| Jurnal Ilmu Pendidikan LPMP Kalimantan Timur | |
|---|---|
| BORNEO | Volume IX Nomor 2, bulan Desember 2015. Halaman 137-148 |
| Jurnal Ilmu Pendidikan | |
| LPMP Kalimantan Timur | ISSN: 1858-3105 |
UPAYA MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN MELALUI
PENEGAKAN DISIPLIN BAGI PESERTA DIDIK DI SD
NEGERI 009 BALIKPAPAN BARAT
Syarifuddin
Guru SD Negeri 009 Balikpapan Barat
Abstrak
Latar Belakang Penelitian Tindakan Kelas ini, Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan melalui Penegakan Disiplin bagi peserta didik di SD Negeri 009 Balikpapan Barat. Hal ini terjadi karena kurangnya kedisiplinan bagi peserta didik sehingga minat dan motivasi peserta didik dalam pendidikan sangat rendah dan berimbas pada rendahnya prestasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendididkan melalui penegakan kedisiplinan siswa dalam mengikuti pembelajaran dan berperilaku seta ber ahklak mulia di sekolah. Disiplin sangat memiliki peran vital dalam menentukan kesuksesan anak didik, terutama terutama disiplin diri sendiri, disiplin waktu, dan disiplin belajar. Di siplin yang tinggi dapat melahirkansemangat, menghargai waktu, bukan menyia-nyiakan waktu. Sehingga ada pepata mengatakan, waktu itu adalah uang. Artinya waktu itu sangat berguna bagi seseorang asal asal bisa memanfaatkannya dengan baik. Bagi orang yang berhasil dalam belajar dan berkarya di sebabkan karena selalu mendapatkan kedisiplinan. Jadi bagi peserta didik sudah memiliki rasa kedisiplinan dalam belajar insya Allah pasti akan sukses dan berhasil apa yang ia cita-citakan. Karena disiplin sebagi modal utama dalam meraih keberhasilan.
Kata Kunci : Mutu Pendidikan, Disiplin
PENDAHULUAN
Wujud disiplin yang di implementasikan melalui perilaku dalam kehidupan se hari-hari saat ini merupakan barang‟mahal”. Hal itu
(BORNEO, VOLUME IX, Nomor 2, Desember 2015*)*** 137
| Jurnal Ilmu Pendidikan LPMP Kalimantan Timur | |
|---|---|
| BORNEO | Volume IX Nomor 2, bulan Desember 2015. Halaman 137-148 |
| Jurnal Ilmu Pendidikan | ISSN: 1858-3105 |
| LPMP Kalimantan Timur |
sangat beralasan, karena perilaku sebagian masyarakat kita saat ini sedang mengalami dekadensi moral, tak kecuali lembaga pendidikan kita. Indikatornya, di tengah masyarakat kita masih banyak pelajar melakukan tawuran pergaulan bebas, pengeroyokan, pemorkosaan, bahkan terlibat narkotika. Meski tidak seluruh peserta didik berperilaku seperti itu, tapi itu telah mencoreng dunia pendidikan kita, instusi yang seharusnya jauh dari perbuatan-perbuatan negatif. ( Gerbang Edisi II, Tahun 2005) Dalam pembelajaran guru berhadapan dengan sejumlah peserta didik dengan berbagai macam latar belakang sikap dan potensi, yang semuanya itu berpengaruh terhadap kebiasaannya dalam mengikuti pembelajaran dan berperilaku di sekolah. kebiasaan tersebut masih banyak yang tidak menunjang bahkan menghambat pembelajaran. Kita masih sering menyaksikan dan mendengar peserta didik yang perilakunya tidak sesuai bahkan bertentangan dengan sikap moral yang baik. Misalnya merokok, rambut gonrong, butceri ( rambut di cat sendiri), membolos, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, bahkam membuat keributan di kelas, melawan guru, berkelahi, bahkan tindakan yang menjurus kepada hal-hal yang bersifat kriminal. Dengan kata lain, masih banyak peserta didik yang tidak disiplin dan menghambat jalannya pembelajaran. Kondisi tersebut menuntut guru untuk senantiasa mendisiplinkan peserta didik agar dapat mendongkrak kualitas pembelajara. Bagaimana dengan SD Negeri 009 Balikpapan Barat, sekolah yang berdasarkan beberapa kreteria merupakan sekolah unggul di kota Balikpapan khususnya, dan Kalimantan Timur pada umumnya. Di sekolah ini kalau kita mau jujur, perilaku kurang disiplin, walaupun prekwensinya dan intensitasnya masih kecil jika di bandingkan dengan sekolah lain di Kecamatan Balikpapan Barat. Perilaku indisipliner yang dialakukan para siswa seperti; terlambat datang kesekolah, baju tidak dimasukkan dalam celana seragam, membuang sampah sembarangan, keluar kelas ketika jam pelajaran berganti, bolos belajar, dan lain sebagainya. Tingkat pelanggaran disiplin yang dilakukan peserta didik di SD Negeri 009 ini, secara mayoritas masih pada tahapan tingkat rendah. Tetapi bukan berarti itu semua dapat ditolerir atait dibiarkan, melainkanharus diminimalisir sedemikian rupa, kalau perlu dihilangkan dari lingkungan sekolah, sehingga tujuanakhir pembelajaran tersebut tercapai sebagaimana mestinya.
