Baca PDF (OCR): BUDAYA SUMBA JILID 3

141 halaman · 141 halaman diproses dengan OCR· 94555 ms

Daftar isi
  1. BUDAYA SUMBA
  2. PUSTAKA
  3. BUDAYA SUMBA
  4. JILID 3
  5. D.76097.k.
  6. BUDMA YBEA
  7. KATA PENGANTAR
  8. dengan jalan menyajikan berbagai bacaan dari berbagai daerah di
  9. DAFTAR ISI
  10. Hal.
  11. E. Seni Rupa.
  12. Kesenian itu dalam berbagai bentuk, gaya dan corak ragam
  13. 1. Lii Marapu, yang sebagian terbesar di wilayah Sumba Timur
  14. yang populer. Dalam arti menjadi milik masyarakat awam
  15. Pada suatu hari kapopoka turun di tepi telaga untuk
  16. Ujarnya: "Tuan Kapopoka, marilah singgah kerumahku"
  17. WOLI WAIYA
  18. Kemampuan memadukan pengulangan ritmis dalam melodi -komposisi lagu-lagu yang harmonis dan bernilai artistik itu
  19. sense) pada masyarakat tradisionil Sumba.
  20. c). Lagu upacara panen (Kanduku Woka).
  21. (Yakinlah kawan).
  22. Begitulah catatan mengenai segi-segi pokok seni suara tradisi-
  23. Gendang pipih
  24. disionil yang berupa
  25. berapa jenis gong.
  26. Sikap tari yang kedua.
  27. Sikap tari yang ketiga.
  28. Sikap tari yang kedua
  29. Sikap tari yang ketiga.
  30. Inventarisasi perbendaharaan tari-tarian tradisionil Sumba
  31. Renja Kabokangu
  32. ngan mempergunakan cara gerakan I.
  33. !ソ!
  34. panggung/di arena masih gerakan per-
  35. SPr76.
  36. Contoh relief dengan motif leluhur pada
  37. geometris yang merupakan ungkapan simbolisme. Orna-
  38. Contoh ornamen
  39. Bagian kulit tubuh yang boleh diberi lukisan hanyalah pa-
  40. da bagian lengan atas sampai batas pergelangan tangan. Dan
  41. b) Lukisan pada piringan kayu (wooden disc) bagian atas
  42. Lukisan pada piringan kayu itu berfungsi magis atau magis
  43. 5Pn76
  44. Secara tradisionil, tiap putri Sumba sejak masih kanak-ka-
  45. nak sudah dididik untuk segi-segi praktis pertenunan kain de-
  46. Dan bila telah berumah tangga, mereka telah mampu me-
  47. para wanita Sumba tetap produktif dalam membuat kain te-
  48. a) Wanangu : kakap atau sisir, yakni sebatang kayu bulat
  49. Proses menggambar ornamen kain tenun Sumba Timur
  50. nasi jelai. Dengan demikian selesailah hemba itu untuk
  51. seratus hari, kain (hinggi) tenun itupun jadi sudah. Akan
  52. 1) tanda ndingi : tiang tenunan. yakni dua tiang atau
  53. 2) n d i n g i : bambu tempat menyangkutkan hemba.
  54. 3) kawihu ndingi : pengikat ndingi, yakni tali yang me-
  55. 5) palu : bambu yang dipergunakan untuk alat
  56. pangkuan untuk memisahkan lungsin
  57. 7) kawihu liu : tali penahan belakang, yakni tali yang
  58. 8) handayangu : galangan, kayu bulat sebesar ibu jari
  59. a. "hinggi patinu mbulungu" : kain tenunan polos. hi
  60. genggang sedang tengahnya yang disungkit. Sebab itu di-
  61. Lain daripada sarung, disungkit pula "tera"(ikat
  62. panjang di daerah pesisir Utara Sumba Timur yang sekarang
  63. Bentuk rumah panggung persegi empat panjang yang
  64. diberi menara berpola joglo. Rumah tradisionil itu terdapat
  65. Pada sekitar abad ke XIV-XV terjadi perubahan
  66. Perubahan konsepsionil itu terjadi setelah ada sentuhan
  67. permukiman,-mungkin tempat permukiman yang pertama
  68. mereka dirikan-di daerah Tidas dan daerah Tabundung yang
  69. masa kini tetap dilestarikan dan menjadi arsitektur pe-
  70. rumahan tradisionil Sumba serta merupakan salah satu unsur
  71. dalam di antara keempat buah tiang utama (Seperti yang
  72. c. Ruang wanita yang dipergunakan sebagai ruang tidur,
  73. Ruang menyimpan makanan dan air. Kamar-kamar untuk
  74. Sebagian dari ruang pria yang dipergunakan untuk
  75. ruang tidur, ruang makan dan main musik.
  76. DENAH RUMAH ADAT
  77. ③ ②
  78. DENAH RUMAH ADAT
  79. 5. Heekeren, H.R. van, Penghidupan dalam zaman pra-
  80. 6. Heine Geldern, R,von, Introduction to "Indonesian Art"
  81. 15. Wouden, F.A.E. van, Sociale struktuurtypen in de
  82. 16. Wouden, F.A.E. van, Locale groepen en dubbele

BUDAYA SUMBA

JILID 3

PUSTAKA

BUDAYA SUMBA

JILID 3

NASKAH

B. SOELARTO Disain buku BOBIN A B
RAMELAN M S

D.76097.k.

Diterbitkan oleh :

PROYEK PENGEMBANGAN MEDIA KEBUDAYAAN DITJEN KEBUDAYAAN DEPARTEMEN P & K REPUBLIK INDONESIA-JAKARTA

BUDMA YBEA

二

KATA PENGANTAR

Dalam rangka melaksanakan pendidikan manusia seutuhnya dan seumur hidup, Proyek Pengembangan Media Kebudayaan bermaksud meningkatkan penghayatan nilai-nilai budaya bangsa

dengan jalan menyajikan berbagai bacaan dari berbagai daerah di

Indonesia yang mengandung nilai-nilai pendidikan watak serta moral Pancasila. Atas terwujudnya karya ini Pimpinan Proyek Pengembangan Media Kebudayaan mengucapkan terimakasih yang sebesar-besar- nya kepada semua fihak yang telah memberikan bantuan.

PROYEK PENGEMBANGAN MEDIA KEBUDAYAAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

PIMPINAN,

ii

DAFTAR ISI

Hal.

ii KATA PENGANTAR. iii
DAFTAR ISI ....
BAB I KESENIAN....
6

A. Seni Sastra
17

B. Seni Suara
22

C. Seni Musik
D. Seni Tari 29
52

E. Seni Rupa.

F. Seni Kriya
BAB II ARSITEKTUR....107
DAFTAR KEPUSTAKAAN ..129

iii

BAB I KESENIAN

Makna kesenian dalam pustaka ini hanya terbatas pada pe- ngertian kesenian tradisionil. Yaitu kesenian yang lahir. ber- kembang dan hidup bersama tradisi suku-bangsa Sumba.

Kesenian itu dalam berbagai bentuk, gaya dan corak ragam

nya, berorientasi kepada :

  1. Kepercayaan (Religi) Hal itu tercermin dalam semua cabang kesenian, termasuk seni kriya dan arsitektur Sumba pada umumnya. Bentuk kubur batu yang berpola dolmen adalah suatu per- nyataan (manifestasi) religius dalam konteks kepercayaan Marapu. Karena bangunan kubur batu berfungsi sebagai suatu monumen peringatan, bahwa kewajiban religius dengan secara saksama melaksanakan senua upacara kematian, penguburan guna mengantarkan roh ke alam Parai Marapu dengan se- lamat, telah dilakukan. Patung, relief serta ornamen dengan motif yang menggam- barkan roh leluhur merupakan suatu ungkapan visuil kepercayaan yang memuja arwah nenck-moyang (Marapu). Doa-mantra (m) puitis, mitos-mitos pemujaan (kultus) ne- nek-moyang dalam sastra sakral. Lagu-lagu sakral, tari-tarian sakral untuk memuliakan dan memanggil roh leluhur adalah ungkapan lain dalam kegiatan (kultus) penujaan arwah nenck moyang.

Demikian pula dalam segi arsitektur. Yang dinyatakan dengan membangun rumah-adat yang khusus diperuntukkan se- bagai tempat kediaman para marapu sekelompok suku-suku dan clan-clan (Uma Marapu). Bahkan dalam tiap rumah-adat biasa yang dijadikan tempat tinggal sekelompok kekerabatan. selalu dibuatkan ruang khusus untuk tempat tinggal arwal le- luhur dan sanak-keluarga yang telah meninggal. Ruang khusus itu terletak di atas loteng tepat di bawah wuwungan.

  1. Masa Lampau Bentuk bangunan kubur batu yang berpola dolmen, bentuk nisan batu yang mengingatkan pada ienhir. Ornamen-ornamen geometris. pilin ganda, meander yang dipahatkan pada kubur, nisan dan tiang utama rumah adat. Bentuk rumah panggung persegi empat panjang yang didirikan di atas tiang-tiang (rectangular house standing on piles). Tarian-tarian yang berthema kepahlawanan. Mitos-mitos yang meriwa- yatkan masa lampau. Kesemua itu merupakan tradisi masa lampau. Juga cara pembuatan dan pola klasik kain tenun Sumba Timur, cara pembuatan kain dari bahan kulit kayu di Barat (yang masih dilakukan sampai tahun empat puluhan abad ke XX) merupakan orientasi masa lampau.
  2. Adat Adat merupakan salah satu faktor yang menentukan warna kesenian tradisionil. Dalam segala bentuk kesenian tradisionil Sumba akan kita dapati atau kita rasakan nafas kehidupan adat setempat, baik kehidupan adat yang pernah ada di masa lampau maupun adat yang masih dihayati masyarakat masa kini. Contoh dalam seni kriya kain tenun Sumba (Timur) sa- ngat disukai pola klasik dengan ornamen yang bermotifkan pohon adung, andung di mana kepala-kepala musuh yang ter-

penggal ditancapkan untuk tujuan yang bersifat magis religius. Motif pohon adung, andung itu menggambarkan adanya adat mengayau kepala manusia pada masa lampau. Contoh dalam seni tari, ada jenis tarian perang yang selálu di sertai adegan mengayau, memenggal kepala musuh yang juga menggambarkan adanya adat mengayau kepala manusia pada masa lampau. Contoh dalam seni sastra, ada sajak-sajak (lirik) untuk lagu-lagu pengayauan. Dalam seni rupa kita memperoleh gambaran adat kematian, penguburan yang wajib disertai kurban kerbau, seperti yang dipahatkan pada nisan dan batu kubur. Lukisan magis pada piringan kayu (wooden disc) di bagian atas tiang utama rumah adat menggambarkan adat merainalkan (mowulu) sesuatu peristiwa yang masih dilestarikan hingga masa kini.

Kebutuhan adat juga melahirkan jenis-jenis atau corak- corak tertentu dalam kesenian tradisionil Sumba. Untuk memenuhi kebutuhan adat perkawinan, terciptalah jenis tarian perkawinan yang khas. Untuk memenuhi adat kematian, penguburan. terciptalah ragam-hias sarung Sumba (Timur) yang hanya bermotifkan udang atau ular. Guna dijadikan pem- bungkus utama tubuh seseorang yang meninggal dunia. Untuk memenuhi adat yang berhubungan dengan cocok- tanam. terciptalah lagu-lagu dan tarian-tarian yang hanya bolch dinyanyikan dan ditarikan dalam rangka upacara bercocok tanam. Untuk memenuhi adat meramalkan (mowulu) sesuatu peristiwa, terciptalah lukisan magis. Demikianlah sedikit contoh-contoh yang membuktikan, bahwa kesenian tradisionil Sumba sangat erat kaitannya dengan segi adat masyarakat Sumba pada umumnya.

  1. Mata pencaharian. Faktor penting lainnya yang ikut menentukan produk dari bentuk-bentuk kesenian tradisionil sekelompok suku atau pun suku-bangsa, ialah mata-pencaharian pokok, Sekelompok suku yang masih hidup secara nomadis, bermata-pencaharian berburu, pasti tidak akan mempunyai cukup waktu untuk membuat kain tenun dengan ornamen rumit yang proses pembuatannya menuntut waktu lama dan tempat pembuatan yang tidak berpindah-pindah. Tidak pula punya waktu untuk memahat patung, relief dengan ornamen rumit. Juga tidak merasa berkepentingan untuk mendirikan rumah-rumah besar lagi kokoh yang memerlukan waktu dan memerlukan banyak tenaga. Mereka yang hidup dari berburu atau menang- kap ikan merasa lebih akrab dengan alam dan hewan. Suara-
    suara hewan, gejala-gejala alam menghilhami mereka untuk menciptakan lagu-lagu serta tarian-tarian yang menirukan suara dan gerak-gerik margasatwa, gerak-irama pepohonan dan ombak lautan. Suara-suara alam di hutan, gunung, padang rumput dan lautan. Maka tidak mengherankan apabila mereka produktif dalam seni-suara, sastra lisan, seni-tari betapa- pun sederhana ungkapannya.

Namun adakalanya alam memaksa mereka untuk mengum- pulkan sebanyak mungkin hasil buruan guna disimpan selama musim hujan yang tidak memungkinkan mereka berburu. Selama menanti hujan berakhir mereka tinggal menetap di suatu tempat, gua-gua atau rumah-rumah. Dan mempunyai cukup waktu untuk melukis di dinding gua, di kulit kayu atau kulit hewan. Juga sempat untuk memahat patung, membuat anyaman, membuat alat musik jenis gendang, membuat kain-tenun, sehingga produk mereka bertambah dengan seni- rupa, seni musik, seni kriya.

Dan apabila dalam perkembanagnnya mereka mengalihkan mata pencaharian pokok ke ladang-ladang untuk bercocok tanam di samping berkebun serta tidak lagi berpindah- pindah, maka mereka merasakan kebutuhan mendesak untuk mendirikan rumah-rumah yang besar, kokoh, lagi aman. Mulailah mereka mengenal arsitektur. Seni-kriya, barang- barang pecah belah dari tanah liat untuk alat-alat memasak. Anyam-anyaman untuk menyimpan bahan sandang pangan. Untuk tempat duduk, alas tidur. Kultur agraris memberikan cukup waktu yang santai dari tahun ke tahun dengan meng- andalkan hasil panen, hasil peternakan. Yang memungkinkan mereka untuk dengan tenang mengembangkan segi-segi keindahan. Mereka bisa memperkaya warna dan motif-motif ornamen kain tenun. Memahat ornamen rumit dan relief dengan stilisasi. Corak. ragam simetris, geometris dengan garis-garis lurus lengkung. spiral. Trapesium, segitiga, segi- empat yang memenuhi ruang. Dan mereka telah menemukan dimensi baru: seni dekoratif. Simbolisme berkembang di samping realisme yang impresif. Sebagai yang tercermin dalam karya tenun, anyaman, keramik tanah liat. Dalam sastra lisan, nyanyian, musik dan tarian. Serta juga dalam arsitektur. Begitulah keempat faktor (Religi, kepercayaan-Masa lampau – Adat-Mata pencaharian) tadi membentuk watak dan warna kesenian tradisionil Sumba dari jaman purba hingga masa kini. Daya kreatif dan perasaan estetis (aesthetic sense) suku Sumba memberikan tenaga hidup atau pun vitalitas yang mengembangkan berbagai gaya lokal dengan nilai-nilai keindahan serta ciri-cirinya yang khas tanpa menghilangkan gaya klasik dari budaya purba. Hingga kesenian tradisionil Sumba mampu menyumbangkan mutiara cemerlang, berupa produk seni kriya tenun yang memperkaya perbendaharaan Kebudayaan Nasional.

A. SENI SASTRA Sastra tradisionil Sumba adalah sastra lisan. Berupa syair-syair dan ceritera-ceritera yang dihafal cermat turun-temurun hingga terpelihara utuh dan dijadikan leluri (overleveringen) sepanjang masa. Sastra lisan itu sebagian diucapkan dalam bahasa berirama, sebagian dinyanyikan. Baik yang diucapkan dalam bahasa berirama, resitasi maupun yang dinyanyikan, titik beratnya adalah pada irama atau ritme. Yang memberikan kekuatan ekspresi untuk menciptakan suasana dan daya hidup atau vitalitas. Bentuk sastra tradisionil Sumba yang utamna ialah puisi baik yang berupa pantun (parawa), peribahasa, pepatah, syair lagu, teka-teki, maupun yang berupa do'a mantra, ajaran kepercayaan dan adat. Bentuk yang lain, ialah prosa, baik yang berupa dongeng. maupun yang berupa mitos, hikayat. silsilah ajaran kepercayaan dan adat. Kedua bentuk sastra tradisionil Sumba itu sebagian besar bersifat sakral. Berfungsi religius atau magis-religius. Untuk mempertebal keyakinan kepercayaan (religi). Untuk memulia- kan adat warisan leluhur, serta ajaran moral. Dan untuk do'a mantra. Sedang yang bersifat profan berfungsi sebagai pelipur lara yang sebagian besar juga berthemakan ajaran moral. Dalam keseluruhan bentuknya itu sastra tradisionil Sumba dapat dibedakan dalam dua kelompok besar yaitu :

1. Lii Marapu, yang sebagian terbesar di wilayah Sumba Timur

disebut Lii Ndai. Lii Marapu berarti hikayat marapu, hikayat nenek moyang. Lii Ndai berarti hikayat jaman dahulu. Yang pada hakekatnya adalah mitos kepercayaan (religi) dan me- ngenai penciptaan alam semesta, manusia, hewan, tumbuh- tumbuhan. Dan mitos asal usul berbagai adat dan kaidah- kaidah adat. Contoh Lii Marapu, Lii Ndai adalah mitos asal-usul suku- suku kelompok Ana Kalang. Yang "memitoskan", bahwa mereka adalah keturunan para putra bulan (Ana Wula) dan putra Matahari (Ana Ladu). Karena cakal-bakal nenek moyang mereka yang di langit adalah Umbu Sebu yang disebut Putra Bulan (Umbu Sebu Ana Wula) dan Umbu Riri yang disebut putri Matahari (Umbu Riri Ana Ladu). Saudara perempuan mereka, yakni Rambu Pari yang juga berasal dari langit dimuliakan sebagai marapu yang kemudian berubah ujud menjadi padi. (Mungkin seperti personifikasi Dewi Sri di Jawa). Sebuah lagi contoh mitos tentang asal usul sesuatu kabisu, kabihu. yang meriwayatkan Umbu Pende, marapu yang menurunkan cakal-bakal kabisu-kabisu We'e Lowo, Koda Laija Bili, Lola Lara Seingu yang menetap di Tarung (Sumba Barat). Umbu Pende dipuja sebagai pelindung sawah ladang. kampung halaman ketiga kabisu itu. Kami kutipkan fragmennya di bawah ini. Tomanange Pende Tunu Pare, Pende Kasa Ina, Raja Konda Tana, Raja Kasa Ama, Nga'anange Pare Pende Tunu Pare olemu, maka nangarangge Pende Tunu Pare, ne'ena ba napak angge kikuna langita deta, ne'ena ba nadolungge katowana tana deta, Pamatewu lidani, maka ilakana linangge, Peikuwu, lidani.

