Baca PDF (OCR): Aceh Daerah Modal

412 halaman · 30 halaman diproses dengan OCR· 24100 ms

Daftar isi
  1. Tgk. A.K. Jakobi
  2. jangan sangsi titik
  3. Penerbit : Yayasan "Seulawah" RI - 001 I PT. Pelita Persatuan-Jakarta
  4. BIBLIOTHEEK KITLV
  5. 0091 7474
  6. Tgk. A. K. Jakobi
  7. ACEH DAERAH MODA L
  8. Long March Ke Medan Area
  9. YAYASAN "Seulawah RI-001" Jakarta, 09 September 1992
  10. ACEH
  11. DAERAH MODA L
  12. Lorig March Ke Medan Area
  13. Oleh : Tgk. A.K. Jakobi
  14. Diterbitkan oleh
  15. Yayasan "Seulawah RI-001"
  16. Jalan Bunga Rampai VII/252
  17. Malaka Jaya, Jakarta Timur 13460
  18. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
  19. Dicetak oleh
  20. P.T. Yudha Gama Corporation
  21. Sepatah Kata
  22. Sambutan
  23. Ketua Umum
  24. Legiun Veteran R I
  25. Pada Penerbitan
  26. BUKU "ACEH DAERAH MODAL"
  27. Sekian dan selqmat beijuang.
  28. ACHMAD TAHIR
  29. Sambutan
  30. Gubernur Istiniewa Aceh
  31. Sekapur Sirih Dari Pengarang
  32. "Bravo H.j. Bop" !
  33. Insya Allah.
  34. Jakarta, 10 November 1991
  35. SKET PERTEMPURAN DI "MEDAN AREA"
  36. Clakae
  37. Sungu
  38. Kerrnngen
  39. 五三五四Jennstoren
  40. ISentira
  41. P.NEH N
  42. P.BREUHSABANG
  43. BANDA ACEHSIG
  44. CALANG LANGSA
  45. OKUALA SIMPANG
  46. BLKEJEREN
  47. TAPAK TUAN
  48. FOTO PAR A PANGUM A KODA M I ISKANDARMUDA
  49. LETKOL SJAMMAUN GAHARU
  50. PANGLIMA KOMANDO DAERAH MILITER ACEH
  51. YANG KE-I
  52. KOLONEL M. YASIN
  53. PANGLIMA KOMANDO DAERAH MILITER • l/IM
  54. YANG KE-II XVÜ i
  55. May Jen. TNl T. Hamzah
  56. PANGLIMA KOMAND O DAERAH MILITER-l/IM
  57. YANG KE-V
  58. Brigadir Jenderal TrJl Aang Kunaefi
  59. PANGLIMA KOMAND O DAERAH MILITER-l/IM
  60. YANG K E-VI
  61. Cover halaman belakang, luar.
  62. MINYAK SEBAGAI SENJATA DAN ASSET NASIONAL
  63. Cover halaman belakang, dalam.
  64. DARI "SEULAWAH" SAMPAI "GARUDA".
  65. DAFTAR ISI
  66. Sosok "Medan Area" •
  67. Rapat Panglima di Bireuen
  68. "Komando Medan Area" (KMA)
  69. Kisah "Kompi Parang Berdarah"
  70. Front Utara Dan Barat
  71. TPI Dan TRIP
  72. AREA
  73. BAB 7 KOMANDO SEKTOR BARAT OETARA (KSBO) DAN LANGKAT
  74. BAB 10 BIREUEN "KOTA PERJUANGAN" KOBARKAN PERANG RAK-YAT SEMESTA
  75. N FAKTA 31
  76. G 35
  77. Jiwa Keprajuritan Aceh Marak Kembali
  78. 1-*) Wawancara Syamaun Gaharu dengan penulis, Bandung, 1967
  79. Berita yang senada juga ditayangkan oleh tokoh muda Husin Jusuf, Sho-i (Letnan
  80. Dua) Gyugun (2-*). Ia mendengar berita itu tanggal 19 Agustus 1945 lewat siaran radio
  81. Selanjutnya A. Hasjmy sebagai tokoh pemuda masa itu, juga punya pengalaman
  82. yang khas. Sebagai pengelola surat kabar "Aceh Sinbun" di Kutaraja, ia dipanggil atasan
  83. orang Jepang, K. Yamada, diperintahkannya koran "Aceh Sinbun" edisi hari itu tidak usah
  84. terbit, karena Jepang telah kalah perang tanggal 14 Agustus 1945 (3-*).
  85. Namun, berita proklamasi yang resmi beredar dalam masyarakat di Aceh, baru
  86. diketahui oleh para pemuda tanggal 20 Agustus 1945. Berita itu disadap oleh para
  87. pemuda yangbekerja di kantor Hodoka (Penerangan). Sumbernya berasal dari monitor-
  88. Berita kekalahan Jepang diterima bagaikan petir di siang bolong. Hampir-hampir
  89. tidak dipercaya oleh masyarakat awam sampai terjadi begitu cepat. Ini suatu bukti
  90. kelicikan militerisme Jepang yang berhasil menyegel dan membungkam siaran radio
  91. sebagai lalu lintas informasi waktu itu. Tapi kaum Pergerakan Nasional yang bergerak di
  92. Untuk pertama kali berkumandang di muka umum bunyi teks proklamasi Rl secara
  93. terbuka di Banda Aceh, dipelopori oleh Teuku Nyak Arif. Ini terjadi tanggal 23 Agustus
  94. 1945, sewaktu beliau secara demonstratif naik kendaraannya berkeliling kota, seraya
  95. nya dengan sorak-sorai gegap gempita.
  96. Sejak saat itu mulailah teks proklamasi beredar dengan cepatnya di tengah-tengah
  97. Teks proklamasi secara beranting menyebar dari tangan ke tangau. Bertempelan
  98. di berbagai kantor, gedung, tembok, gerbong kereta api, oplet dan bis antar kota. Bahkan
  99. tidak luput pada batang- batang kayu besar di dalam dan pinggiran kota.
  100. MAKLUMAT
  101. AYAH ABDUL GANI
  102. Organisasi Bersenjata "Api" Lahir
  103. Isi pengumuman sebagai berikut:
  104. SERUAN TANAH AIR
  105. T. Nyak Arif Tantang Syu Tyokan
  106. Tokoh-tokoh yang diundang dalam rapat kilat adalah :
  107. Dari pihak Jepang yang hadir :
  108. Musyawarah malam itu berlangsung hangat dan tegang, akhirnya menemui jalan buntu.
  109. 5-*) "Dua Windu Kodam-IIskandar Muda"Hal-82 Kutaraja, Th. 1972
  110. Dengan tangan gemetar karena menahan amarah dan suara yang lantang, Teuku
  111. 1945", tandas Sjamaun Gaharu.
  112. "Lebih baik mendahului daripada didahului", demikianlah salah satu keputusan
  113. Fatwa Ulama Aceh : "Perang Sabil"
  114. Terbentuknya API, BPI dan dipanggilnya kembali mantan Gyugun, Heiho,
  115. Pesan-pesan yang sakral itu terpatri dalam hati, tak pernah mati, karena selalu
  116. didendangkan oleh sang ibu terhadap anaknya sejak masih dalam buaian.
  117. Lambat laun kisah-kisah yang heroik itu sangat membekas dalam hati sanubari
  118. setiap generasi penerus, tertanam jauh dan terhunjam pada ujung kalbunya yang paling dalam.
  119. Dan waktu itu, dendam itu kumat lagi, kumat lagi.
  120. Inilah bentuk pemerataan emosional yang paling kenyal, membuat jiwa anak muda
  121. sangat alergi mendengar kebrutalan riwayat kolonialisme Belanda masa lalu di persada tercinta ini.
  122. PERANG SABIL
  123. ATAS NAMA ULAMA SELURUH DAERAH ACEH
  124. Segera fatwa ulama Aceh itu beredar ke seluruh lapisan masyarakat di kota dan
  125. desa. Gemanya bergaung di mesjid, pesantren diikuti tua muda dengan satü tujuan
  126. membela tanah air tumpah dar ah Indonesia, yang diproklamasikan 17 Agustus 1945.
  127. Cinta Tanah Air adalah bagian dari iman dan berperang melawan penjajah Belanda
  128. untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah salah satu dari bentuk ibadat "Perang SabiT.
  129. Dengan sikap dan tekad yang bulat, semangat jihad mereka membar a tidak t erben-
  130. dung, bagaikan air bah yang menyerbu dari gunung.
  131. Situasi yang berkecamuk dan merasuk jiwa orang Aceh dilukiskan oleh Mayor
  132. Maarten Knottenbelt sebagai "sebuah tong mesiu yang siap meiedak untuk menangkal
  133. dan menghancur-leburkan setiap aksi yang bakal dilancarkan Belanda ke Aceh" (6-*)
  134. Ini pengakuan seorang perwira Belanda yang menyusup atas nama Sekutu ke Aceh
  135. mencoba untuk mencari kesempatan dan peluang untuk mereguh air kehidupan di Aceh.
  136. 6-*) M. NurEl Ibrahimy dalam artikelnya di Harian "Waspaaa" Medan. Th, 1984
  137. Kekuatan 7 (tujuh) buah resimen.
  138. «5.
  139. •I
  140. 1 i |
  141. -§ S :
  142. i iT1 11
  143. I s i3 § N
  144. < ^ 'i -s *
  145. J I w * I s
  146. Peristiwa "Cumbok" Berkecamuk
  147. "Barisan Penjaga Keamanan", disingkat BPK, itulah nama yang diberikan kepada
  148. 1. PASUKAN CAP "BINTANG" Bertugas mematahkan perlawanan rakyat yang tidak mau mendukung gerakan ini.
  149. 2. PASUKAN CAP "SAUH". Tugasnya merampok harta penduduk yang mendukung perjuangan kemerdekaan Rl.
  150. Tenaga teras pasukan ini didatangkan dari Medan, umumnya terdiri dari orang-
  151. telepon, kantor pos di kota Lammeulo. Pasukan ini melarang pemuda-pemuda memakai lencana merah putih. Bendera
  152. Merah Putih yang terpasang diturunkan, dirobek dan dibakar. Semua selebaran, pamflet
  153. yang berisi pengumuman dan maklumat pemerintah daerah yang dibuat oleh Residen
  154. Aceh Teuku Nyak Arif dan pimpinan "API" Sjamaun Gaharu, dimusnahkan.
  155. Pasukan ini terus meningkatkan intimidasinya dengan menahan, memenjarakan
  156. dan memukul para pemuda yang tidak mau menggabungkan diri. Tindakan ini dimulai 3
  157. November 1945 dan dilanjutkan tanggal 8 November 1945 dengan merampas kantor
  158. Melihat keberhasilan aksi-aksi yang mereka lancarkan di kota Lammeulo, timbul
  159. hasrat pasukan ini untuk memperluas gerakannya dengan merebut dan menduduki kota
  160. SigU, ibukota kabupaten Pidie. Sebuah kota yang terletak di persimpangan jalan yang
  161. SAUDARA-SAUDARA KAUM MUSLIMIN
  162. ULTIMATUM
  163. PEMERINTAH DAERAH ACEH MARKA S UMUM DAERAH
  164. ttd tt d
  165. T. Panglima Polim Moh. AU Wakil Residen Aceh
  166. Setelah waktu yang ditetapkan berlalu tanpa jawaban, batas ultimatum yang
  167. diberikan tanggal 10 Januari 1946 pukul 12.00, maka massa rakyat yang dikoordinir oleh
  168. kampung-kampung Leungputu, Meuredu, Beureunun, Keumala dan Lammeulo, semuanya di Kabupaten Pidie.
  169. Pertempuran seru berlangsung tiga hari tiga malam dan pada hari ahad tanggal 13
  170. Januari 1946 "Markas Uleebalang" di kota Lammeulo dapat dikuasai seluruhnya dan pasukan Uleebalang kucar-kacir.
  171. Namun, kepala pengkhianat Teuku Daud Cumbok yang bertanggung jawab dalam
  172. petualangan ini, tidak ditemukan di kota Lammeulo. Ia bersama pengjkutnya yang setia
  173. Setelah tiga hari pasukan pemuda melakukan "pagar betis" di semak belukar
  174. MAKLUMAT
  175. 7-*) Hasan Afy, rekaman wawancara dengan penulis di Sigli Th. 1987
  176. "Long March" Pasukan Al-Mujahid
  177. 8- *) M. Nur El Ibrahimy, Naskahnya diHarian "Waspada" Medan Th. 1984
  178. 9- *) Amir Husin Al-Muhajid, rekamr. wawancara dengan penulis di Langsa. 1971
  179. Ë 3.
  180. 1 • ^
  181. •3
  182. Sebab apa ?
  183. A. AMINS
  184. MOHD. NUR EL IBRAHIMY (80 Th).
  185. TERIMA KTN.
  186. "penyerahan dan penerimaan jabatan". Tidak ada perebutan kekuasaan disitu. Yang ada
  187. Polemik iyang menarik dan panjang itu, baru berhenti setelah redaksi harian "Waspada" menyatakan polemik ditutup.
  188. E MO
  189. Segitiga "geumpang-gumpang-bakongan"
  190. "behind the gun". Dalam kaitan ini ratusan pemuda pilihan dipanggil dan dilatih memanggul senjata.
  191. Organisasi kemiliteran yang dipersiapkan Jepang untuk anak-anak melayu di
  192. Sumatera adalah Gyugun, Heiho, Tokubetsu Keisatsutai dan Tokubetsu Hikoyo Kin- mutai.
  193. Dua orang dari Sumatera Timur adalah Achmad Tahir dan Hopman Sitompul,
  194. yang kemudian terkenal sebagai pelopor dan pemimpin Angkatan Bersenjata sejak perang kemerdekaan.
  195. bedaan yang menonjol. Disini terlihat betapa besar peranan yang dtberikan Jepang
  196. kepada Aceh untuk berpartisipasi dalam pertahanan dan keamanan rakyat untuk kemenangan "Asia Timur Raya".
  197. 12-*) Paper SYAMAUN GAHARU, Brigen (Pitm) dalam Seminar 'Perjuangan Aceh". Medan 22-25 Maret 1976.
  198. GAMBAR ATAS.
  199. A. R. Ramli. 17. M. Daud Gade. 18. Muhammadiyah Haji. 19. Budiman Daud. 20. Ilyas
  200. Mahmud. 21. AR. Achmady. 22. Bachtiar Idham. 23. Gedong. 24. Mufti AS, dan lain sebagainya.
  201. Teknik Merebut Senjata
  202. 3. Senjata serdadu Jepang, yang masih utuh di gudang senjata atau di asrama-asrama militer.
  203. Biasanya sering dilakukan dengan sedikit bujukan atau ancaman. Kadang-kadang lewat barter kebutuhan pangan.
  204. Mengenai senjata-senjata yang ada di tangan Gunseibu (pemerintah sipil Jepang) dapat
  205. beralih tangan dengan tekanan-tekanan para pejuang atau lewat diplomasi para pemim- pin.
  206. Demikian pula para Bun-Sutyo (Bupati) Jepang di tiap Kabupaten di Aceh, telah
  207. menyerahkan senjata-senjatanya kepada pemerintah sipil setempat atau pimpinan militer kelaskaran lewat diplomasi.
  208. Di luar persenjataan sipil dan perorangan Jepang, masih ditemukan sejumlah besar
  209. senjata Jepang di berbagai asrama dengan pasukan dan arsenal militer yang utuh.
  210. Jumlah pasukan dengan perlengkapan senjatanya diketahui sebagai berikut:
  211. 7. Satu batalyon di Kutacane dan satu kompi di Blangkejeren.
  212. Persediaan senjata Jepang bukan hanya itu saja, tapi masih terdapat "arsenal"
  213. Jepang di Aceh, yang memendam timbunan senjata dan tumpukan mesiu, lengkap dengan meriam berbagai ukuran.
  214. Seulimum
  215. 13-*) Syamaun Gaharu, Kolonel, Ketua Markas API Daerah Aceh. Catatan Hariannya, Oktober 1945.
  216. Lhok Nga
  217. BARISAN DEPAN BERDIRI
  218. Sigli
  219. Sigli jauhnya 112 km. dari Banda Aceh, ibukota Kabupaten Pidie yang pen-
  220. Jepang bertahan tidak mau menyerahkan senjata kepada pejuang. Oleh sebab itu
  221. terpaksa diadakan "show of force" oleh ribuan rakyat yang berbondong-bondong membanjiri asrama Jepang.
  222. pucuk senjata diantaranya diserahkan kepada massa rakyat yang diwakili oleh pimpinan-
  223. nya, Hasan Ali. Ini terjadi pada tanggal 22 Desember 1945.
  224. Pada saat berlangsung proses timbang-terima senjata Jepang kepada Ketua
  225. Markas Daerah API tersebut, tiba-tiba muncul keuatan baru yang menamakan dirinya
  226. ^^£r te LT, -g 5;
  227. te K -2 _2
  228. Bireuen
  229. Desa Juli
  230. Krueng Pandjo
  231. Pasukan rakyat yang dikerahkan terdiri dari:
  232. Aceh/ Divisi X TNI.
  233. KOMPI X TPI
  234. Ïto,itdi U,7??, °!eh St ^rnen M. Noor Nekmat. §
  235. Lhok Seumawe
  236. Kuala Simpang
  237. Langsa
  238. Meulaboh
  239. Aceh Tengah
  240. 15- *) Haji Darul Aman dalam makalah berjudul "Situasi Sekitar Proklamasi Kemer-
  241. dekaan diAceh Tengah" dalam seminar kejuangan di Jakarta (IKIP) 1986.
  242. Satu Divisi Senjata Di Sumatera
  243. Kelima pabrik senjata itu adalah :
  244. dengan kebutuhan dan tenaga-tenaga terampil pun dilatih dan dididik seperlunya.
  245. Apa sebab ?
  246. Menurut perkiraan para pemimpin Republik Indonesia di Aceh dalam perang
  247. Barter yang dilancarkan secara gencar masa itu dengan Penang, Kuala Lumpur,
  248. Singapura tidak lepas dari konteks ini.
  249. Misi Mayor Omura -Gagal
  250. Dua Batalyon Serbu Aceh
  251. Kampung Durian
  252. 16-*) "Dua Windu Kodam-h'Iskandar Muda", Kutaraja -1972
  253. Batalyon Jepang Mundur
  254. Rakyat Sumatera Timur Bangkit
  255. 17-*) "Sejarah Kodam-IIBukit Barisan", Medan
  256. ada atau masuk pasukan TKR.
  257. Inflltrasi Nica
  258. bukanlah suatu hal yang kebetulan.
  259. Jatuhnya pilihan Belanda ke kota Deli, tentunya didasarkan kepada hasil penelitian
  260. dan pengalaman sebelumnya, karena Tanah Deli memiliki potensi ekonomi yang dapat diandalkan.
  261. 18-*) "Medan Area Mengisi Kemerdekaan"-Prima-Medan, 1976.
  262. Sesuai instruksi, pada tanggal 31 Agustus 1945 tengah malam, tim Letnan I
  263. Untuk tugas pengawalan dan patroli di kota Medan mereka mulai mempergunakan
  264. Setelah pembentukan pasukan khusus yang berfungsi ganda dinilai sukses, lalu
  265. Tidak kurang dari enam puluh orang pembesar pemerintahan Belanda dari kamp
  266. Brigjen Kelly Mendarat Di Medan
  267. Ultimatum
  268. 2. Di dalam kota dan delapan setengah kilometer dari batas kota Medan dan Belawan,
  269. Melihat gelagat yang mencemaskan ini tentara Sekutu segera menarik diri setelah
  270. menyaksikan terjungkalnya sebuah truk Inggeris yang terbakar disulut granat botol pejuang.
  271. Perundingan "Chequers"
  272. PohAnTui
  273. 19-*) Lihat "Buku Dua Windhu Kodam-I/Iskandar Muda" Kutaraja -1972
  274. "Hijrah" Ke Pematang Siantar
  275. Penyusupan Knottenbelt Di Aceh Gagal
  276. Betapa tidak ?
  277. 20-*) Dr.S.L. Van Der Wal dalam bukunya "Officiële Bescheiden De Nederlands-
  278. Indonesische Betrekkingen 1945-1950". Jilid VI. 's-Gravenhage 1976
  279. Solidaritas Tak Mengenal Batas
  280. Bukan main.
  281. Tiga Serangkai Datok Seure, Pining Dan Utel
  282. Di jurusan jalur (b) di pantai barat, kondisi lalu lintas kendaraan umum lebih parah.
  283. Jembatan rakit yang bertebaran di jalur ini membuat waktu perjalanan tidak pernah berkepastian.
  284. Keadaan ruas jalan yang jelek dengan jumlah angkutan yang terbatas, menyebab
  285. Divisi Rencong, Tentara Perjuangan Rakyat, Barisan Gurilla Rakyat (Bagura) dan korps Tentara Pelajar Aceh (TPI/TRIP).
  286. Kafllah Muhammad Din
  287. Memasuki tahun 1946 keadaan kota Medan semakin khaos. Teror dan provokasi
  288. yang dilancarkan Belanda semakin ganas. Di mana-mana terjadi insiden berdarah secara pongah.
  289. Kesatuan ini diberinya nama "Brigade 7 Desember" pimpinan Kolonel P. Scholten
  290. Daerah pertempuran baru ini, benar-benar mau dijadikan oleh "Brigade 7 Desem-
  291. ber" sebagai "uji coba" untuk menciptakan jantung kota Medan daerah basis kolonialnya di Sumatera Timur.
  292. sebelumnya oleh lnggeris/Belanda.
  293. Ini terjadi tanggal 7-8-9 Desember 1945, dan tercatat pulalah sejarah awal dari
  294. kelahiran sebuah medan pertempuran memperebutkan hak-hidup dan wilayah, yang kemudian dikenal dengan istilah "Medan Area".
  295. Akibat dari konflik yang semakin tegang dan tajam, pimpinan Sekutu di Medan,
  296. Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly untuk kedua kalinya mengeluarkan ultimatum kepada para pejuang, sbb:
  297. 22-*) Biro sejarah PRIMA-Medan 1978
  298. Tgk. Ilyas Leubey
  299. u :^ :• • r- ël
  300. i rillli f bi 3 £
  301. Takengon Bentuk "DEWAN PERJUANGAN RAKYAT"
  302. KALI ABU BAKAR KOBAT
  303. M. SALEH JAKOBI
  304. MUDA SEDANG
  305. Mantan Bupati Aceh Tengah
  306. Gelombang kedua berangkat dari Takengon tanggal 1 Nopember 1946 dipimpin
  307. Mereka bertempur di sekitar Kerambil Lima, Gempang, Hamparan Perak, Pasar
  308. Batu, Pulau Brayan, Pasar II-IH-IV, Sei Si-kambing, Terjun, Titi Papan (Belawan).
  309. Gelombang keempat berangkat bulan April 1947 dipimpin Tengku Ilyas Leubey,
  310. Kisah pertempuran ini dapat dibaca pada bagian lain. (CP-8)
  311. Yusuf "Tank" Bawa Pasukan Tank ke Medan Area
  312. Instruksi ini berlaku bagi semua tanpa kecuali, baik kesatuan TRI maupun barisan perjuangan rakyat.
  313. Kota Bireuen yang strategis, terletak di persimpangan jalan Medan-Kuta Raja-
  314. Takengon, berperan sebagai pusat kegiatan kemiliteran dan Barisan Rakyat Bersenjata.
  315. pasukan dan masyarakat, yang semuanya ditujukan membantu perjuangan di front Medan Area.
  316. Sosok "Medan Area"
  317. Laskar Rakyat Medan Area
  318. 23-*) Sejarah Kodam-h'Bukit Barisan, Medan
  319. Bantuan Meriam Dari Aceh
  320. 24-*) Sejarah Kodam-I/Bukit Barisan, Medan.
  321. 1. Kehadiran Belanda/NICA di Medan Area, jelas mengancam kelangsungan hidup
  322. Belanda yang memiliki senjata moderen dan pesawat terbang.
  323. Surat ini mendapat tanggapan positif dari para Ulama Aceh dan setelah Tgk.
  324. Mohd. Daud Beureuh membahasnya bersama, kemudian diputuskan untuk memenuhi isi surat itu sebelum terlambat.
  325. Menurut versi Belanda, tanggal yang pasti dari kedatangan bantuan meriam di
  326. Setelah penyerahan meriam selesai di Binjai, diputuskan sementara untuk menem-
  327. patkannya di sekitar masjid Binjai, dipilih tempat yang agak terlindung dari udara.
  328. 25-*) DR. S.L van der Wal dalam bukunya "Officiële Bescheiden Betreffende de
  329. Nederlands-Indobesia Betrekkingen 1945-1950" Bagian k3-6 S-Gravenhage -1967.
  330. Inilah yang kemudian dikenal sebagai proses awal dari embryo kelahiran RIMA di
  331. front Medan Area di Sektór Barat dan Utara, yang bermarkas di Binjai.
  332. Hampir setiap hari lokasi itu dibom dan ditembaki dari pesawat udara oleh
  333. Belanda. Sejumlah korban telah jatuh, Kopral Suparman gugur, lainnya luka berat dan ringan.
  334. NUKUM SANANY
  335. PASUKAN MERIAM "RIMA".
  336. RAPAT PANGLIMA DI BIREUEN
  337. Ini tidak boleh terjadi. Masalah ini sangat mendasar bagi Aceh. Masalah kehor-
  338. matan, martabat, soal hidup atau mati(to be or not to be)
  339. Apa sebab ?
  340. Ini berarti mekarnya jiwa patriotisme, cinta tanah air yang membaja tak mengenal tawar menawar.
  341. tanggal 17 Agustus 1945.
  342. Komando "Medan Area" (KMA)
  343. Inilah hasil rapat panglima dï Bireuen.
  344. Struktur dan formasi Komando "Medan Area" (KMA) alami perubahan, pimpinan
  345. PERSIAPAN RAPAT PANGLIMA.
  346. Kisah "Kompi Parang Berdarah"
  347. 5J -2 3*£
  348. Pada malam «ïari ia sering menyusup dan menyamar ke asrama serdadu Belanda,
  349. Mayor Bahrin Ditembak
  350. Apa latar belakang peristiwa itu, sebenarnya belum pernah diumumkan secara resmi.
  351. 28-*) Wawancara penulis dengan Kolonel Arteri (Pum)Ali Hasan AS-Jakarta, 1987.
  352. Garis Demarkasi
  353. Sebab apa ?
  354. Front Utara Dan Barat
  355. 31- *) Catatan H.Nukum Sanany (Kolonel-Pum) Mantan Wakil Komandan Resimen
  356. Artileri Divisi X TNI Ko. Sumatera.
  357. Kpt.Alam Syah KptAl1 Hesan
  358. (Foto Koleksi Situasi Pasukan RIMA digaris
  359. GAN LNG L
  360. Letde.Nukum Sanany
  361. TPI dan TRIP
  362. Front Selatan dan sebagian Barat
  363. Operasi di sektor Selatan dipimpin Mayor Martinus Lubis, yang kemudian gugur
  364. dalam sebuah pertempuran di front Marindal. Jasadnya diterjang pecahan mortir Belanda yang jatuh disisinya.
  365. Menurut pengamatan para senior, ada empat faktor yang menyebabkan pasukan
  366. kita di mana saja sering terdesak menghadapi pasukan Belanda hampir dalam setiap pertempuran.
  367. 1. Lemahnya persenjataan pasukan kita dalam menghadapi kubu-kubu pertahanan
  368. Mahyudin Bertempur Habis-habisan. • Letnan Bustanil Arifin Cari Bantuan.
  369. ARAM
  370. Linggarjati Dikhianati
  371. 32-*) "Officiële Bescheiden Betreffende Nederlands-Indonesische Betrekkingen 1945-1950'
  372. (Bagian pertama) karangan Dr. S.L. van der Wal. 's-Gravenhage-1971.
  373. Pada saat meletusnya perang Kemerdekaan pertama 21 Juli 1947 posisi dan potensi
  374. kedua belah pihak di sekitar front Medan Area terurai sebagai berikut:
  375. (A) Belanda
  376. Tidak kurang dari enam batalyon riil telah siap dikerahkan Belanda untuk
  377. menyerang pasukan Indonesia di tambah sebuah squadron angkatan udara Belanda yang cukup canggih masa itu.
  378. 1. Batalyon I/Infantri/(KL) yang telah dipersiapkan sejak lama dan sudah mengenal
  379. 3. Batalyon Vl/Infantri KNIL, dinamakan juga sebagai "Medan Batalyon". Anggota
  380. Dengan senjata ini mereka hampir tanpa hambatan mampu menerobos lapangan dan
  381. rintangan yang ada menusuk garis pertahanan Republik di tiap sudut yang sulit sekalipun.
  382. Mengenai potensi batalyon artileri mereka, tercatat sejumlah howitzer dengan
  383. ANAK BUAH KOLONEL SCHOLTEN.
  384. Posisi Dan Dislokasi KL-KNIL
  385. Medan Selatan
  386. Medan Timur
  387. 33-*) "Sejarah Kodam-I/Bukit Barisan"
  388. t E E
  389. •I § 1 §
  390. II | 33
  391. 5 ••S •§ §. ?5
  392. 3 -K ca S X
  393. 6 •§ 1 ^ ^
  394. § l i
  395. Medan Barat
  396. Potensi Pejuang
  397. Apa sebab ?
  398. Koordinator Pertahanan Setempat
  399. Markas Rima Hancur
  400. dinasikan kesatuan-kesatuan tersebut di bentuklah Resimen Istimewa Medan Area (RIMA).
  401. Peranan Artileri
  402. Baterai I dipimpin oleh Letnan I Urip dengan tiga pucuk meriam 25 ponder kaliber
  403. 9 cm dan satu pucuk meriam 18 ponder kaliber 7.5 cm berkedudukan di Banda Aceh.
  404. Baterai II dipimpin Nukum Sanany, kedudukan di Kuala Simpang. Penghujung
  405. tahun 1946 sejumlah pasukan artileri dari Aceh diberangkatkan ke front Medan Area.
  406. Kompi Usman Tamin, Amir Yahya Dan Mahyuddin Bertempur Habis-Habisan
  407. 34-*) Wawancara penulis dengan pelaku Buchari AS, Mayor Artileri Pumawirawan, Medan
  408. Letnan Bustanil Arifin Cari Bantuan
  409. Saleh memeluk ajudannya karena haru dan sedih mendengar laporan yang serius di mata
  410. seorang Komandan lapangan yang berdiri di garis terdepan.
  411. Karena apa ?
  412. Bagi seorang Komandan lapangan, laporan seperti itu besar sekali maknanya dan
  413. langsung bisa mengukur, mengevaluasi situasi dan kondisi yang sedang berkembang.
  414. Caranya harus buru-buru menghancurkan Jembatan Setabat dan pada gilirannya
  415. kalau perlu tambang Minyak Pangkalan Berandan pun harus dibakar, daripada jatuh ke tangan musuh.
  416. Akhirnya ia menggaet sebuah sepeda motor BSA yang telah dipersiapkan, yang
  417. deru knalpotnya sama gemuruhnya dengan pecahan peluru mortir. Lalu ia pun ngacir menuju Tanjung Pura.
  418. Letnan Lintong Menyerah
  419. Di tengah jalan hatinurani saya berbisik, sebaiknya temui dulu Komandan Resimen
  420. Demikianlah sepeda motor BSA saya arahkan ke Binjai dan alangkah kagetnya
  421. sewaktu saya melihat Markas RIMA telah hancur berantakan dan keadaan kota sepi.
  422. Kembali ke markas RIMA di Binjai.
  423. Kapten Nyak Adam Kamil Susun Kembali Pasukan
  424. 161 „
  425. LET. KOLONEL NYAK ADAM KAMIL
  426. H k ^ •I & «
  427. H -s
  428. bentuk : radiogram
  429. untuk : pemimpin-pemimpin rakyat aceh titik
  430. Mata Tertuju Ke Aceh
  431. "Langkat Area"
  432. Pangkalan Susu dan kemudian .... Aceh.
  433. MAYOR WIJI ALFISAH
  434. LANGKAT AREA
  435. Pertahanan di sini dikoordinasikan oleh Letnan Satu Amar Alang, Komandan
  436. Kompi Batalyon I/Resimen I, dibantu oleh kesatuan- kesatuan RIMA yang mundur ke lini ketiga.
  437. Bahkan selama waktu bertahan di situ, mereka juga tidak tinggal diam meluaskan
  438. daerah pengaruhnya di sekitar, dalam rangka merebut hati rakyat dan memanfaatkan perkebunan yang ada.
  439. Jembatan Setabat Jatuh
  440. Pasukan KSBO yang tadinya bertahan di sekitar jembatan Setabat mundur ke lini
  441. Jatuhnya jembatan Setabat berarti Tanjung Pura berada dalam ancaman pasukan
  442. Belanda, yang karena lapangannya terbuka sulit dipertahankan.
  443. Lagi pula pasukan yang ditugaskan menjaga dan mempertahankan Tanjung Pura
  444. relatif kecil, karena kekuatan kita ditarik dan dipusatkan di Pangkalan Berandan.
  445. Menyimak serangan Belanda yang gencar dan bertubi-tubi ke arah sektor barat
  446. dan utara Medan Area, buku "Kodam I/Bukit Barisan" menulis sebagai berikut:
  447. Pasukan NICA yang menuju Binjai bersikap sangat hati-hati, karena semak belukar
  448. Syahid di Bekiung
  449. KSBO Lahir
  450. Kesatuan-kesatuan yang bergabung dalam KSBO :
  451. Batalyon Alamsyah.
  452. Rupanya pengalaman terpukul mundur sampai ke Tanjung Pura oleh pasukan
  453. Ini terlihat juga dalam penyusunan KSBO, dimana antara TRI dan Laskar Rakyat
  454. Di wilayah Divisi X upaya untuk menyatukan Laskar Rakyat bersenjata dengan
  455. TNI dapat terlaksana dengan baik dan terakhir diselesaikan bulan September 1947.
  456. 35-*) "Dua Windu Kodarn-I/Iskandar Muda", Kutaraja, 1972
  457. Semua kesatuan TRI dan laskar Rakyat yang berada di wilayah Aceh, Langkat,
  458. Sumatera Timur direkrut menjadi KSBO dengan pengelompokan tugas antaranya sebagai berikut:
  459. Khusus untuk Pangkalan Berandan dan Pangkalan Susu dipersiapkan pertahanan yang kuat, langsung dipimpin perwira senior.
  460. Kisah "Tenaga Dalam" Dogok
  461. 36-*) Kolonel AA. Ekel dalam makalahnya berjudul "Monumen Tugu Bireuen Kota Per- juangan", Jakarta, 1988
  462. Ada sebuah kisah menarik bercampur sedih.
  463. pos pertahanan Belanda lainnya.
  464. Tugas ini dilaksanakan dengan baik dan ada yang berhasil. Keberhasilan ini tam-
  465. Ia melalaikan ajaran yang dianutnya, tidak boleh kesiangan di daerah musuh. Di
  466. sinilah ia menemui ajalnya ketika pasukan Belanda memberondong dirinya (37-*).
  467. Gencatan Senjata Dilanggar Belanda
  468. Agresi militer pertama Belanda itu memang mencengangkan dunia internasional.
  469. Tapi Republik tetap survive, perlawanan tak kendor, baik di dalam mau pun di luar negeri.
  470. 37-*) Buku "Sejarah Kodam-I/Bukit Barisan"
  471. Garis Hasballah Haji
  472. 38-*) Wawancarapenulis dengan Kolonel Hasballah Haji, Medan, 1977.
  473. Saleh kepada penulis, bahwa jalan sepanjang Tanjung Pura-Pangkalan Berandan ibarat "neraka dunia".
  474. Namun tekanan Belanda kian hari kian deras jua. Mereka mengandalkan senjata
  475. moderen yang dimilikinya seperti pesawat "Bomber", "Mustang" dan tank, panser di darat.
  476. Kaum wanita Aceh yang dalam dirinya bersemi "cinta tanah air" dan "cinta kemer-
  477. Dari sekian banyak pasukan yang diterjunkan ke front "Langkat Area", ada sebuah
  478. "Pasukan Tempur Khusus" yang berasal dari "Sekolah Kader Bireuen" (39-*).
  479. Force) dari seluruh kesatuan yang ambil bagian dalam pertahanan lini depan Tanjung Pura-Pangkalan Berandan Area.
  480. memperlambat gerak maju lawan. Agar pasukan kita yang menarik diri ke Pangkalan
  481. Berandan dapat dilakukan secara tertib dan terkendali.
  482. Keputusan yang strategis ini diperlukan, mengingat derasnya tekanan militer
  483. Belanda dan perlu diantisipasi secara cerdik, jangan sampai panik.
  484. Meskipun keinginan Belanda sangat ambisius segera menduduki kota Pangkalan
  485. datangnya dua batalyon tempur dari Aceh untuk merebut kembali Tanjung Pura dan Binjai.
  486. Pangkalan Berandan Dibumihanguskan
  487. Dari laporan intelijen yang masuk tanggal 7 dan 10 Agustus 1947 disebutkan adany~
  488. rencana Belanda menyerbu kota minyak itu dalam waktu singkat.
  489. berlapis di jalan raya Tanjung Pura-Pangkalan Berandan area. Di sisi lain, meram-
  490. 1 77
  491. .179
  492. Tanjung Pura dan Pangkalan Berandan.
  493. kota vital itu. Paginya sekitar pukul 07.00 sejumlah pesawat terbang Belanda melakukan
  494. Perlu juga diungkap, para petugas dibelakang layar yang mendapat kehormatan
  495. NY. UMMI SALAMAH HUSIN Kol(me l A MaMan i
  496. 42-*), "Kisah dari Pedalaman" karangan Kolonel Arifin Pulungan. Medan.
  497. Bung Hatta Pimpin Gerilya Di Sumatera
  498. Menjelang agresi militer I Belanda tanggal 21 Juli 1947, Wakil Presiden Dr. Moh.
  499. Dalam sidang kabinet itu, telah dievaluasi situasi menyeluruh dalam dan luar
  500. ggeris di belakang layar.
  501. gerilya jangka panjang.
  502. Untuk menindaklanjuti kebijakan ini, sejumlah perwira senior dari MBAD diter-
  503. junkan ke berbagai daerah di Sumatera, antaranya di Aceh, Sumatera Timur, Tapanuli dan Sumatera Barat.
  504. Hal ini tentu saja merugikan perjuangan Republik dan menguntungkan NICA.
  505. Di tengah berkecamuknya agresi militer 1 tahun 1947, Bung Hatta sedang berada
  506. dan persiapan untuk menghadang agresi militer Belanda setempat. Juga diingatkan
  507. tentang persiapan bahan logistik, terutama pengadaan senjata dan amunisi, yang harus
  508. 43- *) DRA.H. Nasution, "Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia", Jilid 5. Penerbit Angkasa Bandung, 1978.
  509. 44- *) I.Wangsa Widjaja, "Mengenang Bung Hatta", Penerbit CV. Haji Masagung, Jakarta, 1988.
  510. ï i ïi il il
  511. ? -« -3 1 3
  512. Kedua, Teritorial Divisi X TNI Komandemen Sumatera, yang meliputi daerah
  513. Aceh dan Sumatera Timur perlu dipertautkan secara utuh.
  514. Lebih-lebih Barisan Marsuse pimpinan Kolonel Timur Pane sering bentrok senjata dengan TNI.
  515. Menolak Sekolah Kolonial
  516. suara-suara itu segera lenyap dari peredaran, setelah mereka mengetahui tokoh itu
  517. dan dicintai khalayak.
  518. KAPTEN SUDOMO.
  519. BERNUR MILITER ACEH, KABUPATEN
  520. NGKAT DAN KABUPATEN TANAH KARO,
  521. KAPTEN HASBIWAHIDY.
  522. Kedua, hal-hal yang menyangkut dengan "Hablim Minan Nasy". Yaitu memelihara
  523. Tidak salah lagi, pengaruh beliau menyebar ke semua lapisan masyarakat mulai
  524. dari lapisan yang paling bawah sampai ke tingkat menengah dan lapisan elit.
  525. Ujian Pertama Bagi Tengku
  526. Ujian pertama bagi Tengku Mohd. Daud Bereueh datang dari daerah Aceh sendiri.
  527. Faktor politis dan psikologis ini, akhirnya menjadi batu penghalang yang suüt
  528. diselesaikan, sehingga masalah ini untuk beberapa saat menjadi tersendat-sendat dan terlunta-lunta.
  529. Pasukan TNI sendiri masih perlu dibersihkan, karena dinilai masih ada bekas KNIL
  530. yang bercokol dan diragukan niat dan kesetiannya kepada Republik.
  531. Hubungan antara Divisi Tgk. Chik Di Tiro dengan pimpinan Divisi Rencong juga kurang mulus.
  532. Panglima. Panglima lama Kolonel Husin Jusuf terpaksa diistirahatkan sementara.
  533. Daud Bereueh sebagai Gubernur Militer.
  534. | 1 ^ „ § " M •s ^ | *. 1 „ fe
  535. Kolonel Sitompul Dicopot, Nyak Adam Protes
  536. Susunan Penasehat dan Pembantu terdiri dari sebagai berikut:
  537. A. Penasehat
  538. 45-*) Koleksipenulis, Kutaraja, 1950
  539. Alot, Penyatuan TNI Di Aceh
  540. X m • 2, Êf>
  541. .5 &>-| J r$ fr<
  542. 5 i» "
  543. •§ « * I g
  544. ^ > Q * s 2 Q
  545. 2 • « e £ -° o
  546. § 15 *o S < Ü £
  547. Q .8 S ti 3 J 2
  548. S'8 11*1 |1
  549. ë₃1 £ 3 5: is x
  550. 13 § 5 I-I I
  551. berdasarkan surat Keputusan Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, nomor
  552. GM-59/5/Pers tertanggal Kutaraja 13 Juni 1948, yang diberlakukan surut sejak tanggal 1
  553. Lengkapnya susunan dan staf Divisi X/TNI Komandemen Sumatera adalah sebagai
  554. Juni 1948.
  555. Kolonel Husin Jusuf Minta Diaktifkan Kembali
  556. Lengkapnya isi resolusi terlukis sbb. (48-*).
  557. 48-*) Koleksipenulis, Kutaraja, 1972.
  558. KEPOETOESAN
  559. Secretaris : T.M. Amin.
  560. Kami jang bertanggoeng djawab. (tandatangan)
  561. (Lima nama lainnya kurang jelas).
  562. dan atus nama runy perdjamn ing sefiham
  563. ratam b/y-8-14y venikvet diosvah eini: 1. Meroesoeer dega Jranie
  564. dulow hel ni vlite-
  565. ハーハー 1Th Suelminan Faud
  566. dimma10 rma..-.wani aname
  567. (c58am. A 19 1
  568. iov7b4 sich anos
  569. ACEH DAERAH MODAL, SEBUAH " ALTERNATIF "
  570. Gara-gara "Renville"
  571. Republik Indonesia "Ditikam" Dari Belakang
  572. Lahirnya PDRI
  573. Soekarno Muhamma d Hatta
  574. Mandat Untuk Dr. Sudarsono di India
  575. Jika ikhtiar Mr. Sjafruddin Prawira Negara untuk membentuk Pemerintah Darurat
  576. Yogyakarta, 19 Desember 1948
  577. SjafmddinPrawiranegara
  578. buntu. Suatu waktu mereka pasti akan melakukan agresi untuk memberi pukulan kepada Republik.
  579. Rapat diadakan di sebuah kantor di lingkungan perkebunan teh di wilayah
  580. Dalam rapat itu Mr. Sjafruddin Prawira Negara mengumumkan susunan PDRI, sebagai berikut:
  581. Kolonel Hidayat, Panglima Sumatera
  582. "HJ. BOP" Sang Panglima
  583. *^r!"TT'1Du?, Yin^u Koda^-illskandar Muda", penerbit Sejarah Militer
  584. Kodam Iskandar Muda, Kutaraja, 1972. J mumsr
  585. a. Battery I Terletak di sekitar ibukota propinsi Tanah Rencong, yaitu Kutaraja (Banda Aceh sekarang).
  586. Komandannya Letnan Satu Jalaluddin (TRI).
  587. Mengkover sektor Ulee Lheue, Lhok Nga sampai ke Lhok Seudu (jaraknya sekitar
  588. X 8^3 *
  589. •8 S ^ § I
  590. £ J ^ I •§
  591. | o _ É S Ï
  592. § J X | ^
  593. ^1 ^ | "5 £
  594. I 1 § I -8 5 g
  595. Komandannya Kapten Nukum Sanany.
  596. 50-*) Kisah Pelaku Sejarah, Buchari AS (Mayor Pum) berjudul "Peranan dan Perkemban-
  597. gan Artileri Dalam Revolusi pisik di Daerah Aceh 1945 -1950", Medan, 1989.
  598. Dalam pembentukan Resimen Artileri, komposisi Battery II yang di Kuala Simpang
  599. tidak mengalami perubahan. Sedangkan di Kutaraja juga dibentuk Battery II dibawah koordinasi Kapten Nukum Sanany.
  600. Tugasnya menghambat dan menghancurkan serangan udara di daerah Aceh Besar
  601. khususnya Kutaraja serta menghancurkan setiap usaha pendaratan musuh di pantai barat dan utara Aceh Besar.
  602. d. Battery Istimewa
  603. Bertindak sebagai komandan Battery ini, Pembantu Letnan Satu Rustam dengan
  604. 60 orang pasukan, yang separohnya terdiri dari Tentara Pelajar.
  605. latihan yang teratur dan intensif.
  606. 51-*), "Pasukan Meriam Nukum Sanany", KaranganB. Wiwoho, penerbit PT. Bulan Bintang, Jakarta, 1985.
  607. Panglima Aman Dimot
  608. "Angan-angan" Van Mook
  609. 52- *) Dr.S.L Van der Wal dalam bukunya "Officiële Bescheiden Betreffende de Nederlands-
  610. Indonesische Betrekkingen 1949-1950, Jilid V. 's-Gravenhage, 1976
  611. urat nadi ekonominya.
  612. Situasi dan kondisi ini benar-benar telah membuat urat nadi Indonesia menjadi rapuh.
  613. ekonomi di daerah vital.
  614. Aceh Daerah Modal
  615. Dalam situasi politik dan militer yang extra rawan itulah, Presiden Soekarno
  616. Dalam kunjungan itu, Bung Karno sempat menghadiri appel militer di Blang
  617. Padang dan menginspeksi pasukan militer dan perjuangan rakyat lengkap dengan senjata berat.
  618. A A RE
  619. .leyaiW pnee9 nhlod
  620. Mengapa Bireuen ?
  621. Aceh Sebagai Alternatif
  622. "Mising Link"
  623. Betapa tidak!
  624. Dalam dialog di kediaman mantan Panglima Divisi X TNI itulah Bung Karno
  625. menjelaskan situasi dan perkiraan keadaan yang menimpa Republik Indonesia.
  626. tukan kedudukan dan cita-cita bangsa/negara Rl. Karena itulah saya namakan "Aceh
  627. Doktrin Perang Wilayah
  628. kita proklamirkan tanggal 17 Agustus 1945" (54-*).
  629. 53-*) Wawancara penulis dengan IBNU SA'DAN (85 th) mantan Sekretaris Gubernur
  630. Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, Banda Aceh, 24Maret 1991.
  631. 5,4-*), "Teungku Muhammad Daud Bereuh", karangan M. Nur El Ibrahimy,
  632. Penerbit PT.Gunung Agung, Jakarta, 1986 (hal.67)
  633. BIREUEN 16 JUNI 1948.
  634. 230.
  635. 55- *), "Dwi Windhu Kodam-IIIskandar Muda", Kutaraja, 1972.
  636. 56- *) DR^A.H Nasution, Jenderal TNI-AD, "Sejarah Perjuangan Nasional di bidang Ber- senjata", Jakarta, 1987.
  637. 57- *) DR^A.H Nasution, Jenderal TNI-AD, "Sejarah Perjuangan Nasional di bidang Ber- senjata", Jakarta, 1987.
  638. 232 _
  639. Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan.
  640. Kota Pergerakan Dan Pendidikan
  641. Ada dua faktor utama penyebabnya.
  642. 58-*) A~A. Ekel, Kolonel (Pum) dalam makalah "Peranan Rakyat Aceh dalam perjuangan
  643. ' di front Medan Area", Jakarta, 1989.
  644. I I s.|
  645. I* * «
  646. ^ | 1
  647. 53 • iJ I §
  648. ^ •§ -«I IN È ^
  649. si s 5?
  650. s B 11 r g ^ i-l-i
  651. IJ I H
  652. 9 .£ -2 * -s
  653. l)i « Q K § ?
  654. Pertama : Aceh memang paling akhir dimasuki Belanda. Walau secara frontal perang
  655. 1945-1949 saat kita menghadapi agresi militer Belanda I dan II.
  656. Kedua: Aceh ditundukkan tidak hanya dengan kekuatan senjata saja, tapi kolonial
  657. Bireuen Agreement
  658. Sumatera Utara.-
  659. Keempat aspek lainnya mencakup :
  660. 59-*) SJAMA'UN GAHARU, Mayjen (Pum) dalam makalah "Perjuangan Menegakkan
  661. Kemerdekaan Rl di Aceh 1949-1950", Medan, 1976
  662. Mobilisasi Umum Perlawanan Rakyat Semesta
  663. Rute Mayor John Lee nenerobos blokade Laut Belanda.
  664. (Foto Koleksi "Aki")
  665. Pengadaan Dan Penyaluran Logistik
  666. Kegiatan operasi ini dikoordinasikan Mayor Osman Adamy, Kepala Seksi X Divisi XTN1.
  667. Salah seorang penyelundup besar yang disegani di laut oleh Angkatan Laut Belanda
  668. Pendanaan Dan Pembelian Pesawat "Seulawah RI-001"
  669. menerobos blokade udara Belanda.
  670. Kisah awal lahirnya gagasan ini berasal dari himbauan Presiden Soekarno kepada
  671. masyarakat Aceh dalam pertemuan di Aceh Hotel dalam kunjungannya medio Juni 1948 ke Tanah Rencong.
  672. IR H. ABDUL MULUK
  673. Kolonel Muhammad Chat
  674. "JABANG BAYI GARUDA".
  675. Pesawat "Seulawah RI-001" baru tiba di tanah air akhir Oktober 1948, pada saat
  676. situasi tanah air sedang mengalami kepungan politik blokade ekonomi dan militer dari pihak Belanda.
  677. antara pemerintah pusat di Yogyakarta dengan PDRI di Suliki dan Kutaraja. Rute
  678. Adisucipto-Yogyakarta-Halim Perdanakusumah, Palembang, Pekan Baru, Medan dan lapangan Blang Bintang di Banda Aceh.
  679. Pertama, pesawat terbang Dakota RI-002 tujuan Manila. Yang menerbangkan
  680. Opsir Udara II Budiarjo (mantan Menpen Budiarjo) dan opsir Udara II Muharto.
  681. Keempat, pesawat "Seulawah RI-001" tujuan Rangoon.Birma. Penerbang Opsir Udara II Wiweko Soepono bersama crew.
  682. Dana Sultan Siak
  683. 64-*) Prof. A. Hasjmy dalam makalahnya pada seminar/musyawarah Besar TPI Pejuang
  684. 45 berjudul "Divisi Rencong di Medan Area", Medan 15 Januari, 1989.
  685. Tahun 1946, Sultan Syarif Qassim berangkat ke Medan menemui Gubernur
  686. Sumatera, Mr. T. Moh. Hassan membicarakan status Siak Sri Indrapura dalam lingkun- gan Republik Indonesia.
  687. Waktu itu di Medan sedang berkecamuk Revolusi Sosial, yang menjadi sasaran adalah kaum bangsawan (feodal).
  688. Rakyat Sumatera Timur tahu Sultan Siak dilindungi Gubernur Mr. T.M. Hassan,
  689. tapi mereka belum tahu, kalau sang Sultan juga adalah Republikein.
  690. Sultan masuk ke Aceh tanggal 10 September 1947 dengan mendapat kehormatan.
  691. Seluruh harta bendanya yang relatif banyak, juga dibawa serta.
  692. Akhirnya bulan Oktober 1949 Sultan Siak dengan Permaisuri disertai pengiring
  693. Tuanku Mahmud dan Zaini Bakri berangkat ke Yogyakarta dan Presiden Soekarno menyambutnya dengan penuh kehormatan.
  694. Astaghfirullah!
  695. Radio Perjuangan "Rimba Raya"
  696. Alasan Pertama
  697. Takengon dalam rangka peringatan Hari Pemuda tanggal 28 Oktober 1987.
  698. PERMNcZ itvl ttZ r<™ b™Z»»«» monumen RADIO
  699. Alasan Ketiga
  700. Keberhasilan "Perlawanan Rakyat Semesta"
  701. Kita sayangkan sikap Belanda yang kelim memandang kita sehingga dengan ter-
  702. Kasus-kasus seperti ini banyak terjadi, sehingga serdadu Belanda frustasi.
  703. Ternyata Belanda sendiri tidak siap berlama-lama terjun dalam perang gerilya jangka panjang.
  704. Hikmah yang terkandung dalam peristiwa itu adalah terbentuknya "public opinion"
  705. dunia, bahwa Indonesia bukanlah negara extremis atau komunis, seperti yang digembar- gemborkan Belanda selama ini.
  706. Ketiga
  707. Keempat
  708. Kelima
  709. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.
  710. PIMPINAN DIVISI V/TKR KOMANDEMEN SUMATERA.
  711. (D STA F DIVISI V / TRI KOMANDEMEN SUMATERA.
  712. Tanggal 22 Maret 1873 Pemerintah Hindia Belanda di Batavia mengirim armada
  713. kapal perang "Citadel Van Antwerpen" dengan kesatuan angkatan perang yang dipimpin Mayor Jenderal JHR Kohier.
  714. Kesatuan terdiri dari 168 orang perwira, 3.200 serdadu lengkap persenjataan.
  715. Dalam armada itu juga turut seorang utusan pemerintah Hindia Belanda,
  716. Nieuwenhuizen untuk berunding dengan Sultan Aceh supaya tunduk dan mengakui kekuasaan Hindia Belanda di Aceh.
  717. Ajakan itu ditolak, karena dinilai telah menyalahi perjanjian
  718. meletusnya perang Aceh-Belanda, tanggal 8 April 1873.
  719. Perang frontal yang panjang berlangsung sampai tahun 1904, setelah Jenderal Van
  720. Daalen menduduki dataran tinggi pegunungan Gayo-Alas.
  721. Ini dapat diikuti dari lintasan sejarah di bawah ini.
  722. a. Perang Keureutoe.
  723. b. Perang Bakongan.
  724. c. Tangsi Blangkejeren digempur.
  725. d. Pemberontakan Lhong.
  726. e. "Aceh Moord"
  727. a. Pemberontak Bayu
  728. b. Pemberontakan Pandrah
  729. (CP-4) KOMPOSISI DAN PERSONALIA LASKAR PERJUANGAN DI ACEH
  730. A. Staf Divisi
  731. B. Staf Resimen
  732. a. Resimen I Aceh Besar di Kutaraja
  733. b. Resimen II Aceh Pidie di Sigli
  734. c. Resimen III Bireuen-Lhok Seumawe-Langsa
  735. d. Resimen IV Aceh Barat di Meulaboh
  736. BARISAN HISBULLAH DAERAH ACEH
  737. (II). DIVISI RENCONG
  738. A. PIMPINAN DIVISI
  739. B. PIMPINAN RESIMEN
  740. Z a h a r a.
  741. BATALYON ARTILERI ISTIMEWA
  742. a. Resimen Pocut Baren (Laskar Wanita) di Kutaraja
  743. c. Resimen II di Sigli
  744. d. Resimen in Lhok Seumawe
  745. e. Resimen IV Aceh Tengah
  746. f. Resimen V Aceh Timur, Langsa
  747. H. Daud Dariah. T.H. Iskandar.
  748. DIVISI TGK. CIK PAYA BAKONG
  749. B. Komandan Batalyon "Berani Mati"
  750. Amin R.P.D.
  751. Anggota Staf "Tentara Perjuangan Rakyat" (TPR)
  752. D. Staf Istimewa/Mobilisasi
  753. E. Staf Istimewa/Mobilisasi Wanita
  754. F. Penasihat
  755. (CP-5)
  756. Kompi-2 di Langsa, Komandan Letda. A. Hanafiah.
  757. Kompi-3 di Peurelak, Komandan Letda. Daud Malem.
  758. Kompi-4 di Peurelak, Komandan Letda. Dahlan.
  759. 282.
  760. (Buku Dua Whindu Kodam-I/Iskandar Muda).
  761. kepada masyarakat Aceh secara luas. Menjelaskan arti Proklamasi 17 Agustus
  762. 1945 untuk membangun masyarakat Indonesia yang adil, makmur dan merata berlandaskan Pancasila.
  763. 290 ..
  764. Tïba s^«-tl>A^i.Ky^,^u^u.»»/t>e>,tti>uv) s«t ^e^; &tr^w!u^-J?uiuh muxuk.tvitKj^.»tL ^o/t«Kk<-'T-': i... __. -~Tt.|tC föi.ft.|^w/-in +e.^«W, f>^'+«v^i ju^ t 3«.t'aivjl^uK.'7t^ • ~** *., ttet^t>n«+ "A^uk'tew.t^^^lc.cieiv, levK^R.'ti.otn.t i^f i- feeVotayc*.-...** _. ï'er+ewsbu.if^t-v Sulwtomat. +>cV^|» Iwni ïvure^i.'., **levyxb^f-tw sej-^i'^t&v. Pet» +**1 w i. _ TAA4AH KARO I7^a-19^Q Z. KEJORA
  765. Sumber: - Makalah "Peranan rakyat Aceh Tengah (Gayo-Alas) dalam
  766. (CP-9)
  767. (IV). SEJARAH PERJUANGAN BERSENJATA TENTARA PELAJAR ACEH "KOMANDO T.P.I. RESIMEN ACEH / DIVISI X T.N.1."
  768. PENASEHAT
  769. 1. Letnan Kolonel Husin Jusuf.
  770. 2. Letnan Kolonel Tjekmat Rahmany.
  771. 3. Letnan Kolonel Ayah Gani.
  772. 4. Kapten Moedjihardjo.
  773. PENDIRI 1. Sulaiman Hamzah. 2. A.K. Jakobi.
  774. I £ 3 1 II M
  775. s § £ 6 il B ^ 8-
  776. i^ï l i
  777. -c _J u s
  778. •§ ^ 1 Is "« « I 3 -3
  779. ^ ft- S ^ -S
  780. 11 l I i 5
  781. B §11 1 1
  782. ^ 1 3 « ^ H.
  783. i. sj J c f- g 1
  784. I £ « § g i J t
  785. R .* § .s ^ ~ c°
  786. |m< § s -s -2
  787. s 4* a. o
  788. S £ g 5
  789. 1 ^ S E S j
  790. 11111
  791. « Ji c< ^
  792. (D). BATALYON-IV
  793. (Berkedudukan di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat).
  794. | H 3. § |lr| I s
  795. ^§• ^^| ra-s-? § §
  796. ^' 5| ^ s 1 "8 1 *
  797. ^tri sn-s-:! :
  798. 1 S| j 3.|f |1
  799. *M lal-1!!-
  800. £ § H. - ---- lil £ i-• ï £
  801. I 3 § * ft » § f §!»r 8. 1 2:^ §. §
  802. ci--10) FORMASI STAF KOMANDEMEN SUMATERA SERTA DIVISI
  803. 1). Antara 3 Juli 1946 sampai dengan 9 Februari 1947
  804. 1. Sub Komandemen-I.
  805. 3. Divisi Garuda II.
  806. 5. Sub Komandemen II.
  807. (II). Antara 10 Februari sampai dengan Juli 1947.
  808. a. Komandemen Tentara Sumatera.
  809. b. Divisi VIII.
  810. 2. Resimen-42.
  811. 4. Resimen-44.
  812. c. ALRI Sumatera Selatan.
  813. d. Divisi IX.
  814. Pasukan:
  815. 1. Resimen-1.
  816. 3. Resimen-3.
  817. 4. Resimen-4
  818. e. Brigade XI.
  819. Pasukan:
  820. 1. Resimen-1.
  821. f. ALRI Sumatera Selatan.
  822. g. Divisi X.
  823. DATA & FAKTA
  824. KEPUSTAKAAN
  825. INDEKS NAMA
  826. Azizah, A.R., 296
  827. Cut Usman, 121,132,150
  828. Douglas Pennant, C.E., 259
  829. Kureiwa, 49, 66, 93, 132, 180
  830. RIWAYAT HIDUP A.K. JAKOBI

Tgk. A.K. Jakobi

radiogram dari panglima sumatera untuk pemimpin-pemimpin rakyat aceh S pengembalian kota medan terletak ditangan saudara-saudara segenap penduduk aceh titik

jangan sangsi titik

alirkan terus kekuatan aceh ke medan dan jangan berhenti sebelum medan jatuh titik habis

soehardjo hardjo wardoyo mayor jenderal tni-ad

Penerbit : Yayasan "Seulawah" RI - 001 I PT. Pelita Persatuan-Jakarta

BIBLIOTHEEK KITLV

0091 7474

2-3195-N

OMHAX

Tgk. A. K. Jakobi

ACEH DAERAH MODA L

Long March Ke Medan Area

YAYASAN "Seulawah RI-001" Jakarta, 09 September 1992

ACEH

DAERAH MODA L

Lorig March Ke Medan Area

Oleh : Tgk. A.K. Jakobi

Diterbitkan oleh

Yayasan "Seulawah RI-001"

Jalan Bunga Rampai VII/252

Malaka Jaya, Jakarta Timur 13460

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dicetak oleh

P.T. Yudha Gama Corporation

Perpustakaan Nasiona) : katalog dalam terbitan (KOI ) Jakobi, A.K. Teungku. ACEH DAERAH MODA L Long March Ke Medan Area Cetakan perlama : Jakaria 09. 09. J992

P.-nerbit : Yayasan "Seulawah RI-001"/ PL Pelita Persatuan xxvii + 380 hal. 16 x 24 cm.

KEHARIBAAN

Arwah Syuhadak Pahlawan Nasional Tak Dikenal

Sepatah Kata

Kehadiran buku ini patut mendapat sambutan karena penulisnya — Sdr. A.K. Jakobi — adalah salah seorang pelaku dan juga saksi serta nara sumber yang masih cukup sehat dalam menyampaikan rekaman tcntang peran dan-peranan kejuangan rakyat Aceh di front "Medan Area".

Buku. ini memang memusatkan peranan kejuangan rakyat Aceh di front "Medan Area" sebagai salah satu rangkaian kancah perang di dalam Perang Kemerdekaan. Namun idemikian tidak berarti bahwa buku ini hanya akan menonjolkan suatu rasa kedaerahan yang sempit karena rekaman ini jelas merupakan suatu fenomena sejarah yang saling bertaut dcngan nilcd-nilai Kébangsaan Indonesia yang utuh.

Kejuangan dan kebcradaan rakyat Aceh di front "Medan Area" bukan hanya sebuah episode lokal tetapi ia adalah bagian yang tak terlepaskan dari perjuangan Nasional secara menyeluruh.

Bahxoa kehadiran rakyat Aceh antara leun di front "Medan Area" lebih merupakan kewajiban untuk memenuhi panggilan Ibu Pertiivi atas dasar keinginan luhur untuk berkehidupan kébangsaan serta tanggung jawab bersama guna melindungi segenap tanah tumpah darah Indonesia.

Dengan hadirnya buku ini diharapkan disamping khasanah kepustakaan Sejarah Nasional akan dapat diperkaya juga untuk menggugah minat para ahlinya agar dapat mengolah sejumlah rekaman lain dalam Pei-ang Kemerdekaan yang telah disumbangkan oleh rakyat Aceh.

Insya Allah dengan pcngalaman masa lalu akan dapat menjadikan kita lebih arif dihari ini dan dimasa mendatang.

Terima kasih.

Jakarta, Hari Pahlawan 10 Nopembcr 1991

BUSTANIL AR1FIN, S.H.

Sambutan

Ketua Umum

Legiun Veteran R I

Pada Penerbitan

BUKU "ACEH DAERAH MODAL"

Saudara A.K. Jakobi, selaku Ketua Yayasan "SEULAWAH Rl-001" minta saya menyambut penerbitan sebuah buku yang ditulisnya dengan judul "ACEH DAERAH MODAL".

Buku sejarah ini bertutur tentang peranan daerah Aceh dalam perang kemerdekaan Republik Indonesia, sebagai satu-satunya wilayah provinsi Republik Indonesia yang masih utuh, tidak diduduki Belanda.

Oleh karena itu, dalam situasi yang gaiuat, antara hidup atau mati "to be or nat to be", Bung Karno Presiden RI pertama, terbang ke Aceh dan dari Tanah Rencong itu liung Karno me- ngumumkan kepada dunia, bahzva Republik In- donesia masih exist, ra membantah isyu yang dilontarkan Belanda bahwa Repuhhk h, donesia sudah collapse.

Dalam buku itu juga dikisahkan partisipasi para pejuang Indonesia dan daerah Aceh dalam pertempuran di front Medan Area, Langkat Area da,t Tanah Karo Area. KZUS^LJ-RESIMEN ISTIMEWA MEDAN AREA (RIMA) yang bermarkas di kota Binjai dan Komando Sektor Barat Oetara (KSBO).

Saya menghargai penulisan buku sajarah perjuangan seperti itu, apalagi ditulis oleh pelaku sejarah itu Jndiri. Waktu ini masih cukup banyak para pelaku sejarah dan sak mata yang masih hidup dengan tingkat kesehatan yang masih baik danmemadai.Tap memUiki budi luhur, dfsamping kadar kesetiakaauanan sosialnya yang tak pernah luntur.

Merekalah nara sumber yang dapat meluruskan kebenaran sejarah kejuangan rakyat Aceh di front Medan Area dan KSBO. ' Apa sebab saya katakan begitu ?. Ti „,(t.m. Untuk mencegah kemungkinan terjadinya simpang stut dan kegalauan. Terutama ; ditlam menemukan ketepatan dan kecermatan data dan anahs sejarah kejuangan. Suvayajangan sampai terjadi, misalnya seorang pengecut kaki tangan NICA atau Poh An Tui, tiba-tiba muncul dan berani membusungkan dada sebagai pejuang. Atau sebagai vetéran, bahkan menjadi pahlawan. Atau seor. g pengkhianat menjelma jaè sahahat.

vi

Sebalihiya,jangan pula sampai terjadi seorang pejuang tulen dan patriot Medan Area, sampai tersisih sebagai sampah. Bahkan dinafikan sumbangsih kejuangannya, karena ia bukan penguasa atau orang tak berpunya.

Menurut hernat saya, kehadiran pejuang Aceh ke front Medan Area, adalah karena terpanggil sebagai patriot, cinta tanah air dan memiliki rasa solidaritas sosial yang tinggi untuk mewujudkan makna dan nilai kebersamaan dan kesetiakawanan sosial, sebagai mana tersimpul dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Int berarti, kejuangan dan keberadaan rakyat Aceh di front Medan Area, bukanlah sebuah episode lokal dari suatu suku bangsa atau daerah, tetapi tak terlepas kaitannya dengan perjuangan nasional secara menyeluruh dalam cakupan pengertian wawasan kébangsaan. Sejarah pertempuran di front "Medan Area", memang diakui oleh pihak Belanda sendiri sebagai suatu pertarungan yang menentukan dan mereka menemukan perlawanan yang gagahberani. Terbukti banyaknya putera-putera bangsa yang terbaik syahid di medan laga, mes- kipun persenjataan tidak berimbang.

Memang front pertempuran "Medan Area" cukup "uniek", merupakan barometer yang sangat menentukan dan dipertaruhkan untuk kawasan Sumatera. Oleh sebab itulah semua kekuatan di Sumatera bagian utara ini secara spontan mcngalir dan ambil bagian dalam kancah pertempuran itu.

Dalam konteks ini, pada tempatnya juga kalau saya menyampaikan salut kepada rekan-rekan Pejuang 45 yang datang dari Tanah Rencong, bahu membahu menghadapi kolonialisme Belanda yang sedang sekarat.

Sebagai Pejuang 45, yang memimpin peilawanan rakyat semesta di sekitar front Medan Area ini, ingin saya sampaikan pesan khusus kepada para generasi penerus untuk melestarikan nilai kejuangan 45 yang tak kenal menyerah dalam memupuk dan menyemen peisatuan dan kesatuan bangsa.

Perjalanan sejarah bangsa kita masih panjang untuk merampungkan kesejahteraan hidup rakyat yang adil dan merata.

Di dejnw kita kini menanti pembangunan nasional jan gka panjang talvip kedua.

Untuk menjamin kebtrhasilan mencapai lepas landas itu, lebih dari segalanya harus 'éih dahulu dilakukan pemantapan persatuan dan kesatuan bangsa dalam hidup ber- uisyarakat, bci'hangsa dan bernegara berdnrr. Kan Pancasila dan Undang-Undang Dasar

Sekian dan selqmat beijuang.

Jakarta, IQ November 1991 MARKAS BESAR LVR1

ACHMAD TAHIR

LetnanJenderal TNI-AD (Purn)

vii

Sambutan

Gubernur Istiniewa Aceh

Saya gembira dan menyambut baik penulisan buku sejarah ini, yang didalamnya bukan saja telah dilukiskan keterlibatan rakyat Aceh membantu saudara-saudaranya dalam berbagai pertempuran di front Medan Area, Langkat Area dan Karo Area. Tapi juga menyingkap momentum sejarah pentrng lainnya yang uniek, se)erti yang sering disehut "ACEH DAERAH MODAL", "B1REUEN KOTA PERJUANGAN" dan istilah lainnya yang menyebut Aceh sebagai satu-satunya alternatif untuk mempelopori kembali verlawanan rakyat semesta mengusir penjajahan Belanda dari daerah pendudukan.

Seperti diketahui, memasuki tahun 1948 se jak ditandatanganinya perjanjian "Renville" 17 Januari 1948 antara Indonesia-Belanda sampai penghujung tahun 1948, sikap dan tingkah laku Belanda luar biasa galak ingin mencaplok dan membubarkan Republik Indonesia. Sejak saat itu berbagai negara "boneka" didirikan Belanda tnenxciwnr zvilayali Rl, seluruh ihukota incnnnsi di Indonesia telah dapat didudukinya. Kecuah satu-satunya zuilayali propinsi Rl yang masih utuh dan bcrtahan, tidak diduduki Belanda adalah daerah propinsi Aceh.

Oleh sebid) itulah Bung Karno, Presiden Rl perlama, terbang ke Aceh dan dari sini Bung Karno memproklamasikan ke seluruh dunia bahzva Rl masih survivc dan akan terus berjuang menyapu kolonialisme Belanda dari bumi Indonesia, meski Rl tinggal selebar payung.

Dari sini pulalah Bung Karno menumpahkan harapannya supaya bumi Tanah Rencong sebagai lazvan bebuyutan Belanda dalam perang Aceh-Belanda di masa lalu, kembali berperan dan mengambil revanche terluidaj) kolonialisme Belanda, yang ingin menjajah kita kembali.

"Aceh Daerah Modal", begitu kata Bung Karno dalam zoejangannya pada rapat samude-ra di Blang Padang dan lapangan kota Asan di Sigli tanggal 16 juni 1948 dan di Bireuen-"kota Pajuangan " tanggal 17 Juni 1948.

Modal untuk menauskan perjuangan dan cita-cita kemerdekaan yang telah diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Setelah Bung Karno "memtipkan " Republik Indonesia kepada Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, Jendei al Mayor Teungku Mohd. Daud Bereueh, maka di kalangan pimpman militer di daerah ini masa itu, segera menjaliarkan instruksi Panglima Besar Jenderal Sudirman.

viii

Instruksi berisi keputusan untuk melancarkan perang gerilya jangka panjang. Atau dengan istilah militer yang baku dikenal dengan sebutan "Perlawdnan Rakyat Semesta" berdasarkan "Doktrin Perang Wilayah ".

Dan benar saja, ketika Belanda melancarkan agresi militer kedua tanggal 19 pesember 1948, menyerbu dan menduduki ibukota negara Yogyakarta serta menangkai, Soekarno-Hatta, maka jenderal Sudirman dalam keadaan sakit sekali pun menyatakan sikapnya untuk memimpin perang gerilya bersama rakyat Indonesia.

Seiring dengan itu, para Kepala Staf Angkatan hijrah pula ke Aceh untuk ènengarahkan mobdisasi mesin perang gerilya yang telah dipersiapkan sebelumnya. Sesuai kesepakatan yang telah ditetapkan untuk melaksanakan Perlaiuanan rakyat Semesta berdasarkan Doktrin Perang Wilayah.

  • Dr. van Mook membuat perhitungan yang ambisius, sekitar seminggu atau sepuluh han setelah agresi militer kedua, Rl bisa ditumpas, setidak-tidaknya dibuat tidak berkutik. Behingga dalam perundingan yang telah diprogramkannya tanggal l januari 1949, Rl Wapat didikte dalam pembentukan Uni lndonesia-Belanda yang dikqialai Belanda dengan hnggota Indonesia dan BEO (negara-negara federal yang dibentuk Belanda di wilayah Rl). Ternyata lamunan Dr. van Mook sirna dan lenyap bersamaan dengan kegagalan yang menimpa dan dibebastugaskannya dirinya oleh pemerintah Belanda Den Haag. Nah, dalam situasi krisis sejierti inilah, daerah Aceh tampil berperan dan mengambil ahh pimpinan untuk menggoyah satu persatu negara federal yang dibentuk ^elanda. Perhnuanan ini ditakukan secara terpadu dari luar dan dalam bersama-sama dengan kaum "Rqmblikein " yang ada di daerah pendudukan itu sendiri. Saya menilai penulisan buku sejarah ini, yang justru ditulis pelaku sejarah itu sendiri,., mulat dismgkapkan latar belakang dan tonggak-tonggak sejarah yang berhasil mcndukung peijuangan menegakkan dan mengawal Proklamasi 17 Agustus 1945. Masalah im saya ungkapkan, supaya generasi penerus dapat memahami dan htemetik hikmah untuk kemudtan dilestarikan sebagai amanah nenek moyang. Bahwa Mceh punya saham, punya modal untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan tnenegakkan Proklamasi 27 Agustus 1945. Oleh sebab itu seluruh anakcucu dan turunan l'lskandar Muda" harus "istiqamah" dan memegang teguh "commitment" I *y<ng telah diwariskan nenek moyang kita terdahulu. ïni berarti, kalau nenek moyang kita telah berbuat sesuatu yang positip untuk fnenyelamatkan Rl pada zamannya, maka giliran berikutnya adalah kexuajiban para igenerasi penerus untuk membela dan mengisi wadah negara kesatuan ini dalam hidup bermasyarakat, bcrbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila, UUD 1945 dan diridhai Allah SWT. Jakarta 10 Nopember 1991
    GUBERNUR 1STIMEWA ACEH

Prof. Dr. H. Ibrahim Hasan, MBA

ix

Sekapur Sirih Dari Pengarang

(I)
SEYOGYANYA penulisan sejarè pergolakan sosial juga menyangkut stm tentang struktur, zoujud organisasi dan prost tindakan yang diambil secara timbal balk Baik yang telah terjadi sebelumnya, terekm atau tercatat dalam kaitan sosio-kultural mm lalu. Dan seyogyanya pula penyajk ditampilkan secara analitis dan komprehensij.

Apa yang hendek disajikan daim penulisan buku sejarah ini, tidak lebih sekedü merekam, mencatat dan menganahsis bcrbagt aspck yang menonjol dan aktual dari aktivik sosial dalam jangka waktu tertenh Khususnya pergolakan dinamika masyarak; yang sedang berubah, sebagai produk dari, suatu momentum yang bernilai sejarah. Yatm adanya Proklamasi 17 Agustus 1945, yam menaiuarkan kehidupan lebih demokratis, lebït sejahtera dan lebih manusiawi, yatli "kemerdekaan-kebebasan-kedau latan".

Penulisan buku sejarah peijuangaii rakyat Indonesia di Bumi "Iskandar Muda" iw memang diupayakan tersaji secara b'onologis, meskipun tidaklah terlalu persis Setidak-tidaknya tersalur dalam alur waktu dan peristizva yang agak berurutan, sehingg, lebih mudah mengikutinya. Ada benang kuning yang menating alur cerita.

Dalam buku ini ditayangkan secercah sejarah perjuangan nasional merebut da menegakkan kemerdekaiin di Tanah Rencong dalam kurun zuaktu Perang Kemerdekaan ü 2945-1949.

Masih banyak butir-butir sejarah yang bernilai "mutiara", belum terungkap secar< rinci. Sedangkan peristiwa itu bernilai nasional, meski pun kejadian "i di tingkat regional.

Misalnya "Revolusi Desember" 1945 yang teijadi di kaliupaten Pidie. Kam Rejiublikein dengan gagah berani telah berhasil menumpas pengkhianatan Teuku M. Dau. Cumbok, yang telah mencoba menggelar permadani "kuning" menyambut utusan Rat Juliana. Diperkirakan 800-an jizua melayang, milyaran hartabenda punah. Demikian jug peristhoa datangnya dua batalyon Jepang dengan persenjataan modeien dan lengkap> da Medan menyerbu kota-kota di Aceh Timur untuk merebut kembali senjata dan mendudul daerah itu atas perintah NICA/Sckutu.

Untung saja kedua peristizua kelabu itu dapat "dijinakkan" oleh pejuang 4 bersama rakyat. Kalau tidak, niscaya jalannya sejarah Republik Indonesia akan lain.

Alluimdulillah, kita panjatkan puji-pujian ke hadhirat Allah SWT yang teh melindungi dan menyelamatkan kita semua.

X

Juga kehadiran begitu penting Bung Karno, Presiden Rl pertama, yang sengaja memerlukan datang ke Tanah Rencong medio Juni 1948. Justru di saat situasi dan kondisi Republik sedanggaiuat-gaxuatnya berada antara hidup dan mati (to be or not to be).

Ternyata kunjungan itu memendam makna yang sangat dalam dan agung. Berbagai pesan-pesan dan petuah-petuah yang beinilai sejarah harus diperankan oleh Aceh. Ini bukan ucapan klise. Sumbemya juga jelas, langsung dari mulut Orang Nomor Satu Rl waktu itu. Dari orang yang bertanggungjazvab atas kelangsungan dan kélestarian bangsa-negara Rlberdasar Pancasila dan UUD 1945.

Satu mission yang tidak képalang tanggung, dibebankan di pundak Aceh. Opo ara hebat ?

Masalah ini kita angkat kembali untuk dikaji lagi, semoga dapat dijadikan bahan masukan dan renungan. Setidak-tidaknya dapat menghindarkan kita dari salah paham atau terhindar dari kemungkinan terjadinya 'missing link" (adanya mata rantai yang hilang) dalam penyusunan sejarah nasional Perang Kemerdekaan Rl 1945-1949.

(U)
Sejak ditandatangani pajanjian yang dibuat di Tanjung Priuk, Jakarta dalam perundingan di atas kopal "Renville" tanggal 17 Januari 1948, mulai saat itu Belanda secara menggebu-gebu dengan segala cara betul-betul ingin mengeliminir Rl dari peta politik dunia

Dengan pajanjian Renville itu, Belanda tampaknya scolali punya legalitas lagi untuk meng-claim bekas Hindia Belanda itu sebagai miliknya. Ini berasal dari perjqnjian Renville yang merugikan itu, yang mengakui kekuasaan de jure Belanda atas Indonesia. Sedangkan Belanda mengakui kekuasaan defacto Indonesia atas pulau Jazva dan Sumatera.

Dengan landasan hukum baru itu, Belanda memforsir hendak meyakinkan dunia dengan mencoba mengambil alih kekuasaan de facto atas pulau Jtnoa dan Sumatera. Ini dibuktikan dan diujniyakunnya leivat perundingan-perundingan di antara negara-negma "boneka" yang dibentuknya di pulau Jazva dan Sumatera.

Proses ini berlanjul sampai lerjadi agresi militer II Belanda atas Indonesia dengan menyerang dan merebut ibukota Yogyakarta dan menangkap Soekarno-Hatta dan pemimpin Rl lainnya.

(III)

Gebrakan itu lebih bersahaja, tapi kongkret. Bung Karno menantang rakyat Aceh menyediakan sebuah pesazvat terbang untuk menerobos blokade udara Belanda yang menghimpit dan mencekik leher. Baluiya yang mengancam Repulilik sangat besar, sehingga perlu segera ditanggulangi. Terobosan ini dinilai oleh Bung Karno sebagai satu-satunya cara yang paling efektif dan mendesak (urgent).

Ternyata respons rakyat Aceh atas tantangan Bung Karno ini, cukup meyakinkan dan mengharukannya. Kalau Bung Karno hanya minta sebuah pesazvat, maka rakyat Aceh dalam situasi sulit dan pancaroba mampu menyerahkan uang dan harta benda untuk. membeli dua buah pesazvat terbang, yang kemudian diberi nama oleh Bung Karno sendiri dengan "Seulazvah RI-001 " dan Seulazvah RI-002 ".

xi

Kedua pesazvat ini kemudian diopcrasikan di luar negeri. Yang satu mundar-mandir Indonesia-lndia dan sekitarnya. Yang satu lagi dikaryakan di Birma (Myanmar, sekarang) dikomersilkan atau dicharter oleh pemerintah Birma, sehingga pesazvat ini melahirkan pesazvat lain dan hasil dari operasi mereka dipergunakan untuk membantu anggaran belanja perzvakilan kita yang ada di luar negeri. Karena zoaktu itu hubungan putus antara Pemerintah Pusat di Yogyakarta dengan Perzvakilan kita di luar negeri. Satu-satunya komunikasi yang dapat dilalui adalah lezvat Aceh dengan Radio Perjuangan "Rimba Raya" yang beroperasi di dataran tinggi pegunungan Gayo di Takengon, Aceh Tengah.

Melalui Radio Perjuangan "Rimba Raya " (RR) inilah dapat dijalin hubungan segitiga untuk meneruskan pesan-pesan dan informasi timbal balik. Yaitu segitiga RR-PDRI, RR-Hutan-hutan Yogyakarta, dan RR-Dr. Soedarsono (Perzvakilan Rl di India).

Peranan Radio Perjuangan "Rimba Raya" (RR) yang strategis ini pula yang berhasil mengcounter suara Radio "Batavia" di Betazvi, Radio Belanda di Medan, Sabang, bahkan Hilversium di negeri Belanda yang menafikan perjuangan Republik, yang menuduhnya telah koma (collapse).

Juga Serangan Fajar 1 Maret 1949 yang bersejarah itu, berhasil ditayangkan "RR" ke luar negeri lezvat dubes kita Soedarsono di India. Sejjerti diketalmi Serangan Fajar tersebut dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto (sekarang Presiden Rl) dan dapat menduduki kota Yogyakarta selama enamjam.

Keadaan Rl zvaktu itu benar-benar seperti yang diucapkan Bung Karno "to be or nol to be" Acehlah satu-satunya alternatif yang beidasar latar belakang sejarah dan potensi riil pada saat ini yang mampu bertindak sebagai basis untuk menggerakkan perang semesta. Dalam mengantisipasi situasi gazvat itulah Bung Karno terbang ke Tanah Rencong, satu-satunya zvilayah propinsi Rl yang masih utuh tidak dikangkangi Belanda. Keliadiran Bung Karno ke Aceh bulan Juni 1948 itu, seperti yang dijelaskannya, sengaja jauh-jauh datang ingin bertemu dan bicara dengan rakyat Aceh di Kutaraja, Sigli dan Bireuen. Bung Karno akui Aceh punya daya tarik dan menyimpan kekuatan batin yang teramat dalisyat, khusus- nya mengluidajn kolonialisme Belanda sebagai seteru dibazva mati.

Nah, kekuatan lahir maupun kekuatan batin ini yang perlu kita bangunkan kembali, ucap Bung Karno.

Selama berada di Aceh, Bung Karno benar-benar telah melakukan iangkah-langkah yang kongkret berupa gebrakan-gebrakan yang effektif.

Gebrakan pertama, adanya dialog terbuka antara Bung Karno dengan Teungku Bereueh di kota Bireuen di markus Divisi X TNI Komandemen Sumatera. Di sini Bung Karno menegaskan gazvatnya situasi Rl dan Aceh perlu larrnnl menolong situasi yang keruh itu. Tidak ada alternatif lain, hanya daerah Aceh dalam situasi seperti ini yang dapat diharapkan untuk mempelopori perlazvanan rakyat semesta guna meneruskan cita dan perjuangan kemerdekaan 17 Agustus 1945 berdasar Pancasiladan UUD 1945.

Di sini pulalali laJiirnya untuk perlama kalinya istilah bersayap "Aceh Daerah Modal" untuk mmgusir kolonialisme Belanda dari bumi Indonesia. bersama seluruh rakyat di pedalaman yang diduduki Belanda, Insya Allah kita akan menemukan diri kembali.

Berbagai kala pujian dan sanjungan diberikan Bung Karno kepada "Sei-ambi Mekah", melukiskan perlazvanan yang kesatria dan patriotik dari rakyat Aceh dalam menentang penjajahan Belanda sejak dulu kala di zaman nenek moyang. Dan kini sejarah itu berulang lagi, kata Bung Karno, sehingga tidak ada pilihan lain bagi rakyat Aceh, kecuali harus menebus dan melanjutkan peijuangan untuk mengusir penjajahan Belanda dari persada tercinta ini, sesuai dengan amanah nenek moyang.

xii

Bukan sekedar pujian, bukan pula tanpa alasan, Bung Karno menilai peranan dan saham rakyat Aceh dalam situasi Rl yang kritis, labiel. Ini semuanya dilandasi fakta dan realita bahioa satu-satunya wilayah propinsi Rl yang masih utuh belum diduduki Belanda adalah Bumi Iskandar Muda. justru dari sinilah seyogyanya dikonsolidasi dan digerakkan perlawanan terakhir untuk mengusir dan membebaskan tanah air dari penjajalvm Belanda.

Keberhasilan Serangan Fajar 1 Maret 1949, telah membuka mata dunia tentang eksistensi Rl dengan ABRl-nya yang mampu memberikan pukulan yang mematikan bagi pasukan Belanda. Karena Belanda sebelumnya telah menuduh Rl dan TNl sudah tersingkir. Mereka berkoar seolah Republik sudah mat' •

Radio Perjuangan "Rimba Raya" (RR) menayangkan informasi itu ke dalam negeri (PDR1) dan ke luar negeri (Dubes Dr. Soedarsono di India) melalui dua cara. Yaitu radio siaran dan kemudian radio telefoni. Dari India, berita ini berkembang ke Perzvakilan kita di PBB dan seluruh dunia baru tahu bahwa isyu yang dilemparkan Belanda tentang Indonesia adalah bohong, tidak berdasar.

(IV)

Sebagai tindak lanjut dialog Bung Karno-Teungku Mohd. Daud Bereueh, yang diazoali di kota Bireuen dan kemudian dilanjutkan di pendopo, mahligou Gubernuran di Kutaraja, maka lahirlah kemudian opa yang disebut "Bireuen Agreement" (Perjanjian Bireuen). Yang memuat rumusan dan penjabaran kerangka strategi dasar "Perang Rakyat semesta" berdasar "Doktrin Perang Wilayah ", yang tercakup dalam lima aspek kegiatan.

Perjanjian ini dirumuskan oleh ketiga tokoh pimpinan militer "Teungku Bereueh-Husin Jusuf-Chikmat Rahmany".

Meski pun Kolonel Husin jusuf tidak berfungsi sebagai Komandan Divisi X FNl-karena dijabat sementara oleh Gubernur Militer Teungku Bereueh-namun dalam masalah-masalah militer yang besar, pikiran dan pertimbangan Kolonel Flusin jusuf tetap diperlukan oleh Gubernur Militer.

Husin jusuf di kalangan rekan-rekan dekatnya lebih akrab dengan panggilan "H.j. Bop". Artinya Husin jusuf "Bopeng". karena mukanya penuh bopeng-bopeng yang terkesan "angker" dengan lagaknya yang sok nyentrik tapi tetap berzoibazva. Kalau ada sang komandan yang melaporkan jatuhnya suatu kota atau pertalianan direbut serdadu Belanda, maka jazvaban dan instruksi yang meluncur dengan cepat dari mulutnya cukup singkat dan tegas : "Cok lom" / Yang membuat sang pelapor pusing tujuh keliling. "Cok Lom" artinya "Rebut lagi". Seolah begitu gampang, bagaikan membalik telapak tangan saja. Begitulah semangat dan tekadnya yang membaja, tak boleh satu milimeter pun tapal batas zvilayahnya diinjak apalagi direbut serdadu Belanda.

"Bravo H.j. Bop" !

Kelima aspek kegiatan yang tercakup dalam strategi dasar "Perlawanan Rakyat Semesta " dan teijabar dalam "Perjanjian Bireuen " adalah sebagai berikut:

1. Mobilisasi umum dengan konsepsi "Perang Rakyat. Semesta" berdasarkan
Doktrin Perang Wilayah.

  1. Sasaran antara terus mengalirkan kekuatan, pasukan dan bantuan logistik untuk
    memenangkan pertempuran front "Medan Area" dan menggulingkan negara "boneka" Sumatera Timur yang dibentuk Dr. van Mook dengan Walt Negara Dr. Mansyur.

xiii

!

3. Membenahi dan memantapkan kelima hlang senjata yang ada di ^fAceh
sehingga mampu mandiri dan berfungsi memprodukst senjata dan suku cadang dan btbagai jems yang diperlukan untuk mendukung perang gerüya jangka panjang yang telah dipersiapkan.

