Baca PDF (OCR): BUDAYA SUMBA JILID 2

119 halaman · 119 halaman diproses dengan OCR· 87692 ms

Daftar isi
  1. BU DAYA SUMBA
  2. JILID 2
  3. BUDAVA SUMBA
  4. JILID 2
  5. Daftar Isi
  6. PENGUBURAN
  7. Makam raja Lewa – Kambera di Parai Liu yang berbentuk rumah, bagian
  8. 4. Babi
  9. Sumba Barat
  10. Sumba Timur
  11. Makna dan fungsi kubur
  12. mbur dolmen biasa
  13. a) Bertiang dengan batu-batu papak sebagai dinding yang me-
  14. b) Ruang, kamar ganda
  15. ISAN
  16. Tahap Keenam
  17. 2Y2 kali 1 V2 meter.
  18. Uraian ringkasnya, ialah sebagai berikut :

X.111

BU DAYA SUMBA

JILID 2

BUDAVA SUMBA

JILID 2

NASKAH

B. SOELARTO
Disain buku BOBINA B RAMELAN MS

Diterbitkan oleh : PROYEK PENGEMBANGAN MEDIA KEBUDAYAAN DIT JEN KEBUDAYAAN DEPART EM EN P & K REPUBLIK INDONESl.A -JAKARTA

Proyek Pengembangan Media Kebudayaan bermaksud meningkatkan penghayatan nilai-nilai budaya bangsa dengan jalan menyajikan berbagai bacaan dari berbagai daerah di Indonesia yang mengandung nilai-nilai pendidikan watak serta moral Pancasila.

Atas terwujudnya karya ini Pimpinan Proyek Pengembangan Media Kebudayaan mengucapkan terimakasih yang sebesar-besar- nya kepada semua fihak yang telah memberikan bantuan.

PROYEK PENGEMBANGAN MEDIA KEBUDA Y AAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDA Y AAN

PIMPINAN,

Daftar Isi

Pengantar 5 Daftar Isi 7 Adat kematian dan penguburan....................... 9
Ku bur ........................................... 53
Nisan ........................................... 72
Adat-Istiadat yang dilakukan dalam hubungannya dengan bercocok tanam.................................. 91 Adat Istiadat yang dilakukan dalam rangka Pembangunan rumah adat...................................... 107

PENGUBURAN

Menurut konsepsi kepercayaan Marapu, kematian adalah suatu proses pera/ihan da/am kehidupan setiap manusia. Yaitu proses peralihan dari kehidupan sementara di alam fana ke hidup- an abadi di alam baka. Dari kehidupan berjasad kasar ke kehidupan jasad halus. Proses peralihan itu merupakan suatu krisis. Karena pada saat. kematiannya, manusia sama sekali tidak mem- punyai daya kekuatan sendiri untuk melepas rah dari tubuh yang telah mati. Yang mampu melepaskan rah adalah para sanak keluarganya dengan cara melaksanakan segala rangkaian upacara-upacara yang telah ditentukan dalam Adat Kematian dan Penguburan. Merekalah yang berkewajiban menyelamatkan rah dengan melaksanakan ritus-ritus dengan secermat-cermatnya. Kecermatan dan kesempurnaan pelaksanaan ritus-ritus itu sangat menentukan "nasib" rah anggota keluarganya yang meninggal. Sebab apabila pelaksanaannya tidak cermat dan tidak sempurna, akibatnya rah akan mengalami banyak kesulitan dalam usahanya mencapai Negeri Marapu, Parai Marapu. Bahkan bisa tersesat dan menjadi penghuni masyarakat arwah yang terkutuk untuk selama-lamanya. Adat Kematian dan Penguburan para penganut kepercayaan Marapu pada dasarnya masih meneruskan tradisi purbakala. Yaitu dalam sistim penguburan. Dengan melakukan penguburan bertahap. Tahap pertama merupakan penguburan sementara (sepulture pravisoire) atau penguburan primer. Tahap kedua merupakan penguburan sekunder. Penguburan bertahap itu ber- tolak .. dari keyakinan bahwa selama masa penguburan primer, rah seseorang masih tetap berada di alam ramai dalam ling- kungan rumah sanak-keluarganya. Setelah dilakukan upacara ter- akhir (ceremonie finale) dan dilaksanakan penguburan sekunder, barulah rah "dinaikkan" ke Negeri Marapu, Parai Marapu.

Pada jaman purbakala, penguburan sekunder dilakukan de- ~gan memasukkan tengkorak serta tulang-tulang ke dalam periuk, tempayan. Penguburan dalam periuk, tempayan (urn burial) se-

Contoh sebuah kubur periuk, tempayan yang terdapat dekat muara sungai Kambaniru di daerah Lambanapu, Sumba Timur.

Umalulu. Dan masih dilanjutkan sampai awal jaman sejarah. Tapi dalam perkembangannya kemudian, penguburan dalam periuk, tempayan itu lalu ditinggalkan. Meskipun penguburan dalam periuk, tempayan sudah tidak lagi dilakukan, namun sampai masa kini Adat Kematian dan Penguburan para penganut kepercayaan Marapu masih tetap mempertahankan sistim penguburan bertahap (penguburan primer -penguburan sekunder) yang merupakan tradisi purbakala itu .. Dan sistim penguburan bertahap itu merupakan salah satu prinsip yang dianut oleh segenap suku-suku di seluruh Sumba yang masih menganut kepercayaan Marapu. Tapi dalam teknis pelaksanaannya terdapat perbedaan-perbedaan di daerah-daerah Sumba Barat dan Sumba Timur. Di Sumba Barat pada masa kini, penguburan primer dilakukan dalam jangka masa yang relatif singkat, yaitu hanya se_lama satu sampai beberapa minggu saja. Selama penguburan primer, jenaz~h sudah dimasukkan ke dalam liang kubur tapi belum ditutup. Setelah dilakukan upacara terakhir (ceremonie finale), barulah kubur ditutup untuk selamanya. Yang berarti penguburan sekunder telah dilaksanakan. Di Sumba Timur sampai masa kini, penguburan primer masih dilakukan dalam jangka waktu antara setahun sampai sepuluh tahun. Selama penguburan primer itu jenazah dimasukkan dalam peti mati yang terbuat dari sebatang pohon besar dengan diameter lebih dari setengah meter. Setelah jenazah dimasukkan ke dalamnya dengan benda-benda bekal kubur, peti mati lalu ditutup dengan paku kayu. Bagian-bagian yang berlobang ditutup dengan lapisan tanah liat yang diramu kotoran kerbau se- hingga lekat dan rapat betul. Peti mati lalu ditaruh dalam kamar jenazah di d.alam rumah. Tapi adakalanya peti mati ditaruh dalam sebuah rumah jenazah yang khusus didirikan di pekarangan luar rumah untuk keperluan penguburan primer. Malah adakalanya juga, penguburan primer dilakukan dengan memasukkan jenazah

Penguburan primer di daerah Wanukaka, Sumba Barat pada pertengahan bulan Juni 1976. Jenazah sudah dimasukkan ke dalam liang kubur batu yang selama masa penguburan primer itu dinaungi rumah-rumahan beratap seng yang khusus didirikan di atas kubur. Di kejauhan tampak bentangan kain untuk menutupi jenazah. Masa penguburan primer hanya dua minggu lalu dilakukan upacara penutupan batu kubur sebagai upacara terakhir (ceremonie finale) yang menandai, bahwa penguburan sekunder telah di- laksanakan.

mengumpulk,an sumbangan serta dana secukupnya, peti mati dari kayu atau batu penutup kubur dibuka. TuHmg belulang diambil. Disucikan; di- sembahyangkan diberi sesajian dan persembahan korban hewan- hewan dengan segala upacara kebesaran. Dan setelah dilakukan serangkaian upacara-upacara yang merupakan upacara terakhir (ceremonie finale), barulah dilaksanakan penguburan sekunder. Pelaksanaan upacara-upacara kematian dan penguburan di berbagai daerah juga berbeda dalam variasi. Demikian juga me- ngenai masa berkabung serta pantangan-pantangan yang wajib dipatuhi oleh sanak keluarga yang terdekat selama masa berkabung. Bahkan dalam menilai kematian yang tidak wajar se- bagai akibat sesuatu kecelakaan, antara Sumba Barat dan Sumba Timur, juga berbeda. Di Sumba Barat, seseorang yang meninggal akibat sesuatu kecelakaan tidak boleh dikubur dengan upacara kebesaran melainkan dengan upacara yang sederhana saja. Akan tetapi di Sumba Timur, seseorang yang meninggal akibat sesuatu kecelakaan berhak dikubur dengan upacara kebesaran seperti halnya seseorang yang meninggal secara wajar.

Namun ada ketentuan-ketentuan dalam Adat Kematian dan Penguburan yang dipatuhi oleh segenap suku bangsa Sumba penganut kepercayaan Marapu di seluruh daerah Sumba Barat dan Sumba Timur, yaitu ketentuan-ketentuan yang menetapkan bahwa :

  1. Dalam bulan Muharam tidak diperkenanka~ melaksanakan upacara-upacara kematian dan penguburan. (Bulan Muharam di Sumba Barat pada umumnya dikenal dengan sebutan Wula Podu yang berarti Bulan Pahit). Apabila dalam bulan Muharam ada seseorang yang meninggal maka jenazahnya dimasuk- kan ke dalam peti mati dan disimpan di dalam tanah di bawah kolong rumah. Apabila bulan Muharam telah lewat barulah peti mati diambil dan jenazah memperoleh upacara-upacara kematian dan penguburan sebagaimana layaknya.

Jenazah raja Lewa yang terakhir masih berada dalam peti mati hingga bu- /an Juli 19 76, tersimpan dalam kamar jenazah rumah-adat di Lewa Paku, Sumba Timur. Masa pengubura11 primer jenazali raja L ewa itu sudah se- tahwz lebih. Perhatikan pula kain tenun klasik Sumba Timur y ang dijadi- kan penutup peti mati.

penjahaL. dan orang-orang yang terkutuk. Dan penguburan sama sekali tanpa disertai upacara. Dahulu ketika perang antara suku masih menjadi kebiasaan, seseoran ketika perang antar suku masih menjadi kebiasaan, seseorang perajurit yang mati terpenggal oleh musuh harus dikuburkan dalam kompleks kuburan yang ada di luar perkampungan. Karena ia dianggap pengecut yang merendahkan martabat keperwiraan sukunya ataupun kabisunya, kabihunya. Kecuali apabila sanak keluarganya dapat menebus dengan kepala musuh yang dikayau, kubur perajurit yang terhina itu akan digali kembali dan dikuburkan dengan upacara kebesaran sebagai pahlawan di kompleks kuburan dalam kampung.

  1. Jenazah harus diletakkan dalam salah satu sikap. Y aitu sikap terlentang atau sikap johgkok (Hockerstellung, istilah dalam bahasa Jerman). Meletakkan jenazah dalam sikap jongkok dimaksudkan agar kekuatan jahat atau pun kekuatan hitam (black magic) yang mungkin dimiliki seseorang, pada waktu ia meninggal jangan sampai melepaskan diri dari jasad si mati dan menimpa orang-orang di sekitarnya yang pasti akan ber- akibat sangat buruk pada orang-orang terkena kekuatan jahat atau pun kekuatan hitam itu. Oleh karenanya sampai masa kini banyak suku-suku di daerah-daerah Sumba Barat dan Sumba Timur yang masih lebih menyukai meletakkan jenazah anggota keluarganya yang meninggal dalam sikap duduk. Adat memberikan kebebasan kepada setiap suku, setiap clan dalam menentukan benda-benda apa yang dinilai sebagai bekal kubur yang berharga. Adapun benda-benda yang dijadikan bekai kubur, ialah :

tern.in (Hinggi-.uiu) yang dipilih sebagai pembungkus dasar jenazah ialah yang bermotif ular atau bermotif udang. Jumlah kain, sarung tenun yang dijadikan bekal kubur menandai status sosial dan kaya miskinnya seseorang.

