga dielok tampan Macam gambaran dibikin japan Zahirnya cukup dengan kangkapan Batinnya kosong dihembus topan
Mudah-mudahan pedoman kita Dapat pemimpin manusia rata Supaya terbuka kedua mata Jangan bakarajo membabi buta
Tuan pengarang kami doakan Begitu pimpin kami samakan Lanjut usia serta ditaatkan
H}usnul kha>timah Tuhan kasihkan
Sebagai lagi pengharapan diulang Pengharapan besar bukan kepalang Rencana ini bukan terbilang Tapi cetakkan jagannya hilang
Rencana sedikit untuk pemuji Bukan ukuran untuk pa uji Lagi tak tajam umpama taji Atau tak sama dengan arloji //69//
Sekedar ini saya sudahi Berpanjang kalam tidak birahi Akhir memohon kepada ilahi Serta iman nyawaku pai
Tuan pembaca ini risalah Rencana saya mana yang salah Tuan baiki karena Allah Jangan diberi sesat d}ala>lah Mengharapkan doa patang dan pagi Begitu maaf tidak dibahagi Dengan beriman nyawa pergi Mendapat nikmat surga yang tinggi Di sini habis dawat dal qa>lam Lampu tak nyala haripun kalam Siangpun habis timbullah malam La> ilaha illa Alla>h akhirnya kalam
Wassalam Muhammad Amin faqih Bandaharo Ampang Gadang Murid lama dari pemimpin ini buku 9 Jumadil awal 1357 H 7 Juli 1938 Tamat bi‘awnilla>h ta‘a>la.
2.3. Transliterasi Mantra dan Jimat
Allâhumma innaka hayyun lâ yamûtu wa zhâhirun lâ yughâbu wa lâ ghâba wa yahran allâ tartâbu wa bi ayyi lâ tanfudzû wa lâ tuqdzibu wa qâhirun wa qârîbun lâ yabdû wa qâdirun lâ qadhâ-u wa ghaffârun lâ tatlubu lâ tuzhlamu wa mumadun wa lâ tuzhiru wa qayyûmu lâ tawfamu wa mujîbu nis-am rabbanâ zhalamnâ anfusanâ wa in lam taghfirlanâ wa tarhamnâ lâ nakûnannâ min al-khâsirîn. //1// Ini azimat baginda Rasulullah tatkala berjalan. Barangsiapa memakai dia supaya ditolong Allah barang pekerjaannya dan selamat ia pulang pai dan dikana makhluq kasih pada kita. Dan jika dibawanya perang, tiada sampai senjata orang pada kita, dan jika seperti ujan sekalipun. Inilah do’anya: bismillâhirrahmânirrahîm, bismillâh ya Allâh wa ‘azhamtu, ya Allâh wa tawakkaltu ‘alallâh wa lâ hawla wa lâ quwwata illâ billlâh al-‘aliyy al-‘azhîm, wa tawakaltu ‘alallâh lâ hawla wa lâ quwwata illâ billâh al-‘aliyy al-‘azhîm //2// fasal pada menyatakan hari bulan naik. Pada hari-hari setengah tiga puluh hari, sisinya naik bulan. //3// pada menyatakan binatang hari dalam nan tiga puluh bulan. Mula pertama sehari bulan kuda binatangnya. Pada hari itu jika bertanam tanaman adalah baik, atau berlayar baik, niscaya beroleh laba. Jika berlaki isteri pun baik. Jika kita diserang orang atau menyerang jahat niscaya beroleh kesakitan pada hari itu. Jika kita baik sungguh kata jahat tiada ada sungguh. Jika harta hilang segera dapat orang yang memaling itu pendek buahnya, dan jarang rambutnya. Dan keningnya panjang, buntar mukanya, dan kecil pinggangnya, kuning warnanya, dan suak pula, ganjai tubuhnya, jarang rambutnya, dahinya panjang. Jika beranak pada ha// pada hari itu amat mulia daripada hari itu, terlalu baik jika sekira-kira sukar sembuh tolak bahayanya nas diperbuat seperti kuda, maka dibagikan sedekah pada pakaian masakin. Fasal dua hari bulan binatang kambing, pada hari itu Allah ta’ala menjadikan Siti Hawa terambit dikiri Adam. Dan jika beranak pada hari itu, ibu bapaknya ada sedikit kesakitan, atau kehilangan. Jika bertanam tanaman pada hari itu
baik. Jika pergi berjalan ke mana-mana baik. Jika berjual beli baik. Jika berperang bertemu dengan lawan bertemu dengan orang berani. Jika harta //4// hilang orang yang memaling itu hijau warnanya, kurus tubuhnya, panjang lehernya, tebal bibirnya, sawan pula warnanya, putih bercampur hitam. Harta itu ditaruhnya di sisi hutan pada kayu yang besar, atau dibawah tempat tidurnya. Jika sakit, segera sembuh akan tolak bahayanya naas diperbuat seperti kijang dibungakan ke darah. Wallâhu a’lam. Fasal tiga hari bulan binatang harimau pada hari itu terlalu jahat karena anak Adam.//5// bismillahirrahmanirrahim. Giling gigi tiada aku berbaju besi Tuhan berbaju besi dalam jannah sendi selingka berkat aku memakai do’a putaran ila putaran Muhammad putaran baginda rasulullah berkat lâ ilâhaillallâh. Hai nago indang nago salindang, tegak tegang jo lah dalam batang tubuhku berkat aku memakai do’a putaran ila putaran baginda Rasulullah berkat lâ ilâha illallâh muhammad rasûlullâh. Hai sulaibi Nabi Muhammad tawa aku asal mula engkau jadi urat rantai asal mula engkau jadi bangunlah engkau diri badan //5// lah kalua-kalua lipat-lipat teguh tegang seperti besi pun jua beliung nan jantan banalah senjataku urat tulang sangko akulah menika [n] jo lâ [ilâha illallâh] jo Muhammad jo baginda Rasulullah.
Sandiang sri patiah billâh berkatalah patih batu terdiri basi akulah menyakin mendirikan basi keras dalam diri badanku akulah menyakin jo lâ ilâha jo baginda Muhammad baginda Rasulullah.
Hai ruku siota[k]-otak lah sugi di otak banak mantagi rantiku sabali[k] pinggangku turun tawar daripada Nabi batampe[k] di Madinah dan membaca qul huwallâhu ahad allâhu [al-]shamad lam yalid wa lam yûlad wa lam yakun [lahu] kufuwan ahad. //6// inilah surat pelayang dikarang oleh Ja’far Shiddiq, empat puluh tahun dinanti dahulu oleh melihat segala kebenarannya.
La ilâha illallâh muhammad rasulullâh Ali
allâhumma shalli Abu Bakar ‘alâ sayyidinâ muhammad allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ muhammad
Usman
Umar
La ilâha illallâh muhammad rasulullâh
). هاتنا ألم تنا هوهللا //7// batang tubuh ( Bismillâhirrahmânirrahîm [b]huwang aku anak si harimau duduk aku dalam baruh membuang basi kerasini ketupungku ketupungku ketupung timbago. //8// ini fasal pada menyatakan mencari sahabat baik dan jahat laki-laki. Bismillâhirrahmânirrahîm.
Laki-laki baik kah atau tidak. Bismillâh ya karîm.
Berlajar alim itu baik kah. Bismillâh ya sattâr.
Membeli dagangan itu baik kah. Bismillâh ya hakîm.
Berlayar itu salah kah tidak. Bismillâh ya qahhâr.
Berazakikah tidak kah. Bismillâhirrahmânirrahîm ya ghaffâr.
Berperang menangkah. Al-rahmân ya karîm.
Saya lari itu dekatkah. Al-rahmân ya sattâr.
Menebas saya itu jadikah. Al-rahmân ya hakîm.
Hendak beristeri baik kah. Al-rahmân ya thahhâr.
Perempuan itu baikkah. Al-rahîm ya ‘azhîm.
Berbuat kerja itu baikkah. Al-rahîm ya jabbâr.
Hendak bertanam itu baikkah. Al-rahîm ya fattâh. //9//
Duka cita itu lepaskah. Al-rahîm ya saqqâr.
Hendak berniaga berlabakah. Al-rahîm ya qahhâr.
Harta hilang itu dapatkah. Mâlik al-mulk ya ghaffâr.
Orang sakit itu sembuhkah. Mâlik al-mulk ya karîm.
Khabar ini betulkah tidak kah. Mâlik al-mulk ya saqqâr.
Anak itu beranikah tidakkah. Mâlik al-mulk ya hakîm.
Membeli hidangan itu baikkah. Mâlik al-mulk ya jabbâr.
Orang datang itu baikkah. Ya wahhâb ya qahhâr.
Yang gaib itu datangkah. Ya wahhâb ya karîm.
Ba da’wa itu menangkah. Ya wahhâb ya ‘azhîm
Mimpi itu sah kah tidak. Ya wahhâb ya fattâh.
Seteru datang itu menangkah. Ya wahhâb ya hakîm.
Budak di dalam rahi laki kah. Ya khâliq ya hakîm.
Pergi ke negeri bahaya kah. Ya khâliq ya ‘azhîm. //10//
Aku ini beranakkah atau tidak. Ya khâliq ya fattâh.
Orang dalam penjara lepaskah. Ya khâliq ya jabbâr.
Pencuri itu dapatkah tidak. Ya khâliq ya sattâr.
Dipanggil orang pergikah atau tidak. Ya razzâq ya jabbâr.
Orang itu matikah tidak kah. Ya razzâq ya qayyim
Aku ini beroleh anak kah tidak kah. Ya razzâq ya qayyim.
Yang jahat pergi ini atau baik. Ya razzâq ya fattâh.
Sawah kehendak ini boleh kah. Ya razzâq ya ‘azhîm.
Bercampur muda baik kah. Ya ‘azîz ya fattâh.
Hendak berdamai baik kah. Ya ‘azîz ya ‘azhîm. //11//
Bermain itu menangkah atau tidak. Ya ‘azîz ya qahhâr.
Pergi berburu boleh kah. Ya ‘azîz ya ghafûr.
Bismillâh ya ghaffâr. Bismillâh ya karîm. Bismillâh ya sattâr. Bismillâh ya hakîm. Bismillâh ya qahhâr. Al-rahmân ya ghaffâr. Al-rahmân ya karîm. Al-rahmân ya sattâr. Al-rahmân ya hakîm. Al-rahmân ya qahhâr. Al-rahmân ya ‘azîm. Al-rahmân ya jabbâr. Al-rahmân ya fattâh. Bismillâhirrahmânirrahîm, al-hamdu lillâhi rabb al-‘âlamîn. Al-rahmân al-rahîm. Mâliki yawm al-dîn. Iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în. ihdinâ al-shirâth al-mustaqîm. Shirât al-ladzîna an’amta ‘alayhim. Ghayr al-maghdhûbi ‘alayhim wa lâ al-dhâllîn. Wa mâ anzal al-tawrât nazhra ba’dhuhum ‘alâ ba’dhin hal yurîkum min aqwâlin tsumma nashara nûr sharafallâh. //12//
Bismillâhi yâ ghaffâr
Bismillahi yâ karîm
Bismillahi yâ sattâr
Bismillahi yâ hakîm
Bismillahi yâ qahhâr
Al-rahman ya ghaffâr
Al-rahman ya karîm
Al-rahmân yâ sattâr
Al-rahmân yâ hakîm
Al-rahmân yâ qahhâr
Al-rahmân yâ ‘azhîm
Al-rahmân yâ jabbâr
Al-rahmân al-rahîm ya jabbâr
Al-rahmân al-rahîm yâ fattâh //13//
Al-rahîm yâ sattâr
Al-rahîm yâ qahhâr
Mâlik al-mulki yâ ghaffâr
Mâlik al-mulki yâ ghaffâr
Mâlik al-mulki yâ hakîm
Mâlik yâ jabbâr
Yâ wahhâb yâ qahhâr
Yâ wahhâb yâ ‘azhîm
Yâ wahhâb yâ fattâh
Yâ wahhâb yâ hakîm
Yâ khâliq yâ hakîm
biannahum qawmun lâ yafqahûn
Laqad jâ-akum rasûlun min anfusikum.
‘azîzun ‘alayhim mâ ‘anittum.
Wa in tawallaw fa qul hasbiyallâhu.
Harîshun ‘alaykum bi al-mukminîn.
‘indahu mafâtih al-ghayb.
Lâ ilâha illâ huwa
Wa al-mukminîn wa al-mukminât.
Wa al-qânitîna wa al-qânitât.
Wa al-shâdiqîna wa al-shâdiqât.
Wa al-khâsyi’îna wa al-khâsyi’ât.
Wa al-shâbirîn wa al-shâbirât. //14//
Jika perempuan benci akan suaminya maka tadah kan pada mangkuk putih dengan air embun maka campurkan dengan minyak, maka sapukan pada muka kita. Insyaallâh ta’âla kasih pada kita berkat kebesaran do’a ini.
Fasal jikalau kita digatab ular sekalian binatang yang
[ber]bisa bisa maka bacakan sembilan kali, maka minum air itu insyaallah berkat do’a ini.Fasal jika susah orang beranak, maka surati pada kertas,
maka ikatkan pada pahanya kiri anak itu insyaallâh ta’âla keluar berkat do’a ini. 4. Fasal //15// jikalau kita dimarahi orang raja-raja atau orang besar-besar atau orang kaya-kaya, maka baca do’a ini sembilan kali pada tapak tangan kita, sapukan pada muka kita, insyaallah kasih pada kita. 5. Fasal jikalau sakit mata kita baca sepuluh kali pada tapak tangan kita, sapukan pada mata kita, insyaallah berkat do’a ini sembuh. 6. Fasal jikalau hendak memeliharakan rumah kita, maka surat pada timah hitam, tanamkan pada empat pe[n]juru rumah kita, insyaallah ta’ala dijauhkan Allah ta’ala dari orang pada rumah kita. //16// bunyinya bismillâh al-rahmân al-rahîm. Ini ‘azimat singkabubuh. Surat pada kertas maka pakai ini rajahnya:
Ini azimat pakaian bermusuh. Surat pada kertas, maka pakai ini rajahnya:
ini azimat penahan mulut orang. Surat pada kertas, inilah rajahnya:
Ini azimat jika kita berjalan jangan bertemu dengan musuh. Surat pada kertas, inilah rajahnya:
Ini azimat penahan hati orang pada kita. Surat pada kertas, maka pakai. Ini rajahnya:
Ini azimat jika kita berjalan malam takut, surat pada kertas, ini rajahnya:
//17// fasal pada menyatakan [h]ikayat nabi bercukur. Wa bihi nasta’în billâh ‘alâ ini cerita bercukur, hikayat tatkala baginda Rasulullah shallallâhu ‘alayhi wa sallam bercukur dengan firman Allah ta’âla menyuruhkan Nabiyullah bercukur, barang siapa membaca atau menyuratkan dia maka diampuni Allah subhânahu wa ta’âla sekalian dosanya, seperti sepohon kayu rurut daripada daun kepada rantingnya, dan demikianlah dosa daripada rato buahnya dan demikianlah pahalanya orang yang membaco dia //18// itu sehelai pun tiada gugur. Maka sabda Rasulullah shallallâhu ‘alayhi wa sallam ya habîb ku Jibril karena rambut hamba tiada gugur ke bumi, maka ujar Jibril ya habîballâh, karena sekalian anak-anak bidadari di dalam sorga dititahkan Allah subhanahu wa ta’ala mengambil rambut tuan hamba itu sehelai seorang pun tiada rato. Demikianlah kebanyakan anak bidadari dalam sorga, bermula akan banyak rambut di kepala tuan hamba itu tertentulah bilangannya dua belas lepas enam ribu anam ratus anam puluh anam, 6.666 //19// banyaknya setelah sudah Jibril berkata dan menyakini itu, maka Rasûlullâh pun diamlah. Maka Nabiyullâh itupun minta do’a kepada Allah ta’âla, maka firman Allah ta’âla, dan demikianlah bunyinya: barangsiapa menaruh rambut kepala kekasihanku sehelai jua pun segala dosanya kuampuni, dan barangsiapa menaruh surat peri kekasihanku bercukur itu, lepaslah ia daripada segala bahaya dunia dan bahaya akhirat, dan sakit tatkala malaikat maut mengambil nyawanya itu
pun dengan sopannya, dan terpelihara ia daripada soal munkar wa nakir ‘alayhi [al]salam. Dan barangsiapa tiada menaruh periku ini bercukur itu, maka orang itu bukan ia //20// bukan kekasihanku dan bukan ia daripada ku dan aku pun bukan daripada hamba. Jangan kamu berikan pada tangan orang yang jahil dan orang fasik, dan orang munafik. Bermula periku ini bercukur itu kamu berikan kepada segala Islam daripada suatu negeri kepada suatu negeri. Daripada suatu kampung kepada suatu kampung, daripada suatu rumah kepada suatu rumah. Bermula surat peri ku bercukur itu jangan kamu kikirkan kepada segala mukmin dan segala Islam, supaya dosa kamu diampuni Allah ta’ala, dan barangsiapa membawa surat peri ku ini bercukur itu kepada segala Islam, jikalau ia ditaruh orang faqir, maka barang yang hadir pada //21//
segala rambut baginda rasululah bercukur Jibril ‘alayhi [al]salam itu, maka Allah subhânahu wa ta’âla menitahkan segala anak-anak bidadari dalam sorga karena kekasihan bercukur itu karena segeralah kamu sekalian pergi ke dalam dunia, maka ambil lah segala rambut kekasihan ku itu sehelai pun jangan gugur ke bumi. Apabila [te]lah kamu perbuat akan azimat dan ikatkan pada lengan kamu [di]kanan dan peliharakan baik oleh kamu sekalian supaya kuampuni dosa kamu sekalian. Setelah sudah demikian itu, maka dilihat Rasulullah segala rambut yang dicukur Jibril //22// dan orang yang mendengar dia daripada peri mulianya datang kepada kesudahannya, maka datang seorang daripada sahabat baginda Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam, bertanya kepada Abu Bakr [al]Shiddiq radhiyallâhu ‘anhu cerita ia lah oleh hamba tatkala pada kemuliaan mu’jizat baginda Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam bercukur itu di hadapan siapa Nabiyullâh bercukur, dan siapa yang mencukur Nabiyullâh dan kupiah di mana diperolehkan dipakai Nabiyullâh, dan berapa tahun antaranya Nabiyullâh bercukur itu. Ujar mukminin Abu Bakr [al] Shiddiq radhiya //23//allâhu ‘anhu, hai kaum mukminin yang percaya akan Allah dan Nabiyullâh, jakalau Tuhan hamba hendak mendengarkan peri kemuliaan mukjizat baginda Rasulullah shallallâhu ‘alayhi wa sallam bercukur itu, baiklah
hamba menceritakan dia kepada Tuhan hamba. Adapun demikian peri tatkala baginda Rasulullah bercukur itu kembali daripada perang, pun turun ayat pada malam yawm isnain, maka baginda Rasulullah membaca Quran, pun turun ayat dibawa Jibril kepada Rasulullah shallallâu ‘alayhi wa sallam. Demikianlah bunyinya: mukhâliqu ru’ûsakum wa muqshiruni lâ takhâfu. Setelah sudah dibaca Rasulullah shallallâhu //24// maka Nabiyullâh pun pikir sesaat bahwa Allah subhânahu wa ta’âla menilik mendengar bunyi ayat itu, maka Jibril [berkata] yâ Nabiyallâh, maka firman Allah ta’ala menyuruhkan Tuhan hamba bercukur. Setelah sudah dengar Rasulullah Jibril berkata. Demikianlah sabda Rasulullah kepada Jibril radhyiallâhu, hamba bercukur dengan firman Allah ta’âla menyuruhkan hamba bercukur, maka sabda Nabi shallallâhu ‘alayhi wa sallam, jika sudah hamba bercukur di hadapan siapa bercukur, dan siapa mencukur hamba, dan dari mana kupiah hamba pakai, sudah dengan Jibril.//25// //26// [Ra]sulullah. Dan menyakinilah itu maka Jibril pun munajat ke hadirat Allah ta’ala, maka sembah Jibril, ya ilahi, ya rabbi, ya sayyidi, ya mawlaya, ya tuhanku, engkau jua yang amat tahu bahwa kekasihan ku maulah itu bercukur dengan firman mu ya tuhanku, dan meyakini sembah kekasihanmu ya tuhanku dihadapan siapa kekasihanmu bercukur, dan siapa mencukur kekasihanmu, dan daripada siapa peroleh kopiah akan dipakai kekasihanmu, ya tuhanku. Maka firman Allah ta’ala, kepada Jirbil hai Jibril, Jibril juakan mencukur kekasihanmu itu di hada //27// pan cahayaku kekasihanmu bercukur, karena cahaya itu Nabiyullah jua dan yang mencukurkan kekasihanmu itu Jibril dengan firmanku ini. Akan kopiah kekasihanmu itu ambil olehmu sehelai daun kayu yang bernama thuba yang amat hijau warnanya dalam sorga. Perbuat olehmu akan kopiah kekasihanku akan dipakainya, anugerahku akan kekasihanku. Nabiyullah bercukur, setelah suatu didengar, Jibril pu pergi ke dalam sorga: hai Malik, Ridwan, bukai aku pintu sorga. Maka Malik [dan] Ridwan: siapa di luar pintu sorga itu? Maka kata Jibril: hamba, Jibril. Maka leka[s] //28// Ridwan pun segera membukakan pintu sorga itu. Maka Jibril pun masuk ke sorga, maka ujar Malik [dan] Ridwan: apa kerja masuk ke dalam sorga ? maka ujar Jibril: hamba mengambil
daun kayu yang bernama thuba yang hijau warnanya akan kopiah Nabiyullah kekasihan Allah. Maka ujar Jibril. Maka Malik [dan] Ridwan terlalu suka lah. Karunia Allah ta’ala engkau nabi Muhammad. Diambil Jibril daun kayu yang bernama thuba itu, maka Jibril pun turun ke bumi kepada baginda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam membawa kopiah daun kayu thuba yang hijau warnanya. Cahaya itu amat gilang gemilang, cahaya lebih daripada //29// cahaya matahari dan bulan, maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pun bertanya kepada Jibril ‘alayhi [al-]salam, ya habib ku Jibril, siapa mencukur hamba. [berkata] Jibril, ya Nabiyyallah, hamba lah mencukur Tuan hamba dihadapan firman Allah, di hdapan cahaya diri karena sekalian itu cahaya Nabiyullah jua. Setelah suka Jibril berkata dan meyakini itu, maka Nabi pun menyorongkan kepalanya kepada Jibril ‘alayhi al-salam. Maka lalu lah dicukur Jibril kepala Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Itu pada sembilan belas hari bulan Ramadhan pada hari isnayn. Dan keempat sahabat pun hadir berdiri di hadapan Nabiyyullah //30// ini azimat pematah kata orang pada kita atau senjatanya orang. Surat pada kertas, maka pakai pada kepala kita, apa do’anya: akhdarahu li al-islâm fa huwa ‘alâ nûri min nabiyyihi wa al-‘âlamîna huwa anzala wa bi al- haq wa lâ hawla wa lâ quwwata illâ billâhi al-‘aliyy al-‘azhîm. Ini azimat pengikat lidah orang: hâdzâ yawmun lâ yantiqûna wa lâ yu’dzan lahum fa ya’tadzirûna bi haqq, lâ ilâha illallâh muhammad rasûlullâh. Tammat kalam. //31//
| Selatan: pada hari Isnayn dan Selasa dan | Maghrib: pada hari Sabtu ke |
|---|---|
| pada hari Raba’a ke Selatan galihnya naga | Maghrib galihnya naga sati itu. |
| sati. Maka hendaklah kita ingat tatkala akan melangkah atau berperang atau berjalan, atau tatkala kita akan melawan. Wallahu a’lam bi [al]shawab. | Maka kita ingat supaya jangan kita kena galihnya itu. Wallahu [a’lam] bi [al-]shawab. |
Syariq: pada hari Kamis dan Utara: pada hari Selasa dan Isnayn ke Jum’at ke matahari galihnya naga Utara galihnya naga sati. Maka sati. Maka hendaklah kita ingat di hendaklah kita ingat berjalan atau sana. berperang, kena galihnya itu terlalu jahat. Wallahu a’lam.
//32//
Esa [satu]
dua Tujuh
tiga Lima Empat
Empat Lima
tiga Enam
Tujuh dua
Esa [satu] Selapan
Sembilan
Sepuluh
| Waladiyun/ | Hulu | Wazir/ | Sultan | |
|---|---|---|---|---|
| Kanak-kanak | balang | Menteri | Waladiyun | |
| Na’ib | Wazir | Sultan | Na’ib | |
| Wazir | Sultan | Waladiyun | ||
| Sultan | Waladiyun | Na’ib | Wazir |
//33// lembar ilustrasi
| Jum’at waktu | Duabelas | ||
|---|---|---|---|
| Asar nahas | tapak bayang | Kamis tengah turun nahas | |
| Sabtu tengah tiga nahas | enam tapak bayang | Rabu Zuhur nahas | |
| Khâlaqallâhu ta’âla. Menjadikan sekalian alam | empat tapak bayang | Selasa pagi nahas | |
| Hadiyallâhu ta’âla. Membukakan jalan yang betul Razaqallâhu ta’âla. | Duabelas tapak bayang | sepuluh tapak bayang | |
| hamba | Memberi sekalian | enam tapak bayang | |
| Tuhan | Uhiyallâhu ta’âla. mehidupkan Adhallallâhu ta’âla. Tuhan menyesatkan | amâtahullâhu ta’âla. Tuhan mematikan | Isnayn tengah hari nahas Ahad malam nahas |
//34// fasal pada menyatakan negeri naga
Pada bulan dua belas pada bulan Muharram dan Safar, Rabi’ al-Awwal, kepala naga ini kena matahari hidup. Ekornya kena matahari mati. Belakang ke selatan perut ke utara. Pada bulan Rabi’ al-Akhir, Jumad al-Ula, Jumad [al-Tsani], kepala naga ini ke utara, ekornya ke [se]latan, belakangnya kena matahari mati, perutnya kena matahari hidup. Pada bulan Rajab, Sya’ban, Ramadhan kepala naga ini kena matahari hidup, ekornya kena matahari mati, belakangnya ke utara, perutnya ke selatan. Pada bulan Syawal, Zul Qa’idah, Zul Hijjah, kepala naga ini ke selatan, ekornya ke utara . //35// lembar ilustrasi
Jika datang di kepala naga, menang ia timur jati. masyriq
Selatan laqînan. Jika datang dari Jika datang di belakang naga, perutnya, menang kekasih mati. berperang, jati faqinan.
Jika datang dari ekornya bawah jati. maghrib
| Kedua | Ketiga | Lima hidup Empat | Lima | |
|---|---|---|---|---|
| mati | hidup | mati | terbaca> | |
| Ahad hidup |
//36// hai si tambiriang batino di kayu haro mangelo jo si pagaruk biriang biriang. Rayo biriang didabiah berpanas biriang, buangkanlah biriang si lumang biriang biriang semut salimada sekalipun tawar hai lagiriang, mengapo di lurah mencari air sembilan desa, kenapa air sembilan desa kapangikih pagaruk biriang biriang raya berpanas biriang buangkanlah biriang semut salimada wa hai lagirang manga di lurah tujuh lurah tujuh muaro mencari air sembilan desa.//37//
Yâ khâliqun yâ ‘azhîm wa al-mutaqaddî[m] wa al-mutaqaddimât Yâ khâliqun yâ fattâh wa al-‘âimîn wa al-‘âimât Yâ khâliqun yâ jabbâr fazhîna furûjahum Yâ khâliqun yâ sattâr *wa zâkirînallâh wa al-madzkûrah* Yâ razzâq yâ jabbâr subhânaka allâhumma wa bi hamdika Yâ razzâq yâ fattâh innallâha ‘indahu ‘ilm al-sâ’ah Yâ razzâq yâ fattâh wa yanzilu al-ghayb Yâ razzâq yâ ‘azhîm wa ya’lamu mâ fî al-arhâm Yâ ‘azîz yâ jabbâr wa mâ tadrî [al-] nafs Yâ ‘azîz yâ ‘azhîm anta akhadz[ta] bunyiân mubhan Yâ ‘azîz yâ qahhâr wa mâ tadrî al-nafs bi ardh tamût //38// Yâ ‘azîz yâ ghaffâr inna rabbî ‘alâ shirâth al-mustaqîm
Fasal, sahabtmu itu terlalu baik lagi muwafaqah dengan engkau, hendak be[r]dua aku perolehmu, pada hari itu hendak bermain-main itu tiada memberi kebaikan pada akhirnya, kecelaan berdamai engkau, insyaallah lagi akan beroleh kebaikan padanya. Hendak bercampur mu itu lagi akan menyesal, marah akhirnya. Hendak berhawam pada tempat itu akhirnya akan beroleh laba yang gadang itu suka orang banyak, maka kerjakan olehmu perangai jahat itu lagi akan dibuahinya kemudian lagi akan beroleh anak insyaallah ta’ala dalamnya. Alhamdulillahi rabb itu saleh lagi takut akan Allah
| al-‘alamin. | Fasal, laki-laki |
|---|---|
| subhanahu wata’ala //39// pasal pada menyatakan hasyiah nama | |
| orang pada huruf [awalnya] | |
| A [alif] | : orang itu tiada jauh dan dapat dihampiri |
| B [ba’] | : orang itu sejuk hatinya lagipun sabar |
| T [ta’] | : orang itu senantiasa hendak berjalan tiada sampai |
| Ts [tsa’] | : orang itu dalam hukum orang tiada putus kehendaknya |
| J [jim] | : orang itu lurus akalnya |
| H [ha’] | : orang itu sangat pejauh hatinya |
| Kh [kha’] | : orang itu barang suatu beroleh bercerai ia lupa |
| D [dal] | : orang itu budiman lagi arif bijaksana |
| Dz [dzal] | : orang itu buruk di luar buruk di dalam |
| R [ra’] | : orang itu jikalau hulu balang pengecut |
| Z [zay] | : orang itu buruk di luar akalnya lelah tiada memp |
| S [sin] | : orang itu keras pendengarannya //40// |
| Sy [syin] | : orang itu bicaranya |
| Sh [shad] | : orang itu kurus gagah, benar betul ilmunya. |
| Dh [dhad] | : orang itu sekali-kali tiada benar kehidupannya di |
manakah ia
[me]netap
Th [tha’] : orang itu di mana ia berada lah kehendaknya di
| sanalah ia tetap. | |
|---|---|
| Zh [zha’] | : orang itu manis mulutnya, baik jua. |
| ‘a [‘ayn] | : orang itu memecah bicaranya |
| Gh [ghayn] | : orang itu seperti kanak-kanak bicaranya |
| F [fa’] | : orang itu jinak, tiada dapat sempit hatinya |
| K [kaf] | : orang itu hendak mengata-ngatakan orang jua |
| L [lam] | : orang itu hendak mengatakan orang jua akhirnya |
| M [mim] | : orang itu banyak hebat, tetapi cepat ia kanai |
| N [nun] | : orang itu kekasihan orang banyak |
| W [waw] | : orang itu tiada tetap mempunyai [ke]hendak //41// |
| ‘a [hamzah] | : orang itu jika selamat jauh menjadi hampir |
| J[c] | : orang itu bijaksana kelakuannya pada orang. |
| D | : orang itu tiada dapat mehebati dirinya. |
| Ng | : orang itu dipandang orang tetapi rasakinya kurang |
| Gh | : orang itu berani, akalnya panjang |
Tamatlah hâsyiah nama orang
//42// [takwil gempa] Wakatu dhuha alamat beroleh baik Wakatu tengah hari alamat tidak baik Wakatu zuhur alamat orang datang berbuat baik Wakatu asar alamat kanak-kanak banyak mati Wakatu maghrib alamat beroleh kebakaran Wakatu isya alamat memberi sedekah Pada bulan Rabi’ al-Akhir Wakatu subuh alamat beroleh bumi ditolong Allah ta’ala
Wakatu dhuha alamat beroleh amarah Wakatu tengah hari alamat tidak baik Wakatu zuhur alamat buah-buahan akan menjadi Wakatu asar alamat perang dalam negeri Wakatu maghrib alamat ada kejahatan Wakatu isya alamat ada baik Pada bulan Jumad al-awwal [al-Ula] Wakatu subuh alamat ada baik
//43// Wakatu dhuha alamat bumi kasih pada kita Wakatu tengah hari alamat baik pada Wakatu zhuhur gempa alamat bala datang ke dalam negeri Wakatu asar alamat orang banyak mati Wakatu maghrib alamat angin yang keras datang Wakatu isya alamat kejahatan datang ke dalam negeri Pada bulan Jumadil akhir [al-Tsani] Wakatu subuh alamat besar negeri itu sukar Wakatu dhuha gempa alamat berbuat baik Wakatu tengah hari alamat baik juga Wakatu zuhur alamat orang akan datang ke dalam negeri Wakatu asar alamat buah-buahan akan menjadi Wakatu maghrib gempa alamat perang Wakatu isya gempa alamat akan perang Pada bulan Rajab Wakatu subuh gempa alamat kejahatan Wakatu dhuha alamat air laut akan datang
//44// wakatu tengah hari alamat tidak baik wakatu zuhur alamat susah hidup wakatu asar alamat akan kaya isi negeri wakatu maghrib alamat ada akan datang wakatu isya alamat beroleh rahmat isi negeri. Pada bulan sya’ban Wakatu subuh alamat tidak baik Wakatu dhuha alamat beroleh dosa isi negeri
Wakatu tengah hari alamat tidak baik Wakatu zuhur alamat beroleh murah beras padi Wakatu asar alamat tidak baik juga Wakatu maghrib alamat tidak baik Wakatu isya alamat tidak baik Pada bulan ramadhan Wakatu subuh alamat akan mulia raja Wakatu dhuha gempa alamat akan perang Wakatu tengah hari gempa alamat
//45// Wakatu zuhur gempa alamat akan baik Wakatu asar gempa alamat tidak baik Wakatu maghrib gempa alamat baik akan datang Wakatu isya gempa alamat baik akan datang Pada bulan Syawal Wakatu subuh gempa alamat seteru datang ke dalam negeri Wakatu dhuha gempa alamat kutuk akan datang Wakatu tengah hari gempa alamat tidak juga baik Wakatu zhuhur gempa alamat raja akan hilang Wakatu asar gempa alamat bumi akan binasa Wakatu maghrib gempa alamat banyak orang sakit Wakatu isya gempa alamat akan perang Pada bulan Zul Qa’idah Wakatu subuh gempa alamat buah-buahan akan menjadi Wakatu dhuha gempa alamat bala akan dating
//46// Wakatu tengah hari gempa alamat tidak baik Wakatu zuhur gempa alamat [h]ujan keras akan datang Wakatu asar gempa alamat kaya akan datang Wakatu maghrib gempa alamat bala akan datang Wakatu isya gempa alamat banyak orang datang ke dalam negeri Pada bulan Zul hijjah Wakatu subuh gempa alamat sekalian tanam-tanaman akan menjadi
Wakatu dhuha gempa alamat akan beroleh kesakitan dalam negeri Wakatu tengah hari gempa alamat tidak juga baik Wakatu zuhur gempa alamat buah-buahan akan menjadi Wakatu asar gempa alamat orang datang dari jauh Wakatu maghrib gempa alamat orang jauh Wakatu isya gempa alamat ada kebaikan dalam negeri. Tamat wallahu a’lam bi [al-]shawab] //47// lembar ilustrasi
Pagi-pagi kanan matahari Hidup kepala naga
Tengah hari turun ke matahari mati kepala naga
Gelincir matahari ke kanan kepala naga
| Tengah hari ke matahari kepala naga |
|---|
| Hampir tengah hari kanan Matahari hidup kepala naga |
| Tengah naik kiri matahari hidup kepala naga |
| Pagi-pagi kanan matahari Hidup kepala naga |
//48// lembar ilustrasi
Inilah ketiga lubang Jalan raya Tepi bahar
Tengah rumah
Ujung pematang Ujung lurah atas
magrib
Narit Baya-baya
utara selatan
Usani
Baya-baya masyriq
//49// lembar ilustrasi
Selatan barhayum
Ma’sur masyriq
Seri magrib
Utara kalo
Ini rumah yang dua belas
//50// lembar ilustrasi
Qamar
Hathib
Dzahura
Syamsun
Mariyah
Musytari
Dzuhal
*
2.4. Transliterasi Naskah di Pasaman (Campuran)
Bismilla>hirrah{ma>nirrah}i>m
Bab ini peri menyatakan hari bertanam tanaman. Jika pada hari [a]had menanam segala yang berbatang baik pagi atau waktu ashar, jika pada hari isnain menanam segala yang berisi dalam tanah tetapi hampir tengah hari atau waktu zuhur baiknya, jika pada hari selasa menanam segala yang berdaun tetapi waktunya dhuha. Jika pada hari rabi‘ menanam segala yang berbunga tetapi tengah hari atau pada waktu ashar baiknya. Jika pada hari kamis menanam segala berdaun tetapi hampir tengah hari baiknya. Jika pada hari jum‘at menanam segala yang berbuah tetapi waktu zuhur baiknya. Jika pada hari sabtu menanam segala yang berakar dalam tanah tetapi pada waktu dhuha baiknya walla>hu a‘lam bi al-s}awab.
Bermula tanam-tanaman itu di a[m]bik pada nan tujuh bijo atau tapang ditanam pada hari nan tujuh subuh sahur jikalau barang yang baik //1// tubuhnya itulah nan jadi (k-w-r) itu pelihara patagahnya atau padi musuhnya jika padi itu padi hampo bones jikalau kayu-kayuan itu pada lebat buahannya, itulah jadi kabaru tamat walla>hu a‘lam bi as-s}awab.
Bermula jika buah atau biji ditanam subuh sahur pada ahad subuh, ditanam pula senayan subuh, ditanam pula senayan subuh, ditanam pula selasa subuh, ditanam pula raba‘a subuh, ditanam pada kamis subuh, ditanam pada jumat subuh, ditanam pada sabtu subuh ditanam barang yang (b-y-t) tumbuhnya itulah nan jadi (k-w-r) itulah wazannya itulah diikut walla>hu a‘lam.
Bermula rukun bernikah itu lima perkara, pertama zawjun artinya suami dan zawja[tun] artinya istri, ijab dan qabu>l²dan sifat artinya lafaz menikahkan dan tiada sah nikah itu melainkan dengan saksi adil dan wali yang murshil adapun //2// adapun arti adil menjauh dosa besar dan dosa kecil. Adapun arti murshil
- Dalam Judul ini terdapat beberapa sub tema naskah, seperti waktu bercocok tanam, fikih, taswuf dll Pada naskah qabu>r
memeliharakan agamanya dan artinya jangan dibelanjakannya hartanya itu kepada pekerjaan yang haram. Adapun yang bernama wali itu bapa dan nini dan saudara bapa dan anaknya dan saudara seibu sebapa atau sebapa. Tiada sah nikah melainkan dengan segala wali yang tersebut itu itupun dengan syarat adil hendaknya dan jika tiada peroleh yang demikian itu karena fasiknya maka bertahkum perempuan itu kepada seorang yang adil yang tau akan sah batal nikah dan jika tiada tahu tahkum itu akan sah batalnya tiada sah bertahkum akan dia. Adapun perempuan tatkala berttahkum tuan itulah akan tahkum hamba pada menikahkan hamba atau hamba serahkanlah tuan itulah mau akan menikahkan hamba dengan suami //3// hamba atau tuan itulah walikan hamba pada menikahkan hamba. Bermula bertah}kum itu serta dengan laki-laki, seperti kata Syekh kita yang mempunyai kitab tamshiyah, fa in faqad li waly> aw al-ha>kim fah}kamat al-mar’ah fa qul yazawwajuha> ja>z artinya maka jika ketiadaan wali (tawzaj ?) maka bertah}kum lah perempuan itu kepada seorang yang adil harus. Walla>hu a‘lam tamshiyah.