Dalam konteks mi peranan Kapten John Lee sangat rnmdukung dan ^enenluknn yang memasok alat-alal perlengkapan mesin senjata dan bahan-bahan matenal yang diperlukan. Tugas kanten John Lee menyelundupkan dengan ^Mnya bahan-bahan strategis itu tercatat dengan tinta emas dalam sejarah Perang Kemerdekaan Rl 1945-1949.

4. Pengadaan pesazvat terbang "Seulazvah RI-001"** sebagai alat juang untuk*
menerobos blokade udara Belanda, yang ternyata juga mampu ^^^"" ^ beroperasi dan mengumpulkan dana perjuangan di tengah situasi dan kondisi Rl yang sedaug kritis.

Keberhasilan pesazvat terbang Seulazvah" inr kemudian berkembang menjadi perusahmn penerbangan "Garuda" yang mempelopon perusahaan penerbangan nasional.

Seperti diketahui, kelahiran pesazvat terbang "Seulazvah" ini berawal dan sumbangan uang rakyat Aceh yang ikhlas dan tulus untuk perjuangan menyelamatkan negara Pancasila.

5. Pengadaan siaran radio dengan tekanan tinggi, mampu mengcounter siaran radio
Belanda di Medan dan Sabang, yang menafikan perjuangan Republik. Ternyata ^jnudian Radio Perjuangan "Rimba Raya" yang terakhir berlokasi di dataran tmggz pegunungan Gayo di Takengon, Aceh Tengah, mampu pula mengcounter suara radio Belanda di Batavia dan Hilversium di negeri Belanda, secara beranhng melalui Perzvakilan Rl di India, dubes Dr. Soedarsono.

Kehadiran Radio "Rimba Raya" (RR) pada saat yang tepat telah banyak membantu program perang gerilya (Perlazvanan Rakyat Semesta). Karena dalam situasi Rl yang kritis, suara RR1 telah dibungkam di seluruh Indonesia oleh Belanda dan siarannya menjadi vacuüm. Pada saat yang sulit itulah radio perjuangan Rimba Raya berhasil memomtor satu-satunya media komumkasi massa yang men gfwbungkan poros Aceh-Soedarsono India, Aceh-PDRl dan Aceh-Radio Gerilya di Surakarta.

Bahkan "RR" pula dengan tanggap mampu menayangkan "Serangan Pajar" *tanggal 1 Maret 1949,tanggal **1** Maret **1949,** yang dipimpin Letnan Kolonel Soeharto (sekarang Prestden KI). Pasukan Pak Harto berhasil menduduki ibukota Yogyakarta selama 6 jam dengan disaksikan oleh Komisi Tiga-Negara dan Perzvakilan Asing yang ada di Yogyakarta.

Keberhasilan TM memukul Belanda di sarangnya mempunyai dampak positifyang luas d forum dunia internasional, sehingga PBB dan blok barat memprakarsai teraptanya perdamaian Indonesia-Belanda lezvat Konperensi Meja Bundar (KMB).

Keberhasilan "Perlawanan Rakyat Semesta" di dalam negeri yang telah digariskan Jenderal Sudirman, sangat dibantu oleh kecemerlangan siasat kaum diplomat kita di forum internasional dan PBB.

Kedua sisi perjuangan itu saling melengkapi, sehingga hasilnya pun luar biasa, berkat Rakhmat Allah SWT.

xiv

(V)
Penulisan buku ini sudah berlangsung hampir lima tahun persiapannya. Bermula sejak tanggal 8 April 1987. Waktu itu di kota Bireuen, Aceh Utara, diadakan "Apel Angkatan 45" dengan Inspektur Upacara Sesepuh Masyarakat Aceh, Letnan jenderal 'Purn) H. Bustanil Arifin, S.H., yang Menteri Koperasi/Ka.Bulog.

Dalam apel tersehut dilakukan peletakkan batu pertama pendirian monumen "Bireuen Kota Perjuangan ", yang diliadiri oleh para pejuang 45 dari seluruh dan luar Aceh.

Begitu penting peristhua ini. Karena mereka inilah yang tahu persis, opa yang terjadi disini selama Perang Kemerdekaan Rl 1945-1949 untuk menegakkan bendera MERAH PUTIHdan mengaxval serta mengamankan proklamasi Rl 17 Agustus 1945.

Mereka bernostalgia seraya memperbarui dan membulatkan tekadnya lagi untuk meneruskan perjuangan meningkatkanmartabat dan kesejahteraart hidup rakyat kecil. Mereka juga mengadakan perhitungan laba-rugi, sampai seberaim jauh Amanat Penderitaan Rakyat telah dilaksanakan dan tidakdiselewengkan.

Selesai upacara yang khidmat dan mengesankan itu, kita berbincang-bincang dengan Sesepuh Masyarakat Aceh untuk mengevaluasi situasi secara menyeluruh, termasuk pemerataan hasil-hasil pembangunan.

Dalam kesempatan itulah, Pak Bustanil Arifin menugaskan saya, untuk menerbitkan sebuah buku sejarah perjuangan dalam Perang Kemerdekaan Rl 1945-1949 di Daerah Istimewa Aceh dan Medan Area.

Karena masih banyak terpendam di Aceh muliara-sejarah yang bernilai nasional dan belum diketahui secara luas oleh umum, katanya. Tugas itu saya terima sebagai suatu kehormatan.

Kebetulan bahan-bahan penulisan sejarah itu sudah saya kumpulkan sejak lama dan koleksi saya penuh dengan data-data yang otentik. Disamping sebagai pelaku sejarah, juga saya punya hobby mengumpulkan clipping koran, majalah, foto dan benda sejarah lainnya.

Yang sedikit agak menghambat, adalah sikap sebagian besar para pelaku sejarah itu sendiri. Mereka sangat kikir dengan informasi yang berharga itu.

Kecuali seorang-dua, umumnya para perwira asal Aceh, enggan menuturkan kembali sejarah pertempuran yang pernah dilakukannya dalam mempertahankan kemerdekaan di berbagai front pertempuran, baik di Medan Area, Langkat Area, Tanah Karo Area dan tempat- tempat lainnya. •

Alasannya sederhana. Tidak mau dituduh sombong, takabur atau ria. Itu dilarang dalam akhlaq Islam, dosa namanya.

Menurut hernat saya, kultur ke-Aceh-an seperti ini perlu diluruskan, dikoreksi. Yang dilarang Islam adalah sifat sombong, takabur. Tapi mengutarakan sebuah karya, prestasi secara wajar, objektif adalah lazim. Ini termasuk bagian dari dakwah "bilhal", yang justru berpahala kalau dimasyarakatkan, disebarluaskan. Bisa' jadi teladan dan perbandingan bagi yang lain.

Apalagi, kalau data itu diperlukan untuk kepentingan penelitian dan semacamnya. Maka palialanya bisa berlipat ganda. Pokoknya bergantung niatnya, nawaitunya.

XV

Oleh sehah itu, jika dalam penerbitan edisi pertama ini ditemukan di sana-sini hal-luil yang masih terasa kurang lengkap, antaranya berpangkal dari rasa keengganan itu tadi.

Mudah-mudahan ke depan berikutnya, penulisan buku sejarah seperti ini, dapat lebih dilengkapi dan disempurnakan oleh para ahli sejarah atau rekan-rekan Pejuang 45 lainnya dengan tidak usah meiasa risi menuturkan pengalamannya.

Ka,ena penulisan tentang sejarah, memang tidak pernah sekali jadi. Ia bisa dilihat dari segala arah. Bergantung dimana kita berdiri dan darimana kita memandangnya.

Lagi pula sumber sejarah pergolakkan sosial itu pun sangat ragam.

Kepada rekan-rekan Pejuang 45, yang telah membei'ikan sahamnya, konstnbusinya, kami sampaikan pengliargaan dan terima kasih atas segala informasinya yang berhtrga dan mudah-mudahan besar manfaatnya bagi kita semua.

Saya juga menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua püuik yang telah membantu penerbitan ini. Lebih khusus kepada Sesepuh Masyarakat Aceh, Letnan Jendmd (Purn) H.Bustanil Arifin, Sarjana Hukum, yang telah mendorong dan memberikan inspirasi bagi penulis untuk merampungkan tugas ini.

Tidak lupa tentunya ucapdn terima kasih disampaikan kepada semua peserta Seminar Kejuangan 45 yang diselenggarakan oleh TP Iskandar Muda di Medan bulan Januari 1989 lalu.

Koreksian untuk penyempurnaan sangat kami hargai. Karena saya sadar bahwa penulisan ini barulah langkah aioal.

Khusus keiuida generasi muda kami harapkan untuk memahami jalannya sejarah Perang Kemerdekaan Rl 1945-1949 yang sangat patriotik dan heroik membela dan mempci tahankan jiwa dan cita Proklamasi 17 Agustus 1945 berlandaskan Pancasila dan UL1D 1945. Karena opa yang telah dijrroklamasikan oleh Bapak-Bapak Pendiri Rqmblik Indonesia, merupakan kelanjutan dari peijuangan nenek moyang kita turun temurun menentang penjajahan.

Nah, nilai kejuangan inilah yang harus dilestarikan oleh generasi penerus secara konsisten dan istiqomalt dalam hidup bermiisyarakat, berbangsa dan bernegara beidasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang diridhoi Allah SWT.

Yang menantang kita sekarang, kalau dalam situasi suht dan pancaroba, di zaman Perang Kemerdekaan Rl sedang berkecamuk- daerah Aceh-sudah mampu tampil sebagai "Daerah Modal", mengapa, dalam era pembangunan ini tidak memperliliatkan kepeloporannya untuk mengisi kemerdekaan itu dengan pemerataan hasil-hasil pembangunan sampai ke desa-desa, gunung dan pantai tanpa kecuali. Nah, inilah masalah aktual yang perlu direnungkan untuk meningkatkan taraf hidup dan pendapatan rakyat tanpa pandang bulu dalam rangka menghadapi era lepas landas yang sudah diambang pmtu.

Insya Allah.

Jakarta, 10 November 1991

TGK. A.K. JAKOBI xvi

SKET PERTEMPURAN DI "MEDAN AREA"

Sebuah diantara sket pertempuran di jalan Sutomo dan Stasiun Kereta api, di pusat kota Medan. Dilancarkan Markas Pertempuran Hisbullah/Divisi Tgk. Chik Ditiro Komando Sektor Barat Utara pimpinan Mayor Abdul Muthalib dan Komando TPI Resimen Aceh. Pertempuran ini terjadi tanggal 12 Oktober 1947. Dalam keterangan- nya dapat dibaca lokasi dan posisi masing-masing dalam angka Rumawï I s/d VIII. (Koleksi foto pribadi A.K.Jakobi, selanjutnya disebut "Aki").- Gambar peta pertempuran Medan Area (Bab 4).-

Clakae

Sungu

西

K

JEajigen

Kerrnngen

yoon Kent stesi

五三五四Jennstoren

ISentira

TTHL thliah engtine

P.NEH N

P.BREUHSABANG

BANDA ACEHSIG

BEREUNLHO SEUMAWE

TAKENGON

CALANG LANGSA

OKUALA SIMPANG

BLKEJEREN

PROP SUMUT

6E

TAPAK TUAN

L 7o SKALA1:2 300.000

FOTO PAR A PANGUM A KODA M I ISKANDARMUDA

LETKOL SJAMMAUN GAHARU

PANGLIMA KOMANDO DAERAH MILITER ACEH

YANG KE-I

KOLONEL M. YASIN

PANGLIMA KOMANDO DAERAH MILITER • l/IM

YANG KE-II XVÜ i

Kolonel Nyak Adam Kamil PANGLIMA KOMAND O DAERA H MILITER-l/IM YANG K E • III

Brigadir Jenderal TIM) Ishak Juarsa PANGLIMA KOMAND O DAERA H MILITER • l/IM YANG K E-IV XIX

May Jen. TNl T. Hamzah

PANGLIMA KOMAND O DAERAH MILITER-l/IM

YANG KE-V

Brigadir Jenderal TrJl Aang Kunaefi

PANGLIMA KOMAND O DAERAH MILITER-l/IM

YANG K E-VI

Bngadir Jenderal TNI A. Rivai Harahap PANGLIMA KOMAND O DAERAH MILITER-l/IM YANG KE-VII

May. Jen. TNI R A Saleh PANGLIMA KOMAND O UAbHAH MILITER-l/IM xxi YAN G KE-VIII

Brigadir Jenderal TN I Abdurrachman
PANGLIMA KOMAND O DAERA YANG K E-IX H MIUTER-l/IM

Brigadir Jenderal TNI Nana Narundana PANGLIMA KOfoAWDTJ DAERAH MILITER-l/IM YANG KE-X XX l i

Cover halaman belakang, luar.

MINYAK SEBAGAI SENJATA DAN ASSET NASIONAL

Inilah jenis senjata api yang dipergunakan para pelaut Aceh untuk menyerai dan memukul mundur armada Angkatan Laut Portugis dari perair, Sumatera, Nusantara. Senjata ini dicelupkan terlebih dahulu ke daiam minyak, kemudii ditembakkan ke arah lawan. Perang ini terjadi tahun 1606 di zaman Sultan Iskandar Muda, yai memimpin sendiri pertempuran laut mengusir armada Portugis dari perain Pidie, yang ingin merebut pelabuhan dan menguasai bahan rempah-rempa yang siap dikapalkan ke luar negeri. Sumber bahan minyak dan gas di Aceh, sudah dikenal sejak tempo dulu. D kini telah menjadi asset nasional yang menopang pendapatan devisa negai Tidak kurang dari 13% anggaran pendapatan negara tiap tahunn> bersumber dari kekayaan minyak dan gas Tanah Rencong. (Foto: Pertamina/Naskah "Aki").

Cover halaman belakang, dalam.

DARI "SEULAWAH" SAMPAI "GARUDA".

Inilah model pesawat terbang "Seulawah RI-001", yang dibeli dengan uai sumbangan rakyat Aceh menjelang agresi militer kedua. Pesawat i kemudian dipersembahkan oleh rakyat Aceh kepada perwira TNI-A pimpinan Wiweko untuk menerobos blokade udara Belanda dalam Perat Kemerdekaan Rl 1945 - 1949. Waktu itu Dr. Van Mook melancarkan ak isolasi terhadap Rl, yang sudah terkepung oleh negara-negara federal ciptaa penjajahan Belanda. Ternyata peranan pesawat "Seulawah" ini telah mampu menghidupkc kembali komunikasi yang teputus antara Jogyakarta-PDRI di Sumatera Bar dan Aceh-Perwakilan Rl di India terus ke PBB. Pesawat "Seulawah" yang sebuah lagi dikaryakan di Birma (Myanmai dicharter oleh pemerintah Birma, dari keuntungan dapat menambah di pesawat lagi yang sejenis. Keberhasilan ini telah menempatkan seluruh awc pesawat tersebut sebagai ujung tombak pendukung perjuangan diplomasi i luar negeri, yang telah mensuplai kebutuhan pokok aparat Perwakilan F yang putus hubungan dengan ibukota negara Jogjakarta. Dari sejarah pesawat "Seulawah RI-001" ini pula kemudian lahir sebag cikal-bakal penerbangan perusahaan "Garuda" yang kini tumbuh menjai besar dan moderen. (Foto : Pemda Aceh/Naskah : "Aki").

xxiii

Cover halaman depan, dalam. RADIO PERJUANGAN "RIMBA RAYA". Radio Perjuangan "Rimba Raya" ("RR") di Takengon, Aceh Tengah adalah satu-satunya media massa elektronika, yang menghubungkan segi tiga kegiatan Republik pada saat sulit, genting, yaitu "RR" - PDRI di Sumatera Barat. "RR" - Pimpinan Gerilya Republik di pedalaman Jogyakarta. "RR"- Perwakilan Rl di India terus ke PBB. Ini terjadi setelah Belanda melancarkan agresi militer II tanggal 19 Desember 1948, Sukarno-Hatta di tahan, Jogyakarta diduduki dan seluruh ibukota propinsi Rl kecuali daerah Aceh, juga dikuasai dan diantaranya sempat dibangun negara-negara federal ciptaan Dr. Van Mookdiberbagai wilayah Rl untuk mengepung Repdbllk 45~. Pada saat itu siaran RRI yang berfungsi hanyalah RRI studio Kutaraja dan bekerjasama dengan "RR" mengisi kevacuman tersebut. Karena "RR" ini memang dipersiapkan untuk siaran berita jarak jaurfdan dilengkapi dengan siaran radio teleponi untuk alamat-alamat tertentu pimpinan gerilya di pedalaman Jogyakarta, PDRI di Sumatera Barat dan Perwakilan Rl di India-PBB,dll. "RR" ini pula yang berhasil menangkap dan kemudian menayangkan "Serangan Fajar" tanggal 1 Maret 1949 pimpinan Letnan Kolonel Soeharto (sekarang Presiden Rl) yang berhasil menduduki ibukota Jogyakarta selama enam jam. Peristiwa ini punya dampak politik yang bergema sampai ke PBB. Situasi genting hidup atau mati (to be or not to be) bagi Rl mulai mereda setelah dicapai persetujuan awal perundingan "Roem-Royen" tanggal 7 Mei 1949 dan kemudian dipulihkannya Soekarno-Hatta kembali ke ibukota negara Jogyakarta. (Foto : Icas/naskah "Aki").

V; •

iciv

DAFTAR ISI

SEPATAH KAT A dari Bustanil Arifin, SH v SAMBUTAN dari Achmad Tahir v i SAMBUTAN dari Prof. Ibrahim Hasan, MB A vii i SEKAPUR SIRIH dari Pengarang x PETA Daerah Istimewa Aceh xvi i FOTO Para Panglima KODA M I Iskandar Muda xvii i Teks Cover xxii i BAB 1 PROKLAMASI MENGGUNCANG TANAH RENCONG Jiwa Keprajuritan Aceh Marak Kembali 1 Organisasi Bersenjata "API" Lahir 8

T.Nyak Arif Tantang Syu-Tyokan 1 1
Fatma Ulama Aceh: "Perang Sabil" 1 2
Peristiwa "Cumbok" Berkecamuk 2 0
"Long March" Pasukan Al-Mujahid 2 BAB 2 PERTEMPURAN MEREBUT SENJATA JEPANG 9
Segitiga "Geumpang-Gumpang-Bakongan" 3 8
Teknik Merebut Senjata 4 1

Seulimum-Lhok Nga-Sigli-Bireuen-Desa Juli-Krueng Pandjo-Lhok Seumawe Kuala Simpang-Langsa-Meulaboh-Aceh Tengah Satu Divisi Senjata di Sumatera 6 Misi Mayor Omura Gagal 6 Dua Batalyon Serbu Aceh 7 BAB 3 PENJAJAH "MINTA TANAH " Rakyat Sumatera Timur Bangkit 7 Infiltrasi NICA 7 Brigjen Kelly Mendarat Di Medan 8 Ultimatum 8 Perundingan "Chequers" 8 Poh An Tui 8 Hijrah Ke Pematang Siantar 8 BAB 4 "JAK U FRONT" MEDAN AREA Penyusupan Knottenbelt di Aceh Gagal : Solidaritas Tak Mengenal Batas 9 Tiga Serangkai Datok Seure, Pining Dan Utel 9 Kafilah Muhammad Dhin 9

4 6 0

5 7 1 3 7 7 9

xxv

Takengon Bentuk "Dewan Perjuangan Rakyat" 10 Yusuf "Tank" Bawa Pasukan Tank Ke Medan Area 10 BAB 5 PERTEMPURAN FRONT MEDAN AREA

Sosok "Medan Area" •

Laskar Rakyat Medan Area Bantuan Meriam dari Aceh

Rapat Panglima di Bireuen

"Komando Medan Area" (KMA)

Kisah "Kompi Parang Berdarah"

Mayor Bahrin Ditembak,. 13 Garis Demarkasi

Front Utara Dan Barat

TPI Dan TRIP

, Front Selatan Dan Sebagian Barat BAB 6 MARKAS RIMA BINJAI DIBOM Linggarjati Dikhianati 13 Posisi Dan Dislokasi KL-KNIL 14 Potensi Pejuang 14 Markas RIMA Hancur 14 Peranan Artileri 15 Kompi Usman Tamin; Amir Yahya Dan Mahyudin Bertempur Habis-habisan • Letnan Bustanil Arifin Cari Bantuan 15 Kapten Nyak Adam Kamil Susun Kembali Pasukan 16

AREA

Mata Tertuju Ke Aceh J6 Jembatan Setabat Jatuh 16 KSBO Lahir 17 Kisah "Tenaga Dalam" Dogok 17

5 5

6 1 5 8 0

15 2 6 1

5 7 0 2

Gencatan Senjata Dilanggar Belanda 17 3
Garis Hasballah Haji '...17 5
Pangkalan Berandan Dibumihanguskan 17 7
BAB 8 GUBERNUR MILITER ACEH, LANGKAT DAN TANAH KARO
Bung Hatta Pimpin Gerilya Di Sumatera 18 3
Menolak Sekolah Kolonial 18 6

xxvi

BAB 7 KOMANDO SEKTOR BARAT OETARA (KSBO) DAN LANGKAT

Ujian Pertama Bagi Tengku 18 8
Kolonel Sitompul Dicopot, Nyak Adam Protes 19 2
Alot, Penyatuan TNI di Aceh 19 4
Kolonel Husin Jusuf Minta Diaktifkan Kembali : 8
BAB 9 ACEH DAERAH MODAL SEBUAH "ALTERNATIF"
Gara-gara "Renville" 20 1
Rl "Ditikam" Dari Belakang 20 1
Lahirnya PDRI 20 3
Mandat Untuk Dr. Sudarsono Di India 20 4
Kolonel Hidayat, Panglima Sumatera 20 8
"H.J. Bop" Sang Panglima 20 8
"Angan-angan" Van Mook 21 6
Aceh Daerah Modal 21 7

BAB 10 BIREUEN "KOTA PERJUANGAN" KOBARKAN PERANG RAK-YAT SEMESTA

Mengapa Bireuen? 22 2
Aceh Sebagai Alternatif 22 3
"Missing Link" 22 3
Doktrin Perang Wilayah 22 4
Kota Pergerakan Dan Pendidikan 23 4
"Bireuen Agreement" 23 8
Mobilisasi Umum Perlawanan Rakyat Semesta 23 9
Pengadaan Dan Penyaluran Logistik 24 2
Pendanaan Dan Pembelian Pesawat "Seulawah Rl - 001" 24 5
Dana Sultan Siak 24 9
Radio Perjuangan "Rimba Raya" 25 1
Keberhasilan "Perlawanan Rakyat Semesta" 25 4
CATATAN PINGGIR 25 9
DATA DA 6
KEPUSTAKAAN 32 5
INDEKS 32 8
RIWAYAT HIDUP PENGARAN 0

N FAKTA 31

G 35

xxvii

BAB
  • PROKLAMAS I MENGGUNCANG TANAH RENCONG
  • Jiwa Keprajuritan Aceh Marak Kembali
  • Organisasi Bersenjata " Api " Lahir
  • T. Nyak Arif Tantang Syu Tyokan
  • Fatwa Ulama Aceh : " Perang Sabil "
  • Peristiwa " Cumbok " Berkecamuk
  • " Long March " Pasukan Al-Mujahid

8A8

Jiwa Keprajuritan Aceh Marak Kembali

Meledaknya bom atom Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki masing-masing tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, telah merubah wajah dan peta politik dunia yang hangus akibat perang.

Penyerahan tanpa syarat Jepang kepada Sekutu (Amerika Serikat, Inggeris, Uni Sovyet, Cina) dilakukan dengan resmi di atas geladak kapal induk yang canggih "Missouri" tanggal 2 September 1945 di Teluk Tokyo.

Penandatanganan serah terima langsung dilakukan Panglima Sekutu dalam perang dunia II, Jenderal Mc. Arthur yang tersohor.

Penyerahan untuk kawasan Asia Tenggara dan Pasifik diselenggarakan di dua tempat. Pertama di Singapura dan kedua di Rabaul dilakukan serentak tanggal 12 September 1945.

Yang bertindak mewakili Jepang di Singapura adalah panglima gabungan tentara VII Jepang, Jenderal Itagaki. Yang menerima penyerahan dari pihak Sekutu, Panglima Sekutu di Asia Tenggara (South East Asiatic Command) Laksamana Lord Louis Mountbatten.

Kekosongan waktu yang terjadi antara tanggal 9 Agustus 1945 sampai tanggal 12 September 1945, telah dimanfaatkan secara cerdik dan hcroik oleh para pemuda dan pejuang Indonesia untuk meiepaskan diri dari cengkeraman penjajahan fasisme militer Jepang yang kalah perang. Sementara pihak Sekutu beluffi mendarat di bumi Indonesia.

Peluang emas sebagai rakhmat dari Allah SWT. benar-benar telah diaktualisasikan secara efektif oleh bangsa Indonesia dengan ditayangkannya Proklamasi Republik Indonesia 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta.

Disini terbukti lagi keabsahan firman Illahi, bahwa "Allah tidak akan merubah nasib suatu bangsa, sebelum bangsa itu sendiri yang merubah nasibnya".

Terompet kemerdekaan yang ditiup Soekarno-Hatta di Jakarta tanggal 17 Agustus 1945, telah mengguncang bumi Tanah Rencong dengan semangat juang gegap gempita.

Jiwa keprajuritan dan kepahlawanan yang mengental dalam sukma dan raga bangsa ini turun temurun spont-n menggelegak serentak. Mereka terpanggil dan bangkit kembali, ingin membuat perhitungan baru dengan rezim militer Jepang, yang mencoba mengulur-ulur waktu menunggu instruksi Sekutu.

Berita proklamasi sampai di Kutaraja (Banda Aceh sekarang) sangat cepat, Esoknya tanggal 18 Agustus 1945 berita penting itu telah dibisikkan oleh seorang pim- pinan Jepang kepada Chu-i Gyugun, Sjamaun Gaharu (1-*). Ia pun diberitahu rekannya itu, Jepang telah kalah perang dan menyerah kepada Sekutu.

1-*) Wawancara Syamaun Gaharu dengan penulis, Bandung, 1967

Dwitunggal Soekarno-Hatta menyaksikan pengibaran Sang Saka Merah Putih, setelah proklamasi Kemerdekaan Rl berkwnandang di Jakarta tanggal 17 Agustus 1945 ke seluruh dunia. (Koleksi Foto "Aki")

Jenderal üouglas Mac Arthur membubuhkan tandatangan penerimaan kekalahan Jepane tanpa syarat kepada Sekutii di atas gladak kapal indukyang canggih "Missouri" tanggal 2 September 1945 di telukTokyo. (Koleksi Foto "Aki")

Berita yang senada juga ditayangkan oleh tokoh muda Husin Jusuf, Sho-i (Letnan

Dua) Gyugun (2-*). Ia mendengar berita itu tanggal 19 Agustus 1945 lewat siaran radio

militer Jepang di Bireuen, Aceh Utara bersama rekannya orang Jepang yang sedang bertugas bersama sebagai anggota intelijen "Fojoka" Jepang.

Selanjutnya A. Hasjmy sebagai tokoh pemuda masa itu, juga punya pengalaman

yang khas. Sebagai pengelola surat kabar "Aceh Sinbun" di Kutaraja, ia dipanggil atasan

orang Jepang, K. Yamada, diperintahkannya koran "Aceh Sinbun" edisi hari itu tidak usah

terbit, karena Jepang telah kalah perang tanggal 14 Agustus 1945 (3-*).

Namun, berita proklamasi yang resmi beredar dalam masyarakat di Aceh, baru

diketahui oleh para pemuda tanggal 20 Agustus 1945. Berita itu disadap oleh para

pemuda yangbekerja di kantor Hodoka (Penerangan). Sumbernya berasal dari monitor-

ing siaran Radio Jakarta, yang ditujukan kepada Teuku Nyak Arif, Ketua Aceh Syu Sangi-Kay di Kutaraja.

Berita kekalahan Jepang diterima bagaikan petir di siang bolong. Hampir-hampir

tidak dipercaya oleh masyarakat awam sampai terjadi begitu cepat. Ini suatu bukti

kelicikan militerisme Jepang yang berhasil menyegel dan membungkam siaran radio

sebagai lalu lintas informasi waktu itu. Tapi kaum Pergerakan Nasional yang bergerak di

bawah tanah tidak pernah kehilangan akal, mereka tetap mengikuti perkembangan situasi dunia melalui radio "gelap" di bawah tanah.

Isi siaran radio "gelap" itu beredar dari mulut ke mulut secara berbisik-bisik, seiektif dan cukup efektif.

Untuk pertama kali berkumandang di muka umum bunyi teks proklamasi Rl secara

terbuka di Banda Aceh, dipelopori oleh Teuku Nyak Arif. Ini terjadi tanggal 23 Agustus

1945, sewaktu beliau secara demonstratif naik kendaraannya berkeliling kota, seraya

memamerkan bendera Sang Saka Merah Putih. Rute yang dilaluinya lewat pemukiman dan kantor-kantor militer Jepang yang masih berkuasa.

Orang-orang Jepang sempat tercengang-cengang dan geleng-geleng kepala melihat keberanian Teuku Nyak Arif. Sementara rakyat di pinggir jalan mengelu-elukan-

nya dengan sorak-sorai gegap gempita.

Sejak saat itu mulailah teks proklamasi beredar dengan cepatnya di tengah-tengah

masyarakat umum yang sudah muak melihat tingkah laku serdadu Jepang yang tidak menghormati agama, budaya, adat istiadat penduduk.

Teks proklamasi secara beranting menyebar dari tangan ke tangau. Bertempelan

di berbagai kantor, gedung, tembok, gerbong kereta api, oplet dan bis antar kota. Bahkan

tidak luput pada batang- batang kayu besar di dalam dan pinggiran kota.

***2- ) Wawancara penulis di Banda Aceh -1971 3- ) 'Semangat Merdeka" Karangan A. Hasymy, hal 149*

Pengambil inisiatif adalah para pemuda, prajurit dan sejumlah pemuda pelajar yang spontan mengorganisir diri untuk mengamankan dan membela proklamasi Rl 17 Agustus 1945. Tidak hanya sampai disitu, gema berita proklamasi juga berkumandang sampai ke surau- surau, mesjid dan pesantren. Para ulama, khatib dan da'i menyebar- luaskannya melalui bahasa agama, yang mendapat sambutan meriah dari lapisan umat yang gandrung kebebasan, kemerdekaan dan kesejahteraan.

Wujud kemerdekaan di Aceh, berangsur-angsur menemui bentuknya dan Teuku Nyak Arif, setelah menerima instruksi dari Mr. Teuku Mohammad Hassan selaku Gubernur Sumatera mulai membangun administrasi pemerintahan.

Ini terjadi tanggal 3 Oktober 1945. Salah satu dari instruksi Gubernur Sumatera di Medan bersamaan datangnya dengan instruksi pemerintah pusat di Jakarta, berisi penugasan Teuku Nyak Arif bertindak sebagai Residen Aceh. Tuanku Mahmud ditetap- kan sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah Aceh.

Sesuai mandat yang diterima, Residen Aceh segera menyusun aparatur pemerintahan daerah Aceh dengan mengangkat para Kepala Luhak atau Bupati, Patih, Wedana, Asisten Wedana, Camat, Kadi, Keuchik dan Kepala Jawatan tingkat karesidenan serta kabupaten sampai kepada aparat pemerintahan yang paling bawah di pedesaan.

Pada saat Residen Aceh bersama tokoh-tokoh masyarakat seperti Tgk. Mohd. Daud Bereueh, A. Hasjmy, Sjamaun Gaharu sedang giat- giatnya menggalang masyarakat, berkembang pula isyu baru yang mendiskreditkan Soekarno-Hatta di Jakarta.

Ternyata isyu baru ini berasal dari suara NICA yang dipancarkan radio Austraha. (CP-1).

Untuk menenangkan masyarakat Aceh dari isyu berbisa yang dilancarkan NICA, maka pada tanggal 4 Oktober 1945 Residen Aceh Teuku Nyak Arif bersama pengurus Komite Nasional Indonesia Daerah Aceh mengeluarkan sebuah maklumat sebagai berikut:

MAKLUMAT

1. Siaran pihak Belanda, bahwa Ir. Soekamo dan Drs. Moh. Hatta ditangkap bohong semata-mata.
2. Republik Indonesia de facto diakui, de jure belum.
3. Van der Plas dan Van Mook ingin mengadakan musyawarah dengan Soekarno.
4. Belanda tidak dibolehkan Sekutu mendatangkan laskar, sebab mungkin terjadi peperangan antara Indonesia dan Belanda.
5. Gubernur Sumatera adalah Mr. T. Mohammad Hassan.
6. Residen Aceh adalah Teuku Nyak Arif.
7. Pemerintah Republik Indonesia bekerja sama antara tentara Inggeris dan India sebagai wakil Sekutu menjaga keamanan.
8. Amerika, Inggeris, Uni Sovyet dan Tjungking (Cina, sekarang) sedang membentuk Majelis Tinggi untuk urusan Asia Timur Raya.
9. Syech Djamil Djambek menyerukan kepada kaum muslimin seluruh Sumatera untuk mencurah- kan segala tenaga lahir dan bathin untuk Republik Indonesia.
10. Di Langsa dan Tapak Tuan telah berdiri Barisan Pemuda.
I (Teuku Nyak Arif) I

a s b 3 a ï

as s i s 3

•"!=•C >

-se

1 & K 3

I3 S

S'

ï

HASANALI

A. HASJMY

AYAH ABDUL GANI

Mantan Asisten Gubernur Militer Aceh, Langkat dan tanah Karo.

Sebuah insiden bendera telah terjadi tidak jauh dari tempat kediaman Syokan Aceh. Persisnya di kantor Baperis sekarang, yang waktu itu sebagai kantor Polisi Jepang (Keimubu).

Peristiwa ini melukiskan gambaran situasi umum yang tidak puas dan muak dengan sikap serdadu Jepang yang tidak tahu diri.

Peristiwanya meletus tanggal 24 Agustus 1945. Sejumlah pegawai kepolisian ber- bangsa Indonesia sepakat mengibarkan bendera Merah Putih di kantor polisi itu. Bertin- dak sebagai inspektur upacara, Wakil Kepala Polisi Muhammad Hasyim. Pada saat upacara bendera sedang berlangsung, tiba-tiba dibentak dan dihalangi serdadu Jepang pengawal shokan di gedung sebelahnya (4-*).

Bendera Merah Putih yang telah berkibar, kemudian diturunkan serdadu Jepang. Perlakuan serdadu Jepang yang kasar itu spontan diprotes oleh para pemuda dan tiba-tiba seorang pemuda lainnya, Muhammad Amin Bugis dengan beringas tampil ke depan disertai rekan-rekannya merampas kembali Merah Putih dari tangan Jepang. Ia serta merta memanjat tiang bendera dan menancapkan Merah Putih di atasnya. Serdadu Jepang mundur tidak berkutik lagi dan upacara bendera berlangsung dengan semangat patriotisme yang tinggi dan sangat mengesankan hadirin.

Kemudian di tempat itu dibangun sebuah tugu untuk mengenang peristiwa heroik dan patriotik yang bernilai sejarah, dimana Angkatan 45 telah melakukan tugas sejarah- nya mengamankan dan membela proklamasi Rl 17 Agustus 1945 yang berdasar Pancasila dan perlu dilestarikan dan diwariskan kepada generasi penerus.

Peristiwa ini dinilai sangat penting, karena inilah insiden pertama antara pejuang 45 yang ingin mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dengan serdadu Jepang. Pengaruh dari peristiwa yang berakhir dengan kemenangan di pihak pejuang, telah menimbulkan kesan yang mendalam dan melahirkan inspirasi serta kepercayaan diri para pemuda selanjutnya dalam menegakkan negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila di bumi Tanah Rencong.

Organisasi Bersenjata "Api" Lahir

Menyadari betapa beratnya tugas yang diemban untuk membela dan mempertahankan proklamasi kemerdekaan Rl 17 Agustus 1945 di daerah Aceh, mantan anggota Volksraad TeukuNyak Arif bergegas memanggil dan menghimpun para pemuda dan mantan perwira Gyugun, Heiho dan Tokobetsu yang berada di Kutaraja.

Mereka terdiri dari segala lapisan pemuda yang pernah mendapat latihan dan pendidikan militer Jepang, diantaranya Sjamaun Gaharu, Teuku Hamid Azwar, Nyak Neh, Said Usman, Teuku Sarong, Said Ah, Usman Nyak Gade dan Bachtiar Idham.

4-) "Dua Windu Kodam-Illskandar Muda" Hal 80Kutaraja, Th. 1972*

Himbauan TeukuNyak Arif mendapat respons yang positif dari para pemuda dan untuk pertama kali diputuskan mengirim dua orang wakil pemuda untuk menemui dan berkonsultasi dengan pemimpin rakyat Teuku Nyak Arif. Kedua utusan pemuda itu Sjamaun Gaharu dan Teuku Hamid Azwar.

Dalam pertemuan itu, Teuku Nyak Arif melukiskan situasi dunia setelah perang dunia II berakhir dan perubahan-perubahan penting yang bakal terjadi di masa depan. Dalam konteks ini disebutkannya, kelahiran Indonesia Merdeka berdasarkan Pancasila adalah sebuah fenomena sejarah dari dunia yang sedang berubah.

Tapi diingatkannya juga, pihak Belanda tentu tidak akan tinggal diam. Indonesia sebagai ladang emas sejak berabad-abad pasti akan dipertahankannya habis-habisan. Oleh sebab itu, para pemuda Indonesia mulai hari ini harus cepat-cepat mempersiapkan diri lebih dini untuk membentuk pasukan pengawal tanah air.

Sebagai tindak lanjut dari pengarahan itu, mantan Chu-i (Letnan Satu) Gyugun, Sjamaun Gaharu bersama TeukuHamid Azwar segera mengadakan rapat dan diskusi dengan para pemuda untuk merumuskan konsep bidang pertahanan di daerah ini.

Rapat-rapat diadakan sering berpindah dari satu tempat ke tempat lain, untuk menghindarkan incaran Kempetai Jepang yang merasa masih punya hak dan wewenang untuk melakukan kontrol.

Sempat tercatat berbagai tempat dilangsungkannya rapat pembentukan organisasi bersenjata di Banda Aceh, mulai dari "Central Hotel" jalan Muhammad Jam. Hotel itulah yang dijadikan sebagai Markas Pemuda yang pertama, karena dinilai memiliki arti sejarah dalam proses pembentukan angkatan bersenjata di bumi Tanah Rencong. Gedung itu sekarang sudah rata dengan tanah, dibongkar pemiliknya.

Kegiatan berikutnya pindah ke sebuah toko "Jeane Pinke" di Peunayung. Kemudian ke bekas toko "B. Naas" yang belakangan berganti nama "Sabang Coy". Dari sini Markas Pemuda beralih ke tempat yang lebih luas, mengambil sebuah tempat yang strategis di asrama militer di Kuta Alam dan terakhir"Asrama Keraton", semuanya terletak di Banda Aceh.

Diantara keputusan penting yang telah dirumuskan oleh para pemuda dan sudah dilaporkan serta disetujui Residen Aceh, Teuku Nyak Arif sebagai berikut:

  1. Disetujui dibentuk sebuah organisasi kekuatan bersenjata di daerah Aceh dengan nama "ANGKATAN PEMUDA INDONESIA" (API) untuk membela dan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Rl 17 Agustus 1945 berdasarkan Pancasila.
  2. Segera direbut senjata-senjata Jepang sebanyak mungkin dan mencegahnya jatub ke tangan Inggeris/NICA.
  3. Mantan anggota KNIL adalah bangsa Indonesia sendiri, supaya diikutkan dalam organisasi kemiüteran "API" sesuai kecakapannya. Jangan sampai mereka diperalat oleh Inggeris/NICA menghadapi Indonesia.
  4. Para pemuda segera dilatih ilmu kemiliteran dan tugas pengawalan pantai.

Pembentukan "API" sebagai cikal bakal Angkatan Bersenjata di Aceh, dibarengi dengan pengumuman terbuka kepada para pemuda untuk menggabungkan diri dan melapor ke Markas Pemuda terdekat.

Pengumuman ini ternyata telah menimbulkan reaksi dan kepanikan di kalangan penguasa Jepang di bumi Tanah Rencong. Sejak semula intelijen militer Jepang memang terus membuntuti dan memata-matai gerak langkah mantan perwira Gyugun dan Tokobetsu kita.

Namun semua itu, tidak membuat goyah sikap pemuda yang telah bertekad dan bersumpah setia mempertahankan dan membela proklamasi kemerdekaan Rl 17 Agustus 1945 berdasarkan Pancasila.

Sebuah pengumuman Markas Pemuda yang berjudul "SERUAN TANAH AIR" telah diedarkan kepada masyarakat luas dalam bentuk pamflet, ditempatkan di dinding, tembok, kantor, toko-toko dan disebarkan ke daerah-daerah pedalaman lewat bis, oplet di terminal bis dan lain-lain.

Isi pengumuman sebagai berikut:

SERUAN TANAH AIR

Di seluruh Aceh telah berdiri "ANGKATAN PEMUDA INDONESIA" (API). "API" akan menjadi dasar Tentara Republik Indonesia. "API" akan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. "API" akan menjaga keamanan dan ketentraman umum. SOKONGLAH "API" Bentuklah Badan Penyokong "API" (BAPA) di segala pelosok. "BAPA" mesti berdiri disamping "API". Kalau tidak, "API" tidak mungkin bergerak. KAUM HARTAWAN! Lemparlah kekayaan Tuan-tuan pada ini waktu untuk Indonesia Merdeka. KAUM BANGSAWAN! Bangun, sadar dan tunjanglah cita-cita yang suci ini. SEGALA LAPISAN DAN GOLONGAN ! Korbankanlah harta, tenaga dan pikiian, harta jiwa sekalipun asal untuk Kemerdekaan Indonesia. "API" mempunyai puluhan pasukan dan ribuan Angkatan Pemuda di seluruh Aceh. "API" MENUNGG U "BAPA" MARKASDAERAH ANGKATAN PEMUDA INDONESIA (MD. A.P.I.)

T. Nyak Arif Tantang Syu Tyokan

Setelah terbentuknya barisan "API" Markas Daerah "ANGKATAN PEMUDA INDONESIA" Daerah Aceh yang diumumkan secara resmi tanggal 6 Oktober 1945, maka pada waktu yang bersamaan lahir pula Barisan Pemuda Indonesia (BPI) pimpinan A. Hasjmy sebagai penjelmaan dari Ikatan Pemuda Indonesia (IPI).

Lahirnya kedua badan perjuangan ini, telah membuat gusar pimpinan Jepang di daerah Aceh. Kesibukan dikalangan militer Jepang kelihatan meningkat.

S. lino selaku Aceh Syu Tyokan tanggal 6 Oktober 1945 malamnya segera men-
gadakan rapat kilat dengan mengundang sejumlah tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh pemuda yang terkemuka di kediaman resminya di pendopo Gubernur Aceh sekarang (5-*).

Tokoh-tokoh yang diundang dalam rapat kilat adalah :

1. Residen Aceh Teuku Nyak Arif.
2. Tuanku Mahmud, Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah Aceh.
3. Tengku Mohd. Daud Bereueh, Ketua "PUSA".
4. Sjamaun Gaharu, Ketua Markas Daerah "API".
5. A. Hasjmy, Ketua "BPI".
6. T. Ahmad Jeunib, Asisten Residen Rl Aceh Besar.
7. T. Tjut Hasan, Konsul Muhammadyah Daerah Aceh.
8. Said Abu Bakar, Fujiwara Kikan untuk Aceh.

Dari pihak Jepang yang hadir :

1. S. lino, Aceh Syu Tyokan (Residen Aceh).
2. S. Masubutsi, Syu Seityo.
3. Kepala Polisi Jepang (Keimutyo).
4. Kepala Polisi Militer Jepang (Kempei Taityo).
5. Kepala Pertahanan Jepang (Bo-ei Taityo).
6. T. Eiri (juru bahasa Jepang).

Musyawarah malam itu berlangsung hangat dan tegang, akhirnya menemui jalan buntu.

Syu Tyokan, S. lino mengharapkan "API" dan "BPI" yang baru dibentuk supaya dibubarkan. Karena kedua badan itu mirip organisasi militer. Ditegaskannya, walau Jepang sudah kalah perang dunia II, tapi Sekutu masih memberinya mandat untuk mengawasi dan memelihara keamanan, ketertiban di kawasan ini. Teuku Nyak Arif, yang baru diangkat pemerintah pusat sebagai Residen Aceh dengan tegas menampik dalih dan dalil Aceh Syu Tyokan, S. lino. "Jepang sudah kalah perang, tidak berhak lagi mengatur bangsa Indonesia yang sudah merdeka. Tuan-tuan harus tahu diri", tandas Teuku Nyak Arif.

5-*) "Dua Windu Kodam-IIskandar Muda"Hal-82 Kutaraja, Th. 1972

Dengan tangan gemetar karena menahan amarah dan suara yang lantang, Teuku

Nyak Arif menyatakan keheranannya kepada Syu Tyokan dengan ucapannya sebagai berikut : "Pemerintah Jepang betul-betul satu pemerintahan yang tidak mengetahui,

bahwa apa- apa yang telah tuan kerjakan selama berkuasa disini apakah akan dilakukan juga ketika tuan telah kalah ? Oleh karena itu saya berpendapat, pertemuan yang diadakan dengan maksud seperti ini adalah pertemuan sia-sia belaka".

Ketua Markas Daerah "API", Sjamaun Gaharu dengan tegas menolak pendapat S lino, seolah ia masih punya wewenang untuk mengatur daerah ini. "Tidak ada yang berhak membubarkan "API". "API" justru dibentuk untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamirkan Soekarno-Hatta tanggal 17 Agustus

1945", tandas Sjamaun Gaharu.

Pertemuan yang gagal malam itu, ternyata membawa dampak positif untuk Republik. Para pemuda yang "nguping" suasana pembicaraan yang hangat malam itu, turut menjadi marah dan mengajak para pemuda segera merebut senjata serdadu Jepang.

"Lebih baik mendahului daripada didahului", demikianlah salah satu keputusan

Markas Daerah "API" dalam rapatnya untuk mendobrak keangkuhan militer Jepang, yang mencoba menghalang-halangi kemerdekaan Indonesia. (CP-2).

Tekad ini kemudian menyebar pada organisasi pemuda dan seluruh lapisan rakyat di kota dan pedesaan di seluruh kabupaten, yang ternyata dengan "bambu runcing" telah siap menggempur tangsi- tangsi Jepang untuk merebut senjata dan amunisi.

Fatwa Ulama Aceh : "Perang Sabil"

Terbentuknya API, BPI dan dipanggilnya kembali mantan Gyugun, Heiho,

Tokubetsu serta para pemuda lainnya menggabungkan diri dalam barisan API di tempat masing-masing, sekaligus telah menciptakan iklim politik yang serius.

Sambutan kaum muda sangat antusias, mereka berlomba mendaftarkan diri. Bah- kan yang tua pun tidak mau ketinggalan. Kesempatan ini ingin digunakan juga memenuhi "amanah" nenek moyang. Kapan saja dimana saja, jangan lupa "membalas dendam" kepada kolonialisme Belanda, yang telah menewaskan nenek moyangnya dalam perang Aceh-Belanda yang terkenal selama 80 tahun (1867-1949), secara keji dan brutal.

Pesan "balas dendam" terhadap "Kahpe₁' Belanda tetap membara dalam sukma setiap pemuda Aceh, karena sadisnya serdadu Belanda menembak dan membunuh

pejuang Aceh yang bertahan dalam kubunya tidak mau menyerah, dengan hanya bersen- jata sebilah rencong lawan senjata otomatis.

Pesan-pesan yang sakral itu terpatri dalam hati, tak pernah mati, karena selalu

didendangkan oleh sang ibu terhadap anaknya sejak masih dalam buaian.

Kisah kepahlawanan nenek moyang itu dinyanyikan dengan ratap tangis yang merayu ke telinga anak-anak menjelang tidur di malam kelam.

Lambat laun kisah-kisah yang heroik itu sangat membekas dalam hati sanubari

setiap generasi penerus, tertanam jauh dan terhunjam pada ujung kalbunya yang paling dalam.

Dan waktu itu, dendam itu kumat lagi, kumat lagi.

Tidak ada kekuatan lahiriah yang mampu meredam, bila semangat jihad menggelora dalam batang tubuh insan-insan Aceh yang beringas.

Apalagi, bila empat ulama terkemuka di Aceh telah mengikrarkan fatwanya yang penuh kharisma, maka tak ayal lagi, yang muda yang tua sama saja berbondong-bondong mendaftarkan diri memilih mati "syahid" untuk memerangi penjajahan Belanda yang zalim.

Inilah bentuk pemerataan emosional yang paling kenyal, membuat jiwa anak muda

sangat alergi mendengar kebrutalan riwayat kolonialisme Belanda masa lalu di persada tercinta ini.

Dengan latar belakang sejarah ini pula, kolonialisme Belanda sangat hati-hati dan berfikir sejuta kali sebelum berani menjejakkan kaki di bumi Tanah Rencong, meskipun sudah dua kali dilancarkan agresi terhadap Repubük di tahun 1947 dan 1948. (CP-3).

Momentum sejarah yang unik dan heroik ini pula, telah turut menentukan arah jalannya jarum jam sejarah jabang bayi Republik dalam masa pancaroba ketika usianya merangkak dari satu sampai tiga tahun yang penuh kritis.

Pada saat yang ga wat itu, Republik yang masih sangat muda telah dikepung dan diblokade dari segala jurusan oleh Belanda, baik di laut maupun udara dengan men- dirikan negara-negara "boneka" a'la Van Mook. Pada saat Yogyakarta diduduki Belanda, Soekarno-Hatta ditangkap, Dubes Belanda di PBB Van Kleffens dan Menlunya berkaok- kaok menuduh Republik sudah mati. Dia lupa, Jenderal Sudirman tetap memimpin perang gerilya dan daratan Aceh satu- satunya wilayah propinsi di daerah Republik yang masih utuh. Dari Aceh lah lewat Radio Perjuangan "Rimba Raya" ditayangkan isyu- isyu nasional untuk meng-counter siulan berbisa Belanda di radio "Batavia" atau "Hilversium" dan Van Kleffens di PBB.

Bagaimana isi dan pengaruh fatwa keempat ulama Aceh itu, dapat dükuti sebagai berikut di bawah ini:

PERANG SABIL

-Perang dunia kedua yang maha dasyat telah tamat. Sekarang di barat dan timur oleh empat kerajaan yang besar sedang diatur perdamaian dunia yang abadi untuk keselamatan mahluk Allah.

-Dan Indonesia tumpah darah kita telah dimaklumkan kemerdekaannya kepada seluruh dunia serta telah berdiri Republik Indonesia di bawah pimpinan Yang Mulia Pimpinan Soekarno-Hatta.

-Belanda adalah satu kerajaan kecil serta miskin, satu negeri yang kecil, lebih kecil dari daerah Aceh dan telah hancur lebur, mereka telah bertindak melakukan pengkhianatan kepada tanah air kita Indonesia yang sudah merdeka itu untuk dijajahnya kembali.

-Kalau maksud yang jahanam itu berhasil, maka pastilah mereka akan memeras segala lapisan rakyat, merampas semua harta benda negara dan harta rakyat serta segala kekayaan yang kita kumpulkan selama ini akan musnah sama sekali.

-Mereka akan memperbudak rakyat Indonesia menjadi hambanya kembali, menjalankan usaha untuk men- ghapus agama Islam kita yang suci serta menindas dan menghambat kemuliaan dan kemakmuran bangsa Indonesia.

-Di Jawa bangsa Belanda dan kaki tangannya telah melakukan keganasan terhadap Kemerdekaan Republik Indonesia hingga terjadi pertempuran di beberapa tempat yang akhirnya kemenangan di pihak kita. Sungguhpun begitu mereka belum juga insyaf. Segenap lapisan rakyat telah bersatu padu dengan patuh ber- diri di belakang pemimpin Soekarno-Hatta untuk menunggu perintah dan k^wajiban yang akan dijalankan.

-Menurut keyakinan kami, perjuangan ini adalah perjuangan suci yang disebut "PERANG SABIL", maka percayalah wahai bangsa-ku, perjuangan ini adalah sebagai sambutan perjuangan dahulu di Aceh yang dipimpin oleh almarhum Tengku Chik Di Tiro dan pahlawan kébangsaan yang lain.

-Dari sebab itu, bangunlah wahai bangsa-ku sekalian, bersatu padu menyusun bahu mengangkat langkah maju ke muka untuk mengikuti jejak nenek moyang kita dahulu. Tunduklah dengan patuh akan segala perintah-perintah pemimpin kita untuk keselamatan Tanah Air, Agama dan Bangsa Indonesia.

Kutaraja, 15 Oktober 1945

ATAS NAMA ULAMA SELURUH DAERAH ACEH

TGK. HADJI HASAN KRUENG TGK. M. DAUD BEUREUEH KALE

KALE
- ^D J A A|. AHMAD HASBULLAH INDRA PURI
DikeUhui oleh Disetuju i oleh
TEUKU NYAK ARIF TUANK
Residen Aceh Ketu a KNI Aceh

TGK D J F R SIDI K TGK

U MAHMU D

Segera fatwa ulama Aceh itu beredar ke seluruh lapisan masyarakat di kota dan

desa. Gemanya bergaung di mesjid, pesantren diikuti tua muda dengan satü tujuan

membela tanah air tumpah dar ah Indonesia, yang diproklamasikan 17 Agustus 1945.

Cinta Tanah Air adalah bagian dari iman dan berperang melawan penjajah Belanda

untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah salah satu dari bentuk ibadat "Perang SabiT.

Dengan sikap dan tekad yang bulat, semangat jihad mereka membar a tidak t erben-

dung, bagaikan air bah yang menyerbu dari gunung.

Situasi yang berkecamuk dan merasuk jiwa orang Aceh dilukiskan oleh Mayor

Maarten Knottenbelt sebagai "sebuah tong mesiu yang siap meiedak untuk menangkal

dan menghancur-leburkan setiap aksi yang bakal dilancarkan Belanda ke Aceh" (6-*)

Ini pengakuan seorang perwira Belanda yang menyusup atas nama Sekutu ke Aceh

mencoba untuk mencari kesempatan dan peluang untuk mereguh air kehidupan di Aceh.

Tapi nyatanya ia sendiri mundur teratur dengan terbirit-birit terpaksa meninggalkan Aceh, setelah rakyat mengenal identitas dirinya yang curang.

6-*) M. NurEl Ibrahimy dalam artikelnya di Harian "Waspaaa" Medan. Th, 1984

Semangat dan tekad rakyat yang sedang meluap-luap perlu disalurkan untuk membela dan mempertahankan negara, bangsa dan agama. Momentum yang tepat ini perlu ditempa lebih mantap untuk mencapai hasil optimal, bagaikan "menempa besi selagi pan as".

Dalam kaitan ini, Residen Aceh, Teuku Nyak Arif melihat celah- celah yang pas untuk memobilisir rakyat dalam pertahanan negara.

Ia mengumumkan dan menganjurkan rakyat Aceh untuk mengorganisasi diri dalam partai-partai politik dan organisasi kemasyarakatan, sesuai maklumat nomor X Wakil Presiden tertanggal 3 November 1945. (CP-4).

Pucuk dicinta ulam tiba. Anjuran ini spontan ditelan oleh masyarakat dan kemudian bagaikan cendawan, berdiri dan berkembang berbagai organisasi poütik dan organisasi kemasyarakatan, yang semuanya bertujuan untuk membela dan mempertahankan Proklamasi Rl 17 Agustus 1945.

Sejalan dengan suasana perjuangan yang sedang mencekam masyarakat, maka wadah yang paling menonjol ke permukaan adalah badan-badan perjuangan yang dibentuk partai politik atau ormas kepemudaan dan pelajar.

Jadi disamping API, BPI yang sudah terlebih dahulu terbentuk, tampil pula berbagai badan perjuangan yang dibentuk masyarakat dengan program yang diprioritaskan merebut sebanyak-banyaknya senjata Jepang. Pokoknya senjata Jepang tidak boleh jatuh ke tangan Belanda/NICA atau Poh An Tui.

Badan-badan perjuangan itu meliputi Kesatuan Keiaskar an Bersenjata yang dipim- pin oleh tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh pemuda, yang kelak menjadi panutan masyarakat dan penentu kebijakan perjuangan Republik di daerahnya.

Kesatuan Laskar Bersenjata itu terdiri aari 3 (tiga) divisi dan 2 (dua) Resimen Tentara Pelajar.

L Divisi X, Mujahidin Tgk. Chik Di Tiro. Panglima Divisi, Tgk. Mohd. Daud Bereueh Kepala Staf, Letnan Kolonel Chikmat Rahmany

Kekuatan 7 (tujuh) buah resimen.

  1. Divisi Rencong Kesatria Pesindo. Pimpinan Umum, A. Hasjmy. Panglima Divisi, Nyak Neh Lhoknga. Kepala Staf, M. Saleh Rahmany. Kekuatan 7 (tujuh) buah resimen.
  2. Divisi Tgk. Chik Paya Bakung. Panglima Divisi, Tgk. Amir Husein Al-Mujahid. Kepala Staf, Adjad Musi.

ar 3 & >J & 3"

I

f &. & C/2 ***,** O s s5° >< £

«5.

§• S- 3'

| Sr*

I

|

§

i' o s

a

5
S
Is

•I

s
«
OH
s
O
s
3
S

s

.13 « K 5> 3 S "r « CQ

1 i |

3
u
c

'S
Q
oa
CA
8
"3
3- c
>
3
S
3
-s
(a
"3
CD
"o
u

•$

I -i'

& 3 Ia 3 a- & 3

s 3 s' 3

SS o

Sr ^

f*

-§ S :

•» 3 Co

3 n' 3

£ &

SP

i iT1 11

I s i3 § N

« ?5 ^ z i

< ^ 'i -s *

*** 'i ti I i| «f^** uT s. .. § 1 1 3 | 8 ^ g .j. jj « ^

J I w * I s

•S .fa .1 I N. 1 •c E E fe -R t§ JE. v* 1 j i si?

g 1 * | N E af K Q ^ fe. s-i 3 ^

Divisi ini juga membentuk sebuah pasukan khusus bernama "Tentara Perjuangan Rakyat" (TPR) yang langsung dipimpin oleh Panglima Divki Mayor Jenderal Tek Amir Husein Al-Mujahid. "TPR" pernah melakukan long march dan Aceh Timur-Aceh Utara-Aceh Pidie-Aceh Besar dan "mendalangi" serah tenma jabatan Panglima Divisi V/TKR Komandemen Sumatera di Kutaraja dan tangan Kolonel Sjamaun Gaharu ke tangan Mayor Husin Jusuf. Dibentuk juga batalyon "Berani Mati" yang terkenal dengan komandan Tgk. Usman Peudada. (CP-5).. Resimen Komando TPI Aceh/Divisi X TNI Komandemen Sumatera. Komandan Resimen, Mayor A.K. Jakobi Kepala Staf, Kapten M. Hasan Ben. Kekuatan 6 (enam) batalyon dengan 1 (satu) Kompi khusus di front Medan Area. Resimen Komando TPI ini berasal dari Tentara Pelajar Islam Indonesia yang dibangun oleh PERPIINDO (Persatuan Pelajar Islam Indonesia) pada awal revolusi fisik dan berpusat di Kutaraja.

  1. TRIP Resimen II/Divisi X TNI Komandemen Sumatera. Komandan Resimen, Zulkifli kemudian Amir Hamzah dengan 6 (enam) batalyon di seluruh Aceh. TRIP dibangun oleh IPPI Daerah Aceh.

    Peristiwa "Cumbok" Berkecamuk

Pada saat rakyat Aceh sedang bersiap-siap menyusun barisan, menghimpun diri dalam organisasi kekuatan sosial politik dengan membentuk partai-partai, ormas dan badan-badan perjuangan rakyat bersenjata, maka di kota Lammeulo, Aceh Pidie diairi-'" diam lahirlah sebuah organisasi bersenjata yang melakukan teror terhadap rakyat.

Aksi-aksi kekerasan ini tambah lama tambah gencar dan membuat rakyat jadi panik. Peristiwa ini dinilai serius, karena dapat menghambat perjuangan kemerdekaan. Diantara aksi-aksi mereka, tegas-tegas dilarang mengibarkan Merah Putih, yang pakai lencana merah putih ditahan dan dipukul.

Untuk melawan aksi-aksi ini, barisan rakyat dari semua golongan yang "Republikein''bersama "API" segera mengambil langkah-langkah mëfedam ketakutan yang berkecamuk di sekitar kota Sigli.

Dari pantauan alat negara, yang dengan gencar menyidik dan melakukan iden- tifikasi, ternyata yang berdiri di belakang organisasi itu adalah oknum uleebalang. Ini tidak berarti seluruh uleebalang di Aceh mendukungnya. Bahkan banyak kaum uleebalang yang menentangnya.

Kisahnya bermula di Beureunun, di rumah Teuku Keumangan Umar, tanggal 22 Oktober 1945 diadakan pertemuan antara kaum Uleebalang.

Dalam pertemuan itu disetujui dan diputuskan berdirinya sebuah organisasi dengan nama "Markas Uleebalang" dilengkapi pembentukan "tentara" sendiri yang dipersen- jatai. i

"Barisan Penjaga Keamanan", disingkat BPK, itulah nama yang diberikan kepada

pasukan mereka dengan markas besarnya ditetapkan di kota Lammeulo, 20 km dari kota SigU dan komandannya Teuku M. Daud Cumbok. Pasukan ini dibagi dalam tiga (3) kelompok dengan pembagian tugas masing- masing :

1. PASUKAN CAP "BINTANG" Bertugas mematahkan perlawanan rakyat yang tidak mau mendukung gerakan ini.

2. PASUKAN CAP "SAUH". Tugasnya merampok harta penduduk yang mendukung perjuangan kemerdekaan Rl.

3. PASUKAN CAP TUMBAK". Menangkap para ulama dan cerdik-cendikiawan untuk dibunuh dan menculik gadis-gadis untuk melayani anggota pasukan.

Tenaga teras pasukan ini didatangkan dari Medan, umumnya terdiri dari orang-

orang "rantai" (recidivist), mantan KNIL yang sudah bejat moralnya dan "preman" pasar Medan yang terkenal berandalan.

Tenaga teras ditambah pcngikut uleebalang dari kampung terdekat segera beroperasi tanggal 25 Oktober 1945 ketiga pasukan tersebut mulai melakukan teror dengan mempergunakan senjata api karaben, pistol dan senjata tajam seperti pedang, keiewang, parang, tombak, lembing dan rencong.

Sasaran pertama melumpuhkan dan menangkap para pemuda yang tergabung dalam "Pemuda Republik Indonesia" (PRI), yang selama ini bertugas menjaga kantor

telepon, kantor pos di kota Lammeulo. Pasukan ini melarang pemuda-pemuda memakai lencana merah putih. Bendera

Merah Putih yang terpasang diturunkan, dirobek dan dibakar. Semua selebaran, pamflet

yang berisi pengumuman dan maklumat pemerintah daerah yang dibuat oleh Residen

Aceh Teuku Nyak Arif dan pimpinan "API" Sjamaun Gaharu, dimusnahkan.

Pasukan ini terus meningkatkan intimidasinya dengan menahan, memenjarakan

dan memukul para pemuda yang tidak mau menggabungkan diri. Tindakan ini dimulai 3

November 1945 dan dilanjutkan tanggal 8 November 1945 dengan merampas kantor

"Pemuda Republik Indonesia" (PRI) di kota Lammeulo. Sejak waktu itu kota Lammeulo sepenuhnya jadi basis pasukan petualangan itu.

Melihat keberhasilan aksi-aksi yang mereka lancarkan di kota Lammeulo, timbul

hasrat pasukan ini untuk memperluas gerakannya dengan merebut dan menduduki kota

SigU, ibukota kabupaten Pidie. Sebuah kota yang terletak di persimpangan jalan yang

strategis, mampu mengisolir Kutaraja, ibukota karesidenan dari tiga kabupaten lainnya yang potensial di Pidie, Aceh Utara dan Aceh Timur.

Disamping itu, mereka dengan mudah dapat pula mempersiapkan lokasi pendaratan serdadu Belanda di pantai Sigli, sejalan dengan program penyambutan Wakil Ratu Belanda di Aceh (Commite van Ontvangst).

Seperti telah diketahui, jauh-jauh hari sebelum penyerahan Jepang kepada Sekutu tanggal 14 Agustus 1945, sebuah tim militer telah diterjunkan Sekutu di sekitar pegunun- gan Seulawah. Tepatnya di sekitar kampung Lam Teubah (Seulimum). Ini terjadi akhir bulan Juni 1945. Maksud semula untuk melakukan survey dan mempersiapkan lokasi pendaratan pasukan payung serta mendukung pendaratan pasukan Sekutu di pantai Seulawah yang landai.

Tim kecil ini dipimpin oleh B.W. Lefrand, mantan Kepala Pabean Belanda di SigU sebelum perang. Orang yang mengenal betul lokasi dan liku-hku jalan tikus di kawasan tersebut. Diluar dugaan, Jepang kalah lebih cepat karena ditemukannya bom atom, yang menghabisi riwayat Jepang.

Tim yang tadinya diterjunkan ke bukit Seulawah, diinstruksikan oleh markasnya untuk memutar haluan, yaitu menggabungkan diri segera dengan pasukan Sekutu di Medan. Kemudian dari sini di tata kembali rencana untuk mengkonsolidasi pasukan Inggeris/NICA dalam rangka menaklukkan dua karesidenan Sumatera Timur dan Aceh.

Sementara itu tekad "Markas Uleebalang" di Lammeulo kian menggebu-gebu untuk segera merebut dan menduduki kota SigU dan ketiga pasukan yang bersenjata senantiasa dalam keadaan siaga. Gerakan massal ini dituntaskan tengah malam buta tanggal 22 Desember 1945, serentak pasukan mengambil posisi dan menduduki tempat- tempat strategis dalam kota SigU. Menjelang dinihari seluruh kota telah dikuasai dan rakyat umum dilarang memasuki kota SigU.

Pagi harinya pasukan ini mendekati serdadu Jepang supaya menyerahkan sen- jatanya.

MeUhat gelagat yang berbahaya ini, para pemuda "PRI" dan pemuda "PUSA" di bawah pimpinan Hasan Ali, Hasballah Haji dan Hasan Saleh bersama pasukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) mengambil ancang-ancang untuk mencegahnya.

Bersamaan dengan itu Laskar Mujahidin Resimen II Divisi Tgk. Chik Di Tiro, di SigU di bawah pimpinan Said Usman dan Tgk. Amin Syamy serta Resimen II Divisi Rencong, di Sigli dengan komandan Putih Mauni, telah mengerahkan seluruh anggota dan massa rakyat untuk mengepung kota SigU.

Secara Blizkrig ratusan ribu massa dapat dimobiUsir dalam sekejap, sehingga membuat kecut hati ketiga pasukan cap Bintang-Sauh-Tombak yang menduduki kota SigU.

Massa rakyat kemudian berduyun-duyun menuju asrama Jepang dan mendesak supaya senjata jangan diserahkan kepada "Markas Uleebalang". Yang berhak menerimanya adalah pemerintah Rl dan TKR. Kalau Jepang tidak mengindahkan him-

bauan ini, kota Sigli akan diblokade, bahan pangan tidak boleh masuk dari luar dan pukulan terakhir akan dijatuhkan pada waktu yang tepat dengan serbuan umum.

Untuk beberapa hari pihak Jepang sendiri tampaknya bertambah bingung, belum dapat mengambil suatu keputusan. Karena ancaman datang dari dua jurusan, dari "Markas Uleebalang" di satu pihak dan pihak lain adalah massa rakyat yang "Republikein".

Akhirnya bentrokan fisik tidak dapat dihindarkan. Ketika pasukan "Uleebalang" mulai menembaki massa rakyat yang mengepungnya, maka meletuslah huru-hara, yang sulit dikendalikan.

Namun massa rakyat tak gentar, mereka maju terus mengépung lebih rapat dan berangsur-angsur mendekat ke pusat kota Sigli.

"Satu syahid seribu bangkit". Demikianlah tekad massa rakyat yang kian lama kian membanjir lautan manusia yang bermunculan dari segenap penjuru.

Dalam suasana yang khas, tiba-tiba muncullah dari Kutaraja, Panglima Divisi V TKR/Komandemen Sumatera, Kolonel Sjamaun Gaharu dan staf mencoba melerai dan menengahinya.

Untuk menghindarkan korban yang lebih besar, dicapai kesepakatan antara kedua belah pihak yang bertarung, supaya menahan diri.

Ada lima point yang disepakati kedua belah pihak, sebagai berikut:

  1. Senjata yang telah diserahkan oleh Jepang kepada "Markas Uleebalang" supaya diserahkan kembali kepada Pemerintah Daerah Aceh dan dibawa oleh TKR ke Kutaraja.
  2. "Tentara" Uleebalang ditarik dari kota Sigli dan kembali ke tempat semula.
  3. Kota SigU diserahkan kembali kepada pemerintah yang sah dan dijaga keamanan- nya oleh TKR, Polisi dan alat kekuasaan negara.
  4. Pihak rakyat dan pihak Uleebalang meninggalkan kota SigU dan kembali ke tem- patnya masing-masing.
  5. Jika terjadi perkosaan dan huru-hara dalam pemulangan ini, kepala dari masing-masing pihak yang bertanggung jawab. Ternyata kesepakatan itu hanya dijadikan dalih untuk memperoleh kesempatan
    bagi pihak Uleebalang meloloskan diri dari kepungan massa rakyat yang semakin ketat.

Mereka meninggalkan kota SigU menuju Lammeulo seraya meiepaskan tembakan sepanjang jalan yang dilalui, bagaikan kafilah yang menang perang. Senjata yang diperolehnya dari Jepang, satu butir pelurupun tidak ada yang tmggaL semua diangkut sampai bersih.

Perolehan senjata Jepang yang mereka angkut ke Lammeulo, malah membuat mereka lupa diri atas kesepakatan yang baru saja dibuat antara mereka dan pemuda.

Tanggal 10 Desember 1945 mereka mengadakan rapat di Lammeulo dan diputus- kan untuk meningkatkan kegiatan guna mematahkan perlawanan Republik.

  1. | Tanggal 16 Desember 1945, aksi-aksi mereka lebih sadis dengan mempergunakan senjata meriam dan mortir yang diperoleh dari Jepang ditujukan menembaki rumah-rumah rakyat dan kampung sampai hancur berantakan, terutama yang terletak di sekitar kampung Leungputu dan kampung Metareum, Aceh Pidie.
  2. Tanggal 20 Desember 1945, mulai membakar bangunan umum seperti madrasah di kampung Titeue dan kantor kehakiman. Membakar rumah para Ulama dan tokoh-tokoh masyarakat. Memperkosa wanita- wanita seraya merampok harta benda penduduk. Keberutalan pasukan ini sudah melewati batas, karenanya sejumlah pemuda
    Republikein dan massa rakyat tanpa kecuali sepakat untuk menghentikan teror itu.

Dalam musyawarah tokoh-tokoh pemuda tanggal 22 Desember 1945, disetujui membentuk "Markas Besar Rakyat Umum" berkedudukan di kampung Garut.

Tugasnya menghimpun semua potensi massa rakyat yang mendukvmg proklamasi 17 Agustus 1945.

Berdirinya "Markas Besar Rakyat Umum" mendapat sambutan dan bantuan spon- tan dari penduduk. Berbondong-bondong rakyat datang secara sukarela. Bahan makanan mengalir dari setiap kampung dan berdirilah dapur umum untuk melayani mereka yang bertugas siang malam dan pasukan-pasukan pemuda yang siap tempur dikonsentrasikan di kampung Garut.

Sebelum pasukan sukarelawan diterjunkan untuk menumpas teroris sebuah maklumat, dikeluarkan kepada umum dengan bunyi sebagai berikut:

SAUDARA-SAUDARA KAUM MUSLIMIN

Perjuangan kita sekarang adalah untuk menghapuskan segala kejahatan dan pengkhianatan terhadap bangsa dan tanah air. Oleh sebab itu, kami harapkan janganlah kejahatan itu terbit dari pihak kita.

1. Jangan membakar rumah walaupun siapa punya.
2. Jangan mengambil harta benda walaupun tiada berharga.
3. Segala orang yang ditangkap mesti diperlakukan dengan baik.
4. Jangan sekali-kali memukul musuh yang sudah ditawan, karena Allah tidak akan menolong orang-orang yang kejam dan tidak akan menerima doa mereka.
PIMPINAN MARKAS BESAR RAKYAT UMUM

Berbarengan dengan keluarnya maklumat itu, Pimpinan Divisi V/TKR Koman- demen Sumatera di Kutaraja, pada tanggal 8 Januari 1946 bersama-sama dengan Pemerintah Daerah Aceh mengeluarkan ULTIMATUM kepada "Markas Uleebalang" di kota Lammeulo, sebagai berikut:

ULTIMATUM

Dengan ini diberitahukan kepada golongan yang bérpusat di kota Lammeulo dan tempat-tempat lain yang memegang senjata dan mengadakan perlawanan rakyat umum, supaya menyerah dan menghentikan perlawanannya, mulai pukul 12.00 siang hari Kamis tanggal 10 Januari 1946. Kalau tidak mau menyerah dan menghentikan perlawanannya, maka mereka itu akan ditundukkan dengan

kekerasan.

PEMERINTAH DAERAH ACEH MARKA S UMUM DAERAH

ttd tt d

(Wakil Residen Aceh) ( K e t u a )

T. Panglima Polim Moh. AU Wakil Residen Aceh

"Markas Uleebalang" yang berpusat di kota Lammeulo tidak peduli bunyi ultimatum tersebut. Bahkan meningkatkan keganasannya dengan menembak para pemuda PRL/Pemuda PUSA, Laskar Mujahidin, Divisi Rencong dan TKR serta membakar rumah rakyat secara membabi buta dan merampok isinya.

Setelah waktu yang ditetapkan berlalu tanpa jawaban, batas ultimatum yang

diberikan tanggal 10 Januari 1946 pukul 12.00, maka massa rakyat yang dikoordinir oleh

para pemuda mulai bergerak melakukan aksi serentak untuk menghentikan petualangan pasukan Cap Bintang-Sauh-Tumbak, yang telah banyak menelan korban.

Setelah sholat Maghrib berlalu, pertempuran sengit memasuki babak penentu. Sejumlah kampung musnah diterjang peluru dan mesiu, yang paling menderita adalah

kampung-kampung Leungputu, Meuredu, Beureunun, Keumala dan Lammeulo, semuanya di Kabupaten Pidie.

Anak-anak dan wanita banyak yang diungsikan. Tidak sedikit pula yang ter- perangkap dalam rumah dan hangus terbakar di dalamnya.

Pertempuran seru berlangsung tiga hari tiga malam dan pada hari ahad tanggal 13

Januari 1946 "Markas Uleebalang" di kota Lammeulo dapat dikuasai seluruhnya dan pasukan Uleebalang kucar-kacir.

Namun, kepala pengkhianat Teuku Daud Cumbok yang bertanggung jawab dalam

petualangan ini, tidak ditemukan di kota Lammeulo. Ia bersama pengjkutnya yang setia

dilaporkan melarikan diri ke arah pegunungan Seulawah, berupaya menyusur pantai untuk meloloskan diri ke pulau Sabang.

Seluruh pantai di kaki Seulawah tetap diawasi dan setiap perahu atau sampan yang merapat digeledah dan tidak boleh bergerak.

Setelah tiga hari pasukan pemuda melakukan "pagar betis" di semak belukar

gunung Seulawah, maka pada hari rabu tanggal 16 Januari 1946, T. Daud Cumbok dan pengikutnya dapat dibekuk.

Dengan berhasilnya ditumpas pasukan pengkhianat T. Daud Cumbok maka "Markas Besar Rakyat Umum" mengeluarkan maklumat sebagai berikut:

MAKLUMAT

Pertempuran sudah selesai! Pengkhianat-pengkhianat Tanah Air sudah disapu bersih. Perlawanan "Markas Uleebalang" sudah dapat dipatahkan oleh rakyat. Perjuangan ini dilaksanakan untuk membasmi sekalian pengkhianat tanah air, Markas Uleebalang dan kaki tangan serta pengikutnya. Famili pengkhianat dan orang kampung yang tidak berdosa tidak akan diganggu, rakyat yang baik mesti tinggal di tempatnya masing-masing. Barangsiapa yang masih bersifat khianat, melawan terhadap rakyat atau mencoba-coba ge ra kan khianat akan dijatuhkan hukuman mati.

Dilarang keras merampok, merampas atau menggelapkan harta benda musuh (pengkhianat). Dilarang keras menyimpan, menyembunyikan atau menggelapkan untuk kepentingan sendiri senjata api dari segala jenis. Senjata tersebut harus segera diserahkan kepada kantor "Markas Besar Rakyat Umum". Sekalian rakyat yang baik hendaklah tinggal aman tenteram dan siap sedia serta patuh menuruti perintah pemimpinnya.

Sigli, 13 Januari 1946 "MARKAS BESAR RAKYAT UMUM" 84 hari lamanya Kabupaten Pidie diamuk "perang saudara" yang meluluhkan hati. Terhitung sejak letusan pertama senjata api pengkhianat terhadap rakyat tanggal 25 Oktober 1945.

Peristiwa itu baru berakhir tanggal 23 Januari 1946, setelah T. Daud Cumbok dan pengikutnya dapat diciduk dari persembunyiannya di dekat Water Schelding pegunungan. Padang Tiji di kaki Seulawah.

Dengan menyerahnya T. Daud Cumbok sebagai kekuatan terakhir pembangkang, maka patahlah "pion" penjajah Belanda di tanah Rencong.

Peristiwa yang sangat penting, merupakan batu ujian (touchstone) yang bernilai sejarah bagi Republik "muda" yang berusia lima bulan. Apa sebab ? Andaikata T. Daud Cumbok berhasil keluar sebagai pemenang dan pasukan Belanda sempat mendarat di pantai Sigli, maka jalannya sejarah Republik akan lain. Bung Karno tidak akan datang ke Aceh medio Juni 1948, seraya menganugerahkan nama julukan "Aceh Daerah Modal". Suatu pengakuan dari seorang Presiden Rl yang pertama dan sangat mengesankan.

Daiam konteks ini pantas disampaikan penghargaan kepada para pemuda dan seluruh lapisan rakyat, yang telah berjuang membela dan mempertahankan Proklamasi

Rl 17 Agustus 1945 dari pengkhianatan T. Daud Cumbok. Khusus kepada pemimpin kaum muda seperti Hasan Ah, Hasballah Haji, Hasan Saleh dan sebagainya perlu pula diberikan penghargaan yang serupa karena ketegasan sikap dan kepemimpinannya telah berhasil menggerakkan massa rakyat untuk men- geliminir pengkhianat dalam "Peristiwa Cumbok".

Dari introgasi para pemuda yang dilakukan terhadap gerombolan penculik dan perampok yang ditangkap, jelas adanya hubungan gerakan pengkhianat ini dengan pihak Belanda di Sabang.

Juga dokumen pengkhianat yang disita oleh Mujahidin dan PRI dari kurirnya yang tertangkap di Langsa sewaktu menuju Medan, tersingkap dengan jelas rencana persiapan pendaratan serdadu Belanda di Perairan Sigü, bila T. Daud Cumbok dapat menguasai kota Sigli yang strategis itu.

7-*) Hasan Afy, rekaman wawancara dengan penulis di Sigli Th. 1987

Letnan Kolonel HASAN AU (tengah) bergambar bersama Mayor Abdul Gani (kanan) dan Mayor Hasballah Daud (kirt) ^ (Koleksi Toto "Aki")

"Peristiwa Cumbok" yang banyak menelan korban jiwa penduduk dan harta benda rakyat, sering disebut juga sebagai "Revolusi Desember", yang belum dikenal secara luas oleh masyarakat Indonesia. Sedangkan makna "Revolusi Desember" itu sendiri dalam sejarah perjuangan mempertahankan Proklamasi Rl 17 Agustus 1945, mempunyai dam- pak nasional yang luas dan penting.

Masih ada pelaku sejarah '45 lalu, yang hidup sampai sekarang dan mampu menjelaskan peristiwa itu secara kronologis. Suatu bahan yang berharga bagi pengamat mengangkat kasus ini secara objektif dan lebih rinci dalam kaitan kesejarahan nasional yang utuh, dilihat dari segi kepentingan nasional Indonesia.

"Long March" Pasukan Al-Mujahid

Belum lagi kering mulut berbusa mencerca "Peristiwa Cumbok", dengan segala ekses yang mengerikan, akibat jatuhnya korban jiwa dan musnahnya harta benda, tiba-tiba berkobar lagi suatu tragedi yang mencemaskan hatinurani rakyat umum.

Bencana apa pula yang akan datang ?

Peristiwa ini bermula dari kota Idi, kabupaten Aceh Timur, tempat kelahiran pemimpinnya Amir Husin Al-Mujahid. Mulanya grup itu tidak terlalu banyak. Tapi tambah lama tambah ramai anggota pasukan yang menggabungkan diri sepanjang jalan yang dilalui, mulai dari kabupaten Aceh timur terus ke Aceh Utara, Pidie dan Aceh Besar. Pada saat pasukan mencapai kota Seulimum di Aceh Besar (20 km dari Banda Aceh) jumlah pasukan mendekati 1000 orang.

Yang memikat rakyat di jalanan, karena "long march" sejauh tidak kurang dari 400 km dari Idi-Lhok Seumawe-Bireuen-Sigli-Seulimum-Banda Aceh, melontarkan isyu untuk mengusir Belanda dari Sabang dan menggilas kaum feodal yang masih memim- pikan datangnya Wakil Ratu Belanda.

Melihat tema gerakan yang menggelitik itu, terus terang membuat rakyat dan pejuang di tiap desa yang dilewati spontan memasuki barisan dengan senjata seadanya di tangan seperti pedang dan rencong di pinggang.

Sentimen rakyat yang meluap-luap dan membara ingin membalas dendam terhadap penjajahan Belanda-sebagai amanah dan warisan nenek moyang-telah diman- faatkan secara jitu oleh Amir Husin Al-Mujahid, yang terkenal ugal-ugalan dan ambisius.

Sebelum dilakukan"long march" yang bersejarah itu, lebih dulu "gang" Al-Mujahid melakukan aksi dan pamer kekuatan (show of force) di kota Langsa, ibukota kabupaten Aceh Timur pada tanggal 12 Februari 1946. Hanya terpaut 19 hari setelah "Peristiwa Cumbok" usai.

Di Langsa "gang" ini, mulai menangkap Asisten Residen Kabupaten Aceh Timur, Teuku Raja Pidie, Wedana Langsa T. Ah Basyah dan sejumlah uleebalang lainnya. Juga tidak luput dari pengejaran dan penangkapan terhadap anggota kepolisian yang mereka curigai.

Setelah tugasnya di Langsa terlaksana "gang" ini menuju Kuala Simpang dan melakukan aksi serupa terhadap uleebalang setempat.

Giliran berikutnya terjadi di Lhok Seumawe, Kabupaten Aceh Utara. Yang menjadi sasaran utama seorang tokoh yang bernama T. Ibrahim Cunda, rival dekat Amir Husin Al-Mujahid (8-*).

Keberhasilan pasukan Amir Husin Al-Mujahid di tiga kota tersebut, telah membuat dirinya lupa. Ini terühat dari sikap dari ucapannya yang meledak-ledak, seolah semuanya sudah di tangan.

Kini yang ada dalam pikirannya, melancarkan "long-march" secepatnya menuju Banda Aceh dan Sabang. Untuk menghadapi lapangan yang begitu berat, ia mempersiap- kan sebuah pasukan dengan organisasi yang lebih baik. Pasukan itu dinamakannya "Tentara Perjuangan Rakyat" (TPR) dan ia sendiri menjadi Komandannya. Didampingi oleh teman seperjuangan seperti Nurdin Sufi, Osman Adamy, Abdul Manaf, Mahmud Harun, Ismail, Gazali Idris, Abu Bakar Majid, Usman, Abu Bakar Amin, Usman Peudada, Hasanuddin dan Budiman.

"TPR" ini bertolak dari Idi tanggal 22 Februari 1946 menuju Banda Aceh dengan jumlah anggota pasukan sekitar 300 orang. Anggota pasukan ini terus membengkak dan sesampainya di Seulimum jumlah mendekati 1000 orang, yang diangkut dengan tidak kurang dari 40 buah truk, dilengkapi senjata api dan senjata tajam.

Tanggal 25 Februari 1946, "TPR" masuk kota Sigli. Kedatangannya mendapat sambutan hangat dari rakyat Pidie, yang baru saja berhasil menumpas pengkhianatan "Peristiwa Cumbok". Di Ibukota Kabupaten Pidie tidak ada dilakukan pengejaran atau penangkapan terhadap kaum Uleebalang. Karena disini relatif telah "bersih" bersamaan dengan berakhirnya "Peristiwa Cumbok" yang tragis itu.

Seorang pemimpin rakyat yang disegani di Sigli, Tgk. A. Wahab Seulimum, telah memanggil Amir Husin Al-Mujahid dan menanyakan maksud dari gerakan "TPR" melakukan "long march". Pertanyaan serupa diajukan juga di Bireuen oleh Ayah Gani dan Ayah Hamid.

Dalam pertemuan terjadi dialog secara terbuka. Amir Husin Al-Mujahid men- jelaskan maksudnya untuk membersihkan kaum feodal yang pro penjajahan Belanda dari aparat pemerintahan Rl dan angkatan di daerah Aceh.

Hal ini satu-satunya cara yang perlu ditempuh untuk mematahkan dan melawan rongrongan Belanda/Inggeris yang melalui kaki tangannya hendak menguasai kembali daerah ini. Kalau ini sampai terjadi, berarti Proklamasi Rl 17 Agustus 1945 dalam keadaan bahaya. "Peristiwa Cumbok" masih segar dalam ingatan kita, sebuah mata rantai kolonial, merupakan bahan pelajaran yang sangat berharga bagi setiap pejuang 45. Peristiwa semacam itu tidak boleh lagi terjadi di bumi Iskandar Muda (9-*).

8- *) M. Nur El Ibrahimy, Naskahnya diHarian "Waspada" Medan Th. 1984

9- *) Amir Husin Al-Muhajid, rekamr. wawancara dengan penulis di Langsa. 1971

s

Ë 3.

C/3 .§ -° S ra •— i £ 6

<

ff

1 • ^

•3

3 >. § S 2 5 I

9 5 -s KJ te £

co

Namun, Tgk. A. Wahab Seulimum juga berpesan, supaya pelaksanaannya dilakukan dengan hati-hati, musyawarah, tidak boleh lewat pertumpahan darah. Kita sudah sepakat, "Peristiwa Cumbok" dan semacamnya tidak boleh terulang di daerah Aceh. Dari manapun datangnya, apakah dari pihak ulama atau pihak Uleebalang.

Kata "kunci" ini membuat Amir Husin Al-Mujahid tidak bisa berkutik dan tidak boleh menyimpang dari garis itu (10-*).

Tanggal 1 Maret 1946 adalah hari "H" yang ditetapkan Amir Husin Al-Mujahid dan ia memilih lokasi yang strategis, yaitu kota Seulimum sebagai pos terdepan, sebelum memasuki kota tujuan Banda Aceh.

Sebelumnya ia telah mengirim kurir dan perutusan "TPR" untuk melakukan pendekatan terhadap tokoh-tokoh pemerintahan dan tokoh masyarakat di ibukota Karesidenan Aceh itu.

Diantara perutusan terdapat nama besar yang berpengaruh, yaitu Tgk. A. Wahab Seulimum, Ayah Gani, M. Nur El Ibrahimy. Sedangkan tokoh-tokoh masyarakat yang dihubungi di Banda Aceh antara lain A. Hasjmy, Zaini Bakri, Nyak Neh, Tgk. Syech Marhaban, Pawang Leman, dan sebagainya. Dari tokoh militer yang dihubungi dian- taranya Mayor Husin Jusuf.

Dari pendekatan-pendekatan yang dilakukan penuh kearifan oleh perutusan, ter- ciptalah suasana yang saling mengerti antara kedua belah pihak, sehingga perubahan- perubahan pun berlangsung dengan lancar dan tertib.

Namun, dikalangan staf komando divisi V/TPR, dirasakan adanya kejanggalan. Tapi perasaan itu dapat dikendalikan demi kelangsungan perjuangan membela dan mempertahankan proklamasi Rl 17 Agustus 1945. Ini bisa terjadi, karena Pejuang 45 waktu itu umumnya terdiri dari orang-orang yang ikhlas, berjuang tanpa pamrih. Bukan mengejar pangkat, kedudukan atau materi (11-*).

Nah, nilai-nilai kejuangan yang ikhlas ini, perlu diwariskan kepada generasi penerus, juga kepada angkatan 45 itu sendiri.

Sebab apa ?

Banyak dikalangan pejuang 4 5 itu sendiri kini mentalnya mengalami erosi. Matanya silau melihat tahta, harta, juga "sogokan" sehingga tidak jarang timbul persain- gan yang tajam dikalangan Angkatan 45 itu sendiri yang berakibat timbulnya keresahan.

Rivalitas yang tampaknya kian meruncing di cabang atas dan menengah bersipon- gang jauh sampai meluluhkan sendi-sendi masyarakat Pancasila yang sedang kita bangun.