2. A/at perhiasan Di seluruh Sumba, mamuli merupakan alat perhiasan yang menjadi salah satu bekal kubur yang utama. Kemudian kalung manik-manik (kanatar atau kenatar), kalung rantai dari logam atau yang berlapis mas (luluamahu). Gelang manik-manik atau gelang perak. Di daerah Sumba Barat berupa gelang gading. Maraga atau marangga, wula dan laba merupakan alat perhiasan tradisionil khas Sumba Barat yang seringkali dijadikan bekal kubur yang berharga sekali.
3. A/at senjata Kelewang atau parang. Kadangkala juga ujung tombak. Bagi seorang wanita, alat senjata itu digantikan dengan sebilah pisau.
4. Rarang anyaman Berupa tas. atau tempat sirih pinang tradisionil yang di Sumba Barat disebut kaleko atau kaleku. Di Sumba Timur disebut kalumbutu.
5. Mata uang Berupa mata uang Cina yang terbuat dari lempengan mas. Mata uang mas lnggeris (pound) yang di Sumba populer dengan nama paun. Serta mata uang mas Belanda.

fiat Terdiri dari periuk, tempayan dan belanga. Dahulu, tatkala adat penguburan dalam periuk, tempayan (um burial) masih di- lakukan, barang-barang tanah liat itu merupakan alat penguburan (sekunder) yang paling utama. Dan sampai masa kini, barang-barang tanah liat itu masih tetap merupakan bekal kubur yang penting sekali.

8. Barang keramik dari luar negeri Terutama sekali barang keramik buatan Cina yang berupa piring, mangkuk, nampi serta tempat menyimpan bahan kosmetik atau ramuan obat-obatan. Tapi di samping barang keramik buatan Cina asli, juga terdapat barang keramik yang dibuat di luar wilayah Cina. Adapun keramik antik Cina itu sebagian terbuat dari cela- don, bahan batu (stone ware). Ada yang diberi glasir dengan wama-wama hijau abu-abu, hijau kekuning-kuningan, coklat, kelabu. Keramik antik Cina yang tertua mungkin dari jaman dinasti Tang (Abad IX Masehi) atau dinasti Sung (Abad X -XII Masehi). Keramik antik itu merupakan bekal kubur yang dapat dijadikan tanda tinggi rendah martabat seseorang. Makin banyak keramik antik yang dijadikan bekal kubur, makin terpandanglah ia sebagai orang yang tinggi derajatnya atau besar kekayaannya. Beberapa jenis bekal kubur itu (Bahan busana -Alat perhiasan -Mata uang -Barang keramik) memang berfungsi sebagai penun- jang status simbol roh seseorang di Negeri Marapu, Parai Marapu. Karena roh seseorang akan memperoleh kedudukannya yang layak di Negeri Marapu, hanya jika :
1. Sanak keluarganya melaksanakan secara cermat dan sempuma semua upacara-upacara yang telah digariskan dalam Adat Ke- matian dan Penguburan.

Orang yang meninggal diberi bekal kubur jenis barang-barang tertentu dalarn jumlah sebanyak mungkin, sesuai dengan kedudukan sosialnya. Narnun penilaian tentang jenis barang-barang yang dianggap sebagai bekal kubur paling bci"liarga, tidak selalu sama. Hal itu tergantung kepada tradisi masing-masing suku. Ada yang sangat mcngutamakan barang-baran~ ker:unik antik Cina dan mata uang mas, scperti yang dijadikan standar oleh kebanyakan suku-suku di Sumba Timur. Ada yang mengutamakan alat-alat senjata dan alat-alat perhiasah tradisionil yang terbuat dari mas, perak dan gading, sepcrti yang dijadikan standar oleh sebagian suku-suku di Sumba Barat. Ada lagi yang mewajibkan sanak keluarga seseorang yang meninggal untuk membckali si mati dengan kepingan-kepingan mas murni yang ditaruh pada bagian mata, lubang hidung dan mulut jenazah. J uga ada yang menganggap alat-alat senjata bukan barang berharga untuk bekal kubur. Tapi ada pula suku-suku yang menilai gong perunggu atau gong berlapis mas sebagai salah satu bekal kubur yang utama. Sedang suku-suku lainnya lagi tidak menilai alat musik itu sebagai bekal kubur yang utama. Selain berbagai jenis barang-barang tertentu yang dianggap scbagai bekal kubur utama, di seluruh Sumba segenap suku-suku sependapat bahwa hewan kerbau yang dikorbankan, merupakan bekal kubur utama. Tapi bukan sembarang kerbau melainkan kerbau jantan yang ukuran tubuh dan tanduknya dibilang berukuran "raksasa". Seckor kerbau jantan "raksasa" nilainya sama dengan sepuluh ekor kerbau yang jantan biasa. Menurut kepercayaan, kerbau-kerbau ukuran "raksasa" yang dikorbankan itu kelak menjadi hewan piaraan yang sangat tinggi nilainya di Parai Marapu. Maka makin banyak kerbau-kerbau ukuran "raksasa" yang dikorbankan, makin terpandanglah kedudukan roh seseorang di Parai Marapu. Jadi, kerbau-kerbau ukuran "raksasa" menjadi salah satu lambang kekayaan yang penting, baik di dunia ramai maupun di Parai Marapu.

"raksasa" yang di- sumbangkan untuk kemudian dikorbankan, diperlah.kan dengan penuh kehormatan. Lehernya dikalungi selembar kain merah dan daun kelapa muda. Lalu diarak ke tempat pengorbanan yang terletak di depan kubur yang te.lah berisi jenaza~1 tapi belum ditutup. Kerbau-kerbau ukuran "raksasa" itu dikorbankan dalam upacara penutupan batu kubur.

H.R. van Heekeren berpendapat bahwa korban terbau dalam
upacara penguburan merupakan adat khas dalam budaya Mega- litik. Mengorbankan kerbau, bermakna melepaskan kekuatan magis dari kerbau untuk melindungi roh orang yar.g meninggal. ltulah sebabnya kepala dan tanduk kerbau sering kali dijadikan motif hiasan l:lagian depan batu kubur. Ada yang dipahat dalam tiga demensi; dinaiki oleh area berbentuk manusia yang menggambarkan roh orang yang dikubur. Di atas sudah disinggung, bahwa dalam adat :

"raksasa " dengan dikalungi, kain merah dan daun kclapa muda sedang diarak menuju ke kampung orang yang meninggal. Perarakan didahului oleh "barisan musik " yang sepanjang perjalanan terus membwzyikan irama gong dan genderang untuk menghormati kerbau ukuran "raksasa "yang akan dikurbankan.

~o

"raksasa " sedang dalam perjalan- an ke puncak bukit tempat kampung orang y ang meninggal.

"raksasa" tergeletak di lapangan pengor- baan setelah disembelih dalam rangka upacara penguburan.

"raksasa " set el ah disenzbelih di laµangan pad a saat upacara penutupan batu kubur. Junzlah kcrbau jantan µilihan yang dise111belih pada malam itu berjumlah delapa11 ekor. rang berharga lebih dari setengah juta 111piah.

dan tanduk-tanduk kerbau.

Makam raja Lewa – Kambera di Parai Liu yang berbentuk rumah, bagian

atapnya berbentuk kepala kerbau.

Uara madewa) harus dikorbankan pada saat kubur majikannya hendak ditutup untuk selamanya agar bersamaan dengan lepasnya roh dari kubur, roh kuda kesayangannya telah siap mengantar roh majikannya ke Parai Marapu. Tapi kakak kandung seseorang yang meninggal, berhak memelihara kuda kesayangan adiknya dengan mengganti seekor kuda jantan gagah untuk dikorbankan. Dan di beberapa tempat, kuda kesayangan tetap dibiarkan hidup. Hanya selama beberapa hari kuda itu diikat pada nisan atau kubur majikannya untuk kemudian diambil, dipelihara oleh kakak atau pa- man orang yang meninggal. Tapi pada saat upacara menutup batu kubur, kuda kesayangan itu diikutsertakan dan seolah-olah akan disembelih, namun yang dikorbankan dengan sesungguhnya adalah seekor kuda jantan lainnya.

jalan menyembelihny a. Adegan di atas terjadi dalam upacara penguburan seorang bangsawan (maramba) di Wanukaka, Sumba Barat, pada bulan Juni 19 76.

dinilai sebagai sahabat senasib sepenanggungari. Di Sumba Barat disebut boga madewa. Pada umumnya anjing kesayangan yang telah memperoleh predi- kat boga madewa, tidak ikut dibunuh apabila majikannya meninggal. Sebagai gantinya dikorbankan sejumlah anjing, pada saat seseorang meninggal. Bila anggota-anggota keluarga yang dalam adat, tinggi derajatnya (paman, bibi) datang melayat, bilajenazah masih dikuburkan sementara dan bila diselenggarakan upacara-upacara khusus sesudah penguburan selesai. Hanya dalam upacara-upacara religius, inisiasi sajalah anjing boleh dikorbankan dan dagingnya dimakan untuk sesajian kehormatan ataupun selamatan. Anjing-anjing yang dikorbankan khusus dalam adat kematian dan penguburan, menurut kepercayaan akan mengikuti roh seseorang ke Parai Marapu. Di sana, sebagian dihadiahkan kepada para leluhur serta anggota-anggota keluarga yang terhormat. Sebagian lagi menjadi hewan piaraannya yang bertugas sebagai penjaga yang setia. Tanpa memiliki anjing-anjing penjaga yang setia, roh seseorang akan bisa menghadapi kesulitan-kesulitan di Parai Marapu. Mengingat pentingnya fungsi anjing itulah ada yang secara khusus menyelengggarakan upacara menaikkan roh anjing seperti yang biasa dilakukan di daerah Gaura (Sumba Barat). Di mana ada upacara menaikkan roh anjing yang disebut padeta bagalan, yang dilakukan tiga hari setelah kubur ditutup dalam rangka upacara-upacara kematian dan penguburan. Dan untuk menghormat, mengenang boga madewa seringkali jenis hewan ini dipahatkan pada nisan kubur.

¢ ;rn..

Boga madewa, anjing kesayangan lambang kesetiaan dijadikan motif omamen pada nisan kubur majikannya.

"raksasa". Kerbau biasa yang ikut dikorbankan itu di Sumba Barat sering disebut babi dede. babi yang ditinggikan. Boleh kerbau jantan boleh juga yang betina. Sejak saat kematian seseorang sampai menjelang upacara menutup batu kubur, selama kurang lebih satu minggu terus menerus disembelih kerbau-kerbau, tiap hari seekor kerbau. Secara simbolis daging kerbau-kerbau korban itu dipersem- bahkan kepada roh orang yang meninggal, serta arwah leluhur dan sanak keluarga yang telal1 lama meninggal. Menurut kepercayaan, kerbau-kerbau korban itu menjadi bekal makanan roh orang yang meninggal dalam perjalanannya ke Parai Marapu. Dan kelak setibanya di Parai Marapu, diperguna- kan untuk menjamu arwah sanak keluarganya yang telah lebih dahulu rerada di Parai Marapu.

4. Babi

~enis hewan ini sama saja dengan kerbau-kerbau biasa yang dikorbankan. Akan tetapi nilainya lebih rendah dari pada kerbau. Meskipun demikian korban babi merupakan suatu keharusan dalam melengkapi hewan-hewan korban pada upacara kematian. Sebab tanpa disertai babi, sesajian hewan-hewan korban dianggap masih belum lengkap.

besar yang digutung uleh empat urang ini adalah salah seekur hewan sumbangan untuk disembclih selama upacara kematian, penguburan.

