Nadi Vol. 12 Juni 2018
MEDIA KOMUNIKASI LPMP JAWA BARAT
Pendidikan karakter
Bagi Siswa
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
Daftar isi
Info Utama
1 Pendidikan Karakter Bagi Siswa 6 Bangga Seutuhnya
Info Umum
10"Quo Vadis" Pemilih Muda pada PILKADA tahun 2018
Profil Sekolah
14 Sadar Mutu DI SMAN 4 CIMAHI
Info Pendidikan
18 Integrasi Kurikulum 2013
22 Mengolah Sarana dan Prasarana Sekolah
Pernik
29 Sora Cihcir Tengah Peuting
39 Kang Nadi
Liputan Kegiatan
34 Rapat Bimbingan Teknis Kurikulum 2013
Nadi Vol. 12 Juni 2018
MEDIA KOMUNIKASI LPMP JAWA BARAT
Teras NADI
NADI kali ini menampilkan terkait dengan Penguatan Pendidikan Karakter. Sedangkan pada Profil Sekolah terdapat artikel tentang SMAN 4 Cimahi yang merupakan salah satu Sekolah model Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Sementara pernik menyajikan cerpen sunda dengan judul "Sora Cihcir Tengah Peuting". Diterbitkan Oleh : Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Barat Susunan Redaksi NADI 2018
Penanggung Jawab Umum Ibno Subandi R Penanggung Jawab Konten Yanti Triana Redaktur Andang Munandar Redaktur Pelaksana Mutia Pusparini Dani Purnama Asep Zuhara A Ading Mulyadi Penyunting/ Editor Yusi Irwianie G Fitria Badrujalil Neni Rohaeni Mulyanti Lestari Wiwin Widaningsih Lia Nurliani Design/Layout Iman Budiman S Dadang Permana
dalam pembelajaran laboratorium
NADI
Pendidikan Karakter
Bagi Siswa
UI
Karakter berasal dari bahasa latin kharakter, dalam bahasa Inggris disebut character, yang berarti membuat tajam, membuat dalam, mengukir sehingga terbentuk suatu pola (Megawangi, 2004). Karakter diartikan sebagai sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Karakter dalam bahasa Arab mengandung makna akhlak, yang berasal dari kata khuluk, yaitu tabiat atau kebiasaan melakukan hal baik.
NADI Vol. 12 Juni 2018
INFO UTAMA
Karakter manusia menurut Brooks & Goble, (Megawangi, 1997) dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor nature (alami atau fitrah) dan faktor nurture (melalui sosialisasi dan pendidikan). Fitrah adalah sifat potensial manusia yang belum tampak ketika anak baru lahir. seperti hadis kudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Sesungguhnya aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus, suci, dan bersih. Kemudian datanglah setan-setan yang menggelincir mereka dan menyesatkannya dari kebenaran agama mereka. Dan setan-setan pun telah mengharamkan apa-apa yang telah aku halalkan.
Dari kutipan di atas maka dapat dikatakan bahwa fitrah manusia cenderung kepada kebaikan, tetapi mengatakan adanya pengaruh lingkungan yang dapat mengganggu proses tumbuhnya fitrah. Hal ini memberi isyarat bahwa faktor lingkungan, budaya, pendidikan dan nilai-nilai turut memberi arahan terhadap perkembangan karakter anak. Sebenarnya sifat-sifat buruk yang timbul dari diri anak bukan lahir dari fitrah mereka. Sifat-sifat tersebut timbul karena kurangnya peringatan sejak dini dari orang tua dan para pendidik. Semakin dewasa usia anak, semakin sulit pula baginya untuk meninggalkan sifat-sifat buruknya, Karena sifat-sifat buruk itu sudah kuat mengakar dalam dirinya, dan menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan. Karakter yang baik,, tidak sera merta diperoleh NADI Vol. 12 Juni 2018
secara otomatis oleh setiap individu begitu ia lahir, tetapi memerlukan proses yang panjang melalui upaya pengasuhan dan pendidikan. Sehingga dalam hal ini, pendidikan merupakan upaya dan karakter merupakan tujuannya. Pengertian karakter menurut Puskur (2010:3), Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap dan bertindak. Pengembangan karakter dilakukan melalui pengembangan karakter individu, dalam suatu proses pendidikan. Pada upaya sosialisasi dan pendidikan dalam membentuk karakter anak, fitrah kebaikan dipelihara secara terus- menerus dan berkelanjutan sehingga tumbuh manusia berakhlak mulia.
Pendidikan Karakter
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat, bangsa dan negara. UU No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas.
Din Wahyudin (2010:121), untuk mencapai
tujuan pendidikan tersebut penyelenggaraan pendidikan tidak semata-mata mentransfer ilmu dan pengetahuan serta teknologi kepada peserta didik. Lebih dari itu, pendidikan harus mampu membangun bangsa yang beradab, bermoral dan berakhlak mulia, yang tidak hanya diukur dari segi intelegensia akademik semata, tapi juga diperlukan kecerdasan spiritual dan emosional. Dikutip dari Ki Hajar Dewantoro, “...pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita..." Hal ini sejalan dengan Mahatma Gandhi (biografi) jika pembinaan akal dan tubuh tidak dilakukan seiring dengan membangkitkan jiwa, maka pengimbangan akal dan tubuh akan terbukti menjadi berat sebelah. Maka pengembangan akal budi yang tepat
NADI
dan menyeluruh hanya dapat dilaksanakan bila hal itu berlangsung seiring dengan pendidikan anggota-anggota tubuh dan jiwa anak.
Policy Brief/ Edisi 4 (2011:8), pendidikan karakter adalah upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Lickona bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan yang melibatkan aspek pengetahuan, perasaan dan tindakan (moral knowing, moral feeling and moral action). Tanpa ketiga aspek tersebut menurut Lickona pendidikan karakter tidak akan berjalan efektif. Pelaksanaan pendidikan karakter harus dilakukan secara sistematis dan terus menerus.
NADI Vol. 12 Juni 2018
INFO UTAMA
Moral action Moral Feeling merupakan aspek yang adalah bagaimana moral harus ditanamkan kepada knowing dapat siswa sebagai sumber diwujudkan menjadi energi dari diri sendiri tindakan nyata. untuk bertindak sesuai Perwujudan tindakan dengan prinsip-prinsip moral ini merupakan hasil moral. Terdapat enam hal (outcome) dari moral yang merupakan aspek
Moral knowing merupakan aspek yang penting untuk diajarkan kepada siswa meliputi: kesadaran moral (moral awareness), mengetahui nilai-nilai moral (knowing moral values), sudut
| emosi yang harus dapat | knowing dan moral | |
|---|---|---|
| taking), pertimbangan | dirasakan oleh seseorang untuk menjadi manusia | feeling tersebut. Untuk |
| moral (moral reasoning), | berkarakter, yaitu | dapat memahami apa |
pandang (perspective
conscience (nurani), self esteem (percaya diri), empathy (merasakan penderitaan orang lain), loving the good (mencintai kebenaran), self control (mampu mengontrol diri) dan humility (kerendahan hati).
yang mendorong individu berbuat baik (act morality) maka harus dilihat dari tiga aspek karakter, yaitu kompetensi (competence), keinginan (will) dan kebiasaan (habbit).
pengambilan keputusan (decision making) dan pengetahuan diri (self knowledge), enam jenis pengetahuan moral tersebut sebagai tujuan dari pendidikan karakter.
NADI Vol. 12 Juni 2018
Pendidikan karakter hendaknya menjadikan siswa terbiasa berperilaku baik, sehingga menjadi pembiasaan, dan dia akan merasa bersalah jika tidak melakukan hal yang baik. Dengan demikian kebiasaan baik yang sudah menjadi naluri, otomatis akan membuat siswa merasa senang melakukan hal yang baik dan akan merasa bersalah bila tidak melakukan kebiasaan baik tersebut.
