Baca PDF (OCR): Submisi Zine Vol.02

88 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR· 751 ms

Daftar isi
  1. a zine you can’t trust
  2. Tidak Spesial jangan terlalu
  3. banyak berharap hidup tidak
  4. begitu istimewa apalagi
  5. isi zine ini Edisi Juni 2020
  6. Sebuah media ala kadarnya yang bersedia menampung
  7. kontributor yang berada di sini.
  8. Isi dalam zine ini sepenuhnya adalah opini pribadi para kon-A
  9. tributor. Simpan saja opinimu sendiri, atau kirimkan pada
  10. Kirim karya gambar, tulisan,
  11. Ke email: submisi.Zine@g-
  12. AtauA
  13. Ke instagram: @submisi
  14. Submisi Zine Edisi: Juni 2020
  15. Penyunting: Kusmartono Aji
  16. Kontributor: Terlampir di setiap submisi
  17. Penata letak, Perancang sampul & Ilustrasi Sisipan:
  18. Anda dapat menyalin, menye- barluaskan kembali, menggu-
  19. bah, dan membuat turunan dari materi ini untuk kepentin-
  20. gan apapun, selama Anda mencantumkan identitas kon-
  21. tributor yang sesuai, dan men- yatakan bahwa ada perubahan
  22. yang dilakukan (jika ada).
  23. Kami Menghapus Daftar Isi di Zine
  24. ini dengan Sengaja agar Kalian Dapat
  25. Menjelajahi Rimba Halaman Hingga
  26. Tersesat & Membiarkan tiap-tiap dari Kalian
  27. Tenggelam didalamnya.
  28. Membaca Realita Meminjam Kacamata
  29. (Sebuah Pengantar Debord sangat Singkat)
  30. alah momen dari kepalsuan-kepalsuan”.
  31. Arif Gilang @arifgilang16 (twitter)
  32. Merupakan editor selebaran mingguan, Distopia Palagan,
  33. juga mengelola penerbit kecil, Rasi Imaji.
  34. Seperti Dendam, Resensi Harus
  35. Dibayar Tuntas.
  36. Kusmartono Aji @joeyaholic (twitter)
  37. Magasin kosong yang disim- pan rapi dalam laci seorang
  38. Berikan Aku Sepuluh
  39. Pemuda.
  40. Dibutuhkan sepuluh
  41. Soekarno dan masing
  42. masing sepuluh pemuda
  43. Lanin untuk menguncang
  44. dunia dengan fakta bahwa
  45. padanan kata yang tepat
  46. untuk negara adalah rasa
  47. tulisan adalah hasil buah
  48. Bangunlah
  49. Setelah cukup letih memperhatikanmu yang terus
  50. 我ら
  51. Sayang, aku tak merasakan nafasmu.
  52. Sayang, bangunlah.
  53. Racheleva
  54. @rachelevaf (instagram)/@rachelefun (twitter)
  55. Good sense of humor, dirty mind and beautiful heart. Deadly Combinations.
  56. Credit gambar: Mojok
  57. BDSM Interview
  58. Submisi berkesempatan untuk mewawancarai
  59. menggelitik di awal kemunculannya. Dengan
  60. muncul. Mari kita berbincang.
  61. betah jadi bidadari kan?
  62. boleh diceritakan sedikit saja sejarahnya
  63. kenapa Minbud (Admin Bude) kepikiran untuk
  64. bikin akun seperti ini. Silakan.
  65. awalnya hanya semacam alter-ego dari Minbud?
  66. terbentuk seiring berjalannya waktu. Mencari topik
  67. dipilih seputar cinta dan rindu.
  68. Siapa saja figur yang sering dituduh netizen
  69. sebagai orang di balik layar akun BDSM? Siapa
  70. figur yang paling tidak terduga dituduh? Dan
  71. bagaimana pendapat Minbud tentang tudu-
  72. @bijiganja dan Bang Jo @tidvrberjalan hehehe
  73. semoga mereka mau memaafkan saya.
  74. 恐れ F 恐れ 恐れ E
  75. 恐れ 恐れ A 恐れ
  76. 恐れ
  77. TENTANG
  78. HIDUP & KETA-
  79. KUTAN-NYA
  80. “Ke mana?”
  81. “Ke mana saja.” Tegasnya.
  82. “Dari mana aku harus
  83. “Telah kuhadapi ular-ular
  84. Hervanisme/anomali @Hervanisme
  85. Hantu- lisan
  86. Alvin Candra Mahardika @alvinmahardika__ (instagram)
  87. Diari Depresi
  88. Takut Mikir!
  89. Yogie pratama
  90. Creative Designer
  91. Artwork for sale and also available for commision work.
  92. @nothin6ness (instagram) [email protected] (email)
  93. 00void00 @diupayakan unless you want to. art. it says otherwise.
  94. Sirna Tengah
  95. Wabah Corona
  96. “Kenapa kau menanyakan itu?” tanyaku.
  97. Tanganmu bergerak menuju selangkangan
  98. “Pandemi ini menyebalkan,” ucapmu.
  99. “Tak ada,” jawabku.
  100. “Sudahlah lupakan saja,” aku memalingkan
  101. SIRNA SIRNA SIRNA
  102. SIRNA
  103. “Jadi….” aku tak melanjutkan kalimatku.
  104. “Kau akan menelponku?”
  105. B.E. Raynangge @arung_bumi (twitter)
  106. Bukan siapa-siapa
  107. SEBA TANG
  108. (KARA)
  109. @Menyublim_ (twitter)
  110. Pemuda yang nggak muda-muda amat asal Surabaya yang nggak murni produk
  111. Surabaya ini usut punya usut namanya
  112. Stanley Adam
  113. TIDmembawa obor hidup,
  114. A Kpasti kamu menyinari
  115. ADAterjungkal membawa
  116. IBU menangis, karena
  117. D I Sekeras-kerasnya
  118. KIS setegak-tegaknya men-
  119. A H Bapak menggen-
  120. INIkepalanya sejajar ping-
  121. @madresah___ (twitter) @madreseh___ (instagram)
  122. KAUSA
  123. Rafif Gunawan @rafifgunawan_
  124. Siswa SMK yang hobi menu-
  125. lis dan masih dalam masa
  126. RANTING : DUNIAKU
  127. Yudha Prisnanto @doegan (intagram)
  128. @doegans (twitter) Seorang manusia yang masih
  129. mencari tujuan hidup selain untuk bertahan hidup dengan
  130. mencoba segala sesuatu yang bisa dipelajari dan dikerjakan.
  131. Mencintai dan terus belajar me- mahami dunia literasi
  132. KETAKUTAN DALAM
  133. IMAJI, LEPAS
  134. KENDALI
  135. Pemadat DIstorsi @pemadatdistorsi
  136. Mengembalikan distorsi yang diterima melalui tulisan, musik,
  137. MV dan semacamnya.
  138. CON-TEM-PLA-
  139. TION #19
  140. PART II
  141. TERLALU PALSU UNTUK
  142. MENJADI MANUSIA
  143. Bismo Angger
  144. Masih umur belia, sangat muda sekali dibanding
  145. kawan-kawan sejawatnya, namun membenci kemudaan.
  146. Lebih suka kegelapan. Senang dalam berfikir, dengan aksi
  147. tentunya supaya tidak hanya berakhir di pikiran, pikiran
  148. saya ini. Takut dengan kehidupan yang stagnan.
  149. Kegemarannya memotret dari keresahan yang ada pada diri
  150. sendiri. Semoga bisa merevolu- si diri bersama-sama
  151. SETENGAH JALAN
  152. 海 賊
  153. POJOK GELAP
  154. A ZINE Y O U CAN’ T
  155. TRUST

a zine you can’t trust

Tidak Spesial jangan terlalu

banyak berharap hidup tidak

begitu istimewa apalagi

isi zine ini Edisi Juni 2020

K

Sebuah media ala kadarnya yang bersedia menampung

E segala keluh kesah dan menang- gung beban isi kepala semua

kontributor yang berada di sini.

T

Isi dalam zine ini sepenuhnya adalah opini pribadi para kon-A
tributor. Simpan saja opinimu sendiri, atau kirimkan pada

K kami.