Jadi, pelestarian dan pewarisan nilai-nilai kejuangan 45 yang ikhlas, tanpa pamrih, justru harus ditujukan juga kepada Angkatan 45 yang mentalnya sudah mengalami erosi.

10- *) Tgk~A. Wahab Seulimun, rekaman wawancara denganpenulis di Sigli. Th. 1971 11- *) Syamaun Gaharu (Mayjen Purn), artikelnya di harian "Waspada" Medan Januari 1985.

A. AMINS

Kasus ini seyogyanya menjadi bahan kajian yang menarik bagi para ilmuwan, mengapa hal itu sampai terjadi ?

Apakah sosok Pejuang 45 itu masih konsisten murni atau loyang ?

Sebab ada juga sebagian kecil yang mengaku Pejuang 45 ternyata dalam periode perang Kemerdekaan Rl antara tahun 1945-1949, dia jadi mata-mata NICA atau Poh An Tui. Tipe Pejuang 45 seperti ini tentu saja jati dirinya tidak murni dan tipe manusia seperti itu, sulit diharapkan untuk bersikap konsisten dengan nilai kejuangan 45. Ini contoh kasus yang perlu diteliti oleh para pengamat dan ilmuwan.

Nah, kembali kepada pasukan "TPR" di Seulimum, yang hendak menyerbu Banda Aceh, berhasil menciptakan iklim musyawarah dan kekeluargaan.

Pada hari "H" yang telah digariskan, tanpa ramai-ramai telah berlangsung di Banda Aceh serah terima pimpinan kemilitoran Divisi V/TRI dari Kolonel Sjamaun Gaharu kepada Panglima Divisi V/TRI yang baru, Mayor Husin Jusuf.

Kepala stafnya jugaberalih tanggungjawab dari Mayor T.A. Hamid Azwar kepada Mayor Nurdin Sufi.

Upacara disaksikan oleh Amir Husin Al-Mujahid, yang mengangkat dirinya menjadi Mayor Jenderal dan sejumlah tokoh masyarakat lainnya. Dari pihak pemerintah hadir menyaksikan Wakil Residen Aceh, T. Panglima Polim Mohd. Ali. Residen Aceh, Teuku Nyak Arif tidak hadir karena cuti sakit sejak dua bulan sebelumnya.

MOHD. NUR EL IBRAHIMY (80 Th).

Mantan anggota DPR. Rl. Jebolan Universitas "AL-AZHAR" Mesir. Seorang tokoh intelektual yang banyak peranannya memajukan pendidikan Islam dan umum di Aceh sejakzaman pergerakan kébangsaan.

TERIMA KTN.

Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, Jenderal Mayor Tgk. Mohd. Daud Bereueh bersama Residen Aceh T.T. Moh. Daudsyah sedang menerima Komisi Tiga Negara (KTN) yang berkunjung ke Kutaraja, Aceh menjelang clash II. Gubernur Militer didampingi oleh Staf antaranya nampak Kepala Polisi Aceh Moh. Insya, Tgk. Abdul Wahab Seulimum,

T.M. Amin, Osman Raliby, Tengku Maimun Habsyah, Zaini Bakri dan juga hadir Sultan Siak, nama lengkapnya, Sultan Assaidyid Assyarif Qassim Abdul Jalil. Gambar bawah memperlihatkan Panglima Divisi yang baru Kolonel Husin Jusuf bersama Mayor Hasan Saleh dan Mayor
A.M. Namploh. (Koleksi Toto "Aki).

Dua hari kemudian, yaitu tanggal 3 Maret 1946, Mayor Jenderal Tituler Teuku Nyak Arif melimpahkan fungsinya sebagai koordinator/ organisator TRI Divisi V kepada Mayor Jenderal Amir Husin Al-Mujahid. Sedangkan serah terima jabatan Residen Aceh dilakukan kepada T. T. Daudsyah.

Walhasil, upacara penyerahan dan penerimaan ketiga jabatan yang strategis di Aceh itu, telah berlangsung dengan tenang dan kesatria, penuh saling pengertian dan pengendalian diri yang matang.

Dari peristiwa itu terlihat jelas kebesaran jiwa seorang negarawan seperti Teuku Nyak Arif dan Kolonel Sjamaun Gaharu. Dia tidak melihat kepentingan dirinya atau kepentingan "Ke-Aceh- annya".

Yang dipertaruhkannya adalah kepentingan yang lebih besar bagi kelangsungan dan kelestarian negara bangsa, yang justru pada saat itu sangat dituntut adanya persatuan seluruh potensi untuk menghalau ancaman penjajahan Belanda yang berada di depan hidung. Karena banyaknya kapal perang Belanda lalu lalang antara Sabang dan Belawan yang selalu mengancam. Pergantian pimpinan Divisi V/TRI Komandemen Sumatera dan Jabatan Residen Aceh, dua posisi penting di bumi Iskandar Muda, telah mengundang komentar masyarakat menurut visinya masing-masing. Peristiwa itu dinilai tgrlalu terburu-buru dan tiba-tiba, sadangkan pendapat lain menyebutkan sebagai sikap yang tepat waktu.

Ancaman yang setiap saat r •mgintip di sekeliling perairan Aceh, tidak memungkinkan orang Aceh hanyut dengan emosinya masing-masing. Oleh karena itulah, masalah pergantian pimpinan kemiliteran dan pemerintahan sipil akhirnya dinilai sebagai hal yang wajar-wajar saja.

Di sini terlihat kebolehan "leadership" dari Letnan Kolonel Husin Jusuf sebagai Panglima Divisi V/TRI yang baru, mampu mengakomodir aspirasi rakyat yang tumbuh di satu pihak.

Di pihak lain mampu pula merumuskan dan merekayasa perjuangan menghadapi ancaman kolonialisme Belanda dari front "Medan Area".

Dua bulan setelah serah terima jabatan, yaitu tanggal 4 Mei 1946, mantan anggota Volksraad dan Residen Aceh, Teuku Nyak Arif waf at di tempat peristirahatannya di kota dingin Takengon, karena menderita penyakit lever.

Kolonel Sjamaun Gaharu dan Mayor T. A. Hamid Azwar ditugaskan Komando Sumatera masing-masing di Palembang dan Bukit Tinggi.

Tahun 1956 Kolonel Sjamaun Gaharu dipercaya oleh pemerintah pusat untuk memulihkan keamanan di Aceh dengan konsepsinya yang terkenal "Prinsipiil dan Bijak- sana".

Februari 1957 Sjamaun Gaharu dilantik jadi Panglima Kodam 1/ Iskandar Muda. Sampai kemudian diangkat jadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Peristiwa 1 Maret 1946 di Kutaraja itu, telah menjadi bahan polemik yang cukup ramai di harian "Waspada" dalam penerbitan tahun 1984/1985. Polemik terjadi antara dua pakar M. Nur El Ibrahimy, mantan anggota DPR Rl dan Brigadir Jenderal (Purn) Sjamaun Gaharu, mantan anggota DPA Rl.

M. Nur El Ibrahimy menamakan peristiwa itu, sebagai "perebutan kekuasaan" dengan cara damai. Sedangkan Sjamaun Gaharu menyebutnya sebagai upacara

"penyerahan dan penerimaan jabatan". Tidak ada perebutan kekuasaan disitu. Yang ada

hanyalah penyerahan jabatan oleh satu pihak dan di pihak lain menerima jabatan yang diserahkan itu, tegas Sjamaun Gaharu.

Polemik iyang menarik dan panjang itu, baru berhenti setelah redaksi harian "Waspada" menyatakan polemik ditutup.

PANGDAM ISKANDAR MUDA yang kesatu, Kolonel Sjamaun Gaharu bersama' Kepala Staf Mayor Teuku Hamzah Bandaharo bergambar bersama Penganten Aceh dalam acara melestarikan adat tradisional Aceh. (Koleksi Foto "Aki").

  • PERTEMPURA N MEREBUT SENJATA JEPANG
  • Segitiga " Geumpang-Gumpang-Bakongan " O Teknik Merebut Senjata
  • Seulimum-Lhok Nga-Sigli-Bireuen-Desa Juli-Krueng Pandjo-Lhok Seumawe-Kuala Simpang-Langsa-Meulaboh-Aceh Tengah
  • Satu Divisi Senjata Di Sumatera
  • Misi Mayor Omura Gagal
  • Du a Batalyon Serbu Aceh

8A8

EAA

E MO

gnsqmueD"apltipe8 □ 9tene2 judeisM linieT e4 xor- mumllue ojbrsq pneun>i -jlul-sasd ueM-saprial-prsqmi8 mua la efsjne2 lalvid ule sge9 mnumO 1oysM lalM eoA ude noylsts8 sud

Segitiga "geumpang-gumpang-bakongan"

Aceh yang terletak di bagian ujung perbatasan, oleh militerisme Jepang dibangun sebagai tameng utama menghadapi Sekutu bila serbuan datang dari utara dalam perang dunia EL Sekaligus dipersiapkan untuk perang gerilya jangka panjang.

Ini dapat dilihat dari tata letak lokasi basis pertahanan yang disusun secara rapi dengan menempatkan berbagai jenis senjata berat yang beragam dan lubang pertahanan yang spesifik, dibantu terrein yang memang ideal.

Benteng pertahanan yang utama ditemukan di Sabang. Pulau itu sudah di sulap dengan jaringan lubang pertahanan di sekelilingnya. Tiap lubang pertahanan dilengkapi meriam ukuran besar dan parit penghubung satu dengan lainnya, termasuk pembekalan secukupnya.

Basis,, pertahanan lainnya di daratan Aceh, dijumpai di Lhok Nga, Aceh Besar, Geumpang/Tangse di Aceh Pidie, Redelong di Aceh Tengah dan Gumpang/Gunung Setan di Aceh Tenggara. Lima lokasi yang tersebut terakhir dipersiapkan untuk melayani perang gerilya jangka panjang.

Dipilihnya dataran tinggi pegunungan Aceh sebagai terugval basis bagi perang gerilya jangka panjang menghadapi Sekutu, tampak dari persiapan-persiapan serdadu Jepang yang dilakukannya selama pendudukan.

Dataran tinggi pegunungan Aceh itu dikenal sebagai segitiga "Geumpang-Gumpang-Bakongan" dengan latar belakang Gunung Leuser yang terpancang tinggi di tengah, terkenal angker dan misterius.

Terrein yang alamiah dan ideal ini pernah ditinjau Jenderal M. Yüsuf dalam fungsinya sebagai Pangab dan memperkuat pendapat yang menyatakan, sangat cocok dijadikan terugval basis dalam perang gerilya jangka panjang, qua militer teknis sulit ditembus.

Garis pertahanan ini pula yang mendukung perang Aceh-Belanda yang ber- langsung selama 80 tahun. Terhitung sejak dikeluarkannya surat minta penyerahan diri dan tunduk Kerajaan Aceh kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mijer tahun 1867. Gerilyawan "Muslimin" di Aceh tidak pernah tunduk kepada kolonialisme Belanda, sampai Jepang datang di tahun 1942. Ini dimungkinkan karena didukung oleh terrein yang ideal bagi suatu perang gerilya jangka panjang, seperti dataran tinggi pegunungan Aceh yang membujur dari barat ke timur belok ke selatan, dikenal poros segitiga "Geumpang-Gumpang-Bakongan". Kalau Jepang menilai lapangan yang spesifik ini cocok untuk mendukung suatu perang gerilya jangka panjang, maka hal itu bukanlah mengada-ada. Tapi, jauh sebelum itu nenek moyang kita pun telah mempelopori dan menerapkan sistem yang serupa, meski tidak selalu sama.

Setelah sumber daya alam yang potensial dan strategis, ditetapkan lokasinya yang tepat, kemudian Jepang melangkah untuk menata keterampilan manusia yang menyetir

"behind the gun". Dalam kaitan ini ratusan pemuda pilihan dipanggil dan dilatih memanggul senjata.

Organisasi kemiliteran yang dipersiapkan Jepang untuk anak-anak melayu di

Sumatera adalah Gyugun, Heiho, Tokubetsu Keisatsutai dan Tokubetsu Hikoyo Kin- mutai.

Setelah menjalani latihan dan pendidikan militer yang berat, menimba pen- getahuan kemiliteran selama satu tahun, maka dilantiklah untuk pertama kalinya di Sumatera 18 orang perwira Gyugun yang terbaik (12-*).

Dari jumlah 18 perwira itu, 16 orang diantaranya berasal dari Aceh, hanya 2 orang berasal dari Sumatera Timur.

Ke-16 perwira asal Aceh itu adalah sebagai berikut:.

1. Nyak Neh Rica. 2. Said Usman. 3. T. Sarong. 4. T. Abdurrahman Keumangan. 5. Sjamaun Gaharu. 6. T. M. Daud Samalanga. 7. T. A. Hamid Azwar. 8. T. Muhamad Syah.
9. Bachtiar Dahlan. 10. T. Usman Jakub. 11. T. Tjut Rahman. 12. Wahab Macmour. 13. Hasan Ahmad. 14. Razali. 15. M. Nazir. 16. Nyak Hukum.

Dua orang dari Sumatera Timur adalah Achmad Tahir dan Hopman Sitompul,

yang kemudian terkenal sebagai pelopor dan pemimpin Angkatan Bersenjata sejak perang kemerdekaan.

Dari perbandingan jumlah perwira Gyugun yang lulus pada angkatan pertama dengan memperoleh masing-masing pangkat "Shoi" (Letnan Dua), jelas tampak per-

bedaan yang menonjol. Disini terlihat betapa besar peranan yang dtberikan Jepang

kepada Aceh untuk berpartisipasi dalam pertahanan dan keamanan rakyat untuk kemenangan "Asia Timur Raya".

Disamping itu, nnsih ada pendidikan dan latihan kesatuan khusus yang diadakan Jepang di Aceh, yaitu Tokubetsu Keisatsutai. Pendidikan ini melahirkan perwira-perwira berbakat, seperti Kapten Muhammad Din, Letnan Satu Bahrin Yoga, para Letnan Dua Maaris, Maat, Jalim Umar dan Letnan Dua Abdur Rahim.

Para perwira Gyugun dan Tokubetsu asal Aceh tersebut di atas, bersama perwira-perwira lainnya yang tersebut di bawah ini merupakan tokoh-tokoh pelopor, penggerak dan pembangun kesatuan bersenjata di Aceh, mulai dari bernama API, TKR, TRI sampai TNI.

Perwira itu antara lain adalah :

1. Husin Jusuf. 2. Hasballah Haji. 3. T. Hamzah. 4. Said Ali. 5. Ismail Mangki. 6. Hasby Wahidy. 7. Nyak Adam Kamil. 8. Ali Hasan AS. 9. Hasan Saleh. 10. Alamsyah. 11. T. Hamdani. 12. H. M. Syarif. 13.T. Manyak. 14. Nukum Sanany. 15. Bustanil Arifin. 16.

12-*) Paper SYAMAUN GAHARU, Brigen (Pitm) dalam Seminar 'Perjuangan Aceh". Medan 22-25 Maret 1976.

GAMBAR ATAS.

Barisan Gyugun dan Heiho, yang terdiri dari pemuda-pemuda Indonesia sedang dilatih gaya kemiliteran di zaman jepang.

Gambar bawah, sejumlah taivanan wanita Belanda, yang setiap pagi dilatih menundukkan kepala ke Tokio (seikere). Mereka ditempatkan di asrama-asrama khusus. (Repro).

A. R. Ramli. 17. M. Daud Gade. 18. Muhammadiyah Haji. 19. Budiman Daud. 20. Ilyas

Mahmud. 21. AR. Achmady. 22. Bachtiar Idham. 23. Gedong. 24. Mufti AS, dan lain sebagainya.

Teknik Merebut Senjata

Sehari setelah Jepang berlutut kepada Sekutu, mereka segera membubarkan kesatuan-kesatuan yang pernah dilatih dan dididiknya seperti Gyugun, Heiho dan Tokubetsu. Bersamaan dengan itu, seluruh persenjataan yang tadinya dipegang oleh putera Indonesia, langsung ditarik, dikumpulkan dan disimpan dalam gudang. Putera-putera Indonesia disuruh pulang kampung dengan tangan kosong tanpa senjata sama sekali. Begitulah cara Jepang melakukan pengamanan terhadap persenjataan mereka, sesuai dengan instruksi Sekutu.

Pada awal berdirinya API, TKR, TRI, masalah senjata muncul sebagai masalah aktual yang mencuat dan sangat vital.

Tentara tanpa senjata, sama dengan pistol tanpa peluru. Oleh sebab itu, dikalangan pimpinan militer dan laskar rakyat, tumbuh berbagai gagasan dan perekayasaan untuk merebut senjata Jepang dari sarangnya. Ini pekerjaan nekad. Disamping keberanian, juga diperlukan trik- trik yang jitu. Keberanian saja tidak cukup. Ada suatu hal yang sangat mengesankan. Para pejuang dan pemuda kita tampaknya berlomba-lomba menyodorkan diri atau berebut ingin diberi tugas oleh pimpinan untuk merebut senjata Jepang di asrama atau di gudangnya sekalipun. Mereka tidak ingkar dan tidak gentar.

Semangat dan sikap kesatria ini sangat membesarkan hati. Hal-hal seperti ini sering pula terdengar oleh serdadu Jepang, sehingga tidak jarang mereka bermurah hati menyerahkansejumlah senjatanya lewat sebuah pertempuran yang telah direkayasa sebelumnya. Pertempuran pura-pura ini dijadikan alasan untuk Sekutu kelak. Dengan cara-cara begini, tidak sedikit jumlah senjata Jepang yang dapat digaet oleh para pemuda dan pejuang kita.

Berdasarkan pengamatan intelijen kita, dikonstatir senjata-senjata Jepang terpen- car di berbagai tangan kelompok yang berbeda.

1. Ada senjata perorangan, dipakai oleh pribadi-pribadi serdadu Jepang karena fungsinya menjaga diri.
2. Senjata yang dikuasai oleh pemerintah sipil (Gunseibu). Termasuk senjata-senjata yang dipakai oleh polisi, alat pemerintah atau kedinasan lainnya, yang kebanyakan berasal dari senjata rampasan milik Belanda.

3. Senjata serdadu Jepang, yang masih utuh di gudang senjata atau di asrama-asrama militer.

Menggaet senjata perorangan, tidak ditemui kesulitan yang berarti. Bergantung kepada metoda pendekatan atau keterampilan perorangan yang memerankannya.

Biasanya sering dilakukan dengan sedikit bujukan atau ancaman. Kadang-kadang lewat barter kebutuhan pangan.

Mengenai senjata-senjata yang ada di tangan Gunseibu (pemerintah sipil Jepang) dapat

beralih tangan dengan tekanan-tekanan para pejuang atau lewat diplomasi para pemim- pin.

Sebuah contoh yang dilakukan Residen Aceh, T. Nyak Arif berhasil menggaet 600 buah senjata api Gunseibu, setelah ia bertemu langsung dengan Aceh Syu-Tyokan (Residen Jepang di Aceh) S- lino. Tentu saja dalam pembicaraan itu, S. lino minta jaminan supaya Jepang jangan diganggu rakyat atau pejuang.

Demikian pula para Bun-Sutyo (Bupati) Jepang di tiap Kabupaten di Aceh, telah

menyerahkan senjata-senjatanya kepada pemerintah sipil setempat atau pimpinan militer kelaskaran lewat diplomasi.

Dengan senjata-senjata inilah kemudian sebagai modal dasar untuk "menggedor" gudang-gudang senjata Jepang yang masih terkunci rapat.

Di luar persenjataan sipil dan perorangan Jepang, masih ditemukan sejumlah besar

senjata Jepang di berbagai asrama dengan pasukan dan arsenal militer yang utuh.

Jumlah pasukan dengan perlengkapan senjatanya diketahui sebagai berikut:

1. Dua Batalyon di Kabupaten Aceh Besar, dipusatkan di Lhok Nga dan Banda Aceh. Ditambah sebuah kompi lagi di Seulimum.
2. Satu Batalyon di Kabupaten Pidie, ditempatkan di Sigli.
3. Satu Batalyon di kota Bireuen, satu kompi di Takengon.
4. Satu Batalyon di Lhok Seumawe.
5. Satu Batalyon di Langsa, satu kompi lagi di Kuala Simpang.
6. Satu Batalyon di Aceh Barat dan Aceh Selatan, ditambah masing- masing satu kompi untuk Tapaktuan dan Calang.

7. Satu batalyon di Kutacane dan satu kompi di Blangkejeren.

Persediaan senjata Jepang bukan hanya itu saja, tapi masih terdapat "arsenal"

Jepang di Aceh, yang memendam timbunan senjata dan tumpukan mesiu, lengkap dengan meriam berbagai ukuran.

Gudang senjata itu terletak di kompleks lapangan terbang Lhok Nga dan lapangan terbang Blang Bintang. Bahkan di Tepin Mane di pinggiran kota Bireuen menuju arah jalan ke Takengon, terdapat pabrik senjata yang mensuplai kebutuhan perang. Bayangkan senjata dengan amunisi bergudang-gudang itu dikemas oleh Jepang untuk persiapan perang gerilya jangka panjang lawan Sekutu.

Berbagai upaya pemuda dan pejuang untuk menerobos, menguasai alat persen- jataan Jepang dari sarang-sarang mereka, dapat dituturkan sepintas lalu berikut ini:

Seulimum

Seulimum adalah sebuah kota Kewedanaan, terletak sekitar 20 km. dari Banda Aceh. Disini terdapat sebuah Kompi Istimewa Jepang, menduduki lokasi yang sangat strategis di atas bukit.

Siasat untuk merampas senjata-senjata Jepang ditempuh dengan menterapkan falsafah "menebang pohon kayu besar". Ranting dan cabang dipreteli dulu, baru kemudian batangnya ditebang (13-*).

Sasaran utama ditujukan untuk membungkam kompi Istimewa Jepang di Seulimum, yang terkenal memiliki senjata otomatis ampuh dan tangguh.

September/Oktober 1945 di Banda Aceh merupakan bulan-bulan yang tersibuk bagi API dan Laskar Perjuangan Rakyat untuk menyusun organisasi pertahanan dan keamanan negara serta rakyat. Refleksi kesibukan ini terpantul juga ketiap sudut seluruh desa di daerah Aceh tanpa kecuali.

Setelah wadah organisasi kemiliteran terbentuk seperti API dan wadah organisasi kelaskaran muncul seperti Divisi Tgk. Chik Di Tiro, Divisi Rencong, Divisi Tgk. Chik Paya Bakong dan lain sebagainya, maka kini timbul masalah baru yang cukup pelik. Yaitu masalah senjata diperoleh dari mana ? Apakah tentara dan barisan kelaskaran kita akan berjuang menghadapi Jepang dan Belanda tanpa senjata ? Apakah bisa ? Apakah mungkin ? Bermacam-macam pertanyaan memerlukanjawaban sekarang, sekarangjuga.

Untuk menjawab pertanyaan yang membingungkan ini, Ketua Markas API Daerah Aceh, Kolonel Sjamaun Gaharu dalam sebuah briefing-nya kepada staf dan para koman- dan Resimen/Batalyon medio Oktober 1945 di Banda Aceh menegaskan : "Setiap peristiwa itu ada hikmahnya, selama kita mampuTnemetik hikmah yang tersembunyi di dalamnya. Hikmah kedatangan Jepang ke Indonesia selama 3,5tahun, ia telah mengajari pemuda-pemuda Indonesia ilmu militer, ilmu perang, yang sekarang kita rasakan manfaat dan hikmahnya. Hikmah lain yang belum kita manfaatkan adalah senjata Jepang. Jepang telah membawa senjatanya ke Indonesia, meneapa kita tidak merebut seniata itu untuk menguasainya, kapan lagi ?"

Inilah modal awal yang menyulut semangat kaum muda untuk merebut senjata Jepang dengan segala resiko yang dihadapi.

Pengalaman pertama untuk merebut senjata Jepang ke sarangnya, terjadi di Seulimum. Asrama militer ini terkenal angker dan memiliki senjata terlengkap termasuk artileri.

13-*) Syamaun Gaharu, Kolonel, Ketua Markas API Daerah Aceh. Catatan Hariannya, Oktober 1945.

Peristiwa itu terjadi akhir November 1945. Kota Seulimum dinihari sudah kelihatan mulai ramai. Tampaknya setelah sholat Subuh rakyat tidak kembali lagi ke rumahnya, tapi langsung ke sekitar asrama militer Jepang. Berduyun-duyun rakyat kampung mundar-mandir dan lalu lalang di sekitar asrama militer Jepang.

Pada saat itu rakyat belum diperkenankan melakukan aksi-aksi kecuali hanya mundar-mandir secara berkelompok, sekedar menarik perhatian.

"Perang urat syaraf' ini sengaja dilancarkan untuk menggoyahkan mental dan semangat serdadu Jepang yang sudah kalap dan sudah banyak yang melakukan "harakiri" (bunuh diri).

Tanggal 23 November 1945 "psy-war" lebih ditingkatkan. Rakyat mulai diinstruk- sikan mengepung asrama militer Jepang yang bertengger di atas bukit. Pengepungan dilakukan dengan mengacung- acungkan senjata api, yang jumlahnya sedikit tapi kelihatannya seolah banyak. Namun, belum diizinkan meiepaskan tembakan.

Langkah berikutnya serdadu Jepang diberitahu tidak meninggalkan asrama walau membeli kebutuhan pangan sehari-hari. Sebaliknya kepada rakyat petani pun dilarang menjual bahan makanan ke asrama Jepang tersebut.

Blokade total mulai dijalankan dan Jepang sudah mengetahuinya. Melihat gelagat yang rawan, Komandan kompi di asrama tersebut, segera melapor kepada "Butaityo" (komandan batalyon) di Banda Aceh minta petunjuk. Oleh "Butaityo" Jepang itu segera menghubungi pimpinan Markas Daerah API di Banda Aceh dan menanyakan maksud gerakan rakyat di Seulimum.

Komandan Markas Daerah API, Kolonel Sjamaun Gaharu memberitahu Komandan Batalyon Jepang, bahwa rakyat ingin memperolah senjata. Dijelaskan juga jalan-jalan yang menghubungkan antara Banda Aceh dengan Seulimum telah dijaga rakyat dan ditaburi kayu dan balok- balok perintang.

Komandan Markas Daerah API itu juga menghimbau, supaya masalah ini dis- elesaikan dengan cara perundingan, mengingat luapan amarah rakyat tidak bisa diken- dalikan lagi. Kalau penyelesaiannya diserahkan kepada massa rakyat akan menelan korban jiwa yang banyak dari kedua belah pihak.

Selesai diplomasi lewat telepon ini, tampaknya "Butaityo" tidak bernafsu lagi membantu dan melihat situasi jalan menuju Seulimum. Bahkan kepada Komandan Kompinya di Seulimum diperintahkan untuk melakukan penyesuaian dengan perkem- bangan situasi setempat.

Sesuai perundingan, besoknya Komandan Markas Daerah API, Kolonel Sjamaun Gaharu dan Kepala Persenjataan, Mayor Said Ali bertolak ke Seulimum. Disana sudah menunggu Komandan Pasukan Seulimum, Mayor T. Manyak dan petugas khusus Markas Daerah API, Mayor Bachtiar Idham, bersama-sama menuju asrama kompi Jepang di Seulimum itu.

MAYOR Teuku Manyak, Komandan untuk wilayah Seulimum, diabadikan bersama Letnan Kolonel Nurdin Sufi (pakai jas) dalam sebuah kunjungan kerja di kewedanaan kota Seulimum. (Koleksi Toto "Aki").

Man tan Gubernur Aceh, A. Muzakkir Walad.

Dalam perundingan dicapai kesepakatan, Jepang menyerahkan 120 pucuk karaben, 3 buah meriam gunung dan 3 gudang amunisi. Sementara untuk serdadu Jepang dijamin keamanan dan perbekalannya sampai ia meninggalkan Aceh tanggal 3 Desember

1945.

Lhok Nga

Lokasi ini sangat vital dan strategis, terletak sekitar 12 km. dari Banda Aceh. Disini dipusatkan perbekalan senjata Jepang dengan kapasitas kekuatan militer penuh dan personil tidak kurang dari 2 batalyon, meliputi pasukan tempur ketiga Angkatan Darat, Laut dan Udara.

Kompleks ini dilengkapi dengan lapangan terbang militer, pabrik senjata dengan sejumlah gudang mesiu dan peluru, fasilitas pendidikan dan latihan militer.

Lhok Nga yang terbujur di pinggir pantai di ujung utara Aceh cukup disegani oleh angkatan udara Belanda. Letaknya memang strategis. Di kiri kanan pantai yang indah itu, berdiri dengan anggun bukit-bukit tempat bersarangnya pasukan meriam penangkis udara. Pasukan artileri ini ditangani oleh pasukan TKR yang berasal dari KNIL dan dibantu oleh serdadu-serdadu Jepang yang bersimpati dengan perjuangan Kemerdekaan RL

Untuk merebut senjata Jepang disini tidak mudah, karena penghuni militer pun cukup banyak, dikawal ekstra ketat seluruh persenjataan yang ada di dalamnya.

Hanya orang-orang yang rada "sinting" yang berani melakukan petualangan yang berbahaya itu. Tapi pejuang dan pemuda Aceh yang sudah "kesurupan" makna kemerdekaan, tidak menghiraukan semua bahaya itu. Mereka ikhlas dan tulus berkorban jiwa, harta dan kedudukan, demi kemerdekaan dan tetap berkibarnya sang Saka Merah Putih.

Ini fakta bukan slogan, ini realita bukan obrolan.

Begitulah, hampir-hampir tidak bisa dipercaya. Tanggal 1 Desember 1945 serbuan terhadap kompleks persenjataan Lhok Nga menjadi kenyataan.

Satu kompi pimpinan Abdullah Masri (sekarang Wakil Ketua DPD GOLKA R Tingkat I Aceh) bersama tiga ribu pasukan rakyat yang dikerahkan oleh Nyak Neh, Pawang Leman sudah berhadap-hadapan dengan serdadu Jepang yang siap tempur.

Sebelumnya para pejuang melakukan pendekatan secara manusiawi, supaya senjata yang ada berbagi dengan Indonesia. Ternyata diplomasi ini tidak mempan, tawaran pejuang ditolak serdadu Jepang. Mungkin mereka terlalu percaya diri, karena yakin akan kekuatan persenjataannya yang tangguh.

Melihat sikap Jepang yang kaku, para pejuang pun tidak mau mundur. Pamer kekuatan massa rakyat mengepung sekeliling kompleks merupakan senjata yang cukup ampuh. Rakyat menyemut turun dari kampung-kampung sekitar dengan membawa sen-

. 46

Letkol Art Abdullah Syam Lx. Dan Batry-3 Divisi-X TNI Kolonel (Purn) Ali Hasan A.S. 1945 - 1950

BARISAN DEPAN BERDIRI

(duduk, dari kiri ke kanan) (dari kanan ke kiri)

1. M. AU BUSYAH TAICO 1. T. IBRAHIM.
2. TM. LOTHAN 2. HARUN ALI
3. KAPTEN M. NURD1N 3. ISHAK IBRAHIM
4. ANAS SOTYAN 4. USMAN YUSUF
5. ABDULLAH MASR1 5. SAID ZAKARIA
6. T.A. ASAHAN
7. SULA1MAN MAKAM
8. IBRAHIM HAMZAH
9. HUSEN SALEH
10. A. BAKAR Z.
11. KALDAM

jata tajam. Siasat ini tampaknya berhasil, Jepang kelihatan mulai panik. Sementara ibu- ibu pun menyiapkan dapur umum di berbagai tempat untuk melayani pejuang.

Letusan tembakan pertama berasal dari pejuang, sebagai isyarat bahwa pertempuran dimulai, yang kemudian diringi dengan berbagai tembakan dari setiap penjuru yang sudah disiapkan.

Pertempuran terbuka tidak dapat dielakkan, berlangsung sampai tengah hari.

Serdadu Jepang yang menduduki posisi lebih strategis dan berlindung di atas pohon asam yang besar-besar di dalam kompleks, menembaki rakyat dengan leluasa dan jatuh korban 27 orang syahid. Cara yang licik dibalas dengan licik juga. Sejumlah petembak jitu ditugaskan mengintip serdadu Jepang yang naik ke batang pohon asam. Ternyata cara ini juga cukup efektif, tidak kurang dari 44 serdadu Jepang tewas dalam pertempuran hari itu.

Serangan hari kedua berlangsung lebih teratur dan gencar, sehingga akhirnya Jepang yang minta damai. Rupanya diam-diam pimpinan Jepang telah menghubungi pembesar-pembesar Indonesia lewat telepon. Mereka bicara dengan Residen Aceh T. Nyak Arif, Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah Aceh, Tuanku Mahmud, komandan TKR Kolonel Sjamaun Gaharu dan pimpinan Barisan Pemuda Indonesia, A. Hasymy.

Serangan hari kedua dibantu oleh tenaga pimpinan seperti Said Usman, Usman Nyak Gade, T. Abdullah dan kawan-kawan yang cukup merepotkan pihak Jepang.

Menurut A. Hasymy, akhirnya diperoleh persetujuan antara barisan rakyat dengan pihak Jepang dan disepakati hal-hal sebagai berikut:

  1. Pangkalan Lhok Nga akan diserahkan kepada pimpinan Pemuda Republik Indonesia (PRI), yang lebih dikenal dengan Divisi Rencong. Pihak Jepang dipindah- kan ke pangkalan Blang Bintang dalam tempo 4 sampai 5 hari kemudian.
  2. Mereka meninggalkan Lhok Nga dengan hanya membawa pakaian, satu senjata ringan atau senapan. Yang lain tinggal.
  3. Residen Aceh dan barisan Rakyat menjamin keselamatan serdadu Jepang yang berada di Aceh Besar dan Pidie, selama menunggu keberangkatan dari pangkalan Blang Bintang.
  4. Pangkalan Blang Bintang dijamin tidak diganggu lagi, kalau ada masalah dis- elesaikan dengan perundingan. Garnizun Lhok Nga 6 Desember 1945 telah dikosongkan Jepang, meninggalkan 30
    meriam berbagai ukuran, 7 gudang mesiu dan peluru serta sejumlah senapan mesin. Dikuasainya pangkalan ini, membuat moril dan semangat para pemuda dan TKR kian menggebu-gebu untuk menguasai asrama-asrama Jepang lainnya yang sarat dengan senjata.

Sigli

Sigli jauhnya 112 km. dari Banda Aceh, ibukota Kabupaten Pidie yang pen-

duduknya terkenal sebagai pedagang ulet, perantau. Luas Kabupaten Pidie 3.415 km2, dengan 23 Kecamatan dan 948 Desa.

Perebutan senjata Jepang di Sigli tidak berjalan lancar. Bahkan menimbulkan süasana hangat dan bentrokan dengan kekuatan-kekuatan masyarakat yang muncul

tiba-tiba.

Jepang bertahan tidak mau menyerahkan senjata kepada pejuang. Oleh sebab itu

terpaksa diadakan "show of force" oleh ribuan rakyat yang berbondong-bondong membanjiri asrama Jepang.

Menurut Brigjen (Purn) Sjamaun Gaharu yang memimpin sendiri operasi pelucutan senjata Jepang itu, ia terpaksa turun ke lapangan mengingat rawannya situasi politik di kota Sigli. Ia sebagai Ketua Markas Daerah Aceh dibantu oleh sejumlah perwira staf: Bachtiar Idham, T. Abdullah P. T., Harun, Saiman dan Korewa (seorang penasihat ahli Jepang yang menyeberang pada republik Indonesia).

Bachtiar Idham dan T. Abdullah d;*ugaskan oleh Sjamaun Gaharu untuk men- ghubuhgi tokoh-tokoh masyarakat di Kabupaten Pidie, supaya menyatukan langkah

dengan pimpinan massa rakyat API/TKR. Pada hari "H" yang telah ditetapkan agar dikerahkan massa rakyat turun dan membanjiri kota Sigli dengan membawa persenjataan apa yang ada. Langkah berikutnya ditentukan oleh pimpinan Markas Daerah API/TKR.

Pada saat massa rakyat telah membanjiri kota Sigli, sesuai program yang telah ditetapkan, maka Ketua Markas Daerah API/TKR yang baru saja sampai dari Banda Aceh, terus mengadakan kontak dengan Bupati (Bunshu-cho) Jepang dan terus mengadakan perundingan.

Dalam perundingan itu, Sjamaun Gaharu menjelaskan, bahwa rakyat ingin men- dapatkan senjata dari Jepang dengan cara baik-baik. Tapi kalau hasrat itu tidak dipenuhi, rakyat mungkin tidak dapat dikendalikan kalau mereka bertindak sendiri dan merebut senjata-senjata itu dengan cara kekerasan.

Mendengar penjelasan ini dan melihat massa rakyat kian meluap membanjiri kota Sigli, sang Bunhu-cho tampaknya tidak bisa lain dan langsung memenuhi tuntutan itu diiringi harapan, supaya keamanan serdadu Jepang di asramanya tetap dipelihara, jangan diganggu.

Dalam kesempatan itu, Bunshu-cho langsung menyerahkan 200 pucuk senjata karaben kepada Ketua Markas Daerah API/TRI, Sjamaun Gaharu. Ditetapkan pula, 20

pucuk senjata diantaranya diserahkan kepada massa rakyat yang diwakili oleh pimpinan-

nya, Hasan Ali. Ini terjadi pada tanggal 22 Desember 1945.

Pada saat berlangsung proses timbang-terima senjata Jepang kepada Ketua

Markas Daerah API tersebut, tiba-tiba muncul keuatan baru yang menamakan dirinya

S Q c I s OH

« a

5

^ tv; 13 c F S< s £•S 5Ö S ss^- S« -<

^^£r te LT, -g 5;

te K -2 _2

"BPK" (Barisan Penjaga Keamanan) yangbermarkas di kota Lam Lho, sekitar 20 km. dari kota Sigli.

Barisan Rakyat "BPK" yang dipersenjatai ini, bermaksud menduduki kota Sigli dan seluruh senjata Jepang harus diserahkan kepadanya.

Melihat timbulnya barisan tandingan dari "BPK" tersebut, pihak Jepang kemudian menjadi bingung dan tidak tahu kemana senjata akan diserahkan.

Sikap Jepang yang "mendua" ini menyebabkan massa rakyat dan API menjadi marah dan berusaha segera menguasai gudang tempat senjata disimpan Jepang.

Dalam suasana mulai kalut itu, barisan "BPK" mencoba membubarkan kelompok massa dengan meiepaskan tembakan ke arah rakyat. Akhirnya bentrokan senjata tidak dapat dihindarkan antara API dan massa rakyat di satu pihak, sedangkan pihak lain barisan "BPK" dan serdadu Jepang.

Bentrokan itu yang kemudian dikenal sebagai "peristiwa Cumbok" dapat diakhiri setelah pimpinan Markas Daerah API bersama massa rakyat mem- berikan pukulan yang menentukan terhadap pengikut T. Daud Cumbok dan kawan- kawan.

Bireuen

Kota Bireuen terkenal strategis dan sejumlah senjata berat dipusatkan di sini. Jepang menempatkan sebuah batalyon tempur dengan dua detasemen khusus menjaga lapangan terbang militer darurat di Gelanggang Labu, dekat kota Matang Gelumpang Dua. Sekitar 12 Km, dari kota Bireuen.

Pasukan ini juga bertugas menjaga dan mengamankan gudang-gudang persen- jataan serta logistik di desa Juli, yang letaknya sekitar 5 km. dari kota Bireuen.

Di kota Bireuen ditempatkan Wakil Markas Daerah III API (resimen III) dengan komandan T. M. Daud Samalanga, dibantu T. Hamzah sebagai komandan untuk Samalanga, Husin Jusuf komandan untuk kota Bireuen dan Agus Husin komandan untuk Bireuen sekitarnya.

Tanggal 18 November 1945, T. Hamzah mewakili pimpinan Wakil Markas Daerah III API di Bireuen menerima penyerahan 320 pucuk senjata dari Daitaityo Ibi Hara dalam sebuah upacara militer yang disaksikan pasukan API dan pimpinan kelaskaran setempat.

Penyerahan ini adalah hasil dari tekanan dan perjuangan diplomasi yang dilan- carkan oleh pimpinan API dan kelaskaran terhadap pimpinan Jepang. Diantara pimpinan yang terlibat langsung dalam upaya perebutan senjata Jepang itu adalah Haji Afan, Na'am Rasmadin, Marzuki Abubakar, Sjamsuddin bin Geumpa mewakili pimpinan API dan Wedana Bireuen, T. Idris Panteraja.

Kota Bireuen yang pernah dijadikan tempat pendidikan militer bagi perwira-perwira TKR/TRI dan peranannya yang sangat menentukan dalam membantu pertempuran di front Medan Area, pernah dijuluki sebagai "Kota Perjuangan".

Sewaktu Bung Karno berkunjung ke Aceh tahun 1948, kota Bireuen juga tidak ketinggalan mendapat tempat di hati Presiden Sukarno untuk disinggahi dan memberikan amanatnya kepada rakyat.

Bireuen yang juga pernah menjadi tempat pimpinan Divisi TKR/TRI dalam revolusi fisik, telah menata dan mempersiapkan perang gerilya jangka panjang, jika Belanda sampai berani menjejakkan kakinya ke daerah Aceh.

Desa Juli

Desa Juli terletak sekitar 5 km. dari kota Bireuen. Sebuah daerah basis tempat penyimpanan alat perlengkapan perang dan gudang amunisi bagi satu resimen tentara Jepang. Ia mensuplai logistik keperluan militer mulai dari daerah Krueng Ulim Samalan- ga sampai daerah Geudong di Lhok Seumawe, meliputi jarak sekitar 100 km.

Tanggal 20 Nopember 1945 pagi, pasukan API yang dibantu oleh barisan rakyat dibawah pimpinan Keuchik Ibrahim, pimpinan pasukan Letnan Thaib Bulan, Jusuf Ahmad dan kawan-kawan telah melakukan gerakan dan pelucutan senjata terhadap pasukan Jepang di kompleks Juli.

Jepang yang melihat barisan rakyat berduyun-duyun mengepung kompleks itu, tidak memperlihatkan reaksi yangberarti dan.sama sckali tidak memberikan perlawanan. Mereka tampaknya siap menyerahkan dengan sukarela 6 buah motor tank, 3 pucuk meriam pantai, 3 pucuk senapan mesin Juki, 2 buah motor truk dan 72 pucuk senjata karaben disertai 7 gudang amunisi.

Gerakan lainnya terjadi tidak jauh dari desa Juli, yaitu di kampung Gelanggang Labu. Ini terjadi tanggal 22 Nopember 1945 pasukan API yang didukung barisan rakyat dibawah pimpinan Utoh Husin dan A. R. Mahmudi dan kawan kawan telah melakukan serbuan ke asrama angkatan udara Jepang di kampung Gelanggang Labu.

Sebelum serangan dilakukan, lebih dahulu pimpinan API setempat mengadakan kontak dan berunding dengan pimpinan tentara Jepang, Naka kubu, supaya menyerahkan senjatanya kepada API. Tapi Jepang menolak dan kemudian meletuslah pertempuran sengit dan berlangsung selama tiga jam. Akhirnya Jepang mengibarkan bendera putih dan pertempuran terhenti. Dalam perundingan kemudian Jepangmenyetujui penyerahan 60 pucuk senjata kepada API dan barisan rakyat.

Krueng Pandjo

Garnizun Jepang di Lhok Seumawe segera mengambil reaksi, setelah mendengar terjadinya perlucutan senjata Jepang di Bireuen. Jarak antara Lhok Seumawe-Bireun sekitar 45 km.

Satu batalyon Jepang berasal dari Lhok Seumawe dan sekitarnya, tadinya diper- siapkan sedang menunggu untuk dipulangkan, ditambah tiga kompi lengkap persenjataan bergerak dari Lhok Seumawe menuju Bireuen dengan maksud merebut dan menduduki kembali kota Bireuen yang strategis itu.

Ini terjadi pada tanggal 2 November 1945. Kendaraan yang digunakan untuk mengangkut tentara Jepang adalah 9 gerbong dan 3 gerobak kereta api.

Kesibukan Jepang mempersiapkan logistiknya itu, telah dipantau sejak dua hari sebelunmya dan pimpinan API di Bireuen memperoleh informasi bahwa Jepang akan merebut kembali senjata yang telah jatuh ke tangan API dan kelaskaran.

Disinyalir juga serdadu Jepang akan menduduki kembali tempat- tempat yang strategis lainya seperti Teupin Mane, Gelanggang Labu, Tambo, Cot Gapu, Blang Pulo dan kota Bireuen sendiri.

Gerakan tentara Jepang ini segera dilaporkan kepada Markas Daerah API di Banda Aceh, yang kemudian diperintahkan untuk mengkonsinyir seluruh pasukan API dan barisan kelaskaran di Kabupaten Aceh Utara.

Sebuah pasukan komando dibentuk di Bireuen, yang menghimpun pasukan API dan barisan kelaskaran dengan Komandan Operasi Kapten T. Hamzah. Pasukan dilengkapi Kompi I pimpinan Letnan Agus Husin, Kompi II pimpinan Letnan T. A. Hamdani, Kompi III pimpinan Letnan Nyak Do dan Kompi IV pimpinan Letnan Jusuf Ahmad. Persenjataan mereka ini cukup memadai sebagai hasil rampasan yang dilakukan sebelumnya.

Pasukan rakyat yang dikerahkan terdiri dari:

  1. Barisan Juli pimpinan Keuchik Ibrahim.
  2. Barisan Gelanggang Labu pimpinan Utoh Husin dan A. R. Mahmudi.
  3. Barisan Samalanga pimpinan Tgk. Syahbudin.
  4. Barisan Jeunib pimpinan Peutua Ali.
  5. Barisan Geurugok pimpinan Tgk. Zamzam.
  6. Barisan Peusangan pimpinan T. M. Hasan Alamsyah.
  7. Barisan Krueng Pandjo pimpinan Tgk. Abd. Rahman Meunasah Meucap.
  8. Barisan Bireuen pimpinan Na'am Rasmadin, H. Afan, H. Marzuki Abu Bakar.
  9. Barisan Lhok Seumawe pimpinan T. A. Bakar.
  10. Barisan TPI (Tentara Pelajar Islam) pimpinan M. Nur Nekmat/M. Sabi/Hasry.
  11. Barisan Takengon dipimpin Tgk. M. Soleh Adry dan Letnan Dua Ibnu Hajar.

Setelah pasukan API dan Barisan Kelaskaran disiapkan, mereka diperintahkan menduduki pos-pos yang telah ditetapkan besok pukul 10.00 pagi telah berada di posnya masing-masing.

Kapten T. Hamzah menetapkan kota Matang Gelumpang Dua sebagai Pos Koman- do dan Krueng Pandjo dipilih sebagai tempat penghadangan.

Serentak dengan itu dilakukanlah pembongkaran rel kereta api di kampung Pante Gajah lokasi yang tepat untuk dihadang, sekitar 3 km. sebelum masuk stasiun Matang Gelumpang Dua.

Tepat pukul 12.30 tanggal 24 November 1945 kereta api yang naas itu meluncur memasuki area yang telah ditentukan. Masinisnya orang kita segera melompat setelah melihat bahwa ia telah berada dalam sasaran tembak para pejuang di kampung Pante Gajah. Serdadu Jepang segera menembak sang Masinis tapi bidikannya meieset jauh. Tentara Jepang yang lainnya segera mengambil alih kemudi kereta api dan serta merta menyetopnya.

Berbarengan dengan kejadian yang serba cepat itu, para pejuang pun mulai menyiram kereta api dengan tembakan yang gencar, sehingga membuat serdadu Jepang agak kebingungan. Sementara Barisan Kelaskaran secara kilat membongkar rel kereta

  • api di bagian belakang, sehingga serdadu Jepang terpakü di tempat. Maju kena tembak, mundur kena lantak. Pertempuran berkobar dari siang sampai malam dan pasukan kita dengan moril yang tinggal tetap mengepung Jepang yang terkurung di gerbong-gerbong itu. Korban banyak berjatuhan dari kedua belah pihak. Sementara nasi bungkus mengalir dari kampung-kampung terdekat yang telah dipersiapkan oleh para ibu dan anak-anak gadis yang bertugas di dapur umum sekitarnya. Tengah malam menjelang subuh terlihat kesibukan serdadu Jepang. Pengintai kita melaporkan, Jepang sedang menggali lubang perlindungan. Besok paginya tanggal 25 November 1945 pasukan Jepang berlindung dalam lubang seraya memperkuat pertahanannya dengan lapisan kayu dan pohon kelapa. Tembak menembak terus berkobar sejak pagi, sore dan malamnya. Pada saat baku tembak sedang gencarriya malam itu, muncullah dari Banda Aceh, Kepala Staf Markas Daerah API, Mayor T. A. Hamid Azwar disertai Mura Moto, seorang juru bicara Jepang. Mayor Hamid Azwar khusus datang ke Krueng Pandjo atas intruksi Komandan Markas Daerah API di Banda Aceh, Kolonel Syamaun Gaharu, untuk mengambil langkah-langkah penyelesaian yang menguntungkan bagi Indonesia. Mura Moto segera ditugaskan menghubungi Komandan Pasukan Jepang, Mayor Ibi Hara dan disarankan untuk menyerah dengan seluruh persenjataan diserahkan kepada pihak Indonesia.

T. HAMZAH, Let jen (Purn) dalam pertempuran KruengPanjou di dekat kota Bireuen Nopember 1945 berhasil menggiring serdadu Je)->ang dan menyerahkan senjata 320 pucuk senjata api, yang diterima oleh T. Hamzah. (Koleksi Foto "Aki").
LETTU HASRY. **1/^—^ A 1/ * v T~> ~i Til nritr r > _**

Aceh/ Divisi X TNI.

KOMPI X TPI

lntt^lei^tm ae"t!"'" Pehjar Muda) yang turut JAdn Unir rl f ' Uta m den 8'm komandan Lettu Hasry dengan Wakil

Ïto,itdi U,7??, °!eh St ^rnen M. Noor Nekmat. §

loto im dambü dekat lokast terjadinya pertempuran "Krueng Panjou" dekat Bireuren vt-Tro^: an bTk ke M;dan Area-Atau dJ s™iLh i2h Utara K a t n *Tu * ^ utihan K °™»d™ Bat. Hl*

Mayor Ibi Hara dapat menerima usul yang disampaikan Mura Moto, tapi tam- paknya ia mendapat kesukaran dalam meyakinkan Komandan Kompi serta pasukannya. Untuk beberapa saat jalannya perundingan agak buntu.

Jawaban yang kongkret dari Mayor Ibi Hara belum juga menjadi kenyataan. Pasukan kita memberi batas waktu sampai lewat zuhur, sementara Barisan Kelaskaran telah diperintahkan untuk mengamankan pintu air irigasi yang ada di lokasi tersebut.

Tepat pukul 14.00 belum juga ada tanda-tanda ke arah penyelesaian, Mura Moto ditugaskan untuk melakukan kontak terakhir dan setelah diketahui pihak Jepang masih bertahan dalam sikapnya yang keras, maka mulailah pasukan kita menggempur kembali serdadu Jepang yang terkurung itu.

Bersamaan dengan gempuran itu, bendungan pintu air irigasi pun dilepaskan dan dalam waktu yang tidak terlalu lama membuyarkan pasukan Jepang yang terendam dalam persembunyiannya di lubang- lubang perlindungan. Senjata dan logistik mereka terendam air. Namun pertempuran terus berkobar sampai sore harinya.

Pada hari ketiga, yaitu tanggal 26 November 1945 pagi tampak serdadu Jepang tetap dalam keadaan siaga, tapi satu peluru pun belum meletus. Sementara penyidikan dan pengintaian terus dilakukan dari jarak jauh.

Tepat pukul 12.40 siang, taampak bendera putih berkibar tanda menyerah. Pim- pinan Komando yang tadinya diambil alih oleh Kepala Staf Mayor T. A. Hamid Azwar dikembalikan kepada Komandan Operasi Kapten T. Hamzah yang selanjutnya melakukan perundingan dengan Ibi Hara.

Dalam perundingan dicapai kesepakatan, Kapten T. Hamzah menerima 320 pucuk senjata api serta alat-alat perlengkapan lainnya. Sedangkan serdadu Jepang kembali ke Lhok Seumawe menanti datangnya kapal laut yang akan membawa ke negerinya.

Berapa besar jumlah korban yang jatuh pada kedua belah pihak tidak diperoleh angka yang pasti. Tapi diperkirakan tidak kurang dari 20-an masing-masing fihak tewas dan gugur. Yang pasti Komandan Batalyon Jepang, Mayor Ibi Hara sendiri tewas bunuh diri (harakiri).

Pertempuran Krueng Pandjo dinilai kalangan militer sebagai pertempuran yang bersejarah, karena ia telah mampu membangkitkan kepercayaan diri yang besar di kalangan rakyat untuk mengusir Jepang dari tanah air. Ini penting untuk perjuangan berikutnya, mengusir fasisme Jepang dan kolonialisme Belanda/NICA dari persada tercinta Indonesia Raya.

Lhok Seumawe

Ini terjadi tanggal 15 November 1945. Sekelompok pemuda berjaga-jaga di stasiun kereta api Cunda, ketika satu kompi tentara Jepang mendarat dari Medan. Pejuang yang haus senjata berhamburan langsung terlibat tembak menembak dan untuk sesaat stasiun

Cunda, Lhok Seumawe itu berubah menjadi medan pertempuran yang dahsyat. Banyak korban jatuh pada kedua belah pihak.

Hasan Sab, pemimpin pejuang terkena tembakan dipahanya. Ia dibawa Jepang dan dirawat di Rumah Sakit di Lhok Seumawe. Para pejuang berang mendengar kabar Hasan Sab ditawan Jepang. Lalu rakyat mengepung asrama serdadu Jepang, ribuan pemuda dan rakyat mengitari garnizun Lhok Seumawe. Mereka terkepung dan putus hubungan dengan dunia luar. Akhirnya Jepang meiepaskan Hasan Sab. Namun, pengepungan tetap diperketat. Mereka memerlukan senjata dan menuntut diserahkan perlengkapan senjata batalyon seutuhnya.

Dalam perundingan antara pejuang dengan tentara Jepang dicapai kesepakatan senjata-senjata Jepang akan diserahkan kepada para pejuang. Wakil pejuang dalam perundingan itu dipimpin oleh Arahas dn Ustaz A. Rany, sedangkan Maeda Chui mewakili Jepang.

Senjata yang berhasil dirampas dari garnizun Lhok Seumawe, segera dibagikan diantaranya kepada "Kepanduan Kasyafatul Islam", yang kemudian berkembang menjadi Yon TPI, Tentara Pelajar Islam Indonesia pimpinan T. Ibrahim.

Kapten Maeda Chui, seorang gyugun di jaman Jepang mempunyai hubungan erat dengan para pejuang dan banyak diantara mereka menjadi anak didiknya. Maeda akhirnya bergabung dengan Republik dan banyak membantu perjuangan Indonesia di jaman perang kemerdekaan RL Sekarang ia menetap di kota Medan dalam usia senjanya.

Kepanduan "Kasyafatul Islam" ini adalah bagian dari "Gabungan Pelajar Islam Daerah Aceh" (Gapida) yang dalam revolusi fisik berkembang menjadi "Tentara Pelajar Islam Indonesia" (TPI) dengan kekuatan tempur satu resimen dan enam batalyon di seluruh Aceh.

Berhasilnya dirampas senjata Jepang dari garnizun Lhok Seumawe, membuat para pemuda dan barisan rakyat lebih percaya diri dan ini adalah modal dasar untuk membela, mempertahankan dan mengamankan Proklamasi 17 Agustus 1945.

Temperamen rakyat Aceh di Lhok Seumawe, Aceh Utara, memang dalam sejarah terkenal agak "angker", gigih dan memiliki fanatisme yang tinggi. Di jaman Belanda disini sering timbul pemberontakan. Kadang-kadang seorang diri dengan rencong terhunus, ia berani melabrak serdadu Belanda sampai tewas. Di jaman Jepang pun demikian, pemberontakan pertama bangsa Indonesia terhadap Jepang terjadi di Bayu, Lhok Seumawe November 1942, baru 6 bulan Jepang menduduki Indonesia.

Kuala Simpang

Perebutan senjata dari tangan sipil Jepang (Gunseibu) di Kabupaten Aceh Timur berlangsung "cantik" lewat pendekatan dan diplomasi. Disana-sini tentunya ada juga diiringi gertakan dan ancaman-ancaman seperlunya, lihat situasi dan kondisi setempat.

Demikian juga jumlah senjata yang berpindah tangan sebenarnya sudah cukup lumayan. Tapi panjangnya giliran pejüang yang belum kebagian lambang keperkasaan itu, menyebabkan mata mereka mulai melirik dan mengatur siasat untuk menggaet senjata-senjata tentara Jepang sendiri yang menyemak di garnizun-garnizun.

Gerakan perlucutan senjata irii dimulai tanggal 9 Desember 1945 di detasemen Idi. Tanggal 11 Desember 1945 di detasemen Kuala Simpang dan tanggal 13 Desember 1945 di garnizun Langsa.

i telah

Gerakan in
diisyaratkan oleh Wakil Markas
Daerah API/TKR Kabupaten
Aceh Timur, Komandan LEI KUL li\t. lLYAb MAliMUU
Resimen Bachtiar Dahlan dan Ex/Ketua Puskopad
berlangsung memuaskan. Dam-I/1M

Keberhasilan perlucutan senjata dari tangan serdadu Jepang di kota Idi, banyak ditentukan oleh tepatnya taktik dan strategi yang diatur oleh pimpinan pejuang seperti Nurdin Sufi, Ilyas Mahmud, Maito Mukmin, Daud Malem dan kawan-kawan. Kesatuan API/TKR dan barisan kelaskaran berhasil memperoleh 220 pucuk senjata karaben di detasemen Idi tanpa insiden.

Perlucutan senjata di detasemen Kuala Simpang berlangsung hangat. Kesatuan API/TKR disertai barisan kelaskaran mengepung asrama tentara Jepang. Akhirnya tidak kurang dari 200 pucuk senjata karaben dapat dikuasai pejuang. Aksi di detasemen Kuala Simpang dipimpin oleh T. Sulong.

Langsa

Gebrakan pemuda terhadap garnizun Langsa berlangsung sengit. Aksi ini dipimpin langsung oleh Komandan Resimen V API/TKR, Mayor Bachtiar Dahlan. Ini terjadi tanggal 13 Desember 1945.

Semula Mayor Bachtar Dahlan melakukan pendekatan dengan mengirim utusan- nya kepada Jepang supaya menyerahkan senjatanya kepada API/ TKR. Utusan ini

kembali dengan tangan hampa. Setelah itu Bachtiar memberi isyarat kepada pasukan API dan kelaskaran untuk bergerak. Massa rakyat segera mengepung kompleks batalyon tentara Jepang di Langsa yang terkenal angker. Sedangkan kesatuan API/TKR diperin- tahkan menguasai posisi penting dan mengatur jalannya operasi.

Akhirnya komando diberikan Mayor Bachtiar Dahlan, mulai menyerang dan menembaki kompleks tentara Jepang yang masih memiliki persenjataan lengkap. Tidak kurang dari 6 jam lamanya pertempuran seru berlangsung antara kedua belah pihak dengan tembakan yang gencar. Banyak jatuh korban dari kedua belah pihak, yang luka- luka segera dibawa ke rumah sakit. Akhirnya pihak Jepang menaikkan bendera putih dan 350 pucuk senjata diserahkannya kepada para pejuang.

Meulaboh

Setelah proklamasi 17 Agustus 1945 berkumandang sampai di Kabupaten Aceh Barat dan Aceh Selatan, maka seluruh rakyat merasa terpanggil untuk menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan itu. Di tiap tempat lahir pasukan dan barisan perjuangan yang siap membela Sang Saka Merah Putih sebagai lambang kemerdekaan bangsa Indonesia.

Tentara Jepang segera "membaca" situasi yang bakal terjadi dan mulai mengambil langkah-langkah untuk menyelamatkan diri. Langkah pertama yang mereka ambil, men- ghimpun seluruh tentara Jepang di Aceh Barat dan Aceh Selatan untuk dipusatkan di kota Meulaboh.

Batalyon itu dalam keadaan siaga dan siap untuk diberahgkatkan pulang ke negerinya bila sewaktu-waktu perintah atasan tiba. Untuk fungsi pengawasan dan ber- jaga-jaga, Jepang hanya menempatkan satu kompi untuk Tapaktuan dan satu detasemen lagi untuk Calang.

Detasemen Jepang di Calang akhirnya berhasil dilucuti senjatanya oleh Komandan Kompi API/TKR, A. Kadir Jailani bersama barisan kelaskaran. 50 pucuk senjata, 6 senapan mesin, sejumlah kendaraan dan alat perlengkapan militer lainnya dapat dikuasai. Tentara Jepang yang dilucuti langsung diberangkatkan dan bergabung dengan indük pasukannya di Meulaboh.

Perebutan senjata tentara Jepang yang berkekuatan satu kompi di Tapaktuan berlangsung seru melalui pertempuran yang sengit. Pimpinan pejuang Muhammad Sjarief, Nyak Adam Kamil, B. B. Jalal berhasil melucuti serdadu Jepang. Sisanya yang masih hidup diboyong ke Meulaboh untuk dipulangkan.

Setelah Jepang angkat kaki dari Tapaktuan, Habib Muhammad Sjarief tiba-tiba menghadirkan 12 pucuk senjata dengan 6.000 peluru yang disembunyikan di sebelah utara kota Bakongan saat Jepang membubarkan Gyugun.

Demikian juga Nyak Adam Kamil di Lae Butar dan Trumon berhasil merampas 42 pucuk senjata dan amunisi dari pasukan Jepang.

Upaya untuk menggaet senjata dari batalyon Jepang di Meulaboh terus dilakukan para pejuang lewat pendekatan mantan Gyugun yang kini menjadi pimpinan kesatuan API/TKR di Meulaboh.

Sebenarnya usaha itu hampir berhasil dan pihak Jepang sedang mempertim- bangkannya. Tapi tiba-tiba di luar dugaan, 3 orang pejuang yang hilang kesabarannya telah melakukan "jibaku" dengan menerjang pertahanan asrama Jepang tersebut.

Ketiga pejuang ini berasal dari Teumon (56 km. dari Meulaboh) dan berhasil mencincang 9 serdadu Jepang termasuk Bupati Jepang di Aceh Selatan, Nisi (Bunsyu-Tyo). Ketiga mereka juga syahid.

Menurut teman yang menyertai dan membawa perbekalannya, mereka bertiga memang sudah berniat untuk mati syahid di jalan Allah sekedar membayar "nazar" membalas dendam terhadap kekejaman fasisme Jepang yang dilakukan terhadap keluar- ga mereka sewaktu "saudara tua" masih berkuasa di Teumon.

Peristiwa itu sangat mengejutkan pemimpin pejuang Muhammad Sjarief dan Nyak Adam Kamil, karena pendekatan diplomasi yang dilakukan selama ini akhirnya menjadi buyar sama sekali. Namun perjuangan itu tetap dihargai dan bahkan mempunyai dampak yang luas terhadap kebangkitan dan kesadaran rakyat untuk membela dan memper- tahankan negara Republik Indonesia yang telah diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus

  1. Peristiwa itu terjadi tanggal 28 November 1945 sore hari dan seorang diantaranya dikenal bernama Cut Agam, yang lainnya Umar dan M. Amin. Sejumlah kegiatan pejuang lainnya dalam rangka mendapatkan senjata ber- langsung juga di beberapa daerah terpencil lainnya. Misalnya di kampung Suak Timah dan Pereumbeu (sekitar 16 km. dari Meulaboh) sejumlah senjata tadinya sudah berhasil dikuasai oleh rakyat atas usaha Letnan Jakob, Hamidi HS., Abdullah Hanafiah, T. Gedong dan Musa. Tapi senjata itu ditarik kembali oleh Jepang dengan tipu muslihat untuk didaftarkan lebih dulu pada Sekutu dan nanti akan diserah- kan kembali kepada rakyat. Sehari setelah peristiwa 'jibaku" yang mengejutkan Jepang itu, yaitu tanggal 29 November 1945 API/TKR mulai lagi mengadakan kontak dengan pimpinan Jepang.
    T. USMAN JAKUB,
    Bupati-Aceh Barat/Selatan, T. Hanafiah dan pimpinan API/TKR setempat diwakili oleh

T. Cut Rahman, T. Usman Jakob, H. Dawood Dariah dan Abu Thaman mengadakan perun-

HAB1B MUHAMMAD SYARIEF dan NYAK ADAM KAMIL. Adalah perwira yang mempelopori perebutan senjata]epang di Tapaktuan. B.B. Jalal juga turut (tak nampak dalam gambar). (Aki).

dingan. Tampaknya perundingan belum memberikan isyarat yang diharapkan. Sementara itu, pos-pos penjagaan Jepang yang berada di luar kota seluruhnya dikosongkan, ber- gabung dengan induk batalyonnya di kota Meulaboh.

Kian hari kian hangat suasana dan rakyat pun mulai melancarkan aksi-aksi dan selebaran yang minta Jepang menyerahkan senjatanya.

Melihat gelagat Jepang bertahan, dan tipis harapan memperoleh senjata dengan jalan damai, akhirnya pimpinan TKR dan massa rakyat memutuskan untuk mengisolir dan mengepung kompleks asrama batalyon itu.

Ini terjadi tanggal 7 Desember 1945 tengah malam menjelang dini hari pukul 03.20, rakyat dengan senjata tajam, sejumlah pucuk karaben, granat tangan, pistol dan parang melakukan serangan serentak terhadap batalyon Jepang yang bersenjata lengkap.

Pimpinan pejuang bertindak Mayor T. Usman Jakob, H. Dawood Dariyah dengan komandan operasi Kapten Hasan Ahmad. Dari Banda Aceh didatangkan 2 kompi API/TKR pimpinan Usman Nyak Gade dan Ishak Pakeh.

Pengepungan berlangsung sepekan dan tiap hari terjadi tembak menembak yang cukup gencar. Setiap tembakan dari pihak kita selalu dibalas Jepang dengan tembakan yang gencar pula. Hambatan yang kita hadapi adalah minimnya senjata dan amunisi, sehingga setiap peluru yang dihunjamkan harus diperhitungkan matang- matang. Semen- tara itu senjata lain berupa perbekalan bahan makanan dan air terus diperketat.

Pada saat persediaan bahan makanan serdadu Jepang mulai menipis, tiba-tiba berlabuhlah 2 kapal besar di perairan Meulaboh siap menjemput serdadu Jepang yang sudah terkepung untuk dibawa ke Sumatera Timur.

Mereka berangkat dalam suasana ketakutan dan terburu-buru dengan meninggalkan sejumlah senjata dan alat perlengkapan yang tidak sempat mereka bawa. Diantaranya 4 buah motor tank, sejumlah truk, amunisi dan tidak sedikit pula senjata itu dilempar ke laut. Tapi ini makanan empuk bagi para pawang yang segera menyel am dan menemukan kembali senjata-senjata tersebut untuk diserahkan kepada pimpinan API/TKR.

Jumlah yang syahid di pihak kita dalam pertempuran sebagai berikut:

  1. Daftaruddin dari Pemuda Rakyat Indonesia (PRI).
  2. Kopral Ali Hasan (TKR).
  3. Kopral Hamid (TKR).
  4. Lettu Razali (TKR).
  5. Prd. Karsimin. Yang luka-luka : Pit. T. Cut Ahmad, Prd. Buyung Ali, T. Cut. Korban di pihak serdadu Jepang tidak diketahui.

    Aceh Tengah

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dilakukan serentak tanggal 4 Ok- tober 1945 di Kabupaten Aceh Tengah, yaitu di Takengon, Blangkejeren dan Kutacane.

Yang membacakan teks proklamasi Muhammad Din di Blangkejeren, Abu Muk- min di Takengon dan A. R. Hajat di Kutacane (14-*).

Berita proklamasi untuk pertama kalinya di Aceh tengah di dengar dan disebar- luaskan oleh Muhammad Din (Kolonel Purn). Ia segera menelepon A. R. Hajat di Kutacane menyampaikan informasi itu dan mengirim utusannya ke Takengon menemui Abdul Wahab, yang kemudian diangkat menjadi Bupati Aceh Tengah yang pertama.

Tokoh-tokoh yang merintis dan memprakarsai gerakan kemerdekaan di Aceh Tengah adalah Muhammad Din, Abdul Wahab, A. R. Hajat, Muda Sedang, M. Saleh Aman Sari, Anwar Badan dan Chabar Ginting (15-*).

14- *) A.R Hajat dalam makalah berjudul "Situasi Sekitar Proklamasi Kemerdekaan diAceh Tengah" dalam seminar kejuangan di Jakarta (IKIP1986.

15- *) Haji Darul Aman dalam makalah berjudul "Situasi Sekitar Proklamasi Kemer-

dekaan diAceh Tengah" dalam seminar kejuangan di Jakarta (IKIP) 1986.

Di Takengon rakyat menyambut Proklamasi Kemerdekaan dengan rapat raksasa di lapangan SD no. 2 Jalan Lebe Kader, Takengon. Rakyat membludak turun dari kampung dan gunung sekitarnya. Dalam rapat raksasa itu tampi! Abdul Wahab menjelas- kan arti kemerdekaan dan perlunya dibangun persatuan dan kekuatan militer untuk mempertahankan kemerdekaan.

Segera setelah rapat raksasa, para pemimpin dan tokoh pemuda diiringi ribuan rakyat dengan menyandang senjata tajam seperti parang, keiewang, tombak dan bambu runcing mulai melakukan aksi.

Aksi pertama mendatangi tangsi Jepang di Jalan Lebe Kader untuk melucuti senjata.

Aksi ini berjalan dengan lancar dan tuntas, berkat diplomasi p.ara pemimpin dengan dukungan rakyat banyak, senjata Jepang diserahkan seluruhnya. Bahkan serdadu Jepang dapat dipindahkan dan diamankan di suatu tempat untuk menghindari amukan rakyat banyak yang ingin membalas dendam atas kekejaman Jepang waktu membuka jalan Takengon-Blangkejeren yang menelan ribuan romusha jadi korban, syahid.

Tokoh-tokoh yang berperan melucuti senjata Jepang, Abdul Wahab, Muda Sedang, Anwar Badan, dari kalangan muda tampil mantan Gyugun, Heiho, Tokobetsu, Seinendang antaranya Ali Hasan As, M. Djenen, M. Husin, M. Djamil, Abdul Thalib, Taib, Madjid Upen, Abdul Latif, Sjarif, Shaleh Adri, Banta Tjut, Kalam dan masih banyak lagi lainnya.

Satu Divisi Senjata Di Sumatera

Pendataan dan pengamatan yang dilakukan Inggeris/NICA tercatat sejumlah alat perlengkapan dan senjata Jepang yang jatuh ke tangan pejuang Indonesia sampai akhir tahun 1945, diperkirakan dapat mempersenjatai empat divisi tentara.

Dari jumlah itu, tiga divisi malang-melintang di Jawa. Tersebar merata di masing- masing satu divisi di propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Penduduk Jawa kurang lebih 45 juta jiwa pada tahun 1945.

Satu divisi lagi terhampar disepanjang hutan belantara Sumatera yang pen- duduknya masih berkisar antara 7 juta jiwa dengan hutannya yang masih perawan.

Dari jumlah ini 1,5 resimen berada di daerah Aceh, 1 resimen di Sumatera Timur dan Tapanuli, setengah resimen di Sumatera Barat dan 1 resimen di Sumatera Selatan.

Dalam catatan belum termasuk senjata selundupan yang menyusup ke Aceh (barter) lewat Penang, Kuala Lumpur dan Singapura, Disamping senjata buatan sendiri oleh para pejuang di daerah Republik. Tidak kurang dari 5 buah pabrik senjata terdapat di daerah Aceh, yang mampu memprodusir senjata api dan berbagai suku cadang perlengkapan meriam penangkis udara.

Kelima pabrik senjata itu adalah :

1. Di Perlak, Aceh Timur.
2. Kota Bakti, Aceh Pidie.
3. Lhok Nga, Aceh Besar.
4. Redelong, Aceh Tengah (Burni Telong-Takengon), pimpinan Y. Karim Saleh.
5., Macan Kumbang, Aceh Tenggara. Pembangunan pabrik senjata ini memang sudah menjadi program Gubernur
Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, Tgk. Mohd. Daud Bereueh. Masalah ini sangat mendasar untuk mengantisipasi perang gerilya jangka panjang. Sudah diperhitungkan, Belanda akan melakukan blokade terhadap Aceh, sehingga terisolir dari dunia luar. Dalam keadaan seperti itu, Aceh sudah memiliki pabrik senjata yang sederhana dan mampu bertahan dalam perang gerilya jangka panjang. Itulah sebabnya, kelima kilang senjata yang berangkat dengan alat-alat sederhana, kemudian dikembangkan sesuai

dengan kebutuhan dan tenaga-tenaga terampil pun dilatih dan dididik seperlunya.

Dalam jaman perang kemerdekaan Republik Indonesia antara tahun 1945-1949, posisi Aceh memang jauh lebih nyaman, dibandingkan dengan daerah Nusantara lainnya.

Apa sebab ?

Belanda tidak berani memasuki Aceh. Trauma masa lalu yang melibatkan Belanda berperang selama 80 tahun dengan Aceh, merupakan pengalaman pahit yang hampir- hampir saja mèmbuat Netherland bangkrut. Belanda sebenarnya alergi terhadap Aceh.

Kemerdekaan, Belanda akan memasuki Aceh, setelah daerah-daerah lainnya diduduki dan dikuasainya. Persis pengalaman perang Aceh-Belanda tempo dulu.

Berdasarkan teori ini, maka dalam kepemimpinan Gubernur Militer Tgk. Mohd. Daud Bereueh, berupaya menciptakan situasi dan kondisi yang mandiri dalam ekonomi dan persenjataan. Tujuannya, agar Aceh mampu menggelar perang gerilya jangka panjang dengan terrein yang ideal segitiga dataran tinggi pegunungan "Tangse-Gayo-Bakon- gan" dengan latar belakang Gunung Leuser yang angker dan misterius.

Sadar bahwa pada akhirnya Belanda akan mencaplok Aceh juga, maka waktu yang dimiliki selama ini benar-benar dimanfaatkan untuk membangun ketahanan nasional Republik Indonesia di daerah Aceh. Kesiapan Aceh dalam semua bidang dirampungkan, baik dalam bidang ekonomi, kekuatan militer/persenjataan dan sumber daya manusia.

Barter yang dilancarkan secara gencar masa itu dengan Penang, Kuala Lumpur,

Singapura tidak lepas dari konteks ini.

Belanda sampai melancarkan dua kali agresi militer terhadap Republik Indonesia tanggal 21 Juli 1947 dan 19 Desember 1948, namun Republik tetap survive. Dalam kaitan ini peranan Aceh sangat dominan dalam menangkis dan menafikan radio Batavia dan radio Hilversium, yang menyatakan Republik sudah mati dengan ditangkapnya Soekar- no-Hatta dan didudukinya ibukota negara Yogyakarta,

Satu-satunya wilayah Republik Indonesia yang masih utuh, tidak dapat diduduki Belanda adalah Aceh. Radio Perjuangan "Rimba Raya" di Takengon, terus menayangkan perjuangan Republik ke forum internasional. Pesawat terbang Seulawah RI-001 sumban- gan rakyat Aceh dalam perjuangan menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. "Long March" pejuang Aceh ke front "Medan Area" serta penampungan pengungsi ratusan ribu dari Sumatera Utara ke Aceh. Semuanya itu adalah bukti-bukti kongkret peranan Tanah Rencong dalam masa sulit menegakkan negara Pancasila.

Itulah sebabnya Presiden Indonesia pertama Soekarno menamakan "Aceh Daerah Modal". Modal untuk meneruskan cita-cita perjuangan kemerdekaan, yang sedang berada dalam ancaman penjajahan. Kata- kata ini diucapkan Bung Karno tanggal 16 Juni 1948 dalam rapat raksasa di Blang Padang, Banda Aceh, sewaktu beliau dan rombongan datang khusus ke Aceh. Republik Indonesia waktu itu sedang dikepung oleh "negara-negara boneka" a la Van Mook, diblokade Belanda dari darat, laut dan udara, kecuali Aceh yang masih utuh dan murni sebagai Republikein.

Misi Mayor Omura -Gagal

Belanda/Inggeris di Medan sangat kaget mendengar laporan, bahwa senjata Jepang yang direbut pejuang di Aceh mencapai hampir 2 resimen senjata termasuk artileri penangkis udara.

Keadaan ini dinilai Belanda cukup berbahaya dan melalui tangan Inggeris diambil langkah-langkah untuk menarik kembali senjata itu dari Aceh.

Seperti diketahui, seluruh tentara Jepang telah ditarik dari Aceh tanggal 22 Desem- ber 1945 dan ditempatkan di Medan.

Aksi-aksi pejuang dan rakyat untuk merebut senjata dari tangan Jepang di Aceh, merupakan keputusan yang mendasar dan tidak dapat ditawar-tawar.

Serdadu Jepang yang terkenal ganas di masa jayanya, kini seolah tidak punya "roh" lagi. Mereka kecewa, patah semangat dan banyak yang "harakiri" (bunuh diri).

Momentum inilah yang dipakai para pejuang kita untuk memanfaatkan situasi, sehingga banyak senjata Jepang yang jatuh ke tangan Indonesia tanpa pertumpahan darah. Ini tak berarti perebutan senjata semuanya berjalan mulus.

Memang, ada sejumlah faktor penunjang yang membuat proses ambil alih senjata Jepang di Aceh menjadi lebih lancar. Seperti munculnya nama Koreiwa di Aceh Besar, Maeda Chui di Aceh Timur dan masih banyak lagi lainnya. Mereka serdadu Jepang yang militan anti barat dan bersimpati dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bahkan akhirnya mereka menggabungkan diri dan ambil bagian dalam pertempuran di front Medan Area. Melayani meriam artileri dan penangkis serangan udara di Kampung Lalang dan sepanjang jalan Binjai sekitarnya, yang membuat sergapan-sergapan pesawat terbang "Mustang" Belanda ketemu batunya.

Hanya terpaut tiga hari setelah serdadu Jepang seluruhnya ditarik ke Medan, kemudian tanggal 25 Desember 1945 oleh Sekutu diperintahkan kepada Mayor Omura Syo-sa, mantan pendiri dan Komandan Resimen Gyugun Aceh/Sumatera Timur supaya kembali ke Aceh.

Apa sebab Mayor Omura yang dipilih Sekutu untuk kembali ke Aceh mengambi senjata-senjata Jepang yang jatuh ke tangan rakyat dan pejuang.

Jawabannya mudah, karena Mayor Omura adalah mantan komandan mereka dar hubungannya dengan anak didiknya selama ini dinilai akrab.

Mayor Omura Syo-sa datang ke Aceh bersama rombongan Gubernur Sumaterj Mr.'T. Muhammad Hasan, yang melakukan kunjungan kerja ke daerah Aceh.

Dalam suatu pertemuan khusus dengan mantan anak didiknya, yang waktu itu telar menjadi pimpinan API/TKR daerah Aceh, ia berterus terang ingin mempergunakar pengaruh pribadinya untuk menarik kembali senjata-senjata serdadu Jepang yang pernar dirampas rakyat Aceh.

Ini dilakukannya atas perintah Sekutu, yang menyalahkan pihak Jepang meninggalkan senjata atau membiarkan dirinya dilucuti rakyat Aceh.

Yang mendengar penjelasan ini diam seribu bahasa, tidak memberi reaksi apa-apa dan situasi sunyi senyap mencekam. Diantara mantan perwira Gyugun yang hadir Sjamaun Gaharu, T. A. Hamid Azwar, Nyak Neh Rica, Said Usman, T. Sarong Lam Nyong, T. Muhammad Syah, Husin Jusuf, Said Ali, Usman Nyak Gede, dan masih banyak lainnya lagi.

Setelah mulut seolah terkunci, situasi sepi tanpa reaksi, Mayor Omura Syo-sa memecahkan kesunyiannya dengan berkilah : "Saya ini 'kan diperintah oleh Sekutu, sekedar hanya menjalankan perintah".

Mendengar kata-kata terakhir ini, tahulah pimpinan API/TKR itu arah dan tujuan- nya. Suasana segera berubah dan pecahlah ketawa terbahak-bahak semua hadirin, ter- masuk juga Mayor Omura Syo-sa sendiri. Suasana yang tadinya kaku, segera berubah menjadi ceria.

Berbagai perasaan haru menjelma tiba-tiba di kalangan hadirin. Nostalgia antara seorang bapak dengan anak didiknya mewarnai akhir pertemuan yang sangat men- gesankan itu.

Akhirnya Mayor Omura Syo-sa sendiri angkat bicara merasa haru dan bangga dengan sikap anak didiknya mantan Gyugun Aceh itu, yang tetap konsisten, tidak berubah seperti telah ditanamkannya semasa melatih anggota Gyugun masa lalu.

Walaupun misi ini gagal dan kembali ke Medan dengan tangan hampa, tapi ia tetap merasa puas dan bangga melihat sikap bekas anak didiknya yang tetap' kukuh dengan pendiriannya dan tidak mudah goyah. Saya akan beritahu Sekutu di Medan dan hal itu

BUNG KARNO KE ACEH. Perhatian Bung Karno ke Aceh sangat besar dalam periode Perang Kemerdekaan Rl khususnya antara tahun 1948 dan 1949. Dalam gambar nampak Bung Karno dalam dua peristiwa sedang berada di atas pesawat Dakota yang membawanya ke Aceh dan gambar lainnya memperlihatkan Bung Karno mendarat di lapangan terbang militer Lhoknga disambut oleh Gubernur Militer Jenderal Mayor Tgk. Mohd. Dauh Bereueh, Gubernur Sumatera Utara Mr. SM. Amin dan Menteri Dalam Negeri Dr. Sukiman (tak nampak dakam gambar) dan Gubernur Sumatera Mr. T. Muhamad Hassan. Dalam kunjungan inilah Presiden Rl yang pertama itu memberikan nama julukan untuk Aceh sebagai "Daerah Modal". Karena peranan dan prestasinya dalam mengawal dan mengamankan Rl dalam situasi gawat pada saat menghadapi "To be or not to be". (Koleksi Foto "Aki").

adalah tanggung jawab saya, kata Mayor Omura Syo-sa, seperti yang diceritakan kembali oleh Sjamaun Gaharu, Brigjen Purnawirawan kepada penulis.

Peristiwa yang unik ini pun terbetik ke telinga Gubernur Sumatera, Mr. T. Muham- mad Hassan dan Residen Aceh, T. Nyak Arif. Kedua pemimpin Republik ini menyam- paikan salut kepada bekas perwira Gyugun itu, yang secara kesatria berani menolak permintaan bekas atasannya.

Residen Aceh, T. Nyak Arif kemudian segera memanggil para pimpinan API/TKR itu dan memberi isyarat, kehadiran Mayor Omura Syo-sa ke Aceh atas perintah Sekutu untuk menarik kembali senjata yang ada di tangan rakyat adalah sangat serius. Ini berarti Sekutu tidak akan tinggal diam dan oleh sebab itu pasukan API/TKR bersama Barisan Kelaskaran harus segera dilatih dan disiagakan.

Kegagalan Mayor Omura Syo-sa mengambil senjata Jepang yang dilucuti di Aceh, telah dilaporkan kepada Sekutu di Medan. Komandan Brigade-4 Sekutu di Medan, Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly sangat berang mendengar laporan yang gagal itu.

Brigjen T.E.D. Kelly, sejak mengambil over pimpinan tentara Sekutu di Medan tanggal 10 Oktober 1945 telah memperlihatkan meningkatnya suhu politik dan operasi militer. Ia perintahkan Mayor Jepang Omura Syo-sa segera mengirim 2 batalyon tempur ke Aceh.

Tugas yang diberikan kepada kedua batalyon Jepang itu, untuk merebut dan menguasai kota Kuala Simpang, Kota Langsa dan Kota Lhok Seumawe serta merampas kembali senjata-senjata Jepang yang jatuh ke tangan API/TKR dan Barisan Kelaskaran.

Kalau misi kedua batalyon ini berhasil, direncanakan kemudian mengirim lagi batalyon Inggeris/Nica menduduki kota Bireuen dan Sigli.Selanjutnya 2 batalyon Sekutu lagi di drop dari Sabang untuk menduduki Banda Aceh dan Lhok Nga. Rencana ini sedianya dilaksanakan pasukan T.E.D. Kelly pada permulaan bulan Januari 1946, dalam rangka menduduki dan mematahkan perjuangan Republik di daerah Aceh.

Tapi kenyataannya menjadi lain. Ilusi Nica/Inggeris terbentur dan gugur menghan- tam batu karang yang terjal. Mereka menemukan perlawanan rakyat Aceh yang gagah berani, tidak kenal menyerah dengan tekad "Jatuh satu tumbuh seribu".

Inilah saat-saat yang paling penting dan menentukan dalam sejarah perjuangan nasional di tanah air.

Sejarah perjuangan Republik sedang ditentukan disini. Kalaulah pertahanan rakyat Aceh yang heroik dan patriotik patah dan lebur oleh terjangan Nica/Inggeris, maka jalannya sejarah Republik Indonesia di Nusantara ini akan menjadi lain pula.

Dalam konteks inilah kita memberi arti dan nilai atas pengakuan Bung Karno tahun 1948 ketika melawat ke Aceh yang menamakannya sebagai "Daerah Modal". Modal dalam meneruskan cita-cita dan perjuangan nasional yang diproklamirkan tanggal 17 Agustus

  1. Yaitu berdirinya Negara Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke ber- dasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Inilah satu periode latar belakang sejarah perjuangan nasional dalam perang kemerdekaan Republik Indonesia, yang mendasar dan menentukan eksistensi bangsa negara, tapi mulai dilupakan orang, pengakuan "Aceh Daerah Modal". Buktinya dalam buku "30 tahun Indonesia Merdeka" periode 1945-1949 peristiwa itu belum tercantum.

Dua Batalyon Serbu Aceh

Tampaknya agak dipaksakan. Hanya terpaut tiga hari setelah semua tentara Jepang meninggalkan Aceh. Pada hari itu tanggal 25 Desember 1945 dua batalyon tempur Jepang telah masuk lagi dan menduduki kota Kuala Simpang.

Komando sekutu di Medan, Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly memerintahkan dua batalyon itu mengamankan dan menguasai kota Kuala Simpang dan satu batalyon lagi menguasai kota Lhok Seumawe sekitarnya.

Tujuan penempatan kedua batalyon adalah sebagai berikut:

  1. Menguasai dan mengamankan jalan raya dan jalan kereta api yang men- ghubungkan Aceh dan Sumatera Timur.
  2. Mengumpulkan dan merebut kembali senjata api Jepang yang berada di tangan API/TKR dan Barisan Kelaskaran.
  3. Menghimpun dan mempersiapkan pengadaan bahan makanan. Kedatangan dua batalyon Jepang yang diluar dugaan itu, telah disambut oleh
    pasukan API/TKR dan barisan perjuangan rakyat bersenjata. Di sepanjang jalan yang dilalui pasukan Jepang telah dihadang oleh rakyat dan terjadi pertempuran yang sengit.

Korban yang syahid di pihak Republik cukup banyak. Karena tentara Jepang datang dengan formasi tempur yang ketat dan lengkap persenjataan.

Sejumlah pertempuran dapat dicatat di bawah ini.

Kampung Durian

Ini terjadi tanggal 25 Desember 1945. Iring-iringan kendaraan yang membawa pasukan Jepang dalam formasi tempur, terlibat tembak -menembak dengan pos pen- jagaan API/TKR di Kampung Durian menuju Kuala Simpang.

Kekuatan pasukan kita di pos ini hanya satu kompi dipimpin oleh Letnan T. Sulung berhadapan dengan dua batalyon infantri Jepang.

Letnan Sulung sendiri syahid dalam pertempuran yang tidak seimbang. Tapi ia berhasil meledakan sebuah motor tank. Kampung Ketupak

Dalam buku "Dua Windhu Kodam-I/Iskandar Muda" disebutkan jalannya pertempuran di Kampung Ketupak dan jumlah yang syahid.

Setelah mendapat laporan terjadi pertempuran di Kampung Durian, Komandan Resimen VI API/TKR, Mayor Bachtiar Dahlan dengan kekuatan satu peleton, sebuah truk memberikan bantuan, sementara barisan Mujahidin dan Kelaskaran bersenjata juga dipersiapkan.

Di tengah perjalanan, rombongan Komandan Resimen ini dicegat oleh tentara Jepang, yang telah mengadakan steling di kampung Ketupak, Medang Ara, Kecamatan Karang Baru.

Dalam pertempuran yang berat sebelah itu, pasukan Mayor Bachtiar Dahlan segera berlompatan dari truk ke arah kiri parit jalan seraya mengatur steling dan memberikan perlawanan. Tapi malang, pasukan kita yang melompat ke sebelah kiri jalan semuanya syahid. Mayor Bachtiar sendiri perutnya diterjang peluru, tapi dengan sigap sempat disambar oleh Letnan Abu Samah dan dilarikan ke Langsa untuk memperoleh perawatan dari Dr. I. Made Bagiastra.