Pakuakongga wasu, ka tauwangga api dana linangge Maka kere dekunawe patekina, supu pakua takana wasu, ka pawi api. Nabaa pawenggarawe api, ka deke takawa ka tauwa api dana. Hinawena maka Pende Tunu Parewa. Kondangga tana, ka tauwangga tana dana, linangge. Maka konda takani tana ka tauwa tana dana. Hinawena maka nangarangge Raja Konda Tana. Ne'ena pandakaponawe tananangge, olemu na, ne'ena ledakaponawe langitangge, olemu, maka piakuni, hinawe na kedena, ndamangedaapo ata. Hinawena olemu kere marapu mangu tanawa ningo. Hinawena olemu kere marapu mangu lokowa ningo. Kawunga mburu ura, maka jaani nga'a panga'a we'e paenuna. Mere tanawe, maka jaani nga'a panga'ana we'e paenuna. Ne'e hinawe kawungga ndjeli ndara, ne'e hinawe katabo lendju bongga, ne'e hinawe kawunga dadi manu, ne'e hinawe kawunga timbu kowe, ne'ena ba namabiwawe, ne'ena ba namabawewe, Hinawena nia ka supu wangu rahi ndarani, hinawena nia ka supu pasa lima tondani. Maka namanenggengge wuli wuana pare koni, maka namanadapani pola ro'ona pare ndima. Maka nanga'a parei dengangge; maka napawa lade mone, maka nadewa dendo ngara. Ne'e hinawe lara kako bisana Konda Laija Bili, ne'e hinawe lara kako mandina Lota Lara Seingu.

Mitos tentang percintaan itu bermacam-ragam variasinya. Jadi bukan hanya tentang asal-usul sesuatu atau sekelompok kabisu dan suku saja, Tapi juga tentang asal-usul dan bentuk manusia, hewan serta tetumbuhan pada umumnya. Misalnya, mitos tentang ujud, bentuk kuda dan manusia yang pertama; Kawunga ndede ndara, kawunga sada tau (logat Wewewa). Asal-usul ayam; kawunga dadi manu (logat Wewewa). Mitos adat kematian dan adat penguburan; Lii heda, Lii mati (logat Kambera). Adat mendirikan rumah ratu; Lii kon- da, Lii ratu (logat Kambera). Adat perkawinan dan rumah tangga Lii lalei, Lii mangoma (logat Kambera). Dalam mitos adat perkawinan itu digariskan asas (prinsip) hubungan perkawinan sebagai kaidah pokok yang berbunyi demikian:

Pola pu'ungu mata wei'egu pola pingi daragu mata wei' pawaligu nauta paburugu Bina pulou sogu mata wei'pa'oke pu'u waso papogo daku tura rana paba daku poka ala ouma

Pokok saya mata-air saya pokok dari mana saya tumbuh sumber dari mana saya timbul tangga dari mana saya turun.

Pintu dari mana saya keluar sumber dari mana saya menimba pokok dari mana saya tebang saya tak kan membuka tanah baru saya tak kan membuka hutan baru Dan bahwa adat leluhur akan senantiasa dimuliakan, diikuti oleh masyarakat sepanjang keturunan sepanjang masa, dinyatakan dalam mitos adat dengan kiasan-kiasan (metafor) puitis. Di Sumba Timur berbunyi :

nda majungga hau pitaku nda manggunggi hau wajilu artinya : kami meniup seruling dengan irama yang sama kami memainkan nggunggi dengan cara yang sama

Di Sumba Barat berbunyi :

dekunggungge ruku ndara Lewa manenggungge mbepa ruta ngaingo artinya : ku ikuti langkah kuda Lewa ku ikuti jejak di rumput

Lii Marapu, Lii Ndai diresitasikan, dinyanyikan hanya dalam rangka upacara-upacara religius atau magis religius

tertentu saja. Dalam upacara kelahiran, khitanan, perkawin-an, kematian dan penguburan. Juga dalam upacara men- dirikan rumah adat, upacara panen, tarik batu kubur, upacara mengikat perdamaian dan lain-lain. Lii Marapu, Lii Ndai diresitasikan, dinyanyikan secara duet oleh dua orang, yang disebut atauna. pembicara atau yang meresitasi. Dan seorang lagi yang disebut andondo atau azaiwo, penyanyi. Resitasi, nyanyian disertai iringan gendang dan gong untuk memperoleh efek atau suasana yang lebih hidup. Tapi irama gendang. gong itu hanya dibunyikan pada waktu-waktu jeda (interval). Mengingat sifatnya yang sakral. serta fungsi religius Lii Marapu, Li Ndai, apabila hendak diresitasi, dinyanyikan harus disertai dengan sesajian sirih pinang dan dibawakan oleh dua orang ratu, rato sebagai atauna dan andondo atau azaiwo.

Sifat sakral Lii Marapu, Lii Ndai dalam logat Wewewa disebut mbongata atau bisa (biza) dan dalam logat Kambera: mbana. Yang mencakup makna keramat-panas-sangat kuat- berkekuatan ga'ib. Irama resitasi, nyanyian Lii Marapu, Lii Ndai adalah irama magis-religius. Yang memberikan berkat kepada mereka yang mendengarkannya dengan sepenuh iman. Tapi juga akan mencelakakan orang-orang yang mendengarkannya secara tak acuh. Sehubungan dengan itu Lii Marapu, Lii Ndai baru boleh dikumandangkan menjelang tengah malam dan harus diakhiri menjelang dinihari.

  1. Newe (logat Wewewa) bermakna tutur. Lii pange rangu (logat Kambera) bermakna persamaan. Kedua istilah itu mencakup pengertian cerita, penceritaan. Sebagian besar ber-

sifat sakral (mbongata, bisa, mbona) dan hanya boleh dibawakan pada saat-saat tertentu saja. Yaitu saat-saat buah padi mulai masak, menuai padi, menginjak-injak padi, me- masukkan padi pada lumbung-lumbung. Newe, Lii Pangerangu sebagian berbentuk puisi, sebagian lagi berbentuk prosa. Yang berbentuk puisi dalam istilah Kambera disebut panawa. Berisi intisari cerita dari setiap episode tiap babak. Newe, Lii Pangerangu selalu dibawakan oleh dua orang. Yang seorang bertugas'meresitasikan cerita, disebut nggoba, yang lain disebut papa, bertugas menghidup- kan suasana dengan suara berirama (senggakan-bhs. Jawa) dan pada tiap episode, tiap babak cerita dinyanyikan panawa. Newe, Lii Pangerangu yang bersifat sakral erat kaitannya. dengan mitos asal-usul kabisu, kabihu. Para marapu penjaga tanah sesuatu desa, kampung. Asal usul hewan dan tanaman, khususnya tanaman padi. Misalnya Newe Ana Kalang yang menceritakan hikayat Rambu Pari jatuh dari tangga langit ke bumi dan dari tubuhnya keluarlah tanaman dua jenis padi. Newe, Lii Pangerangu yang bersifat sakral hanya boleh mulai dikumandangkan setelah memberikan sesajian sirih pinang, menjelang tengah malam dan berakhir menjelang dinihari. Dan hanya boleh dibawakan oleh orang-orang tua (matua) yang telah berpengalaman dan menguasai materi serta teknik pembawaan Newe, Lii Pangerangu. Sebagaimana halnya dengan Lii Marapu, Lii Ndai, maka Newe, Lii Pangerangu yang bersifat sakral, apabila diresitasikan, dinyanyikan memancarkan kekuatan magis. Adapun bagian dari Newe, Lii Pangerangu yang tidak bersifat sakral adalah Pangerangu Maringu (logat Kambera), arti- nya cerita yang sejuk, terdiri dari berbagai cerita rakyat (folk

tales), termasuk dongeng hewan (fables) legenda. Pangerangu Maringu sebagian besar berbentuk prosa yang penceritaannya dilakukan dalam gaya bahasa berirama atau dalam resitasi. Sebagian lagi berbentuk puisi yang penceritaannya dilakukan dalam nyanyian. Pangerangu Maringu merupakan sastra tradisionil Sumba

yang populer. Dalam arti menjadi milik masyarakat awam

yang luas. Di atas sudah kami sebutkan, bahwa sebagian dari sastra tradisionil yang bersifat sakral adalah berbagai do'a mantra yang berbentuk puisi. Di sini kami berikan contoh sebuah do'a mantra dalam logat Wewewa. Do'a mantra yang apabila diresitasikan akan memancarkan kekuatan magis yang mam- pu memanggil kehadiran marapu penjaga tanah kampung. desa untuk menyaksikan upacara tarik batu kubur, men- dirikan atau memperbaiki rumah. Li'mangge tiala Lende Ndima ilau jakaji marata tanggu tana tomanangge Jowa Dungga Rato ilau jakaji dou kasubu loko

Sastra tradisionil Sumba yang bersifat profan selain Pangerangu Maringu berupa peribahasa, pepatah, teka-teki dan syair-syair lagu berbentuk puisi. Di sini kami nukilkan beberapa contoh. Pepatah. Jakau hapa winu kawalu mupaanang anadua

artinya : Bila engkau mengunyah pinang rangkap engkau akan mendapat anak kembar Jaka dakarii kalumbutu ambu himbi biaya jiimanya hiluna artinya : Bila tempat sirih-pinangmu robek jangan terus dipelihara tapi anyamlah yang baru Syair lagu (lyrik).

Patianya wulang patianya ndaungu nda nataka yiangu Pangalangu pahapa kuta rara budi hi nataka artinya : Sebulan ku memanti setahun ku menunggu tapi ia tak kunjung tiba Lama sudah aku kunyah sirih merah sekaranglah ia pertama kali tiba Dan contoh sebuah Pangerangu Maringu dari Sumba Barat dengan logat Wewewa : Kapoko mono pake Ne apaia lodona nakako keila kapopoka laa paau we'e niri limbu. Tengera ne'eni ainu we'e, ka amini ia pake. Ta rato kapopoka, nina pake. We'e, hina kapopoka. Maiwu ka tama- rengana umangu, hinangge pake, banapangadewa na kapopo-

ka, ngga'i ka namote we'e dana, hinawe pakambu atena. Tauna na kapopoka: nda kanauki, mala peikungu ba kutama we'e dana, ba nda kupandemo panangi, hina kapopoka. Takazanggo awowu hito, hinangge pake. Nataluwe patekina pakengge, ka napadeku taka, natakeidaka bendo detana pake ka nawapunani kapola kokona, ka naungu tana ngindiwa we'e dana, ba nanangi ngindiwa limbu dana. Paradua piawe na lim- bungge, ka ungu pora-porawa kapopoka, oro ndukanawe nga- una mono oro inda batangwe mawenggela we'e Papene balin- dangge, onda rato pake, matenda hitongge, hina kapopoka. Kaa papene bali pangu takani. Ndukukida ponu we'engge ka natakeidaka bali tana mara kapopoka. Ngga'i ka kutau nde- lungge, hina kapopoka. Njaka taunawe kapopoka. Rato pake, hina. We'e, hina pake. Na bi hinawengge, umaiwu wo'ungge, ka kakazonggowu, ka kulera ngindiwu bjondo, kau etanggawe umanggu zauangge, hina kapopoka. Mala amo hina pake. Na- patutungge bendona kapopoka, ka naungu takeidaka pake. Pelenggenawe na kapopoka, ka nalera ngindiwa na pake, nata kotika ngindi panguwa. Nalengana pamandeta-ndendeta pia ba napawarakawa na pake, kere kaboulana tana deta. Nariaka tana detangge ka naungu mate, engani ba namate talenga. Hinawe larana, ka supu mate talenga dua-dudua pake mate lapa- ta neba hinawe. Orona kapopoka ba natau ndelu pangede.

Terjcmahannya sccara bcbas : Kapopoka dan katak

Pada suatu hari kapopoka turun di tepi telaga untuk

minum. Tatkala ia sedang minum, muncullah seekor katak. Si katak berniat jahat hendak menenggelamkan kapopoka dalam air sampai mati.

Ujarnya: "Tuan Kapopoka, marilah singgah kerumahku"

Jawab kapopoka: "Aku tidak mau. Sebab aku tidak bisa berenang". Si Katak berkata: "Tuan akan ku gendong". Terpikat oleh ucapan itu kapopoka menyatakan setuju. la meloncat ke atas punggung dan memeluk leher si katak. Maka menyelamlah si katak ke dalam air. Ditengah per- jalanan, kapopoka hampir mati karena tak dapat bernafas dalam air. Ujarnya: "Sahabatku tuan katak, bawalah aku ke atas kembali. Aku mau mati". Si katak membawa kapopoka ke atas permukaan air, kapopoka meloncat ke darat. Aku harus membalas, kata kapopoka dalam hati. Ia lalu memanggil si katak. Katanya: "Tuan katak". Si katak membalas pula: "Ya tuan kapopoka". Si kapopoka berkata pula: "Marilah tuan sekarang ku gendong agar tuan dapat melihat rumahku" Si katak menjawab: "Baiklah". Si katak meloncat ke punggung kapopoka. Dan terbanglah kapopoka menggendong katak. Dan tatkala kapopoka telah terbang tinggi sekali, tiba-tiba ia memiringkan punggungnya sehingga si katak jatuh terbalik, mati telentang. Begitulah, apabila katak mati senantiasa badannya terbalik punggungnya tergeletak di tanah. Akibat pembalasan kapopoka *). Sebagai catatan tambahan mengenai uraian garis-besar sastra tradisionil Sumba, dapat kami kemukakan di sini, bahwa simbolisme dengan kiasan-kiasan (metafor) merupakan warna spesifik dalam gaya sastra tradisionil. *) Kapopoka berarti burung kecil.

B. SENI SUARA Pernyataan estetis kehidupan manusia dalam nyanyian- nyanyian adalah totalitas seni suara tradisionil. Mulai dari lagu-lagu perkawinan-lagu-lagu mendirikan rumah-lagu-lagu ninabobok-lagu-lagu permainan-lagu-lagu kepahla- wanan — lagu-lagu panen – lagu-lagu pemujaan leluhur sam- pailagu-laguduka pengantar penguburan (requiem). Ciri karakteristik dari semua lagu-lagu dalam berbagai thema itu terletak pada pengulangan ritmis (rhytmical repeti- tion). Yang merupakan salah satu sifat estetis yang fundamen til bila dilihat dari fungsi lagu-lagu itu sebagai sebuah ungkap- an kesenian. Dan bila dilihat dari segi kepercayaan yang me- lembaga dalam kehidupan maka pengulangan irama itu ber- fungsi magis. Yang mampu menciptakan suasana sebagai yang dikehendaki thema setiap lagu. Dan secara teknis, melodi — komposisi lagu-lagunya me- madukan pengulangan irama itu dalam warna-suara yang har- monis. Tidak menjadi soal, apakah pengulangan ritmis itu terdiri dari serangkaian suku-kata (syllable) saja atau terdiri dari campuran kata-kata (words) dengan suka kata. Seperti di ba- wah ini yang merupakan satu bait dari sebuah lagu tradisionil Sumba Timur yang berjudul :

WOLI WAIYA

Woli yo waiyo yo woli waiya ya Woli yo waiyo yo woli waiya ya Woli yo waiyo yo woli waiya ya Woli yo waiyo yo woli waiya ya

Kemampuan memadukan pengulangan ritmis dalam melodi -komposisi lagu-lagu yang harmonis dan bernilai artistik itu

menunjukkan adanya perasaan ritmis yang tinggi (rhitmical

sense) pada masyarakat tradisionil Sumba.

Terlepas dari kedua fungsi pengulangan irama yang men- jadi ciri karakteristik lagu-lagu tradisionil Sumba itu kita juga melihat, bahwa ada dua fungsi lain dalam seni suara tradisionil Sumba, yaitu fungsi spirituil untuk jenis lagu-lagu spirituil dan fungsi hiburan untuk jenis lagu-lagu hiburan. Jenis yang pertama yaitu jenis lagu-lagu spirituil bersifat sakral. Jenis yang kedua, yaitu jenis lagu-lagu hiburan bersifat profan. Ada pun jenis lagu-lagu spirituil sengaja diciptakan untuk inisiasi,

upacara religius atau pun upacara magis religius. Jadi hanya boleh dinyanyikan pada waktu-waktu tertentu dalam upacara upacara dan di tempat-tempat tertentu pula.

Contoh : Dalam rangkaian upacara perkawinan hanya boleh dinyanyikan serangkaian lagu-lagu spirituil tertentu. Yang mem- punyai satu thema tapi berbeda variasi dalam tempo, ritme dan lirik (lyric). Rangkaian lagu-lagu spirituil untuk mengiringi suasana dalam tiap tahap upacara perkawinan itu dalam istilah dialek atau logat Kambera, Sumba Timur disebut: Ludu Paman Papa. Terdiri dari lima macam nyanyian :

1).Pawai Honggungu Dinyanyikan (andante-maestoso) pada waktu perarak- an mempelai putri berangkat menuju ke rumah mempelai pria.