Kirim karya gambar, tulisan,

U puisi, ocehan, resensi musik, film, dan lain sebagainya

Ke email: submisi.Zine@g-

T mail.Com, ke twitter: @submisi_zine

AtauA
Ke instagram: @submisi

N

Submisi Zine Edisi: Juni 2020

Penyunting: Kusmartono Aji
Kontributor: Terlampir di setiap submisi
Penata letak, Perancang sampul & Ilustrasi Sisipan:

@linesofdeath

Anda dapat menyalin, menye- barluaskan kembali, menggu-
bah, dan membuat turunan dari materi ini untuk kepentin-
gan apapun, selama Anda mencantumkan identitas kon-
tributor yang sesuai, dan men- yatakan bahwa ada perubahan
yang dilakukan (jika ada).

Kami Menghapus Daftar Isi di Zine

ini dengan Sengaja agar Kalian Dapat

Menjelajahi Rimba Halaman Hingga

Tersesat & Membiarkan tiap-tiap dari Kalian

Tenggelam didalamnya.

Membaca Realita Meminjam Kacamata

(Sebuah Pengantar Debord sangat Singkat)

“Komodifikasi tidak hanya terlihat, kita tidak lagi melihat ada yang lain di luar ini; dunia yang kita

lihat adalah dunia komoditas”Guy Debord

Masyarakat Spectacle (The Society of the Spectacle) pertama kali terbit pada tahun 1976 dalam bentuk buku, dan kemudian difilmkan dengan judul yang sama pada tahun 1973. Jujur, membaca buku karya Debord ini amat membosankan, bagi saya pribadi. Sejak pertama kali diterbitkan, argumentasi yang ia tulis dalam

buku ini sama sekali tidak memudar, dan bahkan semakin relevan. Membaca buku ini terasa membaca realita yang ternyata selama ini kita hadapi setiap harinya. Men- yadarkan kita bahwa apa yang kita lihat selama ini adalah sebuah kepalsuan, kemunafikan, dan segalanya dimediasi oleh citra yang acap irrasional, tetapi dianggap rasional oleh kita semua—sebagai penonton. Citra yang senantiasa memberikan kepada kita ketidakpuasan yang lebih besar untuk menimpali ketidakpuasan lama kita. Bukan hanya dengan dorongan hasrat konsumtif yang terbentuk melalui dominasi kekuasaan yang berimplikasi langsung terhadap aspek ekonomi, citra ini juga merangsek ke dalam aktivitas komunikatif, interak- tif, serta apapun yang beririsan dengan kehidupan masyarakat modern.

Benang merahnya, buku ini menunjukkan secara apik tentang sifat-sifat kapitalisme kontemporer, juga budaya modern yang terus berkembang di tengah masyarakat kita—masyarakat tontonan. Dunia yang didomi- nasi oleh pengalih perhatian dari realitas material tentang mekanisme kontrol kekuasaan di balik ilusi kedamaian dan ketertiban, keterasingan pekerja dari hasil produksinya di balik ilusi kesejahteraan, kekejaman perang sarat kepentingan di balik ilusi perlindungan, dan semuanya! Apa yang kita lihat dan rasakan hari ini adalah kepalsuan.

Dunia tontonan terbentuk di atas pondasi kepentingan kontinuitas sistem kapitalisme. Di mana imajinasi semua orang tentang tatanan masyarakat dikomodifika- si sedemikian rupa dengan proletarisasi dan ilusi kese-

jahteraan dengan kerja berulang tiada akhir, serta ilusi kebahagiaan dengan ritual kosong di mana akhir pekan dan hari libur menjadi hari yang ditunggu-tunggu, untuk kemudian kita kembali terjebak dalam ketidakpuasan lain yang memang diciptakan melalui dominasi hasrat kita akan budaya konsumtif dan lagi-lagi dimediasi oleh citra.

Sayangnya, dominasi ini juga berhasil menjungkirba- likkan logika kita dengan anggapan bahwa realita hadir melalui tontonan, sehingga realita yang sebenarnya justru menjadi kabur, dan tontonan dianggap nyata. Dengan begitu, realitas yang kita terima merupakan hasil kepalsuan, bayang-bayang dari imajinasi yang terbentuk melalui tontonan yang memang dikonstruksi sebagai hal-hal yang membahagiakan dan mengasyik- kan. Dalam hal ini, Debord menulis “kebenaran hany-

alah momen dari kepalsuan-kepalsuan”.

Ini semua tidak terlepas dari visi masyarakat modern tentang pengidentifikasian diri dalam relasi sosial yang dimediasi oleh citra dan rasa gengsi, juga didorong oleh ketidakpuasan yang sengaja dibentuk melalui dominasi hasrat. Dengan begitu, relasi sosial telah menemukan pemaknaannya kembali dalam dunia tontonan hanya menjadi sebuah komoditas belaka, yang kemudian dimanfaatkan oleh kapitalisme untuk memproduksi ketidakpuasan massa dan mengedarkan kembali di tangah massa yang memang tidak akan pernah puas jika relasi sosial, ekonomi, komunikasi, bahkan simbolik masih dimediasi oleh citra. Ini relevan dengan sifat kapitalisme yang akan terus mengeksploitasi apapun selama ia berdampak ekonomis.

Akhir kata, selamat datang di dunia tontonan!

Arif Gilang @arifgilang16 (twitter)

Merupakan editor selebaran mingguan, Distopia Palagan,

juga mengelola penerbit kecil, Rasi Imaji.

Seperti Dendam, Resensi Harus

Dibayar Tuntas.

“Hanya orang yang enggak bisa nga- ceng, bisa berkelahi tanpa takut mati.” sebuah kalimat pembuka buku ini yang membuat siapapun membacanya terce- kat, kaget, dan terkunci untuk membacanya lebih lanjut.

Saya tuliskan kembali sinopsi yang diambil dari sampul belakang buku ini tanpa dikoreksi sedikitpun.

“Di puncak rezim yang penuh kekerasan, kisah ini bermula dari satu peristiwa: dua orang polisi memerkosa seorang perempuan gila, dan dua bocah melihatnya melalui lubang di jendela. Dan seekor burung memutuskan untuk tidur panjang. Di tengah kehidupan yang keras dan brutal, si burung tidur merupakan alegori tentang kehidupan yang tenang dan damai, meskipun semua orang berusaha membangunkannya.”

Satu rangkaian cerita tentang tokoh utama kita bernama Ajo Kawir, pemuda yang kehilangan rasa takutnya setelah satu peristiwa merubah hidupnya. Dengan karakter-karakter pendukung yang tidak akan kalian duga jalan pikiran- nya. Buku ini menceritakan dengan gam- blang bagaimana keberanian, dendam, dan banyak kenekatan akan menuntun

pada satu kejadian yang kemudian berimbas pada kejadian lainnya.

Kamu akan menemukan banyak kejanggalan yang masuk akal, perkelahian yang tidak diduga, dan juga kalimat-kalimat yang membuatmu berpikir ulang apakah selama ini yang kamu perjuangkan betul-betul layak, ataukah kamu perlu sebuah pembenaran untuk membuat itu menjadi betul-betul layak? Seperti kata Ajo Kawir, “Dunia memang tidak adil. Dan jika kita tahu ada cara untuk membuatnya adil, kita layak untuk membuatnya jadi adil.”

Satu fragmen tentang petualangan Ajo Kawir dan Mono Ompong adalah satu yang tidak boleh dilewatkan selain romantika Ajo Kawir dan Iteung yang penuh dengan intrik. Mono Ompong adalah karakter tanpa rasa takut selain Ajo Kawir dalam buku ini. Sebagaima- na yang ia katakan mengenai nama julukannya. “Kedua gigiku telah mengajariku sesuatu. Mengajariku tentang nyali.” Mono Ompong akan menunjukkan bagaimana seharusnya sebuah nyali dipergunakan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Demi harga diri seekor burung.

Dalam perjalanan menghabiskan buku ini, Eka Kurni- awan dengan sangat cerdas membawa alur cerita ini maju mundur dan sedikit keluar jalur tanpa membuat pembacanya tidak nyaman. Seperti dalam hidup ini, kadang ingatan tanpa sadar membawa kita mundur untuk mencari korelasi antar kejadian dan memberikan sebuah kesimpulan yang kelak, sebagian besar dari padanya akan selalu kita sesali.

Ajo Kawir, tokoh utama kita, memberikan satu pan- dangan baru tentang bagaimana menjalani hidup. Memberikan pengertian bahwa tidak semua hal ada dalam kendalimu, maka cara paling tepat adalah merebut kendali yang lain dan sesempatn- ya mencari lajur terbaik untuk berlari.

Dan dari seekor burung yang tertidur pulas dalam tenang dan damai, kita bisa belajar bagaimana menyulap rasa takut menjadi keberanian paling nyata. Dalam tenang. Dan damai.

