2
satya zine
cuman kumpulan tulisan saya, gak ada deskripsi
apapun tentang zine ini. kalau mau baca ya
monggoh, kalau ga ya bangsat ehehe
A
Siang sengaja mencari dingin “terapi kejantanan” teriak iklan pinggir jalan Aku harus mengambil langkah yang mana? Kaki ku dipinjam ibu untuk ke warung “berapa lama?” Tunggu ya
“mencintai takdir seburuk apapun takdir mu” Ucap pria dari Saxony itu Bagaimana birahi ku? Melongok keluar karena tak punya cukup uang untuk membeli adab
Sisa ayam kemarin malam Membentuk moralitas untuk yang tak pantas Hey! Jembut! Aku di belenggu hati Tapi rasa konak sepanjang hari Idealis tentang cinta tak bisa dibeli Crot! Ejakulasi ku untuk mencintai hari B Aku membakar lilin Aku memecahkan nyala terang Aku membalikan kesunyian Aku memaknai dendam Aku menghidupkan luka Aku menghilangkan cinta Aku mewarnai kematian Aku lupa aku luka
C Hari sudah sore Harapan ditutup rapat rapat Besok adalah hari pembalasan Jangan cabut daftar harapan Hidup memang dijejali tawa orang lain Detik detik perpisahan Menghisap kemaluan sang kekasih Purnama membutakan kedua nya Ejakulasi tanpa ingin Dan senyuman mu aku rayakan dengan secangkir doa
D Banyak sekali rintihan yang tak kunjung di hiraukan Aku merenung sepanjang lorong rumah sakit malam itu Apa enaknya di ranjang tapi tak bersenggama? Ini mungkin bukan kejahatan, dan tuhan lebih butuh kematian Entah lah, aku tak paham
Mengapa berteriak beda? Padahal apatis
Tak peduli darah merendam sudah sampai batang leher
Hanya menjual kabar ditumpukan data
Pola pola kematian disusun serapi mungkin
Benarkah kita adalah mahluk yang sia sia?
E
Aku tertawa renyah
Sedang kau berkeringat karena cinta
Kata mu hati yang bersih akan menumbuhkan
Aku merenung di penghujung shubuh
Aku terdiam pada anak tangga ke 11 Mengapa harus ada waktu? Kata ku Karena bagaimana pun cinta tumbuh karena waktu, begitu pun kamu
Dia menjawab Dan aku bodoh di pertengahan nyawa Hari mungkin memang harus terus berjalan Dan malam adalah hutang Telan bulat bulat November mu Tambah bunga membuat ku berlarian
Karena sesat membuahkan temu Dan kita tak pernah benar benar menyukai terang Aku kunang kunang yang nyala nya hanya setengah Lalu dengan kesepian lah itu menyala terang
Tapi malam hanya menciptakan panggung sementara
Setelah nya kau harus gelap kembali
Di titik mana kita harus berhenti?
F Desahan paing merdu dari ufuk timur Menyambut mu itu jadwal rutin Melankolia di ujung pelabuhan Dan kita terjeda pada titik 20
Rokok ku patah Aku menghisap kenyataan Tulang rusuk di rasuki rasa benci Dan aku bersabda atas kejora yang mengiringi kita berkasih
Dongeng belum usai Darah dan nanah masih sanggup menemani Panggung kita beratapkan perjuangan Hari hari menghadapi goresan Dan rima ini kurancang diatas dekapan Bahwasanya kita bukan untuk kehilangan Ikatan kita adalah kebenaran
G
Seorang anak kehilangan buku harian nya
Diujung lampu merah
Seorang ayah rela meninggalkan harga diri nya demi sebuah pensil warna
Sang kekasih menghisap luka diujung pesan Dan kita benar benar harus telanjang Meski hasil mengambang
Daun kering dijemput kemusnahan Kebahagiaan dibatasi kehadiran Dan kita menggantung kata maaf Ibu tak tidur meski ingin selingkuhi purnama Dan kita benar benar telanjang Meski telah mengambang H “glek” suara rindu yang ditenggak Ingin terus merayap pada kebenaran Aku teriak “aduh” kau berbalas “ahh” Bagaimana kabar vagina mu? Semoga kepalan nafsu tersalurkan
Jauh sebelum “crot” adalah perjumpaan
Mengisi ruang hampa dengan cinta yang sederhana
Kecelakaan kita adalah matahari
Meski berbalas terik lalu mati
I Jika esok kesendirian adalah jawaban Biarkan aku tunggal dengan ikhlas Tanpa atau dengan hilang Fatamorgana tiap sapaan
Jika esok aku temukan kehangatan Biarkan aku menikmatinya tanpa baying mu Sengaja atau terhapus dengan sendiri nya Aku ingin tidur tanpa merengek kesakitan
Tentang keberadaan Kita akan benar benar buta tentang itu Membawa sekarung rindu Membawa nya ke pelataran masing masing Dan membakarnya tanpa perlu ketakutan
Menyusun pola Ruang hampa Pena kehabisan tinta nya Rasa asing kita menjadi terbiasa
J
Pesan seporsi cinta dibayar birahi Tas ku tak sanggup memuat Pijakan lebur oleh air mata Kapan lagi hati terbuka? Ayo lah, sebelum kita berdua mati Seekor cicak diatas piagam Anjing kumal juga ingin cinta Agar perjalanan tetap berlanjut Ingin tapi cemas Ejakulasi di tengah Koran Setelah semua kasih sayang tuhan Apakah boleh tambah lagi? Aku ingin yang itu, Yang vagina nya santun sekali
Tetapi rasa lelah manusiawi
Ibu ku membantu bangkit
Tentang segala hal yang semakin keji
Apakah esok bisa ejakulasi lagi?
K
Jam berdetik namun kosong
Kita dirundung luka
Aku menari diatas nyala api
Dan meninggalkan dendam di pelupuk mata
Suara tawa dirumah kayu pukul 2 pagi Hey itu manunia lain sedang dirundung luka Tidak peduli sebab banyak jari sedang menjamah Erupsi sperma di vagina wanita gika Yah, tuhan saja lupa diri nya
Seharga 2 liter bensin Sempat rajin menyembah Lalu ditukar dengan ucapan dan penis yang paling manis Hey berkaca lah, diwajah mu terlukis beban L Memaknai kehilangan di sebatang rokok Aku tamat pada api yang dipaksa padam Sedang kau bersenandung diujung maghrib
Kita pejalan tak pernah kenal rute
Aku merasakan sentuhan angin di belahan hutan
Kau mencumbui cahaya matahari di kamar remang remang
Menjemur kenangan diatas loteng
Majas-majas di selundupkan
Aku ingin memerdekakan mu
Tapi kau membungkam kemerdekaan mu sendiri
r a m p u n g
nanti lanjut ke 3,4,5 kalau ga lupa
satya zine