Baca PDF (OCR): MAJALAH GAHARU JUNI 2019

64 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR· 460 ms

Daftar isi
  1. Memahamkan Menggali Inspirasi Menggapai Guru
  2. WAWANCARA DIREKTUR:
  3. Prioritas untuk Guru
  4. Khusus
  5. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H/2019 M
  6. Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
  7. Keluarga Besar Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus
  8. Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
  9. Gerakan Harmoni Guru
  10. Pimpinan redaksi
  11. Sidang redaksi
  12. Desain dan tata letak
  13. Daftar Isi
  14. LAPORAN UTAMA
  15. 4-11 yy Prioritas untuk Guru Pendidikan Khusus
  16. yy Jurus Pembinaan Guru Pendidikan Khusus
  17. PROGRAM
  18. KOMPETENSI
  19. 20-25 yy Menggapai Guru Berkompetensi Abad 21
  20. di Era Industri 4.0
  21. yy Seleksi Menuju Jerman
  22. yy Meningkatkan Mutu Pembelajaran
  23. PENGENDALIAN
  24. 26-29 yy Terima Kasih Kemendikbud, Masih Diberi Kesempatan
  25. yy Menyusun Analisis Beban Kerja
  26. KINERJA
  27. 30-33 yy Uji Kompetensi Kenaikan Jenjang Jabatan
  28. yy Optimalkan Mutu Guru
  29. KESHARLINDUNG
  30. 34-39 yy Seluruh Guru adalah Pemenang
  31. yy Siaga di Negara Rawan Bencana
  32. yy Perlindungan HKI Dorong Guru Berkarya
  33. TATA USAHA
  34. 40-45 yy Perkuat Reformasi Birokrasi Demi Pelayanan Berkualitas
  35. yy Rajin dan Tepat Waktu Melaporkan Pajak
  36. yy Menggali Inspirasi Membangun Kebersamaan
  37. KUNJUNGAN
  38. PROFIL
  39. 50-57 yy Alat Inovatif Tingkatkan Kompetensi Siswa SMK
  40. yy Barium Membuat Siswa Senang Belajar Kimia
  41. yy Jawara dari Sekolah Pinggiran
  42. yy Medali Emas Bukti Prestasi
  43. yy Menari sambil Memahami Mitigasi Bencana
  44. yy Sigap Gebu Gumel untuk Siswa SLB
  45. yy Edukasi Mitigasi Bencana dengan Georita Ganas
  46. yy Ciptakan Paving Penyerap Banjir
  47. APA SIAPA
  48. 58-60 yy Pekerjaan Nyambung, Hanya Perlu Adaptasi
  49. yy "Saya Tidak Nyangka, Diberi Amanah"
  50. yy Chen Zhiqiang Mensyukuri Masa Pensiun
  51. yy Master Forum Telah Purna Tugas
  52. LAPORAN UTAMA
  53. Prioritas untuk Guru Pendidikan Khusus
  54. “Ssekali. Saya terkejut karena
  55. LEBIH DARI 70% ABK BELUM TERLAYANI PENDIDIKAN
  56. LAPORAN UTAMA
  57. Upaya kita di pusat adalah dengan
  58. MEREVISI REGULASI PENDIDIKAN INKLUSIF
  59. LAPORAN UTAMA LAPORAN UTAMA
  60. Jurus Pembinaan Guru Pendidikan Khusus
  61. Ptugas dan fungsi pembinaa guru pendidikan khusus ke Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus. Bagaimana
  62. Bagaimana strategi pembinaan peningkatan kompetensi bagi guru
  63. Beberapa waktu lalu Ibu menyampaikan bahwa kita sudah
  64. memasuki era Sustainable Development
  65. Goals atau SDGs bukan lagi di era
  66. Millenium Development Goals (MDGs) yang di dalamnya mengharuskan melakukan
  67. pelayanan pendidikan inklusif?
  68. LAPORAN UTAMA LAPORAN UTAMA
  69. Untuk mendorong daerah berperan aktif dalam pelayanan anak disabilitas tersebut, adakah regulasi dan intervensi
  70. pemerintah pusat sehingga daerah benar-benar melaksanakan?
  71. yang cukup ramah bagi para penyandang disabilitas?
  72. Memberi layanan pendidikan bagi anak inklusi tentu ada hambatan, kira-kira hambatan tersebarnya apa?
  73. Untuk regulasi para guru pendidikan khusus apakah ada yang terbaru?
  74. Rakor Sosialisasi dan Koordinasi Program 2019
  75. Sinergi Pusat dan Daerah dalam
  76. Era SDGs
  77. Dtiga hari terebut menghadirkan peserta dari perwakilan
  78. PROGRAM PROGRAM
  79. Bimbingan Teknis Program Aksi Guru
  80. MUniversitas Indonesia (Puslitkes-UI) pada tahun 2015 menyebutkan
  81. CEGAH GENERASI MUDA DARI
  82. NARKOBA
  83. sejak lahir hingga dewasa. “Mengingat
  84. aksi tersebut. dan konseling.
  85. Bimbingan Teknis Program Aksi Guru
  86. SMirama adalah Ria Damayanti S.H,. MM. dalam
  87. PERAN GURU DI TIAP SEKOLAH
  88. Bimbingan Teknis Aksi Kesehatan Reproduksi
  89. Memahamkan Pendidikan
  90. Kespro di Sekolah
  91. PROGRAM PENDIDIKAN KESPRO
  92. Pelatihan di Luar Negeri
  93. Menggapai Guru Berkompetensi
  94. Abad 21 di Era Industri 4.0
  95. Patau Bandara Internasional Tokyo, Jepang. Jarum
  96. MENDIKBUD MELEPAS ANGKATAN PERTAMA
  97. PELATIHAN
  98. MEMAHAMI PENDIDIKAN INKLUSIF DI JEPANG
  99. KOMPETENSI KOMPETENSI
  100. MENIMBA CULINARY ART DI
  101. AUSTRALIA
  102. Seleksi ke Jerman
  103. Idi sebuah ruangan di Hotel Millennium, Jakarta,
  104. Seleksi ke Jerman
  105. Modul Pembelajaran
  106. Meningkatkan Mutu Pembelajaran
  107. dan pengembangan soal HOTS).
  108. Dyang diselenggarakan Direktorat pengembangan penilaian (pembahasan soal-soal
  109. PENGENDALIAN PENGENDALIAN
  110. Remedial Pendidikan Profesi Guru Daerah Khusus
  111. Terima Kasih Kemendikbud,
  112. Masih Diberi Kesempatan
  113. Bdengan diperolehnya sertifikat pendidik. Sejak
  114. BERAT HARUS PERGI
  115. MENINGGALKAN SEKOLAH DAN
  116. KELUARGA
  117. PENGENDALIAN PENGENDALIAN
  118. Jdan Pengendalian Kebutuhan Guru
  119. kegiatan ini, para peserta belajar melakukan
  120. PEDOMAN KOORDINASI HINGGA
  121. PENGAWASAN
  122. Pengembangan Karier Guru
  123. Uji Kompetensi Kenaikan Jenjang
  124. Jabatan
  125. Adalam upaya mewujudkan adalah jabatan fungsional guru. Penyiapan kultural, dan teknis. Mata uji dalam UKKJ
  126. PELAKSANAAN UJI KOMPETENSI
  127. KINERJA KINERJA
  128. Bimbingan Teknis Penulisan Ilmiah dan Karya Inovatif
  129. Optimalkan Mutu Guru
  130. Tanaman Pangan dan Hortikultura.
  131. Dhanya mengajar. Guru memiliki tugas
  132. BERIKAN MANFAAT BESAR
  133. KESHARLINDUNG KESHARLINDUNG
  134. Olimpiade Guru Nasional (OGN) Tahun 2018
  135. Seluruh Guru adalah Pemenang
  136. Ksiswa ini mungkin karena metode pembelajaran yang tersebut adalah sesi yang menantang. Terlebih
  137. PENTINGNYA PENDIDIKAN
  138. KARAKTER
  139. INTEGRASI KEBENCANAAN DALAM
  140. BERBAGAI DISIPLIN ILMU
  141. Bkarya yang mengandung kekayaan intelektual. Seperti
  142. MENGENAL HKI
  143. Bimbingan Teknis Hak Kekayaan Intelektual
  144. Berkarya
  145. Perlindungan HKI Dorong Guru
  146. TATA USAHA
  147. Bimbingan Teknis Penguatan Reformasi Birokrasi Instansi
  148. Perkuat Reformasi Birokrasi Demi Pelayanan Berkualitas
  149. Rmenciptakan birokrasi yang semakin
  150. Taxpayer Awards 2019
  151. Rajin dan Tepat Waktu Melaporkan Pajak
  152. Tdan Diksus. Pasalnya pada bersyukur punya Direktur dan Kasubbag terus membenahi kekurangan-kekurangan
  153. TATA USAHA TATA USAHA
  154. Visioning Direktorat PG DIkmen dan Diksus
  155. Kvisioning pegawai di lingkungan
  156. SEKILAS KAWAH IJEN
  157. GTK Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.
  158. Mengawali materinya, Prof. Muchlas menyampaikan
  159. Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan
  160. INSPIRASI DARI PROF. MUCHLAS SAMANI
  161. visoning sengaja dihadirkan beberapa narasumber
  162. TATA USAHA
  163. MUTASI DAN ROTASI JABATAN
  164. JAWA TIMUR MENDORONG TIAP GURU MENULIS
  165. BUKU
  166. SMP LB Negeri Banyuwangi
  167. Segudang Prestasi Bukti Sukses Kawal Peserta Didik
  168. Ssiakan untuk mengunjungi beberapa namun Akhmad Zulkarnaen meraih prestasi
  169. KEBERHASILAN KARENA GURUNYA
  170. TELATEN
  171. Dalam metode ini, secara tidak langsung
  172. LOKASI STRATEGIS
  173. SMA Negeri 1 Giri Banyuwangi
  174. Geliat Menyambut Revolusi Industri 4.0
  175. Sjuga mengunjungi SMK Negeri
  176. BERSIAP SAMBUT REVOLUSI
  177. INDUSTRI 4.0
  178. Sadalah karena SMK tidak memiliki alat-alat praktek yang sesuai kebutuhan
  179. LAYAK UNTUK PEMBELAJARAN
  180. Rihad Wiranto
  181. Murniasih, M.Pd
  182. Guru SMA Negeri 3 Kota Malang, Jawa Timur
  183. Juara 1 Inobel 2018, Jenjang SMA
  184. BARIUM Membuat Siswa Senang
  185. Belajar Kimia
  186. Mitu, belum ada model pembelajaran yang mampu
  187. Rihad Wiranto
  188. PROFIL PROFIL
  189. Cece Sutia, M.Pd Juara 1 Olimpiade Guru Nasional 2019 Mapel Biologi SMA
  190. Jawara dari Sekolah Pinggiran
  191. SLokasinya sekitar 10 km dari gunung OGN 2013 ketika masih bernama Olimpiade
  192. I Kadek Santika, S.Pd Juara 1 Olimpiade Guru Nasional 2019 Mapel Matematika SMA
  193. Medali Emas Bukti Prestasi
  194. AMandara, Kabupaten Buleleng, seluruh bangunan rumah orangtuanya, itu, mengerjakan soal EJU memerlukan
  195. Menari Sambil Memahami
  196. Mitigasi Bencana
  197. Ptetap yang telah dibuat dan disosialisasikan oleh Tim Siaga
  198. TARI MENYENANGKAN
  199. Apriadi, S.Pd
  200. Guru SLB Negeri Sekayu, Sumatera Selatan
  201. Juara III Lomba Menulis Tentang Ksesiapsiagaan Bencana Kategori Guru SLB
  202. Sigap Gebu Gumel untuk Siswa SLB
  203. Ptersebut, sebagian masyarakat tidak siap karena
  204. PENGENALAN SEJAK DINI
  205. PROFIL PROFIL
  206. Dedi Sasmito Utomo, M.Pd.
  207. Guru SMA Negeri 2 Pare, Kediri, Jawa Timur
  208. Juara I Lomba Menulis Tentang Ksesiapsiagaan Bencana Kategori Guru SMA
  209. Edukasi Mitigasi Bencana Dengan Georita Ganas
  210. encana alam berupa letusan gunung
  211. Bskala letusan yang besar, banyaknya
  212. Ganas merupakan
  213. BAHAN AJAR MITIGASI BENCANA
  214. berapi seringkali menimbulkan akronim dari
  215. Septa Krisdianto Juara 1 Inovasi Pembelajaran Kesiapsiagaan Bencana 2019.
  216. Ciptakan Paving
  217. Penyerap Banjir
  218. encana banjir sering terjadi di
  219. BKadang banjir tergenang begitu
  220. APA SIAPA APA SIAPA
  221. Saiful Bari, S.Kom., M.Eng
  222. Dr.Kasiman, S. Pd., ST., MM
  223. Sia malang melintang di Malang, Jawa Timur. Kini,
  224. Ssebelumnya dijabat Wastandar MA. Ph.D. karena
  225. Wastandar, MA, Ph.D.
  226. Mensyukuri Masa Pensiun
  227. SPengendalian Guru Dikmen dan Diksus, pada Selasa tengah
  228. APA SIAPA
  229. Tkegiatan nasional, baik itu bimbingan teknis, rapat-rapat koordinasi,
  230. Mukti Ali
  231. Dra. Maria Widiani MA
  232. Master Forum
  233. Telah Purna
  234. Tugas
Memahamkan Menggali Inspirasi Menggapai Guru

Pendidikan Kespro Membangun Berkompetensi Abad 21 di Sekolah Kebersamaan di Era Industri 4.0

EDISI 4 / TAHUN III / JULI 2019 Gerakan Harmoni Guru

gaharu Media Informasi dan Komunikasi Guru Dikmen dan Diksus

WAWANCARA DIREKTUR:

Jurus Pembinaan Guru Pendidikan Khusus

Prioritas untuk Guru

Khusus

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H/2019 M

Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin

Keluarga Besar Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

afas pembinaan guru pendidikan khusus kini menjadi tugas tambahan dan kewenangan direktorat yang sebelumnya hanya membina guru pendidikan menengah. Kepada seluruh pegawai di lingkungan Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, tugas tambahan tersebut janganlah dianggap beban berat. Tetapi menjadi tantangan yang harus kita hadapi bersama. Kita harus bersyukur dengan tugas tambahan tersebut.

Bahwa menangani anak-anak disabilitas memerlukan perhatian khusus, tanggungjawab tersebut tidak dibebankan kepada Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus semata. Kita harus memandang tugas menangani guru pendidikan khusus adalah limpahan karunia yang amat besar. Melayani anak-anak disabilitas juga tidak bisa dilimpahkan sepenuhnya kepada guru denga latar belakang pendidikan khusus. Guru reguler yang selama ini tidak pernah bersentuhan dengan pendidikan khusus harus mulai beradaptasi mengenal dan memahami bagaimana melakukan pelayanan pendidikan kepada anak-anak disabilitas.

Kita memahami bahwa anak-anak disabilitas memerlukan bekal keterampilan. Pada pendidikan khusus telah ditetapkan 20 jenis keterampilan yang dikembangkan. Keterampilan tersebut tentu bisa diberikan oleh guru-guru yang berlatar belakang pendidikan vokasi. Sementara itu, pemerintah juga sudah menetapkan bahwa sekolah-sekolah reguler harus bisa melayani anak-anak berkebutuhan khusus melalui pendidikan inklusi. Akan tetapi jika melihat kenyataan di lapangan, belum semua sekolah reguler siap melaksanakan, bahkan belum bersedia memberi pelayanan pendidikan inklusi.

Tetapi kita bersyukur sudah ada beberapa sekolah yang melayani anak-anak inklusi dengan baik. Banyak pula sekolah-sekolah yang mendesain lingkungannya menjadi ramah bagi anak-anak disabilitas meskipun sekolah itu adalah sekolah reguler. Fenomena baik ini hendaknya terus kita dengungkan secara luas dan masif, hingga semua elemen tergerak bersama memberi pelayanan terhadap anak-anak disabilitas. Kepada pemerintah daerah, kami sangat mohon untuk melakukan tindakan nyata dengan membuka dan memberi layanan bagi anak-anak disabilitas tersebut.

Saat ini kita sedang menyiapkan generasi emas, di tengah gelombang abad 21 yang kian mendekat. Kerja keras, cerdas dan tuntas wajib kita kedepankan. Kita menginginkan tahun 2045 benar-benar lahir generasi emas yang sedang kita siapkan mulai saat ini. Kita juga menginginkan generasi saat ini yang dikenal dengan generasi milenial semakin siap dan matang menatap masa depannya, tentu hal ini tak lepas dari peran gurunya. Untuk itu, guru harus bergegas menyambut abad 21 dengan berbagai keterampilan dan keprofesian yang dibutuhkan.

Kita juga tengah memasuki era SDGs atau Sustainable Development Goals. Era sebelumnya yakni Millenial Development Goals atau MDGs sudah kita tinggalkan. Semua pihak harus memperhatikan dengan seksama, bahwa dalam SDGs mengamanahkan adanya pelayanan terhadap anak-anak disabilitas terutama anak-anak inklusif. Untuk itulah, mari kita bersama bergandengan tangan mengambil peran sesuai dengan tugasnya masing-masing untuk memberi perhatian kepada anak-anak disabilitas. Dan Direktorat PG Dikmen dan Diksus akan melakukan pembinaan tidak hanya kepada guru pendidikan khusus semata, tetapi juga kepada guru-guru reguler agar memiliki pemahaman dan bekal melayani anak-anak disabilitas.

Gerakan Harmoni Guru

gaharu Media Informasi dan Komunikasi Guru Dikmen dan Diksus

susunan redaksi:

PEMBINA Dr. Supriano, M.Ed. Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan

PEngarah Ir. Sri Renani Pantjastuti MPA Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus

Pimpinan redaksi

Dra. Tina Jupartini, M.Pd Kasubdit Program dan Evaluasi

Sidang redaksi

Dr. Kasiman, Saiful Bahri, S.Kom., Dr. Kadarisman, M.Pd., Dr. Nasyith Forefry, MM., Dr. Haryati, M.Pd., Sri Handayani, Saiful Anam, Dipo Handoko, Rihad Wiranto, Mukti Ali, Ahmad Fauzi Ramdani

Koresponden Nabilla Desyalika Putri (Yogyakarta dan Malang) Andi Wahyudi (Surabaya)

Desain dan tata letak

Arita Windi Astuti, Ari Subhan Hariri

SEKRETARIAT Zainun Misbah, Sri Roswati, Octaviana Kemalasari, Nur Leili Bashir, Fadlilah Prapta Widda, Candra Purnama, Adi Rasa, Rosydra, Apriyani

Penerbit Direktorat Pembinaan Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

alamat redaksi Sekretariat Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Gedung D. Lt. 12 Kompleks Kemendikbud Jl. Pintu I Senayan, Jakarta

elamat idul fitri 1440 H mohon maaf lahir dan batin, semoga kita kembali menjadi insan yang fitri. Pembaca setia, satu semester kita berpisah dan kita berjumpa lagi dengan kehadiran majalah edisi 4 tahun ketiga. Penting untuk kami sampaikan, bahwa nama majalah yang sebelumnya adalah Guru Dikmen kami rubah menjadi GAHARU. Perubahan ini hasil diskusi dengan beberapa pejabat redaksi dengan Direktur PG Dikmen dan Diksus beberapa waktu lalu. Substansinya masih saya, yakni media informasi dan komunikasi guru pendidikan menengah dan pendidikan khusus.

Pembaca masih penasaran dengan penggunaan nama Gaharu tersebut? Gaharu adalah singkatan dari Gerakan Harmoni Guru. Gaharu yang merupakan kayu termahal di dunia inilah yang menginspirasi kami untuk menyematkan pada majalah yang kami terbitkan. Penggunaan nama Gaharu juga memperkuat keberadaan wadah teleconference Direktorat PG Dikmen dan Diksus dengan kalangan guru yang sudah meluncur tahun 2018 lalu. Tak kurang 1.000 guru dalam setiap teleconference berlangsung mengambil peran untuk bisa berbicara langsung dengan pejabat terkait di lingkungan Direktorat PG Dikmen dan Diksus melalui video vonference.

Wadah video conference tersebut bernama Gaharu Mekar, yang merupakan singkatan dari Gerakan Harmoni Guru Mulia Karena Karya. Perlahan tapi pasti, nama Gaharu akan segera menjadi ikon di lingkungan Direktorat PG Dikmen dan Diksus. Dan yang pasti kami sangat berharap guru Dikmen dan Diksus akan semakin mekar dengan semerbak mewangi yang menandakan keberadaannya, martabatnya, hingga keprofesionalannya sebagai guru semakin diakui dunia seperti halnya pohon Gaharu.

Informasi lain yang kami sajikan di majalah edisi kali ini, adalah bawah mulai akhir tahun 2018 lalu, Direktorat PG Dikmen bertambah tugas melakukan pembinaan guru pendidikan khusus. Sehingga pada edisi kali ini, di bagian awal kami mengupas keberadaan guru pendidikan khusus terutama yang cukup berhasil mengantarkan peserta didiknya meraih prestasi. Terdapat beberapa guru dan siswa sampel yang termuat di sini, semoga keberadaan mereka menjadi inspirasi bagi kita dalam merumuskan kebijakan juga inspirasi bagi guru pendidikan khusus lainya.

Kami juga berkesempatan mewawancarai Direktur PG Dikmen dan Diksus yang secara khusus mengupas keberadaan pendidikan khusus juga strategi pembinaan guru yang sedang dan akan dilakukan. Selengkapnya bisa dibaca pada Laporan Utama pada sajian Wawancara dengan Bu Direktur.

Sebegai bentuk aksi penguatan pendidikan karakter, juga ada informasi menganai program aksi guru dalam pencegahan narkoba dan aksi guru terhadap kesehatan reproduksi. Kedua hal tersebut menjadi sangat penting untuk diketahui para guru dalam menyiapkan generasi emas tahun 2045 nanti. Geliat peningkatan kompetensi dan keterampilan guru melalui program pelatihan di luar negeri dalam menyambut abad 21 juga telah kami rangkum.

Masih banyak informasi menarik lainnya, mulai sosok yang pernah mengihasi Kemendikbud namun kini memasuki masa pensiun juga kami sajikan di sini. Ada juga beberapa profil peserta terbaik, di antaranya adalah guru-guru pendidikan khusus. Profil ini kami harapkan menjadi inspirasi bagi guru lain dalam membangun budaya prestasi. Demikian sekilas informasi yang tersaji di majalah edisi kali ini, semoga menjadi sajian bacaan berharga dan menjadi referensi dan inspirasi pembaca setia. Selamat membaca, !

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

Daftar Isi

LAPORAN UTAMA
4-11 yy Prioritas untuk Guru Pendidikan Khusus
yy Jurus Pembinaan Guru Pendidikan Khusus
PROGRAM

12-19 yy Sinergi Pusat dan Daerah Dalam Era SDGs yy Cegah Sekolah dari Narkoba! yy Belajar dari Surabaya yy Memahamkan Pendidikan KESPRO di Sekolah

KOMPETENSI
20-25 yy Menggapai Guru Berkompetensi Abad 21
di Era Industri 4.0
yy Seleksi Menuju Jerman
yy Meningkatkan Mutu Pembelajaran
PENGENDALIAN
26-29 yy Terima Kasih Kemendikbud, Masih Diberi Kesempatan
yy Menyusun Analisis Beban Kerja
KINERJA
30-33 yy Uji Kompetensi Kenaikan Jenjang Jabatan
yy Optimalkan Mutu Guru
KESHARLINDUNG
34-39 yy Seluruh Guru adalah Pemenang
yy Siaga di Negara Rawan Bencana
yy Perlindungan HKI Dorong Guru Berkarya
TATA USAHA
40-45 yy Perkuat Reformasi Birokrasi Demi Pelayanan Berkualitas
yy Rajin dan Tepat Waktu Melaporkan Pajak
yy Menggali Inspirasi Membangun Kebersamaan
KUNJUNGAN

46-49 yy Segudang Prestasi Bukti Sukses Kawal Peserta Didik yy Geliat Menyambut Revolusi Industri 4.0

PROFIL
50-57 yy Alat Inovatif Tingkatkan Kompetensi Siswa SMK
yy Barium Membuat Siswa Senang Belajar Kimia
yy Jawara dari Sekolah Pinggiran
yy Medali Emas Bukti Prestasi
yy Menari sambil Memahami Mitigasi Bencana
yy Sigap Gebu Gumel untuk Siswa SLB
yy Edukasi Mitigasi Bencana dengan Georita Ganas
yy Ciptakan Paving Penyerap Banjir
APA SIAPA
58-60 yy Pekerjaan Nyambung, Hanya Perlu Adaptasi
yy "Saya Tidak Nyangka, Diberi Amanah"
yy Chen Zhiqiang Mensyukuri Masa Pensiun
yy Master Forum Telah Purna Tugas
LAPORAN UTAMA

Prioritas untuk Guru Pendidikan Khusus

aya luar biasa senangnya. Saya tidak menyangka bisa mendapatkan medali emas. Mereka peserta lain sangat bagus

“Ssekali. Saya terkejut karena

dipanggil jadi juara satu. Ini sangat senang sekali saya,” kata Steven Sadrak Swabra, yang genap berusia 17 tahun pada 24 Desember 2018 lalu.

Kegembiraan luar biasa itu dirasakan Steven, siswa kelas VII SMPLB di SLB Pembina Provinsi Papua, Kota Jayapura saat ia berhasil meraih emas Lomba Menari SMPLB/SMALB Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Tahun 2018 yang diselenggarakan di Bangka Belitung, 26 Agustus-1 September 2018.

Penampilan Steven, penyandang tunagrahita ini, menjadi yang terbaik di antara peserta lain, mengungguli siswa SLB dari Bali dan Jawa Tengah, yang meraih Juara II dan Juara III. Steven bahkan boleh berbangga karena merupakan satu-satunya peserta dari ujung timur Indonesia yang membawa pulang medali emas di FLS2N ABK 2018.

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

LEBIH DARI 70% ABK BELUM TERLAYANI PENDIDIKAN

Keberhasilan Steven yang mampu mengembangkan bakatnya itu menjadi ironi jika mengingat latar belakang Steven. Pasalnya, sejak Steven lulus SD Inpres 1 Arso IV, Kabupaten Keerom, pada tahun 2013, ia tak mau lagi melanjutkan ke bersekolah. Tak lain karena memang ia berbeda dengan teman-teman di sekolah umum. Sekolah umum yang menyelenggarakan pendidikan inklusif juga masih terbatas.

Putra pasangan Nikanon Suabra dan Nella Jerika ini baru mau bersekolah lagi pada tahun ajaran 2018/2019 lalu. Steven melanjutkan pendidikan di SLBN Pembina Papua. Tapi dengan usianya yang sudah 17 tahun itu, ia malu berseragam SMP. Kesehariannya di SLBN Pembina Papua, ia memakai seragam putih abu lengkap dengan badge SMA. Kala diminta memakai seragam SMP, Steven memilih tak mau bersekolah.

Steven sudah merasakan sangat senang bisa bersekolah di SLBN Pembina Papua. “Di sini saya bisa mengembangkan bakat, suka sekali pada seni tari. Saya juga senang menimba ilmu bidang otomotif hobi saya,” kata Steven yang menyukai pula pelajaran olahraga ini.

Setiap hari, Steven harus menempuh perjalanan cukup jauh menuju sekolah. Dari tempat tinggalnya di Arso IV, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua, ke sekolah, jaraknya kurang lebih 30 kilometer. Ia biasa naik sepeda motor yang dikendarai sendiri.

Perjuangan Steven menggapai pendidikan meski letak sekolah terbilang jauh dari rumahnya itu selayaknya mendapat perhatian serius dari pemerintah, baik pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Masih banyak anak berkebutuhan lain, khususnya di Keerom, yang belum terlayani pendidikannya. Menurut Data Pokok Pendidikan Dasar dan Menengah Kemdikbud, Keerom yang memiliki 11 kecamatan ini, total memiliki 100 sekolah, yang terdiri dari 72 sekolah negeri dan 28 sekolah swasta, tak satu pun ada SLB di sana.