(Buku ini sedang dalam proses adaptasi menjadi film layar lebar. Saran saya adalah, baca dulu bukunya dan jangan terlalu berharap lebih bahwa jalan cerita dalam film akan seakurat bukunya)

Kusmartono Aji @joeyaholic (twitter)

Magasin kosong yang disim- pan rapi dalam laci seorang

pensiunan pembunuh

Berikan Aku Sepuluh

Pemuda.

Dibutuhkan sepuluh
Soekarno dan masing
masing sepuluh pemuda

bernama Ivan

Lanin untuk menguncang
dunia dengan fakta bahwa
padanan kata yang tepat
untuk negara adalah rasa

takut.

tulisan adalah hasil buah

pikir: A

Bangunlah

Kau membuka pintu rumah dengan hati-hati. Sepatu- mu sudah terlebih dulu kau tanggalkan di teras. Setelah meneguk kopi yang kubuat satu jam lalu di dapur, kau menghampiriku di dalam kamar lalu mengecup ken- ingku perlahan.

Seperti biasa, aku berpura-pura tidak bangun ketika kau melakukan ritual itu. Aku sudah cukup mahir berak- ting seolah aku tak merasakan senyum di bibirmu ketika kau mengecupku. Lalu kau menarik kursi yang ada di sudut ruangan. Membiarkan tubuhmu bersandar untuk beberapa saat lamanya. Sesekali aku mengerjapkan mataku dari balik punggungmu. Aku tahu kau sempat beberapa kali akan tertidur, namun kau membuka matamu kembali dan menepuk-nepuk pipimu agar kembali terjaga.

Dari atas kasur, aku melihatmu sambil tertawa kecil. Kau selalu menggemaskan. Bahkan dalam keadaan lelah sekalipun.

Tak lama kemudian, kau mengambil beberapa kertas dari dalam tas kerjamu. Sudah bisa kupastikan itu adalah berkas penting yang menjadi tanggung jawabmu selama menyelesaikan pekerjaan. Begitulah penjelasan yang sering kau katakan ketika aku bertanya perihal lembaran-lembaran kertas tersebut.

Setelah cukup letih memperhatikanmu yang terus

mengutak-atik sesuatu di layar digital, mataku akhirnya terpejam. Aku terlelap dengan sendirinya.


Jalanan malam ini terasa begitu padat. Mobil yang kukendarai bahkan tak bisa berpindah dari posisinya. Kepalaku rasanya mau meledak. Sudah seharian penuh aku berurusan dengan bermacam-macam karakter orang yang membuatku muak. Mereka kerap kali menguras tenagaku untuk kepentingan yang sama sekali tak ada hubungannya denganku.

我ら

Setelah cukup penat di jalanan, mobilku akhirnya bisa sampai di rumah. Lampu teras yang hanya terletak di atas nomor rumah membuat amarahku mereda. Kau meletakkannya di situ agar memberi kesan hangat. Aku pun setuju dengan hal itu. Risih rasanya jika harus berada di bawah cahaya yang terlalu terang di teras rumah. Anehnya, kebanyakan rumah seperti itu.

Aku membuka sepatuku kemudian meletakkannya di rak berwarna coklat di samping pintu. Kuhirup udara dalam-dalam sesaat setelah memasuki ruang tamu. Aku sungguh mengenal aroma ini. Aroma apel dari pengha- rum ruangan yang berhasil menyeruak ke dalam paru-paru dengan damai. Kesukaanku.

Segelas kopi di meja dapur menarik perhatianku. Langsung kuteguk begitu mulut cangkir menyentuh teng- gorokanku yang butuh kafein setiap saat.

Cahaya dari lampu tidur menyapaku malu-malu dari bawah pintu kamar. Dengan langkah pelan aku membuka pintu dan menghampirinya yang sepertinya sudah lebih dulu tertidur sebelum aku sampai. Wajahnya men- eduhkan. Seluruh peluh di tubuhku seakan meluruh seiring wajahku mendekati wajahnya dan mendaratkan sebuah kecupan kecil pada ujung kening itu. Tiba-tiba mataku terasa berat. Bekerja seharian sudah cukup menguras tenaga di tubuh ini. Namun aku tak bisa berhenti memikirkan orang-orang itu. Wajah mereka yang harus kuakhiri hidupnya dengan paksa.

Tidak. Aku bukan pembunuh seperti di film-film mura- han yang kerap kali menggambarkan sosok yang membunuh orang lain adalah kejam. Kau tahu, banyak pula kasus pembunuhan yang didasari keadaan darurat. Misalnya ketika kau diancam atau sejenisnya. Berbeda denganku, aku hanya melakukan hal itu jika memang mereka membahayakan orang lain. Negara pun terlibat di dalamnya. Aku melindungi orang-orang tertentu dari ancaman yang membahayakan mereka.

Lamunanku buyar ketika ponsel di saku kiriku berbunyi. Sebuah panggilan datang dari kantor. Suasana di sana sedang tidak kondusif dikarenakan ada petugas yang melaporkan adanya beberapa orang yang ikut terlibat di dalamnya. Dengan segera aku melaju ke tempat kerja. ----

Udara di sepertiga malam terlalu menusuk hingga memba- ngunkanku yang masih terlelap. Layar laptopmu masih menyala, memperlihatkan beberapa identitas dari orang-orang yang tak kukenal. Tampang mereka pun berbeda-beda.

Ada pria berambut gon- drong dengan bekas luka di pelipis kanannya. Ada pria berambut cepak paruh baya. Dan beberapa orang lainnya yang tak bisa kudeskripsikan dengan jelas. Merasa lapar karena pengaruh suhu kamar yang dingin, aku pun keluar menuju dapur untuk membuat segelas teh dan sebuah roti lapis. Cahaya yang ada hanya terpancar dari lampu di ruang tengah. Aku sengaja tak meny- alakan lampu dapur karena aku masih bisa melihat ruangan walaupun cahayanya redup.

Setelah cukup kenyang, aku kembali masuk kamar dan merebahkan diri di kasur. Menghadap ke salah satu sisi ruangan yang menarik untuk diper-

hatikan cukup lama. Sebuah tembok dengan beberapa bingkai foto yang terpajang di sana. Untuk beberapa saat aku tenggelam dalam ingatanku mengenai kenangan-kenangan yang ada dalam tiap lembar foto tersebut. Di foto pertama, terlihat dua orang yang sedang duduk sambil menghadap satu sama lain. Aku men- genakan gaun putih yang indah, sedangkan kau dengan setelan jas berwarna silver yang rapi. Tampan sekali. Ya, itu adalah foto pernikahan kita.

Lalu mataku berpindah pada bingkai foto kedua. Di sana, hanya ada sebuah potret siluet dari seorang lelaki yang menatap lurus ke laut. Waktu itu, kau menjemput- ku di rumah dengan kondisi yang butuh hiburan setelah seharian berurusan dengan urusan kerjaan. Kau juga sempat merengek padaku agar tidak terlalu lama berdandan. Dan aku pun mengiyakan. Akhirnya, laut adalah tujuan kita setelah cukup lama berdebat. Kau tampak bahagia di situ. Lalu aku beralih ke foto

ketiga. Di situ ada dua sosok yang sedang tersenyum
dalam keadaan kuyup. Aku ingat betul, itu adalah
kencan pertama kita yang gagal karena kau tak

sempat memprediksikan bahwa akan ada hujan sore itu. Yang kemudian membuat kita berdua menghabiskan waktu di tempat berteduh hingga hujannya reda.

Aku tersenyum mengingat semua kejadian itu.

Tiba-tiba, dari arah pintu terdengar suara langkah kaki. Aku baru akan memejamkan mata dan bersiap melakukan akting tidurku seperti biasanya. Tetapi aku tersadar bahwa ada sesuatu yang aneh. Aku bahkan tak mendengar suara mobil yang masuk ke garasi. Benar dugaanku.

Itu bukan kau, sayang. Seorang lelaki bertubuh besar kini berada di sebelahku sambil mencekikku yang masih terlen- tang di atas kasur. Tenagaku tak cukup kuat untuk melawannya. Perlahan penglihatanku menjadi samar-samar. Aku tak bisa melihat apapun selain gelap. Nafasku juga tak lagi terasa di hidung. Aku terpejam dengan berat. ----

Suasana kantor terasa asing di larut malam. Biasanya, pukul sebelas saja sudah tak banyak kendaraan yang terparkir di halaman kantor. Tapi tidak dengan malam ini. Terlihat ada beberapa kendaraan yang menghalangi jalan masuk sebelum akhirnya aku bisa masuk ke pelataran.

