Volume 14 No. 18, Juni 2014 ISSN 1412-1689
Media Komunikasi Kesejarahan, Kemasyarakatan dan Kebudayaan
Suluah
Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang
LINGKUNGAN SOSIAL
PEMILIKAN DAN PENGUASAAN LAHAN ANG MENTAWAI AN KEBUDAYAAN PADANG AI KEMANUSIAAN YANG TERKANDUNG PACARA "PASAMBAHAN KAMATIAN" ATAN KURANJI PADANG SUMATERA BARAT
SIAL BUDAYA DALAM UPAYA PENINGKATAN CAKUPAN PENEMUAN PENYAKIT TUBERKULOSIS DI KABUPATEN TANAH DATAR
Suluah, Vol. 14, No. 18, Juni 2014
DAFTAR ISI
Pemilikan dan Penguasaan Lahan Pada Orang Mentawai: Studi Etnografi Pada Masyarakat Dusun Madobag Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Mentawai Adri Febrianto dan Erda Fitriani (1) Nilai-Nilai Kemanusiaan Yang Terkandung Dalam Upacara"Pasambahan Kamatian"Di Kecamatan Kuranji Padang Sumatera Barat Arfinal (15) Orang Minangkabaudan Budaya Berdemokrasi Undri (29) Wisata Ziarah: Potensi Ekonomi Umat di Lokasi Makam Syekh Moehammad Yoesoef Tilatang Kamang Kabupaten Agam Gazali (42) Seni Dendang Bengkulu Selatan : Menelisik Sistem Nilai Budaya dan Dampak Sosial Ekonomi Seniman Tradisional Hasanadi (49) Gadged : Budaya Konsumen Masyarakat Modern Silvia Devi (64) Pasang Surut Perusahaan Kereta Api Tahun 1963-2010 Aulia Rahman-(72)
Pola Hubungan Dalam Keluarga Luas Di
Nagari Salayo Kabupaten Solok Witrianto (78)
Penguyuban Jawa di Halaban, Kabupaten Lima Puluh Kota (1958-1966) Dedi Asmara (89)
Aspek Sosial Budaya Dalam Upaya Peningkatan Cakupan Penemuan Penyakit Tuberkulosis di Kabupaten Tanah Datar Nilda Elfemi dan Dian Kurnia Anggreta (101) Revitalisasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal Dalam Penyelesaian Sengketa Tanah Ulayat di Kerapatan Adat Nagari ( KAN) Pauh IX Kecamatan Kuranji Kota Padang Kadril (111) Pembangunan Rel Kereta Api Muaro Sijunjung-Pekanbaru 1942-1945 Gimin Saputra (128)
"Entertainment" Pada Masa Revolusi Di Sumatera Barat, 1945-1949 Nopriyasman (142) Emosi Dari Tumpukan Sampah Enschede-Belanda Masihkah Nasionalisme? Ferawati (151) Resensi Buku Firdaus Marbun (160)
EMOSI DARI TUMPUKAN SAMPAH ENSCHEDE-BELANDA
MASIHKAH NASIONALISME?
EMOTIONS FROM A FINAL WASTE DISPOSAL IN ENSCHEDE-NETHERLAND
STILL NATIONALISM?
Ferawati
Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Padang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Jalan Raya Belimbing no. 16 A, Kuranji, Padang, Sumatra Barat Pos-el : [email protected]
ABSTRACT
The tracing of two old albums in Enschede, Netherland on July 2012 was very shocking Indonesians and Netherlands even worldwide. The finding was very close to Indonesian Independent’s day anniversary. The tracing was happened at final waste disposal in that province. The rest was the content of the albums that showing out Dutch’s violent acts. The actors were Netherlands invantories toward local community of Indonesians. It was happened during post world war II or Indonesian Revolution era, berfore Ducth Colonial finally left Indonesia behind between in 1947 and 1950’s. All above those issues, this analyzing is involved by critical theories and the sources are mass media and social media. This study finally emerges that Ducth peoples have different opinions as well as Indonesians even among them.
Keywords: finding, photos, revolution, and nationalism.
dijajah. Relasi yang dimaksud adalah antara Belanda dengan Indonesia. Hubungan sejarah PENGANTAR kedua bangsa ini kembali menjadi sorotan ***“Time heals all wounds.***dunia, yang menjadi catatan sejarah baru bagi New generations bring new perspectives" kedua bangsa pada pertengahan tahun 2012. (“Waktulah yang mengobati luka.