| Jurnal Ilmu Pendidikan LPMP Kalimantan Timur | |
|---|---|
| BORNEO | Volume IX Nomor 2, bulan Desember 2015. Halaman 137-148 |
| Jurnal Ilmu Pendidikan | |
| LPMP Kalimantan Timur | ISSN: 1858-3105 |
Tetapi seperti kita uraikan di atas sekecil apapun tingkat pelanggaran disiplin tidak bisa dibiarkan, karena akan tetap mempengaruhi kesuksesan pembelajaran di sekolah. Lagipula perangai buruk yang dibiarkan akan menjadi sebuah kebiasaan yang dianggap benar oleh para peserta didik nantinya, sehingga pada akhirnya menjadi kebiasaan buruk dalam pembelajaran. Mungkin ada bainya kalau kita perhatikan, sebuah peribahasaarab berikut ini, “bahwa perangai buruk itu akan menular, seperti menularnya penyakit kurap kepada orang bersentuhan dengan penderitanya”. Persoalan disiplin merupakan sesuaatu yang harus mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh dari pihak sekolah. Sulit bagi sekolah untuk berhasil untuk meningkatkan mutu pendidikan, makala tidak dibatasi dengan penegakan disiplin dari semua pihak yang didalamnya, terutama oleh guru dan peserta didik sebagai komponen utama dalam pendidikan. Penegakan disiplin yang dilakukan hendaklah penegakan disiplin yang penuh kasih sayang. Penegakan disiplin dengan menghilangkan kekerasan, tetapi tetap memberikan „efek jera‟ terhadap peserta didik yang melakukan perbuatan indisipliner. Bertitik tolak dari latar belakang masalah diatas, penulis tertarik mengangkat judul tulisan ini: “Mendisiplinkan peserta didik dengan kasih sayang: suatu resep praktis Meningkatkan Mutu Pendidikan”. Adapun rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai bagaiman urutan tentang disiplin peserta didik di SD Negeri 009 Balikapan Barat dan bagaimana peran guru dalam mendisilinkan peserta didik di SD Negeri 009 Balikpapan Barat, serta bagaimana cara mendisiplinkan peserta didik dengan kasih sayang.
