1996
A 0. 448 f 0.30
1293 HIKAJAT
SOELTAN ATJÉH MARHOEM
(SOELTAN ISKANDAR MOEDA)
DIMELAJOEKAN
DARI BAHASA ATJÉH
OLEH
T.MOHAMAD SABIL
(SALAL-POESTANA)
BATAVIA-CENTRUM BALAI POESTAKA
077 BIBLIOTHEEK KITLV
0128 0997
Serie No. 448
Wlin
hh
HIKAJAT
SOELTAN ATJÉH MARHOEM
(SOELTAN ISKANDAR MOEDA)
DIMELAJOEKAN
DARI BAHASA ATJÉH
OLEH
T. MOHAMAD SABIL
S96750 VOOR
28.2-1996
BALAI POESTAKA- 1932 —BATAVIA-CENTRUM
Hak pengarang ditoentoet menoeroet pasal 11 dari Oendang- oendang jang termaktoeb dalam Staatsblad 1912 No. 600
I. DOEA BELAS ORANG PAHLAWAN NEGERI
Alkissah maka kata sahiboelhikajat, pada masa Soeltan Iskandar Moeda bertachta keradjaan dinegeri Atjéh, maka pada masa itoe bertambah-tambahlah mamoer dan masjhoer negeri itoe, karena baginda itoe sangat ‘arif boediman lagi bidjaksana mendjalankan pe- rintah negeri; dan moerah dermawan lagi kasih akan sekalian fakir dan miskin serta taat kepada Allah dan Rasoel; seka an menteri dan hoeloebalangpoen hormat dan kasih akan bagind. Adapoen kemamoeran negeri Atjéh serta ke'adilan baginda itoe termasjhoerlah kelain-lain benoea, hingga bertambah-tambah ramai- lah pekan negeri Atjéh didatangi oléh bermatjam-matjam bangsa dan berniaga disitoe. Dalam teloek Atjéhpoen tiada poela soenji. Berpoeloeh-poeloeh kapal dan perahoe keloear masoek sehari-hari dipelaboehannja, membawa berbagai djenis perdagangan serta mem- beli kehasilan tanah Atjéh, sebagai: lada, pinang dan sebagainja. Arkian, pada soeatoe hari teringatkan baginda hendak mengirim soerat oesjoer 1) negeri Atjéh kepada Soeltan Roem (soeltan benoea Toerki). Maka bagindapoen hendak bermoesjawarat dengan sekalian menteri dan hoeloebalang, laloe dititahkan baginda masoek menghadap. Setelah hadir sekalian orang besar-besar, maka bagindapoen ber- sabda: ,,Hai segala menterikoe serta hoeloebalang sekalian, bahwa kami ada bertjita-tjita dalam hati hendak mengirim 'oesjoer negeri Atjéh kepada Soeltan Roem, karena baginda itoe dan keradjaan Roem seboeah keradjaan Islam jang terbesar diatas doenia ini; serta baginda itoelah jang mendjaga negeri Mekah dan memeli- hara Baitoe'llah jang moelia itoe; sebab itoe kami pikir: patoet sekali kami bersahabat dengan baginda itoe dan membantoe be- landja dari pada 'oesjoer negeri kami ini, soepaja bertambah koe- atlah baginda mendjaga Tanah Soetji serta Baitoe'llah itoe. Ba- gaimana pikiran toean²? Adakah semoepakat dengan maksoed kami itoe?"
Maka sembah seorang menteri: Ampoen toeankoe doeli sjah
'alam, adapoen pada hémat patik, patjal toeankoe sekalian, bahwa tjita-tjita serta maksoed doeli toeankoe jang demikian itoe, sangat
1) oepeti
benar daņ patoet; sekalipoen keradjaan Atjéh ini boekan seboeah negeri jang taloek kepada keradjaan Roem, tetapi karena Soeltan Roem jang memelihara dan mendjaga Tanah Soetji, patoetlah toe- ankoe bersahabat dengan baginda soeltan itoe. Soenggoehpoen be- gitoe barang ma'loem kiranja kebawah doeli." Hatta setelah soedah bermoesjawarat, maka bagindapoen menitahkan menjiapkan tiga boeah kapal oentoek memoeatkan bingkisan jang hendak dikirim kebenoea Roem itoe. Adapoen kapal jang pertama baginda titahkan mengisi penoeh dengan padi; kapal jang kedoea dengan beras dan kapal jang ketiga dengan lada (meritja). Kemoedian baginda menitahkan Katiboel Moeloek akan menga- rangkan sepoetjoek soerat didalam bahasa Arab oentoek Soeltan negeri Roem, jang maksoednja bahwa baginda hendak memperhoe- boengkan persahabatan dengan Soeltan Roem itoe. Setelah soerat itoe selesai ditoelis, bagindapoen memboeboehkan tjap keradjaan; dan soerat itoepoen dilipat serta diberi bersampoel kain koening, 'alamat kemoeliaan dan kebesaran, laloe diserahkan kepada oetoesan. Akan mengantar ketiga boeah kapal itoe serta isinja kepada Soeltan Roem, adalah berdiri soeatoe oetoesan dari pada beberapa orang besar-besar keradjaan Atjéh. Hatta setelah moestaid kelengkapan itoe, berangkatlah oetoesan itoe dengan ketiga boeah kapal terseboet dari teloek Atjéh, berlajar mengharoeng laoet jang loeas itoe siang malam dengan tidak ber- hentinja, menoedjoe benoea Roem. Maka bersoeka-soekaanlah awak- awak kapal itoe dengan dilamboeng-lamboengkan gelombang serta ditioep oléh angin laoet jang besar. Arkian ditjeriterakan oléh jang empoenja tjeritera ini, bahwa nachoda dan moe'allim jang mendjalankan kapal-kapal itoe beloem lagi biasa berlajar kenegeri jang djaoeh itoe. Oléh sebab itoe tiada- lah diketahoeinja laoetan mana jang hendak dilajari dan toedjoean mana jang akan ditoeroet, soepaja sampai kebenoea Roem itoe. Maka berlajarlah kapal² itoe sebagai orang jang tiada bertoe- djoean, dibawa oléh angin dan haroes dalam laoetan jang besar itoe. Habis 'akal tawakkallah meréka itoe, serta menjerahkan nasib kepada Allah soebhanahoe wataala, berlajar dari seboeah negeri
keseboeah negeri, dari seboeah bandar keseboeah bandar; tiap² teloek disinggahinja akan menanjakan daérah benoea Roem itoe. Maka dengan takdir Toehan jang esa sesatlah djalan kapalnja itoe, sehingga tiga boelan terapoeng-apoeng ditengah laoet. Maka perbekalan jang dibawa oentoek makanan awak-awak kapal serta pengantarnja, habislah soedah, termakan oléh meréka itoe. Maka poetoeslah ‘akal dan pengharapan meréka karena ta' ada makanan lagi oentoek dimakannja. Sjahdan oetoesan itoepoen bermoesjawaratlah, hendak mengambil beras jang akan dipersembahkan kepada Soeltan Roem itoe oentoek makanan meréka. Setelah soedah meréka bermoesjawarat, laloe meréka ambillah beras itoe, sekira-kira tjoekoep oentoek sehari-hari soepaja dapat menolak bahaja mati kelaparan ditengah- tengah laoet itoe. Adapoen pelajaran oetoesan itoe mengambil témpoh jang sangat lama. Kira-kira tiga tahoen baroelah sampai ketiga boeah kapal itoe kebenoea Roem. Akan beras dan padi kedoea kapal itoepoen habislah soedah termakan oléh awak kapal, dan lada jang sekapal itoe habis terdjoeal dengan berdikit-dikit, oentoek pembeli asam garam dan sebagainja, selama pelajaran jang tiga tahoen itoe. Hatta setelah soedah kapal-kapal itoe datang kebenoea Roem, serta masoek keteloek negeri itoe, maka timboellah ketakoetan jang amat sangat pada oetoesan itoe, akan kena moerka dan hoekoeman dari Soeltan Roem, karena bingkisan jang dikirim oléh Soeltan Atjéh itoe soedah habis termakan oléhnja. Maka menjerahkan di- rilah oetoesan itoe mana-mana nasib jang akan dikehendaki oléh Allah soebhanahoe wataala atas dirinja. Setelah itoe maka diperiksalah oléh oetoesan itoe isi ketiga boeah kapal itoe; jang kedapatan lagi hanja setjoepak lada. Maka di- boengkoesnjalah lada itoe baik2 oentoek dipersembahkan kepada Soeltan Roem. Adapoen akan kedatangan kapal-kapal serta oetoesan Atjéh itoe diberi tahoekan oranglah kepada Soeltan Roem. Oléh baginda dititahkanlah menjamboet oetoesan itoe serta diper- silakan masoek kedalam negeri. Maka dibawa oranglah oetoesan itoe menghadap baginda soeltan. Oléh baginda diterima dengan manis boedi serta dengan tegoernja seraja menanjakan kedatang- annja itoe.
Maka sembah kepala oetoesan itoe: Ampoen, toeankoe, bahwa patik sekalian ini datang dari poelau Atjéh, jang bernama poelau Radja atau poelau Raga, dioetoes oléh seri baginda Soeltan Iskandar Moeda, soeltan dari keradja- an Atjéh akan mempersembahkan bingkisan dalam tiga boeah kapal, jaïtoe beras, padi dan lada serta sepoetjoek soerat kebawah doeli toeankoe," soerat itoepoen dipersembahkannjalah kepada ba~ ginda, laloe disamboet oléh baginda dengan beberapa kemoeliaan. Maka bagi da menitahkan membatja soerat itoe dihadapan sekalian mente:: hoeloebalang. Setelah itoe bagindapoen memoedji-moedji kebaikan hati Soeltan Atjéh, seraja menanjakan bingkisan jang dibawa dengan ketiga boeah kapal itoe. Maka kepala oetoesan itoepoen berdatang sembah: Ampoen toeankoe doeli sjah 'alam, harap diampoen akan patik sekalian, patjal toeankoe jang hina ini, jang telah bersalah kepada Allah dan Rasoel serta doeli toeankoe, karena sekalian bingkisan dari baginda Soeltan Atjéh oentoek persembahan kepada doeli toeankoe, telah habislah termakan oléh patik sekalian, selama dalam perdjalanan jang sangat lama itoe. Adapoen perlajaran patik dari poelau Atjéh kebenoea Roem ini melaloei témpoh tiga tahoen, karena patik tersesat kesegala negeri jang djaoeh²; tetapi dengan berkat serta toeah doeli toeankoe, sampailah djoega patik sekalian menghadap doeli toeankoe. Maka karena kesalahan dan dosa patik jang demikian itoe, réla~ lah patik sekalian menerima serta mendjoendjoeng sepandjang jang dititahkan oléh doeli toeankoe. Hanjalah ini sisanja lada dari Atjéh, jang dapat patik persembahkan kebawah doeli toeankoe." Soeltanpoen menerima lada setjoepak itoe dengan segala kemoeliaan serta memoedji-moedji kesetiaan dan ketoeloesan hati oetoesan Atjéh itoe mendjoendjoeng titah radjanja. Kemoedian bagindapoen bersabda poela: Hai oetoesan, kami mengoetjap beriboe sjoekoer kepada Allah atas keselamatan jang telah diberikannja kepada kamoe sekalian selama dalam pelajaran jang sedjaoeh ini, serta kami mengatakan djoega: sekalian kamoe tiada bersalah. Akan lada setjoepak, jang kamoe persembahkan kepada kami ini, kamipoen menerima dengan kebesaran hati serta menghargakan sebagai sepenoehnja isi ketiga boeah kapal kiriman sahabat kami Soeltan Atjéh itoe."
