Naskah Melayu Naskah Melayu Kepulauan Riau Kepulauan Riau
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYYAAN AAN DIREKT DIREKTORA ORATT JENDERAL JENDERAL KEBUDA KEBUDAYYAAN AAN BALAI PELEST BALAI PELESTARIAN NILAI BUDA ARIAN NILAI BUDAYYAA KEPULAUAN RIAU KEPULAUAN RIAU Wilayah Kerja: Provinsi Kepulauan Riau, Riau, Wilayah Kerja: Provinsi Kepulauan Riau, Riau, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung Jambi, Kepulauan Bangka Belitung
Naskah Melayu Kepulauan Riau
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN BALAI PELESTARIAN NILAI BUDAYA KEPULAUAN RIAU Wilayah Kerja: Provinsi Kepulauan Riau, Riau, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung
Naskah Melayu Kepulauan Riau
Pengarah Kepala BPNB Kepulauan Riau
Penyusun Jauhar Mubarok
Foto Hasbi Muhammad dan Rangga Permana
Diterbitkan:
Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau Wilayah Kerja: Kepulauan Riau, Riau, Jambi, dan Kepulauan Bangka Belitung Jl. Pramuka 7 Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau Telp: 0771-22753 Posel: [email protected], [email protected] Laman: kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbkepri IG: @bpnbkepri, Youtube: BPNB Kepulauan Riau
Hakcipta bpnbkepri @ 2020
Kata pengantar
Alhamdulillah. Rasa syukur yang teramat sangat kami haturkan kepada Allah Swt yang telah melimpahkan kesehatan kepada kita di tengah sebagian orang bertahan hidup di masa pandemi Covid-19, baik secara kesehatan maupun ekonomi. Semoga kita mampu melewatinya, tanpa rasa sombong dan tinggi hati, hingga virus ini lenyap dan kita semakin kuat dan sehat. Buklet ini merupakan bagian dari kegiatan perekaman Naskah Melayu Kepulauan Riau, yang proses pengambilan gambarnya dilakukan di Kabupaten Lingga dan Tanjungpinang, dengan lebih menitikberatkan terkait dengan naskah Melayu di Lingga, tanpa mengenyampingkan Tanjungpinang. Sebagaimana diketahui Lingga pernah menjadi ibukota Kesultanan Melayu, tidak sedikit yang menyebutnya sebagai imperium karena wilayah kuasanya yang luas. Keberadaan kesultanan tersebut telah menyumbangkan peradaban yang sangat besar, salah satunya tradisi tulis-menulis, baik di lingkungan
zuriat istana maupun warga biasa. Banyak naskah Melayu dihasilkan pada masa kuasanya masih tegak berdiri. Huruf yang dalam penulisannya adalah huruf Arab-Melayu atau Jawi. Tradisi tulis-menulis ini berjalan beriringan dengan tradisi lisan di kepulauan riau. Keduanya saling melengkapi dan menguatkan; banyak naskah Melayu yang berangkat dari tradisi lisan, pun sebaliknya. Buklet ini disusun secara sederhana dan ringkas. Kami mohon maaf bila tidak bisa memasukkan semua informasi terkait tradisi tulis naskah Melayu, baik di buklet ini maupun film dokumenternya. Semoga buklet yang tipis dan film dokummenter dapat turut menyumbangkan tambahan informasi tentang naskah Melayu. Masih banyak kekurangan dan tidak menutup kemungkinan kesalahan atau kekeliruan, baik yang dilakukan secara sengaja atau tidak, saya mohon kelapangan dadanya. Saya mohon maaf secara tulus.
