Baca PDF (OCR): Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Kebudayaan.tif

183 halaman · 182 halaman diproses dengan OCR· 253745 ms

Daftar isi
  1. PENDIDIKAN KARAKTER
  2. KEBUDAYAAN
  3. Dr. Hurip DanuIsmadi, M. Pd
  4. KEBUDAYAAN
  5. ISBN : 978-602-221-267-6
  6. a Jakarta 14250
  7. Pengantar ...
  8. Jakarta, September 2014
  9. Dr. Hurip Danu lsmadi, M.Pd
  10. PENGANTAR PENERBIT
  11. Pengantar ............................................................................................................ i
  12. Pengantar Penerbit .................................................................................................... ii 1
  13. Daftar lsi .......................................................................................................................... v
  14. Damardjati Kun Marjanto
  15. S. Dloyana Kusumah
  16. Budiana Setiawan & Liswati
  17. Fitri Ratna lrmalasari
  18. o g ... [1
  19. Pro I o g ...
  20. 9. Rasa ingin tahu
  21. 13. Bersahabat/komunikatif
  22. Pro I o g ...
  23. PENDIDIKAN BUDAY A SEBAGAI WAHANA PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK DIDIK
  24. A. PENDAHULUAN
  25. B. AJARAN KI HADJAR DEWANTARA TENTANG KETAMAN SISWAAN
  26. Pendidikan Budaya ...
  27. C. PENDIDIKAN BUDAY A DI SD TAMAN SISWA
  28. Pendidikan Budaya ...
  29. 2. Pendidikan Budaya di Ekstrakurikuler
  30. Budaya ... [25
  31. Pendidikan Budaya ...
  32. Pendidikan Budaya... [27
  33. C. PENUTUP 1. Simpulan
  34. Budaya ... [29
  35. 2. Saran
  36. DAFTAR PUSTAKA
  37. KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER YANG TERUNGKAP DALAM SASTRA LISAN 'DONGENG'
  38. A. PENDAHULUAN
  39. Pendidikan ...
  40. Pendidikan ... [43
  41. B. RIAU TANAH AIR KEBUDAYAAN MELAYU
  42. Pendidikan ...
  43. 1. Kota Pekanbaru
  44. 2. Sejarah Perkembangan Kota Pekanbaru
  45. 3. Geografi dan Kependudukan
  46. Pen didikan ... [49
  47. 4. Agama
  48. Konsep Pendidikan ...
  49. 5. Riau Adalah Tanah Air Kebudayaan Melayu
  50. Pendidikan ... [51
  51. C. KEDUDUKAN SASTRA USAN "DONGENG" DALAM KEBUDAYAAN MELAVU RIAU
  52. 2. Tema Utama dalam Sastra lisan (Dongeng) Melayu Riau
  53. 3. Kondisi Kehidupan Sastra Lisan (Dongeng) di Dalam Kehidupan Masyarakat Melayu Riau Dewasa Ini
  54. D. LANGKAH YANG DITEMPUH UNTUK MEMFUNGSIKAN KEMBAU PERAN TRADISI USAN (DONGENG)
  55. Pend idikan ... [59
  56. E. ANAUSIS ISI DONGENG MELAVU VANG MENGANDUNG NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER
  57. (4) Fungsi pedagogis, yakni dalam sebuah dongeng diajarkan
  58. F. DONGENG MELAVU YANG MENJADI BAHAN PENGAJARAN/ PENDIDIKAN
  59. Pendidikan ...
  60. G. SIMPULAN
  61. Pendidikan ... [75
  62. Majalah
  63. Internet
  64. T/ONAL STUDENT EXCHANGE PROGRAfVI
  65. A. PENDAHULUAN
  66. B. SEKILAS TENTANG MENAI HIGH SCHOOL, SIDNEY, AUSTRALIA
  67. C. PELAKSANAAN KEGIATAN INTERNATIONAL STUDENT
  68. EXCHANGE PROGRAM
  69. 1. Kegiatan Belajar-Mengajar di Menai High School
  70. Sumber: Dokumen Pribadi
  71. Untuk menutup seluruh rangkaian kegiatan International
  72. 2. Kegiatan di Luar Jam Sekolah
  73. 3. Kegiatan Tinggal Bersama Host Parents di Home Stay
  74. D. PENUTUP
  75. PEMBENTUKAN KARAKTER DAN SEMANGAT KEBANGSAAN PADA SISWA DI ATAMBUA, NUSA
  76. TENGGARA TIMUR
  77. A. PENDAHULUAN
  78. Karakter ... [101
  79. B. KEMISKINAN, KONFUK, KEKERASAN, DAN BUTA HURUF: KONDISI PENDIDIKAN 01 ATAMBUA KINI
  80. Tabell
  81. Tabel2
  82. D. SINERGI PENGEMBANGAN NILAI-NILAI DAN WAWASAN LOKAL DAN PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA
  83. Karakter ... [113
  84. Pembentukan Karakter ...
  85. E. PENUTUP
  86. DAFT AR PUSTAKA
  87. Buku
  88. Jurnal
  89. Wawancara
  90. Foto
  91. ALISASI SENI PERTUNJUKAN KERATON SUMENEP SEBAGAI
  92. A. PENDAHULUAN
  93. B. SEKILAS TENTANG KERATON SUMENEP
  94. 1. Bentuk-Bentuk Kesenian Keraton Sumenep
  95. Seni ... [129
  96. Sumber: Dokumen Puslitbangbud
  97. Seni ... [131
  98. 2. Perkembangan Kesenian Keraton Sumenep
  99. Seni ... [133
  100. C. PENUTUP
  101. LOKAL
  102. A. PENDAHULUAN
  103. B. PENGERTIAN-PENGERTIAN
  104. 1. Pendidikan Karakter Bangsa
  105. 2. Pembangunan Karakter Bangsa
  106. 3. Kearifan lokal
  107. Kearifan Lokal
  108. C. ORIENTASI MABA
  109. 1. Peserta Orientasi Maba
  110. 2. Tempat dan Waktu
  111. Karakter ... [145
  112. Laki-laki Perempuan
  113. D. PENGGUNAAN KEARIFAN LOKAL DALAM PROGRAM ORIENTASI MABA
  114. Karakter ... [147
  115. E. PENUTUP: GAGASAN KEARIFAN LOKAL DALAM PENDIDIKAN KARAKTER
  116. Karakter ... [149
  117. F. SARAN
  118. DAFT AR PUSTAKA
  119. Website:
  120. PENDIDIKAN KARAKTER
  121. A. PENDAHULUAN
  122. B. KEBUDAYAAN SEBAGAI SEBUAH AGEN PENDIDIKAN KARAKTER
  123. DAFT AR PUSTAKA
  124. Ali Akbar
  125. PENULIS
  126. Damardjati Kun Marjanto
  127. Siti Dloyana Kusumah
  128. Budiana Setiawan
  129. Fitri Ratna lrmalasari
  130. RR. Nur Suwarningdyah
  131. Mudjijono
  132. PENDIDIKAN KARAKTER
  133. DALAM PERSPEKTIF KEBUDAYAAN

PENDIDIKAN KARAKTER

dalam Perspektif

KEBUDAYAAN

Pengantar:

Dr. Hurip DanuIsmadi, M. Pd

PENDIDIKAN KARAKTER dalam Perspektif

KEBUDAYAAN

Pd

Pusat Penelitian dan • Pengembangan Kebudayaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

2014 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan

Katalog dalam Terbitan (KDT)

Pendidikan Karakter dalam Perspektif Kebudayaan/Aii Akbar (ed.) -Jakarta : PT Gading Inti Prima, 2014.

viii him.+ 179 him.; 14,8 x 21 em

ISBN : 978-602-221-267-6

  1. Pendidikan 2. Kebudayaan
  2. 193
Editor Ali Akbar
Pemeriksa Aksara Sugih Biantoro
Tata Letak Djoko Kristijanto
Sampul Genardi Atmadiredja
Sumber Gambar Sampul: Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan

Cetakan Pertama 2014

Penerbit: PT. Gading Inti Prima (anggota IKAPI) Jl. Hibrida Raya Blok PD 14 No. 7 Kelapa Gading

a Jakarta 14250

Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Jl. Jenderal Sudirman-Senayan, Gedung E Lantai IX Jakarta 12041 Telp. (021) 5725573, Fax. (021) 5725543 •

||Pendidikan|

hal baru dalam sistem pendidikan di Indonesia. Namun saat ini, wacana tersebut kembali menguat sebagai tanggapan atas berbagai persoalan bangsa, terutama masalah demoralisasi. Pendidikan karakter itu sendiri tidak dapat dipisahkan dengan nilai -nilai budaya. Pendidikan tanpa didasari oleh kebudayaan dapat menghasilkan generasi muda yang mudah tercerabut dari kehidupan masyarakatnya. Pendidikan itu sendiri sesungguhnya adalah transformasi budaya. Apabila muncul persoalan budaya dan karakter bangsa, maka pelaksanaan pendidikan yang mendapat sorotan tajam dari masyarakat.

Ki Hajar Dewantara pernah menyatakan bahwa kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari pendidikan, bahkan kebudayaan merupakan dasar pendidikan. Melalui pendidikan, diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi muda bangsa dalam mengurangi persoalan karakter bangsa. Pendidikan karakter merupakan bagian penting dari penyerapan nilai-nilai kebudayaan yang baik bagi pembangunan manusia Indonesia. Oleh karena itu, pendidikan karakter menjadi tujuan akhir dari sebuah proses pendidikan.

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, keberhasilan pembangunan khususnya di bidang kebudayaan sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh tersedianya sumber data dan informasi hasil penelitian dan pengembangan yang berkualitas dan memadai. Semakin berkualitas data dan informasi,

Pengantar ...

maka akan semakin efektif dan optimal peran .dari kebudayaan, termasuk perannya dalam mendukung pengembangan karakter melalui pendidikan. Atas dasar itulah, Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan mengadakan kegiatan publikasi berupa penerbitan buku dalam bentuk bunga rampai yang bertema Pendidikan Karakter dalam Perspektif Kebudayaan.

Cakupan pendidikan karakter dalam kerangka kebudayaan dalam bunga rampai ini mencakup tiga hal, yaitu; pertama, pendidikan karakter dalam kerangka kebudayaan yang menyangkut segala sesuatu di dalam sekolah dan jam sekolah dalam menyukseskan pembelajaran di sekolah. Kedua, pendidikan karakter dalam kerangka kebudayaan yang menyangkut segala sesuatu di luar sekolah dan jam sekolah, namun mendukung sistem pendidikan nasional, dan ketiga, gabungan dari keduanya.

Kegiatan penerbitan bunga rampai berlangsung setiap tahun. Kumpulan tulisan ini ditulis oleh para peneliti di dalam dan luar lingkungan Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan. Dengan diterbitkannya bunga rampai kebudayaan ini, diharapkan dapat menambah informasi dan pengetahuan tentang pendidikan karakter dalam perspektif kebudayaan yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Jakarta, September 2014

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Rl,

Ttd.

Dr. Hurip Danu lsmadi, M.Pd

. [iii

PENGANTAR PENERBIT

Persoalan budaya da n karakter bangsa akh ir-akhir ini telah banyak menyita perhatian berbagai kalangan, baik pemerintah maupun seluruh masyarakat Indonesia. Pendidikan karakter merupakan bagian penting dari penyerapan nilai-nilai kebudayaan yang baik bagi pembangunan manusia. Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan. Pendidikan merupakan produk dari kebudayaan manusia dan menjadi bag ian dari kebudayaan. Pendidikan berupaya untuk mewariskan kebudayaan yang sedang berkembang.

Pelaksanaan pendidikan karakter berbasis budaya menggariskan pentingnya unsur keteladanan. Selain dari pada itu, perlu disertai pula dengan upaya-upaya untuk mewujudkan lingkungan sosial yang kondusif bagi generasi muda, baik di dalam keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Maka, pengembangan pendidikan karakter, dapat dilakukan bukan hanya di instansi lembaga pendidikan formal seperti sekolah, namun juga di lu ar sekolah.

Bunga rampai ini membahas tentang pendidikan karakter dalam perspekif kebudayaan, yang menampilkan persoalan dalam studi kasus di bidang kebudayaan. Beberapa contoh studi kasus yang ditampilkan, antara lain di bidang kesenian, kearifan lokal, sastra, dan isu-isu terkini.

Terbitan ilmiah dalam bentuk bunga rampai dengan judul Pendidikan Karakter Da/am Perspektif Kebudayaan ini telah melewati

Pengantar Penerbit...

mekanisme penjaminan mutu, termasuk proses penelaahan dan penyusunan oleh dewan editor. Harapan kami, semoga bunga rampai ini dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dalam pemanfaatan nilai-nilai kebudayaan dalam pendidikan karakter, khususnya bagi generasi muda bangsa Indonesia. Akhir kata, kam i mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses penerbitan buku ini.

Jakarta, September 2014 Penerbit, PT. GADING INTI PRIMA

Pengantar ............................................................................................................ i

Pengantar Penerbit .................................................................................................... ii 1

Daftar lsi .......................................................................................................................... v

  • Prolog ...................................................................................................................... l Ali Akbar
  • Pendid ikan Budaya sebagai Wahana Pembentukan Karakter
    Anak Didik di Sekolah Dasa r (SD) Taman Siswa Yogyakarta .......... S

Damardjati Kun Marjanto

  • Konsep Pendidikan Karakter yang Te ru ngkap dalam Sastra Lisan 'Dongeng' Studi Kasu s Kajian Nilai Budaya dalam Sastra
    Lisan Melayu di Kota Pekanbaru Provinsi Riau .................................... 33

S. Dloyana Kusumah

  • International Student Exchange Program Sebagai Media
    Pembentukan Karakter Siswa ....................................................................... 81

Budiana Setiawan & Liswati

  • Pembentukan Karakter dan Semangat Kebangsaan pada Siswa Sekolah di Atambua, Nusa Tenggara Timur, Melalui Pemberdayaan Komunitas Adat dan lntegrasi Nilai -nilai
    Lokal dalam Proses Belajar Mengajar ...................................................... 99

Fitri Ratna lrmalasari

  • Revitalisasi Seni Pertunjukan Keraton Sumenep sebagai
    Media Pendidikan Karakter bagi Generasi Muda ................................ 123
    RR. Nur Suwarningdyah

  • Pendidikan Karakter Bangsa Berbasis Kearifan Lokal
    dalam Orientasi Mahasiswa Baru .............................................................. 137
    Romeyn Perdana

  • Kebudayaan sebagai Agen Pendidikan Karakter ................................ 153 Mudjijono

  • Epilog ...................................................................................................................... 169 Ali Akbar

o g ... [1

/Ali Akbar al iakbarfromindonesia @yahoo.com

Pendidikan karakter dan istilah yang sejenis telah lama dibicarakan oleh berbagai pihak dalarn kaitannya dengan generasi Indonesia seperti apa yang hendak dihasilkan untuk rnenggantikan generasi sebelurnnya. Tentu saja perbincangan rnengenai pendidikan karakter telah ada pula sebelurn kernerdekaan atau sebelurn terbentuknya Republik Indonesia. Pernbicaraan yang sangat substansial dan berbobot di antara para ahli bahkan pernah terjadi rnenjelang kernerdekaan dan awal tahu n kernerdekaan. Pernbicaraan tersebut kernudian dibukukan oleh Achdiat Karta Mihardja dan digunakan isti lah Polernik Kebudayaan.

Tahun-tahun kernudian berganti dan Republik Indonesia kernudian terus bertarnbah usia. Perbincangan rnengenai pendidikan karakter akhirnya rneredup dan generasi seperti apa yang hendak dihasilkan akhirnya seperti ungkapan biarlah nanti terbentuk dengan sendirinya. Pendidikan berjalan dengan sendirinya. Karakter yang identik dengan budi pekerti, etika, dan akhlak juga berjalan dengan sendirinya. Tahapan yang terencana misalnya sebagai suatu strategi kebudayaan bagaikan telah terbawa angin lalu.

Pada tahun 2000-an, pendidikan karakter mulai marak dibicarakan lagi. Pendidikan karakter rnerupakan suatu istilah yang pada tahun-tahun terakhir ini cukup sering dilekatkan dengan Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan berdasarkan Undang-Undang Nornor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pend idikan Nasional adalah usaha sadar

Pro I o g ...

dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sementara itu pengertian dan cakupan karakter, berdasarkan salah satu dokumen yang dibuat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2011 berupa:

  1. Religius
  2. Jujur
  3. Toleransi
  4. Disiplin
  5. Kerja keras
  6. Kreatif
  7. Mandiri
  8. Demokratis

    9. Rasa ingin tahu

  9. Semangat kebangsaan

  10. Cinta tanah air
  11. Menghargai prestasi

    13. Bersahabat/komunikatif

  12. Cinta damai

  13. Gemar membaca
  14. Peduli lingkungan
  15. Peduli sosial
  16. Tanggung jawab Sebagai bagian dari suatu sistem pendidikan, maka pendidikan karakter juga merupakan suatu usaha sadar dan terencana sehingga mengarah sebagai sesuatu yang terstruktur. Oleh karenanya, pendidikan karakter diupayakan diterapkan di berbagai jenjang pendidikan. Sementara itu, para pelaku dan pemerhati pendidikan juga menyadari bahwa khasanah yang sejenis dengan pendidikan karakter juga terdapat atau lebih tepatnya justru lebih banyak dijumpai pada kebudayaan dalam arti kehidupan keseharian di masyarakat. Demikianlah kiranya dapat

I o g ... [3

terlihat dua bagian besar yang sebenarnya dapat saling melengkapi jika keduanya disandingkan dan saling mengisi.

Kebudayaan dalam pengertian keseharian di masyarakat pada hakikatnya juga mencakup pendidikan karakter. Kebudayaan katakanlah diterapkan sebagai pendidikan karakter yang diajarkan di sekolah pada jam sekolah untuk menyukseskan proses belajar mengajar di sekolah. Kebudayaan katakanlah juga mencakup segala kehidupan keseharian di luar sekolah dan di luar jam sekolah untuk menyukseskan Sistem Pendidikan Nasional. Kebudayaan secara lebih luas merupakan segala daya upaya manusia dari berbagai usia untuk dapat hidup bermasyarakat dan menjalankan berbagai send i kehidupan.

Potret kondisi dan situasi di atas itulah yang sebagian berhasil direkam oleh para penulis buku bunga rampai ini. Pendidikan karakter secara terbatas dapat dilihat sebagai bagian dari pendidikan dan secara luas dapat dilihat sebagai bagian dari kebudayaan. Oleh karenanya pembahasan mengenai pendidikan karakter dapat dilakukan di sekolah maupun di luar sekolah, dapat dilakukan pada jam sekolah maupun di luar jam sekolah, dan dapat dilakukan sebagai suatu yang terstruktur dalam satuan pendidikan maupun secara luwes dapat dilakukan dalam berbagai sendi keh idupan.

Kegiatan publikasi bunga rampai ini sesungguhnya merupakan suatu usaha sadar dan terencana oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan sehingga secara khusu s dapat menjadi referensi dalam penelitian dan pengembangan kebudayaan. Selanjutnya secara umum dapat menjadi referensi dalam bidang pendidikan pada khususnya dan kebudayaan pada umumnya. Kegiatan publikasi diawali dengan diskusi mendalam mengenai tema yang akan diangkat dalam buku bunga rampai. Selanjutnya dibuat ketentuan teknis dan undangan kepada calon penulis untuk mengirimkan abstrak tulisannya. Kemudian dilakukan review terhadap abstrak -a bstrak untuk melihat kesesuaian tema dan kemungkinan pengembangan tulisan. Beri kutnya dilakukan diskusi dengan para calon penulis ya ng abstraknya diterima agar mengikuti ketentuan teknis dan dapat memenuhi bobot yang

Pro I o g ...

diharapkan. Singkatnya telah dilakukan berbagai proses yang berjenjang dengan harapan memberikan publikasi sebaik-baiknya kepada khalayak pembaca atau masyarakat luas. Proses yang berjenjang itulah yang membuat para penulis yang pada dasarnya adalah para peneliti berpengalaman dapat mempunyai cukup waktu melakukan orientasi, melakukan riset, dan membuat tulisan. Pada buku bunga rampai ini tersaji buah pemikiran berdasarkan telaah dokumen dan kerja lapangan para peneliti.

Pendidikan karakter dengan mengambil atau mengadopsi kebudayaan yang berlangsung di suatu lokasi atau daerah diharapkan dapat dipraktikkan di lokasi atau daerah lainnya. Tentu saja berbagai penyesuaian perlu dilakukan sebelum penerapan dapat direalisasikan. Dalam kaitan itulah tulisan-tulisan yang terdapat pada bunga rampai ini semakin terlihat nilai pentingnya. Keanekaragaman, apa yang diajarkan, dan cara mengajarnya dapat menjadi semacam prasyarat atau kondisi yang diperlukan jika ingin menerapkan hal serupa di tempat lain. Tulisan-tulisan pada buku bunga rampai ini diharapkan dapat menginspirasi, diadopsi, dan dikreasi sehingga dapat diterapkan di tempat lain dengan menyesuaikan pada situasi dan kondisi di tempat tersebut.

Budaya ... [5

PENDIDIKAN BUDAY A SEBAGAI WAHANA PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK DIDIK

DI SEKOLAH DASAR (SO) TAMAN S!SWA YOGYAKARTA "Damardjati Kun Marjanto damardjatikun @yahoo.co.id

A. PENDAHULUAN

Sesuai dengan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Hasil yang diharapkan dalam proses belajar ini adalah bukan hanya melahirkan manusia Indonesia yang memiliki kecerdasan yang baik, namun j uga manusia yang berkarakter baik.

Pendidikan dipandang sebagai wahana yang tepat untuk mendidik generasi penerus memiliki karakter baik, karena pendidikan memiliki peran penting dan sentral dalam pengembangan potensi manusia, termasuk potensi menta L Melalui pendidikan diharapkan terjadi transformasi yang dapat menumbuhkembangkan karakter positif, serta mengubah wata k dari yang tidak baik menjadi baik. Ki Hajar Dewantara dengan tegas menyatakan bahwa pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pi kiran (intellect), dan tubuh anak. Jadi jelaslah, pendidikan merupakan wahana utama untuk menumbuh kembangkan karakter yang baik. Di sinilah pentingnya pendidikan

Pendidikan Budaya ...

1 karakter. Tujuan pendidikan nasional itu merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Oleh karena itu, rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasar dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa. 2

Dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan satuan pendidikan, perlu diterapkan totalitas pendidikan dengan mengandalkan keteladanan, penciptaan lingkungan, dan pembiasaan hal-hal baik melalui berbagai tugas dan kegiatan. Pada dasarnya, pembudayaan lingkungan di satuan pendidikan dapat dilakukan melalui: 1) penugasan, 2) pembiasaan, 3) pelatihan, 4) pengajaran, 5) pengarahan, serta 6) keteladanan. Semuanya mempunyai pengaruh yang kuat dalam pembentukan karakter peserta didik. Setiap kegiatan mengandung unsur-unsur pendidikan. Hal itu, antara lain dapat dijumpai dalam kegiatan kepramukaan yang mengandung pendidikan kesederhanaan, kemandirian, kesetiakawanan dan kebersamaan, kecintaan pada lingkungan, dan kepemimpinan.

Dalam kegiatan olahraga terdapat pendidikan kesehatan jasmani, penanaman sportivitas, kerja sama, dan kegigihan untuk berusaha. Langkah pertama dalam mengaplikasikan pendidikan karakter dalam satuan pendidikan adalah menciptakan suasana atau iklim satuan pendidikan yang berkarakter yang dapat membantu transformasi pendidik, peserta didik, dan tenaga kependidikan menjadi warga satuan pendidikan yang berkarakter. Hal tersebut, termasuk perwujudan visi, misi, dan tujuan yang tepat untuk satuan pendidikan. Semua langkah dalam model pembelajaran nilai-nilai karakter ini saling berkontribusi terhadap budaya satuan pendidikan dan meningkatkan

Direktorat Ketenagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional. 2010. Kerangka Acuan Pendidikan Karakter Tahun Anggaran 2010, him. 3-4. Pusat Kurikulum. 2010. Bahan Pelatihan Penguatan Metodo/ogi Pembelajaran Berdosorkon Niloi-niloi Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, him. 2.

Ya ng Maha Esa. 3 Pendidikan budaya dan karakter bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nila i dan karakter sebaga i karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyara kat, dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif, dan kreatif 4

Hal yang dikemukakan mengenai pendidikan budaya dalam kaitannya dengan pengembangan karakter, sejalan dengan apa yang menjadi dasar pendidikan di Taman Siswa. Ki Hadjar Dewantara sebagai pendiri dari Pergu ruan Tama n Siswa sangat menekankan arti penting pembentukan karakter melalui pendidikan. Menjadi penting bagi dunia pendidikan untuk kembali mel ihat sistem pendidikan yang diterapkan di Perguruan Taman Siswa, seh ingga tuj uan pendidikan nasional dapat tercapai dengan baik.

Tul isan ini merupakan salah satu hasil dari penelitian tentang Pendidikan Budaya di Sekola h Dasar (SD) Taman Si swa Yogyakarta bertujuan

yang menjelaskan pendidikan budaya apa saja yang
diterapkan di dalam kegiatan belajar, baik di dalam kurikulum maupun
ektrakurikuler SD Taman Siswa. Tulisan j uga bertujuan
mendeskripsikan nilai -nilai budaya pembentuk karakter dalam
pendidikan budaya di SD Tam an Si swa. Ruang lingkup penelitian

1n1,

meliputi dua hal, yaitu ruang li ngkup lokasi yang menunjukkan di mana penelitian itu diadakan dan rua ng ling kup materi yang menunjukkan jangkauan dari permasalahan ya ng ditel iti.

Dalam pe nelitian tenta ng pendidikan budaya di SD Taman Siswa Yogyakarta, ruang lingkup lokasi adalah di Kota Yogyakarta. Pem ilihan Kota Yogyakarta sebagai lokasi penelitian, karena di tempat

Pemerintah Re publik Indonesia. 20 10. Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa Tah un 201 0-2015, him. 37-38. Pu sat Kurikulum 201 0. Bahan Pelatihan Penguatan fvletodologi Pem belajora n Berdasarkan Nilai-nilai Budaya untuk fvlembentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa. Pengembangan Pendidikan Buday a dan Karakter Bongsa, him. 4.

kali mendirikan Perguruan Taman Siswa, dan sampai sekarang menjadi pusat dari perguruan Taman Siswa di seluruh Indonesia, yang dikenal dengan sebutan Ibu Pawiyatan. Ruang lingkup materi, meliputi: (1) Ajaran Ki Hadjar Dewantara menyangkut ke Taman Siswaan; (2) Kurikulum pendidikan budaya yang diajarkan, (2) Pelajaran-pelajaran khas dari Taman Siswa yang menjadi basis bagi pembentukan karakter siswa.

Metode pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi (pengamatan) yang biasa dilakukan dalam penelitian budaya. Pengamatan dilakukan di SD Taman Siswa Yogyakarta, baik ketika siswa bersekolah, maupun ketika mereka melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler. Untuk mendukung pengamatan, dilakukan wawancara terhadap para informan untuk mendukung data yang tidak dapat dicatat melalui observasi. Wawancara dilakukan secara langsung dan mendalam (depth interview) dengan menggunakan pedoman wawancara (interview guide) yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Untuk lebih memudahkan dalam proses wawancara, peneliti memulai wawancara dengan seorang informan pangkal, dalam hal ini adalah seorang tokoh Taman Siswa di Yogyakarta. Informan pangkal adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk memperkenalkan peneliti kepada informan lain yang merupakan ahli tentang sektor- sektor kemasyarakatan atau unsur-unsur kebudayaan yang ingin kita ketahui. Informan inilah yang akan menjadi informan kunci atau key informan (Koen~araningrat, 1992: 129-130). Di samping itu, pemilihan informan juga dilakukan dengan teknik snowballing (bola salju), di mana satu informan merekomendasikan informan yang lain yang dianggap memiliki informasi yang sepadan atau lebih luas (Endraswara, 2003: 239).

Wawancara mendalam merupakan upaya memperoleh informasi untuk tujuan penelitian melalui tanya jawab lang sung dengan informan, baik menggunakan pedoman wawancara maupun tidak (Bungin, 2010:108). Melalui metode ini, informasi keberadaan SD Taman Siswa

Budaya .. [9

didalami untuk mendapatkan keterangan yang lebih lengkap dan utuh. Setelah observasi dan wawancara, penelitian juga menggunakan FGD (Focus Group Discussion). FGD mengundang tokoh-tokoh Taman Siswa, guru, praktisi kebudayaan, dan lainnya.

Di samping observasi, wawancara dan FGD, penelitian ini juga berupaya memperoleh data melalui studi pustaka. Studi pustaka dilakukan untuk memperkuat konsep tentang Taman Siswa. Data yang diperoleh baik berupa catatan hasil pengamatan, transkipsi dari hasil wawancara, FGD, dan bahan-bahan berupa hasil kajian pustaka disusun dan diklasifikasikan sesuai fokus penelitian. Analisis data dilakukan dengan cara induktif, yaitu data yang ada disusun untuk membentuk propos1s1-propos1si umum, sehingga melahirkan sebuah kesimpulan yang lebih utuh.

B. AJARAN KI HADJAR DEWANTARA TENTANG KETAMAN SISWAAN

Landasan dari perguruan Taman Siswa didasarkan pada ide pendidikan dan kebudayaan Ki Hadjar Dewantara. Ide tersebut diungkapkan menjadi sebuah asas Taman Siswa yang menjadi pegangan seluruh insan Taman Siswa dalam menjalani kehidupan di lingkungan Taman Siswa. Pegangan tersebut, termaktub dalam asas Taman Siswa 1922 yang selalu terdapat pada bagian terdepan dari setiap keputusan Kongres Taman Siswa, 5 sebagai berikut:

  1. Hak seseorang akan mengatur dirinya sendiri (zelfbeschikkingrecht) dengan mengingat tertib damainya persatuan dalam perikehidupan umum (mootschoppelijke soomhoorigheid) itulah asas kita yang pertama. Tertib dan damai (toto tentrem, Orde en Vrede) itulah tujuan kita yang setinggi -tingginya. Tidak adalah ketertiban terdapat, kalau tak bersandar pada perdamaian. Sebaliknya tak Tentang Asas Taman Siswa 1922 diambil dari Piagam dan Pera turan Besar Persatuan Taman Siswa. Keputusan Kongres XX Persatuan Taman Siswa Ta hun 2011. Penulisan Asas Taman Siswa masih mempergunakan ejaan yang berlaku pada tahun 1922, dan tidak d iu bah menjadi ejaan Bahasa Indo nesia ya ng terbaru, untuk mencerminkan kondis i kebatinan dan ko ndisi perkembangan Bahasa Indonesia pada saat asas ini dibuat.

Budaya ...

akan ada orang hidup damai, jika ia dirintangi dalam segala syarat kehidupannya. Bertumbuh menurut kodrat (natuurlijkegroei) itulah

perlu sekali untuk segala kemajuan (evolutie) dan harus
dimerdekakan beralaskan syarat "paksaan-hukuman-ketertiban" (regering-tucht en seluas-luasnya. Maka dari itu, pendidikan yang
order), memperkosa hidup kebatinan anak. Yang kita pakai sebagai alat pendidikan yaitu pemeliharaan dengan sebesar perhatian untuk inilah perkataan (opvedkunde) itulah kita anggap
mendapat tumbuhnya hidup anak, lahir, dan batin menurut

kodratnya sendiri. Itulah yang kita namakan "among-methode".

  1. Dalam sistem ini, maka pelajaran berarti mendidik anak-anak akan menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka pikirannnya, dan merdeka tenaganya. Guru jangan hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik saja, akan tetapi harus juga mendidik si murid mencari sendiri pengetahuan itu dan memakainya guna amal keperluan umum. Pengetahuan yang baik dan perlu yaitu yang manfaat untuk keperluan lahir dan batin dalam hidup bersama (social belong).
  2. Tentang zaman yang akan datang, maka rakyat kita ada di dalam kebingungan. Seringkali kita tertipu oleh keadaan, yang kita pandang perlu dan laras untuk hidup kita, padahal itu adalah keperluan bangsa asing, yang sukar didapatnya dengan alat penghidupan kita sendiri. Demikianlah, kita acapkali merusak sendiri kedamaian hidup kita. Lagi pula, kita juga sering mementingkan pengajaran yang hanya menuju terlepasnya pikiran (intelektualisme), padahal pengajaran itu membawa kita kepada gelombang penghidupan yang tidak merdeka (economishch afhankelijk) dan memisahkan orang-orang yang terpelajar dengan rakyatnya. Di dalam zaman kebingungan ini, seharusnyalah keadaban kita sendiri (cultuurhistorie) kita pakai sebagai penunjuk jalan untuk mencari penghidupan baru, yang selaras dengan kodrat kita dan akan memberi kedamaian dalam hidup kita. Dengan keadaban bangs·a kita sendiri, kita lalu pantas berhubungan bersama-sama dengan keadaban bangsa asing.

Budaya ... [11

  1. Oleh karena pengajaran yang hanya didapat oleh sebagian kecil dari rakyat kita itu tidak berfaedah untuk bangsa, maka haruslah golongan rakyat yang terbesar dapat pengajaran secukupnya. Kekuatan bangsa dan negara itu jumlahnya kekuatan orang- orangnya. Maka dari itu, lebih ba ik memajukan pengajaran untuk rakyat umum daripada meninggikan pengajaran, kalau usaha meninggikan ini seolah-olah mengurangi tersebarnya pengajaran.
  2. Untuk dapat berusaha menurut asas yang merdeka dan leluasa, maka kita harus bekerja menurut kekuatan sendiri. Walaupun, kita tidak menolak bantuan dari orang lain, akan tetapi kalau bantuan itu akan mengurangi kemerdekaan kita lahir atau batin haruslah ditolak. Itulah jalannya orang yang tak mau terikat atau terperintah pada kekuasaan, karena berkehendak mengusahakan kekuatan diri sendiri.
  3. Oleh karena itu, kita bersandar pada kekuatan kita sendiri, maka haruslah segala belanja dari usaha kita itu dipikul sendiri dengan pendapatan biasa. Inilah yang kita namakan "zelfbedruipings systeem " yang jadi alatnya semua usaha yang hendak hidup tetap dengan berdiri sendiri.
  4. Dengan tidak terikat lahir atau batin, serta dengan suci hati, berniatlah kita berdekatan dengan Sang Anak. Kita tidak meminta sesuatu hak, akan tetapi menyerahkan diri akan berhamba kepada Sang Anak. Asas Taman Siswa ini pada kongres Persatuan Taman Siswa tahun 1947, lebih dipertegas oleh Ki Hadjar Dewantara dengan lima dasar dan ciri khas yang disebut Pancadarma, yaitu Kodrat Alam, Kemerdekaan, Kebudayaan, Kebangsaan, dan Kemanusiaan. Adapun penjabaran dari Pancadarma adalah sebagai berikut:
  5. Kodrat alam, sebagai perwujudan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa mengandung arti bahwa pada hakikatnya manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa adalah satu dengan alam semesta ini. Karena itu, manusia tidak dapat lepas dari kehendak hukum kodrat alam. Bahkan, manusia akan mengalami kebahagiaan jika ia

Pendidikan Budaya ...

menyelaraskan diri dengan kodrat alam yang mengandung segala hukum kemajuan.

  1. Kemerdekaan, mengandung arti bahwa kemerdekaan sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan kepadanya hak untuk mengatur hidupnya sendiri (zelfbeschikkingsrecht) dengan selalu mengingat syarat tertib damainya hidup bermasyarakat. Karena itu, kemerdekaan diri harus diartikan sebagai swadisiplin atas dasar nilai hidup yang luhur, baik hidup sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Kemerdekaan harus menjadi dasar untuk mengembangkan pribadi yang kuat dan sadar dalam suasana keseimbangan dan keselarasan dengan kehidupan bermasyarakat.
  2. Kebudayaan, mengandung arti keharusan untuk memelihara nilai dan bentuk kebudayaan nasional. Dalam memelihara kebudayaan nasional itu yang pertama dan terutama ialah membawa kebudayaan nasional ke arah kemajuan yang sesuai dengan perkembangan masyarakat dan kemajuan dunia, untuk kepentingan hidup rakyat lahir dan batin sesuai dengan perkembangan masyarakat dan kemajuan dunia, untuk kepentingan hidup rakyat lahir dan batin sesuai dengan perkembangan alam dan zamannya.
  3. Kebangsaan mengandung arti adanya rasa satu bangsa dalam suka dan duka, serta kehendak untuk mencapai kebahagiaan hidup lahir dan batin seluruh bangsa. Dasar kebangsaan tidak boleh bertentangan dengan dasar kemanusiaan, bahkan harus menjadi sifat bentuk, dan laku kemanusiaan yang nyata, dan arena itu tidak mengandung rasa permusuhan terhadap bangsa-bangsa lain.
  4. Kemanusiaan mengandung arti bahwa kemanusiaan itu ialah darma tiap manusia yang timbul dari keluhuran akal budinya. Keluhuran akal budi menimbulkan rasa dan laku cinta kasih terhadap sesama manusia dan terhadap Tuhan Yang Maha Esa seluruhnya, yang bersifat keyakinan akan adanya hukum kemajuan yang meliputi alam semesta. Karena itu, rasa dan laku cinta kasih harus tampak pula sebagai tekad untuk berjuang melawan segala sesuatu yang merintangi kemajuan yang selaras dengan kehendak alam (Piagam dan Peraturan Besar Persatuan Taman Siswa, 2011: xx).

Budaya ... [13

Menurut Peraturan Dasar Piagam dan Peraturan Besar Persatuan Taman Siswa, Perguruan Taman Siswa memiliki konsepsi dasar sebagai berikut:

(1) Kebudayaan
a. Arti dan Pertumbuhan Kebudayaan
1. Kebudayaan adalah buah budi manusia yang mengandung sifat-sifat luhur dan indah, sebagai hasil perjuangan hidup manusia terhadap kekuatan alam dan zaman yang berlangsung terus-menerus sepanjang hidup manusia, demi memberikan kemajuan hidup dan penghidupan kepada manusia untuk mewujudkan hidup tertib damai, salam, dan bahagia.
2. Sebagai hasil perjuangan, kebudayaan tidak saja mengandung sifat-sifat keluhuran dan kehalusan, namun mengandung sifat-s ifat kemajuan dan berfaedah dalam arti meringankan hidup manusia.
3. Kemajuan kebudayaan dikembangkan sesuai dengan teori Trikon, yaitu kontinyu, secara terus menerus dan berkesinambungan mengembangkan kebudayaan asli; konvergen, secara selektif dan adaptif memadukan kebudayaan kita dengan kebudayaan asing yang dipandang perlu untuk kemajuan bangsa; dan konsentris, menuju ke arah kesatuan kebudayaan dunia dengan tetap terus mempunyai sifat kepribadian di dalam lingkungan kemanusiaan sedunia.
b. Kebudayaan Nasional
1. Kebudayaan Nasional Indonesia adalah kebudayaan yang berdasarkan kepribadian Bangsa Indonesia, sebagai buah manusia Indonesia dan merupakan hasil perjuangan hidup yang berlangsung terus-menerus yang memberi kemajuan dalam mewujudkan hidup tertib-damai, sa lam, dan bahagia.

Pancasila, sebagai kepribadian bangsa Indonesia, serta dapat memperkaya dan mengembangkan kebudayaan nasional bangsa Indonesia.

(2) Kebangsaan
a. Rasa Kebangsaan
1. Rasa kebangsaan mengandung arti adanya rasa satu dalam suka duka, serta dalam kehendak untuk mencapai kebahagiaan hidup lahir batin dalam ikatan kebersamaan sebagai sebuah bangsa.
2. Rasa kebangsaan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam mempersatukan bangsa dan merupakan titik temu antara beragam kepentingan bangsa Indonesia yang multietnis serta mempunyai keanekaragaman agama dan Jatar belakang kebudayaan.
b. Paham Kebangsaan
1. Paham kebangsaan Indonesia merupakan pengakuan terhadap kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa dan sifat kodrati manusia, serta nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia.
2. Paham kebangsaan Indonesia yang berdasarkan kemanusiaan mencerminkan kehendak bangsa Indonesia untuk hidup berdampingan serta damai dengan bangsa lain dalam kedudukan sederajat, serta dalam suasana saling menghormati dan menghargai.
3. Paham kebangsaan Indonesia adalah paham kebangsaan yang luas dan terbuka, bersifat religius, humanistik, dan

Budaya ... [15

kultural, serta menghargai perbedaan -perbedaan dengan tetap lebih mementingkan persatuan dan kesatuan.

c. Wawasan Kebangsaan Wawasan kebangsaan Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika.
(3) Pendidikan
a. Pendidikan adalah usaha kebudayaan yang bermaksud memberikan bimbingan dalam hidup dan tumbuh kembang- nya jiwa raga anak didik, agar dalam menjalani garis kodrat pribadinya serta dalam menghadapi pengaruh lingkungannya mendapat kemajuan hidup lahir batin.
b. Sebagai usaha kebudayaan dan kemasyarakatan, maka tiap pelaksanaan pendidikan wajib memelihara dan mengembangkan garis hidup yang terdapat dalam tiap aliran kerohanian dan kemasyarakatan untuk mendapatkan kehalusan hidup dan penghidupan menuju ke arah adab kemanusiaan.
c. Pendidikan Nasional ia lah pendidikan yang berdasarkan garis hidup bangsa yang ditujukan untuk keperluan perikehidupan yang dapat mengangkat derajat manusia, bangsa, dan negara.
d. Pendidikan di Taman Siswa menggunakan sistem Tripusat Pendidikan (Lingkungan keluarga, perguruan dan masyarakat), metode Among, dan pendekatan teori Dasar dan Ajar.
(4) Sistem Kemasyarakatan
a. Sistem kemasyarakatan dikembangkan berdasarkan nilai kekeluargaan untuk mendorong terwujudnya nilai demokrasi dan kemanusiaan, serta tumbuhnya kesadaran akan hak dan kewajiban asasi.
b. Pengembangan hak asasi manusia hendaknya seimbang dengan pengembangan kewajiban asasi agar terwujud keserasian, keselarasan, dan kese imbangan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan be rnegara.

Pendidikan Budaya ...

(5) Sistem Ekonomi Kerakyatan
a. Ekonomi kerakyatan adalah sistem perekonomian yang disusun sebagai usaha bersama dengan dijiwai oleh asas kekeluargaan.
b. Sumber daya yang potensial dikelola atas dasar kemandirian untuk digunakan bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat.
c. Distribusi hasil produksi mengutamakan pemerataan sebagai pendorong terwujudnya masyarakat yang berkeadilan sosial.
d. Koperasi sebagai salah satu pilar ekonomi yang berasaskan kekeluargaan dikembangkan dan ditingkatkan peranannya dalam pembangunan nasional. Untuk mencapai cita-cita seperti yang dijabarkan di atas,
Persatuan Taman Siswa mempunyai visi dan misi. Visi Persatuan Taman Siswa adalah sebagai badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat yang menggunakan pendidikan dalam arti luas sebagai sarana dalam upaya membangun masyarakat tertib damai, salam, dan bahagia. Adapun Misi Persatuan Taman Siswa adalah melestarikan dan mengembangkan Kebudayaan Nasional Indonesia; mewujudkan masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila; dan mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mempertajam daya cipta, rasa, karsa, menuju pembangunan manusia merdeka lahir dan batin, berbudi pekerti luhur, serta tinggi harkat dan martabat kemanusiaannya.

