Baca PDF (OCR): Microsoft Word - HIKAYAT TAJUS SALATIN FIX 2.docx

180 halaman · 1 halaman diproses dengan OCR· 1542 ms

Daftar isi
  1. T.A.Sakti,dkk.
  2. -Hikayat-
  3. Tajussalatin
  4. JilidII
  5. HIKAYAT TAJUS SALATIN (JILID II)
  6. KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN,
  7. RISET DAN TEKNOLOGI
  8. DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN
  9. BALAI PELESTARIAN NILAI BUDAYA
  10. PROVINSI ACEH
  11. Hikayat Tajus Salatin (Jilid II)
  12. SAMBUTAN
  13. KEPALA BALAI PELESTARIAN NILAI BUDAYA
  14. PROVINSI ACEH
  15. Drs. Nurmatias
  16. PENGANTAR PENULIS
  17. Selamat membaca!
  18. PENGANTAR EDITOR
  19. PERTANGGUNGJAWABAN EDISI
  20. DAFTAR ISI
  21. BAGIAN I Alih Aksara
  22. Ngon Syaikhuna mendapatkan, geubeurjalan teuma raja
  23. Tamat
  24. BAGIAN II Alih Bahasa
  25. Jawab raja kemudian, kesukaran karena apa
  26. Kemudian yang kedelapan, berbicara dengan raja
  27. Tamat
  28. BAGIAN III Analisis
  29. BAGIAN IV Penutup
  30. A. Kesimpulan
  31. a. Nilai Kesamaan dan Ukhuwah
  32. b. Nilai Keimanan dan Kontrol Diri
  33. c. Nilai Akhlak dan Sosial Kemasyarakatan
  34. d. Nilai Politik dan Pemerintahan
  35. e. Nilai Pendidikan dan Kebudayaan
  36. B. Saran-Saran
  37. DAFTAR PUSTAKA

T.A.Sakti,dkk.

-Hikayat-

Tajussalatin

JilidII

KEMENTERIANPENDIDIKAN,KEBUDAYAAN,RISETDANTEKNOLOGI DIREKTORATJENDERALKEBUDAYAAN BALAIPELESTARIANNILAIBUDAYAPROVINSIACEH

HIKAYAT TAJUS SALATIN (JILID II)

Drs. Teuku Abdullah, S.H., M.A. (T.A. Sakti) Drs. Mohd. Kalam Daud, M.Ag. Ahmad Fauzan, M.A.

T. Bahagia Kesuma, S.Pd., M.Pd. Sufandi Iswanto, S.Pd., M.Pd.
Cut Yusriana

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN,

RISET DAN TEKNOLOGI

DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN

BALAI PELESTARIAN NILAI BUDAYA

PROVINSI ACEH

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta

Lingkup Hak Cipta Pasal 1 Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ketentuan Pidana Pasal 113 Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp.

100.000.000 (seratus juta rupiah). Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat
(1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp.
500.000.000,- (lima ratus juta rupiah). Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat
(1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/ atau pidana denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah). Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp. 4000.000.000,- (empat miliar rupiah).
ii

Hikayat Tajus Salatin (Jilid II)

Penanggungjawab Drs. Nurmatias (Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Aceh)

Penulis Drs. Teuku Abdullah, S.H., M.A. (T.A. Sakti) Drs. Mohd. Kalam Daud, M.Ag. Ahmad Fauzan, M.A.

T. Bahagia Kesuma, S.Pd., M.Pd. Sufandi Iswanto, S.Pd., M.Pd. Cut Yusriana All rights reserved Hak cipta dilindungi Undang-Undang Hak Penerbitan pada Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Aceh Isi di luar tanggung jawab Percetakan ISBN: 978-623-6107-03-4 Editor Hermansyah Desain Sampul Faiz Basyamfar Tata Letak Isi Irsyakdiah xiv + 164 hlm: 15,5 x 23 cm Cetakan pertama, November 2022 Penerbit: Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Aceh Jl. Twk. Hasyim Banta Muda No. 17, Gampong Mulia, Kuta Alam Banda Aceh, Aceh, 23123
iii

SAMBUTAN

KEPALA BALAI PELESTARIAN NILAI BUDAYA

PROVINSI ACEH

Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahirabbil alamin,

Sebuah kehormatan bagi Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Aceh dapat menerbitkan satu dari sekian banyak manuskrip kuno yang telah dialihaksarakan dan dialihbahasakan agar dapat mudah dibaca dan dimengerti oleh masyarakat. Naskah Tajussalatin merupakan salah satu yang paling populer di dunia karena di dalamnya berisi pedoman hidup para pemimpin.

Apresiasi kami tujukan kepada para penulis karena telah berhasil mengkaji keseluruhan naskah dan akhirnya dapat menemui pembacanya dalam dua jilid. Setelah pembahasan tentang pembentukan pemimpin di jilid I, jilid II berisi petunjuk dan tatacara yang berlaku dalam sebuah kerajaan atau kepemimpinan dalam masyarakat. Selanjutnya pasal-pasal di jilid II bisa menjadi panduan dalam menghadapi masalah yang timbul dalam masyarakat.

iv

Semoga buku ini akan bermanfaat bagi masyarakat, khususnya para calon pemimpin masa depan. Terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat hingga terbitnya buku ini.

Banda Aceh, September 2022 Plt. Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Aceh

Drs. Nurmatias

NIP 196912261997031001

v

PENGANTAR PENULIS

Buku Hikayat Tajus Salatin merupakan salah satu karya dalam bahasa Aceh dan dinarasikan dalam bentuk terjemahan bahasa Indonesia dan pengenalan isinya. Tujuan utamanya untuk dapat diakses dan dibaca oleh banyak orang, termasuk yang tidak memahami Bahasa Aceh. Oleh karenanya, buku Hikayat Tajus Salatin Jilid II ini melengkapi karya yang sama sebelumnya.

Pada edisi naskah Tajus Salatin jilid I, kita telah membahas 11 pasal yaitu antara lain Pasal Pertama tentang Kewajiban Mengenal Diri, Pasal Kedua tentang Kewajiban Mengenal Pencipta, Pasal Ketiga tentang Sadar terhadap Kehidupan Dunia, Pasal keempat tentang Insaf terhadap Kematian, Pasal Kelima tentang Sejarah Asal-Usul Kerajaan, Pasal Keenam tentang Raja Wajib Berlaku Adil, Pasal Ketujuh tentang Raja Beriman dan Bertakwa, Pasal Kedelapan tentang Raja-Raja yang Adil, Pasal Kesembilan tentang Raja-Raja yang Zalim, Pasal Kesepuluh tentang Menteri-Menteri Raja, Pasal Kesebelas tentang Sekretaris Raja.

Adapun kandungan Naskah Hikayat Tajus Salatin jilid II akan membahas 11 pasal lanjutannya yang membahas berkaitan dengan Pasal Kedua belas tentang Pegawai Raja, Pasal Ketiga belas tentang Adab Bagi dan terhadap Raja, Pasal Keempat belas tentang Pendidikan Anak (Calon Raja), Pasal Kelima belas tentang Semangat dan Tekad yang Kuat Seorang Raja, Pasal Keenam belas tentang Raja Harus Berbudi Luhur, Pasal Ketujuh belas tentang Syarat-Syarat Menjadi Raja, Pasal Kedelapan belas tentang Raja Berilmu Pengetahuan, Pasal Kesembilan belas

vi

tentang Raja Menguasai Ilmu Firasat (Ilmu Jiwa), Pasal Kedua puluh tentang Sosial Kemasyarakatan Raja, Pasal Kedua puluh Satu tentang Mengadakan Perjanjian (MoU) Kerajaan, Pasal Kedua puluh Dua tentang Raja Harus Berhati Murah.

Banyak kendala dan rintangan yang dihadapi dalam menyusun buku ini, bahkan pada tahap-tahap kecil sekalipun, tetapi harus detail, seperti penyesuaian kata dan kalimat pada terjemahan teks bahasa Indonesia. Tentu masih banyak hal-hal lainnya yang semuanya dihadapi saat proses buku ini.

Di sini, kami sangat berterima kasih kepada Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh yang telah memfasilitasi terbitnya buku ini. Demikian, terima kasih kami kepada Sdr. Hermansyah, dosen Prodi SKI Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, sebagai editor buku ini. Juga kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi secara langsung ataupun tidak langsung.

Sebagai penutup, kami menyadari bahwa buku ini masih banyak kekurangan dan kesalahan. Saran dan ide para pembaca tentu akan sangat membantu dalam penyempurnaan buku ini ke depannya.

Selamat membaca!

Banda Aceh, Mei 2022 Tim Penulis

vii

PENGANTAR EDITOR

Sebagaimana dipahami banyak orang, bahwa teks naskah Tajus Salatin sebuah teks tatanegara di kerajaan Aceh yang dapat dimaknai “mahkota raja-raja” disusun (dikarang) oleh Bukhari al-Jauhari dalam bentuk prosa berbahasa Melayu/Indonesia.

Naskah ini menarasikan tentang etika kepemimpinan yang diasumsi ditulis pada zaman sultan Alauddin Ri`ayat Syah bergelar Sayyid al-Mukammil (1590- 1604 M). Pengaruh dari Tajus Salatin merebak ke beberapa wilayah, Raffles misalnya, menyatakan bahwa pemerintahan Singapura pada zamannya mengacu kepada asas-asas di dalam naskah ini.

Pada abad ke-19, adaptasi juga di kraton Yogyakarta dan Surakarta dalam versi Jawa disebut Serat Tajus Salatin. Penerjemahan juga pernah dilakukan ke bahasa asing; bahasa Belanda (Roorda van Eijisinga, 1827), bahasa Perancis (A. Marre, 1878), dan ke bahasa Inggris (E Winstedt, 1920).

Naskah Hikayat Tajus Salatin dalam bahasa Aceh tentu berbeda dengan bahasa Melayu dalam bentuk prosa. Hikayat berbahasa Aceh cukup familiar di tengah masyarakat yang berawal dari seni tutur dan menyebar ke tradisi tulis. Sebagaimana saat ini ditemui banyak naskah berbahasa Aceh, namun sangat minim kajiannya. Faktor utama adalah pada kemampuan membaca teks Aceh di mana di dalam dunia pendidikan formal sama sekali tidak diajarkan.

viii

Sembari itu, pelajaran-pelajaran membaca teks Arab Jawi sering luput dalam dunia pendidikan informal dan bahkan di perguruan tinggi Islam. Sebagian besar para pembaca teks Arab Jawoe (Jawi dalam Bahasa Aceh) dikarenakan sering membaca teks Jawi berbahasa Melayu atau Indonesia.

Perkembangan syair Bahasa Aceh di Aceh pun beralih dari lisan kepada tradisi tulisan sejak abad ke-19, tepatnya periode kolonial di Aceh. Pada saat itu, tradisi tulis didukung oleh para kepentingan kolonial untuk memperoleh informasi dan karya intelektual lokal (Aceh).

Keperluan tersebut membangkitkan beberapa “intelektual lokal” untuk menulis syair-syair yang selama itu ditutur di tengah masyarakat, selain mendapatkan prestise dari pemerintahan kolonial, juga memperoleh tempat dan posisi tawar yang baik di tengah masyarakat dan pemerintah kolonial saat itu.

Hikayat dan nazam (Aceh: nalam) merupakan salah satu bagian dari tradisi bersyair di Aceh yang cukup berkembang. Tentu ada pilihan-pilihan (genre) sesuai dengan isi dan narasi yang berkembang pada saat itu, dan terus dipertahankan hingga periode kemerdekaan, bahkan hingga saat ini. Salah satunya adalah Hikayat Tajus Salatin ini, buku ini menjadi sebuah pegangan dan bacaan penting bagi masyarakat. Tradisi syair yang telah menuntun masyarakat Aceh untuk terus berpegang teguh kepada agama dan adat istiadatnya.

Buku Hikayat Tajus Salatin menggambarkan betapa banyak petuah yang dituangkan di dalamnya, di mana petuah tersebut menjadi pelajaran sekaligus peringatan kepada anak-anak, muda mudi, para pemangku pemerintahan, hingga kepada pemimpin negara (baca Raja).

Hikayat tersebut tidak hanya sebatas sebuah karya sastra dan “syair” yang didendangkan, namun-dan sebenarnya-harus diresapi makna dan pesan yang disampaikan di dalamnya. Sebab, pesan-pesan tersebut

ix

pada hakikatnya untuk memberi sebuah pelajaran berharga sekaligus cermin bagi seluruh pihak.

Mengingat fungsi dan kedudukannya hikayat seperti yang diungkapkan di atas, narasi dan sosialisasi terhadap hikayat dari tradisi sastra lisan itu mutlak. Bahkan dalam pelaksanaannya mendesak dilakukan semacam workshop atau pelatihan untuk dapat dihidupkan tradisi tersebut di generasi muda, sebagaimana disebutkan bahwa tradisi lisan dan tulis hikayat semacam ini semakin luntur dan berkurang penuturnya.

Akhirnya, buku ini akan menjadi salah satu yang mewarnai tradisi hikayat di Aceh dalam konteks kekinian. Semoga ke depan lahir buku hikayat-hikayat lainnya yang tentu akan sangat bermanfaat untuk generasi ke depan.

Editor Hermansyah

x

PERTANGGUNGJAWABAN EDISI

Alih bahasa naskah Aceh ke bahasa Indonesia bertujuan untuk memudahkan bacaan bagi kalangan umum. Maka pengalih bahasa harus konsentrasi penuh untuk menilai dan memahami teks di setiap kata dan kalimat, sehingga dapat dipertanggung jawabkan, apalagi menemukan kata-kata arkeis atau bahasa yang jarang digunakan di era sekarang ini.

Sebagaimana disebutkan bahwa pertanggung jawaban edisi naskah bertujuan memahami struktur dan kode-kode dalam pengalihan aksara dan bahasa. Sebab di dalamnya bukan hanya bahasa Aceh, tetapi juga terkandung bahasa Melayu dan bahasa Arab, bahkan sebagiannya mengutip Hadist Nabi dan ayat-ayat Alqur’an.

Maka untuk melakukan standarisasi dalam pedoman edisi teks dengan merujuk kepada SKB Menteri Agama RI, Menteri Pendidikan dan Menteri Kebudayaan RI No. 158/1987 dan No. 0543b/U/1987 Tertanggal 22 Januari 1988.

Sedangkan penggunaan/penulisan bahasa Aceh merujuk kepada buku Kamus Aceh-Indonesia karya Aboe Bakar, 1985 Jilid I dan II. (Aboe Bakar, 1985) yaitu terjemahan Bahasa Aceh ke bahasa Indonesia.

Lebih dari itu, penulis berinisiatif untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan sepanjang tidak menghilangkan konteks teks naskah tersebut. Kegiatan transliterasi dan transkripsi ini meliputi pemberian tanda- tanda sesuai standar dalam bahasa Indonesia (pungtuasi,

xi

koma, titik koma, tanda hubung, paragraf dan sebagainya), antaranya:

a) Kata bahasa Arab, ayat Alquran dan tulisan penting lainnya yang belum termasuk dalam KBBI akan ditulis miring.
b) Judul, Bab dan atau Subbab akan ditulis tebal dan miring
c) Pemakaian huruf besar pada awal kalimat atau penyebutan lain didasarkan pada sistem EYD dalam bahasa Indonesia.
d) Beberapa tanda yang digunakan dalam suntingan teks:
a. [] : untuk menandai tambahan teks.
b. ( ) : untuk menandai teks ditambah/ diperbaiki
e) Kata yang merupakan varian arkais atau bentuk lain dari kata yang umum digunakan, akan ditranskripsi seperti pada teks asli.
xii

Pedoman SKB Menteri Agama RI, Menteri Pendidikan dan Menteri Kebudayaan RI No. 158/1987 dan No. 0543b/U/1987 Tertanggal 22 Januari 1988.

Huruf Arab Huruf Latin Huruf Arab Huruf Latin Huruf Arab Huruf Latin
ا - س s ل l
ب b ش sy م m
ت t ص sh ن n
ث ts ض dh و w
ج j ط th ه h
ح ظ zh ء ...’ ...
خ kh ع ...‘... ى y
د d غ gh چ ch
ذ dh ف f ڽ nya
ر r ق q ڠ ng
ز z ك k ڬ ڤ g fa
ا◌َ ā ى◌ِ ī و◌ُ ū

xiii

DAFTAR ISI

SAMBUTAN KEPALA BALAI PELESTARIAN NILAI
BUDAYA PROVINSI ACEH ....................................... iv
PENGANTAR PENULIS ............................................ vi
PENGANTAR EDITOR ............................................. viii
PERTANGGUNGJAWABAN EDISI............................. xi
DAFTAR ISI ............................................................ xiv

  1. ALIH AKSARA ............................................... 1
  2. ALIH BAHASA .............................................. 65
  3. ANALISIS....................................................... 144
  4. PENUTUP ..................................................... 157
    DAFTAR PUSTAKA................................................... 164

xiv

BAGIAN I Alih Aksara

Pasai dua blah ulôn teuboh, haba peusuroh lôn calitra Beugot tapham he Teungku beh, piké beujroh cit beumeusra Buet peusuroh na ta tukri, sukee Nabi dum Ambia

Tuto beunar narit suci, bèk geunta gli nyan keu bahaya Ateueh peusuroh nyang peureulee, meunoe lagee bèk meutuka Allah Ta’ala neubri teuntee, bak Nabi mei peusurohnya Bak peusuroh ulôn bayan, beurkatakan manis suara

Leumah leumbot sunat meunan, meungatakan nyang sijahtra Fireuman Tuhan ulôn rawi, turon keu Nabi Harun Musa Faqūlaa lahu qaulal laiyīnan, nyan Fireuman Allah Ta’ala Wahé Musa deungon Harun, ajar Fireu’un uleh gata

Leumoh leumbot ta ajaran, narit teuban saka gula Nyoe peusuroh lôn nyatakan, nyang bangsawan bijaksana

Keulakuan lidah faseh, nyang pham leubeh kureueng lubha Sabab peusuroh beuthat saréh, nyang hate gleh deungon kata

Lagi peusuroh gantoe lidah, mata pihsah ngon teulinga Gantoe raja duli Khalifah, ban peuneugah bèk meutuka Boh peusuroh nyang le akai, nyang tan beubai le bicara Nyang le himmah hana jawai, nyang bèk sagai kureueng bangsa

Boeh peusuroh nyang pilehan, meunyo meunan that sijahtra Nyang peumameh muka Sulotan, le amilan bak beurkata Bèk meututo ban nafsu droe, meunan bagoe han got rupa Sibagoe nyan ulôn teuproe, meuhat rugoe nama raja

Buet peusuroh na peuet syarat, baro teupat nyang sijahtra Phon phon beunar narit mangat, bèk na sapat jeuet doseuta Peurbuatan keulakuan, seukalian jalan beuna Nyang kedua bèkna sulet, narit saket bèk keulua

Teuma nyang lhèe meunoe sabet, nyang suroh bit harap gata Nyang peusuroh teumpat amanat, bèk khianat buet meutuka Cit malenkan tuto teupat, bèkna singkat puseng kata Teuma keupeuet ulôn teuboh, bube suroh uleh raja

Ta peusampoe wajeb beutroh, rab ngon jeuoh bèkna bida Beutroh tajak beutroh tawoe, meunan bagoe takeureuja Raja raja dilee puroe, suroh geuyue barang mana Likot suroh jak keurani, meunan geubri uleh raja Bube suroh ji peugah kri, di keurani surat lanja Haba meunan jaweub meunan, seukalian surat rata

‘Oh jan geuwoe bak Sulotan, dua peue nyan geupareksa Haba peusuroh geu eu surat, tuto teupat atawa hana

Meuka sabe hate mangat, suroh daulat hanpeue mara Meuka sabe peurcayaan, beurang kajan hanmei mara Eu peusuroh nyang pilihan, nyang bijakkan geuboh dua Meunyo sabe sangat bijak, tan meureumpok nyang salah na Raja bohnan nyang that rancak, meunoe layak nama Duta Meunyo salah peurkataan, silap po nyan saboh masa

Raja boehnan peusuroh nyan, beusalahan Upa Duta Nyankeu nama raja angkat, lôn hikayat Sultan Iskandar Geuyue suroh saboh teumpat, yue me surat keu raja Dara Bak raja Dara geujaweub lé woe keumbali suroh sama

Jijok surat ubak duli, geukalon le ka geubaca ‘Oh lheuh geu eu haba surat, raja syok that saboh kata Bak peusuroh tanyong daulat, ban nyang surat deungo gata Suroh jawueb pojanjongan, deungo laman ngon teulinga

Raja peu et surat kireman, di hadapan patek hina Raja Iskandar piké leumah, syok Khalifah narit teuka Suroh laen geuyue langkah, teuma geuseurah surat sama Surat teuka raja pulang, ngat geupandang le raja Dara

Ohtroh keudeh geu eu rijang, meunyata trang sikrak haba Di raja Dara kr’ot keureutah, pue et balah keu raja Iskandar Surat laen meunoe kisah, raja Dara peugah meunoe haba Phon raja keubeusaran, nyang budiman ngon bicara

Lidah raja keubeunaran, seukalian peuseurohnya Lidah raja kheun peusuroh, nyang jeuet lôn boh narit nyangka Tatkala baca surat nyang troh, tan peusuroh dinab hamba Nyang peusuroh meung lôn teumei, lôn koh teuntee lidah dia

Meunan haba geukheuen lagee, peu et lom mei balah sigra Raja Iskandar kalön surat, meugeulipat meuphom haba Pangge suroh keunan leugat, ‘ohtroh dapat tanyong raja Raja tanyong teuma lheueh nyan, pakon meunan ka keureuja

Bube kuyue ka pubuet tan, naban syaitan buet elanya Hajat binasa ateueh kamoe, ahmak hansoe ka keureuja Suroh jaweueb teuma meunoe, ulôn teunyoe tan mulia Geuyue pubuet saboh buetan, peusuruhan geuyue bawa

Hajat dikah keubeusaran, peurbutan han kakira Sabab hantroh nafsu dikah, haram jadah buet peusuna Jinoe hukom kukoh lidah, he bideu’ah buet peusuna Geukoh lidah teuma po nyan, keunyataan jeub jeub donya

Teuma geubri le Sulotan, peurkhabaran thee seneuna Geuyue bri thee jeub jeub teumpat, na ji ingat buettan raja Mangat bèkna le khianat, suroh meuhat teumakot na Teurseubut lam Kitab Tarekh, pham beusaheh bèk meutuka

Ulôn peugah hana leubeh, tapham beugleh kieh beurata Sulotan Hayabun lôn nyatakan, yue utusan jak me haba Me haba keuraja Khurasan, yue sampaikan ngon sijahtra Raja Khurasan geuteumanyong, jaweub keunong peusuroh raja

Meuna akai hana bingong, nyan geutanyong ji peukhaba He peusuroh ta nyatakan, peukeurjaan raja gata Pakri bangon keulakuan, rakyat Sulotan geupeulara Teuma jaweueb utosan leugat, jroh thai rakyat neu peulara

That geujaga aneuk rakyat, keurajeuen daulat tan enanya Geujaga dum dalam nanggroe, raja kamoe tan sitara Lam seuntoesa dum sinaroe, hana sidroe saket rasa

Pakri bangon nibak kawom, geutanyong lom uleh raja

Peusuroh jaweueb sangat muphom, ureueng bandum saboh nyawa Beurseutiawan saboh darah, na bagoe sah si syeedara Nyawong badan bandum ji srah, keu khalifah dum barang na Raja tanyong teuma rijang, Uleebalang bawah raja

Pakri bangon kutika prang, jaweueb seunang peusurohnya Nyawong tuboh lahe baten, hana jisyen dum peutua

Teuma raja tanyong laen, oh geumeu’en raja gata Watee teuka keusukaan, jaweueb surohan sigra sigra

Raja kamoe pojanjongan, peurbeundaharaan le neubuka Geukaronya keudum meuntroe, peutua sagoe ngon panglima Neubri areuta dum sinaroe, meueh ngon peudoe neu karonya Fakir miskin peukayan indah, duli khalifah neu karonya

Le that geubri subhanallah, kaya limpah dum sineuna Lom geutanyong ‘oh sukaran, toh pakriban raja gata Jaweueb suroh teuma lheueh nyan, peurbeundaharaan dum geubuka Pakri bangon geumeututo, pakri laku raja gata

Di majeulih oh geumeusu, pakri teuntu cuba kata Teuma jaweueb peusuruhan, raja laman ‘oh beurkata Bandum tuto keumanisan, dum atoran neubri aja Soetan akai le meutamah, narit ceudah mangat raya

Ureueng geusuen beurani sah, ‘oh khalifah peugah haba Raja Khurasan deungo meunan, seukalian lam sijahtra Meutamah akai kheun surohan, raja Khurasan suka rasa Dumhai ihwai raja duli, sabab juhari peusurohnya

Pasai lhèe blah ulôn rawi, dum hai ahli peugawe raja Dua plôih dua syarat geubri, deungo akhi lôn calitra Peutama phon hak Ilahi, bayeue akhi sigra sigra Lheueh seuleusoe nyan hak Rabbi, jeut mulai ke hak raja

Syarat dua ulôn kheun kri, wajeb ketahui peugawe raja Bandum raja haba Ilahy, Allah nyang bri pangkat raja Jan neu kheundak Poku Rabbi, pangkat tinggi jeuet neuhila Keuso laen Allah neubri, kuasa Rabbi hansoe sangga

Saboh kisah nyoe kuseubut, keuhai sifeuet hamba raja Hantom silap pi meubacut, bak jipeubuet suroh raja Uroe malam meuubah tan, bak jikhadam pomeukuta Mesyuhu gah sigom alam, keu hamba nyan gob peuhaba

Meunan sabe padum lawet, hamba bit bit saleh raya Hantom meureuka bak Sulotan, peurbuatan ubah hana Bube suroh meutuka tan, hadir sinan jeub keutika Bak siuroe ulôn rawi, lama hadir keunan hamba

Meureuka raja ateueh abeudi, siat lawi hamba teuka Raja tanyong teuma lheueh nyan, amarahan ateueh hamba Pakon ubah ban kupeusan, ka takot tan keunong seksa Teuma jaweueb le hamba nyoe, ampon kamoe patek hina

Keusukaran teuka baroe, lambat keunoe patek teuka Jaweueb raja teuma lheueh nyan, keusukaran peue kareuna Teuma jaweueb hamba meunoe, ulôn teunyoe Tuhan duwa Tuhan haqiqi nyang phon bagoe, nyang dua roe majazi nama

Patek peudilee buet hakiki, teuma majazi po keureuja Nyang jeuet meunan wahé duli, seksa hakiki amat beusa Seksa majazi masa jinoe, kureueng bagoe hana raya Buet hakiki lheuh seuleusoe, teuma dudoe buettan raja

Ban raja deungo haba meunan, han meuban ban ro ie mata Teuma hamba meurdekaan, bak uroe nyan peulheuh le raja Pubuet jinoe he ulôn droe, ban galak roe ta keureuja Lheueh meurdeka nibak kamoe, genap uroe ta meudo’a

Teuma nyang lhèe ulôn rawi, deungo akhi peugawe raja Peue peue nyang na raja geubri, beuta radli peumulia Walau geubri nyan sigeutu, cit beuseu u masam bèk na Walee geuceula gata teungku, le tuanku daulat raja

Bèk tanyata bèk talahe, wahé akhi cit beusuka Meunan buettan bèk na deungki, bèk seukali masam muka Sulotan Mahmud lôn hikayat, nyang gaseh that akan hamba Nama Iyaz hamba sihat, meuakai that ngon bicara

Diraja nyan bak siuroe, duek di Bale meubicara Le that ureueng deungon meuntroe, di Ijaz nyoe jidong saja Jiwa jaroe ngadap Sulotan, di hadapan raja raya Jime timon peuseumbahan, keu Sulotan keunan gobba

Geucok saboh uleh duli, meugeuplah le uleh raja Raja pajoh ‘oh rab bibi, phet han sakri naban tuba Di raja nyan tan geupeugah, geujok siblah akan hamba Iyaz pajoh subhanllah, mameh leupah bak nyum rasa

Sira jikheuh Iyaz meunoe, dum timon nyoe han sapat na Rasa ladat mameh hansoe, sitara nyoe laen hana

Teuma raja neu sinaroe, meuntroe meuntro bandum rasa Muka dum krot hana bagoe, phet sangat roe meunan nyata

Teuma raja geutanyong lé rasa pakri cuba kata Jaweueb meuntroe laen saré, ampon duli phet lagoina Ubak hamba tanyong Sulotan, pakonkah nyan sulet raya

Hana patot narit meunan, di hadapan majeulih raja

Hamba jaweueb teuma meunoe, ampon kamoe pomeukuta Nyang jeuet meunan peugah lonyoe, meutamah roe that mulia Kayem ladom nyang daulat bri, akan ‘abeudi hamba hina Dalam nekmat ladat lagi, nyoe sikali nyang phet rasa

Bèk antara nyoe tuanku, dapat eumpeudu peumulia Walau patek kana laku, phet beugitu ngon krot muka Kureueng horeumat di hadadapan, meumasamkan muka hamba Karonya sikali phet lakuan, mulia tan nibak hamba

Leumah nekmat tuanku bri, ‘oh phet akhé masam muka Raja seungab tan haba lé galak hate narit beuna Meuntroe laen seukalian, keumaluan hana tara Teuma raja that sukaan, keuhamba nyan gaseh raya

Teuma nyang peuet ulôn peugah, buet khalifah peusamporeuna Ta peudilee buettan Allah, ‘ohka sudah buettan raja Teuma lôn kheun nyang keulimong, hana keunong buet di raja Buet enanya ateueh ureueng, buettan salueng meunan raja

Ta peulara dum sinaroe, ‘oh jan sidroe tabri aja Leumah leumbot tapeurunoe, miseue bagoe ta umpama Meunan bangon peureulee that, teungah daulat beusamporeuna Meunyo hana gata meukeumat, Tuhan Hadlarat dudoe seksa

Deesya buettan seukalian, ta gaseh tan nyan keuraja Meunyo ta gaseh keu Sulotan, ta ajaran beusijahtra Bèk roh raja lam jahannam, meunan macam beuta aja Teuma lôn kheun nyang keu enam, beuna tapham he syeedara

Beurang kasoe nyang tan turi, bèk pujoe le dinab raja Kadang raja suka hate, dudoe akhé malee teuka Nyang keutujoh lôn hareutoe, raja nanggroe peue-peue suka Wajeb tabri ta peusampoe, meunan bagoe galak raja

Teuma lheuh nyan nyang keulapan, beurkatakan deungon raja Meunoe bagoe wahé taulan, bèk manyenan bagoe rupa Cit beusunggoh deungon yakin, bèk ngon meu’en sang meuseunda Watee jaweueb bèk peuringan, bèk ho laen paleng muka

Mata hate beuta ingat, sabda hadlarat peumulia Bube sabda nibak daulat, ngon horeumat mata teulinga Nyang sikureueng lôn hareuntoe, taduek dikeue raja raja Bèk meuwayang ngon beurangsoe, le that paloe akhé masa

Nyang keu siplôih lôn nyatakan, keutika jan tanyong raja Beuta seuot ngon peuleuheuen, bèk leubehan kureueng bèk na Tanyong bak gob bèk taseuot, hana patot ayeb teuka Sabab ayeb nyang meukeusud, meunoe meureued ureueng tiga

Peurtama phon yang teumanyong, teuma keunong nyang pareksa Teuma seuot nyang tan tanyong, malee hitung dalam tiga Sapeue kata nyang laen peugah, nyanpi salah malee teuka Ulôn seubut nyang keu siblaih, meunoe ulah ulôn nyata

Tanyong raja bak ureung lé bèk tameusu dilee gata ‘Ohka seungab tan soe meusu, jaweub teungku uleh kata Nyang tajaweueb narit keunong, ban geutanyong jaweub gata Bèk ta jaweub akai bingong, laen geutanyong laen takata

Nyang duablah lôn nyatakan, ta deungoran rasia raja

Beuta iem droe wahé taulan, bèk na rakan tapeukhaba Bèk tapeugah barang kapat, tasom beuthat bèk keulua Nyang keu lhèe blah lôn riwayat, bèk khianat ateueh raja

Beugot hate beujroh budi, gata akhé geupeucaya Jeub jeub uroe ta peutinggi, deurajat duli angkat gata Nyang keupeuet blah lôn katakan, tadeungoran geubeurkata Ureueng meutoto keujahatan, wajeb tuan larang gata

Meunyo gata han jipateh, jih tapeuweh tueng areuta Na jitupeue gata gaseh, bèk peujayeh ateueh raja Nyang limong blah lôn hareutoe, gata domsoe geunaseh raja Bèk teukabo peuraya droe, saba geutanyoe syuko Rabbana

Cit peuleubeh peubuet bakeuti, buettan hase hana sia Nyang keunam blah ulôn rawi, deungo akhi lôn calitra

Peue na hajat bak Sulotan, beurangsoe tuan eu kutika Ta eu watee keuseunangan, bak watee nyan lakee gata

Nyang tujoh blah lôn riwayat, mulia that teuma gata Cit geugaseh uleh daulat, beuta ingat bèk na lupa Ulama dum bèk peureundah, beuthat indah peumulia Fakir miskin ulôn peugah, bèk tasalah bèk peuhina

Meunyo meunan gata akhi, Tuhan neubri that mulia Keulapan blah ulôn rawi, raja duli peumeureuka Ateueh gata kadang salah, sabab peurintah buet di gata Ateueh gata raja marah, bèkta keubah dalam dada

Ateueh raja bèkta upat, peubuet leugat bakti keuraja Lheueh meureuka dudoe meuhat, nyang salah that ampon deesya Sikureueng blah ulôn rawi, ureueng beurang ri peumeureuka Ureueng salah nibak duli, bèk sikali lakee gata

Ta peugah jih keusukaran, taboh padan narit beuna Narit sayang nyang kasihan, takheun meunan peugah haba Bèk talekee teupat teupat, tuto rahmat tabeurkata Nyang dua plôih lôn riwayat, beusunggoh that buettan raja

Buet nyang teugah syari’at Nabi, suroh duli yue keureuja Ta peulambat wahé akhi, bèk sigra le ta keureuja Tapeutreb treb meunan taulan, ngon haloih nyang tabicara Cit beugadoh beuhilangan, peurbuatan beusijahtra

Meunan bicara wahé adoe, buet sinaroe bèk ngon gasa Dua plôih sa lôn hareutoe, beuta pujoe ateuh raja Beuta pujoe jeub jeub teumpat, do’a seulamat jeub keutika Beuta lakee do’a rahmat, ateuh rakyat bèk elanya

Cit beuadé meunan lakee, jarak sitree nibak raja Bawah peurintah beumeuteuntee, meudo’a mei nyang sijahtra Dua plôih dua nyoe lôn peugah, peugauwe peurintah buettan raja Imum Kadli meutroe ulah, nyang peurintah mat kuasa

Uleebalang keuchik sagoe, laen sinaroe upamanya Umu gobnyan lôn hareutoe, bèk leubeh roe peuet plôih nyata Dua plôih thon dimulaan, akhé tuan peuetpoh teuka Umu galeb ulôn kheun ban, bèk leubehan namplôih tiga Menyo leubeh wahé akhi, ban nyang rawi nyangka nyata Kureueng akai ingat tanlé meunan lahe ureueng tuha Meunyo kureung akai budoe, jeuet meupaloe akhé masa Lagi ‘ayeb meutamah roe, meuhat dudoe jeuet binasa

Ateuh raja keusukaran, sabab taulan sangat tuha Akai kureung geuingat tan, keulupaan dum keureuja Pasai peuet blah ulôn rawi, deungo akhi tuha muda Hamba Allah beurang kari, akan nyakni anak kita