| Peristiwa bersejarah yang menggemparkan | |||
|---|---|---|---|
| duni terjadi ketika album langka foto militer | |||
| kolonial | Belanda | semasa Revolusi Kemerdekaan Indonesia ditemukan pertama | |
| kali pada | tahun 2012. Berikut gambar salah satu isi album itu yang dikutip dari salah satu | ||
| surat | kabar | kenamaan | di Belanda, de |
| Volkskrant: |
Setiap generasi baru membawa perspektif baru”)
Ungkapan bijak ini merupakan pesan kuat pos-el (pos elektronik) dari seorang Indonesianis Belanda. Ungkapan ini menunjukkan sportivitas, kesadaran sejarah, dan empati. Sikap ini perlu diapresiasi, terlebih terkait relasi antara bangsa bekas penjajah dan
Sumber: de Volkstrant dan “Caribisch Uitzicht” (10 Juli 2012)
Akan tetapi, bukan karena penemuan album di Belanda ini saja yang membuat masyarakat internasional gempar. Masyarakat gempar karena sejumlah foto dalam album itu ternyata mampu mengubah sejarah dunia yang melibatkan hukum internasional di Belanda (http://log.viva.co.id/news). Mereka heran atau juga geram, tersebab album foto itu ditemukan bukan di perpustakaan maupun arsip pemerintah. Album itu melainkan ditemukan di sebuah tumpukan sampah di Enschede, salah satu propinsi di Belanda yang berbatasan dengan bagian barat Jerman.
Album itu merupakan bukti otentik tentang sejarah kedua bangsa. Foto-foto di dalamnya sebagian besar sarat dengan informasi militer, sejarah Revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), perang gerilya antara Indonesia dan Belanda, kondisi masyarakat sipil, kekerasan, genosida, dan pelanggaran Hak Azazi Manusia (HAM), yang sangat mungkin terjadi dalam situasi itu. Namun semua itu merupakan kesimpulan-kesimpulan yang sulit dilepaskan dari kepentingan maupun
subjektivitas atau bias masing-masing pihak atau negara.
Bias, bagaimanapun juga, harus dihindarkan dalam setiap penelusuran ilmiah, namun mustahil terhindarkan seutuhnya. Bias itu merupakan produk atas keyakinan “kebenaran mutlak” yang bisa memerangkap pembuat wacana. Namun Sartono Kartidirdjo (1993) pernah menyinggung hal ini dengan menyebut “ultra subjektivitas” sebagai ambang batas subjektivitas yang tidak terhindarkan.
Penyaji kesimpulan atau kebijakan terutama pada peristiwa yang kontroversial biasanya cenderung tidak diakomodasi dalam kajian- kajian fenomenologi. Namun penemuan bukti otentik album foto kiranya sangat menarik dilakukan dengan menilik wacana-wacana yang berkembang antarkedua bangsa pascapenemuan kontroversial itu. Penilikan yang berangkat dari kontroversi-kontroversi semacam ini memang sudah cukup banyak di lakukan. Bagian yang masih relatif jarang dilakukan adalah mengungkap wacana-wacana yang berkembang.
Penilikan menggunakan teori-teori kritis (critical theories) untuk wacana-wacana itu menarik. Dalam konteks ini melibatkan dua bangsa dan negara. Melibatkan bekas penjajah dengan bekas jajahan; antara bangsa beserta Kerajaan Belanda dengan bangsa berikut Negara Republik Indonesia yang sah merdeka pada 17 Agustus 1945.
Upaya penilikan semacam ini diharapkan mampu memberi nilai tambah secara ilmiah. Nilai penting dari penilikan ini kiranya terdapat pada rasa kebangsaan kedua bangsa yang ada pada sanubari pemuda-pemudinya. Rasa kebangsaan atau nasionalisme dan patriotisme suatu bangsa sudah tentu mustahil mudah bergelora dan diukur, kecuali dengan melihat reaksi kedua bangsa pada saat kontroversial pascapenemuan album langka itu.
Sehubungan dengan hal ini, ada beberapa pihak yang sudah dan sedang melakukan penelitian mendalam tentang penemuan album foto eksekusi itu. Beberapa di antaranya dilakukan oleh Luttikhuis dan Moses (2012) dalam sebuah jurnal dengan judul*“Mass* Violence and the End of the Dutch Colonial Empire in Indonesia”. Selain itu, lembaga penelitian di Belanda sejak saat itu juga sudah berkomitmen mendalaminya. Lembaga-lembaga itu di antaranya Nederlands Instituut *voor Oorlogs Documentatie/*NIOD (Lembaga Dokumentasi Sejarah Belanda) dan Nederlandse Instituut voor Militaire *Historie/*NIMH (Lembaga Sejarah Militer Belanda), dan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde/KITLV (Lembaga Kerajaan Ilmu Bahasa, Negara dan Antropologi).