2). Ludu Pai Dinyanyikan (allegretto) dan ditarikan pada waktu mem- pelai putri tiba di rumah penganten pria.
3). Ludu Renja Dinyanyikan (allegro appassionote) siang-malam untuk menciptakan suasana kegembiraan dalam rumah penganten pria.
4). Pahelungu Dinyanyikan (adagio patetico) khusus di hadapan mem- pelai putri. Lirik (lyric) syairnya berisikan ajaran moral dan etik menurut adat.
5). Pemalangungu Dinyanyikan (adagio con gravita) pada tahap terakhir rangkaian upacara perkawinan. Berupa permohonan berkat dari para leluhur, arwah nenek-moyang. Sedang jenis lagu-lagu hiburan meskipun sifatnya profan tidak boleh dinyanyikan sembarangan. Artinya masih juga terikat pada ketentuan-ketentuan adat, yaitu tidak boleh dinyanyikan di tempat-tempat yang dianggap terlarang (pemali), dan pada waktu-waktu pemali. Hanya lagu ninabobok sajalah yang boleh dinyanyikan atau disenandungkan pada tíap waktu. Lagu ninabobok (Ludu uwa anakada, yaitu istilah dialek Kambera, Sumba Timur) juga mempunyai beberapa varíasi, yang dinyanyikan, disenandungkan sesuai dengan keadaan. Untuk bayi, untuk anak-anak, berbeda variasinya. Bila si bayi si anak sedang sakit, lain pula variasinya. Demikian juga apa bila sang ayah sedang bepergian jauh, lagu nina bobok itu se- lalu dinyanyikan, disenandungkan dalam irama adagio.

Sebagian dari kedua jenis lagu-lagu itu (lagu-lagu spirituil dan lagu-lagu hiburan) mempunyai bentuk khusus, yaitu harus dinyanyikan secara simultan, serentak dalam irama suara dan irama tari. Jadi harus dinyatakan secara audio-visuil. Dalam hal ini tarian merupakan bagian integral nyanyian. Arti- nya nyanyian menciptakan tarian. Nyanyian bukan sekedar ilustrasi untuk memperoleh effek estetis sebuah tarian, tapi justru sebuah tarian menjadi unsur penunjang artistik, sebuah nyanyian untuk membangun imajinasi yang dikehendaki thema sebuah lagu. Di antara jenis lagu-lagu spirituil yang harus dinyatakan secara audio-visuil, ialah :

a). Lagu upacara perkawinan (Ludu renja)
b). Lagu upacara Tahun Baru (Pamangu Langu Pamaingu).

c). Lagu upacara panen (Kanduku Woka).

Sedang di antara jenis lagu-lagu hiburan yang harus dinyata kan secara audio-viusil, ialah sebuah variasi thema lagu nina bobok. Menidurkan anak yang ditinggalayahnya karena sedang bepergian jauh lagi lama. Di Sumba Barat, disebut Cocoleko. Dan sebuah thema lagu pergaulan Sumba Timur yang syairnya dalam lima bait, kami kutipkan selengkapnya di bawah ini :

WOLI WAIYA

(Yakinlah kawan).

Woli yo waiya yo woli waiya ya Woli yo waiya yo woli waiya ya Woli yo waiya yo woli waiya ya Woli yo waiya ya ndata waiya ya

Woli yo waiya yo woli waiya ya Woli yo waiya yo woli waiya ya Ana nida nada yo waiya ya Ana la mangu umangu yo waiya ya Woli ya waiya yo woli waiya ya Woli yo waiya yo woli waiya ya Ana lamangu remingu yo waiya ya Ilu la wihi renja nda yo waiya ya Woli ya waiya yo woli waiya ya Woli yo waiya yo woli waiya ya Ina nyuda nida ha yo waiya ya Didi ha paduangu ha woli waiya ya

Woli yo waiya yo woli waiya ya Woli yo waiya yo woli waiya ya Deli la kondamara ha yo waiya ya Kajilaku langgambaru yo waiya ya

Begitulah catatan mengenai segi-segi pokok seni suara tradisi-

onil Sumba.

C. SENI MUSIK Musik tradisionil Sumba termasuk kategori seni primitif (primitive art) sebagaimana halnya dengan musik traditionil Nias dan lain-lainnya. Yang ciri-cirinya, antara lain :
a) Tidak mempunyai bentuk formal.
b) Tidak mempunyai sistim jarak nada (interval) yang pasti (fixed interval). Serta tidak ada suatu metrik ritme yang jelas.
c) Mengutamakan pengulangan irama (rhytmic repetition).
d) Alat-alat musik pukul (percussion instrumens) jenis-jenis gendang, tambur yang mempunyai dua nada tidak pernah "distem" dalam suatu tinggi-nada (intonasi) tertentu.
e) Berfungsi magis religius. Dalam arti, irama bunyi-bunyian menjadi media ritmis untuk memanggil marapu. arwah. Malah juga untuk kepergian roh seseorang ke Parai Marapu. Serta pula untuk membangun suasana yang diperlu- kan sesuatu upacara magis-religius, upacara adat. Atau- pun untuk mengiringi nyanyian dan tarian yang merupa- kan bagian dari sesuatu upacara. Meskipun tidak mempunyai bentuk formal, sistem jarak nadanya tak menentu, alat-alatnya tidak pernah distem dulu. Mengutamakan pengulangan irama, namun dengan intuisi yang mengagumkan bisa dihasilkan harmoni. Dan pada har moni yang tercipta dari ketidakpastian jarak nada, ketidakje- lasan metrik ritme, pengulangan irama itulah letak nilai este- tis musik tradisionil Sumba. Yang sudah barang tentu tidak bisa diukur menurut norma-norma musik modern. Apabila dilihat dari fungsinya dan kenyataan, bahwa ma- syarakat tradisionil Sumba pendukung kepercayaan Marapu

(yang merupakan mayoritas) yang setia kepada tradisinya dan di mana sebagian besar upacara-upacara kepercayaan dan adat wajib disertai irama bunyi-bunyian, tidaklah mengherankan, jika musik merupakan salah satu sarana utama dalam kebutuh- an kehidupan spirituil. Tapi justru karena itu pulalah musik tidak merupakan subyek yang otonom, yang bisa berdiri sendiri tanpa faktor-faktor non-musikal. Sehingga musik tradisionil Sumba tidak mempunyai bentuk formal. Seperti umpamanya musik tradisionil Bali, Jawa, Sumba yang berdiri sendiri. Alat-alat musik tradisionil Sumba terdiri dari :

a) Alat pukul;
b) Alat tiup;
c) Alat gesek;
d) Alat gesek-tiup.
Tapi alat musik yang tertua berupa alat-alat pukul (per- cussion instruments) dari jenis gendang-tambur, terbuat dari potongan pokok-pohon kelapa, panjang ½- 1 meter. Dengan selaput kulit kerbau yang diikat dengan tali-tali rotan. Hanya bagian atas saja yang ditutup selaput kulit. Bagian bawahnya dibiarkan berlobang. Bentuknya lonjong serupa dengan tifa bulat dengan garis tengah 1/4 - ' meter di bagian atasnya. Sedang di bagian bawahnya lebih kecil garis tengahnya. Di Sumba Barat disebut deri. Di Sumba Timur disebut Lamba. Jenis gendang lainnya, dikenal sebagai gendang pipih. Bentuknya unik, yaitu bulat pipih. Garis tengah bagian atas sama ukurannya dengan bagian bawah, ± ½ meter. Bagian atas dan bawah ditutup selaput kulit kerbau. Kalau membunyikan ha- rus digantungkan. Tidak dibunyikan dengan tangan, melain-

Gendang pipih

kan dengan dua bilah alat pemukul kayu yang ujungnya dila- pisi kulit kerbau. Kerangka kendang terbuat dari bahan kayu, tali-tali pengikatnya dari rotan.

Masih ada sebuah alat pukul lagi, yaitu jenis gong. Ukuran kecil (bende), ukuran sedang (gong dada-istilah Jawa) dan ukuran besar (gong gulu istilah Jawa). Istilah umum untuk ketiga ukuran itu diseluruh Sumba sama, yaitu gong. Tapi di Sumba Timur ketiga tipe gong itu mempunyai istilah sendiri- sendiri :

. Gong dari Perunggu-

gong kecil = = kabolulu, kadambungu. gong sedang = nggaha. gong besar = katala. Jenis gong merupakan laat musik yang diimpor. Hal itu terbukti dari kenyataan, bahwa jenis gong tertua yang ter- dapat di Sumba (yang dikatakan berasal dari Tanjung Sasar). Yaitu tempat pendaratan kaum imigran dari dalam kawasan Nusantara yang pada jaman sejarah sampai kira-kira awal abad ke XIV, berdatangan ke Sumba dalam beberapa gelombang), terbuat dari perunggu. Masyarakat Sumba sendiri tidak mengenal sistim pem- buatan gong perunggu. Memang sampai sekarang masih ada yang membuat di Sumba akan tetapi bukan dari bahan perunggu melainkan dari bahan besi. Gong besi buatan Sumba kwalitasnya tidak baik. Hal itu diakui sendiri oleh masyarakat Sumba, oleh karenanya mereka hanya menilai gong perunggu yang layak dijadikan benda pusaka yang berharga. Gong perunggu yang dimiliki oleh keluarga raja dan para bangsawan yang sering dijadikan pameran untuk memperlihatkan ke- dudukannya, kekayaannya. Bahkan adakalanya juga dijadikan bekal kubur. Dan bila mereka mempunyai hajat atau anggauta keluarganya yang meninggal, beberapa jenis gong perunggu itu dikeluarkan untuk dibunyikan. Jadi jelas bahwa gong perunggu adalah barang impor. Dan mungkin sekali jenis gong merupakan alat musik yang baru dikenal oleh masyarakat Sumba setelah kaum imigran yang berasal dari Bali-Lombok, Makasar, Bugis berdatangan untuk menetap di pulau Sumba. Tapi dalam perkembangan jaman, jenis gong menjadi sangat populer dan menempati kedudukan yang sama pen-

tingnya dengan jenis-jenis gendang, tambur (deri, lamba) yang merupakan alat-musik Sumba asli.

Alat tiup Berupa seruling bambu dengan empat lubang. Merupakan alat musik yang otonom karena selalu dibunyikan secara solo, tidak pernah diiringi irama bunyi alat-alat musik lainnya. Irama seruling dipergunakan untuk menciptakan suasana haru dalam peristiwa duka (peristiwa kematian). Juga dipergunakan untuk mengiringi suasana gembira dalam sesuatu pes- ta. Tapi lebih sering dibunyikan sekedar sebagai pelipur lara.

Alat gesek Merupakan semacam rebab yang mirip sekali dengan ben- tuk biola Batak tradisionil. Terbuat dari potongan batang pi- nang yang dipergunakan untuk tabung suara, resonans, dengan diberi selaput penutup dari kulit kerbau. Perentang tali terbuat dari kayu atau irisan bambu. Tali (string) terbuat dari rotan halus atau kulit kerbau. Jumlah tali ada yang dua, ada pula yang empat. Yang konon bisa mencapai delapan oktav. Seperti halnya dengan seruling, alat gesek merupakan alat musik yang dimainkan secara individuil, secara solo saja untuk mengiringi suasana haru dalam peristiwa duka (kematian). Karena alat gesek itu memang menghasilkan irama melankolis yang menyayat hati. Alat gesek itu di Sumba Timur disebut jungga.

Alat gesek tiup Merupakan perpaduan alat gesek dan alat tiup. Terbuat dari seruas bambu yang kulitnya tipis. Di bagian tengah diberi

Alat-alat musik tra-

disionil yang berupa

genderang, tambur (deri lama) dan be-

berapa jenis gong.

Musik yang dibunvikan untuk mengiringı peranan (prosesi) sesuatu upacara adat selalu mempergunakan jenis-jenis genderang, tambur dan gong.

berlidah untuk menghasilkan getaran suara bila ditiup. Hanya sebagian saja yang dimasukkan mulut, sebagian lagi berada di luar untuk digesek dengan tali ijuk yang halus. Dari kombina- si tiupan dan gesekan itu keluarlah suara berirama yang dapat diatur tinggi rendah nadanya. Alat gesek-tiup yang unik ini adalah ciptaan masyarakat Sumba Timur dan disebut nggunggi. Seperti halnya dengan seruling, ngunggi lebih bersifat individuil. Dimainkan oleh se- seorang untuk pelipur lara.

D. SENI TARI Perbendaharaan tarian tradisionil Sumba cukup kaya. Se-
bagian besar merupakan tarian bersama dengan pola tarian keliling (round dance). Baik yang berupa tarian úpacara, ma- upun tarian yang sejenis. Tarian pergaulan dapat ditarikan oleh penari-penari campuran, putra-putri. Meskipun sebagian terbesar tarian tradisionil Sumba adalah tarian upacara yang bersifat sakral, namun bentuk seni ini cenderung untuk berdiri sendiri sebagai subyek yang otonom. Artinya, jenis tarian upacara dapat saja ditarikan di luar kegiatan sesuatu upacara. Bahkan ada sebuah tarian yang dianggap sangat keramat, yaitu Tarian Elang yang merupakan tarian medium untuk memanggil marapu, arwah nenek mo- yang yang dipersonifikasikan sebagai burung-burung elang, ki- ni sudah boleh dipentaskan secara terbuka sebagai sebuah tari an lepas. Demikian pula Tarian Perang yang dahulu hanya boleh ditarikan dalam rangka upacara menyambut kedatangan para pahlawan yang menang perang dengan membawa peng- galan kepala-kepala musuh untuk dipasang di tong-

gak kemnenangan (andungu). Kini juga sudah menjadi tarian lepas yang bisa dipentaskan di muka umum. Seperti halnya tari Sanghyang di Bali, tari Bedaya di Jawa. Meskipun untuk mementaskannya masih sering disertai formalitas adat, yang berupa sesajian sirih-pinang (di Sumba) atau bunga-bunga dan bakaran dupa malah dengan doa-mantra segala (di Bali, Jawa). Seni tari tradisionil Sumba juga mengenal adanya lagu yang dinyatakan secara simultan dalam nyanyian dan tarian (audio- visuil). Dalam hal ini tarian merupakan unsur penunjang nyanyian. Artinya, bukan nyanyian yang mengiringi tarian me- lainkan sebaliknya. Irama gerak tarian harus mengikuti irama suara nyanyian. Tarian dimulai dengan syair lagu yang dinya- nyikan. Tarian demikian tidak memerlukan iringan musik untuk membangun suasana, karena tarian sudah berfungsi untuk membangun suasana lagu sekaligus, untuk melukiskan thema lagu. Jumlah tarian demikian tidak banyak. Di Sumba Barat yang populer, ialah tarian ninabobok Cocoleko. Di Sumba Timur, sebuah tarian pergaulan Woli Waiya dan sebuah tarian upacara Renjanggu Ludu.Baik di Sumba Barat maupun di Sumba Timur, tarian demikian sudah merupakan tarian lepas. Apabila dalam seni suara, seni musik, pengulangan irama sangat penting, maka dalam seni tari, yang penting adalah pengulangan gerak. Segi penting lainnya dalam membicarakan seni tari tradisionil Sumba, ialah faktor gerak simbolis (symbolic move ment). Segi yang menentukan ikut bobot estetis tarian. Dan ternyata seni tari tradisionil Sumba relatif cukup kaya dalam gerak simbolis. Beberapa contoh :

a) Dalam tarian Cocoleko, penari tidak mengemban bo- neka. Tapi gambaran bayi yang diemban dilukiskan dengan gerak simbolis kedua belah tangan penari.
b) Dalam tarian Burung Elang (Nenggo Ikit di Sumba Barat) para penari tidak mengenakan sayap-ekor imitasi, tapi gerak simbolis kedua tangan dengan memegangi kedua ujung selendang serta gerak simbolis tumit kedua kakinya sudah cukup memberi gambaran, bahwa penari tersebut adalah burung-burung elang.
c) Dalam tarian Renjangu Ludu yang melukiskan para petani menuai menumbuk padi, para penarinya tak ada yang memegangi padi, ani-ani, lesung. Semua dilukiskan dengan gerak simbolis.
d) Dalam tarian perang (kataga, kabokang di Sumba Barat; Renja Harama di Sumba Timur) para penari memang membawa perang terhunus dan perisai. Tapi tidak membawa imitasi kepala musuh yang terpenggal. Bahkan dalam tarian perang yang ditarikan oleh para penari putri, parang dan perisai itu cuma dilukiskan dengan gerak simbolis kedua belah tangan lengan. Gerak simbolis tarian yang dibawakan oleh para penari putri lebih halus, lebih bervariasi daripada yang dibawakan oleh para penari putra. Gerak simbolis para penari putri dinyata- kan dengan gerak ritmis tangan dan kaki. Tarian Sumba tidak mengenal gerak ritmis pinggul. Juga tidak mengenal sikap jari-jemari tangan. Gerak jari-jemari, seperti pada tarian tradisionil Bali dan Jawa pada umumnya. Beberapa tarian tradisionil Jawa ada juga yang nyata gerak pinggulnya, misalnya tarian Gambyong (Jawa Tengah), tarian Gandrung (Jawa Timur). Simbolisme dalam sikap jari-jemari tangan tidak terdapat dalam tarian tradisionil Sumba tampak pada gerakan melingkar atau setengah lingkaran, serta pada gerak kaki dengan hentak an dan bertumpu lutut. Di samping gerak tangan dengan ayun

an-ayunan lengan yang memegang ujung-ujung selendang, juga memegang jambul kuda putih (ciri khusus tarian tradisionil Sumba Timur). Telapak tangan terbuka tertutup. Selain dalam gerak, simbolisme, juga dinyatakan dalam :

a). Warna Di Sumba Barat, warna-warna merah-putih – kuning. Di Sumba Timur, warna-warna merah-biru-hijau. Paling sedikit salah satu dari warna-warna itu harus menjadi warna ikat kepala, destar para penari pria, dan merupa- kan warna semacam pita panjang yang dililitkan di kepala, terjulur sebagai lidah panjang di belakang kepala hingga di bawah lutut. Serta menjadi warna kain panjang yang dililitkan di atas puser.
b). Perhiasan Penari Di Sumba Barat para penari putri mengenakan tobelo mas di atas dahi. Di Sumba Timur mengenakan semacam mahkota setengah lingkaran dari kulit penyu yang diberi ornamen bermotif kuda. Di Sumba Barat, para penari putri mengenakan kalung manik-manik, anting-anting (mamuli) kadangkala marangga dan gelang gading. Para penari putra mengenakan bulu- bulu ayam jantan yang diikatkan pada sebilah rotan dan di pasang di bagian atas telinga kanan. Dan jambul kuda putih yang diikatkan pada giring-giring, serta semacam gelang ke- roncong pada bagian atas kedua betis kaki. Di Sumba Timur, para penari putri mengenakan kalung panjang (lulu amahu) dari emas atau perunggu, atau kenatar dengan mamuli serta gelang manik-manik. Para penari putra mengenakan gelang manik-manik dan kadang-ka- la membawa jambul kuda putih. Pada ikat kepalanya ka-

dangkala juga dihiaskan bulu-bulu ayam jantan. Untuk tarian wanita tertentu, misalnya tarian Renja Kandingangu, para penarinya memegangi dua buah jambul kuda putih. Ada satu persamaan dalam perlengkapan yang dipakai oleh penari putra-putri di seluruh Sumba, yaitu pemakaian giring-giring. Tapi alat ini tidak berfungsi simbolis melainkan untuk memperoleh suara gemerincing yang ritmenya diatur oleh gerak-irama kaki pada waktu menari. Sudah barang tentu tarian-tarian tradisionil Sumba Barat dan Sumba Timur mempunyai gaya-gaya dan corak-corak- nya yang spesifik. Katakanlah gaya lokal Sumba Barat dan Sumba Timur. Hal itu tampak pada perbedaan variasi gerak, tata-busana. warna-warna pita ikat-kepala dan kain pinggang, perhiasan-perhiasan yang dikenakan atau dipegang para penari. Namun sebagian terbesar tarian-tarian tradisionil di kedua daerah itu pola dasarnya sama, yaitu pola tarian keliling (round dance) baik pada jenis tarian upacara maupun tarian pergaulan, atau pun tarian biasa. Inventarisasi tarian tradisionil Sumba Barat menghasilkan data, sebagai berikut :

1). Woleka : tarian upacara untuk menyatakan terima kasih kepada berkat arwah leluhur dalam rangka upacara kelahiran, perkawinan, Tahun Baru. Juga untuk menghormati kedatangan tamu-tamu. Jadi semacam tarian selamat datang. Bisa ditarikan oleh penari-penari pria saja. Jumlah penari paling sedikit enam orang.
2). Kako : tarian upacara untuk mengiringi perarakan penganten, perarakan dalam upacara-upacara adat. Bisa dilakukan oleh penari-penari putra-putri. Paling sedikit enam orang.

