Baca PDF (OCR): TR-MODUL G - 3

179 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR· 1030 ms

Daftar isi
  1. Kode Mapel : 802GF000
  2. MODUL PENGEMBANGAN KEPROFESIAN
  3. BERKELANJUTAN
  4. TERINTEGRASI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER
  5. BIDANG PLB TUNARUNGU KELOMPOK KOMPETENSI G
  6. PEDAGOGIK:
  7. Komunikasi Efektif Pada Anak Tunarungu
  8. PROFESIONAL:
  9. Penerapan Pembelajaran Bunyi Bahasa Bagi Anak Tunarungu
  10. Penulis
  11. Penelaah
  12. Ilustrator
  13. Cetakan Pertama, 2016 Cetakan Kedua, 2017
  14. KATA SAMBUTAN
  15. KATA PENGANTAR
  16. DAFTAR ISI
  17. DAFTAR TABEL
  18. DAFTAR GAMBAR
  19. DAFTAR LEMBAR KERJA
  20. PENDAHULUAN
  21. A. Latar Belakang
  22. B. Tujuan 1 Standar Kompetensi
  23. C. Peta Kompetensi
  24. MODUL KELOMPOK KOMPETENSI G
  25. PEDAGOGIK PROFESIONAL
  26. D. Ruang Lingkup
  27. E. Saran Cara Penggunaan Modul
  28. KOMPETENSI PEDAGOGIK:
  29. KOMUNIKASI EFEKTIF PADA ANAK TUNARUNGU
  30. KEGIATAN PEMBELAJARAN 1
  31. KONSEP DASAR STRATEGI KOMUNIKASI EFEKTIF, EMPATIK, DAN SANTUN PADA ANAK
  32. TUNARUNGU
  33. A. Tujuan
  34. B. Indikator Pencapaian Kompetensi
  35. C. Uraian Materi
  36. Ciri-ciri sikap menurut Gerungan (2009:153) adalah:
  37. D. Aktivitas Pembelajaran
  38. E. Latihan/Kasus/Tugas
  39. F. Rangkuman
  40. G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
  41. KEGIATAN PEMBELAJARAN 2
  42. TEKNIK PENERAPAN PEMBIMBINGAN KOMUNIKASI EFEKTIF, EMPATIK, DAN SANTUN
  43. PADA ANAK TUNARUNGU
  44. A. Tujuan
  45. a. Indikator Pencapaian Kompetensi
  46. b. Uraian Materi
  47. dengan baik. Sehubungan
  48. Contoh 1: Format pengamatan sikap
  49. Contoh: Format penilaian teman sebaya
  50. Hari, tanggal Kejadian Keterangan
  51. Tidak favourable Netral favourable
  52. 1. Aktivitas Pembelajaran
  53. 2. Latihan/Kasus/Tugas
  54. 3. Rangkuman
  55. 4. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
  56. KEGIATAN PEMBELAJARAN 3 KLASIFIKASI BUNYI-BUNYI BAHASA
  57. A. Tujuan
  58. B. Indikator Pencapaian Kompetensi
  59. C. Uraian Materi
  60. Gambar 3. 1 Alat Ucap Manusia
  61. menggulai (air kopi)
  62. pulau mau (makan)
  63. sepoi, amboi meridoi
  64. Gambar 1.1 Titik – titik pengucapan
  65. Tabel 3. 3 Tabel Pengucapan Konsonan
  66. Gambar 3. 3 Konsonan Bilabial
  67. Gambar 3. 4 Konsonan Alveolar
  68. Gambar 3. 5 Konsonan Velar
  69. Gambar 3. 8 Konsonan Frikatif Velar
  70. Gambar 3. 10 Konsonan lateral alveolar
  71. D. Aktivitas Pembelajaran
  72. E. Latihan/ Kasus /Tugas
  73. F. Rangkuman
  74. Berdasarkan artikulasinya, konsonan dapat dikatagorikan berdasarkan
  75. G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
  76. KEGIATAN PEMBELAJARAN 4 PERENCANAAN PEMBELAJARAN BUNYI
  77. BAHASA BAGI ANAK TUNARUNGU
  78. A. Tujuan
  79. B. Indikator Pencapaian Kompetensi
  80. C. Uraian Materi
  81. Contoh: 1
  82. RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )
  83. SBDP
  84. BAHASA INDONESIA
  85. Indikator:
  86. C. TUJUAN PEMBELAJARAN
  87. E. Kegiatan Pembelajaran Pertemuan Hari ke Satu
  88. Ayo bertanya
  89. Kegiatan Deskripsi Kegiatan Alokasi waktu
  90. Pertemuan Hari ke Dua
  91. Kegiatan Deskripsi Kegiatan Alokasi waktu
  92. F. Media, Alat, dan Sumber Pembelajaran
  93. G. PENILAIAN
  94. Lembar pengamatan ketaatan dalam permainan
  95. Rubrik kegiatan memperkenalkan teman
  96. Tujuan Pembelajaran:
  97. Kegiatan:
  98. Evaluasi:
  99. Contoh:
  100. LEMBAR PENGAMATAN SISWA
  101. Catatan:
  102. D. Aktivitas Pembelajaran
  103. E. Latihan/ Kasus /Tugas
  104. F. Rangkuman
  105. G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
  106. KOMPETENSI PROFESIONAL:
  107. PENERAPAN PEMBELAJARAN BUNYI BAHASA BAGI ANAK TUNARUNGU
  108. KEGIATAN PEMBELAJARAN 5 PENERAPAN PEMBELAJARAN BUNYI BAHASA
  109. BAGI ANAK TUNARUNGU
  110. A. Tujuan
  111. B. Indikator Pencapaian Kompetensi
  112. C. Uraian Materi
  113. Gambar 5. 8 Kartu Bergambar
  114. D. Aktivitas Pembelajaran
  115. E. Latihan/Kasus/Tugas
  116. F. Rangkuman
  117. G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
  118. KEGIATAN PEMBELAJARAN 6 PENILAIAN PEMBELAJARAN BUNYI BAHASA
  119. BAGI ANAK TUNARUNGU
  120. A. Tujuan
  121. B. Indikator Pencapaian Kompetensi
  122. A. Uraian Materi
  123. Contoh 1 : Instrumen Penilaian
  124. Contoh 2 : Penilaian Praktik
  125. Langkah – langkah Analisis:
  126. FORMAT ANALISIS TUGAS
  127. MENGENAL BERBAGAI BUNYI ALAT MUSIK
  128. Diskripsi Identifikasi
  129. Contoh 4: Laporan
  130. LAPORAN KETERCAPAIAN KEMAMPUAN
  131. PROGRAM PENGEMBANGAN KOMUNIKASI PERSEPSI BUNYI DAN IRAMA
  132. Contoh 5: Instrument Asesmen:
  133. Contoh 6: Format Observasi dan asesmen
  134. Formulir Observasi dan Asesmen Anak Tunarungu
  135. Contoh 7: Daftar Observasi
  136. Daftar Observasi Pas Photo
  137. A. Identitas Anak :
  138. B. Keadaan organ bicara
  139. Contoh 8: Asesmen Kemampuan Berbicara
  140. Asesmen Anak Tunarungu
  141. Kemampuan Bicara
  142. B. Aktivitas Pembelajaran
  143. E. Latihan/ Kasus /Tugas
  144. F. Rangkuman
  145. G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
  146. KUNCI JAWABAN LATIHAN/KASUS/TUGAS
  147. KEGIATAN PEMBELAJARAN: 1
  148. KEGIATAN PEMBELAJARAN: 2
  149. KEGIATAN PEMBELAJARAN: 4
  150. KEGIATAN PEMBELAJARAN: 5
  151. Kegiatan Inti
  152. KEGIATAN PEMBELAJARAN: 6
  153. PENILAIAN
  154. EVALUASI
  155. PENUTUP
  156. SELAMAT BERKARYA!
  157. DAFTAR PUSTAKA
  158. GLOSARIUM
  159. LAMPIRAN
  160. Lembar Kerja: 2
Kode Mapel : 802GF000

MODUL PENGEMBANGAN KEPROFESIAN

BERKELANJUTAN

TERINTEGRASI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER

BIDANG PLB TUNARUNGU KELOMPOK KOMPETENSI G

PEDAGOGIK:
Komunikasi Efektif Pada Anak Tunarungu
PROFESIONAL:
Penerapan Pembelajaran Bunyi Bahasa Bagi Anak Tunarungu
Penulis

Dr. H. Agus Supriatna, M.Pd.;085860067202; [email protected]

Penelaah

Drs. Endang Rusyani, M.Pd.; 085220680059; [email protected]

Ilustrator

Achmad Wahyu, S.Pd.; 082319796615; [email protected]

Cetakan Pertama, 2016 Cetakan Kedua, 2017

Copyright© 2017 Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Taman Kanak-kanak & Pendidikan Luar Biasa, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan

Hak cipta dilindungi Undang-undang Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan. PPPPTK TK DAN PLB BANDUNG © 2016 i

© 2017 ii

KATA SAMBUTAN

Peran guru profesional dalam proses pembelajaran sangat penting sebagai kunci keberhasilan belajar siswa. Guru profesional adalah guru yang kompeten membangun proses pembelajaran yang baik sehingga dapat menghasilkan pendidikan yang berkualitas dan berkarakter prima. Hal tersebut menjadikan guru sebagai komponen yang menjadi fokus perhatian Pemerintah maupun pemerintah daerah dalam peningkatan mutu pendidikan terutama menyangkut kompetensi guru. Pengembangan profesionalitas guru melalui Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan merupakan upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependikan dalam upaya peningkatan kompetensi guru. Sejalan dengan hal tersebut, pemetaan kompetensi guru telah dilakukan melalui Uji Kompetensi Guru (UKG) untuk kompetensi pedagogik dan profesional pada akhir tahun 2015. Peta profil hasil UKG menunjukkan kekuatan dan kelemahan kompetensi guru dalam penguasaan pengetahuan pedagogik dan profesional. Peta kompetensi guru tersebut dikelompokkan menjadi 10 (sepuluh) kelompok kompetensi. Tindak lanjut pelaksanaan UKG diwujudkan dalam bentuk pelatihan guru paska UKG pada tahun 2016 dan akan dilanjutkan pada tahun 2017 ini dengan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kompetensi guru sebagai agen perubahan dan sumber belajar utama bagi peserta didik. Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru dilaksanakan melalui tiga moda, yaitu: 1) Moda Tatap Muka, 2) Moda Daring Murni (online), dan 3) Moda Daring Kombinasi (kombinasi antara tatap muka dengan daring). Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kelautan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LP3TK KPTK) dan Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LP2KS) merupakan Unit Pelaksanana Teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan yang bertanggung jawab dalam mengembangkan perangkat dan melaksanakan peningkatan kompetensi guru sesuai bidangnya. Adapun perangkat pembelajaran yang dikembangkan tersebut adalah modul Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru moda tatap muka dan moda daring untuk semua mata pelajaran dan kelompok kompetensi. Dengan modul ini diharapkan program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan memberikan sumbangan yang sangat besar dalam peningkatan kualitas kompetensi guru.

© 2017 iii

Mari kita sukseskan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan ini untuk mewujudkan Guru Mulia Karena Karya. Jakarta, April 2017 Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan,

Sumarna Surapranata, Ph.D. NIP 195908011985031002

© 2017 iv

KATA PENGANTAR

Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam meningkatkan kompetensi guru secara berkelanjutan, diawali dengan pelaksanaan Uji Kompetensi Guru dan ditindaklanjuti dengan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan. Untuk memenuhi kebutuhan bahan ajar kegiatan tersebut, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Taman Kanak-Kanak dan Pendidikan Luar Biasa (PPPPTK TK dan PLB), telah mengembangkan Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Bidang Pendidikan Luar Biasa yang terintegrasi Penguatan Pendidikan Karakter dan merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 32 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru Pendidikan Khusus. Kedalaman materi dan pemetaan kompetensi dalam modul ini disusun menjadi sepuluh kelompok kompetensi. Setiap modul meliputi pengembangan materi kompetensi pedagogik dan profesional bagi guru Sekolah Luar Biasa. Modul dikembangkan menjadi 5 ketunaan, yaitu tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa dan autis. Setiap modul meliputi pengembangan materi kompetensi pedagogik dan profesional. Subtansi modul ini diharapkan dapat memberikan referensi, motivasi, dan inspirasi bagi peserta dalam mengeksplorasi dan mendalami kompetensi pedagogik dan profesional guru Sekolah Luar Biasa. Kami berharap modul yang disusun ini dapat menjadi bahan rujukan utama dalam pelaksanaan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Bidang Pendidikan Luar Biasa. Untuk pengayaan materi, peserta disarankan untuk menggunakan referensi lain yang relevan. Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berperan aktif dalam penyusunan modul ini.

Bandung, April 2017 Kepala,

Drs. Sam Yhon, M.M. NIP. 195812061980031003

© 2017 v

© 2017 vi

DAFTAR ISI

KATA SAMBUTAN.......................................................................... iii
KATA PENGANTAR ......................................................................... v
DAFTAR TABEL .............................................................................xi
DAFTAR GAMBAR......................................................................... xiii
PENDAHULUAN ........................................................................... 1

A. Latar Belakang..................................................................... 1
B. Tujuan ............................................................................... 3
C. Peta Kompetensi .................................................................. 4
D. Ruang Lingkup..................................................................... 5
E. Saran Cara Penggunaan Modul ................................................ 6
KOMPETENSI PEDAGOGIK:................................................................ 9
KOMUNIKASI EFEKTIF PADA ANAK TUNARUNGU...................................... 9
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1........................................................10
KONSEP DASAR STRATEGI KOMUNIKASI EFEKTIF,
EMPATIK, DAN SANTUN PADA ANAK TUNARUNGU ............................11

A. Tujuan ..............................................................................11
B. Indikator Pencapaian Kompetensi............................................11
C. Uraian Materi......................................................................11
D. Aktivitas Pembelajaran..........................................................34
E. Latihan/Kasus/Tugas............................................................34
F. Rangkuman........................................................................35
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut...............................................35 TEKNIK PENERAPAN PEMBIMBINGAN KOMUNIKASI EFEKTIF,
EMPATIK, DAN SANTUN PADA ANAK TUNARUNGU..................................37

A. Tujuan ..............................................................................37
a. Indikator Pencapaian Kompetensi.............................................37
b. Uraian Materi......................................................................37
1. Aktivitas Pembelajaran..........................................................59
2. Latihan/Kasus/Tugas .............................................................59
© 2017 vii

3. Rangkuman.........................................................................59
4. Umpan Balik dan Tindak Lanjut................................................60 KEGIATAN PEMBELAJARAN 3 KLASIFIKASI BUNYI-BUNYI
BAHASA .....................................................................................61

A. Tujuan ..............................................................................61
B. Indikator Pencapaian Kompetensi.............................................61
C. Uraian Materi......................................................................61
D. Aktivitas Pembelajaran..........................................................79
E. Latihan/ Kasus /Tugas............................................................80
F. Rangkuman.........................................................................80
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut................................................81
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4........................................................83
PERENCANAAN PEMBELAJARAN BUNYI BAHASA BAGI
ANAK TUNARUNGU .....................................................................83

A. Tujuan ..............................................................................83
B. Indikator Pencapaian Kompetensi............................................83
C. Uraian Materi......................................................................83
D. Aktivitas Pembelajaran........................................................ 108
E. Latihan/ Kasus /Tugas ........................................................ 109
F. Rangkuman...................................................................... 109
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut............................................. 109
KOMPETENSI PROFESIONAL: .......................................................... 111
PENERAPAN PEMBELAJARAN BUNYI BAHASA BAGI ANAK
TUNARUNGU ............................................................................. 111
KEGIATAN PEMBELAJARAN 5 ......................................................... 113
PENERAPAN PEMBELAJARAN BUNYI BAHASA BAGI ANAK
TUNARUNGU ............................................................................. 113

A. Tujuan ............................................................................ 113
B. Indikator Pencapaian Kompetensi.......................................... 113
C. Uraian Materi.................................................................... 113
D. Aktivitas Pembelajaran........................................................ 132 © 2017 viii

E. Latihan/Kasus/Tugas.......................................................... 132
F. Rangkuman...................................................................... 132
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut............................................. 133
KEGIATAN PEMBELAJARAN 6 ......................................................... 135
PENILAIAN PEMBELAJARAN BUNYI BAHASA BAGI ANAK
TUNARUNGU ............................................................................. 135

A. Tujuan ............................................................................ 135
B. Indikator Pencapaian Kompetensi.......................................... 135
A. Uraian Materi.................................................................... 136
B. Aktivitas Pembelajaran........................................................ 148
E. Latihan/ Kasus /Tugas ........................................................ 148
F. Rangkuman...................................................................... 148
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ................................................. 148
KUNCI JAWABAN LATIHAN/KASUS/TUGAS..................................... 149
EVALUASI ............................................................................... 153
PENUTUP ................................................................................ 155
DAFTAR PUSTAKA .................................................................... 157
GLOSARIUM............................................................................. 159

© 2017 ix

© 2017 x

DAFTAR TABEL

Tabel 3. 1 International Phonetic Alphabet 1............................... 64
Tabel 3. 2 International Phonetic Alphabet 2............................... 67
Tabel 3. 3 Tabel Pengucapan Konsonan...................................... 72

© 2017 xi

© 2017 xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3. 1 Alat Ucap Manusia............................................... 62
Gambar 3. 2 Posisi Vokal ....................................................... 68
Gambar 3. 4 Konsonan Bilabial ................................................ 73
Gambar 3. 5 Konsonan Alveolar ............................................... 74
Gambar 3. 6 Konsonan Velar................................................... 74
Gambar 3. 7 Konsonan Trikatif Labiodental................................. 75
Gambar 3. 8 Konsonan Frikatif Alveolar...................................... 75
Gambar 3. 9 Konsonan Frikatif Velar ......................................... 76
Gambar 3. 10 Konsonan Afrikat Palatal ...................................... 76
Gambar 3. 11 Konsonan lateral alveolar ..................................... 77
Gambar 3. 12 Konsonan lateral alveolar ..................................... 79

Gambar 5. 1 Contoh Proses Pengamatan Gambar ......................... 114
Gambar 5. 3 Contoh Tugas yang Menumbuhkan Keterampilan Bertanya
.................................................................................... 115
Gambar 5. 4 Mencoba/Bereksperimen untuk Menganalisis dan
Membandingkan................................................................. 116
Gambar 5. 5 Contoh Proses Mengasosiasi, Menalar, dan Mengolah
Informasi......................................................................... 117
Gambar 5. 6 Stimulasi untuk Merangsang Anak ............................ 118
Gambar 5. 7 Pernafasan Dada, Perut, dan Diaphragma................... 124
Gambar 5. 8 Sikap Badan Pernafasan Diaphragma......................... 125
Gambar 5. 9 Kartu Bergambar................................................ 131

© 2017 xiii

© 2016 xiv

DAFTAR LEMBAR KERJA

Lembar Kerja 1 ................................................................. 114
Lembar Kerja 2 ................................................................. 131

© 2017 xv

© 2016 xvi

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam modul kelompok kompetensi G ini, Anda akan mempelajari materi yang berkaitan dengan kompetensi pedagogik yaitu (1) Konsep Dasar Strategi Komunikasi Efektif, Empatik dan Santun pada Anak Tunarungu; (2) Teknik Penerapan dan Pembimbingan Komunikasi Efektif, Empatik dan Santun pada Anak Tunarungu. Di samping itu, materi yang berkaitan dengan kompetensi profesional adalah; (1) Klasifikasi Bunyi-bunyi Bahasa; (2) Perencanaan Pembelajaran Bunyi Bahasa bagi Anak Tunarungu; (3) Pelaksanaan Pembelajaran Bunyi Bahasa bagi Anak Tunarungu; dan (4) Penilaian Pembelajaran Bunyi Bahasa bagi Anak Tunarungu.

Pembahasaan materi-materi di atas, akan diintegrasikan dengan nilai-nilai utama karakter religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, atau integritas. Nilai riligius adalah ini ditunjukkan dalam perilaku mencintai dan menjaga keutuhan ciptaan. Adapun subnilainya meliputi; cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama, teguh pendirian, percayadiri, kerja sama lintas agama, antibuli dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, melindungi yang kecil dan tersisih.

Nilai Karakter Nasionalis merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Adapun subnilainya meliputi; apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, unggul dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku, dan agama.

Nilai Karakter Mandiri merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi dan cita-cita. Adapun subnilainya meliputi; etos kerja (kerja keras), tangguh tahan banting, daya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

© 2017

Nilai Karakter Gotong Royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerjasama dan bahu membahu menyelesaikan persoalan bersama, memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, bersahabat dengan orang laindan memberi bantuan pada mereka yang miskin, tersingkir dan membutuhkan pertolongan. Adapun subnilainya meliputi; menghargai, kerjasama, inklusif, komitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat, tolongmenolong, solidaritas, empati, anti diskriminasi, anti kekerasan, sikap kerelawanan.

Nilai Karakter Integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral (integritas moral). Karakter integritas meliputi sikap tanggungjawab sebagai warga negara, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, melalui konsistensi tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran. Adapun subnilainya meliputi; kejujuran,cinta pada kebenaran, setia, komitmen moral, anti korupsi, keadilan, tanggungjawab, keteladanan, menghargai martabat individu (terutama penyandang disabilitas).

Berdasarkan pemetaan Kompetensi Utama (KU), Kompetensi Inti (KI) dan Standar Kompetensi Guru (SKG) yang dijabarkan menjadi Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK), maka modul ini dapat membantu para guru dalam memahami konsep dasar dan menerapkan teknik penerapan dan pembimbingan strategi komunikasi efektif, empatik dan santun kepada Anak Tunarungu. Di samping itu, dapat merencanakan, melaksanakan, dan menilai program pengembangan komunikasi, persepsi bunyi dan irama (PKPBI).

Dengan demikian, modul ini bermanfaat bagi guru untuk:

  1. mempersiapkan insan yang empatik dan santun, baik dalam proses pembelajaran maupun dalam kehidupan keseharian anak tunarungu;
  2. menjadi acuan bagi guru dalam menyelenggarakan program PKPBI di sekolah; © 2017

  3. memberikan rambu-rambu kepada guru tentang prinsip, proses, prosedur pelaksanaan dan penilaian PKPBI di sekolah,

  4. memberikan arah dalam pelaksanaan PKPBI di sekolah, dan
  5. memberikan arahan praktik penerapan nilai karakter pada diri siswa.

    B. Tujuan 1 Standar Kompetensi

a. Menerapkan berbagai strategi berkomunikasi yang efektif, empatik dan santun, baik secara lisan maupun tulisan (7.1).
b. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik dengan bahasa yang khas dalam interaksi pembelajaran yang terbangun secara siklikal dari (a) penyiapan kondisi psikologis peserta didik, (b) memberikan pertanyaan atau tugas sebagai undangan kepada peserta didik untuk merespon, (c) respon peserta didik, (d) reaksi guru terhadap respon peserta didik, dan seterusnya. (7.2).
c. Menguasai prinsip, teknik, dan prosedur pelaksanaan pembelajaran PKPBI (20.27).
d. Menguasai materi PKPBI (20.28).
2 Indikator Pencapaian Kompetensi

a. Mampu menyiapkan strategi komunikasi efektif, empatik, dan santun untuk kepentingan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak tunarungu jenjang SDLB (7.1.1).
b. Mampu menggunakan strategi komunikasi yang efektif, empatik, dan santun untuk kepentingan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak tunarungu jenjang SDLB (7.1.2).
c. Mampu membimbing peserta didik tunarungu dalam berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan bahasa yang khas dalam interaksi pembelajaran yang terbangun secara siklikal dalam menyiapkan kondisi psikologis peserta didik (7.2.1).
© 2017

d. Mampu berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik tunarungu dengan bahasa yang khas dalam interaksi pembelajaran yang terbangun secara siklikal dalam memberikan pertanyaan atau tugas sebagai undangan kepada peserta didik untuk merespon (7.2.2).
e. Mampu menerapkan teknik pembentukan fonem (20.27.21).
f. Mampu merencanakan pembelajaran bunyi bahasa (20,28.1)
g. Mampu melaksanakan pembelajaran bunyi bahasa (20,28.2)
h. Mampu menilai pembelajaran bunyi bahasa (20,28.3)

C. Peta Kompetensi

MODUL KELOMPOK KOMPETENSI G
PEDAGOGIK PROFESIONAL

Klasifikasi Bunyi-Konsep Dasar bunyi Bahasa Strategi Komunikasi Efektif, Empatik dan Santun Perencanaan Pembelajaran Bunyi Bahasa bagi Anak

Teknik Penerapan

dan Pembimbingan Penerapan
Komunikasi Efektif, Pembelajaran
Empatik dan Santun Bunyi Bahasa

bagi Anak Tunarungu

Penilaian Pembelajaran Bunyi Bahasa bagi Anak Tunarungu © 2017

D. Ruang Lingkup

Materi yang dibahas pada modul Diklat PKB Guru SLB Tunarungu Kelompok Kompetensi G ini merupakan modul ketujuh dari sepuluh modul diklat bagi guru anak tunarungu. Adapun modul ini terdiri atas 6 (enam) Kegiatan Pembelajaran yaitu sebagai berikut.

Kegiatan Pembelajaran 1: Konsep Dasar Strategi Komunikasi Efektif, Empatik dan Santun pada Anak Tunarungu yang pembahasannya mencakup: (a) Komunikasi; pengertian dan tujuan komunikasi, fungsi dan syarat-syarat komunikasi, serta komunikasi efektif. (b) Sikap; pengertian sikap, ciri-ciri sikap, komponen sikap, tingkatan sikap, fungsi sikap, bentuk-bentuk sikap, dan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap. (c) Empatik; pengertian empatik, bentuk empati, aspek empati, karakterisitik empati, aspek-aspek empati. (d) Santun; pengertian santun, aspek-aspek perilaku sopan santun, dan penyebab ketidaksantunan.

Kegiatan Pembelajaran 2: Teknik Penerapan dan Pembimbingan Komunikasi Efektif, Empatik dan Santun pada Anak Tunarungu yang pembahasannya mencakup; Komunikasi Efektif dalam Pembelajaran, Metode Komunikasi dalam Pembelajaran, Pendekatan Empati dalam Pembelajaran, Empati yang Perlu Ditumbuh kembangkan pada Anak, Bentuk Kesantunan dalam Pembelajaran, dan Penilaian Sikap dalam Proses Pembelajaran.

Kegiatan Pembelajaran 3: Klasifikasi Bunyi-bunyi Bahasa yang pembahasannya mencakup; Alat Ucap Manusia, dan Klasifikasi Bunyi-bunyi Bahasa.

Kegiatan Pembelajaran 4: Perencanaan Pembelajaran Bunyi Bahasa bagi Anak Tunarungu yang pembahasannya mencakup; Latar Belakang Penyusunan Kurikulum Pendidikan Khusus Tunarungu dan Hakikat, Prinsip-prinsip, Komponen dan Sistematika, dan Langkah-langkah Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Kegiatan Pembelajaran 5: Penerapan Pembelajaran Bunyi Bahasa bagi Anak Tunarungu yang pembahasannya mencakup; Penerapan Pendekatan

© 2017

Saintifik dalam Pembelajaran Tematik Terpadu di SDLB Tunarungu, dan Pembelajaran Bunyi bagi Anak Tunarungu.

Kegiatan Pembelajaran 6: Penilaian Pembelajaran Bunyi Bahasa bagi Anak Tunarungu yang pembahasannya mencakup; Konsep Dasar Pengukuran dan Penilaian dalam Pembelajaran bagi ABK, Kerangka Pikir Pengembangan Perangkat Evaluasi Pembelajaran bagi ABK, Prinsip-prinsip Pengembangan Perangkat Evaluasi Pembelajaran bagi ABK, Langkah-langkah Pengembangan Perangkat Evaluasi Pembelajaran bagi ABK, dan Penilaian Pembelajaran Bunyi bagi Anak Tunarungu.

E. Saran Cara Penggunaan Modul

Untuk mengoptimalkan pemanfaatan modul ini sebagai bahan pelatihan, beberapa langkah berikut ini perlu menjadi perhatian para peserta pelatihan.

  1. Sebelum mempelajari modul ini, Anda dengan penuh percaya diri dan berdoa pasti mampu menguasai isi materi dengan baik.
  2. Lakukan pengecekan terhadap kelengkapan modul ini, seperti kelengkapan halaman, kejelasan hasil cetakan, serta kondisi modul secara keseluruhan.
  3. Bacalah petunjuk penggunaan modul serta bagian Pendahuluan sebelum masuk pada pembahasan materi pokok.
  4. Pelajarilah modul ini secara bertahap dimulai dari uraian materi sampai tuntas, termasuk di dalamnya ada aktivitas pembelajaran, dan ada latihan/tugas/kasus sebelum melangkah ke materi pokok berikutnya. Ukurlah hasil belajar pada uraian materi dengan kunci yang tersedia. Disarankan tidak melihat kunci jawaban terlebih dahulu agar evaluasi yang dilakukan dapat mengukur tingkat penguasaan peserta terhadap materi yang disajikan.
  5. Pada saat membaca, berhentilah di sana-sini dan usahakan untuk mengulang kembali kalimat-kalimat yang baru selesai dibaca dengan menggunakan kalimat-kalimat sendiri dalam usaha Anda untuk mengemukakan kembali isi pengertian dari kalimat yang baru selesai dipeljari. Tujuannya ialah untuk mulai mencamkan isi bacaan. © 2017

  6. Buatlah catatan kecil atau pertanyaan-pertanyaan untuk mengingat isi materi pada margin (bagian pinggiran/tepi halaman kosong, baik sebelah kiri maupun kanan setiap halaman buku) yang sedang dibaca. Tujuannya ialah untuk mencuplik pokok-pokok pikiran/pengertian yang kita anggap paling penting guna memudahkan pengingatan kita mengenai inti dari isi materi.

  7. Berilah tanda dengan garis di bawah/stabilo pada kata atau kalimat-kalimat yang anggap paling penting. Tujuannya ialah untuk memudahkan menemukan kembali bagian kalimat atau kalimat-kalimat yang menurut penilaian Anda merupakan bagian penting dan merupakan inti permasalahan.
  8. Baca ulang seluruh materi yang telah selesai dipelajari, dua atau tiga kali. Dengan bantuan catatan/pertanyaan dan tanda garis di bawah/stabilo sebelumnya, maka jawablah pertanyaan-pertanyaan tersebut. tujuannya untuk memperkuat asosiasi dan intisari dari isi materi. Dengan demikian, Anda akan teringat isi materi setiap alinea atau bagian teks dari setiap halaman modul.
  9. Apabila pertanyaan yang Anda ajukan tidak terjawab sendiri, maka diskusikan dalam kelompok belajar untuk memecahkan masalah yang ditemukan dari isi materi modul tersebut.
    © 2017

© 2017

KOMPETENSI PEDAGOGIK:

KOMUNIKASI EFEKTIF PADA ANAK TUNARUNGU

© 2017

© 2017

KP

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1

KONSEP DASAR STRATEGI KOMUNIKASI EFEKTIF, EMPATIK, DAN SANTUN PADA ANAK

TUNARUNGU

A. Tujuan

  1. Melalui contoh keteladanan, peserta dapat menjelaskan konsep dasar strategi komunikasi efektif sesuai dengan karakteristik anak tunarungu jenjang SDLB.
  2. Melalui contoh keteladanan, peserta dapat menjelaskan konsep dasar sikap sesuai dengan karakteristik anak tunarungu jenjang SDLB.
  3. Melalui contoh keteladanan, peserta dapat menjelaskan konsep dasar empatik sesuai dengan karakteristik anak tunarungu jenjang SDLB.
  4. Melalui contoh keteladanan, peserta dapat menjelaskan konsep dasar santun sesuai dengan karakteristik anak tunarungu jenjang SDLB.

    B. Indikator Pencapaian Kompetensi

  5. Menjelaskan pengertian, tujuan, fungsi, syarat-syarat komunikasi, dan komunikasi efektif.

  6. Menjelaskan pengertian sikap, ciri-ciri sikap, komponen sikap, tingkatan sikap, fungsi sikap, bentuk-bentuk sikap, dan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap.
  7. Menjelaskan pengertian empatik, bentuk empati, aspek empati, karakterisitik empati, aspek-aspek empati.
  8. Menjelaskan pengertian santun, aspek-aspek perilaku sopan santun, dan penyebab ketidaksantunan.

    C. Uraian Materi

Kegiatan Pembelajaran pertama ini akan membahas mengenai konsep dasar strategi komunikasi efektif, empatik dan santun pada anak tunarungu. Sebelum membahas lebih dalam, perlu dibahas dahulu batasan

© 2017

KP

komunikasi beserta komponen-komponen yang mempengaruhinya. Di samping itu, batasan sikap pun harus diungkap, mengingat makna empatik dan santun adalah bagian dari sikap itu sendiri.

