Baca PDF (OCR): Inventarisasi Manuskrip Lontar 19 Agustus 2020

208 halaman · 7 halaman diproses dengan OCR· 4235 ms

Daftar isi
  1. MANUSKRIP LONTAR DI PROVINSI BALI
  2. I Wayan Rupa
  3. I Made Purna I Gusti Ayu Armini I Wayan Suca Sumadi
  4. Hartono
  5. Bharata Yidhn
  6. Manuskrip Lontar di P rovinsi Bal i
  7. Oleh:
  8. I Wayan Rupa
  9. I Made Purna
  10. I Gusti Ayu Armini
  11. I Wayan Suca Sumadi
  12. Hartono
  13. Manuskrip Lontar di Provinsi Bali
  14. © Penerbit Kepel Press
  15. Diterbitkan oleh Penerbit Kepel Press untuk
  16. Cetakan Pertama, Juni 2020
  17. Anggota Ikapi
  18. ISBN : 978-602-356-336-4
  19. KATA PENGANTAR
  20. Da ftar Isi
  21. KATA PENGANTAR.................................................. iii
  22. daftar isi................................................................. v
  23. daftar gambar................................................... xi
  24. da ftar tabel......................................................... xiii
  25. Perpustakaan Lontar U
  26. Manuskrip Lontar Kakawin.
  27. Manuskrip Lontar Geguritan.
  28. BAB III Bahasa
  29. Da ftar Ga mbar
  30. Da Ta be l
  31. B AB I
  32. Penda huluan
  33. 1.1 Latar Belakang
  34. 1.2 Masalah
  35. 1.3 Tujuan
  36. 1.4 Manfaat
  37. 1.5 K onsep dan Teori
  38. 1.5.1 K onsep
  39. 1.5.2 Teori Nilai
  40. 1.6 Metode dan Teknik
  41. ba b ii
  42. Identi fika si Man uskrip L ontar di Ba li
  43. 2.1 Pengertian Manuskrip Lontar
  44. 2.2 Sejarah Manuskrip Lontar di Bali
  45. 2.3 Perkembangan Manuskrip Lontar Dewasa Ini
  46. 2.4 Lembaga Penyimpanan Manuskrip Lontar di Bali
  47. 2.4.1 Perpustakaan Lontar UPTD Gedong K irtya
  48. 2.4.2 Museum Negeri Provinsi Bali
  49. 2.4.3 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana
  50. 2.4.5 Lembaga Penyuluh Bahasa Bali
  51. 2.4.6 Museum Pustaka Lontar Desa Adat Dukuh Penaban
  52. 2.5 Deskripsi Klasifikasi Jenis Isi Manuskrip Lontar di Bali
  53. 2.5.1 Manuskrip Lontar K akawin
  54. 2.5.1.1 K akawin Mayor
  55. 1) K akawin Ramayana.
  56. 2) K akawin Arjuna Wiwaha.
  57. 3) K akawin Bharatayuddha.
  58. 4) K akawin Hariwangsa.
  59. 5) K akawin Sutasoma.
  60. 6) K akawin Bomakawya
  61. 7) K akawin Lubdaka
  62. 2.5.1.2 K akawin Minor
  63. 2. K akawin Abhimanyuwiwaha (Pernikahan
  64. Abhimanyu).
  65. Kakawin–kakawin tentang kisah sang Kresna seperti:
  66. 2.5.2 Manuskrip Parwa-Parwa (Cerita Prosa)
  67. 2.5.3 Nama-nama K anda Dalam K akawin Ramayana sebagai bentuk karya sastra Prosa
  68. 2.5.4 Manuskrip Babad (Itihasa) (silsilah atau sejarah)
  69. 2.5.5 Manuskrip Lontar Geguritan
  70. 2.5.6 Manuskrip Lontar usada
  71. 2.5.7 Manuskrip Weda
  72. 2.5.8 Manuskrip Asta Brata (tata cara kepemimpinan)
  73. 2.5.9 Dharma Caruban (kuliner tradisonal Bali)
  74. 2.5.10 Lelampahan
  75. 2.5.11 Tantri
  76. 2.5.12 Dharma pemaculan (ilmu dan tatacara pengolahan lahan pertanian)
  77. 2.5.13 Wariga (Palelintangan)
  78. 2.5.14 Tutur
  79. 2.5.15 Asta K osala
  80. B AB III
  81. 3.1 Bahasa
  82. 3.1.1 Bahasa Jawa Kuno
  83. 3.1.2 Bahasa Jawa Tengahan
  84. 3.1.3 Bahasa Bali
  85. 3.2 Penggunaan Aksara Bali dalam Manuskrip Lontar
  86. 3.2.1 Pengertian Aksara Bali
  87. 3.3.2 Sekilas Asal Usul Aksara dan bahasa Bali dalam Lontar
  88. 3.3 Sekilas tentang Pembagian Aksara Bali
  89. 3.3.1 Aksara Suara (Vokal)
  90. Tabel 3.1 Aksara Suara (vokal)
  91. 3.3.2 Aksara Wianjana (konsonan)
  92. Tabel 3.2 Aksara Wianjana (K onsonan)
  93. 3.3.3 Pangangge Suara
  94. 3.3.4 Pengangge Tengenan
  95. Tabel 3.3 Pengangge Tengenan
  96. 3.3.5 Pengangge Aksara
  97. Tabel 3.4 Pengangge Aksara
  98. 3.3.6 Gantungan
  99. 3.3.7 Angka
  100. Tabel 3.5 Angka dalam Aksara Bali
  101. 3.4 Fungsi Aksara Bali dalam Manuskrip/Lontar
  102. 3.5 Peranan Aksara Bali dalam K ehidupan K eagamaan yang bersumber dari Manuskrip Lontar
  103. 3.6 Peranan Aksara Bali dalam K ehidupan Magis yang Bersumber pada Manuskrip Lontar
  104. B AB IV
  105. Pr ose s Pe mbuatan Le mpiran L ontar
  106. 4.1 Proses Pembuatan Lempiran Lontar
  107. 4.1.1 Memilih daun lontar
  108. 4.1.2 Ngekum
  109. 4.1.3 Pengeringan
  110. 4.1.4 Perebusan
  111. 4.1.5 Pengeringan setelah proses perebusan
  112. 4.1.6 Blagbag/Nepes (menjepit)
  113. 4.1.7 Pembuatan mal (melubangi)
  114. 4.1.8 Menyerut dan pemberian cat pewarna merah (gincu)
  115. 4.1.9 Alat Tulis lontar (pengrupak)
  116. 4.2. Pengawetan atau Pelestarian Manuskrip Lontar
  117. 4.2.1 Membersihkan noda/kotoran
  118. 4.2.2 Membungkus lontar
  119. 4.2.3 Penyimpanan Lontar
  120. 4.2.4 Lontar kaku/kering.
  121. 4.2.5 Lontar patah/retak.
  122. 4.2.6 Tulisan pudar
  123. B AB V
  124. 5.1 Fungsi Lontar sebagai Candi Pustaka
  125. 5.2 Fungsi Lontar sebagai Media Nyastra
  126. Terjemahan :
  127. 5.3 Fungsi Lontar Dalam Adat dan Agama
  128. 5.4 Nilai Etika Suami-Istri Dalam Lontar Geguritan I Dremen
  129. Weda Smrti
  130. Reg Weda V. 61.8
  131. Manu Manus Smrti IX. 45
  132. Kitab Mahabharata – Santi Parwa
  133. 5.5 Nilai Pendidikan Etika Dalam Lontar Putra Sesana
  134. 5.6 Nilai Tatwa K eesaan Siwa Siddhanta Dalam Lontar Bhuana K osa
  135. 5.7 Nilai Tatwa Toleransi Beragama Dalam Lontar Siwasiddhanta
  136. 5.7 Nilai Moral Dalam Lontar Nitipraya
  137. B AB VI
  138. Ke si mp ulan
  139. 6.1 K esimpulan
  140. 6.2 Saran
  141. Da ftar Pustaka
  142. DAF TAR INFO RM AN
  143. Jabatan : Bendesa Adat Dukuh
  144. MANUSKRIP LONTAR DI PROVINSI BALI
  145. lampau. Karena saking kelampauannya tidak
  146. Mmengherankan manuskrip dijadikan wadah sebagai Candi
  147. KEPEL

INVENTARISASI KARYA BUDAYA

MANUSKRIP LONTAR DI PROVINSI BALI

I Wayan Rupa

I Made Purna I Gusti Ayu Armini I Wayan Suca Sumadi

Hartono

Bharata Yidhn

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN W BALAI PELESTARIAN NILAI BUDAYA BALI TAHUN 2020

Manuskrip Lontar di P rovinsi Bal i

Oleh:

I Wayan Rupa

I Made Purna

I Gusti Ayu Armini

I Wayan Suca Sumadi

Hartono

Manuskrip Lontar di Provinsi Bali

© Penerbit Kepel Press

Oleh : I Wayan Rupa I Made Purna I Gusti Ayu Armini I Wayan Suca Sumadi Hartono

Disain cover : Winengku Nugroho Layout & setting : Safitriyani

Diterbitkan oleh Penerbit Kepel Press untuk

Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali Jalan Raya Dalung Abianbase Nomor 107 Dalung, Kuta Utara, Badung, Bali 80361 Telepon (0361) 439547 Faksimile (0361) 439546 Laman: http//kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbbali/ Posel : [email protected]; [email protected]

Cetakan Pertama, Juni 2020

Anggota Ikapi

ISBN : 978-602-356-336-4

Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apa pun, tanpa izin tertulis dari penulis dan penerbit.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan kuasa-Nya, laporan inventarisasi karya budaya: ”Manuskrip Lontar di Provinsi Bali”, yang dilaksanakan oleh peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Bali dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang direncanakan. Tujuan inventarisasi ini dalam rangka memperkaya khazanah kebudayaan khususnya terhadap karya-karya budaya intangible yang akan diusulkan sebagai Barisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia di Jakarta. Kami sebagai pimpinan Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Bali sangat menyadari bahwa tulisan ini masih banyak kekurangan, sehingga kritik, dan saran guna penyempurnaan hasil inventarisasi ini sangat diharapkan. Akhirnya kepada para peneliti, informan, serta kepada semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu- persatu yang turut membantu sampai terwujudnya hasil inventarisasi ini, saya atas nama lembaga dan pribadi mengucapkan banyak terima kasih. Betapapun kurang sempurnanya tulisan ini, semoga dapat bermanfaat bagi banyak pihak. Badung, Juni 2020 Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali,

I Made Dharma Suteja, SS. M. Si NIP. 197106161997031001

iv | Manuskrip Lontar di Provinsi Bali

Da ftar Isi

KATA PENGANTAR.................................................. iii

daftar isi................................................................. v

daftar gambar................................................... xi

da ftar tabel......................................................... xiii

BAB I Pendah ul uan...................................... 1

1.1 Latar Belakang ...................................... 1
1.2 Masalah................................................... 7
1.3 Tujuan .................................................... 8
1.4 Manfaat................................................... 9
1.5 Konsep dan Teori.................................. 9
1.5.1 Konsep ......................................... 9
1.5.2 Teori Nilai..................................... 11
1.6 Metode dan Teknik............................... 11
bab ii. Identi fikasi Man uskrip Lontar
di Ba li.......................................................... 13

2.1 Pengertian Manuskrip Lontar............. 13
2.2 Sejarah Manuskrip Lontar di Bali...... 16
2.3 Perkembangan Manuskrip Lontar
Dewasa Ini..............................................

2.4 Lembaga Penyimpanan Manuskrip
L ontar di Bali.........................................
v

Perpustakaan Lontar U

vi | Manuskrip Lontar di Provinsi Bali

2.4.1 PTD
Gedong Kirtya.............................

2.4.2 Museum Negeri Provinsi Bali...
2.4.3 F akultas Ilmu Budaya
Universitas Udayana .................

2.4.4 Bidang Dokumentasi
Kebudayaan Bali.........................

2.4.5 Lembaga Penyuluh Bahasa Bali
2.4.6 Museum Pustaka Lontar Desa
Adat Dukuh Penaban.................

2.5 Deskripsi Klasifikasi Jenis Isi
Manuskrip L ontar di Bali....................

2.5.1.....
2.5.1.1 Kakawin Mayor.............
2.5.1.2 Kakawin Minor.............
2.5.2 Manuskrip Parwa-Parwa
(Cerita Prosa)...............................

2.5.3 Nama-nama Kanda Dalam Kakawin Ramayana sebagai
bentuk karya sastra Prosa..........

2.5.4 Manuskrip Babad (Itihasa)
(silsilah atau sejarah)..................

2.5.5...
2.5.6 Manuskrip Lontar usada. ...........
2.5.7 Manuskrip Weda.........................
2.5.8 Manuskrip Asta Brata
(tata cara kepemimpinan)..........

2.5.9 Dharma Caruban (kuliner
tradisonal Bali)............................

29 34

38 43

49 49 51 57

70 72 73 74

Manuskrip Lontar Kakawin.

Manuskrip Lontar Geguritan.

Daftar Isi | vii

2.5.10 Lelampahan.. 75
2.5.11 Tantri.. 76
2.5.12 Dharma pemaculan
(ilmu dan tatacara pengolahan
lahan pertanian).. 76
2.5.13 Wariga (Palelintangan). 77
2.5.14 Tutur. 77
2.5.15 Asta Kosala. 78
, Aksara dan
F ungsinya dalam Man uskrip
Lontar 79
3.1 Bahasa. 79
3.1.1 Bahasa Jawa Kuno. 80
3.1.2 Bahasa Jawa Tengahan. 85
3.1.3 Bahasa Bali. 87
3.2 Penggunaan Aksara Bali dalam
Manuskrip L ontar. ................................ 88
3.2.1 Pengertian Aksara Bali. 88
3.3.2 Sekilas Asal U sul Aksara dan
Bahasa Bali dalam L ontar. 88
3.3 Sekilas tentang Pembagian Aksara Bali 92
3.3.1 Aksara Suara (Vokal). 92
3.3.2 Aksara Wianjana (konsonan). 94
3.3.3 Pangangge Suara. 97
3.3.4 Pengangge Tengenan. 97
3.3.5 Pengangge Aksara. 98
3.3.6 Gantungan. 98
3.3.7 Angka. 98

BAB III Bahasa

.........

....

viii | Manuskrip Lontar di Provinsi Bali

3.4 F ungsi Aksara Bali dalam
Manuskrip/Lontar ................................ 100

3.5 Peranan Aksara Bali dalam Kehidupan Keagamaan yang bersumber
dari Manuskrip Lontar......................... 105

3.6 Peranan Aksara Bali dalam Kehidupan Magis yang bersumber
pada Manuskrip L ontar....................... 108

BAB IV. Pr oses Pemb uatan Lempiran
Lontar....................................................... 111

4.1 Proses Pembuatan Lempiran Lontar 111
4.1.1 Memilih daun lontar................... 112
4.1.2 Ngekum........................................ 114
4.1.3 Pengeringan ................................ 115
4.1.4 Perebusan..................................... 116
4.1.5 Pengeringan setelah
proses perebusan........................ 117

4.1.6 Blagbag/Nepes (menjepit)......... 118
4.1.7 Pembuatan mal (melubangi)...... 120
4.1.8 Menyerut dan pemberian
cat pewarna merah (gincu)........ 121

4.1.9 Alat Tulis lontar (pengrupak) .. 122
4.2. Pengawetan atau Pelestarian
Manuskrip L ontar................................. 124

4.2.1 Membersihkan noda/kotoran.... 124
4.2.2 Membungkus lontar................... 125
4.2.3 Penyimpanan Lontar.................. 125
4.2.4 Lontar kaku/kering..................... 126

Daftar Isi | ix

4.2.5 Lontar patah/retak...................... 127
4.2.6 Tulisan pudar............................... 128
BAB V F ungsi dan Nilai Budaya yang Terkand ung dalam
Lontar........................................................ 131

5.1 F ungsi Lontar sebagai
Candi Pustaka........................................ 131

5.2 F ungsi Lontar sebagai
Media Nyastra ...................................... 137

5.3 F ungsi Lontar Dalam Adat
dan Agama............................................. 148

5.4 Nilai Etika Suami-Istri Dalam Lontar
Geguritan I Dremen............................. 149

5.5 Nilai Pendidikan Etika Dalam Lontar
Putra Sesana........................................... 155

5.6 Nilai Tatwa Keesaan Siwa Siddhanta
Dalam L ontar Bhuana Kosa................ 171

5.7 Nilai Tatwa Toleransi Beragama
Dalam L ontar Siwasiddhanta ............ 173

5.7 Nilai Moral Dalam Lontar Nitipraya. 175
BAB VI Kesimp ulan............................................ 179

6.1 Kesimpulan ........................................... 179
6.2 Saran........................................................ 181
Daftar Pustaka................................................... 183

DAFTAR INFORMAN ............................................. 187

x | Manuskrip Lontar di Provinsi Bali

Da ftar Ga mbar

Gambar : 2.1 Rerajahan yang disalin ke atas kertas
karya J.J. Hoykass................................... 23
Gambar : 2.2 Museum Lontar Gedong Kirtya
di Singaraja Bali....................................... 34
Gambar : 2.3 Salah Satu Manuskrip Lontar Koleksi Museum Pustaka L ontar Desa Adat
Dukuh Penaban....................................... 48
Gambar 2.4 Kakawin Bharatayuda koleksi I Nengah Alit, Banjar Dinas Pesangkan, Desa Duda Timur, Kec. Selat
Kabupaten Karangasem Bali................. 54
Gambar 4.1. Daun Lontar yang baru dipetik
sebagai bahan lempiran lontar............. 112
Gambar : 4.2 Proses memilih atau menyeleksi daun lontar sebagai lempiran lontar... 113 Gambar : 4.3 Proses ngekum yaitu merendam
dengan air dalam beberapa hari........... 115
Gambar : 4.4 Proses pengeringan setelah ngekum..... 116
Gambar : 4.5 Proses Perebusan setelah pengeringan 117 Gambar : 4.6 Proses pengeringan tahap II setelah daun lontar direbus dalam
beberapa jam............................................ 118

xi

xii | Manuskrip Lontar di Provinsi Bali

Gambar : 4.7 Proses blagbag yaitu menjepit lontar

dengan sekuat kuatnya. 120
Gambar :4.8 Pembuatan mal atau lubang
di kiri, kanan dan tengah lontar.. 121
Gambar : 4.9 Kiri proses nyerut, dan kanan
proses pemberi warna (enci)
pada tepian lontar. 122
Gambar : 4.10 Pengrupak (alat tulis di atas
lempiran lontar).. 123
Gambar : 4.11 Kemiri bakar penghitam
tulisan dalam lontar. 129

Da Ta be l

Tabel 3.1 Aksara Suara (vokal). 93
Tabel 3.2 Aksara Wianjana (Konsonan). 95
Tabel 3.3 Pengangge Tengenan. 97
Tabel 3.4 Pengangge Aksara. 98
Tabel 3.5 Angka dalam Aksara Bali. 99

xiii

xiv | Manuskrip Lontar di Provinsi Bali

B AB I

Penda huluan

1.1 Latar Belakang

Manuskrip lontar merupakan salah satu wahana penting dalam proses transmisi sistem pengetahuan masyarakat Bali dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam berbagai bidang kehidupan. Sistem pengetahuan dalam bidang filsafat misalnya terdokumentasi dalam naskah-naskah seperti tutur/tatwa. Sistem pengetahuan tentang astronomi atau ilmu perbintangan dapat dilihat dalam naskah-naskah wariga. Demikian juga dalam ilmu kesehatan dapat dilihat dalam pustaka lontar yang disebut dengan usada. Sistem pengetahuan tentang arsitektur dapat juga ditemui pada lontar asta kosala- kosali, asta bumi, wiswakarma tatwa, dan yang lainnya. Yang tidak kalah pentingnya adalah naskah lontar merupakan media pengawetan karya-karya klasik sehingga pengetahuan tersebut dapat dipelajari di jaman moderen, (Suarka, dkk. 2016:1). Manuskrip lontar merupakan salah satu warisan budaya Bali yang berupa intangible (tak benda). Ardika dalam Suarka (2016:21), menyatakan bahwa di Bali warisan budaya, baik tangible maupun intangible

2 | Manuskrip Lontar di Provinsi Bali

merupakan komponen penting dalam kehidupan masyarakat, menurutnya warisan budaya ini memiliki nilai-nilai penting yang bersifat universal (outstanding universal value). Masyarakat Bali masih memanfaatkan dan memfungsikan warisan budaya dalam kehidupan masa kini sebagai simbol jati diri. Kekayaan budaya berupa manuskrip lontar di daerah Bali, menjadi salah satu alasan didirikannya Fakultas Sastra U dayana (F akultas Ilmu Budaya kini). Yang dulu berafiliasi dengan U niversitas Airlangga. Termasuk dalam pendirian itu adalah pendirian lembaga L ontar (UPT L ontar Universitas Udayana kini) pada tanggal 29 September 1958. Berdasarkan pidato Pembukaan Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan yang waktu itu dijabat oleh Prijono. Lembaga Pustaka Lontar ini juga merupakan salah satu andil besar disetujuinya pendirian F akultas Sastra U dayana. Karena di dalam lontar terdapat;

1) bidang Ilmu Sosial dan pulau Bali memiliki kekayaan karya sastra klasik, dan vitalitas nilai-nilai budaya yang hidup dan berkembang di Bali pada waktu itu, (ibid, 2016:
2). Di samping Lembaga Pustaka Lontar F akultas Sastra Udayana yang mengkoleksi 939 judul lontar, ada beberapa lembaga yang juga mempunyai tujuan sama yang juga turut melestarikan yaitu Gedong Kirtya Singaraja dengan 4000 naskah lontar, Balai Penelitian Bahasa Singaraja (Balai Bahasa Denpasar kini), Pusat Dokumentasi Budaya Bali, dan Museum Negeri Provinsi Bali, (Ketut Suwija, 1979 dalam Tim Penyusun Katalog Lontar (1982:1). Dari judul lontar di masing-masing lembaga juga memiliki

Pendahuluan | 3

klasifikasi. Dari berbagai lembaga yang mengkoleksi naskah lontar di bawah ini diuraikan klasifikasi menurut Pustaka L ontar Fakultas Sastra Universitas Udayana dengan jumlah 939, sebagai berikut:

  • Lontar Tutur sebanyak 374 cakep
  • Lontar Kakawin sebanyak 83 cakep
  • Lontar Usada sebanyak 75 cakep
  • Lontar Kidung sebanyak 43 cakep
  • Lontar Geguritan atau peparikan sebanyak 119 cakep
  • Lontar Wariga sebanyak 47 cakep
  • Lontar Parwa sebanyak 14 cakep
  • Lontar kanda sebanyak 2 cakep
  • Lontar babad/usana/uwug sebanyak 50 cakep
  • Lontar rencean sebanyak 68 cakep dan
  • Lontar koleksi masyarakat sebanyak 29 cakep, (Suarka dkk, 2016:15). Di samping naskah-naskah lontar memiliki
    klasifikasi, di Bali lontar masih memiliki fungsi kultural dalam masyarakat sehingga masyarakat menyebut dengan berbagai sebutan seperti Cakepan “ berkas lontar bertulis”, (Kamus Bali, 1991:112). Ada yang menyebut dengan Lontar Cakepan, yaitu lembaran-lembaran lontar yang telah dibuang lidinya dijepit dengan dua bilah bambu atau kayu, (1991:424). Ada juga yang menyebut Lontar Keropak yaitu lembaran-lembaran lontar yang dimasukkan ke dalam keropak. Kemudian dalam Kamus Jawa Kuna Indonesia (1979:324), kata lontar (borassus flabel-

liformis:Latin) dengan metatesis dengan rontal yaitu kata lontar berubah menjadi rontal. Berkat adanya tradisi itu, karya tertulis di atas daun lontar mengandung berbagai bahan keterangan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat di masa lampau dan disusun oleh pujangga atau pengarang pada abad yang lalu yang masih kita dapat baca. Sebagaimana telah diuraikan di atas wujud fisiknya naskah lontar tersebut adalah benda-benda budaya (kebudayaan materi) yang berupa hasil karangan berupa tulisan tangan. Namun demikian tulisan tangan itu bukanlah kumpulan tulisan tangan yang tanpa makna, melainkan di dalamnya terkandung ide-ide, gagasan utama, berbagai macam pengetahuan tentang alam semesta menurut persepsi budaya masyarakat yang bersangkutan, ajaran-ajaran moral, filsafat, keagamaan, dan unsur-unsur lain yang mendukung nilai-nilai luhur, (Budisantoso, 1991:3). Pigeaud (1967) dalam Suastika, 1984:79), menyatakan bahwa karya sastra yang ditulis di atas daun lontar sebagai karya sastra bernilai religi dan etik, histori dan mitologi, susastra, ilmu seni, humaniora, hukum, foklore, adat istiadat. Agastia dalam makalahnya berjudul: “Masalah Penelitian Sastra Bali Klasik” yang disampaikan dalam rangka peringatan hari jadi BKFS UNUD ke-24 tahun 1982 menyatakan bahwa penelitian atau pengkajian terhadap sastra klasik Indonesia yang tersimpan di Bali sudah dimulai dan atau berlangsung seputar satu setengah abad yang lalu dan sekarang sudah hampir dua abad.

Pendahuluan | 5

Perhatian pelestarian terhadap sastra klasik (yang salah satu di dalamnya adalah naskah lontar) yang tersimpan di Bali. Kemudian setelah terbit buku terkenalnya Sir Thomas Stamford Raffles berjudul History of Java (edisi pertamanya terbit di London tahun 1917). Raffles antara lain memberikan informasi bahwa di Bali tersimpan sumber-sumber kesusastraan mengenai sejarah Jawa yang tidak terdapat lagi di Jawa. Perhatian lebih banyak lagi diberikan setelah terbitnya The Civilization and Culture of Bali (1859) karya R. F riederich. Pernyataan lain seperti S.O Robson (1978), Prof Dr. Haryati Soebadio (1981), Prof. Dr A Teeuw (1982), Dr. Achiadi Ikram (1981). Pernyataan ini menurut Agastia ditujukan kepada kita semua bahwa kita yang memikul tanggung jawab terhadap “nasib” warisan budaya (kemungkinan yang dimaksud naskah-naskah lontar yang didalamnya banyak mengandung karya-karya sastra tradisional). Lebih jauh dikatakan oleh R.O. Robson, bahwa “ belum banyak orang Indonesia yang menginsyafi bahwa di dalam karya-karya sastra klasik
terkandung sesuatu yang penting dan berharga......”
(1978:5). Hal senada juga diungkapkan oleh Prof. A. Teeuw yang menyindir, “ sebab bangsa yang melalaikan kekayaan budayanya bukanlah bangsa yang berbahagia; bangsa yang secara acuh-tak acuh membiarkan warisan budayanya terbengkalai sehingga digali, direbut, digarap oleh orang asing dan paling-paling bersedia untuk menikmati hasil keringat orang asing itu bukanlah bangsa yang sungguh-sungguh bebas merdeka”, (1978:360).

Pernyataan seperti di atas sesungguhnya masih perlu kita dengar dengan penuh pengertian. Untuk kepentingan pencatatan terhadap manuskrip lontar/cakepan di Bali sesuai dengan UU Republik Indonesia No. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, pasal 5. Theodore G. Th. Pigeaud Ph.D telah memberikan gambaran tentang perbendaharaan apa yang disebutnya sebagai Literature of Java yang terbit dalam 4 volume yaitu tahun 1967, 1969, 1970, dan 1980. Di dalam bukunya tersebut ia ada menulis katalogus naskah-naskah lontar Jawa dan Bali yang disertai beberapa keterangan penting yang tersimpan di perpustakaan-perpustakaan universitas dan perpustakaan lainnya di negeri Belanda. Buku-buku Pigeaud ini juga mengingatkan kita terhadap cerita orang-orang tua tentang usaha yang pernah dilakukan oleh orang-orang Belanda dalam masa penjajahan dahulu untuk mengumpulkan dan memboyongnya naskah-naskah lontar ke negeri Belanda (Agastia, 1982:6). Namun kita masih tetap bersyukur bahwa lontar-lontar kita masih bisa terselamatkan, di samping memuat katalogus lontar. Pigeaud juga membuat klasifikasi naskah-naskah lontar yang masih tersimpan di beberapa tempat penyimpanan di Bali seperti Gedong Kirtya dan Fakultas Sastra Unud yang menurut cacatan waktu itu antara 3.000 dan 800 naskah Jawa dan Bali. Di samping itu juga di kedua tempat ini tersimpan tindasan transliterasi naskah lontar yang dikerjakan oleh Dr. C. Hooykaas. Menurut

J.L. Swellengrebel (1980:198), Dr.C. Hooykaas telah menghasilkan 2.500 teks transliterasi naskah lontar.

Pendahuluan | 7

Hasil pencatatan naskah lontar yang dilakukan oleh Dr. Haryati Soebadio dkk dari U niversitas Indonesia (1973), Instutut Hindu Dharma (1978), dan Jurusan Bahasa dan Sastra Bali Fakultas Sastra Unud (1979-

1981) memberikan gambaran bahwa di tengah-tengah kehidupan masyarakat Bali masih tersebar adanya naskah-naskah klasik yang sebagian besar tertulis di atas daun lontar, naskah tersebut dimiliki oleh orang-orang yang kebetulan mewarisi dari orang tuanya. Demikian gambaran tentang keadaan manuskrip lontar dewasa ini yang tersimpan di tempat penyimpanan resmi atau perorangan.

1.2 Masalah

Sebagaimana telah disebutkan dalam latar belakang di atas bahwa, Manuskrip (L ontar) yang dalam tulisan ini lebih banyak disebut naskah lontar, merupakan karya budaya intangible yang di dalamnya tersimpan nilai-nilai hakiki bagi kehidupan masyarakat Bali. Yang menjadi pokok permasalahan dalam inventarisasi karya budaya ini adalah:

  1. Karya budaya berupa warisan manuskrip lontar di Bali yang telah berabad-abad lamanya kini belum terdaftar sebagai warisan budaya tak benda Indonesia yang perlu diwujudkan dan ditindaklanjuti sedini mungkin. Lebih-lebih karya budaya ini sangat gampang ditiru dan diduplikasi.

  2. Bagaimana bentuk-bentuk pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat Bali terhadap karya budaya ini.

  3. Nilai-nilai budaya yang tercermin dalam karya budaya manuskrip/lontar sebagai pegangan hidup dan kehidupan masyarakat Bali.
  4. Implementasi dalam kegiatan pelaksanaan upacara apa saja yang dapat dicerminkan dalam kehidupan masyarakat Bali.

    1.3 Tujuan

Sebagai tujuan umum dalam inventarisasi ini di dalamnya tercakup pembinaan, pengembangan, pewarisan, dan pelestarian kebudayaan itu sendiri. Secara teoritis inventarisasi ini bertujuan untuk menyelamatkan dari kemungkinan kepunahan. Pertimbangan lain yakni semakin terdesaknya terhadap penyelamatan naskah-naskah lontar akibat dari derasnya arus globalisasi dan modernisasi sehingga dapat merusak sendi-sendi kehidupan penyelamatan. Manuskrip lontar merupakan peninggalan yang bernilai luhur yang patut dilestarikan. Tinggalan budaya ini sangat bermanfaat bagi kepentingan masyarakat khususnya umat Hindu di Bali, bahwa manuskrip memiliki nilai penting bagi ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Pendahuluan | 9

1.4 Manfaat

Manfaat yang diharapkan dalam inventarisasi, berikut ini :

a. Masyarakat sebagai pecinta karya budaya manuskrip lontar dapat memahami isi dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
b. Sebagai dasar memberikan informasi, bahwa karya budaya ini memiliki nilai penting bagi ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
c. Memberikan informasi kepada lembaga formal, non formal, masyarakat, bahwa manuskrip lontar mengandung nilai historis yang tinggi sebagai tonggak sejarah dan budaya bangsa yang perlu dilestarikan keberadaannya.

1.5 K onsep dan Teori

1.5.1 K onsep

Seperti telah diuraikan dalam latar belakang di atas, bahwa penelitian atau pengkajian terhadap sastra klasik Indonesia yang tersimpan di Bali sudah dimulai dan atau berlangsung seputar satu setengah abad yang lalu. Perhatian berganda para sarjana Barat terhadap sastra klasik yang tersimpan di Bali tampak setelah terbit buku terkenalnya Sir Thomas Stamford Raffles berjudul History of Java yang edisi pertamanya terbit di L ondon tahun

  1. Raffles antara lain memberikan informasi bahwa di Bali tersimpan sumber-sumber kesusastraan mengenai

sejarah Jawa, yang tidak terdapat lagi di Jawa. Kemudian perhatian lebih dari sarjana Barat setelah terbitnya The Civilizatition and cultur of Bali (1859) karya F riederich. Sumber-sumber kepustakaan yang dimaksud adalah manuskrip yang di Bali lebih dikenal dengan lontar, cakepan. Istilah manuskrip berasal dari Bahasa Inggris manuscript yang berarti tertulis dengan tangan atau naskah. Secara etimologi, istilah manuskrip kemungkinan bermula dari perpaduan Bahasa Sanskerta maupun bahasa-bahasa di Eropa. Dalam Bahasa Sanskerta, manu ataupun manus berarti manusia maupun bahasa percakapan sehari-hari (Semadiastra, 1982/1983:166). Sangat disadari bahwa bahasa Jawa Kuno perkembangannya sangat dipengaruhi oleh bahasa Sansekerta terutama dari kosa kata. Sehingga dari segi linguistik dapat dikatakan berpengaruh besar sekali, sehingga bahasa Jawa Kuno merupakan suatu bahasa Nusantara. Hal ini dipertegas oleh J. Gonda dalam karyanya: “Sanskrit In Indonesia“ yang mengatakan bahwa secara linguistik pengaruh India terhadap daerah- daerah di Indonesia yang mengalami proses Hinduisasi yang tidak mengakibatkan semacam proses pembauran melainkan penambahan atau memperkaya kosa kata bahasa Nusantara dengan kosa kata bahasa Sansekerta. Bahasa Jawa moderen serta bahasa Bali pemakainnya lebih tinggi dari pada bahasa-bahasa Nusantara yang lain lebih rendah ketimbang bahasa Jawa Kuno. Lebih jauh ditegaskan oleh J. Gonda dalam (Zoetmulder,1983:9), bahwa puisi Jawa Kuno (karya-karya sastra yang ditulis dari bahasa Jawa Kuno atau kakawin) disusun dalam

Pendahuluan | 11

metrum-metrum India mengandung kurang lebih 25% sampai 30% kosa kata yang berasal dari bahasa Sansekerta.

1.5.2 Teori Nilai

Nilai budaya dapat saling berkaitan untuk membentuk suatu sistem antara sistem satu dengan sistem yang lainnya. Nilai memang secara fisik tidak dapat kita sentuh maupun kita raba, tetapi dapat mempengaruhi kehidupan manusia terutama pada tataran sikap dan perilaku. Seperti misalnya di dalam manuskrip lontar yang kini banyak tersimpan pada tempat-tempat penyimpanan di Bali, didalamnya banyak terkandung nilai-nilai budaya yang adiluhung yang patut diteladani sebagai pegangan hidup lahir dan batin. Sejalan dengan pemikiran Guru Besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. S. Budisantoso (1993:2), menyebut bahwa di dalam naskah kuna (manuskrip) merupakan media transpormasi pewarisan nilai-nilai, pranata-pranata sosial, pengetahuan, adat, kebiasaan ataupun norma- norma sosial secara berkesinambungan.