Setelah menerima beberapa laporan, aku mendapat berita bahwa ada yang mencariku sesaat setelah aku pulang tadi. ‘Pria berwajah familiar’, kata petugas kea- manan padaku. Perlahan jantungku terasa berdegup lebih cepat.

Tanpa pikir panjang, aku memacu kendaraanku dengan cepat. Tanpa perduli sudah berapa banyak lampu lalu lintas yang kuterobos. Beruntung aku masih berkesempatan sampai di rumah tanpa kurang satu apapun.

Tak ada hal aneh yang kutemukan di kamar. Aku menghampirimu yang masih terlelap. Kukecup kening- mu perlahan, lalu kedua pipimu dengan lembut.

Sayang, aku tak merasakan nafasmu.
Sayang, bangunlah.
Racheleva
@rachelevaf (instagram)/@rachelefun (twitter)
Good sense of humor, dirty mind and beautiful heart. Deadly Combinations.
Credit gambar: Mojok

BDSM Interview

Submisi berkesempatan untuk mewawancarai

salah satu persona dunia maya yang cukup

menggelitik di awal kemunculannya. Dengan

semakin besar dan luasnya eksistensi akun ini,

dan fenomena akun alter yang mulai ramai

muncul. Mari kita berbincang.

Halo Bude, apa kabar? Gimana kayangan? Masih

betah jadi bidadari kan?

Halo juga, saat ini kabarnya baik, sehat, dan mengge-

maskan. Seperti biasa kayangan tetap damai, tidak

ada oksigen tapi penuh cinta, semoga di bumi, khususn-

ya Indonesia juga damai dan penuh cinta ya. Betah

tidak betah menjadi bidadari sudah menjadi takdir

sekaligus tugas.

Kita semua sudah tahu nih siapa Bude Sumiyati

dan Siapa Bu Neti Herawati. Tapi gak pernah ada

yang tahu siapa sosok di balik akun ini. Mungkin

sudah ada di beberapa wawancara online, tapi

boleh diceritakan sedikit saja sejarahnya
kenapa Minbud (Admin Bude) kepikiran untuk
bikin akun seperti ini. Silakan.

Layaknya akun-akun viral terdahulu, akun @bude-

sumiyati dibikin hanya untuk iseng, supaya menjadi

anomali di antara akun-akun cewek muda, cantik,

langsing, dan berwawasan luas, sedangkan @budesumi-

yati dibikin dengan persona ibu-ibu berusia matang,

tidak bodoh tapi cenderung polos, dan sedikit nakal.

Dari mana awalnya kok bisa menemukan foto-fo-

to Bu Neti dan kepikiran untuk menjadikannya

sebuah akun? Boleh cerita singkat proses pene-

muannya?

Foto-foto bude diambil dari profile / album foto Face-

book Bu Neti. Awalnya akun @budesumiyati belum

memakai foto Bu Neti, baru memakai foto ketika

akun @budesumiyati masuk ke Instagram dan butuh

sosok visual yang cukup mewakili persona bude di Twit-

ter maka dipilihlah foto / sosok Bu Neti.

Persona yang dibangun di akun Bude Sumiyati

(mulai sekarang kita singkat jadi BDSM) apakah

awalnya hanya semacam alter-ego dari Minbud?

Mungkin bisa dibilang seperti itu juga, supaya bisa

ngoceh sesuka hati di dunia maya tanpa harus peduli

komentar dari orang yang dikenal di dunia nyata.

Sedangkan persona dan gaya penulisan di Twitter

terbentuk seiring berjalannya waktu. Mencari topik

yang bisa dialami oleh siapa saja dan yang (seharusn-

ya) tidak akan melukai hati orang lain, makanya

dipilih seputar cinta dan rindu.

Minbud sendirian mengelola akun BDSM atau ada

tim lain di belakangnya?

Untuk semua konten di Twitter dan Instagram saat

ini dikelola dan dikerjakan sendiri, sedangkan untuk

kerja sama dengan brand dll ada tim yang membantu.

Selain BDSM apakah ada akun lain atau bisnis

(selain akun media sosial Minbud sendiri) yang

Minbud kelola?

Sampai saat ini belum ada, mengelola satu akun saja

cukup melelahkan dan menyita banyak waktu.

Kenapa sampe sekarang masih belum mau mengung-

kapkan identitas asli Minbud?

Ya karena tidak akan menguntungkan apa-apa

untuk Bu Neti dan juga saya, orang-orang juga

sudah tidak peduli dengan siapa yang ada di balik

akun @budesumiyati.

Ini pertanyaan tebak-tebakan saja, apakah

Minbud ini aktif di skena musik Jakarta? Melihat

dari kerjasama akun BDSM dengan beberapa

musisi dan juga aktifnya akun BDSM berinteraksi

dengan berbagai figur di skena.

Kebetulan tidak, hanya beberapa kenal, sisanya

hasil caper-caper berhadiah saja. Saya hanya suka

mendengarkan musik, makanya satu-satunya ego

pribadi yang saya masukkan ke akun @budesumiyati

mungkin hanya musik, sisanya hanya mengikuti kemau-

an netizen saja.

Memang genre musik seperti apa yang Minbud cukup

ikuti? Tolong jangan jawab “apa saja yang pent-

ing enak.” Kami butuh preferensi, hehehe.

Karena tumbuh besar di desa di era 90 an, ada dua

jenis yang cukup diikuti, yaitu campursari, pop rock

seperti Jamrud dan Boomerang dan juga musik jenis

grunge. Tapi untuk akhir-akhir ini sedang menden-

garkan lagu-lagu lokal seperti The Adams, Morfem,

dan sejenisnya.

Apakah Minbud sekarang punya band? Atau

pernah jadi anggota band? (pertanyaannya sema-

kin tendensius).

Pernah punya tapi sudah bubar wkwkwk.

Siapa saja figur yang sering dituduh netizen
sebagai orang di balik layar akun BDSM? Siapa
figur yang paling tidak terduga dituduh? Dan
bagaimana pendapat Minbud tentang tudu-

han-tuduhan itu?

Waktu awal-awal viral di Twitter yang palinh sering

dituduh sebagai admin bude adalah Om Bonny

@bijiganja dan Bang Jo @tidvrberjalan hehehe
semoga mereka mau memaafkan saya.

Pernah kepikiran untuk memberi akses penuh

pada Bu Neti atau keluarganya untuk mengelola

akun BDSM?

Mungkin suatu saat nanti, tapi hanya untuk yang

akun Instagram saja, sedangkan untuk Twitter

tidak pernah dan tidak akan, mungkin kalau sudah

bosan atau jenuh lebih baik berhenti dulu atau

malah sekalian dimatikan saja.

Apakah setelah akun BDSM viral Minbud mulai

berpikir untuk membuat persona lain untuk

dibisniskan, atau ya sudah ini saja cukup untuk

menghabiskan waktu luang?

Walau pasarnya selalu ada dan prospeknya cukup

atau malah sangat mengiurkan, sampai saat ini

belum ada rencana seperti itu. Cukup mengelola akun

@budesumiyati saja untuk bersenang-senang di dunia

maya.

Apakah ada ketakutan akun BDSM semakin over-

rated dan lama-lama pudar ketenarannya? Atau

masih yakin konten semacam ini berumur

panjang?

Pasti ada, apalagi saya sudah menceburkan Bu Neti

sejauh ini. Makanya pengin sekali Bu Neti lebih dikenal

lagi sebagai pribadinya sendiri bukan di bawah

bayang-bayang persona Bude Sumiyati.

Apa pernah punya pengalaman tidak menyenang-

kan saat mengelola akun BDSM ini? Diteror,

dimaki, dihujat, atau bahkan didoxing mungkin?

Sebagai admin @budesumiyati sampai saat ini belum

pernah mendapat pengalaman buruk yang sampai mem-

buat susah tidur, semoga tidak akan, ya.

Apakah benar sampai sekarang Minbud sama

sekali belum pernah bertemu langsung dengan Bu

Neti? Tidak ada keinginan kah? Atau, ya sudah

ini hubungan profesional saja jadinya?

Pernah beberapa kali bahkan bisa disebut sering

bertemu dengan Bu Neti ketika sedang ada projek

untuk akun @budesumiyati.

Terakhir, apa caption atau konten dari BDSM

yang menurut Minbud adalah sebuah masterpiece

sepanjang karir mengelola akun BDSM?

