Baca PDF (OCR): RSDYK Zinedr

25 halaman · 25 halaman diproses dengan OCR· 43983 ms

Daftar isi
  1. RSDYK
  2. ZINE
  3. Catatan Perjalanan :
  4. dari Coldplay sampai Sunn O)))
  5. Gig Organizer Independent Yogyakarta :
  6. Regenerasi Pegiat Ruang Pesta
  7. Merunut Pola Medium Musik
  8. dan Memahami Penggunaannya
  9. Catatan
  10. Perjalanan
  11. Dari Coldplay sampai Sunn O)))
  12. Oleh : Dea Karina
  13. Spadaku, dengan syarat aku harus berangkat. “Pokoknya kabarin kalau udah
  14. Hari 1
  15. Hari 2
  16. Hari 3
  17. Gig Organizer
  18. Independen Yogyakarta: Renegerasi Pegiat
  19. Ruang Pesta
  20. Oleh: Titah AW (editor WARN!NGMAGZ/ [email protected])
  21. Udan manusia mencipta dalam ruang waktu. Karena sebaik-baiknya sebuah
  22. Tentang Mitos-Mitos dan Awal Gig Mandiri
  23. gig organizer via milis di Yahoo Group
  24. jika gig-nya menggunakan sistem tiket.
  25. juga terbentuk karena ada faktor isu
  26. Merunut
  27. Pola Medium
  28. Musik dan
  29. Memahami
  30. Penggunaannya
  31. Intro
  32. Chorus: Mekanisme Berbeda dengan
  33. Esensi Serupa
  34. Outro
  35. Rujukan
  36. jud", dalam MP3 Day Zine, Anitha Silvia dan Wok The Rock (ed.). Yogyakarta: Indonesian Netlabel
  37. u Live Msic Dundia Liveba lon Aruore gn // Dtchy
  38. ZSurvrve Gvrage
  39. W Rrs Miag aet Bdealtrt Bo Brrt vent
  40. Yohan Kasset M
  41. SAAE sanaO
  42. E///
  43. CH YRTA
  44. RE DO D017 图王
  45. RECORD STORE DAY
  46. RECORD REDAY

RSDYK

ZINE

[Halaman 2]

index

Catatan Perjalanan :

dari Coldplay sampai Sunn O)))

Dea Karina

Gig Organizer Independent Yogyakarta :

Regenerasi Pegiat Ruang Pesta

Titah AW [Halaman 7]

Merunut Pola Medium Musik

dan Memahami Penggunaannya

Michael H.B. Raditya [Halaman 13]

Pengantar Tidak banyak yang bisa disajikan untuk zine kali ini tapi kami yakin akan ada pengalaman yang nantinya akan bertebaran di media sosial nanti. Entah live streaming Instagram, atau sekedar twit lucu lucuan. Tetap seperti tahun sebelumnya Record Store Day 2017 ini diinisiasi oleh Jogja Record Store Club. Kurang lebih 30 pelapak ikut berpartisipasi. Kompilasi yang sengaja dibuat untuk memperingati hari ini sudah disiapkan oleh tim. Ya memang terbatas dari segi jumlah. Minimal untuk mengarsipkan karya musik band band yang bermukim di Yogyakarta. Rilisan rilisan yang menarik dari band band Indonesia akan ada juga di perhelatan acara ini. Datang dan rayakan Record Store Day 2017 Yogyakarta.

illustrasi untuk tulisan Gig Organizer Independent Yogyakarta oleh Kanosena Hartadi @habiskeramas

Foto foto diunduh dari freeimages.com

Catatan

Perjalanan

Dari Coldplay sampai Sunn O)))

Oleh : Dea Karina

ebulan yang lalu aku mendapat kabar bahwa salah satu temanku yang mempunyai tiket Coldplay akan berangkat umrah. Setelah berbagai cara dilewati untuk menjualnya, akhirnya dia putus asa dan memberikannya

Spadaku, dengan syarat aku harus berangkat. “Pokoknya kabarin kalau udah

beli tiket ya, awas kalau ga dipake". Pada saat itu, tiket Coldplay sangat susah dicari. Ditambah, walaupun aku tidak begitu mengulik Coldplay, namun lagu-lagu seperti Yellow atau Fix You merupakan lagu-lagu yang paling sering disetel apabila karaoke dengan keluarga ataupun teman. Kalau tidak salah pada saat lagu-lagu tersebut rilis saya masih SD apa ya, pokoknya mendengarkan itu mengembalikan banyak memori. Jujur, akupun juga tidak mengikuti lagu-lagunya yang baru, maka aku lebih suka lagu-lagunya yang lama, dan itupun tidak banyak. Karena teman-temanku dari kantor yang lama juga pada datang, yasudah aku dengan senang hati menerimanya. Sudah gratis, bisa kumpul sama temen-temen lagi. Lalu aku segera membeli tiket pesawat untuk tanggal 1 April siang (konsernya 1 April malam). Harga tentu tidak murah karena aku membelinya H-beberapa hari, haha. Tapi tiketnya gratis!

Hari 1

Pada tanggal 1 April pagi aku berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta. Dengan membawa paspor dan tas saja. Untuk trip ke Singapura, aku hanya membawa 1 stel baju tidur dan 1 stel baju pergi. Lupa membawa sikat gigi, sabun, shampo, dan

semuanya itu. Hanya ada HP, charger HP, dompet, kacamata, kamera Instax, dan 1 stel baju dalem, 1 stel baju tidur, dan 1 stel baju pergi untuk esok harinya. Ohya, dan jumper. Saya selalu rekomendasikan orang ketika traveling bawa jumper, karena pasti akan ada waktu di mana kamu ra mbentuk. Saya hanya memakai 1 tas ransel saja. Pada saat ini aku tidak berpikir apa-apa. Setelah nonton Coldplay, pulang ke Jakarta, dan tidurrrr. Di saat konser Coldplay, aku diberikan gelang yang bisa menyala sendiri. Wow?! Ini kayanya pertama kali saya nonton band besar yang fanbasenya bermacam- macam. Dulu biasanya nonton band yang di audiensnya bisa di bedhek lah. Lalu karena ini band yang sangat besar, semua yang berurusan dengan alat, venue, dan hal-hal fisik lain sudah pasti oke. Performance juga ya selayaknya band-band luar yang lain. Akupun ya menikmati sebisanya, karena tidak hafal lagu-lagunya. Cuma lightingnya keren banget dan menurut saya emang yang paling keren sepanjang saya nonton konser. Gelang yang bisa nyala-nyala berperan banyak.

Selama konser Coldplaypun saya juga bolak balik cek HP untuk lihat Whatsapp group YKBK. Stephen OMalley mau ke Jogja. Sayapun berpikir...Hmm. Kehidupan saya hari esok juga akan di airport. Apa sekalian aja ya? Mumpung habis gajian. Sebaliknya dari konser saya langsung ke tempat tidur dan berpikir. Hmm.. Oke cek
rekening Mandiri.. cek rekening BCA... hmm.. itung-itung.. cek harga tiket...
Fuck it. Beli malam itu juga. Jadi jalurku balik ke Indonesia adalah Singapura – Jakarta, makan, Jakarta – Yogyakarta, ketemu Stephen dan teman-teman, pulang ke rumah, tidur, paginya balik ke Jakarta lagi.