1. Komunikasi
a. Pengertian dan Tujuan Komunikasi Pengertian komunikasi secara umum sebagaimana dimuat dalam http://www.artikelsiana.com adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan atau informasi antara dua individu atau lebih dengan efektif sehingga dapat dipahami dengan mudah. Istilah komunikasi dalam bahasa Inggris disebut communication, yang berasal dari kata communication atau communis yang memiliki arti /sama/ atau yang memiliki makna pengertian /bersama/. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian komunikasi adalah /pengiriman dan penerimaan pesan atau berita dari dua orang atau lebih agar pesan yang dimaksud dapat dipahami/. Adapun tujuan komunikasi secara umum adalah sebagai berikut.
1) Supaya yang disampaikan komunikator dapat dimengerti oleh komunikan. Agar dapat dimengerti oleh komunikan, maka komunikator perlu menjelaskan pesan utama dengan sejelas- jelasnya dan sedetail mungkin.
2) Agar dapat memahami orang lain. Dengan melakukan komunikasi, setiap individu dapat memahami individu yang lain dengan kemampuan mendengar apa yang dibicarakan orang lain.
3) Agar pendapat kita diterima orang lain. Komunikasi dan pendekatan persuasif merupakan cara agar gagasan kita diterima oleh orang lain.
4) Menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu. Komunikasi dan pendekatan persuasif, kita mampu membangun persamaan presepsi dengan orang kemudian menggerakkannya sesuai keinginan kita.
© 2017

KP

b. Fungsi dan Syarat-syarat Komunikasi
1) Fungsi Komunikasi Dalam manfaat dan dampak yang ditimbulkan komunikasi memiliki fungsi-fungsi yang sangat berperan dalam kehidupan masyarakat. Secara umum, fungsi komunikasi adalah sebagai berikut.
a) Sebagai Kendali: Fungsi komunikasi sebagai kendali memiliki arti bahwa komunikasi bertindak untuk mengendalikan perilaku orang lain atau anggota dalam beberapa cara yang harus dipatuhi.
b) Sebagai Motivasi: Komunikasi memberikan perkembangan dalam memotivasi dengan memberikan penjelasan dalam hal-hal dalam kehidupan kita.
c) Sebagai Pengungkapan Emosional: Komunikasi memiliki peranan dalam mengungkapkan perasaan-perasaan kepada orang lain, baik itu senang, gembira, kecewa, tidak suka. dan lain-lainnya.
d) Sebagai Informasi: Komunikasi memberikan informasi yang diperlukan dari setiap individu dan kelompok dalam mengambil keputusan dengan meneruskan data guna mengenai dan menilai pemilihan alternatif.
2) Syarat-syarat Komunikasi Syarat-syarat komunikasi adalah sebagai berikut.
a) Source (sumber): Source adalah dasar dalam penyampaian pesan dalam rangka memperkuat pesan itu sendiri. Sumber komunikasi adalah orang, lembaga, buku dan lain-lain.
b) Komunikator, komunikator adalah pelaku penyampain pesan yang berupa individu yang sedang berbicara atau penulis, dapat juga berupa kelompok orang, organisasi komunikasi seperti televisi, radio, film, surat kabar, dan sebagainya.
c) Pesan, pesan adalah keseluruhan yang disampaikan oleh komunikator. Pesan mempunyai tema utama sebagai
© 2017

KP

pengarah dalam usaha mengubah sikap dan tingkah laku orang lain.

d) Saluran (channel), Saluran adalah komunikator yang digunakan dalam menyampaikan pesan. Saluran komunkasi berupa saluran formal (resmi) dan saluran informal (tidak resmi). Saluran formal adalah saluran yang mengikuti garis wewenang dari suatu organisasi, seperti komunikasi antara pimpinan dan bawahannya, sedangkan saluran informal adalah saluran yang berupa desas-desus, kabar burung dan kabar angin.
e) Komunikan, komunikan adalah penerima pesan dalam komunikasi yang berupa individu, kelompok dan massa
f) Effect (hasil), effect adalah hasil akhir dari suatu komunikasi dengan bentuk terjadinya perubahan sikap dan perilaku komunikan. Perubahan itu bisa sesuai keinginan atau tidak sesuai dengan keinginan komunikator.
3) Komunikasi Efektif Jalaluddin (1987:29) menjelaskan bahwa komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya pengertian, dapat menimbulkan kesenangan, mempengaruhi sikap, meningkatkan hubungan sosial yang baik, dan pada akhirnya menimbulkan suatu tidakan. Lebih lanjut, Jalaluddin memberikan syarat-syarat untuk berkomunikasi secara efektif di antaranya:
a) Menciptakan suasana yang menguntungkan.
b) Menggunakan bahasa yang mudah ditangkap dan dimengerti.
c) Pesan yang disampaikan dapat menggugah perhatian atau minat di pihak komunikan.
d) Pesan dapat menggugah kepentingan dipihak komunikan yang dapat menguntungkannya.
e) Pesan dapat menumbuhkan sesuatu penghargaan atau reward di pihak komunikan.
© 2017

KP

Stephen Covey dalam Error! Hyperlink reference not valid. menekankan konsep kesaling tergantungan (interdependency) untuk menjelaskan hubungan antar manusia. Unsur paling penting dalam komunikasi bukan sekadar pada apa yang kita tulis atau kita katakan, tetapi lebih pada karakter kita dan bagaimana kita menyampaikan pesankepada penerima pesan. Jika kata-kata atau pun tulisan kita dibangun dari teknik hubungan manusia yang dangkal (etika kepribadian), bukan dari diri kita yang paling dalam (etika karakter), maka orang lain akan melihat atau membaca sikap kita. Menurut Stephen Covey yang dimuat dalam https://edoparnando27.wordpress.com menekankan justru komunikasi merupakan keterampilan yang paling penting dalam hidup kita. Kita menghabiskan sebagian besar jam di saat kita sadar dan bangun untuk berkomunikasi. Sama halnya dengan pernafasan, komunikasi kita anggap sebagai hal yang otomatis terjadi begitu saja, sehingga kita tidak memiliki kesadaran untuk melakukannya dengan efektif.

4) Hambatan dalam Komunikasi Menurut Ron Ludlow & Fergus Panton yang dimuat dalam htpp //jurnalblogshpot.com hambatan-hambatan yang menyebabkan komunikasi tidak efektif yaitu sebagai berikut.
a) Status Effect Adanya perbedaaan pengaruh status sosial yang dimiliki setiap manusia. Misalnya, karyawan dengan status sosial yang lebih rendah harus tunduk dan patuh pada semua perintah yang diberikan atasan. Maka karyawan tersebut tidak dapat atau takut mengemukakan aspirasi atau pendapatnya.
b) Semantic Problems Faktor semantik menyangkut bahasa yang dipergunakan komunikator sebagai alat untuk menyalurkan pikiran dan perasaannya kepada komunikan. Demi kelancaran komunikasi, seorang komunikator harus benar-benar
© 2017

KP

memperhatikan gangguan sematis ini, sebab kesalahan pengucapan atau kesalahan dalam penulisan dapat menimbulkan salah pengertian (misunderstanding) atau salah penafsiran (misinterpretation) yang pada gilirannya bisa menimbulkan salah komunikasi (miscommunication). Misalnya, pengucapan /demonstrasi/ menjadi /demokrasi/, /kedelai/ menjadi /keledai/.

c) Perceptual distorsion Perceptual distorsion dapat disebabkan karena perbedaan cara pandang, sehingga dalam komunikasi terjadi perbedaan persepsi dan wawasan antara satu dengan yang lainnya.
d) Cultural Differences Hambatan yang terjadi karena disebabkan adanya perbedaan kebudayaan, agama, dan lingkungan sosial. Dalam suatu organisasi terdapat beberapa suku, ras, dan bahasa yang berbeda. Misalnya kata /jangan/ dalam bahasa Indonesia artinya /tidak boleh/, tetapi orang suku Jawa bermakna suatu jenis makanan berupa sup.
e) Physical Distractions Hambatan ini disebabkan oleh gangguan lingkungan fisik terhadap proses berlangsungnya komunikasi. Contohnya, suara riuh orang-orang atau kebisingan, suara hujan atau petir, dan cahaya yang kurang jelas.
f) Poor choice of communication channels Adalah gangguan yang disebabkan pada media yang dipergunakan dalam melancarkan komunikasi. Misalnya; sambungan telepon yang terputus-putus, suara radio yang hilang dan muncul, gambar yang kabur pada pesawat televisi, atau huruf ketikan yang buram pada surat, sehingga informasi tidak dapat ditangkap dan dimengerti dengan jelas.
g) No Feed back
© 2017

KP

Hambatan tersebut adalah ketika seorang sender/mengirimkan pesan kepada receiver, tetapi tidak ada respon dan tanggapan dari receiver, maka yang terjadi adalah komunikasi satu arah yang sia-sia. Contoh; seorang manajer menerangkan suatu gagasan yang ditujukan kepada para karyawan. Dalam penerapan gagasan tersebut para karyawan tidak memberikan tanggapan atau respon. Dengan kata lain tidak peduli dengan gagasan yang disampaikan seorang manajer. Berangkat dari penjelasan-penjelasan di muka, maka dapat disimpulkan bahwa syarat utama dalam komunikasi efektif adalah karakter yang kokoh yang ditunjukkan dengan keteladanan dari seorang guru pada anak didiknya.

2. Sikap
a. Pengertian Sikap Dalam Oxford Advanced Learner Dictionary sebagaimana dikutip dari digilib.unimus.ac.id mencantumkan bahwa sikap (attitude) berasal dari bahasa Italia /attitudine/ yaitu “Manner of placing or holding the body, dan way of feeling, thinking or behaving”. Campbel (dalam Notoadmodjo,2003, p.29) mengemukakan bahwa sikap adalah sekumpulan respon yang konsisten terhadap obyek sosial dan merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau obyek. Menurut Eagle dan Chaiken (dalam Wawan dan Dewi,2010, p.20) mengemukakan bahwa sikap dapat diposisikan sebagai hasil evaluasi terhadap obyek sikap yang diekspresikan ke dalam prosesproses kognitif, afektif (emosi) dan perilaku. Di samping batasan di atas, menurut Sarnoff (dalam Sarwono,
2000) mengidentifikasikan sikap sebagai kesediaan untuk bereaksi (disposition to react) secara positif (favorably) atau secara negatif (unfavorably) terhadap obyek – obyek tertentu. Dari definisi-definisi di atas menunjukkan bahwa secara garis besar sikap terdiri atas komponen kognitif (ide yang umumnya
© 2017

KP

berkaitan dengan pembicaraan dan dipelajari), perilaku (cenderung mempengaruhi respon sesuai dan tidak sesuai), dan emosi (menyebabkan respon-respon yang konsisten). Dengan kata lain, komponen kognitif adalah kepercayaan atau keyakinan seseorang mengenai objek. Komponen afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh seseorang atau penilaiannya terhadap sesuatu objek. Adapun komponen konatif adalah kecenderungan untuk berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan kehadiran objek sikap. Sikap berangkat dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan kecenderungan bertindak seseorang dalam merespon sesuatu/objek. Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap dapat dibentuk untuk terjadinya perilaku atau tindakan yang diinginkan.

b. Ciri-ciri Sikap

Ciri-ciri sikap menurut Gerungan (2009:153) adalah:

1) Sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari sepanjang perkembangan itu dalam hubungannya dengan obyeknya.
2) Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari dan sikap dapat berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat tertentu yang mempermudah sikap pada orang itu.
3) Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan tertentu terhadap suatu obyek. Dengan kata lain sikap itu terbentuk, dipelajari, atau berubah senantiasa berkenaan dengan suatu obyek tertentu yang dapat dirumuskan dengan jelas.
4) Obyek sikap itu merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut.
5) Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan, sifat alamiah yang membedakan sikap dan kecakapan-
© 2017

KP

kecakapan atau pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki orang.

c. Komponen Sikap Menurut Azwar S (2011, p.23) sikap terdiri dari 3 komponen yang saling menunjang yaitu:
1) Komponen kognitif Merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan stereotipe yang dimiliki individu mengenai sesuatu dapat disamakan penanganan (opini) terutama apabila menyangkut masalah isu atau yang kontroversial.
2) Komponen afektif Merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional. Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin adalah mengubah sikap seseorang komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.
3) Komponen konatif Merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai sikap yang dimiliki oleh seseorang. Aspek ini berisi tendensi atau kecenderungan untuk bertindak atau bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu.
d. Tingkatan Sikap Menurut Notoadmodjo (dalam Wawan dan Dewi,2010) sikap terdiri atas berbagai tingkatan yaitu:
1) Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek).
2) Merespon (responding) Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi sikap karena dengan
© 2017

KP

suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan. Terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti orang tersebut menerima ide itu.

3) Menghargai (valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
4) Bertanggung jawab (responsible) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah mempunyai sikap yang paling tinggi.
e. Fungsi Sikap Menurut Katz (dalam Wawan dan Dewi, 2010, p.23) sikap mempunyai beberapa fungsi.
1) Fungsi instrumental atau fungsi penyesuaian atau fungsi manfaat Fungsi ini berkaitan dengan sarana dan tujuan. Orang memandang sejauh mana obyek sikap dapat digunakan sebagai sarana atau alat dalam rangka mencapai tujuan. Bila obyek sikap dapat membantu seseorang dalam mencapai tujuannya, maka orang akan bersifat positif terhadap obyek tersebut. Demikian sebaliknya bila obyek sikap menghambat pencapaian tujuan, maka orang akan bersikap negatif terhadap obyek sikap yang bersangkutan.
2) Fungsi pertahanan ego Ini merupakan sikap yang diambil oleh seseorang demi untuk mempertahankan ego atau akunya. Sikap ini diambil oleh seseorang pada waktu orang yang bersangkutan terancam keadaan dirinya atau egonya.
3) Fungsi ekspresi nilai
© 2017

KP

Sikap yang ada pada diri seseorang merupakan jalan bagi individu untuk mengekspresikan nilai yang ada pada dirinya. Dengan mengekspresikan diri seseorang akan mendapatkan kepuasan dapat menunjukkan kepada dirinya. Dengan individu mengambil sikap tertentu akan menggambarkan keadaan sistem nilai yang ada pada individu yang bersangkutan.

4) Fungsi pengetahuan Individu mempunyai dorongan untuk ingin mengerti dengan pengalaman-pengalamannya. Ini berarti bila seseorang mempunyai sikap tertentu terhadap suatu obyek, menunjukkan tentang pengetahuan orang terhadap obyek sikap yang bersangkutan.
f. Bentuk-bentuk Sikap Sikap dapat dibedakan atas bentuknya dalam sikap positif dan sikap negatif.
1) Sikap positif Merupakan perwujudan nyata dari intensitas perasaan yang memperhatikan hal-hal yang positif. Suasana jiwa yang lebih mengutamakan kegiatan kreatif daripada kegiatan yang menjemukan, kegembiraan daripada kesedihan, harapan daripada keputusasaan. Sesuatu yang indah dan membawa seseorang untuk selalu dikenang, dihargai, dihormati oleh orang lain. Untuk menyatakan sikap yang positif, seseorang tidak hanya mengekspresikannya hanya melalui wajah, tetapi juga dapat melalui bagaimana cara ia berbicara, berjumpa dengan orang lain, dan cara menghadapi masalah.
2) Sikap negatif Sikap negatif harus dihindari, karena hal ini mengarahkan seseorang pada kesulitan diri dan kegagalan. Sikap ini tercermin pada muka yang muram, sedih, suara parau, penampilan diri yang tidak bersahabat. Sesuatu yang
© 2017

KP

menunjjukan ketidakramahan, ketidak mentenangkan, dan tidak memiliki kepercayaan diri.

g. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap Proses belajar sosial terbentuk dari interaksi sosial. Dalam interaksi sosial, individu membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya. Menurut Azwar S (2011, p.30) faktor-faktor yang mempengaruhi sikap yaitu:
1) Pengalaman pribadi Pengalaman pribadi dapat menjadi dasar pembentukan sikap apabila pengalaman tersebut meninggalkan kesan yang kuat. Sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional. Dalam situasi yang melibatkan emosi, penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama berbekas.
2) Pengaruh orang lain yang dianggap penting Individu pada umumnya cenderung untuk memiliki sikap yang konformis atau searah dengan sikap seseorang yang dianggap penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.
3) Pengaruh kebudayaan Skinner (dalam, Azwar 2005) menekankan pengaruh lingkungan (termasuk kebudayaan) dalam membentuk kepribadian seseorang. Kepribadian tidak lain daripada pola perilaku yang konsisten yang menggambarkan sejarah reinforcement (penguatan, ganjaran) yang dimiliki.
4) Media massa Dalam pemberitaan surat kabar maupun radio atau media komunikasi lainnya, berita yang seharusnya faktual disampaikan secara obyektif berpengaruh terhadap sikap konsumennya.
5) Lembaga pendidikan dan lembaga agama
© 2017

KP

Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan lembaga agama sangat menentukan sistem kepercayaan. Tidaklah mengherankan apabila pada gilirannya konsep tersebut mempengaruhi sikap.

6) Faktor emosional Kadang kala, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari emosi yang berfungsi sebagai sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian bersifat sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan lebih tahan lama. contohnya bentuk sikap yang didasari oleh faktor emosional adalah prasangka.
7) Orang lain yang dianggap penting Pada umumnya, individu bersikap konformis atau searah dengan sikap orang orang yang dianggapnya penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.
Dengan demikian, sikap sangat penting dalam kehidupan keseharian untuk dapat menghargai martabat individu, tidak merebut hak orang lain (korupsi), menghormati keragaman budaya, suku, dan agama, sehingga dapat berterima dalam bermasyarkat dan bernegara.

3. Empatik
a. Pengertian Empatik Batasan empatik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai berikut.
© 2017

KP

empati /em·pa·ti/ /émpati/ n Psi keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain; berempati /ber·em·pa·ti/ v melakukan (mempunyai) empati: apabila seseorang mampu memahami perasaan dan pikiran orang lain, berarti ia sudah mampu. Batasan empatik berikutnya dikutip dari Error! Hyperlink reference not valid. adalah empati berasal dari Bahasa Yunani /εμπάθεια/ yang mengandung arti /ketertarikan fisik/. Dengan kata lain, empatik didefinisikan sebagai respons afektif dan kognitif yang kompleks pada distres emosional orang lain. Empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain.[1] Kata empati dalam bahasa inggris /Empathy/ ditemukan pada tahun 1909 oleh E.B. Titchener sebagai usaha dari menerjemahkan kata bahasa Jerman /Einfühlungsvermögen/, fenomena baru yang dieksplorasi oleh Theodor Lipps pada akhir abad 19. Taylor menyatakan bahwa empati merupakan faktor esensial untuk membangun hubungan yang saling memercayai. Ia memandang empati sebagai usaha menyelam ke dalam perasaan orang lain untuk merasakan dan menangkap makna perasaan itu. Empati memberikan sumbangan guna terciptanya hubungan yang saling memercayai karena empati mengkomunikasikan sikap penerimaan dan pengertian terhadap perasaan orang lain secara tepat. Empatik dengan simpati itu ada perbedaan yang mendasar. Sebagaimana yang dimuat dalam Error! Hyperlink reference not valid. simpatik itu adalah suatu proses di mana seseorang merasa tertarik terhadap pihak lain, sehingga mampu merasakan apa yang dialami, dilakukan dan diderita orang lain. Dalam simpati,

© 2017

KP

perasaan memegang peranan penting. Simpati akan berlangsung apabila terdapat pengertian pada kedua belah pihak. Simpati lebih banyak terlihat dalam hubungan persahabatan, hubungan bertetangga, atau hubungan pekerjaan. Seseorang merasa simpati dari pada orang lain karena sikap, penampilan, wibawa, atau perbuatannya. Misalnya, mengucapkan selamat ulang tahun pada hari ulang tahun merupakan wujud rasa simpati seseorang. Menurut Batson (dalam Eisenberg, 2000) menyatakan simpati diyakini melibatkan orientasi orang lain, motivasi altruistik. Simpati bermula dari empati, tetapi juga merupakan hasil proses kognitif. Berbeda dengan simpati, pandangan Eisenberg (2000) menjelaskan bahwa tekanan pribadi didefinisikan sebagai reaksi emosi aversif dan mengacu pada diri pribadi terhadap emosi atau kondisi orang lain. Misalnya, kecemasan atau ketidaknyamanan. Valiente et.Al. (2004) yang dimuat dalam Error! Hyperlink reference not valid. membedakan tekanan pribadi dengan simpati menjadi hal yang penting karena kedua hal tersebut diharapkan mempunyai korelasi yang berbeda dengan perilaku sosial dan perilaku prososial. Simpati terbukti mempunyai korelasi dengan perilaku prososial, sedangkan tekanan pribadi tidak mempunyai korelasi dengan perilaku sosial. Sebagai tambahan, simpati berkorelasi positif dengan penalaran moral tingkat tinggi sementara tekanan pribadi berkorelasi negatif.

Berikut beberapa contoh dari sikap empati sebagaimana dimuat dalam http://berandapsikologi.blogspot.co.id yaitu sebagai berikut.

1) Memberi sedekah. Sedekah sebagai amal perbuatan yang wajib kita berikan khususnya terhadap harta benda yang telah dititipkan oleh Allah SWT. kepada kita. Sesungguhnya dalam harta kita ada hak orang lain, seperti zakat minimal sebesar 2,5%, atau bisa berbentuk yang lain seperti infaq, wakaf, hibah, hadiah, dan sebagainya.
2) Menolong orang sakit. Seseorang yang lemah hingga sakit, sangat membutuhkan keberadaan orang lain. Kita akan terasa
© 2017

KP

sangat berharga keberadaan dan fungsi kita di saat orang lain sangat membutuhkan. Bahkan di agama diajarkan menjenguk orang sakit akan mendapatkan pahala yang banyak, juga termasuk merawat jenazah.

3) Mencintai lingkungan dan alam. Lingkungan dan alam diciptakan Allah untuk kepentingan manusia, maka menjadi kewajiban kita untuk menjaganya. Bila hutan itu aman maka kita akan terhindar dari banjir, cuaca panas, dan kekurangan makanan dan buah-buahan. Bila sungai bersih maka kita akan mudah untuk mandi, masak, cuci, bepergian dengan naik transportasi air, dan sebagainya.
4) Mengajarkan ilmu. Bila kita dengan ilmu yang belum banyak, namun mau mengajarkan bahkan mampu membuat orang lain menjadi pandai, pintar, bahkan mandiri, maka sesungguhnya ilmu itu akan menjadi amalan jariyah yang tidak akan putus amalannya walaupun kita sudah meninggal.
5) Menghormati orang tua. Kita ada di dunia ini karena peran orang tua sangat besar. Menghormati orang yang lebih tua sama saja menghormati ayah dan ibu kita sendiri. Berikut beberapa contoh dari sikap simpati
a) Menjenguk orang yang sakit
b) Membantu orang yang tertimpa musibah
c) Menolong orang yang kesusahan
d) Membantu memecahkan masalah seseorang
e) Membantu korban bencana alam
f) Meringankan biaya sekolah
g) Turut berduka cita atas meninggalnya seseorang
h) Menghibur teman yang sedang bermasalah
i) Mengucapkan selamat kepada orang yang sedang berbahagia
b. Bentuk Empati Salah satu hal yang penting adalah membedakan respons empati itu sendiri. Eisenberg (2000) yang dimuat dalam Error! Hyperlink © 2017

KP

reference not valid. memandang respons empati dapat diwujudkan dengan dua cara, yaitu simpati dan tekanan pribadi.

Manusia tercipta baik adanya. Mereka diyakini mempunyai kemampuan untuk memperhatikan orang lain, terlebih lagi ketika orang lain dalam keadaan yang kurang menguntungkan. Keadaan yang menyenangkan pun menarik orang lain untuk merasakannya, namun keadaan yang kurang menguntungkan lebih membuat orang untuk ikut merasakannya. Hal ini dapat dijelaskan dengan fenomena bahwa dalam keadaan yang menyedihkan, manusia lebih mudah tersentuh.

c. Aspek Empati Menurut Zoll dan Enz (2012) yang dimuat dalam Error! Hyperlink reference not valid. menjelaskan aspek empati yaitu sebagai berikut.
1) Empati Kognitif Memahami perbedaan proses kognitif di dalam observer mulai dari proses asosiatif yang relatif sederhana pada mekanisme pembelajaran sampai titik mengambil alih perspektif orang lain dengan tegas. Untuk mencapai ini, observer harus fokus perhatian pada targetnya, membaca sinyal ekspesif dan juga sinyal keadaan yang berubah, dan mencoba untuk memahami reaksi yang mengalir dari target. Empati kognitif dalam pengertian ini sangat berhubungan erat pada konsep teori pikiran. Teori pikiran artinya (1) Kemampuan untuk mengembangkan sebuah pemahaman keadaan mental pada orang lain, dimana tidak dapat dilihat secara langsung (e.g. mengenali bahwa orang dapat mengungkapkan emosi tertentu ketika merasakan hal yang berbeda) dan (2) menarik kesimpulan sehubungan dengan reaksi dan tingkah laku orang lain. Untuk membuat prediksi-prediksi ini diasumsikan bahwa
© 2017

KP

observer memiliki “teori pikiran” atas orang lain (Premack & Woodruff, 1978).

2) Empati Affektif Berhubungan dengan proses di mana emosi observer muncul karena adanya (sadar atau tidak sadar) persepsi keadaan internal target (baik emosi ataupun pikiran dan sikap). Empati afektif dengan demikian dapat menjadi hasil dari empati kognitif, tetapi dapat juga timbul dari persepsi perilaku ekspresif yang segera memindahkan keadaan emosi dari satu orang ke orang lain (penularan emosi). Dalam kasus ini, keadaan afektif observer timbul sama tingginya dengan target. Sebagai hasil dari sebuah hubungan langsung atau pemindahan keadaan emosi antara perorangan melalui verbal (kata-kata), pra-verbal, dan isyarat non verbal. Hubungan ini menjadi fungsi biologi dalam membina identitas sosial dan adaptasi dalam kelompok. Misalnya, ketika sangat penting bagi kawanan hewan untuk bereaksi dengan cepat dari pemangsa yang hanya terdeteksi oleh satu atau beberapa anggota dalam sebuah kelompok. Dalam hal empati afektif reaktif muncul karena proses kognitif (empatik), sebuah percampuran yang lebih rumit dari keadaan afektif (seperti sombong) berakibat bertentangan dengan keadaan emosional yang sangat mirip yang dihasilkan dari penularan emosi.
d. Karakterisitik Empati Menurut Goleman (2003) ada lima kemampuan empati yang umumnya dimiliki oleh empathizer, antara lain :
1) Memahami orang lain; yaitu mengindra perasaan dan perspektif orang lain, serta menunjukkan minat-minat aktif terhadap kepentingan-kepentingan mereka.
2) Orientasi melayani; yaitu mengantisipasi, mengakui, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pelanggan.
© 2017

KP

3) Mengembangkan orang lain; yaitu mengindra kebutuhan orang lain untuk perkembangan dan meningkatkan kemampuan mereka.
4) Memanfaatkan keagamaan; yaitu menumbuhkan kesempatan-kesempatan melalui keagamaan pada banyak orang.
5) Kesadaran politik; yaitu membaca kecenderungan sosial politik yang sedang seimbang.
e. Aspek-aspek Empati Davis dalam (Nashori, 2008) menjelaskan empat aspek empati antara lain, yaitu:
1) Perspective taking, yaitu kecenderungan seseorang untuk mengambil sudut pandang orang lain secara spontan.
2) Fantasy, yaitu kemampuan seseorang untuk mengubah diri mereka secara imajinatif dalam mengalami perasaan dan tidankan dari karakter khayal dalam buku, film, dan sandiwara yang dibaca atau ditonton.
3) Empathic concern, yaitu perasaan simpati yang berorientasi kepada orang lain dan perhatian terhadap kemalangan yang dialami orang lain.
4) Personal distress, yaitu kecemasan pribadi yang berorientasi pada diri sendiri serta kegelisahan dalam menghadapi setting interpersonal tidak menyenangkan*. Personal distress* bisa diebut empati negatif (negative empathic). Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik dari empati, meliputi: memahami orang lain, mengembangkan orang lain, memanfaatkan keagamaan dan kesadaran politik. Hal ini, sejalan dengan subnilai religius (menghargai perbedaan agama, kerja sama lintas agama, melindungi yang kecil dan tersisih), subnilai nasionalis (menghormati keragaman budaya, suku, dan agama), subnilai gotongroyong (menghargai, tolong menolong, solidaritas, empati)
© 2017

KP

4. Santun
a. Pengertian Santun KBBI edisi ketiga (1990) dijelaskan yang dimaksud dengan makna santun adalah; (1) halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya); sabar dan tenang; sopan; (2) penuh rasa belas kasihan; suka menolong. Pendapat lain diuraikan dalam http:// Muslich.M.blogspot.com bahwa kesantunan (politiness), kesopansantunan, atau etiket adalah tatacara, adat, atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Kesantunan merupakan aturan perilaku yang ditetapkan dan disepakati bersama oleh suatu masyarakat tertentu sehingga kesantunan sekaligus menjadi prasyarat yang disepakati oleh perilaku sosial. Oleh karena itu, kesantunan ini biasa disebut "tatakrama". Menurut Lakoff (dalam Syahrul, 2008:15), “Kesantunan merupakan suatu sistem hubungan interpersonal yang dirancang untuk mempermudah interaksi dengan memperkecil potensi konflik dan konfrontasi yang selalu terjadi dalam pergaulan manusia”. Yule (2006:104) mengatakan bahwa kesantunan dalam suatu interaksi dapat didefinisikan sebagai alat yang digunakan untuk menunjukkan kesadaran tentang muka orang lain. Kesantunan bersifat relatif di dalam masyarakat. Ujaran tertentu dapat dikatakan santun di dalam masyarakat bahasa tertentu, tetapi masyarakat bahasa lain belum tentu dapat dikatakan santun. Hal ini, senanada dengan pandangan Zamzani, dkk. (2010: 2) yang menyatakan bahwa kesantunan (politeness) merupakan perilaku yang diekspresikan dengan cara yang baik atau beretika. Kesantunan merupakan fenomena kultural, sehingga apa yang dianggap santun oleh suatu kultur mungkin tidak demikian halnya dengan kultur yang lain.
b. Aspek-aspek Perilaku Sopan Santun Aspek-aspek perilaku sopan santun sebagaimana diungkap Supriyanti (2008:2) yaitu sebagai berikut. © 2017

KP

1) Tata Krama Bergaul dengan Orang Tua Sikap sopan santun dan lemah lembut terhadap kedua orang tua. Misalnya, tidak berkata kasar atau membentak terhadap orang tua, senantiasa berbuat baik dan tidak menyakiti hati kedua orang tua, tunduk dan patuh kepada orang tua selama perintah itu dalam hal kebaikan, menghargai pendapat kedua orang tua, selalu mendoakan kedua orang tua agar diberi kesehatan, dan merawat dengan penuh kasih sayang ketika orang tua sedang sakit atau lanjut usia.
2) Tata Krama Bergaul dengan Guru di Sekolah Peranan guru disekolah adalah sangat besar. Di samping sebagai pendidik, guru juga berperan sebagai pembimbing, pengajar, dan peran pengganti orang tua di sekolah. Misalnya, selalu tunduk dan patuh terhadap guru; melaksanakan segala hal baik, berbicara yang halus dan sopan, mendoakan guru agar diberikan kesehatan dan ketabahan dalam memberikan pendidikan dan bimbingan di sekolah, menjaga nama baik sekolah dan menghormati guru, menyapa dengan ramah bila bertemu dengan guru, menampilkan contoh tingkah laku yang baik.
3) Tata Krama Bergaul dengan Orang yang Lebih Tua Sikap sopan santun itu tidak hanya di tujukan kepada orang tua dan guru, akan tetapi di tujukan kepada orang yang lebih tua seperti kakak kandung sendiri. Misalnya, bersikap hormat kepada kakak kandung agar terjalin hubungan yang harmonis, mnyapa dengan sopan dan ramah, saling menghargai pendapat, dan suka membantu pekerjaan kakak.
4) Tata Krama Bergaul dengan Orang yang Lebih Muda Tata krama dalam pergaulan sehari-hari tidak hanya menghormati kepada orang tua atau yang lebih tua, tetapi kepada usia yang lebih muda pun harus dihargai dan diberikan kasih. Misalnya, bersikap sayang kepada adik, memberi
© 2017

KP

contoh teladan yang baik dan memberi motivasi, menghargai pendapat adik, dan tidak bersikap otoriter kepada adik.