1.6 Metode dan Teknik

Metode dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu metode pengumpulan data, dan metode analisis atau pengolahan data. Dalam pengumpulan data yaitu digunakan metode lapangan (field work) dan metode perpustakaan (library research). Metode lapangan adalah metode pengamatan langsung dan wawancara langsung bebas yang bersifat individu. Maksudnya adalah penulis

langsung terjun ke lapangan berkomunikasi dengan informan secaras bebas antara penulis dengan informan. Informan sudah tentu yang memahami dan menekuni tentang pernaskahan atau lontar serta aksara Bali yang digunakan. Metode kepustakaan dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data yang berupa naskah-naskah lontar dan buku-buku yang berkaitan dengan informasi aksara Bali. Dalam tahap penulisan digunakan metode deduktif dan induktif. Metode deduktif digunakan untuk menganalisis data yang bersifat umum. Metode induktif digunakan untuk menganalisis data yang langsung didapatkan di lapangan dan perpustakaan yang diabstraksikan menjadi fakta-fakta dan dicarikan korelasinya untuk disimpulkan secara umum. Metode operasional juga dibantu dengan teknik pencatatan. Tujuannnya adalah untuk menghindari adanya data yang terlupakan karena kelemahan penulis sendiri. Metode deskriptif dalam bentuk kualitatif, dan konten analisis dengan teknik pengumpulan data berupa observasi atau pengamatan terlibat serta komunikasi langsung dalam bentuk wawancara, dan dibantu dengan sumber data berupa :

  1. Buku-buku kepustakaan sebagai data sekunder yang ada hubungannya dengan manuskrip lontar.
  2. Masyarakat sekitarnya sebagai pendukung kebudayaan dan pengelola lembaga pernaskahan baik lembaga formal maupun lembaga swasta yang ada di Bali.

ba b ii

Identi fika si Man uskrip L ontar di Ba li

2.1 Pengertian Manuskrip Lontar

Istilah manuskrip berasal dari Bahasa Inggris manuscript yang berarti tertulis dengan tangan atau naskah. Secara etimologi, istilah manuskrip kemungkinan bermula dari perpaduan Bahasa Sanskerta maupun bahasa-bahasa di Eropa. Dalam Bahasa Sanskerta, manu ataupun manus berarti manusia maupun bahasa percakapan sehari- hari (Semadiastra, 1982/1983:166). Dalam bahasa-bahasa di Eropa maupun Bahasa Sanskerta yang merupakan turunan bahasa yang sama yakni Bahasa Semit Utara, kata man yang juga berarti manusia (Kridalaksana,1983:xxii). Istilah manuscript juga berarti naskah yang tertulis dengan tangan, sedangkan dalam Bahasa Belanda disebut handscript. Istilah manuscript tersebut diadaptasi dan diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi manuskrip dengan merujuk pengertian yang sama yaitu naskah kuna yang tertulis dengan tangan. Manuskrip atau naskah yang tertulis dengan tangan yang merupakan hasil karya masa lampau selanjutnya dikenal dengan naskah kuna. Tetapi, naskah kuna

semata-mata merujuk pada hasil karya tulisan tulisan tangan asli yang berumur minimal 50 tahun dan punya arti penting bagi peradaban, sejarah, kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Pusat Bahasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007:714) mendefinisikan manuskrip menjadi dua pengertian yaitu; 1) naskah tulisan tangan yang menjadi kajian filologi, 2) naskah, baik tulisan tangan (baik dengan pena, pensil) maupun ketikan bukan cetakan. Mengacu pada pengertian tersebut maka istilah manuskrip digunakan sebagai salah satu topik kajian dalam cabang ilmu sosial budaya, khususnya bidang pernaskahan atau filologi. F ilologi itu sendiri adalah salah cabang ilmu yang mempelajari naskah-naskah kuna. Di Indonesia, manuskrip diartikan sebagai naskah kuna yang ditulis dalam berbagai media yang diambil dari tumbuhan atau produk-produk alam sekitarnya seperti bambu, kayu, tembaga, rontal (daun lontar), dan daluang. Daluang merupakan kertas kasar yang terbuat dari kulit pohon daluang yakni sejenis pohon berdaun lebar dalam bahasa L atin disebut Broussonetia papyrifera, dalam bahasa Inggris disebut paper mulberry. Meskipun tradisi menulis menggunakan daluang muncul belakangan, namun pemakaian lontar masih tetap bertahan hingga abad ke-20. Selain menggunakan bambu, kayu, tembaga, dan daluang, masyarakat di Nusantara memiliki kebiasaan menulis di atas daun lontar. Kata lontar berasal dari Bahasa Jawa ron ental (daun ental) atau daun pohon siwalan dalam bahasa ilmiah botani disebut Borassus Flabellifer L. Pohon lontar tumbuh subur di Asia Tenggara, terutama daerah-

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 15

daerah yang memiliki kandungan tanah berkapur dan lahan kering. Tradisi menulis di atas daun lontar ditemukan pada beberapa wilayah di Indonesia khususnya di Jawa, Bali, Madura, Lombok, dan Sulawesi Selatan. Daun lontar dapat digunakan setelah mengalami beberapa tahap pengolahan hingga menjadi lembaran-lembaran yang siap ditulis. Di Jawa, Bali, dan Lombok naskah hasil tulisan di atas daun lontar disebut ntal sedangkan di Sulawesi Selatan disebut lontara atau lontarak. Meskipun lontar dikenal sebagai pohon palem Borassus Flabellifer, sampai saat ini istilah lontar diserap sebagai khasanah Bahasa Indonesia diartikan sebagai naskah kuna yang tertulis pada daun lontar (Pusat Bahasa, 2007:683). Awal mula tradisi menulis di atas daun ntal (lontar) dilakukan setelah bangsa-bangsa di Nusantara mendapat pengaruh kebudayaan Hindu dan Budha dari India yang membawa tradisi menulis dalam huruf Palawa dan Dewanagari. Huruf-huruf yang berkembang di Nusantara dan dituliskan di atas daun lontar umumnya merupakan pertumbuhan dari huruf Pallawa (Subadio,1983:8). Dari huruf Pallawa kemudian berkembang menjadi aksara Jawa, Bugis, Thai, dan sebagainya. Aksara Jawa pada lampau dikenal dengan aksara Jawa Kuna atau Kawi yang berkembang menjadi aksara-aksara yang digunakan pada masyarakat Jawa, Bali, dan Lombok. Aksara Bugis berkembang pada beberapa daerah di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan beberapa daerah yang mendapat pengaruh kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan seperti

Bima, Sumbawa, dan F lores. Di Pulau Sumatera, huruf Pallawa berkembang menjadi Aksara Mandailing menyebar di daerah-daerah di Sumatera U tara. Aksara Rejang menyebar di wilayah Sumatera Barat sampai L ampung menjadi Aksara Kerinci, Pasemah, Serawai, Lampung, dan sebagainya (Kridalaksana,1984:xxii-xxv). Pemakaian Aksara Jawa Kuna yang berkembang menjadi aksara-aksara Jawa, Bali, dan L ombok memiliki kemiripan dalam penerapan sistem alphabetis ha, na, ca, ra, ka, hanya saja bentuk hurufnya sedikit berbeda. Sedangkan huruf Bali dan L ombok tidak ada perbedaan signifikan, perbedaan hanya tampak dalam penggunaan bahasa saja. Lontar Bali menggunakan Aksara Bali dan berbahasa Bali, sedangkan lontar Sasak menggunakan huruf jejawen berbahasa Sasak. Pemakaian Aksara Bali yang ditulis tangan di atas daun ntal (lontar) inilah yang menjadi cikal bakal manuskrip lontar di Bali.

2.2 Sejarah Manuskrip Lontar di Bali

Mengacu pada pengertian manuskrip yang merujuk pada naskah kuna hasil tulisan tangan manusia, awal mula manuskrip kemungkinan berupa tulisan tangan sederhanan yang ditemukan di Nusantara sejak abad ke-4. Tulisan tangan ini umumnya ditulis di atas batu menggunakan huruf Pallawa berbahasa Sanskerta seperti prasasti batu yang ditemukan di Kutai Kalimantan Timur. Tulisan tangan ini umumnya memuat syair-syair tentang upacara dan pemberian hadiah untuk kemakmuran

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 17

negara (Soekmono, 2006:35-36). Bukti-bukti manuskrip sederhana berupa prasasti yang ditulis atau dipahat di atas batu juga ditemukan sebagai hasil tulisan tangan di Kerajaan Tarumanagara Jawa Barat pada abad ke-4 sampai abad ke-6. Kemudian di Kerajaan Sri Wijaya di Sumatera Selatan pada abad ke-7, dan kerajaan Mataran Kuna di Jawa Tengah pada abad ke-8 (Soekmono, 2006:37-

51). Jika mengacu pada cikal-bakal manuskrip di atas, di Bali juga ditemukan manuskrip tertua berupa tulisan tangan pada prasasti yang ditulis di atas batu pada beberapa tempat. Prasasti yang memuat tulisan tangan yang dapat dibaca terdapat di Pura Penataran Sasih Desa Pejeng Kecamatan Tampaksiring Gianyar dan Banjar Blanjong Desa Sanur Kota Denpasar. Prasasti di Pura Penataran Sasih ditulis pada batu padas dalam keadaan rusak dan tidak dapat dibaca. Tulisan menggunakan bahasa Kawi dan Sansekerta diperkirakan prasasti tersebut berasal dari abad ke 9 atau permulaan abad ke-
10. Sedangkan prasasti Blanjong dibuat pada tahun 914 masehi (sekitar abad ke-10) menceritakan tentang raja wangsa Warmadewa yang memerintah di Bali. Tulisan tangan yang terdapat dalam prasasti di Pura penataran sasih maupun di Banjar Blanjong Sanur dapat dikatakan sebagai tonggak munculnya tradisi menulis naskah atau manuskrip di Bali. Keberadaan prasasti tersebut menunjukkan bahwa budaya literasi, khususnya budaya membaca dan menulis di Bali telah berkembang sejak abad ke-9 yakni sejak zaman Kerajaan Bali Kuna.

Selain ditulis di atas batu, baik batu andesit maupun batu padas, manuskrip pada masa Kerajaan Bali Kuna juga ditulis di atas lempengan besi, tembaga, dan perunggu. Bukti-bukti manuskrip yang ditulis di atas lempengan logam (tembaga dan perunggu) ditemukan pada prasasti-prasasti pada desa-desa kuna di Bali, seperti prasasti Desa Sukawana, Trunyan, Gobleg, dan lain-lain. Pada masa Bali Kuna belum ditemukan manuskrip yang ditulis di atas daun lontar yang menceritakan keadaan pada masa itu. Kemungkinan besar manuskrip yang ditulis di atas daun lontar pada masa tersebut telah hancur termakan waktu, yang masih bertahan hanya dalam bentuk salinan- salinan yang mengalami perubahan sesuai keadaan dan subjektivitas penulisnya. Pada masa kekuasaan Kerajaan Majapahit, masyarakat Bali menjadi salah satu tempat pengembangan manuskrip yang berhubungan dengan berbagai aspek kehidupan manusia. Ajaran agama, ilmu pengobatan, ilmu perbintangan, tatacara pembangunan rumah, kesusasteraan, dan kesenian, semua tertuang dalam manuskrip yang ditulis di atas rontal yang lebih seringdisebut ntal. Istilah ntal kemudian mengalami penyesuaian ke dalam Bahasa Indonesia menjadi lontar. Ntal adalah adalah daun lontar yang diproses dengan tahapan-tahapan tertentu sehinga dapat ditulis dan dapat disimpan dalam jangka waktu relatif lama. Naskah-naskah terkait ilmu pengetahuan tentang Agama Hindu dan Budha, tradisi masyarakat, pengobatan, sastra, kesenian, dan sebagainya tertuang dalam manuskrip lontar. Lontar

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 19

inilah yang menjadi sumber rujukan perilaku dan budaya masyarakat. Salah satu lontar terkenal yang ditulis pada masa Kerajaan Majapahit ialah Negara Kertagama juga disalin dalam beberapa naskah lontar aksara Bali yang ditemukan di Lombok dan Karangasem Bali. Setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit pada abad ke-16 (sekitar tahun 1522), masyarakat Bali berada di bawah pemerintahan Kerajaan Gelgel dengan Raja Dalem Waturenggong. Pada masa ini masyarakat Bali mengalami masa keemasan. Tradisi literasi mengalami kemajuan pesat dengan banyaknya karya-karya sastra ditulis di atas daun lontar. Beberapa sumber menyebutkan bahwa setelah Kerajaan Majapahit runtuh, banyak orang Jawa berpindah ke Bali karena terdesak dengan masuknya Agama Islam yang disebarkan Kerajaan Demak. Masyararakat migran dari Jawa membawa serta manuskrip dan tradisi menulis naskah di atas daun lontar. Pada masa kerajaan di Bali, lontar adalah semacam kepustakaan yang dimiliki berbagai kalangan terutama kalangan pendeta selaku purohita (penasehat spiritual kerajaan), pemimpin agama, dan pusat pengajaran Agama Hindu. Naskah lontal dibuat dan disusun menjadi sebuah cakep atau cakepan (bendel naskah lontar). Cakepan lontar berisi berbagai naskah tulisan tangan yang membahas tentang suatu masalah seperti tatwa (ajaran-ajaran agama dan filsafat), satua (cerita rakyat), babad (cerita yang memuat sejarah atau silsilah keturunan, tambo), wariga (ilmu astronomi, ilmu tentang perhitungan baik buruknya hari), dan sebagainya. Lontar yang memuat

tatwa sangat dibutuhkan para pendeta sebagai rujukan dalam pelaksanaan upacara adat, memberi pedoman hidup, nasehat, dasar-dasar pengambilan keputusan bagi raja, dan sebagainya. Lontar juga dimiliki oleh kalangan raja yang memposisikan puri (rumah kediaman raja) sebagai pusat kebudayaan Bali. Raja memproduksi dan menyimpan naskah lontar sebagai sumber ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kesenian yang diterapkan dalam tatanan kehidupan masyarakat. L ontar tertua yang berhasil ditemukan di Bali adalah yang memuat filsafat agama atau ajaran Agama Hindu seperti Buana Kosa yang berisi tentang filsafat terciptanya dunia. Lontar ini diperkirakan telah disusun sejak tahun 1547 Saka atau 1625 Masehi, digunakan untuk memberi tuntunan kepada umat manusia tentang awal mula penciptaan dunia. Lontar Sang Hyang Tatwa Jnana berisi tentang filsafat kedharman (ajaran dharma atau kebajikan) diperkirakan disusun sekitar tahun 1763 Saka atau 1841 Masehi. Ada pula manuskrip kuna seperti Sang Hyang Kamahayanikan, Tantu Pagelaran, Brahmanda Purana, Dewa Tatwa, dan sebagainya (Ardana, dalam Lontar Nomor 1/ Triwulan I/1996:23). Semua jenis lontar tersebut memuat filsafat atau ajaran Agama Hindu, digunakan oleh para purohita (penasehat spiritual kerajaan masa lampau) maupun para pedanda (pendeta) untuk mengajarkan dharma atau sastra Agama Hindu kepada masyarakat. Pada masa penjajahan Belanda, pemakaian lontar sebagai sumber ilmu pengetahuan tetap berjalan dengan baik. Sebagai sumber ilmu pengetahuan, lontar juga

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 21

dipelajari oleh orang-orang yang bertugas sebagai misi dan zending (bertugas menyebarkan Agama Kristen). Tujuan akhir mereka mempelajari lontar adalah untuk mempelajari aksara dan bahasa Bali untuk selanjutnya digunakan untuk menerjemahkan Bible (Bibel, kitab suci Agama Kristen, Alkitab). Penerjemahan Bible ke dalam Bahasa Bali bertujuan untuk menyebarkan Agama Kristen dan memudahkan memberikan pelajaran Agama Kristen kepada masyarakat Bali. Namun, usaha Belanda mengkristenkan masyarakat Bali tidak tidak dilaksanakan secara masif karena pihak Belanda menganggap budaya Bali merupakan live museun (museum hidup) tempat berlangsungnya suatu kehidupan yang tidak ada di tempat lain sehingga perlu dilestarikan. Berita tentang keunikan budaya Bali pun mulai tersebar dari mulut ke mulut sehingga banyak orang-orang Eropa tertarik untuk datang ke Bali yang kemudian menjadi cikal bakal munculnya pariwisata di Bali. Setelah puputan Badung tahun 1906 dan puputan Klungkung tahun 1908, semua raja-raja dan wilayah Bali berhasil dikuasai Belanda. Belanda mulai melakukan konsolidasi dan penataan sistem pemerintahannya, kemudian menerapkan sistem pendidikan Belanda. Kota Singaraja ditetapkan sebagai pusat pemerintahan Karesidenan Bali-L ombok yang dilengkapi fasilitas pendidikan moderen. Terkait pendidikan moderen, Belanda mulai memperkenalkan tradisi menulis dengan huruf L atin, penggunaan Bahasa Melayu, dan Bahasa Belanda. Meskipun menerapkan sistem pendidikan

moderen, pengajaran Bahasa Bali, Aksara Bali, serta pemakaian lontar sebagai sumber kepustakaan pada masyarakat Bali masih tetap berjalan dengan baik. Pelestarian budaya Bali didukung para pejabat pemerintah Belanda yang menaruh perhatian terhadap budaya Bali. Pejabat Belanda yang menaruh perhatian besar terhadap budaya dan sastra Bali ialah F. A. Liefrinck dan Herman Neubronner van der Tuuk. F.A. Liefrinck adalah seorang pembantu residen Bali dan L ombok yang memiliki minat besar dalam budaya Bali. Leifrinck banyak menulis adat-istiadat masyarakat dan sistem pemerintahan kerajaan di Bali dan Lombok. Sedangkan Dr. H. N Van der Tuuk mendapat tugas tugas menerjemahkan Injil ke dalam Bahasa Bali untuk memudahkan penyebaran Agama Kristen di Bali. Tetapi van der Tuuk tidak ingin menyebarkan Agama Kristen justru mempelajari bahasa dan aksara Bali dalam berbagai manuskrip lontar untuk melestarikan budaya Bali. Van der Tuuk pun menentang program pihak misi dan zending untuk mengkristenkan masyarakat Bali (https://id.wikipedia.org/wiki/Herman_ Neubronnervander_Tuuk, diunduh tanggal 26 Februari 2020 pukul 14.11). Selain L iefrinck dan van der Tuuk, orang-orang Belanda yang menaruh perhatian terhadap budaya Bali ialah L. J. J. Caron. Dr. W. R. Stuterheim, Dr. R. Goris, Dr. Th. Pigeaud, Dr. C. Hooykaas, dan lain-lain. Mereka mempelajari naskah lontar Bali dan menyalin kembali ke dalam lembaran-lembaran lontar yang baru. Bahkan ada beberapa isi naskah lontar disalin ke dalam lembaran-

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 23

lembaran kertas yang dilakukan oleh J. J. Hoykass. Salah satu hasil kerja Hoykas adalah menyalin gambar-gambar rajah (gambar-gambar yang mengandung kekuatan gaib) di atas kertas diberi judul Bali Magic Painting.

Gambar 2.1 Rerajahan yang disalin ke atas kertas karya

J.J. Hoykass
Sumber: Koleksi I Gusti Mangku Warsa (Alm).

Setelah zaman kemerdekaan pemerintah berupaya menyelamatkan lontar dengan mendirikan lembaga-

lembaga pemerintah yang bertugas menjaga, melestarikan, dan menyebarluaskan informasi lontar budaya Bali. Museum Kirtya L eifrinck-van der Tuuk diambil alih pemerintah dan diberi nama Gedong Kirtya. Demikian pula Bali Museum yang digagas oleh W.F.J. Kroon (Asisten Residen Bali Selatan pada masa penjajahan Belanda) diambil alih pemerintah dan diubah namanya menjadi Museum Bali. Ir Soekarno selaku Presiden RI juga mendirikan Fakultas Sastra Universitas Udayana sebagai bagian dari Universitas Airlangga untuk mempelajari sastra dan budaya yang berkembang di Bali.

2.3 Perkembangan Manuskrip Lontar Dewasa Ini

Pada masa lampau, lontar di Bali merupakan naskah yang bersifat pingit (sakral) dan ajawera (rahasia). Sifat pingit pada manuskrip lontar tampak dari pemahaman masyarakat yang menganggap lontar sebagai pusaka yang memiliki tuah, harus dihormati, dan tidak bisa diperlakukan sembarangan. Sifat ajawera yaitu tidak boleh dibaca semua orang, disebarluaskan, dan hanya boleh dibaca oleh orang-orang tertentu khususnya dari kalangan pendeta, pemuka agama, atau orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang sastra. Saat ini, pemahaman lontar sebagai benda pingit yang ajewera sudah mulai bergeser. Semua orang dan siapa pun boleh membaca lontar selama masih bisa membaca huruf-huruf (terutama aksara Bali) yang tertulis dalam lontar tersebut. Mulai anak-anak hingga orang dewasa

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 25

dapat membaca lontar. Namun, lontar yang bisa dibaca oleh anak-anak dan remaja disesuaikan dengan umurnya berupa salinan naskah lontar berisi geguritan (cerita yang berbentuk tembang) dan lontar yang memuat folklore (cerita rakyat). Meskipun demikian, atuaran-aturan tentang proses membaca lontar masih harus ditaati, yaitu mengucapkan doa-doa sebelum mulai membaca dan mempelajari isi lontar. Aturan dan doa-doa sebelum membaca lontar dibahas dalam manuskrip lontar yang memuat tutur Sanghyang Aji Saraswati. Menurut keyakinan masyarakat Hindu di Bali, Sanghyang Aji Saraswati merupakan perwujudan Tuhan sebagai sumber ilmu pengetahuan. Seiring dengan masuknya sistem pendidikan barat serta berkembangnya pengetahuan dan teknologi moderen, tradisi membaca dan menulis lontar diganti dengan tradisi menulis di atas kertas menggunakan huruf Latin. Hal ini berdampak terhadap penurunan minat terhadap manuskrip lontar. Padahal di Bali masih banyak ditemukan manuskrip lontar terutama lontar-lontar milik pribadi yang tersimpan di rumah-rumah penduduk yang memuat berbagai cabang ilmu pengetahuan. Manuskrip lontar banyak ditemukan di geriya (rumah keturunan brahmana yang bertugas sebagai pendeta atau peminpin Agama Hindu), di puri (rumah pemimpin atau raja pada masa lampau), atau rumah-rumah masyarakat yang berminat terhadap sastra dan ilmu pengetahuan tradisional. Jumlah lontar milik pribadi yang tersimpan di

rumah-rumah penduduk tidak dapat terinventarisir secara pasti, diperkirakan jumlahnya masih cukup banyak. Permasalahan utama lontar yang disimpan di rumah-rumah penduduk dapat mengalami kerusakan apabila tidak mendapat pemeliharaan yang memadai. Sehubungan kondisi demikian, banyak kalangan yang khawatir terhadap keberadaan lontar di Bali sehingga banyak pihak berupaya menyelamatkan dan melestarikan pustaka lontar. U paya penyelamatan dan pelestarian dilakukan oleh lembaga pemerintah maupun swasta yang melibatkan berbagai pihak seperti para pemerhati budaya, kurator, sastrawan, pemimpin agama, dan lain-lain. Pemerintah Provinsi Bali selaku pemegang kebijakan daerah telah melakukan berbagai kegiatan guna melestarikan keberadaan manusktip lontar. Salah satu di antaranya yakni memasukkan pelajaran Bahasa Bali sebagai muatan lokal dari usia sekolah dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Muatan lokal bahasa Bali dikuatkan dengan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bali pada tahun 1988 dan tetap berlanjut sampai saat ini. Sebagai muatan lokal di sekolah, kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan Bahasa Bali pun sering dilaksanakan, seperti lomba menulis aksara Bali di atas daun lontar, lomba membaca geguritan (tembang) dari naskah lontar, yang dilaksanakan di tingkat kabupaten, provinsi, maupun dalam kegiatan Pesta Kesenian Bali. Di samping itu pemerintah juga melaksanakan program Utsawa Dharma Gita baik di tingkat lokal maupun

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 27

nasional. Utsawa Dharma Gita merupakan suatu kegiatan menyanyikan tembang-tembang suci yang tertulis dalam lontar. Guna memenuhi tenaga pengajar bidang Bahasa Bali dan Bahasa Jawa Kuna, beberapa perguruan tinggi negeri maupun swasta di Bali mendirikan jurusan pendidikan yang fokus pada bidang Bahasa Bali dan Bahasa Jawa Kuna. Di samping itu, pengadaan jurusan Bahasa Bali dan Bahasa Jawa Kuna bertujuan untuk membentuk intelektual muda yang peduli terhadap budaya Bali, khususnya Bahasa Bali dan Bahasa Jawa Kuna yang berkaitan langsung dengan keberadaan manuskrip lontar di Bali. Upaya pemerintah dalam rangka membina dan menumbuhkembangkan penggunaan Bahasa Bali diperkuat dalam Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali, serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali. Berdasarkan Peraturan Gubernur Bali No. 80 Tahun 2018 ditindaklanjuti dengan berbagai kegiatan, salah satu di antaranya lomba nyurat (menulis) aksara Bali di atas lembaran daun lontar. Lomba ini dilakukan di kalangan generasi muda usia sekolah dari tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Menengah Atas. Lomba nyurat aksara Bali bertujuan untuk melestarikan tradisi menulis di atas daun lontar serta menggalakkan minat generasi muda terhadap keberadaan manuskrip lontar. Upaya melestarikan tradisi menulis di atas daun lontar serta menggalakkan minat generasi muda terhadap

keberadaan manuskrip lontar telah dilakukan beberapa pihak baik lembaga pemerintah, lembaga swasta, maupun perorangan. Beberapa pihak telah melakukan digitalisasi lontar agar dapat tersimpan dengan baik dalam bentuk softcopy dan dapat dibaca oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Dengan adanya digitalisasi suatu manuskrip lontar memiliki backup (salinan) yang dapat dibaca dalam gawai. Digitalisasi lontar telah dilakukan oleh Bidang Dokumentasi Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Universitas Udayana, pihak swasta, maupun masyarakat secara individu yang memiliki koleksi manuskrip lontar. Pelestarian dan peningkatan minat generasi muda terhadap tradisi menulis lontar memiliki manfaat secara ekonomi. Saat ini proses pembuatan dan penulisan naskah lontar dapat dimanfaatkan sebagai komoditas pariwisata. Beberapa orang yang memiliki kemampuan nyurat aksara (menulis huruf) Bali di atas daun lontar dapat memanfaatkan kemampuannya untuk menulis salinan naskah lontar untuk dijual maupun memenuhi pesanan kolektor asing. Di samping itu, kemampuan nyurat aksara Bali dapat diwujudkan dengan menulis dan menggambar di atas daum lontar disebut prasi. Prasi adalah seni lukis di atas lontar dengan gambar ilustrasi wayang, yang merupakan transformasi naskah sastra seperti kakawin atau kidung Ramayana, Mahabrata dan sebagainya (http://repo.isi-dps.ac.id/270/1/Proses_ PembuatanPrasiI.pdf diunduh tanggal 2 F ebruari 2020). Dalam perkembangannya pembuatan prasi menggunakan

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 29

kata-kata dan gambar-gambar masa kini sesuai pesanan wisatawan cukup diminati wisatawan asing maupun lokal sehingga dapat dijual sebagai cenderamata.

2.4 Lembaga Penyimpanan Manuskrip Lontar di Bali

Banyaknya lontar pada masyarakat umum di Bali serta berkurangnya tradisi menulis lontar di kalangan masyarakat memunculkan kekhawatiran berbagai pihak. Baik kalangan pemerintah maupun kalangan swasta merasa perlu menyimpan, merawat, dan melestarikan naskah-naskah lontar yang ada di Bali. Diperkirakan jumlah lontar yang disimpan di berbagai lembaga di Bali paling sedikit 8.000 naskah. Koleksi lembaga-lembaga tersebut belum termasuk lontar milik pribadi yang disimpan di rumah-rumah penduduk. Lembaga-lembaga penyimpanan lontar yang memiliki koleksi cukup bervariasi adalah sebagai berikut.

2.4.1 Perpustakaan Lontar UPTD Gedong K irtya

Perpustakaan L ontar UPTD Gedong Kirtya merupakan museum lontar tertua di Bali. Berdiri pada masa penjajahan Belanda yakni tanggal 2 Juli 1928, mulai dibuka untuk masyarakat umum pada tanggal 14 September 1928. Pembangunan museum Gedong Kirtya tidak terlepas dari jasa F.A. Leifrinck dan Herman Neubronner Van der Tuuk dalam menjalankan tugas di Bali. Liefrinck adalah seorang pejabat Belanda yang bermukim di Bali sekitar tahun 1880-an. Sebagai pejabat,

L eifrinck banyak menulis tentang aturan-aturan adat yang berlaku pada kerajaan-kerajaan di Bali dan Lombok. Sedangkan Van der Tuuk bertugas sebagai misionaris yang bertugas menerjemahkan naskah Bible (kitab suci Agama Nasrani) ke dalam Bahasa Bali. Tujuan penerjemahan ini adalah untuk memudahkan mengajarkan Agama Kristen pada masyarakat Bali. Dalam menjalankan tugasnya, mereka banyak melakukan kajian terkait kebudayaan, adat-istiadat, dan Bahasa Bali. Sebelum menerjemahkan Bible ke dalam Bahasa Bali, Van der Tuuk terlebih dahulu mempelajari Bahasa Bali pada seorang pendeta terkemuka pada masa itu. Ketertarikan Van der Tuuk terhadap budaya Bali mengabaikan tugasnya sebagai penerjemah Bible, kemudian beralih mempelajari Bahasa Bali dan melestarikan pustaka lontar Bali. Sebagian besar waktunya selama bermukim di Singaraja digunakan untuk mempelajari Bahasa Bali dan Jawa Kuno. Ia bersabahat baik dengan para seniman tradisional dan para sastrawan kidung, tembang, dan kakawin. Banyak manuskrip lontar dikumpulkan untuk mempelajari Bahasa Bali dan Jawa Kuna yang digunakan dalam naskah lontar. Rob Nieuwehuys (1982) dalam buku Mirror of the Indies: A History of Dutch Colonial Literature menyebutkan bahwa seorang pedanda (pendeta) yang berpengaruh ketika itu mengakui bahwa Tuan Dertuk (Mr. Van der Tuuk) adalah satu-satunya orang yang paham Bahasa Bali di seluruh penjuru Bali. Setelah Leifrinck dan Van der Tuuk, kecintaan terhadap budaya Bali dilanjutkan oleh orang-orang

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 31

Belanda lainnya seperti L.J.J. Caro, Dr. W.R. Stuterheim, Dr. C. C. Berg, Dr. R. Goris, Dr. Th. Pigeaud, dan Dr. C. Hooykaas, dan lain-lain. Para ahli tersebut memandang bahwa budaya Bali merupakan kehidupan Jawa Kuna yang berlanjut di Bali setelah masuknya Agama Islam. Mereka juga melakukan kajian terhadap budaya Bali dan berhasil menyimpulkan bahwa manuskrip lontar yang banyak ditemukan di rumah-rumah penduduk dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menjadikan Bali sebagai masyarakat yang memiliki budaya unik dan patut dilestarikan. Sehubungan dengan pemahaman demikian, para ahli Belanda mengadakan pertemuan di Kintamani tanggal 2 Juni 1928 untuk membentuk lembaga yang khusus melestarikan manuskrip lontar yang memuat berbagai hal tentang budaya Bali. L.J.J. Caron selaku residen atau perwakilan pemerintah Belanda di Bali dan L ombok pada masa itu, juga mengundang para raja dan tokoh agama untuk berdiskusi mengenai kekayaan kesenian sastra dan lontar-lontar yang tersebar di seluruh Bali. Dalam rapat tersebut diputuskan membetuk stichting (lembaga atau yayasan) yang mengurus seni sastra di Bali, khususnya penyimpanan dan pemeliharaan manuskrip lontar diberi nama Stichting Liefrinck Van der Tuuk (wawancara dengan Plt. Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng dan Kepala U PTD Gedong Kirtya, Rabu 19 F ebruari 2020). Pembentukan Stichting Liefrinck Van der Tuuk ditindaklanjuti dengan pembangunan gedung di atas tanah milik Raja Buleleng pada tanggal 2 Juli 1928.

Atas saran Raja Buleleng, I Gusti Putu Jelantik, nama stichting (yayasan) Liefrinck Van der Tuuk ditambah dengan kata kirtya yang berarti usaha atau hasil jerih payah. Tanggal 14 September 1928, kelompok ini secara resmi membuka sebuah perpustakaan pertama di Bali, bernama Kirtya Lefrink-Van der Tuuk. Pada zaman kemerdekaan perpustakaan Kirtya Lefrink-Van der Tuuk sempat terpuruk kemudian diambilalih oleh pemerintah yang diserahkan kepada pemerintah daerah Bali dan berubah nama menjadi Gedong Kirtya. O leh pemerintah daerah Bali, pengelolaan Gedong Kirtya diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Buleleng dan menjadi perpustakaan lontar Gedong Kirtya. Sampai saat ini Gedong Kirtya menjadi perpustakaan lontar yang seringkali dikunjungi para peneliti Indonesia maupun peneliti asing. Perpustakaan lontar Gedong Kirtya memiliki koleksi lontar sejumlah 1.808 cakep (naskah, berkas, bendel) terdiri atas naskah Weda (ajaran agama Hindu), agama (undang- undang dan peraturan tentang budi pekerti yang berlaku pada zaman kerajaan di Bali), wariga (ilmu astronomi dan menentukan baik buruknya waktu), itihasa (seni sastra), babad (riwayat yang mengandung unsur sejarah, asal-usul keluarga dan silsilah), tantri (sejenis cerita berbingkai), lelampahan (lakon yang digunakan dalam suatu pementasan kesenian). Selain naskah lontar warisan masa lampau, pihak Gedong Kirtya memiliki salinan lontar berjumlah 5.200 cakep (Hasil diskusi terpumpun di Ruang Rapat Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Jumat 21 F ebruari 2020).

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 33

Selain mengoleksi manuskrip lontar, Museun L ontar Gedong Kirtya memiliki beberapa kegiatan yang berkaitan dengan usaha pelestraian manuskrip lontar sebagai berikut.

1) Inventarisasi lontar Berupa kegiatan untuk mendata lontar yang ada di masyarakat di Kabupaten Buleleng meliputi kegiatan perawatan, pembersihan, dan pembacaan lontar.
2) L omba Nyastra Bali Kegiatan ini menyasar generasi muda usia sekolah bertujuan untuk menumbuhkan minat generasi muda untuk mempelajari dan mencintai budaya Bali.
3) Konservasi L ontar Merupakan kegiatan rutin berupa proses pemeliharaan dan perawatan lontar maupun salinan lontar koleksi Perpustakaan Lontar Gedong Kirtya.
4) Pelayanan Salah satu tugas pokok Perpustakaan L ontar Gedong Kirtya adalah memberi pelayanan maksimal kepada masyarakat yang ingin mempelajari isi manuskrip lontar. Masyarakat yang datang ke Museum Gedong Kirtya umumnya masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap budaya Bali, para pelajar, mahasiswa, peneliti, dan orang-orang asing yang ingin mempelajari budaya Bali khususnya manuskrip lontar.

Gambar 2.2 Museum Lontar Gedong Kirtya di Singaraja Bali Dokumentasi Tim Peneliti Tahun 2020.

2.4.2 Museum Negeri Provinsi Bali

Selain Gedong Kirtya, Museum Bali merupakan museum tua yang telah ada sejak zaman kolonial Belanda. Museum Bali beroperasi secara resmi tanggal 8 Desember 1932 dengan nama Bali Museum. Bali Museum didirikan dalam rangka melindungi benda- benda budaya yang hampir punah. Pembentukan Bali Museum berawal dari ide W.F.J. Kroon, Asisten Residen Bali Selatan di Denpasar yang menjabat tahun 1909-

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 35

  1. Kroon mendapat saran dan masukan dari Th.A. Resink seorang peneliti budaya Bali agar melindungi benda-benda budaya dari kepunahan. Atas saran Resink, Kroon memulai pembuatan museum tahun 1910 dengan dukungan dari kalangan ilmuwan, seniman, budayawan, dan raja-raja seluruh Bali. Selanjutnya Kroon meenugaskan perencanaan bangunan museum kepada Kurt Grundler seorang arsitek Jerman yang sedang berada di Bali sebagai wisatawan peneliti. Kurt Grundler membuat perencanaan bersama para undagi (ahli bangunan tradisional Bali) dari Denpasar antara lain I Gusti Ketut Gede Kandel dan I Gusti Ketut Rai. Setelah melalui persiapan yang matang, museum mulai dibangun di pusat Kota Denpasar, di sebelah timur lapangan Puputan Badung di atas lahan seluas
    2.600 m2. Bangunan museum menerapkan arsitektur tradisional Bali meliputi tiga halaman yaitu jaba (halaman luar), jaba tengah (halaman tengah), dan jeroan (halaman dalam). Masing-masing halaman di batasi dengan tembok penyengker (tembok pembatas), candi bentar (pintu masuk berupa gapura terbuka), candi kurung (pintu masuk berupa gapura tertutup), dilengkapi sebuah bale kulkul (bangunan menara tempat kentongan). Di dalamnya terdapat beberapa bangunan yang digunakan untuk memajang benda-benda koleksi museum. Pembangunan museum berlangsung cukup lama, dibuka resmi pada 8 Desember 1932 dikelola oleh Yayasan Bali Museum. Pada masa kemerdekaan, Bali Museum diambil alih oleh pemerintah di bawah Departemen Pendidikan

dan Kebudayaan, bernama Museum Bali. Museum Bali memperoleh perluasan lahan dan pembanguan gedung baru yang berfungsi sebagai perpustakaan, auditorium, labolatorium, konservasi, gudang koleksi, ruang pameran. Sejak otonomi daerah diberlakukan pada tahun 2000, Museum Negeri Provinsi Bali diserahkan kembali ke Pemerintah Provinsi Bali sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebudayaan Propinsi Bali menjadi Unit Pelaksana Teknis Daerah (U PTD) Museum Bali. Saat ini, Museum Bali merupakan salah satu lembaga pemerintah yang memiliki koleksi benda-benda budaya yang lengkap meliputi berbagai bidang sosial budaya seperti benda-benda arkeologi, sejarah, seni rupa, kebudayaan manusia, mata uang kuna, naskah kuna (manuskrip), keramik, peralatan masa lampau.