Lalu akupun panik setelah membeli karena juga tidak mempersiapkan apa-apa. Semua serba mendadak. Yaudah oke, untuk memahami Stephen orangnya gimana, aku baca beberapa interviewnya di berbagai macam media. Namun untuk make sure aku ga nanya pertanyaan goblok, aku tanya ke teman-temanku yang native English speakers buat mengoreksi grammar dan kira-kira pertanyaanku dapat diterima konteks orang luar nggak, ya.

Hari 2

Yaudah. Lalu aku ketiduran DAN TELAT BANGUN. Takut banget. Terus aku ga mandi, ga sikat gigi, masih pake baju tidur dan Cuma make jumper dan ganti jeans. Udah, berangkat. Pesen uber (ohya plis download uber kalau di sana). Sampai di sana langsung check in dan sebagainya, berangkaaat. Ngeng~ Ke Jakarta.

Sampai disana, aku capek. Kadang naik pesawat itu bikin stres karena kebayang kalau ada teroris yang ngebom atau tiba-tiba jatuh atau gimana. Terus langsung makan. Menunggu sejam, lalu check in ke flight Yogyakarta. Menunggu, lalu masuk pesawat.

Ngeng~ Ke Yogyakarta. CAPEK BANGET. Secara emosional dan fisik. Langsung naik kendaraan ke MES56, di mana Mas Stephen ada di sana bersama teman-teman dari YKBK.

Ngeng~ Naik mobil. Lalu di sana aku mencari tempatnya terus bingung, lalu disapa oleh Mas Ari, dengan bahasa tubuhnya yang seolah berkata “reneo”. Lalu akupun ndono. Lalu bertemu teman-teman dan ketawa. Mungkin rada gila juga. Lalu akupun dikenalkan dengan Stephen, dengan kondisi belum mandi dan belum sikat gigi. Sikil mambu. Tapi tidak apa-apa. Lalu aku berlanjut untuk mewawancaranya. Stephen sangat open dan sangat antusias dengan wawancaranya! Wah, interviewee yang berkualitas! Sebagai orang yang mewawancara, asik banget buat kedua pihak kalau sama-sama bisa eksplor satu sama lain. Diapun juga ingin tahu bagaimana musiknya dia aku asosiasikan dengan pengalaman dan referensi-referensiku Aku mencoba menjelaskan namun gagal. Banyak sekali yang dibahas, namun salah satu yang aku paling suka adalah tentang musik dan politik, karena relevan sekali di dunia sekarang. Kalau tidak disaring atau tidak ngerem, mungkin kita bisa jadi manusia yang hidup dalam bubblenya sendiri. Lupa akan keajaiban-keajaiban kosmos yang masih menunggu untuk dieksplor dan dimimpikan. Selengkapnya bisa baca di blog saya (hehehe), bukan untuk promosi Cuma saya kayaknya kalau nulis di sini kepanjangan. Ohya dan pada saat itu kamera Instaxnya berguna banget. Aku udah siap spidol permanen besar untuk tandatangan (penting, kalau mau capture dan dapet ttd bawa instax dan spidol gede kemana-mana!). Akhirnya Instaxnya dipakai buat bareng-bareng. Karena aku belum sikat gigi, saat masih di MES56 aku pergi ke CK untuk beli sikat gigi dan odol, lalu balik ke MES5. Ditertawakan, saya pun segera ke kamar mandi dan menyikat gigi. Wah, enakkk. Segerrr. Lalu setelah itu saya kembali ke teman-teman dan ikut duduk sampai Stephēn pamitan untuk pergi. Akupun juga harus tidur, 3 kota dan 2 negara dalam 1 hari. Capek, mau koleps. Lalu aku kembali ke rumah dan bertemu keluargaku yang tersayang.

Hari 3

Besok paginya harus bangun jam 5 pagi untuk siap-siap. Oke, beberapa jam berlalu dan aku sudah di bandara Adisucipto. Aku naik L*on Air, dan ternyataaaaaaaaaa delay 2 jam. Ternyata yang dari Bandara Soetta ada yang delay semalam?! Lalu aku segera menghubungi kantor dan ngabarin kalau akan telat. Ohya pesan yang penting, setiap telat, bawa makanan! Dijamin membuat teman-teman baik kembali. Pada saat itu saya bawakan donut Krispy Kreme buat kantor, dan berhasil bebas dari ketidakenakan. :D

sumber foto : blog personal Dea Karina bisa diakses di http://deakarina.me

Gig Organizer

Independen Yogyakarta: Renegerasi Pegiat

Ruang Pesta

Oleh: Titah AW (editor WARN!NGMAGZ/ [email protected])

ntuk menjamin kelangsungan sebuah ekosistem, proses regenerasi wajib ada. Begitupun dengan ekosistem musik dan pesta. Artikel ini mencoba merekam bagaimana proses itu terjadi di Yogyakarta. Bagaimana musik

Udan manusia mencipta dalam ruang waktu. Karena sebaik-baiknya sebuah

semangat, adalah semangat yang diteruskan.

Daftar Beberapa Respon Wajar Seputar Gig Mandiri di Yogyakarta:

  1. “Wah jigur, jebul ticketing toh!”
  2. “Anjing lagu sama visualnya tadi konseptual banget, masuk tenan!"
  3. “Lah nama acaranya Terror Weekend tapi kok hari Selasa?"
  4. “Ki acara band-band-an opo acara persami pramuka je?”
  5. “Aduh poster gig sehari kok ada lima, meh teko sing endi?"
  6. “Ku kira tempatnya jauh gini bakal sepi, jebul tep ramai yo”
  7. “Ki do main musik apa to? Ra cetho!"
  8. “Kentang ki, sing dodol Pondoh nengdi bos?"
    Jika anda adalah salah satu dari ratusan wajah yang kerap berseliweran di pulu- han acara musik independen yang diadakan tiap bulan di Yogyakarta, saya ya- kin anda bisa menambahi daftar di atas dengan mudah. Yogyakarta, khususnya bagian kancah musik independen sedang sangat bergairah. Di Yogyakarta, anda tak perlu menunggu sebuah event organizer besar atau himpunan mahasiswa di kampus merangkul pabrik tembakau untuk mengundang artis-atis papan atas demi sebuah malam yang tak terlupakan. Belasan gig mandiri diadakan seo- lah tak peduli besok hari kerja atau libur, dengan sound seadanya sampai yang menggelegar luar biasa, hura-hura sampai konseptual segala rupa. Tapi bagian paling menarik dari itu adalah ketika tahu bahwa orang-orang di balik keriaan ini bukan itu-itu lagi saja. Wajah-wajah baru hadir dengan semangat dan ide segar.