Ta meaneuek beurang kasoe, pubuet meunoe dum syeedara Nyan teurseubut lam kitab nyoe, beuta pakoe ta keureuja Meungta ikot wahé taulan, keulabaan ateuh gata Meuhan ikot keurugian, akhé meunan hai syedara

Meunyo hajat bayeue utang, deungon rijang bayeue gata Hadist Nabi meunan nyang trang, deungon seunang deungo rata Qāla an-Nabi shallallāhu’ alaihi wassalam, al-ghulāmu yu’aqqu ‘anhu yauma as-sābi’u [wa yumāthu ‘anhu al-adhā] fa-idhā balagha sitta sinīna uddiba, fa-idhā balagha sab’a Sinīna ‘uzila ‘an farāsyihi, fa-idhā balagha ‘asyara sinīna dluriba ‘alā [tarki] Shalāti, fa-idhā balagha sitta ‘asyara sinīna zauwajahu [abūhu], tsumma akhadha bi-yadihi, Wa qāla qad ‘alimtuka wa angkihtuka, a’ūdhu billahi mim fitnatika fī ad-dunyā Wa min ‘adhābika fi al-ākhirati, menan Nabi neu meusabda

‘Oh na aneuk barang kasoe, deungo lôn proe dum syeedara Ta keureuja meunoe bagoe, hadist Rasul ta peucaya Tujoh uroe ulôn peugah, bri ’akikah cuko keupala Oh troh nam thon umu sudah, adab nangmbah tabri aja

Sampoe umu thon seupuloh, seumbahyang suroh yue keureuja Meueng han jitem bahle tapoh, meunan sunggoh yue le gata Enam blah thon bri isteuri, di inong le meunan juga Aneuk inong lakoe tabri, meunan akhi ta keureuja

‘Oh meukawen keutika nyan, tamat tangan ta beurkata Wahé aneuk nyoe kupeusan, ka lheueh laman hak bak gata Ka lheueh aneuk aja kubri, Quru’an lagi kalheuh aja Hukom agama syariat Nabi, habeh saré kalheueh aja

Bak uroe nyoe lôn peunikah, kamoe Nangmbah kalheueh mara Leupah ulôn nibak Allah, bandum leupah he aneuknda Bube hak kah ka kupulang, nibak utang di ayahnda Donya akhirat ka leupaih Nang, duek beuseunang lam sijahtra

Kata ulama dum nyatakan, aneuk kireman Allah Ta’ala Wajeb peulara keubeunaran, pubuet meunan keu aneuknda Sebab aneuk lôn kheun laku, nama ibu deungon bapa Nyankeuh nyawong Ma deungon Ku, cit beuteuntu ta peulara

Dalam kitab Adābul Aulād, deungoe sahbat tuha muda Aneuk geutanyoe bak Hadlarat, kirem meuhat ubak bapa Beurang kasoe dum geutanyoe, ta peureuno aneuk beuna Keubeunaran buet sinaroe, buet aneuk nyoe nyang meulaba

Ateueh aneuk bèk khianat, nyan amanat Tuhan Asa Kata Majazi Qutha’at, aneuk Hadlarat kirem juga Kireman Allah bak geutanyo, wajeb dumpeue ta kereuja Nyang hak dijih dum sinaroe, ta peureunoe nyang sijahtra

Raja raja dum Sulotan, wajeb gob nyan geuusaha Peulara aneuk beuleubehan, ta ajaran dum nyang beuna Beuthat aneuk tabri ingat, deungon sangat kuat raya Sabab aneuk lôn riwayat, gantoe meuhat nyawong gata Nyang peuhudep nama Nangmbah, beujroh papah tausaha Meunyo hana ban lôn peugah, tan seuleuah nyang seumpurna Nama rugoe meunan akhé, nyang that keuji akan bapa Majazi Qutha’at meuno kheun kri, ateueh beurang ri raja raja

Wajeb aneuk di Sulotan, peulajaran bèk kureueng na Dum eleumei keubajikan, keujahatan larang gata Buet nyang sihat beuthat ingat, aja daulat buet sijahtra

Bèk tabriroh bakbuet laknat, deungon kuat beuta jaga

Nyang tamita keubajikan, keujahatan bèk taridla Menyo meunan keulabaan, jeuet bangket nan Ayahnda Di ateueh Ku wajeb saré, deungo akhi nam peukara Leupaih bak hak meunan tabri, wajeb saré tapeulara

Peutama phon lôn kheun laku, lam seumanoe budak itu Ta seumanoe budak itu, ikat laju deungon ija Teuma ta bang wahé akhi, siblah kiri bak teulinga Siblah kanan ta bang saré, di wie lagi kamat gata

Tapeu cicap bri makanan, nyang nekmat nyang lazat rasa Nyang keudua lôn katakan, deungo taulan lôn calitra Uroe tujoh ta khanduri, cuko lagi ngon keupala Ngon hakikah yoh nyan tabri, ulôn rawi nyang keutiga

Umu nam thon ‘oh ka sampoe, ta peurunoe adab mulia Taboh nama nyang got bagoe, keupeut sampoe tujoh thon lama Taeh ngon jih bèkle sapat, meunan syarat nyang mulia Nyang keulimong lôn riwayat, umu meuhat siplôih teuka

Bèk tabrile tinggai seumbahyang, meung jileukang tapoh tadra Ta peurunoe dum sibarang, buet nyang seunang bak agama Teuma nyang nam ulôn teuproe, umu sampoe namblah nyata Neubri isteuri ureueng lakoe, ureueng binoe judo sama

Yoh masa cut peumom budak, cit teumpat bak nyang mulia Ureueng peunyaket batok isak, sinan sinyak bèkmom ridla Inong jeuheuet peukeureuti, sulet lagi ngon doseuta Keunan peumanom bèkcit tabri, turot akhé menan pula

Tayue peumom bak pilehan, meunan taulan nyang sijahtra

‘Oh jeuet tuto peurkataan, tasuroh jih nyan bak agama Peubeuet Quru’an kitab tamam, agama Islam ngon rukonnya Meunan aneuk tabri macam, bèk peukaram bak zalima

Beujituri buet syari’at, peureulee sunat deesya pahla Meunyo meunan le manfaat, donya akhirat lam sijahtra Bèk tabri rab aneuk teuh nyan, peurbuatan jahe dumna Ngon ulama ta peurakan, meunan taulan nyang seumpurna

Hadapan jih ulôn teuproe, beuta pujoe ‘alem nyangna Cit beuta ceula jahe bagoe, peuluwat nyoe aneuk gata Ubak raja peurhukoman, lazem keunan beuji teuka Na biasa eu lakuan, marit lheueh nyan deungon raja

Na jituri hukom adat, na jidapat bak beurkata Na jikeutahwi dum nasihat, meunan got that aneuk gata Peulara aneuk ta hareutoe, seunang dudoe akhé gata Meutan meunan jeuet meupaloe, akhé rugoe aneuk gata

Teuduek ohnan nyang pasai nyan, laen bayan lôn calitra Beuna takieh wahé taulan, seukalian tuha muda Pasai teuma nyang limong blaih, buet tan himmah ulôn nyata Kata Umar radhiyallah, meunoe peuneugah neu calitra

Tan kukalön nyang himmah tan, cit malenkan sangat hina Ureueng himmah ulôn bayan, keu ureueng nyan that mulia Ulôn peugah beurang kasoe, geupeujeuet droe nyan mulia Cit mulia meunan bagoe, taturi droe nyang syaratnya

Saidina Umar meunoe rawi, mulia diri manusia Beuna syarat ta keutahwi, gata hase cit mulia Peurbuatan nyang han patot, bèk tapubuet uleh gata Barang buettan nyang makeusud, nyang han meusambot le bicara

Nyang han jime uleh budi, bèk sikali ta keureuja Ta meututo nyang hana mei, meunan akhi bèk beurkata Bak han layak patot jihnyan, bèk duek sinan teuma gata Meunan bagoe muliaan, ingat taulan himah gata

Meutan meunan hina akhé, beuta piké dum syeedara Hana panyang ulôn rawi, tapham akhi buet mulia Shifātus Salāthīn na kheun teuntee, himmah bajee manusia Nyang got raja d isinan mei, piasan lagee raja raja

Buet tan himmah hana lawan, keubeubasan nyang mulia Himmah pakoe dum bangsawan, di Sulotan wajeb raya Barang peue buet raja nanggroe, dum sinaroe himmah beuna Leubeh mulia nyang himmah nyoe, tan na bagoe ngon umpama

Arti himmah ulôn kheun proe, bahsa jinoe cita cita Meuh ‘euet meukusud dalam hate, seureuta le jumot usaha Sultan Iskandar susah neuthat, muka pucat duka cita Lam Meuligoe raja daulat, tan beurangkat neu keulua

Sebab susah hana bagoe, geunap uroe tan keulua Hakim Jali eu bak siuroe, masok dudoe ubak raja Hakim ngadap lheueh geudaulat, geu eu pucat muka raja Hakim tanyong teuma leugat, peue susah that pomeukuta

Teuma jaweueb le khalifah, ulôn susah hana tara Geunap uroe lôn beulisah, ingat peurintah dalam donya Ulôn piké peurcintaan, peukeurjaan han padum na Nyang tan susah tacari nyan, peurbuatan sia-sia

Kata hakim teuma meunoe, ampon kamoe pomeukuta Beuna saheh nyang neukheun roe, nyang susah nyoe buet lam donya Nyang susah nyan peurbuatan, peukeurjaan dalam donya Saboh tanda nibak buet nyan, keubajikan nyang sijahtra

Buettan beukai di akhirat, buet raya that maha beusa Mei neu pubuet beunaran that, di akhirat keukai baka Peurbuatan himmah bandum, buet nyang muphom hukom gata Buettan himmah beuta maklum, nyankeuh hukom bèk meuriba

Raja Iskandar deungo meunan, keusukaan hana tara Nyang donya nyoe cit raya tan, peurjalanan panjang libar Limong reutoh thon jak geutanyoe, dumnan bagoe raya donya Leubeh himmah raya hansoe, ngon donya nyoe leubeh beusar

Keubajikan keubeusaran, keubeunaran nyang sijahtra Peujeuoh droe bak hinaan, bak kurangan nanggroe dua Ateuh raja wajeb meunoe, ta hareutoe lôn calitra Dua peukara beugeupakoe, cit leubeh roe pangkat ‘akla

Peurtama phon ulôn peugah, beuna murah tangan raja Nyang kedua beuna himmah, cit meutamah deurajat raja Meung hana nyan bak Sulotan, keurajaan han samporeuna Han meuteumei keubajikan, akhirat han donya hana

Jikalau na dua bagoe, dua nanggroe jeuet sijahtra Meunan bangon wajeb pakoe, beurang kasoe raja raja Meuntroe areh ngon meuakai, jikalon hai buettan raja Laen bangon lakuan hai, hana sagai keunong bicara Hana layak nibak himmah, wajeb pinah le beusigra Ji peuingat ji peuleumah, ubak himmah ji peugisa Sidroe raja lôn riwayat, deungo sahbat lôn calitra Beujeuet tatueng keu ibarat, bri nasihat nyan keuraja

Karonyaan bak siuroe, akan sidroe manusia Limong reutoh deureham sampoe, seumbah meuntroe ubak raja Ulôn deungo duli khalifah, peuneugah bak ureueng tuha Raja karonya zahab pidhdhan, bri hadiah manusia

Hana haroih geukheun teuntee, di raja mei geukaronya Hanmei kureueng bak nam ribee, meunan lagee bilangannya Harun Rasyid raja nanggroe, bak siuroe geukaronya Limong reutoh tahe sampoe, geubri keudroe uleh raja

Meunan bangon raja geubri, ji kalon le meuntroe Yahya Isyarat meuntroe akan duli, meuphom jibri deungon mata Woe ureung nyan keuluaran, tanyong Sulotan bak peurdana Peue isyarat larang laman, cuba kheun ban he Peurdana

Meunoe jaweueb uleh meuntroe, larang kamoe bak meukuta Neubri dinar keu barangsoe, meunoe bagoe pomeukuta Bèk kureueng bilangan ribee, kureueng malee raja raja Meunan kadar geukheun lagee, nyang meuteuntee meuntroe kata

Makmun Rasyid duek Sulotan, deungo taulan lôn peukhaba Meuntroe Abbas geumarahan, uleh Sulotan raja raya Ubak hamba bak siuroe, suroh meuntroe dinab raja Yue bloe reumpah eungkot bagoe, geukheun menoe ubak hamba

Kajak bloe dum nyang barang nyan, meuntroe suruhan ubak hamba Yum sitahe meuntroe kheunban, dihadapan raja raya Marah raja hana bagoe, gata meuntroe nama saja Keubajikan gata tanroe**,** katiek nan meuntroe kheunle raja

Shifatul Muluk meunyatakan, deungo tuan nyang sibeuna Raja Nasabur bri ajaran, geukheun nyoeban keu aneuknda ‘Oh duek gata lam keurajeuen, deungo kukheun nyang sibeuna

Bèk meutuka aneuk buleun, ban peuneusan kheun ayahnda

Hajat tabri keu beurangsoe, bèk ngon jaroe gata raja Bèk hadapan meunan bagoe, bèk bloe publoe maniaga Hajat meubloe di Sulotan, bèk lakee nyan dum hareuga Kon buet raja layak meunan, nyan hukuman tiep tiep raja

Kheun kitab Shifātul Hukamā’, deungo rata dum syeedara Nyang buet himmah le peukara, han teurkira le lagoina Buet nyang himmah le that bagoe, dumna meuntroe manusia Le that macam le ban taproe, meubagoe bagoe himmah dumna

Ladom himmah ateueh ingat, na seulamat le areuta Ladom bangon ureung himmah, ladom hekeumat boih areuta Ladom himmah ulôn peugah, sabar qana’ah meunan pih na Ladom himmah meunoe ulah, beuhe gagah meunan pihna

Ladom himmah keu eleumei, ibadat teuntee’ amai pihna Le that himmah lam donya nyoe, dum sinaroe raja raja Ladom himmah peurdana meuntroe, ulah bagoe layak pihna Le that himmah geuriwayat, piasan le that rupa rupa

Sidroe raja lôn hikayat, deungo sahbat tuha muda Lôn hikayat Hirman Syah, nyan khalifah raja raja Sidroe meuntroe ulôn peugah, bawah peurintah raja raya Sidroe ureueng suroh meuntroe, yue me bagoe ubak raja

Dum dagangan intan peudoe, le that bagoe han teurkira Le that macam han teurpeugah, bak Hirman Syah ji yue bawa Jibri surat keu Khalifah, proe jipeugah ubak raja Dum na barang suroh meuntroe, dum jiyue bloe ubak raja

Meuntroe peugah haba meunoe, dum barang nyoe bloe meukuta Hareuga lhèe reutoh ribee, nyan neubloe mei daulat raja ‘Oh jan musem lagot watee, lipat meuteumee dapat laba Lipat dua na hareukat, neubloe daulat barang teuka

Raja kalon haba surat, jaweueb leugat uleh raja Raja jaweueb haba meunoe, wahé meuntroe tan bicara Hajat binasa ateuheh kamoe, ta peupaloe keurajeuen hamba Na hareukat dua lipat, yue hareukat maniaga

Soe kerajeuen gantoe meuhat, nyang nasihat bri keuhamba Dum syeedaga dalam nanggroe, deungon kamoe meusitree na Ta peusitree deungon lôn nyoe, dum sinaro ngon syeedaga Tipee kamoe gata meuhat, paloe hajat ateueh hamba

Gata meuntroe that khianat, akai laknt lôn binasa Nyang tan layak hana patot, tayue pubuet uleh gata Akai gata sangat karot, raja seubut balaih haba Hajat gata lôn ta laknat, kurueng deurajat akhé hamba

Sidroe meuntroe lôn riwayat, deungo sahbat lôn peukhabar Nyankeuh meuntroe lon kheuen keubit, Harun Ar-Rasyid po peurdana Nama Yahya ibnu Khalid, barmaky biet nama bangsa Ngadap raja bak siuroe, sira geuwoe bak geugisa Meureumpok le ureueng sidroe, jikheun meunoe wahé Yahya Keusukaran kamoe sangat, tulong beuthat uleh gata

Nafsu ulôn raya hajat, lôn khideumat bri keuraja Miseue bangon tabri gaji, geujaweueb le uleh Yahya Meuntroe pangge le keurani, margeuyue bri siribee dinar Meunan hukom geunap uroe, brie geupeuwoe meunan hingga

Saboh teumpat yue bri meuntroe, jeueb jeueb uroe siribee dinar Na sibuleuen teutap ponyan, di teumpat nyan piyoh ia Lhèe plôih ribee karonyaan, seukalian ‘oh geukira Teuma jiweh tan ji peugah, hamba Allah me areuta

Bak siuroe ulôn kisah, keurani peugah ubak Yahya Lhèe plôih ribee dinar habeh, jih ka jiweh peugah hana Han got beugi ureueng paleh, hana meujeulih ka jibungka Meuntroe Yahya jaweueb pantah, lafai sumpah le geubawa

Meuntroe geukheun deumi Allah, pakon minah peue kareuna Silama jih mantong sinoe, geunap uroe ku karonya Ka lheueh janji deungon kamoe, dilee puroe deungon dia Seulama mantong jiminah tan, beurang kajan lôn bri dinar

Siribee dinar janji meunan, geukheun ban nyan meuntroe Yahya Meunan bangon meuntroe dilé wahé sampee ingat rata Beutatem kieh ngon ta tiree, meunan lagee he peurdana Abdul ‘Aziz raja Meuse, deungo akhi dum syeedara

Lingka nanggroe geupeureugi, ngon Sipa -i bala tantra Teungoh geujak deungo bunyi, ureueng meuhoi nyan aneuknda Abdul a ‘ Aziz nan ji meuhoi, geudeungo su uleh raja Raja titah ubak wazi, dirham tabri keunan sigra Limong reutoh raja yue bri, jipeugah le dum sineuma Kon ji pangge nama daulat, aneuk meuhat hoi ayahnda Raja jaweueb tabri leugat, cit wajeb that ta karonya Bèk meularat nyan nan kamoe, beurang kasoe saboh nama

Teuma jibri uleh meuntroe, meunan bagoe himmah raja Limong reutoh dirham jibri, mangat hate manusia Kitab tarekh na geurawi, deungo akhi ajam raja Raja Hasyru nan Sulotan, that budiman hana tara

Bijaksana murah tangan, hana lawan meunan nyang sa Qamariyah nan isteuri, hana sabe ilok rupa Ilok pareh that juhari, putroe Sity hana ngongsa Naban buleuen putroe intan, keulakuan putroe muda

Lang geumilang hana lawan, soe nyang pandang hate suka Raja Hasyru nyan isteuri, that beurahi gaseh meusra Meusyuhu gah sagai bunyi, na geurawi lam calitra Dua geuduek di Meuligoe, deungon putroe sapat dua

Buka tingkap raja nanggroe, leumah bumoe ban seulingka Raja putroe meusukaan, geuduek sinan sapat dua Sikeumawe teuka yoh nyan, putroe peugah bak Sulotan nyata Jime eungkot peurjualan, rab hampiran ngon istana

Putroe peugah bak Sulotan, yue panggilan ubak raja Sabab gaseh that keuputroe, ban nyang jiproe raja ridla Teuma suroh raja nanggroe, neu yue meuhoi keunan sigra Teuma peurab sime eungkot, unab pocut deungon raja

Ji peuseumbah ubak duli, raja yue bri deureuham teuma Sireutoh dirham keujih geubri, sikeumawe jitron lanja Ubak raja putroe peugah, raya salah di keukanda Raja jaweub pakon salah, putroe indah teuma kata

Sireutoh dirham sagai neubri, dudoe akhé jeuet ceureuca Peurdana meuntroe jeuet syok hate, neu peusabe deungon hamba Raja jaweueb teuma lheueh nyan, keubeunaran narit gata Ka lheueh kukheuen deungon lisan, keumaluan ubah teuma

Meunyo ubah ban kheun kamoe, nyan ayeb roe raja raja Hanasoe mat narit dudoe, meuka kamoe meuubah na Teuma jaweueb putroe Siti, bah lôn taki ilah daya Sikeumawe geuyue pangge, putroe juhari tanyong haba

Nyang eungkot nyoe cuba peugah, katakanlah uleh gata Inong agam cuba kisah, jaweueb bagah jikheun khonsa Suka galak raja putroe, geudeungo bagoe laen nama Khem teurtawa galak hansoe, geubri dudoe dirham dua

Dua reutoh dirham geubrie, sikeumawe mohon gisa Troh u jalan jipeureugi, rhot sibiji dirham teuma

Ka jimita keudeh keunoe, payah hansoe ji meumita Teubiet reuoh pula paloe, dalam uroe kheue lagoina

Putroe peugah bak Sulotan, akai jih han ureueng hina Saboh dirham keuhilangan, peucarian payah raya Hingga jiteumei dirham hilang, jimeueng riwang urueng hina Teuma raja yue hoi rijang, lheueh nyan datang sigra sigra

Teuma tanyong syahi ‘alam, lhèe reutoh dirham geukaronya Saboh gadoh nyan dirham, troh ‘an pitam kajak mita Bit that hina kah keumawe, hana budi ngon bicara Saboh dirham kah kacari, reuoh ile lam lam mata

Sikeumawe peu ek seumbah, ampon daulat syah patek hina Nyang jeuet patek that seuleuah, bukon indah sayang hamba Kon lôn sayang keu deureuham, syahi alam patek hina Nyang mulia syahi alam, lam deureuham dua nama

Nyang nan siblah nama Allah, nan khalifah siblah nama Dirham gadoh lôn seuleuah, lôn meupayah ngon usaha Patek horeumat akan daulat, ngon Hadlarat Tuhan asa Bèk jigidong uleh rakyat, patek meuhat bèk meureuka

Le that bangon jipeugah proe, le that pujoe ateueh raja Galak hate raja nanggroe, geutamah roe dirham teuma Lhèe reutoh treut dirham geubri, nam reutoh hase ka jibawa Sikeumawe mangat hate, marjiwoe le ka jiguda

Teuma suroh raja daulat, geubri ingat jeub jeub donya Babah pinto boh peuleukat, dumna rakyat kalon nyata Dalam surat meunoe rawi, he beurang ri manusia Soe nyang deungo haba isteuri, dudoe akhé jeuet ceulaka

Hana laba meubacut meuhat rugoe, beurang kasoe nyang deungo haba Meunan peugah raja nanggroe, ureueng jak woe na jibaca Beuta deungo nyan nasihat, ta ibarat dum syeedara Bube kisah lam riwayat, pham he sahbat raja raja

Teuduek ‘ohnan saboh rawi, laen akhi lôn calitra Ban teurseubut beuta piké, dalam hate cit beumeusra Pasai Nam Blah lôn riwayat, deungo sahbat tuha muda Ureueng berbudi ulôn surat, akai meuhat ulôn nyata

Firman Tuhan nyata meunoe, deungo adoe lôn kheuen makna Kata Tuhan ubak budi, nyata sinoe he syeedara Wahé budi ku peujeuet kah, leubeh indah nibak nyang na Leubeh raya deungon meugah, bak jeumeulah hana nyangsa

Leubeh mulia keubeusaran, hana lawan ngon barang na Pahla seksa dumna insan, amar Tuhan teungoh nyata Sinan nyata suroh teugah, bèk meubantah manusia Laba rugoe dum peurintah, beunar salah bandum nyata Leubeh kureueng beubidaan, seukalian manusia Antara binatang deungon insan, nyata sinan dum peukara Nyan nama budi raba’ī, deungo akhi ulôn nyata Meunoe kata dalam rawi, akai budi ulôn nyata

Sabab budi istana insan, nyang budiman geukheun nama Nyang tan budi nyan hiawan, rupa insan mantong nyang na Kheun ulama meunoe rawi, beurang kari manusia Nyang tan akai ulôn kheun kri, ngon beurbudi meunoe bida

Tujoh peukara lôn riwayat, deungo sahbat ulôn nyata Peurtama phon pubuet laknat, ateuh meuhat meuakai na Nyang meuakai meunoe balah, cit seuneumbah nyang seumpurna Ampon deesya nyang ka salah, cit jibalaih nyang sijahtra

Nyang keudua lôn hareuetoe, peusabe droe ngon nyang hina Peumulia nyang leubeh roe, dum barangsoe nyang mulia Teuma nyang lhèe lôn nyatakan, keubajikan buet beusigra Teuma nyang 4 ulôn bayan, keujahatan tulak sigra

Buet nyang jeuhat lagi keuji, peujeuoh he uleh gata Teuma limong ulôn rawi, nyang takheun kri tabeurkata Deungon ta thee dum beuteuntee, baro nyang mei kheun le gata Deungon teumpat atawa watee, meunan sampee ta beurkata

Teuma nyang nam lôn atoran, keusukaran teuma gata Ta meugantung ubak Tuhan, lakee sinan uleh gata Tuhan neubri deungon mudah, ubak Allah ta meupinta Nyang keutujoh ulôn peugah, nama Allah bèk na lupa

Lakee ampon ubak Tuhan, keusalahan nibak deesya Ingat mate wahé taulan, jeub watee jan ngon kutika Kureueng akai ulôn teuboh, he teungku beh ulôn nyata Nyan peukara pih na tujoh, peurtama roh buet enanya

Ta enanya nyang di bawah, nyang peurintah rakyat gata Nyang keudua ulôn kisah, ‘ujob sumpah teukabo riya Ureueng ubit that hinaan, leumah tuan gata raya Ureueng rayek seukalian, keubeusaran leubeh gata

Teuma nyang lhèe ulôn peugah, ureung salah peubuet teuma Nibak gata hana teugah, dum peurintah nyang jeuheuet na Teuma nyang peuet ulôn rawi, deungo akhi lôn peukhaba

Keubajikan peue ta banci, dalam hate galak hana

Ureueng pubuet keujahatan, galak tuan ngon taridla Ta gaseh that ateueh sinyan, peurbuatan jih tasuka Nyang keulimong deungon mukhthab, kureueng adab bak beurkata Teuma nyang nam hana harap, hana seungap hana sabar

Watee teuka keusukaran, cit susahan silagoina Teuma ngon droe binasaan, akan Tuhan hana sabar Nyang keutujoh lôn riwayat, uroe kiamat azeueb seksa Han teumakot meunan sahbat, diakhirat keunong bala

Dumna Hukamak meunan rawi, nyang beurbudi manusia Hamba Allah beurang kari, mamfaat jibri han teukira Beurang kasoe keusukaan, that peukeunan ji peucaya Dum ji ikot peurbuatan, peurcayaan manusia

Ureung ‘alem tan beurubudi, dum keutahwi hana guna Leubeh mulia wahé akhi, nyang berubudi sangat ‘akla Ureueng ‘alem nyang na budhoe, geu eh keudroe seungab saja Sitan akai seumbahyang roe, leubeh gobnyoe nyang seungab na

Dan puasa pih cit meunan, seukalian leubeh bicara Leubeh pangkat nyang budiman, deungon nyang tan na bicara Leubeh afdhal raja nanggroe, geungui budhoe geupeulara Paidah sinan le han bagoe, peurintah sampoe dum peukara

Sempurna that hana lawan, keu Sulotan nyang akai na Nyang tan akai duek Sulotan, peurbuatan sia-sia Soe tan akai nyang hina that, leubeh pangkat nyang akai na Keubajikan le manfaat, dumna rakyat nantiasa

Teursebut lam Shifatul ‘Aqli, beurang kari ateueh donya Hana leubeh nibak budi, ya akhi silama lama

Nyangkeuh nyang jeuet tameurakan, seutiawan hana tara Donya akhirat berukeukalan, cit putoh han sama sama

Nimarrafiq geukheun budi, lôn areuti teuma makna Nyan rakan seutia mate, hanatom cre deungon gata Adat saket ji peuubat, jatoh angkta le bicara Adat hina mulia that, gasien meuhat ji peukaya

Nyang keutanda nyang jroh budi, hana sabe that mulia Leubeh manyang deungon tinggi, deurajat budi sangat ‘akla Nyang leubeh that nibak insan, nyankeuh taulan meuseutia Donya akhirat muliaan, ingat tuan tuha muda

Nyang leubeh that bak insani, nyan ‘akeuli nyang that ‘akla Hana sabe beurang kari, beuta piké dum syeedara Raja Iskandar lôn riwayat, bri horeumat keu gureenya Hana sabe mulia that, leubeh pangkat nibak bapa

Hakim Iristithalis tanyong meunoe, raja nanggroe jawueb teuma Pakon leubeh tuanku droe, hana bagoe that mulia Ngon ayahnda leubeh guree, pakri lagee pomeukuta Jaweub raja deungon teuntee, leubeh guree ngon ayahnda Nyan di ayah peulara kamoe, hana bagoe indah raya Keuseunangan dum jeub jeub syoe, dalam nangggroe ini donya Nanggroe fana dum keukai tan, ayah meunan geupeulara Teuma guree lôn nyatakan, keuhidupan kon didonya

Keuseunangan di akhirat, nyang keukai that lama masa Wajeb leubeh keu Useutad, kureueng meuhat ateueh bapa Guree kamo lagi ‘alem, deungon hakim mat hukomnya Dumna rakyat dum teuseulem, nyang that karim peumulia

Ureueng ‘alem peurintah hukom, dum na kawom lam sijahtra Peurbuatan adé bandum, rakyat neu hukom hana sia Meunyoe hana deungon ‘alem, buettan hakim sia sia Hana beunar hana rahim, hana salim dalam dada

Nyangkeu sabab hana indah, bak jeulameulah akai hana Guree ulôn nyang peurintah, hukom Allah ngon Ambiya

Hakim ‘alem ulôn kheun ban, nibak buettan hana sia Buettan beutoi ngon beunaran, geutueng gobnyan bak pusaka

Nibak Nabi ulôn peugah, asailiyah tueng pusaka Sabda Nabi ulôn kisah, soe meutuah deungo nyata Al-‘Ulamā’u waritsatu al-Anbiyā’i, deungo saré areutinya Nyang ulama wareh Nabi, meunan akhi tapham rata

Bèk meutuka bube rawi, tapham saré dum syeedara Pasai Tujoh Blah lôn nyatakan, syarat keurajeuen raja raja Dumna syarat peularakan, he Sulotan nyang mat donya Syifatul Muluk na geurawi, syarat hase dalam tahta

Syarat raja beurang kari, peulara duli bube kata Siplôih syarat lôn kheun sinoe, beuta pakoe wahé raja Ta peulara ban kheun kamoe, mangat sampoe keurajeuen gata Peurtama phon dum Sulotan, rakyat saban deungon raja

Deungon rakyat peurdakwaan, beurhukuman bak ulama Geudong gobnyan bangon rakyat, geukhideumat hakim ulama Deungon rakyat saban pangkat, oh jan saat hukom raja Bangon rakyat peungaduan, meunan Sulotan bak ulama

Rakyat hukom le Sulotan, seupeurti ban droe geuh juga Meunan bangon raja adé, droe geuh nyan pih sama juga Nyang kedua ulôn rawi, bèk tinggai le uleh raja Pinto rumoh beurang kajan, silamaan beuteubuka

Hamba Allah nyang sukaran, peungaduan kadang teuka Cit beurijang pareksa lé bèk beurheunti putoih sigra Keubeunaran deungon adé, pahla hase han teukira Leubeh bak seumbahyang sunat, meunan daulat dapat pahla

Limong watee geuibadat, laen bèk that geukeurija Tinggai sunat dum barang ri, nyang padoli hukom saja Pahla le that sinan hase, hukom adé manusia Teuma nyang lhèe ulôn bayan, ikot buet tan raja raja

Raja adé nyang meuiman, wajeb meunan ikot raja Teuma nyang peuet ulôn rawi, hukom beurang ri geupereksa Bèk deungon kreueh tuto keuji, bèk geumaki uleh raja Leumah leumbot raja tanyong, bèk jeuet ureueng takot raja

Bah ji jaweub deungon keunong, beuji tamong lam teulinga Ohka muphom seukalian, piké Sulotan ngon bicara Dua pihak geutimbangan, peurkataan nyang meudawa Zameun Sulotan Makmun Rasyid, meunoe narit geucalitra

Sidroe ureueng salah bit bit, meunoe sabet salah raya Sidroe ureueng raya salah, duli khalifah neu meusabda Sabab syeedara ji plueng sudah, ji peuleupah le syeedara Ateueh adoe ka meukeumat, sabab ji intat plueng syeedara

Nyangkeuh salah nyang raya that, suroh daulat poh beupahna Teuma jaweub le sisalah, ampon meu’ah pomeukuta Lôn deungo fireuman Allah, ji lafai sah dinab raja Arti mantong ulôn surat, bahasa Arab hana hurufa

Han jeuet tanggong le beurangsoe, deesya sidroe manusia Deesya sidroe tan bak sidroe, meunan bagoe pomeukuta

Teuma raja peulheueh ponyan, bak Sulotan ampon deesya Ka lheueh salah bak janjongan, meureuka tan nibak raja

Nyang keulimong lôn riwayat, raja daulat lôn peukhabar Bèk geulaloe buet syari’at, Tuhan hadlarat peumeureka Amar nah’i beugeuikot, beuthat takot keu Neuraka Teuma nyang nam ulôn seubut, raja tuntut ngon usaha

Buettan pahla nibak Allah, geuseuleuah uleh raja Le that pahla dum meutamah, karonya Allah akan raja Fadhā’ilus Salāthīn na geurawi, deungo akhi tuha muda Pahla raja nyang that adé, tiep-tiep hari tamong pahla

Malaikat seukalian, geutimbangan amai raja Manusia buet baktian, timang sajan deungon raja Bube ureueng lam peurintah, saboh jeumeulah di bawahnya Raja dhalem ulôn peugah, saboh jumlah meunan juga

Surat deesya barang kajan, keujahatan ji keureuja Deungon rakyat dhalem saban, laknat Tuhan akan dia Nyang keutujoh lôn riwayat, raja daulat lôn peukhaba Dum ulama gaseh beuthat, nyang ibadat dum Syaikhuna

Ureueng ‘alem nyang ban Syiah, beuthat gaseh uleh raja Geuduek sapat saboh majeulih, hate beugleh duek seureuta

Muwafakat musyawarat, beumangat that hate suka Nyankeuh ureueng geumeusahbat, sempurna that buettan raja Ismail Samamy ulôn rawi, nyan pi duli raja raya Nanggroe Khurasan teumpat duli, ‘ajam yakni nama bangsa

Takdirullah bak siuroe, ‘alem sidroe keunan teuka Bri horeumat teurtib sampoe, leungkap bagoe dum peukara

Ohlheueh meuduek na sisa’at, deungon daulat raja raya Lakee izin neuwoe leugat, raja intat peumulia Tujoh langkah jak Sulotan, lheueh nibak nyan riwang raja Syekh meudo’a yoh masa nyan, keu Sulotan raja raya

Bak malam nyan raja nanggroe, neu meulumpoe malam jula Rasulullah na nyum sampoe, neu kheun meunoe ubak raja He Ismail deungo ku peugah, Ulama Syiah peumulia Tuhan neubri gata meugah, jeuet Khalifah keukai baka

Aneuk cuco leubeh pangkat, bak jadmajad peumulia Peulara le Tuhan Hadlarat, lam seulamat ngon sijahtra Ngon beureukat do’a Syiah, gata meutuah wahé raja Sidroe raja ulôn kisah, Sulotan Abdullah geuboh nama

Aneuk cuco Sulotan Ismail, ulôn rawi saboh masa Nanggroe Khurasan teumpat duli, padum lawi dalam tahta Raja Abdullah Thahiri Syaha, lam peurintah padum masa Bak meuntroe tanyong Khalifah, hamba Allah geupareksa