3). Bandara : tarian upacara sebagai pernyataan terima kasih pada marapu, arwah nenek-moyang yang telah memberi berkat. Hanya boleh ditarikan oleh penari-penari putri, paling sedikit dua orang. Dan hanya boleh ditarikan pada malam hari.
4). Zere : tarian upacara dalam rangka upacara memandikan benda-benda pusaka. Dapat ditarikan oleh penari-penari putra-putri, paling sedikit enam orang.
5). Kamana : tarian keprajuritan. Hanya ditarikan oleh penari-penari pria, paling sedikit enam orang.
6). Kataga : tarian upacara sebagai pernyataan kepahlawanan putra-putri Sumba. Oleh karenanya dapat ditarikan oleh penari putra-putri, paling sedikit enam orang. (Lihat ilustrasi foto di atas).
7). Maderi, Gaza : tarian upacara yang hanya ditarikan oleh penari-penari putri, paling sedikit enam orang. Untuk memeriahkan suasana gembira sesuatu upacara adat.
8). Neggo Ikit (Tarian Burung Elang).: tarian upacara yang dahulu merupakan tarian sangat keramat untuk memanggil marapu, arwah leluhur yang dipersonifikasikan sebagai burung-burung elang. Tapi kemudian dijadikan tarian lepas untuk menyambut tamu agung. Hanya boleh ditarikan oleh penari-penari putri, dua sampai cmpat orang. Tarian ini merupakan tarian tradisionil daerah Kodi.

9). Katangga Deri : tarian upacara untuk menyambut kedatangan para pahlawan. Hanya ditarikan oleh penari-penari putri, enam sampai sepuluh orang.
10). Nenggo Njara : tarian upacara dalam rangka upacara adat bila menang perang. Hanya ditarikan oleh penari-penari putri, enam sampai sepuluh orang.
11). Rati Nggaba : tarian upacara dalam rangka upacara adat menentukan musim tanam. Hanya ditarikan oleh penari-penari wanita, enam sampai sepuluh orang.
12). Cocoleko : tarian biasa, merupakan tarian nina bobok.
13). Laghi Lolo : tarian biasa, melukiskan kepedihan hati seorang isteri pahlawan yang ditinggalkan suaminya dalam melak- sanakan tugasnya di medan perjuangan. Tarian ini semula merupakan tarian yang khusus dipersembahkan kepada kepahlawanan Wona Kaka. Pahlawan Sumba Barat itu akhirnya ditangkap Belanda dan dibuang ke Nusa Kambangan.
14). Karere Mapuro : tarian biasa, merupakan tarian pergaulan untuk memuja kecantikan gadis.
15). Kabokang : tarian perang di daerah-daerah Mamboro, Katikutana dan Wanukaka.

16). Pakewetana : tarian biasa, merupakan tarian pergaulan dengan thema cinta. Ditarikan secara duet oleh sepasang muda-mudi. Diiringi gong woleka dengan irama cepat. Tarian pergaulan secara duet yang ditarikan oleh sepasang penari dari jenis yang berlainan, sangat jarang terdapat dalam tarian tradisionil.
Suatu adegan Tari Pakewetana Tarian Kataga Putri Tarian Kataga adalah tarian perang gaya Sumba Barat. Da- hulu merupakan tarian sakral atau tarian upacara yang hanya

boleh ditarikan dalam rangka upacara adat yang bersifat re- ligius. Tarian Kataga dapat ditarikan oleh para penari putra saja atau para penari putri saja. Tarian Kataga Putri, yaitu yang di tarikan oleh para penari putri saja, tidak mempergunakan alat- alat senjata (perisai dan kelewang atau perang). Jumlah penari paling sedikit 6 orang, putri. Tarian Kataga berpola tarian keliling (round dance). Irama gerak tari cepat dan lincah. Dengan orkes pengiring yang ter- diri dari 2 buah gong besar, 4 buah gong kecil. Sebuah gende- rang (deri). Irama woleka. Seperti halnya dengan tarian tradisionil Sumba pada umuinnya, maka Tarian Kataga menitikberatkan kepada pe- ngulangan gerak tari yang dilakukan beberapa kali. Di bawah ini tampak tiga adegan sikap tari dalam Tarian Kataga Putri. Merupakan tiga sikap tari yang pokok.

Sikap tari vang pertama

Sikap tari yang kedua.

Sikap tari yang ketiga.

Tarian Kataga Putra Tarian Kataga putra gaya Sumba Barat, ditarikan oleh paling sedikit 6 orang penari. Yang membawa perlengkapan alat senjata berupa sebuah kelewang atau parang dan sebuah perisai. Irama gerak tari cepat dan lincah, dinamis sehingga pengulangan gerak tari yang dilakukan beberapa kali tidak membosankan. Dengan orkes pengiring yang terdiri dari: 2 buah gong besar, 4 buah gong kecil serta sebuah genderang (deri) Irama woleka. Tarian Kataga baik Kataga Putra maupun Kataga Putri yang berpola tarian keliling (round dance) itu terdiri dari tiga sikap tari. Seperti yang tampak pada ilustrasi foto-foto di bawah ini.

Sikap tari yang pertama

Sikap tari yang kedua

Sikap tari yang ketiga.

Tari-tarian tradisionil Sumba Timur. Perbendaharaan tari-tarian tradisionil Sumba Timur se- imbang dengan perbendaharaan tarian-tarian tradisionil Sumba Barat. Seperti halnya dengan tarian-tarian tradisionil Sumba Barat. maka tarian-tarian tradisionil Sumba Timur pada umumnya juga berpola tarian keliling (round dance). Dan sebagian besar merupakan tarian sakral untuk meme- nuhi kebutuhan adat dalam mengiringi upacara-upacara. Perbedaan tari-tarian tradisionil antara kedua wilayah itu (Sumba Barat – Sumba Timur) terletak dalam gaya dan tata busana. Dan segi taknisnya.

Inventarisasi perbendaharaan tari-tarian tradisionil Sumba

Timur menghasilkan data yang cukup memadai, meskipun belum lengkap seluruhnya. Adapun data perbendaharaan tari-tarian tradisionil Sumba Timur yang sudah dapat kami kumpulkan, adalah sebagai berikut:

1). Renja Ninggu : tarian sakral dalam rangkaian upacara menyambut kedatangan para pahlawan yang pulang dengan ke- menangan. Dapat ditarikan oleh para penari putra saja atau oleh penari putri. Adakalanya juga ditarikan dalam campuran penari putra-putri. Jumlah penari empat pasang.
2). Renja Harama : tarian upacara, berupa tarian keprajuritan yang akan menuju ke medan perang dengan memohon berkat marapu, arwah leluhur. Hanya ditarikan oleh penari-penari putra yang bersenjatakan tombak dan perisai. Jumlah penari dua sampai empat orang.
3). Renja Hiri : tarian upacara untuk mendatangkan arwah leluhur da-

lam suatu upacara kepercayaan, upacara adat. Ditarikan oleh penari-penari pria. Jumlah penari dua sampai empat orang.

4). Renja Ikitu: tarian upacara untuk mendatangkan arwah leluhur yang dipersonifikasikan sebagai burung-burung elang. Sekarang sudah menjadi tarian biasa dalam suatu upacara kepercayaan, upacara adat. Ditarikan oleh dua orang penari putri.
5). Renja Kalelahu: tarian upacara untuk melukiskan kedatangan arwah ne- nek atau marapu wanita dalam suatu upacara kepercayaan, upacara adat. Ditarikan oleh dua orang petani putri.
6). Renja Wulumanu: tarian upacara melambangkan kesuburan yang dipersonifikasikan dalam ujud ayam. Ditarikan oleh penari-penari putra-putri, dua sampai tiga pasang. Sekarang sudah menjadi tarian biasa.
7). Renja Kabokangu: tarian upacara dalam rangka upacara perkawinan. Ditarikan oleh penari-penari putri, dua sampai seratus orang. Sekarang sudah menjadi tarian biasa.
8). Renja Kadingangu: tarian upacara menyambut para tamu. Ditarikan oleh penari-penari putri, dua sampai seratus orang. Sekarang sudah menjadi tarian biasa.
9). Renja Parina: tarian upacara yang melukiskan kegembiraan para petani bekerja menginjak-injak padi selesai dituai. Ditarikan oleh penari-penari putri, dua sampai delapan

orang. Sekarang sudah menjadi tarian biasa.

10). Renja Pata Lamba: tarian upacara tutup panen untuk mengundang kesaksi- an marapu, arwah leluhur dengan irama gendang (lamba) yang dibunyikan sendiri oleh para penari. Ditarikan oleh penari-penari putra dua sampai empat orang.
11). Renja Hering Lamba: tarian upacara untuk mengundang marapu, arwah leluhur dalam merayakan sesuatu peristiwa yang menye- nangkan. Ditarikan oleh para penari putri dengan mengelilingi gendang-gendang dan membunyikannya sendiri-sendiri. Jumlah penari dua sampai empat orang. Tarian itu sekarang sudah menjadi tarian biasa.
12). Renja Woli Waiya: tarian biasa semacam tarian pergaulan. Ditarikan oleh penari putra-putri, dua sampai empat pasang. Merupakan "tari-nyanyian".
13). Renjangu Ludu: tarian biasa juga semacam tarian pergaulan. Ditarikan oleh penari-penari putra-putri, dua sampai empat pasang. Merupakan "tari-nyanyian".
14). Renja Pai: tarian biasa, ditarikan oleh penari-penari putri empat orang. Merupakan "tari-nyanyian".
15). Ludu Pai: tarian upacara dalamn rangka upacara tutup panen. Ditarikan oleh penari-penari putri, dua sampai delapan orang. Merupakan "tari-nyanyian". Sekarang sudah menjadi tarian biasa.

16). Patajangungu: tarian biasa yang merupakan semacam tarian kanak-kanak, yang ditarikan oleh penari kanak-kanak (putra) dua sampai enam orang.
17). Ndua Kali: tarian biasa yang merupakan tarian galah bambu. Ditarikan oleh dua orang penari putra. Tarian unik ini tidak diiringi irama musik melainkan irama delapan bilah galah bambu yang diketuk-ketukkan di tanah, dan iringan paduan suara. Perlu kami kemukakan di sini bahwa data inventarisasi tari-tarian tradisionil Sumba Barat dan Sumba Timur itu belum lengkap seluruhnya. Namun cukup memadailah kira- nya untuk memberi gambaran menganai perbendaharaan seni tari tradisionil Sumba dalam garis besar. Yang dalam perkembangannya berhasil menemukan bentuk formal dalam pengertian sebagai bentuk seni yang berdiri sendiri tanpa faktor-faktor non-estetis dengan jalan membebaskan diri dari keterikatannya pada fungsi kepercayaan dan adat. Namun kehadirannya pada setiap saat sebagai tarian-tarian lepas dan berdiri sendiri itu tetap mencerminkan watak, kepribadian yang tradisionil dengan segala sifat, corak dan gaya yang murni. Dan sebagai pengunci uraian seni tari tradisionil Sumba sebagai bahan perbandingan dengan tarian keliling dalam kese- nian tradisionil di daerah-daerah lainnya, di bawah ini kami sertakan catatan kinetis dua buah tarian tradisionil Sumba Timur yang sudah sangat tua, tetapi hingga kini masih amat populer, dan terus dihayati oleh generasi muda. Yang perta- ma catatan kinetis Renja Kadingangu. Ditarikan oleh enam orang penari putri dengan iringan musik (sebuah gendang dan empat sampai lima buah gong ukuran kecil, ukuran sedang,

ukuran besar) yang berirama cepat. Merupakan sebuah tarian keliling (round dance) yang memakan waktu 10–15 menit.

Renja Kadingangu

(Dalam foto di atas yang tampak hanya dua orang penari; jumlah seluruh penari enam orang).

Yang kedua catatan kinetis Renja Kabokangu. Ditarikan oleh enam orang putri dengan iringan musik (sebuah gendang dan empat sampai lima buah gong ukuran kecil, ukuran sedang, ukuran besar) yang berirama lambat. Merupakan tarian keliling (round dance) yang memakan waktu 10–15 menit.

Tarian keliling (round dance) ini lengkapnya di bawakan oleh enam orang penari. Tapi dapat juga dibawakan hanya oleh empat orang penari, seperti yang tampak pada foto.

Renja Kabokangu

Catatan Kinetis Tarian Kandingangu: = memegang Gerakan I- Tangan diangkat jambul bulu kuda putih. = digeleng ke

  • Kepala
    kiri, lalu ke kanan. = dihentakkan

  • Kaki kiri

3 kali.

  • Kaki kanan = bertumpu di ta-
    nah; sesudah kaki kiri di hentakkan 3 x ketukan ke IV siap kaki kanan melompat 3 x

  • Kaki kiri di = diletakkan di
    tanah.

  • Kaki kanan = mengetuk 7 x.

  • Kaki kiri = melompat 1 x,
    dan

  • Kaki kanan = bertumpu di
    tanah.

  • Kaki kiri = mengetuk 3 x.

  • Kaki kanan = melompat.
    1

menghadap panggung/arena mengambil tempat berhadapan.

Gerakan II-Tangan kanan dan kiri diangkat me- megang jambul bulu kuda putih. Kepala digeleng ke kiri dan ke kanan melirik tangan yang memutar-mutar jambul bulu kuda putih. Kaki kiri bertumpu di tanah. Kaki kanan mengetuk satu-satu kali ↑ ↑ untuk meluruskan barisan. t t Kaki kanan menekan ke tanah. ↑ ↑Kaki kiri maju 1 x berulang sampai 1 ↑bertemu. Kembali ke tempat lalu berhadapan. Gerakan III-Tangan kiri berjambul bulu kuda putih perlahan-lahan diturunkan ke pinggang.

  • Tangan kanan tetap diangkat.
  • Tangan kanan mengetuk tanah satu-satu kali menanti pertukaran gerak.
  • Kaki kanan mengetuk 6 x lalu menekan 2 x kaki kiri, maju 2 x (1 x tekan = 1 x maju kaki kiri) lalu bertukar. Tangan kanan masih tetap diangkat dan tangan kiri tetap di pinggang.
  • Kak i kiri mengetuk 6 x lalu kaki kiri menekan ke tanah 2 x sambil kaki kanan maju 2 x, lalu bertukar tangan kanan di pinggang dan tangan kiri diangkat.
  • Gerakan III ini diulang sampai 3 x di tempat.
    Gerakan IV Gerakan ini penari bertukar tempat de-

ngan mempergunakan cara gerakan I.

Gerakan V- Mengulang gerakan I.

  • Mengulang gerakan II.
  • Mengulang gerakan III.
  • Mengulang gerakan ke IV, kembali ke tempat sambil penari yang di belakang berpindah perlahan-lahan membuat ½ lingkaran.
    Gerakan VII Penari yang paling belakang siap berbalik untuk ke luar.

!ソ!

Catatan Kinetis Tarian Kabokangu : Tarian dengan irama-Tarian ini tidak memakai jambul bulu lambat. kuda putih, melainkan memakai kain kombu. Gerakan I- Tangan kanan memegang ujung kain kombu, lalu dikembangkan seraya per- gelangan tangan di pilin-pilin arah ke- luar.

  • Tangan kiri memegang ujung kain kombu, lalu tangan di pinggang.
  • Kepala di geleng-gelengkan ke kiri dan ke kanan sesuai dengan irama lambat.
  • Kaki kiri diketuk 1 x.
  • Kaki kanan bertumpu di tanah ber- tukar-tukar kaki masuk di panggung/ arena.

Gerakan II a. Pada waktu mengambil tempat di

panggung/di arena masih gerakan per-

tama yang dijalankan.

b. Membuat lingkaran.
c. Penari menjadi tiga-tiga orang.
d. Penari berhadap-hadapan.
e. Gerakan kaki mulai diubah dan kain kombu dilepas.
f. Tangan diayun berganti-ganti. gKaki kiri ketuk 3x. (ketuk I tangan kanan diayun kemu ka, ketuk II dan III tangan kiri diayun ke belakang, tangan kanan diayun ke belakang, tangan kanan diayun ke mu- ka sebaliknya kaki kanan berganti-ganti). Gerakan ini cukup 3x kaki kiri ber- ulang.
Gerakan III-Tangan memegang kembali ujung dari kain kombu yang di bahu lalu diang- kat seraya dikembang-kembangkan.

