KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA 2024
Kepala Satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Pengembangan Bukti Baik
Karya KSPSTK Nusantara 2023
(Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan)
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA 2024
Pengembangan Bukti Baik Karya KSPSTK Nusantara 2023
(Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan)
Kepala Satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Hak Cipta Pada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Dilindungi Undang-Undang
Disclaimer: Buku ini disiapkan oleh Pemerintah dalam rangka pemenuhan kebutuhan buku tentang praktik baik bagi Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan. Buku ini digunakan secara terbatas pada sekolah. Buku ini disusun dan ditelaah oleh berbagai pihak di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Masukan dari berbagai kalangan yang dialamatkan kepada penulis atau melalui alamat surel [email protected] diharapkan dapat meningkatkan kualitas buku ini.
Pengembangan Bukti Baik Karya KSPSTK Nusantara 2023 (Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan) Kepala Satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Pengarah
Prof. Dr. Nunuk Suryani, M. Pd (Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan) Dr. Kasiman (Direktur Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah dan Tenaga Kependidikan)
Penanggungjawab
Dr. Paiman (Ketua Tim Kerja Publikasi, Kemitraan, Penghargaan dan Perlindungan) Dr. Rita Dewi Suspalupi (Kasubag TU Dit. KSPSTK)
Penulis
Dinning Hayani, S.T. Fiska Arianti, S.Pd. Aidha Artha Novayanty, S.Pd., M.Pd. Astried Yanuarti Lofa, S.Psi. Sri Suratiyah, S.Ikom., M.Psi. Ika Nova Sari, S.Pd. Fitri Sari Angkat, S.P., S.Pd. Fitriani, S.Pd. Andi Hermiyati, S.TP., S.Pd. Mastul Hidayati, S.Pd. Hestri Purnani, S.Pd.
Editor
Dr. Nugaan Wardhani Siregar Dr. Kasiman Yuni Herlina, M.TPd Dr. Paiman
Desain Sampul dan Penata Letak Caesar A FFA dan Berliani Nur Isnaini Penerbit Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Dikeluarkan oleh Direktorat Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah dan Tenaga Kependidikan (Dit. KSPSTK) Kompleks Kemendikbudristek, Gedung D Lantai 14 Jalan Pintu 1 Senayan, Jakarta Pusat, 10270 (021) 5797412 https://kspstendik.kemdikbud.go.id
Cetakan pertama 2024 ISBN 978-623-504-054-7 ISBN 978-623-504-053-0 (PDF)
DAFTAR ISI
| Sambutan | 53 - 60 |
|---|---|
| Warmin (Waktunya Orang Tua yang | |
| Pengantar | Bermain) Solusi Membuka Kesadaran Wali Murid Akan Pentingnya Merdeka |
| 1 - 4 | Bermain Bagi Pembelajaran di PAUD. |
| Pendahuluan | 61 - 68 |
| 5 - 14 | Strategi OMBAK untuk Menciptakan |
| Sim Salabim! Administrasi Asesmen | Pembelajaran Berkualitas dalam |
| PAUD Mudah dan Cepat Dengan | Implementasi Kurikulum Merdeka. |
| Inovasi Autocrat. | 69 - 78 |
| 15 - 24 | GELIMBAR Melalui BEPAKOT |
| “TEMPE”; Teknologi Memudahkan | (Kepemimpinan Pembelajaran dalam |
| Pekerjaan. 25 - 34 | Mengimplementasi Kurikulum Merdeka di Satuan Pendidikan). |
| Optimalisasi Pemanfaatan Lingkungan | 79 - 88 |
| Sekitar dalam Penyelenggaraan | O M A R (Orang Tua Mengajar). |
| Pembelajaran di Satuan PAUD | 89 - 98 |
| 35 - 42 | Strategi Penguatan, Pembelajaran, |
| “SINTA” Stimulasi Pembelajaran di | Pengimbasan Pendampingan |
| TPA yang Menyenangkan dan | Pemodelan dalam Implementasi |
| Bermakna | Kurikulum Merdeka (P5 MAKARIM). |
| 43 - 52 | 98 - 106 |
| Membangun Jiwa Sosiopreneur | P5 Datang Perundungan Hilang |
| Melalui Program “PAWON BOCAH”. | Praktik Baik Kepemimpinan |
Pembelajaran Di KB. Belajar WIGGLY WOOL.
SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang dengan rahmat dan karunia-Nya, memandu langkah kita hingga saat ini. Pada kesempatan penuh kebahagiaan,kamidengan yang bangga mempersembahkan buku hasil pengembangan bukti baik mengenai Merdeka Belajar, yang disusun dengan penuh dedikasi oleh para kepala sekolah, pengawas sekolah, dan tenaga kependidikan dari seluruh provinsi di Indonesia. Mereka turut serta dalam apresiasi KSPSTK 2023, sebagai bagian dari peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2023. Buku ini adalah wujud nyata dari dedikasí dan inovasi luar biasa
yang ditunjukkan oleh para KSPSTK dalam mewujudkan visi Merdeka
Belajar sebagai pijakan perubahan dalam dunia pendidikan Indonesia. Penelitian dan praktik terbaik yang terangkum dalam buku ini memberikan gambaran jelas tentang peran krusial para profesional pendidikan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan. Sebagai wahana berbagi dan sumber inspirasi, buku ini diharapkan dapat memotivasi praktisi pendidikan lainnya, sekaligus menjadi rujukan penting bagi para pembuat kebijakan di bidang pendidikan. Prestasi yang terdokumentasikan dalam buku bukti baik ini mencerminkan komitmen bersama untuk bertransformasi, tidak hanya dalam hal teknologi, melainkan juga dalam cara berpikir dan pola kerja. KSPSTK diharapkan dapat terus membuka diri terhadap ide-ide baru, mengambil
risiko dalam eksplorasi hal-hal baru, dan menjadi
lebih terbuka, inovatif, serta kreatif dalam menjalankan tugas sehari-hari. Kamimenyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyelesaian buku ini. Semoga buku ini tidak hanya menjadi sumber inspirasi, tetapi juga menjadi landasan untuk terus bergerak maju dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Mari kita terus bersinergi dan bekerja keras, menjunjung tinggi nilai-nilai keunggulan, keimanan, dan budi pekerti luhur, demi menciptakan generasi yang unggul.
Jakarta, April 2024
Direktur Jenderal GTK
Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd
PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas pengembangan bukti baik karya Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan (KSPSTK) yang diterbitkan sebagai bagian dari kegiatan apresiasi KSPSTK yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional tahun 2023. Buku “Bukti Baik Karya KSPSTK Nusantara 2023” diterbitkan untuk memotivasi profesionalisme dan budaya positif di kalangan Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga kependidikan yang inovatif dan inspiratif untuk meningkatkan mutu
pendidikan nasional di lingkungan Kementerian Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Kebijakan Merdeka Belajar memberikan kesempatan bagi Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan untuk
lebih kreatif dan inovatif dalam memberikan layanan pendidikan yang
berkualitas dan bermaknabagi peserta didik. dalam
KSPSTK memiliki peran penting
merealisasikan paradigma baru dalam kepemimpinan pendidikan yang menekankan pada peran pemimpin dalam menciptakan ekosistem belajar yang merdeka dan berpihak pada siswa dengan menciptakan pembelajaran
yang aman, nyaman, menyenangkan dan inklusif,
agar dapat membawa perubahan yang signifikan
dalam dunia pendidikan untuk memfasilitasi siswa mencapai potensi terbaiknya untuk
memenangkan persaingan global.
Kolaborasi Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah,danTenaga Kependidikan dalam mewujudkan visi, misi dan tujuan sekolah, membangun budaya belajar positif, yang meningkatkan kualitas pembelajaran, mengelola sekolah secara efektif dan inspiratiff akan membuat perbedaan besar dalam kehidupan siswa dan masa depan sekolah. Terima kasih. Jakarta, April 2024
Direktur KSPSTK Dr. Kasiman
Direktorat Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pen-didikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dipimpin oleh Direktur yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal. Sesuai dengan Permendik- budristek Nomor 28 Tahun 2021 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Direktorat Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan mem-punyai tugas
| Direktorat | Sekolah, | Pengawas | Sekolah, | dan Tenaga | Kependidikan | mem-punyai | tugas |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang kepala sekolah, pengawas sekolah, dan | |||||||
| tenaga kependidikan. | |||||||
| Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, Direktorat Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan | |||||||
| Tenaga Kependidikan menyeleng-garakan fungsi: | |||||||
| 1. penyiapan perumusan kebijakan di bidang | karier, | pendistribusian, | pemindahan | lintas | |||
| perencanaan | kebutuhan, | pengembangan | daerah | provinsi, | pembelajaran, | ||
| karier, | pemindahan | lintas | pengembangan | kompetensi | nonvokasional, | ||
| daerah | provinsi, | pembelajaran, | peningkatan | kualifikasi, | standar | dan | |
| pengembangan | kompetensi | nonvokasional, | penjaminan | mutu, | pendidikan | profesi, | |
| peningkatan | kualifikasi, | standar | dan | kesejahteraan, penghargaan, dan pelindungan | |||
| penjaminan kesejahteraan, penghargaan, dan pelindungan kepala sekolah, pengawas sekolah, dan tenaga kependidikan; | mutu, | pendidikan | profesi, | kepala sekolah, pengawas sekolah, dan tenaga kependidikan; 6. fasilitasi di bidang perencanaan kebutuhan, pengembangan | karier, | pendistribusian, | |
| 2. penyusunan norma, prosedur, dan kriteria di | pemindahan | lintas | daerah | provinsi, | |||
| bidang | perencanaan | kebutuhan, | pembelajaran, | pengembangan | kompetensi | ||
| pengembangan | karier, | pendistribusian, | nonvokasional, | peningkatan | kualifikasi, | ||
| pemindahan | lintas | daerah | provinsi, | standar dan penjaminan mutu, pendidikan | |||
| pembelajaran, | pengembangan | kompetensi | profesi, | kesejahteraan, | penghargaan, | dan | |
| nonvokasional, standar dan penjaminan mutu, pendidikan | peningkatan | kualifikasi, | pelindungan sekolah, dan tenaga kependidikan; | kepala | sekolah, | pengawas | |
| profesi, | kesejahteraan, | penghargaan, | dan | 7. pemberian bimbingan teknis dan supervisi di | |||
| pelindungan sekolah, dan tenaga kependidikan; | kepala | sekolah, | pengawas | bidang pengembangan | perencanaan karier, | kebutuhan, pendistribusian, | |
| 3. pelaksanaan kebijakan di bidang perencanaan | pemindahan | lintas | daerah | provinsi, | |||
| kebutuhan, pendistribusian, pemindahan lintas daerah provinsi, | pengembangan pembelajaran, | pengembangan | karier, | pembelajaran, nonvokasional, standar dan penjaminan mutu, pendidikan | pengembangan peningkatan | kompetensi | kualifikasi, |
| kompetensi | nonvokasional, | standar | dan | profesi, | kesejahteraan, | penghargaan, | dan |
| penjaminan kesejahteraan, penghargaan, dan pelindungan kepala sekolah, pengawas sekolah, dan tenaga kependidikan; 4. pelaksanaan kebijakan di bidang standar dan | mutu, | pendidikan | profesi, | pelindungan sekolah, dan tenaga kependidikan; 8. penyiapan bahan pembinaan jabatan kepala sekolah dan jabatan fungsional pengawas sekolah dan tenaga kependidikan; | kepala | sekolah, | pengawas |
| penjaminan mutu calon kepala sekolah dan pengawas sekolah dan tenaga kependidikan; | 9. pemantauan, bidang kepala sekolah, pengawas sekolah, dan | evaluasi, | dan pelaporan | di | |||
| 5. penyiapan perencanaan | bahan pembinaan kebutuhan, | di pengembangan | bidang | tenaga kependidikan; dan 10. pelaksanaan urusan ketatausahaan Direktorat |
pendistribusian,
| Kontak Kami: | |||
|---|---|---|---|
| Direktorat KSPSTK: Kompleks Kemendikbudristek, Gedung D Lantai 14 Jalan Pintu 1 Senayan, Jakarta Pusat, 10270 (021) 57974127 [https://kspstendik.kemdikbud.go.id | ](https://kspstendik.kemdikbud.go.id | ) |
| Direktorat Ksps Dan Tendik | ||
|---|---|---|
| KS PS dan Tendik Kemdikbudristek direktorat.ks.ps.tendik Direktorat Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah Tendik |
Pengembangan Bukti Baik Karya KSPSTK Nusantara 2023
PENDAHULUAN
Pendidikan berkualitas mampu memberikan layanan terbaik dan bermakna bagi peserta didik, sehingga mendukung berkembangnya karakter mulia dan potensi yang dimiliki secara optimal. Dengan demikian, proses pendidikan berfokus pada kebutuhan dan perkembangan peserta didik, yang membantu untuk mencapai kesejahteraan (well-being). Pendidikan yang berkualitas memerlukan dukungan kepala sekolah dan guru-guru yang berkualitas pula. Kebijakan Merdeka Belajar memberikan kesempatan bagi kepala sekolah dan guru untuk senantiasa meningkatkan kapasitas, lebih kreatif melakukan inovasi dalam memberikan layanan pendidikan yang berkualitas dan bermakna bagi peserta didik.
Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran dan agen perubahan memiliki peran penting dalam merealisasikan paradigma baru dalam kepemimpinan pendidikan yang menekankan pada peran pemimpin dalam menciptakan ekosistem belajar yang merdeka dan berpihak pada murid. Paradigma ini dilandaskan pada filosofi Ki Hajar Dewantara yang mengemukakan bahwa pendidikan harus memerdekakan murid dan
menuntun mereka untuk mencapai kodratnya. Dalam era globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat, kepala sekolah perlu memiliki kemampuan untuk berinovasi agar sekolah dapat terus berkembang dan memberikan pendidikan yang berkualitas bagi para siswanya. Kepala sekolah diharapkan dapat membawa perubahan yang signifikan dalam dunia pendidikan dan membantu peserta didik untuk mencapai potensi terbaiknya. Dengan demikian, setiap peserta didik yang berada di wilayah Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, termasuk anak usia dini.
Anak usia dini berada pada suatu fase atau masa pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, dan memiliki pengaruh yang sangat kuat pada fase-fase berikutnya. Karena itu, anak usia dini dikatakan berada pada periode usia keemasan (golden period), tetapi juga periode kritis. Anak usia dini memerlukan suatu bentuk pendidikan yang dilakukan dengan tepat, sesuai dengan kebutuhan, pertumbuhan dan perkembangan anak. Pendidikan anak usia dini merupakan upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir hingga usia 6 tahun, sehingga memiliki kesiapan secara jasmani dan rohani untuk mengikuti jenjang pendidikan selanjutnya. Pendidikan anak usia dini yang berkualitas akan mendukung terwujudnya generasi emas yang berakhlak mulia.
Satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), hendaknya dipandu oleh kepala sekolah dan guru yang memahami tentang anak usia dini dan cara belajarnya, sehingga dapat memberikan stimulasi psikososial yang tepat. Salah satu bentuk stimulasi tersebut adalah tersedianya ragam kegiatan main yang tepat dengan berbagai alat permainan edukatif yang sesuai. Satuan PAUD juga harus dikelola dengan tepat oleh kepala sekolah, sehingga menghadirkan layanan pendidikan yang berkualitas. Layanan pendidikan yang berkualitas ini tentunya memenuhi empat elemen dasar, yaitu proses pembelajaran yang tepat, adanya kolaborasi dengan orang tua, terdapatnya pemenuhan kebutuhan esensial anak, dan tata kelola yang baik. Tentunya untuk memenuhi elemen PAUD berkualitas diperlukan kepala sekolah yang tangguh, kreatif, inovatif, kolaboratif dan komunikatif.
Kepala sekolah PAUD banyak melakukan inovasi dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), baik yang canggih maupun sederhana. Pemanfaatan teknologi tersebut dilakukan untuk memudahkan dalam melaksanakan peran dan tugas sebagai pemimpin pembelajaran dan mengelola satuan PAUD, sehingga dapat berdaya guna dan berhasil guna. Banyak juga kepala sekolah yang memanfaatkan lingkungan di sekitar satuan PAUD untuk mengoptimalkan proses pembelajaran dan mendukung guru- guru dalam melaksanakan perannya. Kolaborasi yang baik dan sinergis juga ditunjukkan oleh banyak kepala sekolah. Kolaborasi dilakukan dengan para pemangku kepentingan yang ada, terutama orang tua. Orang tua sebagai pendidik yang utama dan pertama merupakan “mitra terpenting dan terdekat” bagi satuan pendidikan, sehingga terjadi proses keselarasan pendidikan antara di satuan PAUD dan di rumah. Keselarasan ini sangat penting untuk mendukung optimalisasi pertumbuhan dan perkembangan anak. Para pemangku kepentingan, misalnya masyarakat sekitar, juga banyak diajak berkolaborasi. Ada banyak bentuk kolaborasi antara satuan PAUD dan pemangku kepentingan yang diinisiasi oleh kepala sekolah. Pada dasarnya, ragam kolaborasi tersebut untuk mewujudkan layanan PAUD yang berkualitas. Inovasi dan kreativitas kepala sekolah tersebut dideskripsikan dalam praktik baik.
Berbagai praktik baik kepala sekolah dalam mengelola satuan PAUD tersebut dituangkan dalam buku ini. Dengan menggunakan bahasa yang lugas dan mudah dipahami, tulisan para kepala sekolah ini mengajak pembaca berkelana, memahami dan mendalami situasi nyata yang dihadapi. Pembaca diajak berkelana jauh ke berbagai wilayah di Indonesia, dan menunjukkan semangat juang pantang menyerah. Tantangan yang dihadapi memang sangat bervariasi, dan banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik dari pengalaman nyata kepala sekolah.
Setiap tulisan dalam buku ini dirancang dengan pendekatan yang terstruktur melalui format STAR (Situasi, Tantangan, Aksi, dan Refleksi Hasil) untuk memberikan pengalaman membaca yang komprehensif dan mudah dipahami bagi pembaca. Tulisan dimulai dengan menyajikan situasi, menghadirkan latar
belakang atau konteks yang relevan dengan topik yang akan dibahas. Sesi ini bertujuan agar pembaca dapat meresapi kondisi nyata. Selanjutnya, tantangan-tantangan khusus yang dihadapi dalam konteks tersebut diuraikan dengan rinci, menciptakan pemahaman yang lebih mendalam terhadap kompleksitas masalah yang dihadapi.
Setelah membahas tantangan, tulisan berfokus pada aksi, di mana pembaca akan diberikan wawasan mendalam tentang strategi dan tindakan konkret yang diambil untuk mengatasi tantangan tersebut. Informasi ini disajikan secara terstruktur dan sistematis untuk memudahkan pembaca dalam memahami langkah-langkah yang diambil. Tulisan ditutup dengan sesi refleksi hasil, memungkinkan pembaca untuk mengevaluasi dan memahami dampak serta hasil dari strategi yang telah diterapkan.
Dengan menggunakan format penyajian ini, setiap tulisan diharapkan mampu memberikan pengalaman membaca yang menyeluruh, memandu pembaca melalui serangkaian konten yang terstruktur dan mudah dicerna. Pendekatan ini tidak hanya memberikan informasi mengenai situasi dan tantangan, tetapi juga memberikan pandangan jelas mengenai aksi dan hasil yang dapat memberikan inspirasi serta panduan praktis bagi pembaca. Sebagai sumber inspirasi, bahan masukan, dan alat pertimbangan, pembaca akan mendapatkan energi baru di setiap bagian dari buku ini untuk terus memberikan sumbangsih nyata dalam meningkatkan kualitas di sekolah-sekolah di Indonesia.
Setiap tulisan memiliki makna yang dalam, menyuguhkan berbagai karya baik yang dilakukan “dari hati”, sehingga membacanya akan membangkitkan motivasi bagi pembaca untuk berkarya bagi anak negeri. Karya baik ini akan menjadi warisan bagi generasi selanjutnya, dan juga memberikan gambaran perjalanan yang dilakukan oleh setiap kepala sekolah untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas bagi anak Indonesia.
Sim Salabim! Administrasi Asesmen PAUD Mudah dan Cepat Dengan
Inovasi Autocrat
Dinning Hayani, S.T.
Kelompok Bermain BAI Rumah Cendekia, Kabupaten Bogor,
Provinsi Jawa Barat [email protected]
SITUASI
Kelompok Bermain BAI Rumah Cendekia merupakan Pelaksana Program Sekolah Penggerak angkatan 2 dan mulai melakukan implementasi Kurikulum Merdeka sejak tahun ajaran 2022/2023. Sejak itu pula guru-guru dituntut untuk membuat asesmen sesuai Kurikulum Merdeka sebagai bagian dari pembelajaran yang berkualitas. Asesmen merupakan salah satu komponen yang penting dilakukan oleh guru untuk melihat sejauh mana capaian pembelajaran setiap siswa. Asesmen diperlukan sebagai bahan laporan perkembangan siswa kepada orang tua. Ini juga sebagai bahan perencanaan pembelajaran berikutnya agar pembelajaran berikutnya lebih berkualitas.
Ada berbagai kendala dan tantangan yang dihadapi oleh guru untuk mengadministrasikan hasil asesmen, yaitu:
- Beban pekerjaan guru cukup besar, baik sebagai profesional maupun pribadi. Diperlukan dukungan sarana dan metode yang efektif dan efisien agar tugas pendokumentasian asesmen dan tugas guru yang lain dapat ditangani dengan baik
- Intensitas pendokumentasian aktivitas harian siswa yang cukup tinggi
sehingga banyak dokumentasi foto terbengkalai untuk dimasukkan ke dalam lembar asesmen. Belum memadainya sistem database dan penyimpanan dokumentasi asesmen sering kali juga menyulitkan mencari, memilih dan memilah foto serta memori kamera HP pribadi yang digunakan menjadi terlalu penuh.
