BANDA ACEH KRITERIA PEMIMPIN KARYA BUKHARI Al-JAUHARI BALAI PELEŠTARIAN NILAI BUDAYA DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN MENURUT KITAB "MAHKOTA RAJA -RAJA", KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN No.38/2014 Al-Jauhari (1588-1604). membicarakan adalah Kitab “Mahkota seorang yang berasal dari Alquran dan Alhadist. penulis Melayupeneliti sastra Melayu klasik, Dr. T. Iskandar, Bukhariatau “Tajussalatin", karya Bukhari Al-Jauhari. MenurutRaja-Raja", merupakan terjemahan dari judul asli dari kitab “Taj al-Salatin” “Tajussalatin" yang ditulisnya, berisikan pedomansaudagar batu permata. Kitab “Taj al-Salatin” atauBukhara, yang datang ke negeri Melayu sebagaiberketurunan Persia. Nenek moyangnya berasal dari hulubalang, dan rakyat dalam kehidupan bernegaratentang kewajiban dan prilaku dari raja-raja, menteri, masalah etika, politik, danSalatin” atau “Tajussalatin", dapat dikelompokkan keSebagai sebuah karya sastra, kitab “Taj al-kesultanan Aceh dipimpin Sultan Saidil Al-Mukammil“Tajussalatin” selesai ditulis pada tahun 1603, saatmenurut ajaran Islam. Kitab “Taj al-Salatin” atau berbagai sumber referensi. Di antaranya berasal daridalam bentuk kisah-kisah menarik dan digubah daripemerintahan. Masalah tersebut diuraikan penulisnyadalam bagian dari buku adab, termasuk buku yang tradisi intelektual di dunia Melayu dan seluruh“seribu satu malam”. Gagasan-gagasan dan kisah-kisahbuku-buku sejarah dan cerita rakyat, seperti kisah al-Salatin” atau “Tajussalatin", karena kandungannyakawasan Asia Tenggara. Kuatnya pengaruh kitab “Taj“Tajussalatin" telah memengaruhi pemikiran danyang tertulis dalam kitab “Taj al-Salatin" atau sosial, tidak lain melainkan keadilan. Keadilanjalan manusia menuju kebenaran dalam kehidupan"Tajussalatin" adalah keadilan. Menurut penulisnya,Tema utama dari kitab “Taj al-Salatin” atauyang selalu didukung dengan sumber-sumber normatif merupakan sesuatu yang didambakan oleh umat dalam menyampaikan sesuatu. kearifan dan kematangan berpikir. baik terhadap orang yang Tujuan akhir yang ingin dicapai adalah kesejahteraanmasyarakat, keadilan memang bukan tujuan akhir.hubungan sosial yang harmonis. Dalam perkembanganmanusia sepanjang masa dan landasan untuk menjalin demikian, untuk menegakkan keadilan, diperlukanhanya akan dinikmati oleh sekelompok orang. Denganlebih mudah dicapai. Tanpa keadilan, kesejahteraanrakyat, namun dengan keadilan, tujuan tersebut akan ontologisnya. Menurutnya, raja yang baik adalahmakna etis dan moral keadilan, melainkan juga maknaBukhari Al-Jauhari, tidak hanya memberikan Ada beberapa kriteria ulíl albab yang seharusnyaseorang ulil albab yang menggunakan akal pikiran meminta maaf dan bertaubat. Kedua, bersikap rendahmengembirakan hatinya, dan memaafkannya jika iaberbuat jahat, pekerjaannya, khususunya dalam hal pemerintahan.dengan baik dalam menjalankan segala perbuatan dan hati terhadap orang yang berkedudukan lebih rendahdimiliki oleh raja atau pemimpin. Pertama, bersikap dan cekatan dalam mengerjakan pekerjaan yang baikdan menghormati orang yang bermartabat, pandai dan selalu ingat akan kematian dan siksa kubur. Keenam,Allah, meminta ampun dan petunjuk kepadanya, sertakebenarannya. Kelima, senantiasa menyebut namaperbuatan jahat, fitnah, dan berita yang belum jelasdan perbuatan yang terpuji. Keempat, membenciyang ilmunya lebih tinggi. Ketíga, bersungguh-sungguh seorang raja atau pemimpin harus memenuhi syarat-Oleh karena itu, menurut Bukhari Al-Jauhari,diketahuí, sesuaí dengan tempat dan waktu, yaitu arifmengatakan sesuatu hanya yang benar-benar yang kuat). Kedua, al-fahmu (memiliki pemahamansyarat lainnya. Pertama, al-hifdhu (memiliki ingatan