Menurut sistem Among, setiap pamong sebagai pemimpin dalam proses pendidikan melaksanakan: Tutwuri Handayani, lng Madya Mangun Karsa, lng Ngarsa Sung Tuladha, yang artinya di belakang memberi dorongan, di tengah memberi motivasi, dan di depan memberi contoh. Implementasi pengajarannya ialah membiarkan anak sesuai kodratnya, anak dibiarkan berkembang sesuai dengan kodrat iradatnya, misalnya anak mencoret-coret tembok jangan dimarahi dengan keras dan langsung, namun diberi pengarahan yang baik. Contoh konkret tentang sistem Among disampaikan oleh Ki Priyo Dwiarso, mantan siswa Ki Hadjar Dewantara yang pernah merasakan langsung dimomong Ki Hadjar, berikut ini:

oleh Ki Hadjar adalah su atu konsep yang jarang diungkap, yaitu ya ng namanya Kinderspellen. Jadi, secara kodrati sernua makhluk hidup ya ng rna si h keci l itu pasti senang berm ain. Dalam bermai n itu kemudian timbul embrio jiwa merdeka. Aplikasi dalam pelajaran di sekolah saya pernah rn engalarni bagairnana Ki Hadjar mel ihat di kela s-kelas kernu dian anak-anak disuru h keluar antara lain saya juga. Kemu dian di pasi r mernbuat peta Indonesia. Dengan berrnain pasir dan rnernbuat peta Indonesia, j iwa kebangsaannya ditampilkan di sana. Kalau di Maluku ada Pattimura, di Surnatera sa na ada Imam Bonjol, di Jawa ada Diponegoro. Itu sernua ditarnpilkan dengan perrn ainan di pasir itu, j adi ini memang pendidikan jiwa kebangsaa n itu bisa denga n berbagai macam. Dengan sistem Among yan g tadi dikonsepkan dengan Kinderspellen tadi. Jad i, sambil bermain kita menanamkan jiwa kebangsaan da n pengertian mengenai geografi, ilmu bumi. Saya sampai sekarang masih hafal Su lawesi itu seperti huruf K, hampir persis seperti Pulau Hal mahera dan lain-lainnya. Bahwa kalau Irian itu seperti kepala burung, bahwa kalau Kal imantan itu seperti gambar semar. Itu semua tercatat dalam benak saya karena saya belajar sambil bermain 6

C. PENDIDIKAN BUDAY A DI SD TAMAN SISWA

  1. Pendidikan Budaya di Pelajaran Muatan Lokal
    a. Bahasa Jawa Bahasa Jawa menjadi pelajaran muatan lokal wajib bag i sekolah dasar (SD) di seluruh Kota Yogyakarta, tidak terkecuali SD Taman Siswa. Pelajaran Bahasa Jawa sebaga i muatan lokal di seluruh SD di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan implementasi dari Peraturan Gubernur Provinsi Daerah lstimewa Yogyakarta No. 5 Tahun 2011 tentang Pengelolaan dan Penyel enggaraan Pendidikan Berbasis Budaya Pernyataa n Ki Priyo Dwiarso dalam Pro{il Taman Muda /bu Pawiyatan Tam an Siswa, versi DVD. Diproduksi oleh Komite Sekolah SD Taman Siswa Ibu Pawiyatan
Siswa, versi DVD. Diproduksi oleh SD Taman Siswa Ibu Pawiyatan
Yogyakarta tahun 2008.

Pendidikan Budaya ...

dari SD hingga SMA. Peraturan Gubernur tersebut terinspirasi dari ajaran Ki Hadjar Dewantara, tentang pentingnya pendidikan karakter bagi anak didik. 7

Di SD Taman Siswa, pelajaran Bahasa Jawa diberikan satu kali pertemuan dalam satu minggu, dari kelas 1 sampai kelas 6. Pelajaran Bahasa Jawa yang diajarkan adalah Aksara Jawa dan Bahasa Jawa. Aksara Jawa biasa disebut dengan Aksara Hanacaraka, merujuk pada baris pertama dari empat baris Aksara Jawa, yang selengkapnya berbunyi:

Ha na ca ra ka, artinya ada utusan Da ta sa wa Ia, artinya saling bertikai Pa daja ya nya, artinya sama-sama kuat f\1a ga ba tha nga, artinya sama-sama menjadi mayat/ bangkai/mati

Aksara Jawa ini diambil dari Kisah Prabu Ajisaka yang memiliki dua abdi yang setia, yakni Dora dan Sembada. Alkisah pada suatu ketika Prabu Ajisaka melakukan perjalanan dengan Dora, namun ada pusaka yang tertinggal yang dijaga oleh Sembada. Prabu Ajisaka mengutus Dora untuk mengambil pusaka tersebut, namun Sembada tidak mengizinkan apabila bukan Prabu Ajisaka sendiri yang mengambilnya sesuai pesan sang prabu, karena Sembada sangat menjaga amanat yang diberikan oleh Prabu Ajisaka. Di pihak Dora, dia juga berkukuh untuk membawa pusaka tersebut, karena menjaga amanat untuk mengambilnya. Karena sama-sama menjaga amanat dan setia terhadap tugasnya masing-masing, akhirnya mereka bertarung.

Ujung dari pertempuran yang dahsyat tersebut adalah mereka sama-sama mati (sampyuh) dan menjadi mayat (Jawa : bathang). Prabu Ajisaka sangat menyesal atas kejadian tersebut dan mengabadikan peristiwa itu menjadi Aksara Jawa. Di dalam Aksara Jawa dan kisah Prabu Ajisaka yang melatarbelakanginya, banyak terdapat nilai-nilai budaya pembentuk karakter, sehingga di SD Taman Siswa, kisah tersebut seringkali dipentaskan dalam bentuk drama Jawa atau Iangen

Wawancara dengan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta, Bapak Baskara Aji, pada tanggall8 Desember 2013.

Melalui pementasan tersebut, anak didik diingatkan untuk selalu mencintai aksaranya, nilai budaya kesetiaan, menjunjung tinggi amanat, dan mencintai tugas, seperti kisah dalam lakon Prabu Ajisaka tersebut.

Dalam bahasa Jawa dikenal dengan tiga istilah untuk menggambarkan tingkatan, yaitu bahasa Kromo lnggi/, Kromo Modyo, dan Bahasa Ngoko. Dalam hirarki, bahasa ini menyiratkan tata krama dalam hubungan antara individu dengan orang yang lebih tua. Melalui bahasa ini, anak diajarkan mengetahui kedudukan mereka, biso rumongso, ojo rumongso biso, tahu menempatkan diri. Di SD Taman Siswa penggunaan kata dalam Bahasa Jawa sangat diperhatikan. Hal itu penting, supaya anak didik tidak keliru menggunakan kata-kata dalam Bahasa Jawa, misalnya untuk menyebut dirinya bukan dengan kata "do/em" melainkan kata "kula ". Contoh lain, bisa disebutkan di sini untuk menyatakan dirinya mau mandi, bukan dengan kata "sirom ", tetapi memakai kata "odus". Sering dijumpai anak didik yang inginnya berbahasa halus, namun malah salah.

Unsur Bahasa Jawa yang juga diajarkan kepada anak didik adalah peribahasa Jawa. Melalui peribahasa Jawa, anak didik diajar berbagai nilai-nilai budaya pembentuk karakter, misalnya peribahasa jer bosuki mowo beo, mengajarkan kepada anak untuk selalu berusaha membiayai apa yang menjadi cita-citanya, untuk menjadi berhasil dibutuhkan biaya, walaupun biaya disini tidak selalu harus uang, namun bisa berwujud tenaga, pikiran dan sebagainya. Peribahasa becik ketitik ala ketora, mempunyai makna bahwa perbuatan baik akan terlihat, demikian juga perbuatan yang tidak baik juga akan nampak.

Salah satu proses belajar seorang anak untuk mengenal budayanya adalah proses internalisasi (internalization). Proses internalisasi merupakan salah satu proses terpenting dalam pembelajaran budaya seorang anak. Dengan proses internalisasi, seorang anak dapat mengenal bagaimana mereka harus bersikap dan berperilaku menurut norma- norma yang berlaku di masyarakat, juga diajarkan bagaimana seorang anak harus bertutur kata dengan sopan dan menggunakan bahasa daerah yang baik dan benar. Melalui

pelajaran Bahasa Jawa ini, anak dididik sejak dini untuk berlaku sopan, dan hal itu diharapkan nantinya dapat menjadi karakter yang melekat pada setiap tingkah laku mereka.

b. Tembang Tembang adalah lirik atau sajak yang mempunyai irama nada, atau biasa disebut sebagai lagu Jawa. Tembang Jawa terdiri dari Macapat, Tembang Tengahan, dan Tembang Gede. Macapat terdiri dari Dandanggula, Asmaradana, Durma, Gambuh, Kinanthi, Maskumambang, Megatruh, Mijil, Pangkur, Pucung, Sinom. Tembang Tengahan terdiri dari Balabak, Girisa, Jurudemung, Wirangrong. Sedangkan Tembang · Gede, terdiri dari Citramengeng, Kusumastuti, Mintajiwa, Pamularsih.
8

SO Taman Siswa pernah mempunyai maestro tembang Jawa, Almarhum Ki Hadi Sukatno. Ki Hadi Sukatno adalah pencipta tembang Jawa yang sangat produktif pada masanya. Di samping mencipta tembang, Ki Hadi Sukatno juga mengajar anak untuk menari dan dolanan anak, di mana kesenian tersebut sampai sekarang menjadi brand image SD Taman Siswa.

Tembang Jawa sarat dengan berbagai ajaran-ajaran mulia dan nasihat-nasihat kehidupan yang berguna bagi yang melantunkan dan yang menghayati setiap syair yang ada di dalamnya. Di dalam untaian kata-kata tembang Jawa terkandung kekaguman dan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, penghormatan kepada sesama manusia, pengagungan hasil karya, hubungan antarmanusia. Selain itu, dalam tembang Jawa juga terkandung kekaguman kepada alam ciptaan Tuhan dan kehendak manusia untuk selalu menyelaraskan hidupnya terhadap alam semesta.

2. Pendidikan Budaya di Ekstrakurikuler

Pendidikan budaya di ekstrakurikuler dilaksanakan lebih berdasarkan kebutuhan sekolah, dalam arti jenis pendidikan budaya

Tembang Jawa, dalam http://hanacaraka.fateback.com/ tembang.htm, diunduh tanggal 24 Januari 2013, jam 09.15.

Budaya ... [21

yang diajarkan di ekstrakurikuler menyesuaikan dengan berbagai acara yang harus diikuti oleh sekolah, misalnya ada perlombaan, festival, menyambut tamu, mengisi acara-acara resmi pemerintah, dan sebagainya. Adapun, pendidikan budaya yang diajarkan adalah sebagai berikut:

a. Karawitan Karawitan adalah keterampilan memainkan alat musik pentatonik atau tradisional (gamelan). Pelaku kerawitan disebut sebagai pengrawit atau penabuh, sedangkan alat -alat (gamelan) yang dimainkan antara lain saran, bonang, demung, gender, kendang, gambang, dan gong. Karawitan biasanya dipakai untuk mengiringi tembang Jawa. Karawitan di SD Taman Siswa dilaksanakan di Pendapa Agung Taman Siswa. Latihan dilakukan secara berkala, khususnya ketika akan mengadakan kegiatan tertentu, misalnya Iomba, festival, dan acara lainnya. Menurut salah satu informan, karawitan merupakan salah satu cara untuk menanamkan kepekaan rasa (rosa). Melalui karawitan, anak didik dilatih untuk merasakan setiap nada atau gesekan dan dilatih peka terhadap bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh alat -alat yang dipukul, baik yang sedang dimainkan sendiri, maupun bunyi yang diakibatkan oleh permainan siswa lain. Karawitan juga dapat dipakai untuk latihan mengolah rasa dalam hal tenggang rasa dalam satu kelompok karawitan. Tidak mungkin satu bunyi alat suara ingin mendominasi bunyi alat suara yang lain. Itu semua menimbulkan harmonisasi yang indah, bagaikan harmonisasi indah dalam kehidupan anak -anak didik Taman Siswa, baik di keluarga, sekolah, atau di masyarakat.
b. Dolanan Anak Dolanan anak adalah kegiatan melantunkan tembang sambil melakukan wirama (irama), wiroso (ekspresi), dan wirogo (gerak). Sesuai namanya, dolanan anak bera sal dari kata dolan yang berarti main atau bermain, sehingga dolanan an ak berisi anak-anak yang sedang bermain sambil bernyanyi (nembang) da n menari. Dolanan anak penuh dengan

nilai-nilai budaya pembentuk karakter. Melalui dolanan anak, anak didik diajar berbagai nasihat baik dengan tanpa disadari secara langsung oleh anak yang bermain. Dolanan anak mengajarkan anak didik untuk mengetahui peran mereka dalam kehidupan di pergaulan yang nantinya mereka bawa dalam pergaulan di masyarakat, dan mengajarkan anak didik untuk mencintai Tuhan, sesama mereka dan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Dalam dolanan anak yang bercerita tentang orang baik dan jahat, juga mengajarkan anak didik tentang nasihat bahwa semua manusia dikasihi Tuhan, baikjahat maupun baik. 9

Dolanan anak tidak bisa dilepaskan dari tembang Jawa, sehingga namanya sering disebut sebagai tembang dolanan anak. Tembang Jawa yang sering dipakai sebagai pengiring dolanan anak antara lain, Cublak-cublak Suweng, Gundul-gundul Pacul, Cah Dolan, Bang-bang Wis Rahino, Dhuh Gusti, Pitik Walik Jambul, Padang Bulan, Ancak-ancak Alis, Lepetan, Bocah Nakai, Kembang Melati, Jaranan, Gumregah, dan sebagainya. Kegiatan dolanan anak memberikan keceriaan kepada anak-anak yang memainkannya. Sambi! bermain, anak-anak merasakan dan menghayati pentingnya kebersamaan, kerjasama, kompetisi, dan sebagainya. Penanaman nilai-nilai pembentuk karakter melalui kegiatan dolanan anak tersebut, dapat lebih efektif menjangkau perasaan terdalam dari anak-anak, mengingat mereka secara tidak sengaja (di bawah sadar) dimasuki pelajaran-pelajaran tentang kehidupan dengan cara bermain.

Selain diajarkan tembang, murid-murid Taman Muda Ibu Pawiyatan (SD Taman Siswa) juga dilatih menguasai perangkat gamelan yang disebut seni karawitan. Selaras dengan tembang, gamelan sebagai iringannya, dipadukan dalam dengan gerak dalam bentuk dolanan anak. Menurut Ki Mudjijono (aim), melihat karya-karya Ki Hadjar Dewantara dan Ki Hadi Sukatno, tembang-tembang dolanan anak itu, jelas kata-kata dan bahasanya dipilih yang bermakna baik dan berisi

Wawancara dengan Listyo H. Krisnarjo, pada tanggal 17 Desember 2013. Listyo adalah tokoh muda Taman Siswa yang merupakan alumni SD Taman Siswa. Sekarang menjadi Sekretaris Taman Kesenian Taman Siswa.

... [23

(ajaran baik), sehingga nanti anak-anak yang melakukan dapat selalu mengingat tembang-tembang tersebut, yang berisi ajaran tentang sopan santun dan budi pekerti. Siapa saja yang melaksanakan dan menembangkan, bisa merubah sikap dan mental dari mereka yang menyenangi tadi. Jadi, tembang-tembang tersebut memang dapat memberikan isian pada siapa saja yang menembangkan. Hati dan pikiran mereka akan tertuju pada temba ng tersebut, sehingga dapat 1 0 berpengaruh pada perilaku

Menurut Nyi Corijati, sebetulnya dolanan anak itu ada bermacam-macam. Ada yang untuk melatih keterampilan, misalnya seperti egrang, dakon, gangsin g, dan lain sebagainya. Ada dolanan anak yang diiringi tembang, gamelan, dan sebagainya. Kita bisa membentuk watak agar berbudi luhu r, bisa berprestasi, berdisiplin, sabar, dan lain-lain. Dengan tem bang misalnya, kita dapat membawa anak agar bertaqwa kepada Tu han Yang Maha Esa :

Ouh Gusti Kong Moho Agung Kong Nitohken bumi longit Mung Tuhon kong Moho Ku oso Mung Tuhon kong Moho Suci Ko wulo tur semboh sujud Anyuwun lumunturing sih Mugi poring kekiyotan Bogos woros /ohir botin

Melalui tembang dolanan ana k, anak -anak diajak untuk mengetahui bahwa Tuhan ada lah pencipta bumi dengan segala isinya, dan manusia harus bertakwa kepada Tuha n Yang Maha Esa. Manusia harus selalu bersujud kepada Tuhan dan memohon kekuatan dan kesehatan hanya kepada Tuhan. Melalui tembang ini, ana k didik diajarkan untuk se lalu mengucap syu ku r kepada Tuh an, ka re na hanya Dialah sumber dari segala berkah yang diterima oleh man usia.

Nyi Corijati (Ketua Tama n Kesenian Taman

Pe rnyataan Siswa dan pamong
dolanan Diproduksi oleh Komite Sekolah SD Ta ma n Siswa Ibu Pawiyatan tahun 20 08. anak) dalam Profit Taman Siswa, versi

Muda lbu Pawiyatan Taman DVD

Pendidikan Budaya ...

Ada contoh lain yang memberikan dorongan perubahan pada perilaku anak, misalnya tembang agar anak tidak takut sekolah:

Aduh simbah kula pun mlebet sekolah Kanca kula sampun kathah Aduh-aduh simbah kula sampun mboten wegah Saben enjing mangkat sekolah

Dari tembang-tembang tersebut, kata-katanya sudah jelas agar kita atau anak-anak kita cinta terhadap seni dan budaya kita. Kalau sudah dilandasi dengan itu, anak-anak tidak terpengaruh dari budaya-budaya asing.n

Seperti yang diungkapkan oleh Nyi Corijati, penguasaan keterampilan tembang karawitan dan dolanan anak mempengaruhi langsung terhadap pembentukan karakter anak. Hal itu, jelas membuktikan bahwa betapa ampuhnya metode pendidikan ini dengan bekerja secara halus dan menyenangkan bagi anak. Hal ini juga telah dibuktikan dengan banyaknya alumni lulusan Taman Siswa yang menjadi bagian dari masyarakat, dalam tingkatan apapun menampakkan jiwa percaya diri dan kepemimpinannya. Ciri khas metode dalam atmosfer seni daerah Jawa melalui tembang, karawitan, dan dolanan anak, harus diakui sebagai metode lokal yang tidak ditemukan di negara lain. Hal itu, juga yang menyebabkan rasa kebangsaan tertanam kuat dalam jiwa anak-anak dan alumni Taman Siswa. 12

c. Geguritan Geguritan adalah puisi dalam Bahasa Jawa, yang berasal dari akar kata gurit yang berarti coretan. Coretan disini dimaknai dengan kata-kata berbahasa Jawa yang memiliki arti, khususnya apabila dirangkai dengan kata yang lain membentuk kalimat cerita. Sama dengan puisi dalam Bahasa Indonesia, biasanya terdiri dari empat baris "Pernyataan Nyi Corijati dalam Profit Taman Muda lbu Pawiyatan Taman Siswa, versi DVD. Diproduksi oleh Komite Sekolah SD Taman Siswa lbu Pawiyatan tahun 2008. Profil Taman Muda /bu Pawiyatan Taman Siswa, versi DVD. Diproduksi oleh Komite Sekolah SD Taman Siswa Ibu Pawiyatan tahun 2008.

Budaya ... [25

yang kata terakhir di setiap barisnya memiliki bunyi yang sama antara baris pertama dengan baris ketiga, dan baris kedua dengan baris keempat. Dalam perkembangannya, geguritan menjadi semacam puisi bebas yang tidak terlalu kaku dengan berbagai aturan sajaknya dan jumlah barisnya. Geguritan merupakan ungkapan kalimat yang berisi pelukisan pengaguman terhadap keindahan alam, orang yang dicintai, orang yang dihormati, pahlawan, dan sebagainya.

d. Langen Carita Langen carita adalah sandiwara dengan memakai Bahasa Jawa. Seringkali di sela-sela dialog, pemain menyanyikan sebuah tembang Jawa, untuk menggantikan kata -kata yang harus dia sampaikan. Dalam Iangen carita, ada cerita yang harus dimainkan, sehingga lebih rumit penggarapannya daripada dolanan anak. Berbagai cerita dapat dimainkan dalam Iangen carita, namun kebanyakan menyangkut sejarah di Jawa, legenda, cerita -cerita rakyat. Lakon yang biasa dimainkan dalam Iangen carita misalnya kisah Prabu Aji Saka, cerita Timun Mas, cerita Kanci l dan Buaya, dan sebagainya.
e. Panembromo Panembromo adalah tembang atau paduan suara nyanyian Jawa atau juga bisa disebut nembang bersama yang bisa diiringi dengan musik Jawa (gamelan) ataupun tidak diiringi musik.
3. Pendidikan Budaya di Pelajaran Olah Raga
a. Permainan Egrang Permainan egrang dilaksanakan oleh anak -ana k SD Taman Siswa dalam kegiatan pelajaran olah raga, maupun ketika waktu senggang setelah pulang sekolah. Dalam kesempatan tertentu, egrang ini juga dilombakan antarkelas. Perma ianan egrang adalah permainan yang menggunakan alat berupa bambu yang diberi tempat untuk kaki tingginya kira -kira sebatas perut anak -anak. Dalam permainan ini, unsur yang menonjol adalah keterampilan, keseimbangan, dan juga kekuatan

Pendidikan Budaya ...

fisik. Melalui permainan egrang ini, anak-anak secara tidak sengaja melatih tangan maupun kaki, memperkuat otot-otot di sekitar kedua organ tersebut.

Permainan Egrang juga dapat bersifat kompetitif, yaitu anak-anak sejumlah 3 sampai 5 orang diberi kesempatan untuk bertanding. Anak-anak yang siap untuk bertanding, dipersiapkan dalam satu garis awal. Setelah anak-anak siap, wasit akan memberikan aba-aba untuk memulai pertandingannya. Dengan sekuat tenaga dan keterampilan yang mereka miliki, anak-anak bertanding untuk naik ke pijakan bambu dan berjalan sampai ke garis akhir. Pemenang Iomba egrang ditentukan oleh peserta yang pertama kali menyentuh garis akhir.

b. Permainan Gobak Sodor Pemainan Gobak Sodor konon berasal dari peninggalan Belanda. Berasal dari kata go back to the door, permainan ini adalah bagaimana seseorang mampu menerobos pintu yang dijaga penjaga. Permainan gobak sodor dimainkan oleh dua tim yang terdiri dari 3 orang anak. Permainan dimulai dengan menentukan tim mana yang harus berjaga dan tim mana yang harus berperan sebagai penerobos penjaga. Ketika wasit memberikan aba -aba, maka tim penerobos harus dapat menerobos penjagaan dari tim penjaga. Apabila tim penerobos berhasil terus menerobos sampai ujung lapangan dan sudah tidak ada lagi penjaga yang menghadangnya, maka tim penerobos harus kembali ke posisi awal ketika permainan dimulai. Kalau semua anggota tim penerobos sudah kembali ke posisi awal, berarti tim penerobos yang menang, sebaliknya kalau tim penjaga berhasil menahan atau menangkap semua anggota tim penerobos, maka tim penjaga yang menang. Permainan ini dilakukan dalam beberapa babak dan pemenangnya ditentukan oleh tim yang berhasil menang dalam babak-babak yang sudah dilakukan. Nilai -nilai budaya pembentuk karakter yang terdapat dalam permainan ini antara lain kebersamaan dalam satu tim, kerja keras, tidak mudah putus asa, dan sportif. Dikatakan memberikan pendidikan

Pendidikan Budaya... [27

karakter kerja keras dan tidak mudah putus asa, karena untuk mencapai tujuan dan kembali ke tempat semula, mereka harus mengalahkan para penjaga yang ada. Nilai sportivitas ditunjukkan oleh anak-anak yang bermain, dengan cara mereka mengaku salah dan kalah apabila kakinya telah menginjak garis yang ditentukan, walaupun lawannya tidak terlalu memperhatikan.

c. Permainan Kasti

Permainan kasti mirip dengan permainan softball yang sering dimainkan oleh masyarakat Amerika. Peralatan yang dipergunakan adalah bola dan alat pemukul. Permainan ini dilakukan oleh dua tim, dimana satu tim memainkan permainan dengan cara memukul bola kasti yang diumpankan oleh rekan mereka. Setelah memukul, pemain tersebut segera lari sejauh-jauhnya di tempat yang sudah ditentukan. Permainan berganti ketika, pihak lawan berhasil menangkap bola dan melemparkan bola tersebut ke arah lawan yang sedang berlari. Apabila bola tersebut mengenai lawan yang sedang berlari, maka tim lawan yang melakukan pemukulan bola, demikian seterusnya sembari mengumpulkan angka. Tim dapat memperoleh angka tinggi, apabila ada pemainnya yang memukul bola dengan keras sampai jauh, sehingga memberikan kesempatan kepada teman-temannya untuk berlari ke tempat yang telah ditentukan, kemudian kembali ke tempat dimana pemain melakukan pemukulan bola. Permainan ini biasanya dilakukan oleh dua tim yang masing-masing beranggotakan 5 hingga 8 orang pemain. Permainan ini merupakan salah satu bentuk rekreasi dari anak didik sekaligus berfungsi untuk melatih seluruh otot tubuh, mulai dari kaki, tangan, dan sebagainya. Dengan berlari, anak-anak dilatih jantung dan paru-parunya walaupun secara tidak sadar, karena mereka bukan merasa sedang berolahraga, namun hanya merasakan kesenangan bermain. Selain melatih tubuh anak didik, permainan kasti ini juga melatih kebersamaan diantara satu tim serta mengembangkan jiwa sportivitas yang tinggi, karena kedua pihak selalu mengaku apabila

Pendidikan Budaya ...

memang mereka terkena lemparan bola, walaupun tidak terkena secara telak.

C. PENUTUP 1. Simpulan

Hasil penelitian menunjukkan, bahwa sampai saat ini SD Taman Siswa masih menganut sistem pengajaran yang disebut dengan sistem Among, di mana dalam sistem ini ditekankan adanya hubungan yang tidak terlalu formal antara guru dan murid. Dalam sistem ini, memberi pelajaran berarti mendidik anak-anak menjadi manusia yang merdeka batin, pikiran, dan juga merdeka tenaganya. Guru tidak hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik saja, namun harus mendidik si murid mencari pengetahuan sendiri dan menggunakannya untuk kepentingan umum. Pengetahuan yang baik dan perlu adalah yang bermanfaat bagi keperluan lahir dan batin dalam hidup bersama (social belong).

Pendidikan budaya di SD Taman Siswa masih berlangsung dengan baik, khususnya pada kurikulum muatan lokal yang terdapat pelajaran Bahasa Jawa dan Tembang. Untuk ekstrakurikulernya, juga diajarkan Karawitan, Tari, Panembromo, Dolanan Anak, Macapat, Geguritan, Langen Carita. Dalam pelajaran olahraga, diajarkan olahraga tradisional, yaitu; kasti, gobak sodor, dan egrang. Semua pendidikan budaya tersebut, diajarkan dalam bentuk permainan, sehingga mendidik anak menjadi kreatif dan mengajarkan berbagai pendidikan karakter tanpa si anak menyadari. Dalam pendidikan budaya melalui berbagai aktivitas seperti yang disebutkan diatas, anak-anak diajar untuk dapat menghormati orang tua, menghargai sesamanya, menghargai prestasi, dapat bekerjasama dengan baik, rela berkorban, suka menolong, dan lain sebagainya.

Karakter bangsa di kalangan generasi muda khususnya anak didik perlu terus diperkuat sehingga dapat melahirkan generasi muda yang handal. Hal itu penting agar bangsa kita dapat sejajar dengan bangsa-bangsa asing dalam pergaulan internasional, namun tidak larut dalam arus globalisasi. Menurut Jelun (2008), Bangsa Indonesia

Budaya ... [29

membutuhkan lima karakter untuk dapat menampilkan jati dirinya dan bersaing dengan bangsa lain. Pertama, karakter bangsa yang bermoral (religius). Bangsa ini harus sarat dengan nilai -nilai moral dan etika keagamaan sebagai sebuah pandangan dan praktik. Kedua, karakter bangsa yang beradab. Beradab dalam arti luas, menjadi suatu bangsa yang memiliki karakter berbudaya dan berprikemanusiaan. Ketiga, karakter bangsa yang bersatu. Di dalamnya termasuk menegakkan toleransi, tidak mungkin kita bersatu tanpa adanya toleransi, keharmonisan, dan persaudaraan.

Keempat, karakter bangsa yang berdaya. Dalam arti luas, berdaya berarti menjadi bangsa yang berpengetahuan (knowledgeble), terampil (skillfuiQ, berdaya saing (competitive) secara mental, pemikiran maupun teknis. Daya saing bukan hanya sekedar dalam arti materi dan mekanik, melainkan dalam makna secara mental, hati, dan pikiran. Kelima, karakter bangsa yang berpartisipasi. Partisipasi amat diperlukan untuk menghapus sikap masa bodoh, mau enaknya saja, dan tidak pernah peduli dengan nasib bangsa. Karakter partisipasi ditandai dengan penuh peduli, rasa da n sikap tanggung jawab yang tinggi, serta komitmen yang tumbuh menjadi ka rakter dan watak bangsa Indonesia. Dalam pembentukan karakter unggul tersebut, jelas Taman Siswa dapat berperan lebih banyak.

2. Saran

Dari berbagai temuan di lapangan dan kesimpulan yang sudah dikemukakan diatas, saran yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut:

  1. Membekali guru yang ada dengan berbagai ajaran Ki Hadjar Dewantara, atau dengan kata lain pendidikan keTaman Siswaan harus dapat dikuasai da n dihayati serta diamalkan oleh para pamong yang ada di SD Tama n Siswa yang sebagian besar merupakan guru PNS.

Budaya ...

  1. Menghidupkan kembali kegiatan reba wagen untuk mengajar keluarga besar Taman Siswa, khususnya para pamong, terhadap ajaran Ki Hadjar Oewantara.
  2. Oi SO Taman Siswa, pamong harus menguasai berbagai budaya yang nantinya diajarkan kepada para murid. Ironisnya saat ini tinggal satu orang pamong yang sudah berusia lanjut yang menguasai keterampilan budaya tersebut. Bagaimana seorang pamong dapc;t mengajarkan panembromo, Iangen carita, geguritan, dolanan anak, dan sebagainya kepada para murid, kalau pamong tersebut tidak menguasai keterampilan itu.
  3. Pendidikan budaya yang diajarkan di SO Taman Siswa dapat dijadikan model bagi pendidikan budaya di SO lainnya di manapun juga di seluruh Indonesia, tentu saja disesuaikan dengan budaya setempat. Pendidikan budaya dapat melahirkan anak didik yang berjiwa pemimpin, mandiri, tanggung jawab, disiplin, tahu menempatkan diri, demokratis, setia kawan, kebersamaan, gotong royong, mau mengakui kekalahan atau kekurangan, dan berbagai karakter baik lainnya.

    DAFTAR PUSTAKA

Bungin, Burhan, Cetakan 4. 2010. Penelitian Kualitatif Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan llmu Sosial Lainnya. Jakarta: Elex Media.

Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Jelun, I Nyoman. 2008. Taman Siswa untuk Nation and Character Building, dalam http:Waman Siswa.org/magazine/pijar/taman siswa-untuk-nation-and-character-building.html. Oiunduh tanggal 20 September 2013.

Kementerian Pendidikan Nasional. 2010. Kerangka Acuan Pendidikan Karakter Jakarta : Oirektorat Ketenagaan. Oirektorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Budaya ... [31

Kementerian Pend idikan Nasional. 2010. Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-nilai Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta: Pusat Kurikulum.

Koen~araningrat. 1992. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: PT Gramedia.

Pemerintah Republik Indonesia. 2010. Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2015.

Sentono, Karto. 2012. Piagam dan Peraturan Besar Persatuan Taman Siswa. Keputusan Kongres XX Persatuan Taman Siswa 2011. Yogyakarta : Majelis Lu hu r Pe rsatuan Taman Siswa.

  1. Profil Taman Muda lbu Pawiyatan Taman Siswa, versi
    DVD. Produksi Komite Sekolah SD Ta man Siswa Ibu Pawiyatan Yogyakarta.

Pendidikan ... [33

KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER YANG TERUNGKAP DALAM SASTRA LISAN 'DONGENG'

STUDI KASUS KAHAN NILAI BUDAYA DALAM SASTRA L!SAN MELAYU DI KOTA PEKANBARU PROVINSI RIAU 'S. Dloyana Kusumah yanaku sumah @yahoo.co. id

A. PENDAHULUAN

Salah satu genre sastra yang banyak diketahui masyarakat adalah dongeng, atau acapkali juga disebut cerita. Dongeng disukai oleh banyak orang karena merupakan ekspresi imajinatif pengarang sebagai gambaran kehidupannya. Pesan-pesan yang disampaikan melalui dongeng sangat bervariasi, bisa mengandung unsur religi (keagamaan), unsur moral atau etika, atau bahkan nilai estetika yang melahirkan kesenangan kepada penikmatnya.

Merujuk kepada kenyataan di atas, dongeng sebagai bagian dari sastra lisan dapat digunakan sebagai alat untuk menyampaikan pesan atau mengaj ak manusia pada kebai kan dan melarang melakukan perbuatan yang merugikan orang lain. Jika dianalogikan sebagai "dakwah" seperti dikatakan oleh Husein Azmi yang dikutip dari Gazalba (1988 :183), "Dakwah atau penyampaian pesan adalah berfungsi sebogai stimulan " atau "merangsang manusia pada kebaikan (Petunjuk Allah), berupa makruf (kebaikan) dan me/orang melakukan munkar (kejahatan), supaya mereka berjaya mendapat kebahogiaan di dunia dan akhirat". Dengan kata lain, dongeng sebagaimana dikatakan di atas juga bisa berperan sebagai alat penyampai pesan -pesan moral karena nilai-nilai budaya yang ada dalam setiap dongeng dapat dipastikan memiliki misi mendidik agar manusia memiliki karakter yang baik.

Menurut Meutia Swa sono Hatta (Perspektif Budaya, 2009:155), karakter yang baik untuk masa depan harus dicapai. Artinya,

memiliki sejumlah karakter yang melintasi keanekaragaman suku bangsa. Membentuk karakter mengandung arti membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pembentukan karakter dinilai sangat perlu dilakukan, mengingat dewasa ini kondisi watak atau karakter manusia sejak dari level internasional sampai kepada tingkat personal individual, khususnya bangsa kita nampaknya tengah mengalami disorientasi. Mengingat kenyataan itu, harapan dan seruan dari berbagai kalangan untuk pembangunan kembali watak atau karakter kemanusiaan menjadi semakin meningkat dan nyaring disuarakan.

Dalam keh idupan sehari-hari, kita menyaksikan berbagai kekerasan, benih-benih disintegrasi, konflik yang terus terjadi karena berbagai faktor. Dalam tulisan Pembangunan Karakter Bangsa, Prof. Dr. Azyumardi Azra menyatakan, banyak anak-anak yang keluar dari rumah hampir tidak memiliki watak dan karakter. Banyak di antara mereka yang alim dan bijak di rumah, tetapi nakal di sekolah, terlibat dalam tawuran, penggunaan obat terlarang, dan bentuk-bentuk tindakan kriminal lainnya, seperti perampokan bis kota dan sebagainya. Inilah anak-anak yang tidak memiliki kebajikan (righteousness) dan inner beauty dalam karakternya, tetapi malah mengalami kepribadian terbelah split personality. Sekolah menjadi seolah tidak berdaya menghadapi kenyataan ini, serta selalu menjadi kambing hitam dari merosotnya watak dan karakter bangsa. Padahal, sekolah sendiri menghadapi berbagai masalah berat menyangkut kurikulum yang overload, fasilitas yang tidak memadai, kesejahteraan guru, dan tenaga kependidikan yang rendah (Azra, 2009 :58-59).

Pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang acapkali menjadi kambing hitam seperti disebutkan di atas sesungguhnya telah menyusun suatu kebijakan dengan merumuskan suatu visi pendidikan yang berimplikasi bahwa proses pendidikan nasional harus berakar dari dan untuk pengembangan kebudayaan nasional, harus mampu menumbuhkembangkan berbagai sikap manusia Indonesia yang memungkinkan lahirnya masyarakat madani Indonesia yang dicita-

ialah : 1. Sikap demokratis, 2. Sikap toleran, 3. Saling pengertian, 4. Berakhlak tinggi, beriman, dan bertakwa, 5. Manusia dan masyarakat yang berwawasan global (Tilaar, 2002 :180-

181). Lebih jelas, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sistem Pendidikan Nasional, menyebutkan "Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik untuk menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara demokratis, serta bertanggung j awab ". Jelas bahwa tujuan pendidikan nasional ini, merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh semua ka langan ma syarakat khususnya lembaga- lembaga pendidikan formal, informal, maupun nonformal, dengan harapan akan menghasilkan manusia Indonesia yang memiliki karakter logis, etis, dan estetis. Untuk mencapai cita-cita tadi banyak cara bisa dilakukan, artinya persemaian nilai budaya sebagai landasan pembentukan karakter tidak selalu dilakukan secara formal, tetapi bisa melalui penelaahan karya-karya sastra yang banya k dihasilkan oleh sastrawan Indonesia sejak lama. Berkenaan dengan cara penyampaian pesan-pesan moral seperti dikatakan di atas, dongeng adalah salah satu alat yang bisa membantu semu a pihak (gu ru, para orang tua, atau siapa saja) yang berniat ingin menggali nilai luhur atau nilai moral yang terkandung dalam karya sastra. Sekalipun sekian banyak dongeng tidak diketahui siapa penciptanya, akan tetapi tidak mengurangi nilai etis atau estetis yang disampaikan oleh pengarangnya. Pendidikan karakter pada da sarnya bukanlah sesuatu yang baru dalam seja rah perkembangan manusia. Artinya, sebelum ada

Pendidikan ...

lembaga-lembaga pendidikan formal, orang tua, guru dengan segala cara telah berusaha keras mendidik anak-anak mereka agar menjadi anak yang baik menurut norma-norma yang berlaku dalam budaya mereka. Kini, ketika ilmu pengetahuan dan teknologi mengambil peran lebih besar dalam pendidikan, ternyata mempengaruhi fungsi keluarga sebagai institusi pendidikan pertama bagi seorang anak. Lembaga-lembaga pendidikan formal dewasa ini, lebih memusatkan perhatian pada pengembangan pengetahuan untuk penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, akan tetapi sangat minim perhatian terhadap pendidikan karakter.

Selain masalah di atas, permasalahan lain yang sangat penting adalah model sekolah yang terpisah dari kehidupan, dalam arti hanya memandang peserta didik sebagai obyek, bukan insan yang utuh yang memiliki aspirasi, tata nilai, nurani serta sebagai individu yang memiliki tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat. Jadi, meningkatnya kompetensi manusia dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa disertai peningkatan kebajikan dalam hati nuraninya, akan membawa umat manusia ke keadaan yang mengancam kualitas hidupnya atau dengan kata lain akan mengalami dekadensi moral. Untuk mengatasi masalah tersebut, tidak ada kata lain yakni menegakkan kembali pendidikan karakter, di berbagai sendi kehidupan.

Selain melalui pendidikan formal seperti lembaga pendidikan sekolah, pembentukan karakter bisa juga dilakukan melalui kegiatan positif lainnya seperti menghidupkan tradisi mendongeng atau tradisi lisan. Potensi dongeng sesungguhnya sangat luar biasa banyaknya di negeri ini, akan tetapi sangat disesalkan masyarakat Indonesia, dewasa ini sudah jarang yang mengapresiasi salah satu genre sastra ini untuk mendidik anak-anak. Kondisi ini, sangat berbeda dengan dekade tahun 70-an dan jauh sebelumnya yang mencantumkan dongeng, atau bisa juga disebut cerita rakyat sebagai salah satu mata pelajaran mulai dari jenjang sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah. Landasan utama yang memperkuat dongeng sebagai salah satu alat untuk pendidikan karakter adalah, bahwa kandungan isinya selalu berkisah

nilai-nilai kebaikan yang dipertentangkan dengan keburu kan. Dengan kata lain, hampir semua dongeng berisi kisah yang mengetengahkan fantasi yang sangat disukai oleh anak-anak. Bahkan dalam perkembangan hidup anak-anak, fantasi merupakan salah satu kebutuhan intrinsik karena merupakan unsur yang memungkinkan dan mendukung kreativitas.

Selain kreativitas seperti yang disebutkan di atas, dalam banyak hal sebuah dongeng selalu menampilkan tokoh -tokoh yang menawan, disertai sifat-sifat yang terpuj i seperti jujur, teguh pada pendirian, santun, mau bekerja keras, takwa kepada Tuhan YME, dan sederet nilai lain yang diperlukan untuk membentuk kepribadian manusia yang unggul. Pertanyaannya kemudian adalah : "Dongeng apa saja yang bisa dijadikan rujukan untuk mendukung pendidikan karakter di Indonesia?" Maka, jawabannya akan dicari melalu i penelitian dongeng -dongeng Nusantara dengan diawali melakukan pilihan sampel lokasi Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, yan g dikenal memiliki potensi dongeng dan tradisi lisan yang tetap hidup hingga kin i.

Penelitian dengan judul Konsep Pendidikan Karakter yang Terungkap Melalui Tradisi Lisan "Dongeng " bertujuan untuk menginventarisasi dan menganalisis dongeng -dongeng Nusantara khususnya Melayu yang mengandung nilai -nilai yang mendukung pendidikan karakter. Selain itu, dengan menganalisis tradisi lisan 'dongeng ' dapat dijadikan bahan untuk mengetahui tata kelakuan kolektif pendukungnya.

Menurut William R. Bascom, da larn setiap dongeng atau tradisi lisan paling tidak dapat ditemukan empat fungsi seperti : 1) Sebagai sistem proyeksi, 2) Sebagai alat pengesahan kebudayaan, 3) Sebagai alat pedagogis (pendidikan), 4) Sebagai alat pemaksa berlakunya norma dan pengendalian masyarakat, untuk pembangunan antara lain adalah untuk menj adi jati diri suatu suku bangsa (Pudentia MPSS, 1998:

70). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sebuah dongeng selain menjadi alat hiburan, seca ra ideal dapat dimanfaatkan dengan mempelajari nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai rujukan

Pendidikan ...

atau pedoman penyusunan kebijakan pendidikan karakter. Pertimbangannya, tidak lain karena dalam setiap dongeng dapat dipastikan mengandung nilai-nilai kejujuran, kesetiakawanan, penghormatan kepada orang tua, keberanian atau kepahlawanan, dan nilai-nilai lain seperti yang telah dicanangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menyemaikan 18 nilai positif kepada anak-anak Indonesia.

Ruang lingkup pengkajian dongeng atau cerita ini, pertama mempertimbangkan tipe dongeng seperti yang dikemukakan Anti Aarne dan Stith Thompson dalam bukunya "The Types of The Folktale': yang membagi dong eng ke dalam jenis-jenis sebagai berikut:

(1) Dongeng binatang (animal tales);
(2) Dongeng biasa (ordinary tales);
(3) Lelucon dan anekdot (jokes and anecdotes);
(4) Dongeng berumus (formula tales). (James Danandjaja, 1984: 86). Melihat tipe-tipe dongeng di atas, maka penelitian ini akan difokuskan kepada penggalian nilai-nilai budaya atas dongeng-dongeng biasa (ordinary tales). Pertimbangannya adalah dongeng tipe ini didukung oleh tokoh-tokoh manusia, dengan mendukung nilai-nilai budaya yang diyakini kebenarannya oleh masyarakat pemilik dongeng tersebut, bahkan menjadi rujukan atau pedoman untuk perilaku mereka. Dongeng biasa juga berisi kisah suka dan duka si tokoh, yang dalam perjalanan hidupnya banyak mencerminkan perjuangan untuk memperoleh kebahagiaan. Adapun ruang lingkup spasial yang berkaitan dengan lokasi penelitian ditetapkan di Kota Pekanbaru Provinsi Riau. Pertimbangan pemilihan lokasi adalah sebagai berikut: Pertama, dongeng atau cerita yang dimiliki orang Pekanbaru sebagai bagian dari masyarakat Riau, hingga kini masih tetap berfungsi sebagai salah satu model pendidikan budi pekerti bagi anak-anak. Kedua, Dongeng-dongeng Melayu tersebar melintas provinsi, artinya banyak daerah lain di Indonesia yang mengadopsi dongeng dari Tanah Melayu, bahkan telah banyak yang direka ulang menjadi dongeng daerah

Pendid ikan ... 139

tertentu dengan menyelaraskan kand ungan nila i budayanya. Oleh sebab itu, pada tahun 2013, kajian nilai budaya yang mendukung pendidikan karakter melalui dongeng yang berasal dari Kota Pekanbaru dipilih sebagai obyek penelitian.

Dongeng, bisa dijadikan alat atau jembatan untuk tercapainya visi dan misi pendidikan karakter. Selain dapat mengasah fantasi dan imajinasi anak didik di sekolah, juga mendorong spirit para pengajar untuk menjadikan dongeng sebagai metode penyampaian pesan- pesan moral yang sangat efektif kepada siswa. Manfaat lainnya, kegiatan mendongeng juga merupakan alat terbaik dalam proses penyegaran dari suasana yang menengangkan kembali ke suasana yang menyenangkan.

Hasil penel itian selain bi sa dimanfaatkan untuk referensi para peneliti nilai budaya di kemudian hari, juga diharapkan dapat dijadikan bahan masukan bagi pemeri ntah pusat, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di daerah, maupun lembaga -lembaga pendidikan formal, informal dan nonformal dalam menyusun kebijakan di bidang pendidikan karakter. Dongeng atau ce rita dari berbagai daerah di Indonesia, baik yang masih berwujud sastra lisan, maupun yang tela h ditulis menj adi sebuah buku dapat dijadikan bahan ajar yang menyenangkan bag i peserta didik.