- Sebagian guru kurang mahir menggunakan laptop atau komputer untuk menyajikan lembar hasil asesmen. Mereka menggunakan energi cukup besar dan waktu cukup lama untuk membuat lembar hasil asesmen yang dilengkapi deskripsi analisis disertai dokumentasi foto untuk tiap siswa. Sejak pandemi kita telah dipaksa untuk melakukan transformasi menjadi era digitalisasi teknologi. Sebagai kepala lembaga, dirasa perlu untuk membantu para guru menghadapi kendala-kendala yang dihadapi tersebut. Maka dari itu, dibutuhkan inovasi untuk mengatasi kendala dan tantangan yang ada, agar memudahkan kerja guru serta meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja. Naskah ini menjelaskan tentang administrasi asesmen PAUD dapat dibuat dengan mudah dan cepat menggunakan program autocrat dan formula google spreadsheet. Selain sebagai salah satu media pengumpulan database asesmen, program inovasi ini juga dapat langsung menyajikan lembar-lembar hasil asesmen dilengkapi dengan dokumentasi pembelajaran dan analisis penilaian guru yang siap cetak.
AKSI
Pada awalnya berbagai kendala yang dihadapi guru dalam pengadministrasian asesmen membuat saya berpikir dan merenung: "Solusi apa yang bisa saya berikan untuk mengatasi masalah yang ada? Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu para guru mengatasi kesulitan yang dihadapi?". Setelah merenung, kemudian saya terinspirasi dari sertifikat digital yang saya terima setelah mengikuti sebuah webinar. Sertifikat itu secara otomatis dibuat dan dikirim ke alamat surel peserta/pengisi Google Form. Saya kemudian
mendapatkan ide untuk menggunakan cara yang sama dan memodifikasi dalam mengadministrasikan asesmen ini.
Setelah mempelajari lebih dalam proses tiap tahapan dan berkali-kali uji coba, ide tersebut berhasil menghasilkan lembar asesmen secara otomatis. Ide dan alur proses ini kemudian saya singkat menjadi INOVASI. I : Isi *Google Forms-*nya N : Nama siswa, tanggal, foto-foto, keterangan dan analisis penilaian jangan lupa dimasukkan O : Objektif dalam melakukan penilaian V : Validasi data-data yang sudah dimasukkan A : ***A**utocrat* akan bekerja dengan ajaib S : Sim salabim file lembar asesmen tersedia dan bisa langsung dicetak I : InsyaAllah pekerjaan menjadi mudah dan cepat selesai
Guru hanya perlu mengisi google form kemudian data dari google form akan diolah secara otomatis dalam google sheet menggunakan autocrat. Hasilnya langsung berubah menjadi dokumen atau file PDF yang dikirimkan ke alamat surel masing- masing guru dan dapat langsung dicetak. Langkah-langkah yang lakukan untuk membuat INOVASI tersebut secara sistematis dapat kita lihat dalam diagram berikut:
1 2 3 4 5
1. Google Form- Membuat Format Lembar Penilaian dan Memasukkan ke dalam Daftar Pertanyaan pada Google Form
Google form merupakan sebuah layanan yang memudahkan para pengguna dalam melakukan survei. Formulir berbasis online ini berbasis pada pertanyaan atau kuesioner yang bisa dicustom oleh para pembuatnya. (Siswanto; 2022) Umumnya, google form digunakan masyarakat untuk membuat kuesioner dengan bentuk formulir, misalnya daftar hadir. Selain itu, juga biasa dimanfaatkan untuk pengisian lembar kerja survei, penelitian, juga penilaian belajar siswa. Dalam hal ini google form kita manfaatkan untuk asesmen siswa PAUD oleh guru.
Pertanyaan-pertanyaan yang kita buat pada google form dapat disesuaikan dengan kebutuhan lembar asesmen. Nama siswa dapat dibuat list dropdown sehingga guru tidak perlu mengetik nama siswa. Guru hanya perlu memilih pada daftar nama yang sudah dibuat. Informasi tanggal dan kelas dapat diatur supaya tidak perlu mengetik manual, sehingga waktu yang dibutuhkan menjadi lebih singkat. Pertanyaan-pertanyaan yang lain dapat kita tambahkan sesuai data-data yang dibutuhkan untuk lembar penilaian.
| 2. | Google Docs Template | - Membuat kreativitas guru. Sebagai contoh, dilihat pada gambar di bawah ini: | masing sekolah. Dapat pula dibuat desain | Template catatan penting dan juga umpan balik. Contoh lembar | lembar penilaian atau asesmen, misalnya foto berseri beserta kolom keterangannya dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan masing- template berseri yang kami buat memuat data-data seperti judul penilaian (foto berseri, catatan anekdotal, hasil karya maupun yang lain), identitas siswa, tanggal, kegiatan main, juga gambar/foto, keterangan, analisis penilaian, | Lembar Penilaian di background | sederhana untuk penilaian foto | Google Docs yang menarik sesuai template dapat |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Nam a Kela | : | : <> | Foto Berseri | < > | ||||
| No 1 2 3 | Catatan Umpan balik Gambar <> <> <> | : : <> | : <> <> <> | Analisis Penilaian <> <> <> | ||||
| 9 |
3. Google Spreadsheet-Data dari Google Form Diolah dalam Google Spreadsheet
Data dari google form sebelumnya akan diolah dalam google spreadsheet. Untuk lembar penilaian yang tidak membutuhkan gambar tentu akan sangat mudah mengolahnya karena tidak diperlukan bahasa pemrograman/formula khusus pada cell judul kolom. Untuk lembar penilaian hasil karya dan foto berseri diperlukan bahasa pemrograman/formula khusus pada cell nya agar gambar-gambar dapat muncul dan berada pada tempat yang ditargetkan pada template secara tepat.
Untuk penyertaan foto/gambar, diperlukan formula yang ditempatkan pada bagian cell judul kolom. Formula ini akan membuat data/file gambar yang telah diunggah saat pengisian google form berada pada tabel lembar penilaian. Formula yang digunakan yaitu: =arrayformula(if(row(A:A)=1,"photoid1",substitute(D:D,"open?","thumbn ail?s z=w500&")))
Formula ini dapat disalin dan ditempel disesuaikan untuk kolom substitutenya dengan kolom link google drive tempat menyimpan foto yang akan diolah.
Autocrat- Data dalam Google Sheet akan Dipetakan sesuai Kebutuhan pada Template melalui Autocrat
Autocrat merupakan salah satu fitur tambahan (Add-on) yang tersedia di Google Spreadsheet yang dapat digunakan untuk membuat laporan dalam format file Word atau PDF dengan mekanisme mail merge, terkirim otomatis melalui email kepada responden. (Fathurrohman; 2021). Saat melakukan mapping atau pemetaan data dari google spreadsheet ke autocrat, kita harus teliti dan hati-hati agar program dapat berjalan dengan baik. Penulisan judul kolom harus sesuai dengan tagging pada template (kata dalam tanda << >>) agar lembar penilaian yang kita buat sesuai dengan template yang diinginkan.Pencetakan, Setelah program autocrat dibuat maka kita bisa atur apakah dokumen yang dibuat akan dilakukan running secara manual dalam periode tertentu atau otomatis masuk ke email guru masing-masing yang mengisi form. Apabila dokumen diatur untuk dapat dikirimkan ke email masing-masing, maka harus dipastikan alamat email yang diisikan oleh guru sudah tepat. Dan tidak perlu menunggu lama, hanya dalam hitungan beberapa detik setelah form dikirim maka file PDF akan langsung otomatis jadi dan bisa langsung dicetak. Tahapan cara membuat program automatis secara lebih detail sudah pernah saya dokumentasikan dalam link Youtube berikut: https://youtu.be/Mqgpij92InY?si=S-eGfxR98ZJlsKMA
TANTANGAN
Berbekal kemampuan membuat google form dan google docs sederhana, serta pernah belajar sedikit tentang bahasa pemrograman komputer di jenjang kuliah menjadi kekuatan. Dukungan dari para guru dan rekan sejawat juga memberikan motivasi untuk dapat menyelesaikan program INOVASI. Tantangan yang dihadapi saat akan membuat program INOVASI sebagai berikut.
- Mengubah data dari google form menjadi tampilan lembar penilaian sesuai template yang diinginkan
- Membuat lembar penilaian foto berseri yang berisikan gambar lebih dari satu pada template dari data google sheet dan kesulitan mendapatkan tutorialnya dari internet
- Membuat bahasa pemrograman komputer/formula di google spreadsheet agar dapat terbaca oleh autocrat dan diubah sesuai template yang diinginkan
- Melakukan trial berkali-kali agar foto-foto dapat muncul dan berada pada tempat yang diinginkan dengan ukuran yang pas Pihak-pihak yang terlibat dalam memecahkan masalah yang ada yaitu para guru, untuk memberikan masukan mengenai template penilaian yang akan dibuat juga suami sebagai teman diskusi saat membuat formula pada google spreadsheet. Asesmen merupakan komponen yang penting dilakukan guru untuk melihat sejauh mana Capaian Pembelajaran setiap siswa sebagai bahan laporan kepada orang tua juga sebagai bahan perencanaan pembelajaran berikutnya agar lebih berkualitas. Setelah melakukan trial selama satu pekan akhirnya saya mendapatkan formula bahasa pemrograman yang tepat untuk membuat lembar asesmen yang diinginkan. INOVASI ini sangat membantu guru dalam mengadministrasikan dokumentasi penilaian. Waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas administrasi penilaian menjadi semakin singkat. Saya melakukan pengamatan mengenai waktu yang dibutuhkan untuk membuat
dokumen foto berseri secara manual di komputer dengan menggunakan program ini adalah 6 berbanding 1. Pengamatan ini saya lakukan dengan sampel guru-guru saya. Misal dibutuhkan waktu 30 menit untuk membuat lembar penilaian secara manual dengan komputer, hanya dalam 5 menit pendokumentasian asesmen dapat dikerjakan dengan INOVASI ini. Guru juga dapat mengerjakan pengadministrasian asesmen sambil rebahan, duduk santai, dan dapat dikerjakan di mana pun dan kapan pun dengan telepon genggam selama ada jaringan internet.
REFLEKSI
Setelah program automasi dengan autocrat ini dibuat, guru-guru menjadi semakin mudah melakukan pengadministrasian asesmen. Guru hanya perlu mengisi google form, kemudian sim salabim file otomatis akan terbentuk dan dikirim ke email masing-masing dan tinggal dicetak apabila diperlukan. Praktik baik ini, kemudian juga saya sebarkan kepada rekan-rekan kepala sekolah dan guru PAUD di Kabupaten Bogor maupun di seluruh Indonesia melalui Youtube.
Ada beberapa PAUD lain yang kemudian mengadopsi program ini dan merasakan manfaatnya seperti KB yang di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Bogor dan TK Granada El-Fath Kecamatan Leuwisadeng Kabupaten Bogor. Pekerjaan guru menjadi mudah dan cepat. Guru dapat lebih memfokuskan diri untuk menciptakan pembelajaran yang berkualitas alih-alih sibuk membuat pengadministrasian asesmen. Pada bulan November 2023, beberapa rekan PAUD penggerak di Kabupaten Bogor meminta saya untuk berbagi praktik baik tentang automasi pendokumentasian asesmen ini. Selain untuk asesmen program ini juga dapat digunakan untuk mendokumentasikan modul ajar dan lainnya. Praktik baik INOVASI diharapkan dapat dirasakan manfaatnya oleh guru-guru di seluruh Indonesia agar waktu mereka tidak tersita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan administratif dan lebih banyak dipergunakan untuk menciptakan pembelajaran yang berkualitas.
“
Kepemimpinan bukanlah tentang menjadi yang terbaik. Kepemimpinan adalah tentang
membuat semua orang di sekitar Anda menjadi lebih baik.
- Jack Welch
“
“TEMPE” Teknologi Memudahkan
Pekerjaan
Fiska Arianti, S.Pd KB Al Jamil, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan [email protected]
SITUASI
Melaksanakan penilaian merupakan salah satu kewajiban yang harus dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran, yang bertujuan penilaian untuk mengetahui capaian perkembangan anak. Hasil penilaian dapat dimanfaatkan untuk menentukan program pembelajaran dan kegiatan yang akan dilakukan selanjutnya. Penilaian harus didukung oleh bukti tertentu yang benar sebelum membuat keputusan, sehingga tepat dalam menentukan aktivitas pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Kurikulum 2013 memberikan beberapa alternatif teknik penilaian, untuk mengetahui capaian kompetensi dasar anak, yaitu ceklis, catatan anekdot dan hasil karya. Kurikulum Merdeka juga memberikan beberapa alternatif teknik penilaian, antara lain catatan anekdot, hasil karya, ceklis dan foto berseri.
Gambar 1. Alat Penilaian Catatan Anekdot, Ceklis dan Hasil Karya yang digunakan dalam kurikulum 2013
Dalam melakukan penilaian guru hendaknya memiliki kemampuan dalam melakukan dan mendokumentasikan hasil pengamatan. Dalam praktiknya hal ini jarang dilakukan oleh guru karena melakukan penilaian otentik membutuhkan waktu lama. Guru lebih nyaman melakukan penilaian yang tradisional, seperti tes tertulis, memberi bintang, memberi nilai A, B atau C, dan kadang juga memberi penilaian dalam bentuk angka, karena dipandang tidak menyita waktu guru. Kemampuan mendokumentasikan hasil pengamatan sangat penting bagi guru dalam upaya melaporkan tingkat perkembangan anak secara akurat.
Sebelum ditetapkan menjadi sekolah penggerak, guru di KB Al Jamil melakukan penilaian dengan mendokumentasikan hasil observasi pada momen tertentu yang terlihat dalam kegiatan sehari-hari. Observasi dilakukan dimulai ketika anak datang sampai dengan anak pulang. Pencatatan dilakukan dengan menggunakan handphone (HP), baik berupa foto maupun
video. Setelah anak pulang, guru memasukkan hasil dokumentasi baik foto dan video ke dalam Drive kemudian baru membuat catatan analisis dari foto tersebut. Cara ini menyita waktu dan tenaga guru, akibatnya guru sering mengalami keterlambatan pulang ke rumah. Keterbatasan waktu berada di satuan membuat guru harus melakukan analisis hasil penilaian di rumah. Pengolahan data yang dilakukan tidak secara langsung berakibat data yang diperoleh sering tidak otentik karena kemungkinan ada hasil observasi yang tidak tercatat dan terlupakan. Data yang tidak otentik mempengaruhi kualitas dan akurasi laporan penilaian mingguan, bulanan, dan semester.
Gambar 2. Masalah Penilaian Perkembangan Anak
Berdasarkan uraian di atas, perlu mencari solusi untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan penilaian secara otentik dengan memanfaatkan aplikasi yang ditawarkan oleh penyedia aplikasi yang memanfaatkan teknologi informasi. Pemanfaatan aplikasi ini diharapkan dapat memudahkan guru dalam membuat catatan anekdot, foto berseri dan penjelasan hasil karya.
TANTANGAN
Dalam menerapkan praktik baik ini banyak tantangan yang dihadapi seperti masih banyak guru yang belum menguasai penggunaan teknologi. Hal ini
mengakibatkan guru tidak mampu segera mengimplementasikan solusi yang ditawarkan, sehingga masih mempertahankan metode lama, dan mengalami kendala waktu dalam menyelesaikan tugas sebagai guru. Harapannya adalah semua guru mendokumentasikan hasil penilaian dengan memanfaatkan aplikasi, akan tetapi belum bisa terwujud saat ini.
AKSI
Selama mengikuti kegiatan sekolah penggerak baik lokakarya maupun Pokja Manajemen Operasional (PMO), banyak hal baru yang didapatkan, terutama strategi dalam mengatasi tantangan yang hadapi dalam menjalankan program sekolah penggerak. Salah satu strategi adalah mengatasi tantangan yang dihadapi dengan melihat keunggulan para guru. Berdasarkan hal ini aksi yang dilakukan adalah menemukan keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh guru untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satu keunggulan guru di sekolah KB Al Jamil adalah mampu melakukan komunikasi yang positif dengan anak serta guru memiliki HP android.
Strategi lain adalah menemukan cara melakukan penilaian yang otentik, mudah, dan cepat yaitu dengan memanfaatkan aplikasi yang ada pada HP. Dalam aplikasi yang ada di HP banyak disediakan berbagai template yang menarik dan dilengkapi dengan fitur-fitur yang memudahkan kita dalam meng-input data. Template dokumen yang sudah ada kolom yang bisa menggunakan suara untuk menulis serta bisa memasukkan foto secara langsung dan yang paling menarik dokumen bisa tersimpan. Hal ini yang akan memudahkan kerja guru dan lebih efisiensi waktu. Guru bisa melakukan analisis sambil berbincang-bincang dengan anak dan langsung menulis analisis dan mengambil fotonya saat itu juga dan sudah masuk dalam kolom-kolom setiap nama anak.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk mengatasi tantangan ini adalah :
a. Langkah pertama, mengenalkan kepada guru tentang aplikasi yang bisa digunakan guru. Mengajarkan cara mengunduh aplikasi dalam HP android, kemudian mengenalkan fitur-fitur apa saja yang bisa digunakan yang akan membantu meringankan kewajiban guru dalam membuat penilaian otentik. Selanjutnya memberikan contoh cara penggunaan aplikasi tersebut untuk membuat catatan anekdot dan catatan foto berseri
b. Langkah kedua, guru melakukan praktik membuat catatan anekdot dan foto berseri menggunakan WPS Office. Setelah guru mendapatkan teori tentang penggunaan Aplikasi WPS Office, guru melakukan uji coba cara membuat catatan anekdot menggunakan WPS Office dan menyimpan hasil penilaian tersebut.
c. Langkah ketiga adalah mempraktikkan dalam pembelajaran dengan cara memberikan contoh posisi saat mengambil dokumentasi perkembangan anak serta teknik mencatat menggunakan suara yang tidak mengganggu aktivitas anak, seolah-olah kita berbicara kepada anak padahal kita sedang membuat catatan analisis perkembangan anak.
d. Langkah keempat adalah membuat rekapitulasi hasil penilaian; Setelah guru melakukan penilaian harian menggunakan WPS Office, saatnya guru membuat rekapitulasi capaian perkembangan yang muncul dari semua alat penilaian yang dilakukan baik dengan ceklis, catatan anekdot, hasil karya dan foto berseri.
Gambar 3. rangkaian aksi dalam implementasi kegiatan TEMPE
Untuk memastikan keberhasilan dilakukan evaluasi setiap minggu dengan meminta guru memasukkan hasil analisis laporan perkembangan anak ke dalam Drive bersama yang telah disiapkan. Pemanfaatan Drive bersama sangat membantu ketika melakukan diskusi di luar jam sekolah.
Gambar 4. Peran kepala sekolah dalam menyukseskan kegiatan TEMPE
Untuk kelancaran tugas ditetapkan koordinator komunitas belajar sekolah yang mengingatkan guru-guru untuk meningkatkan kompetensi dalam melakukan penilaian anak dengan belajar bersama modul asesmen PAUD di Platform Merdeka Mengajar (PMM).
REFLEKSI
Setelah menerapkan penggunaan berbagai aplikasi dalam membuat catatan penilaian perkembangan anak, banyak hal baik yang terjadi. Salah satunya guru telah melakukan penilaian secara otentik, karena catatan perkembangan langsung tercatat dan terdokumentasi secara langsung tanpa direkayasa oleh guru. Pembelajaran juga menjadi lebih baik lagi karena guru menyediakan kegiatan untuk esok hari berdasarkan dari penilaian yang dilakukan hari ini.
Gambar 5. Hasil Implementasi Kegiatan TEMPE
Melalui aplikasi yang ada di HP, guru lebih mudah dalam membuat catatan perkembangan anak baik berupa catatan anekdot maupun catatan foto berseri dengan format yang beragam dan menarik. Dengan rekap hasil analisis penilaian harian secara tepat maka penilaian mingguan, bulanan dan semester lebih mudah dilaksanakan dan dibuat. Dengan memanfaatkan teknologi guru tidak perlu menyediakan waktu khusus lagi untuk memikirkan
analisa dari dokumentasi foto-foto yang diambil karena sudah dilakukan saat pembelajaran sedang berlangsung.
Praktik baik ini juga sudah bagikan kepada sejumlah kepala sekolah yang ada dalam komunitas antar sekolah, organisasi mitra baik di kecamatan maupun di kabupaten Banyuasin. Selain kepala sekolah, para guru juga sudah membagikan teknik melakukan penilaian menggunakan aplikasi yang ada di HP seperti WPS Office, Canva dan Comica.
Gambar 6. Umpan balik dari pihak di luar satuan PAUD
Manfaat yang dirasakan dari praktik baik ini adalah anak menjadi lebih semangat dalam berkarya karena mereka melihat foto mereka di laporan mingguan yang dikirim ke Whatsapp (wa) orang tuanya. Orang tua yang awalnya tidak tertarik membaca hasil laporan anak yang berupa ceklis dan banyak kata-kata menjadi lebih penasaran dan lebih semangat membaca dan melihat dokumentasi perkembangan anak dengan bentuk template menarik ada rangkaian kegiatan anak dari awal sampai akhir dan ada ceritanya perjalanan belajar anak.
