Baca PDF (OCR): 2005-Buku-Dzikir dan ketenangan jiwa

57 halaman · 57 halaman diproses dengan OCR· 67823 ms

Daftar isi
  1. ZIKIR DAN KETENANGAN JIWA
  2. (Kajia ala Aa Aspe Naska Kun daau-Salikin)
  3. Hasimi S.Ag, dkk
  4. PENGOLAHAN
  5. No.lav. :
  6. No. IKlass. : 297-323/21K
  7. Tgl. Terima:
  8. (KAJIAN SALAH SATU ASPEK NASKAH
  9. Cetakan pertama, 2005
  10. ISBN :
  11. hitamnya air laut yang menjemput kami
  12. DAFTAR ISI
  13. BAB II PENGARUH ZIKIR TERHADAP KETENANGAN
  14. BAB IV PENTUP ...
  15. BAB II
  16. ALIH AKSARA NASKAH
  17. Alih Aksara
  18. ampunan mereka itu akan Dikau. Maka firman-Nya : Aku saksi
  19. peliharaan mereka itu akan Daku. Maka sembah segala malaikat itu :
  20. sanya lalu ia di mereka itu dan duduk ia berzikir serta mereka itu. Maka
  21. firman Allah ta'ala : Dan ia pun telah Kuampuni bagi mereka itu karena
  22. kemuliaan zikir dan kemegahannya atas yang lain dari pada segala
  23. perkara yang kepujian. Awwaluhaa amtastaa-alu amrullaahi
  24. itu yang percaya akan Allah ta'ala, sebut oleh kamu akan zikrullah
  25. dengan sebut yang amat banyak dan ucap oleh kamu akan tasbih
  26. pada pagi-pagi dan petang-petang. Ats-tsaaniyatu drikrullaha
  27. Alih Aksara
  28. Alih Aksara
  29. duduk berbuat kejahatan. (317) Al-hadiyatu walts-tsalaasuuna
  30. Alih Aksara
  31. Alih Aksara
  32. Alih Aksara
  33. berhimpun segala ulama yang dahulu-dahulu dan ulama yang
  34. demikian sunnah berzikir di dalam perhimpunan orang banyak
  35. baginya, Bermula zikir sirr itu terlebih apabila bagi orang yang
  36. dengan zikrullah ta'ala. Dan karena inilah kata ulama : Idzaa
  37. akan Allah ta'ala dengan pengenal yang putus niscaya lidahnya".
  38. orang yang arif itu memfikirkan Allah ta'ala dengan hati mereka
  39. Alih Aksara
  40. Alih Aksara
  41. Alih Aksara
  42. (328) adab zikir yang tersebut itu lazim bagi orang yang memberi
  43. Alih Aksara
  44. Alih Aksara
  45. BAB III
  46. Pengaruh Zikir
  47. Pengaruh Zikir
  48. Pengaruh Zikir
  49. mengantarkan seorang ghalib lebih cepat dekat kepada Allah SWT.
  50. dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah zikir jihar, yakni zikir yang
  51. bahwa·para ulama sependapat tentang keutamaan zikir jihar yang
  52. Pengaruh Zikir
  53. Pengaruh Zikir
  54. lebih penting adalah pakaian yang halal. Tidak boleh pakaian
  55. g. Menyerupakan rupa syekhnya antara kedua matanya. Hal
  56. Pengaruh Zikir
  57. Tatkala padam sifat basyanah dart was-was, maka sucilah
  58. hatinya daripada segala syak dan prasangka terhadap Allah SWT. Dalam tahap ini lidahnya tetap mengucapakan
  59. kalimah Laaillaahaillallaah dan mentahdirkan dalam
  60. hatinya dengan makna kalimah Laa mathlubi illallaah.
  61. . Setalah lenyap segala rasa khawatir maka dengan tetap lisannya mengucapkan kalimah Laaillaahaillallaah, hatinya
  62. Pengaruh Zikir
  63. Pengaruh Zikir
  64. Pengaruh Zikir
  65. yang selalu berzikir dengan zikir yang banyak, yakni zikir yang tidak
  66. Pengaruh Zikir
  67. telah Kuampuni bagi mereka itu dan aku beri akan mereka itu barang
  68. Pengaruh Zikir
  69. DAFTAR PUSTAKA

ZIKIR DAN KETENANGAN JIWA

(Kajia ala Aa Aspe Naska Kun daau-Salikin)

Hasimi S.Ag, dkk

Badan Perpustakaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

PENGOLAHAN

No.lav. :

No. IKlass. : 297-323/21K

Tgl. Terima:

ZIKIR DAN KETENANGAN JIWA

(KAJIAN SALAH SATU ASPEK NASKAH

KUNO HIDAYATUS-SALIKIN)

Hak Cipta 2005, pada penulis Hak Penerbitan : BKSNT Banda Aceh

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apapun tanpa izin dari penerbit

Cetakan pertama, 2005

Penulis : Hasimi, S. Ag. Dra. Sri Waryanti Iskandar Eko Priotomo, S.S. Cut Nadia Fitrina, S. Sos.

Editor : Sudirman, S.S. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh

Zikir dan Ketenangan Jiwa (Kajian salah satu Aspek Naskah Kuno Hidayatus-Salikin)

ISBN :

Setting/Layout : Sudirman, S.S. Pewajah Kulit : Iskandar Eko Priotomo, S.S.

Penerbit : Badan Perpustakaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 2005

ii

SAMBUTAN Kepala Badan Perpustakaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

Buku yang berjudul Zikir dan Ketenangan Jiwa (Kajian salah satu Aspek Naskah Kuno Hidayatus Salikin), yang ditulis oleh Hasimi,

S. Ag., dkk. Merupakan sumbangan yang sangat berarti bagi tambahan wawasan dan pengetahuan. Sebagaimana diketahui bahwa kehidupan di dunia pada hari ini, termasuk pada tingkat lokal dan nasional sedang dilanda krisis nilai-nilai terutama apabila dilihat dari dimensi akhlak dan kerohanian. Masyarakat dunia sekarang ini sepeti dalam keadaan sakit karena dalam kehidupan moderen, akhlak dan nilai-nilai kerohanian yang sangat dibutuhkan oleh manusia sudah sangat terdesak oleh nilai-nilai kebendaan. Untuk mengatasi krisis itu tidak ada salahnya kalau kita melihat kembali pada nilai-nilai tradisi agamis. Masyarakat Aceh pada masa lampau manyak menyimpan kearifan dalam tradisinya, yang dapat mendukung pengembangan akhlak dan nilai-nilai kerohanian. Untuk itu, kami sangat berterima kasih kepada penulis dan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh yang telah menyiapkan naskah ini sehingga dapat diterbitkan. Demikian juga semua pihak yang telah berperan serta, sehingga buku ini dapat disajikan dalam bentuk seperti ini. Semoga buku ini bermanfaat.
8 September 2005 Banda Aceh/

Drs. Kamaruddin H. Husein, M. Si. Pembina Utama Madya/070006626

iii

PENGANTAR PENERBIT Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam merupakan salah satu wilayah di Nusantara yaug memiliki kekayaan dalam bidang naskah kuno. Kitab Hidayatus-Salikin adalah salah satu di antara sekian banyak naskah kuno yang di dalamnya membicarakan tentang berbagai persoalan aqidah dan ibadah, di antaranya dengan penelitian ini dilakukan secara khusus; pengkajian bab yang keenam, yaitu mengenai keutamaan zikir dan kaifiyatnya. Pengkajian salah satu asfek naskah kuno ini kelihatannya sangat relevan untuk menunjang tercapainya cita-cita pembangunan, terutama dalam upaya membina dan membentuk manusia yang berilmu, beriman dan bertakwa. Upaya ini merupakan kerja nyata Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh, yang terus mengangkat nilai keistimewaan yang dimiliki oleh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam khususnya dan seluruh masyarakat Nusantara pada umumnya. Kami mengucapkan terima kasih kepada Badan Perpustakaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Pemda Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam atas kerjasama yang baik, sehingga buku ini dapat diterbitkan. Dengan segala keterbatasan, penerbitan ini tentu masih terdapat kekurangannya. Demi kesempurnaan selanjutnya, sumbang saran dari pembaca sangat diharapkan. Selanjutnya, banyak pihak yang telah berperan serta sehingga karya tulis ini dapat disajikan dalam bentuk seperti ini, kami mengucapkan terima kasih terutama kepada penulis dan kebetulan dua orang penulis buku ini (Hasimi dan Cut Nadia Fitrina) telah hilang dalam musibah gempa dan tsunami 26 Desember 2004. Harapan kami semoga karya ini bermanfaat. Banda AcehSeptember 2005

Drs. H. Shabri A NIP 131412260

iv

Zikir ku Tertinggal Subhanallah walhamdulillah walailahaillallah wallahuakbar hanya kasih hanya rindu hanya kamu hanya bisik hati dan rasa menyentuh kalbu merenung jejak-jejak mu luka-luka rindu secercah cahaya rembulan di malam kelam menyeruak bumi bersinar-bersinar hilang lalu hilang tenggelam ke dasar lautan Ah, kau yang masih hidup dengar kami ! tidak ada lagi keselamatan

hitamnya air laut yang menjemput kami

seluruhnya asin dan pahit mulut kami terkatup tidak lagi kami berdiri supaya air mudah membuai kami bersama kemewahan dan kemegahan yang mereka cari di dunia ini air laut yang murka ke daratan ternyata sejuk dan nyaman di dasar lautan Ya Allah, ya Allah hanya zikir yang ku punya tak sempat ku bawa lalu tertinggal di dunia. Punge Blang Cut, September 2005 sudirman buat teman tercinta hasimi dan cut nadia

V

DAFTAR ISI

KATA SAMBUTAN. iii
PENGANTAR PENERBIT iv
vi
1
BAB IALIHAKSARANASKAH.. JIWA... A. Pengertian dan Hukum Zikir B. Pembagian Zikir ... 4 23 23 28

DAFTAR ISI... BAB I·PENDAHULUAN.

BAB II PENGARUH ZIKIR TERHADAP KETENANGAN

C. Adab dan Tata Cara Zikir .. 31
1. Adab Sebelum Zikir.. 32
34

  1. Adab Ketika Sedang Zikir ..
    36

  2. Adab Setelah Zikir...
    D. Keutamaan Zikir dan Pengaruhnya Terhadap

Ketenangan Jiwa... 38
47
A. Kesimpulan 47
B. Saran-saran 48
DAFTAR PUSTAKA 49

BAB IV PENTUP ...

vi

BABI

PENDAHULUAN

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam merupakan salah satu wilayah di Nusantara yang memiliki kekayaan luar biasa dalam bidang naskah kuno. Kitab Hidayatus-Salikin merupakan salah satu di antara sekian banyak naskah kuno tersebut. Kitab ini ditulis oleh Abdus Samad Al-Jawy Al-Palinbany dengan menggunakan aksara Arab Melayu, atau lebih dikenal dengan tulisan Melayu-Jawy. Kandungan naskah kitab Hidayatus-Salikin ini secara umum dibagi ke dalam tujuh bab pokok bahasan. Bab pertama membahas tentang akidah ahlussunnah -wal-jama ‘ah, bab kedua membahas tentang perbuatan taat dan ibadah, bab tiga membahas tentang cara dan kewajiban menjauhkan diri dari perbuatan maksiat, bab empat mengenai maksiat batin, bab lima tentang ibadah batin, bab enam tentang keutamaan zikir dan kaifiyatnya (caranya) dan bab yang terakhir membahas tentang adab bersahabat. Adapun bab yang akan diungkapkan melalui penelitian ini adalah bab yang keenam, yaitu khusus mengenai keutamaan zikir dan kaifiyatnya. Pemilihan pokok bahasan ini didasarkan atas realitas psikologi-sosial bahwa manusia dalam hudupnya senantiasa membutuhkan ketenangan jiwa. Kebutuhan terhadap ketengan jiwa semakin besar ketika berhadapan dengan șituasi dan kondisi yang sangat memprihatinkan. Dalam Islam diyakini bahwa zikir merupakan salah satu alternatif yang paling ampuh untuk memperoleh ketenangan jiwa. Oleh karena itu, persoalan zikir dengan berbagai kaifiyatnya sebagaimana yang terkandung dalam naskah kuno Hidayatus-Salikin sangat penting untuk

Pendahuluan

diungkapkan kembali melalui sebuah kegiatan penelitian secara lebih mendalam.