Pada umumnya jarang sekali yang menyajikan korban hewan berupa sapi. Karena hanya orang-orang miskin sajalah yang menyembelih sapi sebagai hewan korban. Bagi orang yang sangat miskin cukup dengan menyajikan seekor anak. sapi saja. Sapi merupakan hewan yang hampir tidak mempunyai nilai rituil dan hanya dibenarkan untuk dijadikan hewan korban dalam segala upacara adat apabila dalam keadaan terpaksa sekali.

  1. Kambing Jenis hewan ini nilainya lebih rendah dari pada babi. Pada umumnya sangat jarang dijadikan hewan korban. Hanya beberapa suku saja yang menilai kambing sama dengan babi sebagai hewan korban. Misalnya suku Gaura di Sumba Barat menganggap kambing sebagai jenis he wan korban yang hampir sehilai dengan anjing.
  2. Ayamjantan Jenis hewan ini berfungsi sebagai isyarat kebangkitan roh. Kokok ayam jantan akan membangunkan roh orang yang me- ninggal pada waktunya, agar bersiap untuk menempuh perjalanannya ke alam mahluk halus, ke Parai Marapu. Oleh karena ayam jantan· itu baru disembelih di tepi kubur tatkala jenazah hendak dimasukkan ke dalam kuburannya. Di samping itu ayam jantan mempunyai makna magis, karena menurut kepercayaan bahwa bulu-ntlu ayam jantan itu akan berfungsi sebagai payung roh seseorang dalam perjalanannya ke alam mahluk halus. Sehingga jenis hewan ini juga sering dijadikan bentuk nisan kubur, meski- pun sudah distilisasi. Berbeda dengan jenis hewan-hewan lain yang dipotong, disembelih dalam jumlah besar, maka ayam jago yang disembelih selama upacara-upacara kematian dan penguburan hanya satu ekor. Demikianlah catatan mengenai berbagai jenis hewan-hewan korban serta fungsinya dalam adat kematian dan penguburan.

Sumba berlaku tiga tahap pelaksanaan upacara- upacara adat kematian dan penguburan. Namun antara satu suku dengan suku lainnya, daerah satu dengan daerah lainnya seringkali berbeda dalam tatacara dan variasinya.

1) Sebelum penguburan
a. Mensucikan, membungkus dan menghias jenazah Jenazah dimandikan lalu seluruh bagian tubuh diolesi air kelapa atau santan. Ada juga yang mempergunakan minyak kelapa. Kemudian jenazah diletakkan dalam sikap jongkok (hocker- stellung). Kedua tulang lutut dipatahkan. Kedua siku tangan di- bengkokkan sedemikian rupa hingga kedua telapak tangan meno- pang pipi. Bagian-bagian tubuh jenazah (lutut -tumit -perut-dada -lengan tangan) dibungkus erat-erat dengan kain-kain, sarung-sarung (khusus untuk jenazah wanita). Jumlah kain-kain paling sedikit dua lembar sampai puluhan lembar. Konon malah ada yang sampai lebih dari ratusan lembar. Kepala dan dahi di- lilit ikat kepala yang berwarna hi tam -merah -kuning (ada juga yang memilih warna hitam -merah -biru). Semua kain, sarung dan ikat kepala itu merupakan sumbangan dari sanak kerabat. Jenazah lalu dihias dengan mamuli, kenatar (ada juga yang dihias dengan luluamahu), atau kalung manik-manik (mote salak). Di Sumba Barat, selain mamuli juga marangga. Ada yang menutup bagian mata dengan kepingan atau mata uang mas. Mulut di- sumbat dengan kepingan mas. Ada yang menghias bagian dada dengan piring antik. Di atas kepala ada yang diberi piring-piring, mangkuk-mangkuk antik atau gong. Demikian pula di bawah pantat diberi alas piring-piring atau gong. Di kanan-kirinya di- tebari sejumlah mata uang. Ada yang menaruh tempurung berisi air kelapa pacta · kedua tangannya. Keharusan menghias jenazah tidak berlaku bagi orang-orang miskin. Di Sumba Timur, jenazah yang sudah dihiasi itu dihormati

Parai Marapu sukunya. Selama disemayamkan, tiap hari dipotong hewan-hewan korban. Jenazah diperlakukan seolah-olah masih hidup, dengan diberi sesajian makan minum setiap waktu makan. Pada malam hari dilakukan resitasi Iii marapu, Iii ndai µntuk didengar oleh roh yang masih berada dalam jenazah. Bila yang meninggal se·orang raja atau bangsawan tinggi, jenazahnya dilayani dan ditunggui siang malam oleh beberapa orang hamba sahaya pria wanita yang sering disebut pahapanggang atau lebih populer dengan sebutan papangga. Sebutan itu berlaku di seluruh Sumba, kecuali di Ana Kalang hamba sahaya itu disebut dengan parawa. Jenazah yang disemayamkan itu biasanya diletakkan dalam sikap jongkok. Di beberapa daerah Sumba Barat dan Sumba Timur ada kebiasaan setempat yang melekatka.n mata uang mas pada kedua pelupuk ma ta jenazah. Menyumbat pada kedua lo bang hidung dan mulut jenazah. Tapi kewajiban itu hanya berlaku bagi golongan bangsawan (maramba) serta mereka yang mampu saja. Jenazah disemayamkan selama beberapa hari agar segenap sanak keluarga yang tinggal di tempat jauh-jauh dapat ber- kumpul. semua untuk memberikan penghormatan terakhir dan memberikan sumbangan-sumbangan berupa hewan-hewan korban, bahan pangan guna dipergunakan dalam melaksanakan upacara

semalam.

!bu orang yang meninggal (duduk di sebelah kiri) sedang menerima ucapan be(asungkawa serta sum!Jangan-sumbangan yang berupa bahan busana dari sanak-keluarga.

Sumba Barat

Di daerah Sumba Barat pada umumnya, masa penguburan primer tidak lama. Pada masa kini malah hanya berlangsung selama satu sampai beberapa minggu saja. Jenazah dibawa ke kompleks kuburan kabihunya yang terletak dalam pelataran kampung. Jenazah digotong dari tempat persemayamannya lalu dengan suatu perarakan (prosesi) yang megah. Jenazah setibanya di kompleks k:uburan langsung dimasukkan ke dalam liang kubur bersama dengan bekal kuburnya. Kuda kenaikannya Uara madewa) yang telah dihiasi dengan kalung kain merah dan diberi pelana kain yang bagus, ikut diarak dan diikatkan pada batu kubur (Dalam upacara penutupan batu kubur yang merupakan upacara terakhir yang menandai dilaksanakannya penguburan sekunder, seringkali kuda kenaikan itu dikorbankan). Setelah dimasukkan ke liang kubur, jenazah disiram air sejuk dan ditaburi abu dapur. Kemudian seekor ayam jantan berbulu coklat disembelih di dekat liang kubur. Menurut kepercayaan, ayam jantan itu pada saatnya kelak akan berkokok membangunkan •rnh untuk memulai per- jalanannya ke Negeri Marapu, Parai Marapu. Jenazah lalu dise- limuti dengan sejumlah besar kain-kain tenun, yang paling atas ditaruh sesajian sirih-pinang, alat menumouk sirih-pinang dan beberapa tas tempat sirih-pinang (kaleko, kaleku). Pada langit- langit rumah-rumahan yang khusus didirikan di atas kubur selama masa penguburan primer, digantungi sejumlah kain-kain. Selama masa penguburan primer, jenazah ditunggui oleh segenap sanak kerabatnya secara bergiliran siang-malam.

kain penutup paling atas, ditaruh sesajian sirih-pinang. A lat menum- buk sirih-pinang dan tas tempat sirih-pinang.

sanak-keluarga secara bergiliran menwiggui jeriazah selama masa pengubwan primer.

ber.ipa daging anjing. Jenis hewan ini (anjing) di samping babi jan kerbau biasa, setiap harinya selama masa penguburan primer disembelih antara seekor sampai beberapa ekor. Tapi daging anjing hanya disajikan kepada para tamu terhormat serta mereka yang ikut menunggui jenazah. Selain para sanak keluarga, di ka!angan kaum bangsawan dan para raja juga ditugaskan papangga atau parawa (di Ana Kalang) untuk menunggui jenazah. Sclama masa penguburan primer, para sanak keluarga yang tinggal di tempat-tempat paling jauh masih term berdatangan membawa sumbangan-sumbangan. Yang membawa sumbangan hewan-hewan korban berupa kerba·.1 ukuran "raksc..5a" dan kuda jantan yang gagah selalu disertai perarakan adat dengan "barisan musik". Setibanya di kampung mereka mendapat sambutan ke- hormatan dengan bunyi-bunyian genderang dan gong yang meriah sekali. Hewan-hewan sumbangan itu sejenak dibaw.a ke lapangan pengorbanan melalui tempat pembaringan jenazc..h. Dan setiap sumbangan yang berupa kerbau jantan ukuran ''raksasa" serta kuda jantan yang gagah senantiasa diberitahukan kepada roh oleh seorang rato. Sehari sebelum masa penguburan primer bera ~

kerbau jantan ukuran "raksasa " setibanya di kampung, sejenak dibawa melalui tempat pembaringan jenazah. Seorang rato yang duduk di bagian kaki tempat pembaringan jenazah yang dinaungi rumah-rumahan beratap seng sedang memberitahu- kan kepada roh, bahwa telah datang lagi sumbangan seekor kerbau jantan ukuran "raksasa" untuk dimiliki roh di Parai Marapu kelak.

Di ántara hewan-hewan korban yang dipersembahkan kepada para marapu, arwah leluhur, sehari sebelum masa penguburan primer berakhir adalah babi. Pada gambar di atas tampak seekor babi dikorbankan dengan jalan menikamnya.

bil'han sandang. Sedang harta waris milik pribadi si mati hanya~ sebagian kecil saja yang akan dibagi-bagikan kepada kaum kerabatnya. Sebagian besar dari harta waris milik pribadi sudah diambil oleh isteri almarhum atau suami almarhumah. Apabila yang meninggal sudah janda atau duda, sebagian besar harta waris milik pribadi itu sudah diambil oleh anak-anaknya dan kakak- kakak kandungnya. Dengan demikian sanak keluarga terdekat si mati memperoleh banyak keuntungan. Karena selain memperoleh sebagian besar dari harta waris milik pribadi si mati, juga memperoleh sebagian dari sumbangan-sumbangan yang berharga. Jumlah sumbangan-sumbangan yang berupa hewan-hewan mencapai puluhan, bahkan sering sampai ratusan ekor. Demikian pula yang beru pa bahan busana. Kawuku pote seringkali berlangsung selama berjam-jam dan seringkali disertai ketegangan karena tak jarang di antara kaum '· kerabat yang menyumbang itu merasa tidak puas dengan pembagian yang diterimanya. Terutama kaum kerabat dari fihak pemberi gadis (Loka), paman si mati, mereka karena kedudukan- nya yang tinggi dalam adat perkawinan, mempunyai hak untuk minta bagian yang terbanyak dan terbaik kwalitasnya dalam Kawuku pote. Sedang kaum kerabat fihak yang menerima gadis (Doma), biasanya bersikap mengalah dalam Kawuku pote. Meski- pun demikian mereka juga sering jaga "gengsi" dengan mengaju- kan permintaan dal'1m jumlah yang lebih layak. Biasanya mereka hanya menerima pembagian yang berupa bahan sandang. Kalau hewan, hanya jenis babi. Tapi betapapun lama dan tegang suasana Kawuku pote, selalu dapat dicapai kompromi dan berakhir dengan selamat agar upacara penutupan batu kubur dan penguburan sekunder dapat segera dilaksanakan.