Gambar 7. observasi guru bersamaan dengan proses penilaian
SIMPULAN
- Penilaian merupakan proses mendeskripsikan secara apa adanya tentang perilaku yang ditunjukkan oleh anak. Untuk mencapai proses penilaian yang benar maka diperlukan kemampuan guru dalam melakukan penilaian tersebut. Guru harus mampu mencatat dan mendokumentasikan setiap perkembangan anak yang muncul setiap waktu selama kegiatan bermain sambil belajar.
- Untuk membantu guru dalam melaksanakan penilaian yang otentik dibutuhkan alat yang mudah digunakan salah satunya aplikasi WPS Office. WPS Office menyediakan berbagai macam fitur dan template yang dilengkapi dengan kolom-kolom atau bentuk lainnya. Guru tinggal memilih sesuai yang dibutuhkan.
- WPS Office mudah digunakan terutama membuat catatan menggunakan suara dan memasukkan foto secara langsung. Pemanfaatan aplikasi WPS Office mampu membantu meringankan kewajiban guru dalam melakukan penilaian otentik.
SARAN
Berdasarkan hasil positif yang dicapai oleh KB Al Jamil dalam meningkatkan kemampuan guru melakukan penilaian otentik dengan menggunakan aplikasi WPS Office, diharapkan hasil inovasi metode ini dapat menjadi rujukan bagi guru dan kepala sekolah lain terutama jenjang PAUD dalam melakukan penilaian terhadap capaian perkembangan anak sehingga kualitas hasil penilaian akan lebih baik atau lebih akurat dan pelaksanaannya lebih efisien.
Optimalisasi Pemanfaatan Lingkungan Sekitar dalam
Penyelenggaraan Pembelajaran Di Satuan PAUD
Aidha Artha Novayanty, S.Pd., M.Pd. BKB PAUD Tunas Beringin, Jakarta Timur, DKI Jakarta [email protected]
SITUASI
BKB PAUD Tunas Beringin merupakan sekolah penggerak angkatan 2 pada jenjang pendidikan anak usia dini yang berlokasi di RW. 010, Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. BKB PAUD Tunas Beringin berada di tengah perumahan masyarakat pinggiran perkotaan yang dibangun oleh Perum Perumnas (Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional) dan memberikan layanan bagi anak usia 3-6 tahun yang berada di lingkungan RW. 010 dan sekitarnya. Terdiri dari 2 rombongan belajar yaitu usia 3-4 tahun yang tergabung dalam Kelas Bulan dan usia 4-6 tahun yang tergabung dalam kelas matahari. Jumlah siswa yang dilayani kurang lebih 35 siswa per tahunnya.
Kegiatan pembelajaran dilaksanakan di kantor sekretariat RW, di atas lahan seluas 120 m², dengan bangunan 1 lantai yang terdiri dari ruang kantor, 1 ruang kelas yang dilengkapi dengan meja, kursi, boks anak, berbagai alat dan media loosepart serta audio, 1 ruang literasi yang dilengkapi dengan berbagai buku cerita dan ensiklopedi anak serta perlengkapan audio visual, kamar
mandi, tempat cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, dan halaman tempat bermain anak yang dilengkapi Alat Permainan Edukatif (APE) outdoor. TANTANGAN Sarana dan prasarana menjadi tantangan yang kami hadapi dalam proses penyelenggaraan pembelajaran. Keterbatasan ruangan mengakibatkan kurang maksimalnya kegiatan pembelajaran dalam kelas. Dalam menjawab tantangan ini, sebagai kepala satuan pendidikan, saya melakukan diskusi internal dengan seluruh pendidik dan tenaga kependidikan untuk mencari alternatif jalan keluarnya. Hal yang kami lakukan pertama kali adalah melakukan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Threats). Sebuah teknik analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang kami miliki. Berdasarkan hasil analisis tersebut, ditemukan bahwa terdapat kekuatan pada sumber daya alam dan potensi lingkungan di sekitar, yang dapat dimanfaatkan dan dikaitkan dengan penyelenggaraan pembelajaran. Tentunya terdapat perencanaan dan koordinasi yang perlu kami lakukan agar dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh lingkungan sekitar kami. Untuk itulah pada kesempatan ini kami akan berbagi praktik baik mengenai “Optimalisasi Pemanfaatan Lingkungan Sekitar dalam Penyelenggaraan Pembelajaran”.
AKSI
Pemanfaatan sumber daya alam di lingkungan sekitar selain menjadi solusi atas keterbatasan sarana dan prasarana juga memperkaya kurikulum BKB PAUD Tunas Beringin. Hal ini sejalan dengan visi BKB PAUD Tunas Beringin yaitu mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, kreatif, berakhlak mulia, cinta tanah air dan peduli terhadap lingkungan serta berwawasan global. Berikut adalah langkah- langkah yang kami lakukan dalam merealisasikan program “Optimalisasi Pemanfaatan Lingkungan Sekitar dalam Penyelenggaraan Pembelajaran” :
Koordinasi dengan Pejabat Lingkungan Sekitar Diskusi Internal PTK (Melakukan (RW, RT, DKM, LMK, Kelompok PKK, Analisis SWOT) Tokoh Masyarakat dan Orang tua Siswa)
Keterkaitan dengan Topik Alokasi Waktu, Jadwal dan Pembelajaran pada Kurikulum Pemanfaatan Ruangan
Pelaksanaan Kegiatan Evaluasi dan Refleksi Pembelajaran
- Diskusi internal pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) Diskusi internal dengan seluruh pendidik dan tenaga kependidikan BKB PAUD Tunas Beringin dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. Hal yang kami lakukan pertama kali adalah melakukan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Threats), sebuah teknik analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Berikut adalah hasil analisis SWOT yang sudah dilakukan.
| Analisa SWOT BKB PAUD Tunas Beringin | |||
|---|---|---|---|
| Strength (Kekuatan) | - Memiliki sumber daya alam yang merupakan fasilitas umum yaitu : Taman Beringin, Masjid Syajaratul Choir, Pendopo, Jalan perumahan lingkungan di lingkungan RW. 10. - Terdapat BKT dan RPTRA Bunga Rampai yang berlokasi di sekitar RW. 10. - Satuan pendidikan ini milik masyarakat, sehingga dapat melakukan sinergi dengan pejabat lingkungan sekitar dan masyarakat dengan lebih mudah. - Merupakan binaan dari kelompok PKK RW. 10 dan Bunda PAUD Kelurahan Malaka Jaya, sehingga dapat berkoordinasi dan menjalin kerja sama dalam pelaksanaan program-Pendidik, tenaga kependidikan dan sebagian besar orang tua/wali siswa merupakan bagian dari warga RW. 10 yang selalu siap memberikan dukungan pada program sekolah | ||
| Weakness (Kelemahan) | - Merupakan wilayah dengan luas terkecil di Kelurahan Malaka Jaya, sehingga sarana dan prasarana terbatas. - Berlokasi di kantor sekretariat RW. 10, yang memiliki luas sekitar 120m2 dengan sekitar 35 siswa setiap tahunnya. - Terbatasnya ruang kelas serta media pembelajaran yang digunakan. | ||
| Opportunities (Peluang) | - Dapat mengaitkan potensi lingkungan sekitar dengan kurikulum pembelajaran sehingga bermakna dan kontekstual-Bersinergi secara holistik integratif dengan lingkungan sekitar dalam mewujudkan visi satuan pendidikan 28 |
| Threats | - Perubahan struktur kepengurusan pejabat |
|---|---|
| (Ancaman) | lingkungan, menyebabkan harus segera melakukan koordinasi kembali agar program dapat berkelanjutan. - Renovasi/Perubahan pada fasilitas umum yang digunakan |
Koordinasi dengan pejabat lingkungan sekitar Berdasarkan hasil analisis SWOT tersebut, ditemukan bahwa kami memiliki kekuatan pada sumber daya alam dan potensi lingkungan di sekitar, yang dapat dimanfaatkan dan dikaitkan dengan penyelenggaraan pembelajaran, di antaranya adalah fasilitas umum berupa Taman Beringin, Masjid Syajaratul Choir, Pendopo, Jalan perumahan lingkungan di lingkungan RW. 10. Untuk memanfaatkan fasilitas umum tersebut, maka kami melakukan koordinasi dengan pejabat lingkungan sekitar. Langkah yang dilakukan dalam melakukan koordinasi adalah:
a. Kunjungan ke rumah Bapak RW untuk membahas mengenai tantangan yang dihadapi.
b. RW dan kepala satuan pendidikan mengundang seluruh pejabat di lingkungan sekitar yaitu RT, DKM, LMK, Kelompok PKK dan Tokoh Masyarakat untuk membahas mengenai rencana pemanfaatan fasilitas umum yang akan digunakan dalam penyelenggaraan pembelajaran dan rencana kegiatan kolaborasi antara siswa PAUD dengan masyarakat. Pada kesempatan tersebut terdapat pula sosialisasi mengenai pentingnya pendidikan bagi anak usia dini, serta peran masyarakat dalam menyukseskan program PAUD.
c. Kesepakatan dan persetujuan dari seluruh pihak terlibat.Alokasi waktu, jadwal dan pemanfaatan ruangan Setelah pihak terkait menyetujui pemanfaatan fasilitas umum yang akan digunakan oleh satuan pendidikan dalam proses pembelajaran, maka kepala satuan pendidikan memimpin rapat penyusunan alokasi waktu, jadwal dan pemanfaatan ruangan. Berikut kesepakatan hasil rapat.
Kelas : Kelompok Usia 4-6 tahun/Matahari
| Hari | Waktu | Lokasi | Kegiatan |
|---|---|---|---|
| Senin | Pkl. 08.00 – 11.00 | Taman & Ruang Kelas | Upacara & Bermain Belajar |
| Selasa | Pkl. 08.00 – 11.00 | Ruang Literasi & Ruang Kelas | Literasi & Bermain Belajar |
| Rabu | Pkl. 08.00 – 11.00 | Taman & Lingkungan Sekitar | Olahraga & Bermain Belajar |
| Kamis | Pkl. 08.00 – 11.00 | Masjid/ Pendopo | Keagamaan & Bermain Belajar |
| Jumat | Pkl. 08.00 – 10.30 | Ruang Kelas | Bermain Belajar |
Kelas : Kelompok Usia 3-4 tahun/Bulan
| Hari | Waktu | Lokasi | Kegiatan |
|---|---|---|---|
| Selasa | Pkl. 08.00 – 09.30 | Ruang Kelas | Literasi & Bermain Belajar |
| Rabu | Pkl. 08.00 – 09.30 | Taman | Olahraga & Bermain Belajar |
| Kamis | Pkl. 08.00 – 09.30 | Ruang Kelas | Bermain Belajar |
| Jumat | Pkl. 08.00 – 09.30 | Ruang Literasi | Keagamaan & Bermain Belajar |
- Keterkaitan dengan topik pembelajaran pada kurikulum Pemanfaatan fasilitas umum dan lingkungan sekitar kemudian dikaitkan dengan kurikulum, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan konstektual. Siswa-siswi dapat melakukan petualangan dari setiap topik yang dibahas. Berikut adalah topik
yang di bahas dalam intrakurikuler dan proyek penguatan profil pelajar Pancasila yang dilaksanakan.
| Pembelajaran Intrakurikuler | Alokasi Waktu | ||
|---|---|---|---|
| Semester 1 Topik : | |||
| ● ● ● ● ● Topik : | Aku ciptaan Allah Aku anak Indonesia Ayah dan Ibu Idolaku Isi piringku Buku kesukaanku Semester 2 | Semester 1 : 13 Minggu | |
| ● ● ● ● ● | Ke mana perginya Air Kucing yang lucu Semut kuat Ramadhan Ceria Kreasiku Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila | Semester 2 : 13 Minggu Alokasi Waktu | |
| Semester 1 | Tema Besar : Aku Sayang Bumi Topik : Taman Impian kami Peringatan Hari : Hari Menanam Pohon Indonesia, 28 November | Semester 1 : 3 Minggu | |
| Juni | Semester 2 | Tema Besar : Aku Cinta Indonesia Topik : Cerita di balik Ondel–ondel Peringatan Hari : HUT DKI Jakarta, 22 | Semester 2 : 3 Minggu |
- Pelaksanaan kegiatan pembelajaran Pembelajaran dilakukan dengan bermain menggunakan model pembelajaran kelompok dan proyek. Anak dapat berkarya sesuai dengan ide dan imajinasinya setelah melakukan observasi dan eksplorasi terhadap diri dan sumber belajar yang ada lingkungan sekitar serta informasi dan literasi dari berbagai sumber berdasarkan topik yang dibahas. Dalam pemanfaatan lingkungan sekitar, satuan pendidikan juga menghadirkan narasumber yang berasal dari lingkungan sekitar seperti pada topik “Aku Ciptaan Allah, sub topik “Kebersihan dan Kesehatan Diri”, satuan bekerja sama dengan kader jumantik untuk menjaga kebersihan di lingkungan rumah. Siswa siswi turut berkeliling bersama dengan kader, untuk melakukan pemeriksaan jentik dari rumah ke rumah dengan membawa perlengkapan. Demikian pula pada topik “Ke mana Perginya Air”, siswa siswi melakukan kegiatan mencuci kaos kaki dan membuang air kotor di selokan, lalu mengikuti perginya air kotor sampai ke kali yang terletak di pinggir perumahan. Terdapat pula kegiatan menyiram tanaman sayur yang ditanam di taman sampai panen dan memanfaatkan air bersih untuk memasak sayuran yang di panen.
- Evaluasi dan refleksi Kepala satuan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap program yang dilaksanakan satu kali setiap bulan. Refleksi tersebut kemudian menjadi dasar dalam menyempurnakan program selanjutnya. Pada setiap akhir semester dilakukan pula evaluasi terhadap efektivitas dan dampak dari program yang dilaksanakan, untuk menjadi dasar dalam menyusun program selanjutnya. Dampak dari program yang dilaksanakan di antaranya :
a. Menjadi solusi dari terbatasnya sarana prasarana yang dimiliki
b. Siswa siswi dapat bermain dan berpetualang dalam setiap topik yang dibahas
c. Pembelajaran menjadi bermakna dan kontekstual serta peserta didik dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.
d. Kesadaran masyarakat bahwa setiap orang adalah guru dan seluruh lingkungan adalah sekolah
e. Penghargaan yang didapatkan oleh satuan di antaranya apresiasi menulis cerita tingkat DKI Jakarta, apresiasi pembuatan media tingkat Jakarta timur dan finalis lomba literasi tingkat DKI Jakarta.
REFLEKSI
Pemanfaatan lingkungan sekitar dalam penyelenggaraan pembelajaran bukan hanya menjadi solusi dalam menjawab tantangan akan keterbatasan sarana prasarana, tetapi juga memberikan dampak pembelajaran yang bermakna dan kontekstual bagi peserta didik BKB PAUD Tunas Beringin melalui kegiatan belajar melalui bermain. Memberikan kesadaran bahwa peserta didik merupakan bagian dari masyarakat yang perlu memiliki kepekaan dan empati terhadap lingkungan, bangga terhadap potensi sumber daya alam yang ada di sekitarnya dan dapat berkontribusi serta bersinergi dan berkolaborasi untuk memelihara serta memanfaatkan potensi tersebut dengan lebih baik.
Menjadi pemimpin yang kuat bukanlah tentang posisi atau kekuasaan, tapi tentang
tindakan.
- Robin Sharma -
“
“SINTA”
Stimulasi Pembelajaran Di TPA yang Menyenangkan dan Bermakna
Astried Yanuarti Lofa, S.Psi TPA Arraisyah, Kab. Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung [email protected]
SITUASI
PAUD TERPADU ARRAISYAH adalah lembaga pendidikan anak usia dini yang telah berdiri sejak tahun 2008 dan selalu berusaha untuk memberikan pelayanan pendidikan yang berkualitas dan profesional terhadap tumbuh kembang anak. Dengan konsep pendidikan modern dan islami serta kurikulum pembelajaran yang relevan dengan perkembangan pendidikan anak usia dini saat ini, yang mana kurikulum disusun sendiri oleh tim pengembang kurikulum sehingga menjadi kurikulum khas. PAUD Terpadu Arraisyah memiliki tiga program di dalamnya, yaitu Kelompok Bermain (KB), Taman Kanak-Kanak (TK) dan Taman Penitipan Anak (TPA). Taman Penitipan Anak (TPA) Arraisyah mulai berdiri sejak tahun 2010. Saat itu Taman Penitipan Anak (TPA) hanya memberikan layanan penitipan dan pengasuhan anak saja. Dengan kata lain saat anak dititipkan di Taman Penitipan Anak (TPA) anak hanya mendapatkan pengasuhan seperti, pemberian makan pagi, tidur siang, makan sore, bermain bebas, mandi sore dan setelah itu menunggu jemputan mama dan papa pada sore harinya.
Taman Penitipan Anak (TPA) itu identik dengan kegiatan pelayanan pengasuhan untuk anak usia 3 bulan sampai dengan 6 tahun. Masih jarang ada Lembaga Penitipan Anak yang memberikan stimulasi pembelajaran khususnya di Kabupaten Bangka Tengah, seperti halnya pada pelayanan program kelompok bermain (KB) ataupun taman kanak-kanak (TK). Kami percaya setiap anak itu dilahirkan unik dan sebaik-baiknya seseorang adalah menjadi yang terbaik dari dirinya (be the best of themselves) dan pendidikan usia dini 0-6 Tahun (the golden age) merupakan langkah awal dalam kehidupan seseorang.
Rata-rata di dalam Taman Penitipan Anak (TPA), orang tua menitipkan anaknya mulai dari pukul 07.00-16.00, sehingga sekitar 9 jam anak akan berada dalam Taman Penitipan Anak (TPA). Setelah itu anak pulang ke rumah bersama orang tua, melakukan aktivitas bersama dan tidur. Jika aktivitas bersama yang dilakukan anak dan orang tua saat di rumah berkualitas, misalnya orang tua memberikan stimulasi pembelajaran saat di rumah, mengajak anak bermain yang bermakna, hal itu akan berdampak baik untuk perkembangan anak, namun jika orang tua sudah merasa kelelahan dan hanya mengajak anak bermain seadanya kemudian langsung mengajak anak tidur, hal tersebut juga akan berdampak kurang baik untuk perkembangan anak. Anak menjadi kurang mendapatkan stimulasi yang seharusnya didapatkan di usia tersebut.
Apa yang terjadi jika anak hanya mendapatkan proses pelayanan pengasuhan saja?. Seperti penjelasan di atas, anak hanya makan, tidur, mandi lalu pulang. Oleh sebab itulah maka anak yang dititipkan di Taman Penitipan Anak (TPA) terutama usia 3-24 bulan pun mereka memiliki hak yang sama untuk mendapatkan stimulasi pembelajaran sehingga perkembangan anak dapat optimal.
Hal tersebut menjadi tantangan untuk saya membuat suatu inovasi yang dapat membuat anak yang dititipkan di Taman Penitipan Anak (TPA) tetap mendapatkan haknya untuk mendapatkan stimulasi sesuai dengan usia perkembangannya. Saya berpikir TPA pun harus bisa memberikan stimulasi pembelajaran pada setiap anak yang dititipkan. Stimulasi pembelajaran yang dirancang, direncanakan dengan baik, memiliki format asesmen, rapor sebagai bentuk pertanggungjawaban atas stimulasi yang diberikan kepada orang tua dan yang terpenting inovasi tersebut haruslah konsisten dilakukan.
TANTANGAN
Terdapat hambatan dalam mengaplikasikan inovasi SINTA ini. Dalam kurun waktu tujuh tahun tersebut inovasi SINTA melakukan dua kali perombakan kurikulum, tahun awal 2016-2022 proses stimulasi pembelajaran SINTA masih menggunakan kurikulum 2013, dan mulai tahun 2023 ini mulai menggunakan Kurikulum Merdeka. Cukup banyak penyesuaian yang dilakukan pada proses stimulasi pembelajaran ini akibat adanya perubahan kurikulum. Faktor kemampuan TIK yang dimiliki oleh guru TPA yang dinilai kurang juga berpengaruh, sehingga membutuhkan perjuangan untuk mengubah format dari Kurikulum 2013 menjadi Kurikulum Merdeka, ada pula faktor motivasi guru Taman Penitipan Anak (TPA) yang masih naik turun dalam melaksanakan kegiatan SINTA ini.
Perubahan kurikulum yang terjadi tidak melunturkan semangat untuk tetap konsisten melakukan inovasi SINTA ini. Perlahan melakukan perubahan kurikulum, menyesuaikan langkah dengan kemampuan TIK yang dimiliki guru Taman Penitipan Anak (TPA) Arraisyah, saling bantu membantu dalam hal penggunaan TIK, meminta bantuan kepada rekan sejawat lain yang lebih mahir dalam menggunakan TIK, saling menyemangati untuk tetap konsisten melakukan inovasi SINTA dan step by step secara bersama-sama dan perlahan berupaya menyesuaikan Kurikulum 2013 menjadi Kurikulum Merdeka.
Dengan perubahan kurikulum ini, guru mulai belajar untuk membuat modul ajar yang di dalamnya terdapat tiga kegiatan main dalam satu harinya. guru mulai belajar memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih kegiatan main yang akan mereka lakukan sesuai dengan minat dan ide mereka. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk memberikan kebebasan anak untuk merdeka belajar. Guru tetap konsisten melakukan asesmen terhadap anak. Kami saling memotivasi, bertukar pikiran jika ada hambatan yang terjadi selama inovasi SINTA ini dilakukan.