Inilah lafaz nikah “bismilla>hirrah{ma>nirrah}i>m bismilla>h wa al-hamdulilla>h wa as-s}ala>t wa as-sala>m ‘ala rasuh aw sakam ‘iba>dilla>h wa nafsi> bi taqwalla>h”. Inilah lafaz wali “bahwa aku nikahkan anakku isi kahawinnya sekian” kata *zawjun qabul “*aku menikah dia isi kawinnya (mabakinya ?)” tamat walla>hu a‘lam.
Bermula hati itu hati sanubari itu darah segumpal seperti buah sanubari ialah nama jantung bagi kita yang isi di dalam //4// jantung itu umpama jahali itulah yang bernama ruhani, hati nurani itulah yang dinamai a‘yang tha>bitah tiada dapat ia dirupakan itulah yang bernama diri kita yang batin akan jalan (s- ng-r-w) maka tatkala kita mengatakan la> ilaha kita persatukan diri kita yang zahir dengan diri kita yang batin setelah bersuluh maka kita pandanglah wujud Allah mutlak karena kita tiada berwujud setelah bersatulah pandang memandang tetapi memandang itupun Ia jua dan yang dipandang pun Ia jua tiada lain setelah luputlah dari pada pandang memandang kembalilah ia kepada dahulunya pada martabat la ta‘yin yaitu martabat zat
Allah jangan lalu terpandang kepada ta‘ayyinNya manakala terpandang kepada ta‘ayyinNya, maka pada masa itu terlebih sesat daripada menyembah berhala walla>hu a‘lam bi as-s}awab //5//
Bermula amala yang sempurna nan zahir memandang nan batin, nan batin memandang nan zahir itulah sebab bana amal dihimpunkan kepada tanzih dan tashbih. Walla>hu a‘lam bi as- s}awab. Bermula sifat zikir dengan lafaz la> ilaha illa Alla>h artinya dengan hati la> mat}lu>b illa Allah artinya tiada yang ditentu hanya Allah, la> ma‘bu>d illa Allah artinya tiada yang disembah hanya Allah, la> mawju>d illa Alla>h artinya tiada yang mawjud hanya Allah.
Bismilla>hirah}ma>nirrah}i>m
Hai tahan manahan si paga ma sipaga aku malakatkan tahan Allah tahan Muhammad tahan baginda Rasulullah akulah manahan kulang di anak sungai kabal berkat la> ilaha illa Alla>h Muh}ammad Rasu>lulla>h.
Bismilla>hirrah}ma>nirrahi>m
Dari la> ilaha illa Alla>h daripada Muhammad Rasulullah aku memohonkan kata //6// wali Allah aku memohonkan kata seperti Allah aku memohonkan kata Rasulullah aku memohonkan kata kudrat Allah aku memohonkan bali kata Nabi Muhammad pesuruh Allah memandang aku kepada Allah kasih memandang Allah kepada aku memandang Allah kepada orang dalam nagari lagi terjujur dalam sungai lagi terjujur dalam sungai lagi terjujur dalam sungai lagi terjujur dalam sungai lagi terjujur dalam sungai.
Bismilla>hirrah}ma>nirrah}i>m
Hai itu isi kada sadang (wayayar?) nan punya taranak simabang barlang nan kabali aku mamala maminta kepada engkau alawkan ikan dan kadar tujuh rantunan di mudik tujuh
rantunan di ilir alawkan ikan dan kalar bakambang badami kepada aku tidak engkau alawkan dan kalar kepada aku mati mawailah engkau mati diluhung ludang batang engkau kabukah tidang boleh angin ka lurah tidak boleh air litau engkau alawkan ikan dan kalar kepada aku //7// bersiksakan emaslah engkau batulangkan basi bauratkan kawat engkau kambang beribu kambang beratuslah engkau kabari berkat la> ilaha illa Alla>h Muhammad Rasulullah dikabarkan Allah dikabarkan Muhammad berkat la> ilaha illa Alla>h. Tamat
Bismilla>hirrah}ma>nirrah}i>m
Hai simambang bagalo Raja Sulaiman alawkanlah arit engkau ikan dan kalang jikalau tidak engkau alawkan ikan dan kalang mati mapak mati mawai lah engkau jikalau engkau alawkan ikan dan kalang beratus kambang beribulah engkau bagampang badamailah engkau ikan dan kalah tujuh rantunan di mudik tujuh rantunan di ilir kabar berkat la> ilaha illa Alla>h Muhammad Rasulullah.
Al fa>’idah al-khamsiyah fi baya>n as}l talqy>n Sheykh al- muri>d dhikr la> ilaha illa Alla>h wa baya>n kayfiyat talqi>n wa al- bay‘ah artinya faedah yang kelima pada menyatkan asal mengajarkan // 8// guru akan murid zikir la> ila ha illa Alla>h dan menyatakan (k-t-ng-n) mengajar itu dan menyatakan (k-t-ng-
n) (y-ng-t), maka adapun asal tempat bersandar segala Mashayikh pada mengajar murid zikir la> ilaha illa Alla>h pada jalan sama seorang ini yaitu ja[h]r terdiri pada Sayyidina Ali Abi T}alib Rad}ialla>hu ‘anhu tatkala ia birahi pada mehampirkan dirinya kepada Allah ta‘ala maka lalu ia berdatang sembah kepada Rasulullah s}alalla>h ‘alayhi wa salam ya Rasululla>h wa lani> aqrab al-t}urq ila Alla>h wa ashalyha> ‘iba>duh wa afd}aluha> ‘inda Alla>h artinya ya Rasulullah tunjukan olehmu akan di aku atas sempurna hampir daripada segala jalan kepada Allah dan semudahannya atas segala hambanya dan selebih lebihnya pada Allah ta‘a>la qa>la Rasu>lulla>h s}alalla>h ‘alayhi wa sallam ‘alayka bidawa>mah dhikr Alla>h fi> khalwa>t artinya maka sabda Nabi s}alalla>h //9// ‘alayhi wa sallam ya Ali tetap olehmu
senantiasa zikir Allah dalam segala khalwat yakni tempat yang sawan faqa>la ‘Ali> hakadha fad}ilah al-dhikr wa kullu an-na>s dhakaru>n artinya maka sembah Amirul Mukminin Ali rad}ialla>hu ‘anhu ya Rasulullah demikian kiranya fadilah zikir padahal adalah segala manusia itu menyebut zikir mereka itu faqa>la S{alalla>h ‘alayhi wa sallam ya> ‘Ali> la> taqu>m as-sa>‘ah wa ‘ala wajh al-ard} man yaqu>l Alla>h Alla>h artinya maka sabda Nabi salalla>h ‘alayhi wa sallam diamlah engkau hai ali tiada berdiri kiamat itu padahal atas bumi ini orang menyebut Allah Allah faqa>l ‘Ali> kayf dhikr ya Rasu>l Alla>h artinya maka sembah Amirul Mukminin Ali rad}ialla>h betapakah zikir ya Rasulullah qa>la ghamd} ‘alayka wa isma’ minni> thala>th mara>t thumma qul anta thalath mara>t wa ana> asma’ artinya sabda Nabi //10// s}alalla>hu ‘alayhi wa sallam hai Ali pejamkan kedua matamu dan dengarkan olehmu daripada aku tiga kali kemudian dari itu maka olehmu tiga kali padahal aku men[de]ngar daripadamu faqa>l an-Nabiy s}alalla>h ‘alayhi wa sallam la> ilaha illa Alla>h thalath mara>t maghmad}an ‘ayni>hi wa af‘an s}aut wa ‘Ali> rad}ialla>h ‘alayhi yasma’ atinya maka zikirlah Nabi s}alallah ‘alayhi wa sallam dengan kalimat la> ilaha illa Alla>h tiga kali padahalnya memejamkan kedua matanya dan menyaringkan suaranya dan Amirul Mukminin Ali radialla>h ‘alayhi wa sallam men[de]ngar dia thumma qa>la ‘Ali> la> ilaha illa Alla>h thalath marra>t maghmad}an ‘ayni>hi ra>fi‘an s}autahu wa an-Nabiyy s}alalla>h ‘alayhi wa sallam sami’ artinya kemudian dari itu maka zikirlah Amirul Mukminin Ali rad}ialla>h ‘anhu dengan kalimat la> ilaha illa Alla>h tiga kali padahalnya memejamkan kedua matanya dan menyaringkan suaranya dan Nabi s}alalla>h ‘alayhi wa sallam // 11// men[de]ngar dia bahwa inilah asal insan segala Mashayikh mengajarkan muridnya zikir dengan kalimat la> ilaha illa Alla>h pada jalannya sama seorang dengan muridnya dan adapun asal tempat bersandar segala Mashayikh mengajarkan muridnya zikir la> ilaha illa Alla>h padahalnya banyak-banyak itu yaitu cerita da[ri]pada saudara ini (a-w-s-l) rad}ialla>hu ‘anhu qa>la kana> ‘ind Nabiyy s}alalla>hu ‘alayhi wa sallam faqa>la hal fi> kum ghari>b ya‘ni ahl al-kita>b, qulna> la> rasu>lulla>h fafr biqulu> al-ba>b wa qa>la irfa‘u> aydi>kum wa qu>lu> la> ilaha illa Alla>h
farfa‘na aydi>na> sa>‘ah thumma qa>la al-h}mdulilla>h allahumma innaka bi ‘uthni> bi hadhihi likalimat wa amartani> biha> wa wa‘dataui> ‘alayha> al-jannah innaka la> tukhlifu al-mi‘a>d thumma qa>la illa absharkum fa innalla>h qad ghafur lakum artinya telah berkata Shadr anak Usi rad}ialla>hu ‘anh telah ada kami pada suatu hari di sisi Rasul //12// Allah ‘alayhi wa sallam maka sabdanya adakah pada kami orang gharib yakni ahli kitab maka sembah kami tiada ada kami ya Rasulullah setelah itu maka disuruhnya kami menutup pintu dan sabdanya angkatkan oleh kami sekalian tangan kami seketika serta kami menyebut kalimat la> ilaha illa Alla>h kemudian dari itu maka katanya segala puji bagi Allah ya Tuhanku bahwasanya telah Kau bangkitkan aku dengan kalimah ini dan Kau suruhkan aku dengan dia dan Kau bangkitkan aku dengan dia dan kau bangkitkan aku dengan kalimat ini dan Kau janjikan akan daku atasnya surga kemudian dari itu maka sabdanya ketahui oleh kamu sekarang (s- j-r-t-r-a-y) kami sekalian dengan khabar kebajikan bahwasanya Allah subhanahu ta‘ala telah menghimpun (d-s-w-w-sy) kamu sekalian bahwa inilah //13// asal insan segala Mashaykh mengajarkan muridnya pada halnya banyaklah. Bermula pahamkan dengan hadith itu ini bahwasanya jalan ini tiada harus mezahir akan dia meyakinkan pada halnya jua. Dan adapun kaifiyat talqin ini maka yaitu pertama disuruh dahulu orang yang hendak mengambilkan zikir itu tiga malam tidur atas t}aharahnya yakni dengan air sembahyangnya dan sembahyangkannya pada tiap-tiap malam daripada yang tiga malam itu enam rakaat, dua rakaat daripada itu enam itu dihadiahkannya pahalanya kemudian daripada sembahyangkannya kepada Nabi s}alalla>h ‘alayhi wa sallam sepuluh kali (a-n) bacanya pada akhir sepuluh kali itu wa ‘ala jami>‘ al-Anbiya>’ al-mursali>n wa ila kulli minhum wa s}ahibihim wa ‘a>mat al-mu’mini>n ‘inda dakhluq bi dawa>m Alla>h ‘an Alla>h ‘anna> wa Nabiyyina> Muh}ammad s}alallahu ‘alayhi wa sallam ma> huwa ahl sari>b (k-l) kemudian daripada sempurnalah bilangannya itu maka tidurlah //14// ia padahalnya mehantarkan lambangnya atas hamparannya lagi mengistikhs}ar kan Nabi s}alalla>h ‘alayhi wa sallam pada hadapannya serta dengan dirinya seolah-oleh ia menilik kepadanya dibacanya zikir
yang tersebut itu dengan tiada berbilang hingga memutuskan dia tidurnya. Bermula jikalau dikehendakinya lain daripada zikir yang tersebut itu atau lain daripada bilang yang tersebut itu seperti disuruhnya mengucap shalawat yaitu Allahumma ya> rab Muh}ammad s}allu ‘ala Muh}ammad wa ala Muhammad wa ajz Muh}ammad ‘ala ma huwa ahlihi atau lainnya seribu kali dan la> ilaha illa Alla>h seribu kali setelah itu maka kembali pula ia kepada shalawat itu bacanya seratus kali yang berbilang setelah itu maka mengucap shalawatlah ia sengan shalawat yang tiada berbilang hingga memutuskan dia tidurnya niscaya //15// harus jua atasnya demikian itu dengan sekira-kira tiga gurunya dan barang dilihatnya dalam mimpinya pada tiap-tiap malam yang tiga itu maka hendaklah dicari akan zikir semata-mata atau serta dengan bai‘ah dan adapun kabai‘at (n-b-ng-t) itu atas beberapa bagi, setengah daripadanya bahwa dihantarkannya oleh murid itu tangannya dibawah tangan keduanya pada halnya tangannya dan tangan gurunya terhampar keduanya jika murid laki-laki jua. Adapun jika murid perempuan yakni sama ada ia orang yang lain atau mahramnya karena membezakan laki-laki dengan perempuan, maka tiada harus demikian itu melainkan suatu yang mengantarai dia antaranya dan antara gurunya seperti kain atau air dalam bejan atau diingatkan oleh gurunya akan dia dengan kata jua karena Nabi s}alallahu ‘alayhi wa sallam //16//membaiatkan perempuan dengan kata jua hanya adalah seperti misalnya sabdalah kamu (l-b-f-l-t-k-n) maka dibaca oleh gurunya padahalnya mengamabil berkah dan mengambil (s-y-f-n) yang baik itu ini a‘u>dhubilla>h min shayt}a>n ar-raji>m inna al-ladhi>na yuba>yi‘u>n (naka?) innama> yuba>yi‘u>n Alla>h yad Alla>h fauq aydi>him faman naks ‘ala nafsi wa man awfi> bi ma> ‘a>ha Alla>h fayu’ti>h ajar ‘az}ima>n dan apabila selesailah ia daripada membaca ayat itu maka disuruhnyalah murid itu membaca rad}i>tu billa>h rabb wa bi al-isla>m dunya> wa bi Muh}ammad s}alalla>h ‘alayhi wa sallam nabiya> wa bi al-qur’an ima>ma wa bi al-ka‘bah qiblah wa sayyidi Shaykh dhu murabbiyan wa dali>lan wa bi al-fuqara>’i al-ta>ta‘i>n ikhwa>na> li> ma> ‘alayhim wa lahum ma> ‘ala al-t}a>‘ah tujma‘ina> wa al-ma‘s}iyah *ta‘arafna>*tatkala itu maka murid itu pun //17// mengikut
bacanya gurunya itu suatu kalimah kemudian daripada suatu kalimah setelah itu maka disuruhnya pula akan dia bersama-sama mengata astaghfirulla>h al-‘az}i>m al-ladhi> la> ilaha illa huwa al- h}ayyu al-qayyu>m wa atu>[bu} ilayh tiga kali kemudian dari itu maka disebut oleh gurunya la> ilaha illa Alla>h tiga kali dengan pasal mengajarkan zikir. Adapun yang asal itu zikir dan baiat itu ta>bi‘ akan muridnya itu serta dengan baiat dan murid itu men[de]ngarkan dia maka disebut oleh muridnya la> ilaha ilaa Alla>h seperti yang disebut oleh gurunya itu dan gurunya men[de]ngarkan dia kemudian dari itu maka dibacanya oleh gurunya itu doa ini allahumma khidhmatuh wa taqabbal malah waftah ‘alayhi ba>b kulla khayr kama> fatahtuh ‘ala anbiya>’ika s}alallah ‘alayhi wa sallam dan minta //18// tolong ia daripadanya akan kubur kerjanya itu dan hasil taus}il tolong dan futuh yakni kemenangan daripada Allah ta‘ala dan dibacanya pada rakaat yang pertama kemudian daripada fatihah inna anzalna>hu enam kali dan pada rakaat yang ke dua dua kali dan duduk daripadanya hadiyahkannya pahalanya kepada Shaykh gurunya dan kepada segala guru-gurunya dan segala keluarga mereka itu dan segala sahabat mereka itu dan segala yang mengikut mereka itu dibacanya pada rakaat-rakaat yang pertama kemudian dari pada fatihah qul huwa Alla>h empat kali dan pada rakaat yang kedua dua kali dan minta tolong ia daripada mereka itu sekalian akan kubur pekerjaan itu dan hasil ‘a>fiyat dan tolong daripada Allah ta‘ala kemudian dari itu maka mengucap shalawatlah ia akan Nabi Allah ‘alayhi wa sallam sepuluh kali dan bacanya pada //19//akhir sepuluh kali itu wa ‘ala jami>‘i al-anbiya>’ wa al-mursali>n wa likulli minhum wa s}ahbihim wa ‘a>mat al-mu’mini>n ‘adada khalak Alla>h bidawa>m Alla>h setelah itu maka duduklah ia bersila dikatanya dua kali dan minta tolong ia daripada mereka itu akan kubur pekerjaannya itu dan hasil ‘a>fiyat dan futuh terbuka dan tolong daripada Allah ta‘ala kemudian dari itu maka ditutntutlah baginya segala (a-w-r-l) dengan sekira-kira patut dengan dia sekurang-kurang juga ia kuasa atasnya menyebut la> ilaha illa Alla>h kemudian daripada sembahyang tahajut seribu kali padahal memulainya tiap-tiap demikian itu dan disudahinya akan dia dengan //20// shalawat
atas Nabi S{alallah ‘alayhi wa sallam sekurang-kurang sepuluh kali dan jika ada ia dalam pelayaran kesegalapun dijadikannya tiap-tiap seribu itu seratus kali walla>hu a‘lam bi as-s}awa>b.
Bermula setelah berkata *‘azali>*rahmat Alla ‘alayhi ketahui olehmu bahwasanya tembakau itu seperti hukum tuak bersabda Nabi s}alalla>h ‘alayhi wa sallam “barang siapa mengisap akan asap tembakau padahal tiada taubat ia hingga mati ia maka tiada baginya akan safaa[t]ku pada hari kiamat”. Bermula segala mereka itu yang mengisap akan asap dan (kanji?) pada halnya tiada dalamnya manfaat pada badan yaitu haram bagi orang empunya surga. Bermula asap tembakau ini minuman orang dalam neraka dan yaitu satu alamat hari kiamat. Bermula segala orang mengisap dia ialah munafik dan tiada dapat mereka itu iman mudharah //21// jua pun pada tiap-tiap hukum syariat, maka tiada ia mukmin pada tiap-tiap orang mujtahid dan tiada diterimakan Allah akan taat mereka itu dan memutuskan Allah ta‘ala akan segala amal mereka itu dan segala kebajikan mereka itu dan barang siapa mengisap ia akan asap tembakau dalam masjid seperti meminum darah perempuan membawa haid, barang siapa mengisap ia akan tembakaumaka seolah-olah ia terlebuh jahat daripada orang meminum tuak. Mukhtas}ar al-Anwa>r wa sarh al-awliya>’ tamat.
‘an al-Nabiyy s}alalla>h ‘alayhi wa sallam man saraba dukha>n al-fa>q barang siapa meminum asao tembakau wa la> yatu>bu hatta yamu>t falaysa lahu shafa>‘ah dan tiada taubat hingga mati ia maka tiada baginya safaatku yaum al-qiyam. Barang siapa shak kafir.
Bismilla>hirrahma>nirrahi>m //22//
Hadha al-kita>b pada menyatakan agama artinya taat akan Allah. Adapun awal-awal agama itu yaitu ma‘rifat. Bermula rukun agama itu yaitu empat perkara, pertama iman, ke dua islam, ke tiga tauhid, ke empat ma‘rifat dan artinya iman itu percaya akan Allah dan akan Nabi dan artinya Islam itu menjunjung titah Allah dan titah Nabi dan titah guru dan menjauh tegah Allah dan tegah
Nabi dan tegah gurunya. Artinya tauhid tahu akan Allah ta‘ala Esa, artinya ma‘rifat itu mengenal Allah ta‘ala Esa. Bermula rukun iman itu enam perkara, pertama amanat billa>h artinya percaya akan Allah, ke dua wa mala>’ikatihi artinya percaya akan malaikat, ke tiga wa kutubihi artinya percaya akan kitab Allah, ke empat wa rasu>lihi artinya percaya akan Rasul Allah, ke lima wa yaum al- a>khir artinya //23//qadarihi wa sirrihi min Alla>h ta‘ala artinya percaya akan (intang?) baik dan jahat daripada Allah jua adanya. Betapalah murah kita percaya akan Allah di ikrarkan dengan lidah dan di tas}diqkan dengan hati bahwasanya Allah ta‘ala ada ia tiada berkesudahan dan tiada ia serupa dengan segala yang baharu (h- y-d) (h-d-q-t-w) tahu kuasa berbuat seke[he]ndaknya dan betapalah kita percaya akan malaikat diikrarkan dengan lidah dan tas}diq kan dengan hati bahwasanya Allah ta‘ala menjadikan malaikat daripada cahaya, tubuhnya halus, bangsanya tinggi martabatnya, tiada ia laki-laki dan bukan ia perempuan dan tiada ia beranak dan tiada ia peranakkan dan tiada ia t}alab dan tiada ia ingin dan suci ia daripada //24//dosa besar dan dosa kecil. Bermula perbuatannya berbagi-bagi, setengahnya berdiri dengan ti[ta]h Allah dan setengahnya rukuk dengan titah Allah dan setengahnya sujud dengan titah Allah dan setengahnya tasbih dengan titah Allah dan setengahnya tahmid dengan titah Allah dan setengahnya tahlil dengan titah Allah dan setengahnya takbir dengan titah Allah dan setenahnya menyuratkan dosa dan pahala dengan titah Allah dan kemudian dari itu penghulunya empat orang, pertama Jibrail kerjanya membawa kitab yang seratus empat kepada Nabi yang dua lapan orang, ke dua Mikail kerjanya memintakan rizki segala makhluk dan menuru[n]kan hujan dan panas dan memagangkan kain dan ke tiga Israfil kerjanya meniup sangka kala memintakan rizki segala makhluk, ke empat Izrail //25// kerjanya mengambil nyawa segala makhluk. Betapalah murah kita percaya akan kitab diikrarkan dengan lidah dan ditas}diq kan dengan hati bahwasanya Allah ta‘ala menurunkan kitab kepada Nabi yang dua lapan orang akan menyatakan halal dan haram, sunat dan fardu, sah dan batal, barang siapa shak kafir na‘u>dhubilla>h minha>. Betapalah murah kita percaya akan Rasul Allah dan segala Nabi diikrarkan dengan lidah dan
ditas}diqkan dengan hati bahwasanya Allah ta‘ala menjadikan segala Rasul Allah dan segala Nabi seratus ribu dua puluh ribu empat orang pertama Nabi Adam kesudah-sudahan Nabi Muhammad. Bermula yang jadi Rasul tiga ratus tiga belas orang dan yang keturunan kitab dua lapan orang yaitu Adam, Syaf, Idris, Ibrahim, Isa dan Muhammad //26// dan yang memegang syari‘at enam orang, pertama Adam, ke dua Nuh, ke tiga Ibrahim, ke empat Musa, ke lima isa, ke enam Muhammad. Bermula segala Nabi menyampaikan segala Rasul dan keprcayaan Allah dan menceritakan yang gaib-gaib seperti zat Allah dan sifat Allah dan af‘a>l Allah dan hari kiamat dan surga dan neraka. Bermula yang tersebut martabatnya kepada Allah daripada segala Nabi Muhammad ada seorang laki-laki orang Arab bangsanya Hasim lagi Qurays bangsanya Abdullah nininya Abdul Muthalib ibunya Aminah menyu[su]kan dia Halimatu Sa‘diyah adanya di Makkah. Keturunan Jibrail pun di Makkah berpindah dari Makkah ke Madinah wafatnya di Madinah kuburnya pun di Madinah. Dan betapalah murah kita percaya akan hari yang kemudian yaitu //27// hari dimatikan Allah segala makhluk karena sa>‘ah (s-ny) meyakinkan yang dikehendakinya tiada mati seperti Surga dan Neraka dan ‘Arsy dan Kursi dan Lauh dan Qalam dan ditanya dalam timbang dosa dan pahala dan barang siapa ber[bua]t amal kebaikan masuk Surga, barang siapa tiada takut akan azab Allah dan tiada diharapkan rahmat Allah dan nikmat Surga itu yaitu kafir. Dan apalah murah kita percaya akan intang baik dan jahat diikrarkan dengan lidah ditas}diqkan dengan hati bahwasanya untung baik dan jahat, susah dan senang, hidup dan mati, miskin dan kaya, hina dan mulia semuhanya itu diuntungkan Allah dan dikehendakinya dan dijadikannya dan dihukumannya dan diridhakannya //28//.
Bermula untuk baik yaitu iman dan taat yaitu diuntungkan Allah dan dikehendakinya dan dijadikannya dan dihukumkannya diridhakannya dan dikasihinya. Bermula untung jahat kafir dan maksiat yaitu diuntungkan Allah dan dikehendakinya dan dan jadikannya dan dihukumkannya tetapi dengan murahnya dan teguhnya dan sasakannya. Bermula fardhu iman dan kesempurnaannya tiga perkara, pertama diikrarkan, kedua
ditas}diqkan dengan hati, ketiga diperbuat dengan anggota serta mengikut ijma‘ Imam yang berempat. Bermula syarat iman itu sepuluh perkara, pertama kasih akan Allah, kedua kasih akan Nabi, ke tiga kasih akan Malaikat, ke empat kasih akan kitab, ke lima kasih akan wali Allah, ke enam benci akan seteru Allah, ke tujuh teguh akan azab //28// Allah, delapan harap akan rahmat Allah, sembilan berbesar segala tagah Allah yaitu (s-j-w-d-y). Bermula yang memisahkan iman itu dua puluh dua, pertama menduakan Tuhan, ke dua mengharuskan pekerjaan yang jahat, ke tiga benci akan Malaikat, ke empat menyembah Malaikat, ke lima menghinakan kitab, ke enam menyembah Nabi, ke tujuh mendustakan Nabi, ke delapan tiada percaya akan firman Allah ta‘ala dan sabda Nabi, ke sembilan mengasung-ngasung orang berkelahi sesama Islam serta diharuskannya pekerjaannya itu, ke sepuluh besar daripada suruh Allah, ke sebelas beringan- ringankan syara‘, ke dua belas tiada takut akan gugurkan imannya, ke tiga belas putus asa dari rahmat Allah, ke empat belas menyerupai pakaian kafir, ke lima belas memakai pakaian kafir, ke enam belas mengi‘tikadkan wajib //29// pada Allah menjadikan segala alam, ke tujuh belas mengi‘tikadkan segala yang memberi bekas dalam alam dengan bekas darinya tiada (b-s- r-h) dengan qadarnya Allah, ke delapan belas mengi‘tikadkan wajib pada Allah ta‘ala memasukan orang berbuat ibadah ke dalam Surga dan mewajibkan memasukkan orang maksiat ke dalam Neraka, ke sembilan belas membenarkan kata orang yang tua-tua yang menyalahi kata syara‘, ke dua puluh mengi‘tikadkan i‘tikad orang berpatutan dengan hadith dan dalil salah, ke dua puluh esa mengambil zahir kata hadith atau kata wali atau kata orang alim, ke dua puluh dua berpegang pada i‘tiqad kaum Qadiriyah dan kaum Jabariyah. Bermula perbedaan amal dan iman sebelas perkara, pertama iman itu diikut amal itu mengikut iman iman itu //30//mengikut amal jika tiada amal tiada sah iman, jika tiada iman tiada sah amal, dan ke dua iman itu fardhu da>’im amal itu fardhu waktu-waktu, ke tiga iman itu diterimakan Allah serta amal, amal itu tiada diterimakan Allah jikalau tiada iman, ke empat iman (tidak terbaca) wajib pada Allah Islam dan tiada waji pada kafir, ke lima iman itu tiada dapat diserayakan,
amal itu dapat diserayakan seperti mengeluarkan zakat, ke enam iman itu tiada beroleh panabung, amal-amal itu beroleh panabung pada hari yang kemudian, delapan orang beriman masuk Surga, serta amal orang beramal tiada masuk Surga jikalau tiada Iman, sembilan ketiadan amal fasik, ketiadaan iman kafir, ke sepuluh sekalian Nabi mufakat pada iman dan //31//tiada mufakat amal, ke sebelas iman segala Nabi dipeliharakan Allah, amal tiada dipeliharakan Allah.
Bermula (tidak terbaca) iman itu tujuh puluh tujuh (k-r) pertama menyebut la> ilaha illa Alla>h serta mengi‘ktikadkan yang (tidak terbaca), ke dua percaya akan Allah dan segala Malaikat, ke tiga percaya akan kitab, ke empat percaya akan segala Nabi daripada Nabi adam datang kepada Nabi Muhammad, ke lima percaya akan hari kemudian, ke enam percaya akan hidup kemudian mati, tujuh percaya akan untung baik dan jahat daripada Allah jua adanya, ke delapan percaya akan berhimpun ke Padang Mahsyar kemudian berbangkit daripada kubur, ke sembilan percaya akan bahwasanya bertambang dan menerima piutang negeri orang beriman itu surga dan negeri orang kafir neraka, ke sepuluh takut akan Allah, ke sebelas kasih akan Allah, ke dua belas //32//harap akan rahmat Allah, ke tiga menyerah kepad Allah, ke empat belas kasih akan Nabi kita Muhammad dan memuliakan dia, ke lima belas kekar akan iman, ke enam belas membesarkan Nabi Muhammad, ke tujuh menunut ilmu, ke selapan belas berkata-katakan ilmu syara‘, ke sembilan belas membesarkan Qur‘an dan (b-f-j-r-y) dia dan membesarkan orang menanggung Qur‘an, ke dua puluh esa memberi zakat, ke dua puluh dua sembahyang lima waktu, ke dua puluh tiga puasa, kedua puluh empat diam dalam Masjid dengan niat. Bermula niatnya sengaja aku diam dalam Masjid sunat karena Allah. Ke dua puluh lima naik haji, ke dua puluh enam perang sabilillah, ke dua puluh tujuh menyegerakan kuda pada tengah peperangan karena menolakkan kafir, ke dua puluh salapan tetap pada peperangan //33// jangan lari melainkan karena derita maka kalari, ke dua puluh sembilan memberikan rampasan seperlima kepada Raja, ke tiga puluh memudahkan hamba, ke tiga puluh esa memberi kafarat, ke tiga puluh dua menyempurnakan janji, ke tiga puluh
tiga mengenal nikmat yang atas kita seperti menjadikan kita, ke tiga puluh empat memeliharkan lidah daripada yang tiada disuruhkan Allah, ke tiga puluh lima memeliharakan pitaruh orang dan memberikan dia kepada empunya dia, ke tiga puluh enam jangan memeliharakan orang membuat jahat melainkan memeliharakan orang berbuat baik, ke tiga puluh tujuh memeliharakan diri daripada berbuat zina dan memeliharkan memandang dan mencabut dan berkata-kata menilik perempuan jangan perempuan membukakan auratnya, ke tiga puluh salapan menahan jari kepada //34// yang haram, ke tiga puluh sembilan menakuti (m-k) nan minuman yang haram, ke empat puluh menjauh daripada segala pakaian dan tempat yang haram, ke empat puluh esa menjauh daripada lalai dan bermain-main, ke empat puluh dua birahi membalanjokan arta dirinya jangan berlebih-lebihan, jangan kikir, ke empat puluh tiga meninggalkan kianat, dendam dan dengki, ke empat puluh empat haram menghinakan Islam dan mengarangkan dia dan menzahirkan ke jalan Islam, ke empat puluh lima menaikan amal (d-r-y) dan (t-m- f-h) yaitu mengerjakan amal di cita-citakan dan disebut-sebut, ke empat puluh enam syak dengan berbuat baik jangan syak buat jahat, ke empat puluh tujuh (m-ng-l-y-n) berdosa dan selama (a-l- y-ny) ke empat puluh salapan bersedekah //35// kepada orang, mohonkan Ka‘bah dan kurban dan akikah, ke empat puluh sembilan mengikut orang mengerjakan berbuat baik bertolong-tolongan berbuat baik jangan berbuat jahat melainkan berbuat baik jua terlebih (a-f-l-ny), ke lima puluh esa mehukumkan segala manusia dengan yang adil, ke lima puluh dua menyuruhkan orang berbuat baik dan menagahkan orang berbuat jahat, ke lima puluh tiga bertolong-tolongan berbuat baik, ke lima puluh empat mengenal akan Allah, ke lima puluh lima takut akan Allah, ke lima puluh enam kasih akan anak cucu dan kawan, keluarga, ke lima puluh tujuh baik perangai yatu memadam marah dan melebihkan bahagian orang yang lain daripada dirinya, ke lima puluh salapan berbuat baik kepada seala hambanya dan memeliharkan hak mereka itu, ke lima puluh sembilan hendaklah hamba //36// itu mengikut suruh penghulu yang tiada maksiat, ke enam puluh hendaklah ibu, bapak, duami itu memeliharakan anaknya dan isi
rumahnya dan mengajar mereka itu akan sah dan batal dan syarat dan segala rukun dan halal dan haram, ke enam puluh esa mengikut orang beragama dan menghampirkan kepadanya dan berjabat tangan dengan dia, ke enam puluh dua hak orang Islam atas Islam lima perkara, pertama menjawab salamnya, ke dua menjawab basinnya, ke tiga menjawab serunya, ke empat menjenguk orang sakit, ke enam puluh menguburkan jenazah, ke enam menggotong mait, ke enam puluh empat sembahyang atas mait, ke enam puluh lima menjawab orang basin yaitu mengata al- h}amdulilla>h dan orang lain jawabnya rahima //37// kumulla>h, ke enam jauh daripada segala kafir dan daripada orang berbinaskan kata atas mereka itu, ke enam puluh tujuh memeuliakan sekampung, ke enam puluh salapan memeuliakan jamu, ke enam puluh sembilan (m-m-n-y-k-n) segala dosa orang Islam dan (m-m-n-y-k-n) kejahatannya, ke tujuh puluh sabar atas taat dan atas kesakitan dunia dan meninggalkan dunia dan sedikit angan-angan pada menuntut arta dan kemuliaan dan hendaklah menghinakan yang dihinakan Allah itu yaitu segala pekerjaan dunia yang menyalahi syara‘, ke tujuh puluh dua menegahkan isi rumahnya daripada perhimpunan kepada orang yang lain dengan menilik atau berkata-kata akan dunia, menegahkan segala perempuan berhimpun-himpun dengan laki-laki, ke tujuh puluh empat menyeru yang disuruhkan Allah, ke tujuh //38// puluh lima pengasihkan segala kanak-kanak dan memuliakan orang tua-tua, ke tujuh puluh enam berbaik-baikkan segala manusia, ke tujuh puluh tujuh pengasihkan seala Islam seperti mengasih diri.
Bermula kepala iman itu membaca la> ilaha illa Alla>h dan hatinya membaca Qur‘an, badannya mengucap zikir hatinya, benar kalamnya dusta manisnya suci tambahannya mem[be]ri zakat hukumnya antara teguh dan apa syari‘atnya mehalalkan yang halal, meharamkan yang haram bacanya ilmu buahnya taat daunnya teguh akan Allah, kuduknya malu, utaknya doa, akarnya ikhlas, rumahny hati yang mukmin, perhiasannya sembahyang sunnat. Bermula rukun Islam itu lima perkara, pertama syahadat, ke dua sembahyang, ketiga mem[be]ri zakat, ke empat puasa, ke lima haji. Bermula tanda Islam itu taat //38// tiga puluh, pertama merendahkan diri, ke dua suci lidahnya daripada dosa, ke tiga suci
perutnya daripada yang haram, ke empat suci badannya daripada loba dan tamak, ke lima tetap hatinya, ke enam tetap kelakuannya, ke tujuh malu, ke delapan tiada ia menyarakkan marah, ke sembilan sabar, ke sepuluh sukur, ke sebelas pengasih, ke dua belas penyayang, ke tiga belas menanggung hukum Allah, ke empat belas berkelakuan seperti kelakuan orang seumpamanya, ke lima belas baik kelakuan, ke enam belas memaafkan kesalahan manusia, ke salapan belas meninggalkan berbantah-bantah, ke sembilan belas meninggalkan (tidak terbaca), ke dua puluh benar pada kabar, ke dua puluh esa menyempurnakan haji, ke dua puluh dua takut akan Allah, ke dua puluh tiga bakti akan Allah dan akan nabi dan segla sahabat nabi dan //39// segala manusia, ke dua puluh empat meninggalkan (tidak terbaca) tiada berkawan taat, ke tiga puluh jangan memainkan pitaruh orang.