Kawliku pote Foto-foto di bawah ini memperlihatkan beberapa adega n Kawuku pate yang diambil menj elang upacara penutupan batu kubur, b'agian upacara terakhir dalam Adat Kematian dan Pengu- buran di sebuah desa daerah pedalaman Wanukaka, Sumba Barat. Pad a bulan J uni 197 6.

Utusan (mengenakan ikat kepala putih) ke.'uarga·yang meninggal men- datangi sekelompok kerabat untuk menyampaikan pembagian sisa harta waris berupa bahan busana.

~rambi) mendatangi kepala kabisu (berkaca-mata hi tam) dan rombongan~ nya menyampaikan pemberian bahan busana (di pangkuan seorang ibu yang menghadap kamera). Tapi rupanya pemberian itu dinilai kurang layak, sehingga kepala kabisu marah. Kedua orang utusan itu berusaha memadamkan amarah kepala kab isu.

'
· ~ ....

\

Kawuku pate yang berlangsung lama dalam suasana sangat tegang, karena banyak anggata kaum kerabat yang merasa tidak puas dengan pembagian sisa harta waris yang diterima mereka, baru berakhir lewat tengah malam. S?telah searang takah bangsawan yang disegani tampil angkat bicara, mengingatkan bahwa rah jenazah akan sangat tersiksa apabila upacara penutupan batu kubur tidak sogera dilaksanakan.

"raksasa" dibawa ke tempat pengorbanan. Dengan iringan bunyi genderang dan gong bertalu-talu, dikorbankanlah hewan-hewan itu. Dan sesaat sebelum kubur ditutup, kuda kesayangan Uara madewa) juga dikorbankan diiringi doa mantra(m) rato. Lalu batu kubur ditutup untuk selamanya. Dengan demikian penguburan sekunder telah dilaksanakan. Kuda kesayangan Uara madewa), lehernya di- kalungi selembar kain merah. Punggungnya diberi pelana kain (hinggi) yang bermotifkan kuda. Selama masa penguburan primer, kuda kesayangan itu diikatkan dekat batu kubur majikannya, diberi makan rumput pilihan dan minum air kelapa segar. Sesaat menjelang upacara penutupan batu kubur, kuda kesayangan itu dikorbankan. Menurut kepercayaan, roh kuda itu akan men- jemput roh majikannya dan mengantarkannya sampai ke Negeri Marapu, Parai Marapu.

· Punggungny a diberi pelana kain (hinggi) y ang be1motifkan kuda. Selama masa penguburan primer, kuda kesay angan itu diikatkan dekat batu kubur majikanny a, diberi makan rumpur pilihan dan minum air kelapa segar. Sesaat menje/ang upacara penutupan batu kubur, kuda kesay angan it1.; dikorbankan. Menurut kepercay aan, ruh kuda itu akan menjemput ruh majikanny a dan mengantarkanny a sampai ke Negeri Marapu, Parai Marapu.

Sumba Timur

Sampai masa kini di Sumba Timur, penguburan primer masih dilaksanakan selama satu sampai sepuluh tahun. Jalannya upacara dalam garis besarnya tidak banyak berbeda dengan Sumba Barat. Perbedaan yang tampak jelas, ialah dalam teknis pelaksa- naan serta tatacara, formalitas yang disesuaikan dengan adat setempat. Selama penguburan primer, jenazah yang dimasukkan ke peti mati dan disimpan di dalam rumah adat atau rumah jenazah di pekarangan, senantiasa ditunggui oleh papangga. Apabila yang yang meningga_l seorang raja atau keluarga raja, jenazah ditunggui oleh banyak papangga yang melakukan tugasnya secara bergiliran siang malam. Kelak apabila hendak dilakukan penguburan sekunder, peti mati dibuka untuk diambil tulang-belulangnya. Dan dengan upacara kebesaran diarak untuk dikuburkan selamanya (penguburan sekunder). Tentu saja disertai dengan mempersembahkan sesajian dan sejumlah besar hewan-hewan korban, diiringi irama musik dan doa mantra(m) para ratu.

  1. Sesudah penguburan Adapun upacara yang dilaksanakan sesudah dilakukan penguburan sekunder, ialah upacara menaikkan rah. Tepatnya, menaikkan salah satu unsur roh yang disebut samawo, sawo di Sumba Barat; hamangu, hamau di Sumba Bimur. Sedang unsur yang lain, yaitu ndewa atau dewa sudah dinaikkan pada waktu dilakukan upacara penutupan batu kubur. Upacara menaikkan salah satu unsur roh itu di Sumba Timur disebut Padeta hamangu atau Padeta hamau. Di Sumba Barat disebut Padeta Samawo atau Padeta sawo. (Khusus di daerah Laoli dan Wanukaka, Sumba Barat disebut Padeta matawai yang bermakna : menaikkan roh ke sumbemya yang pokok). Upacara itu dilakukan pada hari ketiga setelah penguburan sekunder dilaksanakan. Dipimpin oleh rato, ratu. Tapi dapat juga oleh

Sumba Timur dalam bZisana adat lengkap. Perhatikan topi unik yang dipakai papangga wanita.

Upacara dilakukan di kuburan, dengan sesajian sirih pinang dan hewan korban. Setelah upacara selesai, diambillah sebuah batu dari dekat kuburan sebagai simbol unsur rah yang bersangkutan. Batu itu kemudian ditaruh di atas loteng, yaitu tempat yang khusus disediakan untuk para marapu, arwah Ieluhur dan arwah sanak-keluarga yang telah meninggal (Uma Deta, Hindi Marapu). Upacara menaikkan unsur rah dilakukan secara sederhana dengan disaksikan oleh para rato, ratu dan sanak-keluarga yang terdekat, dan diakhiri dengan selamatan, makan bersama.

Makna dan fungsi kubur

Bagi para penganut kepercayaan Marapu, kubur mempunyai makna dan fungsi :

a) Sebagai pernyataan monumental, bahwa semua ritus, upacara religius yang diwajibkan telah dilaksanakan secara cermat dan sempurna sesuai dengan segala ketentuan Adat Kematian dan Penguburan yang berlaku dalam kabisu, kabihu serta suku masing-masing.
b) Sebagai monumen magis yang memancarkan restu kepada sanak-keluarga masing-masing dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban hidup bermasyarakat dengan mengamalkan kebajikan-kebajikan sebagaimana yang telah dilakukan oleh para leluhur. ltulah sebabnya kompleks kuburan didirikan di pelataran kampung, tak jauh dari perumahan segenap warga kabisu, kabihu masing-masing. Agar senantiasa terjalin semacam komunikasi magis antara yang sudah meninggal dan yang masih hidup. Serta agar masyarakat setempat senantiasa merawat kubur dengan baik- baik. Namun ada juga kompleks kuburan yang terletak agak jauh di luar kampung, yaitu kuburan yang disediakan untuk :
1. Orang-orang meninggal karena melakukan suatu tindak pidana, kejahatan besar atau perbuatan yang sangat nista.

Para perajurit yang kalah dalam peperangan dan kepalanya telah hllang terkayau dibawa musuh.

  1. Untuk para raja dan sanak keluarganya yang terdekat (seperti yang terdapat di Kawangu, Sumba Timur). Dengan catatan, bahwa meskipun ketiga kompleks kuburan itu letaknya di luar kampung, namun masing-masing kompleks tempatnya berbeda. Kompleks kuburan raja dan sanak keluarganya yang terdekat lokasinya di tempat yang paling rindang dan subur. Di sekitarnya didirikan perumahan untuk menyimpan alat-alat upacara kerajaan yang berupa alat senjata, alat musik. Dan untuk tempat tinggal para hamba yang bertugas menjaga kubur. Sikap jenazah Sebagaimana sudah diS.nggung di muka, adat memberi ke- leluasaan dalam meletakkan sikap jenazah yang disesuaikan dengan tradisi setempat, atau pun tradisi suku masing-masing. Sebab hampir tiap suku di daerahnya masing-masing mempunyai tradisi sendiri dalam hal meletakkan sikap jenazah. Di Sumba ooa dua macam sikap jenazah, yaitu :
  2. Sikap jongkok Sikap jongkok dalam istilah bahasa Jerman disebut Hocker- stellung. Meletakkan jenazah dalam sikap jongkok sudah dikenal sejak jaman prubakala. Dan sudah menjadi tradisi di berbagai daerah se-Nusantara. Mulai dari Sulawesi Tengah ke kepulauan Maluku. Di hampir seluruh'wilayah Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur sampai Seran (Seram) Barat dan Tengah.
  3. Sikap terlentang Dahulu di Sumba berlaku ketentuan adat, bahwa jenazah perajurit yang tewas dalam medan pertempuran, apabila

sikap terletang. Di beberapa daerah Sumba Barat -Sumba Timur sampai masa kini masih ada suku-suku yang hanya meletakkan jenazah dalam sikap terlentang, apabila orang yang ber- sangk.utan meninggal akibat kecelakaan dan mati dalam suatu perkelahian berdarah.

satu unsur yang menjadi ciri khas budaya purbakala, budaya Megalitik, ialah bangunan-bangunan yang clidirikan dengan mempergunakan bahan batu-batu besar. Dari ciri khas budaya Megalitik yang terdapa: di Sumba, ialah bangunan kubur yang dirikan dengan mempergunakan bahan batu-batu besar. Bangunan kubur dari batu-batu besa:- itu berpola dolmen atau do/ma. Bangunan kubur batu-batu besar yang berpola dolmen itu sebagian didirikan oleh kaum imigran di jaman prasejarah dan sebagian lagi didirikan pada jaman sejarah. Bahkan s::mpai dengan masa kini (tahun 1976) masih terus didirikan bar_gunan kubur batu-batu besar yang berpola dolmen. Maka jelaslah bahwa tradisi Megalitik secara konsisten di- hayati oleh suku bangsa Sumba sampai sekarang Dan tradisi Megalitik itu merupakan salah satu unsur warna d.:.sar yang me- nentukan corak dan dri khas budaya Sumba masa kitri. Kesetiaan pada tradisi Megalitik itu tidak hanya terbatas di kalangan masya-akat penganut kepercayaan Mar:.pu saja. Bahkan putera-puteri Sumba yang telah menganut s~suatu agama, tapi masih berada dalam lingkungan masyarakat tradisionil, tetap dikuburkan dalam kubur batu-batu besar yang b~rpola domen. (Hal itu kami saksikan sendiri dalam upacara penurupan batu kubur seorang tokoh yang telah memeluk agama Kti;ten di daerah pedalaman Wanukaka, Sumba Barat, pada bulllll Juni 1976). Kubur batu berpola dolmen di Sumba terdiri atas beberapa tipe. Tipe kubur dolmen biasa berbentuk sebl.1.ah batu besar bulat atau persegi, persegi empat panjang yang ditaruh di atas tumpukan batu-batuan. Liang lahat dalam tanah digali melingkar atau trapesium yang diberi alas dan dinding-dinding papan batu (slab). Contoh tipe kubur dolmen biasa, tampak pada foto di ba- wah ini.

mbur dolmen biasa

  1. Tipt: kubur dolmen bertiang Berbentuk meja persegi empat panjang. Tiang-tiang yang me- nyangga batu penutup kubur biasanya empat buah, tapi ada juga yang bertiang lima lebih. Tipe kubur dolmen bertiang yang berbentuk meja persegi empat panjang itu di Sumba sering disebut kubur meja. Atau kubur rumah, mungkin karena bentuknya mengingatkan pada bentuk rumah panggung persegi empat panjang, yang merupakan bentuk perumahan tradisionil. Di Sumba Barat pada umumnya, tipe kubur itu diberi orna- men tatah dan relief pada ke em pat sisi batu penutupnya. Kubur yang sesungguhnya terletak di dalam tanah dengan diberi batu penutup yang ukurannya relatif kecil atau samasekali tidak diberi batu penutup.

