| Direktorat Pembinaan PKLK Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan | |||
|---|---|---|---|
| Edisi 3 | |||
| MENGUTAMAKAN PENDIDIKAN ANAK | BERKEBUTUHAN KHUSUS EDISI 3 | 2017 | 1 |
SURAT PEMBACA
O2SN Bukti Peran PPKLK untuk Memperhatikan Anak Berkebutuhan Khusus
Perhelatan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Direktorat Pembinaan PKLK yang diselenggarakan di Medan, Sumatera Utara merupakan salah satu program yang diadakan oleh Dir. PPKLK untuk mengadakan kompetisi olahraga bagi siswa berkebutuhan khusus.
O2SN menurut saya merupakan bukti dari keseriusan Dit. PPKLK memfasilitasi ABK untuk melakukan pembinaan keterampilan, wadah bagi para siswa ABK mengeksplorasi diri, dan bukti bahwa ABK memiliki kesempatan dan kemampuan yang sama dengan orang-orang normal pada umumnya.
Menurut pandangan saya, O2SN juga dapat menjadi
Penanggung Jawab: Poppy Dewi Puspitawati Dewan Redaksi: Pemimpin Redaksi: Siti Maratul Fadhilah
Rakhmawan Administrasi: Erlita Produksi:
Alamat Redaksi:
JL. RS Fatmawati, Cipete, Jakarta Selatan. Telp. (021) 765 7156/7202 Faks. (021) 765 7062 - 769 3260
batu loncatan bagi para siswa ABK untuk dapat terus berkompetisi ke jenjang lebih tinggi. Untuk berkompetisi di dunia olahraga khusus ABK. Karena ajang lomba bagi ABK telah difasilitasi oleh badan olahraga daerah, nasional maupun internasional.
Secara tidak langsung bagi saya O2SN dapat dijadikan motivasi bagi ABK lainnya bahwa ABK memiliki banyak peluang untuk tampil dan ABK harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Jika kita ingin lebih termotivasi, kita dapat melihat ke dunia internasional bahwa banyak atlet-atlet ABK yang namanya terukir abadi dalam sejarah olahraga internasional. (Aida, Bogor)
EDISI 3 | 2017
Aswin Wihdiyanto
Ismail Pahni
Praptono, Sanusi, Siti Masitoh, Sri Wahyuningsih Redaktur Pelaksana: Sidang Redaksi: R. Ahmad Yusuf, Tita Sriharyati, Paidi, Purna Wardhani, Endang Kussetyorini, Rika Rismayati, Rakhmat
Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PPK-LK), KEMENDIKBUD,
Redaksi menerima tulisan beserta foto pendukungnya tentang Pendidikan Khusus dan
Pendidikan Layanan Khusus. Redaksi berhak mengedit setiap naskah yang masuk.
TAJUK
disi kali ini terasa spesial.
menunjukkan usaha mencerdaskan
Dikarenakan inspirasi dapat
kehidupan bangsa harus diolah dengan
hadir dalam berbagai bentuk.
tekun dan teliti.
EMungkin selama ini kita telah
“terbelenggu” dengan masalah yang
Lalu ada juga deretan kebanggaan
kerap menghinggapi bangsa ini. Namun
Anak Berkebutuhan Khusus. Ya,
sesungguhnya kata kuncinya bukanlah
merekalah para juara di varian lomba
masalah, tapi kemampuan kita
dan kompetisi yang dihelat oleh
mengatasi masalah. Kemampuan kita
Direktorat PPKLK. Tak lupa wawancara
untuk kerja, kerja, kerja.
khusus dengan Direktur Pembinaan
Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus
Maka reguklah inspirasi dari para
(PKLK), Poppy Dewi Puspitawati.
juara. Ya Majalah Spirit edisi kali ini
akan menghadirkan arus inspirasi
Benarlah di balik keterbatasannya,
yang dapat mengobarkan optimisme.
para ABK mampu berkarya. Maka
Mulai dari sekolah-sekolah juara yang
diperlukan pendidikan yang mampu
terus menerus melakukan inovasi
mencetak anak-anak berkebutuhan
dan berkarya. Ragam prestasi diraih
khusus yang memilki keahlian atau
sekolah-sekolah tersebut. Hal yang
keterampilan yang berkualitas.
Karakter Seniman dalam Diri Anak
Berkebutuhan Khusus di Ajang FLS2N
Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) yang diadakan oleh Direktorat Pembinaan PKLK bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) merupakan kegiatan yang rutin diadakan setiap tahun sebagai wadah bagi ABK berkompetisi dalam bidang seni serta menjadi tempat bagi seniman ABK untuk lebih membentuk karakter.
Menurut saya FLS2N sangat bermanfaat dan memiliki peran tinggi bagi ABK dalam mengeluarkan potensi diri serta lebih mengasah kemampuan non akademik siswa. FLS2N juga secara tidak langsung memperluas jaringan pertemanan antar ABK dari 34 provinsi untuk saling bertegur sapa.
Karakter seniman bagi ABK menurut saya merupakan hal yang sangat positif, bahkan dapat menjadi salah satu solusi bagi ABK untuk ke depannya membantu solusi pekerjaan bagi ABK. FLS2N secara tidak langsung menjadi bukti bahwa seniman ABK mampu menghasilkan karya yang memiliki estetika tinggi dan layak kita hargai serta apresiasi. (Malik, Bekasi)
Sang Juara, Motivasi Menuju Prestasi dari
Langkah Pertama.
Majalah Spirit PKLK edisi ketiga mengupas sekelumit tentang Sang Juara ajang kompetisi yang diadakan Direktorat Pembinaan PKLK selama tahun 2017. Tema sang juara merupakan sesuatu hal yang menarik dalam edisi kali ini, karena menurut saya, berita mengenai para pemenang lomba akan menjadi motivasi.
Edisi sang juara menurut saya dapat menjadi contoh bagi semua ABK dan masyarakat luas bahwa sang juara setiap lomba memerlukan perjuangan dan pengorbanan untuk meraih hal tersebut. Serta dapat membuka pandangan masyarakat bahwa ABK memiliki kemampuan luar biasa dalam semua bidang. Sang juara juga menceritakan profil anak peraih juara, kiat- kiat anak mendapatkan juara, sekelumit perjalanan panjang dari langkah pertama, didikan serta usaha maksimal tanpa mengenal jarak Indonesia yang terlampau luas. Menurut saya ini merupakan stimulus yang perlu ditularkan kepada anak-anak ABK lainnya. (Gita, Jakarta)
EDISI 3 | 2017
DAFTAR ISI SPIRIT 2017
LAPORAN UTAMA
Mengutamakan Pendidikan Anak
Berkebutuhan Khusus
H.6-7
Urgensi Penguatan Pendidikan Karakter
H.8-9
MENEROPONG SEKOLAH JUARA
SLB A Pembina Lahirkan Musisi
Bertalenta Unggul
H.10-11
SLB Ar-Rizki Pajo, Nusa Tenggara Barat
H.12-14
SLBN 1 Badung, Sekolah Juara &
Menyiapkan Peserta Didik Siap Bekerja
H.16-17
SLB Negeri 02 Jakarta, Menempatkan
Pengembangan Non Akademis Sejak Dini
H.18-21
MENEROPONG PARA JUARA
Yang Terkenang dan Berjuang
H.22
Zizi: Hidup Hanya Sekali, Harus Bermakna
H.23
Lina Mardiana: Bermimpilah Setinggi
Mungkin
H.24
Kurniah: Bocce Mengubah Hidupnya
H.25
Tekun dan Telitinya Ni Kadek Ariani
H.26
Harapan Berkuliah dan Menjadi Ahli
Komputer Andal
H.27
Abdul Kahar: Dengan Semangat
Mempelajari Sesuatu,
Semuanya Akan Terasa Mudah
H.28-29
WAWANCARA
Poppy Dewi Puspitawati, Mimpi
Wujudkan Pendidikan Vokasi yang
Berkualitas
H.30-33
Abu Bakar Jamalia, Anak Bangsa Harus
Terselamatkan dari Bencana Alam
H.34-35
Lalu Suhaimi Ismy, Anak Berkebutuhan
Khusus Juga Mampu Mengharumkan
Nama Bangsa
H.36-37
LAPORAN KHUSUS
O2SN Upaya Mencetak Generasi Bangsa
Berkarakter Tangguh
H.38-39
FLS2N ABK 2017, Ajang Silaturahmi yang
Kaya Akan Nilai PPK
H.40-41
PRB yang Inklusif
H.42-43
Pendidikan Pusat Penyadaran PRB
H.44-46
INSPIRASI
Ismail Ulak, Musik Energi Kehidupan
H.48-49
RESENSI
Radio, Keberaniannya Membuat Mereka
Menjadi Juara
H.50-51
Tuhan Sungguh Tidak Salah Desain
H.52
PERNAK PERNIK
Terapi Keledai Bantu Gadis Bisu Bisa
Bicara Lagi
H.53
Kisah Sri Lestari, 20 Tahun Setia Jadi
Guru SLB
H.54
See Something Strange, Bukti Anak
Berkebutuhan Khusus Berkarya
H.55
EDISI 3 | 2017
Sejauh mana peran orang tua dalam memfasilitasi bakat dan minat Anak Berkebutuhan Khusus?
Hal tersebut tergantung wawasan dari orang tua. Ada orang tua yang memfasilitasi anaknya secara habis-habisan. Sang anak menyukai melukis, maka alat-alat lukis yang bagus dan baik diberikan. Ada juga orang tua yang masih belum ikhlas menerima keadaan anaknya dan berpikir yang penting anaknya bisa hidup. Yang harus digarisbawahi orang tua paham tentang Anak Berkebutuhan Khusus. Dan diperlukan kesadaran dari para orang tua bahwasanya Anak Berkebutuhan Khusus itu spesial.
Apa saja manfaat dari lomba-lomba yang diselenggarakan Direktorat PPKLK?
Manfaatnya banyak sekali. Ada di kalangan guru yang menganggap yang penting Anak Berkebutuhan Khusus bisa mengurus dirinya sendiri – hal itu saja yang menjadi limit atas harapannya. Ada di kalangan orang tua yang mengganggap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tidak bisa apa-apa. Dengan adanya lomba-lomba yang diselenggarakan Direktorat PPKLK seakan membongkar mitos-mitos yang mengerdilkan kemampuan para ABK. Terbukti bahwa mereka
bisa melampaui apa yang diperkirakan orang. Terbukti bahwa mereka tidak bisa dipandang sebelah mata. Bagi sang anak akan tumbuh kepercayaan dirinya. Untuk tampil di depan umum. Untuk bersosialisasi. ABK juga menjadi lebih rajin di ranah lomba yang diikutinya. Dia juga akan lebih kooperatif dalam pembelajaran di sekolahnya. Dan tak ketinggalan bakat dan minat ABK tersalurkan dan terekspose secara positif.
Kolaborasi apa yang sebaiknya dilakukan oleh sekolah dan orang tua dalam mendidik Anak
Berkebutuhan Khusus?
Kerja sama dibutuhkan dalam semua aspek. Dikarenakan pembelajaran terkait dengan sikap dan hal akademis. Diperlukan komunikasi antara pihak sekolah dan orang tua. Disanalah konseling menjadi jembatan pemahaman antara orang tua dan sekolah. Dibutuhkan saling pengertian dan keselarasan dari masing-masing pihak. Demi kemajuan Anak Berkebutuhan Khusus mari tanggalkan egosentris masing-masing, dan mari duduk bersama untuk menghadirkan pendidikan yang tepat bagi ABK. Sehingga kita dapat berkata bahwa ABK adalah Anak Berkemampuan Khusus.
EDISI 3 | 2017
LAPORAN UTAMA
Mengutamakan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
Sebuah inovasi yang tinggi
khir Juli lalu, tepatnya dapat digagas oleh siswa- Kamis-Minggu (27-30 Juli
2017), Direktorat Pembinaan
siswi yang mengutamakan
Pendidikan Khusus dan kreasi. Sikap tidak
ALayanan Khusus (PKLK)
percaya diri justru akan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dapat menghambat(Kemendikbud) menyelenggarakan Festival Inovasi dan Kewirausahaan pencapaian prestasi. Siswa Indonesia dan Lomba Keterampilan
EDISI 3 | 2017
Siswa Nasional Anak Berkebutuhan Khusus (FIKSI & LKSN ABK) di Novotel Mangga Dua Square Hotel, Jakarta. Dengan mengambil tema Berkreasi dan Berkarya untuk Menuju Insan Mandiri dan Berkarakter, kegiatan ini bertujuan untuk membenihkan kesadaran kepada peserta didik, khususnya para siswa ABK, untuk senantiasa terampil dalam berkarya dan berkarakter dalam berkepribadian.
Tujuan membentuk peserta didik ABK supaya terampil dan berkarakter tersebut tidak lain untuk mendorong anak-anak untuk bersikap mandiri. Kegiatan ini seperti ingin memberikan nasihat kepada mereka, bahwa untuk menjalani kehidupan ini kita tidak bisa menggantungkan kepada orang lain. Meski mereka memiliki keistimewaan secara fisik, namun itu tak boleh menjadi batasan yang membuat munculnya perasaan inferior, tidak percaya diri, dan merasa berbeda dengan orang lain. Pikiran rendah diri seperti ini perlu dihilangkan, karena untuk mencapai prestasi setiap peserta didik harus membuat karya, dan karya itu bisa diciptakan oleh siapapun, tak terbatas oleh anak yang mengalami disabilitas.
Acara Fiksi diikuti oleh sekitar lebih dari seratus peserta didik ABK dari berbagai sekolah luar biasa (SLB) di 34 provinsi. Masing-masing provinsi diwakili 5 orang, yang terdiri dari satu orang kepala SLB, dua guru SLB dan dua peserta didik SLB. Sementara itu pada LKSN ABK ada sebanyak 9 cabang keterampilan yang dilombakan, yaitu: Lomba menjahit; lomba tata boga; lomba kriya kayu; lomba membatik; lomba merangkai bunga segar; lomba hantaran; lomba kreasi barang bekas; lomba kecantikan, dan lomba keterampilan desain grafis. Kegiatan ini juga diramaikan dengan keberadaan 34 stand produk wirausaha yang dibuat para peserta didik ABK dari setiap provinsi.
Menurut Ketua Panitia LKSN ABK 2017,
Achmad Yusuf, LKSN ini diselenggarakan sebagai ajang evaluasi dari pembelajaran yang sudah dilakukan di sekolah. LKSN diharapkan bisa memotivasi sekolah dan peserta didik supaya meningkatkan kemampuan, keterampilan dan kemandirian. Ketiga hal ini sangat penting untuk modal mereka setelah lulus sekolah nanti.
“Dunia kerja membutuhkan sumber daya manusia yang terampil, loyal dan profesional. Sehingga, lulusan anak didik kita harus dibekali dengan tiga hal pokok itu untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, bahkan lebih lanjut mereka bisa berkreasi sendiri dengan mendirikan usaha secara mandiri. Itu justru bagus, dan bisa membantu membuka lowongan pekerjaan bagi orang lain,” ungkap Achmad Yusuf.
Sementara itu, Direktur PKLK Sri Renani Pantjastuti, mengungkapkan, digelarnya FIKSI dan LKSN merupakan salah satu cara untuk membuktikan bahwa Direktorat PKLK telah melakukan peningkatan akses dan pemerataan mutu pendidikan sehingga anak-anak berkebutuhan khusus mampu menunjukan keterampilan yang mereka miliki. Jika potensi mereka terus digali dan didorong oleh semua pihak, termasuk dunia pendidikan, keterampilan yang mereka miliki tidak akan kalah dengan peserta didik pada umumnya.
“Mereka anak berkebutuhan khusus sebetulnya anak berkemampuan khusus atau anak istimewa,” katanya saat menyampaikan sambutan pada pembukaan FIKSI dan LKSN di Novotel Mangga Dua Square Hotel, Jakarta, Jumat (28/7), dikutip dari laman resmi Kemdikbud.
Menurut data BPS 2016/2017, ada sekitar 2.070 pendidikan luar biasa, yang terdiri dari sebanyak 545 sekolah negeri dan 1.525 sekolah swasta. Kemudian, sebanyak 121.244 siswa ABK meliputi 47.399 negeri dan 73.845 swasta. Keberadaan anak-anak ini perlu dibuatkan ruang beraktualisasi yang luas sebagaimana peserta didik pada umumnya. Cara pandang pemerintah harus membuat skala prioritas bagi mereka, baik dari sisi pendidikan maupun orientasi pada lahan pekerjaan. Sebaliknya, perspektif yang dibangun jangan menjadikan keberadaan peserta
didik ABK ini sebagai beban negara, karena jika ini yang dipertahankan maka mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa bagi negara di masa mendatang.
Hingga saat ini, salah satu wujud perhatian pemerintah dalam memprioritaskan pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus adalah diselenggarakannya FIKSI dan LKSN ABK. Gelaran ini diadakan setiap tahun dalam rangka menumbuhkan motivasi peserta didik ABK untuk mengembangkan kekaryaan. Lebih dari itu, pemerintah juga sudah menunaikan penyelenggaraan pendidikan inklusif dan pendidikan advokasi bagi peserta didik ABK.
ABK Bisa Berkarya
Setiap individu memiliki kemampuannya masing-masing. Peserta didik yang satu memiliki minat dalam berwirausaha, sementara peserta didik yang lain sama sekali tidak menyukai berdagang, justru dia lebih suka belajar, membuat karya ilmiah, dan berorganisasi. Fakta ini membuktikan bahwa setiap anak memiliki bakatnya sendiri. Tentu saja, minat dan bakat ini dipengaruhi salah satunya oleh bentukan lingkungan dan cara pandang setiap anak terhadap obyek yang disukainya. Kebebasan mengeskpresikan minat dan bakat tersebut berlaku juga untuk peserta didik berkebutuhan khusus.
Bersikap mandiri, terampil dan berprilaku yang mencerminkan karakter kuat adalah soal pilihan dan kemauan setiap orang. Hanya orang-orang yang punya keinginan kokoh terhadap sesuatu, keberhasilan itu bisa dicapai. Sebab pencapaian atas sesuatu hanya dapat diukur dengan seberapa jauh usaha yang sudah
dikerjakan. Bukankan dalam soal ini, pepatah Arab telah mengingatkan kepada kita semua bahwa, “barang siapa yang berusaha (dengan sungguh-sungguh), maka dia akan mendapatkan (yang diinginkan)”.
Untuk berkreasi dan menjadi mandiri tidak ada alasan dengan keterbatasan. Setumpuk prestasi pun bisa diraih oleh anak yang mengalami down syndrome, seperti halnya yang terjadi pada Stephanie Handojo (24 tahun). Pada ajang Special Olympics World Summer Games di Athena 2011, perempuan kelahiran Surabaya ini berhasil menyabet emas di cabang olah raga renang untuk 50 meter gaya dada; meraih emas di Special Olympics Asia-Pacific 2013 di Newcastle, Australia. Sementara di ajang berikutnya di Los Angeles, AS pada 2014, Stephanie menyabet perak untuk kategori gaya dada 50 meter dan gaya bebas 100 meter.
Prestasi di bidang lain berhasil diraih Yasmin Azzahrah Rahman (18 tahun). Siapa yang sangka jika Yasmin yang menderita Cerebral Palsy sejak lahir ini didaulat oleh Kemendikbud sebagai Duta Literasi Siswa. Keterbatasan fisik yang dialaminya tidak menghalangi dirinya untuk menghasilkan karya nyata. Hingga saat ini, putri dari Alpha Amirrachman ini telah menerbitkan dua buku, yaitu My Story in Holland dan From Holland with Love.