Nama-nama yang syahid dipihak kita dapat dicatat sebagai berikut:

  1. Mahadi Nasution (TKR) dari Alur Merbau, Langsa.
  2. Basuki Badar (TKR) dari Alur Merbau, Langsa.
  3. Muhammad Bt. Lon (TKR) dari Bajen Rantau Selamat.
  4. Amir (TKR) dari Kampung Daulat, Langsa.
  5. M. Zein (TKR) dari Kampung Baru, Langsa.
  6. Usman (TKR) dari Kampung Blang Sanebung, Langsa.
  7. Gam Manyak (TKR) dari Alur Merbau, Langsa.
  8. Ahmad Latif (TKR) dari Kuala Langen, Peurlak.
  9. Abdullah Budiman (TKR) dari Kuala Langen, Peurlak.
  10. Daud Husin (TKR) dari Ole Blang Juluk.
  11. Abdullah Husin (TKR) dari Kuala Langen, Peurlak.
  12. Ali Zaini (TKR) dari Kampung Daulat, Langsa.
  13. Idris Ibrahim (TKR) dari Kampung Tegoh, Langsa.
  14. Keutjik Mahmud (TKR) dari Kampung Juli, Bireuen.
  15. Tgk. Aman Sungkit (TKR) dari Takengon, Aceh Tengah.
  16. Raja Ahmad (Laskar) dari Takengon, Aceh Tengah. Di samping itu masih ada 4 orang syahid lainya yang berasal dari Barisan Kelas-
    karan, tapi identitasnya tidak diketahui (16-*). Kampung Upak

Satu kompi, pimpinan Kapten Isrin Nurdin telah terlibat pertempuran dengan iring-iringan pasukan Jepang di Kampung Upak.

Semula pasukannya bergerak dari Langsa menuju Ketupak, tapi sesampainya di Medang Ara dilaporkan Jepang telah membuat steling di Medang Ara.

16-*) "Dua Windu Kodam-h'Iskandar Muda", Kutaraja -1972

Kapten Isrin Nurdin segera mengambil tempat dan membuat pertahanan di pinggir jalan untuk menghalangi gerakan maju Jepang. Selanjutnya pertempuran sepanjang jalan Kuala Upak, Kecamatan Bendahara Sungai Yu. Dalam pertempuran itu dua anggota TKR syahid yaitu M. Arsyad dari Jamil Jamal. Dari Pasukan Mujahidin syahid 14 orang. Bukit Meutuah

Satu kompi lain bersama Barisan Kelaskaran Mujahidin dan Sabilillah dibawah pimpinan Letnan Peutua Husin telah terlibat pertempuran dengan pasukan Jepang di Bukit Meutuah.

Pertempuran seru berlangsung satu jam lebih, Letnan Peutua Husin sendiri syahid bersama dua orang anggota pasukannya Sandang dan Razali Idris. Sebuah tugu dibangun mengabadikan nama Peutua Husin sebagai nama jalan di kota Langsa.

Dalam gerak mundur pasukan kita sesampainya di Batu Putih, tidak berapa jauh dari kota Langsa, terjadi lagi pertempuran untuk menghambat dan memperlambat majunya pasukan Jepang kedalam kota Langsa.

Pertempuran ini dibantu pula oleh massa rakyat sekitar dan berlangsung hampir satu jam. Dari pihak kita syahid tiga orang Mujahidin, Mansyur Bakar, M. Thaib dan Moh. Nur.

Akhirnya pada tanggal 25 Desember 1945 sekitar pukul 15-30 pasukan Jepang dengan kekuatan satu batalyon masuk dan menduduki kota Langsa, yang telah dikosongkan oleh pemuda seraya mengambil steling di pinggiran kota dan men- gepungnya.

Batalyon Jepang Mundur

Kehadiran satu batalyon Jepang ke Langsa atas instruksi Sekutu di Medan, telah dihajar sepanjang hari sejak mereka menjejakkan kakinya di kota Langsa. Tekanan itu berlangsung sepanjang malam oleh gempuran API/TKR, Mujahidin, Pesindo, BPI dan Barisan Kelaskaran lainnya.

Memang steling telah diatur diberbagai tempat strategis dalam kota Langsa, dan penduduk diperintahkan memboikot dan tidak boleh menjual bahan makanan kepada serdadu Jepang.

Sementara itu sejumlah pasukan API/TKR dan Mujahidin dari luar kota dikabarkan sedang berada dalam perjalanan menuju Langsa. Tidak kurang dari dua batalyon tempur dipersiapkan mengusir kembali Jepang ke Medan. Kedua batalyon itu, dua kompi dari Banda Aceh dipimpin langsung oleh Kepala Staf Divisi, Letnan Kolonel

T. A.Hamid Azwar, dibantu oleh Mayor Usman Nyak Gade dan Mayor Bachtiar Idham. Ditambah satu kompi dari Seulimum, dua kompi dari Sigli, satu kompi dari Bireuen, satu kompi dari Takengon, satu kompi dari Lhok Seumawe dan satu kompi lagi dari Lhok Sukon.

Pasukan ini dibantu lagi oleh pasukan Mujahidin, Pesindo, yang diantaranya terdiri dari Pang-Pang Aceh yang pernah turut bertempur melawan Belanda dalam Perang Aceh sebelum Perang Dunia kedua.

Menurut rencana Sekutu semula, dari Langsa batalyon ini akan melanjutkan perjalanannya untuk menduduki kota Lhok Seumawe. Tapi apa mau dikata, rencana itu terpaksa diurungkan. Bahkan kota Langsa sendiri sangat rapuh untuk dipertahankan dari serangan gencar API/TKR dan Barisan Kelaskaran.

Akhirnya serdadu Jepang memang kewalahan dan mereka putuskan men- gosongkan kembali kota Langsa dan mundur ke kota Kuala Simpang. Jadi, mereka hanya mampu bertahan satu hari satu malam di kota Langsa. Tanggal 25 Desember 1945 (sore) mereka menduduki Langsa dan besoknya tanggal 26 Desember 1945 (siang) terpaksa angkat kaki terbirit-birit.

Dengan kekuatan dua batalyon tempur lengkap persenjataan, serdadu Jepang mencoba bertahan di kota Kuala Simpang, hanya 15 km. dari kota Langsa.

Kekuatan para pejuang terus dialirkan dari Aceh Besar, Aceh Pidie, Aceh Tengah, Aceh Utara. Pasukan ini ditugaskan mengepung serdadu Jepang dari pinggiran kota dan serangan dilakukan secara sporadis. Kota Kuala Simpang diputuskan hubungannya dengan dunia luar, bahan makanan diblokade, tidak boleh masuk.

Melihat gencar dan efektifnya siasat para pejuang, membuat serdadu Jepang jadi panik. Kemudian serdadu Jepang mengancam akan meledakkan jembatan terpanjang di Kuala Simpang (Sungai Tamiang) bila mereka terus diserang pihak Republik.

Ancaman tinggal ancaman. Karena para pejuang menilai ancaman itu tidak lebih hanya sebagai gertak belaka. Kalau Jepang berani meledakkan sungai Tamiang itu, berarti mereka menggali kuburannya sendiri. Mereka bisa tertahan di Kuala Simpang, hubungannya dengan Medan bisa terputus.

Lagi pula logika pemutusan hubungan Medan dan Aceh dengan meledakkan jembatan sungai Tamiang di Kuala Simpang adalah tidak masuk akal. Justru Sekutu sangat berkepentingan dengan jembatan itu, kalau rencananya untuk masuk ke Aceh jadi dilaksanakan.

Oleh sebab itu ancaman Jepang untuk meledakkan jembatan terpanjang di Kuala Simpang itu tidak diperdulikan oleh para pejuang. Bahkan serangan dan gangguan lebih ditingkatkan sehingga akhirnya tidak sampai sebulan kedua batalyon Jepang itu men- gosongkan kota Kuala Simpang "lari malam" menuju Medan.

Ini terjadi tanggal 20 Januari 1946 mereka kembali ke induk pasukannya di Sumatera Timur.

Sejak waktu itu bersihlah daratan Tanah Rencong dari pasukan asing, Jepang dan Sekutu (Belanda) yang memimpikan lahirnya "Comité van Ontvangst" di Aceh.

Staf Resimen TPI Aceh, Letnan Satu Sofyan Hamzah. Kim Wakil Ketua MUI Propinsi Aceh (Foto "Aki").

BAB
  • PENJAJA H " MINTA TANAH "
  • Rakyat Sumatera Timur Bangkit • Infiltrasi Nica
  • Brigjen Kelly Mendarat Di Medan • Ultimatum
  • Perundingan " Chequers " • Po h An Tui
  • Hijrah Ke Pematang Siantar

8A8

L "HAAT AM"

ilpna8 wumiT snetemu2 IsyleA C aM ig esbneM ylleX negh mufsmiU Ceupent Csgnlbnne uT aA 109 1ersia gnatsma eX dejH

Rakyat Sumatera Timur Bangkit

Sumatera Timur terkenal gudangnya tokoh-tokoh keagamaan dan tokoh pergerakan kébangsaan yang handal, di samping adanya oknum feodal yang sudah mempersiapkan datangnya kembali utusan Ratu Juliana. Mereka telah membentuk Comité van Ontvangst.

Pertarungan antara kedua kekuatan di Tanah Deli itu cukup menonjol. Tapi kaum Republikein tetap unggul. Akhirnya memenangkan pertarungan yang dahsyat lewat kobaran Revolusi Sosial, yang didukung rakyat banyak, tak terbendung bagaikan air bah yang menerjang gunung.

Pada sisi lain hambatan itu datang dari pjhak Jepang sendiri, yang memperlambat penyampaian pengHfhuman tentang kekalahan-oËri Sekutu. Tampaknya sangat berat hati berpisah dengan kekuasaan yang dimilikinya selama ini.

Pengumuman yang ditunggu-tunggu baru muncul tanggal 22 Agustus 1945, sewaktu Syu Tyokan Sumatera Timur, Tetsuzo Nakassima, secara resmi mengumumkan kekalahan Jepang. Seraya menjelaskan, Jepang masih diberi wewenang oleh Sekutu memelihara ketertiban dan tugas pengendalian keamanan sampai Sekutu mendarat di Sumatera Timur.

Sementara itu para pemuda juga sudah mendengar berita Proklamasi itu, bersumber dari wartawan kawakan Adi Negoro. Berita ini segera menyebar dari mulut ke mulut dan para pemuda mulai melakukan penggalangan.

Namun, sebuah isyu lain berkembang. Sumbernya Radio Australia yang berkoar, Belanda dalam waktu singkat akan memerintah kembali Indonesia. Kolonel Gozenson telah dipersiapkan jadi Gubernur Sumatera berkedudukan di kota Medan.

Isyu lain yang tidak kalah seramnya, tentu bersumber dari kaki tangan NICA menyatakan, Indonesia Merdeka di Jakarta sudah bubar dan Soekarno-Hatta sudah ditangkap Sekutu.

Mendengar berita simpang siur yang menyesatkan itu, para pemuda dan para pejuang di medan menjadi marah dan tidak sabar lagi.

Dengan dipelopori oleh Achmad Tahir serta pemuda-pemuda mantan Gyugun, Heiho, seperti Sucipto, Hopman Sitompul, Alwin Nurdin, Mahruzar, Nip Xarim, Wiji Alvisah dan sebagainya mulai membentuk badan perjuangan yang bertugas mengawal dan membela Proklamasi Rl 17 Agustus 1945 (17-*).

Gerakan pemuda ini mengental dan menemui bentuknya pada tanggal 10 Oktober 1945 dengan didirikanya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Sumatera Timur yang dipim- pin oleh ketua, Achmad Tahir.

17-*) "Sejarah Kodam-IIBukit Barisan", Medan

KOLONEL GOZENSON, adalah panglima terakhir dari pasukan Kerajaan Belanda di daerah Aceh. Menjelang masuknya serdadu jepang ke Aceh tanggal 12 Maret 1942, Gozenson dan stafnya lebih dulu menuju kota pegunungan Takengon untuk mempersiapkan pertempuran mempertahankan terugval basis di dataran tinggi pegunungan Gayo, yang membentang mulai dari Takengon-Blangkejeren - Gumpang-Gunung Setan. Gozenson yang sejak Letnan bertugas di Aceh, diperkirakan sudah mengetahui belui operasi lapangan di pegunungan itu dengan barisan Marsusenya- yang terkenal. Tapi nyatanya jadi lain. Rombongan Gozenson dengan mudah menyerah kepada serdadu jepang di Rikit Gaib dan Gunung Setan. Kemudian diketahui, Kolonel Gozenson sempat meloloskan diri dan berdiam di Australia selama Perang Dunia II. Menurut isyu Belanda melalui radio Australia, Kolonel Gozenson dikabarkan akan memegang tampuk pemerintahan di Aceh dan Sumatera Timur. Nyatanya "Perang uratsyaraf" Belanda Inilah tokoh-tokoh pembentuk TKR (Tentara itu tidak mempan. Yang Keamanan Rakyat) di Sumatera Timur. bernama Kolonel Belanda, Kiri Letnan Sutjipto kanan Kapten Ahmad Tahir Gozenson, tak pernah lagi pimpinan TKR Sumatera Timur, yang duduk Soetan muncul di Aceh dan Sumatera Maroezar Kepala Markas Umum TKR Sumatera Timur. (Toto Repro). Ti mur. (Foto: Mtwh).

Sehari sebelumnya telah meiedak pawai demonstrasi terbesar dalam sejarah kota Medan. Rakyat semula berdiri di sepanjang jalan yang dilalui spontan menggabungkan diri dalam barisan, sehingga tambah lama pawai itu bertambah panjang dan belum pernah dialami sebelumnya.

Diperkirakan tidak kurang dari 5 km panjangnya pawai kemerdekaan, yang diikuti oleh sekitar seratus ribu penduduk tua muda. Ini berarti tidak kurang dari sepertiga penduduk kota Medan tumpah-ruah sepanjang jalan menyatakan sikap dan tekadnya untuk membela dan mempertahankan Proklamasi Rl 17 Agustus 1945.

Pawai yang patriotik itu diselingi dengan jel-jel "Merdeka atau Mati" dan klimaksnya bermuara di "Lapangan Merdeka" dengan sebuah rapat raksasa. Merupakan sebuah manifestasi yang kongkret untuk menjawab sikap dan manuver NICA yang coba mengelabui pendapat umum di kota Medan.

Ini penting, karena untuk pertama kalinya para pejuang dan seluruh lapisan rakyat berkesempatan menyatakan sikap secara terbuka memilih lebih baik mati dari pada dijajah kembali oleh Belanda. Dan Alhamdulillah, sejak saat itu perlawanan pemuda dan seluruh rakyat Republikein dilakukan secara terang-terangan untuk mengeliminir pen- garuh Belanda/NICA yang dibantu Poh An Tui.

Setelah rapat akbar di lapangan Merdeka, para pemuda dan rakyat spontan berbondong-bondong mengorganisir diri dan bergabung dengan Badan Perjuangan yang

ada atau masuk pasukan TKR.

Gejala ini cukup menarik bagi pengamat politik, karena terlihat adanya kesadaran yang merata dan spontan dari masyarakat luas untuk turut ambil bagian dalam mempertahankan dan mengamankan Proklamasi Rl 17 Agustus 1945 tanpa menghitung-hitung risiko yang bakal dihadapi.

Tampilnya massa rakyat yang Republikein berdiri penuh di belakang Soekarno-Hatta, telah menyebabkan kaum NICA dan oknum feodal merasa terpukul. Oleh sebab itu, merekapun tidak berpangku tangan, bahkan lebih meningkatkan kegiatannya dengan mendatangi tokoh-tokoh yang "mendua" seperti Wakil Gubernur Dr. M. Amir dan oknum feodal lainnya.

Namun, perjuangan Republik di ibukota propinsi Sumatera dibawah pimpinan Gubernur Mr. Teuku Muhammad Hassan dan barisan pemuda yang militan dibawah pimpinan Achmad Tahir dkk tetap mewaspadai aksi-aksi NICA seraya terus memban- gun basis pemerintahan dan pertahanan Republik di ibukota propinsi Sumatera itu.

Inflltrasi Nica

Sasaran Belanda untuk menciptakan karesidenan Sumatera Timur sebagai pangkalan kolonial, dalam memutar kembali jarum sejarah penjajahannya di Indonesia.

bukanlah suatu hal yang kebetulan.

Tapi sebelum Jepang menyerah, Belanda dengan bantuan Sekutu telah membuat persiapan-persiapan untuk menyusup di Aceh, Sumatera Timur dan Riau.

Infiltrasi Sekutu yang dilaksanakan orang-orang Belanda ini, merupakan yang pertama dilakukan untuk daerah Sumatera dan Jawa.

Jatuhnya pilihan Belanda ke kota Deli, tentunya didasarkan kepada hasil penelitian

dan pengalaman sebelumnya, karena Tanah Deli memiliki potensi ekonomi yang dapat diandalkan.

Kelompok Intel 1.3.6 dari komando Sekutu di Asia Tenggara (South East Asia Command) membentuk satu seksi khusus yang akan beroperasi di Sumatera Timur. Seksi ini diberi nama : "Anglo Dutch Country Section" (ADCS). Seksi khusus ini telah dibentuk sejak Januari 1945 dan tugasnya melakukan penyusupan ke kawasan bekas jajahan Belanda yang sedang diduduki Jepang.

Pilihan pertama jatuh ke Sumatera Timur sebagai basis, diharapkan mencapai sasaran dan bisa meluas sampai ke daerah tujuan. Akhir Juni 1945, ADCS telah mengatur dropping dari udara yang dilakukan tiga unit kecil pasukan komando. Unit pertama diterjunkan dengan parasut di daerah pegunungan Seulawah, dekat kampung Lam Teubah, Seulimum. (lihat "Peristiwa Cumbok" hal. 21).

Unit kedua dijatuhkan di daerah Labuhan Batu. Unit ketiga di drop di wilayah Riau. Unit keempat diluncurkan tanggal 15 Agustus 1945 dalam hutan sekitar hulu sungai Besitang, sekitar 20 km dari kota Besitang. Pasukan Komando yang diterjunkan disekitar hulu sungai Besitang, terdiri dari lima orang yang sudah terlatih dibawah pimpinan Letnan satu Pelaut Belanda, Brondgeest (18-*). Tugas pasukan komando yang didrop mengadakan komunikasi, mengumpulkan informasi dan membuat kontak bagi persiapan pelaksanaan invasi terhadap Indonesia dan Malaysia. Invansi ini direncanakan semula oleh Panglima Besar Sekutu di Asia Tenggara, Laksamana Lord Louis Mountbatten. Akhirnya kepada keempat tim pasukan komando yang diterjunkan itu yang diinstruksikan melalui sandi radio dari pimpinannya di Colombo untuk meninggalkan persembunyian dan segera melapor diri kepada komandan tentara Jepang di Medan, Rantau Perapat, Kutaraja dan Bagan Siapi-api. Dalam intruksi ditetapkan pula Letnan I Brondgeest sebagai Komandan dari tim penyusupan itu, seraya mengambil prakarsa untuk menghubungi para tawanan dan interniran Sekutu yang mendekam di penjara.

18-*) "Medan Area Mengisi Kemerdekaan"-Prima-Medan, 1976.

Sesuai instruksi, pada tanggal 31 Agustus 1945 tengah malam, tim Letnan I

Brondgeest sampai di kota Medan, menginap di hotel de Boer. Hotel itu juga kemudian ditetapkan sebagai markas penghubung mereka.

Letnan I Brondgeest yang ambisius ini, segera menyusun dan merampungkan tugas-tugas spionasenya melumpuhkan jabang bayi yang baru lahir Republik Indonesia. Disamping itu, dia pun aktif mengadakan kontak-kontak dengan Sultan Deli dan Sultan Langkat. Melihat peluang yang menganga di depannya, Letnan I Brondgeest segera mem- buat perhitungan baru untuk menguasai keadaan. Konsepnya untuk mengaktifkan kem- bali pemerintahan Hindia Belanda di Sumatera Timur digarapnya siang malam.

Konsep ini di setujui atasannya, termasuk membentuk sebuah pasukan polisi yang dipersenjatai. Untuk keperluan ini tanggal 14 September 1945 atasannya mendrop sebuah unit pasukan kecil, yang terdiri dari lima orang dipimpin oleh Letnan Westerling yang terkenal kejam itu. Tim mendarat di lapangan terbang Polonia dengan membawa 180 pucuk senjata revolver.

Dalam waktu singkat Brondgeest-Westerling segera membentuk pasukan polisi berjumlah 200 orang yang bersenjata revolver. Par a anggotanya diambil dari Pamingke (Rantau Perapat). Sebagian lagi diambil dari sisa tentara KNIL. Menjelang akhir bulan September 1945, Brondgeest-Westerling selesai menyusun pasukan polisi dan segera melaksanakan programnya untuk menguasai Sumatera Timur.

Enam puluh anggota pasukan terdiri dari Belanda totok, Indo, Ambon dan Menado ditempatkan di kota Medan, Pension Wilhelmina Jalan Bali. Dua puluh tujuh orang lagi dikirim ke Pematang Siantar, bermarkas di Siantar Hotel. Pada kedua kota itu pasukan Polisi Brondgeest-Westerling mengambil alih tugas kepolisian Jepang dan melakukan patroli keamanan dalam kota.

Untuk tugas pengawalan dan patroli di kota Medan mereka mulai mempergunakan

sejumlah kendaraan berlapis baja yang diserahkan Jepang. Demikian juga patroli sepan- jang jalan raya Medan-Belawan mulai dihidupkan.

Terhitung saat inilah Belanda mulai lebih berani meningkatkan kegiatan patrolinya, sehingga sering menimbulkan bentrokan para pemuda dan pejuang.

Setelah pembentukan pasukan khusus yang berfungsi ganda dinilai sukses, lalu

Brondgeest-Westerling maju selangkah lagi membangun dasar-dasar organisasi pemerintahan Belanda, yang kemudian dikenal dengan nama NICA.

Dr. Beek dan mantan Residen Bruggemants ditunjuk sebagai pimpinan. Keduanya pernah disekap di kamp tawanan Pamingke (Rantau Perapat).

Tidak kurang dari enam puluh orang pembesar pemerintahan Belanda dari kamp

serta merta dibebaskan dan diberi tugas untuk melaksanakan konsep Brondgeest membangun organisasi NICA di Sumatera Timur.

NICA (Netherlands Indies Civil Administration) sebuah lembaga pemerintahan sipil Hindia Belanda yang dibentuk Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Dr. H.

J. Van Mook dan Ch. O. Van der Plas selama mereka mengungsi di Australia. NICA dibentuk menjelang Jepang menyerah dimaksudkan untuk siap-siap mengambil-alih kekuasaan atas Indonesia dari tangan Jepang. Dr. Beek dipersiapkan sebagai pimpinan di daerah basis Sumatera Timur, mendahului penyerahan kekuasaan resmi dari Jepang kepada Panglima Tentara Inggeris yang ditugaskan menduduki Sumatera. Dengan berbagai tipu daya, Dr. Beek berusaha meyakinkan Jepang, supaya kekuasaan pemerintahan di Sumatera Utara diserahkan kepadanya selaku pimpinan NICA mewakili pihak Sekutu. Pihak Jepang pada mulanya hampir terpengaruh, karena beranggapan Belanda adalah bagian dari Sekutu. Tindakan Brondgeest-Beck sejaian dengan tindakan Residen Bosselaer di Sumatera Barat yang atas nama NICA berhasil mengambil alih kekuasaan dari tangan Jepang. Panglima Sekutu di Asia Tenggara, Laksamana Lord Louis Mountbatten mem- batalkan tindakan Belanda/NICA yang lancang itu, seraya memerintahkan seluruh kaum inteniran tidak boleh keluar dari kamp tawanan sebelum pihak Sekutu tiba di tempat tersebut. Tindakan pembatalan Panglima Sekutu Asia Tenggara, Laksamana Lord Louis Mountbatten dinilai tepat, karena sejaian dengan kebijaksanaan yang digariskan oleh Panglima Besar Angkatan Perang Sekutu di Pasifik, Jenderal Mac Arthur. Kebijakan itu menetapkan, hanya panglima-panglima dari Amerika Serikat, Inggeris, Uni Sovyet dan Tiongkok, yang diperkenankan menerima penyerahan kekuasaan dari Jepang. Itu pun baru boleh dilakukan setelah penandatanganan penyerahan tanpa bersyarat secara resmi telah dilakukan di Teluk Tokyo tanggal 2 September 1945 di Singapura untuk Asia Tenggara. Pihak Brondgeest-Dr. Beek untuk sementara tidak bisa berbuat apa- apa karena adanya larangan beroperasi untuk NICA di Sumatera Timur. Demikian juga pasukan polisi Brondgeest-Westerüng dilarang melakukan patroli-patroli. Mulai saat itu, pasukan Brondgeest-Westerling dikonsinyir di Pension Wilhelmina, gedung Internatio, Siantar Hotel, Belawan. Melihat perkembangan situasi dan kondisi yang berubah tiba-tiba ini, menyebab- kan ruang gerak NICA menanamkan pengaruhnya di Sumatera Timur mulai tersendat setidak-tidaknya untuk sementara. Berita penting ini terbetik segera ke telinga para pemuda dan kini giliran pemuda untuk mengambil inisiatif merapikan barisan seraya menghimpun semua daya dan dana untuk perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari ancaman NICA dan Poh An Tui.

Latar belakang peristiwa ini perlu ditayangkan secara objektif untuk melukiskan secara tepat apa yang terjadi pada saat itu, baik prolog maupun epiloguenya dari suatu peristiwa sejarah yang kemudian dikenal dengan sebutan pertempuran front "Medan Area" yang patriotik dan heroik.

Brigjen Kelly Mendarat Di Medan

Peta Kekuatan Dunia Dan Struktur Organisasi Militer yang dirancang Sekutu untuk mengkonsolidasi wilayah-wilayah yang ditinggalkan Jepang, Jerman dan Itali telah diatur oleh Pentagon.

Untuk kawasan Pasifik ditetapkan Jenderal Mac Arthur sebagai Panglima Ter- tinggi Angkatan Perang Sekutu dengan tugas khusus menduduki Jepang.

Setelah itu pembagian pimpinan wilayah ditata secara cermat dengan menunjuk para penanggungjawabnya.

Untuk kawasan Asia Tenggara ditunjuk Laksamana Lord Louis Mountbatten sebagai Panglima Sekutu. Sedangkan untuk wilayah Indonesia dibentuk sebuah lembaga baru yang diberi nama "Allied Forces Netherlands East Indies", disingkat AFNEI dengan Panglima Letnan Jenderal Sir Philip Christison, berkedudukan di Jakarta Raya.

AFNEI yang berasal dari Tentara ke-14 terdiri dari tiga divisi ditambah dengan sebuah brigade, sebagai berikut:

a. Divisi India ke-23 dengan Panglima Mayor Jenderal D. C. Hawthorn, ditugaskan mengkonsolidasi wilayah Jakarta dan Jawa Barat dengan kedudukan komando di Jakarta.
b. Divisi India ke-5 di bawah komando Mayor Jenderal E.C.Mansergh, ditugaskan menduduki wilayah Jawa Timur dengan kedudukan komando di Surabaya.
c. Brigade yang berkedudukan di Semarang dengan komandan Brigadir Jenderal Artileri Bethel, menguasai Jawa Tengah.
d. Divisi India ke-26 dengan panglima Mayor Jenderal H.M.Chambers ditugaskan menduduki Sumatera. Karena mengalami kekurangan tenaga, Divisi India ke-26 tidak mampu meliput
seluruh wilayah yang telah ditetapkan. Terpaksa membatasi diri dengan hanya menduduki kota Medan ditunjang oleh Brigade-4, kota Padang didukung Brigade-36 dan kota Palembang dengan Brigade-71.

Pasukan pertama Brigade-4 Divisi India ke-26 yang ditugaskan menduduki kota Medan dan sekitarnya baru mendarat di perairan Belawan tanggal 9 Oktober 1945. Pasukan terdiri dari Batalyon-6/ South Wales Borders dengan komandan Letnan Kolonel Crosswell. Ia berasal dari anggota Staf komando Artileri Kerajaan (Headquarters Royal Artilery).

Bersama pasukan menyusup pula benggolan NICA untuk mengkonsolidasi kepen- tingan Belanda, disertai sebuah peleton Korps Kontra Intelijen KNIL dengan 30 anggota pasukan.

Disamping itu masih ada sejumlah tim tehnisi Belanda yang juga melengkapi pendaratan awal pasukan Sekutu di Medan.

Komandan Brigade-4, Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly dan stafnya adalah orang paling di tunggu-tunggu Sekutu untuk memulai tugasnya di Sumatera Timur yang terkenal rawan. Diapun berada dalam rombongan itu.

Untuk menyambut Komandan yang dinanti-nanti ini, besoknya tanggal 10 Oktober 1945 pagi-pagi diadakan upacara penyambutan sederhana di Belawan. Dalam upacara itu juga sekaligus dilakukan penandatanganan naskah serah terima dari Jepang kepada Sekutu, yang berlangsung di atas kapal penjelajah "Venus". Mayor Jenderal Sawamura mewakili Jepang dalam kapasitasnya sebagai Panglima Divisi II Garda Kemaharajaan Sumatera Utara dan Sekutu diwakili Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly selaku komandan Brigade-4 Divisi India ke-26 AFNEI.

Datangnya Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly ke Medan tampak membawa "angin besar" bagi pihak Belanda/NICA. Karena bersamaan dengan kehadirannya itu, sejumlah aktivis NICA dan aparatnya juga turut membonceng di belakang Sekutu.

Selanjutnya tanggal 5 November 1945, kontingen ini diperkuat oleh Staf Komando Brigade Infanteri India ke-4, Batalyon-2/Rajput Regiment dan Batalyon-2/Frontier Force Rifles.

Sebuah skuadron pesawat Angkatan Udara Inggeris (RAF) juga mendarat di lapangan Polonia.

Upaya peningkatan kemampuan tempur lnggeris/Belanda di kota Medan tam- paknya bertambah gencar. Ini terbukti dari masuknya lagi kekuatan lnggeris/Belanda pada tanggal 5 Januari 1946. Kontingen ketiga baru ini mempunyai kekuatan enam kesatuan yang terlatih dalam perang Dunia ke dua. Batalyon-7/India Field Regiment; Batalyon-6/Rajputana Rifles; Batalyon-2/Pattala Infantery; Batalyon-1/Indian Anti Tank Regiment; Batalyon Senapan Mesin/Frontier Force Rifles dan Skwadron "A"/Royal Armoured Corps-146.

Membengkaknya jumlah kesatuan Brigade-4 yang ditempatkan di kota Medan telah menimbulkan curiga para pemuda.

Kecurigaan itu menjadi-jadi setelah diketahui penyusupan Serdadu NICA yang membonceng di belakang punggung kesatuan Brigade-4.

Kalau benar tugas Sekutu di Indonesia sekedar untuk melucuti serdadu Jepang dan mengembalikan ke negerinya serta membebaskan tawanan perang, maka kekuatan sekitar 3 Batalyon pasukan yang telah ada, cukup memadai untuk merampungkan ketiga bentuk tugas tersebut di atas.

Dengan kata lain, kehadiran kontingen ketiga tanggal 5 Januari 1946 yang berkekuatan enam Batalyon tempur benar-benar dipertanyakan oleh publik.

Sisi lain yang membuat bertambahnya syak wasangka di kalangan kaum Republikien, bertolak dari tindakan Inggeris/NICA yang mulai menggusur dan menteror penghuni kota Medan.

Waktu itu terkenal dengan istilah perebutan "dari satu gedung ke gedung lain", sehingga tempat-tempat yang strategis dalam kota Medan, satu demi satu diserobot dan jatuh ke tangan pasukan Inggeris/NICA.

Kehadiran pasukan Brigade-4 yang berlebihan memang membawa konsekuensi perlunya tambahan pondokan. Tapi caranya tentu tidak serampangan dengan menteror dan menggusur milik orang lain begitu saja. Berbagai kampung dalam dan pinggiran kota juga tidak luput dari teror mereka. Kampung-kampung itu dijadikan sasaran tembakan senjata berat yang dilepas secara membabi buta. Akibatnya rakyat panik, wanita dan anak-anak terpaksa meninggalkan rumah-rumahnya mengungsi ke luar kota.

Inilah salah satu bentuk kelicikan dari Inggeris/NICA untuk menguasai kota Medan dan sekitarnya, yang mereka harapkan sebagai basis bagi NICA untuk menegakan kembali jajahannya di bumi tercinta ini. Tentu saja kaum Republikien menolak dan menentang habis-habisan. Untuk itu mereka rela berkorban. Yang muda rela menyabung nyawa menghadapi teror dan penindasan kaum penjajah. Yang tua dan wanita rela meninggalkan harta miliknya hangus dan musnah menjadi umpan mortir dan senjata berat musuh.

Ini perlu diungkap secara jelas, karena waktu itu banyak pula yang menyeberang ke pihak NICA dan kaum Poh An Tui lebih sadis lagi, menghujani kaum pejuang dengan tembakan dari belakang, mencuri tembakan dari loteng-loteng rumah bertingkat.

Inilah salah. satu ironisnya kehidupan, yang dulu pengkhianat, kini pahlawan. Dia pula yang banyak menikmati ranumnya buah kemerdekaan. Sementara kaum pejuang yang veteran masih banyak dililit kemiskinan.

Sejak saat itulah bermunculan di berbagai sudut dalam kota papan bertuliskan "Fixed Boundaries Medan Area". Yaitu batas-batas yang diklaim serdadu Inggeris/NICA sebagai batas wilayahnya. Dari sinilah kemudian istilah itu berkembang dan menjadi popuier sebagai tempat pertempuran "Medan Area".

Ultimatum

Sejak Brigjen T.E.D. Kelly atas nama Sekutu mengambil alih tanggungjawab dalam kota Medan sekitarnya, kian terasa pula gejolak pertentangan yang kian menajam antara rakyat lawan Inggeris/NICA.

Meskipun pada mulanya Kelly selalu menayangkan semboyan "Law and Order" dalam rangka melucuti serdadu Jepang dan merehabilitasi kaum interniran, namun prakteknya lain. Yang timbul justru bukan ketertiban tapi suasana kacau beringas.

Tentara Belanda mencoba menduduki sebuah sekolah di kota Medan, diluar kamp asramanya tanggal 7 Juni 1946. (Foto : Mhuh).

Keruhnya situasi ini memang telah direkayasa oleh NICA, yang masuk ke Medan ber- selubung uniform Inggeris.

Medio Oktober 1945 tercatat seluruh tawanan (interniran) sudah dibebaskan, diangkut ke kota Medan. Mereka ditempatkan di kompleks Polonia, tempat serdadu Jepang diasramakan sebelum dipulangkan ke negerinya. Ternyata tawanan ini telah direkrut oleh NICA sebagai anggota pasukan. Bahkan kaum gelandangan yang banyak berkeliaran dalam kota Medan telah dirawat dan dior- ganisir oleh NICA menjadi "Batalyon Romusha" yang dipersiapkan untuk menghadapi pejuang. Tampak Belanda sedang mempersiapkan kekuatan di segala lini dalam upayanya untuk menancapkan kembali kekuasaannya. Memperhatikan kelicikan dan intrik-intrik yang dilakukan NICA, maka pemuda bersama rakyat tidak sabar lagi dan mulai tampil mengadakan perhitungan dengan Inggeris/NICA dan kaki tangannya. Aksi-aksi pemuda yang didukung seluruh rakyat mulai mendatangi kamp serdadu Jepang minta senjata dan mengambil alih kekuasaan dari tangan Jepang. Sang Merah Putih mulai berkibar di kantor- kantor dan bangunan vital dalam kota. Aksi ini memancing reaksi tajam dari Inggeris/NCA. Bentrokan senjata dengan pemuda tak dapat dihindarkan dan suasana khaos mulai mencekam kota Medan dan sekitarnya.

Akhirnya meletuslah peristiwa berdarah antaranya di jalan Bali tanggal 13 Oktober

  1. Disusul peristiwa Siantar Hotel tanggal 15 Oktober 1945. Bentrokan senjata di Brastagi tanggal 25 November 1945. Peristiwa di jalan Bali bermula dari provokasi serdadu NICA sendiri yang memaksa seorang anak muda menelan lencana Merah Putih. Rakyat yang menyaksikan peristiwa itu lalu méngepung tempat tersebut dan meletus pertempuran sempat juga jatuh korban dari kedua belah pihak. Tentang peristiwa di Siantar Hotel, juga didahului oleh provokasi serdadu KNIL yang meiepas tembakan membabi buta. Kemudian penembaknya melarikan diri dan bersembunyi di Hotel Siantar. Tentu saja rakyat yang ada disekitarnya menjadi marah dan bersama-sama mengejar mencari penembak dan akhirnya membakar hotel tersebut. Dalam bentrokan senjata dua orang pemuda gugur. Dari pihak NICA lima orang tewas dan 27 orang lainnya dapat diringkus dan dilucuti. Setelah peristiwa berdarah yang menggemparkan itu, berdasarkan laporan dan desakan NCA, Komandan Brigade-4 Brigjen T.E.D. Kelly mengeluarkan ultimatum kepada pemuda untuk menyerahkan senjatanya paling lambat tanggal 18 Oktober 1945. Ultimatum ini justru dinilai oleh para pemuda dan rakyat sebagai penghinaan terhadap negara dan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, ultimatum tersebut tidak digubris, bahkan oleh barisan rakyat dipersiapkan aksi-aksi berikutnya yang lebih tertib dan teratur untuk mengcounter semua isyu dan gertak sambel yang dilancarkan Inggeris/NICA. Sebagai tindak lanjut dari ultimatum, serdadu Inggeris/NICA mulai menggerebek dan mengobrak-abrik tempat-tempat konsentrasi pemuda yang dicurigai. Penggeledahan sewenang-weriang mulai dilancarkan, yang tentu saja selalu mendapat jawaban yang tegas dari pihak pemuda. Dalam konteks inilah meletus peristiwa "Deli Tua" pada tanggal 10 Desember 1945, Inggeris/NICA melakukan serangan. Disusul peristiwa "Rio Bioskop" tanggal 12 Desember 1945. Teror tentara Jepang di Tebing Tinggi tanggal 13 Desember 1945 yang merenggut ribuan jiwa pejuang kemerdekaan dan pertempuran di jalan Serdang tanggal 14 Desember 1945, dimana sebuah mesjid jamik hancur. Tentu saja rakyat berontak dan peristiwa itu menyulut semangat pemuda untuk melakukan kisas. Cerita "Belanda minta tanah" kini berulang kembali. Kali ini Inggeris/NICA seolah melakukan sapu bersih dalam kota Medan. Ia mengklaim setiap gedung dan ruangan. Operasi dari gedung ke gedung lain dilancarkannya, kemudian di loka&jitu ditempatkan- nya pasukan yang sudah campur-aduk antara serdadu Inggeris dan serdadu NICA yang masih menyamar. Sementara itu penculikan dan operasi intel terhadap pejuang terus dilaksanakan dengan gencar. Namun, banyak juga yang menghadapinya dengan jantan, sehingga terjadi bentrok fisik yang tak dapat dihindarkan. Ultimatum kedua Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly dikeluarkan tanggal 13 Desember 1945 berbunyi sebagai berikut:
  2. Senjata bangsa Indonesia mesti diserahkan kepada tentara sekutu.

2. Di dalam kota dan delapan setengah kilometer dari batas kota Medan dan Belawan,

harus bersih dari kaum ekstremis. Tentara Sekutu akan menjaga keamanan dan ketertiban umum di dalam daerah tersebut.

3. Barang siapa kedapatan memegang senjata di dalam daerah yang tersebut di atas akan ditembak mati di tempat. Ultimatum TED KELLY itu tidak dihiraukan para pejuang dan rakyat. Ini terbukti
dengan peristiwa yang terjadi esoknya tanggal 14 Desember 1945 sekitar pukul 10.00 sewaktu tentara Sekutu menempelkan lagi maklumat-maklumat di jalan Serdang serta merta dihujani tembakan oleh para pejuang sampai berkobar pertempuran yang sengit. Kejadian ini membuat tentara Sekutu panik dan mengamuk. Sorenya mereka datang lagi dalam jumlah besar, terdiri dari beberapa buah truk berisi tentara lengkap senjata, didahului oleh tiga buah brengun-carrier melakukan "show of force" ke jalan Serdang. Rakyat tidak gentar bahkan secara "blizkrieg" menyusun baris pertahanan disekitar mesjid jamik jalan Serdang, yaitu di perapatan jalan Serdang/jalan Deli. Sementara itu di sepanjang jalan Sungai Kerah tumpah ruah rakyat membuat rintangan dan berikade dengan memanggul senapan mesin, karaben, parang, golok dan bambu runcing, siap melayani serangan Inggeris/NICA.

Pertempuran seru tak dapat dielakkan lagi. Keinginan tentara Sekutu untuk merampas dan merazia senjata-senjata rakyat, telah mendapat jawaban jantan. Per-

lawanan rakyat diluar dugaan serdadu Inggeris/NICA. Bahkan bantuan berdatangan dari segenap penjuru kota Medan dan pasukan Inggeris/NICA hendak dikurung.

Melihat gelagat yang mencemaskan ini tentara Sekutu segera menarik diri setelah

menyaksikan terjungkalnya sebuah truk Inggeris yang terbakar disulut granat botol pejuang.

Subuh dinihari esoknya serdadu Inggeris/NICA muncul kembali dengan memperkuat jumlah pasukan disertai mortir berat untuk membobolkan pertahanan

rakyat. Pertempuran seru berlangsung sampai tengah hari, karena kuatnya desakan militer Inggeris pasukan rakyat sore harinya menarik diri dari pertempuran.

Menjelang magrib pasukan Sekutu berhasil mendekati masjid jamik di Jalan Serdang dan segera membakarnya. Peristiwa ini membuat rakyat bertambah marah dan para ulama menyerukan untuk melakukan Perang Sabil mengusir serdadu Inggeris/NICA dari bumi Indonesia.

Seruan Jihad ini telah mengundang rakyat dan pejuang berbondong- bondong ke garis depan saling susul menyusul. Seminggu lamanya pertempuran berkecamuk dan para pejuang bersama rakyat tetap mempertahankan wilayahhya. Titi Sungai Kerah yang menjadi ajang perebutan posisi, tidak dapat ditembus oleh pasukan Inggeris/NICA.

Menyaksikan perlawanan rakyat yang ketat, serdadu Inggeris/NICA akhirnya men- gurungkan niat untuk menguasai posisi yang strategis itu. Namun usahanya tidak berhenti di situ, mereka menemui Walikota Medan, Mr. M. Jusuf untuk memulihkan keamanan di sekitar wilayah tersebut.

Perundingan "Chequers"

Menghadapi perlawanan pasukan Indonesia yang sudah teratur dan mahii menggunakan senjata, di samping barisan Mujahidin dan Sabilillah yang rela "syahid" d. medan laga telah mendorong pihak NICA terpaksa membuat perhitungan kembali.

Mereka sampai kepada kesimpulan mutlak diperlukan penambahan jumlah pasukan yang handal. Tiga buah Batalyon infanteri yang mereka miliki selama ini, ternyata tidak bisa berbuat banyak menghadapi pasukan dan gerilyawan Indonesia yang militan.

Oleh sebab itu, dengan bantuan Sekutu akhirnya NICA memperoleh tambahan darah segar.

Tiga buah Batalyon infanteri baru dengan senjata lengkap, ditambah tiga buah kesenjataan bantuan yang meliputi sebuah batalyon anti tank, sebuah batalyon senapan mesin dan sebuah skwadron berlapis baja. Semua tenaga dan senjata bantuan itu sampai di Medan tanggal 5 Januari 1946.

Dengan kekuatan tempur seperti ini, diperkirakan serdadu Inggeris/NICA mampu menjinakkan serangan yang dilancarkan rakyat Indonesia dalam jantung kota Medan sekitarnya.

Upaya Belanda yang serius dibantu keras oleh Inggeris untuk memulihkan kembali kolonial Belanda di Indonesia, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Tapi gagasan ini sudah dimatangkan dalam perundingan rahasia yang terkenal di "Chequers", sebuah wisma yang mewah milik Perdana Menterï Inggeris, terletak di pinggiran kota London. Pertemuan itu berlangsung tanggal 24 Agustus 1945, sepekan setelah Proklamasi Republik Indonesia berkumandang ke seluruh jagad, dihadiri khusus oleh wakil-wakil pemerintah Inggeris dan Belanda.

Tindak lanjut dari kesepakatan ini, melahirkan sebuah organisasi yang didirikan oleh Dr. Van Mook dan Ch. O. Van der Plas di Australia. Organisasi itu kemudian dikenal dengan nama NICA (Netherland Indies Civil Administration).

Belum nampak indikasi bahwa perundingan di "Cheguers" itu diketahui atau direstui oleh Sekutu. diperkirakan gagasan itu sebagai solidaritas sosial dari Inggeris kepada rekannya Belanda, dimana yang terakhir ini berhasrat sekali untuk mengem- balikan Indonesia menjadi tanah jajahannya (19-*).

PohAnTui

Resminya pasukan keamanan "Poh An Tui" didirikan tanggal 1 Januari 1946 dipimpin oleh Lim Seng. Sejaian dengan strategi Inggeris/NICA untuk menguasai pusat kota Medan dan sekitarnya.

19-*) Lihat "Buku Dua Windhu Kodam-I/Iskandar Muda" Kutaraja -1972

CONVOY serdadu Belanda sedang menuju Cilacap dalam sebuah operasi menjelang agresi militer 1 Belanda tahun 1947.

Gambar bawah : Sebuah batalyon dari BRIGADE "Z" Belanda di Medan dalam sebuah upacara militer. (Repro: "Bronbeek").

"Poh An Tui" terdiri dari keturunan Tionghoa, yang jumlahnya cukup besar daiam kota Medan dengan susunan ekonomi sebagian besar dikuasai mereka.

"Poh An Tui" (Chinese Security Corps) terdiri dari sejumlah kompi yang dipersen- jatai dan dilatih Inggeris/NICA. Pembentukan pasukan keamanan golongan China ini bermula dari kebijaksanaan Inggeris/NICA «ntuk mengaktifkan kembali dan menyerah- kan wewenang pengamanan dalam kota Medan kepada serdadu Jepang. Ini terjadi tanggal 26 Nopember 1945. Sejaian denga i itu kepada penduduk Cina pun dalam kota diberikan izin memakai senjata api dan menyusun pertahanan dalam kota.

Berpalingnya keturunan Tionghoa dari himbauan para pejuang Republik (Rl) sampai bergabung ke pihak Sekutu, karena adanya iming-iming dari pihak NICA bahwa kesatuan Sekutu yang akan mendarat di kotaMedan terdiri dari tentara Chiang Kai Sek. Terpancing dengan isyu yang dilontarkan Inggeris/NICA itu, maka selama perang kemer- dekaan Rl di Sumatera Utara, pasukan "Poh Ah Tui" telah terpedaya dan mengkhianati perjuangan Republik Indonesia.

"Hijrah" Ke Pematang Siantar

Memasuki tahun 1946 Inggeris/NICA lebih meningkatkan gerakan operasi militer- nya membersihkan kota Medan dari kaum pejuang. Pasukannya setiap hari melancarkan serangan terhadap basis pertahanan tentara dan laskar rakyat.

Melihat gelagat dan bahaya yang mengancam, demi untuk melanjutkan perjuangan, medio bulan April 1946 diputuskan untuk "menghijrahkan" kedudukan Markas Besar Divisi IV Sumatera serta bagian-bagiannya ke kota Pematang Siantar.

Kemudian giliran kantor Gubernur Sumatera Utara juga dipindahkan ke Pematang Siantar termasuk seluruh jawatannya. Untuk mewakili kepentingan Rl di kota Medan, ditugaskan Walikota Medan Mr. M. Jusuf supaya tetap berada di tempat. Sedangkan Kapten Asmatudin ditugaskan sebagai Perwira Penghubung menghadapi pihak Sekutu.

Sejak dialihkannya Komando Militer Divisi IV Sumatera pimpinan Kolonel Ach- mad Tahir dan kantor Gubernur Sumatera Mr. T. Mohammad Hassan dengan segenap stafnya ke kota Pematang Siantar, maka suasana kehidupan sehari-hari di pusat kota Medan mulai berubah. Hampir seluruh gedung-gedung dalam kota sudah dikuasai oleh Inggeris/NICA dan Dr. Van Mook pun mulai menyusun dasar-dasar bagi pemerintahan- nya.

Konsolidasi teritorial terus dilancarkan Inggeris/NICA dengan membabat setiap penghalang dan merekrut tenaga-tenaga baru yang diterjunkan ke lapangan.

Penghujung bulan Mei 1946 selama sepekan serangan membabi-buta Inggeris/NICA mencapai klimaksnya. Hujan bombardemen dilakukan tanpa henti-hentinya menyulut kampung-kampung rakyat yang berdesakan dalam kota Medan. Suasana hiruk- pikuk, panik dan jeritan wanita yang histeris "tenggelam" ditelan bunyi gelagar yang dahsyat dari berbagai jenis senjata seperti salvo-salvo mortir berat dalam jumlah besar.

Rakyat berdesakan meninggalkan rumahnya dan kampung-kampung menjadi lengang seperti Kampung Mesjid, Kampung Aur, Kota Matsum, Kampung Sukaraja, Sungai Mati, Kampung Baru, Padang Bulan, Petisah Darat, Petisah, Pajak Bundar, Kampung Sekip, Glugur dan sekitarnya.

Mereka berpencar ke berbagai penjuru dan mulai mengungsi keluar kota, seperti ke Tanjung Morawa, Pancur Batu, bahkan terus ke Brastagi, Kebanjahe, Binjai, Pangkalan Berandan, Tebing Tinggi, Kisaran dan Pemantang Siantar sekitarnya.

Inilah sejarah awal lahirnya kisah pengungsian dari Kota Medan yang penuh penderitaan sebagai bagian dari perjuangan kemerdekaan, karena tidak rela lagi dijajah kolonialisme Belanda.

Diperkirakan sekitar 150.000 dari jumlah 200.000 penduduk kota Medan waktu itu memilih jadi pengungsi. Yang tinggal hanyalah orang-orang yang sudah uzur dan sebagian anak-anak.

BAB
  • " JAK U FRON T " MEDAN AREA.
  • Penyusupan Knottenbelt Di Aceh Gagal.
  • Solidaritas Tak Mengenal Batas
  • Tiga Serangkai Datok Seure, Pining Dan Utel
  • Kafilah Muhammad Dhin
  • Takengon Bentuk " Dewan Perjuangan Rakyat "
  • Yusuf " Tank " Bawa Pasukan Tank Ke Medan Area

BA8B

U EA " ME

gs reoA I flednelton msquauyneq ase8 lsnegneM leT ahabllo2 efU me0 gnin9 .ejus2 XolsG islgnee8 spiT nikdG bammanuM. rtsllsX luauY L

Penyusupan Knottenbelt Di Aceh Gagal

Hanya 35 hari Mayor Maarten Knottenbelt mampu bertahan di Kutaraja, Aceh. Penyusupan itu akhirnya gagal, karena para pemuda cukup jëli dan tanggap menyimak sepak terjang yang cukup mencurigakan.

Para pemuda berhasil memantau semua kegiatannya dan dengan bukti- bukti yang kongkret kemudian menghalaunya ke luar Tanah Rencong. Ia semula ingin melanjutkan petualangannya di Aceh, tapi tak tahan menghadapi intimidasi yang gencar siang-malam dari para pemuda.

Tapi waktu lebih sebulan adalah hari-hari yang cukup panjang yang dapat diman- faatkan Knottenbelt, yang anggota "pasukan komando" itu. Tanpa hari tanpa kontak-kontak yang dilakukannya secara efektip dengan segelintir tokoh masyarakat, yang masih memimpikan kembalinya Belanda ke Aceh.

Namun, tak usah disangsikan, kekuatan kaum Republikein di Aceh, jauh lebih tangguh dan lebih potensial dalam melakukan tugas sejarahnya menampik dan menggilas setiap upaya mereka yang ingin mengembalikan kekuasaan Ratu Juliana di Aceh. Ini dapat dibuktikan lewat peristiwa "Cumbok" yang tragis itu.

Setelah Knottenbelt-wakil NICA yang beruniform Sekutu dapat disingkirkan dari Aceh dan kemudian terbunuhnya Goh Moh Wan sebagai agen Knottenbelt yang melanjutkan tugas-tugasnya di Aceh, maka sejak saat itu tak pernah terdengar lagi, yang berani menyebutkan dirinya sebagai wakil Sekutu/NICA di daerah Aceh.

Memang, sejak keluamya FATWA Empat Ulama besar Aceh tanggal 15 Oktober 1945, yang menyerukan PERANG SABIL mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945, maka sejak itu pula seluruh rakyat Aceh sudah siap mati syahid untuk mengamankan dan mempertahankan agama, bangsa dan negara Pancasila.

Keempat U'ama besar itu adalah Tengku Haji Hasan Krueng Kale, Teungku Muh. Daud Beureuh, Teungku Haji Jakfar Shidiq dan Teungku H. Ahmad Hasballah In- drapuri.

Refleksi sikap dan tekad masyarakat yang membaja menimbulkan keyakinan yang solid bahwa daratan Aceh tidak bakal mampu dijamah penjajah lagi. Ini dibuktikan oleh gagalnya dua Batalyon Jepang dengan senjata lengkap; dikirinvBrigjen TED Kelly dari Medan ke Kuala Simpang dan Langsa coba merampas senjata dan menguasai kembali Aceh. Ini terjadi antara tanggal 24 Desember 1945 sampai dengan 20 Januari 1946.

Pengiriman dua Batalyon Jepang ke Langsa dan Lhok Seumawe, merupakan uji coba dari Sekutu/NICA, beberapa jauh kesiagaan kaum Republik d i Aceh.

Para pejuang tampaknya yakin benar, hakkul yakin, arti semua peristiwa itu dan oleh sebab itulah kaum Republik terus menghajar habis-habisan "advanced group" NICA itu sampai terbirit-birit lari meninggalkan kota Langsa dan gagal melanjutkan rencananya menduduki Lhok Seumawe.

Mengamati jalannya sejarah yang terkait dari proses tiga peristiwa yang spesifik, dapatlah ditarik garis lurus, bahwa ketiga peristiwa itu tidaklah berdiri sendiri.

Menyusupnya Mayor Maarten Knottenbelt ke Aceh, meletusnya peristiwa "Cumbok" di Sigli dan munculnya dua batalyon tempur Jepang ke Langsa, merupakan suatu perekayasaan yang nampaknya patah di tengah jalan.

Betapa tidak ?

Kalau peristiwa "Cumbok" belum dapat ditumpas oleh pejuang Republikein pada tanggal 16 Januari 1946, maka dua batalyon Jepang yang dikirim Brigjen TED Kelly ke Aceh Timur, belum tentu ditarik begitu cepat tanggal 20 Januari 1946. Karena missi utama kedua batalyon tempur itu adalah untuk membayangi dan mengganggu kawasan Aceh Timur dan Utara. Dengan demikian kekuatan rakyat dan pejuang akan terpaku di kedua kabupaten, tidak mampu memberi bantuan ke Aceh Pidie dan kekuatan rakyat akan menjadi terpecah- belah.

Dalam konteks ini, diperkirakan peranan Maarten Knottenbelt sangat menen- tukan, yang dikenal cukup berpengalaman dan ahli dalam menyusun gerakan bawah tanah (subversive activities).

Kalau Letnan Brondgeest dikenal sebagai perwira yang diterjunkan di Sumatera Timur untuk tugas-tugas subversif, maka untuk Aceh petugas itu adalah Mayor Maarten Knottenbelt.

Pengalaman Knottenbelt dalam dinas operasi khusus cukup dikenal pula. Ia pernah diterjunkan di sekitar Overloon, sebuah daerah perbatasan Belanda-Jerman. Ini terjadi dalam Perang Dunia II, ketika negeri Belanda diduduki Nazi dan terjadi perang bersosoh sepanjang garis yang menghubungkan kota-kota Arnhem, Niymegen dan sampai ke kawasan Overloon, yang menjadi penyangga di perbatasan kedua negara. (20-*)

Di dua kota yangbersejarah ini, yaitu di Arnhem dan Overloon, oleh pemerintah Belanda sekarang didirikan "Museum Perang". Kalau museum perang di kota Arnhem, lebih banyak disajikan jenis senjata dari masa peperangan Belanda dengan Indonesia. Maka di Museum perang di kota Overloon, saya melihat lebih banyak ditampilkan koleksi senjata dari masa peperangan Belanda dengan Nazi dalam Perang Dunia II.

Dilihat dari satu sisi, keberhasilan para pejuang menghalau dua Batalyon Jepang kembali ke Medan, merupakan suatu prestasi cemerlang yang sekaligus menimbulkan kepercayaan diri yang luar biasa bagi seluruh rakyat.

Peristiwanya dianggap suatu kebanggaan tersendiri. Tapi juga dibalik itu tersimpul makna lain, yaitu peringatan kemasa depan untuk lebih waspada. Karena kalau kita lengah, tidak mustahil peristiwa yang serupa berulang kembali.

20-*) Dr.S.L. Van Der Wal dalam bukunya "Officiële Bescheiden De Nederlands-

Indonesische Betrekkingen 1945-1950". Jilid VI. 's-Gravenhage 1976

Bertolak dari pola pikir inilah timbul gagasan dan pemikiran murni dikalangan Pimpinan pejuang untuk" menjemput" lawan diluar batas daerah Aceh. Pemikiran ini segera menjalar dan mengembang, sehingga dalam waktu relatip singkat tersususn daftar nama yang berderet panjang. Terdiri dari kaum muda dan yang tua sebagai sukarelawan, ingin lebih awal dikirim ke front pertempuran di Medan Area. Yang mendorong mempelopori langkah-langkah yang radikal ini, karena merasa terpanggil melihat keadaan kota Medan hari demi hari terus semakin panas dan terbakar oleh insiden berdarah yang berkepanjangan.

Bila situasi ini tidak diantisipasi lebih dini, para pejuang di Aceh juga mulai kuatir nantinya api itu akan menjalar dan membakar Daerah sendiri.

Sisi lain yang lebih mengembirakan, jiwa keprajuritan dan kepahlawanan rakyat Aceh terkenal dalam sejarah, kini kambuh karena bertemu musuh.

Tentu saja potensi ini perlu di salurkan secara tepat.

Musuh Repubük dari luar sudah boleh dibilang bersih. Serdadu Jepang yang tadinya bertahan di Aceh, sudah kembali bergabung ke Medan menunggu keberangkatan kenegerinya. Jumlah serdadu Jepang yang menetap di Aceh sudah memilih kewar- ganegaraan Indonesia dan turut berjuang di barisan Republik.

Mereka ini terdiri dari para perwira yang mahir menggunakan senjata dan mampu melayani meriam penangkis serangan udara, dan lain sebagainya. Diantara nama mereka adalah Kuroiwa, Rusli Higuchi, Maida Chui dan puluhan prajurit yang bertempur mati- matian di fron Medan Area bersama TKR/TRI kita.

Musuh Republik dari dalam negri, juga sudah lumpuh bersamaan dengan ditum- pasnya peristiwa "Cumbok"

Perlawanan Belanda dari pantai Aceh pun tidak banyak membawa pengaruh. Kapal-kapal Laut Belanda yang berpatroli, hanya melontarkan tembakan yang sifatnya gangguan. Mereka juga tidak berani lebih merapat ke pantai, apalagi mau mendarat. Karena setiap tembakan dari laut pasti dibalas dengan tembakan penjaga pantai kita yang terlatih.

Solidaritas Tak Mengenal Batas

Akibat teror NICA/Gurkha terus merajalela dalam kota Medan, rumah penduduk dan tempat ibadat tidak luput jadi sasaran tembakan senjata berat musuh. Bersamaan dengan itu, berhamburanlah kaum wanita dan anak-anak menyelamatkan diri. Penduduk berbondong- bondong meninggalkan tempat tinggalnya. Diantaranya banyak yang men- gungsi ke pedalaman Aceh, Tanah Karo dan terus ke Aceh Tengah lewat Kutacane, Blangkejeren dan Takengon.

Pemandangan ini tentunya sangat menyentuh hatinurani rakyat di bumi Tanah Rencong. Menggugah sentimen nasional berbangsa dan bernegara. Sebagai jawabannya tumbuhlah spontan kesadaran rakyat yang sama-sama mengulurkan tangan terhadap

setiap tamu yang harus dihormati dan diberikan pertolongan. Apalagi kalau mereka dalam keadaan kesulitan. Bukan itu saja. Masyarakat Aceh segera pula mengambil langkah-langkah kongkret untuk membantu saudara- saudaranya yang terancam musibah perang di kota Medan, Sumatera Timur dengan memberlakukan mobilisasi umum, mengirim pasukan rakyat bersenjata dan logistik.

Segenap lapisan rakyat tanpa kecuali sama-sama memadu tekad, merasa punya kewajiban dan tanggungjawab membela setiap jengkal tanah Ibu Pertiwi dari serangan kolonialis yang mimpi ingin kembali.

Jiwa patriotisme, cinta tanah air rakyat Indonesia di Aceh merasa terpanggil demi mempertahankan dan mengumandangkan, jiwa proklamasi 17 Agustus 1945.

Salah satu bentuk rasa solidaritas sosial yang disumbangkan kepada sesama sebangsa dan senegara, adalah partisipasi kongkret masyarakat Aceh dalam pertempuran di front Medan Area antara kurun waktu 1945-1949.

Dilihat secara geografis, kabupaten Aceh Timur dengan kotanya yang terkenal Langsa dan Kuala Simpang, merupakan lokasi yang paling dekat dan relatif lebih mudah dilakukan hubungan dengan kota Medan, Sumatera Timur. Karena transportasinya cukup lancar. Tapi jangan lupa, mobilisasi umum yang diberlakukan di Aceh, bukan hanya terbatas di kabupaten Aceh Timur saja. Bahkan telah menyebar dan berlaku diseluruh kabupaten daerah Aceh. Pada awal kemerdekaan struktur pemerintahan daerah Aceh, terdiri dari keresidenan dengan enam kabupaten, luas daerah 55.392 km2. Perkiraan jumlah penduduk 1.2 juta jiwa. Dalam tahun 1959 penduduk Aceh sekitar 1.800.000 jiwa (21-*).

Sosok 6 kabupaten di masa revolusi tercatat, sbb.

a. Jurusan jalur teras pesisir Aceh, mulai dari kabupaten Aceh Besar dengan ibukotanya Banda Aceh, Aceh Pidie dengan ibukota Sigli, Kabupaten Aceh Utara ibukota Lhok Seumawe dan Kabupaten Aceh Timur dengan ibukota Langsa.
b. Jurusan jalur pantai barat Aceh dengan Kabupaten Aceh Barat, ibukotanya Meulaboh, sampai ke Tapaktuan dan Singkil.
c. Jurusan jalur pegunungan Gayo dengan Kabupaten Aceh Tengah, ibukotanya Takengon, sampai Blangkejeren, Kutacane. Seluruh desa dan kota di enam kabupaten turut mendidih dan menggempur
serdadu Belanda/NICA di front "Medan Area".

Dilihat secara geografis, posisi front "Medan Area" 'jauh dari wilayah Aceh. Lagi pula masalah angkutan tidak menunjang suatu gerakan ofensif yang cepat.

21-) "Memperkenalkan Aceh dari Dekat". Japenda Istimewa Aceh. Kutaraja 1985*

Namun, semua hambatan itu tidak membuat tekad dan semangat juang menjadi kendur. Bahkan mereka menempuh segala cara untuk mencapai pinggir kota Medan sebelum terjun ke medan pertempuran. Kecuali wilayah kabupaten Aceh Timur yang memiliki hubungan lalu-lintas yang lumayan dengan Langkat diperbatasan Sumatera

Timur. Selebihnya dilakukan oleh para pejuang dengan menempuh "Long March'jalan kaki berbilang hari sepanjang jalan yang di lalui sampai ke front "Medan Area". Bahkan di lokasi yang hubungan lalu-lintas lumayan diperbatasan Aceh Timur dengan kabupaten Langkat, juga berduyun-duyun kafilah, yang terpaksa berjalan kaki berombongan, karena terbatasnya jumlah angkutan militer dan umum yang tersedia.

Kalau ditarik garis lurus sepanjang poros jalan jalur (a) di bilangan pesisir Aceh, mulai dari Banda Aceh-Sigli-Bireuen-Lhok Seumawe-Peureulak-Langsa-Kuala Sim-

pang-Sungai Liput, jaraknya tidak kurang dari 540 km. Kalau diteruskan lewat kabupaten Langkat melalui pangkalan Brandan, Tanjung Pura, Binjai dan sampai Sei Sikambing, maka jarak tersebut akan bertambah sekitar 80 km lagi, sehingga jarak yang ditempuh seluruhnya sepanjang jalur (a) sampai di front "Medan Area" menjadi tidak kurang dari 620 km.

Kondisi jalan waktu itu sangat rusak di banyak tempat. salah satu contoh Panton Labu, berhari-hari angkutan umum dan militer kandas di tengah jalan, terbenam lumpur yang berlubang-lubang bagaikan kubangan kerbau yang berjejer sepanjang jalan.

Bukan main.

Di samping itu jumlah pengangkutan yang tersedia pun sangat terbatas, walapun masih dibantu oleh kereta api Aceh yang uniek itu.

Tiga Serangkai Datok Seure, Pining Dan Utel

Disektor jalur (a) ini, paling tidak sepertiga dari jumlah panjangnya jalan ditempuh dengan jalan kaki menuju front "MEDAN AREA". Itu berarti tidak kurang dari 200 km ditempuh oleh para pejuang dengan berjalan kaki, karena terdapat kerusakan serius.

Di jurusan jalur (b) di pantai barat, kondisi lalu lintas kendaraan umum lebih parah.

Jembatan rakit yang bertebaran di jalur ini membuat waktu perjalanan tidak pernah berkepastian.

Panjang jalan di jalur (b) ini tidak kurang dari 1038 km Terbitung dari kota Lham-No (terkenal memiliki cewek-cewek turunan Portugis yang jelita dengan mata birunya yang menghanyutkan) sampai ke Calang-Meulaboh-Blang Pidie-Labuan Haji

- Tapak Tuan-Bakongan-Trumon-Ladang Rimba-Subulus Salam-Singkil-Sidi Kalang-sampai ke front "Medan Area".

Keadaan ruas jalan yang jelek dengan jumlah angkutan yang terbatas, menyebab

kan tidak semua pejuang dapat diangkut dengan kendaraan, mereka harus berjalan kaki dengan menginap ditengah jalan beberapa malam.

Di samping itu, masih ada sejauh 3-40 km jalan tikus yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Yaitu mulai dari desa Ladang Rimba di Kabupaten Aceh Selatan sampai ke Trumon-Subulus Salam-Singkil-Sidi Kalang dan terus ke front" Medan Area".

Kalau kita mengamati jurusan jalur (c) di pegunungan Gayo-Alas Kabupaten Aceh Tengah, keadaannya lebih runyam lagi. Bukan saja ruas jalan lalu lintas tidak ada di bagian tengah Kabupaten ini. Malah daerah ini terkenal terpencil dari dunia luar (terisolir) sama sekali. Tapi anehnya, dari daerah yang "terbelakang" ini justru mengalir sumber daya manusia dan bahan makanan perang yang semuanya bermuara di front "Medan Area". Banyak pang-pang dari daerah pegunungan yang turun dan maju ke front "Medan Area". Yaitu mereka orang-orang muda tempo dulu yang pernah ikut sebagai "Muslimin", be.tempur melawan Kompeni dalam perang Aceh-Belanda. semangat mereka tetap tinggi dan ingin menuntut bela atas kematian orang tuanya di tangan serdadu Belanda, seperti yang diamanatkan kepada setiap generasi penerus Aceh sejak si bayi dalam buaian.

Jangan lupa, "Muslimin" adalah sebutan yang pernah diberikan kepada para pejuang yang turut bergerilya di hutan-hutan Aceh, tak pernah menyerah kepada penjajah Belanda sampai datang Jepang. Tak lama di Jaman Jepang pun, kaum "Muslimin" ini beraksi lagi.

Diantara Tokoh-tokoh yang di kenal masyarakat di daerah pegunungan terdapat nama besar seperti Datuk Seure, Datok Pining dan Datok Utel, yang biasanya memiliki ilmu (Tenaga Dalam) yang mencengangkan. Kau m tua ini dikenal akrab dengan senjata tradisional yang mereka banggakan seperti "Panah Beracun", "Pawang Lebah", dan sebagainya.

Juga kaum ibu tidak ketinggalan menyumbangkan karyanya dengan mengirimkan berton-ton makanan perang : khas Gayo dendeng serta lauk-pauk lainnya yang telah diawetkan.

Jarak ruas jalan dari lokasi ini sampai ke front "Medan Area" ada sejauh 527 km.. Terhitung dari Blang Rakal-Lampahan-Takengon-Isaq-Uwak-Kenyaran-Rikit Gaib-Blangkejeren-Gumpang-Meloak-Gunung Setan-Ketambe-Kutacane-Lau Pakam-Lau Balang-Tiga Benanga-Kaban Jahe-Berastagi-Pancur Batu-Tuntungan.

Pada awal kemerdekaan, lalu lintas jalan mulai dari Uwak sampai ke Kutacane, jarak sekitar 162 km hancur sekali, tidak dapat dilalui dengan kendaraan. Daerah yang menderita ini adalah kewedanaan Blangkejeren, Gayo Luas, yang terpencil dari luar.

Di sini terjadi keanehan kedua. Meskipun daerah terisolir, tapi ia tetap ramai dilalui oleh hilir mudiknya pasukan dan barisan rakyat yang berjuang pergi dan pulang ke front -"Medan Area" melalui kawasan ini dengan berjalan kaki atau naik kuda berhari- hari di tengah hutan belantara.

Pernah terjadi exodus rakyat Blangkejeren ke Takengon dan Kutacane, karena sulitnya hidup, harga 9 bahan pokok melambung tidak terjangkau daya beli rakyat banyak.

Ini terjadi sewaktu penduduk Blangkejeren benar-benar mengalami isolasi total. Hubungan dari Blangkejeren menuju Kutacane terputus, tidak bisa dilewati kendaraan umum. Sedangkan hubungan dari Blangkejeren menuju Takengon, terutama antara Kenyaran-Uwak sekitar 50 km tetap mandeg. Walaupun kita sudah merdeka 46 tahun lho!

Sesdalobang Solihin GP sering berkunjung ke daerah yang terisolir ini sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berucap : "Mengapa nasib orang Gayo Luas ini diter- lantarkan ?".

Seluruh rakyat di desa dan daerah Aceh bergetar hatinya dalam mengikuti denyutan jantung rakyat kota Medan, Sumatera Timur yang ditimpa musibah oleh kezaliman serdaduu Belanda/NICA yang ingin menjajah Indonesia kembali.

Masalah yang prinsipiil ini tidak bisa dibiarkan berlalu begitu saja oleh rakyat Aceh. Mereka dengan spontan menyiapkan diri untuk berjuang tanpa mengenal r-intangan, hambatan termasuk jarak batas wilayah yang berjauhan sekalipun.

Dengan "Long March" sejauh ribuan kilometer, rakyat Aceh berbondong-bondong menyusup dan membuktikan solidaritas perjuangannya membantu saudara-saudaranya bertempur untuk membela kemerdekaan dari serangan serdadu Belanda/NICA di front "Medan Area".

"Jak-U-Front" adalah istilah yang paling popuier di kalangan rakyat Aceh kala itu, terutama para remajanya, generasi penerus. Merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Karena yang hanya tinggal di kampung-kampung adalah "cewek" melulu.

Faktor dominan yang mendorong masyarakat Aceh turut aktif dan rela "hijrah" ke front, sekalipun dengan melakukan jalan kaki yang jauh dan melelahkan. Karena didukung keyakinan, kesetia kawanan dan rasa nasionalisme yang tinggi untuk mengamankan dan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945.

Pij akan motivasi yang tulus ini, berakar dari petuah para Ulama, yang menegaskan : "Cinta tanah air adalah bagian dari iman". Dengan kata lain, setiap muslim yang dalam dirinya belum tertanam semangat dan cinta tanah air yang utuh dan lingkungan sekitar, maka imannya belum lengkap, tidak sempurna.

Bumi, di mana tempat kita berpijak dan hidup adalah "Amanah" dari Allah. SWT untuk dipelihara dan disyukuri. Sejaian dengan ajaran Islam itu, jelas tugas mengamankan dan memelihara tanah air, bangsa dan negara yang telah diproklamasikan bersama adalah suatu kewajiban.

Walaupun daerah Aceh tidak dijamah penjajah Belanda, tetapi masyarakat Aceh merasakan senasib dan sependeritaan dengan saudara-saudara sebangsa dan setanah air di Sumatera Timur yang dizalimi Belanda. Oleh sebab itulah, nilai kejuangan ini dipan- dang sakral, (Sacred mission) dan mereka yang gugur dalam tugas tergolong syahid. Keyakinan ini begitu kuat tumbuh dan berkembang dalam cara pandang masyarakat Aceh, sehingga perang dan berjuang di front "Medan Area" dianggap sebagai "ibadat".

Berangkat dari pola pikir ini, maka sejak awalnya masyarakat terjun ke front "Medan Area" sifatnya spontan, berakar dari kesadaran yang membaja. Memang ada saatnya sebagai taktik kepada opini dunia luar ingin dikesankan bahwa yang berjuang itu adalah rakyat, bukan tentara resmi Rl. Meskipun harus diakui, bahwa latar belakang persiapan itu semua dilakukan dan diarahkan sepenuhnya oleh pimpinan TKR/TRI kita. Bahkan pernah terjadi, anggota pasukan tentara resmi kita seperti TKR/TRI, uniformnya disuruh tanggalkan dan diganti dengan pakaian preman (sipil) atau disuruh mengenakan pakaian seragam Barisan Rakyat Bersenjata seperti Mujahidin/Divisi Tgk.Chik Ditiro,

Divisi Rencong, Tentara Perjuangan Rakyat, Barisan Gurilla Rakyat (Bagura) dan korps Tentara Pelajar Aceh (TPI/TRIP).

Kafllah Muhammad Din

Memasuki tahun 1946 keadaan kota Medan semakin khaos. Teror dan provokasi

yang dilancarkan Belanda semakin ganas. Di mana-mana terjadi insiden berdarah secara pongah.

Meningkatnya teror Belanda, sejaian dengan kehadiran sebuah Brigade tempur baru yang dibentuk Belanda tanggal 7 Desember 1945.

Kesatuan ini diberinya nama "Brigade 7 Desember" pimpinan Kolonel P. Scholten

dengan tugas khusus merebut wilayah yang lebih luas dan memperkuat posisi dilokasi yang strategis dalam kota Medan dan sekitarnya.

Daerah pertempuran baru ini, benar-benar mau dijadikan oleh "Brigade 7 Desem-

ber" sebagai "uji coba" untuk menciptakan jantung kota Medan daerah basis kolonialnya di Sumatera Timur.

Situasi dan kondisi kota Medan yang semakin gawat, menyebabkan para pejuang tidak bisa tinggal diam. Tiga hari tiga malam kaum Republikein di Bawah pimpinan Kolonel Ahmad Tahir dkk mengadakan aksi serentak menembaki asrama-asrama serdadu lnggeris/Belanda, sebagai jawaban dari teror dan kekejaman yang dilancarkan

sebelumnya oleh lnggeris/Belanda.

Ini terjadi tanggal 7-8-9 Desember 1945, dan tercatat pulalah sejarah awal dari

kelahiran sebuah medan pertempuran memperebutkan hak-hidup dan wilayah, yang kemudian dikenal dengan istilah "Medan Area".

Militer Belanda terus mengkonsolidasi kekuatan dan posisinya dalam kota Medan, sementara para pejuangpun secara gencar terus mengimbangi aksi-aksi dan provokasi

serdadu Belanda.

Akibat dari konflik yang semakin tegang dan tajam, pimpinan Sekutu di Medan,

Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly untuk kedua kalinya mengeluarkan ultimatum kepada para pejuang, sbb:

1. Bangsa Indonesia mesti menyerahkan senjatanya kepada Tentara Sekutu.
2. Di dalam kota Medan dan delapan setengah kilometer dari batas kota Medan dan Belawan, harus bersih dari kaum ekstremis. Tentara Sekutu akan menjaga keamanan dan ketertiban umum didalam daerah tersebut.
3. Barang siapa kedapatan memegang senjata di dalam daerah yang tersebut di atas, akan ditembak mati di tempat. (22-*) Tentu saja ultimatum yang dianggap menghina itu, dikecam dan diprotes para
pejuang/pemuda yang menyebabkan situasi politik dan militer bertambah panas. Pertempuran berkecamuk tiap sudut kota Medan, bentrok pisik tak terelakkan lagi dan korban- pun berjatuhan.

Sebagai klimaks dari konflik militer yang bertambah gawat dan "membakar" wajah kota Medan, maka mulai medio April 1946, komando Divisi IV/TRI Sumatera terpaksa hijrah kekota Pematang Siantar, 128 km dari Medan. Dari sini kemudian mulai ditata kembali organisasi komando dan operasional militer untuk mengepung posisi Belanda yang terkurung di tengah-tengah kota Medan.

Hijrahnya komando perjuangan dari kota Medan ke Pematang Siantar, yang disusul kemudian dengan menyingkirnya kantor Gubernur Sumatera ke tempat yang

sama, mendapat tanggapan yang agak simpang siur dikalangan pejuang di daerah Aceh. Ada yang berpendapat hal itu suatu taktik, disamping ada juga yang menilainya sebagai langkah mundur. Tetapi suatu hal yang pasti dan bulat mufakat, sudah tiba waktunya bagi pejuang di daerah Aceh untuk turut ambil bagian langsung dalam pertempuran mengusir kembali penjajah Belanda dari pusat kota Medan, sebelum ia sempat meiebarkan sayap- nya.

Kebijakan ini segera menyebar dan meluas ke seluruh pelosok desa dan kota di wilayah Aceh. Setiap kesatuan dan barisan rakyat bersenjata mengadakan persiapan di tempatnya masing-masing dan semua kegiatan itu dikoordinasikan langsung oleh komando Divisi V/TRI Kopmandenen Sumatera, yang baru saja beralih markas komandonya ke kota Bireuen.

Orang Aceh yang "alergi" mendengar nama Belanda, seolah tak terbendung lagi ingin melampiaskan dendam yang terpendam sebagai warisan nenek moyang.

Ujung tombak pertama yang terlepas dari busurnya, datang menyerbu dari ketiga kabupaten yang berbatas langsung dengan Sumatera Utara. Ada diantara mereka yang melakukan berjalan kaki berhari- hari dalam hutan sebelum sampai ke tapal batas Sumatera Timur. Ke tiga Kabupaten itu adalah Aceh Tengah, Aceh Timur dan Aceh Selatan.

22-*) Biro sejarah PRIMA-Medan 1978

MUHAMAD DIN, Kolonel, mantan Panglima Divisi "Banteng" berkedudukan di Sibolga, Tapanuli sejak Maret 1947. Sebelumnya pernah menjabat sebagai Markas Daerah "API" di Kutaraja, kemudian bertugas sebagai staf Panglima Tentara Komandemen Sumatera di Siantar dan Parapat. Gambar bawah memperlihatkan Kolonel Muhamad Din bersama Datok dan Pang-pang yang di masa remajanya di awal abad XX pernah berperang melawan Kapten Van Daalen sewaktu menyerbu Gayo Alas (1901 -1904). Mereka ini pernah diterjunkan ke front "Medan Area", mengaiual Gubernur Sumatera Mr. T. Mohammad Hassan di Pematang Siantar dan mengawal Komando Divisi "Banteng" di Tapanuli. Kelima orang yang berdiri paling belakang adalah dari kiri ke kanan : Datok Seure, Datok Pinding, Kolonel Muhamad Din, Raja Keujurun Dagang dan Datok Utel.

Misalnya dari Kabupaten Aceh Tenggara (dulu Aceh Tengah), rombongan per- tama yang terjun langsung ke kancah pertempuran Front "Medan Area" adalah Kafilah Kolonel Muhammad Din dan Mayor Bahrin Yoga dari Blangkejeren dan Kutacane.ini terjadi sekitar Medio bulan Februari 1946. (CP-7).

Dalam rombongan itu terdapat sejumlah perwira asal Gayo dan Lokop, mantan perwira Tokubetsu Keisatsutai, seperti Mayor Maaris, Kapten Zakaria, Kapten A. Rahim, Kapten Ma-at, Kapten M. Djalim Umar, Letnan Hasan Basri. Dan Letnan Hasan Sulaeman, yang terakhir ini masih hidup dan menetap di Binjai, akrab dengan panggilan Pak Jenggot.

Tercatat juga dalam rombongan yang besar itu, sejumlah tokoh-tokoh tua, yang pada usia remajanya pernah ikut dalam perang Aceh-Belanda, sewaktu Kapten Van Daalen menyerbu dataran tinggi pegunungan Gayo/Alas pada awal abad XX. Tokoh-tokoh angkatan tua itu dinamakan juga sebagai "Gerilyawan Muslimin", yang tak pernah menyerah kepada penjajah Belanda. Bahkan mereka terus melakukan perang Gerilya jangka panjang sampai Belanda menyerah di tangan serdadu Jepang. Diantara nama tokoh-tokoh tua yang dikenal pada jamannya sebagai "Pang" (jagoan) itu adalah Datok Sere, Datok Pinding, Teungku Thapa dan Pang Lokop. Para datok ini dikenal memiliki ilmu "tenaga dalam" yang dasyhat. Pang Lokop ini kemudian menggabung dengan pasukan letnan Bustanil Arifin, yang secara diam-diam membentuk pasukan kompi "Perang Berdarah" yang beroperasi hanya di malam hari dengan mempergunakan senjata tradisional.

Sejak pengukuhannya Pebuari 1946 sebagai komandan Batalyon II/Resimen I/Divisi Gajah II di Kutacane Mayor Bahrin Yoga terkenal sebagai "strateeg" (ahli mengatur strategi pertempuran) lebih banyak menggunakan waktunya di front bersama anak buah. Sekaligus ia menetapkan posisinya di Pancur Batu dengan front terdepannya di Tuntungan Medan Barat. Selain pasukan TRI, ia juga mengatur dan melatih Barisan Rakyat Bersenjata yang didatangkan dari Takengon, Blangkejeren dan Kutacane, seperti Mujahidin, Hisbullah, Divisi Rencong "BAGURA" (Barisan Gurilla Rakyat) dataran tinggi Gayo.

Kelompok berikutnya yang terjun ke "Medan Area" dari Gayo/Alas, Aceh Tengah, dikenal seorang tokoh pemuda pelajar yang baru datang dari Jakarta dengan membawa misi pemerintah R L

Tokoh itu adalah Tengku M.Ilyas Leubey disertai Abdul Wahab Nyakman, Sulaiman dan temannya M. Jasa S.R. dari Takengon. Rombongan ini mendarat di Medan sekitar Maret 1946 dengan membawa pasukan rakyat bersenjata dari Aceh Tengah dan sejumlah pemuda yang akan melanjutkan perjalanannya untuk belajar ke Jawa. Tapi rencana anak muda ke Jawa ini terpaksa dibatalkan, karena pertempuran dalam kota Medan semakin gencar dan situasi bertambah panas. Hubungan laut Belawan-Tanjung Priokpun tidak aman. Tengku Ilyas Leybey sendiri, akhirnya bergabung dengan barisan rakyat bersenjata di Tanah Karo dan kabupaten Langkat untuk bertindak sebagai peman- du bagi pejuang yang datang dari kabupaten Aceh Tengah.

Tgk. Ilyas Leubey

Giliran berikutnya dari Aceh Tengah datang rombongan Tengku Moh. Saleh Adry dengan 200 orang pasukan yang terlatih. Pasukan ini bertolak dari Takengon melalui Blangkejeren, Kutacane sejauh 265 km ditempuh dengan berjalan kaki selama 8 hari 8 malam. Di tiap kota yang disinggahi, Blangkejeren dan Kutacane masing- masing telah mempersiapkan 100 orang anggota pasukan Mujahidin yang menggabungkan diri. Pasukan Mujahidin dari Blangkejeren di pimpin oleh Tengku M. Salam Badak dan dari Kutacane dipimpin oleh Nyak Obor. Sesampainya di front, pasukan ini dikoordinasikan oleh Kapten Alamsyah.

H.M Zeyn Manaf yang menjadi salah seorang kepala Seksi dari pasukan
Tgk.M.Saleh Adry menjelaskan, kehadiran pasukan rakyat bersenjata dari Aceh Tengah ini dinilai tepat waktu. Karena waktu itu suasana pertempuran di front "Medan Area" sudah demikian panas dan banyak pengungsi wanita dan anak-anak mulai meninggalkan kota Medan. Dalam suasana yang kacau itu, masih ada pejuang yang memasuki front "Medan Area" untuk menyingkirkan penjajah Belanda, benar-benar telah menaikkan moril para pemuda kita yang gigih bertahan di lini depan pertempuran.

f:1 w §
B >
: 2 >
i 1 : S n « C
i i .• : •• -~ 9 o •>
: • t :
:, : • :< * 5
'-. : • : C ra
i •, > B

Si

M P »—i ... j £ p. o r j : r D : K- : - • ra 6 : * : ... 0 » ™ • > v r : ras1 ;- =r w Pr

u :^ :• • r- ël

: • • : P P ra; : s B co oq p !; • :<• l ;y. i f

i rillli f bi 3 £

<<& • S 5 ï « !a 1*1 § §

s ,' ~ S? : o S. 3 « o : K : O

V -v •/ •! _ • » !5 « c 2 2 :* :

BAGURA. "Barisan Gurilla Rakyat "disingkat "BAGURA" dibentuk khusus di Aceh Tengah (Takengon-Blangkejeren-Kutacane) atas instruksi Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, Jen. May. Tgk. Mohd. Daud Bereueh untuk mengawal dan mengamankan kabupaten Aceh Tengah dari terobosan Belanda lewat Tanah Karo. BAGURA dipimpin Tgk. llyas Leubey, Tgk. M. Saleh Adry (Takengon). Tgk. A. Salam, (Blangkejeren) dan Obor serta Kamis (Kutacane). Dalam gambar barisan BAGURA siap "JakJJ-Front" pimpinan Tgk. Saleh Adry dengan senjata lengkap. Dalam gambar nampak juga Patih Muda Sedang, Wedana Anwar Badan dan tokoh Dezvan Perjuangan Rakyat lainnya antaranya Banta Cut, Abu Bakar Salam, Ali Gonang, M. Syukur, A. Wahab Amin, Johan Alamsyah, Ibnu Yogya, Djoharsyah, Aman Jusuf, Hasan Ali, H.M. Zeyn Manaf dan sebagainya. (Koleksi Toto "Aki").

Fi.M. Zeyn Manaf

Menurut Zeyn Manaf (66 th) seorang pelaku sejarah yang kini menjadi pengusaha yang berhasil, sekitar empat puluhan dari pejuang terdiri dari mereka yang menggeluti ilmu "tenaga dalam" berasal dari kampung Celala, Takengon dan Blangkejeren serta Barisan Lebah, Panah Beracun dari Lokop. Mereka beroperasi di malam hari. Ide ini muncul karena berhadapan secara frontal dengan pasukan Belanda yang memiliki senjata moderen, sering membuat pasukan kita kewalahan. Lagi pula koordinasi antara pasukan kita yang ada di front sangat lemah. Bahkan sering terjadi antara pasukan kita di satu lokasi tidak ada kontak dengan lokasi di dekatnya, karena terhalang oleh berbaga; hambatan termasuk keadaan lapangan (terrein) yang jelek. Oleh sebab itu, tidak terasE aneh lagi, apa yang dialami oleh sebuah pasukan di bagian sini, sering tidak diketahui olei pasukan kita di sekitarnya. Koordinasi yang lemah sering membuat pasukan yang besai jadi cerai-berai dan mubazir belaka. Lebih dari itu, pengalaman berperang di kalangan pasukan kita, terutama barisan rakyat bersenjata masih sangat terbatas.

Takengon Bentuk "DEWAN PERJUANGAN RAKYAT"

Mungkin, karena Jepang tidak memberikan perlawanan sewaktu para pemuda menyerang tangsi Jepang di Takengon, ditambah banyaknya senjata yang jatuh ke tangan pemuda di Takengon, Blangkejeren dan Kutacane, maka tangan anak-anak muda ini menjadi "gatal". Memang di kawasan Aceh Tengah ini banyak para pemuda yang sudah terlatih mempergunakan senjata, berkat didikan kemiliteran di zaman Jepang sebagai Heiho, Gyugun, Tokobetsu dan Seinendang. Sama halnya seperti juga di tempat lain.

Namun barangkali, yang memberinya nilai lebih adalah persepsi mereka yang suci dan ikhlas untuk mempertahankan makna kemerdekaan dan menahan perasaan tertekan oleh kezaliman. Lalu lepas dan bebas bagaikan air bah yang menerjang dari gunung, para pemuda ini berhamburan ke front di Karo Area, Langkat Area dan Medan Area, spontan menggabungkan diri ke barisan perjuangan rakyat. Kalau diteliti sepanjang sejarah Perang Kemerdekaan R.I maka yang pertama- tama muncul di front Medan Area sebagai tenaga bantuan dari Aceh, tidaklah berlebih- lebihan kalau disebutkan adalah pemuda-pemuda dari Aceh Tengah, yang dipelopori oleh Kolonel Muhammad Din, Mayor Bahrin, Tengku Ilyas Leubey dan Tengku M. Saleh Adry, Letnan Sahadat dan Samadun.