Penelitian lain yang terkait telah dilakukan oleh David Kilkullen (2000) dalam disertasi doktor “The Political Consequences of Military Operations in Indonesia, 1945–99.” Demikian juga tentang patriotisme dan nasionalisme, sudah cukup banyak apalagi dari studi-studi poskolonial dan Critical Discourse Analysis (CDA). Salah satunya ditulis oleh Anshari (2013) dalam “Nasionalisme di Tapal
Batas....Katanya, Ideologi Nasionalisme dalam
Film Tanah Surga...Katanya”. Laheba (2011) dengan makalah “Sekeping Narasi dari Tapal Batas Utara” menulisnya dalam kerangka Postcolonial Studies. Semuanya memberi corak yang berbeda, namun mendukung satu sama lain.
diawali dengan sejumlah perjanjian diplomatik, di antaranya garis demarkasi.
Komisi Tiga Negara (KTN) yang bersidang di atas kapal Renville pada 9 Desember 1947 membuat skenario penentuan Garis Demarkasi Efektif. Sidang ini dikenal dengan “Perjanjian Renville”. Perjanjian ini mewajibkan pihak Belanda dan Indonesia mengosongkan seluruh daerah yang dikuasai masing-masing pihak justru setelah RI memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Kolonial Belanda langsung menolak skema perjanjian itu. Mereka, sebaliknya, memaksa pihak Indonesia dan internasional mengakui “Garis van Mook” yang mereka sahkan sendiri pada 5 September 1947 (Toer, Toer, dan Kamil, 2001: 413-414). Ketidaksepakatan Perjanjian Renville dan pemaksaan pengakuan garis demarkasi inilah yang memicu aksi militer kedua belah pihak. Keduanya terlibat dalam perang gerilya berkepanjangan hingga tahun 1950-an (Toer, Toer, dan Kamil, 2001; Kahin, 1999; Asnan, 2006).
Peristiwa pada masa itulah yang disebut dengan Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Ricklefs (2007: 318) menyimpulkan peristiwa revolusi itu. Menurutnya Kolonial Belanda maupun Indonesia, sebagai pihak revolusioner, menganggap Revolusi Indonesia merupakan kelanjutan zaman masa lampau kolonial, namun dengan tujuan yang berseberangan. Pihak Belanda melancarkan aksi polisionil dengan tujuan menghancurkan kepemimpinan Indonesia di bawah orang-orang yang bekerja sama dengan Jepang. Mereka juga ingin memulihkan rezim kolonial yang sudah terbentuk selama berabad-abad. Namun bangsa Indonesia yang pro kemerdekaan, sekalipun di bawah pemerintahan campuran Jepang, justru mencita-citakan penyempurnaan proses penyatuan dan kebangkitan yang telah dimulai empat dasawarsa sebelumnya (Ricklefs, 2007: 318).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Beberapa spekulasi sejarah silam relasi antara Indonesia dan Belanda tidak terlepas dari tarik-menarik pengakuan atas Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 (www.bola.viva.co.id/news). Tarik-menarik itulah yang melahirkan Revolusi dan
Bentuk nyata Revolusi pada masa kolonisasi dan dekolonisasi itu adalah perang gerilya yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Kronologi Revolusi Indonesia semakin terpusat di Jawa, Madura, dan Sumatra sejak akhir tahun 1946 (Toer, Toer, dan Kamil, 2001: ix). Selama revolusi itu banyak korban jiwa berjatuhan di kedua belah pihak (Kilkullen, 2000).
| Korban-korban yang berjatuhan itu belum tentu serta-merta dipublikasikan oleh media | |||
|---|---|---|---|
| massa | di | negara | yang bersangkutan. Mempublikasikannya justru bisa menyudutkan mereka. Peristiwa selama perang Revolusi itu tentu lebih cenderung menjadi fokus perhatian |
| inteligen | masing-masing menjadi rebutan inteligen internasional. | penguasa dan |
Dokumentasi perang semestinya dibuat dan disimpan oleh pihak yang berwenang. Lembaga-lembaga arsip termasuk di lingkungan militer dan perpustakaan biasanya yang lebih peduli dan bertanggungjawab atas pendokumentasian semacam ini. Individu-individu apalagi yang sedang tergabung di kemiliteran sejatinya tidak memiliki wewenang mendokumentasikan peristiwa perang apalagi menyimpannya tanpa sepengetahuan pemerintah (Caribisch Uitzicht pada 10 Juli 2012 dalam werkgroepcaraibisch eletteren.nl; www.academia.edu;www.tandfon line.com).