Rinduku hanya dibalas dengan cilukba hahahaha

(Joey)

恐れ F 恐れ 恐れ E

恐れ 恐れ A 恐れ

恐れ

TENTANG

HIDUP & KETA-

KUTAN-NYA

“Ragaku hancur.” kalimat itu tiba-tiba saja terlontar dari mulutku.

“Hatiku gelisah dan pikiranku berantakan.” lanjutku. Ia diam dan asik dengan bukunya.

Kulanjutkan, “Aku sedang tak berdaya.”

Wanita dengan rambut sebahu itu menutup bukunya.

“Ini tentang ketakutanku, akan masa depanku yang hitam dan kelam, masa lalu yang selalu mengejar dan hari ini yang sekeras karang.” Kujelaskan.

“Teruslah berjalan,” wanita itu buka mulut.

“Ke mana?”
“Ke mana saja.” Tegasnya.

“Bagaimana kalau aku salah langkah? Bagaimana kalau aku tersandung dan jatuh? Bagaimana kalau aku tersesat dan tak mampu kembali?” Tanyaku cemas.

“Jika kau salah langkah, perbaiki.” Katanya sambil membakar sebatang kretek yang ada di tangan- nya.

“Jika kau jatuh, maka ban- gkitlah. Jika kau tersesat, tetaplah berjalan dan jangan kembali. Kelak kau akan temukan tempat yang tepat.”

“Dari mana aku harus

mulai? Terlalu banyak jalan tanpa papan petunjuk di depanku. Aku khawatir akan berhadapan dengan ular jika jalanku salah.”

“Setiap jalan yang kau pilih, akan membawamu pada ular-ular. Tak ada satupun jalan tanpa ular.”

“Lalu bagaimana aku menghadapinya?” Tanyaku.

“Pertama kau harus memilih jalan yang kau lihat paling sedikit ularnya. Setiap kau memilih jalan, kau akan berhadapan dengan ular dan jalan baru. Namun kau harus tetap berjalan dan kalahkan ular itu lalu

ambil jalan lainnya.” Katanya.

Tiba tiba sekelilingku menjadi hening. Udara malam semakin dingin.

Ia melanjutkan, “Kau harus terus memilih jalan dan kalahkan ular. Mungkin kau akan ambil jalan memutar dan panjang untuk sampai tujuan, tapi begitulah hidup bekerja.”

Aku terdiam, takjub dengan kekuatan kata-katanya. Kuteguk kopi dingin yang kudiamkan sejak tadi.

“Apa yang membuatmu bisa berkata seperti itu?” Tanyaku,

“Telah kuhadapi ular-ular

itu, dan aku belum sele- sai.” Katanya.

Hervanisme/anomali @Hervanisme

(instagram) @FingPloyd

(twitter)

Hantu- lisan

Ketakutan dalam bermasyarakat semen- jak covid-19 muncul kepermukaan media, mengancam keberlangsungan hidup banyak orang, tak hanya itu, stigma negatif dari sebagian orang pun menjadi pelatuk yang membunuh sisi kemanusiaan yang semestinya diperkuat.

Media dan publik figur sibuk mendramati- sir keadaan membuat orang-orang terperangkap dalam situasi yang membin- gungkan, sementara disatu sisi rasa ingin hidup memberikan dilema yang tak kunjung hilang.

Alvin Candra Mahardika @alvinmahardika__ (instagram)

4mg 6 tablet

Diari Depresi

Neraka Harapanmu sirna Di dalam ruang gelap Menunggu cahaya pencerahan Memori masa lalu dan kini Mengalun sebagai pengusir sepi

Diam Tidur dan menunggu Berharap pria wibawa hitam Berharap dewi putih Berharap yang tercinta Kasih sudah kumadu Dan kurusak

Bodoh Sesal karena ditunggu Buat apa dimaafkan Kalau aku sudah kembali Hanya cap koreng yang memborok

Qey

Takut Mikir!

Menjadi manusia memang penuh dengan pemikiran. Dengan banyak- nya manusia, maka semakin banyak juga pemikiran-pemikiran baru yang muncul dan berbeda-beda, tak banyak manusia dapat menerima pemikiran lain dari pemikir yang lain juga. Terkadang referensi-referensi buruk yang pernah kita lihat atau alami yang dapat menimbulkan sesuatu yang saya anggap sebuah ketakutan tersendiri dalam kehidupan dan dalam membuat sebuah opini terhadap publik sehingga menimbulkan batasan dalam pikiran si pemikir.

Yogie pratama

@yogipratama.id (instagram)

Creative Designer

@feednotbomb (instagram)

Artwork for sale and also available for commision work.
@nothin6ness (instagram) [email protected] (email)
00void00 @diupayakan unless you want to. art. it says otherwise.

Sirna Tengah

Wabah Corona

“Jadi, menurutmu kura-kura ninja itu reptil atau mamalia?” Pertanyaan itu tiba-tiba muncul begitu saja dari mulutmu. Sesaat setelah adegan seorang perempuan berambut hitam kecoklatan melepas rok panjangnya. Harapanmu untuk melihat pakaian dalam amblas ketika masih ada rok sebatas lutut yang dipakainya. Tapi, ketika tangan perempuan itu mengikat bagian bawah ujung kanan dan kiri kemeja putih yang dipakainya, kau berbesar hati dan menekan tombol pause.

Seharusnya kau bisa menanyakan pertanyaan itu beberapa menit yang lalu, tapi

aku memaklumi kenapa kau menanyakannya sekarang, kau mengambil jeda untuk bisa menikmati pemandangan yang mungkin sudah lama tak kau lihat secara langsung.

Lebih dari itu, kenapa kau justru menanyakan pertanyaan macam itu? Dari sekian banyak pertanyaan yang bisa muncul dari sebuah film bertema kura-kura, kau justru menanyakan pertanyaan yang tak masuk akal dan tambah mengerikan lagi karena kau men- gakhiri pertanyaanmu itu dengan cegukan. Aku tahu kau menelan ludah.

“Kenapa kau menanyakan itu?” tanyaku.

“Hm, kukira kura-kura ninja itu termasuk reptil.” Kau memberikan opini dari pertanyaanmu sendiri dan aku tak peduli dengan itu. Aku lebih tertarik kenapa kau malah menanyakan pertanyaan itu, mungkin akan lebih menarik lagi jika kau bertanya seperti ini misalnya:

“Apakah penis kura-kura ninja berbentuk seperti penis kura-kura atau manusia?” atau “apakah mereka memiliki bulu ketiak?” atau “apakah mereka akan beranak atau bertelur?” belakan- gan aku sadar, yang terakhir tadi akan terjawab ketika pertanyaanmu terjawab.

Tanganmu bergerak menuju selangkangan

dan menggaruk beberapa kali, sementara tangan yang lain mengangkat remote dan mem- beku di udara. Aku sebenarnya bisa menebak apa yang kau pikirkan, tapi aku lebih suka kau menceritakannya padaku sendiri tanpa aku harus bertanya, aku memilih diam.

“Pandemi ini menyebalkan,” ucapmu.

“Jadi kapan kau terakhir melakukannya dengan Rina?” tanyaku, kemudian dengan gerakan yang sengaja dilebihkan, kau memalingkan wajahmu kepadaku, matamu melotot, nafasmu sedikit berat, dan tangan kananmu menekan tombol play. Perempuan di dalam kotak ajaib itu berjalan diiringi musik yang semakin membuat telingaku berdenging. Aku hanya sempat melirik sekilas dan kutangkap mata perempuan itu menatapku, juga sekilas. Aku kembali melihatmu dan kau menusukku dengan matamu.

“Apa maksud pertanyaanmu itu?” tanyamu datar.

“Tak ada,” jawabku.

“Apa maksudmu tak ada,” kau diam sejenak, “jelas tadi kau bertanya sesuatu, kan?”

“Sudahlah lupakan saja,” aku memalingkan

SIRNA SIRNA SIRNA

SIRNA

wajahku dan menyaksikan kembali kotak ajaib di depanku. Kini aku sudah tak bisa fokus menikmati cerita dalam film itu. Pikiranku justru berlari menuju tempo hari, ketika aku berjalan menuju toko kelontong di ujung gang saat hampir tengah malam. Tujuanku jelas, membeli sebungkus mie instan dan dua butir telur ayam kampung. Satu untuk kumasak dengan mie, sisanya kucampur dengan madu, untuk menja- ga vitalitasku.