KAJIAN TEORI
Pengertian Disiplin Peserta Didik
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KKBI), disiplin adalah tata tertib atau ketaatan seseorang kepada peraturan. Sedangkan mendisiplinkan berarti: membuat melakukan disiplin atau mengusahakan sesuatu, supaya mentaati (mematuhi) tata tertib yang berlaku dimana kita melakukan aktivitas (KBBI: 219). Sedangkan Sodijayanto menulis, disiplin pada hakekatnya adalah kemampuan untuk mengendalikan diri dalam bentuk tidak melakukan sesuatu tindakan yang tidak sesuai dan bertentangan dengan sesuatu yang mendunkung dan melindungi sesuatu
| Jurnal Ilmu Pendidikan LPMP Kalimantan Timur | |
|---|---|
| BORNEO | Volume IX Nomor 2, bulan Desember 2015. Halaman 137-148 |
| Jurnal Ilmu Pendidikan | ISSN: 1858-3105 |
| LPMP Kalimantan Timur |
yang telah ditetapkan. Seseorang dikatakan memiliki disiplin yang kuat bila ia dapat mengendalikan dirinya sendiri 91993:163). Sun Tsu dalam bukunya Art Of War, mengatakan bahwa segala macam kebijaksanaan itu tidak mempunyai arti kalau tidak didukung oleh disiplin para pelaksanaannya. Disiplin dimulai dari diri pribadi, antara lain harus jujur pada dirinya sendiri, tidak boleh menunda-nunda tugas dan kewajibannya memberikan yang terbaik bagi organisasi(2003:
55). Selanjutnya Kit Devis dan John W N ewtron dalam bukunya Human Behavior At Work, menulis bahwa disiplin mempunyai 3( tiga) macam sifat, yaitu:
1. Disiplin preventif adalah tindakan agar seseorang terdorong untuk mentaati standard an peraturan. Tujuan pokoknya mendorong seseorangagar memiliki disiplin pribadi yang tinggi sehingga peran kepemimpinannya tidak terlalu berat dalam pengawasan yang dapat mematikan prakarsa dan kretifitas serta partisipasi seseorang dalam organisasi.
2. Disiplin korektif, tindakan dilakukan setelah terjadi pelanggaran standar atau peraturan, tindakan tersebut dilakukan untuk mencegah terjadi pelanggaran lebih lanjut. Disiplin progresip adalah tindakan disiplin berulang kali berupan hukuman yang makin berat dengan makdud agar pihak pelanggar bisa memperbaiki diri sebelum hukuman berat dilakukan.
| Syaiful Bahri Jamarah menulis disiplin tidak hanya muncul | |
|---|---|
| karena kesadaran tetapi ada juga karena paksaan. Disiplin yang muncul karena kesadaran disebabkan karena factor seseorang sadar bahkan hatinya dengan disiplinlah akan didapatkan keteraturandalam kehidupan, denga disiplin menghilangkan kekecewaan orang lain. Disiplin dengan paksaan biasanya dilakukan dengan terpaksa pula. Keterpaksaan itu karena takut dikenakan, sanksi hokum akibat pelanggaran terhadap peraturan (2000:12-13). Sedangkan disiplin belajar adalah kemampuan seseorang untuk secara teratur belajar dan tidak melakukan sesuatu yang dapat merugikan tujuan akhir dari proses belajarnya (1993:164). Disiplin di sekolah berearti mengajarkan anak didik memperoleh keutamaan-keutamaan dengan cara memberi contoh, latihan langsung dan penjelasan verbal. Hanya dengan latihan terus menerus, seseorang memiliki disiplin yang membawanya pada kebebasan diri yang sejati (2000:17). Dalam pembelajaran, mendisiplinkan peserta didik harus dilakukan dengan |
| Jurnal Ilmu Pendidikan LPMP Kalimantan Timur | |
|---|---|
| BORNEO | Volume IX Nomor 2, bulan Desember 2015. Halaman 137-148 |
| Jurnal Ilmu Pendidikan | |
| LPMP Kalimantan Timur | ISSN: 1858-3105 |
kasih sayang dan harus ditujukan untuk membantu mereka menemukan diri; mengawasi, mencegah timbulnya masalah disiplin, dan berusaha menciptakan situasi yang menyenangkan bagi kegiatan pembelajaran, sehingga mereka mentaati segala peraturan yang telah ditetapkan. Disiplin dengan kasih sayang dapat merupakan bantuan kepada peserta didik agar mereka mampu berdiri sendiri (help for self help) dalam kehidupannya (2006:170). Reisman and Payne (1987: 239-241) mengemukakan strategi umum mendisiplinkan peserta didik sebagai berikut:
- Konsep, diri (self konsept); strategi ini menekankan bahwa konsep-konsep diri para peserta didik merupakan factor penting dari setiap perilaku. Untuk menekankan konsep diri, guru disarankan bersikap empatik, menerima, hangat, dan terbuka sehingga peserta didik dapat mengeksplorasikan pikiran dan perasaannya dalam memecahkan masalah.