Penerapan pendidikan karakter di sekolah menuntut kesiapan para guru untuk menyiapkan diri dalam proses pendidikan sepanjang hidup, dan kesiapan menghadapi perubahan paradigma pendidikan dari pengajaran tradisional (traditional learning) menuju pengajaran baru (new learning) seperti; perubahan fokus pendidikan dari guru kepada murid, monolog jadi dialog, singel media jadi multimedia, kerja individu menjadi kerja kelompok, perolehan pengetahuan tidak hanya dari pengajaran tetapi lebih pada pengalaman, dan perubahan pendekatan terhadap murid dari tekanan (tuntutan) menjadi dorongan (motivasi). Pendidikan karakter harus masuk dalam setiap aspek kegiatan belajar-mengajar di ruang kelas, praktek keseharian di sekolah, dan terintegrasi dalam setiap kegiatan ekstrakulikuler seperti pramuka, pecinta alam, olah raga, palang merah, dan karya tulis ilmiah dll.
(Dewi Wulansari, LPMP Jawab Barat)
NADI Vol. 12 Juni 2018 5
INFO UTAMA
BANGGA SEUTUHNYA
Berkarakter bukan sebuah pilihan yang harus dipilih oleh kita sebagai seorang manusia. Berkarakter merupakan keharusan yang dimiliki setiap manusia yang menjalani kehidupan sekarang maupun di masa depan. Untuk itu penanaman sikap berkarakter sangat perlu di usia dini. Dengan arti kata usia dini tidak sekedar usia anak-anak sebelum memasuki usia sekolah tetapi usia dini di sini, dikategorikan usia aktif anak-anak sekolah.
Sekolah merupakan wadah bagi orang tua untuk membentuk karakter anaknya, oleh karena itu semua komponen dalam sekolah berperan aktif dan bertanggung jawab dalam pembentukkan karakter anak yang dititipkan oleh orang tuanya kesekolah tersebut.
NADI Vol. 12 Juni 2018
Penanaman nilai karakter juga ditekankan dalam pelaksanaan Kurikulum 2013, semua jenjang mulai dari sekolah dasar sampai pada sekolah menengah. Penanaman karakter bukan hanya sekedar berupa nilai-nilai utama yang terintegrasi kedalam dokumen dalam bentuk Rencana Pelasanaan Pembelajaran (RPP) tetapi juga diimplementasi dalam kegiatan pembelajaran dan kegiatan sehari-hari disekolah.
Kita semua mengetahui unsur utama karakter seperti Religiolitas, Nasionalisme, Mandiri, Gotong Royong dan Integritas. Tetapi untuk bisa menanamkan 5 unsur utama dengan sub-sub nilai karakter yang lain memerlukan sebuah cara yang mudah untuk diterima oleh siswa.
Menanamkan dan menumbuhkan dengan contoh Jangan pernah memaksakan sesuatu kepada siswa, berilah kenyamanan kepada siswa dalam menerima ilmu, seperti itu juga halnya menanamkan nilai karakter. Jangan paksakan mereka harus melakukan A, melakukan B dan lainnya. Tetapi berilah sebuah contoh kepada mereka bagaimana harus bersikap dengan baik. Karakter tidak diajarkan dengan kata-kata, tetapi diajarkan dengan sikap berkarakter juga. Berikanlah contoh-contoh karakter yang ingin ditanamkan kepada siswa. Mengajarkan disiplin waktu, maka datanglah tepat waktu kesekolah atau tepat waktu masuk kelas untuk mengajar.
Menanamkan dan menumbuhkan dengan sabar Siswa itu memiliki karakteristik yang sangat beragam, tidak semua siswa yang memiliki kemampuan yang diatas rata-rata. Tidak semua siswa yang memiliki sikap ceria, tidak semua siswa yang memiliki sikap yang cepat menerima saran dari guru. Mereka memiliki ciri khas masing-masing, pertumbuhan dan perkembangan karakter mereka sesuai dengan latar belakang tempat mereka besar. Jadi bersabarlah ketika menanamkan dan menumbuhkan nilai-nilai karakater kepada siswa. Karakter tidak terbentuk semudah membalik telapak tangan, tetapi membutuhkan proses.
Ajarkanlah berlahan-lahan, bertahap dan berulang. Jangan mudah putus asa ketika bertemu dengan siswa yang sulit untuk diberikan masukkan, jangan menyerah dengan siswa yang tidak mau patuh dengan peraturan yang telah buat. Tetapi bersabarlah dengan mereka, berilah pemahaman berlahan-lahan, banyak hal yang menyebabkan mereka melakukan sesuatu diluar kewajaran.
Maka bersabarlah dengan mereka, tidak boleh ada kata sudah saya berhenti membimbing siswa ini, tidak akan bisa berubah atau saya lelah dengan sikap siswa ini Jangan pernah seperti itu, jangan putus asa dan berhenti, bersabarlah dengan mereka.
NADI Vol. 12 Juni 2018
INFO UTAMA
Menanamkan dan menumbuhkan dengan memaafkan Memaafkan dalam menanamkan dan menumbuhkan nilai karakter diperlukan oleh kita, karena dengan memaafkan sikap-sikap siswa yang membuat kesalahan akan semakin memudahkan kita untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada siswa. Pahami siswa kita,
pandanglah sikap mereka sebagi sebuah
bentuk pencarian jati diri, temani mereka, ajak mereka berbicara dan lupakan kesalahan
mereka. Apapun yang diperbuat oleh siswa kita
maafkan, jangan sampai apa yang mereka lakukan menjadi semakin memperburuk kondisi sikap mereka. Semakin menghukum mereka maka semakin timbul ketidak nyaman dalam diri mereka. Memang apa yang dilakukan oleh mereka sudah sulit diterima oleh akal sehat kita, tetapi jangan jadikan itu sebuah alasan untuk semakin menghukum mereka. Maafkanlah mereka dan tanamkanlah nilai-nilai karakter ke diri mereka untuk menganti sikap-
sikap yang tidak baik tadi Banyak cara lain yang bisa kita lakukan untuk
menanamkan dan menumbuhkan nilai-nilai
karakter kepada siswa. Tiga cara di atas
merupakan salah satu cara yang bisa kita pilih untuk menanamkan dan menumbuhkannya. Tiga cara tersebut merupakan hal yang biasa,
hal yang sudah sering kita dengar dan hal
sudah sering kita lakukan. Tetapi lihat lagi, apakah hal yang menurut kita biasanya ini sudah berhasil kita terapkan kepada semua siswa kita,
NADI Vol. 12 Juni 2018 8
apakah semua siswa kita sudah berkarakter dengan tiga cara tersebut? Ingat!! Membentuk
siswa yang memiliki nilai-nilai yang berkarakter tidak bisa diukur dengan persenan, tidak bisa dikur dengan jumlah siswa yang sudah mencapai karakter.
Tidak seperti itu mengukurnya. Menciptakan siswa yang berkarakter harus kepada semua siswa yang ada disekolah kita, jika dalam satu kelas memiliki 40 orang siswa, maka guru
yang masuk ke kelas tersebut harus berusaha
menanam nilai karakter kepada 40 orang siswa tersebut. Tidak ada kata, "dari 40 orang siswa di kelas B, 39 orang siswa sudah berkarakter dan 1 orang siswa belum berkarakter” setelah itu kita merasa terlepas dari kewajiban karena sudah melebihi batas
capaian yang kita buat. Itu salah, lalu
bagaimana dengan nasib siswa yang 1 orang ini?? Apakah dibiarkan saja?? Apakah menerimanya apa adanya?? Jadi jangan hitung ketika menanamkan dan menumbuhkan sikap yang berkarakter kepada siswa.
Lima unsur utama karakter itu hidup, tidak berupa benda mati,unsur-unsur ini berkembang seiring dengan pertumbuhan siswa kita. Lima unsur dan sub-sub nilai utama karakter itu hidup selama siswa kita berkembang dan berjuang untuk menuju kemasa depannya. Setiap saat mereka akan menemukan tantangan dalam bersikap.
Dimasa SD mereka sudah displin tetapi bisa saja ketika mereka melanjutkan kejenjang lebih tinggi mereka menemukan tantangan dalam mempertahankan kedisplinan tadi. Perubahan sosial menyebabkan mereka harus bisa mepertahankan sikap disiplinnya.
Karena itu 3 cara menanamkan dan menumbuhkan tadi mari kita terapkan dengan baik dalam diri kita. Tidak ada yang tidak mungkin, selama kita berusaha semuanya akan bisa kita wujudkan. Mari kita manfaatkan Kurikulum 2013 sebagai salah satu wadah dalam menanamkam menumbuhkan karakter siswa kita. Banyak cara yang telah diajarkan kepada kita di kurikulum 2013 untuk menanam nilai karakter ke siswa. Seperti teringrasinya nilai karakter di dalam RPP, dalam kegiatan pembelajaran dan dalam penilaian.