Akan oetoesan Atjéh itoepoen sangatlah soeka hatinja, karena terlepas dari pada bala moerka soeltan. Kemoedian soeltan memberi persalinan kepada oetoesan itoe, masing-masing menoeroet tarafnja, diberi poela tempat serta makan minoem. Maka beristirahatlah oetoesan Atjéh itoe didalam negeri Roem sekadar menanti titah soeltan, karena baginda itoe hendak mengirim balasan soerat kepada Soeltan Atjéh. Setelah antara berapa lama, maka soeltanpoen bermoepakatlah dengan menteri hoeloebalang, hendak membalas soerat Soeltan Atjéh serta mengirim tanda persahabatan. Setelah soedah, laloe baginda menitahkan menjediakan sepoetjoek meriam, jang dinamaï oléh baginda ,Lada setjoepak"; nama itoe adalah kiasan dari lada setjoepak jang dibawa oléh oetoesan itoe kepada baginda; dan lagi soeltan mengirim doea belas orang pahlawan jang koeat lagi pandai dalam pekerdjaan pertoekangan dan pandai memboeat meriam, bedil dan pelbagai perkakas perang, soepaja Soeltan Atjéh dapat menjoeroeh perboeat segala djenis perkakas oentoek kekoeatan bala tentera serta kota dan mahligai, Oléh baginda diiringi poela bingkisan itoe dengan sepoetjoek soerat jang tertoetoep rapat; didalamnja terseboet chabar rahsia. tentang kedoea belas pahlawan itoe. Setelah siap semoeanja dengan perbekalan, maka pada hari jang baik bertolaklah ketiga boeah kapal Atjéh itoe dari benoea Roem menoedjoe kepoelau Atjéh, membawa kedoea belas orang pahlawan dan sepoetjoek meriam itoe. Maka dengan tiada marabahaja soeatoepoen, dalam témpoh tiga boelan, sampailah oetoesan itoe dipoelau Atjéh dengan selamatnja, laloe berlaboeh didalam te- loek. Akan kedatangan kapal itoe serta bingkisan dari Soeltan Roem itoe diberi tahoekan oranglah kepada baginda. Oléh baginda di- soeroeh samboetlah dengan oepatjara dan kehormatan. Maka ber- boenjilah meriam diatas kota, laloe disamboet bertaloe-taloe oléh meriam dikapal. Djamoe² itoepoen naiklah kedarat serta dipersila- kan kedalam negeri, laloe kedalam kota, teroes masoek menghadap soeltan. Maka oléh oetoesan itoe dipersembahkanlah bingkisan serta soe-
rat dari Soeltan Roem itoe, laloe diterima oléh baginda dengan kemoeliaan serta memoedji-moedji kepada Soeltan Roem. Sjahdan bagindapoen menitahkan memberi persalinan kepada pahlawan-pahlawan itoe serta tempat tinggalnja. Maka akan titah soeltan itoepoen dilakoekan oranglah. Maka pahlawan doea be- las orang itoepoen tetaplah didalam negeri Atjéh. Hatta setelah soedah beberapa hari pahlawan-pahlawan itoe beristirahat dalam negeri Atjéh, maka bagindapoen menitahkan meréka bekerdja memboeat kota dalam serta mahligai dan sebagainja. Titah baginda itoepoen segeralah dilakoekan oléh pahlawan-pahlawan itoe dengan beratoes-ratoes orang negeri; ada jang membelah karang dan membakar karang itoe, didjadikan kapoer oentoek pengikat kota radja. Orang bekerdja siang dan ma- lam tiada berhentinja, hingga dalam témpoh setahoen soedahlah seboeah kota radja jang besar serta loeas dengan bagoes dan te- goeh boeatannja, dari pada batoe jang dilaboer poetih, berwarna sebagai pérak dan diperboeatnja poela doea boeah teratak, jang masing² boléh didjalani oentoek pengawal radja berkawal. Pada keempat pendjoeroe kota itoe didirikan mertjoe jang indah2, tempat meriam pengawal; pintoe kota diboeatnja doea boeah, seboeah di- moeka dan seboeah dibelakang dan diatas pintoe itoe ada poela mertjoenja masing-masing; tetapi mertjoe dipintoe raja itoelah jang terlebih bagoes dan indah. Kota pengawal dan pendjaga radja jang diloearpoen soedah siap poela; terboeat dari pada batoe serta dengan tegoehnja. Kroeeng (soengai) jang diloear kota digali dan di- alirkan airnja kedalam tempat permandian dan oentoek keperloean istana; tampak bagoesnja. Diantara kedoea tepi kroeeng itoe diikat (ditoerap) dengan batoe; seberang-menjeberang saloeran itoe didirikan mertjoe-mertjoe atau balai-balai dari batoe tempat persiram- an, tempat berhias dan tempat bertjoekoer serta tempat memantjing oentoek soeltan dan ahli istana; dan diperboeat poela seboeah goenoengan jang beroepa sebagai boekit kapoer bertingkat-tingkat; tingginja sebagai seboeah boekit jang sederhana dan diberi ber- tangga sekaliannja, berpoetar-poetar bila dinaiki. Goenoengan itoe ialah tempat permaisoeri soeltan bersoeka-soeka atau tempat me- mandang, djika ingin hendak melihat sekeliling Atjéh dengan pe- mandangan jang terang. Seboeah istana jang indah serta mahligai sekelilingnja, didiri-
kan dengan beratoeran serta rapi dan bagoes bangoennja, tjoekoep poela dengan singgasana serta balai penghadapan, sebandjar dari
tiang mahligai itoe, berbarisan didalam kroeeng jang terikat rapi itoe; ta' oesah diseboet lagi bahwa disitoe mendjadi soeatoe peman- dangan jang indah dan permai. Akan mesdjid rajapoen terdirilah poela dari pada batoe dengan besar dan loeas, tempat segala rajat berboeat ‘ibadat dengan tiada soenji siang dan malam. Pekan dan mideuen (médan, tanah lapang) diadakan djoega di- loear kota, tempat rajat berdjoeal beli atau bersoeka~soekaan. Ma- ka ramailah pekan Atjéh, siang malam tiada berbéda. Kemoedian baginda menitahkan memboeat sekalian perkakas
perang dari pada meriam, bedil serta obat pasangnja. Akan titah
soeltan itoepoen dilakoekanlah oléh pahlawan Roem dengan ber- soenggoeh-soenggoeh. Dalam témpoh setahoen siaplah meriam-meriam besar ketjil, bedil senapang serta obat dan peloeroenja. Pe- loeroe dan obat bedil ditaroeh dalam beratoes-ratoes goedang tempat persimpanan. Meriam-meriam diatoerlah pada tiap-tiap pen- djoeroe sekeliling kota, meriam pengawal kota dan diloearpoen, dimana jang perloe menoeroet kehendak radja. Walhasil oentoek kekoeatan bala tentera keradjaan tjoekoep- lah tersedia. Adapoen soeltan sangat kasih sajang akan pahlawan-pahlawan Roem itoe, karena pandainja; tetapi didalam soerat Soeltan Roem soedah diamanatkan, menjoeroeh boenoeh pahlawan-pahlawan itoe, kalau meréka soedah selesai mengerdjakan segala jang perloe oentoek keradjaan, karena dalam perasat Soeltan Roem, pahlawan-pahlawan itoe akan memboeat hoeroe-hara dan meroesakkan keradjaan Atjéh kelak. Akan titah Soeltan Roem itoe masih enggan djoega baginda me- lakoekan, karena kasih sajangnja kepada pahlawan-pahlawan itoe; tapi dari sehari kesehari terlihat djoega kepada baginda kelakoean meréka itoe jang tiada senonoh dan nakal. Keamanan dalam pekan Atjéhpoen moelaï terganggoe oléh ke- djahatan pahlawan-pahlawan Roem itoe; banjak barang dagangan orang jang diambilnja dengan tiada membajar harganja dan ada poela orangnja jang disiksa atau disakitinja; begitoelah makin sehari makin bertambah hoeroe-hara. Oléh baginda dibajar sadja segala
harga makanan atau dagangan itoe kepada jang poenja milik. Pi- hak ra'jat negeri sangatlah takoet akan pahlawan² itoe; apa sa-
dja diperboeatnja, tiadalah ditegahnja, karena pahlawan itoe koeat
perkasa lagi disajangi sangat oléh soeltan.
Ketjongkakan pahlawan itoe bertambah-tambah dari sehari ke- sehari, hingga kepada orang besar-besar, menteri hoeloebalang
jang disajangi bagindapoen, tidak dihiraukannja. Bila ditegoer oléh meréka, pahlawan-pahlawan itoe melawan dan diadjaknja meréka
berkelahi atau dihinakannja. Achirnja kepada baginda sendiripoen pahlawan-pahlawan itoe tidak berapa indah dan takoetnja lagi, karena soeltan banjak memberi hati pada meréka itoe. Maka soeltanpoen bersoesah hati, kalau-kalau pahlawan-pahlawan memboeat hoeroe-hara lebih besar, sebagai perasaan soeltan Roem itoe. Hatta soeltanpoen bermoesjawaratlah dengan menteri hoeloebalang serta orang besar-besar, akan mentjahari soeatoe moeslihat oentoek membinasakan pahlawan-pahlawan itoe, soepaja tidak mendjadi hoeroe-hara jang terlebih hébat, karena bagindapoen telah menaroeh hati chawatir akan kedjadian hal itoe. Setelah bermoepakat maka dapatlah soeatoe tipoe moeslihat jang tjerdik, oentoek membinasakan pahlawan itoe sekali goes. Kalakian bagindapoen memberi perintah mengoempoelkan rajat pada soeatoe hari jang telah ditetapkan, disoeatoe tempat jang di- oendjoekkan dengan rahsia, jani pada seboeah lapangan lembah boekit jang berbatoe-batoe. Pada hari itoe soeltan akan menitahkan kedoea belas orang pahlawan itoe bekerdja. Hatta pada hari
jang soedah diperintahkan itoe, rajat Atjéhpoen berkoempoellah
serta bersemboenji; laloe soeltan menitahkan kedoea belas orang
pahlawan itoe menggali soeatoe tambang dilembah seboeah goe- noeng. Sabda soeltan: ,Didalam tanah itoe, kira-kira dalamnja lima belas depa, terdapat barang logam jang baik oentoek diper- boeat perkakas perang dan berharga mahal bila diperdagangkan." Akan titah baginda itoe dikerdjakanlah oléh pahlawan doea belas itoe dengan bersoenggoeh-soenggoeh serta koeatnja; beberapa batoe jang besar-besar dilempar-lemparkannja kedarat, hingga dalam setengah hari djoega soedah tergali seboeah loebang jang lébar serta dalamnja kira-kira lima belas depa. Sedang pahlawan doea belas orang itoe bekerdja dalam loebang
itoe, maka rajat jang bersemboenji berkeliling tempat itoepoen di- beri perintah melémparkan batoe besar² kedalam loebang itoe. Ma-
ka bereboet-reboetanlah meréka melémparkan batoe2 kedalam loebang itoe, sebagai hoedjan lebat lakoenja, dan gemoeroehlah boe- njinja sebagai soeara meriam, jang disertaï oléh tempik dan ratap
tangis kedoea belas pahlawan jang didalam loebang itoe. Akan kedoea belas pahlawan itoepoen melawanlah dengan melémpar-lém-
parkan batoe-batoe poela kedarat, ketempat rajat Atjéh jang se-
dang siboek itoe. Waktoe itoe terdjadilah peperangan batoe an- tara rajat Atjéh dengan pahlawan² Roem itoe; tetapi karena rajat Atjéh banjak, maka dengan seketika djoea loebang itoepoen telah tertoetoep dengan batoe-batoe, dan kedoea belas orang pahlawan Roem itoepoen matilah terkoeboer didalam loebang itoe. Hatta setelah mati pahlawan-pahlawan itoe semoeanja, maka soeltan serta rajat dalam negeri Atjéhpoen bersenang hatilah karena ta' ada lagi orang memboeat hoeroe-hara. Maka bertambah ramailah pekan Atjéh serta negeri bertambah ma'moer; kota is- tanapoen amanlah. Maka seri Soeltan Iskandar Moedapoen ber- tachtalah dalam negeri Atjéh dengan sentosanja.
II. RADJA DJOHOR DOEA SAUDARA MERAMPAS
PERMAISOERI PAHANG DAN BERHOEKOEM KE ATJEH Alkissah maka terseboetlah tjeritera doea orang radja bersaudara dinegeri Djohor. Akan keradjaan Djohor itoe sangat besar serta mamoer; banjak dari pada hoeloebalangnja jang gagah bera- ni, serta rajatpoen berjoeta-joeta, karena banjak radja-radja jang ta'loek kebawah keradjaan Djohor itoe. Adapoen radja jang toea bernama Radja Radén dan jang moeda bernama Radja Sioedjoed; kedoea radja bersaudara itoe memerin- tah negeri bersama-sama dengan sepakat dan roekoen; tiada per- nah berbantah-bantah atau berselisih; akan tetapi Radja Radén itoe lebih baik hatinja dari pada Radja Sioedjoed. Adapoen kedoea radja itoe sangat garang dan soeka berperang dengan keradjaan-keradjaan lain; semoeanja dapat dikalahkannja, serta didjadikannja daérah taloeknja. Kalau ada diantara radja-radja jang tiada maoe taloek kepadanja, diserangnja negeri itoe,
serta radjanja ditawan atau diboenoehnja. Pada masa itoe radja serta rajat negeri Djohor masih memeloek agama Boeda. Sjahdan pada soeatoe hari bermoefakatlah Radja Sioedjoed dengan Radja Radén hendak memerangi keradjaan negeri Pahang, karena terdengar oléh baginda, bahwa permaisoeri negeri Pahang itoe sangat élok roepanja, melebihi poeteri-poeteri jang lain, baik poen dalam negeri Djohor sendiri. Maka sangatlah beringin hati Radja Sioedjoed hendak mempoenjaï permaisoeri negeri Pahang itoe; maka berkatalah Radja Sioedjoed kepada saudaranja, katanja: Marilah kakanda, kita menjerang keradjaan Pahang, karena koe- dengar akan permaisoeri radja Pahang itoe sangat tjantik. Djika kita beroentoeng, dapat mengalahkan keradjaan Pahang, dan negeri itoe taloek kebawah keradjaan kita, maka poeteri Pahang itoe adinda berikan oentoek isteri kakanda, karena adinda telah banjak mempoenjaï isteri dalam istana." Maka kata Radja Radén: ,Djikalau betoel sebagai kata adinda jang demikian, silakanlah kakanda mengiring adinda; tetapi hen- daklah adinda bersoempah dahoeloe, oentoek menegoehkan djan- dji adinda itoe, soepaja ada soeatoe kekoeatan dan tidak dapat beroebah lagi kelak." Maka Radja Sioedjoedpoen bersoempah mengoeatkan djan- djinja, akan memberikan poeteri Pahang kepada saudaranja. Setelah itoe kedoea radja itoepoen mengerahkan rajat dan bala tenteranja serta pasoekan jang tegoeh dengan segala djenis sen-
djata perang. Tiada beberapa lama siaplah pasoekan keradjaan
Djohor itoe dari pada beriboe-riboe boeah kapal, perahoe tong-
kang, serta rajat hoeloebalang jang tiada terkira-kira banjaknja
dengan alat sendjata jang lengkap. Maka kedoea radja itoepoen berdjalanlah menoedjoe negeri Pahang, diiringkan oléh bala tenteranja. Tiada berapa lamanja sam-
pailah angkatan itoe kepesisir negeri Pahang. Kedatangan bala tentera itoepoen diberi tahoekan oranglah kepada radja; oléh ra-
dja Pahang disoeroeh periksalah kedatangan dan maksoed angkat-
an itoe.