- Keterampilan berkomunikasi (communication skills); guru harus memiliki keterampilan komunikasi yang efektif agar mampu menerima semua perasaan dan mendominasi timbulnya kepatuhan peserta didik.
- Konsekuensi-konsekuensi logis dan alami (natural and logical concequences) perilaku-perilaku yang salah terjadi karena peserta didik telah mengembangkan kepercayaan yang salah terhadap dirinya. Hal ini mendorong munculnya perilaku-perilaku salah. Untuk itu guru disarankan: a) menunjukkan secara tepat tujuan prilaku yang salah, sehingga membantu peserta didik dalam mengatasi perilakunya yang salah.
- Klarifikasi nilai (values clarifications): strategi ini dilakukan untuk membantu peserta didik dalam menjawab pertanyaannya sendiri tentang nilai-nilai dan membentuk sistem nilainya sendiri.
- Analisis transaksional (transacsional analysis): disarankan agar guru bersikap dewasa, terutama apabila berhadapan dengan peserta didik yang menghadapi masalah.
- Terapi realitas reality therapy); perlu bersikap positif dan bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan di sekolah, dan melibatkan peserta didik secara optimal dalam pembelajaran.
- Disiplin yang terintegrasi (assertive discipline); guru harus mampu mengendalikan, mengembangkan dan mempertahankan peraturan, dan tata tertib sekolah, termasuk pemanfaatan papan tulis untuk
| Jurnal Ilmu Pendidikan LPMP Kalimantan Timur | |
|---|---|
| BORNEO | Volume IX Nomor 2, bulan Desember 2015. Halaman 137-148 |
| Jurnal Ilmu Pendidikan | ISSN: 1858-3105 |
| LPMP Kalimantan Timur |
menuliskan nama-nama peserta, didik yang berperilaku menyimpang.
- Modifikasi perilaku (behavior modification); guru harus menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, yang dapat memodifikasi prilaku peserta didik.
- Tantangan bagi disiplin (dare to discipline); guru harus cekatan, terorganisasi, dan tegas dalam mengendalikan disiplin peserta didik.
Pentingnya Disiplin dalam Pembelajaran
Disiplin sangat memiliki peran vital dalam menentukan kesuksesan anak didik, apalagi dalam pembelajaran (PBM). Perilaku disiplin yang tinggi dapat melahirkan semangat menghargai waktu, bukan menyia-nyiakan waktu berlalu dalam kehampaan. Budaya “jam karet‟ adalah musuh besar bagi mereka yang mengagumkan disiplin dalam belajar. Sehingga pada akhirnya kita tidak tertinggal dalam mengikuti materi pembelajaran. Pakaian rapi yang sesuai dengan peraturan yang diberikan sekolah. pada akhirnya menyebabkan siswa yang memakainya merasa semakin percaya diri. Disiplin merupakan kunci utama kesuksesan segala kegiatan yang kita lakukan dalam semua ajang kehidupan ini. Kalau kita ingin sukses dalam bidang, apapun yang akan kita geluti, maka sebuah keniscayaan kalau kita tidak menerapkan perilaku disiplin dalam meraihnya. Apakah dalam, bidang pendidikan bisnis, keamanan, agama dan lain sebagainya. Orang-orang yang berhasil dalam belajar dan berkarya disebabkan mereka selalu menempatkan disiplin atas semua tindakan dan perbuatan mereka. Disiplin dalam semua dimensi kehidupan sangat kita perlukan, apakah dalam hal waktu, datang ke sekolah, pulang ke rumah, berpakaian, mengerjakan tugas dan lain sebagainya. Orang-orang sukses di dunia ini selalu menjadikan disiplin sebagai modal utama dalam meraih keberhasilan. Tidak ada kesuksesan, tanpa menunaikan disiplin.