2012 dalam www.werkgroepcaraibischelettere
n.nl;www.academia.edu). Salah satunya terbukti dari penemuan album foto yang tidak disengaja di Enschede-Belanda, di antara tumpukan sampah di propinsi itu. Penemuan album foto di Belanda itu terjadi tidak jauh berselang dengan persiapan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus dan kemudian Hari Pahlawan pada 10 November yang diperingati setiap tahunnya. Penemuan album itu terjadi sehari sebelum diterbitkan oleh surat kabar de Volskstrant pada 10 Juli
2012. Pemberitaan itu langsung menghebohkan kedua bangsa, terutama di “dunia maya” dalam jejaring sosial dan berita. Penemuan itu bagi bangsa Indonesia tidak hanya sebatas relevan dengan peringatan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus yang masih diingkari oleh Pemerintah Kerajaan Belanda hingga saat ini. Tidak pula sebatas relevan dengan seremonial Hari Pahlawan Nasional RI pada 10 November dan tuntutan para keluarga korban perang Revolusi. Penemuan yang tidak disengaja itu kiranya menjadi momen yang tepat untuk melihat reaksi pemuda dan pelajar Indonesia di tanah air, di Belanda maupun yang merantau di seluruh Eropa bahkan seluruh benua. Penemuan itu sangat kontroversial, setelah
| Akan tetapi, foto-foto aksi militer Belanda | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| pendokumentasian | terkait perang kemerdekaan RI itu salah satu pengecualian, sebelum ditemukan tahun 2012. Nyatanya ada individu yang berani melakukan Bukan mustahil masih ada individu-individu | bahkan | menyimpannya. | |||
| yang | menjadi setidaknya Barangkali | untuk mereka | veteran pertimbangan bahwa peristiwa bersejarah itu mereka lakoni sendiri. Hal ini diyakini oleh peneliti di Belanda, seperti NIOD, NIHM, dan | perang | dokumentasi melakukannya | menyimpan, pribadi. dengan |
| KITLV | ( | “Caribisch Uitzicht” | pada | 10 Juli |
kontroversi kepahlawanan seperti Tuanku Imam Bonjol dan Pangeran Diponegoro yang fenomenal. Pro-kontra pascapenemuan album foto di bak sampah itu kiranya yang pertama di Belanda maupun di Indonesia. Belum pernah ada foto-foto masa revolusi yang beredar, apalagi sumbernya tidak resmi dari pemerintah yang bersangkutan (“Caribisch Uitzicht” pada 10 Juli 2012 dalam werkgroepcaraibischelette ren.nl; www.academia.edu;www.tandfonline.c om).
Album yang ditemukan di tumpukan sampah di Enschede, Belada itu ternyata milik seorang veteran tentara Belanda. Dia baru saja meninggal pada tahun 2012 dan tidak sekalipun pernah dia ungkap ke publik, sebagaimana ditegaskan oleh NIOD dalam de Volkskrant (www.volkskrant.nl). Apa sajalah informasi yang berkembang tentang album itu? TENTARA BELANDA MENGEKSEKUSI SIPIL INDONESIA
| De Volskrant | , salah satu media nasional | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| terbesar dan berpengaruh dari sekitar dua belas koran di Belanda. Media inilah yang pertama kali memberitakan penemuan penting album | |||||||
| foto | pembukanya: ditembak. mungkin | kontroversial Untuk dilakukan | itu. “Tiga | pertama sejarah, muncul foto eksekusi yang sangat oleh | Berikut warga tentara | kalinya | terjemahan Indonesia dalam Belanda |
| selama | Belanda”. silam. Jurnalis Foto | tindakan Tentu pertama | polisi De Volskrant berita ini bernama Lidy Nicolasen. | sudah mengetahui berita ini sejak beberapa tahun pilihan menampilkan tiga warga berpakaian sipil. Satu di antaranya mengenakan peci hitam, berdiri dengan posisi tampak punggung, di dalam parit panjang dan relatif dangkal. Asap seperti | di | bekas banyak yang melaporkan koran | Hindia yang ini |
| dari | selongsong | peluru | bercampur debu di atas parit lahan gersang di | tampak | mengepul | ||
| depan | mereka | yang | akan sedang meregang nyawa. Tidak seorang pun | rubuh. | Mereka | ||
| tentara | Namun dekat mayat | eksekutor Belanda, terlihat di foto ini. Berikut foto pilihan dua album temuan itu: | berdasarkan tampak belasan mayat bergelimpangan | dari lainnya, tampak dua orang tentara Belanda. Satu tentara berdiri dan satu lagi jongkok di kaku. Dalam lubang parit | artileri pakaian De Volskrant | pada. | infanteri foto itu di antara |
Sumber: De Volskrant (10 Juli 2012)