Maka pergilah beberapa oetoesan kekoeala Pahang, menanjakan
kapal jang datang itoe. Oléh Radja Sioedjoed didjawab, bahwa
radja dari keradjaan Djohor dengan angkatan serta bala tenteranja datang itoe, maksoed hendak menjerang keradjaan Pahang,
13 serta hendak didjadikan daérah taloek keradjaan Djohor, seraja menitahkan oetoesan itoe memberi tahoekan hal itoe kepada radja Pahang, maoekah taloek atau tidak? Oetoesan itoepoen kembalilah mempersembahkan kepada ra- djanja atas kedatangan moesoeh itoe. Sjahdan maka radja Pahang- poen takoetlah, karena moesoeh jang datang menjerang itoe dari seboeah keradjaan jang sangat koeat, serta banjak rajat askarnja dan radja Djohor itoepoen termasjhoer gagah perkasa; tetapi radja Pahang hendak melawan djoega dengan sekoeat-koeatnja, oentoek mempertahankan nama keradjaan Pahang. Laloe baginda ber- moesjawarat dengan menteri hoeloebalang serta orang-orang be- sarnja. Setelah itoe bagindapoen menitahkan mengatoerkan pen- djagaan serta mengerahkan ra'jat dalam negeri oentoek bala tentera perang. Dengan seketika djoega berhimpoenlah rajat seka- lian, berdoejoen-doejoen dari segala fihak, berkoempoel dengan siap poela alat sendjatanja; penoeh sesaklah loear dalam, dari pada rajat negeri. Maka radjapoen menitahkan akan membahagi bala tentera itoe atas doea pasoekan; satoe pasoekan jang sekoeat-koeatnja disoeroehnja hilir kekoeala, akan mengisi bénténg-bénténg serta melawan moesoeh jang menjerang negeri. Maka keloearlah rajat jang banjak itoe dengan perkakas perangnja, menoedjoe koeala Pahang tempat bénténg² itoe, serta memperboeat pendjaga- an jang koeat; maka bendéra permoesoehanpoen dinaikanlah ke- atas mertjoe kota. Setelah terlihat oléh radja Djohor, bahwa keradjaan Pahang tidak maoe ta'loek, serta hendak melawan perang, maka radja itoepoen menitahkan bala tenteranja melepaskan meriam serta menémbak bénténg-bénténg negeri Pahang itoe. Maka dibalaslah témbakan itoe oléh laskar Pahang kekapal pasoekan Djohor. Maka terdjadilah peperangan antara bala tentera Djohor dengan bala tentera Pahang. Adapoen peperangan itoe sangat hébatnja, karena kedoea belah pihak sama-sama koeat; tiadalah soenjinja soeara meriam dari kedoea belah pihak menjemboerkan peloeroe setiap hari; asap be- dil dan meriam jang hébat itoepoen menggelapkan warna oedara jang terang. Tatkala itoe Pahang seolah-olah mendoenglah la- koenja. Akan rajat dari kedoea belah pihak banjaklah jang mati dan loeka; lebih² poela pihak bala tentera Djohor. Beratoes-ratoes
14 kapal jang tenggelam dan binasa setiap hari oléh peloeroe meriam orang Pahang; tetapi beriboe poela datang bantoeannja, karena radja Djohor itoe loeas keradjaannja. Maka radja Djohorpoen sangatlah moerka, karena negeri Pahang beloem djoega kalah. Setelah peperangan berdjalan kira-kira lima belas hari, masih koeat djoega orang Pahang mempertahankan kotanja, maka radja Djohorpoen bermoepakatlah kedoeanja, hendak mendarat kepan~ tai negeri Pahang, karena peperangan dilaoet itoe ta' ada kesoe- dahannja dan banjak mengoerbankan ‘askar. Setelah bermoepakat dititahkannjalah menoeroenkan sekotji dan perahoe oentoek bala tentera mendarat. Dengan seketika itoe djoega beratoes-ratoes sekotji dan perahoe didajoengkan orang membawa laskar ketepi dan beriboe-riboe bala tentera mendarat; sebahagian menjerang dan sebahagian lagi mendirikan bénténg atau parit perlindoengan. Dalam setengah hari djoea habislah bala tentera Djohor mendarat. Maka terdjadilah peperangan jang hébat dan dahsjat dan laskar dari kedoea pihak mati dan loekapoen ta' terkira lagi. Akan kedoea radja Djohor itoepoen menjeranglah dengan gagah bera- ninja, diiringkan oléh hoeloebalang serta laskar jang banjak. Karena sangat keras serangan radja Djohor itoe, maka dalam setengah hari sadja kalahlah orang Pahang serta bénténg-bénténgnja didoedoeki oléh orang Djohor. Kemoedian radja Djohor menjerang teroes kedalam negeri. Dalam kota Pahang terdapat sedikit sadja perlawanan dan dengan seketika djoea kota istana Pahang itoepoen djatoehlah kedalam tangan radja Djohor serta radja lari keloear negeri dengan mening- galkan ahli istananja. Radja Sioedjoed itoepoen langsoeng naik kemahligai, tempat permaisoeri radja Pahang jang tinggal dengan dajang-dajang peng- asoehnja. Oléh Radja Sioedjoed ditawanlah toean poeteri itoe serta dibawanja kekapal dengan kesoekaan jang amat sangat. Oléh karena maksoednja telah berhasil, maka kedoea radja itoepoen kembalilah kenegerinja dengan membawa tawanan seorang poeteri jang tjantik dari negeri Pahang. Hatta setelah sampai ke Djohor maka ber'adawatlah kedoea radja itoe, karena Radja Sioedjoed moengkir akan djandjinja; ti- dak maoe baginda memberikan poeteri Pahang itoe kepada sauda-
ra baginda, Radja Radén, menoeroet djandjinja jang telah dikoe- atkannja dengan soempah itoe. Radja Sioedjoedpoen sangat mena- roeh rindoe dan tergila-gila kepada poeteri Pahang jang tjantik molék itoe. Pengaroeh ketjantikan itoelah jang membawa tjedera dan perselisihan diantara kedoea saudara itoe. Moengkir akan djandji, loepa akan soempah, karena tergoda oléh ketjantikan pe~ rempoean dan karena hendak memenoehi hawa nafsoe sendiri. Tetapi saudara baginda itoepoen tidak poela hendak moendoer dari pada meminta poeteri Pahang itoe. Maka terdjadilah perselisihan jang hébat antara kedoea radja itoe, serta koeat memper- tahankan kehendak hatinja masing-masing. Sjahdan bermoepakatlah kedoea radja itoe hendak mentjahari hoekoem atas ‘adawat itoe, oentoek mendapat kepoetoesan jang membawa selesainja perkara itoe, soepaja pertjederaan tidak men- djadi landjoet. Akan maksoed itoe setoedjoelah kedoea radja itoe dan meréka hendak meminta hoekoemkan kepada radja Atjéh, ka~ rena termasjhoerlah soedah keadilan baginda itoe atas menghoe- koemkan seseorang jang meminta hoekoeman kepada baginda. Maka berlajarlah kedoea radja Djohor itoe dengan laskar peng- iringnja, menoedjoe kepoelau Atjéh. Hatta tiada berapa lamanja dalam pelajaran itoe sampailah kedoea radja itoe kepesisir Atjéh, laloe masoek berlaboeh diteloek Atjéh. Akan kedatangan radja Djohor itoepoen dipersembahkan oranglah kepada soeltan; oléh baginda disoeroeh samboetlah kedoea radja itoe dengan kehormatan dan kemoeliaan, serta dipersi- lakan kedalam negeri. Kedoea radja itoepoen masoeklah kedalam negeri Atjéh, laloe dititahkan oléh soeltan memberi tempat kepada kedoeanja seboeah mahligai dengan dajang pengasoehnja serta ma- kan minoem serba djenis santapan jang lazat-lazat. Maka beristi- rahatlah radja-radja Djohor itoe dalam negeri Atjéh. Adapoen Soeltan Atjéh memberi kemormatan jang berlebih-lebih- an kepada kedoea radja itoe, ialah karena maksoed baginda hendak menjoeroeh kedoea radja-radja itoe memeloek agama Islam. Sjahdan setelah tiga hari radja-radja Djohor itoe dalam negeri Atjéh, diterimalah meréka oléh baginda menghadap dibalai peng- hadapan dengan kemoeliaan serta ditegoer dan ditanja oléh baginda kehendak kedoea radja itoe datang kenegeri Atjéh. Maka Radja Radénpoen berdatang sembah: Daulat toeankoe
seri Soeltan, adapoen patik doea bersaudara ini datang dari ne- geri Djohor menghadap doeli toeankoe, adalah maksoed patik kedoea hendak meminta hoekoem kebawah doeli, karena patik ber-doea telah ber'adawat dan berselisih. Oléh sebab itoe soedi apalah kiranja toeankoe memberi soeatoe kepoetoesan, mana jang benar, mana jang salah. Akan hoekoem toeankoe itoe dengan réla patik kedoea menerimanja." Maka sabda soeltan: ,,Kalau kedoea toean soedah réla hati me- nerima hoekoem kami, hendak kami tjoba mendjalankan sedapat- dapatnja; moedah-moedahan terkaboellah kehendak toean itoe dengan izin Allah soebhanahoe wata'ala." Sjahdan soeltanpoen menitahkan Radja Radén mentjeriterakan asal oesoel kedjadian perkara itoe hingga mendjadi perselisihan. Oléh Radja Radénpoen dichabarkanlah kepada baginda dengan teroes terang, dari awal hingga kesoedahannja dan sampai ke Atjéh menghadap baginda itoe. Setelah itoe soeltanpoen berpaling menanja kepada Radja Sioedjoed. Maka djawab Radja Sioedjoed: ,,Sebenarnjalah doeli toeankoe sebagai tjeritera saudara patik itoe, tidak ada salahnja; benar ada djandji, betoel ada soempah, tetapi sekarang patik tidak akan menoeroet lagi kepada djandji itoe. Setelah soeltan mendengar perkataan kedoea pihak itoe terang- lah soedah kepada baginda, bahwa djandji dan soempah ada, serba diakoei poela; tetapi oléh sebelah pihak dimoengkiri akan djan-
dji itoe. Dalam timbangan baginda: pihak jang moengkirlah jang
bersalah dan patoet dikalahkan. Tetapi oléh baginda diberilah tanggoeh tiga hari kepada kedoea radja itoe, soepaja dipikir dahoeloe dengan saksama, kemoedian baroe diberi kepoetoesan. Maka kedoea radja itoepoen berlaloelah
dari balairoeng, kembali kepasanggerahannja. Adapoen soeltan
memikirkan perkara kedoea radja itoe merasa sangat moesjkil me- moetoeskannja, karena Radja Sioedjoed itoe seorang jang sangat keras bantahan lakoenja; tetapi bagindapoen wadjib memberi ke-
poetoesan dengan ‘adil. Dalam pada itoe tjita-tjita bagindapoen
didjalankanlah dengan haloes. Baginda menitahkan salah seorang
menteri jang boediman menanja kepada radja-radja itoe, kalau-
kalau meréka itoe soeka masoek agama Islam. Akan pertanjaan itoe tidaklah dilakoekan dihadapan kedoeanja, hanja seorang demi
seorang; tetapi oléh Radja Sioedjoed itoepoen didjawabnja dengan
kasar djoega serta menghina kepada agama Islam dan kepada soeltanpoen. Akan Radja Radén tidaklah sebagai Radja Sioedjoed itoe; ia mendjawab dengan lemah lemboet serta berpikir dahoeloe. Arkian tanggoeh soeltan jang tiga hari itoepoen sampailah; maka kedoea radja itoepoen masoek poela menghadap dibalai peng- hadapan akan menerima kepoetoesan hoekoem. Maka pada hari itoe, dimoeka persidangan, bagindapoen menjatakan kepoetoesan hoekoemnja, jaïtoe Radja Sioedjoed jang kalah. Akan poeteri Pahang itoepoen diserahkan oléh baginda kepada Radja Radén. Demi Radja Sioedjoed mendengar poetoesan soeltan jang demi- kian itoe, maka sangatlah marah didalam hatinja, laloe mengoen- doerkan diri dari hadapan persidangan pergi keloear kota, langsoeng kekapalnja, laloe poelanglah ia kenegeri Djohor dengan menaroeh dendam, karena poetoes asa akan mendapat poeterl Pahang itoe. Adapoen akan Radja Radén serta poeteri Pahang, tinggallah di Atjéh bersama baginda soeltan; kemoedian dengan hidajat dari pada Toehan, maka radja itoepoen masoek kepada agama Islam dengan réla hati baginda. Maka berboeat ‘ibadatlah radja itoe dengan choesjoenja; ke Djohorpoen tidaklah baginda hendak kem- bali lagi, karena takoet akan saudara baginda. Sjahdan terpikirlah oléh Radja Radén, bahwa poeteri Pahang itoe didapat oléhnja karena kekerasan hoekoem soeltan djoea. Radja Sioedjoed tentoe menaroeh sakit hati dan dendam karena itoe. Ia chawatir achir kelaknja tentoe Radja Sioedjoed akan merampas poeteri itoe lagi dari tangannja dengan kekerasan poela. Sebab itoe ia takoet memelihara poeteri itoe sebagai isterinja. Maka te- taplah dalam hati Radja Radén hendak mempersembahkan poeteri Pahang itoe kepada baginda soeltan, karena pada hématnja soeltan itoelah djoea jang lajak berdjodoh dengan poeteri itoe, karena ba~ ginda soeltan akan dapat melawan kekerasan radja Djohor itoe. Setelah ésok hari masoeklah Radja Radén menghadap baginda soeltan, laloe dipersembahkannja segala hal ihwal akan mendjadi kesoesahan baginja kelak, serta mohon soeltan soedi menerima maksoednja itoe. Maka soeltanpoen mengaboelkan permintaan Ra-Hikajat Soeltan Atjéh marhoem
dja Radén, dan poeteri Pahang itoepoen mendjadilah permaisoeri
kepada Soeltan Atjéh. Hatta maka terpikirlah oléh baginda, bahwa Radja Radén itoe
seorang jang baik hati, lagi soedah memeloek agama Islam, serta
setia kepada baginda, dan ia tidak hendak kembali lagi kenegeri- nja. Maka bertambah-tambahlah kasih sajang baginda akan Radja Radén itoe. Sebab itoe soeltan bermoepakatlah dengan menteri hoeloebalang serta orang-orang besar, hendak menikahkan Radja Radén dengan adinda baginda, seorang poeteri jang tjantik medjelis roepanja, bernama Poeteri Tidjeumpa. Akan maksoed jang baik itoe segera dilakoekan. Setelah moes- ta'id sekalian jang perloe oentoek kerdja dan berdjaga-djaga sebagai adat isti'adat peralatan radja-radja, maka pada hari jang baik, Radja Radén itoepoen diperdjodohkanlah dengan Poeteri Tidjeumpa. Maka tetaplah Radja Radén dipoelau Atjéh, berkasih-kasihan dengan toean poeteri; dan soeltanpoen bertambah-tambah kasih sajang kepada Radja Radén, karena baik hatinja dan manis boedi pekertinja. Sekalian menteri hoeloebalang, orang-orang besar la- loe kepada rajatpoen, semoeanja menaroeh kasih sajang poela kepada Radja Radén. Radja itoepoen sangat ta'at poela ber'ibadat. Dalam pekerdjaan negeripoen Radja Radén selaloe menolong baginda soeltan dengan réla dan setia. Rajatpoen sangat memandang Radja Radén, dan dihormatinja baginda sebagai menghormati soeltan djoega, ta' ada bédanja.
III. RADJO SIOEDJOED MEMBOEAT HONAR DI ATJEH Hatta terseboetlah kissah Radja Sioedjoed. Setelah beberapa boelan radja itoe berdiam didalam negeri Djohor, maka teringat- lah baginda hendak pergi kenegeri Atjéh mendjempoet saudara baginda, Radja Radén akan diadjak poelang ke Djohor, serta hendak memboeat hoeroe-hara dinegeri Atjéh akan pembalaskan dendam baginda kepada Soeltan Atjéh. Maka dikoempoelkanlah beberapa boeah kapal serta bala tentera dengan alat sendjata. Setelah siap- lah soedah, berangkatlah Radja Sioedjoed menoedjoe ke Atjéh. Ti- ada berapa lama dalam pelajaran sampailah pasoekan kapal itoe keteloek Atjéh serta masoek berlaboeh.
Atas kedatangan Radja Sioedjoed itoe dipersembahkan orang- lah kepada soeltan; oléh Soeltan Atjéh dititahkan menjamboet baginda dengan oepatjara kehormatan, serta dipersilakan masoek ke- dalam negeri. Maka Radja Sioedjoedpoen naiklah kedarat laloe ke- dalam. Oléh baginda soeltan dititahkan memberi tempat seboeah mah- ligai jang indah, tjoekoep dengan dajang pengasoeh dan diberi poela santap dengan santapan jang ni'mat-ni'mat. Kemoedian soeltan memberi persalinan seperangkat pakaian jang indal indah dari pada pakaian radja-radja tanah Atjéh dan diberi poel pekan dan médan tempat radja itoe bermain-main. Hatta antara berapa lama tiadalah kedjadian soeatoe apa ma- rabahaja diperboeat oléh Radja Sioedjoed. Tetapi makin sehari makin tampak djoega Radja Sioedjoed memboeat gadoeh dalam pekan dan negeri, jani merampas barang perniagaan dan makanan dengan tiada membajar harganja; ada poela rajat negeri jang disiksa dan dipersakitinja. Akan kelakoekan Radja Sioedjoed merampas hak atau mereboet milik orang didalam pekan itoe, dibiar- kan sadja oléh soeltan dan barang-barang jang dirampas itoe di- bajar harganja oléh baginda soeltan dengan penoehnja, soepaja orang negeri tidak keroegian; setiap hari baginda soeltan menge- loearkan mata wang akan menoetoep keroegian orang karena kelakoean djahil dari Radja Sioedjoed itoe. Arkian pada soeatoe hari Radja Sioedjoedpoen datang berte- moekan Radja Radén; maka diadjaknjalah Radja Radén kembali ke Djohor; tetapi Radja Radén tidak maoe menoeroet perkataan Radja Sioedjoed. Setelah berbagai-bagai boedjoek tiada djoega ber- hasil, maka Radja Sioedjoedpoen moerkalah akan saudaranja itoe serta dikata-kataïnja berbagai djenis, serta ditjelanja kelakoean Radja Radén jang telah toendoek pada radja Atjéh dan soedah meme- loek agama Islam itoe. Karena maksoed Radja Sioedjoed tiada ber- hasil, moerkalah radja itoe serta diboeatnja hoeroe-hara jang terle-
bih besar dalam negeri Atjéh. Kampoeng Ladong dan Kroeeng
Rajapoen dibakarnja; beberapa boeah roemah pengawal radja telah mendjadi aboe oléh kedjahatan radja itoe. Kemoedian Radja Sioedjoed pergi kepesisir Atjéh; dirampasnja beberapa boeah poekat dan beberapa pawang diboenoehnja dan ada poela jang dipersa- kiti atau disiksa dengan tjara boeas. Setelah itoe langsoeng ba-
ginda naik kekapalnja serta moendar-mandir dilaoet Atjéh mela-
koekan perampasan pada kapal-kapal jang keloear masoek keda-
lam koeala negeri Atjéh. Sesoedah itoe kembalilah Radja Sioedjoed kenegeri Djohor dengan maksoed hendak mengoempoelkan seka- lian ra'jat bala tentera oentoek menjerang keradjaan Soeltan Atjéh, Hatta maka kelakoean Radja Sioedjoed itoe, serta hal baginda telah keloear dari negeri Atjéh itoe, dipersembahkan oranglah kepada baginda soeltan. Keudjroeen, kepala koealapoen memper- sembahkan poela kepada soeltan peri kedjahatan Radja Sioedjoed dilaoet, jang mengaibkan baginda, dan bahwa ia telah berlajar poelang kenegeri Djohor. Demi soeltan mendengar sembah keudjroeen koeala jang demi- kian itoe, maka bagindapoen sangatlah moerka, tiada terkira-kira. Laloe baginda bersoempah hendak menoentoet maloe itoe, sekali- poen terpaksa menjerang kenegeri Djohor. Kemoedian bagindapoen toeroen dari istana bertemoekan Radja Radén, laloe mentjeriterakan hal Radja Sioedjoed telah keloear dari Atjéh setelah memboeat beberapa kedjahatan serta memberi ‘aib kepada baginda; laloe baginda bertanja, kalau-kalau Radja Radén ada sepakat dengan saudaranja. Atas pertanjaan baginda itoe Radja Radén menjahoet: ,Tiadalah patik tahoe djangan poela me- njertaï apa jang telah diperboeat oléh Radja Sioedjoed; djikalau ki- ranja toeankoe hendak menoentoet maloe atau hendak menjerang keradjaan Djohor, silakanlah, patik beserta mengiring toeankoe, karena patikpoen tiada bersaudara lagi dengan radja Djohor itoe." Maka senanglah hati baginda, karena iparnja itoe tiada sepakat dengan Radja Sioedjoed dan soeka menolong baginda menjerang negeri Djohor.