Tipe kubur dolmen bertiang Sumba Timur. Liang lahat yang terletak di dalam tanah di bawah bagian tengah batu penutup tiap kubur itu sama sekali tidak diberi sesuatu tanda.

Sumba Timur.

ukuran mini. Batu tiang-tiang pe- ny angga batu penutup kubur sudah diperhizlus, merupakan pilar-pilar bu/at panjang.

  1. Tipe kubur dolmen berdinding Tipe kubur ini ada dua varias :

    a) Bertiang dengan batu-batu papak sebagai dinding yang me-

nutup seluruh ruang bawah.

b) Tanpa tiang. Batu penutup ditopang oleh batu-batu papak sebagai dinding.

menye ~ rupai piramida. Lapisan batu penutup tambahan ada yang dijadikan nisan. Tipe kubur ini kadangkala batu penutup pokok diberi tiang untuk mengubur satu sampai dua jenazah. Sedang di bawah batu penutup pokok, yaitu di tanah juga dijadikan kubur untuk beberapa jenazah. Tipe kubur ini

permaisuri- ny a. Konon adalah kubur paling besar, paling masif di Sumba Barat hingga disebut Seremoni. Ukuran: lebar 4 m, panjang 7 -8 m. Jenazah raja dan permaisuri terletak di batu penutup kubur y ang diberi lobang dan masing- masing ditutup dengan empat buah papan batu. Jenazah anggota keluarga- keluarga raja dimakamkan di dalam tanah y ang terletak di kolong batu penutup kubur.

Tipe kubur berundak (Sumba Barat) dengan ornamen dan arca-arca le- luhur. Ornamen bermotifkan alat perhiasan marga dan bentuk-bentuk geometris.

kubur ada dua macam :

a) Ruang, kamar tunggal Yang memuat dua jenazah orang tua dan beberapa jenazah anak-anak. Disediakan untuk mengubur jenazah sepasang suami-isteri dan putra-putrinya yang masih kanak-kanak.

b) Ruang, kamar ganda

Terdiri atas dua ruang kamar besar. Ruang pertama untuk mengubur jenazah. Jenazah sepasang suami-isteri dan putra-putrinya yang sudah remaja atau menjelang dewasa, tetapi belum menikah.

Kubur "modern"

Dalam perkembangan mutakhir ada kecenderungan di ka- langan para bangsawan (maramba) untuk mendirikan kubur yang disesuaikan dengan selera modem. Yaitu pada bentuknya yang distilisasi dan dengan mempergunakan bahan-bahan bangunan masa kini berupa semen. Di Sumba Barat, bangunan kubur "modern" masih tetap berupa tipe kubur dolmen berdinding. Adapun dindingnya tetap berbentuk trapesium. Dan tetap mempergunakan bahan dasar rerupa batu alam ukuran besar yang kemudian diberi berlapis semen. D1 Sumba Timur, bangunan kubur "modern" ·merupakan stilisasi bentuk rumah beratap joglo atau atap biasa. Tapi, ada juga kubur-kubur para raja Sumba Timur yang didirikan pada masa kini, namun tetap mempertahankan keaslian pola dolmen dengan hanya mempergunakan lapisan semen untuk membuat rata bagian batm penutup dan tiang-tiangnya.

"modern" Sumba Barat, yang masih berupa tipe kubur dolmen berdinding. Dengan variasi inskripsi bahasa daerah ber- huruf Latin. Dan relief bermotifkan a/at-a/at perhiasan, kepala dan tanduk kerbau, anjing dan kuda kesayangan. Seluruh bangunan kubur dilapisi semen yang dikapur.

"modern" Sumba Timur, yang distilisasi dalam bentuk rumah beratap joglo. Seluruh bagian kubur dilapis semen berkapur. Bahkan diberi cat warna hitam yang membentuk gambar pintu. Banding- kan dengan dua buah kubur kuno yang :ampak di latar depan yang masih dalam keaslian tipe kubur dolmen bertiang.

Kubur raja Lewa yang terletak di atas sebuah bukit di desa Lewa Paku, Sumba Timur, merupakan contoh dari kubur "modern", yang distilisasi dalam bentuk rumah joglo dan satunya lagi (kubur keluarga terdekat raja) dengan atap biasa.

selunih bagian kubur (lantai-tiang-a tap) sudah dilapisi semen.

Parai Liu, Sumba Timur berbentuk "rumah modern" yang diberi cat hitam menggambarkan jendela-jendela (rumah tradisionil tidak mempunyai jendela). Pada kedua ujung atapnya masih diberi ciri tradisionil berupa kepala dan tanduk-tanduk kerbau ukuran "raksasa". Di belakang kubur masih ada lagi sebuah kubur (keluarga terdekat raja) yang bentuknya sama dengan kubur raja L ewa Kambera yang terletak di Kawangu. Seperti yang tampak pada fo to di bawah ini.

Sumba Timur, masih kentara mempunyai tipe kubur dolmen bertiang. Batu penutup kubur y ang masif, serta tiang-tiang dan lantainya dilapisi seme."l. Di atas batu penutup kubur diberi nisan bermotifkan roh leluhur. Bandingkan dengan kubur kuno dolmen bertiang, pada bagian ujung kubur raja Lewa Kambera yang anggun.

Pada bagian batu penutup kubur sebelq,h atas ditaruh sebuah batu kubur tambahan yang ukurannya kecil, tetapi memuat tulang-tulang seluruh anggauta tubuh seseorang. Di atas batu kubur tambahan itu didirikan dua buah nisan. Kubur besar di bagian bawah yang terdiri atas beberapa kamar untuk menguburkan 4 sampai Zima jenazah itu, seluruhnya (lantai-dinding-a tap) dilapis semen. Dan dibuat sedemikian rupa hingga berbentuk sebuah rumah.

dolmen yang sederhana. Agak di bagian depannya lagi terdapat sebuah kubur berdinding. Tipe kubur ber- susun ini mempunyai Zima buah tiang penyangga batu penutup kubur.

ISAN

Di Sumba, nisan merupakan simbol, yang melambangk.an

a) Arwah leluhur;
b) Status sosial leluhur;
c) Tradisi leluhur. Ketiga macam lambang itu ada yang sekaligus terungkap dalam sebuah nisan. Tapi· ada ,pula yang hanya mengungkapkan qua macam lambang. Bahkan banyak pula yang mengungk.ap- kan hanya salah satu macam lambang saja. Ada yang bentuknya mengingatkan kepada bentuk menhir. Dan memang sebenarnya nisan yang melambangkan arwah leluhur, status sosial dan tradisi leluhur itu mempunyai fungsi magis religius. Agar para a11li warisnya senantiasa memuliakan para leluhur, melanjutkan kebajikan dan kedudukan leluhur dalam masya- rakat serta melestarikan tradisi leluhur. Bentuk nisan dibuat dalam berbagai variasi. Ada yang menye- rupai menhir. Ada yang kaya dengan ornamen dan relief. Ada yang berupa patung. Ada pula yang hanya berupa relief. Cara meletakkan nisan juga ada beberapa macam, yaitu :
a) Didirikan terpisah dari bangunan kubur. Ada yang didirikan hanya di bagian depan bangunan kubur. Ada pula yang didirikan pada bagi.an depan dan bagian belakang penutup kubur.
b) Ada yang didirikan vertikal di atas batu penutup kubur.
c) Hanya merupakan relief pada bagian depan dan belakang batu penutup kubur.
d) Merupakan relief yang diberi tambahan area pada bagian depan atau belakang batu penutup kubur. Nisan (termasuk nisan yang didirikan terpisah dari bangunan kubur) dalam berbagai variasi itu merupakan bagian integral se- suatu kubur. Yang mempunyai fungsi umum untuk lebih me- nyatakan bangunan kubur sebagai suatu monumen religius.

bempa relief kepala dan tanduk kerbau yang diberi tambahan area leluhur dalam pose duduk di atas kepala kerbau. Nisan salah satu kubur di Tarung, Sumba Barat.

bentuk area yang ekspresif dengan pahatan alat kelaminnya.

.. .; .. ~ ·~ "

Nisan yang didirikan terpisah dari bangunan kubur tipe dolmen bertiang yang terdapat di Makaminggit, Swnba Timur. Bentuk nisan menipakan stilisasi kepala ayam jantan.

petuah.

kubur raja Lewa Kambera di Kawangu, Sumba Timur. Nisan berupa area-area leluhur tanpa busana. Arca leluhur pria dalam pose berdiri. Di atas kepalanya bertengger seekor ayam jantan. Arca leluhur putri dalam pose bersimpuh. Di atas kepalanya bertengger seekor ayam betina. Arca-area itu didirikan di atas batu penutup kubur.

Umalulu, Sumba Timur. Nisan benipa relief kepala kerbau terletak di bagian depan batu penutup kubur. Sedang di bagian belakang batu penutup kubur didirikan area leluhur.

janta11. Dengan pahatan ornamen leluhur yang mengenakan topi dan pipa di mulut menunjukkan bahwa leluhur yang dimakamkan adalah seorang raja atau pembesar di jaman Kompeni.

dimakamkan adalah seorang raja atau pembesar di jaman Kompeni.
Bentuk topi dan hewan-hewan; ayam jantan, anjing, tanduk kerbau. A/at perhiasan mamuli dan gong. pantai Sumba Timur. Nisan ini terdapat dalam kompleks perkampungan Kaliuda, pipa adalah khas buatan Baral. Juga bermotifkan

tertua· di daerah pedalaman Sumba Barat. Pada gambar di atas tampak nisan masih dihias daun kelapa muda (janur, bahasa Jawa), karena baru saja dilakukan upacara memuja roh leluhur.

ber- motifkan alat-alat perhiasan (wula, laba, mamuli) dan hewan (buaya, penyu). Serta stilisasi kepala dan ekor ayam jantan. Foto di sebelah, close up nisan yang letaknya sudah agak miring.

mar(lf'lgga. Nisan kubur "modern " tersebut sudah mempergunakan lapisan semen berh1pur. Terdapat di suatu kompleks kuburan y ang terletak di bawah perkampungan Tarung, Sumba Barat.

Sumba Barat. Menggambarkan leluhur duduk di atas kepala kerbau berhiaskan bulu-bulu ekor ayam jantan yang distilisasi dengan ornamen geometris.

kubur kuno di Lai Taning, Sumba Barat. Pada bagian atas nisan dulu ada area leluhur dalam pose duduk di atas kepala. kerbau. Ornamen pada relief keprtla kerbau, bermotif wula, mamuli, laba dan marangga dengan garis-garis lembut serta bentuk-bentuk geometris.

.'1ilang) menaiki seekor kuda.
Terdapat dalam kompleks kuburan kuno di pedalaman Sumba Timur.

Nisan yang berdiri sendiri dengan relief para leluhur dalam pose berdiri ini terdapat di Sumba Barat. Terbuat dari batu utuh (monolith). Dan diberi ornamen pahatan bermotifkan alat perhiasan: wula. Motif hewan: kuda, anjing. Motif alat musik: gong.

Serta ornamen geometris.

Parai Liu, Sumba Timur. Nisan didirikan di atas batu penutup ku!Jur pada bagian depan dan belakang. Menggambarkan leluhur dala m pose menunggang kuda. Bangunan kubur itu sendiri termasuk "modern " yang telah mempergunakan semen untuk melapisi seluruh bagian bangunan. Namun masih tetap tampak sebagai tipe kubur dolmen bertiang.