Bermula Islam itu empat perkara, pertama sabar akan hukum Allah, ke dua ridha akan Allah barang yang didatangkannya, ke tiga ikhlas dirinya menyerah kepada Allah, ke empat mengikut titah Allah dan titah Nabi. Bermuala yang mem[bi]na[sa]kan Islam empat perkara, pertama berbuat suatu perbuatan yang tiada tau akan sah batalnya, ke dua tau tiada diamalkannya, ke tiga tiada tau tiada mau belajar tau tiada diamalkan, ke empat mencela-cela Islam. Bermula arti syahadat itu mengetahui hak Allah ta‘ala dengan dalil artinya dengan tanda. Bermula fardhu syahadat itu dua perkara, pertama diikrarkan dengan lidah, ke dua ditas}diqkan dengan hati. Bermula kesempurnaannya empat perkara, pertama tau, ke dua ikrarkan, ketga //40// ditas}diqkan, ke empat yakin. Bermula rukun syahadat itu empat perkara, pertama mengetahui zat Allah, ke dua mengetahui sifat Allah, ke tiga mengetahui af‘a>l Allah, ke empat s}iddiq Rasulullah. Betapalah kita mengetahui zat Allah yaitu sepuluh perkara, pertama mengetahui hak Allah ta‘ala ada, ke dua tiada ia berpermulaian dan tiada ia berkesudahan, ke empat tiada ia berbuat yang disuka-sukakan, ke lima tiada ia berdiri pada zat yang lain, ke tujuh tiada ia dapat ia dikata di atas, di bawah, di kiri, di kanan, di hadapan, di belakang, di luar, di dalam, ke salapan tiada ia berkehendak pada tengah yang lain, ke sembilan lagi dilihat akan Tuhan di Surga, ke sepuluh esa hak Ta‘ala. Dan
betaplah kita mengetahui Allah ta‘ala dan sifat Allah Yaitu sepuluh //41// perkara pertama mengetahui Allah ta‘ala hidup, ke dua tau, ke tiga kuasa, ke empat berkehendak, ke lima mendengar, ke enam melihat, ke tujuh berkata, ke salapan benar, ke sembilan suci daripada kemasukan segala yang baharu, ke sepuluh qadim (q-n-d-y-r-y-ny) dan (a-r-a-w-t-ny) dan ilmunya. Dan betapalah kita mengetahui af‘a>l Allah yaitu sepuluh perkara, pertama mengetahui Allah ta‘ala menjadikan segala alam, ke dua memezakn, ke tiga mehidupkan, ke empat mematikan, ke lima memulai, ke enam (m-ng-m-b-k-n), ke tujuh melenyapkan, ke salapan menyesatkan, ke sembilan menunjuki, ke sepuluh memberi nikmat nikmat ke dalam surga menyukar dalam neraka. Dan betapalah kita mengetahui akan siksa kubur benarnya ke dua tanya Malaikat di dalam kubur sebenarnya, ke tiga (b-r-y-ng-k-t) di dalam kubur sebenarnya, ke empat berhimpun ke padang //42// Mahsyar, ke lima ber (s-t-y) dosa dan pahala sebenarnya, ke enam tita Siratul Mustaqim, ke tujuh Neraka ke salapan Surga, ke sembilan melihat sahabat Nabi, ke sepuluh membenarkan hukum Nabi. Bermula syarat syahadat yang mujmal empat perkara, pertama mengetahui zat Allah dan sifat Allah dan af‘a>l Allah dan zatnya Nabi, sifatnya Nabi, dan af‘a>l Nabi, ke dua mengikrarkan dua kaliamt syahadat, satu syahadat tauhid, ke dua mengikrarkan dan mentas}diqkan sebenarnya segala nabi dan segla Rasulullah, ke tujuh mengikrarkan dan mentas}diqkan Nabi Muhammad termulia daripada segala Nabi Allah, ke salapan mengikrarkan dan mentas}diqkan Nabi Muhammad (m-ng-y-r-t) (k-l-ng-t) dengan batang tubuhnya dengan tubuhnya, ke sembilan mengikrarkan dan mentas}diqkan segala Nabi Adam (m-ng-j-r-h) dan segala wali //43// ada kiram, ke sepuluh mengikrarkan dan mentas}diqkan segala Rasul Allah dan tegahnya, ke sebelas mengikrarkan dan mentas}diqkan orang di dalam kubur dan tanya dua orang Malaikat, ke dua belas mengikrarkan dan mentas}diqkan hari kiamat lagi akan datang, ke tiga belas mengikrarkan dan mentas}diqkan amal segala Mukmin diberikan dari kanan dan amal segala Fasiq dari belakang kanannya, ke empat belas mengikrarkan dan mentas}diqkan dikira-kirai segala amal dan timbang dan titi Siratal Mustaqim, ke lima belas
mengikrarkan dan mentas}diqkan Laul Mahfuz dan Qalam dan Kiraman Katibin dan Malikul Maut, ke enam belas mengikrarkan dan mentas}diqkan segala doa orang yang hidup dan sedekahnya memberi manfaat akan orang yang mati, ke tujuh belas mengikrarkan dan mentas}diqkan segala //44//orang beriman yang berdosa masuk Neraka kemudian masuk Surga, ke salapan belas mengikrarkan dan mentas}diqkan segala orang beriman melihat Tuhan dalam Surga dengan mata hatinya, ke sembilan belas mengikrarkan dan mentas}diqkan tanda hari kiamat lagi akan datang yaitu keluar Dajal dan keluar Yajuj dan Ma’juj dhuba>t al-Ard} dan terbitlah Matahari daripada maghrib dan turunlah Nabi Isa akan membunuh Dajal dan keluarlah Imam Mahdi. Bermula lamanya akan keluar lima puluh empat tahun. Ke dua lima puluh empat hari, ke dua puluh mengikrarkan dan mentas}diqkan yang segala Mukmin yang Khalis terlebih daripada segala Malaikat yang Khas dan Mukmin yang kebanyakan lebih daripada segala Malaikat //45// yang kebanyakan, ke dua puluh esa mengikrarkan dan mentas}diqkan menyebut-nyebut nama Nabi dengan lidah, ke dua puluh mengikrarkan dan mentas}diqkan sahabat Nabi yang sepuluh orang isi Surga yaitu Abu Bakar, dan Umar, Usman, Ali ke dua puluh tiga mengikrarkan dan mentas}diqkan yang lebih daripada segala manusia yang lain daripada Nabi yaitu sahabat yang sepuluh orang itu. Bermula yang membinasakan syahadat itu empat perkara, pertama menduakan Tuhan, ke dua Syak akan Allah ta‘ala Tuhan, ke tiga meninggalkan segala suruh Allah, ke empat tiada mengisabkan Allah.
Bermula rukun bersuci itu tiga perkara, pertama menghilangkan rupanya, ke dua menghilangkan rasanya, ke tiga menghilangkan baunya. Bermula syarat bersuci itu lima perkara pertama membukakan duburnya, ke dua //46// menggosok yang terbuka, ke tiga bersuci dengan air yang suci lagi mensucikan, ke empat membuangkan lendir-lendirnya, ke lima menutupkan dirinya. Bermula kesempurnaannya dua perkara, pertama yakin, ke dua ikhlas. Bermula junub itu tiga perkara, pertama niat yaitu nawaytu raf’ al-hadath al-akbar ‘an jami>‘ al-badn fard} ‘ala Alla>h ta‘ala artinya senghajaku mengilatkan junubku fardhu atasku karena Allah atau nawaytu rafa‘ al-jana>bah fard} ‘ala Alla>h
ta‘ala, ke dua menyampaikan air kepada segala tubuhku fardhu atasku karena Allah, ke tiga menghilangkan najis pada tubuhnya. Bermula niat mandi haid itu yaitu nawaytu ghusl min al-hayd} fard} ‘ala Alla>h ta‘ala senghajaku mandi haid fardhu atasku karena Allah. Bermula //47// niat mandi beranak yaitu nawaytu ghusl min al-wa>la>da>n fard} atasku karena Allah ta‘ala. Bermula yang mewajibkan mandi enam perkara, pertama keluar mani, ke dua bertemu dua khitam, ke tiga mati yang bukan mati syahid, ke empat haid, ke lima beranak, ke enam nifas yaitu darah yang keluar kemudian daripada beranak ke empat puluh hari kebanyakannya, sebanyaknya enam puluh hari. Bermula yang haram pada orang berhadas kecil itu yaitu lima perkara, pertama sembahyang, ke dua tawaf, ke tiga membaca khatib jum‘at, ke empat menjabat mushaf, ke lima (m-n-f-k-ng). Bermula yang haram pada orang junub itu salapan perkara, pertama yaitu lima pada orang berhadas kecil, ke enam membaca Qur’an, ke tujuh diam dalam //48// masjid, ke delapan berulang-ulang dalam masjid. Bermula haram pada orang nifas dan haid itu yaitu dua belas perkara, pertama salapan pada orang junub, nan sembilan puasa, ke sepuluh mentalak dia, ke sebelas (tidak terbaca), ke dua belas menyentuh perempuan antara pusat dan lutut. Bermula syarat mandi ini sebelas perkara, pertama Islam, ke dua berakan, ke tiga mengetahui fardhu dan sunat mandi, ke empat memfardhukan yang fardhu dan menyunatkan yang sunat, ke lima mandi dengan air yang suci menajiskan, ke enam mehilangkan yang menegahkan air lalu ke pada kulah, ke tujuh berkekalan pada niat, ke delapan menyampaikan air kepada segala kulatnya dan (r-m-t-ny), ke sembilan jangan berpindah niat itu daripada permulaiannya datang kepada kesudahannya, ke sepuluh //49// jangan memuaskan niat, ke sebelas suci daripada haid dan nifas. Bermula sunat mandi junub enam belas perkara, pertama kiblat, ke dua menghilangkan mani, ke tiga mengucap bismilla>h serta muqaranahkan niat, ke empat mengambil air sembahyang, ke lima diselah-selah menyampikan air kepada sekalian kulitnya, ke enam menyelah-nyelah pada sekalian pohon rambutnya, ke tujuh menderaskan air ke atas kepala, ke delapan mandi menderaskan sebelah kanan, ke sembilan menghadirkan niat daripada
berulang-ulang tiga kali, ke sepuluh menggosok tiap-tiap sekaliannya, ke sebelas menghadirkan niat daripada permulaian datang kepada kesudahan, ke dua belas membasuh berturut-turut tiga kali, ke tiga belas jangan dikurangkan air pamandi sukat, ke empat belas jangan ia dahului disikat, ke lima belas membaca //50// doa sudah selesai daripada mandi, ke enam belas meninggalkan minta tolong daripada menderaskan air.
Bermula syarat dahulu daripada mengambil air sembahyang enam perkara, pertama Islam, ke dua mumayyiz, ke tiga air yang suci lagi mensucikan, ke empat jangan menegahkan air lalu kepada kulah, ke lima suci daripada haid dan nifas jika ia perempuan. Bermula rukun air sembahyang enam perkara, pertama niat, ke dua membasuh muka, ke tiga membasuh tangan hingga siku kedua, ke empat menyapu setengah kepala, ke lima membasuh kaki kedua mungka bukunya, ke enam tertib. Bermula yang membinaskan air sembahyang lima perkara, pertama barang yang keluar daripada dua jalan melainkan mani, ke dua menjabat dua jalan dengan batin tapak tangannya, ke tiga //51// bersentuh kulit laki-laki dengan perempuan yang lain, ke empat hilang akal sebab mabuk atau ila, ke lima tidur yang tiada tetap kedua (f-k-t- ny). Bermula syarat dahulu daripada sembahyang salapan perkara, pertama Islam, ke dua mumayyizkan, ke tiga mengetahui fardhu sunatnya, ke empat menghadap kiblatm ke lima mengenal waktunya, ke enam menutup aurat, ke tujuh mencari tempat yang suci, ke salapan suci daripada hadas dan najis. Bermula syarat wajib sembahyang tiga perkara, pertama Islam, ke dua berakal, ke tiga baligh. Bermula rukun sembahyang itu sembilan belas perkara, pertama niat, ke dua takbir, ke tiga berdiri betul, ke empat fatihah, ke lima rukuk berhenti dalamnya, ke enam i‘tidal berhenti dalamnya //52// ke tujuh sujud, ke delapan berhenti dalamnya, ke sembilan sujud, ke sepuluh berhenti dalamnya, ke sebelas duduk antara dua sujud, ke dua belas berhenti dalamnya, ke tiga belas tahyat, ke empat belas duduk yang kemudian, ke lima belas berhenti dalamnya, ke enam belas sujud yang kemudian, ke tujuh belas shalawat akan nabi, ke delapan belas memberi salam, ke sembilan belas tertib. Bermula syarat niat itu tujuh perkara, pertama niat di dalam hati, ke dua Islam, ke tiga mumayizkan, ke
empat berakal, ke lima mumayizkan qada daripada ad, ke enam dipesertakan niat itu dengan takbiratul ihram, ke tujuh jangan berpindah niat itu suatu yaitu jangan cenderung ke kanan, dan ke kiri, ke hadapan dan ke belakang. Bermula syarat takbir itu dua belas //53// perkara, pertama memeliharakan kalimahnya, ke dua memeliharkan mulutnya, ke tiga memeliharakan barisnya, ke empat memeliharakan tartibnya, ke enam takbir itu dalam berdiri, ke tujuh jangan dahulukan, ke delapan jangan dipanjangkan ba akbar itu, ke sembilan jangan dipanjangkan hu akbar, ke sepuluh hendaklah nyata pada lidah segala hurufnya segala takbirnya, ke sebelas mendengar ia akan takbirnya, ke dua belas lafaznya Allahu Akbar, bermula syarat fatihah itu salapan perkara, pertama memeliharakan kalimahnya, ke tiga memeliharakan barisnya, ke empat memeliharakan tasdiqnya, ke lima membaca ia dalam berdiri, ke enam mufakat, ke tujuh tertib, ke delapan mengerti akan fatihahnya. Bermula syarat rukuk itu dua perkara, pertama disengaja hendak tunduknya, ke dua tunduk ia //54// sekira-kira sampai tapak tangannya kedua lututnya. Bermula syarat tumakninah itu mehentikan gerak. Bermula syarat i‘tidal itu tiga perkara, pertama betul perdiriannya, ke dua disengaja hendak bangkitknya, ke tiga jangan dipanjangkan i‘tidal itu. bermula panjangnya sekira-kira sepanjang fatihah, syarat tumakninah itu seperti yang dahulu jua. Bermula syarat sujud itu enam perkara, pertama mehantarkan dahinya, ke dua mehantarkan ia akan dua lututnya, ke tiga mehantarkan ia akan keningnya halnya terbuka, ke empat memberatkan kepalanya, ke lima meninggikan ia akan punggungnya daripada kepalanya, ke enam menyenghaja ia akan sujudnya. Bermula syarat duduk antara dua sujud seperti syarat i‘tidal jua. Bermula //55// syarat tahyat itu tujuh perkara, pertama memeliharakan tasydidnya, ke dua memeliharkan, segala hurufnya, ke tiga memeliharkan tartibnya, ke lima mulut, ke enam men[de]ngar ia akan tahyat, ke tujuh membaca tahyat di dalam duduk, bermula syarat duduk dua perkara, pertama betul kedudukannya, ke dua jangan bangkit ia karena yang lain daripada duduk tahyat itu jua dan tartibnya itu syaratnya mendahulukan yang dahulu dan mengembalikan yang kemudian. Bermula syarat wajib sembahyang jum‘ay itu tujuh perkara,
pertama Islam, ke dua berakal, ke tiga baligh, ke empat merdeka, ke lima laki-laki, ke enam sehat, ke tujuh tetap dalam //56// negeri. Bermula syarat mensahkan jum‘at itu dalam negeri itu yaitu berkaum-kaum mereka itu empat puluh empat waktunya itu waktunya zuhur, ke empat jangan didahului jum‘at itu oleh jum‘at yang dalam negeri itu jangan digenapu dengan dagang. Bermula fardhu sembahyang jum‘at itu tiga perkara, pertama dua khutbah, ke dua berdiri khatib itu antara dua khatib sekira-kira tumakninah. Bermula rukun khutbah itu lima perkara, pertama alh}amdulillah, ke dua shalawat akan Nabi, ke tiga wasiat, ke empat membaca ayat salah satu dua khutbah, ke lima doa bagi segala mukmin. Bermula syarat khutbah itu sembilan perkara, pertama hendaklah khatib itu //57// dalam waktu zuhur, ke dua hendaklah mendahulukan khutbah daripada sembahyang, ke tiga hendaklah khutbah itu bahasa arab, ke empat khatib itu hendaklah berdiri khatib dalam membaca khutbah, ke lima hendaklah duduk khatib itu antara dua khutbah, ke enam hendaklah dipedengarkan khatib dua khutbah itu ke pada yang puluh sembilan, ke tujuh (m-w-l-h) antara kalimah dua khutbah dan antara dua khutbah dan antara sembahyang dan khutbah, ke delapan hendaklah khatib itu suci badannya daripada hadas dan najis dan menutup aurat. Bermula sembahyang mehantarkan sembah kepada hak ta‘ala serta membesarkan yang disembah sebab ketiadaan (m-n-‘ain) hakikat yang dipersembahkan, tiga perkara, pertama perbuatan anggota, ke dua perbuatan lidah. Bermula rupa //58// kita menyembah itu huruf berdiri seperti alif, rukuk seperti ha, sujud seperti mim, duduk seperti. Bermula kelakuan kita menyembah empat perkara, pertama berdiri kelakuan api, rukuk kelakuan angin, sujud kelakuan air, duduk kelakuan bumi. Bermula tiang sembahyang tujuh perkara, pertama teguh akan Allah, ke dua hadir hati menghadap kepada Allah, ke tiga sempurna, ke empat teguh akan azab Allah, ke lima harap akan rahmat Allah, ke enam malu akan Allah, ke tujuh jangan hatinya penuh huru hara dunia. Bermula diri sembahyang takbiratul ihram, nyawanya fatihah, kepalanya rukuk, tulangnya sujud, tubuhnya tumakninah, tangan tahyat, kakinya shalawat akan Nabi. Bermula sunat yang dahulu daripada sembahyang itu
tujuh perkara, pertama qamat, ke dua abang, ke tiga //59// mengata (a-shad-nya) jama‘ah pada sembahyang sunat berkaum, ke empat bersuka tatkala berdiri kepada sembahyang, ke lima masuk sembahyang dengan rajin, ke enam menyalaikan hati daripada membangun, ke tujuh menanti kaum itu. bermula sunat
| bangad | itu salapan | perkara, | pertama | tahyat | awal, ke | dua |
|---|---|---|---|---|---|---|
| duduknya, ke tiga salam dalamnya, ke empat shalawat yang | ||||||
| dalamnya, ke lima kunut, ke enam perdiriannya, ke tujuh shalawat | ||||||
| yang dalamnya ke dua salam yang di dalamnya. Bermula sunat | ||||||
| ab‘a>d} | itu jikalau | tinggalkan | diganti | dengan | sujud | sahwi. |
| Bermula mengangkatkan dua tangan tatkala takbiratul ihram, ke dua mehantarkan tangan kanan atas kiri di bawah dada, ke tiga | sunat | hay’at | itu dua | puluh perkara, | pertama | |
| wajah}tu | datang | kepada | akhirnya, | ke empat | membanya |
a‘u>dhubilla>h datang kepada akhirnya, kelima menyaringkan //60// baca pada tempat barang perlahan pada tempat perlahan, ke tujuh mengucap amin kemudian fatihah, ke salapan membaca ayat, ke sembilan takbir (a-n-t-ng-l-t), ke sepuluh mengata sami‘alla>h, ke sebelas mengata rabbana> laka al-h}amdu datang kepada akhirnya, ke dua belas mengucap tasbih dalam rukuk dan dalam sujud, ke tiga belas mehantarkan dua tangan atas dua paha dalam duduk antara dua sujud atau duduk tahyat, ke empat belas duduk tawa dalam duduk kemudian, ke enam belas salam yang ke dua, ke tujuh belas meninggikan tilik kepada tempat sujud, ke salapan belas bertolakkan dengan dua tapaka tangan tatkala berdiri, ke sembilan belas memalingkan muka ke kanan dan ke kiri tatkala memberi salam, ke dua puluh memanjangkan ayat pada rakaat //61// yang pertama daripada rakaat yang ke dua. Bermula sunat kemudian daripada sembahyang itu tiga perkara, pertama zikir dan doa, ke dua berpindah daripada tempat fardhu kepada lainnya tatkala hendak sembahyang sunat, ketiga berpaling apabila sudah sembahyang kepada hajatnya jika tiada hajat suka, maka kepada kanannya. Bermula yang membatalkan sembahyang itu sebelas perkara, pertama berkata-kata disengaja, ke dua perbuatan yang banyak, ke tiga hadas kecil dan besar, ke empat keluar najis, ke lima terbuka aurat, ke enam berubah niat, ke tujuh membelakng kiblat, kesalapan makan dan
minum sambikan tertawa-tawa, ke sepuluh menangis-nangis dan mehabis-habis, ke sebelas meranda-randa. Bermula rakaat sembahyang yang fardhukan tujuh belas melainkan pada hari jum‘at yaitu //62// lima belas dan pada urang berjalan sebelas dalamnya tiga puluh empat sujud dan sembilan puluh empat takbir dan sembilan tasyahud dan seratus lima puluh tiga tasbih dan sepuluh salam. Bermula rukun sembahyang sehari semalam dua ratus empat rukun pada subuh tiga puluh dua rukun pada maghrib empat puluh empat rukun dan pada magrib empat rukun dan yang empat-empat lima puluh enam rukun, jadilah perhimpunan rukun sembahyang yang tiga waktu seratus enam puluh salapan, kemudian digenap dengan subuh dan magrib jadilah dua ratus empat puluh empat. Bermula yang tiada sah diperimam itu tujuh perkara, pertama orang yang dii‘tikadkan batal sembahyangnya, kedua hanafi yang menjabat zikir, ketiga orang yang tiada //63// tertentu imam kah atau makmumkah, ke empat orang mengikut dalam ikutannya, ke lima umi diikut qari, ke enam orang yang lagi akan mengambil ia sembahyangnya, ke tujuh laki-laki mengikut perempuan. Bermula syarat sah sembahyang berimam enam perkara, pertama jangan lampau tumit makmum daripada tumit imamnya pada berdiri, ke dua hendaklah makmum itu mufakat pada perbuatan sembahyang imamnya, ke lima hendaklah makmum itu mufakat pada sunat ab‘a>d}, ke enam janganlah ia menyamai imamnya pada takbiratul ihram. Bermula hakekat sembahyang empat perkara, pertama tahu akan sah batalnya dan syaratnya dan segala rukunnya dan sunatnya dan serta tegahnya, ke dua membesarkan segala suruh Allah yaitu fardhu dan sunat serta //64// tiada suruh yang terlebih hatinya melainkan suruh Allah, ke tiga membayar serta ma>l yaitu mengerjakan sembahyang seolah-olah i‘tikad dalam hatinya melihat tuhannya kepadanya maka karena yang demikian itu jadi malulah ia akan Tuhannya seperti sabda Nabi kita fa‘budu rabbaka kaannaka tara>hu fa in lam tara>hu fainnahu yara>ka artinya maka sembah olehmu akan Tuhanmu seolah-olah engkau melihat akan dia, maka jika tiada engkau melihat akan dia maka bahwasanya ia melihat akan dikau. Dan seperti sabda Nabi pula I>ma>n liman la> haya>’ lahu artinya
tiada iman bagi seorang barang siapa tiada malu akan Allah, ke empat keluar serta tegah artinya tiada diterimakan Allah amalnya dan hampingkan ke mukanya seperti kata hadith barang siapa sembahyang disempurnakan //65// nya pada waktunya dan rukuknya dan sujudnya serta takutnya akan Allah maka naiklah amalnya gilang gemilang maka kata amalnya akan yang berdiri buat amal dipelihara akan Allah akan diengkau seperti engkau peliharakan di aku, barang siapa tiada disempurnakan air sembahyangnya dan sembahyangnya rukuknya dan sujudnya serta tiada disuruhkannya akan isti‘a>ni maka berkatalah amalnya akan yang berbuat amal itu sia-sia akan Allah akan dikau serta kau sia siakan daku kemudian maka dikumpul-kumpul malaikat amalnya seperti mengumpul kain buruk maka lontarkannya kepada muka yang berbuat itu, maka kata berkata malaikat inilah amal yang kau sia-siakan dan kau ringan-ringankan karena engkau lalai dalam sembahyang karena pekerjaan dunia dan engkau ilakkan dunia. Bermula perbedaan sembahyang //66// laki-laki dan perempuan tujuh perkara, pertama sunat bagi laki-laki mengi‘tikadkan tangan tatkala takbiratul ihram hingga telinganya dan perempuan hingga dadanya, ke dua sunat bagi laki-laki abang dan qamat dan perempuan qamat, ke tiga sunat pada laki-laki menjauhkan sikunya daripada lambungnya dalam rukuk dan sujudnya dan perempuan (m-ng-p-k-h) ia akan bacanya tiada ia menyaringkan suaranya melainkan laki-laki akan menyaringkan suaranya, ke lima laki-laki memerintah mengucap tasbih dan perempuan menapakkan tangannya kanan atasa belakang tangannya kiri, ke tujuh aurat laki-laki hingga pusatnya dan lututnya dan perempuan melainkan mukanya dan dua tapakl lengannya tangannya. Bermula sembahyang yang tiada diterimakan Allah salapan perkara, pertama //67// sembahyang orang yang tiada mengeluarkan zakat, ke dua sembahyang orang (a-n-d-m) selama Islam, ke tiga sembahyang orang yang berbuat dosa, ke empat sembahyang orang memakan haram, ke lima sembahyang orang penyabung, ke enam sembahyang orang memakan riba, ke tujuh sembahyang orang durhaka akan ibu bapaknya, ke salapan sembahyang orang berjuru haram, ke sembilan sembahyang orang hamba durhaka akan Tuhannya, ke
sepuluh sembahyang orang perempuan durhaka akan suaminya, ke sebelas sembahyang orang mengupat-ngupat, ke dua belas sembahyang orang mengambil (k-t-f-k-y-n) pada tempat duduk, tiga belas sembahyang orang dengki, ke empat belas sembahyang orang melebihkan dirinya pada batin, ke lima belas sembahyang orang kasih akan //68// manusia, ke enam belas sembahyang orang melebihkan dirinya, ke tujuh belas sembahyang orang karena Allah, ke salapan belas sembahyang perempuan tiada menutup kepalanya dan sekalian tubuhnya. Bermula pahala sembahyang itu amat banyak, apabila mengambil air sembahyang dialas langkahmu telah tersurat sepuluh pahalanya, tiap-tiap satu langkah mem[b]asuh tangan pahalanya mengeluarkan dosa pada tangan dan berkumur-kumur pahalanya mehabiskan dosa pada mulut dan membasuh dosa pada muka mengeluarkan dosa pada muka, menyapu kepala pahalanya mehabiskan dosa pada kepala dan membasuh tangan pahalanya mehabiskan dosa pada tangan dan membasuh kaki pahalanya mehabiskan dosa pada kaki dan berdiri hendak sembahyang //69// pahalanya serasa memerdekakan sahaya dan mengangkatkan tangan hendak sembahyang takbir pahalanya niat membaik tubuh dalam kubur dan dalam surga berdiri pahalanya akan pelita dikubur dan dalam surga dan takbir pahalanya mehabiskan sekalian dosa dan meluaskan tempat dalam kubur dan dalam surga membaca fatihah pahalanya akan pakaian dalam kubur dan surga, rukuk pahalanya membukakan puntu surga dan menutup pintu neraka, i‘tidal pahalanya meluaskan tempat dalam surga, sujud pahalanya memutuskan perjalanan atas titis siratal mustaqim, tuma‘ninah pahalanya menjadi payung di padang Mahsyar, memberi salam pahalanya memasukkan ke dalam surga tertib pahalanya bepertemukan kita dengan Tuhan. Bermula dosa mening[gal]kan sembahyang //70//
Akan perang sama raja-raja dan orang besar-besar akan berperang. Bermula jika pada bulan Zulqa‘idah akan gempa dan gerhana matahari atau bulan alamat isi bumi itu akan binasa, jika gempa yang dalam bulan itu alamat akan orang pertapa, jika gempa malam pada bulan itu alamat banyak orang akan (tidak terbaca) daripada bumi itu pada bumi yang lain. Bermula gerhana
pada bulan Zulhijah gerhana matahari alamat akan beras padi akan menjadi, jika gerhana bulan alamat orang akan sakit isi bulan alamat akan kurang rupanya, jika gempa siang atau malam alamat banyak orang akan mati tamat (tidak terbaca).
Pada menyatakan gerak tubuh anggota kita sekalian ketahui olehmu alamat baik dan jahat //71// jika kepala kita bergerak alamat akan berbahagia dan beroleh kebajikan yang besar kepada Allah dan kepada Nabi Muhammad, jika pada perempuan alamat akan bersuami, jika pihak kepala dikanan bergerak alamat hatinya suci, jika dikiri bergerak alamat akan beroleh laba berlayar selamat pulang. Bermula jika kening bergerak yang kanan alamat beroleh laba yang banyak. Bermula jika kening yang kiri bergerak alamat akan nyaman hatinya tetapi ada sakek sedikit padanya. Bermula jika pelupuk mata kanan yang di atas bergerak alamat akan beroleh laba padanya. Bermula jika yang dibawah bergerak alamat luput dari penyakit. Bermula jika sudah mata bergerak alamat melihat orang datang daripada negeri yang jauh kepadanya. Bermula jika sudah mata kiri bergerak alamat orang pendeta //72// akan datang kepadanya. Bermula jika biji mata kanan bergerak alamat akan menangis atau suatu perbentakan yang berdatangan kepadanya. Jika biji mata kiri bergerak alamat berbuat kerja jahat kepada suatu. Bermula jika semua anggota bergerak yang dikanan alamat lepas daripada penyakit, jika hidung yang dikiri bergerak alamat nyaman hatinya, jika berhutang lepas daripada hutangnya, jika semuanya hidung bergerak alamat akan beroleh harta banyak pada suatu pula bertemu dengan kekasih nyaman hatinya padanya, jika pelipis yang dikanan bergerak alamat nyaman hatinya, jika pelipis yang dikiri bergerak alamat beroleh laba tetapi kemudian selamat ke rumah tinggalnya sejahtera padanya //73//bermula jika dari kanan bergerak alamat (s-k-j-t) dan umurnya pun lanjut lagi beroleh harta, jika dikiri alamat akan beroleh kemuliaan barang kerjaan sampai. Bermula jika telinga kanan bergerak alamat akan berkalah, jika kulit telinga kanan bergerak akan (s-k-j-t) akan mendapat kata baik datang bertemu dengan dia orang mulia. Bermula jika kulit telinga kiri bergerak alamat akan berbahagia, jika ujung dagu bergerak alamat akan berkalah orang itu, jika
semuanya bergerak alamat akan sakit. Bermula leher bergerak alamat sakit sukar sembuhnya, jika rakungannya bergerak alamat akan makan makanan yang halal. Bermula bahu kanan bergerak alamat (s-k-j-t), jika bahu kiri bergerak (s-k-j-t). bermula jika bahu kiri bergerak //74// alamat kedu[rha]kaan daripada anaknya, mati anak tirinya, jika antara kedua bahu bergerak alamat beroleh rahmat tiada pada hinanya, jika lengan kanan bergerak alamat akan diberi Allah ta‘ala mintanya, jika lengan kiri bergerak alamat nyaman hatinya, jika hatinya kanan bergerak dimenangkan Allah daripada istrinya, jika sebelah hati kiri bergerak alamat barang dicintanya dapat dikabulkan Allah daripada (s-r-q-nya). Bermula jika siku bergerak alamat (s-k-j-t) tetapi kemudian menjadi murah. Bermula jika belakang tangan bergerak alamat beroleh (s- k-j-t), jika belakang tangan kiri bergerak beroleh kehendak hatinya, jika tapak tangan kanan bergerak alamat beroleh bahagian, jika tapak tangan kiri bergerak alamat lepas wafat //75// daripada penyakit. Bermula jika ibu jarinya bergerak alamat berakibat kesiksaan, jika tunjuk bergerak alamat akan beroleh kedukaan. Bermula jika jari tengah bergerak alamat (d-k- j-t), jika keliling jari bergerak alamat penyakit sukar sembuh. Jika ibu jari bergerak alamat kebajikan, jika jari manis kiri bergerak alamat melihat orang besar datang padanya, jika kelingking jari kiri bergerak alamat akan di (k-j-t), jika ketiak kiri bergerak alamat akan kesukaan, jika belakang kanan bergerak alamat akan berjalan lebih pada hatinya, jika belakang kiri bergerak alamat lemas daripada penyakit, jika sama tengah belakang bergerak alamat luput daripada (k-j-t), jika lambung kanan bergerak alamt kesukaan akan //76// datang, jika lambung kiri bergerak alamat lepas daripada penyakit, jika rusuk kiri bergerak alamat beroleh kehendak hatinya, jika rusuk kanan bergerak alamat kesukaannya, jika pinggang bergerak alamat beroleh kebahagiaan, jika tengah dada bergerak alamat (s-k-j-t) daripada anak-anak daripada orang lain, jika lakang telinga kiri bergerak alamat bagi nan akan berbahagia dan luput daripada penyakit padanya, jika lubang telinga kiri bergerak alamat (d-k-j-t) tetapi suatu pula jika semuanya telinga bergerak alamat luput daripada penyakit dan kesakitan, jika muka kanan bergerak alamat lepas daripada
penyakit, jika sakit sukar sembuh. Bermula kata hukum (d-b-n-w) (r-w-m) disakitnya jika berturut-turut tujuh kali bergerak alamat beroleh kesukaan jika beranak tatkala //77// itu terlalu baik berbahagianya. Bermula ka hukum niscaya beroleh kemulian padanya jika muka kiri bergerak alamat akan kemaluan tujuh kali berturut-turut bahagian akan datang kepada (a-r-n) beroleh kemuliaan istrinya pun binasa, jika kening kanan bergerak alamat (s-k-j-t), jika kening kiri bergerak pun (s-k-j-t) jua, jika antara kedua kening bergerak alamat akan bertemu dengan kekasihnya, jika bibir yang di atas bergerak janganlah aku sukar engkau sekalian itu baik-baik juga, jika keduanya bibir sekalian bergerak alamat lepaslah daripada luput, tetapi kata pendeta roma jika kamu syak bahwa jadi penghulu. Bermula kata pendeta ‘ajm akan mata kanan yang halal pada (h-n), jika antara kedua bibir bergerak alamat akan minjam kekasih pada (h-n), jika hujung lidah bergerak alamat akan berkah //78// jangan lagi syak, tetapi pada kata pendeta Roma alamat beroleh kemuliaan, jika dada kiri bergerak alamat pekerjaan itu jadi juga, di atas dada bergerak alamat ketinggian daripada orang banyak, jika perut bergerak alamat penjuru orang itu, jika susu kiri bergerak alamat akan beroleh fasik, jika dibawah susu kiri bergerak alamat akan kehilangan seorang keluarga, jika ari-ari bergerak alamat tiada percintaan, jika pusat bergerak alamat jadi penghulu dan barang seterunya pun tunduk akan dia, jika buah pilar kanan bergerak alamat diperoleh barang kehendak niscaya sampai, jika buah pilar bergerak alamat akan beroleh perempuan yang baik, jika pahanya kanan bergerak alamat beroleh nikmat pada (h-n-nya), jika pahanya kiri bergerak alamat //79// bertemu dengan kekasihnya, jika yang diluar bergerak alamat (s-k-j-t) dan barang pekerjaan diperolehnya, jika di dalam bergerak alamat beroleh arta yang banyak, jika hulutnya kanan bergerak alamat akan (s-k- j-t), jika hulutnya kiri bergerak alamat beroleh nikmat dan beristri, jika di dalam bergerak alamat akan beroleh nikmat, jika hulutnya bergerak alamat baik peliharakan lidahmu tidak dapat tiada keluar kata yang jahat daripada mulut, jika dibawah lutut kiri bergerak alamat akan (m-n-d-a-‘ain-r-w-r-w-r-n) baik, jika betis kanan bergerak alamat ada orang akan datang akan kita, jika
betis kiri bergerak alamat barang suatu pekerjaan yang dikerjakan baik jua datangnya, jika mata kaki kanan bergerak yang luar alamat akan (d-k-j-t-nya), jika di bawah mata kanan bergerak yang di dalam //80// alamat beroleh ingkar akan Allah Ta‘a>la atau jadi (f-h) penghulu jika tumit kanan bergerak alamat dikecat, jika tumit kiri bergerak alamat dipuji orang, jika belakang kaki kiri bergerak alamat dikecat, jika tapak kaki kanan bergerak alamat baik dan jahat ada padanya hendak berjalan jua kerjanya, jika tapak kaki kiri bergerak alamat musuh lagi akan datang kepadanya, jika hendak kaki kiri alamat akan bertemu akan kekasihnya barang apa kehendak kita beroleh padanya, tamat walla>hu a’lam. Fasal pada menyatakan azimat jika perempuan tiada mau akan lelaki maka kita surat pada sakin maka dibelahkan pinang muda maka diberikan di pakan pada perempuan itu niscaya gila akan lelaki ini disurat //81//
Pasal pada menyatakan azimat jika perempuan tiada mau akan laki-laki, maka surat pada sirih bertemu urat diberikan, dimakannya niscaya gila ia akan laki-laki itu. ini yang disurat :
Ini azimat pemanis, suratkan pada kertas ikatkan pada hamarnya. Ini yang disurat :
Ini azimat jika perempuan tiada kasih akan laki-laki, maka surat pada kertas ditaruh di bawahnya tidur, niscaya kasih ia akan kita. Ini dia yang disurat :
Ini azimat perkasih pada orang banyak, surat pada kertas maka dipakai. Ini yang disurat :
//82// ini niat menzakat fitrah “nawaytu akhraja az-zakat al-fit}rah al-wa>jibah ‘ala> wa ‘an man talni mu>ni nafqatuhu shar‘an lilla>hi ta‘a>la>. Ini niat mandi tatkala akan mamagang fardu nawaytu ghusla min awwal shahr ramad}a>n at-t}aha>rah min kulli fard}an wa sunnah wa imtiba>h}ah at-t}aha>rah sunnat Alla>h ta‘a>la. Ini doa bersugih allahumma ja‘al siwa>k hadha> rid}a>ka ‘anni> birahmatika ya arh}ama ar-rahimi>n. Ini niat berbuka puasa nawaytu sharaba al-ma>’ at-tawa ‘ala ‘iba>dati wa (tidak terbaca) sunnah lilla>hi ta‘a>la. Ini niat doa berbuka puasa
Allahumma laka s}umtu wa bika amantu wa ‘alayka tawakkaltu wa ‘ala> rizqika aft}artu ya> wa>si‘a //83// al-mughfirati birah}matika ya> arh}ama ar-rahimi>n. Jika ditanyai orang kita apa arti sembahyang dan bahasa sembahyang dan apa nama sembahyang. Jawab, adapun arti sembahyang itu menghantarkan sembah kepada Allah artinya ragam yang tiga belas dipersembahkan. Adapun bahasa sembahyang itu menyembah kepada Zat laysa kamithlihi shay’ nan menyembah ruh serta tubuh. Isi sembah iman, islam, tauhid, ma‘rifat.