Di toko kelontong itu aku Sbertemu dengan Rina. Setahuku, Isaat itu ia adalah kekasihmu, Nnamun setelah melewatkan obrolan Abeberapa menit, aku sadar, ia adalah mantan kekasihmu. Ia meminta nomorku, aku mengiyakan. ----

Kau memukul pundakku, men- yadarkanku dari lamunan, dan membuatku meninggalkan Rina yang sedang menyimpan nomor ponselku di warung kelontong.

“Melamun apaan sih?” R tanyamu.

“Hm, jadi sampai di mana tadi?”

“Pura-pura lupa kau, ya.”

“Kura-kura ninja? Aku baru ingat kita tadi mem- bahas mereka,”

aku diam sejenak, “kurasa kau harus memelihara kura-kura,” lanjutku.

Kau berdiri meninggalkanku dan berjalan menuju kulkas dua pintu yang berdiri di pojokan. Kau membuka pintu atas kulkas itu hingga mengeluarkan bunyi berderit seperti pintu kulkas yang dibuka. Kau diam sejenak seperti sedang mencari sesuatu dan kemudian kau menutup pintu itu dengan keras hingga menimbulkan bunyi pintu kulkas yang ditutup dengan keras. Kau membuka pintu bawah yang lebih besar dan sekali lagi mengger- ak-gerakkan kepalamu seakan sedang mencari sesuatu, tanganmu bergerak ke dalam, meraih sesuatu, dan keluar dengan menggenggam sebotol minuman dingin.

Kau bergerak menuju rak piring untuk mencari gelas dan jelas tak mungkin kau temukan di sana. Aku mendengar kau berbicara lirih, tak jelas, mungkin umpatan. Kau kembali berjalan menuju rak gelas, mengambil dua, menuju ke arahku, dan meletakkan sebuah gelas di depanku juga di depanmu. Sambil meng- hempaskan pantatmu ke sofa kau membuka tutup botol itu dan mulai menuangkan minuman ke gelasku.

“Aku sudah tak bersama Rina lagi,” ucapmu datar.

“Oh.”


Dingin dari minuman yang menyentuh ujung lidahku telah melemparkanku kembali pada pertemuanku dengan Rina. Ia memasukkan ponsel ke saku kiri celananya diikuti dengan gerakan tangan membetulkan letak rambut yang terburai sebagian menutupi wajah dan menyisipkannya ke bagian belakang telinga.

“Jadi….” aku tak melanjutkan kalimatku.

“Jadi apa?” tanyanya sambil mengeryitkan dahi.

“Kau akan menelponku?”

Rina tak menjawab pertanyaanku. Ia hanya tersenyum, senyum yang tak bisa kupecahkan maksud dan artinya saat itu.


Aku mendengar gemercik bunyi air dan telapak tanganku seketika merasakan dingin yang men- jalar dari jari-jariku. Aku masih menggenggam gelas itu saat kau mengisinya lagi, yang membuatku tersadar dari lamunan.

“Apa ada yang ingin kau ceritakan padaku?” tanyamu.

Kau menghela nafas berat dan mengangkat pantatmu dari sofa. Aku melihat sofa yang telah kempes karena tindihan pantatmu itu kembali bernafas lega dan mengembang, kembali seperti wujudnya semula.

Aku kembali menyaksikan tontonan berupa kura-kura yang saling melompat ke sana ke mari sambil berbicara, tentu saja mereka bicara dengan Bahasa Inggris. Kukira tak akan ada kura-kura yang akan berbicara dengan Bahasa Indonesia, dan sampai cerita berakhir, pikiranku tetap tak berada di tempat seharusnya. Aku memang menyaksikan tontonan itu tapi sesungguhnya justru para kura-kura itulah yang sedang menyaksikan seorang lelaki yang dengan tatapan kosong duduk di sebuah sofa sambil memegang gelas yang mengembun. Kalau mereka bisa meminta, pastilah mereka akan memintaku untuk menekan tombol power berwarna merah di remote itu, tapi kau tahu, mereka tak bisa.


Seminggu kemudian aku melihatmu turun dari angkot di perempatan pasar hewan yang terletak tak jauh dari kantor Balaikota Malang. Suasana masih belum membaik tapi aku bosan berada di rumah terus dan sepertinya kau memiliki pikiran yang sama. Seperti hendak memastikan sesuatu, kau melihat

sebuah papan petunjuk yang terpasang di salah satu ruas jalan yang membagi jalan menuju dua arah. Kau melanjut-S kan langkahmu memilih jalur lurus yang kemudian kuketahui dari papan itu adalah arah yang merujuk pada bagian hewan-hewan air dan tumbuhan-tumbuhan air. Aku terus mengikutimu.

Kau membeli empat Rekor kura-kura di sana. Aku Nmemutuskan menjauh dan Aberdiri di sebuah pohon beringin yang berada di ujung jalan masuk pasar. Aku melihatmu berjalan menuju sebuah angkot yang sedang parkir, kedua tanganmu sama-sama menenteng sebuah kurungan, kanan berisi empat ekor kura-kura sisanya menenteng kurungan berisi sejenis tikus, atau sejenis hamster.

Keesokan harinya, aku mendengar dari tetanggamu kalau kau mulai berbicara dengan kura-kura, dan tikus atau hamstermu itu dengan

Bahasa Indonesia. Ia menambahkan lagi bahwa tiga hari yang lalu kau mendapatkan sebuah video berdurasi kurang lebih lima menit yang beredar dari ponsel ke ponsel, berisi adegan pergumulan antara mantan kekasihmu dan teman baikmu di sebuah kamar. Kemudian kau mengikuti saran teman baikmu itu untuk memelihara kura-kura, dan kau percaya bahwa kelima teman barumu itu tak akan mungkin meniduri kekasihmu atau mantan kekasihmu di kemudian hari.

B.E. Raynangge @arung_bumi (twitter)

Bukan siapa-siapa

EVE

SEBA TANG

(KARA)

Aku senang menemanimu menikmati lintingan kelobot di teras rumah setiap petang.

Berarti aku senang melihatmu mati cepat.

Sebentar...

Jika kau mati, siapa lagi yang akan membuatku senang?

@Menyublim_ (twitter)
Pemuda yang nggak muda-muda amat asal Surabaya yang nggak murni produk
Surabaya ini usut punya usut namanya
Stanley Adam

Bapak berkata pada bayi merah di timangannya itu, kamu

TIDmembawa obor hidup,

berhak apa setan meng- ganggumu. Meskipun temaram, perlahan

A Kpasti kamu menyinari

layaknya Adam sedang berihram. Mati-matian berperang, berlari

ADAterjungkal membawa

pedang, akhirnya padam akan datang. Saat itu kamu boleh

IBU menangis, karena

kelak pahit mengiris batin hingga wajah pasi macam nisan persis.

D I Sekeras-kerasnya

suaramu bergetar, sek- encang-kencangnya berlarilah menuju altar,

KIS setegak-tegaknya men-

dongaklah ke atas tanpa gentar.

A H Bapak menggen-

dong anak itu di pung- gungnya, anak itu tumbuh pesat hingga

INIkepalanya sejajar ping-

gang bapaknya. Kembali bapak berkata, kamu punya tempat berpijak paling tinggi di dunia. Boleh saja kamu berpijak tegak menantang langit padanya, berpegangan pada kepala takdir di atasnya, mengikuti kema- napun kamu dibawanya. Namun kelak pijakan akan usang, rapuh dimakan usia lalu pergi berpulang.

Bapak menggandeng tangan anak itu di tengah keramaian, matanya merah karena takut hiruknya kerumunan. Bapak berjongkok menantap matanya, bapak berkata, orang akan berpaling darimu, tapi kalah tidak akan berpihak padamu. Genggam erat obormu, lebih terang nyalakan apinya. Angin pasti berhembus menghampirinya, api akan bergoyang meliuk-li- uk, bersamaan nyali akan

ciut. Tetap genggam dia walaupun tangan melepuh dibuatnya, jangan longgarkan genggaman, tambah minyak nyalakan lebih terang lagi.

Bapak duduk berhadapan dengan anak itu, mukanya dihiasi lebam, darah, dan mulut meringis. Bapak berkata, kamu boleh menantang, menjadi penentang, tapi jangan buta dalam gelap seperti malam petang. Nyalimu sebuas harimau belang, dalam tenang sembunyi di balik ilalang, lalu terkam penghalang yang datang menghadang. Tapi camkan dalam batok kepalamu, kemenan- gan hanya kebahagian semu, saat nafsu perlahan menguasai jangan sambut dia sebagai tamu. Usir jauh-jauh, hujam dengan ludah bila perlu.