Wahé meuntroe deungo kamoe, lam nanggroe nyoe cuba nyata Manusia ta hareutoe, nyang tan keunoe tom geuteuka Lawet keurajeuen peurintah lôn, na nyang tan tron ubak hamba Jaweueb meuntroe daulat ampon, ulôn teukheun bak meukuta

Dua ureueng pojanjongan, nyang na laman thee sibeuna Hana tomna keunoe jalan, geusinggah tan siumu na Sidroe nama Ahmad Arab, dua cakap Muslem nama Bak tuanku hana tom rab, geuduek seungab di rumahnya

Bak tuanku dan bak meuntroe, hana tom toe ureueng dua Hantom peurnah lihat kamoe, saleh hansoe that wara’a Teuma neukheun le Sulotan, keudeh kaman hai peurdana

Ngon Syaikhuna mendapatkan, geubeurjalan teuma raja

Geupeureugi bak Syekh Ahmad, ‘ohtroh daulat saleuem geuba Jaweueb saleuem Syekh keuramat, teuma geumat jaroe raja Ubak muka lihat Teungku, neu kheun laju le Syaikhuna Lôn deungo rupa Tuanku, hantom lôn eu dilee lama

Rupa ilok hana macam, Syahi ‘alam lihat hamba Nyoe lôn peugah narit tamam, lôn meukalam bak meukuta Meunoe bangon geukheun lagee, bèk bri rujee lam Neuraka Meunan bangon he raja mei, lôn kheun teuntee ingat gata

Beudoh teungku neu seumbahyang, tanle pandang ateueh raja Lam ibadat droe nyan bimbang, meunan nyang trang di Syaikhuna Raja raya beurtangisan, han meuban ban ro ie mata Geutron sinan le Sulotan, geujak yohnyan ngon ie mata

Syekh Muslem hajat meuteumei, ‘oh ban geuthee raja teuka Geutop pinto geukheun lagee, cit hanamei kalon mata Keunan peurab raja daulat, Syekh keuramat han teurima Teuma lheueh nyan geuwoe leugat, geumoe that that yohnyan raja

Sira geuwoe kheun Khalifah, lôn meulangkah bak Syaikhuna Uroe Jumeu’at ‘ohjak Syiah, meung na Allah keubah nyawa Ulôn jak preh lôn horeumat, meunan daulat neu beurkata Hingga troh ubak Jumeu’at, neu beurangkat poteuraja

Bak Meuseujid rot jak jalan, preh di sinan Syiah teuka Na sikeujab preh Sulotan, teuka keunan le Syaikhuna Ateueh guda geutron daulat, jak horeumat le Syaikhuna

Neuwa jaroe duli hadlarat, neu khideumat hana tara

Syiah tanyong yoh masa nyan, peue na padan pane gata Peubuet tadong di hadapan, peukeurjaaan sinoe peue na Teuma jaweueb le Khalifah, nan Abdullah Thahir nama Geuwa jaroe geuseumeugah, horeumat Syiah hana tara

Nyang troh langkah ulôn teunyoe, hajat kamoe bak Syaikhuna Paleng muka di Syiah roe, sira meunoe neu beurkata Nibak muka neu lihat tan, bicara tan lôn ngon gata Teuma neumoe le Sulotan, reubah pansan raja raya

Reubah digaki Teungku Syiah, duli khalifah neumoe rugha Neu meulakee ubak Allah, sira peugah hai diraja

Ya Tuhanku ya Ilahi, hamba fakir salah raya Ulôn salah nibak Syaikhi, tan sikali ampon hamba

Ulôn jeuheuet raya salah, he ya Allah kalon gata Salah ulôn hana meu’ah, uleh syiah yang mulia Hana neungieng muka kamoe, sabab lôn nyoe jeuheut raya Ulôn jeuheut tan sibagoe, lam donya nyoe hana nyang sa Ulôn salah nibak Syaikhi, ulôn keuji jeuheut raya Keujahatan buet beurang ri, beungeh Syaikhi ateueh hamba Lôn meulakee he ya Allah, buet nyang salah lôn bak gata Keujahatan buet nyang leupah, ampon meu’ah taubat hamba

Lôn horeumat keubajikan, buet salahan lôn peuhina Ulôn tulak keujahatan, teuma lheueh nyan teuka suara Dalam ghayeb geudeungo su, meunoe laku wahé raja Deesya keudum ka teupeuro, beureukat guru Syiah mulia

Dumna deesya habeh suci, Tuhan Rabbi nyang karonya Ngon beureukat khadam Syaikhi, ikhlas hate gata raja Cit seulamat dua nanggroe, troh ‘an dudoe lam sijahtra

Sabab horeumat keu Teungku nyoe, raja nanggroe ka meurdeka

Jeuet seulamat raja daulat, sabab horeumat Syiah mulia He syeedara rakan sahbat, beuta ingat raja raja Wajeb raja nyang mat nanggroe, meusahbat roe ngon ulama Hukom Allah neu meuproe-proe, laba rugoe beuna bida

Sabab eleumei lôn nyatakan, that tinggian maha beusar Nyang bri eleumei peumeugahan, gaseh Tuhan akan dia Eu ulama kareuna Allah, bèk nyang salah tamak lubha Beuta ujoe he Khalifah, tan bideu’ah beunar kata

Le ulama peuturot nafsu, meunan laku bèkta suka Bèk taikot nyang beugitu, taeu teuntu nyang sijahtra Bèk meutuka buet syari’at, jaga beuthat ta usaha Jikalau na buet nyang laknat, teugah kuat uleh raja

Di ulama pi geuteugah, bak khalifah dumka nyata Mangat meuri beunar salah, Amar teugah geukeureuja Meutan meunan salah meuhat, ateueh daulat ngon ulama Cit bandua gobnyan geubrat, Tuhan Hadlarat balah syeksa

Nyang meutuah lôn hareutoe, buet sinaroe nyang seumpurna Beukai donya dum sinaroe, ngon beukai woe lan Syuruga Nyang ceulaka ulôn kisah, buet nyang salah jikeureuja Amar nah’i tan jipeugah, di khalifah buet elanya

Nyankeuh beukai di akhirat, bak woe teumpat lam Neuraka Ulama raja saboh teumpat, nyang that laknat azeueb seksa Wahé raja nyang mat nanggroe, nyang bri budhoe wajeb beuna Ulama beuna saleh hansoe, wajeb dumsoe ta peulara

Nyankeu taulan raja daulat, musyawarat dum peukara

Bube geukheun dum muslihat, ikot daulat gata raja Teuma lôn boeh nyang keulapan, dumna insan nbak raja Bèk teukabo di raja nyan, beuna ihsan fakir dumna

Manusia beurang kasoe, teukabo roe ‘ujob ria Keubeusaran hana bagoe, di raja nyoe bèkna suka Hana wajeb ateueh ponyan, di Sulotan peumulia Nabi Musa lôn nyatakan, muliaan manusia

Nyang na adab ngon tawadl’uk, meunan layak manusia Deungon Musa ‘oh meureumpok, gaseh galak hana tara Neu pelara neu tulongan, keudroe neuh nyan yue meudo’a Nyang sikureueng ulôn bayan, dum Solutan geupeulara

Keubajikan soe nyang peubuet, nyang hak patot nyang sibeuna Nyang peulara rakyat makeusud, ulôn seubut nibak raja Ateueh ponyan geubri pangkat, ngon deurajat geupeuraya Geupeuleubeh ngon meurtabat, meunan daulat peumulia

Ureueng peubuet keujahatan, dumna insan ji enanya Ponyan salah bak Sulotan, wajeb meunan raja raja Geupeuhina si bideu’ah, jih geurampah tueng areuta Meunan bangon kutok Allah, bak khalifah peumeureuka Ureueng laen bèk ji ikot, geupeutakot uleh raja Meunyo ponyan raja turot, Tuhan makbud neubri bala Ateueh raja Tuhan laknat, uroe kiamat azeub seksa Balah enanya ateueh daulat, seksa nyang that ateueh raja

Nyang keuh siplôih lôn antarkan, dum Sulotan bijaksana Deungon ingat peurbuatan, lam timbangan kira kira Bèk na lupa raja daulat, ban syari’at bèk meutuka Peurhukuman dum na rakyat, pareksa that uleh raja

Bube kadar keulakuan, peurkataan simak raja Geubicara teuma lheueh nyan, seukalian beusijahtra Pasai Lapan Blah lôn riwayat, eleumei peunyeupat ulôn nyata

Kheun Hukama meunoe sahbat, deungo meuhat dum syeedara

Ta keunal biet wahé insan, peungeutahuan peuet peukara Eleumei neubuet nyang mulaan, wilayah lheueh nyan nyang keudua Teuma nyang lhèe eleumei hekeumat, eleumee peunyepat peuet peukara Eleumei neubuet lôn riwayat, deungo sahbat lôn peukhaba

Beuna tathee nibak Nabi, turon wahai Allah ta’ala Teuka ilham nibak Rabbi, geutunyok le dum peukara Tuhan peutunyok eleumeI hekeumat, ngon isyarat dum Ambiya Sabab tiep tiep sidroe sahbat, tiep tiep alamat bak Ambiya

Ateueh tuto tanda alamat, maklum meuhat bak Ambiya Pengeutahuan hai droe sahbat, tiep tieb alamat hai dirinya Dum na Nabi seukalian, keutahwi dumnya Nabi kita Nabi Muhammad muliaan, hana lawan sangat a‘la

Nabi dilee meunoe hajat, buejeuet umat Nabi mustafa Dum Ambiya galak geuthat, meunan kasad geumeupinta Beuri khabar nabi geutanyoe, bak Rasul ladom ambiya Nyoekeu ayat deungo adoe, pham sinaroe he syeedara

Laqad tamannā itsnā ’asyara nabīyan, innahum kānū min ummatī ibni ‘Imrāna wa ‘Isa ibn Maryama Dua blah nabi berkeuheundak, nyang rindu bak umat mustafa

Beujeuet umat nyang mustahak, meunan layak rindu raya Sidroe Musa aneuk ‘Imran, nyang sidroe nyan nama ‘Isa Aneuk Maryam kalôn bayan, nabi zameuen keunal mustafa Nabi Muhammad leubeh pangkat, ngon deurajat hana nyang sa

Keubeusaran ngon meurtabat, fireuman hadlarat Allah Ta’ala Wa-idh qāla [‘Īsā ibnu Maryama yā Banī] ‘Isrā’īla innī Rasūlullāhi ilaikum mushaddiqān limā baina yadaiya minat Taurāti wa mubassyirā bi-rasūlin, yaktī min ba’dī ismuhu Ahmad Kata ‘Isa ibnu Maryam, neu meukalam ngon umatnya

Bani Israil deungo macam, tuto geupham bandum rata Ubak ulôn suroh Allah, geuyue peugah dum bak gata Dalam Taurat nyata leumah, Rasulullah that mulia Akhé jameuen keusudahan, keuleubihan nabi mustafa

Nama Ahmad keunyataan, Isa meunan neu meusabda Eleumei walayat dumna wali, geukeutahwi manusia Nyan ceureumen hate suci, baten lahe leumah nyata That jeureungeh hate heuning, habeh geungieng dalam lua

Hana padok hana rampeng, hana tabeng leumah nyata Sulaiman Farisi ulôn peugah, deungo lôn kisah he syeedara Kawom Musa nabiyullah, meusyuhu gah sagai donya Eleumei kasyaf cit geuturi, keunal nabi gohlom nyata

Geumeulakeee ubak Rabbi, hana khali geumeupinta Lakee beureukat ngon syeufeu’at, bak Hadlarat Allah Ta’ala Beumeuteumei Nabi Muhammad, yakin geuthat hana tara Meunan pinta Sulaiman Farisi, Tuhan Rabbi kabui pinta

Lahe Muhammad dudoe akhé, Sulaiman Farisi masok agama Jeuet keusahbat Rasulullah, ka meutuah meubahgia Bak walayat waliyullah, geu eu leummah nyang goh nyata Nyang peungeunal eleumei hakeumat, deungo sahbat lôn peukhaba

Dum na falak lôn riwayat, buruj meuhat duablah na

Bintang duablah bintang tujoh, geukheun makruf teuboh nama

Bintang Siyari nama geuboh, keutika roh peuranaknya Dumna hakim peungeutahuan, seukalian manusia Eleumei hekeumat teuduek ‘ohnan, peungeutahuan rupa rupa Eleumei peunyeupat deungon peurasat, na alamat manusia

Maseng maseng na alamat, lam peurasat geu eu tanda Keubajikan keujahatan, seukalian leumah tanda Cit geuturi keunyataan, peungeutahuan leumah nyata Got ngon jeuheut cit geuturi, geukeutahwi dum peukara

Miseue hikayat Imum Syafi’i, geupeureugi saboh masa Baitul Mukaddeh neu beurjalan, meusafaran Imum kita Antara Meuse di teungoh nyan, Ramalah duson troh sampoe ka Meureumpok le ureueng sidroe, Imum geutanyoele jimaba

Troh u rumoh ka jipuwoe, hana bagoe that mulia Meubagoe bagoe ji khideumat, jibri nekmat cati rasa Imum Syafi’i susah neu that, muka pucat duka cita Dumna sahbat tan keutahwi, susah hate di Syaikhuna

Beungoh uroe geupeureugi, Imum Syafi’i peugah sigra Lakee idin ubak ponyan, meuleubehan peumulia Maken susah cit hanaban, peurcintaan Imum kita Teuma geutren geubeurangkat, geujak leugat giduek guda

Di likot Syekh teuka surat, dijok meuhat sigra sigra Syekh teurimong neubacakan, that sukaan hanle duka Mangat hate hana lawan, seuka;ian hireun raya Ubak Imum ditanyong proe, dum sinaroe jipareksa

Dilee lawi lôn eu bagoe, teuma jinoe suka rasa Dilee susah ulôn lihat, nyum susah that di Maulana Teuma jinoe galak meuhat, Imum leugat jaweueb sigra

Imum peugah yoh masa nyan, nyang jeuet laman susah raya

Peurasat ubah keunyataan, jeuet susahan hate hamba Nyang peujamei dum geutanyoe, lôn eu bagoe leumah tanda Keubajikan bak jih tanroe, peurasat kamoe meunan nyata Geutanyoe that ji khideumat, hana dapat meunan sangka

Nyum ka salah sang peurasat, ‘Oh troh surat lahe nyata Limong blah dinar jiyue pasoe, ubak kamoe ka jipinta Mangat hate hana bagoe, peurasat nyoe ubah hana Imum Syafi’i karonyaan, geubri lheueh nyan 30 dinar

Sabab peurasat keunyataan, galak hanban di Maulana Nabi Sulaiman lôn hikayat, masa daulat dalam tahta Dua inong meukeuseumat, jeuet meudawa jih bandua Saboh aneuk peurdawaan, dua ponyan ji meudawa

Sabe dua peungaduan, dua saban kheun aneuknda Bandua jih kheun aneuk droe, meunan bagoe ji meudawa Nabiyullah tahe laloe, hantom meunoe nyangka nyangka Yoh nyan Nabi ka teupiké, hukom neubri sigra sigra

Nabi yue plah neuyue bagi, cit beusabe dua bunda Inong sidroe that sukaan, nyang sidroe nyan jimoe rugha

Han jibri plah aneuk jih nyan, neubri keunan bèk dihamba Keu inong moe neu keumbali, keunan neubri aneuk dawa

Inong galak hana neubri, buet di Nabi neu bicara Pasai Siplôih lom sikureueng, deungo ureueng tuha muda Nyoe peurasat dumna ureueng, bèkna salueng tapham rata Eleumei peurasat lôn nyatakan, ulôn bayan lihat rata

Kata Hakim seukalian, dumna insan ulee raya

Nyankeuh ureueng tanda himmah, cut lôn peugah nyan keupala Kureueng akai meunan leumah, ulôn kisah seuderhana Tanda alamat meu eleumei, lôn kheun lagee laen pula

Oek nyang kanjo lôn kheun teuntee, beurani mei kheun Hukama Oek nyang geuten tanda gusuen, budi lôn kheun kureueng raya Untong kureueng wahé kumuen, adoe aduen tapeucaya Oek nyang seudang ulôn teuproe, tanda pujoe manusia

Oek nyang leubat di ulee dhoe, kureueng budhoe akai hana Oek nyang leubat siblah likot, nyang makeusud nafsu raya Bulee bawah takue seubut, lagi patot bawah teulinga Tanda beurani nyan alamat, bulee leubat ateueh dada

Tanggoe u pruet ji meusambat, nyan alamat kureueng bicara Oek nyang hitam tanda meubudi, peutroh janji nyankeuh tanda Oek nyang kuneng ulôn rawi, kureueng budi marah raya Oek antara hitam mirah, ulôn peugah he syeedara

Alamat nyan geupujoe meugah, pham beuceudah bèk meutuka Dhoe nyang seumpit kureueng budi, teuma lagi dhoe nyang raya Tanda malaih meunan rawi, lôn peugah kri seuderhana Dhoe nyang seudang deungon krot krot, geuseubut tanda geupuja

Antara dua keuneng nyang krot, that meukeusud that beurcinta Krot meulinteueng alamat dhoe, tanda meubudhoe ngon bicaa Nyang sangat krot meunoe bagoe, alamat nyoe keuji tanda Meunyo luah nyan dhoe akhi, tanda meubudi ngon kuasa

Beungeh rijang cit pulehlé ingat akhi nyankeuh tanda Ruhung geulinyueng nyang ubit that, lôn riwayat peugah tanda Keubeusaran kureueng meuhat, buet salah that meunan tanda Bulee keuneng ulôn seubut, nyang miyub lôn kheun tanda

Peurcintaan nyang meukeusud, ulôn seubut panyang teuma Bulee kuneng marnyang panyang, lôn kheun seunang pham syeedara Peuraya droe meunan nyang trang, keuneng meuteumeung jih bandua Tanda fiteunah ngon bantahan, lom tinggian keuneng teuma

Nyankeuh tanda panyang umu, meunan laku geucalitra Mata ubit teukatob katob, ijo cukop saboh tanda Hana malee paleh lingkob, deungki ‘ujob khianat ceulaka Keujahatan mat sangat, meunan sahbat kheu Hukama

Warna kuneng puteh meuhat, nyan alamat fiteunah raya Mata mirah lôn kheun laku, mata leumbu proe umpama Meukleb ateueh meunan teuntee, kureueng sampee ngon bicara Keujahatan meuzina that, peubuet laknat dalam lupa Bangon leumo mata meuhat, ahmaq sangat hana tara Bulee meukleb mata keucil, le that taki tipee daya Tanda munafek jeuheut beugi, peuleumoh saré manusia Le that tipee deungon ilah, ngon beurakah meunan tanda

Mata meungieng sang aneukmiet, lagi sabit teukhem muka Nyakeu tanda umu panyang, meunan taulan kheun Hukama Mata hitam ban jambee kleng, hitam galeng geukheun nama Nyankeu tanda meuakai that, lagi sahbat jroh lagoina

Takue paneuk wahé sahbat, nyang alamat jeuheuet raya Nyan alamat keujahatan, wahé taulan piké rata Baho luah lôn nyatakan, alamat nyan tan bicara

Beurani that meunan kisah, ulôn peugah ubit teuma Baho ubit tanda salah, peucaya ubah manusia Han peucaya keu berangsoe, meunan bagoe lôn peukhaba Ulôn kisah aneuk jaroe, panyang adoe meunoe tanda

Tanda ceureudek hana lawan, peukeurjaan that seumpurna Dada panyang lôn nyatakan, malaih hanban lagi lupa Dada seudang ulôn rawi, tanda zaki got bicara Pruet nyang raya tanda jahe, malee lagi kureueng raya

Kureueng rahim keu beurangsoe, meunan bagoe pruet nyang raya Pruet nyang seudang lôn hareutoe, that meubudhoe nyang sijahtra

Akai jroh that hana sabe, peukeurti that sampurna Beuteh raya nyang kreueh hate, kureueng budi malee hana

Eleumei peurasat pihka tamat, pham he sahbat tuha muda Beuna bida dua meuhat, deungon jroh that ngon nyang hina Eleumei peurasat lôn hareutoe, beurang kasoe tahpam beuna Na taturi laba rugoe, dum sinaroe pham sijahtra

Pasai Dua Plôih lôn bayan, meunyatakan rakyat nyangna Dalam nanggroe he Sulotan, dua pasukan rakyat gata Dua peukara beuna tapham, kafe Iseulam beuna bida Bèk teukeuse syahi ‘alam, meunoe macam ulôn nyata

Ateuh Islam nyang mustahak, dua plôih hak nyang sibeuna Ateueh raja meunan layak, leupah nibak bahya mara

Uroe kiamat keusukaan, leupah inan bahya raja Peurtma phon lôn nyatakan, droe Sulotan bèk peuraya

Geupeulara hamba Allah, di khalifah bèk elanya Ureung teukabo ulôn peugah, bèkna nibak raja Seupeurti ban firman Tuhan, lôn nyatakan wahé raja Innallāha lā yuhibbul mutakabbirīn, beuta yakin bèk syok sangka

Tan neugaseh uleh Tuhan, akan si man teukabo na Hadist nabi deungo daulat, beuta ingat bèk na lupa Layadkhulul jannata mankāna fi, qalbi mitsqāla zarratin minalkibri Hana Syeuruga brurang kari, ube aneuk sawi teukabo na

Nyang keudua lôn nyatakan, raja Sulotan lôn peuhaba Bèk geudeungo peurkataan, keujahatan nyang jiteuka Cit geusaba di khalifah, dudoe sudah geupareksa Teuma hukom beuna salah, meunan peurintah buet dirja

Meugeudeungo peurkataan, keujahatan buet keureuja Binasa buet peurkeurjaan, geudeungoran buet salah na Sabab tamak jihareutoe, jeuet mauploe manusia Sabab deungki jipeugah proe, dum sinaroe jeuet binasa Akhé raja jeuet ceulaan, sabab Sulotan deungo haba Bèk geudeungo buet keujian, wajeb ponyan banci raja Kata hukama dum sinaroe, deungo kamoe peucalitra Man naqala ilaika naqilu ‘angka, ta peucaya kheun Hukama

Jiceula gob bak geutanyoe, wajeb ceula droe meuhat gata Dihadapan urueng ceula gob, jipeugah rhob dinab gata Tan tateugah digata ngob, deesya meusinyok ateuh gata Bak siuroe ulôn rawi, na lelaki sidroe teuka

Duek hadapan Saidina Ali, meudi ceulale manusia Saidina Ali neu kheun meunoe, narit kah roe sia sia Walau beunar ban kakheun nyoe, dikee seungkoe banci raya Menyo sulet ban kapeugah, kah nyoe salah kubri aja

Tuto ghayeb hamba Allah, taubat dikah bèk biasa Teuma taubat di urueng nyan, hanle meunan singoh lusa Nyankeuh nyang bak keujahatan, buet ceulaan manusia Teuma nyang lhèe lôn riwayat, ateueh rakyat teumeureuka

Beugeu ampon uleh daulat, bèk treb lambat ji meudesya Lam lhèe uroe tapeumeu’ah, deesya salah ampon gata Hadist Nabi Rasulullah, Teungku meutuah deugo rata Nabi Yusuf dilee lawi, deesya alhi ampon sigra

Tuhan peuleubeh deurajat tinggi, hana sabe that mulia Teuma keupeuet ulôn bayan, deungo Sulotan raja raja Ateueh rakyat bèk pilehan, got jeuheuet nyan bèk geukata Ureung jeuheuet nyang paleh som, jih geuhukom geuboh seksa

Ureung nyang got dum na kawom, bèk deungon som geupeusama Antara nya beubidakan, meunan Sulotan hukom geuba Ureueng nyang got geugasehan, buet tan meunan raja raja Hukom adé raja nanggroe, ateueh bumoe perintahnya Peulara rakyat dum sinaroe, beubida nyoe ala kadar Lam donya hamba Allah, di khalifah hukom geuba Beubidaan maseung ulah, meunan peurintah beuna kira Kafe Iseulam deungon fasek, beuna sidek deungon bida

Hukom raja beuthat lisek, beuceureudek kira raja Shaleh ‘abed hukom duli, maseng bagi hukom geuba Meuleu laen hukom geubri, mangat hase seuntiasa Nyang keulimong lôn riwayat, bèk khianat raja raja

Aneuk peurumoh dum na rakyat, raja daulat bèk banci na Bèk bri tamong dalam rumoh, ureueng lehloh sibagoenya Meunan raja beugeusatoh, hukom geuboh maseng jeumba Nyoe lôn peugah raja nanggroe, kadang peue peue neu keureuja

Jak u rumoh sibarang soe, ngon izin roe tamong raja Seuperti ban fireuman Tuhan, hareuem tuan izin hana Meuka izin po rumah nyan, baro lheueh nyan masok raja Lakee izin tiga kali, ta meuhoi le meusuara

Bri alamat na jituri, oh keutahwi jaweub teuma Dang jipeuseb peugot teumpat, bèk meukarat tamong lanja Kadang sukaran dijih meuhat, teungoh dharurat manusia Hana izin ta riwang lé dalam hate saket bèkna

Bèk geusalah uleh duli, hana teukeuse jih susah na Teuma nyang nan ulôn peugah, Duli khalifah beu keureuja Patot geuduek muthala’ah, dum peurintah buettan raja Wajeb geuduek beurkatakan, deungon taulan nyang beurbangsa

Ngon sigala nyang budiman, seupeurti ban ngon ulama Meu eleumei dumna Syiah, ureueng leubeh meubicara Meunan bangon duek majeulih, ureung meuceh nyang meubangsa Bèk na geuduek geumeurakan, deungon taulan ureueng hina

Beubai ahmak meujeulih tan, seupeurti ban kureueng bangsa Ureueng tamak nafsu bagoe, nyang tan teupeue majeulih bahsa Sibagoe nyan bahle bèk toe, dua nanggroe jeuet keu bahya Donya akhirat keurugian, ateueh Sulotan akhé masa

Sinan raja dum teureuban, nyang patot tan geukeureuja Nyang keutujoh ulôn peugah, adab khalifah ulôn nyata Watee geuduek ulôn kisah, meunoe ulah wahé raja Bèk meusapat deungon rakyat, saboh teumpat maseng raja

Cit beuaseng geuduek deelat, meunan adat raja raja

Raja geuduek saboh sagoe, nyang rab meuntroe tuha tuha Kadang teuka saleh soe soe, jituri nyoe poteuraja Laen rakyat duek beuaseng, bèk toe sampeng deungon raja

Patot meuntroe di geunireng, nyang duek jandreng diwie raja Nyang keulapan ulôn rawi, raja duli lôn peukhaba Ngon beurangsoe geumeujanji, bèk seukali ubah raja Nyang that jeuheuet dum Sulotan, ngon ‘ayeban hana tara

Bube janji ji peutroh han, raja meunan malee hana Menyo janji peusampaikan, keubajikan ateuh raja Poteu Allah keusukaan, keuseunangan ateueh raja Raja adé lôn peuteuntee, sabab jih lhèe ulôn nyata

Nyang phon janji peusampe mei, meunan lagee ubah hana Nyang keudua lôn hareuntoe, raja nanggroe teumei areuta Laen nibak hase nanggroe, bèk geupasoe lam beundahara Geubri keudum hamba Allah, keuseudeukah geukaronya Teuma nyang lhèe ulôn peugah, hamba Allah hukom raja Bèk na masam di Sulotan, muka geunyan uleue bisa Bèk deungon kreueh peurkataan, cit melenkan leumoh suara Nyoe lôn peugah hadist Nabi, neu kheuen rawi le Mustafa

Saboh meuligoe Tuhan jadi, hana sabe lam Syeuruga Indah rupa hana macam, meutatah pualam ngon meutia Padum meuligoe bak manikam, puteh hitam hana tara Teuma tanyong sahbat saré, keusoe geubri ya Saidina

Teuma lheueh nyan jaweueb Nabi, lhèe droe akhi po areuta Ureueng seumbahyang teungoh malam, teumpat makam po areuta Keunan karonya Rabbul kiram, meuligoe maknikam neu karonya

Dua ureueng bri makanan, nyang laparan deuek ngon dahga

Keulhèe ureueng lôn katakan, wahé taulan po areuta Nyang meututo leumah leumbot, nyang tan meudhot meusuara Nyan keuh nyang po kalôn seubut, Tuhan makbud nyang karonya Nyang sikureueng ulôn rawi, meunoe duli raja raja

Teuka ureueng beurang kari, horeumat geubi uleh raja Ureueng tuha geuhoreumat, walee beuthat eleumei hana Dum ulama leubeh pangkat, uleh daulat peumulia Nyang na eleumei beurang kari, sabda nabi peumulia

Pangkat leubeh hana sabe, karonya Rabbi akan raja Neubri keukai uleh Tuhan, keubeusaran ngon mulia Hana kureueng meuleubehan, keumeugahan meuganda ganda Nyang keusiplôih ulôn rawi, hukom beurang ri manusia

Deungon inseueh beuna adé, Tuhan Rabbi neu karonya Seumpurna amai teutap iman, gaseh Tuhan akan dia Meunyo dlalem sitree Tuhan, kufur ponyan raja raja Kheuen ulama bandum saré, raja kafe nyang adé na

Tan neuraka keunan neubri, teuma lagi tan Syeuruga Sabab kafe gaseh Hadlarat, neubri teumpat laen pula Nyang keusiblah lôn riwayat, lôn kheun daulat raja raja Ji yue hukom beurang kasoe, beuseuleusoe meunan pinta

Cit beusigra peukeumah roe, meunan bagoe jeuet sijahtra Meunyo lambat ulôn peugah, masok fiteunah akhé masa Cit beusigra keupeukeumah, raja meutuah le that pahla He raja jroh deungo rawi, sabda Nabi ta peurcaya

Saboh amai hana sabe, hana mise umpamanya Leubeuh nibak dum ibadat, hana sapat meunan nyang sa Ngon seudeukah tabri le that, seumbahyang sunat ta keureuja

Leubeh cit nyoe hana sabe, sahbat saré geupareksa

Rasulullah neu peugah kri, beurang kari raja raja Nyang na putoih hukom rijang, that geusayang keu rakyatnya Nyankeu raja lôn kheun seunang, Allah peutimang peumulia Raja lupa hukom rakyat, uroe kiamat azeueb syeksa

Geupareksa uroe akhirat, akhé meuhat nibak nyang na Keudua blah lôn katakan, buet Sulotan raja raja Nyangna salah soe soe insan, di hadapan bèk geukata Walau salah buet han meukri, bèk geukheun le nyan keutika

Bèk bri saket hate rakyat, bèk ngon jeungkat narit raja Hadapan le raja daulat, salah meuhat bèk geunyata Kitabul Akhbār na geurawi, tatop keuji ayeb syeeedara Syeedara Islam meunan akhi, Tuhan Rabbi tulong gata

‘Ayeb gata tob Hadlarat, donya akhirat lam sijahtra Meunan teuseubut wahé sahbat, lam riwayat Kitab al- Akhbār Saidina Uma radhiyallah, neu meulangkah saboh masa Watee malam ulôn kisah, hamba Allah jithee hana

Troh bak rumoh saboh teumpat, neu deungo meuhat meusuara Ureueng jeuheuet buettan laknat, meututo that ji meuseunda Ureueng jeuheuet neu keutahwi, peukeureuti ji meuzina Han ek sabar dalam hate, meuneu ek le ateueh pagar

Ateueh pageue neu ek leugat, Umar lihat ureueng dua Inong agam eh meusapat, peubuet laknat siceulaka Saidina umar ka amarah, ‘aduwullah le neu kata Bak kasangka buettan dikah, hana leumah bak Allah Ta’ala

Teuma jaweueb ureueng lakoe, tadeungo kamoe hai saidina Saba dilee digata roe, ulôn kheuen proe ubak gata Buet di ulôn saboh salah, di gata sah meuhat tiga Saidina Umar lom amarah, toh nyang salah ateueh hamba

Cuba peugah salah kamoe, toh pakri proe cuba kata Phon dijaweueb uleh hadlarat, fireuman bagoe ayat jiba Walā tajassasū nyan keu ayat, salah meuhat ateueh gata Bèk usaha kheuen Hadlarat, bèk ceula rakyat manusia

Nyoe digata ta meupayah, hamba Allah carot gata Tuan hamba neu seuleuah, teuma salah nyang keudua Fireuman Tuhan ji peugah kri, meunoe lahe lafai nyata Wa atu al-buyūta min abwābihā, kheun ta’ala hai saidina

Dalam rumoh ‘oh ta lalo, cit rot pinto suroh asa Ateueh pageue gata meusu, nyan teurteuntu salah gata Teuma nyang lhèe gata salah, fireuman Allah gata langga Walā tadkhulū buyūtan ghaira, buyutikum—hana maklum ayat gata

Han jeuet tamong oh tan hukom, hana muphom hai saidina Oh lheueh izin bak po rumoh, meunan suroh Allah ta’ala Di Saidina beurang ho bloh, bak po rumoh izin hana Saidina Umar neu peugah lé nyoe sikali ampon deesya

Singoh singoh bèk pubuet lé sumpah neubri taubat sigra Si anoe nyan ka jitaubat, bak Hadlarat Allah Ta’ala Nyang keulhèe blah lôn riwayat, buet salah that kadang raja Ubak rakyat bèk peuleumah, duli Khalifah bèk geunyata

Bèk ji ikot hamba Allah, ban peurusah buet di raja Got ngon jeuheut raja pubuet, meuhat ikot rakyat nyang na Meunan bangon nyang makeusud, bèk jiturot ban buet gata

Rakyat pubuet keujahatan, keu Sulotan meuwoe deesya

Rakyat pubuet keujahatan, deesya dum nyan ateueh raja Nyang keupeuet blah ulôn peugah, raja khalifah lôn calitra

Ahli donya bèk meuramah, ulôn kisah ubak raja Sabda Nabi neu kheuen nyoe ban, bèk meurakan ngon ahli donya

Bèk geumeuduek bèk meutaulan, meunan Sulotan nyang sijahtra Meung meututo raja galak, akhé rusak jeuet binasa Meunan raja hana layak, nyang mustahak beuta publa Jeuet seupot klam teuma hate, raja duli jeuet binasa

Donya akhirat tan meusampe, rugoe sabe meunan raja Uroe akhirat teuma susah, na’azubillah minha Wajeb bèk rab dikhalifah, beumeusiblah bèk toe raja Nyang limong blah ulôn rawi, raja duli lôn peukhaba

Jeu jeub uroe mita fakir, miskin lagi ngon ulama Ureueng beutoe peurkataan, nyang beunaran ngon sibeuna

Bri seudeukah beurang kajan, ubak Tuhan yue meudo’a Yue aja droe uleh duli, meunan sabe bak ulama Meunan bagon natrang hate, meutamah lagi geumeudo’a Ban hikayat raja ‘ajam, menoe macam geukeureuja

Sabe mate soe nyang geunggam, nanggroe ‘ajam jeub jeub masa Cit dua thon meunan sabe, teuma mate gantoe pula Lam simasa sabe meunan, takeudi Tuhan saboh masa Oh lheueh mate di Sulotan, aneuk jantann tinggai tiga

Nyang dua droe geuboh gantoe, han ji kabui takot pahna Aneuk teulot geuboh dudoe, peutimang nanggroe mat neuraca Aneuk raja duek khalifah, mat peurintah hukom donya

Geukhanduri bri sedeukah, ulama syiah yue meudo’a

Saboh Syiah yoh masanyan, hana lawan that wara’a Syiah Ahmad ‘alem hamban, harap Tuhan ngon takeuwa Syiah geuduek jeuoh teumpat, suroh daulat yue meudo’a Le that areuta geu yue intat, me lerakyat ke syikhuna