“Saya percaya setiap orang punya kekurangan dan kelebihan. Tinggal bagaimana kita menggunakan kelebihan itu,” ujarnya memberikan pesan semangat, dikutip dari Detik.com (24/4). Nafi’
EDISI 3 | 2017
LAPORAN UTAMA
Urgensi Penguatan Pendidikan Karakter
“There is no nation-building without character building”
- Soekarno -
ernyataan Presiden Soekarno yang disuarakannya pada era perjuangan melawan kolonial Belanda tersebut sangat
Ptegas, bahwa dia, mewakili
masyarakat Indonesia secara keseluruhan menginginkan negeri ini menjadi negeri yang berkarakter, berperadaban maju, serta penduduknya berilmu, bermoral dan berbudaya. Sebab, menurutnya, tanpa penguatan pendidikan karakter, niscaya bangsa ini tidak akan bisa berdiri apalagi bertahan hingga berabad-abad lamanya.
Pada konteks kebangsaan sekarang ini, di mana banyak persoalan sosial yang tengah dihadapi pemerintah, maka penguatan pendidikan karakter perlu untuk dikembangkan khususnya dalam dunia pendidikan. Tujuan model pendidikan ini tidak lain untuk menanamkan sikap inklusivisme (toleransi, gotong-royong, adil, jujur dan peduli) kepada peserta didik di semua jenjang pendidikan.
Peserta didik perlu diajarkan berbagai materi pendidikan karakter sejak dini agar muatan kompetensi belajar mereka tidak melulu berorientasi pada penguatan kognisi, tapi juga berpengaruh pada pembentukan sikap motorik dan psikomotorik. Pada akhirnya, ruang pendidikan bisa melahirkan orang-orang pintar yang berkarakter kuat dan memiliki kepedulian sosial.
Menyebarnya ujaran kebencian di dunia maya, serta praktik tawuran antar-pelajar di dunia nyata yang terjadi selama ini, sesungguhnya merupakan dampak dari minimnya materi pendidikan karakter di
EDISI 3 | 2017
sekolah. Padahal, banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghidupkan nilai-nilai karakter di lingkungan pembelajaran. Bukan hanya dapat dipraktikkan di ruang kelas, melainkan juga di alam bebas. Sebab itu, seorang guru perlu memiliki berbagai model pembelajaran karakter agar materi pembangunan mental dan moral peserta didik dapat tersampaikan secara baik.
Selain itu, penguatan pendidikan karakter juga bisa diupayakan pihak sekolah dengan menyelenggarakan berbagai aktifitas ekstrakurikuler sekolah yang memicu peserta didik untuk mengembangkan minat dan bakatnya masing-masing. Kegiatan ekstrakurikuler itu misalnya, unit kelompok belajar menulis karya ilmiah, serta komunitas penyinta olahraga dan hobi tertentu.
Trisula Penguatan Pendidikan Karakter
Kesadaran menguatkan pendidikan karakter di sekolah sebenarnya sudah diingatkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy ketika memasuki hari pertama sekolah di tahun 2017. Menurutnya, orangtua, lingkungan rumah dan sekolah berperan penting bagi pembentukan mental karakter peserta didik. Jika salah satu dari ketiga elemen penting ini lepas, maka tumbuh kembang anak tidak akan memiliki ruang aktualisasi yang cukup bagi kepemilikan karakter yang kokoh.
Dalam hal ini, para stakeholder pendidikan penting untuk meneladani aktifitas program yang diupayakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
(Kemendikbud) dalam penguatan pendidikan karakter. Kemendikbud melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) memiliki tiga program penguatan pendidikan karakter untuk siswa berkebutuhan khusus, yaitu: Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) dan Lomba Keterampilan Siswa Nasional (LKSN), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).
Setiap tahun, ketiga program untuk anak berkebutuhan khusus tersebut diadakan dalam rangka mengakomodasi minat dan bakat mereka di berbagai bidang. Ajang ini bukan mengajak para peserta didik untuk berkompetisi satu dengan yang lain, tapi lebih pada sebagai tempat bersilaturahim. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Direktur Pembinaan PKLK, Poppy Dewi Puspitawati. Dia mengatakan bahwa ajang FLS2N Anak Berkebutuhan Khusus merupakan sarana menjalin tali silaturahmi antar peserta. Melalui ajang ini diharapkan mereka saling mengenal dan berbagi pengalaman.
Ajang seperti FLS2N, FIKSI, dan O2SN menjadi ruang aktualisasi yang baik bagi peserta didik agar bakat mereka semakin berkembang. “Pengembangan bakat masing-masing peserta didik ini yang merupakan bagian dari narasi besar pemerintah untuk melahirkan generasi bangsa yang berkarakter,” ujar Poppy, saat ditemui wartawan Majalah Spirit di Rich Palace Hotel, Surabaya, beberapa waktu lalu.
Di dalam FLS2N, misalnya, siswa yang memiliki bakat dalam bernyanyi akan bisa mengaktualisasikan dirinya di ajang ini. Begitu juga bagi peserta didik yang memiliki minat dalam menarasikan ide- idenya melalui desain grafis. Di ajang ini, para peserta didik bisa mengekspresikan hobinya tanpa rasa takut. Kasubdit Program dan Evaluasi Direktorat Pembinaan PKLK Dr. Praptono, M.Ed menjelaskan, ajang FLS2N ini hendaknya dapat dijadikan peserta didik sebagai tempat untuk bersenang-senang dan mengekpresikan diri dalam bidang seni. “FLS2N bukan ajang yang menakutkan”.
Dikutip dalam laman resmi PKLK, Praptono melanjutkan, peserta didik yang datang mengikuti FLS2N merupakan anak-anak terbaik dari setiap daerah di Indonesia. Mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi, sehingga bisa berkesempatan menampilkan apa yang mereka punyai di depan publik. “Kalian adalah anak-anak terbaik dan terpilih dari tiap provinsi. Maka tunjukkan kemampuan maksimal kalian. Tunjukkan prestasi dan kompetensi kalian untuk menggapai prestasi,” tutur Praptono di hadapan semua peserta FLS2N, Senin (25/9).
Perlu diketahui bahwa pelaksanaan FLS2N 2017 beberapa waktu lalu, kontingen Provinsi DKI Jakarta berhasil menyabet juara umum FLS2N Anak Berkebutuhan Khusus. Pada tahun ini, dari sembilan cabang yang dilombakan DKI Jakarta meraih juara pertama pada 3 cabang lomba, yaitu juara pertama cabang lomba Menyanyi SDLB yang diraih oleh Allafta
Hirzi Sodiq siswa SLB-A Pembina Jakarta, lomba Desain Grafis SMPLB yang diraih oleh Abdul Kahar siswa SLB Santi Rama Jakarta dan Lomba Desain Grafis SMALB yang diraih Abdul Kahar siswa dari SLB Negeri 2 Jakarta.
Sementara pada ajang FIKSI, peserta didik berkebutuhan khusus yang memiliki minat di bidang entrepreneurship bisa mengaktualisasikannya di sini. FIKSI adalah satu ajang yang memfasilitasi peserta didik untuk mempromosikan kreatifitas produk bernilai ekonomi yang sudah dihasilkannya. Pada FIKSI ABK 2017, ada yang unik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Beberapa peserta didik yang terlibat di ajang ini memamerkan kreasinya dengan dilatari kekayaan lokal di daerahnya masing-masing. Seperti halnya, dua anak tuna rungu dari Sumatera Selatan yang memajang produk ekonominya berupa Kerupuk dan Pempek khas kuliner Palembang yang disertai dengan penampilan slide berlatarbelakang sejarah Kerajaan Sriwijaya.
“Dari ajang FIKSI diharapkan kemandirian anak tercapai. Setelah tamat dari Sekolah Luar Biasa, daya tarik untuk kemandirian diharapkan untuk muncul. Dengan ikut FIKSI PKLK diharapkan mereka tahu begini caranya berusaha. Setelah lepas sekolah, dia bisa mandiri. Itulah harapan dari kami sebagai guru. Sepertu contohnya anak yang memiliki keahlian tata boga, bisa setelah lulus berjualan atau berwirausaha di bidang pempek, kerupuk,” terang
M. Tauhid, Kepala Sekolah SLB Ogan
Komering Ilir, Sumsel.
Ajang FIKSI ingin membentuk peserta didik memiliki kepribadian yang tidak mudah bergantung pada orang lain. Dengan menumbuhkan semangat kewirausahaan peserta didik dapat belajar mengelola keuangan sendiri, mengalami kegagalan, dan menyusun strategi pemasaran. Jadi, jelas bahwa nilai karakter dalam program ini, yaitu menuntut peserta didik untuk berpribadi mandiri dalam segala hal.
Akhirnya, dari bermacam kegiatan yang memicu minat dan bakat peserta didik, maka berbagai materi yang berorientasikan pada penguatan karakter anak akan tersemai. Dengan beberapa program yang diteladankan Kemendikbud tersebut, kita menjadi sadar bahwa pendidikan karakter tidak perlu diajarkan dengan model hafalan, menulis atau ceramah, tapi praktik langsung yang membangkitkan kesadaran masing-masing peserta didik.
EDISI 3 | 2017
LAPORAN UTAMA MENEROPONG SEKOLAH JUARA
SLB A Pembina Lahirkan Musisi Bertalenta Unggul
Sejatinya AnakLB A Pembina Tingkat provinsi lainnya. Nasional patut berbangga, Berkebutuhan Khusus (ABK) pasalnya pada tahun 2017 ikut Pada FLS2N 2017 Provinsi DKI Jakarta memiliki potensi yang luar
Smemberikan sumbangsih dalam mengumpulkan 3 medali emas, yaitu
biasa. Potensi tersebut harusmengharumkan nama Provinsi DKI pada cabang lomba menyanyi solo SDLB terus digali dan ditumbuhJakarta pada ajang Festival dan Lomba yang diraih oleh Allaftaa Hirzi Sodiq Seni Siswa Nasional Anak Berkebutuhan dari SLB A Pembina Tingkat Nasional, kembangkan, sehingga Khusus (FLS2N-ABK) yang digelar di cabang lomba desain grafis SMALB yang di balik keterbatasannya kota Surabaya, Jawa Timur. DKI Jakarta diraih oleh Abdul Kahar dari SLB Negeri 2 **mereka memiliki nilai lebih.**mampu mempertahankan gelar juara Jakarta, dan cabang lomba desain grafis umumnya setelah unggul mengumpulkan SMLB yang diraih oleh Muhammad Faiz medali dibanding dengan provinsi-dari SLB Santi Rama.
EDISI 3 | 2017
“Mereka harus terus diapresiasi. tersebut. Tak ayal SLB tersebut mampu Sehingga mereka merasa bahwa bakat melahirkan musisi bertalenta tinggi. yang mereka miliki mendapat apresiasi Meskipun mereka penyandang tunanetra oleh masyarakat luas. Inilah yang akan meraka mampu berkarya dengan musik menumbuhkan rasa percaya diri bagi maupun olah vokal. mereka,” jelasnya. “Alumni SLB A Pembina Tingkat Nasional Selain itu, dia mengajak kepada semua ini memiliki talenta musik yang unggul. pihak untuk melibatkan ABK dalam Seperti generasi senior ada Alamsyah berbagai sektor kehidupan. Sehingga Firmansyah dia adalah drumer yang potensi yang mereka miliki dapat sudah melanglang buana mengisi event-tersalurkan dan memberikan manfaat event level nasional. Caroline dia adalah bagi dirinya sendiri dan masyarakat. DJ perempuan dari siswi kami yang saat “Kami sangat optimis jika ABK diberi ini tinggal di Jerman. Ismail Ulak yang kesempatan mereka mampu dan bisa. biasa disapa Wahid yang juga memiliki Seperti anak didik di sekolah kami selain talenta tinggi dalam bermain musik dan mereka memiliki talenta musik yang luar olah vokal yang pernah mengikuti ajang biasa mereka juga bisa bekerja di bidang KDI dan masih banyak siswa-siswa yang lain seperti menjadi pegawai swasta. lainnya,” jelasnya. Misalnya dari siswa kami kurang lebih 30 orang bekerja di berbagai bank sebagai Triyanto mengungkapkan salah satu telemarketing,” jelasnya. alumninya, yaitu M. Ade Irawan terbukti mampu mengharumkan nama Indonesia Melahirkan Musisi Berbakat di tingkat Internasional. Melalui dentingan piano yang dimainkan, Ade terbukti Dunia pendidikan sejatinya mampu mampu menggelar resital piano tunggal melahirkan siswa-siswi yang berprestasi di Sydney Opera House Australia. Selain di bidangnya masing-masing. Seperti itu, ia juga merupakan pemegang rekor halnya SLB A Pembina Tingkat Nasional, Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai terus berupaya untuk mewujudkan hal pianis tunanetra Indonesia termuda, tersebut. yakni pada saat berusia 16 tahun, yang telah melakukan resital piano tunggal di Memang, masing-masing sekolah, Indonesia dan di luar negari. khususnya SLB dalam menumbuh kembangkan potensi siswanya dengan “Jadi saya semakin yakin di balik cara berbeda-beda. SLB A Pembina keterbatasan, mereka sejatinya memiliki Tingkat Nasional lebih fokus menggali potensi yang luar biasa. Sehingga saya potensi siswa dalam bidang seni, sangat berharap kepada pemerintah dan khususnya dalam bermain musik dan olah masyarakat untuk terus memberikan “Saya turut berbangga SLB A vokal. kesempatan yang seluas-luarnya Pembina Tingkat Nasional ikut turut kepada mereka. Sehingga mereka terus mengharumkan nama DKI Jakarta pada SLB A Pembina Tingkat Nasional berkarya dan mengukir prestasi setinggi-kegiatan FLS2N 2017,” ujar Kepala tergolong sukses dalam upaya tingginya,” tutupnya. Sekolah SLB A Pembina Tingkat Nasional menumbuh kembangkan potensi Triyanto Murjoko, M.Pd kepada Majalah Spirit.
Triyanto mengatakan bahwa ajang FLS2N ABK merupakan langkah yang sangat tepat yang dilakukan oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dalam hal ini Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) dalam rangka upaya menumbuh kembangkan bakat dan prestasi siswa dari Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dalam bidang seni. Bakat yang mereka miliki harus terus disalurkan melalui ajang-ajang seperti ini. Sehingga bakat dan prestasi mereka akan mendapatkan apresiasi dari masyarakat luas. EDISI 3 | 2017
LAPORAN UTAMA MENEROPONG SEKOLAH JUARA
SLB Ar-Rizki Pajo, Nusa Tenggara Barat
Tiga kali berturut-turut
Provinsi Nusa Tenggara
Barat (NTB) menyandang predikat juara umum pada
ajang Olimpiade Olahraga
Siswa Nasional Anak
Berkebutuhan Khusus
(O2SN-ABK) tingkat nasional. Prestasi yang
membanggakan tersebut tidak terlepas dari buah
perjuangan siswa-siswi SLB
Ar-Rizki Pajo.
LB Ar-Rizki Pajo berada jauh dari pusat kota di Kabupaten Dompu. Untuk sampai di sekolah
Stersebut harus melewati hutan jati
yang rindang. Jalan mendaki dan terjal pun harus dilalui. Ditambah lagi tidak tersedianya transportasi umum sehingga menyulitkan untuk melakukan mobilisasi.
Berada di lokasi yang jauh dari pusat kota tidak menyurutkan semangat para guru untuk mendidik dan mengajar 113 siswa Anak Berkebutuhan Khusus dari jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dari beragam ketunaan. Antara lain, tunanetra, tunagrahita, tunadaksa, tunarungu, autis dan syndrom.
Dengan penuh kesabaran para guru terus menumbuhkan semangat kepada para peserta didiknya untuk terus optimis dalam menjalani hidup meski dalam keterbatasan. Dengan keikhlasan dan kerja keras meskipun masih terbilang
muda, SLB yang berdiri sejak tahun 2007 mampu memberikan warna tersendiri bagi pendidikan khususnya Anak Berkebutuhan Khusus di Provinsi NTB, yakni mampu mencetak atlet-atlet berprestasi di tingkat nasional. Bahkan mampu mengharumkan nama Provinsi NTB pada ajang O2SN ABK sebanyak tiga kali berturut-turut sejak tahun 2015 hingga 2017.
Pada O2SN ABK tahun 2015 yang dihelat di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Provinsi NTB meraih predikat juara umum setelah berhasil mengumpulkan 3 medali emas pada cabang lomba lari 100 meter putri SMPLB, catur tunanetra SDLB/SMPLB dan catur tunanetra SMALB. Sementara itu, pada O2SN ABK tahun 2016 yang digelar di Provinsi DKI Jakarta, NTB berhasil mampu mempertahankan gelar juara umumnya setelah berhasil mengumpulkan 3 medali emas pada cabang lomba lari 100 meter putri SMPLB, lari 80 meter putri SDLB dan bocce putri SMALB.
EDISI 3 | 2017
Kejayaan kembali diraih pada O2SN ABK tahun 2017 yang digelar di Kota Medan, Sumatera Utara setelah berhasil mengumpulkan 1 medali emas pada cabang lomba lari 100 meter putri SMPLB dan 1 medali perak cabang lomba bocce putri SDLB. “Meskipun perolehan medali emas berkurang kami sangat bangga dan bersyukur kepada Allah SWT, SLB Ar-Rizki Pajo masih memberikan kontribusi yang luar biasa kepada daerah. Sebanyak tiga kali berturut-turut NTB menjadi juara umum O2SN ABK. Dan prestasi ini tidak terlepas dari buah perjuangan siswa-siswa yang kami didik dan kami bina. Semua medali diraih oleh siswa-siswa kami,” jelas kepala sekolah SLB Ar-Rizki Pajo, Muhammad Yamin saat ditemui Majalah Spirit.
Prestasi yang diraih bukanlah suatu hal yang datang secara tiba-tiba, tapi harus melalui proses yang panjang. Pembinaan
dan menumbuhkan rasa optimis dalam hidup dan latihan yang terus menurus merupakan kunci dari keberhasilan yang harus dijalani dengan penuh kesungguhan.
“Kami latih siswa-siswa kami secara serius. Selama seminggu kami memberikan porsi latihan sebanyak enam hari baik saat jam pelajaran maupun di luar jam palajaran. Tapi yang tidak boleh dilupakan adalah bagaimana menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri kepada mereka bahwa mereka memiliki potensi dan memiliki peluang yang sama untuk berprestasi,” ujar bapak dari dua anak ini.
Selain itu, Yamin mengatakan keberhasilan NTB mampu mempertahankan gelar juara umum pada ajang O2SN ABK adalah hasil kerja sama semua pihak. Baik dari Pemerintah
Provinsi, sekolah dan orang tua. Untuk mempertahankan prestasi yang telah diraih, SLB Ar-Rizki selalu berupaya mencari bibit-bibit atlet baru. Langkah yang dilakukan dengan memetakan potensi yang dimiliki oleh seluruh peserta didik. Setelah potensi tersebut terlihat mereka kita terus dorong agar potensi yang ada terus tumbuh dan berkembang. Langkah-langkah yang dilakukan adalah dengan mengasah terus keterampilan yang mereka miliki dengan latihan-latihan.
Baginya, apa yang telah ia capai merupakan wujud tanggung jawab sekolah untuk mampu melahirkan siswa dari ABK yang mandiri dan memiliki keterampilan. Sehingga kelak di masa depan mereka mampu mandiri dalam menghadapi hidup.
Belajar dengan Alam
SLB Ar-Rizki berada di Desa Lune, Kecamaan Pajo, Kabupaten Dompu. Sekolah yang berdiri kokoh di atas lahan seluas dua hektar ini memiliki alam yang sangat asri yang dikelilingi oleh perbukitan dan pantai. Faktor alam inilah yang turut membentuk fisik yang kuat. Selain motivasi yang terus ditancapkan di dalam diri mereka, kondisi alam turut menjadi tempat belajar yang baik. Belajar dengan alam membentuk fisik mereka tumbuh kuat dan tangguh.
“Alam menjadi tempat belajar bagi mereka. Biasa mereka berlari-lari di tepian pasir pantai. Inilah yang turut andil membentuk tubuh mereka tumbuh dengan kuat,” ujar guru yang gemar bermain voli ini.
EDISI 3 | 2017
Menurutnya kondisi alam juga turut andil dalam pembentukan karakter mereka. Kondisi alam yang panas dan gersang mampu membentuk karakter yang tangguh dan tidak mudah putus asa.
“Di sini panas dan gersang. Jadi mereka sudah terbiasa hidup keras. Inilah yang membuat mereka memiliki semangat berjuang yang tinggi saat bertanding,” imbuhnya.
Lebih lanjut Yamin mengatakan belajar yang baik adalah dapat memadukan antara potensi yang dimiliki peserta didik dengan alam sekitar. Apabila ini mampu dipadukan akan menjadi sebuah kekuatan besar dalam membentuk karakter siswa.
“Terkadang kita sering melupakan hal itu. Padahal alam merupakan tempat belajar yang baik bagi siswa. Dengan siswa mampu memahami alam, maka sejatinya mereka sudah menemukan kekuatan yang besar pada dirinya,” jelasnya.
Membantu yang Lemah
Mencerdaskan kehidupan bangsa tidak seutuhnya tugas pemerintah, masyarakat yang memiliki kemampuan juga dapat turut serta mengambil bagian menjalankan tugas tersebut. Hal ini
dilakukan oleh Yayasan Ar-Rizki dengan mendirikan SLB Ar-Rizki dan SMK Ar-Rizki. Wakil Kepala Sekolah SLB Ar-Rizki Pajo, Muhlis mengatakan bahwa seluruh siswa yang bersekolah di tempatnya tidak dipungut biaya satu rupiah pun. Tidak hanya urusan biaya pendidikan, perlengkapan sekolah seperti pakaian seragam, buku, dan perlengkapan yang lain gratis. “Tidak hanya itu, kami juga memberikan uang jajan kepada seluruh siswa,” katanya.
Selain itu, karena lokasi sekolah jauh dari tempat tinggal, pihak sekolah juga menjemput para siswa dari tempat tinggal masing-masing. “Kebanyakan siswa yang sekolah di sini dari Desa Rango, kalau ditempuh kira-kira sejauh 9 km. Maka itu, sekolah membuat kebijakan untuk menjemput mereka dari tempat tinggal masing-masing. Dan ini pun kami tidak memungut biaya satu rupiah pun,” tambahnya.
Lebih lanjut Muhlis mengatakan apa yang dilakukan oleh Yayasan Ar-Rizki merupakan panggilan jiwa untuk turut mencerdaskan anak bangsa. Pendidikan harus dapat dinikmati oleh seluruh anak bangsa. Melalui pendidikan merupakan pintu gerbang untuk membangun peradaban bangsa.
“Mayoritas penduduk disini kurang mampu. Orang tua para siswa kebanyakan petani kecil dan nelayan kecil yang untuk mencukupi kehidupan sehari-hari saja masih kurang. Makanya kami tergerak hatinya untuk membantu mereka dalam bidang pendidikan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan untuk mencukupi biaya operasional pendidikan, pihaknya memiliki unit usaha tersendiri, yakni industri batako, menjahit dan tenun. Dari keuntungan usaha tersebut mereka gunakan untuk keperluan pendidikan secara keseluruhan.
“Kami juga dapat Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah. Tapi ini tidak bisa mencukupi. Maka itu kami harus memiliki unit usaha untuk menggerakkan pendidikan gratis yang kami rintis,” paparnya.
Dengan usaha yang mereka miliki terbukti mampu mengembangkan sekolah yang mereka rintis. Tidak hanya SLB, Yayasan Ar-Rizki juga mampu mendirikan SMK. Dengan semangat yang tak surut mencerdaskan anak bangsa, meskipun dalam keterbatasan mereka mampu terus berkontribusi dalam membangun peradaban bangsa.
EDISI 3 | 2017
EDISI 3 | 2017
LAPORAN UTAMA MENEROPONG SEKOLAH JUARA
SLBN 1 Badung, Sekolah Juara & Menyiapkan
Peserta Didik Siap Bekerja
ugu itu masih teguh berdiri. Nampak sosok patung yang menggambarkan anak berkebutuhan khusus dengan
Tseorang guru. Sementara itu di
bawah tugu itu tertera hari lahir Sekolah Luar Biasa Negeri 1 Kabupaten Badung yakni pada 7 Mei 1984. Terpatri pesan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu, Nugroho Notosusanto yakni:
Diperlukan kesabaran dan rasa sayang yang khusus bagi anak-anak yang berkelainan. Saya titipkan mereka kepada bapak-ibu guru semoga Allah Tuhan Yang Maha Esa memberkati segala upaya bapak-ibu guru sekalian!
EDISI 3 | 2017
“Sekolah ini didirikan 7 Mei 1984 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nugroho Notosusanto. Pada saat itu kita hanya memberi layanan pendidikan kepada anak tunarungu untuk kebutuhan masyarakat sekitar,” kata Kepala Sekolah SLBN 1 Kabupaten Badung, Made Murdani.
“Kita mengembangkan pelayanan pendidikan untuk jenis-jenis tuna yang lain seperti tunagrahita dan autis. Jumlah siswa kita awalnya hanya 58. Sekarang sudah dari TK-SMA dengan jumlah siswanya 460-an. Dengan didukung oleh guru dan staf yang lain ada 113. Luas area kami 5 hektar yang terdiri dari gedung kantor, ruang kelas, perpustakaan, ruang keterampilan, asrama, tempat
sembahyang, lapangan,” imbuh Made Murdani yang telah menjadi Kepala Sekolah SLBN 1 Kabupaten Badung sejak tahun 2000.
SLBN 1 Kabupaten Badung tidak dipungut biaya apa pun. Biaya operasional sekolah seluruhnya ditanggung oleh pemerintah daerah melalui dinas pendidikan. Ada ragam keterampilan yang diupayakan di sekolah yang terletak di Jalan By Pass Ngurah Rai-Nusa Dua ini antara lain kriya kayu, kriya keramik, sablon, membatik, hantaran, tata busana, IT, otomotif, salon kecantikan, spa, tata boga, seni musik. Sedangkan untuk ekstrakurikuler terdapat tari, pramuka, melukis, silat.
Ragam keterampilan yang diajarkan itu berbuah manis. Simaklah deretan trofi yang berjejer di sekolah ini.
“Anak-anak kita ikutkan dalam berbagai lomba untuk menambah motivasinya. Di samping itu menambah rasa percaya diri si anak,” terang Made Murdani kala ditemui di ruang Kepala Sekolah SLBN 1 Kabupaten Badung.
Salah satu capaian prestasi yang direngkuh yakni pada Lomba Keterampilan Siswa Nasional (LKSN) ABK Tahun 2017 yakni juara 1 yang diraih Kadek Trisna Bayu Widnyana dan Ni Kadek Ariani. Lalu juara 3 berhasil dicatatkan pula pada lomba kriya kayu, membatik, dan tata boga.
“Sebelum lomba kita adakan seleksi di tingkat sekolah. Untuk lomba keterampilan sesuai dengan keterampilan mereka. Dari sanalah siapa-siapa yang terpilih dari masing-masing lomba baru dipersiapkan secara khusus oleh guru keterampilannya,” kata Wakil Kepala Sekolah SLBN 1 Kabupaten Badung, Edi Prajitno.
Ada pun dari 14 jenis keterampilan yang diupayakan, pembagian waktu dan sistem blok diterapkan.
“Model yang kita kembangkan sistem blok. Dari Senin-Rabu anak-anak belajar pengetahuan di kelasnya masing-masing.
Hari Kamis-Sabtu dia langsung belajar di ruang keterampilannya masing-masing. 1 anak menekuni 1 bidang keterampilan. Mereka yang memilih sesuai dengan kesepakatan yang kita buat ketika anak itu masuk SMP. Kita sebarkan kuisioner, anak-anak itu memilih keterampilan. Kita ikuti dengan kontrak kerja dengan mereka sesuai dengan pilihan keterampilannya itu,” terang Edi.
Ragam keterampilan yang diberikan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) ketika nantinya merampungkan jalur sekolahnya. Di SLBN 1 Kabupaten Badung yang terdiri dari anak tunarungu, tunagrahita, autis, dan tunadaksa ini, persiapan keterampilan itu dimatangkan dengan program magang.
“Dari awal dipersiapkan supaya ketika lulus SMA punya keterampilan yang dapat dijadikan bekal supaya dia dapat melamar pekerjaan. Upaya yang kami lakukan anak-anak dibekali dengan ijazah formal serta ijazah sertifikat dari asosiasi profesi,” ujar Edi yang meraih juara 1 cabang Lomba Manajemen Keterampilan PKLK pada ajang Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Nasional (FIKSI) PKLK 2017.
“Anak-anak kita ketika masuk jenjang SMA kita magangkan di dunia usaha dan industri. Saat ini kita kerja sama dengan Westin Hotel, Four Seasons Hotel – keduanya hotel bintang 5. Magangnya
selama 6 bulan, seminggu 3 kali. Dari Selasa, Rabu, Kamis; jamnya 7.30-16.00. dari sanalah mereka dapat sertifikat dari hotel itu. Sehingga dengan bekal seperti itu. Begitu dia tamat dari SMA dia akan dengan mudah dapat bekerja di dunia usaha dan industri,” imbuh Edi.
Edi memandang merupakan tugas sekolah untuk menyiapkan anak didik. Di samping itu nuansa untuk ABK semakin baik dengan adanya sekolah inklusi dan UU Nomor 8 Tahun 2016.
“Dengan adanya UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas, dimana pemerintah memberi kesempatan yang luar biasa seluas-luasnya kepada ABK dalam bidang pendidikan. Anak-anak bisa masuk selain Sekolah Luar Biasa, bisa inklusi. Untuk BUMN mereka harus mempekerjakan 2% ABK, perusahaan swasta 1%. Kalau ini diterapkan sesungguhnya memberikan dampak yang begitu luas bagi ABK.
Saya yakin kalau instansi pemerintah dan swasta bersama-sama mau mentaati peraturan yang sudah ditetapkan tersebut. Saya pikir ke depan ABK tidak ada yang tidak bekerja lagi. Tugas kita sebagai penyelenggara pendidikan adalah bagaimana menyiapkan anak-anak didik kita agar nantinya setelah lulus mereka siap bekerja,” urai Edi.
EDISI 3 | 2017
LAPORAN UTAMA MENEROPONG SEKOLAH JUARA
SLB Negeri 02 Jakarta, Menempatkan Pengembangan
Non Akademis Sejak Dini
Berlokasi di Jalan Raya Lenteng Agung No.
ondisi terkini sekolah ini secara geografis terletak 1 Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan di dua tempat, untuk jenjang SDLB terdapat di
Jagakarsa, Jakarta Selatan, SLB Negeri 02
kawasan Srengseng Sawah serta untuk jenjang SMPLB dan SMALB terdapat di Lenteng Agung, Jakarta adalah Sekolah Luar Biasa yang
KJakarta Selatan.
telah berusia 35 tahun. Sekolah ini terdiri
dari Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Sekolah ini memiliki 68 orang tenaga pendidik dan Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa kependidikan serta 330 peserta didik yang terbagi dalam kebutuhan khusus tunarungu, tunagrahita, autis dan (SMPLB), dan Sekolah Menengah Atas Luar tunadaksa. Biasa (SMALB). Prestasi yang sudah diraih oleh sekolah ini pun terbilang tidak main-main. Untuk tahun 2017 saja peserta didik yang mewakili sekolah ini telah berhasil menjadi yang terbaik dalam ajang nasional maupun internasional. Untuk ajang
EDISI 3 | 2017
nasional, salah satu peserta didik sekolah ini berhasil meraih medali emas dalam ajang Festival Lomba dan Seni Siswa Nasional PKLK 2017 yang digelar di kota Surabaya, Jawa Timur. Sedangkan untuk ajang internasional, peserta didik sekolah ini berhasil mendapatkan juara dalam ajang lomba bocee internasional di Singapura dan untuk olahraga sepak bola yang digelar di Swedia, salah satu peserta didik sekolah ini ikut serta menjadi kiper nasional dan mendapatkan juara satu.
Sekolah ini menempatkan pengembangan non akademis baik dari seni, olahraga, maupun keterampilan lebih dini dengan melakukan peningkatan pemberian kecakapan dalam pembelajaran.
Kepala Sekolah SLB Negeri 02 Jakarta, Daliman menyebutkan pengembangan non akademis untuk peserta didik yang dilakukan baik dari segi seni, olahraga, maupun keterampilan telah melalui proses pencermatan yang baik terhadap potensi peserta didik sehingga dapat dilakukan tahapan pengembangan yang lebih mengerucut.
“Pada prinsipnya, dari segi kemampuan akademik, para peserta didik ini sudah ketahuan tingkatannya. Sehingga yang menjadi skala prioritas dari sekolah ini adalah pengembangan non akademis yaitu seni, olahraga, dan keterampilan. Potensi peserta didik ini telah dicermati sejak awal, di sisi mana potensi peserta didik ini menonjol, di sanalah yang akan kita kembangkan. Kita yakini bahwa setiap individu mempunyai potensi keunggulan
yang bisa dikembangkan. Walaupun siswa kelas satu yang baru masuk saja, kalau ternyata sudah mempunyai sesuatu yang bisa diasah itu sudah menjadi sesuatu yang luar biasa,”
Namun demikian, menurut Daliman, butuh usaha yang luar biasa untuk menjadikan pengembangan yang dilakukan pihak sekolah ini berhasil, karena keberhasilan pendidikan tidak serta merta hanya dari segi angka dan angka. Memberikan pengertian kepada orang tua tentang pendidikan yang hakiki itu seperti apa menjadi komunikasi yang terus dilakukan oleh pihak sekolah.
“Kita juga harus komunikasi dengan pihak orang tua bahwa untuk menyadarkan sebetulnya pendidikan yang hakiki itu yang bagaimana sih, jangan sampai nanti orang tua memandang keberhasilan pendidikan dari segi angka dan angka,” tutur Kepala Sekolah yang sudah mengepalai SLB Negeri 02 Jakarta sejak 2014 ini.
Di samping itu juga, ia tidak bosan untuk selalu mengingatkan serta memotivasi rekan guru dan tenaga kependidikan di sekolah agar selalu semangat memberikan pelayanan pendidikan dengan baik.
Ranah yang terpenuhi untuk mencapai keberhasilan pendidikan terkait Kurikulum 2013 adalah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Ketika ketiga ranah tersebut terpenuhi, bisa dikatakan bahwa pendidikan yang diterapkan berhasil dan
peserta didik mempunyai kompetensi yang mumpuni.
“Bukan hanya bicara tentang fasilitas sekolah semata, tapi juga berbicara tentang sistem dan manajemen, mind set serta mental guru dan tenaga pendidik, budaya sekolah, dan hasil serta produk yang dihasilkan. Keberhasilan pendidikan terkait Kurikulum 2013 itu ada sikap, pengetahuan dan keterampilan. Ketiga ranah ini harus terpenuhi semuanya baru itu dikatakan berhasil dan si anak mempunyai kompetensi yang mumpuni,” ungkapnya.
Keberhasilan yang dicapai oleh sekolah ini dari segi sikap adalah membentuk sikap belajar yang belum terbentuk di kelas awal. Sebelum terbentuknya sikap belajar yang baik mustahil akan terjadi proses pembelajaran yang baik pula. Hal inilah yang menjadi skala prioritas SLB Negeri 02 Jakarta.
“Seperti contoh yang sangat konkrit saja, misalnya sikap belajar belum terbentuk di kelas-kelas awal, mustahil akan terjadi proses pembelajaran, artinya skala prioritas kita ada dimana, misalnya seorang siswa datang ke sekolah masuk kelas, untuk duduk saja belum bisa, mungkin keliling kelas hari pertama 20 kali lebih, dengan memberikan pelayanan, skala prioritas dari segi sikap, keesokan harinya ternyata sudah berkurang menjadi 18 kali keliling kelas, dan sebelumnya sudah berhasil,” tukasnya.
“Dan terkadang hal tersebut yang tidak
EDISI 3 | 2017
dicermati, jadi orang tua itu kadang-kadang yang dilihat dari sekolah adalah catatan dan catatan. Padahal hal kecil tersebut adalah sebuah keberhasilan pelayanan pendidikan dari segi sikap. Sikap-sikap peserta didik walaupun dengan kondisi apa pun tetapi kalau ketemu orang mau menyapa dan mau memberikan salam, inilah sebuah keberhasilan dari segi sikap yang mungkin
di tempat lain tidak ditemukan. Hal ini yang menjadi garapan kita sebagai pengajar,” tambahnya.
Lain halnya dengan segi keterampilan. Bagi siswa yang telah mencapai satuan pendidikan SMA, di sekolah ini terdapat berbagai jenis keterampilan yang bisa diikuti, mulai dari cetak sablon, tata boga, tata busana, membatik, IT, kerajinan
tangan, bengkel motor hingga budidaya tanaman. Yang mana dengan berbagai jenis keterampilan ini, tenaga pendidik hanya tinggal membidik saja dimana potensi peserta didik ini dan cocok untuk jenis keterampilan apa. Karena di sekolah ini, seorang peserta didik ketika memasuki tingkat kelas sebelas harus menjalani magang. Dan hal inilah yang menjadi fokus dari segi keterampilan.
Dan untuk keterampilan ini, sudah ada Undang-Undang yang mengikat yaitu UU No. 8 Tahun 2016 sebagai pemenuhan hak penyandang disabilitas baik hak ekonomi, politik, sosial maupun budaya. Menurut Daliman, ada banyak pekerjaan rumah terkait keterampilan Anak Berkebutuhan Khusus. Salah satunya adalah harus adanya sinkronisasi antara pihak sekolah dengan industri terkait apa yang dibutuhkan oleh industri dan usaha dari ABK ini. Di samping itu pula, harus ada inventarisasi terkait kategori-kategori kebutuhan khusus.
“Ada banyak pekerjaan rumah bagi kita terkait keterampilan, banyak tugas terkait dengan itu. Harus ada inventarisasi terkait kategori-kategori kebutuhan khusus, misal anak tunarungu jenis kerjaan apa
EDISI 3 | 2017
yang harus dilakukan, anak tunagrahita juga apa yang dapat dikerjakan. Harus ada sinkronisasi antara pihak sekolah dengan dunia industri dan usaha, sebagai contoh sekolah menyiapkan dalam rangka menuju dunia usaha sesuai kebutuhan khusus, jadi ketika industri membutuhkan tenaga A, kita sudah siap, begitu juga dengan B, C dan seterusnya,” ungkapnya.
“Jangan selalu sifatnya umum. Terkait dengan keterampilan, pada anak tertentu bila dituntut keterampilan dengan artian menghasilkan produk, sampai kapan pun yang tidak bisa juga ada, tapi masih bisa kita didik di segi lain, jasa misalnya, misal di hotel, banyak jasa yang bisa dihasilkan. Itulah yang telah dijalankan di sekolah ini terkait persiapan keterampilan bagi ABK untuk menuju dunia industri dan usaha,” tambahnya.
Keterampilan juga tidak bisa lepas dari nilai Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). PPK adalah segala sesuatu yang sifatnya membumi. Di dalam ABK sendiri, nilai-nilai PPK harus diaplikasikan karena tidak semua peserta didik semuanya bisa diteorikan melainkan melalui praktek.
Terkait dengan nilai PPK, Daliman mengungkapkan bahwa banyak orang terkadang hanya memahami sebatas definisi PPK itu sendiri yang terdiri dari nasionalisme, religius, mandiri, gotong royong dan integritas.
“PPK harus diaplikasikan, apalagi peserta didik disini tidak semuanya bisa diteorikan, semua harus dialami. Terkadang orang hanya memahami sebatas definisi bahwa PPK adalah Penguatan Pendidikan Karakter yang a, b, c dan seterusnya, tapi aplikasi seperti apa. Sebetulnya pesertadidik ini adalah user, paling tidak bisa mengaplikasikan PPK,” ujarnya.
Dalam pengembangan nilai-nilai PPK yang diterapkan di sekolah, ia menyatakan bahwa nilai tersebut diaplikasikan dalam berbagai kegiatan sekolah, yang paling terkini adalah dalam kegiatan pentas seni hari jadi SLB Negeri 02 Jakarta.
“Kegiatan festival seni dan kreativitas sekolah terkait hari jadi sekolah, terkait dengan religiusnya sudah pasti, sikap-sikap mereka terhadap orangtua. Nilai nasionalisme juga pasti, mereka membawakan lagu-lagu nasional, tarian
tradisional dan sebagainya. Gotong royong pun terjadi ketika peserta didik ini menampilkan sesuatu berhasil dari segi team work. Tanpa adanya kerja sama mereka tidak mungkin bisa menyuguhkan gerakan yang kompak dengan baik. Dari situ pun muncul sisi integritas, tanggung jawab sang anak untuk melaksanakan kegiatan ini,” ungkapnya.
“Terkait dengan hal-hal lain, sistem 5S di sekolah pun kita tanamkan selama pembinaan pendidikan. Kolaborasi antara tunarungu, tunagrahita kemudian autis menandakan bahwa seberapa pun kemampuan peserta didik terkait olah rasa masih bisa kita berdayakan dan kembangkan dengan baik,” tambahnya.
Peserta didik ABK ini adalah sebuah kepercayaan yang harus diemban dengan sungguh-sungguh. Hal ini yang membuat Daliman selaku kepala sekolah selalu meyakinkan tenaga pendidik dan kependidikan bahwa mereka adalah ahli di bidangnya.
“Sudah menjadi kewajiban saya untuk meyakinkan teman-teman pengajar bahwa kita ini adalah ahli. Kenapa ahli? Karena orang tua telah mempercayakan anaknya untuk sekolah di sini. Jangan sampai ada perasaan bahwa SLB itu seakan-akan buangan. Seperti di luar
negeri, kepala sekolah itu bergelar rata- rata Profesor. Itu menandakan bahwa pengajar di SLB ini bukanlah orang yang sembarangan memerlukan kompetensi khusus. Jadi kita harus totalitas dalam memberikan pelayanan, total dalam niat, pengabdian dan keikhlasan,” ujarnya.
Tidak kalah pentingnya juga, pelayanan pendidikan luar biasa tidak hanya untuk peserta didik, tetapi juga orang tua mereka. Tidak dipungkiri bahwa banyak dari orang tua belum bisa menerima kondisi anak sebagaimana mestinya. Hal ini dibenarkan oleh Daliman, bahwa banyak orang tua masih terbentur dengan kondisi tidak dapat menerima kondisi anak mereka.
“Banyak dari orang tua yang belum bisa menerima kondisi anak sebagaimana mestinya. Mustahil pelayanan pendidikan luar biasa akan berhasil dengan maksimal apabila masih terbentur kondisi seperti itu. Sehingga sinergi pihak sekolah dengan orang tua belum baik. Tapi kalau sinergi sudah terbangun bukan hal mustahil akan menghasilkan sesuatu yang baik untuk para peserta didik. Orang tua murid ABK ini adalah orang tua pilihan. Artinya ini ajang momen untuk beribadah, religius. Perlu pemahaman yang lebih baik terkait kondisi dan karakteristik serta sistem pembelajaran,” tutupnya.
EDISI 3 | 2017
LAPORAN UTAMA MENEROPONG PARA JUARA
Yang Terkenang dan Berjuang
Tapi, di kala keraguan itu muncul
Aku masih ingat akan nasihat
Dari Almarhum sahabatku
Dan dari nasihat guruku
Bahwa hidup ini masih punya makna
evin berhasil mencuri perhatian setiap mata yang memandangnya ketika membacakan puisi. Tunaganda yang
Kdialaminya yakni Cerebral Palsy dan Tunadaksa, seakan
luruh dengan semangatnya untuk menyampaikan kata demi kata dalam puisinya. Seperti kutipan puisi di atas yang diberi judul “Aku Belum Menyerah”. Kevin menunjukkan kesesuaian antara kata dan perbuatannya. Ya, Kevin belum menyerah.
Kevin siswa SLBN 2 Tanjung Pinang ini berhasil menjadi juara 1 Festival dan Lomba Literasi 2017 bidang Lomba Cipta dan Baca Puisi. Seperti diungkapkan dalam puisinya, Kevin terinspirasi sosok sahabat karibnya yang bernama Fahri Rahmat Riyadi.
“Kawan ini kawan karib satu kelas. Kemanapun dia pergi, berangkat sekolah selalu bersama. Almarhum dan Kevin sudah ada kesepakatan untuk maju, tidak boleh mundur,” kata guru pendamping Achmad Moroadi kala ditemui seusai Upacara Penutupan Festival dan Lomba Literasi PKLK 2017, di Hotel Pangeran, di Pekanbaru, Riau, Kamis (6/4). Sosok Fahri sendiri merupakan siswa berprestasi. Fahri diantaranya pernah menjadi juara 1 di Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2013 di Medan. Fahri ketika itu menunjukkan kebolehannya dalam menabuh drum. Fahri sendiri mengalami tunanetra total serta pertumbuhan badannya tidak pernah tinggi.
Pada Maret 2016, Kevin harus menerima kenyataan sobat karibnya itu meninggal dunia. Kevin pun sempat terpukul sangat hingga dirinya sempat malas bersekolah.
“Percuma pak saya sekolah karena orang yang tahu tentang saya sudah tidak ada,” ungkap Kevin saat itu seperti diceritakan guru pembimbingnya Achmad Moroadi.
Beruntung Kevin memiliki orang-orang yang tulus dan peduli kepadanya. Diantaranya gurunya Achmad Moroadi yang dengan telaten menumbuhkan kembali semangat Kevin dan mengarahkan memori kehilangan Fahri menjadi inspirasi untuk berkarya.
“Almarhum adalah inspirasi. Tunjukkan kepada almarhum. Kalau kamu ingin membuat almarhum bahagia ya kamu harus bisa menunjukkan apa yang terbaik untuk kamu sendiri,” pesan Achmad Moroadi.
Fahri pun menjadi inspirasi seperti terlacak dalam puisi dan lirik lagu yang dibuat Kevin.
“Saya terinspirasi perkataan almarhum. Sekarang saya melanjutkan perjuangan sahabat saya,” kata Kevin.
“Saya sekarang suka bermain dan membuat musik. Atau membuat lirik lagu,” imbuh Kevin dengan kata-kata yang terbata-bata.
Ikatan kita takkan pernah lepas Cinta kita takkan pernah hilang Kenangan kita selalu kuingat Dan dirimu kan selalu di hatiku My bro Thank you my bro
Begitulah kiranya cuplikan lirik lagu ‘For Bro’ yang dibuat dan didedikasikan Kevin untuk sahabat karibnya Fahri Rahmat Riyadi.
EDISI 3 | 2017
Yang Terkenang dan Berjuang
Sang Juara Zizi: Hidup Hanya Sekali,
Harus Bermakna
eterbatasan bukan alasan untuk mengukir prestasi yang membanggakan. Begitu prinsip
Kyang dipegang teguh oleh Allafta
Hirzi Sodiq peraih medali emas pada ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional Anak Berkebutuhan Khusus (FLS2N-ABK)
- Hidup hanya sekali, harus memiliki makna dan terus memberikan yang terbaik bagi keluarga dan masyarakat. Inilah pesan yang disampaikan Allafta Hirzi Sodiq atau yang biasa disapa Zizi saat mengawali perbincangan dengan Majalah Spirit. Meskipun masih terbilang belia, Zizi telah mampu mengukir prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional. Pada tahun 2017, dia berhasil menyabet medali emas pada ajang Asia Festival yang digelar di Singapura pada bulan Juli. Zizi berhasil menghipnotis dewan juri dengan keindahan suaranya dan kemahirannya dalam memainkan tuts piano yang membentuk rangkaian nada yang
menakjubkan telinga dan menyentuh hati.
“Selain menyanyi saya juga bermain piano klasik. Alhamdulillah saya meraih juara satu pada lomba itu,” ujar siswi kelas 3 SLB A Pembina Tingkat Nasional Jakarta ini.
Pada tahun yang sama, Zizi kembali mengukir prestasi pada ajang FLS2N ABK yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) di Kota Surabaya, Jawa Timur. Ia berhasil meraih medali emas pada cabang lomba menyanyi untuk jenjang SDLB.
Zizi menuturkan prestasi-prestasi yang telah ukir merupakan buah dari kerja kerasnya selama ini. Namun kerja keras tersebut tidak ada artinya jika tidak ada dukungan orang-orang terdekatnya.
“Selain berlatih, dukungan orang tua sangat berarti bagi saya. Dan doa juga dari ibu juga yang membuat saya sukses
dalam mengikuti lomba,” kata siswi yang mampu menghafal dua juz Al-Quran ini.
Bagi Zizi musik merupakan teman hidupnya, tanpa musik hidupnya terasa sepi. Maka itu, dia telah bertekad untuk terus mengembangkan talenta dalam bermusik dan olah vokal. Melalui bakatnya, dia bercita-cita mengharumkan nama Indonesia di mata dunia.
“Bagi saya musik adalah bagian hidup. Kalau tidak ada musik saya sedih. Saya ingin terus menekuni musik, khususnya piano dan vokal,” kata siswi yang bercita-cita menjadi pianis dan dosen musik ini.
Lebih lanjut, dia berpesan kepada anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia meskipun kita memiliki keterbatasan jangan menjadi penghalang. Sebab Tuhan pasti memberikan kelebihan kepada makhluknya. “Ayo optimis. Allah ciptakan kita dengan kelebihan. Jangan minder dengan apa yang kita miliki,” tegasnya.
EDISI 3 | 2017
LAPORAN UTAMA MENEROPONG PARA JUARA
Lina Mardiana: Bermimpilah
Setinggi Mungkin
enurutnya prestasi yang saat ini bukanlah akhir. Masih banyak mimpi-mimpi yang hendak dia
Mraih. Prestasi yang saat ini telah
diukir merupakan batu lompatan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.
“Saya memiliki mimpi banyak. Mimpi saya tidak hanya ingin mengharumkan nama daerah saja, tapi saya juga memiliki mimpi mengharumkan nama Indonesia di mata dunia,” kata siswi yang bercita-cita menjadi guru olahraga ini.
Lina bertekad ingin mengharumkan nama Indonesia di mata dunia dengan bakat yang dia miliki. Maka itu, target ke depan, Lina ingin mewakili Indonesia pada ajang paralimpic tingkat internasional.
“Saat ini saya akan mengikuti Pekan Paralimpic Pelajar Nasional (Pepar Penas) di Solo. Semoga saya sukses disana. Sehingga saya bisa mewakili Indonesia di
EDISI 3 | 2017
ajang paralimpic di tingkat internasional,” ujarnya.
Lebih lanjut Lina mengatakan untuk menggapai semua mimpinya dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh dengan giat berlatih. Selain itu bimbingan guru di sekolah dan dukungan dari orang-orang terdekat dapat menjadi energi yang besar untuk terus optimis dalam mewujudkan mimpi-mimpinya.
“Meski saya sudah juara kami terus berlatih. Dan motivasi dari guru, keluarga dan orang-orang terdekat menjadi penyemangat saya dalam mewujudkan mimpi-mimpi saya,” katanya.
Menghadapi tantangan hidup yang semakin kompetitif, pendidikan merupakan kunci menghadapi tantangan jaman. Maka itu, Lina juga memiiki mimpi yang sangat tinggi dapat mengenyam pendidikan hingga perguraan tinggi.
Mengharumkan nama daerah di tingkat nasional
merupakan mimpi yang ingin dicapai Lina
Mardiana siswi kelas 2
SMPLB Ar-Rizki Pajo,
Dompu, Nusa Tenggara
Barat (NTB). Pada ajang
Olimpiade Olahraga
Siswa Nasional Anak
Berkebutuhan Khusus
(O2SN-ABK) 2017 siswa penyandang tunagrahita
ini berhasil mewujudkan mimpinya dengan
menyabet medali emas pada cabang lomba lari
putri 100 meter jenjang
SMPLB.
“Saya ingin bisa sekolah hingga perguruan tinggi. Dan saya akan mengambil pendidikan olahraga. Karena saya ingin menjadi guru olahraga di SLB. Semoga saya mendapatkan beasiswa,” harapnya.
Lebih lanjut dia berpesan kepada seluruh Anak Berkebutuhan Khusus untuk memiliki cita-cita setinggi mungkin. Karena dengan mimpilah hidup ini akan terasa bermakna. Dengan mimpi hidup ini akan terarah.
“Meskipun saya memiliki keterbatasan saya harus memiliki mimpi yang tinggi. Dengan mimpi inilah saya merasa semangat dalam hidup. Semoga apa yang saya rasakan diikuti oleh yang lainnya,” tutupnya.
Kurniah: Bocce Mengubah Hidupnya
enyandang tunagrahita sejak lahir membuat Kurniah, pelajar
Mkelas 6 SDLB Ar-Rizki Pajo,
Dompu, Nusa Tenggara Barat sulit untuk fokus dalam segala hal, khususnya dalam berpikir. Setelah mengenal bocce hidupnya sedikit demi sedikit mengalami perubahan.
Perubahan yang bisa terlihat adalah Kurniah mampu sedikit lebih fokus, khususnya dalam belajar. Sehingga secara perlahan dia mengalami kemajuan dalam menangkap mata pelajaran yang telah diajarkan.
“Setelah saya sering bermain bocce kalau ada orang bicara saya mau memperhatikan dan sedikit-dikit saya mengerti apa yang mereka bicarakan,” katanya.
Bagi Kurniah, bocce merupakan bagian dari hidupnya. Sehingga saat berlatih dia melakukannya secara sungguh-sungguh. Alhasil, pada ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) 2017 yang digelar di Kota Medan, dia berhasil mengharumkan NTB dengan meraih medali perak pada cabang lomba Bocce Putri jenjang SDLB.
“Saya suku bocce karena mudah. Dan saya senang sekali bisa mendapat juara dua O2SN di Medan,” ujarnya.
Lebih lanjut Lina mengatakan apa yang telah ukir pada O2SN 2017 bukanlah akhir. Dirinya akan lebih giat berlatih, sehingga pada O2SN tahun berikutnya mampu meraih medali emas.
“Pastinya saya ingin ikut lagi. Dan saya juga tidak ingin menjadi juara dua lagi, saya ingin menjadi juara pertama. Maka itu, saya akan terus berlatih, dan akan mengikuti bimbingan dari para guru,” jelas pelajar yang bercita-cita menjadi guru SLB ini.
Anak keempat dari enam bersaudara
ini mengatakan melalui bocce dirinya mampu memberikan manfaat bagi keluarga. Pasalnya hadiah yang dia peroleh dalam ajang O2SN ini mampu meringankan beban keluarga.
“Ibu dan bapak saya telah meninggal. Dan saya saat ini tinggal dengan orang lain. Setidaknya hadiah yang saya peroleh sedikit meringankan mereka,” jelasnya.
Kurniah memiliki prinsip dalam hidupnya. Meskipun dalam keterbatasan kehadirannya harus memberikan manfaat, bukan malah sebaliknya. Maka itu, melalui prestasi-prestasi inilah dia berharap mampu mengubah hidupnya lebih bermanfaat bagi yang lain. Bukan kehadirannya menjadi beban bagi yang lain.
“Saya ingin terus berprestasi. Saya suka bocce, makanya saya harus terus berprestasi di sini,” katanya.
Meskipun Lina penyandang tunagrahita, semangatnya dalam menuntut ilmu terbilang tinggi. Bahkan di balik keterbatasannya dia ingin bersekolah hingga ke jenjang perguruan tinggi.
“Saya bercita-cita sebagai guru SLB. Makanya saya ingin kuliah nanti agar cita-cita saya bisa terwujud,” tutupnya.
EDISI 3 | 2017
LAPORAN UTAMA MENEROPONG PARA JUARA
Tekun dan Telitinya Ni Kadek Ariani
pa yang dapat membuat seseorang menjadi ahli dalam suatu bidang tertentu? Talenta?
AKetekunan untuk terjun dalam
suatu ranah keterampilan? Menurut sebuah penelitian untuk menjadi ahli dalam suatu bidang diperlukan intensitas pelatihan 10.000 jam.
Ni Kadek Ariani Juara 1 di Lomba Menjahit Lomba Keterampilan Siswa Nasional (LKSN) ABK 2017 memiliki paduan antara talenta dan tekun berlatih.
Menurut guru dari Ni Kadek Ariani, siswi kelas X SMALB Negeri 1 Badung ini memiliki dua modal utama dalam keterampilan menjahit yakni tekun dan teliti.
“Saya lihat anaknya tekun ya. Jadi dalam menjahit ada 2, dia tekun dan teliti. Kalau dia punya dua ini akan lebih gampang diarahkan untuk menjahit. Kalau orangnya tidak sabaran akan susah kami didik. Kebetulan dia punya 2 modal ini dan punya ketertarikan di bidang jahit menjahit,” ungkap Made Wirantini, guru
EDISI 3 | 2017
keterampilan tata busana di SLB Negeri 1 Badung.
Ibaratnya talent scout, kemampuan Ni Kadek Ariani di bidang menjahit tertemukan dikarenakan peran guru-gurunya yang memandang siswi ini punya ketelitian dan dapat dilatih dengan tingkat kesulitan yang beragam.
“Kebetulan dia tadinya suka hantaran, hanya menjahit dengan tangan. Kemudian dengan ketelitiannya saya lihat anak ini bisa dilatih lebih tinggi lagi tingkatannya yaitu menjahit baju. Karena menjahit baju perlu ketelitian tingkat tinggi. Dan kebetulan anak ini teliti dalam hantaran jadi saya bisa didik lagi menjahit, ternyata dia bakatnya disitu. Jadi kita drill terus, latih terus berulang-ulang dengan model yang sama, baru kita latih dengan tingkat kesulitan lebih tinggi di model berbeda,” ujar Made Wirantini tentang anak didiknya.
Ariani sendiri belajar menjahit dengan menggunakan beberapa pendekatan. Dia belajar dari You Tube. Di samping itu di SLB Negeri 1 Badung, siswi tunarungu ini belajar dari mesin jahit yang paling gampang dengan dinamo yang rendah sampai mesin industri yang kecepatannya tinggi. Di rumah pun, Ariani berlatih dengan menggunakan mesin jahit singer hitam. Aneka ragam jahitan dibuatnya ketika di rumah sesuai dengan yang dirinya sedang sukai.
Ariani sendiri awalnya memiliki cita-cita bekerja di hotel. Lalu seiring keterampilan yang diasahnya di sekolah serta mampu menjadi kampiun di ajang LKSN menambah jangkauan imajinasi cita- citanya untuk mandiri membuka jahitan sendiri.
“Anak-anak tunarungu satu kerja dimana yang lain ngikut. Kebetulan kita kerja sama dengan hotel bintang 5. Anak-anak ini kan latah. Lalu Ariani setelah tahu menjahit ingin juga di rumah, Ingin di rumah buka jahitan,” terang Made Wirantini.
“Saya ingin mandiri di bidang menjahit. Karena sudah ketemu passion-nya,” jelas Ni Kadek Ariani melalui bahasa isyarat dengan keyakinan di matanya.
Ariani sendiri mengenang lomba di LKSN sebagai sebuah titik perjuangan dalam hidupnya. Di sanalah keterampilan dan karakter gigihnya diuji.
“Waktu lomba saya masih merasa takut. Menjahit waktunya terlalu cepat, tapi syukur bisa menyelesaikan. Saya merasa senang,” ungkap Ni Kadek Ariani yang juga memiliki hobi di bidang hantaran.
Lomba LKSN yang dilakoni Ni Kadek Ariani sendiri berlangsung selama dua hari. Pada hari pertama dirinya berkompetisi selama 8 jam. Lalu pada hari kedua dari pagi hingga jam makan siang. Pada hari pertama Ariani sampai pada tahapan sudah menyambung resleting, menyambung lengan, dan kerah. Tapi jahitannya belum maksimal sehingga ada koreksi di hari kedua. Pada hari kedua, Ariani memperbaiki jahitan yang dirasa kurang bagus dan menambah hiasan yang diberikan oleh pihak panitia.
Melalui LKSN ini, peserta didik bisa terpetakan talentanya. Di samping itu kemantapan kepercayaan diri pun bisa terpupuk yang nantinya menjadi bekal untuk meniti masa depan.
“LKSN sangat bermanfaat untuk anak didik karena kita mendapatkan bakat anak ini kita terpacu karena kegiatan Kemendikbud. Anak ini berbakat di bidang mana sehingga kita harus mengasah. Setelah ikut ajang ini dia punya percaya diri yang tinggi. Saya bisa tampil di ajang besar dan bisa menghasilkan sesuatu. Mungkin dengan ini saya bisa berbuat lebih. Ariani bilang kepada saya, ‘Bu saya bisa mandiri. Ajarkan saya model-model kebaya. Nanti tamat saya bisa buka jahitan kebaya’,” ujar Made Wirantini, guru keterampilan tata busana di SLB Negeri 1 Badung.
Harapan Berkuliah dan Menjadi Ahli Komputer Andal
akat, ketekunan, serta dukungan lingkungan menjadi elemen yang menyokong keberhasilan
BKadek Trisna Bayu Widnyana
menjadi Juara 1 Lomba Informasi dan Teknologi (IT) pada Lomba Keterampilan Siswa Nasional (LKSN) ABK Tahun 2017. Siswa kelas X SMALB Negeri 1 Badung ini memang sejak awal menyukai IT. Ia pun bercita-cita menjadi ahli komputer.
“Dari awal suka IT. Dia punya bakat di IT. SMA pembelajarannya pakai LCD. Jadi guru bawa laptop, download langsung materi-materi internet untuk anak-anak SMA. Mungkin itu termotivasi mereka.
Kalau senang IT dia sendiri yang nge- download,” kata guru pembimbing Trisna di LKSN, Made Murdani.
Dari pihak sekolah memang memfasilitasi bakat dan minat Trisna. Salah satu keterampilan yang diajarkan di SLB Negeri 1 Badung yakni Informasi dan Teknologi (IT). Di ruang keterampilan IT itulah Trisna kerap menghabiskan waktu. Baik untuk melahap materi pelajaran yang diberikan guru ataupun belajar secara mandiri.
“Saya belajar dari guru dan suka utak atik,” ungkap Trisna siswa tunarungu ini.
Begitu terpilih sebagai wakil dari sekolahnya, Trisna menjalani intensitas latihan yang lebih sering. Dia kerap bertandang di ruang Made Murdani yang juga merupakan Kepala Sekolah SLBN 1 Badung.
“Dari kecil saya tahu kesehariannya. Dari TK disini sampai SMA. Anaknya nurut, gampang diarahkan. Cepat kalau kita kasih tahu. Yang penting jelas perintahnya.,” beber Made
Murdani yang menjadi Kepala Sekolah SLBN 1 Kabupaten Badung sejak tahun
- Trisna yang tinggal di asrama ini mendapatkan dukungan dari orang tuanya untuk menempuh pendidikan di jalur yang lebih tinggi lagi. STIKOM Bali menjadi incaran Trisna untuk lebih mendekatkan mimpinya menjadi ahli komputer. “Orang tuanya perhatian. Mereka mendukung anaknya ikut keterampilan ini. Nanti mau dikuliahkan. Kakak-kakak kelasnya juga beberapa kuliah di STIKOM Bali,” ujar Made Murdani. Ya menjadi Juara 1 Lomba Informasi dan Teknologi (IT) pada Lomba Keterampilan Siswa Nasional (LKSN) ABK Tahun 2017, bukanlah akhir bagi asa Trisna. Kemandirian dan kepercayaan dirinya kian membuncah. Bahwa dia lebih berfokus pada kompetensi dan keterampilannya yang dimilikinya. Bahwa mimpi menjadi ahli komputer yang menghasilkan karya menunjukkan bahwa Anak Berkebutuhan Khusus sesungguhnya Anak Berkemampuan Khusus.
EDISI 3 | 2017
LAPORAN UTAMA MENEROPONG PARA JUARA
Abdul Kahar: Dengan Semangat Mempelajari Sesuatu,
Semuanya Akan Terasa Mudah
nak Berkebutuhan Khusus memang punya kekurangan. Namun, kekurangan itu tidak menjadi penghalang untuk
Aberprestasi. Bahkan, prestasi
tingkat nasional dan internasional. Abdul Kahar membuktikannya dengan meraih juara Desain Grafis dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional Anak Berkebutuhan Khusus Tahun 2017 di Surabaya, Jawa Timur.
Kahar, sapaan akrabnya, terbata-bata menceritakan tentang lomba desain grafis yang dia ikuti didampingi oleh guru pembimbingnya.
“Pengalaman di FLS2N, sebenarnya dalam lomba Desain Grafis durasi waktu yang
EDISI 3 | 2017
diberikan adalah empat jam, tapi Kahar mampu menyelesaikan lomba dengan durasi dua setengah jam saja,” ujar Kahar yang diterjemahkan oleh Eni Pujiwati, yang juga sebagai Wakil Kepala Sekolah SLB Negeri 02 Jakarta ini.
Juara Desain Grafis bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) seperti Kahar memang hal yang istimewa.
Meskipun, dia juga berlomba dengan sesama ABK dari seluruh Indonesia. Namun, hal itu menjadi bukti bahwa siswa ABK bisa meraih prestasi yang gemilang.
Eni yang juga pernah mengajar Kahar di tingkat SMPLB menceritakan bahwa Kahar adalah ABK dengan potensi akademis
yang sangat baik. Keterampilan Kahar lebih menonjol di keterampilan IT.
“Kahar mempunyai potensi akademis yang sangat bagus. Kalau terkait keterampilan, sejak SMPLB memang ia lebih menonjol di IT. Orang tuanya sangat mendukung, Kahar dikursuskan di berbagai lembaga kursus, mulai dari bahasa Inggris hingga desain grafis,” ujarnya.
Kahar kini duduk di kelas XI Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 02 Jakarta. Pada jenjang SMPLB, Kahar mengikuti keterampilan IT dan berlanjut ke keterampilan cetak sablon pada jenjang SMALB ini.
Hal senada juga diutarakan oleh Sutiyono,
guru pendamping Kahar sewaktu mengikuti ajang FLS2N ABK 2017 di Surabaya. Ia menceritakan bagaimana keterampilan cetak sablon yang Kahar geluti di SMALB sangat membantunya dalam mengikuti lomba Desain Grafis dalam desain poster dan brosur.
“Dalam cetak sablon dengan desain grafis memang sedikit beda arah. Namun teknik yang dipakai itu sama saja. Karena menggunakan program yang sama. Kalau di sekolah sendiri, cenderung banyak menggunakan vektor. Teknik cetak
sablon sangat membantu Kahar dalam menghasilkan desain poster,” ujar guru yang dijuluki oleh Kepala Sekolah SLB Negeri 02 Jakarta “gila” keterampilan ini.
Kahar adalah ABK yang sangat aktif. Ketika mendapatkan pelajaran desain yang baru, dia langsung mencari dan mempelajarinya lebih mendalam melalui media sosial yaitu You Tube.
Pengalaman berharga juga didapatkan Kahar ketika mendapatkan pelatihan khusus dari Universitas Bina Nusantara
selama 10 hari sebelum berangkat ke Surabaya. Pelatihan ini adalah training center yang dilakukan oleh Dinas Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Universitas Bina Nusantara.
Kahar juga berpesan kepada teman-teman ABK yang lain untuk selalu semangat dalam mempelajari sesuatu. Hal ini telah ia terapkan hingga ia sangat suka sekali dengan dunia desain grafis.
“Semangat dalam mempelajari sesuatu, nanti semuanya akan terasa mudah. Jangan lupa untuk mengulang apa yang sudah diberikan oleh guru,” tutup Kahar yang bercita-cita menjadi seorang arsitek ini.
EDISI 3 | 2017
WAWANCARA
POPPY DEWI PUSPITAWATI
Mimpi Wujudkan Pendidikan Vokasi
yang Berkualitas
EDISI 3 | 2017
Sejatinya, Anak
Berkebutuhan Khusus
(ABK) memilki potensi yang sangat luar biasa.
Memberikan keterampilan atau keahlian kepada
mereka merupakan keniscayaan. Sehingga
mereka akan mandiri dalam menghadapi hidup.
emegang amanah sebagai Direktur Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK)
Mmerupakan tugas mulia yang
harus dijalankan dengan sepenuh hati. Baginya, amanah yang sedang diemban merupakan misi kemanusiaan.
Visi kemanusiaan yang dimaksud adalah bagaimana di balik keterbatasannya mereka mampu berkarya. Maka itu diperlukan pendidikan yang mampu mencetak anak-anak berkebutuhan khusus yang memilki keahlian atau keterampilan yang berkualitas. Sehingga mereka mampu menghadapi tantangan hidup yang semakin kompetitif.
Oleh karena itu, di bawah kepemimpinannya terus meningkatkan pendidikan vokasi yang berkualitas bagi anak berkebutuhan khusus menjadi fokus utama. Baginya, yang dibutuhkan bagaimana setelah ilmu yang mereka peroleh langsung memberikan kebermanfaatan. Dan langsung mendapatkan peluang bekerja di dunia usaha dan industri, atau mampu menjadi wirausaha dengan bekal yang mereka miliki.
Tidak hanya itu, Penguatan Pendidikan Karakter juga menjadi bagian penting dalam kepemimpinannya. Pasalnya, setelah memiliki keterampilan atau keahlian yang mumpuni, mereka harus memiliki karakter yang kuat. Sehingga
mereka akan menjadi pribadi yang tangguh dalam menghadapi tantangan hidup yang semakin berat.
Majalah Spirit berkesempatan langsung mewawancarai Direktur Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Poppy Dewi Puspitawati di ruang kerjanya, Senin (9/10). Berikut petikan wawancaranya:
Sekarang Anda menempati posisi yang penting sebagai Direktur Pembinaan
Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus. Bagaimana Anda menyikapi ini?
Bagi saya posisi saat ini sebagai Direktur Pembinaan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) merupakan tugas berat yang harus dikerjakan dengan penuh tanggung jawab. Selain itu, ini merupakan tugas mulia yang harus dikerjakan sepenuh hati untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas khususnya bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Dunia PKLK bagi saya cukup baru dan menantang. Pasalnya banyak sekali yang harus ditangani dengan segala variasinya. Yang menjadi fokus utama kepemimpinan saya bagaimana setelah mereka menuntaskan pendidikan baik di sekolah khusus maupun sekolah inklusi langsung mendapatkan lapangan pekerjaan atau mereka mampu membuka lapangan pekerjaan sendiri dengan menjadi wirausaha.
EDISI 3 | 2017
Apa yang akan Anda lakukan untuk mewujudkan hal tersebut?
Langkah yang harus dilakukan adalah memperkuat pendidikan vokasi. Tentunya pendidikan vokasi yang diberikan adalah pendidikan yang berkualitas, sehingga setelah menuntaskan pendidikannya baik di sekolah khusus maupun sekolah inklusi mereka benar-benar memiliki keahlian atau keterampilan yang mumpuni. Sehingga kehadiran mereka dibutuhkan oleh dunia usaha dan dunia industri.
Selain itu, dengan pendidikan vokasi yang berkualitas maka akan menghasilkan anak-anak yang mandiri. Pasalnya mereka memiliki keahlian atau keterampilan. Sehingga kehadiran mereka tidak menjadi beban, tapi mendatangkan manfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
Pembekalan vokasi apa yang akan diberikan kepada mereka?
Pembekalan vokasi untuk pendidikan khusus sudah berjalan baik hingga saat ini. Misalnya otomotif, menjahit, tata rias, tata busana, masak dan yang lainnya. Namun, pembekalan vokasi yang ada saat ini harus terus dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman dan tuntutan pasar.
Maka itu, kita harus memperbaharui terus pembekalan vokasi kepada mereka. Sehingga pembekalan vokasi yang mereka peroleh tidak ketinggalan zaman dan sesuai permintaan pasar. Jika ini tidak
EDISI 3 | 2017
dijalankaan secara optimal maka apa yang telah mereka peroleh tidak akan mendatangkan kebermanfaatan.
Gebrakan-gebrakan apa yang akan Anda lakukan?
Untuk tahun 2017 saya akan melanjutkan pekerjaan Direktur sebelumnya. Program-program yang sudah kita lanjutkan. Namun, kami juga melakukan evaluasi. Program yang dinilai sudah bagus diteruskan, sedangkan program yang dinilai kurang kita tingkatkan.
Untuk tahun 2018 gebrakan-gebrakan apa akan dilakukan untuk mempercepat
tujuan yang hendak Anda capai?
Langkah yang akan kami lakukan adalah merekap seluruh pusat layanan pendidikan vokasi yang ada. Dari hasil rekap itu kita akan mengetahui mana saja sarana yang sudah dimanfaatkan secara optimal dan belum optimal.
Sarana yang belum optimal kita akan ubah menjadi pusat pelatihan. Sehingga peserta didik benar-benar terlayani secara berkualitas. Langkah ini diambil agar sarana yang kita miliki benar-benar melakukan pemberdayaan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Selain itu, kami juga akan melihat langsung apa sarana yang ada sesuai dengaan kebutuhan mereka. Karena sangat disayangkan jika sarana yang kita miliki tapi tidak sesuai dengan apa yang
mereka butuhkan.
Bagi saya memenuhi sarana untuk penguatan pembekalan vokasi merupakaan upaya yang tepat bagi pemberdayaan anak-anak berkebutuhan khusus. Tentunya memberikan wawasan ilmu pengetahuan juga terus dilakukan. Sehingga ada keseimbangan antara wawasan intelektual dan keterampilan atau keahlian.
Apakah Anda juga akan terus mengembangkan sayap kerja sama
dengan dunia usaha dan dunia industri?
Pastinya, kita akan melakukan hal itu. Meskipun sudah ada Undang-Undang yang secara tegas memperintahkan agar perusahaan memperkerjaakan penyandang disabilitas sebesar 1 persen, namun yang saya lihat belum berjalan optimal.
Maka itu, kita harus terus melakukan terobosan-terobosan agar anak-anak berkebutuhan khusus setelah menuntaskan pendidikan bisa langsung bekerja di dunia usaha dan dunia industri. Cara yang akan kita lakukan dengan melakukan kerjasama dengan perusahan- perusahan dengan memberikan mereka kesempatan magang. Kalau ini sudah bisa dilakukan secara masif maka saya yakin akses mereka untuk mendapatkan lapangan pekerjaan semakin terbuka.
Di kepemimpinan sebelumnya sudah ada beberapa sekolah yang menjalin
Apakah para juara dari ajang tersebut akan ditindak lanjuti?
Jika dimungkinkan mereka akan dilibatkan dalam event-event internasional. Misalnya dilibatkan pada kongres difabel internasional dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk menunjukkan kemampuannya dalam bernyanyi atau menari. Sayang sekali jika potensi emas mereka hanya berhenti dalam lingkup nasional. Mereka harus bisa menunjukkan kemampuannya di tingkat internasional.
Apalagi jika kita memilihat kemampuan anak-anak difabel kita tidak diragukan lagi. Misalnya atlet difabel dari Indonesia justru banyak meraih medali pada ajang olahraga tingkat internasional.
Terkait Penguatan Pendidikan Karakter,
kerja sama dengan dunia usaha dan apa yang akan Anda lakukan? dunia industri baik pada skala lokal maupun nasional. Bentuk kerja sama Pada periode sebelum kita sudah yang dilakukan adalah magang siswa dan melakukan penguatan budaya literasi. penyerapan tenaga kerja bagi penyandang Pada tahun ke depan akan kami disabilitas/ anak berkebutuhan khsusus. sempurnakan dengan pendidikan Sebagai bentuk apresiasi pemerintah karakter. Pendidikan karakter ini akan kepada mereka melalui Kementerian kami terapkan di sekolah khusus maupun Pendidikan dan Kebudayaan telah sekolah inklusi. memberikan piagam penghargaan kepada 6 dunia usaha dan dunia industri Pendidikan karekter ini sangat penting yang telah menjalin kerjasama dengan bagi mereka. Di tengah tantangan global SLB, antara lain PT. First Medipharma yang semakin ketat dan kompetitif ini Bidang Farmasi, PT. UFI Bidang Kosmetik, maka nilai-nilai yang ada pada Penguatan PT. Young Tree Bidang Sepatu, PT. JAI Pendidikan Karakter seperti religius, Komponen Kabel Mobil, PT. Subang Autocomp Indonesia, Batik Natural Colour “Bixa”.
PKLK telah menggelar beberapa ajang seperti FIKSI, LKSN, O2SN dan FLS2N. Apa
harapan Anda dengan digelarnya ajang tersebut?
Bagi kami ajang ini sangat bagus sekali. Melalui ajang ini guru dan siswa berkebutuhan khusus akan termotivasi untuk melakukan yang terbaik. Sejatinya mereka memiliki potensi yang sangat luar biasa jika terus digali.
Ajang ini merupakan wahana bagi mereka untuk mengukir prestasi dengan keterampilan atau bakat yang mereka miliki. Jika mereka tidak diberikan kesempatan atau wahana maka potensi mereka akan tertutup dan hilang. Ini sangat disayangkan.
nasionalis, integritas, mandiri, dan gotong royong harus ditanamkan. Sehingga akan terbentuk generasi yang tangguh.
Selain itu, pendidikan karakter juga kita dorong kepada para orang tua, dengan mengubah pola pikir mereka. Pasalnya masih banyak orang tua yang minder dan takut jika mengirimkan anaknya yang menyandang difabel ke sekolah inklusi karena takut anaknya di-bully.
Apa yang akan Anda lakukan untuk menyadarkan orang tua bahwa anak
berkebutuhan khusus juga memiliki potensi jika terus digali?
Kami akan menyadarkan itu, bahwa anak-anak mereka juga memiliki potensi yang besar. Maka itu, kami sudah meminta kepada seluruh pimpinan disini untuk membuat video-video yang menceritakan tentang keunggulan-keunggulan anak-anak berkebutuhan khusus. Dan video tersebut dimasukkan ke sosial media. Sehingga ini akan menjadi viral dan akan menggugah kesadaran orang tua bahwa anak berkebutuhan khusus memiliki potensi yang luar biasa.
Lihat saja, dari beberapa ajang yang PKLK gelar merupakan bukti nyata bahwa mereka memilki potensi dan mampu mengukir prestasi. Di balik keterbatasannya mereka mampu menorehkan karya yang patut untuk dibanggakan.
EDISI 3 | 2017
WAWANCARA
ABU BAKAR JAMALIA, Anggota DPD RI dari Provinsi Jambi Anak Bangsa Harus
Terselamatkan dari Bencana Alam
Indonesia merupakan salah satu negara yang paling
rentan terhadap bencana di dunia. Bencana tidak
hanya merenggut nyawa.
Bencana juga memudarkan pencapaian pembangunan dan
berdampak negatif terhadap perekonomian. Selain itu,
juga akan mengganggu proses pendidikan.
alam 15 tahun terakhir, terdapat 46.648 sekolah yang terdampak bencana. Data tersebut hanya dihimpun
Dberdasarkan skala bencana
menengah dan besar yang memberikan dampak signifikan pada sektor pendidikan di Indonesia.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa dunia pendidikan di Indonesia sangat rentan terkena bencana. Sebab, dari 497.576 total sekolah di Indonesia yang tersebar di 34 provinsi, 250.000 sekolah berada di lokasi rawan bencana. Ditambah lagi data yang dirilis oleh World Bank mengungkapkan bahwa 75 persen sekolah di Indonesia di lokasi rawan bencana baik dalam skala sedang dan tinggi. Hal ini mempertegas bahwa pendidikan di Indonesia sangat rentan terdampak bencana.
EDISI 3 | 2017
Melihat kondisi tersebut maka pendidikan aman bencana merupakan keniscayaan. Sebab bencana bisa datang kapan saja tanpa diketahui. Sehingga saat bencana para peserta didik yang merupakan aset bangsa mampu menyelamatkan diri sendiri bahkan dapat membantu orang lain.
Terbentuknya Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana yang digawangi oleh Kemendikbud bersama BNPB, Kementerian Agama dan Kementerian Negara PPPA merupakan langkah yang tepat untuk mewujudkan sekolah aman bencana di Indonesia.
Wartawan Majalah Spirit berkesempatan mewawancarai Abu Bakar Jamalia anggota DPD RI Komite III yang membidangi pendidikan, agama. Abu Bakar Jamalia berasal dari daerah pemilihan Provinsi Jambi.
Berikut petikan wawancaranya:
Bagaimana pandangan Anda dengan terbentuknya Sekretariat Nasional
Satuan Pendidikan Aman Bencana yang digawangi oleh Kemendikbud
bersama BNPB, Kementerian Agama dan Kementerian Negara PPPA?
Sajauh ini saya belum mengetahui secara lengkap. Tapi saya mengapresiasi dan mendukung dengan adanya Seknas tersebut. Dengan adanya Seknas inilah maka akan lebih mudah dalam melakukan koordinasi, kerja sama, dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan,
baik dari pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta dalam upaya mewujudkan sekolah aman bencana.
Menurut Anda seberapa pentingkah satuan pendidikan aman bencana di
Indonesia?
Sekolah aman bencana sangat penting di Indonesia. Sebab, apabila melihat kondisi alam, Indonesia merupakan negara yang rentan bencana. Baik bencana berupa banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsunami dan bencana lainnya.
Sekolah kerap kali terdampak, maka itu sekolah aman bencana harus benar-benar terbentuk. Sehingga saat bencana datang, khususnya para siswa sudah siap bagaimana mereka menyiapkan diri atau justru mereka bisa menyelamatkan nyawa orang lain. Selain itu, sekolah aman bencana juga harus mempersiapkan infrastrukturnya yang memadai sehingga dampak dari bencana yang terjadi tidak begitu besar.
Mengapa Satuan Pendidikan Aman Bencana sangat penting, khususnya bagi para peserta didik?
Bagi saya, anak-anak bangsa merupakan aset negara yang tak ternilai. Maka itu, mereka harus benar-benar terlindungi. Sekolah aman bencana merupakan bagian dari melindungi mereka dari dampak bencana tersebut.
Manusia tidak bisa menghalangi bencana. Tapi manusia hanya bisa melakukan
bagaimana mempersiapkan untuk menyelamatkan diri dari bencana tersebut.
Bencana boleh meluluhlantahkan bangunan sekolah. Tapi yang harus kita persiapkan bagaimana anak-anak telah dibekali kemampuan dirinya untuk menyelamatkan diri dari bencana. Karena merekalah aset bangsa yang akan melanjutkan pembangunan bangsa ini.
Terkait Sekolah Luar Biasa, bagaimana menciptakan Satuan Pendidikan Aman
Bencana di sana?
Semua sekolah sama, baik sekolah reguler maupun Sekolah Luar Biasa. Maka itu, SLB juga harus diperhatikan dalam menciptakan sekolah aman bencana. Tentunya pendekatan yang digunakan jauh berbeda dengan sekolah reguler.
Pendekatan atau pengajaran bagaimana
menciptakan sekolah aman bencana harus berdasarkan kebutuhan mereka. Tidak bisa disamakan pendekatan atau pengajaran antara tunarungu dan tunanetra, antara tunadaksa dan tunagrahita dan seterusnya.
Pesan saya, dalam pendidikan harus menjunjung tinggi keadilan. Pendidikan tidak membedakan antara yang satu dengan yang lain, kerena mereka semua adalah anak bangsa yang harus
EDISI 3 | 2017
WAWANCARA
LALU SUHAIMI ISMY, Anggota DPD RI NTB Anak Berkebutuhan Khusus Juga Mampu Mengharumkan
Nama Bangsa
Anak Berkebutuhan khusus (ABK) memiliki potensi yang sama dengan anak-anak pada umumnya jika potensi yang mereka miliki
terus ditumbuhkembangkan.
ereka dalam berbagai bidang terbukti mampu menorehkan prestasi, baik di tingkat nasional, maupun di kancah
Minternasional.
Misalnya dalam bidang seni, M. Ade Irawan melalui dentingan piano yang dimainkan, penyandang tunanetra ini terbukti mampu mengharumkan Indonesia di kancah
EDISI 3 | 2017
internasional dengan menggelar resital piano tunggal di Sydney Opera House Australia. Selain itu dia juga merupakan pemegang rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pianis tunanetra Indonesia termuda, yakni pada usia 16 tahun telah melakukan resital piano tunggal di Indonesia dan di luar negeri.
Tak kalah hebatnya, pada bidang olahraga,
mereka yang memiliki kebutuhan khusus terbukti mampu mengharumkan nama Indonesia pada ajang ASEAN Para Games 2017 yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia pada 17-23 September 2017dengan meraih prestasi yang membanggakan sebagai Juara Umum. Ini tentunya merupakan capaian yang luar biasa di kancah internasional.
Melihat hal tersebut, maka harus ada langkah-langkah nyata untuk terus menumbuh kembangkan bakat dan prestasi yang mereka miliki. Sehingga dengan potensi yang mereka miliki
mampu memberikan manfaat bagi dirinya sendiri, bahkan bermanfaat bagi orang lain. Serta dengan prestasi mereka diharapkan juga mampu mengharumkan Indonesia di mata dunia dengan kemampuan yang mereka miliki.
Wartawan Majalah Spirit berkesempatan mewawancarai Lalu Suhaimi Ismy anggota DPD RI Komite III yang membidangi pendidikan, agama. Lalu Suhaimi Ismy berasal dari daerah pemilihan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Berikut petikan wawancaranya:
Bagaimana Anda melihat potensi Anak Berkebutuhan Khusus di Indonesia?
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) harus mendapatkan perhatian yang sama dengan anak-anak pada umumnya, khususnya dalam bidang pendidikan. Karena pendidikan harus menjunjung tinggi semangat keadilan. Sehingga semua anak bangsa harus mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas, termasuk pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Bagi saya anak-anak berkebutuhan khusus memiliki potensi yang sama dengan anak-anak pada umumnya dalam
berbagai bidang, baik di bidang seni, musik, olahraga dan lain-lainnya. Maka itu, kita harus memperhatikan mereka dengan terus mengembangkan bakat dan prestasi yang mereka miliki.
Direktorat Pembinaan PKLK sudah secara rutin menggelar FIKSI-LKSN,
O2SN-ABK dan FLS2N-ABK. Bagaimana Anda melihat kegiatan-kegiatan tersebut?
Kegiatan tersebut sangat bagus, karena termasuk bagian upaya yang dilakukan Kemendikbud melalui Direktorat Pembinaan PKLK dalam mengembangkan potensi dan bakat prestasi bagi Anak Berkebutuhan Khusus. Semoga dengan kegiatan-kegiatan itulah akan mendorong mereka untuk terus mengembangkan bakat potensi yang mereka miliki.
Dengan rutin digelar kegiatan-kegiatan tersebut akan mendorong mereka untuk terus mengukir prestasi. Sebab mereka merasa diperhatikan. Sehingga mereka akan terus berkarya dan kelak akan menghasilkan siswa-siswa yang berprestasi di bidang yang mereka tekuni.
Apakah Anak Berkebutuhan Khusus di Indonesia mampu menorehkan prestasi
hingga ke tingkat internasional?
Hal tersebut telah dibuktikan. Mereka mampu membanggakan Indonesia dengan prestasi yang gemilang. Seperti yang terakhir ini, para penyandang difabel terbukti mampu meraih juara umum pada ajang ASEAN Para Games 2017. Prestasi ini, tentunya sangat membanggakan.
Jika kita melihat prestasi olahraga, anak-anak berkebutuhan khusus juga menorehkan prestasi yang luar biasa. Ini terbalik dengan capaian prestasi atlet pada umumnya justru pada tingkat ASEAN prestasinya tidak masuk hingga tiga besar, apalagi juara umum.
Dengan prestasi yang telah mereka raih, apa yang harus dilakukaan agar
semangat tersebut tetap terjaga?
Tentunya semua pihak dari pemerintah, masyarakat dan swasta harus terus memberikan perhatian yang lebih kepada mereka. Sebab mereka juga memiliki segudang prestasi dan bakat jika terus dikembangkan. Hal tersebut telah mereka buktikan.
Perhatian harus dibarengi dengan langkah-langkah nyata, yaitu melalui pembinaan yang intensif sehingga bakat mereka terus terasah. Sehingga nantinya mereka akan mampu mengukir prestasi yang membanggakan bagi bangsa dan negara.
Pembinaan tentunya harus dibarengi dengan terpenuhinya sarana dan prasarananya. Ini harus menjadi perhatian penting bagi pemerintah melalui kementerian terkait, misalnya Kemenpora dan Kemendikbud.
Apa pesan bagi kita semua agar anak-anak berkebutuhan khusus terus
mampu mengukir prestasi?
Mereka (ABK) juga seperti kita yang memiliki bakat dan potensi yang luar biasa. Maka itu, perlakukan mereka dengan cara yang adil baik dalam pendidikan dan pemenuhan kebutuhan yang lain.
Sehingga bakat dan potensi yang telah Allah anugerahkan kepada mereka akan terus berkembang dan memberikan manfaat bagi dirinya, masyarakat, dan negara.
EDISI 3 | 2017
LAPORAN KHUSUS
O2SN Upaya Mencetak Generasi Bangsa Berkarakter Tangguh
EDISI 3 | 2017
alam rangka menumbuh kembangkan potensi dan bakat prestasi siswa khususnya di
Dbidang olahraga, Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menggelar Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN). Pada tahun 2017 perhelatan akbar antarsiswa se-Indonesia tersebut digelar di Kota Medan, Sumatera Utara yang berlangsung pada tanggal 3-9 September 2017 dengan mengusung tema “Membangun Generasi Tangguh yang Menjunjung Sportivitas”.
Perhelatan olahraga akbar tersebut diikuti oleh siswa dari jenjang SD, SMP hingga SMA/SMK. Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Anak Berkebutuhan Khusus juga ikut ambil bagian.
O2SN untuk Anak Berkebutuhan Khusus ini mempertandingkan sembilan cabang lomba. Antara lain, Bulutangkis Putra jenjang SMPLB, Bocce Putri jenjang SDLB, Bocce Putri jenjang SMPLB, Bocce Putri jenjang SMALB, Lari Putri 80 meter Jenjang SDLB, Lari Putri 100 meter jenjang SMPLB, Lari Putri 100 meter jenjang SMALB, Balap Kursi Roda Putra jenjang SMPLB, Catur Putra/Putri jenjang SDLB/SMPLB/SMALB.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Muhadjir Effendy dalam sambutannya mengatakan O2SN merupakan bagian dari upaya pemerintah melalui Kemdikbud untuk mencetak generasi Indonesia yang unggul. Melalui olahraga inilah akan lahir anak-anak bangsa yang memiliki karakter kuat.
Muhadjir mengatakan melalui olahraga
akan membentuk karakter siswa yang senantiasa menjunjung tinggi sportivitas dan pantang menyerah. Berbekal modal inilah maka akan lahir anak-anak bangsa yang memiliki karakter yang kuat. Sehingga mereka menjadi generasi yang siap untuk menjadi penyambung dan penerus perjungan rakyat Indonesia di masa akan datang.
Sementara itu Direktur Pembinaan PKLK (kala O2SN berlangsung), Ir. Sri Renani Pantjastuti mengatakan bahwa ajang O2SN merupakan forum silaturahmi nasional anak bangsa di bidang olahraga untuk menggelorakan semangat sportivitas, tanggung jawab, kejujuran, kebenaran, kerja sama, kompetitif, menghargai perjuangan, dan nilai-nilai karakter lainnya. “Penguatan Pendidikan Karakter yang diarusutamakan oleh Kemdikbud juga terus diupayakan di ajang O2SN. Nilai nasionalis, religius, integritas,
mandiri, dan gotong royong diharapkan muncul dan menjadi karakter dari para partisipan O2SN,” katanya.
Upaya tersebut juga perlu dilakukan untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan (PKLK), ajang O2SN perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu dan mengembangkan potensi Anak Berkebutuhan khusus di bidang olahraga dan kebugaran jasmani. “O2SN merupakan salah satu indikator untuk mengetahui keberhasilan proses pembelajaran pendidikan jasmani yang adaptif terhadap peserta didik kebutuhan khusus tersebut,” jelasnya.
Pada O2SN 2017 Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berhasil mempertahankan gelar juara umum. Sehingga terhitung NTB telah tiga kali berturut-turut menyandang predikat juara umum.
TEMPAT
TEMPAT LOMBA LOMBA
O2SN 2017 O2SN 2017
Stadion Unimed
Stadion Unimed
Lapangan Hoki, Bocce Unimed
Lari
GOR H. Anif Bulutangkis Unimed
Balap Kursi Roda
Four Poin Catur ttuur uru Hotel Medan
EDISI 3 | 2017
LAPORAN KHUSUS
FLS2N ABK 2017, Ajang Silaturahmi yang
Kaya Akan Nilai PPK
esenian dengan segala bentuk dan ragamnya merupakan wahana bagi manusia untuk mengekspresikan diri sesuai
Kdengan tuntutan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan menyemarakkan kegiatan berkesenian dalam dunia pendidikan, siawa akan mampu mengasah kepekaan hati dan nuraninya yang pada gilirannya kelak dapat memperhalus budi pekerti dan tingkah lakunya. Dalam kaitan itu, siswa sebagai generasi penerus bangsa harus memiliki bekal pendidikan kognitif, afektif, dan motorik yang selaras dan seimbang.
Hal ini didukung oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan
EDISI 3 | 2017
Layanan Khusus, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan mengadakan kegiatan rutin tahunan yang bertajuk Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) 2017 yang berlangsung di Kota Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 24 s.d. 28 September 2017.
FLS2N ABK 2017 hadir dengan mengusung tema “Memacu Kreativitas Seni untuk Memperkuat Pendidikan Karakter”.
Ajang FLS2N merupakan forum silaturahmi nasional anak bangsa di bidang seni untuk menggelorakan
semangat sportivitas, tanggung jawab, kejujuran, kebenaran, kerja sama, kompetitif, menghargai perjuangan, dan nilai-nilai karakter lainnya. Penguatan Pendidikan Karakter yang diarusutamakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga terus diupayakan di ajang FLS2N. Nilai nasionalis, religius, integritas, mandiri, dan gotong royong diharapkan muncul dan menjadi karakter dari para partisipan FLS2N.
Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Pembinaan PKLK, Poppy Dewi Puspitawati yang mengatakan bahwa ajang FLS2N ABK merupakan sarana menjalin tali silaturahmi antarpeserta. Melalui ajang ini banyak ilmu dan pengalaman yang bisa
dibagi oleh para peserta dari 34 provinsi.
“Ini bukan ajang kompetisi tapi ajang silaturahmi. Ajang ini juga salah satu upaya Penguatan Pendidikan Karakter kepada siswa. Melalui ajang ini nilai-nilai yang terkandung dalam Penguatan Pendidikan Karakter akan terbentuk,” katanya saat ditemui Tim Media Center usai Upacara Pembukaan FLS2N di Rich Palace Hotel, Surabaya, (25/9).
Diharapkan bahwa dengan diadakannya FLS2N ABK ini, di balik keterbatasan para siswa, potensi yang ada pada diri masing-masing siswa dapat tergali dengan baik sehingga akan melahirkan generasi bangsa yang unggul.
Peserta yang hadir di Surabaya untuk mengikuti ajang ini adalah anak-anak terbaik yang mewakili daerah masing-masing. Mereka adalah mutiara-mutiara yang bernilai yang juga merupakan generasi bangsa yang memiliki keterampilan dan keunggulan di bidang seni.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Kasubdit Program dan Evaluasi Direktorat Pembinaan PKLK, Praptono yang mengungkapkan bahwa ajang FLS2N ini dijadikan tempat untuk bersenang-senang dan mengekpresikan diri dalam bidang seni. Maka itu, ia berpesan kepada seluruh peserta agar mengikuti kegiatan ini dengan penuh suka cita.
“Ini harus menyenangkan. FLS2N bukan ajang yang menakutkan,” tegasnya.
Dalam FLS2N ABK 2017 terdapat sembilan bidang lomba yang dipertandingkan antara lain Menyanyi SDLB, Melukis SDLB, Desain Grafis SMPLB, Desain Grafis SMALB, Menyanyi SMPLB/SMALB, Melukis SMPLB/ SMALB, Menari SMPLB/SMALB, MTQ SMPLB/SMALB dan Pantomim SMPLB/ SMALB.
Jumlah peserta yang mengikuti FLS2N ABK 2017 adalah 303 peserta dari 34 Provinsi di Indonesia.
| KATEGORI | JUARA 1 | JUARA 2 | JUARA 3 |
|---|---|---|---|
| Menyanyi SDLB | Allafta Hirzi Sodiq DKI Jakarta | Mohammad Hilbram Jawa Timur | Ugoanus Ramang Nusa Tenggara Timur |
| Menyanyi SMPLB/SMALB | Zelda Maharani Banten | Ade Suryani Jawa Barat | Firly Ardiansyah U Maluku |
| Melukis SDLB | Erlina Rizky Amelia Jawa Timur | Claudya Adita Putri Kalimantan Tengah | Nur Baiti Kalimantan Selatan |
| Menari SMPLB/SMALB | Dewa Ayu Sakania Prdanya Aristi Bali | Chatarina Erni Astuti D.I Yogyakarta | Suchi Ramadhani Sumatera Barat |
| Melukis SMPLB/SMALB | Desi Wulan Sari Sumatera Barat | Windiyani Lilin Wardani Jawa Tengah | Beni Pujiono Lampung |
| MTQ SMPLB/SMALB | Rifa’ah Nusa Tenggara Barat | Wendi Ardiansyah Jawa Barat | Hairunnisa Sulawesi Tengah |
| Desain Grafis SMPLB | Muhammad Faiz DKI Jakarta | Rosid Nurohman D.I Yogyakarta | Wyaneta Anisa Brilianti Jawa Tengah |
| Desain Grafis SMALB | Abdul Kahar DKI Jakarta | Ahmad Nasihun D.I Yogyakarta | Deby Wicaksono Kalimantan Timur |
| Pantomim SMPLB/SMALB | Wahyu Rahmad Duliah D.I Yogyakarta | Yoga Falakh Ramadhan Jawa Timur | Ahmad Gilang Julianto Jawa Barat |
EDISI 3 | 2017
DAFTAR JUARA FLS2N ABK TAHUN 2017
Juara Umum Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional Anak Berkebutuhan Khusus 2017 adalah Provinsi DKI Jakarta dengan perolehan 3 medali emas.
Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rentan terhadap bencana di dunia. Maka itu,
pengurangan risiko bencana harus terus diupayakan secara sistematis agar dampak dari bencana terhadap kehidupan dan penghidupan manusia tidak begitu besar.
PRB yang Inklusif
Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rentan
terhadap bencana di dunia.
Maka itu, pengurangan risiko bencana harus terus diupayakan
secara sistematis agar dampak dari bencana terhadap
kehidupan dan penghidupan manusia tidak begitu besar.
ahun ini, peringatan bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) kembali digelar. Sorong, Papua Barat dipilih menjadi
Ttuan rumah kegiatan yang
dilaksanakan pada tanggal 22-25 Oktober
- Peringatan PRB telah menjadi agenda nasional yang rutin digelar setiap tahun sejak tahun 2013. Tuan rumah peringatan bulan PRB nasional sebelumnya secara berurutan adalah Kota Mataram, NTB (2013), Kota Bengkulu, Bengkulu (2014),
EDISI 3 | 2017
Kota Surakarta, Jawa Tengah (2015), dan Kota Manado, Sulawesi Utara (2016).
Peringatan ini selaras dengan aktivitas global terkait PRB. Pada tahun 2009, badan PBB UNISDR (United Nations International Strategy for Disaster Reduction) telah menetapkan tanggal 13 Oktober sebagai hari peringatan Pengurangan Risiko Bencana Internasional (International Day for Disaster Risk Reduction). Hari Peringatan PRB ini menjadi pengingat bersama atas kemajuan-kemajuan, keberhasilan, capaian-capaian dalam mempertahankan ketangguhan dari dampak bencana di Indonesia.
PRB merupakan rangkaian upaya yang dilakukan secara sistematis untuk menganalisa risiko-risiko dampak bencana terhadap kehidupan dan penghidupan manusia. Setelah hampir satu dekade upaya penanggulangan bencana di Indonesia dilaksanakan, telah banyak kemajuan-kemajuan dan capaian-capaian dalam membangun ketangguhan bangsa terhadap bencana melalui upaya
pengurangan risiko bencana. Namun, besarnya pencapaian penurunan risiko bencana perlu terus dimonitor dan evaluasi agar upaya-upaya tersebut tidak hanya mengurangi risiko yang ada namun diharapkan dapat mencegah munculnya risiko-risiko baru.
Investasi PRB perlu selalu dilakukan secara fokus dan inklusif dalam pembangunan berkelanjutan agar manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat. Oleh karena itu, untuk mendukung kemajuan dalam upaya penanggulangan bencana ini diperlukan komitmen yang kuat antara pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, dan sektor swasta.
Sesuai dengan semangat Nawacita dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019, dalam rangka menurunkan indeks risiko bencana pada pusat-pusat pertumbuhan, kegiatan Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana Nasional Tahun 2017 mengangkat tema “Pengurangan Risiko Bencana Sebagai Investasi Pembangunan”
dan “Home Safe Home” sebagai tagline.
Peringatan Bulan PRB yang diikuti lebih dari 2.000 peserta terdiri dari Kepala Daerah, DPR/DPD/DPRD, Kementerian/ Lembaga, SKPD Provinsi dan Kab/Kota (terutama BPBD Provinsi/Kab/Kota), Organisasi Nasional/Daerah/Internasional, Forum PRB, praktisi kebencanaan, perguruan tinggi, Lembaga Usaha, dan organisasi masyarakat berlangsung meriah.
Sejumlah agenda digelar antara lain Rally PRB Manokwari-Sorong, Bersih Sungai Remu Sorong, Pengukuhan Sekolah Sungai Papua Barat, Lomba Cerdas Cermat antar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) provinsi, Pameran PRB, Peresmian Kantor BPBD Raja Ampat dan knowledge sharing.
Ada sepuluh tema yang diangkat pada knowledge sharing tahun ini, antara lain Memahami Risiko Bencana, Penguatan Tata Kelola Risiko Bencana, Investasi dalam Pengurangan Risiko Bencana, Perkuatan Kesiapsiagaan dan Penanganan Darurat Bencana serta Pembangunan Lebih Baik dan Lebih Aman, Pengurangan Risiko Bencana dan Kerjasama Internasional, Penanggulangan Bencana Non Alam; Rumah Sakit Aman Bencana, Satuan Pendidikan Aman Bencana, Inklusif Disabilitas dan Pengarus Utamaan Gender (PUG) dalam Pengurangan Risiko Bencana, terakhir Masyarakat Tangguh, Indonesia Tangguh: Membangun Ketangguhan Masyarakat Melalui Sinergitas Multi Pihak.
Knowledge sharing yang digelar selama dua hari ini, 23-24 Oktober 2017 berlangsung sangat meriah. Narasumber yang hadir memberikan masukan- masukan yang sangat berarti untuk perbaikan pengurangan risiko bencana di Indonesia.
Misalnya pada tema Inklusif Disabilitas dan Pengarus Utamaan Gender (PUG) dalam Pengurangan Risiko Bencana, Nyimas Aliah, Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan Pada Situasi Darurat dan Kondisi Khusus dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang hadir sebagai narasumber pada knowledge sharing tersebut mengatakan untuk mengurangi jumlah orang yang terdampak bencana harus segera mewujudkan penyelenggaraan PRB bersifat inklusif dan
melibatkan semua orang. Penyelenggaraan PRB bersifat inklusif yang dimaksud adalah bagaimana dalam penanggulangan bencana harus memperhatikan kebutuhan yang berbeda. Pasalnya di setiap bencana pasti ada dari kalangan penyandang disabilitas, perempuan, lansia, ibu hamil, anak-anak yang memiliki kerentanan dan pemenuhan kebutuhan yang berbeda. Menurutnya mereka merupakan kelompok yang memiliki kerentanan yang sangat tinggi. “Apalagi saat terjadi bencana mereka akan lebih rentan. Maka itu, diperlukan langkah-langkah pencegahan agar kelompok rentan ini tidak mengalami kekerasan,” tegasnya. Nyimas mengatakan pencegahan pertama yang harus dilakukan saat terjadi bencana adalah pendataan yang benar berapa jumlah kelompok rentan tersebut. Langkah ini harus dilakukan lebih awal untuk memberikan perlindungan kepada mereka. Selain itu, bicara perlindungan kepada mereka juga harus dibarengi dengan ketersediaan sarana dan prasana terhadap kelompok rentan. Sehingga mereka bisa mandiri dan berdaya saat bencana. “Bicara perlindungan anak harus dibarengi dengan pemenuhan sarana dan prasana yang ramah terhadap mereka. Misalnya menyediakan kamar mandi dan toilet yang ramah untuk mereka, pemenuhan kebutuhan dasar seperti pakaian, celana dalam, ini harus benar-benar diperhatikan,” jelasnya. Lebih lanjut bicara pengarus utamaan gender Nyimas menuturkan ada empat kunci yang harus dijalankan yakni akses untuk mereka, bantuan yang diberikan memberikan manfaat bagi mereka, partisipasi perempuan dalam mengatasi pengurangan risiko bencana dan adanya kontrol. “Jika empat kunci ini
dijalankan maka ini disibut inklusi untuk pengurangan risiko bencana,” katanya. Sementara itu, narasumber lainnya Melinda Margaretha, Country Director dari Arbeiter-Samariter-Bund (ASB) penyelenggaraan PRB bersifat inklusif harus masuk ke dalam dunia pendidikan. Khusunya bagi siswa penyandang disabilitas, kerena mereka merupakan kelompok yang sangat rentan. Maka itu, Sekolah Aman Bencana khususnya Sekolah Luar Biasa (SLB) harus diberikan pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi bencana. Sehingga mereka akan mandiri dalam melakukan perlindungan dan evakuasi. Tentunya Sekolah Aman Bencana bagi siswa berkebutuhan khusus memiliki tingkat keuletan dan kesabaran tersendiri. Pasalnya untuk memberikan informasi terkait PRB tidak bisa dilakukan secara sama. Agar informasi tersebut dapat mereka terima harus dengan cara yang berbeda sesuai dengan kebutuhan mereka. “Tentunya Sekolah Aman Bencana untuk anak berkebutuhan khusus berbeda dengan sekolah pada umumnya. Kita harus mengkodifikasi agar media pembelajarannya aksesibel bagi mereka. Selain itu, fasilitas sekolah juga harus ramah sehingga mereka mampu mandiri saat melakukan evakuasi,” katanya. Lebih lanjut ia menegaskan agar pembelajaran terkait pengurangan risiko bencana terhadap anak berkebutuhan khusus berjalan efektif maka yang harus dilakukan dengan pembelajaran yang tepat sesuai dengan kebutuhan mereka. Misalnya anak penyandang tunanetra menggunakan media audio, tunarungu menggunakan media gambar. “Yang tidak kalah pentingnya juga gedung sekolah harus menyiapkan jalur evakuasi untuk kursi roda, jalur evakuasi yang lebar,” katanya.
EDISI 3 | 2017
Pendidikan Pusat Penyadaran PRB
75 persen seluruh sekolah di Indonesia berada di lokasi rawan bencana. Maka itu, memastikan sekolah-sekolah yang berada
di wilayah rawan bencana aman dari risiko bencana harus terus diupayakan. Sehingga saat bencana datang kegiatan pendidikan
tetap terus berjalan.
ndonesia merupakan salah satu negara yang paling rentan terhadap bencana di dunia. Bencana tidak hanya merenggut nyawa.
IBencana memudarkan pencapaian
pembangunan dan berdampak negatif terhadap perekonomian nasional.
Selain itu, bencana juga mengganggu kegiatan proses belajar dan mengajar. Sehingga proses mencerdaskan anak bangsa akan terganggu. Melihat data yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam 15 tahun terakhir ini (2002-2016) jumlah kejadian bencana di Indonesia meningkat 20 kali lipat. Dan
dalam 15 tahun terakhir, terdapat 46.648 sekolah yang terdampak baik skala bencana menengah dan besar.
Dunia pendidikan di Indonesia sangat rentan terkena risiko bencana. Pasalnya, berdasarkan pemetaan yang telah dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerjasama dengan BNPB dari 497.576 total sekolah di Indonesia yang tersebar di 34 provinsi, 250.000 sekolah berada di lokasi rawan bencana. Artinya 75 persen sekolah di Indonesia di lokasi rawan bencana baik dalam skala sedang dan tinggi.
Maka itu, membangun kesadaran untuk meningkatkan pentingnya sekolah aman dari bencana harus ditingkatkan. Saat ini program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di Indonesia semakin berkembang. Seiring dengan adanya kebijakan dan strategi, bertambah pula lembaga yang memiliki program SPAB. Kesadaran akan pentingnya sekolah aman dari bencana juga semakin meningkat.
Praptono, Kasubdit Program dan Evaluasi Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) saat menjadi narasumber knowledge sharing yang mengangkat tema “Satuan Pendidikan Aman Bencana” pada Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana mengungkapkan pengurangan risiko bencana di bidang pendidikan sudah berjalan dengan baik. Setidaknya sudah ada keberhasilan yang sudah ditorehkan, antara lain Indonesia sudah memiliki peta jalan sekolah aman, memiliki
EDISI 3 | 2017
Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (Seknas SPAB) yang berada di bawah Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Serta sudah adanya modul dan panduan fasilitator sekolah aman dan juga implementasi sekolah aman bencana di 25.620 sekolah.
Ia menambahkan bahwa upaya pengurangan risiko bencana di bidang pendidikan telah menggandeng sejumlah pihak, baik dari pemerintah dalam hal ini Kemendikbud, Kementerian Agama dan BNPB maupun berbagai lembaga non pemerintah.
“Berkat kerja keras seluruh pihak di kancah Internasional Indonesia menjadi salah satu safe school country leader diantara 15 negara lain di dunia. Hal ini menandakan bahwa Indonesia telah menjadi pelopor SMAB dengan melakukan berbagai upaya yang inovatif dan strategis,” katanya di Aimas Convention Center, Kabupaten Sorong, Selasa (24/10).
Sekjen Seknas SPAB ini menegaskan bahwa pengurangan risiko bencana pada bidang pendidikan harus menjadi prioritas utama. Maka itu, mendiskusikan berbagai cara dan strategi untuk pengembangan dan inovasi Sekolah Aman di Indonesia
harus terus dilakukan. Sebab dunia pendidikan tidak pernah luput dari bencana.
“Kalau ada bencana tidak luput dari pendidikan. Bahkan bencana kecil pun sekolah kita pasti terdampak. Kalau tidak bangunannya, siswa atau gurunya,” katanya.
Bencana alam merupakan ketentuan Tuhan, manusia tidak bisa mencegahnya. Yang harus dilakukan oleh kita semua adalah bagaimana mengurangi risiko bencana, khususnya di dunia pendidikan. Sehingga saat bencana datang, maka proses mencerdaskan anak bangsa tetap terus berjalan.
“Kita tidak tahu kapan bencana terjadi. Maka itu, cara, strategi dan inovasi harus terus dilakukan untuk sekolah aman. Karena dampak bencana terlalu luas, khususnya pendidikan,” jelasnya.
Lebih lanjut Praptono mengatakan bahwa langkah penting yang dilakukan dalam upaya pengurangan risiko bencana di bidang pendidikan antara lain menyiapkan seluruh peserta didik dan guru selalu siap dalam menghadapi bencana. Jangan sampai saat bencana datang guru dan siswa panik, sehingga mereka tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Dan yang
tidak boleh disepelekan terkait konstruksi bangunan sekolah yang harus aman dari bencana. Sehingga saat bencana terjadi sekolah tidak mengalami kerusakan yang parah.
“Dan yang paling penting dilakukan menerapkan manajemen pendidikan bencana. Yaitu guru harus memberikan pengajaran bagi peserta didiknya bagaimana menyelamatkan diri dari bencana. Maka itu, melakukan simulasi, analisis risiko bencana dan lain-lainnya harus dilakukan,” jelasnya.
“Memberikan pendidikan pengurangan risiko bencana jangan hanya sekadar teoritik, tapi harus implementatif, “ imbuhnya.
Baginya, apabila pendidikan pengurangan risiko bencana berjalan sesuai harapan maka akan memberikan dampak yang luas bagi masyarakat. Sebab dunia pendidikan merupakan sarana utama untuk menyadarkan masyarakat. Apabila guru dan seluruh peserta didik mampu mengimplementasikan bagaimana cara atau strategi menyelamatkan diri dari bencana maka ini akan memberikan dampak yang luar biasa bagi masyarakat.
“Bencana terjadi tidak mengenal waktu. Jika bencana terjadi di luar
EDISI 3 | 2017
jam sekolah, guru atau murid bisa mengimplementasikan ilmunya kepada keluarga maupun lingkungan sekitar yang tidak pernah belajar pengurangan risiko bencana. Jadi sekali mendayung tiga pulau terlampaui,” jelasnya.
Sementara itu pada kesempatan yang sama Direktur Pengurangan Risiko Bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Lilik Kurniawan mengatakan bahwa penanggulangan bencana tidak hanya urusan BNPB, tapi merupakan urusan semua pihak termasuk dunia pendidikan. Pengurangan risiko bencana dari sisi pendidikan perlunya melibatkan peran aktif dari sekolah, madrasah, pesantren. Maka itu, agar upaya PRB berjalan masif dan efektif maka perlu dibentuk Seknas Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
Menurutnya dengan satuan ini diharapkan dunia pendidikan akan tetap berjalan meski dalam kondisi
EDISI 3 | 2017
bencana. Dan yang paling utama adalah bagaimana mempersiapkan guru dan peserta didik mampu menyelamatkan dirinya sendiri saat bencana terjadi.
“Survei di Jepang setelah gempa Tsunami pada 2011 membuktikan ternyata yang bisa melindungi seseorang dari bencana yang pertama diri sendiri, setelah itu keluarga dan orang yang terdekat saat bencana terjadi,” jelasnya.
Lilik menegaskan bahwa sekolah aman bencana memiliki peran yang penting dalam pengurangan risiko bencana. Sebab pendidikan merupakan pusat penyadaran masyarakat. Selain itu, dengan ilmu yang dimiliki oleh guru dan seluruh peserta didik terkait pengurangan risiko bencana maka akan memberikan dampak yang sangat luar biasa.
“Mereka nantinya bisa memberikan ilmunya kepada keluarga maupun masyarakat bagaimana menghadapi
bencana,” imbuhnya.
Lebih lanjut, sekolah aman bencana juga harus bersifat inklusi. Maka itu, sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus juga harus mendapatkan perlakuan yang sama seperti sekolah– sekolah pada umumnya.
“Kan kalau bencana terjadi tidak ada jumlah korban yang dibeda-bedakan, semuanya sama,” tegasnya.
Maka itu, Lilik menghimbau untuk Sekolah Luar Biasa (SLB) harus mendapatkan perlakukan yang sama dalam rangka mewujudkan sekolah aman bencana. Cara yang dilakukan adalah dengan memberikan fasilitas yang ramah difabel dan memberikan pengajaran terkait pengurangan risiko bencana sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Pengajaran yang dilakukan harus sesuai dengan ketunaan mereka,” katanya.
EDISI 3 | 2017
INSPIRASI
Ismail Ulak Musik Energi Kehidupan
Penglihatannya terbatas, namun semangat menjadi
pribadi yang sukses terus berkobar. Melalui musik,
sederet prestasi ia raih. Baginya musik merupakan energi positif
bagi kehidupannya.
erlahir dari keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi, tidak membuat Wahid panggilan akrab
TIsmail Ulak patah arang dalam
menjalani hidup. Beban hidupnya juga bertambah, sebab sejak lahir ia memiliki keterbatasan dalam melihat dengan menyandang low vision.
Untuk mencukupi kebutuhan keempat anaknya, orang tua Wahid harus bekerja sekuat tenaga sebagai pedagang kecil di daerah Datahu, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Meskipun telah bekerja keras, penghasilannya belum mampu mencukupi kebutuhan keluarga, apalagi untuk kebutuhan pendidikan keempat anaknya.
Di balik keterbatasannya, Tuhan menitipkan anugerah yang luar biasa kepada Wahid dalam bidang seni. Ia memiliki suara emas dan memiliki
insting yang tinggi dalam memainkan sejumlah alat musik seperti gitar, bass, piano dan drum. Sehingga sejumlah alat musik tersebut mampu ia kuasai secara otodidak.
Diangkat sebagai Anak Asuh
Masa-masa kecil Wahid tidak pernah sepi dari dunia tarik suara. Ia kerap mendapatkan pekerjaan untuk mengisi acara-acara di sekitar tempat tinggalnya. Suara emas yang dimilikinya membuatnya sering tampil dari panggung ke panggung di berbagai acara.
Pada tahun 1995 saat Wahid berumur 5 tahun, ia sudah tampil untuk menghibur acara kampaye salah satu partai politik. Suara emas yang dimilikinya ternyata mampu memikat salah satu petinggi partai tersebut dan mengangkatnya sebagai anak asuh.
“Saya memiliki bakat bernyanyi sejak usia 3 tahun. Saya sering tampil misalnya di pesta-pesta atau hajatan keluarga. Yang paling berkesan dan tidak pernah saya lupa saat tampil di acara kampaye pemilu
- Sebab pada saat itu saya diangkat sebagai anak asuh oleh pasangan keluarga yang baik hati, sehingga saya bisa sekolah hingga jenjang SMA,”
katanya.
Sejak itulah harapan Wahid untuk menikmati pendidikan mulai terbuka luas. Ia bisa menikmati pendidikan hingga jenjang SMA. Untuk dapat bersekolah hingga jenjang SMA, ia membutuhkan proses yang sangat panjang. Pasalnya pada saat itu di daerahnya belum tersedia pendidikan khusus bagi anak penyandang tunanetra. Sehingga ia harus hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya.
“Begitu saya lulus SD pada tahun 2004, saya mengalami kesulitan untuk melanjutkan pendidikan. Pasalnya SLB SMP di kota saya belum ada bagi penyandang tunanetra. Mau dipindahkan ke sekolah inklusi belum ada juga menerima. Akhirnya wali kelas saya rekomendasi ke orang tua asuh saya untuk melanjutkan ke SLB Pembina Lebak Bulus Jakarta,” jelasnya.
Setelah hijrah dan bersekolah di Jakarta, kemampuannya dalam memainkan sejumlah alat meningkat pesat. Sebab, di sekolah inilah Wahid kecil diajarkan bagaimana memainkan alat musik dengan baik dan benar. Misalnya dalam penjarian dan memahami not, not.
“Guru musik saya mengajarkan agar saya menjadi pemusik yang profesional.
EDISI 3 | 2017
Seperti contoh saya pertama kali belajar piano menggunakan transpose ia larang. Karena untuk menjadi pemain keyboard profesional saat melakukan pemindahan nada tidak boleh menggunakan transpose. Demikian juga alat-alat musik lainnya,” ungkapnya.
Segudang Prest asi
Prinsip hidup yang kuat, bahwa setiap manusia sejatinya mampu mengukir prestasi menjadi dorongan yang sangat kuat untuk selalu menjadi yang terbaik. Berbekal potensi yang telah Tuhan anugerahkan dan dibarengi kerja keras, Wahid mampu mengukir segudang prestasi.
Misalnya pada tahun 2007, ia dinobatkan sebagai peserta terfavorit dalam acara sertifikasi kompetensi seni dan vokal yang digelar di Kota Makassar. Selain itu pada tahun 2008 ia meraih Juara 1 dalam seleksi Festival & Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Provinsi. Dan Wahid mewakili DKI Jakarta pada ajang FLS2N di tingkat nasional pada tahun yang sama.
“Tapi saya hanya puas menempati juara 2 pada FLS2N tingkat nasional,” imbuhnya.
Prestasi yang diukir Wahid tidak berhenti pada titik ini. Ia terus mengukir prestasi di sejumlah ajang yang digelar oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK). Antara lain pada tahun 2019, dua kali berturut-turut mengukir prestasi pada Gebyar PKLK yang digelar di Kota Malang sebagai juara pertama dan The Best Player Bass.
“Pada tahun yang sama yang mengadakan Kementerian Sosial tingkat Jawa-Bali saya juga meraih juara 1 dan pemain bass terbaik,” tambahnya.
Tidak berhenti pada lingkup PKLK, Ia juga berhasil mengukir prestasi sebagai juara pertama pada salah satu program Dangdut Mania Dadakan yang diadakan oleh salah satu stasiun televisi nasional. Bermodal inilah, pada tahun 2015 ia dapat mengikuti babak final pada Kontes Dangdut Indonesia (KDI) tanpa mengikuti audisi.
“Tanpa mengikuti audisi saya langsung lolos ke Gerbang KDI, dan saya lolos ke 28 besar dan langsung kontes final. Perjuangan dan usaha keras saya akhirnya
berhenti hingga di 6 besar. Tapi ini merupakan capaian yang luar bisa bagi saya,” tegasnya.
Teruslah Optimis
Musik merupakan energi kehidupan bagi Wahid. Malalui musik hidupnya semakin bergairah. Sehingga seberat apa pun beban hidup yang ia hadapi terasa ringan jika musik terus menemani hidupnya.
Musik inilah yang membuat hidupnya terus bermakna dan menghadirkan kebermanfaatan bagi dirinya dan orang lain. Sehingga ia tetap optimis dalam menjalani hidup.
“Hiduplah dengan optimis. Karena masing-masing manusia memiliki potensi jika terus dikembangkan,” ujar bapak dari satu anak ini.
Maka itu, ia berpesan kepada anak berkebutuhan khusus untuk terus optimis dalam menjalani hidup. Baginya
keterbatasan yang mereka miliki bukanlah menjadi penghalang untuk mengukir prestasi dan berkarya.
Baginya, apa yang telah Tuhan berikan kepada hambanya pasti memiliki makna. Maka itu, kita sebagai makhluknya harus mampu memahami makna tersebut dengan penuh baik sangka kepada Tuhan.
“Syukuri apa yang kita miliki. Pasti Tuhan akan memberikan lebih kepada kita,” kata suami dari Nur Isnaeni ini.
Marilah di balik keterbatasan yang kita miliki harus menjadi pemacu untuk terus berkarya. Optimis dan kerja keras merupakan kunci meraih sukses. Gapailah mimpi dalam keterbatasan. Belum tentu orang yang diberikan Tuhan fisik yang sempurna mampu mengukir prestasi.
“Kunci adalah kita memiliki keinginan yang kuat. Jika kita memiliki keinginan yang kuat pasti Tuhan akan memberikan jalan,” tegasnya.
EDISI 3 | 2017
RESENSI
Akan ayah ceritakan kepadamu apa
yang belum belum pernah ayah
ceritakan selama ini, ketika ayah
berusia 12 tahun, saat berjualan
koran dan mengantar ke beberapa
rumah di sekitar kompleks, ayah
selalu melawati sebuah rumah dan
di rumah itu selalu terdengar suara
rintihan seperti anak terjepit.
Ketika ayah lihat ternyata suara
itu keluar dari mulut seorang
anak seusia ayah dengan
keterbelakangan. Dia merintih
karena dipasung oleh orang tuanya.
Selama dua tahun ayah selalu
melewati rumah itu dan selalu
mendengar suara itu, namun ayah
tidak pernah bisa berbuat apa pun
untuk anak itu.
Radio, Keberaniannya Membuat
Mereka Menjadi Juara
brolan pelatih Harold Jones yang diperankan oleh Ed Harris kepada anak tunggalnya Mary
OHelen (Sarah Drew) di atas adalah cuplikan di
akhir cerita film Radio (2003). Sosok anak dengan keterbelakangan mental bernama James Robert Kennedy (Cuba Gooding Jr) inilah yang menghiasi hampir seluruh isi film.
EDISI 3 | 2017
Film Radio diangkat dari sebuah kisah nyata yang diilhami dari peristiwa pada tahun 1976 di Anderson, South Carolina. Cuba Gooding, Jr, yang berperan sebagai Radio, adalah seorang pria yang memiliki keterbelakangan mental.
Nama aslinya adalah James Robert Kennedy, dan ia dijuluki Radio, karena hobi mengumpulkan radio dan mendengarkannya sepanjang waktu. Radio menghabiskan hari-harinya di kota kecil ini bermain dan mendorong atau naik sebuah troli menyusuri jalan.
Setelah beberapa pemain (sepak bola Amerika) melecehkan Radio, pelatih Harold Jones prihatin terhadap Radio dan mengangkatnya sebagai salah satu asistennya. Pada mulanya Radio merasa sungkan dan malu terhadap orang-orang namun Harold bisa
mengatasi masalah tersebut. Radio mulai membantu melatih para pemain bahkan ia bisa belajar di sekolah dan bergabung dengan siswa-siswi lainnya.
Radio yang tadinya sering dilecehkan dan dihindari oleh masyarakat disana, namun sekarang ia menjadi salah satu siswa populer di sekolahnya, karena sifat dan sikapnya yang baik, periang dan ramah kepada setiap orang yang ia jumpai. Terlebih lagi Harold membantunya dalam segala hal, memberi makanan kepadanya, mengangkat rasa percaya diri, bahkan menganggapnya sebagai sahabatnya. Namun, ada beberapa orang yang menganggap Radio adalah gangguan bagi tim tersebut, dan menginginkan Radio pergi. Tetapi kebanyakan orang menganggap Radio bukan gangguan. Untuk mengatasi masalah tersebut, diadakan pertemuan antar warga.
Harold mengutarakan bahwa Radio bukanlah sebuah ancaman, ia juga mengatakan kebaikan-kebaikan Radio.
Dengan memilih berhenti menjadi pelatih dan terus membimbing Radio hingga kelak bisa diterima masyarakat, pelatih Jones bisa berkata kepada anak tunggalnya bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan kedua terhadap apa yang seharusnya ia lakukan saat berusia 12 tahun lampau, A lesson of Humanity.
Bukan Radio yang belajar darinya, melainkan Harold yang belajar tentang sesuatu hal yang baik dari Radio. Maka Radio dijadikan maskot bagi kota itu, dan ia bisa hidup harmonis dengan warga di sana.
EDISI 3 | 2017
RESENSI
Tuhan Sungguh Tidak Salah Desain
ihadapkan pada anak-anak istimewa? Kondisi istimewa anak, terutama anak istimewa karena masalah neurologis, bisa membuat anak berperilaku
Dekstrem dan menyulitkan.
Bagaimana menyikapinya? Bagaimana menerima anak-anak istimewa sebagai anugerah Tuhan? Bagaimana menyiapkan masa depan anak?
Buku ini adalah panduan praktis dan inspiratif bagi para orang tua dan pendidik dalam mendampingi dan mengoptimalkan perkembangan anak istimewa melalui konsep Revive, yaitu Reframe (Mengubah Paradigma), Evolve (Semakin Berkembang), Victory (Hidup yang Berkemenangan), Inspire (Menginspirasi Orang Lain), Volunteer (Menjadi Relawan) dan Empower (Menjadi Pelatih Orang Tua).
Konsep tersebut bertujuan untuk menginspirasi para orang tua anak istimewa untuk Revive (bangkit), berdamai dengan kondisi anak istimewa mereka, serta menjadi berdaya guna bagi sesama.
“Melalui buku ini, Ning Nathan mengajak kita menyelami dunia anak istimewa, yang umumnya disebut sebagai anak berkebutuhan khusus. TUHAN SUNGGUH TIDAK SALAH
EDISI 3 | 2017
DESAIN. Buku ini memberi semangat dan inspirasi, serta membuka pemikiran baru akan kehadiran anak-anak istimewa di tengah-tengah kita. Buku ini perlu dibaca oleh setiap orang yang ingin mendapatkan inspirasi mengenai mengubah tantangan hidup menjadi kesempatan untuk dibentuk sebagai pribadi yang tangguh,”testimoni dari Andy F. Noya, Host Kick Andy Show
Tentang Penulis
Ning Nathan adalah ibu dari dua anak istimewa. Pengalaman membesarkan kedua anak istimewa, buah hatinya, seakan menjadi kunci pembuka pemahaman dirinya akan dunia istimewa yang juga akrab dengan dirinya sejak kecil.
Berbekal pengalaman pribadinya membesarkan kedua anak istimewanya serta semangatnya untuk terus mengasah pengetahuan dan keahliannya, Ning mulai aktif mengisi seminar serta pelatihan bagi orang tua dan guru. Kerinduan terbesar dalam hatinya adalah berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan lebih banyak orang seputar pemahaman dan penanganan anak-anak istimewa sehingga makin tercipta dunia harmonis dengan segala perbedaan yang ada dan Tuhan dipermuliakan.
Saat ini Ning sedang merintis Revive Institute, sebuah komunitas yang bergerak di bidang pengembangan generasi muda dan anak istimewa. Mimpi terbesarnya adalah menggalakkan Home Therapy untuk anak-anak istimewa, serta membentuk Parents Coachs, wadah untuk melatih orang tua anak istimewa yang berkeinginan untuk berbagi dengan banyak orang.
PERNAK PERNIK
Terapi Keledai Bantu Gadis Bisu
Bisa Bicara Lagi
elalui masa sulit dalam hidup terkadang berat jika dilakukan sendiri. Ada kalanya yang dibutuhkan hanyalah
Msatu pendamping untuk membuatnya menjadi lebih baik.
Amber Austwick yang lahir sebelum waktunya, membuat ia mesti menjalani hidup dengan cara tak biasa. Karena tak bisa bernapas saat berada di rahim, dokter harus melakukan trakeostomi darurat saat ia lahir. Untuk membiarkan udara masuk ke tenggorokannya, mereka memasang pipa yang pada akhirnya memotong aliran udara pada pita suara. Hal ini membuat gadis tersebut tak bisa bicara.
Untunglah, di saat-saat sulit dalam hidupnya yang demikian, Amber bertemu dengan keledai yang mendampinginya. Seorang teman ibu Amber menceritakan bahwa keledai bisa digunakan sebagai terapi untuk anak-anak berkebutuhan khusus.
Seekor keledai bernama Shock dibawa oleh ibu Amber ke rumah. Seperti Amber, Shock juga memiliki kisah hidup yang pahit. Ia diselamatkan dari sebuah peternakan di Irlandia saat dibiarkan menunggu mati.
Shock ditemukan dilecehkan dan diikat dengan pemutih yang dituang di seluruh lukanya. Ia ditemukan penyelamat dari The Donkey Sanctuary di Birmingham, Inggris, dan dipertemukan dengan Amber.
“Aku sudah bisa melihat ikatan batin di antara mereka berdua. Mereka berdua sangat lembut pada satu sama lain,” kata ayah Amber, Julian Austwick.
Selain tak bisa berbicara, Amber didiagnosis menderita cerebral palsy, kondisi yang memengaruhi otot, gerakan, dan keterampilan motorik. Keledai tersebut, memotivasi Amber untuk menjadi lebih aktif, untuk menjadi lebih kuat.
Melansir dari Lifebuzz, keledai yang sejatinya masih merasa takut pada manusia itu bahkan membiarkan Amber menunggangi dirinya. Amber dan Shock menjadi duo yang tak terpisahkan.
Suatu kali, saat mengunjungi Shock seperti biasa, Amber mengeluarkan kalimat pertamanya. Gadis kecil itu berbisik pada sahabatnya tersebut.
“Aku cinta kamu, Shock.”
Orangtua Amber yang tak sengaja mendengar kalimat lirik itu merasa kaget sekaligus gembira. Mereka merasa bangga dengan perkembangan Amber yang begitu pesat. Makin hari, Amber makin berani mengeksplor kata-kata. Meski kemudian Amber dimasukkan ke sekolah berkebutuhan khusus agar dirinya semakin berkembang, ikatan antara gadis kecil itu tetap dengan si keledai tetap terjalin erat. Setiap Amber datang, ia akan mengunjungi sahabatnya tersebut lalu berkeliling bersama.
Ikatan antara Amber dan Shock yang saling menguatkan satu sama lain, menginspirasi orang tua Amber untuk menuliskan kisah tersebut. Buku berjudul Amber’s Donkey langsung ludes terjual 45 menit setelah dirilis di Amazon dan permintaan masih terus berdatangan.
EDISI 3 | 2017
Kisah Sri Lestari, 20 Tahun Setia Jadi Guru SLB
ebutan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa memang benar adanya. Hal ini ditunjukkan oleh Sri Lestari, guru yang mengajar anak berkebutuhan
Skhusus (ABK) kelas enam A di SLB Negeri 1
Yogyakarta.
Mengajar sejak Februari 1997, kini Sri sudah mengajar selama 20 tahun. Bagi Sri, mengajar anak-anak berkebutuhan khusus adalah jalan hidup.
Kebahagiaannya pun sederhana, yaitu melihat perkembangan murid-muridnya.
“Dari dulu misalnya kalau masuk kelas itu nendang pintu ya, terus dia itu di atas meja duduk, kadang-kadang di atas meja berdiri,” ujar Sri Lestari, mengenang murid-muridnya, dilansir dari video yang diunggah oleh Brilio di Vidio.com.
“Itu sekarang sudah enggak melakukan hal itu, saya sudah senang, ada kemajuan,” ujarnya.
Bagi Sri Lestari, kemajuan yang diharapkan bukan hanya di bidang akademik, melainkan dari segi sikap yang lebih penting.
Sri Lestari juga berbagi kisah mengenai perbedaan saat mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB). Menurut dia, guru harus bisa menyesuaikan dengan anak didik.
“Kalau mengajar ke anak umum kan kita harus menuntaskan KIKD-nya. Kalau di sini enggak bisa, kita
EDISI 3 | 2017
menyesuaikan,” ujarnya.
Sri Lestari menjelaskan, kalau materinya terlalu berat, maka diringankan dan sebaliknya. Dia juga tidak memaksakan semua anak menguasai materi yang diberikan.
“Karena di sini ada anak yang enggak bisa apa-apa, enggak bisa nulis, enggak bisa baca, kan kita yang menyesuaikan. Enggak harus menyesuaikan dengan kurikulum, tapi menyesuaikan dengan anaknya,” kata Sri.
Tak hanya itu, Sri Lestari juga berbagi kisah lucu saat mengajar di SLB. Salah satunya setiap kali ada upacara bendera.
“Misalnya si Aldi waktu di TK lho itu, sekarang juga masih suka begitu. Kalau ada upacara dia juga di depan gitu jalan-jalan itu sering, atau ada yang kasih sambutan, murid ikut naik panggung itu biasa,” ujar Sri Lestari.
Sebagai guru Sekolah Luar Biasa (SLB), Sri berharap anak-anak berkebutuhan khusus bisa dihargai di masyarakat.
“Ya sebagai anak apa adanya dia, lihat kemampuannya apalah, jangan dilihat kelemahannya terus. Kita sebagai orang normal, kita yang harus memahami, bukan anak yang harus memahami kita,” ucapnya.
Sri Lestari berharap murid-muridnya agar mampu belajar mandiri, ibadah dan patuh terhadap orangtua.
berkebutuhan khusus dari Yayasan Daya Pelita Kasih Jakarta ini, memberikan sensasi imajinatif anak-anak dalam sebuah kanvas. Mengusung aliran seni ekspresionisme, karya ini memberikan kebebasan bentuk dan warna yang menggambarkan emosi, dan ekspresi dari masing-masing anak.
Berbagai karya yang dikurasi oleh Safrie Effenfi, Art Manager Artotel Indonesia, membawa konsep seni abstrak yang didominasi oleh pewarna primer dan kontras. Setiap karya yang khas diberikan oleh Muklay, panggilan akrab Muchlis Fachri ini, terdapat figur monster dan animasi yang memenuhi kanvas karyanya.
Karya yang dipertunjukkan dalam
See Something Strange, Bukti Anak Berkebutuhan Khusus Berkarya
nak berkebutuhan khusus See Something Strange ini dijual untuk umum memang memiliki bakat yang mulai tanggal 9 Juni hingga 18 Juni 2017, luar biasa. Hal ini dibuktikan dari melalui silent auction. Nantinya pembeli dapat pameran tunggal yang berjudul memasukkan harga dalam kotak yang akan
ASee Something Strange, yang di diumumkan pada akhir acara.
selenggarakan di Artspace, Mezanine Level, Artotel Thamrin-Jakarta. Pameran ini sendiri Tentunya seluruh hasil penjualan ini akan dibuka untuk umum dari tanggal 9 Juni hingga disumbangkan kepada Yayasan Daya Pelita 9 Agustus 2017. Kasih Jakarta. Diharapkan nantinya, kegiatan ini dapat meningkatkan kepedulian kepada Pameran tunggal seniman lokal Muchlis anak berkebutuhan khusus, sehingga mereka Fachri yang berkolaborasi dengan anak berguna bagi lingkungannya.