Memiliki siswa yang berkarakter religious, nasionalisme, mandiri, gotong royong dan integritas akan menjadikan suatu kebangaan bagi kita semua, mereka akan menjadi contoh dimasyarakat. Tidak akan ada lagi siswa yang tidak menghargai guru,siswa yang memiliki nilai-nilai karakter akan menghormati guru yang telah mendidiknya menjadi seseorang sukses. Menghormati orang tua yang telah membesarkannya, menghargai masyarakat yang telah menerimanya untuk berkembang.Memiliki siswa yang seimbang antara sikap, pengetahuan dan keterampilan karena kita,
merupakan satu kebanggan utuh bagi kita. Kita tidak hanya bangga karena siswa kita pintar dalam mencapai prestasi di pengetahuan dan keteranpilan,tetapi kita juga akan bangga ketika siswa kita memiliki nilai-nilai karakter dalam pengetahuan dan keterampilannya tersebut. Jadi marilah kita menjadi seorang pendidik yang memiliki keutuhan dalam kebanggan dengan kesuksesan siswa yang kita didik. Bagi saya BANGGA SEUTUHNYA merupakan mimpi besar yang ingin saya capai. Walaupun saya bukan seorang guru yang langsung bertemu dengan seorang siswa, tetapi melalui profesi saya sebagai seorang widyaiswara yang hanya bertemu langsung dengan guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah, akan menjadi sebuah pintu besar untuk mewujudkan KEBANGAAN SEUTUHNYA.
(Reisky Bestary, M.Pd,
LPMP Riau)
NADI Vol. 12 Juni 2018
Jadi gurų itų tidak usah
punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting, niat. menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak akan jadi pintar atau tidak, serahkan kepada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah
( KH. Maimun Zubair)
INFO UMUM
"Quo Vadis" Pemilih Muda pada PILKADA tahun 2018
SEMANGAT PEMILIH MUDA DI
PILKADA
Saat ini masyarakat Indonesia hampir di seluruh propinsi sedang melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah, dan ini merupakan moment yang sangat menentukan untuk keberlangsungan kepemimpinan bangsa Indonesia lima tahun kedepan. Dari kegiatan ini masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan mempunyai hak pilih sebagai warga Negara Indonesia, termasuk di dalamnya para pemilih muda yang berusia 17 tahun.
Sebagai Contoh pemilih muda di Jawa Barat (Jabar) dinilai sangat menentukan pemenangan dalam pilkada. alasannya, adalah jumlah pemilih muda di daerah cukup tinggi dan umumnya para pemilih muda ini belum punya preferensi dalam pemilu sebelumnya, mereka dianggap belum punya ikatan kuat dengan partai tertentu.
Dengan kondisi tersebut mau dibawa kemana para pemilih muda ini dalam menuangkan aspirasi politiknya?, tentunya kita sebagai orang tua menginginkan anak- anak yang berusia remaja yang berusia 17 tahun mengharapkan dapat melakukan aspirasi politiknya secara positif sesuai dengan aspirasinya, dengan pemikiran matang serta evaluasi kinerja bakal calon pemimpin kepala daerah secara cerdas, kritis, rasional dan komprehensif. NADI Vol. 12 Juni 2018
Pemilihan bakal calon kandidat tidak dipilih dengan asal pilih atau ikut-ikutan satu kelompok tertentu, atau bahkan melakukan pilihan dengan golput. Karena sikap golput tidak menunjukkan partisipasi aktif dalam menuangkan aspirasi politik bagi keberlangsungan pemerintahan negara Indonesia.
Pendidikan politik bagi para pemilih muda perlu terus dikembangkan sebagai bagian dalam memperkuat konsolidasi demokrasi Indonesia dan diharapkan pendidikan politik dapat meningkatan kesadaran politik masyarakat terutama bagi pemilih muda khususnya untuk berperan aktif dalam menyukseskan penyelenggaraan pemilu serentak. sesuai dengan peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 36 Tahun 2010 tentang pendidikan politik.
Berkenaan dengan pendidikan politik bagi pemilih pemula yang umumnya berstatus pelajar/mahasiswa sebagai bagian masyarakat pemilih pemula dalam Pilkada diharapkan dapat dijadikan proses pembelajaran untuk memahami kehidupan bernegara karena hal ini berkaitan erat dengan pembelajaran, atau pengetahuan yang diperoleh saat duduk dibangku sekolah, pengetahuan para siswa tentang fungsi dan manfaat dari partisipasi politik masih sangat rendah.
Pendidikan politik pada pemilih pemula perlu ditingkatkan sebagai kesadaran dalam berpolitik akan hak dan kewajiban sebagai warga negara, sehingga pemilih muda diharapkan ikut serta secara aktif dalam kehidupan kenegaraan dan pembangunan.
Untuk dapat memaksimalkan kesadaran pemilih pemula dalam berpartisipasi pada pemilihan umum, perlu adanya sosialisasi politik,
à
NADI
Orang tua yang mempunyai anggota keluarga pemilih pemula, diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada anak mereka akan arti pentingnya memberikan hak suara mereka, tanpa intervensi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan dalam menentukan pilihan dan perlunya pendidikan politik yang simultan baik yang diselenggarakan oleh pemerintah dalam bentuk pengintegrasian kurikulum disekolah-sekolah.
Orang tua dan guru diharapkan dapat memberikan kesadaran pada pemilih pemula untuk memberikan hak suaranya dengan benar. Semoga arah tujuan pemilih pemula semakin bijaksana dalam menentukan aspirasi politik nya untuk menentukan pilihan pemimpin bangsa 5 tahun kedepan demi kemajuan bangsa Indonesia seutuhnya.
(Asep Zuhara Argawinata, LPMP Jawa Barat)
t NADI Vol. 12 Juni 2018
Indonesia Tak Tersusun Dari
Batas Peta, Tapi Gerak Dan
Peran Besar Kaum Muda
(Najwa Shihab)
PROFIL SEKOLAH
SADAR MUTU DI SMAN 4 CIMAHI
DATANG
SELAMAT
DISEKO
SMAN 4
Pada Permendikbud N0 28 Tahun 2016 pasal 1 ayat 4 menyatakan bahwa “ Sistem Penjaminan Mutu Internal Pendidikan Dasar dan Menengah, yang selanjutnya disingkat SPMI-Dikdasmen adalah suatu kesatuan unsur yang terdiri atas kebijakan dan proses yang terkait untuk melakukan penjaminan mutu pendidikan yang dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dasar dan satuan pendidikan menengah untuk menjamin terwujudnya pendidikan bermutu yang memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan."
Sejak tahun 2016 pemerintah telah menggulirkan Sistem Penjaminan Mutu Intermal (SPMI) di seluruh provinsi. SPMI adalah salah satu bentuk pelaksanaan penjaminan mutu satuan
NADI Vol. 12 Juni 2018
Pada Permendikbud N0 28 Tahun 2016 pasal 1 ayat 4 menyatakan bahwa “ Sistem Penjaminan Mutu Internal Pendidikan Dasar dan Menengah, yang selanjutnya disingkat SPMI-Dikdasmen adalah suatu kesatuan unsur yang terdiri atas kebijakan dan proses yang terkait untuk melakukan penjaminan mutu pendidikan yang dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dasar dan satuan pendidikan menengah untuk menjamin terwujudnya pendidikan bermutu yang memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan."
Sejak tahun 2016 pemerintah telah menggulirkan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di seluruh provinsi. SPMl adalah salah satu bentuk pelaksanaan penjaminan mutu satuan
SPMI yang bertujuan meningkatkan mutu pendidikan tentu saja tidak akan lepas dari perkembangan kurikulum yang berlaku saat ini yaitu kurikulum 2013.
Idris Apandi mengatakan dalam tulisannya bahwa proses Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) erat kaitannya dengan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Karena dalam pelaksnaan SPMI ada nilai-nilai yang ditanamkan di dalamnya. Nilai-nilai tersebut antara lain: (1) sadar budaya mutu, (2) kolaborasi dan sinergi,(3) berjiwa pembelajar,(4) kerja keras,(5) komunikasi efektif, dan (6) berjiwa reflektif.