Forum diskusi bidanku.com dan administrasi parenting bahkan menyatakan bahwa dongeng mempunyai manfaat yang sangat besar khususnya bag i ana k-anak sepe rti:

(1) Mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas ana k,
(2) Meningkatkan keterampilan berbahasa,
(3) Membangkitkan minat baca pada anak,
(4) Membentuk rasa empati an ak,
(5) Membangun kecerdasan emosional an ak,
(6) Memperkenalkan nilai-nilai moral,
(7) Mempererat ikatan emosi dengan orang tua dan guru.

Konsep Pendidikan ...

Tidak berbeda dengan penelitian unsur kebudayaan yang lain, dalam upaya penelitian dan pengkajian dongeng juga diperlukan suatu metode yang tepat agar hasil penelitian tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pertama, dimulai dengan mempersiapkan rancangan penelitian termasuk menentukan jenis dongeng atau cerita yang dikaji. Pengetahuan tentang klasifikasi dongeng dapat diketahui dengan mempelajari pustaka yang memuat tulisan-tulisan para ahli folklore sebelumnya. Pada tahap awal ini, juga ditentukan kolektif atau suku bangsa mana yang diteliti, termasuk memahami adat istiadat dan bahasa mereka untuk mempermudah penelitian. Kedua, ketika berada di lokasi penelitian secepat mungkin mengusahakan suatu hubungan rapport, yakni hubungan harmoni dengan kolektif pemilik dongeng. Hubungan ini diutamakan dengan para tokoh adat setempat, dan informan yang menjadi pewaris aktif folklore kolektif setempat.

Ketiga, melakukan wawancara yang terarah (directed) dan tidak terarah (non-directed). Pada wawancara terarah diharapkan memperoleh jawaban sesuai dengan yang kita inginkan atau yang dikehendaki dalam penelitian. Sedangkan wawancara tidak terarah, memungkinkan kita memperoleh jawaban yang melengkapi wawancara terarah, bahkan acapkali dapat diperoleh berbagai keterangan yang tidak terduga sebelumnya. Keempat, mengkaji dan menganalisis karya sastra seperti dongeng, diperlukan suatu pendekatan dan pemahaman teoritis yang dapat menjelaskan rekonstruksi masalah tersebut. Sejalan dengan bahan yang digunakan untuk membuktikan masalah, dirasakan perlu dilakukan suatu pendekatan yang memadai yakni pendekatan struktural yang dapat menganalisis sumber tersebut baik dari bentuk yang tampak, dari sisi cerita, struktur yang tampak, serta segi intrinsiknya.

Selain itu, berdasarkan struktur, dikaitkan pula dengan etnografi setempat sepanjang hal itu dapat menunjang. Dalam upaya pengkajian dongeng-dongeng Melayu, aspek moral dan budi pekerti dijaring dari variabel empiris tingkat kedua dalam cerita. Dalam bahasa filologi, langkah keempat di atas disebut sebagai content analysis, atau

... [41

analisis kandungan isi naska h. Jika memungkinkan, hasil penelitian lapangan bisa dilengkapi dengan foto dokumentasi, seperti foto yang berkaitan dengan lokasi tempat dongeng atau cerita yang diteliti (pemukiman kolektif pendukung obye k penelitian), atau berbagai tinggalan purbakala yang diyakini memiliki keterkaitan dengan dongeng atau cerita setempat

Meneliti dan mengkaji karya sastra sesungguhnya bisa diartikan sebagai memperkoko h Ikon Bangsa. Di katakan demikian, karen a terdapat fakta bahwa ban gsa-bangsa besar di du nia memperlakukan sastra seba gai salah satu ikon bangsa. Inggris mempunyai Shakespear, Amerika memiliki Walt Whitman, Peran cis memiliki Flaubert dan Stendhal, Jerman dikenal melalui karya-karya Goethe, dan lain -lain. Jika Indonesia ingin menj adi bangsa yang terhormat juga seharusnya memperlakukan sastra sebagai salah satu ikon bangsa.

Pernyataa n di atas, sudah tentu menyiratkan makna betapa pentingnya melakukan upaya penelitian dan pengkajian atas karya-karya sastra di negeri ini. Dalam sebuah makalah pada Kongres Kebudayaan tahu n 2008, Bu di Darma menyatakan bahwa sastrawan besar melalui ka ryanya dapat memberi benefit on mankind, artinya yakni, memberikan sumbangan bagi ke manusiaan. Selain itu, akan ditemukan nilai kognitif yan g berarti dengan membaca, mendengar, dan menyimak dongeng (karya sastra genre lainnya) sangat bermanfaat bukan saja yang berkaitan dengan pesan -pesan moral, akan tetapi juga pengetahuan seperti : (a) Manfaat psikologi, (b) Manfaat sejarah, dan (c) Manfaat sosial untuk kehidupan seh ari-hari termasuk di dalamnya interaksi antar anggota masya rakat ya ng dijaga oleh etika, norma-norma masyarakat dan lai n sebag ai nya. Sejalan dengan upaya pemerintah, khusu snya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ya ng mempunyai komitmen untuk membentuk karakter manusia, maka karya budaya bangsa yang berupa sastra lisan da n genre sejenisnya menjadi bahan aja r yang sang at relevan dengan tujuan tersebut

Pendidikan ...

Karya sastra sering merefleksikan realitas kehidupan manusia. Pada tataran hakikatnya, makna suatu teks sastra merupakan produk sosial budaya. Sebaliknya, dengan memainkan makna kultural, karya sastra dipandang sebagai hasil kegiatan yang ingin melampaui makna kultural supaya menembus wilayah yang universal dan adikodrati (Faruk, 1998:4). Oleh karena itu, kehidupan manusia yang tergambarkan itu menyatu dengan karya sastra sebagai makna sastra atau makna teks sastra sebagai realita sosial budaya. Refleksi itu menjadi sejenis komunikasi artistik yang dinamis sehingga selalu menarik untuk dicermati, karena dinamika dan kompleksitas itu disebabkan sifat teks sastra yang imajinatif.

Dalam buku "Folkore, Indonesia, ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain " James Danandjaja (1984), menyatakan bahwa dongeng adalah cerita pendek kolektif kesusasteraan lisan. Dalam beberapa hal, dongeng acapkali dianggap tidak benar-benar terjadi. Dongeng disampaikan selain untuk hiburan, banyak juga yang melukiskan kebenaran, mengandung nilai-nilai pelajaran (moral), atau bahkan menjadi suatu sindiran terhadap kondisi masyarakat yang tengah terjadi. Dalam pikiran banyak orang, dongeng dianggap sebagai cerita yang berkenaan dengan peri, makhluk gaib dan sebagainya. Akan tetapi, dalam kenyataan banyak dongeng yang tidak mengenai peri atau mahluk halus lainnya, karena plot cerita tersebut mengenai sesuatu yang wajar.

Seperti halnya myte dan legenda, dongeng juga mempunyai unsur-unsur cerita yang dijumpai di daerah-daerah lain yang letaknya berjauhan, sehingga dapat dijadikan bahan penelitian perbandingan. Dongeng juga bisa mencerminkan karakter dan sifat-sifat kolektif pemiliknya. Hal ini dOelaskan Philip Frick Mc-Kean yang pernah melakukan penelitian secara intens tentang dongeng di Jawa, yang kemudian dikaitkan kepribadian folk-Jawa (Danandjaja, 1984: 96).

Jika legenda adalah sejarah kolektif (folk history), maka dongeng adalah cerita pendek kolektif kesusasteraan lisan. Selanjutnya dongeng adalah cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar

Pendidikan ... [43

terjadi. Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan, walaupun banyak juga yang melukiskan kebenaran, berisikan pelajaran (moral) atau bahkan sindiran. Dalam pikiran orang, dongeng sering dianggap sebagai cerita mengenai peri, namun dalam kenyataan banyak dongeng yang tidak mengenai peri melainkan isi cerita atau plotnya mengenai sesuatu yang wajar. Istilah -istilah yang sinonim dengan dongeng dalam berbagai bahasa di dunia adalah fairy tales (cerita peri), nursery tales (cerita kanak-kanak), atau wonder tales (cerita ajaib) dalam bahasa Inggris, marchen dalam bahasa Jerman, aeventyr dalam bahasa Denmark, spokye dalam bahasa Belanda, siao suo dalam bahasa Mandarin, satua dalam bahasa Bali dan lain-lain (Danandjaja, 1984:83-

84). Seorang budayawan dari Riau, Haji Suman. HS, berpendapat bahwa dongeng atau cerita itu boleh pendek, boleh juga panjang. Dahulu dongeng itu disampaikan oleh seseorang kepada pendengarnya dengan cara lisan, atau dalam istilah setempat berkabar. Bukan dengan membaca, ka rena memang waktu itu orang belum pandai membaca, dan belum ada buku yang bisa dibaca. Mendongeng bukan saja sekedar berkata-kata, karena dongeng adalah siasat atau ikhtiar untuk menyampaikan nilai-nilai budaya yang dikaitkan dengan banyak aktivitas tokoh dongeng. Nilai-nilai tersebut pada umumnya mengacu kepada keinginan orang tua agar anak -anaknya selalu bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, jujur, hormat dan santun di hadapan orang tua atau yang dituakan, dan nilai lain untuk memupuk kepribadian anak (Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya, 1986: 340-341). Ri cha rd Woolfson, seorang ps ikolog anak menyatakan bahwa tradisi mendongeng sebelum tidur mempunyai efek kuat dalam perkembangan emosional ana k. Berdasarkan hasil suNey dari 500 anak berumur 3 sampai dengan 8 tahun, ternyata mendengar dongeng sebelum tidur membuat tidur mereka lebih baik. Pesan-pesan positif yang memiliki pengaruh dala m membentuk kepribadian dan karakter anak yang akhirnya terus diing at setiap saat. Woolfson berpendapat, pendongeng terbaik dalam keluarga adalah ibu. Mengapa demikian7

memiliki kreatifitas dalam mengolah cerita dengan menggunakan suara lucu dan unik ketika bercerita. Hal ini dapat membantu agar anak tidur nyenyak. Bagi ibu yang masih memiliki anak balita artinya dalam usia keemasan (golden ages) yakni antara 0 sampai dengan 5 tahun, maka sebaiknya dapat menyisihkan waktu untuk mendongeng atau bercerita kepada anak mereka.

Anak yang memiliki stimulus verbal dari sekelilingnya mendapat perkembangan yang cukup baik dibandingkan dengan mereka yang tidak memperoleh. Selain menanamkan gagasan atau pemikiran, nilai moral, budi pekerti serta konsep sebab akibat, aktivitas mendongeng mampu meningkatkan kecerdasan anak. Anak yang cerdas adalah anak yang mendapatkan stimulasi tepat sesuai dengan usia. Cerita dapat menjadi sumber pengilhaman tentang kebajikan dan kebaikan.

Bercerita atau mendongeng dalam banyak hal dapat memberi peluang kepada anak untuk mengalami menempati posisi orang lain, sebuah kegiatan atau berempati kepada nasib dan situasi orang lain. Ruang yang tersedia dalam bercerita membuka peluang bagi anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang kritis dan bijaksana. Apabila dongeng yang disampaikan mampu menyentuh kalbu anak, maka satu pain penting dalam menumbuhkan sense budi pekerti dapat berjalan dengan cara kurang lebih sama. Selayaknya sebagai seorang ibu dapat lebih efektif dalam memilih materi-materi cerita sesuai dengan perkembangan anak sehingga aspek kognitif dan afeksi anak terasah secara baik (http:/ /ngecis.com/blog/tumbuhkan-karakter-dengan-dongeng/didownload pada tanggallO Januari 2014, pukul16.15 WIB).

Mengenai karakter, kata itu terdapat dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer yang diartikan sebagai "watak, sifat atau tabiat''. Karakter yang baik dimanifestasikan dalam kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari, pikiran baik, hati baik, dan tingkah laku baik. Berkarakter baik berarti mengetahui yang baik, mencintai kebaikan, dan melakukan yang baik. Karakter bersifat memancar dari dalam ke luar (inside-out). Artinya, kebiasaan baik tersebut dilakukan bukan atas

Pendidikan ... [45

permintaan atau tekanan dari orang lain melainkan atas kesadaran dan kemauan sendiri. Dengan kata lain, karakter adalah "apa yang anda lakukan ketika tak seorang pun melihat atau memperhatikan anda" (Gede Raka, dkk, 2011: 36-37).

Pendidikan karakter, seperti tercermin dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa "Pendidikan Nasional. .., bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab (Gede Raka, dkk, 2011: 20).

B. RIAU TANAH AIR KEBUDAYAAN MELAYU

Orang Melayu merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia yang cukup besar jumlahnya dan sangat luas wilayah persebarannya. Mereka hidup dalam kelompok-kelompok hampir di seluruh Kepulauan Nusantara dan bahkan meluas sampai di Kawasan Asia Tenggara. Bagian yang terbesar dari kelompok Orang Melayu ini ada di wilayah Provinsi Riau, sedangkan di kawasan Asia Tenggara berpusat di Semenanjung Malaysia. Dalam kehidupan lokal sehari-hari, Orang Melayu dikenal dalam kaitannya dengan pusat-pusat kerajaan setempat di masa lampau, atau dengan nama lokalitas yang secara tradisional dikenal dalam kaitannya dengan pusat kerajaan tersebut. Dengan demikian, kini dikenal Orang Melayu Siak, Orang Inderagiri Hulu, Orang Sambas di Kalimantan Barat, Orang Banjar di Kalimantan Selatan, Orang Kutai di Kalimantan Timur, dan di luar Indonesia dikenal antara lain Orang Brunei, Orang Serawak, Orang Johor dan sebagainya.

Orientasi kehidupan mereka adalah kelautan, dan agama Islam sebagai pedoman utama dalam kehidupan mereka. Karena orientasi hidup mereka di laut, maka tidak heran apabila kebanyakan kelompok-kelompok Melayu tumbuh di tepi-tepi pantai atau sungai -sungai besar yang dapat disinggahi kapal-kapal besar. Akibatnya, kelompok-kelompok Melayu itu, biasanya tumbuh rnenjadi pusat perdagangan.

Pendidikan ...

Posisi mereka yang berada di wilayah terdepan, secara otomatis mempunyai kontak langsung dengan dunia luar, dan itulah sebabnya Orang Melayu sebenarnya yang menerima dan mengenal agama Islam paling awal. Dengan demikian, ajaran-ajaran Islam meresap dalam tradisi-tradisi simbolik seperti upacara-upacara yang pada dasarnya bukan Islam. Kontak-kontak langsung dalam berbagai aspek kehidupan dengan dunia luar berlangsung terus-menerus, termasuk kontak-kontak dengan dunia Islam, sehingga mempermudah penyebaran agama Islam dalam kehidupan Orang Melayu (Suparlan, Budhisantoso, 1986:1).

1. Kota Pekanbaru

Kota Pekanbaru adalah ibukota dan kota terbesar di Provinsi Riau, Indonesia. Kota ini merupakan kota perdagangan dan jasa, termasuk sebagai kota dengan tingkat pertumbuhan migrasi, dan urbanisasi yang tinggi. Pekanbaru mempunyai satu bandar udara internasional yaitu Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II dan terminal bus antar kota dan antar provinsi Bandar Raya Payung Sekaki, serta dua pelabuhan di Sungai Siak, yaitu Pelita Pantai dan Sungai Duku. Dewasa ini, Kota Pekanbaru sedang berkembang pesat menjadi kota dagang yang multietnik, keberagaman ini telah menjadi modal sosial dalam mencapai kepentingan bersama untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi kesejahteraan masyarakat.

2. Sejarah Perkembangan Kota Pekanbaru

Perkembangan kota ini pada awalnya tidak terlepas dari fungsi Sungai Siak sebagai sarana transportasi dalam mendistribusikan hasil bumi dari pedalaman dan dataran tinggi Minangkabau ke wilayah pesisir Selat Malaka. Pada abad ke-18, wilayah Senapelan di tepi Sungai Siak menjadi pasar (pekan) bagi para pedagang yang datang dari wilayah dataran tinggi Minangkabau. Seiring dengan berjalannya waktu, daerah ini berkembang menjadi tempat pemukiman yang ramai. Pada tanggal 23 Juni 1784, berdasarkan musyawarah "Dewan Menteri" dari Kesultanan Siak, yang terdiri dari datuk empat suku Minangkabau

Pendidikan ... [47

(Pesisir, Limapuluh, Tanah Datar, dan Kampar), kawasan in i kemudian dinamai dengan Pekanbaru dan di kemudian hari diperingati sebagai hari jadi kota ini.

Berdasarkan Besluit van Het ln landsch Zelfbestuur van Siak No. 1 tanggal 19 Oktober 1919, Pekanbaru menjadi bagian distrik dari Kesultanan Siak. Namun pada tahun 193 1, Pekanbaru dimasukkan ke dalam wilayah Kampar Kiri yang dikepalai oleh seorang contra/leur yang berkedudukan di Pekanbaru dan berstatus lanschap sampai tahun

  1. Kemudian, menjadi Ibukota Onderafdeling Kampar Kiri sampai tahun 1942. Setelah pendudukan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, Pekanbaru dikepalai oleh seorang gubernur yang disebut gokung. Setelah kemerdekaan Indonesia, berdasarkan ketetapan Gubernur Sumatera di Medan tanggal 17 Mei 1946 Nomor 103, Pekanbaru dijadikan daerah otonom yang disebut Haminte atau Kotapraja. Kemudian pada tanggal 19 Maret 1956, berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Ta hun 1956 Republik Indonesia, Pekanbaru menjadi daerah otonom kota kecil dalam lingkungan Provinsi Sumatera Tengah. Selanjutnya, sejak tanggal 9 Agustus 1957 berdasarkan Undang-Undang Darurat nomor 19 Tahun 1957 Republik Indonesia, Pekanbaru masuk ke dalam wi layah Provinsi Riau yang baru terbentuk. Kota Pekanbaru resmi menjadi ibukota Provinsi Riau pada tanggal 20 Januari 1959 berdasarkan Kepmendagri No. Des. 52/1/44-25, sebelumnya yang menjadi ibukota adalah Tanjungpinang yang kini menjadi ibukota Provinsi Kep ula uan Riau.

    3. Geografi dan Kependudukan

Secara geografis, Kota Pekan ba ru memiliki posisi strategis karena berada pada j alur lintas Timu r Sumatera, terhubung dengan beberapa kota seperti Medan, Padan g, dan Jambi, dengan wilayah administratif diapit oleh Kabu paten Siak pada bagian utara dan timur, sementara bagian barat dan se latan oleh Kabupaten Kampar. Kota ini dibelah oleh Sungai Siak yang men gali r dari barat ke timur dan berada pada ketinggian berkisar antara 5- 50 meter di atas permukaan laut.

beriklim tropis dengan suhu udara maksimum berkisar antara 34.1 ° ( hingga 35.6 ° ( dan suhu minimum antara 20.2 ° ( hingga 23 °C.

Sebelum tahun 1960, Pekanbaru hanyalah kota dengan luas 16 km 2 yang kemudian bertambah menjadi 62,96 Km 2 dengan 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Senapelan dan Kecamatan Limapuluh. Selanjutnya, pada tahun 1965 menjadi 6 kecamatan dan tahun 1987 menjadi 8 kecamatan dengan luas wilayah 446,50 km 2, setelah Pemerintah Daerah Kampar menyetujui untuk menyerahkan sebagian dari wilayahnya untuk keperluan perluasan wilayah Kota Pekanbaru, yang kemudian ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1987. Kemudian, pada tahun 2003 jumlah kecamatan pada kota ini dimekarkan menjadi 12 kecamatan.

Sejak tahun 2010, Pekanbaru telah menjadi kota ketiga berpenduduk terbanyak di Pulau Sumatera, setelah Medan dan Palembang. Laju pertumbuhan ekonomi Pekanbaru yang cukup pesat menjadi pendorong utama laju pertumbuhan penduduknya. Etnis Minangkabau merupakan masyarakat terbesar dengan jumlah sekitar 37,96% dari total penduduk kota. Mereka umumnya bekerja sebagai profesional dan pedagang. Jumlah mereka yang cukup besar telah mengantarkan Bahasa Minang sebagai salah satu bahasa pergaulan yang digunakan oleh penduduk Kota Pekanbaru, selain Bahasa Melayu atau Bahasa Indonesia. Selain itu, etnis yang memiliki proporsi cukup besar lainnya adalah Melayu, Jawa, Batak, dan Tionghoa. Perpindahan ibukota Provinsi Riau dari Tanjungpinang ke Pekanbaru tahun 1959, memiliki andil besar menempatkan suku Melayu mendominasi struktur birokrasi pemerintahan kota, namun sejak tahun 2002 hegemoni mereka berkurang seiring dengan berdirinya Provinsi Kepulauan Riau dari pemekaran Provinsi Riau.

Masyarakat Jawa awalnya banyak didatangkan sebagai petani pada masa pendudukan tentara Jepang, sebagian mereka juga sekaligus sebagai pekerja romusha dalam proyek pembangunan rei kereta api. Sampai tahun 1950, kelompok etnik ini telah menjadi

Pen didikan ... [49

pemilik lahan yang signifikan di Kota Pekanbaru. Namun perkembangan kota yang mengubah fungsi lahan menjadi kawasan perkantoran dan bisnis, mendorong kelompok masyarakat ini mencari lahan pengganti di luar kota, namun banyakjuga yang beralih okupasi.

Berkembangnya industri, terutama yang berkaitan dengan minyak bumi, membuka banyak peluang pekerjaan, hal ini juga menjadi pendorong berdatangannya masyarakat Batak. Kelompok etnik ini, umumnya bekerja sebagai karyawan, dan memiliki ikatan emosional yang kuat terutama jika semarga, apabila dibandingkan kelompok etnis lain yang ada di Kota Pekanba ru. Pasca PRRI, eksistensi kelompok etnis ini menguat setelah beberapa tokoh masyarakatnya memiliki jabatan penting di pemerintahan. Sementara, masyarakat Tionghoa dengan rata-rata bakat entrepreneur yang kuat menguasai perdagangan skala besar di Kota Pekanbaru. Kopi Kim Teng ini menjadi trademark kopi asal Pekanbaru, yang dirintis oleh Kim Teng seorang veteran pejuang Tionghoa masa kemerdekaan di Pekan baru.

4. Agama

Agama Islam merupakan salah satu agama yang dominan dianut oleh masyarakat Kota Pekanbaru, sementara pemeluk agama Kristen, Buddha, Katolik, Khonghucu, dan Hindu j uga terdapat di kota ini. Sebagai bag ian dari pe mbangunan kehidupan beragama, Kota Pekanbaru tahun 1994 telah ditunjuk untuk pertama kalinya menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Quran tingkat nasional ke - 17. Peristiwa keagamaan yang cukup penting bagi bangsa Indonesia tersebut, membawa pengaruh yang cukup besar dalam aspek keagamaan di kota ini. Keberhasila n penyelenggaraan even, telah berdampak pada pembangunan sarana ibadat agama Islam, co ntohnya, perawatan masjid yang lebih intensif dan kehidupan agama yang lebih kondusif.

Konsep Pendidikan ...

5. Riau Adalah Tanah Air Kebudayaan Melayu

Dalam sebuah majalah yang diterbitkan di Kota Pekanbaru, dengan jelas disebutkan kalimat tersebut di atas. Anggapan tersebut didukung oleh berbagai fakta kesejarahan yang hingga kini masih hidup di kawasan ini. Sejumlah suku asli seperti Sakai, Bonai, Akit, Hutan, Petalangan, Talang Mamak, Duana, dan lain-lain masih eksis dan memberi petunjuk bahwa peradaban prasejarah hingga ke periode Hindu-Buddha pernah ada, bahkan imperium Sriwijaya pun pernah bertapak di negeri ini. Riau sebagai pusat aktivitas budaya Melayu mencerminkan tempat pemeliharaan berkesinambungan sekaligus produksi seni budaya Melayu, baik yang berupa warisan tradisional, meliputi artefak atau benda-benda budaya, seni bahasa dan sastra, seni rupa, dan seni pertunjukan, serta upacara-upacara adat dan keagama- an.

Pada tahun 2001, pemerintah dan masyarakat Provinsi Riau mengambil keputusan politik tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah Riau dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) Nomor 36 Tahun 2001, yang di dalamnya termaktub visi Riau 2020. Visi tersebut berbunyi "Terwujudnya Riau sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan Melayu di lingkungan masyarakat yang agamis sejahtera lahir dan batin di Asia tenggara pada tahun 2020". Berdasarkan kalimat visi Riau 2020, subyek utama yang ingin dicapai dari setiap aktivitas pembangunan di Riau adalah Riau sebagai pusat perekonomian dan pusat kebudayaan Melayu dengan bentangan ruang (locus) Asia Tenggara.

Posisi Riau di masa depan tersebut, meniscayakan Riau pada tahun 2020 dalam bidang seni budaya menjadi pusat pemeliharaan, aktivitas, dan kreativitas serta even-even pembentangan dan diseminasi (penyebaran) produk-produk seni budaya Melayu dengan rentang kawasan nusantara (Asia Tenggara). Riau sebagai pusat aktivitas seni budaya Melayu adalah bahwa Riau merupakan tempat pemeliharaan berkesinambungan, sekaligus aktivitas produksi seni budaya Melayu, baik seni budaya Melayu warisan (tradisional) meliputi artefak atau benda-benda budaya, seni pertunjukan termasuk upacara-upacara

Pendidikan ... [51

adat, pengobatan dan keagamaan, maupun seni budaya modern (Majalah Citra Riau, Culture Edition, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau : 45). Melalui perkumpulan para cendekiawan Riau Rusydiah Kelab, tradisi pernaskahan semakin kuat karena tiap anggota harus memiliki karya.

Menurut Henri Chambert Loir dan Oman Fathurahman, naskah Melayu sering muncul seiring dengan berkembangnya kesusasteraan Melayu sejak abad ke-14 di beberapa Banclar di kedua sisi Selat Malaka. Pada waktu itu, bahasa Melayu sudah berabad -abad tersebar di Kepulauan Indonesia dan di dunia Melayu pada umumnya sebagai bahasa perantara (lingua franco) dan sudah pula menjadi media dakwah agama Islam. Oleh karena itu, sastra Melayu yang tertulis dengan huruf Arab menyebar pula ke seluruh dunia Nusantara. Karya-karya dalam bahasa Melayu tidak ditulis di Riau atau di Semenanjung Melayu saja, tetapi juga di berbagai pusat kerajaan yang berjauhan seperti di Aceh, Bima, dan Ternate.

Demikian j uga, berbagai penelitian yang dilakukan terhadap naskah-naskah Melayu semakin memperkaya kehidupan masa lalu Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu (Citra Riau, Takkan Melayu Hilang Di Bumi, Culture Edition, Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Provinsi Riau, tak bertahun). Di Riau, juga lahir sejumlah sastrawan kenamaan seperti Abdullah Bin Abdulkadir Munsyi, H. Suman HS, Raja Ali Haji, Ediruslan Pe Amanriza, Tenas Effendy, Dr. Tabrani Rab, Wan Galib, dan sederet nama besar lain sebagai penggiat seni pertunjukan tradisional Melayu, yang mengangkat sastra lisan Melayu menjadi sugu han yang sang at menarik seperti Makyong.

Dalam pertemuan di Kantor Lembaga Adat Melayu (LAM), saya berkesempatan mewawancari beliau khususnya untuk menanyakan sejauhmana fungsi dongeng pada masya rakat Melayu Riau masa kini. Menurut beliau, "Zaman sekorang banyak orang yang kehi/angan tokoh te/odon boik do/om kehidupan nyato maupun yang tercermin dafom dongeng. 0/eh sebab itu, tidak heron apabi/a /ahir berbogoi permasa/ahan seperti kekerasan, korupsi, rendahnya penghormatan

Melayu, agar potensi budaya yang mengandung unsur pendidikan karakter tadi bisa tetap eksis menyertai kemajuan zaman ini. Jika dilihat dari sumber pembelajaran, daerah Riau sejak dulu dikenal sebagai ranah budaya yang kayo dan memiliki sastrawan terkenal, dari tangan mereka lahir berbagai karya yang seharusnya digunakan sebagai rujukan pendidikan karakter" (Wawancara dengan budayawan Riau Tenas Effendy, tanggal 17 Desember 2013, di Kantor LAM).

C. KEDUDUKAN SASTRA USAN "DONGENG" DALAM KEBUDAYAAN MELAVU RIAU

  1. Dongeng sebagai Sumber Informasi Kebudayaan dan Pemanfaatannya dalam Kehidupan Orang Melayu Jauh sebelum tradisi tulis berkembang, orang Melayu Riau sesungguhnya sudah mengenal tradisi lisan termasuk di dalamnya penuturan berbagai dongeng, pantun, dan sejenisnya. Sastra lisan tersebut disampaikan melalui mulut dari orang tua kepada anak, cucu, dari cucu kepada cicit dan seterusnya. Dari dunia sastra tersebut, dikenal banyak sekali cerita rakyat, dongeng yang seluruhnya sarat dengan nilai-nilai luhur budaya Melayu. Di antara sastra lisan tersebut, banyak di antaranya yang didengarkan dan dihayati bersama-sama pada peristiwa-peristiwa tertentu dan dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan.

Selain untuk keperluan tersebut di atas, sastra lisan digunakan pula sebagai penghibur hati yang gundah oleh seorang tukang cerita. Sesungguhnya bagi orang Melayu, seni bercerita atau tradisi lisan ini bisa meningkatkan kebersamaan antara mereka, karena seringnya berkumpul mendengarkan ce rita yang dituturkan. Dapat dikatakan bahwa dongeng-dongeng Melayu rnenjadi sumber inforrnasi kebudayaan, karena sejak zaman dahulu, orang Riau sudah memiliki tradisi mendongeng yang dilakukan dengan cara dinyanyikan "kobo ". Tradisi lisan ini, bisa dijumpai di daerah sepanjang aliran Sungai Rokan, sedangkan di daerah lain sudah hampir punah karena tergantikan dengan kehadiran televisi. Sastra lisan ini disampaikan seseorang yang disebut tukong kobo yang mengabarkan berita, fungsinya sebagai media interaksi budaya, agama, dan sosial dalam masyarakat.

Selain menghibur pendengarnya, sesungguhnya "kobo " yang disampaikan berupa kisah-kisah yang bersumber dari khasanah dongeng Melayu yang merangkum banyak petatah -petitih. Selain "kobo ", ada juga yang disebut "Modihin " yang mendendangkan puisi, pantun atau syair yang mengandung unsur hiburan dan pendidikan. Sementara itu, tradisi "nondung " atau "senondung " juga masih hidup di kalangan masyarakat Riau terutama di daerah Dumai, Indragiri Hulu, Pelalawan, dan Bengkalis. Tradisi "nondung " mengandung arti untaian atau rangkaian kata yang disampaikan dengan menggunakan irarna. Istilah nondung dikenal sebagai tradisi menidurkan anak sambil mendendangkan kata-kata hikmah yang rnempunyai muatan kolimoh thoyyiboh, berupa nasihat aga r si anak kelak menjadi manusia yang baik budi pekerti, perilaku, bertakwa dan sopan santunnya terjaga.

Tradisi yang serupa dengan nandung adalah "denden ", yakni sastra lisan yang dimiliki oleh suku Duanu (suku laut) yang menetap di Kecamatan Concong Kabupaten Inderagiri Hilir. Tradisi denden berupa nyanyian panjang yang biasa dilakukan oleh para ibu di saat menidurkan anak mereka dalam buaian di atas perahu. Kini membuai anak dengan menggunakan denden tidak lagi dalam perahu, tetapi di rumah panggung yang berjejer menghadap muara di Kampong Panglima Raja. Menurut Tenas Effendy dalam bukunya Keorifon

Pemikiran fVTelayu, upaya menanamkan nilai-nilai luhur kepada anak harus dilakukan sejak dini agar anak menjadi "orang" yang sempurna lahiriah dan batiniah, antara lain dengan bercerita sebelum tidur (Effendy, T, 2013 : 59).

Hal ini mengandung pengertian bahwa mendidik anak dilakukan bukan hanya di lembaga pendidikan formal, tetapi juga menjadi tanggung jawab keluarga, antara lain dengan memanfaatkan dongeng-dongeng Melayu yang mengandung nilai pendidikan karakter. Seorang sastrawan, budayawan terkemuka dari Riau Haji Suman HS, menyatakan bahwa dongeng dalam kehidupan orang Melayu di Riau tidak ubahnya seperti sumber informasi, yang mengandung banyak makna. Menurut Suman, dahulu dongeng itu disampaikan oleh seseorang kepada para pendengarnya dengan cara bercerita atau berkabar, bukan dengan membaca karena memang waktu itu orang belum pandai menulis dan membaca. Pendongeng waktu itu umumnya orang tua-tua, kebanyakan kaum wanita. Makin tua yang mendongeng makin disukai karena dipandang telah banyak makan asam garam kehidupan dalam arti pengalamannya sudah luas.

Mendongeng itu dilakukan pada waktu santai, yakni setelah orang-orang menyelesaikan pekerjaan sehari-hari baik di sawah atau di ladang. Pada waktu yang telah disepakati warga kampung berdatangan ke rumah si pendongeng untuk mendengar cerita yang akan disampaikan. Para pendengar itu terdiri atas anak-anak, remaja, bahkan orang tua atau yang sudah dewasa. Sebagaimana seorang ahli pidato, tukang dongeng akan menyampaikan cerita-cerita yang telah disiapkan dengan sebaik-baiknya. Pendengar biasanya sangat tertarik karena tidak sekedar bicara, pendongeng menyampaikan cerita itu dengan kalimat-kalimat yang indah, diselingi kata-kata lucu, sedih, dan sebagainya. Dengan demikian, pendengar acapkali hanyut dalam suasana yang tercipta dan benar-benar meresapi dongeng tersebut. Si pendongeng tidak hanya bercerita, tetapi juga menyelipkan banyak nilai-nilai luhur budaya yang didukungnya seperti, pentingnya memiliki budi pekerti yang baik, jujur, takwa kepada Tuhan YME, setia, dan

Pendengar tidak pernah merasa bosan dengan cerita itu, karena diselingi dengan pantun, gurindam, atau seloka.

Demikianlah bahwa tradisi lisan atau dongeng merniliki kedudukan yang penting dalam kehidupan masyarakat Melayu Riau, bukan sekedar pengisi waktu luang sebagi penghibur, melainkan mengajarkan sifat-sifat baik dan positif melalui tokoh-tokoh dalam dongeng tersebut (Intisari dari tulisan Haji Suman HS pada Seminar Masyarakat Melayu Riau da n Kebudayaannya, tahun 1986). Tidak berbeda dengan pendapat Haji Suman HS di atas, budayawan terkemuka Riau yakni Bapak Tenas Effendi pun menyatakan hal yang sama, bahwa peran orang tua terutama ibu sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan karakter dan perilaku seseorang. Ibarat ungkapan begitu gendong begitu torinyo. Artinya, menggambarkan adanya keterkaitan sebab akibat antara sikap, dan sifat orang tua dengan anak.

Orang tua yang ba ik, berpendidikan dan bersikap sayang terhadap sesamanya selalu mempunyai anak yang bertuah. Karenanya, diberikanlah peringatan dalam berbagai bentuk seperti ungkapan "Kolou onok tidok dipinok, hutong bertomboh morwoh tercompok, kaum binoso bongso pun rusok dunio okhirot bebon dibowo ". Artinya, keluarga sehat dan bahagia akan mendukung keberhasilan pembinaan nilai-nilai luhur dalam diri anak sebagai generasi penerus harapan bangsa sedini dan seefektif mungkin. Intinya banyak bahan ajar yang bisa dirujuk untuk membina generasi muda, selain dongeng juga ungkapan tradisional, bahkan permainan rakyat. (Majalah Citra Riau, Takkan Melayu Hilang di Bumi, Art Edition, Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Provinsi Riau, tak bertahun).

Dalam bu kunya Keorifon Pemikiron Meloyu, Tenas Effendy juga menyatakan bahwa apabila anak mulai rnengerti, upaya menanamkan nilai-nilai luhur itu dilakukan pula dengan bercerita sebelum atau menjelang tidur. Orang tua, nenek atau siapa saja, sebelum tidur bercerita kepada anak atau cucunya dengan berbagai kisah (cerita rakyat) yang isinya penuh dengan tunjuk ajar. Berbagai tema cerita,

Pendidikan ...

diceritakan kepada anak, sehingga anak menyerap nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Di dalam masyarakat Melayu, cerita-cerita rakyat amatlah banyak jumlahnya. Ada cerita yang dituturkan dengan bahasa percakapan biasa, ada pula yang disampaikan dengan irama tertentu seperti kobo, khoyot, ponjong, dan sebagainya. Berbagai ungkapan, termasuk ungkapan-ungkapan adat, pantun-pantun, dan sebagainya (Effendy, 2013 : 59).

2. Tema Utama dalam Sastra lisan (Dongeng) Melayu Riau

Karya-karya sastra Melayu Riau termasuk dongengnya sesungguhnya merupakan sastra daerah yang merekam segala aspek kehidupan bangsa Melayu, jasmaniah dan rohaniah dalam berbagai bentuk. Sastra tadi berkembang sesuai dengan perkembangan pendukungnya dari taraf yang paling sederhana melalui bentuk lisan, dan dijumpai di kampung-kampung sampai yang tertuang dalam tulisan. Orang Melayu juga sangat menjunjung tinggi pemeliharaan kehidupan rohani seperti yang diuraikan di atas, maka ajaran moral (kejujuran, kesetiaan, ketakwaan, hormat pada orang tua, kerja keras, dan sebagainya) merupakan fokus sentral dalam isi setiap karya sastranya.

Fokus utama tersebut didukung oleh fokus-fokus atau tema-tema turunannya, seperti dalam wiracarita yang merupakan titik pusat perhatian adalah unsur kepahlawanan yang dilengkapi dengan kisah- kisah pertempuran, maka dapat kita tangkap tujuan akhir dari cerita itu merujuk kepada kebenaran, keadilan, cinta pada negara, dan kepahlawanan. Tema seperti itu dicerminkan melalui Hikayat Hang Tuah, bahwa raja adalah wakil Tuhan di dunia yang menyandang atribut sifat-sifat yang ideal (Sutrisno, 1986: 83).

3. Kondisi Kehidupan Sastra Lisan (Dongeng) di Dalam Kehidupan Masyarakat Melayu Riau Dewasa Ini

Data dan informasi yang diperoleh baik melalui wawancara dengan narasumber, informan maupun tokoh masyarakat, dan

Pend id ikan .. [57

budayawan di Kota Pekanbaru Riau, mencerminkan keinginan yang kuat untuk meningkatkan ketahanan budaya Melayu, terutama yang berkaitan dengan penanaman nilai -n ilai budaya luhur kepada generasi muda. Kota Pekanbaru sebaga i ibukota Provinsi Riau sekaligus sebagai pusat kebudayaan Melayu, serta umumnya di wilayah kebudayaan Melayu seperti Kerinc i, Kampa r, Duri, Dumai, Indragiri, dan Pelalawan diketahui mempunyai keinginan sama, yakni menghidupkan kembali model atau cara penanaman nilai melalui potensi budaya (sastra lisan Melayu).

Sej ak lama Provinsi Riau dikenal sebagai daerah yang sangat kaya dengan potensi budaya yang mengandung nilai -nilai luhur dan bermanfaat untuk meningkatkan adab hidup masyarakatnya. Sebutan Riau adalah Tanah Air Kebudayaan Melayu memang tak terbantahkan. Anggapan tersebut didukung oleh berbagai fakta kesejarahan yang umumnya bisa dibaca dan ditelaah lewat naskah-naskah yang ditulis oleh leluhur orang Riau.

Meskipun kehidupan budaya kh ususnya sastra Melayu hingga kini masih hidup di kalangan masyarakat Riau, namun banyak p1hak yang beranggapan bahwa kin i sudah tampak adanya gejala penurunan nilai-nilai (moral) terutama di kalangan generasi muda. Gejala "lupa" terhadap nilai-nilai luhur bangsa sangat terlihat terutama dengan hadirnya berbagai media baik cetak maupun elektronik yang menyajikan pentas dunia dengan mendukung nilai-nilai baru, sekalipun banyak diantaranya yang tidak memiliki muatan nilai positif bagi perkembangan kepribadian anak. Contoh yang paling nyata adalah pengetahuan ana k-anak yang lebih dekat kepada tokoh-tokoh dalam film fiksi. Gaya tokoh tersebut telah membius imajinasi anak -a nak untuk lebih menempatkan mereka seperti tokoh idola sekaligus tokoh yang perlu ditiru daripada meng idolakan tokoh-tokoh yang ada dalam dongeng. Anak-anak tidak menyadari bahwa tokoh-tokoh seperti Batman, Superman, dan lainnya itu kurang sesuai dengan kepribadian bangsanya. Akibat yang lebih j auh adalah hilangnya kecintaan kepada budaya lokal.

lisan khususnya dongeng, diakui oleh Tenas Effendi, bahwa kerisauannya di Riau dewasa ini ialah apabila menengok anak-anak muda hari ini bagaikan tercerabut dari nilai-nilai kebudayaannya yang diakibatkan kemajuan sains dan teknologi. Bahkan peluang untuk memberi nasehat itu hampir tidak ada. Anak-anak asyik berkurung diri di kamar dengan Handphone, Tab, !pad, dan lain sebagainya. Di sinilah bermula nilai-nilai budaya itu mulai pupus.

Masih menurut Tenas, sampai hari ini kita hanya sebatas melakukan seminar, pertemuan dan lainnya tetapi menurutnya langkah-langkah nyata belum banyak dilakukan. Kita berusaha untuk melakukan realisasi-realisasi yang nyata dalam bentuk kerjasama dengan sekolah dan universitas yang ada, misalnya LAM terjun langsung ke sekolah-sekolah dan universitas tersebut, menerbitkan buku juga adalah salah satu solusinya (disampaikan dalam pertemuan Sastrawan Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, dan Thailand di Pekanbaru, 21 Desember 2014).

Salah satu akibat dari menurunnya kehidupan sastra tersebut adalah hilangnya tradisi mendongeng yang sangat mempengaruhi perilaku anak-anak di masa kini. Dapat dikatakan mereka tidak tahu lagi adat dan sopan santun, jika berhadapan dengan orang tua atau yang dituakan. Kehalusan budi pekerti seperti yang banyak dicontohkan melalui dongeng tidak lagi tampak dalam perangai mereka. Lebih menyedihkan lagi, karena institusi pendidikan formal tempat penyemaian nilai-nilai budaya tidak lagi mempedulikan karya-karya sastra sebagai mata pelajaran penting sebagai rujukan perilaku, karena telah dihapus dari daftar mata pelajaran.

D. LANGKAH YANG DITEMPUH UNTUK MEMFUNGSIKAN KEMBAU PERAN TRADISI USAN (DONGENG)

Seperti telah disebutkan di atas, gejala hilangnya tradisi lisan (dongeng) di kalangan masyarakat Melayu Riau sudah semakin nampak dalam kehidupan sehari-hari. Kekhawatiran yang timbul dari kalangan

Pend idikan ... [59

tokoh-tokoh adat, budayawan, sastrawa n Riau, maupun para guru, dan orang tua telah mendorong semangat pihak dinas terkait untuk melakukan kegiatan yang menjawab kehendak masyarakat Riau yang merasa perlu untuk mengembalikan kejayaan dunia sastra Melayu. Semangat untuk menggali dan menginventarisir potensi tradisi lisan (dongeng), j uga dipicu ol eh adanya kenyataa n bahwa untuk membangun kara kter dan kepribadian anak perlu bercermin kepada filosofis budaya yang didukungnya, bukan kepada nilai-nilai asing yang belum tentu sesuai dengan dunia Melayu. Langkah -langkah tersebut antara la in dipaparkan di bawah ini :

(1) Sesuai dengan perkembangan zaman, dan menyesuaikan dengan dinamika kebudayaan, maka Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau sebagai pihak yang paling terkait dengan kehidupan nilai budaya, bahasa dan sen i telah melakukan upaya penginventarisasian, dan penulisan tradisi lisan (d ongeng Melayu). Kegiatan ini ditindaklanjuti dengan penerbitan menjadi buku dongeng Melayu, agar bi sa disebarluaskan dan dibaca oleh masya ra kat luas. Selain diterbitka n menjadi buku, sejumlah tradisi lisan (dongeng) telah direkam menj adi CD yang bisa didengar oleh semu a orang. Hingga ta hu n 2013, telah terhimpun sebanyak 12 (dua belas) dongeng dengan berbagai tema, namun intinya merujuk kepada pendidikan kara kter dan budi pekerti. Upaya penerbitan in i, tujuannya tidak la in agar kekayaan tradisi lisan/ dongeng Melayu tidak hila ng karena masyarakat Riau dewasa ini cenderung menyukai hal-ha l yang lebih praktis, seperti membaca, menonton, dan meninggalkan trad isi lama seperti mendengarkan tukang kobo bercerita. Menurut keterangan pejabat setempat, upaya tersebut dilanjutkan tahun mendatang, karena diakui masih sangat banyak tradisi lisan (d ong eng) ya ng hidup di daerah pedalaman Riau.
(2) Tahun 2005, sebuah tim di bawa h koordinasi Dinas Kebudayaan, Keseni an, da n Pariwisata Provi nsi Riau, menerbitkan kumpulan cerita rakyat daerah Ria u yang sebelumnya digali dari seluruh daerah di wilayah Provinsi Riau. Cerita yang terkumpul seluruhnya

Konsep Pendidikan ...

berasal dari tradisi lisan (dongeng) yang menyebar dari mulut ke mulut, dan diawariskan secara turun temurun. Sebagaimana yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2013, tujuan dari kegiatan ini tidak lain untuk melestarikan tradisi lisan (dongeng) Melayu agar tidak punah. Cerita yang tersebar hingga ke daerah Sumatera Barat, Tapanuli, dan pesisir Riau ini, pada umumnya termasuk dalam epik, yakni kisah-kisah yang bersifat obyektif atau dengan pandangan obyektif diceritakan oleh pengarangnya. Secara keseluruhan, kisahnya mengandung nilai pendidikan karakter seperti, kejujuran, ketakwaan kepada Tuhan YME, kesetiakawanan, kepahlawanan, dan penghormatan kepada orang tua atau yang dituakan. Dalam buku ini, juga terdapat karya Raja Ali Haji berupa Gurindam 12 sebuah karya besar yang sarat dengan pendidikan akhlak. Dengan telah dibukukannya tradisi lisan (dongeng) diharapkan masyarakat Melayu Riau bisa membaca kembali, dan tidak melupakan tradisi lisan yang pernah dimilikinya dahulu.