  • Kaki ketuk lx berganti-ganti sambil maju ke depan sampai bertemu di tengah2 panggung. Sambil bersorak-sorak "Tunda nu nu tapingu, jaka ta matua ta rihi (hui ha hui ha)" = (Beginilah kita pandai me- nari, kalau besar tentu lebih). Pemuda-pemuda/penonton/penabuh juga bersorak-sorak = "Kayaka" Ibu-ibu penonton bersorak-sorak bu- nyikan lidah = "Kakalaku".
  • Sesudah bersorak-sorak mundur ke belakang dengan ketukan kaki l x (kiri kanan berganti-ganti).

Sampai di tempat barulah ujung kain kombu dilepas. Sebagai selingan tarian gerakan II di ulang. Gerakan IV-Tangan memegang kembali ujung kain kombu.

  • Siap dengan aba-aba suara gendang yang andanya lebih tinggi.
  • Aba-aba I tangan diayun dengan memegang kain.
  • Kaki kiri disentak ke atas 3 x.
  • Kaki kanan melompat 3 x
  • Kaki kiri diletakkan di tanah.
  • Kaki kanan diketuk 3x + 1x sentak di tambah 2 x 3 ketuk.
  • Tangan kanan diayun 2 x ke muka + tangan kiri di pinggang.
  • Kaki kiri melompat 3 x lalu tukar kaki kanan.
  • Kaki kanan bertumpu di tanah, Kaki kiri diketuk 3 x + 1 x sentak + 2 x 3 ketuk, 2 kali tangan kiri diayun ke de- pan sesuai dengan ayunan kaki, sedang kan tangan kanan di pinggang. Gerakan ini diulang 3 x baru siap bertukar tempat. Bertukar tempat dengan aba-aba gerak IV. Mengulang gerak ke II dari e s/d g. Mengulang gerak ke III. Mengulang gerak ke IV dan bersiap kembali ke tempat dengan gerakan ini diulang 3x baru siap bertukar-tempat.
    Gerakan V- Bertukar tempat dengan aba-aba gerak ke IV.

Gerakan VI-Mengulang gerak ke II dari e s/d g.'

Gerakan VII Mengulang gerak ke III.
Gerakan VIII - Mengulang gerak ke IV dan bersiap kembali ke tempat dengan gerakan ini
Gerakan ke IX Kembali di tempat dengan gerakan

juga.

ke IV.

  • menghadap penonton
  • membuat ½ lingkaran.
  • penari yang paling belakang bersiap untuk keluar dari panggung/arena hingga penari semua keluar.
    E. SENI RUPA Segi kesenian ini lebih mencerminkan ungkapan semangat religius masyarakat tradisionil Sumba dalam bentuk-bentuk patung, relief, ornamen dan lukisan.
  1. P atun g. Patung berupa patung-patung atau arca-arca yang terbuat dari batu dan kayu. Patung-patung itu menggambarkan lelu- hur atau arwah nenek-moyang. Patung-patung batu ada yang dibuat dengan mempergunakan bahan batu utuh (monolith), adapula yang mempergunakan bahan batu-pipih atau papan batu (slab). Selain dari bahan-bahan bátu dan kayu, ada juga patung-patung yang dibuat dari bahan logam yang dilapis mas. Patung-patung itu dibuat dalam beberapa sikap (pose), yaitu:
    a). Sikap berdiri;
    b). Sikap duduk;
    c). Sikap jongkok;

d). Sikap-bersimpuh.
Pada umumnya patung-patung itu dibuat dalam keadaan telanjang bulat. Namun ada pula yang diberi perhiasan wula pada dada, seperti yang terdapat di Wanukaka, Sumba Barat. Ada yang hanya diberi tudung atau ikat kepala, seperti yang terdapat di Parai Liu, Sumba Timur. Dan ada pula yang di beri busana adat lengkap dengan kelewang, seperti yang terdapat di Sumba Tmur. Patung-patung Sumba Barat pada umumnya terbuat dari bahan batu-utuh (monolith). Patung-patung Sumba Timur pada umumnya terbuat dari bahan batu pipih atau papan batu (slab). Gaya patung Sumba Barat yang primitif tampak ekspresif, dengan menitikberatkan bagian-bagian kepala, wajah "enface' mata, mulut dan alat-kelamin. Yang terbuat dari bahan batu, pahatannya membulat pen- dek tapi cukup massif. Gaya patung Sumba Timur lebih tis dengan wajah "en profil". Terbuat dari batu pipih (slab). Di seluruh Sumba, pembuatan patung tidak pernah dikem- bangkan hingga merupakan produksi massal seperti di Bali misalnya. Karena sikap religius sukubangsa Sumba yang meni- lai patung sebagai perwujudan leluhur itu sebagai benda pema li, benda magis yang tidak boleh dibuat selain untuk tujuan religius.

Contoh lain patung gaya Sumba Barat. Terbuat dari batu utuh (monolith) yang bulat. Primitif tapi cukup ekspressif. Perhatikan bagian-bagian kepala, mata dan mulut.

Contoh patung-patung gaya Sumba Timur. Patung-patung 'ter- sebut dijadikan nisan yang didirikan di atas batu penutup kubur. Terbuat dari batu-pipih, papan batu. Bagian wajah di buat "en profil". Di atas kepala patung pria bertengger pa tung ayam jantan.

  1. Relief. Relief dibuat pada bagian nisan dan batu penutup kubur. Beru pa bagian kepala dan wajah atau tubuh. Ada yang dalam sikap (pose berdiri. Ada pula dalam sikap duduk (diatas kepala ker-

bau atau di atas kuda) dan sikap jongkok.

Contoh relief kepala dan wajah leluhur atau roh leluhur, di atas susunan kepala dan tanduk-tanduk kerbau, dengan ornamen alat perhiasan tradisionil Sumba Barat; maraga atau marangga.

Contoh relief leluhur atau roh nenek moyang dalam sikap jongkok dan duduk di atas kepala kerbau pada bagian batu penutup kubur di Ana Kalang, Sumba Barat, dengan ornamen maraga, marangga dan bentuk bentuk geometris.

SPr76.

Contoh relief dengan motif leluhur pada

nisan kubur Sumba Barat.

Ornamen. Dilihat dari segi teknis penggarapan dan bahan yang digarap, di Sumba terdapat :

a) Ornamen pahatan atau tatahan. Terutama sekali pada nisan dan batu kubur. Juga pada tiang-utama (sokoguru) rumah-adat dan pada semacam mahkota serta sisir yang terbuat dari kulit penyu atau tanduk kerbau, yang hanya terdapat di Sumba Timur.
b) Ornamen tenun, sulam dan anyaman. Ornamen tenun, sulam pada kain-kain, sarung-sarung. Ornamen. anyaman tas atau tempat sirih-pinang (kaleku) yang lebih terbatas di Sumba Barat.
c) Ornamen barang-barang tanah liat. Ornamen pada bagian-bagian leher dan bibir periuk, tempayan, pasu dari tanah-liat. Adapun corak ornamen tertua, ialah irama garis-garis. Baik yang simetris, maupun lengkung-lengkung, meander. Irama garis dan titik-titik yang membentuk lingkaran, stilisasi lidah atau percikan api, spiral dan pilin ganda. Serta bentuk-bentuk geometris; segi tiga (triangular), segi-empat, segi-empat pan- jang (rectangular), trapesium, diagonal, oval. Semua corak ornamen tertua itu masih menunjukkan tradisi gaya seni pra- sejarah yang sampai masa kini masih dihayati di Sumba. Dan dalam perkembangannya menemukan bentuk formal yang otonom sebagai seni dekoratif decorative art); yang secara kreatif diperkaya dengan motif alat perhiasan mamuli sebagai ciri khas ornamen Sumba. Karena mamuli merupakan alat perhiasan tradisionil yang paling berharga di seluruh Sumba. Sedang alat-alat perhiasan tradisionil lainnya bersifat lokal.

nyu, gelang manik-manik merupakan alat-alat perhiasan tra- disionil khas Sumba Timur. Ornamen pahatan atau tatahan pada nisan dan batu kubur serta ornamen tenun, sulam pada kain-kain Sumba Barat ke- mudian diperkaya dengan motif-motif wula, maraga dan ka- dangkala juga laba sebagai ciri spesifik ornamen Sumba Barat. Dengan ungkapan simbolisme berupa stilisasi percikan atau lidah api dalam irama garis-garis atau perpaduan irama dan garis dan titik-titik. Melambangkan penerangan roh dalam perjalanan ke Parai Marapu. Stilisasi butir-butir padi atau be- ras yang melambangkan kesuburan alam. Sedang mamuli yang menjadi simbol suku bangsa Sumba itu menilik bentuknya yang menyerupai alat-kelamin wanita mungkin melambangkan kesuburan umat manusia. Ornamen tenun, sulam pada kain-kain Sumba Timur me- ngalami perkembangan motif-motif yang meskipun distilisasi masih tampak cenderung pada realisme. Kecuali motif leluhur atau arwah nenek-moyang yang gambarannya mengingatkan pada gaya seni primitif yang surealistis. Perkembangan motif-motif yang menunjukkan ciri spesifik ornamen Sumba Timur, ialah gambaran leluhur atau arwah nenek moyang, gambaran flora dan fauna. Seperti pohon-pohon mayela, manera, sukun dan apa yang dalam istilah Kambera disebut andungu. Yaitu tonggak kayu yang bercabang runcing untuk menancapkan kepala-kepala musuh yang di kayau. Sedang motif fauna berupa kuda, anjing, ular, udang, ayam babi, burung, rusa, kera, gajah dan singa (meski kedua jenis hewan yang terakhir ini tidak hidup di bumi (Sumba). Apabila ornamen irama garis-garis dan irama garis dengan titik-titik serta bentuk-bentuk geometris sangat dominan dalam seni kriya tenun Sumba Barat, maka dalam seni kriya te-

nun Sumba Timur hanya dijadikan ornamen pada bagian tepi atas-bawah kain saja. Namun ornamen tatahan pada tiang-uta- ma (sokoguru) rumah adat dan ornamen barang-barang tanah liat Sumba Timur tetap berupa irama garis-garis, irama garis dan titik-titik serta bentuk-bentuk gcometris.

Ornamen anyaman gaya Sumba Barat yang spesifik pada seni kriya. Ornamen irama garis garis dan bentuk bentuk

geometris yang merupakan ungkapan simbolisme. Orna-

men itu diberi warna kuning tua, merah tua, dan biru tua.

Seni Kriya yang dijadikan contoh tersebut adalah barang anyaman dari bahan daun pandan. Yang berupa tas tem- pat sirih pinang tradisionil yang disebut kaleko atau kaleku.

Fragmen tempayan tanah liat dari dalam sebuah kubur kuno dekat muara sungai Kambaniru, Sumba Timur.

Bagian bibir tempayan diberi ornamen sebuah garis tebal lengkung-lengkung. Bagian leher tempayan diberi ornamen geometris berbentuk segi tiga (triangular).

Contoh ornamen

pahatan atau tatah- an pada tiang uta-STA76 ma (soko guru) ru- mah adat Sumba.

Khusus mengenai ornamen tenun, sulam dalam berbagai motif pada kain tenun Sumba Barat dan Sumba Timur itu sesungguhnya mencerminkan sifat religius serta memberikan gambaran segi-segi kehidupan adat dan sejarah suku bangsa Sumba. Sifat religius Tercermin pada motif leluhur atau roh nenek-moyang se- bagai pernyataan pemujaan (kultus) arwah nenek moyang dalam kepercayaan Marapu. Motif-motif ular dan udang melam- bungkan pergantian hidup di alam ramai dan alam arwah yang abadi. Motif ayam melambangkan kebangkitan roh. Motif kuda melambangkan kenaikan roh. Segi kehidupan adat Terlihat pada motif alat-alat perhiasan, terutama mamuli yang merupakan salah satu benda adat paling berharga dalam kehidupan tradisionil. Seperti dalam Adat Peminangan dan Perkawinan untuk hadiah dan wili (welis, belis). Dalam Adat Kematian dan Penguburan, untuk bekal kubur. Motif kuda untuk hadiah dan wili (welis, belis) juga untuk dikorbankan dalam Adat Kematian dan Penguburan. Motif anjing dan babi juga merupakan jenis-jenis hewan yang dalam upacara-upacara adat tertentu, dikorbankan. Demikian pula halnya dengan ayam. Motif pohon.andungu menggambarkan adanya adat pe- ngayauan pada waktu-waktu yang lampau. Segi sejarah Terlihat pada motif (pohon) andungu yang menggambarkan kegiatan berperang antar suku dalam sejarah Sumba masa lampau. Motif para leluhur naik kuda dengan senjata di ta- ngan dalam pose duel juga menggambarkan kegiatan berpe-

rang antar suku pada jaman dahulu. Motif gajah (yang tidak hidup di bumi Sumba) barangkali menandai hubungan per- dagangan dengan negara tetangga Muang Thai) yang meng- ekspor gading ke Sumba pada masa lampau. Motif Singa yang mungkin sekali diambil dari lambang Kerajaan Inggris dan Be- landa, menandai hubungan bersejarah antara Sumba dengan kedua negara Barat itu. Bahkan pada masa kini terdapat motif lambang Negara Republik Indonesia yang menandai peristiwa proklamasi kemerdekaan yang bersejarah itu.

Contoh stilisasi motif pohon andung (u) dalam ornamen kain tenun Sumba Timur.

Contoh motif lelu- hur atau roh le-SFh luhur yang meng- ingatkan pada gaya seni primitif.

Demikianlah catatan sekitar ornamen-ornamen dalam ane- ka ragam motif. Yang mencakup ornamen pahatan atau ta- tahan, ornamen tenun, sulam ,anyaman. Serta ornamen pa- da barang-barang tanah liat yang terdapat di Sumba.

Contoh motif gajah yang merupakan salah satu motif kla- sik kain atau sarung tenun Sumba Timur. Perhatikan pula ornamen tambahan dengan motif-motif ular dan flora. Serta irama garis-titik yang dijadikan hiasan bagian tepi atas bawah kain atau sarung itu.

Contoh motif ular yang merupakan salah satu motif klasik kain atau sarung tenun Sumba Timur. Bentuk ular sudah di stilisasi namun masih tetap realistis.

  1. Lukisan.
    a) Lukisan berupa cacah kulit tubuh yang diberi warna biru atau hitam dengan mempergunakan larutan tepung arang atau larutan tepung buah kemiri yang dicampur air. Cacah kulit tubuh (tattoo, tatouase) pada umumnya melukiskan kuda, udang dan juga api. Lukisan kuda dan udang meskipun di sti- lisasikan namun masih tampak realistis. Lukisan api, ada yang digambarkan dengan titik-titik yang membentuk spiral. Ada pula yang berbentuk pilin ganda.

    Bagian kulit tubuh yang boleh diberi lukisan hanyalah pa-

da bagian lengan atas sampai batas pergelangan tangan. Dan

bagian betis kaki. Lukisan cacah kulit tubuh berfungsi magis.

b) Lukisan pada piringan kayu (wooden disc) bagian atas

tiangtiang utama rumah adat yang menyangga bandar atap membatasi loteng dengan ruang dalam rumah. Lukisan beru- pa kuda, ayam, alat-alat perhiasan. Serta meander dan bentuk bentuk geometris. Warna lukisan; hitam, biru, merah, kuning dan putih.

Lukisan pada piringan kayu itu berfungsi magis atau magis

religius dan merupakan salah satu sarana dalam adat meramal (Mawulu) sesuatu peristiwa.

Foto piringan kayu (Wooden disc) pada bagian ujung atas

tiang utama (Sokoguru) rumah adat.

5Pn76

Contoh lukisan pada piringan kayu (wooden disc) tiang utama rumah adat Sumba Lukisan berwarna; hitam, biru, merah, kuning dan putih.

F. SENI KRIYA Kain tenun Sumba Bentuk seni kriya Sumba terkenál di dunia karena bobot artistiknya dan menjadi salah satu permata cemerlang dalam perbendaharaan kesenian tradisionil se-Nusantara, ialah kain tenun Sumba. Adapun kain tenun itu yang terutama, ialah jenis Hinggi, selimut (blanket) dan jenis Lau, sarung. Di samping kedua jenis yang utama itu masih ada lagi dua jenis pertenunan tradisionil yang khas, yaitu Tera, ikat kepala dan Tamelingu, kain tudung. Kain tenun Sumba Barat berbeda dengan kain tenun Sumba Timur dalam gaya, corak ragam hiasnya. Kain tenun Sumba Timur mempunyai kelebihan dalam ornamen dekoratif dengan motif margasatwa yang meskipun distilisasi masih tetap realistis. Dan motif roh leluhur yang mengingatkan pada surealisme. Serta motif flora dan motif alat perhiasan (mamuli) Ornamen kain tenun Sumba Timur bergaya dinamis. Kain tenun Sumba Barat mempunyai kelebihan dalam ornamen dekoratif yang lembut dengan pola geometris. Motif ornamen adalah alat perhiasan, terutama mamuli dan wula Ornamen kain tenun Sumba Barat bergaya statis. Berbagai motif ornamen kain tenun Sumba itu merupakan ungkapan artistik yang secara dekoratif menggambarkan sifat religius, segi tradisi budaya Sumba.

Secara tradisionil, tiap putri Sumba sejak masih kanak-ka-

nak sudah dididik untuk segi-segi praktis pertenunan kain de-

ngan seksama

Bila sudah remaja putri, mercka secara intensif mulai prak- tek menyulam kain tenun.

Dan bila telah berumah tangga, mereka telah mampu me-

ngerjakan seluruh proses pembuatan kain tenun. Bahkan sampai nenek-nenek mereka akan terus membuat kain tenun dengan cara-cara tradisionil. Tak peduli apakah wanita itu seorang bangsawan yang kaya raya atau pun rakyat biasa yang miskin.

Bahkan apabila mereka telah mencapai usia nenek-nenek,

para wanita Sumba tetap produktif dalam membuat kain te-

nun.