SMA Negeri 4 sebagai sekolah model dalam melaksanakan pemenuhan mutu sekolah yang berkaitan dengan PPK dilaksanakan berdasarkan siklus SPMI. Agar nilai-nilai PPK dapat tercapai secara optimal maka harus dirancang suatu kegiatan yang bersifat pembiasaan bagi seluruh warga sekolah terutama peserta didik, dilaksanakan melalui Rapat kerja (Raker).
Nilai PPK yang dikembangkan di SMA Negeri 4 Cimahi yaitu nilai sadar mutu. Adapun cara mengembangkan Pembiasaan nilai-nilai PPK di SMA Negeri 4 dirancang melalui tahap-tahap siklus SPMI sebagai berikut:
Kesatu melaksanakan pemetaan mutu dan menentukan skala prioritas. Berdasarkan nilai PPK yang pertama bahwa sekolah harus sadar terhadap mutu yang dimiliki oleh sekolah maka SMA Negeri 4 Cimahi sebagai sekolah sehat ke tiga tingkat nasional dan sekolah berbudaya lingkungan maka semua kegiatan yang harus memperhatikan hal tersebut. Sehingga pembiasaan warga sekolah yang menjadi prioritas adalah tentang kebersihan dan peduli lingkungan.
Kedua perencanaan, pada siklus ke dua ini Tim Penjamin Mutu Sekolah (TPMPS) membuat dan penyusunan Standar Oprating Proses (SOP) seluruh warga sekolah tentang kebersihan. Dengan maksud agar kegiatan ini dapat dilaksanakan oleh siapa saja. Selain SOP pada siklus ini juga disusun instrumen monitoring dan evaluasi (Monev), pembentukan tim Monev, time line kegiatan dan penanggung jawab kegiatan.
Rapat Kerja (Dokumen SMAN 4 Cimahi Tahun 2018)
NADI Vol. 12 Juni 2018
PROFIL SEKOLAH
Ketiga pelaksanaan, sesuai SOP yang sudah disusun maka setiap warga sekolah melaksanakan tugasnya berdasarkan waktu time lain yang sudah ditentukan.
Keempat Monitoring dan Evaluasi (Monev), dengan menggunakan instrumen Monev berbentuk ceklis yang sudah disusun semua kegiatan dimonev oleh tim monev yang sudah mendapat tugas dan Surat Keputusan (SK).
Kelima strategi pemenuhan mutu, berdasarkan hasil evaluasi monev yaitu bahwa pelaksanaan pembiasaan kebersihan sudah baik, maka TPMPS penentukan strategi pemenuhan mutu yang baru yaitu kegiatan literasi. Hasil monev pelaksanaan pemenuhan mutu berupa kegiatan pembiasaan kebersihan di SMA Negeri 4 Cimahi di evaluasi diakhir kegiatan untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan atau penyusunan tindak lanjut pascamonev., dan menentukan strategi pemenuhan mutu.
Manfaat yang diperoleh dari pembiasaan nilai PPK sadar mutu yaitu :
- Lingkungan sekolah bersih
- Peserta didik lebih kreatif dan inovatif
- Juara 1 ekspose SPMI se provinsi Jawa Barat
- Menjadi perwakilan kota Cimahi dalam 'Gebyar Pesona Budaya Garut'
- Menjadi tempat study banding dari DPRD Provinsi Banten.
- Mengembalikan kejayaan sebagai sekolah adiwiyata mandiri.
(LILIS ENDANG SUNARSIH, SMA
NEGERI 4 CIMAHI)
NADI Vol. 12 Juni 2018
"Intelligence plus character that is
true goal of education."
(Martin Luther King Jr.)
HC
"Education is the most powerful
weapon which you can
use to change the world."
(Nelson Mandela)
INFO PENDIDIKAN
INTEGRASI KURIKULUM 2013
DALAM PEMBELAJARAN LABORATORIUM
Integrasi PPK, Literasi dan Penilaian pada Kurikulum 2013 (Integrasi Kurikulum 2013) dilakukan untuk mengkaitkan sejumlah konsep yang dimiliki peserta didik pada pembelajaran. Sehingga konsep PPK, Literasi dan Penilaian terpadu dalam kesatuan utuh dan mudah diimplementasikan dalam kehidupan sehari hari.
Integrasi Kurikulum 2013 mudah dilakukan dengan menggunakan alat bantu tool atau equipment sesuai dengan KI dan KD pembelajaran tersebut. Pembelajaran bidang studi sains (kimia, fisika dan biologi) lebih mudah menggunakan tool atau equipment seperti KIT atau peralatan laboratorium (Bazley et al. 2018). Pembelajaran laboratorium mampu mengintegrasikan Kurikulum 2013.Kelebihan pembelajaran laboratorium dapat mengkaitkan konsep-konsep sains melebihi apa yang dipersyaratan pada KI dan KD, lebih dari itu kekuatan pembelajaran laboratorium mampu memperkuat struktur keilmuan peserta didik pada materi yang dipelajari sehingga pembelajaran lebih bermakna (Aydin, 2016). Integrasi PPK, Literasi dan Penilaian dalam Kurikulum 2013 pada Reaksi Fermentasi Tape Integrasi Kurikulum 2013 pada bidang studi sains seperti bidang studi kimia mudah dilakukan menggunakan metode laboratorium atau demontrasi. Salah satu konsep kimia yang mendekati integrasi kurukulum yang mengkaitkan PPK (Pilpres, 2017), literasi dan penilaian adalah proses fermentasi pada tape, menggunakan bahan dasar beras ketan dan ragi.
Proses pembuatan fermentasi tape dari beras ketan dan ragi melalui proses sebagai berikut:
Cuci beras ketan, tunggu beras ketan kering dan panaskan air hingga mendidih, Setelah mendidih, masukkan beras ketan lalu kukus hingga matang, Setelah matang angkat beras ketan masukkan ke dalam wajan dan taburi ragi yang telah dihaluskan dengan mengunakan saringan. Wajan dilapisi dengan daun pisang. Beras ketan yang sudah diberi ragi ditutup kembali dengan daun pisang. Beras ketan ini harus benar-benar tertutup supaya mendapatkan hasil yang maksimal, Setelah ditutup dengan pisang, diamkan 1-2 hari hingga sudah terasa manis, saat itulah beras ketan menjadi tape Reaksi-reaksi dalam fermentasi beras ketan menjadi tape adalah glukosa(C6H12O6) yang merupakan gula paling sederhana.Melalui fermentasi ini akan menghasilkan etanol (2C2H5OH). NADI Vol. 12 Juni 2018
NADI
Reaksi fermentasi ini dilakukan oleh ragi dan digunakan pada produksi makan. Ada beberapa factor yang menyebabkan pembuatan tape ketan tidak berlangsung sempurna adalah peralatan yang kuran higienis, ragi yang sudah lama, pencucian yang tidak bersih, dan pentutupan ketan kurang rapat (Rios et al. 2017).
Integrasi Kurikulum 2013 dilakukan untuk meningkatkan nilai manfaat bagi peserta didik dalam menerima konsep secara terintegrasi sehingga lebih mudah dipahami. Masalahnya muncul, bagaimana mengintegrasikan PPK, Literasi dan Penilaian pada pembelajaran (Permendikbud,
2014) fermentasi tape. Pembelajaran fermentasi tape dimulai dari penjelasan umum konsep fermentasi. Reaksi fermentasi tape diperkenalkan kepada peserta didik, salah satu konsep essensial yang ditunjukkan kepada peserta didik adalah reaksi fermentasi tape dari beras ketan menghasilkan glukosa sehingga tape terasa manis, fermentasi selanjutnya menghasilkan alkohol sebagai reaksi tambahan. Pembelajaran fermentasi tape akan menghasilkan alkohol sehingga perlu dikaitkan dengan konsep lain untuk mengintegrasikan kurikulum. Salah satu konsep yang terkait PPK adalah bahwa dalam Al Hadist “minuman yang banyaknya memabukan, sedikitnyapun haram”. Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Umar, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Minuman yang dalam jumlah banyak memabukkan, maka sedikitpun juga haram". [HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Daruquthni, dan dia menshahihkannya). Integrasi Kurikulum pada pembelajaran fermentasi tape dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut, tahap pertama, konflik kognitif; Tahap kedua, mengkaitkan konsep; Tahap ketiga, literasi konsep(Permendikbud, 2013); Tahap keempat, mendiskusikan konsep; dan Tahap kelima, mempublikasikan konsep. Tahap konflik kognitif pada fermentasi tape ditunjukkan pada konflik kognitif pada konsep fermentasi tape yang menghasilkan alkohol dengan konsep PPK, bahwa dalam AI Hadist “minuman yang banyaknya memabukan, sedikitnyapun haram”. Tahap Mengkaitkan konsep, peserta didik mencoba mengkaitkan sejumlah konsep pada literasi, karakter dan penilaian. Ketiganya terintegrasi pada pembelajaran fermentasi tape yang ditunjukkan pada konsep fermetasi alkohol dengan konsep Al Hadist sebagai salah satu konsep PPK.