Bapak berbaring di kasur dengan menggenggam tangan anak itu, nafasnya kian berat. Bapak berkata. Obor bapak akan padam, kamu tidak perlu membagi apimu. Kamu boleh mengambil api bapak jika berke- nan, wariskan pada anak cucumu kelak. Apa kamu melihatnya? Cahaya itu, putih terang tidak menyilaukan, membawa kedamaian. Jaga obormu, nak.

@madresah___ (twitter) @madreseh___ (instagram)

KAUSA

Bosan, malas, writer's block adalah ketakutan yang sering muncul saat ingin mulai berkomit- men untuk konsisten dalam menulis. Bahkan hal tersebut membuat saya memendam ide-ide liar saya selama 3 tahun yang sekarang entah sudah hilang ke mana. Saat itu, saya pikir belum waktunya untuk memulai. Tapi sekarang saya sadar, memulai tidak butuh waktu, memulai hanya butuh bergerak.

Dan apabila sudah memulai, apakah bosan, malas, writer's block akan hilang? Tentunya tidak. Ketakutan tersebut akan terus mengikuti sesuai dengan skala usaha kita. Oleh karena itu, saya ubah sudut pandang untuk memudahkannya. Bahwa bosan, malas, writer's block adalah hal-hal wajar yang perlu dikeluar- kan dalam diri kita meskipun nan- tinya akan selalu datang lagi. Atau lebih mudahnya, anggap saja ketakutan itu TAI.

Rafif Gunawan @rafifgunawan_

Siswa SMK yang hobi menu-

lis dan masih dalam masa

inkonsisten

RANTING : DUNIAKU

Aku membayangkan hidup di dunia yang sangat damai, indah dan asri. Langit begitu biru di siang hari dan malam pun begitu terang dengan gemerlap bintang-bintang ditemani rembulan yang begitu menenangkan. Semua manusia di belahan bumi mana pun selalu tersenyum dalam melewati segala aktivitasn- ya.

Aku sangat menikmati menjalani hidup seperti ini. Setiap berpapasan dengan seseorang selalu diberikan senyum terbaik mereka, Ketika bahkan kematian menghampiri salah satu dari mereka, tidak ada tangisan, hanya senyuman bahagia, mengetahui bahwa mereka yang telah melangkah pergi dari dunia ini pasti akan lebih bahagia di tempat yang lebih baik, entah di mana pun itu.

Entah sudah berapa lama aku tinggal di dunia ini, aku mulai merasakan kehampaan. Ada sebuah

kehampaan di dalam diriku dan aku tak tahu sejak kapan perasaan ini muncul. Dalam dunia tanpa peraturan, tanpa gangguan, alam yang yang begitu bersa- habat, mengapa aku merasa lebih kosong dari duniaku yang asli?

Tidakkah begitu menyenangkan dan menenangkan di saat yang bersamaan saat tinggal di dunia ini? Entah kau pernah merasakannya atau tidak tapi, aku sangat menginginkan perasaan ini terus ada. Hingga seseorang muncul di hadapanku dan berkata, “Manusia pada dasarnya memiliki rasa haus akan banyak hal. Ketika mendapatkan tujuannya, maka manusia akan menentukan tujuannya yang lain.” Ia menatapku lebih dalam, “Terbelenggu dalam kenya- mananmu terlalu lama akan membuat jiwamu memberontak untuk mendapatkan sesuatu yang lebih.” Lanjutnya.

Setelah itu ia menghilang secara perlahan dan membuatku semakin jatuh ke dalam pemikiranku. Memang aku terlalu menginginkan kedamaian, namun aku memang melupakan apa itu kedamaian jika tidak ada perselisihan. Aku tidak akan tahu bahwa ada kebaikan jika tidak ada keburukan, mungkin mereka yang ada di dunia ini tidak

mengetahui apa itu kebaikan, karena mereka menjalankan semuanya seperti apa yang aku inginkan. Mereka tidak mengetahui apa itu kes- alahan jika mereka menjalankan semuanya tanpa ada pertanyaan, hanya mengikuti.

Aku menyadari kenapa di dunia ini tidak ada peraturan, karena mereka bergerak sesuai dengan apa yang aku inginkan tanpa memberikan mereka pilihan. Mereka bukan menghargai satu sama lain, tapi karena mereka memang tidak memiliki nurani. Bagaimana caranya mereka agar terus hidup jika aku sudah tidak ada? Dunia akan berlalu seperti itu saja tanpa adanya perubahan. Bagaimana jika alam semakin tua dan menimbulkan banyak penyakit? Apakah manusia-manusia di dunia ini dapat bertahan hidup?

Apakah mereka bisa menyesuaikan diri dengan alam jika mereka tidak dapat berubah?

Atau bila alam selalu sehat, tapi jumlah manusia terus bertambah, seber- apa lama mereka akan bertahan tanpa memiliki pilihan? Mereka tidak mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Sungguh aku tak menginginkan dunia seperti ini, mungkin untuk sementara waktu akan terlihat begitu indah dan sangat diidam-idamkan, tapi kapan? Entah berapa ratus atau bahkan ribuan tahun selanjutnya bagaimana?

Di duniaku yang asli saat ini, makh- luk hidup memiliki rantai makanan, dan rantai makan paling tertinggi adalah hewan yang kusebut dengan manusia. Namun, seiring berkembangnya manusia, rasa haus mereka pun semakin berkembang hingga aku mengetahui apa itu rakus dan keserakahan. Dengan munculnya keserakahan manusia dapat memutus sebuah rantai makanan, keta-makan yang membuatku menciptakan duniaku sendiri. Namun, aku di duniaku sendiri bahkan tidak lebih baik dari duniaku yang asli. Mungkin aku tidak perlu lari lagi, namun menjalankan hidupku seperti biasa hingga mungkin aku akan

ikut hancur bersama dunia ini atau mungkin aku akan pergi terlebih dahulu sebelum dunia ini hancur. Saat ini aku sudah berhenti membayangkan hidup di dunia yang aku inginkan dan aku masih mengingat senyum mereka semua saat aku menghancurkan duniaku sendiri. Begitu polos dan menerima semuanya dengan senyuman tanpa mengetahui apa rasanya sakit, beruntunglah kalian anak-anakku dan selamat tinggal.

Yudha Prisnanto @doegan (intagram)

@doegans (twitter) Seorang manusia yang masih

mencari tujuan hidup selain untuk bertahan hidup dengan

mencoba segala sesuatu yang bisa dipelajari dan dikerjakan.

Mencintai dan terus belajar me- mahami dunia literasi

KETAKUTAN DALAM

IMAJI, LEPAS

KENDALI

Ketakutan memang sesuatu yang sudah seharusnya dimiliki setiap manusia yang hidup dan bernapas. Itu merupakan hal yang alamiah. Singkatnya, “that’s what make us human”. Namun sayangnya, bentuk dari “ketakutan” buat gue adalah hal yang cukup kompleks. Akan lebih mudah jika gue bilang takut laba-laba, kuntilanak, atau dimakan harimau. Ya dimakan harimau cukup mengerikan dan mengenaskan sih. Tapi yang gue kategori-

kan sebagai “fear” adalah sesuatu yang lebih mengakar. Sesuatu yang kapan saja lo bisa merasakannya dan lalu terdiam karenanya. Sesuatu yang menye- sakkan dan lo tidak merasakan titik terang di dalamnya. Tenang, gue tidak sedang membicarakan kemiskinan. Kemiskinan itu menyakitkan, bukan menakut- kan, percayalah!

Waktu kecil, gue menerjemahkan rasa takut ini dengan kematian. Ya mungkin kalian bisa tertawa, tetapi waktu gue kecil gue mendengarkan seorang guru agama bercerita tentang hari kiamat, versi orang islam. Beliau bercerita dengan santai bagaimana semua dunia ini akan hancur lebur dengan semua metafora dan personifikasi, persis seperti Bahasa kitab suci islam tersebut. Kemudian ia bercerita bahwa sebelum kiamat besar itu terjadi, akan ada kiamat kecil. Kiamat kecil ini bisa berupa bencana, musibah, dan juga kematian. Kemudian gue yang masih naif kala itu berimaji tentang kematian. Bayangkan saja, dulu gue membayangkan sosok Tuhan itu adalah seorang perempuan yang memakai mukenah dan memiliki banyak tentakel bermata di bawah mukenanya. Anggap saja imajinasi gue cukup aktif sewaktu kecil.