Menurut data Rangkuman Statistik Persekolahan 2017/2018 (Kemdikbud), jumlah SLB di seluruh Tanah Air sebanyak 2.157, yang terdiri dari 563 SLB negeri dan 1.594 SLB swasta. Jumlah ini sudah bertambah dibanding data tahun sebelumnya 2016/2017, yakni “hanya” 1.626 SLB (391 SLB negeri dan

1.235 SLB swasta). Jumlah siswa SLB tercatat 128.510 anak (Statistik Persekolahan Kemdikbud 2017/2018). Angka tersebut masih terbilang sedikit dibanding jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK) menurut data Badan Pusat Statistik (2017) yang memperkirakan ada 1,6 juta ABK. Artinya, hanya 8% saja yang sudah terlayani pendidikan SLB. Jika memperhitungkan jumlah ABK yang mendapat pendidikan di sekolah inklusif, yang berjumlah sekitar
300.000 anak, total baru sekitar 27% ABK yang sudah tersentuh pendidikan. Rendahnya jumlah ABK yang memperoleh pendidikan itu masih menjadi PR bagi pemerintah pusat dan daerah. Banyak faktor penyebabnya, di antaranya kurangnya infrastruktur sekolah umum untuk menerima siswa ABK, kurangnya jumlah guru pendidikan khusus, juga stigma negatif masyarakat terhadap ABK sehingga para orangtua mau menyekolahkan ABK ke SLB dan sekolah inklusif.

LAPORAN UTAMA

Padahal, anak-anak penyandang kebutuhan khusus (disabilitas) ini memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Hak ini dijamin oleh Pasal 5 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menegaskan bahwa “Setiap warga negara berhak mendapat

sepanjang hayat.”

Keberadaan SLB juga masih belum sepenuhnya mampu melayani beragam disabilitas. Saat ini baru ada SLB A untuk anak-anak tuna netra, SLB untuk tuna rungu, SLB C (tuna grahita), SLB D (tuna daksa), SLBE (tuna laras), dan SLB G (tuna ganda). Menurut Buku Panduan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), yang dikeluarkan oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, klasifikasi ABK dibagi menjadi dua belas kategori, meliputi: 1) anak disabilitas penglihatan;

2) anak disabilitas pendengaran; 3) anak disabilitas intelektual; 4) anak disabilitas fisik; 5) anak disabilitas sosial; 6) anak dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH);
7) anak dengan gangguan spectrum autisma; 8) anak dengan gangguan ganda; 9) anak lamban
belajar; 10) anak dengan kesulitan belajar melakuka pembinaan peningkatan khusus; 11) anak dengan gangguan kompetensi guru, juga mengajarkan kemampuan komunikasi; 12) anak dengan siswa atau masyarakat umum sehingga potensi kecerdasan dan/atau bakat mereka bisa membantu,” kata Rena, istimewa. yang memiliki pengalaman panjang di Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, dari staf, Kepala Seksi, hingga PRIORITAS UNTUK GURU jabatan eselon III sebagai Kepala Bagian PENDIDIKAN KHUSUS Perencanaan, Kepala Bagian Keuangan,

Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan dan Kepala Bagian Hukum, Tata Laksana,

Menengah dan Pendidikan Khusus (Dit. PG dan Kerjasama Ditjen Dikdasmen.

Dikmen dan Diksus), menyadari betul PR Direktorat PG Dikmen dan Diksus yang tak mudah untuk meningkatkan akses tengah merampungkan roadmap layanan dan mutu pendidikan khusus. pengelolaan guru dikmen dan diksus “Salah satu yang perlu diperhatikan tentang tahun 2019-2022, di antaranya berisi pendidikan khusus adalah ketersediaan peta jalan peningkatan kompetensi, guru untuk pendidikan inklusif. Diharapkan juga perencanaan dan pengendalian pada sekolah umum tersedia guru dengan kebutuhan guru dikmen dan diksus. kompetensi pendidikan khusus,” kata Ir. “Roadmap ini menjadi pedoman kita Sri Renani Pantjastuti, MPA, Direktur PG untuk mengetahui apa saja harus kita Dikmen dan Diksus. kerjakan. Sehingga sasaran pembinaan

Dit PG Dikmen dan Diksus sendiri guru yang akan kita lakukan akan lebih

mengalami perubahan nomenklatur terstruktur dan jelas,” kata Bu Direktur. pada Permendikbud Nomor 11 Tahun (Lihat Wawancara Direktur Pembinaan

2018 tentang Organisasi dan Tata Kerja Guru Dikmen dan Diksus: Jurus Baru

Kemendikbud. Sebelumnya, nama Pembinaan Guru Pendidikan Khusus).

satuan kerja eselon II ini adalah Direktorat Keberadaan roadmap pengelolaan Pembinaan Guru Pendidikan Menengah. guru dikmen dan diksus itu, pemerintah Kala itu ada Subdirektorat Pendidikan pusat dan daerah dapat mengetahui Khusus dan Layanan Khusus dan Sekolah secara pasti berapa sebenarnya guru Indonesia Luar Negeri (PKLK dan SILN), SLB yang dibutuhkan tiap sekolah. untuk jenjang pendidikan menengah saja. Roadmap diharapkan juga mendorong Kini, seluruh guru SLB menjadi tanggung daerah, dari pemerintah kabupaten/kota jawab Dit. PG Dikmen dan Diksus. hingga provinsi untuk bersama bergerak

Salah satu upaya yang dilakukan Dit. melakukan tindakan nyata terhadap

peraturan yang agar penyediaan guru pendidikan khusus di sekolah reguler MENDORONG PENDIRIAN SLB DAN dapat diprogramkan dan dianggarkan SEKOLAH INKLUSIF kebutuhan biayanya. “Di lingkup sekolah pendidikan khusus yang kecil-kecil, kita Saat ini diperkirakan masih ada bisa menyiasati dengan memberdayakan 62 kabupaten/kota di Indonesia yang masyarakat terdekat untuk bisa membantu belum memiliki SLB. Menurut Renani, menangani anak-anak disabilitas tersebut,” kabupaten kota yang belum mempunyai kata Bu Rena, sapaan akrab Bu Direktur PG SLB terkonsentrasi di wilayah Indonesia Dikmen dan Diksus ini. bagian timur dan kabupaten/kota hasil

Sebagai contoh, ketika ia menjabat pemekaran. Mulai 2017 lalu, pengelolaan

Direktur Pendidikan Khusus dan Layanan pendidikan khusus berada di bawah

Khusus (2015-2017). Kala itu Dit. PKLK kewenangan pemerintah provinsi.

menangani SMA/SMK Terbuka. “Salah satu Tentunya butuh kerja sama baik antara

siswa di SMK Terbuka tersebut membantu pemerintah pusat, pemerintah provinsi

mengajar atau membantu menangani dan pemerintah kabupaten/kota yang

siswa autis di TK tak jauh dari rumahnya. belum memiliki SLB.

Upaya kita di pusat adalah dengan

kesempatan meningkatkan pendidikan PG Dikmen dan Diksus adalah mengkaji layanan pendidikan khusus.

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

Direktur PG Dikmen dan Diksus sedang melihat aktivitas menggambar dan membatik anak-anak disabilitas yang dibina oleh YPAC Pangkalpinang, Bangka Belitung, mereka yang beraktivitas tersebut adalah para penyandang Tunarungu.

Kemendikbud sudah berupaya memfasilitasi agar semua kabupaten/kota memiliki SLB. Persoalannya, pembangunan SLB di kabupaten/kota terkendala keterbatasan lahan. Meski Kemendikbud sudah menyiapkan anggaran, namun pemerintah kabupaten/kota tidak memiliki lahan yang mencukupi. Terhadap kabupaten/kota yang tak memiliki lahan cukup, Kemendikbud mendorong peningkatan pendidikan inklusif sehingga anak penyandang disabilitas dapat bersekolah di sekolah reguler.

Tentunya, agar pendidikan inklusif berjalan baik, guru-guru di sekolah reguler harus mampu melayani anak berkebutuhan khusus. Ketika memimpin Direktorat Pembinaan PKLK, Renani mendorong agar di sekolah-sekolah reguler bisa ditempatkan guru pendidikan khusus. Selain itu, guru-guru di sekolah reguler dapat mengikuti pelatihan selama satu tahun di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) untuk mendapat kompetensi tambahan pendidikan khusus.

MEREVISI REGULASI PENDIDIKAN INKLUSIF

Padahal tak sedikit pula peserta didik memiliki keterbatasan Pendidikan inklusif sendiri sudah berkembang sejak tahun karena faktor eksternal. Faktor eksternal merupakan sesuatu 2000-an, mengikuti perkembangan dunia yang sudah mengadopsi yang ada di luar diri anak yang mengakibatkan anak menjadi konsep pendidikan inklusif di sekolah-sekolah. Pendidikan inklusif terhambat proses perkembangan dan belajarnya. Di antaranya ada merupakan kelanjutan dari program pendidikan integratif atau di kelompok bahasa, etnis, budaya minoritas, anak-anak jalanan, terpadu yang pernah diluncurkan di Indonesia pada 1980-an, hingga anak-anak yang terdampak krisis, konflik, dan bencana. namun kemudian tidak berkembang. Bentuk program pendidikan integratif saat itu adalah sekolah reguler yang menampung anak Guru-guru di sekolah inklusif juga masih menganggap semua peserta berkebutuhan khusus, dengan kurikulum, guru, sarana pengajaran, didik punya kemampuan yang sama. Misalnya ada anak yang dianggap dan kegiatan belajar mengajar yang sama dengan anak lain. lemah secara akademis karena guru tidak mengetahui pemahaman tentang anak disleksia (gangguan dalam perkembangan baca-tulis), Untuk menguatkan pendidikan inklusif, pemerintah, saat itu melalui diskalkulia (gangguan belajar yang mempengaruhi kemampuan Kementerian Pendidikan Nasional, menerbitkan Permendiknas memecahkan persoalan matematika), atau anak hiperaktif. Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/ Saat menangani Dit. PPKLK, Bu Rena menemukan masih atau Bakat Istimewa. Selama kurun 10 tahun sejak terbitnya Permen rendahnya literasi guru SLB. Ketika kegiatan penulisan buku guru dan Sekolah Inklusif ini, perkembangan pendidikan inklusif masih belum siswa SDLB, SMPLB, dan SMALB, ia menemukan draf buku yang berisi menggembirakan. Masih banyak sekolah reguler yang keberatan contoh tidak masuk akal. Misalnya, ada cerita anak berkursi roda menerima anak berkebutuhan khusus. mencari umpan katak untuk menangkap ikan. Selain itu, sistematika penggunaan bahasa oleh guru-guru juga masih lemah. Kemendikbud harus merevisi Permendiknas 70/2009 itu. Pasal 4 hanya mewajibkan Pemerintah Kabupaten/Kota menunjuk paling Semoga peningkatan akses dan mutu pendidikan khusus, melalui sedikit satu Sekolah Dasar, dan satu SMP pada setiap kecamatan, ketersediaan guru-guru pendidikan khusus berkualitas ke depan serta satu satuan pendidikan menengah untuk menyelenggarakan dapat terwujud. Sekadar gambaran kondisi global, laporan Save pendidikan inklusif. Himbauan semua sekolah menyelenggarakan The Children (2017) mengenai pencapaian negara-negara dalam pendidikan inklusif tak memiliki payung hukum yang kuat. mewujudkan tempat tumbuh kembang anak yang baik menyatakan, Indonesia menempati posisi ke-101 dari 172 negara di dunia. Permendiknas Sekolah Inklusif juga hanya mengklasifikasikan Tertinggal jauh dari negeri di Asia Tenggara, di antaranya Singapura di peserta didik di sekolah inklusif adalah yang memiliki keterbatasan posisi 33, Malaysia (posisi ke-65), dan Thailand (posisi ke-84). dari sisi internal. Klasifikasi itu meliputi: penderita tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, berkesulitan belajar, lamban belajar, autis, memiliki gangguan Dipo Handoko dan Mukti Ali motorik, menjadi korban penyalahgunaan narkoba, obat terlarang, dan zat adiktif lainnya, maupun tunaganda. (Pasal 3 ayat 2).

LAPORAN UTAMA LAPORAN UTAMA

Jurus Pembinaan Guru Pendidikan Khusus

ada akhir tahun 2018 Kementerian Pendidikan dan Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah mendapat Kebudayaan (Kemendikbud) menerbitkan Permendikbud tambahan tugas membina guru pendidikan khusus, nama Nomor 11 Tahun 2018 yang salah satu isinya menambah direktorat pun berubah menjadi Direktorat Pembinaan Guru

Ptugas dan fungsi pembinaa guru pendidikan khusus ke Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus. Bagaimana

dalam Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah. Melalui dengan tugas baru tersebut Bu? Permendikbud tersebut, secara otomatis merubah nama dan Selama karier di Kemendikbud, saya bersyukur punya pengalaman nomenklatur direktorat menjadi Direktorat Pembinaan Guru mengabdi di beberapa tempat berbeda-beda, menjadi pengalaman Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, disingkat menjadi yang sangat mendewasakan dalam berfikir dan mengambil keputusan. Direktorat PG Dikmen dan Diksus. Sebelum saya menjabat Direktur Pembinaan Guru Dikmen saya Majalah Gaharu berkesempatan mewawancarai Direktur PG bertugas menjadi Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Khusus dan Dikmen dan Diksus Ibu Ir. Sri Renani Pantjastuti MPA disela-sela Layanan Khusus. Tempat tersebut, menurut saya penuh tantangan kegiatan Visioning awal tahun 2019 lalu di Banyuwangi. Bu Direktur karena menangani pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus terlihat cukup fasih dan lugas mengutarakan hal-hal yang berkaitan diperlukan cara yang khusus pula. Menangani mereka tidak bisa dengan pendidikan khusus. Maklum saja, perempuan pecinta alam hanya dari satu kementerian saja, harus lintas kementerian. Dari sana dan pendaki gunung ini pernah menjabat sebagai Direktur Pembinaan mengantarkan saya bisa mengenal banyak relasi di luar Kemendikbud Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (Direktur Pembinaan PKLK) juga bisa tahu bagaimana idealnya menangani anak berkebutuhan pada waktu itu. Untuk mengetahui hasil wawancara tersebut, berikut khusus itu. Saya sangat bersyukur dengan pengalaman tersebut, ini rangkumannya. dan tugas baru ini sudah tidak asing, tetapi saya harus bekerja keras mengajak pegawai untuk sama-sama memahami tentang pendidikan khusus.

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

Bisa diberi gambaran, bagaimana kecil bisa disiasati dengan memberdayakan kondisi perkembangan pendidikan khusus masyarakat terdekat untuk bisa membantu di Indonesia saat ini? menangani anak-anak disabilitas tersebut.

Pendidikan khusus di Indonesia saat ini Sebagai contoh, waktu itu saya dari segi jumlah memang kurang, karena menangani SMK Terbuka salah satu siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) yang ada sebagian di SMK tersebut di dekat rumahnya ada besar didirikan oleh masyarakat. Kondisi TK untuk anak-anak autisme. Meski masih ini cukup memprihatinkan, karena banyak duduk di bangku SMK tapi siswa ini sudah kabupaten/kota yang belum memiliki SLB bisa membantu mengajar atau membantu negeri. Seharusnya pemerintah daerah menjaga anak-anak autis tersebut. Upaya berinisiatif mendirikan dan membina kita di pusat adalah dengan melakuka SLB karena mereka pasti tahu kebutuhan pembinaan peningkatan kompetensi guru masyarakatnya akan layanan pendidikan yang ada, juga mengajarkan siswa atau khusus. Demikian juga dengan tenaga masyarakat umum sehingga mereka bisa pendidik atau guru yang ada di SLB, sebagian membantu. besar dari masyarakat di sekitarnya, hal Selain roadmap peningkatan kompetensi ini bisa menjadi masalah mengingat guru-juga ada roadmap Pengadaan Kebutuhan guru yang direkrut belum tentu memenuhi Guru, kami ingin tahu pasti berapa standard sebagai guru SLB. Kecuali SLB-SLB sebenarnya guru SLB yang dibutuhkan untuk yang besar seperti SLB Santi Rama dan lain-tiap sekolah tersebut. Roadmap ini juga lain tentu gurunya sudah memenuhi standar. mendorong daerah, mulai kabupaten/kota Tetapi SLB yang kecil masih sangat banyak, hingga provinsi untuk kita harus berupaya menangani hal tersebut, bersama khususnya membina gurunya.

Bagaimana strategi pembinaan peningkatan kompetensi bagi guru

pendidikan khusus?

Kami sudah membuat Roadmap peningkatan kompetensi bagi guru yang bukan hanya guru SLB. Roadmap ini menjadi pedoman kita untuk mengetahui apa saja harus kita kerjakan. Sehingga sasaran pembinaan guru yang aka kita lakukan akan lebih terstruktur dan jelas. Masa roadmap ini untuk 3 tahun ke depan dengan target-target yang tertuang di sana. Meski roadmap ini belum final 100% setidaknya sudah bisa menjadi dasar untuk kita begerak. Kami juga melihat, bahwa untuk SLB-SLB

bergerak melakukan tindakan nyata terhadap layanan pendidikan khusus.

Beberapa waktu lalu Ibu menyampaikan bahwa kita sudah
memasuki era Sustainable Development
Goals atau SDGs bukan lagi di era
Millenium Development Goals (MDGs) yang di dalamnya mengharuskan melakukan
pelayanan pendidikan inklusif?

Benar, bahwa dalam poin keempat dalam SDGs dijelaskan kita harus berperan terhadap pelayanan pendidikan bagi anak-anak inklusi. Seperti saya sampaikan tadi, bahwa pemerintah daerah juga harus bertindak nyata melakukan pembinaan terhadap penyandang disabilitas. Kita tidak boleh diskriminasi terhadap mereka, anak inklusi bisa sekolah di sekolah-sekolah umum. Tetapi masalahnya, fenomena yang terjadi banyak guru yang berlatar belakang Pendidikan Luar Biasa (PLB) di sekolah reguler pindah ke SLB, padahal mereka sangat dibutuhkan di sekolah reguler tersebut. Kalau mereka pindah begitu bagaimana dengan anak-anak berkebutuhan khusus yang masuk di sekolah reguler.

Kemudian juga terjadi migrasi guru keterampilan di SLB pindah ke SMK, ini karena masalah tunjangan. Padahal terdapat 20 jenis keterampilan yang dikembangkan di SLB, untuk itu sangat diperlukan guru-guru yang memiliki kemampuan. Kami sudah berdiskusi dengan pihak Dapodik, bahwa vokasi itu bukan hanya untuk SMK semata. Selain SMK vokasi juga diperlukan bagi lembaga-lembaga kursus dan juga pendidikan khusus. Anak-anak disabilitas itu sangat membutuhkan keterampilan.

LAPORAN UTAMA LAPORAN UTAMA
Untuk mendorong daerah berperan aktif dalam pelayanan anak disabilitas tersebut, adakah regulasi dan intervensi
pemerintah pusat sehingga daerah benar-benar melaksanakan?

Pemerintah melakukan itu, tentunya dengan regulasi yang diberlakukan saat itu. Saat pertama kali saya di pindahkan ke PKLK, kami menyalurkan bantuan dari pusat sebesar Rp. 900 juta. Karenanya angka ini cukup besar tetapi penyalurannya kurang terkontrol. Kabupaten/kota dan provinsi seperti tidak peduli. Sementara besaran anggaran tersebut juga dipukul rata untuk semua provinsi, tidak peduli apakah provinsi itu lebih besar atau lebih kecil populasi penduduknya.

Bagi saya, hal tersebut kurang fair. Maka dari itu saya ubah kebijakannya, dengan menyertakan adanya indikator-indikator yang membedakan agar anggaran yang digulirkan juga berbeda. Dari upaya ini sudah banyak hasil provinsi dan kabupaten/ kota mulai memikirkan pendidikan inklusif dan kemudian mereka membuat renstra.

Jika mengharuskan sekolah reguler memberi pelayanan bagi anak disabilitas, sejauh ini apakah sudah ada sekolah reguler

yang cukup ramah bagi para penyandang disabilitas?

Mengutip yang dikatakan oleh Bapak Profesor Muklas Samani, sudah ada beberapa sekolah di Indonesia yang mampu

menyediakan fasilitas untuk para penyandang disabilitas. Contoh sekolah yang sudah ramah bagi para penyandang disabilitas yaitu SD Muhammadiyah 18 Jakarta. Selain di sana sudah banyak juga di tempat-tempat lain, pada dasarnya jika kepala sekolahnya paham hak para penyandang disabilitas akan cepat merata di sekolah-sekolah yang ada di Indonesia. Apalagi jika masyarakat dan orang-orang yang di sekolah berani bersuara dan mendorong kepala sekolah bahwa pentingnya setiap sekolah menyelenggarakan pendidikan inklusif.

Memberi layanan pendidikan bagi anak inklusi tentu ada hambatan, kira-kira hambatan tersebarnya apa?

Ada beberapa hambatan di dunia pendidikan inklusif. Pertama, masalah stigma hambatan ini justru datang dari masyarakat bukan dari sekolah, para orangtua yang mempunyai anak penyandang disabilitas mereka berpikir jika memasukan anaknya ke sekolah tidak akan diperhatikan. Kedua, orangtua masih merasa malu memiliki anak penyandang disabilitas dan akhirnya mereka tidak memasukan anaknya ke sekolah. Ini tantangan bagi kita mengingat hanya sekitar 30% di Indonesia para penyandang disabilitas bersekolah.

Masalah lainnya adalah kondisi ekonomi orangtua yang kurang mampu. Orangtua memang harus mengantarkan dan mendampingi proses selama anak-anaknya sekolah. Banyak di antara orangtua

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019 EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

yang tidak bisa melakukannya, apalagi dua, pertama bagi guru vokasi yang tidak setiap hari. Juga masalah dari sisi sekolah memiliki latar belakang pendidikan khusus seperti sebenarnya sekolah reguler bersedia kita bekali materi pendidikan khusus, menerima siswa penyandang disabilitas akan kedua guru pendidikan khusus akan kita tetapi orangtua yang anaknya non disabilitas bekali materi keterampilan. Kita mencoba mereka tidak mau menyekolahkan anaknya menyiasati dengan pemberian keterampilan di sekolah yang sama, alasannya mereka ganda kepada guru-guru di SLB. khawatir gurunya memberi perhatian ekstra Jika melihat kondisi anak penyandang kepada anak disabilitas sehingga anak disabilitas, sebenarnya mereka itu sangat nondisabilitas terabaikan. tekun. Banyak anak yang mengalami Dari sekian hambatan ini jadinya hambatan fisik tetapi tidak mengalami kita selesaikan masalah ini bersama hambatan intelektual. Kondisi ini harus lintas kementerian dan lintas instansi. diperhatikan oleh gurunya, guru harus Mulai Kementerian Sosial, Kementerian lebih telaten dan tekun mengawal anak-Pemberdayaan Perempuan dan anak tersebut. Dan yakinlah, anak-anak Perlindungan Anak. Termasuk di tempat baru penyandang disabilitas pasti akan lebih nurut ini kami terus menjalin kerjasama tersebut, dan mengikuti arahan gurunya tersebut. bahkan dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) mengenai pencehagan narkoba, dengan Kementerian Kesehatan mengenai Bentuk-bentuk apresiasi atau Kesehatan Reproduksi Wanita, juga dengan penghargaan apa saja yang sudah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana akan diberikan? (BNPB) dan lain-lain. Ada banyak bentuk apresiasi Kita sedang menyiapkan generasi emas yang sudah kita berikan, seperti tahun 2045 nanti. Kemendikbud mendesain melalui pemilihan guru berprestasi agar anak bangsa di tahun 2045 nanti adalah dan berdedikasi tingkat nasional, generasi yang matang dan berkarakter. Dan pengiriman pelatihan ke luar guru punya andil besar menyiapkan generasi negeri, juga membuatkan tersebut, sehingga tidak bisa terus menerus berbagai wadah kompetisi menjejalkan keilmuan kepada siswanya untuk peningkatan tanpa mengimbangi dengan pengetahuan kompetensi dan keterampilan untuk memperkokoh dan karier karakternya. mereka.

Untuk regulasi para guru pendidikan khusus apakah ada yang terbaru?

Untuk saat ini belum ada pembaharuan makanya saya mendengarkan penjelasan dari Biro Hukum juga Biro Kepegawaian Kemendikbud jika saja terdapat atau akan ada perubahan-perubahan. Mengenai guru pendidikan khusus, saya melihat guru tersebut sangat perlu dibekali keterampilan jika sekolah tersebut tidak memiliki guru keterampilan. Guru-guru SLB terbagi menjadi

Seperti lomba menulis penyelenggaraan pendidikan inklusi, lomba menulis penanggulangan bencana, juga sedang disiapkan lomba kreativitas guru (LKG) SLB. Melalui lomba kreativitas tersebut kita bisa melihat seperti apa karya-karya inovasi oleh guru SLB. Kami juga selalu menyertakan guru SLB dalam berbagai kegiatan nasional.

Demikian hasil wawancara kami bersama Bu Direktur, semoga keberadaan guru pendidikan khusus semakin tercerahkan ke depannya. Kami juga berharap Bu Direktur senantiasa dilimpahkan kesehatan dan kekuatan dalam bekerja, Aamiin.

Mukti Ali

PROGRAM

Rakor Sosialisasi dan Koordinasi Program 2019

Sinergi Pusat dan Daerah dalam

Era SDGs

i pertengahan Bulan Juni 2019, tepatnya tanggal 18-20 Subdirektorat Program dan Evaluasi menggelar Sosialisasi dan Koordinasi Program Tahun 2019. Kegiatan selama

Dtiga hari terebut menghadirkan peserta dari perwakilan

Dinas Pendidikan Provinsi se Indonesia. Tiap provinsi diwakili dua orang yang masing-masing adalah Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan dan Kepala Bidang Pendidikan Khusus. Total peserta dari wakil provinsi sebanyak 68 orang. Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Arosa, Bintaro, Jakarta Selatan itu juga menghadirkan semua kepala Subdirektorat yang didampingi beberapa staf di lingkungan Direktorat PG Dikmen dan Diksus.

Kegiatan ini dihadiri Direktur PG Dikmen dan Diksus, Ir. Sri Renani Pantjastuti, M.P.A. Dalam arahannya, direktur menyampaikan beberapa isu penting yang menjadi perhatian Kemendikbud. “Terdapat beberapa isu yang menjadi perhatian Kemendikbud di tahun 2019 ini. Kami harapkan bapak ibu dari provinsi juga memperhatikan sehingga program-program yang digulirkan pemerintah pusat bisa saling bersinergi dengan daerah,” ujar perempuan yang biasa disapa Rena itu.

Bu Direktur juga menegaskan bahwa niatan mengundang peserta yang salah satunya adalah Kepala Bidang Pendidikan Khusus tak lain lantaran isu internasional saat ini salah satunya mengharuskan setiap negara untuk andil dalam menangani pendidikan inklusif bagi warga negaranya. “Saat ini kita menghadapi era Sustainable Development Goals (SDGs) sudah bukan Millennium Development Goals. Dalam SDGs pada komponen empat ditegaskan tentang pendidikan inklusi. Pemerintah Indonesia juga sudah menggulirkan UU Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas, di dalamnya memuat pasal-pasal penanganan anak disabilitas dengan sangat jelas,” katanya.

Salah satu pasal tersebut mengatakan bahwa pemerintah pusat dan daerah harus bersinergi menyiapkan akomodasi bagi anak-anak disabilitas. “Tetapi fakta di lapangan masih banyak kabupaten-kota yang belum memiliki SLB Negeri. Artinya perhatian untuk anak disabilitas dari pemerintah daerah masih sangat kurang,” tegas Rena.

Diinformasikan pula, bahwa Direktorat PG Dikmen dan Diksus baru menuntaskan draft pembinaan untuk guru pada sekolah-sekolah umum agar bisa melayani anak-anak inklusif. “Pendidikan inklusif tidak bisa hanya dilayani oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus, semua harus mengambil peran dan bersinergi. Pemerintah, juga sekolah tidak bisa melakukan diskriminasi kepada anak yang seharusnya mendapat layanan pendidikan inklusif. Untuk itu, kami siapkan pembinaan gurunya, dan kami harapkan semua guru apa saja punya pemahaman dan kemampuan menangani anak-anak inklusif tersebut,” papar Rena.

Pada Sosialisasi dan Koordinasi Program ini, selanjutnya peserta dibagi dalam tiga kelas kecil. Semua kepala Sudirektorat tampil mempresentasikan program kerjanya tahun 2019 di kelas-kelas tersebut secara bergiliran. Pembagian kelas kecil ini terlihat sangat efektif, terbukti semua peserta tampak antusias mengikuti semua paparan dan tak ada yang sibuk sendiri atau bermain HP.