NADI Vol. 12 Juni 2018
INFO PENDIDIKAN
Tahap literasi konsep ditunjukkan pada elaborasi konsep oleh peserta didik dengan memberikan penjelasan rinci pada konflik kognitif dan mengkaitkan konsep dalam bentuk penjelasan rinci dalam bahasa tulisan satu atau dua halaman kertas polio bergaris.
Tahap Diskusi konsep, peserta mendiskusikan hasil literasi yang menunjukkan bahwa peserta didik telah membaca dan menuliskan kaitan dari sejumlah konsep. Tahap diskusi konsep dapat digunakan sebagai bahan penilaian (Permendikbud, 2016) kemampuan peserta didik dalam memahami keterkaitan konsep yang dipelajari.
Integrasi Kurikulum ditunjukkan peserta didik pada literasi membaca, menulis dan kaitan konsep dengan konsep lain. Sehingga diperoleh solusi dari konflik kognitif konsep fermentasi, alkohol dan nilai normatif. Proses ini dapat dijadikan salah satu penilaian untuk mengukur keberhasil pembelajaran.
Integrasi Kurikulum 2013 mudah dilakukan dengan menggunakan alat bantu “tool' atau “equipmenť' pada pembelajaran yang dilengkapi dengan penguasaan konsep yang prima, sehingga dihasilkan pembelajaran yang baik, bermakna dan mudah dipahami oleh peserta didik. (Mochamad Zen, LPMP Jawa Barat)
NADI Vol. 12 Juni 2018
"Education is the ability to listen to almost anything without losing your temper or your self-confidence." (Robert Frost)
NADI Vol. 12 Juni 2018
INFO PENDIDIKAN
Mengolah Sarana dan Prasarana Sekolah
Salah satu faktor yang menentukan mutu pendidikan di Indonesia adalah ketersedian
sarana dan prasarana yang menunjang proses pembelajaran. Untuk menciptakan lingkungan sekolah yang memadai, maka diperlukan pengembangan sarana dan prasarana yang memadai pula. Pengembangan tersebut diarahkan untuk menjamin penyelenggaraan pendidikan dan proses pembelajaran secara efektif dan efesien.
Perencanaan
Menurut Terry (2005: 54), perencanaan adalah menetapkan pekerjaan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang digariskan. Hal senada juga dikemukakan oleh Sudjana.N, (2002;45) bahwa perencanaan adalah proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. Selanjutnya, oleh Dwiantara dan Sumarto (2004: 55) dikemukakan bahwa perencanaan adalah merupakan kegiatan pemikiran, penelitian, perhitungan, dan perumusan tindakan-tindakan yang akan dilakukan di masa yang akan datang, baik berkaitan dengan kegiatan-kegiatan operasional dalam pengadaan, pengelolaan, penggunaan, pengorganisasian, maupun pengendalian sarana dan prasarana. Lebih lanjut Kaufman.A, yang dikutip oleh Fatah, (2000: 49) menjelaskan bahwa setiap perencanaan mencakup hal-hal sebagai berikut: perumusan tujuan yang akan dicapai; pemilihan program untuk mencapai tujuan; identifikasi dan pengerahan sumber-sumber yang jumlahnya selalu terbatas.
Untuk menentukan, model mana yang tepat dalam merencanakan pengembangan sarana dan prasarana pendidikan?. Dalam hal ini Depdikbud (1997:31) menyarankan agar memperhatikan sifat-sifat kondisi internal dan eksternal yang turut mempengaruhi harapan dimasa yang akan datang. Perencanaan itu harus didasarkan pada jangka waktu tertentu yang dijabarkan ke dalam jangka waktu pendek (kurang dari lima tahun), jangka menengah (5-10 tahun), dan jangka panjang (di atas 10 tahun). Ketika jangka waktu dan model sudah ditetapkan maka perencanaan harus mampu menetapkan personil pelaksana yang sesuai dengan keahlian.
NADI Vol. 12 Juni 2018
INFO PENDIDIKAN
Lebih lanjut Pidarta (1988: 34) membedakan antara konsep perencanaan secara tradisional dengan partisipatori yang dapat dijadikan panduan oleh pengembangan sarana dan prasarana dalam menyusun rencana program kerjanya. Kedua konsep perencanaan itu mengandung keunggulan dan kelemahan tertentu. seperti terlihat pada tabel dibawah ini:
Perencanaan Tradisonal Perencanaan Partisipatori
- Peranan perencanaan pendididkan 1. Perencanaan terintegrasi dalam dibawah arahan pengembangna proses pengambilan keputusan dalam ekonomi proses pengambilan menyeluruh.
- Penilaian kuantitif pada input-output 2. Penilaian pada program dan tujuan sebagai tenaga kerja sistem pendidikan
- Perencanaan tingkat nasional
- Perencanaan disentralisasi
Singkatnya, perencanaan patisipatori dapat diterapkan pada pengelolaan progam pengembangan sarana dan prasarana dengan beberapa pertimbangan bahwa tersedianya sarana, prasarana dan fasilitas fisik dalam jenis dan kualitas yang memadai, akan sangat mendukung berlangsungnya proses pendidikan yang efektif.
Ada proses perencanaan yang sedang trend pada saat ini yaitu 5 W, 1. H. Artinya perencanaan itu akan selalu menjawab pertanyaan apa, mengapa, siapa, dimana, kapan, dan bagaimana. Dalam proses perencanaan harus dilakukan dengan cermat dan teliti, baik berkaitan dengan karakteristik sarana dan prasarana yang dibutuhkan, jumlahnya, jenisnya, dan kendalanya, beserta harganya.
NADI Vol. 12 Juni 2018
NADI
1.Pengadaan
Pengadaan adalah pelaksanan kegiatan untuk mewujudkan rencana menjadi tindakan nyata dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditentukan secara efektif dan efisien. Pengadaan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menyediakan semua jenis sarana dan prasarana pendidikan persekolahan yang sesuai dengan kebutuhan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam konteks persekolahan, pengadaan merupakan segala kegiatan yang dilakukan dengan cara menyediakan semua keperluan barang atau jasa berdasarkan hasil perencanaan dengan maksud untuk menunjang kegiatan pembelajaran agar berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
2.Inventaris
Inventarisasi dapat diartikan sebagai pencatatan dan penyusunan barang-barang milik negara secara sistimatis,tertib, dan teratur berdasarkan ketentuan-ketentuan atau pedoman-pedoman yang berlaku.
3.Pengawas
Pengawasan atau evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui bahwa hasil pelaksanaan pekerjaan sedapat mungkin sesuai dengan rencana. Hal ini membandingkan antara kenyataan dengan standar yang telah ditentukan semula. Bila perlu mengadakan pembetulan atau perbaikan apabila ternyata dalam pelaksanaan terdapat adanya penyimpangan dari rencana.
Sementara itu menurut pendapat Murdick yang dikutip Fatah (2000 : 101) menyebutkan ada tiga proses dasar tahapan pengawasan, yaitu;
(1) menetapkan standar pelaksanaan.