Pemilik album itu bernama Jacobus R. Dia seorang prajurit khusus atau infanteri antara tahun 1947 hingga 1950. Namun berita De Volskrant lainnya juga menyebut dia dari
| pasukan artileri yang tidak melakoni eksekusi, | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| membawa menyimpan | kamera | ke albumnya | kecuali melakukan pemotretan tanpa ada yang mencegah. Dia bersama temannya sengaja medan untuk | perang dan kepentingan | ||
| pribadi. | ||||||
| Jacobus | R | berasal | dari menetap di sana tanpa satu pun keluarga pewaris menemani di akhir hayatnya. Album | Enschede | dan | |
| foto | ini | semula | terbuang tumpukan sampah kota itu. Beruntung seorang pegawai arsip di kantor walikota Enschede di | ke | salah satu | |
| batas | Jerman diapresiasi | Barat berbagai sebaliknya, cenderung mengutuk Belanda. | sengaja. Dia memungutnya hingga temuan itu media Belanda. Pemuda Indonesia di berbagai media, | menemukannya dan | tanpa ilmuan | |
| INDONESIA Kesempatan | DAN REAKSI GENERASI BANGSA | KETINGGALAN mengetahui kontroversial penemuan pertama foto eksekusi | BERITA berita | |||
| antara | berbeda-beda. | bangsa enam jam pada Juli itu. | Belanda Bangsa | Belanda mengetahui berita ini, Indonesia sebaliknya. Waktu Indonesia dan Belanda masih berbeda * kali menyebarkan berita ini di media cetak dan | dengan De Volskrant | Indonesia lebih awal pertama |
| website | Keterlambatan berkembang | di | ini | http://www.volkskrant.nl/vk/nl/ Selasa, 10 Juli 2012 pukul 07:35. Indonesia pada hari yang sama sudah pukul 13: 35. perbedaan waktu dan keterbatasan mereka mengakses media terbitan Belanda. Namun masalah utamanya justru bahasa Belanda yang mengisi sebagian besar media-media Belanda, sementara bahasa ini tidak tumbuh apalagi Indonesia. | dimungkinkan Bekas | pada oleh negara |
| kolonial ini tidak mewarisinya ke seluruh | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| lapisan | (Abdullah, 2009). | masyarakat | kekosongan informasi. Media massa, terutama jenis tercetak, sudah tentu terlambat beredar sekitar sehari atau dua hari, jika memang ada | bekas Bangsa Indonesia di Tanah Air sempat | jajahannya | |||
| yang | memberitakannya | Bangsa Belanda, sementara itu, sudah ramai membicarakannya dan tanpa bebas dari pro- kontra. Media profesional di Indonesia seperti | dalam | waktu | itu. | |||
| The | Jakarta | [http://www.thejakartapost.com, | Post](http://www.thejakartapost.com, | Post) baru memberitakan hal ini pada 10 Oktober | tercetak | dan | situsnya sebaliknya, | |
| 2012. | National | Geographic | Indonesia | |||||
| ( | http://nationalgeographic.co.id merilis pada 19 Desember 2012. | ) bahkan baru | ||||||
| Pemuda | Indonesia | menggunakan jejaring sosial dan “jurnalisme warga”, yaitu pembuatan berita oleh non- profesional melalui akses internet, sebaliknya, | di | Tanah | Air | yang | ||
| relatif | lebih | cepat ketimbang media massa profesional. Namun yang mewadahi kesamaan hobi, minat, dan kepentingan ini relatif sebatas kalangan yang umumnya urban dinamis. Mereka di jejaring | menerima akses jejaring sosial dan “jurnalisme warga” | informasi | ||||
| sosial | bisa Facebook, Tweeter, menggunakan | terhubung warga” agak sedikit berbeda, karena bisa Kompasiana | melalui | dan lainnya. “Jurnalisme dan | blog | mailinglist, yang | ||
| bersifat | bermunculan Beberapa | terbuka blog | untuk pembaca, sekalipun semuanya lebih sering melalui yang | setiap relatif | jejaring cepat | penulis | dan internet. beredar | |
| secara | pembebasan http://news.detik.com mengembangkan | http://kabarnet.wordpress.com 2012) dan kemudian dikutip oleh | jejaring sosial, baru memberitakannya pada Kamis, 12 Juli 2012 pukul 08:58 Wib, dua hari | terbuka (9 Agustus 2012). Namun media yang informasi | (6 hampir | [http://sastra- | yaitu](http://sastra- | yaitu) Agustus biasanya secepat |
| setelah | De Volskrant | penyebaran informasi penemuan album foto | terbit. | Keterlambatan |
- Setiap 5 Mei dan 5 Oktober terjadi pergantian waktu di Eropa secara otomatis.Pada musim-musim dingin di sana, perbedaan waktu dengan Indonesia terpaut lima jam selama enam bulan, sedangkan musim lainnya berbeda sekitar enam jam.