Tanjungpinang, Oktober 2020
Penyusun
Naskah Melayu Kepulauan Riau
Kepulauan Riau pernah menjadi salah satu kawasan pusat peradaban Melayu. Di Negeri Segantang Lada ini pernah berdiri Kesultanan Melayu yang cukup memberikan pengaruh di kawasan sekitarnya. Sungai Carang atau Hulu Riau, Daik-Lingga, dan Pulau Penyengat merupakan tiga lokasi di mana pusat keramaian dan peradaban dibangun. Ketiga lokasi tersebut dibangun dengan berbagai pertimbangan narasi antara politik, sosial, budaya. Daik-Lingga untuk menggantikan Sungai Carang yang mendapatkan gangguan-gangguan dari para penjajah. Sementara, Pulau Penyengat selain sebagai hadiah untuk Engku Putri juga menjadi pusat pemerintahan bagi Yang Dipertuan Muda. Kesultanan Melayu di kepulauan r i a u
merupakan kelanjutan dari kesultanan sebelumnya yang berdiri di Malaka dan Johor. Perpindahan tersebut sebagai strategi untuk mempertahankan eksistensi kesultanan dari gangguan dan serangan dari para penjajah Eropa yang datang hendak menguasai nusantara. Namun, lambat-laun perpindahan pusat kuasa tersebut berdampak pada wilayah kekuasaannya yang semakin menyempit. Dari Kesultanan Johor – Riau – Pahang hingga kemudian menjadi Kesultanan Riau-Lingga; nama kesultanan beriring dengan luas kuasa wilayahnya. Keberadaan sebuah pemerintahan sedikit-banyak memberikan dampak pada terciptanya peradaban, hal Naskah Melayu Kepulauan Riau
yang sama juga terjadi pada kepulauan riau sendiri, tapi tidak menutup-Kesultanan Melayu di kemungkinan di antara naskah-naskah Melayu Kepulauan Riau. Di antara tersebut ditulis atau dicetak oleh orang-orang di luar peradaban yang sangat wilayah kepulauan riau. Sangat mungkin. m e n c o l o k y a n g Pada masa Kesultanan Melayu berdiri di disumbangkan Kesultanan Kepulauan Riau beberapa zuriat kesultanan menekuni Melayu di kepulauan riau dunia tulis-menulis. Di antaranya adalah Raja Ahmad, adalah terkait dengan dunia Raja Haji Abdullah, Raja Ali Haji, Engku Haji Lah, literasi, yaitu tradisi tulis. Encik Jakfar bin Abu Bakar, Aisyah Sulaiman, Raja Bukti tradisi tulis itu dapat Ali Kelana, dan masih banyak lagi. Dari tangan-tangan dilihat dari keberadaan mereka lahir naskah-naskah Melayu yang masih naskah atau manuskrip dijumpai hingga saat ini. Dalam hal ini, kesultanan M elayu yang banyak terdapat di tangan-tangan warga setempat. Sebagian telah menjadi koleksi Museum Linggam Cahaya, Lingga dan sebagian yang lainnya dikumpulkan oleh kolektor dan pengkaji naskah Melayu. Selain itu tidak sedikit naskah Melayu yang berada di luar negeri; dikumpulkan dan ditulis ulang. Yang dimaksud naskah Melayu ini lebih mengarah pada naskah atau manuskrip yang ditulis dengan menggunakan huruf Arab-Melayu atau huruf Jawi. Naskah-naskah tersebut ditulis oleh para penulis di
Naskah Melayu Kepulauan Riau
MANUSKRIP
mempunyai peran yang besar terkait dengan keberadaan tradisi menulis naskah-naskah Melayu tersebut (Ming, 2003). Rusydiah Klub menjadi satu kumpulan di mana mereka membangun dan mengembangkan tradisi tulis tersebut. Meskipun demikian, terdapat beberapa penulis naskah Melayu yang berada di luar lingkar keluarga istana. Bilal Abu adalah contohnya. Bahkan beliau lebih dulu menulis berupa syair atau hikayat dibandingkan Raja Ahmad yang selama ini dipandang sebagai penulis mula syair atau hikayat (Aswandi, 2020). Naskah Melayu Kepulauan Riau
GRANT SAGU KEBUN SAGU
Rumah Cap Kerajaan atau Lingga Street Printing Office merupakan salah satu bukti lain terkait dengan keberadaan jembatan yang dibuat kesultanan untuk mencetak karya-karya para penulis. Rumah percetakan tersebut berdiri di Lingga yang diperkirakan berdiri pada 1850-an. Alat-alat percetakan Rumah Cap Kerajaan itu yang kemudian dibawa ke Pulau Penyengat untuk mendirikan Matba’ah Al Riawiyah dan Matba’ah Al Ahmadiah (Aswandi, 2020).