2.4.3 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana bermula dari pembentukan Fakultas Sastra sebagai bagian dari Fakultas Sastra Universitas Airlangga Surabaya pada tahun 1958. Sejak tahun 1962 dibentuk satu perguruan tinggi negeri di Bali bernama Universitas Udayana dan F akultas Sastra menjadi salah satu bagiannya. Awal mula terbentuknya Fakultas Sastra tidak terlepas dari ide-ide para budayawan yang menaruh minat besar terhadap pelestarian budaya Bali seperti Presiden RI Ir. Soekarno, Dr. Reolof Goris, Dr. Ida Bagus Mantra, I Gusti Ketut Ranuh, dan para ahli budaya lainnya. Pembangunan Universitas Udayana dilengkapi dengan ruang

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 37

penyimpanan lontar untuk mendukung pemeliharaan dan pelestarian manuskrip lontar di Bali. Dalam perkembangannya, Fakultas Sastra Universitas Udayana bukan hanya fokus pada ilmu sastra dan bahasa, tetapi meliputi beberapa ilmu budaya seperti arkeologi, sejarah, dan antropologi. Mengingat bidang ilmu yang dipelajari cukup luas sejak 2 Mei 2013 Fakultas Sastra berubah nama menjadi Fakultas Sastra dan Budaya, kemudian pada 27 Juni 2016 menjadi Fakultas Ilmu Budaya U niversitas U dayana. Sebagai fakultas yang fokus mempelajari ilmu budaya, khususnya ilmu sastra yang berkembang di Bali maka Fakultas Sastra merasa wajib memiliki sumber-sumber pustaka sastra dan budaya Bali yakni manuskrip lontar. Sejak berdiri hingga saat ini F akultas Ilmu Budaya Universitas Udayana memiliki koleksi manuskrip lontar yang cukup banyak yakni 950 cakep (bendel). Koleksi lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana meliputi hampir semua jenis lontar seperti lontar tatwa (lontar jenis ini memuat ajaran ketuhanan, alam semesta, dan sebagainya), wariga (ilmu astronomi dan menentukan baik buruknya waktu), itihasa yakni seni sastra berupa kidung maupun geguritan (cerita yang berbentuk tembang seperti Arjunawiwaha dan Semara Dana), lontar usada (ilmu pengobatan tradisional Bali), dan sebagainya. L ontar sebagai warisan budaya dan sumber ilmu pengetahuan, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana melakukan program penyelamatkan lontar dalam bentuk pengawetan terhadap koleksi lontar yang dimilikinya.

Guna mendukung kinerja lebih baik, perpustakaan lontar dikembangkan menjadi unit pelayanan di tingkat universitas sehingga proses digitalisasi, penterjemahan, dan interpretasi isi lontar menjadi lebih optimal. Saat ini sudah dilakukan digitalisasi terhadap 950 lontar yang dikerjakan secara bertahap. Melalui proses digital, diharapkan koleksi lontar Universitas Udayana memiliki backup (salinan) dalam bentuk softcopy yang dapat dibaca dalam gawai. Sehingga mampu memberikan layanan kepada masyarakat pada umumnya, mahasiswa, dan dosen peneliti dalam melakukan pengkajian. Setelah proses digital, manuskrip lontar koleksi perpustakaan Universitas Udayana diharapkan dapat dialihaksara dan diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain seperti Bahasa Bali, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris. Sehingga semua orang dapat mengetahui isi, makna, dan penerapannya di masyarakat serta bermanfaat bagi masyarakat. (https://lifestyle.kompas.com/read/2012/11/29/14581717/

U niversitas.U dayana.Bertekad.Kawal.Lontar.Kuno,
diunduh 24 F ebruari 2020 pukul 10.30 wita)
2.4.4 Bidang Dokumentasi K

ebudayaan Bali

Bidang Dokumentasi Kebudayaan pada awalnya merupakan sebuah lembaga bernama Pusat Dokumentasi Budaya Bali yang dibentuk sekitar tahun 1986 oleh Prof. Dr. Ida Bagus Mantra ketika menjabat selaku Gubernur Bali. Pendirian Pusat Dokumentasi Budaya Bali mengacu pada kebijakan Pemerintah Daerah Tingkat I Bali yang menetapkan Kebudayaan Bali yang dijiwai oleh nilai-

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 39

nilai Hindu sebagai modal dasar pembangunan daerah Bali. Sesuai namanya, Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali berfungsi sebagai lembaga yang menggali, mengumpulkan, menyimpan, merawat, mengamankan, mempublikasikan, dan melestarikan segala bentuk dan jenis dokumen yang menyangkut kebudayaan Bali. Meliputi penyimpanan buku-buku tentang kebudayaan Bali, brosur, majalah, manuskrip lontar, alih aksara lontar, film, cassette recorder, slide, maupun album foto kebudayaan Bali, dan lain-lain (Arnita, dalam Lontar Nomor 1/Triwulan I/1996 halaman 4). Sejak pelaksanaan otonomi daerah yang mengacu pada pemberlakukan UU 32/2004, kebijakaan yang menetapkan Kebudayaan Bali sebagai modal dasar pembangunan daerah Bali tetap dilanjutkan. Pemerintah Provinsi Bali membentuk Dinas Kebudayaan sebagai lembaga yang bertugas meregulasi kebudayaan yang berkembang di Bali. Pusat Dokumentasi Budaya Bali yang semula merupakan lembaga tersendiri berada di bawah Dinas Kebudayaan Daerah Bali. Hal ini diperkuat dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas Dan F ungsi, Serta Tata Kerja Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Mengacu pada peraturan tersebut, Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali berada di bawah Dinas Kebudayaan Provinsi Bali menjadi Bidang Dokumentasi Kebudayaan. Bidang Dokumentasi Kebudayaan menjalankan tugas melaksanakan inventarisasi dan pemeliharaan, pengkajian, pengembangan, dan restorasi dokumentasi

kebudayaan Bali (https://jdih.baliprov.go.id/produk- hukum/peraturan/abstrak/23739 diunduh, 8 Maret 2020). Selain menjaga, merawat, dan melestarikan lontar-lontar, Bidang Dokumentasi Kebudayaan Bali juga melaksanakan kegiatan menerjemahkan naskah lontar. Berdasarkan catatan koleksi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Bidang Dokumentasi Kebudayaan, pada tahun 2015 memiliki koleksi sebagai berikut.

1) Buku-buku agama, sosial, kesehatan, bahasa (sastra), sejarah, kesenian, dan lain-lain 11.683 eksemplar.
2) Buku alihaksara lontar 6.700 eksemplar.
3) File (arsip) tentang budaya Bali berupa majalah, brosur, dan lain-lain 388 eksemplar.
4) Lontar (perpustakaan lontar) 3.116 takep (bendel).
5) Cassette Recorde (kaset recorde) 60 buah
6) Kaset Beta 50 buah
7) Slide (film) 2.000 buah.
8) Microfice lontar 80 buah
9) VCD 30 buah
10) DVD 150 buah
11) Album foto kegiatan 60 buah. Jenis-jenis manuskrip lontar koleksi Bidang
Dokumentasi Kebudayaan dikelompokkan menjadi 15 kelompok yaitu babad (cerita sejarah, tambo), geguritan (cerita yang berbentuk tembang), kanda (lontar yang memuat ilmu kebatinan), kalpasastra (ilmu pengobatan tradisional yang berasal dari tumbuh-tumbuhan), kakawin

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 41

(puisi dalam bentuk tembang tertentu), kidung (sajak dalam bentuk nyanyian berselang-seling antara pendek dan panjang), nitisastra (ilmu kepemimpinan), mantera astawa (syair-syair pujaan), palakerta (ilmu yang berisi tentang buah), purwa sasana (ilmu yang mengajarkan perilaku yang baik), tantri (cerita rakyat), dan tutur (lontar yang memuat perihal pelajaran, petuah, dan nasihat kehidupan). Sistem pengelompokan ini berbeda dengan sistem pengelompokan Gedong Kirtya yang mengelompokkannya ke dalam cakupan yang lebih luas (Suweda, dalam Majalah Dokumen Budaya Bali L ontar, Nomor 01/Triwulan I/1996:10). Koleksi manuskrip lontar Bidang Dokumentasi Kebudayaan terbanyak berupa tutur 579 cakep. Kemudian jenis lontar usada (ilmu pengobatan tardisional), epos-epos perang; kanda, dan niti sastra. Berkaitan dengan fungsi yang menggali, mengumpulkan, menyimpan, merawat, mengamankan, mempublikasikan, dan melestarikan segala bentuk dan jenis dokumen, Bidang Dokumentasi Budaya Bali juga melaksanakan kegiatan pemeliharaan sebagai kegiatan rutin setiap tahun. Kegiatan pemeliharaan direalisasikan dengan membersihkan lontar-lontar menggunakan minyak sereh, minyak kemiri dan alkohol. Minyak kemiri digunakan untuk menghitamkan huruf-huruf di atas lontar agar terlihat dengan jelas. Minyak sereh untuk mengkilatkan lontar. Alkohol berfungsi sebagai antiseptik untuk membunuh kuman, bakteri maupun jamur yang menempel pada lembaran-lembaran lontar. Program pemeliharaan bertujuan untuk menghindari bubuk (sejenis

kutu atau rayap) yang menimbulkan bercak-bercak noda pada lontar sehingga lontar menjadi rusak kemudian hancur. Bidang Dokumentasi Kebudayaan juga melaksanakan kegiatan translate (translit, alih aksara). Alih aksara dilaksanakan dengan menyalin isi naskah lontar ke dalan aksara L atin kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Proses alih bahasa menggunakan tenaga ahli yang mampu membaca aksara Bali dengan baik, sehingga menghasilkan alih aksara dan alih bahasa yang tepat. Hingga saat ini Bidang Dokumentasi Kebudayaan telah berhasil mengalihaksarakan manuskrip lontar sekitar

6.700 eksemplar. Tahun 2011 Bidang Dokumentasi Kebudayaan melaksanakan proyek pengarsipan lontar dengan sistem scaning (pindai) bekerjasama dengan lembaga swasta Amerika Serikat. Proyek tersebut dimulai dari F ebruari 2011 hingga 2012. Masing-masing takep lontar diarsip dengan melakukan scan (pemindaian) tiap lembar lontar bagiannya. Dalam sehari, mereka bisa mengerjakan 600-
1.000 lembar lontar. Progran pemindaian ditarget agar selesai pada tahun 2012. Proses pengolahan hasil scanning dibawa ke Amerika Serikat. Peralatan pemindaian terdiri atas dua buah lampu, sebuah kamera, dan sepasang komputer jinjing (https://bali.tribunnews.com/2014/09/12/ melihat-dari-dekat-pusat-dokumentasi-dinas- kebudayaan-pemprov-bali, diakses Senin 24 Februari 2020 pukul 10.30 wita). Namun sampai saat ini proses pengarsipan tersebut belum berjalan dengan tuntas.

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 43

2.4.5 Lembaga Penyuluh Bahasa Bali

Dalam rangka melestarikan dan meningkatkan pemakaian Bahasa Bali, Pemerintah Provinsi Bali merekrut tenaga Penyuluh Bahasa Bali berdasarkan Peraturan Gubernur Bali No. 19 Tahun 2016. Posisi dan tugas Penyuluh Bahasa Bali diperkuat kembali dengan Peraturan Gubernur Bali No. 80 tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali. Peraturan gubernur ini sejalan dengan tugas-tugas Penyuluh Bahasa Bali yakni melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam upaya melestarikan, membina, mengembangkan bahasa aksara dan sastra Bali. Tugas utama Penyuluh Bahasa Bali adalah melaksanakan penyuluhan bahasa, aksara, dan sastra Bali di kalangan masyarakat. Mewujudkan, memfasilitasi masyarakat dalam upaya kegiatan pelestarian, pembinaan, dan pengembangan bahasa, aksara dan sastra Bali. Memotivasi masyarakat untuk ikut bersama- sama melakukan upaya pelestarian, pembinaan, dan pengembangan bahasa, aksara dan sastra Bali. Para penyuluh Bahasa Bali melaporkan pelaksanaan kegiatan kepada Gubernur Bali melalui Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Sejak tahun 2018, Penyuluh Bahasa Bali melaporkan pelaksanaan kegiatan kepada Gubernur Bali melalui Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah Raga Provinsi Bai. Penyuluh Bahasa Bali ditugaskan pada masing-masing kabupaten dan kota di Bali.

Selain memberi penyuluhan dan pendidikan Bahasa Bali kepada masyarakat, Penyuluh Bahasa Bali juga melakukan pendataan manuskrip lontar pada masing- masing wilayah kerjanya. Pendataan manuskrip lontar dipandang penting dilakukan karena lontar merupakan salah satu media berbahasa Bahasa Bali yang memuat berbagai bentuk tradisi dan budaya masyarakat Bali. Di samping itu, masyarakat Bali memiliki koleksi lontar yang cukup banyak tersimpan di rumah-rumah pribadi masyarakat. Koleksi lontar milik pribadi masyarakat ini tidak teridentifikasi dan umumnya tidak mendapat perawatan yang layak. Sehingga banyak lontar yang lapuk, rusak, dan tidak terbaca. Sejak tahun 2016-2018, Penyuluh Bahasa Bali telah berhasil mendata 25.106 cakep lontar milik masyarakat di seluruh desa adat di Bali. Lontar terbanyak ditemukan di Kabupaten Gianyar berjumlah 7.309 cakep. Kabupaten Tabanan 3.515 cakep, Kabupaten Karangasem 3.366 cakep, Kabupaten Klungkung 2.899 cakep, Kabupaten Buleleng 2.554 cakep, Kota Denpasar 1.190 cakep, Kabupaten Badung 1.648 cakep, Kabupaten Bangli 951 cakep, Kabupten Jembrana 674 cakep. Jenis lontar yang berhasil didata umumnya berupa tutur, kanda, wariga, usada, geguritan, weda, babad, dan kakawin (http://www. balipost.com/news/2018/12/14/63762/Penyuluh-Bahasa- Bali-Data-25html, diunduh 11 April 2020). Berdasarkan hasil temuan tersebut, sebagian besar naskah lontar dalam kondisi tidak terawat. Hal ini disebabkan karena minimnya pengetahuan masyarakat

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 45

dalam merawat naskah lontar yang dimiliki. Langkah awal yang dilakukan Penyuluh Bahasa Bali adalah mengidentifikasi naskal lontar yang telah berhasil ditemukan. Kemudian dibuatkan daftar katalog yang berisi judul, tempat penyimpanan, nama pemilik, kondisi lontar, tebal naskah lontar, aksara yang digunakan, kalimat awal, kalimat akhir, dan identitas pengarang jika ditemukan dalam lontar tersebut. Kegiatan lanjutan dari Penyuluh Bahasa Bali adalah melakukan perawatan terhadap lontar yang sudah berhasil diidentifikasi menggunakan minyak sereh. Minyak sereh disediakan Pemerintah Daerah Provinsi Bali dalam hal ini dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Dinas Pendidikan Provinsi Bali. Ke depan direncanakan akan melaksanakan digitalisasi lontar atau pemindaian agar memiliki backup (salinan) didalan bentuk perangkat lunak sehingga dapat dibaca dengan gawai dan komputer.

2.4.6 Museum Pustaka Lontar Desa Adat Dukuh Penaban

Museum L ontar Desa Adat Dukuh Penaban terletak di Desa Dukuh Penaban Karangasem Bali. Terbentuknya Museum Pustaka L ontar Desa Adat Dukuh Penaban Karangasem dilatarbelakangi kondisi masyarakat Desa Adat Dukuh Penaban yang sebagian besar pergi merantau ke luar desa. Masyarakat yang terlibat aktif dalam kegiatan desa sangat sedikit, sehingga muncul ide untuk memberi peluang kepada masyarakat untuk bekerja di desa agar tidak semua pergi merantau ke luar desa. Kebetulan saat

itu di Bali sedang maraknya pembentukan desa wisata. Maka, ide pembentukan desa wisata mulai digagas untuk memberi peluang kepada masyarakat mengelola potensi pariwisata di desanya. Secara kebetulan juga, masyarakat Desa Adat Dukuh Penaban banyak yang memiliki lontar sehingga muncul ide untuk membangun desa wisata yang menonjolkan manuskrip lontar. Kemudian, pada tanggal 11 April 2017 masyarakat Desa Adat Dukuh Penaban mendeklarasikan pembentukan Desa Wisata Dukuh Penaban dengan ikon Museum Pustaka Lontar. L angkah awal kegiatan Museum Pustaka L ontar adalah mengumpulkan lontar yang ada di masyarakat. Seluruh masyarakat yang memiliki naskah lontar diminta untuk menaruh lontar di museum pustaka lontar. L angkah ini ditanggapi positif oleh masyarakat, banyak lontar-lontar milik pribadi diserahkan ke museum. Lontar yang disimpan di museum dicatat nama pemiliknya, judul lontar, maupun jumlahnya. Namun ada pula lontar yang tidak diserahkan ke museum, tetapi disimpan sendiri di rumah-rumah pribadi. Dengan demikian, koleksi lontar Museum Pustaka L ontar Dukuh Penaban terbagi menjadi dua yaitu; 1) koleksi masyarakat yang ditaruh di museum pustaka lontar; 2) koleksi masyarakat yang dipegang sendiri oleh pemiliknya tetapi dicatat oleh museum pustaka lontar. Museum Pustaka L ontar Dukuh Penaban ini dibangun di atas tanah milik desa, menggunakan dana desa, dan dikelola bersama oleh masyarakat Desa Adat Dukuh Penaban. Cara kerja Museum Pustaka Lontar Desa Dukuh

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 47

Penaban menerapkan pola kolektif (melibatkan seluruh masyarakat Desa Adat Dukuh Penaban) dan partisipatif (melibatkan masyarakat luar seperti pemerhati budaya, peneliti, kurator, pemerintah, dan lain-lain). Jumlah koleksi lontar Museum Pustaka L ontar Desa Dukuh Penaban terdiri beberapa lontar.

1) L ontar milik masyarakat Desa Adat Dukuh Penaban 700 cakep.
2) Salinan lontar milik masyarakat maupun sumbangan 4.000 cakep.
3) Buku-buku cetakan berjumlah 100 judul. Jenis koleksi lontar cukup beragam seperti lontar
usada (ilmu pengobatan tradisional Bali), babad (silsilah atau sejarah), astakosala (arsitektur bangunan tradisional Bali), asta brata (tata cara kepemimpinan), dharma caruban (kuliner tradisonal Bali), dolanan (permainan rakyat), dharma pemaculan (ilmu dan tatacara pengolahan lahan pertanian), kakawin (karya sastra berbentuk tembang seperti Ramayana dan Mahabharata), dan masih banyak lagi jenis-jenis lontar lainnya. Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban juga berhasil mencatat manuskrip lontar berusia ratusan tahun seperti lontar Buana Kosa ditulis tahun 1547 Saka (1625 Masehi) yang memuat filosofi terciptanya dunia. Lontar Tatwa Jnana berangka tahun 1763 Saka (1841 Masehi) memuat filsafat kedharman atau perilaku yang baik. Kakawin Semarandhana dan Tutur Gumi tahun 1762 Saka (1840 Masehi), dan beberapa lontar

tua lainnya (wawancara dengan Bapak I Dewa Gede Catra, di Karangasem Bali, Jumat 20 Maret 2020).

Gambar 2.3 Salah Satu Manuskrip Lontar Koleksi Museum Pustaka Lontar Desa Adat Dukuh Penaban Dokumentasi: Tim peneliti 2020

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 49

2.5 Deskripsi Klasifikasi Jenis Isi Manuskrip Lontar di Bali

Sebagaimana telah diuraikan dalam sub. 2.4 di atas bahwa penggolongan isi manuskrip/lontar dari berbagai tempat-tempat penyimpanan baik lembaga formal maupun non formal di Bali masing-masing memiliki perbedaan, berikut ini diuraikan isi manuskrip berdasarkan penggolongan dari masing-masing lembaga sebagai berikut: kakawin (karya sastra berbentuk tembang seperti Ramayana dan Bharatayudha), lontar usada (ilmu pengobatan tradisional Bali), babad (silsilah atau sejarah), astakosala (arsitektur bangunan tradisional Bali), asta brata (tata cara kepemimpinan), dharma caruban (kuliner tradisonal Bali), dolanan (permainan rakyat), tutur, dharma pemaculan, (ilmu dan tatacara pengolahan lahan pertanian), Buana Kosa ditulis tahun 1547 Saka (1625 Masehi) yang memuat filosofi terciptanya dunia. Lontar Tatwa Jnana berangka tahun 1763 Saka (1841 Masehi) memuat filsafat kedharman atau perilaku yang baik.

2.5.1 Manuskrip Lontar K akawin

Penelitian atau pengkajian terhadap sastra klasik Indonesia yang tersimpan di Bali sudah dimulai dan atau berlangsung seputar satu setengah abad yang lalu. Perhatian berganda para sarjana Barat terhadap sastra klasik yang tersimpan di Bali tampak setelah terbit buku terkenalnya Sir Thomas Stamford Raffles berjudul History of Java yang edisi pertamanya terbit di L ondon tahun

  1. Raffles antara lain memberikan informasi bahwa di Bali tersimpan sumber-sumber kesusastraan mengenai sejarah Jawa, yang tidak terdapat lagi di Jawa. Kemudian perhatian lebih dari sarjana Barat setelah terbitnya The Civilizatition and cultur of Bali (1859) karya F riederich. Serangkain dengan isi karya-karya dalam manuskrip lontar yang mengambil sumber-sumber dari epik, Zoetmulder (1974), dalam Suastika, (1974:79), menyebutkan bahwa pembagian karya sastra Jawa Kuna dapat dikelompokkan menjadi: parwa dan kakawin yang bernilai epik, didaktik dan erotik, yang merupakan hasil karya pengolahan kembali kakawin ke dalam bentuk prosa, niti, dan kidung. Demikian juga pengelompokan menurut Poerbatjaraka (1954) bahwa sastra Jawa Kuna dikelompokkan menjadi sastra Jawa Kuna Puisi dan sastra Jawa Kuna Prosa dan dilengkapi dengan sastra Jawa Kuna Tengahan. Karya sastra Jawa Kuna berpengaruh di Jawa sampai abad ke-15, kemudian terjadi perubahan sosial di Pulau Jawa yang menjadi pusat kegiatan studi Jawa Kuna. Sebagian masyarakat Jawa pada waktu itu telah berpindah ke Pulau Bali serta masih tetap memelihara dan mempelajari teks-teks tua, sedangkan di Jawa telah ada alih pandangan disesuaikan dengan mistik, hukum, dan budaya Islam. Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa karya sastra Jawa Kuna terdiri dari dua bagian yaitu puisi dan prosa, yang termasuk dalam puisi yaitu jenis karya sastra kakawin dan geguritan. Karya sastra kakawin merupakan karya sastra yang menggunakan syarat-syarat yang

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 51

disebut dengan guru laghu yaitu pedoman pembentukan puisi Jawa Kuno atau kakawin, (Sukartha dkk:1993/1994:

31). Zoetmulder (1983:479), dalam karya besarnya “Kalangwan Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang”, menyebutkan bahwa dalam karya sastra Bali yang ditulis dalam lontar/manuskrip pada dua jenis kakawin yaitu kakawin mayor dan minor. Kakawin mayor adalah jenis kakawin yang memiliki umur penciptaannya lebih tua. Di Bali jenis kakawin ini sudah umum dibaca atau dilantunkan dalam kegiatan mabebasan atau makekawin, sedangkan kakawin minor yang menurut Zoetmulder (1983:482) adalah kakawin yang penulisannya terbentang sejak akhir Kerajaan Majapahit, sampai abad ke-19, jadi masanya lebih dari 3 abad. Adapun jenis-jenis manuskrip lontar kakawin (puisi) dibagi menurut periode tahun penciptaannya yang disebut sebagai kakawin mayor dan minor sebagai berikut:

2.5.1.1 K akawin Mayor

Sebagaimana telah diuraikan di atas mengenai pengertian kakawin mayor, bahwa sastra kakawin mayor atau kakawin yang memiliki umur lebih tua, mendominasi, dan populer, di antara jenis kakawin lainnya di Bali umumnya dan bagi kalangan pecinta sastra kakawin khususnya. Dicontohkan pada jenis kakawin seperti Ramayana sebagai jenis kakawin terpanjang yang dicipta pada jamannya menjadi sumber utama dalam proses

belajar sejak dini memahami seni sastra kakawin. Inilah salah satu keunggulan dari jenis karya sastra mayor ini. Adapun jenis-jenis karya sastra mayor digolongkan sebagai berikut:

1) K akawin Ramayana.

Zoetmulder,(1983:277), menyebutkan bahwa Kakawin Ramayana dalam kehidupan sosialnya selalu mendapat tempat yang terhormat. Hal ini melihat dari jumlah salinan yang memberikan kesaksian bahwa lontar itu diselamatkan oleh masyarakat. Walau kakawin ini cukup panjang, dan terpanjang di antara kakawin periode Jawa-Hindu. Kakawin ini pernah dilakukan penelitian oleh H. Kern pada tahun 1900. Karya ini juga merupakan epos agung dalam bahasa Sansekerta yang merupakan karya Walmiki yang merupakan versi yang paling tekenal.

2) K akawin Arjuna Wiwaha.

Kakawin Arjuna Wiwaha juga sangat populer bagi kalangan masyarakat Bali. Kakawin ini mengisahkan tentang perjalanan Niwatakawaca seorang raksasa (daitya) mengadakan persiapan untuk menyerang dan menghancurkan Surga, kerajaan Dewa Indra. Raksasa ini tidak bisa dikalahkan oleh para dewa. Maka Dewa Indra memutuskan untuk meminta bantuan kepada seorang manusia dialah Arjuna yang sedang bertapa di Gunung Indrakila. Tetapi sebelum Arjuna dimintai tolong, diuji ketabahannya dengan mengutus bidadari

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 53

cantik Tiolotama dan Supraba untuk menggoda Arjuna di pertapaan. Karena percintaan dan keindahan alam kakawin ini menjadi populer di kalangan masyarakat Bali. Kakawin ini banyak melukiskan percintaan sehingga menarik untuk dibaca.

3) K akawin Bharatayuddha.

Kakawin Bharatayuddha merupakan kakawin yang dikarang oleh Mpu Sedah dan Panuluh manggalanya (bagian awal) ditujukan kepada Raja Jayabhaya. Kakawin ini menceritakan tentang kisah Kresna menuju Gajahwaya mewakili Pandawa dalam perundingan dengan para Korawa perihal tentang tuntutan mereka akan bagian kerajaan. Dalam perjalanan perundingan, dilukiskan kota maupun alam raya sangat bersedih karena tidak ikutnya Arjuna dalam perundingan. Ketujuh Rsi di Surga menanti kedatangan Kresna. Raja Dhrtarastra mengeluarkan perintah agar menghias kerajaan untuk menyambut tamu agung. Pelukisan terhadap wanita-wanita yang turut menyambut kehadiran Kresna. Namun kehadiran Kresna di Sorga tidak membuahkan kata sepakat di antara kedua bersaudara itu. Maka terjadilah persiapan peperangan di antara kedua belah pihak (Pandawa dan Korawa).

Gambar 2.4 Kakawin Bharatayuda koleksi I Nengah Alit, Banjar Dinas Pesangkan, Desa Duda Timur, Kec. Selat Kabupaten Karangasem Bali Dokumentasi: Tim peneliti 2020

4) K akawin Hariwangsa.

Kakawin Hariwangsa yang dikarang oleh Mpu Sedah dn Mpu Panuluh, manggalanya atau pengantarnya ditujukan kepada Bhatara Wisnu dan Raja Jayabhaya bahwa Bhatara Wisnu telah menjelma dalam diri Kresna untuk melindungi dunia dan memusnahkan makhluk- makhluk jahat (Bhoma, Kangsa, dan Kalayawana) yang mengganggu para dewa dan hanya dapat dibunuh oleh seorang manusia. Kakawin ini juga sangat terkenal bagi kalangan pecinta sastra Jawa Kuna.

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 55

5) K akawin Sutasoma.

Kakawin Sutasoma mengisahkan tentang Kerajaan Hastina, yaitu kerajaan Raja Sri Mahaketu, seorang keturunan Kuru, dikacaukan oleh rombongan-rombongan raksasa yang merampok dusun-dusun dan pertapaan-pertapaan. Menurut kepala Brahmin bahwa yang dapat memusnahkan raksasa adalah hanya seorang keturunan raja. Dialah seorang putra raja yang sedang melakukan pertapaan di hadapan arca Jina, lalu diwahyukan kepadanya bahwa sang Bodhisastwa sendiri yang akan menjadi putranya. Permaisurinya menjadi hamil dan tanda-tanda keajaiban yang akan datang terjadi. Para Dewa turun untuk memberi hormat terhadap kelahiran bayi (sang Jina). O rang cacat, sakit dapat disembuhkan oleh sang Jina. Setelah berumur tujuh bulan bayi itu diberi nama Sutasoma. Menjadi orang utama dalam kebaktian agama di bawah pimpinan Sri Jineswarabajra. Setelah dewasa dan menikah menggantikan ayahnya sebagai raja.

6) K akawin Bomakawya

Kakawin Bomakawya dalam manggala (pengantar) berisikan tentang pujian terhadap kama yang menampakkan diri dimanapun terdapat keindahan dan cinta. Diceritakan bahwa Bhatara Wisnu telah menjelma dalam diri Kresna, sedangkan dewa Basuki menjelma dalam kakak Kresna, Baladewa, agar kesejahteraan dan perdamaian di bumi dipulihkan kembali setelah kekuasaan para raksasa dihancurkan. Pada suatu hari

para Rsi turun dari surga menghadap Kresna di bangsal agung, saat itu Narada sebagai juru bicara menceritakan kedatangan mereka, bahwa di ketiga dunia ini sudah tidak dapat dipertahankan lagi karena serangan buas para raksasa di bawah pimpinan raja mereka, Naraka. Naraka dilahirkan dari hasil sanggama antara Dewi Bumi (itulah sebabnya dinamakan Boma, yaitu putra Bumi), dan Wisnu. Setelah dewa itu dalam wujud seekor babi hutan menyelamatkan bumi dari kehancuran. O leh Brahma, Boma dilengkapi dengan kekuatan yang tak terkalahkan dan kekuatan itulah yang dipakai untuk menyerang para Dewa. Para Rsi memohon kepada Kresna agara segera membantu para pertapa di Gunung Himalaya, mereka sangat menderita karena dirampok oleh gerombolan para raksasa. Kresna berjanji akan mengutus putranya, Samba. Akhirnya tidak diceritakan Para Rsi kembali ke surga karena permintaannya sudah dipenuhi.

7) K akawin Lubdaka

Manggala di dalam kakawin Lubdaka berisikan tentang pengarang memohon doa restu kepada dewa keindahan dalam bidang ini. Dalam Kakawin ini diceritakan tentang kisah Lubdaka yaitu seorang pemburu dari Nisada. Memang dari sejak mudanya suka membunuh hewan- hewan atau berburu untuk mencari nafkah. Sehingga dia tidak mendapat pahala. Tepatnya pada tanggal 14 paro petang bulan ketujuh, pagi-pagi ia meninggalkan rumahnya, untuk menuju wilayah perburuan. Sampai sore tidak seekor pun binatang muncul. Sebelumnya tidak

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 57

pernah terjadi, ia mulai menjadi letih dan lapar dan tidak ada gunanya pulang jika tanpa rejeki. Ketika matahari terbenam ia sampai di sebuah danau dia juga berharap ada binatang yang minum. Ia naik di sebuah pohon yang cabangnya menaungi air. Ia takut kalau tertidur dan jatuh dimangsa binatang buas, maka ia berjaga sambil memetik daun pohon yang kebetulan daun pohon wilwa dan menjatuhkannya ke danau. Daun-daun itu jatuh ke atas sebuah lingga Siwa. F ajar menyingsing pulang dengan tangan kosong. Jenis-jenis kakawin mayor di atas yang sering menjadi “media” yang dibaca dalam kegiatan Mabebasan di Bali***.*** Jenis kakawin ini di Bali sangat terkenal atau lebih mendominasi dari pada kakawin yang umurnya lebih muda (minor) dan sampai saat ini masih difungsikan oleh masyarakat Bali baik untuk kepentingan upacara maupun kegiatan sosial lainnya.

2.5.1.2 K akawin Minor

Zoetmulder (1983:482) dalam karya besarnya “Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang” menyebutkan, kakawin minor yaitu kakawin yang penulisannya terbentang sejak akhir Kerajaan Majapahit sampai abad ke-19, jadi masanya lebih kurang dari 3 abad. Mengenai tempat penulisannya adalah ditulis di Bali atau di Jawa saat kejayaan keraton Jawa-Hindu telah pudar atau karya-karya ini berasal dari puluhan tahun terakhir periode Majapahit. Dilihat dari mutu sumber

penulisannya, dan beberapa masih dekat dengan tradisi Jawa Timuran dalam hal penulisan kakawin. Istilah minor dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (Suharso dan Retnoningsih, 2005:323), tidak ditemukan, tetapi minoritas ada disebut yang artinya golongan kecil dalam masyarakat. Tetapi jika kata minor ini dihubungkan secara harafiah sudah tentu bisa diartikan sebagai kakawin-kakawin yang belum begitu dikenal atau belum populer di kalangan masyarakat pecinta sastra kakawin khususnya dan masyarakat Bali umumnya. Ciri-ciri disebut sebagai kakawin minor yaitu ada beberapa kelemahan dalam penulisan ini seperti pada alur cerita, ungkapan atau perumpamaan sedikit kaku. Adegan pertempuran di medan peperangan diceritakan tanpa batas sehingga menjemukan. Dilihat dari teknik persajakan dan penggunaan bahasa sangat mencolok. Penulis sangat sedikit memahami tentang bahasa Sansekerta, dan pengantar yang dipakai adalah bahasa Jawa Kuno. Memperlihatkan kebebasan tanpa batas terutama pada uraian vokal–vokal dalam suku kata sangat terbuka demi kebutuhan metrumnya. Di sisi lain yang paling mengidentifikasi kakawin ini sebagai kakawin minor adalah bersumberkan dari parwa-parwa dalam Mahabharata dan kanda-kanda dalam cerita Ramayana. Berikut ini contoh-contoh kakawin minor, di antaranya:

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 59

1. K akawin Subadra Wiwaha (Pernikahan Sang Subhadra), atau Parthayana (pengembaraan Sang Arjuna). Cerita ini merupakan kisah petualangan Arjuna dalam perjalanannya melewati tempat-tempat suci tirtha yang merupakan tema syair, atau babonnya bersumber dari Adiparwa dalam prosa Jawa Kuna. Dijadikan kakawin dengan 55 pupuh. Pengarang dengan nama samaran yang cukup menguasai teknis persajakan dan deskripsi alam lingkungan dengan teknik percintaan mengikuti cerita sumbernya. Cerita ini selaras dengan cerita apa yang terdapat di dalam cerita Adiparwa.

2. K akawin Abhimanyuwiwaha (Pernikahan

Abhimanyu).

Sebagai kakawin minor, Abhimanyuwiwaha merupakan cerita yang bersumberkan pada Wirataparwa yang juga merupakan cerita prosa Jawa Kuna. Kakawin ini sangat muda dikarang oleh Waktroruju yang oleh Zoetmulder (1983:484) (dalam bahasa Bali diduga nama samaran ini adalah Ketut Waktra), karya ini sangat muda dan diperkirakan ditulis di Karangasem.

  1. K akawin Hariwijaya (kemenangan Wisnu) Jenis kakawin ini mengambil sumber atau babon dari Adiparwa (prosa) dengan tema Hariwijaya, yang menceriterakan tentang pengadukan samudra dan pencurian air amertha oleh para raksasa*.* Menurut bahasa, gaya, dan teknik puisi kakawin ini mirip dengan kakawin Subhadrawiwaha dan Abhimanyuwiwaha dan diperkirakan juga lahirnya

atau ditulisnya kakawin ini berasal dari waktu atau jaman yang sama. Cerita dalam kakawin ini sifatnya memperluas cerita parwa. Karya sastra ini ditulis pada suatu tempat yang disebut dengan Asrama Wijawidruma. Para dewa mengadakan rapat untuk merebut air suci yang dihadiri pula oleh Bhatara Brahma dan Bhatara Wisnu, membicarakan cara merebut air suci itu.

Kakawin–kakawin tentang kisah sang Kresna seperti:

4. K akawin Krsnawijaya (kemenangan Kresna) atau kakawin Kalayawanantaka (kematian Kalayawana); Kalantaka atau Kresnakalantaka (kematian raksasa Kresnakala; *Kresnantaka (*kematian Kresna) dan Kresnandhaka atau Kangsa. Seperti misalnya kakawin Kresnantaka mengambil sumber atau babon dari cerita yang termuat dalam prosa (parwa) yaitu Asramawasawaparwa, Mosalaparwa, dan Prathanikaparwa. Menurut Zoetmulder Kakawin Kresnandhaka misalnya diperkiarakan ditulis sekitar abad ke-19, ini juga berdasar pada informan dari Bali.
5. K akawin Astikasraya (bantuan sang Astika). Kakawin muda ini juga bersumber dari Adiparwa. Menceritakan tentang ekpedisi Janamejaya melawan Taksila, selanjutnya menceritakan tentang kunjungan U ttangka kepada Janamejaya, U ttangka menerangkan kepada raja, bagaimana ayahnya Parikesit dibunuh oleh Taksaka ia mengusulkan agar diadakan

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 61

sarpayadnya yaitu korban kesaktian yang dapat memusnahkan semua naga dan ular.