Peran Guru dalam Mendisiplinkan Peserta Didik
Tugas guru dalam, pembelajaran tidak hanya terbatas pada penyampaian materi pembelajaran, tetapi lebih dari guru harus mampu membentuk kompetensi dan pribadi peserta didik kearah yang lebih baik. Oleh karena itu sangat dituntut perhatian „ekstra‟ dari guru untuk mengamati dan mengawasi perilaku dari peserta didik, terutama pada
| Jurnal Ilmu Pendidikan LPMP Kalimantan Timur | |
|---|---|
| BORNEO | Volume IX Nomor 2, bulan Desember 2015. Halaman 137-148 |
| Jurnal Ilmu Pendidikan | |
| LPMP Kalimantan Timur | ISSN: 1858-3105 |
| jam-jam sekolah, agar tidak terjadi pelanggaran atau penyimpangan yang dapat mengganggu pembelajaran. Untuk kepentingan tersebut, guru harus mampu menjadi pembimbing, teladan, pengawas dan pengendali | ||
|---|---|---|
| seluruh perilaku peserta didik. mengendalikan seluruh perilaku peserta didik di sekolah. Dalam menanamkan pserta didik, terutama disiplin diri ( menegakkan disiplin. pembinaan terhadap siswa diantaranya sebagai berikut: | Sebagai pembimbing, guru harus berupaya untuk membimbing dan mengarahkan perilaku peserta didik menuju hal positif, dan menunjang pembelajaran. Sebagai teladan, guru harus memperhatikan perilaku disiplin yang baik kepada peserta didik. Sebagai pengawas guru harus senantiasa mengawasi seluruh perilaku peserta didik, terutama pada jam-jam efektif sekolah, sehingga kalau terjadi pelanggaran terhadap disiplin dapat diatasi. Sebagai pengendali, guru harus mampu disiplin, guru bertanggung jawab mengarahkan dan berbuat baik menjadi contoh sabar dan penuh pengertian. Guru harus mampu mengendalikan dan mendisiplinkan self-disipline). Untuk kepentingan tersebut, guru harus mampu membantu peserta didik mengembangkan pola perilaku untuk dirinya sendiri, karena pada akhirnya tindakan disiplin tersebut berguna untuk dirinya sendiri, membantu peserta didik meningkatkan standar perilakunya ketingkat yang lebih tinggi dari pada sebelumnya dan menggunakan pelaksanaan aturan sebagai alat untuk Dalam rangka pembinaan disiplin siswa, kita mengenal beberapa teknik. Srinawati Sunario (1996:55), mengemukakan bahwa teknik |
a. Teknik pengendalian dari luar Teknik ini diartikan sebagai pengawasan berupa bimbingan dan penyuluhan. Pengawasan sebagi teknik pengendalian dari luar dilakukan secara ketat biasanya disertai dengan pemberian hukuman bagi peserta yang melanggar tata tertib.
b. Teknik pengendalian dari dalam. Teknik ini berkaitan dengan pendekatan positif terhadap disiplin, yaitu siswa taat disiplin, patuh pada peraturan yang dilakukan disekolah dengan menumbuhkan kesadaran diri.
c. Teknik pengendalian kooperatif. Teknik ini dilakukan melalui guru dan siswa bersama-sama menegakkan disiplin. Kedua belah pihak menunjukkan adanya kesadaran akan tujuan bersama dalam kegiatan belajar mengajar yang mereka laksanakan. Melalui suasanan kooperatif itu, kedua
| Jurnal Ilmu Pendidikan LPMP Kalimantan Timur | |
|---|---|
| BORNEO | Volume IX Nomor 2, bulan Desember 2015. Halaman 137-148 |
| Jurnal Ilmu Pendidikan | ISSN: 1858-3105 |
| LPMP Kalimantan Timur |
belah pihak berusaha untuk mencapai tujuan dengan masing-masing menunjukkan sikap disiplin.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penerapan Disiplin di SD Negeri 009 Balikpapan Barat.