Bismilla>hirrah}ma>nirrah}i>m
Alh}amdulilla>hi rab al-‘a>lami>n wa as-s}ala>tu wa as-sala>mm ‘ala> rasu>l sayyidina> Muh}ammad wa a>lihi wa s}ahbihi ajma‘i>n. Ini bab pada menyatakan asal dan asal tahu hendak pada usul (a-w-a-d) Alla ta‘ala belum akan ada. Bermula Allah ta‘ala dan Muhammad Rasulullah ‘alaihi wa sallam //84// tatkala akan ada Allah ta‘ala belum akan ada bersabda di mana masa itu. bermula Allah ta‘ala pikun ada Muhammad Rasulullah tatkala belum berkatakan di mana adanya Allah dan Muhammad bagi masa itu belum bumi dan langit siapa nama Allah dan siapa nama Muhammad itulah rab al-‘a>lami>n. Pertama nuqt}a maka jalan (s-y-r-s) Muhammad Rasulullah maka (s-d-f-n) pun ada (l-y) Allah ta‘ala namanya artikan (dza-r-h) arti Allah ta‘ala asalnya rahasia (a-w) belum bumi, langit, arsy dan kursi, belum jadi lauh} dan qalam, awal dan akhirpun, belum jadi surga dan nerakapun belum jadi, Allah adanya di mana-mana dan Muhammad pun belu jadi di mana-mana masa itu, di mana-mana adanya, di mana-mana awalnya, di mana-mana akhirnya, apa kesudahannya,. Apa semula kita tahu pada awal //85// kita tahu di diri kita agar selamat, adapun Allah ta‘ala insan darinya membelah dirinya ia jadi sendirinya. Bermula Allah ta‘ala Sidi tiada perbualan tapi kemudian jadi ajru[hu] Sidi Ahmad Kabir qaddasa Alla>hu ru>h{ al ‘azi>z jadi kemudian sekalian jadi ia betapa yang (d-h-w) rahasia azali namanya. Yang azali inilah alam orang shaleh seperti sabda Allah ta‘ala fal ya‘mal ‘amalan s}a>lihan wa la> yusyrik bi iba>dati rabbihi ahlihi, artinya perbuatan shaleh dan jangan (s-k-r-t)
dengan orang (f-r-t-f) Allah ta‘ala esa. Bermula yang pertama itu syariat namanya karena orang makrifat Allah namanya asal (a-‘-
m) Allah tiga perkara, ada amal masyayikh suatu amalnya akan pikun namanya, kedua amalnya nazar namanya, ketiga amalnya subhanahu wa ta‘ala namanya. Adapun dalam antah barantah itu diketahui //86// hendak kenyataannya jika tiada diketahui tiada namanya. Bermula dibuka berkesudahan jika tiada nyata tiada namanya arif karena ilmu ghaib ajar Sayyid Ahmad Kabir alif itu dalam ghaib hendak ingat bertetap hendak karena Muhammad lagi (b-r-t-n-k) dima nya dan lagi berhuruf empat ada hurufnya kelihatan tetapi huruf empat itu dijadikan bukan itu mulanya tahu hendak pada mulanya supaya bertemu adanya asalnya maka (sy- k-s) namanya karena itu pangkat daripada Rabb al-‘a>lami>n juga. Adapun Tuhan tiada berinsan tiada serupa tiada bernama maka Tuhan. Bermula Tuhan yang esa menjadikan Rabbuna>. Adapun sirri daripada yang Sayyid itulah datang (m-n-k-m), maka ruhani (h-n-j-r) dua ruhani itu (j-d-r-t-n) artinya air hidup maka dijadi manusia. //87// Bermula manusia itu menjadi wadi> adapun madhi> itu ghaib bukan sirri na>s bukan *sirri mani>*bukan (b-w- gh) yang sirri ba sirri itu sirri juga namanya tatkala jadi wadi>laut ba sirri itu sirri juga namanya. Tatkala jadi wadi>(tidak terbaca) istana. Bermula tatkala madi>pada tulang belakang (k-s{-b) daripada sulbi (k-b-w-n) istana itu. Bermula pertemuan segala pintu seperti sebuah cahaya tatkala air hidup pada mata (tidak terbaca) anak lidah ialah yang memegang rasa tatkala sinan dari langit benda hidup namanya ialah memegang pintu nyawa ialah yang perempuan pintu delapan antara bismilla>h, alhamdu yang dipuji tatkala pada otak sirri (s-n-y)namanya. Ment{alaq istana ialah bernama ruh suatu tatkala ia lalu //88// dari otak ka ubun ubun lalu antara alhamdu dan bismilla>h lalu pada anak lidah lalu ke hati sampai berulang-ulang ia ke jantung ialah bernama iman. Bermula Muhammad tatkala Ahmad pada sirri otak menilik pada makrifat masuk pada hati (s-n-y). Bermula otak yang Rah{man seperti (r-t-n) (s-b-w-h-k-f-ny) tatkala bernama Muhammad pada qalb lil mukmini>n yang mukmin hanya mati dalam hadir pada laysa ana mah{mu>d namanya seperti ia pun ruh nis{wah. Bermula tatkala Muhammad pada (f-w-d) dialah yang ruhani ialah
yang ma>nakum suatu yang bernama (s-n-y). Pohon (tidak terbaca) namanya pada pusat punukan namanya pada hati punukan namanya pada otak punukan namanya samanya sekalian kan istananya juga adapun (tidak terbaca) itu ayat di mana diamnya atau bagi //89// kita khi>dam pada guru yang sempurna tahunya. Bermula pada sirri manusia sekalian adapun oleh tiada dilihat diketahui permulaiannya dan kesudahannya daripada (r-r-
h) juga kemudian maka amiin tiga yaitu, madhi>, wadi>, mani>, artinya nuqt}a (s}-f-ny) yaitu (f-s-t-w-a-ny) maka di bawah nuqt}a al ba>b. fasal bermula ruh jadi dahulu daripada semata sekalian tujuh puluh ribu tahun lamanya dahulu daripada badan. Bermula apa akbar nama belum jadi karena pohon suci bermula ada pun akan segala pohon segala tubuh bermula pohon segala niat ialah yang bernama sabda kun kedua (tidak terbaca) maka jadi alhamdu ialah yang antara hidung dan mata antara kening kedua yang putih serupa alhamdu karena pintu memuji //90//ialah pintu surga dinamai pintu surga hidung akan ketika jadi pohon telinga jalan tarekat ialah pohon makna yang (f-w-n) ingat-ingat liang pohon jalan tarekat talinya (k-a-t-w) ialah bernama ingat ilaah bertemu zikir Allah dan menurut kata serta akan menegahkan kata keduanya, ke empat cahaya jadi cahaya hatijadi hati ialah birahi sendirinya menilik ke kiri ke kanan di sana maka ada matanya bernama hati suci qalbu mu’mini>n namanya ialah yang hati *sinni>*istananya Muhammadmaka Ih}ra>m dalam istananya ayat dalam (tidak terbaca) itu jadi sir maka tambah paru-paru. Bermula yang bernama alh}amdu akan istananya (k-w) maka jantung empat istananya ada semata di sana ialah yang bernama (q-n-d-y-l) ialah yang tarekat telinga pintunya perut //91// akan istananya nafas maka tambah (tidak terbaca) dan akan tempat loba dan dengki maka tambah (j-s-a) ilalah istananya (tidak terbaca) merasa ia menjadikan dirinya di sana mesti dirinya kayo kanan zarah akan menjadi daging maka terbitlah ujung perut yang dinamai pintu neraka, maka terbit dari bawah kanan kiri suatu maka terbit hampo kaki kiri kanan yang mendirikan lalu ke hati sanubari kiri ia lalu kamanya ialah yang nyawa lalu angan (‘a-s-r) dirinya lalu keorang-orang mata sanubari yang *sirri>*mata ialah diri yang masuk sendirinya maka terbitlah hampo kaki kiri
berkasar-kasar ialah (tidak terbaca) (k-y-m) ialah sanan (t-w-k-n) malam dan siang turun baik lalu (‘a-l’l) kamata yang *sinni>*di sanalah *sirri>*diam maka terbitlah kepala ialah yang memeras //92//dirinya ialah yang menentukan rupanya semata sekalian jadi akan istananya maka terbit rambut maka terbit lidah *sinni>*sekalian jadi akan yang bernama rasa maka (tidak terbaca) dirinya maka hidung malam sendirinya yang dinamai pintu surga masuk ke mata kanan dan mata kiri maka (b-s-y-r) mata memilih dirinya maka terbit dua di telinga kanan dan dua di telinga kiri maka bergerak ruh itu maka berlayar ke hampo kaki kiri lalu berlayar ke tunjuk lengan kanan yang membawa kudrat rab al- ‘a>lami>n maka berlayar ke tunjuk kiri lalu lengan kiri yang membawa kudrat Allah ta‘ala maka jadi Makkah Madinah yang dinamai Madinah maka jadi menjadi yang dinamai Masjid dan maka terbit su>d wasu>d hati ialah yang si>r hati maka terbit pusat //93// serta ialah yang pohon (tidak terbaca). Bermula peri menyatakan ia pikir pun ia istananya sirri>dan ma> nakum pun ia maka belum s}ulbi kedua bertinggi lah (tidak terbaca) yang jalan malaikat tita turun menjadikan masa ia menjadikan istana akan namanya (m-h) masa itu ia pada s}ulbi jauhar namanya masa ia ada pohon mani qabul namanya, maka terbitlah tandanya istananya (m-l-a-m-n) maka terbit dua rusuk kiri kanan maka terbit (k-w-a) dari besar lagi maka terbit darah dari dalam jantung ia yang menjadikan daging ia yang pohon jasmani maka terbit urat dari dalam kening ia maka datang urat besar bergantung pada urat mani enam puluh enam itukah (f-s-w-nya) dua belas bulan setahun (s-t-r) maka terbit roma dari dalam urat //94// maka terbit kuku (k-l-y-h-n) (f-q-t}) ialah yang dinamai nuqt} ali>f ba ta. Bermula dua belas bulan daging ibunya maka meja>r jalan maka terbit angan dari lam hidung lalu ke hampo dua hari dua malam akan ketika pertemuan hati kecil maka berlayar ke duani (tidak terbaca). Ini peri menyatakan tiga, tiga, empat bahagi daripada bapak, bermula daripada ibu empat bahagi, bermula daripada Allah ta‘ala lima perkara dari tali birah putih (b-n-t-r). Bermula daripada ibu satu telinga, ke dua panjang, ke tiga hijo, ke empat jabir. Bermula daripada Allah ta‘ala mata yang hidung nyawa merasa artinya berkata. Bermula daripada bapak kulit,
tulang, urat, seni seninya sendirinya, daripada ibu daging, darah itulah rambut wa s}alalla>h ‘ala> rasu>lika sayyidina Muh}ammad wa An. Qa>la Imam Ja‘far ini.
bismilla>hirrahma>nirrahi>m
Muhammad di Makkah rad}ialla>hu ‘anhu sabda Imam Ja‘far anak //95// Muhammad di bumi maka yang alam tujuh yang besar suatu alam la>hwah ke dua alam malakut, ke tiga alam (j-b- y-r-w-h), ke empat alam niswah, ke lima alam alwi, ke enam alam safli, ke tujuh alam kudus. Adapun alam lahwah itu zat Allah ta‘ala namanya yang meliput segala alam lahwah jika seorang pun tiada dapat diam dalam alam lahwah meyakinkan hati Muhammad Rasulullah yang didapat diam di dalam alam lahwah. Adapun manusia jika telah ada beroleh urat Masayikh yang besar artinya beroleh (tidak terbaca) daripada Muhammad Rasulullah ada didapat diam dalam alam lahwah jika berbahagi dan arif maka diam di sana. Adapun alam kudus itu perhimpunan daerah dua puluh empat itu tatkala akan pulang ke rahmat Allah. Bermula surga tiga, ada yang besar tatkala akan mi‘raj ke langit kepada alam ‘alawi itu jenis firdaus namanya, tatkala pada pusat lalu ke sulbi turun dara sana itu (j-n-s-h) namanya setelah penuh pusat dan tubuh sekalian hambalah rasanya itu lahwah //96// namanya, firman Sayyid Ahmad Kabir yang kenyataan itu itulah pun kenyataan Allah ta‘ala juga keduanya satu maka seperti adapun yang gaib dan tha>bit diketahui seperti firman Allah ta‘ala ‘a>lam al-ghayb wa shaha>dah wa huwa al-h}aki>m al-naji>rah sabda Allah ta‘ala pada alam gaib, maka bertanya itu pengetahuan akan yang ketahui berkat yang gaib pada Allah ta‘ala di dalampun Allah ta‘ala juga seperti sabda Imam Ja‘far. Qa>la Alla>h ta‘a>la sabda Allah ta‘ala huwa al-awwal huwa al-a>khir huwa al-z}a>hir huwa al-ba>t}in artinya huwa yang dahulu, huwa yang kemudian, huwa yang di luar, huwa yang di dalam, huwa zat Allah ta‘ala tatkala pulang ke rahmat Allah dan Muhammad di mana hendak diketahui bab ini peri ma‘rifat menyatakan alam Allah tarekat urang shaleh. Adapun Allah subhanahu wa ta‘ala tiada berpangkat tiada adapun pangkat sidang //97// mukmin itu hati yang (tidak
terbaca) daripada sekalian pangkat sidang Auliya Allah ta‘ala, pertama sabda Rasulullah man ‘arafa nafsahu fa qad ‘arafa rabbahu wa ilayhi turja‘u>n nafikan insan isbatkan dan mawjud *fat}alabana>*hingga kepada Allah maka engkau lihat yang tiada lain melainkan Tuhan itu. bermula tatkala Allah dan Muhammad di mana Muhammad tatkala Muhammad ada Allah di mana tatkala Muhammad adalah Allah di mana hai manusia, ini ketahui hendaklah segala Masayikh baik-baik peliharakan. Bermula hati pada manusia satu alam fuad, ke dua alam malakut, ke tiga alam ruh, ke empat alam kudus, yang dikatakan alam kudus itu (f-a-b) (q-w-s-n-y) ia itu yang ada antara kening kedua. Bermula alam fuad itu yang dikatakan karang hati, adapun alam malakut itu kerjanya. Bermula alam ruh itu dalamnya alam jasmani ruhani insan itu huwa itu dari //98// nur Allah cahaya Allah dalam fuad itu keluarnya berkata itu sifat Allah ta‘ala keluarnya maka berkata huwa huwa huwa itulah bukan perbuatan yaitu Allah antara kening Esanya Muhammad dan Allah. Bermula barang siapa orang diam dalam jalan itu namanya bintang (‘ain-t}-r-q) pada antara kening kedua namanya. Bermula pertemuan Allah dan Muhammad (q-n-d-y-l) Allah itu yang (q-n-d-y-l) itu bukanlah hati pada manusia sekalian yang (q-n-d-y-l) itu bukanlah Muhammad ujar Sayyid Ahmad, sedang arifin huwa itu bukanlah sifat Allah dari dalam (q-d-h) keluarnya. Bermula diam sifat Allah orang itulah ia dalam padang huwa padang huwa itu barang siapa di dalam itu diam sifat Allah orang ataulah sidang arifin namanya tiada ada diri sampai melainkan sidang arifin hanya bermula yang (q-d-h) //99// ujar sidang arifin itulah oertemuan Allah dan Muhammad, pertemuan bumi dan langit dari dalam (q-n-d-y-l). Bermula segala jadi dari dalam adapun barang siapa diam di sana yaitu arifin namanya, adapun kata itu tiada harus didengar orang lain melainkan diri sendirinya jua akan mengetahui inilah tiada harus didengar orang yang lain melainkan diri sendirinya jua akan mengetahui, inilah pakaian mahrum Ja‘far S{a>diq semata jadi belum jadi nur Allah belum jadi kudrat Allah ta‘ala belum jadi ‘arsy dan kursi belum jadi nur pun belum jadi (q-n-d-y-l) ruh Muhammad belum jadu nyawa ruhani belum jadi jasmani pun belum jadi, tujuh laut pun belum jadi, empat bangsa pun belum
jadi, lauh qalam pun belum jadi, Jibrail pun belum jadi, Israfil //100// Israil belum jadi, bumi, langit, bulan, bintang pun belum jadi, awal, akhir belum jadi, dunia akhirpun [belum] jadi, manusia sekalian belum jadi, satupun belum jadi satu shay’ pun belum jadi, awal kesudahanpun belum jadi, rahasiapun belum jadi, semut-semut pun belum jadi, kedengaran ya> rabbana> ya> Alla>h alam nan yang ghaib jika istananya qa>la ini bab qa>la imam Ja‘far ibn Muhammad di Makkah, sabda Imam Ja‘far anak Muhammad di bumi Mekkah rad}ialla>hu ‘anhu alam dua yang besar, satu alam Kabir, ke dua alam Sagir. Bermula tatkala Kabirsuatupun tiada ada luarnya sekalian di dalamnya, tatkala Sagir suatupun tiada di dalamnya melainkan hanya ia juga. Bermula tatkala kita pulang ke rahmat Allah alam kabir masukan kepada alam Sagir yang itulah rahasia sidang Mashayikh ini sidang auliya anbiya’ sekalian, qa>la ahl al-‘a>rifi>n sabda //101// orang arifin tatkala pulang ke rahmat Allah alam Kabir itu jadikan badan. Bermula yang Sagir itu jadikan nyawa. Bermula *la>*itulah rumah sidang Mashayikh dan sidang Anbiya’ sekalian. Bermula jika menjadi badan alam Kabir tatkala jadi semata-mata. Bermula arti Kabir besar arti besa yaitu besar Allah tiada mati berakal tiada mati maka besar namanya. Bermuala yang tiada mati itulah akan tubuh sidang arifin dan sayyid Auliya Allah ta‘ala. Allah Allah Allah Allah Allah Allah Allah Allah Allah Allah.
Qa>la Imam Ja‘far ibn Muhammad Makkah rad}ialla>hu ‘anhu min dari>s firman Ja‘far ibn Muhammad bismi thalathah ah}ruf al-ba>b al-nabi>y al-mi>m wa al-ya>’ as}luhu nu>r ad-di>n in faq waqa‘a (a-s-a>) qul khalaq al-ya>’, qa>la Alla>h ta‘a>la (b-r- a-d) min Alla>h ta‘a>la kama> qa>la an-nubuwwah wa ah}r al-ya>’ sab‘an alf ali>f sana>d wa si>n itu akan cahayany yang sir wa huwa//102//(a-s-a->w-h) sayyid Allah ta‘ala yang selamat daripada Allah itulah yang kekasih Allah ta‘ala abyu> malik an nubuwwah wa khalq al-mi>m da>’irah nuqt} s}alahu nu>n min al-mi>m ad-da>’irah wa fi> ad-da>irah al-mi>m an-nu>r at}-t}iya>’ fi> da>’ir yang mim itu istananya Muhammad yang menerima itu dikatakan daerah kamal yang naqt} dalam mim itupun nun daripada mim juga, maka ada daerah dan kamal qa>la Ima>m al-Hasan ‘ankari> Ahmad Bari>r Husni> karakahuwa ya Ja‘far ibn
Muhammad al-Makki fi tafsi>r arba‘ah ahrf alf wa al-la>m al-awwal wa al-la>m ath-tha>ni> wa al-ha>’ al-ali>f (l-d-b) min al-mi>m wa na‘a ila asfala sa>fili>n bas}t} al-mi>m al-rah}i>m wa nuju>m bi al-ha}wh wa huwa at}-t}a>rq atawa>’il al-ghair falama> at}la‘at ila fa>’il ar-ra’s wahdah hada>h jad qa>ma sart had min hi>t} al-‘ankabu>t fah}aqal ta‘fi>ni> thumma ahda al-wa>hid (tidak terbaca) wa al-wa>hid fa> ahad wa>hidah fasaq wa>hidah ahda illa had nas}q mi>m ‘a>lam al ghayb//103// wa huwa t}ari>qah ahl ash-shat}a>ri ila Allah> ta‘a>la. Sabda Imam Husni (‘a-d}-r-k-r-w) nama (b-n-w-a>-t) Imam Ahmad berdiri nama (b- n-w-nya) Imam Hasan (k-d-k-h-w-y) nama Ja‘far anak Muhammad di Makkah nama (b-n-w-a>-t) Imam itu sekalian Imam Ja‘far anak (f-r) dan gurunya (a-r) dan seperti tafsir empat buah aqshar al- yawm la>m la>m hal mula dan la>m akhir dan *ha>*yang ali>f itu hanjir daripada mi>m jatuh ke bawah (f-a>-t-l) maka diangkatlah mim rahi>m jadi binatang ikan bernama (b-n-h-w-h) yaitu jalan yang sedikit kecil (a-r-k-y-n) ia terbit naik kepada kepala maka dapat Tuhan kita sana maka tunjukkan oleh guru engkau binatang lebih (s-h-a>-y-l) maka perdua bahagi ambil sebahagi yang buang sebahagi yang sebahagi itu yang (h-k-n). Bermula jalan orang ahli Syattari ambil isi yang isi itu belahkan suatu jalan orang ahli Syattari daripada Allah ta‘ala tiada //104// akan berisi jalan akan berisi nuqt} pun tiada la>m apa kita al-khalaq al-khala>’ik kullihim la>m la>m at-tha>ni> la> (b-w-a>-h) al-wuju>d as}-s}ifa>t laha> yujar ila (a-l-d) min al-a>khirah. Pertama tiada semata sekalian la>m, ke dua tiada adanya dan tiada peri adanya yang *ha>*itu mengahil kepada tiada dan mengahil kepada a>khirah al-mi>m al- hur al-ukhra ad-dunya> as}l mi>m min al-ha> min nafsi at}-t}a>fah *ma‘na>*di bawah huruf ahruf mi>m, da>l yang mi>m itu mengahil dari *(kh-r) ad-dunya>*pun mi>m itu pada *ha>*mengerti daripada at}-t}a>fah arti empat (a-q-sh-r-a-d-l-h-a) itulah mulanya mi>m pun empat (a-q-sh-r) ha mi>m dal al-qul Mu>sa sekalian Imam (a- r-d}-a) ‘an janiyah (b-f-l) dengan Ja‘far ibn Muhammad sabda Imam sekalian la>m mi>mnya dan Musa Rid}a Imam itu (b-n-w-a- nya) dan Shaykh Janiyah ba‘da adanya Imam Ja‘far ini fi> nafsi h}ami>n satu huruf ali>f da>l aw al-h}a aw al-mi>m wa anwa>l ali>f //105// (l-a-l) wa as-sama>’ ad-dunya> al-isla>m ayna al-
kala>m wa al-ajsa>m wa ar-ra>’ rah}mah al-qulb sir mad wa al-ha>’ h}alawah al-kala>m wa at-t}a‘a>m wa i>mu> ma>lik wa al- mulu>k fi ad-dunya> wa al-akhirah wa al-mu‘mi>n wa al-qala>m ma> yat}ru>n pada ma‘rifat rah}man enam aqshar ar-ru>h} mani>’ yang ali>f bahwa inkaraha> Alla>h ta‘a>la memberi nikmat dan (s-k-j-t) dalam dunia yang la>m yang melainkan dan lambat (s-r- b-r-a-nya) yang da itu menyakakan citanya senantiasa yang hal itu maniskan makanan dalam dunia dan dalam akhirat itu berdiri khaliq al-kala>m wa al-‘a>lam yaktubu>n itu pertama dijadikan Allah cahaya Muhammad juga jadi qalam menyurah sekalian alam nan qa>la Ima>m Sakadaran Muhammad ibn Ahmad *Asfaha>ni>*dengan *Muhammad wa ad-Dasfaha>ni>*dengan Hasan Halawani> dengan Hasan Allahumma ibn dengan Ja‘far ibn (r-k) ar-Rahi>m sir ahruf tafsir al-ali>f (tidak terbaca) //106// wa ar-ra>’ wa al-ba> wa al-mi>m akhir Imam Muhammad di Iskandarani daripada Imam Ja‘far ibn anak Muhammad di bumi Makkah yang enam aqshar wa tafsir lahu Imam Ja‘far itu sekalian ruh Alif Allah ta‘ala la>m wa al-qa>’ wa Alla>h ta‘a>la fi> al-gayb (a-l-h-a-d) rawiyah Allah ta‘ala fi> (t}-r-s-r) al-ha>’ wa (h-m-k-t) Alla>h ta‘a>la al-mi>m da’irah al-kama>l wa huwa t}ari>qah al-qali>l min al-qabr ba>b s}ifa>t, s}ifa>t al-baqa>’ s}ifa>t al-jama>l sifa>t al-kama>l h}amal hala>l kama>l karena yang nuqt} pun tiga juga maka perbuatan serta tiga ada suatu nuqt} (b-d-y) ke dua nuqt} hati, ke tiga nuqt} baris, barispun tiga ada suatu baris di depan, sebaris di atas sifat Allah se baris di bawah //107// sifat Allah muhammad Rasulullah sebaris, adapun Aulia Allah nuqt sir Alla>h dua nuqt} ruh nuqt} al-ha>m qa>la al-Ima>m Ja‘far (m-a-r-w) rad}ialla>h ‘anhu wa sallam cerita sabda Imam Ja‘far anak Muhammad di Makkah rad}ialla>hu ‘anhu wa sallam su>al ma>ta ata>ka wa ayna askanta artinya jika orang bertanya pada diri di mana engkau datang di mana engkau diam, jawab faqultu ma>na ‘a>lam malakut ma>na ‘a>lam jabaru>t sahut olehmu pada alam Malakut kita pada alam Jabarut, di mana alam malakut itu, bermula di mana alam jabarut itu. jawab faqultu ‘a>lam malakut fi> bat}ini ummihi dan ‘a>lam jabaru>t yakhruju min ummihi artinya sahut katakan yang alam malakut tatkala lagi di dalam perut ibu kita. Bermula tatkala keluar //108// daripada perut ibu
diam pada alam jabarut namanya, tatkala diam pada alam malakut haus tiada laparpun tiada pijakpun tiada sematapun tiada karena alam sembilan tertutup dua alam terbuka, yang sembilan alam terbuka maka haus lapar sempatpun datangpun berubah rupapun berubah karena kita lagi akan kembali kepada alam malakut itu juga. Tiada kita kenal alam itu niscaya akan masuk neraka berakal tahu pada alam lahut samapun kedua alam karena alam lahut itu Maha Besar ujar sabda Allah ta‘ala fi> (tidak terbaca) s}idqin ‘ind mali>kin muqtadir inilah alam sebenarnya akan kedua (w-k-n-m) tatkala engkau dalam perut kerajaan karena itulah kau (s-k-m-n) diam sabda kala dalam lahut juga ajar Imam //109// Ja‘far ibn anak Muhammad di bumi Makkah rad}ialla>hu ;anhu itulah yang alam lahut dan khidmah baginya hendak ditunjangkan pada urang itu seperti sabda Rasulullahta‘alum al-‘alm haq al-mus}a>diq lil ‘a>lam ma>ka>n ma>lik ittiqaf lil ‘a>lam (tidak terbaca) ‘a>lam ajar sabda Rasulullah pelajarkan alam itu barang ada artamu semblihkan pada karam itu jikalau tiada arti dirimu hambakan pada karam itu kabar kau peroleh alam yang sebenar-benarnya alam itu seperti sabda Allah ta‘ala yas’alu>naka ahl dhikr wa in kuntum ta‘lamu>n sabda Allah ta‘ala perangku pada yang tahu jika engkau belum tau supaya engkau peroleh ilmu yang sebenarnya ilmu itu aqshar nu>n itu akan tubuhmu ia itu jasmani namanya. Bermula yang dua alam terbuka itu (i-b-n) terbuka. Bermula //110// keluar dari dalam rahim ibunya itu (tidak terbaca) tertutup yang sembilan alam, terbuka yang delapan alam tertutup. Bermula akan sekarang kita bukakan hendak rasa-rasakan daripada urat yang bernama tarawih itu seperti ma>ni>kum akan jatuh pada perut istrimu itu demikian hendak nikmat oleh membawa rasa cita rasa tubuh alam itu nikmat dunia akhirat tiada berpuas setelah engkau beroleh cita rasa merasakan hendak cium dan tubuh tatkala pulang ke rahmat Allah pun demikian juga itu akan isi surga sekalian yang bernama jannatul na‘i>m namanya itulah yang Muhammad Rasulullah itulah yang dikatanya dalam kitab dha>t al-t}ulma>l. Qa>la al Ima>m Ja‘far anak Muhammad di bumi Makkah //111// diperkatakan Allah daripadanya al-‘ilm ‘ala sab‘ ajsa>m artinya yang alam tujuh perkara, satu alam jabarut, ke empat alam nasut, ke lima alam alwi, ke enam sifa, ke tujuh alam
kudus. Bermula ketujuh itu tentu hendak maka sempurna karena alam tujuh itu Muhammad hanya dapat yang mengetahui barang siapa ada arif dapat hendak kenyataan pada kita alam tujuh itu di mana perhimpunan. Bermula di mana kenyataan pada kita alam tujuh itu. bermula yang tujuh itu menjadi suatu maka Mashayikh namanya. Adapun dikatakan alam lahut itu meliput segala alam artinya bermula seorangpun tiada dapat diam pada alam lahut itu melainkan Muhammad hanya dapat diam dalam alam lahut //112// bermula barang yang beroleh wirid Mashayikh dapat diam dalam alam lahut artinya lahut meliput itu yang gaib tiada orang seperti sabda Allah ta‘ala wa‘ata>rah mafa>tih}ul al-ghayb la> ya‘lamuha> illa huwa ya ya‘lam ma> fi> al-barr wa al-bahr min *waraqihi la> ya‘lamuha>*artinya tatkala Allah ta‘ala membukakan ilmu yang ghaib tiada mengetahui melainkan aku hanya, bermula mengetahui dia yang di darat yang di laut dan barang jatuh di daun kayu sehelai hanya aku mengetahui. Bermula alam malakut artinya tatkala dalam rahim ibunya itu alam malakut namanya. Bermula alam jabarut namanya. Bermula alam nasud artinya berpasa-pasa berbelit-belit alam nasut namanya. Bermula alam alwai artinya yang di atas ke tujuh langit artinya alam //113// sifa di bawah artinya ke bumi bernama rasa cita rasa rasakan itu nikmat syahadan, bermula lama kudus suci itu perhimpunan segala pintu yang dikatakan sembilan. Bermula alam kudus itu tatkala akan pulang ke rahmat Allah alam kudus tetapkan akar mesra pada tubuh kita wa sa}lli ‘alyhi wa sallam.
Bismilla>irah}ma>nirrahi>m
Bermula Allah ta‘ala itu martabat zat Allah ta‘ala dan ujud Allah itu tujuh martabat yang pertama martabat ah}diyah namanya, ke dua martabat wah}dah namanya, ke tiga martabat wa>hidiyah namanya, ke empat alam arwah namanya, ke lima alam misal namanya, ke enam alam ajsam namanya, ke tujuh alam insan namanya, maka martabat yang tujuh itu ketujuhnya kadim tetapi ahdiyah, wah}dah, wa>hidiyh kadim lagi //114// martabat yang ke empat itu (tidak terbaca) lagi fana. Bermula ah}diyah itu martabat zat Allah ta‘ala dan wah}dah itu martabat hakekat
Muhammadiyah s}allalla>h ‘alayhi wa sallam dan martabat wa>hidiyah itu martabat hakekat insan yakni Adama ‘alayhi salam dan seklaian kita maka martabat yang tiga itu qadim lagi bagi dan alam arwah dan alam misal dan ajsam dan alam insan ke empatnya itu muhaddas setelah diketahuilah martabat yang tujuh itulah seorang dan persuannya maka adalah mereka itu pangkat arif, maka setelah diketahui dan kenalnya oleh seorang demikian itu dengan la> ilaha illa Alla>h maka hendaklah hatinya musyahadah kepada ujud Allah yang mutlak ujud //115// jamal dikata dan alam mufasil dikata walla>hu a‘lam.
Ketahui olehmu bahwa yang namai Adam itu dua perkara, satu Adam Suri namanya, ke dua Adam Maknawi namanya, maka yang Adam Suri itu ia itu Adam Hakiki yakni wujud Muhammad ‘alayhi wa sallam ialah maka zat Tuhan seperti sabda Allah ta‘ala law laka ya> Muh}ammad lima>z}ahirat ar-rububiyyah yakni jika tiada engkau ya Muhammad niscaya tiada Ku nyatakan keadaan Ku dipertuhan Rasulullah Ta‘ala menjadikan nur Muhammad itu mawjub bi al-dha>t kah atau mawjub bi al-ikhtiya>r kah*.* Jawab adapun Allah ta‘ala menjadikan nur Muhammad mawjub bi al-ikhtiya>r juga tiada mawjubbi al-dha>t karena barang siapa (tidak terbaca) Allah ta‘ala //116// menjadikan nur Muhammad mawjub bi al-dha>t kafir hukumnya dan menjadikan segala shay’ wa>jib bi al-ikhtiya>r juga yakni jika ia hendak menjadikan dia dijadikan dia tiada jadikannya ma> yash’a> lam yakun yakni barang yang tiada dikehendaki Allah ta‘ala tiada ia yaf‘al Allah ma> yash’a> wa al-yah}kum ma> yuri>d artinya diperbuat Allah barang kehendaknya adapun arti mawjub bi al-dha>t itu tiada dekat tiada hendak wujud diperbuatnya (a-r-nya). Soal akan Allah subhanallah menjadikan Muhammad itu dengan pangkat atau dengan rupa muz}har kah atau dengan rupa amar kah. Jawab, pada kata ahlu syariat dengan amaralla>h nur Muhammad itu, adapun pada ahli al-haqi>qa>n Alla>h khalaq nu>r tanzih, qa> la Alla>h ta‘a>la al-insa>n sirri>//117// wa ana>sirah yu>’i> s}ifa>t (b-r-k-sh-a-y-d) (d-h-q-y-n-m) yakni tabir sifat Allah ta‘ala kebukakan (k-a-n) yang sebenarnya nyata kelihatan walla>hu a‘lam bi as}-s}awab.
Bismilla>hirrah}ma>nirrah}i>m
Ah}diyah, wah}dah, wah}idiyah, alam arwah, alam misal, alam ajsam, alam insan, di mana kita duduk jika duduk kita kepada wah}dah menjadi kaum Jabariyah, jika duduk kita kepada wa>h}idiyah menjadi menyesal dengan sesal tiada berkepuasan, jika duduk kita kepada alam arwah itulah tempat (b-y-s) dan (tidak terbaca) samarnya banyak terlalu (m-r-m-a-n) kan dapat (tidak terbaca) pagi, jika duduk kita kepada alam misal tambah duduk, jika duduk kita kepada alam ajsam tambah di tubuh, jika duduk kita kepada alam insan mustahil padanya seperti kepala. Soal, wah}diyah //118// alam arwah, alam misal, alam ajsam alam insan apa yang hasilnya sekarang. Adapun hasilnya alam insan adapun yang dinamai ah}diyah pada kita (tidak terbaca), adapun yang dinamai wah}dah pada kita hati, apa yang dinamai wa>h}idiyah pada kita akan. Apa yang dinamai alam arwah pada kita nyawa, apa yang dinamai alam misal pada kita rupa, apa yang dinamai alam ajsam pada kita tubuh (tidak terbaca) alam Insan karena (tidak terbaca) tanzih (tidak terbaca) tasbih semata (tidak terbaca) alam arwah, alam misal, alam ajsam, alam insan (tidak terbaca) //119// alam misal itu terbitnya daripada nur Muhammad karena alam ajsam itu terbitnya daripada nur insan, mana dikata syariata, mana dikata tarekat, mana dikata hakikat, mana dikata ma‘rifat. Adapun yang dikata syariat itu alam insan itulah dikata alam misal, alam arwah itulah dikata tarekat, ah}diyah, wah}dah, itulah dikata hakikat, ah}diyah itulah ma‘rifat (tidak terbaca) artinya tiada hampir kepada aku dengan suatu terlebih kasih daripada yang (tidak terbaca) segala kepada fardukan atasnya maka kemudian tinggalkannya segala haram maka (tidak terbaca) maka tinggalkan segala makruh seperti sabda Nabi s}alalla>h ‘alayhi wa sallam yataqarb ar-ra’ba an-nawa>fil uhibbuhu fa in ah}aytu sam‘an wa bas}i>ran wa (y-h) ila akhirah yakni //120// senantiasa hambaKu mendapatkan dari itu kepada Ku dengan segala hamba Ku hingga kekasih ia kepada pendengarnya dan penglihatnya datang kepada kesudahannya walla>hu a’lam bi al-s}awa>b.
Kama> qar Alla>h namanya ana> Alla>h nama (f-j-y- ny) artinya aku Allah wujud Tuhan berdiri ia sendirinya wah}dah nama martabatnya ta‘yi>nnya awal namanya. Bermula tatkala ghaib kepadamu kita tujuh hari tujuh malam wujud namanya la> ila ha illa Alla>h nama (f-j-y-ny) wa>h}idiyah nama martabatnya ta‘yin tha>ni> ta‘yinya. Bermula tatkala kita ghaib kepada rahim ilubu kita empat puluh hari empat puluh malam Rasulullah nama (f-j-y-ny), alam arwah nama alamnya ta‘yin ja>ma’ nama ta‘yinnya. Bermula tatkala kita ghaib kepada ibu kita sembilan bulan //121// insan kamil namanya la> ilaha illa Alla>h nama (f- j-y-ny) alam insan nama martabatnya ta‘yin kha>riji>nama ta‘yinnya, itulah mengetahui martabat yang tujuh‘ana>s}ir hakekat insan pada martabat wa>h}idiyah dinamai ahl Alla>h wuju>d artinya zat Allah ilmu artinya segala sifat Allah nur artinya segala asma Allah shuhu>d artinya segala sifat af‘a>l Allah tiada hakekat insan pada martabat *kha>riji>*dan tinggal daripada zat Allah dan daripada sifat Allah dan daripada segala asma Allah dan daripada af‘a>l Allah selama-lamanya daripada (dh-l) datang kepada (a-b-d) ‘ana>s}ir tubuh insan pada martabat alam syahadah ini artinya alam yang terpandang pada mata kepala ini empat perkara, bumi ujudnya wujud Allah yang bernama h}aki>martinya yang amat tahu pada mah}i>kum //122// air ujudnya ujud Allah yang bernama muh}yi artinya yang menghidupkan, apa ujud Allah yang bernama ‘ali>m artinya yang amat keras angin ujudnya ujud Allah yang bernama *qawi>*artinya yang amat kuasa. Alam jika ia tetap tiada ia berhadap itulah ujud namanya, alam jika ia mengenal ma‘rifat namanya, alam jika ia berkehendak nafsu namanya, bahwa sungguhnya yang empat itu nafsu alam jua namanya. Ini suatu fasal pada menyatkan adapun waktu zuhur kelu[ar] daripada otak Nabi, adapun asar keluar daripada darah Nabi, adapun waktu magrib keluar daripada sulbi Nabi, adapun waktu isya keluar daripada cahaya rangkungan Nabi, adapun waktu subuh keluar daripada cahaya (d-m-ng) dan (s-f-n) //123// maaf sebab pada tiap-tiap sembahyang lima waktu maka kita bacakan fatihah karena ayat keluar daripada nur Muhammad tamat walla>hu a’lam.
Ini suatu fasal pada menyatakan gerak. Bermula gerak atas lima perkara, satu gerak tubuh, ke dua gerak akal, dan ke tiga
| gerak | hati yang | mu’min | dan | keempat | gerak | insan yang |
|---|---|---|---|---|---|---|
| sebenarnya, dan lima gerak akal karena hati yang mu’min | ||||||
| keadaan insan yang sebenarnya bergerak insan yang sebenarnya | ||||||
| dikeadaan Tuhan yang sebenarnya. Bab pada menyatkan nyawa, | ||||||
| bermula | nyawa | atas | empat | perkara, | satu nyawa | rayh}a>n |
| namanya, | dan | kedua | ruh namanya, | dan ke | tiga nyawa |
*nafi>*namanya, dan keempat nyawa angan-angan namanya. Ke manakah perulangan nyawa yang empat //124// itu, wadi>, madhi>, mani,> ma>nakum itulah perulangan yang empat itu. adapun nyawa rayh}a>n itu pada ujung jantung tempatnya dan fi‘il itu pada pohon mata tempatnya dan nyawa angan-angan itu pada hati tempatnya. Bab pada menyatakan tatkala jadi Adam, bermula yang jadi Adam empat perkara, satu tanah kubur Nabi, dan ke dua tanah bawah ‘arsy Allah, dan ke tiga tanah hati surga, dan ke empat tanah sifat Allah yakni turun daripada Allah itulah yang jadi Adam ‘alayhi wa sallam. Bab pada menyatakan segalah sahabat nur, bermula segala sahabat nur empat perkara, satu jadi ‘arsy dan ke tiga jadi qalam dan keempat jadi malaikat yang menanggung ‘arsy, firman Allah yakni jadi karena nur Nabi Allah s}alalla>h ‘alayhi wa sallam. Ini kitab pada menyatakan kasaq //125// ta‘rud}, ta‘a>yin. Bermula kasaq³. Ta‘rud}, ta‘yi>n dihinggap-hinggapkan qalbi zikir fi‘li itu kepada qas}ad, ta‘rud}, ta‘yin itu maka dipesertakan qasad} itu kepada takbiratul ihram pada hal itulah yang bernama niat, maka lafaz ta‘yin itu zahir, maka besertakanlah lafaz ta‘arud} ta‘yi>n itu pada niat hatinya Allahu Akbar dengan sebut mulutnya Allahu Akbar sekira-kira jangan terdahulu daripada alif Allah dan jangan terkemudian daripada Allahu Akbar maka bernama ia dengan ibadah, adapun yang kita maksud daripada tatkala mengata Allah wujud yang bernama Allah yakni tajali ia pada martabat wah}dah dan kita maksud pada tatkala mengata Akbar wujud yang bernama rah}ma>n dan rah}i>m yang tajali ia pada martabat wa>h}idiyah
Maksdunya adalah qasad}
syahid dan jangan kita lupakan ibadah kita dan akan yang kita sebut walla>hu a‘lam bi al-s}awa>b //126//
Adapun niat empat perkara, satu niat tawzi>‘ah namanya, dan kedua niat bast}iyah namanya, dan ketiga niat ‘urfiyah namanya, ke empat niat kama>liyah namanya. Niat tawzi>‘ah itu berjodokan awal sama awal, dan berjodokan akhir sama akhir, maka niat bast}iyah berniat ia di tengah takbir, kedua niat itu tiada sah pada Ahlu sunnah wal jama‘ah, maka niat ‘urfiyah itu berniat ia daripada alif tiada ia ingat kepada akbar, itulah niat Ahlu sunnah wal Jama‘ah ‘urfiyah pada lafaz kama>liyah pada maknanya, maka kama>liyah itu berniat ia daripada alif Allah ingat ia datang kepada Akbar, itulah niat segala Anbiya Allah dan Auliyah Allah yang hadir pada hati, fi‘il shalat, dan hukum shalat, dan zaman shalat walla>hu a’lam.