Warna-warna yang dipergunakan dalam kain tenun Sumba ( Sumba Barat dan Sumba Timur ) adalah putih hitam-biru tua-biru muda-merah muda-merah tua-kuning. Warna-warna pada ornamen kain tenun Sumba Barat dititikberatkan kepada warna merah tua dan kuning tua. Sedang pada ornamen kain tenun Sumba Timur, dititik beratkan kepada warna-warna biru campur hitam atau biru muda dan putih. Dalam penggunaan praktis, kain tenun Sumba berfungsi sebagai:

a) Busana adat;
b) Hadiah wajib dalam berbagai peristiwa;
c) Pembayar denda dalam hukum adat;
d) Wi l i dalam adat perkawinan;
e) Pembungkus jenazah;
f) Bckal kubur;
g) Perhiasan dckoratif;
i) Barang dagangan.
Kain tenun Sumba merupakan produk seni kriya kaum wanita. Mercka secara turun-temurun sejak jaman purba hingga masa kini memiliki kemahiran khusus dalam bertenun yang diperolch dengan pendidikan praktis sejak masa kanak-kanak lewat lembaga pendidikan non formil, yai- tu lingkungan rumah tangga. Untuk mcmperoleh kemahiran bertenun diperlukan masa studi praktis selama ber- tahun-tahun dengan penuh disiplin, kesungguhan dan ketekunan yang mengagumkan. Sebab untuk dapat meng- hasilkan sehelai kain tenun yang bermutu tinggi, mercka harus memiliki daya imajinasi dan intuisi yang kuat. Karena pola-pola dan disain-disain klasik, seluruhnya ha- nya direkam dalam ingatan turun-temurun. Proses menenun sehelai kain memakan waktu yang cu- kup lama, 3 sampai 6 bulan, dengan masa kerja 6 jam

lebih tiap harinya. Bahkan untuk menyelesaikan sehelai kain tenun dengan kwalitas prima, adakalanya diperlukan sampai setahun lebih. Mengingat bobot artistik kain tenun Sumba yang telah memperoleh reputasi internasional itn serta merupakan salah satu bentuk seni kriya cemerlang yang terus hidup sejak jaman purba hingga masa kini dalam kehidupan keseni- an tradisionil se-Nusantara, maka dalam pustaka ini akan kami uraikan secara detail proses pembuatan kain tenun Sumba, menurut cara dan dengan mempergunakan bahan serta alat-alat yang tradisionil. Uraian yang bersifat teknis mengenai proses pembuatan kain tenun Sumba itu kiranya akan sangat bermanfaat untuk bahan studi atau pun sebagai bahan perbandingan bagi siapa pun yang berminat dalam seni kriya tradisionil. Proses Pembuatan Kain Tenun Sumba Proses pembuatan kain tenun Sumba dilakukan secara bertahap. Dimulai dari tahap persiapan dengan mengadakan bahan. Dilanjutkan dengan tahap-tahap berikutnya dan di- akhiri dengan tahap menenun. Uraiannya secara terperinci adalah sebagai berikut;

  1. Mengadakan bahan;
  2. Mengatur gambar/melukis;
  3. Membuat lungsin;
  4. Memberi warna;
  5. Menenun.
  6. Mengadakan bahan Untuk membuat kain maka haruslah diusahakan adanya bahan. Bahan itu tak lain dari pada benang yang diperoleh

dengan dua cara :

a. Membuat benang pintalan sendiri
b. Membeli benang pintalan pabrik.
a. Membuat benang pintalan sendiri Dulu sebelum adanya pasaran benang pabrik di toko-toko, maka tiap-tiap orang merasa wajib untuk menanam kapas di kebunnya masing-masing. Malahan tiap-tiap keluarga mempunyai kebun yang khusus ditanami kapas dan tarum, yang disebut : "woka kamba" (kebun kapas) dan "kuru wora", sekedar untuk kebutuhan keluarga itu. Buah-buah kapas yang telah tua dikumpulkan, kulitnya dibuang dan isinya dijemur dipanas matahari sampai kering. Sesudah kering lalu bijinya dikeluarkan dengan beberapa peri. Untuk kapas yang sedikit cukuplah kalau bijinya dikeluarkan dengan tangan saja, pekerjaan itu disebut: "lamihi" (mengeluarkan isi). Kapas yang telah agak banyak, bijinya dikeluarkan dengan mempergunakan alat yang disebut: "pangari" (pengerut) Alat ini biasanya terbuat dari sepotong bambu tamiang, panjang sehasta dengan sebilah papan, panjang sekaki dan lebar sejengkal. Pada papan itulah diletakkan kapas biji itu, lalu bambu itu diguling-guling di atas kapas sehingga dengan mudah biji-biji kapas itu dikeluarkan. Kapas yang banyak se- kali, bijinya dikeluarkan dengan mempergunakan alat yang disebut: "nggihu" (kincir). Dua orang duduk berhadapan, ditengahnya terdapat kincir itu, maka masing-masing dengan tangan kanan memegang tangkai putaran kincir. Lalu dengan tangan kiri yang satu memasukkan kapas biji, yang lain menerima kapas yang telah bersih dari biji.

Isi kapas yang telah dibersihkan itu dipukul-pukul dengan suatu alat yang dibuat dari rotan yang disebut: "pukulu" (pemukul). Kemudian dijemur supaya bertambah renggang dan mengembang. Kapas yang telah kering dan mengembang itu dibusarkan lagi dengan suatu alat yang disebut: "pandi" (busar). Busar itu sama bentuknya dengan busar panah (induk panah) yang dibuat dari sebilah bambu dilengkungkan dan direntangkan dengan tali yang kuat. Kapas diletakkan dalam suatu tempat yang disebut: "kaliku pandi" (bakul busar). Di dalam itulah kapas dibusar sebersih-bersihnya Kapas yang telah bersih itu digulung dengan sepotong kayu bulat (rol), sehingga gulungan itu menjadi bulat memanjang sebesar ibu jari kaki dan panjangnya tak lebih dari setengah jengkal. Gulungan demikian disebut: "kanuhu" (putih metah).

Kanuhu itulah yang akan dipintal menjadi benang, dengan mempergunakan dua macam alat. Bila kapas yang akan dipintal tidak seberapa banyak, maka cukuplah dengan mempergunakan alat yang disebut: "kindi" (putaran), yang dibuat dari teras kayu sebesar tangkai pena dan panjang sekaki. Pada pangkalnya dimasukkan sebuah gelindung untuk memudahkan putaran. Pada gelindung itulah ditempatkan permulaan pintalan, dimana kanuhu sementara berputar, kanuhu itu direntang panjang sampai diperoleh benang sehalus yang dikehendaki. Kapas yang berjumlah banyak dipintal dengan sesuatu alat yang disebut: "ndataru" (jentera). Alat ini dibuat dari kayu, memakai roda yang dihubungkan dengan tali dengan semacam alat yang sama dengan kindi tersebut. Pemintalan dengan jentera ini jauh lebih cepat daripada kindi yang hanya diputar dengan tangan.

Salah satu alat tradisionil yang dipergunakan untuk memproses benang, guna menentukan cukup atau tidaknya jumlah benang. Bila jumlahnya mencukupi, benang diren- tangkan di atas dua kayu atau bambu untuk dikanji ke- mudian dijemur sampai kering betul. Alat tradisionil ini disebut : Kepala

Sesudah banyak benang yang dipintal, lalu benang itu dililit pada suatu alat yang disebut: "kapala" (palang), yang panjangnya 1½ m. Alat itu untuk menghitung berapa banyak benang itu, cukup tidaknya untuk sehelai kain "hinggi" (selimut) atau "lau" (sarung). Berapa banyak perhitungannya, tidak dibicarakan dalam uraian ini. Bila kira-kira telah cukup untuk sehelai kain, lalu benang itu direntangkan di atas dua kayu atau bambu lalu dikanji Kemudian dijemur sampai kering. Sesudah kering lalu benang itu dikumpar (digulung) dengan mempergunakan suatu alat yang disebut: "pepangu" (pengumpar). Ini adalah cara memperoleh benang buatan sendiri.

  1. Mengatur lungsin Mengatur lungsin (Schering) di dalam bahasa Sumba dikatakan "pameningu" (memulang-balikkan), maksudnya, ialah hal mengatur benang bakal tenun yang disorong ulang aling pada suatu alat yang disebut: "wangi" (pembidangan). Alat ini dibuat dari kayu atau bambu, dengan ukuran 2 m panjang dan lebar 1 m. Ukuran sekian untuk membuat "hinggi"'(selimut). Sedangkan untuk membuat "lau" (sarung), ukurannya kira-kira setengah dari itu. Pada alat itulah lungsin diatur oleh dua orang wanita, yang masing-masing duduk pada alat itu, lalu menyorong tempurung di mana kumparan benang ditaruh. Tiap-tiap satu tempurung seorang menyorong kearah yang lain dan sebaliknya berkali-kali. Lungsin itu diatur panjang dan lebarnya sedemikian rupa guna memenuhi ukuran kain yang dimaksudkan. Dalam mengatur lungsin ini ada beberapa alat yang penting yang harus ada pada benang yang akan ditenun itu, ialah :

a) Wanangu: kakap atau sisir, yakni sebatang kayu bulat
sebesar ibu jari di mana benang-benang tenunan itu diikat dengan benang itu pula yang lebih kuat dan besar. Sebab memasukkan "hawuluru" (tempat pakan) dan "kalira" (belira) untuk menekan pakan supaya rapat dalam tenunan.

b) N g o d a : pesa, yakni sebatang kayu bulat yang di-
letakkan dekat dengan sisir itu. Bilamana sisir itu diangkat, pesa itulah yang ditekan, pada saat hendak memasukkan hawuluru dan kalira. : penindih, yakni sebilah bambu selebar 2

c) R ad a
cm, dan panjang 1 m. Dipakai untuk me- nindih benang tenun yang telah diangkat dengan sisir itu supaya diratakan. Barulah sesudah itu hawuluru dan kalira dimasukkan. : belira, yakni suatu alat dari teras kayu

d) Kalira
terbaik, teras kayu asam yang halus urat- nya supaya licin. Belira dibuat dalam ben- tuk parang, selebar 5 cm, dan panjangnya 1½ m. Itulah yang dimasukkan dalam lungsin untuk menekan pakan supaya rapat dalam tenunan itu.

e) Hawuluru : pelingkar, yakni suatu kayu bulat sebesar
jari tengah dan panjangnya sehasta lebih. Sebagai tempat melingkarkan benang pakan, untuk mengisi tenunan itu.

f) Lawadi: pengikat, yakni bilah bambu tempat meng-

ikat benang lungsin. Sebagai tempat per- mulaan untuk memulai tenunan itu. : pengencang, yakni bilah bambu yang di-

g)Tuka
tajamkan ujungnya sebelah menyebelah, yang disangkutkan pada pinggir kain kiri- kanan supaya kain itu tetap. Sesudah selesai semua, teratur pada tempat masing-masing, maka tersedialah bakal tenunan itu untuk ditenun, Cara mengatur lungsin yang tersebut di atas, adalah untuk me- nenun kain putih, hitam, merah atau kain campuran dua atau tiga warna benang. Sedang untuk kain yang diikat masih perlu diwarnakan; sesudah lungsin diatur pada pembidangan itu, alat-alat tersebut di atas wanggi itu serta memasang segala alat yang disebutkan itu.

  1. Membuat gambar Untuk membuat gambar atau lukisan pada kain selimut atau sarung, dengan dua cara :
    a) Menggambar dengan jalan mengikat Kepandaian mengikat kain untuk mendapat gambaran atau lukisan yang dikehendaki pada kain selimut dan kain sarung, maka sesudah lungsin diatur seperti tersebut tentang selimut, telah dapat diikat. Misalnya mula-mula lungsin diatur pada pembidangan besar, kemudian sesudah diikat lalu dipindahkan kepada pembidangan yang lebih sedang. Di dalam itulah kain selimut diikat. Tentang kain sarung, cara mengatur lungsinnya tidak diatas wanggi tempat selimut, tetapi di atas wanggi lain untuk sarung yang lebih kecil. Besarnya kira-kira setengah dari wanggi yang disebut.

a) Wanangu : kakap atau sisir, yakni sebatang kayu bulat

sebesar ibu jari di mana benang-benang tenunan itu diikat dengan benang itu pula yang lebih kuat dan besar. Sebab memasukkan "hawuluru" (tempat pakan) dan "kalira" (belira) untuk menekan pakan supaya rapat dalam tenunan. : pesa, yakni sebatang kayu bulat yang di-

b)Ngoda
letakkan dekat dengan sisir itu. Bilamana sisir itu diangkat, pesa itulah yang ditekan, pada saat hendak memasukkan hawuluru dan kalira. : penindih, yakni sebilah bambu selebar 2

c) R ad a
cm, dan panjang 1 m. Dipakai untuk me- nindih benang tenun yang telah diangkat dengan sisir itu supaya diratakan. Barulah sesudah itu hawuluru dan kalira dimasukkan. : belira, yakni suatu alat dari teras kayu

d) Kalira
terbaik, teras kayu asam yang halus urat- nya șupaya licin. Belira dibuat dalam ben- tuk parang, selebar 5 cm, dan panjangnya 1½ m. Itulah yang dimasukkan dalam lungsin untuk menekan pakan supaya rapat dalam tenunan itu.

e) Hawuluru : pelingkar, yakni suatu kayu bulat sebesar
jari tengah dan panjangnya sehasta lebih. Sebagai tempat melingkarkan benang pakan, untuk mengisi tenunan itu.

f) Lawadi: pengikat, yakni bilah bambu tempat meng-

ikat benang lungsin. Sebagai tempat per- mulaan untuk memulai tenunan itu. : pengencang, yakni bilah bambu yang di-

g)Tuka
tajamkan ujungnya sebelah menyebelah, yang disangkutkan pada pinggir kain kiri- kanan supaya kain itu tetap. Sesudah selesai semua, teratur pada tempat masing-masing, maka tersedialah bakal tenunan itu untuk ditenun, Cara mengatur lungsin yang tersebut di atas, adalah untuk me- nenun kain putih, hitam, merah atau kain campuran dua atau tiga warna benang. Sedang untuk kain yang diikat masih perlu diwarnakan; sesudah lungsin diatur pada pembidangan itu, alat-alat tersebut di atas wanggi itu serta memasang segala alat yang disebutkan itu.

  1. Membuat gambar Untuk membuat gambar atau lukisan pada kain selimut atau sarung, dengan dua cara :
    a) Menggambar dengan jalan mengikat Kepandaian mengikat kain untuk mendapat gambaran atau lukisan yang dikehendaki pada kain selimut dan kain sarung, maka sesudah lungsin diatur seperti tersebut tentang selimut, telah dapat diikat. Misalnya mula-mula lungsin diatur pada pembidangan besar, kemudian sesudah diikat lalu dipindahkan kepada pembidangan yang lebih sedang. Di dalam itulah kain selimut diikat. Tentang kain sarung, cara mengatur lungsinnya tidak diatas wanggi tempat selimut, tetapi di atas wanggi lain untuk sarung yang lebih kecil. Besarnya kira-kira setengah dari wanggi yang disebut.

务 Ornamen kain tenun Sumba Timur yang di gambar dengan cara mengikat.

Proses menggambar ornamen kain tenun Sumba Timur

dengan cara menyulam.

Gambar-gambar yang lazim dipergunakan bermacam-macam. Hal itu tergantung pada kepandaian wanita yang mengikat kain tersebut. Untuk kain selimut dipergunakan gambar-gambar : orang, kuda, rusa, ayam, ular, ikan, udang, "andungu" (tugu perang), pohon nangka, dan lain-lain. Gambar-gambar ini terdapat pada ujung selimut sebelah-menye- belah. Sedang pada pertengahan biasa dengan gambaran; petola, bunga bakung, "rukuahua" (bekas kuku anjing) dan lain-lain. Di antara gambar besar-besar itu terdapat pula gambar-gambar kecil bermacam-macam, ada burung, ikan, ular, pohon dan lain-lain. Kain-kain selimut diberi nama menurut gambar yang terdapat pada ujung kain sebelah- menyebelah seperti; "hinggi tau" (kain manusia), "hinggi kurangu" (kain udang), "hinggi andungu" (kain tugu perang), "hinggi ruhu" (kain rusa) dan sebagainya. Demikian pula kain-kain sarung dibedakan menurut motifnya, seperti "lau hemba" (kain kembang), yang digambar menurut gambar asli, "lau kawau" (kain endah) yang digambar menurut motif sarung endeh "lau patola" (sarung petola) yang digam- barkan dengan motif petola. Alat yang dipergunakan untuk mengikat kain, baik selimut maupun sarung adalah "kalita", yakni daun pucuk gewang yang telah digaru isinya, sehingga tinggal kulit luar- nya yang licin dan kuat. Kain yang diikat dengan kalita itu begitu kuat dan licin, sehingga tidak putus. Demikian pula bila dicelup dalam warna, tidak dapat ditembusi warna. Bagian kain yang memerlukan warna hitam tidak perlu diikat. Yang diikat hanya yang akan berwarna putih, merah dan biru.