IV. SOELTAN ATJEH MENGOEMPOELKAN LASKAR DAN ARMADA Arkian Soeltan Atjéhpoen menitahkan memanggil segala men- teri dan hoeloebalang didalam negeri. Setelah hadir semoeanja maka bagindapoen moesjawaratlah, serta berkira-kira akan pekerdja- an perang jang hendak dilakoekan kenegeri Djohor itoe. Menoe- roet poetoesan permoepakatan, boeat menjerang keradjaan Djohor itoe perloelah disiapkan angkatan laoet jang besar, soepaja dapat
membawa rajat jang banjak. Karena itoe bagindapoen menitahkan sekalian ra'jat jang pandai2 akan memboeat kapal, perahoe dan sebagainja. Setelah menerima titah itoe keloearlah rajat jang banjak itoe menoedjoe kedalam hoetan mentjahari kajoe oentoek kapal perahoe; ada poela jang membelah papan oentoek memboeat bahtera. Waktoe itoe ramailah digoenoeng, sebagai dalam negeri siang dan malam. Sjahdan dengan takdir Allah dipantai laoet Atjéhpoen hanjoetlah sebatang kajoe jang sangat besarnja dan tjoekoep oentoek seboeah kapal jang sangat koeat dan koe- koehnja; hal kajoe itoepoen dipersembahkanlah oléh keudjroeën koeala kepada soeltan. Maka bagindapoen berangkatlah kepantai laoet akan melihat kajoe itoe. Setelah baginda melihat kajoe itoe terletak ditepi pantai, maka bagindapoen menitahkan toekang-toekang memboeat seboeah kapal dari pada kajoe itoe, oentoek kapal kenaikan baginda sendiri. Akan titah itoe dikerdjakan oranglah dengan tergesa-gesa. Dalam témpoh enam boelan siaplah kapal jang besar itoe dengan perhiasan berbagai djenis; dan oléh baginda dinamakan kapal itoe ,,Tjakera Doenia". Setelah delapan boelan kemoedian maka kapal2 jang lainpoen siaplah poela, laloe ditoeroenkan keair, kira-kira seriboe boeah dari pada beberapa perahoe dan bahtera. Setelah itoe maka baginda soeltanpoen menitahkan mengerahkan sekalian ra'jat dalam negeri Atjéh serta dengan alat sendjatanja dari pada bedil tom- bak dan lembing serta keléwang, karena baginda hendak berang- kat menjerang negeri Djohor. Dan kenegeri Pidie, Meureudoe, Sa- malanga dan Peusangan baginda menitahkan memboeat soerat, mengabarkan hal baginda akan berperang itoe, soepaja ra'jat negeri-negeri itoepoen mengiring baginda. Maka tiada berapa lama antaranja datanglah rajat Atjéh dari segala pihak dengan alat sendjatanja serta dikepalaï oléh hoeloe- balangnja masing-masing. Maka penoeh sesaklah loear dalam oléh sangat banjak rajat jang datang. Bagindapoen menitahkan memboeat kendoeri besar serta me- minta do'a selamat atas perdjalanan dan pekerdjaan jang hendak dilakoekan itoe. Maka sekalian 'alim 'oelama dan fakir miskinpoen berdo'alah dengan soenggoeh dan jakin, bermohon pada Allah, soepaja baginda serta bala tentera selamat sedjahtera. Arkian bagindapoen bermoesjawaratlah dengan menteri hoeloe-
balang serta orang-orang besar peri hal perdjalanan serta pekerdjaan perang jang hendak baginda lakoekan itoe. Dalam permoe-
sjawaratan itoe ditetapkanlah hari baginda berangkat dengan ber- djalan darat, sepandjang pantai negeri Atjéh serta diiringkan oléh
rajat, karena baginda hendak singgah pada tiap-tiap negeri akan
mengambil rajat, penambah bala tentera, jaïtoe dinegeri Pidie,
Meureudoe, Samalanga dan Peusangan. Sekalian kapal-kapal itoe- poen akan berlajar dihari baginda berangkat itoe djoega, mengi- koeti perdjalanan baginda; dimana baginda berhenti, pasoekan ka-
palpoen berlaboeh akan memoeat bala tentera. Maksoed soeltan,
bila sampai dikoeala Djambō Ajé baroelah baginda hendak naik kekapal serta berlajar kenegeri Djohor. Sjahdan maka terseboetlah perkataan permaisoeri soeltan, toean
poeteri Pahang. Akan toean poeteri itoe konon sangat ‘arif bi-
djaksana, sebab itoe bagindapoen bermoefakat djoega dengan toean poeteri peri pekerdjaan dan perdjalanan baginda itoe. Maka sembah toean poeteri: Daulat toeankoe, djikalau kiranja toeankoe hendak menjerang keradjaan Djohor adalah tiga kesoe- sahan jang wadjib toeankoe pikir, sebeloem toeankoe berangkat, soepaja perdjalanan toeankoe selamat dan berhasil jang dimaksoed. Pertama, wadjib toeankoe mentjahari dan mengangkat seorang kepala perang jang mendjadi panglima dalam peperangan itoe, ka-
rena perang jang tiada berkepala itoe soesah akan mendapat
hasil; akan panglima perang itoe boléh toeankoe dapat dinegeri Pidie, bernama Panglima Pidie, maharadja didalam negeri itoe; apabila panglima itoe tidak soeka menerima pangkat jang besar itoe, boléhlah Panglima Pidie menoendjoekkan salah seorang hoe- loebalang lain jang setoedjoe pada hatinja akan mendjadi panglima perang. Kedoea, wadjib poela toeankoe mentjahari seorang goeroe jang pandai dan ber'ilmoe oentoek goeroe perang, akan memoedahkan segala pekerdjaan jang moesjkil. Akan goeroe itoe boléh toeankoe dapat dinegeri Meureudoe, bernama Teungkoe Dja Pakèh. Ketiga, bila toeankoe hendak naik kapal dikoeala Djambō Ajé hendaklah toeankoe beringat-ingat, karena sangat deras aroesnja pada koeala itoe. Lain dari pada itoe, bila toeankoe sampai dilaoet Asahan, dja- nganlah toeankoe menjoeroeh lepas meriam; kalau toeankoe ber-
23 boeat itoe nistjaja toeankoe ditahan berperang oléh radja Asahan, karena radja Asahan seorang radja jang gagah berani serta banjak rajatnja. Akan radja Asahan itoe bergelar Sibajak. Demi- kianlah pesanan patik, moedah-moedahan selamatlah perdjalanan toeankoe, patik do'akan kepada Allah serta rasoelnja!" Alkissah setelah sampai pada ketika jang baik keloearlah seri Soeltan Iskandar Moeda dari dalam istana diantarkan oléh segala menteri hoeloebalang jang telah berkoempoel menanti, laloe baginda berangkat meninggalkan kota Atjéh dan permaisoeripoen balik kedalam istana diiringkan oléh dajang-dajang pengasoehnja. Sjahdan maka berboenjilah meriam diatas kota, ‘alamat soeltan berangkat, serta disahoeti dengan soeara gemoeroeh oléh meriam-meriam kapal jang banjak itoe, laloe sekalian kapal itoepoen meng- angkat djangkarnja, karena seri soeltanpoen telah berangkat poela. Adapoen pelajaran kapal-kapal itoe didjalankan dengan perlahan- lahan sadja, sebagai mengiring soeltan jang berdjalan didarat itoe sepandjang pantai. Dimana baginda berhenti, kapal-kapal jang banjak itoepoen berlaboehlah; serta baginda berangkat maka pasoekan kapalpoen berlajar poela. Begitoelah senantiasa hari. Sam- bil berlajar dan berdjalan itoe bersoeka-soekaanlah rajat jang banjak itoe. Sjahdan setelah sehari semalam baginda berdjalan, sampailah baginda kenegeri Pidie. Baginda bersemajam dipekan Sigli dan kapal-kapalpoen berlaboeh dikoeala Pidie. Setelah sehari semalam baginda dinegeri Pidie, datanglah sekalian orang Pidie mengha- dap soeltan serta maharadja negeri itoe, bernama Panglima Pidie dengan orang-orang besarnja. Akan rajat jang datang itoepoen tjoekoep poela dengan sendjatanja dari pada perkakas perang. Maka soeltanpoen menitahkan orang menjiapkan kapal-kapal jang ada didalam negeri Pidie itoe, serta berkoempoel dengan angkat- an laoet Tjakera Doenia itoe dan rajat negeri akan mengiring baginda berdjalan darat. Setelah siaplah sekaliannja berang- katlah baginda, diiringkan oléh sekalian hoeloebalang, orang-orang besar dan panglima sekalian, dan pasoekan kapal dilaoetanpoen berlajarlah poela. Setelah sehari semalam soeltan berdjalan, sampailah baginda kenegeri Meureudoe. Maka bersemajamlah baginda disimpang tiga, dibawah sepohon ketapang jang rindang, dipantai negeri itoe.