Pasal pada menyatakan umur Nabi yang enam orang pada membawa //127// syari‘at, pertama umur Nabi Allah Adam ‘alayhi salam seribu tahun sembilan ratus tahun, dan umur Nabi Nuh ‘alayhi salam seribu tahun, dan umur Nabi Ibrahim ‘alayhi salam empat puluh tahun lima tahun, dan umur Nabi Musa ‘alayhi salam seratus dua puluh tiga tahun, dan umur Nabi Isa ‘alayhi salam tiga ratus tahun dan umur Nabi kita Muhammad s}alalla>h ‘alayhi wa sallam enam puluh tahun. Bermula Adam keturuban Jibra’il dua belas kali jua, dan Nabi Nuh keturunan Jibra’il lima puluh kali jua, dan Nabi Ibrahim keturunan Jibra’il empat kali dan Nabi Musa keturunan Jibra’il empat ratus kali, dan Nabi Isa keturunan Jibra’il sepuluh kali jua dan Nabi Muhammad s}alalla>h ‘alayhi wa sallam keturunan Jibra’il dua lepas empat ribu kali. Bermula menyuruh dia dan membawa jadi dan mebaca dia dan mendengar dia dan menaruh dia dan melihat dia (tidak terbaca) ia (m-m-w-j-ng-ng) //128// Ka‘bah Allah seribu kali dan serasa ia naik haji seribu kali dan serasa ia berbuat (b-q-t) enam puluh tahun dan serasa ia membaca Qur’an tiga puluh juz dan serasa ia memberi sedekah emas sebuah bukit dan segala dosanya diampuni Allah ta‘ala walla>hu a‘lam bi al-s}awa>b.
Ini kitab pada menyatakan yang bernama Mikail cita kepada kita dinamai timbangan yang betul pada kita ‘azza wa jalla kepada
Izrail kepada kita yang dipitaruhkan Allah di dalam hati kita itulah yang bernama Malaikat al-Maut pada kita, dan Jibra’il itu akal namanya pada kita inilah menyampaikan suruh Allah kepada kita qalb al-mu’min bayt Alla>h namanya, dan nyawa itu dihimpunkan martabat suatu ru>h al-ami>n namanya artinya yang Jibra’il itu kepada kedua ruh kudus itu yang dinamai Muhammad itu, ke tiga ruh //129// amar namanya artinya yang dinamai Allah, maka adapun ru>h al-ami>n itu dinamai Jibra’il itu maka datanglah ia pada segala manusia yang kebanyakan itu dalam tidurnya dan dalam sakitnya, jika ada orang itu Mu’min yang shaleh datang ia misal rupa yang dikasih jika ada orang itu Mu’min yang fasik datang ia misal rupa yang dikebencinya dan rupa yang diketakutinya, maka ruh kudus itu terhimpun sifat hayat, ‘ilmu, qudrah, iradah, sama‘, bas}ar, kala>m, maka ru>h al-ami>n itu yaitu meanggap pada segala alam makalah memberantah seperti tumbuh rambut segala (b-w-l), dan kaki dan giginya dan tumbuh segala rumput dan kayu-kayuan, maka yaitu dalam pitaruh air sembahnya, inilah sahabat yang berempat pertama, Jibra’il, ke dua Mikail, dan ke tiga Israfil dan empat izrail tamat.
Bismilla>hirah}ma>nirrah}i>m //130//
Adapun Muhammad jo Adam kita nan zahir nan seperti Allah jo Muhammad seperti itulah Adam jo Muhammad, adapun kejadian adam kita zahir nan kejadiannya air, api, angin, tanah, jika disebut air kulah ja[ntu]ngnya Muhammad, jika disebut angin urat Muhammad, jika disebut api darah Muhammad, itu kejadian Adam kita, tamat tajalli Allah pada martabat alam Ajsam ia bernama zahir Muhammad bernama tubuh artinya muzhar tajalli Allah pada martabat alam Misal ialah bernama mus}awir Muh}ammad bernama rupa tajalli Allah pada martabat alam Arwah ia bernama munawir Muh}ammad bernama rah}ma>n Muh}ammad bernama a’yan thabitah artinya nur tajalli Allah pada martabat wah}dah ialah bernamasu>’un dhatiyah, ah}diyah, wa>h}idiyah, alam Arwah, alam Misal, alam Ajsam, alam Insan la> ilaha illa Alla>h Muh}ammad rasu>lulla>h //131//
Inilah sharah doa kesejahtera Abu Baka S{iddiq rad}yallah ‘alayh bahwasanya hamba duduk pada sauatu hari di sisi Rasulullah di Masjid Madinah maka datanglah Jibra’il ‘alayhi salam membawa haluan akan Muhammad Rasulullah kata Jibra’il ada suatu haluan hamba bawakan sabda, adapun haluan hamba bawa ini beberapa Nabi yang dahulu tiada punah karena Allah ta‘ala, demikian ini ya Muhammad barang siapa membaca doa ini jikalau tiada tahu membaca dia maka suruh taruh baik-baik dengan dihormatinya maka Allah ta‘ala menghimpun dosanya sekalaian maka barang siapa hendak melihat Rasulullah dalam mimpinya pada malam jum‘at maka mandi (b-r-s-ny-m-h) dan mengambil air sembahyang maka sembahyang dua rakaat, maka memberi salam meka baca doa ini lima kali dengan ikhlas hatinya, maka tidur berniat serta katanya “Ya Tuhanku pertemukan hamba dengan Rasulullah //132//maka sampaikan Allah ta‘ala berkat ini. Maka barang siapa kekurangan rezekinya maka baca doa ini niscaya dimudahkan Allah ta‘ala rizkinya akan dia berkat doa ini, maka barang siapa banyak hutangnya atau ia (k-j-t) atau penyakitnya maka baca doa ini niscaya diringankan Allah dan beroleh (s-k-j-t) diberi Allah ta‘ala berkat doa ini, jika hendak hafizh membaca Qur’an maka ambil umbar dan kasturi dan genggang maka dibasuh ketiganya batu jati jadikan da‘awat maka surat pada mangkuk putih maka diminum tujuh pagi, niscaya diberi Allah hafizh berkat doa ini. Jika orang mati maka suratkan pada kafannya niscaya diringankan Allah lidahnya menyuhunya tanya soal Munkar dan Nakir (h-a) kan Allah malaikat menganjung kuburnya dan terang kuburnya berkat doa ini. Jika orang lari hambanya maka sembahyang empat rakaat dengan //133// ikhlas hatinya maka dibaca tiap-tiap rakaat itu fatihah tiga kali dan qul huwa Alla>h tiga kali sudah itu maka meminta doa kepada Allah ta‘ala niscaya dapat hambanya berkat doa ini. Jika orang penyakitan atau orang belayar dibaca doa ini niscaya sentosa akan Allah berkat doa ini.
Bermula sabda Rasulullah aku dimenangkan Allah daripada segala siteruku daripada berkat doa ini, kata Abu Bakar Siddiq aku jadi khalifah ganti Rasulullah daripada berkat doa ini, kata Umar ibnu Khatt}ab aku diberi Allah agama Islam daripada berkat doa
ini, kata Usman ibnu Affan aku hafizh mengaji Qur’an daripada berkat doa ini, kata Ali karamalla>h wajhahu aku jadi kuat dan mengalahkan kafir daripada berkat doa ini, maka barang siapa membaca doa ini daripada laki-laki dan perempuan diulang- ulangnya tatkala pada hari kiamat bercahaya makanya gilang gemilang dan beroleh surga dengan //134// mudah-mudahannya daripada berkat doa ini kata Darda’ Rahmatullah ‘alayhissalam barang siapa membaca doa ini atau menaruh dia peliharakan Allah rumahnya daripada ternu dan orang mencuri berkat doa ini. Kata Syekh Hasan al-Basri Rahmatullah ‘alayhissalam tiada lebih diperolehan seorang daripada orang membaca doa ini. Kata Sofyan Rahmah ‘layhi wa Sallam barang siapa membaca doa ini apabila ia mati di angarkan Allah tujuh puluh ribu saf malaikat menganjung kuburnya membawa seorang suatu (t}-a-b-q) daripada cahaya dan [dibuk]akan Allah akan dia pintu surga berkat doa ini tergantung dibawah ‘arsy dahulu daripada dunia sembilan puluh ribu tahun lamanya, maka sabda Rasulullah barang siapa membaca doa ini pada seumur hidupnya sekali juapun niscaya //135// dikaruniai Allah akan dia kebaktinya sekalian malaikat dan kebaktian sekalaian Nabi dan wali dan beberapa kebaktian orang Shaykh dan orang taqwa dan beberapa tasbih binatang di darat dan binatang di bawah dan beberapa kebaktian jin Islam dan segala manusia kepada Allah SWT sekalian itu dikarenakan Allah akan orang membaca doa kasih itu dan beberapa zikir akan Allah ta‘ala akan membaca doa kasih itu sarah doa kasih (s-n-s}-r) jua.
Bismilla>h}irrah}ma>nirrah}i>m
Allahumma ya> kathi>ra an-nawa>li wa ya> da>’im al- was}a>li wa ya> h}usnu al-fi‘a>li wa ya> ra>ziqu al-‘iba>di ‘ala kully ha>lin wa ya ba>di‘an bila> mitha>lin wa ya> da>’iman bila> fana>’in wa ya> qa>’iman bila> zawa>lin wa ya> mashi>ran bila> wa>zi>rin //136// allahumma in dakhala asshaka fi> i>ma>ni> bika wa lam a‘lam bihi wa a‘lami tubtu ‘anhu wa aqu>lu la> ilaha illa Alla>h Muhammada rasu>lulla>h allahumma in dakhala asshirka fi> tawhi>di> iyya>ka wa lam a‘lam bihi aw a‘lam tubtu
‘anhu wa aqu>lu la> ilaha illa Alla>h Muhammad rasu>lulla>h allahumma in dakhala at-tathbihi fi> ma‘rifati> iyya>ka wa lam a‘lam bihi aw a‘lam tubtu ‘anhu wa aqu>lu la> ilaha illa Alla>h Muh}ammad rasu>lulla>h allahumma dakhala an-nifa>q fi> qalbi> min adh-dhunu>r al-kaba>’ir wa as}-s}afa>’ir kulliha> wa lam a‘lam bihi aw a‘lam tubtu ‘anhu wa qu>lu la> ilaha illa Alla>h Muh}ammad rasu>lulla>h allahumma in dakhala al-‘ajbu wa al- kabir wa ar-riya>’ wa as-sam‘ah wa an-nuqs}a>n//137// fi> ‘ilmi> bika wa lam a‘lam bihi aw a‘lam tubtu ‘anhu wa aqu>lu ila> akhi>rihi allahumma in dakhala al-khat}rah wa al-waswasatu fi> s}uduri> iyya>ka wa lam a‘lam bihi aw a‘lam tubtu ‘anhu wa aqu>lu la> ilaha illa Alla>h Muh}ammad rasu>lulla>h allahumma in dakhala jari> al-kidhb wa al-ghaybatu ‘ala lisa>n bika wa lam a‘lam bihi aw a‘lam tubtu ‘anhu wa aqu>lu la> ilaha illa Alla>h Muh}ammad rasu>lulla>h allahumma ma> ‘amiltu min su>’ wa lam a‘lam bihi aw a‘lam tubtu ‘anhu wa aqu>lu la> ilaha illa Alla>h Muh}ammad rasu>lulla>h allahumma ma> aradta li> min khayr fa lam ashkurhu wa lam a‘lam bihi aw a‘lam tubtu ‘anhu wa aqu>lu la> ilaha illa Alla>h Muh}ammad rasu>lulla>h allahumma ma> qaddarta ‘ala> min khayr fa lam ard}ahu wa lam a‘lam bihi aw a‘lam tubtu ‘anhu wa aqu>lu la> ilaha illa Alla>h Muh}ammad rasu>lulla>h allahumma ma> awlaytani> min ni‘ma>tika faghafalta ‘an //138//shukrika wa lam a‘lam bihi aw a‘lam tubtu ‘anhu wa aqu>lu la> ilaha illa Alla>h Muh}ammad rasu>lulla>h allahumma awlaytani> bihi min aka>’ika falam waddi haqqahu wa lam a‘lam bihi aw a‘lam tubtu ‘anhu wa aqu>lu la> ilaha illa Alla>h Muh}ammad rasu>lulla>h allahumma ma> amantu bihi ‘ala> min al-h}usni> falam ah}madka wa lam a‘lam bihi aw a‘lam tubtu ‘anhu wa aqu>lu la> ilaha illa Alla>h Muh}ammad rasu>lulla>h allahumma ma> awjubtu ‘ala min an-naz}ar fi>ka faghad}amtu wa lam a‘lam bihi aw a‘lam tubtu ‘anhu wa aqu>lu la> ilaha illa Alla>h Muh}ammad rasu>lulla>h allahumma ma> fayata‘tu min amli> fi> ‘amri> bi ma> lam tard}a bihi wa lam a‘lam bihi aw a‘lam tubtu ‘anhu wa aqu>lu la>ilaha illa Alla>h Muh}ammad rasu>lulla>h allahumma ma>’tamadtu ‘ala siwa>ka //139// fi>sshada’id wa lam a‘lam bihi aw a‘lam tubtu ‘anhu wa aqu>lu la> ilaha illa Alla>h Muh}ammad rasu>lulla>h allahumma ma> ista‘antu min ghayrika
fi> an-nawa>ir wa lam a‘lam bihi aw a‘lam tubtu ‘anhu wa aqu>lu la> ilaha illa Alla>h Muh}ammad rasu>lulla>h allahumma ma> s}alaha min sha’ ani> bifad}lika fara>yatihi min ghayrika wa lam a‘lam bihi aw a‘lam tubtu ‘anhu wa aqu>lu la> ilaha illa Alla>h Muh}ammad rasu>lulla>h allahumma in zalat qad mayya ‘ala as- s}ira>t} fathabitni> wa lam a‘lam bihi aw a‘lam tubtu ‘anhu wa aqu>lu la> ilaha illa Alla>h Muh}ammad rasu>lulla>h allahumma in t}a>la lisa>ni> fi as-sawa>r min ghayri wa lam a‘lam bihi aw a‘lam tubtu ‘anhu wa aqu>lu la> ilaha illa Alla>h Muh}ammad rasu>lulla>h allahumma a‘t}ani> bi al-‘ilmi wazinayni> bi al-h}ilmi wa akrimni> bi at-taqwa> wa wahablani> bi al-‘a>fiyati wa ya> waliyyu al-‘a>fiyah ya> hayyu ya> qayyum //140// ya> h}anna>n ya> manna>n ya> dayya> dayya>na ya> baraha>n ya> dhaljala>li wa al-ikra>m la> ilaha illa Alla>h anta subh}anaka inni> kunta min az}-z}a>limi>n fastajabna> lahu wa najayna> min al-‘alim wa kadhalika nanji> al-mu’mini>n wa dhakariyya> idhana< darabbahu rabb la> rabi> farad wa anta khayr al-wa>rithi>n wa la> h}awla wa la> quwwata illa billa>hi al-‘aliyyi a;-‘az}i>m nabz}aka wa karamka wa ju>dika birah}matika ya> arh}ama ar-rah}imi>n.
Bismilla>hirrah}ma>nirrah}i>m
Ini sharah doa sandaran alif inilah raja segala doa dan sabda Nabi s}alalla>h ‘alayhi wa sallam, adapun segala umatku hendaklah tahu membaca dia dan mendengari supaya luput daripada bala dan dan ya wa ba’ dan kutiko akhir zaman jika dibacanya tiap-tiap sudah sembahyang lima waktu pagi dan petang niscaya di anugrahkan Allah //141// pahalanya seperti naik haji seribu kali dan serasa bertemu dengan malam lailatul qadar dan serasa memerdekakan sahaya seribu kali dan serasa mengucap salawat akan Nabi seribu kali, kata Jibril ya Muhammad firman Allah pada sabda ajarkan pada umat Sayyid sekalian doa ini hendaklah dibacanya sehari sekali atau sejum‘at sekali atau sebulan sekali atau setahun sekali, selama hidupnya sekali niscaya Allah ta‘ala membukakan pintu surga akan dia. Bermula dianugrahkan Allah akan dia karamah tujuh perkara, pertama luput daripada hutangnya, ke dua lepas daripada titi sirathal
mustaqim, ke empat lepas daripada api neraka, ke lima lepas daripada mati terkejut, ke enam lepas daripada azab kubur, ke tujuh lepas daripada segala bahaya jin dan setan dan //142// kejahatan, ilahi> bih}aramihi qa> qa> da ra Muhammad pada berkat doa (ka-a-f) kara>mah Muh}ammad ilahi> lilla>h barang siapa (f-z-m-h-m) (m-n-y-h) Muhammad ilahi> bih}aramati tahu membaca ilahi> bih}aramati wa> wa>h}id Muh}ammad *ilahi>*sampai hadiah Muhammad ilahi> bih}aramati la> al-qa>’ kepada lagi (tidak terbaca) yasin Muhammad ilahi> bih}aramati Muh}ammad jika (tidak terbaca) wa sallam wa s}alalla>h ‘ala khayri khalqi Muh}ammad.
Bismilla>hirrah}ma>nirrah}i>m
Bab ini sharah doa Nubuwah Muhammad Must}afa Rasulullah sekali peristiwa Rasulullah duduk dalam masjid dengan segala sahabat sekalian, maka berkata Jibril ‘alayhim maka katanya “ya Muhammad ini akan doa dengan firman Allah ta‘ala barang siapa membaca doa ini maka besar pahalanya kepada Allah Subhanahu wa ta‘ala. Bermula doa ini ajarkan jua kepada segala umat Sayyidi supaya //143// lepas umat Sayyidi daripada bahaya api neraka dan bahaya akhirat diampuni Allah ta‘ala segala dosanya Sayyidi amin. Barang siapa membaca doa ini pada malam jum‘at lima puluh kali bahwasanya Allah ta‘ala berkahkan yang indah-indah padanya. Bermula air yang masin pun menjadi tawarlah daripada berkat doa ini dan barang yang liarpun menjadi jinak oleh daripada berkat doa ini, segala binatang liarpun menjadi jinak olehnya, dan barang siapa membaca doa ini barang kehendak dianugerahkan Allah ta‘ala. Bermula jika tanah sekalipun dijabatnya menjadi emas, demikianlah berkat kebesaran doa ini daripada kudrat Allah jua barang siapa membawa doa ini pada pisau yang tajam tujuh kali maka menjadi pupun, jika dicucukkan kepada air hilir niscaya air itu berhenti. Bermula //144//jika dibacakan pada hari hujan yang maha besar niscaya teduh hujan itu. Bermula jika hendak membunuh seteru kita maka dibaca sepuluh kali serta diingatkan seteru itu mati atau buta matanya dengan kebesaran Allah ta‘ala. Bermula jika
termakan dari jin sekalipun niscaya tawar olehnya. Bermula barang siapa membaca doa ini maka diikatkan padanya, barang siapa yang satu dikehendakinya tetapi hendaklah bersuci tubuhnya dan yang memakai baunan dan yang berkain yang baru, maka dibacalah doa ini kepada rumah yang tinggal atau surau tengah padang atau pada mesjid jum‘at, maka dibacanya lima puluh kali dengan serta air sembahyang dan ikhlas hatinya niscaya datang empat orang raja jin Islam masing-masing dengan sukunya //145// maha banyak tentaranya tiada lagi bertempat, maka memintalah kita padanya itu barang suatu tandanya, niscaya diberi tandanya seorang suatu ia memberi tanda kepada kita, maka berjanjilah dengan dia demikian kata kita “hai kamu segala raja Jin hamba hendak berjanji yakni hendak bersahabat dengan kamu sekalian, jangan kamu tinggalkan daku pada barang suatu pekerjaan hamba hendaklah hamba meminta hendak disertai oleh kamu demikianlah kamu ganti dan barang siapa membaca doa ini barang kehendak kita beroleh kepada Allah ta‘ala, jika hendak berjalan atas airpun dapat dan jika ia hendak berjalan di atas air pun dapat dan jika ia hendak terbang ke atas udarapun dapat, demikianlah kebesaran doa ini //146// barang kehendak dikabulkan Allah ta‘ala dan jika orang sakit dibacakan pada minyak doa ini maka disapukan pada segala tubuhnya. Bermula jika orang gilapun sembuh olehnya atau surat bubuh pada orang itu atau tuli menjadi mendengar atau sopakpun menjadi nyaman. Bermula maka disurat doa ini, maka dibawa mengadap raja-raja atau mentri atau orang haniaya menjadi mulia, maka hendaklah kita jangan kelihatan berjalan, maka dibacakan pada minyak tujuh kali, maka disapukan di kepala kita niscaya barang ke mana kita berjalan tiada didapat diketahui oleh orang. Bermula jika dibaca pada malam kamis tujuh kali maka malaikat datang kepadanya bertanjungkan dirinya dan kasih akan dia. Bermula jika dibaca malam isnain seratus kali dengan ikhlas hatinya niscaya sekalian Nabi //147// pun bertanjungkan dirinya kepada kita. Bermula jika disurat doa ini maka dibubuhkan pada suatu tempat atau pada rumah kita atau pada tanaman kita niscaya tiada datang segala binatang yang tinggal demikianlah
kebesaran doa ini pada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan pada Nabi Muhammad Rasulullah s}alalla>h ‘alayhi wa sallam.
Bismilla>hirrah}ma>nirrah}i>m
Allahumma s}alli ‘ala Muh}ammad wa ‘ala a>li Muh}ammad sayyid al-awwali>n sayyid al-akhiri>n sayyid al-mursali>n sayyid al-‘a>lami>n sayyid az-zahidi>n sayyid al-mu’mini>n sayyid al- ‘a>rifi>n sayyid al-s>a>lih}i>n sayyid al-mu‘rabi>n sayyid al- ‘a>lami>n wa rad}iyalla>h ta‘a>la ‘an as-s}ah>bah Rasu>lulla>h ajma‘i>n, allahumma inni> as’aluka ya> sayyid as-sa>da>t wa ya> ‘alama asra wa al-h}asa>t wa ya> muji>b ad-da‘wa>t //148//wa manzil al-baraka>t wa ya> raf’ ad-daraja>t wa ya> ra>fi’ al- saya>’it wa ya> razaq al-‘iba>dat wa ya> anta ‘ala kully shay’ qadi>r birah}matika ya arh}ama ar-rahi>min. Hadha ad-du‘a> khatam nubuwa>t.
Ila> ru>h kulla al-usta>dh al-mutaqaddimi>n wa usta>dh al- muta’akhiri>n rah}imatulla>h ‘alayhi wa ‘a>d ‘alayna> min baraka>tihim wa asra>rihim fi ad-dunya> wa al-a>khi>rah shay’ Alla>h al-fa>tih}ah thumma ila ru>h auliya>’ Alla>h s}ah}ib ad-du‘a>’ rah}imatulla>h ‘alayhi wa ‘a>d ‘alayna> min baraka>tihim wa asra>rihim ad-dunya> wa al-‘a>khirah shay’ Alla>h al-fa>tih}ah.
Bismilla>h}irrah}ma>nirrah}i>m
Adapun cerita ini daripada Abu Hurairah rad}ialla>h ‘alayh mendengar daripada Rasulullah ‘alayhi wa sallam sabdanya “barang siapa membaca shalawat ini pada waktu tidurnya //149// sekali dibacanya dua puluh tahun dosanya diampuni Allah ta‘ala, jika dua kali dibacanya empat puluh tahun dosanya diampuni Allah, jika tiga kali dibacanya enam puluh tahun dosanya diampuni Allah dan jika empat kali dibacanya datang kepada hari kiamat tiada ia berdosa ibu bapaknya diampun Allah sepuluh ribu malaikat menjunjung dia berkat doa ini walla>hu a‘lam.
Bismilla>h}irrah}ma>nirrah}i>m
Allahumma s}alli> ‘ala Muh}ammad mada>mah al-s}alatu wa s}alli> ‘ala Muh}ammad mada>mah rah}mat wa s}alli> ‘ala Muh}ammad mada>mah ru>h Muh}ammad fi al-arwa>h wa s}alli> ‘ala tawbah Muh}ammad mada>mah.
Adapun bathin Muhammad rabba>na awwal Muhammad itu nyawa oleh kita akhir Muhammad itu hati pada kita, zhahir Muhammad itu rupa pada kita, bathin Muhammad itu //150//ujud pada kita. Zat Allah zat pada Allah rahasia pada kita sifat pada Allah nyawa pada kita asma’ pada Allah hati pada kita af‘a>l pada Allah rupa pada kita walla>hu a‘lam.
Bismilla>h}irrah}ma>nirrah}i>m
Ini pada menyatakan masha>’alla>h yang ke tujuh karena segala perkara itu tiada daripada Muhammad itu tiada daripada Allah dan karena Allah tiada daripada suatu itu betapa kebenaran kata itu jawab, jika dikehendakinya dengan katanya itu bahwasanya segala perekara itu tiada dijadikan Allah daripada nur Muhammad itu tiada dijadikan Allah daripada nur ilmunya, maka yaitu sia-sia i‘tiqadnya karena tha>bit segala alam itu dijadikan Allah daripada nur Muhammad //151// Muhammad dijadikannya daripada nur Allah dengan segala hadith yang tersebut itu dan jika dikehendakinya dengan katanya itu bahwa segala perkara itu bukan ia Muhammad dan Muhammad itu bukan ia Allah dan Allah itu tiada ia daripada suatu yakni tiada dijadi ia daripada suatu tetapi ada ia jadi sendirinya laysa kamithlihi shay’ maka yaitu benar i‘tiqadnya seperti firman Allah ta‘ala qul huwa Alla>hu ah}ad Alla>h as-s}amad lam yalid wa lam yu>lad walam yakun lahu kufuwan ah}ad. Artinya katakan olehmu Muhammad bahwasanya Allah ta‘ala itu Esa lagi kaya tiada Ia beranak dan tiada Ia diperanakkan dan tiada Ia seorang menyerupai baginya. Dan lagi pula firman Allah ta‘ala huwa al-awwal wa al-a>khir wa az-z}a>hir wa al-ba>t}in artinya Ia jua yang pertama daripada suatu dengan tiada permulaian dan //152// tiada berkesudahan, kemudian daripada fana suatu dengan tiada berkesudahan dan ia
jua yang zahir dengan beberapa dalil dan ia jua yang bathin daripada tiada akan didapat oleh segala panca indra yang zahir dan panca indra yang batin walla>h waliyy tah}qi>q wa Alla>h. Masha Allah yang ke delapan apa makna Adam pada syariat, apa makna Adam pada hakekat dan apa makna Adam pada ma‘rifat. Jawab, bahwasanya makna Adam di sini insan yakni manusia, maka apabila sampailah insan itu pada martabat ‘ilm al-yaqi>n dinamai akan dia orang tarekat dan apabila sampailah ia pada martabat h}aq al-yaqi>n dinamai akan dia orang hakekat inilah makna kata itu walla>h a‘lam. Soal yang sembilan, firman Allah ta‘ala a‘lamu ma la> ta‘lamu>n artinya bahwasanya Aku terlebih tahu ma‘rifat akan barang yang tiada kamu ketahui //153// betapakah makna itu bahwasanya Aku terlebih tahu akan segala hakekat yang tiada gaib yang tiada kamu ketahui akan dia yakni bahwasanya Allah padaku dua alam, satu batin namanya, ke dua ilmu zahir namanya, maka ilmu batin itu yaitu yang kuketahui akan dia dengan sendriku dalam diriku bagi diriku atas diriku, maka yaitu ilmu batin namanya tiada tahu seorang juapun tatkala itu lain daripada Allah, dan ilmu zahir itu yaitu yang kuketahui akan dia dengan sendiriku dan dengan yang lain dari dalam diriku dan dalam yang lain (tidak terbaca) yang lain atas diriku dan atas yang lain yakni akupun mengetahui dia dan kamupun mengetahui dia, ma‘rifat barang yang telah kuberi tahu kamu akan dia seperti firman Allah ta‘ala wa ma> ataynahum min al-‘ilmi illa> qali>lan artinya tiada dianugerahkan Allah //154// ilmu kepada kamu melainkan sedikit masalah. Yang ke sepuluh khatib membaca khutbah, adakah ia harus mengangkatkan tangannya tatkala membaca doa dalam khutbah atau tiada jadikah bahwasanya adalah mengangkatkan tangan itu sunat tatkala membaca doa melainkan tatkala membaca doa yang dalam khutbah, maka yaitu makruh tiada sunat. Bermula kaifiyat mengangkatkan dua tangan tatkala membaca doa yaitu berbetulan dua tangannya dengan dua bahunya padahal dijadikannya antara dua tangannya, inilah kaifiyat mengangkatkan dua tangannya pada membaca doa tatkala belum sangat hajatnya, maka apabila sangatlah hajatnya, maka diangkatkan dua tangannya hingga kelihatan putih dua keningnya. Masalah ke sebelas mempelai yang memakai pakaian
emas dan kain sutra tatkala nikah, adakah sah atau tiadakah sah. Jawab, bahwa adalah nikahnya //155// itu sah karena pakaian emas dan kain suteranya tiada ia menikahkan akan sah nikah, hanya yang menikahkan memakai dia melainkan jika memakai akan pakaian emas atau sutera itu wali atau dua orang saksi maka yaitu tiada sah nikahnya karena jadilah wali dan dua orang saksi itu pada masa itu fasik sebab memakai pakaian diharamkan Allah syara‘, maka inilah kesebelas perkara serta dengan segala jawabnya, wa billa>hi at-tawfi>q wa s}alalla>h ‘ala sayyidina> Muh}ammad wa a>lihi wa s}ah}bihi wa sallam ghafaralla>h lahu wa al-wa>lidayhi wa hadabiyyah wa al-jami>‘ al-muslimi>n ami>n ya>rab al-‘a>lami>n. Dan adalah selesai daripada mengarang kitab ini pada hijrah seribu seratus dua tahun pada tahun pada bulan Sawal.
Bismilla>hirrah}ma>nirrah}i>m
Al-h}amdulilla>h al-ladhi> hadyna> liha>dha aw ma< kana> nahtadi> law la> in hadayna> Alla>h artinya segala puji bagi Allah yang //156// menunjukkan jalan yang betul dan tiada kita beroleh petunjuk jikalau tiada ditunjuki Allah kita wa s}ala>tu wa as-sala>mu ‘ala sayyidina> Muh}ammad wa a>lihi wa s}ahbihi ajma‘i>n dan rahmat Allah dan selamanya atas penghulu kita Muhammad dan segala keluarganya dan sahabatnya sekaliannya. Amma> ba‘du adapun kemudian daripada itu maka datang soal kepada faqir yang d}a‘i>f yaitu Abdurrahman nyawanya nama nagarinya, Syafi‘i nama mazhabnya, i‘tiqad Asy‘ari nama i‘tiqadnya, Syattari nama tarekatnya, dan adalah banyak masalah itu sebelas perkara, maka darinya jua satu masalah kemudian daripada satu masalah dan kunamai kitab ini jawa>b al- mushkila>t.
Masalah yang pertama inna> Alla>h nafsuna> wa wuju>duna> al-khan nafsihi wa wuju>d artinya bahwasanya Allah ta‘ala diri kamu dan wujud kamu dan kamu dirinya dan wujudnya //157// adakah sah dikata ini pada orang sufi atau tiadakah. Jawab, bahwasanya tiada diharus kata ini pada sufi maka barang siapa berkata ia seperti demikian itu tiada daripada pihak zuq dan
syauq serta dii‘tiqadkannya akan yang demikian itu dengan tiada ta’wilnya niscaya jadilah ia kaum jahiliyah yakni jadilah ia kafir na‘u>dhubilla>h seperti kata Syekh Ahmad Qusasi wa al-khat} min rab al-ja>hili>n bi Alla>h artinya sehampirkan pekerjaan yang berlain-lain nan itu setengah daripada segala adat orang yang bebal akan Allah melainkan jika dikata oleh seorang akan kata itu padahal menghakikatkan segala perkara ini tatkala belum pai ia dan belum beza setengahnya daripada setengahnya yakni daripada pihak hapus sekalian itu dalamnya tiada beza setengahnya daripada setengahnya seperti kata Syekh Ahmad Qusasi dalam kitab yang bernama //158// fa>d}at al-rah}ma>n “falikulli huwa al-h}aq min haithu at-t}amas fi>hi artinya tatkala perkara ini hak Ta‘ala jua daripada pihak hapus sekalian itu dalam ah}diyah tiada daripada pihak hakikat mithal bila> tashbih seperti air setitik digugurkan ke dalam laut, maka tatkala tiadalah dapat kita membezakan dia daripada laut itu maka dapatlah kita kata air itu laut dan laut itu daripada pihak t}amas tiada daripada pihak hakikat yakni tiada hakikat Allah akan jadi hakikat makhluk dan tiada hakikat makhluk akan jadi hakikat Allah seperti kata segala Arif “fa al-h}aqa>’iq la> tanqalib artinya yang hakikat Allah tiada dapat bertukar dengan hakikat makhluk, maka sebab itulah kata Arif “li ‘abd ‘abd wa in tarq wa abr bi rabbi wa in tanazzala artinya yang hamba itu hamba jua jikalau ada ia dalam ah}diyah sekali //159// pun dan yang Tuhan itu Tuhan jua jikalau ada tajalli kepada alam shaha>dah ini sekalipun walla>h waliyyu itu naik.
Maslah yang ke dua a‘ya>n th>bitah itu qadimkah ia atau muhadithkah, bahwa a‘ya>n th>bitah itu qadim ia dengan qadim ilmu atas kata yang sah karena ia tiada dicari dan tiada ditinggal daripada ilmu dan harus dikata tiada qadim dan tiada muhadith kata karena qadim dan muhadith itu ujudnya pada kha>rij dan a‘ya>n th>bitah itu tiada ia mauwjud pada kha>rij sebab itulah harus dikata seperti yang demikian itu dan harus pula dikata ia muhadith dengan iktibar atharnya dan hukumnya yang nyata ia pada kha>rij.
Ini maslah yang ke tiga, bahwasanya zat hak Ta‘ala itu semata-mata tiada sertanya suatu juapun yaitu laysa kamithlihi
shay’ maka //160// sekarang ini betapa pengenal kita akan dia wa laysa kamithlihi shay’ juga atau lain dari itukah. Jawab, bahwa adalah i‘tiqad yang sempurna itu i‘tiqadkan hak Ta‘ala tiada sepertinya suatu juapun daripada pihak zatNya dan bagiNya jua tiap-tiap suatu daripada pihak asmaNya dan tajaliNya seperti firman Allah ta‘ala laysa kamithlihi shay’ wa huwa as-sami>‘u al- bas}i>r artinya tiada sepertinya suatu daripada pihak zatNya dan Ia jua yang mendengar lagi melihat tiada Ia berubah daripada laysa kamithlihi shay’ daripada azali datang kepada abadi seperti kata Syekh Muhammad anak Fadlullah bal lana> kama> ka>na artinya tetapi adalah haq Allah ta‘ala sekarang ini seperti adanya yang pada azali tiada berubah-rubah ia daripada kepala dalam akhirat sekalipun yang ia seperti laysa kamithlihi syai’ jua.
Masalah yang ke empat hadith man ‘arafa nafsahu fa qad ‘arafa //161// rabbahu artinya barang siapa mengenal dirinya makasanya ia mengenal akan Tuhannya, betepa kebenarannya, adakah ia seperti zahir lafaz itu atau lain dari itukah. Jawab, bahwa adalah mengenalnya pada i‘tiqad yang sah bahwa ku kenal sifat dirimu itu lawan sifat Tuhanmu, maka barang siapa mengenal akan dirinya itu hamba makasanya mengenal ia akan Tuhannya itu Tuhan, dan barang siapa mengenal ia akan dirinya itu fana makasanya mengenal ia akan Tuhannya itu baqa, dan barang siapa mengenal ia akan dirinya makasanya mengenal ia akan Tuhannya keras.
Masalah yang ke lima hadith qudsi “al-insa>n sirri> wa ana> sirrahu betapa maknanya. Jawab, bahwa adalah maknanya insan itu maujud dalam ilmu haq Ta‘ala dan haq Ta‘ala itupun mawjud dalam hati insan. Bermula dikehendaki dengan insan di sini //162// insan kamil yakni insan yang arif akan Allah bukan insan yang na>qis} yakni bukan insan yang bebal akan Allah, maka soal haq Ta‘ala mawjud di dalam hati insan yang arif ini daripada pihak tiada ia lupa akan dia dan tiada ia lalai dan insan yang arif itupun mawjud dalam ilmu haq Ta‘ala senantiasa ia tiada ia lupa akan insan yang arif itu seperti firman Allah ta‘ala la> yad}ribi> wa la> yansa artinya tiada lalai Tuhanku dan tiada lupa maka inilah makna hadith qudsi itu.
Masalah yang ke enam segala perkara itu daripada Muhammad itu daripada Allah, adakah sah dikata ini atau tiadakah. Jawab, bahwa kata itu benar yakni dijadikan Allah segala perkara itu daripada nur Muhammad dan dijadikannya nur Muhammad daripada nur Allah seperti sebda Nabi s}alalla>h ‘alayhi wa sallam cerita daripada Jabir rad}ialla>h ‘anhu “innala>h khalaqa ru>h //163// nabiyyuka s}alla Alla>h ‘alayhi wa sallam min dha>tihi wa khalq al-‘ilm bi sirrihi min ru>h Muh}ammad s}alla Alla>h ‘alayhi wa sallam artinya bahwasanya Allah ta‘ala menjadikan ruh Nabimu s}alla Alla>h ‘alayhi wa sallam daripada nur zatnya yakni daripada nur ilmunya dan dijadikannya segala alam ini daripada ruh Muhammad s}allallah 'al‘yhi wa sallam dan lagi sabda Nabi s}allalla>h ‘alayhi wa sallam “ana>min nu>r Alla>h wa al-‘a>lam min nu>ri>” artinya aku daripada nur Allah dan segala alam ini daripada nur ku, dan lagi pula sabda Nabi s}allalla>h ‘alayhi wa sallam “ana> min Alla>h wa kullu shay’ minni>” artinya aku daripada Allah dan segala suatu daripada aku. Bermula hasil i‘tiqad kita segala hadith ini bahwa dijadikan Allah ruh Nabi s}allalla>h ‘alayhi wa sallam daripada nur ilmunya dan dijadikannya segala alam ini daripada limpah ruh Nabi s}allalla>h ‘alayhi wa sallam. Tamat. //164//
Bismilla>hirrah}ma>nirrah}i>m
Dengan nama Allah jua aku membaca kitab ini Ia jua Tuhan yang amat murah dalam negeri dunia ini lagi amat (m-ng-h-a) hambanya yang mu’min dalam negeri akhirat. Alh}amdulilla>hi rabbi al-‘a>lami>n segala puji pujian bagi Allah Tuhan seru sekalian alam wa as-s}ala>tu wa as-sala>m ‘ala min al-anbiya>’ ba‘duhu in rah}matalla>h dan selamanya atas sempurna yang tiada Nabi kemudian. Wa ba‘du adapun kemudian dari itu maka inilah peredaran mani perempuan dalam sebulan atas lima belas tempat, yang pertama peri menyatakan mani perempuan pada tiap-tiap hari. Adapun pada hari sehari bulan bahwa pindah berpindah daripada suatu tempat kepada suatu tempat, adapun pada sehari bulan bahwa mani perempuan itu pada pohon telinga kirinya tempatnya, maka apabila kita hendak jimak //165//
dengan dia maka keliling pohon telinganya itu setelah itu maka jimak dengan dia niscaya segera ia anzaldan nikmat diperolehnya dimelainkan dikerjakan pada segala kitab tempat mani itu seperti tersebut supaya sekira ia anzal dan lezat jimak itu.
Dan pada dua hari bulan pada ketiaknya tempat. Jika tiga hari bulan pada lengannya tempatnya, jika empat hari bulan pada susunya tempatnya, jika lima hari bulan pada dadanya tempatnya, jika enam hari bulan pada pusatnya tempatnya, jika tujuh hari bulan pada pohon telinganya kanan tempatnya, jika delapan hari bulan pada pohon pada leher kananya tempatnya, jika sembilan hari bulan pada bahunya tempatnya, jika sebelas hari bulan pada buku lehernya tempatnya, jika tiga belas hari bulan //166// menjabat dirapatkan tangan kedua jari dan sapukan tangan kedua jari dan sapukan ibu jari kepada kepala susunya maka kita jabat hatinya atau kulitnya yang terkatus perihnya maka berkehendak akan perempuan itu maka kita keluarkanlah nur yang di dalam hati sanubari kepada sama dahinya dan naz}ar kita dan hemat kita dan jikalau hasil pekerjaan itu maka adalah izin Allah ta‘ala maka kita bangunkan dengan syarat panggil dengan kuku tunjuk yang kanan dengan kuku jari kita yang kiri apabila sudah kita buat maka kita bersucilah. Adapun perempuan itu kita cium pula dengan mahabahkan lamanya supaya (k-m-y-a) nur yang kita ambil serta cahaya rupa perempuan itu tiadalah binasa tubuhnya. Bermula jikalau kita hendak menaikan cahaya maka kita ambil mani yang lekat di ujung zakar kita//167// kusurkan kepada tapak tangan kita sapukan ke muka kita hakikatnya wujud kita turun kepada diri anggota kita maka baca doa ini demikianlah doanya.