Sampai akhir 2015 lalu, nama kolektif Kongsi Jahat Syndicate dan YK Booking bisa dibilang cukup dominan jadi biang kerok pesta-pesta musik di Yogyakarta. Namun proses regenerasi yang manis terjadi. Perlahan namun pasti, publik mu- lai akrab dengan nama-nama baru seperti Sekutu Imajiner, Terror Weekend atau Ruang Gulma. Artikel ini mencoba merekam bagaimana linimasa gig organizer independen di Yogyakarta hingga perkembangannya sampai sekarang.

Tentang Mitos-Mitos dan Awal Gig Mandiri

Sebelum saat ini, ada beberapa stereotype tentang gig mandiri di Yogyakarta. Salah dua yang paling populer adalah bahwa gig mandiri harus diadakan di akhir pekan dan gratis. Dua poin ini ternyata tak muncul begitu saja. Satu dan lain

hal saling mempengaruhi dan mem-gawali terbentuknya sebuah jaringan buat kancah musik Yogyakarta tum- buh secara organik. Dari Indra Menus, seorang pegiat di kancah musik independen Yogyakarta, saya mengulik kronologis regenerasi ini. Sampai circa 90'an itu, bingar pesta musik di kota ini masih bersifat tahunan dan berbasis komunitas. “Biasanya sekali bikin, acaranya tuh gede. Di venue besar juga seperti gedung kelurahan atau kampus dengan skala 500-2000 orang," ujar Indra Menus mengawali ceritanya.

Tajuk-tajuk acara seperti People Head, Total Music Bawah Tanah, dan Biang Kerok Festival diadakan secara kolek- tif dalam naungan komunitas. Karena waktu penyelenggaraan yang jarang, dalam satu acara jumlah line up juga tak main-main yaitu bisa sampai 30 band dalam sehari. Untuk menutup tanggungan biaya sewa alat dan venue, mereka biasa melakukan iuran. Acara pertama yang bisa mengumpulkan para pegiat musik dari berbagai komunitas ini adalah Jogja Hari Ini #1 yang kala itu diadakan di kampus UPN Veteran. Jogja Hari ini #1 adalah gig non-hardcore/ punk yang menurut Indra Menus bisa mengumpulkan para pegiat musik dari seluruh Yogyakarta saat itu.

“Sebelum 2005, semua gig itu hari minggu atau hari libur. Sampai pada pertengahan 2005 ada band tur dari Jer- man, namanya Wojchech, itu band DIY hardcore/punk pertama yang tur di Indonesia. Ártinya mereka main di banyak tempat dan nggak cuma hari Minggu, tapi Senin dan Selasa juga," tutur Indra Menus. Agenda tur inilah yang mengu- bah standar waktu pengadaan gig di Yogyakarta dan memunculkan konsep gig di hari-hari biasa alias weekdays.

Tur Wojchech di Indonesia ini juga men-

gig organizer via milis di Yahoo Group

Messenger bernama INDO DIY (Indonesia Do-It-Yourself). Saat ini, iNDO DIY berpindah platform ke Facebook dan punya anggota makin banyak. Menghubungkan para pegiat pesta di 5 pulau dan lebih dari 40 kota, jaringan ini memungkinkan sebuah band untuk melakukan tur mandiri ke berbagai kota di Indonesia, tidak hanya di pulau Jawa.

Intensitas gig yang makin padat dan semarak ini memunculkan nama Bunker Cafe yang kemudian jadi salah satu venue legendaris di Yogyakarta. Bertempat di Jalan Magelang, Bunker Cafe jadi venue andalan berbagai acara musik di Yogyakarta. Menempati ruang tertutup dengan kapasitas sampai 500 orang, para pegiat gig independen ini mencapai salah satu titik jayanya. Pen- gelolanya, Joko Problemo/Anselmo jadi semacam penjaga gawang atas had- irnya pesta-pesta liar di venue bawah tanah ini. “Dulu kalau ada band Yogya belum main di acaranya Joko Anselmo, belum diakui," tutur Indra Menus menambahi. Noise for Violence, Sep- tember Ceria, seri Jogja Hari Ini, dan band-band yang mengadakan tur lang- ganan memanaskan moshpit di Bunker Cafe. Paska tutupnya Bunker Cafe di sekitar tahun 2009, orang yang diakui jadi salah satu aktivis gig mandiri di Yogyakarta ini lalu membuat organizer bernama ROXX. Saat ini, Bunker Cafe

telah sepenuhnya berubah jadi judul memori atas sebuah semarak pesta musik di medio 2000-an. Bangunan tempat Bunker Cafe dulu berdiri seka- rang sudah disulap jadi hotel bertingkat yang cukup megah di seberang Boro- budur Plaza.

VENUE

OHTE000

DECAY

N 福

Tutupnya Bunker Cafe inilah yang me-itu gratis, itu yang jadi masalah." munculkan stereotype bahwa gig in-Di saat bersamaan, konsep weekdays dependen harus gratis. Paska Bunker Cafe tutup, para gig organizer ini kesuli-gig ini kemudian memantik munculnya para organizer gig mandiri dalam skala tan mencari venue karena keterbatasan finansial maupun ribetnya birokrasi. Se-kecil namun banyak. Kongsi Jahat Syndicate misalnya, lahir dari kolaborasi 3 bagai solusi, cafe-cafe kecil yang sudah record label, yaitu Diorama Records, punya band set lengkap jadi pilihan. Comberan Records, dan Relamati Re-Sejak ini, venue gig di Yogya menye- cords. Gufi, salah satu pendiri Kongsi bar. Masalah kemudian muncul karena Jahat Syndicate mengaku sebenarn- para pemilik cafe kecil ini tidak memu- ya telah aktif mengorganisir gig sejak ngut biaya sewa venue, tapi menolak awal medio 2000. "Dulu itu terbentukn-

jika gig-nya menggunakan sistem tiket.

ya karena kami bandnya aneh-aneh, Kesepakatan ini membuat gig organiz- jadi jarang dipanggil sama komunitas er umumnya menggratiskan acara. In- manapun. Jadi yaudah bikin acara dra Menus menuturkan pola seperti ini sendiri. Sejak medio 2000, tapi nama jadi kebiasaan sampai akhir 2008. “Tapi akhirnya ketika venue-venue seperti ini Kongsi Jahat baru dipakai tahun 2005”. nggak ada, muncul venue yang berba-Kongsi Jahat Syndicate pada awalnya yar tapi publik terlanjur pahamnya gig

juga terbentuk karena ada faktor isu

internal di skena hardcore/punk Yogya saat itu. Menurut Indra Menus, pegiat skena hardcore/punk saat itu punya banyak aturan untuk membuat sebuah acara musik, semisal tidak boleh mer- angkul sponsor. Aturan yang kadang jadi terlalu saklek ini membuat gerak mereka menemui jalan buntu sendiri. Akhirnya Kongsi Jahat Syndicate muncul dengan semangat eksperimen untuk menciptakan gig yang layak, dengan sound bagus dan konseptual. Berbagai showcase besar seperti Tika and The Dissident, Efek Rumah Kaca, dan Seringai kemudian ditangani Kongsi Jahat. “Sebenarnya cah-cah Kongsi Jahat itu semacam orang-orang buan- gan yang nggak diakui di skena hardcore/punk, tapi membuat sesuatu yang lain. Salah satu tagline kami Get Out The Scene!, dan ternyata justru di luar skena ini diterima dan malah jadi pato- kan. Orang-orang sampai bilang 'kae Iho nek pengen nggawe acara di Kongsi Jahat,"” tutur Indra Menus.