6. K akawin Hariwijaya (kemenangan Wisnu). Kakawin ini bersumber dari Adiparwa. Kakawin ini hampir mirip dengan Subhadrawiwaha dan Abhimanyuwiwaha. Juga penulisannya dalam waktu yang sama. Menceriterakan tentang pengadukan samudra dan pencurian air suci amerta oleh para raksana. Para Dewa mengadakan rapat yang juga dihadiri oleh bhatara Brahma dan Wisnu untuk merebut air suci itu.
7. K akawin *Dimbiwicitra.* Kakawin ini juga bersumber dari Adiparwa yang mengisahkan tentang kisah keberangkatan para Pandawa dari Warananata sampai lahirnya Ghathotkaca (Adiparwa ed Juynboll 137.31-
146.19). Kakawin ini dikarang oleh Mpu Madhu.
8. K akawin *Ratnawijaya.* Kakawin ini juga bersumber dari Adiparwa. Kakawin ini menceritakan tentang raksasa Sunda Upasunda, bahwa Upasunda melakukan semadi di pegunungan Windhya dengan maksud menaklukkan dunia dan mengalahkan para dewa. O leh Bhatara Indra diutuslah bidadari untuk menggoda mereka.
9. K akawin *Indrawijaya.* Kakawin Indrawijaya yaitu kakawin yang mengisahkan dua kisah yang bersumber dari Udyogaparwa. Mengisahkan jatuhnya Dewa Indra dan pulangnya ke surga serta kisah tentang Amba yaitu dengan kisah ini Bisma menerangkan

hubungannya dengan Sikhandi. Kisah yang pertama ini dibahas dalam Indrawijaya.

10. K akawin Wertantaka. Wertantaka mengambil sumber dari Udyogaparwa, yang cerietranya juga mirip dengan cerita yang di kakawin Indrawijaya hanya saja perbedaannya kisahnya yang dibahas secara lebih panjang, khususnya godaan terhadap trisirah. Dalam kakawin ini ada juga sedikit pengaruh dari kakawin Arjunawiwaha, yaitu adanya pertempuran Indra dengan Werta yang dikembangkan menjadi perang sungguh-sungguh antara para dewa dengan raksasa.
11. K akawin Ambasraya. kakawin ini bersumber dari Udyogaparwa bagian terakhir yaitu melukiskan tentang sayembara Amba yang dimenangkan oleh Bhisma. Tetapi tidak dinikahi kerena Bhisma sudah bersumpah untuk tidak beristri.
12. K akawin Parthawijaya atau Irawantaka (kematian Irawan). Kakawin yang bersumber dari Bhismaparwa ditulis pada abad terakhir. Kakawin ini mengisahkan tentang kemenangan Arjuna.
13. K akawin *Indrabhandana.* Kakawin ini menceritrakan ketika Dasamuka dibebaskan dari penjara setelah ia dikalahkan oleh Arjuna Sahasrabahu. Kakawin ini juga mengambil sumber dari U ttarakanda
14. K akawin Arisraya (A). Kakawin ini juga mengambil sumber dari Uttarakanda. Menceritakan tentang para dewa diserang oleh tiga raja raksasa dari Alengka yaitu Mali, Malayawan, dan Sumali.

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 63

15. K akawin Arisraya (B). Kakawin ini juga mengambil sumber dari Uttarakanda. Menceritakan tentang perang Satrughna melawan L awana dan perang Bharata melawan para gandharwa yang dibahas lebih panjang.
16. K akawin *Sumantri.* Kakawin Sumantri ini diperkirakan dikarang di Bali yaitu antara abad ke- 18-19. Kakawin ini menceriterakan tentang seorang tokoh Suwanda yang menjadi patih Arjuna, bahasanya dikatakan tidak lagi bahasa Jawa Kuno, kemungkinan dengan bahasa Jawa Kuno bercampur dengan bahasa Bali yang disebut dengan bahasa Jawa Tengahan.
17. K akawin Rama (parasu) wijaya, kakawin ini menceritakan tentang di Nandanawana yaitu taman sari berdekatan dengan Indra di Wasoka, seorang Bidadari yang ditemani dayang-dayang, secara rahasia berjumpa dengan kekasihnya.
18. K akawin Narakawijaya (kemenangan Naraka) atau Boma. Kakawin melukiskan tentang masa muda Yadnyawati putri raja U ttara. Tiba-tiba menyusullah serangan Bhoma terhadap Keraton U ttara dan menewaskan sang raja, sedangkan permaisurinya meninggal sambil merangkul jenazahnya. Sang putri menjadi anak yatim piatu kini diangkat menjadi anak angkat Bhoma sebagai anak sendiri. Deretan kakawin di atas merupakan jenis kakawin minor menurut penggolongan Zoetmulder, adalah kakawin yang umurnya lebih muda, penciptaannya antara

abad ke-19 dan sampai abad ke-20. Dan bersumber dari parwa-parwa Mahabharata dan Ramayana. Tetapi di Bali masih ada beberapa yang belum teridentfikasi seperti misalnya kakawin Gajah Mada yang merupakan disertasi Ibu Partini Sarjono tahun 1984), juga penciptaannya pada abad ke-20.

2.5.2 Manuskrip Parwa-Parwa (Cerita Prosa)

Karya sastra prosa atau parwa adalah karya sastra yang diadaptasi dari dari bagian-bagian epos-epos (misalnya epos Mahabharata) Sansekerta dengan melakukan kutipan-kutipan dari karya asli ditulis atau dicipta yang menyesuaikan dengan karya-karya yang masih bersumber dari bahasa Sansekerta. Teks-teks ini cara penyajian atau cara baca palawakya. Teks Parwa (prosa) dibaca dengan cara berirama, (Candrawati, 2005:527). Tidak dibaca dengan persyaratan Guru Laghu seperti dalam membaca atau melantunkan kakawin, (Zoetmulder, 1983:80). Adapun karya-karya sastra parwaatauprosa yang menjadi sumber dalam penulisan kakawin diuraikan secara ringkas, seperti di bawah ini:

a. Adiparwa. Di dalam Adiparwa ada dua bagian cerita yaitu pertama cerita mengenai korban yang atas perintah raja Janamejaya dipesersembahkan sebagai suatu sarana magis guna memusnahkan para naga. Bagian kedua berisi tentang silsilah para Pandawa dan Korawa, kelahiran, dan masa muda mereka sampai pada pernikahan arjuna dengan Subhadra.

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 65

b. Sabhaparwa. Melukiskan tentang persidangan antara kedua putra mahkota Kaurawa dan Pandawa. Kalahnya Yudistira bermain dadu, dibuangnya Pandawa ke tengah hutan.
c. Wanaparwa. Pengembaraan Pandawa di Hutan Kamyaka. Wirataparwa. Wirataparwa menceritakan tentang kehidupan Pandawa di Keraton Raja Witara, karena kalah dalam perjudian dengan para Korawa.
d. Udyogaparwa. Udyogaparwa menceritakan tentang kedua belah pihak mempersiapankan diri untuk pertempuran dan masing-masing mencari sekutu. Duryodana sebagai utusan para Korawa dan Arjuna utusan para Pandawa sama-sama berangkat untuk menghadap Kresna.
e. Bhismaparwa. Bhismaparwa menceritakan tentang masing-masing mencari tempat dan menyepakati norma-norma dalam peperangan. Byasa datang menengok Dhrtarastra dan menasehati agar bersikap pasrah terhadap putra-putranya.
f. Dronaparwa. Mahasenapati Drona. Mencerietakan berbagai pertempuran dan berbagai strategi tempur balatentara Kaurawa untuk melawan Pandawa.
g. Karnaparwa. Menceriterakan tentang peperangan di Medan Kuruksetra, ketika Karna menjadi mahasenapati balatentara Kaurawa sampai gugurnya Karna di tangan Arjuna.
h. Salyaparwa. Salyaparwa menceritakan tentang bagaimana Salya sebagai maha senapati balatentara

Kaurawa dan menceritakan Duryonada terluka berat diserang musuh.

i. Sauptikaparwa. Menceritakan tentang penyerbuan waktu malam, yaitu membakar perkemahan Pandawa di malam hari oleh satrya Kaurawa.
j. Striparwa. Menceritakan tentang banyaknya janda- janda kedua belah pihak bersama dengan Dewi Gandhari, dan raja Dritarastra berduka atas kematian suami-suami mereka di medan perang
k. Santiparwa. Menceritakan tentant buku ajaran Bhisma kepada Yudistira menegani moral dan tugas kewajiban sebagai seorang raja dengan maksud untuk memberi ketenangan jiwa kepada para ksatrya menghadapi kemusnahan bangsanya.
l. Anusasanaparwa. Ajaran lanjutan nasihat Bhisma kepada Yudistira, dan berpulangnya Bhisma ke Surgaloka.
m. Aswamedhikaparwa. Aswamedhikaparwa menceritakan tentang pelaksanaan upacara Aswamedha dan bagaimana Yudistira dianugrahi gelar maharaja Diraja.
n. Asramawasaparwa. Asramawasaparwa menceriterakan bahwa semua anaknya gugur dalam peperangan, Dhrtarastra tinggal sendirian dan menetap di Kraton Yudhistira.
o. Mausalaparwa. Menceritakan tentang suku Yadu musnah sesudah pertempuran. Samba putra Krsna diberikan pakaian seorang putri dan memohon kepada para Resi agar diperkenankan mengandung.

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 67

Rsi marah dan merasa terhina, maka Samba dikutuk dan akan melahirkan sebuah tongkat yang nantinya akan memusnahkan Suku Yadu. Kecuali Kresna dan Baladewa.

p. Mahaprasthanikaparwa. Menceritakan tentang musnahnya para Yadu sampai kepada Yudistira, yang bergabung dengan adik-adiknya, siap-siap meninggalkan ibukota dan menuju ke hutan. Dan upacara pemakaman bagi mereka yang meninggal.
q. Swargarohanaparwa. Setibanya di Sorga Yudistira melihat Duryodana dan semua pahlawan dari pihak Korawa bersinarkan cahaya ilahi seperti Indra raja para dewa, tetapi para Pandawa tidak kelihatan. Kata Yudistira, bahwa di Surga perpecahan dan perselisihan harus dilupakan. Ke*-*18, parwa yang terdapat dalam epos Mahabharata yang sering menjadi “media” atau sumber dalam mencipta sebuah kakawin.

2.5.3 Nama-nama K anda Dalam K akawin Ramayana sebagai bentuk karya sastra Prosa

Adapun nama-nama kanda dalam Ramayana yang sebagai karya sastra prosa diuraikan sebagai berikut:

a. Bala Kanda. Bala Kanda menceritakan tentang kelahiran Rama beserta 3 orang saudaranya yaitu Barata, Laksamana, Satrughna. Diceritakan bahwa pada masa kanak-kanak ketiga putra ini berguru kepada

bhagawan Wasista, kemudian mengikuti sayembara di Mitila dan Sang Rama memperoleh istri Dewi Sita.

b. Ayodya Kanda. Ayodya Kanda menceriterakan tentang perselisihan yang terjadi di Istana Ayodya yang disebabkan oleh Dewi Kekayi yang menuntut janji kepada Dasarata agar menjadikan anaknya, Bharata menjadi pewaris tahta kerajaan. Dasarata menjadi bingung karena sesuai dengan kesepakatan di kerajaan yang menjadi raja adalah anak tertua (Rama), di sisi lain Dasarata harus menepati janji Dewi Kekayi. Rama akhirnya mengalah dengan keluar dari Istana agar adiknya (Barata) bisa menjadi raja Ayodya. Karena Dasarata merasa bersalah atas keputusannya, akibat terlalu bersedih akhirnya Dasarata meninggal. Walaupun diberikan peluang menjadi raja Barata tidak mau jadi raja, karena Barata menganggap yang paling cocok menjadi Raja adalah Rama. Rama- pun berharap agar Barata mau menjadi raja. Rama menyatakan bahwa jika Barata mau menjadi raja, Rama akan tetap ada di Istana.
c. Aranyaka Kanda. Aranyaka Kanda, menceritakan tentang Rama menikmati kehidupan di Hutan dengan menemui para pertapa sakti untuk memohon restu, disamping Rama juga membrantas para Raksasa yang mengganggu kehidupan para pertapa. Juga dicerietrakan tentang kehadiran Raksana Surpanaka adik Rawana ke pondok Rama dan mengganggu Laksamana. Laksanama tidak terima maka dilukailah hidung Surpanaka.

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 69

d. Kishkinda Kanda. Kiskenda Kanda menceriterakan tentang kesedihan Rama karena istrinya (Dewi Sita) diculik oleh utusan Rahwana. O leh para pertapa disarankan agar meminta petunjuk Sugriwa untuk menemukan Sita. Rama bekerja sama dengan Sugriwa dibantu Hanoman, setelah berjasa merebutkan tahtanya dari keserakahan Subali.
e. Sundara Kanda. Sundara Kanda mengisahkan tentang Hanoman yang diutus oleh Rama berhasil menemukan Sita. Hanuman tidak segera kembali namun melakukan pengrusaakan supaya diketahui yang datang adalah Hanuman ke Alengka oleh Rahwana. Hanoman diadili dan dan diputuskan dibakar ekornya setelah dibakar Hanuman melompat ke sana ke mari di atas benteng sembari mengibaskan ekornya yang berisi api maka hancurlah negeri Alengka oleh Hanuman.
f. Yudha Kanda. Yudha Kanda menceritakan tentang kisah sebelum perang dimulai didahului dengan membuat jembatan menuju Alengka karena dibatasi oleh laut. Yang ditugasi sebagai penanggung jawab dalam pembuatan tersebut adalah Nal dan Nil anak dari Wiswa Karma. Setelah selesai jembatan tersebut maka Rama menginjakkan kakinya di Alengka. Peperangan pun dimulai, seisi Alengka gugur terkecuali Indrajit si penakluk Indra. Rahwana sangat sedih dan marah, Rama maju ke medan perang dibantu kreta sakti Indra mengimbangi kedasyatan Rahwana. Rahwana

kalah dan Rama berhasil ketemu Sita dengan diawali upacara kesucian Sita dari Dewa Brahma.

g. Uttara Kanda. Utara Kanda menceritrakan tentang pergujingan rakyat Ayodya bahwa Sita diragukan kesuciannya karena cukup lama ditawan Rahwana. Rama memerintahkan L aksanama untuk “mengisolir” Sita keluar Istana di dekat Sungai Gangga di pertapaan Walmiki sebagai tempat kehidupan Sita supaya bebas dari pergujingan. Ketika Sita memasuki pasraman Walmiki, Sita sudah hamil, dan melahirkan dua orang putra yang diberi nama Kusa dan Lawa. Rama dikenalkan dengan anaknya ketika melaksanakan upacara kurban. Sita kembali membuktikan dirinya sebagi seorang suci maka terbelahlah tanah dan dia masuk ke dalam lubang pertiwi menjemput Sita kembali ke asal.

2.5.4 Manuskrip Babad (Itihasa) (silsilah atau sejarah)

Dalam Kamus Bali-Indonesia, babad berarti tambo, sejarah (Warna, 1991:48). Kehadiran sastra Babad yang diwadahi manuskrip L ontar menjadi penting bagi masyarakat Bali. Karena di dalamnya banyak terdapat kandungan nilai yang penting artinya bagi kehidupan dan penghidupan masyarakat Bali. Sebagai karya sastra sejarah atau sastra yang mengisahkan lakon sejarah, banyak mengamanatkan sesuatu yang berharga untuk diingat, dicamkan, dilaksanakan. Karena sastra babad pada hakekatnya merupakan “bisama atau piteket”

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 71

kepada warganya yang berisi kewajiban-kewajiban tertentu. Dalam khasanah sastra babad, babad merupakan tradisi awal yang belum sistematis seperti dalam Ilmu Sejarah Moderen. Mengingat sifatnya anakronisme. Pada tradisi seperti ini nampak penghargaan masyarakat Bali terhadap waktu, terlihat dalam aktvitasnya sehari- hari. Dalam kasrya sastra babad jelas tercermin pada kegiatan mencatat sejarah hidup berupa silsilah yang mentradisi dari generasi ke generasi. Dengan demikian, masyarakat Bali yang merasa dan menganggap silsilah riwayat leluhur dan diri mereka berasal dari warga tertentu sangatlah penting. Mereka ingin mengetahui teksnya, setidak-tidaknya mereka mempunyai naskahnya atau menyimpan secara turun temurun sebagai “candi supralingga buana”, yang merupakan tanda pengesahan, pengukuhan, pengagungan, dan pengeramatkan, serta pantangan-pantangan yang harus diperhatikan warganya. Babad dapat mengingatkan hubungan kekeluargaan, yang secara geneologis yang mempunyai hubungan darah, serta suatu “bisama” kepada warga tertentu. Contoh Sastra babad yang berisi “bisama” berfungsi pengesahan dapat diamati pada babad Wang Bang Kepakisan. Pada saat Wang Bang Kepakisan diturunkan status sosialnya dan menjadi raja di Bali. Wang Bang Kepakisan pada awalnya status sosialnya Brahmana, yang dengan sandangan gelar ayahnya disebut Danghyang Kepakisan, namun setelah ditunjuk oleh Maha Patih Gajah Mada menjadi raja di Bali, maka status ke-Brahmanaannya diturunkan menjadi

Kesatria Dalem. Sastra Babad yang berfungsi perintah dapat diamati pada Babad Dalem, di mana pada Dalem menugaskan Pasek L urah Gelgel untuk memperbaiki semua kahyangan terutama Besakih, Sad Kahyangan dengan konvensasi dana bukti berbibit 50 (±125kg). Pasek Preteka, berkewajiban mengatur penyelenggaraan kegiatan-kegiatan dengan konvensasi bukti 50. Kepada Pasek Padang Subadra, menjadi pemangku Sad Kahyangan menyiapkan sesajen diberi dana bukti 50. Kepada Pasek Tatar menata Kahyangan, termasuk desa- desa yang ada di Bale Agung, diberikan dana bukti 50. Kepada Pasek Kubakal merancang pembagian tanah di Besakih, merancang batas-batasnya di berikan dana berbibit 50. Sedangkan contoh Babad yang berisi “bisama” pantangan-pantangan dapat diamati dan dibaca pada Babad Pande. Warga atau “soroh Pande sangat pantang memakan ikan Jeleg. “Soroh” Arya Sentong sangat pantang memakan burung Titiran. Bendesa Gerih (Bendesa Tangkas Kori Agung Gerih sangat dilarang memakan ikan Julit (Jagul). Semua dari benda pantangan-pantangan itu pada prinsipnya pernah membantu menyelamatkan leluhurnya pada saat mengalami musibah. Atas jasa dan bantuanya maka keturunannya harus memberi penghormatan, dan penghargaan serta mengkramatkan bisama tersebut.

2.5.5 Manuskrip Lontar Geguritan

Geguritan merupakan saduran cerita berbentuk tembang (pupuh), (Warna dkk,1991:254). Berbagai jenis

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 73

geguritan bahkan ribuan masih tersimpan pada tempat- tempat penyimpanan formal non formal maupun masyarakat sebagai koleksi pribadi. Geguritan sebagai karya sastra tradisional Bali banyak dibaca, ditembangkan dan dipetik nilainya sebagai pedoman atau pegangan hidup dalam bermasyarakat.

2.5.6 Manuskrip Lontar usada

Usada yang dimaksud adalah pengetahuan tentang pengobatan tradisional Bali. Manuskrip/lontar Bali banyak memuat tentang jenis-jenis pengobatan seperti misalnya usada rare yaitu cara pengobatan dan obat untuk kesehatan rare (anak), Usada Gede yaitu sistem pengobatan untuk untuk obat segala jenis penyakit yang terdapat dalam lontar tersebut. Lontar usada ini biasanya difungsikan oleh para dukun tradisional Bali atau di Bali disebut dengan Balian. Ada juga lontar dasar dari jenis penyakit yang dinyatakan dalam lontar bhuda Kecapi dan Lontar Kalimo Usada dan Kalimo Usadi. Jenis-jenis lontar lain seperti Usada Sari dan Dharma Usada yang memuat tentang dasar-dasar ilmu balian (pedukunan) tradisional Bali. Lontar Bhuda Kecapi isinya tentang penjelasan mengenai kekuatan yang sakit dalam tubuh, tentang penyakit-penyakitnya sendiri, tentang sajen saat pengobatan. Dan banyak lagi jenis-jenis lontar usada lainnya. Usada Cemeng, Lontar Usada ratuning usada, Usada upas (cara pengobatan gatal dari dalam dan luar badan manusia). Seperti dari getah pohon tertentu, bulu ulat, bulu binatang, jamur, usada

Buduh yaitu penanganan sakit gila dan banyak lagi jenis-jenis usada lainnya.

2.5.7 Manuskrip Weda

Manuskrip L ontar yang tersimpan di tempat-tempat penyimpanan di Bali banyak memuat tentang Weda yaitu pedoman atau petunjuk tentang ajaran agaman Hindu. Adapun jenis-jenis weda seperti Weda Sruti, Weda Smerti. U mat Hindu percaya bahwa weda merupakan kumpulan wahyu dari Brahman (Tuhan). Di sisi lain, weda juga merupakan sastra tertua dalam sejarah peradaban manusia sampai saat ini.

2.5.8 Manuskrip Asta Brata (tata cara kepemimpinan)

Asta brata merupakan lontar yang memuat tentang konsep kepemimpinan Hindu. Asta brata yang dimaksud adalah delapan ajaran tentang kepemimpinan yang merupakan petunjuk Sri Rama kepada Bharata (adiknya) yang akan dinobatkan menjadi raja ayodya. Konsep kepemimpinanini menanamkan delapan delapan sifat dewa seperti Indra Brata (menciptakan kemakmuran bagi rakyatnya), Yama Brata (berani menegakkan keadilan), Surya Brata (mampu memberikan semangat dan kekuatan), Candra Brata (mampu memberikan penerangan kepada rakyatnya), Wayu Brata ( memberikan kesegaran dan selalu turun ke bawah), Bhumi Brata ( teguh, tetap pendirian) Waruna Brata (mampu mengatasi setiap ada gejolak di masyarakat), dan Agni Brata (mendorong masyarakat untuk melakukan pembangunan), (Sudarta,1993:1).

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 75

Implementasi konsep kepemimpinan terpenting adalah tentang etika, di dalam memimpin. O leh masyarakat Bali ajaran konsep kepemimpinan inilah yang menjadi pijakan sebagai pemimpin yang cerdas dan bijaksana.

2.5.9 Dharma Caruban (kuliner tradisonal Bali)

L ontar Dharma Caruban merupakan lontar yang berisi petunjuk tentang paebatan (cara mengolah makanan khas Bali). Dalam lontar ini menguraikan secara lebih dalam mengenai teknik pengolahan makanan dan bumbu- bumbunya. Selain dari itu sarana bebanten (sajen), mantra- mantra ketika hewan dipotong, fungsi dan maknanya juga lengkap tersirat didalamnya. Jenis-jenis hidangan atau olahan Bali seperti sesate (sate) banyak jenisnya, seperti: sate lembat, sate asem, sate pusut, sate empul, sate kablet. demikian juga terhadap jenis bumbu khas tradisional Bali seperti basa (bumbu) ada dua yaitu jenis bumbu yang disebut dengan basa pokok dan basa pelengkap. Dalam Manuskrip lontar Dharma Caruban, bumbu khas tradisional Bali, basa genep (bumbu lengkap) dibedakan dalam tiga bagian yaitu: basa (bumbu), sambel (sambal), dan jejaton (bumbu pelengkap seperti asam limo, dan jenis rempah-rempah) sebagai pelengkap rasa.

2.5.10 Lelampahan

Lelampahan merupakan lontar yang berisikan tentang petunjuk lakon-lakon dalam pementasan kesenian atau lontar yang berisikan tentang pengalaman perjalanan. Para leluhur orang Bali telah menyuratkan ajaran atau

petunjuk tentang lakon pementasan secara lebih rinci dan detail. Seperti misalnya memuat tentang hari baik melakukan pementasan, jenis-jenis sesajen yang akan dipersembahkan saat pementasan dan jenis yang lainnya.

2.5.11 Tantri

Tantri atau cerita jenaka atau dongeng rakyat merupakan cerita berbingkai yang koleksi banyak tersimpan di tempat-tempat penyimpanan lontar di Bali. Dalam cerita Tantri banyak terkandung nilai budaya yang dapat diterapkan dalam mengembangkan karakter anak- anak sejak dini. Adapun Jenis-jenis cerita Tantri yang sampai saat ini yang menjadi koleksi pada tempat-tempat penyimpanan, di antaranya: Tantri Kamandaka, Tantri Maduka Harana, Tantri Pisaca Harana.

2.5.12 Dharma pemaculan (ilmu dan tatacara pengolahan lahan pertanian)

Pengetahuan tentang bercocok tanam yang baik juga dimuat dalam lontar-lontar Bali. Lontar dharma pemaculan yang lebih dalam memuat tentang bagaimana bercocok tanam yang baik mengawali bertani, menyiapkan bibit, mulai membajak, membibit padi, mulai menanam padi, upacara padi berumur 12 hari, padi berumur 17 hari, padi berumur 1 bulan, padi berumur 2 bulan, padi berumur 3 bulan, upacara memanen padi dan ritual menghindari hama.

Identifikasi Manuskrip Lontar di Bali | 77

2.5.13 Wariga (Palelintangan)

Ilmu pengetahuan tentang warigamerupakan ilmu pengetahuan tradisional yang menjadi warisan nenek moyang atau warisan lokal (local heritage) orang Bali. Jenis pengetahuan ini tidak saja dikenal di Bali melainkan di bumi Pasundan, Jawa, Bali, L ombok dan daerah–daerah lainnya juga mengenal, (Rai Putra, 2016:121). Masyarakat Bali terutama para leluhur, lama mengenal wariga sebagai sarana dalam menata kehidupan sosial dan mengelola mata pencaharian mereka baik di darat, di laut maupun di alam lain, mereka berpedoman dengan wariga sebagai sarana untuk mengadakan dan menguatkan konsep Tri Hita Karana yaitu hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan alam. Dalam kepercayaan orang Bali, pemungsian wariga dilakukan dengan memadukan pengetahuan tentang perbintangan (astronomi). Adapun bintang-bintang sebagai di penanda yang dipercaya oleh masyarakat Bali: bintang kejora, bintang rowot, bintang tenggala, bintang meteor, munculnya bianglala, terjadinya guntur, gempa bumi dll.

2.5.14 Tutur

Berbagai jenis tutur (nasehat) yang tertuang dalam manuskrip lontar Bali, salah satunya adalah naskah tutur Janantaka merupakan pengetahuan tentang perkayuan atau nama-nama jenis kayu serta fungsinya. Dalam Tutur Janantaka jenis-jenis kayu pun memiliki status sosial. Jenis kayu sebagai golongan Brahmana, seperti kayu kwanditan,

kayu daha mulir, kayu kejimas. Golongan kayu Brahmana Nagara seperti kayu selampiran, kayu camplung, bonasari. Jenis kayu ini tidak boleh digunakan sebagai bahan bangunan, (Nuarca, Purna, 1990:49). Kayu ini baik digunakan untuk bangunan tempat suci. Golongan kayu Ksatrya: nangka, patih jati, mantri sentul, demung ungu, arya taep, kladian. Kayu golongan wesya: kayu bayur, bengkel, gempinis.

2.5.15 Asta K osala

Asta kosala atau sistem perundagian tradisional Bali memuat tentang pedoman tentang perundagian yaitu ukuran-ukuran yang secara tradisional untuk para tukang yang berdasar pada ukuran tubuh manusia (anthropometrik), baik ukuran manusia dari si tukang bangunan maupun yang menempati rumah yang dibuat. Jeni-jenis ukuran itu, seperti: depa (sepanjang bentangan kedua lengan, hasta (selebar satu lengan), musti (genggaman kelima ibu jari), tampak (panjang telapak kaki), tampak ngandang (lebar telapak tangan), guli, nyari, kacing (jari kelingking). Asta kosala juga berisikan tentang bahan bangunan, hari baik untuk mendirikan bangunan, ukuran bangunan, mulai dari bangunan tempat tinggal sampai pada tempat peribadatan.

B AB III

Ba ha sa, Ak sara dan F ung sin ya da la m Man uskrip L ontar

3.1 Bahasa

Umumnya bahasa yang digunakan dalam manuskrip lontar adalah bahasa Jawa Kuna dan bahasa Jawa Pertengahan atau Tengahan dan Bahasa Bali. Bahasa Jawa Kuno pada kehidupan masyarakat Bali sering disebut dengan bahasa kawi untuk menyebut bahasa Jawa Kuno. Perkembangan Bahasa Jawa Kuno sebagai bahasa yang terdapat dalam naskah-naskah atau manuskrip atau teks Jawa Kuno masih tetap hidup dan berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat Bali. Di Bali dalam konteks penyelamatan atau pelestarian bahasa ini, selain praktisi, akademisi, ada perkumpulan yang menamakan diri perkumpulan (sekaha bebasan atau sekeha santi) yaitu sebagai perkumpulan pengabdi sastra yang membaktikan diri di bidang karya sastra Jawa Kuno. Para pengabdi inilah biasanya juga paham tentang penggunaan bahasa Jawa Kuno ini. Sekeha mabebasan kesehariannya, selain melantunkan dengan guru laghu (metrum) dan menerjemahkan teks-teks dan memberikan ulasan.

Berikut ini jenis-jenis bahasa yang digunakan dalam manuskrip/lontar.

3.1.1 Bahasa Jawa Kuno

Pengetahuan mengenai sejarah penggunaan bahasa Jawa Kuno berdasar pada prasasti batu atau lempeng- lempeng dari perunggu. Misalnya pada prasasti Sukabumi yang ditulis pada tanggal 25 Maret tahun 805. Dalam prasasti Sukabumi disebutkan melalui gejala astronomi, seperti: “Pada tahun 726 penanggalan saka, dalam bulan caitra, pada hari kesebelas paro terang, pada hari haryang (hari ke-2 dalam minggu yang berhari enam), wage (hari keempat dalam minggu berhari lima), saniscara (hari ketujuh dari minggu yang berhari tujuh) dan seterusnya”. (Zoetmulder, 1983:3). Dalam studi Jawa Kuna merupakan tanggal paling tua dipakainya bahasa Jawa Kuno yaitu pada Prasasti Sukabumi yang merupakan piagam pertama yang mempergunakan bahasa Jawa Kuno dan sejak saat itulah dipakai bahasa dalam dokumen resmi. Selain itu ada inskripsi-inskripsi yang sampai saat ini masih menunjukkan bahwa memang bahasa Jawa Kuno berawal pada abad ke-9 atau bahkan lebih dahulu. Akhirnya dengan prasasti berangka tahun 804, bahasa Jawa Kuno muncul di panggung sejarah sampai pada abad ke-15. Bahasa Jawa Kuno termasuk rumpun bahasa yang dikenal sebagai bahasa Nusantara dan merupakan sub-bagian dari linguistik Austronesia. Di antara 250 banyaknya bahasa-bahasa Nusantara, bahasa Jawa kuno

Bahasa, Aksara dan Fungsinya dalam Manuskrip Lontar | 81

dapat membanggakan suatu kesusastraan yang cukup luas, salah satunya adalah kesusastraan Jawa Kuno yang sampai kini tetap diselamatkan di Bali. Sangat disadari bahwa bahasa Jawa Kuno perkembangannya sangat dipengaruhi oleh bahasa Sansekerta terutama dari kosa kata. Sehingga dari segi linguistik dapat dikatakan berpengaruh besar sekali, sehingga bahasa Jawa Kuno merupakan suatu bahasa Nusantara. Hal ini dipertegas oleh J. Gonda dalam karyanya: “Sanskrit In Indonesia“ yang mengatakan bahwa secara linguistik pengaruh India terhadap daerah- daerah di Indonesia yang mengalami proses Hinduisasi yang tidak mengakibatkan semacam proses pembauran melainkan penambahan atau memperkaya kosa kata bahasa Nusantara dengan kosa kata Bahasa Sansekerta. Bahasa Jawa moderen serta bahasa Bali pemakainnya lebih tinggi dari pada bahasa-bahasa nusantara yang lain lebih rendah ketimbang bahasa Jawa Kuno. Lebih jauh ditegaskan oleh J. Gonda dalam (Zoetmulder,1983:9), bahwa puisi Jawa Kuno (karya-karya sastra yang ditulis dari bahasa Jawa Kuno atau kakawin) disusun dalam metrum-metrum India mengandung kurang lebih 25% sampai 30% kosa kata yang berasal dari bahasa Sansekerta. Alasan lain yang mendorong para pengarang untuk memasukkan kata-kata Sansekerta ke dalam karya mereka khususnya puisi Jawa Kuna (kakawin) sesungguhnya adalah untuk memperkaya kosa kata bahasa Jawa Kuno untuk mentaati aturan-aturan yang ketat berkaitan dengan metrum atau aturan guru lagu atau aturan naik

turunnya suara saat membaca atau melantunkan kakawin atau mabebasan yaitu seseorang atau sekumpulan orang yang melagukan kakawin yang diikuti dengan terjemahan dan ada yang memeberikan ulasan ini disebut dengan mabebasan, (Sukartha dkk,1993/1994:29). Bahasa Sansekerta pada intinya sangat mendalam dan luas mempengaruhi segala peninggalan tertulis pada Jaman Jawa Kuno, baik berupa prasasti maupun karya sastra yang merupakan bahasa yang dipakai oleh para pengarang atau pujangga dan kaum terpelajar. Berdasarkan prasasti-prasasti yang telah diterbitkan, jelaslah sekurang kurangnya sampai apada abad ke-10 kawya dan jenis sastra Sansekerta klasik lainnya dipelajari demikian mendalam, sehingga sastra pribumi waktu itu sedikit diabaikan. Buku-buku pada masa perkembangan bahasa Jawa Kuno dimpor dari India dan buku-buku baru ditulis dalam bahasa Sansekerta, bahasa itu merupakan wahana atau ide-ide dan bahasa pengantar para sarjana pribumi. Perkembangan ini berdasarkan tulisan efigrafis ada dua efik yaitu sastra Smerti khususnya Manu juga dikenal sampai ke Campa. Selain itu teks religius seperti Purana, Saiwa, dan Waisnawa juga sangat menjadi perhatian. Para penulis prasasti pada waktu itu memperlihatkan suatu kemahiran besar dalam berbagai ragam penulisan metrum, (Zoetmulder, 1983:18). Sastra Jawa Kuno merupakan sastra yang selamat sampai saat ini dari pada sastra-sastra yang lain, karena sastra Jawa Kuno yang menurut (Zoetmulder,1983:20), merupakan karya sastra memiliki kekhususan dari

Bahasa, Aksara dan Fungsinya dalam Manuskrip Lontar | 83

pada sastra-sastra yang lain. Walau di Jawa ada faktor penghancur namun sastra Jawa Kuno tetap diselamatkan dan sebagian diselamatkan di Bali sampai saat ini. Pada tahun 1016 kerajaan di Jawa Timur mengalami bencana yaitu terjadinya serangan dari luar Jawa yang menamatkan sejarah Wangsa Sindok. Raja yang memerintah waktu itu adalah Teguh Dharmawangsa tidak dapat menyelamatkan diri dari bencana itu, kemudian akhirnya Erlangga anak seorang putri raja Dharmawangsa dan Udayana seorang pangeran dari Bali yang dapat berhasil merebut kembali dan memulihkan suasana kerajaan. Di Pulau Bali waktu itu di mana adik Erlangga, Anak Wungsu berkuasa, dengan berkuasanya anak Wungsu maka kebudayaan Jawa bertambah. Sejak saat itu prasasti-prasasti ditulis dalam bahasa Bali Kuno dan Jawa Kuno sudah menjadi kebiasaan umum. Maka jelaslah pada waktu itu bahasa Jawa Kuno dipakai sebagai bahasa pengantar dalam istana dan bidang administrasi negara. Tahun 1343 terjadi ekpedisi Majapahit melawan Bali yang mengakibatkan kekalahan raja utama, sehingga kerajaan harus tunduk kepada Majapahit, artinya kita dapat memastikan bahwa semenjak Raja Erlangga, Bali makin dipengaruhi oleh Jawa karena pulau Bali sudah menjadi bagian dari Majapahit. Bangsa Jawa mendirikan keraton di Samprangan. Kemudian keraton ini dipindahkan ke Gelgel, bagi peserta ekpedisi dari Jawa turut menetap di Bali pula. Sejak itu pula keraton-keraton di Bali mengalami proses “Jawanisasi” termasuk

kesusastraannya (Jawa Kuno) secara sistematis sudah merupakan bagian dari masyarakat Bali. O rang Brahmin (suci) dari Jawa sambil membawa ajaran kesusastraannya**,** dan praktek keagamaan menetap di Bali, (Zoetmulder, 1983:24). Berbaurnya aliran-aliran tersebut maka terjadilah proses “Jawanisasi” terhadap masyarakat dan kebudayaan Bali dan karya-karya sastranya melalui kontak dengan kalangan keraton dan peraturan-peraturan administrasi dan sisi lain meningkatnya proses “Balinisasi” di kalangan keraton, ketika pengaruh Jawa makin pudar sampai segala hubungan terputus yang melahirkan keanekaan bentuk kebudayaan Bali sampai sekarang**.** Perkembangan karya sastra Jawa Kuna dimulai dari pengaruh karya sastra berbahasa Sansekerta. Kemudian akibat pengaruh politik, karya sastra Jawa Kuna hanya dapat bertahan sampai abad ke-15 di Jawa. Sebagai sastra Jawa Kuna lenyap dan sebagian diselamatkan oleh masyarakat Jawa yang melanjutkan hidupnya di Pulau Bali. Sedangkan masyarakat Bali ini memelihara dan tetap mempertahankan keasliannya, bahkan dikembangkan dengan cara menyalin, dan bahkan menggubah menjadi karya sastra yang lebih baru agar dapat dinikmati oleh masyarakat pecintanya. Karya sastra Jawa Kuna diubah dalam bentuk dan isi, serta dimulainya dimasukkan unsur-unsur kebudayaan Bali dalam karya sastra dan seni. Seorang pengarang dikatakan akan senang jika dan mendapatkan pahala apabila dapat menciptakan karya sastra yang indah dan diterima langsung oleh masyarakat pecintanya. U ntuk mendapatkan pengarang mencari karya

Bahasa, Aksara dan Fungsinya dalam Manuskrip Lontar | 85

sastra yang telah termashur dan mempunyai nilai didaktis yang tinggi, kemudian karya sastra tersebut digubah kembali. Di Bali kegiatan seperti ini sering dilakukan oleh pengarang-pengarang lama, (Suastika,1984:83-85). Uraian di atas mencerminkan bahwa karya sastra yang ditulis dalam lontar/manuskrip pada masa itu adalah dengan menggunakan media bahasa Jawa Kuno.