(2) pengukuran pelaksanaan pekerjaan dibandingkan dengan standar
(3) menentukan kesenjangan (eviasi) antara pelaksanaan dengan standar dan rencana. Standar yang dimaksud mencakup kriteria yang terwujud dalam bentuk kuantitatif dan kualitatif, sedang ukuran umum itu menyangkut kriteria ongkos, waktu, kualitas, fisik, pendapatan, dan standar yang tak dapat diraba lainnya; Proses ini dilakukan dengan cara observasi personal, laporan secara lisan atau tertulis
NADI Vol. 12 Juni 2018
INFO PENDIDIKAN
. Langkah-langkah proses ini ditampilkan dalam tabel berikut :
Menetapkan Mengukur Apakah PrestasiAmbil
Standar Prestasi
MemenuhiTindakan
Untuk Mengukur
Kerja
Standar Korektif
Prestasi
Tidak Berbuat Apa-apa
Dapat dipastikan bahwa pengawasan merupakan kunci keberhasilan proses manajemen. Fungsi pengawasan ini merupakan jembatan antara perencanaan dan pelaksanaan, dan merupakan pengamanan, pemelihaaan, dan pengembangan.
Adapun teknik pengawasan bisa dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Yang
terpenting menurut Siagian S.P, (1985: 35) dalam pengawasan adalah:
(1) kejelasan rencana pengawasan;
(2) target waktu yang menentukan batas melaksanakan suatu tugas;
(3) dukungan dana;
(4) dukungan sarana dan pasarana;
(5) sifat dan bentuk penyelia dari atasan langsung;
(6) hasil mutu dari hasil pekerjaan;
(7) tingkat toleransi terhadap deviasi yang masih dapat diterima.
Pendekatan fungsi pengawasan adalah jaminan pencegahan yang diperlukan untuk meredam berbagai kemungkinan terjadinya perbedaan atau menyimpang dari tujuan (deviasi) yang dapat diambil sebagai tindakan penyelamatan sedini mungkin.
NADI Vol. 12 Juni 2018 26
NADI
4. Penghapusan
Penghapusan sarana dan prasarana pendidikan adalah kegiatan meniadakan barang-barang milik lembaga(bisa juga milik negara) dari daftar inventaris dengan cara berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. Sebagai salah satu aktivitas dalam manajemen sarana dan prasarana pendidikan, penghapusan bertujuan(1) mencegah dan membatasi kerugian yang lebih besar sebagai akibat pengeluaran dana untuk perbaikan perlengkapan yang rusak,(2) memcegah terjadinya pemborosan biaya pengamatan yang tidak berguna, (3) membebaskan lembaga dari tanggung jawab pemeliharaan dan pengamanan, (4) meringankan beban inventaris.
Kepala sekolah memiliki kewenangan untuk melakukan penghapusan terhadap perlengkapan
sekolah. Namun perlengkapan yang akan dihapus harus memenuhi persyaratan-persyaratan. Demikian pula prosedurnya harus mengikuti peraturan perundang-undangan. Seperti dijelaskan pada bagan berikut:
- Perencanaan -Analisi kebutuhan -Analisi anggaran -Seleksi -Keputusan 5. Penghapusan
2. Pengadaan
Manajemen Pengembangan
Perdistribusian
Sarana dan Prasarana -Pengalokasian
4. Inventaris
3. Pengawasan
Penggunaan dan Pemeliharaan
NADI Vol. 12 Juni 2018
INFO PENDIDIKAN
Kepala sekolah selaku pucuk pimpinan yang professional, berperan menjadi motivator dalam berbagai hal dilingkungan sekolah, terutama dalam pengembangan sarana dan
prasarana pendidikan. Dalam hal ini kepala sekolah harus berperan aktif untuk
mendapatkan dana dari luar pemerintah yang penggunaannya untuk mempercepat perkembangan sarana dan prasarana di sekolah yang dipimpinnya.
Dalam mengoptimalkan pengelolaan sarana prasarana di sekolah, Dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten perlu:
a. Meningkatkan alokasi anggaran untuk pengembangan sarana dan prasarana pendidikan agar lebih efektif dalam pembelajaran siswa.
b. Peningkatkan pengawasan terhadap manajemen pengembangan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah, agar lebih menunjang pembelajaran siswa, baik secara kwalitas maupun kwantitias.
c. Mengadakan pelatihan untuk para wakasek sarana dan prasarana, serta diberikan sertifikat untuk kewenangan pengembangan sarana dan prasarana pendidikan.
Implementasi manajemen pengembangan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah memerlukan peran komite sekolah yang dapat berperan aktif dalam merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, mengawasi terhadap pengembangan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah sehingga pelayanan sarana dan prasarana akan lebih
efektif dan lebih menunjang pembelajaran yang efektif di sekolahnya.
(Asep Suhendi Arifin, LPMP Jawa Barat)
NADI Vol. 12 Juni 2018
Teu wudu angkaribung rék nganjang téh, teu
Sora Cihcir
sirikna sakur kasedep kolotna mah dibawa.
Bubur lemu, Goréng pisang teu ditipungan,
Tengah Peuting
Burayot, Ranginang jeung kadaharan
séjénna. Teu saeutik-saeutik tina sarupa ogé da geus kasawang diimah kolotna bakal loba tamu, nu ngahaja hayang di wirid élmu ku Mama Nurdin kolotna.
“Kapaksa urang nikreuh wé Nyi, moal aya deui angkot, hanas teu beurang kénéh nya ? Ceuk Utén ka pamajikanana. Kituna téh bari ngarawu anakna rék digandong.
“Pira ogé tilu opat kilo, sigana ti Cikonéng ka Rancasalak mah,urang norobos ka Pabuburit deukeut ka magrib arindit ti imahna Liomadur nu bras ka Babakan, teras malibir téh. Angkeuhan rék ngilu naék angkot bareng mapay lembur Kang !” Ceuk Diah nepika gapura lembur jeung nu jadi dulurna, pamajikanana bari ngajingjing babawaan. supir angkot jurusan Ciparay-Rancakolé.malah Leungeun kéncana ngélék gulungan samak geus paheut janjian di péngkolan Garduh. Ngan leutik dieusi tilam ompol jeung anggel leutik kaburu sasadu,nga SMS tong jadi paragi budak da puguh Si Eulis mah masih nungguan,sabab ban mobilna bitu lebah kénéh ngabarabékeun.Leungeun katuhu Buntrak, bisi lila heug lasteu cenah. Teu dibales ngajingjing babawaan na kérésék.“Ulah da kaburu soak batré HPna ogé. Mun teu ras jalan ka sasak urang nakul wé, ngaraas ka ka pamajikanana nu geus popolah. Jeung dieu ngarah teu pati jauh ! Déét ieuh “ anakna nu ngaéh baé hayangeun ka Akina sigana kajeun teuing bolay. Tapi dipikir deui ku “Ah..batan kedah sésélékét kana gawir mah manéhna asa enya geus mangbulan-bulan bilih geubis tigurawil mending gé ka sasak henteu ngéndong di kolotna. Nya poé tadi,poé da teu tebih ieuh! Karunya ka budak jalan kemis. Ceuk pikirna poé panghadé-hadéna, kadinya mah, dicandak kukurubutan ka Lantaran peutingna malem jumaah, di kolotna sampalan kuriak kakoét ku cucuk jukut riut sok aya pangaosan. Dulur kadang baraya kapi atawa ku almusa” témbal Diah. kapi biasana sok ngarumpul.
NADI Vol. 12 Juni 2018
PERNIK
“Nam atuh ari hayang mapay jalan mah !" Jang Utén ngéléhan manéh. Sasak wahangan leutik tina kai balagbag papan. Tamba keueung lempangna téh rada diténjrag-ténjrag. Atuh mani tingrarekot da sasak geus réyod. Kaluar ti sasak jalan mudun harieum karoyoman ku dangdaunan. Tatangkalan gedé rarajeg. Kaluar ti sasak ngaliwat jalan legok,ledok jaba bécék ku cai nu rembes ti sawah. Atuh meni bebelesekan, jejeblogan, sapatu lamokot katutup ku leutak. Teu lila tuluy méngkol nuju ka Lembur nu jadi kolotna. Mama Nurdin Kasampak keur calik lalagedayan na korsi. “Tuh geuning Engki “ ceuk indungna ka budak nu digandong ku bapana. "Cag ..écag ! papah ayeuna mah isin ku Engki.” Gog Utén nagog ngécagkeun budak tina gandongan. Telenden budak téh leumpang muru Akina. Berebet lumpat darugdag-darigdeug. Gebut labuh. "Kadé atuh Cu..papahna, laleueur, nembé raat di dieu mah “ Sora Akina budak, rada bedas mireungeuh ka nu daratang téh. Jung Cengkat gancang muru kaburuan. Gap nyambat tuluy digaléntoran.
"Listrik ogé pareum,cenah mah aya tangkal Alba nu rungkad, nepi ka nyangsaya kana tihang listrik, alamat moal sakeudeung-sakeudeung dihurungkeun deui ku PLN na téh." pokna deui bari nungtun Si Eulis ngajak kajero imah. Bring ditaluturkeun ku maranéhanana. Bada magrib geus hempak nu arémok, na amparan samak, ngariung handapeun lampu gantung titinggal karuhun. Aya Embu Entin, Bi Asih, Bi Jajah, Bi Eutik, Enung, Rérén ,rempeg aya kana welasan urangna. Geus biasa méméh der wirid téh sok ngaderes heula sakur nu geus diajarkeun. Aya sipat duapuluh. Jeung sajaba ti éta, bari silih tanya papada baturna. Mama Nurdin sareng Ambu Ipah istrina, Jang Utén sakulawarga, ngariung dariukna misah, rada béh tukang hareupeun kamar, bari nanggap Eulis nu keur meujeuhna célémbéng diajar ngomong. Eulis ku Akina diajar mando. Tata-titi tindak-tanduk kasopanan da puguh pangsiunan pagawé perkebunan nu bumen bumen masisian nyirnakeun salira. Kiwari panarosan ti mamana boh lahir boh batin. Saréréa pada ajrih, hormat ku perbawana. Nyarebatna ogé Mama Nurdin. Eulis diukna dihapit ku Ninina. Keur ngadareres ngariung dipatengahan, ujug -ujug jurungkunung palupuh nu didiukan kaluhur kawas aya nu nyungkur ti kolong. Nu aya dina riungan komo awéwé mah tingkocéak ,tingjarerit Kabéh tinggolépak kana samak Aya nu ngajoprak sawaréh tinggéléhé ngajéngjéhé. Aya ogé nu nepi ka nangkarak dina samak. Kituna téh lain ngan ukur sakali. Diah kagéteun, milu ngocéak. Ambuna ogé ngagoak malum awéwé mah sok géhgéran teu kaop nénjo atawa ngadéngé nu pikareuwaseun. Mama Nurdin mah ayem wé. Anjeunna nyampeurkeun ka riungan para istri.
NADI Vol. 12 Juni 2018
"Moal nanaon tong rareuwas ! Si Oblo heureuy éta téh !" saurna. "Ulah heureuy, siah ! Ati ati ku aing, siah, purunyus !” saur Mama semu nyentak bari tungkul ka kolong. Utén ogé geus apaleun. Moal salah Si Oblo jeung Si Seblu nu sok laweur badeur, nyungkur palupuh téh. Awéwé kabéh diukna mépéd ka sisi bilik bari tingpuringis, inggis bisi palupuhna ngajurungkunung deui.
“Si Arontohod ogé boga téténjoan ari kanu dararémplon mah...!" saur Mama Nurdin bari gumujeng,ngarérét ka Néng Rérén randa nu rada ngora kénéh. Méméh gék calik deui na tempatna.Sanggeus haténa taleger deui, nu ngariung téh laju neruskeun hancana, 0 ngaderes. Ngagembréng sahéng, pada-pada ngapalkeun, mahamkeun rurukunan. Teu kungsi lila Déngék, Enung, ngadéngék tarik, reuwaseun jaba nyéri kabalédog kanjut kundang tayohna mah. Manéhna ngarontok nu diuk gigireunana bari tanggah ka para.
"Ituh, ituh...! aya nu nempo tina liang para ngajak seuri!li.iy..sieun!Sieun!Beungeutna sagedé terebang, sungutna cewaw, hunyil! Sawaréh taranggah, goak baé tinggaroak silih rontok, silih tangkeup, ribut di tengah imah. Nu séjén mépéd ka sisi bilik bari mureleng kaluhur, kana liang para. Panasaran Utén ogé ngilu nénjo ka luhur, da hayang nyaho. Tapi teu témbong nanaon.
“Sok nyingsieunan manéh Enung mah !” ceuk Ambu Entin rada nyentak, api api taya kakeueung. Sabot manéhna maksakeun tanggah. Padahal mah neger neger manéh sigana bubuhan sepuh nu dipisepuh dina éta riungan. Jeung enyana deuih da ku Ambu Entin mah teu ningali nanaon. “Daék Medu. Mbu, aya jurig! Tah pamalédogna !” ceuk Néng Enung bari némbongkeun kanjut kundang. Malah rarasaanana mah kana bujurna gé aya nu nyundul.
“Da mun Embu ningali mah boa ngompolan anjeun” ceuk nu séjén. Nu ngaromong téh sorana rada gembér da haténa sebér kénéh urut tadi disundul bujur jeung tetempoan pikasieuneun. Saréréa angenna ratug, keteg jantungna ngerepan teu daék leler. Nu ngaraji téh parindah diukna, nyampeurkeun ngadeukeutan Mama Nurdin nu keur ngariung hareupeun kamar nanggap incuna.
"Jang Utén, tutupkeun geura tuh, tutup para téh !' Mama Nurdin nitah ka Utén. Kalacat Utén naék, nincak méja terus kana palang dada. Tempa tempo ka jero para nu paroék. Terus unggah asup ka jero para. Gog cingogo lebah liang para bari nyarékan. "Lamun seug ka aing kikituan, moal teu disurilam ku aing mah! tambah di talikung jeung ditampiling!" Teu sieuneun Utén mah ku inguan Bapana téh da geus biasa ti bubudak.
NADI Vol. 12 Juni 2018
PERNIK
“Dasar si Kunyang“ Utén kukulutus. Ambek kanu ngaheureuyan. Tapi manéhna inget deui inguan bapana téh gedé tulungna ogé. Harita jaman werit, geus sababaraha kali imah bapana kadatangan bangsat,malah sakali mah rampog nu datangna téh. Teu kanyahoan ari bleg téh rampog nu pangheulana unggah dibeubeutkeun ka buruan ngudupung gegerungan teu bisaeun hudang. Ninggang dinu naas mah bangsatna, maling can beubeunangan kaburu katangkep mantén. Hadéna Mama Nurdin mah jelemana karunyaan, bangsat téh teu dilaporkeun ka désa. Jelema geus ampun-ampunan kitu, tur jangji moal deui-deui kikituan, rék ngeureunan lampah goréng, nya dihampura baé sugan enya jadi bener. Untung sakitu mah ukur di beubeutkeun ku inguan bapana mun seug katangkepna ku masarakat, abong mun teu tiwas pada ngagarebugan. Ras inget sababaraha bulan ka tukang. Basa manéhna ngendong di imah kolotna. Meuting nyorangan dikamar. Basa hayam di pipir dapur kongkorongok sakali, manéhna lilir, ngulisik. Sora hayam asa ku nompo naker kana ceulina. Panonna mah anggeur peureum teu daékeun beunta. Leungeunna capa-cipi, rumpu-rampa, susur-sasar, karasa gigireunana aya nu ngajelepeng kasar. Bray benta... darukdek. Horéng keur ngeukeupan hawu. Bet mondok di pawon?
“Haram jadah !Ati-ati siah ! Moal salah kalakuan Si Haram Jadah ieu téh. Geus wani ngareureuyan ka aing, ati ati siah! sangeuk aing mah moal pindah, tunduh! Pindahkeun deui aing! Rasakeun mun teu dibalikeun deui!" Da puguh tadina, sarena geus peuting teuing, teu kaampeuh ku tunduh. Goléhé, reup deui saré ngaréngkol sisi parako dina gagambang dapur. Ngulisik deui, nelek nelek geus aya ditepas. Teu kira-kira ambekeunana kanu mindahkeun. Geus teg baé, tangtu pagawéan Si Karesebelan! “Ati-ati! mun teu dipindahkeun deui! Sina diusir ku Ama aing siah!” Enya wé, barang rék ngalenyap,ari gubrag téh dibalikeun deui kana parako.