Dari semua tantangan, hambatan tersebut dengan kebersamaan, kolaborasi dan juga konsistensi inovasi SINTA tetap masih kami laksanakan sampai hari ini. Beragam pembiasaan sederhana pun mulai ditambahkan pada kegiatan pembelajaran, seperti contohnya kegiatan mengenalkan praktik shalat, mengenalkan literasi dengan mengajak anak membaca buku cerita di perpustakaan sekolah yang semuanya dilakukan pada anak usia 3-24 bulan di Taman Penitipan Anak (TPA) Arraisyah.
AKSI
Dalam melakukan inovasi ini saya melibatkan banyak pihak antara lain yayasan, guru TPA dan juga pengelola PAUD Terpadu untuk bertukar pikiran, mencari cara dan format yang tepat untuk memberikan stimulasi pembelajaran pada anak usia TPA. Sehingga Taman Penitipan Anak (TPA) Arraisyah tetap dapat memberikan hak anak untuk mendapatkan stimulasi pembelajaran di usia emasnya.
Berdasarkan hasil diskusi, bertukar pikiran tersebut tepat di tahun 2016 muncullah kegiatan pembelajaran yang dilakukan pada program Taman Penitipan Anak (TPA) usia 3-24 bulan. Saya menamakannya SINTA. Sinta adalah kepanjangan dari “Stimulasi Pembelajaran TPA Arraisyah”. Inovasi ini terdiri dari dua kegiatan inti yaitu :
- Stimulasi perkembangan motorik dengan pijat sehat untuk anak usia 3-17 bulan
- Stimulasi pembelajaran untuk anak usia 18-24 bulan Pertama adalah stimulasi perkembangan motorik dengan melakukan pijat sehat untuk anak usia 3-17 bulan. Kegiatan pijat sehat ini rutin dilakukan setiap satu minggu sekali, tepatnya di setiap hari senin. Bunda Guru Taman Penitipan Anak (TPA) yang melakukan pijat sehat ini sebelumnya diberikan bekal mengenai pelatihan baby spa, bagaimana tahapan dan proses pemijatan dilakukan secara baik dan tepat untuk anak. Saya sendiri selaku pengelola Taman Penitipan Anak (TPA) juga sudah memiliki sertifikat pijat bayi yang dikeluarkan oleh Lembaga pijat sehat nasional. Banyak manfaat yang dapat kita peroleh dari pemberian stimulasi pijat sehat ini, di antaranya dapat membantu anak untuk lebih rileks, mengurangi kembung dan kolik (sakit perut), merangsang fungsi pencernaan serta pembuangan, karena pijat dapat membantu meredakan gejala kembung dan memperlancar udara di perut. Respons orang tua dengan adanya kegiatan pijat sehat ini, orang tua yang anaknya dititipkan di Taman Penitipan Anak (TPA) mengatakan jika setelah dipijat anaknya menjadi lebih cepat tidur dan lebih lelap saat tidur di malam hari. Orang tua sangat senang dengan adanya kegiatan pijat sehat ini. Inovasi yang kedua adalah stimulasi pembelajaran untuk anak usia 18-24 bulan. Stimulasi pembelajaran ini dilakukan tiga kali dalam satu minggu, yaitu setiap hari Selasa, Rabu dan Kamis. Kegiatan stimulasi pembelajaran ini disusun sedemikian rupa mengikuti Kurikulum Merdeka, terdiri dari modul ajar dan juga ada rencana asesmen dan rapor pada setiap akhir semester. Setiap pembelajaran terakomodir dalam empat topik pembelajaran. Pemilihan topik ini disesuaikan dengan hal yang paling dekat dan menarik untuk anak usia 18-24 bulan. Setiap hari anak-anak akan bermain sebanyak tiga kegiatan main yang telah disusun oleh Guru yang terdapat pada modul ajar. Setiap hari guru akan melakukan proses asesmen pada ketiga kegiatan
yang dilakukan oleh anak, asesmen ini akan berujung pada penulisan rapor yang nantinya akan disampaikan kepada orang tua setiap satu semester satu kali. Dengan demikian orang tua dapat melihat progres perkembangan dari anaknya.
REFLEKSI
Dengan kegiatan stimulasi pembelajaran yang telah dilakukan di Taman Penitipan Anak (TPA) Arraisyah, orang tua memberikan respons yang baik. Orang tua merasakan jika anaknya lebih mudah diajak untuk berkomunikasi, lebih mudah jika mengenalkan aturan baru, mengajak untuk melakukan hal baru, lebih mudah bersosialisasi dengan lingkungan yang baru dan juga menjadi lebih kreatif.
Dalam melakukan kedua inovasi SINTA tersebut tentu saja sangat dibutuhkan dukungan dari Guru, rekan sejawat dan juga orang tua sangat dibutuhkan. Dukungan fasilitas dan juga perlengkapan bermain pun dibutuhkan. Motivasi dan kreativitas Guru Pun jadi faktor pendukung. Dengan inovasi ini Guru menjadi lebih kreatif dalam memberikan pelayanan pembelajaran pada anak usia 3-24 bulan, Guru TPA meningkat kompetensi pedagoginya karena saat ini Guru tidak hanya memberikan pelayanan pengasuhan saja namun memberikan pula stimulasi pembelajaran.
Tujuh tahun kurang lebih inovasi pembelajaran SINTA ini saya lakukan. Teman sejawat dan juga orang tua memberikan respons yang baik. Orang tua merasa senang karena walaupun anaknya dititipkan di Taman Penitipan Anak (TPA), anak tetap mendapatkan haknya untuk menerima stimulasi pembelajaran agar mengoptimalkan perkembangan anak, orang tua mendapatkan rapor hasil perkembangan anaknya tiap akhir semester, orang tua dapat bertukar pikiran saat kegiatan pembagian rapor tersebut mengenai perkembangan anaknya selama dititipkan di Taman Penitipan Anak (TPA). Pihak sekolah pun merasakan kebermanfaatan adanya inovasi SINTA ini yang menjadikan nilai
lebih dari TPA Arraisyah, memiliki kurikulum khas yang meningkatkan daya jual dari program Taman Penitipan Anak (TPA). Promosi dari setiap orang tua yang merasakan puas dengan pelayanan di Taman Penitipan Anak (TPA) pun menambah promosi langsung dari mulut ke mulut sehingga jumlah anak TPA semakin bertambah. Guru semakin termotivasi untuk mencari kegiatan main yang seru, menyenangkan dan sesuai untuk anak usia 3-24 bulan. Semoga tulisan mengenai inovasi pembelajaran PAUD ini bisa menginspirasi dan bermanfaat untuk pelayanan di Taman Penitipan Anak (TPA) lainnya.
"Kepemimpinan efektif bukan tentang membuat pidato atau menjadi populer;
kepemimpinan adalah mendefinisikan diri sendiri dan menjadi nilai."
- Peter Drucker
Membangun Jiwa Sosiopreneur melalui Program “PAWON
BOCAH”
Sri Suratiyah, S.Ikom., M.Psi. KB Bintang – Bintang, Kabupaten Bantul, Provinsi D.I Yogyakarta [email protected]
SITUASI
Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses yang fundamental bagi kehidupan selanjutnya, sehingga usia 0-6 tahun disebut sebagai masa golden age atau masa emas, saat sel-sel otak berkembang dengan pesat. Dalam ilmu psikologi, perkembangan otak yang paling optimal pada usia dini adalah perkembangan otak tengah atau disebut limbik. Otak limbik adalah mengatur tentang emosi atau rasa. Oleh karena itu sangat tepat apabila dalam masa ini yang paling penting untuk dikenalkan tentang hal-hal yang baik, kebiasaan yang baik, mengelola emosi anak sehingga membentuk karakter mulia. Tiga pusat pendidikan yang mampu membangun karakter anak dengan ideal adalah keluarga, sekolah dan masyarakat.
Namun, pandemi yang melanda Indonesia sejak tahun 2020 sampai 2022 telah membuat anak kehilangan masa belajar di sekolah dan lingkungan sekitarnya. Anak lebih banyak mendapatkan pengasuhan dan sumber belajar hanya melalui gadget atau hanya dilihatkan pada konten-konten di televisi, Youtube, dan lain-lain*.* Hal tersebut yang membuat anak menjadi lebih cuek dan kurang peka terhadap lingkungan. Hubungan orang tua dengan anak juga
mengalami perubahan. Fenomena yang sering terlihat yaitu, orang tua dan anak sibuk dengan gadgetnya, atau orang tua yang spontan memberikan gadget ketika anaknya rewel. Gadget dianggap sebagai solusi ketika anak-anak sudah mulai lepas kendali. Orang tua kemudian lalai memberikan waktu berkualitas untuk anak.
Tak bisa dipungkiri, perkembangan teknologi yang luar biasa, membuat anak memasuki era digital. Hal tersebut memberikan kontribusi dalam proses perkembangan kehidupan mereka. Hal ini sungguh tidak dapat terelakkan termasuk juga terjadi di lembaga kami. Pada tahun ajaran 2022/2023, masa transisi dari pembelajaran daring ke pembelajaran tatap muka, kami mendapati fenomena anak yang minim rasa percaya diri, kurang semangat di kelas, lebih familier dengan konten Tiktok serta kurang peduli terhadap teman dan lingkungan sekitar. Hal ini tentu berpengaruh terhadap atmosfer yang dibangun di kelas atau di lembaga. Fenomena tersebut terjadi diperkirakan karena:
a. Kurangnya kesadaran orang tua mengenai pentingnya memberikan teladan perilaku positif, termasuk memberikan waktu berkualitas untuk anak. Orang tua lebih banyak memberikan HP sebagai solusi ketika perilaku anak sudah di luar kendali
b. Pasca pandemi anak kurang memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar karena sumber belajar kebanyakan dari media sosial
c. Keterbatasan dana dan kemampuan lembaga untuk menciptakan program yang menarik untuk anak-anak dan orang tua. Oleh karena itu perlu dicari sumber permasalahan dan solusinya. Untuk mengatasi fenomena tersebut perlu dilakukan intervensi dengan memberikan pemahaman mengenai pentingnya waktu berkualitas untuk anak dan menciptakan lingkungan yang memberikan teladan positif pada anak usia dini. Selain itu memberdayakan orang tua untuk terlibat dalam program yang melibatkan orang tua dan anak untuk berkolaborasi.
Untuk mengatasi keprihatinan terjadinya fenomena sebagaimana disebutkan di atas adalah mengimplementasikan program pawon bocah.
TANTANGAN
Tantangan yang dihadapi dalam menjalankan inovasi ini adalah:
a. Pada awalnya lembaga tidak memiliki cukup anggaran untuk kegiatan tersebut.
b. Wali murid yang sibuk bekerja sehingga cukup kesulitan menentukan hari pelaksanaan program.
c. Lembaga belum memiliki peralatan memasak yang lengkap sehingga ketika 3 kelompok memasak bersama harus meminjam kompor dan alat yang lainnya.
AKSI
Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara menyebutkan tentang Panca Dharma, yaitu pendidikan hendaklah berlandaskan kemanusiaan, kodrat alam, kemerdekaan, kebangsaan dan kebudayaan. Untuk dapat melaksanakan panca dharma secara ideal, pendidikan hendaklah melibatkan 3 pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Program Pawon Bocah terinspirasi dari konsep Ki Hajar Dewantara, maka lembaga bekerja sama dengan universitas terdekat yaitu Universitas Mercu Buana Yogyakarta untuk berdiskusi dan membangun relasi. Dari hasil diskusi tersebut, tercetuslah sebuah ide mengenai program pawon bocah dalam konteks mengenalkan jiwa sociopreneur untuk anak usia dini.
Konsep Sociopreneur
Sociopreneur adalah menjalankan sebuah usaha untuk membantu kehidupan sosial dengan pendekatan kewirausahaan. Penekanan atau highlight dari sociopreneur adalah memberikan pengalaman dan kesadaran mengenai pentingnya berbagi dengan orang lain. Keuntungan atau laba yang didapat
dari hasil wirausaha bersama sebagian adalah hak dari orang-orang yang membutuhkan di sekitar kita sehingga harus didistribusikan untuk mereka.
Kenapa dinamai Pawon Bocah?
Pawon adalah dapur, dimana diasumsikan dengan kegiatan memasak. Bocah adalah anak. Pawon Bocah adalah sebuah upaya untuk menciptakan kerja sama orang tua dengan anak dan guru untuk membuat produk makanan tradisional yang nantinya akan dijual di puncak acara yaitu Pasar Bocah, yang sebagian keuntungan akan disumbangkan untuk bakti sosial.
Gambar 1. Program Pawon Bocah Berbasis Sociapreneur
Dalam kegiatan pawon bocah semua pihak yang terlibat, dan akan belajar secara mandiri dan merdeka.
Gambar 2. Prinsip program pawon bocah
Manfaat dari program ini adalah :
- Anak-anak belajar proses mulai dari menentukan masakan yang dibuat, bahan – bahan, pengemasan.
- Anak-anak belajar mengenai teknologi dan media untuk memasak mulai tungku sampai kompor gas.
- Wali murid dan guru belajar mengenai penggunaan teknologi digital untuk membuat label dari aplikasi Canva.
- Wali murid dan guru belajar mengenai cara promosi dan pemasaran (marketing) melalui media sosial.
- Orang tua dan anak memiliki kegiatan bersama yang menyenangkan artinya menciptakan waktu berkualitas untuk orang tua dan anak.
- Orang tua dan anak sama-sama mendapatkan pengetahuan, pengalaman, dan ketrampilan yang baru.
Lembaga bekerja sama dengan pemangku kepentingan (stakeholder) untuk menciptakan suasana dan komunitas belajar yang merdeka dan menyenangkan untuk warga sekolah.
Lembaga berkontribusi untuk terlibat dalam pembangunan masyarakat sekitar. Langkah awal yang dilakukan untuk mengatasi kendala :
- Lembaga mengajak dan bekerjasama dengan universitas terdekat untuk berkolaborasi.
- Waktu pelaksanaan dibuat di hari sabtu ketika sebagian besar orang tua libur bekerja
- UMBY memberikan stimulan dengan menyediakan peralatan memasak, kompor, dan fasilitas lain seperti topi chef, apron dan bahan bahan yang akan dipakai. Persiapan yang dilakukan untuk menyukseskan kegiatan pawon bocah sebagai berikut:
- Sosialisasi untuk orang tua bekerja sama dengan UMBY berupa seminar yang melibatkan orang tua anak, dan guru dibagi dalam 3 kelompok kecil.
- Masing-masing kelompok membuat satu jenis makanan dan minuman tradisional
- Pendampingan untuk wali murid dan anak untuk menentukan makanan/produk yang akan dibuat, termasuk pembuatan label dan cara mengemas yang ramah lingkungan.
- Memutuskan hasil keuntungan jualan akan didonasikan untuk siapa.
- Kunjungan ke tempat yang sudah menerapkan sociopreneur untuk belajar langsung dari sumbernya.
- Uji coba pawon bocah dengan memasak yang hasilnya untuk uji publik kelayakan rasa, packaging, dan rencana promosi.
Gambar 3. Persiapan Program Pawon Bocah
Pelaksanaan kegiatan sebagai berikut.
- Pada hari H, hasil atau produk dipasarkan di acara Pasar Bocah. Acara tersebut melibatkan stakeholder, masyarakat sekitar dan warga sekolah.
Hasil keuntungan dari pasar bocah, dibelikan bingkisan dan anak anak berkunjung ke warga tujuan yang sudah diputuskan untuk diberikan bantuan dari hasil keuntungan yaitu warga disabilitas dan kampanye literasi untuk anak usia dini.
Gambar 4. Pelaksanaan Pawon Bocah
Pelaksanaan Pawon Bocah seri 1 telah dilaksanakan pada bulan November tahun 2022 Pawon bocah seri 2 telah dilaksanakan pada bulan Agustus tahun 2023.
REFLEKSI
Manfaat dari kegiatan pawon bocah ini adalah:
- Anak-anak mendapatkan pengalaman berharga bersama orang tua.
- Lembaga mewujudkan visi dan misi menjadikan sekolah sebagai lingkungan belajar untuk semua warga sekolah dan berkontribusi pada pembangunan masyarakat.
Gambar 5. Hasil Kegiatan Pawon Bocah
Dampak dari kegiatan pawon bocah ini adalah:
- Dampak psikologis
- Anak dan orang tua memiliki ikatan yang kuat.
- Anak – anak bersemangat ketika di sekolah.
- Pihak sekolah dan wali murid memiliki relasi yang hangat dan kuat.
- Dampak pendidikan
Warga sekolah mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru.
Untuk lembaga menjadi tempat penelitian dan pengabdian masyarakat bagi mahasiswa dan dosen jurusan Psikologi dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
- Meningkatnya minat belajar baik wali murid, anak, guru
- Bertambahnya ketrampilan membuat desain label, mengemas produk dll.
- Dampak sosial
- Relasi lembaga dengan wali murid dan masyarakat semakin terjalin baik.
- Dukungan dan masyarakat meningkat terhadap lembaga.
- Mendapatkan kunjungan dari Ibu Bupati beserta kepala dinas Dikpora, kepala dinas Dispusip dan kepala dinas PLKB.
Gambar 6 : Refleksi dan tindak lanjut kegiatan pawon bocah
“Pimpin dari belakang dan biarkan orang lain percaya bahwa mereka ada di depan.”
– Nelson Mandela -
Warmin (Waktunya Orang Tua yang Bermain) Solusi Membuka Kesadaran Wali Murid akan
Pentingnya Merdeka Bermain bagi Pembelajaran di PAUD
Ika Nova Sari, S.Pd TK Muslimat NU, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur [email protected]
SITUASI
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah fondasi awal pendidikan yang paling penting bagi anak untuk penanaman karakter. Pembiasaan serta pemberian pembelajaran yang bermakna akan berpengaruh untuk perkembangan anak pada jenjang selanjutnya, bahkan bisa berimbas pada kehidupan anak saat mereka dewasa kelak. Pada usia dini anak berada pada masa keemasan, di mana pada fase itu pertumbuhan dan perkembangan anak berkembang dengan pesat. Ketika stimulasi yang diberikan salah atau kurang tepat maka dampaknya bisa jadi tidak langsung tampak, namun baru akan muncul bertahun-tahun kemudian pada saat mereka sudah berada di jenjang pendidikan atas atau ketika mereka sudah menginjak usia dewasa. Pendidikan Anak Usia Dini tidak bisa disamakan dengan sistem pendidikan jenjang yang lebih tinggi yaitu jenjang SD. Pada anak pada jenjang SD sudah lebih fokus dalam menyerap materi pelajaran yang lebih kompleks, seperti penguasaan membaca, menulis, dan berhitung untuk jenjang SD.
Strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini adalah dengan pembelajaran yang bermakna melalui bermain. Melalui bermain anak
akan banyak mendapat pengalaman. Mereka akan dapat bereksperimen menemukan hal baru, bisa bereksplorasi, dan lebih bebas berekspresi menirukan hal-hal yang ada di lingkungan sekitarnya. Hal yang terpenting pada anak pada usia dini akan belajar dengan penuh kebahagiaan tanpa adanya rasa keterpaksaan. Strategi ini sejalan dengan program Kemendikbudristek yang tertuang pada Kurikulum Merdeka.
Pemahaman akan pentingnya pembelajaran melalui Merdeka Bermain pada anak usia dini, khususnya jenjang kelompok bermain sangat berbanding terbalik dengan pemikiran para orang tua khususnya di lingkungan Lembaga kami KB Muslimat NU yang mana berada di pedesaan dengan dominannya pemikiran bahwa yang namanya sekolah itu harusnya adalah bagaimana guru bisa membuat anak-anak menjadi bisa membaca, menulis dan berhitung.
Sekolah yang mengedepankan pembelajaran berbasis proyek dan menerapkan metode bermain dalam pembelajaran dianggap kurang bisa menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak. Bahkan beberapa dari orang tua lebih memilih untuk tidak menyekolahkan anaknya di jenjang kelompok bermain karena dianggap hanya bermain saja dan lebih baik langsung disekolahkan di jenjang TK. Langsung masuk ke jenjang TK dianggap lebih ekonomis dan tidak membuang-buang biaya. Dampak persepsi tersebut yaitu beberapa orang tua memiliki pandangan bahwa kompetensi guru di jenjang kelompok bermain di bawah guru yang mengajar pada jenjang TK, sehingga terkesan meremehkan karena dianggap apa yang dilakukan ringan hanya fokus mendampingi bermain dan mengajarkan tepuk atau bernyanyi saja.
AKSI
Dari situasi yang ada, saya sebagai kepala sekolah pada Lembaga KB Muslimat NU tergerak untuk berpikir:
a. Bagaimana agar bisa mengubah pemikiran para orang tua tentang pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini dijenjang kelompok bermain?
b. Bagaimana mengubah pemikiran orang tua selaku wali murid tentang pentingnya pembelajaran melalui bermain?
c. Bagaimana mengubah orang tua selaku wali murid agar lebih memahami dan menghargai guru di jenjang PAUD kelompok bermain? Dari apa yang dibahas maka tercetuslah “WARMIN” sebagai salah satu program yang dilaksanakan untuk bisa menjadi solusi akan beberapa permasalahan yang terjadi di mana dengan program ini orang tua/wali murid akan secara langsung merasakan asyiknya bermain dan mengambil poin pembelajaran yang didapat pada saat bermain, selanjutnya akan ada penguatan materi tentang Pendidikan anak usia sini yang akan menambah wawasan para orang tua tentang pentingnya Pendidikan di fase fondasi ini. Selanjutnya dengan pembagian tugas kepada semua guru untuk tampil dengan beberapa materi dan berkomunikasi dengan wali murid maka kompetensi dari masing-masing pendidik pun akan terlihat.