(3) Lembaga Adat Melayu "LAM" adalah sebuah institusi adat yang dibentuk 42 tahun silam, telah banyak melakukan kegiatan yang intinya meningkatkan pemahaman tentang pentingnya memper- kokoh kebudayaan Melayu (sebagaimana yang tercermin dalam visi, misi, dan anggaran rumah tangga LAM). Di antara sekian banyak program, sejumlah buku yang berisi ajaran, imbauan praktis kepada para orang tua untuk mencermati pemikiran Melayu tentang pendidikan dalam keluarga. Haji Tenas Effendi adalah Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) menulis buku yang berjudul Kearifan Pemikiran Melayu. Pada Bab II tentang Pendidikan, disebutkan bahwa salah satu cara pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai luhur terhadap anak, khususnya dan seluruh anggota masyarakat adalah dengan bercerita sebelum tidur. Menurut beliau, apabila anak mulai mengerti, upaya menanamkan nilai-nilai itu dilakukan dengan tradisi mendongeng sebelum tidur atau menjelang tidur. Orang tua, nenek, atau siapa saja, sebelum tidur bercerita kepada anak

ajar. Berbagai tema cerita disampaikan kepada anak, sehingga anak menyerap nilai -nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Di dalam masyarakat Melayu, cerita -cerita rakyat amatlah banyak jumlahnya. Ada cerita yang dituturkan dengan bahasa percakapan biasa, ada pula yang disampaikan dengan irama tertentu (seperti kobo, khayat, nyanyian panjang, dan sebagainya). Cerita -cerita itu lazimnya dilengkapi pula dengan berbagai ungkapan, termasuk ungkapan-ungkapan adat, pantun-pantun, dan sebagainya (Effendi, 2013:59). Dengan demikian, jelas bahwa bercerita sangat penting karena bisa menjadi jembatan yang menyampaikan nilai-nilai kepada anak atau siapa saja yang mendengarnya. Disebutkan bahwa nilai-nilai luhur yang ditanamkan melalui cerita itu, antara lain yang disebut Pakaian Duo Pu/uh Lima, yakn i: 1. Sifat tahu asal mula jadi, tahu berpegang pada yang satu, 2. Sifat tahu membalas budi, 3. Sifat hidup bertenggangan, 4. Sifat tahu akan bodoh diri, 5. Sifat tahu diri, 6. Sifat hidup memegang amanah, 7. Sifat jujur dan lurus, berkata lurus, 8. Sifat pantang menyerah, 9. Sifat arif, bijaksana, cekatan, 10. Sifat mahir dalam menyusun strategi, dan 15 lain yang seluruhnya merujuk kepada karakter yang diharapkan sebagai orang Melayu.

(4) Memberikan dukungan terhadap tradisi lisan yang masih bertahan di sepanjang aliran Sungai Rokan, yakni tradisi kobo, sejenis sastra lisan yang disampaikan oleh tukang kobo atau berarti pula mengabarkan berita. Fungsinya sebagai media interaksi budaya, agama, dan sosial dalam masyarakat, khususnya pada komunitas Melayu Rokan Hulu. Menurut budayawan Riau Rohul AI Azhar, kobo sama dengan cerita yang dituturkan dengan cara didendang- kan atau bukoba oleh seorang tukang cerita. Kisah-kisah yang dituturkan sarat dengan nasihat seperti tentang kepahlawanan, kecintaan kepada tanah air, kesetiaan, dan sifat -sifat lain, merujuk kepada kemuliaan manusia. Konon, pada zaman dahulu kobo

Pendidikan ...

dilakukan oleh yang ingin menidurkan anaknya, namun sekarang terjadi pergeseran peran, pria pun bisa menjadi tukang koba.

(5) Program masuk sekolah atau sekolah berkunjung ke markas LAM. Program ini bertujuan untuk mentransformasikan adat budaya Melayu kepada kalangan generasi muda dan siswa sekolah. Selain untuk meningkatkan ketahanan budaya Melayu di kalangan generasi muda, program ini pun mempunyai tujuan untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya Melayu sebagai rujukan untuk menanamkan pendidikan karakter dan budi pekerti sejak dini. LAM sangat menyadari bahwa generasi muda muda dewasa ini, telah kehilangan tokoh teladan yang mampu menularkan sifat-sifat mulia dan amanah, untuk menyiasati kekosongan akan sosok tokoh teladan, LAM menyumbangkan banyak buku yang ditulis oleh sastrawan-sastrawan Riau khsususnya yang berkenaan dengan cerita rakyat Riau kepada masyarakat luas, sekolah, dan perkumpulan yang peduli terhadap kebudayaan.
(6) Badan Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi Provinsi Riau adalah salah satu institusi yang menjadi bagian dari Pemerintah Provinsi Riau. Institusi ini memiliki sejumlah program antara lain menghimpun, menganalisis, dan mensosial isasikan berbagai potensi budaya Riau yang terwujud baik dalam buku, naskah, atau tulisan dari para sastrawan, budayawan, bukan saja yang berasal dari Riau, tetapi juga dari luar daerah Riau. Salah satu bagian dari institusi tersebut adalah Perpustakaan H. Suman HS yang memiliki ribuan koleksi buku, naskah, dan tulisan lainnya. Di perpustakaan ini, telah terhimpun lebih dari SO judul tradisi lisan (dongeng) yang kemudian ditulis agar tidak mengalami kepunahan. Kini, masyarakat yang tidak bisa mendengar cerita tukang koba, bisa membaca dongeng-dongeng di perpustakaan ini. Program lain yang menjadi agenda perpustakaan H. Suman HS adalah berkunjung ke sekolah-sekolah dari tingkat Sekolah Dasar hingga menengah di kawasan Kota Pekanbaru. Kegiatan yang dilakukan oleh pengelola dan pegawai perpustakaan, adalah untuk

berdialog dengan siswa. Dalam kegiatan ini, dibagikan juga buku dongeng, kemudian secara berkelompok para siswa diharuskan menceritakan kembali materi yang dibacanya. Terakhir, siswa diminta untuk menjelaskan kira-kira nilai apa saja yang terkandung dalam dongeng yang mereka baca tersebut. Menurut pengelola perpustakaan, tujuan kegiatan ini selain untuk memberi semangat membaca kepada siswa, juga untuk mendukung program pemerintah dalam upaya membangun karakter bangsa.

(7) Penelitian yang dilakukan mulai tanggal 15 sampai dengan 23 Desember 2013, selain telah menghimpun sejumlah pendapat dari narasumber, inform·an dan pejabat di lingkungan Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, juga menginventarisir lebih dari 50 tradisi lisan (dongeng) baik yang telah ditulis maupun dalam bentuk CD (berisi koba, khayat, nandung). Setelah ditelaah, diperoleh 12 (duabelas) dongeng yang mengandung nilai-nilai yang diperlukan untuk membentuk kepribadian anak antara lain takwa kepada Tuhan YME (sa leh), hormat kepada orang tua, dan nilai lain yang dapat membentuk kepribadian yang baik.

E. ANAUSIS ISI DONGENG MELAVU VANG MENGANDUNG NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER

Keteladanan adalah metode efektif dalam pendidikan karakter, karena keteladanan mampu memberikan contoh nyata bagaimana seseorang harus bersikap dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Di era globalisasi yang nyaris sudah tidak terbendung lag i, setiap orang mampu mengakses informasi apapun, dari manapun atau tentang apapun. Berita-berita tentang kekerasan, ketidakjujuran, kecurangan, tawuran antarpelajar senantiasa menghiasi layar. kaca setiap saat. Peristiwa tersebut menjadi hal yang biasa, apalagi berita tertulis di berbagai media masa pun kini lebih semarak menjadi santapan masyarakat sehari-hari. Sikap dan perilaku menyimpang dari keadaban nilai dan norma tersebut, juga melanda bukan hanya masyarakat kalangan bawah tetapi justru dilakukan oleh banyak pimpinan dan

64] Konsep Pendidikan...

orang-orang terkemuka di negeri ini. Kebohongan publik disertai sikap yang memperlihatkan ketidakadilan, pada gilirannya berdampak pada ketidakpercayaan masyarakat kepada pimpinan. Di kalangan anak-anak, kondisi kemasyarakatan seperti yang digambarkan di atas, telah melenyapkan impian mereka tentang tokoh teladan, tentang idealisme hidup, dan kesantunan perilaku. Tokoh-tokoh yang menjadi pengganti, biasanya hadir dari kalangan selebriti, bintang-bintang iklan dan model yang bisa kaya dalam sekejap. Dilihat dari sisi moral, sebetulnya anak-anak kita kini hidup dalam ruang nihil terutama kepekaannya terhadap moral. Mereka sudah tidak tahu malu, dan dusta hadir di mana-mana. Menyikapi kondisi tersebut, peran lembaga pendidikan formal dan keluarga sungguh strategis untuk menciptakan lingkungan yang kondusif dan membentuk karakter. Sementara itu, keteladanan yang dapat ditemukan siswa adalah selalu ingat kepada Tuhan, kejujuran, tenggang rasa (toleran), sabar, pantang menyerah, tanggung jawab, rukun, rajin beribadah, sopan santun, dan menghargai sesama. Nilai- nilai inilah yang diupayakan dapat digunakan sebagai pembentuk watak generasi bangsa. Dengan memperhatikan berbagai kenyataan di atas, maka pendapat banyak pihak tentang dongeng sebagai media pembelajaran karena dongeng memiliki berbagai fungsi di bawah ini adalah benar adanya. Fungsi-fungsi tersebut adalah:

(1) Fungsi mistis, yakni kemampuan dongeng untuk menafsirkan kekaguman atas tokoh-tokoh yang ada dalam dongeng.
(2) Fungsi kosmologis, yakni kemampuan dongeng untuk menjelaskan setting atau suasana yang dibangun dan menjadi latar dongeng misalnya alam dan lingkungannya.
(3) Fungsi sosiologis, yakni sebuah dongeng selalu mendukung dan mengerahkan tata tertib sosial tertentu.

(4) Fungsi pedagogis, yakni dalam sebuah dongeng diajarkan

bagaimana menjalani hidup sebagai manusia dalam keadaan apapun.

atas, dongeng Melayu juga umumnya merujuk kepada ciri-ciri pengetahuan, tradisi, dan pantang larang yang telah diwarisi turun -temurun dalam bentuk oral, bertulis, dan perlambangan. Dongeng itu, menurut orang Melayu diciptakan dengan tujuan sebagai bahan pengajaran kepada anak -anak dengan sudut pandang yang positif dan membantu ibu bapak mendidik anak-anak dengan kesopanan juga adat resam (aturan -aturan yang menjadi adat). Dongeng Melayu pada zaman sekarang telah banyak dibukukan, dengan maksud untuk menjad i bahan pendidikan anak-a nak pada usia dini.

F. DONGENG MELAVU YANG MENJADI BAHAN PENGAJARAN/ PENDIDIKAN

(1) Kisah atau dongeng yang mengajarkan agar anak-anak tidak durhaka kepada ibu dan bapaknya. Dongeng yang bercorak demikian banyak ditemukan pada kebudayaan Melayu. Contohnya: Dongeng Malin Kundang, Dongeng Si Lancang, Dongeng Si Kantan, Asal Muasal Burung Punai, Kisah Batang Tuaka, Si Mikin, dan sebagainya. Kisah ini diawali dengan keinginan sepasang suami isteri untuk mempunyai anak, karena sekian lamanya berumah tangga belum juga dikaruniai seorang anak pun. Setelah memohon siang dan malam kepada Tu han, akhirnya mereka diberi seorang anak laki-laki yang tampan. Karena sekian lama menanti, sudah tentu anak tersebut menjadi kesayan gan keduanya, dan sangat dimanjakan hidupnya. Ketika menj elang remaja si bujang sudah ditinggal ayahnya ke alam baka, hingga ia dibesarkan oleh ibunya seorang diri. Suatu saat, si bujang meminta izin ibunya untuk pegi merantau ke negeri seberang, karena ia ingin berusaha menjadi orang yang sukses. Dikisahkan bahwa bujang berhasil menjadi saudagar kaya, dan mempunyai seorang isteri yang cantik. Merekapun hidup dalam kemewahan, mempunyai usaha yang bagus, dan kapal yang mewah, hingga suatu hari si bujang berkeinginan melihat kampung halaman

Pendidikan ...

tempatnya dilahirkan. Mereka pun berlayar hingga ke kampung halaman si bujang. Sesampai di dermaga penduduk setempat mengelu-elukan kedatangan kapal mewah dan berbondong-bondong melihatnya ke dermaga pelabuhan. Penduduk terpesona oleh kehadiran pemilik kapal yang sangat tampan dan isteri yang cantik. Di antara kerumunan penduduk itu, hadir seorang perempuan tua, beruban dan bajunya sudah lapuk dimakan usia. Bagi perempuan tua itu, jelas bahwa saudagar kaya dan tampan itu adalah anaknya sendiri yang belasan tahun merantau.

Rasa rindu kepada anaknya membuat perempuan itu berlari menghampiri kapal mewah sambil memanggil-manggil nama anaknya. Si bujang yang sudah menjadi orang kaya itu terkejut, dan merasa sangat malu oleh isterinya karena dihampiri seorang perempuan tua yang kotor. Iapun menghardiknya, sambil mengatakan bahwa ia tidak mengenal perempuan itu, apalagi mengakuinya sebagai ibu. Sekalipun perempuan tua itu sakit hati, namun tetap memohon agar Tuhan memberinya hidayah agar si bujang mengenali dirinya sebagai ibu kandungnya. Namun dongeng tersebut selalu berakhir dengan pahit, ada yang menjadikan si bujang sebagai batu, tenggelam ke dalam laut, menjadi ada pula yang si bujang kemudian menjadi burung punai atau burung elang.

Dongeng anak durhaka itu dijumpai di hampir seluruh wilayah Riau seperti Pekanbaru, Kampar, Indragiri Hulu, Kerinci, Duri, Dumai dan Sungai Rokan. Sekali pun ending cerita berbeda-beda antara satu dengan lainnya, akan tetapi jalur dongeng serupa, yakni kisah seorang anak laki-laki yang tidak membalas budi ibunya. Pelajaran yang bisa diangkat dari dongeng tersebut antara lain; Pertama, dongeng-dongeng yang disebutkan di atas seluruhnya mempunyai tokoh laki-laki, dan seorang perempuan tua sebagai ibunya. Tidak pernah diketahui kisah ayahnya karena dalam setiap dongeng hanya diceritakan mereka hidup berdua dalam sebuah rumah yang sangat sederhana, dan hidup miskin. Kedua, suatu saat si anak pergi merantau, untuk merubah nasibnya. Ia memang berhasil menjadi saudagar yang kaya raya, dan mempunyai isteri cantik. Ketiga, ada pertemuan dengan

dalam kondisi yang berbeda sehingga si anak yang sudah kaya tadi malu mengakui ibunya. Keempat, azab datang menghukum si anak yang durhaka, dengan ending yang berbeda.

Makna yang bisa diambil sebagai pelajaran adalah seorang anak wajib menghormati orang tua terutama ibu yang telah mengandung dan melahirkannya, keharusan seorang anak (laki- laki) bekerja keras hingga berhasil menggapai cita -c itanya, namun tidak membuatnya sombong (ang kuh) dan melupakan orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Pelaj aran yang paling menyentuh adalah saat ibunya menangis dan berdoa kepada Tuhan, hingga kemudian azab menimpa anaknya. Sekalipun ibu tidak menerima takdir itu, tetapi takdir Tuhan harus mereka terima sebagai suatu pelajaran berharga. Artinya, kesombongan dan kemunafikan adalah perbuatan yang paling tidak disukai Tuhan, agar menj adi pelajaran bagi umat manusia lainnya.

(2) Dongeng yang mengandung nilai pendidikan, akibat anak perempuan bersifat angkuh, materialistis, dan kasar. Dongeng bercorak in i banyak dijumpai di wilayah kebudayaan Melayu, seperti Riau dan daerah penyangganya, Sumatera Barat, bahkan di Semenanjung Malaka dan Johor. Sekalipun nama dongeng berbeda-beda, namun isi cerita sama, hanya setting dongeng yang disesuaikan dengan tempat di mana dongeng tersebut hidup. Di daerah Sungai Siak, dongeng ini dikenal dengan sebutan Umbut Muda, dan ada pula dongeng serupa yang dikenal dengan sebutan Dang Geclunai. lsi dongeng -dongeng tersebut mencerm inkan perilaku anak gadis yang kasar, angkuh, materialistis, tidak hormat, dan tidak sayang pada ibunya. Konon, hidup seorang janda tua yang miskin dengan seorang anak gadisnya yang kebetulan dikaruniai wajah molek. Saking sayangnya kepada si gadis, perempuan tua itu begitu memanjakan anaknya hingga tidak diperbolehkan bekerja karena takut tangannya menjadi kasar. Alhasil pekerj aan si gadis sehari -hari hanya bersolek, bermain dan makan minum, tanpa sedikitpun rasa iba dan membantu pekerjaan ibunya.

Pendidikan ...

Sementara ibunya pergi ke ladang untuk bekerja, si gadis hanya bermain-main dan tidak pernah sekali pun berusaha membantu ibunya, seperti menanak nasi dan menyediakan minum. Hingga suatu hari si gadis menemukan peristiwa yang naas, si gadis celaka karena kesombongannya, ibunya pun tidak bisa berbuat banyak karena Tuhan telah menakdirkan gadisnya mengakhiri hidup dengan cara yang mengenaskan. Jika Umbut muda terperosok ke sungai yang dalam, karena perhiasannya jatuh ketika ia hendak pergi ke pesta. Si Dang Gedunai, beralih rupa menjadi ular naga, karena dia memaksa untuk makan telur rahasia yang ditemukannya di ladang.

Akhir kisah yang sama-sama menggambarkan pembalasan setimpal, karena selama hidupnya selalu menyiksa ibunya sendiri, angkuh kepada sesamanya karena merasa dirinya paling cantik. Di sisi lain, sang ibu sesungguhnya sangat menyesali sikapnya yang terlalu memanjakan gadis, namun semuanya sudah terlambat dan si ibu tidak mampu menolong si gadis dari bencana yang menimpa dirinya. Nilai yang bisa diangkat dari kedua dongeng itu adalah, kecantikan fisik adalah karunia Tuhan, tidak untuk disombongkan, sebagai gadis sudah seharusnya memiliki sikap yang lembut, hormat kepada ibu, dan mengerjakan sebagian tugas rumah tangga menjadi kewajiban kaum perempuan, tidak silau oleh kemewahan hidup, dan selalu berhati-hati dalam menentukan sikap.

(3) Dongeng yang mengandung nilai pendidikan, sikap santun, tidak boleh berkata kasar, dan kesediaan untuk minta maaf Dalam khasanah dongeng Melayu Riau, dikenal dongeng Sentadu Gunung Laut. Dongeng ini sangat hidup khususnya di kalangan masyarakat nelayan yang hidup dekat dengan laut. Anak-anak di daerah pesisir, umumnya sangat patuh kepada larangan-larangan yang diakibatkan oleh peristiwa seperti Sentadu Gunung Laut. Dongeng ini menyebar dan berkembang terutama di daerah Kuala Kampar, hingga ke pulau-pulau Penyalai dan Serapung bahkan sampai ke Selatpanjang dan sekitarnya.

Pendidikan ... [69

Dikisahkan, bahwa Sentadu Gunung Laut itu adalah "puako" atau "penunggu " lautan sepanjang perairan Selat Melaka. Kediaman utamanya adalah di belakang Pulau Serapung, yakni selat antara Serapung dan Tanjung Samak atau di sekitar Tugau dan kadang-kadang sampai pula ke daerah Kuala Kampar dan konon seringkali melakukan patrol hingga jauh ke hulu -h ulu sungai. Sentadu Gunung Laut yang menjadi penunggu Selat bersimpang Empat di belakang Pula Serapung itu, demikian besa r kekuasaannya sehingga menjadi kisah yang tak pernah habis-habisnya. Menurut cerita penduduk di sekitar itu, orang -orang yang berlayar tidak boleh berkata-kata kasar, mengucapkan kata-kata kotor dan mencaci maki. Banyak pelaut yang menceritakan pengalamannya ketika perahu mereka tiba-tiba bergerak oleng, dan kandas di di tengah laut yang dalam. Ada pula yang tiba-tiba mereka melihat binatang aneh (ajaib) yang belum pernah mereka lihat. Menurut para pelaut, itu benda-benda aneh yang acapkali menampakkan diri, tabu untuk ditegur atau disapa, karena menurut kepercayaan setempat benda-benda asing itu kadang-kadang adalah jelmaan dari Sentadu Gunung Laut.

Keanehan-keanehan lainnya sering terjadi bila musim bulan purnama mengambang di langit tinggi, atau adakalanya di saat senja berebut malam. Menurut cerita mereka, kadangkala Sentadu Gunung Laut menampakkan dirinya sebagai seeker anak ikan, atau seeker anak ular bahkan sebagai dahan-dahan kayu yang hanyut serta bentuk- bentuk lainnya. Apabila pelaut melihatnya kurang hati-hati atau dengan tidak sengaja berbuat sesuatu yang menyinggung perasaan dan menimbulkan amarah Sentadu, maka segera datang badai dan topan sehingga tiba-tiba kapal atau perahu menjadi terhenti dan oleng. Jika mengalami peristiwa sema cam itu, para pelaut dengan segera melakukan ritual khusus, dan minta maaf kemud ian menaburkan sesaji ke laut berupa beras, kunyit, dan persaratan lainnya.

Biasanya, karena Sentadu Gunung Laut bukan termasuk "puako " perusak atau jahat, maka setelah pelaut melakukan ritual atau upacara khusus dan minta maaf, kapal atau perahu mereka akan selamat dan dapat melanjutkan pelayarannya seperti semula. Demikian

Konsep Pendidikan ...

juga, orang-orang yang terkena pengaruhnya dapat kembali sehat. Kalangan tua di daerah pemilik dongeng mengatakan bahwa Sentadu Gunung Laut termasuk sejenis jin, sebab ia mampu merubah-ubah dirinya dari yang sekecil mungkin sampai sebesar-besarnya. Mereka meyakini bahwa Sentadu Gunung Laut, menjaga perairan sepanjang masa, terutama dari gangguan jin "puako" daerah lain. Dari kandungan dongeng Sentadu Gunung Laut, dapat diangkat nilai-nilai pendidikan mengacu kepada keluhuran budi pekerti seperti sifat yang santun, tidak boleh berkata kasar, dan kesediaan untuk minta maaf jika berbuat salah, dan menghormati leluhur.

(4) Dongeng yang mengandung nilai pendidikan, setia, sabar, dan pemaaf. Dongeng yang mengandung nilai kesetiaan, sabar, dan pemaaf sesungguhnya banyak dijumpai di hampir seluruh Nusantara. Misalnya dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih, dan dongeng Pinang Beribut yang dikenal luas di seluruh wilayah kebudayaan Melayu. Dongeng-dongeng tersebut, intinya mengisahkan seorang puteri yang cantik rupawan yang selalu didengki dan mendapat siksaan batin dari saudara-saudaranya hingga jiwanya sangat tertekan. Perlakuan tidak layak selalu diterimanya terutama jika ada pembagian, atau hadiah dari sang ayah, maka puteri terkecil atau puteri bungsu selalu mendapat bagian yang terakhir, sedikit bahkan tidak sama sekali. Walaupun diperlakukan tidak adil, akan tetapi gadis bungsu selalu bersabar, tidak menaruh dendam kepada saudara-saudaranya. Dalam dongeng Pinang Beribut, dikisahkan ketika saudara-saudara si bungsu dikawinkan dengan laki-laki pilihan masing-masing, si bungsu selalu menolak dikawinkan sehingga mendapat cemoohan dari saudaranya. Suatu ketika, datang ke negeri itu seorang pemuda yang buruk rupa, dia dihina dan dicaci-maki oleh penduduk, termasuk saudara-saudara si gadis bungsu. Sebaliknya Pinang Beribut, bersedia menjadi sahabatnya. Oleh karena sikapnya itu, Pinang Beribut dibuang ke hutan oleh keluarganya. Dalam pembuangan Pinang Beribut

Pendidikan ... [71

ternyata ditemani oleh laki-laki buruk rupa tadi, yang dengan setia selalu menyediakan makan dan minum buat Pinang Beribut.

Ketika laki-laki buruk rupa sakit parah, maka Pinang Beribut merawatnya dengan kasih sayang, hingga suatu saat air matanya menetes ke muka laki-laki buruk rupa. Seketika laki-laki itu berubah wujud menjadi pemuda yang ru pawan, dengan busana yang gemerlap bak seorang putera raja. Alangkah terkejutnya Pinang Beribut melihat sosok laki-laki tampan di depannya, dan mengatakan bahwa airmata Pi nang Beribut adalah obat yang mengembalikan wujud aslinya sebagai man usia, setelah dikutuk sekian lama oleh raja jin.

Akhir kisah, sebagaimana yang dialami Bawang Putih, Pinang Beribut pun dibawa sang pemuda ke istana dan selanjutnya hidup bahagia. Kebahagiaan yang diraih tidak membuat Pinang Beribut sombong, bahka n ia membawa serta ibu, bapak, dan saudara- saudaranya yang dengki ke istana. Karena sifat sabar, pemaaf, dan welas asih kepada sesama, Tuhan memberikan kebahagiaan kepada Pinang Beribut. Nilai-nilai yan g didukung oleh tokoh dalam dongeng tersebut antara lain, sabar, kasih sayang, dan kesediaan untuk memaafkan orang -orang yang membuat hidupnya menderita.

(5) Dongeng yang mengandung ni lai pendidikan cinta tanah air, dan kepahlawanan. Selain dongeng tentang anak yang durhaka, atau anak yang tidak tahu membalas budi, pada masyarakat Melayu Riau dikenal banyak dongeng yang mengisahkan perjuangan dalam mengokohkan kedaulatan tanah Melayu. Di antara sejumlah dongeng tadi, yang paling populer antara lain; Dongeng Raja Indera Pahlawan, Dongeng Mawar Kampar, Dongeng Raja Aji, dan Tuanku Tambusai. Cerita kepahlawanan Raja Indra Pah lawan, dan tiga tokoh di atas banyak diungkapkan dalam kisah-kisah rakyat Siak, Rokan, dan Pelalawan.. Raja Indera Pahlawan bertempur menentang kolonial Belanda dan bahu membahu dengan Sultan dan hulubalang Siak lainnya. Selain berhasil menumpas Belanda di Pulau Guntung, Indera Pahlawan juga

Pendidikan ...

berhasil menumpas bajak laut di Selat Melaka. Sesuai dengan jasanya yang besar, beliau diangkat sebagai Datuk Limapuluh kerajaan Siak sekaligus sebagai Panglima Besar Kerajaan. Kepahlawanan Indera Pahlawan juga berlangsung hingga tahun 1765-1766 M dan pertempuran lainnya hingga selalu dikenang rakyat selamanya.

Sementara itu, kisah Mawar Kampar, melukiskan pertempuran yang terjadi antara kerajaan Pelalawan dengan kerajaan Siak sekitar tahun 1790-1795 M. Di dalam kisah Mawar Kampar ini sesungguhnya menggambarkan kesetiaan, dan kasih sayang antara Zubaidah dengan seorang hulubalang Muda Pelalawan yang bernama Panglima Kudin. Mereka bahu membahu berjuang dalam pertempuran yang hebat antara Siak dan Pelalawan hingga akhirnya keduanya harus menemui ajal di dalam akhir perjuangannya.

Dongeng kepahlawanan lainnya, berjudul Raja Aji, beliau adalah seorang pahlawan Kerajaan Riau (kepulauan) keturunan dari Daeng Perani bersaudara. Dalam sejarah kerajaan Riau, beliau dikenal sebagai Yang Mulia Tuan Muda Riau, dan salah seorang penentang Belanda yang gigih. Pertentangan-pertentangan dengan Belanda menyebabkan dirinya sering berada dalam kancah peperangan hebat, tidak saja di perairan Riau, tetapi beliau melakukan serangan sampai ke semenanjung Melaka.

Dalam perjuangannya beliau membentuk angkatan laut dari tongkang, dan pencalang serta perahu-perahu lainnya yang konon menurut catatan sejarah dan cerita-cerita rakyat Riau dianggap sebagai angkatan laut terbesar yang pernah disusun di kerajaan ini. Dalam pertempuran yang berlangsung selama bertahun-tahun, beliau selalu menanamkan rasa cinta tanah air dan sifat keperwiraan di kalangan pengikutnya. Selama bertahun-tahun Raja Aji bertahan, diserang dan menyerang hingga akhirnya beliau mangkat dalam suatu pertempuran dengan Belanda di Teluk Ketapang (Melaka) sekitar tahun 1784.

Tokoh lainnya yang sangat dikenal karena kegigihannya melawan Belanda adalah Tuanku Tambusai. Nama asli beliau adalah Pakih Saleh, yang selama hidupnya dibaktikan untuk membela

Paderi dari Rokan. Selain dikenal gagah perkasa di peperangan, Tuanku Tambusai juga sangat lembut jiwanya, dan luhur budi pekertinya, ia disegani lawan dan menjadi panutan para pengikutnya. Ia wafat di Semenanjung Melaka dalam sebuah pertempuran terakhirnya. Dongeng dari empat tokoh Pahlawan Riau masa lalu di atas menggambarkan adanya upaya untuk memperkuat kedaulatan negerinya, disamping menanamkan sifat keperwiraan untuk membela tanah air yang dicintai, disertai semangat yang membara. Dengan demikian, ada tiga nilai yang bisa diungkap yakni nilai keperwi raan, dan cinta kepada tanah air.

Secara intrinsik, seluruh dongeng yang dianalisis di atas dapat dirinci sebagai berikut:

a. Tema-tema dongeng: sosial
b. Alur: progresif (maju)
c. Tokoh dan penokohan: anak laki-laki, anak perempuan dengan mendukung sifat baik dan buruk, serta seorang ibu tua yang sangat memanjakan anaknya.
d. Tempat: Riau dan wilayah sekitarnya
e. Suasana : variatif antara suka, duka (senang dan sedih)
f. Konflik: saat si anak dewasa dan karena anak yang sangat diharapkan kelahirannya, selalu dimanjakan oleh orang tua terutama ibunya. Tokoh yang perempuan biasanya bersikap sangat kasar kepada ibunya, pemalas, dan hanya bersenang-senang. Sementara tokoh yang laki-laki umumnya pergi merantau dan berhasil menjadi orang yang kaya raya. Sayang, ketika kembali ke kampung halamannya, ia tidak mau mengakui ibunya karena merasa malu melihat sosok ibunya yang miskin dan compang-camping. Akh ir kisah, anak perempuan maupun laki-laki tersebut mengalami kecelakaan, atau mendapat murka Tuhan dan berubah

Pendidikan ...

wujud menjadi batu atau bentuk lainnya. Si Ibu sekalipun memohon kepada Tuhan untuk menyelamatkan anaknya, namun takdir tetap terjadi dan tidak bisa dihindari. Penyesalan karena terlalu memanjakan dan tidak mendidik anaknya dengan baik selalu menjadi akhir cerita.

g. Pesan yang ingin disampaikan (amanat): pencipta dongeng yang umumnya anonym (tidak diketahui siapa), ingin menyampaikan pesan bahwa pertama, orang tua tidak boleh memanjakan anaknya secara berlebihan, sekalipun si anak sangat diharapkan kehadiran- nya. Kedua, sejak dini orang tua harus mendidik anaknya dengan nilai-nilai luhur yang didukung oleh komunitasnya. Ketiga, memberikan sikap teladan kepada anak, misalnya dengan melaku- kan silaturahmi dengan masyarakat sekeliling, agar si anak mengenal nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat tempat ia lahir dan dibesarkan. Keempat, mendidik sifat sabar, takwa dan mandiri, sehingga ketika si anak sukses tidak serta merta berubah sikap menjadi sombong, karena sudah memiliki keteguhan iman dan ketakwaan kepada Tuhan YME.
h. Nilai sosial: komunikasi antara orang tua dan anak khususnya untuk memberikan contoh nilai yang positif.
i. Nilai budaya : Terlalu memanjakan anak dapat berakibat tidak baik, nilai-nilai budaya yang didukung komunitas penting untuk. diajarkan kepada anak, harta kekayaan bukan jaminan untuk hidup bahagia.

G. SIMPULAN

Sastra lisan atau dongeng termasuk dalam karya sastra, hasil budaya tradisional yang sudah cukup lama usianya. Secara sederhana, tradisi lisan (dongeng) merupakan cerita yang dikenal dan diceritakan di dalam kalangan masyarakat. Dibacakan, diceritakan, dan diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga tradisi lisan (dongeng) itu dirasakan sebagai milik bersama. Karena sifatnya seperti itu, maka dongeng umumnya jarang bahkan tidak dikenal siapa penciptanya. Sastra lisan (dongeng) sangat mudah berubah dari waktu

Pendidikan ... [75

ke waktu, tetapi karena kedudukannya yang demikian dongeng telah mempunyai arti tertentu dalam kehidupan sosial budaya masyarakat

Sebagaimana halnya tradisi lisan (dongeng) pada masyarakat yang lain, sastra lisan (dongeng) Melayu adalah karya sastra yang kandungan 1smya selalu merujuk atau mengandung on-m1 pengetahuan, tradisi, dan pantang lara ng yang telah diwarisi turun- temurun dalam bentuk oral, bertulis, dan perlambangan di antara penduduk asli kepulauan Nusantara di Asia Tenggara. Merangkum tema dan bahan yang berkaitan dengan pengetahuan asli suku bangsa Melayu dan juga kelompok-kelompok yang berkaitan dengan wilayah terse but.

Dongeng pada masyarakat Melayu Riau, tidak sekedar meruadi alat penghibur di kala sengga ng, tetapi j uga bisa dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan karakter. Dikatakan demikian, karena dongeng dengan tokoh-tokoh dan peran yang didukungnya, adalah simbol dari kehidupan manusia. Peran tokoh-tokoh tersebut, ada yang baik dan ada pula ya ng buruk, sedangkan sifat yang dimiliki tidak jarang mencerminkan sifat manusia umumnya seperti, setia, jujur, takwa kepada Tuhan, hormat pada orang tua dan yang dituakan, kepahlawanan, dan sifat lai n yang diperlukan untuk membangun kepribadian yang unggul.

Sementara itu kondisi kehidupan sastra lisan (dongeng) dalam kehidupan Melayu dewasa 1n1 ditenggarai tengah mengalami kemunduran, bah kan banyak ka langan di perkotaan yang hampir tidak mengenal sastra lisan atau dongeng. Kehidupan sastra lisan (dongeng) kini sudah tergantikan oleh berbagai media baik cetak maupun elektronik, terutama televisi. Tradisi mendongeng pun kini dapat dikatakan sudah mati suri, karena orang tua dengan berbagai alasan tidak lagi mempunyai waktu untuk mendongeng atau membacakan dongeng kepada anak-anaknya. Perannya kini diganti oleh televisi dengan sej umlah tayangan yang dinilai jauh lebih memikat oleh anak-anak. Sungguh pun belum tentu memiliki kandungan isi yang positif untuk membangun kepribadian anak, akan tetapi sulit menepis

Pendidikan ...

kenyataan bahwa tokoh-tokoh yang hadir dalam layar kaca telah menjadi idola anak-anak di masa kini.

Hilangnya tokoh teladan yang dahulu hadir lewat dongeng, telah berdampak pada tampilan perilaku anak, antara lain menjadi lebih konsumtif, kasar, rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, tidak sabaran dan sederet sifat lain yang bertolak belakang dengan sifat ideal manusia yang dicita-citakan. Sifat dan perilaku tersebut, lahir karena dicontohkan oleh sejumlah tayangan khususnya film yang tidak mengandung unsur pendidikan yang positif, sementara di sekolah pendidikan karakter melalui mata pelajaran sastra termasuk mendongeng kurang mendapat perhatian.

Kegelisahan dan kerisauan banyak kalangan di Riau, khususnya Kota Pekanbaru sangat beralasan. Riau disebut-sebut sebagai tanah air kebudayaan Melayu, sudah barang tentu dihuni oleh penduduk yang juga mendukung kebudayaannya. Namun demikian, seperti digambarkan di atas, kini telah terjadi pergeseran nilai dan penurunan kualitas manusia Melayu karena berbagai sebab. Untuk menyelamatkan generasi muda Melayu Riau dari tindakan yang tidak terpuji karena hilangnya rujukan, kini pemerintah daerah setempat melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Pendidikan, Perpustakaan Haji Suman HS, Lembaga Adat Melayu (LAM), pemerhati budaya serta sastrawan dan budayawan, mengambil langkah positif antara lain:

(1) Menggiatkan kembali penginventarisasian sastra lisan (dongeng) Melayu terutama yang dinilai isinya mengandung nilai budaya yang mendukung pendidikan karakter di wilayah Riau dan sekitarnya, mencatatkan dan kemudian menerbitkannya menjadi buku. Tujuan ini tidak lain sebagai upaya pelestarian sastra lisan (dongeng) Melayu Riau agar tidak punah, dan bisa dibaca oleh semua kalangan masyarakat, kini dan masa yang akan datang.
(2) Menumbuh suburkan berbagai pertemuan yang membahas kehidupan sastra lisan (dongeng) Melayu, baik melalui dinas dan lembaga terkait, maupun yang dilakukan oleh masyarakat luas dan pemerhati budaya.

Melayu (LAM) untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan seminar sastra dan kebudayaan, kegiatan LAM berkunj ung ke sekolah, atau LAM menerima kunjungan siswa.

(4) Memberi dukungan kepa da kegiatan Perpustakaan Haji Suman HS untuk melaksanakan program berkunjung ke sekolah dan program siswa membaca, yang dilakukan secara kontinu se minggu sekali.
(5) Sebaga i lembaga yang sangat peduli terhadap kebudayaan Melayu, LAM telah menerbitkan sejumlah buku yang berisi Pemikiran Melayu, Tunjuk Ajar Melayu, dan beberapa judul lainnya yang ditulis oleh budayawan kenamaan Riau, Tenas Effendy, serta menyebarluaskannya ke seluruh lapisan masyarakat.
(6) Menggiatkan pendokumentasian dan perekaman sastra lisan (dongeng) yang masih hidup di daerah-daerah penyangga Kota Pekanbaru seperti Duri, Kampar, Dumai, Inderagiri Hulu, Kerinci, dan lain-lain, serta menyebarluaskannya ke berbagai kalangan. Pada akhir penelitian juga diselenggarakan Focus Group Disscusion (FGD) dengan mengundang narasumber, informan, maupun pemerhati budaya. Peserta FGD merumuskan empat buah rekomendasi, ag ar dongeng difungsika n kembali salah satu rnata pelajaran karena berisi berbagai nilai budaya yang rnendukung pendidikan karakter. Rekomendasi terseb ut adalah sebagai berikut:
(1) Seluruh peserta FGD, ba ik yang berlangsung saat survey maupun pengumpulan data, sepakat bahwa kebudayaan Melayu dan seluruh komponen di da larnnya, terrnasuk karya sastra lisan dan tulisan, dongeng, dan sebagainya pe rlu dilestarikan, dikembangkan, dan disosialisasikan kepada masyara kat luas, khususnya lembaga-lembaga pendidikan formal dan informal, keluarga, dan kelompok- kelompok pemerhati budaya. Maksudnya, selain mengokohkan eksistensi ke budayaan Melayu itu sendiri, j uga kandungan nilai-nilai luhur yang ada di dalamnya dapat disampaikan, sebagai upaya rnena ngkal pengaruh nilai asing yang tidak sesuai dengan kepribadian Melayu.

Melayu, hendaknya dilaksanakan melalui aspek pendidikan karena hingga kini aspek pendidikan masih dipandang tetap berwibawa. Hal ini disebabkan peran masyarakat dan keluarga sudah mulai berkurang. Orang tua tidak lagi memiliki waktu untuk menyampaikan nilai-nilai dalam sebuah dongeng kepada anak-anaknya, namun demikian peran keluarga dalam mendidik anak-anak tetap menjadi tugas utama sebelum diserahkan ke sekolah.

(3) Guru mata pelajaran sastra dan muatan lokal dihimbau untuk memberikan keteladanan yang disampaikan lewat dongeng untuk bekal pembentukan watak siswa. Pembelajaran sastra diupayakan dikemas dalam bentuk yang kreatif dan rekreatif dengan menggunakan media pembelajaran yang berfungsi sebagai alat bantu belajar. Materi ajar yang dimaksud adalah dongeng, dengan tokoh-tokoh manusia dan kegiatannya sehari-hari, dimana kebaikan selalu dipertentangkan dengan keburukan, namun pada akhirnya kebaikan yang tampil sebagai pemenang atau menjadi pihak yang unggul. Dengan demikian, keteladanan yang diperoleh siswa adalah selalu ingat Tuhan, kejujuran, sabar, bekerja keras, kerukunan, sopan santun, dan menghargai sesama. Nilai didik ini diupayakan dapat digunakan sebagai pembentuk watak generasi bangsa.
(4) Melalui peserta FGD yang semuanya memiliki keluarga dan anak-anak, dihimbau agar tradisi mendongeng sebelum tidur dihidupkan kembali. Para orang tua, khususnya ibu agar menyediakan waktu untuk mendampingi anak, menyampaikan dongeng mengandung pengertian mendekatkan hubungan batin antara anak dengan ibu, meningkatkan kecintaan anak terhadap kebudayaan bangsanya, dan mengurangi ketergantungan kepada media lain (televisi) sebagai sumber pengetahuan budaya. DAFTAR PUSTAKA Azra, Azyumardi. 2009. Pembangunan Karakter Bangsa, makalah dalam Dialog Pemuda dalam membangun karakter Bangsa, 80 Tahun

Pemuda, Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.

Budhisantoso (penyunting). 1986. Kumpulan Maka/ah Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya, Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Riau, Pekanbaru.

Bambang Widianto, !wan Meulia Pi rous (penyunting). 2009. Perspektif Budaya, kumpulan tulisan Koen~araningrat Memorial Lectures I -V/2004- 2008. Jakarta: Rajawali Pers Dunia Buku Perguruan Tinggi, PT. Rajagrafindo Persada.

Danandjaja, James. 1984. Folklore Indonesia, 1/mu Gossip, Dongeng, dan Lain-lain. Jakarta: PT. Pustaka Grafitipers.

Djaafar, 5, dkk. 2005. Cerita -cerita Rakyat Daerah Riau (Jilid 1), Dmas Kebudayaan, Kesenian, dan Pariwisata, Provinsi Riau.

Effendy, Tenas, H. 2013. Kearifan Pemikiran Melayu, Tenas Effendy Foundation bekerjasama dengan pemerintah Provinsi Riau.

Faruk, dkk. 1998. Sastra dan Budaya Islam Nusantara. Yogyakarta: lAIN Sunan Kal ijaga.

Galib, Wan. 1986. Adat lstiadat do/am Pergaulan Orang Me/ayu, makalah dalam Masyarakat melayu Riau dan Kebudayaannya, Pemerintah Provinsi Daerah Tingkat I Riau, Pekanbaru.

Gazalba, Sidi. 1988. Ham dan Kesenian. Jakarta: Pustaka Alhusna.