Di Takengon sendiri terpaksa dibangun sebuah organisasi "Dewan Perjuangan Rakyat" yang mengkoordinasikan kegiatan barisan perjuangan rakyat seperti Laskar Mujahidin, kesatuan Divisi Rencong, Barisan Gurilla Rakyat (Bagura) dan barisan perjuangan tradisional lainnya.

"Dewan Perjuangan Rakyat", disingkat "DPR" ini bertugas mengatur pengerahan tenaga pemuda ke front Medan Area, Tanah Karo Area dan Langkat Area.

"DPR" ini dipimpin oleh Abdul Wahab, Muda Sedang dan AU Gonang. Sekretaris

M. Syukur dan A. Wahab Amin dengan anggota Raja Kasim, Tgk. M. Saleh Adry,Anwar Badan, A. Kadir, Rahil Harahap, T.Mahmud, Abdullah Tjut, Banta Tjut Guru, Tengku Sulaiman dan Bin Bok. Kaum Ibu pun tidak ketinggalan ambil bagian dalam mensukseskan gemuruhnya mesin perang yang berdentang di front Medan Area. Seluruh organisasi wanita tanpa kecuali turut bergabung dalam barisan sesuai fitrahnya, yaitu mempersiapkan bahan pangan perang, seperti yang pernah dilakukan kaum wanita Aceh Tengah di masa perang Aceh-Belanda yang puluhan tahun itu. Diantara bahan itu dikenal dengan nama lepat, gutel, temping dan dendeng, yang dikirim berton-ton ke Medan Area secara teratur. Di antara organisasi wanita yang paling gigih dan tekun melakukan darma baktinya itu adalah Perwari, Muslimat, Aisyiah Muhammadiyah dan Muslimat Nahdhiyah. Tokoh- tokoh wanita itu antaranya Entjik Dasimah Syukur, Syarifah Nurdin, Ny. Samiala Haji Thaib, Seri Kaja, Hadidjah, Inen Mayak Sepiah, Ny. Muda Sedang, Inen Djali dan Rahman. Sedangkan di Blangkejeren adalah Ny. Tawiriyah Hasan, Ny.Hajjah Hujen, Ny. Tengku Alibasyah, Ny. M. Saleh Aman Sari, Ny. Matrahim Jindan.

SOLIHIN, G.P. Sesdalobang dari BINA GRAHA, Jakarta memerlukan datang dan bertatap muka dengan Datok Pinding, di kota Blangkejeren, Aceh Tenggara tahun 1988. Selain Ulama besar Datok juga adalah pejuang. Minat Solihin sangat besar memperhatikan kawasan Gayo Luos yang keadaan sosial ekonominya masih terbelakang dan belum disentuh oleh pemerataan pembangunan, sedangkan peranan dan partisipasinya dalam perjuangan difron "Medan Area " cukup menonjol. Keadaan yang kontras ini telah mengugah hati Solihin G.P. untuk menyelidiki situasi di Gayo yang dipencilkan. Gambar bawah Bupati Aceh Tengah yang pertama Raja Abdul Wahab sewaktu menerima delegasi Mr. Hardi di pendopo kabupaten di Takengon dengan upacara adat. (Koleksi "Aki")

KALI ABU BAKAR KOBAT

M. SALEH JAKOBI

Mantan Ketua DPRD Tk. II Aceh Mantan Wedana Blangkejeren Tengah 1945 -1950 kemudian Bupati Aceh Tengah dl Takengon.

MUDA SEDANG

Mantan Bupati Aceh Tengah

Pasukan Gerilyawan Aceh Tengah yang dikirim pertama kali ke front Medan Area berlangsung medio April 1946 dipimpin oleh Kapten Alamsyah. Pertempuran berlangsung dengan NICA mulai dari Tiga Binanga, terus ke Kabanjahe, Terepes (Two Rivers) sampai ke Pancur Batu dan Tuntungan. Besarnya pasukan 200 orang.

Gelombang kedua berangkat dari Takengon tanggal 1 Nopember 1946 dipimpin

Tgk. M. Saleh Adry, M. Syukur Abdul Gani dan Adji Merah. Tidak kurang dari 250 pejuang turut ambil bagian.

Mereka bertempur di sekitar Kerambil Lima, Gempang, Hamparan Perak, Pasar

Batu, Pulau Brayan, Pasar II-IH-IV, Sei Si-kambing, Terjun, Titi Papan (Belawan).

Gelombang ketiga berangkat awal Januari 1947 dipimpin Anwar Badan, Aman Kemala Entan, Matdjali, Tengku Kali Uning. Mereka bertempur melawan NICA di front Titi Payung, Terjun, Hamparan Perak. Besarnya pasukan 300 pejuang.

Gelombang keempat berangkat bulan April 1947 dipimpin Tengku Ilyas Leubey,

Tengku M. Saleh Adry dan Atang Muguril. Besarnya pasukan 300 orang untuk memperkuat pertahanan di Binjai dan Tandjung Pura.

Tokoh pejuang yang turut antaranya Panglima Aman Dimot, Pang Alim, Hasilud- din. Juga Abdur Rahman Ali (Blagar), Chairul Bahri, Z. Kejora (Aman As), Aman Johan Agussalim, Syarifuddin Kadir, M. Jasin Bale, Ali Hasan, Baihaqy, AK. Abu Bakar Jindan, Kasim, Ali, Ismail dan Amat Bren.

Kisah pertempuran ini dapat dibaca pada bagian lain. (CP-8)

Yusuf "Tank" Bawa Pasukan Tank ke Medan Area

Dari jalur pesisir sepanjang jalan poros mulai dari Kuta Raja (sekarang Banda Aceh) sampai ke Kuala Simpang dan terus ke perbatasan kabupaten Langkat di Sumatera Timur, mesin perang gerilya rakyat dan TRI terus susul menyusul mengalir ke front Medan Area.

Untuk menyalurkan dan mengkoordinasikan semua pasukan yang akan diterjunkan ke front, Kolonel Husin Yusuf selaku Panglima Divisi Gajah I di Bireuen, memerintahkan semua pimpinan pasukan melatih lebih dulu anggota pasukannya.

Instruksi ini berlaku bagi semua tanpa kecuali, baik kesatuan TRI maupun barisan perjuangan rakyat.

Di Kuta Raja pun waktu itu dibentuk KOMAND O KEAMANAN KOTA (k-3) dipimpin Kapten Ali Hasan A.S. Tugas pokoknya disamping menjaga keamanan kota, juga menampung dan mengirim pasukan yang akan diterjunkan di front Medan Area.

Kota Bireuen yang strategis, terletak di persimpangan jalan Medan-Kuta Raja-

Takengon, berperan sebagai pusat kegiatan kemiliteran dan Barisan Rakyat Bersenjata.

Kota ini yang kemudian dikenal sebagai kota "Perjuangan", telah menyibukkan diri dengan segala persiapan-persiapan yang diperlukan. Baik untuk menggalang potensi

pasukan dan masyarakat, yang semuanya ditujukan membantu perjuangan di front Medan Area.

Bantuan yang dikirimkan tidak hanya terbatas kepada anggota pasukan, tapi juga termasuk amunisi, senjata dan logistik.

Pasukan awal dari kawasan ini, yang diterjunkan ke front Medan Area adalah pasukan di bawah pimpinan Kapten Alamsyah.

Barisan Mujahidin yang terkenal "galak" di bawah pimpinan Tgk. Haji Affan dari Bireuen, banyak berperan dalam merekrut dan mengirimkan pemuda-pemuda Mujahidin ke front di Medan Area.

Sekitar bulan Juli 1946 terlihat kesibukan kota Bireuen dalam mengatur dan memberangkatkan pejuang-pejuang bersenjata ke front. Biro Angkutan Pejuang Kemer- dekaan Indonesia kerjasama dengan Persatuan Supir Indonesia yang berpusat di kota Bireuen, telah mengirim dan mengangkut dua kompi pasukan dari Batalyon IX dan tiga kompi Laskar Mujahidin, yang dipimpin oleh M. Jusuf Tanoh Anou Bireuen. Berikutnya Persatuan Supir Indonesia di Bireuen kembali mengerahkan tidak kurang dari 15 buah kendaraan umum dipimpin Ismail Muda Bireuen. Konvoi yang dilepas dengan upacara kemiliteran dan adat, mengangkut dua kompi "BAGURA" (Barisan Gurilla Rakyat) dari kabupaten Aceh Tengah, masing-masing dipimpin oleh Tgk. M. Saleh Adry dan Pang Akub dengan "Barisan Lebahnya" yang terkenal menyengat dan uniek.

Dalam rombongan itu juga turut satu kompi Barisan Mujahidin pimpinan Nyak Ali Pulo Drien dari Samalanga, satu kompi Laskar Rakyat Gelanggang Labudar, Matang Geulumpang Dua, pimpinan Cut Ali Gelanggang Labu dan satu kompi dari Meureudu pimpinan Jalil Sufi.

Mereka ini datang dengan perbekalan secukupnya, bahkan dilengkapi dengan ribuan ton beras, daging dendeng, kerupuk dan juga mesiu.

Giliran selanjutnya dikirim pula 20 truk angkutan dengan 8 buah tank pimpinan M. Yusuf Ahmad, yang lebih dikenal dengan panggilan Ahmad Tank. Pasukan ini disambut langsung oleh Letkol Cut Rachman selaku komandan RIMA (Resimen Istimewa Medan Area) sebuah kesatuan yang menampung seluruh pasukan Aceh yang akan diterjunkan ke pertempuran front Medan Area. Kesatuan RIMA ini bermarkas di kota Binjai.

Untuk memperlancar dan meningkatkan arus pengiriman pasukan dan senjata serta logistik ke front Medan Area, Yusuf Tank diangkat dan ditugaskan oleh Komandan RIMA sebagai Kepala Seksi Angkutan RIMA.

Pasukan lain yang dapat dicatat setelah itu adalah Barisan Mujahidin dari Kam- pung Keumala sebanyak dua kompi dipimpin Tgk. Habib Putih dan satu kompi lagi Mujahidin dari kota Bakti pimpinan Tgk. Amin Cot Trung. Hampir bersamaan menyusul pula satu kompi pasukan Kesatrya Pesindo dari kewedanaan Meureudu pimpinan Tgk. Isa Basyah.

Secara bergelombang pasukan rakyat bersenjata datang susul menyusul tak pernah henti-hentinya dari kabupaten Aceh Barat/Selatan kabupaten Pidie, Aceh Besar, Aceh Utara dan Aceh Timur, di samping kesatuan-kesatuan kesatuan TRI/TNI yang terus mengalir dan bermuara di front" Medan Area".

A.K HAJAT (77 th), seorang Wartazuan Pejuang dan Perintis Kemerdekaan RL Sebagai orang Pergerakan Kébangsaan ia adalah seorang oratoor yang ulung di samping tulisannya yang tajam mengkritik kolonialisme Belanda yang mencekik kehidupan rakyat di Indonesia. Karena tulisannya yang "pedas" dalam majalah "Panji Islam" di Medan sekitar tahun 30-an, putefa kelahiran Kutacane (Aceh Tenggara) ini pernah dibuang ke Jawa oleh Belanda dan mendekam di penjara "Suka Miskin " Bandung, yang kamarnya bersebelahan dengan kamar Bung Karno di tempat yang sama. Setelah proklamasi ia muncul sebagai pemimpin di Kutacane, membacakan proklamasi Rl dan menghimpun kekuatan rakyat Alas dan mengirimkan pejuang ke fron Medan Area. Kemudian terpihh sebagai Patih Aceh Tengah, terus Bupati, Residen dan pensiun Gubernur Muda dan Depdagri> (Koleksifoto "Aki").

BAB

  • PERTEMPURAN FRONT " MEDAN AREA "
  • Sosok " Medan Area ". • Laskar Rakyat Medan Area.
  • Bantuan Meriam Dari Aceh. • Rapat Panglima Di Bireuen.
  • Komando " Medan Area " ( KMA ). • Kisah " Kompi Parang Berdarah ".
  • Mayor Bahrin Ditembak. • Garis Demarkasi.
  • Front Utara Dan Barat. • TP I Dan TRIP
  • Front Selatan Dan Sebagian Barat.

8A8

ERN EAAMRON "AA AM"

福 口 口 日 (AMCI ) stA nsboM rlenebneg gnensq iqmoX

tas8 ned sU ino1 AIRT n60 19T. Ja08 neicads2 n80 metale2 no17

Sosok "Medan Area"

Lahirnya sosok "Medan Area", berakar dari sejarah pertempuran yang berkecamuk dalam kota Medan antara pasukan Gurkha/NICA dengan pejuang.

Pertempuran memperebutkan sejengkal tanah, rumah tempat berteduh di bilangan pusat kota sekitar lapangan Merdeka Jalan Protokol kota Medan, sampai Polonia dan pelabuhan Belawan. Lambat laun merambah ke wilayah yang dihuni penduduk.

Peristiwa itu ada yang menamakannya sebagai "perang gedung", melibatkan satu penghuni gedung dari satu jalan ke jalan lain, bahkan dari gang ke gang lain.

Setiap gedung yang telah direbut, ditarik tapal batas baru dan diklaim sebagai" protected area" untuk dijadikan pemukiman, asrama militer Gurkha / NICA. ini terjadi sejak 1 Desember 1945.

Kemudian di atasnya terpangpang tulisan segede gajah:" Fixed Boundaries Medan Area". Mereka menentukan batas wilayahnya sendiri secara sepihak. Kejadian ini men- gingatkan kita kepada kisah klasik "Belanda minta tanah".

Berpangkal dari sinilah muncul istilah "Medan Area", yang kemudian berubah menjadi kancah pertempuran yang dahsyat.

Mengapa Belanda/NICA memilih Medan sebagai basis dan pijakan hendak menguasai Sumatera ? Karena lokasi ini menyandang arti strategis dilihat dari aspek politik, ekonomi, dan militer.

Front Medan Area adalah sebuah kawasan yang terentang panjang dan sangat luas membujur dari utara ke selatan dan melintang dari timur ke barat dengan kompleks jalan Kesawan-Kantor Pos-Stasiun-Sentral Pasar sebagai titik pusatnya.

Lingkaran arealnya menjangkau ke bagian utara sampai ke Hamparan Perak dan Labuhan. Di sektor selatan terbujur dari Tanjung Morawa sampai ke Padang Bulan dan Asam Kumbang. Di sektor barat-utara mulai dari Kelambir Lima, Klumpang, Buluh Cina, Titi Payung dan tembus ke arah Hamparan Perak. Sedangkan di front barat kawasan itu membentang mulai Asam Kumbang, Tuntungan, Glugur Rimbun, Pasar Sunggal, Tanjung Selamat, Kampung Lalang, Stasiun Sunggal, Titi Gantung dan menyusur ke arah Kelambir Lima.

Jumlah penduduk dalam periode itu (1946) diperkirakan 250.000 jiwa dengan perincian 200.000 penduduk kota Medan dan 50.000 penduduk di luar sekitarnya.

Kegiatan NICA mengkonsolidasi pasukan dan teritorial dalam kota Medan sekitarnya nampak kian meningkat hari demi hari. Terbukti dari instruksinya kepada serdadu Jepang untuk lebih aktif menguasai dan mengendalikan keadaan. Jepang diperintahkan lagi masuk ke pedalaman, rebut kembali senjata yang jatuh ke tangan Republik. Sedangkan warga turunan China mulai dipersenjatai untuk memelihara ketertiban dan keamanan dalam kota Medan.

Peta "Medan Area" - (Foto Koleksi "Aki")

Tingkah-ulah serdadu NICA ini tentu saja menimbulkan perlawanan rakyat dan para pejuang, sehingga banyak timbul insiden berdarah dan menelan korban jiwa.

Peristiwa ini terus menjalar dan "membakar" kota Medan sekitarnya, sehingga setapak demi setapak NICA dapat menguasai pusat-pusat kota Medan yang terbilang strategis. Tapi penguasaan itu masih terbatas pada siang hari. Malam hari laskar pejuang melancarkan aksi gerilya dan mampu merebut kembali posisi yang ditinggalkan. Namun itu pun terpaksa dilepaskan menjelang subuh dinihari, karena kualitas persenjataan kita tidak sebanding dengan persenjataan moderen lawan.

Situasi dan kondisi lapangan dalam kota Medan semakin rawan. Kian terasa perlunya ditata kembali organisasi pertahanan dan pasukan secara integral dan terpadu.

Pasukan Gurkha/NICA lebih leluasa mengobrak-abrik perumahan penduduk dengan tindakan yang sadis dan zalim. Mereka membabat dan melakukan bombardemen terhadap kedudukanBarisan Perjuangan Rakyat dan pemukiman dengan rentetan tem- bakan mortir berat, meriam tomong yang brutal.

Diantara pemukiman rakyat yang terpaksa dikosongkan saat itu, adalah kampung-kampung yang terletak di jalan Serdang, Pasar Belakang, Sidodadi, Kebun Pisang, Tempel, Sukaramai, jalan Japans dan jalan Antara sekitarnya. •

Juga tidak luput kota Matsum, kampung Masjid, Aur, Sukaraja, Sungai Mati, Padang Bulan, Kampung Baru, Petisah Darat, Petisah, Pajak Bundar, Kampung Sekip dan kampung Glugur sekitarnya.

Akibatnya berduyun-duyun rakyat harus angkat kaki mengungsi ke luar kota, misalnya Tanjung Morawa, Tuntungan, Pancur Batu, Sibolangit, Binjei, Stabat, Tanjung Pura, Lubuk Pakam, Tebing Tinggi, Tanjung Balai dan Pematang Siantar. Sementara orang muda menggabungkan diri dengan pejuang untuk menyusup dan bergerilya ke kota Medan. (23-*)

Suatu pemandangan yang nampaknya tragis, tapi juga memendam nilai lebih, menggambarkan jiwa patriotisme yang tinggi di kalangan rakyat kita, yang lebih suka hidup menderita bersama bangsa sendiri, dari pada hidup di bawah kaki penjajahan Asing.

Laskar Rakyat Medan Area

Melihat trend situasi yang bertambah panas dan ngototnya Belanda hendak menguasai jalur-jalur penting dalam kota Medan sebagai pijakan basis pertahanan dan pemerintahannya, maka di kalangan para pejuang timbul gagasan baru untuk membentuk satu kesatuan komando tempur.

23-*) Sejarah Kodam-h'Bukit Barisan, Medan

Kesatuan komando dianggap mendesak, mengingat sumber daya manusia yang melimpah itu, tidak terorganisir secara baik, bahkan di sana sini timbul bentrokan yang cukup parah di kalangan sendiri.

  • Keadaan yang cerai-berai dan centang-prentang ini merugikan perjuangan dan
    sering terperangkap oleh isyu mata-mata musuh (NICA) yang menyebabkan timbul gontok-gontokan antara kita sendiri. Bahkan sampai baku hantam dan saling tembak.

Demikianlah pada tanggal 10 Agustus 1946 di kota Tebing Tinggi, 81 km. dari Medan para pejuang adakan pertemuan dan dicapai kesepakatan untuk menggabungkan semua kesatuan yang terlibat dalam pertempuran front "Medan Area" ke dalam satu komando.

Komando itu diberi nama " RESIMEN LASKAR RAKYA T MEDAN AREA", disingkat Resimen LRMA, didukung oleh TKR dan Barisan Kelaskaran Rakyat, baik yang berasal dari Sumatera Utara maupun Aceh.

Markasnya berkedudukan di "Trepes" (Two Rivers) sebuah kompleks perkebunan di dekat Deli Tua, kurang lebih 18 km. dari kota Medan.

Susunan Pimpinan dan Staf Komando Resimen LRMA terdiri sbb:

  1. Komandan : Kapten NIP M. Karim (merangkap komandan Batalyon B).
  2. Kepala Staf Umum : Marzuki Lubis (Napindo).
  3. Kepala Staf Operasi : Kapten Alwin Nurdin (Divisi IV Sum).
  4. Kepala Penyelidikan: Letda Sutan Sitompul (Divisi IV Sum).
  5. Kepala Penerangan : B.H Hutajulu (P3ST)
  6. Kep. Perlengkapan : Abdullah Koto (Pesindo).
  7. Kepala Kesehatan : Letda M. Idrus (Setda Divisi IV)
  8. Kepala Perhubungan : Letda Syaki
  9. Kepala Angkutan : Letnan Muda Edy Amiruddin (Staf Divisi Gajah I/Aceh). lOJCepala Sekretariat: Dahlan Lubis (Batalyon "B"). Komando Resimen LRMA memiliki 4 Batalyon pasukan Laskar Rakyat dan 1
    batalyon TKR, yaitu Batalyon "B".

Keempat batalyon tersebut menempati sektor, sbb : 1; Batalyon I dipimpin Jacob Lubis. Lokasi di Tembung (Medan Timur).

  1. Batalyon II dipimpin A. Hamid. Lokasi Sunggal (Medan Barat).
  2. Batalyon III dipimpin Barani Pohan. Lokasi di Kampung Terjam, Hamparan Perak (Medan Utara).
  3. Batalyon IV dipimpin Yahya Aceh. Lokasi di Tanjung Morawa (Medan Selatan). Disamping itu masih terdapat berbagai kesatuan yang belum melapor, antaranya
    Kesatuan Laskar Napindb Andalas Utara di bawah pimpinan M. Jacob Siagian dengan 5 resimen.

  4. Resimen I "Tembong" pimpinan M. Daud Egon.

  5. Resimen II "HarimoLiar" pimpinan Saragih Ras.
  6. Resimen III "Halilintar" pimpinan Selamet Ginting.
  7. Resimen IV "Naga Terbang" pimpinan Timur Pane.
  8. Resimen V "Banteng Laut" pimpinan A. Dharma. 24-*) Kesatuan Napindo yang kontropversial ini sering menimbulkan kasus antara
    sesama mau pun dengan kesatuan lainnya. Ada kalanya bentrokan timbul karena berebut wilayah, rezeki atau gengsi. Tindak tanduk seperti ini tentu saja melemahkan perjuangan dan jelas menguntungkan NICA. Konflik seperti itu sering terjadi, makanan empuk, gara-gara terperangkap oleh jebakan mata-mata NICA itu sendiri.

Namun, di kalangan Napindo ada juga yang positip. Sebuah Yon III Medan Utara yang menonjol di bawah pimpinan Mayor Bedjo, cukup disegani oleh kawan dan lawan. Lokasinya di Hamparan Perak dan Labuhan terus ke Tembung sekitarnya. Tugas rutinnya mencegat konvoi Belanda yang bergerak dari Belawan-Medan. Pasukan ini terkenal pemberani dan ditakuti pihak Belanda.

Bantuan Meriam Dari Aceh

Di penghujung tahun 1946, tercatat dua peristiwa penting yang sangat menentukan jalannya sejarah pertempuran "Medan Area".

Peristiwa itu adalah peralihan kekuasaan Sekutu ke tangan Belanda, berlangsung mulai tanggal 24 Oktober 1946. Peristiwa lainnya terjadi tanggal 15 November 1946, ketika perwira Belanda Kolonel J.P. Scholten menerima kendali pimpinan tentara Sekutu di Medan Area.

Ini sejaian dengan rencana Belanda untuk mengkonsolidasi pasukan dan teritorial- nya dalam rangka penguasaan "Medan Area" sebagai basis menuju sasaran awal untuk membentuk negara boneka "Sumatera Timur".

Kejadian ini dinilai oleh para pimpinan pejuang di Sumatera Timur sebagai isyarat yang membahayakan Republik dan oleh sebab itu perlu segera dilakukan upaya penangkalannva di seluruh lini perjuangan.

Salah satu inisiatif yang bernilai sejarah adalah pendekatan yang dilakukan dua orang Ulama terkenal dari Sumatera Timur.

Kiyai Abdul Halim Hasan dan Kiyai Zainal Arifin Abbas. Kedua Ulama besar ini membuat surat dan mengirim utusan khusus menemui Ketua Umum PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) Tgk. Mohd. Daud Beuereuh di Banda Aceh. Isi surat itu mencakup tiga masalah yang esensial.

24-*) Sejarah Kodam-I/Bukit Barisan, Medan.

H. Abdul Rahman Sjihab Ulama besar yang berpengaruh di Sumatera Utara (Repro).

1. Kehadiran Belanda/NICA di Medan Area, jelas mengancam kelangsungan hidup

bangsa, negara Rl yang diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945 dan mem- bahayakan masa depan agama Islam.

2. Sudah waktunya kaum Muslimin dari Aceh ikut serta membantu saudara- saudaranya di Sumatera Timur untuk melancarkan "Perang Jihad" dan "Perang Sabil" guna mengusir penjajah Belanda dari Bumi Indonesia.
3. Sumatera Timur membutuhkan bantuan senjata berat, meriam-meriam besar kesatuan artileri yang mampu memblokir dan menghancurkan pasukan artileri

Belanda yang memiliki senjata moderen dan pesawat terbang.

Surat ini mendapat tanggapan positif dari para Ulama Aceh dan setelah Tgk.

Mohd. Daud Beureuh membahasnya bersama, kemudian diputuskan untuk memenuhi isi surat itu sebelum terlambat.

Keputusan para Ulama Aceh ini, kemudian disampaikan kepada Panglima Divisi V/TRI Komandemen Sumatera, kolonel Husin Jusuf, dan setelah membahasnya lagi dalam rapat staf Divisi V/TRI, segera diperintahkan untuk mempersiapkan dan melak- sanakan pengiriman tenaga bantuan senjata dan pasukan rakyat bersenjata (mujahidin).

Realisasi pengiriman senjata berat ke front Medan Area dilakukan Komando Resimen II di Bireuen atas perintah Panglima Divisi Gajah-I, Kolonel Husin Jusuf. Pengiriman ini dimulai permulaan bulan Desember 1946. Komandan Resimen II Divisi Gajah-I waktu itu adalah Mayor Cut Rachman, seorang perwira menengah yang handal.

Secara cekatan dan blizkrieg ia mempersiapkan senjata-senjata berat dengan petugasnya yang terampil. Ditunjang pasukan infanteri, yang terdiri dari TKR dan Laskar Rakyat bersenjata Mujahidin dan Sabilillah.-

Aceh itu adalah tanggal 16 Desember 1946. Kehadiran tenaga bantuan senjata berat itu sangat mencemaskan pihak Belanda. 25-*).

Untuk mempersiapkan penerimaan senjata berat dan memilih lokasinya yang strategis, Mayor Cut Rachman menugaskan Wakil Komandan Resimen II, Kapten Ali

Hasan AS berangkat secepatnya ke Binjai. Perintah itu dilaksanakan oleh Kapten Ah Hasan pada tanggal 7 Desember 1946. Ia bersama pasukannya berada 2 km. jaraknya dari kota Binjai. Berlindung di bawah pohon jati yang rindangseraya menunggu kehadiran sang komandan Mayor Cut Rachman. Ia sengaja datang dari "Kota Perjuangan" Bireuen, didampingi Komandan Batalyon IX Kapten Alamsyah untuk menyerahkan senjata bantuan yang menjadi andalan dan kebanggaan itu, kepada Letnan Nukum Sanany.

Setelah penyerahan meriam selesai di Binjai, diputuskan sementara untuk menem-

patkannya di sekitar masjid Binjai, dipilih tempat yang agak terlindung dari udara.

25-*) DR. S.L van der Wal dalam bukunya "Officiële Bescheiden Betreffende de

Nederlands-Indobesia Betrekkingen 1945-1950" Bagian k3-6 S-Gravenhage -1967.

Inilah yang kemudian dikenal sebagai proses awal dari embryo kelahiran RIMA di

front Medan Area di Sektór Barat dan Utara, yang bermarkas di Binjai.

Urgensinya pengiriman senjata bantuan artileri ke front Medan Area dinilai sangat strategis untuk menunjang pasukan infanteri dan Laskar Rakyat. Karena pasukan ini sering kewalahan menghadapi bombardemen peluru artileri atau serangan yang gencar dari pesawat pemburu Belanda.

Untuk mengimbangi pasukan artileri Belanda yang pongah, Panglima Divisi Gajah- I, Kolonel Husin Jusuf memanggil dan menugaskan Letnan Nukum Sanany mempersiap- kan tambahan senjata artileri dan membantu pasukan kita menyerbu front Medan Area. Kepadanya diberikan prioritas oleh Panglima menambah senjata berat meriam 25 PR, meriam 13 PR dan sepucuk meriam pompom penangkis serangan udara dua laras.

Senjata tambahan itu diterimanya dari atasannya Komandan Batalyon VI Kapten

A.M. Namploh di Langsa. Juga diperintahkannya pada tanggal 25 Desember 1946, Letnan Nukum Sanany dan pasukannya sudah harus berangkat ke Binjai atas nama Laskar Mujahidin. Sekaligus bergabung dengan pasukan Hisbullah pimpinan Mu'allim Haji Halim Hasan dan Haji Zainal Arifin Abbas dan Detasemen Polisi Tentara pimpinan Letnan Hasanuddin. Kehadiran pasukan Meriam Nukum Sanany di Binjai dengan cepat tercium oleh kaki tangan NICA. Ini terbukti dari meningkatnya serangan dan pemboman dari udara terhadap lokasi meriam tersebut. Untuk menghindari ancaman yang serius itu, tanggal 8 Januari 1947 pasukan Batalyon IX pimpinan Kapten Alamsyah dan pasukan Meriam Nukum Sanany dipindahkan lokasinya dari Sungai Semayam "B" ke tempat lain yang telah ditetapkan.

Hampir setiap hari lokasi itu dibom dan ditembaki dari pesawat udara oleh

Belanda. Sejumlah korban telah jatuh, Kopral Suparman gugur, lainnya luka berat dan ringan.

Menjawab kecongkakan Belanda yang kelewatan, pada tanggal 9 Januari 1947 untuk pertama kali dentuman meriam Nukum menggemuruh di angkasa kota Medan. Pada hari itu tidak ada pesawat terbang yang mengudara seperti biasanya.

Belakangan diketahui, moril para pejuang kita lebih meningkat setelah mendengar dentuman meriam Republik yang bersarang di arah Binjai. Kini Belanda melihat kenyataan bahwa Republik juga memiliki senjata berat dan meriam dengan berbagai jenis ukuran.

Keesokan harinya tanggal 10 Januari 1947 mulai pukul 09.00 pihak Belanda mulai membalas dengan tembakan meriam dan serangan udara yang ditujukan ke front Medan Area.

Serangan ini segera dibalas oleh pasukan meriam Nukum dengan menggunakan Senapan Mesin Berat 12.7 dan Twin pompom kaliber 25 mm. sehingga untuk beberapa jam angkasa Medan Area menggelegar dengan suara meriam yang bersahut-sahutan.

11Q

MAYOR ALAMSYAH duduk di atas moncong meriam di sebuah kubu artileri di kampung Lalangfront "Medan Area". Perwira ini pendiam, tak banyak bicara tapi pemberani dan ditakuti serdadu Belanda.

NUKUM SANANY

Kolonel (Purn) Komandan Artileri RIMA (Resimen Istimewa Medan Area) yang disegani Belanda. (Koleksi Foto "Aki").

PASUKAN MERIAM "RIMA".

Inilah pasukan meriam kita yang disegani pihak Belanda, tulang pung- gung "RIMA" (Resimen Istimewa Medan Area) yang seluruhnya berasal dari kesatuan Tanah Rencong. Pasukan Artileri ini berlokasi di Binjai, dipimpin Letnan Nukum Sanany dengan tidak kurang dari tujuh pucuk meriam berbagai jenis menengah dan berat. Ditangani oleh M. Rasyid, Cut Usman, Main, Kasan, Buchari AS, Jusuf Risin, Machmud Hamzah. Dalam gambar atas nampak diantara petugas (arah jarum jam) Jalaluddin Umar (sedang menembak) terus ke kirinya Abdur Rachman Panglah, Mahyuddin Syah, Cut Usman dan jongkok Said Tarmizi. Lebih jauh lihat sketsa menempatkan artileri "RIMA" (Foto: Buchari AS/Said Tarmizi).

Tanggal 14 Januari 1947 Mayor Bachtiar Idham selaku Kepala Staf/Kepala Markas Umum Divisi Gajah I di Kutaraja bersama Mayor Cut Rachman selaku Komandan Resimen II/Divisi Gajah I melakukan inspeksi ke daerah pertempuran di front Medan Area dan singgah di Binjai. Dari hasil kunjungan ini dimantapkan gagasan awal yang sudah berkembang untuk merealisasikan penggabungan seluruh pasukan yang datang dari Aceh ke dalam satu komando. Dikenal dengan RIMA (Resimen Istimewa Medan Area).

Semua pasukan tentara, barisan kelaskaran bersenjata dan gerilyawan lainnya yang berasal dari Aceh manunggal dalam komando ini.

Besoknya tanggal 15 Januari 1947, Mayor Bachtiar Idham selaku pimpinan Devisi Gajah I Aceh mengadakan brieving dengan para Komandan Pasukan teras di Binjai.

Diintruksikannya supaya pasukan dan gerilyawan siap menggempur dan merebut kembaü kota Medan yang diduduki Belanda/NICA.

RAPAT PANGLIMA DI BIREUEN

Tugas sekutu di Sumatera sebenarnya menerima penyerahan serdadu Jepang lalu mengirimkan pulang ke negerinya.

Tapi yang terjadi sebaliknya. Jepang malah dipersenjatai dan diberi tugas untuk memerangi rakyat dan pejuang kita dengan mencoba merebut kembali senjata-senjata yang jatuh ke tangan rakyat dan pemuda. Namun tak berhasil.

Malah upaya Jepang ini mendapat tantangan dan perlawanan sengit dari para pejuang. Bahkan serdadu Jepang sendiri akhirnya cukup banyak yang menggabungkan diri dengan pejuang.

Belanda dengan cara-cara licik terus mengkonsolidasi posisinya dalam kota Medan, seraya mempersiapkan diri untuk mengambil alih tugas serdadu Inggeris bila sewaktu-waktu meninggalkan Indonesia. Dalam konteks inilah mereka melancarkan operasi bersama yang gila-gilaan di luar perikemanusiaan untuk mengusir rakyat dari dalam kota Medan. Situasi ini amat gawat dan ditantang oleh para pejuang. Untuk menjawab tantangan yang berat ini secara tepat dan cepat, segera diadakan evaluasi menyeluruh terhadap situasi di front Medan Area. Tugas^inr tidak -mudah. Karena kebanyakan kaum pejuang, terutama Barisan Kelaskaran Bersenjata sulit diatur dan masing-masing merasa dirinya lebih unggul dan jagoan. Setelah dikaji fungsi Komando Resimen "Laskar Rakyat Medan Area" yang diben- tuk empat bulan sebelumnya, ternyata perlu lebih ditingkatkan peranannya. Mereka belum berfungsi secara efektif, sementara penetrasi militer dan sosial ekonomi Belanda kian merasuk dan mengancam keberadaan Republik.

Salah satu faktor penghambat yang mengganjal, kesatuan-kesatuan masih lebih banyak terikat kepada pasukan dan perintah komandannya masing-masing. Instruksi-Instruksi dari Komando Resimen "LRMA" tak jalan, disiplin menjadi mati. Akibatnya potensi yang ada tidak dapat dimobilisir secara optimal.

Ini terjadi disebabkan komunikasi, transportasi yang minim, dipisahkan oleh ter- rein yang rumit melakukan kontak satu dengan lainnya.

Untuk mengatasi situasi dan kondisi yang serius itu, para Panglima mengadakan rapat puncak di kota Bireuen pada tanggal 7 sampai 9 Januari 1947. Rapat Panglima ini dihadiri sebagai berikut:

  1. Kolonel Husin Jusuf, Panglima Divisi Gajah I Aceh.
  2. Kolonel H. Sitompul, Panglima Divisi Gajah II Sumatera Timur.
  3. Letnan Kolonel A. Kartawirana, mewakili komandemen Sumatera.
  4. Kapten NIP M. Xarim, Komandan Resimen Laskar Rakyat Medan Area (LRMA).
  5. Letnan Kolonel Tjikmat Rahmany, Kepala Staf Divisi Tengku Cik Di Tiro.
  6. Letnan Kolonel Nyak Neh, Kepala Staf Divisi Rencong. (Masing-masing didampingi oleh staf) Rapat Panglima berlangsung secara marathon selama tiga hari tiga malam dan telah
    diambil kesepakatan sbb:

  7. Komando Resimen "Laskar Rakyat Medan Area" (LRMA) dibubarkan, sebagai gantinya dibangun Komando "Medan Area" (KMA).

  8. Sebagai Komandan dari Komando ini harus terdiri dari perwira menengah yang qualified (TRI) dan pernah berpengalaman dalam pertempuran.
  9. Divisi Gajah I Aceh ditugaskan mengontrol lokasi Medan Barat dan Utara. Sebuah Komando Resimen khusus dibentuk diberi nama Komando "Resimen Istimewa Medan Area", disingkat RIMA. Seluruh kesatuan TRI dan Laskar Rakyat yang berasal dari Aceh dihimpun dalam RIMA
  10. Divisi Gajah II Sumatera Timur ditugaskan mengontrol lokasi Medan Selatan dan sebagian Medan Barat, menghimpun semua kesatuan TRI dan Barisan Kelaskaran, yang berada di karesidenan Sumatera Timur.
  11. Kepada Panglima Divisi Gajah I Aceh diharapkan dapat mensuplai terus menerus bahan logistik untuk keperluan pertempuran di front Medan Area.
  12. Sebagai markas Komando Medan Area ditetapkan di Tanjung Morawa, 12 km. dari kota Medan dan dilantik pada tanggal 24 Januari 1947. Rapat Panglima ini dinilai sangat penting karena diharapkan dapat menyatukan
    langkah dan gerak untuk memberi jawaban yang kongkret terhadap setiap ancaman yang datang dari front Medan Area.

Bagi rakyat Aceh sendiri, masalah ini dinilai sangat serius. Oleh sebab itu tanpa ragu-ragu memberikan putera-putera terbaiknya, menyerahkan segalanya untuk merebut kembali penguasaan atas front Medan Area.

Sebab, kalau Belanda sampai menguasai seluruh kota Medan dan sekitarnya, ini berarti selangkah lagi akan menjamah wilayah Aceh.

Ini tidak boleh terjadi. Masalah ini sangat mendasar bagi Aceh. Masalah kehor-

matan, martabat, soal hidup atau mati(to be or not to be)

Apa sebab ?

Pertama, amanah pewaris nenek moyang kepada generasi penerus yang membela, mempertahankan bumi dan tanah air dari ancaman dan serangan penjajahan.

Ini berarti mekarnya jiwa patriotisme, cinta tanah air yang membaja tak mengenal tawar menawar.

Kedua, fatwa Ulama Aceh yang sudah "menghalalkan" darah penjajah bila berani- beranian menginjak daratan Tanah Rencong, yang telah diproklamirkan Soekarno-Hatta

tanggal 17 Agustus 1945.

Kedua motivasi ini telah mengental dalam jasad dan rohani orang Aceh, sehingga upaya untuk menampik secara dini setiap serbuan Belanda ke Aceh, telah diantisipasi dengan tekad bulat melumpuhkan mereka di sarangnya. Ini dibuktikan dengan pen- giriman besar-besaran pasukan, alat senjata dan pembekalan lainnya ke front Medan Area. Semua kekuatan Laskar Rakyat Aceh dialirkan bagai air bah menerjang setiap hambatan dan penghalang, membujur lalu membelintang patah. Sasarannya mengusir penjajah Belanda dari front Medan Area.

Ribuan kilometer para pejuang melakukan "Long March"dari tiga jurusan yang berbeda menusuk jantung pertahanan Belanda di front Medan Area.

Mulai dari jurusan Aceh Raya sepanjang jalan raya Aceh Besar, Aceh Pidie, Aceh Utara dan Aceh Timur terus ke Binjai lebih 600 km. kemudian jurusan pesisir pantai mulai dari Aceh Barat dan Aceh Selatan sejauh 500 km. sampai ke Sidikalang. Dan jurusan dataran tinggi Gayo Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Karo sampai ke Pancurbatu dan Tuntungan sejauh tidak kurang dari 550 km.

Komando "Medan Area" (KMA)

Inilah hasil rapat panglima dï Bireuen.

Struktur dan formasi Komando "Medan Area" (KMA) alami perubahan, pimpinan

terasnya gabungan dari Divisi Gajah-I (Aceh) dan Divisi Gajah II (Sumatera Timur) dibantu Laskar Rakyat Bersenjata sebagai berikut.

1. Komandan : Letnan Kolonel Sutjipto
2. Kepala Markas Umum : Mayor Teuku Nurdin
3. Kepala Penyelidikan : Kapten Yacob Lubis
4. Kepala Penerangan : Letnan Satu G. Sianipar
5. Kepala Bagian Umum : Letnan Dua K. Sinaga
6. Kepala Perlengkapan : Hariandja

7. Kepala Perhubungan : Letnan Dua Ali Mochtar
8. Kepala Bagian Zeni : Letnan Dua A. Rahim
9. Kepala Angkutan : Pak Raden lOXepala Kesehatan: Dr. G.L. Tobing

PERSIAPAN RAPAT PANGLIMA.

Para Perwira Staf yang mempersiapkan bahan Rapat Panglima di Bireuen. Duduk dari kiri ke kanan, Mayor Said Usman, Letnan Kolonel Hasballah Haji, Mayor Nurdin Sufi. Berdiri dari kiri ke kanam, Kapten Hasbi Wahidy, Kapten Ali Hasan AS, Lettu Usman Tamin, Kapten Hasan Saleh, Kapten Said Ali dan Kapten Nyak Adam Kamil. . (Koleksi Foto "Aki").

Dalam prakteknya Komandan Letnan Kolonel Sutjipto dan Kepala Markas Umum Mayor Teuku Nurdin jarang di tempat, karena lebih sibuk dengan tugas pokoknya di kesatuan masing-masing.

Untuk mengisi kekosongan itu, tampil kapten Jacob Lubis sebagai pejabat komandan sehari-hari. Sedangkan tugasnya sebagai Kepala Bagian Penyelidikan digantikan oleh Letnan Satu Abdul Malik Maimuddin dengan wakilnya Letnan Dua Sutan Sitompul.

Medio Juni 1947 Jacob Lubis diangkat sebagai penjabat Kepala Staf Divisi Gajah II dengan pangkat Mayor dan pindah ke Pematang Siantar. Ini berarti pimpinan Komando "Medan Area" menjadi lowong.

Kolonel Husin Jusuf selaku Panglima Divisi X/TRI Komando Sumatera yang baru dibentuk dan berkedudukan di kota Bireuen, telah menetapkan Komandan Resimen V/Divisi X/TRI, Letnan Kolonel Teuku Cut Rachman sebagai Komandan Komando Medan Area (KMA) yang baru. Namun, Cut Rachman mengalami kecelakaan dalam perjalanannya dari Bireuen ke Banda Aceh dan syahid. Ini terjadi sekitar bulan Agustus 1947. Cut Rachman mendapat tugas dari Panglima Kolonel Husin Jusuf untuk mewakilinya dalam pertemuan dengan utusan Komisi Tiga Negara, yang direncanakan berlangsung di Banda Aceh. Pada hari yang nahas itu, ia bersama Kapten Alwin Nurdin yang merangkap sebagai supir mengendarai Jeep Willys buru-buru mengejar waktu dari kota Bireuen menuju Banda Aceh (dulu Kutaraja). Jaraknya sekitar 215 km.

Menjelang desa Tronggong mobilnya menubruk pohon kayu di pinggir jalan, ia syahid seketika, Alwin Nurdin luka parah, namun jiwanya tertolong.

Kisah "Kompi Parang Berdarah"

Panglima Divisi Kolonèl Husin Jusuf segera menetapkan Mayor Bahrin menjadi Komandan KMA yang baru, menggantikan Mayor Teuku Cut Rachman yang gugur dalam menjalankan tugasnya.

Mayor Bahrin semula adalah Komandan Batalyon I Resimen I dikenal sebagai perwira pemberani dan seorang strateeg mihter yang ulung.

Pengangkatan didasarkan kepada pertimbangan bahwa Mayor Bahrin yang beroperasi di sekitar Tuntungan cukup berpengalaman dan disegani oleh patroli Belanda. Ia jantan dan galak di medan pertempuran, sehingga pernah dijuluki "Singa Medan Area".

"KOMPI PARANG BERDARAH". Menteri Koperasi, Letnan Jenderal (Purn) H. Bustanil Arifin, SH. sewaktu bertemu dengan PANG LOKOP (81 th) seorang anggota pasukan "Kompi Parang Berdarah" yang dipimpin Letnan Bustanil Arifin di fron "Medan Area". Kompi ini beroperasi hanya di malam hari dengan mempergunakan senjata tradisional "parang" dalam kelompok-kelompok kecil yang tersebar. Senjata api tidak boleh dipergunakan. Para anggotanya terdiri antara lain Pang-pang yang berasal dari Gayo dan Lokop. (Koleksi Foto "Aki").

Si

O TS K 8 ^i >«

91^

5J -2 3*£

J« ^

S «

O s «

2 U*£

Pada malam «ïari ia sering menyusup dan menyamar ke asrama serdadu Belanda,

hanya ditemani satu atau dua orang pembantunya. Senjata yang dipakainya hanya parang atau "Pedang berkunci", tidak membawa senjata api.

Pembunuh bertangan-dingin itu, dikenal menyandang senjata tradisional lainnya, seperti "ilmu kebal" dan sewaktu-waktu dapat luput dari pandangan mata. Di Gayo, ilmu ini dinamakan "pelimun". Dengan senjata tradisional inilah ia beroperasi di malam hari menjelang subuh, mengintip patroli Belanda yang lengah.

Dari sekian banyak operasi yang dilakukannya, tidak jarang berhasil menebas patroli Belanda dan mereka kembali biasanya dengan parang berlumuran darah.

Dari sinilah awal kisah lahirnya episode "Parang Berdarah", yang kemudian dilan- jutkan dan ditata kembali oleh Letnan Bustanil Arifin dalam suatu kesatuan yang diberi nama "Kompi Parang Berdarah". Kompi ini berintikan putera Gayo dari Aceh Tengah dan Lokop/ Serbajadi, antaranya Pang Lokop (Pak Arsyad) sampai sekarang masih hidup dalam usia 81 tahun, tinggal di Kuala Simpang. Juga Datok Pining dan Datok Sere. Pada periode itu ada empat orang perwira lapangan yang paling disegani Belanda, yaitu Mayor Bahrin, Mayor Alamsyah, Kapten Bejo dan Kapten Nukum Sanany. (28-*)

Belanda sampai membuat pengumuman dalam bentuk plakat yang ditempelkan di jalan-jalan strategis dalam kota Medan, berbunyi: "Siapa saja yang berhasil membawa kepala Mayor Bahrin, Mayor Alamsyah, Kapten Bejo dan Kapten Nukum Sanany hidup atau mati dan menyerahkannya kepada Belanda, diberi hadiah uang sebesar Fl.000,- gulden.

Mayor Bahrin Ditembak

Sekitar dua bulan Mayor Bahrin menjabat sebagai Komandan "Komando Medan Area" (KMA), terjadi peristiwa yang menyedihkan. Mayor Bahrin ditembak mati oleh anak buahnya sendiri, Letnan Satu Ahmad Aman Bedus, yaitu orang yang paling dipercaya dan disayanginya. Tragedi ini terjadi di markas Batalyon Bahrin di Tuntungan.

Segera setelah kejadian itu, Letnan Satu Ahmad lapor kepada Komandan Resimen III (terdekat) di Tebing Tinggi dan setelah di interogasi langsung masuk penjara di Pematang Siantar.

Apa latar belakang peristiwa itu, sebenarnya belum pernah diumumkan secara resmi.

Karena suasana front Medan Area saat itu memperlihatkan wajah yang beringas dan ramainya isyu mata-mata NICA yang mengadu-domba sesama pejuang.

Sisi lain masalah rivalitas, persaingan etnis, baik dikalangan TRI maupun Laskar Rakyat, terutama dikalangan pimpinan, seolah tak pernah habis-habisnya.

28-*) Wawancara penulis dengan Kolonel Arteri (Pum)Ali Hasan AS-Jakarta, 1987.

Berdasarkan pengamatan penulis yang bersumber dari anggota pasukan Batalyon Bahrin, Letnan Hasan Basri dan Sersan mayor Sahuddin sekarang karyawan kantor Gubernur Sumatera Utara bagian Komunikasi, menyebutkan peristiwa itu sangat misterius. kisah awalnya bermula dari masuknya seorang wanita cantik ke Kompleks pemukiman Batalyon Bahrin, yang menabur isyu dan menimbulkan saling curiga antar pasukan.

Wanita cantik ini menyamar sebagai isteri seorang tukang warung dalam kompleks tersebut.

Setelah "Singa Medan Area" dari Tuntungan itu berpulang serta merta wanita cantik itupun menghilang, tak tahu kemana perginya.

Menurut Zainab (61 tahun) seorang mata-mata wanita Republik di daerah pen- dudukan Belanda, ratusan mata-mata Belanda disebar disekitar front Medan Area dan pedalaman Aceh. Sebagiannya terdiri dari wanita-wanita ayu yang mampu meringkus prajurit yang kelaparan di front.

Panglima Divisi Kol. Husin Jusuf kemudian mengangkat kapten Zain Hamid mengggantikan Mayor Bahrin sebagai Komandan "KMA". Kapten Zain Hamid semula Komandan Batalton V Resimen I Divisi Gajah II bermarkas di Perbaungan. Pernah menjabat Kepala Staf Umum Komando "KMA". Selama Kapten Zaid Hamid memangku Komandan "KMA" situasi di front sangat rawan dan keadaan ini bertahan sampai meletusnya agresi militer pertama Belanda pada tanggal 21 Juli 1947.

Garis Demarkasi

Hampir setahun lamanya Belanda/Inggeris "menzalimi" rakyat Indonesia. Namun tak mampu menundukkan semangat dan jiwa perjuangan yang berkobar-kobar memper- tahankan dan menegakkan kemerdekaanya. Sementara kredibilitas mereka mulai ter- cemar di arena internasional, karena kesewenang-wenangannya menindas hak- hak azasi manusia Indonesia.

Untuk menyelamatkan mukanya di forum dunia, seraya memberi kesempatan kepada Belanda untuk menarik nafas lebih segar dengan mengkonsolidasi kekuatan müiternya, maka Inggeris menawarkan perundingan sebagai suatu taktik.

Dalam perundingan-perundingan gencatan senjata antara Rl dan serdadu Inggeris yang kemudian dilanjutkan serdadu Belanda, khususnya di Medan Area, dibentuklah "Panitia teknik Gencatan Senjata" dan "Panitia Pemisah".

Pasukan kita di front Medan Area, benar-benar merasa berat hatinya mematuhi semua ketentuan gencatan senjata. Apalagi instruksi gencatan senjata yang dikeluarkan oleh "Panitia Pusat" di Jakarta, terlalu percaya kepada muslihat Belanda.

Untuk merundingkan posisi garis demarkasi di front Medan Area, tanggal 6 Desember 1946 diadakan rapat "Panitia Pemisah" di Medan, yang juga dihadiri pimpinan

Rl dari pusat, MR. Amir Sjarifuddin, Dr. A.K. Gani dan Letnan Jenderal Urip Sumohardjo.

Garis demarkasi yang disepakati, sebagai berikut:

  1. Medan kota, garis demarkasi dua km. sejajar di sebelah luar Kotapraja.
  2. As Medan-Belawan sejajar dengan jalan raya dua km. sebelah timur rel kereta api dan dua km. sebelah barat rel kereta api.
  3. Lapangan terbang Polonia dianggap masih dalam kota, kecuali Kampung Baru.
  4. Pos pertahanan Belanda berada dalam Kotapraja dan sepanjang jalan raya atau kereta api Medan-Belawan, asrama tentara Belanda di Helvetia dan Glugur Hong tak ada perubahan.
  5. Daerah selebar dua km. antara batas Kotapraja dengan garis demarkasi, serta dua km. kanan kiri jalan Medan-Belawan adalah daerah patroU tentara Belanda, sedang masing-masing dua km. di belakangnya merupakan daerah patroli tentara Republik Indonesia.
  6. Pemerintah sipil boleh kembali ke Kotapraja dan sebagai pengaman boleh ditugas- kan Polisi Negara R.I. (30-*). Hasil perundingan penetapan garis demarkasi ini jelas merugikan perjuangan
    Republik. Posisi Belanda semakin mantap karena pos-pos terdepannya semakin mencuat dan menjangkau daerah pinggiran. Ketidak-adilan ini tentu saja menimbulkan amarah para pejuang. Lalu berkobarlah pertempuran di tiap sudut, masing-masing pihak saling memperbaiki posisi pasukannya.

Sengketa Republik dengan Belanda nampaknya tidak bakal segera berakhir. Mes kipun perundingan mulai berlangsung antara kedua delegasi.

Sebab apa ?

Karena pihak Belanda selalu ingin memaksakan kehendaknya terhadap Republik.

Demikianlah gambaran situasi umumnya tiap perundingan dilakukan antara Republik Indonesia-Belanda. Gambaran seperti ini juga tercermin dari perundingan Linggarjati.

Itulah sebabnya hasil perundingan Linggarjati yang diumumkan tanggal 25 Maret 1947 tidak menumbuhkan rasa optimisme di kalangan pejuang. Bahkan yang terjadi lahirnya pro dan kontra terhadap hasil perundingan. Tapi, sebelum persetujuan secara resmi ditanda-tangani, lebih dahulu telah dicapai kesepakatan untuk memberlakukan penghentian tembak-menembak (cease fire) di seluruh Indonesia. Waktunya ditetapkan tanggal 15 Pebruari 1947 mulai pukul 24.00 tengah malam.

30-) "Sejarah Kodam-I/Bukit Barisan" halaman 170-171 Medan*

Nah, menjelang diberlakukan gencatan senjata, para pejuang mendesak mengambil langkah-langkah memperbaiki posisi sepanjang front Medan Area.

Walau waktu persiapan sangat singkat, usul itu dinilai positip oleh Panglima Kolonel H. Sitompul seraya menginstruksikan kepada Komandan "KMA" di Tandjung Morawa untuk melancarkan operasi serentak di semua lini pertempuran "Medan Area".

Instruksi itu dilaksanakan tanggal 15 Pebruari 1947 di subuh hari pukul 04.00 (pagi). Hanya terpaut 20 jam, sebelum gencatan senjata diberlakukan secara efektip.

Pasukan yang dipersiapkan untuk menggempur serentak pertahanan Belanda di front "Medan Area", oleh Komandan "KMA" diatur sbb.

Front Utara Dan Barat

Daerah Pertahanan front Utara dan Barat "Medan Area" dipercayakan kepada tanggungjawab kesatuan RIMA, yang seluruhnya berasal dari kesatuan Tanah Rencong (Divisi Gajah I/Aceh) mencakup tujuh kawasan pertahanan. Komando RIMA dikendalikan oleh Mayor Hasan Ahmad selaku komandan.

Peta kekuatan dan penempatan pasukan RIMA diatur sbb : (31-*)

  1. Batalyon-I pimpinan Kapten Hanafiah mengontrol daerah pertahanan front barat "Medan Area". Kesatuan TRI ini didampingi batalyon Kesatrian Divisi Rencong pimpinan Mayor Nyak Neh dengan wakil komandan Keuchik Ah alias Kuroiwa (seorang perwira Jepang yang memihak Rl). Juga di kawasan ini, menurut Kolonel Ali Hasan AS, pernah'bertugas Batalyon-I/Resimen-I Pimpinan Mayor Bahrin, berlokasi di Tuntungan dan BAGURA (Barisan Gurilla Rakyat) Aceh Tengah pimpinan Tgk. Ilyas Leubey dan Tgk.M. Saleh Adry.
  2. Batalyon-II pimpinan Kapten Nyak Adam Kamil dan Kepala Staf Batalyon Letnan Bustanil Arifin. Batalyon ini mencakup Kerambil Lima, Titipayung, Titipapan sekitarnya bertugas mengatur pertahanan dan logistik bagi seluruh kesatuan di front Utara "Medan Area".
  3. Batalyon-III meliput daerah pertahanan Kelumpang dari Pasar 1 sampai dengan Pasar 4 dan sekitarnya dengan Komandan Kapten Alamsyah, kemudian Kapten Ah Hasan AS dan Kapten Hasan Saleh.
  4. Batalyon-IV mencakup daerah pertahanan Binjai dan sekitarnya, terutama keamanan kota karena NICA dan Poh An Tui sering melakukan penyusupan dan sabotase untuk melumpuhkan daerah basis dan garis penunjang "Medan Area". Batalyon ini dipimpin Komandan Kapten Burhanuddin.
  5. Batalyon-13 dengan Komandan Kapten Wiji Alvisah menangani daerah pertahanan Asem Kumbang, Sunggal dan sekitarnya.

    31- *) Catatan H.Nukum Sanany (Kolonel-Pum) Mantan Wakil Komandan Resimen

Artileri Divisi X TNI Ko. Sumatera.

ditunjang Serma,M.Rasyid Sei Belswen

Kpt.Alam Syah KptAl1 Hesan

Garis depan Udara di Kampung Lalang Ke Hampuren PerakPenangkis

(Foto Koleksi Situasi Pasukan RIMA digaris

"Aki") Serangandepan (Kelambir Lima)( CI )

GAN LNG L

H Stasion KA) PSU/Pesindo Hachunud liamzuh Kp.Lalang rupindo Lo Madam Kp.Lalang Ke 3LaJal 25 Pdr.9.Cm 23 Par 0 Plt,Cut Usman Sraen Kesan PSU/Pon-Pom 20 1 Kop.Buchari.A.S Kp.Lalang Garis depan Sei Belawan Kpt.Hanofiah Pos.Ko.Artiler Sei Keri

Letde.Nukum Sanany

Ke.Sei MancirimKe Sunggal

  1. Batalyon Kesatria Pesindo dari Divisi Rencong dengan Komandan Mayor Nyak Neh, wakil Komandan Keuchik Ali.
  2. Pertahanan Pasukan Meriam dengan Komandan Letnan Nukum Sanany berkon- setrasi di sekitar Kampung Lalang, Sunggal dan sewaktu- waktu membantu tem- bakan meriam di front Utara "Medan Area" atas perintah Komandan RIMA.

    TPI dan TRIP

Di samping kesatuan tentara dan laskar rakyat, juga dua komando Tentara Pelajar daerah propinsi Aceh, yaitu Komando Resimen T.P.I (Tentara Pelajar Islam Indonesia) dan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Resimen-II turut ambil bagian dalam jajaran kegiatan Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) dan KSBO.

-Komando Resimen TPI menerjunkan langsung sebuah Kompi khusus di front barat dan utara "Medan Area", dipimpin wakil Komandan Resimen TPI Daerah Aceh, Kapten M. Saleh Banta dengan wakil Letnan Satu, Said Umar Mahmud. Kompi Pertempuran TPI Aceh ini berada di bawah kordinasi Staf Resimen Kapten M. Nur Nekmat dan bergabung di front dengan Batalyon Mujahidin, Divisi Tgk. Chik Di Tiro pimpinan Komandan Mayor Abdul Muthalib. Pasukan Kompi Khusus TPI diambil dari anggota kesatuan TPI yang telah terlatih dan pilihan Batalyon-III TPI yang bermarkas di Bireuen dan Kompi Istimewa Lhok Seumawe, sesuai instruksi Komandan Resimen TPI Aceh/Divisi X TNI/Komandemen Sumatera, Mayor A.K. Jakobi.(CP-9)

-Dalam agresi militer II, Kompi Khusus Komando Resimen TPI Aceh, dipimpin Komandannya Letnan Dua Syamaun Muhammad, Wakil Letnan Jusuf Hasan, tergabung dalam Brigade Tempur Mujahidin dengan Komandan Mayor Said Usman (KSBO).

-TRIP Resimen II Aceh/Divisi Sumatera, mengirim Kompi VIII Batalyon-III bermarkas di Langsa dalam tugas pertempuran di front RIMA dengan Komandan Basyar Abdullah. Juga TRIP Aceh membentuk sebuah tim "Korespondenm Perang" pimpinan Letnan Muda M. Djanan Zamzamy dengan anggota antara lain Yusda, Ismuwil Ishak, Ilyasak Ali dan Firdaus. Tim ini langsung dikoordinasikan oleh Kepala Penerangan TNI Divisi X Komandemen Sumatera pimpinan Mayor A.G Mutyara. Tim jni bermarkas di Bukit Kubu, perbatasan Aceh-Sumatera Timur, setiap hari mengalirkan berita perang ke Bireuen, Kutaraja dan ke markas Radio Perjuangan "Rimba Raya" di Takengon, Aceh Tengah. Dari pemancar Radio Perjuangan "Rimba Raya" ini juga sering Panglima Divisi Kolonel Husin Jusuf dan Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, Jenderal Mayor Tgk. Mohd. Daud Bereuh menyampaikan amanatnya kepada anggota tentara dan laskar yang bertempur di front Medan Area, Langkat Area dan Tanah Karo Area. Amanat seperti ini sangat berkesan dan menaikkan semangat perjuangan bagi kaum pejuang di front terdepan Medan Area.

Front Selatan dan sebagian Barat

Untuk Front di sekitar Selatan dan sebagian sektor Barat dikoordinasikan oleh pasukan dari Divisi Gajah-II/Sumatera Timur. Meliputi Resimen I-II-III dan jajaran Laskar Rakyat Bersenjata dari Sumatera Timur dan Tapanuli.

Operasi di sektor Selatan dipimpin Mayor Martinus Lubis, yang kemudian gugur

dalam sebuah pertempuran di front Marindal. Jasadnya diterjang pecahan mortir Belanda yang jatuh disisinya.

kita di mana saja sering terdesak menghadapi pasukan Belanda hampir dalam setiap pertempuran.

1. Lemahnya persenjataan pasukan kita dalam menghadapi kubu-kubu pertahanan

musuh yang kuat. Mereka dibantu pula oleh senjata moderen seperti tank, artileri dan pesawat tempur "Mustang".

2. Handicap lainnya adalah komunikasi, transportasi dan koordinasi.
3. Tidak adanya program yang matang dan terpadu.
4. Sering terlambat mengadakan persiapan dan pengerahan pasukan, hingga sasaran serangan serentak yang mematikan, tidak pernah terlaksana dengan baik, bahkan akibatnya bisa menjadi fatal.
5. Faktor yang menguntungkan adalah tingginya semangat tempur, yang tak pernah kunjung padam. Tingginya semangat cinta tanah air, kemerdekaan dan kebebasan.

BAB

  • MARKA S " RIMA " BINJAI DIBOM
  • Linggajati Dikhianati. • Posisi Dan Dislokasi KL-KNIL.
  • Potensi Pejuang. • Markas RIMA Hancur.
  • Peranan Artileri. • Kompi Usman Tamin, Amir Yahya Dan

    Mahyudin Bertempur Habis-habisan. • Letnan Bustanil Arifin Cari Bantuan.

  • Kapten Nyak Adam Kamil Susun Kembali Pasukan.

Paxa

ARAM

MO8I IU"AMR"

ensidad BejsegnJ.C .pnauje9 leneloq D auoneH AMA asheMD

Linggarjati Dikhianati

Tanggal 21 Juli 1947. Serdadu Belanda melancarkan perang yang tidak di umumkan terhadap Republik Indonesia. Sebuah Republik "muda" yang baru berusia dua tahun kurang duapuluh lima hari, menghadapi tantangan dan cobaan sangat berat.

Dengan senjata perang moderen, artileri dan pesawat terbang, mereka leluasa memburu, menembaki dan membom pasukan dan rakyat Indonesia yang tak berdosa. Mereka berhadapan dengan pasukan "Bambu Runcing" dan senjata peninggalan Jepang dari sisa perang dunia II yang sudah kadaluarsa. Tapi mereka lupa, dibalik senjata "Bambu Runcing" yang sederhana itu, terpendam semangat juang yang membara pantang menyerah. Inilah modal utama para pejuang "Angkatan 45" dalam menggusur benteng terakhir kolonialisme Jepang dan Belanda dari Indonesia.

Agresi Militer Belanda pertama tentu saja menjadi saksi dan bukti nyata dari sikap yang selingkuh (tidak fair) terhadap bangsa Indonesia. Karena baru saja antara bangsa Indonesia-Belanda dicapai kesepakatan dalam perundingan LINGGARJATI di Jawa Barat tanggal 25 Maret 1947 dan suasana dialogis masih mewarnai kontak-kontak diplomatik antar kedua negara dan Sekutu.

Ternyata kontak-kontak di meja perundingan diplomasi yang dilancarkan Belanda, tidak lebih hanya suatu taktik mengulur waktu. Seraya mempersiapkan dan mengum- pulkan pasukan militernya yang kucar-kacir akibat pendudukan Jerman-Nazi dalam perang dunia II dan pasukan yang terpaksa diungsikan ke Australia karena serbuan Jepang ke Indonesia.

Penempatan pasukan Belanda di wilayah Indonesia, semula mendapat tantangan dari panglima Sekutu Asia Tenggara, Laksamana Lord Louis Mountbatten. Alasannya sederhana, karena Belanda tidak turut berperang langsung dalam pembebasan daerah ini dari tangan Jepang. (32-*)

Teori ini dibantah oleh Letnan Jenderal H J. Van Mook, yang menyatakan telah bertemu dan memperoleh izin dari Jenderal Mac Arthur untuk mendaratkan pasukan Belanda di bekas Hindia Belanda.

Itulah pula sebabnya pasukan Belanda masuk ke Indonesia dengan membonceng tentara Inggeris. Demikian juga pengiriman pasukan Belanda ke Indonesia banyak menghadapi kendala dan hambatan di bidang logistiknya

Namun kegigihan dan kerja keras H.J Van Mook telah mampu menanggulangi kendala kendala yang ada, sehingga kekuatan pasukan Belanda di Indonesia terbentuk dan akhirnya siap menggantikan tugas Inggeris yang mewakili Sekutu di sini.

Hampir dua tahun lamanya Belanda memerlukan waktu mempersiapkan pasukan- nya sampai terjadi Agresi Militer Belanda yang pertama itu tanggal 21 Juli 1947.

32-*) "Officiële Bescheiden Betreffende Nederlands-Indonesische Betrekkingen 1945-1950'

(Bagian pertama) karangan Dr. S.L. van der Wal. 's-Gravenhage-1971.

Pada saat meletusnya perang Kemerdekaan pertama 21 Juli 1947 posisi dan potensi

kedua belah pihak di sekitar front Medan Area terurai sebagai berikut:

(A) Belanda

Tidak kurang dari enam batalyon riil telah siap dikerahkan Belanda untuk

menyerang pasukan Indonesia di tambah sebuah squadron angkatan udara Belanda yang cukup canggih masa itu.

Perang kolonial Belanda ini dipimpin Kolonel PJ Scholten selaku komandan Brigade "Z", yang merupakan bagian dari "Divisi 7 Desember" yang terkenal. Keenam batalyon terdiri dari:

1. Batalyon I/Infantri/(KL) yang telah dipersiapkan sejak lama dan sudah mengenal

lapangan Medan Area dan sekitarnya. Batalyon ini dikirim dari Holland, sampai di Medan permulaan bulan November 1946.

2. Batalyon III/ Infantri KL yang juga langsung didatangkan dari Negeri Belanda, tiba di Indonesia Oktober 1946.

3. Batalyon Vl/Infantri KNIL, dinamakan juga sebagai "Medan Batalyon". Anggota

pasukan ini berasal dari orang-orang KNIL, bekas tawanan Jepang, Romusya dan pasukan Cina Poh An Tui.

4. Batalyon IV/ Infanteri KNIL dan KL sebagai suatu kombinasi yang telah ditata dan dipersiapkan sejak bulan Oktober 1946. Di samping keempat Batalyon tersebut sebagai kekuatan teras, masih terdapat lagi senjata bantuan yang ampuh berupa dua batalyon senjata berat, yaitu batalyon Arteleri dan batalyon Kavaleri. Ditunjang lagi oleh squadron angkatan udara dan laut yang dominan. Keenam Batalyon itu riil, artinya lengkap dengan senjata menurut tatanan or-
ganisasi yang profesional. Masing-masing batalyon membawahi tiga kompi infantri traliur dan satu kompi bantuan. Masing-masing kompi traliur memiliki tiga peleton dan masing-masing peleton membawahi tiga regu dengan sebelas orang prajurit.

Selanjutnya tiap peleton ditunjang pula oleh satu regu mortir ringan, kaliber 2 dan 8 dan SMB yang terkait pada tank carier. Dengan cara ini setiap gerakan pasukan menjadi luwes dan mudah di arahkan untuk mengikuti setiap gerakan infanteri, sesuai dengan kondisi lapangan yang bagaimana pun tantangannya.

Menyinggung tentang kekuatan batalyon kavaleri Belanda, diperkirakan memiliki ratusan panser, tank-tank carier, scout-car dan sejumlah tank ringan lain menurut tipenya.

Dengan senjata ini mereka hampir tanpa hambatan mampu menerobos lapangan dan

rintangan yang ada menusuk garis pertahanan Republik di tiap sudut yang sulit sekalipun.

Mengenai potensi batalyon artileri mereka, tercatat sejumlah howitzer dengan

jarak tembakan sekitar 16 km. Ditangani secara profesional dan mampu membuyarkan konsentrasi pasukan yang ingin bergerak maju memberi bantuan.

ANAK BUAH KOLONEL SCHOLTEN.

. Inilah sebagian anak buah kolonel Scholten, yang tergabung dalam Batalyon "Z" yang menyerbu pertahanan pasukan kita di "Medan Area" pada saat meletusnya agresi militer

I. Di bagian bawah sebuah convoy Belanda sedang menuju Markas RIMA di Binjai.

Gambar memperlihatkan pesawat pemburu Belanda menyerang dan membom lapangan "Maguo" di Yogyakarta saat Belanda melancarkan agresi milter II. Dengan cara licik segala cara ditempuh Belanda untuk menjajah kembali Indonesia. Tapi niatnya itu terbentur gunung karang yang tak mungkin ditembusnya, hingga akhirnya ia terpaksa menyerahkan kedaulatan Indonesia dalam "Konferensi Meja Bundar" di Den Haag Desember 1949. (Repro/Bronbeek).

CONVOY serdadu Belanda disergap oleh para pejuang dalam sebuah lokasi di Tanah Karo Area dalam agresi militer II Belanda Gambar bawah : Kolonel

P.J. Scholten, Komandan Brigade "Z" di Medan. (Repro "Bronbeek").

Kekuatan pemukulBelanda ini masih ditambah lagi oleh squadron angkatan udara kerajaan Belanda yang dengan leluasa menyambar- nyambar dan memuntahkan pelurunya dengan efektif. Kekuatannya diperkirakan tidak kurang dari 9 Yager/Mustang, 4 pembom Lockheed dan sekitar 12 Piper-cup, Capung.

Belum lagi angkatan lautnya yang lalu-lalang sepanjang pantai Sumatera Utara-Malaysia untuk mencegah masuknya alat senjata, mesiu dan obat-obatan ke daerah Republik. Detasemen Marinir mereka menguasai pelabuhan Blelawan dan sekitarnya.

Pokoknya Belanda melakukan isolasi total terhadap Republik, melalui blokade lautan, udara dan blokade daratan memecah-belah wilayah Republik.

Posisi Dan Dislokasi KL-KNIL

Posisi Dan Dislokasi Pasukan Belanda Di Front Medan Area menjelang agresi militer pertama tanggal 21 Juli 1947 terurai sebagai berikut: (33-*).

Medan Selatan

Wilayah ini di kuasai oleh Batalyon VI Infantri yang berasal dari KNIL (Koninklijk Nederlands Indische Leger) dengan markasnya di gedung Avros, kampung Baru.

Kubu pertahanan dibangun rapi di sekitar Gudang Hitam, Titi Besi/Maridal, Timbangan Kampung Baru, Titi Kuning-Gedung Johor.

Dari struktur pertahanan yang dibangun, terlihat jelas upaya militer Belanda untuk melakukan pengamanan terhadap lapangan terbang Polonia, sekaligus mencegah dan menangkal penyusupan pasukan Republik kedalam jantung kota Medan Pengendalian atas wilayah Marindal-Kedai Durian merupakan pintu ke Deli Tua, dapat menjepit ke Tanjung Morawa dari dua jurusan.

Juga penguasaan Belanda atas Titik Kuning-Gedung Johor Sekaligus dapat memantau lokasi lawan di daerah Two Rivers dan Bekala.

Medan Timur

Wilayah ini dikuasai Batalyon III Infantri dari KNIL dan KL (Koninklijk Neder- landse Indische Leger), markasnya di Deli Maatschappij.

Mereka bangun kubu-kubu pertahanan di sekitar Pasar Bengkok, Stasion Kereta Api Kebun Pisang, antara Sukaramai-Denai dan Bangkaran Batu.

Kubu-kubu lama juga-di pertahankan di simpang Jalan Sentosa, Titi Jalan Percut, terowongan rel kereta api Kampung Tempel, Sekolah Rakyat Sukaramai dan sekolah SD jalan Thamrin-Jalan Sumatera.

33-*) "Sejarah Kodam-I/Bukit Barisan"

t E E

sis £ .E « P s c S

•I § 1 §

.2 g t I E s ^ ?> ^ E- tu w C s K C c u 5 a 3 ^ Ut | c -B--S2 s « " « "3 ? "3 - | co ,c 5 a.

II | 33

5 ••S •§ §. ?5
3 -K ca S X

6 •§ 1 ^ ^

§ l i

O Ü u £ .2 .s-

S I 5 2 E 1 ^ c u ? C O O, iV) Q

Bangunan vital yang perlu dilindungi di wilayah ini diantaranya : Instalasi Listrik Glugur, Glugur Hong sebagai asrama, Kompleks Deli Maatschappij sekaligus merangkap markas, tempat tinggal Komandan Brigade "Z" Kolonel P J Scholten dan Kompleks Sena Lean tempat pemukiman para perwira staf.

Dengan penguasaan sekitar pasar Bengkok-Stasion Kebun Pisang-Denai-Bakaran Batu, berarti mereka menguasai garis strategis ke arah pertahanan kita di seluruh kawasan Medan Timur.

Medan Barat

Kawasan Medan Area di bagian barat ini menjadi tanggung jawab batalyon IV Infanteri KNIL. Mereka menggali dan membangun kubu-kubu pertahanan mulai dari sekitar perkuburan Cina, Lapangan Lembu, Simpang Padang Bulan, Titi Sungai Babura, Lapangan Golf dan sekitar Kampung Anggrung. Kubu-kubu ini berfungsi sebagai pertahanan ke dalam dan untuk mempertahanan garis luar, dibangun lagi kubu-kubu di km. 6 menuju kearah Pancur Batu, di km. 5 Sungai Sikambing-Sunggal.

Dengan penguasaan wilayah Sungai sungai Sikambing, berarti Belanda dapat mengontrol atas jalan penghubung Republik yang vital lewat Pancur Batu-Tuntungan-Sunggal-Kampung Lalang-Binjai.

Lewat jalan Sungai Sikambing-Sunggal inilah yang sering dipergunakan militer Belanda melakukan serangan mendadak terhadap angkutan truk-truk dari Aceh Timur yang membawa senjata, mesiu, bahan bakar minyak dan bahan makanan. Banyak korban yang jatuh, terutama barisan kelaskaran seperti Sabilillah, Mujahiddin dan anggota Divisi Rencong, di samping ada pula yang jeli dan mampu menghindar perangkap musuh tersebut.

Demikian juga dibagian Padang Bulan, posisi yang strategis itu telah memungkinkan militer Belanda secara efektip memantau kegiatan pasukan Republik yang berdatangan dari Gayo Aceh Tengah dan Tanah Karo lewat simpang Pancur Batu-Tuntungan.

Medan Utara ** Wilayah ini dikoordinasikan oleh Batalyon I Infantri K.L. dengan markas sekitar Polonia. Tugas pokok batalyon ini adalah pengamanan 2 km sisi kiri dan kanan Corridor dan sepanjang jalan raya Medan-Belawan.

Sejaian dengan keperluan itu, maka di bangunlah kubu-kubu pertahanan di sekitar Helvetia, Glugur, Pulau Brayan, Kota Bangun, Pata Pasir, Paya Mabar dan Labuan.

Sejumlah serdadu Belanda yang cidera luka parah, sedang diterbangkan dari Yogyakarta ke Jakarta untuk mendapat perawatan yang intensip. Tim dokter dan perawat sedang melayaninya. Ini terjadi dalam agresi militer II Belanda 1948. Gambar bawah : Tiga pesawat B-25 Belanda sedang kembali ke Polonia dari penyerangannya ke arah Binjai dalam agresi militer 1 Belanda 1947 (Repro/"Bronbeek").

Satuan kavaleri bertugas sepanjang hari mengawasi daerah sekitar. Sedangkan Piper Cup melakukan pengintaian dari udara secara bergantian, sehingga tugas patroli oleh infanteri tidak begitu terikat menjelajahi front Medan Area yang luas itu. Batalyon Artileri mengambil posisi di lapangan Banteng dan lapangan Jalan Sena.

Penempatan Batalyon I ini, selain pengamanan garis-garis logistik, pertahanan sepanjang jalan raya Medan-Belawan yang vital itu, juga merupakan jalan pintas ke arah Sempali-Sentis di bagian timur dan ke bagian baratnya dengan Kampung Rantau Betul

  • Kampung Terjun-Hamparan Perak-Klambir Lima-Klumpang. Demikianlah selintas situasi lapangan (terreingesteldheid) yang dipagelarkan oleh Brigade "Z" Divisi 7 Desember di kawasan front Medan Area. Suatu pijakan untuk menunjang rencana operasi militer menduduki karesidenan yang vital dan strategis sebagai basis pembentukan "Negara Boneka" Sumatera Timur.

    Potensi Pejuang

Posisi dan potensi pasukan Republik di front Medan Area secara kuantitatif jauh melebihi pasukan Belanda yang hanya berjumlah sekitar 6 batalyon lebih, atau sekitar

6.000 orang. Diperkirakan jumlah pasukan kita seluruhnya mencapai 22 batalyon atau lebih dari satu divisi menurut formasi taktis Jepang. Tidak termasuk senjata riil. Kalau diperas jumlah senjata kita, maka kekuatan riil yang kita miliki tidak melebihi jumlah senjata riil yang dipunyai Belanda. Kekuatan kita tak lebih dari 4.000 pucuk senapan, SMR dan mortir. Bahkan kualitas senjata mereka lebih baru, lebih moderen, diban- dingkan dengan senjata bekas dari sisa Perang Dunia II yang kita miliki. Kelebihan senjata yang mereka punyai cukup menentukan dalam memenangkan pertempuran. Misalnya mereka memiliki Batalyon Arteleri dan Squadron angkatan udara dan laut yang dominan. Dengan senjata modern yang dipunyainya, mereka boleh memenangkan satu pertempuran ke pertempuran lain, tapi tidak memenangkan peperan- gan. Pasukan kita yang ambil bagian di front Medan Area, terdiri dari TKR/TRI dan barisan kelaskaran rakyat bersenjata, seperti Hizbullah, Sabilillah, Divisi Rencong, Tentara Pelajar dan Barisan Gurilla Rakyat (Bagura) dari Gayo Aceh Tengah dan Karo. Seluruh pasukan kini secara formil berada di bawah komando taktis "KOMANDO MEDAN AREA" (KMA). Tapi nyatanya mereka hanya mentaati intruksi dan perintah Komandannya masing-masing. Tidak adanya satu komando yang terpadu, menyebabkan jumlah pasukan yang besar seolah mubazir, tak berdaya menangkal serangan Belanda pada agresi pertama 21 Juli 1947. Banyak faktor yang menyebabkan pasukan Republik sulit di koordinasikan. Dis- amping kurangnya disiplin juga komunikasi dan situasi lapangan (terrein) yang terpisah jauh dan cerai-berai, menyebabkan kontak-kontak sulit dilakukan. Apa yang dialami oleh sebuah pasukan di lokasi sini, malah sering tidakdiketahui oleh rekan-rekannya di lokasi sebelahnya. Masing-masing syuur sendirian, tanpa peduli tanpa koordinasi.

Posisi dan dislokasi pasukan Republik di front Medan Area menjelang agresi pertama Belanda tanggal 21 Juli 1947, merata tersebar di delapan penjuru kota Medan, yang mengitari dislokasi pasukan-pasukan KNIL dan KL yang di tempatkan Belanda. Pada malam hari pasukan kita mampu merebut posisi terdepan lawan. Tapi dikala subuh terpaksa di lepaskan kembali, karena persenjataan mereka lebih prima, capungnya menyambar-nyambar di udara. Demikianlah pemandangan yang sering terjadi sebelum meletusnya serangan 21 Juli 1947.

Berdasarkan data-data yang diperoleh dari sebagian sumber (Sejarah Kodam-II/Bukit Barisan dan Dua Windu Kodam-I/Iskandar Muda) lingkaran pertahanan pejuang kita merata di sekeliling Medan Area. Ini dapat dilihat mulai dari sektor timur sekitar Kebun Pisang / Bandar Selamat (Kongsi Dua) terus melingkar ke Selatan di sekitar Titi Besi/ Maridal-Kedai Durian melintasi ke Gedong Johor sampai di Kampung Mangga Dua. Dari sini berlanjut ke arah Utara sampai di sekitar Labuhan dan seterusnya bertaut kembali dengan wilayah Kongsi Dua. Suatu lingkaran yang dapat dikatakan sempurna dengan radius minimal 12 km garis tengah di km. 0 di kantor pos Medan.

Jarak antara garis lingkaran yang dikuasai Brigade"Z" dengan pihak kita, titik singgung maksimal 500 meter dan masing-masing lingkaran itulah diatur penyebaran pasukan-pasukan kita. Di sinilah kubu bertemu kubu, yang telah dibangun oleh masing-masing pihak, saling mengintai dan baku hantam.

Secara teoritis semua kegiatan lawan dapat dipantau, tapi dalam praktek lain. Karena musuh tidak secara |f [rontal menyerang kubu kita di keempat sektor tersebut. Mereka melakukan serangan melambung dengan sistem penyerangan "Kakak Tua", sehingga pasukan kita yang ribuan jumlahnya terjepit karena disodok dari belakang dan lambung.

Musuh bergerak dari Pantai Cermin untuk memutuskan jalur Medan Area-Komando Divisi, di Pemantang siantar dan sekaligus memukul pasukan kita dari belakang di sektor selatan dan timur.

Di sektor barat dan utara musuh memutus mata rantai pertahanan utara dan barat, dengan memukul pertahanan sektor barat dan lambung utara. Dengan demikian pertahanan kita di sektor barat menjadi terancam dan buyar, di tambah lagi serangan musuh dari depan secara frontal. Komando Medan Area tak mampu berfungsi lagi, sementara jalur komunikasi antara KMA dan pasukan menjadi terputus dan informasi tidak men- galir, sehingga suasana menjadi panik dan semangat pertempuran menurun drastis.

Berdasarkan pengalaman pahit dalam agresi militer Belanda yang pertama, akhir- nya sampailah kita pada suatu kesimpulan perlunya diwujudkan konsepsi pertempuran yang serasi dengan potensi moril, perlengkapan, faktor alam dan lingkungan menuju kearah penguasaan teritorial dengan menerapkan secara mantap taktik perang gerilya.

Situasi politik dan militer di tanah air relatif tenang tanpa gelombang, setelah lahirnya persetujuan Linggarjati tanggal 25 Maret 1947. Namun, menimbulkan perasaan waswas dan curiga di kalangan pimpinan militer.

Apa sebab ?

Kecurigaan ini makin bertambah, setelah petugas intelijen kita melaporkan adanya peningkatan di kalangan Brigade "Z" pimpinan Kolonel Scholten di kota Medan.

Masukan ini menjadi bahan kajian utama dan seiring dengan itu datang pula instruksi Panglima Komandemen Tentara Sumatera, Letnan Jenderal Soehardjo Hardjowardojo untuk merampingkan struktur organisasi militer menjadi tiga Divisi di Sumatera. Divisi I sampai VII di jawa, Divisi VIII sampai X d: Sumatera. (CP-10)

Perampingan organisasi militer ini dimaksudkan untuk menciptakan efisiensi dan komando di bawah satu tangan, sehingga mudah dapat menggerakan langkah-langkah operasional untuk suatu teritorial tertentu.

Dalam kaitan ini, maka dileburlah Divisi Gajah I/Aceh dan Divisi Gajah II/Sumatera Timur menjadi Divisi X/TNI dengan Panglima, kolonel Husin Jusuf dan Kepala Staf, Kolonel H. Sitompul.

Ditetapkan pula, Divisi X TNI/Komando Sumatera ini bermarkas di Bah Jambi dengan enam buah resimen.

Resimen I bermarkas di Brastagi dengan Komandan Mayor Djamin Gintings.

Resimen II berkedudukan di Kisaran, Komandan Mayor M. Kasim Nasution.

Resimen III berkedudukan di Tebing Tinggi, Komandan Mayor Ricardo Siahaan.

Resimen IV berkedudukan di Kuta Raja (Banda Aceh sekarang) dengan Koman dan Mayor Hasballah Haji.

Resimen V berkedudukan di Bireuen, Komandan Mayor Cut Rahman.

Resimen VI berkedudukan di Meulaboh, Komandan Mayor A. Wahab Makmur.

Dari susunan ini terlihat tiga resimen (I,II,III) ditempatkan di Sumatera Timur, langsung berhadapan dan mengitari Medan Area. Sedangkan tiga resimen lagi (IV,V,VI) di tempatkan di Aceh. Khusus untuk menghadapi front Medan Area, oleh Panglima Divisi dibentuk sebuah resimen lagi: "RIMA" (Resimen istimewa Medan Area) yang anggota pasukannya khusus di datangkan dari daerah Aceh dan berkedudukan di Binjai. Daerah operasinya di Medan Barat/Utara dari front Medan Area.

Koordinator Pertahanan Setempat

Sejaian dengan perampingan organisasi dan penataan tugas lebih effektif di lingkungan Divisi X TNI Komandemen Sumatera, yang menggabungkan Divisi Gajah I/Iskandar Muda bersama dengan Divisi Gajah II/Bukit Barisan, maka di daerah Aceh sendiri dibentuk Koordinator Pertahanan Setempat.

Sektor pertahanan perlu dibentuk, berdasarkan keputusan Panglima Divisi X TNI Kolonel Husin Jusuf tertanggal 14 Agustus 1947 untuk mengantisipasi kemungkinannya aksi militer Belanda sampai menerjang perbatasan Aceh.

Koordinator Pertahanan Setempat di daerah Aceh adalah merupakan pembagian tugas dan tanggung jawab dalam mengamankan daerah masing-masing dari serbuan musuh.

Penanggung jawab sektor pertahanan tersebut, sebagai berikut;

  1. Kolonel Husin Jusuf, Komandan Divisi X TNI. Bertanggung jawab sebagai Koordinator Pertahanan Sektor Lhok Seumawe sampai Meuredu.
  2. Kolonel H. Sitompul, Kepala Staf divisi X TNI. Bertanggung jawab sebagai Koordinator Pertahanan Sektor Kutaraja sampai Takengon.
  3. Letnan Kolonel M. Nazir, Kepala Seksi II Divisi X TNI. Bertanggung jawab sebagai Koordinator Pertahanan Sektor Lhamno-Meulaboh-Singkel.
  4. Letnan Kolonel Nurdin Sufi, Kepala Seksi IV Divisi X TNI. Bertanggung jawab sebagai Koordinator Pertahanan Sektor Lhok Seudu-Kutaraja-Lhamno.
  5. Letnan Kolonel Hasballah Haji, Komandan Resimen IV Divisi X TNI. Bertanggung jawab sebagai Koordinator Pertahanan Sektor Pangkalan Susu sampai Kuala Simpang.
  6. Mayor Osman Adamy, Kepala Seksi X Divisi X TNI. Bertanggung jawab sebagai Koordinator Pertahanan Sektor Kuala Simpang sampai Lhok Seumawe.

    Markas Rima Hancur

Masih Subuh, hari cerah, langit bersih waktu itu bulan puasa, tanggal 21 Juli 1947 Belanda menyerang seluruh pasukan kita di front Medan Area dan sekitarnya.

Seluruh lini pertahanan kita diterjang pasukan Belanda, tapi serangan yang paling brutal dan dahsyat ditujukannya pertama ke markas "Resimen Istimewa Medan Area" (RIMA) di kota Binjai, 22 kmdari kota Medan.

Kesatuan RIMA dengan komandan Mayor Hasan Achmad bersama empat batalyonnya adalah pasukan khusus yang didatangkan dari daerah Aceh untuk ambil bagian mempertahankan Medan Area dari serbuan serdadu Belanda.

Wilayah RIMA ini disebut juga sektor Barat/ Utara Medan Area, yang men- ghubungkan jalan poros sepanjang kota Medan sampai Binjai terus melaju ke Pangkalan Berandan dan daerah Aceh.

Semula markas RIMA terletak di kampung Lalang, sekitar 8 km dari kota Medan. Tidak disangka, tidak diduga, serangan itu sangat mendadak. Dua pesawat terbang

Bomber disusul tiga pemburu Mustang meraung-raung di angkasa diiringi ledakan bom yang menerpa markas RIMA hancur berantakan. Rumah-rumah penduduk berkeping- keping berserakan. Rumah penjara juga hangus terhempas. Sementara asrama Batalyon IV tidak luput dari serangan yang membabi buta. Tidak ayal lagi, jatuhlah korban jiwa dan harta benda.

Setelah dilakukan bombardemen di subuh hari di kota Binjai dan Two Rivers, menyusul pula pasukan infanteri Belanda bergerak ke segala penjuru. Barisan terdiri dari patroli tempur, diiringi kekuatan induk pasukan yang ditunjang senjata-senjata bantuan serta tank, panser dan pesawat pemburu Mustang, Bomber dan Capung.

