Baca PDF (OCR): 2015 - Hikayat Prang Sabi di Aceh

2 halaman · 2 halaman diproses dengan OCR· 11367 ms

di Aceh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Nilai Budaya Banda Aceh No.45/2015 Hikayat“Prang Sabi" Kain putih penyapu darah Sebuah sungai indah sekali Ija mirah ngon sampoh gaki Bidadari itu sedang rupawanBatu di sana bercampur intan Ija puteh ngon sampoh darah Ji dong meu kawan budiadari Berkawan-kawan para bidadariDi depan pintu surga nan lapan Ji teubit u blang ji dong meuriti Di babah pinto syeureuga lapan Batee di pante pudoe ngon intan Kain yang merah untuk lap kaki Keluar ke padang berbaris berdiri Budiadari nyang seudang-seudang Memegang kipas masing di tangan Ji mat ngon kipaih maseng di jaroe Menanti tunangan dari perang sabil Saboh krueng sinan indah han sakri Terjemahan dalam bahasa Indonesia Ji preh woe lakoe dalam Prang Sabi manakala ia gugur dalam perang suci melawan kafir. rupawan yang akan menanti para syuhada di pintu surga,tidur di meunasah. Hikayat Prang Sabi pada zaman dahulubait-bait yang dihafal oleh setiap anak muda, manakala merekaberkembang dan popular dalam masyarakat Aceh. DendanganItulah bait dari hikayat Prang Sabi yang sangat mereka dapat berimajinasi untuk membayangkan surga,Prang Sabi adalah tentang Ainon Mardhiah yaitu sosok bidadaridan menjadi kesukaan pembaca dan pendengarnya dari hikayatrumah tengku pada malam hari. Salah satu bagian yang popularmenjadi bacaan anak remaja sehabis belajar mengaji al-Quran di syuhada langsung berada di pintu surga dan setiap mereka akantersebut akan menanti kekasihnya yang tewas dalam Prang Sabi.bagaimana keelokan dan kecantikan wajah bidadari. BidadariIsi hikayat ini mengantarkan pembaca bagaimana bersamanya. Pada masing-masing tangan mereka membawa kaindidampingi oleh seorang Ainal Mardhiah yang selalu setiaPara syuhada tanpa perlu dimandikan atau dikafani sehingga para dan kaki syuhada. Chik Tiro Muhammad Saman. dilanjutkan dengan perlawanan terhadap Jepang. bertambah genting hingga berakhir dengan peperangan. putih dan merah yang diperuntukkan untuk membersihkan darah ketika itu memandang hina dan tidak berarti bila tidak ikut ambildan imajinasi yang meneguhkan pilihan tersebut. Orang Acehpilihan yang penuh resiko, namun dibaliknya terdapat harapanIkut berperang dalam Prang Sabi merupakan sebuah berperang tidaklah heran manakala para pemuda desa berlomba-pergi ke tempat pesta perkawinan. Keterlibatan mereka dalamungkapan “ureueng Aceh di jak bak prang lagee di jak bakbagian dalam setiap pertempuran melawan kafir. Seperti ke surga jika gugur di tangan musuh yaitu kompeni Belanda danlomba menuju medan perang yang dianggap kunci untuk masukmeukeurija". Artinya orang Aceh pergi berperang seumpama suci yaitu Mekkah. Mereka ke Mekkah dengan tujuan untukBelanda, ada dua orang ulama muda Aceh berangkat ke tanahpecah perang antara Kerajaan Aceh Darussalam dengan Kerajaanpencetusnya. Menurut sejarah telah diceritakan bahwa sebelumBelanda. Adanya hikayat ini juga dilatarbelakangi oleh tokohpeperangan antara Kerajaan Aceh Darussalam dengan KerajaanHikayat Prang Sabi ini berkembang ketika terjadinya Pada tahun 1872, kedua ulama muda Aceh ituKerajaan Belanda sudah genting dan pada tahun 1870 semakintersiar berita bahwa hubungan Kerajaan Aceh Darussalam denganPantekulu. Setelah beberapa tahun mereka bermukim di Mekkah,Teungku Muhammad Saman Tiro dan Teungku Muhammadmelanjutkan pengajiannya. Kedua ulama muda tersebut adalah Keputusannya, Teungku Muhammad Saman Tiro akan kembalimengambil bagian dalam peperangan yang sedang terjadi.bermufakat, apakah mereka akan kembali ke Aceh untuk besar yang kemudian diberikan gelar kepadanya dengan TeungkuMuhammad Saman bersedia menjadi salah seorang panglimapeperangan