Gede Raka, Dkk. 2011. Pendidikan Karakter di Seko/ah, dari Gagasan ke Tindakan. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, Kompas, Gramedia.

Hatta, Meutia Swasono. 2009. Kebijakan Pembangunan Karakter Bangsa Suatu Tinjauan prospektif, makalah dalam Perspektif Budaya, kumpulan tulisan Ko en~ara ni ngrat memorial Lecturer I-IV / 2004-2008. Jakarta : Rajawali Pers.

Kafrawi, Hang, dkk. 2013. Cerita Anak Durhaka. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Ria u.

Konsep Pendidikan ...

Pudentia MPSS. 1998. Seri Tradisi Lisan Nusantara, Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan.

Suparlan, Budhisantoso (editor). 1986. Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya, Pemerintah Provinsi daerah Tingkat I Riau, Pekanbaru.

Suman. H. HS. 1986. Dongeng-dongeng Melayu Sebagai Sumber lnformasi Budaya, makalah dalam Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya, Pemprov D.T I. Riau Pekanbaru.

Sutrisno, Soelastin. 1986. Tema Utama dalam Karya Sastra Melayu Lama, makalah dalam Masyarakat Riau Melayu dan Kebudayaannya, Pemprov D.T I. Riau Pekanbaru.

Tilaar, Ed. 2002. Pendidikan Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia, strategi Reformasi Pendidikan Nasional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Majalah

Citra Riau. Riau Tanah Air Kebudayaan Melayu, Cultural Edition. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Riau, tak bertahun.

Citra Riau. Takkan Melayu Hilang di Bumi, Art Edition. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Provinsi Riau.

Internet

http:/Bidanku.com/manfaat/dongeng-anak-anak-bagi-perkembangan- buah-hati-kiya, diunggah tanggal17 Januari 2014.

http.//ngecis.com/blog/ tumbuhkan-karakter-dengan -dongeng/ diunggah tanggal10 Januari 2014.

T/ONAL STUDENT EXCHANGE PROGRAfVI

SEBAGAI MEDIA PEMBEN TU KAN KARAKTER SISWA / Budiana Setiawan budia nasetiawan @g mail. com / Liswati liswati19 @yahoo.co.id

A. PENDAHULUAN

International Student Excha nge Program atau Program Pertukaran Pelaja r International adalah program bagi pelajar dari sekolah menengah maupun perguruan tinggi untuk belajar ke luar negeri, tepatnya ke sekolah menengah atau perguruan tinggi yang menjadi mitra program tersebut. Program ini bertujuan untuk memberikan practical training (pelatihan praktis) da n berbagi pengetahuan tentang sejarah, budaya, serta tradisi antarnegara asal dengan negara yang dikunjungi. Dalam program pertukaran pe lajar tersebut, si swa yang bersangkutan aka n tinggal dengan keluarga angkat atau ditempatkan di asra ma mahasiswa maupun apartemen.

Biaya untuk program pe rtu karan pelajar ini bervariasi menurut negara da n institusi yang didata ngi. Pelajar ya ng menjadi peserta program ini dapat memperoleh biaya melalui beasiswa, pinjaman, atau biaya sendiri 1 Siswa yang mengikuti International Program Exchange juga diharapkan dapat menambah wawa san tentang budaya, bahasa,

Keu ntungan Mengikuti Student Exchange. 2014. *http://agasinotes.* wordpress. com/ 2012/02/27/keuntungan -mengikuti-student-exchange/ Diunduh tanggal 6 Mei 2014, pukul 15.24

sosial, dan memperluas hubungan institusi dengan masyarakat negara lain. 2

Saat ini cukup banyak sekolah menengah, baik di tingkat SMP maupun SMA, terutama di kota-kota besar, yang menyelenggarakan kegiatan International Student Exchange Program dengan menggunakan biaya sendiri. Dikarenakan biaya yang dikeluarkan tidak sedikit, tentu tidak dapat dipungkiri bahwa program ini pada umumnya diikuti oleh siswa-siswi dari keluarga mampu. Meskipun demikian, ada pula sekolah yang memberikan subsidi bagi siswa-siswi berprestasi dari keluarga kurang mampu untuk dapat mengikuti program ini. Permasalahan dalam tulisan ini adalah bagaimana kemanfaatan kegiatan International Student Exchange Program bagi siswa-siswi yang menjadi pesertanya, mengingat biaya yang dikeluarkan cukup besar dan program kegiatan hanya berlangsung dalam waktu singkat. Bagaimana bentuk-bentuk manfaat yang diperoleh para siswa, baik dari sekolah yang mengunjungi maupun sekolah yang dikunjungi?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka perlu dilakukan pengamatan dan pengkajian terhadap sekolah yang pernah melakukan International Student Exchange Program. Salah satu sekolah menengah yang secara rutin menyelenggarakan kegiatan International Student Exchange Program setiap tahunnya, yakni SMP Negeri 19 Jakarta. Beberapa negara yang pernah dikunjungi dalam program ini, antara lain : Singapura, Malaysia, dan Australia. Pada Tahun Ajaran 2013-2014, SMP Negeri 19 Jakarta kembali menyelenggarakan International Student Exchange Program dengan sekolah tujuan adalah Menai High School, Sidney, Australia.

Program tersebut dilaksanakan selama 10 hari, yakni pada tanggal 23 Maret sampai dengan 2 April 2014, yang diikuti oleh 23 orang siswa dan 1 orang guru pendamping. Bagaimana bentuk-bentuk kegiatan yang diikuti oleh para siswa dari sekolah tersebut, dapat

Pertukaran http.//www.kapsul

2Manfaat Pelajar Antar Negara.
Diunduh tanggal 6 Mei 2014 pukul 15.35.

pintar.com/ 2013! 06/ 30! 502/ manfaat-pertukaran-pe/ajar-antar-negara.htm/,

sekolah.

B. SEKILAS TENTANG MENAI HIGH SCHOOL, SIDNEY, AUSTRALIA

Menai High School dipilih menjadi tujuan program pertukaran pelajar karena merupakan sebuah sekolah modern dan komprehensif, di kawasan Illawong, Sydney. Sekolah ini memiliki beberapa kurikulum yang berbeda, yang mendukung minat dan pengembangan bakat siswa, seperti olah raga, musik, peternakan, dan lain -lain. Setiap siswa mempunyai personal learning plan (rencana pembelajaran pribadi), di mana mereka menentukan sendiri tujuan yang diinginkan dan guru hanya membantu mengembangkan strategi untuk mencapainya. 3

Dalam rangka pembentukan karakter siswa, sekolah ini menerapkan sepuluh nilai yang harus clitaati oleh para siswa, yakni: integrity (integritas), excellence (unggul), respect (memiliki rasa horrnat), responsibility (bertanggung jawab), cooperation (bekerja sama), participation (partisipasi), care (pedul i), commitment (komitmen), fairness (keadilan), dan democracy (demokrasi). Nilai integrity dimaksudkan aga r para siswa mempunyai integritas, yakni pribadi yang jujur dan dapat dipercaya orang lain. Nilai excellence dimaksudkan agar para siswa mampu berjuang untuk mencapai prestasi tertinggi di segala aspek, baik di dalam lingkup sekolah, komunitas, maupun individu. Nilai tersebut hanya dapat dicapai dengan bekerja dan belajar terus- menerus.

Nilai respect dimaksudkan agar siswa menghargai diri sendiri dan orang lain, baik secara hu kum maupun otoritas pribadi. Di samping itu, nilai respect juga dimaksudkan agar para siswa menghargai keragaman dan perbedaan pada masyarakat Australia, serta menerima hak orang lain untuk mempertahankan pandangan yang berbeda atau

Menai High School, Care and Commitment. 2014. http.//www. menaih.schools. nsw.edu.au/ Diu nduh tanggal 10 Oktober 20 14, pukul 11.03.

hal ini, para siswa dapat bertanggung jawab terhadap diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan.

Nilai cooperation dimaksudkan agar para siswa mampu bekerja sama untuk mencapai tujuan, memberikan dukungan terhadap orang lain, dan terlibat dalam resolusi damai apabila terjadi konflik. Nilai participation dimaksudkan agar para siswa dapat menjadi individu atau anggota kelompok yang proaktif dan produktif, memiliki kebanggaan diri, dan berkontribusi terhadap kekayaan sosial dan ekonomi masyarakat dan bangsa. Nilai care dimaksudkan agar para siswa peduli terhadap kesejahteraan diri sendiri maupun orang lain, menunjukkan empati dan bertindak dengan kasih sayang terhadap orang lain.

Nilai commitment dimaksudkan agar para siswa melakukan apa yang terbaik dan memberikan upaya sepenuhnya. Nilai fairness dimaksudkan agar para siswa berkomitmen terhadap prinsip-prinsip keadilan sosial dan menentang prasangka, ketidakjujuran, dan ketidakadilan. Terakhir, nilai democracy dimaksudkan agar para siswa dapat menerima dan mendorong hak, kebebasan, dan tanggung jawab sebagai warga negara Australia (Menai High School, 2014/2015: 6).

Setiap angkatan di Menai High School terdiri dari lima kelas reguler. Setiap kelas reguler terdiri dari 25 sampai dengan 30 orang siswa. Di samping itu, Menai High School juga mempunyai dua kelas unggulan untuk siswa-siswi cerdas, dan satu kelas untuk siswa-siswi dengan low ability (kemampuan terbatas). Para siswa di kelas low ability mendapat bantuan sepenuhnya dari para guru sehingga tidak terlalu tertinggal dengan siswa-siswi lainnya, baik dengan siswa kelas reguler maupun kelas unggulan (Menai High School, 2014/2015: 8).

Hal yang menarik, terdapat perbedaan kurikulum antara sekolah-sekolah menengah di Australia dengan di Indonesia. Semakin

tingg1 JenJang ke las, semaki n banyak mata pelajaran pilihan sesuai bakat dan minat siswa. Di Menai High School mata pelajaran untuk siswa kelas 7 dan 8 terdiri dari: bahasa Inggris, matematika, sains, sejarah, geografi, seni, musik, desain dan teknologi, bahasa modern, agrikultur (pertanian), personal development/health/physical education (pengembangan kepribadian/ kesehatan/pendidikan fisik), drama, dan information and communication technology (teknologi informasi dan komunikasi). Di samping itu, siswa kelas 8 juga dapat memilih salah satu dari beberapa mata pelajaran fakultatif, yakni: abs, thighs, butts; advanced acting course; backyard blitz; good sports; language for traveller; moths chalenge; on your feet; sufboards to seaweed; dan art attock.

Mata pelajaran untuk kelas 9 dan 10 terdiri dari : bahasa Inggris, matematika, sains, personal development/health/physical education, bimbingan karier, sejarah da n geografi, dan berbagai mata pelajaran pilihan. Di kelas 9, siswa dapat memi lih tiga dari beberapa mata pelajaran pilihan, yang akan berlanjut di kelas 10. Mata pelajaran pilihan tersebut adalah sebagai berikut: agriculture, ceramics, commerce, australian culture and society, dance, design and technology, drama, food technology, graphic technology, industrial technology-electronics, industrial technology- metal, industrial technology-timber, information and software technology, Japanese, music, oceans alive, physical activity and sports studies, studies of the ancient and modern world, textiles technology, visual arts, visual design ceramics, visual design print medium, dan work education.

Mata pelajaran untuk kelas 11 dan 12 semuanya merupakan mata pelajaran pilihan bag i siswa, yakni : ancient history, biology, business studies, business services, community and family studies, chemistry, construction, do nee, drama, design and technology, economics, entertainment, english (all english studies levels), engineering studies, exploring early childhood, extension history (year 12), food technology, geography, hospitality, information processes and technology, industrial technology (timber and auto), information

Hal ini berbeda dengan sekolah-sekolah di Indonesia yang meng- gunakan sistem pengajaran kelas menetap. Pada moving class, dalam setiap pergantian mata pelajaran, bukan guru yang berpindah-pindah dari kelas satu ke kelas lain, melainkan siswa yang berpindah kelas sesuai dengan mata pelajaran yang diikuti berikutnya. Untuk mendukung kelancaran belajar-mengajar, terdapat beberapa fasilitas pendukung, antara lain: perpustakaan, learning centre, hall, lapangan olah raga, lapangan out bounds, kantin, dan lain-lain (Menai High School, 2014/2015: 10).

C. PELAKSANAAN KEGIATAN INTERNATIONAL STUDENT

EXCHANGE PROGRAM

Pelaksanaan kegiatan International Student Exchange Program di Menai High School pada tanggal 23 Maret sampai dengan 2 April 2014, secara garis besar terbagi menjadi tiga jenis, yakni: kegiatan belajar-mengajar di Menai High School, kegiatan di luar jam sekolah, dan kegiatan selama tinggal bersama host parents (orang tua angkat) di home stay (rumah tinggal). Dengan demikian, para siswa tidak semata- mata hanya mengenal kegiatan belajar-mengajar di sekolah, tetapi juga lingkungan keluarga dan lingkungan sosial masyarakat di Sidney. Adapun pemaparan dari ketiga jenis kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Kegiatan Belajar-Mengajar di Menai High School

Dalam program pertukaran ini, seluruh siswa tamu diwajibkan untuk mengikuti dan terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar. Jam

sekolah di Menai High School dimulai pukul 8.45 dan berakhir pukul

3.20 waktu setempat. Satu jam pelajaran berlangsung sel ama 50 men it, sehingga dalam setiap harinya siswa belajar sebanyak 6 jam pelajaran. Ada pun rinci an jam kegiatan belajar-mengajar adalah sebagai berikut:
Tabel 1 P em b ag 1an J a d wa I J am P e I aJaran d I M ena1. H.

Sen in Selasa Rabu Kamis 19 h S c h 00 Jumat
A pel paqi 8.5 5 A pel paqi 8.55 A pel pa q1 8.55 A pel paq i 8.55 Apel pa gi 9. 05
Jam 1 9.10 Jam 1 9.10 Jam 1 9. 10 Jam 1 9.10 Jam 1 9.20
Jam 2 10.00 Jam 2 10.00 Jam 2 10.00 Jam 2 1000 Jam 2 10.10
Istirahat 10.50 Istirahat 10.50 Ist 1rahat 10.50 Istirahat 10.50 Istirahat 11.00
Jam 3 11.1 5 Jam 3 1115 Jam 3 1115 Jam 3 1115 Assembly (bimbinqan) 11.30
Jam 4 12.05 Jam 4 12.05 Ja m 4 12.05 Jam4 12.05 Jam 3 12.00
Lunch 1 12.5 5 Lunch 1 12.55 Lu nch 1 12.55 Lunch 1 12.55 Jam 4 12.50
Lunch 2 13.1 6 Lunch 2 13. 16 Lu nch 2 1316 Lunch 2 1316 Lunch 1 13.40
Jam 5 13.40 Jam 5 13.40 Jam 5 13.40 O lah 13.40 Be l Masuk 14.22
Jam 6 14.30 Jam 6 14.30 Ja m 6 14.30 raga & ekskul 14.30 Jam 5 14.25
Jam Pu lang 15.20 Jam Pulang 15.20 Jam Pulang 15.20 Jam Pulang 15.20 Ja m Pulang 15.15

Sumber: Menai High School, 2014/2015: 16.

Dari j adwal jam pelajaran terse but, pada ha ri kamis terdapat mata pelajaran ekstrakurikuler, yakni pengembangan bakat dan olah raga. Dalam kaitannya dengan pengembangan bakat, sekolah ini tidak hanya memiliki fasilita s olah raga, tetapi juga lahan peternakan dan pertanian. Dengan demikian, fasilitas tersebut juga mewadahi siswa yang berminat di bidang peternakan dan pertanian. Meskipun demikian, dalam mata pelajaran ekstrakurikuler semu a siswa yang mengembangkan bakat di bi dang peternakan dan pertanian tersebut tetap harus mengenakan paka ian olah ra ga.

Agar terjalin komunikasi yang baik selama mengikuti pelajaran di kelas, setiap siswa dari SM P Negeri 19 didampingi oleh seorang buddy (siswa pendamping) dari Menai High School. Seorang buddy

School adalah moving class, yang mana setiap pergantian mata pelajaran siswa berpindah ruangan sesuai dengan mata pelajaran yang akan diikutinya. Sebaliknya, setiap guru tetap tinggal di dalam kelas sesuai dengan bidang pelajaran yang mereka ajarkan, sementara siswa- siswi yang hadir di kelas itu setiap pergantian jam mata pelajaran senantiasa berganti-ganti.

Dalam hal ini seorang siswa tamu mengikuti kelas buddy-nya sesuai dengan mata pelajaran yang diikuti oleh buddy tersebut. Dengan demikian para siswa dapat merasakan suasana belajar-mengajar dengan sistem moving class. Guru pendamping juga diwajibkan untuk hadir di kelas sesuai dengan jadwal yang diberikan oleh pihak Menai High School, dengan tujuan untuk mengetahui sistem pembelajaran di sekolah tersebut.

Ketika pergantian jam pelajaran dan siswa harus berpindah kelas, para siswa sangat disiplin. Tidak ada siswa yang terlambat untuk masuk ke ruang kelas berikutnya, karena apabila terlambat mereka tidak diizinkan masuk ke kelas. Akan tetapi, pihak sekolah juga menyediakan meja dan kursi di luar pintu masuk kelas, sehingga siswa yang terlambat tetap dapat mengikuti pelajaran dengan cara mendengarkan dari luar kelas. Guru pun juga memberikan tugas yang sama kepada para siswa yang terlambat tersebut. Selama pelajaran berlangsung dan belum memasuki jam istirahat, toilet dan kantin juga dikunci, sementara para siswa tetap disiplin untuk tidak pergi ke toilet atau ke kantin selama pelajaran berlangsung.

Kegiatan belajar-mengajar di Menai High School menuntut siswa untuk aktif. Di kelas, guru hanya menjelaskan sekitar 15 menit kemudian dilanjutkan dengan memberikan tugas. Para siswa lalu mencari jawaban tugas yang diberikan pada buku-buku yang tersedia, kemudian dituliskan di laptop masing-masing dan hasilnya dikirim kepada masing-masing guru bidang studi. Untuk menambah wawasan

Peserta International Student Exchange Program (kanan) Beserta Siswi Menai High School (kiri) yang Bertindak Sebagai Buddy (pendamping)

Sumber: Dokumen Pribadi

Para guru di Menai High School j uga memberikan penghargaan berupa "hadiah kecil" terhadap para siswa yang berani maju ke depan kelas, misalnya untuk menyampaikan presentasi atau menjawab pertanyaan dengan menulis di whiteboard. "Hadiah kecil " ini dapat mendorong siswa untuk berlomba-lomba berani mengutarakan pendapat di depan kelas. Menai High School juga mempunyai program Assembly (semacam bimbingan untuk siswa-siswi yang kurang mampu di salah satu mata pelajaran). Tujuannya adalah agar siswa-siswi dapat mengejar ketertinggalannya pada mata pelajaran tersebut. Program assembly dilaksanakan pada setiap jam pelajaran ketiga setiap harinya.

dalam Sistem Moving Class

Sumber: Dokumen Pribadi

Gambar 3 Guru Memberikan Hadiah bagi Siswa-Siswi yang Berani Tampil di Kelas

Sumber: Dokumen Pribadi

Selaku tuan rumah, para siswa di Menai High School tentu juga ingin mengenal sekilas kebudayaan dari negara asal para siswa tamunya. Oleh karena itu, siswa-siswi SMP Negeri 19 Jakarta diberi kesempatan untuk menyelenggarakan pergelaran kesenian dalam rangka memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada mereka. Dalam

menampilkan Tari Sirih Kuning dari daerah Betawi dan menyanyikan lagu Gebyar-Gebyar dan Rambadi 4 Penampilan mereka mendapat apresiasi yang meriah dari para siswa Menai High Sc hool.

Gambar4 Penampilan Siswa -Siswi SMP Negeri 19 Jakarta dalam Pergelaran Kesenian Indonesia

Sumber: Dokumen Pribadi

Untuk menutup seluruh rangkaian kegiatan International

Student Exchange Program, pada Selasa, 1 April 2014, diadakan acara perpisahan, bertempat di salah satu sudut taman sekolah. Kegiatan ini diawali dengan pembagian sertifikat dari Menai High School untuk para siswa SMP Negeri 19 dan para buddy. Setelah pembagian sertifikat

4 Lagu Gebyar -Gebyar merupaka n salah satu lagu nasional yang dipopulerkan oleh Almarhum Go mbloh. Song Text, 2011, http.//songtxt. b/ogspot.com/2011! 07/gebyar-gebyar.htm/, diunduh tanggal 6 September 2014 pukul 23.18. Sedangkan lagu Rambadi merupakan lagu daerah dari Sumatera Utara. Daftar Judul Lagu dari Berbagai Oaerah di Indonesia. http.//kurniawatialfita. b/ogspot. com/2013!02/ daftar-judu/-/agu -dari-berbagai-daerah.html. Diunduh tanggal 6 September 2014, pukul 23.1 4.

selesai, acara dilanjutkan dengan pesta bersama antara siswa-siswi SMP Negeri 19 Jakarta dengan para buddy, guru, dan beberapa host parent. Acara perpisahan ini menjadi berkesan karena dikemas secara apik oleh para guru dan staf di Menai High School.

Gambar 5 Acara Perpisahan Antara Siswa-Siswi SMP Negeri 19 Jakarta dengan Para Buddy dan Guru Menai High School

Sumber: Dokumen Pribadi

Setelah mengikuti pelajaran-pelajaran di kelas, dapat diketahui bahwa beban kurikulum pendidikan di Australia justru tidak seberat beban kurikulum pendidikan di Indonesia. Misalnya, materi pelajaran yang diberikan untuk siswa kelas 8 di Menai High School sebanding dengan materi pelajaran untuk siswa SD di Indonesia. Namun, dari segi penanaman kedisiplinan dan tanggung jawab, tampaknya sekolah-sekolah di Australia, khususnya Menai High School, dapat dijadikan contoh bagi sekolah-sekolah di Indonesia. Contoh, tidak ada siswa yang pergi ke toilet atau kantin ketika pelajaran berlangsung, atau jika terlambat maka siswa harus belajar di luar kelas.

2. Kegiatan di Luar Jam Sekolah

Di samping mengikuti kegiatan belajar-mengajar di kelas, para siswa juga diajak mengikuti kegiatan di luar sekolah, yaitu berwisata ke beberapa destinasi wisata di Kota Sidney. Tujuannya adalah agar para

mengenal lingkungan sosial budaya yang dimiliki Kota Sidney melalui destinasi wisatanya. Pada hari Senin, 24 Maret 2014, begitu sampai di bandara, para siswa SMP Negeri 19 dijemput oleh pihak Menai High School dan langsung diajak melihat-lihat Gedung Opera House, yang menjadi ikon Kota Sidney. Gedung yang terletak di Bennelong Point, Sidney Harbour tersebut, menarik perhatian para wisatawan karena bentuk atapnya yang menyerupai cangkang. Gedung itu digunakan untuk tempat pertunjukan berbagai kesenian, seperti teater, balet, opera, dan lain -la in s Setelah berwisata di Gedung Opera House, para siswa baru kemudian diantar ke Menai High School untuk bertemu dan berkenalan dengan para pengurus sekolah, buddy, dan host parents.

Pada hari Kamis, 27 Maret 2014, para siswa diajak mengunjungi Wollongong University dan Symbio Zoo. Wollonggong University adalah salah satu universitas ternama di Sydney. Selama berkunjung di kampus universitas tersebut, para siswa diperkenalkan dengan fasil itas- fasilitas yang terdapat di universitas, seperti perpustakaan, taman, studio, dan auditorium. Kunjungan ke kampus universitas ini, tentu untuk memberikan gambaran kepada siswa -siswi SMP Negeri 19 Jakarta mengenai perguruan tinggi di Australia, lengkap dengan berbagai fasilitas yang disediakan. Hal ini menjadi pertimbangan tersendiri bagi para siswa yang kela k bercita-cita ingin berkuliah di Australia 6

Symbio Zoo merupakan kebu n binatang yang mempunyai mi si untuk melibatkan pengunjung, terutama anak -a nak, agar mereka mengenal lebih dekat koleksi binatang-binatang yang terdapat di

5Gedung Syd ney. 2008. id.advisor.travel/ poi/Gedung -
Opera-Sydney-3176. Diunduh tanggal 7 September 2014, pukul 02.15.
bache/orstudies.co.id/Sarjana-Univers itas- Wollongong -(UOW)-Program/ fvla/aysia/ INT/1 Diunduh tanggal 5 September 2014, pukul 05.30. 6Sarja na -Universitas Wollongong (UoW) Program.

Opera http.//

*http://www.*

Pada saat berkunjung ke Symbio Zoo, para siswa bahkan diajak mengenal lebih dekat dengan beberapa binatang yang terdapat di kebun binatang tersebut, seperti koala, ular sanca, dan kanguru. Para siswa bahkan diajak menyentuh langsung atau memberi makan langsung ke binatang-binatang tersebut.

Gambar 6 Di Symbio Zoo, Para Siswa Diajak Mengenal Lebih Dekat Binatang Koala, yang Menjadi Salah Satu Ikon Binatang di Australia

Sumber: Dokumen Pribadi

Pada hari Minggu, 30 Maret 2014, para siswa kembali diajak berwisata ke Sydney Harbour dan Manly Beach dengan menggunakan kapal Manly Ferry Cruise. Untuk menuju Sydney Harbour, para siswa tidak dijemput dengan bus, melainkan diajak naik angkutan umum, yakni kereta api listrik. Untuk itu, para siswa harus berjalan menuju stasiun, kemudian naik kereta api listrik dan turun di dekat Pelabuhan Sidney. Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan kapal Manly Ferry Cruise, menyusuri pantai antara Sydney Harbour dan Manly Beach. Dari kapal feri ini, rombongan kembali dapat menyaksikan dari dekat

http://www. visitnsw.com/destinations/south-coast/wollongong-and surrounds/stanwell-park/attractions/symbio-wildlife-park, diunduh tanggal 7 September 2014 pukul 01.30.

Opera House. Setelah kapal feri kembali ke pelabuhan, kegiatan dilanjutkan dengan shopping di Paddys Market. Di pasar rakyat ini, para siswa dapat menjumpai banyak pedagang keturunan Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Malaysia.

3. Kegiatan Tinggal Bersama Host Parents di Home Stay

Untuk akomodasi selama tinggal di Sidney, para siswa dan guru pendamping diwajibkan untuk tinggal di homestay, yaitu rumah-rumah keluarga yang telah ditunjuk oleh Menai High School untuk ditinggali para siswa dan guru pendamping. Setiap homestay hanya menampung dua orang siswa. Tujuan dari tinggal di homestay ini adalah agar para siswa dapat bersosialisasi dengan para host, yang merupakan representasi dari keluarga-keluarga masyarakat Australia. Kegiatan ini merupakan bagian dari Immersion Program, yaitu selama tinggal di homestay para siswa dapat rnenjadi "anggota keluarga", rnenjalin hubungan yang baik dengan keluarga host, dan berpartisipasi sebagaimana anggota keluarga pada umumnya. Manfaat yang diharapkan di sini adalah para siswa memperoleh pengalarnan immersion (membaur dan menjadi bagian) dengan keluarga -keluarga di Australia.

Kehidupan keluarga di Au stralia relatif berbeda dengan di Indonesia. Pada urnurnnya pasangan suami-istri sama -sama bekerja di luar rumah, narnun mereka tidak rnerniliki asisten rumah tangga, sehingga segala pekerjaan ru mah tangga dikerjakan sendiri oleh seluruh anggota keluarga. Hal ini dikarenakan biaya untuk menggaji asisten rumah tangga sangat tinggi, sehingga kebanyakan keluarga tidak mampu menggaji mereka. Untuk itu, para anggota keluarga, baik ayah, ibu, maupun anak-anak harus saling berbagi pekerjaan rumah tangga. Hal ini pula yang rnendorong si swa-siswi selama tinggal di homestay harus mengerjakan segala sesuatunya secara rnandiri, tidak bergantung pada orang lain.

Pada family day ini masing-masing host parents juga mempunyai acara keluarga sendiri-sendiri, mulai dari pesta, shopping (belanja), berwisata, ataupun hanya sekadar makan malam bersama. Dalam hal ini, para siswa juga diajak dan dilibatkan dalam kegiatan family day oleh host parents mereka. Secara umum dapat dikatakan bahwa para host parents yang rumahnya ditempati para siswa sangat ramah dan bersahabat. Mereka justru merasa senang rumahnya ditempati oleh para tamu dari negara lain. Para siswa bahkan dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan intern keluarga mereka, seperti memasak, makan malam bersama, berwisata, bahkan diperkenalkan dengan kantor tempat mereka bekerja.

D. PENUTUP

Berdasarkan pemaparan tentang penyelenggaraan kegiatan International Student Exchange Program yang dilakukan oleh SMP Negeri 19 Jakarta di atas, dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini bermanfaat untuk membuka wawasan para siswa Indonesia mengenai sistem belajar-mengajar dan kebudayaan masyarakat di negara lain, khususnya Australia. Salah satu manfaat yang dapat dipetik, para siswa dapat mengetahui bahwa beban kurikulum yang berlaku di Australia justru tidak seberat beban kurikulum pendidikan di Indonesia. Sebaliknya, Menai High School justru lebih menekankan pada pendidikan untuk membentuk perilaku dan karakter siswa melalui 10 nilai yang diterapkan di sekolah tersebut, yakni : integrity, excellence, respect, responsibility, cooperation, participation, care, commitment, fairness, dan democracy. Dengan demikian, tidak mengherankan bila sekolah ini mampu membentuk para siswa menjadi insan yang displin, mandiri, pantang menyerah, dan lain-lain. Hal ini terlihat pada bagaimana para siswa menaati tata tertib dan kedisiplinan, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Selain mengenal sistem belajar-mengajar yang diterapkan di sekolah-sekolah di Australia, para siswa juga mengenal beberapa destinasi wisata di Kota Sidney. Beberapa dari destinasi wisata tersebut, yakni Wollonggong University dan Symbio Zoo menambah wawasan

dimilikinya sebaga i media pem belajaran ya ng menarik.

Yang terakhir, peraturan bahwa para siswa dan guru pendamping harus tinggal di homestay menyebabkan mereka mengenal lebih dekat kehidupa n intern keluarga-keluarga di negara tersebut. Anggota keluarga di Austral ia pada umumnya mempunyai budaya mandiri. Pada umumnya, pa sangan suami -istri sama-sama bekerja, sehingga segala pekerjaan rumah tangga dikerjakan dengan saling berbagi di antara selu ruh anggota keluarga. Hal ini yang mendorong anak- anak dari kel ua rga di Australia berkembang menjadi pribadi yang mandiri dan tidak tergantung pada orang lain.

DAFT AR PUSTAKA

Gedung Opera Sydney. 20 08. http:!/id.advisor.travel/poi/Gedung-Opera-Sydney-3176. Diu nduh tanggal 7 September 2014, pukul 02.1 5)

Keuntungan fvlengikuti Student Exchange. 2014. http:/ / agasinotes. wordpress.com/ 2012/02/27 /keuntungan-mengikuti -student-exchange/. Diunduh tanggal 6 Mei 2014, puku l 15.24

fvlenai High School. 2014/201 5. Student Handbook. Sidney: Menai High School.

fvlenai High School, Care and Commitment. 2014. http://www.menai -

h.schools.nsw.edu.au /. Diunduh tanggal 10 Oktober 2014, pu kul 11.03).
fvlanfaat Pertukaran Pelajar Antar N egara. http://www.kapsulpintar. com/2013/06/30/502/ ma nfaat -pertu ka ran-pe l ajar -a nta r- negara.htm. Diunduh tanggal 6 Mei 2014 pukul 15.3 5.

Sarjana -Un iversitas Wollongong (UoW) Program. http://www.bachelor studies.co.id/Sarjana -Un ivers itas -Wollongong-(UOW)-

2014, pukul 05.30.

Symbio Wildlife Park-Helensburgh. http://www.visitnsw. com/destinations/ south-coast/wollongong-and-surrounds/stanwell-park/ attractions/symbio-wildlife-park. Diunduh tanggal 7 September 2014 pukul 01.30.

Student Exchange Program. http:/ /en.wikipedia.org/wiki/International Association of_Universities. Diunduh tanggal 6 Mei 2014 pukul

15.24.

Karakter ... [99

PEMBENTUKAN KARAKTER DAN SEMANGAT KEBANGSAAN PADA SISWA DI ATAMBUA, NUSA

TENGGARA TIMUR

MELALUI PEMBERDAYAAN KOMUNITAS ADAT DAN INTEGRASI NILAI- NILAI LOKAL DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR "Fitri Ratna Irmalasari frirma lasari @gmail.com

A. PENDAHULUAN

1 Bupati Belu, Wilhelmus Foni, pernah berkomentar bahwa rnasih banyak siswa sekolah dasar di Atambua yang menyebutkan nama Xanana Gusmao 2 ketika ditanya "Siapa Presiden Indonesia saat ini7"KornentarBupati Belu tersebut mewakili problem khas wilayah perbatasanyang tentunya tidak asing lagi yaitu nasionalisme. Wilayah perbatasan mernang kerap dikaitkan erat dengan isu-isu semangat kebangsaan dan kedaulatan negara. Letak wilayah yang saling berdarnpingan dengan negara lain, serta hubungan- hubungan transnasional yang terjalin dengan masyarakat negara-negara tetangga dalam keseharianmendatangkan keraguan terhadap nasionalisme masyarakat Indonesia di wilayah perbatasan.

Atambua merniliki kisah unik dalarn seja rah pembentukan wilayah perbatasan di Indonesia. Setiap kali pergolakan politik terjadi di

1 Komentar tersebut dilontarkan Wi lhemnus Foni, (saat itu) Penjabat Bupati Bel u, ketika berbincang-dengan Ti m Penel iti Kajian Transnasionali sme dalam Perspektif Sejarah, Puslitba ng Kebu dayaan, Kementerian Pendidikan dan Budaya Republik Indonesia, pada 14 Mei 2014, pukul 09.46 WIT A. Kay Rala Xanana Gusmao lah ir di Manatuto, Timor Leste, pada 20 Juni

  1. Selama 20 tahun, ia menjadi gerilyawan untuk memerdekakan Timor Leste. Profil lengkap Xanana Gu smao dapat di lihat pada Roger East dan Richard
    J. Thomas (Ed.). 2003.Profiles of People in Power: The World's Government Leaders. London: Europa Publications Limited, him. 148- 150.

Pembentukan Karakter ...

3 Timor Leste, Atambua terkena imbasnya. Dalam periode upaya penyatuan Timor Leste ke Republik Indonesia (RI), Atambua menjadi basis Operasi Seroja 4 yang dimulai pada 17 Desember 1975. Saat itu, Atambua masih menjadi wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste. Setelah Timor Leste bergabung menjadi provinsi ke-27 NKRI dan berganti nama menjadi Timor Timur pada 17 Juli 1976, status Atambua berganti, menjadi kecamatan di ujung timur Provinsi Nusa Tenggara Timur. 5

Nama Atambua kembali mencuat di berbagai pemberitaan media massa, ketika Timor Timur berupaya memerdekakan diri pada akhir tahun 1990-an. Atambua kembali menjadi wilayah perbatasan antarnegara setelah Timor Leste memperoleh kemerdekaan dari Indonesia pada 2002. 6 Tidak sampai seperempat abad, Atambua mengalami perubahan-perubahan status administrasi. Dalam waktu yang relatif singkat, yaitu ketika memori tentang konflik politik dan kedaulatan negara di tahun 1970-an masih terekam dengan baik,

3 Tulisan ini menggunakan nama Timor Leste untuk merujuk periode yang berbeda-beda dalam sejarah negara tersebut: Timor-Portugis, Timor Timur, dan Timor Leste. Hal ini dilakukan demi menghindari kebingungan pembaca. 4 0perasi Seroja merupakan nama operasi militer Angkatan Darat Republik Indonesia ketika menginvasi Timor Leste yang dimulai pada 7 Desember 1975. Operasi tersebut bertujuan menundukkan kelompok komunis Fretilin serta mengupayakan integrasi rakyat Timor ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lihat, Kazuko Mora dan Kenichiro Hiro (Ed.). 2007 A New East Asia: Toward a Regional Community. Singapore: NUS Press, him. 39; Geoffrey C. Gunn. 2011.Historical Dictionary of East Timor. Maryland: Scarecrow Press, Inc, him. 15. 5 Proses menjelang integrasi Timor Leste ke NKRI pada 1976 secara ringkas dalam catatan wartawan senior Indonesia, Rosihan Anwar, pada Rosihan Anwar. 2004.Sejarah Kecil "Petite Histoire " Indonesia. Jakarta : Penerbit Buku Kompas, him. 11-17. Sejarah konflik politik di Timor Leste dapat dibaca pada Eva-Latta E. Hedman (Ed). 2008.Conflict, Violence, and Displacement in Indonesia. New York: Cornell Southeast Asia Prog ram Publications, him. 103-105.

Karakter ... [101

Atambua harus kembali menimbun memori akan peperangan, pengungsian, dan kematian.

Tentu saja masa-masa paling su lit dalam periode konflik itu kini telah berakhir. Sebagian pengungsi telah kembali ke Timor Leste. Sebagian lainnya memilih tetap tinggal eli Atambua atau menyebar ke wilayah lainnya di Nusa Te nggara Timur. Hubungan etnis dan kekerabatan mendukung re konsiliasi antaranggota masyarakat yang terlibat dalam konflik. Hingga kini, masih banyak di antara masyarakat Atambua ya ng memiliki sauda ra kandung di wilayah Timor Leste. Meski kewarganegaraan dan pilihan politis berbeda, hubungan persaudaraan tetap terjalin dengan baik, bahkan mewarnai relasi-relasi sosial dan ekonomi masyarakat di wilayah perbatasa n.

Atambua mulai tumbuh cepat pascadisintegrasi Timor Leste. Atambua yang dahulu tidak se berapa ramai, kin i mulai digerakkan oleh kegiatan ekonomi masyarakatnya dan terus mengalami peningkatan populasi. Pascadisintegrasi, sebagian besar penduduk dari etnis pendatang di Timor Lestememilih mengungsi ke Atambua dan membangun kembali kegiatan ekonomi mereka. Jumlah pedagang, toko, dan penginapan semakin banyak bermunculan. Atambua berdinamika secara cepat dan kini tumbuh menjadi wilayah yang strategis karena menjembatani dua negara. Di satu sisi, Atambua mulai bergeliat, 7 se mentara di sisi lain, masih banyak permasalahan ekonomi dan sosial yang belum terselesaikan akibat perubahan-perubahan sosial dan politik.

Perubahan Atambua dalam tiga dekade terakhir menggambar- kan betapa rumitnya membayangkan suatu bentuk nasionalisme dalam

7 Jika mengunjungi Ata mbua dari ara h Kupang, tampak jelas bahwa Atambua lebih ramai dan hidup dibandingkan dua kota sebelumnya: Soe dan Kefamenanu. Berdasarkan wawancara dengan beberapa warga Atambua, sebelum disintegrasi Timor Leste, Atam bua sangat sepi dan berdinamika secara lambat. Kedatangan para warga pen datang ya ng rata -rata merupakan eksodus Timor Leste dan perubahan status Atambua menjadi wi layah perbatasan telah membangun geliat ekon omi wilayah setempat.

Pembentukan Karakter. ..

masyarakat setempat. Padahal sebagai garda terdepan, Atambua berperan penting menjaga kedaulatan negara. Terutama pada generasi muda, bangsa ini menitipkankeutuhan wilayah NKRI. Perkembangan karakter generasi muda sangat berpengaruh terhadap hubungan- hubungan ekonomi, sosial, dan budaya dalam masyarakat perbatasan kelak. Anak-anak tersebut diharapkan mewarisi nilai-nilai luhur nenek moyang dan semangat nasionalisme sebagai bagian dari bangsa Indonesia, sehingga dapat diandalkan untuk menyelesaikan berbagai persoalan termasuk persoalan perbatasan di wilayahnya.

Pada akhirnya, pendidikan adalah jalan kunci yang dapat mengubah nasib anak-anak di wilayah perbatasan. Pendidikan memberikan kesempatan sekaligus menjadi media penanaman nila i- nilai maupun ideologi pada anak-anak di Atambua. Jika mengacu pada program pendidikan karakter yang dikenalkan sejak tahun 2011, 8 maka sudah sepatutnya sejumlah karakter terutama yang berkaitan dengan nasionalisme disertakan dalam proses belajar anak-anak di Atambua. Upaya membangun nasionalisme sepatutnya menyesuaikan dengan tantangan perubahan zaman, namun esensinya adalah berjuang membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang demokratis, menegakkan hukum, dan menciptakan kesejahteraan. Penanaman karakter nasionalis pada siswa harus diarahkan pada tujuan tersebut

8 Pendidikan karakter secara je/as te/ah tertuang dalam pasa/ 3 Undang -undang Nomor 20 Tahun 2003, tentang Pendidikan Nasional, yang berbunyi: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Pada 2011, Departemen Pendidikan Nasional menetapkan 18 nilai-nilai dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter, yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerj a keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Karakter ... [103

dengan cara menciptakan generasi penerus yang bersikap jujur, adil, disiplin, tidak korupsi, toleran, dan la in-lain.

Da la m konteks Ata mbua, pendidikan karakter hendaknya mempertimbangkan lokalitas setempat.Terletak j auh dari pusat pemerintahan negara, kehidupan sosial dan ekonomi ce nderung digerakkan oleh hubungan -hubungan kekerabatan da lam sistem adat. Penduduk perbatasan di Atambua bahkan mengakui bahwa aturan- aturan da n hukum adat masih ditakuti dan berdaya dalam mengatur masyarakat. Meskipun terpisahkan oleh sekat-sekat negara, sistem adat tetap menj adikan mereka bagian dari keluarga besar etnis Tetun, Bunak,Kemak, dan Dawan. 9

Latar bel akang pilihan- pilihan politis masyarakat Atambua untuk "menjadi Indonesia " mungkin saja berbeda. Hubungan-hubungan transnasional yang tidak terelakkan dalam keseharian, serta perkembangan politik Indonesia saat in i, berpotensi menggerus nasionalisme ma syarakat Atam bu a. Hanya sistem adat yang trdak berubah karena dihormati oleh para anggotanya. Untuk itu, penanaman nasionalisme sudah seharusnya melibatkan unsur-unsur adat dan bu daya setempat, karena masyarakat setempat yang paling mengerti cara menyelesaikan masalah dan mengenal betul wilayah tempat mereka bermukim, terutama yang berkaitan dengan pendidikan.

Tulisa n in i nantinya bertujuan memperlih atkan potensi unsur-unsur lokal dan komunitas ad at dalam menyelesaikan kendala-kendala pendidikan serta menanamkan semangat nasionalisme pada anak didik di era global. Seperti yang diutarakan oleh Benedict Anderson, nasionalisme ada lah komunitas politik yang dibayangkan, sehingga perlu ada nya sharing of ideas serta socio-political sharing di antara

Mengenai etnis-etnis ya ng terd apat di Atambua, lihat pada Adat lstiadat daerah Nusa Tenggara Timur. 1978. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebu dayaa n Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Penelitian dan Sejarah Bu daya, him. 27.

melibatkan unsur-unsur lokal merupakan bentuk dialog dan berbagi peran yang memberi perhatian pada perbedaan suku, agama, wilayah, gender, dan lain-lain. Membangun nasionalisme melalui penghargaan terhadap nilai-nilai lokal juga sesuai dengan semboyan negara Bhineka Tunggal Ika.

B. KEMISKINAN, KONFUK, KEKERASAN, DAN BUTA HURUF: KONDISI PENDIDIKAN 01 ATAMBUA KINI

Potret Atambua kerap diasosiasikan dengan kemiskinan. 11

Potret tersebut berbanding lurus dengan kondisi pendidikan. Siapapun yang mengunjungi Atambua dengan mudah memahami betapa beratnya perjuangan anak-anak Atambua untuk mengakses pendidikan. Menyaksikan pemandangan anak-anak berseragam sekolah dasar berjalan kaki di siang hari nan terik, menempuh beberapa kilometer jalan bebatuan untuk sampai ke rumah adalah hal yang memprihatinkan. Masih berseragam sekolah, mereka membawa jeriken kecil yang berisi air atau bensin. Jeriken-jeriken digunakan untuk mengangkat air dari mata air yang jumlahnya terbatas dan seringkali jauh dari tempat tinggal. 12 Kekeringan memang masih menjadi permasalahan bagi warga Nusa Tenggara Timur. Jika bukan berisi air, jeriken itu berisi bensin. Kemiskinan menyebabkan anak-anak harus

10 Mengenai konsep nasionalisme menurut Benedict Anderson dapat dibaca pada Benedict Richard O'Gorman Anderson. 1991.1magined

dibaca pada Benedict Richard O'Gorman Anderson.
Verso, him. 1-8. memahami kemiskinan di Atambua menurut konteks
pembangunan Resosudarmo dan Frank Jotzo. 2009.Working with Nature Againts Poverty: !SEAS menyaksikan secara langsung kondisi anak-anak sekolah di wilayah perbatasan. Publishing; Dalam suatu kegiatan penelitian di Atambua bulan Juni 2014, penulis di Indonesia bagian timur dapat dibaca pada Budy P.

Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. New York:

llUntuk

Development, Resources and the Environment in Eastern Indonesia. Singapore: http.//ntt.bps.go.id/index.php/en/berita-resmi-statistik/11- profil-kemiskinan-ntt.html.

[105

membantu orangtua merekamenyel undupkan bensin ke negara tetangga.

Gambar 1 Anak -anak di Perbatasan

Sumber: Dokumen Puslitbangbud, 2013

Menurut pengakuan beberapa orangtua, kemiskinan meruadi ala san utama untuk tidak membiayai anak-anak mereka bersekolah. Mata penca harian utama masyarakat Atambua adalah petani dan peternak. Hasil sawah sebena rnya tidak dapat diandalkan karena permasalahan iklim. Hasil terna k jumlahnya sangat terbatas. Mereka juga belum memiliki jaringan distribusi hasil pertanian dan peternakan yang memadai. Sementara itu, lapangan kerja di Atambua jumlahnya terbatas. Atas kondisi demikian, orangtua beralasan untuk tidak menyekolahkan anak-anak mereka dan memilih mengajak sang anak menyelundupkan ben si n13

Berdasarkan wawan cara dengan sejumlah informan di Atambua, Nusa Tengga ra Timur, 31 Mei 2014- 6 Juni 2014.

Karakter ...

Kemiskinan rupanya memengaruhi pandangan orangtua terhadap institusi pendidikan. Mengajak anak untuk ikut bekerja adalah pilihan praktis dan realistis. Menyekolahkan anak hanya membuang uang dengan percuma. Institusi pendidikan formal dianggap tidak dapat mampu mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Mengingat keterbatasan lapangan kerja di Atambua, orangtua menganggap jika anak-anak mereka lulus sekolah pun akan kesusahan mendapatkan pekerjaan. Lapangan kerja terbatas sehinggatidak ada banyak hal yang dapat dilakukan di Atambua. 14

Kemiskinan memang telah membatasi daya seseorang untuk mendapatkan hak belajar. Namun selain kemiskinan, budaya 15 kekerasan turut menjadi penghambat dalam proses pendidikan. Anak-anak Atambua sangat dekat dengan kekerasan. Pertemuan pertama anak dengan kekerasan sering kali justru terjadi di dalam keluarga. Para orangtua umumnya mendidik anak mereka dengan keras. Mendisplinkan anak dijadikan alasan untuk membentak, menyakiti secara verbal, bahkan menghukum melalui kekerasan fisik. 16

14 Berdasarkan wawancara dengan sejumlah informan di Atambua, Nusa Tenggara Timur, 31 Mei 2014-6 Juni 2014; Op. Cit, Resosudarmo. 15 Kekerasan sebagai budaya cenderung didistribusikan dari generasi ke generasi, baik dalam pola-pola sosialisasi maupun dalam bentuk aktivitas yang bermakna ritual. Oleh karena itu, dalam banyak masyarakat, kekerasan sering dianggap sebagai "sesuatu yang harus diterima" (taken for granted). Pendekatan antropologis mengungkapkan adanya relasi antara kekerasan dan konstruksi budaya. Kajian-kajian historis mengungkapkan bahwa kekerasan telah ada sejak adanya manusia, sehingga kekerasan dapat dikatakan juga sebagai bagian dari budaya manusia (human culture). Lebih lanjut lihat pada Anton Blok. 1974.The Mafia of a Sicilian Village, 1860-1960: A Study of Violent Peasant Entrepreneurs. Cambridge: Waveland Press, him. 172. Tim Pustaka Familia. 2007.Mempertimbangkan Hukuman pada Anak, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, him. 34-35; Diskusi dengan pekerja-pekerja sosial di Lembaga Swadaya Masyarakat Save for the Children, Atambua, NTT, 15 Mei 2014, pukul18.00-20.00 WIT A.

[107

Benny Giri, seorang pekerja sosial untuk Save for The Children mengakui bahwa orangtua atau keluarga justru menjadi penghambat utama ketika ia mengadakan program -program baca -tulis. Orangtua terbiasa mendidik anak -anak mereka dengan bentakan dan hukurnan fisik. Anak -anak menjadi sang at pasif karena tidak biasa berpendapat. Keadaan psikologis anak tidak tenang dalam proses belajar, mereka takut dihukum dan enggan bertanya. Ket1ka dikumpulkan dalam suatu kelompok belajar, anak-anak tidak cepat saling beradaptasi dan berkomunikasi. Anak-anak ini menjadi san gat patuh, namun daya kritis dan kreativitasnya lemah. Kea da an ini menghambat proses belajar dan mengajar. Akibatnya, banyak anak berusia 9-10 tahun atau setara dengan kelas 3 SD belum dapat membaca. Untuk itu, melalui beberapa program peningkatan kemampuan baca tulis, Benny dan rekan-rekan sejawat menggunakan sistem belajar-mengajar yang demokratis dan menyenangka n. 17

Kekerasan mungkin tela h tertanam sebagai memori kolektif dalam diri anak -anak Atambua. Meski konflik politik telah lama berakhir, kekerasan tetap menjadi pengalaman traumatis dalam ingatan mereka. Ketika perang terjadi, proses pendidikan anak-anak di pengungsia n terhambat. Mereka harus meninggalkan bangku sekolah dalam waktu lama. Ketika kembali ke bangku sekolah, anak-anak ini merasa minder dan ketinggalan banyak materi pelajaran. Bahkan banyak di antara mereka hingga kini tidak melanjutkan sekolah karena hidup terbatas sebagai warga pe ngungsian.

Mereka yang tetap tinggal di Indonesia pascadisinteqrasi mendapat julukan "warga baru" oleh penduduk Atambua. Kehadiran warga baru lambat laun dianggap membawa persoalan bagi warga setempat. Anak -anak warga baru dikenal sulit diatur dan suka

17 Dirangkum dari diskus1 dengan Asyikin, Moderator untuk Education Community, United Nations Development Programme dan Benny Giri, Koordinator BELAJAR (Better Literacy for Academic Result) Save the Children di kantor Lem baga Swadaya Masyarakat Save the Children, Atambua, NTT, 1S Mei 2014, pukul 18.00-20.00 WIT A.

Pembentukan Karakter ...

membuat masalah. Anak-anak warga baru yang tumbuh-kembang di tengah konflik harus mengungsi dan beradaptasi dengan lingkungan baru dan hanya mengenal satu-satunya cara untuk bertahan hidup yaitu melalui kekerasan. Mereka tumbuh menjadi anak-anak bengal dan suka berkelahi untuk menunjukkan eksistensinya sebagai warga baru yang sering mendapatkan perlakuan diskriminatif dari oknum tertentu dalam masyarakat.

Kekerasan berpadu dengan kemiskinan menjadi alasan utama tingginya tingkat buta huruf di Atambua. Secara umum tingkat buta huruf Nusa Tenggara Timur tergolong tinggi yaitu menduduki peringkat keempat se-lndonesia atau sebanyak 10,13%. 18 Meskipun bukan penyumbang persentase tertinggi, jumlah buta huruf di Atambua sangat memprihatinkan mengingat posisinya sebagai wilayah perbatasan. Pada 2010, terdapat 9.839 orang buta huruf di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Jumlah ini menurun sebanyak 46.499 orang jika dibandingkan pada 2005, 19 namun permasalahan buta huruf masih menjadi persoalan utama, di Kabupaten Belu. Jumlah warga buta huruf berumur antara 15-44 tahun. Kondisi ini mengakibatkan indeks pembangunan manusia (IPM) di Belu berada pada posisi 17 dari 20 kabupaten/kota di NTT serta memengaruhi tingkat pengangguran dan kemiskinan di Atambua.

Tabell

p ersentase p opu as1. M ee I k H uru f d an B uta H uru f U s1a. ~ 10 T h a un ( 2012)

Laki-laki Perempuan Total
Wilayah Melek Huruf Buta Huruf Melek Huruf But a Huruf Melek Huruf Buta Huruf
01. Sumba Barat 84,16 15,84 82,29 17,71 83,26 16,74

18 Urutannya adalah sebagai berikut: Papua (36,31 %}, Nusa Tenggara Barat (16,48%), dan Sulawesi Barat (10, 33%). Dikutip dari artikel Horus Bisa Boca agar Berdaya, Kompas, Minggu, 25 Mei 2014. http:/ /www.tempo.co/read/news/2010/06/07 /179253193/Ribuan-Warga-di-Perbatasan-RI-Timor-Leste-Buta-Huruf, diunduh pad a 19 Oktober 2014, pukul 15:58 WIB.

[109

Laki-la ki Perempuan Total
Wilayah Melek Huruf But a Huruf Melek Huruf Buta Huruf Melek Huruf Buta Huruf
02. Sumba Timur 89,46 10,54 86,16 13,84 87,86 12,14
03. Kupang 91,2 8 8,72 88,63 11,37 89,99 10,01
04. Timor Tengah Selatan 86,75 13, 25 81, 22 18,78 83, 93 16,07
05. Timor Tengah Utara 90,27 9, 73 89,53 10,47 89,89 10,11
06. Belu 87,47 12,53 85,20 14,80 86,31 13,69
07. Alor 96,89 3, 11 90,82 9,18 93,73 6,27
08. Lembata 97,57 2,43 91,88 8,12 94,47 5,53
09. Flores Timur 94,84 5,16 87,05 12, 95 90,70 9,30
10. Sikka 90,56 9,44 89,48 10,52 89,98 10,02
11. Ende 95,69 4,31 92, 89 7, 11 94,19 5,81
12. Ngada 98,94 1,06 95,98 4,02 97,41 2,59
13. Manggarai 96,02 3,98 91,87 8,13 93,89 6,11
14. Rote Ndao 89,18 10,82 89,13 10,87 89,16 10,84
15. Manggarai Barat 96,38 3, 62 92,18 7,82 94,25 5, 75
16. Sumba Tengah 85,90 14,10 81,61 18,39 83,83 16,17
17. Sumba Barat Daya 80,43 19,57 80,15 19,85 80,29 19,71
18. Nagekeo 96,88 3,12 95,01 4,99 95,91 4,09
19. Manggarai Timur 96,02 3, 98 92,03 7, 97 93,98 6,02
20. Sabu Raijua 81,65 18,35 80,35 19,65 81,02 18,98
71. Kota Kupang 98,51 1,49 97,46 2,54 98,00 2, 00
Nusa Tenggara Timur 91,81 8,19 88,84 11,16 90,30 9,70

Sumber:www.ntt.bps. go.id

Tradisi lisan dan ba hasa daerah juga memengaruhi proses belajar baca tulis pada anak. Perbedaan struktur bahasa daerah dan Bahasa Indonesia mengakibatkan kebingungan pada anak -anaksaat dihadapkan pada buku latihan Baha sa Indonesia. Dalam bahasa daerah, anak-anak terbiasa dengan kalimat-kalimat pendek. Oleh karena itu, para guru kerap mencari bu ku-buku bacaan dalam Bahasa Indonesia yang berisi kalimat-kalimat pendek dan sederhana untuk memudahkan mereka dalam belajar membaca. Beberapa sukarelawan yang memandu kegiatan bacatulis anak-anak di Atambua, sesekal i menggunakan buku

Pembentukan Karakter ...

cerita dalam bahasa daerah ketika mengajar baca tulis supaya anak-anak cepat lancar membaca. 20

Tabel2

Jumlah Sekolah, Guru, dan Murid Menurut Tingkat Sekolah di Kecamatan Kota Atambua (2014)

Tingkat Sekolah Sekolah Guru Murid Rata-rata Guru per Sekolah Rata-rata Murid per Sekolah
Sekolah Dasar 14 369 6324 26 452
SLTP Umum Kejuruan 6 - 144 - 1894 - 24 316
SLTA Umum Kej_uruan 7 1 177 29 2338 191 25 29 334 191
Sumber: http:/ /belukab.bps.go.id Selain pembangungan fisik Atambua dalam dapat mencapai atap dan plafon beberapa mengakses sekolah. gedung kendala turut menyebabkan sekolah menengah pertama dan atas, sangat terbatas. Tidak meng- herankan jika seorang anak harus menempuh perjalanan jauh untuk Selain gedung sekolah yang tidak layak untuk menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar. SMANegeri 1 Atambua misalnya, beberapa bagian dalam membahayakan keamanan para siswa. Hal yang sama terjadi pada SMK Negeri II di desa Silawan, di perbatasan Indonesia-Timor Leste. Gedung sekolah tidak terawat, banyak kotoran ternak di halaman sekolah, serta beberapa fasilitas pendukung siswa kejuruan terbengkalai. yang pendidikan. Jumlah persoalan kondisi telah disebutkan, ketertinggalan sekolah, jumlah, masih rusak berat, faktor anak-anak terutama banyak sehingga

Dirangkum dari diskusi dengan Asyikin, Moderator untuk Education Community, United Nations Development Programme dan Benny Giri, Koordinator BELAJAR (Better Literacy for Academic Result) Save the Children di kantor Lembaga Swadaya Masyarakat Save the Children, Atambua, NTT, 15 Mei 2014, pukul18.00-20.00 WIT A.

C. PEMBERDAYAAN ADAT DALAM PENDIDIKAN DAN PENANAMAN KARAKTER CINTA TANAH AIR Masyarakat Belu khususnya Atambua memegang kuat tradisi dan adat istiadat. Desa-desa yang masih berbatasan langsung dengan Timor Leste umumnya sangat menghormati hukum adat sebagai seperangkat aturan-aturan yang mengatur kehidupan mereka. Hukum adat itu terdiri dari sanksi-sanksi adat yang dipatuhi oleh masyarakat. Misalnya, hukum adat memberi denda bagi anggota masyarakat yang merugikan anggota masyarakat lainnya. Menurut Petrus Saliolan, tetua adat suku Bunak,
21 sistem adat memiliki daya dalam menyelesaikan berbagai masalah di tengah masyarakat hingga saat ini. Bahkan sistem adat seringkali melampaui hukum negara dalam menyelesaikan kasus yang ada. Masyarakat lebih takut pada hukum adat dibanding hukum formal. Masyarakat umumnya menganggap hukum negara hanya menggiring mereka ke pengadilan, membayar denda, atau masuk penjara. Sedangkan dalam hukum adat, mereka mengenal istilah "tabu " atau "pamali". Mereka percaya bahwa hukum adat memiliki muatan metafisik yang jika dilanggar dapat membuat hidup seseorang terus mengalami kesialan. 22

Dalam beberapa hal, adat memang menyulitkan masyarakat. Salah satu penyebab kemiskin an dan tingginya angka putus sekolah adalah keharusan orangtua untuk menyanggupi persyaratan-persyaratan adat yang berkaitan dengan upacara perkawinan dan kematian. Beberapa tokoh masyarakat di desa Silawan mengeluhkan bahwa seringkali orang tua memilih membayar sejumlah denda adat untuk keperluan gengsi status sosial daripada membayar uang sekolah

21 Suku Bu na k merupakan salah satu suku di Atambua se lain Suku Tetun, Suku Kemak, dan Suku Dawan. Li hat S. Peku Djawang, 1987, Mosa ik Pariwisata Nusa Tenggara Timur, Kupang : Dinas Pariwisata Propinsi Daerah Tingkat I Nu sa Tenggara Timur, him. 22 -24. Wawancara dengan Ketua Adat Suku Bunak, Petru s Sal iolan, 3 Juni 2014, di desa Dirun Weluli, Lama knen, Atambua, NTI.

Pembentukan Karakter ...

anak mereka. 23 Hal ini menunjukkan bahwa meski merepotkan, aturan-aturan adat mampu memengaruhi perilaku masyarakat.

Mengetahui potensi adat, pemberdayaan komunitas-komunitas adat dapat mendukung program-program pembangunan khususnya dalam bidang pendidikan. Mengacu pada rumusan peraturan desa yang diadaptasi dari aturan-aturan adat, tertulis berbagai sanksi adat yang bertujuan menjaga keharmonisan hidup masyarakat. Aturan-aturan adat juga mengajarkan nilai-nilai luhur, misalnya budi pekerti, gotong royong, dan musyawarah dalam menyelesaikan masalah. Di desa Silawan contohnya, peraturan desa memberikan sanksi kepada orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya atau membiarkan 24 anaknya putus sekolah. Di lain waktu, komunitas adat juga dapat menentukan sanksi terhadap orang tua atau siapapun yang melakukan kekerasan terhadap anak. Jika peraturan adat mampu lebih banyak berbicara mengenai pendidikan, maka secara otomotis pemberdayaan adat dapat berfungsi mendukung pendidikan formal.

Meskipun beberapa aturan adat yang telah berjalan sejak lama menyulitkan masyarakat atau tidak sesuai dengan tujuan-tujuan pemerintah, aturan-aturan itu masih dapat didiskusikan. Komunitas-komunitas adat pada dasarnya terbiasa bermusyawarah. Mereka memiliki sikap terbuka dan bersedia diajak berdiskusi. Para tetua adat di wilayah perbatasan bahkan tidak berkeberatan jika aturan-aturan adat yang sudah tidak sesuai dengan semangat zaman harus dihapuskan. Sebab, bagi pemimpin-pemimpin adat di wilayah perbatasan, kesejahteraan warganya jauh lebih penting.

D. SINERGI PENGEMBANGAN NILAI-NILAI DAN WAWASAN LOKAL DAN PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA

Tujuan utama pembangunan karakter bangsa adalah dengan menumbuhkan karakter warga negara, baik karakter privat, yaitu

Disampaikan oleh perwakilan warga Desa Silawan, Atambua, NTI, pada rapat Peraturan Desa Silawan, di Kantor Desa Silawan, 5 Juni 2014. Peraturan Desa Silawan, No.1 Tahun 2014 Tentang Pungutan.

Karakter ... [113

tanggung jawab moral, disipilin diri, dan pengetahuan terhadap harkat dan martabat, maupun karakter publi k, rnisalnya kepedulian sebagai warga negara, kesopanan, mengindahkan hukum, berpikir kritis, dan kemauan untuk mendengar, bernegosiasi, serta berkompromi. 2 \ebih lanjut Kementerian Pendidikan Nasi onal dalam Desa in Induk Pendidikan Karakter²⁶menjelaskan bahwa konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial kultural dapat dikelompokkan menjadi :

  • Olah Hati (Spritual and Em otional Development), bertujuan menghasilkan sikap jujur dan bertanggungjawab.
  • Olah Pikir (Intellectual Development), bertujuan meningkatkan kecerdasan.
  • Olah Raga da n Kinestetik (Physical and Kinestetic Development), bertujuan meningkatkan kualitas kebersihan dan kesehatan.
  • Olah Rasa dan Karsa (A ffective and Creativity Development), bertujuan meningkatkan sikap peduli dan kreatif. Perpaduan 4 (empat) unsur tersebut dapat menghasilkan nilai-nilai luhur dan perilaku berkara kter sesu ai dengan pendapat Lickona
    27

yang mengemukakan bahwa karakter yang baik terdiri atas proses psikologis: knowing the good (m engetahui hal baik), desiring the good (menginginkan ha l baik) and doing the good-habit of the mind, habit of the heart and habit of action (melakukan kebiasan-pikiran, hati, dan aksi-baik).

Mengacu pada unsur- unsu r tersebut, pembangunan karakter bangsa dapat dilaku ka n melalui pengembangan karakter individu

U.S. Winataputradan Bud imansyah. 2007. Civic Education: Konteks,
Landasan, Bahan Ajar, dan Kultur Kelas. Banclung : Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan, Sekolah Pascasa rjana UP!, him. 192. Lihat pada Metodologi Pembelajaran Berdasarka n Nilai -nili Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Ka rakter Bang sa. 2010. Pu sat Kuriku lum Departemen Pendid ikan Nasional. Thomas Lickona. 1991. Educating for Character: How Our School Can Tea ch Respect and Responsibility. New York : Bantam, him. 51.

Pembentukan Karakter ...

seseorang yang berkembang ke lingkungan sosial dan budaya. Pengembangan budaya dan karakter bangsa hanya dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan sosial, budaya masyarakat, dan budaya bangsa berdasarkan ideologi negara, yaitu Pancasila. Oleh karena itu, pembangunan karakter siswa di wilayah perbatasan Atambua dapat dilakukan dengan melibatkan unsur-unsur lokal untuk menanamkan kebiasaan-kebiaasan baik dalam berpikir dan bertindak. Unsur-unsur lokal dapat diintegrasikan pada semua mata pelajaran secara sistematis agar setiap siswa memiliki pemahaman yang utuh terhadap berbagai aspek dalam kehidupan sosial dan masyarakat.

Sebagai contoh, untuk menanamkan wawasan mengenai Indonesia pada siswa di sekolah, siswa terlebih dahulu diminta untuk dapat menjelaskan tentang lingkungan tempat tinggalnya, sebelum ia mampu mendeskripsikan wilayah Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Kurikulum sekolah hendaknya berupa materi umum dan bersifat fleksibel untuk dapat diintegrasikan dengan unsur dan nilai lokal. Wawasan-wawasan lokal juga dapat dijadikan materi belajar tersendiri, misalnya melalui muatan lokal.

Dengan bahasa yang sederhana, materi-materi pelajaran di sekolah misalnya menjelaskan tentang kehadiran warga baru, yaitu mengenai siapa dan apa yang menyebabkan seseorang mengungsi dari Timor Leste ke wilayah Indonesia di Atambua. Tingkat pemahamannya tentu disesuaikan dengan jenjang pendidikan dan usia peserta didik. Pemahaman semacam ini diperlukan untuk menumbuhkan toleransi dan menjalin hubungan yang demokratis di antara anak-anak tersebut. Tanpa pemahaman tersebut, anak-anak asli Atambua akan melihat anak-anak warga baru sebagai orang asing, begitu pula sebaliknya. Jika keterasingan dan keengganan untuk mengenal satu sama lain dibiarkan, hal ini akan menjadi bam waktu dan memantik konflik sosial di masa depan.

Penanaman karakter juga dapat dilakukan dengan cara melestarikan adat. Dalam hal ini sinergi dengan komunitas-komunitas

Ka rakter ... [11 5

adat diperlukan. Jika pemberdayaan adat telah berjalan dengan baik dan diarahkan sesuai tujuan-tujuan pendidikan, para siswa juga harus mengetahui aturan-aturan adat yang berkaitan dengan pendidikan. Melalui mata pe lajaran muatan lokal, anak -anak j uga dapat diajak untuk mengenal ragam suku dan tradisi lokal. Contohnya, menjelaskan pada siswa mengenai fungsi rumah adat dan alasan untuk melestarikan rumah tersebut. Rumah adat yang paling banyak terdapat di Atambua adalah rumah su ku Bunak. Rumah tersebut dianggap penting karena merupakan identitas orang Bunak. Rumah tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi merupakan pu sat segala kegiatan. Rumah juga menjadi persemayaman roh nenek moyang. Segala peristiwa baik itu suka maupun duka diperingati di rumah adat agar senantiasa dekat dengan roh nenek moyang. Kegiatan musyawarah yang berkaitan dengan kehidupan orang Bunak dilakukan di rumah adat. Maka, rumah adat adalah pusat kehidupan orang Bunak. 28

Sayangnya, rumah adat ki ni tinggal sedikit j umlahnya karena ikut terbakar dalam peristiwa 1997. Pada Agustus 2014, ada sebuah rumah adat Bunak dari sub -s uku Lo' os yang direnovasi untuk pertama kalinya sejak dibangun tahun 195 2. Pada kegiatan itu, masyarakat di sekitar rumah adat, bahkan yang berasal dari suku lain bergotong royong dalam kegiatan renovasi. Dengan demikian, ada nilai -nilai yang dapat dipelajari dan diintegrasikan ke dalam kurikulum formal, yaitu pembelajaran tentang demokrasi. Materi tentang rumah adat cukup banyak menjelaskan mengenai sikap demokratis yang mengedepankan penyelesaian ma salah secara dama i, kekeluargaan, melalui musyawarah serta sikap gotong royong.

Perkara rumah adat di ata s hanya sebuah contoh tentang bagaimana wawasan lokal diaplikasi kan ke dalam materi formal di sekolah. Bentuknya tidak sel al u berupa rnateri tersendiri, namun dapat disisipkan dalam materi forma l ya ng sudah ada. Ketika guru menerangkan tema gotong royong ata u demokrasi, rumah adat dapat

Diskusi dengan Ketua Adat dan sejumlah tokoh adat di Rumah Adat Lo 'os, Desa Dirun Welu li, Lamak nen, Atambua, NTI, 3 Ju ni 2014.

Pembentukan Karakter ...

dijadikan contoh pengamalan dari nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara itu, guru akan menggali kekayaan unsur-unsur lokal sekaligus mereproduksi pengetahuan melalui para siswa. Selain rumah adat, tentunya terdapat wawasan lokal lainnya yang perlu diketahui oleh para siswa, antara lain bahasa daerah, ragam kuliner, ragam permainan, karakter pertanian, dan peternakan serta sejarah- sejarah lokal.

Dalam konteks Atambua yang multikultural, wawasan lokal akan menambah pengetahuan dan pemahaman anak-anak pendatang terhadap lingkungan dan kebudayaan setempat. Pengetahuan itu juga membantu anak menjadi lebih adaptif dan memiliki khazanah wawasan nusantara yang luas. Ringkasnya, pengetahuan mengenai lingkungan hidup bersama yang di dalamnya anak-anak dari berbagai latar belakang tumbuh dan kembang bersama akan menciptakan ruang dialog yang mendukung nilai-nilai demokrasi dalam keseharian mereka. Hal ini pun sesuai dengan pendapat John Dewey bahwa "Education is not a preparation for life, but it's life itself'. Pendidikan pada dasarnya bukan suatu persiapan untuk hidup, tetapi adalah kehidupan itu sendiri. 29

Ruang kelas menjadi faktor yang mendukung keberhasilan proses belajar-mengajar. Untuk itu tidak hanya kurikulum yang demokratis serta memberi kesempatan siswa untuk memaknai lokalitas, para pengajar juga harus menjadi teladan dalam perilaku demokratis. Telah dijelaskan sebelumnya, kekerasan menjadi salah satu penghambat proses pendidikan pada anak-anak Atambua. Guru hendaknyamampu menyajikan materi pembangunan karakter dengan mengumpamakan ruang kelas sebagai laboratorium demokrasi untuk menumbuhkan creative dialog, sebagai ciri masyarakat demokrasi.

Mengenai pentingnya menciptakan pendidikan yang berbasis demokrasi terutama dalam masyarakat multikultural, baca pada Farideh Salili dan Rumjahn Hosain (Ed). 2010.Democracy and Multicultural Education: Research in Multicultural Education and International Perspectives. USA: Age Publishing Inc., him. 205-211.

Karakter ... [117

Untuk itu diperlukan sinerg i dengan praktisi pendidikan, orang tua, komunitas-komunitas masya rakat. dan pengambil kebijakan, karena seringkali sekolah harus menghadapai tantangan berupa pertama, tantangan budaya sekolah di Indonesia yang menunjukkan ciri birokratis daripada demokratis; kedua, organisasi kurikulum sekolah bersifat sentralistik yang berdampak pada pengelolaan kelas dan kepemimpinan sekolah yang bersifat imperative dialoguedan melupakan loka litas; dan ketiga, kondisi lingkungan lingkungan masyarakat yang paternalistik.

E. PENUTUP

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memang sebuah harga mati bagi kedaulatan bangsa Indonesia, tetapi upaya mengekspresikan nasionalisme sudah semestinya tidak perlu dipukul rata. Dalam kasus Atambua, yang ma syarakatnya memiliki ikatan etnis dengan warga Timor Leste dan sehari- hari terlibat dalam kegiatan-kegiatan transnasional, bukanlah suatu ancaman terhadap nasionalisme. Fenomena tersebut jika ditangani dengan baik, dapat menjadi nilai lebih dan menjadi contoh keh idupan berbangsa dan bernegara yang harmonis di wilayah perbatasan.

Tingkat nasionalis seseorang seringkali diukur dari wawasannya mengenai negara. Di Atambua, ketidaktahuan masyarakat terutama anak -anak tentang wawasa n umum mengenai Indonesia tidak disebabkan kurangnya rasa nasionalisrne, namun minimnya akses masyarakat terhadap pendidikan. Pendidikan dan tingkat kesejahteraan memiliki relevans i yang kuat di Atambua. Oleh ka rena itu, diperlukan suatu kebUakan yang dapat membuat seluruh masyarakat dari berbagai latar belakang ekonorni mampu mengakses pendidikan, selain menyediakan institusi-institusi pendidikan beserta fasilitas pendukung.

Menyertakan unsur-unsu r lokal dala m pe nanaman karakter cinta tanah ai r pada dasarnya tidak sulit Lokalitas dapat diimplementasikan dalam ku rikulum sekolah atau kegiatan-kegiatan ektrakurikuler, melibatkan orang tua, serta komunitas adat

Pembentukan Karakter ...

Pemberdayaan komunitas adat menjadi sangat bermanfaat manakala komunitas tersebut mampu memproduksi hukum-hukum atau peraturan-peraturan adat yang menunjang pendidikan dan penanaman karakter cinta tanah air. Di Atambua, komunitas adat tertentu telah mampu memberikan sanksi kepada masyarakatnya yang lalai dalam mengupayakan pendidikan bagi anak-anaknya. Komunitas adat juga dapat memutus kekerasan terhadap anak yang wajar dilakukan oleh orang tua kepada anaknya di Atambua.

Kemampuan sistem adat bersinergi dengan institusi pendidikan formal di Atambua memberikan gambaran bahwa menanamkan sejumlah karakter termasuk cinta tanah air tidak harus dilakukan secara formal dan kaku. Seperti telah dibahas sebelumnya, anak-anak Atambua lebih mudah belajar jika melibatkan unsur-unsur lokal di wilayah mereka bermukim. Dengan membiarkan anak-anak merawat pengetahuan tentang lingkungan alam setempat, etnis, adat istiadat, dan budaya mereka, anak-anak dapat memiliki pemahaman yang baik mengenai asal-usul mereka. Pengetahuan tentang asal-usul tersebut nantinya yang dapat membantu mereka memaknai keberadaan mereka sebagai warga Indonesia.

Bagaimanapun globalisasi menjadi tantangan masyarakat di perbatasan. Sejak Atambua kembali menjadi wilayah perbatasan, pengungsi Timor Leste yang tidak hanya berasal dari etnis Timor melainkan para pendatang dari etnis Jawa, Bugis, Makasar, dan lain- lain, berbondong-bondong pindah, menetap, lalu membangun kehidupan mereka lagi di kota tersebut. Penduduk asli Atambua yang kebanyakan berpendidikan rendah dan menggantungkan hidup pada pertanian dan peternakan sederhana dihadapkan pada para pendatang yang lebih berpendidikan dan pandai berkegiatan ekonomi. Perekonomian Atambua menggeliat, namun juga mengindikasikan kemungkinan-kemungkinan munculnya friksi dalam kehidupan sosial. Untuk itu, jika anak-anak Atambua memiliki pemahaman yang baik terhadap asal usul serta lingkungan sosial tempat mereka menjalankan hidup, kemunculan karakter positif lainnya akan mengikuti, salah satu yang penting adalah toleransi.

lokal dan melibatkan peran komunitas adat, nantinya dapat diimplementasikan pada kegiatan belajar di wilayah perbatasan lainnya. Berdasarkan penelitian ke beberapa wilayah perbatasan, umumnya setiap wilayah telah memiliki kerangka untuk memajukan pendidikan melalui adat. Komunitas adat di Long Bawan, Kalimantan Utara, yang berbatasan dengan Malaysia misalnya memiliki atu ran adat untuk menyekolahkan anak-anak mereka setinggi mungkin. Mereka yang berpendidikan tinggi menjadi kebanggaan komunitas adat. Oleh karena itu, meskipun terletak di wilayah yang sangat terpencil namun kondisi pendidikan masyarakat di wilayah tersebut sangat baik.Hal ini menandakan keterlibatan potensi unsur-unsur lokal dalam membangun karakter masyarakat setempat. Oleh karena itu, pemberdayaan adat dan sinergi antara komunitas adat dan pendidikan formal dapat menjadi jalan kunci memecahkan problem nasionalisme.

DAFT AR PUSTAKA

Buku

Deal, T.E. dan Peterson, K.D. 1999. Shaping School Culture: The Heart of Leadership. San Fransisco : Jossey-Bass Publisher.

Hauser-Schaublin, Brigitta (Ed.). 2013. Adat and lndigeneity in Indonesia: Culture and Entitlements between Heteronomy and Self-Ascription. Gbttingen: Universitatsverslag Gbttingen.

Herb, Guntram H. dan David H. Kaplan. 2008. Nation and Nationalism: A Global Historical Overview. California: ABC -CLIO, Inc.

Lickona, Thomas. 1991. Educati ng for Character: How Our School Can Teach Respect and Respons ibility. New York: Bantam.

f'v1etodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-nili Budaya untuk f'v1embentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa. 2010. Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional.

Nasdian, Fredian Tonny. 201 4. Pengembangan f'v1asyarakat. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Karakter ...

Tilaar, H.A.R. 2002. Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantara Pedagogik Transformatif untuk Indonesia. Jakarta: Penerbit PT. Grasindo.

Winataputra, U.S. dan Budimansyah. 2007. Civic Education: Konteks, Landasan, Bahan Ajar, dan Kultur Kelas. Bandung: Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan, Sekolah Pascasarjana UPI.

Jurnal

Ipperciel, Donald. Constitutional Democracy and Civic Nationalism. Nations and Nationalism 13 (3). 2007. 395-416.

Schiller, Nina Glick dan Andreas Wimmer. Methodological Nationalism and Beyond: Nation-State Building, Migration and The Social Sciences. Global Networks 2, 4. 2002. 301-334. ISSN 1470-2266.

Wawancara

Rekaman wawancara Survey Penelitian Transnasionalisme do/am Perspektif Sejarah, Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 13-16 Mei 2014, Atambua, Belu, Nusa Tenggara Timur.

Rekaman wawancara Penelitian Transnasionalisme do/am Perspektif Sejarah, Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 30 Mei-8 Juni 2014, Atambua, Belu, Nusa Tenggara Timur.

Foto

Koleksi Foto pada Survey Penelitian Transnasionalisme do/am Perspektif Sejarah, Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 13-16 Mei 2014, Atambua, Belu, Nusa Tenggara Timur.

Koleksi Foto pada Penelitian Transnasionalisme do/am Perspekttf Sejarah, Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan,

Karakter ... [1 21

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 30 Mei-8 Juni 2014, Atambua, Belu, Nusa Tenggara Timur

Revitalisasi Seni ... [123

ALISASI SENI PERTUNJUKAN KERATON SUMENEP SEBAGAI

MEDIA PENDIDIKAN KARAKTER BAG! GENERASI MUDA 'RR. Nur Suwarningdyah nur.sdyah @gmail.com

A. PENDAHULUAN

Revitalisasi yaitu lebih menggiatkan kembali kegiatan pentas kesenian agar masyarakat lebih mengenal terhadap bentuk kesenian tersebut, sehingga eksistensinya pun akan terlihat dengan kata lain mengeksiskan yang pernah eksis. Misalnya, menghadirkan tarian keraton dalam perayaan-perayaan, event, dan sebagainya (Prof. I Wayan Dibia, ketika acara seminar tari "Indonesia Menari" yang diselenggarakan oleh IKJ pada tanggal 5 Juni 2012). Seperti juga, yang dikatakan oleh Sri Rustiyanti (2010 : 22) dalam bukunya berjudul "Menyingkap Seni Pertunjukan Etnik Di Indonesia ", menyatakan bahwa :

"Revitalisasi adalah usaha untuk mem -vital -kan atau menghidupkan kembal i sesuatu ya ng eksisten sinya masih berarti sehingga perlu dijaga dan dikembangkan"

Melalui media kesenian berbagai fungsi dapat dirasakan bagi kebutuhan manusia di dalam kehidupannya. Namun, sifat dari sebuah bentuk kesenian tersebut, bisa dikatakan tidak langgeng. Hal ini, sangat mempengaruhi keberadaan atau eksistensi dari kesenian -kesenian tersebut. Manusia berperan penting, terhadap kelanggengan dan fungsi kesenian sebagai media berbagai macam kebutuhan. Punah dan tidak punah sebuah bentu k kesenian tersebut, tergantung pada manusia yang ada di sekitar, di mana kesenian tersebut tumbuh dan berkembang. Begitu pula dengan keberadaan kesenian yang ada di Keraton Sumenep, yaitu sebagai kesenian yang adiluhung pada

Seni ...

zamanriya. Kesenian adiluhung yaitu kesenian yang lahir dan berkembang dalam lingkungan istana. Tentunya sarat dengan aturan- aturan yang harus ditaati bagi pelaku dan penontonnya. Bahkan sarat dengan filosofi-filosofi yang tinggi, berkaitan dengan kehidupan kerajaan ataupun ajaran kehidupan yang disebut tuntunan, misalnya Tari Muang Sangkal dan Tari Keris, yang berasal dari Keraton Sumenep Madura Jawa Timur.

Dalam penelitian ini, memfokuskan pada bentuk-bentuk kesenian yang ada di Keraton Sumenep yaitu pada seni pertunjukan tari. Berbagai bentuk kesenian apabila berasal dari lingkungan keraton, maka identik dengan halus, agung, dan berfilosofi tinggi. Misalnya, kesenian tari yang ada di Keraton Sumenep yaitu Tari Muang Sangkal sarat dengan gerakan yang halus dan nampak agung. Berbeda dengan seni Tari Keris, yang merupakan tarian untuk laki-laki. Tarian ini untuk laki-laki yang menunjukkan kehebatannya dalam bermain dan berperang dengan menggunakan senjata keris. Kedua jenis tarian tersebut, tentunya mempunyai makna dan nilai yang tetap menjunjung tinggi kewibawaan Raja.

Melalui media budaya, maka karakter sebuah bangsa akan tercermin pada ciri budayanya yaitu salah satunya melalui seni. Seni adalah wujud kebudayaan yang berasal dari beberapa suku bangsa, yaitu terdiri dari etnis-etnis yang memiliki ciri khas unik. Seni juga bagian penting dalam kehidupan manusia, karena seni merupakan sebuah perwujudan ekspresi manusia dalam penst1wa proses kebudayaan yaitu sebuah gambaran kehidupan atau peradaban manusia mulai dari zaman ke zaman, salah satunya adalah seni pertunjukan. Tentunya seni pertunjukan yang ada pada zaman dahulu dengan zaman sekarang akan jauh berbeda perwujudannya, hal ini terkait dengan bentuk-bentuk seni pertunjukan yang tumbuh di dalam masyarakat, dan biasanya berkembang secara turun-temurun.

Oleh karena itu, pentingnya generasi muda bangsa untuk tahu dan memahami seni pertunjukan milik bangsanya sendiri, sebagai wujud pendidikan karakter bangsa Indonesia yang menghargai dan

ini, sesuatu menjadi lebih mudah, cepat, dan menarik, seakan -akan yang bersifat kuno menjadi ditinggalkan. Beg itu pula, dengan perkembangan seni yang sangat berpengaruh terhadap pola pikir para generasi muda yang hanya berpikir sesaat dan menyenangkan saja. Misalnya, lebih mengasyikkan dan cepat belajar tari modern dibandingkan belajar ta ri tradisional yang banyak aturan atau pakem, sehingga lama untuk bisa menguasainya. Oleh karena itu, banyak para generasi muda bangsa ini yang tidak paham bahkan tidak tahu akan nilai-nilai budaya bangsa sendiri.

Nilai-nilai budaya ba ngsa hampir dilupakan begitu saja, jika kita tidak memu lai untuk mengingatkannya dan mengenalkannya kembali. Secara efektif melalui bangku sekolah dapat dimasukkan dalam mata pelajaran tentang kebudayaan, atau dapat pula melalui pendidikan nonformal. Bahkan, jika orang tua punya pemahaman baik tentang sebuah budaya yaitu kesenian dapat diajarkan kepada anak-anaknya secara informal sebagai pewarisan secara turun -temurun di lingkungan keluarga. Maka, penelitian ini sangat penting dilakukan sebagai upaya penggalian ni lai-nilai yang ada pada seni Keraton Sumenep yang diimplikasikan bagi generasi muda bangsa dalam bentuk pendidikan pertunjukan karakter, yang juga akan memperkuat ketahanan budaya, yaitu budaya Indonesia dari pengaruh budaya dari luar.

Seperti di katakan oleh Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan multiculture adalah pendidikan yang mengedepankan pentingnya mengembangkan identitas manusia yang berakar da ri keluarga serta budaya lokal, yaitu melalui seni pertunjukan ta ri. Adanya hubungan personal antarmanusia, hingga terbentuknya identitas etnis dan identitas Bangsa Indonesia, maka hal inilah sebagai upaya menumbuhkan ketertarikan para generasi muda terhadap seni, yang mengajak untuk berpikir krea tif menciptakan inovasi dan kreasi seni yang berkarakter ci ri khas budaya Bang sa Indonesia.

Seni ...

Penelitian ini difokuskan pada seni pertunjukan tari yang direvitalisasi bagi generasi muda bangsa agar dapat mengenal, memahami, bahkan mengembangkan, bentuk seni pertunjukan sebagai warisan budaya Keraton Sumenep. Oleh karenanya, tari yang berasal dari keraton tentunya mengandung makna filosofi yang sarat adanya nilai-nilai atau unsur-unsur pendidikan bagi hakikat kehidupan manusia. Pentingnya penelitian ini, maka permasalahan yang saya angkat dalam penelitian ini adalah sejauh mana eksistensi seni pertunjukan Keraton Sumenep terhadap upaya pendidikan karakter bagi generasi muda bangsa melalui revitalisasi, sebagai upaya menghadapi realita kehidupan saat ini. Maka di dalam penelitian ini, mempunyai tujuan menggali lebih dalam dan menelusuri seberapa penting keberadaan seni pertunjukan Keraton Sumenep bagi masyarakatnya dan yang berkaitan dengan pewarisan nilai-nilai budaya bagi generasi muda dalam pendidikan karakter.

Melalui pendekatan secara kualitatif, kajian ini menggunakan metodologi etnografi yaitu lebih menekankan upaya eksplorasi terhadap fenomena sosial yang meliputi interpretasi makna dan fungsi dari obyek yang diteliti, untuk memperoleh data yang komprehensif berkenaan dengan fenomena kebudayaan yang menjadi tujuan penelitian. Mengumpulkan data-data kepustakaan dan mempelajari tulisan-tulisan yang berkaitan dengan fokus penelitian sebagai acuan dalam melakukan kegiatan studi pustaka yang berkaitan dengan seni pertunjukan Keraton Sumenep, Madura, Provinsi Jawa Timur. Melalui observasi diupayakan untuk dapat melakukan pendokumentasian subyek penelitian dengan melakukan pencatatan data, pengambilan foto-foto, dan perekaman suara.

Oleh karena itu, di dalam penelitian ini saya terjun langsung di lapangan dengan melakukan pendekatan langsung kepada masyarakat yang terkait sesuai fokus penelitian. Kemudian melakukan observasi dan wawancara secara mendalam dengan:

(1) Masyarakat di sekitar tempat dilakukannya penelitian;
(2) Tokoh masyarakat ahli waris keraton;

Seni ... [127

(3) Pelaku yang terlibat langsung maupun tidak langsung, berkaitan dengan eksistensi sen i pertunjukan keraton dan proses revitalisasinya. Pengolahan data dengan melakukan kompilasi seluruh data yang diperoleh dan membuat analisis data dengan menghubungkan satu kejadian dengan satu kejadian melalui teori-teori yang berhubungan dengan judul penelitian ini. Melalui pendekatan kualitatif dengan melakukan observasi dan wawancara secara mendalam (depth interview), menggunakan instrumen pedoman wawancara yang dibuat sesuai dengan obyek penelitian. Kemudian analisis data dengan melalui tahapan-tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.

B. SEKILAS TENTANG KERATON SUMENEP

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang kaya dengan budaya. Slogan Bhinneka Tunggal Ika memaknai adanya berbeda-beda suku bangsa, namun tetap dalam satu bahasa dan satu bangsa yaitu Bangsa Indonesia. Keberagaman budaya menjadi sebuah keunikan dan keindahan yang menarik untuk lebih dalam menggali budaya -budaya yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah kebudayaan yang ada di keraton-keraton di Indonesia. Seperti Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta, Keraton Kutai Kartanegara, Keraton Sumenep, dan sebagainya. Salah satu keraton yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah Keraton Sumenep di Pulau Madura, Provinsi Jawa Timur. Jika kita mendengar Madura, maka yang ada dalam benak kita adalah penghasil garam, pengumpul besi tua, terkenal karapan sapinya, adat budaya Carok, dan sebagainya. Maka berbagai karakteristik kekhasan Madura menjadi daya tarik peneliti, khususnya pada kesenian yang berasal dari Keraton Sumenep.