SD Negeri 009 Balikpapan Barat memiliki visi sekolah” Unggul dalam mutu, beriman dan bertaqwa “. Adapun salah satu misi untuk meraih (mewujudkan) visi tersebut alalah meningkatkan disiplin seluruh warga sekolah. Dalam rangka mendisiplinkan warga sekolah ada tiga langkah yang dilakukan di sekolah sbb:
1). Mengenal sebab-sebab pelanggaran disiplin disekolah. Langkah pertama untuk mendisiplinkan peserta didik dengan mengetahui penyebab pelanggaran disiplin yang mereka lakukan. Timbulnya pelanggaran disiplin yang mereka lakukan. Timbulnya pelanggaran disiplin di sekolah dapat terjadi oleh siswa, guru dan lingkungan sekolah itu sendiri. Menurut Rahmat Kurniawan, pelanggaran, yang bersumber dari diri siswa muncul, apabila kebutuhan-kebutuhan yang ada pada dirinya tidak terpenuhi. Kebutuhan tersebut dapat digolongkan atas empat. Yaitu; kebutuhan fisiologis, rasa, aman, social, dan aktualisasi diri. Sedangkan timbulnya pelanggaran dari guru biasanya diakibatkan karena guru tidak disiplin, tidak, mengikuti apa yang digariskan oleh peraturan sekolah dalam proses pendidikan. Misalnya, guru datang terlambat, pekerjaan rumah dan ulangan tidak diperiksa, murid dilepas belajar tanpa pengawasan, otoriter dalam mengajar, dan manajemen pengelolaan kelas atau cara mengajar yang kurang baik (Gerbang Edisi 3, Tahun 2005: 37). Hasil penelitian yang dilakukan Balitbangda Provinsi Jawa Tengah (2004) menunjukkan bahwa factor utama yang mendorong sisiwa untuk melanggar norma sekolah adalah ciri perkembangan remaja yang ditujukan oleh: (1) Keinginan mencari”siapa” saya sebenarnya; (2) Adanya idiom dikalangan mereka”masa sekolah masa yang paling indah”sehingga jangan selalu dikekang dalam pencarian jati; (3) tidak ingin dikekang dalam mengekspresikan diri pada masa remaja; ( 4) siswa atau remaja masih mudah terombang- ambing dalam mencari jati dirinya dan keinginan untuk mengekspresikan keinginannya;(5) merasa nyaman mengekspresikan
| Jurnal Ilmu Pendidikan LPMP Kalimantan Timur | |
|---|---|
| BORNEO | Volume IX Nomor 2, bulan Desember 2015. Halaman 137-148 |
| Jurnal Ilmu Pendidikan | |
| LPMP Kalimantan Timur | ISSN: 1858-3105 |
diri meski melanggar norma sekolah;(6) adanya sikap tidak puas sehingga memberontak terhadap aturan norma sekolah yang di anggap, terlalu mengekang kebebasan siswa(7) mencontoh teman yang dinilai memiliki kesamaan dengan jati dirinya; (8) mencontoh kakak kelas padahal belum tentu baik: (9) siswa, mencontoh idolanya dalam berpenampilan; (10) mencontoh model pakaian dan asesoris idolanya baik yang muncul di televise maupun media lain dan (11) lingkungan sekolah, seperti: guru killer, suka marah, merokok di kelas, sering membolos dan lain sebagainya (internet). Sekali lagi, langkah pertama untuk mendisiplinkan peserta didik harus diketahui dulu penyebab merekaberperilaku tidak disiplin. Dari sini baru kita lakukan langkah-langkah yang perlu kita lakukan untuk mengatasinya.
2) Melakukan tindakan Preventif. Preventif berarti adalah tindakan pencegahan sebelum kompenen-kompenen yang ada disekolah melanggar peraturan atau indisipliner. Tindakan prefentif yang dilakukan di SD Negeri 009 Balikpapan Barat dalam rangka nencegahan perilaku tidak disiplin peserta didik adalah:
a. Selalu mensosialisasikan baik secara langsung, maupun rapat- rapat sekolah tentang pentingnya disiplin diperhatikan dan ditingkatkan oleh seluruh komponen yang ada disekolah, terutama para guru sebagai ujung tombak disiplin. Guru harus seiya sekata”selagu danseirama” dalam menegakkan disiplin, sehingga pada akhirnya para sisiwa semakin sadar, bahwa sekolah sangat mementingkan disiplin. Dengan demikian diharapkan mereka berhati-hati ketika hendak melanggar disiplin yang diterapkan sekolah.