Lantas gue bertanya kepada beliau seperti apa kematian. Beliau menjelas- kan alam kubur dan hari kebangkitan, kemudian surga dan neraka. Penjelasan yang kurang memuaskan “Pokoknya lo diem aja dan ikuti perintah gue ntar juga masuk surga, kalo engga gue hantem lo di neraka”. Kira-kira begitu makna yang gue dapet. Tapi gue merasa kurang puas, tentu hidup tidak selalu biner seperti itu. Seiring berjalannya waktu, gue mengenal konsep “Moksa”, yaitu

kondisi tertinggi dalam ajaran Buddha setelah kematian. Moksa berarti kita sudah tidak terjerat lagi nafsu duniawi sehingga kita bisa lepas darinya dan berhenti bereinkarnasi. Teringat sepenggal lirik dari kawan tentang Moksa “Berdansa di ketiadaan, di bawah tirus rembulan”. Jika sudah mencapai Moksa, maka tak ada lagi yang bisa dilakukan, maka menarilah. Bagaimana jika konsep surga di Islam juga sama. Bukannya semua

keinginan kita dikabulkan dalam sekejap mata, melainkan kita sudah tidak ada lagi keinginan untuk meminta. Kalau sudah begitu, maka hilanglah esensi terbesar kita sebagai manusia yaitu keinginan dan berimaji.

Selain itu, hal yang paling buruk dari afterlife adalah hilangnya memori. Konon kita akan kehilangan memori tentang siapa yang kita kenal di dunia ini dan pengalaman Bersama mereka. Maaf, perse- tan dengan semua 72 bidadari yang cantik itu, karena yang ku cinta hanya istriku. Anda tidak mau selingkuh kan? Artinya setelah hilangnya imaji dan keinginan, kita juga akan kehilangan memori akan siapa kita. Memori tentang semua orang yang pernah kita tau, itulah yang membuat kita, adalah kita. Kalau itu terjadi, ya sudahlah, hilang semua kendali yang selama ini kita jaga. Mau surga atau neraka, mungkin akan sama burukn- ya!

Sisi terangnya adalah gue keluar dari lubang ketakutan dalam imaji itu dengan tekad, gue harus berbuat baik terus di dunia. Masalah nanti, ya nanti sajalah. Ini hanya sebuah imaji yang sok tahu, karena knowledge gue sampai mati pun tak akan mampu menembus cakrawala afterlife itu. Jadi jalani saja dengan berbuat baik.

Pemadat DIstorsi @pemadatdistorsi

Mengembalikan distorsi yang diterima melalui tulisan, musik,

MV dan semacamnya.

CON-TEM-PLA-

TION #19

What if life as we know it was a Sobersherlock lie?Too numb to think, too What if there’d be no light at the dumb to feel; too alive to end of the tunnel? kill myself, too dead to What if people were actually trapped in their own reality?carry on. A reality in which their fragile mind and soul are damned to dwell

What if there was no afterlife? Will we still worship that deity? Will we still try to pretend to be nice to each other? Will we keep fucking each other over for personal gain?

What if? What if? What if?

The game life is playing with us makes me ask the same question

over, and over, and over,

questioning if my mind will venture into oblivion free falling into nothingness where the deafening silence is forever Eager to find out, but too scared to take the leap

I’m at the end of my rope. -----

By taking that leap, and when everything’s over and done… then and only then, perhaps, will I find peace.

PART II

TERLALU PALSU UNTUK

MENJADI MANUSIA

Sebuah revolusi di kepalamu tidak akan terjadi tanpa menderita terlebih dahulu. Palsu sekali rasanya pikiran ini. Terlalu banyak yang dipikirkan, sampai-sampai tidak tahu mana pemikiran yang harus dipercayai. Semua terlihat palsu. Mana yang harus dipercaya?

Iya. Manusia Palsu. Manusia selalu mema- nipulasi memori-memori yang mereka punya. Memalsukan memori-memori pahit yang pernah dirasakannya. Tapi respon tubuhmu, yang sebenarnya membawa memori itu sepanjang hidupmu, tidak akan bisa dibohongi, tidak akan bisa dimanip- ulasi. Tubuhmu, akan selalu berkata jujur. Jadi kau mau percaya tubuhmu atau pemikiranmu?

Bismo Angger
Masih umur belia, sangat muda sekali dibanding
kawan-kawan sejawatnya, namun membenci kemudaan.
Lebih suka kegelapan. Senang dalam berfikir, dengan aksi
tentunya supaya tidak hanya berakhir di pikiran, pikiran
saya ini. Takut dengan kehidupan yang stagnan.
Kegemarannya memotret dari keresahan yang ada pada diri
sendiri. Semoga bisa merevolu- si diri bersama-sama

SETENGAH JALAN

Dari selatan menuju lokalisasi tua di timur laut ujung pulau, mengayuh kuda plastik melewati ratusan kilometer aspal buruk. Masih ada 14 batang kretek lintingan terbaik dari pengedar terpercaya, 13 puntung di saku kanan celana jeans yang sudah 3 bulan lamanya tidak bertemu deterjen dan air bersih. Kira-kira 4 hari berlalu sudah, untunglah masih ada seplastik teh jahe dari 2 hari lalu.

Hawa panas angin laut berebut siapa lebih dulu bisa masuk lewat pori-pori yang sudah tertutup debu, sisa asap truk lintas provinsi, kotoran burung, dan air hujan yang mengering sendiri. Siapa kira perjalanan bisa seruwet ini? Barangkali hiburan paling mudah yang bisa didapat- kan hanyalah rebahan di pojokan warung kecil sambil dikelilingi kucing liar yang mengendus-endus bau amis dari ujung sepatu.

3 malam lagi gerbang kota terakhir akan dilewati. Sudah beberapa kali terlihat asap hitam mengepul tebal ke angka- sa, tanda bahwa pergerakan sudah dimu- lai. Masih teringat saat pertama kali suara terompet terdengar. Lamat-lamat bergaung menyebar dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Televisi menyiarkan

gambar para ilmuwan mengangkat tangan dan mengabarkan bahwa akhir dunia ini akan tiba seminggu ke depan.

Bara kretek di ujung bibir menyala semakin terang seiring isapan yang semakin dalam. Rencana mati muda nampaknya akan segera terwujud. Jadi, berjalan 2 malam lagi rasanya tidak mengapa. Embusan terakhir dilepaskan sebelum puntung kretek masuk ke dalam saku kanan celana jeans yang sudah 3 bulan lamanya tidak bertemu deterjen dan air bersih.

Terlihat ransel berbahan kanvas tebal sudah menggantung di sisi kuda plastik. Setelah mengencang- kan tali sepatu dan bersiap melompat ke atas sadel, seketika suara terompet terdengar lantang di telinganya. Dalam posisi berdiri tegak, darah mengucur dari mata, lubang hidung, lubang telinga, mulut, serta pori-pori tubuh yang tertahan berlapis kain tebal. Ambruk ke kiri dan dalam tarikan napas serta sisa tenaga yang tersisa, ia berbisik “sial, aku gagal menenggak alkohol terakhirku sebelum mati.” @joeyaholic

海 賊

POJOK GELAP

Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada upaya bunuh diri yang gagal. ***

Pasien: Jadi, apa diagnosanya saya, Dok? Dokter: Boleh tahu apa zodiak anda? Pasien: Zodiak saya cancer, Dok. Dokter: Sungguh sebuah kebetulan. ***

Apa keuntungan memukul anak yatim? Ya, mereka tidak akan lapor bapaknya. ***

Hadiah terbaik untuk seseorang yang buta warna adalah sebuah Rubik. ***

Jika seorang wanita tidur dengan 10 pria, dia akan disebut pelacur. Tetapi jika seorang pria yang melakukannya... Dia gay, pasti gay. ***

Aku sedang santai menonton berita di TV tentang seorang pembunuh berantai yang memutilasi korbannya dan polisi sudah menemukan identitas pelakunya. Seketika itu juga aku terkejut saat mendengar suara ketukan pintu dan teriakan "Polisi, buka pintunya!!" ***

Orang introvert tidak cocok masuk neraka, karena di sana terlalu ramai. ***

Kata temanku, “waktu akan menyembuhkan semua luka”. Sudah tiga jam setelah dadanya kutusuk, dia masih belum bangun juga. ***

A ZINE Y O U CAN’ T

TRUST