b) Menggambar dengan jalan menyungkit atau menyulam Suatu cara lain untuk memberi motif kepada kain-kain,

ialah dengan cara yang discbut: "pahikungu" (menyungkit) atau "pahudu" (menyulam). Kain selimut hampir tidak ada yang disungkit atau disulam, kecuali kain ikat kepala atau selendang. Yang lazim disungkit adalah kain sarung yang disebut dengan nama "lau pahikungu" (sarung sungkit) atau "lau pahudu" (sarung sulam). Dibedakan menurut tempat- nya gambar yang disungkit itu dalam sarung ada yang disebut: "lau pahudu kiku", yakni hanya bagian ujung bawahnya yang disulam. Sedang bagian atasnya dari kain tenun biasa dengan benang berbagai warna. Ada pula yang disebut: "lau pahudu pedua" : sarung sulaman tengah, yakni hanya bagian tengah saja yang disulam. Alat untuk menyungkit atau menyulam adalah "ri kalan- da", lidi-lidi gewang sebanyak yang diperlukan. Tiap-tiap wanita ahli sungkit sudah harus menyimpan lidi-lidi ini, se- perti juga menyimpan alat-alat tenun yang lain. Ahli sungkit tidak umum dimiliki oleh para wanita, ini hanya orang-orang tertentu dalam kalangan bangsawan atau hartawan. Sebab itu kain sarung sungkit jarang pula terdapat. Imbalannya dalam perhubungan adat adalah cmas tulen dan kuda atau kerbau besar. Benang yang dipergunakan dipintal dua ganda, Selain warna putih, juga digunakan warna merah, hitam dan kuning untuk menimbulkan bentuk gambar yang dikchen- daki. Motif yang lazim dipergunakan adalah gambar-gambar: "ana tau" (patung), "andungu" (tugu perang), "pingi nang- ga"(pohon nangka), "njara" (kuda), "manu"(ayam), "ruha" (rusa), "ularu"(ular), "kurangu" (udang) dan lain-lain. 4 Memberi warna Ada dua macam yang diwarnai, yaitu:

a "pamawangu", pakan (inslag). b "hemba", lungsin (schering). a Mewarnakan pamawarigu Mewarnakan pamawangu. yakni benang yang akan mnen- jadi pakan tenunan adalah mudah. Pakan yang berwarna biru dan hitam dicelup di dalam rendaman sari tarumatau nila. Pakan yang berwarna merah dicelup di dalam rendaman sari mangkudu. Pekerjaan mewarnakan dengan nila itu disebut "nggilingu" dan wanita yang mengerjakannya disebut "manggilingu". Bahan warna untuk mendapat warna biru dan hitam diperlukan daun nila. kapur dan kemiri. Manggilingu telah menyediakan beberapa buah periuk di mana daun-daun nila direndam dan dibubuhi kapur. Endapan sari nila yang direndam itu kemudian diambil dan dimasukkan ke dalam periuk lain. di mana pakan atau lungsin itu akan dicelup untuk mendapatkan warna biru muda. biru tua dan hitam. Pakan yang dicelup pertama kali telah mendapat warna biru muda. yang kedua kali warna biru tua dan yang ketiga kali warna hitam. Bila ternyata warnanya belum diperoleh. seperti yang dikehendaki dapat diulangi sampai mendapat warna yang dikchendaki itu. Sebelumnya direndam dulu dalam rendaman tepung kemiri dengan maksud agar warna yang meresap kedalam benang itu dapat tahan luntur. Seperti telah disinggung sedikit di atas. untuk mendapat pakan yang berwarna merah. pakan itu dicelup dalam rendaman sari mengkudu. Pekerjaan memerahkan itu disebut "kombu", yang diambil dari nama bahan warna merah itu. Dan wanita yang melakukan pekerjaan itu disebut "makom- bu". Kombu dengan istilah Sumba yang dimaksud adalah

nama pohon mengkudu, yang akarnya digali dan diambil lalu direndam dalam air. Setelah itu lalu dikikis dan ditumbuk bersama-sama kulit dan daun "loba". Setelah itu lalu disaring dan dimasukkan dalam sebuah periuk atau pasu besar. Loba adalah semacam tumbuhan yang hanya tumbuh di tanah pegunungan tinggi. Gunanya untuk menguatkan warna merah dalam percampurannya dengan sari mengkudu. Benang yang akan dimerahkan itu direndam dulu dalam rendaman tepung kemiri sesudah kering dijemur, lalu dimasukkan kedalam periuk/pasu tempat merendam sari mengkudu itu. Bila celupan pertama belum cekup merah, seperti yang dikehendaki dicelup ulang lagi sampai mendapat warna yang dikchendaki. Sesudah itu benang dijemur dan disimpan, menunggu saat yang dipergu- nakan.

b) Mewarnai hemba (lungsin) Hemba (lungsin) yang telah selesai diikat dikeluarkan dari wanggi, lalu dicelup di dalam rendaman kemiri dan dijemur sampai kering. Kemudian dicelup dalam rendaman nila. Rendaman pertama memberikan warna biru muda. Yang kedua warna biru tua. Yang ketiga warna hitam. Bila ternyata rendaman-rendaman itu belum mengadakan warna yang dikehendaki dapat diulangi baik yang pertama, kedua, maupun yang ketiga. Hemba yang memerlukan biru muda, sesudah kering dimasukkan lagi di dalam wanggi lalu diikat. Demikian pula hemba yang memerlukan warna biru tua. Sesudah kering diikat lagi, kemudian dicelup pula untuk mendapat warna hitam yang tidak perlu diikat lagi. Selagi mewarnai dengan nila, sesudah

dijemur lalu diembunkan. Demikianlah sampai beberapa kali dengan maksud agar warnanya tahan, tidak mudah luntur. Selesai mewarnai dengan nila, lalu ikatan gambar-gambar yang memerlukan warna merah dibuka. Sesudah direndam di dalam air sari kemiri, lalu dicelup di dalam rendaman sari kombu dan loba yang telah disediakan di dalam periuk atau pasu yang besar. Banyaknya kombu dan loba ter- gantung kepada banyaknya hemba yang dicelup. Demikian pula dengan biji kemiri yang diperlukan. Celupan itu di- biarkan beberapa hari sampai memperoleh warna yang di- kehendaki. Hemba yang diwarnai itu dijemur sampai kering betul. Sesudah kering lalu diembunkan lagi beberapa kali. Untuk gambar yang memerlukan warna kuning, digunakan sari kayu kuning. Ikatan gambar yang memerlukan warna kuning dari hemba yang telah diwarnai di atas dibuka, lalu dicelup dalam rendaman kayu kuning itu. Ada juga yang mempergunakan warna kuning dari sari kunyit dengan campuran kapur, tetapi warna ini mudah luntur. Biasanya warna kuning dari kunyit itu dicapkan saja pada bagian yang perlu dikuningkan. Ikatan gambar yang putih, tidak perlu dibuka, kecuali bila hendak dibongkar seluruhnya untuk ditenun. Bila telah tiba saatnya untuk ditenun, semua warna putih, biru tua dan biru muda yang belum dibuka, harus dibuka. Kemudian dipasang pada wanggi lalu dibongkar dan diatur menurut mestinya. Setelah diteliti teratur tidaknya dan rata tidaknya, lalu diikat dengan bilah bambu yang disebut "lawadi". Setelah itu lalu dipasang segala alat yang telah disebutkan di muka pada bagian pengatur lungsin. Setelah semua siap, lalu hemba itu dikanji dengan suatu bahan yang diambil dari ubi semacam tum-

buhan yang bernama "kawu". Ubi itu diparut lalu dibuat kanji. Pekerjaan menganji itu disebut "kawu", menurut tumbuhan itu. Karena tidak mudah memperoleh bahan ini, biasanya orang mempergunakan saja air nasi beras atau

nasi jelai. Dengan demikian selesailah hemba itu untuk

ditenun. Setelah melalui proses penggarapan selama kurang lebih

seratus hari, kain (hinggi) tenun itupun jadi sudah. Akan

tetapi sebelum dipakai. masih harus dicuci dulu hingga bersih betul, lalu dijemur sehari penuh.

Tn 2 密

Mcnenun Di atas sudah kita ketahui, bahwa alat-alat yang perlu ada pada "hemba" (kain tenunan). Selain daripada itu ada lagi alat-alat lain yang harus ada pada waktu bertenun. Alat itu ialah :

1) tanda ndingi : tiang tenunan. yakni dua tiang atau

patok kayu yang ditanam kuat-kuat tempat menggantung hemba'pada waktu bertenun.

2) n d i n g i : bambu tempat menyangkutkan hemba.

Bambu ini ujungnya sebelah menyebelah dibelah, sehingga pada waktu bertenun ujung bambu itu berpukulan, sehingga menimbulkan bunyi yang berirama.

3) kawihu ndingi : pengikat ndingi, yakni tali yang me-

nyangkut ndingi dengan tangkai pada waktu bertenun.

4) kanoru : enau (pelepah enau), boleh juga terbuat
dari kayu bulat atau bambu yang di masukkan ke dalam hemba bagian atas dekat ndingi, untuk meluaskan pemisah an lungsin dengan bawah, supaya lungsin itu tidak bersangkutan satu dengan yang lain, sehingga mudah untuk bertenun.

5) palu : bambu yang dipergunakan untuk alat

tenun, sedang tempat menyangkutkan hemba bagian bawah diletakkan di atas

pangkuan untuk memisahkan lungsin

atas dan bawah.

6)liu : belakang (penahan belakang) dibuat
dari kayu bagian tengah yang mengenai belakang dilebarkan dan dicekungkan supaya penenun dapat bersandar sementara bertenun.

7) kawihu liu : tali penahan belakang, yakni tali yang

disangkutkan pada palu dan liu. Dengan demikian penenun sama sekali bersatu dengan hemba yang ditenunnya, sehing- ga mudah mengencangkan dan mengendurkan.

8) handayangu : galangan, kayu bulat sebesar ibu jari

kaki yang diletakkan di atas tangkai ndingi kiri kanan untuk tempat meng- galang hemba, waktu beristirahat dari bertenun.

9) kaduduhu : penurun, tempat belira disorong turun
naik pada waktu bertenun.

10) tarini : tendangan, balok atau kayu bulat yang
ditahan dengan patok; tempat wanita penenun menekankan kakinya sementara bertenun. untuk mengencangkan dan mengendurkan tenunan. Pada bab lain kita telah sampai kepada hal hemba, yang telah dilengkapi dengan alat-alat di dalam hemba itu. Bila semua alat-alat dalam dan luar telah sedia. wanita penenun telah dapat mulai menenun. Tidak selamanya yang punya hemba itu sendiri me- nenunnya. Kebanyakan pekerjaan itu diserahkan kepada wanita lain yang pandai menenun. Perbuatan menyerahkan

pekerjaan kepada orang lain itu disebut : "pajaungu". Sudah barang tentu penyerahan kerja itu akan dibarengi dengan suatu "tagenprestagi" (balas budi), biasanya dengan sehelai sarung kain toko, atau pun dengan uang yang kira-kira seimbang dengan itu. Seperti halnya bertenun cara "pajaungu" itu berlaku juga untuk pekerjaan "paingu" (mengikat), "nggilingu" (menghitamkan) dan "kombu" (memerahkan). Kalau orang yang punya hemba itu sendiri tak pandai dalam hal itu, orang itu dapat menyerahkan pekerjaan itu kepada orang lain. Itu pun dengan balasan budi seperti tersebut. Untuk mempercepat pekerjaan biasanya orang yang punya hemba itu sendiri mengantarkan apa-apa kepada pandai kerja : sirih pinang, kopi, gula dan bahan makanan. Sehingga dengan demikian pandai kerja itu akan tidak perlu lagi membuang waktu untuk mencari apa-apa yang dibutuhkan. Bila patokan yang punya hemba itu, bahwa nanti pandai kerja itu akan diberi sekian, maka mungkin sekali pekerjaan itu akan mengalami suatu jangka panjang. Bertenun dapat dibedakan :

a. Menenun hinggi (kain selimut);
b. Menenun lau (kain sarung).
a. Menenun hinggi Menenun hinggi dibedakan lagi atas :
1) Menenun hinggi panda paingu (yang tak diikat)
2) Menenun hinggi papaingu (yang diikat)
1) Menenun hinggi panda paingu Kain macam ini dibuat dari pada benang yang tak diikat.

Ada yang polos, ada yang genggang (aneka warna benang). Menenun kain macam ini lebih mudah dan lebih cepat. Dibedakan menurut keadaan benang yang dipergunakan :

a. "hinggi patinu mbulungu" : kain tenunan polos. hi

tam, putih, merah, ku- ning. : kain aneka warna.

b. "papabetingu"
: kain mata dam.

c. "hinggi rukadama" Hinggi umumnya terbagi atas dua "nai" (hubungan, lirang).
Tiap-tiap lirang ditenun sendiri. Biasanya pandai tenun yang cekatan dapat menyelesaikan satu lirang dalam 3 hari. Jadi sehelai kain dapat diselesaikan dalam 1 minggu, dan untuk sepasang dalam 2 minggu.

2) Menenun hinggi papaingu Hinggi papaingu ada dua macam :
a. "hinggi kawuru" : kain biru,
b. "hinggi kombu": kain merah.
a. Menenun hinggi kawuru Kain semacam ini sesudah selesai diikat lalu dicelup di dalam nggilingu (nila). Celupan pertama kali mendapatkan warna biru muda. Lalu gambar yang memerlukan warna biru muda diikat. Sesudah itu dicelup lagi untuk mendapatkan warna biru tua. Selesailah pekerjaan mencelup ini. oleh karena gambar yang memerlukan warna putih tidak perlu lagi dibuka. Setelah selesai dicelup lalu dijemur kering. Sesudah diembunkan beberapa kali lalu ikatan gambar warna putihnya dibuka. Kemudian dimuat di atas pembidangan untuk dibongkar dan diatur menurut semestinya. Serta

dipasang segala alat yang sudah disebutkan di muka. Demi- kianlah hemba itu selesai ditenun. Seperti kain-kain lain, kain macam inipun dua lirangnya. Hanya untuk pakaian anak-anak cukuplah "hanai" (selirang). Nilai hinggi kawuru lebih daripada hinggi pabetingu dan ruka kadama, tetapi kurang daripada hinggi kombu.

b. Menenun hinggi kombu Kain macam ini lebih banyak dan lebih sulit mengerja-kannya dari pada macam kain-kain lain yang telah disebutkan di muka. Kesulitannya terletak pada cara mengikat dan mewarnainya. Bila telah selesai diwarnai lalu ikatan gambar-gambar yang masih ada dibuka. Kemudian dibongkar di atas pembidangan. Dalam pembidangan itulah dipisahkan lirangnya.ILalu masing- masing lirang diberi beralat, seperti yang telah disebutkan. Sesudah itu lalu diserahkan kepada penenun. Biasanya untuk mendapat kain sepasang yang sama motifnya, pada waktu "pameningu" (mengatur lungsin) sudah diatur dua lapis, lalu diikat sekaligus bersama-sama. Pada waktu mem- bongkar, barulah dipisahkan satu-satu lirang. Yang paling baik kalau penenun kain sepasang itu satu orang, supaya tenunannya sama. Tetapi untuk mempercepat dapat juga dua tiga orang yang dianggap mutu kerjanya sama. Cara memasukkan pakan ialah pada bagian yang hitam dimasukkan pakan benang hitam. Pada bagian gambar merah dimasukkan pakan putih. Dengan demikian maka motifnya lebih nyata tampaknya. Menenun hinggi kombu tidak terlalu jauh berbeda dengan kain-kain tersebut. Kecuali apabila hemba itu telah lama disimpan, mungkin benang lungsinnya putus-putus. Inilah

yang memperlambat penenun itu. Sebab penenun terpaksa harus menghubungkan dulu benang-benang yang putus. Oleh sebab itu sebaiknya hemba itu janganlah terlalu lama disimpan setelah selesai diwarnakan. Sesudah selesai menenun, lalu kedua lirang dari sehelai kain dijahit berhu- bungan. Kemudian baru ujungnya yang masih bersambung dipotong. Kalau kain itu untuk dijual, telah selesailah pekerjaan itu, Tetapi kalau untuk dipakai, maka ujung sebelah menyebelah ditenun. lagi dengan mengatur benang beberapa warna sebagai schering (lungsin). Lalu benang ujung kain itu menjadi inslag (pakan). Pekerjaan ini disebut "kabakilu". Lebarnya kira-kira 5 cm dan panjangnya selebar kain itu. Bila kain ini telah selesai, maka ujungnya yang masih bersisa dipintal, sehingga merupakan rumbai-rumbai kain, yang di sebut "wulumata".

b.Menenun lau Menenun lau ada tiga macam :
1) Lau panda paingu (yang tidak diikat);
2) Lau papaingu (yang diikat);
3) L.au pahudu (yang disungkit).
1) Menenun lau panda paingu Lau yang diikat, adalah lau yang ditenun dari bahan benang yang berwarna putih, merah, biru, atau pun campuran beberapa warna benang putih, merah. biru, hitam dan kuning. Seperti halnya hinggi. Demikian juga lau dibedakan menurut keadaan benang yang dipergunakan :
a. Lau patinu mbulungu (sarung tenun polos);
b. Lau papabetingu (sarung genggang);

c. Lau kambaingu (sarung jalut/streep besar):
d. Lau rukadama (sarung mata dam). Alat-alat yang dipergunakan untuk menenun lau tidak
berbeda dengan yang dipakai untuk menenun hinggi. Demikian juga lamanya, entah ditenun sendiri oleh yang punya atau diserahkan kepada pandai tenun yang lain.

2) Menenun lau papaingu Pekerjaan untuk mengerjakan sarung ikatan ini lebih banyak dan lebih memakan waktu dari pada lau yang bukan ikatan. Setelah selesai diikat, lalu dicelup di dalam warna nggilingu dan warna kombu. Sesudahnya lalu dibuka ikatannya, kemudian diatur pada pembidangan. Di antara bagian-bagian yang bergambar itu masih diselang lagi dengan benang-benang berwarna putih, merah, kuning, biru dan hitam, selebar kain yang dikehendaki. Seperti halnya hinggi mempunyai dua lirang juga, tetapi menenunnya sekali gus tidak dipisahkan; sesudah selesai ditenun baru dipotong dibagi dua. Kedua lirang/lembar itu dihubungkan dengan jahitan yang disebut "lara mbapa" (horisontal), kemudian ujungnya dihubungkan lagi dengan jahitan yang disebut "lara tinja" (vertikal). Lau papaingu dapat dibedakan beberapa macam :
: sarung kembang tenun campuran yang

a. Lau hemba
diikat dan yang tidak diikat berbagai warna. : sarung cnde, sarung yang kembang-

b. Lau kawau
nya menyerupai motif sarung ende. : sarung merah, yang kembangnya di

c. Lau kombu
merahkan sebagai hinggi kombu.

: sarung biru, yang kembangnya hanya

d. Lau kawuru
berwarna biru putih sebagai hunggi kawuru. Alat yang dipergunakan sama saja.