TANTANGAN
Beberapa tantangan yang dihadapi untuk menyukseskan pelaksanaan program “WARMIN” dapat dilihat pada Gambar 1.
TA N TA N GAN DAN PEM EC AHANNYA
Wali mur id tidak ter tar ik dan tidak bisa hadir
Belum t er koordinasi dengan Siswa Jenjang TK
Gambar 1. Tantangan dan Pemecahan Masalah Dalam Implementasi WARMIN
Kepala sekolah berupaya mengatasi tantangan sebagaimana terlihat dalam gambar di atas. Kepala sekolah harus menjawab beberapa pertanyaan berikut.
- Bagaimana agar semua guru bisa mendukung dan mau serta mampu memenuhi tugas yang nantinya akan saya bagikan dalam program Warmin khususnya terkait tingkat kepercayaan diri beberapa guru yang kurang ketika diminta untuk bicara di depan wali murid dalam forum?
- Bagaimana cara agar semua wali murid tertarik dan bisa hadir pada pelaksanaan program Warmin khususnya terkait beberapa wali murid yang bekerja?
- Bagaimana mengondisikan siswa saat pelaksanaan program Warmin dengan terbatasnya jumlah guru dan agar orang tua/wali murid bisa fokus mengikuti kegiatan?
- Bagaimana mengkondisikan siswa TK dimana tempat pelaksanaan adalah bersebelahan dengan kelas peserta didik TK karena sekolah kami dalam satu Gedung dengan Lembaga TK namun dengan Pendidik dan Tenaga kependidikan masing-masing?
AKSI
Program WARMIN (waktunya orang tua yang bermain) adalah program di mana dalam kegiatan ini wali murid akan diundang untuk hadir ke sekolah untuk bisa sharing bersama terkait pembelajaran tentang anak usia dini, dan poin inti pada program WARMIN ini, orang tua selaku wali murid akan melaksanakan kegiatan bermain membuat sebuah proyek bersama dalam kelompok dengan bentuk hasil karya bebas sesuai kreativitas masing-masing kelompok untuk lebih membuka pemikiran orang tua tentang maksud inti dari pembelajaran Merdeka bermain. Setelah pelaksanaan kegiatan main para orang tua/wali murid akan diminta menjelaskan pembelajaran-pembelajaran apa yang didapat dari kegiatan bermain tersebut sekaligus membuka pemikiran orang tua bahwa ternyata bermain itu bukan hanya bersenang- senang ternyata ada banyak pembelajaran yang di dapat di sana.
Setelah pemikiran dari orang tua tentang pentingnya bermain bagi anak terbuka dilanjutkan dengan penguatan materi untuk semakin membuka pemikiran wali murid akan pentingnya menyekolahkan anaknya di jenjang PAUD khususnya pada kelompok bermain. Tampilnya masing-masing guru dalam kegiatan, di mana ada yang menghandle acara dan ice breaking, ada yang bertugas memimpin jalannya permainan yang dilakukan orang tua, penjelasan program lanjutan dari sekolah dan penguatan materi akan membuat kompetensi dari masing-masing guru terlihat secara nyata dan sebagai pembuktian bahwa guru-guru kelompok bermain juga memiliki kompetensi bahkan bisa jadi ada yang lebih dari guru-guru jenjang tingkat di atasnya.
Langkah-langkah pelaksanaan program ini yang pertama saya lakukan pastinya adalah mengkomunikasikan dan mendiskusikan terkait program ini kepada semua pendidik. Selanjutnya bersama pendidik merencanakan susunan kegiatan, membentuk dan membagi tim pelaksana serta membahas adanya tantangan-tantangan yang ada untuk bisa diambil Langkah tepat menghadapi tantangan tersebut. Untuk tantangan kepercayaan diri untuk bisa memimpin forum komunikasi orang tua bisa teratasi dengan adanya dukungan bersama yang kuat, saling memotivasi agar semua pendidik bisa mengupgrade dirinya lebih baik dan pastinya dengan komunikasi yang positif.
Gambar2. situasi pada pelaksanaan WARMIN
Terkait dengan kehadiran wali murid khususnya bagi yang bekerja, kegiatan didiskusikan terlebih dahulu dengan wali murid. Diinfokan maksud dan tujuan, sehingga antusias wali murid untuk bisa hadir menjadi lebih besar dan adanya informasi terlebih dahulu beberapa hari sebelumnya bisa membuat wali murid yang bekerja untuk mengatur waktu agar bisa hadir. Bagi yang terpaksa sekali tidak bisa hadir ada dari perwakilan yang bisa untuk hadir menyimak di samping ada pula video yang dibuat dibagikan termasuk materinya agar yang tidak hadir bisa untuk memahami dan mengetahui apa yang dibahas dan dilaksanakan pada kegiatan tersebut.
Pentingnya kegiatan ini bagi wali murid membuat kami memutuskan untuk anak-anak pada hari tersebut bisa libur. Namun jika sama sekali tidak bisa ditinggal kami membuat solusi memberikan pojok mainan khusus bagi anak sehingga anak yang hadir tidak menggunakan mainan yang sudah disiapkan untuk orang tua bermain. Tantangan terakhir yakni mengondisikan tempat yang dekat dengan kelas jenjang kelompok TK yang mana kami dalam satu yayasan dan dalam satu gedung, di mana aula pertemuan tepat di samping kelas TK dan tanpa penutup ruangan, maka langkah yang saya ambil adalah berkoordinasi dengan kepala sekolah TK untuk kemudian saling berkolaborasi juga dengan pendidik jenjang TK sehingga pada saat pelaksanaan kegiatan pendidik TK membantu kita dengan mengondisikan siswanya agar tidak mendekat ke arah pelaksanaan kegiatan Warmin. Sesi pembuka dan penutup juga berkolaborasi dengan kepala sekolah TK untuk juga menguatkan jembatan materi tentang pembelajaran yang ada di kelompok bermain dan TK.
REFLEKSI
Adapun hasil yang tampak dari pelaksanaan program Warmin ini antara lain:
- Kepercayaan diri pendidik untuk bisa mendidik dan menghadapi wali murid lebih tampak
Kepercayaan wali murid terhadap lembaga dan pendidik semakin besar
Pemahaman wali murid tentang pentingnya bermain bagi anak usia dini semakin berkembang
- Berubahnya pemikiran wali murid tentang nilai bermain di PAUD
- Secara tidak langsung pemikiran orang tua tentang pembelajaran PAUD ikut berubah.
Gambar 3. Hasil umpan balik dari pelaksanaan kegiatan WARMIN
PENUTUP
Kegiatan berjalan dengan baik dan memuaskan sesuai dengan tujuan yang diharapkan, banyak umpan balik positif yang diberikan baik secara langsung maupun tidak langsung baik dari wali murid, rekan guru, kepala TK dan ketua yayasan serta dari rekan pendidik Lembaga lain yang mengomentari video kegiatan yang dilaksanakan membuat saya semakin bersemangat membuat program-program lain untuk peningkatan kualitas pembelajaran di PAUD dan harapannya perubahan positif yang ada bisa berjalan terus dan ke depan bisa membuat program-program baru yang semakin bermanfaat bagi diri, bagi rekan pendidik, bagi Lembaga dan nantinya bisa untuk diteruskan kepada Lembaga lain dan berdampak besar pada lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, praktik baik yang sudah dilakukan diharapkan bisa menginspirasi dan memberikan manfaat bagi pendidik lain dan juga bagi kepala sekolah untuk bisa mengimplementasikan dilembaga masing-masing. Bergeraklah selalu untuk kebaikan sekecil apa pun dengan ketulusan dan keikhlasan dan mari kita tunjukkan bersama bahwa pendidik jenjang KB yang masih dianggap pendidik non formal juga bisa berprestasi.
Strategi OMBAK untuk Menciptakan Pembelajaran Berkualitas dalam
Implementasi Kurikulum Merdeka
Fitri Sari Angkat, S.P., S.Pd. SPS Albana, Kota Pariaman, Provinsi Sumatera Barat [email protected]
SITUASI
Pendidikan memiliki peran yang sangat besar dalam memberi pengetahuan dan mengubah peradaban manusia. Pendidikan mendukung manusia untuk menciptakan karya dan juga upaya mempertahankan perannya sebagai makhluk Sang Pencipta. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang menjaga fitrah manusia terutama fitrah kebaikan. Sistem pendidikan di Indonesia berkembang sesuai zaman yang dihadapi tiap generasi. Setiap perguliran tahun sistem pendidikan selalu menuju kepada perubahan yang semakin baik. Pada tahun 2021 Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi meluncurkan Kurikulum Prototipe atau yang lebih dikenal sebagai Kurikulum Merdeka. Sebagaimana inspirasi Bapak Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, Kurikulum Merdeka mengedepankan fitrah manusia yang memiliki olah karsa, olah rasa dan olahraga.
Kurikulum Merdeka merupakan jawaban untuk kebutuhan Indonesia saat ini. Teknologi semakin berkembang dan penyebaran informasi seolah tanpa batas. Kurikulum Merdeka meletakkan manusia sebagai sosok yang memaksimalkan seluruh potensi yang diberikan Tuhan kepada dirinya namun
tetap tak lepas dari kesadaran akan Penciptanya. Kurikulum Merdeka mengubah paradigma ke arah penguatan kompetensi serta pengembangan karakter peserta didik serta unsur sekolah. Satuan Pendidikan Anak Usia Dini dengan layanan Satuan PAUD Sejenis Albana berada di bawah Yayasan Bina Insani Kota Pariaman terletak di Desa Marunggi Kecamatan Pariaman Selatan Kota Pariaman Provinsi Sumatera Barat. Pada saat Kemendikbudristek membuka kesempatan Implementasi Kurikulum Merdeka secara mandiri di tahun 2022, SPS Albana telah berinisiatif mendaftar sebagai pelaksana.
Sebelum mengisi survei kesiapan, saya berdiskusi terlebih dahulu dengan pihak Yayasan Bina Insani sebagai pembina SPS. Dari hasil kesiapan lembaga kami disarankan memilih mandiri berubah yaitu mengimplementasikan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka dengan menggunakan panduan dan perangkat ajar yang disediakan pemerintah. respons yang saya dapatkan pada saat itu sangat beragam. Adanya pandangan bahwa pergantian kurikulum akan meniadakan kurikulum sebelumnya dan sulit dilakukan. Saya juga mendengar pendapat bahwa pelaksanaan kurikulum ini nantinya akan memakan biaya yang besar, membutuhkan sarana dan prasarana yang lengkap, padahal kondisi lembaga kami masih banyak kekurangan.
TANTANGAN
Saya merasakan adanya beberapa persepsi yang salah yang saya temui pada beberapa pihak. Hal ini dikarenakan informasi yang belum sepenuhnya didapatkan dan dipahami. Kondisi membuat saya bertekad untuk melakukan perubahan terlebih dahulu di satuan kami. Hal yang juga menjadi suatu tantangan adalah adanya informasi bahwa lembaga pelaksana implementasi kurikulum merdeka secara mandiri tidak diberikan bimbingan teknis atau pendampingan khusus. Namun kami di dorong untuk lebih maksimal mengakses Platform Merdeka Mengajar (PMM) dan belajar secara mandiri.
Saya bersama pihak yayasan merencanakan sebuah kegiatan sosialisasi sebagai pencerahan. Kami melaksanakan kegiatan Open house lembaga dengan mengundang pihak yayasan, tokoh masyarakat, wali murid, guru dan kegiatan diisi dengan materi sosialisasi tentang kurikulum merdeka yang dijelaskan oleh narasumber dari Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Pariaman. Kegiatan ini kami laksanakan menjelang awal tahun pembelajaran.
Sebagai kepala satuan saya yakin bahwa peran saya penting dalam hal menjembatani program pemerintah dengan satuan saya. Saya tertantang untuk mampu mengubah persepsi dan mindset negatif yang cenderung muncul dari miskonsepsi. Tantangan selanjutnya adalah kepemimpinan dalam pembelajaran dimana saya harus selalu hadir memberi motivasi, dukungan bagi guru dalam menyusun perencanaan pembelajaran.
AKSI
Implementasi Kurikulum Merdeka mulai kami laksanakan pada awal tahun ajaran baru 2022/2023. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kurikulum kami rancang sebelum tahun ajaran baru dimulai. Dengan dimulainya proses adaptasi Kurikulum Merdeka di lembaga kami, saya memikirkan sebuah strategi yang dijalankan secara integral dan bertahap. Saya menyadari bahwa saya tidak bisa berjalan sendiri, sehingga membutuhkan kolaborasi dan sinergi dalam proses implementasi ini. Adanya kerja sama yang baik antar unsur di satuan merupakan kunci untuk menciptakan satuan yang berkualitas. Karena proses ini bertahap dan berkelanjutan, saya merancang alur strategi yang mencoba menjawab permasalahan dari berbagai segi. Strategi yang saya jalankan dengan tujuan untuk mengatasi permasalahan serta tantangan yang ada serta keinginan mewujudkan pembelajaran yang semakin berkualitas pada peserta didik.
Strategi yang saya lakukan yaitu Observasi, Melakukan asesmen, Berbasis kearifan lokal, Aktifkan komunitas belajar serta Kolaborasi dan refleksi. Strategi ini saya singkat OMBAK. Seperti filosofi yang dapat kita lihat dari deburan ombak di lautan di mana kesatuan air bergulung bersama menuju daratan. Seperti itu kiranya dengan prinsip pembelajaran berkualitas di mana setiap unsur yang mendukung mesti serentak dan berkolaborasi menuju satu tujuan bersama.
a. Observasi Langkah pertama yang saya lakukan bersama guru adalah melakukan observasi terkait lingkungan sekolah. Sesuai prinsip kurikulum merdeka, kami mengamati langsung dan berdiskusi dengan tokoh masyarakat, pihak yayasan, menampung aspirasi wali murid. Aspek yang kami amati pertama adalah lingkungan sekolah beserta komponen sumber daya di dalamnya. Kami juga mengenali sosial budaya Sumatera Barat khususnya Pariaman beserta unsur adat, kebiasaan, kuliner dan sumber daya yang melekat padanya. Satuan SPS Albana berada di daerah pesisir pantai Pariaman dan mata pencaharian masyarakat sebagai nelayan juga penggiat wisata serta pedagang. Hal ini akan sangat berpengaruh pada perencanaan pembelajaran yang kami rancang.
b. Melakukan assesmen awal pembelajaran
Pembaharuan yang kami lakukan selanjutnya adalah melakukan asesmen terhadap peserta didik di awal tahun ajaran. Sebelumnya kami hanya menerima pendaftaran peserta didik baru hanya dengan syarat mengisi formulir namun sekarang kami juga melakukan asesmen mendalam. Setelah wali murid mengisi formulir langsung atau secara digital (g-form), kami melakukan wawancara untuk mengetahui latar belakang anak, kondisi keluarga, termasuk rekaman tahap perkembangannya. Pemantauan pertumbuhan anak juga kami lakukan dengan Buku Deteksi Dini Tumbuh Kembang yang kami berikan dan berlaku selama anak bersekolah di SPS Albana. Kami juga melakukan kunjungan ke rumah
peserta didik jika dibutuhkan untuk menggali secara mendalam terutama melihat lingkungan serta latar belakang keluarga peserta didik.
c. Berbasis kearifan lokal Kami melakukan penyesuaian terhadap kurikulum satuan yang kami pedomani sebelumnya. Sebelumnya kami menyusun Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan (KTSP) Kurikulum 2013 dan berproses menjadi Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP). Dengan memasukkan data hasil observasi lingkungan sekolah, kami dapat lebih memahami karakteristik satuan kami. Sejak awal persiapan perencanaan pembelajaran saya senantiasa mendorong guru untuk memahami dahulu Kurikulum Merdeka melalui pelatihan mandiri di Platform Merdeka Mengajar (PMM). Penyesuaian yang kami lakukan pada kurikulum operasional satuan pendidikan adalah memasukkan kegiatan pembelajaran yang berdasarkan pada kearifan lokal Sumatera Barat khususnya Pariaman. Jika sebelumnya guru membuat perencanaan pembelajaran berbentuk RPP, sekarang mulai mengadopsi modul ajar dari Platform Merdeka Mengajar (PMM). Modul atau buku yang kami pakai dari PMM juga kami modifikasi jika kami rasa perlu menambahkan unsur materi yang lebih dekat dengan karakteristik satuan kami. Hasil wawancara wali murid juga menjadi pertimbangan dalam merencanakan pembelajaran terkait gaya belajar dan kebutuhan belajar anak. Kami membuat bagan dan alur kurikulum dan menempelnya di dinding serta membuat sebuah lembaran yang saya beri nama ‘Keranjang Ide’. Di sana guru dapat menuliskan ide yang terpikirkan spontan olehnya yang akan menjadi inspirasi dalam menyusun modul ajar. Saya melakukan hal ini untuk mempermudah guru memiliki ide yang segar setiap tahun ajaran, tidak hanya mengulang-ulang kegiatan pembelajaran seperti tahun-tahun sebelumnya. Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru diberi keleluasaan melakukan kreativitas kegiatan. Namun saya mendorong guru untuk menyusun perencanaan
pembelajaran yang berpusat pada anak sesuai prinsip kurikulum merdeka. Perubahan tersebut membuat anak terlibat langsung dalam setiap proses dan juga teras menyenangkan.
Guru juga saya motivasi untuk lebih mengenal dan memahami anak di kelasnya sehingga mendukungnya dalam melakukan pembelajaran berdiferensiasi. Kemajuan teknologi juga kami masukkan dalam kegiatan pembelajaran terutama teknologi informasi. Karena peserta didik telah berada di zaman kemajuan teknologi sehingga guru juga harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Dari proses yang saya amati, guru telah mulai menggunakan teknologi contohnya menampilkan tayangan Youtube sebagai pemancing awal pembelajaran atau tontonan yang mendukung pembelajaran. Guru juga menggunakan game edukasi dalam beberapa proses pembelajaran.
Saya mendorong guru untuk memanfaatkan bahan yang terdekat di sekitar sekolah sebagai sumber belajar dan media pembelajaran. Hal ini mempermudah bagi guru sehingga tidak ada alasan sulit dalam menyediakan media serta bahan pembelajaran. Namun hal ini tetap mempertimbangkan kesesuaian dengan perencanaan pembelajaran. Anak dilibatkan dalam memilih sehingga semangat dalam melakukan kegiatan yang telah dirancang guru. Dengan kegiatan main yang bervariasi dalam pembelajaran dan berpusat pada anak juga menciptakan suasana interaktif serta bersifat saintifik karena mampu memancing rasa ingin tahu.
Inovasi yang saya lakukan adalah membentuk komunitas belajar sekolah. Sebelumnya guru hanya fokus pada kelas masing-masing, namun kini guru memiliki wadah untuk diskusi. Saya membentuk komunitas belajar ini dan kami bersama menyusun jadwal rutin setiap akhir pekan. Jika sebelumnya guru hanya berkumpul membicarakan kondisi kelas dan peserta didik secara
acak, kini kami lakukan dengan terstruktur. Komunitas belajar sekolah juga menjadi wadah untuk guru dalam berbagi informasi serta membahas perencanaan pembelajaran. Terkadang jika guru memiliki permasalahan terhadap materi, saya dan guru lain turut memberi masukan dan solusi. Permasalahan peserta didik akan kami data dan jika perlu kami tindak lanjuti. Adanya umpan balik dalam setiap diskusi memberikan dukungan positif bagi guru.
REFLEKSI
Mewujudkan kolaborasi tak akan mudah tanpa adanya rasa kebersamaan antar warga sekolah. Sebagai kepala satuan, saya selalu menekankan dalam setiap arahan bahwa sekolah merupakan rumah kedua bagi kami di mana setiap penghuninya akan bertumbuh jika saling mendukung satu sama lain. Rasa kesatuan akan muncul jika ada rasa kepemilikan dan pemahaman sebagai sebuah keluarga. Bagaimana menjadikan sekolah bukan hanya tempat eksistensi sebagai guru namun juga tempat beribadah.
Mengelola setiap pribadi yang berbeda membutuhkan seni tersendiri. Sebagai kepala satuan saya selalu berusaha memahami karakteristik setiap guru sehingga memudahkan dalam kolaborasi. Adanya kerja sama antara warga sekolah merupakan wujud dari berjalannya pemahaman akan makna sekolah sebagai sebuah keluarga. Semenjak kami mengaktifkan komunitas belajar di satuan, saya merasakan perubahan terjadi pada guru. Adapun perubahan tersebut di antaranya:
- Munculnya kerja sama dalam beberapa aspek terutama terkait program yang telah disusun
- Adanya kemauan untuk saling berbagi baik tentang suatu informasi ataupun permasalahan
- Antara guru semakin akrab. Hal ini terjadi karena intensnya komunikasi sehingga muncul keakraban dan juga keterbukaan.
- Kami secara rutin melakukan refleksi akan kegiatan pembelajaran. Mendata sekecil apa pun informasi yang muncul yang diduga akan menghambat kegiatan ke depannya.
Saya juga melakukan supervisi akademik ke dalam kelas untuk melihat langsung kegiatan pembelajaran. Sebelumnya saya hanya mengamati setiap proses namun sejak implementasi kurikulum merdeka saya membiasakan mendiskusikan hasil pengamatan dalam supervisi akademik dengan guru. Saya mengumpulkan umpan balik serta senantiasa memberi dukungan kepada guru untuk mengubah pembelajaran ke arah yang lebih baik lagi.