Lahirnya YK Booking pun tak lepas dari Kongsi Jahat. Indra Menus yang saat itu aktif mengurus Relamati Records tidak ingin melupakan roots skena hardcore/punknya akhirnya membuat divisi baru di Kongsi Jahat yang khusus menangani gig musik keras dan tanpa sponsor. Berjalan beberapa bulan dengan anggaran minim dan terbentur ma- salah waktu, gagasan ini pun akhirnya sempat mandeg. Bangkitnya inisiasi ini kembali kemudian ditandai dengan ra- jinnya studio gig dan pengadan “Proyek Karpet”. Ide pengadaan karpet secara kolektif ini muncul karena para pelaku musik ini enggan menuruti aturan studio untuk mencopot sepatu ketika masuk ruangan. Keberhasilan proyek karpet yang dibeli secara kolektif ini meman- tik ide yang lebih besar lagi, yaitu untuk

melakukan crowdfunding untuk alat-alat musik.

Ide ini disambut sangat baik. Inisiasi ini bahkan sempat mendapat bantuan dana dari Sean Stellfox seorang peneliti untuk memberi beberapa alat. Baru si- sanya dilengkapi dengan crowdfunding. Lagi-lagi, masih dimotori Indra Menus, ide crowdfunding ini tak hanya menye- bar secara offline di acara-acara musik, tapi juga dibawa ke internet. Penjualan merchandise juga jadi salah satu cara paling ampuh. Nama YK Booking sendiri akhirnya muncul di pertengahan 2014 hanya karena proyek ini harus punya nama kolektif ketika didaftarkan ke si- tus crowdfunding. Pengumpulan dana secara kolektif ini sukses besar. “Di si- tus itu harus jelas YK Booking ini apa, butuh apa, sudah punya apa, mau dibawa kemana. Nah responnya justru lebih baik dari dari negeri. Dalam 2 minggu, kami dapat dana sekitar 500 dolar," terang Menus.

Pencapaian ini membuat pengadaan gig independen jadi sangat mudah. YK Booking pun jadi jujugan ketika ingin membuat gig. YK Booking sendiri mempersilahkan siapapun untuk meng- gunakan band set hasil crowdfunding dengan beberapa syarat yang sangat mudah. Sampai pertengahan tahun 2016, YK Booking terbilang sangat aktif membuat gig hardcore/punk atau lainn- ya. Dengan jumlah anggota sekitar 20 orang, mereka rutin membuat gig ham- pir setiap minggu, tak peduli hari masih ada di Senin atau Rabu.

Namun sebenarnya tak hanya Kongsi Jahat Syndicate dan YK Booking. Skena musik di Yogyakarta yang beragam juga punya pelaku masing-masing. Se- but saja Tugu Serentak Familia yang konsisten menghadirkan gig hardcore/

punk, Common People YK dengan musisi-musisi yang cukup edgy, YK Celt- ic Punk, ArtCore, Lingkar Hitam, WVLV Records, atau Jogja Noise Bombing yang makin progresif menciptakan gelaran noise internasional. Para pelaku ini menguasai skena musik independen Yogyakarta sampai sekitar 2016. Meski tak sampai menimbulkan titik kebosanan parah, namun beberapa orang mulai menyadari bahwa Yogyakarta harusnya punya punggawa pencipta pesta baru. Justru aneh jika di kota dengan pergerakan yang begitu dinamis justru buntu di salah satu skenanya.

Di bagian selanjutnya, akan ada profil para kolektif kesayangan kita semua: Sekutu Imajiner, Terror Weekend dan Ruang Gulma. Bagian kedua dan ketiga akan diunggah di WARN!NGMAGZ segera!

Merunut

Pola Medium

Musik dan

Memahami

Penggunaannya

Oleh Michael H.B. Raditya Peneliti LARAS – Studies of Music in Society, Penulis Partikelir [email protected]

Intro

Jika kita menilik atas perjalanan format musik dan pemutarnya, kita akan disadarkan bahwa konten yang didengarkan tunggal, yakni musik, tetapi cara mendengarkannya lah yang tidak seragam, melainkan beragam. Dimulai dengan cakram padat dengan tape atau pemutar portable layaknya cd player; kaset dengan walkman (pemutar portable) dan tape-nya; mp3 dengan mp3 player, ipod, dan teknologi sejenis; hingga musik online dengan pemutarnya, seperti: spotify music, joox music, deezer music dan semacamnya. Kemuncu- lan antara satu format dan pemutarnya pun tidak bersamaan, mereka hadir ber- gantian. Didasarkan pada seberapa maju perkembangan teknologi di zamann- ya—dengan pelbagai kontekstual yang merangkainya. Sebagaimana produksi teknologi dimaksudkan untuk mempermudah manusia yang menggunakannya, maka ideal dari para ahli teknologi adalah para manusia memperbarui sistem dan penggunaan kepada teknologi yang terbaru. Maka bagi mereka yang tidak memperbarui dengan teknologi terkini, beragam stigma dan terma negatif—entah kuno, ketinggalan zaman, kampun- gan, dan sebagainya—telah siap hinggap, disematkan secara paksa.' Alih-alih manusia tunduk pada stigma yang dibentuk, para pengguna teknologi tidak seluruhnya setuju' dengan 'kemajuan' yang diciptakan. Alhasil pelbagai sikap tegas untuk menolak atau kembali pada pola teknologi yang disukai secara personal, walau teknologi beberapa dekade silam pun dapat menjadi pilihan. Hal ini tentu menarik, di mana kemajuan teknologi dengan beragam pembaruan diposisikan menjadi salah satu pilihan dari teknologi-teknologi yang telah muncul sebelumnya. Dan kita memilih penggunaan teknologi tersebut tidak hanya didasarkan pada kemampuan mengakses atau eknomi semata, namun turut didasarkan pada pelbagai kontekstual lainnya, mulai dari kesenan- gan, prinsip, budaya, atau sosial sekalipun. Dari hal ini kita paham bahwa ada beragam alasan untuk menolak salah satu fitur pemutar musik tercanggih, namun tidak saya arahkan untuk menguak persoalan suka atau tidak suka, saya justru lebih tertarik atas pola penggunaan dari beragampemutar musik tertaut. Alhasil dengan memahami pola penggunaan musik dari zaman ke zaman, kita akan tahu alasan mengapa orang masih gemar menggunakan viny/ di era mille- nial?; dan, Mengapa kebiasaan Generasi Z yang mendengarkan musik dengan pemutar musik online?, dan seterusnya, juga sebaliknya.