Sa/ah satu nisan pada kubur tersebut di atas. Perhatikan pula ornamen geo metris pada sisi belakang batu penutup kubur.

111enggambarkan leluhur raja Rindi, Sumba Timur. Dalam pose berdiri mengenakan busana dan tudung kepala adat. Tampak pula relief margasatwa serta buay a dan penyu.

Nisan kubur keluarga raja Rindi, Sumba Timur. Motif relief sama dengan yang di atas. Yang berbeda hanya variasinya.

YANG DILAKUKAN DALAM HUBUNGAN-NY A DENGAN BERCOCOK T ANAM

Adat-istiadat ini menjadi petunjuk, bahwa sebagian besar suku bangsa Sumba hidup dalam kultur agraris di daerah-daerah pedalaman. Adat-istiadat ini merupakan keharusan melaksanakan se- rangkaian upacara-upacara dengan tema pokok: kesuburan. Masalah kesuburan sawah ladang yang masih menggantungkan pada perputaran musim adalah masalah ketepatan pergantian musim hujan, musim kemarau serta kewajaran kedua musim itu. Dan menurut kepercayaan, yang menentukan ketepatan pergantian musim serta kewajaran musim hujan, musim kemarau itu adalah para marapu, arwah leluhur. Apabila para marapu, arwah leluhur murka, karena masyarakat di bumi lalai dalam menjalan- kan kewajibannya, akan diturunkan malapetaka. Pergantian musim jadi tak menentu. Timbul kekeringan atau kebanjiran. Kesuburan sawah-ladang hilang, panen gagal dan manusia akan kela- paran. Oleh karenanya masyarakat harus menghindarkan murka para marapu, arwah leluhur dengan melaksanakan kewajibannya secara cermat sepanjang tahun. Dan menjadikan semua upacara, kebaktian umum yang berkenaan dengan bercocoktanam bagian utama dalam kerangka adat. Masih erat berkaitan dengan itu, ialah keharusan untuk memperlakukan padi sebagai tanam- an dan bahan pangan utama yang dimuliakan. Karena menurut kepercayaan, padi adalah penjelmaan marapu yang bemama Rambu Pari. Menurut tradisi, pada jaman dahulu kala Rambu Pari terjatuh ke bumi tatkala sedang bersantai di serambi langit untuk menikmati keindahan panorama bumi. Tubuh Rambu Pari yang terhempas di bumi itu menjelma jadi tumbuhan dua jenis padi, yakni: jenis padi merah yang disebut Pari Srangu; dan jenis padi putih yang disebut Pari Keni. (Kata pari dalam bahasa daerah Sumba searti dengan kata pari dalam bahasa daerah Jawa).

menghasilkar. buah yang menjadi bahan pangan utama. Itulah sebabnya suku bangsa Sumba senantiasa memperlakukan padi, beras, nasi dengan rasa hormat. Sejak saat menyemai bibit padi, menanam padi, menuai padi, senantiasa di- iringi dengan upacara-upacara yang bersifat religius. Yang dilaksanakan secara tertib teratur dalam beberapa tahap. Terna upacara-upacara religius dalam rangka adat-istiadat yang dilakukan dalam hubungannya dengan bercocoktanam itu adalah pemujaan ter- hadap para marapu serta pernyataan syukur kepada Yang Men- ciptakan adanya tanaman padi di bumi. Adapun uraian singkat yang dilakukan secara bertahap itu adalah sebagai berikut :

Tahap Pertama

Upacara pemberian berkat pada bibit-bibit padi yang di- semai. Upacara pemberian berkat itu dipimpin oleh ra~u, rato dengan disaksikan oleh segenap anggota keluarga yang bersangkutan. Sesajian yang dipersembahkan, selain berupa sesajian po- kok, yaitu sirih-pinang, juga sebagian dari daging hewan korban (babi atau ayam).

Tahap Kedua Upacara pada tahap kedua dilaksanakan setelah sawah yang direncah siap untuk ditanami bersamaan dengan cerahnya sinar matahari di awal musim kemarau. Upacara dilaksanakan di dua tempat, yakni di rumah keluarga yang bersangkutan dan di sawah. Upacara pada tahap kedua ini dimeriahkan dengan pesta nyanyi dan musik dan penyembelihan beberapa ekor hewan-hewan korban. Dan di saw ah dilakukan pula upacara lengkap dengan sesajiannya yang khusus dipersembahkan kepada para marapu dan arwah leluhur yang menjaga sawah-ladang. Seorang ratu, rato memilih dan mengambil sebuah batu yang terletak di bawah rumah pemali. Batu itu lalu diberkati. Keesokan paginya batu itu

subur," dan sering singgah di batu yang telah di- sediakan. Sctelah ratu, rato yakin, bahwa arwah leluhur sudah singgah di batu, dipersembahkanlah sesajian sirih-pinang di atas batu. Dengan isyarat ratu, rato mulailah padi ditanam.

Tahap Ketiga Apabila padi mulai turnbuh subur, dipetiklah kira-kira duapuluh lembar daun padi. Diikat dan digantungkan di atas saiah sat'J tiang utama dalarn rumah yang disertai dengan upacara mernohon kepada marapu, arwah leluhur, agar tanarnan padi yang telah subur itu dihindarkan dari serangan hama. Selesai upacara, disiangilah rumput lala11g yang turnbuh di sekeliling padi.

Tahap Keempat Jika tanarnan padi rnulai menguning, dilakukanlah upacara memohon keselarnatan sebelum padi dituai. Upacara ini di Sumba Barat biasanya selalu dilakukan semalam suntuk -lii Marapu. Kemudian ratu, rato, meriwayatkan asal-usul sejarah para marapu menganugerahkan tanaman padi di bumi. Keesokan paginya dilakukan upacara rnagi.s religi.us (Raga Pare) di sawah. Ratu, rato membawa rnangkuk berisi santan yang telah diberkati. Kemudian secara simbolis mengusapi batang-batang padi dengan santan itu. Menurut kepercayaan, santan itu mengandung magi yang mampu menambah isi buah padi.

Tahap Kelima Sehari sebelum padi dituai, diselenggarakan upacara meriah semalam suntuk. Kebaktian kepada para marapu, arwah leluhur dinyatakan dengan sesajian sirih-pinang dan hewan korban (babi)

Serta lagu-lagu pujian (ode), resitasi (Lii Marapu, Lii Ndai) asal-usul adat bercocok tanam, diiringi irama musik. Keesokan harinya, padi dituai sehari penuh yang diiringi nyanyi- an (/udu Muti). Pada malam harinya diteruskan dengan meng- injak-injak padi, membersihkan dan mengumpulkan gabah untuk kemudian dimasukkan ke lumbung. (Pengertian lumbung bukan tempat menyimpan padi, melainkan semacam karung besar ter- buat dari anyaman pandan atau gewang yang memuat antara 500 kg sampai 3.000 kg). Yang juga diiringi dengan iringan serangkai- an lagu-lagu khusus ( Ludu Parina). Dan memotong beberapa ekor hewan korban (babi) serta dimeriahkan dengan irama musik. Sebagian gabah disisihkan lalu ditumbuk beramai-ramai. Selesai ditumbuk lalu dilakukan upacara kebaktian menghormat para marapu, khususnya Rambu Pari, yang dari tubuhnya timbul padi di bumi. Baru setelah upacara itu selesai, beras boleh dimasak dan disajikan untuk selamatan.

Tahap Keenam

Pada bulan Juni atau Juli, dilakukanlah kebaktian umum yang diselenggarakan oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai upacara tutup panen. Di Sumba Barat disebut upacara Ubotobo, di Sumba Timur disebut upacara Kanduku Woka. Upacara kebaktian umum dilaksanakan di dalam dan di luar rumah adat khusus (Uma Andung, Uma Adung). Diiringi dengan resitasi (Lii Marapu, Lii Ndai), lagu-lagu pujian (ode) dan pertunjukkan tari-tarian keliling. Pertunjukan tari-tarian keliling itu sering pula dilakukan di dekat sawah ladang semalam suntuk. Upacara kebaktian umum diikuti oleh segenap ratu, rato, para kepala kabisu, kabihu, dan seluruh lapisan rakyat ikut berpartisipasi dengan menyumbang hasil sawah ladang, hewan temak mereka. Dalam rahgka ·upacara itu dilakukan penanaman pohon lakara, di tengah lapangan kampung. Menurut kepercayaan, pohon lakara mempunyai kekuatan gaib, magis luar biasa yang secara tepat dapat meramalkan apa yang akan terjadi dengan tanaman

kerdiL hasil panen tidak begitu memuaskan. Dan jika daun-daun- nya mengering atau berguguran, itu pertanda panen akan sangat mengecewakan bahkan dapat terjadi paceklik. Itulah sebabnya pohon lakara terlarang ditanam oleh semba- rang orang. Dan apabila sudah ditanam di tengah lapangan kam- pung, pada saat-saat tertentu harus diberi sesajian.

mengecewa- kan bahkan dapat terjadi paceklik. Merupakan bagian yang sangat penting dalam adat-istiadat bercocoktanam, ialah : Upacara Tahun Baru.

Sumba Timur, Upacara Tahun Baru disebut Pamangu Langu Paraingu, yang berupa :

1. Kebaktian umum Dengan memberikan penghormatan kepada para marapu, arwah leluhur, dalam bentuk sesaji-sesajian, hewan-hewan korban. Resitasi (Lii Marapu, Lii Ndai), nyanyian-nyanyian pujian (ode), tari-tarian dan musik. Memandikan, melangir (diborehi, bahasa Jawa) pa1ung- patung marapu, selamatan.
2. Pertandingan umum Di Sumba Timur, berupa pacuan kuda. Di Sumba Barat (kecamatan-kecamatan Walakaka, Kodi, Lauli, Wanukaka, Lamboya dan Gaura) berupa perang-perangan dengan berkendaraan kuda yang disebut ·Paso/a. Khusus di kecamatan Ana Kalang, disebut Parungu Ta Kadonga. Terna pokok upacara Tahun Baru adalah kesuburan. Karena-
nya upacara Tahun Baru diselenggarakail pada akhir musim hujan, awal musim kemarau. Pergantian musim yang menandai, bahwa musim tanam padi di sawah telah tiba. Sedang pertandingan umum (pacuan kuda, perang-perangan) yang diikuti oleh segenap para ratu, rato kepala kabisu, kabihu dan seluruh lapisan rakyat dari berbagai suku itu merupakan pernyataan kerukunan, persatuan yang diikat oleh kepercayaan dan adat. Karena pertandingan umum di Sumba Barat yang di- laksanakan oleh ratusan orang itu merupakan bagian integral dari upacara Tahtm Baru yang hanya boleh diselenggarakan setahun sekali serta diikuti oleh orang beisenjata, maka untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, para ratu, rato yang bertanggung- jawab atas pelaksanaan Pasola, Parungu Takadonga harus men- jalani beberapa pantangan, antara lain, seminggu sebelumnya ha-

Sebagai ilustrasi, di bawah ini kami uraikan jalannya Pasola di daerah Gaura, Sumba Barat. Yang diikuti juga oleh suku-suku dari Lamboya, Waijewa. Pasola dilaksanakan di lapangan luas, padang rumput, yaitu Kadu dan Harotang. Dimulai kira-kira jam 10,00 pagi. Para peserta berkuda, mengenakan busana adat leng- kap. Bersenjatakan tombak yang ujungnya dibuat tumpul dan dibungkus dengan lipatan kain. Juga bersenjatakan parang di pinggang, tapi parang sama sekali tidak boleh dipergunakan. Semua kuda kenaikan mereka dihias bulu-bulu ayam, kain merah, kalung giring-giring dan pelana (sela) dari hinggi. Mereka terbagi atas dua kelompok kesatuan berkuda. Tiap kesatuan terdiri atas beberapa regu pasukan berkuda yang di- pimpin oleh para pemuka kabisu masing-masing. Tiap kesatuan diberi nama sandi, yaitu Jara Mawokaha dan Jara Wagikeya. Dan tiap kesatuan berada di bawah komando seorang rato, yaitu Rato Dodo dan Rato Kuribiri. Kedua orang rato itu dan semua peserta Pasola wajib tunduk kepada perintah seorang imam besar, yaitu Rato Ny ale yang bertindak sebagai pengawas dan juru damai.