Oh saré troh ubak Syiah, jok hadiah nyang dibawa Yue meudo’a keu khalifah, ubak Allah geu yue pinta Do’a lakee uleh Teungku, panyang umu daulat raja Meunan peugah nyang teurteuntu, teurimong laju di Maulana

Yue meudo’a rijang rijang, teuma datang laen pula Ureueng raja leugat datang, Teungku pandang le that teuka Sireutoh limong plôih kameusapat, geubri teumpat le Maulana Geupeugah hai dum keudaulat, do’a seulamat geuyue pinta

Teungku peugah teuma meunoe, bak ureueng nyoe nyang le teuka Sibak kayee neu yue kohroe, meunan bagoe kheun ulama Meuka reubah kayee takoh, Tuhan sampoh bala raja Panyang umu meunan sunggoh, Tuhan bri roh lam sijahtra

Teuma lheueh nyan seukalian, geumeupadan meubicara Geukoh kayee yoh masa nyan, sunggoh hanban silagoina Jikoh kayee ka jiteubang, deungon parang tajam raya Ngon beuliyong dum sibarang, meunan seunang putoih hana

Bandum ureueng reuoh reuah, sangat payah hana tara Geumeupiyoh hamba Allah, meuwoe sudah meukab sigra Beungoh seupot geupiyoh tan, dikayee nyan reubah hana Sabe meukab dikayee nyan, sabe meunan reubah hana

Meukab bansot kaban dilee, hana lagee payah raya

Meujikoh lom teuma kayee, oh piyoh mei kaban nyang ka Na sibuleuen sabe meunan, keususahan ban sineu na Ladom ureueng jikheun padan, bak Sulotan jak tagisa

Hana daya dum geutanyoe, tajak jinoe ubak raja Bandum ureueng payah hansoe, koh kayee nyoe tan kuasa Lam kawan nyan ureueng sidroe, diponyan roe na bicara Na eleumei ponyan bagoe, jipeugah proe jikheuen haba

Meunoe jikheun uleh ponyan, meunan padan ta bicara Geutanyoe dum bloe makanan, beuet Quru’an ta meudo’a Ta meudike do’a seulamat, bak hadlarat ta meupinta Meunan bangon geumeupakat, bandum rakyat ka jiridla

Takoh kayee kuasa tan, ubak Tuhan ta meupinta Meunan pakat seukalian, bak malam nyan geukeureuja Beuet Quru’an geumeudike, ladom tahle hana reuda Simalam seuntok meunan sabe, hingga pagi teubiet faja

Beungoh uroe geu eu leumah, kayee reubah ka meutimpa Teuma geukheuen ubak Syiah, bube leumah geupeukhaba Alhamdulillah jaweueb Teungku, jak woe laju ubak raja Ka sijahtra takheun laku, panyang umu poteu raja

Hingga jiwoe bandum rakyat, ubak daulat ji peukhaba Raja nanggroe hate mangat, syukor nehmat hana tara Teuma lheueh nyan sabda duli, neu yue pangge rakyat nyang na Gasien miseukin ban sagai be, beujitron le ban sineuna

Habeh teuka seukalian, bak solutan raja raya Teuma tanyong raja yoh nyan, soe na tuan nafsu bawa Soe na hajat na meuutang, peugah rijang ku karonya Teuma seuot ureueng datang, deungon seunang ji beurkata

Dua ribee nam reutoh droe, nyang aku droe hutang pinta Teuma geubri raja nanggroe, dum sinaroe geukaronya

Teuma raja geupeugah lé meugoh mate ajai hamba Bèk tabayeue meunan akhi, raja rawi peugah haba

Meunyo mate teuma kamoe, nyang utang nyoe bayeue gata Ji meudo’a dum sinaroe, geunap uroe ji meupinta Beupanyang umu di Solutan, ubak Tuhan lakee rata Meunan sabe beurang kajan, peurmintaan dum sineuna

Meunoe seubut lam riwayat, cit panyang that umu raja Sireutoh lhèe plôih umu meuhat, keurajeuen daulat sangat lama Nyankeuh raja harap keu Tuhan, do’a insan le lagoina Fakir miskin seukalian, keu raja nyan ji meudo’a

Nyang keunam blah lôn riwayat, raja deelat geukeureuja Beurangkajan beuna ingat, fakir meuhat bèk geulupa Aneuk yatim beuthat gaseh, ureueng la’eh geupeulara Beugeutulong habeh habeh, bèk peujayeh beumulia

Beugeutulong beurang kajan, nyan sukaran manusia Nibak bala seukalian, tulong Sulotan akan dia Geupareksa geunap uroe, raja nanggroe geukeureuja Keuhai sukaran aneuk nanggroe, meunan bagoe buet di raja

Sabab Tuhan dudoe akhé, pareksa le akan raja Uroe kiamat neu tanyong ri, nibak duli raja raja Keuhai faki dum neusasat, Tuhan hadlarat neu pareksa Hadist nabi geuriwayat, deungo daulat raja raja

Malaikat suroh Tuhan, pareksa nyan ubak raja Raja kaya keubeusaran, na tulongan fakir dum na

Yatim miskin la’eh meuhat, na geusasat uleh raja Meunan tanyong malaikat, uroe kiamat ubak raja

Na geutulong keu ureueng nyan, balah Tuhan akan raja Tuhan tulong keu beusaran, muliaan hana tara Meunyo hana meunan duli, Tuhan Rabbi azeueb seksa

Lam neuraka neuyue camci, hana sabe that meureuka

Nyang tujoh blah lôn hareutoe, raja meunoe geukeureuja Wajeb geutem peugot nanggroe, na seunang roe rakyat nyang na Peugot titi peugot jalan, sibagoe nyan geukeureuja Mangat seunang sekalian, dumna insan seuntiasa

Ureueng meureubot di jalan roe, raja nanggroe yue jak mita Wajeb seksa meunan bagoe, bèk meupaloe rakyat nayng na Meutan meunan di Sulotan, keusukaran akhé masa Uroe kiamat keusakitan, balah Tuhan ateueh raja

Bak siuroe ulôn kisah, deungo lôn peugah he syeedara Saidina Umar radhiyallah, kheun khalifah bak Abu Zardara Saidina Uma meunoe tanyong, pakon ureueng seubut hamba Khalifatul Mukminin kata ureueng, jaweueb keunong Abu Zardara

Nyang jeuet meunan geuseubutan, tan lupaan dum keureuja Dalam ingat jaga nanggroe, geunap uroe hana lupa Sion kayee si barangsoe, teuma jicue enanya Saboh manok nagob taki, buet pancuri ji enanya

Tan pareksa nibak duli, jeuet teukeuse tuan hamba Kareuna gadoh areuta nyan, milek insan dalam donya Hana patot ji seubut nan, seupeurti ban nyang ka nyata Nyang lapan blah ulôn rawi, raja ra’i dalam donya

Beuna Meunasah hukom geubri, raja duli mangat sijahtra Wajeb geupeudong nyan Meunasah, buet khalifah nyang mulia Beuna Meuseujid beuet khoteubah, meunan nyang sah buet diraja Khatib Bileue geubri gaji, ateueh duli dum beulanja

Bèk sukaran raja geubri, geukira le uleh raja Sabda Nabi menoe sabet, deungon bit bit ta peucaya Beurang kasoe peugot Meuseujid, ngon khalis cit bèk na riya Tuhan neubri oh kiamat, rumoh teumpat lam syeuruga

Sabe donya rumoh meuhat, pham he sahbat ta peucaya Sikureueng blah ulôn peugah, raja khalifah lôn peukhaba Beugeuturi hukom Fiqah, hukom Allah geubeulaja Hukom syari’at geumeurunoe, meunoe bagoe daulat raja

Menyo hanjeut raja nanggroe, geumita soe nyang ulama Nyang na ‘alem ngon beunaran, geuseurah keunan hukom teuma Raja duli meutan meunan, ban sukaan geukeureuja Bube patot hukom adat, meunan daulat hukom geuba

Kon ban hukom lam syari’at, lambat lambat kira kira Nyan raja syeedara syeetan, hana cre nyan jeub jeub masa Donya akhirat jicre jihhan, daulat meunan that ceulaka Nyangkeuh raja poh Iseulam, nyang peukaram bhaih agama

Raja ‘ashi meunan macam, kafe jahnam tan agama Ban kheun Allah hana ikot, dijih turot nafsu hawa Hana jitueng bube patot, raja lupoet deungon lupa Hana jitueng kitab Qur’an, raja syaitan nyang ceulaka

Nyang dua plôih lôn nyatakan, raja Sulotan geukeureuja Amar makruf nahi mungkar, meunan duli raja raja Peurbuatan suroh Rabbi, meunan akhi suroh raja Buet nyang teugah nibak Tuhan, di Sulotan larang juga

Nyang han pateh ceulaka som, dum na kawon nyang mungkara Uleh raja beugeu hukom, mangat maklum rakyat nyang na Ureueng jeuheuet na jitakot, nyang meukeusud bèk mungkara

Hadist Nabi lôn kheuen bacut, deungo pacut raja raja

Nyang tan suroh keubajikan, keujahatan teugah hana Seksa Allah keu raja nyan, keudiaman lam Neuraka Bee syeuruga hana jicom, wahé kawom ta peucaya Hak Iseulam nyang raja dum, beuna maklum ta keureuja

Hak dua plôih kakeuh simpan, wajeb meunan geukeureuja Khalifatul mukminin di raja nyan, ingat Sulotan bèk na lupa Pasai Dua Plôih teuma satu, deungo teungku tuha muda Islam kafe rakyat meujampu, meunoe laku geukeureuja

Saidina Umar dilee rawi, geuprang kafe saboh masa Teuma lheuh nyan peugot janji, kitab ‘ahdi geukheun nama Peugot janji hanle ubah, kuat leupah silagoina Ateueh ingin dum khalifah, geutueng naskah pakai rata

Cit wajeb that ulôn peugah, dum geukeubah raja raja Wahé raja dum beurang ri, nyang na kafe rakyat gata Ban nyang syarat ta keutahwi, wahé duli bèk na lupa Sinoe syarat ulôn teuboh, na dua plôih pham beurata

Beuta ikot he teungku jroh, beuta satoh jeub jeub masa Peurtama phon ulôn kisah, deungo khalifah nyang peurtama Alamat kafe nyang ka sudah, naban ulah patong beurhala Teumpat jameun milek kafe, dudoe akhé Islam nyata

Keurajeuen Islam dudoe akhi, bèk peugot le bah binasa Bèk geureuloh di Sulotan, bahle meunan bube nyang ka Nyang keudua lôn nayatakan, wahé taulan ulôn nyata Geujak meukat nanggroe kafe, buet beurang ri geumeusafar

Bèk dom gata ulôn rawi, ta beurheunti bak beurhala Teuma nyang lhèe lôn riwayat, Islam meuhat geumeusafar

Nanggroe kafe geubeurangkat, troh bak teumpat kafe teuma Peurjamuan tiga hari, meunan akhi lôn peukhaba

Bak meujamei bèk teukeuse, meunan rawi geucalitra Teuma nyang peuet lôn katakan, bri antusan le kafira Bak Iseulam geubeurjalan, peurkhabaran na ji bawa Bèk na geutheun le Iseulam, meunan macam ulôn nyata

Nyang keulimong kafe tapham, dijih deundam bak agama Bèk na geutheun ulôn rawi, keunam lagi lôn calitra Lheueh Iseulam nyang di kafe, gata saré peumulia Watee Islam jak bak teumpat, kafe meuhat po rumohnya

Keu Iseulam horeumat that, seupeurti rakyat deungon raja Ureueng Iseulam muliaan, bangon tuan deungon hamba Nyang keu tujoh ulôn bayan, lôn katakan nyang sibeunar Teuka Iseulam ulôn peugah, bak jummeulah kafe dumna

Kafe meuhimpon meujamaah, ji peuindah Islam teuka Ateuh Iseulam that horeumat, jibri teumpat nyang mulia Nyang keulapan lôn riwayat, peukayan meuhat kafe nyang na Pakaian Islam bèk jipakoe, meunan bagoe geutham beuna

Nyang sikureueng ulôn teuproe, kafe sinaroe giduek guda Bèk peulana hukom geubri, meunan akhi lôn calitra Bèk seunjata rumoh kafe, hukom ra’i nibak raja Nyang keusiblah incien Iseulam, meunan macam kafe bèk na

Nyang duablah syahi ‘alam, wajeb geutham ra’i raja Arak tuak bèk ji meukat, meunan adat hukom raja Nyang teulhèe blah lôn riwayat, geutham daulat kafe nyang na Arak tuak bèk jimakan, meunan taulan larangr raja

Nyang keupeuet blah lôn nyatakan, peurbuatan nyang ka lama

Hana haroh tinggai kafe, buet nyang rawi lama nyata Peurbidaan Islam ‘ashi, meunan akhi beuna bida Nyang limong blah lôn katakan, perubuatan kafe nyang na

Bak Iseulam bèk laheran, nam blah tuan lôn peukhaba Aneuek cuco dum na kafe, geutham saré bèk boh nama Nama Islam bèk seukali, tujoh blah akhi lôn peukhaba Rumoh kafe seukalian, bèk rab tuan Islam nyangnya

Nyang lapan blah lôn nyatakan, mate taulan kafe teuma Di Iseulam bèk na geumoe, meunan akhi lôn calitra Sikureueng blah lôn rawi, mate kafe kadang teuma Bèk geutanom rab Iseulam, watee macam nyan ji bakar

Meunan bangon wajeb geutham, ohnam tamam he syeedara Ulôn teukheun nyang dua plôih, larang sunggoh nibak raja Ureueng Iseulam bèk ji teuboh, hana haroh bèk keureuja Islam kafe nyan keuh patot, ubah geureubot geuangkara

Meunyo hana nyan jiturot, rumoh geutot tueng areuta Meunan bangon peugot janji, ubah kaphe geuelanya Areuta geutueng aneuk Isteuri, jih geuungki geupeupahna

Pasai dua plôih dua taulan, lôn nyatakan he syeedara Lôn hareutoe murah ihsan, wahé rakan deungo rata Sabda Nabi Rasulullah, deungo lôn peugah tuha muda Asanhi habibullah, wal bakhilu ‘uduwallah Ureueng murah gaseh Rabbi, Tuhan banci nyang kriet raya

Murah mulia hana sabe, ureueng kikir sangat hina Ateueh raja daulat daulat, nyang murah that sangat ‘akla

That mulia leubeh deurajat, donya akhirat lam sijahtra Kata hakim seukalian, nyang ‘ayeban manusia

Hana dijih keubajikan, dum na insan kikir raya

Nyang boih ‘ayeb hamba Allah, malenkan murah laen hana Suci tangan bri seudeukah, sangat meugah sigom donya Ureueng kikir keuhinaan, keujahatan han teukira

Ureueng murah keubajikan, gaseh Tuhan akan dia Dudoe nibak Rasulullah, raja murah lôn calitra Nyang deurmawan dua khalifah, ulôn peugah he syeedara Meusyuhu gah sagai nanggroe, lam geupujoe jeub jeub masa

Nyang phon murah raja di Rom, teuma kawom nyang keudua Sulotan Syam beuna muphom, nama harom sigom donya Raja di Rom that murahan, dua gobnyan meusyuhura Raja dua droe leupah meugah, teuma meutamah sidroe syeedaga Leubeh syeedara hana sabe, nan Hatamthi meusyuhura Leubeh murah bak dua duli, hana sabe meugah raya Murah sangat hana lawan, ngon deurmawan hana nyang sa Jeub jeub donya troh khabaran, keu Sulotan sampoe haba

Raja dua droe deungo sabe, nan Hatamthi meusyuhura Le that pujoe nibak faki, lam jirawi jeub jeub masa Raja dua meunyum malee, meunan lagee gob peukhaba Maseng raja lam dua nyoe, ujoe eleumei meunan kira

Hana patot dum nan meugah, khabariyah bak geusangka Hana patot dum jipeugah, dumnan murah pat areuta Kareuna jih sabab cut that, deungon daulat leubeh dia Ban dua raja troh khianat, meunan ingat maseng raja

Pat hareuta jih saboh cot, nyang meukeusud jih syeedaga Meunan meugah hana patot, bahle mawot ta peupahna Nibak malee dum khalifah, mita ilah ngon tadaya Pakri bangon dijih murah, nyang jeuet meugah sigom donya

Phon raja Rom lôn hareutoe, geuyue sidroe suroh raja Nanggroe Arab geupeugah proe, sinan sidroe na syeedaga Geume surat peusurohan, kheun Sulotan pinta guda Bak Hatamthi yue mintaan, nyang gasehan saboh guda

Guda gaseh geuniduek droe, raja nanggroe pinta guda Nyang hana cre guda raghoe, nyang deungon droe putoih hana

Teuma jijak le surohan, ji beurjalan piyoh hana Jime saboh surat kireman, sampoe yohnyan bak syeedaga Le that jime ngon hadiah, bak khalifah nyang geubawa ‘Oh saré troh ji meulangkah, jok hadiah nyang geubawa

Di Hatamthi bri horeumat, mulia taht suroh raja Saboh rumoh geubri teumpat, nyang indah that hana tara Di Hatamthi that sukaan, peusuruhan peumulia Teuma geuyue meupiasan, hana lawan galak raya

Goh jijok surat kireman, peurkhabaran gohlom buka Hingga malam le ngon uroe, ujeuen sampoe teupeuen raya Jak u peukan pih hana soe, tansoe jakbloe daging teuma Di Hatamthi yoh masa nyan, meujak u peukan ujeuen raya

Hana soe jak that sukaran, geukheuen nyoeban sigra sigra Guda geunaseh geuyue sie lé hukom geubri sigra sigra

Geuyue taguen bri khanduri, di Hatamthi hate suka Geupeujameei bak malam nyan, meupiasan hana tara Jula malam brie makanan, beurtiduran jamei teuka Hingga beungoh teubiet uroe, antusan peutoe bak syeedaga

Jijok surat antusan nyoe, kalôn keudroe Hatam mulia Teurimong surat horeumat that, teuma lihat di syeedaga ‘Oh ban geu eu haba surat, muka pucat duka cita Hatam peugah bak antusan, haba Sulotan that mulia

Hanjeuet peugah ulôn paban, teukeuse nyan ateueh hamba Antusan ngieng muka Hatam, muka ranom meucuaca Muka pucat sang sang teukhem, nyum han geutem geubri guda Peusuruhan jaweub meunoe, bèk susah roe tuan gata

Menyoe hana ta peugah proe, ulôn teuwoe ubak raja Hana suka guda neubri, lôn keumbali lônjak gisa Pakon tuan susah hate, teuma jaweueb le Hatam mulia Jaweueb Hatam teuma lheueh nyan, kon han laman bri keuraja

Antara guda lakee Sulotan, that leubehan nibak hamba Dapat siribee ulôn teubri, lôn teukeuse salah raya Ihwal beuklam dum geurawi, guda hanle geupeukhaba Seukalian Hatam peugah, teuhah babah suroh teuka

Hana lôn thee hajat khalifah, kamoe teulah hana tara Sabab lupa ulôn teunyoe, hana kamoe gaseh guda Leubeh mulia raja nanggroe, meunan bagoe Hatam kata Hatam mita guda indah, nyang that ceudah rupa rupa

Ngon hadiah han teurpeugah, Hatam balah akan raja Teuma lheuh nyan antusan woe, ‘oh troh sampoe ubak raja Jok hadiah dum sinaroe, antusan proe lagee nyata Awai akhé dum ji peugah, bube leumah ji calitra

Raja di Rom teuhah babah, deungo peurusah Hatam mulia Di raja Rom that sukaan, deungo khabaran hireuen raya Bitnyo meugah meusidumnan, hana lawan dalam donya That meugaseh deungon Hatam, horeumat takzim nibak raja

Sideh sinoe peu et kirem, meunan lazem lam tiep masa Hatamthi meugah that meusyuhu, barat timu geuthee rata Hana sabe meunan laku, tan sikufu raja raja

Di raja Syam ulôn kisah, geudeungo gah Hatam mulia

Hana sabe meunan murah, ngon khalifah leubeh dia Di raja Syam hate seungkoe, hana bagoe saket raya Sangat malee di raja nyoe, ubak meuntroe geumeusabda Wahé mentroe ulôn peugah, Hatam murah rakyat kata

Deungon kamoe dum gob peugah, leubeh meugah jih meunama Cuba lakee le geutanyoe, barang bagoe indah rupa Nyang that meuh’ai tan di sinoe, talakee roe ek jipeuna Taci lakee beunar murah, cuba ilah ta eu nyata

Cuba pinta unta mirah, hitam duablah aneuk mata Panyang bulee manyang beulakang, lakee seunang ek jipeuna Sireutoh unta meunan nyang trang, meunan reumbang cuba pinta Bak kupiké wahé meuntroe, han ek sampoe han kuasa

Meuhat malee Hatam dudoe, meunan bagoe ta keureuja Teuma geubri le antusan, surat kireman geuyue bawa Dalam surat haba simpan, peurmintaan raja raya Peusuruhan teuma peureugi, padum lawi jimeusafar

Trok bak Hatam jipeureungi, saleum geubri that mulia Jak meuteumei deungon Hatam, surat kireman geujok sigra Surat raja mulia that, Hatam angkat di keupala Teuma buka le geulihat, haba mangat pinta unta

Hatam galak hana bagoe, raja nanggroe lakee unta Geu yue meuhoi rakyat dumsoe, geu yue jak bloe meunan unta Geuyue mita guda indah, geuyue langkah jeueb jeueb donya Meunan Hatam geumeutitah, hamba Allah jak meumita

Jipeureugi barat timu, nanggroe badu kajimita Bube hajat Tuhan bantu, woe meu’u’u peuwoe unta

Sireutoh unta Hatam kasad, Tuhan hadlarat nyang karonya Hareuga le bayeue leugat, lhèe peuet lipat yum meuganda

Hatam galak that sukaan, hana lawan galak raya Sireutoh unta laen haluwan, bak antusan geujok sigra Di antusan woe keumbali, peuwoe saré unta unta Bak raja Syam teuma jibri, lihat duli hireuen raja

Sangat hireuen raja nanggroe, bit murah nyoe hana tara Hana ureueng nyang meumeunoe, beurang kasoe hana daya Jeub jeub raja dum unta nyan, sapat pih tan dalam donya Di raja Syam that sukaan, balah yoh nyan raja raya

Sireutoh unta di khaifah, zahab fidlah peudieng rata Dum peukayan indah indah, that barollah peu et sigra

Teuma dijak le antusan, ji beurjalan suroh raja Bak Hatam thi ji hantarkan, peurseumbahan raja raya ‘Oh saré troh ubak Hatam, dum kireman peujok sigra Geuteurimong teuma lheueh nyan, muliaan hana tara

That mulia areuta Sulotan, Hatam yoh nyan geumeuseunda Nyang po unta dilee lawi, geuyue pangge dum sineuna Bandum teuka bak Hatamthi, hadiah geubri keupo unta Unta saboh deungon asoe, bri sinaroe Hatam mulia

Habeh mandum ka jipuwoe, hana sapeue tinggai nyang na Meunan bangon buettan Hatam, lam teukhem khem suka cita Teuma lheueh nyan antusan woe, balaih sinoe Hatam mulia Le hadiah bala bagoe, ‘oh troh sampoe ubak raja

Awai akhé perbuatan, nyang laheran dicalitra Raja Syam deungo haba meunan, seukalian habeh nyata Meunoe jaweueb diraja Syam, hana macam na sitara

Nyang dilee kon sangka waham, saheh tamam murah raya

Hana meunan bak jameuen nyoe, beurang kasoe raja raja Bagoe Hatam murah hansoe, raja nanggroe meunan kata Deungon Hatam hansoe lawan, bit murahan hana nyangsa Hikayat habeh ka tamat kalam, ngon rahmat Tuhan ka samporeuna

Washallallāhu ‘alā khairi khalqihi Muhammadin wa ‘alā ālihi wa ashhābihi wasallam Wa radhiyallāhu ‘an ashhābihi ajma’īn, Āmīn!

Tamat

BAGIAN II Alih Bahasa

Aku sebut Pasal kedua belas, saya cerita kabar perintah Pahami baik-baik hai, berpikir jernih harus lemah lembut Tahukah kamu pekerjaan utusan, seperti keturunan nabi semua ambia Bertutur benar bicara suci, jangan gentar dan takut pada bahaya Pada utusan yang diperlukan, begitulah caranya jangan ditukar

Allah Ta’ala persis memberikan, pada Nabi yang jadi pesuruhnya Pada utusan aku katakan, berkata-kata manis suara Lemah lembut sunat demikian, mengatakan yang sejahtera Firman Tuhan ku riwayatkan, turun kepada Nabi Harun dan Musa Faqūlā lahu qaulan laiyinan, itu firman Allah Ta’ala Wahai Musa dengan Harun, ajari Fir’aun oleh anda Dengan lemah lembut engkau ajarkan, bicaramu laksana gula

Ini perihal perutusan, yang bangsawan lagi bijaksana

Lidah fasih kelakuan, yang lebih memahami dan tidak tamak Karena utusan harus bijaksana, berkata dengan hati ikhlas Utusan lagi pengganti lidah, matanya juga dengan telinga Pengganti raja tuan khalifah, seperti yang dikatakan jangan ditukar

Angkatlah utusan yang banyak akal, yang tak bodoh banyak bicara Yang banyak keahlian tidak pelupa, jangan sekali-kali yang kurang bangsa Angkatlah utusan orang pilihan, jika demikian sangat sejahtera Yang membuat wajah sultan berseri-seri, jika berbicara pandai sekali

Jangan bicara semaumu, begitulah sebaiknya Seperti itulah ku katakan, jika tak demikian nama raja akan tercemar Pekerjaan utusan ada empat syarat, baru benar dan baik Pertama-tama benar bicaranya baik, jangan sedikitpun dusta

Perbuatan dan kelakuan, sekalian jalan benar Yang kedua jangan ada dusta, jangan keluarkan kata-kata kasar Kemudian yang ketiga begini, utusan itu adalah kepercayaanmu Utusan itu tempat menitipkan amanah, jangan berkhianat pekerjaan ditukar

Melainkan bicaranya harus benar, jangan singkat memutarbalikkan kata Hal keempat aku nyatakan, seperti yang diperintahkan oleh raja

Yang diamanahkan wajib sampai, dekat dan jauh jangan berbeda Dapat pergi dan dapat pulang, begitulah engkau kerjakan

Raja-raja zaman dahulu, mengutus utusan pergi kemana- mana Dibelakang utusan ada juru tulis, demikian diberi oleh raja Apa yang diperintah dia katakan, dikerani menulis segera Khabar dari raja ini dan jawaban, semuanya ditulis seperti adanya

Waktu pulang pada sultan, dua hal tersebut diperiksa Ucapan utusan dan isi surat, kata-katanya benar atau tidak Jika sama hatinya senang, utusan raja tak ada bahaya Jika selalu dipercaya, kapanpun tak mendapat bahaya

Lihat utusan yang pilihan, dua orang diangkat yang bijaksana Jika keduanya sangat bijak, takkan menemui kesalahan Raja memberi nama yang bagus, yang pantas namanya Duta Jika salah perkataan, orang itu lupa suatu saat

Raja memberi nama utusan tersebut, yang membuat kesalahan Upa Duta Itulah nama yang raja berikan, aku ceritakan sultan Iskandar Menyuruh utusan kesuatu tempat, disuruh bawa surat kepada raja Dara Lalu raja Dara menjawab, pulang kembali utusan yang sama

Diberikan surat kepada raja, lalu dilihat kemudian dibaca Setelah melihat isi surat, raja sangat ragu pada satu kata Raja bertanya pada utusan, engkau dengar seperti yang disurat Utusan menjawab daulat tuanku, aku dengar dengan telinga

Raja mengirim surat kiriman, di hadapan saya sendiri Raja Iskandar timbul pikiran, ragu sultan pada surat yang diterima Disuruh pergi utusan lain, kemudian menulis surat yang isinya sama Surat yang dulu dikirim dikembalikan, biar dipandang oleh raja Dara

Sampai disana segera dilihat, kelihatan jelas sepatah kata Raja Dara menggunting kertas, mengirim balas kepada raja Iskandar Surat yang lain begini dikisahkan, raja Dara mengatakan kabarnya Pohon raja kebenaran, yang budiman dan bijaksana

Lidah raja adalah kebenaran, sekalian utusannya Ucapan raja apa yang sampaikan utusan, seperti yang telah dijelaskan Ketika membaca surat yang tiba, tanpa utusan dihadapan hamba Jika utusan itu kutemukan, tentu ku potong lidahnya

Demikianlah khabar dikatakan, segera mengirim balasannya Raja Iskandar membaca surat, lalu dilipat sudah mengerti persoalannya Utusan dipanggil segera kesana, ketika sampai raja soalkan Setelah itu raja bertanya, kenapa begitu engkau bèkerja

Semua yang kusuruh tak kau kerjakan, seperti setan berbuat kejahatan Ingin membinasakan kami, sangat jahat kelakuanmu Lalu utusan itu menjawab, aku ini kurang dimuliakan Disuruh mengerjakan suatu pekerjaan, sebagai utusan dari raja

Engkau ingin kebesaran, perbuatan tak kau kira Karena keinginanmu tak kesampaian, haram jadah tukang adu domba

Sekarang kuhukum lidah dipotong, hai bid’ah tukang propaganda Kemudian orang tersebut dipotong lidah, agar diketahui seluruh negeri

Maka diberi oleh sultan, pengkhabaran agar tahu semuanya Disuruh beritahukan tiap-tiap tempat, agar diingat perbuatan raja Agar tak ada lagi pengkhianatan, supaya utusan menjadi takut Tersebut dalam kitab Tarikh, pahami benar-benar jangan tertukar

Tidak lebih kunyatakan, pahami baik-baik kiaskan semua Sultan Hayabun kunyatakan, menyuruh pergi utusan membawa berita Membawa berita kepada raja Kharasan, disuruh sampai dengan baik Raja Khurasan bertanya, lalu dijawab oleh pesuruh raja

Bila pandai tidak bingung, yang ditanya dia khabarkan Hai pesuruh coba nyatakan, apa pekerjaan raja kamu Bagaimana kelakuan, rakyat sultan diperlakukan Kemudian dijawab oleh utusan, rakyat sangat baik dijaga

Anak rakyat sangat baik dijaga, tidak ada yang kesusahan Dijaga semua dalam negeri, raja kami tak ada bandingannya Aman sentausa semuanya, tak seorangpun yang merasa Bagaimana hubungan dengan kerabatnya, ditanya lagi oleh raja

Utusan menjawab sangat mengerti, semua orang satu nyawa Kesetiaanya umpama satu darah, laksana sah seperti saudara Nyawa dan badan semua diserahkan, kepada khalifah semuanya Kemudian raja segera bertanya, Hulubalang bawahan raja

Bagaimana ketika perang, utusan menjawab dengan senang Nyawa dan tabuh lahir batin, tidak takut semua ketua

Kemudian raja bertanya yang lain, ketika bermain raja kamu Waktu tiba kesukaan, utusan menjawab dengan segera

Raja junjungan kami, perbendaharaan banyak dibuka Diberikan kepada semua menteri, ketua dan panglima Diberi harta banyak macamnya, emas dan permata raja berikan Fakir miskin pakaian indah, raja khalifah memberikannya

Subhanallah banyak sekali diberikan, kekayaannya sangat melimpah Ditanyakan lagi ketika kesusahan, bagaimana sikap raja kamu Lalu utusan itu menjawab, perbendaharaan semua dibuka Bagaimana caranya berbicara, bagaimana kelakuan raja kamu

Ketika berbicara dalam majelis, bagaimana caranya coba kata Kemudian dijawab oleh utusan, ketika raja kami berbicara Semua pembicaraannya sangat baik, semua aturan diajarkan Orang yang bodoh bertambah akalnya, bicaranya indah manis suara

Orang penakut menjadi berani, ketika khalifah berbicara Raja Khurasan mendengar demikian, semuanya dalam kebaikan Utusan ini pandai dan bijak, raja Khurasan sangat suka Tahu perihal tuanku raja, karena utusannya sangat pandai

Pasal Ketiga Belas saya jelaskan, hal pekerjaan pegawai raja Duapuluh dua syarat diberikan, dengar tuan saya cerita Pertama sekali tunaikan hak Ilahy, kerjakan saudara dengan segera Setelah selesai perintah Rabbi, boleh mulai kerja bagi raja

Syarat kedua saya sebutkan, wajib diketahui pegawai raja Semua raja hamba Tuhan, Allah yang berikan pangkat raja Kapan dikehendaki oleh Rabbi, diambil kembali pangkat yang ada Kepada orang lain Tuhan berikan, kuasa Tuhan tak ada yang langgar

Satu kisah saya ceritakan, perihal teladan seorang pegawai raja Tak pernah silap sedikit pun, dalam menjalankan perintah raja Siang dan malam tak pernah bosan, untuk berbakti kepada sultan Terkenal ia kemana-mana, perihal pegawai itu orang bicarakan

Beberapa lama selalu begitu, hamba (abdi) benar-benar sangat saleh Tidak pernah dimarahi oleh Sultan, perbuatannya tidak salah

Seperti yang disurah tidak dilanggar, hadir disana tiap- tiap waktu Suatu hari ku riwayatkan, hamba lama hadir kesana Murka raja kepada abdi, sesaat kemudian hamba hadir Raja bertanya kemudian, sangat marah kepada hamba

Kenapa berubah seperti yang kupesan, tak takutkah kena siksa Kemudian dijawab oleh hamba ini, ampunkan kami patik hina Kemarin ada kesukaran, terlambat kemari patik tiba

Jawab raja kemudian, kesukaran karena apa

Maka dijawab hamba begini, aku ini punya Tuhan dua Yang pertama Tuhan haqiqi, kedua majazi namanya Patik dahulukan perkerjaan hakiki, kemudian majazi ku kerjakan Itulah sebabnya wahai tuanku, siksa hakiki amat besar

Siksa majazi masa sekarang, siksanya tidak berat Perkerjaan hakiki sudah selesai, kemudian yang terakhir perkerjaan raja Ketika raja mendengar khabar demikian, hingga meneteskan air mata Kemudian hamba dimerdekakan, pada hari itu dibebaskan

Kerjakan sekarang hai rakyatku, sesuka hatimu kau kerjakan Setelah merdeka dari kami, setiap hari engkau berdoa Terus ketiga kuriwayatkan, dengar saudara pegawai raja Apa-apa yang raja berikan, harus diterima dan memuliakannya

Walaupun yang diberikan kecil, tetap harus senang jangan masam muka Walaupun dicela engkau, oleh tuanku daulat raja Jangan terlihat dan jangan katakan, memang harus suka wahai saudara Perlu sifat tak ada dengki, jangan sesekali bermasam muka

Sultan Mahmud saya hikayatkan, yang sangat mengasihi hambanya Nama Iyaz hamba itu, sangat pandai dengan berbudi bahasa Suatu hari raja tersebut, duduk di Balai hendak bicara Banyak sekali orang dengan menteri, di Iyaz ini berdiri saja

Tangan didekap menghadap Sultan, di hadapan raja besar Dibawa mentimun sebagai persembahan, kepada Sultan dibawa ke istana Diambil satu oleh duli, lalu dibelah oleh raja Raja makan ketika dekat bibir, pahit sekali laksana racun

Raja itu mengatakan, diambil sebelah diberikan kepada hamba Iyaz makan Subhanallah, sangat manis rasannya Sambil berkata begini, mentimun seperti ini dimanapun tak ada Rasanya lezat manis sekali, setara ini lain tak ada