Sjahdan kata orang jang merawikan, adalah orang negeri Meureudoe waktoe itoe ta' ada seorangpoen djoea didalam negeri, karena masa itoe negeri Meureudoe diserang oléh bahaja kelaparan. Ra'- jatpoen pada keloear belaka mentjahari makanan kenegeri-negeri lain, ada poela jang pergi kegoenoeng oentoek mentjahari oebi- oebian dari pada oebi gadoeng, birah atau keladi. Hingga kira-kira toedjoeh hari soeltan semajam dinegeri itoe, baroelah orang Meureudoe poelang dari bepergian laloe menghadap baginda dengan membawa persembahan dari pada oebi, gadoeng, keladi dan se- bagainja. Maka bagindapoen moerkalah akan orang Meureudoe itoe, karena sangat lama baroe meréka itoe datang menghadap. Setelah setengah hari dipohonkan ampoen beroelang-oelang oléh Teungkoe Dja Pakèh, tiada djoega baginda hendak menerima persembahan orang Meureudoe itoe, maka Teungkoe Dja Pakèhpoen marah poela akan soeltan, serta diadjaknja rajat Meureudoe oen- doer serta kembali, sekalipoen soeltan akan moerka lebih sangat lagi. Maka Teungkoe Dja Pakèhpoen berkatalah dengan njaring soearanja, jang kira-kira terdengar oléh soeltan, didalam bahasa Atjéh: ,,Katjo' boh gadōng ngon boh birah, oereueng han 'é' moe- tadarah bé' kapoemeulia!" Maksoednja dalam bahasa Melajoe: ,,Ambillah oebi gadoeng dan talas itoe, kita poelang, orang jang tiada maoe menerima hormat djangan dimoeliakan akan dia!" Hatta setelah mendengar perkataan Teungkoe Dja Pakèh demi- kian itoe, hilanglah moerka soeltan, serta diterima baginda persembahan orang Meureudoe itoe dan diberi ampoen oléh baginda, karena Teungkoe Dja Pakèh seorang oelama jang termasjhoer dan baginda hendak mendjadikan dia goeroe dalam peperangan. Sebab itoelah maka baginda segera memberi dia ampoen, soepaja Teungkoe Dja Pakèh jang berani itoe tidak amarah dan soeka mendjadi goeroe perang. Setelah persembahan orang Meureudoe diterima oléh soeltan, maka Teungkoe Dja Pakèhpoen segera menghadap soeltan. Maka titah baginda: Mengapa kami lihat orang negeri Meureudoe ini seba- gai berkepala batoe? Telah toedjoeh hari kami dalam negeri ini, baroe sekarang kelihatan orang negeri datang, seolah-olah kami
tidak diindahkan oléh orang negeri Meureudoe ini?" Maka sembah Teungkoe Dja Pakèh: Ampoen toeankoe doeli
soeltan, bahwa sesoenggoehnja boekanlah orang Meureudoe ini jang keras kepala atau tidak mengindahkan doeli toeankoe, ha-
nja kebawah doeli toeankoe djoealah jang salah atau chilaf, karena dinegeri-negeri jang lain masing-masing telah toeankoe letak-
kan kepala atau hoeloebalang; tetapi dinegeri Meureudoe ini ti-
adalah doeli toeankoe beri berkepala; adalah sebagai tiada toeankoe hiraukan patik sekalian orang Meureudoe ini atau patik orang Meureudoe ini boekan hamba kebawah doeli? Lain dari pa-
da itoe barang ma'loem kiranja doeli toeankoe, bahwa Meureudoe
waktoe ini dalam kelaparan, itoelah sebabnja maka waktoe hari
jang moelia datang, sekalian ra'jat Meureudoe ta' ada dalam ne-
geri, telah keloear mentjahari makanan oentoek anak isterinja; sebab itoelah poela maka terlambat patik sekalian menghadap kebawah doeli toeankoe." Maka sabda soeltan: ,Adapoen negeri Meureudoe ini tidak kami beri berkepala, ialah karena negeri ini kami sendiri jang poenja, ja'ni negeri merdéka." Setelah itoe soeltanpoen menerangkan kepada Teungkoe Dja Pakèh, bahwa maksoed baginda hendak mengangkat djadi goeroe perang, karena baginda hendak menjerang keradjaan Djohor, dan sekalian orang Meureudoe wadjib mengiring baginda. Maka sembah Teungkoe Dja Pakèh: ,,Insja Allah akan patik ini dapatlah mengiring toeankoe; tetapi harap diampoen kebawah doeli, akan orang negeri Meureudoe ini ta' dapatlah toeankoe bawa ke Djohor, karena negeri ini dalam kelaparan. Apabila orang negeri ini mengiring toeankoe kenegeri jang sedjaoeh itoe, nistjaja matilah anak isterinja jang tinggal, karena ta' ada jang memberl makan, bila doeli toeankoe tidak poela berkaroenia kepada meréka oentoek meréka tinggalkan bagi nafakah." Maka sabda soeltan: ,,Itoe djangan dichawatirkan, kamilah jang akan memberi oeang akan nafakah anak isteri orang Meureudoe jang kami bawa itoe." Setelah itoe maka bagindapoen menitahkan memberi mas dan oeang kepada masing-masing rajat Meureudoe jang akan mengiring baginda. Orang Meureudoepoen bersenang hatilah. Hatta setelah sehari semalam kemoedian, berangkatlah soeltan dari negeri Meureudoe serta Teungkoe Dja Pakèh dan sekalian
menteri hoeloebalang dan pasoekan kapal jang dilaoetpoen berlajar
poela. Setelah sehari semalam baginda berangkat, sampailah baginda kenegeri Samalanga. Setelah sehari semalam poela baginda didalam negeri Samalanga, datanglah sekalian rajat negeri itoe dengan hoeloebalangnja menghadap soeltan. Maka soeltanpoen me- nitahkan orang menjiapkan sekalian kapal dan perahoe jang ada dalam negeri itoe serta ra'jatpoen, akan mengiring baginda berangkat ke Djohor. Setelah kapal, perahoe dan laskar soedah siap, maka berang- katlah soeltan dari negeri Samalanga diiringkan oléh bala tentera, dan menteri hoeloebalang, dan pasoekan kapal jang dilaoetpoen mengangkat poela djangkarnja, laloe berlajar. Arkian setelah doea hari perdjalanan dengan meléwati bebera- pa boeah koeala jang tiada diseboetkan dalam tjeritera ini dan negeri-negeri jang tiada penting, seperti Peudada, Blang, Djoeli dan lain-lainnja, maka soeltanpoen sampailah kenegeri Peusangan. Kedatangan baginda soeltan itoe disamboet oléh orang negeri itoe dengan membawa persembahan dari pada teboe, pisang dan se- bagainja. Akan kepala negeri Peusanganpoen berdatang sembah- lah memohonkan titah soeltan; oléh soeltan laloe dititahkan menjiapkan sekalian kapal dan perahoe dan bersatoe dengan pasoekan kapal jang ada dilaoet serta rajat mengiring baginda ke Djohor. Maka panglima negeri itoepoen berdatang sembah: ,Ampoen toeankoe doeli sjah ‘alam, harap diampoen kebawah doeli, patik bermohon atas limpah toeankoe, djanganlah rajat negeri Peusangan ini doeli toeankoe bawa memerangi keradjaan Djohor itoe, biarlah patik sekalian tinggal didalam negeri, soepaja patik me- nangkap gadjah oentoek doeli toeankoe, karena tersangat banjak gadjah didalam negeri ini, dan dapat kami persembahkan setiap tahoen kebawah doeli toeankoe. Lain dari pada itoe patik sekalian orang negeri Peusanganpoen hendak memelihara oelat dan meng- adakan soetera, soepaja keradjaan toeankoe beroléh soetera oentoek didjadikan kain-kain akan memboeat pakaian-pakaian jang dapat dipakai oléh orang negeri." Setelah soeltan mendengar persembahan panglima Peusangan jang demikian itoe, maka bagindapoen berkenanlah serta menga- boelkan permohonan itoe; maka orang Peusanganpoen tinggallah,
27 tidak dibawa oléh baginda. Maka akan rajat Peusanganpoen soe- kalah hatinja. Setelah sehari semalam soeltan bersemajam didalam negeri itoe berangkatlah baginda dengan meléwati beberapa negeri jang tiada pentingnja dimasoekkan dalam hikajat ini. Maka sampailah baginda ke Lhō' Seumawè, laloe meléwati Sawang (Oelèe Sawang Koe- poela) dan sampailah baginda kenegeri Sjamtalira dan menjebe- rang koeala Pasè hingga koeala Keureutoe. Setelah beberapa hari kemoedian sampailah soeltan kekoeala Djambō Ajé. Baginda menitahkan sekalian bala tentera berhenti, serta mendirikan pasang- gerahan, karena maksoed baginda hendak berhenti doea tiga hari disitoe dan disitoelah baginda hendak naik kekapal. Pasoekan ka- palpoen berlaboehlah dikoeala Djambō Ajé. Kalakian maka bagindapoen moesjawaratlah hendak mengangkat seorang panglima perang jang terbesar boeat mendjadi kepala perang. Oléh baginda disabdakan jang mendjadi panglima itoe ialah Panglima Pidie; tetapi panglima itoe dengan permohonan jang sangat, menolak titah soeltan, karena ta' sanggoep rasa hatinja mendjadi panglima besar. Maka sabda soeltan: ,Djikalau panglima menolak akan pangkat itoe, tjaharilah salah seorang dari pada hoeloebalang, jang patoet serta setoedjoe pada panglima, oentoek mendjadi panglima besar. Hatta oléh Panglima Pidie dipersembahkanlah kepada soeltan seorang hoeloebalang dari negeri Meureudoe jang gagah beranf serta koeat, bernama Malém Dagang. Hoeloebalang serta panglima jang lain-lainpoen bersetoedjoe akan Panglima Malém Dagang itoe didjadikan panglima jang terbesar; baginda berkenan poela karena gagahnja. Sjahdan maka bagindapoen menitahkan menjediakan alat per- alatan oentoek merajakan angkatan panglima-panglima itoe serta menjembelih beratoes ékor kerbau dan sapi oentoek kendoeri sela- mat, serta dilakoekan segala oepatjara menoeroet 'adat isti'adat marhoem-marhoem jang terdahoeloe. Maka pada hari jang baik diangkatlah oléh soeltan tiga orang panglima perang di Djambō Ajé, jaïtoe Panglima Malém Dagang, panglima perang jang terbesar dalam bala tentera baginda, dan Radja Radén, panglima perang jang kedoea dan Panglima Pidie panglima perang jang ke- tiga. Setelah baginda bertitah menetapkan angkatan itoe, maka
sekalian ra'jat jang banjakpoen bersorak serentak; kemoedian panglima-panglima itoepoen didjoelang ganti-berganti oléh rajat jang banjak; doa selamatpoen dibatjalah oléh Teungkoe Dja Pakèh dan segala bala tentera menadahkan tangan kelangit dengan menjeboet: ,amin!" Setelah selesailah soedah, selamatan itoe maka sekalian laskarpoen bersiap diri hendak naik kekapal, sekadar menanti ti- tah soeltan sadja; sekalian kapal-kapalpoen rapatlah ketepi menanti meréka. Hatta pada waktoe jang baik berangkatlah soeltan menoedjoe kekapal dikoeala Djambō Ajé. Waktoe itoe meriam dikapal Tjakera Doeniapoen berboenjilah, menjamboet kedatangan baginda, serta diikoeti oléh boenji meriam-meriam dikapal jang lain-lain; karena banjaknja kapal maka gemoeroehlah boenji meriam dikoeala Djambō Ajé, sebagai goentoer, hingga memekakkan telinga; asap jang banjak itoepoen menoetoep langit jang biroe, hingga warna matahari sebagai mérah warnanja. Soeltanpoen sampailah kekoeala laloe naik kekapal Tjakera Doenia jang besar itoe, diiringkan oléh Teungkoe Dja Pakèh. Akan panglima jang lain-lainpoen naiklah kekapalnja masing- masing dan rajatpoen bereboetanlah berloemba-loemba naik kekapal, perahoe dan bahtera. Setelah siap semoeanja berangkatlah kapal Tjakera Doenia kenaikan soeltan, diiringkan oléh kapal-kapal panglima perang dan diikoeti oléh kapal-kapal laskar sekalian. Maka berlajarlah pasoekan kapal itoe sepandjang pantai la~ oet menoedjoe ketimoer. Dalam pelajaran itoe bersoeka rialah semoeanja dengan berbagai boenji-boenjian jang disoekaï oléh meréka itoe. Akan kapal-kapal jang banjak itoepoen berloemba-loemba po- tong-memotong djalan dan sorak rajat jang banjak itoepoen meri- oehkan laoetan; terkembanglah bermatjam-matjam warna dari pa-
da lajar kapal dan perahoe itoe serta dengan berbagai ragam toeng-
goel dan pandji-pandji, memoetih sepandjang pesisir laoet. Bila
waktoe malam teranglah laoet itoe sebagai siang oléh tjahaja lam-
poe dan lentéra kapal.
V. SOELTAN ATJEH MENA'LOEKKAN RADJA ASAHAN Hatta tiada berapa lamanja sampailah pasoekan kapal itoe di-
laoet Asahan. Maka teringatlah soeltan pesan poeteri Pahang,
bahwa djikalau diboenjikan meriam dilaoet itoe, nistjaja terdja- di peperangan dengan radja Asahan; karena itoe bagindapoen menitahkan panglima perang meletoeskan tiga kali meriam kapal- nja, hendak mentjoba pesan poeteri itoe. Setelah berboenjilah meriam tiga kali didalam kapal panglima itoe, disamboetlah bertaloe- taloe oléh boenji meriam didalam kota radja Asahan kira-kira tiga belas kali, 'alamat permoesoehan dan perlawanan. Bagindapoen menitahkan sekalian kapal berlaboeh, karena hendak menanti chabar dari radja Asahan itoe. Hatta setelah radja Asahan mendengar soeara meriam dilaoet, radja itoepoen menitahkan oetoesan oentoek memeriksa, serta berpesan kepada oetoesan itoe dengan pesan jang menjakiti; titah baginda: ,Kalau kapal jang datang itoe seboeah angkatan perang, djangan diberi pergi kenegeri lain, karena radja Asahan hendak mentjoba kekoeatan angkatannja, akan berperang dengan bala tentera jang datang itoe." Setelah menerima titah itoe maka beberapa orang oetoesan keloearlah langsoeng kekoeala, ketempat kapal Atjéh itoe beraboeh. Akan oetoesan Asahan itoepoen dibawa oranglah kepada Panglima Malém Dagang. Atas pertanjaan oetoesan itoe Panglima Malém Dagang menerangkan: ,Pasoekan ini datang dari negeri Atjéh hendak menjerang keradjaan Djohor, karena soeltan negeri Atjéh ada berchasoemat dengan radja Djohor. Adapoen kami berlaboeh disini sekadar singgah sadja." Maka oléh oetoesan Asahanpoen diberi tahoenjalah Panglima Malém Dagang, bahwa radja Asahanpoen hendak berperang dengan pasoekan Atjéh dilaoet itoe dan sebeloem mengadoe kekoeatan radja berpesan: ,Pasoekan Atjéh djangan berangkat da- hoeloe." Hatta setelah didengar oléh Panglima Malém Dagang akan per- kataan oetoesan itoe serta pesan radja Asahan, marahlah panglima itoe amat sangat, karena pasoekan Atjéh itoe tidak bermak- soed hendak berperang dengan Asahan; tetapi karena radja Asahan hendak memperlihatkan kegagahan dan keberaniannja kepada orang Atjéh, maka panglima itoepoen bermohon izin kepada soeltan hendak mendjawab. Setelah soedah panglima itoe memin- ta izin kepada soeltan, maka berkatalah ia kepada oetoesan itoe, menjoeroeh ia poelang serta mempersembahkan kepada radjanja, bahwa Soeltan Atjéh memperkenankan maksoed radja Asahan
boeat berperang; serta panglima itoepoen mengirim poela kabar
jang menjakiti hati radja Asahan itoe. Oetoesan Asahanpoen kembalilah, laloe dipersembahkannja ke-
pada radjanja segala pesan panglima Atjéh itoe. Akan chabar jang disampaikan oléh oetoesan itoe tentoelah ada berlebih-lebih-
an. Setelah radja Asahan mendengar sembah oetoesan itoe, maka terbitlah moerka jang amat sangat didalam hati baginda; dengan
seketika itoe djoega dikerahkannja rajat dalam negeri Asahan da-
ri setiap pihak, oentoek bala tentera perang, serta dititahkan ba-
ginda membawa alat sendjata berbagai djenis dari pada lembing,
tombak dan perisai. Tiada antara berapa lama berhimpoenlah sekalian ra'jat negeri Asahan dengan amat banjaknja, hingga penoeh kota serta diloearpoen ta' dapat dikira lagi, tjoekoep poela dengan
alat sendjatanja masing-masing, dikepalaï oléh panglima dan hoe-
loebalangnja. Hatta setelah sekalian rajat Asahan berkoempoel, laloe rajat itoe oléh radja dibahagi doea pasoekan; jang sepasoe- kan dititahkan baginda kekoeala berdjaga-djaga, serta memperte- goehkan bénténg dan kota dikoeala dan sepandjang pantai Asahan, soepaja moesoeh tidak dapat mendarat; djikalau ada moesoeh jang mendarat haroes dilawan dengan bersoenggoeh-soenggoeh hati. Setelah menerima titah itoe maka keloearlah beriboe-riboe las- kar kepantai Asahan dengan membawa meriam jang besar-besar, serta bedil setjoekoepnja; kota-kota dan bénténg-bénténg ditegoeh- kan dengan alat sendjata dan didjaga rapi, serta koeat. Setelah siap, moelaïlah orang Asahan menémbak kapal-kapal Atjéh jang sedang berlaboeh dilaoet dengan hébatnja; maka banjaklah kapal Atjéh jang roesak karena peloeroe orang Asahan itoe. Laloe dibalas poela oléh kapal-kapal Atjéh dengan menémbak bénténg-bénténg orang Asahan. Pada waktoe itoe terdjadilah pe- perangan antara bala tentera Atjéh dengan bala tentera Asahan. Akan Panglima Malém Dagangpoen sangatlah marahnja, karena banjak kapal-kapal pasoekannja jang binasa. Maka bersiaplah ia hendak menjerang kedarat. Akan Radja Radén serta Panglima Pidiepoen menoeroet kelakoean Panglima Malém Dagang, serta rioeh mengerahkan bala tenteranja masing-masing. Demi terlihat oléh Teungkoe Dja Pakèh akan perboeatan meréka maka dilarangnjalah panglima-panglima itoe menjerang, karena
kata beliau: ,,beloem ada ketika jang baik boeat menjerang." Maka bersabarlah panglima-panglima itoe dahoeloe, serta mengoendoer- kan kapal-kapalnja agak djaoeh kelaoet, sekira-kira tidak tertja- pai oléh peloeroe meriam orang Asahan. Setelah tiga hari kemoedian berkatalah Teungkoe Dja Pakèh: Sekarang soedah datang waktoe jang baik akan menjerang!" Maka bersiaplah Panglima Malém Dagang, Radja Radén serta Panglima Pidie memakai pakaian perang jang hébat roepanja, dan alat sendjata dari pada pedang dan keris. Sambil memerintahkan kapal-kapal madjoe meréka itoe menémbaki bénténg-bénténg moesoeh djoea. Maka berloemba-loembalah kapal Atjéh itoe tampil kemoe- ka; dari pihak Asahanpoen tidak soenji-soenjinja meriam memoen- tahkan pélor kekapal Atjéh. Waktoe itoe terdjadilah peperangan jang sangat hébat dan dahsjat, karena kedoea pihak sama berani- nja. Bala tentera dari kedoea pihak jang mati serta loekapoen tiada- lah terkira-kira lagi banjaknja; darahpoen sebagai aír jang ditjoe- rahkan lakoenja. Akan bala tentera Atjéh menjerang itoe ada- lah dengan sangat bersoenggoeh-soenggoeh hati, dan panglima-panglima itoe hendak mendarat dengan seboléh-boléhnja, karena peperangan dilaoet itoe banjak soesahnja. Tetapi bagaimanapoen koeatnja pasoekan Atjéh menjerang, tiada djoega madjoenja ba- rang sedikit, karena perlawanan orang Asahan itoepoen boekan boeatan gagahnja. Maka akan maksoed panglima Atjéh hendak mendarat itoepoen sebagai sia-sialah. Kemoedian Panglima Malém Dagangpoen mengoempoelkan bala tenteranja laloe dibahaginja atas tiga pasoekan, masing-masing di- kepalaï oléh panglima ketiga orang itoe. Doea dari pada pasoekan itoe menjerang dan jang lain mendarat; bala tentera jang menjerang itoe sambil memperlindoengi bala tentera jang mendarat. Maka dengan djalan demikian kelihatanlah laskar Atjéh dengan per- lahan-lahan mendapat madjoe sedikit; tetapi pihak Asahanpoen se- makin koeat poela mempertahankan dirinja, hingga hébatlah perang itoe dan soeara meriam dan bedil serta tempik sorak laskar rioeh rendahlah boenjinja. Hatta setelah menjerang dengan sekoeat tenaganja, sekira-kira doea boelan lamanja, baroelah bala tentera Atjéh dapat menda~ rat dipantai Asahan, laloe beramoek-amoekanlah kedoea pihak ba-
32 la tentera itoe dengan hébatnja. Adapoen ketiga panglima Atjéh
itoe sangat koeat perkasanja, lagi gagah berani dan tidak poela
termakan oléh sendjata.