b. Kepala sekolah selalu berusaha menjadi orang yang pertama hadir di lingkungan sekolah setiap hari. Tindakan adalah berdiri di dekat pagar sekolah untuk mengamati, mengawasi, meneliti, menelaah seluruh guru dan peserta didik yang memasuki complex pendidikan. Melalui strategi ini banyak keuntungan yang diperoleh, diantaranya dapat mengamati, mengawasi mengetahui pelanggaran-pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh guru maupun peserta didik. Bagi pendidik yang tidak hadir tanpa pemberitahuan diberikan sanksi dan berupa teguran, selanjutnya masih bisa berulang diberikan sanksi tertulis. Sebagai
| Jurnal Ilmu Pendidikan LPMP Kalimantan Timur | |
|---|---|
| BORNEO | Volume IX Nomor 2, bulan Desember 2015. Halaman 137-148 |
| Jurnal Ilmu Pendidikan | ISSN: 1858-3105 |
| LPMP Kalimantan Timur |
catatan pemberitahuan tersebut hendaklah ditulis sebagai bukti fisik nantinya.
c. Kepala sekolah menjadi orang yang terakhir pulang dari lingkungan sekolah. Kalaupun ada tugas dinas di luar, pinpinan tetap berusaha untuk hadir tujuannya agar dapat mengetahui kondisi akhir disekolah. Sedangkan menurut Rahmat Kurniawan dalam tulisannya, tindakan prefentif dapat dilakukan melalui pemberian tugas yang adil, pasti, dan jelas, dengan memperhatikan kondisifisik (cahaya, ventilasi, dll). Berikan pengakuan dan penghargaan (reward dan reinforcement). Berikan kritikan yang kontruktif, dengarkan dengan sungguh pernyataan siswa, berikan harapan-harapan yang siberikan penegasan prosedur-prosedur dan tata tertib di sekolah bersangkutan (Gerbang Edisi 3, tahun 2005: 37).
3) Tindakan Korektif Tindakan korektif adalah tindakan perbaikan terhadap tingkah laku para siswa yang menyimpang atau melanggar (KBBI: 367). Tindakan seperti ini dilakukan bilamana terjadi pelanggaran terhadap teta tertib. Menurut Rahmat Kurniawan, ada beberapa tindakan korektif yang bisa dilakukan, yaitu:
a. Hukuman hendaknya bersifat edukatif yaitu mendidik pada peserta didik.
b. Hukuman terhadap sebanding dengan pelanggaran yang dibuat peserta didik.
c. Tindakan hendaknya dilakukan secepat mungkin setelah pelanggaran itu terjadi
d. Hukuman hendaknya sesuatu yang dapat dilaksanakan oleh guru dan Pembina siswa disekolah. Disiplin siswa SD Negeri 009 Balikpapan Barat ditegakkan melalui peraturan-peraturan yang telah disosialisasikan sedemikian rupa kepada guru sebagai pendidik maupun siswa sebagai peserta didik. Semenjak seorang peserta didik mendaftar di sekolah ini, yang bersangkutan diberikan lembaran tata tertib dan peraturan yang berlaku dilembaga pendidikan ini. Perangkat peraturan tersebut juga di tempelkan di setiap kelas yang ada disekolah ini, sehingga diharapkan seluruh pelaku pendidik an di instusi ini tidak lupa dan selalu mengingat peraturan-peraturan yang berlaku di sekolah
| Jurnal Ilmu Pendidikan LPMP Kalimantan Timur | |
|---|---|
| BORNEO | Volume IX Nomor 2, bulan Desember 2015. Halaman 137-148 |
| Jurnal Ilmu Pendidikan | |
| LPMP Kalimantan Timur | ISSN: 1858-3105 |
Mengenai peraturan-peraturan tersebut, pada intinya memuat data pelanggaran tata tertib sekolah bersama bobot yang diberikan terhadap setiap pelanggaran yang dilakukan. Apabila saeseorang siswa pelanggarannya mencapai bonbot tertentu yang bersangkutan dikenai hukuman. Sanksi yang diberikan tersebut diantaranya:
a). Perjanjian dengan wali kelas
b). Perjanjian diketahui orang tua
c). Perjanian diatas Segel atau surat perjanjian bermaterai
d). Dikembalikan kepada orang tua
e). Dikeluarkan dari sekolah Disamping itu, di setiap kelas, yang salah satu kriteria penilaian kebersihan kelas, yang salah satu kriteria penilaiannya mengenai disiplin sisiwa. Dalam kriteria disiplin siswa penilaiannya meliputi kehadiran sisiwa, berapa siswa yang hadir setiap hari, berapa orang yang terlambat, dan berapa orang yang sakit, alpha. Semakin banyak siswa yang tidak disiplin disetiap kelas, semakin rendah nilainya sehingga harapan untuk menjadi kelas terbersih yang diperlombakan setiap semester akan sirna. Hal ini tentunya memotivasi setiap wali kelas dan warga masing-masing untuk menegakkan disiplin. Untuk mendisiplinkan peserta didik dengan pendekatan penuh kasih sayang, guru dituntut melakukan hal-hal sebagai berikut:
a). Mempelajari pengalaman peserta didik di sekolah melalui catatan kumulatif
b). Mempelajari Nama-nama peserta didik secara langsung misalnya melui daftar hadir di kelas.