3.1.2 Bahasa Jawa Tengahan

Apa yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dan apa pula yang ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan. Perlu juga dijelaskan bahwa apa yang disebut dengan bahasa bahasa Jawa Kuno secara khusus dan melainkan juga apa yang ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan dan Jawa Moderen. Seperti misalnya pada Kidung Sunda varian- varian cukup menonjol misalnya perubahan ponetis bentuk rengo yang lebih tua ada juga bentuk rungu, dicirikan dengan munculnya banyak kata-kata yang tidak dipakai dalam kakawin. Dalam gramatika dan morfologi terdapat perbedaan-perbedan yang cukup penting. Ciri lain seperti yang diberikan istilah oleh Zoetmulder (1983:30), yaitu kakawin yang lebih muda disebut sebagai kakawin yang ditulis kemudian hari, atau kakawin yang ditulis dengan bahasa Jawa (Jawa Kuno) yang lebih muda. Jenis kakawin inilah yang disebut dengan kakawin yang menggunakan bahasa Jawa Pertengahan atau Jawa Tengahan. Atau lebih dipertegas lagi, bahasa Jawa Pertengahan yaitu bahasa yang merupakan bentuk bahasa yang difungsikan sampai akhir jaman Hindu-Jawa atau Jawa Kuno peralihan seperti kita

jumpai dalam kakawin-kakawin klasik dan bahasa Jawa moderen di abad kemudian. Jika dilihat dari sisi pemakaian metrum, kakawin menggunakan metrum dari India, sedangkan kidung yang merupakan asli Jawa menggunakan metrum dari Jawa atau Indonesia. Dalam penggunaan bahasa, kakawin menggunakan bahasa Jawa Kuno, sedangkan dalam kidung dengan menggunakan bahasa Jawa Pertengahan. Dengan demikian bahasa kakawin adalah bahasa Jawa Kuno sedangkan kidung adalah bahasa Jawa Pertengahan. Contoh seperti kidung Sunda yaitu dengan menggunakan bahasa Jawa Pertengahan atau Jawa Tengahan. Kidung kebanyakan ditulis di Bali. Berdasarkan karya-karya yang kita miliki saat ini kita dapat ditegaskan bahwa semua sastra Jawa Pertengahan yang kita kenal saat ini berasal dari Bali. Sastra kidung di Bali merupakan kelanjutan dari sastra kidung yang berasal dari Jawa. Ada juga yang menyebut bahwa, bahasa Jawa Pertengahan/Tengahan merupakan bahasa yang digunakan dalam kakawin dengan sisipan beberapa kosa kata dari bahasa Bali. Ini memperkuat kepercayaan bahwa sejarah sastra Jawa Kuno jaman dahulu dapat dibagi dua periode, yaitu periode Jawa Kuno dan periode Jawa Pertengahan. Sebuah karya yang ditulis dalam Jawa Kuno biasanya dapat dianggap lebih tua, daripada karya yang ditulis dalam Jawa Pertengahan.

Bahasa, Aksara dan Fungsinya dalam Manuskrip Lontar | 87

3.1.3 Bahasa Bali

Dalam kehidupan masyarakat Bali, aksara Bali digunakan untuk menuliskan bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu, aksara Bali selain untuk menulis berbagai aspek kehidupan sosial lainnya, seperti menuliskan rerajahan yang berkaitan dengan upacara keagamaan, maupun yang barkaitan dengan kekuatan magis dan aspek kehidupan sosial lainnya. Bahasa dan aksara Bali juga ada difungsikan untuk menulis karya sastra kakawin dengan bercampur dengan Bahasa Jawa Kuno. Karya-karya ini biasanya dicipta sekitar abad ke-20. Karya-karya ini tergolong kedalam Geguritan, Kidung dan Jenis karya sastra lainnya. L ontar merupakan dokumentasi budaya masa lampau dan merupakan benda yang sangat bernilai. Isi yang terkandung dalam manuskrip lontar begitu bermanfaat seperti tentang mantra, keagamaan, pengetahuan tentang astronomi dan astrologi (wariga), pengobatan tradisional (usada), prosa, kekawin, kidung, sejarah, cerita-cerita, dan lain-lain. Lontar menjadi bukti tentang budaya menulis sastra di Bali telah terjadi sejak dahulu kala. Sebagian besar lontar-lontar tersebut di atas bertuliskan Aksara Bali sehingga biasa dikatakan bahwa lontar beraksara Bali. Dengan demikian, aksara Bali yang telah dituliskan di lontar atau lontar itu sendiri mempunyai peranan dalam kehidupan masyarakat Bali pada umumnya.

3.2 Penggunaan Aksara Bali dalam Manuskrip Lontar

3.2.1 Pengertian Aksara Bali

Bahasa Bali dapat ditulis dengan 2 (dua) jenis simbul yaitu dengan tulisan Bali dan tulisan Bali Latin. Tulisan Bali erat hubungannya dengan pasang aksara Bali, dimana banyak digunakan dalam menulis lontar-lontar, wariga, pipil dan lain-lain. Sementara tulisan Bali Latin banyak digunakan dalam menulis pidato, puisi, naskah drama, bahan bacaan siswa dan lain-lain (Tinggen, 1993). Aksara Bali dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu (Simpen, 1994).

a. Aksara wreastra adalah aksara yang digunakan untuk menulis bahasa Bali lumrah misalnya pangeling-eling, pipil, dan sebagainya.
b. Aksara swalelita merupakan aksara yang digunakan untuk menulis bahasa Kawi seperti kidung, kakawin, sloka, dan sejenisnya.
c. Aksara modre adalah aksara yang dipergunakan untuk bagian kediatmikan seperti japa mantra, doa upacara, maupun yang berhubungan dengan dunia keajaiban (magis), doa-doa, dan pengobatan.

3.3.2 Sekilas Asal Usul Aksara dan bahasa Bali dalam Lontar

Sejarah perkembangan bahasa dan aksara Bali melalui proses yang cukup panjang dan dipengaruhi juga oleh bahasa lain. Penelitian yang pernah dilakukan para sarjana memberikan dugaan kuat aksara Bali berkembang

Bahasa, Aksara dan Fungsinya dalam Manuskrip Lontar | 89

dari huruf Pallawa yang dikenal dengan nama huruf Bali Kuno. Huruf ini berkembang pada sekitar abad ke-9 sampai abad ke-10 dan terus mengalir sampai kini. Sistem yang digunakan yakni sistem silabik. Artinya, satu tanda mewakili satu suku kata yang diambil dari huruf awal suku kata dimaksud. Tiap suku kata dibentuk dari satu konsonan dan satu vokal. Sejarah perkembangan Aksara Bali tidak lepas dari penyebaran Aksara dari India. Sebab penyebaran agama Hindu dan Budha di Indonesia termasuk di Bali, diikuti oleh penyebaran bahasa dan akasara-nya. Di India ada aksara yang disebut aksara Karosti. Dari Karosti itu berkembang menjadi aksara Brahmi, kemudian dari aksara Brahmi berkembang menjadi aksara Dewanegari dan aksara Pallawa. Aksara Dewanegari dipakai di daerah India bagian Utara untuk menulis bahasa Sansekerta, sedangkan aksara Pallawa dipakai di daerah India bagian selatan untuk menulis bahasa Pallawa. Penyebaran aksara Dewanegari dan Pallawa mengikuti penyebaran Agama Hindu dan Budha di Indonesia. Dari Aksara Dewanegari dan Pallawa ini kemudian berkembang aksara Kawi atau aksara Indonesia Kuna. Dari aksara Kawi lama-kelamaan kemudian berubah menjadi aksara Jawa dan Aksara Bali, dan juga aksara-aksara lain yang berkembang di Indonesia. Misalnya salah satunya ditemukan di Kutai (Kalimantan Timur), di sana ditemukan Yupa yang berisikan tulisan dari Aksara Dewanegari.

Di Bali perkembangan aksara Dewanegari dan aksara Pallawa ditandai dengan ditemukannya stupa-stupa kecil di Pura Penataran Sasih Pejeng, Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar. Dalam stupa-stupa tersebut berisikan lempeng-lempeng seperti cap dari tanah liat, dalam lempengan tersebut berisi tulisan-tulisan dari aksara Pradewanegari atau Siddhamatraka, aksara yang biasa dipakai untuk menuliskan Mantra Budha Tathagata. Bukti yang lain ditemukan di Pura Blanjong Sanur, yang berupa tugu peringatan raja Sri Kesari Warmadewa, yang berisikan tulisan dengan aksara Dewanegari dan aksara Bali Kuna, aksara Dewanegari dipakai menulis bahasa Bali Kuna, aksara Bali Kuna dipakai menulis bahasa Sansekerta. Sedangkan perkembangan aksara Pallawa ditandai dengan ditemukannya tulisan dengan aksara Pallawa yang disebut dengan Semi Pallawa. Dari aksara Semi Pallawa ini kemudian berkembang menjadi aksara Kediri Kwadrat, aksara Jawa dan aksara Bali. Tulisan dengan aksara Pallawa ada ditemukan di Pura Bale Agung Sembiran. Bukti pengaruh aksara Pallawa dalam aksara Bali dapat dilihat dari bentuk aksaranya, sedangkan pengaruh aksara Dewanegari dalam aksara Bali dapat dilihat dari bentuk aksara aksara (Bali) yang mirip dengan aksara Dewanegari. Dr. Rudolf Gorris mengemukakan bahwa, bahasa Bali Kuno dominan digunakan dalam prasasti-prasasti periode awal zaman Bali Kuna. Sedikitnya ada 33 prasasti yang menggunakan bahasa Bali Kuno. Setelah masa

Bahasa, Aksara dan Fungsinya dalam Manuskrip Lontar | 91

pemerintahan Raja Udayana Gunapriyadharmapatni (989-1011) mulailah digunakan bahasa dan aksara Jawa Kuna. Tatkala masuk pengaruh Majapahit, bahasa Kawi-Bali pun mulai digunakan, terutama di dalam naskah- naskah lontar. Karena itulah, perkembangan bahasa Bali sendiri dibagi dalam tiga babakan. Pertama, bahasa Bali Kuno yang sering juga disebut dengan nama bahasa Bali Mula, kedua, bahasa Bali Tengahan atau sering disebut Kawi-Bali dan ketiga, bahasa Bali Kapara atau bahasa Bali modern yang diwarisi hingga saat ini. Selanjutnya diketemukannya aksara Dewanegari dan aksara Bali pada tugu batu di Pura Blanjong Sanur, yang merupakan peringatan dari Raja Cri Kecari Warmadewa. Tugu batu ini sebagian ditulis dengan aksara Dewanagari dengan mempergunakan bahasa Bali Kuna, dan sebagian lagi ditulis dengan aksara Bali dengan mempergunakan bahasa Sansekerta. Selanjutnya aksara Dewanegari kurang berkembang, yang berkembang adalah aksara Bali yang berasal dari gubahan-gubahan aksara Pallawa. Hal ini dapat dibuktikan dengan ditemukan sebuah tugu yang bertatahkan aksara Bali di Pura Sakenan, Manukaya Gianyar. Tugu tersebut menguraikan tentang pembuatan sebuah kolam yang kini terdapat di Tampaksiring. Kolam itu dibangun pada bulan purnama tanggal 7 Oktober 960 oleh Raja Sri Indrajaya Singha Warmadewa (Ginarsa, 1980:4). Bukti-bukti yang merupakan gubahan-gubahan aksara Pallawa ditemukan di Pura Bale Agung Sembiran dan Srokadan telah mulai adanya perubahan

bentuk aksara Pallawa, telah berbentuk kelancip-lancipan, yang disebut aksara Semi Pallawa atau Pallawa Muda. Pada mulanya tidak semua aksara Pallawa dan aksara Dewanegari digunakan oleh orang Indonesia, khususnya orang Bali, melainkan penggunaannya disesuaikan dengan kepentingan-kepentingan orang Bali. Dalam menuliskan bahasa Bali hanya menggunakan 18 aksara, namun akibat pengaruh kebudayaan India, agama Hindunya, dengan bahasa Sansekerta, maka untuk kepentingan penulisan aksaranya menerima seluruh aksara yang berjumlah 47 buah aksara, yang penggunaan beberapa aksaranya hanya untuk menuliskan unsur dari bahasa Jawa Kuna dan bahasa Sansekerta. Bentuk aksara Bali yang seperti membulat merupakan contoh bentuk aksara Bali yang berasal dari aksara Pallawa. Contoh perkembangan aksara Bali dari aksara Devanagari adalah bentuk huruf akara dalam aksara Bali yang sangat mirip dengan bentuk huruf a dalam aksara Devanagari. http://sastrabalimodern. blogspot.com/2011/08/sejarah- perkembangan-aksara-bali.html diakses 23 April 2020.

3.3 Sekilas tentang Pembagian Aksara Bali

Aksara Bali secara umum dapat dibagi menjadi sebagai berikut.

3.3.1 Aksara Suara (Vokal)

Aksara suara disebut pula huruf vokal/huruf hidup dalam aksara Bali. F ungsi aksara suara sama seperti

Bahasa, Aksara dan Fungsinya dalam Manuskrip Lontar | 93

fungsi huruf vokal dalam huruf Latin. Jika suatu aksara Wianjana (konsonan) diberi salah satu pangangge (tanda diakritik) aksara suara, maka cara baca aksara wianjana tersebut juga berubah, sesuai dengan fungsi pangangge yang melekati aksara wianjana tersebut. Berikut ini adalah aksara suara dalam aksara Bali.

Tabel 3.1 Aksara Suara (vokal)

Aksara suara hresua (huruf vokalpendek)
Warga Akṣara Alfabet Nama
Akṣara H uruf F onetis
B ali L atin Internasional
Kantya A [a] Akara
(tenggorokan)
Talawya (langit-langit lembut) I [i] Ikara
Murdhanya [ɹ̩] Rarepa
(langit-langit keras)
Dantya (gigi) [l̩] Lalenga
Osthya (bibir) U [u] Ukara
Kanthya-talawya Ekara(E)
(tenggorokan & langit- E [e];[ɛ] Airsanya(Ai)
langit lembut)
Kanthya-osthya O [o];[ɔ] Okara
(tenggorokan & bibir)

3.3.2 Aksara Wianjana (konsonan)

Aksara wianjana disebut pula konsonan atau huruf mati dalam aksara Bali. Meskipun penulisannya tanpa huruf vokal, setiap aksara dibaca seolah-olah dibubuhi huruf vokal /a/ atau /ə/ karena merupakan suatu abugida. Aksara ardhasuara adalah semivokal. Kata ardhasuara (dari bahasa Sanskerta) secara harfiah berarti “setengah suara” atau semivokal. Dengan kata lain, aksara ardhasuara tidak sepenuhnya huruf konsonan, tidak pula huruf vokal. Yang termasuk kelompok aksara ardhasuara adalah Ya, Ra, La, Wa. Berikut ini adalah daftar aksara wianjana pada tabel 3.2 berikut

Tabel 3.2 Aksara Wianjana (K onsonan)

Pancawalimukha Warga Ardhasuara Usma Wisarga

Warga Tajam (bersuara) L embut (nirsuara) Ardhasuara Usma Wisarga
Akṣara Nasal/ (semivokal) (desis) (desah)
Alpaprana Alpaprana sengau

Tajam (bersuara) L embut (nirsuara) Mahaprana Mahaprana Bahasa, Aksara dan Fungsinya dalam Manuskrip Lontar

K anthya (tenggorokan) (Ha) (Ka) (KhaKa) (Ga) (Gha) (Nga)

(Ka) (KhaKa) (Ga) (Gha) (Nga) (Ha)
Ka M ahaprana Ga G agora N ga Ha

Talaw ya (langit-langitlembut) (Cha)

langitlembut) (Ca) (Cha) (Ja) (Jha) (Nya) (Ya) (Śa)
C am urca C alaca Ja Ja jera N ya Ya S asaga

Mu rdhanya (langit-
langitkeras)...................
(Ra) (Ṣa) (Ḍa) (Ṇa) | (Ṭa) (Ṭha) (Ḍha) Ra S asapa D am adum. N aram bat Talatik Talatik D am adum.

Pancawalimukha Warga Ardhasuara Usma Wisarga|

Warga Tajam (bersuara) L embut (nirsuara) Ardhasuara Usma Wisarga
Akṣara Nasal/ (semivokal) (desis) (desah)
Alpaprana Alpaprana sengau

Tajam (bersuara) L embut (nirsuara) Manuskrip Lontar di Provinsi Bali Mahaprana Mahaprana

D antya (gigi)

(Ta) (Tha) (Da) (Dha) (Na) (La) (Sa)
Ta Tataw a D alindung D am adu N akojong La S adanti

(Ta) (Tha) (Da) (Dha) (Na) (La) (Sa)

O sthya (bibir)

(Ba) (Bha) (Pa) (Pha) (Ma) (Wa)
Ba B akem bang Pa P akapal Ma Wa

(Ba) (Bha) (Pa) (Pha) (Ma) (Wa)

Bahasa, Aksara dan Fungsinya dalam Manuskrip Lontar | 97

3.3.3 Pangangge Suara

Bila suatu aksara Wianjana (konsonan) dibubuhi pangangge aksara suara (vokal), maka cara baca aksara tersebut akan berubah. Contoh: huruf na dibubuhi ulu dibaca ni; ka dibubuhi suku dibaca ku; ca dibubuhi taling dibaca . U ntuk huruf ha ada pengecualian. Kadangkala bunyi /h/ diucapkan, kadangkala tidak. Hal itu tergantung pada kata dan kalimat yang ditulis.

3.3.4 Pengangge Tengenan

Pangangge tengenan (kecuali adeg-adeg) merupakan aksara wianjana yang bunyi vocal /a/-nya tidak ada. Pangangge tengenan terdiri dari: bisah, cecek, surang, dan adeg-adeg. Jika dibandingkan dengan aksara Dewanagari, tanda bisah berfungsi sama seperti tanda wisarga; tanda cecek berfungsi seperti tanda anusuara; tanda adeg-adeg berfungsi seperti tanda wirama.

Tabel 3.3 Pengangge Tengenan

S imbol L etak penulisan Nama
di belakang huruf di atas huruf di atas huruf di belakang huruf bisah surang cecek adeg-adeg

3.3.5 Pengangge Aksara

Pangangge Aksara letaknya di bawah aksara wianjana. Pangangge aksara terdiri atas:

Tabel 3.4 Pengangge Aksara

S imbol H uruf L atin Nama
r w j guwung/cakra suku kembung nania

3.3.6 Gantungan

Karena adeg-adeg tidak boleh dipasang di tengah dan kalimat, maka agar aksara wianjana bisa “mati” (tanpa vokal) di tengah kalimat dipakailah gantungan. Gantungan membuat aksara wianjana yang dilekatinya tidak bisa lagi diucapkan dengan huruf “a”, misalnya aksara Na dibac a/n/; huruf Ka dibaca /k/, dan sebagainya. Dengan demikian, tidak ada vokal/a/pada aksara wianjana seperti semestinya.

3.3.7 Angka

Menulis angka dengan menggunakan angka Bali sangat sederhana, sama seperti sistem dalam aksara Jawa dan Arab. Bila hendak menulis angka 10, cukup dengan

Bahasa, Aksara dan Fungsinya dalam Manuskrip Lontar | 99

menulis angka 1 dan 0 menurut angka Bali. Demikian pula jika menulis angka 25, cukup menulis angka 2 dan 5. Bila angka ditulis di tengah kalimat, untuk membedakan angka dengan huruf maka diwajibkan untuk menggunakan tanda carik, di awal dan di akhir angka yang ditulis.

Tabel 3.5 Angka dalam Aksara Bali

AkṣaraBali L atin Nama (dalam bahasa B ali)
0 1 2 3 4 5 Bindu/Windu Siki/Besik Kalih/Dua Tiga/Telu Papat Lima

6 Nem

7 Pitu

8 Kutus

9 Sanga/Sia

Selain tersebut di atas, pembagian aksara Bali dapat ditinjau berdasarkan kesamaan-kesamaan yang dimiliki, baik kesamaan fungsinya, kesamaan pengucapannya, kesamaan bentuknya, dan kesamaan unsur serapannya, pada kesempatan ini pembagian aksara Bali hanya akan diuraikan berdasarkan fungsinya, dan berdasarkan bentuknya.

3.4 Fungsi Aksara Bali dalam Manuskrip/Lontar

Dalam kehidupan masyarakat Bali, aksara Bali digunakan untuk menuliskan bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu, aksara Bali juga digunakan untuk menuliskan rerajahan yang berkaitan dengan upacara keagamaan, maupun yang berkaitan

Bahasa, Aksara dan Fungsinya dalam Manuskrip Lontar | 101

dengan kekuatan magis. Bapak Prof Dr. I Gusti Ngurah Bagus dalam pidato pengukuhan jabatan Guru Besar Tetap dalam ilmu Antropologi Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar, 20 Desember 1980 mengemukakan bahwa berdasarkan fungsinya, aksara Bali digolongkan menjadi dua yaitu Aksara Biasa dan Aksara Suci, (Bagus, 1980:12). Yang dimaksud dengan aksara biasa adalah aksara Bali yang digunakan untuk menulis bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menulis karya sastra. Aksara yang tergolong aksara biasa ini adalah aksara Wreastra dan aksara Swalelita. Aksara Wreastra adalah aksara Bali yang digunakan untuk menulis bahasa Bali umum, seperti perjanjian-perjanjian, pipil-pipil, dan lain-lainnya. Sedangkan aksara Swalelita adalah aksara Bali yang digunakan untuk menulis bahasa Sansekerta, bahasa Jawa Kuna dan bahasa Bali Tangahan, seperti misalnya bentuk kidung-kidung, kekawin, parwa-parwa, dan lain-lainnya. Aksara Suci maksudnya adalah aksara Bali yang biasanya digunakan untuk menulis masalah-masalah yang berkaitan dengan keagamaan, seperti japa mantra, weda, rerajahan. Di samping itu, juga aksara ini digunakan berkaitan dengan masalah kebatinan atau masalah-masalah yang bersifat magis. Aksara suci dapat dibagi dua, yaitu aksara wijaksara dan aksara modre. Aksara Wijaksara adalah aksara Bali yang biasa digunakan untuk menulis hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan. Sedangkan aksara modre adalah aksara Bali yang digunakan untuk menulis kebatinan yang pada umumnya bersifat magis.

Berdasarkan uraian di atas, aksara Bali berdasarkan fungsinya dapat dibagi menjadi empat, yaitu: (1) Aksara wreastra; (2) Aksara swalelita; (3) wijaksara; dan (4) Aksara modre. Aksara modre adalah aksara Bali yang sulit dibaca karena mendapat berbagai pengangge aksara. Di samping itu, aksara modre ada juga dilambangkan dengan gambar-gambar tertentu. Cara membaca aksara modre ada petunjuk atau contoh-contoh pada lontar Krakah dan Siwah Griguh. Bardasarkan tipenya aksara modre dapat dibagi menjadi empat yaitu: (a) Tipe utama; (b) Tipe aksara kotak; (c) Tipe lambang-lambang; (d) Tipe lain-lain. Tipe utama. Aksara modre tipe utama adalah aksara modre yang menggunakan pangangge aksara yang banyak atau lengkap. Adapun suara dari aksara ini sangatlah gaib, yaitu bagaikan telinga yang ditutup. Contoh aksara modre tipe utama yang melambangkan Bhuana Agung dan Bhuana Alit yang sering digunakan pada pengulap-ulap sebagai sarana untuk memanggil kekuatan-kekuatan positif agar memberikan perlindungan. Manuskrip lontar merupakan dokumentasi budaya masa lampau merupakan karya budaya yang sangat bernilai. Isi yang terkandung dalam manuskrip lontar begitu bermanfaat seperti tentang mantra, keagamaan, pengetahuan tentang astronomi dan astrologi (wariga), pengobatan tradisional (usada), prosa, kekawin, kidung, sejarah, cerita-cerita, dan lain-lain. Lontar menjadi bukti tentang budaya menulis sastra di Bali telah terjadi sejak dahulu kala.

Bahasa, Aksara dan Fungsinya dalam Manuskrip Lontar | 103

Sebagian besar Manuskrip lontar tersebut di atas bertuliskan Aksara Bali sehingga biasa dikatakan bahwa manuskrip lontar beraksara Bali. Dengan demikian, aksara Bali yang telah dituliskan di lontar atau lontar itu sendiri mempunyai peranan dalam kehidupan masyarakat Bali pada umumnya. Manuskrip lontar yang terdapat di Bali menggunakan bahasa Bali dan aksara Bali (wianjana). Naskah lontar Bali merupakan suatu dokumen dalam bentuk tulisan tangan yang di tulis dalam lontar dan menggunakan pisau (pengrupak), sehingga dalam melestarikan naskah lontar tersebut dibutuhkan perhatian khusus dan kehati- hatian dalam menggunakannya. Aksara Bali merupakan wahana yang mewarisi bahasa Bali. Bahasa Bali dalam kelangsungannya dari masa ke masa dapat diketahui melalui aksaranya yang digunakan untuk menuliskan bahasa Bali itu. Dengan demikian, aksara Bali merupakan alat pendokumentasian bahasa Bali. Aksara Bali memiliki peranan yang sangat penting dalam menjaga keutuhan bahasa Bali pada masa berikutnya. Berdasarkan latar belakang sejarahnya, aksara dan bahasa Bali telah memasuki kehidupan penuturnya sebelum adanya aksara Latin. Hal ini dapat dibuktikan dalam berbagai prasasti kuno yang bertuliskan aksara dan bahasa Bali Kuno. Aksara dan bahasa Bali merupakan satu kesatuan dalam kehidupan masyarkat suku Bali. Aksara dan bahasa Bali merupakan satu paket dalam mempelajari disiplin ilmu tradisi, seperti ilmu pengobatan, ilmu

arsitektur, ilmu sastra dan lain sebagainya. Dalam tradisi yang telah terbentuk selama berabad-abad masyarakat suku Bali, yang hendak menuangkan buah pikirannya dalam bidang keilmuan tradisi akan memilih sarana komunikasi bahasa dan aksara Bali. Bidang-bidang yang menyangkut tradisi memiliki kecenderungan dituangkan dalam aksara dan bahasa Bali. Sedangkan masalah- masalah kekinian dituangkan melalui aksara L atin dengan bahasa Indonesia maupun bahasa asing. Dalam buku “Wyakarana Basa dan Aksara Bali” (1968) dan buku Pasang Aksara Bali (1979) karangan I Wayan Simpen AB disebutkan bahwa aksara yang digunakan untuk menuliskan bahasa Bali lumbrah adalah aksara Wreatra. Bahasa Bali lumbrah adalah bahasa Bali yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan menurut bapak Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus, dalam pidato pengukuhan jabatan Guru Besar Tetap dalam ilmu Antropologi Budaya, mengatakan bahwa aksara yang digunakan untuk menulis bahasa Bali beliau menyebut sebagai aksara biasa, yang meliputi aksara Wreastra dan aksara Swalelita. Kedua aksara ini digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat suku Bali untuk menuliskan hal-hal perjanjian, karya sastra, seperti kidung, kekawin, geguritan, satua-satua Bali dan lain sebagainya yang semuanya ditulis di dalam manuskrip lontar. Berdasarkan kedua pendapat di atas, dapatlah dikatakan bawa aksara Bali Wreastra dan aksara Bali Swalelita atau aksara Bali biasa, memiliki peranan dalam komunikasi tulis bahasa Bali, terutama dalam

Bahasa, Aksara dan Fungsinya dalam Manuskrip Lontar | 105

bidang-bidang yang menyangkut hal-hal yang bersifat tradisional.

3.5 Peranan Aksara Bali dalam K ehidupan K eagamaan yang bersumber dari Manuskrip Lontar

Peranan aksara Bali dalam bidang keagamaan maksudnya adalah tata penggunaan aksara Bali dalam kehidupan keagamaan Hindu yang diekspresikan dalam upacara agama yang secara keseluruhan disebut panca yadnya, yaitu dewa yadnya, pitra yadnya, rsi yadnya, manusa yadnya, dan bhuta yadnya. Dalam upacara keagamaan itulah terdapat penggunaan rerajahan aksara Bali. Penggunaan aksara Bali dalam upacara dewa yadnya ditemukan antara lain alas banten/upakara dewa-dewi yang menggunakan tempeh atau niru, yang diisi gambar lukisan padma asta dala dengan rarajahan dasaksara, sebagai simbul dewata nawa sanga atau alam semesta. Di samping itu, penggunaan aksara Bali juga ditemukan dalam pendirian bangunan suci seperti sanggah pamrajan, maupun parhyangan baik pada waktu nasarin (membuat dasar bangunan), maupun pada saat mlaspas (upacara setelah selesai membangun). Pada waktu nasarin penggunaan aksara Bali dalam hal ini dasaksara ditemukan di-rajah pada batu merah yang ditindih dengan batu hitam yang diisi rerajahan aksara Bali triaksara, dan sebuah kwangen dengan uang 11 kepeng dengan rerajahan aksara Bali ongkara merta (aksara suci). Sedangkan pada saat upacara mlaspas penggunaan aksara Bali ditemukan pada ulap-ulap

(simbol suci) yang berisi lukisan padma asta dala dengan rerajahan dasaksara. Penggunaan aksara Bali dalam upacara pitra yadnya, khususnya pengabenan sangat banyak, terutama dalam rerajahan aksara Bali pada kajang. Kajang adalah perlengkapan upacara ngaben yang dibuat dengan selembar kain putih yang berisi rerajahan aksara Bali dalam hal ini wijaksara dan aksara-aksara suci yang lainnya. Di samping itu, penggunaan aksara Bali juga ditemukan pada pemau atau peti jenasah yang akan diaben. Penggunaan aksara Bali pada upacara rsi yadnya tidaklah sebanyak dalam upacara pitra yadnya. Dalam upacara rsi yadnya penggunaan aksara Bali ditemukan antara lain pada upacara pawintenan dan padiksan, yang menggunakan aksara wijaksara yaitu dasaksara yang dirajah pada bunga teratai putih. Bunga tunjung putih yang telah dirajah ini digunakan untuk masalah Wijaksara dan aksara modre lainnya pada orang yang mawinten atau madiksa. Pada sela-sela keningnya dirajah (dilukis aksara suci) wijaksara ….. ( ang), pada lehernya dirajah aksara modre …. ( windu ardacandra). Pada lidahnya dirajah aksara modre ….., pada dadanya dirajah aksara modre ……. pada telapak tangan kanan dirajah aksara …… dan pada telapak tangan kiri dirajah aksara wijaksara …….. dasaksara yang dirajah pada bunga teratai putih adalah sebagai stana dewata nawa sanga, sedangkan aksara-aksara yang dirajah pada bagian-bagian tubuhnya berperanan sebagai penyucian diri karena akan mempelajari ilmu-ilmu kerohanian.

Bahasa, Aksara dan Fungsinya dalam Manuskrip Lontar | 107

Penggunaan aksara Bali pada upacara manusa yadnya pada umumnya memiliki peranan sebagai penyucian diri, karena kelahiran sebagai manusia berbekal leteh atau dosa. Adapun penggunaan aksara Bali dalam upacara manusa yadnya ditemukan antara lain pada saat bayi baru lahir dilakukan upacara penanaman ari-ari, sebelum upacara penanaman ari-ari dimasukkan ke dalam sebutir kelapa, yang bagian atas atau tutupnya dirajah aksara wijaksara …… (ongkara), sedangkan pada bagian dalam bagian bawahnya dirajah wijaksara ….. ( ang), (Pemda Tk I Bali 1989:4z). Demikian juga pada upacara tiga bulan ada upacara turun tanah ditemukan penggunaan rerajahan pada gambar lukisan Bedawangnala, yang berisi padma asta dala dengan rerajahan dasaksara, yang dalam pelaksanan upacaranya kaki bayi dinjak-injakkan pada lukisan tersebut sebagai pertanda mulai saat itu bayi boleh menginjak tanah. Penggunaan aksara Bali dalam upacara bhuta yadnya memiliki peranan sebagai lambang penetralisir kekuatan- kekuatan negatif dalam menjaga keseimbangan bhuana agung dengan bhuana alit. Adapun penggunaan aksara Bali dalam pelaksaaaan bhuta yadnya ditemukan antara lain pada upacara pacaruan resi gana. Pada upacara ini digunakan sarana daun pohon nagasari sembilan lembar, yang setiap lembar berisi rerajahan sesuai dengan tempatnya pada arah mata angin. Di samping itu, pada perlengkapan upakara yang lainnya ditemukan penggunaan aksara wijaksara yang di-rajah pada pane, yaitu sebagai tempat nasi ider bhuana.

Berdasarkan penggunaan aksara Bali khususnya aksara wijaksara seperti beberapa contoh di atas dapat dikatakan bahwa aksara Bali memiliki peranan yang sangat penting dalam praktek keagamaan, antara lain sebagai lambang persatuan bhuana agung dengan bhuana alit, dan lambang penyuciannya, sebagai lambang penetralisir kekuatan negatif serta menjaga keseimbangan sebagai lambang istana Tuhan sebagai lambang persaksian kepada Tuhan dalam wujud dewata nawa sanga. Uraian di atas pada intinya semuanya bersumber dari manuskrip lontar.

3.6 Peranan Aksara Bali dalam K ehidupan Magis yang Bersumber pada Manuskrip Lontar

Di samping dalam bidang religius masyarakat suku Bali juga dikenal dan cukup disegani dalam bidang yang bersifat magis. Magis adalah suatu kekuatan gaib, cara- cara tertentu yang diyakini dapat menimbulkan kekuatan orang-orang yang mempraktekkannya dapat menguasai orang lain baik dalam alam pikirannya, maupun dalam tingkah laku (Pringgodigdo, dkk. 1977:647). Pelaksanaan upacara magis berlandaskan kepercayaan kepada kekuatan sakti, misalnya membasmi penyakit, mengusir roh-roh jahat, demikian juga menarik kekuatan sakti dengan sarana jimat, karena jimat dianggap memiliki kekuatan sakti (Koentjaraningrat, 1982:278). Aksara Bali yang digunakan dalam bidang magis berdasarkan wujudnya berbentuk sangat rumit sehingga

Bahasa, Aksara dan Fungsinya dalam Manuskrip Lontar | 109

untuk mempelajarinya diperlukan tingkat intelegensia yang tinggi. Aksara yang berperan dalam bidang magis adalah aksara modre (Simpen, 1979:4 dan Bagus, 1980:11). Pada dasarnya aksara modre dibentuk dengan aksara pangawak yang mendapat perlengkapan atau pengangge, sehingga untuk membacanya sangat sulit. Beberapa contoh penggunaan aksara modre dalam bidang magis adalah sebagai berikut. Rerajahan aksara dasaksara pada padma asta dala dengan gambar lukisan Bhatari Durga dengan mengendarai seekor naga, pada lembar kain putih, lempengan emas, lempengan tembaga, yang berfungsi sebagai penjagaan diri bagi orang perempuan. Rerajahan yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan antara Bhuana Agung (makrokosmos) dengan Bhuana Alit (mikrokosmos) serta menjaga keselamatan pribadi keluarga, dan masyarakat. yang juga menggunakan dasaksara pada lukisan padma astra dala lengkap dengan gambar dewata nawa sanga yang disebut dengan kemit tungguh. Rerajahan aksara modre yang disebut canting emas, yang dibuat pada lempengan emas, dibungkus dengan kain dimasukkan ke dalam ikat pinggang. Ada pun manfaatnya adalah untuk kekebalan dan menolak ilmu sihir. Rerajahan aksara modre yang disebut pangiwa winasa sari, yang dirajah pada secarik kain putih yang dipakai pada waktu melakukan ilmu pangiwa. Dengan rerajahan

ini orang dapat mengubah diri sebelas kali dalam satu kali praktek pangiwa (aliran kiri) ini. Berdasarkan penggunaan aksara modre (aksara suci) dalam beberapa contoh di atas dapatlah dikatakan bahwa aksara Bali khususnya aksara modre memiliki peranan yang sangat penting dalam melakukan praktik ilmu magis, antara lain sebagai jimat, penjagaan diri, penolak kejahatan, penyembuh penyakit, sarana mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan. U raian di atas semuanya bersumber dari lontar.