Verse:Pemutar Musik dari Zaman ke Zaman Untuk memberikan gambaran awal, saya akan mengawalinya dengan menautkan sebuah tabel rangkaian waktu yang telah dibuat oleh Nicholas Cook atas media utama untukmenyampaikan musik yang telah direkam. Cook men- gidentifikasinya sebagai berikut:

Tabel 1 Main Media for the delivery of recorded music 1900s 78 rpm shellac disks (acoustic) 1920s 78 rpm shellac disks (electrical)

C. 1950 45 rpm vinyl disks (EPs), 33 rpm vinyl disks (LPs) 1958 Stereo LPs 1960s Also cassette tapes 1980s Compact disks 2000s Mp3 downloads
(Cook, 2009: 280) 2012s Music Online (Tambahan penulis)

Dari tabel pertama, kita telah ditunjukan oleh Cook bahwa sejak tahun 1900 hingga 1920an, telah mengidentifikasi bahwa shellac discs (sederhananya semacam vinyl) telah muncul secara akustik hingga secara elektrik. Dapat di- bayangkan bahwa gramophone merekam suara dengan kapasitas kecepatan hanya 78 rpm (revolutions per minute). Baru di tahun 1950, kecepatan dari perekam meningkat menjadi 45 rpm untuk EPs (Extended Play) dan 33 rpm LPs (Long Play). Yang cukup signifikan adalah pada tahun 1960an, di mana kehadiran kaset tape dalam industri musik. Sedangkan pada tahun 1980an, compact disks dengan kemampuan suara yang lebih jernih muncul. Pada tahun 2000an, semua teknologi pemutar musik sebelumnya ter- ganggu. Kemunculan MP3 tidak dapat ditampik, persebaran musik, dan pem- bajakan lagu secara ilegal masif dilakukan. Bahkan Cook turut mencatat bahwa “Since 2000 a whole new market has developed for mp3 downloads and players, such as the Apple iPod (and more recently iPhone), but they do not offer better sound quality than CDs” (2009:279). Dapat dilihat bahwa signfikan- si perusahaan berbasis teknologi mulai menjawab kebutuhan atas mp3, yak- ni ditandai dengan iPod. Sedangkan pada tahun 2010an, music online mulai hadir perlahan, namun 2015 akhir dan 2016 awal barulah music online dan pemutarnya mulai digandrungi. Cook mengidentifikasi musik dan medianya, di tempat di mana ia tercipta, bukan di Indonesia. Di Indonesia, piringan hitam cukup gencar digunakan, baik secara personal oleh kaum ningrat dan borjuis, ataupun secara kolektif bagi masyarakat kelas menengah dan bawah. Tercatat bahwa sejak tahun 1905 sebuah perusahaan Firma Tio Tek Hong telah aktif memproduksi piringan hitam di Indonesia (Sularto, 2012:170).Di bawah kolonialisasi Belanda, upaya persebaran luas vinyl mulai dilakukan, namun terbatas. Dua dekade silam, sekitar tahun 1993, saya masih mengalami mendengarkan piringan hitam dari ayah saya. Beliau mengoleksi beberapa piringan hitam pada dua rak terpisah, rak pertama berisikan piringan hitam dengan konten musik, sedangkan rak kedua adalah berisikan piringan hitam dengan konten film. Harga piringan

hitam memang tidak murah, namun ketika itu ada beberapa tempat persewaan piringan hitam, beberapa ada di Tebet, dan beberapa lainnya ada di Pancoran, Jakarta. Dari empiris yang saya alami, terjadi jarak waktu yang cukup panjang dalam penggunaan viny/di Indonesia. Bayangkan hingga tahun 1993 pun tempat penyewaan vinyl masih tersebar luas, sedangkan jika merujuk pada idenfitikasi Nicholas Coke (tabel 1), pada tahun tersebut sudah era compact disc, bahkan kaset pun sudah lewat. Ketertinggalan akses ini tentu bisa dilihat sebagai sebuah kekurangan aksesibilitas, namun alasan penggunaan, kenyamanan, dan lingkungan yang masih menggunakan vinyl sangat mempengaruhi penggunaan pemutar musik secara individual. Alhasil terma ketertinggalan bisa kita tanggalkan. Pada tahun 1993, piringan hitam mulai diganggu oleh sebuah pemutar musik yang lebih praktis. Adalah tape (pemutar kaset) menjadi alternatif baru dalam mendengarkan musik. Semenjak kaset dan tape dilirik oleh para konsumen, penyewaan piringan hitam mulai gulung tikar satu per satu. Tape tadi tidak hanya digunakan untuk memutar pita kaset, melainkan juga digunakan sebagai radio. Harga kaset yang tidak semahal vinyl pun membuat kepemilikan akan kaset berkembang pesat. Pun turut didudukng dengan hampir tersedianya kaset di setiap toko yang berukuran tanggung—tidak besar tidak kecil. Cukup lama dengan kaset, di tahun 1996 kaset tidak hanya dapat diputar di rumah, melainkan di jalan sekalipun. Teknologi tersebut bernama walkman. Semenjak terkenalnya walkman, seseorang dapat mendengarkan musik di mana pun berada dengan aktivitas yang beragam, baik berolahraga, ataupun berkendara sekalipun.

Di tahun 1999, paska penggulingan Soeharto, kemunculan cakram padat dengan pemutarnya di tape dan pemutar portable-nya (baca: CD Player) berkembang baik. Cakram padat pun mempunyai keuntungan dari kualitas su- ara yang lebih baik ketimbang kaset. Di Indonesia, khususnya Jakarta ketika itu, terdapat dua mekanisme mendengarkan lagu yang berkembang, yakni kaset dan cakram padat. Alhasil banyak orang memperbarui tape mereka dengan pemutar kaset dan pemutar cakram padat sekaligus. Tentu jika dirujuk pada identifikasi Nichola Cook (tabel 1), penggunaan musik yang telah saya akses dirasa cukup tertinggal. Bayangkan saja, pada tahun 1960-an, di mana era Orde Lama goyah, di Barat telah menciptakan kaset. Sedangkan setahun sebelumnya, Soekarno baru saja menutup akses budaya Barat di Indonesia. Namun bukan berarti penggunaan viny/ berhenti begitu saja. Pasalnya, pemuda ketika itu tetap mendengarkan lagu Barat namun dengan cara sembunyi-sembunyi. Sedangkan paska penumbangan Orde Lama, di era Suharto yang mengusung pembangunan ekonomi—serupa dengan gagasan Bung Hatta ketika sebelum pisah ranjang' dengan Soekarno—Indonesia mulai menerima kembali budaya Barat, tentu dengan beragam material, mulai dari musik, kaset, dan sebagainya. Tanpa mengeyampingkan historis kaset, namun penggunaan vinyl dan kaset di waktu itu mempunyai lajur penggunaan yang berbeda dengan rangkaian tahun penggunaan di Barat. Bahkan saya baru mendengarkan kaset di tahun 1990an, satu dekade kemunculan compact disc. Sedangkan mengakses cakram padat baru terjadi ketika Soeharto turun tahta. Jika merujuk catatan Thom Holmes, yang senada dengan pemba- bakan dari Nicholas Cook, runutan waktu yang kronologis antara format musik dan pemutarnya, sebagai berikut: "In the United States, the number of pre- recorded cassettes produced each year in the 1970s and early 1980s was about the same as the number of LP albums. Major record companies frequently is- sued tape versions of their new discs, and both for- mats were listed in Schwann and other catalogs of new releases. Sales were enhanced by the introduction of the Walkman (a small portable player), by the Sony Corporation, in 1979. The arrival of the compact disc in 1983 changed the market situation, and digital technology was applied to tapes as well. The sale of traditional stereo cassettes remained high, however, particularly among less discriminating enthusiasts, well into the 1990s(2006:43-44). Kendati parameter Holmes adalah Amerika, namun runutan waktu tersebut sekiranya dapat memberikan gambaran yang cukup jelas antara kaset, cd, dan pemutarnya. Data yang cukup menarik adalah kemunculan walkmandi tahun 1979 dari perusahaan Sony, setahun sebelum ketenaran cakram padat. Namun kemunculan Walkman dengan fitur radio, telah muncul sejak tahun 1976, dan radio mobil pertama diluncukran pada tahun 1930 (Holmes, 2006: 88). Di tahun 1983, compact disc membuat konstelasi pasar berubah hingga era tahun 1990an. Di tahun tersebut, persaingan dilakukan antara Philips dan Sony. Melanjutkan kronologis yang saya alami, era 1990an masyarkat Indo-