dahsyat tersebut, Sultan Aceh meminta agar TeungkuAceh Darussalam dan Kerajaan Belanda meletus. DalamMuhammad Saman tiba di Aceh, peperangan antara Kerajaankemudian. Tidak berapa lama kemudian setelah Teungkulebih dahulu dan Teungku Muhammad Pantekulu akan pulang mengambil keputusan kembali ke Aceh untuk membaktikanpemberitaan tersebut maka Teungku Muhammad PantekuluPantekulu yang saat itu masih berada di Mekkah. BerdasarkanKabar tersebut tersiar sampai kepada Teungku Chik Jeddah ke Pulau Pinang menghabiskan waktu lebih kurang empatdirinya dalam perang kolonial di Aceh. Pelayarannya antara

Hikayat Prang Sabi adalah kisah tentang kepahlawanan Do kudaidangGeulayang ka putoih taloiBeureujang rayeuk muda seudangTerjemahannya: Jak tamong prang bila nanggroeDo kudoda idangLayang-layang putus talinyaCepatlah besar anakku Muda SedangPergi berperang bela negara
kita harap akan tumbuh pertalian baru sehingga kita salingberhubungan pada taraf yang sama, sebagaimana berlaku padasaat sekarang ini. Sebagai lambang penutup periode ini, makaizinkanlah saya menyampaikan pada rektor UniversitasSyiahkuala dan rektor Institut Agama Islam Negeri Jamiah Ar-Raniry satu hikayat Prang Sabi, sebagaimana yang telahditerbitkan oleh H.T. Damste, seorang ahli terkenal mengenaiAceh, pada tahun 1928 dalam jilid 84 Bijdragen van hetKoninklijk Institut voor de Taal-, en Volkenkunde. “Penyelidikanhikayat Prang Sabi ini bukan perkara baru bagi tuan-tuan. Sayaharap penerbitan ini, tidak sebagai alat menaikkan semangatmendapat tempat dalam perpustakaan institut tuan....demikianlah
perang, tetapi sebagai dokumen sejarah, kenang-kenangan akanperiode yang semua kita harap sudah ditutup erat-erat dan akanpembacaan orasi ilmiahnya yang diakhiri dengan penyerahansalinan hikayat Prang Sabi dalam bahasa Belanda yang ditulisoleh H.T. Damste. masyarakat Aceh melawan Belanda. Semangat tersebut telahmenjiwai rakyat Aceh sebagai masyarakat muslim yangBelanda adalah kafir maka ia wajib diperangi. Itulah sebabnyasehingga hikayat Prang Sabi dijadikan sebagai pembangkit senantiasa patuh dan rela berkorban untuk agama dan daerahnya.semangat untuk berperang melawan kafir Belanda. Inti darihikayat ini, kehidupan dunia adalah fana dan sementara,kebahagiaan akhirat adalah abadi yang bakal diterima olehseorang pejuang dalam perang suci. Tulisan ini ditutup oleh baithikayat Prang Sabi berikut ini : Daftar Pustaka: Hasballah M.Saad,dkk, Aceh Kembali Ke masa Depan, Jakarta; IKJPress, 2005Ibrahim Alfian, Perang di Jalan Allah, Jakarta; Sinar Harapan, 1987(Penanggung Jawab : Kepala BPNB Banda Aceh, Editor : Drs. Rusdi SufiPenulis : Cut Zahrina, Setting/Layout : Cut Zahrina, Foto : naskah kunodan rencong www...fotohikayatperangsabil.doc.com) Di tambah lagi dengan pendapat Prof. Dr. Anthony Hikayat Prang Sabi yang berkembang dalam Keempat kisah tersebut didahului oleh sebuah Pada tanggal 2 September -1997, Dr. A.J. Piekaar dan
sastra ini yaitu hikayat Prang Sabi, menyentuh perasaan merekayang mudah tersinggung ....karya sastra yang sangat berbahayaulama sekitar tahun 1880, telah menghasilkan sejumlah karya
...). Reid tentang hikayat Prang Sabi bahwa (“...kegiatan parasastra baru yang berbentuk puisi kepahlawanan popular dalamlingkungan rakyat Aceh. Hikayat Prang Sabi adalah hikayat yangpaling masyhur dalam membangkitkan semangat perang sucibahkan Teungku Tiro, Teungku Kutakarang dan ulama-ulamalainnya juga telah menyiarkan karya-karya pendek mereka yangmelukiskan kelemahan pihak kafir dan kemenangan telah tersediauntuk rakyat Aceh apabila pada satu masa nanti mereka telahmenerima kebenaran ajaran-ajaran Islam. Para penyair duniawimelukiskan kepahlawanan rakyat Aceh dan segi-segi kelucuandari para politisi Belanda. Syair-syair itu yang dibaca nyaringoleh salah seorang mereka, sehingga menjadi hiburan malam
juga telah menciptakan sejumlah bacaan hiburan yangyang terpenting bagi para pemuda yang berkumpul dimeunasah...."). masyarakat Aceh terdiri dari empat kisah, yaitu : a. Kisah Ainul Mardhiahb. Kisah pasukan Gajahc. Kisah Said Salmyd. Kisah Budak mati hidup kembalimukaddimah yang merupakan kalimat pembuka. MukaddimahHikayat Prang Sabi. Selanjutnya pengarang mengutarakankepada para pembaca dan pendengar tentang pahala dan nikmatberganda yang akan diterima oleh mereka yang ikut berperang di
pengarang juga mengutarakan sebab-sebab ia mengarangjalan Allah (sabilillah), sebaliknya azab dan siksa yang dahsyattersedia di akhirat nanti untuk mereka yang tidak mau mengambilbagian dalam Prang Sabi melawan Belanda.Prof. Dr. A. Teuw datang ke Aceh bersama nyonyanya, merekamemenuhi undangan Gubernur Aceh. Dr. A.J. Piekaar mendapatMasyarakat. Dalam orasi tersebut Piekaar membicarakan sedikit tugas membaca orasi ilmiah dalam rapat senat terbukaUniversitas Syiahkuala yang berjudul Pengetahuan dantentang hikayat Prang Sabi, yaitu : Indonesia merdeka tidak ada alasan lagi untuk Prang Sabí dan “..kita merasa berbahagia bahwa bagi Aceh sebagai bagian dari Hikayat Prang Sabi sebagai media dakwah yang

H.T. Damste seorang ahli bahasa dan sastra Aceh yang Hikayat Prang Sabi sebagai karya sastra dalam bentuk
bulan, Teungku Muhammad Pantekulu yang kemudian bergelarTeungku Chik Pantekulu telah berhasil menciptakan sebuahkarya sastra dalam bentuk puisi Aceh yang diberi nama HikayatPrang Sabi yaitu sebuah hikayat untuk membangkitkansemangat jihad dalam peperangan melawan penjajahBelanda. sanggup membangkitkan semangat perang dan jihad fì sabilil-lahuntuk melawan serdadu kolonial Belanda. Saat itu hikayat PrangSabi bagi kompeni Belanda dipandang sangat mengancam danberbahaya untuk kelangsungan penjajah Belanda di Aceh,sehingga mereka mengeluarkan larangan untuk membaca, menyimpan dan mengedarkan hikayat Prang Sabi. Realitastersebut berbeda pandangan antara serdadu dengan para sarjanaatau cendikiawan Belanda. Satu sisi kompeni Belanda melarangberedarnya hikayat Prang Sabi dan satu sisi lagi yaitu parasarjana dan satrawan malah mereka tertarik terhadap hikayatPrang Sabi yang mereka anggap memiliki konsep dan nilai sastrayang tinggi. Karena hikayat Prang Sabi dapat membangkitkankeberanian luar biasa dalam hati rakyat Aceh, sehingga menarikperhatian sejumlah sarjana Belanda untuk meneliti danmempelajarinya, terutama oleh mereka yang sudah ahli bahasaAceh. Salah seorang diantara sarjana Belanda tersebut yangselalu menaruh perhatian yang sangat besar terhadap hikayatPrang Sabi adalah Prof. Dr. Christian Snouck Hurgronje (1857-1936). pernah menjadi controleur di Idi Aceh Timur telah membahasHikayat Prang Sabi dan menterjemahkannya ke dalam bahasaBelanda yang disiarkan dalam Brijdragen Tot de Taal-Land enVolkenkunde van Nederlandsch-Indie Deel 84 yang diterbitkan di negeri Belanda oleh Het Koninklijk Instituut voor de Taal-Land-en Volkenkunde van Nederlandsch-Indie. Uraian H.T. Damstetersebut telah menarik perhatian yang luas di negeri Belanda dandalam lingkungan ahli sastra dunia. Disamping itu dia juga sudahberjasa karena telah memperkenalkan karya sastra Hikayat PrangSabi kepada dunia barat, sehingga menjadi salah satu bacaanwajib bagi para mahasiswa fakultas Sastra Jurusan Sastra Aceh dinegeri Belanda. puisi perang benar-benar telah berhasil dan mencapai sasarannyahingga membuat pimpinan dan serdadu kompeni Belanda matiketakutan. Pada saat itu kedudukan Belanda di Aceh menjadisangat terjepit maka oleh pengarang Belanda Zentgraf
mengatakan :(......para pemuda meletakkan langkah pertamanyadi medan perang atas pengaruh yang sangat besar dari karya