Manéhna ngagurinjal. Katémbong Si Oblo rék ngejat, gancang leungeuna dirawél, dicentok disampakeun tuur. Bek! Hek ! Ditambah ku siku kana tonggongna. Blug nangkuban, nambru kana hawu, nepi ka hawuna remuk. Can puas kénéh, kedewek buukna dijambak, terus dibalangkeun ka juru dapur bari di jejek. Na atuh Si Ontohod téh maké ngarawu suku. Atuh titotolonjong,gebrug nembrag bilik. Si Oblo dédéngéan Utén téh tidagor kana tihang juru. Panasaran hayang ngaleyek der galungan, brang-bréng-brong parabot dapur karumpakan. Sanggeus katéwak, terus dikesek- kesek. Punah rarasaanana. Bray lilir horéng keur saré di enggon.Hadéna baé bisa ngabales ngawarah si bangkawarah cacak dina impian mah.“Nung ...Ari ditempoan mah teu nembongan tah Si Atah adol téh ! Pédah ku lalaki baé kitu? Tapi kawasna lamun Enung mah nu nempona moal teu digusur ka para. Diajakan otél, tepak toél dinu poék” Ceuk Utén ti luhur para ngageuhgeuykeun.
NADI Vol. 12 Juni 2018
"Najis..! teu sudi, palias teuing !" Enung ngajéréwét. Diukna tuluy mépéd ka sisi bari nangkeup Rérén. Utén seuri mani ngeunah.Tuluy turun ti para. “Ama..geuning kanjut kundang kagungan Ama nu dibaledogkeun ku Si Oblo jin bebek ka
Néng Enung téh ? Simpen geura !” Kop kanjut kundang nu ngagolér na samak, gigireun
Enung, diasongkeun ka ramana.
“Aya paribasa, sabageur-bageurna ogé jin,
tetep wé leuwih loyor batan manusa nu pangbadeur-badeurna. Sanajan enya aya kasieun ku manusa, sakapeung-kapeung mah tetep wé resep ngaheureuyan manusa, Komo kanu borangan mah. Sieuneun sotéh ka nu terangeun élmuna, yén manusia leuwih kawasa tibatan jin” Saur Mama Nurdin gumujeng bari ngalirik ka Néng Enung. “Nu séjén ngarérét bari ngageuhgeuykeun Néng Enung, nu dipikabogoh ku jin kukutan Mama Nurdin. "Urang ngalaleueut heula wé ayeuna mah” cék pribumi. Lain bawa JangUtén baé.
Tapi biasa sok disayagikeun saaya-aya. Katambah nu ngaraos ogé tara léngoh. Sabot
balakétcrakan teu karasa waktu nyedek kapeuting.
“Boa boa moal ludeng marulang?”Cék Embu
Ipah kanu ngarariung.“Mending ogé meuting didieu waé sapeuting mah, da tara saban
peuting ieuh Wayahna wé pagagambar dipatengahan. Resep geura asa keur budak. Kajaba mun aya nu néang mah. Melang ulah mulang nyorangan."
Cék Mama Nurdin Ka saréréa. Diah ngilu ngampar di tengah imah. Ari Eulis mah jeung Ninina. Jang Utén saréna misahkeun manéh
di kamar nyorangan. Lampu gantung geus
dipareuman diganti ku lampu témpél, dileutikan mélétét cahayana reyem-reyem. Nu mareuting mimiti tinggéléhé.
Bakat ku tunduh mah ari golédag kana bantal,
ari les baé tibra. Sakeudeung ogé geus
jempling. Nu kadéngé ukur sora kérék nu sararé diseling ku Caricangkas kawas nu ngalokan. ngadéngér terus, kawas nu geus peura ti soré ngelak baé. Sora Cihcir tengah peuting asa nambahan kakeueung.
(Ecep Yuli Sukmara, SDN
Gunungleutik 03 Ciparay
Kabupaten Bandung)
NADI Vol. 12 Juni 2018
Galeri Foto Kegiatan
LPMP Jawa Barat
Rakor awal kurikulum 2013 Tahun 2018 pada
tanggal 14 s.d 16 Februari
di Hotel Sukajadi Kota Bandung
NADI Vol. 12 Juni 2018
00800
Worshop Penyusunan Desain Analisis Mutu pada tanggal 12 s.d. 16 Februari di Hotel Sukajadi Kota Bandung
Kegiatan Bimtek Penyegaran Instruktur Kurikulum 2013 Se-Jawa Barat dilaksanakan untuk jenjang SD, SMP, SMA dan SMK dilaksanakan pada rentang Bulan Februari s.d. Maret 2018.
NADI Vol. 12 Juni 2018
Bimtek Dapodikdasmen Tingkat Provinsi Tahun 2018 pada tanggal 13 s.d. 16 Maret
2018 di Hotel Cherry Home Bandung
Sosialisasi Pemetaan Mutu Pendidikan
pada tanggal 3 s.d. 6 April 2018
di Aula LPMP Jawa Barat
NADI Vol. 12 Juni 2018
Asistensi Pendampingan Sekolah Pelaksana Kurikulum 2013 Jenjang SMA pada tanggal 2-4 April 2018 di Hotel Delaga Biru Kabupaten Cianjur
SDN.BAROS MANDIRI1 SIAP MELAKSANAKAN SPMI
Workshop Pendampingan Sekolah
Model SPMI Tahap I pada retang
bulan April Tahun 2018 di 440 Sekolah Model Se-Jawa Barat
NADI Vol. 12 Juni 2018
M垒
Semarak Pameran Pendidikan Hardiknas 2018 pada tanggal 23 s.d. 26 April 2018 di PPPPTK BMTI Cimahi
NADI Vol. 12 Juni 2018 38
dan guru
sne dmatslo sd sta
Kg di
Ka A
BULETIN NADI LPMP JABAR
Penerimaan Artikel Vol. 13 Desember 2018
Rubrik:
- Info Utama : Maksimal 5 halaman A4 (sudah termasuk foto/gambar) Tema : Kebijakan Zonasi
- Info Pendidikan : Maksimal 5 halaman A4 (sudah termasuk foto/gambar) Terdiri dari : Info seputar dunia Pendidikan.
- Info Umum : Maksimal 5 halaman A4 (sudah termasuk foto/gambar) Tema : Parenting
- Profil Sekolah : Maksimal 5 halaman A4 (sudah termasuk foto/gambar). Tema : Sekolah Model dengan keunggulan pembiasaan bernuansa PP K
Pernik : Maksimal 3 halaman A4 (sudah termasuk foto/gambar). Terdiri dari : Cerpen, Puisi, Anekdot dan Karya Sastra lainnya.
Panduan Penulisan :Artikel belum pernah diterbitkan di media publikasi lain
- Artikel diformat dalam bentuk 2 kolom dan 1,5 spasi. Ukuran kertas yang digunakan A4 (210 mm x 297 mm) dengan batas (margin) 2cm untuk setiap tepi. Naskah ditulis dengan rata kiri-kanan (justified). Artikel diketik menggunakan jenis huruf Calibri (Ukuran : 11)
- Judul ditulis dengan huruf Kapital menggunakan kalimat yang spesifik dan efektif serta up to-date. Di bawah judul harap dicantumkan identitas penulis (Nama & Instansi penulis).
- Artikel merupakan gabungan dari unsur fakta, pendapat ahli/ tokoh dengan opini tetapi pengemasannya tetap memperhatikan aspek informatif sehingga walaupun dengan gaya populer tetap dapat menambah wawasan bagi pembacanya.
- Artikel dikirim ke redaksi melalui Email ([email protected])
- Artikel yang diterima akan diseleksi dan disunting oleh Tim Redaksi untuk disesuaikan penulisnya dengan sistematika penulisan Buletin Nadi LPMP Jawa Barat seingga artikel tersebut dapat dinyatakan layak/tidaknya untuk diterbitkan. Redaksi berwenang pula mengambil keputusan menerima atau menolak serta menyunting artikel tersebut.
NADI Vol. 12 Juni 2018
Redaksi NADI
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN JAWA BARAT
JI. Batujajar Km. 2 No. 90 Padalarang
Kabupaten Bandung Barat Telp. 022.6866152 Fax. 022.6864282 E-mail : [email protected]
1978-1598