Seluruh anggota kedua kelompok pasukan berkuda itu ber- jumlah sekitar 300 orang. Bila waktu telah menunjukkan jam

10.00, kedua kelompok kesatuan berkuda itu dalam formasi yang rapi berhadap-hadapan di tengah lapangan, menghadap ke barat dan ke timur. Sementara itu Rato Dodo dan Rato Kuribiri men- dengarkan Rato Nyale yang secara lisan mengemukakan per- aturan dan tata tertib Pasola sebagai sebuah pertandingan adat, antara lain :
1. Pasola adalah untuk memuliakan adat leluhur.
2. Tujuannya untuk melestarikan adat, menunjukkan sema- ngat pahlawan dalam membela tanah tumpah darah dan persatuan antar suku.
3. Ujung tombak harus benar-benar ditumpulkan.

Segala kerugian yang diakibatkan karena ikut Pasola harus diterirna dengan dada lapang dan tidak boleh rnerasa dendarn.

Selesai rnengucapkan peraturan Pasola dan tata tertibnya, Rato Nyale menyingkir ke tepi lapangan untuk rnengawasi jalan- nya pertandingan. Kemudian Rato Dodo dan Rato Kuribiri saling menyerukan tantangan dengan suara lantang. Kedua rato itu lalu saling rnelernparkan tombak rnasing-masing sebagai tanda, bahwa pertandingan sudah dapat dirnulai. Diiringi dengan sorak- soak gemuruh para penonton, teriakan-teriakan perang para peserta yang gegap-gempita, pertandingan dimulai. Dengan rneng- gebu-gebu mereka menyerbu regu-regu lawan. Berkejar·kejaran memutari medan pertempuran yang luas. Tombak-tornbak be- terbangan. Mereka yang terkena lemparan tombak lawan tak se- dikit yang terjatuh ke tanah, bahkan ada pula yang terjatuh ber- sama kudanya dan cedera.. Mereka harus rnenyingkir ke tepi lapangan untuk tidak mengganggu pertandingan yang berlangsung kira-kira tiga setengah jam. Apabila jumlah peserta yang menyingkir ke tepi lapangan sudah berbilang puluhan dan waktu sudah mendekati jam 14.00, segera Rato Nyale, Rato Dodo dan Rato Kuribiri memacu kudanya ke tengah lapangan. Sambil mengangkat tombaknya Rato Nyale berseru-seru memerintahkan agar pertandingan dihentikan. Perintah Rato Nyale segera dipatuhi. Para peserta Pasola kembali saling berhadapan dalam dua kelompok. Rato Dodo dan Rato Kuribir:i berada di depan kedua kelornpok itµ, sedang Rato Nyale dengan anggun duduk di atas kudanya di tengah-

Segenap peserta dan penonton serempak bersorak-sorai gemuruh, mengerumuni. Lalu pulanglah mereka dengan penuh rasa persahabatan. Setiba di kampung masing-masing para peserta Pasola disambut sebagai pahlawan yang menang perang. Dan di- siapkanlah hewan korban (babi) kepada para marapu, arwah lelu- hur. Daging hewan korban dipotong-potong, dibawa ke pintu gerbang kanpung untuk dibakar sebagai sesajian khusus kepada marapu penjaga. sawah· ladang, agar pergantian musim berjalan teratur dan memberikan kesuburan kepada padi di sawah serta semua tanaman ladang.

Demikianlah catatan mengenai Pasola di Gaura, Sumba Barat. Di daerah-daerah lain di Sumba Barat juga diselenggarakan Pasola, seperti di Gaura. Bentuk Pasola, sama, yaitu pertandingan perang-perangan. Asas tujuannya sama. Perbedaannya hanya ter- dapat dalam istilah-istilah menurut dialek, logat masing-masing. Waktu dan variasi dalam teknik penyelenggaraannya yang berbeda dalam bentuk pertandingan, ialah Parungu Ta Kadonga (Turun ke Lembah) di Ana Kalang. Pertandingan bukan berbentuk perang-perangan untuk menjatuhkan lawan dengan lemparan tombak, melainkan berupa ketangkasan melontarkan tombak-tombak ke udara. Bukan sembarang tombak-tombak melainkan tombak-tombak pemali, tombak marapu, yang menurut kepercayaan berasal dari para marapu di langit yang menurunkan delapan ke- lompok sulm Ana Kalang. (Yaitu suku-suku : Gawi -Doku -Ma- kata Keri -Matelangu -Sawu -Wai Kawelu -Kabaila Wunutu-Kuru Beba). Keempat tombak pemali tombak marapu bernama : Mesangu Karaga -Loda Pari -Malewa Legi -Dipu Dapu. Tapi yang dianggap paling keramat, ialah Mesangu Karaga dan Loda Pari. Yang terakhir, yaitu Loda Pari yang berarti Tali Padi rupanya dihubungkan dengan Rambu Pari yang menjadi asal-usul tanaman

rumi. Kedua tombak keramat itu (Mesangu Karaga -Loda Pari) melambangkan Bulan -Matahari, Musim hujan -musim Kemarau. Mempunyai kekuatan magi, yang apabila dilontarkan k~ udara dapat mendatangkan musim hujan dan mu-sim kemarau tepat pada waktunya. Pertandingan ketangkasan melontarkan tombak-tombak keramat itu bertempat di sebuah lembah (kadonga), yang merupakan sebuah lapangan luas di bawah kampung Lai Tarung. Tombak-tombak keramat itu dengan suatu upacara diambil dari tempat penyimpanannya dalam rumah adat khusus yang terdapat di kampung Lai Tarung, lalu dibawa dengan penuh kebesaran ke lembah. ltulah sebabnya upacara itu disebut Panmgu Ta Kadonga, yang beiarti : Turun kc L embah. Pertandingan itu berlangsung sehari semalam. diikuti oleh kedelapan suku-suku kelanpok Ana Kalang dan 41 orang rato. Mereka terbagi atas dua kesatuan berkuda. Berhada;>an di tengah lembah yang ditandai dengan sebuah parit pemisah. Yang satu menghadap ke arah barat dan yang satunya lagi menghadap ke arah timur. Seluruh pertandingan diawasi, dipimpb oleh seorang imam besar, Rato Bokul.

Pertandingan melontarkan tombak ke udara dilakukan delapan kali.

Purungu Ta Kadonga di Ana Kalang, pada bulan Juni 19 76.

Tarian para rato sebagai acara terakhir dalam Purungu Ta Kadonga di Ana Kalang. Tarian para rato itu dilakukan menelang dinihari.

menY:mpannya di sebuah gua di atas bukit. Dibawa tunm lalu dimandikannya di suatu tempat keramat (Popa Jara Dangu, Tabilu Basa Keru) yang terletak di tepi sungai di sebelah timur kam;rnng. Kedua patung marapu itu, ialah patung Umbu Sebu dan p;:.tung Rambu Kareri. Keduanya adalah tokoh marapu di langit, yang menurut kepercayaan menurunkan ke delapan kelompok suku-suku Ana Kalang. Setelah dimandikan, dilangir (diborehi -bahasa Jawa) diantar kembali ke dalam gua dengan dikawal tombak-tombak keramat yang dibawa dengan penuh khidmat. Seles;:.i pertandingan, tombak-tombak keramat diantar, dikembalikan ke tempatnya semub dengan khidmat pula. Yang boleh membawa dan me- mandikan, mela:1gir kedua patung marapu hanyalah para rato dari suku Doku dan suku Gawi. Sedang yang boleh membawa tombak-tombak keramat, ialah keenem suku-suku lainnya. Ke- seluruhan upacara dan pertandingan Parungu Takaconga ditutup dengan silahturahmi antara para pemuda kedelapan suku kelompok Ana Kalang di tengah ·1embah sampai menjelang subuh. Disertai pertunjukan sebuah tarian sakral oleh para rato yang juga membunyikan gong, ~ndang sendiri.

Imam Besar y ang memimpin Purungu Ta Kadonga di Ana Kalang.

YANG DILAKUKAN DALAM RANGKA PEMBANGUNAN RUMAH ADAT

Dalam pola perkampungan tradisionil Sumba, rumah adat merupakan bangunan istana. Karena rumah adat adalah komponen penting dari unsur-unsur fisik yang mencerminkan kesatuan sakral dan kesatuan sosial. Itulah sebabnya bila membangun sebuah rumah adat wajib ditaati. tatacara dengan melaksanakan serangkaian upacara-upacara, kegiatan-kegiatan yang bersifat religius atau pun magis-religius. Demil(Uma Marapu) sesuatu suku atau sekelompok suku-suku. Oleh karenanya, tidak boleh dihuni ma- nusia. Penggunaan praktis rumah marapu adalah untuk tempat kebak~ian warga sesuatu suku atau sekelompok suku-suku. Ada yang merupakan tempat benda-benda keramat milik sesuatu suku atau sekelompok suku-suku. Penggunaan praktis rumah adat ini adalah untuk menyimpan benda-benda keramat dan menye- lenggarakan kebaktian-kebaktian umum. Juga sebagai tempat musyawarah. Ada yang merupakan tempat tinggal para ratu, rato dan keluarganya. Penggunaan praktis rumah adat ini adalah untuk melakukan kegiatan-kegiatan religius, magis-religius yang terbatas sesuai dengan bidang tugas seorang ratu, rato. Rumah-adat ini

ber- kumpul salah satu unsur roh anggota keluarga yang telah mati. Dalam rumah adat ini dibuat juga tcmpat sesajian ~agi marapu, para arwah. Dan dibuat kamar untuk tempat menyimpan peti jenazah. Sedang sala11 satu tiang utama rumah berfungsi magis, karena apabila terjadi sesuatu yang gawat, misalnya salah seorang dari anggota keluarga ada yang sakit keras, maka tiang itu dapat dijadikan tempat untuk meramalkan peruntungan, nasib para anggota keluarga. Rumah-rumah yang dinilai paling keramat adalah rumah marapu (Uma Marapu). Tempat tinggal marapu yang mejadi cakal-bakal sesuatu suku atau sekclompok suku apabila pada saat-saat tertentu turun ke bumi guna menerima kebaktian, sesajian dan mempertimbangkan do'a permohonan. Tempat tinggal marapu ini dinyatakan sebagai pemali. Sama sekali tidak boleh dihuni manusia.

Mengingat nilai keramat dan fungsinya, rumah marapu pada umumnya dibangun dalam bentuk istimewa. Sehingga tampak impresif. Tiang-tiang penyangga terbuat dari batang-batang pohon utuh yang sangat tinggi, paling bagus kualitasnya dan diberi orna- men tatah. Di desa Lai Tarung, tiang-tiang penyangga terbuat dari batu-batu masif yang bergaris tengah hampir satu meter. Di kedua sudut puncak rumah, didirikan sepasang patung marapu (pria -wanita) yang terbuat dari kayu. Bilik rumah marapu hanya satu dengan diberi sebuah pintu.

tiang- tiang batu yang masih uwh di Sumba. Di atas wuwungan atap joglo didirikan area-area marapu dari kay u yang diberi "busana " ijuk.

