Baca PDF (OCR): Jurang

17 halaman · 8 halaman diproses dengan OCR · 5.2 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. “Dipaksa Gila” dibuat oleh
  2. MUAK
  3. PECAHKAN
  4. TERJAL

“Dipaksa Gila” dibuat oleh

Jurang Rifqy Lubis - gitar dan vokal Gilang Ganda Ilalang - Bass Malik Ajay - Drum

Musik Rifqy Lubis

Lirik Gilang Ganda Ilalang

Penyunting Semua instrumen direkam di Plug Records di mixing dan mastering oleh Plug Records

Konten dan Publikasi

Rifqy Lubis

Gilang Ganda Ilalang

Visual

Rifqy Lubis

Gilang Ganda Ilalang

La Al Rasid Sidiq - Artwork Cover

Negara makin hari makin sibuk, aku rasa bukan untuk kesejahteraan rakyatnya. Kita yang tiap hari ditekan terasa keras sekali, semakin menekan sepertinya senang sekali, oh atau itu hobi para petinggi negeri ini?.

Dan, ya Ku rasa zaman Sekarang kayanya nasionalis atau punya rasa bangga pada negara enggak penting – penting banget.

Lebih baik waktumu dipakai untuk menertawai negara sambil menghabiskan kolesom diwarung jamu kesayangan kalian

Ditahun 2021, saat pandemi melanda (lagi) hebat – hebatnya. Saya yang pada saat itu sedang melanjutkan studi di Yogyakarta. Mencoba untuk menuliskan keresahan - keresahan yang selama ini saya pikirkan. Memikirkan orang tua yang saat itu sedang dilanda Covid - 19 dan memikirkan negara yang kian hari kian konyol, Padahal tidak ada gunanya saya memikirkan negara haha. Ya tapi memang betul sih rasanya kita memang harus marah. Dan Saya rasa menulis adalah jawaban yang benar untuk menyelesaikan

Aku rasa bermain musik juga menjadi jawab yang benar. Tapi, siapa juga yang punya waktu untuk bermain musik untuk mahasiswa tua yang selalu diancam cuti oleh bagian keuangan kampus karena selalu telat membayar iuran semesteran kampus? Padahal kami ini donator tetap kampus, seharusnya kampus senang punya donator tetap.

Kesal ? Jelas. Tapi musik pada saat itu menyelamatkan ku terhadap kegaduhan dan kebimbangan yang melanda ku di 2020. Tahun terbobrok yang pernah saya alami, sambil melihat pemerintah dengan kegoblokannya menangani wabah.

Aku merayap seperti Angkatan udara saat melewati halang rintang. Tahun yang benar – benar kita tidak di perbolehkan berdiri dan keluar dari zona terlelah. Rasanya mungkin akan sulit kalau aku tidak berdamai dengan diriku sendiri pada saat itu. Mawas dan sadar diri ternyata penting. Lantas, kenapa aku tetap bermain musik dan menuliskan beberapa lirik untuk Jurang? Jawabanya, aku merasa perlu melakukan kritik terhadap kejanggalan – kejanggalan yang selama ini aku alami, itu akan menjadi suatu hutang bagiku, dan membohongi diri sendiri bila tidak aku kerjakan.

Membuka media sosial, niat untuk menghibur diri, tapi yang aku temukan justru promo – promo apartement dan hotel yang baru dibuka, yang dulunya itu adalah perkampungan orang tua ku semasa kecil, Tragis. Hidup dibawah kapitalisme memang terasa berat dan melelahkan. Kita dipaksa untuk menjual diri hanya untuk sekedar bertahan hidup, kita diperas layaknya kanebo basah. Hanya untuk memenuhi mimpi orang - orang kaya tersebut. Kita dipaksa untuk melumuri badan kita dengan liur orang – orang kaya itu agar mereka bisa membeli Ferrari keluaran baru, floating di canggu, membeli anak harimau untuk kebutuhan konten youtube dan berdansa di malam. senopati setiap

Jangan berharap banyak pada negara untuk perlindungan atau kesejahteraan buruh seperti kita, negara hanya akan melindungi orang - orang kaya tersebut.

Entah bagaimana dengan kalian, tapi aku rasa kegilaan ku sudah diujung tanduk dan kurasa tidak bisa selesai. Selama kita masih dijajah, diperas dan diinjak, tertawa sambil menarik rokok sampoerna yang kalian beli setengah bungkus di warung madura dengan dalam, adalah jawaban yang paling jujur. Itu sewaktu - waktu bisa berubah, sebab kita berhak marah.

Aku melakukan apa saja yang bisa aku lakukan untuk bertahan hidup dan merebut masa depan. "Dipaksa Gila" dan 3 lagu lagi yang akan dikeluarkan oleh Jurang adalah refleksi dari berbagai cara yang kukerjakan, agar aku bisa terus menertawai pemerintah, negara dan aparat - aparatnya.

Gilang Ganda llalang Labuan Bajo, 30 Juni 2022

Lukisan dan sekaligus untuk cover artwork kami ini dibuat oleh La al Rasyid sidiq.

Puluhan ribu liang telah digali Ratusan juta orang menangis perih Puluhan rumah terus dilipat Alat berat akan disewa sampai semua rata

Di zaman apa kita saat ini? Dizaman apa kita saat ini? Dizaman apa kita saat ini? Apakah kita dipaksa gila

Sementara tanya semakin banyak dan tak akan pernah terjawab Dipaksa lupa dengan lemparan gas air mata Dan protes hanya akan menambah daftar pencarian nyawa

MUAK

Tersadar kah kita diambang kebingungan Hidup di negara yang tak tau bagaimana Terasa berat jika menyiasati keadaan Acuh tak acuh main cari aman

Rusak sudah diri kita Habis semua sudah jiwa kita Rusah sudah linimasa Habis semua akal pikiran

Kawu bangga berlindung dibelakang ayat Belaga tengil luar dalam membela yang salah Didalam istana hanya menertawakan kita Dan selamat datang di era kemunduran

MUAKuak

PECAHKAN

Orang lain adalah neraka Dunia maya adalah jalannya Bertempur tanpa bertemu adalah budaya Menuju marah dengan sampah serapah

Pecahkan Pecahkan Pecahkan

Sementara pikiran mu masih saja bulat Makin susah semua terselesaikan Makin sulit di persempit kau yang selalu malu menelan kritik

Pecahkan Pecahkan Pecahkan

Jurang Berjalan menyusuri jalan tak tau
Beban semakin menyiksa Iri dan dengki Mulai menerobos masuk Telinga kanan dan kiri Sampai kapan ini berakhir
2Sampai kapan ini berakhir Otak diperaduan Energi terseok seok dalam pikiran keresahan rasuk diri
Iri dan dengki Mulai menerobos masuk Telinga kanan dan kiri Sampai kapan ini berakhir
Sampai kapan ini berakhir Rayuan orang sekitar Sampai mempengaruhi Denyut nadi separuh
Denyut nadi separuh Engkau dan aku dalam peraduan penuh pelukan
TERJAL 13. Dipaksa Gila, Oleh keadaanEngkau dan aku dalam peraduan penuh pelukan
TERJAL 13. Dipaksa Gila, Oleh keadaanpenuh pelukan

TERJAL

Jurang Jurang 15.