B AB IV

Pr ose s Pe mbuatan Le mpiran L ontar

4.1 Proses Pembuatan Lempiran Lontar

Proses pembuatan lempiran lontar sampai bisa ditulisi memang memerlukan waktu cukup lama sehingga perlu kesabaran dan ketekunan. Para perajin daun lontar biasanya diawali dengan proses pemilahan terlebih dahulu bahan-bahan (daun lotar) yang baru habis dipetik, atau dibeli di pasar, atau pun di rumah-rumah penduduk kualitasnya masih bercampur. Lontar yang akan ditulisi disebut juga dengan lempiran lontar atau blanko lontar (Sukersa, 2016:221) yaitu berupa lembaran-lembaran kosong dari lontar yang diproses secara cermat, rumit, untuk memilih kualitasnya yang dianggap baik. Proses ini dilakukan dengan pemilahan dan pemilihan daun yang berkualitas rendah karena akan berpengaruh terhadap kekuatan atau ketahanan lontar itu sendiri. Lempiran lontar atau blangko lontar yang memiliki standar kualitas dalam pembuatannya akan mempengaruhi usia dari lontar bersangkutan setelah selesai di proses.

Gambar 4.1. Daun lontar yang baru dipetik sebagai bahan lempiran lontar. Dok. Peneliti tahun 2020.

4.1.1 Memilih daun lontar

Daun tal yang dipilih untuk prosesi pembuatan pepesan daun lontar ini berkategori penyaja (muda atau menengah). Usia daun tal penyaja di samping diketahui daunnya masih hijau juga ditandai dengan posisi kecondongan pelepahnya kurang lebih 45 derajat, semua ujungnya panjut (merapat dan sedikit mengering). Sedangkan lontar yang masih muda berupa busung (janur) atau yang sudah berupa danyuh/wayah (tua) tidak dimanfaatkan sebagai pepesan ini. Pemetikan daun lontar pepesan menggunakan joan anggetan (galah ujungnya yang memakai pisau), daun tal yang berbentuk kipas kangget (dipotong dan dicari) hanya bagian tengahnya tidak lebih dari empat sampai enam helai setiap satu pelepah daun tal. Mengingat daun tal cukup tebal dan tiap bilahnya terdiri dari dua helai

Proses Pembuatan Lempiran Lontar | 113

dalam satu lidi, maka proses pengeringannya agar benar-benar kering, (Rai Putra, 2010:11-12). Tal atau lontar harus dijemur beberapa kali sehingga benar-benar renyah (kering benar). Pemetikan lontar juga mencari hari baik yaitu pada sasih kasanga-kadasa (sekitar bulan Maret-April) dalam penanggalan Bali yang disebut kreta masa, sasih katiga- kapat (seputar bulan September-Oktober) yang disebut gegadon. Pada bulan-bulan ini adalah musim kemarau langit terang benderang. Bilah daun tal yang kering petik yang dipilih untuk pepesan adalah yang bilahnya panjang, lebarnya sesuai, permukaan rata tidak tuludan (berlekak- lekuk), seratnya halus, tidak berbintik-bintik dan helai daunnya tidak terlalu tebal atau terlalu tipis*. Tal* atau ental yang sudah kering dipotong ujung dan pangkalnya dengan ukuran panjang sesuai keperluan.

Gambar 4.2 Proses memilih atau menyeleksi daun lontar sebagai lempiran lontar. Dok. Peneliti tahun 2020

4.1.2 Ngekum

Setelah selesai Ngesit (melepas lidi), dilakukan secara hati-hati agar bilah daun lontar kering petik tidak amis (rusak). Bilah daun tal kering petik yang sudah kesit (dilepaskan lidinya) dikumpulkan dan ditata sedemikian rupa. Selanjutnya dilakukan proses ngekum yaitu merendam dengan air selama tiga minggu, dengan proses :

  • Minggu pertama air kum tampak berwarna keruh kekuning-kuningan dan berbau kurang sedap sehingga harus diganti setiap hari, pagi dan sore.
  • Minggu kedua dan ketiga, air kum diganti setiap tiga hari sekali, hingga air kum benar-benar bersih, tidak berbuih, dan tidak berbau lagi. Tujuan proses ngekum ini adalah agar daun tal untuk menghilangkan sagunya, agar tal hampa tak rapuh (serbukan) tidak disenangi rayap.

Proses Pembuatan Lempiran Lontar | 115

Gambar 4.3 Proses ngekum yaitu merendam dengan air dalam beberapa hari Dok. Peneliti tahun 2020

4.1.3 Pengeringan

Tiga minggu setelah berlalu proses ngekum, daun tal diangkat, daun tal dicuci bersih dijemur lalu ditebarkan sedemikian rupa di tempat yang terang sehingga hari itu juga dipastikan kering. Dua hari dua malam diangin- angini untuk tiga bulan kemudian baru direbus.

Gambar 4.4 Proses pengeringan setelah ngekum Dok. Peneliti tahun 2020

4.1.4 Perebusan

Merebus daun tal kering petik memerlukan alat perebus seperti panci besar, tunggu, kayu api dan air yang cukup dan dijaga dengan saksama. Dalam perebusan ini dilengkapi dengan ramuan bahan pengawet seperti : kulit pohon kayu intaran, kayu wong, kulit pangkal pohon kelapa, batang kantewali, daun sambiroto, umbi gadung diparut. Rempah-rempah seperti: lada, merica, jebug harum, buah jebug (buah pinang tua) semua dirajang (dicincang) dan ditumbuk sampai halus menjadi serbuk. Bahanramuan itu dipakai mencampur tal yang direbus secukupnya. Dalam perebusan, setiap air perebusan menyurut terus ditambahkan lagi secara berulang hingga berlangsung lima enam jam. (Rai Putra, 2010:13 ). Makin lama direbus hasilnya makin baik bahkan sampai 6-8

Proses Pembuatan Lempiran Lontar | 117

jam. Daun tal yang dianggap telah masak tidak diangkat dibiarkan dingin dengan sendirinya.

Gambar 4.5 Proses perebusan setelah pengeringan Dok.Peneliti tahun 2020

4.1.5 Pengeringan setelah proses perebusan

Proses pengeringan sesunguhnya dilakukan dua kali yaitu setelah proses ngekum seperti telah diuraikan di atas, dan setelah proses perebusan. Proses pengeringan setelah perebusan yaitu dilakukan setelah lontar dingin selanjutnya diangkat dan dijemur di atas terik matahari. Setelah penjemuran lontar dayuhin (diangin-anginkan) di tempat yang teduh. Tiga puluh sampai lima puluhan lontar diikat ujung, tengah dan pangkalnya. Disimpan di tempat yang aman terhindar dari matahari, hujan, hawa panas berlebihan. Semakin lama disimpan kulitasnya semakin baik.

Gambar 4.6 Proses pengeringan tahap II setelah daun lontar direbus dalam beberapa jam. Dok. Peneliti tahun 2020

4.1.6 Blagbag/Nepes (menjepit)

Blagbag merupakan ngepres lontar secara lontar tradisional yang bahannya dibuat dari kayu dengan menggunakan pasak. Tujuan dari blagbag ini untuk meluruskan dan memampatkan serat dan rongga-rongga yang kemungkinan masih terdapat pada lontar setelah proses pengeringan*.* Blagbag atau penjepitan biasanya dilakukan perajin dengan mengumpulkan daun-daun lontar dalam ukuran yang sama yang telah disimpan sampai berbulan-bulan atau sekitar empat–lima bulanan. Hal ini dilakukan adalah untuk meluruskan daun lontar yang diproses, bahkan daun lontar sampai mengalami penipisan, menjadi lentur karena dalam prosesnya alat penjepit yang dari kayu tersebut diberikan pasak dan setiap empat/lima hari

Proses Pembuatan Lempiran Lontar | 119

dipukul-pukul oleh perajin untuk mendapatkan blangko atau lempiran lontar yang berkualitas dalam arti luas. Fungsi blagbag adalah untuk menjepit dan menekan daun-daun lontar yang akan diproses untuk diluruskan. Blagbag kalau sekarang dapat disejajarkan dengan mesin pres tradisional untuk meluruskan dan meratakan. Dalam proses pem-blagbagan, daun-daun lontar yang dipasang dalam blagbag akan terlihat berlapis-lapis, karena setiap lapis daun lontar yang sudah dipasang ditindih dengan sebuah papan atau kayu sebagai sekatnya yang disebut pandalan (bahasa Bali). Selanjutnya dipasang lagi daun lontar dalam jumlah yang telah ditentukan kemudian dilapisi pandalan lagi sebagai pelapis dan penyekat sekaligus penekan daun lontar yang ada. Hal ini dilakukan sampai memenuhi kuota daripada kapasitas blagbag yang digunakan. Kanan dan kiri blagbag sebagai penjepit daun lontar tersebut dipasang pasak yang digunakan sebagai tempat untuk memukul-mukul ketika blagbag tersebut sudah dianggap penuh. Beberapa hari kemudian pasak tadi mengalami kerenggangan sehingga menjadi longgar akibat terjadinya pengerutan/menipis dan pelurusan daun lontar yang diproses. Pemukulan terhadap pasak dilakukan lima hari sekali. Perajin akan melihat kondisi daun lontar yang mengalami proses, jika terjadi pelonggaran yang sangat signifikan maka perajin akan menindih kembali dengan pandalan demi menjaga kerapatan posisi daun lontar dan ini dilakukan selama enam bulan.

Gambar 4.7 Proses blagbag yaitu menjepit lontar dengan sekuat-kuatnya Dok. Peneliti tahun 2020

4.1.7 Pembuatan mal (melubangi)

Pembuatan mal yang dimaksud adalah pembuatan lubang sebesar jarum, dengan proses mal ditempel di atas daun tal, jarum pirit (paser tradisional Bali) ditusukkan pada tengah-tengah lubang kecil mal yang dikiri, kanan, dan tengah. Mirit yang dimaksud adalah melubangi lontar di samping kiri, tengah, dan di titik ujung pirit. L ontar telah telah mapirit (berlubang) dimasuki lidi (jelujuh) agar tidak mudah bergerak saat diiris dan dirapikan pinggirannya.

Proses Pembuatan Lempiran Lontar | 121

Gambar 4.8 Pembuatan mal atau lubang di kiri, kanan dan tengah lontar. Dok. Peneliti tahun 2020

4.1.8 Menyerut dan pemberian cat pewarna merah (gincu)

Istilah L empiran lontar (Rai Putra, 2010:10), atau blangko lontar (Sukersa dkk., 2016:221), yang telah diisi tiga lubang kemudian diserut agar tepi-tepian lontar menjadi rata dan lurus. Pada saat menyerut ini juga menggunakan peralatan sebagai alat penjepit berupa kayu yang tebalnya 2 cm. Kayu penjepit dilubangi tembus sejumlah daun lontar. Masukkan pasak yang terbuat dari bambu yang berujung dan pangkal. Lontar lembar demi lembar dimasukkan dalam penjepit sesuai dengan kapasitas alat penjepit sehingga daun lontar tidak dapat bergerak, selanjutnya ditutup dengan alat penjepit kedua. Kemudian daun lontar itu dirapikan dan di iris- iris dengan pisau baru dilakukan penyerutan hingga rata. Dilanjutkan dengan pengisian gincu agar lontar yang

tujuannya adalah untuk melindungi lontar. Di samping itu juga agar lontar memiliki estetika keindahan.

Gambar 4.9 Kiri proses nyerut, dan kanan proses pemberi warna (enci) pada tepian lontar Dok. Peneliti tahun 2020

4.1.9 Alat Tulis lontar (pengrupak)

Alat-alat atau perabot (bahasa Bali) sebagai pendukung lancarnya kegiatan yang dilaksanakan yang dibutuhkan dalam penulisan manuskrip lontar yang dibutuhkan dalam kegiatan penulisan adalah sebagai berikut: Penulis manuskrip lontar di Bali dalam mengembangkan seni tulis/gambar membutuhkan alat tulis berupa temutik atau ada yang menyebut pangutik, atau pemutik atau secara umum orang Bali menyebut pangrupak. Alatnya sama cuma sebutannya di satu daerah dengan daerah lain sering berbeda. Biasanya pemutik ini difungsikan untuk membuat pekerjaan-pekerjaan seni yang agak rumit, seperti membuat lubang seruling, membuat lubang buah kelapa yang akan dijadikan bahan upacara, membuat kerajinan-kerajinan dari batok kelapa,

Proses Pembuatan Lempiran Lontar | 123

termasuk difungsikan untuk menulis atau menggambar di atas daun lontar. Dalam hal menulis di atas daun lontar pemutik suatu saat juga diperlukan oleh seorang penulis atau penggambar saat dia melakukan aktivitasnya, namun dalam kuantitas penulisannya dominan menggunakan pangrupak. Dalam gambar di bawah seorang penulis/ penggambar memperlihatkan sebuah alat tulis berupa pangrupak, ujungnya berbentuk segi tiga, berbeda dengan pemutik yang ujungnya sangat lancip. Pemutik pun sebenarnya dapat difungsikan sebagai alat menulis di atas daun lontar, hanya sedikit susah karena hasil tulisannya tidak sesuai dengan harapan penulis (tebal/tipis tulisan). Untuk itu para pengerajin naskah lontar mengkemas dan memodifikasi alat-alat tulis yang mereka gunakan sesuai harapannya.

Gambar 4.10 Pengrupak (alat tulis di atas lempiran lontar). Dok. Peneliti tahun 2020.

4.2. Pengawetan atau Pelestarian Manuskrip Lontar

Pengawetan L ontar atau daun siwalan dimulai dari pemetikan daun lontar dari pohonnya sampai penyimpanan setelah ditulisi disimpan dikeropaknya. Pengawetan secara alamiah dan secara teknik kimiawi. Secara teknik alamiah biasanya dijemur pada sinar matahari, ataupun penyesuaian suhu udara sehingga tidak lembab. Hal ini dilakukan agar pori-pori air mengembang dan menguap dari daun lontar. Benda- benda yang lain dicampurkan ketika mengawetkannya. Alat-alat pengawet itu seperti ketika merebus daun lontar dipakai sindrong (rempah-rempah), bungsil (buah kelapa yang belum berair), buah padi (gabah), direndam didalam air tawar. Bahan kimiawi biasanya dipakai kapur barus. Alat-alat bantu yang lain darimulai pemrosesan hingga lontar siap ditulisi, seperti landasan parang (pisau), tempat menjemur, bak air, sepet (sikat dari sabut kelapa), daun tradisional agar naskah lontar tidak dimakan rayap. Proses penulisan sendiri menggunakan pisau yang kemudian diusapkan air hasil perasan dari kemiri yang sudah dibakar sebelumnya, kemudian jika sudah dioles cairan kemiri bakar hendaklah daun di lap dan dijemur. Setelah itu lontar disimpan di dalam keropak yang disebut naskah.

4.2.1 Membersihkan noda/kotoran

L ontar hendaknya selalu dibersihkan agar terhindar dari debu dan kotor. Pembersihan pada lontar

Proses Pembuatan Lempiran Lontar | 125

dapat dilakukan dengan menggunakan air dengan bantuan kapas. Lontar juga dapat dibersihkan dengan menggunakan larurtan ethly alkohol. Bahan kimia ini cukup baik dan tidak akan merusak tulisan dan aman untuk lontar. Noda tanah pada lontar dapat dihilangkan dengan dengan proses dry cleaning, yaitu dengan menggunakan sikat halus dan penghapus. Minyak yang sudah mengering pada lontar sebaiknya dihilangkan dengan cara merendam dalam deterjen dan air hangat. Perbaikan kerusakan tidak dapat dilakukan sampai minyak dihapus karena pada saat perbaikan menggunakan perekat dan perekat tidak akan menempel pada permukaan lontar yang berminyak (Wicaksono, 19 Desember 2016, Konservasi Lontar).

4.2.2 Membungkus lontar

Untuk melindungi lontar terhadap debu dan pengaruh lingkungan lainnya setelah dibersihkan lontar sebaiknya dibungkus dapat menggunakan kertas bebas asam atau kain. Biasanya kain yang digunakan berupa kain katun atau menggunakan bahan silk karena secara tradisional dapat berfungsi menghindari dari serangan serangga bookworm.

4.2.3 Penyimpanan Lontar

Salah satu cara yang paling penting untuk mencegah kerusakan manuskrip lontar adalah dengan melakukan penyimpanan yang benar. Lontar dapat disimpan dalam kotak-kotak kayu atau kotak yang dibuat dari karton

bebas asam dan disimpan didalam kabinet yang khusus. Di dalam kabinet tersebut sebaiknya diletakkan naftalen untuk melindungi dari serangga serta silica gell untuk menjaga agar kelembaban tempat penyimpanan selalu kering. Manuskrip lontar yang sudah tua sebaiknya disimpan dalam kotak terpisah. Agar lontar tidak berubah bentuk dilakukan dengan cara mengikat dengan tali pada bagian tengah lalu dijepit menggunakan kayu dengan ukuran yang lebih tebal dari lontar.

4.2.4 Lontar kaku/kering.

Dalam penanganan naskah lontar kaku atau kering, kegiatan perawatan yang dilakukan ialah dengan melakukan pelemasan pada lontar tersebut dengan mengoleskan minyak serai ke naskah lontar. Selain kerusakan yang disebabkan oleh tulisan memudar dan naskah kaku atau kering. Strategi perawatan kerusakan yang dilakukan pada naskah lontar patah atau robek dengan bantuan double tape sebagai perekat. Agar naskah lontar dapat digunakan kembali oleh pengguna atau masyarakat umum sesuai dengan kebutuhannya. Kendala yang dihadapi dalam melaksanakan perawatan naskah lontar adalah perlunya kehati-hatian dalam melakukan kegiatan perawatan naskah lontar. Karena mengingat usia dari naskah lontar sudah cukup lama, sehingga rentan mengalami kerusakan akibat gesekan-gesekan yang terlalu keras saat melakukan pembersihan pada naskah lontar. Selain kendala akibat keadaan fisik dari naskah lontar yang rentan patah,

Proses Pembuatan Lempiran Lontar | 127

kendala yang dihadapi saat melaksanakan perawatan naskah lontar adalah kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang membantu dalam kegiatan perawatan, karena jumlah koleksi naskah lontar sangat banyak. Pelemasan terhadap lontar dilakukan untuk mengembalikan bentuk lontar sesuai aslinya. U ntuk memberikan fleksibilitas pada lontar dapat juga dilakukan dengan meminyaki menggunakan minyak kayu aras, minyak serai, kayu putih, cengkeh, dan minyak wijen. Tetapi dapat juga digunakan gliserin yang dicampur alkohol dengan perbandingan 1:1. U ntuk menjaga kelenturan dapat dilakukan dengan penguapan selanjutnya dipress dengan cara menjepit di antara dua buah kayu.

4.2.5 Lontar patah/retak.

Perbaikan lontar yang retak/patah dilakukan dengan cara menyambung kembali menggunakan tissue Jepang (Japanese tissue) dengan perekat yang digunakan adalah polivinyl asetat (PVA) dan carboxyl metil celloluse (CMC). L ontar yang patah juga dapat di enkapsulasi menggunakan plastik polyester (mylar) dengan bantuan double tape sebagai perekat. https://d3ilpusuns14.wordpress.com/2016/12/29/ pelestarian-daun-lontar-di-ge-dong-kirtya-buleleng-bali/ diakses 23 April 2020. Upaya pencegahan kerusakan naskah lontar dengan melakukan kegiatan salah satunya dengan mengatur suhu pada ruangan perpustakaan agar keadaan koleksi naskah lontar tidak lembab dan mengatur suhu sesuai dengan

strandar yang telah ditentukan. Membersihkan tempat penyimpanan naskah lontar agar terhindar dari serangga atau hewan pengerat yang dapat merusak naskah lontar. Strategi perawatan naskah lontar sebelum mengalami kerusakan membersihkan tempat penyimpanan agar terhindar dari debu dan serangga. Kegiatan perawatan dilakukan agar naskah lontar terhindar dari kerusakan yang diakibatkan oleh faktor fisika seperti debu dan cahaya yang mengenai naskah lontar, sedangkan faktor biologi seperti serangga atau hewan pengerat. Selain membersihkan tempat penyimpanan pada naskah lontar, strategi perawatan naskah lontar yang dilakukan dengan cara alih aksara pada naskah lontar yang ada di perpustakaan. Kegiatan alih aksara yang dilakukan bertujuan untuk mempertahankan kelestarian isi dan informasi yang terkandung dalam naskah lontar sebelum mengalami kerusakan.

4.2.6 Tulisan pudar

Perbaikan manuskrip terhadap tulisan pudar dapat dilakukan penghitaman kembali dengan menggunakan kemiri bakar yang telah ditumbuk halus sehingga akan keluar minyak dari kemiri tersebut. Dalam penanganan tulisan naskah lontar yang mulai memudar, kegiatan preservasi pustakawan ialah secara merata pada naskah lontar tersebut dengan melakukan penghitaman menggunakan minyak kemiri, dengan mengoleskannya minyak kemiri dengan kapas pada naskah lontar secara satu arah agar terhindar dari kerusakan akibat gesekan

Proses Pembuatan Lempiran Lontar | 129

yang terlalu kencang. Sebelum kemiri tersebut digosokkan atau dioleskan pada naskah lontar, kemiri terlebih dahulu dibakar dan dicari minyaknya.

Gambar 4.11 Kemiri bakar penghitam tulisan dalam lontar Dok. Peneliti tahun 2020

130 | MANUSKRIP LONTAR DI PROVINSI BALI

B AB V

F ung si dan Ni lai B uda ya yang Terkand ung da la m L ontar

5.1 Fungsi Lontar sebagai Candi Pustaka

Candi bukan hanya berbentuk bangunan fisik (tangible), melainkan juga berupa pustaka (intangible) yang disebut dengan Candi Pustaka. Candi Pustaka di Bali pembenahan, penghormatan, penyelamatannya, menurut pengertian klasik berupa lontar. Di Bali dengan menyikapi pembenahan, penghormatan, penyelamatan, pemeliharaan seperti itu merupakan bagian daripada pelaksanaan ibadah, terutama ibadah dalam rangka pengamalan ajaran agama Hindu. Pemeliharaan lontar sebagai pralingga Dewi Saraswati yang merupakan sebagian dari pada pelaksanaan ibadah pada hakekatnya tidak berbeda dengan pemeliharaan tempat suci. Sikap hormat terhadap lontar sebagai pralingga bagi Sang Hyang Saraswati terungkap dalam langkah-langkah sejak pengadaan hingga penggunaannya lontar sebagai Candi Pustaka tidak berbeda dengan proses (urutan langkah) dalam pembangunan Candi Kahyangan. Urutan prosesi upacaranya meliputi pengadaan, pemelaspasan, pemeliharaan dan penggunaan lontar.

Dalam pengadaan lontar, Gede Suata (1991) mengurut pengadaan lontar dengan beberapa aturan yang harus dituruti antara lain, diawali dengan penyediaan bahan baku berupa daun lontar (ental: Bahasa Bali), penyetaraan bentuk lempiran, penajaman warna tulisan, penepesan, penyempatan dan panyipatan. Sukersa (2016:221-248) mengurut teknis pembuatan Blangko L ontar: 1) pemilihan jenis daun lontar, 2) cara memetik dan pemilihan daun lontar, 3) pengeringan, pemotongan, melepas lidi, 4) merebus, 5) menjepit, 6) membuat pola dan melubangi, 7) menyerut, 8) menggaris. Dalam menyiapkan bahan baku, daun ental dipetik setelah ujungnya kering sebatas dua ruas jari. Lalu disisir dengan arah dari ujung menuju pangkal. Lidinya dibuang untuk mendapatkan kekeringan yang merata. Mengeringkan dengan cara menggantungkan selama tiga hari. Setelah merata kering, daun lontar digulung untuk memudahkan menggunakannya. Kemudian direbus selama waktu yang diperlukan sebagaimana orang untuk menanak nasi. Caranya dengan memasukan beberapa kulit beras atau padi ke dalam air rebusan besama-sama dengan ental. Diangkat dan digosok-gosokkan sehingga bersih dari buih. U ntuk kedua kalinya dikeringkan selama tiga hari pada jemuran. Setelah kering sebanyak enam atau lima lempir diikat dan dipotong pada bagian-bagian ujung-pangkalnya. L angkah berikutnya adalah panepes, penyetaraan dengan dua cara yakni, merapikan bagian ujung-ujungnya dan merapikan bentuk ental serta letak lubangnya,

Fungsi dan Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lontar | 133

(panepes tanggu panepes sikut). Dalam penentuan ukurannya juga mempertimbangkan kramat tindaknya naskah yang akan disuratkan pada daun lontar yang dimaksud. Semakin kramat isinya semakin pendek daun ental yang diperlukan. Yang kramat misalnya tentang Puja, sementara yang tidak keramat dicontohkan seperti Tutur. Demikian juga tentang penulisannya, jika salah untuk yang kramat menulisnya harus dipralina, sedangkan yang tidak keramat cukup dibubuhkan tanda mati (aksara Balinya adalah ulu dan suku). Pembagian panjang pendeknya, lebih panjang yang di kanan. Dan penulisan dimulai dari bagian kiri. Sebagai tanda bahwa, daun lontar telah selesai pada proses penepasan yakni diberi lubang pada bagian tempat yang telah ditandai, yang selanjutnya diisi nomor urut di bagian kiri, sesuai dengan tempat mulai menulis. Proses berikutnya adalah penggarisan pada setiap lempiran daun lontar, dengan menggunakan alat, berupa panyepat. Sepat terdiri dari empat garis, setelah memperkirakan tempat penulisannya. Tinta yang dipakai terbuat dari arang kayu sugih atau arang baterai usang. Cara menyepatnya adalah sebelah demi sebelah dengan logika menunggu kering yang satu dengan yang lainnya, maka daun lontar siap ditulisi. Dalam penajaman warna tulisan dipergunakan sarana yang disebut Panyipat. Sarana ini terbuat dari bahan klopekan (kelopak) tiing tali yang dibakar lalu dicampur minyak tanah dan minyak kelapa. Ada juga terdiri dari kemiri, kelapa, buah nagasari, benang wayang, minyak seredan daging camplung yang disangga

lalu dilumat. U ntuk menajamkan tulisan tersebut hanya dengan menggosok-gosokannya pada daun ental yang telah tertulis secara satu arah, dari kiri ke kanan. Hal ini menghindari agar tulisan tidak tertutup kembali. Pada sisi lain, juga mengutip beberapa sumber ajaran dari beberapa lontar yang mengungkapkan tentang penggunaan lontar. Penggunaan lontar sebagai bahan bacaan tidak terlepas dari kaidah-kaidah yang tidak kalah rumitnya dengan pengadaannya sendiri. Lontar Brunahatya misalnya, berisikan tentang penggunaan lontar berdasarkan ajaran dalam Pustaka Kalimosadha. Disebutkan sementara mengikat lempiran-lempiran lontar dengan talinya disarankan agar tidak longgar. Sebaliknya dengan kuat mencerminkan ketegasan sikap dalam penggunaan lontar setiap saat. Demikian pula dilarang membuka lontar di sembarang tempat. Sebab isi pustaka sangat mulia. Hendaknya sangat dirahasiakan adanya (wekas ing rinahasyantemen sire). Dan hendaknya dimuliakan hakekatnya yang merupakan sumber hidup (wekas ing kinamulen sang hyang hurip). Tentang saat membaca ditentukan pada saat malam hari (ratri kala), sore hari (sore), saat sepi (sunya kala), pagi hari (esuk), tengah malam (madya ratri) dan hari baik (werahayu). Pembaca disarankan agar memahami tentang keberadaan dewata dalam diri, berdasarkan rumusan Pancamaya dan Pancasira yang dihubungkan dengan unsur-unsur dari panca Mahabuta sebagai jiwa setiap hurup. Pancamaya dapat dimengerti sebagai Panca Tan Matra dan Pancasira sebagai Panca Golaka, jika Dewata

Fungsi dan Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lontar | 135

yang menjadi hurup hadir dalam bentuk rasa bahasa maka rumusan Pancamaya, Panca Mahabutha dan Pancasira dapat dihubungkan adanya. Jika tertinggal salah satu diantaranya akan menyebabkan sengsara pada yang berkepentingan. Lebih-lebih jika ketertinggalan tersebut dalam bentuk ketinggalan huruf pada lontar sehingga ada lontar tanpa kehutuhan huruf, maka sangat buruk dalam penilaiannya. Dapat membingungkan diri dan dunia sehingga dapat dikatakan prakempa. Memang bisa dimengerti, bahwa kekurangan akibat kemalasan merupakan awal dari kegagalan. Juga disebutkan bahwa seseorang yang akan membaca isi lontar hendaknya menyucikan diri sebelum membacanya, agar tidak menjadi bingung pada masa kini maupun kemudian. Sangat ditekankan adanya kesucian hati. Demikian tujuan utama yang terkandung didalamnya, hendaknya selalu tenang dan tidak takabur. Sebab hakekat dewata sangat sukar dibayangkan, dan segala perwujudan dewata pada hakekatnya mahahebat dan mahagaib serta merupakan sasaran dari ajaran kelepasan. Dari segi muatan kebahasaan, lontar memuat dwi bahasa. Dalam beberapa sumber memang disebutkan jika Dewi Saraswati mempunyai fungsi ganda yakni sebagai Dewi bahasa Tulis dan Dewi Bahasa L isan, yakni dengan nama Dewi Aksara dan Dewi Wani. Hal ini jelas dapat dimengerti karena bahasa dapat disampaikan dengan tulis dan lisan. Sebagai Dewi bahasa Tulisan (Dewi Aksara), Dewi Saraswati dianggap bersemayam pada Pustaka (yang di Bali sering diasosiasikan dengan Lontar). Penegasan

hal ini terdapat dalam L ontar Saundari Pancalima, bahwa pustaka merupakan pralingga bagi Dewi Saraswati. “Mwang sahana ning pustaka lingganing Sanghyang Aksara wenang pinahayu pujanen astawakena aminta wasuh pada ring Sanghyang Siwa Raditya” ….

.......”adapun segala macam pustaka yang menjadi
pralingga bagi Sanghyang Saraswati patut dibenahi, dihormati dan diselamatkan dengan memohon air suci dari Sanghyang Siwa Raditya”.

Sementara sebagai Dewi Bahasa L isan (Dewi Wani), Dewi Saraswati dianggap bersemayam pada ujung lidah. Dewi Saraswati menghuni lidah Sang Kumbhakarna terdapat pada kakawin Arjuna Wijaya. Ketika para Dewa kebingungan karena Sanghyang Jagatkarana bersitegang, Dewi Saraswati bertugas diujung lidah Kumbhakarna agar apa yang diingininya tidak sama dengan yang diucapkannya. Dewi Saraswati berhasil dengan tugasnya mengacaukan perkataan Kumbhakarna ketika Kumbhakarna ditanya apa yang menjadi keinginannya, ia hanya bisa menjawab “semoga tertidur-tidur” (prasupta-supta) dan diberkati oleh Sang Jagatkarana, lalu Kumbhakarna menjadi penidur berat. Setelah Sang Jagatkarana pergi semua Dewa menjadi gembira, Dewi Saraswatipun telah pergi dari ujung lidah Kumbhakarna. Akhirnya Kumbhakarna menyesali dirinya karena kata-kata yang diucapkannya mendapat anugrah yang berbeda dengan yang diingininya. Memang harus hati-

Fungsi dan Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lontar | 137

hati dengan perkataan, tidak heran karena perkataan kita bisa mendapat bahagia, teman bahkan kematian.

5.2 Fungsi Lontar sebagai Media Nyastra

Salah satu aktivitas yang menjadikan media dalam memasyarakatkan nilai-nilai budaya maupun ajaran agama yang sudah dituangkan Candi Pustaka–L ontar yaitu, dengan aktivitas mabebasan. Jenis aktivitas dalam mabebasan yaitu membaca atau menyanyikan, menerjemahkan, dan tidak jarang diulas, diperdebatkan dikalangan peserta. Dorongan untuk mabebasan dikalangan masyarakat Bali, karena kurang menguntungkan kalau membaca naskah sendiri. Sedangkan kalau membaca Lontar atau naskah lama berupa buku, secara beramai-ramai akan diketahui seluruh aspek yang ingin disampaikan si pengarang. Dengan demikian adanya kegiatan membaca karya sastra lama akan dapat diketahui seluruh aspek kehidupan baik lahir maupun batin dan semuanya aspek itu didasari oleh agama Hindu, sehingga tidak mengherankan bahwa segala pola tingkah laku orang Bali didasari oleh ajaran agama Hindu. Para sastrawan tradisional dan tokoh agama Hindu Bali telah menyimpulkan tentang fungsi nyastra, seperti apa yang tercermin dalam kutipan sebagai berikut:

(n)ama, dening sastrane gisi, sangkan ditu pelajahan, apan di sastra siptane sami bikase bneh salah tkenning mawa dhesa mwang tkeneya yayah bibi lewih srusa bhakti tken gusti makadi idhepe bhakti ring dewa makjang suba mungguh disastra mwah pakirtine sakala niskala, angingte dahat kati apan budi.

Terjemahan :

Manusia, karenanya pegang teguhlah sastra. Pelajarilah, karena sastra mencerminkan semua tingkah laku, benar salah serta hidup bermasyarakat dan juga kepada ayah ibu, hendaknya berbakti kepada junjungan (raja) pemerintah, juga berbakti kepada dewa, semua termuat dalam sastra dan perbuatan sekal niskala, tetapi sangat sulit, karena pikiran (budi).

Oleh karena itu, nyastra wajib diketahui dan dikuasai oleh setiap orang, lebih-lebih seorang yang berstatus wangsa Brahmana dan atau calon pendeta sebagai pengemban darma wangsa dan penyelesai upacara keagaman. Dalam struktur masyarakat Hindu di Bali wangsa Brahmana adalah wangsa yang tertinggi dan sering dijadikan sumber teladan dari wangsa Krastria, Wesia, dan Sudra. Namun tidak menutup kemungkinan ‘bahwa selain wangsa Brahmana wangsa yang lainjaman dahulu tidak diperkenankan membaca sastra. Namun sekarang semua wangsa harus membaca sastra. Hanya saja karena yang menulis L ontar atau naskah Awi-Awian ini diperkirakan seorang termasuk orang tri wangsa (Brahmana, Ksatria, dan Wesia), dan ada pendapat

Fungsi dan Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lontar | 139

ortodok yang berpendapat kalau orang Sudra di India didengar membaca Weda, maka ia akan dihukum dengan lidah dipotong dan badan direcah-recah (S. Pendit, Nyepi (1991). Maka pengarang Lontar atau naskah Awia-awian kena pengaruh dari pernyataan yang salah itu yaitu penulis naskah ini hanya sangat mengharapkan bahwa kaum tri wangsa saja yang diperkenankan membaca sastra alasan himbauan ini agar,mudah tri wangsa di Bali kedudukannya lebih terhormat dibandingkan dengan kaum kebanyakan (Jaba). Prof. Dr. Ngurah Bagus dalam pidato pengukuhan jabatan Guru Besar dalam Ilmu Antropologi Budaya di Fakultas Sastra Unud berpendapat: Bahwa salah satu cara untuk memahami kebudayaan Bali dapat dibaca lewat karya sastra klasik, termasuk L ontar (1980), karena dalam sastra klasik itu terdapat semua aspek kehidupan. Peryataan tersebut dapat dipahami dari latar belakang lahinya Fakultas Sastra, dan mempunyai maksud yang sama yaitu, L embaga Pendidikan Tinggi Unud dengan Pola Ilmiah Pokok (PIP) berdasarkan Kebudayaan. U ntuk memperkuat pernyataan itu dapat pula dibaca pendapat Prof. Dr. Priyono yaitu : “….. perkataan Sansekerta castra, bentuk asli dari sastra, itu artinya pertama-tama perintah, kitab agama, kitab hukum, dan kemudian berarti pula tiap-tiap kitab pelajaran, kitab ilmu pengetahuan, seterusnya ilmu itu sendiri. Tiap-tiap ilmu adalah sastra, politik adalah sastra dan tiap-tiap sistem filsafat India adalah castra juga” (Dalam Bagus, 1980).