5) Tata Krama Bergaul dengan Teman Sebaya Bergaul dengan teman sebaya hendaknya dilandasi dengan akhlak yang mulia. Teman sebaya harus saling berbagi rasa, saling menghormati dan saling berbagi pengalaman. Misalnya, saling memberi dan menerima nasihat satu sama lain, saling menolong apabila ada teman yang mendapatkan kesulitan, saling memaafkan satu sama lain apabila ada yang berbuat kesalahan, saling berbagi rasa, tidak mencari-cari kesalahan, dan tidak saling mengejek dan menghina satu dengan yang lain.
6) Tata Krama Bergaul dengan Lawan Jenis Bergaul dengan lawan jenis ada aturan dan nilai budi pekerti di antara keduanya. Baik pria atau wanita saling menghargai dan menghormati, baik dalam sikap, bertutur kata, ataupun dalam perilaku kehidupan sehari hari. Misalnya, saling menghormati dan menghargai, menaati norma agama dan norma masyarakat, menghindari pergaulan bebas dan menjaga keseimbangan diri.
7) Menghormati Tetangga Menjaga perasaan tetangga sangat penting agar tidak terjadi salah paham yang akan berakibat permusuhan di antara tetangga. Misalnya, tidak mengganggu umat agama lain yang sedang menjalankan ibadah, saling bekerja sama selain urusan agama, saling menolong apabila ada yang utuh bantuan, bersilaturahmi antarsesama, menghormati pendapat orang lain ketika bermusyawarah, dan tidak menggunjing tetangga.
c. Penyebab Ketidaksantunan Menurut Mahfudz (2010:3) berpandangan mengenai ketidaksantunan anak tersebut ada beberapa faktor penyebab, antara lain sebagai berikut. © 2017

KP

1) Anak-anak tidak mengerti aturan yang ada, atau ekspektasi yang diharapkan dari dirinya jauh melebihi apa yang dapat mereka cerna pada tingkatan pertumbuhan mereka saat itu.
2) Anak-anak ingin melakukan hal-hal yang diinginkan dan kebebasannya.
3) Anak-anak meniru perbuatan orang tua.
4) Adanya perbedaan perlakuan di sekolah dan di rumah.
5) Kurangnya pembiasaan sopan santun yang sudah diajarkan oleh orang tua sejak dini. Dalam konteks tuturan, Pranowo (dalam Chaer, 2010: 69) menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan sebuah tuturan menjadi tidak santun.
a) Kritik secara langsung dengan kata-kata kasar Kritik kepada lawan tutur secara langsung dan dengan menggunakan kata-kata kasar akan menyebabkan sebuah tuturan menjadi tidak santun atau jauh dari peringkat kesantunan. Dengan memberikan kritik secara langsung dan menggunakan kata-kata yang kasar tersebut dapat menyinggung perasaan lawan tutur, sehingga dinilai tidak santun.
b) Dorongan rasa emosi penutur Ketika bertutur dorongan rasa emosi penutur begitu berlebihan sehingga ada kesan bahwa penutur marah kepada lawan tuturnya. Tuturan yang diungkapkan dengan rasa emosi oleh penuturnya akan dianggap menjadi tuturan yang tidak santun.
c) Protektif terhadap pendapat Ketika bertutur seorang penutur bersifat protektif terhadap pendapatnya. Hal ini dilakukan agar tuturan lawan tutur tidak dipercaya oleh pihak lain. Penutur ingin memperlihatkan pada orang lain bahwa pendapatnya benar, sedangkan pendapat mitra tutur salah. Dengan tuturan seperti itu akan dianggap tidak santun.
© 2017

KP

d) Sengaja menuduh lawan tutur Penutur menyampaikan tuduhan pada mitra tutur dalam tuturannya. Tuturannya menjadi tidak santun jika penutur terkesan menyampaikan kecurigaannya terhadap mitra tutur.
e) Sengaja memojokkan mitra tutur Adakalanya pertuturan menjadi tidak santun karena penutur dengan sengaja ingin memojokkan lawan tutur dan membuat lawan tutur tidak berdaya. Dengan ini, tuturan yang disampaikan penutur menjadikan lawan tutur tidak dapat melakukan pembelaan.
Sikap santun seorang anak akan melihat prilaku orang yang dihormati dirinya, baik di rumah (orang tua, kakak) atau di sekolah (guru, teman). Jadi, keteladanan dari seorang guru mutlak harus diimplementasikan dalam kehidupan keseharian, baik dalam bertindak maupun bertutur.

D. Aktivitas Pembelajaran

  1. Secara profesional buatlah contoh-contoh prilaku keseharian, baik dalam bentuk tuturan atau dalam bentuk tindakan yang mencerminkan sikap empati dan sopan santun di sekolah dan lingkungan sekitar!
  2. Dengan percaya diri amati dan catatlah berbagai aktivitas siswa, baik dalam bersikap atau bertutur yang empatik dan santun maupun yang tidak empatik dan tidak santun!
  3. Kerjakanlah tugas-tugas tersebut pada Lembar Kerja secara mandiri pada Lembar Kerja (LK) 1

    E. Latihan/Kasus/Tugas

Jelaskan langkah yang paling tepat apabila ditemukan prilaku siswa yang mencerminkan sikap tidak empati dan tidak santun, baik dalam bentuk tuturan atau dalam tindakan!

© 2017

KP

F. Rangkuman

Komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita dari dua orang atau lebih agar pesan yang dimaksud dapat dipahami. Komunikasi memiliki fungsi sebagai kendali, motivasi, pengungkap emosional, dan memberikan informasi. Syarat-syarat komunikasi adanya sumber, komunikator, pesan, saluran, hasil, dan komunikan. Komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya pengertian, dapat menimbulkan kesenangan, mempengaruhi sikap, meningkatkan hubungan sosial yang baik, dan pada akhirnya menimbulkan suatu tidakan. Sikap adalah sekumpulan respon yang konsisten terhadap obyek sosial dan merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau obyek. Tiga komponen yang menunjang sikap; kognitif, afektif, dan konatif. Fungsi sikap yaitu sebagai instrumental, pertahanan ego, pengetahuan,dan ekspresi nilai. Faktor yang mempengaruhi sikap; pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting, kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan dan lembaga agama, emosional, dan orang lain yang dianggap penting. Empati adalah suatu proses ketika seseorang merasakan perasaan orang lain dan menangkap arti perasaan itu, kemudian mengomunikasikannya dengan kepekaan, hingga menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh mengerti perasaan orang lain itu. Aspek empati yaitu kognitif, affektif, perspective taking, fantasy, empathic concern, dan personal distress. Kesantunan (politiness), kesopansantunan, atau etiket adalah tatacara, adat, atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Kesantunan merupakan aturan perilaku yang ditetapkan dan disepakati bersama oleh suatu masyarakat tertentu, sehingga kesantunan sekaligus menjadi prasyarat yang sepakati oleh perilaku sosial. Aspek-aspek perilaku sopan santun; tata lrama bergaul dengan orang tua, guru, orang yang lebih tua, muda, teman sebaya, lawan jenis, dan menghormati tetangga.

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkanlah hasil pekerjaan Anda dengan kunci yang tersedia di akhir modul. Apabila pekerjaan Anda sudah 80% benar, berarti Anda sudah

© 2017

KP

menguasai materi yang dipelajari dan apabila belum coba pelajari kembali terutama materi-materi yang dianggap belum dikuasai.

© 2017

KP

KEGIATAN PEMBELAJARAN 2

TEKNIK PENERAPAN PEMBIMBINGAN KOMUNIKASI EFEKTIF, EMPATIK, DAN SANTUN

PADA ANAK TUNARUNGU

A. Tujuan

  1. Dengan pemberian contoh keteladanan, Anda dapat melakukan pembimbingan strategi komunikasi yang efektif dengan benar sesuai dengan karakteristik anak tunarungu jenjang SDLB.
  2. Dengan pemberian contoh keteladanan, Anda dapat melakukan pembimbingan strategi komunikasi yang empatik dengan benar sesuai dengan karakteristik anak tunarungu jenjang SDLB.
  3. Dengan pemberian contoh keteladanan, Anda dapat melakukan pembimbingan strategi komunikasi yang santun dengan benar sesuai dengan karakteristik anak tunarungu jenjang SDLB.

    a. Indikator Pencapaian Kompetensi

  4. Menjelaskan teknik penerapan komunikasi efektif, empati, dan santun dalam pembelajaran.

  5. Menerapkan teknik penerapan komunikasi efektif, empati, dan santun dalam pembelajaran.
  6. Menerapkan penilaian sikap dalam proses pembelajaran.

    b. Uraian Materi

1. Komunikasi Efektif dalam Pembelajaran Sebagaimana dikutip dalam http://www.bppp-tegal.com bahwa kualitas pembelajaran dipengaruhi oleh efektif tidaknya komunikasi yang terjadi di dalamnya. Komunikasi efektif dalam pembelajaran merupakan proses transformasi pesan berupa ilmu pengetahuan dan teknologi dari pendidik kepada peserta didik, sehingga peserta didik mampu memahami maksud pesan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.
© 2017

KP

Hasil dari komunikasi tersebut menambah wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menimbulkan perubahan tingkah laku menjadi lebih baik. Pengajar harus menjadi teladan ketika berlangsungnya komunikasi dalam pembelajaran, sehingga guru menjadi panutan siswa, baik dalam komunikasi maupun prilaku ketika proses pembelajaran berlangsung.

Sastropoetro (dalam Pratikno, 1987: 182) menjelaskan bahwa berkomunkasi efektif berarti bahwa komunikator dan komunikan sama-sama memiliki pengertian yang sama tentang suatu pesan, atau sering disebut dengan the communication is in tune.

Agar komunikasi dapat berjalan secara efektif, harus dipenuhi beberapa syarat;

a. menciptakan suasana komunikasi yang menguntungkan;
b. menggunakan bahasa yang mudah ditangkap dan dimengerti;
c. pesan yang disampaikan dapat menggugah perhatian atau minat bagi pihak komunikan;
d. pesan dapat menggugah kepentingan komunikan yang dapat menguntungkan; dan
e. pesan dapat menumbuhkan suatu penghargaan bagi pihak komunikan. Untuk membentuk keadaan di atas maka seorang fasilitator atau guru ketika berkomunikasi dalam proses pembelajaran sebaiknya;
1) dengarkan jangan menyela;
2) lakukan pengulangan dengan menggunakan komunikasi nonverbal;
3) ungkapkan perasaan dengan terbuka dan jujur;
4) jangan menilai dan lepaskan emosi negatif;
5) hindari komunikasi yang membuka front pertengkaran (menyindir, menyalahkan dan lain-lain);
6) jangan menggurui;
7) beradaptasi pada bahasa tubuh dan perasaan mereka;
8) tunjukan rasa persetujuan (apa yang dikangumi dari mereka);
9) berikan kesan bahwa anda berada dalam satu tim yang sama;
© 2017

KP

10) berikan mereka senyuman terbaik Anda; dan
11) menawarkan saran yang bermanfaat dan berikan motivasi.
2. Metode dan Media Komunikasi dalam Pembelajaran
a. Metode Komunikasi dalam Pembelajaran Memahami karakteristik siswa, baik aspek ketunarunguan maupun aspek psikologi setiap individu sangat penting dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dalam praktiknya, guru mungkin menemukan siswa yang masih memiliki sisa pendengaran atau menemukan siswa yang sulit untuk melakukan kontak dengan dunia sekitarnya, suka mengasingkan diri, dan cenderung menutup diri. Dalam kaitan dengan hal ini, maka guru hendaknya merencanakan metode komunikasi dalam pembelajaran. Berikut contoh metode komunikasi dalam pembelajaran.
1) Komunikasi informative (informative communication); suatu pesan yang disampaikan kepada seseorang atau sejumlah orang tentang hal-hal baru yang diketahuinya.
2) Komunikasi instruktif/koersif (instructive/coercive communication); komunikasi yang mengandung ancaman, sanksi, dan lain-lain yang bersifat paksaan, sehingga orang-orang yang dijadikan sasaran melakukan sesuatu secara terpaksa, karena takut akibatnya.
3) Komunikasi persuasif (persuasive communication); proses mempengaruhi sikap, pandangan, atau perilaku seseorang dalam bentuk kegiatan membujuk dan mengajak, sehingga ia melakukan dengan kesadaran sendiri.
4) Mengenali sasaran komunikasi (siswa); sebelum melakukan komunikasi, kita perlu mempelajari siapa yang akan menjadi sasaran komunikasi tersebut. Sudah tentu ini tergantung pada tujuan komunikasi, apakah agar komunikan hanya sekedar mengetahui ataukah agar komunikan melakukan tindakan tertentu. Apapun tujuan, metode, dan banyaknya sasaran, pada diri komunikan perlu diperhatikan faktor-faktor berikut ini.
© 2017

KP

1) Faktor Kerangka Referensi Kerangka referensi seseorang terbentuk dalam dirinya sebagai hasil dari panduan pengalaman, pendidikan, cita-cita, gaya hidup, norma hidup, status sosial, ideologi, dan lain-lain. Dalam konteks ini, kita perlu dilihat referensi anak tunarungu, bagaimana tingkat pendengarannya, bagaimana karakteristik kepribadiannya, dan lain sebagainnya.
2) Faktor situasi dan kondisi Faktor situasi di sini adalah situasi komunikasi pada saat komunikan akan menerima pesan yang kita sampaikan. Situasi

yang bisa menghambat komunikasi harus bisa diantisipasi
sebelumnya. Adapun yang dimaksud kondisi adalah keadaan fisik
dan psikis komunikan pada saat ia sedang menerima pesan
komunikasi. Komunikasi kita tidak akan efektif jika komunikan
sedang marah, sedih, bingung, sakit, atau lapar. Begitupun

dengan anak tunarungu, kita perlu melihat situasi dan kondisi anak sebelum malakukan komunikasi, sehingga kita bisa menerapkan teknik bagaimana yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi mereka.

b. Media Komunikasi dalam Pembelajaran Media komunikasi sangat banyak jumlahnya, mulai dari yang tradisional sampai dengan modern. Untuk mencapai sasaran komunikasi, kita bisa memilih salah satu atau menggabungkan beberapa media, tergantung pada tujuan yang akan dicapai, pesan yang akan disampaikan, dan teknik yang akan dipergunakan. Mana yang terbaik dari sekian banyak media komunikasi tidak dapat ditegaskan dengan pasti, sebab masing-masing pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam pembelajaran PKPBI banyak sekali media pembelajaran yang dapat dipilih sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Berikut ada beberapa yang dapat dikemukakan.
© 2017

KP

No. Nama Alat Spesifikasi Alat Fungsi / Kegunaan Gambar
1. Alat Bantu Mendengar Fiber Plastik Karet/Logam Meningkatkan fungsi pendengaran anak tunarungu
2. Speach Trainer Kayu Almunium/ Plastik Untuk mengontrol kejelasan ucapan peserta didik dalam kegiatan latihan wicara
3. Sound Level Meter Fiber Plastik Kaca Logam Untuk mengukur intensitas/ kekerasan suara
4. Metronom Kayu Fiber Logam Untuk mengukur ketepatan tempo dan irama dari respon gerak yang diungkapkan peserta didik
5. adio,tape dan DVD player Logam Kain Kertas Kabel Untuk membunyikan kaset atau / vcd dalam latihan PKPBI

© 2017

KP

6. Kaset atau VCD Plastik/Logam Sebagai sumber bunyi dalam latihan PKPBI berupa rekaman berbagai bunyi dan irama
7. Berbagai alat musik pukul Kayu, Bambu, Kulit, Logam Sebagai sumber bunyi serta alat penunjang respon menirukan membuat bunyi dalam latihan PKPBI
8. Alat musik tiup Fiber, Plastik, Logam Sebagai sumber bunyi serta alat penunjang respon menirukan membuat bunyi dalam latihan PKPBI

3. Peranan komunikator dalam komunikasi Faktor penting pada diri komunikator adalah daya tarik sumber dan kredibilitas sumber.
a) Daya tarik sumber Seorang komunikator akan berhasil dalam komunikasi (mampu mengubah sikap, opini, dan perilaku komunikan) melalui mekanisme daya tarik, yakni ketika pihak komunikan merasa bahwa komunikator ikut serta dengannya. Dengan kata lain, komunikan merasa memiliki kesamaan dengan komunikator,
© 2017

KP

sehingga komunikan bersedia taat pada isi pesan yang disampaikan komunikator. Dalam konteks berkomunikasi dengan anak tunarungu, tentu guru harus meyakinkan kepada anak bahwa ia sebagai teman berkomunikasi, sehingga tidak ada jarak antara guru dengan siswa. Dengan kata lain, guru harus membeli hati mereka, memahami apa keinginan mereka, dan selalu terbuka ketika berkomunikasi.

b) Kredibilitas sumber Faktor kedua yang bisa menyebabkan komunikasi berhasil adalah kepercayaan komunikan pada komunikator. Kepercayaan ini banyak bersangkutan dengan profesi keahlian yang dimiliki seorang komunikator. Di samping faktor daya tarik dan kredibilitas sumber, dalam komunikasi yang efektif, terdapat lima hal yang perlu diperhatikan:
(1) Respect, sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan. Pahami bahwa seorang guru harus bisa menghargai setiap siswa yang dihadapinya. Rasa hormat dan saling menghargai merupakan hukum yang pertama dalam berkomunikasi dengan siswa. Ingatlah bahwa pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting, begitupun dengan siswa tunarungu. Jika kita akan memarahi seorang siswa, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaan siswa tersebut. Jika kita membangun komunikasi dengan rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati dengan siswa, maka guru dapat membangun kerjasama yang sinergi yang akan meningkatkan efektivitas pembelajaran.
(2) Audible, dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik, berarti pesan yang kita sampaikan bisa diterima dengan baik oleh penerima pesan. Berterimanya pesan kepada anaktunarungu, baik pesan berupa tuturan sederhana atau
© 2017

KP

berupa bunyi-bunyian merupakan faktor utama terjalinnya komunikasi antarkomunikator dengan komunikan.

(3) Clarity, kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Clarity dapat pula berarti keterbukaan dan transparansi. Dalam berkomunikasi kita perlu mengembangkan sikap terbuka (tidak ada yang ditutupi atau disembunyikan), sehingga dapat menimbulkan rasa percaya (trust) dari penerima pesan. Karena tanpa keterbukaan akan timbul sikap saling curiga dan pada gilirannya akan menurunkan semangat dan antusiasme siswa dalam proses belajar-mengajar.
(4) Humble, dengan menghargai orang lain, mau mendengar, menerima kritik, tidak sombong, dan tidak memandang rendah orang lain. Dengan demikian, jadilah guru yang sekaligus sebagai pendidik yang profesional.
(5) Emphaty, kemampuan menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang dihadapi orang lain. Demikian halnya dengan bentuk komunikasi dalam proses pembelajaran. Guru perlu saling memahami dan mengerti keberadaan, perilaku, dan keinginan dari siswa tunarungu dengan kelebihan dan kekurangannya. Rasa empati akan menimbulkan respek atau penghargaan, dan rasa respek akan membangun kepercayaan yang merupakan unsur utama dalam membangun sebuah suasana kondusif di dalam proses belajar-mengajar. Jadi, sebelum kita membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, kita perlu mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan kita, sehingga nantinya pesan kita akan dapat tersampaikan tanpa ada halangan psikologi atau penolakan dari penerima.
© 2017

KP

4. Pendekatan Empati dalam Pembelajaran Memahami lebih jauh dari teori empati, tidak terlepas dari penjelasan- pernjelasan dari berbagai pendekatan. Di antaranya ada dua pendekatan yang digunakan untuk memahami teori empati, yakni teori dari Baron-Cohen & Wheelwright (2004) yang membagi empati ke dalam dua pendekatan sebagimana yang dimuat dalam http://penjajailmu.blogspot.co.id yaitu sebagai berikut.
a. Pendekatan Afektif Dalam pandangan afektif, definisi empati dilihat dari seberapa besar dan kecilnya respon emosional pengamat pada emosi yang terjadi pada orang lain. Terdapat empat jenis empati afektif yaitu; (a) perasaan pada pengamat harus sesuai dengan orang yang diamati; (b) perasaan pada pengamat sesuai dengan kondisi emosional orang lain namun dengan cara yang lain; (c) pengamat merasakan emosi yang berbeda dari emosi yang dilihatnya, disebut juga sebagai empati kontras; dan (d) perasaan pada pengamat harus menjadi satu untuk perhatian atau kasih sayang pada penderitaan orang lain.
b. Pendekatan Kognitif Pendekatan kognitif merupakan aspek yang menimbulkan pemahaman terhadap perasaan orang lain. Eisenberg & Strayer (dalam Baron-Cohen & Wheelwright 2004) menyatakan bahwa salah satu yang paling mendasar pada proses empati adalah pemahaman adanya perbedaan antara individu (perceiver) dan orang lain. Dengan kata lain, adanya pemisahan antara perspektif sendiri, menghubungkan keadaan mental orang lain, dan menyimpulkan kemungkinan isi dari kondisi mental mereka, serta mengingat kembali ketika hal yang sama terjadi. Berangkat dari pandangan di atas, berikut disampaikan beberapa pendekatan atau metode yang dapat digunakan oleh guru dalam menumbuhkan dan menanamkan empati pada anak tunarungu antara lain adalah sebagai berikut.
© 2017

KP

1) Keteladanan Menurut Usman (1999:13) menjelaskan bahwa seorang guru sebelum menjadi model keteladanan siswa, guru juga harus mendisiplinkan diri, artinya apabila menginginkan peserta didiknya patuh terhadap aturan yang berlaku baiknya aturan yang bersifat formal atau non formal maka guru harus terlebih dulu mematuhinya. Peran guru di pandang dari segi diri pribadinya adalah “sebagai model teladan, artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh para peserta didik.” Apabila guru sudah menunjukkan perilaku yang tidak sopan, maka siswa pun akan berperilaku seperti itu karena siswa biasanya meniru apa yang dilakukan oleh guru. Dengan demikian, sebagai guru yang sekaligus pendidik, kita harus menjadi teladan bagi anak-anak didik kita dalam bersikap dan berperilaku serta menjadikan mereka menjadi saksi dari tingkah laku kita. Saksi tentang bagaimana cara kita bergaul, bersikap pada orang lain dengan mengembangkan sikap yang baik dan empati. Dengan demikian, mereka diharapkan bisa memahami, menghayati dan mengkristalkan ke dalam pribadinya tentang nilai-nilai budi pekerti, nilai-nilai kebaikan/moral yang sesungguhnya (nilai-nilai sikap apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang harus kita lakukan dan tak boleh kita lakukan). Anak berkebutuhan khusus termasuk anak tunarungu sangat mendambakan sosok/figur yang menjadi suri teladan dari guru.
2) Kisah/cerita yang bertemakan empati /moral Kisah/cerita yang diangkat dalam materi pembelajaran, sebaiknya dapat menumbuhkan sikap empati anak-anak terhadap tokoh-tokoh atau pun peristiwa yang terjadi dalam kisah/cerita tersebut. Kisah/cerita yang menggambarkan tentang penderitaan atau kemalangan seseorang dalam kehidupannya. Dalam kisah ini perlu ditanamkan pada anak bahwa peristiwa atau keadaan itu pun mungkin juga bisa menimpa pada diri kita. Bahwa kita pun bisa mengalami nasib yang sama seperti orang lain yang menderita akibat perbuatan jahat kita. Bagaimana penderitaan yang menimpa © 2017

KP

orang lain itu jika menimpa kita? Bukankah kita akan butuh empati dan perhatian dari orang lain? Oleh sebab itu, kita pun harus selalu mencoba memperhatikan penderitaan orang lain.

Kisah/cerita yang berkaitan dengan empati ini berguna untuk mengembangkan daya imajinasi moral anak. Dengan kisah/cerita tersebut, diharapkan anak akan berimajinasi dalam pikirannya untuk selalu melakukan sikap empati kepada orang lain.

Anak yang mempunyai rasa empati yang sudah cukup tinggi, biasanya akan ikut terhanyut dalam cerita tersebut, dan tak jarang mereka bisa ikut sedih atau menangis. Pada saat suasana seperti ini, terjadilah tanggapan dalam diri mereka tentang konsep orang baik dan orang yang tidak baik atau jahat, serta konsep perlunya sikap empati.

Sebagai guru, kita bisa meminta tanggapan penafsiran perenungan dari anak terhadap cerita tersebut (terhadap sikap dan perbuatan prilaku tokoh-tokoh yang ada dalam cerita tersebut, atau tentang persetujuan terhadap sikap yang mereka ambil dan apa alasannya).

3) Penggunaan Kata-kata Verbal dalam Menegur Anak yang Nakal Sebagai contoh penggunaan kata-kata verbal untuk menegur anak didiknya yang salah. Misalnya, ketika ada anak yang nakal dan usil sehingga membuat temannya menangis, maka teguran yang baik adalah dengan kata-kata; “Lihat kamu telah membuatnya amat sedih. Kasihan dia kan kalau sedih.“
4) Pengalaman Langsung Anak kita ajak berkunjung dan melakukan kegiatan sosial ke panti asuhan anak yatim piatu, kita latih untuk memberi sedekah pada fakir miskin dan anak kita latih untuk membantu orang lain yang sedang membutuhkan bantuan atau pertolongan.
5) Kebersamaan dalam Bermain Kita tanamkan pada anak untuk bisa bermain bersama-sama dengan teman-temannya dan mau berbagi/meminjamkan mainan pada teman-
© 2017

KP

temannya yang belum atau tidak mempunyai alat permainan agar teman kita tidak merasa sedih karena tidak memiliki mainan seperti kita. Anak kita ajak berempati kepada temannya yang tidak memiliki alat permainan.

6) Pembentukan Empati Lewat Pembiasaan Dalam kehidupan keseharian anak, guru harus membiasakan sikap empati kapan pun dan di mana pun berada. Misalnya, suatu ketika menemukan anak sedang berebut mainan temannya. Guru harus langsung menanamkan sikap empati dengan cara merasakan bagaimana bila mainannya direbut orang lain. Begitupun di lingkungan keluarga, guru melatih anak agar memahami kelelahan orang tua dan mengajaknya untuk selalu membantu orang tuanya dengan rajin menjaga kebersihan rumah.
5. Empati yang Perlu Ditumbuhkembangkan pada Anak Sikap empati yang perlu ditumbuhkan dan dikembangkan pada anak.
a. Empati terhadap sesama manusia Sejak dini anak dididik untuk memperhatikan dan ikut merasakan apa yang dirasakan teman atau orang-orang yang ada di sekitarnya. Anak kita ajak membayangkan kesedihan dan penderitaan orang lain itu menimpa teman/orang lain itu terjadi pada diri kita. Apa yang akan kita lakukan? Dalam empati terhadap sesama manusia ini juga perlu ditanamkan pada anak bahwa sifat tidak mau meminjamkan mainannya kepada teman yang tidak memilikinya, mementingkan diri sendiri, merugikan orang lain, menang sendiri, serakah, keinginan untuk memiliki dan mengambil benda milik orang lain adalah dapat melukai perasaan dan membuat orang lain sedih atau pun menderita.
b. Empati terhadap kehidupan binatang Perlu ditanamkan pada anak bahwa binatang adalah juga makhluk ciptaan Tuhan. Dia juga mempunyai rasa sakit dan sedih. Bila binatang tersebut tidak dipelihara dengan baik, maka dia akan sakit, sedih, © 2017

KP

menderita, dan juga menangis. Oleh sebab itu, harus menyayangi binatang seperti juga menyayangi sesama manusia.

c. Empati terhadap kehidupan tumbuh-tumbuhan Perlu ditanamkan juga kepada anak bahwa tumbuhan bisa sakit dan mati bila tidak kita pelihara dengan baik. Tumbuhan atau bunga akan menderita dan mati kalau tidak pernah disirami dengan air setiap hari dan tidak pernah kita beri pupuk sebagai makanan. Karena tumbuhan juga butuh makan dan minum seperti halnya manusia. Tumbuhan juga bermanfaat bagi manusia, untuk membuat agar udara yang kita hirup terasa segar dan nyaman, serta mengurangi pencemaran udara yang dapat membuat sesak nafas. Pohon juga dapat menyimpan air hujan, sehingga manusia dapat terhindar dari kekeringan karena tidak ada air. Oleh sebab itu, jika menebangi hutan dengan seenaknya akan menderita dan sedih karena tidak bisa menjaga keseimbangan alam, yang berguna bagi manusia.
d. Empati terhadap kelestarian dan keindahan lingkungan Tanamkan pada anak bahwa lingkungan yang ada di sekitar perlu dipelihara kebersihannya dan keindahannya. Misalnya, jangan mencoret-coret dinding rumah dan sekolah agar dinding tersebut tidak sedih dan menangis. Lingkungan yang kotor juga harus selalu dibersihkan agar lingkungan di sekitar menjadi bersih dan nyaman.
6. Bentuk Kesantunan dalam Pembelajaran Salah satu wujud kesantunan adalah santun berbahasa yang bertujuan agar membuat suasana berinteraksi menjadi efektif dan menyenangkan. Sebagaimana diungkap Nuri, dkk. dalam http://ejournal.unp.ac.id/ sekolah memiliki andil dalam membentuk kesantunan berbahasa siswa, karena siswa lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah. Di sekolah, gurulah yang berperan penting dalam membentuk kesantunan berbahasa siswanya. Agar siswa bisa santun berbahasa, guru tentu terlebih dahulu sebagai tauladan santun dalam berbahasa. Kesantunan
© 2017

KP

berbahasa guru diduga dapat meredam situasi yang kurang nyaman saat terjadi permasalahan yang berarti pada siswa. Bahasa yang santun diduga dapat meredam amarah dan rasa kecewa guru pada siswa, dan dapat membuat situasi tetap terkendali.

Dalam praktiknya, kesantunan tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan ciri-cirinya. Salah satu ahli yang mengelompokkan kesantunan tersebut yaitu Leech (1993:206-207) yang mengelompokkan prinsip kesantunan menjadi enam maksim yaitu (1) maksim kearifan, (2) maksim kedermawanan, (3) maksim pujian, (4) maksim kerendahan hati, (5) maksim pemufakatan, dan (6) maksim simpati.

Maksim-maksim tersebut diadaptasi oleh Zamzani, dkk. (2010: 20) yang merumuskan beberapa ciri tuturan yang baik berdasarkan prinsip kesantunan Leech di atas yaitu sebagai berikut.

a) Tuturan yang menguntungkan orang lain
b) Tuturan yang meminimalkan keuntungan bagi diri sendiri
c) Tuturan yang menghormati orang lain
d) Tuturan yang merendahkan hati sendiri
e) Tuturan yang memaksimalkan kecocokan tuturan dengan orang lain
f) Tuturan yang memaksimalkan rasa simpati pada orang lain Dalam sebuah tuturan juga diperlukan indikator-indikator untuk mengukur kesantunan sebuah tuturan, khususnya diksi (pilihan kata). Sejalan dengan itu, Pranowo (2009: 104) memberikan saran agar tuturan dapat mencerminkan rasa santun, maka diksi yang harus dipilih kitika bertutur. Berikut contoh-contoh diksi yang dapat digunakan agar tuturan tersbut menjadi santun.
a) Ketika menyusun kalimat perintah, maka gunakan kata /tolong/ atau partikel /-lah/ untuk meminta bantuan pada orang lain. Misalnya, /Tolong bukakan jendela itu!/ atau /Ambillah buku di atas meja itu!/.
b) Gunakan kata /maaf/ dalam tuturan yang diperkirakan akan menyinggung perasaan lain. Misalnya, /Maaf, saya tidak bermaksud menyakitimu./ © 2017

KP

c) Gunakan kata /terima kasih/ sebagai penghormatan atas kebaikan
orang lain. Misalnya, /Terima kasih atas bantuan Anda membukakan jendela itu./
d) e) f) Implementasi indikator kesantunan dalam berkomunikasi digunakan agar kegiatan berbahasa dapat mencapai tujuan dengan itu, salah satu pakar diperhatikan agar komunikasi dapat berhasil yakni sebagai berikut. Gunakan melakukan puisi buatku!/ Gunakan kata /beliau/ untuk menyebut orang ketiga yang dihormati. Gunakan kata /Bapak atau Ibu/ untuk menyapa orang ketiga. kata sesuatu. untuk berendapat bahwa hal-hal yang perlu

1) Perhatikan situasinya.
2) Perhatikan mitra tuturnya.
3) Perhatikan pesan yang disampaikan.
4) Perhatikan tujuan yang hendak dicapai.
5) Perhatikan cara menyampaikan.
6) Perhatikan norma yang berlaku dalam masyarakat.
7) Perhatikan ragam bahasa yang digunakan.
8) Perhatikan relevansi tuturannya.
9) Jagalah martabat atau perasaan mitra tutur.

/berkenan/ meminta kesediaan orang lain Misalnya, /Berkenakah Saudara membacakan

dengan baik. Sehubungan

10) Hindari hal-hal yang kurang baik bagi mitra tutur (konfrontasi dengan mitra tutur).
11) Hindari pujian untuk diri sendiri.
12) Berikan keuntungan pada mitra tutur.
13) Berikan pujian pada mitra tutur.
14) Ungkapkan rasa simpati pada mitra tutur.
15) Ungkapkan hal-hal yang membuat mitra tutur menjadi senang.
16) Buatlah kesepahaman dengan mitra tutur. (Pranowo, 2009: 110)
Salah satu bentuk kegiatan pembelajaran yang sarat dengan tuturan adalah berdiskusi. Dalam kegiatan berdiskusi diperlukan cara dan pemakaian bahasa yang santun agar terjalin komunikasi yang baik antara penutur dan

© 2017

KP

lawan tutur. Berikut adalah pemakaian bahasa yang santun yang diungkapkan Pranowo (2009: 59-66) yang dapat digunakan dalam kegiatan berdiskusi.

a) Penutur berbicara wajar dengan akal sehat Bertutur secara santun tidak perlu dibuat-buat, tetapi sejauh penutur berbicara secara wajar dengan akal sehat, tuturan akan terasa santun. Dengan kesederhanaan tuturan, penutur sebenarnya memiliki praanggapan bahwa mitra tutur sudah banyak memahami apa yang dimaksud oleh penutur.
b) Penutur mengedepankan pokok masalah yang diungkapkan Penutur hendaknya selalu mengedepankan pokok masalah yang diungkapkan, kalimat tidak perlu berputar-putar agar pokok masalah tidak kabur. Jadi, hal-hal yang didiskusikan tidak melebar jauh dari pokok masalah.
c) Penutur selalu berprasangka baik kepada mitra tutur. Dalam berdiskusi akan selalu berkadar santun jika penutur selalu berprasangka baik kepada mitra tutur.
d) Jika penutur berprasangka buruk pada mitra tutur, tidak akan terjadi kecocokan pendapat dan komunikasi menjadi tidak menyenangkan.
e) Penutur bersikap terbuka dan menyampaikan kritik secara umum. Komunikasi akan terasa santun jika penutur berbicara secara terbuka dan seandainya menyampaikan kritik disampaikan secara umum, tidak ditujukan secara khusus pada person tertentu. Jika kritikan dilakukan secara person, dapat menyinggung perasaan orang lain dan kegiatan komunikasi menjadi tidak baik.
f) Penutur menggunakan bentuk lugas, atau bentuk pembelaan diri secara lugas. Komunikasi dapat dinyatakan secara santun jika penutur menggunakan bentuk tuturan yang lugas, tidak perlu ditutup-tutupi, meskipun kadang-kadang mengandung sindiran. Kritikan yang diungkapkan dalam bentuk lugas, apa adanya, akan terasa lebih santun dibandingkan dengan menyindir secara kasar. © 2017

KP

g) Penutur mampu membedakan situasi bercanda dengan situasi serius. Komunikasi masih akan terasa santun jika penutur mampu membedakan tuturan sesuai dengan situasinya. Meskipun masalah yang dibicarakan bersifat serius, tetapi jika penutur mampu menyampaikan tuturan itu dengan nada bercanda, komunikasi menjadi lancar dan masih santun. Setiap peserta diskusi harus dapat menghargai peserta lain berbicara/berpendapat, sehingga tidak memotong pembicaraan, sekalipun kurang sependapat dengan pendapat yang dikemukakan peserta lain.
a) Setiap peserta harus mematuhi tata tertib diskusi dan mengendalikan pembicaraannya sehingga pembicarannya relevan dengan topik yang didiskusikan dan tidak melenceng dari tema atau tujuan diskusi.
b) Setiap peserta diskusi harus patuh pada moderator sehingga ia berbicara setelah diperbolehkan oleh moderator.
c) Jika peserta diskusi kurang sependapat dengan pendapat peserta lain, ia tidak boleh menolak secara kasar. Jika keberatan pada pendapat peserta lain, disampaikan dengan kata-kata yang halus, sopan, dan tidak menyakiti hati, serta memberikan argumentasi yang logis dan meyakinkan.
d) Setiap peserta harus berlapang dada dalam menerima hasil diskusi. Untuk menghindari ketidaksantunan bertutur dalam berdiskusi, maka Parera (1988: 188) menjelaskan sikap-sikap yang dapat menghambat diskusi yaitu sebagai berikut.
(a) Sikap agresif dan reaksioner.
(b) Sikap menutup diri, takut mengeluarkan pendapat.
(c) Terlalu banyak bicara, bicara berbelit-belit atau bicara berbisik-bisik dengan teman di samping.
(d) Menunjukkan sikap acuh tak acuh.
7. Penilaian Sikap dalam Proses Pembelajaran Berdasarkan lampiran Permendikbud No. 104 Tahun 2014 lingkup penilaian hasil belajar oleh pendidik mencakup kompetensi sikap (spiritual
© 2017

KP

dan sosial), pengetahuan, dan keterampilan. Adapun sasaran penilaian hasil belajar oleh pendidik pada ranah sikap spiritual dan sikap sosial adalah sebagai berikut.

Tingkatan Sikap Deskripsi
Menerima nilai Kesediaan menerima suatu nilai dan memberikan perhatian terhadap nilai tersebut.
Menanggapi nilai Kesediaan menjawab suatu nilai dan ada rasa puas dalam membicarakan nilai tersebut.
Menghargai nilai Menganggap nilai tersebut baik; menyukai nilai tersebut; dan komitmen terhadap nilai tersebut.
Menghayati nilai Memasukkan nilai tersebut sebagai bagian dari sistem nilai dirinya.
Mengamalkan nilai Mengembangkan nilai tersebut sebagai ciri dirinya dalam berpikir, berkata, berkomunikasi, dan bertindak (karakter).

Sikap bermula dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan kecenderungan seseorang dalam merespon sesuatu/objek. Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap dapat dibentuk, sehingga terjadi perubahan perilaku atau tindakan yang diharapkan.

Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menilai sikap peserta didik, antara lain melalui observasi, penilaian diri, penilaian teman sebaya, dan penilaian jurnal. Instrumen yang digunakan antara lain daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik, yang hasil akhirnya dihitung berdasarkan modus.

a. Observasi Sikap dan perilaku keseharian peserta didik direkam melalui pengamatan dengan menggunakan format yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati, baik yang terkait dengan mata pelajaran maupun secara umum. Pengamatan terhadap sikap dan perilaku yang terkait dengan mata pelajaran dilakukan oleh guru yang bersangkutan selama proses pembelajaran berlangsung, seperti: ketekunan belajar, percaya diri, rasa ingin tahu, kerajinan, kerjasama, kejujuran, disiplin, peduli lingkungan, dan selama peserta didik berada di sekolah atau bahkan di luar sekolah selama perilakunya dapat diamati guru. © 2017

KP

Contoh 1: Format pengamatan sikap

Aspek perilaku yang dinilai Rasa No. Nama Bekerja Peduli Keterangan ingin Disiplin sama lingkungan tahu

Catatan: Kolom Aspek perilaku diisi dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut. 4 = sangat baik 3 = baik 2 = cukup 1 = kurang Format di atas dapat digunakan pada mata pelajaran lain dengan menyesuaikan aspek perilaku yang ingin diamati.

Contoh 2: Format Lembar Pengamatan Sikap Peserta Didik

Sikap
teman
o N Kerajinan Kerjasama Kedisiplinan Kejujuran Kepedulian orang tua
Keterbukaan Nama Tenggang rasa Menepati janji Hormat pada Tanggung jawab
Ketekunan belajar Ramah dengan
1.
2.
3.
dst.

Keterangan: Skala penilaian sikap dibuat dengan rentang antara 1 s.d 5. 1 = sangat kurang; 2 = kurang konsisten; 3 = mulai konsisten; 4 = konsisten; dan 5 = selalu konsisten.

b. Penilaian diri (self assessment) Penilaian diri digunakan untuk memberikan penguatan (reinforcement) terhadap kemajuan proses belajar peserta didik. Penilaian diri berperan penting bersamaan dengan bergesernya pusat pembelajaran dari guru ke peserta didik yang didasarkan pada konsep belajar mandiri (autonomous learning).
© 2017

KP

Untuk menghilangkan kecenderungan peserta didik menilai diri terlalu tinggi dan subyektif, penilaian diri dilakukan berdasarkan kriteria yang jelas dan objektif. Untuk itu penilaian diri oleh peserta didik di kelas perlu dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut.

1) Menjelaskan kepada peserta didik tujuan penilaian diri.
2) Menentukan kompetensi yang akan dinilai.
3) Menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan.
4) Merumuskan format penilaian, dapat berupa daftar tanda cek, atau skala penilaian.
c. Penilaian teman sebaya (peer assessment) Penilaian teman sebaya atau antarpeserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar pengamatan antarpeserta didik. Penilaian teman sebaya dilakukan oleh peserta didik terhadap 3 (tiga) teman sekelas atau sebaliknya. Format yang digunakan untuk penilaian sejawat dapat menggunakan format seperti contoh pada penilaian diri.

Contoh: Format penilaian teman sebaya
No. Pernyataan 4 Skala 3 2 1
1. Teman saya berkata benar, apa adanya kepada orang lain
2. Teman saya mengerjakan sendiri tugas-tugas sekolah
3. Teman saya mentaati peraturan (tata-tertib) yang diterapkan
4. Teman saya memperhatikan kebersihan diri sendiri
5. Teman saya mengembalikan alat kebersihan, pertukangan, olah raga, laboratorium yang sudah selesai dipakai ke tempat penyimpanan semula
6. Teman saya terbiasa menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan petunjuk guru
7. Teman saya menyelesaikan tugas tepat waktu apabila diberikan tugas oleh guru
8. Teman saya berusaha bertutur kata yang sopan kepada orang lain
9. Teman saya berusaha bersikap ramah terhadap orang lain
10. Teman saya menolong teman yang sedang mendapatkan kesulitan

Keterangan : 4 = Selalu

© 2017

KP

3 = Sering 2 = Jarang 1 = Sangat jarang

d. Penilaian jurnal (anecdotal record) Jurnal merupakan kumpulan rekaman catatan guru dan/atau tenaga kependidikan di lingkungan sekolah tentang sikap dan perilaku positif atau negatif, selama dan di luar proses pembelajaran mata pelajaran. Contoh: Format penilaian melalui jurnal
JURNAL
Nama :.........................
Kelas :.........................

Hari, tanggal Kejadian Keterangan

Di samping di atas, Arikunto (1993:182) menjelaskan ada beberapa bentuk skala yang dapat digunakan untuk mengukur sikap, antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Skala Likert Skala ini disusun dalam bentuk suatu pernyataan dan diikuti oleh lima respons yang menunjukkan tingkatan.
SS = Sangat setuju
S = Setuju
TB = Tidak berpendapat
TS = Tidak setuju

STS = Sangat tidak setuju

  1. Skala Jhon West Skala ini penyederhana dari skala Likert yang mana disusun dalam bentuk suatu pernyataan dan diikuti oleh tiga respons yang menunjukkan tingkatan. Misalnya: S = Setuju R = Ragu-ragu TS = Tidak setuju
    © 2017

KP

  1. Skala Thrustone Metode penskalaan Thrustone sering disebut sebagai metode interval tampak setara. Metode penskalaan pernyataan sikap ini dengan pendekatan stimulus yang artinya penskalaan dalam pendekatan ini ditujukan untuk meletakkan stimulus atau pernyataan sikap pada suatu kontinum psikologis yang akan menunjukkan derajat favourable atau tak favourable pernyataan yang bersangkutan. Dengan metode ini perlu ditetapkan adanya sekelompok orang yang akan bertindak sebagai panel penilai (judging group). Tugasnya adalah menilai satu penyataan per satu dan kemudian menilai atau memperkirakan derajat favourable atau tak *favourable-*nya menurut suatu kontinum yang bergerak dari 1 sampai dengan 11 titik. Anggota panel tidak boleh dipengaruhi oleh oleh rasa setuju atau tidak setujunya pada isi pernyataan melainkan semata-mata berdasarkan penilaiannya pada sifat favourable-nya. Dalam menentukan penilaian derajat favourable atau unfavourable setiap pernyataan sikap, kepada kelompok penilai disajikan suatu kontinum psikologis dalam bentuk deretan kotak-kotak yang diberi huruf A sampai dengan K. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
    Tidak favourable Netral favourable

Kotak berhuruf A yang berasa paling kiri merupakan tempat untuk meletakkan pernyataan sikap yang berisi afek paling tidak favourable. Sebaliknya kotak berhuruf K adalah tempat meletakkan pernyataan yang paling tidak favourable serta kotak F merupakan tempat meletakkan sikap yang dianggap netral.

© 2017

KP

1. Aktivitas Pembelajaran

Setelah selesai mempelajari uraian kegiatan pembelajaran dua, Anda diharapkan dapat menerapakan komunikasi efektif, santun, dan empatik kepada siswa tunarungu dalam pembelajaran. Dengan demikian, lakukanlah aktivitas berikut ini secara mandiri!

  1. Analisislah RPP, baik pembelajaran vokasional maupun pembelajaran bunyi yang pernah disusun sebelumnya!
  2. Bandingkanlah RPP tersebut dengan materi yang dibahas sebelumnya! Apakah sudah selaras dengan pembelajaran komunikasi efektip, empati, dan santun?

    2. Latihan/Kasus/Tugas

Jelaskan sikap empati apa saja yang perlu ditumbuh kembangkan pada anak tunarungu, baik di dalam kelas maupun di luar kelas dengan penuh tanggung jawab!

3. Rangkuman

Metode komunikasi dalam pembelajaran antara lain; informative communication, instructive/coercive communication, dan persuasive communication. Di samping itu, guru harus mengenali sasaran komunikasi (siswa), perlu melihat referensi anak tunarungu, situasi dan kondisi, dan media komunikasi. Pendekatan empati dalam pembelajaran meliputi; pendekatan afektif, kognitif, keteladanan, kisah/cerita yang bertemakan empati /moral, penggunaan kata-kata verbal untuk menegur anak didik, pengalaman langsung, kebersamaan dalam bermain, dan pembentukan empati lewat pembiasaan. Empati yang perlu ditumbuhkan dan dikembangkan pada anak antara lain: empati terhadap sesama manusia, empati terhadap kehidupan binatang, empati terhadap kehidupan tumbuh-tumbuhan, empati terhadap kelestarian dan keindahan lingkungan, Prinsip kesantunan menjadi enam maksim yaitu (1) maksim kearifan, (2) maksim kedermawanan, (3) maksim pujian, (4) maksim kerendahan hati, (5)

© 2017

KP

maksim pemufakatan, dan (6) maksim simpati. Cara untuk menilai sikap peserta didik; melalui observasi, penilaian diri, penilaian teman sebaya, dan penilaian jurnal. Instrumen yang digunakan antara lain daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik.

4. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Dipersilakan Anda mengukur diri sendiri untuk menentukan hasil pekerjaan di atas, apakah sesuai dengan penjelasan materi yang dibahas sebelumnya. Jika belum silakan baca kembali materi-materi yang membahas semua itu!

© 2017

KP

KEGIATAN PEMBELAJARAN 3 KLASIFIKASI BUNYI-BUNYI BAHASA

A. Tujuan

  1. Melalui kegiatan membaca secara mandiri, Anda mampu menjelaskan berbagai alat ucap manusia dengan benar.
  2. Melalui kegiatan membaca secara mandiri, Anda mampu mengklasifikasi bunyi-bunyi bahasa dengan benar.

    B. Indikator Pencapaian Kompetensi

  3. Menjelaskan berbagai alat ucap manusia

  4. Mengklasifikasi bunyi-bunyi bahasa.

    C. Uraian Materi

1. Alat Ucap Manusia Batasan fonologi yang dimuat dalam http://id.wikipedia.org adalah ilmu tentang perbendaharaan bunyi-bunyi (fonem) bahasa dan distribusinya. Fonologi diartikan sebagai kajian bahasa yang mempelajari tentang bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat ucap manusia. Bidang kajian fonologi adalah bunyi bahasa sebagai satuan terkecil dari ujaran dengan gabungan bunyi yang membentuk suku kata. Fonologi terdiri dari 2 (dua) bagian, yaitu Fonetik dan Fonemik. Fonologi berbeda dengan fonetik. Fonetik mempelajari bagaimana bunyi-bunyi fonem sebuah bahasa direalisasikan atau dilafalkan. Fonetik juga mempelajari cara kerja organ tubuh manusia, terutama yang berhubungan dengan penggunaan dan pengucapan bahasa. Dengan kata lain, fonetik adalah bagian fonologi yang mempelajari cara menghasilkan bunyi bahasa atau bagaimana suatu bunyi bahasa diproduksi oleh alat ucap manusia. Sementara itu, Fonemik adalah bagian fonologi yang mempelajari bunyi ujaran menurut fungsinya sebagai pembeda arti. Ferdinand de Saussure seorang ahli bahasa menjelaskan bahwa, “Bahasa adalah ciri pembeda yang paling menonjol karena dengan bahasa setiap kelompok sosial merasa dirinya sebagai kesatuan yang
© 2017

KP

berbeda dari kelompok yang lain.” Di samping itu, Mackey (1986) memberi batasan, “Bahasa adalah suatu bentuk dan bukan suatu keadaan (lenguage may be form and not matter) atau sesuatu sistem lambang bunyi yang arbitrer, atau juga suatu sistem dari sekian banyak sistem-sistem, suatu sistem dari suatu tatanan atau suatu tatanan dalam sistem-sistem.” Dari pandangan dua ahli tersebut ada persamaan dan perbedaannya. Lebih jelas batasan bahasa sebagaimana dijelaskan Keraf (1997:1) yaitu, “Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.” Dengan demikian, bahasa dapat dikatakan sebagai ujaran berupa simbol-simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang mengandung makna. Bahasa itu berfungsi sebagai alat komunikasi dalam masyarakat bahasa yang secara konvensi memahami bahasa tersebut. Kenapa hanya alat ucap manusia yang menghasilkan bahasa? Itulah yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya. Apakah setiap ujaran dapat dikatakan bahasa? Ujaran yang mengandung maknalah yang dapat dikatagorikan bahasa. Misalnya,ujaran/bunyi [bo] atau [la] tidak termasuk bahasa, tapi kalau dirangkaikan menjadi [bola] memiliki makna dan dapat disebut bahasa. Apakah semua manusia memahami makna /bola/? Masyarakat pengguna bahasa yang secara sepakat (konvensi) membaca deretan fonem /b-o-l-a/ yang dihubungkan dengan otak bahasanya akan memahami kata tersebut. Bagaimana proses terjadinya bahasa sebagai ujaran itu? Coba perhatikan gambar berikut!

Gambar 3. 1 Alat Ucap Manusia

© 2017

KP

Bahasa terjadi karena adanya desakan udara yang dipompakan paru-paru melalui tenggorokan (10), lalu masuk melalui pita suara (11) yang berfungsi menggetarkan udara untuk menghasilk bunyi. Bunyi itu terus mendesak melalui kerongkongan (9) ada yang mendapat hambatan dan ada yang tidak. Bunyi yang tidak ada hambatan disebut bunyi vokal, sedangkan yang mendapat hambatan dari alat ucap ( 1 ), ( 2 ), ( 3 ), ( 4 ), ( 5), ( 6 ), ( 7 ), ( 8), ( 12 ), (13 ), (14 ), (15 ), (16 ), atau ( 17) disebut bunyi konsonan. Pembahasan fonologi diawali dengan pengertian tentang bunyi vokal dan bunyi konsonan yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Samsuri (1982;

103) menjelaskan bunyi dibagi menjadi dua golongan besar yaitu vokoid (vokal) dan kontoid (konsonan). Vokoid adalah ialah bunyi yang dihasilkan dengan cara pengucapan melalui mulut yang tidak mendapat hambatan. Kontroid yaitu bunyi yang mengucapannya melalui arus udara dihambat sama sekali oleh penutupan larynx. Garis yang membagi vokoid dan kontoid tidak selalu jelas. Beberapa vokoid, seperti pada kata [ubi] dan [ibu] diucapkan dengan menggetarkan bagian depan. Jika artikulator itu diangkat lebih jauh lagi, maka akan mencapai langit-langit lunak sedemikian dekatnya sehingga bentuknya menyempit. Untuk membedakan tanda-tanda fonetik dari huruf-huruf abjad biasa menjadi suatu kebiasaan yang menuliskan tanda-tanda fonetik di dalam kurung besar. Jadi, [e] adalah tanda fonetik yang mempunyai nilai hanya sebuah nilai fonetik, sedangkan /e/ ialah huruf abjad Indonesia biasa, yang mempunyai nilai fonetik dua atau tiga buah (di dalam kata /merdeka/ huruf /e/ itu mewakili nilai fonetik yang berbeda, sedangkan pembicara- pembicara dari Jawa pada umumnya memberikan nilai fonetik yang berbeda pada huruf /e/ di dalam kata-kata /nenek/ dan /tempe/). Batasan tiap tanda fonetik itu penting dan seharusnya selalu dinyatakan dengan hati-hati. Di dalam bagian yang berikut kita akan memakai tanda [e] untuk menyatakan suatu kategori vokal yang tertentu, yang ditetapkan dengan setepat-tepatnya sebagaimana yang diperlukan akan pemakaian tentang tanda itu; dan bila saja kita menuliskan [e] akan menyatakan dengan tanda itu suatu bunyi dari kategori yang telah kita tetapkan nanti.
© 2017

KP

Pemilihan tanda itu arbitrer, tetapi sekali tanda itu dipakai untuk menyatakan suatu nilai fonetik, seterusnya kita akan memakai tanda itu dengan nilai fonetik itu, (Samsuri, 1982; 104).

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, kita khususkan pembahasannya pada bunyi-bunyi Bahasa Indonesia, baik bunyi vokal maupun bunyi konsonan dengan variasi-variasinya.

2. Klasifikasi Bunyi-bunyi Bahasa
a. Vokal Vokal umumnya diklasifikasikan menurut tiga dimensi artikulatoris, tingkat terbukanya mulut, posisi bagian lidah yang tertinggi, dan posisi bibir. Jadi, bunyi yang tertentu mungkin dideskripsikan sebagai vokal rapat, depan, bundar, (misalnya [u] pada /wujud/ atau bunyi lain) sebagai rapat, depan tak bundar (misalnya [e] pada /emang/). Di samping itu, untuk membedakan vokal [e] pada /enak/ dan [ǝ] pada /engkau/ atau bunyi lainnya dan cara penulisannya dapat dilihat dalam tabel Abjad Fonetik International IPA (International Phonetic Alphabet) di bawah ini.
Tabel 3. 1 International Phonetic Alphabet 1

Lambang Fonetik IPA Contoh EYD Lambang Fonetik IPA Contoh EYD
[i] [itu] [bila] [kami] Itu bila kami /b/ /baru/ /labu/ baru labu
[l] [lebih] [adi i?] lebih adik /t/ /tari/ /pati/ tari pati
[e] [ela ?] [sate] elak sate /d/ /dada/ /pada/ dada pada
/є/ [bєbє?] [nєnє?] bebek nenek /k/ /kami/ /pakar/ Kami pakar
[a] [apa] apa /kh/ /khin/ kin (IN)

© 2017

KP

Lambang Fonetik IPA Contoh EYD Lambang Fonetik IPA Contoh EYD
[bila] bila /kh Ù t/ cat
(ŋ) [baraŋ] [kuraŋ] barang kurang /g/ /gigi/ /pagi/ gigi pagi
[ə] [əmpat] [səmpa t] empat sempat /?/ /ini/ /bib?/ /sa?at/ ini bibi saat
[o] [otot] [soto] otot soto /c] /t ò / /cari/ /kaca/ /t ò u:t/ /fit ò ə/ cari kaca church (IN) feature (IN)
/u/ [ukur] [suku] ukur suku /dξ/ /dξ A dξ/ /dξ A dcli/ judge jelly
/U/ [buru?] sUkma] buruk sukma /j/ /jari/ /baja/ jari baja
/p/ /pilu/ /tipis/ pilu tipis /f/ /v/ /fakta/ /fositif/ /varial/ [Univert as] fakta fositif varia universit as
/s/ /sapa/ /lepas/ /səsa?/ sapa lepas sesak /r/ /rasa/ /sara/ /sasar/ rasa sara sasar
/z/ /zakat/ /aziz/ zakat aziz /l/ /lama/ /bila/ /pukUl/ lama bila pukul

© 2017

KP

Lambang Fonetik IPA Contoh EYD Lambang Fonetik IPA Contoh EYD
/m/ /n/ /mana/ /sama/ /nama/ /ən Ù m/ /pəs Ù n/ mana sama nama enam pesan
/ ò / / ò Ù h/ /ma ò arak Ù t/ Syah masyarak at /η/ /ηaηa/ /bisiη/ nganga bising
/x/ /xabar/ /axlak/ khabar akhlak /ň/ /ňəňa? / /buňi/ nyenyak bunyi
/ ¶ / /j/ /ma ¶ rib/ / ¶ arib/ /ja/ /saja/ /sunaj/ maghrib gharib ya saya sungai /w/ /wajah/ /hawa/ /pulaw/ wajah hawa pulau

IPA (International Phonetic Alphabet) yaitu suatu lembaga yang menetapkan abjad fonetik secara internasional. Jadi, lambang– lambang fonetik dari seluruh bahasa di dunia secara konvensi dibakukan. Untuk lebih jelas coba perhatikan bagan berikut.

© 2017

KP

Tabel 3. 2 International Phonetic Alphabet 2

Consonanta -bial Bila dental-Labio Dental and Alveolar Retroflex - Palato alveolar - Alveolo nalatal Palatal Velar Uvular Pharyngal Glottal
Plosive p b t d t d Ç k g g G ?
Nasal m nj n Л Л ŋ N
Lateral Fricatve β
Lateral non Fricatve
Rolled
Flapped
Fricative Ф β f v θδ sz
Frictionleas Continuant a and semi vowela w ų
Vowela Close Half-close Half-open open (y u u) ( ( =) Front Central Back I y i w u

s o) a

( Alwasilah. 1993: 104) Pengucapan bunyi vokal Indonesia dapat dilihat berdasarkan posisi lekukan lidah (apakah di depan, tengah, belakang), ketinggian lidah (apakah mulut terbuka lebar atau tidak), dan bentuk bibir (apakah bulat atau tidak) saat mengucapkannya. Vokal panjang disejajarkan dengan baris vokal pendek yang sepadan, dan contoh vokal panjang dan pendek dapat dibedakan dari penulisannya.

Lidah dapat berada dalam posisi depan, hampir depan, madya (tengah), hampir belakang, dan belakang. Dalam bahasa Indonesia, vokal yang terjadi karena lidah berada di posisi depan adalah [i], [e], [ɛ], [a]. Semuanya merupakan vokal dengan bibir tak bulat. Sedangkan vokal (dalam bahasa Indonesia) yang terjadi karena lidah berada di

© 2017

KP

posisi belakang adalah [u], [ɔ], [o]. Semuanya merupakan vokal dengan bibir bulat. Sementara vokal madya adalah [ə].

1) Ketinggian Ketinggian lidah menentukan perbedaan bunyi vokal. Semakin tinggi lidah, maka semakin menyempit pula udara yang dikeluarkan untuk menciptakan bunyi vokal, dan demikian sebaliknya jika lidah merendah. Contohnya, vokal [i] dan [u] terjadi saat lidah mencapai posisi tertinggi yang dicapainya, sedangkan vokal [a] dan [ɑ] terjadi saat lidah mencapai posisi terendah.
2) Kebulatan Kebulatan vokal ditentukan oleh bentuk bibir. Perbedaan bentuk bibir dapat menimbulkan vokal yang berbeda meskipun lidah berada di posisi yang sama. Misalnya vokal [i] adalah bunyi yang ditimbulkan dengan posisi lidah di depan dan tinggi tapi bibir tak bulat, sementara vokal [y] ditimbulkan dengan posisi lidah di depan dan tinggi tapi bibir membulat. Jadi, perbedaan hanya terletak pada kebulatan bibir saja meskipun posisi lidah sama. Contoh lain adalah bunyi [ɔ] (bulat) dan [ʌ] (tak bulat), keduanya terjadi dalam posisi lidah yang sama tapi kebulatan bibir berbeda. Bunyi [ɔ] terdapat pada kata "bor". Untuk lebih jelas, coba perhatikan gambar di bawah ini!
Gambar 3. 2 Posisi Vokal Sumber: id.wikipedia.org

© 2017

KP

Berdasarkan gambar di atas, maka vokal dapat diklasifikasi sebagai berikut.

a) vokal u adalah vokal tinggi, belakang, bundar. Bila vokal /u/ dibentuk dengan posisi bibir yang sempit, maka akan terbentuk bunyi [w]. Bunyi [w] yang terbentuk seperti demikian dinamakan semi vokal. Misalnya, kata /kuat/ dan /buat/, antara vokal /u/ dan vokal /a/ akan terdengar semi vokal [w].
b) vokal /i/ adalan vokal tinggi, depan, tak bundar. Bila vokal /i/ dibentuk dengan posisi lidah setinggi mungkin, sehingga letaknya lebih dekat pada langit-langit, maka akan terdengar bunyi [y]. Bunyi [y] yang terjadi disebut semi vokal. Misalnya, dia dan manusia, antara vokal /i/ dan vokal /a/ terdengar bunyi semi vokal [y]. Selain penggolongan di atas, Anda juga mengenal vokal yang digolongkan sebagai vokal rangkap atau diftong ialah dua vokal berurutan dan tidak sejenis. Jadi vokal yang pertama berbeda dengan vokal berikutnya. Dalam pengucapan diftong antara vokal yang satu dengan vokal berikutnya diucapkan tidak dalam dua suku kata melainkan dalam satu suku kata. Bunyi puncak suku kata dapat terdapat dalam vokal pertama atau dalam vokal kedua. Dalam Bahasa Indonesia ada tiga buah diftong yaitu:
a. /ai/ dilafalkan [ey] seperti pada kata: damai, ramai, santai.
b. /au/ dilafalkan [ow] seperti pada kata: harimau, saudara, pulau.
c. /oi/ dilafalkan [oy] seperti pada kata: amboi, sepoi. Sekarang Anda bandingkan perbedaan lafal diftong dengan dua buah vokal berikut ini: menggulai (kambing)

menggulai (air kopi)
pulau mau (makan)
sepoi, amboi meridoi

Deretan sebelah kanan masing-masing merupakan dua buah vokal yang diucapkan dalam dua kesatuan waktu karena vokal terakhir merupakan sebuah suku kata, sedangkan deretan kiri /ai, au, dan oi/ merupakan diftong. Bila Anda mengucapkan sebuah suku kata, maka akan terdapat satu bunyi yang paling keras terdengar. Bunyi yang paling keras terdengar itu

© 2017

KP

merupakan yang paling jelas bunyinya, sehingga merupakan puncak bunyi. Bunyi tersebut disebut puncak suku kata. Bunyi vokal tidak lagi merupakan bunyi yang paling puncak maka vokal tersebut berubah menjadi semi vokal. Kualitas semi vokal tidak hanya ditentukan oleh tempat artikulasi, tetapi juga oleh sikap/posisi mulut sewaktu mengucapkan bunyi tersebut.

b. Konsonan

Para ahli banyak yang memberikan batasan mengenai konsonan.
Salah satunya Lubis (1994:91) yang mendefinisikan konsonan sebagai bunyi bahasa yang dihasilkan dengan menghambat aliran udara pada salah satu tempat di mulut kita. Berbeda halnya dengan Martinet (1987)
yang menyatakan konsonan adalah bunyi ditangkap tanpa dukungan vokal pendahuluan atau sesudahnya. Penggolongan konsonan menurut Samsuri (1982:114) dilihat dari cara yang kurang dapat
pengucapannya dibagi menjadi dua mendapatkan hambatan menyeluruh/ terbuka. Kedua, tiga jenis, yaitu geser atau spiran, nasal, dan likwida, sedangkan yang terakhir ini bisa juga digolongkan menjadi dua jenis, lateral dan getar. macam. Pertama, yang dibagi menjadi
Nasal berbeda dan yang laman karena pengucapannya yang
disebabkan pula oleh ke luarnya sebagian rongga hidung, di samping arus itu ke luar dan mulut. Kelima jenis itu dari arus udara melalui
dapat berikut ini. dibagi-bagi lagi menurut titik- titik membaginya secara kasar menurut titik pengucapan seperti gambar pengucapannya. Samsuri
Gambar 1.1 Titik – titik pengucapan

© 2017

KP

Titik-titik pengucapan atau alat-alat pengucapan kami ambil yang dasar saja, yaitu bibir atau labial, gigi atau dental, langit-langit atau palantal, langit-langit lunak atau velar. Sesuai dengan artikulasinya, konsonan dalam Bahasa Indonesia dapat dikatagorikan berdasarkan tiga faktor, (1) keadaan pita suara, (2) daerah artikulasi, dan (3) cara artikulasi. Berdasarkan pita suara konsonan dapat bersuara atau tak bersuara. Berdasarkan daerah artikulasinya konsonan dapat bersifat bilabial, labiodental, alveolar, palatal, velar atau glotar; dan berdasarkan cara artikulasinya konsonan dapat berupa hambatan, frikatif, nasal, getar atau lateral. Di samping itu, ada lagi yang berwujud semivokal.

1) Penggolongan konsonan berdasarkan cara akhirannya dapat digolongkan menjadi enam macam:
a) Konsonan hambatan. Udara yang keluar dari paru-paru dihambat sama sekali, umpamanya: p, b, t, d, j, g, k, c.
b) Konsonan geseran. Dalam menghasilkan bunyi konsonan udara yang keluar dari paru-paru digeserkan, umpamanya: f, v, kh, h.
c) Lateral. Udara yang keluar dari paru-paru diatur melalui kedua sisi lidah, umpamanya: konsonan I.
d) Konsonan desis. Udara yang keluar mengakibatkan bunyi desis sepert: s, z, sy.
e) Konsonan getaran. Pada waktu udara ke luar lidah digetarkan, umpamanya: r.
f) Konsonan luncuran. Udara yang keluar diluncurkan dengan cara hampir merapatkan, kedua belah bibir, seperti: w, y.
2) Pembagian konsonan berdasarkan bergetar-tidaknya pita suara:
a) Konsonan bersuara. Pada waktu menghasilkan bunyi pita suara turut bergetar, misalnya: m, n, ny, ng, b, j, g, v, z, l.
b) Konsonan tak bersuara. Pita suara turut bergetar, misalnya bunyi bahasa: p, t, c, k, f, Kh, h, s, sy, r.
© 2017

KP

3) Penggolongan konsonan berdasarkan artikulator dan titik artikulasinya:
a) Konsonan bilabial. Pertemuan antara bibir atas dan bibir bawah (dua bibir). Bunyi bahasa yang dihasilkan: b, p, m, w.
b) Konsonan labio-dental. Bibir bawah mendekati menyentuh gigi atas (pertemuan antara bibir dan gigi). Bunyi bahasa yang dihasilkan: f, w.
c) Konsonan apiko-dental. Ujung lidah hingga menyentuh gigi atas. Bunyi bahasa yang dihasilkan: t, z, s.
d) Konsonan apiko palatal. Ujung lidah dipertemukan dengan langit-langit keras. Bunyi bahasa yang dihasilkan: d, n, I, r.
e) Konsonan palatal. Ujung lidah didekatkan ke arah langit-langit keras. Bunyi bahasa yang dihasilkan: c, j, ny, sy, y.
f) Konsonan velar. Belakang lidah bergerak rnendekati langit-langit lunak. Bunyi bahasa yang dihasilkan: g, k, ng, kh.
g) Glotal. Celah antara kedua pita suara tertutup rapat akan menghasilkan bunyi hamzah (k yang disentakkan seperti pada rakyat). Apabila celah itu agak terbuka menghasilkan bunyi bahasa /h/.
Untuk memperjelas isi pembicaraan konsonan ini. Anda dapat melihat dan mempelajarinya dengan saksama dalam diagram berikut ini.

Tabel 3. 3 Tabel Pengucapan Konsonan
Bilabial Labloden tal Apikond ental Apikolpol antal Palatal Nelar Glotal
Hambatan B T B P T D J c g k
Geseran B T V f Z s Sy Kh h
Lateral B
T
Desis B T R
Getaran B
T
Luncuran B W y
T

© 2017

KP

Bilabial Lablodental Apikondental Apikolpolantal Palatal Nelar Glotal B Nasal T M N ny ng B = Bersuara T = Tidak Bersuara

Berdasarkan bagan di atas, dapat kita lihat konsonan dalam Bahasa
Indonesia memiliki 22 konsonan fonem. Adapun cara memberi identitas setiap konsonan tersebut berturut-turut dari menyebut cara artikulasinya,
daerah artikulasinya, kemudian keadaan pita suaranya. Untuk memperjelas seluruh konsonan dalam Bahasa Indonesia dan contoh- contoh pelafalannya, kita kutip penjelasan berdasarkan buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia berikut ini. Konsonan hambatan bilabial /b/, /p/ dan /m/ dilafalkan dengan bibir atas dan bibir bawah terkatup rapat sehingga udara dari paru-paru untuk sementara waktu sebelum katupan itu terlepas.
Contoh: /aba/ [aba] /bola/ [bola] /siap/ [siap] /pola/ [pola] /mau/ [mau] /kelam/ [kəlam]
Gambar 3. 3 Konsonan Bilabial

Konsonan hambat alveolar /t/ dan /d/ umumnya dilafalkan dengan ujung lidah ditempelkan pada gusi. Udara dari paru-paru sebelum dilepaskan. Karena dipengaruhi bahasa daerah, ada pula orang yang melafalkan

© 2017

KP

kedua konsonan itu dengan menempelkan ujung atau daun lidah pada
bagian belakang gigi atas sehingga terciptalah bunyi dental dan bukan alveolar. Perbedaan artikulasi itu tidak penting dalam tata bunyi Bahasa
Indonesia.
Contoh: /tari/ [tari] /galah/ [galah] /rapat/ [rapat] /debu/ [debu]
Gambar 3. 4 Konsonan Alveolar

Konsonan hambat velar /k/ dan /g/ dihasilkan dengan menempelkan belakang lidah pada langit-langit lunak. Udara dihambat di sini dan kemudian dilepaskan. Contoh: /kalah/ [kalah] /galah/ [galah] /akar/ [akar] /agar/ [agar]

Gambar 3. 5 Konsonan Velar

Dalam bahasa Indonesia terdapat enam konsonan trikatif, lima tak bersuara, yakni /f/, /s/, /s/, /x/, dan /h/, dan satu yang bersuara, yakni /z/.

© 2017

KP

Konsonan trikatif labiodental /f/, artinya, konsonan itu dibuat dengan bibir
bawah didekatkan pada bagian bawah gigi atas sehingga udara dari paru- paru dapat melewati lubang yang sempit antara gigi dan bibir dan menimbulkan bunyi desis. Sebagian orang sukar melafaflkan bunyi ini dan menggantinya dengan bunyi /p/. Contoh: /fakultas/ /pakultas/ [fakultas] /lafal/ /lapal/ [lafal]

Gambar 3. 6 Konsonan Trikatif Labiodental

Penggantian /f/ dengan /p/ hendaklah dihindari. Dalam tulisan, ada kalanya /f/ dilambangkan dengan huruf /v/.

Contoh: /fisa/ /visa/

Konsonan frikatif alveolar /s/ dihasilkan dengan menempelkan ujung lidah pada gusi atas sambil melepaskan udara lewat samping lidah sehingga menimbulkan bunyi desis.

Contoh: /masa/ masa

Gambar 3. 7 Konsonan Frikatif Alveolar

© 2017

KP

Konsonan frikatif alvoelar Izl dibentuk dengan cara pembentukan /s/,
tetapi dengan pita suara yang bergetar
Contoh: /lazim/ dan menimbulkan bunyi desis. lazim Konsonan frikatif palatal tak bersuara [š] dibentuk dengan menempelkan depan lidah pada langit-langit keras, tetapi udara melewati samping lidah Konsonan frikatif velar /x/ dibentuk dengan mendekatkan punggung lidah ke langit-langit lunak yang dinaikkan agar udara tidak keluar melalui hidung. Udara dilewatkan celah yang sempit ke luar rongga mulut.
Contoh: /xas/ [khas] bandingkan dengan /khas/ [kas]
Gambar 3. 8 Konsonan Frikatif Velar

Konsonan frikatif glotal /h/ dibentuk dengan melewatkan arus udara di antara pita suara yang menyempit sehingga menimbulkan bunyi desis, tanpa dihambat di tempat lain. Contoh: /habis/ [habis] /murah/ [murah] Konsonan afrikat palatal /c/ dilafalkan dengan daun lidah ditempelkan pada langit-langit keras dan kemudian dilepas secara perlahan sehingga udara dapat lewat dengan menimbulkan bunyi desis. Sementara itu, pita suara dalam keadaan tidak bergetar. Konsonan afrikat palatal /j/ dibentuk dengan cara yang sama dengan pembentukan /c/, tetapi pita suara dalam keadaan bergetar. Contoh:

/cari/ [cari]
/jari/ [jari]
/maňcar/ [mancar]
/maňjur/ [manjur]

Gambar 3. 9 Konsonan Afrikat Palatal

© 2017

KP

Kelompok nasal alvoelar /n/ dihasilkan dengan cara menempelkan ujung
lidah pada gusi untuk menghambat udara dari paru-paru. Udara itu kemudian dikeluarkan lewat rongga hidung.
Contoh : /nama/ [nama] /pintu/ [pintu] Konsonan nasal palatal /ň/ dibentuk dengan menempelkan depan lidah pada langit-langit keras untuk menahan udara dari paru-paru. Udara yang terhambat itu kemudian dikeluarkan melalui rongga hidung sehingga terjadi persengauan. Konsonan nasal palatal /ň/ seolah-olah terdiri atas dua bunyi, /n/ dan /y/, tetapi bunyi telah luluh menjadi satu.
Contoh: /nyiur/ [ňiur]
Konsonan nasal velar / ŋ/ pada langit-langit lunak dan udara kemudian dilepas melalui hidung. dibentuk dengan menempelkan belakang lidah
Contoh: /ngarai/ [ŋaray] Konsonan getar alveolar /r/ dibentuk dengan menempelkan ujung lidah pada gusi kemudian menghembuskan udara sehingga lidah tersebut secara berulang-ulang menempel pada dan lepas dari gusi. Sementara
pita suara dalam keadaan bergetar.
Contoh: /sabar/ [saibar] Konsonan lateral alveolar /l/ dihasilkan dengan menempelkan daun lidah pada gusi dan mengeluarkan udara melewati samping lidah. Sementara
itu, pita suara dalam keadaan bergetar.
Contoh: /lama/ [lama]
Gambar 3. 10 Konsonan lateral alveolar

© 2017

KP

Dalam Bahasa Indonesia ada dua fonem yang termasuk semivokal, yakni /w/ dan /y/. Bunyi semivokal itu dibentuk tanpa penghambatan arus udara sehingga menyerupai pembentukan vokal, tetapi dalam suku w kedua bunyi itu tak pernah menjadi inti suku kata. Kedua fonem semivokal itu dibentuk dengan pita suara dalam keadaan bergetar. Semivokal bilabial /w/ dilafalkan dengan mendekatkan kedua bibir tanpa menghalangi udara yang dihembuskan dari paru-paru. Contoh: /waktu/ [waktu] /awal/ [awal] Semivokal palatal /y/ dihasilan dengan mendekatkan depan lidah pada langit-langit keras, tetapi titik sampai menghambat udara yang ke luar dari paru-paru. Contoh: /yatim/ [yatim] /kaya/ [kaya] Fonem /ň/. Fonem /ň/ mempunyai satu alofon, yakni [ň] yang hanya terdapat pada awal suku kata. Contoh: [ňiUr] /nyiur/

Fonem /ň/ yang diikuti fonem /j/, /c/, atau /s/ di dalam ejaan dilambangkan oleh , seperti pada panjang [paňjaŋ], inci [iňci], dan musyi [muňš].

Fonem /ŋ/. Fonem /ŋ/ mempunyai satu alofon, yakni /ŋ/ yang terdapat pada awal atau akhir suku kata. Contoh: [paŋkal] /pangkal/

Fonem /r/. Fonem /r/ mempunyai satu alofon, yakni [r]. Alofon [r] terdapat pada awal dan akhir suku kata dan diucapkan dengan getaran pada lidah yang menempel di gusi. Pada orang-orang tertentu, [r] dapat bervariasi dengan [R], bunyi getar uvular. Contoh: /raja/ atau [Raja]

Fonem /I/. Fonem /I/ mempunyai satu alofon, yakni [I] yang terdapat pada awal atau akhir suku kata. Contoh: [palsu] /palsu/

Huruf konsonan rangkap ll pada Allah dilafalkan sebagai [I], yaitu bunyi [l]
yang berat yang dibentuk dengan menempelkan ujung lidah pada gusi sambil menaikkan belakang lidah ke langit-langit lunak atau menariknya
ke arah dinding faring.
PPPPTK TK DAN PLB BANDUNG © 2017 78

KP

Fonem /w/. Fonem /w/ mempunyai satu alofon, yakni [w]. Pada awal
suku kata, bunyi [w] berfungsi sebagai konsonan, tetapi pada akhir suku kata [w] berfungsi sebagai bagian diftong.
Contoh: [wak>tu] /waktu/ Fonem /y/. Fonem /y/ mempunyai satu alofon, yakni [y]. Pada awal suku kata, /y/ berperilaku sebagai konsonan, tetapi pada akhir suku kata berfungsi sebagai bagian dan diftong.
> Contoh: [yak ni] /yakni/ Agar Iebih jelas bagaimana posisi artikulasi dalam alat ucap, coba perhatikan skema menurut Maytiret (1980 : 52) berikut ini.

Gambar 3. 11 Konsonan lateral alveolar Skema Artikulasi dalam Mulut

D. Aktivitas Pembelajaran

  1. Secara bekerjasama, pilihlah salah satu teman untuk latihan pelafalan secara berpasangan!
  2. Coba secara bergantian lafalkan dan rasakan cara pengucapan vokal berdasarkan tingkat terbukanya mulut, posisi bagian lidah yang tertinggi, dan posisi bibir!
  3. Coba secara bergantian coba lafalkan dan rasakan cara pengucapan konsonan berdasarkan; (a) keadaan pita suara, (b) daerah artikulasi, dan (c) cara artikulasi!
    © 2017

KP

  1. Secara mandiri, coba identifikasi hambatan apa yang mungkin dirasakan oleh anak tunarungu ketika pengucapan vokal dan konsonan di atas!
  2. Secara profesional, kerjakanlah aktivitas di atas pada Lembar Kerja (LK) 2!

    E. Latihan/ Kasus /Tugas

1) Berdasarkan gambar di bawah ini, coba tuliskan alat-alat ucap dari no 1
s.d. 10!
8 7 6 5

9 4

1 0 3 2 1

2) Jelaskan cara pengucapan vokal berdasarkan tingkat terbukanya mulut, posisi bagian lidah yang tertinggi, dan posisi bibir!
3) Jelaskan cara pengucapan konsonan berdasarkan; (a) keadaan pita suara, (b) daerah artikulasi, dan (c) cara artikulasi!

F. Rangkuman

Fonologi adalah ilmu tentang perbendaharaan bunyi-bunyi (fonem) bahasa dan distribusinya. Fonologi diartikan sebagai kajian bahasa yang mempelajari tentang bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat ucap manusia. Klasifikasi bunyi-bunyi bahasa tersebut meliputi vokal (bunyi

© 2017

KP

bahasa yang dihasilkan dengan tidak menghambat aliran udara) dan konsonan (bunyi bahasa yang dihasilkan dengan menghambat aliran udara).

Vokal umumnya diklasifikasikan menurut tiga dimensi artikulatoris yaitu; tingkat terbukanya mulut, posisi bagian lidah yang tertinggi, dan posisi bibir.

Berdasarkan artikulasinya, konsonan dapat dikatagorikan berdasarkan

tiga faktor, (1) keadaan pita suara, (2) daerah artikulasi, dan (3) cara artikulasi. Berdasarkan pita suara konsonan dapat bersuara atau tak bersuara. Berdasarkan daerah artikulasinya konsonan dapat bersifat bilabial, labiodental, alveolar, palatal, velar atau glotar; dan berdasarkan cara artikulasinya konsonan dapat berupa hambatan, frikatif, nasal, getar atau lateral.

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Dipersilakan Anda mengukur diri sendiri untuk menentukan tepat tidaknya ketika pengucapan vokal dan konsonan di atas, apakah sesuai dengan penjelasan materi yang dibahas sebelumnya. Jika belum, Anda silakan lafalkan kembali bunyi-bunyi vokal dan konsonan tersebut dengan tepat!

© 2017

KP

© 2017

KP

KEGIATAN PEMBELAJARAN 4 PERENCANAAN PEMBELAJARAN BUNYI

BAHASA BAGI ANAK TUNARUNGU

A. Tujuan

  1. Melalui kegiatan membaca madiri, Anda mampu menjelaskan prinsip-prinsip penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan benar.
  2. Melalui kegiatan diskusi, Anda mampu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan bekerjasama secara tepat.

    B. Indikator Pencapaian Kompetensi

  3. Menjelaskan prinsip-prinsip penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

  4. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

    C. Uraian Materi

1. Hakikat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Menurut Permendikbud No. 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, RPP adalah rencana pembelajaran yang dikembangkan mengacu pada silabus. Lebih lanjut, pada lampiran Permendikbud tersebut (2014:6) disebutkan RPP merupakan rencana pembelajaran yang dikembangkan secara rinci mengacu pada silabus, buku teks pelajaran, dan buku panduan guru. RPP mencakup: (1) identitas sekolah/madrasah, mata pelajaran, dan kelas/semester; (2) alokasi waktu; (3) KI, KD, indikator pencapaian kompetensi; (4) materi pembelajaran; (5) kegiatan pembelajaran; (6) penilaian; dan (7) media/alat, bahan, dan sumber belajar. Pada Pedoman Pembelajaran Tematik Terpadu Lampiran III Pemen nomor 57 Tahun 2014 (2014: 241) RPP merupakan rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan (satu hari). RPP dikembangkan dari silabus dengan memperhatikan buku peserta didik
© 2017

KP

dan buku guru yang sudah disiapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Setiap guru di setiap satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP untuk kelas di mana guru tersebut mengajar (guru kelas) di SD/SDLB dan pengembangan RPP dilakukan sebelum awal semester atau awal tahun pelajaran dimulai, namun perlu diperbaharui sebelum pembelajaran dilaksanakan. Pengembangan RPP dapat dilakukan oleh guru secara mandiri dan/atau berkelompok di sekolah/madrasah dikoordinasi, difasilitasi, dan disupervisi oleh kepala sekolah/madrasah. Pengembangan RPP dapat juga dilakukan oleh guru secara berkelompok antarsekolah atau antarwilayah dikoordinasi, difasilitasi, dan disupervisi oleh dinas pendidikan atau kantor kementerian agama setempat. Kurikulum 2013 melaksanakan pembelajaran tematik terpadu dan prosesnya menerapkan pendekatan saintifik. Penerapan pembelajaran Tematik Terpadu dengan pendekatan saintifik membawa implikasi perubahan dalam pembelajaran di SD/SDLB. Perubahan itu mengakibatkan perubahan pada perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, sistem penilaian, buku siswa, buku guru, program remedial serta pengayaan, dan sebagainya. Panduan penyusunan RPP ini diperlukan agar semua pemangku kepentingan pendidikan dasar memiliki persepsi yang sama dalam pelaksanakan Kurikulum 2013, khususnya perencanaan pembelajaran. Hal ini sangat mendukung proses dan hasil pembelajaran.

2. Prinsip-prinsip Pengembangan RPP Prinsip dalam menyusun RPP (Lampiran Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014: 7-8) adalah sebagai berikut.
a. Setiap RPP harus secara utuh memuat kompetensi dasar sikap spiritual (KD dari KI-1), sosial (KD dari KI-2), pengetahuan (KD dari KI-3), dan keterampilan (KD dari KI-4).
b. Satu RPP dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih.
c. Memperhatikan perbedaan individu peserta didik. RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan kemampuan awal, tingkat © 2017

KP

intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.

d. Berpusat pada peserta didik. Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar, menggunakan pendekatan saintifik meliputi mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar/mengasosiasi, dan mengomunikasikan.
e. Berbasis konteks. Proses pembelajaran yang menjadikan lingkungan sekitarnya sebagai sumber belajar.
f. Berorientasi kekinian. Pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan nilai-nilai kehidupan masa kini.
g. Mengembangkan kemandirian belajar. Pembelajaran yang memfasilitasi peserta didik untuk belajar secara mandiri.
h. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut pembelajaran RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedial.
i. Memiliki keterkaitan dan keterpaduan antarkompetensi dan/atau antarmuatan RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara KI, KD, indikator pencapaian kompetensi, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar. RPP disusun dengan mengakomodasikan pembelajaran tematik, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.
j. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.
3. Komponen dan Sistematika RPP Menurut Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014 (2014: 4) disebutkan RPP paling sedikit memuat: (1) identitas sekolah/madrasah, mata
© 2017

KP

pelajaran atau tema, kelas/semester, dan alokasi waktu; (2) Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, dan indikator pencapaian kompetensi; (3) materi pembelajaran; (4) kegiatan pembelajaran yang meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup; (5) penilaian, pembelajaran remedial, dan pengayaan; dan (6) media, alat, bahan, dan sumber belajar. Lebih lanjut, pada lampiran Permendikbud tersebut disebutkan bahwa komponen RPP secra operasional diwujudkan dalam bentuk format yang memuat komponen-komponen seperti disebutkan dalam Permendikbud di atas. Sementara itu, pada Permendikbud No 81 A Tahun 2013 Lampiran IV tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Pembelajaran (Kemdikbud, 2013: 38) RPP paling sedikit memuat: (1) tujuan pembelajaran, (2) materi pembelajaran, (3i) metode pembelajaran, (4) sumber belajar, dan

(5) penilaian. Berdasarkan Komponen-komponen RPP tersebut di atas, maka untuk satuan pendidikan di SD/SDLB sistematika RPP secara operasional diwujudkan dalam bentuk format berikut ini.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Sekolah Tema Subtema Kelas/Semester Pembelajaran Ke- Alokasi Waktu : .................................................. : .................................................. : .................................................. : .................................................. : .................................................. : ..................................................
A. Kompetensi Inti (KI) 2014 atau Buku guru) (dicuplik dari Permendikbud Nomor 57 Tahun
B. 1. 2. 3. 4. Catatan: Kompetensi Dasar 2014 atau Buku guru) KD pada KI-1 KD pada KI-2 KD pada KI-3 KD pada KI-4 (dicuplik dari Permendikbud Nomor 57 Tahun KD pada KI-3 dan KD pada KI-4 dicuplik dari pemetaan KD pada setiap pembelajaran, sedangkan KD pada KI-1 dan KD pada KI-2 dipilih dari pemetaan KD KI-1 dan KD KI-2 pada awal subtema disesuaikan dengan KD-3 dan KD-4.
C. 1. 2. Indikator KD pada KI-1 Indikator KD pada KI-2 Indikator Pencapaian Kompetensi*)

© 2017

KP

3. 4. Indikator KD pada KI-3 Indikator KD pada KI-4
Catatan: dan sikap yang gejalanya dapat diamati) buku guru (guru boleh memperkaya dengan konteks lokal, sedangkan indikator KD pada KI-1 dan KD pada KI-2 dikembangkan sendiri oleh guru dalam bentuk perilaku umum yng bermuatan nilai Indikator KD pada KI-3 dan KD pada KI-4 dicuplik dari
D. E. F. G. 1) 2) 3) 1. 2. 3. Catatan: - - - - - Catatan: harus pembelajaran. 1. Media/alat 2. Bahan pembelajaran. Tujuan Pembelajaran Materi Pembelajaran Metode Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Pada muncul Teknik Penilaian 3. Sumber Belajar (dapat berasal dari buku siswa Kegiatan Pendahuluan (….menit) Kegiatan Inti (…menit) **) Mengamati Menanya Menalar/mengasosiasi Mengomunikasikan Penutup (….. menit) kegiatan seluruhnya Setiap berbagai metode dan teknik pembelajaran. Instrumen Penilaian I. Media/alat, Bahan, dan Sumber Belajar lingkungan sekitar yang dikelompokkan menjadi materi untuk pembelajaran reguler, pengayaan, dan remedial) Mengumpulkan informasi/mencoba inti, langkah H. Penilaian, Pembelajaran Remidial, dan Pengayaan. Pembelajaran Remedial dan Pengayaan. lain berupa muatan lokal, materi kekinian, konteks pembelajaran dari dalam dilanjutkan pada pertemuan berikutnya, tergantung cakupan muatan Pembelajaran remedial dilakukan segera setelah kegiatan penilaian. satuan pendidikan diberikan peluang untuk menambah komponen lain, selama komponen tersebut memberikan kemudahan dalam pelaksanaan kelima satu Komponen RPP tersebut di atas bersifat minimal, artinya setiap dan buku guru, sumber belajar pengalaman pertemuan pembelajaran belajar tetapi dapat tidak dapat digunakan

© 2017

KP

*) Pada setiap KD dikembangkan indikator atau penanda. Indikator untuk KD yang diturunkan dari KI-1 dan KI-2 dirumuskan dalam bentuk perilaku umum yang bermuatan nilai dan sikap yang gejalanya dapat diamati sebagai dampak pengiring dari KD pada KI-3 dan KI-4.Indikator untuk KD yang diturunkan dari KI-3 dan KI-4 dirumuskan dalam bentuk perilaku spesifik yang dapat diamati dan terukur. **) Pada kegiatan inti, kelima pengalaman belajar tidak harus muncul seluruhnya dalam satu pertemuan tetapi dapat dilanjutkan pada pertemuan berikutnya, tergantung cakupan muatan pembelajaran.Setiap langkah pembelajaran dapat digunakan berbagai metode dan teknik pembelajaran.

4. Langkah-langkah Pengembangan RPP Dalam pengembangan RPP, mengacu pada lampiran Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014 (201: 9) dan sistematika RPP, sebab Permendikbud tersebut regulasi terakhir ketika menulis modul ini. Akan tetapi, berdasarkan kesepakan secara nasional RPP unutk SDLB masih mencantumkan “Tujuan Pembelajaran”, maka langkah penyusunan RPP tersebut sebagai berikut.
a. Pengkajian silabus Pengkajian silabus ini meliputi: (a) KI dan KD; (b) materi pembelajaran;
(c) proses pembelajaran; (d) penilaian pembelajaran; (e) alokasi waktu; dan (f) sumber belajar;
b. Menentukan Identitas Identitas ini meliputi
1) Sekolah, yaitu nama sekolah dari satuan pendidikan SD.
2) Tema/subtema/PB, yaitu dapat diperoleh/mengacu pada silabus, buku teks pelajaran, dan buku panduan guru.
3) Kelas/semester, yaitu disesuaikan dengan kelas/semester yang sedang berlangsung.
4) Alokasi waktu, adalah keseluruhan waktu yang diperlukan untuk pencapaian KD dan beban belajar.
c. Menuliskan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar
1) Kompetensi Inti (KI), merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus dipelajari siswa untuk suatu jenjang sekolah, kelas, dan matapelajaran.
2) Kompetensi Dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu dan © 2017

KP

merupakan kemampuan spesifik yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terkait muatan pelajaran. Kompetensi dasar ini sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu mata pelajaran. Pada bagian ini dituliskan kompetensi dasar yang harus dimiliki peserta didik setelah proses pembelajaran berakhir, cukup dengan cara mengutip pada Permendikbud nomor 57 Tahun 2014 atau silabus pembelajaran.

d. Perumusan Indikator Indikator merupakankemampuan yang dapat diobservasi untuk disimpulkan sebagai pemenuhan Kompetensi Dasar pada Kompetensi Inti 1 dan Kompetensi Inti 2; dan kemampuan yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk disimpulkan sebagai pemenuhan Kompetensi Dasar pada Kompetensi Inti 3 dan Kompetensi Inti 4. Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik siswa, satuan pendidikan, dan potensi daerah. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian. Dalam merumuskan indikator perlu memperhatikan beberapa hal di bawah ini.
1) Keseluruhan indikator memenuhi tuntutan kompetensi yang tertuang dalam kata kerja yang digunakan dalam KI-KD.
2) Indikator dimulai dari tingkatan berpikir mudah ke sukar, sederhana ke kompleks, dekat ke jauh, dan dari konkrit ke abstrak (bukan sebaliknya).
3) Indikator harus mencapai tingkat kompetensi minimal KD dan dapat dikembangkan melebihi kompetensi minimal sesuai dengan potensi dan kebutuhan siswa.
4) Indikator harus menggunakan kata kerja operasional yang sesuai.
e. Menuliskan Tujuan Pembelajaran Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan KD.Tujuan pembelajaran ini dibuat mengacu KI, KD, dan Indikator yang telah ditentukan. Tujuan pembelajaran ini adalah tujuan yang akan dicapai
© 2017

KP

selama proses pembelajaran berlangsung. Tujuan pembelajaran dirumuskan berdasarkan KD, dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapatdiamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Tujuan dapat diorganisasikan mencakup seluruh KD atau diorganisasikan setiap pertemuan.Tujuan pembelajaran yang dinyatakan dengan baik mulai dengan menyebut Audience peserta didik untuk siapa tujuan itu dimaksudkan. Tujuan itu kemudian mencantumkan Behavior atau kemampuan yang harus didemonstarsikan dan Condition seperti apa perilaku atau kemampuan yang akan diamati. Akhirnya, tujuan itu mencantumkan Degree keterampilan baru itu harus dicapai dan diukur.

Tujuan yang dimaksud dalam modul ini adalah tujuan pembelajaran bunyi bahasa. Hal sebagaimana diungkap Rusyani dalam Buku Artikulasi Modul 1 http://file.upi.edu/Direktori yang menjelaskan bahwa latihan artikulasi dan optimalisasi fungsi pendengaran bagi anak gangguan pendengaran bertujuan agar anak yang mengalami gangguan pendengaran mampu mengembangkan berbahasa secara wajar (lisan) yaitu sebagai berikut.

1) Membentuk pola ucapan bunyi bahasa yang sesuai dengan aturan
2) Memfungsikan organ-organ bicara yang mengalami kekakuan
3) Menyadari bahwa setiap pola ucapannya apabila dirangkaikan antara satu dengan lainnya dapat menimbulkan makna-makna tertentu
4) Terhindar dari sifat verbalisme
5) Menambah perbendaharaan kata untuk kepentingan komunikasi
6) Mengembangkan potensinya
7) Mengembangkan kepribadiannya
8) Mengembangkan emosi secara wajar dan mampu melakukan hubungan sosial dengan baik.
f. Materi pembelajaran Materi pembelajaran adalah rincian dari materi pokok yang memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator ketercapaian kompetensi. Materi Pembelajaran dapat berasal dari buku teks pelajaran © 2017

KP

dan buku panduan guru, sumber belajar lain berupa muatan lokal, materi kekinian, konteks pembelajaran dari lingkungan sekitar yang dikelompokkan menjadi materi untuk pembelajaran reguler, pengayaan, dan remedial.

Dalam konteks pembelajaran bunyi bagi anak tunarungu, menurut Hernawati yang dikutip dari Buku Artikulasi Modul 3 http://file.upi.edu/Direktori menjelaskan bahwa materi yang diajarkan dalam layanan pengembangan/bina bicara anak tunarungu meliputi: materi fonologik (fonem segmental dan suprasegmental); materi morfologik (kata dasar, kata jadian, kata ulang, dan kata majemuk); materi sintaksis (kalimat berita, ajakan, perintah, larangan, dan kalimat tanya); serta materi semantik. Materi-materi tersebut diajarkan secara bertahap. Materi yang diberikan pada awal pembelajaran adalah materi fonologik. Materi tentang fonologik ini merupakan materi dasar yang diberikan secara khusus pada latihan artikulasi, yang dijelaskan lebih lanjut.

Fonologik yang diajarkan meliputi fonem segmental dan suprasegmental. Bunyi segmental merupakan kesatuan bunyi bahasa terkecil yang dapat dipisahkan dari rangkaian bunyi ujaran. Bunyi-bunyi tersebut meliputi vokal, konsonan, dan diftong. Bunyi segmental ini disebut juga fonem primer. Sedangkan bunyi suprasegmental merupakan bunyi yang menyertai bunyi segmental, antara lain berupa tekanan, nada,dan intonasi. Bunyi suprasegmental disebut juga fonem sekunder.

Materi pembelajaran artikulasi yang dibahas selanjutnya lebih menekankan pada bunyi segmental. Materi latihan artikulasi harus disusun dari yang mudah ke yang sulit dalam pengucapannya. Pada umumnya suara ujaran vokal lebih mudah diucapkan daripada konsonan. Demikian juga konsonan-konsonan yang dilatihkan harus memperhitungkan tingkat kesulitan pengucapan dari masing-masing konsonan tersebut.

g. Pendekatan Pembelajaran
© 2017

KP

Hernawati menjelaskan pendekatan pembelajaran optimalisasi fungsi pendengaran sebagaimana dikutip dari http://file.upi.edu/Direktori yaitu dapat dilaksanakan dengan berbagai pendekatan, antara lain adalah sebagai berikut.

1) Pendekatan melalui mendengar aktif dan pasif Pendekatan mendengar aktif yaitu melatih anak untuk mendengar suara/ bunyi yang dihasilkannya sendiri. Berbeda dengan mendengar pasif yaitu melatih anak utuk mendengar suara/bunyi yang dihasilkan guru atau anak lainnya.
2) Pendekatan individu maupun kelompok Latihan untuk mengoptimalkan fungsi pendengaran, dapat dilakukan secara individual maupun kelompok. Melalui latihan pendengaran secara perorangan, materi dan pelaksanaannya bisa lebih disesuaikan dengan masing-masing anak. Demikian juga kegiatan untuk asesmen dan evaluasi. Latihan mendengar secara kelompok dapat menimbulkan semangat pada anak, akan tetapi menemukan hambatan berkaitan dengan penentuan kelompok anak yang memiliki sifat yang homogen, baik dari kemampuan belajarnya, minat, perhatian, maupun kemampuan dengarnyanya. Marie Fram (1985:41) dalam Hernawati mengemukakan bahwa kelebihan dan kelemahan latihan mendengar secara kelompok. Kelebihan atau manfaat latihan mendengar secara kelompok tersebut adalah :
a) Guru dapat merencanakan suatu proram yang berjenjang untuk sekelompok anak yang secara relatif bersifat homogin.
b) Anak akan mengetahui adanya berbagai kemampuan dengar yang berbeda serta akan memperoleh stimulasi yang lebih bervariasi.
c) Disediakannya waktu yang khusus dalam jadual sekolah untuk latihan optimalisasi fungsi pendengaran, dapat membuat guru dan anak lebih sadar tentang keberadaan/ pentingnya bidang tersebut.
d) Latihan mendengar dalam kelompok biasanya bisa membawa variasi yang menyenangkan bagi guru maupun anak.
© 2017

KP

Adapun kelemahan dari latihan mendengar secara kelompok, adalah:

(1) Kadang-kadang bila pengelompokannya didasarkan atas daya dengar anak, ada kemungkinan mereka berbeda dalam usia, minat, perilaku serta taraf kemampuan dan pengalaman berbahasa.
(2) Oleh karena guru tidak hanya menangani siswanya sendiri, ada lemungkinan guru kuang mengenal anak.
(3) Banyak waktu yang terrbuang untuk berpindah-pindah tempat (dari ruang kelas ke ruang kesnian/ ruang khusus).
3) Pendekatan Bermain Kegiatan bermain merupakan ciri khas kegiatan anak. Oleh karena itu, latihan pendengaran melalui suasana bermain diharapkan akan lebih menyenangkan, sehingga timbul sikap kooperatif. Dengan demikian, pencapaian tujuan latihan dapat tercapai dengan efektif dan efisien.
4) Komunikasi melalui pendengaran lintas kurikulum (auditory communication across the curriculum) Dengan kata lain, pendekatan tersebut adalah melatih komunikasi melalui pendengaran yang merebak ke semua aspek kurikulum atau semua bidang pengajaran. Pendekatan ini disebut juga pendekatan informal atau umum. Artinya, latihan ini tidak dilaksanakan secara khusus melainkan menyatu dalam berbagai pengajaran, seperti dalam pengajaran IPA, IPS, atau saat pelajaran lainnnya berlangsung, atau dalam kegiatan kelas lainnya seperti waktu membereskan tas. Untuk materi latihan optimalisasi fungsi pendengaran bunyi non bahasa, seperti bunyi latar belakang dan bunyi sebagai tanda, atara lain sebagai berikut.
- Bunyi yang terjadi secara mendadak di luar kelas, seperti kapal terbang yang melintas, petir, hujan, klakson mobil, deru motor/mobil, bel sekolah, dan sebagainya.
- Bunyi yg dihasilkan anak sendiri seperti batuk, bersin, menarik kursi menepuk meja,dsb. Latihan mendengar secara khusus (Specific Auditory Training). Latihan ini dilakukan secara formal, terprogram, dan secara khusus melatih pendengaran anak.
© 2017

KP

5) Pedekatan multi sensori Bagi anak yang tergolong kurang dengar penekanan latihan adalah pada keterampilan menyimak atau memahami ungkapan lisan melalui pendengaran (auditori), sedangkan untuk anak yang tergolong tuli, keterampilan menyimak terbatas pada pengamatan beberapa aspek bicara yang masih didengarnya seperti panjang-pendek (durasi), intensitas (keras-lemah) dan tempo, melalui perabaan (taktil) dan visual sebagai jalur utama.
6) Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) Latihan mendengar harus dirancang untuk mengaktifkan anak melakukan berbagai tugas atau respon terhadap stimulasi bunyi, sehingga anak dapat menemukan sendiri apa yang dinamakan bunyi dan mendengar.
h. Metode Pembelajaran Metode pembelajaran ini merupakan rincian dari kegiatan pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai. Metode-metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran bunyi bagi anak tunarungu adalah sebagaimana diuangkap Hernawati yang dikutip dari Buku Artikulasi Modul 3 http://file.upi.edu/Direktori yaitu sebagai berikut. Metode yang digunakan dalam latihan artikulasi pada anak dengan hambatan sensori pendengaran didasarkan pada beberapa hal, yaitu : Pertama, berdasarkan cara menyajikan materi.
1) Metode Global Berdiferensiasi Metode ini, di samping didasarkan pada cara menyajikan materi, juga didasarkan pada pertimbangan kebahasaan. Bahasa pertama-tama nampak dalam ujaran secara totalitas. Oleh karena itu dalam mengajar atau melatih anak berbicara, dimulai © 2017

KP

dengan ujaran secara utuh (global), baru kemudian menuju ke pembentukan fonem-fonem sebagai satuan bahasa yang terkecil. Di samping itu, suara ujaran yang yang diajarkan pada anak tunarungu diwujudkan dalam sebuah kata konkrit, sekaligus sambil mengajarkan kata nama benda atau lainnya, agar anak mudah untuk mengingat-ingat. Dari suatu yang kongrit sedikit-sedikit diarahkan kepada meng-abstrasikan sesuatu untuk membimbing anak befikir secara abstrak.

2) Metode Analisis Sintetis Metode ini merupakan kebalikan dari metode global diferensiasi. Penyajian materi dilakukan mulai dari satuan bahasa terkecil (fonem) menuju kata, kelompok kata, dan kalimat.
3) Metode Suara Ujaran (Speech Sound Method) Dalam pelajaran artikulasi kita tidak mempersoalkan abjad: /a/, /b/, /c/, /d/ dan sebagainya, tetapi kita mengajarkan suar ujaran. Tanda-tanda yang ditulis berwujud huruf-huruf itu adalah simbol dari pada suara ujaran.
Kedua, berdasarkan modalitas yang dimiliki anak tunarungu.

1) Metode Multisensory Metode multisensory yaitu penggunaan seluruh sensori/indera anak untuk memperoleh kesan bicara, seperti: penglihatan (visual), pendengaran (auditif), perabaan (taktil), serta kinestetik. Melalui indera visual, anak dapat melihat mekanisme gerak organ artikulasi yang benar dan kemudian menirukan gerakan tersebut untuk membentuk bicara yang benar. Melalui indera auditif, anak tunarungu yang masih mempunyai sisa pendengaran yang cukup, dapat mendengar bunyi-bunyi bahasa yang diucapkan secara benar dan kemudian berusaha memproduksi bicara yang benar seperti contoh yang didengar. Melalui indera taktil, seperti merasakan getaran organ bicara, anak dilatih untuk memproduksi bicara yang benar. Misalnya merasakan getaran di pipi untuk memproduksi fonem-fonem sengau. Melalui indera kinestetik, anak merasakan gerakan organ artikulasi seperti gerakan lidah untuk memproduksi bicara yang tepat.
© 2017

KP

2) Metode S uara Metode suara yang saat ini lebih dikenal dengan metode auditori verbal. yaitu metode pengajaran bicara yang lebih mengutamakan pada pemanfaatan sisa pendengaran dengan menggunakan sistem amplifikasi pendengaran.
Ketiga, berdasarkan fonetika, metode yang dapat digunakan dalam pengembangan bicara, adalah :

4) Metode yang bertitik tolak dari fonetik Metode ini didasarkan pada mudah sukarnya bunyi-bunyi menurut ilmu fonetik dan danggap sama bagi semua anak. Bunyi bahasa yang diajarkan dimulai dari deretan bunyi paling depan/muka di mulut, karena bunyi-bunyi tersebut paling mudah dilihat dan ditiru, yaitu kelompok konsonan bilabial /p/, /b/, /m/, dan /w/. Setelah konsonan bilabial dikuasai dilanjutkan pada konsonan dental /l/, /r/, /t/, /d/, dan /n/, kemudian konsonan velar /k/, /g/, dan /ng/, dan selanjutnya konsonan palatal /c/, /j/, /ny/, /y/, dan /s/.
5) Metode penempatan fonetik ( phonetic placement method) Pelaksanaan metode ini menuntut anak untuk memperhatikan gerak dan posisi organ bicara, sehingga anak mampu mengendalikan pergerakan organ bicara untuk membentuk/memproduksi bicara yang benar. Pada prinsipnya pelaksanaan metode ini mengutamakan latihan gerakan otot dan sendi organ bicara melalui instruksi verbal dibantu dengan media visual sesuai pergerakan yang dikehendaki.
6) Metode moto-kinestetik atau metode manipulasi Dalam membentuk bicara anak tunarungu, guru dapat melakukan manipulasi secara langsung pada otot-otot organ bicara yang dipandang perlu. Tindakan manipulasi tersebut dapat menggunakan spatel, jari guru/anak, atau alat lainnya agar anak dapat mengendalikan gerakan organ bicara/otot-otot organ yang diperlukan dalam bicara.
7) Metode tangkap dan peran ganda Metode yang menuntut kepekaan guru menangkap fonem yang diucapkan anak secara spontan dan membahasakan ungkapan anak yang belum jelas, kemudian memberikan tanggapan atas ungkapan tersebut sebagai andil dalam mengadakan percakapan. Fonem yang © 2017

KP

diucapkan anak merupakan titik tolok untuk dikembangkan ke dalam kata, kelompok kata, dan kalimat. Metode ini didasarkan pada fonem yang paling mudah bagi tiap-tiap anak ( prinsip individualitas). Di samping metode-metode tersebut, ada metode lain yang juga dapat diterapkan dalam latihan artikulasi, yaitu :

a) Metode Imitasi Sifat anak adalah suka meniru, apakah itu anak normal maupun anak tunarungu, Anak tunarungu pada umumnya memiliki intelgensi normal dan mereka dapat mengingat serta mengolah segala sesuatu yang sudah dipelajari, dan cara mereka belajar sebagaian besar karena meniru. Mengajar artikulasi tak lain dari pada membimbing dan melatih anak menirukan apa yang dilakukan oleh guru, untuk selanjutnya apayang ditiru itu menjadi miliknya.
b) Metode Resitasi /Mengulang Semua vokal, konsonan dengan kata-kata diucapkan kembali dengan keras-keras dan betul sebagaimana anak dengar, berbicara/membaca. Materi yang telah dilatihkan perlu diulang beberapa kali, sehingga anak akan mendapat kesan yang makin mendalam serta alat bicaranya terlatih. Adapun metode-metode yang dapat digunakan dalam latihan optimalisasi fungsi pendengaran, antara lain sebagai berikut.
(1) Metode demonstrasi, misalnya mendemonstrasikan gerakan-gerakan gerakan-gerakan tertentu yang harus dilakukan anak dalam latihan mendengar.
(2) Metode pemberian tugas. Dalam latihan optimalisasi fungsi pendengaran, hampir semua kegiatan berupa melakukan sesuatu atas ptunjuk guru atau berupa kegiatan dimana anak diberi stimulus yang perlu direspon dengan perbuatan tertentu seperti bergerak secara tertentu, bicara, dan sebagainya.
(3) Metode observasi/ pengamatan. Untuk mengetahui daya dengar anak, guru harus mengamati respon atau perbuatan anak ketika diberikan stimulus.
© 2017

KP

i. Kegiatan Pembelajaran Penjabaran Kegiatan Pembelajaran yang ada pada silabus dalam bentuk yang lebih operasional berupa pendekatan saintifik disesuaikan dengan kondisi peserta didik dan satuan pendidikan termasuk penggunaan media, alat, bahan, dan sumber belajar. Kegiatan pembelajaran ini mengacu pada pendekatan, strategi, model, dan metode pembelajaran yang menggambarkan kegiatan berikut.
1) Pendekatan merupakan pembelajaran yang dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran dan tercapainya kompetensi yang ditentukan.
2) Strategi pembelajaran merupakan langkah-langkah sistematik dan sistemik yang digunakan pendidik untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran dan tercapainya kompetensi yang ditentukan.
3) Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual dan operasional pembelajaran yang memiliki nama, ciri, urutan logis, pengaturan, dan budaya
4) Metode merupakan cara atau teknik yang digunakan oleh pendidik untuk menangani suatu kegiatan pembelajaran yang mencakup antara lain ceramah, tanya-jawab, diskusi.
5) Menggunakan pendekatan saintifik/pendekatan berbasis proses keilmuan yang merupakan pengorganisasian pengalaman belajar dengan urutan logis meliputi proses pembelajaran: mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/mencoba, menalar/mengasosiasi, dan mengkomunikasikan yang dapat dikembangkan dan digunakan dalam satu atau lebih pertemuan.
j. Penentuan alokasi waktu Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai, yang selanjutnya dibagi ke dalam kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup.
k. Pengembangan Penilaian Pembelajaran Penilaian, memuat prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu © 2017

KP

kepada standar penilaian.Pengembangan penilaian pembelajaran dengan cara menentukan lingkup, teknik, dan instrumen penilaian, serta membuat pedoman penskoran. Selanjutnya menentukan strategi pembelajaran remedial segera setelah dilakukan penilaian.

l. Menentukan Media/Alat, Bahan dan Sumber Pembelajaran
1) Media/Alat pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaranyang memudahkan memberikan pengertian kepada siswa.
2) Bahan berupa bahan yang digunakan selama proses pembelajaran berlangsung.
3) Sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan.
4) Menentukan Media, Alat, Bahan dan Sumber Belajar ini disesuaikan dengan yang telah ditetapkan dalam langkah penjabaran proses pembelajaran. Berdasarkan penjelasan-penjelasan di muka, maka berikut ini akan disajikan salah satu contoh RPP di kelas I dan IV SDLB Tunarungu Skenario Pembelajaran Bunyi Bahasa.

Contoh: 1
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )

Satuan Pendidikan : SDLB B Kelas/Semester : I / 1(satu) Tema : 1. ( Diriku ) Subtema : I. Aku dan Teman baruku Pembelajaran : 2 (dua) Alokasi Waktu : 2 hari (12JPX30 menit)

A. Kompetensi Inti (KI)
1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
2. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru.
© 2017

KP

  1. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar, melihat, membaca) dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah.
  2. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.
    B. Kompetensi Dasar dan Indikator MATEMATIKA
    3.1 Mengenal lambang bilangan dan mendeskripsikan kemunculan bilangan dengan bahasa yang sederhana. Indikator
    3.1.1 Mengenal lambang bilangan yang ditentukan
    4.1 Mengurai sebuah bilangan asli sampai dengan 50 sebagai hasil penjumlahan atau pengurangan dua buah bilangan asli lainnya dengan berbagai kemungkinan jawaban Indikator:
    4.1.1 Menghitung banyak benda 1-5
    SBDP

3.1. Mengenal cara dan hasil karya seni ekspresi Indikator
3.1.1 Mengidentifikasi gambar sebagai salah satu karya seni ekspresi
4.1. Menggambar ekspresi dengan mengolah garis, warna, dan bentuk berdasarkan hasil pengamatan di lingkungan sekitar Indikator:
5.1.1 Menggambar bentuk baru dari segi empat

BAHASA INDONESIA

3.4. Mengenal teks cerita diri/personal tentang keberadaan keluarga dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu pemahaman © 2017

KP

Indikator:

3.4.1 Mengidentifikasikan nama teman
4.4. Menyampaikan teks cerita diri/personal tentang keluarga secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu penyajian Indikator
4.4.1 Menyebutkan identitas teman

C. TUJUAN PEMBELAJARAN
  1. Dengan mengamati gambar, siswa dapat mengenal konsep bilangan 1-5 dengan tepat.
  2. Dengan mengamati gambar, siswa dapat mengenal lambang bilangan secara tepat.
  3. Dengan melakukan permainan, siswa dapat mengidentifikasikan nama teman baru dengan tepat
  4. Setelah mengidentifikasi nama teman baru, siswa dapat menyebutkan kembali nama temannya dengan benar.
    D. Deskripsi Materi Pembelajaran( dapat berupa rincian, uraian atau penjelasan materi pembelajaran )
  • Matematika : banyak benda 1-5
  • SBDP : gambar sebagai salah satu karya seni ekspresi
  • Bahasa Indonesia : nama – nama teman
    E. Kegiatan Pembelajaran Pertemuan Hari ke Satu
Kegiatan Deskripsi Kegiatan Alokasi
waktu
Pendahuluan 1. Guru membuka pelajaran dengan memberi salam dan menanyakan kabar. 2. Salah satu siswa memimpin berdo’a. 3. Guru melakukan apersepsi sebagai awal komunikasi sebelum melaksanakan pembelajaran inti. 4. Guru memberi motivasi kepada siswa agar semangat dalam mengikuti pembelajaran yang akan dilaksanakan. 5. Guru menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan hari ini dan tujuan yang akan dicapai dari kegiatan tersebut 10 menit

© 2017

KP

Kegiatan Deskripsi Kegiatan Alokasi waktu
dengan bahasa yang sederhana dan dapat dipahami oleh siswa.
Kegiatan Inti 1. Siswa bersama guru mempercakapkan benda di sekitar sambil mengenalkan bilangan. ( mengomunikasikan ) 2. Siswa mempercakapkan benda di sekitar sambil berhitung dari 1-5 ( Menalar ) 3. Siswa mengenal konsep lambang bilangan 1-5 dengan bimbingan guru. ( mengamati ) 4. Siswa mengamati pias-pias angka 1-5 yang ada di pojok-pojok papan panel/ papan tulis. ( mengamati ) 5. Siswa bertanya tentang pias-pias angka yang ada di pojok papan panel/papan tulis( menanya ) 6. Siswa berdiri di dekat angka 1, satu siswa lain berdiri di dekat angka 2 demikian seterusnya sampai di angka 5 dengan lima orang siswa.( mengumpulkan data ) 7. Selanjutnya siswa kembali ke tempat semula. 8. Siswa bergerak mengikuti angka yang disebutkan guru. 9. Siswa mengulang kegiatan ini sampai siswa mengerti tentang banyak benda dan lambang bilangan 1-5. 10. Siswa melakukan refleksi kegiatan dengan cara mengungkapkan pendapatnya.( mengkomunikasikan ) 130 menit

3 5 1

4 2

Ayo bertanya

© 2017

KP

Kegiatan Deskripsi Kegiatan Alokasi waktu

Penutup 1. Bersama siswa membuat kesimpulan/rangkuman 10 menit tentang anggota tubuh..

  1. Guru mengakumulasi pertanyaan dari siswa.
  2. Mengajak siswa berdoa untuk menutup pelajaran
    Pertemuan Hari ke Dua
Kegiatan Deskripsi Kegiatan Alokasi waktu
Pendahuluan 1. Guru membuka pelajaran dengan memberi salam dan menanyakan kabar. 2. Salah satu siswa memimpin berdo’a. 3. Guru melakukan apersepsi sebagai awal komunikasi sebelum melaksanakan pembelajaran inti. 4. Guru memberi motivasi kepada siswa agar semangat dalam mengikuti pembelajaran yang akan dilaksanakan. 5. Guru menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan hari ini dan tujuan yang akan dicapai dari kegiatan tersebut dengan bahasa yang sederhana dan dapat dipahami oleh siswa. 10 menit
Kegiatan Inti 1. Siswa bermain sambil mengenal temannya dengan bimbingan guru.( mengamati ) 2. Siswa diminta duduk setengah lingkaran Siswa yang mendapat giliran, mengucapkan nama dirinya dan nama teman barunya.( mengkomunikasikan ) 3. Kegiatan diulang sampai semua siswa mendapat giliran 4. Siswa mempercakapkan benda di sekitar sambil berhitung dari 1-5( mengkomunikasikan ) 5. Siswa mengenal konsep lambang bilangan 1-5 dengan bimbingan guru.( mengamati ) 6. Siswa berlatih memasangkan lambang bilangan 1-5 sesuai petunujuk di buku siswa.( mengumpulkan data ) 7. Sebagai penutup siswa menyimpulkan materi yang 130 menit

© 2017

KP

Kegiatan Deskripsi Kegiatan Alokasi waktu

dipelajari dengan bimbingan guru.( mengkomunikasikan )

Penutup 1. Bersama siswa membuat kesimpulan/rangkuman 10 menit tentang anggota tubuh..

  1. Guru mengakumulasi pertanyaan dari siswa.
  2. Mengajak siswa berdoa untuk menutup pelajaran
    F. Media, Alat, dan Sumber Pembelajaran

a.Buku siswa kelas I Tunarungu tema I sub tema I pembelajaran 2
b.Pias-pias bilangan/ angka 1-5

G. PENILAIAN

I. Teknik Penilaian
a. Penilaian sikap : observasi
b. Penilaian pengetahuan : tes lisan
c. Penilaian ketrampilan : unjuk kerja
2. Instrumen Penilaian
a. Pengamatan sikap: Bermain sambil mengenal teman

Percaya diri Disiplin Bekerja sama
No Nama BT 1 MT 2 MB 3 SM 4 BT 4 MT 3 MB 2 SM 1 BT 4 MT 3 MB 2 SM 1
1 ...
2 ...

Keterangan : 4 = sangat baik, 3 = baik, 2= cukup, 1= perlu bimbingan

b. Penilaian pengetahuan: Penilaian lisan :
1.Sebutkan nama teman barumu ?
2. Hitunglah nama teman barumu ?
3. Berapa jumlah teman yang ada dikelasmu ?
c. Penilaian keterampilan
d. Penilaian observasi © 2017

KP

Lembar pengamatan ketaatan dalam permainan

Baik Perlu Baik Cukup No. Aspek sekali bimbingan 4 3 2 1 Siswa mampu 1 mengikuti instruksi guru Siswa terlihat aktif 2 dalam permainan

e. Penilaian Unjuk kerja:

Rubrik kegiatan memperkenalkan teman
No. Kriteria Baik sekali (4) Baik (3) Cukup (2) Perlu bimbingan (1)
1. Kemampuan melafalkan namanya sendiri dan nama temannya Melafalkan nama sendiri dan nama temannya dengan sangat jelas Melafalkan nama sendiri dan nama temannya dengan jelas Kurang jelas dalam melafalkan nama sendiri dan nama temannya Belum mampu melafalkan namanya sendiri dan nama temannya
2. Kemampuan mengisyaratk an nama diri dan temannya Sangat jelas dalam mengisyaratk an nama diri dan temannya Jelas dalam mengisyaratka n nama diri dan temannya Kurang jelas dalam mengisyaratka n nama diri dan temannya Belum mampu mengisyara tkan nama diri dan temannya

.........................,..................
Mengetahui,

Kepala SDLB.................... Guru kelas I
............................................. ...........................................
NIP. NIP.

© 2017

KP

Contoh: 2 Skenario Pembelajaran Bunyi Bahasa Standar Kompetensi: Mendeteksi bunyi-bunyi di sekitarnya dengan menggunakan alat bantu mendengar (ABM) atau tanpa menggunakan ABM, sebatas sisa pendengaran anak. Kompetensi Dasar: Menyadari ada dan tidak ada bunyi tertentu (drum) yang diperdengarkan langsung secara terprogram. Indikator:

  1. Mampu memberikan reaksi ada bunyi drum dengan bertepuk tangan.
  2. Mampu memberikan reaksi tidak ada bunyi drum dengan melipat tangan.
  3. Mampu memberikan reaksi ada bunyi drum dengan membunyikan drum.
  4. Mampu memberikan reaksi tidak ada bunyi drum dengan diam saja.
  5. Mampu memberikan reaksi ada bunyi drum dengan mengucapkan ada bunyi.
    Tujuan Pembelajaran:

Siswa mampu meningkatkan kepekaan fungsi pendengaran dan perasaan vibrasi untuk menyadari ada dan tidak ada bunyi dengan menggunakan atau tanpa menggunakan ABM agar dapat berkomunikasi dengan lingkungannya.

  1. Dengan dibunyikannya drum, siswa dapat memberikan reaksi tepuk tangan dengan tepat.
  2. Dengan dibunyikannya drum, siswa dapat memberikan reaksi melipat tangan dengan tepat.
  3. Dengan dibunyikannya drum, siswa dapat memberikan reaksi membunyikan drum dengan tepat
  4. Dengan tidak dibunyikannya drum, siswa dapat memberikan reaksi tidak ada bunyi drum dengan diam saja secara tepat
  5. Dengan dibunyikannya drum, siswa dapat memberikan reaksi mengucapkan ada bunyi dengan tepat
    Kegiatan:
  • Guru menempatkan siswa sesuai dengan kondisi serta melakukan pengecekan ABM (bila menggunakan) kemudian dilanjutkan dengan percakapan, di mana hasil percakapan itu digunakan sebagai titik tolak respon untuk materi yang akan dilaksanakan pada saat itu. © 2017

KP

  • Siswa memperhatikan dan mendengarkan bunyi yang diperdengarkan guru dengan memanfaatkan semua inderanya (penglihatan, vibrasi, pendengaran) secara klasikal maupun kelompok, kemudian siswa memberi reaksi terhadap ada atau tidak ada bunyi yang diperdengarkan guru dengan memberikan respon berupa: gerakan, membunyikan, mengucapkan kata, menuliskan kata, atau bermain peran. Kegiatan ini dilanjutkan dengan memberi reaksi terhadap bunyi menggunakan indera pendengaran saja.
  • Guru melakukan pengamatan dari reaksi yang dilakukan siswa.

    Evaluasi:
  • Guru memilih salah satu respon yang harus dilakukan anak untuk evaluasi.

  • Siswa memberi reaksi terhadap bunyi yang diperdengarkan guru secara acak.
  • Guru mengamati dan mencatat respon anak pada lembar pengamatan.
    Contoh:
LEMBAR PENGAMATAN SISWA

Nama : ..................................................
Kelas, semester : ..................................................
Data Pendengaran : kanan : … dB kiri : … dB ABM : Memakai/Tidak memakai Jenis : ……… Materi : Mendeteksi ada bunyi dan tidak ada bunyi drum
Nilai Perolehan : ..................................................

No Soal Respon
1 2 3 4 5 Guru mendengarkan bunyi drum Guru pura-pura (tidak) memperdengarkan bunyi drum Guru pura-pura (tidak) memperdengarkan bunyi drum Guru mendengarkan bunyi drum Guru pura-pura (tidak) memperdengarkan bunyi drum Skor Perolehan Benar Salah Keterangan

................, ..........................
Guru BKPBI
..........................................

© 2017

KP

Catatan:

Reaksi benar nilai : 1 Reaksi salah nilai : 0

Rumus Perhitungan Prosentase Penilaian: 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑃𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑃𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛 = × 100% Skor Maksimal Kriteria Penilaian: A : 90% - 100% B : 70% - 89% C : 55% - 69% K : ≤ 54%

Dari nilai perolehan ini dapat dideskripsikan sebagai berikut. A : Siswa mampu mendeteksi bunyi drum dengan hasil sempurna B: Siswa mampu mendeteksi bunyi drum dengan hasil baik C: Siswa mulai mampu mendeteksi bunyi drum K: Siswa belum mampu mendeteksi bunyi drum

Analisis Hasil Pengamatan Skor yang diperoleh, dihitung dengan rumus: NILAI PEROLEHAN = ... NILAI PEROLEHAN = ... Nilai perolehan = 80% Hasil 80% masuk pada kriteria penilaian B.

Dari contoh di atas dapat dianalisa:

  • Siswa mampu menyadari ada dan tidak ada bunyi lonceng yang diperdengarkan secara langsung dengan nilai perolehan B.

    D. Aktivitas Pembelajaran

  1. Secara mandiri, susunlah skenario pembelajaran bunyi bagi anak tunarungu berdasarkan hasil asesmen di kelas VI!
  2. Tentukan metode dan langkah-langkah pembelajarannya!
  3. Secara professional, lakukanlah simulasi pembelajaran dengan memperhatikan langkah-langkah yang telah disusun sebelumnya!
  4. Dengan bekerjasama dengan teman, komentarilah kelemahan-kelemahan dari hasil simulasi tersebut!
    © 2017

KP

E. Latihan/ Kasus /Tugas

Secara profesional, jelaskan langkah-langkah merumuskan tujuan pembelajaran bunyi bahasa berikut contohnya di kelas IV SDLB Tunarungu!

F. Rangkuman

Kurikulum Pendidikan Khusus Jenjang Pendidikan Dasar Tahun 2013 disusun berdasarkan sudut pandang karakteristik umum dan karakteristik khusus sesuai dengan ketunaan. Mata Pelajaran untuk anak pendidikan anak tunarungu di Kurikulum 2013 ini, dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu kelompok Akademik, Kecakapan Hidup, dan Kompensatoris atau lebih dikenal dengan program kekhususan. Beban belajar merupakan keseluruhan kegiatan yang harus diikuti peserta didik dalam satu minggu, satu semester, dan satu tahun pembelajaran. RPP merupakan rencana pembelajaran yang dikembangkan secara rinci mengacu pada silabus, buku teks pelajaran, dan buku panduan guru. RPP mencakup: (1) identitas sekolah/madrasah, mata pelajaran, dan kelas/semester; (2) alokasi waktu; (3) KI, KD, indikator pencapaian kompetensi; (4) materi pembelajaran; (5) kegiatan pembelajaran; (6) penilaian; dan (7) media/alat, bahan, dan sumber belajar.

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Dipersilakan Anda mengukur diri sendiri untuk menentukan tepat tidaknya ketika menyusun skenario pembelajaran bunyi di atas, apakah sesuai dengan penjelasan materi yang dibahas sebelumnya. Jika belum, Anda silakan baca kembali materi yang berhubungan dengan pembelajaran PKPBI!

© 2017

KP

© 2017

KOMPETENSI PROFESIONAL:

PENERAPAN PEMBELAJARAN BUNYI BAHASA BAGI ANAK TUNARUNGU

© 2017

© 2017

KP

KEGIATAN PEMBELAJARAN 5 PENERAPAN PEMBELAJARAN BUNYI BAHASA

BAGI ANAK TUNARUNGU

A. Tujuan

  1. Melalui kegiatan simulasi, Anda mampu menerapkan pendekatan saintifik dalam pembelajaran tematik terpadu di SDLB Tunarungu secara professional dengan benar.
  2. Melalui kegiatan simulasi, Anda mampu melaksanakan pembelajaran bunyi bagi anak tunarungu secara kreatif dengan benar.

    B. Indikator Pencapaian Kompetensi

  3. Menerapkan pendekatan saintifik dalam pembelajaran tematik terpadu di SDLB Tunarungu.

  4. Melaksanakan pembelajaran bunyi bagi anak tunarungu.

    C. Uraian Materi

1. Penerapan Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran Tematik Terpadu di SDLB Tunarungu
a. Mengamati Kegiatan belajar yang dilakukan dalam proses mengamati adalah membaca, mendengar, menyimak, melihat (tanpa atau dengan alat). Kompetensi yang dikembangkan adalah melatih kesungguhan, ketelitian, mencari informasi serta kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat. Praktik observasi dalam pembelajaran akan lebih optimal jika peserta didik dan guru melengkapi diri dengan dengan alat-alat pencatatan dan alat-alat lain, seperti (1) tape recorder, untuk merekam pembicaraan; (2) kamera, untuk merekam objek atau kegiatan secara visual; (3) film atau video, untuk merekam kegiatan objek atau secara audio-visual; dan (4) alat-alat lain sesuai dengan keperluan. Pada Buku Siswa Tunarungu Kelas IV Tema 3 “Merawat Hewan dan
© 2017

KP

Tumbuhan”, sub tema 1 “Hewan di Sekitarku” halaman 2, aktivitas saintifik mengamati terlihat sebagai berikut: Siswa mencermati bacaan dan gambar yang disajikan pada buku siswa. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih keterampilan siswa dalam mencari dan menggali informasi dari kegiatan mengamati gambar dan mencermati teks bacaan.

Gambar 5. 1 Contoh Proses Mengamati Gambar

Pengamatan gambar dapat dikembangkan dan dikaitkan dengan pengetahuan awal dari siswa, sehinga proses pembelajaran dapat lebih menyenangkan dan membangkitkan rasa antusias dan empati siswa. Hal ini, dikarenakan dapat mengaitkan pengalaman belajarnya dengan kehidupan nyata. Gambar-gambar yang diamati juga harus bervariasi dan dapat membangkitkan keingintahuan anak sehingga dapat memancing anak untuk bertanya hal hal yang ingin diketahui dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

b. Menanya Kegiatan belajar menanya dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati. Di samping itu, dapat juga pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik). Kompetensi yang dikembangkan adalah mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk © 2017

KP

membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat. Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”, melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan. Dengan syarat, menginginkan tanggapan verbal, pertanyaan yang diajukan mengundang jawaban yang berbeda di antara siswa, dan menumbuhkembangkan kebiasaan siswa dalam mengomunikasikan data-data yang autentik dalam kehidupan sehari-hari.Siswa juga dapat diberikan stimulus dengan tugas seperti dibawah ini.

Gambar 5. 2 Contoh Tugas yang Menumbuhkan Keterampilan Bertanya

Dari kegiatan pengamatan yang dilakukan sebelumnya, siswa dilatih keterampilannya dalam bertanya secara kritis dan kreatif. Guru menstimulasi rasa ingin tahu siswa dengan memberikan beberapa pertanyaan pancingan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat dan merumuskan pertanyaan mereka sendiri.

c. Mengumpulkan informasi/Eksperimen (Mencoba) Mengumpulkan informasi/eksperimen kegiatan pembelajarannya antara lain melakukan eksperimen; membaca sumber lain selain buku teks; mengamati objek/kejadian/aktivitas; dan wawancara dengan narasumber. Kompetensi yang dikembangkan dalam proses mengumpulkan informasi/ eksperimen adalah mengembangkan sikap teliti, jujur,sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
© 2017

KP

Pada Buku Kelas IV Tema 3 “Merawat Hewan dan Tumbuhan”, sub tema 1 “Hewan di Sekitarku”, dari pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan pada kegiatan sebelumnya, siswa dibimbing dan diberi kesempatan untuk mengumpulkan data/informasi yang bisa mereka olah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka miliki sebelumnya. Kegiatan pengumpulan informasi ini bisa dilakukan melalui berbagai macam kegiatan yang berbeda, salah satunya adalah dengan membaca dan mencari jawaban/informasi dari lingkungan atau internet atau mencoba gerakan gerakan yang relevan.

Dengan demikian, siswa ketika membaca teks, hakikatnya siswa sedang mengumpulkan informasi data-data (jumlah, keadaan/kondisi, aktivitas). Setelah kegiatan mengumpulkan informasi di atas, siswa berekspirimen dengan berbagai aktivitas siswa yang relevan dengan cara mencoba/bereksperimen dengan cara membedakan gerakan ayam betina dan jantan, sehingga siswa dapat menganalisis dan membandingkan. Contoh dalam buku tertera pada halaman 4 seperti berikut ini.

Gambar 5. 3 Mencoba/Bereksperimen untuk Menganalisis dan Membandingkan

© 2017

KP

d. Mengasosiasi/Mengolah informasi/Menalar Kegiatan belajar yang dilakukan dalam proses mengasosiasi/mengolah informasi adalah sebagai berikut.
1) Mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen mau pun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi.
2) Pengolahan informasi yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan. Kompetensi yang dikembangkan dalam proses mengasosiasi/mengolah informasi adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan. Berikut contoh kegiatan menalar pada pada Kelas IV Tema 3 “Merawat Hewan dan Tumbuhan”, sub tema 1 “Hewan di Sekitarku” halaman 7. Pada tahap pengolahan data, siswa dengan bimbingan guru mengolah informasi yang telah mereka dapatkan dari kegiatan sebelumnya (menggali informasi).
Gambar 5. 4 Contoh Proses Mengasosiasi, Menalar, dan Mengolah Informasi

© 2017

KP

Berdasarkan aktivitas sebelumnya, siswa dapat menganalisis dan membandingkan untuk mengukur berat dari hewan yang dipelajari dengan hewan peliharaan yang digali pengalamannya pada pembelajaran sebelumnya (hal 3). Pada tahapan mengolah informasi ini juga peserta didik sedapat mungkin dikondisikan belajar secara kolaboratif. Pada pembelajaran kolaboratif kewenangan guru fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar, sebaliknya, peserta didiklah yang harus lebih aktif. Dalam situasi kolaboratif itu, peserta didik berinteraksi dengan empati, saling menghormati, dan menerima kekurangan atau kelebihan masing-masing. Dengan cara semacam ini akan tumbuh rasa aman sehingga memungkinkan peserta didik menghadapi aneka perubahan dan tuntutan belajar secara bersama-sama. Peserta didik secara bersama-sama, saling bekerjasama, saling membantu mengerjakan hasil tugas terkait dengan materi yang sedang dipelajari.

e. Mengomunikasikan Kegiatan belajar mengomunikasikan adalah menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya. Kompetesi yang dikembangkan dalam tahapan mengomunikasikan adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar
Gambar 5. 5 Stimulasi untuk Merangsang Anak Mengomunikasikan Hasil Belajarnya

© 2017

KP

Dari aktivitas pengukuran dari kedua hewan, siswa menggeneralisasikan dan menginterpretasikan data-data tersebut dalam bentuk tabel, serta mengkomunikasikannya kepada siswa yang lain secara klisikal.

Kegiatan menyimpulkan merupakan kelanjutan dari kegiatan mengolah, bisa dilakukan bersama-sama dalam satu kesatuan kelompok, atau bisa juga dengan dikerjakan sendiri setelah mendengarkan hasil kegiatan mengolah informasi. Hasil tugas yang dikerjakan bersama dalam satu kelompok kemudian dipresentasikan atau dilaporkan kepada guru dan teman sekelas. Kegiatan ini sekaligus merupakan kesempatan bagi guru untuk melakukan konfirmasi terhadap apa yang telah disimpulkan oleh siswa.

Hasil tugas yang telah dikerjakan bersama-sama secara kolaboratif dapat juga disajikan dalam bentuk laporan tertulis dan dapat dijadikan sebagai salah satu bahan untuk portofolio kelompok dan atau individu, yang sebelumnya dikonsultasikan terlebih dulu kepada guru. Pada tahapan ini kendatipun tugas dikerjakan secara berkelompok, tetapi sebaiknya hasil pencatatan dilakukan oleh masing-masing individu sehingga portofolio yang dimasukkan ke dalam file atau map peserta didik terisi dari hasil pekerjaannya sendiri secara individu.

2. Pembelajaran Bunyi bagi Anak Tunarungu Sebelum membahas langkah langkah pembelajaran bunyi, kita perlu batasi dahulu yang berhubungan dengan sifat bunyi, macam-macam sumber bunyi, dan arah bunyi. Hal ini, sebagaimana dijelaskan Saripudin yang dikutip dari Buku Artikulasi Modul II http://file.upi.edu/Direktori yaitu sebagai berikut.
a. Sifat bunyi Pada setiap bunyi yang kita dengar baik itu bunyi dari berbagai macam benda, binatang, musik maupun suara manusia akan memiliki sifat-sifat sebagai berikut.
1) Ada/tidak adanya bunyi Pada waktu tengah malam, dikala suasana sedang sunyi, tiba-tiba kita mendengar suara anjing melolong, kemudian suasana sepi kembali. Hal tersebut menunjukkan dari tidak adanya bunyi (sunyi) kemudian ada bunyi (anjing melolong) kemudian bunyi tidak ada lagi (sepi).
© 2017

KP

2) Panjang/pendeknya bunyi Anjing bisa menimbulkan bunyi yang pendek juga yang panjang. Pada waktu anjing menyalak (guk guk guk), bunyi anjing tiu pendek-pendek, tetapi pada waktu anjing melolong (auuuuuuu) bunyi anjing itu panjang.
3) Cepat/lambatnya bunyi Kalimat diucapkan dengan tempo yang cepat, seperti kalimat yang menunjukkan orang yang menegur, dan teguran itu biasanya menggunakan tempo yang cepat, juga bias lambat.
4) Keras/lembutnya bunyi Sesuai dengan situasinya, kalimat tersebut dapat diucapkan dengan suara yang keras (biasanya untuk orang dewasa) dan bisa juga diucapkan dengan suara lembut(kalau diucapkan untuk anak-anak). Keras/lembutnya bunyi dapat diukur dengan satuannya adalah decibel(dB). Keras/lembutnya suara manusia pada waktu berbicara. Bicara yang normal(bicara biasa) 41-45 dB, (Samual A. Kirk) berbisik biasanya 25dB bicara keras yaitu 65dB.
5) Tinggi/rendahnya bunyi Kalimat seru dalam contoh tadi biasanya dengan nada yang semakin tinggi, karena menunjukkan kesungguhan. Tekanan suara dapat menunjukkan ucapan seseorang. Bunyi yang tinggi disebabkan oleh udara yang cepat. Makin cepat getaran udara, makin tinggi nadanya. Tinggi rendahnya suara/bunyi disebabkan oleh jumlah getaran dalam satu detik. Cepat lambatnya getaran dapat diukur dengan satuannya adalah Hertz (Hz). Tinggi rendahnya suara manusia terletak antara 125Hz sampai dengan 8000Hz.
b. Macam-macam Sumber bunyi Bunyi dapat di hasilkan atau bersumber dari benda-benda, bunyi binatang, alat musik, suara manusia dan sebagainya. Bagi orang yang mendengar, mereka akan dapat mudah membedakan sumber bunyi itu. Akan tetapi, bagi anak tunarunggu merupakan suatu yang sulit. Untuk itu, latihan membedakan sunber mempunyai arti yang sangat penting. © 2017

KP

Dengan menghayati bunyi-bunyi yang telah diketahui sumbernya, anak tunarungu akan menyatu dengan dunia yang penuh bunyi ini. Bahkan mereka akan mampu menghayati suara sebagai suatu yang dapat memberi kesenangan tersendiri. Adapun yang lebih penting adalah mereka akan semakin mampu menghayati bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, sehingga mereka mengerti dan memahami ucapan orang lain. Mereka mampu mengucapkan bunyi-bunyi bahasa tersebut. Melalui pemahaman sumber bunyi ini mereka akan seamakin mampu mengembangkan bahasanya.

c. Arah Bunyi Seperti halnya dalam membedakan sumber bunyi, bagi orang yang mendengar tidak terlalu sulit untuk mengetahui dari mana datangnya bunyi yang didengar. Mengetahui dari mana datangnya bunyi sangat penting bagi manusia dalam kontak dengan lingkungannya. Keterampilan mencari dan menentukan arah bunyi penting artinya bagi anak-anak yang kurang dengar sebagai dasar untuk kontak atau berkomunikasi dengan lingkungan masyarakatnya. Bagi anak yang tergolong tuli, latihan mencari arah bunyi bukan untuk mengikuti arah percakapan, tetapi yang lebih penting agar mereka mampu menyadari adanya bunyi di sekelilingnya. Mereka diharapkan akan mampu mencari arah datangnya bunyi yang masih dapat ditangkap melalui sisa pendengarannya atau dirasakan lewat vibrasinya, sehingga mereka akan semakin menyatu dengan lingkungan yang penuh dengan bunyi. Berangkat dari penjelasan-penjelasan di atas, maka dapat kita kembangkan langkah-langkahnya latihan pembelajaran bunyi sebagaimana dijelaskan Hernawati yang dikutip dari Buku Artikulasi Modul III http://file.upi.edu/Direktori yaitu sebagai berikut.
1) Latihan Deteksi/ Kesadaran Terhadap Bunyi Program ini merupakan program pertama yang perlu dilatihkan pada anak dengan hambatan sensori pendengaran. Program ini merupakan latihan untuk memberi respon yang
© 2017

KP

berbeda terhadap ada/tidak adanya bunyi, atau kesadaran akan bunyi yang menyangkut daya kepekaan (sensitivitas) atau kesadaran terhadap bunyi. Bunyi yang dilatihkan meliputi bunyi latar belakang, bunyi alat musik dan bunyi bahasa.

2) Latihan Mengidentifikasi Bunyi Bunyi-bunyi yang diidentifikasi antara lain:
(a) Bunyi alam seperti: hujan, gemercik air, halilintar dsb.
(b) Bunyi Binatang : burung berkicau, anjing menjalak,ayam berkokok,dsb.
(c) Bunyi yang dihasilkan oleh peralatan : bunyi bedug, lonceng, bel,bunyi kendaran, klakson, dsb.
(d) Bunyi alat musik : gong, tambur, suling, terompet, piano/harmonika, rebana,dsb.
(e) Bunyi yang dibuat oleh manusia, seperti : tertawa, terikan, batuk, serta bunyi bahasa ( suku kata, kelompok kata atau kalimat).
Untuk membantu anak tunarungu mengenal bunyi, ada beberapa hal yang harus dilakukan. Anak perlu diberi berbagai kesempatan untuk menemukan hubungan/asosiasi antara penghayatan bunyi melalui pendengaran dengan penghayatan melalui modalitas/ indera lain yang sebelumnya telah membentuk persepsinya terhadap berbagai rangsangan luar, yaitu modalitas motorik, perabaan, dan penglihatan.

Dalam berinteraksi dengan anak, setiap kali terjadi suatu bunyi yang mendadak, arahkan perhatian anak terhadap bunyi tersebut. Tanyakan pada anak bunyi apa yang ia dengar. Apabila anak tersebut belum bisa menjawabnya, berikan jawabannya dan tunjukan dari mana bunyi tersebut berasal.

3) Latihan Membedakan /Diskriminasi Bunyi Program ini mencakup latihan untuk membedakan bunyi, baik itu bunyi alat musik maupun bunyi bahasa. Latihan membedakan bunyi mencakup :
(a) Membedakan dua macam sumber bunyi.
(b) Membedakan dua sifat bunyi (panjang-pendek, tinggi-rendah, keras-lemah, serta cepat-lambatnya bunyi).
(c) Membedakan macam-macam birama (2/4,3/4, atau 4/4).
© 2017

KP

(d) Membedakan bunyi –bunyi yang dapat dihitung.
(e) Membedakan macam-macam irama musik.
(f) Membedakan suara manusia, dsb.
Dalam latihan diskriminasi bunyi tersebut, perlu menerapkan prinsip kekontrasan, yang artinya melatih anak untuk membedakan bunyi yang memiliki perbedaan yang besar menuju perbedaan yang semakin kecil.

4) Latihan Memahami bunyi Latar Belakang Latihan memahami bunyi latar belakang sebagai tanda dapat dilakukan melalui latihan pemahaman bahwa bunyi petir menandakan mau hujan; klakson mobil/ motor menandakan harus minggir; bunyi bel sekolah menandakan waktunya masuk / pulang; bunyi bedug/ suara adzan menandakan waktunya shalat bagi umat Islam dsb.
5) Latihan Memahami Bunyi Bahasa Latihan memahami bunyi bahasa merupakan latihan untuk menangkap arti atau makna dari bunyi yang diamati berdasarkan pengalaman dan memberi respon yang menunjukkan pemahaman. Untuk menuju ke tahap pemahaman ini, dianjurkan hanya jika anak pada tahap identifikasi telah dapat mengidentifikasi lebih dari 50% materi/stimulus yang disajikan dalam tes identifikasi. Materi latihan pemahaman diambil dari perbendaharaan bahasa yang telah dimiliki oleh anak dan disajikan dalam bentuk: pertanyaan yang harus dijawab anak; perintah yang harus dilaksanakan; serta tugas yang bersifat kognitif (menyebutkan lawan kata, menjawab ya/tidak atau betul/salah terhadap pertanyaan/pernyataan yang diberikan). Setelah melatih optimalisasi fungsi pendengaran anak tunarungu, langkah berikutnya melatih organ-organ artikulasi yang meliputi melatih pernafasan dan pelemasan motorik mulut. Pada dasarnya latihan-latihan ini terbagi ke dalam dua langkah yaitu melatih pernafasan dan melatih resonasi termasuk alat-alat pengucapan Tahapan pertama, proses melatih tulang belakang sebagai pusat
© 2017

KP

kekuatan tubuh dan mengusung pernafasan, kemudian latihan pernafasan sebagai sumber suara, lalu menelaah sentuhan suara, masalah vibriasi yang memperkeras suara awal. Proses ini diakhiri dengan telaah masalah saluran suara yang menyangkut rahang, lidah, langit-langit dan kerongkongan.

Pengambilan nafas yang tepat akan sangat membantu dalam pengerahan tenaga, baik untuk bergerak maupun untuk berbicara. Seseorang yang memiliki cara pernafasan yang buruk tak mungkin dapat bersuara dengan baik, begitupun dengan anak tunarungu. Akan tetapi, seseorang yang dapat mengatur dan menguasai pernafasannya akan sanggup pula mengatur gerak dan menguasai suaranya. Gangguan terhadap pernafasan akan berakibat besar terhadap kualitas suara yang terputus-putus atau ucapan tidak jelas.

Adapun agar sirkulasi pernafasan berjalan lancar, maka lakukanlah latihan-latihan pada anak seperti berikut. Tarik nafas --- ke luarkan suara [aaaaaaaaaaaa] --- istirahat Tarik nafas --- ke luarkan suara [oooooooooooo]--- istirahat Tarik nafas --- ke luarkan suara [eeeeeeeeeeee]--- istirahat Tarik nafas --- ke luarkan suara [iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii]--- istirahat dan seterusnya. Cara pernafasan tersebut ada tiga, yaitu pernafasan dada, perut, dan diaphragma.

Gambar 5. 6 Pernafasan Dada, Perut, dan Diaphragma

Dibandingkan dengan pernafasan dada dan perut, maka pernafasan diaphragma adalah cara yang paling efektif. Diaphragma terletak di

© 2017

KP

antara rongga dada dan rongga perut. Untuk mudahnya cobalah letakkan kedua tangan pada ujung kanan dan kiri rusuk. Bagian inilah yang akan terasa berkembang apabila kita menarik nafas. Cara kerja diaphragma adalah sebagai berikut:

a) Pada waktu menghirup nafas, pusat diaphragama akan bergerak ke arah depan dan ke bawah. Gerakan tersebut akan mengakibatkan bagian bawah dari tulang rusuk berkembang dan mendorong rusuk bagian atas ke arah depan. Dengan cara ini rongga paru-paru akan penuh terisi udara.
b) Pada waktu menghembuskan nafas, pusat diaphragama akan kembali pada posisi semula dan memberikan tambahan kekuatan dalam mengeluarkan atas menghembuskan nafas. Untuk membuat mengontrol pernafasan anak tunarungu efektif, diperlukan sikap badan yang baik, yaitu:
(1) Kepala tegak (jangan kaku)
(2) Bahu dalam keadaan relaks (santai)
(3) Dada tegap
(4) Punggung lurus Untuk sekedar memberikan gambaran mengenai macam pernafasana tadi, perhatikan gambar ini.
Gambar 5. 7 Sikap Badan Pernafasan Diaphragma

Tahapan kedua, melatih resonansi dan alat-alat pengucapan. Melatih saluran resonator, disusun latihan melepas suara dari tubuh, kemudian melatih resonator hidung, melatih jangkauan dan resonator tengkorak. Resonansi adalah ikut bergetarnya udara dalam suatu rongga. Rongga

© 2017

KP

yang dapat menghasilkan resonansi disebut resonator. Karena resonator itulah maka suara kita dapat dilontarkan dengan nyaring. Mutu dan warna suara ditentukan oleh materi suara dan bentuk rongga resonator.

Seperti halnya alat-alat musik pada umumnya (piano, gitar, biola) yang masing-masing memiliki rongga resonator, maka manusia pun mempunyai tiga buah rongga resonator, yaitu:

(1) Rongga mulut
(2) Rongga hidung termasuk rongga kepala
(3) Rongga dada Kualitas suara anak tunarungu akan sangat tergantung kepada cara mereka menggunakan alat resonator tersebut. Dengan demikian, perlu keselarasan antara bentuk mulut, sasaran, suara, volume nafas yang dihembuskan agar dapat menghasilkan suara dengan artikulasi yang jelas dan intonasi yang tepat. Adapun yang dimaksud daerah artikulasi ialah bagian dalam mulut kita yang menghasilkan suara. Bunyi yang tak jelas atau hilang dalam pengucapan terjadi karena ketika mengucapkan kata-kata, bibir dan lidah malas bergerak, sehingga bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh daerah artikulasi, menghasilkan kata-kata yang tidak tepat. Karena itu perlu diingat bahwa pada saat berciara, bibir atas, bibir bawah serta lidah haruslah bebas dan giat bergerak. Intonasi adalah tinggi-rendahnya suara yang dihasilkan. Misalnya, kalimat berita intonasi akhirnya mendatar, kalimat tanya intonasi akhirnya menaik, dan kalimat perintah intonasi akhirnya menurun. Coba rasakan kalimat-kalimat berikut!
(a) Andi baru pulang dari Bandung.
(b) Siapakah yang baru datang itu?
(c) Tolong ambilkan minum buat Andi!
a. Cara berlatih alat-alat pengucapan
1) Rahang: Sesuai dengan beratnya, rahang dibiarkan jauh atau melongo seperti anak-anak yang sedang bengong. Kemudian dalam keadaan relaks/lemas, rahang bawah digerakkan sejauh mungkin ke bawah, sehingga berbentuk lonjong. Usahakan jarak antara gigi seri atas dengan gigi seri bawah minimal dua jari. Dalam keadaan demikian, © 2017

KP

posisi lidah lemas, datar, dan rongga kerongkongan dapat nampak dengan jelas.

2) Lidah: Mula-mula lidah ditekuk ke arah atas lalu ditekan atau dijepit oleh gigi, kemudian sebaiknya ke arah bawah.
3) Bibir: Dengan mengucapkan berulang kali U – A – U – l – O-E
4) Langit-langit: Gerakan langit-langit lunak ke atas dan ke bawah. Latihan ini agak sukar dilakukan sebelum kita dapat menguasai otot-otot lidah.
Hal yang dijelaskan di muka, sejalan dengan penjelasan Aprilia yang dikutip dari Buku Artikulasi Modul IV http://file.upi.edu/Direktori yaitu sebagai berikut.

b. Latihan pelemasan Caranya adalah:
1) Tangan tergantung di samping, badan dilemaskan kemudian digerakan ke depan, ke samping, ke belakang dan ke semua arah yang dikehendaki. Selanjutnya tangan dijatuhkan tanpa memakai tenaga.
2) Tangan direntangkan ke samping setinggi bahu, telapak tangan menghadap ke bawah tanpa tenaga. Lalu tangan diulurkan ke depan. Kedua telapak tangan berhadapan, lalu lengan dijatuhkan tanpa memakai tenaga.
3) Tubuh dibungkukan sedikit. Tangan bagian atas direntangkan setinggi bahu.
4) Siku ditekuk membentuk 90°. Tangan bagian bawah tergantung menghadap ke bawah dalam kondisi lemas dan kemudian digerakan.
5) Tangan diulurkan membentuk garis mendatar. Telapak tangan menghadap ke bawah dan dilemaskan.
6) Gerakan 1 sampai 5 dilakukan dengan posisi berdiri.
7) Pergelangan tangan digerakkan ke atas dan dijatuhkan ke bawah tanpa memakai tenaga.
8) Bahu digerakkan ke atas dan ke bawah secara bergantian atau keduanya digerakkan bersama-sama. Leher dilemaskan. Bahu digerakkan ke depan, ke belakang dan kembali seperti sikap semula.
9) Posisi duduk dan mata tertutup, kepala ditundukkan ke depan tanpa memakai tenaga, lalu kepala digerakkan ke depan, ke kiri dan ke kanan, sehingga rahang bawah menjadi lemas.
10) Seperti gerakan 1 sampai 5 tetapi dilakukan dengan berbaring terlentang.
11) Kaki terjulur lemas, kemudian dibantu guru/instruktur kaki diangkat secara bergantian lalu dijatuhkan secara bergantian.
12) Kaki bawah dilemaskan, instruktur menggerakkan tungkai kaki.
c. Latihan motorik mulut
1) Latihan untuk pergerakan lidah
- Ke luar masuk mulut, lalu ke atas dan ke bawah (lidah terjulur keluar)
- Ke atas dan ke bawah di dalam mulut (mulut terbuka dan ujung lidah bergerak dari lengkung kaki gigi bawah ke langit-langit)
- Ke kiri dan ke kanan di luar mulut pada bibir atas dan bibir bawah
© 2017

KP

  • Ke kiri dan ke kanan di dalam mulut, mengikuti susunan gigi atas dan bawah
  • Ke setiap bagian di dalam mulut.
    2) Latihan untuk pergerakkan bibir
  • Menarik otot bibir ke samping dan ke depan bergantian
  • Membuka dan menutup bibir dengan gigi merapat, rahang tertutup
  • Memasukkan bibir dengan mulut terbuka, lalu dengan mulut tertutup
  • Menguncupkan bibir dan menggerakkan ujungnya.
    3) Latihan pergerakkan untuk velum
  • Menahan nafas dalam mulut dengan pipi digembungkan
  • Menghisap dengan mulut tertutup, sehingga pipi melengkung ke dalam.
  • Inhalasi melalui hidung, bernafas dalam mulut sehingga pipi mengembung dan meletupkan udara keluar dengan bunyi ”pah” atau ”bah”
    4) Latihan untuk pergerakan rahang
  • Membuka dan menutup dengan gerakan yang lancar dan tepat
  • Gerakan ke kiri dan ke kanan. Lalu memutar secara horizontal
  1. Latihan Pernafasan Cara latihan pernafasan dilakukan dengan sikap berbaring, duduk dan berdiri.
    1) Berbaring terlentang dengan bantal diletakkan di bawah kepala. Lengan lurus di sebelah badan atau diletakkan di atas perut.
    2) Duduk di kursi dengan badan lurus dan tidak tegang. Lengan dipangkuan.
    3) Untuk menjaga supaya bahu tidak terangkat, peganglah tempat duduk di sebelah depan.
    4) Berdiri dengan kaki tidak rapat dan lurus. Tangan di pinggang tepat di atas panggul.
    Selingan untuk latihan dengan posisi berdiri yaitu:
  • Tangan di panggul, siku lengan sejauh mungkin dari badan.
  • Tangan di atas dada bagian bawah. Tangan mengambil sikap istirahat.
  • Tangan diulurkan horizontal, lalu bersandar pada dinding.
    Setelah anak tunarungu lemas berbagai organ bicaranya, baru melangkah kepada latihan pengucapan vokal, konsonan, suku kata, kata, dan kalimat bahkan wacana. Adapun langkah-langkah dalam latihan pengucapan huruf vokal /a/i/u/e/o/ diikuti oleh anak.

Dalam praktik pembelajaran, Anda dapat memilih dan memilah metode global kata, metode visual (penglihatan), atau metode yang tepat lainnya disesuaikan

© 2017

KP

dengan karakteristik siswa tunarungu berdasarkan hasil esesmen. Berikut salah satu contoh penerapan dengan metode global kata dan metode visual.

(a)Penerapan Metode Global Kata Di dalam mengajarkan artikulasi tidak hanya mengajarkan setiap bunyi bahasa berdiri sendiri, tetapi tetap merupakan keutuhan dari sebuah kata, dikenal dengan metode “global kata”. Dalam latihan pembentukan pola ucapan-ucapannya yang dibetulkan pada setiap bunyi bahasa yang masih salah diucapkan oleh anak. Dengan demikian, anak mampu menghubungkan setiap bunyi bahasa dengan bendanya melalui lambang tulisan. Anak tunarungu diketahui lebih mudah mengucapkan vokal daripada konsonan. Anak akan disuruh meniru ucapan guru. Guru akan mengucapkan vokal dasar berurutan, yaitu a-e-i-o-u, anak tersebut akan mengucapkannya secara berulang-ulang. Gurunya akan mengusahakan untuk membantu menggetarkan pita suara anak tersebut. Berilah pujian bila anak ini sudah bisa mengucapkannya dengan benar. Hal ini akan membuat anak tersebut menjadi percaya diri dan lebih bersemangat. Mengajarkan vokal /a/ tidak hanya disuruh melafalkan atau menirukan /a/ saja, tetapi ditunjuk dalam kata yang konkrit. Artinya sebagai simbol nama suatu benda yang mudah diragakan, mudah diingat dan selalu ada di sekitarnya. Dalam pelajaran artikulasi digunakan dengan metode “Global Kata”. Menghubungkan benda dengan namanya bisa melalui tulisan.
a. Pilihan pertama dalam Bahasa Indonesia untuk mengajar artikulasi yang berisi vokal /a/ ialah /apa/. Ujaran [a] adalah huruf utama dan /p/ adalah huruf pengantar saja.
b. Mengajarkan vokal /i/ dalam kata /ibu/.
c. Konsonan /b/ dan /t/ dalam kata pilihannya /bata/. Dilanjutkan dengan /batu/ untuk latihan. Suara letupan lebih mudah diucapkan daripada suara konsonan-konsonan lain.
d. Konsonan /p/ dalam /api/. Untuk latihan memperdalam pembentukan suara ujaran, pilihlah dengan kata /pipi/, /pipa/, /pita/, /papi/, atau /upai/.
e. Mengajarkan vokal /e/ dalam kata /debu/.
f. Konsonan /p/, konsonan pada akhir kata. Contoh; /atap/.
g. Suara ujaran sekarang ialah [s] dengan kata /tas/.
© 2017

KP

h. Konsonan /d/ dalam kata /dua/. Dilanjutkan dengan latihan dengan kata /dadu/, /padi/, /dari/. Sesudah itu dilanjutkan dengan konsonan /m/ dalam kata /dam/. Kata-kata untuk latihan yaitu:/mata/, /asam/, /bamboo/, /sumbu/, /timba/. Dilanjutkan lagi dengan vokal /o/ dan konsonan /l/. kata yang dipilih ialah /bola/, /mobil/.
i. Konsonan /k/ dalam kata /kapal/. Dilanjutkan dengan kata /ketam/, /katak/, /kuda/, /aku/, /paku/.
j. Konsonan /n/ dalam /pilihan/, /bulan/, dilanjutkan dengan /pintu/, /daun/, /nasi/, /nanas/.
k. Fonem /ng/ dalam istilah /tang/, /pisang/, /telinga/.
l. Konsonan /c/ dalam kata /cabai/, /kacang/, /celana/, /peci/, /kaca/.
m. Vocal /e/ dengan /becak/, /ketela/, /kecap/, /tenda/.
n. Konsonan /g/ dalam /tiga/, /gigi/, /tugu/, /tangga/, /rongga/.
o. Konsonan /y/ dalam kata /payung/, /gayung/, /layu/, /ayun/.
p. Konsonan /h/, yaitu /paha/, /panah/, /pohon/, /sepuluh/.
q. Konsonan /j/ dengan kata /meja/, /jagung/, /gajah/, /tujuh/.
r. Konsonan /r/ dengan kata /ular/.
s. Vokal /o/ dengan /botol/.
t. Konsonan /w/ dengan kata /sawah/, /kawat/, /gawang/.
u. Konsonan /ny/, yaitu /nyamuk/, /kunyit/.
Pelajaran artikulasi di atas, ada yang belum termasuk ke dalam bahan artikulasi yaitu; /z/, /kh/, /f/, dan /u/. Kata ini boleh ditambahkan ke dalamnya, bisa dilakukan apabila ada kata dengan huruf tersebut. Pada waktu mengajarkan artikulasi, pilihlah kata yang konkrit dan mudah dilafalkan. Bisa melalui dengan benda yang sesungguhnya, dengan tiruannya dan dengan gambarnya. Bila mengajar artikulasi dengan kata yang abstrak atau morfem terkait yang tidak punya arti, akan mengakibatkan anak tunarungu sukar memahami dan mengingatnya.

Bahan tersebut di atas, merupakan suatu pedoman yang tidak mutlak yang artinya tidak harus sesuai dengan urutan, tetapi dapat sesuai dengan keadaan dan kemampuan anak. Misalnya, anak tidak dapat mengucapkan [a] tetapi dia bisa mengucapkan [u]. Mungkin anak tidak sengaja mengucapkan [u] dengan benar, mulainya mengajar dengan [u]. Kata pilihan terserah kepada guru.

Dalam praktiknya, ketika anak tunarungu dilatih melafalkan bunyi huruf [ny atau ng], maka sebaiknya dilengkapi kartu-kartu kata dengan gambar yang berwarna, tapi huruf yang sedang dilatih diberi warna yang berbeda.

© 2017

KP

nyamuk musang

penyu kucing

monyet elang

Gambar 5. 8 Kartu Bergambar

(b) Penerapan Metode Visual (penglihatan) Anak belajar paling baik dengan cara melihat informasi. Karena itu, cara mulai yang baik adalah dengan menggunakan kartu bergambar dengan kata-kata tertulis di bawahnya (flash card). Pilihlah kata-kata yang sesuai dengan level belajar anak. Selain itu, jika anak kesulitan dengan bunyi, tunjukkan di mana bunyi itu dibuat di dalam mulut secara umum. Contoh: Tunjukkan huruf /t/ pada kartu, lalu arahkan ke dalam mulut Anda. Buatlah bunyi /t/ dengan gerakan yang berlebihan. Biarkan anak meniru tindakan Anda sambil melihat ke cermin. Tingkatkan dengan kombinasi suku kata 2 huruf /ta, ti/ dan 3 huruf /tas, top/, dengan cara menyuarakan dan menulis. Bantulah juga dalam hal kemampuan mengelompokkan
© 2017

KP

dengan menggunakan gambar–gambar dan kata pada kalender harian. Ulanglah kalender ini setiap hari, lalu tandai tugas–tugas yang sudah selesai.

D. Aktivitas Pembelajaran

  1. Analisislah secara mandiri salah satu RPP, khususnya bagian Inti Kegiatan Pembelajaran dengan memperhatikan langkah-langkah pendekatan ilmiah (mengamati, menanya, mencoba, menalar, serta mengomunikasikan).
  2. Berdiskusi dan bandingkanlah hasil analisis tersebut dengan kelompok belajar Anda dengan penuh tanggung jawab!

    E. Latihan/Kasus/Tugas

  3. Susunlah RPP bagi anak tunarungu berdasarkan hasil esesmen di kelas rendah atau kelas tinggi dengan memperhatikan langkah-langkah pendekatan ilmiah (mengamati, menanya, mencoba, menalar, serta mengomunikasikan)!

  4. Berdiskusi dan bandingkanlah hasil analisis tersebut dengan kelompok belajar Anda!

    F. Rangkuman

Pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/mencoba, mengasosiasi/menalar/mengolah informasi, serta menyajikan/ mengomunikasikan. Kurikulum 2013 menyarankan penerapan model-model pembelajaran seperti Project Based Learning, Problem Based Learning, dan Discovery Learning dan model model pembelajarn lain yang relevan. Sifat bunyi meliputi ada/tidak adanya bunyi, panjang/pendeknya bunyi, cepat/lambatnya bunyi, keras/lembutnya bunyi, dan tinggi/rendahnya bunyi. Macam-macam sumber bunyi yaitu yang dapat di hasilkan atau bersumber dari benda-benda, bunyi binatang, alat musik, suara manusia dan sebagainya.

© 2017

KP

Arah bunyi yang bertujuan mampu mencari arah datangnya bunyi yang masih dapat ditangkap melalui sisa pendengarannya atau dirasakan lewat vibrasinya, sehingga mereka akan semakin menyatu dengan lingkungan yang penuh dengan bunyi.

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Dipersilakan Anda mengukur diri sendiri untuk menentukan tepat tidaknya ketika menyusun RPP pembelajaran bunyi di atas, apakah sesuai dengan penjelasan materi yang dibahas sebelumnya. Jika belum, Anda silakan baca kembali materi yang berhubungan dengan penyusunan RPP!

© 2017

KP

© 2017

KP

KEGIATAN PEMBELAJARAN 6 PENILAIAN PEMBELAJARAN BUNYI BAHASA

BAGI ANAK TUNARUNGU

A. Tujuan

  1. Melalui kegiatan mandiri, Anda mampu menjelaskan konsep dasar pengukuran dan penilaian dalam pembelajaran bagi anak tunarungu dengan tepat;
  2. Melalui kegiatan mandiri, Anda mampu menjelaskan kerangka pikir pengembangan perangkat evaluasi pembelajaran bagi anak tunarungu dengan tepat;
  3. Melalui kegiatan mandiri, Anda mampu menjelaskan prinsip-prinsip pengembangan perangkat evaluasi pembelajaran bagi anak tunarungu dengan tepat;
  4. Melalui kegiatan mandiri, Anda mampu menyusun langkah-langlah pengembangan perangkat evaluasi pembelajaran bagi anak tunarungu dengan tepat; dan
  5. Melalui kegiatan mandiri, Anda mampu menilai pembelajaran bunyi bagi anak tunarungu secara profesional dengan tepat.