Serangan militer Belanda terutama ditujukan di front sektor barat dan sektor utara. Sektor selatan dan timur Medan Area nampaknya tidak terlalu diganggu, kecuali hanya tembakan-tembakan sporadis untuk menarik perhatian supaya terikat di teritorialnya sendiri. Artinya tidak sempat membantu rekan-rekannya yang sedang mengalami serangan serius di sektor barat dan utara front Medan Area.

Keistimewaan dari kesatuan RIMA ini adalah persenjataanya yang relatif ter- lengkap dan sangat disegani oleh Belanda. Terutama battery artileri pimpinan Nukum Sanany dan Kompi Amir Yahya. Itulah pangkal sebab, mengapa Kolonel Scholten melakukan serangan pertama ke markas RIMA di Binjai pada tanggal 21 Juli .1947. Ia ingin membungkam lebih dulu pasukan meriam yang selama ini sering mengautw dan membahayakan pasukannya.

Kalau kita lihat posisi dan lokasi pasukan meriam ini di kampung Lalang, terlihat betapa rapihnya susunan yang di atur untuk menunjang serangan infantri.

Dari bagan steling arteleri RIMA di Kampung Lalang, terlihat pasukan artileri menempatkan tidak kurang dari tujuh pucuk meriam dari berbagai ukuran, yang mon- congnya tertuju ke Medan Area, yang selalu siap dan waspada.

Mengenai kegiatan dan pembentukan RIMA ini, buku "Dua windu Kodam-I/Iskan- dar Muda" menulis sebagai berikut :

"Sejak awal bulan Desember 1946, pasukan dan laskar bersenjata rakyat Aceh dibawah pimpinan Kapten Alamsyah, Mahmud dan Zainudin telah mengambil bagian bertugas di front Medan Area. Sebenarnya sejak bulan Maret 1946 pasukan Letnan Kolonel Muhammad Din/Mayor Bahrin Yoga Kapten A. Rahhn dari Blangkejeren/ Kuta Cane telah turut serta bertempur di Tungtungan Medan Area. Tapi, pertimbangan geografis telah membuat kesatuan tersebut waktu itu berada dalam jajaran Divisi Gajah II/ Sumatera Timur.

Kemudian sejak tanggal 26 Desember 1946 diperbantukan satu Batalyon Istimewa TRI/Divisi V juga dipimpin oleh kapten Alamsyah, ditambah lagi satu pasukan meriam -dipimpin Nukum Sanany yang berkedudukan di Kampung Lalang kemudian di Binjai.

Karena semakin banyaknya dikerahkan kesatuan-kesatuan tentera Divisi V dan laskar-laskar bersenjata dari daerah Aceh ke Medan Area, maka untuk mengkoor-

dinasikan kesatuan-kesatuan tersebut di bentuklah Resimen Istimewa Medan Area (RIMA).

RIMA pernah dipimpin oleh Mayor Cut Rahman dan Mayor Hasan Ahmad. Komposisi dan disklokasi pasukan-pasukan RIMA di Medan Area serta pasukan - pasukan lain yang masuk dalam slagordenya waktu itu, dapat di ikuti pada halaman lain.

Peranan Artileri

Sejarah berdirinya kesatuan Artileri di Aceh dimulai sejak perebutan senjata Jepang pada awal kemerdekaan 1945. Dalam Triwulan pertama tahun 1946 senjata-senjata berat/meriam-meriam hasil rampasan yang diperoleh TKR dihimpun dalam satu organisasi dengan sebutan Baterai, setingkat Kompi pada Infantri.

Baterai I dipimpin oleh Letnan I Urip dengan tiga pucuk meriam 25 ponder kaliber

9 cm dan satu pucuk meriam 18 ponder kaliber 7.5 cm berkedudukan di Banda Aceh.

Baterai II dipimpin Nukum Sanany, kedudukan di Kuala Simpang. Penghujung

tahun 1946 sejumlah pasukan artileri dari Aceh diberangkatkan ke front Medan Area.

Meriam-meriam yang diberangkatkan dari Baterai I adalah dua pucuk 25 ponder kaliber 29 cm. Dari Baterai II diberangkatkan satu pucuk meriam 13 ponder kaliber 5.7 cm HW, satu pucuk 18 ponder 7.5 cm. Dari Divisi Rencong dua pucuk PSU(Penangkis Serangan Udara) 20 mm dan dari TKR Batalyon I/kompi 3 satu pucuk PSU /Pom-pom.

Sesampainya di RIMA, segera di susun posisi steling artileri untuk menunjang operasional 4 Batalyon infantri riil dengan tugas merebut kembali Medan Area dari tangan NICA/ Inggeris. Dalam keempat Batalyon termasuk kesatuan Hisbullah, Mujahidin, Divisi Tgk. Chik Di Tiro, Divisi Rencong, Divisi Cik Paya Bakong dan kesatuan Barisan Gerilya Rakyat (Bagura) Gayo Aceh Tengah.

Posisi steling artileri di kampung Lalang berdasarkan data yang bersumber dari seorang pelakunya Buchari AS, Mayor Art. Purn. (kini menetap dikompleks Abdul Hamid km. 10 Binjai), sebagai berikut:

- Satu pucuk meriam 25 ponder kaliber 9 cm dengan komandan Pucuk Serma M. Rasyid, kedudukan di front Hamparan Perak.
- Satu pucuk meriam 25 ponder kaliber 9 cm dengan Komandan Serma Cut Usman, kedudukan di front Kampung Lalang Simpang Sunggal.
- Dua pucuk meriam 18 ponder HW masing-masing dengan komandan Serma Main dan Sersan Kasan, posisinya ditempatkan berjejer di Kampung Lalang perbatasan dengan Kampung Paya Geli, dekat dengan Pos Komando Artileri.
- Satu pucuk meriam PSU (Penagkis Serangan Udara) Pom-pom dengan Komandan pucuk Kop. Buchari AS, terletak di Kampung Lalang Dengan Pos Komando Artileri.
- Dua pucuk meriam PSU kaliber 20 mm masing-masing dengan Komandan pucuk Yusuf Risin dan Machmud Hamzah dari Divisi Rencong di sandingkan di Pos Kampung Lalang sebelah kiri jalan menuju Medan (Sekarang asrama Abdul Hamid

km. 10). Pasukan meriam di kampung Lalang (RIMA) ini dipimpin oleh Letnan Dua Nukum Sanany dengan batuan teknis M. Yunus, seorang tentara Jepang (Isimine) yang bersimpati dengan para pejuang kita. Pahanya pernah tertembak dalam sebuah serbuan ke garis depan dan kini menjadi seorang diantara cacaf Veteran pejuang 1945.

Pasukan kita di Hamparan Perak dan stëling di Kampung Lalang sering terübat duel artileri yang seru dengan meriam-meriam Belanda jenis " biring " ( tembakan otomatis).

Peluru-peluru meriam Belanda berdesing dan gemerincing memekak telinga, jatuh meiedak di dekat steling artileri yang sudah dipayungi kamuflase dan tumpukan karung goni pasir. Namun pasukan artileri kita tak pernah gentar, tembakan dibalas tembakan bersahut-sahutan dengan suara menggelegar yang membahana alam sekitar.

Meriam jenis Penangkis Serangan Udara (PSU) juga terlibat dalam bakuhantam dengan pesawat terbang musuh. Pantang ada pesawat terbang yang melintas stelmg artileri memayungi pasukan kita di front depan, duel-duel seru PSM dengan pesawat Mustang Cocor Merah sering terjadi.

Pengalaman yang sangat pahit adalah saat dilancarkankannya agresi Belanda tanggal 21 Juli 1947. Jauh didepan di front Medan Area, telah terdengar hingar-bingar ledakan bom dan rentetan dan tembakan otomatis yang sangat mengerikan. Namun, untuk petugas artileri kita belum ada instruksi untuk membalas tembakan-tembakan. Tentu saja suasana menjadi sangat tegang, kalau -kalau muncul serangan mendadak dari pesawat Bomber atau Mustang cocor merah yang terkenal sadis. Betul saja, masih subuh melintaslah dua pesawat pembom Belanda diatas steling artileri kita di Kampung Lalang nampaknya menuju Binjai. Kemudian disusul tiga pemburu Mustang yang meraung- raung membelah angkasa. Sesaat kemudian terdengar dua buah ledakan dahsyat sekitar Binjai, diiringi tembakan gencar yang sedang mencari mangsa. Markas RIMA hancur dan korban jiwa rakyat sipil bergelimpangan.

Suasana di steling PSU Kampung Lalang menjadi tegang dan semua anggota PSU tetap waspada dan siap di damping meriam masing-masing. Sambil menunggu kalau-kalau pesawat musuh yang pulang ke pangkalannya akan memasuki steling kita.

Dugaan itu tidak meieset. Pesawat terbang itu datang lagi dan kali ini terbang lebih rendah, seolah-olah sedang mencari lokasi artileri kita yang diseümuti kamuflase yang rapi terbuat dari daun-daun dan pohon yang rindang.

Dalam suatu momentum yang tepat, tembakan di buka oleh PSU Pom- pom TKR dengan sasaran pesawat pembom. Secepat kilat pemburu Mustang membalas tembakan. Sementara meriam-meriam PSU Divisi Rencong segera bereaksi menghujani pemburu mustang dengan tembakan gencar. Duel seru segera terjadi dan akhirnya pesawat Pembom dan pemburu Mustang ngacir ke Polonia.

Seorang prajurit M. Yunus dari Singkel gugur dalam peristiwa itu. Ia anggota PSU Pom-pom TKR dari Batalyon I/RIMA.

Setelah duel artileri kita dengan Bomber dan pemburu Mustang Belanda, kemudian lawan melancarkan serangan infantri yang didahului oleh patroli-patroli Belanda, disusul kemudian kesatuan induk sebagai pemukul dengan senjata bantuannya untuk menerjang garis depan pertahanan kita. Dengan pertempuran yang dasyat, akhirnya serdadu Belanda berhasil menguasaai Kota Binjai setelah memukul pasukan kapten Hasan Sahh (Batalyon III/ RIMA) melalui Titi Papan-Hamparan Perak-Bulu Cina Tandem Hilir.

Keterangan ini diberikan oleh seorang diantara pelaku perjuangan itu, yang wakyu itu (1947) kebetulan bertindak sebagai Komandan Pucuk PSU / Pom-pom di Kampung Lalang. Dia adalah Kopral Buchari AS, sekarang Mayor Art. (Purn).

Sehari setelah terjadi duel antara PSU dengan Bomber dan Mustang Belanda, terbetik berita bahwa garis depan pertahanan kita di Hamparan Perak berhasil diterobos pasukan Brigade "Z". Ini berarti posisi baterai artileri kita mulai terancam atau bongkar onderdilnya yang penting, hingga tidak dapat dimanfaatkan oleh lawan. (34-*)

Kompi Usman Tamin, Amir Yahya Dan Mahyuddin Bertempur Habis-Habisan

LETNAN Gade Husin, Komandan Kompi dari Batalyon III/ RIMA yang saya pimpin datang bergegas pagi itu seraya mengetok rumah saya : "Bapak, bapak, bapak Komandan" dengan suara lantang dan berulang-ulang.

Begitu saya terjaga terus melompat ke muka pintu dan bersamaan dengan itu menderu pulalah suara pesawat terbang Belanda yang menggelegar memekak telinga, diiringi rentetan tembakan mortir dan senjata otomatis lainnya.

Suara gemuruh Bomber dan Mustang Belanda yang menyusup ke kamar saya, sejaian dengan masuknya laporan Perwira Piket Letnan Gade Husin, yang dengan suara melengking nyaring melaporkan : "Musuh menyerang-musuh menyerang-musuh menyerang"

Astaghfïrullah, saya benar-benar terperanjat. Tapi secepat itu pula naluri kemiliteran saya bereaksi, seraya keluarkan perintah militer : "Pulang ke kantor dan siapkan pasukan". Perintah ini membuat Letnan Gade Husin, terbirit-birit meninggalkan rumah saya untuk mempersiapkan pasukan di tengah suasana hiruk-pikuk dan panik oleh serangan lawan yangmendadak. Ini terjadi tanggal 21 Juli 1947 di subuh hari, saat pasukan Brigade "Z" pimpinan Scholten melabarak garis depan pertahanan Batalyon III/RIMA di Kelumpang.

34-*) Wawancara penulis dengan pelaku Buchari AS, Mayor Artileri Pumawirawan, Medan

MAYUR HASAN SALEH, Komandan Bat. III/RIMA di Kelimpang adalah fron terdepan yang berhadapan dengan Belanda. Diakuinya pertahanan itu bobol diterjang agresi militer I Belanda 21 Juli 1947. Karena persenjataan mereka yang lebih moderen. Dengan senjata seadanya musuh sudah dapat ditahan gerak majunya sudah merupakan suatu prestasi yang memadai, kata Hasan Saleh. (Foto "Aki").

Perwira-perwira muda ini dapat ketawa sejenak di Binjai karena tanggal 15 Maret 1947 terjadi gencatan senjata. Duduk dari kiri Letnan Amir Yahja, Komandan Kompi Batalion Alamsyah yang pernah merebut Kota Bangun dari tangan Belanda dan menahan gerak Belanda menuju Bulu Cina (Langkat). Perwira lainnya adalah A. Madjid, A Wahid, Musa, AnwarMdan T Radja. (Foto Mtwh).

Kisah ini diungkapkan kembali kepada penulis oleh Komandan Batalyon III/ RIMA, Kapten Hasan Saleh, seorang pelaku pejuang 45 yang sampai saat ini masih hidup segar bugar ditengah keluarganya.

Posisi Batalyon III itu memang ditempatkan digaris pertahanan yang strategis dan kalau Belanda hendak menguasai Binjai, lebih dahulu pertahanan Kapten Hasan Saleh inilah yang perlu dijebol dan dibobolkan.

Segera komandan Hasan Saleh memerintahkan Letnan Ajudan Bustanil Arifin, sekarang Menteri Koperasi dan Kabulog disertai supirnya Kopral Sainon turun ke jalan menghubungi para Komandan Kompi untuk mengetahui situasi lapangan pada saat yang genting itu.

Dengan Chevrolet tahun 1939 ia meluncur pertama-tama ke pusat hubungan telepon yang terletak di persimpangan tiga jalan ke Hamparan Perak dan jalan ke Titi Payung.

Satu-satunya Komandan Kompi yang masih sempat dihubungi adalah Letnan Satu Usman Tamin. Ia melaporkan pasukanya sedang terlibat pertempuran sengit melawan tentara Belanda, yang ingin merebut posisi Batalyon III/RIMA.

Ia sempat menanyakan, kalau peluru dan mesiu habis kemana kami sebaiknya mundur. Dijawab oleh sang Komandan Hasan Saleh, tugas kalian yang utama adalah menahan gerak maju lawan. Kalau tak mampu, usahakan memperlambat gerak maju mereka. Karena ini penting untuk melindungi jalan menuju Titi Payung tembus ke Payabakung dan Tandam Hilir. Sebab, jalan-jalan ini adalah urat nadi lalu-lintas pasukan kita yang akan menarik diri ke garis belakang. Kalau jalan ini sempat dikuasai serdadu Belanda, berarti bunuh diri.

Sekiranya pasukan anda kehabisan pelor, mundur saja ke lini kedua di Payabakung. Anda sendiri kalau perlu mundur ke Payabakung juga. Payabakung adalah sebuah pangkalan dari sebuah kebun tembakau antara Titi Payung dan Tandam Hilir.

Dengan Komandan Kompi lainnya sudah putus hubungan tapi dilaporkan mereka semua sedang melayani serangan umum serdadu Belanda, dilengkapi dengan senjata bantuan yang mematikan. Yang membuat hati saya terobati, mereka semua sudah hafal dengan taktik dan strategi yang telah di tetapkan. Artinya mereka sudah tahu, kapan harus maju dan kapan pula perlu mundur dan kemana ?

Ternyata upaya Komandan kompi Letnan satu Usman Tamin dkk tidak sia- sia memperlambat gerak maju lawan, sehingga pukulan lambung yang mereka lancarkan tidak berhasil menjepit pasukan kita. Yang mereka tuju adalah medan paling kritik Simpang Tiga dan jalan Titi Payung menuju Payabakung. Kalau Medan ini berhasil mereka kuasai, maka bukan anak buah saya saja yang terperangkap sewaktu menuju ke lini kedua di Payabakung. Juga anak buah Komandan Batalyon II/RIMA, Kapten Nyak Adam Kamil yang mempertahankan front Kelambir Lima. Bahkan Komandan Resimen (RIMA) sendiri yang mengambil posisi di Binjai serta pasukan Laskar Rakyat bersenjata

Mujahidin, Hisbullah, Divisi Rencong akan tersapu dan masuk perangkap" killing group" lawan.

Momentum yang kritik ini berhasil diatasi oleh kecekatan Letnan Satu Usman Tamin dkk sehingga memberi peluang yang cukup kepada pasukan kita untuk menarik diri dari tekanan-tekanan musuh yang kelewatan. Segera bersiap-siap untuk bertahan di lini dua, tiga dan lini-lini berikutnya untuk melindungi tambang minyak Pangkalan Berandan. Bahkan untuk melindungi wilayah Aceh dari serbuan kaum "kafir".

Dengan perkataan lain, bila Kompi Usman Tamin gagal menahan atau memperlambat gerak maju lawan, maka pasti dua medan kritik Simpang Tiga dan jalan Titi Payung sudah jatuh ke tangan mereka. Ini berarti, personil batalyon kita tak sempat lagi mem- bangun pertahanan lini kedua di Payabakung. Jika batalyon ini tak sempat membuat pertahanan di Payabakung memperlambat gerak maju lawan, maka medan kritik Jalan raya Medan-Aceh menjadi terancam atau jatuh ke penguasaan musuh, sebelum seluruh personil kita merigundurkan diri untuk membuat pertahanan berikutnya di jembatan Setabat.

Selanjutnya, bila lawan dapat menguasai Jalan raya Medan-Aceh, sekaligus mereka memperoleh dua keuntungan strategis. Pertama, terbuka kesempatan untuk menggiring pasukan kita kedalam "killing group " lawan. Kedua, lawan punya peluang untuk meloncat dan meraih tambang minyak pangkalan Berandan. Giliran berikutnya Aceh menjadi sasaran akhir untuk ditaklukkan.

Perandaian (asumsi) Hasan Saleh ini ternyata tidak menjadi kenyataan, berkat kelihaian dan kegigihan Kompi Usman Tamin dan kawan kawan memperlambat gerak maju lawan dengan kekuatan jauh lebih besar. Ia memuji anak buahnya itu sebagai perwira teladan penuh tanggung jawab.

Letnan Bustanil Arifin Cari Bantuan

Berdasarkan pengamatan di lapangan, situasinya sangat runyam. Anak-anak secara gigih membela diri dan mempertahankan wilayahnya dari serangan umum Belanda yang berkekuatan lebih besar dan senjata bantuan yang lebih moderen.

Saya segera mengambil prakarsa untuk mencari tenaga bantuan ke belakang dan untuk ini saya perintahkan Ajudan Batalyon (Kepala Staf) Letnan Bustanil Arifin lari ke Tanjung Pura menemui Komandan Batalyon "B", Kapten NIP Karim. Sedan Chevrolet sudah siap dengan supir Sainon. Paling kurang satu kompi pasukan riil senjata lengkap sudah sampai pada jam 13.00 untuk menutup jalan Titi Payung yang tembus ke Tandam Hilir. Di situ akan bertemu dengan pasukan saya untuk bersama-sama mempertahankan lini kedua di Payabakung.

Pukul 12.00 siang itu, secara berangsur-angsur sebagian anggota batalyon III/RIMA menarik diri dari pertempuran di bawah desingan peluru lawan yang kian deras menghempas. Pasukan ditarik sebagiannya untuk mempersiapkan pertahanan di lini

kedua Payabakung bersama tenaga bantuan dari batalyon "B", yang diharapkan pukul

13.00 sudah sampai dan masih segar. Ternyata tenaga bantuan tidak datang juga pada waktunya. untunglah, gerak maju lawan dapat diperlambat. Ini! karena dua paktor. Pertama, adanya perlawanan yang gagah dan fanatisme. Kedua, lapangan yang becek karena hujan, hingga kendaraan lapis baja musuh geraknya tersendat-sendat. Pasukan Usman Tamin mampu bertahan sampai siang hari dan bersama Kompi lainya yang tersisa mulai bersiap-siap mengundurkan diri untuk bertahan di Payabakung. Ada dua Kompi lainya yang gigih bertahan bersama kompi Usman Tamin. Yaitu Kompi dibawah pimpinan Letnan Dua Amir Yahya, yang terkenal memiliki senjata otomatis dan Kompi pimpinan Letnan Dua Mahyuddin. Menurut Komandan Batalyon III/RIMA, Kapten Hasan Saleh, pasukannya (batalyon) memiliki tujuh Kompi.
1. Kompi pimpinan Letnan Satu Usman Tamin, beroperasi di Hamparan Perak /Terjun (dekat jalan Medan-Belawan).
2. Kompi pimpinan Letnan Dua Amir Yahya.
3. Kompi pimpinan Letnan Dua Mahyuddin.
4. Kompi pimpinan Letnan Dua Gede Husin.
5. Kompi pimpinan Letnan Dua Saleh Ahmad.
6. Kompi Laskar Merah pimpinan Letnan Dua Yusuf.
7. Kompi Laskar Lebah pimpinan Pak Lokob. Semua kompi ini telah melakukan tugasnya dengan baik, sesuai pembagian tugas
yang telah ditetapkan oleh Komandan. Kemampuan kompi-kompi ini seluruhnya yang dikordinasikan oleh Letnan Ajudan Budiman Daud, secara keseluruhan telah berhasil memperlambat gerak musuh lainnya yang secara bertahap menarik diri untuk konsolidasi pada pertahanan lini berikutnya.

Setelah pasukan menarik diri ke pertahanan lini kedua di Payabakung menjelang sore harinya, tenaga bantuan dari batalyon NIP Karim belum juga muncul. Letnan Ajudan Bustanil Arifm pun baru besoknya datang dan langsung melapor kepda Komandan Hasan Saleh.

Sudah disiapkan oleh NIP Karim sebuah Kompi yang dipimpin Letnan Zaharsyah dan rencananya pukul 10.00 kemarin sudah berangkat dari Tanjung Pura untuk ber- gabung dan memperkuat pertahanan lini kedua di Payabakung.

Tapi apa daya, pasukan itu tak bisa bergerak di jalan raya Medan-Aceh yang sudah dikontrol ketat dari udara oleh Pesawat pemburu Mustang dan Capung. Saya pun bisa datang lagi kesini hari ini, setelah kucing-kucingan dengan pesawat musuh itu.

Sepanjang jalan saya menyaksikan sejumlah bangkai-bangkai kendaraan yang hangus terbakar ditembak oleh pesawat Udara Belanda dan sepanjangjalan menjadi sepi. Syukur, saya masih hidup, kata Letnan Bustanil Arifm. Serta merta Komandan Hasan

Saleh memeluk ajudannya karena haru dan sedih mendengar laporan yang serius di mata

seorang Komandan lapangan yang berdiri di garis terdepan.

Karena apa ?

Bagi seorang Komandan lapangan, laporan seperti itu besar sekali maknanya dan

langsung bisa mengukur, mengevaluasi situasi dan kondisi yang sedang berkembang.

Setelah dilaporkan tenaga bantuan itu baru berangkat tadi malam lewat jalan semak-semak, segera Hasan Saleh mengumpulkan stafnya untuk mengevaluasi sikon

secara keseluruhan.

Situasi ini serius, karena poros jalan raya Medan-Aceh sudah dikuasai serdadu Belanda. Kita harus mengambil suatu upaya untuk menyelamatkan tambang minyak Pangkalan Berandan dan daerah Aceh.

Caranya harus buru-buru menghancurkan Jembatan Setabat dan pada gilirannya

kalau perlu tambang Minyak Pangkalan Berandan pun harus dibakar, daripada jatuh ke tangan musuh.

Tugas ini akan saya jajaki sendiri ke garis belakang. yang penting sekarang, tugas Komando Batalyon harus jalan di garis depan ini. Karena Letnan Satu Usman Tamin belum hadir masih bertempur di depan, sementara saya percayakan Komando di pundak Letnan Ajudan Bustanil Arifin bersama Komandan Kompi lainnya untuk memperlambat gerak maju musuh.

Jika kalian terpaksa mundur, karena tekanan lawan bertambah berat, mundurlah ke pertahanan lini ketiga disebelah ujung Barat Jembatan Setabat dan saya insya Allah akan kembali dua jam lagi. Saya perhitungkan pasukan Belanda paling cepat akan sampai di pertahanan kita di Payabakung sekitar tiga jam lagi.

Akhirnya ia menggaet sebuah sepeda motor BSA yang telah dipersiapkan, yang

deru knalpotnya sama gemuruhnya dengan pecahan peluru mortir. Lalu ia pun ngacir menuju Tanjung Pura.

Letnan Lintong Menyerah

Di tengah jalan hatinurani saya berbisik, sebaiknya temui dulu Komandan Resimen

Istimewa (RIMA) di Binjai. Biar dia yang instruksikan Kapten NIP Karim untuk men- girimkan tenaga bantuan ke pertahanan Payabakung.

Demikianlah sepeda motor BSA saya arahkan ke Binjai dan alangkah kagetnya

sewaktu saya melihat Markas RIMA telah hancur berantakan dan keadaan kota sepi.

Saya hanya bertemu dengan seorang perwira artileri, Letnan Lintong. Ia nampak santai-santai saja, seolah tak ada yang dirisaukannya.

Seingat saya ia adalah Komandan Artileri (Baterai I) Banda Aceh. Bulan April 1947 ia menggantikan Letnan Nukum Sanany sebagai Komandan Artileri Medan Area. Waktu itu pun sudah muncul kecurigaan, mengapa Nukum Sanany harus digantikan oleh Letnan Lintong ?

Setelah Lintong ambil alih pimpinan artileri Medan Area, maka terjadi sedikit pergeseran posisi steling artileri. Satu pucuk meriam 25 ponder di Simpang Empat Sunggal dipindahkan ke km. 19 jalan Binjai dengan komandan Sersan Mayor Senduk. Pos Komando Arteleri juga pindah ke km. 19.

Belakangan tersiar berita, Letnan Lintong menyerahkan diri kepada pasukan Belanda, ucap Hasan Saleh sambil geleng-geleng kepala.

Nah, setelah menyaksikan kerusakan kota Binjai, segera saya angkat kaki menuju Tanjung Pura menemui NIP Karim. Setelah jumpa ia pun sepakat jembatan Setabat diledakkan untuk mencegah Belanda maju ke Pangkalan Berandan.

Kapten NIP Karim persilahkan saya berangkat duluan dan menitipkan seorang Letnan dari Zeni pionir yang telah dipersiapkan untuk melakukan tugas itu. Sedangkan anggota tim lainnya, perlu diberitahu lebih dulu dan segera kami menyusul bersama.

Kembali ke markas RIMA di Binjai.

Saya melihat markas itu telah hancur dan keadaan lengang. Komandan Resimen pun tidak diketahui persembunyiannya. Tapi dugaan saya, ia tak jauh dari tempat itu, paling-paling di Sunggal, sebuah lini pertahanan yang terkenal cukup tangguh. Letaknya sekitar 10 km dari Binjai.

Pertahanan di sini sepenuhnya dikordinasikan oleh Komandan Batalyon I/RIMA, Kapten Hanafiah dengan persenjataan bagus bersama Laskar Rakyat bersenjata seperti Mujahidin, Sabilillah, Divisi Rencong dan lain sebagainya.

Saya yakin, kata Hasan Saleh, pertahanan di sini jauh lebih kuat dari sektor saya di garis depan.

Dalam perjalanan saya ke Tanjung Pura, berulang kali saya dihujani peluru pesawat terbang yang terus menerus mencari mangsa. Tidak kurang dari tujuh buah truk hangus terbakar dan bergelimpangan di jalan. Keadaan juga sepi. Tapi jangan lupa, di semak- semak di kaki gunung sepanjang jalan itu, pasukan kita dan barisan gerilya rakyat siap melayani serdadu KNIL-KL dan Poh An Tui.

Tiba-tiba saya putuskan untuk berhenti di suatu tempat sekitar 10 km menjelang Setabat. Saya melihat dan men-cek pasukan siapa yang berdiri di kanan kiri jalan. saya mendekat dan ternyata Batalyon NIP Karim dan Laskar Rakyat sudah siap tempur.

Saya berbincang dengan komandannya dan kemudian saya perintahkan untuk memotong pohon-pohon kayu dan meletakkannya di tengah jalan sebagai penghalang untuk memperlambat gerak maju musuh.

Perjalanan saya lanjutkan lagi dan ketika sedang meluncur ke arah Setabat, Letnan Zeni pionir minta diturunkan di sebelah timur jembatan Setabat. Karena bahan-bahan yang dipersiapkan untuk tugas itu di simpan di situ.

Jembatan Setabat sudah berada di depan saya, sekitar 200 meter lagi. Panjang jembatan 50 meter, bentuknya melengkung.

Sewaktu ban sepeda motor saya meluncur dan mulai menginjak jembatan sebelah sini, keadaan belum apa-apa dan seolah aman-aman saja. Tapi sewaktu sepeda motor sedang menuruni ujung jembatan sebelah sana, barulah saya sadar bahwa malapetaka menunggu di muka dan tiba-tiba saja sebuah tembakan telah membuat ban sepeda motor BSA pecah dan belah.

Saya sempat menatap ke depan tiba-tiba saja mata saya tertumbuk pada suatu peristiwa yang sangat menyedihkan. Dua buah truk militer Belanda nampak sedang mengejar sebuah truk anak-anak Mujahidin. KNIL itu menghujaninya dengan tembakan yang gencar dari jarak sekitar 30 meter. Akhirnya truk Mujahidin itu menceburkan diri ke dalam semak-semak di pinggir jalan.

Saya pun ambil langkah seribu, daripada saya ditawan lebih baik berikhtiar menyelamatkan diri dengan resiko ditembak dari belakang. Sesampainya di ujung jembatan, saya melihat ada peluang, lalu saya melompat ke suatu tempat yang dapat dijadikan perlindungan dan menghilangkan jejak.

Saya merenung apakah serdadu Belanda masih mengejar sampai ke ujungjembatan sebelah sini. Kalau ya, berarti tamatlah riwayat saya. Dalam keadaan luluh-lantak saya coba berdiri lagi. Sebenarnya tenaga untuk berdiri pun tidak punya kekuatan lagi. Tapi didorong lagi oleh perasaan malu kalau ditawan musuh, maka tenaga dalam saya mulai berperan.

Dengan sisa tenaga yang ada, saya coba meninggalkan tempat yang berbahaya itu, berusaha menggabungkan diri dengan pasukan yang sayup-sayup terlihat dibalik pematang pelindung air bah. Hanya beberapa ratus meter dari jembatan Setabat.

Lima belas meter lagi hendak menyeberangi pematang, remang-remang tsrlihat wajah yang mendekat kepada saya. Tambah dekat tambah jelas, rupanya orang itu Letnan Saleh Ahmad, anak buah saya yang menggabung dengan batalyon "B" mempertahankan jembatan Setabat.

Segera Saleh Ahmad merangkul dan memapah saya ke seberang garis pertaaanan. Saya dilarikan dengan sepeda ke rumah sakit. Belum jauh kami berjalan, tiba-tiba berpapasan dengan sedan Kapten NIP Karim yang membawa bahan peledak. Ia segera berhenti setelah melihat yang menderita itu adalah rekannya Kapten Hasan Saleh. Lalu melarikannya ke rumah perawatan di tambang minyak Rantau Kuala Simpang.

Daerah Setabat ini memang menjadi ajang pertempuran antara pasukan Belanda yang bertahan disebelah timur dan pasukan Republik di sebelah barat.

Begitulah pengalaman pelaku sejarah, seorang Komandan Batalyon III/RIMA, Kapten Hasan Saleh, yang hampir saja "bunuh diri". Gara-gara kecewa melihat perim- bangan senjata yang tak sepadan dalam Perang Kemerdekaan R.I. di front Medan Area umumnya, khususnya di front Sektor barat/utara, yang dialaminya sendiri.

Kapten Nyak Adam Kamil Susun Kembali Pasukan

Setelah pasukan kolonel Scholten menerjang pertahanan RIMA di Binjai dan sekitarnya, mulai dari Kampung Lalang, Kerambil Lima, Kelumpang dan sekaligus melakukan kontrol terhadap poros jalan Medan-Binjai-Setabat, maka pasukan kita jadi cerai-berai.

Ibarat anak ayam ditinggal induk, sebagian pasukan kita terpaksa menghindar dari jalan raya menyusup semak-semak belantara yang ganas. Mereka berkumpul kembali di Gebang dan Pangkalan Berandan. Ada juga terus ke Bukit Kubu dan Kuala Simpang.

Dalam menghadapi gerak mundur dari Kampung Lalang dua pucuk meriam lapangan dan satu pucuk meriam PSU 40 mm Boffors, belum sempat digunakan. Dua pucuk meriam PSU Pesindo dapat diselamatkan ke Tanjung Pura dan terus ke Langsa.

Meriam-meriam yang jatuh ke tangan musuh, satu pucuk meriam 25 ponder kaliber 9 cm dan satu pucuk meriam PSU laras kembar/Pom- pom. Namun onderdilnya sempat dipreteli dicemplungkan ke sumur terdekat.

Dalam upaya untuk mengkonsolidasi kembali pasukan yang mundur ke garis belakang, maka di Kuala Simpang Kapten Nyak Adam Kamil mengumpulkan kembali anggota pasukan yang kehilangan induk itu.

Tersusun dua kompi riil di bawah Kapten Nyak Adam Kamil dan segera di kirim ke garis depan untuk membantu pasukan kita yang masih bertahan di jembatan Setabat dan jembatan kereta api Gohor Lama.

Kita sudah bertekad, menjelang datangnya pasukan baru dari Langsa dan Kutaraja, kita tetap stand by di pertahanan lini depan untuk membela "Langkat Area".

Belanda dengan gigih mempertahankan Setabat dan setiap serangan yang kita lancarkan dibalas rentetan tembakan yang gencar. Dibantu pula siraman senjata otomatis dari pemburu mustang yang merajai angkasa tanpa ada lawan yang mengganggunya.

Nampaknya mereka sedang memulihkan kondisi personil dan pasukannya untuk siap-siap melangkah meraih tambang minyak Pangkalan Berandan.

161 „

.•»•"•«.. I I ll.il 1

LET. KOLONEL NYAK ADAM KAMIL

Seorang Komandan Batalyon RIMA, yang disegani kawan dan lawan di front "Médan Area". Sewaktu pasukan RIMA kucar-kacir, dia juga yang tampil mengumpulkan dan mengorganisir kembali kesatuan untuk mempertahankan Tambang Minyak Pangkalan Berandan. Pada saat. terjadi konflik di Markas Divisi X TNI di Bireuen, dia juga yang mengirim peringatan dan ultimatum supaya dipelihara kesatuan dan kekompakan. Pernah jadi Gubernur Aceh dan terakhir hayatnya anggota DPR. RL (Koleksi Foto : "Aki").

  • t -E H IQ H WBm c ' u |H > > «x
  • !^ H i. « • o £ H &

    H k ^ •I & «

  • • § J • M

  • ^ H £ Bi =

    H -s

BAB

  • " KOMANDO SEKTOR BARAT OETARA " (KSBO) & LANGKAT AREA.
  • Mat a Tertuju Ke Aceh • Jembatan Setabat Jatuh. n KSB O Lahir
  • Kisah " Tenaga Dalam " Dogok • Gencatan Senjata Dilanggar Belanda.
  • Garis Hasballah Haji • Pangkalan Berandan Dibumihanguskan.

Suhardjo Hadjowardojo

bentuk : radiogram

dari : panglima sumatera mayor jenderal soehardjo hardjowardoyo di tempat, titik

untuk : pemimpin-pemimpin rakyat aceh titik

isi : pengembalian kota medan terletak di tangan saudara-saudara segenap pen- duduk aceh, titik jangan sangsi, titik alirkan terus kekuatan aceh ke medan dan jangan berhenti sebelum medan jatuh, titik habis

Mata Tertuju Ke Aceh

Radiogram ini dikirimkan oleh Panglima Sumatera, jauh sebelum meletusnya agresi militer Belanda 21 Juli 1947.

Situasi politik dan militer di Indonesia waktu itu, sedang hangat. Meskipun perundingan Linggarjati tampaknya membuka peluang baru di meja perundingan.

Ada indikasi yang kuat bahwa perundingan itu hanya sekedar mengulur-ngulur waktu bagi Belanda untuk melakukan persiapan manuver militer yang lebih rapi.

"Akal bulus" Belanda ini mudah tercium oleh kalangan politisi dan strateeg militer kita yang tetap memantau setiap gerak, langkah dan perubahan yang terjadi serta latar belakangnya.

Sejak awal memang mata dan harapan tertuju ke Tanah Rencong. Bantuan sukarelawan dari Aceh tak pernah berhenti, terus mengalir dan membanjir. Baik pejuang maupun logistik. Dan sejak datangnya radiogram Panglima Sumatera itu, keadaannya lebih ditingkatkan lagi. Sampai-sampai dibentuk sebuah Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) berkedudukan di Binjai. Tugasnya khusus menampung, mengalirkan dan mengkoordinasikan tenaga-tenaga bantuan yang berdatangan dari daerah Aceh untuk Medan Area.

Bukan untuk Medan Area saja, bantuan logistik (pembekalan) untuk Ibukota Perjuangan Rl di Yogyakarta juga sering disuplai dari Aceh.

Bahkan, pembekalan untuk sejumlah perwakilan kita di luar negeri, seperti Sin- gapura, New Delhi, Birma, Manila dikirim dari satu- satunya wilayah propinsi Rl yang masih utuh dan belum dijamah militer Belanda dalam Perang Kemerdekaan Rl yang dikenal waktu itu sebagai "Daerah Modal" dan sekarang bernama "Daerah Istimewa Aceh". Sekedar mengenang fakta, yang mulai dilupakan ahli sejarah.

"Langkat Area"

Upaya Belanda untuk menguasai keresidenan Sumatera Timur, tampak dari sasaran yang hendak dicapainya dari agresi militer pertama 21 Juli 1947.

Mereka berhasil menduduki wilayah kabupaten Serdang dan Asahan di arah selatan. Ke arah barat dan barat laut mereka menguasai Simalungun dan sebagian Tapanuli serta sebagian Tanah Karo. Kejurusan utara kemudian dapat menduduki sampai ke Tanjung Pura. Giliran berikut tentunya yang menjadi sasaran tambang minyak Pangkalan Berandan.

Pangkalan Susu dan kemudian .... Aceh.

Untuk menahan arus maju lawan, sejumlah perwira yang bertahan di Tanjung Pura melakukan konsolidasi pasukan tentara dan rakyat bersenjata. Dengan dipelopori oleh Mayor Wiji Alfisah, Kapten Nyak Adam Kamil, Kapten Hasan Saleh dan Kapten NIP

MAYOR WIJI ALFISAH

LANGKAT AREA

Pimpinan Komandan "Langkat Area " Mayor Wiji Alfisah, Kapten NIP karim dan Kapt Burhanuddin, yang memper talmnkan kabupaten Langkat dari serbuan Belanda. Mere dibantu penuh oleh pasukan Kapten Nyak Adam Kamil, Kapten Hasan Saleh dan Kapt Hasbi Wahidy. (Foto "Aki").

Karim, mereka membentuk Komando "Langkat Area" dengan menghimpun semua anggota pasukan yang mundur dari arah Binjai. Ini terjadi pada tanggal 24 Juli 1947, yaitu tiga hari setelah agresi pertama Belanda 21 Juli 1947. Dari Medan Area, kini perjuangan beralih memasuki tahap "Langkat Area", dimana Belanda pagi-pagi telah merebut posisi strategis di Jembatan Setabat.

Posisi kedua belah pihak kini saling berhadap-hadapan di jembatan Setabat. Belanda di bagian timurnya, pasukan kita di bagian barat, dipisah oleh sungai dan jembatan Setabat. Kita pertahankan Setabat supaya Belanda jangan coba maju ke Tanjung Pura dan Pangkalan Berandan.

Pertahanan di sini dikoordinasikan oleh Letnan Satu Amar Alang, Komandan

Kompi Batalyon I/Resimen I, dibantu oleh kesatuan- kesatuan RIMA yang mundur ke lini ketiga.

Upaya memperebutkan posisi strategis ini, berlangsung cukup seru. Beberapa kali Belanda coba menerjang pertahanan kita di bagian barat jembatan Setabat tidak juga tembus, karena memang pertahanan kita di sini terus diperkuat. Belanda pun tampaknya mempergunakan kesempatan itu untuk lebih mengkon- solidasi pasukan sebelum maju ke Tanjung Pura.

Bahkan selama waktu bertahan di situ, mereka juga tidak tinggal diam meluaskan

daerah pengaruhnya di sekitar, dalam rangka merebut hati rakyat dan memanfaatkan perkebunan yang ada.

Dua kecamatan mereka garap, kecamatan Hinai dan kecamatan Sicanggang. Di sini ditemukan perkebunan tembakau milik orang asing(Swiss) bernama perkebunan "Cinta Raja" dan terus mereka kuasai. Mereka juga membangun pertahanan dikedua kecamatan ini dengan memaksa anak-anak muda. Banyak juga penduduk setempat memilih jadi pengungsi dari pada diperintah Belanda.

Kedua kecamatan ini terkenal sebagai lalu lintas pasukan kita yang mundur dari garis depan untuk memperkuat pertahanan di Setabat, Tanjung Selamat dan Tanjung Pura.

Jembatan Setabat Jatuh

Ini terjadi tanggal 14 Agustus 1947. Pasukan Belanda berkekuatan besar telah menyerbu pertahanan kita di bagian barat jembatan Setabat.

Serangan ini dilakukan tiba-tiba dan diluar dugaan. Tampaknya mereka ingin menerobos pertahanan-yang satu ini, yang selama ini dipandangnya sebagai penghalang untuk menuju kota minyak Pangkalan Berandan. Kekuatan tempur yang dikerahkan terdiri dari empat buah pesawat pemburu "Mustang", dua pesawat "Capung" dan dua "Bomber-25" serta pasukan infanteri yang dibantu tank, panser.

Serangan dibuka oleh tembakan gencar pesawat "Mustang", diiringi dentuman bom yang dijatuhkan ke arah pertahanan pasukan kita di seberangjalan jembatan Setabat, seraya menghujani kampung-kampung di sekitar dengan tembakan gencar sepanjang jalan raya Setabat-Tanjung Pura.

Perlawanan yang diberikan pasukan KSBO pimpinan Letnan Kolonel Hasballah Haji cukup meyakinkan, Belanda baru dapat menguasai seluruh jembatan pada sore harinya, setelah pasukan ditarik ke belakang. Sedangkan pertahanan kita di sepanjang jalan kereta api tetap dapat dipertahankan dan berfungsi dengan baik, terutama taktik gerilya di malam hari.

Pasukan KSBO yang tadinya bertahan di sekitar jembatan Setabat mundur ke lini

belakang di Batang Serangan. Sementara pasukan kita yang bertugas mempertahankan jembatan kereta api menarik diri sampai ke Separuh Kedai Ayam.

Jatuhnya jembatan Setabat berarti Tanjung Pura berada dalam ancaman pasukan

Belanda, yang karena lapangannya terbuka sulit dipertahankan.

Lagi pula pasukan yang ditugaskan menjaga dan mempertahankan Tanjung Pura

relatif kecil, karena kekuatan kita ditarik dan dipusatkan di Pangkalan Berandan.

Menyimak serangan Belanda yang gencar dan bertubi-tubi ke arah sektor barat

dan utara Medan Area, buku "Kodam I/Bukit Barisan" menulis sebagai berikut:

"Pertahanan TRI dan Barisan Laskar Rakyat cukup tangguh berlapis-lapis sepanjang garis yang terentang mulai dari Kampung Lalang sampai ke Binjai. Tapi serangan 21 Juli 1947 itu memang ditunjang senjata bantuan yang cukup canggih dibandingkan senjata yang kita miliki. Mereka mengerahkan tank, panser dan artileri serta pesawat bomber dan pemburu Mustang. Jalur jalan sepanjang kampung Lalang sampai ke Binjai dapat direbut serdadu Belanda besoknya tanggal 22 Juli 1947.

Pada tanggal 22 Juli 1947 itu, pasukan Belanda melakukan serangan pengguntingan lewat Labuhan Deli, masuk Terjun terus ke kampung Buluh Cina dan akhirnya muncul di Tandem Hilir. Dari Tandem Hilir sebagian pasukan Belanda memutar arah menuju ke kampung Setabat. Sebagian lagi memutar ke kiri menuju arah Binjai, Ibukota kabupaten Langkat.

Serangan NICAini merupakan jalinan serangan yang terarah ke seluruh penjuru Medan Area. Sesampainya di Binjai pasukan Belanda terpecah menjadi dua. Sebagian menuju arah Medan seraya memukul pasukan kita dari belakang yang menyebabkan garis pertahanan kita menjadi kacau. Sebagian lagi menuju pusat kota Binjai.

Pasukan NICA yang menuju Binjai bersikap sangat hati-hati, karena semak belukar

di samping jalan cukup mengerikan. Mereka semula bertahan dan hanya menggempur dari jarak jauh sekitar Tugu Pahlawan Binjai sekarang."

Sehari setelah Belanda menduduki kota Binjai, barulah Belanda berani melakukan serangan serentak sepanjang garis pertahanan di jalur sektor barat dan utara itu. Baik dari jurusan Binjai maupun jurusan Sei Sikambing. Serangan yang disertai tembakan

gencar dari pesawat udara, membuat pasukan kita terpaksa tiarap dan korban di kalangan rakyat berjatuhan.

Syahid di Bekiung

Pasukan kita yang berada di Langkat Hilir, Langkat Hulu memperoleh kesempatan yang lebih baik untuk mengkonsoüdasi pasukan. Sejumlah perwira yang dipimpin oleh Mayor Wiji Alfïsah dibentuklah di Tanjung Pura "Komando Langkat Area". Ini terjadi tanggal 24 Juli 1947.

Sejak waktu itulah dimulai konsolidasi pasukan Republik untuk mempersiapkan ofensip baru, supaya Belanda terus diganggu dan tidak mempunyai kesempatan menarik nafas.

Dalam sebuah rencana operasi ke kota Binjai dengan maksud merebut kembali kota itu, telah terjadi suatu peristiwa yang mengharukan. Ini terjadi tanggal 24 Juli 1947, lokasinya di Bekiung, Langkat Hulu.

Diperoleh kesepakatan antara Komandan Batalyon II TRI dengan Komandan Mujahidin (Aceh) untuk merebut kembali kota Binjai dari tangan serdadu Belanda.

Diaturlah tugas pasukan Batalyon II TRI menyerang dari sayap kanan, pasukan Mujahidin dari sayap tengah, Napindo dan Laskar rakyat lainnya dari sayap kiri.

Hari "D" pun telah ditentukan dan penyerangan telah ditetapkan akan dilancarkan pada pukul 03.00 dinihari. Komando serangan diserahkan kepada pasukan Mujahidin dengan kode tembakan mortir tiga kali.

Ternyatatembakan mortir ini tak pernah terdengar dan karena matahari pagi mulai bersinar, Batalyon II TRI memutuskan kembali ke Pangkalan. Sedangkan Pasukan Mujahidin yang bergerak dari Bekiung, rupanya tidak berhasil mencapai Binjai. Karena hari hampir siang pasukan Mujahidin inipun memutuskan kembali ke Bekiung dalam keadaan sangat lelah.

Di luar dugaan, pada hari yang sama rupanya Belanda melakukan gerakan besar- besaran dengan mengerahkan panser dan tanknya. Sebagian lagi berpencar lewat Padang Cermin langsung memotong dari belakang masuk Bekiung.

Kejadian ini tidak terbayang oleh pasukan Mujahidin, yang karena lelahnya tertidur pulas dalam sebuah bangsal tembakau.

Ketika sejumlah prajurit Mujahidin tersentak mendengar deru panser dan tank Belanda, mereka segera berlompatan ke luar. Tapi malang panser dan tank telah men- gelilingi bangsal dan menembak setiap prajurit yang lari. Tidak kurang dari 42 prajurit Mujahidin dan 3 prajurit Batalyon II TRI gugur dalam peristiwa itu.

Saat itu Tanjung Pura juga direbut serdadu Belanda, pasukan kita dan gerilyawan menarik diri dari Balai Gajah-Gebang dan Pangkalan Berandan, yang kemudian dijadikan Markas Komando pertahanan kita di garis depan.

Setiap gerak maju musuh dibayarnya dengan harga mahal, lewat pertempuran yang sengit dilengkapi dengan senjata berat artileri, mortir, tank baja dan senjata otomatis lainnya.

KSBO Lahir

Menyadari bahaya yang kian mengancam di halaman rumah, Panglima Divisi X TNI Komandemen Sumatera, Kolonel Husin Jusuf membentuk sebuah komando baru yang bertugas dan bertanggung jawab menahan gerak maju Belanda ke Pangkalan Berandan dan pada gilirannya merebut kembali kota Medan.

Lembaga baru ini setingkat resimen dan markasnya ditetapkan di Bukit Kubu. Sebagai komandan diangkat Letnan Kolonel Hasballah Haji (Komandan Resimen V/DivisiXTNI).

Sebelum komando baru ini bertugas, Letkol Hasballah Haji telah memanggil sejumlah mantan Komandan Batalyon RIMA diantaranya Kapten Nyak Adam Kamil, Kapten Hasan Saleh.

Kepada Hasan Saleh, yang baru diangkat menjadi Mayor, diminta kesediaannya memperkuat komando ini, demi kesinambungan perjuangan. Kapten Nyak Adam Kamil karena terlalu lama di front, diberi tugas baru di Divi: i X.

Lembaga baru ini diberi nama "KOMANDO SL CTOR BARAT OETARA" dis- ingkat KSBO. Masih terkait dan merupakan kelanjutan 'ari front "MEDAN AREA".

Susunan selengkapnya komposisi dan personalia KSL 1 sebagai berikut:

Komandan : Letkol. Hasballah Haji (Kom. Resimen V/Divisi X) Wakil Komandan : Letko l M. Nazir (Organisator Divisi X) Kepala Staf: Mayo r Hasan Saleh (Mantan Kom. Batalyon III/RIMA) Kepala Markas : Letna n Satu Z. Aksyah (Kom. Kompi I/Batalyon B) Staf Operasi: Kapte n Sudirman (Pds. Kom. Batalyon B) Perlengkapan : Letna n Satu Syakban (Batalyon B) Perhubungan : Letna n Dua A. Azim (Batalyon B) Administrasi: Letna n Dua Uhum Pane (Batalyon B)

Kesatuan-kesatuan yang bergabung dalam KSBO :

Batalyon Alamsyah.

Batalyon M. Amir. Batalyon Hasan Ahmad. Batalyon Hasbi Wahidy Pasukan P.T. (CPM) pimpinan Mayor Abdul Manaf / A. Muzakki Walad / Hasanuddin. Pasukan Mujahidin pimpinan Mayor Said Usman/Jusuf Bahrun. Batalyon 4 pimpinan Burhanuddin. Batalyon 1 pimpinan Wiji Alfisah. Batalyon "B" pimpinan NIP Karim/Kapten Hendrik Manopo. Batalyon 17 pimpinan Mayor Aiyub. Batalyon 18 pimpinan Kapten Langlang Buana. Batalyon 19 pimpinan Yusman Kandow. Kompi A.B. Yatim. Baterai Artileri pimpinan Letnan Satu Nukum Sanany. Batalyon TPKA (Tentara Pegawai Kereta Api dan Tambang) pimpinan Mayor Nazaruddin Nasution. Pasukan Hisbullah pimpinan K.H. Zainal Arifin Abbas. BatalycTn Divisi Rencong pimpinan M. Nurdin. (35-*)

Rupanya pengalaman terpukul mundur sampai ke Tanjung Pura oleh pasukan

KL/KNIL, telah menimbulkan kesadaran di kalangan pejuang kita betapa pentingnya menciptakan kesatuan komando dalam satu tangan (unity of command)

Ini terlihat juga dalam penyusunan KSBO, dimana antara TRI dan Laskar Rakyat

Bersenjata mulai terdapat saling pengertian dan kerjasama, sehingga tugas komando dapat direncanakan dan dilaksanakan dengan pas.

Di wilayah Divisi X upaya untuk menyatukan Laskar Rakyat bersenjata dengan

TNI dapat terlaksana dengan baik dan terakhir diselesaikan bulan September 1947.

35-*) "Dua Windu Kodarn-I/Iskandar Muda", Kutaraja, 1972

Upaya ini juga turut memperlancar pembentukan KSBO, menciptakan persatuan dan kesatuan sikap serta persepsi untuk mengusir kembali serdadu NICA dari tanah air. Dari sejumlah penggabungan Laskar Rakyat Bersenjata kedalam TRI (KSBO) dapat dilihat antaranya Resimen Hizbullah/Sabilillah setelah diseleksi menjelma jadi Batalyon 19. Dari Laskar-Laskar Pesindo Sumatera Timur terbentuk Batalyon 17 dan 18. Laskar Rakyat bersenjata di luar Hisbullah/Sabilillah dan Pesindo dimasukkan ke dalam Laskar Rakyat.

Semua kesatuan TRI dan laskar Rakyat yang berada di wilayah Aceh, Langkat,

Sumatera Timur direkrut menjadi KSBO dengan pengelompokan tugas antaranya sebagai berikut:

Batalyon 17 dan 19 bertugas di garis pertahanan terdepan. Batalyon 12 dan 18 mengadakan penyusupan ke daerah pendudukan musuh. Batalyon 13 mempertahankan daerah pertahanan sekitar Pangkalan Susu. Batalyon 18 sebagai pasukan cadangan diselingi kompi penyusupan ke daerah penduduk musuh di Batang Serangan.

Khusus untuk Pangkalan Berandan dan Pangkalan Susu dipersiapkan pertahanan yang kuat, langsung dipimpin perwira senior.

Dari Titi Palawi sampai ke Serapuh ditangani Batalyon 1. Sedangkan daerah Titi Papan dan sekitarnya, terus ke belakang sampai kuburan Cina (Alur Dua) dikontrol oleh Batalyon B (36-*).

Kisah "Tenaga Dalam" Dogok

Ada sebuah kompi Laskar Rakyat dari Medan Utara yang mundur ke Tanjung Pura-Pangkalan Berandan. Pasukan ini sebelumnya terkepung di daerah Terjun, Ham- paran Perak dan Buluh Cina pada saat Belanda membuat serangan melambung langsung kè Tandam Hilir lewat Labdhan Deli. Sesampainya di Setabat dan merasa bersyukur masih dapat kesempatan untuk membuat perhitungan dengan Belanda secara "face to face".

Pasukan ini kemudian dikenal bagian dari anak buah Mayor Bejo. Pertempuran memperebutkan jembatan Setabat tidak bisa dibendung lagi. Belanda yang menguasai di timur jembatan dan pasukan kita dibagian barat, masing-masing pihak telah memperkuat pertahanannya.

36-*) Kolonel AA. Ekel dalam makalahnya berjudul "Monumen Tugu Bireuen Kota Per- juangan", Jakarta, 1988

Serangan kita biasanya dilakukan di malam hari, coba diobrak- abrik, tapi sulit ditembus karena pertahanannya dilengkapi senjata berat dan moderen.

Ada sebuah kisah menarik bercampur sedih.

DOGOK, nama seorang prajurit Batalyon I/TRI pimpinan Letnan Satu Umar Alang, yang mengepung jembatan Setabat. Ia berasal dari Kampung Hinai dan memiliki ilmu tenaga dalam yang mencengangkan semua orang yang melihatnya.

Secara demonstratip Dogok mendatangi pos patroli Belanda dengan tubuh telan- jang bulat dan langsung menyerang. Pos Polisi Belanda diserang sendirian dengan memakai senjata parang dan pedang. Polisi Belanda sekitar 3 orang di tempat itu seolah tidak bergerak, tampaknya terkesima. Polisi-polisi Belanda itu ditikamnya satu persatu dengan pisau, yang tidur dipancungnya dengan pedang. Senjata-senjata yang ada disita dan diboyong diserahkan kepada komandan Letnan Satu Umar Alang.

Melihat keistimewaan Dogok dengan segala kemampuannya. Ia kemudian men- dapat kehormatan dari sang komandan untuk merampas senjata-senjata musuh di pos-

pos pertahanan Belanda lainnya.

Tugas ini dilaksanakan dengan baik dan ada yang berhasil. Keberhasilan ini tam-

paknya membuat Dogok menjadi takabur, sehingga dalam sebuah operasi berikutnya di daerah pendudukan Tanjung Pura ia ketemu batunya.

Ia melalaikan ajaran yang dianutnya, tidak boleh kesiangan di daerah musuh. Di

sinilah ia menemui ajalnya ketika pasukan Belanda memberondong dirinya (37-*).

Gencatan Senjata Dilanggar Belanda

Terobosan Belanda menghantam pertahanan kita di Setabat tanggal 4 Agustus 1947, sebenarnya sudah melanggar persetujuan gencatan senjata yang dikeluarkan Dewan Keamanan PBB tanggal 1 Agustus 1947.

Agresi militer pertama Belanda itu memang mencengangkan dunia internasional.

Tapi Republik tetap survive, perlawanan tak kendor, baik di dalam mau pun di luar negeri.

:r :-. r. Di samping perang gerilya yang dilancarkan TM dan Laskar Rakyat Bersenjata di - dalam negeri, para diplomat kita pun di luar negeri meningkatkan lobbying tingkat tinggi. Tidak kurang dari sejumlah diplomat kawakan diterjunkan ke arena internasional. Bah- kan diplomat dengan nama besar seperti Sutan Sjahrir sendiri, H. Agus Salim terjun ke lapangan. Dibantu perwakilan kita di luar negeri Seperti LN Palar di Lake Success, Dr. Sudarsono di India, A.R. Baswedan ke Timur Tengah dan lain sebagainya.

37-*) Buku "Sejarah Kodam-I/Bukit Barisan"

I

Akibat ofensif diplomatik yang berhasil, conflict militer Indonesia-Belanda segera dapat diangkat dan menjadi acara Sidang Umum PBB pada tanggal 31 Juli 1947. Be- soknya tanggal 1 Agustus 1947 agenda ini masuk dan langsung diambil keputusan oleh Dewan Keamanan PBB untuk menghimbau Indonesia-Belanda menghentikan tembak- menembak.

Keputusan Dewan Keamanan PBB sebenarnya sudah sampai di Jakarta tanggal 2 Agustus 1947, Radio Republik Indonesia di Yogyakarta mengumumkan perintah gencatan senjata kepada pasukan Republik Indonesia.

Untuk mengawasi pelaksanaan gencatan senjata di Jakarta dibentuk suatu Komisi Konsuler. Anggota-anggotanya terdiri dari bermacam konsul jenderal asing yang ada di Indonesia. Komisi konsuier ini diketuai Dr. Walter Foote (Amerika), anggota Australia, Inggeris, Perancis, Cina dan Belgia.

Selain Komisi Konsuier, DK PBB membentuk pula sebuah komisi jasa baik yang kemudian dikenal dengan nama Komisi Tiga Negara (KTN).

Indonesia menunjuk Australia (Richard Kirby) dalam KTN dan Belanda men- gajukan Belgia (Paul van Zeeland). Kedua negara ini kemudian menunjuk Amerika (Dr. Frank Graham) menjadi Ketua Komisi Tiga Negara.

Dilaporkan juga oleh Komisi, Belanda sejak 1 s/d 4 Agustus 1947 masih melakukan gerakan militer dan tidak mematuhi perintah gencatan senjata. Pihak Indonesia juga menolak garis demarkasi (Garis van Mook) yang berat sebelah.

Sebelum melangkah ke arah perundingan politik, terlebih dahulu perlu dis- elesaikan realisasi gencatan senjata sesuai resolusi Dewan Keamanan PBB. Masalah ini telah membuat hubungan Indonesia-Belanda menjadi tegang dan tampak sikap yang licik dan mau menang sendiri dari pihak Belanda.

Pihak Indonesia berpegang teguh pada prinsip yang lazim. Gencatan senjata artinya tidak boleh saling menyerang satu dengan lainnya tanpa embel-embel. Ini berarti kesatuan-kesatuan kita yang kebetulan pada saat gencatan senjata berada di daerah "kantong" tentunya tidak boleh diserang lagi.

Pandangan Belanda berbeda dan membuat persepsi sendiri. Mereka menarik garis lurus yang menghubungkan pos-pos terdepan yang mereka capai pada saat gencatan senjata diberlakukan. Ini berarti, daerah yang ada di belakang garis lurus adalah wilayah mereka dan berhak membersihkan pejuang dari daerah kantong tersebut.

Mereka menamakan garis itu sebagai "Garis van Mook" dan berhak melakukan aksi-aksi pembersihan.

Perundingan tentang pelaksanaan gencatan senjata gagal. Komisi Tiga Negara pun tidak berhasil menjadi penengah, karena missi mereka terbatas hanya kepada mem- berikan jasa-jasa baik saja.

Dalam suasana tak berkepastian, Indonesia-Belanda memasuki perundin- gan "Renville" yang dimulai tanggal 8 Desember 1947 dan berakhir tanggal 17 Januari 1948, dipimpin Komisi Tiga Negara (KTN).

Garis Hasballah Haji

Jatuhnya Setabat dan Tanjung Pura ke tangan Belanda, menimbulkan amarah rakyat dan laskar Ace h segera meningkatkan bantuan dan mengalirkan pasukan Laskar Aceh ke front "Langkat Area". Komandan KSBO, Letnan Kolonel Hasballah Haji yang tinggi semampai itu, segera menggariskan, pihak serdadu Kolonial Belanda "haram" menginjakkan kakinya di bumi Pangkalan Berandan. Kecuali melewati dulu timbunan mayat para pejuang sepanjang jalan Tanjung Pura-Pangkalan Berandan. Atau Belanda menemukan Kota Pangkalan Berandan, yang sudah hangus menjadi debu tanpa kehidupan.

Kata-kata yang pedas ini diucapkan Hasballah Haji, karena gemasnya men- dengar Radio Batavia di Betawi dan Radio Hilversium di Holland, sesumbar menyebutkan kota minyak Pangkalan Berandan sudah jatuh dan diduduki Belanda.

Kolonel Hasballah Haji (Komando Sektor Barat Oetara "Medan 'Area ") yang berhasil mengusir penjajahan Belanda untuk merapat ke Tanah Rencong setelah diciptakannya "Garis Hasballah Haji" antara "Tanjung Pura-Pangkalan Berandan " sebagai "neraka dunia" bagi Belanda yang berani melaluinya dan dwumi hanguskan tambang minyak Pangkalan Beratvxan, sdvngga Belanda teipukul dan tetimit-bhit meninggalkan front peiiempuran kembali kt Tanjung Pura, BinjeL (Toto "Aki"). Komandan KSBO itu langsung instruksikan kepada Radio Perjuangan "Rimba Raya" di Takengon, Aceh Tengah untuk mengcounter siaran "Radio Batavia" dan "Radio Hilversium" di Holland (38-*). Garis yang telah ditetapkan Komandan KSBO yang berang itu, tampaknya tidak boleh ditawar-tawar lagi. Sama seperti yang dijelaskan Kepala Staf KSBO, Mayor Hasan

38-*) Wawancarapenulis dengan Kolonel Hasballah Haji, Medan, 1977.

Saleh kepada penulis, bahwa jalan sepanjang Tanjung Pura-Pangkalan Berandan ibarat "neraka dunia".

Setelah pasukan Belanda menduduki Tanjung Pura tanggal 4 Agustus 1947, jem- batan "Pelawi" pun diledakkan oleh pejuang. Keinginan Belanda segera menguasai kota tambang minyak Pangkalan Berandan seolah tak tertahankan lagi. Tapi Belanda juga dari sikapnya terlihat adanya keraguan, tidak mudah merebut kota minyak yang strategis itu. Ini disebabkan karena Belanda tahu persis dari spionnya, bahwa jalan sepanjang Tanjung Pura-Pelawi-Gebang-Pangkalan Berandan, yang jaraknya sekitar 20 km. itu, telah berubah menjadi kancah pertempuran yang dahsyat. Di sisi dan badan jalan ditaburi bom dan dinamit yang mampu melumpuhkan tank dan panser seketika. Di samping semak- semak kiri kanan jalan bersarang pula gerilyawan yang mengintip setiap kesempatan menerkam mangsanya.

Namun tekanan Belanda kian hari kian deras jua. Mereka mengandalkan senjata

moderen yang dimilikinya seperti pesawat "Bomber", "Mustang" dan tank, panser di darat.

Tapi perlawanan tak pernah henti. Gugur satu muncul seribu. Balabantuan pun mengalir terus dari Tanah Rencong. Baik berupa pasukan Laskar Aceh dan para pejuang. Maupun peluru/mesiu, obat- obatan dan bahan "makanan-perang" (tahan lama) yang diolah anak dara di setiap kampung. Pengalaman ini mengingatkan orang-orang tua kepada sejarah perang Aceh-Belanda selama delapan puluh tahun, sejak Gubernur Jenderal Mijer tahun 1867 menyuruh Sultan Aceh mengakui kekuasaan Belanda sampai Belanda angkat kaki dari Indonesia tahun 1942.

Kaum wanita Aceh yang dalam dirinya bersemi "cinta tanah air" dan "cinta kemer-

dekaan", tak mau kalah dengan prianya sama-sama berjuang "Fie Sabilillah", untuk menegakkan agama dan negara yang diproklamasikan 17 Agustus 1945.

Setiap pejuang yang datang ke front "Medan Area" dan "Langkat Area", di tengah jalan sepanjang perjalanan Aceh ke kabupaten Langkat di Sumatera Timur, baik di stasiun kereta api dan terminal bis selalu memperoleh nasi bungkus yang "khas" dan gratis dari dara-dara Aceh. Dara Aceh ini bukan hanya membawa "nasi bungkus", tapi mengirim doa untuk para pejuang yang berperang di medan laga hidup atau mati.

Dari sekian banyak pasukan yang diterjunkan ke front "Langkat Area", ada sebuah

"Pasukan Tempur Khusus" yang berasal dari "Sekolah Kader Bireuen" (39-*).

Pasukan ini terdiri dari Kapten Agus Husin (Komandan Pusdiklat/Sekolah Kader Bireuen), Letnan Satu Bachtiar (Wakil Komandan Pusdiklat), Letnan Dua M. Sumam- pow (Komandan Kompi Siswa), Letnan Dua G.A. Parengkuan (Komandan Kompi Siswa), Letnan Dua M. Daud Gade (Komandan Seksi Siswa), Letnan Dua A.A. Ekel (Komandan Seksi Siswa Siswa), Letnan Muda Kapoyos dan Letnan A.R. Saleh selaku instruktur.

39-*) Kolonel AA. Ekel dalam makalahnya "Peranan Rakyat Aceh dalam perjuangan di front Medan Area/Langkat Area", Jakarta, 1989

Perwira ini diberangkatkan dari Bireuen tanggal 1 Agustus 1947 dan sampai di Pangkalan Berandan tanggal 3 Agustus 1947. Sebelum bertolak dari Bireuen, mendapat briefing langsung dari Komandan KSBO, Letnan Kolonel Hasballah Haji, yang kebetulan sedang bertugas ke Bireuen menemui Panglima Divisi X TNI Kolonel Husin Jusuf.

Dalam briefing dijelaskan, tugas pasukan khusus sebagai koordinator dan dinamisator perjuangan dengan membentuk sebuah Pasukan Tempur Khusus (Special

Force) dari seluruh kesatuan yang ambil bagian dalam pertahanan lini depan Tanjung Pura-Pangkalan Berandan Area.

Tugas ganda pasukan sebagai pemukul sekaligus bertahan. Yaitu disamping menyerang, juga mengatur pertahanan sebagai penyangga (buffer) serangan musuh untuk

memperlambat gerak maju lawan. Agar pasukan kita yang menarik diri ke Pangkalan

Berandan dapat dilakukan secara tertib dan terkendali.

Keputusan yang strategis ini diperlukan, mengingat derasnya tekanan militer

Belanda dan perlu diantisipasi secara cerdik, jangan sampai panik.

Pasukan Tempur Khusus segera menggalang koordinasi dan kerjasama dengan pasukan Laskar Pesindo yang dipimpin oleh Ismail Daud dan Laskar Hisbullah pimpinan Rachmat Budin serta Batalyon TRI-B.

Pasukan ini beroperasi sebagai ujung tombak pertahanan lini depan "Tanjung Pura-Pangkalan Berandan Area" yang dilindungi pada lambung sebelah barat oleh pasukan Batalyon TRI-B dipimpin Kapten Hendri Manopo, yang juga dilengkapi senjata berat.

Meskipun keinginan Belanda sangat ambisius segera menduduki kota Pangkalan

Berandan, tapi pasukannya masih berhati-hati meninggalkan Tanjung Pura. Tampaknya mereka juga termakan, "psy- war" dinas intelijen kita, yang menyebarluaskan bakal

datangnya dua batalyon tempur dari Aceh untuk merebut kembali Tanjung Pura dan Binjai.

Pangkalan Berandan Dibumihanguskan

Upaya Belanda untuk menerobos kota minyak Pangkalan Berandan tampaknya kian gencar. Terbukti dari kegiatan konsentrasi pasukan Belanda yang kian meningkat di kota Tanjung Pura. Sementara pesawat pemburu "Mustang" setiap hari melakukan "show of force" di angkasa seraya mencecer setiap kendaraan militer dan umum yang berani melintas di jalan sepanjang Tanjung Pura-Pangkalan Berandan.

Dari laporan intelijen yang masuk tanggal 7 dan 10 Agustus 1947 disebutkan adany~

rencana Belanda menyerbu kota minyak itu dalam waktu singkat.

Melihat kegiatan ini, Komandan KSBO, Letnan Kolonel Hasballah Haji segera melakukan persiapan-persiapan yang matang. Di satu pihak menambah pertahanan yang

berlapis di jalan raya Tanjung Pura-Pangkalan Berandan area. Di sisi lain, meram-

1 77

PUING-PUING. Tambang Minyak Pangkalan Berandan yang dibumikanguskan telah menjadi puing-puing berserakan dan berantakan. Para pejuang merelakannya hangus menjadi debu daripada jatuh ke tangan kolonialisme Belanda. Setelah KMB (Konperensi Meja Bundar) barulah puing-puing itu dibenahi lagi dan sejak Orde Baru muncul sebagai asset nasional salahsatu pilar pembangunan nasional. (Foto : Pertamina).

pungkan rencana pembumihangusan tambang minyak Pangkalan Beranda seraya mempersiapkan jalur pengungsian ke kota Kuala Simpang, Langsa terus ke Lhok Seumawe, Bireuen, Takengon dan ada juga terus ke Sigli dan Kutaraja.

Bersamaan dengan persiapan bumi hangus di Pangkalan Berandan, maka posisi kota Pangkalan Susu menjadi penting sebagai pertahanan lini kedua setelah Pangkalan Berandan Area.

Untuk kepentingan ini, Komandan KSBO Letnan Kolonel Hasballah Haji menarik Kapten Hasbi Wahidy dari front Tanjung Pura bertugas sebagai Komandan Pangkalan Susu Area. Lebih.akrab disebut "Susu Area". Karena Pangkalan Susu juga harus sudah siap dibumihanguskan bila perlu.

Guna pengamanan kota Pangkalan Berandan dan Pangkalan Susu selama ber- langsungnya bumi hangus, dibentuk sebuah Detasemen Polisi Tentara yang anggotanya didatangkan dari Kuala Simpang dengan Komandan Kapten PT. A. Manap. Detasemen Polisi-Tentara ini bermarkas di Alur Dua, sekitar 300 meter di sebelah selatan sungai Babalan, Pangkalan Berandan (40-*).

Tugas pokok detasemen, mengawasi pelaksanaan bumi hangus sesuai jadwal waktu yang telah ditetapkan dan menangkal upaya-upaya yang ingin menggagalkannya dengan wewenang penuh melakukan tembak mati di tempat bila diperlukan.

Tugas lainnya mengatur dan mengawasi kelancaran pangungsian penduduk dan karyawan Tambang Minyak seraya mewaspadai kaki tangan NICA yang merembes untuk menimbulkan kekacauan dan kepanikan di kalangan rakyat.

Berdasarkan laporan dinas intelijen, Belanda akan menyerang Pangkalan Berandan tanggal 13 Agustus 1947 dinihari pukul 03.00.

Keterangan ini diperkuat oleh pengakuan sejumlah mata-mata musuh yang ter- tangkap di daerah perbatasan, serta serangan patroli Belanda yang gencar ke bagian depan Sicurai pada tanggal 11 Agustus 1947. Tentu saja kehadiran lawan ke kampung Sicurai disambut dengan pertempuran sengit dan dahsyat, sehingga mereka dapat dipukul mundur.

Melihat gelagat yang berbahaya ini, pasukan kita akhirnya meledakkan jembatan Sicurai yang strategis. Tak lama setelah. pasukan.lawan dapat dipukul mundur kembali:. ke Tanjung Pura.

Mengingat situasi cukup rawan, Komandan KSBO Letnan Kolonel Hasballah Haji memerintahkan Mayor Wiji Alfïsah selaku Komandan Komando Pembumihangusan Pangkalan Berandan untuk mengkoordinasikan semua aktivitas pasukan dan Laskar Rakyat serta petugas-petugas yang diserahi tanggungjawab untuk meledakkan tambang minyak itu.

40-*) Kolonel AA. Ekel dalam makalahnya "Peranan Rakyat Aceh dalam perjuangan di front Medan Area/Langkat Area", Jakarta, 1989

.179

Sehari sebelum peledakan itu, Mayor Wiji Alfisah bersama Letnan Satu B. Paruntu, Staf Ajudan Panglima Divisi X Kolonel Husin Jusuf, Letnan Dua PT. Sugiarto dan Letnan Dua A.A. Ekel masih sempat berbincang-bincang mengevaluasi jalannya persiapan.

Menurut pengamat, kalau tentara NICA mulai menyerang pukul 03.00 bertolak dari Tanjung Pura tanggal 13 Agustus 1947, diperkirakan mereka mungkin bisa mendekati Pangkalan Berandan satu jam kemudian (04.00). Karena sepanjang jalan pasukan kita telah diberi tugas memberi perlawanan yang gigih untuk memperlambat gerak maju lawan. Juga dua buah jembatan yang strategis telah diledakkan, yaitu jembatan Sicurai dan jembatan Pelawi.

Memang benar, dinihari tanggal 13 Agustus 1947 pasukan Belanda mulai bergerak besar-besaran dari Tanjung Pura menuju Pangkalan Berandan.

Juga benar, perlawanan pasukan kita cukup sengit. Pertempuran yang paling dahsyat berkecamuk di garis pertahanan Palu-Gebang, terletak di pertengahan antara

Tanjung Pura dan Pangkalan Berandan.

Pada kedua belah pihak jatuh banyak korban bergelimpangan. Pada saat pertempuran sedang berkecamuk, tiba-tiba serdadu Belanda dikejutkan oleh sinar api yang terang benderang berkobar membubung tinggi yang datang dari arah kota minyak Pangkalan Berandan. Peristiwa ini membuat serdadu Belanda seolah kehilangan seman- gat untuk melanjutkan pertempuran.

Momentum ini dipergunakan pihak kita mengkonsolidasi dan melemparkan pasukan cadangan ke depan guna menghalau serdadu Belanda kembali ke Medan.

Dengan diledakkannya kota minyak Pangkalan Berandan yang semburan apinya terang benderang menyalip langit, maka musnahlah impian Belanda untuk menguasai

kota vital itu. Paginya sekitar pukul 07.00 sejumlah pesawat terbang Belanda melakukan

pemeriksaan dari udara dengan mengelilingi tambang minyak yang telah musnah limakan api bersama kota Pangkalan Berandan yang hangus menjadi debu.

Sejak saat itu Belanda tampak mambatalkan rencananya melanjutkan serbuan sampai ke Pangkalan Berandan yang sudah di telan api.

Para pejuang kesampingkan perhitungan berapa besar kerugian yang diderita Republik akibat malapetaka yang menimpa sumber daya alam vital itu. Tapi nilai terpent- ing yang perlu dipertahankan adalah jaminan lestarinya nilai kemerdekaan yang tidak bisa dihitung dengan nilai benda betapa pun besarnya.

Perlu juga diungkap, para petugas dibelakang layar yang mendapat kehormatan

untuk menangani teknik yang rumit dalam proses bumi hangus, sebuah instalasi minyak yang memerlukan keterampilan khusus.

Orang yang berjasa adalah Panglima Divisi Rencong, Kolonel Nyak Neh Lhoknga dan Kuroiwa, seorang perwira Jepang yang bergabung dengan Republik. Mereka ini dibantu oleh sejumlah staf yang berpengalaman. Bom-bom ukuran sedang dan besar untuk meledakkan tambang minyak Pangkalan Berandan didatangkan dari Lhoknga,

Kutaraja, markas Divisi Rencong yang mempunyai peralatan terlengkap, termasuk senjata berat dan artileri.

Staf Kolonel Nyak Neh yang berperan, terdiri dari mantan serdadu Jepang yang waktu itu berfungsi melayani bagian persenjataan Divisi Rencong. Mereka tenaga profesional.

Bom-bom seberat 500 sampai 1000 kg. mereka angkut dari "Lhoknga, yang biasanya dijatuhkan dari pesawat terbang pembom ke sasarannya. Pemasangan bahan peledak yang peka itu dengan alat penyalanya harus hidup dalam keadaan siaga, bukanlah pekerjaan tanpa resiko. Tapi semuanya dilakukan dengan cekatan, pas dan tanpa kecelakaan (41-*).

Dalam sejarahnya, tambang minyak Pangkalan Berandan sudah dua kali men- galami bencana kebakaran yang membuat porak poranda segala isi dan lingkungannya.

Pertama, terjadi sekitar akhir tahun 1944 dalam Perang Dunia Kedua. Sejumlah pesawat terbang Sekutu dari berbagai jenis diantaranya B-29, Bomber dan pesawat pemburu melancarkan serangan besar-besaran ke tambang minyak Pangkalan Berandan. Subuh itu datang informasi dari Singapura (Syonanto) melaporkan adanya kegiatan yang mencurigakan dari Angkatan Udara Sekutu. Melihat gelagatnya mereka terbang tinggi menuju Pangkalan Berandan.

Tidak berapa lama, informasi itu menjadi kenyataan dan serdadu Jepang telah dapat mempersiapkan diri sebelumnya. Bunyi sirene meraung-raung dan rakyat tentu saja panik menunggu bencana apa lagi yang akan menimpanya.

Tidak ayal lagi, pesawat Sekutu tidak membuang-buang waktu lalu menghujani tambang minyak yang potensial itu dengan semburan Bom yang bertubi-tubi, sehingga terjadilah kebakaran besar yang melumatkan sasarannya.

Banyak jatuh korban di kalangan serdadu Jepang, Heiho, Romusha dan penduduk.

Pada saat terjadinya operasi mendadak itu, perlawanan dari barisan artileri Jepang tidak berdaya, mengingat jarak tembak meriam penangkis serangan udaranya tidak mencapai ketinggian pesawat Sekutu. Pertempuran berlangsung tak seimbang.

Setelah pesawat Sekutu menarik diri, barulah kemudian tiga buah pesawat pemburu Jepang muncul dari lapangan terbang Tanjung Beringin.

Kedua, peristiwa bumi hangus tambang minyak Pangkalan Berandan, yang dilakukan para pejuang sebagai jawaban atas rencana serdadu penjajahan Belanda untuk menguasainya.

41-*) Kolonel AA. Ekel dalam makalahnya "Peranan Rakyat Aceh dalam perjuangan di front Medan Area/Langkat Area", Jakarta, 1989

Apa sebab Belanda tidak meneruskan rencananya untuk menduduki Pangkalan Berandan ? Menurut perkiraan Panglima Sumatera, Kolonel Hidayat, terlalu besar resiko yang dihadapi. Karena mereka kekurangan pasukan untuk mempertahankan, sedangkan wilayahnyya semakin luas. Mereka perlukan waktu setidak-tidaknya enam bulan lagi untuk melakukan build-up. Nyatanya Belanda hanya mampu mengadakan dua batalyon untuk seluruh kabupaten Langkat. Satu batalyon di Binjai (3-3 Rl) dan satu batalyon di Tanjung Pura (4- 2 Rl). Kekuatan ini saja sudah cukup sibuk dan melelahkan untuk menghadapi serangan dan infiltrasi para pejuang dan gerilyawan kita (42-*).

NY. UMMI SALAMAH HUSIN Kol(me l A MaMan i

JUSUF. Banyak pengalamannya Mantan Ketua DPRD Propinsi Aceh. mendampingi suami seorang Panglima dalam Perang Kemerderkaan. Semuanya itu dinilainya sebagai "ibadat".(Foto "Aki").

42-*), "Kisah dari Pedalaman" karangan Kolonel Arifin Pulungan. Medan.

Bung Hatta Pimpin Gerilya Di Sumatera

Menjelang agresi militer I Belanda tanggal 21 Juli 1947, Wakil Presiden Dr. Moh.

Hatta lakukan kunjungan kerja ke Sumatera. Kunjungan ini sudah direncanakan jauh sebelumnya, sebagai bagian dari keputusan sidang kabinet.

Dalam sidang kabinet itu, telah dievaluasi situasi menyeluruh dalam dan luar

negeri. Khususnya manuver politik dan militer Belanda yang cenderung memojokkan posisi Republik Indonesia. Ditambah kecurigaan yang kian mencemaskan perilaku In-

ggeris di belakang layar.

Sebenarnya kehadiran Wakil Presiden/Panglima Tertinggi memang dimaksudkan mengkonsolidasi pertahanan rakyat semesta di pulau Perca dengan persiapan perang

gerilya jangka panjang.

Untuk menindaklanjuti kebijakan ini, sejumlah perwira senior dari MBAD diter-

junkan ke berbagai daerah di Sumatera, antaranya di Aceh, Sumatera Timur, Tapanuli dan Sumatera Barat.

Setelah meletus agresi militer Belanda tanggal 21 Juli 1947, menjadi suatu kenyataan, Bung Hatta tidak kaget lagi. Bahkan membuktikan analisanya yang tajam, tepat dan mampu mengantisipasinya secara jitu. Di sinilah keluar kata-kata Bung Hatta, untuk memimpin sendiri perjuangan menegakkan kemerdekaan di Sumatera.

Sewaktu berada di Sumatera Utara, Bung Hatta bukan saja memberikan bimbingan dan arahan di bidang politik dan manuver militer. Bahkan juga turut mengawasi dan mengatur pelaksanaan operasionat aan memperhatikan penentuan personalia pimpinan. WilayaTi ini memang tergolong rawan dan penuh gejolak dengan temperamen sang komandannya yang "macam-macam".

Tidak jarang terjadi "baku hantam" antara sesama pasukan dan barisan perjuangan, hanya sekedar untuk memperebutkan daerah "basah", gengsi atau fasilitas-fasilitas lain yang mungkin di raih di suatu wilayah. Misalnya lokasi perkebunan dan lain sebagainya.

Hal ini tentu saja merugikan perjuangan Republik dan menguntungkan NICA.

Di tengah berkecamuknya agresi militer 1 tahun 1947, Bung Hatta sedang berada

di Sumatera Timur, yang justru menjadi incaran serdadu Belanda untuk menguasai keresidenan yang kaya raya sumber ekonominya.

Dua hari setelah agresi militer itu, yaitu tanggal 23 Juli 1947, Wakil Presiden/Panglima Tertinggi sedang menghadiri dan berpidato dalam sebuah rapat raksasa di Tebing Tinggi (81 km) dari Medan. Malamnya dilanjutkan dengan rapat terbatas bersama pimpinan perjuangan setempat. Secara langsung Wakil Presiden memeriksa keadaan di lapangan dan memberi petunjuk tentang berbagai kemungkinan

dan persiapan untuk menghadang agresi militer Belanda setempat. Juga diingatkan

tentang persiapan bahan logistik, terutama pengadaan senjata dan amunisi, yang harus

diambil dari persediaan di daerah Aceh, yang sudah dipersiapkan di perbatasan Aceh/Langkat atau Aceh/Tanah Karo.

Beliau langsung pula memeriksa struktur organisasi ketentaraan dan hubungannya dengan kelaskaran. Tanggal 26 Juli 1947, dihadapannya diserahterimakan "Barisan Harimau Liar"(BHL) dan "Napindo" dari pimpinannya M. Jakub Siregar dan M. Saleh Umar kepada Panglima Divisi X TNI, Kolonel Husin Jusuf dan Kepala Staf, Kolonel H. Sitompul. Lalu diresmikan masuk TNI dan masing- masing menjadi brigade.

Brigade "A" pimpinan Mayor Selamat Ginting mengambil tempat di sebelah kiri jalan kereta api Pematang Siantar ke Pangkalan Berandan, meliputi kabupaten Simalun- gun, Tanah Karo dan Langkat.

Brigade "B" pimpinan Mayor Bejo, mengambil posisi di sebelah kanan jalan kereta api, mencakup kabupaten Deli/Serdang. (43-*).

Kehadiran Bung Hatta di Pematang Siantar kemudian ke Brastagi, bahkan ada rencana mau singgah di Medan, telah menimbulkan kegelisahan di kalangan rombongan, takut-takut nanti Belanda menangkap Wakil Presiden/ Panglima Tertinggi (44-*).

Menurut Sekretaris Wakil Presiden, Wangsa Widjaja, sewaktu berada di Pematang Siantar, terbetik berita Belanda akan menyerbu kota itu untuk menangkap Bung Hatta.

Segera Gubernur Sumatera, Mr. T. Mohammad Hasan bersama Kepala Staf Divisi X TNI Kolonel H. Sitompul dan saya mengambil keputusan untuk memberangkatkan rombongan Wakil Presiden ke Bukit Tinggi melalui Brastagi. Menjelang makan sahur di Brastagi, datang Bupati Tanah Karo, Rakuta Sembiring melaporkan pasukan Belanda sudah mendekati kota ini. Rombongan setelah makan sahur segera berangkat menuju Bukit Tinggi melalui Kabanjahe, Manik, Sidikalang, Siborong-borong, Tarutung, Sibolga terus ke Bukit Tinggi. Dua buah keputusan cukup penting, yang dapat memberi warna penyelesaian penggabungan kelaskaran ke dalam tubuh TNI secara tuntas di Sumatera Utara, ketika Bung Hatta selaku Wakil Presiden/Panglima Tertinggi mengangkat Tgk. Moh. Daud Bereueh selaku Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo. Pangkat Jenderal Mayor Tituler, Berkedudukan di Kutaraja (Banda Aceh, sekarang).

Surat keputusan Panglima Tertinggi itu dikeluarkan tanggal 26 Agustus 1947 Nomor 3/BPKU/47.

Ada berbagai pertimbangan mendasar yang mendorong dikeluarkan keputusan.

Pertama, wilayah Republik di Sumatera Utara yang diobrak-abrik Belanda dalam agresi militer I perlu dipulihkan kembali.

43- *) DRA.H. Nasution, "Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia", Jilid 5. Penerbit Angkasa Bandung, 1978.

44- *) I.Wangsa Widjaja, "Mengenang Bung Hatta", Penerbit CV. Haji Masagung, Jakarta, 1988.

BAB

  • GUBERNU R MILITER ACEH, LANGKAT & TANAH KARO.
  • Bun g Hatta Pimpin Gerilya Di Sumatera.
  • Menolak Sekolah Kolonial.
  • Ujian Pertama Bagi Tengku.
  • Kolonel Sitompul Dicopot, Nyak Adam Protes
  • Alot, Penyatuan TNI Di Aceh.
  • Kolonel Husin Jusuf Minta Diaktifkan Kembali.

8A8

3OA ATLIM RUNAUE AA ANAT & TANA

stetamu2 I0 sylhe2 nlomi9 attsH gnu8 leinaloX rleloxe slone lefgnet Igse smeheq naiju et9m oa umo2 lnolo rleoA ld IMT msulsyne9 folA. iledmeX naxlblalO stniM tueul. NauH lenoloX

^ ^ S ' i

ï i ïi il il

C S 3 r P | E L C ^

? -« -3 1 3

>> P S
S K W3 E~ «
  • I lal I ^ « ^ I I -i I § i ^^•S § S n. .„ u ^ 3 « §3 § § S I 1 w 8 " s £ ^ ~ 5 -1 a 5 1 " .? P CO « ^ ^ -S t s t s g rt 3 i- a C O to OH > J 3

Kedua, Teritorial Divisi X TNI Komandemen Sumatera, yang meliputi daerah

Aceh dan Sumatera Timur perlu dipertautkan secara utuh.

Ketiga, Kabupaten Langkat dan Tanah Karo yang letaknya berdampingan dengan daerah Aceh, perlu dibina dan dijalin dalam satu kesatuan komando militer dengan Aceh untuk dijadikan basis merebut kembali kota Medan dari tangan Belanda.

Kemudian tanggal 23 September 1947 Bung Hatta mengangkat pula Dr. Gindo Siregar menjadi Gubernur Militer Tapanuli dengan pangkat Jenderal Mayor Tituler, yang meliputi juga empat kabupaten dari keresidenan Sumatera Timur. Yaitu kabupaten Simalungun, Asahan, Labuhanbatu dan Deli Serdang.