nesia mulai mengenal komputer. Beberapa tahun berselang, perkembangan komputer turut dipercanggih dengan pemutar cakram padat. Terdapat sebuah fitur ripping (baca: extrak file audio) di dalam komputer membuat file cakram padat dapat disimpan di dalam komputer dan bisa dimainkan sewaktu-waktu, bahkan tidak membutuhkan cakram tersebut. Tidak lama berselang, pada tahun 2000, format MP3 mulai dikenal di masyarakat. Format tersebut berukuran lebih kecil namun mempunyai suara yang lebih rendah ketimbang cakram padat. Di sisi yang lain, keadaan kaset mainstream mulai menurun dengan sig- nifikan. Tahun 2000an, MP3 dan cakram padat lebih dipilih untuk digunakan. Keuntungan dari MP3 adalah dengan kapasitas memori yang sama, namun dapat menyimpan lagu lebih banyak ketimbang cakram padat. Kemunculan dan berkembangnya MP3 membuat pembajakan semakin tinggi. Alih-alih merdeup, MP3 bajakan' justru dicari, baik di pertokoan, lapak pinggir jalan, atuapun di tempat persewaan. Bersamaan dengan maraknya bajakan di Indonesia, perusahaan milik alm. Steve Jobs, Apple, memproduksi iPod, pemutar musik portable yang dapat menyimpan data cakram padat atau- pun MP3. Saya pun turut membelinya di tahun 2003. Selanjutnya, tidak hanya Apple, perusahaan asing lainnya turut memproduksi pemutar yang hampir se- rupa. Masyarakat dibuat' tidak membutuhkan bentuk fisik, karena semua telah disederhanakan menjadi nirfisik. Dalam hal ini, kepemilikan atas musik tidak lagi didasarkan akan piringan hitam, cakram padat, dan kaset, melainkan pada pemutar musik dengan kapasitas yang besar. Berkenaan dengan hal ini, banyak perusahaan kaset dan cakram padat 'terpaksa' menutup toko atau gerai mereka di pusat perbelanjaan. Bertolak pada kemunculan MP3, Indonesia dalam persebaran produk tersebut tidak terlalu tertinggal dari apa yang diidentifikasi oleh Nicholan Cook (tabel 1). Beragam alasan pun mempengaruhinya, salah satunya adalah bentuk MP3 yang dapat diaskes menggunakan internet. Namun sebagai informasi tambahan atas MP3, Holmes memberikan data sejarah bahwa: Development of the audio le format that would become MP3 began in Germany in 1987 un- der the direction of Dieter Seitzer at the University of Erlangen in Nuremberg. The Fraunhofer Institut Integrierte Schaltungen holds key patents for the tech- nology(2006:202).Namun MP3 baru populer dan memenuhi bentuk ideal pada tahun 1998. Holmes turut menambahkan: The first commercially available MP3 player in the United States was the Eiger Labs F10, introduced in 1998 with 32MB of le storage. This was followed the same year by the Diamond Multimedia Rio PMP300, the first portable digital music player to gain widespread attention. This led to the rapid development of players by other compa- nies and the incorporation of music players into PDAs and cell phones. (2006:75). Jika MP3 sebagai format muncul di tahun 1998. Beberapa tahun setelah beberapa perusahaan muncul untuk memberikan fasilitas dalam mendengarkan MP3. In 2001, Apple Computer announced the iPod, its first portable

music player, and iTunes, a digital music service providing affordable downloads while at the same time protecting artists' rights by incorpo- rating a copy-protection scheme known as Protected Advanced Audio Codec. Although not using MP3 as the le format for its own iTunes service, the iPod remained compatible with MP3 les obtained from other sources. The success of the iPod was astounding. By the first quarter of 2005, Apple was selling more than 5 million units per quarter. Microsoft, Sony, Dell, Samsung, and many other companies now produce digital audio players using a variety of music compression schemes(Holmes, 2006:75). Dari data yang ditulis oleh Holmes, kita dapat melihat sebesar apa Apple mengeruk keuntungan untuk kebutuhan pemutar MP3 oleh masyarakat. Namun di sisi lain kita dapat melihat betapa kebergantungannya masyarakat pada pemutar MP3. Data tersebut secara umum Apple kemukakan secara general— untuk seluruh belahan dunia—, tidak merujuk pada Indonesia secara khusus. Sedangkan di Indonesia, Apple merupakan produk yang cukup mahal, ia dilirik oleh kalangan borjuis dan borjuis kecil, tetapi tidak dilirik oleh mereka yang berpenghasilan minim. Daripada membeli iPod, mereka lebih memilih membeli minyak dan beras untuk kebutuhan sehari-hari. Alhasil untuk menafikan se- mentara peran MP3, kaset dan cd masih digunakan. Dan untuk mengganti Apple product, masyarakat membeli produk pemutar yang tidak didasarkan pada merk tertentu. Ketika itu marak munculnya iPod KW (palsu dengan kualitas satu tingkat di bawah barang asli). Tidak hanya iPod KW, beberapa perusahan memproduksi MP3 Player dengan harga yang lebih terjangkau. Beberapa membelinya dan beberapa memilih untuk memutarnya di telepon genggam, atau di aplikasi winamppada komputer masing-masing. Alih-alih usai, di tahun 2015 sebuah pemutar musik online mulai di- populerkan. Sebuah skema baru muncul, yakni memudahkan pengguna untuk mencari musik secara manual, dan mengirimkan ke MP3 Player, iPod, ataupun telepon genggam. Kebutuhan atas mencari musik idola dipermudah dengan cara memutarnya di aplikasi yang mereka buat—dan itu dibebankan pada kuota internet. Bersamaan dengan itu, mulai bermunculan aplikasi bernama Spoti- fy, Deezer, Rdio, Rhapsody, Guvera, Pandora, Tidal, Apple Music, dan Google Play Musik -yang baru rilis juni kemarin [tahun 2015] pun turut berkontestasi dalam mengoperasionalkan pemutar musik tersebut (HB Raditya, 2015:8). Di Indonesia sendiri, aplikasi tersebut mulai digunakan dengan marak di tahun 2016, dan dominasi penggunaannya lebih terasa di tahun 2017 ini. Terlebih didukung oleh para penyedia kuota—perusahaan besar penyedia kuota, sep- erti Indosat, Teikomsel, XL, Smartfren, 3, dan sebagainya. Perusahan-perusahaan tersebut menyediakan pelbagai fitur yang telah integral dengan pemutar musik online. Namun, belakangan ini terdapat pola yang tidak kalah menarik, di mana masyarakat mempunyai kecenderungan tidak meninggalkan teknologi pemutar yang telah muncul sebelumnya. Teknologi lama tersebut tidak usang diting- galkan. Masyarakat tidak semuanya bermigrasi' cara penggunaan pemutar