Sebagai kepala satuan pendidikan, saya merasakan dampak dari perubahan yang telah terjadi. Saya menyadari bahwa kepemimpinan sangat penting dalam pembelajaran yang secara langsung juga telah menjadikan saya sebagai pembelajar tiada henti. Bagi guru, proses yang kami jalankan selama mengadaptasi prinsip-prinsip kurikulum merdeka membuat mereka lebih memahami bahwa tidak ada yang sesulit yang mereka bayangkan sebelumnya. Pembelajaran yang berpusat pada anak membuat guru semakin kreatif dalam merancang ide pembelajaran interaktif. Guru juga semakin memahami kebutuhan peserta didik. Orang tua pun merasakan bahwa anaknya senang untuk pergi ke sekolah karena kegiatan pembelajaran yang didominasi kegiatan dengan pengalaman langsung, mencoba berbagai hal dan menyenangkan.
Proses implementasi Kurikulum Merdeka masih akan terus berjalan. Secara perlahan satuan kami beradaptasi hingga nanti saat kurikulum merdeka dilaksanakan serentak kami telah memiliki kesiapan sepenuhnya. Kita bersama meningkatkan kualitas pembelajaran demi pendidikan Indonesia yang lebih baik.
GELIMBAR Melalui BEPAKOT
(Kepemimpinan Pembelajaran dalam
Mengimplementasi Kurikulum Merdeka di Satuan
Pendidikan)
Fitriani, S.Pd. KB Al Amin Hidayatullah, Kab. Tana Tidung, Provinsi Kalimantan Utara [email protected]
SITUASI
Literasi adalah bagian terpenting dalam sebuah proses pembelajaran. Kompetensi literasi merupakan kemampuan seseorang khususnya guru untuk mendampingi peserta didik dalam mengakses, menggunakan, menafsirkan dan mengoptimalisasi informasi melalui berbagai teks maupun audio visual. Pengertian literasi menurut Faizah (2016:2) adalah “kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/ atau berbicara”. Suyono (2011:44) juga menyatakan bahwa “literasi sebagai basis pengembangan pembelajaran efektif dan produktif memungkinkan siswa terampil mencari dan mengolah informasi yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan berbasis ilmu pengetahuan abad 21”.
Berdasarkan pandangan ahli tersebut dapat dipahami bahwa dalam penguatan berbasis literasi akan menggali kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaborasi serta mampu berkomunikasi dengan lebih baik. Di samping itu penguatan berbasis literasi juga meningkatkan pemahaman mengenai konteks tertentu. Satuan PAUD Al Amin Hidayatullah fokus pada Kurikulum
Merdeka yang di dalamnya memperkuat pemahaman guru tentang pembelajaran berdiferensiasi yang mana suatu lembaga diharapkan memiliki mindset yang sama agar tidak terjadinya miskonsepsi antar pendidik dalam satu lembaga yang sama.
Namun beberapa pendidik PAUD Al Amin masih memiliki minat baca yang rendah. Buletin harian yang dipajang di depan setiap pintu kelas tidak digemari oleh pendidik. Gerakan untuk meningkatkan literasi pendidik tersebut dilakukan sebagai media penyebaran informasi mengenai pendidikan anak usia dini agar mudah diakses oleh pendidik di satuan PAUD dan menumbuhkan motivasi diri pendidik untuk lebih rajin membaca. Namun buletin ini tidak menarik minat baca pendidik. Rendahnya minat baca tersebut berdampak pada rendahnya penguasaan ragam metode pembelajaran, rendahnya produk literasi yang dihasilkan serta seringnya muncul permasalahan miskonsepsi terkait dengan pemahaman Kurikulum Merdeka. Hal ini mengakibatkan pendidik kurang tepat dalam melaksanakan pembelajaran. Sering terjadi tujuan pembelajaran tidak sesuai dengan kurikulum sekolah dan asesmen yang digunakan, sehingga ketika dilakukan refleksi ditemukan ketidaksinambungan antara tujuan pembelajaran, pembelajaran, dan asesmen.
GELIMBAR melalui BEPAKOT (Kepemimpinan Pembelajaran Dalam Mengimplementasi Kurikulum Merdeka di PAUD Al Amin Hidayatullah)
Gambar 1. Binder Edukasi Pendidik Al Amin Kurikulum Merdeka Optimal Tergerakkan (BAPEKOT)
Berangkat dari kebutuhan akan pentingnya penguatan literasi guru mengenai Kurikulum Merdeka ini maka hadirlah ide atau gagasan dengan GELIMBAR (Gerakan Literasi Minat Baca guru) melalui BEPAKOT (Binder Edukasi Pendidik Al Amin Kurikulum Merdeka Optimal Tergerakkan. GELIMBAR dalam bahasa Tidung merujuk pada sebuah alat untuk memikul beban agar lebih seimbang dan BEPAKOT dalam bahasa Tidung yang artinya berunding atau berdiskusi dan bisa juga diartikan musyawarah. Gelimbar melalui Bepakot memiliki makna yang selaras dengan tujuan dari gerakkan ini yaitu untuk menggerakkan budaya literasi guru dalam memahami Kurikulum Merdeka sehingga tergerak untuk lebih memiliki kesadaran akan pentingnya memahami Kurikulum Merdeka dengan lebih banyak membaca, mendengarkan dan mencari tahu. Selaras dengan profesi sebagai pendidik, yang mana pendidik harus lebih bisa menyampaikan informasi dengan tepat dan dengan bahasa yang lebih bisa dipahami anak.
TUJUAN
- Meningkatkan kemampuan literasi guru yang mendukung implementasi Kurikulum Merdeka
- Mewujudkan guru berkualitas melalui program BEPAKOT
MANFAAT
Berikut adalah beberapa manfaat dari program penerapan BAPEKOT
- Membantu guru untuk lebih mudah mendapatkan informasi mengenai dunia anak usia dini khususnya Kurikulum Merdeka dengan pembelajaran berdiferensiasi.
- Peserta didik mendapatkan layanan pembelajaran berdiferensiasi yang kaya literasi.
- Meningkatkan mutu lulusan dan SDM yang berkualitas
TANTANGAN
Gelimbar melalui Bepakot dilaksanakan mulai awal tahun pelajaran 2023/2024 di KB AL AMIN HIDAYATULLAH Kabupaten Tana Tidung. Sasaran inovasi ini adalah pendidik dan tenaga kependidikan KB AL AMIN HIDAYATULLAH. Dengan harapan meningkatnya minat baca pada guru maka pendidik dilembaga akan memiliki wawasan luas melalui informasi-informasi yang didapatnya melalui membaca. Dengan guru yang berwawasan luas dan paham mengenai pembelajaran yang berdiferensiasi maka seluruh peserta didik yang ada di lembaga mendapatkan pembelajaran yang berpusat pada anak, kegiatan pembelajaran lebih menarik, berkualitas serta semua kebutuhan belajar anak terlayani.
Masalah dan Tantangan
Minat Belajar Guru Rendah 1
2 Guru Kurang Bersemangat
Guru Malas membaca
3
Gambar 2. tantangan yang dihadapi terkait dengan minat baca guru
Penulisan ini dilakukan setiap adanya pelatihan dan dibukukan melalui Binder guru. Materi yang diambil pertama kali adalah mengenai Kurikulum Merdeka dikemas menjadi sebuah buku pegangan yang simpel yang mudah untuk dibawa ke mana pun dan dalam pertemuan apa pun yang masih berkaitan dengan dunia pendidikan. Bahkan untuk lebih memperkuat penyamaan mindset di dalam binder telah dimuat KOSP lembaga kami yang diisi mulai dari VISI dan MISI sekolah, Tujuan Pembelajaran, Pengorganisasian pembelajaran selama 1 tahun ajaran, Format Perangkat ajar hingga format-format penilaian yang kami gunakan. bahkan daftar semua peserta didik yang ada di lembaga juga dimasukkan.
FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT
a. Faktor Pendukung
1) Tersedianya Internet yang memadai di Sekolah
2) Hampir semua guru memiliki Gadget (HP dan Laptop) sehingga informasi yang ingin di cari dan dicetak akan lebih mudah
3) Semua karya didukung dengan ditampilkan Baik Cetak (Mading sekolah, Album Tahunan, Kartu Kata, dan lain-lain) maupun Media (Medsos pribadi, Lembaga)
4) Akun belajar.id yang sangat memudahkan untuk mendesain isi binder melalui akun Canva, agar tampilan lebih menarik dan kreatif
b. Faktor-Faktor Penghambat
1) Kelancaran aktivitas kegiatan ini masih sering terganggu oleh kesibukan administrasi lain guru sehingga untuk menemukan waktu sharing isi binder jauh lebih sulit
2) Faktor eksternal lain yang juga dapat menghambat kebiasaan literasi pendidik adalah penggunaan media sosial yang berlebihan sebagai hasil perkembangan teknologi informasi. Tik tok, Facebook, WhatsApp, Instagram, dan masih banyak lagi. Hal-hal tersebut dapat pula menjadi masalah bagi keberadaan dan fungsi buku sebagai media literasi.
3) Faktor internal, hal ini bisa berasal dari guru yang tidak literat. Sebagian pendidik belum menjadikan budaya membaca sebagai bagian atau gaya hidup. Bisa saja hal ini terjadi akibat guru yang sibuk dengan administrasi yang ada disekolah hingga akhirnya sudah terlalu lelah untuk sekedar membaca 15 atau 10 menit.
AKSI
Aksi yang dilakukan dalam implementasikan BEPAKOT sebagai berikut;
- Siapkan Bahan, maka memulai untuk mencetak dan menyusun sebuah buku binder yang diberi nama BEPAKOT yang memiliki makna Binder Edukasi Pendidik Al amin Kurikulum Merdeka Optimal Tergerakkan.
Bahan yang disiapkan yaitu:
a. Binder, yang merupakan alat khusus yang digunakan untuk menjilid buku, dokumen, ataupun majalah
b. Kertas sesuai ukuran Binder.
c. Materi yang akan dimuat dalam binder yaitu Kurikulum Merdeka beserta perangkat ajar yang telah disusun bersama.
d. Desain isi binder pada aplikasi Canva agar lebih menarik dan kreatif.
2. Komunikasi, yaitu penyampaian sebuah informasi secara lisan atau pun tulisan. Teknik dalam mengkomunikasikan Gelimbar melalui Bepakot dikomunikasikan kepada pendidik di satuan pendidikan melalui komunitas belajar yang ada di satuan PAUD, sebagai bahan diskusi bersama.
3. Kenalan dengan BEPAKOT
a. Mensosialisasikan tujuan dari BEPAKOT
b. Mengenalkan Binder Edukasi Pendidik dengan menjabarkan manfaatnya
c. Menampilkan contoh-contoh produk BEPAKOT
d. Menjelaskan bersama tahap-per tahap dalam pembuatannya
e. Melakukan Penjelasan sembari praktik dalam teknik pembuatannya
4. Membuat Karya Bersama
a. Praktik membuat Binder bersama guru dalam komunitas belajar di satuan PAUD dengan sistematika:
1) Sampul berisi identitas nama pendidikan dan satuan PAUD
2) Visi dan Misi Satuan PAUD
3) Data peserta didik
4) Pengorganisasian Pembelajaran
5) Panduan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
6) Penilaian hasil belajar peserta didik
7) Analis capaian perkembangan dan pertumbuhan anak
b. Membuat proyek bersama berupa album kegiatan anak, laporan perkembangan anak, dan berbagai bentuk lainnya.
- Publikasi
a. Memanfaatkan informasi pada binder dalam proses pembelajaran.
b. Mengenalkan produk ke guru dari satuan PAUD lainnya pada kegiatan komunitas guru dan pertemuan pendidik.
c. Menjadwalkan bedah materi dalam binder pada kegiatan Komunitas Belajar di satuan PAUD. Proses kegiatan BAPEKOT secara rinci dapat dilihat pada gambar di bawah ini
Pemanfaatan Akun belajar. Id Diskusi Perkembangan Anak Komunitas Belajar
- ● ●
- ● ●
- ● ●
Gambar 3. kegiatan pengenalan Binder Edukasi Pendidik Al Amin Kurikulum Merdeka Optimal Tergerakkan (BAPEKOT)
REFLEKSI
Kemampuan literasi guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Hal ini dapat diketahui hasil penilaian kemampuan guru dalam menyusun rencana pembelajaran berdiferensiasi melalui pembuatan modul ajar dan asesmen. Dari hasil penilaian kemampuan guru, 8 dari 9 guru mampu menyusun rencana pembelajaran dengan metode yang beragam dan melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi.
Kelas kaya literasi yang ditandai dengan lingkungan belajar yang memiliki berbagai benda konkret dan gambar
benda-benda sekitar yang
membantu peserta didik dalam memperkenalkan huruf serta berbagai
jenis bahan bacaan yang sesuai usia anak,
- Keaktifan peserta didik dalam pembelajaran, yang ditunjukkan dari anak terlihat antusias terlibat pada kegiatan yang beragam dan menarik bagi anak. Anak tidak terlihat bosan dan tidak ada peserta didik sering keluar
kelas atau masuk dikelas lain.
Nilai penting yang diperoleh dalam kegiatan ini yaitu dengan GELIMBAR
melalui BEPAKOT dapat membangkitkan kesadaran pendidik akan
pentingnya membaca (Penguatan Literasi Pendidik) seperti masa sekarang
ini. Sebagai pelaksanan Kurikulum Merdeka melalui jalur Program Sekolah
Penggerak Angkatan ke-3 diharapkan mampu memahami dan menjalankan
Kurikulum Merdeka dengan optimal. Terhadap penulis pun tumbuh
kesadaran akan hal-hal baru yang didapat tidak akan berkembang jika tidak
dibagikan, semua itu hanya akan habis begitu saja. Hal yang baru adalah
pendidik mampu meraih informasi pembelajaran yang lebih efektif baik dari
mana dan kapan pun. karena Binder ini lebih fleksibel bentuk atau ukurannya.
sehingga lebih mudah untuk di bawa.
PESERTA DIDIK
- Anak antusias terlibat dalam ragam kegiatan main
- Anak tidak bosan sehingga Anak Tidak keluar masuk kelas
Guru Kem menagimmpl pueame n litnetrasasiki an guKu ru rdal ikuam lum Merdeka. Hal ini dapat diketahui hasil penilaian kemampuan guru dalam menyusun rencana pembelajaran berdeferensiasi melalui pembuatan modul ajar dan asesmen.
Orang Tua
- Meningkatkan kepercayaan dan keterlibatan pada program sekolah
- Sama-sama memiliki rasa be perm tan anggu tauan ng pe jawrkaebmat
ban as gan dan pertumbuhan anak Pemerintah Daerah Membantu Menjalankan Program Wajib bersekolah 1 Tahun sebelum SD.
Gambar 4. Manfaat setelah melaksanakan strategi BAPIKOT bagi peserta didik, guru, orang tua, dan pemerintah daerah.
Kegiatan penguatan literasi bagi guru sangat lah penting demi mewujudkan guru berkualitas yang mana pada Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum baru tentunya guru diminta untuk melek literasi sehingga mampu menyesuaikan diri dalam dunia pendidikan yang fleksibel yang selalu berkembang sesuai zamannya, untuk itu GELIMBAR melalui BEPAKOT hadir sebagai upaya meningkatkan kesadaran para pendidik untuk lebih bisa maksimal memanfaatkan digital dalam meraih informasi dan diikat dalam bentuk binder terlebih lagi dengan menguasai teknologi digital akan lebih bisa mengefisienkan waktu, tenaga, dan dana.
Untuk meningkatkan minat baca guru dalam memahami Kurikulum Merdeka maka guru perlu motivasi dan perhatian khusus terutama dari seorang pemimpin lembaga. Salah satu upaya yang tepat adalah dengan GELIMBAR melalui BEPAKOT. Tidak hanya itu, tentunya seorang pemimpin perlu mencari tahu cara apa saja yang dapat mengundang antusias pendidik dalam pengembangan kemampuan yang akan jadi pusat pembelajaran para pendidik dilembaga tersebut, Dimana guru adalah titik sentral perubahan. Dimulai dari mengajak diskusi dan memberi pemahaman yang menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami dan bersahabat dengan pendidik dan membuat sebuah perencanaan dan pelaksanaan. Dan untuk memastikan keberhasilan suatu program yang telah direncanakan maka perlu adanya monitoring secara berkala agar dapat melihat keberhasilan dari perencanaan yang telah dilakukan.
“Pemimpin berpikir dan berbicara tentang solusi. Pengikut berpikir dan
membicarakan masalah.” – Brian Tracy -
OMAR (Orang Tua Mengajar)
Andi Hermiyati, S.TP., S.Pd. KB Naghih, Kab. Sopeng, Provinsi Sulawesi Selatan [email protected]
SITUASI
PAUD adalah jenjang pendidikan pada fase fondasi yang dapat mengembangkan potensi anak melalui stimulasi sejak usia dini. Pentingnya masa awal ini, tentu harus mendapatkan perhatian yang lebih besar dari orang tua, sekolah, dan lingkungan. Mengingat usia emas anak atau golden age period ada pada usia anak 0-8 tahun. Ini berarti bahwa masa ini adalah masa terpenting dalam kehidupan anak, karena kapasitas otak anak berkembang lebih pesat di usia ini.
Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam membangun dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki dengan menyediakan layanan pendidikan yang berkualitas dan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan sehingga dapat memaksimalkan pengembangan spiritual, kognitif, bahasa, sosial-emosional, fisik-motorik, seni, kematangan emosi dan kemandirian anak. Selama ini, orang tua hanya terlibat pada saat anak mengalami permasalahan atau kendala di sekolah, baik dari segi pembelajaran, administrasi ataupun perundungan. Keterlibatan orang tua dalam proses pembelajaran di PAUD
sangat penting, karena orang tua dan pendidik merupakan dua unsur yang harus berkolaborasi secara efektif dalam membentuk karakter positif anak. Berbagai program PAUD yang telah direncanakan, baik dalam kegiatan besar maupun kegiatan kecil sangat memerlukan dukungan dari para orang tua, karena aktor utama yang terlibat dalam setiap kegiatan tersebut adalah para peserta didik yang merupakan buah hati tercinta para ayah dan bunda di rumah.
SITUA SI
Miskonsepsi orang tua terkait pembelajaran di PAUD
Kurangnya partisipasi aktif orang tua dalam kegiatan pembelajaran
Gambar 1. Persiapan kegiatan pembelajaran melibatkan orang tua murid
Beberapa kegiatan yang telah dirancang pendidik tidak jarang mendapatkan komentar negatif dari orang tua, misalnya : “Anak-anak kok tidak belajar ya?” “Kenapa hanya menyanyi dan mewarnai saja?” “Kok anak-anak tidak menulis?” “Kapan belajar membaca?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tentu dirasakan oleh sebagian besar pendidik PAUD. Di samping itu, kesibukan para orang tua yang hanya mengantar dan menjemput anak di sekolah merupakan salah satu situasi yang membuat komunikasi kami tidak terjalin dengan baik. Padahal banyak
hal yang perlu dikomunikasikan terkait tumbuh kembang anak selama berada di sekolah dan di rumah.
TANTANGAN
Melakukan kegiatan parenting merupakan salah satu upaya untuk menepis semua situasi tersebut. Mengubah paradigma orang tua, tidak membutuhkan teori semata. Mereka perlu terjun langsung dan melihat bagaimana keseruan kegiatan peserta didik di kelas. Sebagai kepala satuan PAUD di Kelompok Bermain Nabigh, saya merancang suatu ide pembelajaran yang melibatkan orang tua melalui program OMAR yang merupakan akronim dari Orang Tua Mengajar. Awalnya saya mencoba menyampaikan program ini kepada para pendidik dan komite sekolah. Ide ini diterima dengan sangat baik. Selanjutnya kami melakukan pertemuan pra OMAR kepada para orang tua dan memberikan penjelasan bahwa dalam kegiatan anak usia dini di kelas, kita tidak fokus pada hasil akhir namun pada proses pembelajaran itu sendiri dan ketercapaian tujuan pembelajaran pada anak.
Dalam keterlibatan orang tua, kesiapan menjadi hal yang utama sebagai langkah awal. Program keterlibatan orang tua dapat diterapkan untuk berbagai model pembelajaran anak usia dini, karena prinsip-prinsip yang dikembangkan dalam program anak usia dini tidak bisa terlepas dari campur tangan orang tua sebagai individu yang paling dekat dengan anak. Keinginan orang tua untuk turut aktif dalam proses pembelajaran dan kegiatan di sekolah tidak serta merta tersalurkan begitu saja. Perlu peran aktif kepala satuan PAUD untuk melihat potensi ini sehingga terjalin kerja sama yang baik antara keduanya. Adanya program OMAR ini tentu merupakan salah satu ruang yang diberikan oleh kepala satuan PAUD kepada orang tua untuk turut serta membina dan memahami proses tumbuh kembang anak usia dini. Program ini juga merupakan salah satu jalinan komunikasi aktif yang akan sangat berperan dalam membentuk karakter anak.
TA N TA N G A N
Penolakan beberapa orang tua yang merasa tidak mampu menjadi narasumber/guru pendamping di kelas anak Jadwal OMAR di jam pembelajaran (pagi hari) bersamaan dengan jadwal pekerjaan (kantor) orangtua pada umumnya Orang tua bingung menentukan topik atau materi yang akan dibawakan
Gambar 2. tantangan terkait dengan implementasi kegiatan OMAR
Tantangan utama kami dalam pelaksanaan kegiatan OMAR (Orang Tua Mengajar) ini adalah, orang tua merasa tidak percaya diri dan tidak memiliki kemampuan dalam menghadapi anak usia dini. Orang tua merasa tidak mampu bernyanyi dan tidak memiliki kesabaran dalam menghadapi anak-anak. Oleh karena itu kami meyakinkan mereka, bahwa kehadiran orang tua di kelas adalah sebagai penyampai informasi atau teman bermain anak. Seluruh kegiatan rutin seperti berdoa, menyanyi dan lainnya akan tetap dipandu oleh pendidik. Kegiatan OMAR selanjutnya diamanahkan kepada para ketua paguyuban sebagai perpanjangan tangan kepala sekolah dalam menyusun jadwal para orang tua setiap bulannya untuk hadir di kelas anak. Pelaksanaan OMAR kami laksanakan pada tanggal 10 (sepuluh) setiap bulannya.