c). Mempertimbangkan lingkungan sekolah dari lingkungan peserta didik.
d). Memberikan tugas yang jelas, dapat dipahami sederhana dan tidak bertele-tele.
e). Menyiapkan kegiatan sehari-hari agar apa yang dilakukan dalam pembelajaran sesuai dengan yang direncanakan, tidak terjadi banyak penyimpangan.
f). Berdiri dipintu pada waktu pergantian pelajaran agar peserta didik tetap berada dalam posisinya sampai pelajaran berikutnya di laksanakan.
g). Bergairah dan bersemangat dalam melakukan pembelajaran, agar dijadikan teladan oleh peserta didik.
h). Berbuat sesuatu yang bervariasi, jangan menonton sehingga membantu disiplin dan gairah belajar siswa.
| Jurnal Ilmu Pendidikan LPMP Kalimantan Timur | |
|---|---|
| BORNEO | Volume IX Nomor 2, bulan Desember 2015. Halaman 137-148 |
| Jurnal Ilmu Pendidikan | ISSN: 1858-3105 |
| LPMP Kalimantan Timur |
i). Menyelesaikan ilustrasi dan argumentasi dengan kemampuan peserta didik, jangan memaksakan peserta didik sesuai dengan pemahaman guru, atau mengukur peserta didik dari kemampuan gurunya.
j). Membuat peraturan yang jelas dan tegas agar bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh peserta didik.
KESIMPULAN
Penegakan disiplin bagi peserta didik memang diperlukan dan harus dilakukan dalam mencapai tujuan pendidikan itu sendiri. Tanpa disiplin dari peserta didik akan sulit bahkan tidak mungkin mewujutkan visi dan misi yang telah digariskan sekolah. Penegakan disiplin bagi peserta didik haruslah dilakukan dengan pendekatan, hal tersebut lebih berarti bagi peserta didik. Penegakan disiplin secara didik dilakukan dilakukan dengan pendekatan atau kasih sayang oleh seluruh instusi pendidikan. Sehingga akhirnya tujuan pendidikan itu sendiri akan tercapai sebagaimana mestinya.
DAFTAR PUSTAKA
Bahari Djamarah, Syaiful. (2000*). Rahasia Sukses Belajar*. Jakarta: Rineksi Cipta. Depdikbud. (1996). Latihan Kepemimpinan Siswa. Jakarta: Depdikbud. Depdinas. (2000). Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 010/0/2000 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas. Meliyasa, E (2006*). Menjadi Guru Profesional*. Bandung: Remaja Rondakarya. Lubis, Mochtar. (1986). Manusia Indonasia (Sebuah Pertanggung jawaban). Jakarta: Inti Idayu Press. Suradji. (2002*). Manajemen Kepegawaian Negara*. Jakarta: LAIN. Supriyadi, Gering, and Guno, Tri. (2002). Budaya Kerja Organisasi Pemerintahan Jakarta: LAIN. Soedijarto. (1993). Menuju Pendidikan Nasional yang Relevan dan Bermutu. Jakarta: Balai Pustaka*.* Gerbang Edisi 3 dan 10 Tahun V, 2005*. Undang-undang Guru* *dan Dosen (*UU NO.14 tahun 2005)