| ini | kepada | bangsa | Indonesia | sudah | tentu | |||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| menimbulkan negeri sana? | tanda | perhatian pemuda dan pelajar Indonesia di luar Memang benar, pemuda Indonesia yang | tanya, | bagaimana | ||||
| sedang | sesungguhnya Belanda | studi | dan sejatinya | berpotensi menyebarkan informasi ini ke Tanah Air pada hari itu juga. Mereka terutama yang sedang di informasi dengan masyarakat di Tanah Air dan | bekerja menjadi | di luar lebih | penjembatan | negeri cepat |
| di | negara | lainnya. | kesibukan studi dan tuntutan kerja yang luar biasa di sana, tersebab mayoritas koran-koran | Barangkali | karena | |||
| yang | setempat, keterlambatan | beredar setelah pemberitaan | cukup | di menggunakan bahasa Belanda, dan isu-isu Indonesia memang relatif jarang masuk media respon mahasiswa yang pulang dari kampusnya di Leiden pada Rabu malam, 11 Juli 2012, sehari tidak tahu dan tidak mendengar berita penting | lingkungan De Volskrant, | memberi mereka. | Seorang menyatakan | kampus alasan |
| ini | Belanda. Kekosongan nasionalisme | beredar | di dan | Indonesia. Kekosongan informasi ini, ternyata juga terjadi di kalangan pemuda Indonesia di informasi pemudi Indonesia di negeri Belanda bukan berarti mereka sama sekali tidak memiliki tidak pahlawan yang berkorban sebagaimana korban dalam foto-foto temuan itu. Reaksi mereka | kalangan | bagi menghargai | teman-teman pemuda- | jasa |
| yang | menunjukkan penghargaan keluarga | relatif yang | kepada | tidak masih | patriotisme-nasionalisme para hidup, | emosional pahlawan | dengan | justru dan dan cara |
| elegan. di | Pemuda “The Jakarta Post” | upaya Lina Sidarto dengan menulis | dan Belanda yang sportif di antaranya terlihat dari | pelajar | (10 Oktober 2012). | Indonesia | di feature | |
| berita | Pemuda | De Volskrant | lainnya | seperti Setyawan (namun kedudukannya di Belanda tidak jelas ketika itu), juga menterjemahkan | Ady dan membaginya kepada | Erlianto |
sejumlah media “jurnalisme warga” (http://kabarnet.wordpress.com) pada 6 Agustus 2012.
Pemuda dan pelajar Indonesia yang sedang studi di negara lain maupun di dalam negeri, sebaliknya, menunjukkan reaksi dan cara penyebaran berita yang berbeda. Informasi penemuan album penting ini beredar kepada perwakilan pemuda dari berbagai daerah Indonesia justru melalui mailinglist, namun pada hari kedua pascapemberitaan De Volskrant. Pengguna media ini, bagaimanapun, terbatas untuk anggotanya. Salah satunya mailinglist jejaring organisasi alumni dan mahasiswa yang sedang studi di negara-negara berbeda. Namun apakah informasi ini juga mereka sebarkan ke media-media lain pada hari itu juga, belum ada informasinya.
Respon mereka di mailinglist jejarng organisasi itu sangat provokatif dan emosional kepada Belanda. Mereka bahkan tidak jarang menggunakan kata-kata sarkas, seakan-akan tidak mempertimbangkan secara matang latar belakang pemicu kontroversi pemberitaan itu. Tujuan yang hendak mereka capai juga rancu. Mereka seakan tampak heorik dan patriotis dalam mailinglist. Mereka tentu tidak kalah hebat dan tidak kurang dewasa dengan pemuda atau pelajar-pelajar di Belanda, yang bereaksi tidak berlebihan ketika mengetahui berita ini.
Namun, sekali lagi, perbedaan reaksi-reaksi antarpemuda-pemudi Indonesia di negara berbeda-beda tidak dapat dilihat secara serta- merta dan langsung mengadilinya. Ketidakhati-hatian menilai, mengutip Foucault dan Spivak (1988), justru akan terjebak pada jerat “kekerasan epistemik” (“epistemic violence”). Perangkap ini hanya membela namun sesungguhnya, sadar atau tidak, turut melakukan kekerasan serupa. Menyikapi hal ini, selanjutnya adalah apakah yang mereka kecam dari penemuan foto itu?