Keraton Sumenep berdiri pada abad ke -13, yang dipimpin oleh Arya Wiraraja. Namun, terkait dengan penelitian kesenian Keraton Sumenep ini, batasan waktu diawali periode ketika Raden Tirtonegoro memerintah sampai kemudian lahi r tari Muang Sangkal. Keraton

Seni ...

Sumenep dibangun dengan bergaya arsitektur Jawa dan adanya pengaruh gaya Cina, dan kebetulan arsitek dari Keraton Sumenep adalah orang Cina. Adapun bagian-bagian bangunan yang ada di Keraton Sumenep dan sekitarnya, sebagai berikut:

a. Taman Sore, yaitu tempat pemandian para putri raja ketika zaman dahulu, yang terletak di timur Pendopo Agung Keraton Sumenep.
b. Museum Keraton Sumenep, yaitu tempat menyimpan benda- benda peninggalan raja-raja Sumenep ketika itu, beserta peninggalan kereta-kereta kencana kerajaan.
c. Masjid Agung Sumenep, didirikan pada tahun 1779 Masehi yang dibangun oleh Panembahan Sumolo, dan masjid ini terletak di tengah kota dan masih termasuk di wilayah keraton.

1. Bentuk-Bentuk Kesenian Keraton Sumenep

Keraton Sumenep, jika dilihat dari bentuk bangunan adanya arsitektur bergaya Jawa dan China. Keraton Sumenep juga kaya dengan bentuk-bentuk kesenian yang menjadi simbol kekuatan dan kekuasaan keluarga keraton. Khusus dalam penelitian ini, peneliti menggali lebih dalam tentang bentuk-bentuk kesenian yang ada di Keraton Sumenep. Bentuk-bentuk kesenian yang ada di Keraton Sumenep, yaitu:

a. Seni Tari Muang Sangkal Seni tari Muang Sangkal adalah seni tari dari Keraton Sumenep yang mempunyai fungsi untuk menyambut tamu, peresmian- peresmian, dan perayaan-perayaaan. Tari Muang Sangkal berasal dari kata 'Muong' artinya membuang, dan 'Sangkal' artinya bala, maka Muang Sangkal berarti membuang atau menolak bala. Lengkapnya, Muang Sangkal diartikan menghilangkan mara bahaya dan mendatangkan keuntungan atau kebaikan, dengan ditandai penaburan beras kuning ke segala penjuru arah. Konsepsi dalam kesenian tari Muang Sangkal adalah tradisi menyebar beras kuning sebagai simbol tolak bala, yang dilakukan

Seni ... [129

dengan gerakan halus, tenang, oleh penari yang cantik dan berkulit putih. Hal itu merupakan simbol karakter keluarga bangsawan yang mempunyai kulit terawat bersih dan putih, dan mempunyai tutur kata halus dan sopan santun yang tinggi.

Gambar 1 Penari Muang Sangkal dengan kostum mirip pengantin di Jawa

Sumber: Dokumen Puslitbangbud

Tari Muang Sangkal termasuk dalam jenis tari klasik yang berasal dari Keraton Sumenep. Pada tari Muang Sangkal untuk bagian kepala, yaitu bagian rambut, diikat untuk sanggul kecil yang diberi hiasan bunga dari kain berwarna merah dan besar yang disebut sekar melak. Selain itu, ada hiasan melati yang disusun (dironce) memanjang ke bawah, seperti ranee melati pada pengantin di Jawa, disebutnya malate tampak. Hiasan ikat kepala disebut dengan sisir (jhamang dan jingkat). Terdapat hiasan di kepala dengan cunduk mentul (cacondhuk/ cocok mental). Wajah juga dirias dengan memakai pidih (properti make up untuk membuat alis buatan), dan untuk membuat paesan di jidat dan di samping telinga bagian depan (seperti pada rias wajah pengantin di Keraton Yogyaka rta maupun Keraton Surakarta ).

Sangkal adalah kemben atau rapek, dengan warna kuning, merah, dan hijau. Kostum yang dipakai selain memakai kemben, memakai baju kebaya terbuat dari brokat atau kain tile yang menyerupai warna kulit penarinya, agar tidak langsung terlihat tangan dan tubuh yang tidak tertutup oleh kemben. Juga dilengkapi sabbuk (ikat pinggang seperti setagen dengan motif cinde) dan hiasan kalung yang disebut kalang mangge (kala jengking/kalung/hiasan leher yang sampai ke dada). Kostum lain yang digunakan adalah odhet (hiasan dari manik yang menyerupai ceplok bunga tanjung) dan buntal (ikat pinggang).

Aksesori yang digunakan adalah gellang tanang (gelang tangan), gellang soko tepesan (gelang kaki terbuat dari emas jika yang memakai para bangsawan, kalau di pedesaan disebut dengan gellang binggel terbuat dari logam), dan sabbuk (ikat pinggang dari logam). Selain memakai kemben dan asesoris, tari Muang Sangkal juga menggunakan samper/sampir (kain atau jarik) dan panjung (selendang).

b. Seni Tari Gambhu Seni tari Gambhu adalah tarian yang menggambarkan para prajurit Keraton Sumenep berlatih perang untuk menjaga keamanan keraton dari serangan musuh. Maka, seni tari Gambhu ditarikan dengan menggunakan keris yang merupakan simbolisasi dari senjata untuk melawan musuh. Biasanya tari Gambhu juga disebut dengan tari keris. Tari Gambhu Tameng atau tari Gambhu Keris adalah tarian yang menggambarkan para prajurit Keraton Sumenep yang sedang berlatih perang, karena ketika itu adanya penjajah Belanda. Pada zaman dahulu, berlatih tari Gambhu biasanya diselenggarakan ketika Adipati mengadakan pertemuan dengan para menteri di Pendopo Agung Keraton Sumenep. Seni tari Gambhu ditarikan dengan menggunakan properti keris, tameng, dan tombak. Gerakan tariannya menyerupai gerakan-gerakan bela diri yang telah disesuaikan menjadi gerakan tarian yang mempunyai genre mirip tarian klasik Keraton Yogyakarta dan Keraton

Seni ... [131

Surakarta. Penari Gambhu biasanya ditarikan oleh laki-laki yang berjumlah genap yaitu 2, 4, 6, dan seterusnya. Adapun busana yang digunakan adalah ikat kepala, baju lengan panjang warna putih, rompi (bolero), selendang tari (sampur/sembung), dan kain (jarik). Musik pengiringnya adalah gamelan yang menggunakan nada dasar slendro (tangga nadanya hanya 1,2,3,4, 5).

c. Seni Tari Topeng Dalang Di dalam seni pertunjukan tari Topeng Dalang cerita yang disajikan adalah kisah-kisah dari Mahabharata dan Ramayana. Seni pertunjukan tari Topeng Dalang menyajikan tokoh-tokoh yang terkait dengan cerita yang dikemas dalam satu pertunjukan dalam waktu setengah sampai satu jam lamanya. Tari Topeng Dalang awalnya merupakan seni tradisi milik keraton, akan tetapi ketika keluarga keraton mengalami krisis ekonomi yang pernah menimpa, maka kesenian Topeng Dalang di bawa keluar keraton untuk berpentas keliling aga r mendapatkan ua ng. Oleh karena itu, tari Topeng Dalang menjadi lebih dekat dikenal oleh masyarakat, sehingga tarian tersebut menjadi populer dan berkembang di luar tembok keraton. Tari topeng Dalang yang semula menjadi kesenian keraton yang identik sifat klasik yang lembut dan halus gerakannya, menjadi berkembang sedi kit dinamis dan lincah ketika sudah menjadi milik masyarakat Kabupaten Sumenep pada umumnya. Maka, tari Topeng Dalang yang ada di Kabupaten Sumenep memiliki dua jenis karakter, yaitu karakter yang kasar ata u dinamis banyak dipergelarkan di luar lingkungan Keraton Sumenep, dan tari Topeng Dalang yang halus dan lembut dipergelarkan khusus menyambut tamu -tamu di lingkungan dalam Keraton Sumenep.

2. Perkembangan Kesenian Keraton Sumenep

Penting bagi anak did ik di sekolah untuk mempelajari dan memahami seni lokal, yang berasal dari keanekaragaman suku bangsa. Agar memiliki sikap menghargai dan bangga terhadap bentuk seni

Seni ...

pertunjukan bangsa sendiri, yaitu melalui rekonstruksi dan revitalisasi, adalah suatu sistem agar pembelajaran pengetahuan tentang kesenian, dapat mengingatkan peradaban manusia pada masa lalu dan perkembangan baru yang tidak jauh berbeda esensinya dengan yang lalu.

Seperti dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara, bahwa proses pendidikan terjadi di dalam habitus yang sentripetal (berpusat dari budaya lokal dan berangsur-angsur meluas hingga ke tingkat nasional, yang disebut dengan multiculture). Adanya hubungan personal antar manusia, hingga terbentuknya identitas etnis dan identitas bangsa Indonesia, maka hal inilah sebagai upaya menumbuhkan ketertarikan para generasi muda terhadap kesenian, yang mengajak untuk berpikir kreatif menciptakan inovasi dan kreasi sen i yang berkarakter budaya Indonesia. Dengan demikian, pengenalan kesenian melalui jaringan sekolah dasar dan menegah sebagai kegiatan kurikulum ekstrakurikuler adalah sebuah strategi efektif untuk melestarikan kesenian tersebut, sekaligus membentuk karakter siswa.

Kesenian Keraton Sumenep mempunyai potensial untuk dikembangkan. Salah satu contoh adalah revitalisasi yang telah dilakukan pada seni tari Muang Sangkal. Tari Muang Sangkal semula hanya berkembang di sekitar Keraton Sumenep, dan saat sekarang telah tersebar di seluruh Kabupaten Sumenep, bahkan di luar Kabupaten Sumenep sebagai tarian yang populer dan disukai banyak anak-anak remaja perempuan khususnya. Berkembangnya kesenian Keraton Sumenep justru berada jauh dari lingkungan keraton itu sendiri.

Menurut narasumber, keraton pernah mengalami keterpurukan ekonomi, sehingga membawa kesenian keluar dari keraton dan berkeliling pentas ke mana saja. Dampaknya kesenian keraton banyak dikenal oleh masyarakat biasa (rakyat bukan ningrat), yang diapresiasi baik sesuai adat budaya yang tumbuh dan berkembang di masyarakat tersebut, sehingga bentuk kesenian yang semula berkarakter halus dan lembut, berkembang sedikit menjadi berkarakter agak dinamis.

Seni ... [133

Pengaruh dari budaya Jawa sangat kental pada kesenian Keraton Sumenep, seperti pada gerakan tarian maupun musik atau gamelan. Pengaruh budaya Cina juga ada pad a Keraton Sumenep, seperti ukiran, arsitekturnya, bahasa, warna -warna seperti merah, hijau, dan kuning.

C. PENUTUP

Reaktuali sasi kesenian tari Muang Sangkal merupakan konsepsi yang ada di Keraton Sumenep, karakter yang menunjukkan kebangsawanan diangkat kembali agar di apresiasi masyarakat sebagai tuntunan dalam pendidikan karakter baik secara formal, nonformal, maupun informal. Revitalisasi kesenian sebenarnya sudah dilakukan, akan tetapi tidak dilanjutkan dengan program -program yang bersifat kontinuitas, seperti adanya festival, Iomba-Iomba, dan sebagainya. Kurangnya ruang -ruang ekspresi bag i seniman untuk menampilkan kreativitasnya, dan dukungan serta perhatian pemerintah daerah kurang dirasakan oleh masyarakat terutama para seniman. Pengaruh budaya asing mempunyai pengaruh pada upaya pembangunan karakter generasi muda Indonesia yang berdasarkan tradisi dan budaya lokal. Kesenian sebagai media pembelajaran bagi anak didik, baik secara formal maupun nonformal, bahkan dalam lingkungan keluarga pun, seni juga dapat dUadikan sebagai media pendidikan karakter.

Pemahaman simbol dan ni lai dalam karya seni tari biasanya tidak dibahas atau dikaji oleh pelakunya. Akan tetapi, jika si pelaku melakukannya secara terus-menerus maka karakter pelaku seni dengan karakter yang bukan pelaku seni akan nampak berbeda. Revitalisasi kesenian keraton jelas dapat dilihat ada nya perkembangan kesenian keraton yang bermunculan seperti tari Muang Sangkal, tari Gambhu Keris (Gambhu Tameng), dan tari Topeng Dalang. Bahkan tari Muang Sangkal paling populer dan sudah dijadikan sebagai mata pelajaran ekstrakurikuler mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Di dalam kurikulum sen i dan budaya, muatan lokalnya adalah bahasa dan sastra Madura. Kesenia n ma si h masuk dalam mata pelaja ran ekstraku ri kuler da n rnenjad i pilihan bukan wajib.

SO, SMP, SMA, bahkan mahasiswa. Program-program yang mengangkat kebudayaan lokal sebagai sesuatu keharusan bagi masyarakat Madura pada umumnya, dan di Kabupaten Sumenep khususnya. Misalnya, keharusan belajar bahasa lokal, belajar kesenian lokal seperti tari Muang Sangkal, tari Gambhu, tari Topeng Oalang, melalui pendidikan formal maupun nonformal yang diekspresikan dengan Iomba-Iomba, pentas-pentas, festival, dan sebagainya. Beberapa sekolah yang memberikan materi pembelajaran ekstrakurikuler kesenian, yaitu SO Negeri Pragaan Laok I, SO Negeri Pakamban Laok, SO Negeri Bangselok I, SO Negeri Lenteng Timur I, SO Negeri batuputih Laok II, SMP Negeri Kalianget, dan SMK Negeri I Kalianget.

Selain tari Muang Sangkal yang populer, perlu juga mengembangkan kesenian Topeng Oalang sebagai mata pelajaran ekstrakurikuler atau dapat juga masuk dalam kurikulum 2013 yaitu seni dan budaya sebagai kajian untuk pendidikan karakter bagi anak didik. Membangun karakter generasi muda dengan memberikan mata pelajaran kesenian dan kebudayaan, yaitu melalui penerapan kurikulum atau sebagai mata pelajaran merupakan sebuah kewajiban yang harus diikuti oleh seluruh siswa.

Pentingnya dilakukan tindak lanjut dari revitalisasi yang sudah dilakukan oleh masyarakat maupun pemerintah dalam rangka pelestarian dan pengembangan kesenian-kesenian Keraton Sumenep, seperti tari Muang Sangkal, tari Gambhu Keris atau tari Gambhu Tameng, dan tari Topeng Oalang. Bahwa pengembangan dan pelestarian kesenian lokal itu, merupakan hal yang harus dilakukan oleh pemerintah mengingat banyak siswa yang belum kenai bahkan tidak tahu tentang kesenian khas yang ada di Kabupaten Sumenep, khususnya yang berasal dari Keraton Sumenep.

Bagi anak didik di sekolah untuk mempelajari dan memahami seni lokal, yang berasal dari beraneka ragam suku bangsa adalah hal

dilakukan. Agar memiliki sikap menghargai dan bangga terhadap bentuk seni pertunjukan bangsa send iri, yaitu melalui rekonstruksi dan revitalisasi, adalah suatu sistem agar pembelajaran pengetahuan tentang kesen ian, dapat mengingatkan peradaban manusia pada masa lalu dan perkembangan baru yang tidak jauh berbeda esensinya dengan ya ng lalu.

Seperti di katakan oleh Ki Hajar Dewantara, bahwa proses pendidikan terjadi di dalam habitus yang sentripetal (berpusat dari budaya lokal dan berangsur-angsur meluas hingga ke tingkat nasional, yang disebut dengan multiculture). Adanya hubungan personal antar manusia, hingga terbentuknya identitas etnis dan identitas bangsa Indonesia, maka hal inilah sebagai upaya menumbuhkan ketertarikan para generasi muda terhadap kesenian, yang mengajak untuk berpikir kreatif menciptakan inovasi dan kreas i seni yang berkarakter budaya Indonesia. Dengan demikian, pengenalan kesenian melalui jaringan sekolah dasar dan menegah sebagai kegiatan kurikulum ekstrakurikuler adalah sebuah strategi efektif untuk melestarikan kesenian tersebut, sekaligus membentuk karakter siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Bandem, I Made. 1988. "Teater Daerah Di Indonesia ", Yogyakarta : Penerbit Fajar Pustaka.

Nugroho, Riant, Tilaar, H.A.R. 2008/ 2009. "Kebij"akan Pendidikan Pengantar untuk Memahami Kebij"akan Pendidikan dan Kebij"kan Pendidikan sebagai kebij"akan Publik", Yogyakarta : Penerbit Pustaka Pelaj ar.

Rustiyanti, Sri. 2010. "Menyingkap Seni Pertunjukan Etnik di Indonesia ", Penerbit Sunan Ambu STSI Bandung, Jawa Ba rat.

Hadi, Y. Sumandiyo. 2001. "Pasang Surut Tori Klasik Gaya Yogyakarta: Pembentukan-Pengembangan -Mobilitas ". Penerbit Lembaga Pendidikan lSI. Yogyakarta.

LOKAL

DALAM 0RIENTASI MAHASISWA BARU ,/ Romeyn Perdana [email protected]

A. PENDAHULUAN

Mengapa perlu pendidikan karakter bangsa dalam format program masa orientasi mahasiswa baru dengan berbasis kearifan lokal dalam pendidikan kewarganegaraan di satuan pendidikan tinggi. Penulisan ini, lebih kepada memberikan pilihan orientasi yang berkurang unsur represifnya, oleh pihak Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dalam pelaksanaan masa orientasi mahasiswa baru. Agar berkurang dan hilang warisan "dendam kesumat" antara senior dan j unior mahasiswa (baru).

Pada awalnya, program Mapras atau Plonco (tahun 1980-an) atau Ospek (tahun 1990-an) atau ditahun 2000 -an bertransformasi menjadi beragam penamaan, dilaksanakan sebagai kegiatan tahunan penerimaan mahasiswa baru (o rientasi). Hal ini menjadi tradisi di setiap kampus. Kini, kegiatan ini menjadi kewenangan tiap unit pendidikan tinggi untuk mengolahnya. Otonomi masing-masing perguruan tinggi untuk melabelkan program orientasi mahasiswa baru dan model penanaman tradisinya diserahkan kepada masing -masing kampus. Negatifnya, banyak mahasiswa (senior) yang tidak memahami ke- "kami" -an dari budaya dan tradisi arif lokal kampusnya. Bagaimana tradisi diturunkan kepada peserta mahasiswa baru (maba).

  1. 1
    sebuah kegiatan orientasi mahasiswa baru mempraktikkan pelecehan seksual. Sehingga permasalahannya tentu terletak pada kendali dan substansi program itu sendiri. Masa orientasi mahasiswa baru menjadi momok tersendiri. Bila tidak ikut, maka akan sulit diterima masuk ke komunitas kampusnya. Bila ikut, maka akan mengalami resiko pelecehan, siksaan fisik, dendam senior kepada junior, hingga kehilangan nyawa. 2 Ada keterikatan tersendiri bila mahasiswa telah diinagurasi dalam sebuah masa orientasi. Maka, ia seperti telah berhak menyandang nama "Mahasiswa". Dibandingkan mahasiswa baru yang masuk kampus tanpa inagurasi dan pentasbihan oleh para seniornya.

Tradisi mengikat hubungan senior, junior, dan alumni. Pada akhirnya, ada keterikatan batin antara mahasiswa dan kampusnya. Hingga setelah lulus pun ada "rasa" ikatan kuat dengan alumnus. Universitas Harvard, pada sebuah kesempatan menyatakan bahwa kekuatan kampusnya bukan hanya dari mahasiswa bermodal otak encer. Namun juga, kekuatan para alumninya yang melekat dengan budaya dan kearifan lokal kampusnya, sehingga walaupun telah lulus, apapun yang terjadi dengan kampus menjadi perhatian dan partisipasi mereka.

Lalu bagaimana sebuah program orientasi mahasiswa seharusnya dijalankan? Pertanyaan selanjutnya, aplikasi apa yang dapat dijadikan pegangan oleh kampus untuk program orientasi mahasiswa baru (maba) yang mengandung kearifan lokal? Contoh sederhana, tiap penerimaan maba, belum tentu maba berasal dari wilayah kota itu. Misalnya, Universitas di Bandung, hampir bisa dikatakan separuh dari mahasiswanya bukan berasal dari Bandung, sehingga penanaman nilai- nilai kearifan lokal perlu ditanamkan pada maba sebagai modal maba untuk bersosialisasi dan terhindari dari kesalahpahaman.

http.//regional.kompas.com/read/2013!12!09/1038190/0rientasi.di.ITN.Mahasis wa.Disuruh.Aksi.Hubungan.lntim http.//regional.kompas. com/read/2013/12/18/1612 396/Polisi.Peserta. Ospek.ITN .Akui.Ada.Kekerasan

Karakter ... [139

Tujuan penulisan ini adalah memaparkan gagasan program orientasi maba dalam pendidikan karakter berbasis kearifan lokal, sehingga dapat menjadi alternatif solusi, saran sederhana, dan masukan bagi pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Akademi dan atau Pendidikan Diploma). Maknanya, peserta didik dalam satuan pendidikan tinggi yang telah lulus dari satuan pendidikan dasar dan menengah (SMU / SMK/MAN atau pesantren), diberikan pembekalan, pelatihan, dan konsolidasi atas pendidikan karakter dan pembekalan untuk menjadi mahasiswa yang berbasis kearifan lokal.

Model penanaman pendidikan karakter berbasis kearifan lokal, diharapkan dapat mengurangi unsur represif dalam aplikasi program orientasi maba. Kearifan lokal seperti yang akan diaplikasikan sesuai dengan kearifan daerah kampus atau universitas masing -masing di daerahnya. Untuk itu, sasaran pembangunan karakter dalam penulisan ini dibatasi kepada lingkup satuan pendidikan tinggi di universitas, Sekolah Tinggi dan Akademi.

B. PENGERTIAN-PENGERTIAN

1. Pendidikan Karakter Bangsa

3

Karakter bangsa adalah kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang khas, yang tercermin dalam kesadaran, pemahaman, rasa, karsa, dan perilaku berbangsa dan bernegara sebagai hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olah raga seseorang atau sekelompok orang. Karakter Bangsa Indonesia akan menentukan perilaku kolektif kebangsaan Indonesia yang yang tercermin dalam kesadaran, pemahaman, rasa, karsa, dan perilaku berbangsa dan bernegara Indonesia yang berdasarkan nilai -nilai Pancasila, norma UUD 1945, keberagaman dengan prinsip Bhinneka Tunggal lka, dan komitmen terhadap NKRI.

Dikutip da ri "Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bang sa 2010-2 025", Kementerian Pendidikan dan Kebudayaa n.

Pendidikan Karakter ...

2. Pembangunan Karakter Bangsa

Pembangunan karakter bangsa adalah upaya kolektif-sistemik suatu negara kebangsaan untuk mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan dasar dan ideologi, kewarganegaraan, haluan negara, serta potensi kolektifnya dalam konteks kehidupan nasional, regional, dan global yang berkeadaban untuk membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, patriotik, dinamis, berbudaya, dan berorientasi iptek berdasarkan Pancasila dan dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

3. Kearifan lokal

Kearifan lokal di sini dapat diterjemahkan sebagai Local Wisdom (definisi kamus) dan atau Local Genius (istilah antropologi yang dipopulerkan oleh Quaritch Wales). Dari sisi penafsiran disepakati, makna dari kearifan lokal yakni, terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas. Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal, tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal.

Dalam seminar yang dilaksanakan UGM, 4 kearifan lokal dapat didefinisikan sebagai perangkat pengetahuan pada suatu komunitas, baik yang berasal dari generasi-generasi sebelumnya, maupun dari pengalamannya berhubungan dengan lingkungan dan masyarakat lainnya untuk menyelesaikan secara baik dan benar persoalan dan/atau kesulitan yang dihadapi, yang memiliki kekuatan seperti hukum maupun tidak.

Heddy Shri Ahimsa-Putra, Etnosains,
Fenomenologis "Pemanfaatan Hasil Riset UGM dalam Mendukung Peningkatan Daya Saing Indonesia" oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UGM, di Yogyakarta, 28 November 2006. Untuk Revitalisasi Kearifan Lokal. Makalah disampaikan dalam seminar

Etnotek dan Etnoart-Paradigma

Karakter ... [141

Kearifan Lokal

Kearifan Tradisional Kearifan Kontemporer
(Kearifan Dulu) (Kearifan Kini)
(Kearifan Lama) (Kearifan Baru)

Sejalan dengan pengertian pendidikan karakter bangsa yang tercantum sebelumnya, maka kearifan lokal didalamnya terdapat nilai-nilai nasional seperti Pancasila, bisa dikategorikan sebagai kearifan nasional ke -Indonesiaan. Lalu, bagaimana dengan kearifan lokal? Bagaimana konkretnya, dalam tradisi kampus agar tetap mengandung aspek intelektual akademia. Dalam kehidupan kampus dan kehidupan kita sehari -hari, kearifan-kearifan loka l dapat ditemui dalam nyayian, pepatah, sasanti, petuah, semboyan, dan kitab-kitab kuno yang melekat dalam perilaku sehari-hari.

Kearifan lokal dapat saja tercermi n dalam kebiasaan -kebiasaan hidup masyarakat yang telah lama berlangsung. Keberlangsungan kearifan lokal akan tercermin dalam nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok masyarakat tertentu. Nilai -nilai itu menjadi pegangan kelompok masyarakat tertentu yang biasanya akan menjadi bagian hidup tak terpisahkan yang dapat diamati melalui sikap dan perilaku mereka sehari-hari. Proses sedimentasi ini, membutuhkan waktu yang sangat panjang dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kemunculan kearifan lokal dalam masyarakat merupakan hasil dari proses trial and error dari berbagai macam pengetahuan empiris maupun nonempiris atau yang estetik maupun intuitif.

Kearifan lokal atau sering disebut local wisdom, dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu. Pengertian di atas, disusun secara

Pendidikan Karakter ...

etimologi, di mana wisdom dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan akal pikirannya dalam bertindak atau bersikap sebagai hasil penilaian terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi.

C. ORIENTASI MABA

1. Peserta Orientasi Maba

Peserta adalah mahasiswa baru tahun pertama yang baru mendaftar di PTN/PTS. Bila berhalangan karena sakit, keterbatasan fisik (cacat) dan secara permanen dapat mengikuti dengan perlakuan khusus. Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal dilaksanakan untuk mahasiswa baru agar proses perpindahan pola pikir (mind set) dari seorang "siswa " menjadi "mahasiswa ". Menj adikan momentum masuk ke kampus dilihat dari perubahan dari tergantung kepada orang tua kini harus mandiri. Lebih bertanggung jawab kepada manajemen waktu. Bertanggung jawab dan berbagai karakter yang akan ditanamkan kepada seorang maba menjadi sebuah proses turun- temurun yang merekatkan antara mahasiswa dengan lingkungannya yang baru: "kampus".

2. Tempat dan Waktu

Pendidikan formal kampus merupakan media yang paling efektif dalam pemutakhiran kearifan lokal, tetapi seharusnya dibarengi dengan implementasi dalam kehidupan sehari-hari. Bertempat di area kampus dan menggunakan infrastruktur kampus. Adapun waktunya adalah sebelum masuk perkuliahan umum, maka mahasiswa di orientasi dalam tahun pertama (semester awal) perkuliahan. Mahasiswa masuk dalam lingkungan baru untuk mendapatkan predikat baru dengan usaha dan perjuangan, dan menyandang predikat mahasiswa. Tradisi represif dan feodal yang telah dilakukan sebelumnya memang berdampak hingga kini.

Lingkungan baru yang dimasuki maba, yang pada posisinya masih belum dianggap sebagai "mahasiswa ". Label "maba " hingga

Karakter ... [143

menjadi "mahasiswa" (penuh) perlu proses insiasi yang membawa maba akan terkenang dalam pengalaman hidupnya. Perlu diingat bahwa seorang siswa menjadi mahasiswa akan meninggalkan stigma:

(1) Terikat dengan pengasuhan orang tua.
(2) Masih berseragam dan tradisi sekolah yang kental.
(3) Pengajar yang biasanya guru menjadi dosen.
(4) Waktu belajar biasanya terikatjam pelajaran (pagi -siang/sore).
(5) Ada kebiasaan siswa sekolah yang tidak pernah gondrong, akan memanjangkan rambutnya selama menjadi mahasiswa.
(6) Ada rasa terbebaskan, dari seragam sekolah lengkap dengan sepatu yang seragam, ketika menjadi mahasiswa tidak mau lagi memakai sepatu beralih menggunakan sandal j epit. Fenomena mahasiswa sandal jepit ini muncul di era tahun 1980 hingga 1990- an.
(7) Mahasiswa kini merasa menjadi individual setelah kampus membebaskan masing-masing universitas untuk tidak lagi membuatkan tradisi orientasi mahasiswa. Dari stigma diatas, tentu perlu dibahas bagaimana contohnya sebuah program orientasi maba bisa dilaksanakan sesua i dengan kearifan lokal. Berikut 18 nilai-nilai karakter yang terkandung didalamnya unsur kebudayaan:
(1) Religius. Sikap dan peri laku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
(2) Jujur. Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang sela lu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
(3) Toleransi. Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
(4) Disiplin. Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

Pendidikan Karakter ...

(5) Kerja Keras. Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
(6) Kreatif. Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
(7) Mandiri. Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
(8) Demokratis. Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
(9) Rasa Ingin Tahu. Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar. (10) Semangat Kebangsaan. Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. (11) Cinta Tanah Air. Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. (12) Menghargai Prestasi. Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. (13) Bersahabat atau Komunikatif. Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. (14) Cinta Damai. Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. (15) Gemar Membaca. Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya. (16) Peduli Lingkungan. Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. (17) Peduli Sosial. Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

Karakter ... [145

(18) Tanggung Jawab. Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Salah satu cara yang ingin diterapkan (sebagai contoh). Cara berpakaian dan baju para peserta maba, yang masuk dalam kategori bagaimana berbudaya dalam penampilan.

Gambar 1 Contoh Alternatif Pakaian Peserta Maba

Laki-laki Perempuan

Sumber: http.//archive. kaskus.co.id/ thread/ 8304819/ dan http.//grosir-batik- pekalongan.blogspot.com/2013/03/jua/-b/us -/urik.htm/

Lurik sebagai pakaian adalah simbol dari masyarakat Jawa kelas abangan. Masyarakat awam biasanya menggunakan lurik sebagai pakaiannya. Batik dianggap pakaian (simbolisasi) dari bangsawan. Dibandingkan penggunaan baju orientasi yang aneh -aneh dan tidak bertema. Belum lagi bawa-bawaan yang harus dipernuhi oleh para peserta maba sebagai syarat harian agar tidak dihukum senior. Barang-barang aneh inilah yang juga dijadikan media penanaman kandungan kearifan lokal. Penggunaan pakaian dengan kandungan lokal setidaknya dapat lebih baik daripada penggunaan pakaian ospek sebagai berikut:

Pendidikan Karakter ...

Gambar 2 Model Pakaian Ospek Maba Saat Ini

Sumber: http://www.lintas.me/lifestyle/events/ failfact.blogspot.eom/nama- nama-aneh-barang-bawaan-ospek-dan-artinya-maba-masuk

D. PENGGUNAAN KEARIFAN LOKAL DALAM PROGRAM ORIENTASI MABA

Kearifan lokal yang disebutkan pada tulisan ini, sangat bergantung kepada kebudayaan setempat dari kampus. Banyak kampus ingin dianggap internasional, berbudaya asing, dan kebarat- baratan. Dengan semangat internasional ini dianggap kampus tersebut berafiliasi dan diterima dalam kancah pergaulan masyarakat terdidik mancanegara. Adanya suasana minder dari bangsa kita untuk memperkenalkan diri dalam kancah dunia internasional. Di mana kita merasa tidak intelektual bila tanpa jas dan dasi dibanding batik dan peci (misalnya), adalah suatu kemunduran terhadap pengakuan diri bahwa Bangsa Indonesia ini adalah bangsa besar dan berbudaya.

Serna kin kita dianggap tidak berbudaya, semakin jauh kita akan menyumbangkan kebudayaan kepada dunia. Dunia sudah mengadopsi budaya-budaya negara Jepang, Korea Selatan, Brazil, China, dan lainnya. Tapi dunia masih ragu-ragu untuk mengadopsi budaya Indonesia, misalnya silat, rendang, batik, wayang, keris, ataupun alat musik sasando, kulintang. Penerimaan budaya global terhadap karate,

Karakter ... [147

taekwondo, cappoiera, kungfu, kimchi, sushi, kimono, samurai, dan sebagainya, membuktikan bahwa kearifan lokal bangsa -bangsa lain tidak malu untuk ditampilkan, diperkenalkan, dan digunakan oleh semua orang.

Terdapat sepuluh unsur kebudayaan yang merangkum kebudayaan Indonesia. Dari sepuluh unsur tersebut, dapat kita tarik simpulan bahwa terdapat kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Sehingga memperkenalkan, membudidayakan kebudayaan lokal, dianggap hal yang sudah lumrah saat ini. Kesepuluh unsur budaya tersebut, adalah :

(1) Sistem Kepercayaan
(2) Organisasi Sosial
(3) Komunikasi
(4) Mata Pencaharian
(5) Pendidikan
(6) Kesehatan
(7) Kesen ian
(8) Pengetahuan dan Teknologi
(9) Tata Boga (ku liner) (10) Tata Busana Unsur kebudayaan yang bersifat universal itu ada sepuluh, dengan fungsinya masing-masing sebagai berikut :
(1) Unsur Komun ikasi mengatasi masalah hubungan antarindividu
(2) Unsur Klasifikasi mengatasi masalah ketertataan (orderlyness)
(3) Unsur Organisasi mengatasi masalah kerja sama dan
rep roduksi sosial

(4) Unsur Ekonomi
mengatasi masalah kelangkaan pangan dan sandang

(5) Unsur Kesehatan mengatasi masalah reproduksi biologis
(6) Unsur Kepercayaan mengatasi masalah ketidakberdayaan
(7) Unsur Pelestarian mengatasi masalah kehilangan/kepunahan
(8) Unsur Permainan mengatasi masalah kebosanan
(9) Unsur Transportasi mengatasi masalah pemindahan tempat

Pendidikan Karakter ...

(10) Unsur Kesenian mengatasi masalah ekspresi perasaan/ kejiwaan

E. PENUTUP: GAGASAN KEARIFAN LOKAL DALAM PENDIDIKAN KARAKTER

Beberapa simpulan penting yang ingin disampaikan dalam tulisan ini, adalah:

(1) Dari segi unsur tata busana, gunakanlah pakaian tradisional yang bermuatan lokal. Contoh, "batik" untuk kampus yang memiliki batik lokal atau "lurik" bagi Maba. Pada pentasbihannya sebagai mahasiswa, maka "lurik" bisa digantikan dengan menggunakan batik. Setelah dia memakai batik, maka maba telah bertransformasi menjadi mahasiswa. Pakaian lurik di Yogyakarta (menurut peneliti kebudayaan, Damardjati Kun Marjanto), merupakan outfit para kawula atau masyarakat kebanyakan yang bukan bangsawan atau priyayi. Dahulu, mereka (kawula) tidak mampu untuk membeli dan memakai batik. Pakaian kawula ini tentu lebih bermartabat dan berbudaya dibandingkan pakaian karung goni, kaos bolong, ataupun pakaian yang kurang mencerminkan ke-"mahasiswa" -an peserta orientasi. Simbolisasi lurik sebagai pakaian kawula dan digunakan pada para peserta bukan sebagai penindasan. Namun, bermakna inisiasi dari kawula menjadi mahasiswa.
(2) Apa yang dulu dilabelkan 'norak', kampungan, dan tidak berkelas, pada akhirnya belum tentu sesuai dengan penamaannya. Pakaian lurik yang dianggap kampungan tentu lebih berbudaya dan pantas dibandingkan pakaian orientasi maba dengan tema penyiksaan dan pem-"bully"-an.
(3) Untuk kampus yang berada di daerah dengan tradisi kuliner yang khas, bisa saja maba diberikan ujicoba kuliner tempatan. Bila di Sumatera Barat, maka maba diorientasi untuk bisa menerima makanan pedas dan bersantan. Bila kampus di daerah Jawa, maka

Karakter ... [149

gudeg ataupun menu khas lokal dapat disosialisasikan kepada maba.

(4) Program orientasi dengan kandungan kearifan lokal, selain pola ceramah, tanya jawab, dan diskusi (metode klasik), perlu ditambah dengan kandungan penggunaan teknologi komunikasi dan iptek. Guna menunjang kemampuan iptek dan pelestarian budaya tidak ada salahnya maba menggunakan sosial media untuk menyampai- kan gagasan, pandangan dan berargumentasi dengan sesama peserta orientasi. Tak dapat dipungkiri, penggunaan media sosial, ditunjang dengan peranti keras (gadget) yang murah meriah dan massal, telah mengubah mode berkomunikasi masyarakat kita. Menggunakan sosmed dan gadget dalam rangka menggunakan budaya lokal juga menjadi pilihan tersendiri. Bagaimana kearifan lokal masuk dalam media sosial ? Tentu dengan postingan-postingan penyemangat dan inspiratif dengan kandungan lokal yang kental mampu menggugah semangat maba untuk menyerap kearifan lokal terse but.
(5) Pada zaman dulu, mahasiswa yang ingin bekerja akan malu. Biasanya orang tua mela rang mereka untuk menghasilkan uang sendiri. Mahasiswa yang ingin mandiri dan menghasilkan uang sendiri pada 20 tahun yang lalu adalah hal yang masih sulit ditemui. Saat ini, mahasiswa tidak malu lagi bila mereka bekerja sambil kuliah. Setidaknya memiliki passive income yang positif selain menjadi mahasiswa (pada zaman penulis menjadi mahasiswa, "sampingan" mahasiswa biasanya identik dengan kriminal, seperti bandar narkoba, ayam kampus, germo, dan sebagainya). Dinamika sosial ekonomi saat ini, mahasiswa didorong untuk memiliki jiwa enterpreneurship. Kearifan lokal dan kewirausahaan bisa dibentuk dengan membiasakan mahasiswa untuk berdikari dan cerdas hemat dalam keuangannya. Banyak kecerdasan lokal dalam bentuk kreativitas dan seni budaya yang bila dikerjakan bi sa mendatangkan keuntungan finansial

Karakter ...

tanpa harus mengorbankan waktunya sebagai mahasiswa. Alasan orang tua melarang dan tidak setuju bila mahasiswa mencari uang salah satunya adalah karena mereka (orang tua) khawatir anaknya akan lebih senang mencari uang daripada mencari ilmu. Melalui pendekatan kearifan lokal inilah diharapkan peserta orientasi maba memiliki tujuan yang mantap untuk memilih, menimba ilmu, dan mencari pengalaman, tanpa mengorbankan studinya untuk kegiatan luar sekolah yang belum tentu selaras dengan kehendak sekitarnya (orang tua, dosen, dan teman-teman).

(6) Tak lupa kesehatan. Maba bisa dibekali dengan kearifan lokal kampus bagaimana mereka tetap sehat dan bugar selama menuntut ilmu. Kesehatan adalah modal untuk menuntut ilmu, sehingga output yang didapat dari badan yang sehat muncul penerus masa depan nan sehat.

F. SARAN

Saran yang ingin disampaikan dari tulisan ini adalah:

(1) Adanya upaya memasukkan sepuluh unsur kebudayaan nasional untuk diterapkan dalam program orientasi maba. Untuk lebih membaurkan beragam budaya dan membiasakan mahasiswa untuk berinteraksi dengan budaya yang berbeda. Post Figurative dan Pro Figurative seperti dikutip dari orasi Prof. BudhiSantosa,
5 kearifan lokal akan dibagi dalam dua kelompok. Pertama, orang yang menganggap romantisme, tradisi masa lalu, kebudayaan era masa dulu, yang mereka alami sebagai kondisi paling ideal dan perlu selalu selaras lestari sepanjang masa. Kelompok kedua adalah para agen perubahan yang memahami bahwa perubahan itu pasti terjadi dan hal-hal kekinian akan mengadopsi kearifan baru. Kearifan tradisional dan kearifan kontemporer bisa disandingkan dalam berbagai bentuk kegiatan orientasi maba.

Kebudayaan

Pada kegiatan Grand Desain Penelitian dan Pengembangan
(Puslitbangbud) di Batam Februari 2014.

Karakter ... [151

(2) Berpakaian lurik adalah salah satu konsep contoh (penggabungan tradisional dan kontemporer) yang bisa digunakan oleh kampus di daerah Jawa. Pakaian pangsi jawara bagi kampus di daerah Jakarta, Banten dan sekitarnya. Pakaian kebaya encim untuk wanitanya. Konsep feodalitas dan represif menyerang dihindari pada orientasi maba. Konsep "memanusiakan manusia " adalah napas dari kegiatan orientasi maba.
(3) Karakter bangsa yang didefinisikan dan disarankan disini, adalah suatu proses seleksi lokal dan yang akan dinominasikan ke tingkat nasional. Menjadi hal yang lumrah bila nantinya dari tingkat nasional, dapat maju dikompetisikan pada tingkat regional.
(4) Hasil wawancara dengan beberapa kolega kampus (para dosen) menyimpulkan bahwa program orientasi masih harus dalam pengawasan dosen, karena tidak dapat se penuhnya diserahkan kepada mahasiswa se nior. Pada budaya "fraternity" atau "persaudaraan" di kampus-kampus barat, mahasiswa baru diseleksi dan melamar kepada himpunan mahasiswa yang diminatinya. Namu n, kondisi ini tidak dapat diaplikasikan pada bangsa kita, karena budaya dan kearifa n yang terkandung di dalamnya jauh dari kegeniu san lokal. Peran ma syarakat kita yang "paguyuban" akan menyulitkan dibandingkan dengan peran sosial "individualistik" yang tertanam di barat.
(5) Kearifan lokal yang disa ran ka n pa da artikel ini adalah adanya kandungan sepuluh unsur kebudayaan yang diperkenalkan oleh masing -masing kampus, tan pa bermaksud untuk melecehkan atau menjadi budaya menjadi ko moditas kampus. Tapi lebih kepada memperkenalkan, sehingga sepuluh unsur kebudayaan tersebut bisa menjadi proses loncatan (stepping stone) pendewasaan dari seorang yang dianggap siswa dan akan diberikan status "maha "- siswa di kartu tanda pengenalnya (KTP, SIM, dan lainnya).
(6) Inisiasi atau inaugurasi atau pentasbihan menjadi mahasiswa dikemas dalam suatu upacara yang merupakan tradisi turun-temurun dan melekat pada kampus masing-masing. Program acara

Pendidikan Karakter ...

ini, walaupun penutup merupakan puncak acara yang ditunggu- tunggu. Kongkretnya dapat disesuaikan dengan kebudayaan dan unsur kebudayaan di tiap daerah. Ada tiga wilayah favorit lokasi belajar mahasiswa di Indonesia (ITB, UGM, dan UI). Tiap kampus ingin mencetak mahasiswa unggulan. Namun, mahasiswa unggulan yang berkarakter perlu segera diaplikasikan, karena banyak kritikan pedas pada institusi pendidikan tinggi, di mana lulusannya kontributor langganan untuk warga binaan di lembaga pemasyarakatan (LP) saat ini.

DAFT AR PUSTAKA

Agung, Iskandar, dkk. 2011. Pendidikan Membangun Karakter Bangsa. Jakarta : Bestari Penerbit.

Khan, Yahya. 2010. Pendidikan Karakter Berbasis Potensi diri; Mendongkrak Kualitas Pendidikan. Yogyakarta : Pelangi Publishing.

Suorijadi, Didi. 2005. Buku Pedoman Pembinaan Ekstrakurikuler SMA. Jakarta: Dinas Dikmen DKI.

Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas)

Zuriah, Nurul. 2007. Pendidikan Moral & Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan; Menggagas Platform Pendidikan Budi pekerti secara Kontekstual dan Futuristik. Jakarta : Bumi Aksara.

Website:

http://www.tribunnews.com/2010/11/14/generasi-muda-makin- memahami-empat-pilar-kebangsaan(didownload pada tanggal 28 Maret 2011).

http:l/nasional.kompas.com/read/2011/05/31/20495163/Privatisasi.Pen didikan.Ditolak (didownload pada tanggal 28 Maret 2011).

http:/ /zifoe. blogspot. com/20 10/06/10-tips-tri k- men j ad i- ma hasi swa- baru.html (didownload pada tanggal 28 Maret 2011).