AKSI
Prosedur yang dilaksanakan pada program OMAR ini diawali dengan tahap perencanaan. Pada tahap perencanaan, kami mulai dengan mengidentifikasi dan menentukan materi atau bahan ajar yang bisa disajikan oleh orang tua sesuai dengan topik pembelajaran yang sedang berjalan. Pada tahap ini, kami memaparkan topik-topik pembelajaran yang akan dikembangkan selama satu semester, sehingga para orang tua bisa memilih topik yang relevan
dengan keahlian, bakat atau pekerjaan mereka. Selanjutnya, kami meminta orang tua untuk memberikan masukan ide/saran terkait rencana kegiatan yang akan mereka sajikan. Selaku kepala satuan PAUD, kami senantiasa memberikan pertanyaan pemantik kepada orang tua. Misalnya untuk topik makanan, kami meminta salah satu orang tua yang konsisten menyiapkan bekal sehat bergizi seimbang kepada anaknya untuk ditularkan kepada anak-anak lain agar gemar mengonsumsi sayur, buah dan ikan. Selain itu, kami juga mengenalkan pembiasaan-pembiasaan baik untuk dilakukan anak, cara menyapa anak, cara mengatasi kelas saat anak tidak fokus dengan teknik tepukan, pembiasaan berdoa, dan sebagainya.
A K SI
Penentuan jadwal rutin pada tangal 10 setiap bulannya Identifikasi materi dan bahan ajar sesuai karakteristik orang tua dan topik pembelajaran Koordinasi dengan ketua paguyuban tiap kelas
Gambar 1a. Situasi pelaksanaan kegiatan OMAR
Pelaksanaan program “OMAR” diawali dengan memberikan informasi kepada anak bahwa besok akan kedatangan guru hebat di kelas. Informasi ini juga kami sampaikan melalui grup WhatsApp agar orang tua yang lain mengetahui jadwal pelaksanaan kegiatan tersebut. Pelaksanaan “OMAR” sama seperti kegiatan pembelajaran biasanya. Kegiatan dimulai dengan berbaris lalu bernyanyi bersama dan masuk ke dalam kelas menyambut guru baru. Antusias anak, tawa, rasa penasaran, dan keceriaan nampak sangat jelas di mata anak-anak. Selama pelaksanaan kegiatan, tak jarang terlontar
pertanyaan-pertanyaan kritis kepada orang tua, sehingga suasana pembelajaran dengan menghadirkan orang tua tampak sangat menyenangkan.
A K SI
Mengundang orang tua terpilih untuk pelaksanaan OMAR Menyediakan alat dan bahan untuk pelaksanaan OMAR kerjasama dengan tim IDI untuk kolaborasi OMAR dan ISANAK
Gambar 1b. implementasi kegiatan. OMAR (lanjutan)
Dalam kegiatan OMAR ini, berbagai ragam kegiatan telah disajikan orang tua. Misalnya mengajak anak untuk bermain ketapel bola, mengajak anak membuat buket sederhana, bermain ketangkasan, mewarnai, dan membuat mainan sederhana. Para orang tua menyajikan informasi dan kegiatan sesuai dengan bakat dan keterampilan mereka. Selama kegiatan OMAR, wali kelas tetap berada di samping orang tua dan menjadi fasilitator agar kegiatan berjalan lancar. Alat dan bahan yang dibutuhkan orang tua, juga kami siapkan sesuai jumlah anak agar kegiatan berjalan dengan lancar.
Kegiatan OMAR ini juga telah mendapatkan sambutan yang sangat baik dari Ikatan Dokter Indonesia yang telah mengajak kami untuk bekerja sama membuat mini station di sekolah. Para dokter dari Ikatan Dokter Indonesia yang merupakan orang tua siswa kami bersepakat untuk menyulap ruang-ruang kelas menjadi ruang praktik, mulai dari ruang praktik kesehatan dasar anak, ruang praktik radiologi, ruang praktik penyakit dalam, ruang praktik gizi dan ruang praktik tumbuh kembang anak. Kegiatan ini ternyata sangat
efektif, melalui OMAR, kehadiran para dokter membuat anak berani berhadapan dengan dokter dan tidak merasa takut lagi dengan sosok dokter.
REFLEKSI
Program kegiatan OMAR (Orang Tua Mengajar) kami jadikan sebagai program rutin bulanan yang disepakati oleh seluruh pendidik, tenaga kependidikan dan komite sekolah untuk dilaksanakan pada tanggal sepuluh setiap bulannya. Untuk mengetahui keberhasilan dari kegiatan ini maka pada saat proses pembelajaran bersama orang tua, kami mengadakan pengamatan secara menyeluruh. Di samping itu, kami juga selalu berdiskusi kepada orang tua pembawa materi dan wali kelas untuk mengetahui efektivitas kegiatan ini. Tujuan evaluasi ini adalah untuk mengetahui apakah kegiatan berjalan sesuai dengan rencana atau tidak, serta mengetahui apakah anak-anak memahami konten atau materi yang disajikan oleh orang tua serta mengamati ketertarikan anak pada berbagai kegiatan.
Hasil evaluasi selama pelaksanaan rutin kegiatan OMAR selama ini sangat baik. Selaku kepala satuan PAUD, kami merasakan bentuk dukungan dan komunikasi dengan orang tua semakin kuat sehingga kegiatan-kegiatan lain, misalnya Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila ataupun kegiatan fieldtrip semakin mudah dilaksanakan dengan dukungan penuh orang tua. Hal ini karena, setelah melihat langsung kondisi pembelajaran anak di kelas, para orang tua semakin memahami proses pembelajaran yang berkualitas tidak selalu berfokus pada hasil akhir.
Bagi pendidik, kegiatan OMAR ini juga dapat menambah wawasan mereka terkait ilmu atau keahlian yang disajikan oleh orang tua. Bagi anak-anak, tentu pengalaman belajar bersama orang tua merupakan hal yang sangat menyenangkan. Selama mengamati kegiatan “OMAR” yang telah terlaksana, tampak anak-anak sangat antusias menunggu sosok yang akan masuk ke dalam kelas, mengamati langkah-langkah kegiatan yang didemonstrasikan
oleh orang tua, bertanya, tertawa dan melontarkan aneka pertanyaan kepada orang tua. Tentu hal ini semakin meningkatkan kemampuan berbahasa dan kemampuan sosial anak dalam menghadapi orang baru.
Bagi orang tua, tentu saja program “OMAR” ini telah memberikan pencerahan baru, bahwa sesungguhnya PAUD bukanlah tempat untuk menitipkan anak saja. Namun, pendidikan selama anak berada di PAUD merupakan tanggung jawab bersama antara pihak sekolah dan orang tua dalam menentukan kurikulum, metode pembelajaran, bahan belajar sampai mengamati gaya belajar anak. Orang tua yang dulunya melakukan rutinitas mengantar dan menjemput anak, kini sudah bisa meluangkan waktu sejenak untuk berdiskusi terkait perkembangan anaknya dan memberikan berbagai ide kegiatan untuk program sekolah ke depan.
Kelompok Bermain NABIGH merasakan dampak yang luar biasa dengan adanya program “OMAR” ini. Perubahan paradigma orang tua yang awalnya mensyaratkan anaknya untuk bisa calistung sebelum masuk SD kini sudah memikirkan pentingnya penguatan karakter dan pengembangan kemampuan fondasi anak yaitu mengenal nilai agama dan budi pekerti, keterampilan sosial dan bahasa, kematangan emosi, pemaknaan terhadap belajar positif, keterampilan motorik dan perawatan diri serta kematangan kognitif untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.
Penilik dan pengawas PAUD kami juga senantiasa mengarahkan rekan-rekan pendidik PAUD yang lain untuk mengadopsi program “OMAR” yang telah kami lakukan selama ini. Beberapa bulan yang lalu, kami juga telah menerima kunjungan atau studi tiru dari berbagai rekan -rekan pendidik PAUD baik di Kabupaten Soppeng maupun di luar Kabupaten Soppeng untuk melihat program yang telah kami laksanakan sejauh ini. Kunjungan dari rekan-rekan komunitas sekolah penggerak dari Kota Makassar juga telah memberikan kami berbagai masukan dan informasi penting terkait pengembangan program ini
selanjutnya. Semoga program “OMAR” ini dapat kami laksanakan lebih baik lagi dengan mengembangkan banyak hal dalam mewujudkan merdeka belajar dan merdeka bermain pada anak usia dini. Dan semoga inovasi ini dapat menjadi referensi bagi rekan-rekan pendidik PAUD dalam mewujudkan lingkungan pembelajaran yang berkualitas dan menyenangkan menuju peserta didik yang berkarakter positif dengan menguatkan profil pelajar Pancasila.
“Kepemimpinan adalah tentang empati. Ini adalah tentang memiliki kemampuan
untuk berhubungan dan terhubung dengan orang-orang untuk tujuan
menginspirasi dan memberdayakan hidup mereka.”
– Oprah Winfrey -
Strategi Penguatan, Pembelajaran, Pengimbasan Pendampingan Pemodelan
dalam Implementasi Kurikulum Merdeka (P5 MAKARIM)
Mastul Hidayati, S.Pd
KB Sekolah Alam Indonesia An-Naim, Kab. Lombok Barat,
Provinsi Nusa Tenggara Barat [email protected]
SITUASI
Pendidikan di Indonesia telah mengalami perkembangan dan reformasi selama beberapa tahun terakhir untuk meningkatkan kualitas dan aksesibilitas pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah Indonesia telah berupaya memperbaiki kondisi pendidikan melalui berbagai program, termasuk Program Guru Penggerak, Program Organisasi Penggerak, Program Sekolah Penggerak, Program Komunitas Belajar Penggerak, dan lainnya. Akan tetapi, masih banyak upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negara ini. Tidak hanya program yang sudah dicanangkan oleh pemerintah namun juga perlu dilakukan bergotong- royong oleh pemangku kepentingan (stakeholder) pendidikan itu sendiri. Guru diharapkan untuk terus mengikuti pelatihan dan pengembangan profesional agar tetap update dengan perkembangan terbaru dalam pendidikan.
Guru yang inovatif dan berdedikasi tinggi akan merasa tertantang serta memiliki kemampuan untuk mengembangkan metode pengajaran yang kreatif, interaktif, inovatif, dan berpusat pada murid. Dalam beberapa tahun
terakhir, penggunaan teknologi dalam pendidikan juga semakin berkembang, membuka peluang bagi guru untuk menciptakan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik. Namun, penting untuk diingat bahwa kondisi pendidikan dapat berubah dan ada kemungkinan adanya perkembangan dan perubahan dalam persyaratan dan inovasi guru di Indonesia sejak saat itu, termasuk kemampuan untuk beradaptasi dengan berbagai gaya belajar siswa dan merancang strategi pengajaran yang sesuai.
Guru harus memiliki kemampuan dalam menggunakan teknologi untuk meningkatkan pengajaran, seperti penggunaan perangkat lunak pembelajaran atau platform online seperti Platform Merdeka Mengajar (PMM). Fakta di lapangan yaitu tidak sedikit dari pendidik dan tenaga kependidikan yang masih berada pada zona nyaman tanpa bergerak memanfaatkan program pemerintah dan kemajuan teknologi. Hal ini disebabkan fakta bahwa guru masih membutuhkan penggerak yang membantu memfasilitasi kompetensi mereka untuk belajar bersama memahami dan mempraktikkan kurikulum merdeka dengan kemampuan teknologi mereka di era digitalisasi ini.
Pada tahun 2011 tepatnya pada bulan April saya telah mengabdikan diri sebagai guru PAUD. Dari PAUD swasta sampai kemudian menjadi TK Negeri. Kemudian saya resign dan memilih mengabdi di PAUD Non Formal dari tahun 2016 sampai sekarang. Dari PAUD Non Formal ini saya telah banyak diberikan kesempatan untuk mengembangkan diri sampai memiliki pengalaman berorganisasi dan kepemimpinan. Pada tahun 2017 saya menjabat sebagai ketua Himpaudi Kecamatan Lembar, dari sinilah saya banyak membaca kebutuhan guru dalam meningkatkan kompetensi dan merencanakan pembelajaran yang berkualitas. Sampai pada titik sekarang ini, dimana kita dihadapkan dengan Kurikulum Merdeka. Banyak sekali saya temukan miskonsepsi tentang kurikulum merdeka. Kondisi ini tidaklah mempengaruhi tekad saya untuk tetap bekerja mengabdikan diri menjadi guru PAUD. Tekad
untuk andil mencerdaskan anak bangsa dan menjadi pembelajar sepanjang hayat lebih kuat dari pengaruh situasi yang saya hadapi.
Saya sering mem-posting pencapaian belajar, kegiatan belajar dengan rekan-rekan guru di sekolah, membentuk komunitas dalam sekolah, dan pengalaman baru di Facebook sehingga orang-orang mengenal profesi saya dan berharap orang lain mendapat manfaat dari posting-an saya. Melihat postingan-postingan saya di Facebook sehingga pada suatu hari ada beberapa teman-teman meminta saya untuk diajari apa yang sudah saya pelajari tentang kurikulum merdeka. Awal mula dari sini pikiran saya terbuka bahwa betapa pentingnya komunitas belajar penggerak dan Platform Merdeka Mengajar (PMM) sebagai wadah untuk pengembangan kompetensi guru. Pada tahun 2022 saya lolos menjadi koordinator komunitas belajar penggerak di PMM. Oleh karena itu saya mulai bergerak dalam Implementasi Kurikulum Merdeka ini untuk memberdayakan rekan-rekan guru dalam maupun antar sekolah. Peran saya sebagai pendidik dan tenaga kependidikan merupakan tanggung jawab yang besar, oleh sebab itu penting bagi saya mengapa Strategi P5 Makarim ini diterapkan dalam Implementasi Kurikulum Merdeka.
TANTANGAN
Berikut adalah tantangan yang dihadapi dalam menerapkan program untuk kemajuan sekolah dalam implementasi Kurikulum Merdeka.
- Miskonsepsi Kurikulum Merdeka Dalam implementasi Kurikulum Merdeka, masih banyak yang mengira bahwa harus menunggu pelatihan dari pusat terlebih dulu untuk bisa menerapkan Kurikulum Merdeka. Peran Kemendikbudristek dalam implementasi Kurikulum Merdeka adalah menyediakan perangkat- perangkat pembelajaran yang bisa digunakan oleh guru dan sekolah secara mandiri untuk meningkatkan kapasitas di masing-masing konteks. Jadi, tidak ada pelatihan yang seragam untuk peningkatan kapasitas.
Semuanya harus mencoba untuk memahami dan menerjemahkan secara mandiri untuk konteksnya masing-masing.
- Akun Belajar.id Belum Aktif Tantangan yang paling spesifik di awal sosialisasi Implementasi Kurikulum Merdeka adalah satuan pendidikan bersikap acuh tak acuh terhadap akun Belajar.id PTK yang ada di ekosistem sekolahnya. Banyak juga yang masih beranggapan bahwa akun Belajar.id tersebut tidak penting. Pelatihan mandiri di PMM juga sangat menyusahkan guru. Belum juga alasan tidak efisiennya waktu untuk belajar secara online karena usia yang sudah tidak produktif untuk belajar dan kemampuan ilmu teknologi yang rendah
- Tersedianya Jaringan Internet Dan Perangkat Pendukung Namun Rendahnya Minat Belajar Guru Permasalahan yang sering ditemukan pada dunia pendidikan adalah rendahnya minat belajar guru untuk merefleksikan setiap tahap pembelajaran yang dilaksanakannya di kelas kemudian melakukan evaluasi dan perbaikan. Sehingga pembelajaran yang disajikan oleh guru tidak berpusat pada peserta didik, meskipun jaringan, fasilitas internet dan perangkat pendukung lainnya tersedia.
- Kompetensi Guru dalam Mengelola Pembelajaran Butuh Penggerak Ekosistem di satuan pendidikan juga tentu beragam, dari karakter setiap pendidik, keterampilan, dan nilai-nilai kerja lainnya yang dapat saling mempengaruhi satu sama lainnya. Hal ini tergantung dari budaya positif yang diterapkan. Sayangnya semua kompetensi, kualifikasi dan keterampilan tersebut sering terendap dalam budaya dan kebiasaan yang perlu diperbaiki. Seperti yang ditemukan di lapangan bahwa guru PAUD adalah guru-guru yang hobi melaksanakan pertemuan yang dikemas dengan acara makan-makan. Hal positif dari hobi ini dapat dimanfaatkan dan dijadikan budaya positif untuk belajar bersama,
refleksi, evaluasi dan perbaikan. Oleh sebab itu dibutuhkan penggerak yang dapat dijadikan mentor dan fasilitator perubahan menuju penyebaran Implementasi Kurikulum Merdeka.
AKSI
Situasi dan tantangan di atas, kita perlu membuat perencanaan dan strategi yang terkonsep. Dalam aksi ini saya bekerja sama dengan DISDIKBUD, PKG, HIMPAUDI, dan gugus kecamatan. Bentuk kerja sama dan dukungan Dinas Pendidikan terhadap Strategi P5 Makarim yang saya terapkan adalah memberikan surat tugas dalam kegiatan pengimbasan dan pendampingan ke sekolah lain, selain itu juga bidang GTK dan bidang PAUD sering menjadi pembuka kegiatan serta berkolaborasi dalam menyampaikan materi. Strategi P5 Makarim dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
AKSI
ST RATEGI P5 DALAM MAK ARI M SEK OLAH
GOOGL E DRI VE INOVASI WAGKOMUNITAS BERKELANJUTAN GOOGL E SE AN K O TAR LAH BERBASIS IT CL ASSSROMM
Gambar 1. Aksi Strategi P5 Makarim Dalam Sekolah
Aksi Strategi P5 Makarim Dalam Sekolah
Strategi Penguatan Pembelajaran Pengimbasan Pembinaan Pemodelan Dalam Implementasi Kurikulum Sekolah, dilaksanakan dengan:
- Sosialisasi kurikulum merdeka kepada seluruh ekosistem sekolah, mengadakan pertemuan untuk aktivasi akun belajar.id peserta didik dan
guru, dan praktik langsung penggunaan akun Belajar.id pada rumah
belajar, Paudpedia, Canva, Kahoot, dan PMM.
- Mengikuti Program Sekolah Penggerak Angkatan 3
- Mengikuti Program Komunitas Belajar Penggerak Angkatan 2
Mengikuti Program Narasumber Berbagi Praktik Baik Implementasi
Kurikulum Merdeka Gelombang 3
Membentuk Komunitas Belajar Dalam Sekolah, yang memiliki jadwal rutin belajar bersama setiap hari Senin dan Sabtu.
- Penguatan Pembelajaran Pengimbasan Pendampingan Pemodelan Dalam Implementasi Kurikulum Merdeka dengan kegiatan belajar seperti; mempelajari substansi kurikulum merdeka, mengupas pelatihan mandiri di PMM, trik jitu lolos validasi aksi nyata di PMM, membuat video pembelajaran dan bahan ajar berbasis teknologi dengan Canva,
Paudpedia, WAG, dan Kahoot.
AKSI DALAM SEK OLAH
PENGUATAN MengikuPOti P PEMBELAJARAN PENGIMBASAN PENDAMPINGAN Program: KOMBEL DAKAMSEKOLAH: Senin SOSIALISASI IKM BAGI WALI MURID, KOMBELPS PEPNGGERAK CAN SaVbA,tu PSu BDja, M naOB DaUswL AJ araAR(P, VID MM,EO PESAKERTTIVAAS DID I AK IK,UPA NR BEENLTAJ INAR GC.IDLASS TE DD NGYKAATH IKAB AG LAENNGJKEALH JA AGNIDGIRI EM CAN BUAV PAMN TA, M, PENN MEPILN AR NMBA URDUI D NSBPB PEMBELAJARAN, PUBLIC BERBASISDIGITAL (KAHOOT, AKLASI N A,- M AJMAH PAUDHI SPEAKING, W DAEBN IP NA MM
R)OW OW BGP PAUDPEDIA, READSAPP
MEMBUAT MODUL AJAR SEKOLAH INKLUSI F
Gambar 2. Aksi dalam sekolah
Aksi Strategi P5 Makarim Antar Sekolah
Strategi P5 Makarim antar sekolah dimulai dengan melakukan sosialisasi IKM.
Kemudian saya mendaftar komunitas belajar di PMM dan berhasil lolos.
Setelah itu banyak kepala sekolah dan guru yang secara langsung meminta
| Mengikuti Program: | KOMBEL DKAM SEKCLAH Senin | PENGIMBASAN | |
|---|---|---|---|
| NSEPB | Sabtu SujanPEMBELAIARAN PUBLIC | PESERTA DIDIK PARENTINGCLASS AKTIVASI AKUNBELAIARID | TENDIK BELAJARMANDIRI DI PMM LANGKAH LANGKAHMEMBU |
| INAROWOWBGP | BERBASSDIGITAL (IAHOT PALDPEDIA READSAPP | AKS NYATA MENI BLAIAHCINVA |
ikut bergabung maupun bergabung melalui tautan “Komunitas Pendidik Hebat” di PMM yang saya bagikan. Dalam komunitas itu sendiri telah terbentuk anggota inti yang memiliki peran atau tugas masing-masing dalam komunitas dan menjadwalkan pertemuan yang terkonsep setiap 1 bulan sekali. Selanjutnya saya aktif belajar dan berbagi door to door ke setiap lembaga yang mau belajar tentang IKM, memetakan CP ke TP, membuat modul ajar, modul proyek, menyusun KOSP, peta konsep, membuat aksi nyata, dan trik-trik belajar di Platform Merdeka Mengajar.