Bismilla>hirrah}ma>nirrah}i>m
Allahumma aj‘alna> nu>r wa tarji‘na> muni>ra al- h}amdulilla>hi rabb al-‘a>lami>n wa as-s}ala>tu wa as-sala>mu ‘ala Muh}ammad wa a>lihi wa s}ahbihi ajma‘i>n wa azjam ummaha>t al-mu’mini>n at-t}a>harah ‘an adh-dhunu>b wa la>m. amma> ba‘du adapun kemudian daripada itu ketahui hai thalib bahwa tatkala kita gaib kepada rahim ibu sehari semalam Allah
namanya hu namanya artinya hu itu nama zat yang semata-mata tiada dengan sifat zat berdiri sendirinya ah}diyah nama martabatnya la> ta‘yin pun namanya. Bermula kita gaib kepada rahim ibu kita tiga hari tiga malam nur Allah ana Allah artinya aku Allah//168// ujud Tuhan berdiri sendirinya wah}dah nama martabatnya yakni awalpun namanya. Bermula tatkala gaib kita kepada rahim ibu kita tujuh hari tujuh malam wujud namanya illa< Alla>h namanya wa>h}idiyah nama martabatnya ta‘yin *tha>ni>*pun namanya. Bermula tatkala kita gaib kepada rahim ibu kita empat puluh hari empat puluh malam Rasulullah namanya Subhanallah namanya alam arwah nama martabatnya s}arfh pun namanya. Bermula tatkala gaib kita kepada rahim ibu kita tiga bulan Muhammad namanya alhamdulillah namanya nama martabatnya ta‘yi>n tanzilah pun namanya. Bermula gaib kita kepada rahim ibu kita tujuh bulan Muhammad namanya Rahmatullah namanya alam ajsam namanya martabatnya ta‘yi>n Ja>mi’ pun namanya. Bermula tatkala gaib kita kepada rahim //169// ibu kita sembilan bulan insan kamil namanya la> ilaha illa Alla>h namanya alam insan nama martabatnya ta‘yi *kha>riji>*pun namanya. Tamat kitab.
Bismilla>hirrah}ma>nirrahi>m
Hadith Nabi s}allalla>h ‘alayhi wa sallam ini wasiat Nabi s}allalla>h ‘alayhi wa sallam kepada Ali anak Abi Thalib karamalla>h wajhahu pada tiap-taiap bulan pertama pada hari yang ke tiga dan pada hari yang ke lima dan pada hari yang ke tiga belas dan pada hari yang ke enam belas dan pada hari yang ke dua puluh esa dan pada hari yang dua puluh empat dan pada hari yang dua puluh lima, maka peliharakan oleh kamu pada sekalian hari itu daripada tiap-tiap segala bulan sekalian itu hari al-khas itu yang telah disebutkan akan mereka itu dalam Qur’an maka pada hari yang ketika hari telah keluar //170// bapak kamu Adam dari dalam surga dan pada hari yang ke lima dikirimkan Allah akan kaum Nuh dalam laut dan pada hari yang ke tiga belas teranun Ibrahim dalam api Namrud, dan pada hari ke enam belas dibuangkan Yusuf oleh segala saudaranya ke dalam telaga, dan
pada hari yang dua puluh esa dikirimkan Allah Yunus ke dalam laut dan pada hari yang dua puluh empat terlontar gigi Nabi Muhammad s}allalla>h ‘alayhi wa sallam di dalam keriki, peliharakan olehmu hari yang telah kamu hari yang telah kami sebutkan itu walla>hu a‘lam bi as-s}awa>b.
Ini azimat jika orang beristri berdua supaya jangan berbantah, disurat pada timah hitam maka direndamkan daripada air maka disuruh minum padanya, tiada berkelahi. Ini rajahnya :
Ini azimat jika orang tiada beranak, di surat //171// pada kertas diberikan dipakainya, ini rajahnya :
Bab ini azimat perkasih pada perempuan disurat pada kertas maka tuan panggang, ambil abunya maka sapukan kepada kainnya. Inilah yang disurat ini rajahnya :
Ini kitab pada menyatakan doa apabila hendak mengaji atau hendak berkata-kata dihadapan orang banyak seperti khatib baiknya supaya jangan dihasut orang padanya, maka dibaca pada
minyak sapukan pada tubuh dan kepada kepala ini doanya allahumma bi ismika جم جم كم كم لم لم يم يم birah}matika ya arh}ama ar-rah}i>mi. Ini suatu kitab pada menyatakan asal la> ilaha illa Alla>h jika ditanyai orang kita asal apa asal la> ilaha illa Alla>h jawab asal la> ilaha illa Alla>h itu kunhi> mut}laq namanya sejatinya pada zatnya dan pertengahannya la> ilaha illa Alla>h ghayr mut}laq namanya //172// sejatinya ia pada sifatnya yaitu raga *al-ba>ri>*namanya dan mana akhir la> ilaha illa Alla>h dan yaitu dikatanya *wa al-insa>n sirri>*artinya kesudahan dan apalah asal la> ilaha illa Alla>h maka sampailah zatnya itu yang nyata wa *al-insa>n sirri>*mana ia bi ghayri namanya la> ilaha illa Alla>h maka kelihatanlah rahasia Tuhannya kepadanya maka disudahinya dengan la> ilaha illa Alla>h.
Ini sharah ayat lima belas tiga puluh juz dikeluarkan sepuluh lima ayat. Bermula terlalu mujarab lagi banyak pahalanya peri ayat Qur’an barang penyakit dilepas Allah dengan doa ini.
Bismilla>hirrah}ma>nirrah}i>m
Alh}amdulilla>h wah}dah ya> Muh}ammad alif lam mim Alla>hu la> ilaha illa huwa al-h}ayyu al-qayyum kedua ayat mata Qur’an barang suatu lamabat datang pada kita kita maka baca pada air, maka sapukan pada muka kita di huwa Allah kemduian //173// hambanya dan berkat Muhammad bangih datang qa>’im bi al-qist}i dhalikum Alla>h fa>ni> tu’ (tidak terbaca) bermula ketiga ayat Qur’an jika hendak akan perempuan kasih pada kita baca dahulu doa ini duakali, sebutkan nama orang itu niscaya kasih pada kita walaw an al-qur’an siyarat bihi al-jiba>l aw qat}a‘at bihi al-ard} dan ke empat ayat kaki Qur’an jika hendak akan perempuankasih pada kita disurat azimat ini pada tabu, maka tenukan tabu itu niscaya kasih pada kita, aw kalima>bihi al- muwa>ti> bal Alla>h al-amr jami>‘an ke lima ayat di bawah Qur’an dan jika hendak kita seteru senantiasa surat pada kertas maka perbuat satu (b-k-s-w) ditandai (d-t-t-w) niscaya sakit siteru itu, innama> amrahu idha arada shay’an an yaqu>lahu kun fayakun ke enam ayat leher Qur’an maka dibunuh orang dibaca ayat ini tujuh kali dipersunting dahulu berkat Muhammad tiada akan terbunuh
//174// oleh orang ini, al-h}amdulilla>hi rabb al-‘a>lami>n ke tujuh ayat perut Qur’an jika orang akan diracun orang maka baca doa ini pada beras tujuh kali biji atau dalam air dalam mangkuk tujuh kali maka berikan diminum orang itu dahulu Allah dan berkat Muhammad menjadi teralihnyafi laysa min khalqihi jadi>d wa huwa ma‘akum innama> kuntum Alla>h bima> ta‘malu>na bas}ir ke delapan ayat belakang Qur’an jika hendak dibacakan serta air sembahyang tujuh kali, lima ribu tahun dosanya diampuni Allah ‘an wa jalla inna Alla>h ya> qawi> ‘azi>z Alla>h illa huwa ‘ala Alla>h fayatu> ka al-mu’minu>n wa min saka Alla>h yaj‘al lahu mukhrajan wa law (tidak terbaca) min haithu la> tah}sab wa min yatawakkal ‘ala Alla>h (tidak terbaca) ke sembilan ayat di muka Qur’an jika hendak sentosa surat pada kulit kucing hitam maka ditanamkan ditengah kota //175// niscaya sentosa negeri. Inna Alla>h ba>ligh amrahu qad ja‘al Alla>h ka shay’ qadi>r ke sepeuluh ayat Qur’an jika hendak akan seteru mati suarat pada batu satu tuan satu kenanya, dibalut dengan kain tiga tangan barang kehendak kita kenakan padanya niscaya binasa orang itu atau mati. Wa ah}a>t} bima> ladyhim wa aht}iya likulli shay’ ‘adadan, ke sebelas ayat Qur’an jika hendak kita dengan perempuan kasih pada kita baca lada empat biji tujuh kali niscaya kasih pada kita. Rab al-mashriq wa al-maghrib la> ilaha illa huwa fa’takhadhahu waki>lan, ke dua belas ayat Qur’an jika kita hendak menahan air liur baca ayat ini tujuh kali pesuruh maka hujamkan pada tengah air hilir kiri kanan niscaya berhenti air ilir itu. la> yatakallamu>na illa min //176// idhni lahu ar-rah}ma>n wa qa>la s}awa>ban, ke tiga belas ayat Qur’an akan hebat kita dikerubungi orang, ambil tanah sekepal tanah lunak-lunak maka baca doa ini tujuh kali maka hancurkan berkeliling, tiada dilihat siteru kita. Min ayyi shay’ khalaqahu min nut}fati khalqihi faqadarahu, ke empat belas ayat Qur’an jika kita hendak masuk api tiada hangus ambil kuit pari dan belerang maka genggam baca doa ini tujuh kali maka masukkan kepada api tiada hangus dia. Quwwah ‘inda dhi> al-‘arsh maki>n (tidak terbaca) thumma ami>n, ke lima belas ayat Qur’an jika hendak kunci terbuka ikat dengan tali itupun terbuka terurai berkat. Walla>h min durriya’ihim muh}i>t} bal huwa qarn maji>d fi> lawh mah}fu>zh.
Bab ini kelakuan memandikan mayat ini pertama //177// diangkatkan mayt itu maka dibaringkan mayat itu atas tempat memandikan datang kepada kakinya, maka bismilla>h wa al- h}amdulilla>h wa ‘anni> milah Rasu>lulla>h sallalla>h ‘alayhi wa sallamsepanjang mencucikan air itu dibacakan jua shalawat atas Nabi sallalla>h ‘alayhi wa sallam setelah sudah sempurna sucinya, maka dimandikan dengan air yang sembilan, lah sudah dibacakannya niat itu nawaytu ghusl al-mayt rafa’ bihi al-h}adath ‘anhu artinya sengaja memandikan mait ini aku angkatkan dengan dia hadas atas daripadanya kemudian dimerengkan mait itu ke kanan, maka dideraskan tiga kali dibacanyalah ghufranaka ya> rah}ma>n ashhadu rah}mak Alla>h, maka dierangkan pula kepada hadapannya. //178// lain zatnya melainkan zatnya zat empunya bayang-bayang itulah zatnya demikianlah lagi sifat bayang-bayang itu sifat empunya bayang-bayang jua, demikianliah persatuan kita Allah ta‘ala dan peri sekalian kita dengan Allah ta‘ala seperti persatuan kita bayang-bayang dan empunya bayang-bayang yakni zahir kita kenyataan Allah dan batin kita itulah Allah ta‘ala walla>hu a‘lam bi as-s}awa>b.
Bermula fardhu itu sepuluh perkara, pertama fardhu da>’im yaitu sembahyang lima waktu, ke dua fardhu ‘ayn yaitu fardhu iman, ke tiga fardhu kifa>yah yaitu menyembahyangkan mait, ke empat fardhu muwa>si’ yaitu fardhu mandi junub, ke enam fardhu nis}a>b yaitu memeberi zakat, ke tujuh fardhu (j-w-l) yaitu puasa //179// pada bulan ramadhan, ke delapan fardhu istat}a‘ yaitu naik haji, ke sembilan fardhu rad}iyah yaitu memberi nafkah kepada perempuan, ke sepuluh fardhu lidawmiyah yaitu membayar hutang.
Ini fasal pada menyatakan huruf kurang esa tiga puluh di dalam tubuh kita, pertama ali>f biji mata kita, ke dua ba hidung kita, ke tiga ta bahu kita, ke empat bahu kiri kita, ke lima ji>m kepala kita, ke enam ja>’ jantung kita, ke tujuh *ha>*hati kita, ke sepuluh dha>l telinga kiri kita, ke sebelas ra itu rusuk kita, ke dua belas za itu rusuk kanan kita, ke tiga belas si>n itu siku kanan, ke empat belas sha itu siku kiri, ke lima belas s}a lengan kanan kita, ke enam belas d}a lengan kiri kita, t}a itu punggung kanan kita,
z}a itu punggung kiri kita, dan *fa>*itu paha kanan kita, dan *qa>*itu paha kiri kita //180// kaf otak kita, dan la>m itu perut kita, dan hi>m itu pusat kita, nun itu ari-ari kita, dan waw itu tulang kita, dan *ha>*itu lidah kita, dan hamzah itu lutut kita, dan ya itu kaki kita.
Ini pasal pada menyatakan dalam Qur’an tiga puluh juz dalam Qur’an itulah (d-w-l-ng-s) huruf. Bermula huruf ali>f dalam Qur’an (k-l-ng-s) dua ribu empat ratus huruf dua puluh delapan huruf, jika huruf ba dalam Qur’an (s-l-ng-s) dua ribu empat ratus huruf, jika huruf ta dalam Qur’an tiga ribu lima ratus huruf, jika huruf tha dalam Qur’an empat ribu tiga ratus dua puluh huruf, jika jim dalam Qur’an empat ribu tujuh ratus sembilan puluh huruf, jika kha dalam Qur’an dua ribu lima ratus delapan belas huruf, jika ha di dalam Qur’an //181// empat ribu tujuh ratus tiga puluh huruf, jika dha dalam Qur’an (s-l-q-s) dua ribu dua ratus empat puluh enam huruf, jika dalam Qur’an nun tiga ribu dua ratus delapan ratus sembilan puluh huruf, jika sin enam huruf, jik shin delapan puluh huruf, jika d}a dalam Qur’an dua ratus tujuh puluh huruf, jika t}a dalam Qur’an dua ribu dua ratus tujuh puluh huruf, jika z}a dalam Qur’an sembilan ribu dua ratus huruf, jika ‘ain dalam Qur’an sembilan ribu empat ratus sepuluh tujuh huruf, jika ghain dan dalam Qur’an dua lapan ribu empat ratus //182//
Bismilla>hirrrah}ma>nirrahi>m
Dengan nama Allah jua aku memulai membaca kitab ini jua Tuhan yang amat murah lagi amat mengasihani hambanya yang mu’min dalam negeri akhirat itu al-h}amdulilla>h haq h}amduhu segala puji-pujian bagi Allah dengan sebenar-benar pujian wa s}ala>tu wa as-sala>mu ‘ala min al-anbiy ba‘duhu rah}imatalla>h dan salam atas Nabinya tiada demikiannya, amma> ba‘du adapun kemudian dari itu maka ini peri menyatakan niat artinya bangsa tubuh manusia dengan haq Ta‘ala. Adapun tubuh manusia ini //184// ‘ana>s}irnya artinya asal kejadian manusia empat perkara, pertama bumi, ke dua air, ke tiga hawa, ke empat api. Bumi itu tempat nyawa ujud Allah yang bernama h}aki>m artinya yang tahu pada h}aki>m dan air itu tempat nyata ujud Allah
bernama muh}yi artinya yang menghidupkan, dan hawa itu tempat nyata ujud Allah yang bernama qawiyyun artinya yang amat keras, dan api itu tempat nyata ujud Allah yang bernama ‘az}i>m artinya yang amat besar, maka arif yang kamil mukamal apabila menilik ia kepada bumi maka nyata dilihatnya dengan mata hatinya pada bumi itu ujud Allah yang bernama h}aki>m, dan apabila iya memandang kepada air maka dilihatnya dengan mata hatinya pada air itu ujud Allah yang bernama muh}yi, dan apabila menilik ia kepada hawa itu nyata dilihatnya //185// dengan mata hatinya itu ujud Allah yang bernama qawiyyun, dan apabila menilik ia kepada api nyata dilihatnya dengan mata hainya pada api itu api ujud Allah yang bernama ‘az}i>m, maka tiliknya dan penglihatannya arif yang kamil mukamal seperti yang tersebut itu atas jalan tas}i>L artinya yang artinya yang berjari, adapun tiliknya atas jalan itu artinya berhimpun segala apabila menilik ia kepada perhimpunannya itu, maka perhimpunnan yang empat itu insan, maka apabila menilik ia insan dan dilihatnya dengan mata hatinya ujud Allah bernama Allah inilah isyarat hadith Nabi s}allalla>h ‘alayhi wa sallam man naz}ara ila shay’ (tidak terbaca) bar Alla>h fi>hi fahuwa ba>t}il artinya barang siapa menilik ia kepada suatu tatkala itu tiada dilihatnya Allah ta‘ala //186// dalamnya yaitu sia-sia. Bermula hendaklah diketahui dan kenal arif yang kamil mukamal bahwa Tuhannya itu asal ‘ana>s}irnya yang empat perkara seperti yang tersebut itu suatu jua, maka ‘ana>s}irnya yang bumi itu jadinya dan nyatanya daripada air, dan air itu jadinya dan nyata daripada hawa air jadinya dan nyatanya daripada api dan api itu jadinya dan nyatanya daripada suatu cahaya dan cahaya itu jadinya nyata daripada suatu rahasia dan rahasia itu jadinya daripada nur Muhammad s}allalla>h ‘alayhi wa sallam dan nur Muhammad itu jadinya nyata daripada ujud Allah ta‘ala yang bernama Allah, maka karena inilah arif yang kamil mukamal tiada dirinya berkepuasan hatinya dan nyawa dan rahasia berhadap kepada ujud Allah //187// yang bernama Allah itu, maka jalannya jama’ was}al pada halnya jama’ artinya berhimpunlah dengan Allah a’lam bi as-s}awa>b maka jika seorang bertanya Allah apa Allah subhanahu ta‘ala hendak menyatakan dirinya apa jadikannya dan
Allah hendak menyatakan perbuatannya apa dijadikan suatu olehmubahwa Allah menyatakan dirinya Adam dijadikan, dan Allah hendak menjadikan perbuatannya alam dijadikannya bagi seorang tatkala haq Allah hendak menyatakan nur Muhammad betapa tamthilnya, maka suatu olehmuumpama dipertemukannya batu dengan besi pada dua sifat itu apalagi zahirlah semata-mata (tidak terbaca) daripada dua sifat itu, demikianlah dinamakan nur. Adapun mura>d daripada yang dipertemukan besi dan batu itu Allahta‘ala mura>d daripada besi dan sifat batu dan mura>d daripada batu sifat (tidak terbaca) daripada //188// dua sifat itu nur Muhammad demikianlah pada i‘tiqad segala orang yang menyelam laut ilmu, jangan lagi shak jika seseorang bertanya apa segala yang dijadikan itu alam namanya dan mana yang bernama gha>yah artinya kesudah-sudahan alam itu tubuh insan karena tubuh itu perhimpunan ‘ajib yakni perhimpunan segala yang indah-indah yang dalam alam insan itulah nyata zat Allah dan sifat Allah dan af‘a>l Allah dan alam insan itulah nyata daripada ‘arsy dan keras tiada suatupun terbitnya daripada insan dari karena itulah firman Allah ta‘ala ma> sa‘ani> fi< al-ard}i wala> fi> as-sama>’i walakin wasa‘ani> fi> qalbi ‘abdi> al-mu’mini>n artinya tiada lolos Aku kepada bumi dan kepada langitKu melainkan Aku lolos Aku kepada hati hambaKu yang mu’min, dari karena itu tubuh insan gha>yah alam namanya segala alam yang //189// dijadikan Allah ta‘ala yang lain daripadanya sekalian berlebihan dalam alam insan, adapun alam insan itu himpun di atas segala alam jikalau tiada karena insan itu suatu pun alam tiada dijadikan Allah ta‘ala selama lamanya sebab itulah firman Allah al-insa>n sirri> wa ana> sirruhu artinya manusia itu rahasiaKu dan Aku pun rahasianya, dan lagi pula firman Allah ta‘ala al-insa>n sirri> wa *sirri> s}ifati> wa s}ifati> la> ghayri>*artinya yang manusia itu rahasiaKu dan rahasiaKu sifatKudan sifatKu itu tiada lain daripadaKu, dari karena itulah insan itu dilebihkan Allah ta‘ala daripada yang dijadikannya dilebihkannya daripada segala malaikat, demikianlah hendak i‘tiqadkan, jika tiada demikian na>qis} hukumnya ma‘rifat orang itu karena Allah ta‘ala //190// tubuh maja>zi namanya artinya sia-sia sungguh bertemu lagi akan bercerai. Adapun yang pertemuan hakiki upama pertemuan badan
dengan nyawa yang nyawa itu sifat Tuhan pada badan dan yang badan itu sifat hamba pada nyawa karena ia sungguhpun ada tiada dapat ia bergerak dan tiada ia dapat melalukan dirinya pada sekejap mata jua pun melainkan dengan digerakkan nyawa maka bergerak dibalikkan nyawa maka berlaku itulah pertemuan hakiki namanya, demikianlah pertemuan Tuhan dengan hambanya tiada lagi bercerai selama-lamanya. Adapun barang siapa melihat pertemuan Tuhan dengan hambanya dan pertemuan hambanya dengan Tuhannya dengan tiada dukhul ruh artinya masuk keluar dan hendaklah diketahui dan dikenal segala yang ada ini sekaliannya qa>’im dengan Allah //191// dan ketahui olehmu Allah subh}anahu wa ta‘ala qa>’im sendirinya sempurnalah ma’rifatnya dan sampailah pada maqam ah}madiyah yaitu kediaman Muhammad Rasulullah s}allalla>h ‘alayhi wa sallam qarib hamba kepada Tuhannya itu tiada akan bercerai selama-lamanya. Barangsiapa tiada sampai kepada maqam hendaklah ia mencari (a-s-t-ny) supaya disampaikan Allah ta‘ala kepada rahasia kata ini karena isyarat kata ini terlalu indah dan mulia, barangkali adalah diperoleh rahasia kata ini senantiasa orang itu duduknya (d-h-s}-r-ny) Allah ta‘ala dan senantiasa ia berjinak- jinak dengan Tuhannya, dan jika seseorang bertanya betapa penglihatmu akan segala yang dijadikan Allah ta‘ala (s-h-w-a-ny) olehmu kepada segala ada ini qa>’im dengan Allah ta‘ala karena semata segala ini umpama badan karena ia tiada didapat bergerak melainkan //192//
2.5. Transliterasi Naskah Sifat Dua Puluh
Bismillâhirrahmânirrahîm
Bermula pertama wajib kita ketahui enam perkara: pertama, mengetahui yang wajib pada Allah, yaitu sifat yang dua puluh. Kedua, mengetahui yang mustahil pada Allah, yaitu lawan sifat dua puluh. Ketiga, mengetahui yang jâiz pada Allah, yaitu menjadikan alam. Keempat, mengetahui yang wajib pada Nabi, yaitu shiddîq, tablîgh, amânah. Kelima mengetahui yang mustahil pada Nabi, yaitu kidzîb, kitmân, khiyânah. Keenam mengetahui yang jâiz pada Nabi, yaitu seperti sakit, terbunuh, teraniaya. Adapun sifat duapuluh itu: wujûd, artinya ada Allah, lawannya tiada. Qadîm artinya tiada bepermulaan haq ta’âla, lawannya pemulaan. Baqâ, artinya kekal haq ta’âla, lawannya fana. Mukhâlifatu li al-hawâdits, artinya//1// tiada serupa haq ta’ala dengan segala yang baharu, lawannya serupa haq ta’ala dengan segala yang baharu. Qiyâmuhu bi nafsihi, artinya berdiri haq ta’âla sendirinya, lawannya berkehendak ia kepada zat yang lain, dan berkehendak ia kepada yang menjadikan dirinya. Wahdâniyat, artinya esa haq ta’âla, lawannya dua hayat, artinya hidup haq ta’âla . Ilmu artinya tahu haq ta’âla, lawannya bebal. Qudrat, artinya kuasa haq ta’âla, lawannya lemah. Irâdat, artinya berkehendak haq ta’âla, lawannya mustahil jadi sesuatu dengan tiada dikehendaki Allah. Sama’, artinya mendengar haq ta’ala, lawannya tuli. Bashar, artinya melihat haq ta’âla, lawannya buta. Kalâm, artinya berkata haq ta’âla, lawannya kelu. Hayyun, artinya yang hidup haq ta’ala, lawannya yang mati. ‘Alim,//2// artinya yang tahu haq ta’ala, lawannya bebal. Qâdir, artinya yang kuasa haq ta’âla, lawannya lemah. Murîd, artinya berkehendak haq ta’âla, lawannya mustahil jadi sesuatu yang tiada dikehendaki Allah. Samî’, artinya mendengar haq ta’âla, lawannya yang tuli. Bashîr, artinya yang melihat haq ta’âla, lawannya buta. Mutakallim, artinya yang berkata haq ta’âla, lawannya kelu. Tammat. Apalah tanda haq ta’ala bersifat wujûd, maka yaitu jadi alam. Apalah tanda alam dijadikan, maka yaitu berubah. Apalah tanda alam berubah-ubah, maka yaitu dipandang ubahnya. Dan
apalah tanda haq ta’âla bersifat qadîm, maka yaitu manakala tiada Ia bersifat qadîm niscaya baharu lah Ia. Manakala Ia baharu, niscaya berkehendaklah Ia kepada yang memberi. Manakala Ia berkehendak kepada yang memberi,//3// niscaya lazimlah berifkar dan bertali-tali. Dan apalah tanda haq ta’âla bersifat baqâ, manakala tiada Ia bersifat baqâ, niscaya lenyaplah Ia. Manakala Ia lenyap, niscaya jâiz-lah ada-Nya. Manakala jâiz ada-Nya, niscaya baharu Ia, manakala Ia baharu, berkehendaklah Ia kepada yang memberi. Manakala berkehendak Ia kepada yang memberi lazimlah berifkar dan bertali-tali. Dan apalah tanda haq ta’âla bersifat mukhâlifatu li al-hawâdits. Manakala tiada ia bersifat mukhâlifatu li al-hawâdits, niscaya serupalah ia bagi segala yang baharu. Manakala Ia serupa bagi segala yang baharu, niscaya berkehendaklah ia kepada [yang] memberi. Manakala Ia berkehendak kepada yang memberi lazimlah berifkar dan bertali-tali, dan apalah tanda haq ta’âla bersifat qiyâmuhu bi nafsihi. Manakala tiada Ia bersifat //4// qiyâmuhu bi nafsihi, niscaya berkehendaklah ia kepada yang menjadikan dirinya. Manakala ia berkehendak kepada yang menjadikan dirinya, niscaya lazimlah berifkar dan bertali-tali, dan berkehendaklah ia kepada zat yang lain. Manakala ia berkehendak kepada zat yang lain, niscaya adalah ia sifat. Manakala ia sifat, tiadalah bersifat ma’âni dan ma’nawiyah. Bermula sifat ma’âni dan ma’nawiyah wajib adanya. Apalah tanda wajib adanya tanda sifat hayah wujûd sekalian sifat tanda sifat ilmu teguh, tanda qudrah jadi ilmu, tanda iradah berbagai-bagai alam, tanda sama’ mendengar segala mawjûdât, tanda bashar melihat //5// segala mawjûdât, tanda kalâm, mendatangkan suruh dan tagah. Dan apalah tanda haq ta’âla bersifat wahdâniyah, hayah, ilmu, qudrah, iradah. Maka yaitu jadi alam manakala tiada ia bersifat yang lima itu, niscaya tiada jadi alam. Dan apalah tanda haq ta’âla bersifat sama’, bashar, kalâm, manakala tiada ia bersifat yang tiga itu, niscaya bersifatlah ia dengan lawannya. Manakala ia bersifat dengan lawannya, niscaya kuranglah ia. Bermula kurang pada haq ta’âla mustahil, karena wajib padanya istighnâ. Dan apalah tanda Nabi bersifat shiddîq, tablîgh, niscaya di sanalah ia manakala ia di situ, niscaya di situlah firman Allah ta’âla shiddîqun ‘abdi fî mâ //6// yuballighu ‘anni.
Artinya benar hamba-Ku pada barang yang disampaikannya daripada-Ku. Dan apalah tanda Nabi bersifat amanah. Manakala tiada ia bersifat amanah, niscaya bertukar-tukar sunnah dan fardhu, halal dan haram. Bermula demikian tiada harus karena Allah ta’âla menyuruhkan kita mengikuti Nabi pada kata dan fi’îl. Dan apalah tanda firman Allah menyuruhkan kita mengikuti Nabi, yaitu athî’ûllâha wa athî’u al-rasûl. Artinya ikuti olehmu akan Allah dan ikuti olehmu akan rasulullah. Bermula sifat duapuluh itu dibagi empat, pertama: sifat nafsuhu, artinya sifat itu dirinya, yakni sifat ia pada lafaz zat ia pada makna, karena makna wujûd //7//artinya menyatakan yang patut bagi Allah, menangkal yang tiada patut bagi Allah. Ketiga, sifat ma’âni artinya sifat yang berdiri pada zat yang mewajibkan ia bagi zat akan suatu hukum. Keempat, sifat ma’nawiyah, artinya yang tsâbit bagi zat selama ada zat di-’ilat-kan dengan suatu ‘illat yang ‘illat itu sifat ma’âni. wa haqîqah al-nafsiyah hiya al-hâl al-wâjibah li al-dzât mâ dâmat al-dzât ghayru mu’allalah bi ‘illatin. Artinya hakikat nafsiyah itu kawnun yang wajib bagi zat selama ada zat tiada di-’illat-kan dengan suatu ‘illat. Wa haqîqah al-salbiyah hiya ‘ibâratun ‘an nafsi mâ lâ yalîqu bihi jalla wa ‘alâ. Artinya hakikat sifat salbiyah itu ibarat daripada meninggikan yang tiada patut bagi Tuhan yang amat besar, dan maha tinggi. Wa haqîqah al-ma’âni hiya kullu shifatin qâmat bi mahallin //8// awjabat lahu hukman. Artinya hakikat sifat ma’âni itu yaitu tiap-tiap yang berdiri pada zat yang mewajibkan ia bagi zat akan suatu hukum. Wa haqîqah al-ma’nawiyah hiya al-hâl<âl> al-tsâbitah li al-dzâti mâ dâmat al-dzât mu’allalatun bi ‘illatin. Artinya hakikat sifat ma’nawiyah yaitu kelakuan yang tsâbit bagi zat selama adanya di-’*illat-*kan dengan suatu ‘illat. Adapun ta’rîf shifat salbiyah hiya: mâ anbatat ‘an mukhâlifati li al-hawâdits fi al-dzât wa al-shifat wa al-af’âl. Artinya adapun ta’rif sifat salbiyah itu yaitu sifat yang mencirikan ia daripada bersalahan haq ta’ala bagi kekal yang baharu pada zatnya dan sifatnya dan fi’ilnya. Adapun ta’rif sifat ma’na zat ma’nawiyah itu hiya: al-qâimah bi dzât al-latî luzima min jûdihi wujûdiha wujûd al-iftikâk ‘anhu abadan. Artinya adapun pengenal sifat ma’na dan sifat //9// ma’nawiyah itu yaitu sifat yang berdiri pada zat yang lazim daripada ada zat ada dza shifat dengan ada
yang tiada tanggal daripada zat selama-lama [nya]. Kemudian maka bagi tiga pula, pertama hiya huwa, artinya sifat itu zat, yakni tiada lain daripada zat, yaitu sifat salbiyah. Ketiga lâ hiya wa lâ hiya ghayruhu. Artinya tiada sifat itu zat dan tiada ia lain daripada zat, yaitu sifat ma’ani dan sifat ma’nawiyah. Kemudian dibagi tiga pula, pertama mawjud pada zihni dan pada kharij. Artinya berdiri pada zat dan berdiri sendirinya, yakni tiada di’illatkan dengan suatu ‘illat, yaitu sifat ma’ani. Kedua, mawjud pada zihni dan tiada mawjud pada kharij, artinya berdiri pada zat tiada berdiri sendirinya, yakni di’illatkan dengan suatu ‘illat yaitu sifat ma’nawiyah. Ketiga tiada mawjud pada //10// zihni dan tiada mawjud pada kharij. Artinya tiada berdiri sendirinya, yaitu sifat salbiyah. Kemudian dibagi pula, pertama sifat al-taghanniy, artinya menyatakan kaya Allah pada tiap-tiap yang lain daripadanya, yaitu wujud qadîm, baqâ, mukhâlifatu li al-hawâdits, qiyâmuhu bi nafsihi. Kedua sifat iftiqâr, artinya berkehendak tiap-tiap yang lain daripada Allah kepadanya, yaitu wahdâniyat, hayât, qudrah, iradah, hayyun, ‘âlim, qâdirun, murîdun. Ketiga tanzih ‘an al-nafâidh, artinya menyatakan suci Allah daripada kekurangan, yaitu samî’, bashîr, kalâm, samî’, bashîr, mutakallim. Kemudian dibagi dua puluh: pertama sifat al-taghani, yaitu sebelas: wujûd, qadîm, baqâ, mukhâlifatu li al-hawâdits, qiyâmuhu bi nafsihi, sama’, bashar, kalam, samî’, bashîr, mutakallim. Kedua sifat iftiqar, yaitu sembilan: wahdâniyat, hayat, ilmun, qudrah, iradah, hayyun, ‘âlimun, qâdirun, murîdun. Kemudian dihimpunkan segala sifat //11// yang tersebut itu kepada lâ ilâha illallâh muhammad rasûlullâh. Bermula hayat tiada takluk Ia kepada sesuatu karena ia itu segala dan karena tiada ia memberi bekas akan sesuatu ilmu dan kalam, takluk ia kepada yang tiga perkara, artinya diketahuinya yang tiga perkara: pertama wajib, kedua mustahil, ketiga jâiz. Bermula yang wajib itu empat perkara: pertama wajib pada Allah, yaitu sifat yang dua puluh. Kedua wajib pada Nabi, yaitu shiddîq, tablîgh, amânah, [fathânah]. Ketiga wajib pada syara’, yaitu barang yang berpahala berbuat dia, dan berdosa meninggalkan dia seperti sembahyang umpamanya. Keempat yang wajib pada akal yaitu tanda salah satu gerak dan diam pada jarimun. Yang mustahil pun empat perkara, pertama
mustahil pada Allah, yaitu lawan sifat yang dua puluh. Kedua mustahil pada Nabi, yaitu kidzîb, kitmân //12// khiânat. Ketiga mustahil pada syara’, yaitu syirik akbar. Keempat mustahil pada akal, yaitu lawan jumûd daripada gerak dan diam. Jâiz pun empat, pertama jâiz pada Allah, yaitu menjadikan alam. Kedua jâiz pada syara’ seperti jual beli dan berburu. Ketiga jâiz pada Nabi, yaitu sakit, terbunuh, teraniaya. Keempat jâiz pada akal, yaitu sah gerak atau diam pada jarimun. Bermula mustahil dua perkara, pertama mustahil yang dinamai syai’un. Kedua mustahil yang tiada syai’un. Bermula ilmu takluk kepada mustahil yang dinamai syai’un, dan tiada takluk ia kepada mustahil yang tiada dinamai syai’un, karena firman Allah ta’ala, wallâhu bi kulli syai’in ‘alîm, artinya haq ta’âla amat tahu akan tiap-tiap suatu. Bermula mustahil yang dinamai syai’un itu yaitu i’tiqâd kamu peri yang mei’tiqadkan haq ta’âla dua. Bermula qudrah takluk ia kepada segala mumkin, artinya menjadikan segala mumkinat dan //13// akan dia. Iradat takluk ia akan dia segala mumkinat, artinya menyatakan mumkinat dengan putih dan hitam, panjang dan singkat. Bermula mumkin empat perkara. Pertama mumkin mawjud dan namanya artinya segala yang ada sekarang. Kedua mumkin sayûjad namanya, artinya lagi akan datang seperti anak cucu kita umpamanya. Ketiga mumkin wujûd wa inqadha namanya, artinya mumkin yang telah lalu seperti Nabi kita umpamanya. Keempat mumkin ‘alimallâhu annahu lam yûjad namanya, artinya tsâbit pada ilmu Allah yang tiada duakannya seperti kepala seorang tujuh umpamanya. Tatkala takluk qudrah dan iradah kepada mumkin mawjûd mu’ayyanah nama takluknya. Dan tatkala takluk qudrah dan iradah kepada mumkin wujûd wa inqadha ya’tî wa inqadha nama takluknya. Dan tatkala takluk qudrat dan //14// iradat kepada mumkin ‘alimallâhu annahu lam yûjad, qawiyah nama takluknya. Bermula mumkin itu dibagi dua, pertama mumkin mawjûdnya namanya, kedua mumkin ma’dûm nama mawjûdnya. Mawjûd zat dibagi dua, pertama yang lathîf, kedua yang kasyâf. Bermula yang lathîf dua perkara, pertama mumkin nurâniyah, kedua mumkin mitsâliyah. Bermula yang kasyâf itu tiga perkara, pertama segala tempat, yaitu sembilan perkara: pertama ‘arasy, kedua kursiy, ketiga langit yang
tujuh, keempat bumi yang tujuh, kelima qalam, ketujuh surga, ke[d]elapan neraka, kesembilan as[fa]la sâfilîn. Kedua segala rukun yaitu empat perkara, pertama air, angin, api dan keempat tanah. Bermula asal yang empat itu hangat, kering, basah, dingin. Ketiga anak yang empat itu yaitu empat perkara, pertama hayawânat, //15// artinya yang hidup, kedua jamâdât, artinya segala yang beku, ketiga nabâtât namanya, artinya segala yang tumbuh, keempat insâniyât, artinya manusia. ma’dûm dibagi tiga. Pertama ma’dûm ba’da al-wujûd, artinya tiada kemudian adanya, yaitu mumkin wujûd, wa inqadha. Kedua ma’dûm qabla al-wujûd, artinya tiada sebelum adanya, yaitu mumkin sayûjad. Ketiga ma’dûm mumtani’ namanya, artinya yang tiada diadakan, yaitu mumkin ‘alimallâhu annahu lam yûjad. Bermula sama’ dan bashar takluk keduanya kepada segala mawjûdat, dan mawjûdat itu dibagi empat, pertama wujûd tiada berkehendak ia kepada zat, dan tiada berkehendak kepada yang menjadikan dirinya, yaitu wujud Tuhan kita. Kedua wujud berkehendak ia kepada zat dan tiada berkehendak ia //16//kepada yang menjadikan dirinya, yaitu wujud Tuhan kita. Kedua wujud berkehendak ia kepada zat, dan tiada berkehendak ia kepada yang menjadikan dirinya, yaitu sifat Tuhan kita. Ketiga wujud berkehendak ia kepada zat dan berkehendak ia kepada yang menjadikan dirinya, yaitu wujûd ‘aradun, yakni seperti gerak dan diam pada jarimun. Keempat wujud berkehendak ia kepada menjadikan dirinya, dan tiada berkehendak ia kepada zat, yaitu wujud jarimun, yakni seperti zat kita umpamanya. Apalah perbedaan sama’ dan bashar. Sama’ takluk kepada segala kata, artinya didengarnya segala kata yang ada, mau berhuruf, bersuara atau tiada. Bashar takluk kepada segala yang ada dilihatnya segala yang ada mau berhuruf atau tiada. Apalah tanda haq //17// ta’âla mendengar yang tiada berhuruf bersuara, maka yaitu didapat dengan Nabi Musa berkata dengan Allah. Apalah tanda Nabi Musa berkata dengan Allah, maka yaitu katanya firman Allah ta’ala wa kallamallahu Musa takliman, artinya telah berkata-kata Allah dengan Nabi Musa akan sempurna kata. Dimanalah persyerikatan qudrat dan iradat dengan sama’ dan bashar dan dimanalah penceraiannya. Bermula persyerikatan qudrat dan iradat dengan sama’ dan bashar pada
mumkin mawjudat qudrat dan iradat takluk kepada mumkin mawjûdât. Sama’ dan bashar pun takluk kepada mumkin mawjudat. Dan dimanalah penceraiannya pada mumkin ma’dum qudrat dan iradat takluk kepada mumkin ma’dûm, sama’ dan bashar tiada takluk kepada //18// mumkin ma’dûm. Sama’ dan bashar tiada takluk kepada ma’dûm, sama’ dan bashar takluk kepada wajib. Qudrat dan iradat tiada takluk kepada wajib, karena qudrat dan iradat sifat Allah, dan yang wajib itu zat Allah. Manakala takluk qudrat dan iradat kepada yang wajib, niscaya dapatlah sifat mendirikan zat. Bermula yang demikian itu tiada harus milikan zat jua mendirikan sifat. Dan di manalah persyerikatan qudrat dan iradat dengan ilmu dan di manalah penceraiannya. Bermula persyerikatan qudrat dan iradat dengan ilmu pada jâiz dan pada mumkin ma’dûm. Qudrat dan iradat takluk kepada jâiz dan mumkin ma’dûm. Ilmu pun takluk kepada jâiz dan pada mumkin ma’dûm dan penceraiannya pada yang wajib dan mustahil. Ilmu takluk kepada yang wajib dan mustahil. //19// Qudrat dan iradat tiada takluk kepada yang wajib dan mustahil. Dan di manalah persyerikatan ilmu dengan sama’dan bashar. Dan manalah penceraiannya. Bermula persyerikatan ilmu dengan sama’ dan bashar pada yang wajib dan penceraiannya pada yang ma’dûm bersifat yang takluk itu enam: ilmu, kalam, qudrat, iradat dan sama’ dan bashar, dan yang ditakluk qudrat dan iradat itu empat, dan yang ditakluk sama’ dan bashar pun empat. Bermula yang sebelas dihimpunkan kepada yang selapan. Yang selapan dihimpunkan kepada yang empat. Dan yang empat dijadikan tiga, yaitu wajib, jâiz, ma’dûm sama’, bashar, ilmu, kalam, qudrat, iradat. //20// Barangsiapa tiada disempurnakannya air sembahyang, dan sembahyangnya dan rukuknya dan sujudnya, serta tiada dibesarkannya akan Allah ta’âla, maka bertanyalah amalnya akan yang berbuat amal, disia-siakan Allah akan dikau seperti kau sia-siakan akan daku. Kemudian maka dikumpul-kumpul malaikat amalnya itu seperti mengambil kain buruk, maka dilo[n]tarkannya kepada muka yang berbuat dia, maka kata malaikat itu: inilah amal yang engkau sia-siakan dan engkau ringan-ringankan, karena engkau lalai dalam sembahyang oleh pekerjaan dunia.