Di Indonesia kuno, sekurang-kurangnya di Jawa dan Bali kata castra atau di Indonesiakan sastra masih berarti kitab ilmu atau ilmu saja. Kutaramanawa sastra adalah nama kitab hukum Jawa-Bali kuno dan Niticastra adalah nama kitab yang berisikan petunjuk-petunjuk tentang kebijaksanaan hidup, yang di Bali namanya Nitisara. Parama sastra yang berarti ilmu tertinggi, kemudian dalam zaman Jawa Baru berarti tata bahasa. Dan bahu sastra yang aslinya banyak ilmu pengetahuan, kemudian dalam bahasa Jawa Baru dipakai untuk menyebut kamus. Menurut tradisi Mataram Jawa Tengah, Sultan Agung Anyakrakusuma pernah menulis kitab filsafat dan mistik yang namanya Sastra Gending. Perkataan nyastra artinya berilmu, “geletterd dijm” dan dalam bahasa Jawa, wong sastra artinya orang yang berilmu oleh karena banyak membaca. Dan karena orang banyak membaca disebut orang beradab, orang yang tahu sopan santun. O leh karena ilmu-ilmu terdapat dalam tulisan, dalam kitab seperti L ontar yang berisikan tulisan, maka pada sesuatu waktu di Bali sastra berarti juga aksara, tulis, tulisan, surat, suratan. Dalam bahasa Bali mesastra artinya menulis dan membaca. Dan uraian di atas dapat dipahami apa yang dimaksud dengan istilah anak nyastra ‘orang berilmu’ dalam masyarakat Bali, walaupun dalam kenyataan seseorang belum tentu seluas itu penguasaan ilmu pengetahuannya. Namun karena ia senang membaca dan dapat berbuat kebaikan/kebajikan terhadap sesama, biasanya orang itu mendapat tempat yang terhormat

Fungsi dan Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lontar | 141

di kalangan masyrakat Bali. Bahkan persyaratan untuk menjadi orang agung (besar) pada masyarakat Bali, kemampuan sastra merupakan syarat mutlak. Demikian pula pada versi kepemimpinan agung Jawa sebagai asal muasal budaya Bali di mana harus berkemampuan nyastra dan itu dijabarkan menjadi sepuluh persyaratan. Kesepuluh persyaratan menjadi orang besar (wong agung) itu yaitu: menulis, membaca, ngelmu, ngaji, pandai menunggang kuda, bisa menari, bisa gending, bisa nembang gede/kawi, bisa ulah yuda dan mati. Untuk memotivasi masyarakat khususnya generasi muda agar mau dan sungguh-sungguh mempelajari nilai-nilai yang terdapat dalam sastra, maka para siswa sekolah dasar jaman dahulu diajarkan melalui pupuh-pupuh seperti pupuh Ginanti di bawah ini.

Saking tuhu manah guru Mituturin cening jani Kawruh luwir senjata Ne dadi prabotan sai, Kaanggen ngeruruh merta, Saenun ceninge urip, Ring sekolah genah ipun, Telebang janten kapanggih, Malajah seken-sekenang, Eda sok demen malali, “laline” maarti engsap, Yan engsap mapuara kali.

Artinya : Dengan sunguh maksud guru, Menasehati ananda sekarang, Kepandaian sastra itu bagaikan senjata Yang dipakai alat setiap hari, Dipakai mencari kehidupan, Semasih ananda hidup. Di sekolah tempatnya, Sungguh-sungguhlah apa yang dikehendaki pasti akan tercapai, Belajar dengan sungguh-sungguh, Jangan selalu senang santai, berpergian melancong, Sering bepergian menyebabkan lupa belajar, Jika lupa menyebabkan pertengkaran, kebodohan, awidya.

Belajar itu jangan dengan sikap tanggung-tanggung, santai. Belajarlah sungguh-sungguh. Kalau sastra sudah dikuasai, maka untuk mencari sumber penghidupan akan jauh lebih mudah, dan kelanggengan dari pada ilmu itu lebih terjamin dibandingkan dengan kekayaan yang bersifat kematerian. Pendeta Ida Made Sideman (Alm.) menganjurkan melalui L ontar Geguritan Selampah Laku (1987/1988) bagi yang tidak memiliki kekayaan seperti sawah, yang bisa ditanami dan hasilnya untuk hidup, maka badan kita inilah dianggap suatu pekarangan, sawah namun jenis tanaman yang kita bisa tanami hanyalah berupa pengetahuan dan ketrampilan. Konsep beliau yang bermakna seperti itu “tong ngelah karang sawah, karang

Fungsi dan Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lontar | 143

awake tandurin, guna dusun ne kaanggo ring desa-desa”, (tidak mempunyai tanah sawah, pekarangan badan inilah yang ditanami, pengetahuan dan ketrampilan desa, yang dapat diterapkan di desa-desa). Demikian informasi tentang batasan sastra pada masyarakat Bali. Bagi orang yang sudah pernah merasakan tentang nilai seni dan filsafat yang terdapat dalam sastra, mereka akan terlena dan hanyut, sehingga kegiatan mabebasan tidak pernah mati dalam masyarakat Bali. Di Bali orang begitu banyak sadar mempelajari sastra lama dalam bentuk lontar maupun buku karena sastra lama banyak mengandung nilai budaya luhur sebagai alat untuk pedewasaan mental. Dalam sastra lama terkandung harta karun pendidikan, keindahan, sejarah, ajaran agama khususnya ajaran agama Hindu, dan lain-lain. Agama khususnya agama Hindu hampir keseluruhan ajaran keagamaan Filsafat (Tatwa), Etika (Susila), dan U pakara tertuang dalam sastra lama lontar. Dengan demikian tidak berlebihan bila dikatakan bahwa untuk mendalami ajaran agama Hindu khususnya yang ada di Bali hendaknya terlebih dahulu mempelajari sastranya. Seperti apa yang dihimbau oleh pengawi lontar atau sastra awi-awian. Lebih-lebih lagi dalam mempelajari filsafatnya (tatwa). Namun untuk itu pertama-tama yang dikuasai adalah pengetahuan bahasa Jawa Kuna karena filsafat (tatwa) agama ini belum banyak yang diterjemahkan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bahasa dan sastra Jawa Kuna mempunyai fungsi yang cukup penting dalam agama Hindu.

Filsafat agama Hindu (tatwa) merupakan salah satu dari tiga kerangka dasar agama. Kerangka dasar agama Hindu selengkapnya ialah: Tatwa (filsafat), Susila atau etika dan Upacara atau ritual, (Punyatmaja, 1969:4 dan Parisadha Hindu Dharma, 1967:13). Filsafat agama Hindu dapat digolongkan menjadi 5 bagian yang dikenal sebutan Panca Sradha seperti Widhi Tatwa, Atma Tatwa, Karma Phala Tatwa, Samsara Tatwa danterakhir adalah Moksa. Salah satu dari kelima Sradha itu yang banyak disinggung dalam naskah L ontar Awi-Awian adalah Karma Phala Tatwa dan ajaran Grehasta. Naskah-L ontar Awi-awian menghimbau kepada kita jangan nanti sampai menyesalkan diri seperti apa yang dirasakan pengawi (pengarang) naskah, sebab si pengawi merasa hidupnya sengsara, merasa tidak berguna dalam hidup ini. Hal ini disebabkan karena pada masa hidupnya yang terdahulu tidak mau belajar sastra. O leh karena itu ia sangat menyarankan agar para generasi muda sebelum mati harus belajar sastra. Selengkapnya sebagai identitas orang nyastra, I Nyoman Suarka (2016) telah mengindentifikasi jenis dan judul L ontar yang harus diampu oleh 13 Fakultas yang ada di U niversitas U dayana (U NU D). Karena lontar- lontar tersebut memuat bidang keilmuan kehidupan dan penghidupan tradisional masyarakat Bali, seperti:

1) Bidang Budaya jenis dan judul L ontar yang dibaca dan dipahami : Satua, Kidung, Kakawin, Parwa, Babad, Geguritan, Kalpasastra, Sasana, Dasanama, Paribasa, Tutur/Aji.

Fungsi dan Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lontar | 145

2) Bidang Kedokteran (Kesehatan dan Pengobatan, jenis dan judul L ontar yang dibaca dipahami: Budakecapi, Dharmausada, Kalimosada Kuranto Bolong, Usada Gering Agung, Kanda Kawisesan, Abrata, Penawar Gering, Tatakramaning wang angamong wong beling, Usada Kamatus, Rahasya, Sanggama, Babacakan Tenung Lara, Tenung Edan, Tetenger Penyakit Kacacar, Osadi/tetamban, Mulaning Gering, Penglebur Gering, Patengeran Gering, Pangusadan, Parembon Sarad, Punggung Tiwas, Usada Rare, Usana Manak, Upas, Wong Gering tan Waras, Usada Gede, Panawar, Pamugpug, Masa Tiwang, Smara Ratih, Smaragama, Geguritan Kesehatan.
3) Bidang Peternakan, jenis dan judul L ontar yang dibaca dan dipahami : Carcan Ayam, Carcan Meyong/kucing, Carcan Kuda/Aswa siksa, Carcan Paksi, Carcan Titiran, Pangayan-ayaman, Patempuraning Ayam, Pratekaning Paksi, Tatempuran Sawung, Geguritan Kedia.
4) Bidang Hukum jenis dan judul L ontar yang dibaca dan dipahami: Kanda Hukum, Awig-awig, Kutaragama, Pangeling-eling, Pasukertan, Plalolonjor, Sima, Krama.
5) Bidang Teknik jenis dan judul L ontar yang dibaca dan dipahami: Dharma Laksana Undagi, Dharmaning Asta Kosala, Dharmaning Astakosali, Kramaning Ngukur Karang Paumahan, Astadewa, Astabhumi, Wiswakarma, Swakarma, Asta Patali, Janantaka, Sikuting Umah, Dewa Tatwa, Bhuanakretih, Keputusing Sanghyang Anala, Purwa Bhumi Kamulan, Gong Besi, Pamiak Kala, Pamugpug Desti, Pangujanan, Sikut Karang Pamelapas, Kadadening Besi,

Tingkahing Karang Pomahan, Tingkahing Angwangun Kahyangan Dewa.

6) Bidang Pertanian jenis dan judul L ontar yang dibaca dan dipahami: Dharma Pamaculan, Tutur Aji Pari, Wariga, Kaputusan Sanghyang Bhatara Sri, Aji Janantaka, Taru Pramana, Kerti Bhuana, Usada Sawah, Kala Gumantung, Prattingkahing Wong Magaga Sawah, Bhamakretih.
7) Bidang Ekonomi jenis dan judul L ontar yang dibaca dan dipahami: Dharma Pangolih, Dharma Pangadolan, Tutur Srigati, Wariga.
8) Bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam jenis dan judul L ontar yang dibaca dan dipahami: Cetik, Pamunah, Panawar, Panebasan, Panerang, Pangancingan, Pangujanan, Tetamban, Usada, Upas, Rukmini Tatwa, Taru Pramana, Wariga.
9) Bidang Kedokteran Hewan jenis dan judul L ontar yag dibaca dan dipahami: Usada Sato, Carcan Ayam, Carcan Meyong/kucing, Carcan Kuda/Aswa siksa, Carcan Paksi, Carcan Titiran, Carcan Banteng, Pangayan-ayaman, Patempuraning Ayam, Pratekaning Paksi, Patempuran Sawung.
10) Bidang Teknologi Pertanian jenis dan judul L ontar yang dibaca dan dipahami: Dharma Caruban, Wariga, Kaputusan Bhatara Sri, Aji Janantaka, Taru Pramana, Kerti Buana, Usada Sawah, Kala Gumantung, Pratingkahin Wong Magaga Sawah, Bhamakretih.

Fungsi dan Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lontar | 147

11) Bidang Pariwisata jenis dan judul L ontar yang dibaca dan dipahami: Sasana, Babad, satua, Kidung, Kakawin, Parwa, Geguritan, Astakosala, Astakosali, Wariga.
12) Bidang Ilmu Sosial dan Politik jenis dan judul lontar yang dibaca dan dipahami: Kamandaka Rajaniti, Bagawan Kamandaka, Tantri Kamandaka, Nitisastra, Nitipraya, Nitisara.
13) Bidang Kelautan jenis dan judul L ontar yang dibaca dan dipahami: Sagarakretih, Carcan Mina. Sedangkan untuk memperdalam tentang filsafat dari kelima sradha Agama Hindu, misalnya kalau ingin memperdalam filsafat yang isinya tentang keesan atau percaya tentang satu Tuhan, maka yang harus dipelajari antara lain, lontar Reg Weda Samhita, Kakawin Sutasoma, Gedong Wesi, Brahmokta Widhi Sastra, Upadesa, Tutur Sundari Gading, Wariga Gemet, Wrehaspati Tatwa. Naskah-naskah lontar yang membicarakan tentang Atma Tatwa antara lain: Sarascamuscaya, Bisma Parwa, Atma Prasangsa, Raja Peni, Sanghyang Tatwa Jnana. Naskah-naskah lontar yang membicarakan Etika ( Susila) atau lebih umum dikenal Sasana yaitu: Sarascamuscaya, Slokantara, Agastya Parwa, Siwasasana, Wratisasana, Silasasna, Pancasiksa, Putra Sesana. Sedangkan lontar yang banyak membahas tentang upacara-yadnya baik mengenai jenis banten, perlengkapan, dan sebagainya, tertuang dalam lontar Yamapurana Tatwa, Kramaning Madiksa, Dharma Koripan, Janma Prakerti, Anggastyaprana, Sri Purana, Tatwa Siwa Purana.

5.3 Fungsi Lontar Dalam Adat dan Agama

Pada awalnya banyak dari anggota masyarakat Bali yang merasa cemas akan perkembangan kehidupan nyastra melalui mabebasan. Hal ini mungkin disebabkan adanya anggapan yang menghubungkan pengaruh hiburan yang dimediakan oleh informasi Teknologi (IT), music band, folk song, dan lain-lain yang sudah masuk sampai ke pelosok desa. F aktor lainnya yang membuat kekhawatiran para pembaca lontar lewat mabebasan adalah pada kebanyakan orang yang sudah cukup umur, dan umumnya sudah kawin, dengan umur antara 31-56 tahun. Akan tetapi dengan ikut campur tangan atau kehadiran pemerintah mulai dari pemerintah desa sampai provinsi kegiatan membaca dan menulis lontar sudah menjadi ajang perlobaan, festival, penataran, pembinaan, dll. Pemerintah sudah memberi peluang, perangsang kepada lembaga seni dan budaya, sehingga kegiatan mabebasan selalu mampu melengkapi disaat penyelenggaraan adat dan agama. Upacara adat yang dimaksudkan di sini adalah menyangkut kebiasaan-kebiasaan (tradisi) upacara yang dilakukan oleh masyarakat terutama Bali yang sifatnya turun-temurun. Di dalam hubungan ini seni makakawin sering sekali dibawakan untuk mengiringi upacara perkawinan dan kematian. Sedangkan untuk mengiringi Dewa Yadnya biasanya dibawakan kidung. Namun kadang- kadang di dalam upacara Dewa Yadnya juga kakawin dilagukan dan pembacaan Palawakiya.

Fungsi dan Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lontar | 149

Pembacaan lontar pada saat mabebasan dewasa sekarang sering dijumpai pada upacara: Manusa Yadnya, Pitra Yadnya, Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya dan Rsi Yadnya. Pembacaan lontar makakawin paling sering dibawakan untuk mengisi upacara Manusa Yadnya, Pitra Yadnya. Mabebasan dengan makakawin, bahkan dengan kesenian pada saat Pitra Yadnya Ngaben karena, ada suatu pandangan atau keyakinan bahwa dengan adanya pembacaan naskah kakawin akan membawa pahala bagi keluarga yang melakukan upacara tersebut dan memberi penerangan kepada jalan yang akan ditempuh oleh roh orang yang diupacarai. Di samping itu, juga dengan diiringinya upacara tersebut dengan seni makakawin, maka upacara tersebut akan dirasakan lebih mantap dan berkesan.

5.4 Nilai Etika Suami-Istri Dalam Lontar Geguritan I Dremen

Sebagaimana kita ketahui bahwa pengertian melajah mesastra belajar sastra tidak terbatas hanya pada mempelajari kefilsafatan (tatwa) saja, melainkan juga bermaksud untuk mempelajari tata susila atau etika. L embaga yang paling awal untuk belajar etika atau lebih sempit lagi yaitu sopan-santun adalah lembaga keluarga. Dan terbentuknya suatu keluarga karena adanya perkawinan. Etika atau sopan-santun bersuami-istri sebagai cikal bakal untuk melahirkan orang bersopan-santun perlu diketahui oleh setiap orang. Semua ajaran untuk bersopan-santun ada dalam sastra.

Salah satu ajaran dari catur asrama yang banyak ditulis dalam lontar/naskah Lontar Geguritan I Dremen melalui ajaran Grehasta yaitu, tingkat kehidupan berumah tangga. Nilai ajaran yang paling penting untuk diketahui adalah ajaran satyeng graha, kesetiaan suami terhadap istri, dan satyeng suami, kesetiaan istri terhadap suami. Ajaran ini selalu menjadi dasar atau pegangan bagi keluarga untuk menciptakan hubungan yang harmonis dalam rumah tangganya. Sejalan dengan hal di atas dalam lontar Nirwana Tantra ada disebutkan seorang suami tidak dibenarkan menyia-nyiakan istrinya, dan seyogyanya seorang suami memperlakukan istrinya secara wajar (Shanti, 1996:9). Sebaliknya, dalam Manu Smerti disebutkan bahwa seorang istri harus setia kepada suaminya (satyeng suami atau patibrata) (Shanti, 1986:10). Satyeng graha dan satyeng suami adalah ajaran agama Hindu yang mempunyai nilai universal, tidak saja ditemukan dalam kitab-kitab seperti yang hanya disebutkan diatas, tetapi juga ditemukan di dalam kitab wiracarita Ramayana. Di samping itu, ditemukan dalam lontar I Dremen. Ajaran satyeng graha atau patibrata dapat dilihat pada kutipan di bawah ini. “Bahasa pembicaraan agar halus, hormat terhadap yang laki, sebab menerima nasihat yang laki-laki, apabila tidak berhasil yang perempuan, kurang hormat kepada yang laki-laki, mempunyai sakit ….”. Kedudukan laki-laki dalam kutipan di atas lebih dominan yaitu sebagai penasihat, sebagai pelindung.

Fungsi dan Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lontar | 151

Atas dasar pandangan seperti itu, maka orang Bali mengkonsepsikan terhadap kaum lelaki sebagai sebagai akasa (angkasa), sedangkan kaum wanita dikonsepsikan sebagai pertiwi, yaitu karena kaum wanita merupakan wadah bagi kelangsungan pertumbuhan insani keluarga. Gambaran yang bersifat kontras tersebut memberikan penjelasan bahwa konsepsi orang Bali mempersonifikasikan kedudukan seorang ayah atau secara lebih tinggi, jika dibandingkan dengan kedudukan ibu atau wanita dalam rumah tangga. Hal ini dapat dimengerti karena pada masyarakat dengan garis keturunan patrilineal otoritas lelaki mendapat kedudukan penting. Walaupun demikian dalam berbagai segi kehidupan yang lain antara ayah dengan ibu dalam menjalankan peranan-peranan sosial tidak harus diwujudkan dalam hubungan vertikal. Banyak sastra-sastra tradisional yang mengkonsepsikan wanita mempunyai kedudukan yang sejajar (horizontal). Dalam konsepsi orang Bali secara simbolis kedudukan sejajar tersebut digambarkan dengan istilah yang lain yaitu purusa yang berarti lelaki, sedangkan para wanita dikelompokkan ke dalam istilah predana. Namun penekanan yang dimaksud dalam istilah ini tetap memberikan peranan yang dominan terhadap lelaki, terutama dalam hubungan masalah waris mewaris (Swarsi,

1986). Dalam kitab suci agama Hindu, “Weda Smrti” (1993), di mana disebutkan sebagai berikut.

“Walau seorang suami kurang kebajikan, mencari kesenangan di luar tidak mempunyai sifat-sifat baik, namun seorang suami tetap harus dihormati sebagai dewa oleh istri yang setia ….”

Dogma di atas secara tegas memberikan kewenangan tertentu bagi tingkah laku seorang suami dalam kehidupan rumah tangga. Pandangan tersebut didasarkan oleh suatu nilai budaya, yang dikenal oleh orang Bali dengan sebutan satya yang identik artinya dengan kesetiaan yang diwujudkan oleh seorang istri terhadap suami. Bagian lain dalam buku yang sama juga menyebutkan sebagai berikut:

“.... seorang istri yang setia, yang ingin tinggal bersama terus setelah suami meninggal hendaknya jangan melakukan sesuatu yang menyakiti hatinya yang mengawini itu, baik masih hidup maupun sudah mati”. Seorang istri maupun seorang suami yang tidak kawin lagi setelah menjanda maupun menduda berarti sudah menjalankan ajaran agama Hindu yang disebut sewala brahmancari yaitu kawin hanya sekali pada waktu deha (perawan) saja. O rang-orang yang menitik beratkan pada hakikat sewala brahmancari, sekalipun mereka bercerai dari suaminya baik bercerai karena mati ataupun hidup, mereka tidak mau kawin lagi. Ada pendapat yang agak ekstrim, walaupun ia tidak kawin sah, hanya bergaul saja dengan laki-laki atau perempuan dari seorang janda atau seorang duda hakikat sewala brahmancari akan hilang. U mumnya yang lebih bisa menjalankan hakikat sewala brahmancari

Fungsi dan Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lontar | 153

ini adalah para ibu, sedangkan para laki-laki agak jarang. Tetapi tidak dapat diabaikan dalam kenyataan hidup sehari-hari berbagai wujud penyimpangan tingkah laku seperti yang digariskan oleh dogma tersebut di atas. Hal ini misalnya terlihat dari kecenderungan seorang wanita yang menjanda menginginkan kawin lagi, apalagi yang masih berpredikat janda kembang, tentu banyak godaan yang sering dialaminya. Pandangan orang Bali bagi seorang wanita menjanda, dan jika tidak mampu melakukan kawin lagi, maka dipandang bermartabat mulia dan setelah meninggal ia akan tinggal di sorga bersama suaminya. Memang kehormatan bagi seorang perempuan adalah sewala (perawan), dan kawin hanya sekali, pada jaman dahulu telah menjadi kebiasaan seorang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya, dan tidak beranak yang dipandang menjadi hiburan nantinya sebagai ganti suaminya dan dirasakan dirinya tidak akan tahan dengan godaan laki-laki lain, ia biasanya menikam dirinya dengan keris atau menerjunkan dirinya ke dalam unggunan api pembakaran jenazah suaminya, yang sedang berkobar. Hal ini dinamai mesatya. Sastra- sastra yang memberikan penilaian bahwa perempuan itu mempunyai kedudukan yang sejajar antara lain:

Weda Smrti

Dalam naskah ini disebutkan bahwa perempuan dengan pria mempunyai hak dan kewajiban dalam segala urusan. Dharmaning alaki rabi, demikian salah satu kalimat dalam Weda Smrti yang artinya sekarang akan kutetapkan dharma atau hukum abadi bagi suami istri yang akan

mengatur pada jalan kewajiban yang sama. Istilah lain yang mempunyai arti yang sama yaitu Dampati.

Reg Weda V. 61.8

Naskah menyebutkan: Suami istri merupakan belahan yang sama dari suatu substansi yang selalu sama dalam setiap tugas atau respek, baik bersifat jasmaniah maupun rohaniah.

Manu Manus Smrti IX. 45

Demikianlah kedudukan seorang istri dan anak- anaknya, orang bijaksana mengatakan bahwa istri tunggal dengan suami.

Kitab Mahabharata – Santi Parwa

Wanita dapat dinobatkan menjadi raja, kalau raja itu meninggal di medan perang. Jika raja tidak mempunyai keturunan putra laki-laki. Dalam naskah Anusasana Parwa yang dikatakan bahwa Bhagawan Bhisma pernah menjelaskan kepada Prabu Yudistira, merasa kecewa kalau wanita dianggapnya dungu dan tak patut diberikan kepercayaan. Wanita seyogyanya harus dihormati dan diperlakukan sama dengan pria dan dengan penuh kecintaan. Dari kedua prinsip tersebut di atas, maka orang Bali selalu memandang seorang istri sebagai:

1) Teman kesatuan dalam hak milik suaminya.
2) Penjaga yang setia dari harta benda suaminya.

Fungsi dan Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lontar | 155

3) Wakil mutlaknya sewaktu dia sedang pergi. Oleh karena itu, dianjurkan supaya suami senantiasa
mengusahakan terjadinya pergaulan, hubungan yang harmonis di dalam keluarga.

5.5 Nilai Pendidikan Etika Dalam Lontar Putra Sesana

Salah satu naskah kuno yang cukup representatif sebagai pedoman pendidikan dasar etika pada orang Bali yaitu melalui naskah kuno – L ontar “Putra Sesana” (putra berarti anak, sesana berarti ajaran dengan tekanan terletak pada agama dan kesusilaan). Sedangkan konsep pendidikan yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah konsep pendidikan operasional yang yaitu, proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat” Proses transmisi budaya (proses enkulturasi) dan sosialisasi yang dipakai untuk mendidik anak-anak di Bali yang khusus dalam sesana biasanya melalui lingkungan keluarga, tepatnya dalam keluarga batih sebagai sentral, dan keluarga luas sebagai peri-peri. Saluran enkulturasi dan sosialisasi anak dalam keluarga batih di Bali terutama diperanakan oleh ayah dan ibu (orang tua), dan berikutnya saudara-saudara kandung anak yang bersangkutan. Walaupun demikian, pada masa Balita dari si anak ibulah yang paling menonjol. Hal ini dapat terlihat pada masa anak Balita belajar berjalan dan belajar Bahasa. Kondisi

ini dimungkinkan karena ibu lebih banyak tinggal di rumah dari pada ayah sebagai pencari nafkah untuk keluarga. Selain itu juga berdasarkan pembagian tugas dalam keluarga ibu sebagai perawat dan pengurus rumah tangga. Dalam status seperti ini ibu sebenarnya berada dalam kedudukan menguntungkan untuk dapat mengenal keadaan anak baik mengenai intelegensi, bakat dan minat anak dan dapat mengamati perilaku anak yang disenangi, kekuatan dan kelebihannya, kebiasaan dan sebagainya. Disamping orang tua yang baik dan bertanggung jawab harus mempunyai rencana untuk anak, bahkan lebih dari pada itu, orang tua harus mempunyai visi tentang pilihan kapan sebaiknya seorang anak dilahirkan, dalam kondisi apa anak harus dibesarkan dan persiapan apa yang harus dilakukan untuk menyongsong masa depan anak. Ada teori Psikologi dan Antropologi yang mengatakan bahwa proses pendidikan pertama kali di lingkungan keluarga sangat berpengaruh terhadap kepribadian anak di kemudian hari (basic personality structure). Beberapa contoh peranan orang tua sebagai pendidik dalam keluarga yang mengakibatkan anaknya menjadi ilmuwan kaliber dunia. Seperti Mozart yang sudah memberi pertunjukan main piano pada usia tiga tahun, atau John Stuart Mill yang sudah dapat membaca sastra klasik dalam Bahasa Latin pada umur yang sama. Namun jika kita selidiki riwayat hidup kedua genius ini, maka ternyata bahwa mereka sejak dini sudah mendapat pendidikan terarah dan intensif dari orang tua mereka. Kalau demikian hal-

Fungsi dan Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lontar | 157

nya siapa mungkin yang berani mengikuti jejak para genius tersebut di atas? L ontar kakawin Putra Sesana ini induknya (babon) berasal dari Ida Pedanda Made Baha, Desa Mengwi Kabupaten Badung. Panjangnya 47 cm, berisi 4 baris tulisan, 17 lampiran lampiran rontal. Adapun isinya mengandung petuah-petuah tentang unsur-unsur pendidikan yang patut dimiliki oleh seorang bapak/ ibu dalam rangka mendidik anak-anaknya. Begitu pula memuat kewajiban-kewajiban bagi seorang anak kepada orang tua. Dengan kata lain lontar ini mengandung unsur-unsur pendidikan sasana untuk membentuk jiwa anak menjadi baik dan bersusila. Kenapa kalau anaknya yang berbuat salah orang tuanya yang menjadi bahan celaan pada masyarakat Bali?. Di Bali kedudukan seorang ayah dari pandangan hirarkhis dalam rumah tangga adalah sebagai akasa. Sedangkan ibu sebagai pertiwi. Hal ini dapat dimengerti kerena pada masyarakat Bali menganut sistem pewarisan patrilineal. Dalam pandangan ayah-ibu sebagai guru rupaka (mewujudkan dan melahirkan) di mana ayah-ibu dipandang sejajar oleh anaknya. Melalui pandangan yang kedua ini anak berkewajiban membalas jasa-jasa orang tuanya yang disebut dengan pitra sesana (berupa Ngaben dan Nyekah). Sedangkan dalam pandangan bahwa ayah-ibu sebagai sumber energi di mana ibu dipandang sebagai sumber perasaan. Sedangkan ayah dipandang sebagai bayu (tenaga). Landasan budaya inilah seorang anak terhadap orang tuanya, yang akhirnya melahirkan

konsepsi simbolis, di mana ayah menempati posisi pada arah Utara (kaja atau arah Gunung) atau sering disebut ke arah Ulu (luan) dan ibu menempati posisi pada arah Selatan (Kelod atau ke L aut), atau sering disebut ke arah ilir (teben). Anak-anak sudah diajarkan konsepsi sepeti itu lewat praktek sehari-hari seperti dalam posisi duduk. Anak-anak diwajibkan menghormati ketiga sumber penghidupan di atas. Dalam Weda Smerti disebutkan
sebagai berikut : ...... “dengan menghormati ibunya
ia (anak) mencapai kebahagiaan di bumi ini, dengan menghormati ayahnya ia menikmati dunia angkasa, tetapi dengan ketaatan terhadap guru nya ia mencapai Brahman (Tuhan)”. Dalam lontar Putra Sesana ajaran tersebut akan diuraikan secara panjang lebar. Tugas orang tua didalam membina dan mendidik watak anak adalah tanggung jawab yang cukup berat. Karena pendidikan yang diberikan langsung oleh orang tua merupakan faktor utama didalam menentukan masa perkembangan jiwa si anak. Maka oleh sebab itulah sebagai orang tua sewajarnya harus dapat mendidik putra-putrinya. Bila seorang anak kurang mendapat perhatian maupun dari orang tuanya, si anak akan banyak menimbulkan gejala-gejala kurang baik yang merugikan bagi orang tua. Jadi sikap orang tua di dalam mendidik dan membina mental spiritual si anak tidak bisa diabaikan begitu saja, sebab pendidikan rumah merupakan pencetak watak bagi setiap anak, seperti yang telah disebutkan pada lampiran rontal 1b terjemahan

Fungsi dan Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lontar | 159

kakawin Putra Sasana bait ke-2 yang berbunyi sebagai berikut: “Seseorang anak akan berbuat semaunya, bila tidak diberikan pendidikan yang wajar. Mungkin karena orang tuanya bodoh atau mungkin juga karena kasih sayangnya yang terlalu berlebih-lebihan sehingga lupa memberikan nasehat kepada anaknya. Si anak berbuat acuh tak acuh (asusila) pasti semua orang akan membencinya. Bila perbuatan orang tuanya jahat akhirnya si anak akan turut juga merasakan penderitaannya”.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, bila seorang anak selalu berbuat acuh tak acuh (asusila) kepada orang tuanya maupun kepada orang lain atau sesamanya, kemungkinan sekali disebabkan oleh orang tuanya karena bodoh, atau mungkin juga karena bodoh, atau mungkin juga karena dimanjakan. Dengan kata lain orang tuanya memberi kasih sayang terlalu berlebih-lebihan (Bali: tresna). Sehingga segan memberikan nasehat pada si anak. Tingkah laku anak yang demikian kurang disenangi di dalam pergaulan hidupnya sehari–hari, pada akhirnya semua orang akan membencinya.

Jadi sifat tresna pun menyebabkan anak jatuh ke lembah penderitaan. Watak anak semacam ini akan merugikan bagi orang tua, masyarakat. Bahkan negara. Sebab sifat-sifat perbuatan seorang ayah atau ibu akan menurun kepada si anak. Bila amal perbuatan orang tua baik, dengan sendirinya si anak ikut merasakan kebahagiaan. Jika sebaliknya bila amal perbuatan orang tua jelek, mau tidak mau si anak ikut juga merasakan kesengsaraannya, maka oleh sebab itulah hendaknya sebagai orang tua dapat memberikan bimbingan atau tuntutan yang wajar terhadap seorang anak, sehingga lambat laun si anak benar-benar menjadi seorang putra yang susila. Didalam lampiran 2a kakawin bait ke-2 dijelaskan sebagai berikut: “Bila seorang anak selalu dibina diberikan pendidikan budhi yang luhur. Tentu si anak tahu akan kewajibannya, membalas budi yang baik dan senang akan mempelajari sesuatu ilmu. Itulah yang menyebabkan si anak berbuat ke arah yang susila, dengan demikian akan disegani oleh semua orang, demikianlah jasa orang tua yang baik kerena disebabkan oleh amal perbuatan anaknya yang senantiasa berguna”.

Di atas telah dipaparkan tentang kewajiban orang tua di dalam membimbing, mendidik putranya ke arah budi yang luhur dan mulia. Jika seorang anak selalu diberikan pendidikan, diberikan nasehat–nasehat yang wajar, sudah tentu si anak akan tahu membalas budi seseorang yang baik, tahu akan kewajibannya. Jadi sifat-sifat yang baik dengan sendirinya dipuji dan disenangi oleh semua orang. Dengan demikian orang tua akan ikut

Fungsi dan Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lontar | 161

merasakan kebahagiaan karena perbuatan anaknya yang sopan dan susila. Perbuatan baik dan buruk (cubha achuba karma) seorang anak sangat tergantung pada orang tua. Karena ayah dan anak adalah merupakan dua serangkai yang tidak dapat dipisahkan. Sebab mempunyai wujud persamaan di dalam segi rohaniah. Anak adalah merupakan pecahan dari orang tua baik lahir maupun bathin. O leh sebab itulah seorang anak harus mengikuti segala nasehat dan petunjuk-petunjuk orang tua seperti yang tercantum pada lampiran lontar lembar 2b, bait ke-4 sebagai berikut: “Pada hakekatnya tugas dan kewajiban seorang anak harus mengikuti segala perintah atau petunjuk orang tua. Segala perbuatan yang menggembirakan bagi orang tua itulah yang harus dilaksanakan. Demikianlah tugas dan kewajiban bagi anak harus melaksanakan perbuatan yang terpuji dan berguna yang menjadi harapan bagi seorang ayah”. Apa yang telah diuraikan di atas memang demikianlah seharusnya pengabdian seorang anak kepada orang tua. Menjadi putra yang baik hanya menuruti segala nasehat-nasehat atau petunjuk-petunjuk orang tua, berbuat yang menyenangkan hati orang tua. Dengan kata lain si anak harus berbuat yang sopan dan bersusila kepada orang tua maupun orang lain. Karena seorang ayah ingin mempunyai putra-putri yang berkepribadian baik dan terpuji. O leh karena itulah tugas dan kewajiban pada anak harus mematuhi dan melaksanakan segala apa yang dinasehati oleh orang tua, bila seorang berbuat acuh tak

acuh, terhadap orang tua, mengingkari nasehat orang tua nasehat orang tua, sudah tentu akan menambah beban penderitaan bagi dirinya sendiri maupun terhadap orang tua. Terjemahan dari bait ke-5 dan ke-6 disebutkan sebagai berikut: “Bila seorang anak sama sekali tidak menghiraukan petunjuk-petunjuk ataupun nasehat-nasehat orang tua, bukanlah anak namanya, anak yang demikian tiada lain bedanya seperti rumput. Pada saat itulah orang tua tidak memikirkan lagi anaknya karena segala perbuatannya tiada berguna. Lagi pula si anak bodoh dan tidak mau menghiraukan nasehat seorang ayah”. Karena semua manusia di dunia ini menginginkan kesenangan dan kebahagiaan yang sempurna. Perbuatan anak yang baik menjadi durhaka karena tidak memikirkan sebelumnya segala perbuatan yang akan dilaksanakan. Demikianlah bila diadakan seperti orang yang sedang merintih menahan sakit yang dideritanya setiap waktu. Tiada lain karena perbuatan anaknya yang durhaka akibatnya menemui segala penderitaannya”. Setiap orang tua bila mendidik putra-putrinya karena didorong dan didasari oleh rasa cinta kasih sayangnya. Seorang ayah ingin mempunyai anak yang baik dan berguna. Pengorbanan orang tua terhadap anak tidak dapat dilupakan, baik dalam pendidikan lahiriah maupun batiniah. Sudah tentu si anak merasa berhutang kepada orang tua. Bila seorang anak berbuat acuh tak acuh kepada orang tua (alpaka guru), tidak menghiraukan nasehat-nasehat nya, akan menyebabkan orang tua menderita, tidak

Fungsi dan Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lontar | 163

ubahnya seperti orang yang sedang merintih menahan sakit yang dideritanya. Demikianlah penyesalan orang tua akibat perbuatan anaknya yang durhaka. Karena sakit hatinya si ayah menahan siksaan dari si anak baik lahir maupun batin, akhirnya si ayah sendiri akan lupa kepada anaknya. Jadi mulai pada saat itulah orang tua bosan dan tidak menghiraukan lagi perbuatan anaknya. U lah yang demikian akan jatuh ke lembah penderitaan. Pada sargah II lembar 4a-5a disebutkan sebagai berikut: “Kesalahan akan banyak dijumpai jika seorang anak dibiarkan begitu saja bermain. Segala perbuatan yang baik dan mulia tidak luput diketahui kalau diberikan pendidikan. Begitu pula bila si anak berbuat durhaka karena cinta kasihnya yang berlebih-lebihan (tresna) seorang ayah itulah sebabnya jangan sekali membebaskan si anak”. “Perbuatan baik dan buruk hanya diketahui oleh orang yang pandai dan bijaksana. Sekali pun anak itu perbuatannya baik maupun yang tidak baik diberitahukan kepada orang tuanya. Bila sedikit berbuat dosa akhirnya akan lenyap oleh perbuatan baik. Jikalau demikian. Andai kata berbuat dosa besar dan sedikit mengamalkan perbuatan baik tidak ada gunanya amal baik itu pada akhirnya akan lenyap”. Seorang anak bila dibiarkan begitu saja bermain, mereka bergaul bebas, kesalahan-kesalahan akan banyak diketahui. Begitu pula jika orang tua terlambat

memberitahukan pendidikan akan menyebabkan si anak berbuat durhaka (alpaka guru). Seorang ayah hendaknya jangan membebaskan si anak dan menjauhkan dari rasa kasih sayang yang berlebih- lebihan. Sebab baik buruk perbuatan anak hanya dapat dinilai oleh orang pandai dan arif bijaksana. Seorang anak besar berbuat dosa dibandingkan dengan beramal dengan baik, pada hakikatnya perbuatan atau amal baik akan tenggelam oleh perbuatan jahat. Jika sebaliknya si anak besar berbuat jahat, pada akhirnya perbuatan jahat sama sekali tidak ada gunanya. Seorang ayah akan membiarkan anaknya masih kecil begitu saja dengan tidak memberikan pendidikan yang wajar, nantinya si anak setelah dewasa lebih sukar lagi untuk memberikan bimbingan, seperti telah dipertegas oleh kakawin berikut ini. “Orang-orang arif bijaksana mengatakan bila mendidik anak diwaktu masih kecil. Itu sebenarnya si anak tahu berbuat baik dengan memberikan bimbingan yang wajar. Kalau si anak sudah banyak mengajarnya. Jika sudah berkeluarga bagaimana akan bisa mendidiknya, semakin sukar sekali”.