| dengan sejarah dan nasib bangsanya, atau | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| malah melupakan. | Semua masalah ini berawal dari kesalahan | ||||||
| menyandi | ( | coding) | informasi | antarkedua | |||
| bangsa. | Masalah November. | Bagi | ini warga Belanda, yang kemungkinannya juga diinterpretasi secara berlebihan di kalangan pemuda Indonesia sendiri. Mereka bisa saja memahami foto-foto itu telah sengaja dibuang ke tempat sampah dan ditemukan lagi di tempat sampah, oleh orang Belanda pula. Pemberitaan penemuan ini, selain itu, hanya berselang sekitar sebulan jelang perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2012 dan Hari Pahlawan setiap 10 pemuda emosional, imaji-imaji ini tentu sangat melukai | diperkuat | Indonesia | oleh opini yang | |
| perasaan | sedemikian rupa. | kebangsaan | media-media di Belanda sudah menjelaskan Mengenai gambar tentara kolonial Belanda sedang mengeksekusi sipil Indonesia, sudah | mereka, | sekalipun | ||
| jelas | bagian kemanusiaan. | Hal | utama kemarahan mereka sekaligus menyentuh rasa sesungguhnya mendorong pihak internasional | yang ini | pulalah | memancing yang | |
| melakukan | berkelanjutan, | penelusuran sebagaimana | mendalam | dan diajukannya | |||
| masalah | internasional Indonesia memenangkan | serupa di | ke Den | Haag, | pengadilan | Belanda, gugatan kejahatan | HAM dan |
| perang | Belanda, | sekalipun | Pemerintah | ||||
| Belanda | tetap | menolak | pengakuan | ||||
| Kemerdekaan | RI | pada Kemenangan atas gugatan itu tidak lain terkait dengan kasus eksekusi tentara Belanda kepada sipil Indonesia di sejumlah daerah semasa revolusi. Namun eksekusi sipil dalam foto-foto | 17 | Agustus | 1945. | ||
| itu | belum | pasti | diperkirakan di Rawagede, Karawang, Jawa | daerahnya, | kecuali | ||
| Barat. |
SUMBER KECAMAN DAN NASIONALISME RAPUH
| Perbedaan kesempatan menerima informasi | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| antara masyarakat Belanda dengan Indonesia | ||||||
| cukup | Kesalahpahaman menghakimi menyinggung nasionalisme | memberi harga | ruang interpretasi dan salah paham dalam opini publik kedua bangsa, setidaknya di media. sepihak, antarbangsa, dalam pemberitaan di kedua negara. Emosi pemuda dan pelajar Indonesia pun terpancing. Bangsa Belanda yang mendapat kesempatan membuat opini pertama kali, sementara itu, | bercorak diri | kemunculan dan bangsa tidak | salah prasangka, bahkan dan rasa terelakkan |
| terlalu | cepat Sikap kecenderungan | dengan penilaian negatif. seperti | memvonis “dipandang” antara bekas bangsa penjajah dan dijajah. Salah satu pernyataan warga Belanda | ini “memandang” | bangsa | Indonesia menunjukkan dan |
| dalam | De | Volskrant | prasangka “untuk apa kita meributkan kejadian ini? orang Indonesia sendiri saja tidak peduli | memandang | dengan | |
| dengan | kejadian | ini | dan sejarah | mereka” | ||
| ( | http://kabarnet.wordpress.com) | pertama-tama tentu mengarah kepada pemuda | . | Tudingan ini | ||
| dan | pelajar kerajaan itu. nasionalisme dipertimbangkan | Indonesia, masyarakat Belanda yang menyinggung rasa pemuda dari Indonesia. Sumber kemurkaan pemuda dan | terutama Pencetus kemunculan opini dan prasangka ini sisi | di perlu | negeri juga masyarakat | |
| pelajar | kantor-kantor | Indonesia arsip | yang masalah pernyataan sepihak ini, bisa jadi karena beberapa persoalan lain yang mereka imajikan. Beberapanya yaitu foto eksekusi itu dipungut dari tempat sampah, bukan dari di Amsterdam atau Den Haag. Bangsa Indonesia yang terlambat menerima informasi, sementar itu, sudah terlanjur divonis seolah tidak peduli | emosional, Enschede, | selain Leiden, |
KESIMPULAN
Tampaknya masalah “memandang” dan “dipandang” antara bekas terjajah dengan
| mantan | kolonial-penjajah | memang | tidak | |||
|---|---|---|---|---|---|---|
| selesai dengan pengakuan kemerdekaan saja. | ||||||
| Mereka, | membutuhkan | generasi | kedua waktu sejarah masa lampau kedua negara. Namun lebih penting lagi perspektif mereka, seperti | untuk | bangsa, | masih memulihkan |
| kutipan kesadaran | patriotisme-nasionalisme | semula. | memulihkan sportif dan bijaksana dalam setiap melihat | Mereka | justru dengan | butuh pemahaman bersikap |
| sumber | masalah | kedua | bangsa. | Rutinitas | ||
| tahunan | Peringatan | Hari pahlawan yang gugur, semoga tidak sia-sia. | Pahlawan | untuk |
UCAPAN TERIMA KASIH
Laporan ini rampung berkat bantuan banyak pihak. Terima kasih yang tidak terhingga kepada Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang dan editor Jurnal Suluah atas
| de Jong, Laura, Marjan van den Berg, | |
|---|---|
| “Opgedoken executiefoto's: 'Het was dus echt | |
| een oorlog'” | dalam De Volkstrant, 10 Juli |
| 2012, 11:06 | (http://www.volkskrant.nl/binnenl and/opgedoken-executiefotos-het-was-dus- echt-een-oorlog~a3284455/) |
kesempatan mempublikasikan ini, semula dari artikel singkat hingga dikembangkan menjadi salah satu bagian jurnal ini. Terima kasih juga kepada seluruh mahasiswa dan handai tolan (Leideners) di Belanda dan di seluruh penjuru dunia yang tergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia. Merekalah yang banyak memberi informasi atas penulisan artikel ini.