Adapun pokok permasalahan yang akan diungkapkan melalui penelitian ini adalah bagaimana cara berzikir dengan benar dan pengaruh zikir terhadap kondisi kejiwaan seseorang. Adapun tujuan pengkajian naskah ini adalah secara umum alih aksara, penerjemaham, penelitian dan pengkajian isi naskah Hidayatus-Salikin ini bertujuan untuk melestarikan warisan budaya daerah yang positif sebagai salah satu upaya dalam mewujudkan cita-cita pembangunan nasional. Selanjutnya Untuk mengungkapkan cara berzikir yang benar dan pengaruh zikir terhadap kejiwaan seseorang. Penelitian dan pengkajian naskah Hidayatus-Salikin ini dilakukan secara bertahap, yaitu : Menyeleksi beberapa naskah untuk menemukan salah satu naskah yang memiliki relevansi dengan persoalan zikir dan ketenangan jiwa. Menyeleksi kandungan naskah guna menemukan salah satu bagian yang membahas tentang zikir. Melakukan alih aksara bagian bab yang telah dipilih dari huruf Arab-Melayu ke dalam huruf Latin secara sistematis, terarah dan berurutan. Melakukan pengkajian dan pegungkapan tentang zikir dan ketenangan jiwa; dan mengangkat relevansi kandungan naskah terhadap usaha mewujudkan cita-cita pembangunan, khususnya dalam upaya membentuk karakter masyarakat yang beriman dan bertakwa. Penyajian hasil alih aksara naskah ini dilakukan secara langsung sebagaimana adanya dalam naskah aslinya. Untuk memudahkan pembaca dalam merujuk naskah aslinya, maka halaman naskah asli tetap dicantumkan dalam uraian alih aksara. Adapun teknik alih aksara dari huruf Arab-Melayu ke dalam huruf latin berpedoman pada buku panduan yang dikeluarkan oleh Departemen

Pendahuluan Agama republik Indonesia. Pembahasan hasil penelitian secara umum, mengenai zikir dan ketenangan jiwa dikerjakan sesuai dengan sistematika pembahasan dan penulisan karya ilmiah yang berlaku.

BAB II

ALIH AKSARA NASKAH

Al-babus-tsaadisu fii fadhiilatidz-dzikri. Bermula bab yang keenam pada menyatakan fadhilah zikir dan adabnya dan kaifiyatnya. Al-fashlul awwalu fi fadhiilatidz-dzikri. Bermula fasal yang pertama pada menyatakan kelebihan zikir dan kemuliaannya seperti firman Allah ta'ala : Yaa ayyuhal-ladziina aamanuu-udzktiruullaaha dzikran katsiraan. Artinya : Hai orang yang (304) percaya mereka itu akan Allah ta'ala, sebut oleh kamu akan Allah ta'ala akan sebut yang banyak. Dan firman Allah, Fadzkuruuni udzkurkum. Artinya : Maka sebutkan oleh kamu akan Daku maka Aku sebutkan kamu. Dan firman Allah ta'ala : Wadzkurullaaha dzikran katsiran la'allakum tuflihuuna. Artinya : Dan sebutkan oleh kamu akan Allah ta'ala akan sebut yang banyak, mudah-mudahan kamu dapat kemenangan di akhirat. Dan lagi firman Allah ta'ala : Alladzina aamanuu tathma'inna quluubuhum bi dzikrillahi, a-laa bi dzikrillaahi tathma’innal quluub. Artinya : Mereka itu yang percaya akan Allah ta'ala tetap hati mereka itu dengan menyebut akan Allah ta’ala adalah dengan menyebut akan Allah ta’ala tetap segala hati mereka itu. Dan lagi firman Allah ta'ala : Fa-idzaa qadhaitumush-shalaata fadzkurullaaha qiyaamaw-waqu'uudaw-waalaa junuubikum. Artinya : “apabila telah kamu sempumakan akan sembahyang kamu maka zikir oleh kamu akan Allah ta'ala pada hal kamu berdiri dan duduk dan berbaring pada malam dan siang dan di darat dan di laut dan pada pelayaran dan pada negeri dan pada masa kaya dan pada masa sakit dan sehat dan dengan sirr dan jihar", dan demikian tafsir ini dari pada Saidina Abdullah ibnu

Alih Aksara

Abbas Radhiyallahu (305) ‘anhuma. Sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam : A-laa unabbi-ukum bi khairin a'maalukum. wa-idzkaahaa 'inda maliikikum warfa'uhaa fii darajaatikum wa khairin min u'thiyadz-dzahabi wal-waraqi wa-antalquu 'aduwwukum fa tadhribuu a'naaqahum wa yadhribuu a'naaqatakum, qaaluu ma dzakara yaa rasulullah, fadzkurullaha. Artinya : "Bahwasanya hendaklah aku khabarkan akan dikau dengan yang terlebih baik kamu dan yang terlebih suci dari pada memiliki akan kamu dan yang terlebih tinggi pada derajat kamu dan yang terlebih baik dari pada bahwa diberi akan kamu emas dan perak dan yang terlebih baik dari pada kamu dapat akan seteru kamu, maka kamu kuat akan yuhar mereka itu dan dikuat akan yuhar kamu, yakni terlebih baik dari pada perang sabilillah. Maka kata sahabat : Apa amalan yang demikian itu ya Rasulullah ? Sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam : Yaitu "zikrullahi ta'ala". Dan sabda nabi : "Shalli Nabiyullah 'alaihi wasallam. Innallaaha malaa-ikata sayaadata tattabi'uuna majaalisun dzikri faidzaa wajaduu majlisan fiihi dzikri fa'iduu ma'ahum wa haffun ba'dhahum ba'dhan bi ijtihatihim hattaa yamli-uu maa bainahum wa bainas-samaa-i fa-idzaa tufarriquu i’rijuu wa sha’iduu ilas-samaa-i Artinya : “Adalah bagi Allah ta'ala beberapa (306.) malaikat yang berjalan pada hal mereka itu mencari akan majelis zikir, yakni perhimpunan orang yang duduk berzikir, maka apabila dapat mereka itu akan perhimpunan orang yang duduk berzikir maka duduk segala malaikat itu serta orang yang berzikir itu dan mengelilingi setengah mereka itu akan setengah mereka itu dengan segala sayap hingga memenuhi akan barang yang antara mereka itu dan antara langit. Maka apabila bercerai mereka itu maka naik segala malaikat itu kepada langit. Fa sa-alahumullaahu azza wajalla wa huwa a'lamu man bihim

Alih Aksara

aina ji’tum fa yaquumuuna min indi ‘ibaadika fil-ardhi fa yaquulu lahum kaifa taraktum ibaadii fayaquuluna taraknaa hum yusabbihuunaka wa yuhalliluunaka wa yuhammiduunaka wa yas-aluunaka fa yaquulu wa maa dzaa yas-aluunani qaaluu jannataka, qaala wa hal ra-au jannatii, qaaluu laa yaa rabbi, qaala kaifa lau ra-au jannatii. Artinya : Maka bertanya Allah ta'ala akan mereka itu padahal Dia terlebih tahu dengan kelakuan mereka itu. Dari mana kamu datang ? Maka sembah mereka itu : Dari pada hamba-Mu di dalam bumi. Maka firman Allah ta'ala bagi mereka itu : Betapa kamu (307) tinggalkan akan hamba-Ku itu ? Maka sembah mereka itu : Kami tinggalkan akan hamba-Mu padahal mereka itu mengucap tasbih akan Dikau, dan mengucap zikir akan Dikau, dan memuji akan Dikau, dan memohonkan mereka itu akan Dikau. Maka firman Allah ta'ala : Apa yang dimohonkan mereka itu akan Daku ? Maka sembah mereka itu : Memohonkan mereka itu akan surga. Maka firman Allah ta'ata : Adakah mereka itu melihat akan surga-Ku ? Maka sembah mereka itu : Tiada ia melihat akan dia hai Tuhanku. Maka firman-Nya : Betapa lagi jika ia melihat akan surga-Ku. Qaaluu wa yastajiruunaka, qaala wa mimmaa yastajiiruunanii, qaaluu min naarika fa biqauli hal ra-au naarii, fayaquuluuna laa yaa rabba, qaala fa kaifa lau ra-uu. Artinya : Maka sembah segala malaikat dan meminta peliharakan mereka itu akan Dikau dari pada api nereka. Maka firman-Nya : Adakah dia melihat akan neraka-Ku ? Maka sembah mereka itu : Tiada melihat mereka itu akan dia. Maka firman-Nya : Betapa lagi jika ia melihat akan neraka-Ku. Qaaluu yastaghfiruunaka fa yaquullu (308) asyhadukum innii qad-ghafartu lahum wa a'taituhum maa yas- aluu wa ajartuhum mimmaas-tajaaruu fa yaquuluuna fiihim yaa rabbii. fidaanun abdun kathaa-un wa innamaa mar-

Alih Aksara

rabbihim wa jalasa ma'ahum fa yaquuluu aidhan huwa qad- ghafartu lahu humul-qaumu laa yasyqiya bihim jaliisuhum. Artinya : Maka sembah segala malaikat itu : dan memohonkan

ampunan mereka itu akan Dikau. Maka firman-Nya : Aku saksi

akan kamu bahwasanya telah Ku-ampuni bagi mereka itu dan Aku beri akan mereka itu barang yang dipinta oleh mereka itu akan dia dan Aku peliharakan mereka itu akan yang memohonkan

peliharaan mereka itu akan Daku. Maka sembah segala malaikat itu :

Ada dalam perhimpunan mereka itu ya Tuhanku si Pulan seorang hamba-Mu yang berbuat kesalahan, yakni berbuat maksiat akan dikau, dan hanya

sanya lalu ia di mereka itu dan duduk ia berzikir serta mereka itu. Maka

firman Allah ta'ala : Dan ia pun telah Kuampuni bagi mereka itu karena

mereka itu kaum yang tiada dapat celaka dengan mereka itu dan mereka itu akan orang yang seperdudukan dengan mereka itu. Dan disebutkan oleh Syekh Ali al-Murshafy di dalam kitabnya yang bemama Minhajus Saliki Isyraful-Masalik (309) Mukhtashar Risatatil Qasyir : ia nukil dari pada setengah orang yang arifin bahwa

kemuliaan zikir dan kemegahannya atas yang lain dari pada segala

ibadah itu yaitu berhimpun di dalam zikir itu tiga puluh lima

perkara yang kepujian. Awwaluhaa amtastaa-alu amrullaahi

ta'aalaa li qaulihii ta'aalaa, yaa ayyuhal-tadziina aamanuu dzikrullaaha dzikran katsiran wa sabbihuuhu bukrataw-wa- ashiilan. Artinya : Yang pertama dari padanya itu menjunjung akan suruh Allah ta'ala, karena firman Allah ta'ala; Segala mereka

itu yang percaya akan Allah ta'ala, sebut oleh kamu akan zikrullah

dengan sebut yang amat banyak dan ucap oleh kamu akan tasbih

pada pagi-pagi dan petang-petang. Ats-tsaaniyatu drikrullaha

iyyaaka li qaulihi ta’aalaa adzkuruuniii udzkurkum. Artinya : Yang kedua menyebut Allah ta'ala akan dikau, karena firman Allah ta'ala; Sebut oleh kamu akan Daku niscaya Aku sebut akan

Alih Aksara

kamu. Ats-tsaalitsatu radhiyallaahu ta'aalaa bi dzalika. Artinya : Yang ketiga redha Allah ta'ala dengan demikian itu. Ar-rabi’atu ta'dhiimullaahi ta'aalaa wa ajlaalahu fi qalbika inda dzikrika iyyaahu. Artinya : Yang kcempat kebesaran Allah ta'ala dan ketinggian-Nya di dalam hatimu pada ketika menyebut engkau akan Dia, seperti firman Allah ta'ala : (310) Wa ladzikrullahi akbar, artinya : bahwasanya zikrullah itu lebih besar dari pada ibadah yang lain dari padanya. Al-khaamisatu syaghala jawaaruhuka fii tha’atillaahi ta'aalaa, Artinya : Yang kelima masyghul segala anggotamu di dalam taat akan Allah ta'ala. As- saadisatu qarabal-malaa-ikata minka wa suruurihim bi dzaalika, Artinya : Yang keenam daripadanya hampir malaikat dari padamu dan suka mereka itu dengan demikian itu. As-sabi’atu qaraballaahu ta'aalaa minka wa kaunihi ma'aka bi laa takaifu wa laa tahdiidu. Artinya : Yang ketujuh hampir Allah ta'ala dari padamu dan adalah ia sertamu dengan tiada berkaifiyah dan tiada berhad, karena firman Allah ta’ala di dalam hadits qudsi; Innaa ‘inda dhanna abdii wa innaa ma’ahu haitsu dzikranii. Artinya : Aku pada sangka hamba-Ku dan Aku sertanya sekira-kira menyebut ia akan Daku. Ats-tsamaniyatu Asy-syar’ul-hafiidhatu likitaabil-hasanaati li dzikri Artinya : Yang kedelapan bersegera malaikat yang memeliharakan amal segala manusia akan menyuratkan kebajikan bagi orang yang berzikir itu. At-tis'atu tab'idusy-syaithaana minka. Artinya : Yang kesembilan jauh syaitan dari padamu. Kata Syekh Afdhaluddin; Innasy- syaithaana yarkabu ahadanaa kullamaa ghafulun 'an dzikrullaahi (311) ta'aalaa azza wa jalla, fainnahu da-iimun wa aqifu tahaazatil-'abda fakullamaa ghafala an dzikrullahi ta'aalaa istahuudzu alaihi wa kullamaa dzikrullaahi ta'aalaa yanzilu falau kasyafu li-ahadinaa li ra-aa ibliisa yarkabu

Alih Aksara

ahadinal-himaari wa yashrifuhaa kaifa yasyaa-uu thaulan- nahaari wal-laili. Artinya : bahwasanya setan itu mengendarai akan seorang kita tiap-tiap lupa dari pada zikrullah ta'ala, karena setan itu senantiasa berdiri bertaulan dengan hamba Allah ta'ala maka tiap-tiap lupa daripada zikrullah ta'ala maka mengendarai dan mengerasi oleh setan, dan tiap-tiap menyebut Allah ta'ala maka jikalau dibukakan Allah ta'ala bagi seorang kita niscaya dilihat akan iblis-iblis itu mengendarai akan dia seperti mengendarai himar dan dipalingkan akan dia betapa dikehendakinya sepanjang siang dan malam. Al-'aasyiruun Innadz-dzikrullaha ta'aalaa li iimaani wa haqiiqatihi mahabbaatil-'abdi li saidihi. Artinya : Yang kesepuluh bahwa zikrullah ta'ala atas iman dan hakekatnya itu kasih hamba bagi Tuhannya. Al-haadi 'asyrun innahaa bar-atan minallaahi ta'aalaa minan-nifaaqi. Artinya : Yang kesebelas bahwasanya lepas ia daripada Allah ta’ala daripada munafik. Ats-tsaaniyatu 'asyrun innahaa harazan minasy-syaithaani Artinya : Yang kedua belas bahwasanya zikir itu memeliharakan (312) daripada setan. Ats-tsaalisatu asyirun innahaa haradzan minan-naari. Artinya : Yang ketiga belas bahwasanya zikir itu memeliharakan daripada api neraka. Ar-rabi’atu asyirun ni’mata alaika an- taj-aluka minadz-dzaakiriina wa lam yaj'aluka minal- ghaafiliina. Artinya : Yang keempat belas nikmat daripada Allah ta'ala atasmu bahwa Ia menjadikan akan dikau daripada orang yang menyebut Allah ta'ala dan tiada menjadikan Ia akan dikau daripada orang yang lain daripada menyebut Allah ta'ala. Al- khaamisatu asyirun Asyraaqul-qalbu wa absyiru ahadun bi nuuri dzikrullaahi. Artinya : Yang kelima belas terang hati dan terbuka ia dengan cahaya zikrullah. As-saadisatu 'asyrun istaiqadhu minal-ghuflati 'indal-hathraatil-madzmuumati,

Alih Aksara

Artinya : Yang keenam belas jaga hati daripada lalai pada ketika datang cita yang kejahatan. As-saabi'atu 'asyrun innahuu jaliisullahi ta'aalaa bi laatakayyifu wa laa tajdiidu li qaulihi ta'aalaa innaa jaalisan minadz-dzikrinii. Artinya : Yang ketujuh belas itu bahwasanya orang yang zikir itu seolah-olah duduk hampir kepada Allah ta'ala dengan tiada berkaifiah dan tiada berhad karena firman Allah ta'ala di dalam hadits qudsi : Akulah duduk hampir akan orang yang menyebut akan Daku. Ats- tsaamanu asyrun (313) taftahu lahu abwaabus-samaawaati li shu'uudil-malaa-ikati bi dzikri. Artinya Yang kedelapan belas dibukakan baginya segala pintu langit karena menaik malaikat zikir itu. At-tasi’u asyrun yasyhadu laka kulli syai-in yasma’uka min jamii'il-makhluukaati wa tajiduka bi qaa'il-ardhi wa taftahizu ba'dhuhaa alaa ba'dhi Artinya : Yang kesembilan belas itu menaik saksi bagimu tiap-tiap sesuatu yang mendengar akan dikau zikir daripada segala makhluk dan kasih akan dikau oleh segala tempat bumi yang engkau berzikir itu dan bermegah ia setengahnya atas setengahnya. Al-’aasyiruuna raqatal-qalba wa khusyuu'ata indadz-dzikri Artinya : Yang kedua puluh lembut hati dan khusu' pada ketika zikir itu. Al-haadiyatu wal- 'asyiruuna yumhiya bi kalimati minadz-dzikri asyiru sai-ati. Artinya : Yang kedua puluh satu dihapuskan dengan satu kalimah daripada zikir itu sepuluh kejahatan. Ats-tsaaniyatu wal- 'asyiruuna thamaa-iinatul-qalba wa sukunahu li qaulihi ta'aalaa; alaa bi dzikrillahi ta'aalaa tathma'innatil-quluubi. Artinya : Yang kedua puluh dua itu hati dan diam ia karena firman Allah ta'ala : adalah dengan menyebut Allah ta'ala itu jadi diam tiap-tiap hati. Ats-tsaalitsatu wal-'asyiruuna raahatan kaatibiika min kitabis-sai-ati, (314) 'alaika wa du'aa-uhuma lika bi wiqaayatis-sai-ati, wal-qaunu bil-jannati wan-najaata minan-

Alih Aksara

naari ma'a hamlatil-’arsyi li qaulihi ta'aalaa wal-malaa-ikati yusabbihuuna buhamdi rabbihimul-aayaati. Artinya : Yang kedua puluh tiga itu menyenangkan dua malaikat yang bernama Kiraman dan Katibin daripadamu, menyoretkan akan kejahatan atasmu dan meminta doa keduanya bagimu dengan dipeliharakan daripada segala kejahatan dan dapat kemenangan dengan surga dan lepas daripadanya api neraka serta malaikat yang menanggung ‘arasy, karena firman Allah ta'ala : dan malaikat yang mengucap tasbih dengan memuji Tuhan mereka itu hingga akhir ayat. Ar- rabi'atu wal-'asyiruna tukhfiiful-atsqaalu ilaa yaumil- qiyaamati li qaribihi alaihis-sulaamu sabiqul-mufriduuna yaa rasulullaah, qaalal-mustahdzi-uuna bi dzikri yadh'udz-dzikru 'anhum atsqaaluhum yaumal-qiyaamati, Artinya; Yang kedua puluh empat meringankan akan segala yang berat-berat pada hari kiamat, karena sabda Nabi SAW telah mendahului akan kamu orang yang mufradun. Maka sembah sahabat, apa orang yang mufradun itu ya Rasulullah? maka sabdanya : mereka itulah yang meninggalkan dengan menyebut Allah ta'ala padahal menghilangkan dan meringankan menyebut (315) itu daripada mereka itu akan segala yang tersebut daripada mereka itu pada hari kiamat. Al-khaamisatu wal-’asyiruuna adz-dzikru afdhalu minal-hajji wal-jihaadi war-rubaathi wash-shadaqati. wa kulli amalin maa adal-faraa-idhu. Artinya: Yang kedua puluh lima bermula zikir itu terlebih afdhal daripada haji dan daripada perang kafir yang hendak masuk ke negeri Islam dan daripada perang sabilillah dan sedekah dan tiap-tiap amal yang lain daripada segala fardlu. As-saadisatu wal-'asyiruuna innallaaha subhaanahu wa ta'aalaa tu'thiihi aktsaru maa yu'thiyus-saa-iliina wa in-lam yasaa-aluh. Artinya : Yang kedua puluh enam barang siapa masyghul akan dia menyebut akan Daku daripada meminta akan

Alih Aksara

Daku niscaya Aku beri akan dia akan yang terlebih afdhal barang yang Aku beri akan orang yang meminta. As-saabi'atu wal- 'asyiruuna adz-dzaakiruuna yufsyaahumur-rahmati wa tanzilu 'alaihimus-sakiinati wal-barkati wa tahfiihimul-malaa-ikati. Artinya : Yang kedua puluh tujuh bermula orang yang berzikir itu melingkupi akan dia oleh rahmat dan turun atas mereka itu tiap-tiap hati dan berkat dan meliputi akan mereka itu oleh malaikat. As-samaanatu wal-'asyiruuna innal'abda idzas-taftihu bi dzikrillaahi ta'aalaa awalan-nahaarihi wa khatama bi dzikrillaahi wa akharan-nahaarihi ghafara lahu tarfish- shahiifatii (316) artinya : Bermula yang kedua puluh delapan itu bahwasanya hamba Allah ta'ala apabila memulai dengan zikrullah ta'ala permulaan harinya dan menyudahi dengan zikrullah pada akhir harinya niscaya dihimpun baginya akan permulaan surat dan akhir suratannya dan daripada dihimpunnya permulaannya dan akhirnya itu dihimpuni pertengahannya. At- tasi'atu wal-'asyiruuna adz-dzaakiruunal-llaaha ta'aalaa yunaadiihim munadii minas-samaa-i qawwaamuu faqad bidalatis-sai-i hasaanati wa sai-atikum ghafara lakum jamii'an. Artinya : Yang kedua puluh sembilan bermula orang yang berzikir itu diserukan mereka itu oleh munadi daripada langit berdiri kamu maka bahwasanya telah digantikan akan kejahatan kamu dengan segala kebajikan dan ampuni bagi kamu sekalian dosa kamu. Ats-tsalaatsuuna Al-majlisush-shaalihu minadz- dzikri yakfuru minal-mu'mini alfun alfin majalisus-suu-i, Artinya : Yang ketiga puluh bermula satu majelis orang yang shalih daripada zikrullah ta'ala yakni seru perhimpunan orang yang shalih duduk berzikir yaitu menghapuskan daripada orang yang mukmin akan seribu-ribu daripada perhimpunan orang yang

duduk berbuat kejahatan. (317) Al-hadiyatu walts-tsalaasuuna

Alih Aksara

innadz-dzaakriinallaaha ta'aalaa katsiirun yaumal-qiyaamati 'alaa munaabiri min nuuri wa kaataa mi yadaihi yamiini tughbiihuhumul-malaa-ikati wal-anbiyaa-i limaq'adihim wujuuhihim udhuu-in minal-qamaril-lailatil-badri yukhaafun- naasa wa laa yukhaafuuna wa yafza'un-naasa wa laa yufzi’uuna. Artinya : Yang ketiga puluh satu bahwasanya orang yang membanyakkan akan zikrullah itu pada hari kiamat duduk di atas mimbar daripada nur (cahaya) dan kedua tangannya kanan padahal mengenang-ngenang mereka itu oleh malaikat dan ambia bagi kedudukan mereka itu dan muka mereka itu terlebih cahayanya daripada bulan pumama empat belas hari padahal takut segala manusia dan tiada takut mereka itu dan gentar manusia dan tiada gentar mereka itu. Ats-tsaaniyau wats-tsalaastuuna Innahum ahlul-kariimu yaumal-qiyaamati li karaamihim 'alallaahi ta'aalaa. Artinya : Yang ketiga puluh dua bahwasanya orang yang membanyakkan zikrullah itu yaitu orang yang amat mulia pada hari kiamat karena mulia mereka itu atas Allah ta’ala. Ats-tsaalatsatu wats-tsalaatsuuna inna ahludz-dzikra yarti’uuna fii kulli waqtin fi riyaadhil-jannati Artinya : Yang ketiga puluh tiga itu bahwasanya (318) orang yang ahli zikir itu bermain-main dan mengambil buah-buahan pada tiap-tiap waktu di dalam kebun surga dan sabda Nabi SAW Idzaa maradtum bi riyaadhil-jannati farti'uu fii haa faqiila lahu wa maa huwa riyaadhil-jannati qaala majlisudz-dzikri. Artinya: apabila lalu kamu dengan kebun surga itu maka ambil oleh kamu akan buah-buahannya yang dalamnya, Maka sembah sahabat baginya apa kebun surga itu ya Rasulullah ? maka sabdanya : itulah tempat perhimpunan duduk berzikir, ketahui olehmu bahwasanya Nabi SAW menyerupakan akan majelis zikir it seperti kebun di dalam surga, karena tempat perhimpunan duduk berzikir itu tempat turun rahmat dan hidayah

Alih Aksara

dan dihiasi yang ajaib-ajaib dan makrifat yang gharib-gharib yang dapat oleh orang yang berzikir itu seperti orang yang masuk di dalam kebunnya yaitu tempat mengambil buah-buahan yang indah-indah di dalam kebunnya itu, Ar-raabi'atu wats-tsalaatsuuna inna dzakarallaahu ta'aalaa fil-ardhi lahuu nuurikuma qaala alaihis-salaam dzakarallaahu fil-ghaafiliina kasy-syajaratil-hadhri fil-hammi. Artinya : Yang ketiga puluh em pat bahwasanya zikrullah ta'ala baginya cahaya seperti sabda Nabi SAW : bermula orang yang berzikir itu di dalam perhimpunan orang yang lupa (319) daripada menyebut Allah ta'ala seperti pohon kayu yang hijau di dalam perhimpunan kayu yang kering. At-khaamisatu wats-tsalaatsuuna innadz-dzikral-khafaa yadzkuru bi shaahibihi indallaahi wa yudkhirullahi ta'aalaa kanzan ilaa yaumil-qiyaamati faidzaa dakhalal-jannata qaalallaahu ta'aalaa laka indii tsawaaban wa huwa dzikrul- khafi lam yudla'u 'alaihi ahada ghairi, Artinya : Yang ketiga puluh lima itu bahwasanya zikir yang khafi itu disebutkan dengan orang yang mempunyai zikir khafi itu pada Allah ta'ala dan menaruhkan akan dia oleh Allah ta'ala baginya satu perbendaharaan hingga hari kiamat, maka apabila masuk ia akan surga maka firman Allah ta'ala baginya : adalah bagimu pada-Ku pahala yang Aku balaskan bagimu yaitu zikir yang khafì yang tiada melihat atasnya oleh seorang yang lain dari pada-Ku. Dan bersalah-salahan segala ulama pada zikir yang terlebih afdhal adakah zikir jihar afdhal atau zikir sirr afdhal. Maka atas Syekh Abu Rahib Syajali bahwa zikir jihar itu afdhal bagi orang yang mubtadha yakni bagi orang yang baru menjalani jalan Allah Taa'la yang ghalib bagi mereka itu atasnya keras hati dan kelam hati maka kata Syekh Abdul Wahab Sya'rani rahimahullah ta'ala. Qad ijma'uu (320) a'laa innahu yujibu ‘alal-muriidil-jihaari bidz-

Alih Aksara

dzikri wadz-dzikrun bis-sirri wal-hawaani laa yafiidu raqaban. Artinya : "Bahwasanya telah muafakat kebanyakan ulama atas bahwasanya wajib atas murid itu berzikir dengan jihar yakni meyaringkan akan suara mereka itu dengan berzikir dan bahwasanya berzikir dengan sirr itu dengan perlahan itu tiada memberi faedah akan menaikkan kepadamu martabat yang tinggi, dan lagi seyogyanya bagi mereka itu bahwa zikir itu dengan keras yang sempurna sekira-kira bergerak daripada atas kepala mereka itu hingga kaki mereka itu", karena kata ulama : Idzaa dzakaral- muriidu rabbuhuu aza wajalla bi syadatin waazamin syaa’atin thawayats maqaamatith-thariiqi bi sar'ati min ghairi bathnii fa rubamaa qatha'a fii saa'ati maa laa yuqtha'uhuu ghairuhuu fii syahrin au aktsarin. Artinya : “Apabila berzikir murid akan Tuhannya azza wajalla dengan sangat kuat dan cita-cita yang keras niscaya diliputi bagi makan segala jalan kepada Allah ta'ala sampai ia kepada-Nya dengan sekira-kira tiada berlambatan maka terkadang mengutuskan ia akan jalan itu dalam satu saat barang yang tiada dapat diputuskan akan dia oleh ibadah yang lain daripada zikir itu di dalam sebulan atau lebih banyak". Bermula dalil yang demikian itu yaitu (321) firman Allah ta'ala : Tsumma qasat quluubukum min ba'di dzaalika fahia kal-hijaarati au asyaddu qaswati, Artinya maka keras sekali hati kamu kemudian daripada demikian itu seperti batu atau terlebih sangat keras daripadanya, maka bahwasanya tiada pecah batu itu melainkan dengan palu yang keras. Demikianlah segala hati manusia itu tiada lembut ia melainkan dengan dipalu akan dia dengan zikir yang keras lagi jihar dan lagi seyogyanya atas murid itu bahwa ia berzikir bersama-sama dengan orang yang banyak. Kata Syekh Abdul Wahab Sya'rani : Ijtima'ul-'ulamaa-i salafan wa khalafan 'alaa istajaabi dzikrillaahi ta'aalaa fii jam'atil-masjidi wa

Alih Aksara

hagirihaa min ghairi nafdirin bi syarthihi. Artinya : "Telah

berhimpun segala ulama yang dahulu-dahulu dan ulama yang

demikian sunnah berzikir di dalam perhimpunan orang banyak

sama ada di dalam masjid atau lainnya dengan tiada disalahi oleh orang dengan syaratnya dan lagi seyogyanya bagi orang yang berzikir itu bahwa menghadirkan di dalam hati mereka itu akan kebesaran Allah ta'ala". Kata Syekh Abu Bakar Alkatani Rahimahullah ta'ala : Min syarthidz-dzikri an-yushhabuhu ajalallaahu ta'aalaa wat-ta'dhimu wa in-lam yuflihu shaahibuhu fii maqaamir- (322) rijaali. Artinya : "Setengah daripada syarat orang yang berzikir itu bahwa menyertai akan dia membesarkan bagi Allah dan menta'limkan akan dia maka jika tiada yang demikian itu niscaya akan tiada dapat kemenangan orang yang berzikir itu di dalam makam arrijal yakni niscaya tiada boleh ia naik ke atas martabat orang yang arifin". Kata Syekh Abu Hasan Asyajali Rahimhullah ta'ala : Bermula zikir yang terafdhal bagi murid itu zikir Lailahaillallah selama ia di dalam hawa nafsunya. Maka apabila fana ia daripada nafsunya maka bahwasanya zikrullah itu : Allah, Allah, itu terlebih manfaat

baginya, Bermula zikir sirr itu terlebih apabila bagi orang yang

arifin yakni orang yang telah sampai kepada ma'rifatullah dengan ma'rifat tiada putus dan ma'rifat ilmu laduni karena ghalib pada mereka itu zikir dengan hati dan sekalian kelakuan mereka itu

dengan zikrullah ta'ala. Dan karena inilah kata ulama : Idzaa

'arafallaatiu ktitii lisaanihi, artinya : “Apabila mengenal seorang

akan Allah ta'ala dengan pengenal yang putus niscaya lidahnya".

Kata Syekh Al Khatib Alwuju' Said Syekh Abid Ibnu Abdul Karim Asamani Addani : Al-mu'miniina wal-'aarifiinal-faikri (323) wal-jaulaani, Artinya : Bermula para mukmin dan segala orang-

orang yang arif itu memfikirkan Allah ta'ala dengan hati mereka

Alih Aksara

itu dan memandang mereka itu akan kenyataan Allah ta'ala dan tajalli Allah ta'ala dalam hati mereka itu yakni semata-mata ingat hati mereka itu akan Allah ta'ala dan dari karena inilah kata Syekh Abu Hasan Asyazali Rahimahullah ta'ala : Inna tandhuru ilallaahi ta'aalaa yabshirul-iimaana wal-iiqaani fa-aghniina anil-ladii laili wal-burhaani, artinya : bahwasanya kamu lihat kepada Allah ta'ala dengan penglihat iman dan yakin maka kamu terkaya daripada dalil dan burhan dan maka inilah dinamai oleh tiap-tiap ahli sufi makam syuhud yakni melihat akan Allah ta'ala itu dengan mata hati dan penglihatan yang layak bagi Allah ta'ala yang tiada sepertinya sesuatu yang baharu ini dan firman Allah ta'ala : Laisa kamitslihi syai-un wa huwas-samii'ul-bashiiru, Artinya : Allah ta’ala itu tiada seumpama sesuatu dan yaitu yang amat mendengar lagi yang amat melihat. Wabillahilhidayah Wa Taufiq. Al-fashluts-tsaani fii adaabihi. Bermula pasal yang kedua pada menyatakan segala adab zikir, adakalanya zikir hasanat namanya dan (324) adakalanya zikir darajat namanya. Maka zikir hasanat itu yaitu menghasilkan akan fahalanya tiada berkehendak kepada segala adab zikir yang lagi akan datang ini dan zikir darajat itu berkehendak kepada segala adab, Bermula adab zikir itu yaitu dua puluh perkara yang lima perkara dahulu daripada zikir dan yang kedua belas perkara ketika zikir dan yang tiga perkara kemudian daripada zikir. Adapun adab yang dahulu daripada zikir itu pertama taubat daripada segala maksiat dan daripada segala yang sia-sia yang tiada memberi faedah pada akhirat. Kedua mandi atau mengambil air sembahyang. Ketiga diam dan tetap supaya menghasilkan sadiq yakni supaya benar lidahnya dengan hatinya seperti bahwa diistighalkan hatinya dahulu daripada meyebut laailaahaillallaah itu dengan lafadh Allah, Allah, Allah dengan fikir jua, tiada dengan lidah hingga

Alih Aksara

tiadalah tinggal segala khawatirnya serta yang lain daripada Allah ta'ala itu melainkan hadir di dalam hatinya itu Allah, Allah itu jua. Maka tatkala itu bersama-sama lidah dengan hatinya menyebut Laailaahaillallaah. Keempat minta tolong dengan hatinya ketika masuk di dalam zikir itu dengan hikmat syekhnya dan jikalau diserunya akan syekhnya (325) itu dengan lidahnya pada minta tolong pada hajatnya itu niscaya harus. Kelima mengi'tikadkan bahwa ia minta tolong daripada syekhnya itu serasa ia minta tolong daripada Nabi SAW, karena syekhnya itu ganti daripada Nabi SAW. Adapun segala adab pada ketika zikir itu pertama duduk atas tempat yang suci pada hal duduk ia seperti di dalam sembahyang, jika ia mandi karena yang demikian itu terlebih baik memberi bekas dalam hati atau duduk bersila jika ia mengetahui. Kedua menghantarkan kedua tanganya atas kedua pahanya. Ketiga membubuh bau-bauannya. Keempat memakai pakaian yang baik yakni yang halal lagi harum baunya. Kelima memilih tempat yang kelam. Keenam memejamkan kedua matanya. Ketujuh menyerupakan rupa syekhnya antara kedua matanya dan adab ini terlebih muakkad pada ahli sufi. Kedelapan benar ia pada zikir itu yakni sama padanya yaitu pada orang atau tersembunyi daripadanya. Kesembilan ikhlas yaitu bahwa diqasadkannya zikirnya itu semata-mata kepada Allah ta'ala. Kesepuluh memilih sifat zikir itu dengan lafadh Laailaaha (326) illallaah. Maka disebutnya ia beserta dengan kuat yang sempurna, serta ta'dhim dan dinaikkan lafadh Laailaahaillallaah itu dari atas pusatnya dan menyampaikan akan lafadh Allah, Allah itu kepada hatinya yang dinamai akan dia had sanubari padahal mendorongkan kepalanya kepada lambungnya yang kiri serta hadir hatinya yang maknawi di dalamnya seperti yang lagi akan datang kaifiyah ini pada fasal yang ketiga. Insya-Allah ta'ala. Kesebelas

Alih Aksara

menghadirkan makna zikir itu dengan hatinya serta tiap-tiap kali daripada menyebut zikir itu. Adapun makna Laailaahaillallaah itu pada yang diistahdirkan di dalam berzikir itu, maka tatkala nyata sifat basyariyah dan was-was maka dikatanya dengan lidahnya Laailaahaillallaah dan dengan hatinya Laa ma'budi illallaah dan tatkala padamlah sifat basyariyah dan was-was dan sucilah hatinya daripada yang demikian itu atau karena menuntut akan sesuatu daripada suk dan syak kepada Allah ta'ala dikatanya lidahnya Laailaahaillallaah dan dikatanya dengan hatinya Laa mathlubi illallaah dan tatkala lenyaplah segala khawatir sekalian maka dikatanya dengan lidahnya Laailaahaillallaah dan dengan hatinya Laamaujudi illallaah karena pandangan tatkala bahwasanya adalah yang berkata itu dengan haq subhanahu wa ta'ala jualah wa quwwatihi, (327) Kedua belas menapikan tiap-tiap yang maujud yang lain dari Allah ta'ala daripada hatinya dengan lafadh illallaah itu supaya tetap berlafadh illallaah di dalam hatinya dan supaya mesra kepada segala anggotanya. Adapun adab yang kemudian daripada zikir itu pertama hendaklah ia tetap apabila ia diam daripada zikir itu dengan ikhtiarnya dan hendaklah ia hadir serta hatinya karena menuntut wirid zikir itu, yakni karena menanti paedah yang hasil daripada zikir itu, mudah- mudahan dengan anugerah Allah ta'ala datang ia atasnya. Maka tatkala itu diperbaikinyalah wujudnya, yakni hatinya pada seketika itu jua yang tidak didapat diperbaikinya akan dia dengan mujahadah dan riyadhah di dalam tiga puluh tahun. Kedua hendaklah ia menahan nafasnya daripada keluar masuk karena terlebih segera daripada membaiki hati dan membukakan hijab dan memutuskan khawatir nafsunya dan syaitan. Ketiga hendaklah menahan dirinya daripada minum air kemudian daripada zikir itu karena meminum air itu memadamkan akan panas yang didapat

Alih Aksara

daripada zikir dan menghilangkan rindunya kepada yang muzakkir yaitu Alllah ta'ala yang mathlubi pada zikir. Syahdan bermula

(328) adab zikir yang tersebut itu lazim bagi orang yang memberi

zikir dengan ihktiarnya. Adapun orang yang tiada baginya ikhtiar maka yaitu tiada lazim baginya segala adab itu dan hanya sanya adab mereka itu tazlim bagi wirid yakni menerima bagi barang yang datang daripada zikir itu serta hadir hatinya yakni menerima semata-mata kepada Allah ta'ala dan terkadang berlaku atas lidahnya itu : Allah, Allah atau Hu. Hu, atau Laa, laa, laa, atau A, A, A, atau Ah, Ah, Ah, atau Ha, Ha, Ha, atau Hi, Hi, Hi, atau suara dengan tiada huruf atau mengetar-getar karena telah ghaliblah atasnya zikir itu. Demikianlah disebutkan oleh Syekhana wa Ustadzana Al-Arif billaahi ta'ala Saidi Syekh Abdul Karim As-Samad Al-Mariny di dalam kitab Nafhatilayuhia fi Kaifiyah Sulukil-Muhammadiyah dan lagi ia berkata di dalam kitab ini Wa kullu haadzihil-adaabi taldzimudz-dzikru bi lisaani wa ammadz-dzikru bil-qalbi falaa yahtaaju fii haadzihil-adaabi bal idzaa tashfiyati sariiratihi ammaa siwallaahu ta'aalaa, bermula segala adab zikir ini lazim bagi orang yang berzikir dengan lidah. Dan adapun orang yang berzikir dengan hati itu maka yaitu, tiada berkehendak kepada segala adab zikir itu, tetapi berkehendak kepada menyucikan hatinya daripada barang yang lain daripada Allah ta'ala, Wallahul-hadi ilash-shawabi, Al-fashluts-tsaalitsu fii kaifiyatidz-dzikri. Bermula fasal yang ketiga pada menyatakan kaifiyah zikir (329) atas beberapa bagi kaifiyah, tetapi dikatakan di dalam kitab ini tiga kaifiyah yang disebutkan oleh Syekhana wa Ustadzana Al-Afhamuwamaladinal-Karim Al-Arif Billahi ta'ala Saidi Syekh Muhammad Saman di dalam kitab yang bernama Nafhatil Ilahiyah yaitu kaifiyah yang pertama bahwa duduk ia menghadap kiblat seperti duduk di dalam sembahyang

Alih Aksara

dan menaikkan Laailaaha dari atas pusatnya pada hal diniatkan dengan Laailaaha itu menafikan akan barang yang lain daripada Allah ta'ala daripada hatinya dan dinaikkan Illallaah itu menyampaikan akan dia hatinya, yakni kepada hati sanubari padahal memalukan kepala kepada pihak kiri dengan Illallah serta hadirkan akan maknanya itu di dalamnya. Dan kaifiyah yang kedua duduk ia seperti yang demikian itu dan ingat ia di dalam duduknya itu kebesaran Tuhannya yang disebutkannya itu serta ghaib ia di dalam Jallal-Nya dan lenyap ia di dalam Jamal-Nya pada hal ia memandang akan syekhnya itu pada mula ia masuk di dalam zikir itu dan dimulainya daripada pihak tangannya yang kiri pada hal ia menundukkan kepalanya serta ingat ia akan kehinaannya dan aftakurnya dan dilakukannya dengan Laa itu daripada lututnya yang kiri kepada lututnya yang kanan dan dianikkannya (330) dengan lafadh Ilaaha kepada bahunya yang kanan pada hal diangkatnya kepalanya itu kepada pihak kanan dan dipalukannya kepalanya itu dengan palu yang keras dengan lafadh Illallaah kepada hatinya pada hal menghadirkan ia pemulaan zikirnya itu daripada lututnya yang kiri Laa ma'budi Illallaah dan lututnya yang kanan itu Laa maksudi Illallaah dan bahwasanya yang kanan itu Laa maujudi Illallaah. Dan ketiga sempurnalah zikir itu maka dilanjutkan Huwa Illallaah itu serta menahankan ia akan nafasnya padahal ia rnenanti faedah Ilahi yakni faedah zikir yang datang daripada Tuhan kita ‘azza wajalla yaitu nur yang ditaruhkan-Nya di dalam hati hamba-Nya yang membaikkan akan zikirnya itu dan nur itu hasil ma'rifatullah ta’ala dengan ma ‘rifat yang yakin dan hasil segala sifat yang kepujiannya daripada sabar dan ridha dan zuhud dan wara'dan barang sebagainya daripada rahasia yang ajaib-ajaib yang didapat oleh orang yang berzikir itu di dalam satu saat padahal tiada dapat oleh orang yang mujahadah dan

Alih Aksara

riyadhah di dalam tiga puluh tahun atau lebih. Wabillahi taufiq wal-hidayah. Dan kaifiyah (331) yang ketiga bahwa hendaklah menyebut zikir itu dengan muallaf yakni berturut-turut sekira- kira jadilah dua kalimah itu seperti kalimah yang esa itu padahal tiada suatu yang menyelangi antara kedua kharajnya atau zahimnya supaya tiada beroleh masuk syaitan daripadanya. Inilah yang terlebih hampir membukakan bagi hati dan terlebih menghampirkan akan jalan kepada Tuhan kita dengan syarat hendaklah dihadirkan makna zikir itu dengan hatinya pada tiap-tiap kali itu dan sekurang-kurang zikir itu bahwasanya pada tiap-

tiap mengata Laailaahaillallaah itu tiada di dalam hatinya suatu yang lain daripada Allah ta'ala melainkan tertegah daripada hatinya itu semata-mata mengisbatkan Allah ta'ala di dalam hatinya itu. Wabillahi taufiq wal-inayah.

BAB III

PENGARUH ZIKIR TEKHADAP KETENANGAN JIWA

A. Pengertian dan Hukum Zikir Istilah zikir berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata “zakara “ yang artinya menyebut. menuturkan, mengingat, menjaga dan mengerti.' Dalam pengertian yang lebih luas, zikir bisa berupa ucapan lisan, gerakan badan atau getaran hati dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Adapun jika dilihat dari tujuan dan manfaatnya, secara hakiki zikir merupakan upaya penyucian hati dari berbagai penyakit batin, seperti iri, hasad, dengki, ria, angkuh, sombong atau takabbur dan lain sebagainya yang dapat mengotori jiwa dan menghapus amal kebajikan seseorang. Menurut Imam Al-Ghazali, zikir secara hakiki mempunyai arti gerakan hati untuk senantiasa ingat, patuh dan tunduk kepada Allah SWT, bukan hanya sekedar ucapan lisan tanpa adanya kshadiran hati bersama Allah SWT sebagaimana sangkaan orang-orang bodoh.2 Dengan demikian, zikir dalam prakteknya adalah suatu upaya untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Allah SWT serta merasakan kehadiran-Nya di dalam hati, sehingga gerak-gerik seluruh anggota tubuh, baik lahir maupun batin cenderung akan bersesuaian terhadap kehendak dan ketentuan-Nya. Menurut naskah Hidayatus-Salikin, perintah zikir ditegaskan dengan mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur,an yang artinya :

'Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, jilid 5, Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994, hlm. 235. 2 Muhammad Al-Ghazali, Munajat, Zikir dan Doa Rasullulah SAW, Jakarta : Pustaka Hidayah, 2000 : 184-185-185.

Pengaruh Zikir

"Wahai orang-orang yang beriman ! sebutlah (zikirlah dan ingatlah) nama Allah dengan zikir sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. "(QS. 33 : 41-42) Ayat di atas merupakan perintah untuk melaksanakan zikir bagi setiap hamba Allah yang telah baligh dan mengaku beriman. Bahkan pelaksanakan zikir dianjurkan setiap saat, tanpa memilih tempat dan waktu. Meskipun sudah ditentukan tempal-tempat dan waktu yang lebih utama untuk melaksanakan zikir, namun zikir dalam pengertian mengingat kehadiran Allah pada hakikatnya tidak terikat dengan batasan waktu dan tempat. Bahkan dalam ayat yang lain Allah SWT lebih tegas lagi berfirman yang artinya : "Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk dan dalam keadaan berbaring..., “(QS. 3-191). Menurut pendapat Ibnu Abbas dalam naskah Hidayatus-Salikin, bahwa melalui ayat di atas Allah SWT memerintahkan kepada setiap mukmin agar selalu berzikir (ingat) kepada Allah, baik siang maupun malam. di darat dan di laut atau ketika dalam perjalanan. Demikian juga di saat lapang maupun sempit, atau di saat sakit dan sehat. Dalam situasi dan kondisi bagaimanapun orang yang beriman diharuskan untuk tetap zikir kepada Allah SWT, baik secara lahiriah maupun batiniah. Dalam ayat yang lain Allah SWT menegaskan bahwa : .. Sungguh, mengingat Allah adalah yang paling penting (dalam
kehidupan), .... (QS. 29 :45).
Ayat tersebut menempatkan zikir sebagai kegiatan terpenting di antara segala macam aktivitas hidup lainnya. karena secara hakiki tujuan hidup manusia itu sendiri adalah untuk berzikir kepada Allah. Firman Allah yang artinya : "Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menyembah-Ku". Dalam ayat yang lain Allah SWT telah menegaskan : "Dirikanlah shalat untuk mengigat-Ku”

Pengaruh Zikir

(QS. 20 :14.), Dengan demikian, jelas bahwa shalat itu sendiri pada hakikatnya merupakan salah satu bentuk zikir lahir-batin seorang hamba terhadap Tuhannya. Berkenaan dengan keharusan berzikir, Abu Darda telah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya : "Maukah Aku beritahukan kepada-mu amalan-amalan yang dipandang oleh Tuhan-mu sebagai lebih baik dan lebih utama, yang menjadi sarana menaikkan derajatmu dan yang lebih baik daripada memberi sedekah berupa emas dan perak dan bahkan lebih baik dari pada memerangi musuhmnu, sehinga kamu dapat membunuh mereka atau terbunuh oleh mereka ?". Mereka menjawab, "Ya ", Nabi bersabda, "Mengingat Allah". Melalui hadits di atas, Nabi SAW sebenarnya ingin menegaskan bahwa melaksanakan zikir itu hukumnya wajib bagi setiap hamba Allah yang beriman, bahkan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullah Ibn Umar Nabi SAW bersabda : “Tak ada sesuatupun yang lebih efektif dalam menyelamatkan din kita dari hukuman Allah selain mengingat-Nya". Orang-orang bertanya, "tidak jugakah berjuang di jalan Allah akan menyelamatkan diri kita?“ Beliau menjawab, "tidak, tidak ada satu amalanpun bisa menyamai zikir atau mengingat Allah, sekalipun para prajurit meng- gunakan pedangnya sedemikian rupa sehingga pedang itu patah“. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah SWT berfirman yang artinya : “Aku menurut hati hamba-Ku, Aku senantiasa bersamanya,.selama ia berzikir (ingat) kepada-Ku. Bila ia menyebut-Ku dalam hatinya, Aku mengingatnya dalam dzat-Ku, Bila ia menyebut-Ku dalam masyarakatnya, Aku menyebut namanya dalam masyarakat yang lebih baik daripada masyarakatnya“, itu sendiri pada hakikatnya merupakan salah satu bentuk zikir lahir-batin seorang hamba terhadap Tuhannya.

Pengaruh Zikir

Berkenaan dengan keharusan berzikir. Abu Darda telah meri- wayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya; "Maukah Aku beritahukan kepada-mu amalan-amalan yang dipandang oleh Tuhan-mu sebagai lebih baik dan lebih utama, yang menjadi sarana menaikkan derajatmu dan yang lebih baik dari pada memberi sedekah berupa emas dan perak dan bahkan lebih baik dari pada memerangi musuhmu, sehinga kamu dapat membunuh mereka atau terbunuh oleh mareka ?". Mereka menjawab. "Ya ". Lalu Nabi bersabda. "Mengingat Allah “. Melalui hadits di atas, Nabi SAW sebenarnya ingin menegaskan bahwa melaksanakan zikir itu hukumnya wajib bagi setiap hamba Allah yang beriman. Bahkan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullah Ibn Umar Nabi SAW bersabda : "Tak ada sesuatupun yang lebih efektif dalam menyelamatkan kita dari hukuman Allah selain mengingat-Nya". Orang-orang berianya, "tidak jugakah berjuang di jalan Allah akan menyelamatkan diri kita? " Betiau menjawab, "tidak, tidak ada satu amalanpun bisa menyamai zikir atau mengingat Allah, sekalipun para prajurit menggunakan pedangnya sedemikian rupa sehingga pedang itu patah “. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah SWT berfirman yang artinya : “Aku menurut hati hamba-Ku, Aku senantiasa bersamanya, selama ia berzikir (ingat) kepada-Ku. Bila ia menyebut-Ku dalam hatinya, Aku mengingatnya dalam dzat-Ku. Bila ia menyebut-Ku dalam masyarakatnya, Aku menyebut namanya dalam masyarakat yang lebih baik daripada masyarakatnya" Dalam sebuah hadits qudsi yang lain Allah menyatakan : “Hai anak Adam, bila kau mengingat Aku berarti bersyukur kepada-Ku. Melupakan-Ku, berarti mengkufuri Aku".

Pengaruh Zikir

Menurut Imam Izzuddin Ibn Abdus Salam, semua ayat dan hadist di atas bisa disamakan dengan kata ‘perintah', sebab perbuatan-perbuatan yang dipuji atau setiap perbuatan yang dijanjikan imbalan kebaikan dunia akhirat, maka itu berarti diperintahkan. Namun kata "perintah" tidak mesti menunjukkan makna wajib. Bisa digolongkan wajib, apabila ada dalil-dalil yang mendukung atau menunjukkan kewajibannya secara jelas³. Dari beberapa dalil ayat Al-qur'an dan hadits di atas membuktikan bahwa zikir merupakan sebuah kewajiban karena itulah ibadah yang paling utama dari segala ibadah yang lainnya serta mempunyai manfaat yang paling banyak. Zikir" adalah inti dan saripati dari semua ibadah lainnya, Zikir adalah pusat keesaan Allah, dan cahaya tauhid yang sangat terang benderang. Zikir menafikan semua Tuhan palsu dan menegaskan hakekat tunggal, Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya : "Katakanlah ! Allah itu Esa, Allah tempat bergantungnya segala sesuatu, Dia tidak beranak, dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatupun yang menyemainya, (QS. Al-Ikhlas. 1-7), Zikir tidak hanya menafikan Tuhan-Tuhan palsu, melainkan juga semua objek yang bersifat sementara serta menyakini hubungan erat dengan objek Tunggal, desideratum, yakni berkenaan dengan mengingat Allah dan membebaskan seseorang dari segenap kebingungan serta kegelisahan.ª Zikir merupakan jiwa atau ruh dari segala amalan yang lainnya. Dalam bentuk apapun amalan yang dikerjakan oleh manusia tidak akan bernilai di sisi Allah apabila tidak disandarkan atas nama-Nya atau tanpa disertai dengan menyebut dan

3Ibid., hlm. 86. Mir Valiuddin, Zikir dan Komtemplasi dalam Tasawuf, Bandung : Pustaka Hidayah, 2000, hlm. 101.

Pengaruh Zikir

mengingat-Nya. Itulah sebabnya, mengapa zikir secara hakikat tergolong ibadah wajib.

B. Pembagian Zikir Menurut naskah kuno Hidayatus-Salikin, zikir secara umurn dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu zikir jali/jihar dan zikir sirr. Zikir jihar adalah zikir yang dilakukan dengan suara keras, sedangkan zikir sirr merupakan zikir dalam hati atau zikir tanpa suara. Di kalangan para ahli sufi atau penganut tarikat,³ terdapat fase-fase tertentu di mana seseorang harus melakukan zikir dalam bentuk
.jihar (keras) dan ada saat-saat tertentu di mana dia harus melakukannya dengan sirr (tanpa suara). Mengenai bentuk yang mana dari kedua pola zikir di atas yang paling afdhal dilakukan, ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama. Ada yang mengatakan, bahwa zikir jali/jihar-lah yang paling afdhal dan sebagian lagi menganggap zikir khfi/sirr yang lebih afdhal. Dari naskah tersebut terungkap bahwa anggapan mereka ten tang keafdhalan dari praktek masing-masing bentuk zikir itu didasarkan pada alasan-alasan lertentu. Syekh Abu Rahib Syajali, misalnya, menganggap bahwa zikir Jali/jihar itu lebih afdhal bagi orang yang mubtadha, yaitu bagi orang yang baru belajar tarikat atau pada tahap-tahap awal ketika dia mulai menempuh jalan Allah SWT. Menurutnya, pada fase ini kondisi batin atau jiwa seseorang masih berada dalam kondisi ghalib, di mana hatinya masih sangat keras dan kelam. Oleh sebab itu, salah satu upaya yang paling ampuh untuk melembutkan hatinya yang keras itu adalah dengan cara melakukan Tarikat adalah salah satu jalan yang harus dilalui oleh para salik dalam upaya menemukan kebenaran sejati sampai benar-benar memahami hakekat hidup dan mati serta eksistensi Tuhan.

Pengaruh Zikir

zikir dalam bentuk jihar (keras). Bahkan berkenaan dengan hal itu, Syekh Abdul Wahab Sya'rani mengatakan bahwa sebagian besar ulama sependapat mengenai kewajiban dan keharusan berzikir dengan jihar bagi setiap murid yang baru belajar dan baru masuk tarikat. Menurutnya, berzikir dengan sirr (di dalam hati) bagi seorang murid tidak akan memberi bekas dan pengaruh yang kuat terhadap hatinya. Adapun standar kenyaringan suara dalam mempraktekkan zikir jihar menurut mereka adalah dengan suara yang sempurna, yaitu dengan nada suara yang kira-kira mampu mengetarkan atau menggerakkan seluruh anggota tubuh secara refleks. Mereka menganggap bahwa zikir jihar bagi seorang pemula dalam menempuh dunia tarekat akan mempermudah mereka melampaui setiap makam yang akan dilaluinya untuk sampai kepada Allah SWT. Praktek zikir jihar yang disertai dengan cita-cita yang kuat akan mampu

mengantarkan seorang ghalib lebih cepat dekat kepada Allah SWT.

Dia akan memperoleh petunjuk ke arah itu tanpa haras melalui ibadah-ibadah lainnya yang memang sudah menjadi kewajiban untuk dikerjakan sepanjang hidupnya. Untuk memperkuat pendapat di atas, penulis naskah mengutip dalil firman Allah SWT dalam Al-Qur'an yang artinya; ... maka keras sekali hati kamu kemudian daripada demikian itu seperti batu atau terlebih sangat keras daripadanya, maka bahwasanya tiada pecah batu itu melainkan dengan palu yang keras. Menurut ayat di atas, hati manusia menjadi keras disebabkan oleh dosa-dosa yang pernah dia perbuat selama hidupnya. Hati yang keras sangat sukar untuk menerima hidayah kecuali setelah dipalu

Makam dimaksudkan sebagai tingkatan kelas atau fase-fase yang dilalui oleh orang salik dalam dunia tarekat.

Pengaruh Zikir

dengan palu yang keras pula. Adapun palu yang keras yang

dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah zikir jihar, yakni zikir yang

dilakukan dengan suara nyaring. Selanjutnya Syekh Abdul Wahab Sya'rani mengemukakan

bahwa·para ulama sependapat tentang keutamaan zikir jihar yang

dilakukan secara beramai-ramai, baik di dalam mesjid maupun di tempat-tempat lainnya yang tidak mengotori kesucian zikir itu, asalkan zikir dilakukan dengan menghadirkan kebesaran Allah ta'ala di dalam hatinya. Menurut Syekh Abu Bakar Alkatani Rahimahullah ta'ala sebagaimana yang terungkap dalam naskah bahwa di antara syarat- syarat untuk memperkuat pengaruh zikir dalam hati seseorang adalah dengan menyertakan kebesaran Allah SWT serta menta 'limkan-Nya di dalam hati sanubari ketika berzikir. Apabila hal itu tidak dilakukan maka orang yang berzikir itu tidak akan memperoleh manfaat apapun dari zikimnya dan mustahil dapat meraih kemenangan untuk mencapai derajat makamil-'arifin Selanjutnya, Syekh Abu Hasan Asy-syajali Rahimhullah ta 'ala mengemukakan bahwa matan zikir yang terafdhal bagi seorang pe- mula dalam dunia tarekat, terutama bagi mereka yang masih kuat dikuasai oleh hawa nafsunya adalah kalimat "Laailahaillallaah“. Akan tetapi bagi orang yang telah fana⁸ dari pengaruh nafsunya maka matan zikir yang terafdhal adalah dengan mengucapkan "Allah, Allah“, saja. ''Maqamul -'Arifin merupakan salah satu fase tertinggi dalam perjalanan spirituil yang diperoleh lewat kegiatan suluk atau tariket. 8 Fana merupakan terminal terakbir dalam perjalanan spirituil seorang sufi. di mana ketika itu dia merasakan dinnya dan seluruh alam ini tidak ada, yang ada hanya wujud Allah SWT semata. Seseorang yang telah mencapai tahap fana, maka secara refleks seluruh jiwa, raga. pikiran, perasaan dan panea inderanya dirasakan tidak bisa aktif kecuali atas qudrah dan iradah Allah SWT.

Pengaruh Zikir

Adapun zikir sirr (zikir dalam hati) lebih utama bagi golongan mukmin al- 'arifin, karena mereka telah mengenal Allah SWT dengan cahaya iman dan mata hatinya. Sehubungan dengan hal ini Syekh Al-Khatib Alwuju' Said Syekli Abid Ibnu Abdul Karim Al-samani Al-dani mengatakan bahwa para mukmin dan segala orang yang arif itu memikirkan Allah ta'ala dengan hati mereka itu dan memandang akan kenyataan dan tajalli Allah ta'ala dalam hati mereka itu, yakni senantiasa ingat hati mereka itu akan Allah ta'ala. Lebih jauh Syekh Abu Hasan Asy-Syazali Rahimahullah ta'ala menegaskan bahwa barang siapa yang melihat Allah ta'ala dengan penglihat iman dan yakin maka dialah yang terkaya daripada dalil dan burhan. Menurutnya, seseorang yang berada dalam fase ini berarti dia telah masuk dalam makam syuhud, di mana ketika itu dia mampu mengenal Allah ta'ala dengan mata hati dan penglihatan yang layak bagi Allah ta’ala, yang tiada sepertinya sesuatu yang baharu ini. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya: “Allah ta'ala itu tiada seumpama sesuatu dan Dia maha mendengar lagi maha melihat.

C. Adab dan Tata Cara Zikir Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, bahwa zikir merupakan salah satu sarana bagi seorang hamba untuk menghadap dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Untuk menghadap Allah SWT harus mempunyai adab dan tatakrama, demikian juga dengan pelaksanaan zikir. Agar zikir itu diterima oleh Allah S WT serta dapat memberi bekas kepada hati maka secara formil dalam prakteknya hendaklah seorang muzakkir benar-benar memperhatikan dan mematuhi adab kesopanan dan tata cara tertentu dalam berzikir.

Pengaruh Zikir

Menurut naskah kuno Hidayatus-Salikin, secara umum adab zikir ada dua puluh perkara. Lima perkara sebelum zikir, dua belas perkara ketika sedang berzikir dan tiga perkara lagi setelah selesai zikir..

  1. Adab Sebelum Zikir
    a. Taubat Menurut bahasa, taubat berarti kembali, sedangkan menurut syara'taubat adalah kembali dari melakukan perbuatan terlarang menuju kepada perbuatan terpuji, Sebelum melaksanakan zikir. seorang muzakkir dituntut untuk terlebih dahulu bertaubat dari segala maksiat lahir- batin dan juga harus bertaubat dari segala perbuatan yang sia-sia. Taubat mempunyai tiga tahap :
  2. Tahap pertama harus bertaubat dari segala dosa besar, dosa kecil, perkara makruh dan perbuatan yang kurang baik.
  3. Pada tahap kedua, secara berurutan harus bertaubat dari anggapan bahwa dirinya baik, bertaubat dari anggapan bahwa dirinya telah benar dalam bertaubat, dan bertaubat dari segala kehendak hati yang tidak diridhai Allah SWT,
  4. Tahap yang ketiga merupakan puncaknya taubat yakni bertaubat dari lupa musyahadah kepada Allah SWT, walau hanya sekejap. Mengenai cara bertaubat pada dasarnya cukup menyesali
    dan mengakui dosa-dosa yang pernah dilakukan. Ini

Pengaruh Zikir

sebagaimana yang terjadi dengan taubat Nabi Adam ketika beliau terlanjur melakukan perbuatan yang dilarang. Sementara sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa taubat harus disertai dengan niat yang kuat untuk tidak mengulangi lagi segala perbuatan yang tidak diridhai Allah SWT.9

b. Mandi dan mengambil air wudhu', oleh Muslim, bahwa ketika seseorang memanjatkan doa hendaknya di dalam keadaan suci (memiliki wudhu') dan menghadap kiblat.'º
c. Diam dan tetap. Maksudnya tidak melakukan gerakan-gerakan, supaya menghasilkan sadiq yakni supaya benar-benar kosentrasi terhadap zikir yang hendak dikerjakannya, sehingga seirama antara ucapan lidahnya dengan hatinya. Untuk memudahkan konsentrasinya seorang muzakkir hendaknya terlebih dahulu meng-istighat-kan hatinya sebelum menyebut kalimah Laaillaahaillallaah itu dengan lafadh Allah, Allah, Allah, disertai dengan fikir dan ingat sampai hilang segala rasa was-was dalam hatinya. Setelah lenyap segala rasa khawatir dan hatinya tenang dalam konsentrasi kepada Allah barulah lisannya dan hatinya seirama mengucapkan matan zikir "Laailaahaillallaah". Asy-Sya'ram, Sayyid Abdul Wahab. Menjadi Kekasih Tuhan, terj. Ach, Khudori
Soleh, Yogjakarta, Mitra Pustaka, 1999, hal.6 1º Ibn Qayyim. Ibnu Rajab, Abu Hamid Al-Ghazali, Kiat menjadi hamba pilihan menurut ulama Shalafus shalih, (terj. Wawan Djunaedi Soffandi, S.Ag dan Majid ibn Abul Lail), Jakarta: Pustaka Azzam, 2001.

Pengaruh Zikir

d. Meminta Hi kmat Pertolongan dari Syekhnya. Ketika masuk di dalam zikir maka seorang muzakkir harus meminta hikmat bimbingan dari Syekhnya dengan cita-cita yang kuat di dalam hatinya untuk melaksanakan zikirnya dengan benar. Bahkan jika dibutuhkan dia harus menyeru Syekhnya itu dengan lisannya.
e. Mengi'tikadkan bahwa ia minta hikmat bimbingan dari syekhnya itu seakan-akan ia minta tolong daripada Nabi SAW. Hal ini dimaksudkan karena Syekhnya itu adalah ganti daripada Nabi SAW. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW sendiri yang artinya “ulama itu adalah pewaris para Nabi".
2. Adab Ketika Sedang Zikir
a. Duduk iftirasy di atas tempat yang suci, yakni tempatnya harus suci dari segala macam kotoran dan najis, duduknya persis seperti duduk dalam tahyat sembahyang atau dapat juga dilakukan dengan cara duduk bersila. Posisi duduk seperti ini akan sangat membantu kekuatan konsentrasinya dalam zikir,
b. Menghantarkan kedua tangannya di atas kedua pahanya. Posisi tangan seperti ini selain mencerminkan sikap kesopanan, juga sangat berpengaruh bagi keteraturan getaran qalbunya.
c. Memakai wangi-wangian, karena mengikuti sunnah Nabi SAW yang menyatakan bahwa para malaikat sangat senang dengan wangi-wangian. Selain itu, aroma keharuman sangat membantu bagi seorang muzakkir untuk menemukan suasana hati yang menyenangkan.
d. Memakai pakaian yang bersih, baik, indah (sopan) dan yang

Pengaruh Zikir

lebih penting adalah pakaian yang halal. Tidak boleh pakaian

hasil tipuan dan curian atau pakaian pinjaman yang pemiliknya tidak ikhlas meminjamkannya.

e. Memilih tempat yang kelam dan sunyi, karena hal ini sangat membantu bagi kemampuan konsentrasi pikiran dan hatinya kepada Allah SWT.
f. Memejamkan kedua matanya agar mata hatinya terbuka untuk menyaksikan rahasia keghaiban Ilahi dan hal ini juga sangat membantu konsentrasinya.

g. Menyerupakan rupa syekhnya antara kedua matanya. Hal

ini dimaksudkan agar si muzakkir memperoleh hikmat dari Syekhnya atau gurunya.

h. Benar-benar diyakininya akan zikirnya itu, yakni kuat dan teguh pengakuannya terhadap keberadaan Allah S WT., baik di hadapan orang lain maupun ketika sunyi.
i. Ikhlas, yaitu bahwa di-qasad-kanya zikirnya itu semata-mata hanya kepada Allah SWT.
j. Memilih lafadh zikir itu dengan kalimah Laaillaahaillallaah, karena lafadh inilah yang terqfdhal bagi pengakuan seorang harnba akan eksistensi Allah SWT. Dalam lafadh ini secara tersirat mengandung segala sifat-sifat Allah yang lainnya.
k. Menghadirkan, makna zikir itu dalam hatinya pada setiap kali menyebut zikir itu. Untuk ini seorang muzakkir harus mentahdirkan makna Laaillaahaillallaah di dalam hatinya, sehingga nyata sifat basyanah, Setelah padam segala rasa waswas maka diucapkannya dengan lidahnya Laaillaahaillallaah dan dengan hatinya laa ma'budi illallaah.

Pengaruh Zikir

Tatkala padam sifat basyanah dart was-was, maka sucilah

hatinya daripada segala syak dan prasangka terhadap Allah SWT. Dalam tahap ini lidahnya tetap mengucapakan

kalimah Laaillaahaillallaah dan mentahdirkan dalam

hatinya dengan makna kalimah Laa mathlubi illallaah.

. Setalah lenyap segala rasa khawatir maka dengan tetap lisannya mengucapkan kalimah Laaillaahaillallaah, hatinya

mentahdirkan makna Laa maujudi illallaah. Pada fase terakhir ini seorang muzakkir telah berada dalam makam fana, karena tingkat ruhani spirituilnya ketika itu telah mengantarkannya kepada ma'rifat yang hakiki. Sehingga dalam pandangannya tatkala itu hanya Allah SWT sajalah yang maujud. Bahkan dia sendiri merasa tidak akan mampu berzikir kecuali dengan hak pertolongan dan kekuatan Allah SWT. Dalam kondisi ini seringkali seorang muzakkir menganggap bahwa dirinya sudah tidak ada lagi, yang ada hanyalah Allah SWT.

  1. Menapihkan (meniadakan) segala sesuatu yang maujud dari dalam pikiran dan hatinya kecuali Allah SWT saja dengan lafadh Illallaah. Hal ini dilakukan sampai kalimah itu dengan segala eksistensi sifat Allah mampu menggetarkan seluruh anggota tubuhnya.
  2. Adab Setelah zikir
    a. Setelah selesai berzikir, hendaklah kondisi hatinya tetap terpaut dengan zikirnya itu dan hatinya tetap hadir bersama Allah SWT di manapun dia berada. Dengan demikian, akan turun anugerah dan kasih sayang Allah atasnya untuk senantiasa memperbaiki keadaan amaliyah lahirnya.

Pengaruh Zikir

b. Setelah selesai zikir, hendaklah ia menahan keluar masuk nafasnya agar tidak terlalu cepat daripada memperbaiki hatinya. Hal ini sangat membantu untuk membukakan hijab dan memutuskan khawatir nafsunya dari berbagai godaan syetan, sebab syetan sangat cenderung keluar masuk mengikuti nafas manusia.
c. Jangan langsung minum air setelah selesai zikir, karena meminum air dapat memadamkan panas yang diperoleh melalui zikir itu dan dapat menghilangkan rindunya kepada yang muzakkur yaitu Allah ta'ala yang mathlubi pada zikirnya. Adab zikir di atas lazim dilakukan pada orang yang berzikir
dengan ikhtiar. Menurut Syekhkana Wa Ustajana Al Arif Bilahita'ala Saidi Syekh Abdul Karim Assamat Almarini di dalam kitab Nathatilayuhia fi Kaifiyah Sulukil Muhammadiyah. Adab berzikir yang telah disebutkan di atas lazim dilakukan pada orang yang berzikir dengan lidah. Sedangkan orang yang berzikir dengan hati adab tersebut tidak dilakukan karena pada hakikatnya zikir sirr merapakan totalitas sebuah upaya penyucian hati seorang hamba dari segala sesuatu selain Allah SWT secara terus menerus tanpa terikat oleh waktu dan tempat."

" Dr. Mir Valiuddin, Zikir & Kontenplasi dalam Tasawuf, Bandung : Pustaka Hidayah, 2000, hlm. 121-127.

Pengaruh Zikir

D. Keutamaan Zikir dan Pengaruhnya Terhadap Ketenangan Jiwa Zikir merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat agung derajat dan pahalanya. Dalam riwayat Muslim, Nasai dan Al-Bazzar menceritakan, ketika Nabi Muhammad SAW sedang berbincang- bincang dengan para sahabat, Nabi bertanya pada para sahabat : "Maukah aku beritahu tentang suatu amal yang paling baik, paling suci di sisi Tuhan, yang mampu meningkatkan derajat, lebih baik dari memberi sedekah emas dan perak, bahkan lebih baik daripada bertempur dengan musuh? "Baiklah ya Rasulullah“, jawab sahabat. "Zikir kepada Allah". Dari hadits di atas, jelaslah bahwa keutamaan zikir sangat besar sekali, bahkan lebih baik dari jihad melawan musuh. Oleh para ulama dikatakan bahwa keutamaan zikir yang terpenting adalah sebagai sarana utama bagi manusia dalam mencapai Allah Yang Maha Agung sebagaimana dikatakan oleh Abu Ali Ad-Daqqaq menyatakan, "Zikir adalah sarana utama untuk mencapai Allah. Seseorang tidak akan sampai kepada-Nya kecuali dengan mengistiqamahkan zikir" Firman Allah SWT yang artinya : "Maka sebutkanlah oleh kamu akan Daku, niscaya Aku sebutkan juga akan kamu. "Melalui ayat tersebut Allah SWT menegaskan bahwa Allah S WT hanya akan memperhatikan orang-orang yang senantiasa ingat (zikir) kepada-Nya. Barang siapa mengingat dan menyebut asma-Nya, maka pada saat itu Allah pasti ada bersamanya. Ini bukan berarti Allah tidak mengetahui keberadaan orang-orang yang tidak ingat kepada-Nya. Bahkan Allah SWT maha melihat dan mengetahui segala makhluk ciptaan-Nya, baik yang berada di langit maupun di bumi, baik yang ghaib maupun yang nyata. Akan tetapi melalui ayat tersebut Allah SWT, menegaskan bahwa Dia hanya memberikan jaminan per- lindungan bagi hamba-hamba-Nya yang senantiasa berzikir. Dalam

Pengaruh Zikir

ayat lain Allah SWT berfirman yang artinya; "Dan sebutkan oleh kamu akan Allah ta'ala akan sebut yang banyak, mudah-mudahan kamu dapat kemenangan di akhirat. Dalam ayat tersebut Allah SWT lebih tegas lagi menyatakan bahwa kemenangan yang hakiki hanya diberikan kepada orang-orang

yang selalu berzikir dengan zikir yang banyak, yakni zikir yang tidak

dapat dihitung dengan jumlah dan waktu, bahkan dalam ayat yang lain Allah SWT memberi jaminan ketenangan dan kedamaian bagi orang yang selalu berzikir, sebagaimana firman-Nya yang artinya; "Mereka yang percaya kepada Allah, tenang (damai) hati mereka karena selalu ingat (menyebut) Allah, hanya dengan menyebut (mengingat) Allah hati akan tetap tenang. Oleh sebab itu, sudah sepantasnya bagi orang-orang yang mengaku beriman agar senantiasa ingat (zikir) kepada Allah SWT, kapan dan di manapun mereka berada, sebagaimana firman Allah yang artinya; "“Apabila telah kamu sempurnakan akan sembahyang kamu maka zikir (ingatlah) oleh kamu akan Allah, baik dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring. Maksudnya agar setiap mukmin selalu cendrung mengingat Allah SWT pada setiap saat dan tempat, baik pada malam maupun siang hari, baik di darat maupun di laut atau pada saat dalam perjalanan maupun pada saat berdiam di rumah dan kampung halaman, baik pada masa kaya atau ketika jatuh miskin, baik pada masa sakit ataupun sehat. Baik zikir itu dilakukan dengan cara sirr maupun dengan jihar. Sebagai salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepda Allah S WT, zikir mempunyai kedudukan lebih tinggi daripda ibadah-ibadah sunnah lainnya, sebagaimana sabda Nabi SAW yang artinya; "Bakwasanya hendaklah aku khabarkan akan dikau dengan yang

Pengaruh Zikir

terlebih baik kamu dan yang terlebih suci dari pada memiliki akan kamu dan yang terlebih tinggi pada derajat kamu dan yang terlebih baik dan pada bahwa diberi akan kamu emas dan perak dan yang terlebih baik daripada kamu dapat akan seteru kamu, maka kamu kuat akan yuhar mereka itu dan dikuat akan yuhar kamu, yakni terlebih baik dari pada perang sabilillah, maka kata sahabat : Apa amalan yang demikian itu ya Rasulullah ? Sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam : Yaitu zikirullahi ta'ala. Selain itu, dalam naskah halaman 306 sampai 308 disebutkan bahwa orang-orang yang berzikir akan selalu mendapat naungan dari para malaikat, sebagaimana naskah mengutip sabda Nabi SAW yang artinya; “Adalah bagi Allah ta'ala beberapa malaikat yang berjalan pada hal mereka itu mencari akan majelis zikir, yakni perhimpunan orang yang duduk berzikir, maka apabila dapat mereka itu akan perhimpunan orang yang duduk berzikir maka duduk segala malaikat itu serta orang yang berzikir itu dan mengelilingi setengah mereka itu akan setengah mereka itu dengan segala sayap hingga memenuhi akan barang yang antara mereka itu dan antara langit. Maka apabila bercerai mereka itu maka naik segala malaikat itu kepada langit. Maka bertanya Allah ta'ala akan mereka itu padahal Dia terlebih tahu dengan kelakuan mereka itu. Dari mana kamu datang ? Maka sembah mereka itu : Dari pada hamba-Mu di dalam bumi, maka firman Allah ta'ala bagi mereka itu : Betapa kamu tinggalkan akan hamba-Ku itu ? Maka sembah mereka itu : Kami tinggalkan akan hamba-Mu padahal mereka itu mengucap tasbih akan Dikau, dan mengucap "zikir akan Dikau, dan memuji akan Dikau, dan memohonkan mereka itu akan Dikau. Maka firman Allah ta'ala : Apa yang dimohonkan mereka itu akan Daku ? Maka sembah mereka itu : Memohonkan mereka itu akan surga, Maka firman Allah ta ala : Adakah mereka itu melihat akan surga-Ku ? Maka sembah mereka

Pengaruh Zikir

itu : Tiada ia melihat akan dia hai Tuhanku, Maka firman-Nya : Betapa lagi jika ia melihat akan surga-Ku : Maka sembah segala malaikat dan meminta peliharakan mereka itu akan Dikau dari pada api neraka. Maka firman-Nya : Adakah dia melihat akan neraka-Ku ? Maka sembah mereka itu : Tiada melihat mereka itu akan dia. Maka firman-Nya : Betapa lagi jika ia melihat akan neraka-Ku. Maka sembah segala malaikat itu : dan memohonkan ampunan mereka itu akan Dikau. Maka firman-Nya: Aku saksi akan kamu bahwasanya

telah Kuampuni bagi mereka itu dan aku beri akan mereka itu barang

yang dipinta oleh mereka itu akan dia dan aku peliharakan mereka itu akan yang memohonkan peliharaan mereka itu akan Daku. Maka sembah segala malaikat itu : Ada dalam perhimpunan mereka itu ya Tuhanku si Pulan seorang hamba-Mu yang berbuat kesalahan, yakni berbuat maksiat akan Dikau, dan hanya sanya lain ia di mereka itu dan duduk ia berzikir serta mereka itu. Maka firman Allah ta'ala : Dan ia pun telah Kuampuni bagi mereka itu karena mereka itu kaum yang tiada dapat celaka dengan mereka itu dan mereka itu akan orang yang seperdudukan dengan mereka itu. Lebih terperinci disebutkan oleh Syekh Ali al-Murshafy di dalam kitabnya Minhajus-Saliki Isyraful-Masalik Mukhtashar Risalatil-Qasyir : ia nukil dari sebagian golongan ‘arifin, bahwa kemuliaan zikir dan kemegahannya atas segala ibadah yang lain yaitu berhimpun di dalam zikir itu kemuliaan sebanyak tiga puluh lima perkara yang sangat terpuji :