Seorang arif bijaksana mengatakan, bila mendidik seorang anak hendaknya dimulai pada umur masih kecil. Karena si anak belum memikirkan hal-hal yang lain selain menuntut ilmu pengetahuan. Kalau sudah demikian baru si anak dapat meresapkan nasehat-nasehat ataupun petunjuk-petunjuk orang tua. Andaikata si anak telah lanjut umurnya bahkan sudah berkeluarga akan makin sulit untuk mendidiknya.

Fungsi dan Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lontar | 165

Orang tua telah memberikan nasehat-nasehat maupun berupa petuah-petuah kepada anaknya. Anak jangan sekali berkelahi dengan orang lain, sekali pun orang tersebut melewati kejelekannya. Sebab akan memperoleh hasil yang menyakitkan. Lagi pula jangan sekali bermain yang tiada batasan itupun akan membuat orang lain benci. Selain dari itu seorang anak harus tekun melaksanakan kewajibannya seperti pada saat matahari terbit harus melakukan sembahyang pagi yaitu sujud bakti kepada Hyang Wagiswari dan lakukan setiap hari. Setelah habis sembahyang kemudian kenangkan dan resapkan apa yang tadi diucapkan. Begitu pula halnya segala ilmu pengetahuan yang belum dimengerti telitilah sampai jelas, itulah yang harus diutamakan. Demikian nasehat-nasehat sang ayah kepada putra-putrinya agar senantiasa menjadi anak yang baik dan berguna. Cinta kasih sayang sang ayah terhadap sang anak merupakan salah satu faktor pendorong di dalam pendidikan. Di mana orang tua dengan rela mengorbankan perasaannya dalam memberikan nasehat-nasehat demi untuk kemajuan hidup anaknya. Nasehat sang ayah kepada si anak: Bila ingin belajar kepada guru, harus hormat dan taat kepada perintahnya, berbuat yang menggembirakan seorang guru. Guru itu tidak lain beda dengan Tuhan yang memberikan perlindungan hidup kepada semua makhluk, begitulah cara menghormatinya. Selain dari pada itu harus juga setiap hari menghaturkan bunga, salah satu alat upacara,

beras, air untuk mencuci muka dan kaki. Semuanya ini harus diterima dan dijalankan dengan tiada boleh menolaknya. Karena tugas sebagai murid harus menerima dan melaksanakan segala apa yang diberikan oleh sang guru. Anak yang demikian akan mendapatkan kebahagiaan dengan tidak kekurangan suatu apa pun. Dengan demikian akan banyak memperoleh ilmu pengetahuan bagi setiap anak yang ingin belajar dengan baik. Kesemuanya itu adalah hasil pemberian seorang guru, maka oleh sebab itulah segala petunjuk yang diberikan oleh sang guru harus dituruti dan jangan dilupakan. Demikianlah cara orang tua pada jaman dahulu menuntun dan mendidik anaknya seperti dalam lembar 5b-9a lontar Putra Sasana berikut ini:
.........bila sudah diresapkan dan dimengerti ilmu
pengetahuan yang diperolehnya itu, akan membuat hati orang tua bangga dan bahagia. Apalagi tahu membedakan perbuatan baik dan buruk dan selalu melakukan pekerjaan yang utama, semuanya itu adalah berkat pendidikan sang guru.

Anakku dengarkanlah nasehat yang baik-baik. Pelajarilah ilmu pengetahuan sebanyak mungkin dan jangan sekali memikirkan harta kekayaan bersifat sementara. Kalau anak memikirkan harta milik pasti akan menemui kesukaran di dalam dunia ini. Bayangkanlah, anak seorang Pendeta terpuji oleh semua umat, karena keutamaan ilmu pengetahuannya, begitu pula yang dikagumi oleh orang cerdik, pandai, juga ilmu

Fungsi dan Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lontar | 167

pengetahuan, maka oleh sebab itulah kuasailah ilmu pengetahuan (sastra) di dunia ini sebagai bekal dan nantinya akan bisa memberikan kehidupan yang layak. Keagungan ilmu pengetahuan yang harus diutamakan dan dipikirkan, dibandingkan dengan memikirkan harta kekayaan. O rang yang memikirkan harta tidak lain bedanya seperti memelihara perbuatan jahat yang nantinya jatuh kelembah penderitaan. Perbuatan baik jangan dicampuri dengan perbuatan tidak baik. Jika menginginkan kebahagiaan agar hati-hati berbuat, buang perbuatan yang tidak berguna dan pelajari semua perbuatan yang benar. Ya anakku dengarkanlah beberapa contoh di bawah ini.

  1. Ada seorang anak yang bodoh tetapi ayahnya seorang yang berilmu.
  2. Seorang anak yang pandai, tetapi ayahnya orang yang bodoh.
  3. Ada lagi anak yang bodoh sekali, karena ayahnya juga menjadi orang yang bodoh.
  4. Lain dengan anak yang pandai, itupun karena ayahnya juga seorang yang berilmu. Menjadi seorang anak, keempat contoh di atas harus
    diingat dan pikirkan baik-baik di dalam hati, yang mana harus dipilih dan dituruti. Diantaranya baris nomor dua dengan nomor empat bisa dijadikan pedoman hidup dan kalu bisa itulah yang harus dituruti. Bila seorang ayah mengharapkan kebahagiaan demi kebahagiaan

keluarganya pasti akan tercapai. Demikianlah anugrah Sanghyang Aji Saraswati, kepada ayah dan sekarang limpahkan pada anak agar dapat dijadikan pegangan. Seorang anak pada saat dikandung oleh si ibu, betapa pedihnya sakit itu dirasakan. Makin lama anak itu di dalam rahim ibu, makin bertambah pulalah sakitnya. Apalagi saat-saat menjelang lahir, si ibu semakin tersiksa hidupnya. Akan tetapi setelah anak besar dan pandai tidak bisa memikirkan dan merasakan kebodohan ibu, itu perbuatan yang durhaka namanya. Tak ubahnya seperti kotoran, anak itu yang membuat sakit hati orang tua. L ain dari itu bila seorang anak mendengarkan nasehat orang tua akan tetapi tidak melaksanakan karena tidak mengerti apa yang diberikan oleh bapaknya, nasehat orang tua tidak ada gunanya. Begitu pula halnya menjadi anak yang pandai, kalau tidak mau mempelajari ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya semuanya akan tidak berhasil. Tidak lain bedanya seperti pohon kayu yang tumbuh dikuburan, senantiasa hidupnya dilingkupi oleh suasana yang kotor, itupun karena bodohnya berbuat. Maka oleh sebab itulah segala petunjuk dan nasehat-nasehat orang tua harus dituruti dan dipelajari. Kalau sudah mengerti adanya, kemudian dilaksanakan perintah yang diberikan oleh orang tua. Pada akhirnya membuat hati senang karena sesuatu pengetahuan dijumpai pada waktu melaksanakan tugas atau pekerjaan dari ayah. Jelas sekali tampak konsep sesuai yang digambarkan dari orientasi nilai budaya orang Bali. Perilaku anak-anak terhadap orang tua mereka, demikian pula apa yang kita

Fungsi dan Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lontar | 169

dapat petik dari sumber naskah kuno-lontar tersebut di atas. Keseluruhan orientasi nilai budaya ini dituangkan melalui sebutan manuting darmaning putra sesana. Disamping hubungan timbal balik antara orang tua dengan anak, juga didasarkan atas konsep utang. Hubungan antara orang tua dengan anak disebut hubungan gumawe sukaning wang atuhu. Jika yang bersemayam dalam diri orang tua adalah tunggal dengan jiwa yang bersemayam pada diri anak. Dalam hidup sehari-hari, hal ini terwujud dalam sor singgih basa (etik penggunaan bahasa). O rang tua mengharapkan anaknya supaya terbiasa menggunakan bahasa yang baik terhadap orang tuanya, juga terhadap orang lain serta dalam penggunaan tangan dalam menunjuk sesuatu, atau mengambil sesuatu, anak tidak boleh menggunakan tangan kiri. Dalam pola hidup sehari-hari orang tua sering melarang anaknya untuk melakukan tindakan sebagai berikut :

1) melarang anaknya untuk menduduki bantal karena bantal itu adalah suci, 2) melarang anaknya bersandar di tiang rumah karena badan bisa panjang, 3) melarang anak menduduki lesung (lumpang) karena lesung alat pengolah makanan, 4) melarang anak menyisihkan makanan, hal ini berarti kurang efektif, 5) melarang anak bermain di depan pintu ketika subuh karena akan mengundang para buta kala, 6) melarang anak mengencingi api karena api simbol kesucian, 7) melarang anak mengganggu anjing yang sedang bersenggama karena anjing dalam keadaan seperti itu birahinya buas, 8) melarang anak membunuh

serangga, hal ini berarti mendidik anak untuk mencintai lingkungan hidup, 9) melarang anak memegang kepala orang tua karena memegang kepala tidak etik kelihatannya, 10) melarang anak memukul benda yang mengeluarkan suara keras pada malam hari karena akan mengganggu orang tidur, 11) melarang anak mengejek orang cacat, hal ini mengajarkan anak untuk mengerti penderitaan orang lain, 12) melarang anak menatap muka/mata terhadap yang lebih tua di saat berbicara, 13) anak-anak di Bali diharapkan sekali agar menghormati yang disebut dengan Tri Sinaggeh Guru yaitu guru rupaka, (ayah dan ibu), guru pengajian (guru ilmu pengetahuan), dan guru wisesa (pemerintah). Dan banyak lagi larangan ataupun harapan yang diingini oleh orang tua. Khusus dalam proses pendidikan di sekolah orang tua sering menasehati anak-anaknya agar memahami ajaran yang disebut dengan Panca Siskaning Angaji (lima pedoman belajar) sebagai pedoman untuk mencapai keberhasilan dalam proses belajar. Panca Siskaning Angaji yang dimaksud dalam proses belajar pada masyarakat Bali meliputi: 1) Guru. Bila seorang ayah ataupun guru akan mengajarkan ajaran kebenaran kepada seorang anak, pertama-tama yang perlu ditanamkan adalah kepercayaan dan keyakinan akan apa yang dipelajari. 2) Teleb. Maksudnya rajin dan bersungguh-sungguh, 3) Inget. Senantiasa menghafal dan mengingat segala sesuatu yang dipelajari, 4) Wiweka. Memiliki kemampuan dan usaha (kreatif), 5) Laksana. Berusaha berbuat sesuai dengan petunjuk ayah ataupun guru.

Fungsi dan Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lontar | 171

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa ajaran Putra Sesana di Bali tidaklah jauh berbeda dengan cita-cita Idola Citra Anak Indonesia yaitu: anak yang imam dan taqwa, berbudi pekerti luhur, sehat jasmani dan rohani dan berada dalam lingkungan sosial yang sehat dan demokratis. Memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensinya menjadi pribadi yang berkualitas, mampu bertanggung jawab dan dapat memenuhi serta melaksanakan hak dan kewajiban sebagai warga Negara Indonesia yang militan, patriotik dan memiliki jiwa kejuangan selaku Pengamal dan Pengawal Pancasila yang mempunyai keselarasan, keserasian dan keseimbangan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat, dan lingkungan alam, serta siap menghadapi tantangan dan tuntutan perkembangan zaman.

5.6 Nilai Tatwa K eesaan Siwa Siddhanta Dalam Lontar Bhuana K osa

Dalam agama Hindu, ilmu yang mempelajari tentang Tuhan dinamakan Brahma Vidya atau Brahma Jnana. Brahma diartikan Tuhan, yaitu gelar yang diberikan kepada Tuhan sebagai unsur yang memberikan kehidupan pada semua ciptaan-Nya Yang Maha Esa. Vidya atau Jnana artinya ilmu. Tatwa artinya hakekat tentang Tat atau “itu”, yaitu Tuhan dalam bentuk Nirguna Brahman. Ilmu tentang keberadaan Tuhan terdapat pada L ontar Bhuana Kosa. L ontar Bhuana Kosa tergolong lontar yang mengandung nilai filsafat ***Keesaan Tuhanatau tutur yang bercorak

Siwaistik. Topik-topik yang terdapat dalam Lontar Bhunana Kosa antara lain: 1) menjelaskan rahasia Tuhan Yang Maha Esa, yang disebut sebagai Siva yang bersemayam dalam hati yang hanya dapat dilihat oleh seorang Yogisvara, 2) menjelaskan rahasia Tuhan Yang Maha Esa yang Nirguna,

3) menjelaskan rahasia Tuhan Yang Maha Esa sebagai Sang Hyang Rudra yang bersatu dengan Sanghyang Siva,
4) menjelaskan rahasia Tuhan Yang Maha Esa unsur jagat raya dari yang halus (Panca Tan Mantra) dan yang lebih kasar (Panca Maha Bhuta), Bhudin Manas, Ahamkara dan Tri Guna. 5) menjelaskan rahasia Tuhan Yang Maha Esa tentang alam Kaivalya, Jagrapada, Supta, dan Svapana, serta perjalanan roh meninggalkan badan menuju alam yang murni yang menjadi tujuan para pandita. 6) menjelaskan tentang pengetahuan Jnana Siddhanta yang menyatakan seorang Pandita hendaknya memahami Siddhanta. 7) menjelaskan tentang mantra abu suci manifestasi-Nya yang utama, yakni Brahma, Visnu, Siva, dan aksara yang berkaitan dengan Dewa-Dewa serta posisinya dalam tubuh manusia. 8) menjelaskan tentang pahala penyucian diri. 9) menjelaskan tentang Mudra (sikap tangan) dan Arcana (tata cara pemujaan). 10) menjelaskan bagaimana seorang Pandita menghadapi kematian sehingga menuju Sang Hyang Siwa mulai lepas Atma melalui ubun-ubun (sivadwara). 11) menjelaskan aksara suci perwujudan Tuhan Yang Maha Esa dan prosesnya menjadi aksara dalam alam semesta serta tubuh manusia, kemudian dari berbagai aksara kembali kepada asalnya.

Fungsi dan Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lontar | 173

5.7 Nilai Tatwa Toleransi Beragama Dalam Lontar Siwasiddhanta

Mayoritas masyarakat Bali memeluk agama Hindu, secara singkat dapat dijelaskan bahwa agama Hindu atau Hinduisme yang berkembang di Bali hampir sama dengan Hinduisme yang pernah mengakar kuat di Pulau Jawa dan merupakan salah satu sekte agama Hindu yang memiliki kedudukan penting yang muncul di India sebelum tahun 500 M. Dalam penelusuran menemukan bahwa sekte yang mempengaruhi perkembangan agama Hindu di Bali dan Jawa dikenal dengan nama Saivasiddhanta yang sangat merepresentasikan ajaran Siva (Siwa). Ajaran Saivasiddhanta yang berkembang di Bali dibukukan dalam sebuah kitab yang ditulis dalam enam puluh empat lembar daun lontar dengan huruf Bali dan diberi nama Lontar Jnanasiddhanta, nama ini diambil dari bagian akhir naskah yang berbunyi (1) Iti Jnanasiddhanta-sastram prathamah patalah**,* (2) *Iti Bhasmamantra-sakala*** vidhi-sastram dvitiyah patalah, (3) Iti Jnanasamksepa- nama sastram trtiyah. Naskah ini merupakan salah satu naskah penting yang menjadi sumber pengetahuan dalam memahami diri dan realitas. Isi dalam naskah ini menunjukkan ada sebuah toleransi yang tinggi antara ajaran Siwa (Siva) dan Buddha yang memang telah mengakar kuat dalam perkembangan peradaban di Nusantara khususnya peradaban yang ada di Jawa dan Bali. Hal tersebut dibuktikan melalui kutipan Kakawin Sutasoma karya penyair istana Majapahit, Mpu Tantular:

Nahan hetu Bhatara Buddha kahidep putraprameyeng jagat/ Sang Hyang Advaya rama tattva nira san panditanhayvani// Prajnaparamitebu tan sah I sedeng ning yoga sanusmrti/ tan ragodaya bhinna rakva kalavan Hyang Durmukhan at- maja.

Pada masa kejayaannya, Majapahit adalah sebuah kerajaan Hindu terbesar yang pernah hampir menguasai seluruh wilayah di Nusantara, namun dalam kutipan Kakawin Sutasoma di atas menjelaskan bahwa telah terjadi sebuah toleransi dan juga komparasi antara ajaran Siwa dan Buddha pada masa itu. Dalam kutipan di atas menjelaskan bahwa Adwaya dianggap sebagai ayah, Buddha sebagai putra, sedangkan Prajnaparamitha sebagai ibu. L ebih lanjut “toleransi” yang menjelaskan bahwa gejala pertautan antara ajaran Siwa dan Buddha di Indonesia khususnya di Pulau Jawa dan Bali, bukanlah sebuah fenomena sinkretisme. Dia menjelaskan bahwa gejala tersebut merupakan sebuah bentuk “koalisi” yang terjadi antara keduanya. Maksudnya ada sebuah titik temu antara keduanya yang dijadikan sebagai dasar integrasi antara umat Hindu Siwa dan Buddha yang hidup berdampingan saat itu. Jnanasiddhanta mempergunakan istilah-istilah yang menggambarkan menampilkan bagian-bagian yang sama dengan teks-teks Buddha, selain itu di dalamnya juga menampilkan bagian-bagian yang sama dengan teks-teks Buddha. Dalam teks yang lain seperti dalam Kunjarakarna ditemukan bahwa

Fungsi dan Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lontar | 175

bahwa kelima Tathagata dari agama Buddha disamakan dengan kelima manifestasi Siwa, hal serupa terjadi juga dalam teks Arjunavijaya. Kalimat yang terdapat dalam Kunjarakarna yang sering dikutip adalah “Kami Siva, kami Buddha”, prinsip tertinggi tersebut menyamakan diri baik dengan Siwa maupun dengan Buddha. Ini sejalan dengan kenyataan bahwa Raja Kertanegara dari tanah Jawa dikebumikan dengan nama Siwa Buddha. Raja sebagai prinsip tertinggi bagi negaranya, secara logis disamakan dengan prinsip-prinsip tertinggi dari agama-agama yang terdapat dalam negaranya. Hal ini menarik karena pada awal sejarahnya Buddhisme lahir di India sebagai bentuk kritik terhadap kesan personal yang digunakan untuk menggambarkan pancaran-pancaran Tuhan yang pribadi dan diberlakukannya sistem kasta dalam Hinduisme, namun yang di Nusantara, antara ajaran Siwa dan Buddha justru tumbuh dan hidup bersama secara berdampingan.

5.7 Nilai Moral Dalam Lontar Nitipraya

Etika itu dinamakan ”susila”. Kata susila berasal dari dua suku kata yakni su dan sila. Su artinya baik dan sila berarti kebiasaan atau tingkah laku perbuatan manusia yang baik, (Suhardana, 2007:2). Dalam konsep Agama Hindu, etika merupakan suatu ilmu yang mendalami tentang tata nilai, tentang baik dan buruk suatu perbuatan, dan segala hal yang harus dikerjakan atau harus dihindari. Dalam etika juga dibahas mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan moral.

Moral sangat berkaitan erat dengan karakter dari sesorang, sebab melalui karakter akan terlihat pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral yang dimiliki seseorang. Karakter yang baik akan tercermin dari pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, serta aplikasinya dalam berbuat kebaikan, atau kebiasaan pikiran, kebiasaan perasaan dalam hati, dan kebiasaan berperilaku yang baik. Ketiga hal inilah yang menentukan kehidupan bermoral seseorang. Dalam ajaran Hindu moral selalu menghendaki keharmonisan dan kebahagiaan lahir bathin yang diperoleh berdasarkan perbuatan yang baik serta budi yang mulia, dalam kitab Sarasamuscaya disebutkan sebagai berikut: Ri sakwehning sarwa bhūta, iking janma wwang juga wenang gumayakenikang śubhāśubhakarma, kuneng panentas akena ring śubhakarma juga ikang aśubharama phalaning dadi wwang. (Sarasamuscaya, 2).

Terjemahan: Dari demikian banyaknya makhluk yang hidupnya dilahirkan sebagai manusia itu saja yang dapat berbuat perbuatan baik buruk itu; adapun untuk peleburan buruk ke dalam perbuatan yang baik juga manfaatnya jadi manusia, (Pudja, 1980:10-11).

Berdasarkan sloka di atas dapat disimpulkan bahwa keutamaan hidup dan dilahirkan menjadi manusia karena dapat memperbaiki karma wesana yang buruk dengan melakukan perbuatan baik sehingga manusia dapat mencapai kelepasan dari ikatan duniawi. U ntuk

Fungsi dan Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lontar | 177

itu sangat penting dalam membentuk moral dan karakter yang baik bagi generasi muda Hindu agar dapat mencapai tujuan dari agama Hindu itu sendiri. Dalam mengasah kemampuan dari pengetahuan moral maka diperlukan proses pembelajaran baik melalui petuah hidup dari orang tua maupun dari teks, buku dan karya sastra lainnya. Dalam lontar Nitipraya juga memuat petuah hidup yang bisa dijadikan sebagai sumber pendidikan moral. Adapun pendidikan moral dari cerita tersebut adalah pertama diajarkan bahwa seorang harus meniru prilaku gagak yakni: a) Seorang pemimpin harus bisa bersuara menakutkan atau keras pada bawahannya layaknya burung gagak yang bersuara keras sebagai peringatan akan adanya suatu kematian. b) Memperhatikan orang lain dengan seksama ketika sedang berbicara satu sama lainnya. c) Tidak melakukan dosa kepada siapa saja termasuk keluarga. d) Pemimpin tidak menghukum dan membunuh secara sembarangan apalagi kepada orang yang tidak bersalah. e) Memahami Tri Bhujangga, yaitu tiga dosa yang dilakukan seseorang dan memberikan hukuman sesuai dengan dosa yang dilakukannya.

f) Apabila menjadi seorang pemimpin hendaknya memperhatikan kondisi bawahanya. g) Melakukan dana punia kepada pihak-pihak yang memerlukan. h) Tidak mengurangi hak pasukan/bawahan dan rakyatnya i) Tidak suka berkelahi, tidak bermain wanita, dan tidak berhati jahat. j) Bisa menghargai kelebihan orang dan k) Mau memperhatikan kaum brahmana atau pendeta. Kedua adalah prilaku ayam yang dapat dijadikan pedoman

antara lain: kepemimpinan model ayam jantan. Adapun tingkah laku ayam jantan yang perlu ditiru oleh seorang pemimpin adalah sebagai berikut. 1) memiliki kesadaran tentang waktu (baik dan tidak baik) untuk mengatur bawahan, dan keluarga dan masyarakat. 2) Bijaksana dalam melakukan suatu percintaan. 3) Tidak takut dengan istri sama halnya ketika menghadapi seorang penjahat.

4) Tidak takut kepada lawan meskipun lebih kuat. 5) Tidak tanggung-tanggung dalam mengatur siasat perang maupun politik. Model kepemimpinan yang meniru sifat dan perilaku binatang sangat mirip dengan model kepemimpinan yang tertuang dalam kitab-kitab Tantri dari India. Kitab-kitab Tantri banyak bercerita tentang binatang yang dapat berkomunikasi dengan manusia. Hal ini bisa dipahami bila dikaitkan dengan keyakinan umat Hindu bahwa binatang itu merupakan jelmaan manusia yang mengalami samsara karena karma dari perbuatannya yang buruk. Ajaran moral lainnya yang disampaikan bahwa umat manusia hendaknya selalu melakukan yajna atau persembahan kehadapan guru maupun Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

B AB VI

Ke si mp ulan

6.1 K esimpulan

  1. Dilihat dari sejarah keberadaan manuskrip lontar di Bali, bahwa tahun 1343 terjadi ekspedisi Majapahit melawan Bali yang mengakibatkan kekalahan raja utama, sehingga kerajaan harus tunduk kepada Majapahit, dapat memastikan bahwa semenjak Erlangga duduk menjadi raja, Bali makin dipengaruhi oleh Jawa karena Pulau Bali sudah menjadi bagian dari Majapahit. Bangsa Jawa mendirikan keraton di Samprangan. Kemudian keraton ini dipindahkan ke-Gelgel, bagi peserta ekspedisi dari Jawa turut menetap di Bali pula. Sejak itu pula keraton-keraton di Bali mengalami proses “Jawanisasi” termasuk kesusastraannya (Jawa Kuno) secara sistematis sudah merupakan bagian dari masyarakat Bali. O rang Brahmin (suci) dari Jawa sambil membawa ajaran kesusastraannya dan praktik keagamaan menetap di Bali. Berkembangnya aliran-aliran tersebut maka terjadilah proses “Jawanisasi” terhadap masyarakat, kebudayaan Bali dan karya-karya sastranya melalui kontak dengan kalangan keraton dan peraturan-

peraturan administrasi dan sisi lain meningkatnya proses “Balinisasi” di kalangan keraton, ketika pengaruh Jawa makin pudar sampai segala hubungan terputus yang melahirkan keanekaan bentuk kebudayaan Bali sampai sekarang**.**

  1. Keberadaannya Manuskrip lontar di Bali telah dicatatkan oleh lembaga-lembaga formal seperti UPT L ontar Universitas Udayana, Gedong Kirtya Singaraja, Museum Negeri Provinsi Bali, Pusat Dokumentasi Budaya Bali, Balai Bahasa Provinsi Bali, Perpustakaan Universitas Dwijendra Denpasar, dan Hasil Pencatatan Penyuluh Bahasa Bali Provinsi Bali yang digagas mulai tahun 2016, dan L embaga Swasta seperti Museum Pustaka L ontar Desa Adat Dukuh Penaban Karangasem.
  2. Manuskrip Lontar di Bali sebagai salah satu karya budaya Bali, yang diklasifikasikan dalam beberapa jenis seperti: L ontar Tutur, L ontar Kakawin, L ontar Usada, L ontar Kidung, L ontar Geguritan atau peparikan, L ontar Wariga, L ontar Parwa, L ontar kanda, L ontar babad/usana/uwug, L ontar renceankini masih tetap dipelajari, dihayati dan dilestarikan keberadaannya. L ontar kakawin yang menjadi paling trend yang masih dibaca atau ditembangkan oleh masyarakat Bali dalam bentuk seni makekawin dan mabebasan terutama kaitannya dengan pelaksanaan upacara Panca Yadnya seperti: Dewa Yadnya (persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa), Manusa Yadnya (upacara daur hidup), Rsi Yadnya (upacara persembahan dan penobatan

Kesimpulan | 181

para Rsi), Pitra Yadnya (Persembahan kepada para leluhur) Bhuta Yadnya (upacara penetralisir terhadap roh-roh yang dapat mengganggu kehidupan manusia), senantiasa pelaksanaannya tidak lepas dari pembacaan teks-teks kakawin.

  1. Manuskrip/lontar sebagai karya sastra yang adiluhung dan religius di dalamnya banyak tercermin nilai-nilai budaya seperti nilai pendidikan etika, nilai moral, nilai toleransi, nilai keesaan, dan nilai-nilai lainnya yang patut diteladani, dipedomani sebagai pegangan hidup lahir dan batin.

    6.2 Saran

  2. Manuskrip lontar sebagai karya budaya masyarakat Bali khususnya dan bangsa Indonesia umumnya perlu mendapat perhatian khususnya dari praktisi, pemangku kepentingan, serta pihak pemerintah agar karya budaya ini dapat dipertahankan keberadaannya.

  3. Pemerintah daerah sedini mungkin mendaftarkan karya budaya ini kepada pemerintah pusat agar karya budaya ini dapat diakui sebagai karya budaya nasional.

182 | MANUSKRIP LONTAR DI PROVINSI BALI

Da ftar Pustaka

Agastia, Ida Bagus Gede. 1982. Masalah Penelitian Sastra Bali Klasik. Makalah disampaikan dalam acara BKF S ke-24 F akultas Sastra U nud. Astra, I G. (1981). Sekilas tentang Perkembangan Aksara Bali dalam Prasasti. Fakultas Sastra Iniversitas Udayana Denpasar (in press). Bagus. IGN. Aksara Dalam Kebudayaan Bali. Denpasar: F akultas Sastra U nud. Budisantoso, 1991. TO R Penulisan dan Pengkajian Naskah Kuno. Jakarta: Ditjarahnitra. Ginarsa, Ketut. 1976. The Lontar (Palmyra) Palm. Singaraja: The Author. Mardiwarsito, L. 1981. Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Ende F lores: Nusa Indah. Nuarca, Purna. 1990. Tutur Janantaka. Jakarta: Depdikbud Pastika, I Wayan. 2015. Inventarisasi Lontar Masyarakat Gianyar. Gianyar: Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar. Pendit, S. 1991. Nyepi Kebangkitan Toleransi dan Kerukunan. Penerbit: Gramedia Pustaka U tama. Punyatmaja. 1986. Panca Srada. Denpasar: Parisada Hindu Dharma.

Proposal Pengkodean Aksara Bali dalam U CS: http://std. dkuug.dk/jtc1/sc2/WG2/ docs/n2908.pdf. Rai Putra, Ida Bagus. 2010. Lontar: Manuskrip Perekam Jagat Pemikiran Masyarakat Bali. Denpasar: Makalah Worshop Pemanfaatan dan Pelestarian Manuskrip L ontar Awig-Awig Di Asia, Kerja sama Fakultas Sastra Universitas Tohoku Jepang dan F akultas Sastra U niversitas U dayana. Raka, I Nyoman. 1987/1988. Analisa dan Kajian Geguritan Salampah Laku (Editor Prof. Dr. I gusti Ngurah Bagus). Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara Depdikbud. Sudharta, Cok Rai. 1993. Nasihat Sri Rama Sampai Masa Kini. Denpasar: U pada Sastra. Sukarta, Mayun, Rupa. 1993/1994. Peranan Mabebasan Dalam menyebarluaskan Nilai-Nilai Budaya Bali. Jakarta: Depdikbud. Sukersa. 2016. Cara Pembuatan Blangko Lontar dan Kiat-Kiat Merawat Naskah Lontar. Dalam Prabhajnana. Denpasar: Pustaka Larasan. Suandra, I Made. 1972. Dharma Caruban (tuntunan Ngebat). Denpasar: CV. Kayumas. Suarka I Nyoman, dkk. 2018 Prabhajnana. Denpasar: U PT Lontar U niversitas U dayana. Suarka, I Nyoman. 2016. PIP Kebudayaan, Naskah L ontar dan Fakultas Sastra: Relevansi dan Sistem Pendidikan U nggul Berbasis Kebudayaan. Dalam

Daftar Pustaka | 185

Prabhajnana (Kajian Pustaka Lontar Universitas Udayana). Penerbit Larasan bekerja sama dengan U niversitas U dayana. Suastika, I Made. 1984. Kesinambungan Karya Sastra Jawa Kuna Dalam Penulisan Karya Sastra Bali. Dalam Majalah Widya Pustaka Tahun 1, Nomor 3 bulan F ebruari 1984. Suata, I Gede. 1991. “Lontar Sebagai Candi Pustaka”, dalam Warta Hindu Dharma. No.294, November

1991.
Tim F akultas Sastra. 1983. Katalog Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana. Denpasar: F akultas Sastra U niversitas U dayana. Tuuk, Hermanus Neubronner van der. & Brandes, Jan Laurens Andries. & Rinkes, D. A. (1897). Kawi- balineesch-nederlandsch woordenboek,. Batavia: Landsdrukkerij.

186 | MANUSKRIP LONTAR DI PROVINSI BALI

DAF TAR INFO RM AN

  1. Nama : Dr. Drs. Ida Bagus Rai
    Putra, M.Hum. Tempat tgl. lahir/umur : Tahun 1963 Pendidikan : S3 Agama : Hindu
Jabatan : Dosen F IB U nud/
Ketua UPT L ontar UNUD
Alamat : Jalan Nias 13 Denpasar
2. Nama : I Dewa Gede Catra
Tempat tgl. lahir/umur : Sidemen, 31 Desember 1937
Pendidikan : SPG
Agama : Hindu
Jabatan : Penulis, peng-alih aksara, dan penterjemah L
Alamat : Jalan Untung Surapati Gg. F Amlapura, Bali. lamboyan No. 2,
3. Nama : I Nyoman Suarya
Tempat tgl. lahir/umur : Penaban, tahun 1970
Pendidikan : S1
Agama : Hindu

ontar

Jabatan : Bendesa Adat Dukuh

Penaban/Pengelola Museum
Lontar Dukuh Penaban.
Alamat : Dukuh Penaban, Kecamatan dan Kab. Karangasem.
4. Nama : Putu Gede Wiriasa
Tempat tgl. lahir/umur : 31 Desember 1960
Pendidikan : S1
Agama : Hindu
Jabatan : Praktisi mabebasan
Alamat : Jalan Srikandi 11 Gang L Singaraja Bali
5. Nama : I Ketut Djaraken
Tempat tgl. lahir/umur : 31 Desember 1957
Pendidikan : PGA Negeri Singaraja
Agama : Hindu
Jabatan : Budayawan
Alamat : Br Dinas Satria Bungkulan, Singaraja
6. Nama : I Nengah Alit
Tempat tgl. lahir/umur : 31 Desember 1950
Pendidikan : SMP
Agama : Hindu
Jabatan : Seniman Sastra

eli

(Pelantun dan penterjemah dalam mabebasan).

DAFTAR INFORMAN | 189

Alamat : Br Dinas Pesangkan, Duda Timur, Kec. Selat, Kab. Karangasem.

  1. Nama : Drs. I Made Sudiarba Tempat tgl. lahir/umur : Tahun 1962 Pendidikan : S1 Jabatan : Plt. Kadis Kebudayaan Agama : Hindu Alamat : Br. Tista, Busung Biu,
Buleleng
8. Nama : Gede Yunarta
Tempat tgl. lahir/umur : Buleleng, 13 Juni 1965
Pendidikan : SMA
Agama : Hindu
Jabatan : Seniman/budayawan
Alamat : Desa Sudaji, Kec. Sawan, Kab Buleleng
9. Nama : Putu Suarsana
Tempat tgl. lahir/umur : 29 September 1968
Pendidikan : S1
Agama : Hindu
Jabatan : Konservasi L Kirtya
Alamat : Jalan Banyuasri No.4c

ontar Gedong

Singaraja

10. Nama : Ida Komang Arsana,S.Pd
Tempat tgl. lahir/umur : Banjar, 10-12-1988
Pendidikan : SL TA
Agama : Hindu
Jabatan : Pemerhati L
Alamat : Banjar Lebah, Kec. Banjar,

ontar

Kab.

INVENTARISASI KARYA BUDAYA

MANUSKRIP LONTAR DI PROVINSI BALI

anuskrip lontar merupakan dokumentasi budaya masa

lampau. Karena saking kelampauannya tidak

Mmengherankan manuskrip dijadikan wadah sebagai Candi

Pustaka. Karena memuat hampir semua kebutuhan hidup sebagai manusia berbudaya masyarakat Bali. Dengan kata lain manuskrip merupakan karya budaya yang sangat bernilai. Bagi kehidupan masyarakat Bali manuskrip lontar di dalamnya banyak terkandung tentang mantra, keagamaan, pengetahuan tentang astronomi dan astrologi (wariga), pengobatan tradisional (usada), prosa, kakawin, kidung, sejarah, cerita-cerita, dan lain-İain. Manuskrip lontar menjadí bukti tentang budaya menulis sastra di Bali telah terjadi sejak dahulu kala. Haǐ ini dipěrtegas lagi oleh Guru Besar Ántropólogi, Budisantoso dari Universitas Indonesia yang menyebutkan bahwa didalam naskah kuna (manuskrip) terdapat media transpormasi pewarisan nilai-nilai, pranata-pránata sosial, pengetahuan, adat, kebiasaan ataupun norma-norma sosial seċara berkesinambungan.

ISBN: 978-602-356-336-4

KEPEL

Penerbit Kepel Press Puri Arsita A-6 JI. Kalimantan, Ringroad Utara, Yogyakarta Telepon: 0274-884500, 081-227-10912 e-mail: [email protected] @Penerbitamara911786023115633641 BPNB Bali