Susunan komando di Tapanuli dibagi menjadi tiga brigade.

a. Mantan TRI Tapanuli menjadi Komando TNI Brigade XI dengan Komandan Kolonel P. Sitompul.
b. Mantan TRI Sumatera Timur meniadi Komandan TNI Brigade XII dengan Komandan Letnan Kolonel Kicardo Siahaan. Termasuk pula di dalamnya pasukan Mayor Bejo.
c. Mantan "Barisan Harimau Liar" menjadi Komando TNI Brigade "A" dengan Komandan Saragih Ras.
d. Mantan Laskar Marsuse menjadi Komando TNI Legiun Penggempur dengan Komandan Kolonel Timur Pane. Sebelum kesatuan ini dialihkan menjadi TNI sebagiannya sering membuat onar, tindakan merugikan rakyat dan perjuangan untuk kepentingan sendiri dan golongannya.

Lebih-lebih Barisan Marsuse pimpinan Kolonel Timur Pane sering bentrok senjata dengan TNI.

Menolak Sekolah Kolonial

Semula ada juga sempat mempertanyakan pengangkatan Tgk. Moh. Daud Bereueh sebagai Gubernur Militer, karena tidak pernah mendapat pendidikan militer. Tapi

suara-suara itu segera lenyap dari peredaran, setelah mereka mengetahui tokoh itu

memiliki karisma yang mantap.: Beliau bükan' peffiimpm yang dikarbit mencaparorbit, seorang pemimpin yang "dilahirkan" dengan bobot kepemimpinan (leadership) yang kuat

dan dicintai khalayak.

Beliau memang meniti pendidikan di kalangan pesantren. Karena sejak awal menolak memasuki sekolah yang dibangun kolonial Belanda. Tapi jangan lupa, pendidikan pesantren pun tidak kalah mutunya dengan pendidikan umum. Di pesantren orang mempelajari dua hal yang pokok tentang dunia dan akherat. Pertama, hal-hal yang menyangkut dengan "Hablim Minallah" yaitu memelihara komunikasi, hubungan dengan Allah melalui ibadat umum dan ibadat khusus. Kedua bentuk ibadat ini mempunyai juga tata cara dan kaidah-kaidah yang perlu dipahami. Punya sistem yang perlu dipelajari.

KAPTEN SUDOMO.

Pernah bertugas sebaga Komadan Pangkalan Seran± Jaya di Aceh menjelang clash 11 (Repro).

BERNUR MILITER ACEH, KABUPATEN

NGKAT DAN KABUPATEN TANAH KARO,

pr Jenderal Tgk. MoM. Daud Bereueh. (Koleksi Toto i").

KAPTEN HASBIWAHIDY.

Pernah menjadi Komandan Pangkalan Susu, (Foto "Aki").

Kedua, hal-hal yang menyangkut dengan "Hablim Minan Nasy". Yaitu memelihara

komunikasi dengan masyarakat manusia dan lingkungan sekitar. Di sini juga diajarkan tata krama dan norma-norma bagaimana menjalin hubungan sesama.

Dengan mendalami kedua bentuk ilmu pengetahuan yang diajarkan di pesantren ditambah dengan ilmu sosial pembantu lainnya, maka jebolan setiap pesantren yang terorganisir baik, pasti mampu berkarya secara kreatif di tengah-tengah masyarakat

Bagi rakyat Aceh sendiri, kehadiran Tgk. Mohd. Daud Bereueh sebagai Gubernur Militer di tengah situasi revolusi sedang berkecamuk, disambut dengan perasaan gembira dan syukur. Karena beliau sangat paham aspirasi rakyat yang berkembang dan perintah- perintahnya selalu diikuti dengan taat oleh rakyat banyak.

Munculnya beliau di pentas kepemimpinan sudah bermula sejak zaman pergerakan kébangsaan mulai bergolak di daerah Aceh. Tahun 1939 beliau sudah mendirikan Per- guruan "Normal Islam" di kota Bireuen. Menyusul berdirinya PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) yang berakar kuat di kalangan rakyat.

Kedua lembaga ini berperan besar untuk memajukan pendidikan Islam secara moderen di Aceh. Sebagian besar tokoh-tokoh militer yang muncul di zaman Jepang sampai masa revolusi pisik adalah jebolan Normal Islam. Murid-Murid Pak Tengku.

Tidak salah lagi, pengaruh beliau menyebar ke semua lapisan masyarakat mulai

dari lapisan yang paling bawah sampai ke tingkat menengah dan lapisan elit.

Ujian Pertama Bagi Tengku

Ujian pertama bagi Tengku Mohd. Daud Bereueh datang dari daerah Aceh sendiri.

Kepemimpinannya sebagai Gubernur Militer sedang dicoba, ditest. Apakah beliau mampu menyatukan Laskar Rakyat Bersenjata masuk ke dalam Tentara Nasional In-

donesia (TNI).

Sebenarnya instruksi untuk menyatukan semua pasukan bersenjata masuk TNI telah dikeluarkan sejak tanggal 3 Juni 1947 oleh Panglima Sumatera, Letnan Jenderal Suhardjo Hardjowardoyo. Namun, instruksi itu belum dapat dilaksanakan, karena •meletusnya agresi militer I Belanda tanggal 21 Juli 1947. Di samping itu masih ada faktor lain, yang bersifat politis dan psikologis, yang menyebabkan penyatuan ke dalam TNI tidak begitu lancar.

Faktor politis dan psikologis ini, akhirnya menjadi batu penghalang yang suüt

diselesaikan, sehingga masalah ini untuk beberapa saat menjadi tersendat-sendat dan terlunta-lunta.

Kalau kita lihat peta militer di daerah Aceh, terlihat sejumlah konsentrasi kekuatan bersenjata, yang sebagiannya berada di tangan rakyat.

  1. TRI/TNI berkekuatan satu divisi (Divisi X TNI) suatu gabungan yang berasal dari Divisi Gajah I/Aceh dan Divisi Gajah II/Sumatera Timur. Berkekuatan 6 Resimen dan 1 Resimen Artileri Panglimanya Kolonel Husin Jusuf, Kepala Staf Kolonel Hotman Sitompul, kedudukan markas di kota Bireuen.
  2. Divisi Tgk. Chik Di Tiro, Panglima Tgk. Mohd. Daud Bereueh, Kepala Staf Let- nan Kolonel Tjekmat Rahmany. Markas di Kutaraja. Berkekuatan lima buah resimen. Divisi ini kekuatannya merata dari propinsi sampai desa-desa di seluruh Aceh.
  3. Divisi Rencong Pimpinan Umum A. Hasymy, Panglima Nyak Neh Lhoknga dan Kepala Staf M. Saleh Rahmany. Markas di Lhoknga, Aceh Besar, Kekuatan lima buah resimen dan sebuah resimen wanita "Pocut Baren" dengan Komandan Zahara dan sebuah Batalyon Istimewa Artileri, pimpinan Nyak Neh dan Abdullah Syam. Divis i Rencong ini terkenal memiliki sen- jata berat artileri, yang mampu menghalau pesawat bomber dan pemburu mus- tang Belanda, bila berani melintasi angkasa Kutaraja dan sepanjang pantai Aceh. Meriam dari berbagai ukuran ditempatkan di bukit-bukit yang strategis di sekitar Lhoknga dibantu sejumlah tehnisi Jepang yang bergabung dengan pejuang.
  4. Divisi Tgk. Chik Paya Bakong, Panglima Tgk. Amir Husin Al Mujahid, Wakil Panglima Tgk. Mahmud, Kepala Staf Ajad Musyi dan Ajudan Jenderal Tgk. A. Bakar Amin. Markas di Idi, kabupaten Aceh Timur. Berkekuatan tiga buah resimen dengan sebuah Batalyon "Berani Mati" di bawah pimpinan Panglima Revolusi Tgk. Amir Husin Al Mujahid. Sebuah Batalyon Mobilisasi Wanita pimpinan Ibu Maryam (isteri Tgk. Mohd. Daud Bereueh).
  5. Komando Tentara Pelajar Islam (TPI) Resimen Aceh. Markas di Kutaraja. Komandan Resimen A.K. Jakobi, Wakil Komandan M. Saleh Banta, Kepala Staf Umum M. Hasan Ben dan Wakil M. Amin Hanafiah. Tokoh lainnya Abu Bakar Ibrahim, Ismail Hasan Meutarium, T.A. Mahmudy, Sofyan Hamzah, Thaib Husin, Alyus Iskandar, Ah Yusuf, Ibrahim Risjad, Ismail Suny, Sulaiman Hamzah, Muchtar, Ibrahim Husin, Akta, Said Ibrahim, Nur Nekmat, Muhammadar, Sulaiman Badal, Razali Amin, Abdullah Hasan, A. Thaib, Faida, Ainul Mardhiah Ali, Rohana Hasyim, Halimah Ali, Halimah Majid, Fatimah Umar, Asma A. Wahab, Maria Sagub, Chamsyah, Maryam Hasan dan Ruhamah Bereueh. Kekuatan 6 Batalyon dan sebuah Kompi Pertempuran bergabung dengan "RIMA" di front Medan Area.
  6. Komando Resimen TRIP Aceh, Markas di Kutaraja dengan 5 Batalyon. Komandan Resimen Zulkifli dan Amir Hamzah Ah. Tokoh lainnya Mahyudin Hasyim, Sulaiman Hasyim, Zaqlul, Rush, Zulkarnaen Ah, Amran Zamzamy, Syamsudin Abubakar, Rush Wali, T. Jakob, M. Jananz, T. Umar Ah, Abdullah Ibrahim, M. Salim, Anis Idham, Yusda, Bunsyuraini, dan lain lain.

Untuk menyatukan ketiga Divisi Barisan Rakyat Bersenjata ke dalam TNI di Aceh tidaklah mudah. Masing-masing kesatuan merasa punya hak yang sama untuk memper- tahankan negara dari ancaman musuh. Bahkan ada anggapan yang satu lebih kuat dari yang lainnya.

Pasukan TNI sendiri masih perlu dibersihkan, karena dinilai masih ada bekas KNIL

yang bercokol dan diragukan niat dan kesetiannya kepada Republik.

Juga antara Divisi Rencong dengan Komandan Resimen I Divisi X TNI di Kutaraja terdapat conflict yang tajam. Pernah terjadi Divisi Rencong melarang kehadiran kesatuan dan komandan Resimen I TNI di Kutaraja untuk menyambut Bung Karno di lapangan terbang Lhoknga, yang justru berada dalam wilayah Divisi Rendong. Ini terjadi sewaktu Bung Karno datang ke Aceh bulan Juni 1948.

Hubungan antara Divisi Tgk. Chik Di Tiro dengan pimpinan Divisi Rencong juga kurang mulus.

Pokoknya Barisan Rakyat Bersenjata tidak bersedia dilebur ke dalam TNI. Mereka tidak yakin kemampuan TNI, kalau tidak dibantu oleh Laskar Rakyat Bersenjata. Oleh Sebab itu mereka tidak mau menyerahkan senjatanya. Alasan lainnya karena persen- jataan laskar rakyat lebih kuat dan lebih banyak dari TNI sendiri.

Tugas berat inilah yang menanti penanganan seorang pemimpin militer di daerah Aceh. Dan ternyata kahadiran Tgk. Mohd. Daud Bereueh sebagai Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo adalah tepat.

Ditangannyalah kemudian penyatuan Laskar Rakyat Bersenjata dapat diwujudkan secara kongkret bergabung ke dalam Divisi X TNI dengan beliau sendiri sebagai

Panglima. Panglima lama Kolonel Husin Jusuf terpaksa diistirahatkan sementara.

Kesediaan Laskar Rakyat Bersenjata dibubarkan kesatuannya dan bergabung dalam TNI, merupakan suatu prestasi yang gemilang dari kepemimpinan Tgk. Mohd.

Daud Bereueh sebagai Gubernur Militer.

Setelah beliau memberikan penjelasan tentang tahap dan situasi perjuangan masa itu, seluruh pejuang dengan ikhlas dan taat menerima dan mengikuti perintahnya. Dan sejak itu pula puluhan ribu para pejuang Aceh dari berbagai kesatuan dengan ikhlas kembali ke masyarakat tanpa menuntut imbalan apapun, termasuk tidak menuntut Surat Keterangan Pejuang.

Kalau berpuluh tahun kemudian ada dari kalangan mereka menuntut haknya sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan Rl adalah wajar untuk dipertimbangkan. Sebab

pemerintah telah membuka peluang untuk itu. Karena mereka berhak, tapi mungkin surat keterangan mereka tidak lengkap atau tercecer.

'K "S S -S E 3 £ § ? •

| 1 ^ „ § " M •s ^ | *. 1 „ fe

  • I-Ha*! I §J-lIIllï E-l .5 -Q = 0 5 tt, « < C

Kolonel Sitompul Dicopot, Nyak Adam Protes

Lima bulan kemudian yaitu tanggal 13 Juli 1948, Gubernur Militer memberhentikan dan menahan Kepala Staf Divisi X TNI Kolonel H. Sitompul dan menggantikannya dengan Letnan Kolonel Tjekmat Rahmany (mantan Kepala Staf Divisi Tgk. Chik Di Tiro)

Penahanan pimpinan Divisi yang lama, menimbulkan reaksi dari perwira dan prajurit yang ada di front Langkat Area (KSBO).

Sebuah ultimatum melayang dari front KSBO yang ditujukan kepada Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo/Panglima Divisi X TNI Sumatera, Tgk. Mohd Daud Bereueh (Jenderal Mayor).

Ultimatum ditandatangani oleh Mayor Nyak Adam Kamil selaku Komandan Angkatan Perang Resimen V (KSBO) di Pangkalan Berandan. Isi ultimatum, sebagai berikut: "Diharap dengan sangat agar para anggota staf Divisi X TNI jangan di "arrest" (minta dilepaskan). Kami tidak setuju, karena dengan kekacauan ini keamanan di front tidak terjamin. Kalau penahanan terus dilaksanakan, front akan kami tinggalkan". Demikianlah bunyi ultimatum tersebut. (45-*).

Ultimatum segera ditanggapi Gubernur Militer seraya menugaskan Kolonel H. Sitompul lapor diri kepada Panglima Komando Sumatera di Bukit Tinggi, yang kemudian memperoleh posisi baru di Komando Sumatera di Bukit Tinggi, pimpinan Letnan Jenderal Soehardjo Hardjowardoyo. Sementara kebutuhan-kebutuhan alat per- lengkapan dan logistik untuk keperluan front Langkat Area, segera pula dipenuhi.

Keberhasilan Gubernur Militer, Jenderal Mayor Teungku Mohd. Daud Bereueh menggabungkan semua pasukan rakyat bersenjata ke dalam TNI, tidak luput dari kemam- puan beliau untuk memanfaatkan secara optimal tenaga-tenaga terampil yang berada di sekitar, yang selama ini membantunya.

Susunan Penasehat dan Pembantu terdiri dari sebagai berikut:

A. Penasehat

1. Kolonel R.M.S. Suryosularso Kepala Staf" A" Ajudan Umum Komandemen Sumatera)
2. Letnan Kolonel M. Nazir (Kepala Seksi II Divisi X Komandemen Sumaiera;
B. Pembantu
1. Kolonel H. Sitompul, Kepala Staf Divisi X TNI 2 Kapten SofyanHarun, Staf Komando Artileri Komandemen Sumatera
3. Kapten B. Nainggolan, KMU Polisi Tentara Divisi X TNI
4. Letnan Kolonel Tituler, Jacub Siregar

45-*) Koleksipenulis, Kutaraja, 1950

5 Letnan Kolonel Tituler, Sutikno Padmo Sumarto

  1. Letnan Kolonel Tituler, H.A. Halim Hasan, Anggota DPD Sumatera Timur.
  2. Letnan Kolonel Tituler, Teungku Abdul Wahab, Bupati Pidie.
  3. Mayor Tituler A. Hasymy
  4. Mayor Tituler Nyak Neh 10-Mayor Tituler Hasan Ali. llMayor Tituler Said Abubakar Untuk mengkonsolidasi daerah Republik guna merebut kembali kota Medan yang
    diduduki NICA, maka Gubernur Militer yang merangkap sebagai Panglima Divisi X TNI Komandemen Sumatera menetapkan sejumlah ketentuan sebagai berikut: 1 Pemerintahan Kabupaten Tanah Karo, karena Berastagi dan KabanJahe diduduki Nica, dipindahkan ke Kutacane di Aceh Tenggara dengan mengangkat mayor Jamin Gintings sebagai Wakil Gubernur Militer. 2 Pemerintahan Kabupaten Langkat dipindahkan ke Pangkalan Berandan dengan Waiï Gubernur Militer Kapten NIP Karim dan Teungku Maimun Habsyah. Dis- amping itu, Teungku Maimun Habsyah mengajar juga di Sekolah Menengah Islam (SMI) dan Sekolah Guru Hakim Agama(SGHA) di Kutaraja.

Konsolidasi teritorial Komando Divisi X TNI, juga dilakukan serentak dengan membagi sejumlah sektor dengan masing-masing penanggung jawab.

Keputusan ini diambil berdasarkan hasil rapat Panglima Divisi XTNI dan staf yang diadakan tanggal 22 Agustus 1947 di kota Bireuen, Aceh Utara.

Sektor I dipimpin Letnan Kolonel Hasballah Haji, meliputi daerah pertempuran Resimen Istimewa ' Medan Area da n Langkat Area. Mengkordinasikan Batalyon-batalyon Mayor Wiji Alfisah, Mayor Bur- hanuddin, Mayor NIP M. Karim dan pasukan yang selama ini dipimpin Letkol Hasballah Haji.

Sektor II dipimpin Letnan Kolonel Jamin Gintings, mengkordinasi Batalyon Kapten ' Nelang Sembiring dan Batalyon Kapten Zein Hamid. Mencakup kabupaten Tanah Karo, Deli dan Serdang.

Sektor m dipimpin Letnan Kolonel Ricardo Siahaan, mengkordinasi Batalyon Kapten M. Sitorus dan Batalyon Kapten Buhari. Meliputi daerah Simalungun dan Padang Bedagai.

Sektor IV, dipimpin Letnan Kolonel Kasim Nasution, mengkordiiur batalyon-batalyon Kapten Liano Siregar, Kapten Sukardi dan Kapten Abdul Gam.

Sektor V, dipimpin Mayor Teungku Manyak, mengkodinir batalyon Kapten Minggu, Barisan Gurilla Rakyat (Bagura) pimpinan Tengku Ilyas Lebey dan Teungku Moh. Saleh Adry. Meliputi kabupaten Aceh Tengah dan per- batasan Tanah Karo.

Sektor VI, dipimpin Letnan Kolonel Teuku Cut Rahman, mengkordinasikan Batalyon-batalyon Kapten Daud Hasan, Kapten Ali Hasan A.S. Kapten

A.M. Namploh dan Batalyon Kapten Alamsyah.
Sektor VII, dipimpin Mayor Hasan Ahmad, mengkordinir semua Batalyon yang berada dalam Resimen IV Divisi X TNI.

Sektor VIII, dipimpin Letnan Kolonel A. Wahab Makmur. Mengkordinir Batalyon Kapten B.B. Jalal dan Batalyon Kapten H.M. Syarief. Mencakup daerah yang menjadi tanggung jawab Resimen VI Divisi X TNI.

Sub komando Divisi X TNI dibentuk di Medan (Sumatera Timur) dipimpin Mayor

A.H. Siagian untuk memperlancar tugas komando (46-*).

Alot, Penyatuan TNI Di Aceh

Meskipun Gubernur Militer, Jenderal Mayor Tgk. Mohd. Daud Bereueh berhasil menyatukan semua kelaskaran ke dalam TNI, yang dinilai memang suatu prestasi luar biasa. Namun upaya itu telah melibatkan banyak orang dari semua pihak yang punya relevansi dengan kasus ini.

Pembicaraannya memang berlangsung sangat alot dan serius. Tidak kurang dari sepuluh bulan diperlukan waktu mengkaji masalah yang berat ini, barulah ditemukan titik terang yang melegakan hati kaum pejuang 45. Tapi tidak berarti semuanya telah merasa puas. Karena untuk memberikan kepuasan terhadap semua pihak adalah fatamorgana.

Ini terlihat kemudian dari tersingkirnya Kolonel Husin Jusuf sebagai Panglima Divisi X TNI dan tempat itu langsung dijabat oleh Teungku sendiri, bukan orang lain.

Tapi kemudian, teman-teman dekat Teungku jualah yang mengajukan usul supaya Kolonel Husin Jusuf ditempatkan kembali pada posisinya semula sebagai Panglima Divisi X TNI dan ini pun dipenuhi Teungku.

Pernah bulan Desember 1947, Gubernur Militer Tgk. Mohd. Daud Bereueh men- gundang para Penasehat dan Pembantunya serta pimpinan Divisi X/TRI Komandemen Sumatera. Sedangkan di pihak lain juga diundang pimpinan perjuangan rakyat bersenjata Aceh dan Sumatera Timur.

Masing-masing kesatuan dihadiri para Panglimanya didampingi tiga orang staf, sebagai berikut:

  1. Divisi X/TRI Komandemen Sumatera, diwakili oleh Panglima Kolonel Husin Jusuf dengan tiga staf pendamping.
  2. Divisi Rencong, diwakili oleh Panglimanya Nyak Neh dengan tiga asisten pendamping.
  3. Divisi X/Tgk. Chik Di Tiro, diwakili Cekmat Rahmany didampingi tiga orang staf.
    46-) "Dua Windhu Kodam-1/Iskandar Muda", Kutaraja, 1972.*
X m • 2, Êf>
.5 &>-| J r$ fr<
5 i» "
c S J * »
-3
-« 5 T 5J « ^- n

•§ « * I g

S

^ > Q * s 2 Q

2 • « e £ -° o
§ 15 *o S < Ü £

Q .8 S ti 3 J 2

.£ 5 |* V>i§ £ 131t i •3 5: S >^ 'So s 5 L t! ***! C «** B S h K tn -a c

S'8 11*1 |1

K - £ "3 5 •= X 3 8 a ^ S .3 ^5 "§ "3 ^ c "3 ~ g tX> P ^ « "TS J " t ""<

ë₃1 £ 3 5: is x

a.£ 5 1* " E'.2 § 2j Q « -S Q "3 ° X ' a 5 ra S

13 § 5 I-I I

f <, <~ A bO* «. O S £ R U J8 5^ ï!

  1. Divisi Tgk. Chik Paya Bakong, diwakili pimpinan Ajad Musi dengan tiga orang staf.
  2. Divisi Hisbullah, diwakili oleh pimpinannya Zainal Arifm Abbas dengan tiga orang staf sebagai pendamping. Rapat tersebut langsung dipimpin oleh Teungku Mohd. Daud Bereueh sebagai
    Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo.

Sebagai hasil dari pembicaraan tersebut antaranya disepakati dibentuk sebuah panitia yang diberi nama "Panitia Badan Perancang Pembentukan TNI" dengan susunan sebagai berikut: Ketua Kolone l R.M.S. Suryosularso Pembantu : 1. Jenderal Mayor Tituler Tgk. Amir Husin Al-Mujahid.

  1. Letnan Kolonel Tituler Tgk. A. Wahab.
  2. Letnan Kolonel Tituler Sutikno Padmo Sunarto.
  3. Mayor Tituler Adami.
  4. Mayor Tituler Hasan Ah.
    Panitia Perancang ini melaporkan dan menyelesaikan tugasnya dalam bulan Desember 1947 itu juga. Dalam sebuah rapat khusus yang berlangsung selama empat hari empat malam tanggal 28 s/d 31 Desember 1947 diadakan Sidang Staf Gubernur Militer, disetujui pembentukan sebuah "Dewan Pimpinan Sementara TNI" dengan susunan kepengurusan sebagai berikut: Ketua : Letnan Kolonel Tituler Tgk. A, Wahab. l R.M.S. Suryosularso
Wkl. Ketua Kolone
Penasehat : T.M. Daudsyah (Residen Aceh)

Tuanku Mahmud Residen Inspektur)

T.M Amin (Kepala bagian Pemerintah Umum) Staf Umum. Ketua : Kolonel Suryosularso Anggota : Komandan Div. X TNI Komandemen Sum.
Komandan Divisi Rencong. Komandan Div. X/Tgk. Chik Di Tiro. Komandan Div. Tgk. Chik Paya Bakong.

Seksi-seksi. Organisasi : Kapten B. Nainggolan. Pendaftaran: Kusen Cokrosentoro. Penyaringan: Zaini Bakri. Kesehatan : M. Husin Itam. Pengambilan Tenaga ke Masyarakat : Mahmud Harun Penerangan: Hasballah Daud. Setelah "Dewan Pimpinan Sementara TNI" bekerja selama enam bulan di bawah pimpinan ketuanya Letnan Kolonel Tgk. A. Wahab, maka terbentuklah komposisi dan personalia Komando Divisi X/TNI Komandemen Sumatera. Pembentukannya dilakukan

berdasarkan surat Keputusan Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, nomor

GM-59/5/Pers tertanggal Kutaraja 13 Juni 1948, yang diberlakukan surut sejak tanggal 1

Lengkapnya susunan dan staf Divisi X/TNI Komandemen Sumatera adalah sebagai

Juni 1948.

berikut: Panglima Divisi :

Kepala Staf : Kep. Seksi I/Operasi : Kep. Seksi II/Organisasi : Kep. Seksi III/Penyelidikan : Kep. Seksi IV/Artileri : Kep. Seksi V/Genie : Kep. Seksi VI/Kesehatan : Kep. Seksi VII/Angkutan : Kep. Seksi Vffl/Polisi Militer : Kep. Seksi IX/Perhubungan : Kep. Seksi X/Administrasi : Kep. Jawatan Intendance : Kep. Jawatan Penerangan : Kep. Jawatan Agama :

Jenderal Mayor Tgk. M. Daud Bereueh, kemudian dilanjutkan oleh Kolonel Husin Jusuf Letnan Kolonel Cekmat Rahmani. Letnan Kolonel Cekmat Rahmani. Letnan Kolonel M. Nazir. Kapten A. Bakar Madjid. Mayor Nyak Neh. Mayor Hasan Ahmad. Mayor dr. Sudonö.

- Mayor T. Hamzah. Mayor A. Muzakir Walad. Letnan Satu T. Ibrahim. Kapten M. Husin. Kapten M. Adam. Mayor A.G. Mutiara. Mayor Z. Arifm Abbas.

Resimen yang tergabung dalam Divisi X/TNI ini sebagai berikut:

a. Resimen I berkedudukan di Kutaraja. Komandan : Letnan Kolonel Hasballah Haji. Kepala Staf: Mayor T.M. Syah.
b. Resimen II berkedudukan di Bireuen. Komandan : Mayor Cut Rahman. Kepala Staf: Mayor Alwin Nurdin.
c. Resimen III berkedudukan di Meulaboh Komandan : Mayor T. Manyak Kepala Staf: Kapten Ibrahim Hatta.
d. Resimen IV berkedudukan di Kutacane Komandan : Mayor Jamin Gintings. Kepala Staf: Mayor Nelang Sembiring.
e. Resimen V berkedudukan di Kuala Simpang. Komandan : Letnan Kolonel A. Wahab Makmur. Kepala Staf: Mayor Alamsyah. (47-*)

Kolonel Husin Jusuf Minta Diaktifkan Kembali

Beberapa bulan kemudian, tepatnya tanggal 8 Agustus 1949 datang sebuah resolusi dari teman dekat Teungku. Judulnya diberi nama "Keputusan". Isinya minta supaya Gubernur Militer mengangkat kembali Letnan Kolonel Husin Jusuf, sebagai Panglima Divisi X TNI Komandemen Sumatera.

Resolusi ditandatangani oleh tidak kurang dari 29 tokoh masyarakat yang dikenal akrab dengan Tgk. Mohd. Daud Bereueh.

Sebagai Panitia Pelaksana untuk memperjuangkan resolusi ini dibentuk sebuah badan.

Lengkapnya isi resolusi terlukis sbb. (48-*).

47)* , "Dua Windu Kodam-I/Iskandar Muda", Penerbit Sejarah Militer Kodam- ï/ïskandarMuda, Kutaraja, 1972.

48-*) Koleksipenulis, Kutaraja, 1972.

KEPOETOESAN

Pada ini malam 7 dan 8 Agustus 1949 kami atas nama diri masing- masing dan atas nama orang perdjuangan jang sefaham dalam rapat permoesjawaratan jangberlangsoeng sedjak kemarin malam 6/7 Agustus 1949 telah mengambil kepoetoesan sebagai berikoet dibawah ini.

  1. Mengoesoelkan dengan perantaraan Goebernoer Militer soepaja Letkol. Husin Jusuf diangkat djadi Komandan Divisi X TNI.
  2. Seloeroeh kami bertanggoeng djawab atas segala akibatnya.
  3. Sebagai panitia pelaksanaan dalam hal ini ditetapkan : Ketoea Tengk
    u Abdul Wahab.

Secretaris : T.M. Amin.

Anggota 2 Toean : 1. Hasan Aly.

  1. H. Aboe Bakar Ibrahim.
  2. Zaini Bakri.
  3. Hoesin Almoedjahid.
  4. Abdul Gani.

    Kami jang bertanggoeng djawab. (tandatangan)

  5. Tgk. Abdul Wahab, 2. Tgk. Hoesin Almoedjahid, 3. Abdul Gani, 4. Peutua Hoesin,

  6. Hasan Aly, 6. Zaini Bakri, 7. Tgk. M. Noer, 8. Tgk. Hasan Hanafiah, 9. Said Mohd. Idroes, 10. Tgk. Jahja Badin, 11. M. Joesoef Hasjimy (Berawang), 12. A.R. Hasjim,
  7. Tgk. Soelaiman Daoed, 14. Gani Adam, 15. Alamsyah, 16. T. Manjak, 17. Omar Hoesny, 18. Hoesin Sab, 21. Ahmad Abdoellah, 22. TM. Amin, 23. Ibnoe Sa'adan dan
  8. Effendie.

    (Lima nama lainnya kurang jelas).

heporloisin.

1,ats dii m Pada vi man 1

dan atus nama runy perdjamn ing sefiham

sidzuh ki iLapat permreojawrunala ienempenng scva ….ceijivictocsin

ratam b/y-8-14y venikvet diosvah eini: 1. Meroesoeer dega Jranie

tianyhai dgisi mandan tannidjuwas alss segaia p akitatnga

dulow hel ni vlite-

vibamaponitiaa priekn

  1. Kitocu: eretunIT. M. Cmmi
  2. NE ame Bdr Inah
    ilyyote?

s. Zamin bamn.
..

1.
jarab: Kui 三. 0 I 一 sn 16 5cacama KirSAN-Ay

. 1

ハーハー 1Th Suelminan Faud

y/10 %dinman81 Zxini makri 5 2

dimma10 rma..-.wani aname

(c58am. A 19 1

1 14 1 127 f1 Petorallie. li 上 ijh itas. n bre.. pin18 alànoja alrs. Said Miand.Idren 1(Habib Poetin) 6 2/61-· 19

L.2

iov7b4 sich anos

15 Tik.!aia Bedin- 120 7 沃 20 14 MANIAK bir Ccvion. C Mo.ef desjray 1a()

Panglima di resolusi (Foto Koleksi "Aki")

BAB

ACEH DAERAH MODAL, SEBUAH " ALTERNATIF "

  • Gar a-gara " Renville "
  • R l " Ditikam " Dari Belakang.
  • Lahirnya PDRI.
  • Mandat Untuk Dr. Sudarsono di India.
  • Kolonel Hidayat, Panglima Sumatra.
  • " H. J. Bop " Sang Panglima.
  • " Angan-angan " Van Mook.
  • Ace h Daerah Modal.

JAGM HAA E SEAMAJA"HAUI

ellivneR sg -8O D gnlsb8.hamomd”IA 口 q symlalD .sibnl ib ononsbu. a0. MumU JabneMD sntemu8 smilgneq feysbiH lanolpXE

JooM daV pha-mgnA” JeboM ristesd reaA □

Gara-gara "Renville"

Lahirnya persetujuan Renville yang ditandatangani tanggal 17 Agustus 1948, ter- nyata telah menimbulkan pro-kontra yang menjurus ke arah retaknya persatuan di kalangan republikein.

Dalam persetujuan diakui kekuasaan de jure Belanda atas Indonesia dan Belanda mengakui kekuasaan de facto Indonesia atas pulau Jawa dan Sumatera.

Disetujui juga penarikan gerilyawan dari kantong-kantong dan disyahkan apa yang disebut "Garis Van Mook" yang merugikan Tentara Nasional Indonesia.

Reaksi yang tajam ditujukan kepa^' i Mr. Amir Sjarifuddin, Perdana Menteri, yang menandatangani persetujuan itu dari pihak Indonesia. Begitu sengitnya reaksi dan korek- si, sehingga kabinet Amir Sjarifuddin bubar.

Tanggal 29 Januari 1948 segera terbentuk kabinet Hatta untuk menanggulangi perpecahan dan keadaan khaos yang menimpa kehidupan politik dan ekonomi Indonesia.

Mr. Amir Sjarifuddin, yang tadinya bertanggung jawab sebagai penandatangan persetujuan Renville, akhirnya turut menentang dan bersama Front Demokrasi Rakyat (yang kiri) melakukan oposisi yang tajam terhadap Kabinet Hatta.

Dalam dua buah perundingan yang melahirkan persetujuan Linggarjati dan Renville, jelas Belanda memaksakan kehendaknya. Perundingan tersebut tidak lebih dijadikan sebagai taktik untuk menarik nafas guna mempersiapkan aksi meliter berikut- nya, diiringi konsolidasi ekonomi, militer dan politik Belanda.

Pasca perundingan "Linggarjati", secara politik Belanda mencoba melemahkan posisi Rl dengan mendirikan negara bonekanya di kawasan Indonesia bagian Timur, seperti "Negara Indonesia Timur" dibentuk tanggal 25 Desember 1946. "Negara Kaliman- tan Timur" dibentuk Van Mook tanggal 12 Mei 1947 dan "Negara Borneo Tenggara" dibentuk 27 Mei 1947.

Pasca perundingan "Renville" upaya Belanda mengepung Rl dengan mendirikan sejumlah negara "boneka" di daerah de facto Rl, yaitu di pulau Jawa dan Sumatera.

Negara Madura dibentuk tanggal 23 Januari 1948. Negara Sumatera Timur dibentuk tanggal 24 Maret 1948. Negara Pasundan dibentuk Tanggal 26 April 1948. Juga Negara Jawa Timur dan Negara Sumatera Selatan turut menyusul.

Di Aceh, Van Mook menyebarkan pamflet dari udara yang berisi ajakan memben- tuk Negara Islam Aceh lepas dari RL Selebaran itu dibakar karena menghina Aceh oleh Tgk. Mohd. Daud Bereueh.

Republik Indonesia "Ditikam" Dari Belakang

Upaya Belanda untuk realisasi persetujuan yang dibuat di atas kapal Renville di Teluk Jakarta, tampak jelas hendak mengisolir Rl dari negara-negara "boneka" yang

mengadakan "Konperensi Federal" di Bandung tanggal 29 Mei 1948. Selanjutnya dalam pertemuan tanggal 12 Juli 1948 kaum federal ini menyetujui apa yang disebutnya "Resolusi Bandung", yang mengharapkan tanggal 1 Januari 1949 Negara Indonesia Serikat (NIS) telah terbentuk dengan "Mahkota Belanda" duduk di atas sebagai pimpinan beranggotakan Rl dan anggota BFO.

Dalam konsep ini juga dijelaskan peranan kedepan akan diatur oleh Tentara Federal.

Tentu saja konsepsi ini tidak dapat diterima oleh Republik dan Belanda tampak mulai memperlihatkan belangnya.

Dalam konteks ini Panglima Besar Sudirman mengeluarkan sikap dan garis Angkatan Perang Rl, sebagai berilkut:

  1. Tentara Federal ditolak di bawah komando/pimpinan tentara Belanda atau asing.
  2. Tentara Rl wajib berdiri tegak sebagai satu tentara dari satu negara yang mer- deka dan berdaulat.
  3. Jika dalam susunan Negara Indonesia Serikat dibentuk tentara Federal, maka Tentara Rl lah yang harus dijadikan eksponen dan tenaga intinya. Melihat wibawa dan kepemimpinan Soekarno-Hatta masih dapat mengungguli
    tokoh-tokoh kaum Federal bentukan Van Mook. Dengan lain perkataan, jiwa nasionalis asli masih mekar dalam jiwa dan dada putera-putera di daerah BFO, maka konsep Van Mook untuk menghadapkan Soekarno-Hatta dengan rekan-rekannya di daerah menjadi gagal total. Negara RIS kemudian berbalik dan semua sepakat kembali ke negara Kesatuan Rl, kecuali Sultan Hamid seorang yang membangkang.

Kecenderungan yang di luar perkiraan Van Mook ini, menyebabkan perundingan untuk merumuskan pelaksanaan persetujuan Renville yang berat sebelah, mengalami jalan buntu.

Kekecewaan Belanda ini mulai terlihat jelas ketika Kabinet Belanda menyatakan sejak tanggal 11 Desember 1948 tidak terikat lagi dengan perjanjian Renville.

Disusul pernyataan Wakil Tertinggi Mahkota Belanda di Indonesia Dr. Beel, yang menggantikan kédudukan Dr: Van Mook, secara resmi menyatakan Belanda tidak men- gakui lagi persentujuan Renville. Kemudian datanglah hari yang naas itu, tanggal 19 Desember 1948 pukul 03.00 Letnan Jenderal S.H. Spoor memerintahkan pasukannya menyerbu Yogyakarta dan menangkap Soekarno-Hatta.

Pasukan Belanda di semua front di Jawa dan Sumatera diperintahkan melabrak garis status quo secara blizkrieg dengan sekaÜ pukul diharapkan dapat menghabiskan perlawanan TNI dan sekaligus melumpuhkan Republik Indonesia. Kecuali satu-satunya front yang tidak diserang serdadu Belanda pada awal agresi militer kedua itu adalah sektor barat/utara front Medan Area yang dipertahankan oleh RIMA pasukan dari Aceh.

Tapi pantai-pantai pesisir Aceh di bagian utara tidak luput dari intaian patroli kapal laut Belanda yang saling baku tembak.

Nafsu Belanda untuk menghabisi Republik tak pernah kendor. Bahkan pukulan itu diberikannya pada saat Republik sedang menghadapi pemberontakan PKI-Muso di Madiun, yang terjadi tanggal 18 September 1948.

Dua buah serangan yang ditujukan kepada Indonesia dari dalam (PKI-Muso) dan dari luar (agresi militer kedua Belanda) benar- benar merupakan ujian yang berat. Namun Republik Indonesia tetap survive, tetap hidup dan berjaya. Karena seluruh rakyat sudah bangkit kesadaran nasionalnya, tahu kewajibannya dan sama-sama berjuang memper- tahankan kemerdekaan bangsa-negara. Biar Soekarno-Hatta ditangkap oleh serdadu Belanda di Yogyakarta. Biar para pemimpin Republik lainnya ditawan oleh Belanda, tapi rakyat dan ABRI di bawah pimpinan Jenderal Sudirman berjuang terus, siap bergerilya bertahun-tahun sampai Belanda yang kewalahan dan mundur sendiri.

Karena rakyat sudah bergerak, bertindak, akhirnya pemberontakan PKI-Muso di Madiun dapat digulung. Begitu juga serbuan agresi militer Belanda dihadapi dengan teknik yang spesifik. Yaitu perang gerilya jangka panjang. Pokoknya mereka boleh masuk hanya sebatas kota-kota saja. Karena mereka menyerang dengan senjata moderen yang tak seimbang dengan persenjataan kita. Kita perlu melakukan penyesuaian, memetik pengalaman dari agresi militer pertama sebelumnya.

Kalau dalam agresi militer pertama, pasukan kita mundur secara terburu-buru karena kaget, maka dalam agresi militer kedua, pasukan kita mundur secara teratur. Dari lokasi baru itulah disusun perlawanan gerilya, yang membuat pasukan Belanda terbirit- birit mengcover luasnya wilayah dan terbatasnya sumber daya manusianya.

Sepanjang tahun 1948 nyata sekali Belanda lebih agresif melakukan upaya untuk membungkam dan melumpuhkan Republik. Terutama sejak ditandatanganinya per- setujuan "Renville", di bawah tekanan Belanda yang ambisius. Perundingan dan pertem- puran adalah dua media yang dipakai Belanda untuk menghapus Rl dari peta dunia. Tapi upaya kolonial itu gagal total.

Lahirnya PDRI

Untuk mengantisipasi situasi politik dan militer yang semakin genting menghadapi Belanda; sebuah sidang kabinet Rl'telah membahas dan mempersiapkan rancangan dibentuknya pemerintahan darurat Republik Indonesia di Sumatera atau di India (luar negeri). Tindakan ini diambil, bilamana serdadu Belanda menyerang dan menduduki ibukota Rl di Yogyakarta.

Sidang kabinet tersebut dipimpin Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Drs. Moh. Hatta. Ternyata ramalan itu menjadi kenyataan. Ibu kota Rl di Yogyakarta diserbu secara tiba-tiba dan terus dikuasai serdadu Belanda. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Drs. Moh. Hatta bersama Haji Agus Salim ditahan dan diasingkan ke pulau Bangka. Para anggota kabinet lainnya ada juga yang sempat ditangkap, tapi yang ter- banyak menyingkir ke luar kota untuk berjuang. Jenderal Sudirman yang sedang dalam

keadaan sakit memutuskan hijrah ke pedalaman bersama rakyat untuk memimpin perang gerilya. . Sebelum Soekarno-Hatta ditawan, masih sempat mengirimkan intruksi kepada Menteri Kemakmuran Rl Sjafruddin Prawira Negara, yang sedang berada di Bukit Tinggi. Isi instruksi tersebut bersifat khusus dan ditandatangani oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta, sebagai berikut:

"Kami Presiden Republik Indonesia memberitahukan, bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 jam 06.00 pagi Belanda telah mulai serangannya atas Ibukota Jogyakarta. Jika dalam keadaan Pemerintah tidak dapat menjalankan kewajibannya lagi, kami menguasakan kepada Mr. Sjafruddin Prawira Negara, Menten Kemakmuran Republik Indonesia untuk membentuk Pemerintahan Republik Darurat di Sumatera". Yogyakarta, 19 Desember 1948 Presiden Waki l Presiden

Soekarno Muhamma d Hatta

Mandat Untuk Dr. Sudarsono di India

Di samping instruksi untuk Mr. Sjafruddin Prawira Negara di Bukit Tinggi, Dwi Tunggal Soekarno-Hatta memberikan juga mandat kepada trio Dr. Soedarsono-Palar-Maramis dengan alamat New Delhi, India. Bunyi mandat, sebagai berikut: Pro : Dr. Soedarsono-Palar-Maramis, New Delhijndia. Kami Presiden Republik Indonesia memberitakan, bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948jam 6 pagi, Belanda telah mulai seranganya atas Ibukota Yogyakarta.

Jika ikhtiar Mr. Sjafruddin Prawira Negara untuk membentuk Pemerintah Darurat

Republik Indonesia di Sumatera tidak berhasil, kepada saudara-saudara dikuasakan untuk membentuk "Exile Government of Republik Indonesia " di India.

Harap dalam hal ini berhubungan dengan Sjafruddin di Sumatera. Jika hubungan tidak mungkin, harap diambil tindakan-tindakan seperlunya.

Yogyakarta, 19 Desember 1948

Presiden Waki l Presiden Soekarno Mohamma d Hatta

三 三 三 三

SjafmddinPrawiranegara

Ketua PDRI/Wk. PM.

BUNG HATTA KEACEH. Beliau mundar mandir Yogya-Bukit Tinggi Kutaraja mencari Ketua PDRI Syafruddin Prawiranegara, S.H. Wakil Presiden tgl. 5 Juni 1949 pertama-tama singgah di Kutaraja, dtsambut di lapangan terbang Blang Bintang dengan kehormatan militer seperti yang terlihat pada dua gambar di atas. Satu-satunya wilayah Rl yang tidak diduduki Belanda, domisili terakhir Ketua PDRI Sjafruddin Prawiranegara, S.H. Ketua PDRI itu menyatakan tidak mengakui persetujuan "Rum-Royen" untuk berunding. Ia akan meneruskan perang gerilya dari Aceh. Ternyata saat itu Ketua PDRI itu sedang berada di luar Aceh dan Bung Hatta mencarinya di Sumatera Barat. Setelah berdialog dengan Bung Hatta, Ketua PDRI dapat menerima persetujuan "RUM-ROYEN" dengan beberapa syarat tertentu. Seperti diketahui selama Ketua PDRI itu berdomisili di Kutaraja selama perang gerilya, berkantor di sebuah bangunan rumah yang terlihat dalam gambar terbawah, terletak di arah depan (kiri) Pendopo Gubernuran (Mahligou). Kiranya sudah waktunya bangunan itu dipugar sebagai pewnggalan sejarah nasional yang penting dengan mengumpulkan dan memelihara barang-barang yang pernah dipakai. (Repro/Koleksi Toto "Aki").

Seperti diketahui, kedua mandat yang dikeluarkan Dwi Tunggal Soekarno-Hatta untuk Sjafruddin di Bukit Tinggi dan Soedarsono dan kawan kawan di India telah pernah dibahas dalam sebuah sidang kabinet Yogyakarta dan telah disepakati bersama.

Pertimbangan mengambil kesimpulan tersebut, didasarkan kepada adanya indikasi yang jelas, bahwa perundingan demi perundingan dengan Belanda selalu diliputi jalan

buntu. Suatu waktu mereka pasti akan melakukan agresi untuk memberi pukulan kepada Republik.

Antisipasi "Founding Fathers" itu tepat. Apa yang diramalkan sebelumnya jadi kenyataan. Dengan kata lain, Bapak-bapak Pendiri Kemerdekaan Indonesia itu, telah

siap menghadapi segala kemungkinan yang datang dari pihak kolonial Belanda. Ter- masuk agresi Belanda yang kedua itu.

Ada terbetik berita kemudian, bahwa Mr. Sjafruddin tak pernah menerima instruksi di atas dari Soekarno-Hatta. Tapi karena masalah itu pernah dibahas dalam sidang kabinet, maka keputusan itulah yang dijadikan pegangan dan pedoman bertindak pada waktunya.

Sebagai tindak lanjut instruksi Presiden Rl tersebut, tanggal 28 Desember 1948 Mr. Sjafruddin Prawira Negara mengadakan rapat pembentukan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Rapat diadakan di sebuah kantor di lingkungan perkebunan teh di wilayah

Halaban, kabupaten 50 koto, dihadiri oleh rombongan Menteri Sjafruddin yangberkun- jung ke Sumatera Barat dan para tokoh masyarakat setempat.

Dalam rapat itu Mr. Sjafruddin Prawira Negara mengumumkan susunan PDRI, sebagai berikut:

1. Mr. Sjafruddin Prawira Negara. Ketua PDRI merangkap Menteri Penerangan/Luar Negeri
2. Mr. T. Mohammad Hassan. Wakil Ketua PDRI merangkap Menteri Dalam Negeri/ Menteri PPK dan Menteri Agama.
3. Mr. St. Mohd. Rasjid. Menteri Keamanan merangkap Menteri Sosial/Menteri Pembangunan dan Pemuda.
4. MrLukman Hakim Menteri Keuangan/Menteri Kehakiman.
5. Ir. M. Sitompul Menteri Pekerjaan Umum/Menteri Kesehatan.
6. Ir. Indracaja Menteri Perhubungan/Menteri Kemakmuran.
7. Maryono Subroto Sekretaris Kabinet PDRI. Ibukota PDRI mula-mula ditetapkan di Bukit Tinggi. Bulan Agustus 1949 dipin- dahkan ke Kutaraja (Aceh) karena Sumatera Barat dikepung pasukan Belanda,

sehingga PDRI berpindah-pindah menghindari serangan pasukan Belanda, yang akhirnya hijrah ke Kutaraja (Banda Aceh sekarang) (49-*).

Kolonel Hidayat, Panglima Sumatera

Untuk memutar roda pemerintahan PDRI, Mr. Sjafruddin Prawira Negara telah menginstruksikan kepada seluruh aparatur pemerintahan yang masih berfungsi untuk melanjutkan tugas-tugas yang rutin.

Sedangkan tugas koordinasi untuk pulau Jawa dibentuknya Komisariat PDRI pimpinan lima serangkai Susanto Tirtoprojo, SH., I.Y. Kasimo, K.H. Masjkur, Supomo dan R.P. Suroso.

Pimpinan Angkatan Perang tetap dikukuhkannya Jenderal Sudirman sebagai Panghma Besar Angkatan Perang Republik Indonesia. (APRI).

Panglima Tentara & Teritorium Jawa, Kolonel A.H. Nasution, Panglima Sumatera

R. Hidayat menggantikan Suharjo Hardjo Wardoyo, Letnan Jenderal. Kolonel laut M. Nazir memimpin Angkatan Laut. Kolonel Udara H Sujono memimpin Angkatan Udara dan Komisaris Polisi Umar Said memimpin Kepolisian Negara. Mr. S.M. Amin ditetapkan sebagai komisaris Sumatera Utara. Sedangkan Jenderal Mayor Tgk. Mohd. Daud Bereueh dikukuhkan sebagai Gubernur Militer Aceh Langkat dan Kabupaten Karo. Dr. F.L. Tobing ditetapkan sebagai Gubernur Militer Tapanuli dan Sumatera Timur bagian Selatan.

"HJ. BOP" Sang Panglima

Melihat upaya Belanda semakin gencar memperluas daerah pengaruhnya di Sumatera Timur bagian Selatan, maka kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Panghma Divisi X TNI Komandemen Sumatera, Kolonel Husin Jusuf untuk melakukan konsohdasi seluruh pasukan dalam jajarannya, terutama pasukan yang bergerilya di kabupaten Langkat dan Tanah Karo. Dua wilayah kabupaten Sumatera Timur yang termasuk dalam slogarde Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo.

Panghma Husin Jusuf, yang akrab dengan panggilan "HJ. Bop" (Husin Jusuf Bopeng, wajahnya penuh bopeng-bopeng) terus menerus melemparkan pasukan gerilya rakyat dan para pejuang ke kancah pertempuran di front Langkat Area dan front Tanah Karo. Taktik perang gerilya dalam rangka pertahanan rakyat semesta ini cukup efektip dan membuat pasukan Belanda kewalahan, untuk mengalihkan perhatian, Belanda menempuh siasat baru dengan mengadakan serangan dari belakang berupa pemboman dan penembakan yang gencar dari uadara dan kapal laut. Kota-kota yang menjadi sasaran utama adalah Langsa, Lhok Seumawe, Sigli dan Kutaraja.

*^r!"TT'1Du?, Yin^u Koda^-illskandar Muda", penerbit Sejarah Militer

Kodam Iskandar Muda, Kutaraja, 1972. J mumsr

Panglima Sumatera ini berhasil memotivasi para pejuang dan pemuda dengan menterapkan "Perang Rakyat Semesta" berdasarkan Doktrin Perang Wilayah, sehingga Belanda sendiri terpojok, meski pun memiliki persenjataan moderen. Tekniknya menghindari perang frontal, mengajaknya perang gerilya dengan mengganggu lokasi dan posisi mereka. Sistem ini memerlukan "nafas panjang", personil yang banyak dan waktunya yang cukup longgar. Sedangkan konsep Van Mook ingin menyelesaikan perang ini buru-buru, mereka tidak punya waktu, karena dikejar hutang dan tekanan PBB yang kian mendesak. Menurut perhitungan Dr. Van Mook, kalau tanggal 1 Januari 1949 Negara Indonesia Serikat (NIS) belum juga terbentuk dengan

R HIDAYAT, Letnan Jendend Belanda sebagai Ketua Uni
(Purn) Panglima Komando Indonesia-Belanda, maka berarti
Sumatera periode Clash II untuk ia gagal. Dan kegagalan inilah
mengkonsolidasi dan yang menyebabkan Belanda
mengkoordinasi pelaksaan harus menyerahkan kedaulatan
"Perlawanan Rakyat Semesta" Indonesia dalam Konferensi
berdasarkan Dokrin Perang Meja Bundar (KMB) yang
Wilayah untuk seluruh berlangsung akhir Desember
Sumatera dengan Aceh sebagai 1949 di Den Haag.
terugval basis. (Koleksi Foto "Aki").

Karena pertahanan pantai kita cukup tangguh, serangan dan penembakan Belanda selalu dapat dihalau. Sekedar mengidentifikasi pertahanan pantai dan pertahanan udara, sesuai dengan rencana taktis Komando Divisi X TNI, maka lokasi Battery-Battery artileri dari Komando Artileri Divisi X cukup handal/mantap. (Lihat buku "Dua Windhu Kodam- I/Iskandar Muda" halaman 150/Buku "Pasukan Meriam Nukum Sanany₅ halaman 269-270 dan Kisah Pelaku Sejarah Buchary AS, Mayor Purn. dengan judul "Peranan dan Perkem- bangan Artileri dalam Revolusi Fisik di Daerah Aceh 1945-1950"). Organisasi Kesatuan Artileri Divisi X TNI adalah sebuah kesatuan yang disegani oleh pesawat pemburu-pemburu Belanda, terutama yang berlokasi di Lhok Nga dan Kutaraja sekitarnya. Sebagai Komandan Kesatuan Artileri/alat-alat berat artileri adalah Mayor Nyak Neh (Mantan Panglima Divisi Rencong). Wakil Komandan Kapten Nukum Sanany (TRI/TNI). Dibawahnya terdapat empat battery yang mengawal pertahanan udara dan pantai-pantai strategis.

a. Battery I Terletak di sekitar ibukota propinsi Tanah Rencong, yaitu Kutaraja (Banda Aceh sekarang).

Komandannya Letnan Satu Jalaluddin (TRI).

Tugasnya mengawal dan berjaga-jaga menghadapi kemungkinan serangan tiba-tiba dan menghambat/memberikan perlawanan bilamana musuh mencoba lakukan serangan

ke ibukota, Tanah Rencong. Daerah steling Battery I diperkuat oleh berbagai bentuk senjata berat seperti 2 (dua) pucuk meriam 25 ponder kaliber 9 cm. Menempati daerah kampung Cot Gu di sebuah lereng gunung yang strategis sekitar 7 km dari Kutaraja. Sebelumnya di daerah ini ditempatkan hanya sebuah 18 ponder di Pantai Ladong. 1 (satu) pucuk meriam pertahanan udara (PSU) boffors kaliber 40 mm menempati Kampung Lham Peunerut, Simpang Empat ke Cot Gu-Lhambaro-kota-Mate'ie. Sebelumnya ditempatkan di Simpang Tiga Lham Nyong. Komandan pucuknya Buchari AS (Mayor Purnawirawan) sekarang masih hidup segar bugar di jalan Binjai, Medan.

b. Battery III

Mengkover sektor Ulee Lheue, Lhok Nga sampai ke Lhok Seudu (jaraknya sekitar

30 km). Komandannya Letnan Dua Abdul Syam.

Tugasnya mempertahankan lapangan terbang militer Lhok Nga, pelabuhan kapal Ulee Lheue dan Kutaraja dari serangan udara. Menembaki semua kapal perang musuh yang berani mendekat ke perairan wilayah pantai Aceh. Daerah steling Battery III diperkuat oleh 2 (dua) pucuk meriam penangkis serangan udara (PSU) kaliber 7 cm masing-masing berada di bukit Gura dan bukit Glee Genting. Kedua pucuk meriam ini dipimpin M.D. Nurdin.

Kemudian 2 (dua) pucuk meriam lagi (PSU) 7 cm masing-masing terletak di bukit Kedei Bieng dan Aneuk Glee.

Kedua pucuk meriam ini dikawal oleh Divisi Rencong Lhok Nga. Selanjutnya 2 (dua) pucuk meriam (PSU) kaliber 20 mm laras kembar (pom-pom) khusus men- gamankan lapangan terbang Lhok Nga. Yang satu pucuk diberi beroda empat agar dapat ditarik dan berpindah-pindah tempat.

Masih ada 2 (dua) pucuk meriam pengawal pantai kaliber 15 cm. Satu pucuk terletak di pantai Lham Po'uk dan satu lagi diberi roda empat ditempatkan di pantai Lhok Seudu (jurusan Aceh Barat).

Ada sebuah pertempuran yang menarik di Glee Gura (Bukit Gura). Glee Gura adalah sederetan bukit-bukit yang membentang antara Lhok Nga dengan pelabuhan Ulee Lheue di pantai Kutaraja.

Diantara lereng Glee Gura terdapat satu bukit kecil yang strategis. Pandangan sangat indah menembus pantai Ulee Lheue dan sebagian pantai bagian barat Lhok Nga. Bukit kecil itu dinamakan Glee Seumpi. Di sinilah steling meriam PSU didudukkan agar dapat dengan mudah menembak kapal perang yang berani lalu lalang di perairan atau pun pemburu mustang Belanda yang sering melintas dari arah Sabang menuju Ulee Lheue.

Sebutan Glee Seumpi jarang didengar, yang lebih popuier dikenal Glee Gura. Atau lengkapnya disebut Pos Pertahanan meriam 18 ponder di Ujong Batee. Hanya bedanya benteng Ujong Batee lebih menjorok ke laut.

Pertempuran bermula dari serangan sebuah kapal perang jenis Jan Van Gallen. Terjadi di subuh hari dalam bulan puasa tanggal 12 Juli 1949.

Tiba-tiba kapaLperang-Belanda memuntahkan pelurunya menghujani pantai dan pelabuhan Ulee Lheue. Juga tak luput menjadi sasaran asrama tentara. Dalam asrama tentara tersebut terdapat juga sejumlah tentara Jepang yang berpihak kepada RL Seorang diantaranya bertindak sebagai penasehat teknis senjata berat, namanya Bustami. Tadinya bernama Itami San. Komandan Artileri Ulee Lheue, Letnan M.D. Nurdin bersama Bustami segera menyusun suatu steling bayangan (tipuan) dari pantai Ceuremin sampai ke pantai pulau Lham Tong.

Di bekas benteng Jepang pantai Ceuremin dibuat meriam bayangan dari batang kelapa. Juga di sejumlah tempat di tepi pantai Ulee Lheue dibangun hal yang sama. Di tiap-tiap benteng meriam diletakkan bom-bom beneran, yang dapat düedakan dengan

X 8^3 *

•8 S ^ § I

£ J ^ I •§

| o _ É S Ï
§ J X | ^

: 1 ^ J ^ .fc o £-< « s

^1 ^ | "5 £

<-0 ^ -J ^ O 1

O 3 ^ ^ 3 X ***""-• "S! ^)** 3 L. » § Q CT) s •xs S $ -3 O §- o g „ K « ^< O

I 1 § I -8 5 g

  • 11 g " * I s < tn « G 3 Q ~— 5 | ,8 ^ -§ | e, ^ £ -5 5; £ 5
    2)1

tali penarik jarak jauh, seolah-olah meriam asli sedang menembak persis dengan bunyi ledakan sebuah meriam yang memuntahkan pelurunya.

Aksi seperti ini memang sudah sering dilakukan dan selalu dalam keadaan siap.

Bersamaan dengan serentetan ledakan meriam yang bersahut-sahutan dari pantai Aceh, menggelegar pula dentuman meriam benaran dari Glee Gura. Melihat gencarnya tembakan dari pantai akhirnya kapal perang Belanda itu menarik diri. Namun sesaat kemudian muncul di udara empat buah pesawat terbang Mustang yang bercocor merah. Pertempuran berkecamuk tak dapat dielakkan. Dengan gagah berani pelayan-pelayan meriam di Glee Gura pimpinan Sersan Hamzah Saat dengan cekatan menembakkan pelurunya dibantu oleh senjata berat dari Battery I, sehingga akhirnya pesawat Mustang itu kabur ke arah pulau Sabang. Bantuan tembakan dua meriam 25 ponder kaliber 9 cm dan 1 pucuk meriam penangkis serangan udara (PSU) dari basis Kampung Lham Peunerut cukup efektif. Tampak sebuah di antara pesawat pemburu terkena tembakan dari bawah dan asap mengepul dari salah satu sayapnya. Karena parahnya diduga pesawat itu jatuh ke laut sebelum mencapai pulau Sabang.

Kerugian di pihak kita seorang prajurit bernama Jakfar syahid dan prajurit Ali Diman menderita luka berat/cacad. Sewaktu kunjungan Bung Karno ke Tanah Rencong, tidak lama setelah Negara Kesatuan terbentuk, beliau sempat memberikan Bintang Gerilya kepada prajurit Ali Diman. Konon inilah bintang Gerilya pertama yang dianugerahkan Presiden Soekarno kepada seorang pejuang 45 di bumi Iskandar Muda.

Selama konfrontasi dengan Belanda dalam agresi militer II, Battery III di Lhok Nga saja mengalami tidak kurang dari 40 kali serangan/pertempuran laut dan udara dengan pihak Belanda. Hasilnya antara lain, kapal perang sejenis "Jan van Gallen" tembus bagian badannya kena tembakan dan deknya hancur.

Kapal "Jan van Bukker" rusak dan runtuh deknya bagian belakang. Kapal Patroli "Banda" rusak dan terbakar. Sebuah pesawat terbang "Yager" kena tembak dan masuk laut. Sebuah pesawat terbang Catalina kena tembak sebuah mesinnya dan ngacir ke Sabang (50-*).

c. Battery II Lokasinya di Rantau, Kuala Simpang, Aceh Timur.

Komandannya Kapten Nukum Sanany.

Tugas mengawal keamanan udara dan pantai di kabupaten Aceh Timur, Langkat Area dan KSBO. Menghambat • dan memberikan perlawanan terhadap musuh yang datang dari arah Sumatera Timur dan pantai. Bila mungkin menyerang pasukan musuh dan menghancurkannya di tempat.

50-*) Kisah Pelaku Sejarah, Buchari AS (Mayor Pum) berjudul "Peranan dan Perkemban-

gan Artileri Dalam Revolusi pisik di Daerah Aceh 1945 -1950", Medan, 1989.

Senjata yang dipakai meriam 18 ponder kaliber 7,5 cm lapangan dan sejumlah meriam kaliber 15 cm pantai diberi roda agar mudah bergerak. Tugasnya antara lain mengamankan pantai Serang Jaya, Serue, pantai Buga dan Pulo Kampai (Aceh Timur).

Sementara meriam-meriam buatan sendiri dipersiapkan untuk membantu daerah Pangkalan Berandan (KSBO). Dan mengamankan kilang minyak di Rantau, Kuala Simpang. Karena hasil penyulingan minyak/BBM sangat dibutuhkan untuk daerah Aceh, Sumatera Timur.

Dalam pembentukan Resimen Artileri, komposisi Battery II yang di Kuala Simpang

tidak mengalami perubahan. Sedangkan di Kutaraja juga dibentuk Battery II dibawah koordinasi Kapten Nukum Sanany.

Tugasnya menghambat dan menghancurkan serangan udara di daerah Aceh Besar

khususnya Kutaraja serta menghancurkan setiap usaha pendaratan musuh di pantai barat dan utara Aceh Besar.

Persenjataan Battery II tergolong banyak, terdiri dari beberapa buah meriam pantai kaliber 15 cm peninggalan Jepang yang tersebar di antara wilayah Lhok Nga, Deyah Baru dan Ulee Lheue.

Battery II juga mempunyai meriam penangkis serangan udara 80 mm yang tersebar di bukit-bukit Glee Genting, Glee Gura, Glee Deyah Baru, Glee Kueh. lapangan udara Lhok Nga serta daerah antara Glee Genting dan Geuce.

Pertahanan penangkis serangan udara ini diperkuat dengan mesin berat 12.7. kecuali itu juga mereka mempunyai meriam-meriam yang bersifat mobil, terdiri dari meriam anti tank, mortir 50 mm dan dua buah meriam tomong serta sejumlah senapan mesin ringan (51-*)

d. Battery Istimewa

Battery ini dinamakan "Kumbang Hitam" dibangun untuk menunjang dan kerjasama dengan Battery I. Keempat Battery tersebut menjalin kerjasama yang baik dengan infanteri dan genie. Senjata yang digelarnya tiga pucuk meriam gunung kaliber 90 mm. Di samping dua mortir kaliber 50 mm, sepucuk senapan mesin berat 12.7 dua pucuk stengun, sepucuk senapan mesin ringan, 20 pucuk senapan serta sejumlah trekbom ukuran 50 kg dan sejumlah ranjau-ranjau darat.

Bertindak sebagai komandan Battery ini, Pembantu Letnan Satu Rustam dengan

60 orang pasukan, yang separohnya terdiri dari Tentara Pelajar.

Begitu struktur organisasi, taktik dan strategi perjuangan Resimen tersusun, diputuskan membentuk Markas Komando di daerah Geuce dan diaktifkan latihan-

latihan yang teratur dan intensif.

51-*), "Pasukan Meriam Nukum Sanany", KaranganB. Wiwoho, penerbit PT. Bulan Bintang, Jakarta, 1985.

Markas Komando Artileri di Geuce dibuat semoderen mungkin untuk mengimban- gi kemajuan-kemajuan lawan yang bergerak cepat dan mampu dipantau semestinya. Peralatannya lumayan ukuran masa itu, cukup lengkap ditinjau dari segi teknis operasional. Markas ini memiliki telepon sendiri dan punya kontak langsung seWaktu- waktu dengan seluruh meriam. Atau pun dengan komandan resimen Artileri. Juga dilengkapi peta operasi dan peralatan radio untuk memonitor berbagai informasi dan situasi di front pertempuran serta pengiriman sandi-sandi yang diperlukan.

Tugas ini dilakukan asisten operasi Pembantu Letnan Dua, Amran Zamzami serta ajudan Sersan Mayor M. Jusuf. Pembentukan Markas Komando Artileri yang moderen ini, adalah juga merupakan persiapan untuk mengantisipasi perang jangka panjang yang memiliki kemampuan ofensif sekaligus -Mensif. Demikian kisah pelaku sejarah Nukum Sanany, Kolonel Purn.

Setelah agresi militer II, serdadu Belanda lebih banyak melakukan serangan udara dan laut di kabupaten Aceh Besar, di pantai Sigli, Langsa dan Kuala Simpang. Maksudnya tentu untuk menarik pasukan KSBO ke belakang. Tapi perhitungan Belanda itu keliru.

Panglima Aman Dimot

Laskar Aceh di RIMA, Langkat Area dan KSBO kini sasarannya merebut kembaü posisi yang terlepas di Langkat Area dan Karo Area. Pasukan RIMA kini menjadi lebih agresip melakukan "hit and run" (pukul dan lari). Menghadang patroli Belanda, menyerang polisi onderneming/perkebunan. Pertempuran di Tanah Karo hampir tak pernah sunyi di Tiga Binanga, Kutabuluh, Pamah, Lau Rambung dan Sidikalang.

Sebuah pertempuran yang sengit meiedak ketika convoi Belanda dihadang di tikungan jalan Sukaramai di pinggiran Kaban Jahe.

Barisan Gurilla Rakyat (BAGURA) dari Gayo/Alas, Aceh Tengah pimpinan Tgk. Ilyas Leubey dengan 400 pasukan bersenjata menghadang pasukan Belanda dan terjadi perang bersosoh yang berkuah darah.

Panglima Aman Dimot, seorang pejuang yang gagah berani dan kebal peluru berhasil membabat lima belas serdadu Belanda dengan pedang Zulfaqarnya yang panjang. Ia dapat diringkus ramai-ramai oleh serdadu Belanda yang datang membantu, setelah keiewat lelah dan terus diikat dengan tali. Sejumlah tembakan pistol dan karaben yang ditujukan ke tubuhnya tidak mempan.

Ia syahid, setelah granat tangan dimasukkan ke mulutnya oleh serdadu Belanda seraya menembak dan meiedak seketika.

Convoi Belanda itu bermaksud menerobos pertahanan kita menuju "kota beras" di Kutacane. Tempatnya markas Resimen I di Macan Kumbang, Kutacane, Aceh Tenggara. (CP-8).

Di sektor pertahanan kita di pesisir Aceh Selatan, para pejuang berhasil menggagalkan serbuan Belanda yang hendak menyusup ke daerah perbatasan Aceh melalui kota Sidikalang.

Wilayah ini ditempatkan di bawah pimpinan Mayor Teuku Manyak, Komandan Resimen III Divisi X TNI yang bermarkas di Meulaboh. Sekitar bulan Maret 1949 Belanda mencoba terus melakukan terobosan dan terlibat pertempuran di sekitar Tiga Lingga, Sidikalang dan Barus. Tapi pasukan kita masih mampu menguasai keadaan dan serbuan Belanda dapat dihalau.

Dalam pertempuran di Tiga Lingga, Letnan Satu Abdullah Sani dan Kopral Chailul Usman syahid. Dalam pertempuran di Sagan/Barus prajurit Penenek Usman, Sersan T. Hamzah dan Kopral T. Daud juga gugur.

Selama agresi militer kedua Belanda, pertahanan kita sepanjang garis perbatasan Aceh-Sumatera Utara sejak Besitang, terus ke Tanah Karo sampai Barus telah dipagari oleh gerilyawan dan para pejuang, sehingga Belanda selalu menemui kegagalan di sektor ini. Memang lapangannya cukup sulit, kaum gerilyawan tersebar secara kelompok dan selalu mengganggu serdadu Belanda yang berani melintas ke wilayah yang berat ini.

"Angan-angan" Van Mook

Belanda memakai taktik perang kolonial yang licik dengan cara lama memperten- tangkan satu suku dengan suku lain, sekaligus memecah belah persatuan dengan men- dirikan negara-negara "Boneka" yang menjamur.

Dalam konsolidasi politiknya setelah pemerintahan R l dan TNI hijrah meninggalkan kantong-kantong gerilya, mulailah Van Mook menggerayangi daerah ter- sebut dengan mengadakan kegiatan politik berupa lahirnya konperensi-konperensi di daerah yang dikosongkan TNI itu. Sasaran antaranya untuk membentuk negara "boneka" a'la Van Mook dan pada gilirannya bermuara kepada pembentukan suatu Negara Indonesia Serikat (NIS). Sasaran akhirnya jelas mengeliminir Republik Indonesia dari muka bumi. Guna merealisir cita-cita NIS a'la Van Mook, mereka mengadakan konperensi antara negara "boneka", yang kemudian dikenal bernama "BFO" (Bijeenkomst voor Federaal Overleg). "BFO" inilah nantinya menjelma jadi suatu Negara Federal untuk menyaingi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tanggal 12 Juli 1948 Van Mook mengadakan konperensi BFO di Bandung yang menghasilkan "Resolusi Bandung". Kesimpulannya tanggal 1 Januari 1949 dibentuk Pemerintah Interim Federal dengan sebuah Direktorium. Menurut konsep Van Mook badan ini beranggota Rl satu orang dan BFO dua orang dengan ketua Wakil Mahkota Belanda di Hindia Belanda.

Menurut asumsi Van Mook dengan dilancarkannya agresi militer II tanggal 19 Desember 1948 dan ditawannya Soekarno-Hatta dalam tempo seminggu, Rl dan TNI akan terpojok dan mudah didikte untuk menyetujui pembentukan Pemerintahan Interim Federal pada tanggal 1 Januari 1949, sesuai versi Dr. van Mook (52-*).

52- *) Dr.S.L Van der Wal dalam bukunya "Officiële Bescheiden Betreffende de Nederlands-

Indonesische Betrekkingen 1949-1950, Jilid V. 's-Gravenhage, 1976

Upaya Belanda untuk melakukan blokade ekonomi terhadap Republik, dimulai dengan menguasai pelabuhan dan menduduki sumber-sumber ekonomi yang vital, seperti

perkebunan, pertambangan dan lain sebagainya. Kegiatan ini bertujuan memutuskan komunikasi antara negara luar dengan Republik yang terisolir sampai menjadi lumpuh

urat nadi ekonominya.

Inilah dasar pertimbangan agresi militer Belanda di Sumatera ditujukan terutama untuk menguasai kota-kota yang memiliki sumber ekonomi yang vital.

Kalau pasca Linggarjati blokade ekonomi Belanda masih terbatas pada pengepungan kota dan pelabuhan saja, maka pada pasca Renville pengepungan ekonomi sudah mencapai penguasaan sumber-sumber ekonomi di pedalaman, seperti perkebunan dan pertambangan.

Situasi dan kondisi ini benar-benar telah membuat urat nadi Indonesia menjadi rapuh.

Dalam segi militer, tampaknya Belanda lebih mengutamakan kegiatan yang punyai dampak langsung terhadap konsolidasi politik yang menunjang penguasaan potensi

ekonomi di daerah vital.

Aceh Daerah Modal

Dalam situasi politik dan militer yang extra rawan itulah, Presiden Soekarno

bersama Menteri Dalam Negeri Dr. Sukiman terbang ke Aceh tanggal 15 Juni 1948, mendarat di lapangan terbang militer Lhok Nga.

Dalam kunjungan itu, Bung Karno sempat menghadiri appel militer di Blang

Padang dan menginspeksi pasukan militer dan perjuangan rakyat lengkap dengan senjata berat.

Panglima Tertinggi Soekarno merasa bangga dan terenyuh hatinya melihat kesiagaan Angkatan Perang dan Barisan Rakyat Bersenjata daerah Aceh yang masih utuh dan memiliki potensi dengan semangat juang yang tinggi pantang menyerah.

Penulis dengan satu regu TPI (Tentara Pelajar Islam) bertindak sebagai Pengawal Presiden Soekarno selama kunjungannya ke Aceh. Dan menjadi saksi mata sewaktu Bung Karno dengan suaranya yang mengguntur memuji sejarah kepahlawanan rakyat Aceh menentang penjajah. Bung Karno dengan suara gledek penuh semangat berucap "Rakyat Aceh dalam sejarah dikenal sebagai pejuang yang paling gigih menentang penjajahan Belanda. Berpuluh-puluh tahun rakyat Aceh berperang melawan kolonialisme Belanda. Sekarang giliran kita untuk mengusir penjajah Belanda dari bumi persada tercinta ini. Dimana-mana Belanda sudah mendirikan negara "boneka" untuk mengepung Republik Indonesia. Sudah waktunya sekarang pemuda- pemuda Aceh yang berdarah pahlawan siap melakukan "perang sabil" untuk mengusir kaum penjajah dari persada Ibu Pertiwi tercinta.

Gubermir Militer Jen. May. Tgk. Mohd Daud Bereueh bersama tamu agung Bung Karno, Menteri Dalam Negeri Dr. Sukiman, Gubernur Sumatera Mr. T. Mohamad Hassan, Panglima Sumatera Jen. May. Soehardjo Hardjoivardoyo dan Gubernur Sum. Utara Mr.

S.M. Amin bersama-sama hadir di Blang Padang menghadiri apel besar militer dengan Inspektur Upacara Presiden Rl pertama, Soekarno. Gambar bawah memperlihatkan perwira Staf Divisi X TNI Komandemen Sumatera dengan Let. Kolonel Chikmat Rahmany sebagai Kepala Staf dan para asisten lainnya. (Koleksi Foto "Aki").

Aceh adalah Daerah Modal. Modal dalam meneruskan cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945 dan modal dalam perjuangan mengusir kaum penjajah dari halaman rumah kita.

Siang itu juga tanggal 16 Juni 1948, Bung Karno meneruskan perjalanannya ke kota Sigli, sekitar 100 km dari Banda Aceh. Dapat ditempuh sekitar dua jam kendaraan mobil.

Di lapangan Kota Asan, Sigli, rakyat berjubel menunggu kedatangan pemimpinnya. Dalam rapat raksasa di tengah panas terik Bung Karno naik ke atas podium, yang dihiasi bagian atasnya dengan sangat sederhana, sebuah payung hitam peredam terik matahari.

Di sini Bung Karno telah menggugah semangat rakyat dengan kata- katanya yang menawan dan membuat hadirin terpesona, seperti halnya appel besar militer di Blang Padang di Kutaraja.

Hanya bedanya di rapat raksasa di lapangan Kota Asan, Sigli, Bung Karno seraya menunjuk payung diatas kepala melindunginya berucap "Biar Republik Indonesia selebar "Payung", biar Republik tinggal selebar "payung", kita harus berjuang terus dengan "Aceh sebagai Daerah Modal" dalam meneruskan cita-cita proklamsi 17 Agustus 1945 dan meneruskan perjuangan kemerdekaan bangsa dan negara".

Wejangan Bung Karno ini telah membuat rakyat Sigli kesurupan, tak tertahankan. Tergugah semangatnya untuk berjuang "Fie Sabilillah" mengusir kaum penjajah dari tiap jengkal tanah air.

Selesai dari Sigli, Bung Karno dan rombongan meneruskan perjalanannya ke Bireuen, yang dikenal sebagai "Kota Perjuangan" selama Perang Kemerdekaan Rl.

Di sini pun Bung Karno berhadapan dengan rakyat dalam sebuah rapat raksasa, yang isi pesan-pesannya hampir sama dengan ucapannya di lapangan Kota Asan, Sigli dan Appel Besar Militer di Blang Padang, Kutaraja.

Yang paling mengesankan adalah brievieng Bung Karno di Markas Divisi X TNI di Bireuen, yang dihadiri tokoh-tokoh militer, sipil dan masyarakat. Bung Karno memaparkan situasi perjuangan Republik menghadapi penjajah Belanda, menurut tahapan, taktik dan strategi yang telah ditetapkan.

Di sinilah Bung Karno menegaskan lagi "Aceh sebagai Daerah Modal" adalah salah satu alternatif untuk meneruskan cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945. Dari Aceh sebagai basis akan dilancarkan perang gerilya jangka panjang dengan melibatkan seluruh rakyat. Tenaga ahli berbagai bidang dan angkatan juga akan diterjunkan dari Jawa ke Aceh.

BUNG KARNO saat melakukan inspeksi terhadap kesatuan TNI dan pasukan Artileri di Blang Padang, Kutaraja tanggal 16 Juni 1948. Presiden didampingi Komandan Upacara Kolonel H. Sitompul, dan Gubernur Militer Jen. Mayor Tgk. Mohd. Daud Bereueh, Kolonel Husin Jusuf. Gambar bawah : Sebuah meriam penangkis serangan udara TNI dari kesatuan RIMA di Binjai di bawah pimpinan Kapten Nukum Sanany. (Koleksi Foto "Aki")

KOLONEL T. JOHAN Kini Wakil GubernurAceh

BAB

  • BIREUEN " KOTA PERJUANGAN " KOBARKAN PERANG RAKYAT SEMESTA
  • Mengapa Bireuen ? • Aceh Sebagai Alternatif.
  • " Mising Link " • Doktrin Perang Wilayah. n Kota Pergerakan dan Pendidikan. O " Bireuen Agreement "
  • Mobilisasi Umum Perlawanan Rakyat Semesta. • Pengadaan Dan Penyaluran Logistik.
  • Pendanaan Dan Pembelian Pesawat " Seulawah Rl - 001 "
  • Dana Sultan Siak. • Radio Perjuangan " Rimba Raya ".
  • Keberhasilan " Perlawanan Rakyat Semesta ".

8AB

EN " A"

A A RE

Y.naues8 sqapnsM lnul gnialy

.leyaiW pnee9 nhlod

mblbibneg isb aspe sto 口 fremseigA.qeuesa

Amulayneq ne0 nssbapneq aw629q nalledmeq.ns0.nssnsbneq 100-18 nawslue8" Jaiz mstlue ansd syaP edmift " nepgauneq olbsA steeme8 feyla nanowahaq asllasdede

Mengapa Bireuen ?

"BIREUEN", sebuah kota tingkat kewedanaan berpenduduk sekitar 55.000 jiwa, masuk kabupaten Aceh Utara. Posisinya terhampar di persimpangan jalan besar, ramai lalu lintas. Menghubungkan Bireuen-Sigli-Banda Aceh ke arah barat dan ke timur terus ke Lhok Seumawe-Langsa-Medan. Ke arah selatan Bireuen-Takengon-Blangkejeren-Kutacane.

Di atas peta, kota Bireuen kelihatan kecil. Pamornya mulai tenggelam ditelan kecemerlangan kota Lhok Seumawe yang kini beralih wajah menjadi kota industri berskala besar.

Letak kota Bireuen yang strategis itu, kini tak punya arti apa- apa lagi. Bahkan terkesan sudah ditinggalkan. Berbeda dengan masa Revolusi Fisik (Perang Kemerdekaan Rl 1945-1949). Kedudukan kota Bireuen merupakan basis dan titik sentral dari semua kegiatan politik, militer, sosial ekonomi dan budaya serta pertahanan/keamanan rakyat semesta (hankamrata).

Keterlibatan kota Bireuen yang begitu menentukan dalam alur sejarah perjuangan Republik Indonesia di awal revolusi, kini hanya tinggal nostalgia di kalangan Angkatan

  1. Bekas-bekasnya seolah menguap ditelan waktu, hilang tak tentu rimbanya. Suatu kontras, demikianlah kesan melihat kota Bireuen sekarang dibandingkan tetangganya kota Lhok Seumawe, yang maju pesat dengan beraneka pembangunan fisik/materiil dari sebuah kota industri yang memiliki teknologi canggih. Jaraknya tidak seberapa, hanya sekitar 45 km. Dulu pun kedua kota bertetangga yang menyatu ini selalu bergandeng tangan menyelesaikan masalah-masalah bersama yang dihadapi, terutama di bidang ekonomi, perdagangan dan pendidikan. Tapi sekarang, mengapa kota Bireuen seolah tercecer ? Padahal, di Bireuen banyak bangunan sejarah dan benda sejarah yang dapat dilestarikan yang melukiskan peranan kota Bireuen dalam perang Kemerdekaan R l 1945-1949. Misalnya Markas Divisi X TNI, hotel Murni tempat berlangsungnya rapat- rapat panting. Pertempuran Krueng Panjou yang terkenal, gudang senjata Teupin Mane yang angker dan masih banyak lagi lainnya. Kalau ada yang mau disalahkan dalam kasus ini. Maka kesalahan itu seyogyanya berpulang kepada mereka Angkatan 45 sendiri. Mengapa mereka melupakan sejarah masa lalu, sejarah yang patriotik dan heroik diperankan Bireuen sebagai "Kota Perjuangan". Nah, apa pula artinya itu Bireuen "Kota Perjuangan" ? Berbagai pertanyaan tentunya timbul dari kalangan generasi penerus. Kalau angkatan 45 tidak menjelaskan arti dan nilai kejuangan Bireuen sebagai "Kota Perjuangan", tentu saja generasi penerus kehilangan jejak untuk melestarikannya.

Aceh Sebagai Alternatif

Dalam konteks inilah tentunya Angkatan 45 mulai sadar dan segera mengambil inisiatif untuk memasyarakatkan makna "Bireuen Kota Perjuangan".

Nah, peristiwa itu bermula pada hari Rabu tanggal 8 April 1987 diadakan "Apel Angkatan 45" bertempat di halaman rumah mantan Panglima Divisi Gajah I/Divisi X TNI Komandemen Sumatera, yaitu di kota Bireuen.

Sebelumnya para pejuang kumpul di hotel "Murni", Bireuen. Acara dimulai dengan mengheningkan cipta dan lagu Indonesia Raya diteruskan sambutan Sesepuh Masyarakat Aceh/Menteri Koperasi/Ka. Bulog. H. Bustanil Arifin, SH., Mayjen A.R. Ramly (Dubes Rl di Washington DC) dan Gubernur Aceh, Prof. Dr. Ibrahim Hasan, MBA.

Acara terpenting dalam apel itu adalah peletakan batu pertama monumen "Bireuen Kota Perjuangan" oleh Letnan Jenderal (Purn) H. Bustanil Arifin. Hampir seluruh pej uang Angkatan 45 terwakili dalam "apel kej uangan" itu, baik dari TNI yang masih aktif, purnawirawan, Laskar Pejuang, Tentara Pelajar, Pejoang Wanita, yang berdatangan dari seluruh daerah Aceh dan luar daerah Aceh, seperti Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakar- ta dan sebagainya. Tampak antaranya Mayjen (Purn) Sjamaun Gaharu, T.A. Hamid Azwar, mantan Gubernur Aceh Prof. A. Hasjmy, A. Muzakkir Walad, Prof. Ir. Isjrin Nurdin, Alwin Nurdin, Gedong, Ali Hasan AS, Hasan Saleh dan sebagainya.

Dari upacara berlangsung dengan syahdu terlihat adanya kesan yang jelas memadu tekad mengangkat makna dan nilai kejuangan "Bireuen Kota Perjuangan" sebagai alternatif untuk melanjutkan cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945.

' Hanya disayangkan, begitu upacara selesai, tampaknya berakhir pula pesan-pesan yang perlu dikembangkan untuk melestarikan sejarah "Bireuen Kota Perjuangan".

Seyogyanya perlu tindak lanjut dengan program yang jelas dan rinci. Misalnya Gubernur Ibrahim Hasan langsung turun tangan membentuk sebuah panitia atau yayasan yang menggali dan meneliti makna dan nilai kejuangan yang melekat pada sosok "Bireuen Kota Perjuangan". Hasilnya digodok, diuji lagi, misalnya lewat seminar yang dihadiri para pelaku dan pakar sejarah.

ini penting, 'karena nilai sejarah "Bireuen Kota Perjuangan" jelas punya "linkage" (pertalian, sambungan) dengan sejarah perjuangan nasional dalam menegakkan dan mempertahankan negara Rl selama Perang Kemerdekaan.

"Mising Link"

Betapa tidak!

Kalau Angkatan 45 di Aceh tidak mampu merampungkan nilai kejuangan "Bireuen Kota Perjuangan" yang sesungguhnya, dikuatirkan akan terjadi "missing link" (adanya mata rantai yang hilang) dalam sejarah nasional Perang Kemerdekaan RL

Karena masalah ini belum banyak diungkap orang di tempat kejadiannya di Aceh. Sebab masih melekat apa yang dinamakan suatu "penyakit" di kalangan masyarakat Aceh, tak gemar gembar-gembor prestasi, takut dinilai sombong, takabur. Lebih baik diam. Inilah bagian dari kultur Aceh yang perlu dikoreksi dan diluruskan. Berbicara tentang sejarah atau penemuan baru berdasarkan fakta dan realita adalah sesuatu yang lumrah dan wajar untuk diangkat ke permukaan. Jangan tinggal terpendam atau didiamkan. Ini satu prestasi. Bukan menyombongkan diri. Sikap ini memang perlu dikoreksi.

Bertolak dari pemikiran dan pertimbangan di atas, pengasuh Yaya,san "Seulawah RI-001" yang menerbitkan buku sejarah ini, mengambil prakarsa untuk mulai menggali dan meneliti apa yang tersurat dan tersirat dari julukan "Bireuen Kota Perjuangan". Meskipun dengan alat dan fasilitas serba terbatas.

Sejarah itu bermula sejak datangnya Bung Karno ke Tanah Rencong tanggal 15 Juni 1948 mendarat di lapangan militer Lhok Nga. Tanggal 16 dan 17 Juni 1948 Bung Karno sedang berada di Bireuen, menyaksikan kelengkapan alat perang dengan senjata berat yang masih utuh, membuat hati Bung Karno bangga dan terpesona.

Di kota Bireuen-lah pertama kali Bung Karno melakukan dialog dengan Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, Jenderal Mayor Tgk. Mohd. Daud Bereueh. Kemudian dialog itu berkembang kembali di pendopo Residen Aceh di Kutaraja.

Dalam dialog di kediaman mantan Panglima Divisi X TNI itulah Bung Karno

menjelaskan situasi dan perkiraan keadaan yang menimpa Republik Indonesia.

Berkata Presiden Soekarno "Negara kita dalam keadaan gawat, pihak Belanda terus mendirikan negara-negara bonekanya di pulau Jawa dan Sumatera. Ruang gerak kita terus dipersempit dan sekarang hanya daerah Aceh satu-satunya wilayah Rl masih utuhyang tidak diduduki militer Belanda. Aceh menjadi penting sebagai alternatif'satu-satunyayangmenen-

tukan kedudukan dan cita-cita bangsa/negara Rl. Karena itulah saya namakan "Aceh

*Daerah Modal", modal untuk melanjutkan perjuangan dan cita-cita kemerdekaan yang telah diproklamasikan tanggal 17Agustus 1945" (53-).**

Doktrin Perang Wilayah

Sebuah kesempatan lain dipendopo karesidenan Aceh di Kutaraja pagi hari tanggal 18 Juni 1948 sebelum meninggalkan Kutaraja, dialog Presiden Soekarno dan Gubernur Militer Jenderal Mayor Tgk. Mohd. Daud Bereueh, berkembang diantaranya sebagai berikut: "Saya minta bantuan Kakak (panggilan Bung Karno Kepada Tengku) agar rakyat Aceh turut mengambil bagian dalam perjuangan bersenjata yang sekarang sedang berkobar antara Indonesia dan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah

kita proklamirkan tanggal 17 Agustus 1945" (54-*).

53-*) Wawancara penulis dengan IBNU SA'DAN (85 th) mantan Sekretaris Gubernur

Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, Banda Aceh, 24Maret 1991.

5,4-*), "Teungku Muhammad Daud Bereuh", karangan M. Nur El Ibrahimy,

Penerbit PT.Gunung Agung, Jakarta, 1986 (hal.67)

Dialog ini kemudian dibahas secara mendalam di kalangan ketiga tokoh kunci militer di daerah Aceh, yaitu Gubernur Militer Jenderal Mayor Tgk. Mohd. Daud Bereueh, Kolonel Husin Jusuf dan Letnan Kolonel Tjekmat Rahmany.

Kajian ini kemudian diperluas kepada staf pimpinan dan para komandan batalyon ke atas untuk menghadapi tugas nasional yang paling berat tapi mulia.