Usai paparan Kasubdit, peserta tiap kelas kemudian berdiskusi tentang sinkronisasi program dan menyusun Recana Tindak Lanjut (RTL). Hasil diskusi kemudian dipresentasikan secara pleno dalam forum bersama. “Dari RTL yang disusun peserta, kita bisa melihat keseriusan peserta mengikuti kegiatan ini dan memperlihatkan sejauh mana program yang telah kami susun ini bisa sinkron dengan kebijakan di daerah. Dengan sinkronisasi ini insya Allah program dapat bergulir dengan lebih baik,” ujar Dra. Tina Jupartini, M.Pd., Kepala Subdirektorat Program dan Evaluasi, Direktorat PG Dikmen dan Diksus.

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019
Direktur PG Dikmen dan Diksus, Ir. Sri Renani Pantjastuti MPA didampingi Kasubdit Program dan Evaluasi, Dra. Tina Jupartini, M.Pd sedang memberikan arahan kepada peserta Rakor Sosialisasi da Sinkronisasi Program 2019. Dr.Kasiman, Kasubdit Peningkatan Kualifikasi dan Kompetensi (PKK) saat mempresentasikan program kerjanya. Perempuan yang biasa dipanggil Tina juga untuk mengkoordinasikan program itu juga mengatakan bahwa kegiatan dan kegiatan Direktorat Pembinaan Guru Sosialisasi dan Koordinasi Program tahun Menengah dan Pendidikan Khusus Tahun 2019 ini bertujuan, diantaranya adalah untuk: 2019 dengan Dinas Pendidikan Provinsi,” Menyamakan persepsi/pemahaman tentang katanya. kebijakan dan peraturan guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, dan untuk menyosialisasikan program dan kegiatan KOORDINASI TUNJANGAN Direktorat Pembinaan Guru Menengah dan Sementara itu, beberapa waktu Pendidikan Khusus Tahun 2019. “Selain itu sebelumnya, tepatnya tanggal 14-16 Mei 2019 telah dilangsungkan Rapat Koordinasi Sinkronisasi dan Validasi Penerima Tunjangan. Kegiatan yang juga dilaksanakan oleh Subdit Program dan Evaluasi ini berlangsung di Hotel Horison Ciledug, Jakarta Selatan. Peserta yang dihadirkan sebanyak 68 orang perwakilan dari 34 provinsi se Indonesia. Mereka adalah para operator sistem informasi manajemen tunjangan profesi (SIMTUN) dan didampingi satu orang operator Aneka Tunjangan (ANTUN). Dalam proses penyaluran tunjangan terdapat hal yang harus menjadi perhatian, hal tersebut adalah validasi para penerima agar benar-benar sampai kepada pihak yang berhak. Validasi data penerima tunjangan ini wajib dilakukan oleh daerah. Sehingga diharapkan operator yang biasa melakukan update data harus lebih teliti, jangan sampai salah memasukkan nama orang yang sudah pensiun atau sudah meninggal atau karena hal lain yang sebenarnya sudah tidak berhak menerima tunjangan. “Kasus-kasus seperti ini jangan sampai terus terjadi, karena masih banyak guru yang belum menerima tunjangan yang harus kita perhatikan,” ujar Tina Jupartini. Tina juga mengatakan, bahwa kegiatan ini bertujuan antara lain agar tersedia data calon penerima tunjangan profesi guru bukan PNS semester I yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu penyaluran tunjangan tersebut harus dapat dilaksanakan tepat waktu. Penyelenggaraan kegiatan ini sendiri bertujuan di antaranya, untuk menyosialisasikan kebijakan penyaluran tunjangan guru Dikmen dan Diksus, melakukan penyamaan persepsi, menyiapkan data penerima tunjangan, serta mengidentifikasi permasalahan tunjangan dan mencari solusinya agar penyaluran tunjangan dapat dilakukan secara tepat sasaran, tepat jumlah, dan tepat waktu. Dengan demikian, penyaluran tunjangan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien,” katanya lebih lanjut. Mukti Ali 13
PROGRAM PROGRAM
Bimbingan Teknis Program Aksi Guru

asalah penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan obat terlarang (narkoba) di Indonesia sudah sangat serius. Hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Pusat Penelitian Kesehatan

MUniversitas Indonesia (Puslitkes-UI) pada tahun 2015 menyebutkan

prevalensi penyalahguna narkoba mencapai 2,28 % dari total populasi penduduk Indonesia berusia 10 sampai dengan 59 tahun atau setara dengan 5,1 juta jiwa. Bila kondisi ini tidak ditangani secara serius, maka akan timbul permasalahan lebih besar, yakni adanya generasi yang terbelenggu oleh narkoba.

Saat ini, pengedar narkoba memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat dengan menawarkan narkoba sebagai food suplement, pil pintar, pil sehat dan lain-lain. Akibatnya, orang yang menyatakan anti narkoba malah tertipu, kemudian tanpa sadar mereka memakai narkoba. Dalam upaya menjaga generasi muda dari jeratan narkoba, maka dipandang perlu untuk melaksanakan berbagai program pencegahan. Salah satunya berupa program Aksi Guru dalam Pencegahan dan Penyalahgunaan Narkoba di Lingkungan Sekolah.

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019 EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

Kegiatan ini dikemas dalam bentuk seminar dengan beberapa narasumber terkait pencegahan narkoba. Peserta juga diajak menggali berbagai solusi dan kiat- kiat melakukan pencegahan narkoba di lingkungan sekolah, juga menggali berbagai upaya pendampingan yang harus dilakukan dan lain-lain. Dalam diskusi ini peserta dibagi menjadi tiga kelas yang tiap kelas dipandu oleh widyaiswara dari PPPPTK.

Program Aksi Guru ini berlangsung selama empat hari dari tanggal 30 April hingga 3 Mei 2019 di Surabaya dan bertempat di Hotel Mercure Grand Mirama. Peserta yang diundang kurang lebih 100 orang dari 34 provinsi. Mereka adalah guru yang bertugas pada jenjang SMA, SMK SLB.

Kegiatan ini bertujuan untuk membekali wawasan kepada kalangan guru agar mampu mengembangkan lingkungan sekolah yang sehat dan aman, sehingga peserta didik dapat mengekspresikan bakat, minat dan potensi mereka, serta mampu memberikan kontribusi positif baik kepada lingkungan sekolahnya maupun kepada masyarakat. Selain itu, agar para guru mampu berperan mengawal peserta didiknya menghindari penyalahgunaan narkotika dan prekursor narkotika.

CEGAH GENERASI MUDA DARI
NARKOBA

Pencegahan penyalahgunaan narkoba menjadi sangat penting dalam rangka

sejak lahir hingga dewasa. “Mengingat

pencegahan penyalahgunaan narkoba di lingkungan sekolah, diperlukan koordinasi dan keterpaduan dengan berbagai instansi pemerintah serta kerja sama dengan

masyarakat yang melibatkan berbagai profesi jelas. Proses penyusunan rencana aksi dan disiplin ilmu. Kita perlu waspada dengan terdiri dari; Identifikasi permasalahan; perkembangan zaman saat ini, narkoba Menetapkan tujuan; Memilih kegiatan bisa masuk dan merusak seluruh generasi. atau intervensi untuk mencapai tujuan; Bapak ibu guru punya peran sangat penting Menentukan sasaran; Mengadakan sarana/ menjaga dan mengawal peserta didik yang prasarana; Menunjuk penanggung jawab; merupakan generasi bangsa agar senantiasa Menyusun jadwal kegiatan (time schedule); sehat jasmani dan rohani, salah satunya dan Identifikasi indikator evaluasi (output harus terhindar dari narkoba. Pemerintah evaluation; effect atau outcome evaluation punya harapan lahirnya generasi emas dan Impact evaluation). nanti, jika generasi saat ini tidak kita jaga Program ini bisa disisipkan dalam dengan baik bukan tidak mungkin generasi kegiatan belajar mengajar, sosialisasi di emas hanya menjadi mimpi,” papar Direktur sekolah, sosialisasi di Musyawarah Guru Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Mata Pelajaran (MGMP)/MGBK, dan lewat Pendidikan Khusus, Ir. Sri Renani Pantjastuti, sosialisasi di Musyawarah Kerja Kepala MPA yang menghadiri kegiatan ini pada hari Sekolah. Aksi ini juga bisa dilaksanakan kedua. melalui berbagai macam program Selama kehadirannya, perempuan yang kreatif antara lain lomba debat, pentas akrab disapa Rena itu, juga menyempatkan musik, serta pembentukan relawan anti menyambangi kelas-kelas diskusi. narkoba di sekolah. “Diharapkan sekolah Pada kesempatan itu, Bu Direktur juga mengembangkan program inovatif dan menyampaikan arahan sekaligus sosialisasi kreatif yang disesuaikan dengan kemampuan berbagai kebijakan di lingkungan direktorat. dan kondisi masing-masing. Jangka waktu pelaksanaan program aksi bersifat jangka pendek (6 bulan), menengah (1 tahun), dan RENCANA AKSI panjang (5 tahun),” kata Kepala Subbagian Sesuai dengan namanya, yakni Program Direktorat Program dan Evaluasi, Direktorat Aksi, maka kegiatan ini akan berkelanjutan, Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan tidak berehenti begitu saja. Beberapa tahap Pendidikan Khusus, Tina Jupartini. yang aka dilakukan guru yang mengikuti Keberhasilan pelaksanaan program aksi kegiatan tersebut, pertama, penentuan ini ditandai dengan beberapa indikator. guru sebagai sasaran pelaksanaan program Antara lain; Terlaksananya aksi sesuai aksi tersebut. Kedua, penentuan fasilitator. dengan rencana tindak lanjut (RTL) yang Ketiga, pembentukan tim pelaksana. disusun pada saat bimbingan teknis; Keempat, mengadakan bimbingan teknis. Terintegrasinya aksi guru di lingkungan

penyalahgunaan narkotika dan prekursor (KBM); Ditetapkannya peraturan sekolah yang

aksi tersebut. dan konseling.

Para fasilitator bersama dengan Mukti Ali dan Rihad Wiranto peserta bimbingan teknis program aksi guru perlu menyusun rencana aksi yang

Kelima, pelaksanaan kegiatan aksi guru sekolah ke dalam kegiatan belajar mengajar menjaga anak-anak agar tetap sehat

kompleksitas permasalahan narkoba narkotika di lingkungan sekolah. Keenam, mendukung program aksi; Terintegrasinya saat ini, maka pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan program aksi di dalam program bimbingan

PROGRAM

Bimbingan Teknis Program Aksi Guru

alah satu pembicara yang dihadirkan pada Bimbingan Teknis Program Aksi Guru dalam Pencegahan Narkoba di Mercure Grand

SMirama adalah Ria Damayanti S.H,. MM. dalam

kesehariannya, ia menjabat sebagai Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat (P2M), Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur.

Ria bersyukur diberi kesempatan bisa dipertemukan dengan guru-guru dari jenjang pendidikan menengah dan pendidikan khusus untuk berbagi pengalaman gerak BNNP Jawa Timur dalam upaya mencegah narkoba di lingkungan sekolah. “Bapak ibu, alhamdulillah, sejak tahun 2015 Pemerintah Kota Surabaya telah bekerjasama dengan BNNP Jawa Timur membuat Kurikulum Terintegrasi tentang pencegahan narkoba. Artinya dalam setiap mata pelajaran yang diberikan di sekolah, guru wajib menyampaikan bahaya-bahaya penggunaan narkoba tersebut,” ujarnya.

Narkoba serta beragam jenis serupa menjadi barang sangat berbahaya bagi generasi muda. Ria menyebutkan, bahwa tiap tahun data menunjukkan barang (narkoba) yang ditangkap meningkat. “Tahun 2018 lalu kami menangkap 23.000 kg sabu dan 13.000 ekstasi. Tetapi pada Maret 2019 menunjukkan barang yang ditangkap meningkat, menjadi sebanyak 24.000 kg sabu. Ada apa ini?” katanya.

Atas-bawah: “Ternyata setelah dilakukan evaluasi dan monitoring menunjukkan

1. Ria Damayanti S.H., MM., Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat
tingkat konsumsi meningkat. Jika dulu narkoba hanya dikonsumsi oleh (P2M), Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur orang-orang berduit saja, dalam perkembangannya hingga sekarang

2. Agus Zustiawan, Guru SMKN 1 Seimenggaris, Nunukan barang haram tersebut juga dikonsumsi pelajar. Sudah masuk ke anak-
anak usia 10 tahun, bahkan di daerah Kalimantan usia 3 tahun ada yang

3. Nyoman Ayu Nining Suryani (43), Guru Kelas 3 di SDLB C di SLB Negeri 1 Badung, Bali
sudah menggunakan narkoba. Ini adalah fakta yang miris sekali,” ujar Ria. Peserta yang mendengarkan sontak merasa miris, dan prihatin.

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019 EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

Ria melanjutkan, dikatakan bahwa Indonesia adalah negara maritim dengan kekayaan laut yang cukup luas. “Namun sayang, selama ini jalur transportasi laut kurang mendapat perhatian, sehingga sendiri. “Bahkan ada seorang guru yang atau dari pihak puskesmas,” ujarnya. peredaran narkoba terus meningkat. Perlu diketahui bahwa 80% peredaran narkoba itu melalui jalur laut, bapak ibu harus tahu hal itu. Masyarakat pesisir Jawa Timur sudah akrab dengan minuman yang difermentasi, di Tuban, Lamongan, Bojonegoro ada Tuak dari Pohon Aren. Di tempat lain mungkin berbeda namanya. Tuak itu mengandung alkohol dan kebanyakan dikonsumsi oleh pelaut. Nah sekarang mereka telah mendapatkan barang berbahaya lain, namanya Karnopen. Mengapa demikian, karena nelayan tidak semuanya bisa berenang sementara mereka harus melaut untuk mencari ikan,” kata Ria.

PERAN GURU DI TIAP SEKOLAH

Program Aksi Guru terhadap pencegahan narkoba ini mendapat sambutan hangat di kalangan peserta. Salah satunya adalah Agus Zustiawan, guru Bimbingan Konseling di SMK Negeri 1 SeiMenggaris, Nunukan, Kalimantan Utara. Guru asal Cilacap yang mengabdi berkat mengikuti program GGD ini mengatakan bahwa kondisi di Nunukan dan sekitarnya cukup rawan peredaran narkoba dan sejenisnya dari Malaysia. Pulau Sebatik, yang sebagian wilayahnya berbatasan langsung dengan Malaysia menjadi tempat paling mudah peredaran narkoba tersebut. “Dari sebatik barang itu masuk ke Nunukan melalui pelabuhan-pelabuhan kecil. Masalah di daerah perbatasan seperti di Nunukan itu salah satunya ya narkoba tersebut,” katanya.

Sebelum Agus menginjakkan kaki pertama kalinya mengikuti bimbingan teknis mengabdi di Nunukan, pernah terjadi dengan materi khusus begini, saya melihat beberapa kasus penggunaan narkoba kepada belum pernah ada di daerah kami. Selama ini kaum pelajar termasuk siswa di sekolahnya kita mengetahui bahaya narkoba dari telivisi

terkena narkoba, tetapi sudah direhabilitasi. Bali, merupakan daerah wisata dan Kalau guru sudah kena begitu, bagaimana wisatawan asing di sana tergolong cukup dengan siswanya. Saya masuk ke sana itu tinggi. Besar kemungkinan daerah seperti merasakan kondisi yang memprihatinkan. Bali menjadi sarang peredaran narkoba Di belakang sekolah kami, di semak-semak secara internasional. “Narkoba itu berbahaya dan di bawah pohon kelapa sawit, kami bagi siapa saja, daerah mana saja bisa menemukan banyak sekali bungkus Komix menjadi tujuan bahkan pusat peredaran saset. Komix yang sebenarnya adalah obat narkoba. Ketika Bali dengan wisatwan batuk tetapi dikonsumsi dalam jumlah asing yang cukup banyak, memang kami berlebih bisa menyebabka penggunanya harus mewaspadai generasi sekolah jangan mabok. Alhamdulillah dalam dua tahun ini sampai terkena dampaknya. Mencegah kami melakukn pencegahan secara masif, narkoba paling utama berasal dari keluarga. dan belum ditemukan kasus lagi, semoga Para orangtua harus dekat dengan anak, dan jangan sampai terjadi,” katanya. ketika anak lulus SD hendak masuk SMP ini Melihat gejala pengguna narkoba, adalah masa yang sangat butuh perhatian,” kata Agus, mungkin perlu tes urin. Tetapi kata Ayu. katanya itu memerlukan biaya, semakin sering dilakukan semakin tinggi juga biaya Tetapi Bali memiliki kekuatan adat yang

yang dikeluarkan sekolah. “Sementara kami sangat melekat dalam diri masyarakat di

sekolah perbatasan dengan konsisi serba sana. “Adat istiadat masyarakat bali juga

pas-pasanlah. Maka kami melihat gejala itu menjadi daya penangkal bahaya narkoba ini.

dengan kasat mata, misalnya anak berubah Karena setiap kali kita berbuat sesuatu pasti

bersikap yang aneh, dari pandangan matanya akan ada karmanya, dan masyarakat Bali

ada perubahan, dia juga sering bolos dan sangat meyakini hal tersebut,” lanjut Ayu.

tidak jelas. Jika ada gejala seperti itu, kami Selepas mengikuti bimbingan teknis, Ayu segera bertindak sebelum terjadi terlalu berencana menyebarkan pengetahuan yang jauh,” katanya. diperoleh kepada rekan guru di tempatnya bertugas. “Yang penting saya harus segera Peserta lain yang berhasil kami temui menyampaikan kepada anak-anak didik saya adalah Nyoman Ayu Nining Suryani (43), guru untuk bersama-sama menolak narkoba,” kelas 3 di SDLB C di SLB Negeri 1 Badung, katanya. Bali. Perempuan yang biasa disapa Ayu ini mengaku sangat senang menjadi peserta Mukti Ali bimbingan teknis tersebut. “Karena saya baru

PROGRAM

Siswa melakukan onani di kelas, atau siswa perempuan memasukkan kespro dalam pembelajaran di sekolah. Sebagian besar meminta temannya siswa laki-laki memegang payudara dan sekolah, khusus pendidikan menengah, masih belum mengenalkan kelaminnya, mungkin tak pernah terjadi di sekolah umum. kespro dalam pembelajaran mereka. “Kami berharap dengan adanya Bimtek Program Aksi Guru dalam Kespro ini akan menguatkan

Namun di sekolah luar biasa (SLB), persoalan itu sudah biasa
terjadi ketika siswa SLB sudah memasuki masa dewasa secara seksual.
Pada siswa tunarungu dan pendidikan kesehatan
tunagrahita bahkan tak reproduksi di kalangan
jarang sudah mengetahui remaja,” kata Dra. Tina
pornografi sejak usia dini. Jupartini, M.Pd., Kepala
Sejumlah persoalan Subdirektorat Program dan
terkait kesehatan Evaluasi, Dit. Pembinaan
reproduksi (kespro) Guru Dikmen dan Diksus.
itu biasa dijumpai di Selain itu, Bimtek
SLB yang hampir tidak bertujuan memberikan
ditemui di sekolah umum. keterampilan kepada guru-
Permasalahan kespro guru dalam menangani
tersebut dikemukakan permasalahan kesehatan
para peserta kegiatan reproduksi di kalangan
Bimbingan Teknis Program remaja; juga dalam
Aksi Guru dalam Pendidikan bekerjasama dengan
Kesehatan Reproduksi berbagai pihak terkait
Remaja di Sekolah, yang untuk pendidikan kespro.
diselenggarakan di Hotel “Lebih dari itu, harapan
Millennium, Jakarta, kami, setelah guru-guru
21-24 Mei 2019. Mereka mengikuti bimtek ini
merupakan guru-guru mereka melaksanakan
SMA, SMK dan SLB, yang rencana tindak lanjut atau
sebagian besar guru program aksi pendidikan
Bimbingan Konseling kesehatan reproduksi di
(BK) dan guru Pendidikan sekolah masing-masing,”
Jasmani, Olahraga dan kata Tina.

pengetahuan guru-guru SMA, SMK, dan SLB/PKh mengenai

Bimbingan Teknis Aksi Kesehatan Reproduksi

Memahamkan Pendidikan

Kespro di Sekolah

Kesehatan (PJOK) di SMA/ SMK.

Bimtek Program Aksi Guru dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja di Sekolah ini dinilai perlu dilaksanakan mengingat banyak permasalahan kespro di sekolah yang masih belum mendapat perhatian khusus dari sekolah, orang tua siswa, dan siswa sendiri. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 mencatat, 0,9% perempuan usia 15-19 tahun dan 3,6% laki-laki usia 15-19 tahun pernah melakukan hubungan seksual pranikah.

SDKI 2017 menunjukkan persentase laki-laki belum menikah usia 15-24 tahun berdiskusi dalam kesehatan reproduksi dengan teman sebaya, 42% berdiskusi dengan gurunya. Sedangkan persentase perempuan belum menikah usia 15-24 tahun sebanyak 62% berdiskusi dalam kesehatan reproduksi dengan teman sebaya, 47% berdiskusi dengan gurunya.

Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dit. Pembinaan Guru Dikmen dan Diksus merasa perlu

PROGRAM PENDIDIKAN KESPRO

Tahun 2019, Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan dukungan United Nations Fund for Population Activities (UNFPA) dan UNESCO meluncurkan Program Pendidikan Kesehatan Reproduksi Bagi Peserta Didik SMA, SMK, dan SLB. Program ini meliputi tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Untuk kelancaran setiap tahap program, Kemendikbud, melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan menerbitkan Pedoman Program Pendidikan Kesehatan Reproduksi bagi Peserta Didik SMA/SMA-LB, dan SMK/MAK.

Agar upaya pencegahan dapat dilaksanakan secara sistematis dan sistemik, Dit. Pembinaan Guru Dikmen Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus menggulirkan Program Aksi Guru dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi di Sekolah. Aksi guru ini merupakan aktivitas nyata yang melibatkan komunitas

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

guru dan dalam konteks satuan pendidikan untuk mengimplementasikan pendidikan kespro di sekolah. Melalui bimtek, para widyaiswara mendiseminasikan kepada para guru peserta bimtek.

Selesai bimtek, para peserta bimtek melaksanakan program aksi dengan mendiseminasikan kepada guru dan komite sekolah, serta para siswa. Pelaksanaan diseminari untuk siswa bisa dalam bentuk pembelajaran intrakurikuler dan kokurikuler, serta kegiatan ekstra kurikuler (ekskul).

Pembelajaran pendidikan kespro dalam bentuk kokurikuler dilaksanakan guru dengan melalui muatan materi pada Modul Pendidikan Kesehatan Reproduksi dalam penyusunan perangkat pembelajaran. Pelaksanaannya dengan jadwal pembelajaran dari mata pelajaran terkait, misalnya Biologi, BK, PJOK, IPA, agama dan mata pelajaran lain. Selain itu bisa juga dilakukan dengan integrasi dalam mata pelajaran melalui kolaborasi dengan guru mata pelajaran lain.

Ada sejumlah kegiatan yang dapat dilakukan untuk menguatkan kegiatan intrakurikuler. Contohnya kegiatan Masa Orientasi Siswa, kajian keputrian dan pendampingan, peringatan Hari Kesehatan Nasional (12 November), peningkatan pelayanan Unit Kesehatan Sekolah, serta kunjungan ke berbagai instansi terkait kesehatan reproduksi remaja, seperti Puskesmas dan Dinas Kesehatan setempat. “Kegiatan pendidikan kespro juga dapat disinergiskan kegiatan ekskul yang sudah ada di sekolah, seperti OSIS, Rohis, Pramuka, Palang Merah Remaja, Kelompok Ilmiah Remaja dan lain sebagainya,” Tina menambahkan.

teman sebaya, pengambilan keputusan, keterampilan berkomunikasi dan negosiasi DARI KONSEP HINGGA PENANGANAN dan mencari bantuan dan dukungan. Materi Budaya, Sosial, dan Hak Asasi Manusia, Peserta Bimtek mendapat sejumlah materi membahas budaya, norma dan hukum, peran media, kesetaraan gender dan kekerasan pendidikan kespro, di antaranya tentang Hubungan seksual. dengan Orang Lain. Materi ini membahas tentang pemahaman konsep keluarga ideal, pertemanan Materi Kesehatan Reproduksi membahas tentang pubertas, reproduksi, citra diri dan kasih sayang, toleransi dan menghargai, dan serta pencegahan kehamilan. Selain itu juga ada pembahasan tentang infeksi menular, menganalisis pendewasaan usia perkawinan dan HIV, AIDS, bagaimana memutus mata rantai stigma dan diskriminasi terhadap ODHA/ pola asuh yang positif. Orang dengan HIV dan AIDS, serta cara menangani masalah kesehatan reproduksi di sekolah. Materi berikutnya adalah Nilai, Sikap dan Keterampilan. Materi ini akan membahas dengan Dipo Handoko pemahaman nilai dan sikap, menghadapi pengaruh

KOMPETENSI

Pelatihan di Luar Negeri

Menggapai Guru Berkompetensi

Abad 21 di Era Industri 4.0

Direktur PG Dikmen dan Diksus menyerahkan sertifikat pelatihan kepada perwakilan peserta

enat sepanjang penerbangan selama tujuh jam dari Jakarta, seakan tak terasa lagi saat roda pesawat GA 874 menyentuh landasan pacu Bandara Haneda

Patau Bandara Internasional Tokyo, Jepang. Jarum

jam menunjukkan pukul 09.10 ketika rombongan para guru dari Indonesia menginjakkan kaki di negeri Doraemon dan Nobita ini. Bunga sakura di sebagian jalan yang dilalui menjadi pemandangan asyik nan berkesan bagi para guru.

Tokyo yang dingin baru dirasakan peserta saat berada di luar bandara. “Apalagi ketika itu turun hujan. Walaupun hujan tidak terlalu deras, tapi mampu membuat kami menggigil kedinginan,” kata Nurcaya, guru SMKN Paku, Sulawesi Barat, yang ikut dalam rombongan beserta 9 guru SMKN yang tergabung dalam Forum Komunikasi Guru Agribisnis Rumput Laut Seluruh Indonesia (Forka Garlindo).

Mereka adalah para guru pendidikan menengah dan pendidikan khusus (Dikmen dan Dikmen) yang mengikuti kegiatan pelatihan guru dikmen dan diksus di luar negeri. Kegiatan yang diselenggarakan Direktorat Pembinaan Guru Dikmen dan Diksus ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan guru dan tenaga kependidikan yang merupakan program Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan.

Sebanyak 82 guru dikmen dan diskus yang diberangkatkan ke Jepang, China dan Australia itu merupakan bagian dari

1.214 guru dan tendik yang belajar di 12 negara. Selain ketiga negara ini, para guru dan tendik menimba ilmu dan kompetensi di India, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Belanda, Perancis, Jerman, Thailand, dan Selandia Baru.
di Gedung A, Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senayan, Jakarta, 27 Februari 2019. Dalam kesempatan tersebut, Muhadjir berpesan agar para pendidik dan tenaga pendidik yang terpilih mengikuti proses pembelajaran dengan bersungguh-sungguh di negara tujuan masing-masing, agar dapat memberi perkembangan bagi pendidikan Indonesia.

Guru dan tenaga kependidikan yang dikirim ke luar negeri tahun 2019 ini merupakan angkatan pertama. Mendikbud Muhadjir mengakui, masih banyak kekurangan dalam berbagai sisi yang ke depannya harus diperbaiki. “Karena ini angkatan pertama, masih belum bagus, tidak sempurna, pasti ada yang compang sana, camping sini. Karena itu nanti saya juga minta ada feedback dari para peserta untuk beri masukan bagaimananya, (agar) nanti kegiatan pelatihan ini nanti bisa dilaksanakan lebih sempurna,” kata Mendikbud.

MENDIKBUD MELEPAS ANGKATAN PERTAMA
PELATIHAN

Peserta pelatihan ke luar negeri dilepas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy

MEMAHAMI PENDIDIKAN INKLUSIF DI JEPANG

Para guru yang terbang ke Jepang terbagi ke dalam empat kelompok bidang pelatihan. Ada yang ikut kelompok pelatihan pendidikan inklusif, agribisnis rumput laut, proses produk susu, dan agribisnis pengolahan produk pertanian (APHP).