Hatta bala tentera Atjéhpoen menjeranglah kota Asahan dengan
hébatnja; maka banjaklah rajat dari kedoea pihak itoe jang mati dan loeka. Karena penjerangan panglima-panglima Atjéh sangat kerasnja, kalahlah kota Koeala itoe serta bénténg-bénténg djatoeh ketangan bala tentera Atjéh. Setelah bénténg Koeala didapat oléh bala tentera Atjéh, laloe tentera itoe masoek menjerang kedalam negeri. Dikota radja Asahan terdjadilah peperangan jang sangat hébatnja. Kira-kira sepoe-
loeh hari lamanja berperang dikota radja itoe, alahlah laskar Asa-
han dan radja Asahan lari keloear negeri dengan meninggalkan ahli istananja. Hatta setelah radja Asahan alah, panglima Atjéh itoepoen ma- soeklah kedalam istana tempat poeteri radja Asahan, jang ting- gal dalam istana itoe dengan inang pengasoehnja sadja. Panglima itoepoen membawa poeteri itoe kekapal sebagai tawanan. Akan negeri Asahan sedikitpoen tiada diroesakkan oléh bala tentera Atjéh dan milik radja negeripoen tidak ada jang dibina- sakan, karena panglima-panglima itoe melarang dengan keras
perboeatan jang djahil itoe.
Kalakian maka angkatan Atjéh itoepoen berlaboehlah dilaoet Asahan, menantikan radja Asahan menta'loekkan diri kepada soeltan Atjéh. Sjahdan setelah seboelan lamanja kemoedian, radja Asahan itoepoen kembalilah kedalam negerinja, karena disangkanja angkatan Atjéh itoe soedah berlajar. Demi radja itoe melihat masih ada djoega kapal-kapal Atjéh berlaboeh dilaoet Asahan, laloe masoek- lah radja itoe kedalam istananja. Apabila diketahoeinja permaisoerł tiada lagi, telah ditawan oléh orang Atjéh, sangatlah goendah goe- lana hati baginda. Maka radja Asahan itoepoen bermoepakatlah dengan menteri² baginda hendak menaloekkan dirinja kepada Soeltan Atjéh, serta hendak memohonkan dikembalikan permaisoeri itoe dengan djalan meneboes dengan harta benda. Maka sembah seorang menteri: ,Ampoen toeankoe doeli sjah ‘alam, pada hémat patik tiada patoet kiranja toeankoe meneboes toean poeteri dengan harta
33 benda pada Soeltan Atjéh, karena toeankoe permaisoeri boekan toeankoe gadaikan, kalau-kalau baginda itoe moerka dan hadjat toeankoe tiada sampai kelak; tetapi kepada pikiran patik, baiklah toeankoe menghadap soeltan itoe, serta toeankoe serahkan negeri ini dan toeankoe minta taloek kebawah keradjaan Atjéh. Oentoek persembahan kepada radja Atjéh itoe toeankoe titah sediakan pelbagai djenis dari pada boeah-boeahan dan sajoer-sajoeran, se- perti pisang, keladi, teboe, nangka dan sebagainja, karena orang Atjéh itoe soedah lama berlajar dilaoetan, tentoe ingin memakan boeah-boehan. Pada hémat patik barang itoe ada lebih moelia dari pada emas pérak." Akan sembah menteri itoe berkenan kepada radja; maka dititah- kanlah oléh baginda orang menjediakan beberapa boeah perahoe berisi boeah-boeahan. Setelah moestaid maka radja Asahanpoen berangkatlah kelaoet hendak menghadap Soeltan Atjéh. Kedatang- an radja itoe diberi tahoekan oranglah kepada soeltan, dan oléh soeltan dititahkan menjamboet radja itoe kepada Panglima Malém Dagang; maka diterimalah baginda oléh panglima itoe dengan se- patoetnja. Radja itoepoen mempersembahkan pembawaannja, serta memohonkan ampoen kepada baginda soeltan dan diserahkan baginda poela keradjaannja kepada keradjaan Atjéh. Kemoedian radja itoepoen memohonkan rahim soeltan, soepaja memberikan kembali permaisoeri baginda. Maka oléh panglima itoe dipersembahkannjalah kepada soeltan sebagai permohonan radja Asahan itoe. Maka titah soeltan: Djikalau kiranja radja Asahan itoe maoe masoek agama Islam, soekalah akoe mengaboelkan per~ mohonannja itoe." Maka titah soeltan jang demikian itoe ditoeroetlah oléh radja Asahan. Sjahdan maka radja Asahanpoen serta orang besar-besar
dan rajatnja sekalian masoeklah agama Islam dengan soekanja.
Soeltanpoen memoelangkan permaisoeri Asahan itoe, dan diteri- ma oléh radja Asahan dengan beberapa kesoekaan hati. Sjahdan radja Asahanpoen mempersilakan baginda soeltan ma-
soek kedalam negeri Asahan. Oléh bagindapoen diperkenankan
permintaan radja itoe, serta masoeklah soeltan kedalam kota negeri Asahan, diiringkan oléh panglima serta hoeloebalang sekalian. Maka rajat Asahanpoen dan segala pihak negeri datanglah meng-
hadap soeltan. Laloe baginda menitahkan Teungkoe Dja Pakèh
Hikajat Soeltan Atjéh marhoem
mengislamkan meréka. Maka beristirahatlah baginda soeltan da~
lam negeri Asahan doea tiga hari. VI. PERANG ATJEH DENGAN DJOHOR Arkian maka terseboetlah soeltan hendak berangkat memerangi keradjaan Djohor. Maka bagindapoen menitahkan menjiapkan se- kalian kapal-kapal serta bala tentera jang banjak itoe. Setelah siap berangkatlah baginda dari negeri Asahan, diiringkan oléh doea orang panglima, jaïtoe Radja Radén dan Panglima Pidie serta pasoekan bala tentera, menoedjoe kenegeri Djohor. Adapoen akan Panglima Malém Dagang serta Teungkoe Dja Pakèh tinggal dahoeloe dinegerí Asahan, karena meréka beloem selesai lagi dari pada mengislamkan rajat Asahan jang djaoeh- djaoeh; sebab itoe panglima dan tengkoe itoe tinggallah disitoe beberapa hari lamanja tiada bersama-sama mengiring baginda. Sjahdan tiada antara berapa lama dalam pelajaran itoe sampał- lah soeltan dikoeala Djohor, laloe dititahkan baginda memasang meriam tiga kali; akan tetapi tiadalah dibalas orang didalam kota Djohor. Maka bagindapoen langsoeng mendarat, laloe masoek kedalam negeri, serta mendoedoeki kota radja Djohor. Adapoen waktoe Soeltan Atjéh masoek kedalam negeri Djohor itoe, kebetoelan radja Djohor ta' ada dalam kota itoe, tengah berangkat kenegeri Goeha serta berkeliling akan mengerahkan se- kalian rajat negeri, karena baginda bermaksoed hendak menjerang negeri Atjéh. Oléh sebab itoelah maka tiada ada perlawanan ketika soeltan masoek kota Djohor. Akan orang Djohor itoe, setelah mendengar Soeltan Atjéh masoek kedalam negeri serta mendoedoeki kota radja Djohor, larilah sekaliannja, karena takoetnja. Hatta lamalah Soeltan Atjéh bersemajam didalam kota negeri Djohor itoe. Maka terchabarlah kepada Radja Sioedjoed, bahwa Soeltan Atjéh telah semajam dikota Djohor. Maka radja Djohor- poen menitahkan radja² jang ta'loek kepada baginda, mengoempoelkan bala tentera boeat menjerang Soeltan Atjéh didalam kota Djohor; serta bagindapoen mengoempoelkan poela segala rajat dari setiap pihak negeri dengan alat perang serta kapal-kapal, pasoekan laoet jang tegoeh, akan menjerang Soeltan Atjéh dari pihak darat dan laoet, soepaja terkoeroeng. Maka berangkatlah
pasoekan darat jang besar dan pasoekan laoet jang tegoeh me- noedjoe negeri Djohor. Sementara itoe Panglima Malém Dagangpoen berangkat poela dari negeri Asahan, mengikoeti perdjalanan soeltan jang telah terdahoeloe kenegeri Djohor. Akan Panglima Malém Dagang itoe berlajar dengan pasoekan kapal-kapal jang tiada berapa besarnja, karena jang lain telah dibawa bersama oléh soeltan dahoeloe. Hatta setelah pasoekan kapal Panglima Malém Dagang sampai kela- oetan Banan (Banang) bertemoelah dengan pasoekan jang besar dari pihak radja Djohor; akan tetapi radja Djohor sendiri beloem datang, karena baginda lagi bersiap diri dan mengoempoelkan laskar jang lebih banjak dari setiap negeri jang taloek kepada baginda. Adapoen Teungkoe Dja Pakèh serta Panglima Malém Dagang tahoelah soedah, bahwa soeltan telah masoek kedalam negeri Djohor dengan tiada berperang lebih dahoeloe. Sekarang radja Djohor hendak menjerang dari pihak laoet dan darat. Maka sangatlah bersoesah hati Tengkoe Dja Pakèh dan Panglima Malém Dagang takoet kalau-kalau soeltan terkoeroeng oléh moesoeh jang banjak dipihak laoet dan darat, pada hal bersama panglima itoe hanja sedikit sekali bala tentera. Hatta setelah pasoekan laoet radja Djohor itoe bertemoe dengan pasoekan kapal Atjéh, berperanglah kedoea pasoekan itoe dengan hébatnja ditengah-tengah laoetan Banang. Setelah tiga hari Panglima Malém Dagang berperang itoe, banjaklah kapal moesoeh jang tenggelam dan binasa; tetapi semakin banjak djoega bertambah bantoeannja karena dari tiap pihak datang berkoempoel kapal-kapal perang Djohor itoe kelaoet Banang. Oléh Panglima Malém Dagang terasalah tiada akan terlawan angkatan jang besar itoe. Tetapi oléh karena perlawanan dari panglima itoe dilaoet, sebagai teralangilah moesoeh jang hendak menjerang soeltan didalam negeri Djohor. Akan Panglima Malém Dagang dan Teungkoe Dja Pakèh ber- moepakatlah hendak menjoeroeh oetoesan menhadap baginda soeltan didalam negeri Djohor, oentoek meminta bantoean, serta meminta baginda dengan segera meninggalkan kota Djohor, soe-
paja tidak terkoeroeng oléh moesoeh. Setelah itoe dengan sege-
ralah dikirim orang menghadap soeltan laloe dipersembahkan oetoesan itoe kepada baginda pesan Panglima Malém Dagang dan
Dja Pakèh. Akan soeltanpoen sangat menaroeh soesah hati, takoet kalau² panglima itoe mendapat bentjana sebeloem datang bantoean dari baginda. Maka dengan segera soeltan menitahkan bala tentera bersiap. Dengan tergesa-gesa sekalian bala tentera naik kapal dan soeltanpoen meninggalkan kota Djohor, berlajar kelaoet Banang. Tiada berapa lama kemoedian sampailah pasoekan baginda itoe, laloe berkoempoel dengan pasoekan Panglima Ma- lém Dagang dan Dja Pakèh. Karena itoe maka pasoekan Atjéhpoen terdirilah dari pada pasoekan jang koeat. Maka berperanglah kedoea pasoekan laoet itoe, siang malam tiada berhenti-hentinja. Sjahdan dikatakan oléh jang empoenja tjeritera, akan pepe- rangan dilaoet itoe terlaloelah hébat dan dahsjatnja; beratoes- ratoes kapal jang binasa, beriboe-riboe laskar jang mati dari kedoea pihak; oedara dilaoetan Banang itoepoen gelaplah oléh asap bedil dan meriam, tiada dapat dibédakan lagi siang dengan malam; hanja jang terdengar soeara bedil dan tempik sorak jang rioeh dari kedoea pihak jang berperang itoe Waktoe itoe terasalah ngeri dan takoet oléh pasoekan Atjéh, karena pasoekan kapal Djohor semakin lama semakin berganda- ganda datang membantoe, serta mengoeroeng pasoekan kapal Atjéh. Oléh karena banjaknja, maka tiada berapa lama kemoedian terkoeroenglah pasoekan kapal Atjéh, serta dikelilingi oléh moesoeh jang banjak sambil melepaskan témbakan dari segala pihak sebagai air jang ditjoerahkan. Akan Radja Sioedjoedpoen telah sampailah poela kesitoe dengan angkatan jang lebih besar. Maka bertambah-tambah gembira dan berahi pasoekan Djohor itoe menjerang kapal-kapal Atjéh jang sedang terkoeroeng itoe. Pada 'adatnja binasalah pasoekan Atjéh, seolah-olah ta' dapat melepaskan diri lagi. Maka panglima-panglima serta baginda soeltanpoen sebagai hilanglah boedi dajanja. Habis takoet timboel poela beraninja, laloe pasoekan Atjéh itoe menjerang sebagai mengamoek oentoek melepaskan diri dari koeroengan moesoeh. Tengkoe Dja Pakèhpoen berkatalah: ,,Sekarang soedah datang saat jang baik oentoek bala tentera Atjéh. Maka ketiga panglima itoepoen bersiap diri, serta memerintahkan kapal-kapal Atjéh berperang dengan bersoenggoeh-soenggoeh. Akan Panglima Ma- lém Dagang, Radja Radén serta Panglima Pidie dengan diikoeti oléh ra'jat laskar, menjerboelah kedalam bala tentera moesoeh jang
banjak itoe dengan beraninja. Maka terdjadilah peperangan jang terlebih keras dan hébat dari pada jang soedah-soedah. Kira kira 15 hari terdjadi peperangan jang hébat itoe siang malam tiada soenjinja, baroelah tampak pasoekan kapal-kapal Atjéh reng- gang sedikit dari impit-impitan moesoeh. Dengan demikian bertambah soenggoeh serta berani pihak Atjéh menjerang. Maka dalam témpoh doea poeloeh hari terlepaslah pasoekan Atjéh dari koe- roengan bala tentera Djohor dan dapatlah soeatoe lapangan jang menjebelahkan kedoea pasoekan itoe. Hatta setelah terlepas dari kepoengan moesoeh itoe baroelah soeltan serta panglima-panglima Atjéh bersenang hati sedikit serta diatoerlah pendjagaan, soepaja djangan sampai kena koeroeng moesoeh lagi. Akan angkatan itoe oléh panglima-panglima diatoerlah berpasoekan mendjaga dan berpasoekan menjerang serta memperhati- kan moeslihat moesoeh. Dengan begitoe pasoekan Djohor ta' da- pat lagi mengoeroeng angkatan Atjéh, sekalipoen dilakoekan be- berapa tipoe moeslihat. Waktoe itoe berperanglah pasoekan kapal itoe berhadap-ha- dapan dan melepaskan penémbakan dengan gemoeroehnja. Panglima-panglima Atjéh ketiganja moendar-mandir berkeliling menga- toer serta mendjaga dan mengerahkan bala tenteranja; akan keti- ga panglima Atjéh itoe sama koeat dan sama beraninja, rajatpoen bertambah poela berani karena panglima-panglimanja gagah per- kasa. Akan Teungkoe Dja Pakèh tiada soenjinja dari pada memin- ta doa siang dan malam. Hatta akan Radja Sioedjoedpoen mengepalaï pasoekannja dengan gagah berani poela, tiada takoet-takoet dan garang, memberi gembira hati sekalian bala tenteranja; kedoea pihak pasoekan itoepoen semakin berdekat djoega, karena sama-sama madjoe hen- dak berdekatan; peperanganpoen semakin keraslah témbak-me-
némbak dahoeloe-mendahoeloei. Kapal jang karam dan rajat
jang mati tiadalah dihiraukan lagi, hanja madjoe sadja; jang ta-
koet tinggallah dibelakang, jang berani madjoe kemoeka, jang
roesak binasalah. Begitoelah peperangan jang hébat itoe telah ber-
lakoe kira-kira seboelan lamanja, beloem djoega ada jang kalah
pihak manapoen, masih sama koeat, sama berani dan sama poela gagahnja; péndéknja keras sama keras.