  1. Barang siapa yang selalu berzikir berarti dia telah menjunjung dan memenuhi kewajiban atas perintah Allah SWT tentang kewajiban berzikir, sebagaimana firman Allah ta'ala; "Wahai orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah, ingatlah (zikirlah) kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya pada pagi-pagi dan petang-petang'

Pengaruh Zikir

  1. Orang yang berzikir akan selalu berada bersama Allah SWT, karena firman Allah ta’ala; “Sebut oleh kamu akan Daku niscaya Aku sebut akan kamu.
  2. Orang yang berzikir akan memperoleh redha Allah karena zikirnya itu.
  3. Zikir akan melahirkan kecintaan kepada Allah, karena zikirnya itu mampu menanamkan pengakuan yang tulus terhadap kebesaran dan ketinggian Allah SWT di dalam hati orang yang berzikir itu. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya; "Bahwasanya zikrullah itu lebih besar dari pada ibadah yang lain dari padanya,
  4. Dengan zikirullah segala anggota tubuh akan masyghul (senantiasa cenderung) di dalam taat kepada Allah SWT.
  5. Orang yang berzikir akan senantiasa dihampiri oleh malaikat, sebab mereka sangat suka dan cinta kepada orang-orang yang berzikir.
  6. Orang yang berzikir akan selalu berada dekat Allah bahkan bersama-Nya tanpa berkaifiyah dan tiada berhad, karena firman Allah ta’ala di dalam hadits qudsi yang artinya; "Aku pada sangka hamba-Ku dan Aku sertanya sekira-kira menyebut ia akan Daku."
  7. Bersegera malaikat mencatat niat amal kebajikan orang yang berzikir itu.
  8. Jauh dan takut syaitan dari pada orang yang berzikir itu. Kata Syekh Afdhaluddin; "Bahwasanya syaitan itu mengendarai akan seorang kita tiap-tiap lupa dari pada zikrullah ta'ala, karena setan itu senantiasa berdiri bertaulan dengan hamba Allah ta'ala maka tiap-tiap lupa daripada zikrullah ta'ala maka mengendarai dan mengerasi oleh syetan, dan tiap-tiap menyebut Allah ta'ala maka jikalau dibukakan Allah ta'ala bagi seorang kita niscaya

Pengaruh Zikir

dilihat akan iblis-iblis itu mengendarai akan dia seperti mengendarai himar dan dipalingkan akan dia betapa dikehendakinya sepanjang siang dan malam,

  1. Zikir itu sebagai bukti kuat dari cinta seorang hamba kepada Allah, dan Allah-pun akan sangat mencintai dan menjadikan kekasih-Nya orang yang berzikir itu.
  2. Zikir dapat menghilangkan sifat munafik seorang hamba kepada Allah.
  3. Dengan zikir itu Allah S WT akan memelihara dan melindunginya dari berbagai gangguan dan kejahatan syaitan.
  4. Orang yang berzikir akan terpelihara dari siksa api neraka.
  5. Orangyang berzikir akan memperoleh nikmat dari Allah SWT dengan memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang menyebut Allah.
  6. Hati akan menjadi terang dan terbuka hijab dengan cahaya zikir itu.
  7. Hati selalu terjaga daripada lalai dan waspada terhadap berbagai keinginan untuk berbuat jahat dan dosa.
  8. Orang yang zikir itu seolah-olah duduk hampir kepada Allah ta'ala dengan tiada berkaifiah dan tiada berhad, karena firman Allah ta’ala di dalam hadist qudsi : yang artinya; “Aku duduk hampir akan orang yang menyebut akan Daku. “
  9. Terbuka pintu langit dengan zikirnya itu, karena malaikat hendak menaikkan zikirnya itu.
  10. Naik saksi dan kasih segala tempat dan makhluk yang mendengar zikir itu serta banġga mereka karena orang yang berzikir itu.

Pengaruh Zikir

  1. Zikir dapat melembutkan hati yang keras serta menjadikannya khusu'dan tawaddu'.
  2. Satu kalimah dan pada zikir itu dapat menghapuskan sepuluh kejahatan.
  3. Dengan zikir, hati menjadi tenang, damai dan tentram, karena firman Allah ta’ala yang artinya; ..hanya dengan menyebut Allah hati akan menjadi tentram.
  4. Orang yang berzikir akan disenangi dan dibuat senang oleh kedua malaikat kiraman dan katibin, mereka menghapuskan kejahatan atasnya, serta mendoakannya agar terhindar dari segala kejahatan dan mendapat kemenangan dengan surga serta dilepaskan daripada api neraka.
  5. Zikir itu dapat meringankan segala yang berat-berat pada hari kiamat, karena sabda Nabi SAW : "Telah mendahului akan kamu orang yang mufradun. Maka sembah sahabat, apa orang yang mufradun itu ya Rasulullah ? maka sabdanya : mereka itulah yang meninggalkan zikir, padahal zikir dapat menghilangkan dan meringankan mereka itu dari segala yang berat-berat pada hari kiamat..
  6. Zikir itu lebih afdhal daripada ibadah haji dan perang melawan orang kafir yang hendak masuk ke negeri Islam (perang sabilillah) dan lebih utama dari sedekah dan tiap-tiap amal yang lain dari pada segala amal yang fardlu.
  7. Orang yang memasyghulkan zikir akan dipenuhi kebutuhannya dan diberi jalan keluar serta pertolongan oleh Allah S WT terlebih afdhal daripada pemberian Allah terhadap orang yang meminta.
  8. Turun rahmat dan berkat Allah atas orang yang berzikir itu dan mereka senantiasa diliputi oleh para malaikat,

Pengaruh Zikir

  1. Jika seorang hamba memulai subuh harinya (bangun tidur) dengan zikir dan ditutup menjalang tidur malam dengan zikir, maka Allah SWT menjadikan segala pekerjaannya pada siang serta tidurnya pada malam hari itu sebagai zikrullah.
    29.Zikir dapat menggantikan kejahatan dengan kebaikan dan menghapuskan segala dosa.
  2. Satu majelis (perhimpunan) orang yang berzikir dapat menghapuskan seribu majelis (perhimpunan) orang yang berbuat kejahatan.
  3. Orang yang banyak berzikir pada hari kiamat nanti akan duduk di atas mimbar yang terbuat dan nur (cahaya), dan mengenang- ngenang para malaikat dan ambia terhadap kedudukan mereka itu. Cahaya muka mereka itu lebih indah daripada cahaya bulan purnama. Selain itu, Allah akan membuat hati mereka tidak takut dan tidak gentar kepada segala kejahatan makhluk, tetapi segala makhluk akan takut dan gentar terhadap mereka.
    32.Orang yang berzikir akan memperoleh kemuliaan pada hari kiamat, karena dalam hidup mereka senantiasa memuliakan Allah SWT dengan zikir.
  4. Orang yang selalu berzikir akan memperoleh nikmat dalam surga berupa taman yang penuh berbagai buah-buahan yang dapat dipetik tiap-tiap waktu kapan saja. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW yang artinya; "Apabila lalu kamu dengan kebun surga itu maka ambil oleh kamu akan buah-buahannya yang dalamnya, maka sembah sahabat baginya apa kebun surga itu ya Rasulullah ? maka sabdanya : itulah tempat perhimpunan duduk berzikir. Rasulullah menyerupakan akan mqjelis zikir itu seperti kebun di dalam surga, karena tempat perhimpunan duduk berzikir itu merupakan tempat turunnya rahmat dan hidayah Allah dan

Pengaruh Zikir

dihiasi yang ajaib-ajaib dan makrifat yang gharib-gharib yang didapat, oleh orang yang berzikir itu seperti orang yang masuk di dalam kebunnya yaitu tempat mengambil buah-buahan yang indah-indah di dalam kebunnya itu. “

34.Orang yang berzikir itu akan senantiasa diliputi oleh cahaya kebenaran dari Allah SWT, sebagaimana sabda Nabi SAW : "Bahwasanya keberadaan orang yang berzikir itu di tengah- tengah perhimpunan orang yang lupa menyebut Allah ta'ala seperti sebatang pohon kayu yang hijau di dalam perhimpunan kayu yang kering.
35. Orang yang berzikir secara khafi (dalam hati) akan memperoleh satu perbendaharaan yang tidak dapat diukur dengan kacamata duniawi, bahkan malaikat sendiri tidak dapat melukiskannya, sebab zikir khafi hanya Allah SWT sendiri yang mengetahuinya. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam sebuah hadits qudsi yang artinya; “Adalah bagimu pada-Ku pahala yang Aku balaskan bagimu yaitu zikir yang khafi yang tiada melihat atasnya oleh seorang yang lain dari pada-Ku.. “ Dengan demikian, tidak ada ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki bagi seorang manusia kecuali setelah ia ma'rifat terhadap hakikat Allah SWT melalui zikir secara terusmenerus, lalu menyerahkan diri (tawakkal) kepada-Nya, sebab hanya dengan zikirlah seorang hamba akan merasa dekat dan selalu memperoleh perhatian, kasih sayang dan perlindungan dari Allah SWT.

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan Zikir secara awam artinya mengingat atau menyebut nama Allah, sedangkan secara hakikat zikir merupakan kesadaran totalitas lahir batin dari seorang hamba atas eksistensi Tuhan sebagai penguasa tunggal di dunia dan akhirat. Dari prakteknya, zikir secara umum dapat dibagi menjadi dua, yakni zikir jihar (zikir dengan suara keras) dan zikir sirr (zikir dengan hati). Zikir jihar lebih utama bagi seorang pemula yang sedang berusaha mendekatkan dirinya kepada Tuhan, sedangkan zikir sirr lebih afdhal bagi mereka yang telah menemukan fase hakikat, makrifat dan telah mencapai fana dalam perjalanan spiritualnya. Zikir merupakan santapan rohani dan sekaligus sebagai inti dari seluruh ibadah yang lain, oleh karena itu melaksanakan zikir hukumnya wajib bagi setiap hamba Allah yang beriman. Zikir dapat menolak godaan syaitan, mengendalikan nafsu syahwat, menghilangkan rasa takut, gundah, gelisah dan sedih, menumbuhkan rasa cinta dan rindu kepada Allah, mendatangkan ridha Allah, membuat hati merasa berani, senang, damai, lega dan bahagia, bahkan bisa menyinari wajah serta dapat membentuk dan meningkatkan karisma bagi orang yang melakukannya. Supaya zikir dapat memberikan pengaruh positif bagi ketenangan jiwa si pelakunya, maka dalam pelaksanaannya hendaknya diperhatikan adab-adab dan tata cara tertentu yang sesuai dengan akhlak kesopanan terhadap Allah Swt.

Penutup

B. Saran-saran Sebagai hamba Allah yang mengaku umat Nabi Muhammad SAW dan mengaku beriman kepada-Nya, maka sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk senantiasa memasyghulkan zikir dalam kehidupan sehari-hari, baik zikir secara jihar maupun zikir sirr8 di dalam hati. Selain itu, terjadinya globalisasi dalam berbagai bidang kehidupan saat ini, telah menyebabkan munculnya berbagai pertentangan dan kekerasan, bahkan persaingan hidup semakin tajam, di mana manusia yang hidup pada zaman seperti ini sangat gampang mengalami stres, resah, keluh kesah, sedih, prustasi, dan sebagainya. Oleh karena itu, selalu memperbanyak zikir, sebab hanya dengan zikirlah hati manusia dapat menjadi tentram dan bahagia, yakni dengan zikir hakiki.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghazali, Muhammad, Munajat, Zikir, dan Doa Rasulullah SAW, Jakarta : Pustaka Hidayah, 2000. Asy-Sya'rani, Sayyid Abdul Wahab, Menjadi Kekasih Tuhan, (terj. Achmad Khudori Soleh), Yogyakarta, Mitra Pustaka, 1999. Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Jilid 5, Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve,

1994.
Farid, Ahmad, Kiat Menjadi Hamba Pilihan, Jakarta : Pustaka Azzan,

2000.
Ibn Qayyim, Ibn Rajab, Abu Hamid Al Ghazali, Kiat Menjadi Hamba Pilihan Menurut Ulama Shalafus shalih, (terj. Wawan Djunaedi Soffandi dan Majid Ibn Abu Lail), Jakarta : Pustaka Azzam, 2001 Valiuddin, Mir, Zikir dan Kontemplasi dalam Tasawuf, Bandung : Pustaka Hidayah, 2000.

9 Z