BLANGKO PANGGILAN MAHKAMAH Tengku Muhammad Saleh Tradisi menulis di Kepulauan Riau terus bergulir, meskipun kesultanan tidak berdiri lagi. salah satu penulis pasca periode kesultanan adalah Tengku Muhammad Saleh (1901-1966). Susur galur silsilah beliau bertautan dengan Sultan Mahmud Riayatsah, Sultan Johor-Riau-Lingga-Pahang (1761-1812) (Aswandi, 2018). Banyak karya naskah Melayu telah dihasilkan oleh tangannya.
Naskah-naskah yang dihasilkan diantaranya bertemakan agama, sejarah, tasawuf, dan sebagainya. Karya-karya beliau antara lain Tajwid Alfatihah, Nurussalah, Ringkasan Sejarah Melayu, Sifat 20, dan sebagainya. Untuk menulis naskah-naskah tersebut Tengku Muhammad Saleh yang pernah menuntut ilmu hingga ke Pulau Penyengat, Johor (Malaysia), dan Pattani (Thailand) ini membuat tintanya secara mandiri (Tengku Husien, 2020).
SURAT SULTAN Naskah Melayu Kepulauan Riau
Tema Naskah Melayu
Naskah-naskah Melayu yang terdapat di kepulauan riau mempunyai keragaman tema, dalam artian naskah-naskah tersebut tidak hanya bicara tentang ajaran agama Islam semata. Meskipun ditulis dengan menggunakan huruf Arab-Melayu. Naskah-naskah yang bertemakan ajaran agama Islam biasanya terkait dengan fiqh (hukum agama), filsafat, tasawuf, waris, tajwid (metode baca Alquran), ilmu falak (astronomi), tarikh (sejarah Islam), dan sebagainya. Naskah-naskah tersebut tidak lepas dari pengaruh Islam yang menjadi ‘agama resmi’ pada Kesultanan Melayu pada waktu itu. Banyak penulis yang berlatar belakang keilmuan agama menuliskan naskah-naskah Melayu dengan pokok bahasan itu.
Di luar tema agama, naskah-naskah yang sebagiannya kini terhimpun di Museum Linggam Cahaya Lingga, Yayasan Indrasakti Pulau Penyengat, dan para kolektor terdapat tema sejarah, pengobatan, gastronomi, kuliner, niaga, astronomi, sastra, sejarah, silsilah keluarga, pengobatan, kondisi sosial, buku harian, bahkan hingga tema hubungan intim. Keragaman tema naskah Melayu kepulauan riau menandakan bahwa para penulisnya mempunyai ilmu dan pengetahuan yang beragam pula. Dengan kata lain, pada masa itu sudah banyak penulis yang mempunyai pengetahuan-pengetahuan di luar keimuan agama. Dan juga ketertarikan masing- masing. Belum lagi naskah yang ditulis oleh pihak-pihak
Naskah Melayu Kepulauan Riau KEBUN SAGU LINGGA
kesultanan itu sendiri yang berupa surat-menyurat dengan kerajaan atau pemerintah lainnya maupun yang ditujukan kepada perorangan. Surat-surat keputusan mahkamah kerajaan lingga-riau juga masih ditemukan. Surat-surat di atas bersifat resmi dikeluarkan oleh lembaga, kesultanan. Di luar keduanya sangat mungkin tertdapat naskah-naskah lainnya, hanya saja belum diketemukan. Di antara naskah-naskah tersebut adalah Bustanul Katibin, Gurindam Dua Belas, Tajwid Alquran, Asal Ilmu Tabib, Jadwalal Awkat, Syair Nilam Permata, Kisah Seorang Tukang Kayu Yang Bijaksana, Syair Madi, Syair Perang Banjarmasin, Tanbih Al-Ma’mun adalah sedikit naskah-naskah Melayu yang ditemukan di kepulauan riau (Mu’jizah dan Rukmi, 1995). Menurut Aswandi (2020) ragamnya tema-tema tersebut menjadi kelebihan naskah-naskah Melayu di kepulauan riau. Hal yang sama mungkin tidak dijumpai pada naskah-naskah di daerah lainnya. Kondisi yang demikian ditengarai tidak lepas dari keberadaan kepulauan riau yang pernah menjadi bandar Kesultanan Melayu. Sebagai bandar Kesultanan Melayu kepulauan riau menjadi tempat pertemuan (melting pot) beragam pendatang dari berbagai latar belakang; pedagang, juru dakwah, pelancong, pencari kerja, migran, dan sebagainya.