EDITOR: PENULIS : Lizar Andrian SETTING/ LAYOUT: PENANGGUNG JAWAB : SUDIRMAN, S.S, M.Hum Irini Dewi Wanti, S.S, M.SP DR.Tgk. Ajidarmatsyah, Lc DaripemikiranBukhari sultan, fana jua sekalian yang ada, dengan Alllahberfirman, "kullu man alaiha faan”. Yaitu, barang siapayang di atas bumi akan lenyap jua."mencerminkan bahwa peran ulama di era kesultanancukup tinggi dalam mengarahkan kehidupan rakyat, Aceh sangatlah besar, terutama dalam kehidupanberbangsa dan bernegara. Ulama memiliki posisi yangagar menjadi lebih baik, dengan lisan maupuntulisannya. Namun, potensi ulama masa lalu dandihubungkan dengan kehidupan berbangsa danbernegara hari ini sangatlah berbeda. Peran ulamaketika ulama ikut dalam dunia politik praktis. telah mulai terasa merosot, karena ulama tidak lagimenjadi referensi politik dan pemerintahan, apalagi Pada bab ke-6, Bukhari al-Jauhari membahas Bukhari Al-Jauhari, bukan hanya sebagai ulama tidak banyak makan dan tidur, tidak gemar bersenang-senang dan berfoya-foya, karena hal itu dapatmembuatnya alpa dan lalai pada tugasnya sebagaipemimpin. Kesembilan, tidak senang bermainperempuan. Kesepuluh, seorang pemimpin yang dipilih,syarat dalam memimpin negara.kembali keharusan seorang pemimpin berbuat adildalam segala hal. la mengutip surah al-Nahl ayat 90, sebaiknya dari kalangan laki-laki yang memenuhi "Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat adil danihsan ... Menurut Bukhari Al-Jauhari, sikap adil adaAdapun ihsan mengandung makna adanya kebaikanpekerjaan. Pemimpin yang adil merupakan rahmatAllah yang diberikan kepada masyarakat yang beriman. dalam perbuatan, perkataan dan niat yang benar.dan kearifan dalam perbuatan, perkataan, danAdapun pemimpin yang zalim, sering merupakanmasyarakat yang berbuat zalim. Bukhari Al-Jauhari,juga menyebutkan tentang perkara yang menyebabkan hukuman dan laknat yang diturunkan kepadasebuah kerajaan runtuh. Pertama, pemimpin tidakmemperoleh informasi yang benar dan terperincitentang keadaan negeri dan menerima pendapat darisebelah pihak atau golongan. Kedua, pemimpinmelindungi orang jahat. Ketiga, pegawai raja senangmenyampaikan berita bohong, menyebarkan fitnah,dan membuat intrik-intrik yang membuat timbulnyafikih, tetapi juga seorang penyair dan penulis hikayat konflik. yang ulung. Dalam karyanya tersebut, ia selalumenyelipkan kispek (kisah pendek) yang sarat hikmah,puisi yang sederhana, tetapi indah dalam maknanya.Misalnya, “jika kulihat dalam tanah ikhwal sekalianinsan, tiadalah dapat kubedakan antara rakyat dan Kitab “Taj al-Salatin” atau “Tajussalatin", Bab yang banyak membahas tentang kriteria (tajam dan berwawasan luas). Keempat, al-iradat(menghendaki kesejahteraan, kemakmuran, dan yang benar terhadap segala perkara). Ketiga, al-fikr(menerangi negeri dengan cinta dan kasih sayang). kemajuan seluruh lapisan masyarakat). Kelima, al-Nurmemiliki 24 (dua puluh empat) bab di dalamnya. Babpertama merupakan titik tolak pembahasan masalahsecara keseluruhan, yaitu pentingnya pengenalan dirisebagai khalifah Tuhan di bumi dan sebagai hambanya;mengenal Allah sebagai pencipta; dan mengetahuihakikat hidup di dunia serta masalah kematian.raja atau pemimpin di antaranya bab ke-5 dan bab ke-6.Dalam bab ke-5, Bukhari al-Jauhari menambahkan tentang beberapa syarat yang seharusnya dimiliki olehnegeri dengan adil dan benar. Pertama, seorangdiri sendiri, masyarakat dan manusia pada umumnya. seorang raja atau pemimpin, agar dapat memerintahpemimpin harus dewasa dan matang dalam segala hal,sehingga dapat membedakan yang baik dan buruk bagidengan masalah etika pemerintahan, politik, dan Kedua, seorang pemimpin hendaknya memiliki ilmupengetahuan yang memadai, terutama yang berkenaanagama. Ketiga, yang menjadi pembantu raja ataudan penampilan menarik, sehingga orang mencintainyadan tidak cacat mental dan fisik. Kelima, dermawan danpemurah, tidak kikir dan bakhil. Keenam, pemimpin pemimpin mesti dewasa dan berilmu, serta menguasaibidang kerjanya. Keempat, mempunyai wajah yang baikyang baik harus senantiasa ingat pada orang-orangkesukaran, serta membalas kebaikan dengan kebaikan.Ketujuh, pemimpin yang baik harus tegas dan berani,asing yang mengancam kedaulatan negara. Kedelapan, yang berbuat baik dan membantunya keluar dariterutama dalam menghadapi orang jahat dan negara