Ucapan terima kasih yang tidak terhingga juga kepada para dosen pengampu mata kuliah Poscolonial Studies dan Critical Discourse Analysis (CDA). Terima kasih juga kepada Dr.
| Kilcullen, David J., | 2000, The Political | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Consequences | of | Military Indonesia 1945-99 : A Fieldwork Analysis of | Operations | in | ||
| the | Political | Power-Diffusion | Effects | of | ||
| Guerilla | Conflict | . Australian Defence Force Academy (UNSW). | Australia: | Politics, |
Budiawan, M. Hum., dan Dr. Haryatmoko yang memberi kesempatan kepada penulis untuk mengambil mata kuliah maupun numpang belajar (sit in) di program studi (Prodi) Media and Cultural Studies, selain dengan Dr. Kelli Swazey untuk materi Critical Theories dalam subyek Methodology of Research.
Selanjutnya terima kasih kepada teman sejawat yang telah memberi masukan dan kritikan langsung kepada penulis terkait pengembangan ide dan teori-teori yang terpakai di sini. Tidak ketinggalan, kepada
pustakawan di Yogyakarta, NUS, Leiden University, dan Vrije University, terima kasih.
BIBLIOGRAFI
Abdullah, Taufik, 2009, Schools and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatra (1927-1933). Singapore: Equinox Publishing (Asia) Pte Ltd.
Andani, Ridha, “Penjajahan Belanda, Foto Pelanggaran HAM Belanda di Indonesia” (*https://www.academia.edu/8120935/Foto_Pel* anggaranHAMBelandaDiIndonesia).
Anshari, 2013, “Nasionalisme di Tapal
Batas....Katanya, Ideologi Nasionalisme dalam
Film Tanah Surga...Katanya”, Makalah dipresentasikan dalam mata kuliah CDA di Media and Cultural Studies, UGM.
Kawilarang, Renne R.A, Harwanto Bimo
Pratomo, Antique, 15 September 2011,
“Kasus Rawagede, Belanda Kalah di Pengadilan” (*http://log.viva.co.id/news*).
Laheba, Novelina, 2011, “Sekeping Narasi dari Tapal Batas Utara” dalam Seminar Nasional Rekonseptualisasi Pembangunan Daerah Perbatasan sebagai Beranda Depan NKRI di Media and Cultural Studies, UGM, Yogyakarta, 19 Desember 2011.
Luttikhuis, Bart and A. Dirk Moses, 24 Cabang Sumatra Barat dan menjadi sekretaris September 2012, ” Mass Violence and the End Ikatan Pemuda Pemudi Minang Indonesia of the Dutch Colonial Empire in Indonesia” (IPPMI) DPD Kota Padang. dalam Journal of Genocide Research.
Nicolasen, Lidy, 10 Juli 2012, **“**Eerste foto’s ooit van executies Nederlands leger in Indië” dalam Werkgroep Caraïbische Letteren, “Caraibisch Uitzicht”(http://werkgroepcaraib ischeletteren.nl/; http://www.volkskrant.nl/bin nenland).
“Photographs are evidence of Dutch atrocities in Indonesia” dalam Dutch News.nl, July 11, 2012 (http://www.dutchnews.nl/news/archives /2012/07/photographsareevidenceofdu.ph p/)
Ricklefs, M.C., 2007, Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Spivak, Gayatri Chakravorty, 1988, “Can the Subaltern Speak?” Urbana and Chicago: University of Illinois Press (http://www.uky.edu/~tmute2/geography_met hods/readingPDFs/spivak.pdf).
Toer, Pramoedya Ananta, Koesalah Soebagyo Toer, dan Ediati Kamil, 2001, Kronik Revolusi Indonesia, Jild. III (1947), Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Widjaya, Ismoko, 18 September
2011, “ Yusril: Belanda Sebut Rawagede
Rakyat Sendiri” (www.bola.viva.co.id/news).
RIWAYAT HIDUP PENULIS
Penulis adalah salah seorang karyawan di Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Padang. Pernah juga tergabung dalam sejumlah kegiatan PPI Leiden (Leidensers). Saat itu, tergabung dalam aktivitas sosial Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI)