Baca PDF (OCR): satya zine vol 1

12 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR · 4.0 detik

Daftar isi
  1. KAU BENAR BU
  2. PERPISAHAN BIRU
  3. MEGAPHONE
  4. ALTRUISME
  5. SEBELUM SATU
  6. SENJATA
  7. s a t y a z i n e

1

satya zine

cuman kumpulan tulisan saya, gak ada deskripsi apapun tentang zine ini. kalau mau baca ya monggoh, kalau ga ya bangsat ehehe

KAU BENAR BU

Kau benar bu, pengkhianatan selalu ada;dalam orang tersuci dan terdekat sekalipun. Aku percaya itu.

Dan aku tersesat pada air mata dan ujung puisi malam itu; malam dimana pengkhianatan terdahsyat terjadi. Angan dan harap baik ku kerap kali menghancurkan hari hari ku bu. Dan aku kembali terjebak pada air mata yang terbendung dalam ujung nada syair mu yang ku rekam; agar aku dapat merasakan peluk mu tiap waktu.

Masa masa yang mungkin kelak bermetamorfosis menjadi satu sayap kupu kupu yang mengeras ini, aku menyebut nama mu pada tiap sudut gang yang membawa ku buntu bu. Khidmat nya doa yang kau lantunkan pada ku itu berngiang di otak ku tiap saat bu. Tapi bu, maaf ku tak pernah berhenti meski nanti badai sandy datang kembali dan menutupi langit yang indah nya karena rindu mu. Maaf bu, kali ini aku tumbuh dan berjalan dengan mengkhianati. diri ku sendiri. Semua luka ku semakin meradang bu, tapi justru senyum yang aku lontarkan. Di depan mu mungkin aku kerap memantaskan dan membanggakan diri ku sendiri, tapi di belakang aku sangat sangat menghujat dan mencabik cabik diri sendiri bu.

Semua luka ku semakin meradang bu, tapi justru senyum yang aku lontarkan. Di depan mu mungkin aku kerap memantaskan dan membanggakan diri ku sendiri, tapi di belakang aku sangat sangat menghujat dan mencabik cabik diri sendiri bu.

Aku menusuk diri ku sendiri sana sini bu

Aku sengaja berhenti mencari terang lalu bercinta dengan gelap

Tanpa sengaja aku mengkhianati puisi puisi dan doa mu bu

Dan dengan kehilangan diri sendiri aku mengkhianati diri ku sendiri bu

Kau benar bu, pengkhianatan selalu ada. Dan lihat lah bu, kini anak mu mengkhianati diri sendiri.

PERPISAHAN BIRU

Kita mungkin hanya menyiasati guna apa burung burung itu terbang melingkar tepat diatas kepala kita. Berspekulasi tentang masa depan dan kematian. Sore semakin menjadi, sepertinya hujan ingin tiba;gemuruh petir terdengar dari kejauhan. Kita mungkin hanya memohon agar tuhan mengizinkan salah satu dari kita mendahului.

Sebelumnya itu,kita sama sama paham bahwa semesta diciptakan dari gumpalan kasih sayang. Sampai akhirnya ketamakan untuk memiliki dan mati membabi buta, melebur hingga akhirnya tercipta arogansi pada diri kita masing masing. Tentu ada penolakan dalam diri kita, tapi bagaimanapun larva gunung berapi dapat mendidihkan luasnya samudra. Nanti nya di penghujung hayat kasih kita, semua terasa menyedihkan. Perpisahan kita laksanakan dibawah pohon cemara yang hampir tumbang; tidak lagi terdengar kicauan burung atau gemuruh petir. Semua terlalu biru, hanya ada isak tangis dan suara bibir saling kecup;kita terlalu khusyu untuk sebuah cium akhir. Diam diam suara khas serangga malam meriuh bersama tenggelam nya percakapan kita. Salah satu dari kita sudah mendahului.