Sjahdan dengan takdir Toehan pada soeatoe malam Panglima
Pidie bermimpilah sebagai menjeberang laoetan dan karam dite- ngah laoet; akan mimpi itoe diberi tahoekannja pada Teungkoe Dja Pakèh dan pada kedoea panglima jang lain, karena mimpi
itoe sebagai menjatakan peri keadaan nasib Panglima Pidie itoe
koerang baik. Maka ditegahlah panglima itoe oléh kawan sedja-
watnja djangan ikoet berperang sekadar doea tiga hari; maksoed
meréka hendak menghindarkan bala bentjana jang akan menimpa diri Panglima Pidie; tetapi Panglima Pidie tidaklah berkenan, karena merasa maloe hatinja kepada kawan sedjawatnja, kalau ia,
seorang panglima, moendoer dari peperangan. Lagi poela kata
panglima itoe: ,Adapoen matinja seseorang itoe tiadalah doea kali, hanja sekali sadja; bila soedah hari ini ta' ada poela ésok." Karena itoe berperang djoegalah ia, tiada takoetnja. Arkian sedang bala tentera serta panglima Atjéh itoe berperang dengan hébatnja poela, maka Panglima Pidiepoen bertemoelah dengan kapal Radja Sioedjoed, laloe ditémbak oléh radja itoe Panglima Pidie dengan ta' dapat diélakkannja lagi dan kenalah dadanja laloe djatoeh. Karena telah sampai adjalnja maka panglima jang setia itoepoen kembalilah kerahmatoe'llah didalam ke- hormatan sebagai panglima jang gagah. Setelah terlihat oléh Panglima Malém Dagang dan Radja Radén akan panglima Pidie itoe telah mati, maka berhentilah kedoea panglima itoe dari berperang, laloe mengbormati serta mengangkat majat itoe, dibawanja kedalam kapal baginda. Serta dilihat oléh baginda akan panglima jang setia itoe mati, maka menangislah soeltan serta Teungkoe Dja-Pakéh dengan tangis jang sangat, karena baginda mengingatkan djasa panglima jang baik itoe. Akan Panglima Malém Dagangpoen sebagai kehilangan seorang pembantoenja jang gagah dalam peperangan. Setelah itoe maka soeltanpoen melakoekan roekoen jang per- loe atas majat panglima itoe, karena baginda hendak membawa djenazah panglima itoe kenegerinja, jaïtoe Pidie. Setelah selesai dari pada memandikan dan dikafani, laloe majat itoe disimpan baik-baik didalam kapal. Sjahdan terseboetlah seorang panglima bernama Dja Po Intan; ia seorang bangsa Djawa, jang telah lama datang kenegeri Atjéh memperhambakan diri kepada soeltan; soeltanpoen sangat kasih
sajang akan Dja Po Intan itoe. Waktoe baginda berangkat me- merangi Djohor itoe, Dja Po Intanpoen dibawa serta oléh baginda. Dengan Panglima Pidie dan Panglima Malém Dagang, Dja Po Intanpoen bersahabat karib. Oléh karena itoe dengan réla hati Dja Po Intan hendak mendjadi panglima oentoek menggantikan Panglima jang telah mati itoe, soepaja dapatlah ia menoentoet béla dan membantoe Panglima Malém Dagang, jang sedang meng- hadapi peperangan jang besar itoe. Maka diangkatlah oléh baginda akan Dja Po Intan itoe pengganti Panglima Pidie jang wafat. Setelah itoe berperanglah bala tentera Atjéh, dikepalaï oléh ke- tiga panglima itoe dengan sangat keras serta bersoenggoeh-soeng- goeh, tiada berhentinja siang malam. Hatta setelah doea boelan orang Atjéh berperang dengan hébat serta gagah berani, maka larilah sebahagian dari pada pasoekan bala tentera radja Djohor dengan meninggalkan radjanja ditengah peperangan; tetapi sekalipoen sebahagian dari pasoekan- nja telah lari akan radja Djohor itoe tiada ada takoet dan gen- tarnja, melainkan madjoe djoega baginda berperang dengan kebe- ranian jang tiada berwatas; akan panglima-panglima Atjéh, setelah melihat banjak pasoekan Djohor lari, makin bertambah-tambah poela beraninja dan bala tenteranjapoen demikian djoega. Tiada antara berapa lama bertemoelah kapal Panglima Malém Dagang dengan kapal radja Djohor; waktoe itoe terdjadilah peperangan jang sangat keras antara Panglima Malém Dagang dengan Radja Sioedjoed, semakin lama semakin berdekatlah kedoea kapal itoe, masing² madjoe dahoeloe-mendahoeloei, hingga kedoea kapal itoe seolah-olah berkembarlah. Serta terlihat oléh panglima² jang lain akan kapal kedoea panglima itoe soedah berdekatan, maka menjerboelah sekaliannja membantoe Panglima Malém Dagang; dan setelah berdekatan benar dilémparkan saoeh jang bertali dari kapal panglima Atjéh kedalam kapal radja Djohor, soepaja kapal itoe tiada berdjaoehan lagi, laloe ditarik tali saoeh itoe; maka kedoea kapal itoepoen rapatlah dan Panglima Malém Dagangpoen melompat kedalam kapal radja Djohor, diiringkan oléh Radja Ra- dén dan Panglima Dja Po Intan dan panglima jang lain- lainpoen, laloe berlompat-lompatanlah meréka kedalam kapal radja Djohor; waktoe itoelah terdjadi serang menjerang dan beramoek- amoekan jang tersangat hébat; soeara sendjata dan tempik
sorak orang sebagai goentoer, hingga memekakkan telinga. Adapoen akan Radja Sioedjoed tiadalah hiraunja akan panglima²Atjéh jang telah naik dikapalnja itoe serta mengamoek, me- lainkan baginda berdiam diri sadja dengan tiada takoetnja. Setelah Panglima Malém Dagang berhadapan dengan radja itoe ba- roelah baginda mengambil sendjata serta melawan, laloe serang- menjerang kedoeanja; soenggoeh dahsjat dan mengerikan. Karena sama koeat perkasanja, soeara sendjata kedoea pahlawan itoe sebagai goentoer dan mengeloearkan api. Antara tiga hari se- rang-menjerang itoe habislah segala alat sendjata dari pada tom- bak, lembing, keléwang dan pedang, hantjoer dan patah-patah, karena sama-sama kebal sama-sama tiada dimakan sendjata kedoeanja. Kemoedian terdjadilah perkelahian dari pada pergoelatan, héla-menghélakan, toemboek-menoemboek dan empas-mengempas- kan; itoepoen kedoeanja tiada jang kalah. Waktoe itoe ogahlah hati Radja Sioedjoed, karena pembantoe baginda banjak lari dan mati, serta terasa poela oléh baginda akan Panglima Malém Dagangpoen makin bertambah perkasanja. Bertambah-tambahlah ketjil hati baginda serta timboel ketakoetan. Waktoe itoe hoedjan gerimispoen toeroenlah bertjampoer dengan sinar matahari jang agak mendoeng; maka bertambah-tambahlah ngerinja hati radja itoe. Akan Panglima Malém Dagang, setelah melihat Radja Sioedjoed termenoeng-menoeng, maka dengan koe- atnja jang tersangat ditangkapnjalah pinggang radja itoe serta diangkatnja setinggi kepalanja, laloe diempaskannja kedasar kapal serta dinaikinja atas belakang baginda; kemoedian datang poela Radja Radén, dihélakannja tangan radja itoe kebelakang serta diikatnja, dan Panglima Dja Po Intan memegang kaki ba~ ginda serta dirantainja tegoeh-tegoeh. Setelah Radja Sioedjoed ter-
ikat, dibawalah baginda menghadap soeltan dan baginda soeltan~
poen bersoèka hati teramat sangat seraja menitahkan merantai baginda tegoeh-tegoeh dan dimasoekkan kedalam toetoepan kapal. Maka kalahlah Radja Sioedjoed serta dapat ditangkap oléh panglima-panglima Atjéh, ja'ni setelah berperang kira-kira doea boelan
dilaoet Banang.
Setelah itoe bersoeka-soekaanlah soeltan serta bala tentera se-
kalian dilaoet Banang itoe, karena telah beroléh kemenangan jang
sempoerna.
VII. SOELTAN ATJEH MENJERANG MELAKA Sjahdan menoeroet kata orang jang empoenja tjeritera ini, setelah Radja Sioedjoed ditangkap itoe, baginda soeltanpoen tiada hendak masoek lagi kedalam negeri Djohor, karena radjanja telah dapat ditawan; tetapi soeltan ada maksoed hendak masoek kenegeri Melaka, karena dinegeri itoe ada poela radja jang berkaoem kerabat dengan Radja Sioedjoed. Setelah itoe maka berlajarlah sekalian pasoekan Atjéh itoe menoedjoe kenegeri Melaka. Hatta akan radja Melaka telah tahoe, bahwa Soeltan Atjéh telah berperang dengan radja Djohor dilaoet Banang; pihak angkatan Atjéh beroléh kemenangan serta radja Djohor telah tertangkap, hendak dibawa ke Atjéh oléh moesoeh. Maksoed radja Melaka hendak menahan angkatan Atjéh berperang dilaoet Melaka dan hendak mereboet radja Djohor dari tangan moesoeh itoe. Maka bermoesjawaratlah radja itoe dengan hoeloebalang serta orang² besar. Setelah soedah dikerahkanlah sekalian rajat negeri oentoek didjadikan bala tentera serta menji- apkan alat sendjata jang perloe. Arkian sedang radja Melaka itoe berkira-kira, pasoekan kapal Atjéhpoen sampailah dilaoet Melaka; serta berlaboeh dilepaskan- njalah beberapa kali meriam, laloe disamboet poela didalam kota oléh radja Melaka, serta baginda menjoeroeh memeriksa kapal jang datang itoe kepada soeroehan. Setelah ternjata, bahwa kapal jang sedang berlaboeh itoe kapal angkatan Atjéh, maka radja Me- lakapoen menitahkan rajatnja keloear berdjaga-djaga dikoeala Melaka, serta kota-kota dipertegoehkan dan diperintahkan poela menémbak kapal-kapal Atjéh itoe. Setelah menerima titah itoe keloearlah sekalian bala tentera Melaka mengisi bénténg dan kota dikoeala, laloe moelaïlah dila- koekan penémbakan kekapal Atjéh dengan hébatnja. Tetapi pihak angkatan Atjéh beloem hendak membalas penjerangan itoe, karena dilarang oléh goeroe perang, Teungkoe Dja Pakèh. Setelah tiga hari bertoeroet ditémbaki, maka sangatlah marah panglima-panglima Atjéh, karena banjak kapal jang roesak oléh
peloeroe meriam orang Melaka; sekalipoen begitoe tiada djoega
Teungkoe Dja Pakèh memberi izin berperang. Diantara panglima Atjéh jang tersangat marah dan sebagai ta' dapat bersabar lagi, ialah Panglima Dja Po Intan, sebentar toe- roen naik ia kesekotji hendak mendarat serta minta izin Teungkoe Dja Pakèh, dengan mengatakan: hendak mendarat sekadar memperboeat doea tiga béntěng perlindoengan; bila ésok loesa bala tentera mendarat, soedah ada tempat melindoengkan diri. Akan permintaan panglima itoe ta' dapat ditahan lagi, sebab itoe diberilah izin panglima itoe mendarat dengan beberapa peng- iringnja; tetapi Teungkoe Dja Pakèh berpesan beroelang-oelang: Djangan memboeat penjerangan, sebeloem laskar jang didalam kapal ini memoelaï berperang." Panglima Dja Po Intanpoen toeroenlah kesekotji dengan beberapa orang laskar serta naik kedarat memboeat bénténg-bénténg. Setelah diketahoei oléh orang Melaka ada orang kapal Atjéh mendarat dan memboeat bénténg, ditémbaknjalah serta diserang- nja. Akan panglima Dja Po Intan serta kawannja, tiada djoega hendak menjerang kepada orang Melaka, hanja mempertahankan diri sadja, soepaja moesoeh tidak melanggar; tetapi sebab keras- nja penjerangan orang Melaka itoe, maka maralah panglima Atjéh itoe serta kawannja, laloe menjerboe menjerang kedalam bala tentera orang Melaka. Maka terdjadilah permoelaan perang pada hari itoe. Kira-kira setengah hari berperang, maka Panglima Dja Po Intanpoen kenalah oléh peloeroe orang Melaka, djatoeh, laloe mati, meninggalkan doenia jang fana. Setelah terlihat oléh pengikoetnja akan panglima itoe telah mati, laloe diambil meréka majatnja serta dibawa lari kesekotji lang- soeng kekapal. Serta dilihat oléh orang Melaka akan orang Atjéh itoe lari, laloe diboeroenja; tetapi orang Atjéh telah sampai kekapal, laloe dipersembahkannja kepada soeltan, bahwa panglima Dja Po Intan telah mati karena berperang dengan orang Melaka. Maka sekalian bala tentera itoepoen mendoakan arwah panglima jang gagah itoe. Hatta maka terseboetlah dalam tjeritera, bahwa pada Panglima Dja Po Intan itoe ada mempoenjaï sebilah pisau, keris sendjata- nja jang berbahagia dan bertoeah benar; nama keris itoe Simanja' Pait, berléngkok tiga. Setelah toeannja mati, keris itoepoen ke-
loearlah sendiri dari dalam saroengnja, laloe menjerang kepada orang Melaka dengan hébat, serta diboeroenja moesoeh sambil
melompat-lompat sebagai kodok. Maka hilanglah ‘akal orang
Melaka, karena ta' dapat berlawan dengan keris jang sakti itoe;
maka larilah sekaliannja keboekit. Keris itoepoen memboeroe djoe-
ga serta mengamoek. Achirnja sampailah ia keboekit penggalian
pérak; disitoe ada loebang jang dalam bekas orang mengambil pérak. Oléh karena keris itoe melompat-lompat sebagai katak,
maka terperosoklah keris itoe, djatoeh kedalam telaga diloebang tempat orang mengambil pérak itoe. Setelah terlihat oléh orang Melaka akan keris itoe terdjatoeh kedalam telaga, maka baliklah orang jang lari itoe, laloe nenoe- toep loebang itoe dengan koeali besi dan dengan batoe, hingga ta' dapat keris itoe melompat lagi keloear. Kemoedian ditémbok