Maka raja bertitah, hai Iyaz kamu pembohong Coba berikan kesana seiris, agar kelihatan kau benar atau salah Lalu diberikan kepada semuanya, menteri semua memakannya Muka mereka kecut semua, kenyataannya sangat pahit

Terus raja bertanya lagi, coba katakan bagaimana rasanya Jawab mentri semuanya, ampun tuanku pahit sekali Sultan bertanya pada hamba, kenapa kamu tidak jujur Tidak pantas bicara begitu, dihadapan majelis raja

Namun hamba jawab begini, ampuni kami wahai raja Sebab kami berkata begitu, agar raja bertambah mulia Sering sekali raja memberi, kepada abdi hamba hina Dalam nikmat lezat lagi, ini pertama kali pahit rasanya

Jangankan seperti ini tuanku, dapat empedu pun saya muliakan Jika patik melakukan, mengkerutkan wajah karena pahit Kurang hormat di hadapan majelis, mengkecutkan wajah hamba Sekali diberi yang pahit, tidak mulia dari hamba

Selalu nikmat yang tuanku berikan, jika yang pahit bermasam muka Raja diam tanpa bicara lagi, hati senang hamba benar Semua menteri-menteri lain, sangat malu sekali Lalu raja sangat suka, kepada hamba yang sangat mengasihinya

Yang keempat saya nyatakan, perkerjaan khalifah harus sempurna Dahulukan pekerjaan kepada Allah, sesudah itu bèkerja untuk raja Kukatakan yang kelima, tidak baik kelakuan raja Perbuatan tak baik pada orang, raja yang demikian berbuat jahat

Jagalah semuanya, beri ajaran (ajarkan) ketika sendiri Dengan lemah lembut engkau ajarkan, harus banyak contoh-contohnya Seperti itu sangat diperlukan, mencegah raja harus sempurna Kalau tidak anda yang salah, Tuhan hadharat menyiksa nanti

Bila raja berbuat dosa, anda tidak sayang kepada raja Kalau engkau sayang kepada Sultan, ajarkanlah biar menjadi baik Jangan sampai raja dalam Jahannam, begitulah harus diajarkan Yang keenam saya katakan, harus kau pahami wahai saudara

Siapapun yang tidak kau kenal, jangan dipuji dihadapan raja Mungkin raja suka hati, akhir nanti mendapat malu

Yang ketujuh ku ceritakan, apapun yang disukai raja negeri Wajib diberi engkau kabulkan, raja senang seperti itu

Kemudian yang kedelapan, berbicara dengan raja

Begini caranya wahai saudara, jangan seperti main-main Harus yakin dan sungguh-sungguh, jangan seolah bersenda gurau Waktu raja menjawab jangan entengkan, seperti palingkan muka

Mata dan hati harus kau ingat, sabda raja engkau hormati Semua sabda dari raja, dengan takzim dilakukan Yang kesembilan kunyatakan, duduk dihadapan raja-raja Jangan main dengan siapa pun, banyak dapat masalah akhir masa

Yang kesepuluh saya nyatakan, katakanlah pada waktunya Harus menjawab dengan perlahan, jangan berlebihan jangan dikurangi Ditanya pada orang jangan engkau menjawab, tidak pantas akan mendapat aib Karena aib yang dimaksud, demikianlah maksud ketiga orang tersebut

Pertama sekali yang bertanya, kemudian yang pantas yang memeriksa Jika dijawab oleh yang tak bertanya, memalukan pihak ketiga Pertanyaan begini penjelasannya lain, itupun akan mendapat malu Saya sebutkan yang kesebelas, begini kisahnya aku nyatakan

Raja bertanya pada seseorang, jangan engkau bicara dulu Jika sudah sunyi tak ada yang bicara lagi, jawablah olehmu Yang engkau jawab harus benar, jawablah sesuai dengan pertanyaannya Jangan beri jawaban yang membingungkan, lain ditanya lain pula yang dijawab

Yang kedua belas saya nyatakan, jika terdengar rahasia raja Harus berdiam diri wahai saudara, janganlah kawan mengkhabarkannya Jangan kata pada siapapun, sembunyikan rapat jangan menyebarkan Yang ketiga belas aku riwayatkan, jangan berkhianat pada raja

Harus baik hati dan budi, nanti engkau akan dipercaya Setiap hari engkau tinggikan, angkat olehmu derajat raja Yang keempat belas aku nyatakan, dengarkanlah kata saya Orang berbicara tentang kejahatan, wajib tuan engkau larang

Jika engkau tak dipatuhi, usirlah dia ambil hartanya Biar dia tahu engkau mengasihi, agar dia tak merendahkan raja

Yang kelima belas saya ceritakan, kalian semua dikasihi raja Jangan takabur menyanjung diri, kita harus bersyukur pada Rabbana

Harus banyak melakukan kebaikan, perbuatan yang tak sia-sia Yang keenam belas aku riwayatkan, dengar tuan saya cerita Bila ingin sesuatu pada raja, siapapun tuan lihat waktunya dulu Engkau lihat waktu beliau senang, pada waktu itulah engkau meminta

Yang tujuh belas ku riwayatkan, sangat mulia diri anda Memang disayang oleh sultan, harus kau ingat jangan sampai lupa Semua ulama jangan rendahkan, dengan sangat baik engkau muliakan

Fakir miskin saya nyatakan, jangan disalahkan jangan dihina

Jika saudara berbuat demikian, Tuhan memberi kemuliaan Kedelapan belas saya riwayatkan, tuanku raja marah padamu Padamu mungkin ada kesalahan, karena perintah pekerjaanmu Bila padamu raja marah, jangan disimpan dalam dalam hati

Kepada raja jangan diupat, terus berbakti kepada raja Setelah murka tidak berapa lama, kemudian yang salah dimaafkan

Sembilan belas saya riwayatkan, siapapun yang akan dimarahi Orang berbuat salah pada raja, jangan sekali-kali engkau memintanya Katakan padanya dia alami kesukaran, mengajak dengan perkataan benar Ucapan yang dapat timbulkan belas kasihan, katakanlah demikian adanya

Jangan dibela terang-terangan, berbicara dengan kata yang lemah lembut Yang kedua puluh aku riwayatkan, raja harus bèkerja sungguh-sungguh Perbuatan yang melanggar syari’at Nabi, raja suruh mengerjakan Dilambat-lambatkan wahai saudara, janganlah segera mengerjakannya

Waktunya harus diulur-ulurkan, dengan lemah lembut dibicarakan Sehingga raja melupakannya, agar segala pekerjaan menjadi sejahtera Begitulah caranya wahai adinda, semua perbuatan harus sejahtera

Dua pulluh satu aku sebutkan, raja harus dipuji

Harus dipuji tiap-tiap tempat, do’a selamat setiap waktu Engkau memohon do’a rahmat, pada rakyat jangan dibuat susah Harus adil memohon begitu, jauh seteru dari raja Semua-bawahan raja demikian itu, berdo’a harus yang baik-baik

Dua puluhdua kukatakan, pegawai perintah pekerjaan raja Imum ketua menteri, yang perintah pegagang kuasa Hulubalang Keuchik kampung, lain semua umpamanya Umurnya aku katakan, kira-kira empat puluh tahun

Dimulai duapuluh tahun, akhirnya tuan empat puluh tiba Kebiasaannya umur seseorang, tidak lebih dari enam puluh tiga Kalau lebih wahai tuan, seperti yang diriwayatkan itulah yang benar Akalnya berkurang ingatan tak baik lagi, itulah kenyataan orang tua

Bila kurang akal budi, jadi masalah akhir masa Lagi bertambah aib diri, pasti nanti jadi binasa Pada raja sangat kesukaran, sebab tuan sangat tua Kurang akal ingatan tak baik, melupakan semua kerjanya

Pasal Keempat Belas kuriwayatkan, dengar saudara tua dan muda Hamba Allah yang manapun, perlu peduli anak kita Siapapun yang punya anak, kerjakan ini semua saudara Yang tersebut dalam kitab ini, harus kau hiraukan dan kerjakan

Jika diikuti wahai saudara, engkau akan mendapat laba Jika tak diturut mendapat rugi, akhirnya begini hai saudara Bila ingin membayar hutang, dengan segera engkau membayar

Hadist Nabi demikian menerangkan, dengan senang dengar semua

Qāla an-Nabi shallallāhu’ alaihi wassalam, al-ghulāmu yu’aqqu ‘anhu yauma as-sābi’u [wa yumāthu ‘anhu al-adhā] fa-idhā balagha sitta sinīna uddiba, fa-idhā balagha sab’a Sinīna ‘uzila ‘an farāsyihi, fa-idhā balagha ‘asyara sinīna dluriba ‘alā [tarki] Shalāti, fa-idhā balagha sitta ‘asyara sinīna zauwajahu [abūhu], tsumma akhadha bi-yadihi, Wa qāla qad ‘alimtuka wa angkihtuka, a’ūdhu billahi mim fitnatika fī ad-dunyā Wa min ‘adhābika fi al-ākhirati, demikian Nabi bersabda

Siapapun bila punya anak, dengar semua wahai saudara Seperti ini engkau kerjakan, hadist Rasul harus bisa percaya

Umur tujuh hari aku nyatakan, beri akikah cukur kepala Saat umur enam tahun, adab pada kedua orang tua engkau ajarkan Sampai umur sepuluh tahun, suruh mengerjakan sembahyang Jika tak mau harus dipukul, suruhlah olehmu sungguh- sungguh

Enam belas tahun memberi istri, yang perempuan juga begitu Anak perempuan berikan suami, begitu saudara engkau kerjakan Ketika mereka kawin, pegang tangannya kau berkata Wahai anak ini pesanku, kewajibanku padamu sudah selesai

Sudah kuajarkan engkau anakku, Qur’an lagi sudah ku ajarkan Hukum agama syariat Nabi, sudah kuajarkan semuanya Hari ini engkau kunikahkan, kami orang tua sudah bebas

Selepas kupergi menghadap Allah, semuanya lepas wahai ananda

Semua hak kamu sudah kuberikan, daripada kewajiban ayahanda Dunia akhirat ayah bunda beri, hiduplah senang dalam sejahtera Kata ulama semua menyatakan, anak titipan Allah Ta’ala Wajib pelihara dengan benar, kerjakan demikian kepada ananda

Karena anak saya nyatakan, nama ibu dengan bapa Itulah nyawa ayah dan ibu, harus bersahaja kita pelihara Dalam kitab Adābul Aulād, dengar sahabat tua dan muda Anak kita pada Hadharat, Allah kirimkan pada bapa

Siapapun kita semua, kita ajarkan anak tentang kebenaran Semua perbuatan yang benar, perbuatan ini yang beruntung Kepada anak jangan khianat, itu amanah Tuhan Yang Esa Kata Majazi Quthaat, anak titipan Hadharat juga

Kiriman Allah pada kita, semua wajib kita kerjakan Semua yang menjadi hak dia, engkau ajarkan yang sejahtera Raja-raja semua Sultan, mereka wajib usaha Memelihara anak berlebihan, kita ajarkan semua yang benar

Anak harus kita ingatkan, dengan sangat kuat sekali Karena anak kuriwayatkan, yang menggantikan nyawa anda Yang hidupkan nama orang tua, harus baik kita jaga dan usaha Kalau tidak ada seperti itu, bukan pekerjaan yang sempurna

Rugi nama akhirat nanti, yang sangat keji pada ayah Majazi Qutha’at demikian berkata, kepada raja-raja manapun Kewajiban Sultan kepada anak, jangan kurang pelajaran Semua ilmu kebaikan, engkau larang pada kejahatan

Perbuatan sia-sia harus diingatkan, ajarkan tuan perbuatan sejahtera Jangan biarkan pada perbuatan jahat, dengan kuat harus kau jaga Yang dicari kebaikan, kejahatan jangan kau ridha Jika demikian akan dapat untung, bisa harumkan nama ayahnda

Kewajiban kepada ayah, dengar saudara enam perkara Berikanlah semua haknya, wajib semuanya engkau pelihara Pertama-tama aku nyatakan, ketika memandikan bayi Engkau mandikan budak itu, selimuti dengan kain

Kemudian engkau azan wahai saudara, sebelah kiri pada telinga Sebelah kanan sama juga, kemudian sebelah kiri engkau iqamah Memberikan makanan pertama, yang nikmat yang lezat rasa Yang kedua aku nyatakan, dengar tuan aku cerita

Hari ketujuh engkau kenduri, cukur lagi dengan kepala Dengan hakikah ketika itu diberi, aku riwayatkan yang ketiga Ketika umur sampai enam tahun, engkau ajarkan adab mulia Berilah nama yang baik, keempat sampai tujuh tahun lama

Jangan tidur lagi bersama dia, demikian syarat yang mulia Yang kelima aku riwayatkan, umurnya ada sepuluh

Jangan biarkan dia meninggalkan shalat lagi, jika melanggar pukul agar jera Engkau ajarkan semuanya, perbuatan yang senang pada agama

Yang keenam aku khabarkan, ketika umur enam belas Berilah istri untuk lelaki, perempuan diberi suami Pada masa kecil menyusui bayi, memang pada orang mulia Orang berpenyakit batuk sesak, disana bayi jangan menyusui

Perempuan jahat budi pekerti, pembohong lagi pendusta Kesana pun jangan menyusui, ketularan akhirnya begitu Kau suruh menyusui pada orang pilihan, begitulah tuan yang baik Bila sudah bisa berbicara, suruhlah dia belajar agama

Ajarkan Al-Qur’an kitab, agama Islam dengan rukunnya Demikianlah anak kita berikan, jangan biarkan pada kejahatan Perbuatan syari’at harus diketahui, fardhu sunat dosa dan pahala Jika demikian banyak manfaat, dunia akhirat dalam sejahtera

Jangan biarkan anak kita mendekati, semua perbuatan jahat Dengan ulama kita jadikan kawan, begitulah saudara yang sempurna Di hadapannya aku katakan, harus memuji kebaikan Harus mencela sifat jahat, jauhkan dia dari perbuatan tersebut

Pada raja yang membuat qanun, harus sering dibawa kesana Agar biasa melihat kelakuan, kemudian berbicara dengan raja Agar mengenal hukum dan adat, agar dia dapat berkata- kata

Agar mengetahui semua hal anak anda, sangat baik demikian adanya

Mendidik anak saya katakan, akhir nanti engkau menjadi senang Jika tak demikian jadi masalah, akhirnya rugi anak kamu Sampai disini pasal tersebut, lalu saya jelaskan lagi Harus dikisahkan wahai saudara, bagi sekalian tua dan muda

Pasal Lima Belas, perbuatan himmah (cita-cita) aku nyatakan Kata Umar Radhiyallah, khabarnya begini diceritakan Tidak kulihat orang yang punya himmah, melainkan dia sangat hina Orang berhimmah aku katakan, pada orang itu sangat mulia

Barang siapapun aku katakan, menjadikan dirinya mulia Demikian sifat mulia, mengenal diri sendiri syaratnya Saidina Umar mengatakan begini, mulia diri manusia Harus ada syarat kau ketahui, engkau berhasil jadi mulia

Perbuatan yang tidak pantas, jangan kerjakan oleh kamu Barang perbuatan yang dimaksud, begitulah saudara jangan berkata Pada tempat yang tidak pantas, jangan duduk engkau disana Begitulah sifat kemuliaan, ingat kawan himmah kamu

Bila tak demikian akhirnya menjadi hina, semua saudara harus memikirkan Tidak panjang saya cerita, pahami saudara perbuatan mulia Shifatus Salāthīna benar berkata, himmah itu pakaian manusia Raja yang baik akan berbuat, sebagai hiasan para raja

Perbuatan himmah tak ada bandingan, kebesaran yang mulia

Himmah pakaian para bangsawan,bagi sultan lebih wajib lagi Apapun pekerjaan raja negeri, semuanya harus punya cita-cita Cita-cita ini lebih mulia, tidak ada yang dapat diumpamakan

Arti himmah aku nyatakan, bahasa sekarang cita-cita Jika ada keinginan dalam hati, serta lagi banyak usaha Sultan Iskandar sangat susah, mukanya pucat sedih sekali Raja berkuasa dalam istana, tanpa berangkat pergi keluar

Karena aku susah sekali, setiap hari tidak keluar Suatu hakim Jalinus, datang menghadap sang raja Setelah memberi hormat hakim menghadap, melihat pucat muka raja Hakim bertanya dengan cepat, apa sebab tuanku susah sekali

Lalu dijawab oleh khalifah, aku sangat susah sekali Setiap hari aku gelisah, ingat perintah ( kerja ) di dunia Aku sangat gelisah, karena sangat banyak sekali pekerjaan Kerja yang mudah dilakukan, adalah perbuatan sia-sia

Kemudian hakim berkata, ampuni kami tuanku raja Benar sekali yang tuanku katakan, kerja didunia ini memang sangat susah Yang susah itu perbuatan, yakni pekerjaan didunia Satu tanda dari perbuatan itu, kebaikan yang sempurna

Perbuatan bèkal untuk akhirat, perbuatan yang sangat besar Jika mau dikerjakan sangat baik sekali, di akhirat akan kekal baka Perbuatan semua himmah, perbuatan yang engkau mengerti aturannya Perbuatan himmah harus dimaklumi, itulah aturannya jangan meleset

Raja Iskandar mendengar begitu, hatinya senang sekali Dunia ini tidaklah besar, perjalanan yang sangat pendek Lima ratus tahun perjalanan, demikianlah besarnya dunia ini Lebih besar himmah daripada lain, lebih besar dari dunia

Kebaikan yang sangat besar, kebaikan yang sangat sempurna Jauhkan diri dari hinaan, jangan ada kekurangan di dua negeri Pada raja kewajibannya begini, bacakanlah saya uraikan Dua perkara yang harus dipikirkan, akan membuat derajat tinggi

Pertama sekali saya katakan, harus murah tangan tuanku raja Yang kedua harus mempunyai cita-cita, akan bertambah lagi derajat raja Jika itu tak ada pada sultan, kerajaannya tidak sempurna Tak akan mendapat kebaikan, didunia tak punya diakhirat tak dapat

Jikalau ada dua macam, dua negeri jadi sejahtera Seperti itulah yang wajib kita pikirkan, siapapun para raja

Manteri arif dengan pandai, melihat hal perbuatan raja Disuruh lakukan hal lain, perbuatannya tidak baik Tidak layak (baik) pada himmah, wajib pindahkanlah segera Diingatkan dan diperlihatkan, pada himmah dia kembali

Seorang raja saya riwayatkan, dengar sahabat aku ceritakan Dapat diambil sebagai ibarat, memberi nasehat kepada raja Pada suatu hari diberikan, akan seorang manusia Lima ratus dirham, menteri mengatur sembah pada raja

Aku dengar duli khalifah, perkataan dari orang tua

Raja memberikan emas dan permata, memberi hadiah kepada manusia Dikatakan tidak boleh, raja memberikannya Tidak boleh kurang dari enam ribu, begitulah jumlahnya

Harun Rasyid raja negeri, pada suatu hari memberikan Sampai lima ratus tahil, diberi sendiri oleh raja Demikianlah jumlah raja memberikan, dilihat oleh menteri Yahya Menteri memberi isyarat kepada raja, diberi kode dengan mata

Setelah orang itu pulang, sultan bertanya pada perdana (menteri) Isyarat apa yang kau larang tadi, coba katakan hai perdana Begini dijawab oleh perdana, kami melarang raja Memberi dinar kepada siapapun, begini jumlahnya wahai raja

Jangan kurang bilangan ribu, jika kurang raja-raja akan malu Begitulah jumlahnya dikatakan, yang ditentukan kata menteri Makmum Rasyid jadi sultan, dengar kawan aku khabarkan Menteri Abbas dimarahi, oleh sultan raja perkasa

Suatu hari pada hamba abdi, disuruh menteri menghadap raja Disusruh membelikan rempah-rempah dan ikan, dikatakan begini pada hamba Pergilah membeli semua barang itu, menteri menyuruh pada hamba Harga setahil menteri katakan, dihadapan raja besar

Raja menjadi sangat marah, egkau menteri namanya saja Engkau tidak mempunyai kebaikan, kucopot nama menteri dikatakan raja

Shifatul Muluk mengatakan, dengar tuan aku khabarkan Raja Nasaburumemberi ajaran, berkata begini kepada anaknya

Jika kamu berkuasa nanti, dengar aku katakan yang sebenarnya Jangan bertukar anakku sayang, seperti nasehat ayahanda Jika ingin memberi kepada siapapun, jangan dengan engkau langsung Jangan berhadapan caranya, jangan seperti jual beli berniaga

Jika sultan ingin membeli, jangan meminta harga semaunya Bukan sifat raja seperti itu, itulah aturan setiap raja Kitab Shifatul Hukamah mengatakan, dengar semua wahai saudara Sifat himmah banyak perkara, tak terkira banyak sekali

Sifat cita-cita bermacam-macam, semua menteri manusia Banyak macam dan banyak uraiannya, beraneka ragam cita-cita Sebagian cita-cita pada hemat, dia selamat banyak harta Sebagian sifat orang himmah, sebagian suka membuang harta

Sebagian himmah aku katakan, sabar qana’ah juga ada Sebagian himmah begini sifatnya, gagah berani begitupun ada Sebagian himmah (cita-cita) kepada ilmu, ibadatnya tetap amalpun ada Banyak sekali himmah di dunia ini, bagi semua raja-raja

Sebagian himmah perdana menteri, tingkah lakunya dan layakpun Banyak sekali himmah diriwayatkan, bermacam rupa banyak sekali

Seorang raja ku hikayatkan, dengar sahabat tua dan muda Aku ceritakan tentang Hirman Syah, ia khalifah raja besar

Seorang menteri aku ceritakan, di bawah perintah raja-raja Menteri menyuruh seseorang, bawa aneka mutiara pada raja Banyak dagangan intan, banyak macam tak terkira Tidak bisa dihitung banyak sekali, pada Hirman Syah disuruh bawa

Diberi surat kepada khalifah, dikatakan masalah pada raja Semua barang ini disuruh menteri, disuruh bawa kepada raja Menteri berkata begini, semua barang ini tuanku beli Harganya tiga ratus ribu, itu harus tuanku beli

Ketika waktu musim mahal, bisa mendapat untung berganda Dapat hasil dua kali lipat, belilah tuanku barang yang tiba Raja melihat isi surat, dijawab segera oleh raja Raja menjawab begini, wahai menteri seenaknya kau bicara

Ingin membinasakan kami, engkau menjual kerajaan ku Ada hasil dua kali lipat, menyuruh untuk berniaga Siapakah yang menggantikan raja, yang memberi nasehat kepadaku Semua saudagar dalam negeri, dengan kami akan berseteru

Kau ingin mereka berseteru denganku, dengan semua saudagar Engkau ingin menipu kami, ingin membuatku binasa Engkau menteri pengkhianat, sifat jahatmu kan membuatku binasa Yang tak layak dan tidak pantas, engkau suruh kerjakan

Perangaimu sangat jahat, raja sebut balasan surat Engkau ingin aku dimarahi, akhirnya derajatku akan berkurang Seorang menteri aku ceritakan, dengan sahabat saya khabarkan Itulah menteri aku katakan, Harunur Rasyid sang perdana menteri

Nama Yahya Ibnu Khalid, Bermaky nama suku bangsa Suatu hari menghadap sultan, singgah sambil kembali pulang Bertemulah dengan seseorang, berkata begini wahai Yahya Kami sangat kesusahan, sungguh tolonglah olehmu

Keinginanku sangat besar, aku ingin berbakti pada raja Oleh karena itu berilah aku gaji, kemudian disetujui oleh Yahya Menteri panggil bendahara, kemudian disuruh beri seribu dinar Begitulah yang terjadi setiap hari, selalu dibawa pulang sebanyak itu

Pada suatu tempat menteri suruh berikan, setiap hari seribu dinar Selama satu bulan selalu demikian, ia tinggal ditempat itu Tiga puluh ribu sudah diberikan, waktu dihitung seluruhnya Lalu pergi tanpa pamit, hamba Allah sudah punya harta

Pada suatu hari aku katakan, Bendahara katakan pada Yahya Tiga puluh ribu dinar sudah habis, dia pergi tanpa pamit Orang jahat tak baik budi, tanpa permisi dia pergi Menteri Yahya menjawab segera, kemudian dia bersumpah

Menteri berkata demi Allah, kenapa dia pindah apa penyebabnya Selama dia masih di sini, setiap hari kuberikan

Sudah ada perjanjian dengan kami, pada suatu hari dengan dia Selama dia tidak pindah, setiap hari akan kuberi dinar (uang)

Seribu dinar ada perjanjiannya, menteri Yahya berkata waktu itu Begitulah sifat menteri dahulu, wahai saudara ingat semua Harus engkau tiru dan kiaskan, seperti itulah hai perdana Abdul Aziz raja Mesir, dengarlah wahai saudara semua

Pergi mengelilingi negeri, dengan laskar bala tentara Dalam perjalanan mendengar suara, orang sedang memanggil anaknya Dipanggil nama Abdul Aziz, di dengar suara oleh raja Raja menyuruh pada menteri, berilah dirham segera kesana

Raja suruh berikan lima ratus, Menteri Yahya menjelaskannya Bukan dipanggil nama tuanku, anak itu dipanggil ayahnya Raja menjawab cepat berikan, memang wajib sekali kira berikan Jangan tercoreng nama kami, siapapun yang punya nama yang sama

Kemudian diberi oleh menteri, begitulah sifat himmah raja Lima ratus dirham diberi, senang hati manusia Dalam kitab Tarikh diriwayatkan, dengar sahabat raja negeri ‘Ajam Raja Hasyru nama sultan, sangat baik sekali hatinya

Bijaksana lagi murah tangan, tak ada yang dapat menyamainya Qamariah nama istrinya, sangat cantik sekali Parasnya cantik sangat jelita, kecantikannya tak ada bandingannya

Laksana bulan putri intan, begitulah putri muda

Tak ada lawan gilang gemilang, siapa yang memandang tergila-gila Itulah istri raja Hasyru, sangat dicinta berkasih mesra Termasyur sampai kemana-mana, tersebut dalam cerita Raja duduk di istana, berdua dengan putri

Raja negeri membuka jendela, terlihat bumi (alam) dan sekitarnya Raja dan putri bersenang-senang, duduk berdua di sana Kala itu datang pemancing ikan, sang putri melihatnya Dia membawa ikan untuk dijual, berdekatan dengan istana

Putri berkata pada sultan, disuruh panggil pada raja Karena sangat sayang pada putri, maka raja memenuhinya Kemudian disuruh oleh raja, disuruh panggil kesana Kemudian pengail ikan mendekat, di hadapan pocut dan raja

Ikan diberikan kepada raja, kemudian raja suruh berikan uang Kepadanya diberikan seratus dirham, tukang kail lalu pulang Pada raja putri berkata, kakanda melakukan kesalahan besar Raja menjawab kenapa salah, putri indah kemudian berkata

Seratus dirham kanda berikan, akhir nanti menjadi cemoohan Sang putri hatinya menjadi ragu, kanda samakan aku dengan hamba Setelah itu raja menjawab, benar juga kata-katamu Sudah kukatakan dengan lisan, jika diubah mendapat malu nantinya

Kalau diubah seperti kata kami, itu menjadi aib bagi raja-raja Tak ada yang patuhi ucapan saya nanti, jika kami sudah mengubahnya Lalu dijawab oleh Putri Siti, biar ku tipu mencari cara Disuruh panggil tukang pancing, Putri Juhari (jelita) bertanya

Ikan yang ini coba katakan, sebutkan olehmu Coba kisahkan lelaki atau perempuan, cepat dijawab disebut Khunsa (waria)

Raja dan putri sangat senang, mendengar ada nama macam lain Mereka tertawa sangat senang, kemudian diberi dirham lagi

Diberikan dua ratus dirham, pemancing ikan mohon kembali Sampai dijalan dia pergi, jatuh sekeping dirhamnya Dia mencari kesana kemari, susah sekali dia mencarinya Sampai berkeringat banyak sekali, di tengah hari yang sangat terik

Putri berkata pada sultan, orang hina tak punya akal Satu dirham saja yang hilang, dicarinya sampai susah payah Hingga dia temukan dirham yang hilang, orang hina ingin kembali Kemudian raja menyuruh panggil segera, setelah itu dia datang cepat-cepat

Kemudian Syahi’alam (raja ) bertanya, tiga ratus dirham ku berikan Satu dirham itu hilang, sampai pitam kau mencarinya Memang sangat hina kau tukang pancing, tak punya budi dan akal bicara Satu dirham engkau cari, keringat mengalir sampai kemata

Situkang pancing menghanturkan sembah, ampun daulat Syah patik hina Yang menjadi patik sangat susah mencarinya, bukan indah sayang hamba Bukan aku sayang kepada dirham, Syahi alam (raja) patik hina Yang mulia Syahi alam, pada dirham ada dua nama

Yang sebelah nama Allah, nama khalifah lagi di sebelahnya Dirham hilang aku mencarinya, dengan susah payah aku usahakan Patik menghormati akan daulat (raja), dengan hadharat Tuhan yang Esa Jangan diinjak oleh rakyat, agar patik tak kualat (Aceh: teumeureuka))

Banyak sekali hal yang dikatakannya, sangat banyak memuji pada raja Senang hati raja negeri, ditambah lagi dirham kemudian Raja memberikan tiga ratus dirham lagi, hasilnya enam ratus sudah dibawa Pengail ikan sangat senang, kemudian dia pulang tergesa- gesa

Kemudian raja daulat menyuruh, memberi peringatan pada setiap negeri Pada pintu tempelkan surat, agar rakyat melihat semuanya Dalam surat dikatakan begini, hai manusia manapun Siapapun yang mendengar kata-kata isteri, akhir nanti menjadi celaka

Tak ada untung sedikitpun malah merugi, barang siapapun yang mendengarnya Begitulah yang dikatakan raja, orang yang pulang-pergi dapat membacanya Harus engkau dengar nasehat itu, agar diibaratkan semua saudara Semua kisah dalam riwayat, pahami hai sahabat para raja

Sampai disini satu riwayat, lain sahabat aku cerita Apa yang tersebut harus dipikirkan, dalam hati harus senang Pasal Keenam Belas aku riwayatkan, dengar sahabat tua dan muda Orang berbudi saya suratkan, sifatnya dan akalnya aku nyatakan

Firman Tuhan menyatakan, dengar adik kukatakan maknanya Tuhan berkata pada budi, nyata di sini hai saudara Wahai budi kujadikan engkau, lebih indah dari yang ada Lebih besar lagi megah, pada jumlah tak ada yang menyamai

Lebih mulia lagi sangat besar, tak ada bandingannya Pahala dan siksa semua insan, amar Tuhan melarang nyata Nyata di sana suruh dan tegah, jangan membantah hai manusia Laba dan rugi semua perintah, benar dan salah semua kelihatan

Lebih kurang perbedaan, semua manusia Antara binatang dengan manusia, semua perkara kelihatan di sana Itu nama budi raba’ī, dengar saudara aku nyatakan Dalam riwayat dikatakan begini, akal budi dijelaskan Karena budi istananya insan, itu budiman dikatakan nama Yang tak berbudi itu hewan, hanya wajahnya menyerupai manusia Ulama menyatakan begini, siapapun manusia Yang tak berakal aku katakan, dengan yang berbudi begini bedanya

Tujuh perkara aku riwayatkan, dengar sahabat kunyatakan Yang pertama berbuat jahat, bagi orang yang berakal

Orang berakal membalasnya begini, dibalas yang sempurna Dia maafkan dosa orang yang bersalah, dia balas dengan kebaikan

Yang kedua aku sebutkan, membuat dirinya setara dengan yang lain Dia memuliakan siapapun**,** bagi orang yang mulia Kemudian yang ketiga kunyatakan, kebaikan lakukan segera Lalu yang keempat saya katakan, kejahtan jauhi segera

Perbuatan jahat lagi keji, jauhilah oleh kamu Lalu yang kelima kuriwayatkan, bagaimana cara anda berbicara Jika sudah pasti semuanya, baru katakan olehmu Dengan tempat atau waktu, begitulah seharusnya engkau katakan

Kemudian yang keenam aku uraikan, jika engkau mengalami kesusahan Bergantunglah kepada Tuhan, memohonlah olehmu pada-Nya Dengan mudah Tuhan akan memberikan, pada Allah engkau meminta Yang ketujuh aku nyatakan, nama Allah jangan pernah lupa

Memohon ampun pada Tuhan, dari kesalahan dan dosa Ingat akan mati wahai saudara, setiap saat dan waktu Kurang akal (bodoh) aku umpamakan, hai Teungku aku nyatakan Perkara itu ada tujuh macam, pertama suka berbuat kejahatan

Menganiaya bawahanmu, yang melaksanakan perintah anda Yang kedua saya kisahkan, ujub sumpah takabbur dan riya Orang kecil sangat hina, nampak tuan engkau hebat

Dari semua orang hebat, engkau lebih hebat lagi

Lalu yang ketiga aku katakan, orang yang berbuat kesalahan Sedangkan engkau tidak mencegahnya, dari kejahatan tersebut Kemudian keempat aku riwayatkan, dengar sahabat saya khabarkan Mengapa kebaikan engkau benci, dalam hati tidak suka

Orang yang melakukan kejahatan, tuan suka dan menerimanya Engkau sangat mengasihi dia, karena engkau suka kelakuannya Yang kelima dengan mukhtazab, tidak sopan jika berbicara Kemudian yang keenam tidak percaya, tidak mau menunggu tidak sabar

Waktu mendapat kesukaran, sungguh sangat susah sekali Sehingga dia menjadi binasa, karena tidak sabar akan ujian Tuhan\ Yang ketujuh aku riwayatkan, azab dan siksa hari kiamat Tidakkah kau takut wahai sahabat, di akhirat mendapat bala

Seluruh Hukamak mengatakan begitu, manusia yang berbudi Hamba Allah manapun, sangat banyak manfaat akan diberikan Siapapun yang mengalami kesukaran, dia sangat mempercayainya Dia mengikuti segala perbuatan, sangat percaya pada manusia

Orang ‘alim yang tak berbudi, semua yang diketahui tiada gunanya Sangat mulia wahai sahabat, yang berbudi sangat mulia Orang alim yang berbudi, dia tidur dan berdiam diri saja

Sedangkan orang bodoh selalu sembahyang, lebih mulia orang tidur

Dan puasa pun demikian, sekalian lebih baik Lebih tinggi lagi yang budiman, dengan orang yang tak bijaksana Lebih afdhal raja negeri, memakai budi selamanya Faedah disana sangat banyak, semua perintah sudah sempurna

Sempurna sekali tak ada bandingan, kepada sultan yang baik budi Jika yang menjadi sultan tak berakal (jahat), perbuatan sia-sia Barang siapa yang tak berakal sangat hina, yang berakal derajatnya tinggi Kebaikan banyak manfaat, semua rakyat senantiasa

Tersebut dalam Syifatul ‘Aqli, apapun yang ada didunia ini Tidak lebih daripada budi, wahai akhi (saudara) selamanya Itulah yang bisa dijadikan teman, yang sangat setia Di dunia dan di akhirat berkekalan, tidak akan putus selalu bersama

Nimarrafiq dikatakan budi, aku beri arti akan maknanya Itu sahabat setia sampai mati, takkan pernah berpisah denganmu Jika sakit akan diobati, jika jatuh akan diangkat Jika hina akan dimuliakan, jika miskin akan dijadikan kaya

Itulah tanda yang baik budi, itulah saudara paling setia Dunia akhirat mendapat kemuliaan, derajat budi sangat mulia Yang sangat mulia dari insan (manusia), itulah Dunia akhirat mendapat kemuliaan, ingat tuan tua dan muda

Yang sangat mulia dari insan, itulah akhlak yang sangat mulia Tidak sama dengan apapun, semua saudara harus memikirkannya Raja Iskandar aku riwayatkan, memberi hormat kepada gurunya Dia sangat memuliakannya, lebih derajatnya dari ayah

Hakim Iristithais bartanya begini, kemudian raja negeri menjawab Kenapa lebih tuanku, menghormati guru selamanya Dengan ayahanda lebih mulia guru,kenapa begitu yang mulia Raja menjawab dengan tegas, lebih mulia guru dengan bapa

Ayah itu memelihara kami, sungguh sangat indah sekali Diberi kesenangan tiap-tiap waktu, dalam dunia negeri ini Semua negeri akan fana tidak kekal, demikianlah ayahku memelihara Kemudian guru aku nyatakan, memberi kehidupan bukan di dunia

Kesenangan di akhirat, yang sangat kekal selamanya Lebih wajib kepada Ustazd, memang kurang pada ayah Guru kami lagi ‘alim, sekaligus Hakim memegang hukumnya Semua rakyat memberi taslim, yang sangat baik dimuliakan

Orang ‘alim yang memegang hukum, sampai orang dalam sejahtera Diperlakukan semua adil, rakyat dihukum dengan benar Itulah sebab tidak indah (baik), pekerjaan hakim sia-sia Tidak benar dan tidak sayang, dalam hatinya tidak ada kasih sayang

Sebab itulah tidak bagus, karena tidak mempunyai akal Guru saya yang memerintah, hukum Allah dan Ambia

Aku katakan hakim alim seperti apa, dari perbuatan tidak sia-sia Perbuatan betul lagi benar, dia diterima dari pusaka

Dari Nabi aku katakan, asal mula menerima pusaka Sabda Nabi kukisahkan, siapa yang bertuah mendengarnya Al-‘Ulamā’u waritsatu al-Anbiyā’i, dengar semua artinya Ulama itu warisan Nabi, demikian saudara pahami semua

Semua riwayat jangan bertukar, pahami semua wahai saudara Pasal Ketujuh Belas aku nyatakan, syarat bagi raja-raja yang berkuasa Semua syarat peliharakan, hai sultan yang menguasai negeri Shifatul Muluk menyatakan, syarat berhasil dalam tahta

Syarat bagi raja manapun, apa yang dikatakan harus dikerjakan Sepuluh duli semuanya, sepuluh syarat disebutkan di sini Peliharalah seperti nasehat kami, biar langgeng kerajaan anda Pertama-tama semua sultan, semua rakyat akan mematuhi raja

Jika raja mempunyai masalah dengan rakyat, cari keadilan pada Hakim Ulama Hakim memperlakukan raja sama dengan rakyat, itulah tugas Hakim Ulama Dengan rakyat sama pangkat, ketika menghukum raja Seperti rakyat yang membawa pengaduan, demikian sultan sikap ulama

Rakyat dihukum oleh sultan, seperti dirinya juga Begitulah sifat raja yang adil, dirinya pun sama juga Yang kedua aku riwayatkan, raja tidak boleh meninggalkan Pintu rumah kapan saja, harus terbuka selamanya

Hamba Allah yang kesusahan, datang membawa pengaduan Raja segera meladeninya, jangan cepat mengambil keputusan Kebenaran dan keadilan, sangat besar pahalanya Lebih dari sembahyang sunat, demikianlah tuanku dapat pahalanya

Beribadat lima waktu, pekerjaan lain jangan banyak dilakukan Semua yang sunat ditinggalkan, perdulikanlah yang wajib saja Dari sana mendapat pahala yang sangat besar, berbuat adil pada manusia Kemudian yang ketiga saya katakan, mengikuti perbuatan (sifat) raja-raja

Raja yang adil dan beriman, yang demikian wajib dicontoh oleh raja Kemudian yang keempat kuriwayatkan, apapun masalah harus diperiksa dulu Jangan berkata keras dan kasar, raja tidak boleh memaki-maki Raja bertanya dengan lemah lembut, agar orang tak takut kepada raja

Biarkan dia menjawab dengan baik, agar masuk dalam telinga Jika semuanya telah dipahami, baru sultan berpikir lalu bicara Kedua belah pihak dipertimbangkan, perkataan orang yang berseteru Pada zaman sultan Makmun Rasyid, begini ceritanya

Seseorang melakukan kesalahan besar, dia benar-benar melakukannya Karena kesalahan tersebut, Duli khalifah bersabda Karena saudara sudah melarikan diri, dia dibantu oleh saudaranya

Adiknya menjadi pesakitan, karena membantu abangnya lari

Itulah kesalahan yang sangat besar, raja suruh bunuh mati Kemudian dijawab oleh si salah, ampun tuanku maafkan kami

Aku dengar firman Allah, dia lafalkan dihadapan raja Artinya saja saya suratkan, bahasa Arab tidak dicantumkan Tak bisa menanggung oleh seseorang, dosa seorang manusia Dosa seseorang tidak ditanggung oleh orang lain, demikian firmanNya

Kemudian raja melepaskan dia, sultan sudah mengampuninya Sudah berbuat kesalahan pada junjungan, raja tidak murka lagi

Yang kelima kuriwayatkan, raja daulat (yang berkuasa) aku khabarkan Jangan lalai melakukan syari’at, Tauhan hadharat menjadi murka

Harus mematuhi amar nahi, harus takut sekali pada Neraka Kemudian keenam aku sebutkan, raja harus meraihnya dengan usaha Perbuatan yang mendapat pahala dari Allah, harus dikerjakan oleh raja Banyak sekali pahala bertambah, karuni Allah kepada raja

Fadhā’ilus Salāthīna meriwayatkan, dengar sahabat tua dan muda Pahala raja yang sangat adil, setiap hari mendapat pahala Semua malaikat, selalu menimbang amal raja

Manusia yang membuat kebaktian, ditimbang bersama dengan raja

Semua orang dalam pemerintahan, satu kumpulan di bawah raja Raja dhalim aku jelaskan, juga dianggap satu perkumpulan Catatan amalnya setiap saat, melakukan kejahatan Sama jahatnya dengan rakyat, Tuhan akan melaknat dia

Yang ketujuh saya riwayatkan, raja yang berkuasa aku khabarkan Harus mengasihi semua ulama, semua Syaikhuna yang beribadat Ulama yang sangat alim(Aceh: Syiah), raja harus benar- benar mengasihinya Duduk bersama dalam satu majelis, hati harus ikhlas duduk bersama

Bermufakat dan bermusyawarah, hati senang dan gembira Itulah orang yang bersahabat, sempurna sekali sifat raja

Ismail Samani aku riwayatkan, itupun raja yang sangat hebat Negeri Khurasan tempat tinggal raja, negeri di luar kawasan Arab Suatu hari takdir Allah, seorang ulama datang kesana Memberi hormat sampai selesai, lengkap dengan semua perkara

Setelah duduk beberapa saat, dengan daulat raja-raja Minta izin cepat pulang, raja memuliakan dengan mengantarnya Sultan pergi tujuh langkah, setelah itu raja kembali Syekh berdoa ketika itu, kepada sultan raja perkasa

Pada malam itu raja negeri, dia bermimpi ditengah malam Seolah Rasulullah datang, berkata begini pada raja Hai Ismail dengar kukatakan, muliakan ulama Syiah

Tuhan akan memberimu kemegahan, menjadi Khilafah selamanya

Anak cucu lebih berpangkat, dari Jadmajad dimuliakan Dipelihara oleh Tuhan hadharat, selalu selamat dan sejahtera Dengan berkat dia Syiah, engkau bertuah wahai raja Seorang raja aku nyatakan, Sultan Abdullah diberi nama

Anak cucu Sultan Ismail, aku kisahkan suatu masa Negeri Khurasan tempat duli, beberapa raja memegang tahta Raja Abdullah Thahiri Syah, beberapa masa dalam pemerintahannya Khalifah bertanya pada menteri, hamba Allah diperiksa

Wahai menteri dengarkan kami, di negeri ini coba kata Katakan manusia, yang tidak pernah datang kemari Selama aku memegang pemerintahan, adakah yang tidak datang padaku Jawab menteri ampun daulat, aku katakan pada paduka

Dua orang wahai junjungan, yang aku tahu Tidak pernah datang kemari, tidak singgah selama ini Yang satu namanya Ahmad Arab, yang kedua Muslem namanya Tidak pernah datang pada tuanku, duduk diam-diam saja di rumahnya

Pada tuanku dan menteri, kedua orang itu tidak pernah dekat Kami tidak pernah melihatnya, entah siapa sangat bersahaja Lalu Sultan berkata, biar kita kesana wahai perdana Ingin bertemu dengan Syaikkuha, kemudian raja pergi kesana

Dia pergi pada Syekh Ahmad, ketika sampai diberikan salam

Dijawab salam oleh Syekh keramat, kemudian dipegang tangan raja Pada wajah Syiah dilihat, dikatakan cepat oleh Syaikhhuna Aku dengar rupa tuanku, sejak lama tidak pernah melihat

Rupa elok tak ada bandingan, Syahi ’alam lihatlah hamba Ini kusebutkan, aku nyatakan pada paduka Seperti ini aku umpamakan, jangan beri kayu dalam neraka Seperti yang baik wahai raja, aku sebutkan ingat olehmu

Hai tuanku kerjakan sembahyang, tanpa memandang pada raja Selalu menyibukkan diri beribadat, demikian diterangkan oleh Syaikhuna Sambil menangis raja negeri, dengan cucuran air mata Habis di sana di Sultan, saat itu pergi dengan air mata

Ingin ketemu dengan Syekh Muslem, ketika diketahui raja datang Ditutup pintu sambil berkata, tidak ingin melihat wajahnya Raja mendekat kesana, Syekh keramat tidak menerimanya Lalu dia pulang cepat-cepat, sambil menangis sedih sekali

Sambil pulang Khalifah berkata, aku datang pada Syaikhuna Hari Jum’at ketika Syiah pergi, jika Allah beri umur panjang Aku tunggu untuk memberi hormat, demikian daulat berkata Hingga sampai pada hari Jum’at, berkatalah paduka raja

Melalui jalan pergi ke masjid, ditunggu Syiah tiba Sekejap Sultan tiba, sekejap menunggu Daulat turun dari atas kuda, memberi hormat pada Syaikhuna Memegang tangan oleh duli, dia khitmat tak berkata

Saat itu Syiah bertanya, mau apa dan darimana anda Kenapa berdiri dihadapan, ada pekerjaan apa di sini Lalu dijawab oleh Khalifah, nama Abdullah Thihir Dipegang tangan memuliakan, sangat hormat kepada Syiah

Yang membuat saya kemari, keinginan kami pada Syaikhuna Syiah memalingkan wajahnya, sambil berkata begini Tanpa melihat pada wajahnya, aku tak mau bicara denganmu Lalu Sultanpun menangis, sampai jatuh pingsan raja

Jatuh di kaki Syiah, duli Khalifah menangis pilu Dia memohon pada Allah, sambil mengatakan prihal raja Ya Tuhanku ya Ilahi, hamba jahil salah besar Aku salah pada Syaikhi, sama sekali tak mengampuni saya

Aku melakukan kesalahan besar, wahai ya Allah engkau melihatnya Kesalahanku tak dimaafkan, oleh Syiah yang mulia Tidak melihat muka kami, sebab aku ini jahat sekali Aku sungguh sangat jahat, di dunia ini tak ada bandingannya

Aku salah pada Syaikhi, aku keji jahat sekali Banyak melakukan kejahatan, marah Syaikhi pada hamba Aku memohon wahai ya Allah, perbuatan salahku padaMu Kejahatan yang telah aku lakukan, ampunilah hamba bertaubat

Aku hormati kebajikan, aku hinakan perbuatan yang salah Aku menolak kejahatan, setelah itu terdengar suara Dalam gaib mendengar suara, seperti ini wahai raja Semua dosamu sudah lebur, berkat guru Syiah mulia

Semua dosa sudah bersih, Tuhan Rabbi yang memberikan Dengan berkat hormat pada Syaikhi, ikhlas hati engkau raja Akan selamat di dua negeri, sampai nanti dalam sejahtera Sebab hormat pada Syiah ini, raja negeri sudah merdeka

Menjadi selamat raja negeri, karena menghormati Syiah mulia Hai saudara rekan sahabat, harus didengar semua raja Wajib raja yang memegang negeri, bersahabat dengan ulama Berkata-kata tentang hukum Allah, harus ada beda rugi dan laba

Sebab ilmu aku nyatakan, sangat tinggi dan besar Yang memberi ilmu untuk kemegahan, Tuhan akan mengasihi dia Lihatlah ulama karena Allah, jangan yang salah tamak sekali Harus diuji wahai Khalifah, tidak bid’ah kata-katanya benar

Banyak ulama menuruti nafsunya, kelakuan itu jangan disukai Jangan lihat seperti itu, lihat yang layak yang sejahtera Jangan tukar perbuatan syari’at, engkau usahakan jaga baik-baik Jika ada perbuatan laknat, larang keras oleh raja

Ulamapun harus melarangnya, pada Khalifah semua dinyatakan Agar tahu benar dan salah, amat larang mengerjakannya Jika tak begitu tentu salah, atas daulat dan ulama Kedua orang itu yang salah berat, Tuhan hadlarat akan menyiksanya

Yang beruntung aku sebutkan, semua perbuatan yang sempurna Semua bèkal di dunia, tuk bèkal pulang ke Surga

Yang celaka aku kisahkan, perbuatan salah dikerjakannya Tak melakukan Amar nah’i, di Khalifah berbuat salah

Itulah bèkal di akhirat, tempat pulang dalam neraka Satu tempat ulama dan raja, yang sangat laknat azab siksanya Wahai raja yang memegang negeri, yang memberi budi wajib ada Ulama harus saleh sekali, semua wajib menjaganya

Itulah kawan raja daulat, musyawarahkan semua perkara Seperti yang dikatakan semua, ikut daulat engkau raja Lalu yang kedelapan, semua insan pada raja Jangan takabur raja itu, harus sayang pada fakir semua

Manusia yang manapun, yang takabur ujub dan ria Kebesaran tanpa tandingan, sang raja jangan menyukai ini Tidak wajib atas orang itu, oleh Sultan memuliakannya Nabi Musa saya nyatakan, memuliakan manusia

Yang punya adab dan tawadhuk, demikian yang layak sifat manusia Jika bertemu dengan Musa, sangat suka tak terkira Dia menjaga dan menolong, kepadanya disuruh berdo’a Kesembilan aku nyatakan, semua Sultan menjaganya

Siapa yang berbuat kebajikan, yang sepantasnya dan sebenarnya Yang menjaga maksud rakyat, aku sebut pada raja Pada orang itu diberi, dengan kenaikan pangkatnya Ditinggikan martabatnya, demikian daulat memuliakannya

Orang berbuat kejahatan, banyak insan dianiaya Orang itu salah pada Sultan, wajib demikian raja-raja Menghinakan si bid’ah, dia dirampas diambil hartanya Demikian bentuk kutukan Allah, Khalifah harus memurkainya

Agar orang tidak mengikutinya, raja harus memberi ancaman Jika raja mengikutin orang jahat tersebut, Tuhan makbud menurunkan bala Tuhan marah pada raja, hari kiamat dapat azab dan siksa Membalas kejahatan kepada daulat, siksa yang berat kepada raja

Yang kesepuluh aku nyatakan, semua sultan yang bijaksana Dengan mengingat semua perbuatan, dalam timbangan kira-kira Jangan sampai raja daulat, laksana syari’at jangan ditukar Memberi hukuman kepada semua rakyat, periksa dengan detil oleh raja

Sesuai kesalahan yang dilakukan, raja harus mendengar perkataan sisalah Kemudian dimusyawarahkan, tujuannya untuk kesejahteraan Pasal Kedelapan Belas saya sebutkan, ilmu penyeupat kujelaskan Kata Hukama begini sahabat, dengar semua wahai saudara Pahami betul-betul wahai insan, pengetahuan empat perkara Ilmu nubuat Nabi yang pertama, wilayat bagian kedua Kemudian yang ketiga ilmu hikeumat, ilmu peunyepat empat perkara Ilmu nubuat Nabi aku riwayatkan, dengar sahabat saya nyatakan

Ilmu tersebut dari Nabi, turun wahyu dari Allah Ta’ala Mendapat ilham dari Rabbi, ditunjukkan banyak perkara Tuhan tunjukkan ilmu kebijaksanaan, dengan isyarat semua Ambia Karena pada seseorang, alamatnya dapat dari Ambia

Tutur katanya tanda alamat, orang maklum dari Ambia

Pengetahuan wahai sahabat, setiap alamat tentang dirinya Para Nabi sekalian, mereka mengetahui Nabi kita Nabi Muhammad sangat mulia, tiada bandingan sangat tinggi

Nabi yang dahulu berkeinginan, menjadi ummat Nabi mustafa Semua Ambia sangat suka, demikian masud memohon pinta Telah diterangkan mengenai Nabi kita, pada Rasul dan Ambia Itulah ayatnya wahai adinda, pahami wahai saudara

Laqad tamannā itsnā ’asyara nabīyan, innahum kānū min ummatī ibni ‘Imrāna wa ‘Isa ibni Maryam Dua belas Nabi berkehendak, yang rindu menjadi ummat Mustafa

Agar menjadi ummat yang baik, demikianlah mereka sangat rindu Seorang Musa anak Imran, yang satu lagi namanya Isa

Aku ceritakan anak Maryam, Nabi dahulu sudah mengenal Mustafa Nabi Muhammad lebih pangkat, tak ada yang menyamai derajat Sangat mulia dengan martabat, firman hadharat Allah Ta’ala Wa-idh qāla [‘Īsā ibnu Maryama yā Banī] ‘Isrā’īla innī Rasūlullāhi ilaikum mushaddiqān limā baina yadaiya minat Taurāti wa mubassyirā bi-rasūlin, yaktī min ba’dī ismuhu Ahmad Kata ‘Isa ibnu Maryam, beliau berkata pada ummatnya Bani Israil dengarkan ini, ucapannya dipahami semua Allah menyuruhku, disuruh katakan pada kalian semua

Dalam Taurat dinyatakan, Rasulullah yang sangat mulia Pada akhir zaman nanti, yang sangat mulia Nabi Mustafa Disebutkan namanya Ahmad, demikian ‘Isa mengatakan

Ilmu walayat semua wali, mengetahui yang belum terjadi pada manusia

Itulah cermin hati yang suci, lahir batin nampak semua Hatinya sangat jernih dan bening, luar dalam dapat dilihatnya Semuanya terlihat tidak ramping?, tidak ada tabir terlihat semua Salman Farisi aku sebutkan, dengar kisahnya melalui saudara

Kaum Nabiyullah Musa, yang termasyur keseluruh dunia Ilmu kasyaf sudah diketahui, mengenal Nabi sebelum beliau lahir Memohon kepada Rabbi, tidak pernah jemu memohon pinta Meminta berkah dan syafa’at, pada hadharat Allah Ta’ala

Agar bertemu Nabi Muhammad, hatinya yakin sekali Demikianlah permintaan Sulaiman Farisi, Tuhan Rabbi mengabulkannya Akhirnya lahirlah Nabi Muhammad, Salman Farisi masuk agama Menjadi sahabat Rasulullah, sudah senang dan bahagia

Pada walayat wali Allah, dapat mengetahui semua sebelum terjadi Yang dikenal dengan ilmu hikmah, dengar sahabat aku khabarkan Semua falakiah aku nyatakan, ada dua belas rasi bintang Bintang dua belas bintang tujuh, dikatakan makruf namanya

Bintang Siyari diberikan nama, ketika masa peranakan Banyak kalian mengetahui, semua tentang manusia Ilmu kebijaksanaan, pengetahuan rupa-rupa Ilmu “peunyeupat” dengan firasat, ada alamat manusia

Masing-masing ada alamat, dalam firasat dilihat tanda Kebijakan dan kejahatan, semua tampak tandanya

Akan diketahui kenyataan, pengetahuan nampak nyata Baik dan jahat memang diketahui, ketahuan semua perkara

Upama hikayat Imam Syafi’i, beliau pergi suatu masa Baitul Mukaddis beliau berjalan, musafiran Imam kita Pertengahan antara Mesir, hingga sampai ke Dusun Ramalah Bertemulah dengan seorang, Imam kita lalu dibawa

Sampai ke rumah dibawa pulang, sungguh sangat dimuliakan Bermacam-macam dia sajikan, diberi nikmat cita rasa Imam Syafi’i sangat susah, muka pucat duka cita Semua sahabat tak mengetahui, susah hati Syaikhuna

Pagi hari beliau pergi, Imam Syafi’i cepat berkata Meminta izin pada orang itu, semakin dimuliakan lagi Hatinya semakin gelisah, duka cita Imam kita Kemudian beliau berangkat, pergi cepat dengan kuda

Dibelakang Syekh datang surat, dikasih dengan segera Syekh terima dan dibacakan, sangat senang tak berduka lagi Senang hati tak bandingan, semua orang menjadi heran Pada Imam ditanyakan, mereka periksa semuanya

Dahulu aku melihat, namun sekarang rasa senang Dulu susah aku lihat, seakan susah sekali di Maulana Tapi sekarang sangat senang, Imam dengan cepat menjawab Imam katakan saat itu, yang membuat aku sangat susah

Firasat tidak menjadi kenyataan, jadi susah hati hamba Yang menjamu kita semua, aku lihat nampak tandanya Tidak ada kebajikan padanya, demikian firasat kami Kita sangat dimuliakan, namun tidak seperti dugaan

Seakan salah firasat itu, ketika datang surat nyata Lima belas dinar disuruh isi, pada kami dia meminta

Senangnya hati tak terkira, firasat ini tidak berubah Imam Syafi’i membayarkan, diberi saat itu tiga puluh dinar

Karena firasat menjadi kenyataan, senang sekali di Maulana Nabi Sulaiman aku hikayatkan, masa daulat dalam tahta Dua perempuan bermusuhan, mereka berdua bertengkar Memperebutkan seorang anak, kedua orang itu bertengkar

Keduanya sama pengaduan, keduanya mengaku ananda Keduanya berkata itu anaknya, seperti itu mereka bertengkar Nabiyullah menjadi heran, sejak dulu tidak pernah seperti ini Saat itu Nabi berpikir, segera memberi keputusan

Nabi suruh belah dibagi dua, kedua bunda harus sama bagiannya Perempuan pertama sangat senang, yang satu lagi menangis pilu Anak itu tidak diizinkan dibelah, berikan untuk dia saja Pada perempuan menangis dikembalikan, kesana diberi anak itu

Perempuan yang senang tidak diberi, demikian Nabi melakukannya Pasal Sembilan Belas, dengarlah tua dan muda Ini firasat semua orang, jangan lupa pahami semua Ilmu firasat saya kisahkan, aku katakan lihat semua

Kata Hukamak sekalian, semua insan yang berkepala besar Itulah orang tanda himmah(tinggi cita-cita), kepala kecil aku sebutkan Nampak terlihat kurang akal, aku kisahkan yang sederhana Tanda alamat berilmu, aku katakan lagi lainnya

Rambut lurus aku kisahkan, alamat berani kata Hukama Rambut keriting tanda penakut, budinyapun sangat kurang Kurang beruntung wahai ponakan, percayalah adik dan abang Rambut yang sedang aku sebutkan, tanda dipuji manusia

Rambut lebat di dahi kepala, kurang berbudi tak berakal Rambut lebat bagian belakang, tandanya besar keinginan Bulu dibawah leher, lagi dibawah telinga Alamatnya tanda berani, bulu lebat pada dada

Bersambung sampai keperut, alamatnya kurang pandai Rambut hitam tandanya berbudi, menepati janji itulah tanda Rambut kuning aku kisahkan, kurang budi dan pemarah Rambut antara hitam dan merah, aku katakan hai saudara

Alamatnya suka dipuji, pahami dengan cerdas jangan bertukar Dahi yang sempit kurang budi, lalu dahi yang besar Tandanya pemalas, aku katakan yang sederhana Dahi sedang dan berkerut, disebut tanda orang pantas dipuji

Diantara dua kening berkerut, orang yang sering cemas Kerutan melintang dahi, tanda berbudi dan pandai

Yang sangat berkerut seperti ini, alamatnya sangat keji Jika dahinya luas saudara, tanda berbudi dan kuasa

Cepat marah dan cepat reda, ingat saudara itulah tandanya Lubang telinga sangat kecil, aku katakan tandanya Orang kurang terhormat, perbuatannya sangat salah Bulu alis aku sebutkan, yang rendah aku nyatakan tandanya

Orang yang sering menderita, aku sebut yang panjang

Bulu alis panjang, aku kisahkan pahami saudara Membanggakan diri demikian yang jelas, kening bertemu keduanya Tanda pemfitnah dan pembantah, lagi kening yang tinggi

Itulah tanda panjang umur, demikian diceritakan Mata kecil terkatub-katub, hijau cukup satu tanda Tak punya malu sangat jahat, dengki ‘ujub khianat dan celaka Kejahatan amat sangat, demikian sahabat kata Hukama

Warna kuning keputihan, itu alamat fitnah besar Mata merah aku katakan, mata lembu kata umpama Bagian atas berkedip, alamatnya sangat jahat Sering berzina, berbuat laknat baginya biasa-biasa saja

Seperti bentuk mata lembu, sungguh sangat jahat sekali Bulu berkedip mata kecil, banyak sekali tipu daya Tandanya munafik dan jahat, suka menipu sesama manusia Banyak tipu dengan daya, lagi bermulut besar itulah tandanya

Mata melihat bagaikan anak-anak, lagi muka seolah tersenyum-ketawa Itulah tanda panjang umur, begitu kata para Hukama(ahli filsafat) Mata warna hitam sangat hitam, bagaikan buah jomblang masak warnanya Itulah tanda sangat berakal (bijaksana), lagian sahabat baik sekali

Leher pendek wahai sahabat, itu namanya jahat sekali Itulah alamat kejahatan, pikirkan semua wahai saudara Bahu lebar aku nyatakan, alamatnya kurang pintar

Kisahnya sangat berani, kemudian aku nyatakan yang kecil Bahu kecil tandanya salah, tidak percaya pada orang lain

Tidak percaya pada siapapun, demikian sifatnya aku khabarkan Aku kisahkan jari tangan, yang panjang diketahui begini tandanya

Tanda cerdik tak ada bandingan, pekerjaan sangat sempurna Dada panjang aku nyatakan, orang malas lagi pelupa Dada sedang aku riwayatkan, tanda zaki(suci) sopan bicaranya Perut yang besar tandanya bodoh, orang tak punya malu

Kurang sayang kepada siapapun, begitu sifat orang yang perutnya besar Perut yang sedang aku ceritakan, sangat baik dan sejahtera Kelakuannya baik selalu, budi pekertinya sangat sempurna Betis besar sifatnya keras hati, tidak berbudi dan tak punya malu

Ilmu firasat pun sudah tamat, pahamilah sahabat tua dan muda Demikian dua bagian perbedaan, antara kebaikan dan kejahatan Ilmu firasat aku ceritakan, siapapun pahami benar-benar Agar tahu keuntungan dan kerugian, semuanya pahami baik-baik

Pasal Kedua Puluh aku nyatakan, mengatakan tentang rakyat yang ada Dalam negeri wahai sultan, dua pasukan rakyatmu Harus kau pahami dua perkara, kafir dan Islam harus ada bedanya Jangan engkau langgar wahai Syahi’alam, aku nyatakan begini caranya

Yang wajib bagi orang Islam, dua puluh hak yang sebenarnya

Raja memang harus begitu, bisa lepas (bebas) dari mara bahaya Hari kiamat sangat kesusahan, raja bisa lepas dari bahaya disana Pertama-tama aku nyatakan, sultan jangan takabur

Sayangi hamba Allah, di khalifah jangan menganiaya Orang takabur aku nyatakan, jangan ada pada raja Seperti firman Tuhan, aku nyatakan wahai raja Innallaha la yuhibbul mutakabbirīn, harus diingat jangan sampai lupa

Layadkhulul jannata mankāna fi, qalbi mitsqāla zarratin minalkibri Tidak ada Surga bagi siapapun, yang takabbur walau sekecil biji sawi

Yang kedua saya nyatakan, raja sultan aku khabarkan Jangan mendengar perkataan, kejahatan yang sedang terjadi Khalifah harus bersabar dulu, nanti setelah diperiksa Baru tentukan benar atau salah, demikian harus dilakukan

Mendengarkan perkataan, kejahatan yang dikerjakannya Perbuatan yang tidak baik, raja mendengar perbuatan itu salah Karena tamak dikatakan, bisa membinasakan manusia Karena dengki dapat menyebabkan, semuanya menjadi binasa

Akhirnya raja menjadi cercaan, karena sultan mendengar khabar Jangan mendengar perkataan keji, karena dia sangat benci raja Kata Hukama banyak sekali, dengarkanlah kami meceritakan Man naqala ilaika naqilu ‘angka, percayalah perkataan Hukama

Dia menghina orang didepan kita, berarti kita dicela juga Di hadapan orang yang mencela orang lain, dia caci orang lain Jika engkau tidak melarangnya, engkau yang akan menanggung dosanya Suatu hari aku riwayatkan, datang seorang lelaki

Duduk dihadapan Saidina Ali, dia menghina orang lain Saidina Ali mengatakan begini, ucapanmu ini sia-sia saja

Walaupun benar apa yang kau katakan ini, aku sakit hati dan sangat benci Jika itu dusta yang kau sampaikan, kamu ini salah aku akan menghukummu

Tutur gaib hamba Allah, taubatlah kamu jangan ulangi lagi Kemudian orang tersebut bertaubat, esok lusa dan tak melakukannya lagi Itulah kejahatan yang paling besar, perbuatan mencela orang lain Kemudian yang ketiga aku riwayatkan, raja murka pada rakyat

Semoga dimaafkan oleh raja, agar tidak terlalu lama dalam dosa Selama tiga hari kita maafkan, sudah bebas dari dosa dan kesalahan Hadist Nabi Rasulullah, teungku bertuah dengar semua Zaman dahulu Nabi Yusuf, saudara saudaranya diampuni semua

Tuhan muliakan berderajat tinggi, sungguh sangat mulia Kemudian yang keempat aku nyatakan, dengar sultan para raja Pada rakyat jangan pilih kasih, baik dan jahatnya jangan kau ungkapkan Orang jahat sifatnya sembunyikan, dia akan dihukum dan disiksa

Orang yang baik semua kaum, jangan disembunyikan atau disalahkan Keduanya harus ada perbedaan, demikian sultan aturannya Orang yang baik harus disayang, demikian perbuatan para raja Raja negeri harus bersikap adil, pada negari yang diperintahnya

Perlakukan rakyat semua, ini harus berbeda sekedarnya Hamba Allah di dunia ini, hukum (aturan) dibawa oleh khalifah Harus membedakan masing masalah, demikian aturannya harus dipikirkan Kafir Islam dengan orang fasik, harus ada perbedaanya

Hukum (aturan) raja harus sangat teliti, pikiran raja harus cerdik Bagi orang saleh dan ‘abid, masing-masing bagian ada aturannya Bila banyak hukum yang diberikan, agar berhasil semuanya Yang kelima aku riwayatkan, raja-raja jangan berkhianat

Anak istri dan semua rakyat, jangan ada kebencian pada raja Jangan biarkan orang masuk dalam rumah, orang plin plan dan semacamnya Begitu harus dilakukan raja, aturan diperlakukan pada masing-masing bagian Ini aku nyatakan tentang raja negeri, apa-apa yang dilakukannya

Jika pergi kerumah seseorang, dengan seizinnya raja baru masuk Seperti kata Firman Tuhan, haram tuan jika izin tak ada

Jika sudah ada izin dari tuan rumah, setelah itu baru raja masuk

Minta izin sampai tiga kali, engkau panggil dengan bersuara

Beri alamat (identitas) agar dikenali, akan dijawab jika sudah diketahui Mungkin sedang menyiapkan tempat, jangan tergesa-gesa masuk segera Mungkin dia lagi kesusahan, lagi darurat orang tersebut Jika tak ada izin cepat kembali, jangan ada rasa sakit hati

Raja jangan menyalahkannya, mungkin dia dalam kesusahan Lalu keenam aku nyatakan, Duli khalifah harus mengerjakannya Patut dan perlu didiskusikan, semua aturan perbuatan raja Wajib duduk dan berbicara, dengan saudara yang berbangsa

Dengan segala kebaikan, seperti contoh dengan ulama Semua Syiah yang berilmu, orang mulia berbicara Demikian sifatnya duduk dalam majelis, orang spesial dan berbangsa Jangan sampai duduk dan berkawan, dengan saudara orang hina

Orang bodoh tidak punya majelis, ada di setiap bangsa Orang tamak banyak nafsunya, tidak tahu tata tertib majelis Jangan sampai mendekati hal semacam itu, dua negeri mendapat bahaya Dunia akhirat mendapat kerugian, pada sultan akhir nanti

Dalam hal itu banyak raja yang binasa, yang tidak pantas dikerjakannya Yang ketujuh aku ceritakan, adab khalifah saya ceritakan Ketika duduk aku kisahkan, beginilah wahai raja Jangan bersama dengan rakyat, satu tempat dengan raja

Raja duduk harus terpisah, demikian adat raja-raja Raja duduk suatu tempat, yang dekat dengan menteri dan ketua-ketua

Mungkin datang seseorang, dia akan mengenal inilah raja Rakyat duduk ditempat lain, jangan dekat dengan raja

Yang pantas menteri disampingnya, yang duduk di kiri raja Yang kedelapan aku riwayatkan, raja duli saya khabarkan Jika berjanji dengan seseorang, jangan sekali-kali raja mengingkarinya Sultan jahat jika melakukan itu semua, sungguh sangat hina

Semua janji tak ditepatinya, raja demikian tak punya malu Jika janji ditepati, itu tanda raja yang baik Tuhan kita sangat suka, sangat senang pada raja Raja yang adil saya ceritakan, aku nyatakan ada tiga bagian Yang pertama janji harus ditepati, demikianlah sifatnya jangan diingkari Kedua saya nyatakan, jika raja negeri menemukan harta Selain dari hasil negeri, jangan dimasukkan dalam perbendaharaan Berikanlah kepada semua hamba Allah, berikanlah untuk sedekah

Kemudian yang ketiga aku nyatakan, ketika raja menghukum hamba Allah Sultan jangan bermuka masam, mukanya seperti ular berbisa Jangan berbicara dengan kasar, melainkan dengan suara lembut Ini kukatakan Hadist Nabi, dinyatakan oleh Nabi Mustafa

Sebuah istana akan Tuhan jadikan, dalam surga Bentuknya indah megah sekali, bertahtakan pualam dan mutiara

Beberapa istana dari manikam, putih dan hitam megah sekali Kemudian semua sahabat bertanya, kepada siapa diberikan ya Saidina

Kemudian Nabi menjawab, untuk tiga orang wahai saudara Untuk orang sembahyang tengah malam, dia yang akan menempatinya Kepadanya diberikan oleh Rabbul kiram, istana manikam diberikannya Kedua orang yang memberi makanan, yang kelaparan dan dahaga

Ketiga orang akan kukatakan, wahai saudara yang akan menempatinya Yang berbicara lemah lembut, yang tidak kasar berbicara Itulah yang punya telah kusebutkan, Tuhan makbud yang memberikannya Yang kesembilan aku riwayatkan, begini wahai raja – raja

Siapapun orang yang datang, raja harus menghormatinya Orang tua harus dihormati, walaupun dia tidak berilmu Semua ulama pangkat tinggi, oleh raja harus memuliakannya Siapapun yang mempunyai ilmu, sabda Nabi harus memuliakannya

Pangkatnya mulia tidak sebanding, Allah berikan kepada raja Diberi kekekalan oleh Tuhan, kebesaran dan kemuliaan Tidak kurang namun sangat lebih, kemegahan akan berlipat ganda Yang kesepuluh aku riwayatkan, menghukum orang manapun

Dengan ikhlas harus ada keadilan, Tuhan Rabbi akan memberikan Kesempurnaan amal ketetapan iman, Tuhan akan mengasihi dia

Jika dia zalim menjadi seteru Tuhan, kufurlah dia para raja Semua Ulama berkata, raja kafir yang bersifat adil

Dia tidak akan masuk neraka, surgapun dia tak dapat Karena Allah mengasihi kafir tersebut, diberikan tempat yang lain pula Yang kesebelas saya riwayatkan, aku nyatakan bagi para raja Disuruh hukum seseorang, harus diselesaikan demikian peraturannya

Memang harus segera diselesaikan, demikianlah bisa membuat sejahtera Jika terlambat aku nyatakan, akhir masa akan menjadi fitnah

Memang harus segera diselesaikan, raja bertuah banyak sekali bahayanya Hai raja bijak dengarlah riwayat, sabda Nabi harus dipercaya Satu amal sangat besar, demikian umpamanya Lebih dari semua ibadah, tidak satupun yang sama dengannya Dengan sedekah banyak diberikan, dan mengerjakan sembahyang sunat Tidak setara lebih baik ini lagi, semua sahabat diperiksa

Rasulullah mengatakan, siapapun para raja Memutuskan hukuman dengan segera, dan sangat menyayangi rakyatnya Aku katakan itulah raja yang akan senang, Allah menjaga dan memuliakannya Jika raja lupa menghukum rakyatnya, hari kiamat akan di azab dan disiksa

Hari kiamat akan diperiksa, akhir nanti mendapat siksa Kedua belas aku katakan, perbuatan sultan para raja Jika ada kesalahan seseorang, jangan katakan dihadapan orang lain

Walau salah perbuatannya, jangan katakan waktu itu

Jangan membuat rakyat sakit hati, raja jangan berbicara kasar Di hadapan oleh raja daulat, jangan katakan kesalahannya Kitabul Akbar meriwayatkan, tutupi aib dan kejahatan saudara Saudara Islam demikian sahabat, Tuhan Rabbi akan menolongmu

Allah akan menutupi aibmu, dunia akhirat menjadi sejahtera Demikian tersebut wahai sahabat, dalam riwayat Kitabul Akbar Saidina Umar radhiyallah, beliau pergi suatu masa Waktu malam aku kisahkan, tidak diketahui oleh siapapun

Tiba pada satu rumah di suatu tempat, mendengar orang berbicara Orang jahat berbuat laknat, dia berbicara sambil bersenda gurau Dia mengetahui orang jahat, jahat budi sedang berzina Tidak sabar dalam hati, beliau menaiki sebuah pagar

Beliau menaiki pagar itu, Umar melihat ada dua orang Perempuan dan lelaki tidur bersama, berbuat laknat si celaka Saidina Umar menjadi marah, A’ūzubillāh beliau berkata Engkau menyangka perbuatan kamu, tidak dilihat oleh Allah Ta`ala

Kemudian orang lelaki menjawab, dengarkan kami wahai Saidina Sabarkan dirimu dulu, aku katakan sesuatu padamu Perbuatanku satu saja yang salah, sedangkan engkau ada tiga Saidina Umar bertambah marah lagi, mana yang salah pada ku

Coba katakan kesalahan kami, yang mana coba kau katakan Pertama dijawab oleh lelaki itu, Firmannya begini adanya Walā tajassasū itulah ayatnya, itulah kesalahanmu Jangan Hadharat, jangan mencela manusia

Engkau ini bersusah payah, engkau mencaci hamba Allah Tuan hamba yang mengerjakan, kemudian kesalahan yang kedua Dia membacakan Firman Tuhan, begini lafal ayatnya Wa ātu buyūta min abwābihā, Allah berkata wahai Saidina

Jika ingin masuk ke rumah, melalui pintu engkau lewat Engkau berbicara di atas pagar, itulah kesalahan anda Kemudian yang ketiga, engkau melanggar Firman Allah Wala tadkhulū buyutan ghaira, buyutikum anda tidak mengerti ayat

Tidak boleh masuk jika tak ada aturan, tidak pahamkah wahai Saidina Jika sudah diizinkan oleh tuan rumah, demikian perintah Allah Ta`ala Di Saidina sembarangan, tidak minta izin dari tuan rumah Kemudian Saidina Umar mengatakan, sekali ini dosamu diampuni

Besok-besok jangan diulangi lagi, disuruh bersumpah untuk taubat segera Orang tersebut sudah bertaubat, pada Hadharat Allah Ta`ala

Yang ketiga belas aku riwayatkan, terkadang raja membuat kesalahan besar Jangan ceritakan pada rakyat, Duli khalifah jangan nyatakan

Agar tak diikuti oleh hamba Allah, perbuatan yang sama dengan raja

Baik dan buruk yang raja kerjakan, pasti akan diikuti oleh rakyat semua

Demikianlah hal yang dimaksud, jangan diikuti seperti yang raja lakukan Jika rakyat berbuat salah, kepada sultan yang akan menanggung dosanya Jika rakyat berbuat kejahatan, semua dosanya ditanggung oleh raja Yang keempat belas aku nyatakan, raja khalifah saya ceritakan

Dengan Ahlud dun ya jangan berkawan, aku kisahkan pada raja Nabi bersabda berkata begini, jangan bersahabat dengan orang yang cinta dunia Jangan bersamanya dan jangan bersaudara, begitulah sultan yang sejahtera Jika raja suka berbicara, akhirnya rusak jadi binasa Raja tidak pantas melakukan hal itu, raja wajib melerainya Hati akan menjadi gelap, raja Duli menjadi binasa Tidak ada kebaikan didunia dan akhirat, raja selalu dalam kerugian Hari akhirat mendapat kesusahan, Na`azubillah minha

Khalifah wajib untuk tidak mendekatinya, raja harus menjauhinya Yang kelima belas saya riwayatkan, raja Duli aku khabarkan Setiap hari mencari orang fakir, orang miskin lagi dengan ulama Orang yang selalu berkata tentang kebenaran, yang sebenar – benarnya

Memberi sedekah setiap saat, suruhlah berdoa kepada Tuhan Suruh ajarkan diri raja, demikian selalu pada ulama Begitulah agar hati menjadi terang, bertambah lagi dengan didoakan

Seperti hikayat raja `Ajam, seperti inilah yang dikerjakannya

Yang menjadi raja selalu meninggal, di Negeri `Ajam setiap masa Selama dua tahun selalu begitu, setelah meninggal diganti pula Selalu terjadi demikian, suatu saat takdir Tuhan Setelah sultan meninggal, tinggal tiga orang anak laki – laki

Yang dua diangkat sebagai gantinya, tidak mau menjadi raja karena takut mati Yang terakhir diangkat anak yang bungsu, mengatur negeri sebagai raja

Anak raja menjadi khalifah, memegang perintah hukum dunia Berkenduri dan bersedekah, Ulama dan Syiah disuruh berdo’a

Pada masa itu ada seorang Syiah, tiada lawan sangat waraa Syiah Ahmad sangatalim, mengharap pada Tuhan taqwa Syiah tinggal ditempat yang jauh, raja menyuruhnya untuk berdoa Banyak harta disuruh antarkan, dibawa oleh rakyat kepada Syaikhuna

Ketika sampai pada tempat Syiah, memberikan hadiah yang dibawa Disuruh berdoa kepada khalifah, kepada Allah disuruh pinta Kemudian Ulama itu berdoa, agar raja panjang umurnya Demikianlah dikatakan oleh rakyatnya, diterima langsung oleh Maulana

Disuruh berdoa cepat – cepat, kemudian datang yang lain pula

Utusan raja banyak sekali yang datang, Syiah memandang banyak sekali Sudah berkumpul seratus lima puluh orang, disediakan tempat oleh Maulana Diceritakan semua hal tentang raja, doa selamat disuruh pinta

Kemudian Syiah mengatakan begini, pada orang yang banyak datang Disuruh potong sebatang pohon, demikian kata Ulama Jika tumbang pohon yang ditebang, Tuhan hapuskan semua bala raja Pasti umurnya akan panjang, Tuhan akan memberikan kesejahteraan

Kemudian setelah itu, mereka berbicara dan bermusyawarah Pada saat pohon ditebang, sungguh sangat aneh sekali Pohon kayu sudah ditebang, dengan parang tajam sekali Dengan beliung dan lainnya, selalu dipotong tidak pernah putus

Semua orang sangat lelah, sungguh sangat susah sekali Jika mereka beristirahat, pohon tersebut menyatu kembali

Dari pagi hingga sore tidak beristirahat, pohon tersebut tidak dapat dirobohkan Selalu menyatu pohon itu, demikian selalu tidak pernah tumbang

Lengket kembali seperti semula, sungguh capek dan melelahkan Jika pohon tersebut dipotong lagi, bila berhenti akan seperti semula Selama satu bulan selalu begitu, semua orang menjadi susah Sebagian orang mengajak, kembali pulang pada sultan

Kita semua tak berdaya, menebang pohon ini tidak berhasil Semua orang sangat penat, tidak sanggup menebang pohon Dalam kawanan itu ada seseorang, dia berbicara (mengatakan) Nampaknya dia mempunyai ilmu, dia memberi usulan

Begini yang dikatakan olehnya, seperti ini kita lakukan Kita semua membeli makanan, membaca Al – Qur`an dan berdoa Kita berzikir dan berdoa keselamatan, kepada Hadharat memohon pinta Demikian mereka bermufakat, semua rakyat menerimanya

Kita tak kuasa memotong pohon, kepada Tuhan kita meminta Begitulah mereka sepakat semua, pada malam itu dikerjakannya Membaca Al – Qur`an dan berzikir, sebagian bertahlil tak pernah reda Semalam suntuk selalu begitu, hingga fajar menjelang

Pada pagi hari mereka melihat, pohonnya roboh menimpa Kemudian dikatakan pada Syiah, semua yang dilihat diceritakannya Alhamdulillah Syiah menjawab, cepat kembali menghadap raja Katakanlah sudah sejahtera, raja akan panjang umurnya

Hingga kembali semua rakyat, pada daulat dikhabarkannya Raja Negeri hatinya menjadi senang, syukur akan nikmat tiada tara Setelah itu raja bersabda, disuruh panggil rakyat semuanya Fakir miskin dimanapun, harus datang semuanya

Ketika sudah sampai semuanya, pada sultan raja besar

Pada waktu itu raja bertanya, siapa yang mempunyai keinginan Siapa yang ingin berhutang, cepat katakan pasti kuberikan Kemudian dijawab oleh yang datang, dengan senang dia berkata

Dua ribu enam ratus orang, yang mengaku dirinya akan berhutang Kemudian raja memberikannya, diberikan kepada mereka semua Kemudian raja berkata lagi, jika belum mati ajalku tiba Jangan engkau bayar wahai saudara, raja mengatakan demikian

Bila kami meninggal nanti, hutang ini baru engkau bayarkan Mereka berdoa semuanya, setiap hari memohon pinta Supaya sultan umurnya panjang, kepada Tuhan meminta semua Setiap waktu selalu demikian, permintaan mereka semua

Dalam riwayat begini disebutkan, umur raja tersebut sangat panjang Seratus tiga puluh tahun umurnya, raja berkuasa sangat lama Itulah raja yang berharap pada Tuhan, doa insan banyak sekali Semua fakir miskin, kepada raja itu mereka berdoa

Yang ke enam belas aku riwayatkan, pekerjaan raja daulat Setiap saat harus mengingat, jangan melupakan orang fakir Harus mengasihi anak yatim, orang lemah harus ditolong Agar dibantu habis – habisan, jangan dihina tapi dimuliakan

Setiap saat harus ditolong, manusia yang mengalami kesukaran

Dari segala mara bahaya, agar sultan menolong kita Raja memeriksa setiap hari, raja negeri selalu bèkerja Tentang kesukaran anak negeri, demikianlah pekerjaan raja

Karena Tuhan diakhirat nanti, raja akan diperiksa Hari kiamat akan ditanyakan, pada Duli raja – raja Tentang orang fakir semua, Tuhan hadharat akan memeriksa Hadist Nabi meriwayatkan, dengar saudara para raja

Tuhan menyuruh malaikat, untuk memeriksa akan raja Raja kaya dan megah, ditolongkah semua orang fakir Semua anak yatim orang miskin, harus dicari oleh raja Malaikat akan menanyakan, hari kiamat pada raja

Adakah memberi pertolongan pada orang itu, Tuhan akan membalas Tuhan akan memberi kejayaan, dan kemuliaan tak terkira Jika raja tidak berbuat begitu, Tuhan Rabbi akan memberi azab dan siksa Dalam neraka disuruh, karena Tuhan sangat murka

Yang ketujuh belas aku sebutkan, raja harus melakukan ini Raja wajib membangun negeri, agar rakyat senang semua Membuat jembatan dan jalan, seperti itu harus dilakukan Agar senang semuanya, semua insan senantiasa

Para perampok) yang di jalan, disuruh cari oleh raja negeri Mereka wajib dihukum, agar rakyat tidak susah Jika sultan tidak melakukan itu, akhir masa mendapat kesukaran Hari kiamat akan disiksa, Tuhan balas kepada raja

Pada suatu hari saya kisahkan, dengar kukatakan wahai saudaraku Saidina Umar radhiyallah, kata khalifah pada Abu Zardara

Saidina Umar bertanya begini, kenapa orang menyebutku Khalifatul Mukminin kata orang, lalu dijawab oleh Abu Zardara

Yang jadikan mereka mengatakan itu, tidak pernah lupa semua pekerjaan Selalu ingat menjaga negeri, setiap hari tidak pernah lupa Selembar daun milik seseorang, kemudian dicuri umpamanya Seekor ayam orang ditipu, diambil oleh sipencuri

Jika khalifah tidak memeriksanya, tuan telah membuat kesalahan Karena harta tersebut sudah hilang, milik insan di dunia Gelar tersebut tidak pantas disebutkan, seperti apa yang telah terjadi Delapan belas aku kisahkan, raja Ra`i di dunia

Perlu Meunasah tempat berhukum, raja duli mengajarkan Wajib diberikan nafakah (gaji), tugas khalifah memberi belanja Harus ada mesjid tempat khutbah, begitulah yang harus raja kerjakan Khatib dan Bilal harus diberi gaji, dari Duli semua belanjanya

Raja jangan memberi kesukaran, harus dipikirkan oleh raja Nabi bersabda begini, percayalah benar – benar Barang siapa yang membangun masjid, dengan ikhlas dan tidak riya Pada hari kiamat Tuhan akan memberikan, rumah untuknya dalam surga

Rumahnya sebesar dunia ini, pahami dan percayalah wahai sahabat Sembilan belas aku sebutkan, raja khalifah saya kisahkan Harus mengerti hukum fiqih, membelanjakan hartanya pada jalan Allah Harus belajar hukum syari`at, seperti inilah wahai raja

Jika raja negeri tidak mengerti, carilah seorang ulama Yang `alim lagi baik, diserahkan padanya untuk mengatur Jika raja tidak seperti itu, bèkerja sesuka hatinya Sebagaimana hukum yang berlaku, demikian daulat dilaksanakan

Tidak seperti hukum dalam syari`at, lambat – lambat kira – kira Raja itu adalah saudara setan, dia selalu ada setiap masa Tidak pernah terpisah didunia dan akhirat, raja demikian sangat celaka Itulah raja yang merusak islam, yang meng (haram) soal agama

Raja ashi demikian sifatnya, kafir jahannam tanpa agama Tidak mengikuti perintah Allah, dia hanya menuruti hawa nafsunya saja Tidak menerima apa yang semestinya, tidak peduli dan melupakannya Tidak menerima perintah Al Quran, raja setan yang celaka

Yang kedua puluh aku ceritakan, pekerjaan raja sultan Amar makruf nahi mungkar, demikian Duli pekerjaan raja Perbuatan yang diperintah Rabbi, raja harus menyuruhnya demikian Perbuatan yang ditegah oleh Tuhan,oleh sultan harus melarang juga

Yang tidak patuh akan celaka, semua kaum yang berbuat salah Oleh raja harus dihukum, agar maklum rakyat semua Sehingga orang jahat menjadi takut, maksudnya agar tidak berbuat salah Hadist Nabi aku katakan sedikit, dengar pocut para raja

Yang tidak menyuruh pada kebaikan, kejahatan tidak dilarangnya Siksa Allah akan raja tersebut, tempatnya dalam neraka

Tidak pernah mencium bau surga, percayalah wahai saudara Hak Islam bagi semua raja, harus maklum dan lakukanlah Hak dua puluh sudah selesai, wajib dikerjakan seperti itu Gelar raja itu Khalifatul Mukminin, ingat sultan jangan lupa

Kemudian pasal dua puluh satu, dengar saudara tua dan muda Islam dan kafir rakyat bercampur, begini yang harus dikerjakan Saidina Umar dulu mengatakan, suatu masa dia memerangi kafir Setelah itu membuat sebuah perjanjian, kitab `Ahdi diberi namanya

Membuat perjanjian tidak akan mengubahnya, perjanjiannya sangat kuat Atas keinginan dari Khalifah, naskahnya diambil dan dipakai semua Wajib sekali aku katakan, surat perjanjian disimpan oleh semua raja Wahai raja semuanya, yang mempunyai rakyatnya kafir

Seperti syarat harus engkau ketahui, wahai Duli jangan lupa Syaratnya disini aku sebutkan, ada dua puluh pahamilah semua Harus diikuti wahai saudaraku, harus dipatuhi setiap masa Pertama sekali aku kisahkan, dengarlah Khalifah yang pertama

Tanda kafir yang (zaman dahulu), seperti ada patung dan berhala Ditempat zaman dahulu milik kafir, yang akhirnya Islam ada Kerajaan Islam akhir nanti, jangan perbaiki lagi yang sudah rusak

Dan sultan jangan merusaknya, biarkanlah seperti adanya

Yang kedua aku nyatakan, aku nyatakan wahai saudara Bila berdagang ke negeri kafir, orang yang merantau di negeri kafir Jangan menginap aku riwayatkan, untuk berhenti di “rumah berhala” Kemudian yang ketiga aku sebutkan, orang Islam bepergian

Jika pergi ke negeri kafir, bila sampai ketempat tersebut Akan dijamu tiga hari, demikian saudara aku nyatakan Ketika bertamu jangan melanggar, demikian riwayatnya diceritakan Lalu yang keempat aku nyatakan, jika orang kafir mengirim utusan Kepada raja Islam, dengan membawa usul perundingan Jangan dihadang dalam perjalanan, demikianlah ketentuannya

Yang kelima kita harus tahu orang kafir, dia suka pada agama Islam Jangan dilarang kisah ini, keenam lagi aku cerita

Setelah masuk Islam kafir tersebut, semua harus memuliakannya Ketika orang Islam pergi ketempat, orang kafir tuan rumahnya Orang Islam sangat dihormati, seperti rakyat dengan raja Orang Islam sangat mulia, laksana tuan dengan hamba

Yang ketujuh aku nyatakan, saya katakan yang sebenarnya Kedatangan orang Islam aku kisah, pada sekumpulan orang kafir Orang kafir berhimpun berjamaah, mereka memuliakan kedatangan orang Islam Orang Islam sangat dihormati, diberi tempat yang mulia

Yang kedelapan aku nyatakan, tentang pakaian orang kafir Mereka tak boleh pakai pakaian orang Islam, seperti itu raja melarangnya Yang kesembilan aku sebutkan, bila orang kafir menunggang kuda Pelananya jangan diberikan, yang kesepuluh aku nyatakan

Jangan ada senjata di rumah orang kafir, mereka harus dijamu oleh raja Yang kesebelas cincin (stempel) Islam, jangan ada pada orang kafir Yang kedua belas Syahi`alam, raja tidak boleh dijamu oleh utusan kafir Mereka tidak boleh menjual arak dan tuak, demikian adat hukum raja Yang ketiga belas aku riwayatkan, kafir yang ada harus dilarang Arak dan tuak jangan diminum, demikian kawan raja harus melarangnya Keempat belas aku ceritakan, perbuatan yang sudah berlalu Tidak boleh mengatakan pada orang kafir, mengungkit – ungkit

Perbedaan Islam `ashi, demikian saudara harus ada perbedaannya Yang kelima belas aku sebutkan, perbuatan kafir yang ada Orang Islam jangan lakukan, enam belas tuan aku cerita Semua anak cucu kafir, harus melarang berikan nama

Jangan sekali – kali memberi nama Islam, tujuh belas saudara aku nyatakan Semua ramah orang kafir, jangan dekat tuan dengan orang Islam yang ada Yang kedelapan belas aku riwayatkan, jika orang kafir meninggal Orang Islam jangan menangis, demikian tuan ceritanya

Sembilan belas aku nyatakan, bila orang kafir meninggal Jangan dikubur dekat dengan orang Islam, waktu mereka dibakar Harus dilarang seperti itu, selesai sudah hai saudara Aku kisahkan yang kedua puluh, raja harus sungguh – sungguh melarang

Orang Islam jangan ditebus, tidak harus mengerjakannya Islam dan kafir memang demikian, jika melanggar perjanjian harus diperangi Jika itu tak dituruti, rumahnya dibakar ambil hartanya Buatlah perjanjian seperti itu, jika orang kafir mengubahnya akan dihukum

Harta diambil dan anak istrinya, dia akan diusir dan dibunuh Pasal Kedua Puluh Dua kawan, aku nyatakan wahai saudara Kusebutkan insan yang murah hati, wahai kawan dengar semua Sabda Nabi Rasulullah, dengar aku nyatakan tua dan muda

Asanhi habibullah, wal bakhilu `uduwullah Tuhan kasih orang yang murah hati, Allah benci orang yang sangat kikir Orang murah hati sangat mulia, orang kikir sangat hina Pada raja yang berdaulat, yang murah hati sangat mulia

Sangat mulia derajat tinggi, dunia akhirat dalam sejahtera Semua Hukamak mengatakan, kikir menjadi aib bagi manusia Padanya tidak ada kebaikan, pada insan yang sangat kikir Yang menghilangkanaib hamba Allah, selain murah hati yang lain tak ada

Tangan ikhlas memberi sedekah, sangat terkenal keseluruh dunia Orang kikir sangat dihina, mendapat kejahatan tak terkira

Orang murah hati mendapat kebaikan, Tuhan akan mengasihi dia Nanti pada Rasulullah, raja murah hati kucerita

Dua khalifah yang dermawan, aku kisahkan wahai saudara Termasyhur keseluruh negeri, selalu dipuji setiap masa Yang pertama raja di Rum (Turki), kemudian kawan yang kedua Sultan Syam harus dipahami, dikagumi seantero dunia

Dua mereka sangat murah hati, dipuji ke mana-mana Kedua raja tersebut sangat terkenal, tambah lagi seorang saudagar Seorang saudagar lebih murah lagi, nama Hatamthi sangat termasyhur Lebih murah dari kedua raja tadi, kemegahannya tak terkira

Kemurahannya tak ada lawan, tak ada yang menyamai kedermawanannya Setiap negeri terdengar khabar, hingga sampai kepada sultan Kedua raja tadi mendengar selalu, nama Hatamthi sangat terkenal Mendapat banyak pujian dari orang fakir, selalu diceritakan setiap saat

Kedua raja tadi merasa malu, selalu menjadi perbincangan orang Masing – masing dari raja itu, ingin menguji kebenarannya Tidak patut demikian masyhurnya, disangka hanya kabar dusta Tidak mungkin orang bicarakannya, sangat dermawan darimana hartanya

Karena dia masih sangat muda, dia bisa melebihi raja Kedua raja itu ingin berbuat jahat, masing-masing ingin melakukannya

Mana ada harta sebesar bukit, sehingga dia menjadi saudagar Tidak pantas dia sangat terkenal, biar kita bunuh saja

Dari pada malu semua khalifah, kita harus mencari cara Bagaimana sih kemurahannya, hingga dikenal keseluruh dunia Pertama raja Rum (Turki) aku ceritakan, raja menyuruh seorang utusan Khabarnya di negeri Arab, di sana ada seorang saudagar

Disuruh bawa sepucuk surat, sultan ingin meminta kuda Disuruh minta pada Hatamthi, seekor kuda yang sangat disayanginya Kuda yang disayang dipakai sendiri, di raja negeri menginginkannya Yang tidak bercerai, dengan dirinya tak pernah berpisah

Kemudian utusan itupun pergi, tak pernah berhenti dia berjalan Dengan membawa surat kiriman, sampailah dia pada saudagar Dia membawa banyak hadiah, yang dikirim oleh khalifah Ketika dia sampai melangkah, memberi hadiah yang dibawa

Di Hatamthi memberi hormat, untuk memuliakan utusan raja Sebuah rumah diberikan, yang keindahannya tiada tara Oleh Hatamthi sangat suka, untuk memuliakan utusan itu Disuruh membuat pesta, yang sangat meriah

Surat kiriman belum diberikan, khabar dari sultan belum dibaca Dari siang hingga malam, turun hujan lebat sekali Pergi kepasar pun tak ada orang, tak ada yang menjual daging! Saat itu di Hatamthi, pergi ke pasar saat hujan deras

Sangat sukar tak seorangpun pergi, kala itu dengan cepat dia mengatakan Kuda yang disayanginya disuruh sembelih, perintah diberi dengan segera Disuruh masak untuk kenduri, di Hatamthi sangat senang Menjamu tamu malam itu, dengan pesta meriah sekali

Setelah makan malam pun larut, para tamu pergi beristirahat Hingga pagi terbit fajar, utusan itu mendekatinya Utusan tersebut memberikan surat, dilihat sendiri oleh Hatam mulia Dengan sangat hormat menerima surat, kemudian dilihat oleh saudagar

Ketika dilihat isi surat, mukanya pucat sangat berduka Hatam berkata pada utusan, ucapan sultan sangat mulia Tidak bisa kuungkapkan dan lakukan, hamba telah melakukan kesalahan Utusan melihat muka Hatam, mukanya ranum (memerah) kelihatannya

Mukanya pucat seolah tersenyum, seakan tak mau memberikan kudanya Sang utusan menjawab begini, jangan susah wahai Tuan Jika tidak ingin memberikannya, aku akan pulang pada raja Bila kuda tidak mau diberikan, aku akan kembali pulang

Kenapa tuan bersusah hati, lalu dijawab oleh Hatam Setelah itu Hatam menjawab, bukannya aku tak mau berikan kepada raja Jika hanya kuda yang diminta sultan, hamba merasa sangat tersanjung Seribu ekor pun akan kuberikan, aku sudah melakukan kesalahan besar

Ihwal semalam semua diceritakan, mengatakan kudanya tak ada lagi

Setelah Hatam mengatakan semua, utusan tadi menjadi heran Aku tak tahu keinginan khalifah, kami sangat menyesal sekali Karena kealpaan aku “ini”, kami tidak bisa memberikan kuda

Lebih mulia raja negeri, demikian Hatam berkata Lalu Hatam mencari kuda tangkas, gagah perawakannya Dengan hadiah banyak sekali, Hatam balas kepada raja Setelah itu utusan pun pulang, ketika sampai pada raja

Semua hadiah diberikan, utusan mengatakan apa yang terjadi Dikatakannya dari awal hingga akhir, dia cerita seperti adanya Raja Rum terkesima (heran), mendengar tentang Hatam mulia Di raja Rum sangat suka, terheran – heran mendengar khabarnya

Pantas saja sangat termasyhur sekali, tak ada bandingan di dunia Raja sangat kagum pada Hatam, hormat takzim dari raja

Dari sana sini mengirim surat, selalu demikian setiap masa Hatamthi terkenal sangat masyhur, barat dan timur diketahui semua Demikian selalu kejadiannya, sangat sebanding dengan raja – raja Hal raja Syam aku kisahkan, mendengar kemasyhur Hatam mulia

Dia sangat pemurah, malah bisa melebihi khalifah Di raja Syam sakit hati, sungguh sangat sakit sekali Raja ini sangat malu, dia bersabda pada menterinya Wahai menteri aku khabarkan, rakyat berkata Hatam sangat pemurah

Orang bilang dengan kami, lebih dia lagi yang punya nama Coba minta oleh kita, barang – barang yang indah rupa Sangat mahal tak ada di sini, kita minta padanya sanggupkah diberikan Coba kita uji dia pemurah, cara untuk melihat kebenarannya

Coba minta unta merah, kedua matanya berwarna hitam Bulunya panjang sampai ke belakang, coba minta sanggupkah dipenuhi Seratus unta yang demikian, seperti itu yang harus kita minta Jika kupikir wahai menteri, tidak sanggup dia memenuhinya Pasti nanti Hatam menjadi malu, begitu yang harus kita kerjakan Lalu diutus seorang utusan, surat kiriman disuruh bawa Dalam surat berisi khabar, permintaan akan raja Kemudian sang utusan pun pergi, beberapa lama dia bersafar

Ketika sampai pada Hatam, salam diberi sangat mulia Pergi bertemu dengan Hatam, surat kiriman diberikan segera Surat raja mulia sekali, Hatam mengangkat di atas kepala Lalu dibuka dan dilihat, isinya menyenangkan meminta unta

Hatam sangat senang sekali, raja negeri meminta unta Disuruh panggil rakyat semua, disuruh beli unta seperti itu Disuruh cari unta yang gagah, disuruh pergi ke tiap – tiap negeri Demikian Hatam bertitah, hamba Allah pergi mencarinya

Mereka pergi kebarat dan ketimur, ke negeri Baduwi mencarinya Seperti keinginan Tuhan bantu, mereka pulang membawa unta

Seratus unta yang Hatam inginkan, Tuhan yang mengkurniakannya Harganya dibayar segera, tiga sampai empat kali dilipat gandakan

Hatam sangat suka sekali, sungguh sangat senang sekali Seratus unta berpindah tangan, pada utusan diberikan segera Utusan itu kembali pulang, bersama dengan semua unta Kemudian diberikan kepada raja Syam, raja terheran – heran melihatnya

Sungguh heran raja negeri, memang kemurahannya tiada tara Tidak ada orang yang seperti ini, siapapun tak berdaya Setiap raja jika unta sebanyak itu, tak ada di manapun di dunia ini Di raja Syam sangat suka, saat itu dibalas oleh raja

Seratus unta dari khalifah, beserta dengan emas permata Semua pakaian yang indah – indah, sangat banyak dikirimnya Lalu utusan pergi melangkah, dia disuruh oleh raja Kepada Hatamthi dia antarkan, persembahan dari raja

Ketika sampai pada Hatam, semua kiriman diberikan segera Kemudian diterimanya, sangat mulia sekali Harta sultan sangat mulia, saat itu Hatam bersenda Siapa yang punya unta dahulu, disuruh panggil semuanya

Semuanya datang pada Hatamthi, hadiah diberi kepada yang punya unta Seekor unta beserta barangnya, diberi semuanya oleh Hatam Semuanya habis dibawa pulang, tidak ada apapun yang tertinggal Demikian sifat kelakuan Hatam, sambil tersenyum – senyum suka cita

Setelah itu utusan pulang, Hatam membalas surat raja Dengan berbagai macam hadiahnya, ketika sampai pada raja

Dari awal hingga akhir, yang dilihat diceritakan semuanya Raja Syam mendengar khabar demikian, semua dikatakannya Maka raja Syam menjawab, tak ada orang yang setara dengannya Yang dulunya buruk sangka, memang benar dia sangat pemurah

Yang seperti itu tidak ada di zaman ini, siapapun para raja Seperti Hatam yang sangat pemurah, demikianlah raja negeri berkata Tidak ada yang bisa setara Hatam, sangat pemurah tak ada duanya Hikayat habis sudah tamat kalam, dengan rahmat Tuhan sudah sempurna

Washallallāhu ‘ala khairi khalqihi Muhammadin wa ālihi wa ashhābihi wasallam Wa radhiyallāhu ‘an ashhābihi ajma’īn, Āmīn!.

Tamat

BAGIAN III Analisis

Pembahasan dalam pasal-pasal yang tertera pada Kitab Tajus Salatin karangan Bukhari al-Jawhari lebih banyak menekankan pada perkara-perkara etika dan hukum tata negara. Sesuai dengan judul kitab bersejarah dalam khazanah literasi Aceh yang kurang lebih bermakna “mahkota para sultan” ini, sesungguhnyalah segala perihal yang terkandung di sana merupakan fondasi akhlak sosial- politik dan kebudayaan yang harus dimiliki seorang raja atau pemimpin utama. Polah tingkah sekecil dan sedetil apapun yang menjadi ciri-ciri seorang pemimpin yang bermoral diuraikan dan diberikan komentar berdasarkan kaidah Quran dan Hadits.

Ditambah lagi dengan merujuk pada surah-surah dari kitab lain yang dipakai sebagai penguat argumentasi penulis Kitab Tajus Salatin telah memperkaya ulasan strategis bagi kesempurnaan isi kitab. Lebih dahsyat disebut kitab tatanegara dunia Melayu karena isi kandungannya masih dipakai hingga awal abad 20 Masehi di kerajaan-kerajaan besar Nusantara hingga

Semenanjung Melayu. Hal tersebut pernah disebutkan oleh pendiri dan penguasa Singapura pertama; Raffless, yang menyaksikan bagaimana ketika itu kitab Tajus salatin masih tersebar di kalangan raja-raja Melayu yang masih berkuasa di bawah pengawasan kolonial Inggris.

Pada seluruh kitab tersebut terdapat 22 pasal. Dari pasal ke 1 sampai pasal ke 11 perihal kehadiran manusia di muka bumi sebagai khalifah Allah dijelaskan dengan sangat mendalam. Tentang bagaimana manusia mengenal Tuhan dengan lebih dahulu mengenal dirinya menjadi dasar utama filsafat sosial kemasyarakatan. Artinya, kesadaran ketuhanan, keberadaan dan kewajiban manusia di dunia hingga sakaratul maut menjadi pedoman dalam mengatur kehidupan masyarakat.

Selanjutnya diulas bernas persyaratan manjadi seorang raja yang adil lengkap dengan tatacara yang berlaku manakala melakukan urusan-urusan publik. Dalam salah satu pasal diterangkan tentang seorang raja non-muslim yang adil, meskipun beragama bukan Islam.

Penulis kitab ini juga menerangkan beberapa trik dalam mencari dan menemukan para pengawal yang dapat dipercaya dan tidak mudah berkhianat pada raja dalam segala aktifitas formal dan informal kerajaan, disamping seorang juru-tulis (kerani) yang mempuni agar segala pekerjaan persuratan dapat berjalan dengan tertib dan terkontrol.

Dari 11 pasal terakhir dalam kitab tersebut, yakni dari pasal 12 hingga pasal 22 berisi petunjuk dan tatacara yang berlaku dalam sebuah kerajaan atau kepemimpinan dalam masyarakat. Pada pasal-pasal itu termaktub di sana kode etik menjadi pegawai atau pesuruh para raja, segala syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang abdi- raja yang baik.

Selanjutnya juga diterangkan dengan mendalam dan luas sekali peri-sikap seorang raja dalam menghadapi segala masalah yang timbul dalam masyarakat dan kebijakan apa saja yang mesti diambil manakala

melakukan komunikasi dan diplomasi dengan raja-raja non-muslim.

Beberapa pasal juga membicara tentang hak-hak yang didapatkan seorang anak dari orang tua mereka, tentang sifat-sifat yang berbudi tinggi untuk dimiliki oleh semua orang agar mendapat kebaikan dalam kehidupan serta pembahasan secara bernas mengenai fungsi akal- budi. Yang menarik dari pasal-pasal di atas adalah dicantumkan sebuah pasal yang membicarakan tentang ilmu firasat dan qiafah untuk mengenal kepribadian manusia. Hal ini dirasakan amat penting lagi bermanfaat bagi seorang raja kelak ketika ia naik tahta dan berkuasa penuh atas sekalian rakyatnya.