PENDIDIKAN KARAKTER

/ Mudjijono mudji.sa rkem264 @gmail.com

A. PENDAHULUAN

Banyak pemahaman konsep kebudayaan yang dikemukakan oleh berbagai pemikir kebudayaan, satu diantaranya konsep kebudayaan yang dikemukakan oleh Goodenough. Ia menegaskan bahwa kebudayaan bukan suatu fenomena material, kebudayaan bukan terdiri dari barang-barang, orang, perilaku, atau emosi-emosi. Kebudayaan seperti pengorganisasian dari barang-barang tersebut. Bentuk-bentuk barang (kebendaan atau material) ini berada dalam benak (pikiran) orang-orang tersebut, model -model perasaan mereka, interpretasi hubungan di antara mereka dan sejenis lainnya 1

Pemahaman kebudayaan seperti itu sangat tepat untuk mengkaji berbagai kebudayaan pada tataran nilai budaya, misalnya terkait pendidikan karakter, mengingat objek penelitian itu ada pada alam pikiran. Pembangunan pandangan hidup yang ada pada tataran nilai budaya itu, harus sedikit demi sedikit selalu dibangun agar

L'Culture is not a material phenomenon; it does not consist of things, people, behavior or emotions. It is ra ther the organization of these things. It is the forms of things that people have in mind, their models for perceivings, relating and otherwise interpreting them as such. The things that people way and do, their social arrangement and events are products or by products of their culture as they
apply it to the task of perceiving and dealing with their circumstances ..... "
(Goodenough, 1964a: 36 disitir dari Ahimsa. P, 1985: 107)

Sebagai ...

terbentuk suatu wacana keyakinan dan sikap yang sangat luhur. Keyakinan dan sikap yang luhur tersebut, akan menjadi karakter bagi individu yang bersangkutan.

Pemahaman dan pembahasan pendidikan karakter merupakan hal yang sangat penting, sehingga dari dulu telah menjadi pemikiran, bahkan presiden pertama Indonesia pun pernah mengutarakan betapa pentingnya pembangunan karakter untuk bangsa ini. 2 Pentingnya pendidikan karakter terlihat pada banyaknya pemikiran atau kajian mengenai nilai budaya itu. Edy mengutarakan pemikiran mendasar yang konstruktif tentang karakter bangsa karena menurutnya, karakter bangsa saat ini kian luluh lantak. Selain itu, ia juga merumuskan karakter bangsa yang diharapkan, misalnya jujur pada diri sendiri, hentikan menyalahkan budaya, dan kembali ke falsafah negara. 3

Kemudian, Thomas Lickona memaparkan guru atau sekolah dapat mendidik siswanya agar mempunyai karakter yang baik. Selain itu, beliau juga memberikan wacana dalam pendidikan nilai, bagaimana mendidik untuk membentuk karakter, nilai-nilai apakah yang seharus- nya diajarkan sekolah. Konsep karakter juga dijabarkan dan bagaimana menciptakan komunitas yang bermoral di kelas, disiplin, demokratis, dan mengajarkan masalah kontroversial serta pendidikan seks. Bagaimana sebaiknya anak-anak menyelesaikan konflik merupakan bagian yang menarik yang sebaiknya menjadi pertimbangan, selain disinggung pula masalah narkoba dan alkohol. 4

Farchul Mu'in mengutarakan yang disebut sebagai karakter, karakter manusia, dan karakter bangsa. Selain itu, juga mengupas

2 Lihat Hendri. 2013. Pendidikan Karakter Berbasis Dongeng. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. 3 Lihat Harmanto Edy. 2006. Revolusi Karakter Bangsa Menurut Pemikiran M. Soeparno. Kebijakan, Strategi, don Operasionalisasi Berdasarkan Model Kesisteman. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

T. Lickona. 2013. Mendidik Untuk Membentuk Karakter. Bagaimana
Seko/ah Dapat Mengajarkan Sikap Hormat Dan Tanggung Jawab. Jakarta: PT Bumi Aksara.

nasional, manipol usdek sebagai dasar pembangunan karakter bangsa pada era Soekarno, National and Character Building menurut Pramoedya Ananta Toer, sekolah Tan Malaka dan National and Character Building, dan menghilangkan ingatan pada masa Orde Baru. Pemikirannya diakhiri dengan penekanan pendidikan karakter dan guru sebagai tulang punggung pendidikan karakter. 5 Sebaga i pemikir yang banyak menekuni sastra, Yudi Latif menyumbangkan pemikirannya yang sangat detail tentang karakter dalam sisi sastra. Menurutnya, pendidikan karakter dapat dilakukan melalui sastra. Tradisi tulis merupakan sarana olah ketepatan, keberaksaraan merupakan ukuran keberadaban dan organ kemajuan sosial, sebagai in strumen budaya dan perkembangan saintifik, serta sebagai instrumen dari perkembangan kognitif. 6

Lain lagi dengan pemikiran yang dikemukakan oleh Hendri, menurutnya karakter dapat dibentuk dari dongeng. Ia menawarkan pemikiran bahwa pendidikan karakter dengan mengutarakan manfaat dongeng, memilih dongeng yang cerdas untuk bahan pengajaran, dan kisah-kisah pendidikan karakter. 7 Nucci. L. dan Narvaes mengutarakan penekanan hubungan siswa di sekolah dan di ruang kelas. Mereka juga mengutarakan pendidikan moral dan karakter di luar kelas, yang sangat menarik juga dikemukakan gambaran sangat luas tentang pendidikan karakter dari berbagai sisi. Awa lnya digambarkan perkembangan positif remaja di Amerika Serikat, kemudian diteruskan dengan penjabaran efek moral dan pengedepanan kepentingan publik dari penerapan

5 Fatchul Mu' in. 2011. Pendidikan Ka rakter Konstruksi Teo ritik dan Praktik. Urgensi Pendidikan Progresif dan Revitalisasi Peron Guru dan Orang tua. Yogyakarta : Ar Ruzz Media. Yudi Latief. 2009. Menyemai Karakter Bangsa. Budaya Kebangk1tan Berbasis Kesa straan. Jakarta : PT Ko mpas Media Nusantara. Op.cit, Hendri, 2013.

sosial, olah raga, dan perkembangan karakter, dan media, dan perilaku sosial anak-anak dan remaja. 8

Mohammad Takdir Ilahi mengutarakan ironi kegagalan pendidikan karakter dan permasalahan umum pendidikan di Indonesia dengan dimulai menyajikan krisis moral, spiritual, keluhuran budaya, orientasi dan kebijakan, dan psikologi. Terkait dengan karakter, buku ini menyajikan pula problem penerapan pendidikan karakter dan analisis kegagalan pendidikan karakter. Sebagai penutup oleh penulis disajikan mempertimbangkan karakter emas di tengah kegagalan pendidikan karakter. 9

Berbagai pemikiran tersebut baik yang menawarkan konsep karakter, bagaimana karakter disosialisasikan, dan contoh kegagalan pendidikan karakter semuanya merupakan manivestasi dari kepedulian para pemikir akan pentingnya dilakukan pendidikan karakter bagi masyarakat Indonesia. Pemikiran selanjutnya yang muncul yakni, model pendidikan karakter yang bagaimana yang baik untuk diterapkan? Walaupun sudah ada berbagai pemikiran dan semuanya sangat baik, namun, menurut hemat saya, masih ada satu pemikiran yang patut untuk dicermati, yakni kebudayaan sebagai sebuah agen pendidikan karakter.

Kebudayaan yang ada di berbagai masyarakat mempunyai banyak variasi, baik kebudayaan sebagai wujud hasil kebendaan, atraksi budaya (seni), atau nilai budaya. Semua bentuk kebudayaan itu, jika dicermati mempunyai kandungan nilai yang besar, misalnya pemikiran dasar yang terkandung dalam sebuah naskah, dongeng, berbagai nilai dalam pembelajaran tari, melukis, membuat patung, membatik atau aktivitas seni lainnya. Aktivitas terkait itu semua secara tidak langsung akan membelajarkan personal yang terlibat di dalamnya. Awalnya

Larry P. Nucci dan Narvaes. D. 2014. Handbook Pendidikan Moral dan Karakter. Diterjemahkan oleh Imam Baehaqie dan Derta Sri Widowatie. Bandung: Penerbit Nusa Media. Mohammad Takdir. 2014. Gagalnya Pendidikan Karakter. Ana/isis dan Solusi Pengendalian Karakter Emas Anak Didik. Yogyakarta: Ar Ruzz Media.

... [157

hanya tertarik akan salah satu kegiatan seni, namun dalam aplikasi pembelajaran seni itu ternyata juga terkandung akan nilai lain yang sangat berguna dalam berkehidupan, sehingga jika tertanam dan terpatri dalam tingkat ide personal yang bersangkutan akan mer~adi sebuah karakter yang luar biasa. Kepemilikan karakter personal yang dimiliki oleh anggota keluarga, masyarakat, etnis, kelompok, dan unsur lain dalam masyarakat akan menentukan karakter nasional. Karakter bang sa atau nasional akan terbentuk jika kondisi sosial politik dan sense pemimpin nasional juga mendukung untuk terbentuknya karakter bangsa yang lebih baik.

B. KEBUDAYAAN SEBAGAI SEBUAH AGEN PENDIDIKAN KARAKTER

Kajian ini akan memberikan suatu tawaran atau contoh suatu pendidikan karakter dapat dilakukan melalui seni sebagai agen yang secara makro sebagai bagian dari kebudayaan yang mempunyai habitus untuk menjadikannya berperilaku yang baik. Banyak pengertian tentang kebudayaan, namun dalam kajian tentang kebudayaan sebagai agen pendidikan karakter ini akan diacu tiga wujud kebudayaan yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat yang mempunyai pendapat bahwa kebudayaan itu mempunyai paling sedikit tiga wujud, ialah 1) Suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya 2) Suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat dan 3) Benda-benda hasil karya manusia 10 Agen, di

10 Lihat Koentjaraningrat Pengantar 1/mu Antropologi. 1990. Jakarta : Aksara Baru, him. 5. Ketiga wujud dari kebudayaan terurai di atas, dalam kenyataan kehidupan masyarakat tentu tidak terpisah satu dengan yang lain. Kebudayaan ideal dan adat istiadat mengatur dan memberi arah kepada perbuatan dan karya manusia. Baik pikiran-pikiran dan ide -ide, maupun perbuatan dan karya manusia, menghasilkan benda -benda kebudayaan fisiknya. Sebaliknya, kebudayaan fisik itu membentuk suatu lingkungan hidup tertentu yang makin lama makin menjauhkan manusia dari lingkungan

Purpose of Reflexsive Sociology: The Chicago workshop dan Language and Symbolic Power juga mengemukakan:

The habitus is a set of dispositions which incline agents to act and react in certain ways. The dispositions generate practices, perceptions and attitudes which are regular without being conciously co-ordinated or governed by any rule. The dispositions which constitute the habitus are incalculated, structured, durable, generative and transposable features that each deserve a brief explanation. 12

(Habitus adalah sejumlah watak yang menunjukkan kecenderungan pelaku-pelaku bertindak dan bereaksi dengan cara-cara tertentu. Watak menghasilkan tindakan, persepsi, dan sikap yang bersifat teratur kecuali ada upaya mengkoordinir atau mengaturnya secara sadar dengan aturan tertentu. Watak yang menjadi bagian dari habitus banyaknya tak terhitung, terstruktur, bertahan lama, menurun dan bisa menjalar ke orang lain sehingga perlu diperhatikan).

Konsep ini dipergunakan sebagai upaya pemahaman terhadap komponen-komponen yang terdapat dalam reproduksi sosial yang terdiri dari struktur obyek, praktik-praktik, dan agen. Habitus merupakan media keterkaitan antara struktur obyek dan aktivitas operasionalnya. Habitus yang dikemukakan Bourdieu di atas dipertegas

alamiyahnya, sehingga mempengaruhi pula pola-pola perbuatannya, bahkan juga mempengaruhi cara berfikirnya 11

P. Bourdieu. 1995. Outline of A Theory of Practice. Cambridge:
Cambridge University Press. Lihat pula aktualisasi pemahaman agen dan habitus pada. Mudjijono. 1995. Sarkem. Yogyakarta: Gadjahmada Press. Lihat, P. Bourdieu dan Wacquant. J.D. 1984. The Purpose of Reflecsive Sociology The Chicago workshop. Chicago: The University of Chichago Press, him. 115-117 dan Bourdieu. P. 1992. Language and Symbolic Power. Cambrige: Polity Press, him. 12.

oleh Harker dalam British Journal of Sociology of Education volume 5 nomor 2 (1984: 119) bahwa ... The habitus is the way a culture is embodied in the individual. (. ... habitus adalah cara suatu kebudayaan yang tertanam dalam diri seseorang).

Gambaran budaya secara individual ini antara lain terlihat di dalam jaringan kerja, jaringan sosial, dan sistem sosialisasi pada kasus kajian stratifikasi sosial masyarakat Eropa untuk memperoleh kesempatan pendidikan yang diutarakan oleh Harker. Ketiga komponen itu, ternyata juga berperan dalam reproduksi sosial nilai yang terkandung dalam aktivitas tiga wujud kebudayaan. Konsep lain yang perlu dijelaskan yakni pendidikan karakter yang terdiri dari dua kata yakni : pendidikan dan karakter. Kedua kata ini memiliki arti dan makna yang berbeda. Namun, ketika digabungkan, akan memiliki makna dan semangat lain hingga memiliki kekuatan tersendiri untuk mengubah kepribadian anak-anak.

Pendidikan berasal dari kata "didik" yang memiliki banyak arti, di antaranya pelihara, bina, da n latih. Ketika ditambahkan imbuhan "pe- kan ", artinya menjadi proses atau imbuhan dalam mendidik atau melatih. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dijelaskan. bahwa "Pendidikan adalah usaha sa dar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Secara bahasa, pendidikan adalah proses mengubah sikap dan tata laku seseorang atau kelompok melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Jadi, pendidikan mengandung arti proses dalam membina, melatih, memelihara anak atau siapapun sehingga menjadi manusia santun, cerdas, kreatif, bergu na bagi diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa (Hendri, 2013: 1). Selanj utnya karakter diartikan sebagai tabiat,

Kebudayaan Sebagai ...

watak, sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan 13 seseorang dengan yang lain.

Kebudayaan dengan berbagai wujudnya sebenarnya merupakan sebuah agen mengingat mempunyai habitus yang secara tidak langsung melakukan pendidikan personal karakter. Kondisi itu terjadi mengingat entitas budaya sebagai bangunan logika empiris terbentuk melalui observasi perilaku verbal atau non vebal aktivitas individual manusia. Keilmiahan kosakata yang terdapat pada deskripsi entitas budaya masih berada pada pernyataan sederhana. Validitas definisi secara operasional masih belum mencapai keseluruhan waktu pada umumnya. Usaha-usaha mengembangkan data perbendaharaan bahasa untuk mendeskripsikan kebudayaan berlangsung tidak diikuti dengan variabel dari kombinasi bagian institutif respon-respon etik yang meng- gambarkan emosi dan kognisi yang terkait. 14

Hal tersebut, sangat bisa diterima secara luas bahwa pernyataan yang bersifat psikologis memiliki makna "maksud dan tujuan" merupakan syarat minimun standar deskripsi etnografi. Hal ini memperjelas kebenaran dari seluruh anggota gerakan kebudayaan dan kepribadiannya. Kita telah perlihatkan bagaimana pentingnya mentalistik atau pandangan "emik" yang oleh Boas disebut kematangan orientasi prospek teoritis ilmu antropologi budaya. Keberadaan berbagai kontroversi dari perbedaan latar belakang menuju suatu perluasan kesamaan premis mentalistik. 15 Ralp Linton

13 /bid, 2013, him. 2. 14 Cultural entities are logico-empirical constructs built up out of the observation of the verbal or nonverbal behavior of individual human actors. The scientific vocabulary for the description of these entities is still in a very primitive state. Operationally valid definitions have yet to be achieved for even the most commonly employed terms. Attempts to develop data languages for cultural descriptions have invarriably followed the intuitive path of combinining etic responses with their emotional and cognitive concomitants (Harris, 1968: 394). It is very widely accepted that the statement of psychologically meaningful "goals" and "purposes" is minimum requirement of ethnographic description. This obviosly true of all the members of the culture and personality

salah satu tokoh kebudayaan dan personaliti neo Freudian, mendefinisikan seluruh kebudayaan terikat dalam idiom mentalistik. Ikatan versi Linton (1936) men genai berpengaruhnya alam formulasi (bentukan), terdiri tidak hanya bentuk khusus dan substansi fungsi sosial budaya di dalamnya, tetapi makna suatu entitas pada siapa yang dimanifestasikan orang atau yang dipergunakannya. 16

Berbagai kebudayaan yang ada dalam masyarakat atau bentuk kebudayaan yang ada dalam masyarakat misalnya naskah, dongeng, ungkapan, tari, wayang, dolanan, dan ketoprak menjadi sebuah agen dalam pendidikan karakter pe rsona l. Apabila dicermati dan dipelajari secara detail di dalam isi na skah akan ada ajaran, pengalaman, atau langkah yang sangat berguna bagi manusia untuk be rpedoman dalam hidup. Kemudian, dalam sebuah dongeng jika dimaknai dengan baik akan ada sebuah contoh kehidupan yang baik dan buruk, yang dapat dipergunakan sebaga i contoh untuk dipetik pelajaran. Begitu pula dengan ungkapan. Sedangkan dengan tari, wayang, dan dolanan personal akan dapat berlatih bersama, saling toleransi dengan sesama,

movement per se. We have already seen how important the mentalistic or "emic " point of view was in the development of Boas ' mature orientation to the theoretical prospects of cultural anthropology. There were many convergences from other backgrounds toward a similar elaboration of mentalistic premises (ibid, 1968: 394). 16 Lihat pula pendapat Ralph Linton, Clyde Kluckhohn, Boas, Robert Lowie, dan S. F Nadel. Ralph Linton, one of the key figures in the neo-Freudian culture and personality movement, defined all cultural traits in a mentalstic idiom. A trait, in Linton 's (1936) influential fo rmulation, consisted not only of a particular form and substance with its sociocultural fu nction, but of the meaning of such an entity to the people who manifested or used it. Clyde Klu ckhohn dan Athropolog sosial Britis as Malinowski memiliki pemahaman bahwa penekanan explicit concerning the epistemological and methodological necessity of emic
categories. Boas, Robert Lowie, da n S.F Nadel .... the importance of an emic
perspective have not been associated with culture and personality research (1bid, 1968: 394)

Para personal yang mengikuti latihan berkesenian atau belajar naskah atau mencermati dongeng dan ungkapan itu, pada awalnya ada yang hanya menginginkan belajar menari, mendengarkan atau melihat wayang dan ketoprak atau membaca dan mempelajari naskah dan ungkapan serta dongeng, namun secara tidak langsung mereka juga mendapatkan pelajaran tentang toleransi, menghargai orang lain, ulet, dan lain sebagainya. Fenomena itu terjadi karena kebudayaan tersebut mempunyai habitus yang secara sengaja dapat tersosialisasikan bagi yang mendalaminya. Kondisi itu, pada akhirnya menjadikan sebuah pendidikan karakter personal. Karakter-karakter personal tersebut, pada akhirnya yang akan membentuk karakter bangsa. Pemikiran tentang suku bangsa dan terjadinya karakter bangsa dapat juga dicermati dari 17 tulisan Amri.

17 Di Indonesia, bangsa-bangsa tua yang kini disebut dengan istilah bangsa etnis, misalnya orang Bali, orang Bugis, orang Batak, orang Minangkabau, orang Aceh, orang Jawa, orang Sunda, orang Bima, dan sebagainya sudah lama ada, jauh mendahului munculnya bangsa Indonesia. Sebagian besar dari bangsa etnis tersebut pernah mempunyai negara dan sistem politik masing-masing. Bahkan, perang antara bangsa-bangsa etnis di Nusantara adalah hal yang biasa, misalnya antara bangsa Majapahit melawan bangsa Bali, antara bangsa Tidore melawan bangsa Ternate, antara bangsa Aceh melawan bangsa Kedah, dan antara bangsa Makasar melawan bangsa Bone. Ketika berperang, masing-masing bangsa bertarung dengan semangat nasionalisme etnisnya. Singkatnya, di Nusantara, nasionalisme etnis sudah lebih dahulu ada dan berkembang daripada nasionalisme Indonesia. Kini beratus-ratus bangsa etnis Nusantara itu, bersatu membentuk sebuah bangsa yang lebih besar, yaitu Bangsa Indonesia. Akan tetapi pemersatuan beratus-ratus bangsa Nusantara itu menjadi sebuah Bangsa Indonesia tidak melalui proses sebagaimana yang terjadi di Eropa. Di Eropa, bangsa terbentuk mendahului negara. Melalui proses politik, ekonomi, sosial dan kultural, dan khususnya lagi perang, muncullah perasaan nasionalisme sebagai sebuah bangsa. Nasionalisme Prancis, misalnya, bertujuan membentuk satu bangsa Prancis. Setelah satu bangsa Prancis terbentuk, barulah muncul negara Prancis modern

tidaklah semudah mengucapkan, karena melalui proses yang relatif lama hingga beberapa generasi. Pemikiran itu dipahami mengingat budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem-sistem nilai yang berbeda. Oleh karenanya, tiap budaya akan mempunyai habitus sendiri bagaimana mempengaruhi dan pada akhirnya terpatri pada personal. Personal-personal yang berasal dari berbagai j enis komunitas, masyarakat, keluarga besar, pendidikan asrama, pendidikan sekolah, dan berbagai kelompok pendidikan tersebut, akan membentuk karakter personal dari masyarakat desa, perkotaan, pertanian, masyarakat nelayan, lingkungan mil iter, priyayi, dan masih banyak karakter yang ada dalam masyarakat.

Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem-sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda. Cara kita berkomunikasi sangat bergantung pada budaya kita, bahasa, aturan, dan norma kita masing-masing. Pada tahun 1929, seorang linguis terkemuka, Edward Sapir mengingatkan para ilmuwan sosial bahwa bahasa-bahasa yang berlainan mempengaruhi cara berpikir. Sebagai ilustrasi, fakta bahwa orang-orang Eskimo mempunyai sekitar 20 kata untuk melukiskan salju, menunjukkan betapa berbeda kelompok tersebut dalam memikirkan salju. Mungkin ada kata-kata khusus untuk melukiskan salju yang lembek, salju yang keras, salju yang indah, salju yang licin atau berbahaya, dan sebagainya.

sekarang. Begitu juga halnya dengan Jerman, Italia, dan sebagainya. Jadi, yang muncul di Indonesia itu bukanlah fenomena seperti yang dikatakan Giddens dengan istilah nation-state, tetapi state-nation. Di Eropa bangsa terbentuk mendahului state, sedangkan di Indonesia sebaliknya. State sudah terbentuk dan diakui masyarakat dunia, sedangkan Bangsa Indonesia masih terseok-seok mencari bentuk identitasnya di atas puing-puing bangsa -bangsa etnis lama. Karena itu, tidaklah mengherankan kalau pada masa -masa awal kemerdekaan, ikatan dan solidaritas etnis juga menjadi ancaman terhadap kesatuan bangsa Indonesia, kata Geertz. Lihat, Amri. "Disintegrasi nasional: Sebuah Warisan Ekonomi Politik Orde Baru" dalam Masyarakat Indonesia: Majalah 1/mu-1/mu Sosia/ Indonesia Jilid XXIX Nomor 2. Jakarta: UP! Press, 2003, him. 68 -69.

salju begitu penting bagi mereka karena mempengaruhi hidup dan bahkan keselamatan mereka. Tingkatan- tingkatan bahasa dalam Bahasa Jawa (kromo versus ngoko misalnya) menunjukkan alam pikiran (baca: status sosial) yang berbeda pula bagi pihak-pihak yang menggunakan bahasa tersebut. Penggunaan tenses dalam Bahasa Inggris mengisyaratkan bahwa orang-orang Inggris sangat sadar akan waktu dan menekankan pentingnya waktu (Deddy.

M. dan Jalaluddin. R. 1998: vi). Model berikut akan membantu memahami bagaimana karakter personal akan membentuk karakter kelompok, masyarakat, kursus, masyarakat petani, masyarakat kota, priyayi, dan suku. Menurut Margareth Mead, studi kebudayaan dan kepribadian pada dasarnya merupakan studi perilaku individu dalam proses belajar. Studi kepribadian lebih ke arah perilaku individu dan psikologi, sedangkan studi kebudayaan lebih ke arah proses belajar, transformasi, dan perilaku kelompok masyarakat.
18 Individu-individu berkemampuan untuk belajar berbagai budaya yang ada dalam masyarakat. Kondisi tiap personal itu, saling berbeda satu dengan lainnya, yang disebabkan karena kemampuan daya nalar, perbedaan kondisi lingkungannya, dan berbagai faktor yang mempengaruhi.

Oleh karena mereka ada yang tinggal di rumah, asrama, kelompok kerja, kelompok masyarakat dan selalu berkomunikasi dalam suku atau bangsa, maka karakter-karakter personal itu menjadi karakter suku, asrama, pendidikan, atau kelompok lainnya. Karakter-karakter yang terdiri dari berbagai karakter personal yang tergabung dalam karakter keluarga, kelompok, suku atau komunitas pada akhirnya akan membentuk karakter nasional atau bangsa. Perlu diingat, bahwa terbentuknya karakter bangsa atau nasional tersebut dibutuhkan waktu yang relatif lama tergantung dengan kondisi personal anggota masyarakat. kondisi sosial. polituk, stabilitas dan pemimpin nasional

Lihat, Margareth Mead. 1962. "National Character' dalam Anthropology Today: Selections. Chicago: The University of Chicago Press.

C. PENUTUP Pendalaman pemahaman reproduksi sosial melalui agen dan habitus yang dikemukakan oleh Bourdieu dan penegasan posisi Nation character yang didapat dari membaca tulisan Margaret Mead, menjadikan penulis tertarik untuk mengkombinasikan ke dua pendekatan itu. Karakter personality yang ditegaskan dalam tawaran pendekatan Mead dengan bantuan agen kebudayaan yang mempunyai refleks mempelajari nilai yang terkandung dalam aktivitas kebudayaan, menjadikan sebuah sosialisasi yang berkepanjangan yang pada akhirnya justru menjadi sebuah landasan yang kuat akan terbentuknya karakter personal yang akan menjadi embrio karakter kelompok, masyarakat, suku, dan karakter bangsa dalam waktu yang relatif lama. Untuk membentuk suatu karakter yang diharapkan baik dan kuat membutuhkan waktu yang sangat panjang, karena selain tergantung dari personality yang dijadikan sasaran pembentukan karakter, juga dibutuhkan waktu, tenaga, biaya, dan metode yang pas. Paling akhir, keinginan pemerintah dan pemimpin bangsa sangatlah menentukan apakah pendidikan dan pembentukan karakter bangsa Indonesia perlu dipikirkan? Atau biarlah kondisi yang semakin kurang menentu terus terjadi?

DAFT AR PUSTAKA

-------, 1992. Language and Symbolic Power. Cambrige: Polity Press.

19 These studies attempt to delineate how the innate properties of human beings, the idiosyncratic elements in each human being, and the general individual patterns of human maturation are integrated within a shared social tradition in such a way that certain regularities appear in the behavior of all members of culture which can be described as a culturally regular character (cultural character). (ibid 1962: 396)

Outline of A Theory of Practice. Cambridge: Cambridge The University Press.

Ahimsa Putra, HS. 1985. "Etnosains dan Etnometodologi" dalam fvfasyarakat Indonesia fvfajalah 1/mu-1/mu Sosial Indonesia. Agustus Jilid XII Nomor 2. Jakarta : UPI.

AL, Kroeber. 1962. "Relations of Anthropology to the Social Science and to the Humanities " dalam Anthropology Today, selections edited by Sol Tax from the classic "encyclopedic inventory" prepared under the chairmanship of A. L. Chicago: The University of Chicago Press.

Amri, M. 2003. "Disintegrasi nasional: Sebuah Warisan Ekonomi Politik Orde Baru" dalam Masyarakat Indonesia: fvfajalah 1/mu-1/mu Sosiallndonesia Jilid XXIX Nomor 2. Jakarta: UPI Press.

Bourdieu. P dan Wacquant. J.D. 1984. The Purpose of Reflexsive Sociology: The Chicago workshop. Chicago: The University of Chicago Press.

Djatmiko, Harmanto Edy. 2006. Revolusi Karakter Bangsa Menurut Pemikiran fv1. Soeparno. Kebijakan, Strategi, dan Operasionalisasi Berdasarkan Model Kesisteman. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Harris, Marvin. 1968. The Rise of Anthropological Theory. New York, Hagerrstown, San Francisco, London: Harper & Row Publishers.

Hendri. 2013. Pendidikan Karakter Berbasis Dongeng. Bandung : Simbiosa Rekatama Media.

Koentjaraningrat. 1990. Pengantar 1/mu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.

Kotter, J.P dan Heskett. J. 1992. Corporate Culture and Performance. New York: The Free Press.

Latief, Yudi. 2009. fvfenyemai Karakter Bangsa. Budaya Kebangkitan Berbasis Kesastraan. Jakarta : PT Kompas Media Nusantara.

  1. Mendidik Untuk Membentuk Karakter. Bagaimana
    Sekolah Dapat Mengajarkan Sikap Hormat Dan Tanggung Jawab. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Mead, Margareth. 1962. "National Cha racter" dalam Anthropology Today Selections. Chi cago: The University of Chicago Press.

Mu 'in, Fatchul. 2011. Pendidikan Karakter Konstruksi Teoritik dan Praktik. Urgensi Pendidikan Progresif dan Revitalisasi Peron Guru dan Orangtua. Yogyakarta: Ar Ruzz Media.

Mudjijono. 2005. Sarkem. Reproduksi Sosial Pelacuran. Yogyakarta: Gadjahmada University Press.

Nucci, Larry P. dan Narvaes. D. 2014. Handbook Pendidikan Moral dan Karakter. Diterjemahkan oleh Imam Baehaq ie dan Derta Sri Widowatie. Bandung: Penerbit Nusa Media.

Takdir, Mohammad. 2014. Gagalnya Pendidikan Karakter. Ana/isis dan Solusi Pengendalian Karakter Emas Anak Didik. Yogyakarta : Ar Ruzz Media.

E p i I o g ... [169

'Ali Akbar [email protected]

Kebudayaan bersifat khas dan unik. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tidak ada kebudayaan di suatu tempat yang sama persis dengan kebudayaan di tempat lain. Pernyataan tersebut juga menyiratkan bahwa kebudayaan di suatu waktu tidak persis sama dengan kebudayan di waktu yang berbeda. Oleh karena itu, perlu dilakukan penyesuaian agar pendidikan karakter dengan menggunakan kebudayaan di suatu tempat dapat dilakukan di tempat dan waktu yang berbeda.

Meskipun sudah disesuaikan sedemikian rupa, dalam praktiknya, pendidikan karakter mengalami sedikitnya tiga kendala dalam penerapannya. Kendala pertama adalah menyangkut kurikulum sebagai suatu sistem. Dalam pengertian ini apakah kurikulum mengenai pendidikan karakter tetap diberlakukan, mengalami revisi, atau di belakangan tahun dapat berganti. Kendala kedua adalah mengenai materi yang diajarkan. Mengingat keterbatasan waktu atau alokasi waktu yang tersedia, maka hanya materi tertentu yang dapat diajarkan, sehingga terdapat materi yang tidak mendapat kesempatan untuk diajarkan. Kendala ketiga adalah menyangkut pengajarnya. Mengingat beban pengajar yang cukup tinggi padahal pendidikan karakter juga menghendaki pengkhususan atau mengarah kepada spesialisasi maka pengajar umumnya hanya dapat memberikan semacam pengantar atau pengenalan.

Budaya ...

Dalam praktiknya, kebudayaan juga dapat mengalami tiga kondisi yang serupa dengan pendidikan karakter, namun dari kaca mata kebudayaan tidak serta merta dapat dilihat sebagai tiga kendala. Dari kaca mata kebudayaan, proses belajar mengajar adalah proses kehidupan, sehingga sebagai suatu sistem maka sistem kehidupan lebih besar dibandingkan sistem pendidikan. Materi kehidupan tidak terstruktur, tetapi individu dapat mengalami materi atau kasus kehidupan yang berbeda situasi dan kondisinya sesuai dengan hakikat kehidupan yang tidak dapat dipastikan. Pengajar bukan guru atau dosen melainkan masyarakat dalam negeri atau masyarakat luar negeri. Dalam hal ini masyarakat juga dapat berarti kalangan umum maupun kalangan spesialis yang menguasai dan memahami hal tertentu secara spesifik.

Kendala-kendala tersebut sesungguhnya dapat diminimalisir tetapi tidak dapat dinihilkan mengingat hakikat pendidikan karakter dan kebudayaan juga berbeda. Sebagai pembahasan lebih lanjut dapat disampaikan bahwa kendala dari pendidikan karakter adalah ketika pendidikan karakter dijadikan sesuatu yang terstruktur maka memiliki kelebihan dari terstruktur yakni identik dengan baku dan kaku. Kondisi tersebut cenderung bertolak belakang dengan kebudayaan yang identik dengan lentur dan dinamis. Dalam konteks tersebut di atas, terlihat jelas bahwa ketidakajegan pengertian dan ruang lingkup kebudayaan justru menjadi kekuatan dari kebudayaan. Kebudayaan bersifat cair bahkan seperti udara yang dapat mengalir dengan luwes dan menyebar ke segala arah menyentuh berbagai sendi kehidupan dan berbagai kalangan masyarakat.

Dalam praktiknya, mengingat ketiga kendala tersebut di atas, diharapkan para pengambil kebijakan dan segenap masyarakat dapat lebih menghargai kebudayaan khususnya kebudayaan lokal atau kebudayaan setempat. Adapun strategi kebudayaan yang diterapkan untuk merealisasikan esensi pendidikan karakter dapat dilakukan minimal dengan tiga turunan strategi. Ketiganya adalah (1) Men- dokumentasikan kebudayaan di masing-masing lokasi; (2) Mengambil berbagai nilai luhur dari kebudayaan setempat. (3) Mengajarkan nilai luhur sesuai dengan mekanisme keseharian kehidupan masyarakat setempat.

Ali Akbar

Ali Akbar lahir pada tanggal 27 November 1975. !a meraih gelar doktor arkeologi di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia pada tahun 2008. Berbagai penulisan, penelitian, dan penyajian ilmiah telah dilakukannya baik di dalam maupun di luar negeri seperti di Vietnam, Malaysia, Singapura, India, Belgia, Belanda, Jerman, Perancis, dan

  • Spanyol.
    Beberapa penghargaan telah diperolehnya selama menekuni Ilmu Arkeologi pada khususnya dan Bidang Sos ia i- Budaya pada umumnya. Pada tahun 2006 terpilih sebagai

Peneliti Muda Indonesia Terba ik di Bidang Sosial dan Budaya yang dianugerahkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Pada tahun 2007 terpilih sebagai mahasiswa S3 Arkeologi UI dengan Nilai Indeks Prestasi Tertinggi. Pada tahun 2007 terpilih menjadi penerima beasiswa dari Yaya san Sumber Daya Manusia dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (The Habibie Center). Pada tahun 2008 memperoleh beasiswa dari Universitas Indonesia-Sasakawa (The Nippon Foundation). Pada ta hun 2009, Universitas Indonesia memilihnya sebagai Peneliti Muda Terbai k Rumpun Ilmu Sosial Humaniora. Pada tahun 2010 dan 2011 menjadi Dosen Inti Penelitian UI. Pada tahun 2011 memperoleh penghargaan dari UI sebagai Penul is Monograf Riset, Buku Teks/Ajar. Ali Akbar dalam kesehariannya berdinas sebagai dosen atau staf pengajar di Depa rtemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

PENULIS

Damardjati Kun Marjanto

Lahir di Yogyakarta, 4 Maret 1969. Mengenyam pendidikan terakhir 51 di Jurusan Antropologi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Pernah bekerja sebagai peneliti di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Denpasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2002-2006. Sekarang bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Banyak melakukan penelitian di bidang kebudayaan dan aktif menulis artikel di jurnal ilmiah, diantaranya adalah Sawineh Sadu: Gerakan Filantropi yang Bersumber pada Kearifan Loka/, Potensi Budaya Masyarakat Baja Di Pulau Bungin Kabupaten Sumbawa, Kearifan Lokal Penduduk Lereng Gunung Merapi. Makna dan Fungsi Noken do/am Kehidupan Masyarakat Papua.

Siti Dloyana Kusumah

Lahir di Garut dan dibesarkan di Bandung. Menyelesaikan pendidikan terakhir pada Jurusan Antropologi, Fakultas Sastra UNPAD Bandung. Mengikuti pendidikan short term tentang metode penelitian di Jepang, Fillipina, dan studi lingkungan di Vietnam.

Bekerja di Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pernah menjadi Kepala Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (sekarang BPNB) pada periode 1994 hingga 2004. Kini menjadi koordinator peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan, Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pernah mengajar di Jurusan Antropologi FISIP UNPAD, AKPINDO, dan menjadi widyaiswara di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, menjadi peneliti

... [173

untuk The Smithsonian Institute USA untuk kerjasama Kebudayaan Indonesia Amerika (KIAS).

Banyak penelitian yang telah dilakukan, juga menulis sejumlah buku yang telah diterbitkan antara lain: Taretan, Kehidupan Sosial Budaya Orang Madura, Sistem Resiprosikal Penduduk di Desa Penarukan Singaraja Bali, Peron Gonda Perempuan, Lagu-lagu Nina Bobo Sebagai Model Penanaman Nilai Budaya, Ronggeng Gunung Sebuah Kesenian Tradisional di Jawa Barat, Kehidupan Pengrajin Anyaman di Tasikmalaya, Budaya Spiritual, Peron Kapital Sosial Dalam Penguatan Kebudayaan dan Sebagainya.

Selain melakukan penelitian, kini menjadi tim penilai instansi untuk para peneliti di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Budiana Setiawan

Lahir di Yogyakarta, 11 Maret 1970. Menyelesaikan pendidikan S1 di Jurusan Arkeologi, Universitas Gajah Mada, S2 di Jurusan Antropologi Universitas Indonesia, dan sekarang sedang menyelesaikan Program Doktoral di Program Studi Antropologi, FISIP, Universitas Indonesia. Kini bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan bidang kepakaran Antropologi Sosiai -Budaya.

Beberapa publikasi antara lai n; buku berjudul Rumah Tradisional Jawa Masyarakat Petani: Toto Ruang, Pemaknaan, dan Pemanfaatan (2010). Aktif menu lis di beberapa jurnal ilmiah dan artikel di majalah. Beberapa penelitian yang telah dilakukan, adalah Penelitian Kreativitas dan Inovasi Kesenian di Kalangan Generasi Muda (2010), Penelitian Kreativitas dan Inovasi Kesenian sebagai Jembatan Membangun Multikultur (2 011), Penelitian Penelitian Kajian Fungsi dan Peran Lembaga Sensor Film sebagai Bahan Penyusunan Draf RPP Perfilman (2012), dan Penelitian Strategi pengembangan Film (2013).

Pendidikan Budaya ...

liswati

Lahir di Banyuwangi, pada tanggal 11 Juni 1969. Menyelesaikan pendidikan 51 dari IKIP PGRI Malang, Jawa Timur. Kini bekerja sebagai Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 19 Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta. Aktif menu lis artikel di beberapa jurnal ilmiah.

Fitri Ratna lrmalasari

Lahir di Trenggalek, Jawa Timur, 9 Maret 1987. Lulus kuliah Sastra Perancis, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia pada 2009. Melanjutkan studi pascasarjana pada program studi Ilmu Sejarah, FIB Universitas Indonesia dan lulus pada

  1. Dari tahun 2011 hingga 2014, mengajar mata kuliah World Concepts (Sejarah Pemikiran Modern) di Sastra Inggris, Universitas Bina Nusantara, sembari bekerja sebagai penulis
    lepas.

Banyak terlibat dalam sejumlah kegiatan penelitian sejarah, khususnya sejarah kolonial, ketika sedang menyelesaikan studi pascasarjana. Juga aktif menulis artikel sejarah dan kebudayaan dalam beberapa jurnal ilmiah.

RR. Nur Suwarningdyah

Lahir di Jakarta pada tanggal 2 April 1969. Menyelesaikan pendidikan 51 Jurusan Seni Pertunjukan di lSI Yogyakarta. Saat ini sedang menyelesaikan program pascasarjana jurusan pengkajian seni di Institut Kesenian Jakarta. Saat ini, bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Saat ini masih aktif sebagai pelaku seni khususnya seni tari klasik. Banyak terlibat dalam sejumlah kegiatan penelitian di bidang kebudayaan. Juga aktif menu lis buku dan artikel di jurnal ilmiah.

Padang Sumatera Barat, 26 Juli 1976. Merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Menyelesaikan Program Diploma 3 Di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (1998), Lalu melanjutkan pendidikan sarjana S1 di FISIP Universitas Indonesia (Lulus 2003) program studi Komunikasi Massa. Selain menuntut ilmu pada program ekstensi FISIP UI, penulis juga bekerja sebagai pegawai swasta sejak tahun 1997 hingga 200 3. Setelah lulus dari program ekstensi FISIP UI sambil bekerja, penulis memilih mengabdi sebagai dosen luar biasa di kampus swasta. Tahun 2009 Penulis masuk menjadi Pegawai Negeri Sipil pada Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas Rl). Awal tahun 2014 penulis memilih jalur karier jabatan fungsional peneliti dengan bergabung pada Pusat Penelitian Pengembangan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penulis tertarik dengan penelitian pengembangan di bidang kebudayaan khususnya pada Pendidikan Karakter dan Aplikasi Kebudayaan.

Mudjijono

Lahir di Yogyakarta pada tahun 1961. Tahun 1985 Lulus Sarjana Muda Antropologi UGM dengan skripsi Persepsi Tanah Wedikengser di Desa Harjotirto, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul. Tahun 1989 Lu lus S1 Antropologi UGM dengan Skripsi Pelacuran di Pasarkembang. Tahun 1996 menjadi field manager pada penelitian Dietvita dan Morvita di Kecamatan Purwodadi dan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah yang dilakukan Clinic Epidemiology and Biostatistic Unit (CE&BU) kerjasama Universitas Gadjahmada Yogyakarta dan Universitas John Hopkins. Tahun 1999 Lulus S2 Antropologi, Humaniora UGM dengan Thesis Reproduksi Sosial Pelacuran Pasarkembang.

Menulis di majalah pemerintahan dan media masa, mulai awal tahun 2003 sampai 2009 mengisi Kolom Sorotan Kalam, pada Harian Republika. Pengalaman mengikuti, melakukan penelitian, dan menulis (diterbitkan) seperti (subyek) : lingkungan, pengasuhan anak atau keluarga, kesenian, sistem kerja dan jaringan sosial, dan pariwisata. Penelitian lain yang belum lama dilakukan dan sudah diterbitkan antara lain; Interaksi Antar Anak Buah Kapal Di Kawasan Pulau Karimunjawa (Studi Budaya Maritim di Laut Jawa), Penelitian Pasar di

Pendidikan Budaya ...

Pulau Masalembu, Penelitian Kelompok Kerja Nelayan Bugis dan Jawa di Perairan Pulau Jawa, Penelitian Karakter Budaya pada murid tingkat Sekolah Dasar di Surakarta, Esoeso: perhitungan hari buruk dan baik menurut nelayan Bugis di Pulau Karamian, Gaya Seni Batik Proppo, Madura, Kearifal Loka/ Orang Madura: Jamu Untuk Kesehatan lbu dan Anak, dan Karakter Budaya Pada Suku Banjar di Kalimantan Selatan.

PENDIDIKAN KARAKTER

DALAM PERSPEKTIF KEBUDAYAAN

Wacana pendidikan karakter sebetulnya bukan hal baru dalam sistem pendidikan di Indonesia. Namun saat ini, wacana tersebut kembali menguat sebagai tanggapan atas berbagai persoalan bangsa, terutama masalah demoralisasi. Pendidikan karakter itu sendiri tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai budaya. Pendidikan tanpa didasari oleh kebudayaan dapat menghasilkan generasi muda yang mudah tercerabut dari kehidupan masyarakatnya. Pendidikan karakter merupakan bagian penting dari penyerapan nilai-nilai kebudayaan yang baik bagi pembangunan manusia Indonesia. Oleh karena itu, pendidikan karakter menjadi tujuan akhir dari sebuah proses pendidikan. Cakupan pendidikan karakter dalam kerangka kebudayaan dalam bunga rampai ini mencakup tiga hal, yaitu; pertama, pendidikan karakter dalam kerangka kebudayaan yang menyangkut segala sesuatu di dalam sekolah dan jam sekolah dalam menyukseskan pembelajaran di sekolah. Kedua, pendidikan karakter dalam kerangka kebudayaan yang menyangkut segala sesuatu di luar sekolah dan jam sekolah, namun mendukung sistem pendidikan nasional, dan ketiga, gabungan dari keduanya.

ISBN 978-602-221-267-6 PW 9786022212676 PT Gading Inti Prima