Bab inilah peri mengetahui hakikat sembahyang, supaya sah sembahyangnya, dan yaitu enam martabat. Pertama tawakal, dan kedua mi’râj, dan ketiga munâjât, dan keempat muraqabah, dan kelima musyâhadah, dan keenam muqâbalah namanya. Adapun //21// tawakal itu menyerah kepada Allah ta’ala, dan mi’râj itu meninggikan, dan munâjât berbisik dan murâqabah mengkuti dan musyâhadah berhadapan, dan muqâbalah berbetulan. Adapun tatkala menghadap kiblat, tawakal namanya. Tatkala mengucap ushallî, mi’râj namanya. Dan tatkala me[ng]hantarkan tangan kedua atas pusat munajat namanya. Dan tatkala ruku’ murâqabah namanya. Dan tatkala sujud, musyâhadah namanya. Dan tatkala tahiyyat, muqâbalah namanya. Maka inilah ketentuan hakikat sembahyang.
Soal ushalli itu isyarat apa, fardhu itu isyarat apa, zhuhur itu isyarat apa, Allâhu akbar itu isyarat apa. Jawab: ushalli itu isyarat kepada zat. Fardhu itu isyarat kepada sifat. Zuhur itu isyarat asma’. Allâhu akbar itu isyarat kepada af’âl. //22//
Bismillâhirrahmânirrahîm.
Ahadiah, wahdah, wahîdiyah, alam arwah, alam mitsâl, alam ajsâm, alam insân. Ahadiyah martabatuhu dzâtullahi wahdah. Martabatu shifâtillâh wahîdiyah. Martabatu asmâ’illâh alam arwah, alam segala nyawa, alam mitsâl alam segala rupa, alam ajsâm alam segala tubuh, alam insan alam segala manusia. Ahadiyah artinya esa. Wahdah artinya yang esa. Wahîdiyah artinya yang punya esa. Ahadiyah nama wujud semata-mata. Wahdah nama wujud bercampur dengan sifat serta maklum mujmal-nya. Wahîdiyah wujud bercampur dengan sifat alam, serta âlimun ma’lûm mufashal-nya. Ahadiyah umpama si tukang belum menggergaji //23// perbuatannya. Wahdah umpama si tukang mula-mula menggergaji perbuatannya. Wahid[i]yah umpama tentulah panjang sungguh perbuatannya pada ilmunya. Ahadiyah martabat keesaan zat semata-mata. Wahdah martabat keesaan zat bercampur dengan sifat. Wahidiyah martabat keesaan zat bercampur dengan sifat serta asmâ’ dan af’âl. Ahadiyah martabat hakikat zat Allah, tiada alam baginya. Wahdah martabat hakikat
muhammadiyah, ada alam baginya. Apalah nama alamnya, alam mujmal nama alamnya, artinya lagi berhimpun, yakni belum beda setengahnya daripada setengahnya, yaitu seperti memandang ranting dan buah dan daun dan urat dalam biji yang satu. Wâhidiyah martabat hakikat Adam, berada alam baginya. Apalah nama alamnya, //24// alam mufashal nama alamnya. Artinya beda setengahnya daripada setengahnya, yakni sudahlah tentu langit dengan rupa langitnya, bumi dengan rupa buminya, manusia dengan rupa manusianya. Yaitu seperti memandang biji nyata pada ranting dan daun dan buah. Alam arwah alam segala nyawa, yaitu perkara yang dijadikan lagi tunggal, lagi halus, lagi sunyi daripada tubuh, lagi tiada ceruk dan padih dan beratam dan tiada menerima bersuku. Dan setengah alam mitsâl, alam segala rupa, yaitu perkara yang dijadikan lagi bersusun lagi halus lagi tiada ceruk dan padih, dan tiada menerima bersuku. Dan setengah alam ajsam, alam segala tubuh, yaitu perkara yang dijadikan lagi tebal lagi bersusun larek dan padih dan beratam. Alam insan, alam segala manusia, yaitu perkara //25// yang dijadikan lagi perhimpunan martabat itu. Ahadiyah, martabat keesaan zat, wujudnya bernama huwa wahdah, martabat keesaan zat wujudnya bernama Allah, wahidiyah, maratabat keesaan zat, wujudnya bernama rahmat. Alam arwah, alam segala nyawa, wujudnya bernama nûr. Alam mitsâl, alam segala rupa, wujudnya bernama mushawwar. Alam ajsâm, alam segala tubuh, wujudnya bernama zhâhir. Alam insan alam segala manusia, wujudnya bernama jâmi’. Ahadiyah, martabat latin, artinya tiada nyata pada martabat itu. Nama dan sifat wahdah martabat ta’ayyun awal, artinya nyata yang pertama. Wahidiyah, martabat ta’ayyun tsâni, artinya nyata yang kedua. Alam mitsâl martabat arwah, martabat ta’ayyun tsâlits, artinya nyata yang ketiga. Alam mitsâl martabat ta’ayyun araba’, artinya nyata yang keempat. Alam ajsâm martabat //26// ta’ayyun khâmis, artinya nyata yang kelima. Alam insan martabat ta’ayyun sâdis, artinya nyata yang keenam. Ahadiyah martabat hakikat Allah. Wahdah martabat hakikat muhammadiyah yang zhâhir padanya, dan yang memerintahkannya wujudnya yang bernama Allah. Bermula hakikat muhammadiyah itu rupa dan tampat nyata bagi wujudnya
yang bernama Allah. Wahidiyah martabat Adam a’yân tsâbitah pun namanya yang zhahir padanya dan memerintahkan wujudnya yang bernama Rahmân. Bermula a’yân tsâbitah rupa dan tempat nyata bagi wujudnya yang bernama Rahmân. Alam arwah alam segala nyawa yang zhâhir padanya dan yang memerintahkannya wujdunya yang bernama. Bermula alam arwah rupa dan tempat nyata bagi wujudnya yang bernama Nûr. Alam mitsâl, alam segala rupa yang zhâhir padanya dan yang memerintahkannya //27// wujudnya yang bernama mushawwar. Bermula alam mitsâl rupa dan tempat nyata bagi wujudnya yang bernama mushawwar. Alam ajsâm, alam segala tubuh yang zhâhir padanya dan yang memerintahkannya wujudnya yang bernama zhâhir. Bermula alam ajsâm itu rupa dan tempat nyata bagi wujudnya yang bernama zhâhir. Alam insan, alam segala manusia yang zhâhir padanya dan yang memerintahkannya wujdunya yang bernama jâmi’. Bermula alam insan rupa dan tempat nyata bagi wujudnya yang bernama jâmi’. Ahadiyah martabat zat semata-mata. Wahdah martabat zat serta sifat yang berpakaian ia dengan hakikat muhammadiyah. wahidiyah martabat zat serta sifat dan nama yang berpakaian ia dengan a’yân tsâbitah. Alam arwah kenyataan wujud Allah yang memakai a’yân tsâbitah. Alam mitsâl kenyataan wujud Allah yang memakai //28// alam arwah. Alam ajsâm kenyataan wujud Allah yang memakai alam mitsâl tatkala berhimpunlah yang memakai dan yang dipakai. Itulah yang bernama insan. Alam insan tempat nyata alam ajsâm, alam ajsâm tempat nyata alam mitsâl, alam mitsâl tempat nyata alam arwah, alam arwah tempat nyata a’yân tsâbitah, a’yân tsâbitah tempat nyata hakikat muhammadiyah, hakikat muhammadiyah tempat nyata hakikat Allah. Wahdah bayang-bayang ahadiyah, wahidiyah bayang-bayang wahdah, alam arwah bayang-bayang wahidiyah, alam mitsâl bayang-bayang alam arwah, alam ajsâm bayang-bayang alam mitsâl, alam insan bayang-bayang alam ajsâm. Ahadiyah martabat yang belum nyata sesuatu dalam ilmunya. Wahidiyah martabat //29// yang tentu sesuatu dalam ilmunya. Alam arwah bayang-bayang yang tentu sesuatu dalam ilmunya. Alam mitsâl bayang-bayang alam arwah, alam ajsâm bayang-bayang alam mitsâl, alam insan bayang-bayang alam ajsâm.
Ahadiyah martabat zat qadîm semata-mata. Wahdah, martabat sifat qadîm lagi baqâ. Wahidiyah martabat asmâ’ qadîm lagi baqâ. Alam arwah, alam segala nyawa muhdats lagi fana. Alam mitsâl, alam segala rupa muhdats lagi fana. Alam ajsâm, alam segala tubuh muhdats lagi fana. Alam insan, alam segala manusia, muhdats lagi fana. Ahadiyah martabat wujud yang mutlak, wujûd mahidh pun namanya. Wahdah, martabat sifat ma’lûm mujmal pun namanya. Wahidiyah, martabat asma’ ma’lûm mufashal pun namanya, a’yân tsâbitah pun namanya. Bermula a’yân tsâbitah itu dua wajahnya. Wajah yang pertama //30// berhadap ia kepada sifat wujud. Kedua, wajah berhadap ia kepada a’yân khârijiyah. Maka tatkala berhadap ia kepada wujud, qadîm hilmi namanya. dan tatkala berhadap ia kepada a’yân khârijiyah muhdats zat namanya. mula-mula zhâhir tajallî haq ta’âla kepada a’yân khârijiyah, maka tajallî-lah ia dengan sifat ilmu dan kalam, qudrat dan iradat kepada faydhun muqaddas. Maka dikatanya kun artinya adalah engkau, maka jadilah arwah yang ruhani lagi nurani lagi basîth, artinya terhimpun seperti laut lagi tiada menerima bersuku dan setengah. Itulah yang bernama alam arwah. Tajallî yang kedua kepada a’yân khârijiyah. Maka dikehendaki Allah menjadikan alam arwah akan lembaga seperti kejadian manusia yang sempurna lagi lathîf, tiada menerima bersuku //31// dan setengah lagi tiada padih dan ceruk, yaitulah yang bernama alam mitsâl. Tajallî yang ketiga kepada alam a’yân khârijiyah. Maka dikehendaki Allah memakaian alam mitsâl itu dengan empat anâshir, yaitu: air, api, angin, tanah. Maka menerima bersuku dan setengah ceruk dan padih, yaitulah yang bernama alam ajsam. Maka tatkala sempurnalah alam ajsam yaitulah yang bernama insan. Ahadiyah martabat zat semata-mata, belum nyata hakikat kita. Wahdah, martabat sifat ilmu, menyatakan hakikat penghulu kita Muhammad, terkandung dalamnya hakikat kita. Wahidiyah, martabat sifat iradat, menghendaki kenyataan rupa sekalian kita dalam ilmunya nyata. Alam arwah, sifat qudrat memakai memberi ta’tsîr kepada sekumpul nyawa sekalian kita. Alam //32// mitsâl, sifat fi’il menyatakan berbagai-bagai rupa kita yang zhâhir ini. Alam ajsâm, sifat fi’il menyatakan zhâhir rupa sekalian kita yang memakai anâshir yang empat. Alam insan, sifat fi’il menyatakan
tubuh sekalian kita lagi sempurna ditiupkan nyawa sekalian kita. Ahadiyah, martabat ketiadaan, takluk sekalian sifat. Wahdah, martabat takluk ilmu kepada su’ûn zat yang bernama ma’lûm mujmal. Wahidiyah, martabat takluk iradat kepada ma’dûm mumkin yang dinamai ma’lûm mufashal. Alam arwah, martabat takluk zhâhir qudrat yang ya’ni-kan kepada faydh muqaddas. Maka jadilah ruh yang mujmal ia pada zhâhir lagi dinamai ia a’yân khârijiyah. Alam mitsâl, martabat zhâhir qudrat dan iradat, takluk kepada pancar nurâni yang faydh muqaddas //33// alam ajsâm, martabat zhâhir takluk qudrat dan iradat kepada rupa kita yang berpakaian ‘anâshir yang empat. Alam insan, martabat zhâhir takluk ilmu dan kalam, iradat dan qudrat, sama’ dan bashar kepada insân jâmi’. Ahadiyah martabat hakikat Allah, artinya batin zat yang mutlak, wujudnya bernama huwa. Wahdah martabat hakikat muhammadiyah, yang dinamai syu’ûn zat Muhammad ia dalam ilmu Allah, wujudnya bernama Allah. Wahidiyah martabat hakikat Adam yang dinamai a’yân tsâbitah, mufashhal ia dalam ilmu Allah, wujudnya bernama Rahmân. Alam arwah, martabat nurani terhimpun seperti laut, mujmal ia pada zhâhir, wujudnya bernama nûr. Alam mitsâl, maratabat rupa sekalian kita yang nurâni lagi //34// lathîf mufashal ia pada zhâhir wujudnya bernama mushawwar. Alam ajsâm, martabat rupa sekalian kita yang berpakaian ia dengan ‘anâshir yang empat, maka jadilah kasyâf wujudnya bernama zhâhir. Alam insan, martabat kesempurnaan rupa sekalian martabat. Maka jadilah namanya insan jâmi’, artinya mehimpunkan sekalian martabat, wujudnya bernama jâmi’. Ahadiyah, zat semata-mata, tiada alam baginya. Wahdah, martabat sifat, alamnya syu’ûn zat. Wahidiyah, martabat asma’ Allah a’yân tsâbitah. Alam arwah, martabat zhuhûr asmâ’ dan af’âl. Yang dinamai arwah itu alam malakû[t]. Alam mitsâl, martabat zhuhûr af’âl Allah rupa kita itu, bernama alam malakût jua. Alam ajsâm martabat zhuhûr //35// af’âl Allah akan rupa sekalian kita yang berpakaian dengan ‘anâshir yang empat itu, bernama alam malakût. Alam insan, martabat zhuhûr ketuhanan dan kehambaan itu dinamai alam syu’ûn. Bermula sifat kamâl dua perkara. Pertama, sifat jamâl. Kedua sifat jalâl. Sifat jamâl itu sifat yang lemah lembut, maka sifat jalâl itu sifat yang kekerasan. Maka
tatkala berdampatlah sifat jamâl dengan sifat jalâl, maka terbitlah nûr hakikat muhammadiyah daripada keduanya. Maka tajallî-lah Allah ta’ala dengan dua sifat itu. Maka jadilah dua limpahnya. Pertama faydhun aqdas namanya, artinya limpah yang terlebih suci. Maka hasillah daripadanya a’yân tsâbitah. Kedua limpahnya faydh muqaddas namanya. Artinya limpah yang disucikan. Maka hasillah daripadanya //36// a’yân khârijiyah. Wujud itu dibagi tiga. Pertama, wujud cermin, kedua wujud yang nyata dalam cermin, ketiga wujud yang melihat cermin, bernama wujud alam dan wujud idhâfi. Yang melihat cermin bernama mahadh cermin, bernama ‘âsyiqun, artinya yang birahi. Yang nyata dalam cermin bernama ma’syûq, artinya yang dibirahikan. Yang melihat cermin bernama ‘isyqun, artinya tempat tumbuh birahi cermin, bernama ma’lûm. Yang nyata dalam cermin, bernama ilmu yang cermin, bernama alam cermin bernama mazhûr, artinya tempat nyata dalam cermin. Bernama zhâhir, artinya nyata melihat cermin. Bernama mazhûr, artinya yang menyatakan. Hawiyah Allah itu dua perkara. Pertama, //37// hawiyah sharafun namanya. yaitu wujud mahadh. kedua hawiyah sâriyyah namanya. yaitu wujud yang nyata pada sekalian alam. Wujud ‘âm dan wujud idhâfi pun namanya. Hawiyah kita itu pun dua perkara, pertama hawiyah wujud kita, yaitu hawiyah Allah sâriyah, yang bernama wujud ‘âm dan wujud idhâfi. Kedua hawiyah ta’ayyun kita, yaitu a’yân tsâbitah kita. Aniyyah itu tiga perkara. Pertama, aniyyah wujud kita, yaitu ingat kita akan a’yân tsâbitah kita. Kedua aniyyah ta’ayyun kita, yaitu ingat kita akan a’yân khârijiyah kita. Ketiga, aniyyah itu yaitu kita sangka lain wujud kita daripada Allah. Menafikan yang tiga itu lah yang bernama murâqabah. Wujud itu dua perkara. Pertama wujud mutlak, yaitu wujud //38// Tuhan kita. Kedua, wujud satu wajahnya ‘adamun satu wajahnya, yaitu wujud segala mumkin. ‘adamun dibagi dua. Satu ‘adamun mutlak, yaitu yang mustahil adanya. Kedua ‘adamun satu wajahnya, wujud satu wajahnya, yaitu wujud segala mumkin, karena apa dikata ‘adamun satu wajahnya, karena alam u[m]pama bayang-bayang. Dan karena apa dikata wujud satu wajahnya, karena tiada binasa satu wajahnya, yaitu hakikatnya yang bernama a’yân tsâbitah-nya. Haqq dua perkara,
pertama haqq mutlak, yaitu wujud Tuhan kita. Kedua haqq satu wajahnya, bâthil satu wajahnya, yaitu wujud segala mumkin. Karena apa dikata bâthil satu wajahnya, karena kata waliyyullah: kullu mâ khalaqallâhu bâthilun, artinya tiap-tiap suatu yang lain daripada Allah itu, syai-un //39// bâthilun. Ada itu dua perkara. Pertama bâthil mutlaq, yaitu yang mustahil adanya. Kedua bâthil satu wajahnya, yaitu wujud segala mumkin, karena apa dikata haqq satu wajahnya, karena kata firman Allah ta’ala: kullu syai-un hâlikun illâ wajhahu. Artinya tiap-tiap suatu itu binasa, melainkan satu wajahnya, yaitu hakikatnya. Bermula wujud ‘âm itu dua wajahnya. Satu wujud berhadap ia kepada pakaian yang dua perkara. Pertama yaitu a’yân tsâbitah- nya, dan kedua a’yân khârijiyah. Jika berhadap Ia kepada pakaian, dikatanya Akulah muhdats. Dan jika berhadap Ia kepada wujud mahadh, dikata-Nya lah diri-Nya qadîm. Bermula amal orang yang s[y]ar’iyyah itu mengerjakan //40// rukun yang lima dan segala amal anggotanya. Amal orang yang thariqah itu taubat daripada dosanya kecil dan dosa besar, dan meninggalkan mengupat-upat, dan dengki dan meninggalkan maksiat yang lain daripada Allah. Amal orang yang hakikat itu mengesakan. Wujud amal orang yang makrifat senantiasa ia zikir dan murâqabah dan tawajjuh dan musyâhadah. Tammat. Wallâhu a’lam. //41//
Adapun sembahyang itu keluar daripada waktu dan usulnya dikerjakan dan pohonnya itu suci daripada hadas dan najis. Wa shalâtu al-syar’iyah: ya’lamu fardhan wa sunnah wa rukû’an. Wa shalâtu al-tharîqah: ya’lamu wujûdallâh. Wa shalâtu al-haqîqah: fanâ fillâh.
Adapun yang sebenar-benar ibadah, yang disembah Allah, dan yang menyembah Allah murâd yang disembah Allah wujûd mahadh, dan yang disembah wujûd ‘âm. Inilah amal segala waliyyullâh yang muqarrabîn. //42//
Bermula sifat yang dua puluh itu dibagi empat. Pertama: sifat nafsiyah, ia sifat dirinya, yaitu suatu wujud. Kedua, sifat salbiyah, yaitu lima perkara: pertama hayât, ilmu, qudrah, iradah, sama’, bashar, kalâm, qidâm, baqâ, mukhâlifah li al-hawâdits, qiyâmuhu bi nafsihi, wahdaniyât. Ketiga sifat ma’âni, yaitu: hayât.
ilmu, qudrah, iradah, sama’, bashar, kalâm. Keempat, sifat ma’nawiyah, yaitu: hayyun ‘âlimun, qâdirun, murîdun, samî’un, bashîrun, mutakallimun. Kemudian maka dibagi tiga bahagi: pertama, sifat istaghna, yaitu: wujûd, qidâm, baqâ, mukhâlifatu li al-hawâdîts, qiyâmuhu bi nafsihi. Kedua sifat iftiqâr, yaitu: hayât //43// ilmun, qudrah, iradah, hayyun, ‘âlimun, qâdirun, murîdun, wahdaniyât. Ketiga sifat tanazzuh ‘an al-naqâidh, yaitu: sama’, bashar, kalâm, samî’, bashîr, mutakallim. Kemudian maka dibagi dua, pertama sifat istaghnâ, yaitu wujûd, qidâm, baqâ, mukhâlifatu li al-hawâdîts, qiyâmuhu bi nafsihi, sama’, bashar, kalâm, samî’, bashîr, mutakallim. Kedua sifat iftiqâr, yaitu: hayat, ilmun, qudrah, irâdah, hayyun, ‘âlimun, qâdirun, murîdun. Kemudian maka dihimpunkan segala yang tersebut itu kepada kalimah lâ ilâha illallâh muhammad rasûlullâh. Bermula hayat tiada takluk ia kepada sesuatu karena ia itu sekalian sifat. Bermula ilmu takluk ia kepada yang tiga: pertama wajib, kedua mustahil //44//ketiga jâiz. Bermula yang wajib itu empat perkara. Pertama, wajib pada Allah, yaitu sifat yang dua puluh. Kedua wajib pada Nabi, yaitu shiddîq, tablîgh, amânah, [fathânah]. Ketiga wajib pada syara’ yaitu barang yang berpahala berbuat dia, dan berdosa meninggalkan dia seperti sembahyang umpamanya. Keempat wajib pada akal, yaitu te[r]dapat tiada salah suatu gerak dan diam pada cermin yang satu. Dan mustahil itu pun empat perkara. Pertama mustahil pada Allah yaitu empat perkara. Pertama mustahil pada Allah, yaitu lawan sifat yang dua puluh. Kedua msutahil pada Nabi, yaitu kidzîb, kitmân, khiyânat. Ketiga msutahil pada syara’, yaitu syirk al-bâri. Keempat mustahil pada akal, yaitu //45// susun satu cermin daripada gerak dan diam. Dan adapun jâiz itu pun empat perkara. Pertama jâiz pada Allah, yaitu menjadikan alam. Kedua jâiz pada Nabi, yaitu seperti sakit, terbunuh, teraniaya. Ketiga jâiz pada syara’, yaitu sah gerak dan diam pada cermin. Bermula mustahil dua perkara: pertama, mustahil yang dinamai syai’un. Kedua, mustahil yang tiada dinamai syai’un. Bermula, ilmu takluk kepada mustahil yang dinamai syai’un, karena firman Allah: wallâhu bi kulli syai’in ‘alîm. Artinya bermula Allah ta’ala amat tahu akan tiap-tiap sesuatu. Bermula mustahil yang dinamai syai’un itu yaitu //46// i’tiqad
kamu yang mengatakan haqq ta’âla. Bermula qudrah takluk kepada segala mumkinât, artinya menjadikan segala mumkinât dan menyatakan dia. Bermula iradat takluk kepada segala mumkinât. Artinya menentukan segala mumkinât dengan putih dan hitam, panjang dan singkat. Bermula mumkinât itu empat perkara. Pertama mumkinât mawjûd namanya. artinya yang ada sekarang. Kedua mumkinât sa yûjad namanya. Artinya yang ada lagi akan datang, seperti anak cucu kita umpamanya. Ketiga mumkin wujida wa naqdhî namanya. Artinya mumkin yang telah lalu, seperti Nabi kita umpamanya. Keempat mumkin ‘alimallâhu annahu lam yûjad namanya. Artinya yang nyata pada ilmu Allah yang tiada diadakannya seperti kepala seorang tujuh umpamanya. Tatkala takluk //47// qudrah dan iradah kepada mumkin mawjûd, ma’iyah nama takluknya. Dan tatkala takluk qudrah dan iradah kepada mumkin sa yûjad, hakimiyah nama takluknya. Dan tatkala takluk qudrah dan iradah kepada mumkin wujida, naqdî ta’tsîriyah nama takluknya. Tatkala takluk qudrah dan iradah kepada mumkin ‘alimallâhu annahu lam yûjad, qawiyah nama takluknya. Bermula mumkin mawjûdah itu dibagi dua: pertama, mawjûd zat yang lathîf. Kedua, mawjûdât yang kasyâf. Bermula mumkin yang lathîf itu dua perkara: pertama mumkin nurâniyah, kedua mumkin mitsâliyah. Bermula yang kasyâf itu tiga perkara: pertama segala tempat yaitu sembilan perkara: pertama ‘arasy, kedua kursiy, ketiga langit yang tujuh, keempat //48// bumi yang tujuh. Kedua segala rukun, yaitu empat perkara: pertama air, kedua angin, ketiga api, keempat tanah. Bermula asal yang empat itu hangat, kering, basah, dingin. Ketiga, anak yang empat itu yaitu empat perkara: pertama hayawanat namanya, artinya segala yang hidup. Kedua jamâdât namanya, artinya segala yang beku. Ketiga nabatat namanya, artinya segala yang tumbuh. Keempat insan.
Soal. Adapun kita sembahyang berapa bagi nan bergantung kepada diri kita. Jika tiada diketahui tiada sah sembahyang. Jawab: adapun bergantung dengan tiga perkara. Satu, bergantung kepada pengenal hati. Kedua bergantung kepada sebut lidah. Ketiga bergantung kepada perbuatan anggota. //49// Adapun nan bergantung kepada hati yaitu senantiasa memandang kepada haqq ta’âla. Adapun bergantung kepada lidah yaitu menyebutkan
segala tahmîd dan tahlîl dan tasbîh. Adapun nan bergantung kepada anggota itu menyempurnakan segala bagai kebaktiannya. Wallâhu a’lam.
Adapun yang dinamai sembahyang tiga perkara: pertama, sembahyang anggota. Kedua sembahyang hati, ketiga sembahyang nyawa, yaitu rahasia. Adapun sembahyang anggota itu berdiri, ruku’, sujud, duduk. Adapun sembahyang hati itu mehinakan dirinya, merendahkan dirinya. Adapun sembahyang rahasia itu membesarkan Tuhannya dan berharap rahasianya kepada Tuhannya. Senantiasa mendampatkan dirinya kepada Tuhannya pada segala ketika //50// karena bahwa segala mukmin itu mendampatkan dirinya kepada Allah ta’ala jua.
Maka adalah kesudah-sudahan hakikat sembahyang itu yaitu jangan me[ng]hendaki yang lain daripada Allah ta’ala, dan jangan dicita di dalam hati yang lain daripada Allah, dan jangan dilihat mata yang lain daripada Allah, karena makrifat Allah tiga: dalam duduk, dan berjalan dan tidur. Dan yang penafikan dalam sembahyang tiga perkara: pertama be[r]syarikat, kedua serupa, ketiga mitsal, seumpama itulah jangan sekali-kali. .
//51//adapun ma’rifat rahasia senantiasa berharap kepada haqq ta’ala, tiada dua, tiga citanya kepada sesuatu melainkan huwa. Dan tiada dijatuhi pemandangannya melainkan huwa. Dan tiada berlaku pendengarannya melainkan huwa. Maka berdirilah ia dengan huwa, dan duduklah ia dengan huwa, dan karamlah ia dengan huwa, dan lenyaplah ia dalam huwa. Inilah ma’rifat rahasia dalam sembahyang. //52// halaman berulang //53// soal apa awal Muhammad, apa akhir Muhammad, apa zhâhir Muhammad, apa batin Muhammad. Jawab: adapun awal Muhammad nurani, dan akhir Muhammad ruhani, dan zhâhir Muhammad insan, dan batin Muhammad rabbani. Adapun awal Muhammad nyawa pada kita, akhir Muhammad hati pada kita, zhâhir Muhammad rupa pada kita, batin Muhammad wujud pada kita, artinya rahasia pada kita, sifat pada Allah, nyawa pada kita. Asmâ’ Allah, hati pada kita. Af’âl Allah rupa pada kita.
Pertama sifat istighnâ yaitu lima perkara: wujûd, qidâm, baqâ, mukhâlifatu li al-hawâdîts, qiyâmuhu bi nafsihi.
Kedua, sifat iftiqâr yaitu sembilan: pertama hayat, ilmu, qudrah, irâdah, hayyun, ‘âlimun, qâdirun, murîdun, wahdâniyah.
Ketiga, sifat tanazzuh ‘an al-naqâidh, yaitu enam: sama’, bashar, kalâm, samî’, bashîr, mutakallim. Kemudian dibagi dua puluh. //54// ditografi// adapun nûr itu tempat menyuratkan segala yang ada di dalam alam, maka bernama lawhun. Adapun nûr Muhammad menyuratkan segala rupa alam, maka bernama kalam. Adapun nûr Muhammad itu memancarkan segala alam maka bernama akal. Adapun nûr Muhammad itu menerangkan segala alam, maka bernama nur. Adapun nur Muhammad itu meng[kh]abarkan segala alam, maka bernama ruh. //55// adapun martabat yang tujuh itu, mana yang dikata ‘arsy al-‘azhîm, dan mana yang dikata ‘arsy al-karîm, dan mana yang dikata ‘arsy al-muhîth, dan mana yang dikata ‘arsy al-majîd. Adapun yang dikata ‘arsy al-‘azhîm itu hati. Adapun yang dikata ‘arsy al-karîm itu nyawa. Adapun yang dikata ‘arsy al-muhîth tubuh. Adapun yang dikata ‘arsy al-majid insan. Soal, mana zat nyawa dan mana sifat nyawa dan mana perbuatan nyawa. Jawab: zat nyawa berdiri dengan zatnya. Sifatnya nyawa me[ng]hidupkan segala makhluk. Perbuatannya memandang kepada Tuhannya. //56// Soal, mana zat hati, mana sifat hati, dan mana perbuatan hati. Jawab: zat hati muraqabah kepada Tuhannya. Sifat hati //57// mengenal Allah. Perbuatan hati menyembah Allah. Soal, mana zat nafsu, dan mana sifat nafsu, dan mana perbuatannya. Jawab: perbuatannya berdosa kepada Allah. Sifatnya tiada ia melihat Allah dan zatnya ingkar akan Tuhannya. Soal, mana dikata Makkah pada kita dan mana Madinah pada kita. Jawab: adapun Makkah pada kita mantagi kita, dan yang dikata Madinah hidung kita. Soal, mana bulu tunggal pada kita. Adapun bulu tunggal pada kita anak lidah di langit-langit kita. Soal, mana dikata Jibril pada kita. Pemandang kita itulah yang dikata Jibril pada kita. Soal, mana dikata Masjid pada kita. Jawab, adapun Masjid pada kita, saut-saut hati kita,//58// itulah Masjid pada kita. Soal, mana yang dikata ujung bumi pada kita, ialah sulbi kita. Itulah dikata ujung bumi pada kita. Soal, mana yang dikata alam arwah pada kita. Jawab, adapun alam arwah pada kita ialah jantung kita. Soal, mana yang dikata alam mitsal pada kita, ialah hati kita, itulah alam mitsal pada kita. Soal,
mana yang dikata alam ajsâm pada kita, ialah naung tubuh kita. Itulah alam ajsâm namanya. Soal, mana yang dikata alam insan pada kita. Jawab, adapun yang dikata alam insan pada kita rupa kita. Soal, mana yang dikata alam arwah pada Allah. Jawab, alam arwah pada Allah ialah cahaya Muhammad. Yang dikata alam mitsal pada Allah ialah cahaya af’âl namanya. Adapun yang dikata //59// alam ajsam pada Allah ialah cahaya nyawa namanya. adapun yang dikata alam insan pada Allah ialah rupa kita.
Inna al-ladzîna yubâyi’ûnaka inna mâ yubâyi’ûnallâha. Yadullâhu fawqa aydîhim.
Maka apabila selesailah ia daripada membaca ayat itu, maka disuruhnyalah mereka itu membaca: radhîtu billâhi rabba wa bi al-islâmi dînan wa bi muhammadin shallallâhu ‘alayhi wa sallam nabiyyan wa rasulan wa bi al-qurâni imâman wa bi al-ka’bati qiblatan. Fa hâdzihi risâlah musytamilah dan kunamai akan dia dengan ‘umdah al-muhtâj. //60//
Bismillâh al-rahmân al-rahîm
Ini bab pada menyatakan kesudah-sudahan mati. Ketahui olehmu bahwasanya mati itu datang pada mereka itu pada enam perkara. Pertamanya bahwa keluar daripada diri mereka itu suatu cahaya, warnanya seperti embun, dan dalam embun itu seperti awan amat putih, dan dalam awan itu malaikat pakaiannya amat kuning, dan tubuhnya malaikat itu amat putih. Maka berkata ia. Katanya amat halus seperti kata segala anbiyâ: jangan engkau percaya dalamnya. Dan kedua bahwa keluar daripada diri kamu suatu cahaya warnanya amat hijau //61// dalamnya seperti ular. Ular itu seperti burung yang amat putih. Dan burung yang itu seperti kuda. Maka berkata kuda: aku buraq dan jangan engkau percaya dalamnya. Dan ketiga bahwa datang padamu laki-laki yang amat baik ronanya, dan suaranya seperti guruh dan penglihatannya seperti kilat. Keluar daripada mulutnya api bernyala-nyala. Dan daripada telinganya kedua api bernyala-nyala, jangan engkau percaya dalamnya. Dan keempat, datang malam yang gelap itu suatu cahaya seperti kaca dan dalamnya
mata yang gilang gemilang cahaya itu, dan dalamnya seperti rupa manusia //62// maka sucikan hatimu, bahwa ktika itu maka wajib berpesan. Ketahui olehmu bahwasanya hampir-hampir akan mati. Dan kelima, bahwa datang kepada kamu seperti kayu diangkat berdiri ia dari bawah ‘arasy. Datang pada hari kamu, dan dalamnya malaikat yang banyak. Ketahui olehmu bahwasanya terlebih hampir akan mati. Jangan syak dalamnya. Dan keenam, datang pada kamu suatu yang kecil seperti rambut sehelai, maka berdiri ia pada pihak kanan. Seketika maka datang malaikat, duduk ia atas kananmu, maka cahaya yang kecil itu masuk pada penglihatmu, maka terus cahaya //63// itu kepada aurat, maka terus kepada rangka kepala, dan nyawa kamu seperti rupa cahaya bintang mereka itu yang beroleh karunia, dan inilah tandanya, dengan [datang] bintang mereka itu yang beroleh petunjuk. Maka dihantarkan nyawa kamu pada fuad kamu, karena firman Allah ta’ala: mâ kadzaba al-fuâdu mâ ra’â. Artinya tiada akan dusta mata hati mereka itu barang yang dilihat. Maka dijadikan nyawa kamu melihat kepada otak dan dinamai itu bayt al-ma’mûl, hingga nyawa kamu pada tempat yang tinggi, maka masuk pada rumahnya, maka berkata ia pada ketika itu lâ ilâha illallâh muhammad rasûlullâh, maka mati ia, maka keluarlah cahaya //64// yang kecil itu seperti rambut sehelai, jadilah ia besar tiada serupa dengan cahaya siang dan malam, dan terbuka segala pintu langit, maka terus penglihatan orang itu kepada ‘arasy dan kursiy, maka dilihatnya Tuhannya, hingga nyawa mereka itu berhadap kepada Tuhannya selama-lamanya. Sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam: yang mukmin itu hidup pada kedua negeri. Barang siapa berpengetahuan [tentang] mati tetap hidup selama-lamanya. Bermula inilah jalan segala arif, amat terlebih daripada jalan segala jalan lainnya. //65//
Bab fatihah itu diturunkan orang pertama al-hamdu lillâhi rabb al-‘âlamîn pada Nabiyullah Adam ‘alayhi al-salam. Diturunkan Allah al-rahmân al-rahîm pada Nabi Nuh. Diturunkan Allah mâliki yawm al-dîn pada Nabi Sulaiman ‘alayhi al-salam. Diturunkan Allah iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în pada Nabi Ibrahim ‘alayhi al-salam. Diturunkan Allah ihdinâ al-shirâth al-mustaqîm pada Nabi Ayyub ‘alayhi al-salam. Diturunkan Allah
ta’ala shirâth al-ladzîna pada Nabi Yunus ‘alayhi al-salam. Diturunkan Allah ta’ala an’amta ‘alayhim pada Nabi Musa ‘alayi al-salam. Diturunkan Allah ta’ala wa lâ al-dhâllîn pada Nabi ‘Isa ‘alayhi al-salam. Diturunkan Allah //66// ta’ala âmîn, maka diperkenankan oleh Nabi Muhammad shallallâhu ‘alayhi [wa] sallam. //67//
Inilah kayfiyat me[ng]’amalkan zikirullâh ta’âla. Maka dibaca al-hamdu lillâhi rabb al-‘âlamîn, lalu kepada akhirnya, dan qul a’ûdzu bi rabb al-nâs lalu kepada akhirnya, dan qul a’ûdzu bi rabb al-falaq lalu kepada akhirnya, dan qul huwallâhu ahad, kemudian itu maka kita rupakan rupa mursyid kita, kemudian itu maka kita hadiahkan nan empat itu kepada mursyid kita, kemudian itu maka kita baca pula: yâ ilâhi anta maqshûdi wa ridhâka mathlûbi tiga kali. Kemudian itu maka kita baca pula astaghfirullâh tiga puluh//68// kali. Kemudian itu maka kita baca pula shallallâhu ‘alayhi wa sallam tujuh kali, kemudian itu maka kita baca pula a’ûdzu billâhi min al-syaithân al-rajîm sekali, kemudian itu maka kita baca pula afdhal al-dzikri lâ ilâha illallâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam ‘alayha nahya wa ‘alayha namût wa ‘alayhâ nab’atsu insyâ allâh ta’âla wa anta min al-âminîn bi rahmatillâh wa akramihi. //69// inilah doa zikir: allâhumma nawwir qalbi bidzikri lâ ilâha illallâh wa isyrah rûhî bi dzikrillâh, wa iksyif asrârî bi dzikri huwa, allâhumma ij’al âkhira kalâmî ‘inda al-mawti bi kalimah lâ ilâha illallâh wa shadaqa ma’nâhâ haqqan wa shâdiqan khâlishan mukhlashan bi fadhlika wa wujûdika wa karamika bi rahmatika yâ arham al-râhimîn. Wa shalla //70// Allâhu ‘alâ khayri khalqihi muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma’în.