Marapu di Lai Tanmg. Dilihat dari jarak jauh sehin1ga tiang-tiang- nya yang terbuat dari batu, kelihatan. ·

Pangkal tiang-tiang ditanam- kan dalam tanah tanpa fondasi hanya "diuntg., dengan tumpukan batu- batuan.

l 11

2Y2 kali 1 V2 meter.

Tipe rumah-rumah adat dalam kompleks perkampungan Taning, Sumba Barat. Bangunan kecil di tengah yang dipagari tumpukan batu adalah rumah marapu yang keramat.

masuk ke dalam bilik rumah marapu. Oleh karenanya membangun rumah marapu harus dilakukan dengan penuh kesucian. Para ratu, rato harus menjalani pantangan-pantangan tertentu sejak tahap per- siapan sampai dengan tahap penyelesaian pembangunan. Tatacara dan pelaksanaan upacara-upacara harus dilakukan secermat-cer- matnya. Pemilihan waktµ membangun, pemilihan bahan-bahan bangunannya, letak dan arahnya (hadapnya) harus diperhitung- kan, diadakan dengan tepat. Hewan-hewan korban harus yang terbaik. Sesuatu kesalahan kecil dalam melaksanakan tatacara membangun rumah marapu akan berakibat yang akan membawa sesuatu suku atau sekelompok suku-suku ke lembah kesengsara- an yang dahsyat, bahkan bisa memusnahkannya sama sekali. Rumah adat lainnya yang menduduki tempat penting dalam lembaga adat, ialah rumah adat yang dipergunakan untuk tempat menyimpan benda-benda keramat dan tempat kebaktian serta juga sebagai tempat musyawarah sesuatu suku atau sekelompok suku-suku. Rumah adat ini juga ada yang dinyatakan pemali, tidak boleh dihuni. Karena menjadi pusat kehidupan spirituil untuk melestarikan nilai-nilai hidup masyarakat tradisionil sepan- jang keturunan, angkat;;µi. Tingkat upacara-upac.ara dalam tatacara membangun rumah adat ini sederajat dengan tingkat upacara-upacara dalam tatacara membangun rumah marapu. Dan mengingat derajatnya yang ting- gi maka rumah adat ini seperti halnya rumah marapu, wajib diberi nama kehonnatan. Sebagai contoh kami ambilkan nama kehormatan dalam kelompok suku-suku Ana Kalang, untuk kedua macam rumah adat itu. Rumah marapu diberi nama kehormatan Uma Da Padaungu· Kabaringu Watu. Sedang untuk rumah adat

Uma Nuku Uma Hara. Rumah adat lai.nnya, ialah yang disebut Uma Andaungu, Uma Adung. Merupakan rumah yang khusus didirikan untuk tempat berkumpul para marapu tanam-tanaman dan para marapu yang menjaga sawah ladang. Oleh karenanya Uma Andungu, Uma Adung hanya diper- gunakan untuk tempat melaksanakan upacara kebaktian umum yang berkenaan dengan adat-istiadat bercocoktanam, misalnya kebaktian umum yang dilakukan oleh segenap kabisu, kabihu agar tanaman di sawah-lalang mereka tidak terserang berbagai-bagai hama, agar dihindarkan dari bahaya kekeringan yang mengakibat- kan paceklik. Kebaktian umum yang dilakukan oleh segenap kabisu, kabihu apabila panen berhasil dengan baik mereka mem- persembahkan sebagian dari hasil panen mereka kepada para marapu tanaman, para marapu penjaga sawah-ladang, disertai per- sembahan hewan-hewan korban.

Uma Adung di daerah pedalaman Sumba Timur.

para raja dengan keluarga mereka yang terdekat serta dengan hamba-sahaya.

3. Rumah Kepala Kabisu, Kabihu (clan) Tempat tinggal menetap kepala kabisu, kabihu (clan) dengan beberapa keluarga batih (nuclear family) dalam kelompok kekerabatan mereka. Rumah ratu, rato -rumah raja -rumah kepala kabisu, kabihu (clan), sama tipe/bentuknya. Yang berbeda hanyalah ukuran serta variasi bagian ruang dalam rumah dan banyak se- dikitnya hiasan-hiasan (tanduk-tanduk kerbau, rahang-rahang babi), patung-patung marapu, alat-alat perhiasan dan senjata. Tergantung pada kualitas masing-masing serta kekayaan mereka masing-masing. Ketiga rumah-adat yang tersebut tidak boleh memperguna- kan batang-batang pohon manera dan mayela untuk dibuat tiang utama (sokoguru), karena jenis kayu itu dinyatakan keramat dan hanya boleh dijadikan sebagai bahan tiang-tiang utama rumah adat yang dipergunakan sebagai tempat menjalankan upacara- upacara adat serta rumah kediaman raja.

adat di seluruh Sumba tidak ada perbedaan dalam prinsip. Perbedaan yang utama terletak pada tingkat upacara-upacara sesuai dengan fungsi dari pad.a rumah itu. Sedang perbedaan-perbedaan lainnya terletak pada varia;i upacara-upacara, pelaksanaan teknis dan istilah- istilah teknis. Tatacara membangun rumah adat meliputi hal-hal yang ber- keaan dengan :

a. Upacara-upacara, kebaktian-kebaktian;
b. Tugas para ratu, rato yang berbeda;
c. Siapa saja di kalangan orang awam yang wajib ikut berparti- sipasi;
d. Jenis bahan-bahan bangunan yang dipakai;
e. Jenis hewan-hewan korban;
f. Pantangan-pantangan yang dikenakan.

Uraian ringkasnya, ialah sebagai berikut :

a. Upacara-upacara diselenggarakan sejak tahap persiapan. Dimulai dengan upacara meramal (mawulu), yaitu meramal dengan melihat hati, tembolok anak ayam. Yang diramal ialah di mana kayu-kayu untuk tiang utama itu harus dicari -bilamana kayu-kayu itu harus ditebang -bilamana dimulai mendirikan ting-tiang utama dan kerangka rumah. Kemudian dilanjutkan dengan serangkaian upacara-upacara memohon ijin dan berkah kepada marapu, arwah leluhur. Upacara-upacara itu dilakukan di kampung, di hutan, dalam perjalanan pulang dengan membawa kayu yang akan dijadikan tiang-tiang utama. Juga di tempat yang tersembunyi dekat kampung, bila ~edang menggarap tiang-tiang utama, di dalam kampung ketika akan dimulai mendirikan tiang-tiang utama. Tiang-tiang utama di Sumba Barat disebut kabaringu, di Sumba Timur disebut hangga- niru. Tiang-tiang utama yang berjumlah empat buah itu bukan hanya sekedar berfungsi sebagai tiang-tiang penyangga saja, me-

Salah satu di antaranya adalah untuk upacara. Misalnya bila tanaman padi rnulai tumbuh besar, ada beberapa puluh batang padi yang digantungkan di atas tiang itu disertai do' a memohon berkat kepada arwah leluhur. Upacara itu dilakukan agar tanaman padi dijauhkan dari serangan hama dan kelak agar di mana panen hasilnya berlimpa11-limpah. Dan di sebuah tiang utama lainnya yang disebut kabaringu uratama hangganiru urata dijadikan media untuk meramalkan nasib se- seorang. Misalnya apabila ada orang yang sakit keras, maka seorang atau dua orang ratu, rato duduk bersila dengan menancapkan ujung tombak ke tiang utama itu disertai do'a mantra. Menurut kepercayaan, lewat tiang utama dan. ujung tombak itu, marapu akan memberi tahukan kepada ratu, rato apa sebab musabab si sakit tidak sembuh-sembuh. Dan bila masih bisa sembuh, apa saja reramuan obat-obatan yang hams dipergunakan. Jadi tiang- ting utama dalam rumah adat itu bersifat magis-religius.

satu tlang-utama yang berfungsi magis-religius dipergunakan untuk minta petunjuk dari marapu, arwah leluhur. -Caranya, ialah dengan me- nusukkan ujung tombak di bagian bawah tiang. Melalui tiang dan ujung tombak itu marapu, arwah leluhur akan memberi petunjuknya kepada ratu, rato. Dan dengan mengukur getaran suara marapu, arwah leluhur di tombak ratu, rato itu dapat meramalkan sesuatu ha/ yang berhubungan dengan musibah y ang diderita oleh seseorang.

· telah rampung didirikan, juga dilakukan upacara-upacara lagi. Dan pada setiap upacara selalu disertai sesajian sirih-pinang dan hewan korban. Jika yang didirikan rumah adat milik kepala kabihu, akbisu, dilakukan upacara meramal nasib keluarga yang akan menempati rumah adat itu. Sebagian dari upacara-upacara disertai tarian, nyanyian dan musik.

b. Pada tahap persiapan, ketika melakukan upacara meramalkan di mana letak pohon-pohon yang akan dijadikan keempat tiang utama akan dicari, segenap para rato, ratu harus hadir. Se- dang pelaksanaan mencari, menebang, mengukur dan menatah keempat batang pohon itu hanya dilakukan oleh rato, ratu yang khusus bertugas dalam bidang itu. Rato, ratu tersebut juga ikut aktif bekerja mendirikan keempat tiang utama dan membangun kerangka rumah. Apabila pekerjaan telah sampai pada tahap pemasangan atap, dipanggillah rato, ratu yang khusus bertugas dalam bidang meramalkan nasib. Pada tahap meresmikan selesainya pembangunan dan peng- gunaan rumah adat, dilakukan pula upacara dan kebaktian yang harus diikuti oleh segenap rato, ratu yang bertugas dalam ber- bagai bidmg.
c. Beberapa orang penduduk awam ikut aktif bekerja sebagai pembantu yang bertugas membawa perbekalan; memasak dan pekerjaan-rekerjaan lainnya pada waktu rato, ratu yang men- dapat tugas mencari pohon-pohon untuk keempat tiang utama itu memasuki rimba ray a. Apabila yang hendak didirikan adalah rumah adat untuk kepala kabisu, kabihu maka kepala kabisu, kabihu yang ber- sangkutan harus ikut serta mendampingi dan membantu rato, ratu tadi.

pohon-pohon tertentu. Baik yang dipergunakan dalam bentuk balokan, maupun yang sudah dibelah-beJah. Batang-batang dan belahan-belahan batang bambu juga merupakan bahan utama. Sedang belahan-belahan batang pohon kelapa, pohon pinang, gewang dipergunakan untuk alas lantai. Rumput alang-alang yang telah dike- rigkan dan dibersihkan, dipergunakan untuk atap (Sekarang sudah muJai agak banyak yang menggantikan dengan bahan seng). Batu dan tanah dipergunakan untuk landasan dan tungku pe- rapian, dapur.

e. Hewan-hewan korban, ialah babi dan ayam. Sedang kerbau yang dianggap sebagai jenis hewan korban yang tertinggi nilainya, baru di!embelih pada saat upacara terakhir, yaitu apabila me- resmikan selesainya pembangunan rumah adat.
f. Pantangan-pantangan tertentu dikenakan pada para rato, ratu yang bertugas mencari, menggarap batang-batang pohon untuk keempat tiang utama. Selama melaksanakan tugas, tidak diperkenankan berhubungan dengan para anggauta keluarga. Demikian pula orang-orang awam yang ikut membantu rato, ratu dalam melaksanakan tugas, tidak diperkenankan berhubungan dengan keluarga masing-masing. Dari segi praktis, pantangan-pantangan itu dimaksudkan untuk tidak mengganggu pekerjaan yang membutuhkan konsen- trasi fikiran dan ketelitian kerja.