3) Menenun lau pahudu Pada pasal tentang membuat gambar, telah kita ketahui tentang caranya "hikungu pahudu" (menyungkit sulaman), yang akan menghasilkan "lau pahikungu" (sarung sungkit) atau "lau pahudu" (sarung sulam). Gambar-gambar diatur dengan lidi dan sementara itu pun dipasang alat-alat tenun. seperti yang dipergunakan pada waktu menenun kain-kain macam lain. Pekerjaan ini memerlukan kepandaian yang lebih daripada menenun kain macam lain. Baik "mahikungu" (pengungkit) maupun "matinungu" (penenun) haruslah serasi fahamnya. Agar gambar yang diatur tetap disesuaikan oleh pencnun waktu menenun. Pakan dimasukkan sesuai dengan lidi-lidi yang telah diatur itu. Demikian pula pakan yang dimasukkan pada lungsin itu harus sesuai dengan gambar yang dimaksud. Gambar putih harus pakan putih, gambar merah harus pakan merah dan yang kuning harus pula kuning. Pekerjaan ini tidak saja memerlukan kepandaian, tetapi juga memerlukan kerajinan, ketelitian dan kesabaran. Untuk menenun sehelai kain dapat memakan waktu dua atau tiga minggu, ini pun kalau terus-mencrus. Bila tidak tentu lebih lama lagi. Sekali menenun dapat diperoleh bahan untuk dua lembar sarung. Oleh karena hasil tenun itu dibagi dua. Masing- masing merupakan satu lirang/lembar yang akan dihubung- kan dengan satu lirang tenunan genggang. Biasanya yang

disungkit itu menjadi lirang bawah, sedang yang genggang di atas. Itu sebabnya sarung macam ini disebut "lau pahudu kiku" (sarung sungkit bawah). Ada pula macam lain yang terdiri atas tiga lirang, di atas dan di bawah tenunan

genggang sedang tengahnya yang disungkit. Sebab itu di-

sebut "lau pahudu padua" (sarung sungkit tengah).

Lain daripada sarung, disungkit pula "tera"(ikat

kepala) dan "tamelingu" (kain tudung). Pembuatan macam ragam kain Sumba ini dengan bahan, alat serta cara tradisionil masih dilestarikan sampai sekarang.

Bab II ARSITEKTUR Perumahan tradisionil Sumba berbentuk rumah panggung persegi empat panjang (rectangular house standing on piles). Suku bangsa Sumba menerima warisan arsitektur perumahan tradisionil itu dari nenek-moyangnya, yaitu kaum imigran yang dijaman prasejarah (mungkin) untuk pertama kalinya mendirikan perkampungan rumah panggung persegi-empat

panjang di daerah pesisir Utara Sumba Timur yang sekarang

dikenal dengan nama Melolo "verbastering" dari kata Umalulu (uma=rumah, lulu=panjang). Arsitektur rumah panggung persegi empat panjang, me- rupal:an salah satu unsur pembuktian, bahwa budaya Sumba telah ada sejak jaman prasejarah. Tradisi prasejarah itu secara konsisten dihayati sampai masa kini, yang terbukti dengai adanya pembangunan perumahan tradisionil di seluruh wilayah Sumba yang pada dasarnya tetap berbentuk rumah panggung persegi empat panjang.

Bentuk rumah panggung persegi empat panjang yang

asli, tidak diberi menara berpola joglo. Perumahan tradisionil dalam bentuknya yang asli, pada masa kini masih didirikan di beberapa tempat terutama di daerah pesisiran, seperti di Umalulu dan Mangili, Sumba Timur.

Foto di atas adalah contoh perumahan tradisionil yang

masih memiliki ciri keasliannya, yaitu bagian atap belum

diberi menara berpola joglo. Rumah tradisionil itu terdapat

di daerah pantai Kaliuda, Sumba 'Timur.

Pada sekitar abad ke XIV-XV terjadi perubahan

konsepsionil dalam arsitektur perumahan tradisionil Sumba.

Perubahan konsepsionil itu terjadi setelah ada sentuhan

unsur budaya Jawa yang diperkenalkan oleh kaum kolonis Majapahit (Jawa), tatkala mereka mulai mendirikan tempat

permukiman,-mungkin tempat permukiman yang pertama

mereka dirikan-di daerah Tidas dan daerah Tabundung yang

terletak tak jauh dari pantai Selatan Sumba Timur.

Arsitektur berpola joglo yang dibawa oleh kaum kolonis Jawa itu sangat menarik perhatian masyarakat Sumba. Timbullah gagasan kreatif untuk mempertemukan arsitektur Sumba dengan arsitektur Jawa. Dan mulailah didirikan perumahan gaya baru yang pada hakekatnya merupakan perpaduan arsitektur bentuk rumah panggung persegi empat panjang dengan arsitektur joglo. Jadi sebenarnya secara fundamentil masih tetap mempertahankan pola arsitektur lama yang diberi bangunan tambahan berupa menara, joglo.

Konsepsi perumahan Sumba-Jawa itu ternyata cepat diterima oleh segenap suku-suku dan seluruh lapisan masyarakat Sumba. Sejak abad-abad ke XIV-XV hingga

masa kini tetap dilestarikan dan menjadi arsitektur pe-

rumahan tradisionil Sumba serta merupakan salah satu unsur

budaya Sumba yang spesifik.

Inti perumahan tradisionil Sumba adalah dapur, perapian segi empat yang terletak di antara keempat tiang utama (sokoguru). Dapur, perapian di Sumba Barat disebut kara- buku, rabuko, rabuka. Di Sumba Timur disebut au.

Rumah adat dengan menara berpola joglo merupakan perpaduan arsitektur Sumba-Jawa Dan masih tetap berbentuk rumah panggung persegi empat panjang. Foto di atas, menunjukkan rumah kebaktian kepercayaan Merapu di Lewa Paku, Sumba Timur. Rumah adat tersebut didirikan di puncak bukit pada ketinggian ± 600 m di atas permukaan laut.

Foto di bawah, menunjukkan "close up" bagian menara joglo.

Dapur, perapian yang merupakan bagian inti sebuah rumah itu berbentuk segi empat. Letaknya di tengah ruang

dalam di antara keempat buah tiang utama (Seperti yang

tampak pada foto di bawah ini).

Dapur, perapian merupakan batas yang memisahkan ruang pria dan ruang wanita. Selain dipergunakan untuk keperluan rutin, juga berfungsi magis atau magis-religius dalam upacara adat perkawinan, membakar daging hewan korban yang dipersembahkan untuk merapu dan lain-lain. Tapi disamping dapur, perapian yang merupakan bagian inti rumah itu seringkali dalam rumah adat masih dibuat 1-2 dapur, perapian tambahan yang terletak agak di bagian sudut ruang wanita. Rumah adat Sumba tidak mempunyai jendela. Praktis tidak mempunyai ventilasi. Pintu hanya dua buah. Sebuah terletak di bagian depan yang disebut pintu pria (karena kaum pria harus keluar-masuk lewat pintu tersebut). Sebuah lagi terletak di bagian belakang rumah yang tembus ke dalam ruang wanita, disebut pintu wanita (karena kaum wanita harus keluar-masuk lewat pintu tersebut). Rumah adat Sumba terdiri atas tiga tingkat :

  1. Tingkat Satu Bagian bawah atau kolong.rumah. Sebagian dipergunakan untuk kandang babi. Sebagian untuk tempat kegiatan menenun. Tapi kolong rumah kebaktian, tidak boleh diper gunakan untuk kandang babi dan tempat menenun.

Sebagian dari kolong rumah yang dipergunakan untuk tempat kegiatan menenun. Sebagian lagi yang dibatasi pagar bambu untuk kandang babi.

  1. Tingkat Dua Bagian tengah rumah. Di beranda depan terletak teras atau serambi, tempat bersantai yang bertutup atap. Ruang dalam terdiri atas :
    a. Dapur, perapian bagian inti rumah.
    b. Ruang pria yang dipergunakan sebagai ruang tidur, ruang makan. Sebagian untuk ruang upacara, ruang musyawarah, ruang musik, ruang senjata. Sebagian lagi yang diberi dinding anyaman bambu untuk ruang jenazah, ruang kepala keluarga, kepala kabisu.

    c. Ruang wanita yang dipergunakan sebagai ruang tidur,

ruang makan, ruang masak dengan dapur tambahan.

Ruang menyimpan makanan dan air. Kamar-kamar untuk

kaum ibu dan para gadis.

Sebagian dari ruang pria yang dipergunakan untuk

ruang tidur, ruang makan dan main musik.

Di tingkat dua rumah adat Sumba Timur selalu dibuatkan sebuah ruang atau kamar khusus untuk menyim- pan jenazah dalam peti mati selama penguburan primer.

  1. Tingkat Tiga Bagian atas atau loteng rumah. Disebut juga uma deta atau hindi marapu. Merupakan tempat khusus bagi para marapu, arwah leluhur dan arwah sanak keluarga yang telah meninggal. Di situ pulalah ditempatkan arca-arca marapu, leluhur dan benda-benda pusaka milik sesuatu kabisu, kabihu serta benda-benda keramat lainnya. Kadang kala juga di- pergunakan untuk tempat mengumpulkan semua alat-alat perhiasan segenap penghuni rumah, benda-benda waris. Untuk memperoleh gamnbaran yang lebih jelas, di bawah ini kami berikan :

DENAH RUMAH ADAT

TIMUR

⑥1⑥ ⑥ ① ③ 1 5 6 ②

② ① ② @ ③

③ ⑤

③ ②

②四 -@ @ 0 ④ @④ 6 # BARAT

Keterangan Den a h Rum a h Ad at

  1. Dapur, perapian bagian inti rumah.
  2. Tiang utama.
  3. Dapur, perapian tambahan dalam ruang wanita.
  4. Pintu pria.
  5. Tempat yang ditinggikan untuk ruang makan, ruang tidur dan ruang musik kaum pria.
  6. Kamar-kamar wanita.
  7. Tempat yang ditinggikan untuk ruang makan, ruang tidur dan tempat bersantai kaum wanita.
  8. Pintu wanita.
  9. Ruang sidang, ruang musyawarah, ruang upacara.
  10. Kamar jenasah.
    11+12 Kamar para rato, ratu dan tempat menyimpan alat-alat berburu.

  11. Kamar-kamar wanita.

  12. Tempat menyimpan air dan bahan pangan.
    15+16. Kamar-kamar kepala keluarga, kepala kabisu, kabihu.

  13. Ruang khusus untuk raja bila menghadiri upacara dalam rumah kebaktian.

  14. Teras, serambi.
  15. Tangga untuk naik keteras, balai-balai
  16. Tangga untuk naik ke ruang wanita.

DENAH RUMAH ADAT

Keterangan S k et sa Rum a h Ad at

  1. Dapur, perapian bagian inti rumah.
  2. Tiang utama.
  3. Dapur, perapian tambahan dalam ruang wanita.
  4. Pintu pria.
  5. Tempat yang ditinggikan untuk ruang makan, ruang tidur dan ruang musik kaum pria.
  6. Tempat menyimpan air dan bahan pangan.
  7. Teras, serambi.
  8. Pintu wanita.
  9. Loteng (uma deta, hindi marapu).
  10. Joglo.
  11. Tangga untuk naik keloteng.
  12. Wuwungan atap yang diberi patung-patungan kayu berupa ayam jantan dan ayam betina serta anak- anak ayam.
  13. Tangga untuk naik ke teras, balai-balai.
  14. Tangga pendek untuk masuk ke dalam ruang pria
  15. Lobang loteng.
  16. Kamar-kamar kepala keluarga, kepala kabisu, kabihu:
  17. Ruang khusus untuk raja bila menghadiri upacara dalam rumah kebaktian.
  18. Kamar para rato, ratu dan tempat menyimpan alat-alat berburu.
  19. Ruang sidang, musyawarah, upacara.
  20. Kamar jenazah.
  21. Kamar-kamar wanita.
  22. Kamar-kamar wanita.
  23. Tempat yang ditinggikan untuk ruang makan, ruang tidur, ruang bersantai kaum wanita.

Perlu kiranya kami kemukakan, bahwa DENAH dan SKETSA rumah adat itu adalah untuk tipe rumah kebaktian dan tipe rumah rato, ratu serta tipe rumah kepala kabisu, kabihu. Konstruksi dan bentuk ketiga tipe rumah adat itu tidak ada perbedaan yang fundamentil. Perbedaan hanya terletak pada pengaturan variasi dalam pembagian ruang-ruang, kamar-kamar, serta dapur, perapian tambahan yang kadangkala dibuat 1 sampai 2 buah, tapi kadangkala sama sekali tan- pa dapur, perapian tambahan. Juga ornamen tatah pada keempat tiang utama serta lukisan magis pada piringan kayu keempat tiang utama, variasinya seringkali berlainan. Demikian pula ukuran luas bangunannya. Dan kadangkala juga pilihan jenis-jenis kayu yang dipergunakan untuk bahan bangunan. Malah sekarang sudah agak banyak (terutama di sekitar kota-kota kabupaten dan kecamatan) yang mempergunakan bahan-bahan bangunan logam seperti paku besi, kawat serta seng. Pula sudah ada yang mempergunakan fondasi umpak beton atau batu.

Contoh rumah adat (belum diberi dinding) yang sudah mempergunakan fondasi beton. Rumah adat itu didirikan di Parai Liu yang terletak di pinggiran kota Waingapu, Sumba Timur. Beberapa data teknis rumah adat yang dibangun dengan cara dan hanya mempergunakan bahan-bahan bangunan tradisionil, adalah sebagai berikut : Konstruksi kayu. Bahan bangunan penting lainnya, ialah bambu, rumput alang-alang untuk atap, akar gantung dan rotan serta ijuk. Daun kelapa, daun nipah, daun gewang. Batu dan tanah untuk dapur, perapian. Paku terbuat dari kayu, pasak. Semua tiang ditegakkan dengan cara menanamkan sebagian dari pangkalnya ke dalam tanah. Ditimbuni dan dijepit dengan batu-batu. Untuk meng- kokohkan posisi tegak tiang-tiang sering kali ditambah balokan kayu yang bagian pangkalnya ditanamkan ke dalam

tanah dan bagian tengah atau ujungnya diikatkan pada tiang-tiang. Jadi sama sekali tidak mempergunakan fondasi. Seperti yang tampak pada foto di bawah ini.

Ukuran bangunan : panjang 18 meter – 23 meter, lebar 16 meter – 18 meter. Tinggi 4 meter - 5 meter. Tinggi menara joglo 4 meter – 6 meter. Garis tengah tiang utama ½2 meter - 1 meter. Jumlah seluruh tiang 30 batang - 36 batang. Jumlah usuk 150 batang – 200 batang. Rumput alang-alang untuk atap sekitar 150 ikat - 200 ikat. Akar gantung dan rotan sekitar 10 pikul – 20 pikul. Daya tahan rumah adat konstruksi kayu itu berkisar antara 15 tahun - 20 tahun. Daya tahan atap alang-alang 3 - 4 tahun.

Rumah adat yang berbeda bentuk dan paling kecil ukuran- nya adalah tipe rumah (uma) marapu yang tidak dihuni manusia. Ada yang beratap dengan pola joglo, ada yang tidak. Ada yang tersusun dalam tiga tingkat, ada pula yang hanya dua tingkat. Tetapi kesemuanya tetap berbentuk rumah panggung persegi empat panjang. Contoh-contoh rumah marapu yang unik terdapat di daerah Tarung dan Lai Tarung, Sumba Barat. Rumah marapu di Lai Tarung, mempunyai atap berpola joglo. Tersusun dalam tiga tingkat. Seluruh tiang-tiangnya terbuat dari balokan-balokan batu padas. Sedang rumah marapu di Tarung, Sumba Barat, bentuknya sangat sederhana seperti gubuk biasa. Atapnya tidak berpola joglo. Tersusun hanya dua tingkat. Ukuran panjang ± 2 meter, tinggi ± 2 meter, lebar ± 2 meter. (Seperti yang tampak dalam foto di bawah ini).

Bagian-bagian tiang utama (soko guru) rumah adat gaya Sumba Timmur.

Antara keempat tiang utama (sokoguru) selain terdapat dapur yang merupakan bagian inti rumah, juga terdapat para-para (diatas dapur) tempat menyimpan alat-alat dapur yang dipergunakan pada waktu ada kegiatan upacara, Serta tempat menyimpan bahan-bahan ramuan obat-obat tradisio- nil dan lauk pauk seperti ikan, daging yang harus diasapi.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

  1. Abdurachim, lih.,
  2. Birkit Smith, K.,
  3. Franz Boas,
  4. Koentjaraningrat,
  5. Kruyt, A.C.,
    Dasar dasar Anthropologi Indonesia. Widjaja, Bandung (1962). De weg der beschaving. Inleiding tot de ethnologie. Van Ditmar, Amsterdam-Antwerpen (1950)

vasi Masyarakat Terasing GAURA Di Kecamatan Walakaka Kabu- paten Sumba Barat. Kantor Wi- layah Departemen Sosial Propinsi Nusa Tenggara Timur, Kupang (1976). Primitive Art. Dover Publications Inc., New York (1955).

sejarah di Indonesia. Soeroengan Djakarta (1955).

Loon Exhibition. Asia Institute, (1948). Metode Anthropologi. Penerbit- an Universitas, Djakarta (1958). De Soembaneezen. Bijdragen tot de Taal Land, en Volkenkunde, van Nederlandsch Indie, LXXIX, Martinus Nijhoff, 'sGravenhage (1922).

Laporan Hasil Orientasi/Obser-

  1. Departemen Sosial,

    5. Heekeren, H.R. van, Penghidupan dalam zaman pra-

6. Heine Geldern, R,von, Introduction to "Indonesian Art"

  1. Nooteboom, C.
  2. Onvlee L.,
  3. Pigeaud, Th.,
  4. Radin, P.,
  5. Soepomo, R.
  6. Ter Haar, Bzn.,
    Oost-Sumba, een volkenkundige studie. Martinus Nijhoff, 'sGravenhage (1940). Cultuur als antwoord. Verhan- delingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-, en Volkenkunde, Leiden (1973). Java in the 14-th Century. A Study in cultural history. Marti-Nijhoff, Teh Hague (1960). Primitive Religion. Dover Pub- lications Inc., New York (1955). Bab-Bab Tentang Hukum Adat. Penerbitan Universitas Djakarta (1967). Asas-Asas dan Susunan Hukum Adat. Prajna Paramita, Djakar ta (1960)

Groote Oost J. Ginsberg, Leiden (1935).

afstamming in Kodi, West Soemba. Bijdrage tot de Taal Land en Volkenkunde van Nederlandsch-Indie, Martinus Nijhoff, 'sGravenhage (1956).

15. Wouden, F.A.E. van, Sociale struktuurtypen in de

16. Wouden, F.A.E. van, Locale groepen en dubbele

量

J