MANUSKRIP Mereka datang bukan hanya dari pulau-pulau di nusantara, melainkan mancanegara. Pada masa itu Sungai Carang telah menjadi bandar internasional. Di antara para orang-orang yang berdatan dan pergi itu ada yang membawa naskah-naskah Melayu. Di sana terjadi pertukaran dan persebaran naskah-naskah, bukan hanya barang dan jasa semata. Sekadar catatan, penulisan naskah-naskah Melayu banyak dilakukan oleh orang-orang di pulau sumatra; aceh hingga lampung.
Huruf Arab-Melayu atau Jawi
Adalah huruf Arab-Melayu atau huruf Jawi yang digunakan untuk menulis naskah-naskah Melayu tersebut. Huruf Arab-Melayu ini merupakan hasil ‘peminjaman’ dari huruf hijaiyah atau huruf Arab yang kemudian beberapa hurufnya mendapatkan perubahan (distilisasi) untuk menyesuaikan dengan kata-kata
Naskah Melayu Kepulauan Riau
KEBUN WAN ANDAK
Melayu. Penggunaan huruf Arab-Melayu dalam penulisan naskah-naskah Melayu tidak lepas dari pengaruh masuknya agama Islam di nusantara yang dimulai dari ujung utara pulau sumatra; Aceh. Di sana pula kali pertama sebuah kerajaan memproklamirkan sebagai kesultanan Islam di nusantara, yaitu Kesultanan Perlak atau Peureulak (225 H/840 – 1292
M). Sebagaimana diketahui Islam lahir di negeri Arab dan kitab sucinya berbahasa Arab. Karena itu tidak mengherankan bila orang Melayu, yang identik dengan Islam, mempunyai ikatan emosional, spiritual, dan kultural dengan bahasa Arab; mampu membaca dan menuliskannya. Ikatan-ikatan tersebut yang di kemudian waktu menjembatani orang Melayu mengadopsi huruf-hurufnya dalam tradisi tulis Melayu. Sebelum mengenal dan menggunakan huruf Jawi, adalah menggunakan huruf kawi untuk menuliskan bahasa sanskerta. Keberadaan prasasti-prasasti yang ditemukan di sumatra membuktikan hal tersebut. Selain huruf kawi, beberapa suku bangsa di sumatra juga mempunyai huruf-huruf lokal tersendiri. Huruf incung, huruf ka ga nga, huruf lampung, huruf batak, dan sebagainya. Keberadaan huruf-huruf tersebut Naskah Melayu Kepulauan Riau
menunj ukkan bahwa jauh sebelum kedatangan Islam di nusantara telah mengenal tradisi tulis. Dengan kata lain, mereka mengadopsi huruf Arab belakangan waktu. Dan setelah Islam bertapak kuat di nusantara huruf Arab-Melayu tersebut menggantikan huruf-huruf kawi tersebut (Ming, 2003). Huruf Arab-Melayu ini mulai digunakan pada masa Kesultanan Pasai. Pada masa Kesultanan Pasai ini huruf Arab-Melayu mulai digunakan dengan penambahan tanda-tanda (berupa titik tiga pada beberapa huruf) dalam huruf hijaiyah agar bahasa