musiknya kepada teknologi terkini. Kendati tidak bisa dipukul rata pada semua masyarakat, terlebih upaya yang paling terlihat atas hal ini adalah rekan-rekan indie. Beberapa musisi Indie menggunakan teknologi lama, seperti vinyl, kaset, dan cakram padat untuk musik mereka. Dan salah satu pesta atau momentum mereka per tahun adalah Record Store Day, khayalnya di tahun 2017 ini. Ke- giatan itu menjadi wacana alternatif dalam mendengarkan musik, mulai dengan piringan hitam dan pemutarnya; kaset dan tape-nya; hingga pemutar cakram padat sekalipun. Hari tersebut mereka gunakan untuk menjual koleksi langka, hingga merilis album baru dengan format yang berbeda dari musik mainstream pada umumnya. Menarik!

Chorus: Mekanisme Berbeda dengan

Esensi Serupa

Beralihnya zaman membuat pola konsumsi musik—termasuk di Indo- nesia—berubah dengan pesat. Perubahan tersebut turut membuat format, cara penggunaan, logika, dan kesenangan mereka berubah. Setiap medium pemutar musik mempunyai cara penggunaan serta kesenangan yang tentu berbeda dengan kesenangan lain. Belakangan ini, di instagam kerap kita melihat meme yang menanyakan relasi pensil dengan kaset, dan sebagainya. Bagi mereka yang merasakan era kaset, maka meme tersebut memunculkan rasa kerinduan' tertentu, bagi mereka yang tidak merasakan, maka meme tersebut tidak bermakna. Jika ditilik lebih lanjut, dari meme tersebut, pensil dan kaset meru- juk pada salah satu cara ketika anda ingin mempercepat atau memperlambat, maka anda dapat memutarnya secara manual; pensil juga digunakan ketika pita kaset bundet'. Bertolak dari meme tersebut, kerinduan yang dimunculkan adalah seluk beluk atas penggunaan kaset. Dari sini setidaknya kita tahu bahwa setiap pemutar mempunyai cara dan kenikmatan dengarnya masing-masing. Bertolak dari hal ini, seorang scholar media turut menganalisis perubahan tersebut. Adalah Silverstone, yang mengemukakan teori mediation dalam mengartikulasikan perubahan cara tersebut. Mediation merupakan dialektika fundamental yang mana menyadar- kan kita untuk paham proses komunikasi dalam dua bentuk, institusional dan teknologi, yang mengatur sekaligus melekat—ada secara tidak sadar. Selan- jutnya, ia menautkan bahwa mediation membuat kita memahami bagaimana proses komunikasi turut mengubah mereka yang berpartisipasi, tidak hanya di tingkat kolektif (baca: lingkungan), tetapi juga di masing-masing personal (2005:189). Kendati teori ini telah disanggah karena pelbagai alasan, seperti tidak menguak pola yang mendalam dalam logika penggunaan musik serta im- plikasi sikap, dan sebagainya. Secara mudah, teori ini dianggap hanya menggambarkan aktivitas yang muncul perubahan medium saja, semisal dari kaset ke online dan penyesuaian dan sikap apa yang muncul setelahnya. Maka kritik atas teori mediation muncul karena dianggap kurang mendalam hingga ke seluk beluk pengorbanan indi- vidu dalam menggunakan pemutar musik tersebut. Lalu, seorang scholar lain,

Couldry hadir dengan teori Mediatization. Dengan kerangka yang menguak perubahan mekanisme dan pola pikir dalam mendengarkan musik. Couldry men- jelaskan logika transformatif antara penggunaan media ke kehidupan sosial budaya masyarakat. Kerangka yang diberikan Couldry cukup jelas, di mana perubahan dari membeli satu kaset untuk satu band di toko berubah menjadi satu cd dengan beragam band dalam MP3, dan seterusnya dengan musik on- line yang lebih sederhana dan nirfisik. Teori ini selanjutnya menguliti pola apa saja yang muncul dan logika bagaimana yang tertanam. Jika anda merasa mulai tergesa untuk berhenti membaca karena mulai membosakan, maka tunggu dulu. Pasalnya saya tidak akan menerapkan teori ini secara gamblang di dalam tulisan tengah anda baca. Hanya saja, saya cuma menautkan adanya teori-teori ini untuk menyingkap bahwa pola perubahan penggunaan media yang kita lakukan, ternyata turut merubah logika kita para penggunanya, mulai dari tingkatan konseptual hingga aktivitas praktis sekali- pun. Hal ini bisa anda refleksikan tentunya. Bertolak dari dua teori tersebut, maka kita sedikit tahu akan perubahan media yang ternyata membuat penggunaannya turut berubah, hal ini tentu yang memunculkan cara dan kesenangannya berbeda-beda. Dan penggunaan musik yang variatif membuat perbendaharaan sikap dan logika turut beragam. Namun sebagaimana kesenangan milik personal, teknologi tidak dapat memaksa pendengar untuk tunduk pada satu cara. Yang lebih mengasyikan, alih-alih teknologi lama gugur karena teknologi baru, para pemuda khususnya rekan-rekan indie berlaku ‘seenaknya'. Mereka ingkar atas janji-janji kemajuan teknologi, mereka bahkan kembali pada penggunaan teknologi yang muncul sebelumnya. Sangat 'kurang ajar' bagi perusahaan Apple dan sebangsan- ya. Kontra-produktif bagi mereka para penjaja medium musik, namun sangat menarik dalam pilihan sikap. Ini bisa saja diartikan sebagai cara melawan arus mainstream, namun jika ditautkan pada logika media, ini dapat ditautkan pada pencarian pengalaman musikal yang personal, antara pedengar dan medium yang digunakan. Dengan keberagaman kehadiran medium dan pilihan untuk memilih di antranya, medium memberikan pendengar sumber daya simbolik dalam membangun dan mengungkapkan identitas mereka masing-masing. Dimulai dengan pilihan akan medium apa akan mereka gunakan ketika mendengarkan musik. Alhasil musik yang dapat diartikan tunggal, sebagai konten dari beragam format, berdampingan dengan beragam medium yang muncul di setiap dekade. Maka kontestasi penggunaan medium lah yang mereka gunakanuntuk menunjukan kedirian apa yang ingin dibentuk, entah secara personal ataupun komunal. Lantas, jika semua itu medium, maka apa yang sebenarnya kita den- garkan dari walkman atau cd player yang sedang kita genggam?; Apa yang tengah kita nikmati dari ipod, mp3 player yang berada di saku jeans yang dike- nakan; atau, Apa yang kita dapatkan dari membeli kuota internet guna memutar aplikasi spotify, joox, dan aplikasi semacamnya? Tidak hanya itu, mengapa hal itu kerap kita gunakan untuk mewakili perasaan? Mengapa kita turut memutarn- ya untuk sembari menemani di tengah aktivitas? Dan mengapa itu semua kita