Luh Eka Yanthi, M.Pd., guru SMKN 3 Singaraja, Bali, salah satu peserta kelompok pendidikan inklusif, merasa sangat senang dapat mengenal sistem pendidikan inklusif di Jepang. Sejarah pendidikan inklusif sudah cukup panjang, yakni sejak tahun 1947. Saat itu Jepang mendeklarasikan

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

pendidikan khusus bagi tunanetra dan tunarungu di SD dan SMP. Tahun 1959, pendidikan inklusif dan terintegrasi juga diterapkan di PAUD.

Pelaksanaan pendidikan inklusif bisa secara maksimal dilaksanakan baru tahun 1979. Pada tahun 2006, Jepang mengeluarkan regulasi tentang dukungan bagi hak-hak Anak berkebutuhan Khusus (ABK). Setiap ABK dan siswa reguler harus memperoleh pendidikan yang sama. Deskripsi dan spesifikasi pendidikan inklusif diperluas lagi dengan membuat spesifikasi khusus bagi kebutuhan khusus.

Tahun 2011 disahkan pula sistem baru pendidikan inklusif yang dikelompokkan ke dalam pendidikan berkebutuhan khusus (special need education), kelas khusus, dan kelas bimbingan khusus. Pendidikan Mendikbud melepas peserta pelatihan ke luar negeri berkebutuhan khusus, siswanya 60-70% adalah ABK. Sistem belajarnya biasanya menggunakan metode team teaching. Berdasarkan data tahun 2017, di Okayama terdapat 1.135 sekolah berkebutuhan khusus dengan jumlah siswa sebanyak 141.944 siswa.

Sementara untuk Kelas Khusus berada di kelas reguler di SD dan SMP yang menerima siswa ABK dalam katagori rendah dan sedang. Siswa ABK di kelas khusus secara aktif diikutsertakan dalam kegiatan bermasyarakat untuk memperkaya pengalaman hidup. Sehingga diharapkan dapat melahirkan rasa saling memahami antara siswa kelas khusus dan normal. “Bagi siswa SMA atau SMK yang memiliki kebutuhan khusus mereka akan mendapat bimbingan privat,” kata Sawitri Mardhiyah, guru SDN 2 Dampit, Malang, menambahkan.

Sementara di Kelas Keterampilan (Resource Rooms), Paparan kelompok pendidikan inklusi yang diwakili Luh Eka Yanthi siswa mendapat kompetensi keterampilan. Siswa ABK yang mendapat kelas keterampilan, di antaranya, kelas keterampilan bagi siswa kesulitan bicara, autis, ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder), belajar, Gunma, kemudian berlanjut ke Farmdo Holding, kelompok bisnis hibrida yang gangguan emosi, kesulitan mendengar, gangguan menggabungkan pertanian dan energi terbarukan; dan Namegata Farmers Village, penglihatan, hambatan fisik, dan gangguan kesehatan. desa wisata penghasil ubi manis. Di daerah kota Soja, Provinsi Okayama bagian “Di sini Chuo College of Agriculture kami mempelalajari perkembangan riset selatan, ada sebuah proyek yang bernama agribisnis di Jepang. Di antaranya tentang food processing dari ikan, kacang, tepung, “Memberdayakan 1.000 orang berkebutuhan khusus”. susu, sayur, dan buah,” kata Yaya Warya, guru SMKN 1 Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Program yang dilaksanakan sejak 2011 hingga kini Jawa Barat. Sejumlah materi pengolahan hasil pertanian, peternakan, dan perikanan ini, menampung banyak lulusan ABK yang susah yang dipelajari, di antaranya meliputi: produk peternakan, seperti karamel, es krim, mendapatkan pekerjaan. Dalam program ini, 1.000 keju, yogurt, susu bubuk, butter dan lain sebagainya, daging dan telur. orang berkebutuhan khusus diajarkan hidup mandiri dan bermasyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, mereka juga mempelajari produk dari serealia (misalnya nasi, moci, tofu, kue dari tepung beras); produk dari buah dan sayur, seperti jus, soyu, dan miso; produk perikanan, seperti ikan kering yang awet selama 1 tahun; dan pengolahan BELAJAR AGRIBISNIS ALA JEPANG rumput laut dari beberapa jenis, yakni konbu, wakame tengusa, hijiki, mozuku, dan umibudou. Kelompok pelatihan agribisnis dipusatkan di Tsukuba Agricultural Research Hall untuk mempelajari Peserta pelatihan juga belajar tentang pertanian hibrida, yang memadukan kemajuan riset pertanian, peternakan, dan perikanan hidroponik dan energi tenaga surya di Farmdo Holding. Sejumlah narasumber di Jepang. Rombongan pelatihan agribisnis ini dari Farmdo, memberikan penjelasan model pertanian hidroponik yang dipadu juga mengunjungi Chuo College of Agriculture di pembangkit listrik tenaga surya.

KOMPETENSI KOMPETENSI

Mengikuti pelatihan bidang agribisnis di antaranya teknik solar farm Pelatihan bidang tekstil mempelajari produksi garmen di Hodo

BELAJAR ILMU DI NEGERI CHINA data; dan inovasi industri tekstil dan dunia fesyen. Selain dengan diskusi, pembelajaran Rombongan pelatihan di China terbagi dalam tiga bidang pelatihan, yakni juga dilaksanakan langsung dengan Para peserta berkesempatan belajar melakukan kunjungan industri ke pabrik pelatihan keterampilan desain mode dan Heilan dan Hodo. peragaan busana; bidang pembuatan kain dan penyempurnaan tekstil; serta bidang Peserta pelatihan juga mendapat gambar 360 kampus dan danau Yunlong, produksi film dan program televisi. Pelatihan pengayaan dari sisi penyelenggaraan serta melihat hasil gambar drone inspire 2,” bidang tekstil dan fesyen dipusatkan di pendidikan vokasional, dengan mengunjungi Jiangsu Vocational Institute of Architectural Jiansu Vocational Institute of Architectural Technology (JVIAT) di Xuzhou, kota Technology, yang juga sebagai tempat tinggal pesisir timur di China. Suhu menyejukkan selama tiga pekan di Xuzhou. Selain itu juga menemani para guru selama mengikuti mengunjungi Jiangyin Politechnic College pelatihan di sana. Suhu rata-rata sepanjang dan Jiangsu Province Xuzhou Technician Maret berkisar 12-14 derajat Celcius. College.

Rombongan guru ke JVIAT ini gabungan Sementara rombongan peserta bidang untuk program pelatihan Fabric Making kepenyiaran mengikuti pelatihan di Jiangsu Process and Textile Refinement serta program Normal University (JNSU) At School of Media, Fashion Design and Fashion Show. “Kami yang Film & Television di Distrik Yunlong, Kota di kelompok tekstil terdiri dari sembilan guru Xuzhou, Provinsi Jiangsu, China. Peserta SMK jurusan teknologi tekstil dan seorang mempelajari lokasi dan proses produksi efek dari PPPPTK Bidang Mesin dan Teknologi visual dan animasi di Digital Cultural and Industri,” kata Khaerudin, ST, 47 tahun, Creative Center of The National University guru SMKN 3 Pekalongan, ketua kelompok of CUMT. Di sana juga terdapat perusahaan teknologi tekstil. Sementara peserta Hualong Animasi Desain yang merupakan pelatihan program fesyen sebanyak 15 orang, Studio Animasi dan Visual FX. yakni 10 guru SMK bidang tata busana dan 5 instruktur kursus tata busana. “Kami menyaksikan karya hasil produksi mereka berupa part-part dari sebuah film Pelatihan pembelajaran vokasi di Xuzhou sebelum dan sebelah diberi efek visual,” dilaksanakan dengan model diskusi di ucap Ary Agung Wibowo, peserta dari dalam kelas dengan menghadirkan praktisi SMKN 3 Batu, Jawa Timur. Di JNSU, peserta dari manajemen perusahaan Grup Heilan juga diperlihatkan fasilitas laboratorium dan Grup Hodo, yang memiliki industri komputer milik kampus. “Kami dikenalkan tekstil besar. Materi yang dipelajari berupa dan mencoba software editing yang mereka intelligent manufacturing Fabric making dan gunakan.” fashion design; manajemen intelligent base

Selain itu ada pula fasilitas studio dan peralatan editing, VR dan drone di JSNU.

mengoperasikan drone, editing berbasis Windows dan Apple. “Kami juga melihat hasil o

ucap Ary.

Sistem pendidikan di China tidak memiliki sekolah vokasi seperti halnya SMK di Indonesia. Pendidikan vokasi diberikan di jenjang perguruan tinggi. Sehingga pendidikan perfilman dan pertelevisian hanya bisa dipelajari di perguruan tinggi. Untuk lulusannya juga terserap dengan baik karena institusi memiliki jalinan kerja sama industri dengan baik. “Hanya saja tidak ada pendidikan kewirausahaan seperti yang dilakukan di Indonesia,” tutur Ary.

MENIMBA CULINARY ART DI
AUSTRALIA

Brisbane, Australia, menjadi pengalaman tak terlupakan bagi sepuluh orang guru SMK peserta pelatihan. Selama tiga pekan, 3-21 Maret 2019, mereka menimba ilmu culinary art di ibu kota negara bagian Queensland ini. “Waktu itu cuaca tergolong panas. Tiap hari kami pakai sunblock. Suhu pas tinggi, sampai 34 derajat celcius,” kata Purwanti, guru SMKN 1 Sewon, Kabupaten Bantul, yang baru kali pertama mengikuti pelatihan hingga ke luar negeri.

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

Kompetensi culinary art dipelajari di antaranya di Calamvale Community College, lembaga pendidikan milik pemerintah yang menyelenggarakan pendidikan 13 tahun, mulai dari pre-school, junior school, junior secondary school dan senior school. Sekolah yang berdiri tahun 1985 ini memiliki siswa lebih dari 2.100 anak, yang berasal dari 66 negara. Sekolah juga memiliki restoran fungsional, Three Trees. Namanya sesuai dengan logo sekolah berubah tiga batang pohon berwarna hijau, biru dan merah. Restoran sekolah tersebut menjadi ajang pelatihan dan hospitality bagi siswa. Siswa yang lulus pelatihan mendapatkan sertifikat bidang operasional dapur, dan perhotelan. Kursus didukungBerada di animation studio and animation school guru dan tenaga berpengalaman bertahun-tahun dalam industri restoran dan perhotelan. Sekolah menjalin kemitraan dengan restoran terkemuka dan organisasi manajemen katering atau event organizer. Tim siswa Calamvale juga sukses meraih medali perak pada Tantangan Kuliner Sekolah Menengah dan Kompetisi Barista.

Pendidikan vokasi untuk siswa SMA juga memberikan sertifikat keahlian bagi yang sudah lulus. Pelatihan pendidikan kejuruan tersebut sudah terakreditasi nasional berdasarkan standar kompetensi yang didukung industri. Sertifikat yang sudah diakui secara nasional itu adalah Sertifikat I dalam Bisnis (BSB10115), Sertifikat II dalam Bisnis (BSB20115), Sertifikat I dalam Informasi (ICT10115), Sertifikat II dalam Informasi, Media Digital, dan Teknologi, dan Sertifikat II dalam Pariwisata (SIT20116).

“Semua sertifikat pendidikan vokasi itu berbasis kompetensi. Data yang berkontribusi terhadap kompetensi akan dikumpulkan Mengikuti pelatihan bidang tata busana di China sepanjang durasi kursus dengan proses mengumpulkan bukti dan membuat penilaian pada demonstrasi siswa dan penerapan pengetahuan dan keterampilan dengan standar kinerja yang diperlukan di tempat kerja,” kata Purwanti.

Dalam pembelajaran guru tetap menjadi mentor bagi mereka dan tetap guru sebagai sumber belajar. Akan tetapi siswa juga dididik untuk dapat mengemukakan pendapat mereka apabila memang tidak jelas dan membutuhkan pertanyaan. Pada pembelajaran ini juga bersifat tematik dimana guru menyampaikan materi lain sebelum masuk materi food technology.

Dipo Handoko dan A. Fauzi Ramdani

Mengikuti pelatihan culinary art di Australia

KOMPETENSI

Seleksi ke Jerman

rma Suryani Jambak, SPd, guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Kutalimbaru, Deli Serdang, Sumatera Utara ini tampak antusias mengikuti tes

Idi sebuah ruangan di Hotel Millennium, Jakarta,

22-24 Mei 2019. Irma hanya satu di antara 24 orang peserta seleksi akademik dan kemampuan bahasa Inggris calon peserta pelatihan guru SMK ke Jerman. Sebagian besar peserta guru SMK, namun ada 9 widyaiswara yang juga mengikuti seleksi.

Peserta seleksi berasal dari sejumlah kompetensi keahlian, di antaranya, elektronika industri, mekatronika, otomasi industri, dan teknik elektro. Seleksi terdiri dari tes tertulis, tes proyek, dan wawancara. Tes tertulis berisi kegiatan penjaringan kompetensi dan rencana tindak lanjut calon peserta pelatihan. Pada tes proyek, semua peserta menyusun makalah terkait rancangan karya. Bertindak sebagai tim penilai berasal dari unsur Pusat Pengembangan dan Pembedayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) dan akademisi.

Seleksi akademik dan kemampuan bahasa Inggris calon peserta pelatihan guru SMK ke Jerman ini sebagai bagian kegiatan pengiriman guru untuk belajar di luar negeri, khususnya Jerman. Pelatihan guru SMK di Jerman ini dikhususkan bidang keahlian teknologi otomasi yang dinilai penting, agar guru-guru SMK tidak ketinggalan perkembangan pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat.

Dipo Handoko

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019 EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

Seleksi ke Jerman
Modul Pembelajaran

Meningkatkan Mutu Pembelajaran

i tengah suasana Ramadan, tak menghalangi para peserta kegiatan Penyusunan Paket Unit Pembelajaran

Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus. Para peserta merampungkan tugas mereka di Hotel Millennium, Jakarta, akhir Mei 2019.

Paket-paket unit pembelajaran yang menjadi target sebanyak 47 paket unit pembelajaran peminatan IPA SMA, peminatan IPS SMA (22 paket), peminatan bahasa SMA (47 paket), SMK normatif (16 paket), dan pendidikan luar biasa (13 paket). Paket unit pembelajaran sendiri dijabarkan lagi menjadi unit-unit pembelajaran. Misalnya mapel bahasa Indonesia ada 6 paket unit pembelajaran dan 13 unit pembelajaran. Fisika ada 10 paket unit pembelajaran dan 20 unit pembelajaran. Ekonomi memiliki 11 paket unit pembelajaran dan 23 unit pembelajaran. Di jenjang PLB, misalnya, mapel tuna grahita ada 5 paket unit pembelajaran dan 10 unit pembelajaran.

Dalam buku unit pembelajaran setidaknya berisi: kompetensi dasar (KD); aplikasi di dunia

nyata; soal-soal UN; bahan pembelajaran sesuai KD (terdiri dari aktivitas pembelajaran, lembar kerja peserta didik dan bahan bacaan); serta

dan pengembangan soal HOTS).

Penyusunan paket unit pembelajaran ini merupakan bagian dari program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP). PKP bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran yang diharapkan bermuara pada peningkatan kualitas siswa. Program PKP dilaksanakan dengan pendekatan kewilayahan atau zonasi. Peningkatan mutu pembelajaran dilaksanakan melalui Pusat Kegiatan Guru (PKG) TK, kelompok kerja guru (KKG) SD, atau musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) SMP/SMA/SMK, dan musyawarah guru bimbingan dan konseling (MGBK). PPK melalui zonasi ini memperhatikan keseimbangan dan keragaman mutu pendidikan di wilayah terdekat, seperti status akreditasi sekolah, nilai kompetensi guru, capaian nilai rata-rata UN/USBN sekolah, atau pertimbangan mutu lainnya.

Dipo Handoko

Dyang diselenggarakan Direktorat pengembangan penilaian (pembahasan soal-soal

PENGENDALIAN PENGENDALIAN
Remedial Pendidikan Profesi Guru Daerah Khusus

Terima Kasih Kemendikbud,

Masih Diberi Kesempatan

, Guru , Guru Bahasa Inggris di

Keterangan foto narasumber (kiri-kanan):

Abdul Kadir Elsuna**, Guru Matematika di SMP Negeri 2 Werinama, Siwalalat, SBT, Maluku; **Martha R Bahasa Inggris di SMP Negeri 3 Muting, Merauke, Papua; Sonya Matherona Imelda SMP Negeri Pailelang, Alor Barat Daya, Kabupaten Alor, NTT.

erbagai langkah dan cara telah di tempuh Kemendikbud untuk mendorong guru menjadi guru profesional yang ditandai

Bdengan diperolehnya sertifikat pendidik. Sejak

awal digulirkan tahun 2006 silam, sertifikasi pendidik telah habis masa berlakunya tahun 2018 lalu dengan langkah terakhir melalui jalur Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Cara tempuh yang harus dilakukan seorang guru untuk bisa mendapatkan sertifikat pendidik telah ditetapkan melalui jalur pendidikan profesi. Jalur ini juga diberlakukan bagi guru-guru daerah khsusus yang menjalankan tugas di wilayah Terluar, Terdepan dan Tertinggal (3T).

Kemendikbud begitu besar memperhatikan keberadaan guru daerah khusus ini. Khususnya kepada peserta remedial PPG DK ini. Sejatinya mereka telah mengikuti PPG di tempat pelatihan yang telah ditentukan. Akan tetapi setelah diumumkan, terdapat

peserta yang tidak lulus. Kemudian mereka diberi kesempatan kedua kalinya, namun ada juga yang belum lulus. Dan kesempatan ketiga diberikan melalui remedial tersebut.

Data awal peserta PPG DK berjumlah kurang lebih

3.000 guru. Setelah mengikuti proses pada akhirnya ditemukan jumlah yang masih belum lulus dan diharuskan mengikuti program remedial berjumlah
1.897 orang. Tetapi teknis pelaksanaannya mereka terbagi dua, ada yang dikoordinasi oleh Direktorat PG Dikdas, dan ada juga yang dikoordinasi Direktorat PG Dikmen dan Diksus. Kemendikbud sangat memberi perhatian secara khusus pula kepada guru daerah khusus ini. Biaya proses PPG DK sepeuhnya ditanggung Kemendikbud. Termasuk saat remedial ini walaupun tidak lagi sepenuhnya, mereka mendapat biaya pengganti untuk sekali jalan.

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019 EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

Sebagian peserta PPG DK di LPMP Sulawesi Selatan menyempatkan foto bersama

BERAT HARUS PERGI
MENINGGALKAN SEKOLAH DAN
KELUARGA

Bagaimana kesan peserta remedial ini, bisa kita lihat beberapa peserta yang beberapa waktu lalu mengikuti remedial di LPMP Sulawesi Selatan. Salah satunya adalah Abdul Kadir Elsuna dari Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku. Ia adalah guru Matematika di SMP Negeri 2 Werinama, Siwalalat, SBT. “Saya guru Matematika dengan status PNS. Saya bersyukur Kemendikbud masih menyelenggarakan PPG bagi kami yang kemarin belum lulus dengan mengikuti remedial ini. Sertifikasi itu penting, tapi kalau daerah khusus disamakan dengan guru di perkotaan jelas kami tertinggal. Tetapi kalau dipanggil-panggil terus begini kasihan anak-anak karena pasti tidak ada yang menangani. Sekolah kami kekurangan guru, sementara yang ada guru PNS nya sebanyak 7 dan guru non PNS ada 5 orang. Terdapat beberapa mata pelajaran yang belum ada gurunya, seperti PKn itu diajar oleh guru yang sarjana agama Islam, pelajaran IPS diajar oleh guru administrasi yag merangkap TU,” kata Kadir.

Namun demikian, Kadir percaya ujian akhir pada remedial bisa dilalui dengan baik dan lulus. “Yakin bisa lulus, kalau misalnya tidak lulus,” ujar Kadir sembari berfikir sejenak. “Janganlah, harus lulus, karena sudah capek mengikuti kegiatan ini,” imbuhnya.

Saat proses PPG, kata Kadir soal yang diberikan jauh berbeda dengan materi yang diberikan. “Kami berpendapat soal- soalnya memang cukup sulit, kok berbeda jauh dengan materi selama proses PPG

berlangsung. Atau mungkin soal yang juta, sangat berat pak. Kalau pemerintah diberikan terlalu mengecoh sementara yang menanggung pun kami merasa sangat kami belum sampai berfikir setingkat soal berat,” kata perempuan yang mantan atlet tersebut,” Kadir berpendapat. Taekwondo ini.

Guru lainnya adalah Sonya Matherona Imelda guru Bahasa Inggris di SMP Negeri MAKNA PERJUANGAN Pailelang, Alor Barat Daya, Kabupaten Alor, Selain Kadir ada juga Martha R yang NTT. Guru satu ini biasa dipanggil Sonya, ia merupakan guru Bahasa Inggris di SMP juga berterimakasih dan bersyukur masih Negeri 3 Muting, Merauke, Papua. Martha, diberi kesempatan mengikuti proses PPG demikian biasa perempuan ini disapa, juga melalui remedial untuk mendapatkan sangat berterimakasih kepada Kemendikbud sertifikat. “Sebenarnya sama dengan guru yang masih membiayai proses sertifikasinya lain di sini, kami dengan berat hati harus yang masih belum lulus. “Tak ada kata meninggalkan sekolah dan anak-anak, juga lain yang bisa kami sampaikan kecuali keluarga. Saya waktu PPG di UNY dulu belum terimakasih sebesar-besarnya kepada lama setelah operasi cesar kelahiran anak Kemendikbud yang masih mempedulikan ketiga saya. Pengorbanan ini sudah cukup nasib kami. Kami cukup mengerti keinginan berat dan besar, tetapi ketika hasilnya tidak pemerintah, kadang kendala itu memang sesuai keinginan dan harapan, saya sangat ada pada kami sendiri, kesempatan sudah kecewa. Kami juga malu kepada anak-anak di diberikan tetapi kami masih belum lulus juga. sekolah, bukannya bangga sering pergi. Saya Semoga ini yang terakhir dan bisa lulus,” kata ingin perjuangan berat ini berdampak positif Martha dengan mata sedikit berkaca-kaca. bagi saya dan anak didik saya,” ujarnya.

Martha lalu bercerita, mengikuti proses Kekecewaan Sonya diakui lantaran PPG ini memerlukan perjuangan cukup berat. merasa kurang belajar. “Mungkin kami belum “Saya harus meninggalkan tugas di sekolah, terbiasa dengan jam belajar yang tinggi, meninggalkan siswa saya. Saya juga punya meskipun sudah maksimal mempersiapkan anak yang masih empat bulan terpaksa saya diri ternyata belum lulus juga. Waktu tinggalkan. Semoga saya bisa lulus, karena mengerjakan soal, memang ada soal-soal kalau misal tidak dan kami masih akan di yang sulit, tetapi banyak juga yang saya yakin panggil, saya tidak sanggup mengikuti lagi,” jawaban saya benar. Tetapi ko masih belum ujarnya. lulus. Saya masih punya semangat sampai

Martha kemudian menceritakan, betapa hari ini, dan esok. Semoga saja berita tentang jauhnya perjalanan yang harus dilalui dari sertifikasi ini bisa saya raih, agar tidak sia-sia tempatnya mengajar untuk mengikuti PPG perjuangan,” katanya. di Sulawesi Selatan. Jalan darat dan udara ia tempuh. “Kalau di total biaya sekali jalan saya ke LPMP Sulsel ini kurang lebih Rp 6 Mukti Ali

PENGENDALIAN PENGENDALIAN

am menunjukkan pukul 23.56, saat peserta kegiatan Penyusunan Bahan Pengembangan Sistem Perencanaan

Jdan Pengendalian Kebutuhan Guru

Pendidikan Menengah dan Pendidikan pengendalian guru dikmen dan diskus,” kata Khusus (PPK Dikmen dan Diksus), pada Wastandar. 30 April 2019, selesai berfoto ria. Foto-foto peserta dengan pejabat Direktorat Kegiatan yang diselenggarakan di Hotel Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Maharani, Jakarta, 29 April-1 Mei 2019 ini Pendidikan Khusus (Dit. PD Dikmen dan merupakan rangkaian kegiatan perencanaan Diksus) itu memang menjadi spesial. dan pengendalian kebutuhan guru dikmen dan diksus. Tahap awal dimulai dari rapat Tampak Wastandar, MA, PhD, koordinasi pada Oktober 2018 lalu, yang Kepala Subdirektorat Perencanaan dan mengundang pejabat dari Dinas Pendidikan

M.Pd., (Kasi PPK Guru SMA, PK PAUD dan PK
operator dinas pendidikan provinsi, dan Dikdas) dan Mora Baringan Harahap, SE, MM wakil kepala sekolah bidang kurikulum. (Kasi PPK Guru SMK dan PK Dikmen). Menjadi

tengah malam itu, di penghujung April 2019, perencanaan dan pengendalian kebutuhan

“Jadi lewat satu detik pukul 00.00 ini saya diskripsi tugas guru, analisis beban kerja sudah bukan pejabat lagi yang bertanggung guru, formasi guru, pemenuhan kebutuhan jawab terkait kebijakan perencanaan dan guru, penempatan guru, dan pemindahan

guru yang dibahas selanjutnya pada kegiatan berikutnya. Finalisasi Pedoman Perencanaan dan Pengendalian Kebutuhan Guru dirampungkan di Hotel Kaisar, Jakarta, 22-25 April 2019, kemudian disusul kegiatan Penyusunan Bahan Pengembangan Sistem PPK Dikmen dan Diksus.

Sistem PPK Dikmen dan Diksus merupakan amanah dari Peraturan Pemerintah Nomor

Negeri Sipil (PNS), yang di antaranya mengatur bahwa penyusunan kebutuhan PNS dilaksanakan dengan menggunakan

kegiatan ini, para peserta belajar melakukan

guru SMA, SMK, dan SLB. Selain itu juga mendapat materi tentang pengisian format analisis beban kerja. Sejumlah narasumber

Pengendalian, didampingi Dra. RR Sutaris, Provinsi, Badan Kepegawaian Daerah, 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai

lebih khusus lagi, tak lain karena persis Ada tujuh pedoman kebijakan aplikasi yang bersifat elektronik. Pada

Wastandar memasuki masa purna tugas. guru meliputi: analisis jabatan guru, simulasi analisis kebutuhan beban kerja

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019 EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

dihadirkan, yakni Adie Fauzan, S.Sos (Kepala Subdirektorat Penyusunan Perencanaan penyusunan kebijakan. Pelaksanaan Rekrutmen dan Distribusi Guru Pertimbangan Formasi ASN, Badan Kepegawaian Negara), Kusdiantoro Wijaya,

S.Pd, M.Kom (PPPPTK IPA Bandung), dan Tim Pengembang Pedoman Analisis Beban Kerja SMA, SMK, dan SLB.

PEDOMAN KOORDINASI HINGGA
PENGAWASAN

Selain melatih peserta tentang analisis beban kerja, kegiatan juga merampungkan sejumlah pedoman pelaksanaan. Ada tiga tiga pedoman yang sudah diselesaikan, yakni Pedoman Pelaksanaan Koordinasi Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah dalam Penataan Guru SMA, SMK, dan SLB; Pedoman Pelaksanaan Koordinasi Pemerintah Daerah dengan LPTK Setempat dalam Rangka Penyiapan Guru; serta

Rekrutmen dan Distribusi Guru SMA, SMK, dan SLB.

Pemerintah Pusat dan Pemda di antaranya memuat ketentuan tentang koordinasi menata ulang guru melalui redistribusi agar rasio, kualifikasi akademik, dan komposisi

guru sesuai kebutuhan, juga koordinasi Sementara Pedoman Pengawasan

SMA, SMK, dan SLB, disusun untuk menjamin Pedoman Pelaksanaan Koordinasi ketepatan pelaksanaan rekrutmen dan Pemerintah Daerah dengan LPTK Setempat distribusi guru sesuai dengan perencanaan, dalam Rangka Penyiapan Guru diperlukan kebijakan dan perintah. Selain itu juga untuk sebagai acuan bagi Pemerintah Daerah, mencegah pemborosan dan penyelewengan pengelola satuan pendidikan, dan pemangku dalam pelaksanaan rekrutmen dan kepentingan (stakeholder) dalam melakukan pendistribusian guru; menjamin terwujudnya koordinasi dengan LPTK setempat pada kepuasan dan kepercayaan masyarakat pelaksanaan penyiapan guru. Pedoman ini juga menjadi dasar pertimbangan atas kinerja lembaga; serta sebagai bahan

dalam pelaksanaan penyiapan guru yang pengambilan kebijakan terkait dengan

berhubungan dengan pengembangan rekrutmen dan pendistribusian guru. profesionalitas, juga sebagai dasar Kegiatan pengawasan pelaksanaan peningkatan kualitas pelayanan LPTK dalam rekrutmen guru SMA, SMK, dan SLB di melaksanakan tugas dan fungsinya. antaranya berupa asistensi pengawasan, meliputi: pendampingan penyusunan LPTK mendapat tugas untuk dokumen perencanaan rekrutmen. Kegiatan menyelenggarakan program pengadaan lainnya adalah review meliputi: melakukan guru pada PAUD formal, pendidikan dasar, analisis proses dan hasil pelaksanaan dan/atau pendidikan menengah; serta pengawasan rekrutmen; serta monitoring dan

ilmu kependidikan dan non kependidikan. menilai perkembangan, hasil yang dicapai, LPTK diharapkan berperan untuk dan kendala pengawasan rekrutmen. memberikan masukan dalam penentuan

Guru. LPTK bisa membuka prodi baru atau Dipo Handoko kerja sama, terlibat workshop validasi sebagai narasumber, serta mempersiapkan kegiatan pengadaan guru dalam hal proses rekrutmen guru baru Program Profesi Guru.

Pedoman Pengawasan Pelaksanaan menyelenggarakan dan mengembangkan evaluasi, meliputi pemantauan dalam rangka

Pedoman Pelaksanaan Koordinasi faktor-faktor proses pemetaan kebutuhan

KINERJA

Pengembangan Karier Guru

Uji Kompetensi Kenaikan Jenjang

Jabatan

paratur Sipil Negara (ASN) yang Dalam peraturan pemerintah tersebut Sementara itu, Uji Kompetensi Kenaikan profesional, bertanggung jawab, dinyatakan bahwa uji kompetensi merupakan Jenjang Jabatan (UKKJ) bertujuan untuk dan adil sangat diperlukan syarat untuk kenaikan jabatan. Salah satunya mengukur kompetensi manajerial, sosio-

Adalam upaya mewujudkan adalah jabatan fungsional guru. Penyiapan kultural, dan teknis. Mata uji dalam UKKJ

penyelenggaraan tugas pemerintahan dan Instrumen Uji Kompetensi untuk Kenaikan terdiri dari kompetensi teknis, kompetensi pembangunan, sesuai dengan tuntutan Jenjang Jabatan mengacu kepada Peraturan manajerial, dan kompetensi sosio-kultural. masyarakat dan kemajuan zaman. “Untuk Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Kompetensi teknis terdiri dari kompetensi mencapai ASN yang memenuhi karakteristik dan Reformasi Birokrasi Nomor 38 Tahun profesional, kompetensi pedagogik, tersebut, maka dilakukan pembinaan 2017 tentang Standar Kompetensi Jabatan kompetensi kepribadian, dan kompetensi berdasarkan sistem prestasi kerja dan sistem Aparatur Sipil Negara. sosial. karier. Hal ini juga diberlakukan terhadap Uji kompetensi merupakan proses Kompetensi profesional, kompetensi profesi guru,” kata Kasubdit Penilaian Kinerja pengujian dan penilaian untuk mengukur pedagogik, kompetensi manajerial, dan dan Pengembangan Karir Dra. Maria Widiani, tingkat penguasaan pengetahuan, kompetensi sosio-kultural diukur melalui MA. keterampilan, dan sikap seseorang terkait dimensi kognitif. Sedangkan kompetensi Salah satu strategi peningkatan dengan bidang tugasnya. “Kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial diukur profesionalisme guru dilaksanakan melalui merupakan kemampuan yang dibutuhkan dengan menggunakan dimensi afektif. uji kompetensi. Langkah ini dilakukan untuk melakukan pekerjaan yang dilandasi Tahap berikutnya dilakukan monitoring sebagai perwujudan penerapan Peraturan pengetahuan, keterampilan, dan sikap,” ujar dan evaluasi yang bertujuan untuk Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11 Kasi PK-PK Guru: SMA, PK PAUD, PK DIKDAS, mengidentifikasi permasalahan dan tingkat tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Dra. Nani Parhanah MM, menjelaskan. keberhasilan program UKKJ. Negeri Sipil, pasal 81 ayat (1) huruf a.

Roadmap uji kompetensi kenaikan jabatan

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

Dra. Maria Widiani, MA (tegah) ketika masih menjabat sebagai Kasubdit Penilaian Kinerja dan Pengembangan Karir diapit dua Kepala Seksi yakni, Dra. Nani Parhanah MM, Kasi PK-PK Guru (SMA, PK PAUD, PK DIKDAS) dan Drs. Sarwin Pelaksanaan uji kompetensi untuk kenaikan jabatan guru yang berlangsung di SMK Negeri 1 Jakarta Zein, M.Pd, Kasi PK-PK Guru (SMK dan PK Dikmen).

Dalam pelaksanaannya, terdapat pembagian tugas dari berbagai pihak terkait. Ditjen GTK bertanggung jawab terhadap penjaminan mutu atas penyelenggaraan UKKJ secara nasional. Dinas pendidikan kabupaten/kota/provinsi, kementerian lain/lembaga pemerintah nonkementerian, dan perwakilan Republik Indonesia di luar negeri bertanggung jawab terhadap penjaminan mutu penyelenggaraan UKKJ yang menjadi tanggung jawabnya.

Hasil monitoring dan evaluasi menjadi bahan masukan bagi pemerintah, dinas pendidikan kabupaten/kota/provinsi, kementerian lain/lembaga pemerintah nonkementerian, dan perwakilan Republik Indonesia di luar negeri dalam melakukan perbaikan dan pengembangan UKKJ maupun pembuatan kebijakan pada umumnya. Monitoring dan evaluasi dilakukan paling sedikit satu kali dalam satu tahun.

Sejauh ini berbagai kegiatan dan program telah dilakukan oleh Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, terkait uji kompetensi. Kegiatan tersebut terdiri dari; Penyusunan Kisi-kisi, Penyusunan Butir Soal, Digitalisasi Soal, Telaah Soal, Uji Coba Aplikasi Tes UKKJ, Sinkronisasi Data, Uji Coba Soal, Sosialisasi UKKJ, dan bimbingan teknis (Bimtek) Tempat Uji Kompetensi (TUK).

diterbitkan PAK untuk kenaikan jabatan dan pangkat; Guru Golongan IV/c yang sudah, sedang dan akan mengajukan daftar usulan penetapan angka kredit (DUPAK) melalui Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP); Guru yang sudah memenuhi kenaikan golongan ruang IV/c ke IV/d; dan Guru Madrasah dan Guru Agama di sekolah, serta guru dari kementerian lain golongan IV/c yang sudah diterbitkan Penilaian Angka Kredit (PAK).

Untuk melaksanakan UKKJ, perlu mengidentifikasi kebutuhan Sistem UKKJ. Sebagai data utama digunakan Master Data Pokok Pendidikan (Dapodik) yang diintegrasikan dengan berbagai macam data lain, seperti data kepegawaian dari Badan Kepegawaian Nasional (BKN); Sistem Penilaian Angka Kredit; Sistem Informasi UKKJ; Sistem Bank Soal UKKJ; dan Sistem Ujian Online UKKJ.

Dalam pelaksanaan uji kompetensi perlu pengintegrasian sistem yang melibatkan berbagai pihak, antara lain para editor soal ujian, bank soal GTK, UKG online GTK, SIM-UKKJ, SIM-PAK, Dapodik, dan Data BKN. Sebelum melaksanakan uji kompetensi, maka telah diadakan sosialisasi pada Mei 2019.yang berlangsung di Jakarta. Dalam acara itu diundang Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/ Kota, LPMP, serta PPPPTK/LPPPTK-KPTK.

Diadakan pula bimbingan teknis admin TUK yang diselenggarakan oleh Setditjen GTK pada Juni 2019. Dalam acara tersebut diundang PPPPTK/LPPPTK-KPTK/LPMP. Ada pula Bimtek operator TUK yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi. Admin TUK yang telah mengikuti Bimtek oleh Setditjen GTK, menjadi narasumber dalam acara itu.

Secara keseluruhan, uji kompetensi diikuti 27.703 guru. Mereka terdiri dari jenjang TK sebanyak 2.035 guru, Sekolah Dasar 13.428 guru, Sekolah Menengah Pertama 6.218 guru, Sekolah Menengah Atas 3.570 guru, Sekolah Menengah Kejuruan 2.268 guru, dan Sekolah Luar Biasa 184 guru. Tempat ujian kompetensi (TUK) berada di 517 kabupaten/kota tersebar di 34 provinsi.

Sarwin Zein, Kepala Seksi PK-PK Guru: SMK, PK Dikmen, Direktorat PG Dikmen dan Diksus

PELAKSANAAN UJI KOMPETENSI

Uji kompetensi dilaksanakan dalam beberapa tahap. Pada tahap persiapan, dilaksanakan pembuatan prosedur pelaksanaan UKKJ, penunjukkan pelaksana UKKJ, pembuat bahan ujian, serta menyiapkan sistem UKKJ. Dalam tahap pelaksanaan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain pelaksana UKKJ, tempat uji kompetensi (TUK), mekanisme UKKJ, dan pelaksanaan UKKJ ulang.

Sedangkan pada tahap pelaporan, ada beberapa tahap kegiatan. Yakni pemeriksaan dan pengolahan hasil, kriteria kelulusan UKKJ, Roadmap uji kompetensi kenaikan jabatan pengumuman UKKJ, sertifikat dan surat keterangan, serta pelaporan itu sendiri.

Crash Program telah dilakukan pada akhir tahun 2018 kepada beberapa pihak. Mereka terdiri dari; Guru Golongan IV/c yang telah

KINERJA KINERJA
Bimbingan Teknis Penulisan Ilmiah dan Karya Inovatif

Optimalkan Mutu Guru

ari dulu hingga saat ini, guru TINGKATKAN KUALITAS merupakan ujung tombak PEMBELAJARAN pendidikan. Tugas guru juga tak Ir. Sri Renani Pantjastuti, MPA., Direktur

yang sangat kompleks, di antaranya mendidik, menyampaikan, pelatihan yang diberikan ini melatih, membimbing, mengarahkan, dan merupakan hal yang sangat penting bagi para mendorong siswa ke arah yang lebih baik. guru untuk meningkatkan kompetensinya, Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang penulisan dan teknlogi informasi dan komunikasi, mutu publikasi karya ilmiah. “Penulisan KI dan PI dan kompetensi guru sebagai ujung tombak juga berdampak pada peningkatan karier pendidik perlu ditingkatkan secara optimal. guru. Karena ini merupakan syarat dalam Satu di antaranya melalui bimbingan teknis kenaikan pangkat dan jabatan,” ujar Renani. penulisan Publikasi Ilmiah (PI) dan Karya Menurut Renani, Dit. PG Dikmensus Inovatif (KI).

Bimbingan teknis bagi guru SMK ini meningkatkan wawasan dan kompetensi digelar oleh Direktorat Pembinaan Guru guru SMK dalam penulisan PI dan KI. Pendidikan Menengan dan Pendidikan Sehingga guru mampu meningkatkan Khusus (PG Dikmensus), Direktorat Jenderal kualitas pembelajaran berdasarkan Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK), penelitian yang telah dilaksanakan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dra. Maria Widiani, MA., dalam laporannya (Kemendikbud). Kegiatan ini dilaksanakan menyebut, sasaran kegiatan ini merupakan pada 14 hingga 17 Mei 2019 di The Media guru SMK yang terdiri dari guru mata pelajaran Hotel and tower, Jakarta. produktif yang terdiri dari 10 mapel, yaitu :

Teknik Komputer Jaringan (TKJ), Multimedia, Akuntansi, Pemasaran, Teknik Sepeda Motor, Teknik Audio Video, Keperawatan, Farmasi,

Tanaman Pangan dan Hortikultura.

Menurut Maria, dalam bimtek sesi pertama ini, ada sekitar 100 guru yang diundang oleh Dit. PG Dikmensus. Tetapi hanya dua per tiga peserta yang hadir. Alasannya ada beberapa kepala dinas yang masih bertanya tentang undangan yang telah dikirim kepada para guru. “Tadi malam, masih ada kepala dinas yang bertanya ke saya, apakah surat

Saya kaget karena baru ditanyakan, padahal acara dimulai esoknya,” ungkap Maria.

Ia juga menjelaskan, para peserta yang diundang adalah guru berstatus PNS yang jabatan dan golongannya belum naik dalam waktu yang cukup lama. “Dari di Dapodik, ada banyak guru yang belum naik jabatan dari tahun 2011 masih golongan IIIb,” kata Maria.

Dhanya mengajar. Guru memiliki tugas

PG Dikmensus, dalam sambutannya Akomodasi Perhotelan dan Agribisnis

berharap kegiatan dilaksanakan dapa undangan yang dikirim itu asli atau tidak.

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

Dalam bimtek ini, kata Maria, materi yang diberikan meliputi kebijakan tentang Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus. Sedangkan Materi pokok berupa konsep dan etika penulisan karya ilmiah, sistem pengutipan dan referensi, sistematika dan langkah-langkah penulisan PI penelitian dan nonpenelitian. Materi lainnya tentang sistematika dan langkah-langkah penulisan KI.

Narasumbernya berasal dari beberpa universitas dan politeknik, seperti Prof. Sudarwan Danim dari Universitas bengkulu (UIB), Prof. Darmono dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Dr. Rokhmaniyah dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), dan Dr.Sulipan dari Politeknik TEDC Bandung.

BERIKAN MANFAAT BESAR

Riri Syafrna, guru SMKN 1 Batanghari, Kabupaten Batanghari, Jambi, mengaku senang dengan adanya kegiatan PI dan KI ini. Sebelum mengikuti kegiatan ini dirinya bertugas. Sehingga para guru yang dirinya mengira kalau membuat PTK itu selama ini juga kesulitan dan kebingungan susah. Namun setelah dijelaskan oleh para dalam membuat PTK dapat terbantu. Serta narasumber ia mulai memahami sistematika kompetensi dan jenjang karier para guru dan langkah-langkahnya. “Saya juga awalnya yang telah berstatus PNS bisa meningkat. berpikir kalau untuk kenaikan pangkat hanya Sementara itu, Erianto, guru SMKN 1 untuk penulisan karya ilmiah, tetapi setelah Ampe Angkek, Kabupaten Agam, Sumatera diterangkan ternyata ada juga lewat karya Barat ini mengaku bimtek yang diberikan inovatif,” ungkap guru multimedia lulusan sangat detail dan bermanfaat. Apalagi dirinya Universitas Putera Indonesia YPTK Padang sangat senang dengan dunia membaca dan ini. menulis. Bahkan ia memiliki blog pribadi Usai kegiatan ini, guru yang masih untuk menyalurkan bakatnya tersebut. “Tapi berpangkat golongan IIIB ini berencana untuk jika untuk menulis yang serius dan ilmiah merancang karya inovatif dan mengajukan saya sedikit keteteran, karena selain mengajar kenaikan pangkat melalui karya inovatif saya juga membuka usaha warnet di rumah. berupa film atau poster. “Ternyata ada Jadi saya tunda dulu kenaikan pangkat saya,” beberapa hal yang tidak saya ketahui untuk ujar guru multimedia yang telah berstatus mengajukan kenaikan pangkat. Bersyukur PNS sejak 2001 tersebut. “Namun lewat dengan kegiatan ini saya termotivasi untung kegiatan ini, Erianto merasa terdorong untuk menaikan angka kredit agar pangkat saya mulai menulis dalam kerangka ilmiah.” naik,” ujarnya. Berbeda dengan Ina Diah Retnowulan, Ia juga berencana untuk membagikan guru SMKN 1 Surbaya, Kota Surabaya, ilmu yang telah didapatnya selama bimtek Jawa Timur ini awalnya sedikit ragu untuk kepada teman-teman guru lainnya di tempat mengajukan kenaikan pangkat. Pasalnya

berdasarkan aturan baru, dalam kenaikan pangkat kali ini harus melakukan presentasi karya ilmiah. “Kenaikan pangkat sebelumnya gak ada presentasi jadi lancar. Nah sekarang harus ada presentasi,” ujar Ina.

Hal ini menurut Ina, karena hasil penelitian harus masuk ke dalam Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Sedangkan waktu untuk pelaksanaan uji sertifikasi kompetensi (USK) yang dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu cukup menyita waktu.

Sebelumnya, Ina mengatakan, membuat PTK dari tindakan kelas berdasarkan hasil pengalamannya mengajar. Hingga saat ini ada 14 PTK yang telah dibuatnya. Namun belum dipulikasikan. “Harunya saya ringkas menjadi jurnal dan artikel untuk di-publish di media, tapi belum. Jadi sekarang bentuknya masih PTK asli,” kata Ina yang termotivasi untuk mempublikasikan PTK-nya sesegera mungkin setelah kegiatan bimtek selesai.

A. Fauzi Ramdani

KESHARLINDUNG KESHARLINDUNG
Olimpiade Guru Nasional (OGN) Tahun 2018

Seluruh Guru adalah Pemenang

etika pembelajaran dimulai para siswa nampak Safrizal merupakan satu, dari 133 finalis lain antusias mengikuti pelajaran. Mereka juga begitu yang mengikuti OGN tahun 2019. Menurutnya fokus saat guru mulai mengajar. Antusiasme para sesi praktek mengajar dihadapan para siswa

Ksiswa ini mungkin karena metode pembelajaran yang tersebut adalah sesi yang menantang. Terlebih

diterapkan terlihat asing bagi mereka. Meski begitu, para siswa ia harus mengajar dihadapan siswa SMK Tata nampak sangat senang dengan penjelasan yang diberikan oleh Boga yang belum tentu belajar materi tentang Safrizal, S. Sos., guru sosiologi yang bertugas di SMA Negeri 1 metodelogi penelitian sosial. Langsa, Kota Langsa, Provinsi Aceh. “Alhamdulillah metode pembelajaran Kala itu Safrizal memperagakan proses pembelajaran saya berhasil karena hasil belajar siswa menggunakan aplikasi android sebagai media belajar sedang tersebut sangat sempurna. Apalagi setelah mengikuti Olimpiade Guru Nasional (OGN) jenjang Pendidikan saya tanyakan, mereka sangat senang dengan Menengah dan Pendidikan Khusus Tahun 2019. Kegiatan ini metode saya yang menggunakan permainan dilaksanakan oleh Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan berbasis teknologi. Sehingga membuat mereka Menengah dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal Guru nyamanan dan asik dalam proses belajar dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbud. Dilaksanakan pada mengajar,” tutur Safrizal. 29 April sampai dengan 3 Mei 2019, di Hotel Atlet Century, Dihadirkannya para siswa ini merupakan Jakarta. terobosan baru dalam ajang tahunan ini.

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

Keikutsertaan mereka tak hanya sebagai audiens, tapi juga bertugas untuk kecerdasan akademik memberikan penilain kepada para finalis yang mempresentasikan hasil workshop-nya. Nantinya seluruh nilai yang diberikan akan dikumulatifkan dengan penilaian lainnya, seperti tes tulis, praktek, workshop, dan nilai presentasi hasil workshop dari juri. Sehingga akan terpilih 27 juara yang terdiri dari Juara I, II, dan III, berhak membawa pulang hadiah, berupa laptop uang pembinaan dan laptop bagi juara I.

PENTINGNYA PENDIDIKAN
KARAKTER

Dr. Supriano, M.Ed, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, dalam sambutannya mengucapkan selamat kepada seluruh peserta yang telah ikut berkompetisi di tingkat nasional. Ia juga menyebut bahwa seluruh guru yang hadir adalah pemenang karena sudah mampu tampil di tingkat nasional. “Jadi semua guru yang hadir di sini adalah orang hebat semua,” ucap Dirjen GTK.

Supriano juga berpesan kepada para peserta yang belum meraih juara I untuk terus berinovasi dan jangan berputus asa. Karena banyak orang sukses yang telah melewati banyak kegagalan. “Kita bisa lihat kisah para pendiri Starbucks dan KFC, mereka telah gagal ribuan kali, tapi kemudian menemukan kesuksesannya. Jadi jika kita baru gagal satu kali karena belum juara, masih ada usaha dan kesempatan lain agar kita meraih kesuksesan,” ungkap Supriano.

Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun, 2019, Dirjen GTK juga menyampaikan himbauan tentang pentingnya pendidikan karakter. Ia berharap para guru memasukan nilai pendidikan karakter dalam seluruh proses pembelajaran. “Pendidikan karakter ini bukan Kurikulum, tapi hidden Kurikulum. Pendidikan karakter juga bukan seperti pelajaran, tapi ia ada dalam seluruh pelajaran,” kata Supriano.

Menurut Supriano, hal ini sangat penting karena banyak guru yang mengejar kemampuan akademis siswa, tanpa menyisipkan pendidikan karakter di dalamnya. Padahal berdasarkan hasil penelitian kesuksesan di abad 21 bukan hanya berasal dari kecerdasan akademik

saja. Bahkan

berada diposisi kelima dalam faktor penentu kesuksesan setelah kreatifitas, karakter, hubungan, dan kompetensi. “Orang sukses itu jarang ditanyakan dengan masalah yang berkaitan dengan akademis. Tapi yang dinilai adalah apa yang dilakukan pada saat sekarang,” ucapnya. “Namun bukan berarti kita tidak secara bertingkat dimulai dari tingkat provinsi sampai nasional. “Di tingkat provinsi butuh akademis, kita butuh akademis dan dilaksanakan melalui tes tulis online yang harus bagus,” lanjutnya. yang telah dilaksanakan di tiap provinsi sejak Ia juga menambahkan, bahwa anak-anak 12 Maret sampai 4 April 2019,” kata Renani. yang sukses di abad 21 adalah mereka yang mampu menjaga keseimbangan berpikir Tercatat, lanjut Renani, ada sebanyak 2.698

menggunakan otak kiri dan otak kanan. guru SMA, SMK, dan SLB yang ikut mendaftar.

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Namun dari jumlah tersebut, hanya sebanyak

anak-anak abad 21 memiliki emosi yang

2.053 orang yang melengkapi persyaratan.
sangat tinggi dengan tingkat kerjasama yang Sedangkan jumlah peserta yang mengikuti tes tulis di provinsi berjumlah 1.881 orang. sangat rendah. Ini karena anak-anak terbiasa “Dari hasil ujian tes tulis ini akan diambil bersosialisasi lewat telpon pintar di sosial 15 besar dari tiap provinsi. Sehingga ada media, bukan di kehidupan nyata. Sehingga 135 peserta yang akan berlomba di tingkat mereka tidak memiliki kemampuan sosial nasional,” ujar Renani, yang juga menyebut baik. bahwa ada dua orang yang mengundurkan “Inilah alasan mengapa Kemendikbud diri dengan alasan sedang umroh dan hamil menggaungkan program revolusi mental muda. dengan pendidikan karakter. Tujuannya agar anak-anak kita bisa memiliki pondasi Untuk juri Dit. PG Dikmensus

yang sangat kuat. Harapannya supaya mengundang para akademisi di beberapa

menghasilkan anak-anak yang mampu universitas, seperti dari Universitas Bengkulu, Universitas Pendidikan Indonesia, menyeimbangkan kemampuan otak kanan Universitas Muhammadiya Metro Lampung, dan kiri. Itulah anak yang akan sukses di abad UNJ, Universitas Negeri Surabaya, dan dari 21,” tutur Supriano mengingatkan para guru. PPPPTK IPA Bandung, PPPPTK Matematika, PPPPTK Bahasa, PPPPTK PKn dan IPS. Ada pula juri dari Direktorat PG Dikmensus. SEMBILAN KATEGORI LOMBA Sementara itu, Direktur Pembinaan Guru Dalam kegiatan OGN ini, Dit. PG Dikmensus Pendidikan Menengah dan Pendidikan bekerjasama dengan pendidikan Indonesia Khusus, Ir. Sri Renani Pantjastuti, M.PA, di Filipina melakukan Seminar Pendidikan menyebut, dalam penyelenggaraan OGN Internasional. Narasumbernya merupakan Dekan dari University of Perpetual Help tahun 2019 ini, Direktorat PG Dikmensus System Laguna, Filipina. Mereka membagi melombakan 9 kategori, yang terdiri dari pengalaman tentang konsep pendidikan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa yang dilaksanakan di Filipina. Jepang, Matematika, Fisika, Biologi, Sosiologi, Ekonomi dan program kebutuhan khusus guru SLB. Seleksinya dilaksanakan

A. Fauzi Ramdani

KESHARLINDUNG KESHARLINDUNG Direktur PG Dikmen dan Diksus, Ir Sri Renani Pantjastuti M. PA didampingi beberapa staf foto bersama
dengan sembilan finalis lomba menulis artikel kesiapsiagaan bencana 2019 saat menghadiri Hari Kesiapsiagaan Bencana di Lembag, Bandung.
Lomba Menulis Kesiapsiagaan Bencana 2019 Siaga di Negara Rawan Bencana Dr. Kadarisman (paling depan) bersama sembilan finalis lomba menulis kesiapsiagaan bencana.
eberapa waktu lalu, 100 peserta yang berlatarbelakang guru SMA, guru SMK dan guru SLB berkumpul B di Jakartaa sejak tanggal 24 hingga 26 April 2019. Mereka adalah orang-orang Ambhara, Jakarta. pilihan yang telah menulis artikel tentang Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana. Dari Kegiatan menulis artikel tersebut selanjutnya ditentukan siapa yang terbaik yang penghargaannya diserahkan pada Hari BENCANA Kesiapsiagaan Bencana tanggal 26 April bertempat di Lembang, Bandung. Finalis lomba menulis ini sekaligus menjadi peserta 36 Bimbingan Teknis Hak Karya Intelektual. bahwa Indonesia adalah negara kepulauan Kegiatan yang diselenggarakan oleh yang secara geografis, terletak di rangkaian Subdit Kesejahteraan, Penghargaan dan lempeng tektonik: Australia, Pasifik, Eurasia Perlindungan (Kesharlindung), Direktorat PG dan Filipina yang membuat Indonesia Dikmen dan Diksus ini berlangsung di Hotel menjadi rentan terhadap perubahan geologis. Ribuan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terletak antara Sabang dan Merauke juga berkontribusi membantu membentuk Indonesia. INDONESIA NEGARA RAWAN Posisi geografis dan lokasi yang berada Dalam kesempatan menyampaikan di salah satu daerah bencana paling aktif arahan, Direktur PG Dikmen dan Diksus, Ir di dunia, menyebabkan wilayah Negara Sri Renani Pantjastuti, M.PA mengatakan

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

Melisa Aprilia, S.KM Kepala Seksi Peningkatan Kesadaran Masyarakat, Direktorat Pemberdayaan Masyarakat, menjadi juri lomba menulis artikel kesiapsiagaan bencana guru SMA tahun 2019.

  • Jenjang SLB
  1. Terbaik 1 Gilang Dwi Nanda S. Pd a s a l SLBN 1 Padang, Sumatera Barat
  2. Terbaik 2 Iva Evry Robiansyah M. Pd asal SMPLBN Kota Pasuruan, Jawa Timur
  3. Terbaik 3 Ariadi S. Pd asal SLBN Sekayu, Musi Banyu Asin, Sumatera Selatan
    Kesatuan Republik Indonesia termasuk kesiapsiagaan bencana, dan meningkatkan kedalam daerah rawan bencana. “Setidaknya kesadaran akan kesiapsiagaan bencana ada 12 (dua belas) ancaman bencana di kalangan guru pendidikan menengah yang dikelompokkan dalam bencana dan pendidikan khusus. “Selain itu kita geologi (gempa bumi, tsunami, gunung api, mendorong semua guru untuk peduli dan gerakan tanah/tanah longsor), bencana mencintai lingkungan terutama lingkungan hidrometeorologi (banjir, banjir bandang, tempat tinggal dan tempat tugasnya. kekeringan, cuaca ekstrim, gelombang Indonesia adalah negara rawan bencana, ekstrim, kebakaran hutan dan lahan), dan maka kesiapsiagaan itu menjadi keharusan bencana antropogenik (epidemi wabah bagi semua warga negara termasuk kalangan penyakit dan gagal teknologi-kecelakaan guru,” terang Kadarisman. industri). Kondisi yang kompleks dan Dari 100 finalis kemudian terpilih 9 finalis menantang ini diperumit lagi oleh dampak terbaik yang diberangkatkan ke Lembang, perubahan iklim yang diakibatkan oleh Bandung untuk mengikuti penilaian langsung kerusakan lingkungan. Perubahan iklim akan melalui presentasi. Sembilan finalis terbaik terus memberikan dampak yang cukup besar tersebut merupakan peserta yang artikelnya bagi intervensi program kemanusiaan dan dinilai paling baik di antara peserta lainnya. program pengembangan, dan akan terus Sedangkan presentasi untuk mengetahui memberikan tantangan bagi pengembangan sejauh mana pengetahuan, wawasan dan dan penyelenggaraan sektor pendidikan,” daya nalar serta keaslian artikel yang telah ujar perempuan yang akrab disapa Rena ini. dibuat. Rena melanjutkan, bahwa berdasarkan data Indeks Risiko Bencana Indonesia 2013 (IRBI 2013) yang dikeluarkan oleh BNPB, PESERTA TERBAIK terdapat 80% wilayah Indonesia yang Pada tanggal 26 finalis ini diusung menuju berisiko tinggi terhadap bencana, mencakup Lapangan Sesko Angkatan Udara untuk 205 (dua ratus lima) juta jiwa terpapar pada mengikuti perayaan Hari Kesiapsiagaan risiko bencana dengan 107 (seratus tujuh) Bencana. Di tempat inilah siapa yang menjadi juta jiwa diantaranya adalah anak usia peserta terbaik 1, 2 dan 3 diumumkan. sekolah. “Dari pertimbangan risiko bencana Hasilnya adalah sebagai berikut: dan luasnya paparan, maka diperlukan upaya terpadu, sinkron dan sinergis antar
  • Jenjang SMK
    Kementerian atau Lembaga, masyarakat 1. Terbaik 1. Septa Krisdiyanto, M. Pd asal dan dunia usaha untuk mencegah risiko SMKN 1 Mejayan, Madiun, Jawa Timur bencana, menguatkan kemampuan lembaga dan masyarakat, mengurangi dampak
  1. Terbaik 2 Fitriandrini S.Pd asal SMKN 7
    bencana, menyiapsiagakan masyarakat, Batam, Kepulauan Riau

memastikan sistem peringatan dini, serta 3. Terbaik 3 Kms Novranza M.Si asal menguatkan kemampuan tanggap darurat SMKN 4 Kepahiang, Bengkulu dan pemulihan,” katanya. yyJenjang SMA Sementara itu, Kasubdit Kesharlindung, Dr. Kadarisman mengatakan bahwa

  1. Terbaik 1 Dedi Sasmito Utomo, M. Pd
    penyelenggaraan Lomba Menulis Artikel asal SMAN 2 Pare, Kediri, Jawa Timur

Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana 2. Terbaik 2 Maharromiyati, M.Pd asal tersebut memiliki beberapa tujuan, di SMAN 1 Teras, Boyolali, Jawa Tengah antaranya adalah untuk menggali dan

  1. Terbaik 3 Yasmina S Nugrianti S. Pd
    menuliskan artikel/gagasan (idea) tentang asal SMAN 1 Uut Murung, Kalimantan kesiapsiagaan bencana, menuangkan Tengah hasil praktik baik (best practices) tentang
INTEGRASI KEBENCANAAN DALAM
BERBAGAI DISIPLIN ILMU

Salah satu juri yang berasal dari BNPB, yakni Melisa Aprilia, S.KM Kepala Seksi Peningkatan Kesadaran Masyarakat, Direktorat Pemberdayaan Masyarakat mengapresiasi terhadap Direktorat PG Dikmen dan Diksus atas terselenggaranya lomba menulis kebencanaan ini. “Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Jujur saja saya tidak pernah berpikir bahwa ternyata kebencanaan ini bisa masuk dalam lintas disiplin ilmu. Selama ini sebagian orang beranggapan hal tersebut milik lembaga yang khusus menangani bencana saja, atau disiplin ilmu yang mempelajari kebencanaan. Ternyata melalui guru, kebencanaan bisa masuk di semua ilmu. Saya melihat naskah yang dibuat sangat menarik, ada yang melakukan pendekatan melalui komik, melalui matematika dan lain sebagainya. Mungkin selama ini kita menganggap matematika jauh dari hal yang berkaitan dengan kebencanaan, ternyata guru di sini bisa membuktikan melalui pendekatan-pendekatan, ini luar biasa,” ujar Melisa.

Mukti Ali

KESHARLINDUNG

kekayaan industri meliputi paten, merek, desain industri, desain tata letak sirkuit terpadu, rahasia dagang, dan varietas tanaman. Sedangkan bagi guru, perlindungan hak atas kekayaan intelektual dapat mencakup hak cipta atas penulisan buku, makalah, karangan ilmiah, hasil penelitian, hasil penciptaan, dan hasil seni maupun penemuan di bidang ilmu pengetahuan dan sebagainya. Selain hak cipta juga terdapat hak paten atas karya di bidang teknologi.

Selama bimbingan teknis, peserta mendapatkan berbagai materi penting tentang kekayaan intelektual. Selain melalui pemaparan para pakar, peserta juga melaksanakan berbagai simulasi tentang hak cipta dan hak paten. Peserta juga dilatih teknik penulisan spesifikasi Kependidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan permohonan paten, penulisan deskripsi, penulisan artikel/essay, dan sebagainya.

erkat semboyan “Guru Mulia Karena Karya”, maka lahirlah banyak karya yang dihasilkan oleh para pendidik di seluruh Indonesia. Mereka menciptakan berbagai

Bkarya yang mengandung kekayaan intelektual. Seperti

diketahui, kekayaan intelektual merupakan salah satu pengakuan dan penghargaan atas kerja keras, pengabdian, dan kemampuan intelektual ilmiah yang meliputi hak cipta (copyright), paten (patent), merek dagang (trademark), dan rahasia dagang (trade secret). Karena itu, guru harus memahami tentang kekayaan intelektual.

Untuk itu, Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga

menyelenggarakan Bimbingan Teknis Hak Kekayaan Intelektual (HKI) bagi Guru Jenjang Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus. Bimbingan teknis yang diikuti 100 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia ini dilaksanakan pada 22 - 25 April 2019 di Hotel Ambhara Jalan Iskandarsyah Raya, Melawai, Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta. Kegiatan ini diharapkan akan menyemangati, menggerakkan, dan mendorong guru untuk meningkatkan prestasi dan pada gilirannya berdampak kepada pada kualitas proses belajar dan hasil belajar siswa. “Dengan adanya bimbingan tersebut, maka guru akan memahami hak kekayaan intelektual sehingga karya mereka bisa dilindungi dan dilegitimasi,” kata Dr. Kadarisman, Kasubdit Kesharlindung.

Pengakuan atas hak kekayaan intelektual telah dilegitimasi oleh peraturan perundang-undangan. Antara lain Undang-undang Merk, Undang-undang Paten, Undang-undang Hak Cipta. Hak kekayaan intelektual terdiri dari hak cipta dan kekayaan industri. Secara rinci,

MENGENAL HKI

Salah satu pembicara dalam kegiatan tersebut, Dr (c). H. Amsori,

S.H., M.H., M.M., menyatakan Hak Kekayaan Intelektual, disingkat “HKI” atau akronim “HaKI”, adalah padanan kata yang biasa digunakan untuk Intellectual Property Rights (IPR), yakni hak yang timbul bagi hasil olah pikir yang menghasilkan suatu produk atau proses yang berguna untuk manusia. Pada intinya, HKI adalah hak untuk menikmati secara ekonomis hasil dari suatu kreativitas intelektual. “Sedangkan objek HKI adalah karya-karya yang timbul atau lahir karena kemampuan intelektual manusia,“ kata Amsori yang menjabat sebagai Ketua Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Guru Indonesia (Gurindo).

Bimbingan Teknis Hak Kekayaan Intelektual

Berkarya

Perlindungan HKI Dorong Guru

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019 EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

Dr.Kadarisman didampingi dua Kepala Seksi di Subdit Kesharlindung pada kegiatan Dimdingan Teknis Pelindungan Kekayaan Intelektual bagi Guru Dikmen dan Diksus

Dr (c). H. Amsori, S.H., M.H., M.M, Ketua Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Guru Indonesia (Gurindo) ketika menyampaikan materi pada Bimtek Kekayaan Intelektual bagi Guu Dikmen dan Diksus 2019

Amsori menjelaskan soal istilah-istilah Sementara ke Pengadilan Niaga (Pasal 106) penting dalam kekayaan intelektual. Hak serta melaporkan Pelanggaran Pidana (delik cipta adalah hak eksklusif yang timbul secara aduan) kepada pihak Penyidik POLRI dan/ otomatis berdasarkan prinsip deklaratif atau PPNS DJHKI (Pasal 110). setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam Istilah lain yang perlu diketahui adalah soal bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan JANGAN LAKUKAN PLAGIAT paten yakni hak eksklusif yang diberikan oleh sesuai dengan ketentuan peraturan Amsori menyatakan guru jangan negara kepada inventor atas hasil invensinya perundang-undangan. melakukan plagiat. Plagiat adalah perbuatan di bidang teknologi untuk jangka waktu secara sengaja atau tidak sengaja dalam Sementara itu, paten merupakan hak tertentu melaksanakan sendiri invensinya memperoleh atau mencoba memperoleh eksklusif yang diberikan oleh negara kepada tersebut atau memberikan persetujuan kredit atau nilai suatu karya ilmiah, dengan inventor atas hasil invensinya di bidang kepada pihak lain untuk melaksanakannya. mengutip sebagian atau seluruh karya dan/ teknologi untuk jangka waktu tertentu Invensi adalah ide inventor yang dituangkan atau karya ilmiah pihak lain yang diakui melaksanakan sendiri invensinya tersebut ke dalam suatu kegiatan pemecahan masalah sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan atau memberikan persetujuan kepada pihak yang spesifik di bidang teknologi berupa sumber secara tepat dan memadai. lain untuk melaksanakannya. produk atau proses, atau penyempurnaan dan pengembangan produk atau proses. Cara menghindari plagiat antara lain, Ketika seorang guru menghadapi
Inventor adalah seorang atau beberapa orang cantumkan dua tanda petik (“....”) pada
masalah terkait paten, yang bersangkutan yang secara bersama-sama melaksanakan pernyataan yang berasal langsung dari bisa menggunakan beberapa cara untuk ide yang dituangkan ke dalam kegiatan yang naskah asli dan cantumkan sumbernya mengadukan kasusnya. Pada pasal 95-111; menghasilkan invensi. dengan benar. Cara lain, ungkapkan melalui Alternatif Penyelesaian Sengketa dengan kata-kata sendiri (paraphrase) dan (APS/ADR), Arbitrase, atau Pengadilan Pemegang Paten adalah inventor sebagai cantumkan sumbernya dengan benar. (Niaga). Pasal 96 - 100; mengajukan pemilik paten, pihak yang menerima hak “Strategi lainnya adalah ATM (Ambil, Tiru, gugatan ganti rugi ke Pengadilan Niaga atas paten tersebut dari pemilik paten, atau Modifikasi),” katanya. Untuk memastikan atas pelanggaran hak ciptanya dan pihak lain yang menerima lebih lanjut hak sebuah karya plagiat atau bukan bisa dicek meminta penyitaan terhadap benda yang atas paten tersebut yang terdaftar dalam di website*: www.plagiarisma.net.* diumumkan atau hasil perbanyakannya. daftar umum paten. “Paten sederhana Upaya lain yang bisa dilakukan adalah adalah setiap invensi baru, pengembangan melalui upaya hukum Kasasi (Pasal 102) dari produk atau proses yang telah ada, dan Mukti Ali dan Rihad Wiranto dan mengajukan Permohonan Penetapan dapat diterapkan dalam industri,” katanya.

TATA USAHA
Bimbingan Teknis Penguatan Reformasi Birokrasi Instansi

Perkuat Reformasi Birokrasi Demi Pelayanan Berkualitas

eformasi birokrasi yang berlangsung di Indonesia dilaksanakan secara berkelanjutan dengan tujuan untuk

Rmenciptakan birokrasi yang semakin

bersih, akuntabel, dan berkinerja tinggi. Dengan birokrasi yang lebih baik, maka pelayanan publik juga akan lebih berkualitas pula. Tekad untuk memberi pelayanan terbaik bagi masyarakat tercermin dalam acara Bimbingan Teknis Penguatan Reformasi Birokrasi Instansi yang berlangsung di Hotel Maharani Mampang, Jalan Mampang Prapatan Raya No.8, Jakarta Selatan.

Acara tersebut dilaksanakan oleh Sub Bagian Tata Usaha, Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga

dan Kebudayaan. Pada acara ini, beberapa narasumber memberi pencerahan kepada peserta yang berasal dari pegawai internal Direktorat PG Dikmen dan Diksus tentang perlunya reformasi birokrasi di setiap instansi pemerintah.

bisa dilihat dari beberapa indikator. Antara lain; Proses penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) berlangsung secara bersih dan transparan; Adanya penambahan dan penguatan jabatan fungsional; Promosi jabatan telah dilakukan secara terbuka; Opini oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) berstatus Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

Namun dalam pelaksanaannya, proses reformasi birokrasi mendapat banyak tantangan. “Antara lain kurangnya komitmen pimpinan, kurangnya pemahaman tentang reformasi birokrasi, serta keengganan personel dalam instansi untuk berubah karena sudah mereka berada di zona nyaman,” katanya.

Agar reformasi birokrasi bisa berjalan secara optimal, maka diperlukan beberapa langkah. Yakni dengan meningkatkan komitmen pimpinan yang kuat, melibatkan Untuk memperbaiki pelayanan publik pemangku kepentingan, membentuk tim maka perlu adanya penerapan manajemen reformasi birokrasi, menetapkan roadmap (8 kinerja. Hal itu bisa dilihat dari beberapa area perubahan), menerapkan manajemen aspek. “Mengutip dari yang disampaikan berbasis kinerja, menginformasikan narasumber, bahwa dari aspek sumber daya upaya dan hasil secara periodik, manusia, setiap individu harus memiliki melaksanakan monitoring dan evaluasi, ukuran dan target kinerja yang akan dijadikan serta menindaklanjuti hasil monitoring dan dasar untuk memberikan reward and evaluasi. punishment,” kata Dra. Sri Handayani M.Pd, Kasubbag Tta Usaha Direktort PG Dikmen Sementara narasumber lain menjelaskan dan Diksus. tentang perlunya instansi memiliki peta bisnis proses dalam menjalankan reformasi Dari sisi organisasi, lanjut perempuan yang birokrasi. Peta bisnis proses adalah tata biasa disapa Neni itu mengatakan bahwa hubungan yang efektif dan efisien antar sebuah instansi harus mampu mengetahui organisasi dalam sebuah kementerian. kinerja yang akan dihasilkan. Terkait budaya Dengan adanya peta bisnis proses, suatu kinerja, setiap individu dan unit kerja secara instansi akan mampu melihat potensi otomatis harus bertanggung jawab atas masalah yang ada sehingga bisa menentukan solusi yang lebih terarah. Manfaat lain dari “Sedangkan dari sisi tatalaksana, sebuah peta bisnis proses adalah memiliki standar instansi harus menciptakan proses bisnis pekerjaan, sehingga mampu mengendalikan yang akan membantu sebuah pencapaian dan mempertahankan kualitas kerja. kinerja lebih baik lagi,” ujar Neni.

Dijelaskan lebih lanjut, instansi yang berhasil melaksanakan reformasi birokrasi Rihad Wiranto

Kependidikan, Kementerian Pendidikan pencapaian target kinerjanya masing-masing.

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

Taxpayer Awards 2019

Rajin dan Tepat Waktu Melaporkan Pajak

anggal 2 April 2019 menjadi hari membanggakan dan bersejarah dialami Direktorat PG Dikmen

tanggal itu, Direktorat PG Dikmen dan Diksus mendapat penghargaan Taxpayer Awards 2019 yang diberikan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jakarta Tanah Abang Tiga, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) atas Kontribusi Penerimaan dan Kepatuhan Pelaporan Terbaik.

Taxpayer 2019 diberikan atas evaluasi pembayaran pajak selama satu tahun. Selama 2019 itu, Direktorat PG Dikmen dan Diksus tercatat menjadi pihak yang sangat rajin melaporkan pajak dan tepat waktu. Direktorat PG Dikmen dan Diksus juga tercatat sebagai penyetor pajak tertinggi. Apresiasi layak diberikan kepada Bendahara Pengeluaran Subbagian Tata Usaha Direktorat PG Dikmen dan Diksus.

“Saya rasa ini hasil kerja kolektif seluruh saya selain bangga juga bersyukur, tetapi pegawai Direktorat PG Dikmen dan Diksus, karena kita kerja tak hanya setahun, tentu bukan atas kerja saya secara pribadi. Kami ini menjadi tantangan dan motivasi untuk

TU yang tak pernah berhenti mengingatkan dalam hal perpajakan,” katanya. kepada seluruh pegawai khususnya kepada Abdul Manaf juga mengatakan terdapat pengelola keuangan tiap Subdirektorat yang suka duka menjadi Bendahara Pengeluaran harus menuntaskan perpajakan sesuai waktu sebuah direktorat. Sukanya, jika berkas-yang ada,” ujar Abdul Manaf, Bendahara berkas pelaporan bisa segera dibuat da Pengeluaran Subbagian Tata Usaha, dikirimkan ke instansi pelayanan pajak. Direktorat PG Dikmen dan Diksus. Dukanya, jika berkas-berkas yang harus Direktorat PG Dikmen dan Diksus tidak dilaporkan terdapat beberapa kekurangan sendirian menerima Taxpayer 2019, terdapat atau mengalami keterlambatan. “Mudah-beberapa instansi lain yang juga menerima. mudahan kami bisa benar-benar menjadi Akan tetapi, penghargaan ini baru pertama ASN yang bertanggungjawab seterusnya, kali diraih Direktorat yang dipimpin oleh karena keuangan yang dikelola adalah Ir. Sri Renani Pantjastuti, M.PA tersebut. uang negara yang sebenarnya adalah uang “Awalnya kami ya kaget, mendapat undangan rakyat. Kita rajin menggunakannya tetapi penghargaan ini, karena sama sekali tidak harus rajin pula melaporkannya,” pungkas menyangka, dan kami belum pernah Abdul Manaf. menerima sebelum-sebelumnya. Perasaan Mukti Ali

Tdan Diksus. Pasalnya pada bersyukur punya Direktur dan Kasubbag terus membenahi kekurangan-kekurangan

TATA USAHA TATA USAHA
Visioning Direktorat PG DIkmen dan Diksus

ota Banyuwangi menjadi destinasi pilihan Direktorat PG Dikmen dan

Kvisioning pegawai di lingkungan

direktorat tersebut. Tidak semua pegawai mengikuti kegiatan tersebut, hanya pejabat eselon 2 dan 3 serta satu orang pegawai fungsional dari tiap Dubdirektorat. Kegiatan ini bertajuk Bimbingan Teknis Penguatan Nilai-Nilai dan Budaya Satuan Kerja dalam Pencapaian Visi. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari tanggal 11-13 April 2019 dan bertempat di Hotel Ketapang Indah, Banyuwangi.

Dipilihnya Banyuwangi merupakan salah satu bentuk apresiasi kepada pemerintah daerah. Banyuwangi merupakan kabupaten di ujung timur Jawa Timur yang dalam beberapa tahun terakhir menggeliat bangkit hingga cukup dikenal masyarakat luas. Di tangan bupati yang sangat visioner, agresif dan gesit tersebut berbagai sektor dibenahi. Mulai pendidikan, tata kota, hingga pariwisata. Dari Jakarta menuju Banyuwangi tak perlu lagi berlama-lama perjalanan.

Jakarta-Banyuwangi hanya ditempuh kurang lebih satu jam 30 menit saja.

SEKILAS KAWAH IJEN

Kabupaten yang dikenal dengan tarian

tiap tengah malam mengeluarkan api biru, atau dikenal dengan Blue Fire. Kawah dengan api biru yang ada pada gunung dengan ketinggian 2.386 mdpl itu oleh banyak masyarakat setempat disebutnya sebagai kompor biru, lantaran seperti kompor menyembulkan api berwara biru. Blue Fire bisa dilihat pada dini hari mulai 03.00 hingga

04.00 waktu setempat. Namun demikian ada waktu terbaik untuk bisa melihat Blue Fire tersebut, yakni antara bulan Desember-Januari dan antara Juli-September. Pendakian ke Kawah Ijen untuk melihat Blue Fire bisa dimulai pada pukul 22.00 atau jam 10 malam. Saat hendak mendaki, terdapat banyak penjual berbagai alat yang membantu pendaki, mulai senter untuk penerangan pribadi, kerpus dan syal untuk menahan hawa dingin, dan lain-lain. Yang tak kuat berjalan, tersedia gerobak yang mengantarkan pengunjung. Gerobak tersebut didorong oleh manusia, bagi yang didorong dan ditarik dua orang atau lebih. Biayanya lumayan mahal dan bisa berbeda tiap gerobaknya, tergantung kesepakatan
Diksus untuk menyelenggarakan Gandrung ini juga memiliki Kawah Ijen yang

Banyuwangi sudah memiliki bandara, berbadan bongosr bisa jadi yang gerobak ini

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019 EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

Prof. Dr. H. Muchlas Samani, M.Pd.

“Kegiatan ini berlangsung jauh dari Kantor, Suhartatik yang merupakan Kepala Bidang Pembinaan

dan kelihaian pengunjung untuk menawar. Sekali jalan ada yang sampai Rp 800 ribu, tetapi harga turun dari Kawah Ijen bisa lebih murah. Ketika sudah sampai di Kawah Ijen, harga tinggi gerobak pasti sebanding dengan keindahan yang tiada tara.

Rombongan Direktorat PG Dikmen dan Diksus ketika itu dipimpin langsung oleh Ir. Sri Renani Pantjastuti M.PA itu juga tak menyia-siakan kesempatan tersebut. Seluruh peserta visioning diajak menyaksikan Blue Fire secara langsung. Sebelumnya, direktur berpesan bahwa kegiatan tersebut bukanlah untuk bersenang-senang.

selain sejenak kita ingin refresh pikiran, saya juga mengajak untuk menyaksikan Blue Fire. Bukan untuk bersenang-senang. Keindahan alam ini layak untuk diresapi bersama, ketika sudah ada di atas puncak sebuah gunung pasti kita akan merasakan kebesaran Tuhan yang tiada tara. Kita sejatinya hanyalah hamba yang kecil, yang tak sepatutnya berlaku sombong. Beban pekerjaan sehari-hari yang cukup berat terkadang melalaikan siapa kita sesungguhnya. Untuk itu, saya mengajak pegawai

ujar Bu Direktur yang masa mudanya adalah pecinta alam dan kerap mendaki gunung.

GTK Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.

“Kenapa saya mengundang Prof. Muchlas, karena kami ingin kita mendapat penguatan kembali tentang pembinaan guru. Terdapat beberapa hal yang pasti akan menginspirasi dari yang beliau sampaikan. Kami juga mengundang Kepala Biro Hukum juga Kepala Biro Kepegawaian, karena untuk menjalankan tugas ini kita perlu mengetahui adakah perubahan-perubahan peraturan yang ada. Kita selama ini sudah bekerja keras,

harus cepat, cermat dan tepat. Untuk itu dari kegiatan ini bisa kita lihat apakah sesuai dengan peraturan-peraturan yang ada, karena pasti ada beberapa hal yang harus disempurnakan,” katanya.

Mengawali materinya, Prof. Muchlas menyampaikan
Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan

disertasi kawan saya bernama Endang yang merupakan orang PLB tetapi S2 nya manajemen. Beliau melakukan kajian pada dua sekolah yang melaksanakan pendidikan inklusi. sekolah pertama adalah sekolah negeri yang resmi tercatat melaksanakan pendidikan inklusi, sedangkan sekolah kedua adalah swasta yang juga melaksanakan pendidikan Inklusi tetapi tidak resmi

INSPIRASI DARI PROF. MUCHLAS SAMANI
visoning sengaja dihadirkan beberapa narasumber

Beberapa narasumber tersebut adalah: Prof. Dr. H. Muchlas Samani, M.Pd. mantan Rekor Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Juga menghadirkan Dian Wahyuni, S.H., M.Ed yang merupakan Kepala Biro Hukum dan Organisasi, Kemendikbud, juga Dra. Dyah Ismayati, M.Ed, Kepala Biro Sumber Daya Manusia, Kemendikbud. Pembicara lainya adalah

sejenak merenung menguatkan kebersamaan,” tetapi itu tidak cukup karena bekerja juga harus cerdas,

Direktur juga menegaskan bahwa selama sekelumit perihal pendidikan khusus. “Karena ini adalah

untuk meningkatkan kapasitas kerja pegawai. Pendidikan Khusus, saya sampaikan cerita tentang

TATA USAHA

Dian Wahyuni, S.H., M.Ed Dra. Diah Ismayati, M.Ed

artinya tidak ada SK nya. Ternyata hasil penelitian Bu Endang meunjukkan, bahwa sekolah swasta ini jauh lebih baik menerapkan pendidikan inklusi. Sekolah tersebut adalah SD Muhammmadiyah 18 Kota Surabaya. Cerita ini mudah-mudahan menjadi inspirasi bagi kawan-kawan pengambil kebijakan di Kemendikbud,” katanya.

Prof. Muchlas juga mengatakan terkait visi misi sebuah lembaga. Kemudian ia menunjukkan sebuah slide berisi gambar lomba balap perahu. “Dari gambar tersebut bahwa pada setiap perahu terdapat petugas yang mengarahkan harus jalan dengan serempak. Perahu akan berjalan cepat jika ada kebersamaan dan kesamaan arah. Sama dengan halnya tarik tambang,” katanya.

Tarik tambang, kata Prof. Muchlas adalah olahraga yang bukan sekedar kuat-kuatan menarik sebuah tambang. “Kuat menarik tapi arahnya berbeda ya tidak akan berhasil. Walaupun tarikannya tidak begitu kuat, tetapi ada kesamaan arah tarikan, yakinlah pasti akan berhasil.

Prof. Muchlas terus menyampaikan materinya. Terlihat seluruh peserta dengan seksama dan terdiam mencermati apa yang disampaikan. Cerita-cerita inspiratif disajikan Prof. Muchlas. Di penghujung materinya Prof. Muchlas memberi wejangan kepada seluruh peserta untuk terus meningkatkan kompetensinya dan selalu membangun komitmen. “Ada dua hal dalam kinerja itu, yakni kompetensi dan komitmen,” katanya.

MUTASI DAN ROTASI JABATAN

seseorang wajib di laporkan kepada Biro ADALAH HAL BIASA SDM,” lanjutnya. Pembicara berikutnya Dra. Diah Ismayati, Sementara Dian Wahyuni, S.H., M.Ed

M.Ed bersama Dian Wahyuni,S.H., M.Ed. menjabarkan tentang Integritas Jabatan. Dian Diah Ismayati banyak menjelaskan perihal Wahyuni merasa terus perlu menyampaikan hak dan tanggungjawab sebagai ASN di hal tersebut lantaran masih adanya pegawai Kemendikbud. Naik turunnya jabatan, mutasi di lingkungan Kemendikbud yang belum dan rotasi seseorang menjadi perhatian memahami tugas pokok dari kegiata yang pegawai Kemendikbud, termasuk peserta dijalankan. Hasil survei yang dilakukan tahun visioning. “Bapak ibu kita perlu untuk 2018 menunjukkan bahwa pegawai yang membiasakan adanya budaya di lingkungan memahami tugas pokok dan kegiatan yang kerja kita. Adanya mutasi dan rotasi pejabat dilaksanakan sebesar 69%. Sebesar 19% jadikanlah hal yang biasa, karena jangan tidak memahami tugas pokok, dan hanya sampai terus-menerus berada dalam zona 12% pegawai yang memahami tugas pokok, nyaman. Ini adalah pembelajaran bagi kegiatan yang dilaksanakan dan ukuran kita semua. Pimpinan di Kemendikbud keberhasilan. mengalami rotasi ke sana kemari juga biasa
Untuk memahami tugas pokok dari setiap saja dan diterima dengan baik,” ujarnya. kegiatan yang dilaksanakan, menurut Dian Sebagai ASN, lanjut Diah, setiap orang Wahyuni setiap pegawai harus memahami diharuskan bekerja secara kompeten. peraturan yang ada serta perubahan- “Kalau misal ada pegawai diberi beban perubahan yang terjadi. “Seperti halnya pekerjaan dan harus menuntaskan dalam peraturan yang berlaku mengenai Organisasi sebulan ternyata tidak bisa, artinya dia tidak dan Tata Kerja Kemendikbud adalah kompeten. Jika memang kompeten dia layak Permendikbud Nomor 9 Tahun 2019 Tentang dan layak untuk naik jabatan ya dinaikkan, Perubahan Permendikbud Nomor 11 Tahun tetapi jika memang tidak kompeten bisa 2018 Tentang Organisasi dan Tata kerja diturunkan. Jadi naik turunnya jabatan ini Kemendikbud. Peraturan ini harus dipahami jadikan hal yang biasa,” katanya. “Tetapi semua pegawai Kemendikbud, jangan terjadi yang terpenting dalam pemindahan jabatan kesalahan pemahaman,” katanya.

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019 EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

Dian Wahyuni juga menjelaskan tentang Uraian Tugas Pekerjaan dan Uraian Keberhasilan. “Setiap pegawai dalam menjalankan tugasnya ada peraturan-peraturan yang menyertainya. Tugas pekerjaan dijelaskan dalam Permendikbud Nomor 8 Tahun 2015 Tentang Uraian Jabatan di Lingkungan Kemendikbud yang di dalamnya juga menjelaskan Uraian Keberhasilan,” jelas Dian Wahyuni.

JAWA TIMUR MENDORONG TIAP GURU MENULIS
BUKU

Narasumber lainnya adalah Suhartatik, Kepala Bidang Pembinaan GTK Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Suhartatik menjabarkan perihal keberhasilan Provinsi Jawa Timur dalam upaya meningkatkan mutu guru. Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, kata Suhartatik telah melahirkan tiga aplikasi untuk mendorong peningkatan mutu guru. “Pertama Aplikasi Gerakan Literasi Digital (A-GDL), kedua Aplikasi untuk analisa kebutuhan Guru dan Tenaga Kependidikan (A-GTK), dan ketiga adalah Aplikasi untuk kinerja GTK,” ujarnya.

Dalam A-GDL Suhartati menyampaikan hasil pembinaan yang dilakukan selama ini. “Selama ini kita menginginkan guru bisa

membuat karya tulis, tetapi guru bingung ketika harus menulis. Kami mengawali motivasi kepada guru untuk membuat tulisan apa saja, cerita di luar pelajaran juga boleh. Yang kami harapkan guru mau dulu untuk menulis. Ternyata hasilnya luar biasa, sudah banyak buku yang diterbitkan tiap sekolah yang isinya tulisan guru-guru tersebut,” kata Suhartatik.

Mukti Ali

KUNJUNGAN

ini juga unjuk kebolehan kala menyambut rombongan Direktorat PG Dikmen dan Diksus waktu itu. Penampilannya luar biasa, dari musisi hingga vokalisnya tak menunjukkan mereka adalah anak berkebutuhan khusus. “Grup musik ini memang luar biasa, kami nama Al Mumtaz, karena musisi kesemuanya adalah anak anak berkebutuhan khusus yang notabene istimewa dan dan luar biasa,” kata Kepala Sekolah Lilik Mandarani Suparto,

M.Pd. Menurut Lilik, grup ini terbentuk 25 November 2011 bertepatan dengan hari Guru Nasional. Di Jawa Timur, mereka biasa tampil di berbagai kota antara lain Surabaya, Malang, Batu, Sampang dan Jember. Di luar Jawa Timur, Al Mumtaz pernah manggung di

SMP LB Negeri Banyuwangi

Boyolali, Yogyakarta, dan lain-lain.

Segudang Prestasi Bukti Sukses Kawal Peserta Didik

aat menjalankan Visioning adalah Akhmad Zulkarnaen, penyandang Direktorat PG Dikmen dan Diksus di tunadaksa. Ia mempunyai banyak bakat. Banyuwangi, kesempatan tak disia-Meski tidak mempunyai tangan dan kaki,

Ssiakan untuk mengunjungi beberapa namun Akhmad Zulkarnaen meraih prestasi

sekolah terdekat. Salah satunya adalah luar biasa. Ia pernah menjadi juara MIPA, SMP Luar Biasa Negeri (SMPLB Negeri) Cipta dan Baca puisi, bahkan pernah tampil Banyuwangi. Begitu rombongan yang saat dalam acara televisi Kick Andy. Akhmad kunjungan dipimpin langsung oleh Direktur Zulkarnaen kini menjadi seorang fotografer PG Dikmen dan Diksus yakni Ibu Ir. Sri Renani profesional, dan masih banyak deretan siswa Pantjastuti, M.PA tiba di halaman sekolah, berprestasi lainnya. rombongan disambut dengan hangat dan ramah. Terlihat beberapa peserta didik dan beberapa guru berbaris menyambut GRUP MUSIK AL MUMTAZ kedatangan rombongan. Selanjutnya Sekolah ini juga terkenal dengan grup disambut dengan tarian tradisional dengan musik Al Mumtaz. Mumtaz berasal dari

Lingkungan sekolah ini cukup rindang dan istimewa atau luar biasa. Pada awalnya, tertata rapi. musisi di grup musik kni terdiri dari beberapa Sekolah ini merupakan lembaga siswa dari berbagai macam ketunaan. Seiring pendidikan yang memiliki reputasi cukup dengan berjalannya waktu, Al Mumtaz Music baik. Sukses menuai banyak prestasi Entertainment hanya diisi oleh musisi siswa baik di tingkat kabupaten, provinsi, dan tunanetra. nasional. Ada beberapa siswa yang mampu Grup musik Al Mumtaz merupakan salah menorehkan prestasi membanggakan satu kegiatan program keterampilan yang bagi sekolah. Salah satu satu diantaranya ada di SMPLB Negeri Banyuwangi. Grup

KEBERHASILAN KARENA GURUNYA
TELATEN

Keberhasilan Al Mumtaz yang semula hanya menggarap lagu bergenre religi, kini tampil dalam berbagai macam genre musik. Meski tunanetra, mereka berlatih musik secara profesional, misalnya dengan belajar notasi musik. Dalam pembelajaran memainkan alat musik, anak berkebutuhan khusus tersebut harus ada pendampingan.

Contohnya, saat memainkan keyboard, siswa dikenalkan dengan tuts yang terdapat pada alat musik tersebut. Selanjutnya guru meminta siswa untuk menekan tuts secara berurutan. Setelah siswa benar-benar memahami letak tuts pada keyboard, guru mengarahkan posisi tangan dan jari siswa dengan benar.

Dalam metode ini, secara tidak langsung

atau drill. Pada tahap ini, guru memegang tangan siswa, dan membantu dalam proses perabaan tuts. Setelah itu guru memberi contoh nada-nada dasar yang kemudian ditirukan oleh siswa sampai benar dan lancar.

Setelah mereka memahami dan menguasai alat musik satu persatu, baru kemudian diperdengarkan sebuah lagu

iringan musik khas Bumi Blambangan. bahasa Arab yang maknanya adalah terdapat proses metode imitasi dan latihan

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

dan meminta mereka untuk mencari not yang ada pada lagu tersebut. “Kemudian kita padukan antara satu alat musik dengan alat musik yang lain untuk menggarap sebuah lagu. Begitu seterusnya sampai pada akhirnya mereka lihai memainkan alat musik,” kata guru pembimbing Moh. Afif Khoiri.

LOKASI STRATEGIS

Sekolah ini mempunyai sarana belajar lengkap. Antara lain sekolah mempunyai ruang perpustakaan, ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang keterampilan, sarana olahraga, tempat ibadah (mushola), dan gedung asrama. Dari jumlah siswanya, tercatat berjumlah 60 anak yang terdiri dari 4 jenis ketunaan atau hambatan. Anak dengan hambatan penglihatan

(A) sebanyak 6 siswa. Anak dengan hambatan pendengaran B sebanyak 20 siswa. Anak dengan hambatan intelektual sebanyak 29 siswa. Sedangkan anak dengan hambatan fisik (D) sebanyak 5 siswa. Sebagian anak yang rumahnya jauh dari sekolah dan orangtuanya tidak mampu, mereka tinggal di asrama yang berdiri sejak 2006. Pada awalnya, jumlah siswa yang tinggal di asrama hanya 9 siswa dengan jenis ketunaan tunagrahita, tunadaksa dan tunarungu yang diasuh oleh 2 pembimbing. Saat ini, jumlah siswa yang tinggal di asrama mencapai 18 anak. “Untuk biaya makanan, guru-guru PNS secara sukarela mengumpulkan iuran. Bantuan lainnya berasal dari orangtua yang mampu,” kata Lilik menjelaskan. Sejak 2017, asrama SMPLB Negeri Banyuwangi telah mendapatkan bantuan dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. “Pada 2010 kami mengajukan proposal gedung asrama ke direktorat PKLK Jakarta. Alhamdulillah sekarang sudah mendapatkan bantuan gedung asrama yang kapasitasnya sebanyak 16 siswa,” katanya. Guru pembimbing di asrama ada satu orang yang bertugas untuk membina kerohanian, mengaji dan solat berjamaah. Anak-anak juga dilatih menanam buah naga untuk melatih hidup mandiri. Untuk meningkatkan kualitas
bagi pendidik dan tenaga kependidikan, kualitas pembelajaran di sekolah semakin meningkat.

Selain musik, sekolah ini memiliki banyak program keterampilan yang diperuntukkan proses pembelajaran, SMPLB Negeri Banyuwangi bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Berbagai kegiatan ini bertujuan untuk melatih mengirim guru ke berbagai workshop pelatihan mereka menjadi anak mandiri dan percaya diri. “Ada komponen yang hebat menurut pendidikan inklusif. Salah satu guru, Nurya saya dalam membentuk anak berkebutuhan khusus ini menjadi anak hebat, yakni para Hamidah, S.Pd., pernah dikirim ke Australia untuk guru yang dengan telaten mengawal mereka. Saya sangat berterimakasih kepada para belajar tentang pendidikan inklusi. Diharapkan guru yang dengan kesabaran melatih dan mendampingi anak-anak,” kata Lilik. dengan adanya training secara berkesinambungan

SMPLB Negeri Banyuwangi berdiri sejak tahun 2005. Berada di Jl. Melati Nomor 7 Kecamatan Giri, Banyuwangi. Lokasi tersebut sangat strategis karena berada di Rihad Wiranto dan Mukti Ali lingkungan perkantoran, GOR dan sekolah reguler baik SMP, SMA maupun SMK. Kondisi ini memudahkan siswa berinteraksi dengan lingkungan.

KUNJUNGAN

SMA Negeri 1 Giri Banyuwangi

Geliat Menyambut Revolusi Industri 4.0

elain mengunjungi SMP LB Negeri Banyuwangi, Rombongan Direktorat PG Dikmen dan Diksus

Sjuga mengunjungi SMK Negeri

1 Banyuwangi dan SMA Negeri 1 Giri, Banyuwangi. Kunjungan ketiga sekolah tersebut terasa sangat istimewa, direktur dapat melihat langsung pembelajaran yang sedang berjalan. Pihak sekolah juga menjabarkan berbagai hal khususnya mengenai perkembangan layanan pendidikan di sekolah tersebut. Juga kendala-kendala yang dialaminya.

Pada tulisan kali ini, sekilas disajikan profil SMA Negeri 1 Giri hasil dari kunjungan tersebut. SMA Negeri 1 Giri merupakan sekolah favorit di Banyuwangi, Jawa Timur. Kelengkapan sarana prasarana yang ada menjadi daya tarik calon peserta didik untuk bersekolah di sini. SMA Negeri 1 Giri yang berlokasi di Jalan HOS. Cokroaminoto tersebut cukup strategis sehingga mudah dijangkau dari segala arah. Sekolah yang berdiri di atas tanah 2,58 ha juga sangat asri, hijau dan bersih sehingga mendukung SMA Negeri 1 Giri yang semula bernama Sejak berdiri sampai saat ini sudah ribuan kegiatan proses pembelajaran. Berbagai Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan alumni yang bekerja di berbagai profesi prestasi pun diraih sekolah ini baik di bidang (SMPP) berdiri 18 Desember 1973. Di masa baik di birokrasi pemerintahan, perusahaan akademis maupun non akademis. lalu, jika mendengar nama SMPP, yang multinasional dan internasional, militer, terberseit dalam benak masyarakat pasti pengusaha, seni, maupun sebagai atlet sekolah bagus. Dalam perkembangannya, olahraga. pada 9 Agustus 1985, sekolah ini berubah Mulai tahun ajaran 2013/2014, SMA menjadi SMA Negeri 2 Banyuwangi. Nama Negeri 1 Giri berstatus sebagai pilot project tersebut disandang selama sembilan tahun. implementasi kurikulum 2013. Di samping Lalu, pada tahun 1994 namanya berubah itu SMA Negeri 1 Giri juga mulai menerapkan menjadi SMU Negeri 1 Giri. Lagi-lagi, pada Sistem Kredit Semester (SKS) di tahun tahun 2004 nama SMU Negeri 1 Giri berubah pelajaran yang sama. SMAN 1 Giri memiliki menjadi SMA Negeri 1 Giri. Meskipun sudah 924 siswa. Kelas X berjumlah 6 rombongan berganti nama, para orangtua lebih suka belajar (rombel) MIPA dan 3 rombel IPS menyebut sekolah ini SMPP. “Sedangkan dengan jumlah 315 siswa. Kelas XI berjumlah para pelajar lebih suka dan akrab menyebut 6 rombel MIPA dan 3 rombel IPS dengan 297 SMADA,” kata Kepala SMA Negeri 1 Giri, H. siswa. Kelas XII berjumlah 6 rombel MIPA dan Mujib S.Pd, MM. 3 rombel IPS dengan 312 siswa.

H. Mujib S.Pd, MM.
Kepala SMA Negeri 1 Giri

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

BERSIAP SAMBUT REVOLUSI
INDUSTRI 4.0

Dalam rangka mendukung proses pembelajaran serta memenuhi delapan Standar Nasional Pendidikan, SMA Negeri 1 Giri memiliki sarana prasarana yang memadai. Ruang kelas dilengkapi dengan sarana TI, LCD Proyektor, akses internet, CCTV, audio dan kipas angin. Adanya sarana yang cukup canggih ini turut menunjang peningkatan kualitas pembelajaran. Ruang kelas SMA Negeri 1 Giri tidak lagi menggunakan AC atau pendingin ruangan. Hal ini dilakukan karena SMA Negeri 1 Giri berpredikat sebagai sekolah Adiwiyata Mandiri yakni sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan. Karena itu, Begitu juga dalam menyambut Revolusi SNMPTN, jurnal, serta buku ilmiah populer. sekolah tidak menggunakan peralatan yang Industri 4.0., sekolah juga merapatkan Perpustakaan juga menggunakan sistem memicu global warming atau pemanasan barisan khususnya kesiapan kalangan otomasi dengan sistem OPAC (Online Public global. guru dengan dibekali berbagai kompetensi Access Catalog). Di sana tersedia ruang Digital Untuk mendukung sistem administrasi dan keahlian. Selain itu sekolah juga Library yang memungkinkan pengunjung dan proses pembelajaran berbasis TI, menerapkan Sistem Informasi Berbasis untuk mengakses internet. Pengunjung bisa sekolah memiliki ruang server, multimedia, Komputer dan Smartphone secara bertahap. membaca buku di ruang baca yang nyaman dan informasi. “Presensi siswa juga telah Diantaranya e-Tamu, e-Presensi, e-Ijin, dan membuat mereka betah berlama-lama. menggunakan fingerprint,” kata Mujib e-surat, e-Rapor, e-Peminatan, dan lain-lain. Untuk meningkatkan mutu pembelajaran menjelaskan. “Dari berbagai aplikasi tersebut diharapkan dan kompetensi peserta didik, SMA Negeri 1 dapat memudahkan sekolah, guru, siswa Giri memiliki fasilitas laboratorium lengkap. dan orangtua dalam mengakses berbagai Antara lain laboratorium bahasa, komputer, DIDUKUNG GURU PROFESIONAL informasi yang berlangsung di SMAN 1 Giri,” multimedia, fisika, biologi, kimia, IPS, dan Dalam rangka meningkatkan mutu di katanya. ruang pamer seni. Juga memiliki fasilitas kalangan guru, sekolah sering mengadakan Perpustakaan SMA Negeri 1 Giri olahrga yang lengkap. Dengan adanya pelatihan/workshop didalam/di luar sekolah telah dikelola secara otomatis. Proses fasilitas yang lengkap, maka bakat dan baik yang berkaitan dengan tugasnya sebagai pencatatan data kunjungan dan sistem minat peserta didik di bidang olahraga guru maupun untuk mengembangkan peminjaman telah dilakukan secara otomasi. bisa semakin berkembang. “Kami ingin keprofesionalan guru tersebut. “Kami selalu Perpustakaan cukup lengkap. Di sana menghasilkan siswa yang berkarakter, salah memperhatikan kompetensi yang dimiliki terdapat koleksi ribuan buku berbagai jenis, satunya diterapkan dengan membentuk guru, dan kami ingin hal itu terus meningkat. antara lain buku referensi, novel, majalah, kantin kejujuran,”ujarnya. Kami yakin bahwa guru kami adalah guru buku penunjang OSN, soal-soal UN dan profesional,” jelas Mujib. SMA Negeri 1 Giri memiliki sarana pendukung yang berupa outdoor central learning (OC). Tempat pembelajaran ini dipakai untuk kegiatan diskusi, teater, paduan suara, tari, lukis, maupun presentasi. Koridor lantai dua difungsikan untuk sanggar kegiatan latihan tari, maupun cheerleader. “Kami terus mengembangkan dan memfasilitasi pengembangan bakat dan minat juga keterampilan dan penetahuan siswa sebagai bekal menghadapi tantangan zaman yang semakin pesat ini,” pungkas Mujib.

Mukti Ali dan Rihad Wiranto

PROFIL

Media pembelajaran ini berupa sebuah miniatur sistem kontrol yang mengadopsi pada sebagian mekanisme sistem produksi. Tema yang diambil dalam media pembelajaran ini adalah filling machine, yaitu sebuah sistem pengisian botol dengan cairan secara otomatis. “Tema ini diambil karena dalam kehidupan nyata, sistem ini banyak diterapkan di industri, terutama industri makanan dan minuman,” kata Edy Noviyanto, alumni Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta, program studi Pendidikan Teknik Elektro. Karya cipta Edy Noviyanto ini akhirnya menggondol juara I Inobel Pemula 2018 tingkat nasional, untuk jenjang SMK.

Edy Noviyanto Guru SMK Negeri 2 Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta Juara 1 Inobel 2018, Jenjang SMK

ampai saat ini masih terdapat kesenjangan antara kompetensi lulusan SMK dengan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan industri. Akibatnya banyak alumni SMK yang tidak tertampung di industri. Salah satu penyebabnya

Sadalah karena SMK tidak memiliki alat-alat praktek yang sesuai kebutuhan

industri. Kondisi ini juga terjadi pada SMK Teknik Elektronika Industri.

Hasil observasi menunjukkan bahwa pembelajaran yang terkait sistem pengendali dilakukan melalui media slide presentasi, video, simulasi software PLC (Programmable Logic Controller) dan unit PLC itu sendiri. Rata-rata capaian hasil belajar pada mata pelajaran Perekayasaan Sistem Kontrol masih relatif rendah dengan nilai rata-rata kriteria ketuntasan minimal (KKM) sebesar 75. Kondisi tersebut merangsang Edy Noviyanto, guru SMK Negeri 2 Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, untuk menciptakan media pembelajaran tentang sistem kontrol menggunakan PLC.

LAYAK UNTUK PEMBELAJARAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pembelajaran yang diberi nama Miniatur Sistem Kontrol Proses tersebut memiliki unjuk kerja dalam kategori sangat layak dengan ditandai hasil pengujian tiap bagian, yaitu bagian catu daya, tombol, sensor, aktuator dan pengujian secara keseluruhan mencapai 100%.

Media pembelajaran yang dikembangkan oleh Edy Noviyanto sangat layak untuk digunakan dalam pembelajaran Perekayasaan Sistem Kontrol pada Kompetensi Keahlian Elektronika Industri dengan hasil pengujian oleh ahli materi sebesar 93%, ahli media sebesar 92%, dan siswa sebesar 83%. “Aspek tertinggi pada aspek kemanfaatan sebesar 85%, aspek materi sebesar 82% dan aspek media pembelajaran sebesar 80%,” katanya.

Media pembelajaran tersebut memiliki kelebihan dalam hal pemanfaatan, kepraktisan penggunaan, penyimpanan dan efisien biaya. Namun media pembelajaran tersebut masih mempunyai keterbatas- keterbatasan. Antara lain terkait penggunaan bahan masih bersifat prototype, sehingga belum memiliki kekuatan yang memadai untuk penggunaan yang lama. Komponen elektronik yang digunakan masih perlu peningkatan kehandalannya.

Menjadi juara di tingkat nasional motivasi Edy Noviyanto untuk senantiasa berbuat lebih baik lagi. “Menjadi juara merupakan sebuah amanah, sebuah kepercayaan. Bermula dari predikat juara ini, saya diberikan kesempatan untuk menjadi bagian dari beberapa kegiatan nasional,” kata Edy Noviyanto yang pernah mengikuti pelatihan guru di berbagai negara, antara lain India, Singapura, dan Thailand.

Rihad Wiranto

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

Murniasih, M.Pd
Guru SMA Negeri 3 Kota Malang, Jawa Timur
Juara 1 Inobel 2018, Jenjang SMA

BARIUM Membuat Siswa Senang

Belajar Kimia

urniasih menilai penerapan kurikulum 2013 dalam pembelajaran masih kaku, terutama dalam tahapan mengamati, menanya dan mengumpulkan data. Selain

Mitu, belum ada model pembelajaran yang mampu

mengintegrasikan antara K-13, pendidikan abad 21, serta literasi, dan penguatan pendidikan karakter (PPK). “Padahal, aspek-aspek tersebut sangat diperlukan oleh peserta didik menghadapi era revolusi industri

4.0” kata Murniasih kelahiran Tajun, Bali, 5 September 1989. Murniasih kemudian merumuskan sebuah sintaks/tahapan pembelajaran kimia yang diberi nama BARIUM. Kata yang terdengar unik ini adalah akronim dari Bringing something, Analyzing the problems, Reading the literatures, Integrating games and discussions, Using the concept to solve the problems, and Making conclusions. Karya inovasi pembelajaran yang kreatif tersebut mengantarkan Murniasih menjadi juara 1 Inobel Pemula 2018, Jenjang SMA. Murniasih menjelaskan, pada tahap bringing something, peserta didik diminta untuk membawa “sesuatu” yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan sumber pengamatan yang beragam dan membuat materi lebih kontekstual. Tahap analyzing the problem, peserta didik menganalisis masalah dan mengajukan pertanyaan terhadap setiap hal/barang yang mereka bawa. Kemudian, guru memfasilitasi untuk merumuskan permasalahan kelas. Tahap reading the literature, peserta didik diajak untuk meningkatkan kemampuan literasi dengan membaca dan mencari informasi dari berbagai sumber tentang materi. Lalu peserta didik merangkum dan menceritakan kembali pada teman kelompoknya. Puncak inovasi model ini adalah tahap integrating games and discussion yaitu mengintegrasikan kompetisi dengan kooperasi melalui diskusi berbasis permainan. “Hal ini dilakukan agar diskusi lebih menarik, menantang dan atraktif sehingga semua peserta didik terlibat di dalamnya,” kata Murniasih, guru SMA N 3 Malang, Jawa Timur. Tahap using the concept to solve the problem, peserta didik bersama kelompok diminta untuk mengkomunikasikan hasil temuan mereka kemudian menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap kedua. Terakhir, tahap making conclusion, peserta didik membuat kesimpulan terhadap materi yang sudah dipelajari.
Penerapan model ini dibantu dengan media kartu yang bernama Carolen (Card ion and Covalent). Media ini khusus digunakan untuk menunjang model BARIUM saat pembelajaran tata nama senyawa. Media ini terbuat dari kertas yang berisi lambang ion dan nama ion serta jumlah muatan ion yang ditunjukkan oleh jumlah kancing tekan baju baik yang cembung maupun cekung.

Media ini digunakan untuk membangun konsep peserta didik tentang rumus senyawa ion dan kovalen beserta namanya. Media ini juga dilengkapi dengan aplikasi senyawa yang dihasilkan dan penjelasan tentang PPK pada bagian belakang kartu. “Diskusi dan permainan berbasis kartu membuat pembelajaran kimia lebih menyenangkan dan menantang,” kata Murniasih yang sering menjuarai berbagai kompetisi menulis ini.

Peserta didik merasa pembelajaran sangat menyenangkan. Bahkan, mereka tidak sadar tengah belajar materi tata nama. Peserta didik merasa pembelajaran kimia lebih kontekstual, membangun konsep sendiri dan mampu memecahkan permasalahan. “Model ini sangat tepat diterapkan untuk menjawab respon pembelajaran abad 21 dan tantangan revolusi industri 4.0,” ujar Murniasih yang menempuh pendidikan S2 di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Singaraja, Bali.

Rihad Wiranto
PROFIL PROFIL
Cece Sutia, M.Pd Juara 1 Olimpiade Guru Nasional 2019 Mapel Biologi SMA

Jawara dari Sekolah Pinggiran

MAN Parongpong 1 Kabupaten menyabet medali emas Olimpiade Guru Bandung Barat terbilang sekolah Nasional (OGN) 2019 mata pelajaran Biologi. pinggiran di Bandung Barat. Cece juga pernah meraih medali emas di

SLokasinya sekitar 10 km dari gunung OGN 2013 ketika masih bernama Olimpiade

Tangkuban Perahu yang sohor sebagai Sains Nasional-Guru. Kala itu Cece juga tujuan wisata. Di situlah Cece Sutia, M.Pd, meraih Best Teaching Performance. setiap harinya mengajar biologi. Sekolahnya Keberhasilan Cece di OGN 2019 juga berada di kawasan pertanian dengan didukung makalahnya berjudul “Membangun komoditas utama sayuran, bunga, teh dan Karakter Siswa Melalui Pembelajaran HOTS susu sapi. “Siswa kami pada umumnya dalam Proyek Penelitian Biologi Berbantuan berasal dari keluarga menengah ke Google Classroom”. Tema itu diangkatnya bawah dari kalangan petani dan karena semakin memudarnya nilai-nilai buruh lepas,” kata Cece, yang karakter dan rendahnya kemampuan juga Sekretaris MGMP Biologi meneliti masyarakat Indonesia. Salah Kabupaten Bandung Barat. satu basis pendekatan pendidikan Mengajar boleh di karakter adalah terintegrasi ke dalam sekolah pinggiran, tapi mata pelajaran Biologi. prestasi Cece tetaplah Pembelajaran proyek penelitian jempolan. Prestasi terkini, ia Biologi diharapkan dapat membangun berhasil pendidikan karakter dan keterampilan riset siswa. Pembelajaran ini dilaksanakan selama dua bulan dengan

lokal. Siswa ditantang untuk melakukan riset dengan tema teknologi pengolahan pangan. Proyek penelitian ini tidak memerlukan teknologi atau alat dan bahan yang canggih. Topik tersebut juga sesuai dengan kehidupan

tinggal di daerah pertanian.

Penelitian ini diawali dengan pembentukan kelompok riset siswa kelas XI. Siswa diperkenalkan

dengan Learning Managment System (LMS) berbasis Google Classroom. Rancangan dan laporan penelitian siswa diunggah ke Google Classroom, guru memberikan umpan balik. Siswa memperbaiki rancangan dan laporannya kemudian mengunggah kembali hasil perbaikan ke Google Classroom.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran HOTS melalui proyek penelitian Biologi dapat membangun karakter siswa seperti karakter religius, nasionalis, mandiri, gotong royong dan integritas. Kemampuan peserta didik khususnya dalam keterampilan riset meningkat dan beberapa di antaranya mendapatkan penghargaan di tingkat nasional dan internasional serta mendapatkan medali dalam olimpiade penelitian siswa Indonesia (OPSI). Siswa menjadi lebih kreatif dengan dihasilkannya beberapa produk berbasis kewirausahaan. Selain itu, siswa merasa kemampuan memecahkan permasalahan di lingkungan sekitar lebih meningkat.