2.6. Transliterasi Naskah Wirid dan Doa
Fasal pada menyatakan doa ini amat besar pahalanya. Barangsiapa menyuratkan pada kafan orang mati, bahwa tiada siksa dalam kubur akan dia berkat doa ini. bermula, jika dibaca tujuh belas pagi sehari pagi dan petang, barang sekali bisa menjadi tawar daripada ulat dan kala, dan segala orang dengki pun tiada dapat berbuat jahat kepada kita berkat doa ini. barang
siapa membaca doa ini, maka hendaklah ikhlas hatinya, dan suci sekalian tubuhnya, diberi Allah amal yang banyak kepadanya, wallahu a’lam.
Bismillâh al-rahmân al-rahîm. Lâ ilâha illallâh al-‘azhîm al- ‘aliy al-‘azhîm lâ ilâha illallâh al-musta’ân al-qadîmu lâ ilâha illallâh muhammad rasûlullâh ya Allâh, ya Allâh, ya Allâh, ya rahmân, ya rahmân, ya rahmân, ya muhammad, ya muhammad, yâ muhammad, ya ‘alî, ya ‘alî, yâ ‘alî, ya rasûlallâh, //1// yâ rasûlallâh, yâ rasûlallâh. Summun bukmun ‘umyun fa hum lâ ya’qilûn, Summun bukmun ‘umyun fa hum lâ ya’qilûn, nashrun minallâhi wa fathun qarîbun wa basyyir al-mukminîn, innâ fatahnâ laka fathan mubînan bi rahmatika yâ arhama al-râhimin. Wa shallallâhu ‘alâ khayri khalqihi muhammadin wa âlihi wa sahbihi ajma’în, bi rahmatika yâ arham al-râhimîn, wa sallama taslîman katsîran, katsîran. Bi rahmatika yâ arham al-râhimîn.
Bismillâhi al-rahmân al-rahîm. Alam tarâ kayfa dharaballâhu matsalan kalimatan thayyibatan kâ syajaratin thayyibatin ashluhâ tsâbitun wa far’uhâ fi al-samâ’ nu’tî ukulahâ kullu hînin bi idzni rabbihâ, wa yadhribullâh illâ matsalan li al-nâsi lâ’allahum yatadzakkarûn. Bab ini syarah do’a asma’ allah al- ‘azhim namanya. pertama barang siapa membaca doa ini, jika hajat orang membunuh kita tiada mengenai. Jika diperangi orang kita, tiada akan luka, berkat asma’ Allah ini. jika //2// membaca dia lima kali pada malam jum’at itu maka ia tidur, maka yaitu ia berlihat dengan rasulûllah shallallâhu ‘alayhi wa sallam dalam tidurnya. Bermula, jika orang sakit maka dibaca doa ini, niscaya sehat ya muhammad. Jika dalam percintaan pun baca doa ini supaya beroleh sekecut ya muhammad. Jika orang berhutang tiada terbayar olehnya, maka bacakan doa ini niscaya dilepaskan Allah ta’ala daripada hutangnya itu, ya Muhammad. Barang siapa tiada dapat membaca dia maka surat dengan dawat kasturi dan genggamkan air mawar, maka puasa ia barang tujuh hari, maka diamalkannya doa ini, atau dipakainya yang sudah disurat dengan dawat kasturi itu, bahwa Allah ta’ala membukakan pintu hati yang membaca doa ini, barang yang didengarnya supaya ia ingat ia. Bermula jika sakit orang maka baca //3// Allah, bismillâhi wa
tsanâ’u lillâhi, bismillâhi wa ni’amu lillâh, bismillâhi wa lâ hawla wa lâ quwwata illâ billâhi al-‘aliy al-‘azhîm. Wa shallallâhu ‘alâ khayri khalqihi muhammadin wa âlihi wa sahbihi ajma’în, wa sallama taslîman katsîran bi rahmatika ya arham al-râhimîn, amin. Fasal pada menyatakan syarah doa ‘aqasyi dan fadhilahnya cerita daripada Abu Bakr Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, pada suatu hari Rasulûllah shallallâhu ‘alayhi wa sallam duduk dalam masjid Makkah, maka datang Jibril ‘alayhi al-salam membawa firman Allah ta’ala, maka ujarnya, ya Muhammad, ini doa yang amat besar pahalanya, hendaklah membaca dia dan ajarkan pada umat sayyidi ya Muhammad. Seroangpun tiada beroleh hadiah daripada Allah ta’ala melainkan pada sayyidi dan pada umat Sayyidi yang membaca doa ini, beroleh jika dibacanya pada malam Jum’at dengan sebenar-benar citanya, dan suci hatinya pada tatkala//4// halaman hilang/berganti dengan halaman lain //5// perempuan yang tiada meninggalkan membaca pada tiap-tiap hari, maka ujar Jibril, ya Muhammad, jika suatu pekerjaan ke hutan atau ke laut, atau barang ke mana sekalipun, hendak baca jua ayat ini kata Jibril. Ya Muhammad, bahwa Allah ‘Azza wa jalla berfirman kepada malaikat, peliharakan hambaku yang minta doa kepadaku, jangan kesakitan daripada kejahatan setelah malaikat mendengar firman Allah ta’ala, demikian itu malaikat turun ke bumi lima ribu banyaknya. Maka ujar Jibril, ya Muhammad, firman Allah ta’ala barang siapa membaca ayat ini, pahalanya serasa membaca Quran tiga puluh juz, dan serasa diperolehnya pertama ayat kepala alQuran, kedua ayat di muka al-Quran, ketiga ayat di leher al-Quran, dan keempat ayat di bawah al-Quran, dan kelima ayat di tangan al-Quran, keenam ayat di perut al-Quran, ketujuh ayat di belakang al-Quran, ke delapan ayat //6// di hadapan al-Quran, kesembilan ayat di kaki al-Quran, kesepuluh ayat di lidah al-Quran, kesebelas ayat Quran bagi segala hantu, kedua belas ayat bagi segala bisa yang tajam, keempat belas ayat bagi segala kehendak kita disampaikan Allah subhânahu wa ta’âla, maka ujar Jibril, ya Muhammad, bermula kenyataan ayat ini barang tempat kita akan masuk negeri, hendak jua membaca ayat ini, atau hendak pada raja-raja, atau menteri atau barang sebagainya pekerjaan kita, maka baca jua ayat ini, niscaya selamat kerja kita sekalian
dianugerahkan Allah ta’ala dan berkat Nabi Muhammad. Kata Jibril, ya Muhammad, barang siapa membaca ayat ini sehari sekali dengan suci hatinya, maka diberi Allah baik akalnya, jika perempuan membaca dia bahwa dipeliharakan Allah ta’ala ia daripada kejahatan lagi kasih suaminya akan dia, dan barang kehendaknya diperkenankan Allah ta’ala, dan [di]lanjutkan Allah ta’ala asanya, karena Allah ta’ala memeliharakan dia //7// daripada bahaya dan daripada azab kubur, lagi dianugerahi Allah ta’ala sorga baginya. Bermula jika orang gila, maka surat dengan dawat kasturi pada kulit, mandi, ikatkan pada lengannya kanan atau pada kanak-kanak, niscaya sembuh olehnya insyaallah ta’ala. Bermula, jikalau orang perang, atau diserang orang maka baca doa ini dua belas kali, maka hamblangkan pada seterunya. Bermula jika mata orang sakit, maka baca ayat ini lima belas kali, maka sapukan mata orang sakit itu, ‘afiyah insyaallah ta’ala. Bermula, pertama bulan Muharram dibaca dua puluh kali dalam sebulan itu, maka dihelakan pada seteru itu, niscaya datang penyakit. Dan jika pada bulan Safar dibaca dua puluh kali dalam sebulan itu, niscaya tiada seteru itu pada kita. Jika pada bulan Rabi’ al-Awal dibaca dua puluh kali dalam sebulan itu, tiada digerak sekalian binatang. Jika pada bulan //8// Rabi’ al-Akhir dibaca sepuluh kali dalam sebulan itu, segala yang melihat kita, maka kasih akan kita. Jika pada bulan Jumadi al-Awwal dibaca dua lapan kali dalam sebulan itu, dijauhkan Allah penyakit daripada kita. Jika pada bulan Jumadi al-Akhir dibaca tujuh kali dalam sebulan itu, barang kata kita diturut orang. Jika pada bulan Rajab dibaca sepuluh kali dalam sebulan itu, jikalau ia berhutang, niscaya lepas daripada hutang. Jika pada bulan Sya’ban dibaca lima kali dalam sebulan itu, maka segala perempuan melihat muka kita lagi kasih pada kita. Jika bulan Ramadhan dibaca tiga kali dalam sebulan itu, tiada dapat orang jahat akan kita, lagi maha sentosa akan kita. Jika pada bulan Syawal, dibaca dua lapan kali dalam sebulan itu, tiada dapat orang mencuri ke rumah kita. Jika pada bulan Dzu al-Qa’idah dibaca dua lapan kali dalam sebulan itu, barang kehendaknya diper //9// olehnya dengan anugerah Allah ‘azza wa jalla. Jika pada bulan Dzu al-Hijjah dibaca ayat ini dalam sebulan itu, supaya kita peroleh anak laki-laki yang salih
dianugerahkan Allah, harta daripada halal, tiada berkurang-kurang rezkinya. Barang siapa membaca ayat ini bahwa segala munafik dan segala pencuri pun tiada dapat hampir pada kita, maka apabila hari kiamat, maka datang dua orang malaikat bernama Ajriha, maka diambilnya doa ini dahulu, dan sekalian ayat, maka balannya dengan tasak bumi semuanya, demikian doa ini pada Allah ta’ala. Bermula barang siapa tiada tahu membaca ayat ini, maka dipusakai segala isi rumah yang membaca dia, maka dibalas Allah akan orang yang membaca doa ini dengan kebajikan. Maka barang siapa membaca ayat ini, maka serasa membaca al-Quran tiga puluh juz dan serasa pahala awliya Allah dan anbiya diperolehnya. Bermula ayat ini terlalu banyak, jika akan salusuh //10// maka surat pada kertas, maka ikatkan pahanya kanan. Sebagai lagi gunanya akan tawar, maka baca pada air tujuh kali, maka minum nisacaya ‘afiyah. Bermula tajam perut atau menghiup hati baca ayat ini tujuh kali, tampalkan pada orang itu. Bermula jika keras angin, maka surat pada barang tempat, maka gugurkan ke dalam laut, niscaya teduh. Bemula, jika kita takut akan orang mencuri, maka surat pada pintu rumah kita pada hari Jum’at menyurat dia niscaya tiada dapat orang mencuri dengan anugerah Allah ta’ala. Bermula akan pikat lidah orang dan seteru sekalian, maka tiada dapat berkata jahat lagi menolakkan segala bahaya, maka surat pada hari senin, ikatkan pada lengan kita. Bermula, pada hari selasa disurat pada kertas ikatkan pada tangan kanak-kanak baharu jadi supaya jangan penyakitan. Bermula //11// jika disurat pada hari yang maka taruh pada harta benda kita, tiada dapat dicuri orang. Bermula barang siapa dapat membaca ayat lima belas ini, dipeliharakan Allah subhanahu watâ’ala berkat Muhammad rasulûllah shallallahu ‘alayhi wa sallam, wa shallallâhu ‘alâ khayri khalqihi Muhammad wa âalihi wa ashâbihi ajma’în. Wallâhu a’lâm bi al-shawâb. Wa ilayhi marja’ al-umûr.
Bismillâhi al-rahmân al-rahîm
Alhamdu lillâhi wahdah, alif lam mim, allâhu lâ ilâha illâ huwa al-hayyu al-qayyûm, qâiman bi al-qisthi dzâlikumullâh fa annâ tu’fakûn, wa law annâ al-qurâna suyyirat bihi al-jibâl aw
quthi’at bihi al-ardhu, aw kulima bihi al-mawt balillâh al-amru jamî’an, inna mâ amruhu idzâ arâda syai-an an yaqûla lahu kun fa yakûn. Al-hamdu lillâhi rabb al-‘âlamîn, bal hum fî lubusin min khalqin jadîdin wa huwa ma’akum aynamâ kuntum, wallâhu bimâ //12// ta’malûna bashîr, innallâha qawiyyun ‘azîz, allâhu lâ ilâha illâ huwa, wa ‘alallâhi falyatawakkal al-mukminûna wa yatawakkal ‘alallâhi fa huwa hasbuhu, innallâha bâlighu amrihi qad ja’alallâhu likulli syai-in qadîr. Wa ahâtha bi mâ ladayhim wa ahasha kulla syai-in ‘adada, rabb al-masyriq wa al-maghrib lâ ilâha illâ huwa fa ittakhidzhûhu wakîlan, lâ yatakallamûna illâ man adzina lahu rahmânu wa qâla shawaba, min ayyi syai-in khalaqahu min nuthfatin khalaqahu fa qaddarahu, dzî quwwatin ‘inda dzî al- ‘arsy makînin muthâ’in tsumma amîn. Wallâhu min warâ-ihim muhîthun bal huwa qur’ânun majîd fi lawhin mahfûzh, ‘adada likulli hawlin alqâhu wa li kulli hâlin fi al-dunyâ wa al-âkhirah. Lâ ilâha illallâh muhammad rasûlullâh, wa li kulli hâmin wa ghâmin mâsyâallâh, wa li kulli ni’matin al-hamdu lillâh, wa li kulli rajâ’in wa syiddatin wa syukrillâhu, wa li kulli ‘ajabatin subhânallâh, wa li kulli dzanbin astaghfirullâh, wa li kulli dhayfin hasbiyallâh, wa li kulli mushîbatin inna lillâhi //12// wa inna ilayhi râji’un. Wa li kulli qadhâ’i taqdiruhu tawakkaltu ‘alallâhi. Wa li kulli thâ’atin wa ma’shiyatin lâ hawla wa lâ quwwata illâ billâhi al-‘aliy al-‘azhîm. Yâ quddûs 3x, yâ Allâh 3 x, yâ rahmân 3x, yâ ‘azîz 3x, yâ rahîm 3x, wa bi haqqi hâdzhihi al-asmâ’ al-karîm, ilâhi wa bi haqq al-asmâ’ al-bararah al-faîzîn, wa al-barakâti wa kirâman kâtibîn, wa ruhânîna, ilâhî wa bi haqq al-tawrât wa al-injîli wa al-zabûri wa al-qurâni al-‘azhîm, ilâhî wa bi haqqi anta qâdhiya hâjâti wa ikfînî bihâ bayni wa ahlî wa mâlî wa waladi min jamî’ al-balâ’ wa al- wabâ’ wa al-fakhsyâ’ wa al-zulali wa al-dawâb, wa al-fahthî wa al- fujjâri, wa ilâhi wa bihaqqi muhammadin musthafâ wa al- murtadhâ yâ ilâhi al-‘âlamîn, wa yâ khayra al-nâshirîn ajma’în bi fadhlika bi rahmatika yâ arham al-râhimîn, allâhumma shalli ‘alâ muhammadin rabbi wa rabbikum allâhu al-ladzî lâ ilâha illâ huwa khâliqun nûri, wa mâlik al-umûr, subhânaka //13// anta al- qawiyyu wa anta al-‘azîz, wa anta al-shâbirîn, wa anta sulthân al- ‘azhîm, ilâhi wa bi haqqi akhrijnî min zhulumât al-zhâlimîn, ya Allâh anta kulli syai-in ‘azhim, ilâhâ wa bi haqqi muhammadin, wa
abû bakrin wa umarin wa utsmânin wa ‘aliy, wa hasan, wa husaynin, wa hamzah, wa al-‘Abbâs, wa khadîjah, wa ‘âisyah, wa salâmah, wa maymûnah, wa fâthimah al-zahra, ilâhi wa bi haqqi adâm wa hawâ, ilâhî wa bi haqqi ibrâhîm wa ishâq, wa bi haqqi mûsâ wa ‘îsa wa nûh wa ayyûb wa yûsûf wa dâûd ‘alayhi al-salâm, ilâhî wa bi haqqi sulaymân mâlik al-jinn wa al-ins wa al-naml wa al-syayâthîn, ilâhi wa bi haqqi izrâil wa isrâfil wa mikâil wa jibrîl ‘alayhi al-salâm, ilâhi wa bi haqqi wa ikfînâ min kulli syarrin adhlabnî bi fadhlika wa karâmika bi rahmatika yâ arham al-râhimîn. Bismillâhi al-ladzî //14// laysa ka mitslihi syai’ wa huwa bi kulli syai-in ‘alîm. Bismillâhi al-khâliq al-‘azhîm al-ladzî laysa ka mitslihi syai’ wa huwa fattâh al-‘azhîm. Bismillâhi samî’ al-ladzî laysa ka mitslihi syai’ wa huwa al-‘aliy al-qadîr. Bismillâh al-‘azîz al-karîm al-ladzî laysa ka mitslihi syai’ wa huwa al-‘zîz al-hakîm. Bismillâh al-‘azîz al-rahîm al-ladzî laysa ka mitslihi syai’ wa huwa al-‘azîz al-ghafûr. Fallâhu khayran hâfizhan, wa huwa arhamu râhimîn. Ilâhi wa bi haqqi hâdzihi al-asmâ’ al-karîm, ya ilâhâ al- ‘âlamîn, wa khayr al-nâshirîn allâhumma yâ nûra al-samâwât wa al-ardhi, wa huwa al-samî’ al-‘alîm. Summun bukmun ‘umyun fa hum lâ yarji’ûn, summun bukmun ‘umyun fahum lâ yukminûn. Summun bukmun ‘umyun fahum lâ yatakalllamûn, summun bukmun ‘umyun fahum lâ yatadzakkarûn. Wa lâ hawla wa lâ quwwata illâ billâhi al-‘aliy al-‘azhîm. //15// ilâhi wa bi haqqi ya ‘azîz hasbiya rabbi min ‘ibâdati, hasbiya al-khâliq min al-makhlûqîn, hasbiya al-râziq min al-marzûqîn, hasbiyallâhu al-ladzî lâ ilâha illâ huwa ‘alayhi tawakkaltu wa huwa rabb al-‘arsy al- ‘azhîm, allâhumma law anfaqta mâ fi al-ardhi jamî’an mâ allafta baynahum wa lâkinnallâha mâ allafa bayna qulûbihim, innahu huwa al-ghafûr al-rahîm, innahu ‘azîzun hakîmun. Ilâhî wa bi haqqi yâ ‘azîzun yâ ghaffârun yâ karîmun yâ sattârun yâ hakîmun yâ jabbârun. Ilâhî wa bi haqqi hasbiyallâhu rabbi min ‘ibâdati, hasbiya al-khâliq min al-makhlûqîn, hasbiyallâhu al-râziqu min al-marzûqi, hasbiyallâhu lâ ilâha illâ huwa ‘alayhi tawakkaltu wa huwa rabb al-‘arsy al-‘azhîm. Allâhumma innî a’ûdzubika min syarri al- dârrayni, ilâhi wa bi haqqi yâ sattârun yâ ‘azîzun, yâ hayyun yâ qayyûm, yâ rabb al-arbâb, wa munîb al-asbâb wa muftihu. //16// halaman terputus //17// akan Allah ta’ala sembilan puluh
sembilan kali. Maka katanya, jikalau hamba bermimpi juga akan segala laki niscaya akan Allah subhanahu wa ta’ala akan sesuatu yang melepaskan ia akan hambanya daripada segala siksa. Maka dengan taqdir Allah ta’ala bermimpi lah ia pulang melihat pula ia akan haqq subhânahu wa ta’âla bi lâ kayfa wa lâ syai-a ma’ahu. Maka dimohonkannya kepada Allah ta’ala akan yang dimaksudnya itu, maka katanya: yâ rabb apa sesuatu yang melepaskan akan segala hambamu daripada siksa. Maka firman Allah ta’ala baca olehmu akan subhânallâh al-abdiy al-abâd. Subhâna al-wâhid al-ahad. Subhâna al-fard al-shamad. Subhâna man rafa’a al-samâ’ bi ghayri ‘amadin. Subhâna man basath al- ardha fi al-mâ’ fa jamâd. Subhâna khalaq al-khalqa wa ahshâhum //17// ‘adad. Subhâna man qasama al-rizqa wa lam yansa ahad. Subhâna man lam yattakhidza shâhibatan wa la walad. Subhâna man lam yalid wa lam yûlad wa lam yakun lahu kufuwwan ahad.
Qâla al-nabiy shallallâhu ‘alayhi wa sallam, telah berkata Nabi shallallâhu ‘alayhi wa sallam, barang siapa ia akan doa ini dahulu ia dari membaca Quran, atau dahulu daripada membaca kitab Allah, jadi alim insyaallah ta’ala. Dan barang siapa syak ia padanya itu, maka menjadi kafir, na’ûdzu billâh minhâ. Maka inilah do’anya: allâhumma shalli ‘alâ muhammad wa ‘alâ âli muhammad, allâhumma akhrijni min zhulumât al-wahmi wa akrimnî bi nûrika al-fahmi, allâhumma iftah ‘alayna abwâba rahmatika wa unshur ‘alayna khazâina rahmatika bi rahmatika yâ arham al-râhimin. Ini azimat tatkala baginda //18// ‘Ali perang, maha besar pahalanya pada orang yang memakai dia atau menaruh dia atau membaca dia sekali sebulan atau sekali setahun atau sekali seumur kita. Baca doa ini, jikalau ada dosa kita sebanyak pasir di pantai, atau sebanyak buih di laut, segala pun niscaya diampuni Allah ta’ala. Maka baca doa ini dengan air sembahyang tiga kali atau tujuh kali. Jikalau apa sengaja dilakukan Allah ta’ala seperti berlayar atau berjalan atau berperang, atau berniaga, atau berhawam, diperkenankan Allah ta’ala. Jika dibaca doa ini pada malam ini ahad, tatkala sedang tidur dibaca tujuh kali atau sembilan kali, keluar daripadanya iblis, orang pun kasih kepadanya. Perempuan pun kasih pula. Jika dibaca pada malam selasa doa ini, barang dipinta //19// diperkenankan Allah ta’ala, setan dan iblis pun
jauh daripada kita. Jika pada malam Rabu dibaca doa ini tiga puluh kali atau tiga kali, keluar daripada kita kejahatan dan masuk kebajikan. Jikalau empat puluh kali atau empat kali dibaca doa ini pada malam rabu, dengan berkat doa ini, tiada tertantang mata kita oleh lawan kita orang besar-besar, dan orang kecil-kecil pun takut pada kita. Jika pada malam khamis dibaca doa ini empat kali, jika berlayar segala laut pun selamat insyaallah ta’ala. Jika bertahun baik jika berniaga tiada merugi, jika pada malam jum’at dibaca doa ini seratus tiga kali, atau sepuluh kali, diampuni Allah ta’ala sekalian dosa kita seperti daun kayu luruh daripada batangnya. Demikianlah dosa //20// daripada tubuh kita. Barang siapa membaca dia atau memakai dia atau menaruh dia pada kampung kita, jika harimau buas pada negeri kita dibaca doa ini tiga puluh kali, nisacaya orang banyak terpelihara berkat doa ini, jika buaya buas dalam air, baca doa ini, semburkan pada air itu. Jika padi terbit, bacakan doa ini tiga kali pada pagi-pagi hari berkeliling hawam supaya jangan hampa padi kita oleh berkat doa ini. jika kita berjalan jauh bertemu kita dengan orang hendak membunuh kita, maka dibaca do’a ini tatkala bertemu supaya kelu lidahnya dan pejam matanya. Berkat doa ini diampuni Allah ta’ala segala dosanya. Ini do’anya:
Akhadzta sam’a mâ khalaqallâhu ta’âla yâ âkhira min hamazin sam’allâh ta’âla //21// wa al-salâmah bi quwwatillâhi ta’âla wa sulthâni jibrîl ‘anyuminî yushâri wa lillâhi ta’âla min al- khaffi al-hâfizhîn shabara rabbanâ shabiyallâh ta’âla wa ni’ma al- makîna wa ni’ma al-mawlâ wa ni’ma al-nashîr shabiyallâhu ta’âla wa salâmu wa ‘alâ âlihi wa sahbihi ajma’în bi rahmatika ya arham al-râhimîn.
Bab ini pada menyatakan syarah do’a daripada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Barang siapa membaca doa ini dengan ikhlas hatinya dengan percintaan kepada Allah ta’ala nscaya barang kehendak dianugerahkan Allah ta’ala dan kemuliaannya pun bertambah-tambah, dan rezkinya pun tiada berkurang-kurang selama-lamanya hidupnya. Bermula dibaca doa ini dihadapan raja-raja pun kasih akan dia. Bermula jika dibaca doa ini berhadapan dengan perempuan itu //22// niscaya tiada
tertahan hatinya kasih akan kita. Bermula kata ‘Ali tatkala perang dengan kafir, ada orang muda menolong daku. Aku membaca do’a ini, maka segala kafir pun habis lari melihat daku. Dan kata Utsman radhiyallahu ‘anhu, tatkala aku lagi membaca do’a ini diterangkan Allah hatiku membaca do’a Quran. Jadi ingat aku berkat do’a ini. Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pada segala sahabat sekalian: baca oleh kamu sekalian do’a ini supaya penyakit dalam diri kamu dalam dunia dijauhkan Allah dari pada kamu. Bermula Allah ta’ala menilik daripada kamu pada sehari tujuh puluh kali. Bermula daripada bahaya dan hulu balang sekaliannya itu pun dijauhkan Allah daripada kamu. Bermula, membukakan pintu sorga lagi dengan ampun akan kamu. //23// bermula jika hendak berjalan ke atas air atau di darat itupun diperkenankan Allah ta’ala. Bermula jika hendak melihat malaikat atau hendak melihat syaithan dan jin habis semuanya kelihatan, dibaca do’a ini pada tempat yang su[ny]i niscaya malaikat dan syaithan dan [jin] kau lihat. Bermula jika hendak melihat orang dalam kubur orang banyak, baca do’a ini dua puluh kali pada malam Jum’at, niscaya datang kau lihat berkata-kata ia dengan dikau. Bermula, jika hendak akan anak dara-dara, datang ia kepadamu akan isterimu yang halal, itupun dianugerahkan Allah ta’ala dan mandi dahulu dan berlimau dan berasap dengan kumayan dan setangkai dari segala baun-baunan pada malam Jum’at, maka dibaca do’a ini empat belas kali, serta memohonkan pada Allah dengan ikhlas hatinya, //24// niscaya dianugerahkan Allah akan dikau. jangan syak hatimu karena do’a ini sangat mulianya pada Allah ta’ala. Bermula jika hendak engkau kebilangan pada segala kaum keluarganya atau hendak jadi penghulu besar, maka dibaca do’a ini sebulan lamanya pada tiap-tiap malam tujuh belas kali dengan ikhlas hatimu membaca do’a ini, niscaya teguh segala keluarganya itu padamu, dan jika binatang buas, niscaya tertutup mulutnya. Jika hendak akan berlayar di laut tawar, baca do’a ini seratus kali, maka benamkan kakimu niscaya tawar berkat do’a ini. bermula jika orang hendak akan dibunuh orang baca do’a ini, maka tiupkan padanya, niscaya lepas daripada dibunuh orang itu berkat do’a ini. Bermula segala barang kehendaknya dikabulkan Allah ta’ala. Dan jika hendak
akan ke berumah itupun diperkenankan Allah, dan jika hendak //25// mengikat awliya itupun diperolehnya dianugerahkan Allah ta’ala. Bermula jika padi dimakan tikus atau babi, beruk [dan] seterusnya yang bernama binatang baca do’a ini barang kuasamu, maka tiupkan pada padi itu, niscaya dipeliharakan Allah daripada bahaya ini berkat do’a ini. Dan jika hendak berlayar baca do’a ini niscaya dipeliharakan Allah berkat do’a ini, dan lagi pula tiada bertamu engkau dengan seterumu, dan jika angin teduh olehnya, dan jika karam di laut dihantarkan oleh ikan ke darat. Bermula jika datang ke negeri orang, baca do’a ini sembilan kali, niscaya jadi kasih orang jadi mulia pada orang dalam negeri itu. Barang kehendakpun dianugerahkan Allah ta’ala, dan orang dalam negeri itu pun kasih dengan anugerah Allah. //26// halaman terpisah //27// adapun sembahyang Jum’at itu perhimpun hamba dengan Tuhan, perhimpun Allah dan Muhammad, perhimpun zat dengan sifat. Adapun Subuh sembahyang Nabi Adam, Zuhur sembahyang Nabi Daud, ‘Asar sembahyang Nabi Sulaiman, Maghrib sembahyang Ya’qub, ‘Isya sembahyang Nabi Yunus, Jum’at sembahyang Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam. Sembahyang yang lima waktu itu terhimpun kepada Jum’at. Artinya jikalau tinggal sembahyang Juma’at binasa sembahyang lima waktu. Sembahyang Jum’at itu terhimpun kepada Muhammad, dan Muhammad itu tempat tajalli wujud //28// [teks mengenai melihat cahaya Tuhan, sebagian lembar hilang/terputus] ditentukan di dalam atau di luar atau di tengah-tengah cahaya itu terus kepada tujuh petala langit dan kepada tujuh petala bumi, dengan pelihat kita sendiri kita tiada boleh ditentukan kepada suatu tempat, melainkan tertentu adanya saja. Itulah cahaya Tuhan kita jalla wa ‘ala. Maka adalah cahaya kita lihat dengan pelihat mata hati, antara kening kita terbuka ubun-ubun kita, maka adalah kita pandang di dalam cahaya itu seperti bulan purnama. Maka di dalam itu adalah rupa seperti rupa kita, itulah rahasia kita yang sebenar-benarnya, dan kekal lah diri kita kepada Allah ta’ala, yakini dan tulus lagi ikhlas hendaknya, insyaallah ta’ala maka tatkala berhimpun nyawa di tengah kepala, pujinya kepada Allah ta’ala, huwallâhu, maka menyahutlah Tuhan anâ al-haqq lâ ilâha illâ anâ. Maka malik al-
mawt jadi setulus saja ia akan mengambil nyawa. Bermula yang diambil malik al-mawt //29// mengeluarkannya hanya Tuhan jua mengeluarkan, karena itulah bersalah-salahan ulama daripada pegang kepada ayat Quran. Setengah berpegang akan ‘qad yatawaffâkum mâlik al-mawt al-ladzî wakkala bikum tsumma ilâ rabbikum turja’ûn. Itulah yang diambil nyawanya malik al-mawt. Dan setengah ulama berpegang kepada ayat Allâhu yatawaffâ al-anfus hîna mawtihâ, itulah tiada diambil oleh malik al-mawt melainkan atas ma’rifat seseorang. Wallâhu a’lam bi al-shawâb wallâhu al-marja’ wa al-ma-âb, tammat kalâm.
Ilustrasi Martabat Tujuh & sifat dua puluh
syuhûd nûr ilmu nûr
wahdâniyah wahîdiyah wahdah ahadiyah
Af’âl namanya Asmâ’ Sifat zat namanya namanya namanya Alam arwah, alam mitsâl, alam ajsâm, alam insân
Wujûd, qidâm, baqâ, mukhâlifah li al-hawâdits, qiyâmuhu bi nafsihi, hayat, ilm, qudrah, irâdah, sama’, bashar, kalâm, ‘âlimun, qâdirun, murîdun, samî’, bashîr, mutakallim
//30// [halaman teks terpisah mengenai fadhilah zikir]. Fadhilah zikir, padahal adalah sekalian manusia itu menyebut zikir lâ ilâha illallâh mereka itu. Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam [berkata], ya ‘Aliy lâ taqûmu al-sâ’ah wa ‘alâ wajh al-ardhi man yaqûlu lâ ilâha illallâh. Artinya, maka sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam, engkau hai Ali, tiada berdiri kiamat itu pada atas bumi ini orang yang menyebut berzikir lâ ilâha illallâh. Fa qalâ ‘Ali, kayfa zakara yâ rasulallâh. Artinya, menyebut Ali amir al-mukminin ‘Ali radhiyallahu ‘anhu betapa aku zikir lâ ilâha illallâh ya rasulallah. Fa qâla ghammidh ‘aynaka wa isma’ minnî tsalâtsa marrât, qâla tsalâtsa marrât wa anâ sami’a. Artinya sabda Nabi Muhammad shallallâhu ‘alayhi wa sallam, hai ‘Ali pejamkan olehmu akan dua matamu dan dengar olehmu daripada ku zikir lâ ilâha illallâh tiga kali. Dari itu maka kata olehmu tiga kali padahal aku mendengar padamu. Fa qâla Nabi Muhammad shallallâhu ‘alayhi wa sallam lâ ilâha illallâh tsalâtsa marrât mughmidhan ‘aynayhi râfi’an sha[w]tahu. Artinya, maka zikir lah Nabi Muhammad shallallâhu ‘alayhi wa sallam dengan zikir lâ ilâha illallâh tiga kali, padahalnya memejamkan dua matanya dan menyaringkan suaranya dan amir al-mukminin ‘Ali radhiyallâhu ‘anhu mendengar dia. Tsumma qâla ‘Ali lâ ilâha illallâh tsalâtsa marrât mughmidhan ‘aynahu râfi’an shawtahu wa Nabiy Muhammad shallallâhu ‘alayhi wa sallam [sami’a]. Artinya, kemudian berzikir amir al-mukminin ‘Ali radhiyallahu ‘anhu dengan zikir lâ ilâha illallâh tiga kali padahalnya memejamkan dua matanya dan menyaringkan suaranya dan Nabi Muhammad shallallâhu ‘alayhi wa sallam mendengar dia. Inilah asal bersandar sekalian syaikh-syaikh mengajarkan murid-muridnya dengan zikir lâ ilâha illallâh sama seorang dengan muridnya. Maka adapun asal tempat //31// bersandar sekalian syaikh-syaikh mengajarkan muridnya dengan zikir lâ ilâha illallâh pada halnya berbanyak-banyak itu pada Syaddad ibn ‘Aws radhiyallâhu ‘anhu qâla: kunnâ ‘inda al-Nabiy Muhammadin shallallâhu ‘alayhi wa sallam, fa qâla hal fîkum gharbiyun, ya’ni ahl al-kitâb. Fa qulnâ, ya rasulallâh bi al-bâb, wa qâla irfa’û aydîkum wa qûlû lâ ilâha illallâh. Fa rafa’nâ aydînâ sâ’atan wa qulnâ lâ ilâha
illallâh. Tsumma qâla al-hamdu lillâh allâhumma innaka ba’atsnî al-jannah innaka lâ tukhlifu al-mî’âd. Tsumma qâla alâ ubasyirakum annallâha ghafara lakum. Artinya, berkata Syaddad anak ‘Aws radhiyallâhu ‘anhu: telah ada kami pada suatu hari duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, maka sabdanya adakah ada orang gharbi yakni Ahli Kitab, maka sembah kami, tiada ada ya Rasulallah. Setelah itu maka disuruh tutup pintu dan sabdanya, angkatkan oleh kamu sekalian tangan kamu dan kata oleh kamu sekalian zikir lâ ilâha illallâh. Maka angkatkan sekalian tangan kami seketika serta kami menyebut zikir kalimah lâ ilâha illallâh. Maka dari itu maka sabdanya segala puji bagi Allah ya Tuhanku bahwasanya telah ku sebutkan aku dengan kalimah lâ ilâha illallâh ini dan aku suruhkan dengan dia dan aku janjikan akan dia aku isyaratkan. Kemudian daripada itu maka sabdanya, ketahui oleh kamu sekarang aku khabarkan kamu dengan khabar kebajikan bahwasanya Allah ta’ala telah mengampuni dosa-dosanya kamu sekaliannya. Inilah asal bersandar segala syaikh-syaikh mengajarkan murid-muridnya pada halnya berbanyak-banyak berzikir.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Enam judul naskah yang tranliterasinya ditampilkan pada bab dua dapat dikategorikan kepada empat tema, pertama tasawuf, naskahnya terdiri dari: jalan ma’rifat, naskah sifat dua puluh dan naskah wirid dan doa, kedua mantra dan jimat, judul naskah: Mantra dan Jimat, ketiga, Kaba atau Cerita, judul naskah: kisah Muhamma Arif dan Keempat. Naskah Campuran, judul naskah naskah campuran.
Tiga naskah yang termasuk kategori tasawuf secara umum menjelaskan berkaitan dengan jalan mengenal Alloh melalui zikir, wirid dan doa. Dalam naskah Jalan Ma’rifat dituliskan jalan mengenal Allah sebagai berikut: ***“**maka ketahui olehmu akan* kelakuan jalan mengenal Allah itu. Inilah perbuatannya mengetahui akan nafsu yang empat perkara itu, yaitu: suatu nafsu, kedua anfas, dan ketiga tanaffus dan keempat nufus”. Dalam naskah wirid dan doa dijelaskan beberapa buah doa dan manfaat yang akan didapatkan bila membacanya sesuai dengan anjuran, misalnya dituliskan “Bermula dibaca doa ini dihadapan raja-raja pun kasih akan dia. Bermula jika dibaca doa ini berhadapan
dengan perempuan itu niscaya tiada tertahan hatinya kasih akan kita”.
Naskah mantra dan jimat berisikan berbagai bentuk tulisan yang dipergunakan untuk berbagai kepentingan, seperti azimat pakaian bermusuh, azimat penahan mulut orang, azimat jika kita berjalan jangan bertemu dengan musuh. azimat penahan hati orang pada kita.
Naskah berkaitan dengan kaba atau cerita yang sarat dengan nilai adat budaya, tata kerama dan pengajaran budi pekerti dan sikap, diantara pantun yang terdapat dalam naskah tersebut sebagai berikut:
Orang kancah laweh tangango tajarang di tungku ampek Gadang gajah di bawah mato jarang bana nan diliek
Terakhir, naskah yang isinya membahas banyak tema, seperti hari baik untuk bercocok tanam, fikih, dan tasawuf.
3.2. Saran
Pelestarian fisik naskah dan penggalian nilai-nilai terkandung di dalamnya sama pentinggnya. Oleh karena itu, kedua kegiatan tersebut sedapat mungkin selalu menjadi kegiatan yang dilakukan seiring sejalan dan berkesinambungan. Disisi lain, publikasi terhadap hasil digitalisasi dan transliterasi perlu disajikan semenarik mungkin dan se efektif mungkin, sehingga dengan demikian mutiara yang tesimpan dan nilai yang terkandung dapat diketahui dan menjadi landasan bersikap dalam kehidupan.
DAFTAR NASKAH
- Naskah Jalan Ma’rifat Syekh Lubuk Landur
- Naskah Kisah Muhammad Arif Karya Syekh Sulaiman
3.Naskah Mantra dan Jimat
4.Naskah di Pasaman (Campuran) - Naskah Sifat Dua Puluh
- Naskah Wirid dan doa