Musim selanjutnya salah satu dari kita hanya berteman dengan sepi. Mendatangi pohon cemara yang sudah sepenuh nya tumbang. Tanpa disangka, air mata yang dulu kini menumbuhkan bibit bibit baru. Meski semua terasa biru, salah satu dari kita harus tetap memenuhi cangkir abu abu dengan teh kamomil dan merayakan realita. Kita terdiri dari pelukan hangat Air mata yang deras Dan tentu cinta yang tak ikut pergi meski musim silih berganti Semua abadi dan melekat Meski maut adalah kenyataan.

MEGAPHONE

Kamu tidur

Lalu bangun dengan penuh ambisi

Seakan dunia mu adalah daratan yang dengan mudah

nya kamu genggam

Tersadar lah kamu

Melompat lalu berharap dapat melarikan diri dari

daratan yang sekarang diselimuti ketakutan

Merengek

Menjerit

Bangun dari tahta yang kian ronta

Tertarik kembali, terus menerus

Harap nya kian menyusut

Sesederhana bunyi lonceng rumah

Cukup genggam diri sendiri saja

Bakar ambisi mu

Bakar hal buruk

Bakar keresahan akan mimpi mimpi

Semangat mu akan pulih dengan baik

ALTRUISME

Pada akhirnya sama

Aku ingin duka bermuara pada ujung mata ku, lalu mengalirkan nya pada suara tangis di ujung

pelabuhan

Bertahun tahun aku habiskan menjadi manusia yang hipokrit

Enggan menunjukukan kristal dari kedua mata

Senyum ramah mungkin terpancar

“altruisme” menyedihkan

Aku kehilangan arah

Sungguh tak punya arah

Meski udara menimang hujan

Meski tanah mendamba gugur nya daun daun

Aku tak berkaca sekalipun

SEBELUM SATU

Pagi hari siapa yang menyiapkan sarapan? Kini kita sama sama sedang berkelana Aku menuju jalan yang tak ku tau ujung nya;berharap menemukan diksi diksi indah pada ujung bibir mu Sementara kau menjauh, mungkin kau sedang memeriksa tempat untuk eksekusi mati kita berdua nanti nya

Pagi hari lilin masih saja nyala Tiba tiba dan entah karena apa, kita berdua berjumpa diantara persimpangan Lalu kau berkata “mari sarapan, aku akan membuatkan mu beberapa helai roti dan susu segar yang ku peras dari payudara ku langsung” Kedua mata tak bisa terlihat Sudah terlanjur tertutup nafsu

Lagi lagi pagi tiba Petualangan berjeda Tapi tidak dengan tubuh kita, berserakan bak puisi diatas meja Saling mendesah tanpa patah Kita saling liar beradu bibir Sajak antara kita lepas dan mengudara Dan kita telah abadi dalam berkasih

SENJATA

Pada ucapan termanis malam itu, aku sibuk memasak benci di halaman belakang rumah ibu. Sementara banyak anak kecil berlarian dengan riang yang terlalu. Entah sekarang pukul berapa, aku sudah tak tau waktu dan benci semakin matang.

Meniupkan nafas di telinga mu yang piawai brengseknya menerima suara dusta. Pelukan berserakan diatas meja kerja:terabaikan dan melebur menjadi puisi malam. Rasa terimakasih tak lagi terlihat, karena kebencian ku tumbuh liar beriringan dengan putus asa.

Tiga pagi, tikus tikus menjilati jemari nya atas sisa sisa makanan yang diperoleh nya dari tumpukan sampah. Tetangga sudah lelap tenggelam diiringi dengkuran yang memuakan. Aku kini mengemasi kebencian ku, agar esok pagi aku bisa lebih cepat pergi.

Sesekali aku ingin mengecup lembut bibir ku sendiri,mendesah,lalu meliuk liukan badan seolah olah mencapai klimaks. Aku ingin selalu memberikan penghargaan untuk diri ku sendiri atas perjalanan yang terus berlanjut namun mati.

r a m p u n g

nanti lanjut ke 2,3,4 kalau ga lupa

s a t y a z i n e