Sebelum mengajar di SMAN 1 Parongpong, pria kelahiran Bandung, 2 Oktober 1984 ini pernah mengajar di SMP BPK Penabur (2006-

2008), SMP Katolik Talenta (2008-2010), SMAN 1 Sindangkerta (2009-2016), dan SMAN 3 Bandung (2013-2016). “Mendidik di SMAN 1 Parongpong yang minim fasilitas merupakan tantangan tersendiri. Kami para guru dituntut mampu melakukan kreativitas luar biasa agar tetap berkualitas,” kata Cece yang menjadi guru karena kagum dan terinspirasi cara mengajar guru biologi di masa SMA dulu. “Beliau mengajar dengan menyenangkan dan mudah dipahami siswa,” kata Cece yang berasal dari keluarga kurang mampu. Ayah dan ibunya petani dengan penghasilan pas- pasan.
Dipo Handoko

mengangkat potensi

peserta didik yang peserta didik mendapatkan layanan yang

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019 EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

I Kadek Santika, S.Pd Juara 1 Olimpiade Guru Nasional 2019 Mapel Matematika SMA

Medali Emas Bukti Prestasi

ndai tak melanjutkan kuliah Keberhasilan Kadek meraih medali emas objektif tetapi dapat menilai proses dan setamat SMA, pastinya tidak akan OGN 2019 mapel matematika juga tersebar ke mengurangi kemungkinan siswa menjawab ada seorang guru di SMAN Bali desanya. Kadek juga berhasil memperbaiki benar dari hasil tebak-tebakan. Di samping

AMandara, Kabupaten Buleleng, seluruh bangunan rumah orangtuanya, itu, mengerjakan soal EJU memerlukan

Provinsi Bali bernama Kadek Santika, S.Pd. meski butuh waktu lama, hampir 11 tahun. penguasaaan konsep serta kemampuan Ya, Kadek remaja dulu sempat tak yakin bisa berpikir tingkat tinggi. SMAN Bali Mandara tempatnya mengajar, melanjutkan kuliah karena kesulitan biaya. adalah sekolah khusus untuk peserta Dipo Handoko Bapaknya yang petani, ibunda tidak bekerja, didik dari keluarga kurang mampu. Siswa membuat Kadek hanya berangan-angan dibiayai beasiswa penuh dari pemerintah bisa langsung bekerja membantu ekonomi dan didukung fasilitas memadai. Sayangnya, keluarga. masih banyak siswanya yang kurang “Saya juga ingat sekali, malam sebelum bagus dari sisi akademik. Beberapa tahun esok saya mengikuti seleksi penerimaan terakhir, bahkan masih ada siswa tidak hafal mahasiswa baru di Singaraja, ibu saya perkalian. Ia harus memberikan tambahan memohon agar tidak melanjutkan kuliah,” materi pembelajaran bagi siswa kelas X di kata pria kelahiran 14 Oktober 1988 yang awal tahun ajaran baru. berasal dari Banjar Padpadan, Desa Petak Ada satu kejadian yang sangat berkesan Kaja, Kecamatan Gianyar, Kabupaten selama mengajar. Siswanya tampak sibuk Buleleng ini. Pertimbangan ibunya, karena mengerjakan soal-soal ketika ia memasuki tabungan mereka akan dipergunakan untuk ruang kelas. Tiba-tiba, seorang siswanya mengganti atap rumah yang sudah lapuk. mengacungkan tangan meminta izin Satu persatu Kadek buktikan pilihan menanyakan soal. “Saya sempat hidupnya itu kepada keluarga dan warga terdiam beberapa saat. Dalam hati saya kampung halamannya. Dengan kuliah di berguman: ini baru siswa namanya. Jurusan Pendidikan Matematika Universitas Saya berharap sekali akan ada kelas-Pendidikan Ganesha Denpasar, motivasi kelas seperti itu lagi nantinya,” kata Kadek adalah memperbaiki kondisi ekonomi Kadek. keluarga. Bukti lainnya, Kadek lolos seleksi Pada seleksi OGN 2019, guru PNS pada tahun 2015. Kadek mengangkat gagasan “Sampai sekarang saya masih bisa ilmiah penggunaan Examination membayangkan senyum di wajah bapak for Japanese University (EJU) saya saat mendengar saya lulus CPNS. Rasa dalam penulisan soal HOTS di bangga beliau berlangsung sampai beberapa sekolahnya. EJU merupakan hari setelahnya. Saat itu desa saya ramai ujian untuk calon mahasiswa dengan cerita seorang petani, yatim piatu, internasional yang akan tidak lulus SD bisa menyekolahkan anak berkuliah di Jepang. Bentuk soal hingga diangkat sebagai CPNS,” kata Kadek. matematika dalam EJU memiliki keunggulan yang sama seperti soal

PROFIL

Gilang Dwi Nanda S.Pd, Guru SLB Negeri 1 Padang, Sumatera Barat Juara I Lomba Menulis Tentang Ksesiapsiagaan Bencana Kategori Guru SLB

Menari Sambil Memahami

Mitigasi Bencana

ada awalnya, keterampilan simulasi bencana gempa siswa tunagrahita SLB Negeri 1 Padang, Sumatera Barat masih belum sesuai harapan. Hal ini karena belum sesuai dengan prosedur

Ptetap yang telah dibuat dan disosialisasikan oleh Tim Siaga

Bencana Sekolah kepada seluruh warga sekolah. Rupanya kemampuan siswa tunagrahita dalam menyerap informasi mitigasi bencana sangat rendah karena kecerdasan intelektual mereka yang di bawah rata-rata. Oleh sebab itu usaha penyampaian informasi kesiapsiagaan bencana gempa harus dilakukan secara terus menerus kepada siswa tunagrahita. Hal ini bertujuan agar informasi tersebut benar-benar melekat di dalam ingatan mereka.

Salah satu usaha sosialisasi informasi kesiapsiagaan bencana gempa yang dapat dilakukan adalah dengan cara mengintegrasikan informasi tersebut ke dalam pembelajaran. Untuk menyatukan informasi kesiapsiagaan bencana dalam pembelajaran, maka diciptakan sebuah tari Mitigasi Bencana Gempa. Adalah Gilang Dwi Nanda, S.Pd, guru SLB Negeri 1 Padang, Sumatera Barat, yang menciptakan tari kreatif tersebut. Pembelajaran tari tersebut ia tulis dalam sebuah karya best practice berjudul “Upaya Peningkatan Keterampilan Simulasi Bencana Gempa Siswa Tunagrahita SLBN 1 Padang Melalui Lirik Lagu dan Gerak Tari Mitigasi Bencana. Alhamdulillah karya tersebut mengantarkan saya meraih juara I, ini luar biasa,” ujar Gilang.

memiliki semangat belajar. Gerakan pada Tari Mitigasi Bencana Gempa merupakan hasil proses kreatif siswa tunagrahita dalam memahami lirik lagu Mitigasi Bencana Gempa melalui model pembelajaran discovery learning.

Gilang Dwi Nanda berharap tari Mitigasi Bencana Gempa ini akan menjadi referensi dan diikuti oleh sekolah-sekolah lain. Bahkan tari ini bisa menjadi salah satu senam wajib di sekolah jika disetujui dan direkomendasikan oleh dinas terkait. “Dengan begitu, informasi kesiapsiagaan bencana gempa bumi ini secara terus-menerus disosialisasikan kepada seluruh warga sekolah dengan penyajian yang lebih menarik dan tidak membosankan,” kata alumni Universitas Negeri Padang, jurusan Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik.

Gilang Dwi Nanda adalah guru yang tergolong multitalenta. Selain sibuk menjadi guru, ia juga aktif menulis. Ia menjadi kontributor Buku Antologi Puisi Cinta, Sahabat Pena, dan sebagainya. Gilang Dwi Nanda juga menjadi penulis karya ilmiah “Menanamkan Nilai Pendidikan Karakter dengan Kolaborasi Pembelajaran Sendratasik Tradisional Minangkabau untuk Meningkatkan Jiwa Nasionalisme Siswa SLB Negeri 1 Padang.

Rihad Wiranto

TARI MENYENANGKAN

Menurut Gilang, informasi kesiapsiagaan bencana akan lebih menyenangkan jika disampaikan melalui karya seni budaya seperti tari. “Pembelajaran konvensional seperti ceramah sangat membosankan peserta didik generasi milenial termasuk juga siswa tunagrahita,” kata guru kelahiran Payakumbuh, 29 Juli

  1. Siswa tunagrahita meskipun kecerdasan intelektualnya di bawah rata-rata namun juga

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

Apriadi, S.Pd
Guru SLB Negeri Sekayu, Sumatera Selatan
Juara III Lomba Menulis Tentang Ksesiapsiagaan Bencana Kategori Guru SLB

Sigap Gebu Gumel untuk Siswa SLB

Pria kelahiran Palembang, 30 April 1974 tersebut bersyukur bisa menjadi juara tingkat nasional. “Ini semua merupakan prestasi bersama. Bukan hanya untuk saya tetapi juga bagi SLB Negeri Sekayu. Saya mengucapkan terima kasih atas dukungan semua pihak, sehingga saya bisa menjadi juara,“ kata guru yang kini tinggal di Ulu Rurah, Kecamatan Pagaralam Selatan, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan.

agaralam di provinsi Sumatera Selatan termasuk daerah yang rawan terjadi bencana gempa bumi dan gunung meletus. Dalam menghadapi bencana

Ptersebut, sebagian masyarakat tidak siap karena

kurangnya informasi. Akibat kurang pengetahuan akan bencana, maka masyarakat rentan terkena bahaya terutama pada siswa. Agar para siswa sigap saat menghadapi bencana, maka mereka perlu dilatih terlebih dahulu. Dengan bekal latihan dan simulasi yang dilaksanakan secara rutin, siswa akan mampu menyelamatkan diri saat bencana datang.

Seorang guru SLB Negeri Sekayu, Sumatera Selatan, Apriadi, S.Pd tergugah untuk membuat inovasi pembelajaran dalam rangka melatih siswa agar senantiasa siap menghadapi bencana. Ia menulis dalam sebuah karya best practice berjudul “Pelaksanaan Sigap Gebu Gumel sebagai Upaya Kesiapsiagaan Bencana Bagi Siswa di SLB Negeri Pagaralam.” Dalam tulisan itu, terdapat istilah unik yakni ”Sigap Gebu Gumel,” yang merupakan akronim dari Simulasi Tanggap Gempa Bumi dan Gunung Meletus.” Karya inovatif tersebut telah mengantarkan Apriadi menjadi juara III.

PENGENALAN SEJAK DINI

Apriadi berpendapat, siswa rentan sekali akan perubahan yang terjadi di lingkungan, khususnya ketika terjadi bencana alam. Mereka rentan menjadi korban karena siswa belum mengerti tentang hal-hal yang perlu dilakukan saat peristiwa bencana terjadi. Keadaan ini menyebabkan siswa sangat tergantung kepada pertolongan orang dewasa atau guru.

Berdasarkan kondisi tersebut pembelajaran dan pengenalan resiko bencana harus diberikan sejak dini. Guru harus memberikan pengetahuan yang memadai tentang bencana kepada siswa agar mereka siap menghadapi kondisi yang tidak diinginkan. “Agar dapat meminimalkan kerentanan dan potensi bencana, maka peran sekolah sangat besar terkait usaha mengurangi risiko bencana tersebut,” ujar Apriadi.

Para peserta didik berkebutuhan khusus pun harus dilatih agar bisa mandiri saat menghadapi bencana. Pendidikan kebencanaan sangat penting diberikan agar siswa berkebutuhan khusus bertindak secara tepat apabila sewaktu-waktu terjadi bencana alam. Pendidikan kebencanaan tersebut bisa dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan mengadakan simulasi.

Dengan adanya sosialisasi tanggap bencana dan simulasi bencana gempa bumi dan gunung meletus diharapkan seluruh warga sekolah peka dan tanggap dalam menghadapi apapun kemungkinan terjadi. “Guru-guru diharapkan mampu mengarahkan dan membantu siswa jika terjadi bencana. Sedangkan siswa mampu melindungi diri dari bahaya yang dapat ditimbulkan oleh bencana yang terjadi,” ujarnya.

Berkat adanya Sigap Gebu Gumel (simulasi tanggap bencana gempa bumi dan gunung meletus), saat ini siswa SLB Negeri Pagaralam sudah terbiasa melindungi kepala dan tidak panik keluar kelas untuk menghindari dari kemungkinan resiko yang terjadi.

Rihad Wiranto

PROFIL PROFIL
Dedi Sasmito Utomo, M.Pd.
Guru SMA Negeri 2 Pare, Kediri, Jawa Timur
Juara I Lomba Menulis Tentang Ksesiapsiagaan Bencana Kategori Guru SMA

Edukasi Mitigasi Bencana Dengan Georita Ganas

encana alam berupa letusan gunung

banyak korban. Selain disebabkan

Bskala letusan yang besar, banyaknya

korban juga disebabkan oleh minimnya edukasi mitigasi bencana. Melihat kondisi tersebut, Dedi Sasmito Utomo, guru SMA Negeri 2 Pare, Kediri, Jawa Timur, tergelitik untuk mengembangkan bahan ajar tentang mitigasi bencana bagi peserta didik.

Dedi Sasmito Utomo menciptakan inovasi pembelajaran lalu ditulis dalam sebuah artikel berjudul “Pengembangan Bahan Ajar Georita Ganas Melalui Integrasi Project Based Learning dan Paint Tool Sai”.

Berkat karyanya itu, pria kelahiran Mojokerto, 6 April 1983 tersebut meraih Juara 1 Lomba Menulis Artikel Pembelajaran Peningkatan Kesiapsiagaan Bencana bagi Guru Jenjang Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus tahun tahun 2019.

Ganas merupakan

Geografi Bercerita Mitigasi Bencana Erupsi. Karya best practice ini berisi tentang penelitian eksperimen semu (quasi experiment) dengan desain nonequivalent control group design.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji keterkaitan integrasi project based learning dan paint tool sai terhadap kemampuan membuat bahan ajar mitigasi bencana erupsi siswa SMA Negeri 2 Pare. “Instrumen pengukuran kemampuan menyusun bahan ajar tersebut menggunakan rubrik penilaian produk yang diadaptasi dari Model Assesmen dalam Pembelajaran,” kata pria yang kini tinggal di “Georita Ganas yang merupakan Pare, Kediri. produk hasil pembelajaran diupayakan Berdasarkan pelaksanaan pembelajaran dapat memberikan pesan positif dalam dan hasil yang dicapai, maka simpulan pembelajaran mitigasi bencana, khususnya penting yang diperoleh meliputi: (1) pada anak-anak usia dini,” katanya. perangkat pembelajaran yang disusun Dedi Sasmito Utomo tertarik menjadi guru sesuai dengan peraturan mempermudah dalam melaksanakan pembelajaran; (2) karena ingin mengabdi di dunia pendidikan

penggunaan paint tool sai tidak berpengaruh demi generasi penerus yang lebih baik. Ia

banyak terhadap kualitas produk yang menyelsaikan kuliah dari Universitas Negeri

dihasilkan karena siswa memiliki alternatif Malang, Jawa Timur, jurusan Geografi

aplikasi lainnya untuk membuat ilustrasi pada tahun 2005. Dedi Sasmito Utomo

yang berkualitas; (3) kualitas produk dari ide berksempatan mengikuti pendidikan di Angeles University Foundation, Filipina pada cerita mitigasi bencana erupsi dihasilkan

  1. Kini, ia juga menyelesaikan pendidikan
    dari pengalaman langsung karena mayoritas S2 dari Universitas Negeri Malang pada 2015. siswa pernah mengalami sebagai korban terdampak bencana erupsi gunung api, yakni saat erupsi Gunung Kelud; (4) project based Rihad Wiranto learning sangat efektif dalam merangsang siswa untuk menghasilkan sebuah produk.
BAHAN AJAR MITIGASI BENCANA

Project based learning merupakan model pembelajaran berbasis proyek. Model pembelajaran ini bertujuan untuk menghasilkan inovasi produk berupa bahan ajar mitigasi bencana erupsi gunung api.

Ia menyatakan bahwa jatuhnya korban saat erupsi gunung berapi disebabkan oleh pengetahuan mitigasi yang kurang. “Kurangnya pengetahuan disebabkan oleh minimnya ketersediaan bahan ajar mitigasi bencana erupsi,” kata Dedi Sasmito Utomo.

Model pembelajaran berbasis proyek memiliki banyak kelebihan, terutama yang berhubungan dengan pembuatan produk. Produk dalam penelitian ini berupa bahan ajar mitigasi bencana alam dalam bentuk buku berjudul “Georita Ganas”. Georita

berapi seringkali menimbulkan akronim dari

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019 EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

Septa Krisdianto Juara 1 Inovasi Pembelajaran Kesiapsiagaan Bencana 2019.

Ciptakan Paving

Penyerap Banjir

encana banjir sering terjadi di

Korban banjir pun berjatuhan.

BKadang banjir tergenang begitu

lama sehingga korban harus mengungsi beberapa waktu. Air yang tergenang lama menimbulkan berbagai penyakit bagi warga.

Air yang tergenang lama itu disebabkan banyaknya tanah yang berubah menjadi beton, khususnya di perkotaan. Akibat beton di mana-mana, maka air sulit terserap ke dalam tanah. Melihat kondisi seperti itu, seorang guru SMKN 1 Mejayan, Madiun, Jawa Timur, Septa Krisdianto memiliki ide untuk membuat paving ramah lingkungan.

menjadi juara 1 dalam lomba pembelajaran berbasis kesiapsiagaan bencana tahun 2019. Dengan menemukan bahan bio organik material paving ramah lingkungan tersebut, Septa menyingkirkan seratus peserta lomba dari seluruh Indonesia. Lomba yang diadakan oleh Kemendikbud dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana itu berlangsung pada 26 April 2019 di Bandung, Jawa Barat.

Guru Sains di SMKN 1 Mejayan ini mengaku mendapatkan ide membuat bahan material paving ramah lingkungan atas keperhatinan

dirinya terhadap lingkungan di sekitar tempat berujung pada banjir. Septa mengumpulkan

akhirnya ia menemukan kesimpulan. Septa Septa Krisdianto menyatakan jika hujan memutuskan untuk menggunakan bahan turun, genangan air tidak cepat meresap organik berserat sebagai material paving ke dalam tanah. Hal itu terjadi karena ramah lingkungan. perumahaan di perkotaan pada umumnya menggunakan paving dari beton. Saat turun Ia memilih serbuk kayu dan bambu. Lalu, hujan, genangan air sulit surut karena tidak penguatnya menggunakan sepah tebu dan diresap oleh pori-pori tanah. sekam sebagai perekat. “Material tersebut lalu saya kolaborasikan dengan pasir, kerikil Septa mencoba mencari bahan material dan sedikit semen. Penggunaan semen tidak pembuatan paving ramah lingkungan. sebanyak seperti pembuatan paving pada Tujuannya agar air cepat meresap ke dalam umumnya,” jelasnya. paving dan tidak menjadi genangan. Akhirnya ia menemukan bahan berpori dan perekat Septa melakukan ujicoba beberapa kali yang kuat sebagai material pembuatan untuk membuat paving yang bisa menyerap

terbukti ramah lingkungan. Air langsung “Kita melihat di kota besar maupun di terserap ke bawah. Air tidak tergenang di desa, banyak tanah yang dibeton atau diaspal. atas,” kata Septa. Beton itu menjadi pondasi dasar di lantai perumahan. Nah kelemahan menggunakan Biaya untuk pembuatan paving ramah beton, begitu volume air meningkat, air lingkungan ini menurut Sapta, sangat rendah. menggenang karena tak terserap ke dalam Ia masih mencari formula guna menambah tanah,” katanya. kekuatan paving ramah lingkungan agar sama dengan paving beton pada umumnya. Artinya air tidak bisa langsung menyusup ke pori-pori tanah. Lalu ia mencari ide membuat paving yang bisa menyerap air ke bawah agar tidak terjadi genangan yang Rihad Wiranto

berbagai daerah di Indonesia. tinggal di Madiun. beberapa teori ilmu pengetahuan alam dan

Temuan tersebut mengantar Septa paving ramah lingkungan. air. “Setelah diuji coba, paving buatan saya

APA SIAPA APA SIAPA
Saiful Bari, S.Kom., M.Eng
Dr.Kasiman, S. Pd., ST., MM

ebagai wajah baru di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dr.Kasiman, S. Pd., ST., MM harus beradaptasi. Hal itu karena selama bertahun-tahun

Sia malang melintang di Malang, Jawa Timur. Kini,

pria kelahiran Cilacap 2 Juni 1969 ini bertugas di Kantor Pusat Kemendikbud di Jakarta. Kasiman menjabat sebagai Kepala Subdirektorat Peningkatan Kualifikasi dan Kompetensi, Direktorat Pembinaan Guru Dikmen dan Diksus menggantikan Dra. Santi Ambarukmi M.Pd.

Sebelum ke Jakarta, ia menjadi pejabat eselon di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Bidang Otomotif dan Elektronik (BOE) Malang. “Saya perlu adaptasi lingkungan kerja baru. Kalau soal pekerjaan sudah nyambung karena saya menangani peningkatan kompetensi,” kata Kasiman yang memperoleh gelar Doktor dari Universitas Negeri Malang 2012.

Kasiman mempunyai banyak prestasi yang mumpuni. Antara lain, ia menjadi Ketua Pelaksanaan Penyusunan Indeks Mutu Sekolah pada 2014. Sedangkan pada 2015 dan 2016, ia menjadi perancang, Penyusun Implementatif dan Pengembang Program Keahlian Ganda.

aiful Bari, S.Kom, M.Eng tidak menyangka akan menduduki jabatan baru sebagai Kepala Subdirektorat Perencanaan dan Pengendalian Kebutuhan, yang

Ssebelumnya dijabat Wastandar MA. Ph.D. karena

Beliau memasuki masa pensiun.

Saiful Bari bukan orang baru pada lingkungan kerjanya karena masih dalam satu direktorat dengan jabatan sebelumnya. “Saya tidak menyangka diberi amanah jabatan baru ini. Insya Allah saya akan menjalankan tugas ini dengan penuh amanah,” kata Saiful kelahiran Demak, 2 Juni 1978.

Selama berkarier ia mengaku selalu mendapat jabatan di luar dugaan. “Saya berharap jabatan tersebut benar-benar barokah dan saya bisa bekerja maksimal,” ujar Saiful yang tertarik secara khusus di bidang penelitian teknologi.

Kegemaran kepada teknologi bisa dilihat dari pilihan jurusan pendidikan saat kuliah. Saiful memperoleh gelar S1 dari STMIK AKAKOM, pada tahun 2000 Yogyakarta, Indonesia

S.Kom, Teknik Informatika. Lalu ia meraih gelar M. Eng, Magister Teknologi Informasi dari Universitas Gadjah Mada, 2011.”

EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019 EDISI 4 / TAHUN III / JUNI 2019

Wastandar, MA, Ph.D.

Mensyukuri Masa Pensiun

uaranya masih lantang dan tegas. Sesekali ditimpali senyum dan tawa. Seolah tak ada beban apa pun bekerja di hari terakhir mengemban jabatan Kepala Subdirektorat Perencanaan dan

SPengendalian Guru Dikmen dan Diksus, pada Selasa tengah

malam, 30 April 2019 silam.

Ya. Hingga tengah malam, pada pukul 23.56, Wastandar memberikan arahan terakhir sekaligus berfoto bersama peserta kegiatan Penyusunan Bahan Pengembangan Sistem Perencanaan dan Pengendalian Kebutuhan Guru Dikmen dan Diksus, di Hotel Maharani, Jakarta.

“Saya akan benar-benar menikmati masa pensiun. Anak-anak saya pun mengatakan: Daddy, tidak usah bekerja lagi saat sudah pensiun,” kata pria kelahiran Gunung Kidul, 19 April 1961 ini. “Saya jawab oke. Satu detik setelah jam 00.00, persis tanggal 1 Mei saya sudah bukan PNS lagi, sudah pensiun. Tanggal 4 Mei, saya akan ke Australia, liburan bersama keluarga.”

Di masa pensiunnya, Wastandar juga sudah merasa cukup dengan materi yang dimiliki bersama keluarganya. Setidaknya ada aset apartemen, rumah, vila, restoran, dan tanah. “Saya bersyukur sebelum pensiun ini, tanah saya di Hambalang, Bogor, ada yang beli Rp 5 miliar. Gaji pensiun saya tiap bulan nanti tidak sampai Rp 4 juta. Setahun tidak sampai 50 juta. Butuh seratus tahun untuk mengumpulkan uang sebesar ini. Maka Bapak Ibu, selagi punya uang, investasikan untuk masa pensiun,” kata Wastandar yang memiliki nama Chen ZhiQiang, pemberian dari dosennya sewaktu studi doktor di Beijing Normal University, China, 2010 silam.

Sebelum berkiprah di Direktorat Pembinaan Guru Dikmen dan Diksus, Wastandar terbilang lama bekerja di lingkungan satuan kerja bidang guru dan tendik. Ia pernah menjabat Kasubdit Penilaian Kerja dan Pengambangan Karier Direktorat Pembinaan Tendik Dikdasmen (2014-2017), Kasubdit Program dan Evaluasi P2TK Dikmen (2011-2014), dan Direktorat Tenaga Kependidikan, Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (2006-2010).

Selamat menikmati masa pensiun Pak Was! Semoga sehat selalu.

Dipo Handoko

APA SIAPA

ak ada yang tak mengenal ibu dua anak ini, baik di lingkungan

kependidikan (GTK). Terutama GTK yang pernah mengikuti

Tkegiatan nasional, baik itu bimbingan teknis, rapat-rapat koordinasi,

workshop, seminar, ajang kompetisi GTK dan lain sebagainya. Dia adalah Dra. Maria Widiani, MA. yang mulai tanggal 1 Juni 2019 telah memasuki masa purna tugas atau pensiun.

Perempuan kelahiran Jakarta yang berdarah Gombong Jawa Tengah dan Cirebon Jawa Barat ini memiliki karakter yang sangat khas. Dia sangat memahami Kemendikbud terutama yang berkaitan dengan pembinaan GTK. Dan ketika berbicara di depan forum, belum ada sosok yang bisa menggantikannya. Ia seolah mampu menghipnotis peserta, berapapun banyaknya peserta dalam sebuah ruangan. Bahkan tak peduli dari mana dan siapa latar belakang peserta tersebut.

Ketika ia sedang berbicara, semua harus fokus dan mendengarkan. Ia biasa mendekati peserta, berkeliling dari kursi terdepan hingga paling belakang. Ia juga kerap melibatkan peserta dalam pembicaraan sesuai materi yang disampaikan. Jangan pernah bermain HP atau berbicara sendiri ketika Maria berbicara. Bagi yang sedang mengantuk pun dijamin akan terbelalak seketika. Peserta tak jarang menilai Maria ini sosok yang tegas dan menakutkan ketika sedang berbicara. Akan tetapi mereka mengakui

kehebatannya dan menjadi sosok yang dirindukan kehadirannya.

lagi julukan yang disematkan pada diri Maria.

Karakter Maria yang demikian ditempa sejak kecil. Adalah sang ayah yang seorang guru besar Fisika di ITB telah menggembleng Maria menjadi perempuan mandiri dan disiplin. Membaca, adalah hobi sejak kecil, ia kerap menuntaskan buku bacaan yang disediakan orangtuanya. Setiap masuk sekolah Maria selalu berangkat dengan kesiapan, sehingga ketika ada pertanyaan tentang pelajaran di kelas, ia selalu bisa menjawabnya dengan tepat. Maria dikaruniai dua anak yang keduanya lulusan ITB. Yang pertama lelaki bekerja di Amerika Serikat sedangkan anak kedua adalah perempuan telah menuntaskan S3 nya di Perancis.

Selama berkiprah di Kemendikbud, telah banyak jasa yang ia berikan. Maria berterima kasih atas kesempatan mengabdi di Kemendikbud selama ini. Namun demikian, ia melihat generasi yang ada saat ini terkesan kurang greget dalam menjalankan tugas. “Komitmen, kita sudah berkomitmen menyeburkan diri menjadi ASN maka jangan tanggung dan penuh keraguan dalam bertindak. Sebagai ASN khususnya yang bertugas dalam pembinaan guru, terdapat beberapa hal yang harus dikuatkan, mulai menguasai teori, mengetahui peraturan, mengetahui fakta, bisa menulis dan mengonsep, mampu berbicara dan menguasai IT,” ujarnya.

Mukti Ali
Dra. Maria Widiani MA

Master Forum

Telah Purna

Tugas

Kemendikbud, maupun di lingkungan guru dan tenaga Banyak peserta menyebut Maria Master Forum dan masih banyak

Pejabat eselon II,III,IV dan staf fungsional Direktorat PG Dikmen dan Diksus ketika melangsungkan visioning tahun 2019 di Banyuwangi