Ada banyak peristiwa sehari-sehari, baik dalam bidang hukum, politik, keamanan, agama, kesejahteraan sosial, bahkan adat-kebudayaan yang memerlukan kebijaksanaan raja untuk menetapkan aturan. Disamping mendengar nasehat para pemangku kepentingan seperti wazir, kadhi malikul adil, sjahbandar dan staf ahli kerajaan, pada akhirnya raja juga harus mengerahkan segenap potensi batin dan mental pribadinya untuk memutuskan mana yang terbaik dari sebuah kebijakan kerajaan untuk rakyat. Di situlah peran ilmu firasat dan qiafah bagi raja. Uraian tentang ilmu tersebut akan dijelaskan nanti.

Dalam pasal 12 dan 13 amat terang disyarah mengenai kekuatan para utusan raja yang akan mengantar kabar serta hal ihwal yang berlaku di dalam negeri kepada raja-raja luar negeri. Mereka adalah Duta Besar-Duta Besar kerajaan yang berkuasa penuh dalam kancah percaturan politik internasional, wakil raja dalam diplomasi politik serta juru bicara resmi dalam forum- forum dunia. Maka dari itu, dalam kitab ini pekerjaan mereka didudukkan setara dengan pekerjaan seorang nabi yang membawa “risalah kerajaan”.

Sebagaimana nabi atau pesuruh Tuhan, para diplomat kerajaan harus menjadikan pekerjaannya sebagai hukum wajib dan berlaku sopan dalam tutur-kata adalah

berhukum sunat. Amaran itu dinisbahkan kepada sepotong ayat dalam surat Thaha:44 yang menyatakan bahwa Tuhan menghendaki Musa dan Harun untuk bertutur dengan lemah lembut kepada Fir’un yang menolak untuk beriman. Jadi tugas para rasul-anbiya Tuhan tak jauh berbeda dengan tugas para Duta Besar sebuah negara yang dikirim untuk mengabarkan pesan-pesan penting dan mungkin rahasia kepada dunia luar.

Daripada itu, para utusan raja selalu diikuti oleh seorang ajudan rahasia yang disuruh raja untuk merekam semua tindak-tanduk sang utusan tatkala bermuka-muka dengan para tamu dan pihak asing. Ajudan rahasia ini akan menjadi saksi kelak dihadapan raja; apakah sang utusan resmi berkata benar apa adanya atau berdusta pada raja. Andai dusta utusan terbukti dan hasil penyidikan kaum telik-sandi kerajaan membuktikan ia bersalah, maka hukuman juga tak luput ditimpakan pada setiap utusan yang tak bèkerja dengan baik sehingga mengganggu hubungan internasional antar kerajaan.

Disinggung pula peri-sifat para pegawai negeri kerajaan yang benar-benar dapat diandalkan dalam menuntaskan sekian persoalan-persoalan administrasi negara. Ada 25 sifat utama disebutkan dalam kitab ini untuk menemukan para pegawai negeri terbaik; pertama, seorang pegawai kerajaan harus mengakui bahwa hak Allah berlaku untuk raja dan mengakui bahwa raja adalah hamba Allah; kedua, pegawai kerajaan harus mencintai rajanya; ketiga, harus jujur dan segala perkataannya diridhai Allah dan rajanya; keempat, harus lebih takut kepada Allah daripada rajanya; kelima, harus membantu pekerjaan raja; keenam, mengingatkan rajanya ketika ia salah.

Perihal ketujuh, harus tunduk pada perintah baik dari raja dan menolak perintah jahat; kedelapan, harus sopan penuh tatakrama saat menghadap raja; kesembilan, memenuhi semua permintaan raja dengan segera; kesepuluh, mestilah tajam penglihatan dan pendengaran ketika bercakap-cakap dengan raja; kesebelas, jangan berbisik-bisik diantar mereka saat berhadapan dengan

raja; kedua belas, jangan menjawab jika raja tak bertanya; ketiga belas, jangan memotong pertanyaan raja kepada orang lain kecuali mereka tidak bisa menjawab; keempat belas, sanggup menjaga rahasia raja; kelima belas, pegawai kerajaan harus jujur dan sesuai perbuatannya; keenam belas, harus menjaga nama baik raja dan mencegah orang menjelekkan raja; ketujuh belas, bersukacita dalam bèkerja;

Sifat pegawai bermutu yang kedelapanbelas, ikhlas bèkerja tidak berharap pujian dari raja; kesembilan belas, jika hendak menyampaikan sesuatu pada raja maka pilihlah saat yang tepat untuk bicara; keduapuluh, jika raja memberi pemuliaan dan penghargaan atas kerjanya maka jangan sombong; keduapuluh satu, jika raja marah jangan ambil hati dan dendam; keduapuluh dua, jika raja murka pada seseorang maka berlalu dari sana; keduapuluh tiga, harus bersungguh-sungguh dalam menjalankan amanat raja; keduapuluh empat, jangan memperburuk citra raja pada pihak lain dan yang terakhir, pegawai kerajaan harus mengasihi rajanya lebih dari nyawa, harta dan ibu-bapaknya serta anak-anaknya sendiri.

Dari paparan di atas terang sekali bahwa kedua pasal itu memberi gambaran ideal tentang sosok utusan atau Duta Besar dan citra diri teladan pegawai sebuah negara, dimana peranan kedua mereka sangat strategis menopang keberadaan dan laju perkembangan sebuah negara menuju puncak gemilang. Tanpa kriteria dan sifat-sifat tersebut sangat mungkin sebuah negara akan kropos dan hancur oleh cacat adminitratur yang khianat.

Misal, para diplomatnya yang membelot ke negara lain dan menjadi memata-matai negaranya sendiri, atau para pegawai kerajaan yang bèkerja diam-diam untuk pihak asing dengan membuka aib raja pemerintah negeri sendiri. Sama ada, pegawai negeri yang tidak aktif bèkerja di kantor tapi lebih banyak membuang waktu dalam urusan pribadi, bukan melayani kepentingan publik. Inilah negara gagal, istilah hari ini.

Kepribadian yang bermutu tinggi dan berbudi mulia yang dihasilkan oleh sebuah bangsa dan negara tiada lepas dari peranan keluarga sebagai unikum terkecil dalam masyarakat. Tak heran kemudian dalam pasal 14 sampai 16 kitab ini, pengarang menempatkan pembahasan mengenai metode pendidikan anak sejak lahir sampai ia dewasa, menjadi pemimpin yang bijaksana dan berbudi luhur serta perihal akal baik dan buruk dari orang yang sudah berakal (aqil).

Sebenarnya ulasan perihal mendidik anak di sana hanya mengulang-kaji kisi-kisi yang telah ditetapkan oleh para ulama fiqah pada bab menyambut kelahiran anak dan tatacara penanganan yang akan membentuk mental dan pribadi si anak lebih baik dan bermanfaat bagi lingkungan.

Realitas itu bisa dimaklumi sebab para pengarang besar pada masa kitab ini ditulis dan diterbitkan pada abad akhir abad 16 dan awal abad 17 memiliki pengetahuan mendalam juga tentang masalah tauhid, ibadah dan tasawuf. Rata-rata isi kitab pun bercampur sedikit banyak dengan bahasan agama. Simak saja penjelasannya.

Setelah anak lahir ke dunia hendaklah dimandikan dengan air bersih lantas dikenakan baju terbaik. Selepas itu diazankan pada telinga kanan serta iqamat pada telinga kiri. Pada hari ketujuh dari kelahiran dibikin selamatan untuk mencukur rambutnya. Pada usia 7 tahun hendaklah dipisahkan ranjang tidur dari orangtua sekalian diajarkan untuk mendirikan shalat lima waktu sehari-semalam. Dan pada usia 13 tahun mohon dibiasakan untuk turut-serta dalam perayaan-perayaan hari besar agama serta dicarikan seorang istri jika sudah berusia 16 atau 17 tahun.

Demikianlah inti dari pasal mendidik anak sejak usia dini hingga dapat hidup mandiri dengan pasangannya yang lepas dari pantauan melekat orangtua dan sanak saudara dalam keluarga inti. Setelah usia remaja berakhir dan masuk kedalam masa dewasa awal, seorang anak mulai menapak jalan hidup ke dunia luas, berbèkal suluh- pedoman masa-masa pendidikan di rumah.

Sebuah “senjata” paling hebat bagi seorang anak yang beranjak dewasa adalah akal-budi. Dalam pasal 16 dibuka dengan kutipan ayat 100 dari Surat Al-Maidah yang berarti “Takutlah kepada Allah wahai orang yang berakal (ulul-albab)”. Dalam Bahasa Arab ulul albab kerap dimaknai dengan akal dan akil (orang berakal) dan akal secara bahasa berarti sebuah gua di atas bukit maha tinggi yang tak terjangkau oleh siapapun. Akal juga diartikan sesuatu yang teguh. Dalam satu hadits, Nabi juga menegaskan bahwa “Yang pertama sekali diciptakan Allah adalah akal” sehingga dengan perangkat akal itu manusia akan dapat memilih menjadi orang berbudi atau sebaliknya.

Ada tujuh sifat akal yang menunjukkan apakah seseorang mampu menaklukkan nafsunya sehingga ia menjadi mulia. Pertama, jika ia menerima perlakuan jahat dari orang lain maka dibalas dengan kebaikan dan mengampuni kejahatan itu. Kedua, merendahkan diri dihadapan orang yang kurang pengetahuan (bodoh); ketiga, bersegera pada pekerjaan yang baik; keempat, benci pada segala perbuatan keji dan jahat. Kelima, selalu memohon ampunan Allah dan selalu mengingat mati; keenam, berkata jujur sepadan dengan pengetahuan yang dimiliki dan terakhir, memohon pertolongan pada Allah dalam setiap kesukaran yang dihadapi.

Sedangkan akal orang yang tiada berbudi terlihat juga tujuh tanda-tandanya; pertama, ia berlaku kasar dan aniaya kepada orang-orang di bawah kendali hukumnya; kedua, takabbur dan sombong di hadapan orang lain; ketiga, tidak sopan dan biadab dalam berkomunikasi dengan pihak lain; keempat, tak ada yang berani mencegah perbuatan jahat yang dia lakukan karena ia suka; kelima, menyukai segala perbuatan maksiat dan mendukung orang tidak shalat, puasa dan lainnya; keenam, menunda- nunda pekerjaan baik dan mempercepat perbuatan jahat dan terakhir, tak pernah sabar menghadapi kesukaran dan cobaan, melainkan segera ia kerjakan dengan segala tipu- muslihat.

Ketika seorang anak manusia menjadi pemimpin negara atau raja dalam sebuah negeri, maka keutuhan akal yang berbudi menjadi taruhannya dalam menakhodai kemudi sebuah bangsa menuju kegemilakangan. Di sini, pengarang kitab ini juga menukilkan sepatah kisah Iskandar Agung (Iskandar Zulkarnaini) manakala ditanyai oleh mahagurunya sekaligus filsuf Yunani terkenal,

Aristoteles, kenapa ia lebih memberi perhatian lebih kepada kaum ulama dan para alim daripada bahkan orangtuanya sendiri? Apakah Iskandar Agung durhaka pada orangtuanya? Tenyata bukan. Ia menjawab bahwa para alim-ulama yang membuat kehidupan menjadi kekal dengan perantara ilmu pengetahuan mereka. Sebab itu mereka harus dimuliakan demi yang baqa daripada yang fana, dan tak heran jika mereka terkenal sebagai “pewaris para nabi”.

Kitab Tajus Salatin selalu mengutip kitab-kitab terdahulu dalam memperkuat argumentasi-argumentasi pada setiap pasal di sana. Kitab-kitab yang dikutip tersebut dikaitkan dengan perkara-perkara yang sedang diulas, baik digunakan sebagai iktibar atau contoh maupun dipakai menjadi dalil-dalil penting ketika membincangkan ihwal agama.

Selain tentunya, kutipan ayat Al Qur’an dan Hadits yang tersebar di sana sebagai rujukan akhir yang paling utama. Tak ketinggalan juga perihal moralitas, filsafat, tatakrama, komunikasi dan pendidikan. Bahkan pasal 17, yang mengulas tentang syarat-syarat tegaknya sebuah kerajaan atau sendi negara melalui pendekatan sifat sang raja, seluruhnya dinukilkan dari kitab bertajuk Sifat Al-Muluk.

Terdapat sepuluh syarat sifat yang mesti dimiliki seorang pemimpin agar keadilan dan kemakmuran di negeri dapat mencapai baldatun tayyibatun warabbun ghafur yakni; pertama, memberikan hukuman pada rakyat sepadan dengan yang ia terima; kedua, membuka pintu istana 24 jam untuk menerima pengaduan rakyat; ketiga,

jangan dibuai nafsu untuk memperkaya diri dengan sumber-sumber pangan dan pakaian;

Keempat, lemah-lembut dalam perkataan tatkala memberi hukuman; kelima, menegakkan hukum Allah dan risalah Nabi; keenam, menerima amanat kekuasaan di atas pundaknya dengan ikhlas dan hanya mengharap keridhaan Allah semata; ketujuh, senang berkumpul dan mendengarkan petuah-petuah dari para alim-ulama; kedelapan, tidak takabbur dalam memberi kebijakan; kesembilan, mampu memelihara orang-orang baik di sekitarnya sebagai teladan bagi rakyat dan terakhir, memiliki kemampuan analitis terhadap semua perkara yang sampai padanya.

Syarat terakhir tersebut berkait erat dengan ilmu firasat sang raja. Ia harus benar-benar telaten menatap wajah seseorang yang membawa perkara, mendengar setiap kata-kata yang diucapkan dan memahami lekat- lekat semua bahasa tubuh dan tingkah adab santunnya. Tujuannya, agar raja tidak salah dalam memberikan respon dan kebijaksanaan.

Dari itu, jelas betapa penting ilmu firasat bagi seorang pemimpin dalam bersikap sehingga segala khianat dari pihak musuh dapat diantisipasi secara dini. Dan uraian tentang ilmu firasat dan qiafat dalam kitab ini termaktub pada pasal 18 dan 19 dimana dasar-dasar pengetahuan terhadap gerak-gerik manusia menjadi “mahkota sekalian perangkat batin” seorang raja demi kegemilangan kerajaan dan kemakmuran rakyatnya.

Bermula 4 fondasi dasar ilmu pengetahuan untuk mengenal manusia secara mendalam-sebagaimana disebutkan kitab Ma’rifat An-Nas yang dikutip dalam kitab ini- yaitu; Ilmu Nubuwwah (kenabian), Ilmu Wilayah, Ilmu Hikmah, dan Ilmu Qiafat dan Firasat. Ilmu Nubuwwah adalah pengetahuan kemanusiaan yang hanya diberikan Allah kepada para nabi dan rasul-Nya, sedangkan Ilmu Wilayah dimiliki oleh para wali untuk meneropong kondisi lahir dan batin seorang manusia.

Ilmu Hikmah merupakan pengetahuan dan kecerdasan khusus yang dipunyai para ahli-akademis dalam bidang perbintangan atau astrologi, pengobatan, dan syariat ketika mendeteksi sifat dan perilaku seseorang. Yang terakhir adalah Ilmu Qiafat dan Firasat sebagai ilmu pengetahuan yang boleh dikuasai oleh siapapun selain ketiga jenis orang yang telah disebutkan.

Ilmu Qiafat dan Firasat merupakan ilmu untuk menemukan sikap mental dan alamat batin seseorang melalui tindakan dan perkataannya, melalui rupa dan anggota tubuh, yang mampu menyiratkan kebajikan dan kejahatan. Qiafat itu sendiri berarti melihat air muka dan tarikan nafas dan Firasat berarti segala gelagat bahasa tubuh yang menunjukkan sesuatu.

Sebagai misal, seseorang dengan kepala besar berarti cerdas, kepala kecil artinya kurang beradab dan kepala sedang itu tanda berilmu. Sementara orang dengan dahi lebar tandanya suka membantah, berdahi kecil pertanda kurang berbudi dan dahi besar itu tanda malas.

Mata yang besar pertanda kemalasan, mata kecil penuh rahasia dan bermata sedang berarti pemegang amanah dan setia. Demikian jika berleher pendek pertanda kejahatan, berleher panjang berarti penakut, berleher sedang tanda berbudi dan jujur. Oleh karena kekuatan ilmu inilah, maka penulis kitab ini sangat menganjurkan kepada setiap raja untuk memilikinya demi menjaga marwah negara dan bangsa.

Landasan kerja seorang pemimpin yang lebih teratur dan visioner dengan perangkat ilmu firasat akan terlihat manakala ia dapat merawat hubungan baik dengan rakyat sebagai sesama muslim. Tatakrama dan kesantunan menjadi tolak-ukur kesuksesasan membina relasi sosial dan relasi kuasa hingga ke tingkat paling bawah dalam struktur pemerintahan dan kekuasaannya.

Pasal 19 menetapkan 19 aturan dalam tindakan dan hubungan baik seorang raja dengan rakyat di negara Islam yang seluruhnya bersendi syara’ dan Sirah Nabawiyah. Teladan dari Rasulullah Muhammad diperikan dengan

panjang-lebar untuk dianutkan oleh para raja yang sedang berkuasa dalam menetapkan hukum dan kebijakan publik yang diridhai Allah.

Sebaliknya diperikan juga sejumlah syarat bagi seorang raja dalam membina hubungan baik dengan rakyatnya yang non-muslim. Raja harus melarang rakyat non-muslim untuk membangun rumah ibadat mereka, jika ada tamu dari negeri Islam boleh menginap di rumah non-muslim selama 3 hari. Kemudian jika ada dari mereka yang hendak masuk Islam segera dipermudah urusan, mereka dilarang menjual minuman keras di pasar umum dan jika meninggal dikuburkan di pemakaman khusus. Demikian beberapa syarat dari 20 syarat lengkap yang ada dalam pasal 20.

Dari paparan di atas, terkesan betapa ruang gerak rakyat non-muslim di negeri Islam sangat terbatas dan sempit. Hal ini mungkin dipicu oleh kedatangan bangsa asing non-muslim ke Aceh pada awal abad 17 untuk berniaga dan mengumpulkan rempah di loji-loji pelabuhan.

Pada saat kitab Tajus Salatin diterbitkan pada akhir masa pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Mukammil, duta besar Kerajaan Aceh Darussalam baru saja kembali dari muhibah ke negeri Belanda. Sayangnya, ketua delegasi Teungku Abdoel Hamid (71 tahun) wafat dan dipusarakan di kota Middelburg setelah lelah berat dalam pelayaran selama 6 bulan ke negeri Bunga Tulip.

Tak pelak, kitab yang memberi rambu-rambu dalam membuka hubungan dengan pihak non-muslim, kemudian juga menjadi pegangan pihak Kerajaan Belanda dalam melanjutkan peniagaan dengan Kerajaan Aceh. Kebetulan pula, Federick de Houtman sudah mahir berbahasa Melayu dan berhasil menulis Kamus Melayu-Belanda pertama selama dalam tahanan. Dialah juru terjemah segala pasal dalam kitab ini kepada pangeran Maurist di tengah perjuangan kemerdekaan provinsi Belanda keluar dari penjajahan Spanyol dan kelak pasal-pasal kitab itu menjadi bagian penting dari landasan protokoler awal Kerajaan Belanda muda.

Selepas peristiwa Aceh tersebut bahasa Melayu merupakan pelajaran sangat utama para calon pegawai negeri dan pejabat tinggi kolonial yang akan dikirim bertugas di Nusantara. Adalah Francois Valentijn, pejabat kolonial berkuasa penuh untuk wilayah Ambon dan Maluku kemudian menerbitkan buku tentang Imperium Belanda di Asia Tenggara dimana pada Bab perihal Malaka dia menulis dengan bangga bahwa dialah “pemilik sebuah karya yang sangat penting namun langka, ditulis dalam huruf Arab yang telah mengajarkannya banyak hal tentang seluk beluk para Sultan dan Raja di Nusantara.”

Konon dia 2 kopi kitab Tajus Salatin. Selain Valentijn, George Henrik Werndly, pejabat kolonial lain juga menulis buku metode pembelajaran Melayu pada

  1. Dia menyebutkan Tajus Salatin sebagai salah satu buku paling penting dalam khasanah literasi Melayu. Ketertarikan para sarjana Belanda saat itu pada karya ini berujung pada penerjemahan karya Tajus Salatin pada 1827 oleh Roorda van Eysinga. (Muttaqin, 2017). Lebih jauh di dunia Melayu sendiri, kitab ini menjadi acuan pemikiran politik, hubungan internasional dan intelektual di Asia Tenggara. Pendiri kerajaaan Mataram Sultan Hamengkubuwono I membaca dan mengalih-aksara kedalam bahasa Jawa dengan judul Serat Tajus Salatin. Bahkan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, tokoh literasi klasik dunia Melayu memakai ilmu firasat dan qiafat yang dibaca dalam kitab ini untuk menerawang watak dan karakter Gubernur Militer Inggris pendiri Singapura, Sir Raffles. Lebih parah lagi, ajaran-ajaran tata hukum internasional dalam kitab itu dipelajari dengan tekun oleh para perumus perjanjian kerjasama dagang Kerajaan Belanda dengan kerajaan –kerajaan di Nusantara untuk menaklukkan dan pada akhirnya menjajah wilayah Asia Tenggara setelah mengkhianati traktat-traktat sebelumnya. Dari kenyataan sejarah itu semua, kiranya dapat kita saksikan betapa pengaruh kuat kitab Tajus Salatin ini

terhadap penubuhan dan kejayaan sebuah pemerintahan politik. Juga fragmen-fragmen pasal yang menarik untuk dikembangkan sebagai ilmu pengetahuan yang hari ini dikenal dengan istilah “kecerdasan emosional” yang semakin kuat dengan ditemukan “artifisial Intelegence” atau kecerdasan rekayasa dalam memperkuat dominasi sistem politik negara. Di titik ini, kitab besar dari paruh pertama abad 17, sebenarnya memuat kandungan peradaban teknologis untuk abad milenium kedua kini. Wallahu ‘alam bishawab.

BAGIAN IV Penutup

A. Kesimpulan

Setelah kita membahas berkaitan dengan Hikayat Tajus Salatin, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Hikayat Tajus Salatin ditulis oleh Bukhari Al Jauhari pada masa Kerajaan Aceh Darussalam yang dipimpin oleh Sultan Sayyidil Al Mukammil (1588-1604).
  2. Hikayat itu ditulis di Aceh dan dipersembahkan untuk Syah Alam (Sultan Sayyidil Al Mukammil).
  3. Hikayat tersebut masih terdapat relevansi terhadap kehidupan saat ini. Seperti dari pasal ke pasal, dapat diambil kesimpulan yang berupa:

    a. Nilai Kesamaan dan Ukhuwah

Manusia, baik raja/ pemimpin lainnya, maupun rakyat jelata harus mengenal dirinya sendiri. Dari apa dia diciptakan, untuk apa ia hidup dan kemana ia akhirnya.

Dari apa ia diciptakan, meskipun ia dikandung dan lahir dari pertemuan ayah dan ibunya, namun pada dasarnya ia berasal dari sari pati (bahan) yang sama yaitu tanah, api, air dan angin. Pertemuan ayah dan ibunya, juga berasal dari pertemuan manusia pertama diciptakan yaitu Adam dan Hawa. Jadi baik raja maupun rakyat jelata, semua sama-sama berasal dari tanah, api, air dan angin, yang kemudian turun temurun berasal dari manusia pertama Adam dan Hawa.

Untuk apa manusia hidup, tidak ada makna dan tidak akan berakhir pada pemikiran jika dikatakan sudah demikian mekanisme alam, kemudian mati dan selesai segalanya. Manusia hidup adalah untuk berusaha dan berjuang, sehingga mereka dapat menikmati hidup sejahtera, rukun dan damai. Tetapi manusia adalah makhluk di samping berakal juga makhluk yang mempunyai hawa nafsu. Maka dalam menempuh kehidupan tidak bisa dielak dari berbagai bentuk kerja sama atau pun persaingan. Dalam persaingan, boleh jadi sehat boleh jadi tidak.

Dalam persaingan tidak sehat terjadilah aneka macam pelanggaran, kejahatan, aniaya, permusuhan, pembunuhan, bahkan peperangan. Jika mati selesai begitu saja, maka segala persaingan yang tidak sehat dan tidak adil itu, siapa yang akan mengadilinya.

Dari itu menurut ajaran agama, hidup ini ada tujuan akhir yang akan dicapai, yaitu yang baik akan dibalas dengan kebajikan dan yang jahat akan dibalas dengan kejahatan pula. Balasan yang mutlak adil, tidak ada di dunia ini. Maka tujuan akhir yang akan dicapai oleh manusia adalah keadilan mutlak yang ada di sisi Allah di Akhirat nanti.

Jadi dari segi wajib mengenal diri ini, baik raja, sultan, presiden, pemimpin lainnya maupun rakyat jelata tidak ada perbedaan, semua sama dan bersaudara. Dari itu raja dan pemimpin lainnya tidak ada tempatnya untuk angkuh, congkak, sombong dan tekabur. Sebaliknya rakyat jelata, miskin dan melarat tak ada tempatnya juga

untuk merasa diri hina. Bahwa semua aktivitas manusia, tidak pilih bulu akan berakhir pada pengadilan Allah di akhirat kelak.

b. Nilai Keimanan dan Kontrol Diri

Manusia wajib mengenal Allah sebagai pencipta dan yang menganugerahkan rezeki kepadanya. Jika Tuhan telah dikenal dengan segala sifat kesempurnaan-Nya, maka akan menjadi pengontrol diri dalam setiap diri sendiri. Jika keyakinan ini betul-betul tertanam dalam jiwa dan lubuk hati seseorang, maka dalam kehidupan dunia ini tidak butuh kepada polisi dari luar dirinya sendiri.

Jika raja sebagai penguasa mutlak, tidak ada penguasa lain di atsanya, kata-katanya merupakan undang-undang yang wajib dipatuhi, dengan sebab mengenal, yakin dan beriman kepada Tuhan khususnya dan sebagaimana disebutkan dalam rukun iman umumnya, maka raja tersebut dan keluarganya tidak bisa berbuat semena-mena terhadap rakyatnya.

c. Nilai Akhlak dan Sosial Kemasyarakatan

Menurut sumber hukum Islam, baik Al-Quran dan Hadits-Hadits Nabi Saw, bahwa Nabi atau Rasul diutus ke dunia ini, tidak lain adalah untuk mengangkat martabat manusia, agar mereka berakhlak yang mulia dan berbudi pekerti yang luhur. Diperintahkan shalat dalam Islam, bukanlah semata-mata untuk shalat itu sendiri, tetapi juga untuk membentuk disiplin, tunduk patuh kepada sang pencipta dan aturan-aturan hidup, malah lebih jauh lagi untuk menjauhkan kekejian, kezaliman dan aniaya.

Sebagai shalat, demikian juga puasa, zakat, hajji dan lain-lainnya. Baik perintah untuk dikerjakan maupun dilarang untuk dijauhkan, tujuannya untuk kemuliaan akhlak dan budi pekerti yang luhur, baik kepada Allah, Malaikat, Kitab dan Rasul, maupun akhlak kepada diri sendiri, orang tua bersama keluarga, guru, masyarakat

dan lingkungan hidup termasuk akhlak terhadap hewan di dalamnya.

Jika setiap orang sudah berakhlak dan berbudi luhur, maka timbullah saling pengertian, menghargai, menyegani, menghormati dan saling menyayangi antara yang satu dengan yang lainnya. Maka raja pun akan insaf, tidak akan menggunakan kekuasaan mutlaknya terhadap rakyat. Apalagi pemimpin atau penguasa lainnya, yang tidak mempunyai kekuasaan mutlak. Jadi nilai-nilai akhlak dapat membentuk sosial kemasyarakatan.

d. Nilai Politik dan Pemerintahan

Ketika Tuhan berkehendak menciptakan Adam dan mengangkatnya menjadi Khalifah (pemimpin atas nama-Nya) di bumi, dan Tuhan memberitahukan kepada para malaikat, maka di antara sesama malaikat ada yang sangat berambisi, agar jangan Adam yang baru diciptakan itu diangkat menjadi khalifah, tetapi dirinyalah yang lebih berhak memegangi jabatan itu. Maka pecahlah para malaikat ke dalam dua kelompok, maka ketika Allah memerintahkan para malaikat sujud merendah diri menghormati Adam, maka sebahagian mereka mengingkarinya.

Malaikat yang mengingkari ini disebut dengan iblis. Apakah kasus di antara para malaikat di alam ghaib dapat disebut sebagai awal politik atau tidak, namun yang jelas ketika kasus itu terjadi di kalangan manusia, tegas dapat disebut politik. Politik di kalangan manusia tentu ada yang sehat dan ada yang tidak sehat. Politik yang sehat diperankan oleh anak cucu Adam yaitu Nabi Syits dan Kiyamuts. Nabi Syits diangkat menjadi nabi, beliau menerima wahyu dan hanya menangani masalah agama. Sementara Kiyamuts hanya menangani masalah kekhalifahan. Ini menurut pengarang bermula terjadi dwi kepemimpinan dalam satu negara, yaitu pimpinan agama dan pimpinan negara.

Ternyata kepemimpinan ini dikatakan dapat berjalan seiring, asal yang satu tidak bertentangan dan betul-betul bèkerja sama antara keduanya. Adapun politik yang tidak sehat, pertama kali diperankan oleh anak kandung Adam sendiri, yaitu Habil dan Qabil. Meskipun pada dasarnya memperebutkan jodoh, tetapi tak dapat dielak mempengaruhi masalah politik selanjutnya.

Politik yang sehat dan tidak sehat keduanya semakin berkembang. Politik yang sehat pada masa-masa itu kadang-kadang berada pada satu orang, dia sebagai nabi dan dia juga sebagai khalifah (raja), seperti Nabi Yusuf, Nabi Sulaiman dan Nabi Muhammad Saw. Malah sekarang ini ada negara yang tidak menangani masalah agama, tetapi hanya mengelola masalah pemerintahan saja, yaitu yang disebut Negara Sekuler.

e. Nilai Pendidikan dan Kebudayaan

Tidak ada manusia demikian lahir, langsung menjadi pakar atau ahli dalam sesuatu masalah. Tetapi harus melalui pendidikan. Dalam Islam pendidikan anak dimulai dari semenjak bayi dalam ayunan, malah diakui juga semenjak dalam kadungan, sampai berakhir ke liang lahad. Ibu dan Bapak bersama keluarga adalah guru pertama manusia dari semenjak dalam kandungan atau semenjak dalam ayunan sampai mereka dapat berdiri sendiri di atas kaki sendiri, dewasa bahkan sampai ke liang lahad. Mereka harus dididik sesuai dengan umur masing- masing.

Mendidik dalam kandungan, ayah tidak mencari dan ibu tidak memakan harta yang haram. Di samping harus bertingkah laku dan berkata benar termasuk sering- sering memperdengarkan bacaan Al-Quran. Demikian mendidik ketika bayi masih dalam masa-masa ayunan, ditambah lagi dengan perlakuan yang santun dan lemah lembut. Jika sudah waktunya, didiklah mereka dengan dasar-dasar ilmu pengetahuan seperti mengenal huruf – huruf, termasuk Al-Quran dan angka-angka. Selanjutnya dididiklah mereka selain di rumah tangga dan masyarakat,

juga ke sarana-sarana pendidikan, baik di dalam negeri atau ke luar negeri. Jika mereka telah menguasai aneka macam disiplin ilmu pengetahuan, mereka pada gilirannya akan bertindak atau berbuat sesuai dengan ilmu pengetahuan yang mereka kuasai. Dus bergerak, berkembang dan majulah kebudayaan dalam suatu masyarakat.

B. Saran-Saran

  1. Pemerintah Aceh perlu mengumpulkan sisa-sisa Hikayat, Nazam dan Tambeh yang masih dimiliki masyarakat Aceh dan di luar negeri, lalu menyimpannya di sebuah Museum Hikayat.
  2. Pemerintah Aceh perlu menciptakan “rasa bangga”, rasa kagum dan rasa memiliki terhadap Hikayat bagi kalangan remaja di Aceh. Sekurang-kurangnya citra Hikayat sebagai simbol kekolotan atau lambang kemunduran dapat terhapuskan.
  3. Pada setiap acara perlombaan yang diadakan oleh lembaga atau sekolah-sekolah, selain jenis lomba yang dilombakan selama ini; eloklah pula dimasukkan lomba membaca/menulis Hikayat atau lomba melukis cerita/isi Hikayat.
  4. Dalam rangka menggalakkan kembali pemakaian huruf Arab Melayu di Aceh, Pemerintah Aceh perlu mewajibkan pengajaran huruf Arab Melayu (huruf Jawi) pada setiap jenjang pendidikan, baik di sekolah umum, madrasah maupun dayah-pesantren. Fasilitas yang memadai perlu disediakan secara tetap setiap tahun anggaran.
  5. Guna menumbuhkan rasa cinta yang lebih mendalam terhadap huruf Arab Melayu, Pemerintah Aceh /Lembaga terkait perlu lebih sering mengadakan pameran dan lomba yang berkaitan penulisan Arab Melayu; disertai hadiah yang membanggakan bagi para pemenangnya.
  6. Perlu dibentuk sebuah Program Studi Bahasa dan Sastra Aceh di Universitas dan Institut yang ada di Aceh

sebagai pusat pengkajian dan penelitian naskah dan penulisan Arab Melayu.

  1. Para calon pejabat eksekutif dan legislatif di Aceh tidak hanya diwajibkan mampu membaca Al-Qur’an, tetapi perlu pula diwajibkan lancar membaca dan menulis tulisan Arab Melayu/Jawoe, karena huruf Jawi yang berkembang di Nusantara itu berasal dari Aceh.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah. Taufik (1979). Sejarah Lokal di Indonesia. Yogyakarta: Gahjah Mada University Press.

Abdullah. Teuku (2015). “Historiografi Lokal di Aceh, Studi Terhadap Hikayat Malem Dagang. Tesis [unpublish]. Banda Aceh: Pascasarjana Universitas Islam Negeri Ar-Raniry.

Ara, L.K., dkk. (1995). Seulawah Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas. Jakarta: Yayasan Nusantara.

Hadi, W.M Abdul. (2010). “Etika Islam dalam Tajussalatin Karya Bukhari Al-Jauhari”. Jurnal Filsafat, Vol. 20, No. 2, Agustus 2010.

Hadi, Amirul (2010). Aceh: Sejarah, Budaya, dan Politik. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Hurgronje, Snouck. (1985). Aceh di Mata Kolonial. Jakarta: Yayasan Soko Guru.

Iskandar, Teuku. (1996). Kesusateraan Klasik Melayu Sepanjang Abad. Jakarta; Libra.

Loir, Henri Chambert. (2009). Sadur: Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia. Jakarta: PT Gramedia.

Lombard, Denys (1986). Kerajaan Aceh Jaman Iskandar Muda (1607-1636). Jakarta: Balai Pustaka.

Muttaqin, Zezen Zainal (2017). Membaca Grotius lewat Taj al-Salatin dari Aceh. Diakses di : http;//ang.zen.com/membaca-grotius-lewat-taj-al-salatin-dari-Aceh. Diakses pada 1 Juli 2019

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET DAN TEKNOLOGI DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN BALAI PELESTARIAN NILAI BUDAYA PROVINSI ACEH (Wilayah Kerja Provinsi Aceh-Sumatera Utara)

ISBN 978-623-6107-03-4

786236 107034