Melayu dapat lebih mudah dituliskan. Penggunaan huruf-huruf Arab-Melayu ini tidak lepas dari proses islamisasi yang dilakukan Kesultanan tersebut di nusantara (Hermansyah, 2014). Dengan kata lain, penggunaan huruf Jawi ini menjadi bagian dari identitas Islam yang gencar disebarluaskan saat berkorespondensi dengan pihak lainnya. Terlebih bahasa Melayu sedari dahulu telah menjadi lingua franca dalam berkomunikasi di dunia perdagangan internasional di nusantara. Hal tersebut memper- mudah huruf Arab-Melayu masuk dalam kehidupan orang nusantara. Huruf Arab-Melayu disebut juga dengan huruf Jawi. Terkait penggunaan istilah tersebut terdapat beberapa pendapat. Pertama, Jawi merujuk pada ‘berkhitan’ yaitu masuk Jawi yang berarti masuk Islam (dalam Noriah Mohammed, 1999). Kedua, menurut Syed Muhammad Naquib (Karim, 2010 dalam Masyhur, 2018) istilah secara spesifik merujuk ke suku Jawa, tapi dalam konteks ini untuk menyebut seluruh penduduk asal Kepulauan Melayu (Masyhur,
2018). Tidak mustahil diluar kedua hal di atas masih terdapat pendapat lainnya terkait dengan penyebutan huruf Jawi tersebut. Huruf Jawi ini mempunyai 36 huruf; 30 huruf hijaiyah dan 6 huruf tambahan yang tercipta untuk
Naskah Melayu Kepulauan Riau
menjembatani bunyi dan ejaan bahasa Melayu. Keenam huruf tersebut adalah fa, ca, nya, va, dan ga. Ciri khas dari keenam huruf tersebut ditandai dengan penambahan titik (tiga titik pada ‘ain, jim, ya; satu titik pada kaf) dan huruf bersambung.
Datuk Kerkun
Terdapat beberapa pihak yang terlibat dengan dunia naskah Melayu, di antaranya adalah pemilik, penyalin naskah, pengarang, dan pengumpul naskah. Pemilik adalah orang yang mempunyai naskah. Penyalin naskah adalah orang yang menyalin naskah-naskah lain. Keberadaan penyalin naskah adalah orang yang menggandakan naskah-naskah hingga jumlahnya menjadi lebih dari satu. Kondisi tersebut didorong oleh mesin percetakan yang belum tersedia. Pada masa penjajahan terdapat beberapa orang yang dipekerjakan sebagai tukang menyalin naskah. Mereka dibayar untuk melakukan itu. Naskah yang telah disalin kemudian dibawa ke Eropa. Hal itu yang menjadi alasan, mengapa banyak naskah yang sama. Pengarang adalah penulis naskah tersebut. Istilah ini muncul lebih belakangan. Pada masa lalu para penulis atau pengarang dari naskah-naskah Melayu banyak yang menyembunyikan namanya atau menggunakan nama lainnya alfaqir, dan sebagainya.
Naskah Melayu Kepulauan Riau
S ementara pengumpul adalah pihak yang mengumpulkan atau mengoleksi naskah tersebut (Mu’jizah dan Rukmi, 1995). Menjadi penyalin naskah merupakan salah satu profesi yang dibayar secara profesional. Datuk kerkun demikian istilah yang sering digunakan bagi orang yang berprofesi sebagai penyalin. Penyalin setara dengan juru tulis. Salah satu datuk kerkun yang terkenal Encik Ismail. Lebih lanjut belum dapat dipastikan istilah datuk kerkun ini khas Kepulauan Riau, karena pada naskah-naskah Melayu di Palembang tercantum juga datuk kerkun-datuk kerkun jua (Aswandi, 2020). Encik Ismail merupakan penyalin naskah Sejarah Melayu (PL. Cod. Or. 1736) (Mu’jizah dan Rukmi, 1995).