AKSI ANTAR SEK OLAH DAN MITRA
- KOORDINATOR KOMBEL • BERBAGI PRAKTIK BAIK DI • SOSIALISASI IKM BERSAMA • PKG MENYUSUN KOSP ABRPINBG/ PMM OOSRASI MITRA TRAK ( IPKKMG D, HII 1M •• M SU SE
- DNS • ME KOLDASB • MBIIMTE 0PAUDI) MEONDYUUL AJNA AR DASNMEN
- PERTEMUAN RUTIN KOMBEL KECAMATAN DALAM 1 PROJEK
- MICRO TEACHING KABUPATEN PEMBELAJARAN • PROMOSI BELAJAR GRATIS BERDIFERENSIASI IKM DOOR TO DOOR
Gambar 3. aksi antar sekolah dan mitra REFLEKSI Hasil Strategi P5 Makarim Setelah melalui berbagai perencanaan, strategi, dan proses serta tantangan yang dihadapi. Berikut ini saya paparkan hasil efektif dari aksi yang telah dilaksanakan adalah sebagai berikut.
a. Kepala sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan semakin mahir menggunakan IT dalam perencanaan pembelajaran terutama Canva.
b. Banyak kepala sekolah, pendidik, dan tenaga kependidikan tertarik belajar mandiri di PMM dan sudah mendapat 2-3 sertifikat pelatihan mandiri.
| • KOORDINATOR KOMBELDARING PMM | BERBAG PRAKTIK BAIKDI MEDSOS | SOSIALISASI IKMBERSAMA MITRA (PKG HIMPAUDI) | • MENYUSUNASESMEN |
|---|---|---|---|
| • NSBPB | • PERTEMUANRUTINKOMBEL • KOLABORASI MITRA | • BIMTEKIKMDI 10 KECAMATANDALAM1 | • MODULAJARDAN PRQJEK |
| • MICROTEACHINGPEMBELAJARAN | • PROMOSI BELAJAR GRATIS KABUPATEN | ||
| BERDIFERENSIASI | IKMDOORTODOOR |
c. Tersedianya peta konsep dan topik-topik pembelajaran yang dibuat sesuai visi misi, karakteristik lembaga, kebutuhan peserta didik, dan
budaya lokal setempat.
d. Pengelolaan dan perencanaan pembelajaran berjalan efektif, pendidik rajin membuat modul ajar sesuai topik yang sudah kami buat, terbentuknya tim pelaksanaan pembuat KOSP dalam sekolah.
e. Hasil yang dicapai pada komunitas belajar antar sekolah adalah memetakan capaian pembelajaran ke tujuan pembelajaran, menyusun asesmen, membuat peta konsep, modul ajar, dan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan terakhir di bulan September 2023 tanggal 12-14 kemarin saya mendampingi 140 Kepala Sekolah dan guru se-kecamatan Gunungsari, 80 Kepala Sekolah dan guru di Kecamatan Batu Layar Kabupaten Lombok Barat dalam "Bimtek Penyusunan KOSP". Dari sekian lembaga tersebut 70% satuan pendidikan KOSP-nya langsung jadi dalam tiga hari bimbingan teknis tersebut.
Ha sil
STRATEGI P5 MAKARIM DALAM SEKOLAH
- Kepala sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan semakin mahir menggunakan IT untuk merancang da t pesemcbaerlaj, bahkan menlaksme anambkaunapemvid beleajoaran a ardaanring
- Ekosistem sekolah dalam satuan pendidikan tertarik bel ndrtiirifikmelalruiiPMPM dan sudah banyak meanjdaarpama t se at da MM
Pengelolaan dan perencanaan pembelajaran berjalan efektif, pendidik lebih kreatif dan kolabora
STRATEGI P5tifMAKARIM ANTAR SEKOLAHMemahami subtansi kurikulum merdeka
- Membenahi Visi Misi dan Tujuan Sesuai Karakteristik Lembaga
- Merancang Pembelajaran yang merdeka dan sesuai ke utpurhaakntikan
- Mebm kaakn/ mengimplementasikan pe an Sya g berdifsaerhen
- MemnybueslajunarKO Pndan di kasniasoli eh Kepala Dinas Pentduid n Da Kebudda aya LokmboaknBape ratmse atgahai ben kikakolabnoratif nandu ung erbin daerah
DAMPAK STRATEGI P5 MAKARIM
Dampak yang saya rasakan dari Strategi P5 Makarim ini adalah semakin banyak saya belajar, berbagi, dan berkarya saya merasa semakin makmur secara psikis dan bahagia. Tujuan dari semua ini adalah “Menciptakan Pembelajaran Berkualitas melalui Kurikulum Merdeka, Guru Berdaya Guru Berkarya Indonesia Berjaya”
D A M P AK Sekolah memiliki program unggulan dan berprestasi. Tumbuhnya semangat Terciptanya suasana belajar
| Tumbuhnya semangat | Terciptanya suasana belajar | ||
|---|---|---|---|
| belajar sepanjang hayat, | yang harmonis, bermakna, | ||
| kreatif dan kolaborasi | interaktif, kreatif, dan | ||
| pe | ja,rm an ya | ino am tif M baegrde | i pe rtaladi |
| bem rmbe akla na | ahirng IT | davla M erdeka M engajar. | ksaeBe jadi r-k |
belajar sepanjang hayat,
BAGI GURU BAGI SATPEN & MURID
| • M embantu Disdikbud dan mitra | Strategi | P5 Makarim | ini adalah |
|---|---|---|---|
| pembangunan pendidikan dalam | semakin | banyak saya | belajar, |
| menyebarluaskan implementasi | berbagi, | dan berkarya | saya |
| kurikulum merdeka. • M eningkatkan kompetensi guru serta memberdayakan kapasitas | merasa psikis dan bahagia. Karena tujuan dari semua ini adalah M enciptakan | semakin makmur | secara |
| SDM di wilayah kerja mitra. | Pembelajaran Kurikulum M erdeka, Guru Berdaya Guru Berkarya Indonesia Berjaya | Berkualitas | melalui |
BAGI M ITRA BAGI PENULIS
Gambar 5. Dampak Strategi P5 Makarim
- Dampak bagi guru adalah tumbuhnya semangat belajar sepanjang hayat dan kolaborasi pembelajaran yang bermakna.
- Dampak bagi sekolah dan peserta didik adalah terciptanya suasana belajar yang harmonis, bermakna, interaktif, kreatif, dan inovatif bagi peserta didik dalam Merdeka Belajar-Merdeka Mengajar.
Dampak bagi mitra adalah dampak bagi mitra adalah membantu dinas pendidikan dan mitra pembangunan pendidikan dalam menyebarluaskan implementasi kurikulum merdeka. Selain itu juga membantu meningkatkan kompetensi guru serta memberdayakan kapasitas SDM di wilayah kerja mitra.
P5 Datang Perundungan Hilang Praktik Baik Kepemimpinan
Pembelajaran di KB Belajar WIGGLY WOOL
Hestri Purnani, S.Pd KB Belajar Wiggly Wool, Kota Tangerang, Provinsi Banten [email protected]
SITUASI
KB Belajar Wiggly Wool merupakan sekolah yang bergerak di bidang pendidikan usia dini dan menerima layanan usia 2-7 tahun dan merupakan Sekolah Penggerak angkatan ke-1 tahun 2021 dan sudah mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Sekolah yang saya pimpin ini berlokasi di tengah perkotaan tepatnya berada dalam sebuah perumahan yang ramai dengan aktivitas masyarakat modern yang sibuk, lingkungan perkantoran, toko-toko dan cafe-cafe, murid-murid kami berasal dari berbagai macam daerah dan dari titik berangkat keluarga yang beragam.
Seiring berubahnya kemajuan zaman yang sangat pesat, maka kebutuhan dan tantangan sekolah semakin beragam, tantangan ini berasal dari dalam maupun luar sekolah. Hampir 85 % kedua orang tua siswa di sekolah kami bekerja dan memiliki usaha sendiri, sehingga memiliki kedekatan, dan juga sikap dan nilai yang berbeda-beda pada setiap anak dan hampir 85% berasal dari berbagai daerah seperti Sumatera, Jawa Tengah, Jawa Timur, ditambah dampak dari pandemi COVID19 yang melanda hampir kurang lebih 2 tahun keadaan ini membuat para guru terus mencari cara agar tetap melakukan
kegiatan bermain dari jarak jauh tentu saja banyak memiliki kendala dari berbagai aspek, dimana anak-anak tidak bertemu langsung dengan guru, dan teman-teman, tidak dapat melakukan kegiatan bermain untuk melatih emosi dan sosialnya dalam mendukung tumbuh kembang yang baik dan kurang melakukan kegiatan yang bersifat kerja sama, kurangnya pengembangan keterampilan sosial seperti interaksi, berbagi, pengembangan kemampuan berkomunikasi seperti berbicara dan mendengar, kurangnya pembelajaran yang bernilai empati seperti menghargai teman dan bagaimana bekerja sama dalam tim.
Saya merasa dampak-dampak tersebut salah satu penyebab terjadinya masalah perundungan di sekolah kami. Perundungan merupakan kekerasan fisik dan atau/kekerasan psikis dan termasuk bagian penting yang harus diperhatikan dan ditangani secara serius dalam proses kegiatan bermain di PAUD mengingat masa ini adalah masa fondasi. Mengingat Indonesia sedang dalam situasi darurat kekerasan di lingkungan satuan pendidikan, berbagai data dan survei menunjukkan saat ini negara kita sedang dalam kondisi darurat kekerasan terhadap murid. Pada tahun 2022 pengaduan yang masuk ke KPAI pada perlindungan khusus anak dengan kategori tertinggi ke 2 adalah anak korban kekerasan fisik/psikis sebanyak 36,31% peserta didik (1 dari 3) berpotensi mengalami perundungan (Asesmen Nasional, Kemendikbudristek
2022). Pancasila dan UUD 1945 mengamanatkan bahwa setiap Warga Negara Indonesia berhak untuk mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan mendapatkan jaminan akan pendidikan. Pemerintah Indonesia menempatkan isu perlindungan anak sebagai agenda dari pembangunan nasional yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Atas dasar data tersebut, saya semakin yakin bahwa masalah perundungan yang terjadi di sekolah saya harus cepat dan tanggap dalam mencari solusi yang tepat agar tidak berdampak pada perilaku di jenjang sekolah dasar dan berikutnya, mengingat usia dini adalah masa fondasi dan usia kritis bagi pembentukan karakter seorang anak. Penanaman
moral melalui pendidikan karakter sedini mungkin kepada murid-murid adalah kunci utama untuk menyiapkan generasi yang bermoral. Usia dini adalah masa perkembangan karakter fisik, mental dan spiritual anak.
Dari hasil pengamatan dan observasi para guru di sekolah selama kegiatan belajar mengajar ditemukan bahwa 60% murid-murid kurang menghargai sesama, masih berperilaku individual, melakukan kekerasan fisik dan verbal serta perundungan sosial seperti mendorong teman saat bermain, memukul teman, mengejek, tidak mau berbagi, dan mengucilkan teman. Hal ini berdampak pada kondisi bermain yang kurang nyaman dan tidak kondusif sehingga visi, misi dan capaian pembelajaran sulit tercapai.
Pada saat yang bersamaan saya terpilih sebagai kepala sekolah pada program Sekolah Penggerak angkatan ke 1 dimana setiap permasalahan atau tantangan yang dihadapi dalam kegiatan pembelajaran harus segera dicarikan solusinya dengan membuat rencana tindak lanjut dalam komunitas belajar internal sekolah, salah satunya permasalahan perundungan yang saat itu terjadi di sekolah kami. Berdasarkan diskusi dari komunitas belajar internal kami sepakat bersama-sama untuk menerapkan kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) untuk mengatasi masalah perundungan yang ada. Topik yang diangkat adalah “Kita Semua Bersaudara” dengan dimensi “Beriman Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berakhlak Mulia, Bergotong Royong dan Kebhinekaan Global. Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dilaksanakan di bulan Januari 2023 dengan estimasi waktu 4 minggu, yang diawali dengan pembuatan proposal proyek yang dirancang bersama guru orang tua dan pengawas sekolah, dengan tahapan Permulaan yang berisikan kegiatan yang dapat memantik murid untuk memahami pentingnya menghargai dan menyayangi teman dengan berbagai kegiatan yang menarik minat murid kemudian tahapan Pengembangan yang merupakan aksi yang dilakukan pada awal kegiatan dan yang terakhir tahapan penyimpulan.
TANTANGAN
Perundungan adalah masalah yang sangat serius untuk cepat ditangani, agar tidak berlanjut ke jenjang selanjutnya dan memiliki dampak negatif pada kesejahteraan fisik dan mental, mengingat masalah ini termasuk 3 dosa besar dalam pendidikan yang membutuhkan kerja sama antara semua pihak, baik pihak sekolah, orang tua dan masyarakat. Memberantas kasus perundungan di sekolah adalah tanggung jawab bersama. Hal ini juga sudah diatur dalam Permendikbudristek No. 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan. Peraturan ini dirancang untuk memberikan perlindungan hukum tidak hanya bagi murid tetapi juga guru dan tenaga kependidikan yang menjadi korban kekerasan di lingkungan satuan pendidikan.
Dalam menyelesaikan masalah perundungan di sekolah kami melalui P5 ini, banyak sekali pertanyaan yang muncul terkait pelaksanaannya nanti. Kami pandang ini sebagai proyek yang menantang. Kami sudah melaksanakan tiga kali proyek P5, namun ini adalah yang pertama kali menerapkan P5 untuk mengatasi perundungan. Tantangan yang muncul adalah terkait dengan bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah perundungan yang terjadi melalui kegiatan P5, tentu saja ada beberapa pertanyaan atau masalah yang muncul untuk mengatasi situasi tersebut adalah:
- Bagaimana cara mengajarkan anak usia dini untuk bisa menghargai teman?
- Siapa saja yang perlu dilibatkan dan dapat bermitra dengan sekolah untuk mengatasi masalah perundungan ini?
- Bagaimana melibatkan orang tua yang sangat sibuk dengan pekerjaan dan aktivitasnya?
- Apa media yang dapat di gunakan untuk menyelesaikan masalah ini?
- Apa kegiatan yang dapat membuat murid dapat menghargai teman dan apa kegiatan yang dapat membangun kerja sama dengan teman dan guru?
- Dimana tempat yang tepat untuk pelaksanaan P5 agar dapat mengatasi perundungan?
- Kapan pelaksanaan P5 dilakukan ?
AKSI
Agar masalah perundungan yang terjadi di sekolah dapat teratasi dengan baik sehingga berdampak baik pada sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari- hari dan menjadi pembiasaan yang baik dan berkelanjutan maka langkah-langkah yang saya lakukan Sebagai Kepala sekolah yang bertanggung jawab memfasilitasi warga sekolah dan dalam memimpin pembelajaran tentu saja harus memperhatikan serta mempertimbangkan langkah-langkah yang dilakukan untuk menghadapi tantangan yang dihadapi agar tepat dan mampu
menjawab tantangan yang sedang dihadapi, langkah-langkah tersebut di antaranya,
- Melakukan koordinasi dengan komunitas belajar internal untuk berdiskusi tentang perundungan yang masih terjadi
- Membuat perencanaan pembelajaran dengan menggunakan hasil asesmen murid bersama psikolog.
- Mengundang orang tua murid dengan moda hybrid yaitu dengan pertemuan secara langsung jika orangtua memiliki waktu untuk datang ataupun melalui teknologi digital zoom/G Meet bagi orangtua yang bekerja agar tetap dapat terfasilitasi untuk bersama-sama berdiskusi mencari solusi yang tepat.
- Menentukan mitra masyarakat yang akan mendukung kegiatan bermain.
- Menyiapkan media bermain yang dilakukan bersama-sama seperti, permainan tradisional seperti, bermain congklak untuk murid perempuan, bakiak, simpai, ,lompat tali, bermain bola untuk murid laki- laki menari dan bernyanyi bersama.
- Memberikan instruksi kepada guru untuk membuat kesepakatan kelas dan untuk selalu melakukan kegiatan pembiasaan yang baik seperti, mengucapkan tolong, maaf, terima kasih, permisi, memberikan pujian terhadap hasil karya teman, menolong teman jika jatuh dan kegiatan lainnya yang membiasakan adab yang baik.
- Menyiapkan asesmen untuk mengukur tercapainya pembelajaran.
- Melakukan refleksi & evaluasi bersama pengawas sekolah Strategi yang digunakan yaitu membuat TIM Investigasi yang bertugas sebagai penanggung jawab proyek untuk memimpin kegiatan dari awal sampai akhir dan memanfaatkan komunitas belajar dalam sekolah. Yang terlibat dalam proses ini adalah seluruh warga sekolah dan pengawas sekolah. Sumber daya yang digunakan adalah sumber daya masyarakat dan sumber daya biotik dan menggunakan anggaran BOP Kinerja.
REFLEKSI
Setiap usaha yang dilakukan tentu saja tidak langsung 100% berubah, dibutuhkan proses kesabaran dan resiliensi yang tinggi, sebagai kepala sekolah saya selalu memantau dan melihat sejauh mana dampak keberhasilan kegiatan yang sudah dilakukan, karena usaha warga sekolah yang serius dan para mitra yang sangat mendukung. aya melihat perubahan sikap dan perilaku pada murid-murid semakin hari semakin baik inilah hal yang dapat menjadi alasan keberhasilan yang menggembirakan pada kegiatan P5 ini. Ketika saya melakukan pengamatan, hasil supervisi kelas dan laporan asesmen guru selama kurang lebih 1 bulan antara lain :
- Saya melihat guru-guru lebih mudah mengarahkan murid karena suasana bermain yang kondusif, aman dan nyaman lingkungan bermain menjadi asyik juga menyenangkan.
- Tercapainya tujuan pembelajaran
- Kegiatan semakin bermakna yaitu kegiatan bermain yang mampu membangun pengetahuan dan pemahaman murid dan memberikan pengalaman yang menyenangkan seperti bebas memilih ragam kegiatan sesuai minat tanpa adanya tekanan dan dapat melakukan semua kegiatan dengan aman, nyaman dan menyenangkan.
Beberapa murid mulai berperilaku sopan, senang berbagi makanan dan mainan, sopan ketika berbicara, saling menghargai teman, senang membantu teman yang membutuhkan bantuan, dan senang melakukan kegiatan dalam kelompok.
respons orang tua yang disampaikan melalui testimoni proyek sangat positif dan ikut merasakan perubahan perilaku putra/putrinya saat melakukan kegiatan di rumah terbiasa menghargai orang lain dengan mengucapkan terima kasih, tolong, permisi dan mau membantu sesama anggota keluarga. Semua orang memiliki peran dalam menghentikan perundungan. Melindungi satu sama lain dan menciptakan lingkungan yang aman, nyaman dan inklusif adalah tanggung jawab bersama. Pembelajaran yang dapat diambil dari proses kegiatan ini adalah pentingnya respons yang cepat terhadap permasalahan yang terjadi agar tidak menimbulkan dampak yang lebih besar sampai ke jenjang pendidikan selanjutnya sehingga memudahkan tercapainya lingkungan bermain yang kondusif, inklusif, aman, nyaman dan tidak ada perundungan. Harapan saya pengalaman ini dapat menjadi inspirasi bagi kepala sekolah dalam memfasilitasi para guru mencari solusi bagaimana mengatasi perundungan yang terjadi dengan memanfaatkan komunitas belajar internal, membangun kerja sama dengan berbagai pihak seperti orang tua murid, masyarakat dan mampu memanfaatkan mitra-mitra yang sesuai dengan tantangan yang sedang dihadapi sehingga menghasilkan kegiatan yang tepat dengan metode strategi dan media yang menarik minat murid dalam membangun sikap dan perilaku yang positif.
Dr, Nugaan Yulia Wardhani Siregar
Tidak ada yang tidak mungkin kalau mau berusaha.
Kepala sekolah dan guru PAUD menjadi lebih efisien dalam melaksanakantugasnya dengan memanfaatkan teknologiinformasi
Yuni Herlina, M.Pd menemukan beragam Kepala satuan PAUD harus pengalaman, strategi. dan pemikiran cerdas serta berkomitmenuntuk menghadirkan pendidikan yang kreativitas,, inovasi, dan keberagaman merangsang anak-anak. Teruslah berkarya.
Dr. Paiman
"Para kepala sekolah, pengawas sekolah, dan tenaga
kependidikan yang berpartisipasi dalam apresiasi KSPSTK inovatif dan dedikatif 2023 menunjukkan semangat iovasi dan dedikasi luar biasa untuk pendidikan. Mereka tidak hanya inovatif dalam kepemmpinan, pendampingan dan system support, tetapi juga memiliki komitmen tinggi untukmemberikanyangterbaik bagi peserta didik. Mereka terlihat sangat inspiratif dan kami yakin mereka akan terus memberikan kontribusi positif bagidunia pendidikan.
Dr. Nandang Budiman
Kepala Satuan PAUD adalah pimpinan yang menginspirasi, memotivasi, dan memfasilitasi guru dan atau pamong dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan menyenangkan serta ramah terhadap keberagaman anak.