lakukan dan ulangi di setiap harinya? Jika dapat dijawab dengan sederhana, bahwa material utama yang dikonsumsi, baik kaset, cd, mp3, pemutar musik online, ataupun gigs, konser, vcd, dan dvd, adalah musik, bunyi, alunan, suara, dan semacamnya. Maka jika benar musik yang kita cari, maka kita perlu paham bahwa ketergantungan akan medium tercanggih dan terbaru dapat disanggah. Jika musik yang sebenarnya anda cari, maka mendengar dengan medium apa pun bisa anda pilih. Dan kembali ke kaset, cd, atau vinyl adalah sikap yang bijak. Di mana mendengarkan musik tanpa perlu hanyut akan konstruksi yang tengah dibentuk oleh mereka, para penjual dan pengkomodifikasi teknologi. Alhasil kita dapat paham akan alasan mengapa menggunakan medium tertentu dalam mendengarkan musik, tidak hanya ikut-ikutan untuk dianggap keren dan kekinian.

Outro

Tulisan ini tidak ditujukan agar anda anti dan membenci teknologi, me- lainkan paham atas pola yang ditanamkan sehingga dapat secara bijak dalam penggunaannya. Dengan paham akan penggunaan, anda tentu tidak akan ke- beratan untuk mendengarkan musik melalui medium lain selain pemutar musik online. Dan tantanglah diri anda untuk mendapatkan kenikmatan dalam mendengar musik dengan beragam medium layaknya yang rekan-rekan indie lakukan, salah satunya adalah Record Store Day. Momen Record Store Day ini pun saya anggap bukan sebagai ajang lapak semata, namun juga diartikan sebagai momentum atas pilihan alternatif yang rekan-rekan indie usung. Dengan cara ini, beragam kooptasi dari perusahaan musik mainstream yang [kini] dengan sesukanya menggunakan terma indie sebagai tajuk acara mereka, dapat disikapi dengan dingin. Pasalnya, pasar yang renta dengan komodifikasi itu seenaknya, mereka dapat menggunakan terma tersebut sesukanya. Senada dengan pernyataan tersebut, Heath and Potter sependapat. Mereka menyatakan bahwa: Pada awalnya, sistem [mainstream] hanya mencoba men- gasimilasi perlawanan dengan mencaplok simbol-simbolnya, men- gosongkan muatan “revolusioner”nya, dan menjualnya balik ke massa sebagai komoditas. Karenanya sistem berusaha menetralisir budaya-tanding dengan menumpuk barang-barang penggantinya ini sampai sedemikian tinggi hingga orang pun lupa akan maksud revolusioner dari ide-ide baru tersebut (2004:43). Sesuai dengan apa yang kerap terjadi belakangan bahwa, terma indie digunakan oleh perusahaan musik mainstream, menanggalkan muatan revolusionernya, dan menjualnya ke massa sebagai komoditas—barang dagang. Maka dengan Record Store Day, di mana aktivitas kaset dan cakram padat kembali dipasarkan, yang tentu berkebalikan dengan perusahaan musik mainstream lakukan, sebuah sikap melawan' tengah dilakukan. Perusahaan musik mainstreamyang orientasi pasar tidak akan melakukan hal tersebut, para pendengar musik umum pun tidak mungkin secara menyeluruh 'hijrah' ke

medium kaset. Namun itu bukan suatu masalah, pasalnya Heath dan Potter menegaskan bahwa gaya budaya-tanding [seperti indie], berawal sebagai sesuatu yang sangat ekslusif (2004:161). Di mana tidak sekonyong-konyong semua orang menggunakannya, hanya terbatas bagi sedikit kelompok saja. Justru jika banyak orang menggunakannya, maka budaya-tanding rekan- rekan indie ini akan berubah menjadi mainstream, dan jika hal itu terjadi, maka 'pemberontakan' baru perlu dimulai.[

Rujukan

Cook, Nicholas. 2009. “The Economic and Business of Music” dalam An Introduction to Music Studies, J.P.E Harper-Scott dan Jim Samson (ed.). Cambridge: Cambridge University Press. Heath, Joseph dan Andrew Potter. 2004. Radikat itu Menjual: Budaya perlawanan atau Budaya Pemasaran? Jakarta: Antipasti. Holmes, Thom. 2006. The Routledge Guide to Music Technology. London: Routledge. Raditya, Michael HB. 2015. “Apropriasi Distribusi MP3 di Era Nirwujud dan Post-nirwu-

jud", dalam MP3 Day Zine, Anitha Silvia dan Wok The Rock (ed.). Yogyakarta: Indonesian Netlabel

Union. Silverstone, R. (2005), The Sociology of Mediation and Communication, in C. Calhoun,

C. Rojek, and B. Turner (eds.), The Sage Handbook of Sociology, pp. 188–207, London: Sage. Sularto, Bambang. 2012. Wage Rudolf Supratman. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.

KR

06 E Macpat I

u Live Msic Dundia Liveba lon Aruore gn // Dtchy

ZSurvrve Gvrage

S

W Rrs Miag aet Bdealtrt Bo Brrt vent

U

Yohan Kasset M

/os au K 6 K

K

A

SAAE sanaO

P P

E///

A A SERNCOM urnecom S Risa]Sao sope od / os Hog oo / ecca eoradsoos tst / / t a/ / o ea/o // eaeog / ae y // Rae // Ry ung// l //Nuurt ua // ra // krat t // k // ea ecIokr) fn)

CH YRTA

RE DO D017 图王

三 Holues oopaod TAGAULUH BERIIID cireooeco georeig FREE ETRYSatut 2 2017Start .2-.0 23Buoh o nh ooAnin SeeII i '.unmq. taJ01OMV1OMARNGibua

10 YEARS CELEBRATING THE INDIE RECORD STORE APRIL 22, 2017

RECORD STORE DAY

10th

RECORD REDAY

STO

22.04.2017