orang poela diloear dan terkoeroenglah keris bertoeah itoe dida-
lam telaga itoe. Setelah itoe baroelah orang Melaka itoe bersenang hati dan balik kekotanja. Demikianlah tjeritera keris Dja Po Inta nitoe. Wa'llahoe alam! Hatta setelah tiga hari kemoedian, maka Tengkoe Dja Pakèh- poen memberi tahoe kepada panglima Atjéh jang doea orang lagi
katanja; ,,Sekarang datang soedah waktoe jang baik akan me-
njerang." Karena itoe Panglima Malém Dagang serta Radja Radénpoen bersiaplah dan diperintahkannja bala tentera mendarat. Dengan seketika itoe djoega banjaklah bala tentera Atjéh mendarat; setelah soedah sekaliannja mendarat maka panglima serta bala tentera Atjéhpoen moelaïlah menjerang; orang Melakapoen membalas serta melawan sekoeat-koeatnja, serta keloear dari bénténg² menjerang dengan hébat dan soenggoeh-soenggoeh; tetapi pihak bala tentera Atjéh tiada djoega gentarnja; kedoea orang panglima Atjéh itoe mengepalai bala tenteranja dengan girang serta gagah be- rani; pihak Melakapoen demikian; oléh sebab itoe terdjadilah per- tempoeran jang keras, beramoek-amoekan kedoea belah pihak; be- rapa banjak jang mati dan loeka, tiadalah terkira lagi; jang mati atau djatoeh ditinggalkan, jang koeat madjoe menjerang. Karena keras penjerangan pihak Atjéh, seolah-olah terkepoenglah kota Melaka; bala tentera Melakapoen oendoerlah perlahan-lahan serta
lari kedalam kota radja, dan kota koeala djatoehlah ketangan orang Atjéh. Panglima-panglima serta rajat Atjéhpoen menjerang teroes kedalam kota radja; disitoe terdapat sedikit perlawanan; maka da~ lam témpoh setengah hari alahlah negeri Melaka; kota istana dja- toeh kedalam kekoeasaan orang Atjéh serta radja Melaka larilah keloear negeri. Setelah itoe Soeltan Atjéhpoen bersemajamlah dikota Melaka, karena maksoed soeltan hendak menanti radja Melaka kembali kedalam negeri, serta hendak disoeroeh masoek agama Islam. Sjahdan Teungkoe Dja Pakèhpoen bermohon kepada baginda hendak mengoeboerkan majat kedoea orang panglima jang telah wafat itoe, karena: kalau disimpan dikapal lama-lama majat itoe akan roesak dan pada agamapoen terlarang; akan pengoeboeran kedoea djenazah itoe hendak dilakoekan dinegeri Asahan, karena bila soeltan balik ke Atjéh koeboeran itoe boléh diangkat poela dari Asahan, dibawa ke Atjéh. Akan maksoed Teungkoe Dja Pakèh itoe diperkenankan oléh soeltan, laloe Teungkoe Dja Pakèhpoen berangkatlah ke Asahan dengan membawa kedoea djenazah itoe, sedang soeltan dengan bala tentera tinggal dinegeri Melaka. Setelah Teungkoe Dja Pakèh sampai di Asahan laloe ia meng- hadap radja Asahan serta minta izin akan menanam kedoea djenazah itoe dipantai Asahan oentoek sementara. Oléh radja itoe diizinkan dengan soeka hati, karena negeri Asahanpoen soedah ta- loek kebawah keradjaan Atjéh. Setelah selesai dari pada mengoeboerkan kedoea djenazah itoe, maka Teungkoe Dja Pakèhpoen balik poela kepada Soeltan Atjéh dinegeri Melaka. Sjahdan setelah tiga boelan baginda soeltan menoenggoe da- lam negeri Melaka beloem djoega radja Melaka serta rajatnja kembali kedalam negeri, karena takoetnja, maka bagindapoen ti- dak hendak menoenggoe lagi. SOELTAN ATJEH BALIK POELANG Hatta kemoedian dari pada itoe soeltanpoen menitahkan seka- lian bala tentera bersiap, karena baginda hendak berangkat balik kenegeri Atjéh. Maka bersiaplah sekaliannja; setelah moesta'id
berangkatlah soeltan, diiringkan oléh bala tenteranja menoedjoe kepoelau Atjéh. Setelah sampai dilaoet Asahan, Teungkoe Dja Pakèhpoen toeroen kepantai laoet itoe, mengambil kedoea djenazah panglima itoe, teroes dibawanja kekapal, laloe berlajar poela. Dalam pelajaran itoe bersoeka-soekaanlah sekalian rajat laskar dengan berbagai boenji-boenjian jang merioehkan laoetan. Pada soeatoe ketika soeltanpoen bertitah kepada sekalian ke- pala bala tentera jang mengiring baginda itoe, bahwa tentera dari negeri-negeri jang akan dilaloei lebih dahoeloe boléh kembali kenegerinja masing-masing, ta' oesah mengiring baginda sampai ke Atjéh. Mendengar titah jang demikian itoe sangat soeka hati sekalian rajat, karena boléh lekas sampai keroemah tangganja masing-masing. Maka berloemba-loembalah kapal-kapal jang banjak itoe, dahoeloe-mendahoeloei mengiringkan Tjakera Doenia itoe. Hatta setelah sampai dilaoet Peusangan tinggallah sepasoekan kapal disitoe; serta masoek kekoeala negeri itoe bersoraklah sekalian laskar itoe dengan rioehnja sambil melambai-lambai pasoekan itoe, sebagai memberi selamat; maka meriam dalam Tjakera Doenia itoepoen berboenjilah, tanda terima kasih soeltan akan orang negeri itoe. Setelah itoe kapal-kapal jang lainpoen berlajar teroes hingga sampai poela kelaoet Samalanga; tinggal poela sepasoekan bala tentera; dan serta masoek kekoeala negeri itoe bersoraklah bala tentera sambil melambai-lambai dan meriam dalam kapal Tjakera Doenia berboenji poela. Kemoedian pasoekan jang mengiring berlajarlah hingga sampai ke Meureudoe; tinggal poela tentera sepasoekan disitoe; hanjalah Teungkoe Dja Pakèh serta Panglima Malém Dagang jang tidak singgah kenegerinja, karena masih banjak pekerdjaan lagi jang akan dioeroeskan dan Radja Sioedjoedpoen beloem ada kesoedah- annja. Sebab itoe Panglima Malém Dagang dengan Teungkoe Dja Pakèh ta' boléh toeroen di Meureudoe. Meriam dari kapal Tjakera Doenia berboenjilah dan baginda- poen berangkat poela. Setelah sampai baginda kenegeri Pidie, maka segala kapalpoen berhenti, karena baginda hendak mengoe- boerkan djenazah Panglima Pidie. Soeltanpoen menitahkan me-
manggil ahli waris, kaoem kerabat panglima itoe, serta diberi oléh soeltan oeang dan emas oentoek belandja kendoeri arwah pang-
panglima itoe. Maka dikoeboerkanlah djenazah itoe dengan oe-
patjara dan kehormatan dengan sepatoetnja, serta baginda sen- diri berhadir. Setelah selesai dari pada mengoeboerkan, maka soeltanpoen berangkat poela, meriampoen berboenjilah. Tiada·antara berapa hari sampailah baginda dengan sekalian kapal itoe kelaoet Atjéh; maka berboenjilah meriam bertaloe-taloe, serta disamboet oléh meriam didarat dengan gemoeroehnja; di- laoetpoen tiada soenji; tiap-tiap kapal melepaskan meriam, hing- ga sebagai perang besarlah lakoenja. Maka bagindapoen berlaboehlah diteloek serta berangkat ke- darat laloe baginda disamboet oléh orang negeri serta orang besar-besar, langsoeng baginda kedalam kota. Dipintoe raja baginda disamboet oléh toeankoe permaisoeri serta isteri menteri hoeloebalang dan meriam besar diatas kotapoen berboenjilah empat belas kali. Setelah itoe maka bagindapoen di- tepoeng tawarlah oléh permaisoeri laloe masoek keistana. Akan Panglima Malém Dagangpoen pergilah membawa Radja Sioedjoed kedalam toetoepan. Setelah radja itoe tertoetoep, pang- limapoen laloe masoek menghadap, langsoeng kedalam istana. Disitoe permaisoeripoen menepoeng tawar akan panglima jang gagah itoe poela. Setelah tiga hari kemoedian maka Panglima Malém Dagangpoen memohonkan izin kepada baginda hendak balik ke Meureudoe se~ kadar beberapa hari, kemoedian hendak menghadap poela. Oléh baginda diberilah izin serta diminta panglima itoe segera menghadap, karena pekerdjaan menghoekoem Radja Sioedjoed beloem selesai. Akan Radja Sioedjoed disoeroeh djaga baik-baik oléh Panglima Malém Dagang, djangan sampai terlepas dari pendjara, jang kelak boléh mendjadi bahaja dan bentjana jang hébat, karena radja itoe sangat koeat dan tiada termakan oléh sendjata; dan panglima itoe berpesan poela kepada Radja Radén, sebab radja itoelah jang sangat diharap oléh Panglima Malém Dagang, karena gagah serta koeat lagipoen setia. Setelah diatoer segala jang perloe, Panglima
Malém Dagangpoen berangkatlah balik kenegeri Meureudoe. Akan Teungkoe Dja Pakèh tinggal djoea bersama soeltan di Atjéh. Setelah Panglima Malém Dagang sampai di Meureudoe, diatoer- njalah apa jang perloe oentoek keperloeannja sendiri, serta mele- paskan lelahnja dari pekerdjaan jang telah berlaloe dan sangat beratnja itoe. Kira-kira seboelan lamanja panglima itoe didalam negeri Meureudoe, baliklah ia ke Atjéh menghadap soeltan; se- sampainja laloe langsoeng kedalam istana bertemoekan soeltan. Oléh soeltan dan permaisoeri ditegoer akan dia. IX. RADJA SIOEDJOED SAMPAI ADJALNJA Setelah Panglima Malém Dagang sampai ke Atjéh, bagindapoen bersedia-sedia, karena hendak memboeat kendoeri besar oentoek selamatan pekerdjaan baginda jang besar itoe dengan berhasil; dan lagi baginda banjak bernazar dan berkaoel oentoek panglima-panglima baginda waktoe dalam peperangan; akan nazar itoepoen hendak dilepaskan poela. Bagindapoen menitahkan menjedia- kan beras jang banjak serta beratoes ékor kerbau dan sapi, karena sekalian rajat dalam tiga segi Atjéhpoen hendak dipanggil. Setelah moestaid laloe baginda menitahkan mengerahkan sekalian rajat serta menteri hoeloebalang. Akan kendoeri besar itoe dilang- soengkan dalam mesdjid raja; maka ramainja tiada terkira~kira oléh orang negeri. Bagindapoen mengeloearkan emas dan pérak oentoek sedekah kepada sekalian fakir dan miskin. Setelah tiga hari selesailah kendoeri itoe dengan selamatnja. Hatta pada soeatoe hari baginda menitahkan membawa Radja Sioedjoed kehadapan baginda. Maka dibawalah oléh Panglima Malém Dagang. Maka bagindapoen bertitah kepada Teungkoe Dja Pakèh akan menanja kepada radja itoe. Oléh Tengkoe Dja Pakèh- poen ditanjalah sebagai kehendak soeltan, ja'ni soeltan berhadjat soepaja radja itoe masoek agama Islam serta ta'loek. Tetapi Radja Sioedjoed mendjawab dengan kasarnja serta meng- hinakan agama Islam dan baginda, dihadapan chalajak. Maka bagindapoen sangatlah moerka, serta bertitah kepada Panglima Malém Dagang menjiksa Radja Sioedjoed. Setelah beberapa hari ke- moedian, dititahkan poela menanja, kalau-kalau radja itoe telah beroebah pikirannja; tetapi beroelang-oelang ditanja tidak maoe
48 djoega ia menoeroet kehendak soeltan. Maka soeltanpoen meni- tahkan Panglima Malém Dagang memboenoeh radja itoe, Titah soeltan itoepoen dilakoekan oléh panglima itoe; tetapi sangatlah menghérankan; bagaimana djoea diperboeat akan radja itoe tilak djoea ia mati segala matjam sendjatapoen tiadalah me- nelap kepadanja, bahkan segala roepa besi sendjata itoe habis patah-patah atau biloet; bagaimanapoen djoea dilakoekan atas ra~ dja itoe tiada djoega ia merasa sakit, hanja tertawa sadja serta menghinakan kepada Panglima Malém Dagang atau siapa jang mendekatinja. Setelah berbagai-bagai dilakoekan tidak djoega mati akan radja itoe, maka Panglima Malém Dagangpoen habislah 'akalnja, laloe dipersembahkannja kepada soeltan. Soeltanpoen bertitah menjoeroeh toetoep Radja Sioedjoed dalam pendjara serta didjaga dengan sekoeat-koeatnja. Pada soeatoe hari Radja Sioedjoedpoen terlepas dari teroeng- koe; maka hampirlah memberi bahaja bentjana. Beroentoeng djoega, dengan soesah pajah, Panglima Malém Dagang dapat poela menangkap baginda. Lain dari pada panglima itoe tiada siapapoen djoea berani berdekatan dengan Radja Sioedjoed. Setelah baginda tertangkap laloe dimasoekkan poela kedalam pendjara jang terlebih koeat serta dengan pendjagaan jang tegoeh. Kira-kira toedjoeh tahoen lamanja Radja Sioedjoed ditoetoep dalam pendjara di Atjéh, kemoedian karena adjalnja soedah sam- pai, maka radja itoepoen matilah djoea terboenoeh dengan titah Seri Soeltan Iskandar Moeda, soeltan dalam negeri Atjéh. Hatta setelah Radja Sioedjoed mangkat senanglah hati baginda soeltan, karena tiada ada bahaja bentjana lagi dari pihak moesoeh jang dichawatirkan. Maka senanglah negeri Atjéh, karena tiada ada ganggoean lagi dan negeripoen aman serta ma'moer. Akan Panglima Malém Dagang mendjadi panglima-perang
- besarlah kepada baginda soeltan; sekalian 'oesjoer negeri Panglima Malém Daganglah jang mengoempoelkannja oentoek soeltan. Dengan tiada 'oezoer soeatoe apapoen baginda Soeltan Iskandar Moeda tetaplah bertachta dinegeri Atjéh.
TAMMAT