    B. Indikator Pencapaian Kompetensi

  6. Menjelaskan konsep dasar pengukuran dan penilaian dalam pembelajaran bagi anak tunarungu;

  7. Menjelaskan kerangka pikir pengembangan perangkat evaluasi pembelajaran bagi anak tunarungu;
  8. Menjelaskan prinsip-prinsip pengembangan perangkat evaluasi pembelajaran bagi anak tunarungu;
  9. Menyusun langkah-langlah pengembangan perangkat evaluasi pembelajaran bagi anak tunarungu; dan
  10. Menilai pembelajaran bunyi bagi anak tunarungu.
    © 2017

KP

A. Uraian Materi

1. Hakikat Penilaian Pembelajaran Bunyi Sebagaimana dijelaskan dalam Buku Panduan PKPBI (2014: 75-93) bahwa Program Pengembangan Komunikasi, Persepsi Bunyi, dan Irama (PKPBI) merupakan hal yang sangat penting untuk mengantarkan peserta didik tunarungu dalam melakukan pengembangan komunikasi persepsi bunyi dan iramanya. PKPBI merupakan kegiatan pembelajaran bagi peserta didik tunarungu dalam hal menyadari, membedakan, mengenal atau memahami bunyi, dan bunyi bahasa. Untuk mengetahui pencapaian hasil belajar peserta didik tunarungu dalam pencapaian hasil program pengembangan komunikasi persepsi bunyi dan irama maka perlu dilaksanakan penilaian.
a. Pengertian Penilaian Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik tunarungu pada PKPBI. PKPBI dilakukan dengan mengacu pada indikator dari kompetensi.Hasil penilaian oleh guru dianalisis lebih lanjut untuk mengetahui kemajuan dan kesulitan yang dihadapi peserta didik tunarungu dalam pelaksanaan program pengembangan komunikasi persepsi bunyi dan irama. Dalam PKPBI, guru melaksanakan penilaian otentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output) PKPBI.
b. Ruang Lingkup Penilaian Penilaian hasil PKPBI untuk peserta didik tunarungu mencakup kompetensi sikap, pengetahuan,dan keterampilan yang dilakukan disesuaikan dengan aspek, kompetensi dan indikator sehingga dapat digunakan untuk menentukan posisi relatif setiap peserta didik terhadap standar yang telah ditetapkan. Cakupan penilaian merujuk pada ruang lingkup materi atau aspek, kompetensi, indikator, dan proses program pengembangan komunikasi persepsi bunyi dan irama. © 2017

KP

c. Prinsip dan Pendekatan Penilaian
1. Prinsip Penilaian Penilaian hasil belajar peserta didik tunarungu didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:
a) Objektif, berarti penilaian berbasis pada standar dan tidak dipengaruhi faktor subjektivitas penilai.
b) Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik dilakukan secara terencana, menyatu dengan kegiatan pembelajaran, dan berkesinambungan.
c) Ekonomis, berarti penilaian yang efisien dan efektif dalam perencanaan,pelaksanaan, dan pelaporannya.
d) Transparan, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diakses oleh semua pihak.
e) Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak internal sekolah maupun eksternal untuk aspek teknik, prosedur, dan hasilnya.
f) Edukatif, berarti mendidik dan memotivasi peserta didik dan guru.
2. Pendekatan Penilaian Pendekatan penilaian yang digunakan adalah Penilaian Acuan Kriteria (PAK). PAK merupakan penilaian pencapaian kompetensi yang didasarkan pada Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). KKM merupakan kriteria ketuntasan belajar minimal yang ditentukan oleh satuan pendidikan dengan mempertimbangkan karakteristik kompetensi yang akan dicapai, daya dukung, dan karakteristik peserta didik tunarungu.
3. Teknik dan Instrumen Penilaian Teknik dan instrumen yang digunakan untuk penilaian kompetensi sikap,pengetahuan, dan keterampilan pada program pengembangan komunikasi persepsi bunyi dan irama sebagai sebagai berikut.
© 2017

KP

a) Penilaian Kompetensi Sikap Guru melakukan penilaian kompetensi sikap melalui observasi, penilaian diri, penilaian “teman sejawat” (peer evaluation) oleh pesertadidik dan jurnal. Instrumen yang digunakan untuk observasi, penilaian diri,dan penilaian antarpeserta didik adalah daftar cek atau skala penilaian(rating scale) yang disertai rubrik, sedangkan pada jurnal berupa catatan guru. Berikut penjelasan yang lebih rinci.
- Observasi
- Penilaian diri
- Penilaian antar peserta didik
- Jurnal
b) Penilaian Kompetensi Pengetahuan Guru menilai kompetensi pengetahuan melalui tes tulis, tes lisan, dan penugasan.
(1) Instrumen tes tulis berupa soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat,benar-salah, menjodohkan, dan uraian. Instrumen uraian dilengkapi pedoman penskoran.
(2) Instrumen tes lisan berupa daftar pertanyaan.
(3) Instrumen penugasan berupa pekerjaan rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas.
c) Penilaian Kompetensi Keterampilan Guru menilai kompetensi keterampilan melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan menggunakan tes praktik, projek, dan penilaian portofolio. Instrumen yang digunakan berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik.
- Tes praktik
- Projek
- Penilaian portofolio
© 2017

KP

Contoh 1 : Instrumen Penilaian

Indikator : memberikan reaksi dengan ucapan bila mendengar bunyi benda secara tiba-tiba.

Kompetensi: mampu mendeteksi bunyi latar belakang dengan kekerasan 90Db atau lebih menggunakan ABM atau tidak, sebagai berikut.

No. Aspek yang dianalisis Kemampuan Ket.
1. 2. Peserta didik duduk di ruang PKPBI dengan tertib Posisi duduk peserta didik membentuk duduk setengah lingkaran Dapat Ragu- ragu Tidak dapat
3. Guru mengamati percakapan terhadap peserta ddidik
4. Membuat reaksi setelah mendengar bunyi benda dengan ucapan (multisensoris)
5. Posisi peserta didik membelakangi sumber bunyi (unisensoris)
6. Membuat reaksi dengan ucapan bila mendengar bunyi benda.

Deskripsi : ...............................................................................................
Tindak Lanjut : ...............................................................................................

Contoh 2 : Penilaian Praktik

Penilaian Praktik untuk Indikator “ memberikan reaksi dengan membuat bunyi bila mendengar 2 bunyi benda yang berbeda secara tiba-tiba”. Contoh penilaian praktik untuk indikator ini. Kompetensi mampu mendiskriminasikan bunyi latar yang sudah dideteksi dengan kekerasan 90dB atau lebih menggunakan ABM atau tidak, sebagai berikut. Skor Skor No. Aspek Yang Dinilai Maksimum Minimum

  1. Peserta didik duduk dengan posisi setengah lingkaran dengan tertib
  • Duduk tertib, skor 3
  • Duduk kurang tertib, skor 2
    © 2017

KP

- Duduk tidak tertib, skor 1 - Tidak bersedia duduk, skor 0
2. Mendiskriminasi 2 bunyi-Membedakan 2 bunyi benda dengan spontan, skor 3 - Membedakan 2 bunyi benda dengan ragu-ragu, skor 2 - Membedakan 2 bunyi benda dengan tidak berespon, skor 1 - Tidak bersedia membedakan bunyi benda, skor 0
3. Membuat reaksi bunyi sesuai dengan sumber bunyi yang dibuat guru-Membuat reaksi spontan, skor 3 - Membuat reaksi ragu ragu, skor 2 - Membeat reaksi tidak sesuai, skor 1 - Tidak bersedia membuat reaksi, skor 0

Skor perolehan Nilai Akhir = × 10 Skor Maksimal Contoh 3: Analisis Tugas Kemampuan : Menemukenali ciri-ciri bunyi alat musik pukul tertentu yang diperdengarkan secara langsung Indikator : Memberikan reaksi dengan bergerak sesuai dengan ciri-ciri bunyi alat musik yang didengar Intruksi (Perintah yang disampaikan Guru) :

  1. Perhatikan bunyi yang kalian dengar
  2. Sebutkan ciri-ciri dari bunyi yang kalian dengar
  3. Bergeraklah saperti olah raga sesuai dengan bunyi alat musik yang kalian dengar
  4. Sebutkan nama alat musik yang kalian dengar
    Stimulus (Bunyi yang diperdengarkan):

A. Bunyi tambur
B. Bunyi gong
C. Bunyi tam-tam
D. Bunyi kenong
Respon (Reaksi yang dilakukan peserta didik)

a. Bergerak seperti memantulkan bola basket jika mendengar bunyi tambur
b. Bergerak seperti lompat jauh jika mendengar bunyi gong
c. Bergerak seperti mengoper bola basket jika mendengar bunyi tam-tam
d. Bergerak seperti tolak peluru jika mendengar bunyi kenong © 2017

KP

Langkah – langkah Analisis:

Mempersiapkan kegiatan analisis (mempersiapkan peralatan, memeriksa ABM peserta didik, Mengatur posisi duduk peserta didik)

  1. Mengadakan percakapan tentang kegiatan yang akan dilakukan peserta didik ( bunyi yang akan didengar, dan reaksi yang akan dilakukan)
  2. Peserta didik mendengar bunyi yang disajikan guru, kemudian memberikan respon sesuai yang disepakati.
  3. Guru mengamati reaksi yang dilakukan peserta didik dan menuliskan dalam format.
    FORMAT ANALISIS TUGAS

NAMA : ..................................
DATA PENDENGARAN : Kn …… dB. Kr……dB DATA INTELEGENSI :
DATA ABM : memakai / tidak, model ........

MENGENAL BERBAGAI BUNYI ALAT MUSIK
timulus Respon A B C D
A
B
C
D
Reaksi
Jarak
Intensitas

PEDOMAN PENILAIAN Skor Perolehan ----------------------- X 100% = Nilai Akhir Skor Maksimal Hasil Penilaian Deteksi = ----------- X 100% =
Diskripsi : ......................................................................................
.................................................................................................................................
............
Hasil Penilaian Diskriminasi = ----------- X 100%

© 2017

KP

Diskripsi Diskriminasi :
........................................................................................................
Hasil Penilaian Identifikasi = ----------- X 100% =

Diskripsi Identifikasi

............................................................................................................................
............................................................................................................................
............................................................................................................................

Contoh 4: Laporan
LAPORAN KETERCAPAIAN KEMAMPUAN
PROGRAM PENGEMBANGAN KOMUNIKASI PERSEPSI BUNYI DAN IRAMA
N A M A : .....................................
DATA AUDIOGRAM : Kn dB Kr dB
ALAT BANTU DENGAR: .....................................
KEMAMPUAN SUSUMBER BUNYI REAKSI PENCAPAIAN PREDIKAT
1 2 3 4 5
Deteksi bunyi latar belakang dengan kekerasan 90dB atau lebih menggunakan ABM atau tanpa menggunakan ABM Mampu menyadari ada atau tidak ada sumber bunyi tambur, gong, tamtam, kenong, rebana,dan simbal. Yang diperdengarkan langsung Ragu- ragu 80% B
Mampu menyadari ada atau tidak ada sifat bunyi orgen panjang, pendek, tinggi, dan rendah yang diperdengarkan langsung Mampu menyadari ada atau tidak ada jumlah bunyi genderang 2 sampai dengan 7,cepat atau lambat Yang diperdengarkan langsung Mampu menyadari ada atau tidak ada bunyi dari dari arah kanan atau kiri yang diperdengarkan langsung Mampu menyadari ada atau tidak ada bunyi birama dasar 2/4, 3/4, dan 4/4 dari alat musik rebana Yang diperdengarkan langsung Spontan 100% A

© 2017

KP
6
Mendiskriminasi bunyi- bunyi disekitar yang pernah dideteksidengan kekerasan 90 db atau lebih menggunakan alat bantu mendengar atau tanpa alat bantu Mampu membedakan sumber bunyi tambur, gong, tamtam, kenong, rebana,dan simbal. Yang diperdengarkan langsung Mampu membedakan sifat bunyi orgen panjang, pendek, tinggi, dan rendah yang diperdengarkan langsung
mendengar sebatas sisa pendengaran anak Mampu membedakan jumlah bunyi genderang 2 sampai dengan 7,cepat atau lambat Yang diperdengarkan langsung Mampu membedakan bunyi dari arah kanan atau kiri yang diperdengarkan secara langsung. Mampu membedakan bunyi birama dasar 2/4, 3/4, dan 4/4 dari alat musik rebana Yang diperdengarkan langsung
Mengidentifikasi bunyi- bunyi disekitar yang pernah didiskriminasikan Mampu mengenal ciri-ciri sumber bunyi tambur, gong, tamtam, kenong, rebana,dan simbal. Yang diperdengarkan langsung
dengan kekerasan 90 db atau lebih menggunakan alat bantu mendengar atau tanpa alat bantu Mampu mengenal ciri-ciri sifat bunyi orgen panjang, pendek, tinggi, dan rendah Yang diperdengarkan langsung
mendengar sebatas sisa pendengaran anak Mampu mengenal ciri-ciri jumlah bunyi genderang 2 sampai dengan 7,cepat atau lambat Yang diperdengarkan langsung Mampu mengenal ciri- ciri bunyi dari arah kanan atau kiri yang diperdengarkan langsung Mampu mengenal ciri-ciri bunyi birama dasar 2/4, 3/4, dan 4/4 dari alat musik rebana PPPPTK TK DAN PLB BANDUNG © 2017 143

KP

Yang diperdengarkan langsung
Memahami bunyi-bunyi disekitar sebagai sinyal, tanda, atau lambang dengan kekerasan 90 db atau lebih menggunakan alat bantu mendengar atau tanpa alat bantu mendengar sebatas sisa pendengaran anak

Untuk mengukur kemampuan dengar peserta didik tunarungu dapat dilakukan oleh tim ahli atau guru yang sudah berpengalaman menggunakan alat ukur audiometer.

Contoh 5: Instrument Asesmen:

1) Kartu audiogram untuk pengukuran kemampuan dengar peserta didik Tunarungu. (Audiorgam)
© 2017

KP

Contoh 6: Format Observasi dan asesmen
Formulir Observasi dan Asesmen Anak Tunarungu

Nama Anak : …………………………………………..………………………… Jenis Kelamin : …………………………………………..………………………… Tanggal Lahir : …………………………………………..………………………… Nama Ayah : …………………………………………..………………………… Pekerjaan : …………………………………………..………………………… TTL : …………………………………………..………………………… Pendidikan : …………………………………………..………………………… Nama Ibu : …………………………………………..………………………… TTL : …………………………………………..………………………… Pekerjaan : …………………………………………..………………………… Pendidikan : …………………………………………..………………………… Alamat : …………………………………………..………………………… No. Telepon : …………………………………………..………………………… Tanggal Asesmen : …………………………………………..………………………… Calon siswa pernah menjalani terapi (beri tanda V pada terapi yang (pernah/sedang) dijalani :

  • Sensori integrasi
  • Fisio terapi
  • Okupasi terapi
  • Terapi bicara
  • Intervensi paedagogi Telah menjalani tes : beri tanda V pada tes yang pernah dilakukan : Perkembangan pada tanggal ……..…..……… bulan …..…..……… tahun …..….…..…… Tes Intelegensi pada tanggal ……..…..……… bulan …..…..………tahun Lainnya sebutkan : ……………………...………… Pada tanggal ……….. bulan ……….. tahun ……………………...………… Pada tanggal ……….. bulan ……….. tahun ……………………...………… Pada tanggal ……….. bulan ……….. tahun Mendapatkan informasi mengenai SLB dari ……………...……………….
Mengetahui: Orang Tua/ Wali,
Kepala SLBN ..., ()

© 2017

KP

Contoh 7: Daftar Observasi
Daftar Observasi Pas Photo
A. Identitas Anak :

Nama Anak : …………………………………………………… Tempat Tanggal Lahir : …………………………………………………… Anak ke : …………………………………………………… Jenis Kelamin : …………………………………………………… Agama : …………………………………………………… Tingkat kehilangan pendengaran

a. Kanan ………………… dB
b. Kiri ………….………… dB

B. Keadaan organ bicara

Keadaan bibir

a. bentuk fisiknya
b. fungsi/gerakannya
Keadaan lidah

a. bentuk fisiknya
b. fungsi/gerakannya
Keadaan rahangnya

a. bentuk fisiknya
b. fungsi/gerakanya
Keadaan langit-langit

a. bentuknya bercelah
b. tidak bercelah
: …………………………………………………… : ……………………………………………………

: …………………………………………………… : ……………………………………………………

: …………………………………………………… : ……………………………………………………

: …………………… ……………………………… : ……………………………………………………

, ……………………... Kepala SLB,

© 2017

KP

Contoh 8: Asesmen Kemampuan Berbicara
Asesmen Anak Tunarungu
Kemampuan Bicara

Nama Anak : ………………………………………………
Jenis Kelamin : ………………………………………….....
Tanggal Lahir : ……………………………………………… Nama Orang Tua : ……………………………………………… Alamat : ……………………………………………… Tanggal Asesmen : ………………………………………………

No. Organ Artikulasi Tes Hasil
Baik Cukup Kurang
1. Bibir Memonyongkan kedua bibir Menarik bibir ke belakang Menggetarkan bibir
2. Lidah Menjulurkan lidah ke depan Menjulurkan lidah ke kiri Menjulurkan lidah ke kanan Menyentuh lengkung kaki gigi atas Mendorong pipi kiri Mendorong pipi kanan Menyapu bibir atas Menyapu bibir bawah
3. Rahang Membuka mulut lebar-lebar Menutup mulut rapat-rapat Mengunyah permen karet
4. Velum Meniup udara keluar melalui mulut Meniup balon Meniup peluit Menahan udara di mulut sampai hitungan 5 s.d. 10
6. Nafas Ambil nafas, tahan sampai hitungan 10

© 2017

KP

B. Aktivitas Pembelajaran

  1. Secara mandiri analisislah salah satu RPP yang pernah disusun, khususnya bagian penilaian dengan memperhatikan langkah-langkah penilaian autentik.
  2. Bekerjasamalah dalam diskusi dan bandingkanlah hasil analisis tersebut dengan kelompok belajar Anda!

    E. Latihan/ Kasus /Tugas

  3. Secara mandiri susunlah rancangan penilaian dalam RPP pembelajaran bunyi bagi anak tunarungu untuk kelas III dengan memperhatikan langkah-langkah penilaian autentik.

  4. Bekerjasamalah dalam diskusi dan bandingkanlah hasil analisis tersebut dengan kelompok belajar Anda!

    F. Rangkuman

Evaluasi yaitu memberikan nilai kepada seseorang, sesuatu benda, suatu keadaan atau peristiwa. Keputusan tersebut harus didasarkan kepada fakta-fakta yang ada sesuai dengan permasalahannya. Untuk mengumpulkan fakta-fakta tersebut dapat digunakan pengukuran dan atau non pengukuran. Kriteria penilaian meliputi validitas, reliabilitas, terfokus pada pencapaian kompetensi, komprehensif, obyektif, dan adil, serta memberikan sumbangan yang positif bagi peserta didik. Pengembangkan perangka evaluasi pembelajaran meliputi langkah menetapkan tujuan tes, analisis atau bedah kurikulum, dan membuat kisi-kisi soal/instrumen yang akan dikembangkan. Bentuk soal tes tertulis, yaitu: Memilih jawaban, dapat berupa: pilihan ganda, dua pilihan (benar-salah, ya-tidak), menjodohkan, dan sebab-akibat. Mensuplai jawaban, dapat berupa: isian atau melengkapi, jawaban singkat atau pendek, dan uraian.

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Dipersilakan Anda mengukur diri sendiri untuk menentukan tepat tidaknya ketika perangkat penilian untuk pembelajaran bunyi di atas, apakah sesuai dengan penjelasan materi yang dibahas sebelumnya. Jika belum, Anda silakan baca kembali materi yang berhubungan dengan penyusunan penilian bagi ABK!

© 2017

KUNCI JAWABAN LATIHAN/KASUS/TUGAS

KEGIATAN PEMBELAJARAN: 1
  1. Langkah pertama, guru harus menjadi model keteladanan siswa. Dengan demikian, bila ditemukan anak yang tidak santun, maka guru dapat memberikan contoh pada siswa prilaku yang tidak empati dan tidak santun itu bukan prilaku yang baik.
  2. Langkah kedua, prilaku yang tidak empati dan tidak santun pada diri siswa dapat dijadikan bahan pembelajaran dalam bentuk kisah/cerita. Dengan harapan, siswa dapat menumbuhkan kesadaran sikap empati dari tokoh-tokoh atau pun peristiwa yang terjadi dalam kisah/cerita tersebut.
  3. Langkah ketiga, dengan teguran yang baik melalui kata-kata yang dapat menyentuh diri siswa dan mengembalikan pada dirinya bagaimana kalau terjadi terhadapnya.
  4. Langkah keempat, dengan hukuman yang mendidik yang dapat menyadarkan dirinya agar tidak melakukan prilaku yang tidak empati dan tidak santun itu.
    KEGIATAN PEMBELAJARAN: 2

a) Empati terhadap sesama manusia
b) Empati terhadap kehidupan binatang
c) Empati terhadap kehidupan tumbuh-tumbuhan
d) Empati terhadap kelestarian dan keindahan lingkungan KEGIATAN PEMBELAJARAN: 3
a. Cocokkanlah dengan gambar di bawah ini!
© 2017

b. Vokal dengan bibir bulat terjadi karena lidah berada di posisi depan adalah [i], [e], [ɛ], [a]. Vokal dengan bibir tak bulat, karena lidah berada di posisi belakang adalah [u], [ɔ], [o]. Ketinggian lidah menentukan perbedaan bunyi vokal. Semakin tinggi lidah, maka semakin menyempit pula udara yang dikeluarkan untuk menciptakan bunyi vokal, dan demikian sebaliknya jika lidah merendah.
c. Berdasarkan pita suara konsonan dapat bersuara atau tak bersuara. Berdasarkan daerah artikulasinya konsonan dapat bersifat bilabial, labiodental, alveolar, palatal, velar atau glotar; dan berdasarkan cara artikulasinya konsonan dapat berupa hambatan, frikatif, nasal, getar atau lateral. Di samping itu ada lagi yang berwujud semivokal.

KEGIATAN PEMBELAJARAN: 4

Tujuan pembelajaran dirumuskan berdasarkan KD, dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapatdiamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Tujuan dapat diorganisasikan mencakup seluruh KD atau diorganisasikan setiap pertemuan.Tujuan pembelajaran yang dinyatakan dengan baik mulai dengan menyebut Audience peserta didik untuk siapa tujuan itu dimaksudkan. Tujuan itu kemudian mencantumkan Behavioratau kemampuan yang harus didemonstarsikan dan Condition seperti apa perilaku atau kemampuan yang akan diamati. Akhirnya, tujuan itu mencantumkan Degree keterampilan baru itu harus dicapai dan diukur. Contoh:

i. Dengan dibunyikannya drum, siswa dapat memberikan reaksi melipat tangan dengan tepat. ii. Dengan tidak dibunyikannya drum, siswa dapat memberikan reaksi tidak ada bunyi drum dengan diam saja secara tepat
© 2017

KEGIATAN PEMBELAJARAN: 5
Kegiatan Inti
  1. Siswa bermain sambil mengenal temannya dengan bimbingan guru.( mengamati )
  2. Siswa diminta duduk setengah lingkaran Siswa yang mendapat giliran, mengucapkan nama dirinya dan nama teman barunya.( mengkomunikasikan )
  3. Kegiatan diulang sampai semua siswa mendapat giliran
  4. Siswa mempercakapkan benda di sekitar sambil berhitung dari 1-5( mengkomunikasikan )
  5. Siswa mengenal konsep lambang bilangan 1-5 dengan bimbingan guru.( mengamati )
  6. Siswa berlatih memasangkan lambang bilangan 1-5 sesuai petunujuk di buku siswa.( mengumpulkan data )
  7. Sebagai penutup siswa menyimpulkan materi yang dipelajari dengan bimbingan guru.( mengkomunikasikan )
    KEGIATAN PEMBELAJARAN: 6
PENILAIAN

I. Teknik Penilaian

a. Penilaian sikap : observasi
b. Penilaian pengetahuan : tes lisan
c. Penilaian ketrampilan : unjuk kerja
  1. Instrumen Penilaian
    a. Pengamatan sikap: Bermain sambil mengenal teman
Percaya diri Disiplin Bekerja sama
No Nama BT 1 MT 2 MB 3 SM 4 BT 4 MT 3 MB 2 SM 1 BT 4 MT 3 MB 2 SM 1
1 ...
2 ...

Keterangan : 4 = sangat baik, 3 = baik, 2= cukup, 1= perlu bimbingan

b. Penilaian pengetahuan: Penilaian lisan :
1.Sebutkan nama teman barumu ?
2. Hitunglah nama teman barumu ?
3. Berapa jumlah teman yang ada dikelasmu ?
© 2017

© 2017

EVALUASI

A. Pilihlah jawaban yang benar dengan cara memberi tanda silang (X) pada huruf A, B, C, atau D yang mewakili jawaban yang paling benar!
1. Tunjukkan huruf /t/ pada kartu, lalu diarahkan ke dalam mulut Anda. Kegiatan tersebut termasuk ke dalam pendekatan ....
A. auditori
B. visual
C. taktil
D. kinestetik
2. Agar anak tunarungu tumbuh dengan lingkungan hidup dan belajar yang memungkinkan menjadi warga yang mandiri,partisipatif dan kontributif dalam masyarakat inklusif. Kalimat tersebut termasuk ke dalam pendekatan ....
A. auditori
B. visual
C. verbal
D. kinestetik
3. Kaitan tentang bunyi bahasa disebut ….
A. fonologi
B. fonemik
C. fonetik
D. fonotaktik
4. Bunyi bahasa dapat terwujud dalam ….
A. nyanyian
B. tuturan
C. tulisan
D. nyanyian dan tuturan
5. Pengaturan bunyi bahasa dilakukan oleh masyarakat bahasa secara ….
A. arbiter
B. konvensional
C. universal
D. sistematis
6. Mintalah mereka menulis huruf, kata atau kalimat sementara Anda mengucapkannya.
A. visual
B. taktil
C. auditori
D. kinestetik
7. Panjang pendeknya pengucapandalan suatu tuturan disebut ... ..
A. aksen
© 2017

B. nada
C. jangka
D. tekanan
8. Bunyi-bunyi yang dihasilkan dengan daerah dan alat artikulasi yang sama, tetap tidak identik disebut …..
A. homogan
B. geminate
C. alofon
D. varian
9. Anak membuat bentuk huruf dari tanah liat untuk membentuk kata singkat. Kegiatan ini termasuk pendekatan ....
A. Visual
B. Taktil kinestetik
C. Auditori
D. Emosi
10. Berikut ini,termasuk ke dalam metode pembelajaran bunyi bahasa bagi anak tunarungu, kecuali ....
A. belajar bahasa melalui membaca ujaran
B. belajar bahasa melalui pendengaran
C. belajar bahasa melalui manual
D. belajar bahasa melalui sentuhan
11. Bunyi bahasa (fon) berkaitan dengan ….
A. pengujaran
B. getaran udara
C. pendengaran
D. bentuk makna
12. Konsonan bilabial mencakup bunyi ....
A. (p), (t), (c)
B. (b), (d), (j)
C. (t), (d),(u)
D. (p), (b), (m)
13. Lafal Bahasa Indonesia yang baik atau baku adalah lafal ....
A. guru bahasa Indonesia
B. penyiar TVRI
C. yang tidak memperhatikan lafal kedaerahan
D. setiap penutur bahasa Indonesia
© 2017

PENUTUP

Modul kelompok kompetensi G ini yang membahas; Konsep Dasar Strategi Komunikasi Efektif, Empatik dan Santun pada Anak Tunarungu, Teknik Penerapan dan Pembimbingan Komunikasi Efektif, Empatik dan Santun pada Anak Tunarungu, Klasifikasi Bunyi-bunyi Bahasa, Perencanaan Pembelajaran Bunyi Bahasa bagi Anak Tunarungu, Penerapan Pembelajaran Bunyi Bahasa bagi Anak Tunarungu, dan Penilaian Pembelajaran Bunyi Bahasa bagi Anak Tunarungu. Dengan penguasaan materi ini, Anda akan lebih profesional dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran di Sekolah Luar Biasa. Di samping itu, Anda juga akan terasa manfaatnya ketika melakukan tugas-tugas yang lain, baik tugas keseharian sebagai guru maupun tugas-tugas di luar kedinasan.

Dengan pengetahuan dan keterampilan Anda yang diperoleh dari modul ini, terbukti bahwa Uji Kompetensi yang ditindaklajuti dengan Diklat Pembinaan Karir Guru sangat penting kedudukannya. Namun demikian, Anda harus tetap mengembangkan wawasan dan pengetahuan, baik melalui kajian buku, jurnal, maupun penerbitan hasil penelitian-penelitian lain yang relevan. Di samping itu, penggunaan sarana perpustakaan, media internet, serta sumber belajar lainnya merupakan wahana yang efektif bagi upaya perluasan tersebut.

Pada akhirnya, keberhasilan Anda dalam mempelajari modul ini tergantung pada tinggi rendahnya motivasi dan komitmen sendiri dalam mempelajari dan mempraktikan materi yang disajikan. Modul ini hanyalah merupakan salah satu bentuk stimulasi bagi peserta untuk mempelajari lebih lanjut substansi materi yang disajikan serta penguasaan kompetensi lainnya.

SELAMAT BERKARYA!

© 2017

© 2017

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan dkk. (eds.). 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Anam, Atfalul. 2011. Kesantunan Berbahasa dalam Buku Ajar Bahasa Indonesia Tataran Unggul: untuk SMK dan MAK Kelas XII Karangan Yustinah dan Ahmad Iskak. Skripsi. Yogyakarta:Universitas Negeri Yogyakarta. Atma Jaya. Busri, Hasan. 1997. Dasar-dasar Linguistik. Malang: FKIP Universitas Islam Malang. Chaer, Abdul. 2010. Kesantunan Berbahasa. Jakarta: Rineka Cipta. Coles, Robert. (2000). Menumbuhkan Kecerdasan Moral Pada Anak. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Goleman, Daniel. (1997). Emotional Intelligence. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Hurlock, Elizabeth. (1978). Psikologi Perkembangan (Edisi kelima). Jakarta : Erlangga Husaini. 2010. Perlukah Pendidikan Berkarakter. Dikutip dari http://insistnet.com/index.php?option=com_content&view=article&id=133 perlukahpendidikan-berkarakter&catid=1%3Aadian-husaini&Itemid=23. Diakses pada hari Sabtu 17 Maret 2012 Kesuma, Dharma dkk. 2012. Pendidikan Karakter (Kajian Teori dan Praktik di Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Jakarta: Universitas Indonesia. R, Syahrul. 2008. Pragmatik Kesantunan Berbahasa: Menyibak Fenomena Berbahasa Indonesia Guru dan Siswa. Padang: UNP Press. Rahardi, Kunjana. 2005. Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga. Rusyani. Endang. 1984. Konsep Dasar Artikulasi dan Optimalisasi Fungsi Pendengaran.. [Online]. Tersedia: http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND.LUARBIASA [13 November 2015]. Samsuri. 1987. Analisis Bahasa: Memahami Bahasa Secara Ilmiah. Jakarta: Erlangga. Sekolah). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

© 2017

Sofa. 2011. Tindak Tutur. (http://massofa.wordpress.com/2011/01/18/tindak-tutur/, diunduh18 November 2011). Universitas Negeri Malang. Wahab, Abdul. 1990. Butir-butir Linguistik. Surabaya: Airlangga University Press. Wahab, Abdul. 1991. Isu Linguistik Pengajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: Airlangga University Press. Yosef Ilmoe. (1997). Perbedaan Empati Ditinjau dari Jenis Kelamin dan Program Studi Para Mahasiswa FIP. Yogyakarta: Laporan Penelitian Yule, George. 2006. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

© 2017

GLOSARIUM

  • Diafragma (*diaphragma) = adalah* otot yang memisahkan rongga dada dari perut
  • Empati = suatu proses ketika seseorang merasakan perasaan orang lain dan menangkap arti perasaan itu, kemudian mengkomunikasikannya dengan kepekaan sedemikian rupa hingga menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh mengerti perasaan orang lain itu.
  • Global kata = metode dl pengajaran bahasa untuk mengajarkan membaca dan menulis permulaan dengan menyajikan satuan bahasa secara utuh dan menyuruh siswa mengenal dan menyalinnya secara keseluruhan, biasanya siswa lalu menghafalkan sehingga tidak dapat membaca dan menulis unsur yg baru.
  • Jeda atau persendian. Jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar.
  • Koda = Konsonan yang mengikuti vokal (silabis) dalam suku kata/ bagian terakhir sebuah komposisi musik sebagai penutup; penutup lagu
  • Komunikator = pelaku penyampain pesan yang berupa individu yang sedang berbicara atau penulis
  • maksim/mak·sim/ n pernyataan ringkas yang mengandung ajaran atau kebenaran umum tentang sifat-sifat manusia; aforisme; peribahasa
  • Santunan (politiness) =, adat, atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Kesantunan merupakan aturan perilaku yang ditetapkan dan disepakati bersama oleh suatu masyarakat tertentu sehingga kesantunan sekaligus menjadi prasyarat yang disepakati oleh perilaku sosial.
  • Simpatik = suatu proses di mana seseorang merasa tertarik terhadap pihak lain, sehingga mampu merasakan apa yang dialami, dilakukan dan diderita orang lain.
  • Tumpu = sesuatu yang menjadi pengampu kaki (tangan); tempat berpijak (bertekan, berdiri, dan sebagainya); setumpu
    © 2017

© 2017

LAMPIRAN

Lembar Kerja Lembar Kerja: 1

Prilaku Keseharian Prilaku Keseharian
Empati Sopan santun Tidak Empati Tidak Santun Alternatif Pemecahan

© 2017

Lembar Kerja: 2
Pengucapan vokal Pengucapan oleh anak tunarungu pengucapan konsonan Pengucapan oleh anak tunarungu
Mudah/ Sukar Mudah/ Sukar Mudah/ Sukar Mudah/ Sukar Mudah/ Sukar
Tingkat terbukanya mulut Keadaan pita suara
Posisi bagian lidah yang tertinggi Daerah artikulasi
Posisi bibir Cara artikulasi

© 2017

© 2017