Penutup
Kepulauan Riau merupakan salah satu gudang naskah Melayu di nusantara. Naskah-naskah tersebut dihasilkan oleh para penulis tempatan yang berlangsung secara bergenerasi. Pada masa itu pihak kesultanan juga mempunyai andil yang tidak kecil, berdirinya percetakan Matba’ah Al-Riawiyah dan Matba’ah Al Ahmadiah pada 1894 dimaksudkan untuk menjangkau karya-karya dari para penulis setempat (Mu’jizah dan Rukmi, 1998). Sebelumnya, di Lingga
Naskah Melayu Kepulauan Riau
juga telah berdiri Rumah Cap Kerajaan, yang layu tinggalan lama terhimpun di Museum Linggam kemudian alat-alat percetakan tersebut dipindahkan ke Cahaya, Lingga. Setidaknya terdapat 513 naskah lama Pulau Penyengat (Aswandi, 2020). sudah dapat ‘diselamatkan’ oleh museum pemerintah Selain naskah yang dicetak, di Kepulauan Riau Kabupaten Lingga tersebut. Tidak semua naskah terse- juga masih banyak tersimpan naskah-naskah Melayu but bertuliskan Arab-Melayu, tapi hampir 90% nya yang bertuliskan tangan. Sebagian naskah-naskah Me- ditulis dengan huruf Arab-Melayu (Paridah, 2020).
Daftar Pustaka
Aswandi. 2018. Keringkasan sejarah Melayu (Sebuah Historiografi Riau – Lingga karya Tengku Muhammad Saleh Tahun 1930). Dalam laman jantungmelayu.com, diunggah 28 September 2018. Diakses 15 Oktober 2020 Hermansyah. 2014. Kesultanan Pasai Pencetus Aksara Jawi (Tinjauan Naskah-Naskah di Nusantara). Jurnal Jumantara Vol. 5 No. 2 tahun 2014 Masyhur. 2018. Tulisan Jawi sebagai Warisan Intelektual Islam Melayu dan Peranannya dalam Kajian Keagamaan di Nusantara. Tamaddun: Jurnal Kebudayaaan dan Sastra Islam, Vol. XVIII No. 2,
2018..
Ming, Ding Choo. 2003. Kajian Manuskrip Melayu: Masalah, Kritikan, dan Cadangan. Kuala Lumpur: Utusan Publications & Distributors Sdn Bhd Mu’jizah dan Maria Indra Rukmi. 1995. Penelusuran Penyalinan Naskah-Naskah Riau Abad XIX: Sebuah Kajian Kodikologi. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia
Wawancara Aswandi. Tanjungpinang, 26 Oktober 2020 Paridah. Lingga, 9 November 2020 Tengku Husien. Lingga, 6 Oktober 2020
Naskah Melayu Kepulauan Riau
epulauan Riau pernah menjadi salah satu kawasan pusat peradaban
KMelayu. Di Negeri Segantang Lada ini pernah berdiri Kesultanan
Melayu yang cukup memberikan pengaruh di kawasan sekitarnya. Sungai Carang atau Hulu Riau, Daik-Lingga, dan Pulau Penyengat merupakan tiga lokasi di mana pusat keramaian dan peradaban dibangun. Ketiga lokasi tersebut dibangun dengan berbagai pertimbangan narasi antara politik, sosial, budaya. Daik-Lingga untuk menggantikan Sungai Carang yang mendapatkan gangguan-gangguan dari para penjajah. Sementara, Pulau Penyengat selain sebagai hadiah untuk Engku Putri juga menjadi pusat pemerintahan bagi Yang Dipertuan Muda. Keberadaan sebuah pemerintahan sedikit-banyak memberikan dampak pada terciptanya peradaban, hal yang sama juga terjadi pada Kesultanan Melayu di Kepulauan Riau. Di antara peradaban yang sangat mencolok yang disumbangkan Kesultanan Melayu di kepulauan riau adalah terkait dengan dunia literasi, yaitu tradisi tulis. Bukti tradisi tulis itu dapat dilihat dari keberadaan naskah atau manuskrip Melayu yang banyak terdapat di tangan-tangan warga setempat. Sebagian telah menjadi koleksi Museum Linggam Cahaya, Lingga dan sebagian yang lainnya dikumpulkan oleh kolektor dan pengkaji naskah Melayu. Selain itu tidak sedikit naskah Melayu yang berada di luar negeri; dikumpulkan dan ditulis ulang.