Persiapan perencanaan operasional dan teritorial mulai dibahas yang bertumpu kepada perang gerilya jangka panjang dengan melibatkan seluruh lapisan rakyat. Atau dengan istilah yang baku disebut "PERLAWANA N RAKYA T SEMESTA" berdasarkan Doktrin Perang Wilayah.

Konsep ini memang telah memasyarakat di kalangan militer, dipetik dari pengalaman masa lalu waktu menghadapi Belanda pada agresi militer I. Kekeliruan waktu itu menterapkan sistcm linier dalam pertahanan, sedangkan persenjataan tidak berim- bang, sehingga pasukan kita dihajar dan mundur kacau balau.

Dalam agresi militer II kita menciptakan kemampuan ofensif sekaligus defensif. Artinya kita mampu menciptakan kemampuan penyerangan yang luwes, sekaligus memiliki kemampuan bertahan secara efektif. Dengan konsep ini tercipta suatu suasana, dimana personil serdadu Belanda yang relatif terbatas akan kewalahan mengkover area dan lokasi lebih luas di pedalaman. Sehingga niatnya untuk menguasai perkebunan dan pertambangan di pedalaman guna menunjang gerak operasional niscaya akan jadi bumerang.

Inilah perbedaan yang paling mendasar antara sistem pertahanan linier di masa agresi militer I dibandingkan dengan pengalaman pada agresi militer II yang menterapkan konsepsi "Perlawanan Rakyat Semesta" berdasarkan Doktrin Perang Wilayah, hingga akhirnya Belanda kewalahan dan minta berunding lagi.

Dengan sistem perang yang diformulasikan dalam istilah "Perlawanan Rakyat Semesta" atau juga sering disebut "Perang Rakyat Semesta" (PERATA) maka semua potensi militer dan masyarakat terjalin dalam suatu perpaduan fungsi yang berjalan serentak dengan serasi, sehingga Belanda tidak menghadapi pasukan bersenjata saja. Tapi juga menghadapi semua unsur kekuatan bangsa Indonesia, termasuk unsur teritorial.

Dalam unsur teritorial inilah ternyata Belanda tak pernah berhasil. Pendudukan mereka pada suatu daerah tak pernah mengakar, hanya menyentuh permukaan saja. Meskipun Belanda membentuk berbagai negara-negara "boneka" dengan membagi- bagikan tahta dan harta. Kendati pun militer Belanda berhasil merebut dan menguasai lokasi tertentu seketika. Tapi mereka tak pernah langgeng di situ, sangat rapuh dan tenggelam lagi.

Misalnya Jenderal Spoor dengan senjata moderen sekalipun perintahkan pasukan militernya melumpuhkan perjuangan kita, menduduki suatu kota. Tapi itu hanya sesaat. Karena potensi "perlawanan perang semesta" kita dibidang pembinaan teritorial tak pernah goyah.

SEMINAR PEJUANG 45 Tiga snapshot Ymlasan peristiwa yang dipetik dari seminar Pejuang 45 yang diselenggarakan oleh T.P. Iskandar Muda di Medan tahun 1989. Gambar atas memperlihatkan Menteri Koperasi. Letjen (Purn) H. Bustanil Arifin, SH. sedang membuka seminar didampingi Ketua Pengarah A.K. Jakobi dan Ismail Hasan Metareum serta Ketua Panitia Ali Hasyim. Gambar tengah memperlihatkan Bustanil Arifin sedang ramah-tamah dengan Gubernur Istimewa Aceh Prof. DR. Ibrahim Hasan, MBA, Bupati Aceh Utara dan Bupati Aceh Pidie. Gambar bawah nampak peserta seminar M. Noor Nekmat, Hasan Basri dan Anis Idham sedang mengevaluasi hasil seminar. (Foto Mtwh).

SELÏMOT DHïttttöul Röïft BUsmniL nwr in su m m B WWS». flGÖn DL RÖHGHR TEMU Mffl öu (^uam45.

/1P£I PEJUANG 45. S April 1987 lalu, Sesepuh Masyarakat Aceh Mcnkop H. Bustanil Arifin, SH. telah meletakkan batu pertama pembangunan monumen "Bireuen Kota Perjuangan " di kompleks bekas markas Divisi X TNI Komandemen Sumatera di kota Bireuen. Upacara berlangsung dalam sebuah "Apel Pejuang 45" yang dihadiri Pejuang 45. Dalam gambar nampak menyampaikan sambutan Menkop, Letjen (Purn) Bustanil Arifin, SH, Mayjen A.K. Ramly (kini Dubes Rl di Amerika Serikat dan Gubernur Istimewa Aceh, Prof. DR. H. Ibrahim Hasan, MBA. Monumen itu kini menunggu penanganan yang lebih serius. (Koleksi Foto "aki").

Kayaknya sedang "duet" mengalunkan sebuah lagu. Bukan ! Pak Bustanil Arifin, SPI dan T. Lagloel, SE. sedang "mcrayu" publik mengumpulkan dana pembangunan monumen Radio Perjuangan "Rimba Raya" dan monumen "Bireuen Kota Perjuangan" untuk "Rimba Raya" sudah rampung. Untuk "Bireuen Kota Perjuangan" masih perlu digalakkan lagi. Kabarnya "Museum Pcijuangan 1945" akan dibangun di Bireuen. Insya Allah (Foto : Aki).

H. IBRAHIM RISJARÜ M. DAUD GADE, BRIGJEN(PURX)
Seorang pelaku sejarah 45, ia Mantan Sekjen Departemen
berasal dari TP Iskandar Muda Koperasi Rl.

(TPI).

IA C

a 1 o *

ft c' 3 ft rS

ft a a.

  • 2 .
    3 ft a

S I

°i s 3 K

1 f

ft 0 0 3 ^

f m Et!

+

BIREUEN 16 JUNI 1948.

Presiden Rl pertama Soekarno dan Gubernur Militer Tgk. Moh. Daud Bereueh bersama Staf Divisi X TNI Komandemen Sumatera berfoto bersama di depan Markas Divisi. Diantaranya nampak, Panglima Komandemen Sumatera Jenderal Mayor Soehardjo Hardjowardoyo, Kolonel Husin Jusuf, Kolonel H. Sitompul, Letnan Kolonel Hasballah Haji, Mayor Ali Hasan AS, dll. Di Markas inilah Bung Karno untuk pertama kalinya melakukan "dialog buka-bukaan " dengan Gubernur Militer Aceh, Jen. May. Tgk. Mohd. Daud Bereueh. BK menegaskan, "situasi Rl gazvat, Aceh satu-satunya alternatif saat ini yang dapat menolong dan menyelamatkan Proklamasi 17 Agustus 1945. Karena seluruh ibukota propinsi Rl kecuali Aceh telah diduduki penjajah Belanda. Aceh daerah modal untuk menyelamatkan perjuangan dan cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945". Penulis sebagai pengazval juga menyaksikan peristizvayangbersejarah itu di Bireuen'. (Koleksi Foto "Aki").

230.

Brigjen lJur M. Diah Haji ExIRDAM-I/lM Kini Anggota DPRRI

IBNU SA'DAN Letkol CPM AR Ahmadi ExWairdam-I/IM.

Letkol T. Ibrahim Ex. Ka. Jarahdam-I/1M

Rakyat yang telah memiliki kesadaran nasional, berbangsa dan bernegara tetap Isetia dan bahu membahu bersama satuan-satuan pejuang melawan Belanda. Meskipun risiko yang dihadapi tidak ringan, bila kepergok Belanda (55-*).

Disamping itu, seluruh barisan perjuangan yang dibentuk rakyat telah diin- tegrasikan ke dalam TNI, sehingga mampu menciptakan satu komando dengan disiplin yang tinggi dan militan. Sekaligus penyempurnaan bidang organisasi dan personil. Juga terbentuknya Markas Komando Jawa dan Markas Komando untuk Sumatera dan lainnya lembaga baru Gubernur Militer di berbagai daerah di Jawa dan Sumatera, telah memperkuat sistem "Perang Rakyat Semesta" yang terpadu dan terkendali.

Diterapkannya sistem pertahanan rakyat semesta, berarti rakyat harus dilatih dan diorganisir di desa-desa, di kelurahan, kecamatan, sehingga mampu bersama TNI melakukan sikap defensif sekaligus kemampuan ofensif.

Berdasarkan pengalaman agresi militer I, maka satuan TNI harus memiliki kemampuan taktik ofensif dengan perimbangan senjata 1:1, kalau menghadang convoi, patroli dan pos-pos musuh yang perlu diserang. Kalau persenjataan kurang, maka yang diterapkan adalah sistem defensif dengan pembinaan teritorial yang mantap. Dengan sistem ini, kekuatan tentara Belanda yang moderen persenjataannya, dilawan dengan taktik gerilya (hit and run). Ini cocok bagi TNI yang mempersiapkan konsep perlawanan jangka panjang. (56-*).

Kemampuan konsepsi Perlawanan Rakyat semesta berdasarkan Doktrin Perang Wilayah ternyata berjalan mantap di Jawa dan Sumatera, seperti yang digariskan oleh Panglima Besar Sudirman.

Meskipun Belanda belum masuk ke Aceh pada agresi militer II, para pengamat politik dan militer sependapat hanya soal waktu saja. "Histoire sere pete" (sejarah itu berulang kembali) bunyi petitih Perancis. Tempo dulu pun Aceh dipilih oleh Belanda pada bagian akhir, setelah wilayah Indonesia lainnya ditundukkannya melalui perang.

Sejaian dengan ucapan Jenderal Nasution yang menegaskan, "Dalam menghadapi agresi kolonial II Belanda, TNI telah siap dengan suatu konsepsi "Perlawanan Rakyat Semesta" berdasarkan "Doktrin Perang Wilayah", sebagai hasil perpaduan pengalaman selama agresi militer I. Kemudian diolah, dikaji dan dirumuskan menjadi suatu konsepsi strategis, yang pokoknya berisi "Seandainya kolonial Belanda mengadakan serangan terhadap Rl dengan menduduki Yogyakarta, maka Aceh ditunjuk sebagai Pusat Pemerin- tahan Darurat Rl, karena antara Aceh dan India adalah dua tempat yang berdekatan dan dianggap perhubungan lebih mudah dilakukan antara dua daerah tersebut". (57-*).

55- *), "Dwi Windhu Kodam-IIIskandar Muda", Kutaraja, 1972.

56- *) DR^A.H Nasution, Jenderal TNI-AD, "Sejarah Perjuangan Nasional di bidang Ber- senjata", Jakarta, 1987.

57- *) DR^A.H Nasution, Jenderal TNI-AD, "Sejarah Perjuangan Nasional di bidang Ber- senjata", Jakarta, 1987.

232 _

Meskipun pada fase pertama PDRI berkedudukan di Suliki, Sumatera Barat. Tapi pada akhirnya pindah juga ke Kutaraja, karena terlalu sering diubcr-uber serdadu Belanda. Demikian juga saat menghadapi Konperensi Meja bundar (KMB) di Den Haag akhir tahun 1949, domisili Mr. Sjafruddin Prawiranegara sebagai Wakil I Perdana Menteri ditetapkan di Kutaraja. Ini sekedar berjaga-jaga andaikata Belanda berlaku curang lagi dalam perundingan, maka Mr. Sjafruddin Prawiranegara sebagai Wakil Perdana Menteri dan mantan Ketua PDRI dapat mengadakan counter dan siap mengadakan "Perlawanan Rakyat Semesta" berdasarkan Doktrin Perang Wilayah, yang memang sudah dipersiapkan secara matang.

Apa sebab Aceh yang dipilih dan mengapa harus dekat dengan India ?

Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan.

  1. Potensi alam dan lingkungannya cocok untuk perang gerilya jangka panjang (Perlawanan Rakyat Semesta, berdasarkan Doktrin Perang Wilayah) dengan daerah pegunungan sebagai terugval basis. Mulai bukit Teupin Mane di pinggiran kota Bireuen sampai masuk ke dataran tinggi Aceh Tengah, Aceh Tenggara dan menyeberang pegunungan Louser sebagai latar belakang yang tangguh. Sejak tempo dulu perang Aceh-Belanda, kaum gerilyawan kita (disebut "MUSLIMIN") bertahan di hutan belantara Gunung Louser yang penuh misterius. Setiap serdadu Belanda yang masuk dalam rimba itu, tak pernah kembali lagi. Bukan saja karena dibunuh kaum gerilyawan, tapi banyak juga yang sesat ditelan semak belukar yang ganas. Sampai kini hutan belukar Gunung Louser itu tetap misterius, kecuali hanya Pawang Hutan yang tahu rahasia dan liku-likunya.
  2. Sumber daya manusianya terkenal fanatik dan bringas terhadap penjajah Belanda, karena trauma masa lalu yang kelabu. Kekejaman dalam Perang Aceh-Belanda, tak pernah bisa dilupakan.
  3. Hubungan Aceh-India bukan saja dekat secara geografis, tapi juga dekat secara emosional dan kultural.
  4. Hubungan pribadi antara pimpinan India Nehru dengan Bung Hatta cukup akrab teman seperjuangan sejak muda
  5. Perwakilan Indonesia di India yang dipimpin oleh Dr. Sudarsono adalah pusat kegiatan yang mengkoordinasikan tugas perwakilan yang ada di luar negeri
  6. Adanya mandat dari Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Drs. Moh. Hatta untuk Dr. Sudarsono sebagai Kepala Perwakilan Indonesia di India untuk membentuk Pemerintahan Pengasingan Indonesia di luar negeri, bila Belanda men- duduki ibukota Yogyakarta dan Mr. Sjafruddin Prawiranegara belum membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera.
  7. Sejak didudukinya ibukota negara Yogyakarta oleh Belanda dalam agresi militer II, maka hubungan Pemerintah Pusat dengan Perwakilan kita di luar negeri ter- putus sejak tanggal 19 Desember 1948 itu. Hubungan Rl dengan Perwakilan kita di luar negeri selanjutnya dilakukan dari daerah Aceh, meliputi:
    a. Penyediaan dana dan pembiayaan kegiatan perwakilan kita di luar negeri mulai dari Penang, Singapura, India dan LN Palar di New York (PBB) serta missi H.

Agus Salim, A.R. Baswedan ke Asia dan Timur Tengah, konperensi Asia yang penting dan bersejarah di New Delhi dan lain sebagainya.

b. Radio Perjuangan 'Rimba Raya" di Takengon, Aceh Tengah merupakan satu- satunya media komunikator (jembatan) yang menghubungkan PDRI-Panglima Jawa dan PDRI-Perwakilan Rl di India (Dr. Sudarsono). Fungsi dan posisi Radio Perjuangan "Rimba Raya" yang strategis ini pula yang
menayangkan ke luar negeri "Serangan Fajar" 1 Maret 1949 pimpinan Letnan Kolonel Soeharto (sekarang Presiden Rl) yang sekaligus mengcounter isyu Belanda yang menafikan kemampuan TNI.

Setelah kita melihat fasilitas-fasilitas yang ideal di daerah Aceh yang memobilisasi "Perlawanan Rakyat Semesta" berdasarkan "Doktrin Perang Wilayah", maka sekarang perlu disorot sumber daya manusia yang melakukan peranan itu serta tenaga penunjang lainnya.

Nah, di sinilah berperannya pimpinan militer di Bireuen, yang telah mengelola dan mempersiapkan seluruh aparat yang akan diterjunkan dalam perang gerilya jangka panjang itu.

Kegiatan pimpinan dan masyarakat di Bireuen selama Perang Kemerdekaan sungguh hebat. Dari sinilah diatur taktik, strategi dan tahap-tahap operasional serta pengadaan man power dan logistik.

Meskipun kedudukan Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, Jenderal Mayor Tgk. Mohd. Daud Bereueh tetap di Kutaraja. Namun pengendalian operasional militer dalam rangka "Perlawanan Rakyat Semesta" tetap diarahkan dan dikendalikan dari markas Divisi X TNI di Bireuen, sebagai perpanjangan tangan Gubernur Militer.

Kesibukan kota Bireuen saat itu siang dan malam tidak pernah berhenti. Karena hampir setiap malam terminal bis, stasiun kereta api selalu penuh dan sibuk dengan pejuang-pejuang yang dikirim ke front Medan Area atau menyambut kedatangan para pejuang yang baru kembali dari tugasnya di front Medan Area, Langkat Area dan begitu seterusnya.

Kota Pergerakan Dan Pendidikan

Melihat sejarahnya, kota Bireuen sejak lama memang dikenal sebagai- pusat pergerakan kébangsaan dan pendidikan. Perguruan Taman Siswa adalah satu diantara contoh yang mengembangkan pembaruan dalam pendidikan nasional yang dimulai sekitar tahun 30-an.

Juga di bidang pendidikan agama, pembaruan paham dan ajaran Islam di mulai di sini. Sekolah agama tingkat Sanawiyah tumbuh seperti jamur sejak tahun 30-an. Sekolah Sanawiyah yang menonjol antaranya Perguruan "Cut Merak" di Bireuen dan Perguruan "Sanawiyah" di Matang Gelumpang Dua.

Putera-puteri dari wilayah Peusangan ini pun banyak pergi ke luar daerah menuntut ilmu, seperti ke Sumatera Timur, Sumatera Barat dan sekembalinya ke Bireuen (Peusangan) terus mendirikan perguruan, dayah dan pesantren.

Di kalangan para ulama juga tidak tinggal diam. Tahun 1939 berdiri di Bireuen "Persatuan Ulama Seluruh Aceh" (PUSA) yang diketuai oleh Tgk. Mohd. Daud Bereueh dan Tgk. Abdurrahman Matang Gelumpang Dua.

Dalam waktu relatif singkat organisasi PUSA ini menjalar dan tumbuh ke seluruh pedesaan.

Hadirnya PUSA tahun 1939 telah membuat pemerintah kolonial Belanda memperketat izin-izin rapat.

Setahun kemudian, tahun 1940 PUSA mendirikan sebuah perguruan tingkat atas untuk menampung lulusan Sanawiyah dan diberi nama "NORMAL ISLAM" Bireuen. Satu-satunya perguruan tingkat atas yang didirikan swasta.

Animo masuk Normal Islam menjamur dan siswa-siswa lulusan perguruan ini umumnya memperoleh tempat yang layak untuk menjadi pimpinan di kalangan sipil dan militer di zaman Jepang dan awal kemerdekaan RL

Di Bireuen juga terdapat satu-satunya Sekolah Kader Perwira untuk mempersiap- kan calon-calon pemimpin militer pada awal kemerdekaan.

Setiap angkatan yang lulus terus dikirim ke front untuk mempraktekkan teori dan ilmu yang diperolehnya.

Sekolah Kader Perwira tersebut dipimpin oleh Kapten Agus Husin selaku Komandan dan Wakil Komandan Letnan Satu Bachtiar. Komandan Kompi Siswa Letnan Dua Sumampow, Komandan Kompi Siswa Letnan Dua G.A. Parengkuan, Komandan Peleton Siswa Letnan Dua Daud Gade dan Komandan Peleton Siswa Letnan Dua A.A. Ekel (58-*).

Bireuen sebagai kota lahirnya pergerakan kébangsaan, pendidikan nasional dan Islam telah banyak memberikan sumbangan di awal kemerdekaan yang kemudian dikenal sebagai "kota perjuangan".

Terlarribatriya rakyat Aceh mengenyam pendidikan, memang bagian dari kebijakan kolonial onderwijs (pendidikan kolonial Belanda) yangbertujuan "memperbodoh" orang Aceh. Ia tanamkan image yang jelek tentang Aceh, seperti istilahnya yang terkenal sebagai mengejek "tipu Aceh"...

Ada dua faktor utama penyebabnya.

58-*) A~A. Ekel, Kolonel (Pum) dalam makalah "Peranan Rakyat Aceh dalam perjuangan

' di front Medan Area", Jakarta, 1989.

8 « > < 3 8 ^ £ O

I I s.|

?• "§ ^ CT,

5 M fee ^ 8 J 3

I* * «

•S 'S -^8 3 3 • » §•

^ | 1

53 iJ I §

^ •§ -«I IN È ^

si s 5?

ui s 5 J I | £ i 8 g 3 s « g |

s B 11 r g ^ i-l-i

IJ I H

9 .£ -2 * -s

l)i « Q K § ?

|::• jf | £ f I E r g I * §. te 1«| g g S~ al 9 K » » =? ^3- 5a

3 3 » S

8 » 3
'n S- ^ ^ _ 5a
2 t- « § 3 sr §
5 5 a
» r S ^ a, ., • 5g

N 5- H

1 3

E. 3
^S- H 1 ^ 11 r g

re S=L a s- 5

? L.? | cn S" a a 51 a 3 5 o O g -r _ s 3 a s ~ X • >~ a w' a_ >* sa H EC £ 5 re 9 a* ^ 3 3 S. £ -|. M N a 3 x 3' ? CS | § § f tztl* B- £ § $ S" 3

  • *** > 3 Sf>**
    re u-> 5T • fa K

» E 3 T

o1 3 I ^

Pertama : Aceh memang paling akhir dimasuki Belanda. Walau secara frontal perang

Aceh-Belanda sudah berakhir tahun 1904 sewaktu Jenderal van Daalen menduduki Tanah Gayo/Alas di pegunungan Aceh Tengah/Tenggara. Tapi

hati orang Aceh tak pernah ditaklukkan Belanda. Perang gerilya berlangsung terus sampai Belanda angkat kaki waktu Jepang masuk tahun 1942. Tidak sebutir peluru pun Jepang rugi waktu ia masuk ke Aceh. Karena orang Belanda telah diusir lebih dahulu oleh rakyat Aceh. Diantara tokoh-tokoh pejuang yang terkenal memimpin perang gerilya di Aceh Tengah/Tenggara adalah Pang

Akop, Tgk. Tapa, Datok Seure, Datok Pining, Datok Utel dan Pang Aman Dimot. Perang 80 tahun Aceh-Belanda itu bermula pada saat Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia, MIJER, tahun 1867 berkirim surat kepada Sultan Aceh untuk mengakui kekuasaanya sampai tahun 1942 saat Belanda meninggalkan Indonesia karena Jepang datang dan berlanjut lagi sampai tahun

1945-1949 saat kita menghadapi agresi militer Belanda I dan II.

Kedua: Aceh ditundukkan tidak hanya dengan kekuatan senjata saja, tapi kolonial

Belanda melakukan siasat "licik" yang lebih dikenal dengan istilah "Atjehsche- politiek". Cara inilah yang dipergunakan Jenderal van Heutsz yang terkenal

kejam dengan penasehat utamanya Dr. Snouck Hurgronye yang menyamar dengan berbagai panggilan "Abdul Gaffar". Bahkan ada juga yang memanggil

"Habib Putih" dan lain sebagainya. Abdul Gaffar ini melakukan pendekatan Islami yang sangat mengena di hati orang Aceh dengan berbagai tipu dayanya yang licik. Menafsirkan ayat dan Hadis sesenaknya, yang menguntungkan kolonial Belanda. Belanda tidak ingin rakyat Aceh terbuka matanya, apalagi

menjadi pandai. Pengajaran yang diberikan sangat terbatas, sekedar untuk dididik sebagai calon pegawai administrasi yang tulis tangannya cantik. (59-*)

Bireuen Agreement

PERTEMPURAN di front "Medan Area", "Karo Area" dan "Langkat Area" hakikatnya hanyalah salah satu aspek saja dari kerangka strategi dasar "Perlawanan Rakyat semesta" berdasarkan "Doktrin Perang Wilayah", yang diterapkan di wilayah/teritorial Divisi X TNI Komandemen Sumatera. Meliputi daerah Aceh dan

Sumatera Utara.-

Keempat aspek lainnya mencakup :

1. Persiapan dan mobilisasi umum perang gerilya jangka panjang dan menam- pung/menyalurkan ratusan ribu kaum pengungsi yang mengalir ke daerah Aceh.
2. Pengadaan dan penyaluran logistik.
3. Pembelian dua pesawat terbang "Seulawah RI-001"/Dana.
4. Membangun Radio Perjuangan "Rimba Raya", di Takengon.

59-*) SJAMA'UN GAHARU, Mayjen (Pum) dalam makalah "Perjuangan Menegakkan

Kemerdekaan Rl di Aceh 1949-1950", Medan, 1976

Gagasan ini yang kemudian dituangkan dalam "Bireuen Agreement" (Perjanjian Bireuen) telah disusun di Bireuen berdasarkan dialog dua tokoh nasional Presiden Soekarno dan Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, Jenderal Mayor Tgk. Mohd. Daud Bereueh.

Konsensus ini terjadi sewaktu Presiden Soekarno melakukan kunjungan ke daerah Aceh terus ke Sigü dai Bireuen tanggal 15 dan 18 Juni 1948.

"Perjanjian Bireuen" ini juga dikukuhkan oleh Wakil Presiden/Wakil Panglima Tertinggi Drs. Moh. Hatta sewaktu bertemu Gubernur Militer tersebut dalam salah satu kunjungannya ke Aceh dalam tahun 1948 yaitu, Aceh sebuah "alternatif'.

Yang terpenting dari "Bireuen Agreement" adanya kesepakatan antara Bung Karno dan Teungku Bereueh untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan Kemerdekaan Rl yang telah diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. Walaupun Republik tinggal selebar payung, dari Aceh kita kobarkan perang gerilya jangka panjang untuk merebut kembali seluruh tumpah darah Indonesia. Dan seluruh Kepala Staf Angkatan telah diinstruksikan untuk hijrah ke Aceh dengan membawa tenaga-tenaga profesional guna melatih rakyat dan membangun organisasi perang semesta. (60-*).

Dari situasi inilah lahir julukan yang diberikan Presiden Soekarno : "Aceh Daerah Modal". Biar Republik tinggal selebar payung, Republik jalan terus.

Sebagai konsekuensi logis dari penetapan "Aceh Daerah Modal" dengan missi nasionalnya mengusir penjajah Belanda dari bumi Pancasila, maka pimpinan militer di daerah Aceh yang dikoordinasikan oleh "TEUNGKU BEREUEH","TJIKMAT RAHMANY" telah menyusun program operasional tersebut.

Program ini kemudian dijabarkan dengan nama "PANCA CITA" yang meliputi kelima aspek tersebut di atas, yang tertuang dalam "Bireuen Agreement".

Mobilisasi Umum Perlawanan Rakyat Semesta

Salah satu aspek yang paling berat dari "Bireuen Agreement" adalah persiapan mobilisasi umum untuk melaksanakan perang gerilya jangka panjang, berdasar Doktrin Perang wilayah. Tugas ini dilaksanakan dengan asumsi seluruh wilayah Rl seolah telah diduduki Belanda, hanya tinggal daerah Aceh saja yang tinggal utuh sebagai wilayah Rl yang belum dimasuki Belanda. Tentu dengan bantuan kaum Republikein dari pedalaman di masing- masing daerah bersangkutan. Mengantisipasi situasi seperti ini memang paling tidak enak. Tapi itulah kenyataan saat itu. Seluruh ibukota propinsi di Jawa-Sumatera kecuali Aceh telah dikuasai Belanda. Ini fakta. Dan fakta ini yang harus dirubah. Itu tekad kita, konsepsi nasional menggelar "Perang Rakyat Semesta" berdasar "Doktrin Perang Wilayah". (61-*).

*60- ) Wawancara penulis dengan IBNU SA'DAN (85 th) mantan Sekretaris Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, Banda Aceh, 24 Maret, 1991.

*61- ) Chikmat Rahmany, dalam wawancara dengan penulis di Jakarta, Desember 1983.

Penetapan Aceh oleh Bung Karno sebagai alternatif memutar kembali jarum sejarah untuk mengusir kolonial Belanda, bukan tanpa alasan.

Dilihat dari segi jiwa dan semangat perjuangan rakyat Aceh tidak usah disangsikan, cukup meyakinkan. Itulah sebabnya segera setelah konsensus Tgk. Mohd. Daud Bereueh selaku Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah karo tercapai dengan Presiden Soekarno, maka Teungku Bereueh segera mengumumkan berlakunya "Mobilisasi Umum" untuk seluruh penduduk Indonesia di daerah Aceh dan sekitarnya.

Mobilisasi Umum disambut hangat oleh rakyat. Organisasi Laskar Rakyat Bersenjata yang tumbuh menjamur selama ini, lebih meningkatkan kegiatannya. Penduduk di pedesaan mulai dilatih secara intensip untuk mengawal pantai, pelabuhan dan mengawal teluk-teluk untuk mencegah kemungkinan serdadu Belanda menyusup ke pantai.

Kaum ibu dan anak-anak dara juga dilatih dasar-dasar infanteri dan mempersiap- kan berbagai makanan perang yang diawetkan, pelayan dapur umum dan palang merah.

Di samping TNI dan Laskar Rakyat Bersenjata yang sudah menggabung dalam TNI, para pemuda di tiap kampung di pedesaan turut berlatih diri menghadapi perang gerilya jangka panjang.

Juga tidak ketinggalan para santri dan siswa pendidikan agama mulai dari Sekolah Dasar Islam kelas terakhir, Sekolah Pesantren mulai tingkat Sanawiyah dan Sekolah Tingkat Menengah Agama, yang menjamur di seluruh Aceh turut dilatih dan digembleng semangat dan pengabdiannya. Semua kegiatan yang tersebut terakhir ini dikoordinasikan oleh Komando Resimen Tentara Pelajar Iskandar Muda (TPI) yang sudah bergabung ke dalam TNI.

Seperti diketahui diantara organisasi kelaskaran rakyat bersenjata yang telah berdiri di Aceh adalah Divisi Tgk. Chik Ditiro, Divisi Tgk. Chik Paya Bakong dengan Batalyon "Berani Matinya" dan dua kesatuan Tentara Pelajar, Komando Resimen Tentara Pelajar Iskandar Muda (TPI) dan Resimen TRIP Daerah Aceh.

Sumber daya manusia yang ambil bagian dalam "Perlawanan Rakyat Semesta" berdasarkan "Doktrin Perang Wilayah" dapat dihandalkan dan meyakinkan. Kelemahan- nya terletak pada kelengkapan alat senjata yang sangat banyak dibutuhkan. Maklum, jumlah laskar dan rakyat dipersenjatai cukup besar.

Sisi lain yang juga perlu diperhatikan, tehnik dasar setiap infanteri perlu pen- guasaan yang benar.

Untuk memenuhi kebutuhan ini, kesatuan TNI yang ada dapat melatih mereka. Tapi untuk mengatur strategi perang gerilya jangka panjang itu, banyak dibutuhkan persyaratan dengan kualitas tertentu. Dalam kaitan ini sejumlah pimpinan dan staf inti dari keempat Angkatan telah hijrah ke Aceh, seperti yang dijanjikan Presiden Soekarno semula.

Diantara mereka yang hijrah ke Aceh dan diserahi tugas pimpinan kemiliteran untuk menyatukan langkah dan menyamakan persepsi, terdiri dari perwira senior dan pimpinan teras.

Diantara mereka adalah Kolonel Hidayat, yang bertugas sebagai Panglima Tentara untuk Sumatera dan staf berdomisili di Kutaraja. Sebelumnya telah lebih dahulu hadir Kolonel R.M.S. Suryosularso diangkat sebagai Penasehat Gubernur Mihter disertai staf. Kolonel Askari, Letnan Kolonel A. Kartawirana, Mayor Ibrahim Adjie, Alex Kawilarang, Letnan Kolonel, memimpin di Tapanuü dan Sumatera Utara bagian selatan, Mayor Akil Prawireja di Riau dan lain-lain.

Dari Angkatan Laut yang mangkal antaranya KSAL Kolonel Subiyakto, Kapten Martadinata, Letnan Sudomo (sekarang Menko Polkam) dan sejumlah pimpinan teras lainnya.

Tidak ketinggalan Mayor Laut John Lie, seorang tokoh "Penyelundup" besar Asia Tenggara, yang mampu "mengecoh" blokade Angkatan Laut Belanda di perairan Aceh-Malaysia. Pd. KSAU H. Sujono juga menaruh perhatian terhadap posisi Aceh yang strategis, menugaskan sejumlah perwira penerbang seperti Wiweko dan crew untuk merawat dan menerbangkan pesawat terbang "Seulawah RI-001" dan "Seulawah RI-002".

Kehadiran sejumlah besar perwira tinggi dan menengah ke daerah Aceh, memang tidak lepas dari program persiapan operasional "Perlawanan Rakyat Semesta".

Tujuan persiapan "Perlawanan Rakyat Semesta" dengan menghadirkan sejumlah perwira tinggi dan menengah dari Jawa, disamping untuk membangun organisasi besar itu dan memantapkan keberadaannya, juga merebut kembali setapak demi setapak wilayah Rl yang dikuasai Belanda. Sementara kaum Republikein yang berada di pedalaman, juga melakukan serangan yang serupa dan terus mengganggu posisi Belanda.

Perlawanan Rakyat Semesta dilakukan dari dalam dan luar secara terlatih dan terpadu, diperkirakan akan mampu menggulung negara- negara "boneka" yang rapuh dan tidak berakar.

Masalah lain yang relevan dengan mobilisasi umum adalah kehadiran kaum pengungsi dari Sumatera Timur yang mengalir ke Aceh. Diperkirakan tidak kurang dari tiga ratus ribu jiwa masuk ke Aceh lewat Tiga Binanga di Tanah Karo, lewat Besitang dan Kuala Simpang di Aceh Timur dan melalui Sidikalang masuk Aceh Selatan.

Kehadiran kaum pengungsi itu di Aceh disambut baik sebagai saudara sekandung. Rakyat setempat menghormati sikapnya yang rela meninggalkan hak-miliknya dari pada dijajah kembaü oleh Belanda. Seluruh pengungsi ini disalurkan melalui profesinya untuk menunjang program "Perlawanan Rakyat Semesta". Ada yang menjadi guru, petani, pelaut dan ada pula yang bergabung dengan laskar rakyat setempat, siap-siap untuk merebut kembaü tempat yang baru ditinggalkan.

Rute Mayor John Lee nenerobos blokade Laut Belanda.

(Foto Koleksi "Aki")

Pengadaan Dan Penyaluran Logistik

Blokade Belanda yang ketat terhadap Republik di laut, udara dan darat menyebab- kan perekonomian kita merosot hasilnya dan suüt berkembang. Pengadaan logistik dan penyalurannya menjadi terhalang.

Sebuah diantara perairan Republik yang masih mungkin beroperasi dengan resiko besar adalah perairan Aceh-Malaysia.

Angkutan laut Belanda dan Inggeris menguasai perairan yang vital ini. Namun, kaum pejuang kita tidak pernah kehilangan akal, dengan bantuan pedagang tongkang yang mundar-mandir Lhok Seumawe-Penang dan Langsa-Kuala Lumpur pulang pergi, mereka berhasil menyelundupkan sejumlah senjata dan mesiu serta obat-obatan yang dibarter dengan karet, kopi dan hasil bumi lainnya.

KAPTEN JOHN LEE, alias Jahja Daniël Dharma, pangkat terakhir Laksamana Muda TNI-AL (Purn) adalah seorang tokoh pejuang yang terkenal keberaniannya menerobos blokade laut serdadu Belanda dalam Perang Kemerdekaan RL Dalam agresi militer II Belanda, ia memilïh perairan Aceh sebagai andalan Lhok Seumawe, Serang Jaya dan Pangkalan Susu, ketiganya di Aceh dan dermaga Labuhan Bilik di Sumatera Timur. Dalam gambar nampak jalur penerobosan pelaut Indonesia yang terkenal keberaniannya menerobos blokade Angkatan Laut Belanda di bawah pimpinan John Lee. Missinya yang berhasil itu memungkinkan dilakukan baxter terselubung dengan Malaya yang banyak membantu perjuangan kemerdekaan Rl masa itu. Hasil barter inilah yang diselundupkan ke Aceh untuk perang Gerilya. Pangkalan SERANG JAYA waktu itu dikordinasikan oleh Kapten Sudomo (sekarang Menko Polkam), Pangkalan Susu dikordinasikan Kapten Hasbi Wahidy KAPTEN JOHN LEE. (Mantan Gubernur Aceh). Kol. Toto "Aki".

Penyelundupan mereka ini dilakukan tengah malam yang sunyi dengan cara yang lihay, sehingga bisa diselamatkan dari intaian Angkatan Laut Belanda.

Kegiatan operasi ini dikoordinasikan Mayor Osman Adamy, Kepala Seksi X Divisi XTN1.

Salah seorang penyelundup besar yang disegani di laut oleh Angkatan Laut Belanda

adalah Mayor John Lie, yang dengan tehnik dan keterampilannya mampu meiepaskan diri dari sergapan Angkatan Laut Belanda.

Menjelang agresi militer II Belanda, Dr. van Mook dari sudut politik mengepung Republik dengan mendirikan negara-negara "tandingan" atau "boneka". Sementara Lak- samada Muda Pinke melakukan blokade total di laüt dan udara. Ruang gerak kapal John Lie pun menyempit.

Dalam suasana yang rawan itu, akhirnya Mayor John Lie memutuskan perairan Aceh sebagai pangkalan basisnya. Keputusan ini diambil berdasarkan pertimbangan, hanya Aceh lah satu-satunya wilayah Rl yang masih utuh dan bebas dari pendudukan Belanda. Juga sejaian dengan instruksi KSAL untuk membantu dan menghimpun kekuatan nasional di daerah Aceh untuk melakukan "Perlawanan Rakyat Semesta" berdasarkan Doktrin Perang Wilayah. (62-*).

Kehadiran John Lie di perairan Aceh telah banyak membantu upaya kita untuk melakukan perdagangan barter dengan alat senjata yang di butuhkan pejuang. Tentu saja lewat celah-celah penyeludupan yang penuh resiko.

Dari hasil barter inilah kebutuhan logistik dapat dipenuhi untuk daerah Aceh, front "Medan Area" di Sumatera Timur, Tapanuli, Sumatera Barat dan untuk persediaan perang gerilya jangka panjang.

Upaya untuk memenuhi kebutuhan alat perlengkapan senjata di dalam negeri juga terus digiatkan dengan memberikan prioritas pembangunan Kilang-Kilang senjata yang ada di 5 (lima) tempat di daerah Aceh.

Misalnya pabrik senjata yang ada di Lhok Nga (Aceh Besar) dan di Rantau Kuala Simpang (Aceh Timur) di samping 3 (tiga) Kilang senjata di kota Bakti (Aceh Pidie); Redelong (Aceh Tengah) dan di Macan Kumbang di Kutacane (Aceh Tenggara).

Pengadaan dan penyaluran logistik merupakan masalah yang rawan. Oleh sebab itu, apa yang dapat dipakai di dalam negeri lebih di utamakan. Alat senjata dan onder- dilnya yang belum mampu dibuat di dalam negeri, tidak ada pilihan lain harus menyeludupkannya lewat hku-liku perjuangan.

Berbicara tentang barter yang hidup antara Aceh-Malaysia dalam Perang Kemer- dekaan Rl, walau menghadapi tantangan resiko yang tidak kecil, cukup menarik per- hatian kaum pedagang dengan keuntungan yang gadang.

Waktu terjadi konfrontasi RI-Malaysia, maka semua asset pedagang Aceh yang disimpan pada bank-bank di Singapura telah dibekukan sementara. Jumlahnya meliputi trilyunan dollar Singapura.

Setelah hubungan RI-Malaysia normal kembali trilyunan asset pedagang Aceh itu telah berpindah tangan, dikuasai sejumlah perusahaan di Jakarta.

Inilah sejarah awal merosotnya karir sejumlah pengusaha Aceh yang pernah besar di masa lalu. (63-*)

62- *) Wawancara penulis dengan JOHN LIE, Laksamana Muda (Purn), Jakarta, 1988.

*63- ) Keterangan Tgk. Ad (seorangpedagangbarterAceh)yangmencari keadilan di Jakarta, Jakarta, 1988

Pendanaan Dan Pembelian Pesawat "Seulawah RI-001"

Kerangka keempat dari program yang dituangkan dalam "Bireuen Agreement" adalah masalah pendanaan dan pembelian pesawat terbang "Seulawah RI-001" untuk

menerobos blokade udara Belanda.

Kisah awal lahirnya gagasan ini berasal dari himbauan Presiden Soekarno kepada

masyarakat Aceh dalam pertemuan di Aceh Hotel dalam kunjungannya medio Juni 1948 ke Tanah Rencong.

Bung Karno mengundang tokoh-tokoh pejuang dan masyarakat pengusaha serta pemuda bertatap muka. Di situlah Bung Karno mencetuskan sebuah ide dan sekaligus menantang jiwa patriotisme rakyat Aceh untuk meneruskan dan melestarikan perjuangan kemerdekaan. Bung Karno harapkan malam ini dapat terkumpul sejumlah dana perjuangan untuk membeli sebuah pesawat terbang, yang sangat diperlukan dalam tahap perjuangan kemerdekaan sekarang ini. "Saya tidak makan malam ini, kalau dana untuk itu belum terkumpul", ucap Bung Karno seraya melempar senyumnya yang khas itu.

IR H. ABDUL MULUK

Kolonel Muhammad Chat

Arsitek Radio Perjuangan "Rimba Raya" di Takengon

"JABANG BAYI GARUDA".

Presiden Rl pertama, Soekarno menerima sumbangan uang dari rakyat dan Pemda Aceh yang diserahkan Residen Aceh T.M. Daudsyah dan Wakil Residen Aceh TPP Moh. Ali. Ini terjadi Juni 1948 sewaktu Bung Karno berkunjung ke Aceh dalam situasi Rl sedang gaiuat-gaiuatnya dan menghimbau rakyat Aceh gotong royong mengumpulkan uang membeli kapal terbang untuk menerobos blokade udara Belanda terhadap Rl. Spontan Ketua GASIDA (Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh) H.M. Djoened Joesoef memberikan respon

(tanggapan) dengan memberikan sejumlah uang yang diperlukan. Akhirnya terkumpul seluruhnya

120.000 dolar Singapura dan 20 kg. emas murni, dapat membeli dua pesawat terbang, yang diberi nama oleh Presiden "Seulazvah RI-001 " dan "Seulawah RI-002", yang kemudian menjelma menjadi "Garuda", sebuah perusahaan penerbangan yang besar dan berhasil (gambar atas). Di sampingnya terlihat monumen contoh pesazvat "Seulazvah RI-001" yang bertengger di arena "Blang Padang" dengan megahnya, sebagai bukti bakti rakyat Aceh terhadap perjuangan kemerdekaan Rl. (Koleksi Toto "Aki").

M. Djoened Joesoef

Para hadirin saling melirik soalnya siapa yang memulai. Tanggapan pertama ter- nyata datang dari seorang pemuda yang ganteng, namanya M. Djuned Joesoef. Usianya 30 tahun saat itu. Ia seorang pengusaha gede kebetulan menjabat pula sebagai ketua GASIDA (Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh). Kemudian pengusaha lainnya menyusul dan malam itu juga terkumpul dana cukup besar. Melihat hasil dana yang masuk, Bung Karno dengan senyum berseri mulai mengajak hadirin beranjak ke meja makan.

Tidak lama setelah itu, terkumpullah seluruh dana sebesar 120.000 dollar Malaysia dan emas 20 kg cukup membeli dua pesawat terbang jenis Dakota. Dalam jumlah itu telah masuk sumbangan Pemda Aceh, yang diberikan oleh Residen T.T. Daud Syah.

Pesawat itu kemudian oleh Bung Karno diberi nama :"Seulawah Rl - 001" sebagai penghormatan untuk masyarakat Aceh yang secara ikhlas dan tulus telah memberikan sumbangan yang berharga pada situasi sulit untuk bangsa yang sedang berjuang. Sebagai tanda kesetiaan rakyat Aceh terhadap negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Pesawat "Seulawah RI-001" baru tiba di tanah air akhir Oktober 1948, pada saat

situasi tanah air sedang mengalami kepungan politik blokade ekonomi dan militer dari pihak Belanda.

Pesawat perintis yang menjadi kekuatan pertama armada TNI-AU telah berjasa besar dalam menerobos blokade Belanda. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan

antara pemerintah pusat di Yogyakarta dengan PDRI di Suliki dan Kutaraja. Rute

Adisucipto-Yogyakarta-Halim Perdanakusumah, Palembang, Pekan Baru, Medan dan lapangan Blang Bintang di Banda Aceh.

Wiweko Soepono bersama crew yang menerbangkan "Seulawah RI-001" berkisah tentang bagaimana ketatnya blokade udara Belanda terhadap Republik.

Mantan Direktur Utama Garuda itu berucap, ada empat kali inisiatip menerobos blokade Belanda oleh Angkatan Udara kita.

Pertama, pesawat terbang Dakota RI-002 tujuan Manila. Yang menerbangkan

Opsir Udara II Budiarjo (mantan Menpen Budiarjo) dan opsir Udara II Muharto.

Kedua, pesawat Dakota, VT-CLA dari Singapura, yang ditembak oleh P-04 Kit- tyhawk Belanda. Gugur penerbangnya Komodor Muda Udara A. Adisucipto, Opsir Udara I Prof. Dr. Abdurrahman Saleh dan Opsir Udara I Adisumarmo Wirjokusumo.

Ketiga, pesawat Avro Anson RI-003 jatuh di Tanjung Hantu, Malaysia. Gugur penerbangnya Komodor Muda Udara A. Halim Perdanakusuma dan Opsir Udara I Iswayudi.

Keempat, pesawat "Seulawah RI-001" tujuan Rangoon.Birma. Penerbang Opsir Udara II Wiweko Soepono bersama crew.

Tugas yang dilakukan pesawat "Seulawah RI-001" adalah bawa senjata, mesiu dan obat-obatan. Sekaligus mengangkut Wakil Presiden Drs. Moh. Hatta dari Yogyakarta terus ke Sumatera tujuan Banda Aceh.

Ada dua pesawat yang disumbangkan rakyat Aceh. Yang satu dikaryakan di Pangkalan Rangoort.' i Dari hasil keuntungan diperoleh dua pesawat baru RI-007dan RI-009. Pesawat ini ditugaskan juga untuk mengatur pembiayaan perwakilan kita di luar negeri, terutama sejak putusnya hubungan Yogyakarta dengan perwakilan kita di luar negeri.

Pesawat yang satunya lagi dihadiahkan kepada pemerintah Birma, sebagai tanda terima kasih atas fasilitas yang diberikannya untuk perwakilan Garuda beroperasi di seluruh Birma (Myanmar).

Pesawat "Seulawah RI-001" yang berhasil dengan missinya itu adalah cikal-bakal pesawat Garuda pertama yang dikomersilkan. Pesawat itu kembali dari Rangoon sekitar akhir Juli 1949 dan masih dioperasikan sampai setahun kemudian. Kini ia tegak dengan anggunnya sebagai monumen "Seulawah RI-001" di Blang Padang yang menjadi kebanggaan dan bukti bakti rakyat Aceh terhadap Rl.

Menyinggung tentang masalah pengumpulan dana perjuangan, mendapat tanggapan yang positip dari masyarakat. Terlihat betapa tingginya rasa solidaritas sosial sesama, betapa tulus dan murninya hati mereka. Kita merasa iri dengan kepolosan dan keterbukaan mereka. Berbeda jauh dengan keadaan sekarang yang kita temui sehari-hari. Padahal kehidupan di zaman Perang Kemerdekaan tidak seindah sekarang, bukan ?

Dari jumlah dana yang dapat dikumpulkan dari masyarakat saat itu pernah tercatat sebesar M.$. 20.000.000,- yang dialokasikan untuk membiayai kegiatan para duta-duta dan kantor Perwakilan Rl di luar negeri. Diantaranya Singapura, Penang, India, Manila, Perwakilan kita di PBB. Termasuk biaya duta keliling H. Agus Salim ke Timur Tengah dan biaya Konperensi Asia di New Delhi.

Biaya ini diserahkan melalui Duta kita Utoyo Ramelan, SH di Singapura dan Dr. Sudarsono di New Delhi, India.

Dana Sultan Siak

Bantuan untuk pemerintah pusat di Yogyakarta pada saat-saat kritis, terutama sebelum dan sesudah agresi militer kedua, bukan hanya monopoli daerah Aceh saja. Tapi juga tercatat ketulusan hati seorang Raja yang merakyat. (64-*)

Sultan Siak itulah panggilannya sehari-hari. Nama lengkapnya Sultan Assaiyid Assyarif Qassim Abdul Jalil.

64-*) Prof. A. Hasjmy dalam makalahnya pada seminar/musyawarah Besar TPI Pejuang

45 berjudul "Divisi Rencong di Medan Area", Medan 15 Januari, 1989.

Ia menolak kerjasama dengan Belanda setelah Siak diduduki serdadu Belanda pada awal kemerdekaan. Istana yang megah dengan kehidupan yang serba mewah ditinggalkannya. Sultan dan Permaisurinya Teungku Syarifah Fadlun dan seorang anak angkatnya hijrah ke Tanah Rencong dan berjuang di pihak Republik untuk membebaskan daerah-daerah yang diduduki penjajah Belanda.

Pada awal kemerdekaan Sultan Siak Sri Indrapura itu pernah berkirim surat kepada Presiden Soekarno di Jakarta, yang menyatakan memilih Republik dan menyumbangkan F. 13.000.000 gulden kepada pemerintah pusat untuk biaya perjuangan kemerdekaan.

Tahun 1946, Sultan Syarif Qassim berangkat ke Medan menemui Gubernur

Sumatera, Mr. T. Moh. Hassan membicarakan status Siak Sri Indrapura dalam lingkun- gan Republik Indonesia.

Waktu itu di Medan sedang berkecamuk Revolusi Sosial, yang menjadi sasaran adalah kaum bangsawan (feodal).

Rakyat Sumatera Timur tahu Sultan Siak dilindungi Gubernur Mr. T.M. Hassan,

tapi mereka belum tahu, kalau sang Sultan juga adalah Republikein.

Akhirnya Mr. T.M. Hassan mengirimkan Sultan Siak ke daerah Aceh, setelah mengadakan kontak dengan Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, Jenderal Mayor Tgk. Mohd. Daud Bereueh. Yang mengawal Sultan Siak dalam perjalanan dari Pemantang Siantar ke Aceh adalah kesatuan Divisi Rencong di bawah pimpinan Kolonel Omar Husny, Mayor Pawang Leman dan Kapten Jusuf Skoni.

Sultan masuk ke Aceh tanggal 10 September 1947 dengan mendapat kehormatan.

Seluruh harta bendanya yang relatif banyak, juga dibawa serta.

Tak lama setelah kunjungan Bung Karno ke Aceh bulan Juni 1948 yang mengharap- kan rakyat dapat menyumbangkan sebuah pesawat terbang, rupanya himbauan ini sangat berkesan di hati sanubari sang Sultan. Suatu waktu niat baiknya itu diutarakannya kepada Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo ingin menyerahkan 80 % dari kekayaannya kepada pemerintah pusat di Yogyakarta. Secara polos Gubernur Miüter menyambut baik niat itu dan akan mengatur perjalanan kesana seraya mengusulkan langsung Sultan menyerahkannya kepada Presiden Soekarno di Yogyakarta.

Akhirnya bulan Oktober 1949 Sultan Siak dengan Permaisuri disertai pengiring

Tuanku Mahmud dan Zaini Bakri berangkat ke Yogyakarta dan Presiden Soekarno menyambutnya dengan penuh kehormatan.

Kedermawanan yang tulus dan ikhlas seperti ini sudah sangat langka ditemui dalam masyarakat moderen kita. Yang banyak malah, apa yang aku bisa makan dari kekayaan negara. Bukan apa yang aku bisa berikan untuk negara. Kecuali hanya sebatas janji atau
sumpah yang secara pro forma harus diikrarkan pada saat upacara pelantikan seseorang penjabat. Tidak semua memang....?

Astaghfirullah!

Radio Perjuangan "Rimba Raya"

Ide semula membangun Radio Perjuangan "Rimba Raya" di dataran tinggi pegunungan Gayo di Takengon, Aceh Tengah, merupakan suatu persiapan di bidang komunikasi massa untuk menunjang program perang gerilya rakyat jangka panjang. Menghadapi kolonialisme Belanda, yang ingin mencekamkan lagi kuku penjajahannya.

Ini sejaian dengan rencana "Perlawanan Rakyat Semesta" berdasarkan "Doktrin Perang Wilayah", yang akan menempatkan dataran tinggi pegunungan Aceh Tengah/Tenggara sebagai terugval basis perang gerilya jangka panjang.

Menurut Bustanil Arifin (65-*) sebagai pelaku sejarah dalam Perang Kemerdekaan Rl di daerah Aceh, ada sejumlah faktor yang mendorong pimpinan perjuangan saat itu, memandang urgensinya didirikan sebuah pemancar radio yang kuat dan mampu men- jangkau pendengarnya seperti di Penang, Kuala Lumpur dan Singapura di Malaya. Sebab, kalau siaran sudah sampai di Malaya, itu berarti pesan-pesan itu telah menyebar ke seluruh dunia.

Alasan Pertama

Untuk mengounter suara Radio Belanda yang dipancarkan dari Medan dan Sabang, yang hampir setiap malam melancarkan "psywar" (perang urat syaraf) terhadap para pejuang dan penduduk di daerah Republik di Aceh dan Sumatera Utara.

"Duel" di udara antara radio "Rimba Raya" yang kadang-kadang menamakan dirinya "Suara Indonesia Merdeka" dipancarkan semula dari desa Krueng Simpur dekat Bireuen, terus berlangsung seru dengan radio Belanda di Medan, radio Batavia, bahkan juga radio Hilversium di Holland. Debat ini dipantau oleh Kepala Perwakilan Rl di India, Dr. Sudarsono lewat radio Penang di Malaya dan Meneruskannya kepada Kepala Perwakilan Rl di PBB, L.N. Palar.

Inilah dasarnya pihak Belanda memburu dan ingin menghancurkan pemancar ini secepatnya. Karena pengalaman ini pula, yang menyebabkan lokasinya selalu berpin- dah-pindah. Dari desa Krueng Simpur, Gubernur Militer perintahkan ditarik ke pegunungan Cot Gue di Aceh Besar. Ternyata di sini pun pemancar ini tidak aman. Akhirnya diinstruksikan lagi oleh GM untuk diamankan di pegunungan "Rimba Raya" yang terkenal strategis dan hutan lebat yang sulit ditembus pesawat terbang Belanda. Alasan Kedua

Dengan dipilihnya dataran tinggi pegunungan Gayo Aceh Tengah/Tenggara sebagai terugval basis perang gerilya jangka panjang, sudah tentu diperlukan sebuah pemancar yang memiliki tekanan tinggi dengan kekuatan yang dapat dihandalkan.

65-*) H. Bustanil Arifin, SH, Sesepuh Masyarakat Aceh, uangkapan sewaktu meletakkan batu pertama pembangunan "MONUMEN" Radio Perjuangan "Rimba Raya" di

Takengon dalam rangka peringatan Hari Pemuda tanggal 28 Oktober 1987.

tandt T' f' SeSCPU h MaSyamkU t Ace h rnembubuhkan

PERMNcZ itvl ttZ r<™ b™Z»»«» monumen RADIO

PERJUANGAN RIMBA RAYA di Takengon tanggal 28 Oktober 1987, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda 1987. H Gambar bawahnya melukiskan sejumlah Pejuang 45 bersiap-siap menuju Bireuen terus ke

"J^^PF*^^,^ perW m "BIREUN KOTA PERJUANGAN" dan RADIO PERJUANGAN RIMBA RAYA" di Takengon, Aceh Tengah «Sr Arifin, SH, A.R. Ramly juga Arifin Amin, A.R. Saleh

Oleh sebab itulah sejak awalnya penyiar yang disiapkan meliputi berbagai bahasa, Inggeris, Urdu, Arab, Belanda, Cina dan tentu saja Indonesia.

Waktu itu seluruh ibukota propinsi di seluruh Jawa dan Sumatera sudah diduduki Belanda. Suara RRI pun tidak kedengaran lagi. Hanya radio "Rimba Raya" ini dalam situasi transisi yang sulit itu dapat berfungsi sebagai alat perjuangan yang mampu menyalurkan aspirasi nasional. Kevacuuman itu segera dapat diisi, sehingga rakyat Indonesia tidak mudah diombang-ambingkan oleh isyu-isyu yang menafikan perjuangan Republik, baik di dalam maupun di luar negeri.

"Selain pemancar yang ada di Wonosari, Jawa, masih terdapat pemancar radio yang kuat di Sumatera, yaitu di Kutaraja". (66-*)

Alasan Ketiga

Tugas lain yang teramat penting radio "Rimba Raya", yang mempunyai daya pancar dengan kekuatan 350 watt telegrafi dan 300 watt telefoni, memelihara komunikasi dengan pimpinan pusat perjuangan gerilya di sekitar pedalaman Yogyakarta dan Surakarta. Waktu itu hanya ada tiga pemancar gerilya, yang masih beroperasi secara terbuka. Yaitu siaran Republik dari hutan-hutan Surakarta, siaran Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Suliki, Sumatera Barat dan radio perjuangan "Rimba Raya" di Taken- gon, Aceh tengah.

Dari siaran radio gerilya yang dipancarkan di hutan Surakarta itulah radio "Rimba Raya" memperoleh informasi tentang Serangan Fajar 1 Maret 1949 pimpinan Letnan Kolonel Soeharto (sekarang Presiden Rl). Kemudian segera menyiarkannya secara luas ke luar negeri. Disamping berita siaran radio (news), peristiwa yang bersejarah itu, dikirimkan pula lewat radio telefoni Radio "Rimba Raya" kepada semua perwakilan Rl di luar negeri dan Ketua PDRI di Sumatera Barat. Berita yang menghebohkan kaum politisi dunia di PBB itu berbunyi "Tanggal 1 Maret 1949 pasukan TNI yang dipimpin Letnan Kolonel Soeharto (sekarang Presiden Rl) telah menyerang dan berhasil men- duduki kota Yogyakarta selama enam jam".

Dengan adanya siaran tersebut secara luas ke masyarakat dunia, maka terbantahlah isapan jempol Radio "Batavia" dan Radio "Hilversium" yang menuduh perjuangan R l sudah lumpuh dan para pemimpinnya sudah ditangkap.

Bahkan peristiwa ini telah membuat para diplomat kita bekerja ekstra keras di luar negeri dan berhasil meyakinkan para anggota Dewan Keamanan PBB, bahwa perjuangan Rl tetap berkobar-kobar mempertahankan kemerdekaannya dan TNI masih tetap tangguh dan pada waktu yang tepat akan memberikan pukulan yang mematikan.

Melihat kemajuan yang dicapai Indonesia mempertahankan kemerdekaannya, Dewan Keamanan PBB segera bersidang dan mengambil suatu keputusan politik untuk mendorong kedua belah pihak duduk di meja perundingan mencapai kesepakatan baru.

66-*) TB. Simatupang, Jenderal TNI-AD (Pum) dalam bukunya "Laporan dari Banaran", penerbit PT. Pembangunan, Jakarta, 1959.

Untuk menciptakan iklim yang serasi, maka DK PBB keluarkan instruksi per- tamanya untuk diadakan gencatan senjata. Dan setelah itu diadakan pendekatan-pendekatan baru menuju ke arah perdamaian.

Hasil dari pendekatan tersebut, akhirnya dicapailah suatu persetujuan yang dinamakan "Roem-Royen Statements" yang pokoknya berisi persetujuan kedua belah pihak untuk menghentikan tembak menembak. Kemudian sama-sama hadir dalam Kon- perensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag untuk melakukan penyerahan kedaulatan yang penuh kepada Negara Indonesia Serikat.

Keberhasilan "Perlawanan Rakyat Semesta"

Keberhasilan rakyat Indonesia untuk membela dan mempertahankan haknya sebagai bangsa merdeka yang telah diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945, merupakan nikmat dan rahmat yang telah dianugerahkan Allah kepada kita, sebagai konsekuensi logis dari perjuangan yang tekun dan gigih tak kenal menyerah.

Belanda yang punya nafsu besar hendak menjajah lagi Indonesia dengan melakukan dua kali agresi miüter, ternyata salah hitung terhadap Indonesia, akhirnya meniadi buntune.

JENDERAL SUDIRMAN, Panglima Besar didampingi Letnan Kolonel Soeharto (sekarang Presiden Rl) menerima kehormatan militer sewaktu memasuki ibukota Yogyakarta, setelah melakukan perang gerilya yang berhasil menggiring Belanda ke meja perundingan KMB di Den Haag dan menyerahkan kedaulatan RL

Gambar bawah memperlihatkan Letnan Kolonel Soharto (x) dengan pasukannya sedang siap-siap melakukan "Serangan Fajar" 1 Maret 1949 dan berhasil menguasai kota Yogyakarta selama enam jam. (Repro).

Kita sayangkan sikap Belanda yang kelim memandang kita sehingga dengan ter-

paksa kita melakukan segalanya untuk membela kemerdekaan ini. Meskipun akhirnya banyak darah tertumpah, banyak air mata berderai, banyak nyawa melayang.

Itulah nilai dan harga kemerdekaan, bukan pemberian, tapi dibeü dengan harga mahal ikhlas dan tulus. Ada empat faktor yang menunjang keberhasilan Indonesia mempertahankan kemerdekaannya dari serangan kolonial Belanda, terutama dalam periode dua tahun terakhir (1948 dan 1949) yang menentukan. Pertama Keberhasilan konsepsi "Perlawanan Rakyat Semesta" berdasarkan "Doktrin Perang Wilayah". Konsep ini ditemukan dan telah dilaksanakan dengan tepat dan efektif, melibatkan seluruh rakyat dan segenap potensi lingkungan yang ada (pembinaan teritorial). Konsep ini bertumpu dan mengacu kepada kemampuan ofensif yang luwes sekaligus kemampuan defensif yang efektif.

Dengan sistem ini Belanda kehilangan akal. Meskipun senjata moderen, tapi kekurangan personil mengcover wilayah yang begitu luas. Menyebabkan ia akhirnya terperangkap dalam taktik perang gerilya.

Kasus-kasus seperti ini banyak terjadi, sehingga serdadu Belanda frustasi.

Sedangkan pada sisi lain, pihak Belanda juga berpacu dengan waktu untuk membayar kredit-kredit yang jatuh tempo, sedangkan sasaran masih jauh.

Ternyata Belanda sendiri tidak siap berlama-lama terjun dalam perang gerilya jangka panjang.

Kedua Meletusnya Pemberontakan PKI/FDR/Muso di Madiun tanggal 18 September 1948, yang kemudian dikenal dengan nama "Peristiwa Madiun" telah berhasil ditumpas oleh ABRI dan Rakyat Indonesia.

Hikmah yang terkandung dalam peristiwa itu adalah terbentuknya "public opinion"

dunia, bahwa Indonesia bukanlah negara extremis atau komunis, seperti yang digembar- gemborkan Belanda selama ini.

Disamping menghadapi agresi militer II Belanda, Republik Indonesia masih mampu mengeliminir pengaruh PKI/Muso dari bumi Pancasila. Fakta dan realita ini menjadi bukti bagi politisi dunia di PBB dan Amerika Serikat, bahwa Rl negara demok- rasi yang perlu dibela hak azazinya. Sejak saat itulah barat mulai berhitung kembali dan melakukan pendekatan politik yang lebih objektif. Indikasi ke arah itu bertambah jelas, setelah mengamati sikap barat yang mendorong PBB untuk mengigring kedua belah pihak ke meja perundingan (KMB) dan menyerahkan kedaulatan kepada Indonesia tanpa syarat.

Ketiga

Serangan Fajar 1 Maret 1949 yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto dan berhasil menduduki kota Yogyakarta selama enam jam.

Keistimewaan dari peristiwa ini merupakan satu bukti yang kongkret bagi pihak barat dan politisi dunia di PBB, bahwa isyu yang dikembangkan Belanda selama ini tidak benar. Isyu itu menyatakan kesatuan TNI sudah lumpuh dan tidak punya kemampuan untuk bertindak, kecuali segelintir kaum extremis yang berkeliaran di pinggiran dan hutan-hutan.

Serangan umum yang dilakukan pasukan Pak Harto, justru disaksikan oleh Komisi Tiga Negara dan Perwakilan Asing yang ada di kota Yogyakarta. "Serangan Fajar" 1 Maret 1949 telah berhasil mencapai tujuannya, yaitu:

a. Ke dalam, meningginya moral rakyat serta TNI yang sedang bergerilya dan men- dukung perjuangan yang dilaksanakan para diplomat kita di PBB dan forum internasional.
b. Ke luar, menunjukkan kepada dunia internasional bahwa TNI mempunyai kekuatan yang mampu mengadakan ofensif dan mematahkan moral pasukan Belanda.
r

Keempat

Kecekatan para diplomat kita di PBB dan forum internasional yang dengan tekun dan gigih memasyarakatkan perjuangan bangsa Indonesia untuk membela dan memper- tahankan hak-haknya sebagai bangsa yang merdeka. Meski pun putus hubungan dengan pemerintahan Yogyakarta karena Yogyakarta diserbu dan diduduki Belanda serta para pemimpin Indonesia ditahan, termasuk Soekarno-Hatta ditawan dan diasingkan ke pulau Bangka. Namun komunikasi itu dapat dilanjutkan melalui siaran Radio Perjuangan "Rimba Raya" di Takengon, Aceh Tengah.

Melalui siaran inilah tercipta komunikasi dan informasi timbal balik antara Radio "Rimba Raya" - PDRI di Sumatera Barat, "Rimba Raya" - Radio Pejuang di Yogyakarta, dan "Rimba Raya" - Dr. Sudarsono (Perwakilan Rl di Luar Negeri).

Kelima

Makbulnya doa mayoritas umat Islam Indonesia, yang hak-haknya sudah dizalimi oleh fasisme Jepang dan kolonialisme Belanda, masing-masing tiga setengah tahun dan tiga setengah abad.

Doa dan karya (ihktiar) ini merupakan dua syarat pokok yang menjadi jaminan lahirnya Indonesia Merdeka, sesuai dengan firman Allah SWT : Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu bangsa, sebelum bangsa itu sendiri bangun dan berjuang untuk merubah nasibnya sendiri.

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

22 DESEMBER 1958, Kasad-Jenderal TNI-AD Abdul Hans Nasution menyerahkan panji "Sanggamara" kepada Komandan dan Komando Daerah Militer Aceh "Iskandar Muda", Sjamaun Gaharu (Maj. Jen. Purn) dalam sebuah upacara militer di Kutaraja, Aceh. (KoloksiFoto "Aki").

CATATAN PINGGIR

(CP-1) Hari Selasa tanggal 4 September 1945 berlangsung rapat Gabungan Panglima Tertinggi Sekutu di Asia Tenggara dipimpin Laksamana Lord Louis Mountbatten. Rapat diadakan di Markas Besar Kandy, Srilangka.

Hadir antaranya Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Dr. H.J. Van Mook, Jenderal Sir William Slim selaku Panglima Tertinggi Angkatan Darat Asia Tenggara, Admiral C.E. Douglas Pennant, Perwira Senior Armada Hindia Belanda, Jenderal Mayor R.F.S. Denning, Deputy Utama Perwira Administrasi, Jenderal Mayor B.C.H. Kimmins, Asisten Kepala Staf, Laksamana Madya Udara

G.E. Gibbs, Asisten Deputy Kepala Staf, Mayor Jenderal W.R.C. Penney, Kepala Staf Intelijen, M.E. Denning Eag. Kepala Penasehat Politik, Mayor Jenderal
F.G.L. Wiejerman, Kepala Perwira Staf NICA, dan Ch.o Van der Plas, Perutusan Hindia Belanda. Dalam rapat itu Dr. Van Mook panjang lebar melaporkan perkembangan yang terjadi d i Indonesia, yang dinilainya pernyataan kemerdekaan Indonesia tidak lebih sebagai "boneka Jepang". Untuk meyakinkan Panglima Tertinggi Sekutu, Dr. Van Mook telah menelanjangi Presiden Soekarno dan menamakannya sebagai kaki tangan militerisme Jepang. Tapi ocehan Va n Moo k itu tidak memperoleh tempat di hati Lord Louis Mountbatten. Terbukti dengan instruksi yang dikeluarkan untuk pimpinan pasukan Inggeris d i Jakarta, supaya bertindak hati-hati, pelihara ketertiban. Inilah dasar kebijaksanaan yang digariskan Lord Louis Mountbatten. Fitnah yang disampaikan Van Mook menjelek-jelekkan Presiden Soekarno, dapat diikuti di bawah ini: Keterangan ini disadur dari buku "OFFICIËLE BESCHEIDEN BETREF-FENDE D E NEDERLANDS-INDONESISCHE BETREKINGE N 194 5 - 1950". jilid pertama ditulis oleh Dr. S.L. Van der Wal, terbitan 's-Gravenhage,
1971. Hal. 82-86. Secara terperinci Van Mook mengobral fitnahannya, sebagai berikut: Juni 1943. Dalam sidang Parlemen Jepang ke-82 Perdana Menteri Tojo telah menjanjikan kemerdekaan dalam waktu tidak terlalu lama lagi bagi negeri-negeri Birma, Pilipina, Jawa dan Aceh. 22 September 1943. Diadakan pemilihan Dewan Pusat untuk Jawa sebanyak 18 orang, yang diangkat oleh Jepang dari 27 propinsi dan satu dari ibukota Jakarta. 2 orang diangkat dari

Yogyakarta (oleh Sultan) dan 23 orang lainnya diangkat oleh Panglima Tertinggi Serdadu Jepang Jakarta.

5 November 1943.

Pertemuan bangsa-bangsa "Asia Timur Raya" di negeri Sakura Tokyo, yang dihadiri Jepang, China, Thailand, Monchuko, dan Birma. (Indonesia tak diundang).

14 November s/d 4 Desember 1943.

Soekarno-Hatta dan Ki Bagoes Hadi Koesoemo hadir selaku wakil pimpinan "REPUBLIK" di Tokyo.

Kaisar Hirohito menganugerahkan bintang kelas II untuk Soekarno dan bintang kelas III untuk Hatta serta Ki Bagoes Hadi Koesoemo dalam rangka pengajuan kerjasama dengan militer Jepang di Pulau Jawa. 21 Januari 1944.

Sidang Parlemen ke-84 Jepang, Perdana Menteri Tojo mengumumkan par- tisipasi/kongkret bangsa-bangsa Asia Timur Raya dalam Pemerintahan Jepang. Diantara bangsa-bangsa itu disebut Malaya, Sumatera, Jawa, Borneo dan Sulawesi.

7 s/d 12 September 1944.

Sidang Parlemen luar biasa ke-85. Perdana Menteri Jepang Koiso mengumumkan janji pemerintah Jepang untuk memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dalam waktu dekat.

1 Maret 1945.

Panglima Tertinggi Jepang mengumumkan langkah dan kebijaksanaan baru.

a. Mempersiapkan panitia penyelidik untuk menyusun program menuju kemerdekaan Indonesia.
b. Membangun lembaga latihan dasar nasional. c Memasyarakatkan publik opini dalam menyambut kemerdekaan. 29 April 1945. Panglima Tertinggi Jepang membentuk Panitia Penyelidik Kemerdekaan. Jumlah anggotanya 50 orang diantaranya 7 orang Jepang. 27 Juli 1945. Penguasa militer Jepang di Sumatera membentuk sebuah Panitia Penyelidik untuk kemerdekaan Sumatera.

]EPANG ketika menyerah kepada Jenderal Mac Arthur di atas kapal perang "Missourt" di Teluk Tokio 2 September 1945. Gambar bawah memperlihatkan Bung Karno dan Bu Tatmawati bersama wanita-wanita Indonesia lainnya sedang bergotong royong meningkatkan produksi pertanian untuk kesejahteraan rakyat banyak. Foto ini diambil di zaman Jepang menjelang menyerah kepada Sekutu. (Repro Bronbeek!Aki).

7 Agustus 1945.

Sadao Iguchi juru bicara Badan Penerangan Pemerintah di Tokyo, mengumumkan berulang kal, dalam berbagai bahasa, Jepang bermaksud menghadiahkan Kemerdekaan untuk Indonesia. 7 Agustus 1945.

Soekarno secara pribadi berpidato di radio mengumumkan sebuah panitia untuk kemerdekaan Indonesia dalam waktu singkat dilantik oleh Panglima Tertinggi Jepang, seraya menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus terhadap Tenno He.ka. Ditegaskannya, rakyat Indonesia bersama Jepang akan tetap bersatu-padu untuk melawan dan mengusir Belanda dan Sekutu sampai titik darah penghabisan. 8 Agustus 1945.

Soekarno, Hatta da n Dr. Radjiman dipanggil Panglima Tertinggi Jepang Kawasan Sela tan. y B 14 Agustus 1945

Soekarno, Hatta dan Radjiman kembali ke Jakarta dan mengumumkan pengangkatan Panitia Penyelidik Kemerdekaan Indonesia. 17 Agustus 1945.

Secara resmi diumumkan lahirnya Panitia persiapan Kemerdekaan Indonesia. 19 Agustus 1945.

Kemerdekaan Indonesia telah diumumkan lebih dahulu oleh Panglima Tertinggi Jepang kemudian oleh Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia. Soekarno sebagai Presiden terpilih, dalam enam bulan pertama melakukan kepemimpinansecaradiktatorial. (Dari catatan terakhir ini terlihat rupanya Dr. Van Mook tidak persis tahu bahwa proklamasj kemerdekaan Republik Indonesia itu dilakukan oleh Soekarno sendiri bukan oleh Jepang. Dan tanggal proklamasinya 17 Agustus 1945. Dengan demikian lebih jelas lagi tuduhan yang terperinci itu tidak lebih hanya fitnah murahan, yang menjungkirbalikkan fakta dengan memberinya tafsiran semau gue. Pen.)

(CP-2) Pimpinan "API" Aceh.

Tanggal 27 Agustus 1945 di Hotel Central Jalan Muhammad Jam, Banda Aceh diadakan pertemuan antara pemuda bekas Gyugun, Heiho, Tokobetsu Hikoyo Kinmutai, Tokobetsu Keisatsu Tai dan pemuda-pemuda yang tergabung dalam organisasi pertahanan rakyat yang dibentuk Jepang.

262 .

Seperti diketahui, setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, pemuda-pemuda itu dilucuti senjatanya oleh Jepang disuruh pulang kampung masing-masing dengan diberi bekal sedikit beras, kain, sabun, dan lain-lain keperluan rumah tangga. Semula pemuda-pemuda ini merasa gembira dilepaskan dari kewajiban sehari-hari, yang dalam banyak'hal dipakai oleh Jepang untuk memadamkan keresahan masyarakat, yang mulai muak terhadap sikap dan tingkah laku Jepang. Tapi, pada sisi lain berkembang pula isyu baru yang cukup menggelisahkannya. Mantan Gyugun, Heiho dan lain-lain akan dimintai tanggungjawab, bila Sekutu dan NICA mendarat di bumi Indonesia. Mendengar isyu ini mantan Gyugun, Heiho dan lain-lain sadar akan bahaya yang menyapanya di muka. Oleh sebab itu, mereka mencari jalan mendapatkan kembali senjata-senjata mereka dari Jepang dengan cara pendekatan yang halus atau kasar, sesuai keperluan. Mereka berkesimpulan, daripada Belanda/NICA datang ke Aceh untuk menun- tut mantan Gyugun, Heiho dan lain-lain, lebih baik mereka mendahului "menyikat" setiap Belanda/NICA yang mau menjejakkan kakinya di Bumi Pertiwi. Dalam suasana seperti inilah lahirnya intruksi dan datangnya kurir ke pelosok Aceh untuk membentuk barisan pertahanan "API". Pucuk dicinta ulam pun tiba, kata pepatah leluhur kita. Momentum ini benar-benar dimanfaatkan secara efektif oleh pimpinan "API" Aceh. Dan dalam waktu singkat, kesatuan organisasi bersenjata "API" dibentuk di seluruh Aceh, mulai dari kota sampai ke pedesaan. Tokoh pejuang yang mempelopori gagasan ini antara lain adalah Sjamaun Gaharu, T.A. Hamid Azwar, Husin Jusuf, Sayid Ali, Bachtiar Idham dan Said Usman. Untuk pertama kalinya tersusunlah pimpinan Markas Daerah "API" daerah Aceh, sebagai berikut: Komandan Divisi : Sjamaun Gaharu. Kepala Staf : T.A. Hamid Azwar. Sekretaris : Husin Jusuf. Persenjataan : Said Ali. Perlengkapan : Said Usman. Operasi : T. Sarung/Bachtiar Idham. Polisi Militer : Muhammad Din/Sabar Datuk. Umum : Saiman Wakil Markas Daerah (WMD) dibentuk setiap kabupaten. WM D I berkedudukan di Banda Aceh pimpinan Nyak Neh.

  1. Said Ali :
    Komandan untuk Banda Aceh. 2 Usman Nyak Gade : Komandan untuk Banda Aceh II.

  2. Said Abdullah :
    Komandan untuk Banda Aceh III.

(Banda Aceh dibagi tiga kelompok Batalyon).
4. Teuku Manyak : Komandan untuk Seulimum.

WMD II berkedudukan di Sigli, pimpinan T.A. Rahman Keumangan dengan Kepala Staf T. Risyad Bambi.

  1. T. Rica :
    Komandan untuk Sigli.

  2. Abdul Gani :
    Wakil Komandan untuk Sigli.

  3. T. Abdullah :
    Komandan untuk Lammeulo.

  4. Hasballah Haji :
    Komandan untuk Meureudu.

WMD III berkedudukan di Bireuen, pimpinan T.M. Daud Samalanga.

Komandan untuk Samalanga. Komandan untuk Bireuen. Komandan untuk Bireuen II.

WMD I V berkedudukan di Lhok Sukun, pimpinan T. Mohd. Syah / Ibrahim

  1. Teuku Hamzah :
  2. Agus Husein :
  3. Husin Jusuf : Hatta.
  4. Hasbi Wahidy :
  5. Nurdin Hatta :
  6. AjadMusyi :
  7. A. Gani Dedeh :
  8. Teuku Zulkifli :
  9. T. Jakob Muli :
    Komandan untuk Panton Labu. Pembantu. Komandan untuk Lhok Sukun. Pembantu.

Pembantu. Komandan untuk Lhok Seumawe II.

  1. A y u b :
  2. Nurdin Sufi :
  3. Daud Malem :
    Komandan untuk Langsa. Komandan untuk Idi. Pembantu.

  4. T. Usman Mahmud : Komandan untuk Lhok Seumawe.
    WMD V berkedudukan di Langsa, pimpinan Bachtiar Dahlan / Isrin Nurdin.

  5. B. Nainggolan :
    Komandan untuk Kuala Simpang.

  6. Peutua Husin :
    Komandan untuk Langsa ü.

WMD VI berkedudukan di Kutacane, pimpinan Muhammad Din.

Komandan untuk Kutacane. Wakil. Komandan untuk Blangkejeren. Wakil. Komandan Polisi Tentara.

WMD VII berkedudukan di Meulaboh, pimpinan T. Usman Jakub / T. Cut

  1. Bahrin :
  2. Maaris :
  3. Maat :
  4. M. Jalim Umar :
  5. A. Rahim : Rahman.
  6. Hasan Ahmad :
  7. Rakub :
  8. Hamidy Hs. :
  9. A. Hanafiah :
  10. T. Gedong :
  11. A.K. Jailani :
  12. Indah :
    Komandan untuk Meulaboh. Wakil. Komandan untuk Suak Timah. Wakil. Pembantu. Komandan untuk Calang. Pembantu.

  13. Abdullah Sani :

  14. H.M.Syarif :
  15. B.B. Jalal :
  16. Nyak Hukum :
  17. Iskandar :
    Komandan untuk Tapaktuan. Komandan untuk Blang Pidie. Wakil. Komandan untuk Bakongan. Wakil.

WMD VIII berkedudukan di Tapaktuan, pimpinan M. Nazir / Nyak Adam Kamil.

Tanggal 12 Oktober 1945 pimpinan "API" Aceh dilantik oleh Residen Aceh, T. Nyak Arif, sebagai pasukan resmi negara Rl. "API" menjadi dasar Tentara Republik Indonesia. "API" akan mempertahankan kemerdekaan dan menjaga keamanan dan ketertiban umum.

Medio Desember 1945 nama "API" dirubah menjadi TENTAR A KEAMANA N
RAKYAT (TKR SUMATERA. Susunan pimpinan dan staf, sebagai berikut: R KOMANDEME N

) dengan sebutan DIVISI VO"K

PIMPINAN DIVISI V/TKR KOMANDEMEN SUMATERA.

  1. Komandan : Kolonel Sjamaun Gaharu 2- Wa kü : Mayor Nyak Neh Rica.
  2. Kepala Staf : Mayor T.A. Hamid Azwar.
  3. Ajudan Umum : Mayor Husin Jusuf.
  4. Kepala Perlengkapan/ Keuangan : Mayor T.M. Daud.
  5. Polisi Tentara : Letkol. Muhammad Din dan Mayor Sabar Datu. Membawahi pasukan 3 (tiga) Resimen :
    a. Resimen I berkedudukan di Kutaraja. Komandan Mayor T. Mohd. Syah/Kepala Staf Mayor Wahab Makmur.
    b. Resimen II berkedudukan di Bireuen. Komandan Mayor Cut Rahman/Kepala Staf: Kapten Ibrahim Harta.
    c. Resimen III berkedudukan di Meulaboh. Komandan Mayor M. Nasir/Kepala Staf: Mayor T. Usman Jakub. Tanggal 7 Januari 1946 Tentara Keamanan Rakyat dirubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat (TKR). Dalam proses selanjutnya, tanggal 25 Januaril946 Tentara Keselamatan Rakyat dirubah lagi menjadi Tentara Repulik Indonesia (TRI). Tanggal 17 Februari 1946 nama Divisi V/TKR Komandan Sumatera (untuk Aceh) diubah lagi menjadi Divisi V/TR I Komandemen Sumatera, yang bersimbulkan (badge) Gajah Putih, yang diresmikan oleh Jenderal Mayor T. Nyak Arif atas nama Staf Umum Tentara Republik Indonesia Komandemen Sumatera, dengan susunan sebagai berikut:

    (D STA F DIVISI V / TRI KOMANDEMEN SUMATERA.

  6. Komandan Divisi : Kolonel Sjamaun Gaharu.

  7. Kepala Staf : Mayor T.A. Hamid Azwar.

  8. Ajudan Staf Umum : Mayor Husin Jusuf.

  9. Kepala Intendance : Mayor Said Usman.
  10. Kepala Keuangan : Mayor Bachtiar Idham.
  11. Kepala Genie : Mayor T. Hamzah.
  12. Kepala Polisi Tentara : Mayor Sabar Datuk.
    (II) STA F RESIMEN.

  13. Resimen I di Kutaraja. Komandan Mayor Hasballah Haji. Kepala Staf Kapten T. Manyak.

  14. Resimen II di Bireuen. Komandan Mayor T. Cut Rachman. Kepala Staf Kapten Nurdin Sufi.
  15. Resimen III di Meulaboh. Komandan Mayor M. Nazir. Kepala Staf Kapten Nyak Adam Kamil.
    (CP-3)

DE TACHTIG JARIGE OORLO G (Perang 80 Tahun) adalah istilah yang sering digunakan sebagian peminat sejarah Belanda untuk merinci lamanya perang Aceh-Belanda, yang hampir-hampir saja membuat bubar dan bangkrut kerajaan Belanda. Ini terjadi karena persepsi dan informasi yang diperoleh Belanda tentang Aceh keliru. Ini bermula tahun 1867. Gubernur Jenderal Wijer, membuat surat kepada Sultan Aceh, supaya mengakui kekuasaan Hindia Belanda yang berpusat di Batavia. Ajakan itu ditolak. Subversi Belanda mulai bereaksi. Tahun 1872 surat kedua melayang lagi. Surat ini pun ditolak oleh Sultan Aceh, Sultan Alaiddin Mahmud Syah yang memerintah saat itu (1870-1874 M). Tindakan berikutnya Gubernur Jenderal Hindia Belanda Mijer mempersiapkan aksi perang menaklukkan Sultan Aceh.

Tanggal 22 Maret 1873 Pemerintah Hindia Belanda di Batavia mengirim armada

kapal perang "Citadel Van Antwerpen" dengan kesatuan angkatan perang yang dipimpin Mayor Jenderal JHR Kohier.

Kesatuan terdiri dari 168 orang perwira, 3.200 serdadu lengkap persenjataan.

Dalam armada itu juga turut seorang utusan pemerintah Hindia Belanda,

Nieuwenhuizen untuk berunding dengan Sultan Aceh supaya tunduk dan mengakui kekuasaan Hindia Belanda di Aceh.

Ajakan itu ditolak, karena dinilai telah menyalahi perjanjian

(SumateraTractaat)-1200, yang dibuat sebelumnya antara Aceh-Inggeris, yang sepakat menghormati wilayah Sultan Aceh. Perundingan gagal, diiringi

meletusnya perang Aceh-Belanda, tanggal 8 April 1873.

Serangan Belanda yang pertama ini gagal dan mereka mundur, karena Komandannya Mayor Jenderal JHR. Kohier tewas di ujung senapan pejuang Aceh. Tertembak di bawah pohon kayu rindang dekat masjid, yang kemudian pohon itu di na ma kan Kohier.

Pengganti Mayor Jenderal Kohier, dengan armada jauh lebih besar kembali menyerang kerajaan Sultan Aceh kemudian di bawah pimpinan Letjen. J. Van Swieten.

Perang frontal yang panjang berlangsung sampai tahun 1904, setelah Jenderal Van

Daalen menduduki dataran tinggi pegunungan Gayo-Alas.

Namun perang belum akhir, pejuang Aceh tidak mau menyerah. Mereka melakukan perang gerilya sampai Belanda menyerah kepada Jepang tahun 1942

dan dilanjutkan sampai Jepang menyerah kepada Sekutu tahun 1945. Aceh tetap bergolak menentang setiap bentuk penjajahan Belanda atau Jepang.

Ini dapat diikuti dari lintasan sejarah di bawah ini.

a. Perang Keureutoe.

Tahun 1905 sampai 1914 meletus perang di wilayah Keureutoe (Pasei) dipimpin T. Chik Tunong, Cut Meutia, Pang Nanggroe, Tgk. Paya Bakong dan diteruskan oleh pengikut-pengikutnya.

b. Perang Bakongan.

Tahun 1925 sampai 1927 berkobar peperangan Bakongan (Aceh Selatan) dipimpin T. Raja Angkasah, T. Cut Ali. Perang ini banyak menelan korban perwira Belanda yang terkenal pada zamannya, seperti Komandan Batalyon Kapten Paris, Kapten Snel dan lain- lain. Disamping ratusan serdadu yang terbunuh. Di pihak rakyat juga banyak yang syahid.

c. Tangsi Blangkejeren digempur.

Tahun 1927 tangsi kompeni di kota Blangkejeren, Aceh Tengah digempur oleh pejuang Aceh, yang dikoordinir oleh Muhammad Din dan para ulama seperti

Datok Seure, Datok Pening, Datok Utel, Musa Aman Kong dan kaum muda seperti Bahrin, M. Saleh Jakobi, Aman Gxeta, dan lain-lain. Pemberontakan itu dapat dipatahkan oleh serdadu Belanda karena telah bocor sebelumnya. Muhammad Din ditangkap dan di buang ke Digul.

d. Pemberontakan Lhong.

Tahun 1933 meiedak pemberontakan rakyat di Lhong (Aceh Besar) yang menelan korban pada kedua belah pihak. Termasuk seorang perwira KNIL yang pemberani Kapten Haga tewas. Kemudian tahun 1937 meletus pula pemberontakan rakyat di Leupeng. Tangsi Belanda menjadi sasaran jibaku, yang menimbulkan korban dari kedua belah pihak.

e. "Aceh Moord"

Disamping pemberontakan dan pertempuran dalam skala militer operasional, serta perang gerilya yang dipimpin oleh Pang-pang dan datok-datok di belantara hutan Aceh, di sana-sini berkecamuk pula pembunuhan politik (Aceh Moord) yang banyak merenggut nyawa kalangan pemerintah Belanda. Pembunuhan itu terjadi tidak pandang bulu terhadap orang Belanda dan kaki tangannya, baik di jalan raya, di atas kereta api atau di tempat keramaian. Pokoknya di setiap tempat yang memungkinkan, peristiwa itu bisa saja terjadi dilakukan orang Aceh yang mengamalkan "Jihad fisabilillah". Pembunuhan politik ini mencapai klimaksnya pada tahun 1942 menjelang tentara Jepang masuk ke Indonesia.

Controleur (Wedana) J.C. Tinggelman ditikam di kota Seulimum. Ini terjadi tanggal 23 Februari 1942. Besoknya peristiwa lain menyusul. Kepala Exploitase Kereta Api Aceh, Von Seperling dibunuh di kampung Keumiro.

Asisten Residen Aceh Pidie, Van den Berg di Sigli mengalami nasib yang serupa tanggal 12 Maret 1942. Ia mati terbunuh dalam keadaan yang menyedihkan.

JHR KOHLER, Jenderal Mayor adalah pemimpin pasukan dan armada kapal perang Belanda "Citadel Van Antwerpen" berkekuatan satu Resimen tempur lengkap sen- jata dengan sekitar empat ribu serdadu yang terlatih. Expedisi ini diperintahkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia, Wijer, untuk menaklukan Sultan Aceh dan mendudukinya. Ini terjadi tahun 1873. Tapi sebelumnya tahun 1867, Wijer telah memberi ultimatum untuk menyerah atau perang. Dalam pertempuran itu sang Jenderal tertembak mati oleh seorang prajurit Aceh dalam sebuah pertempuran di dekat Mas- jid ' 'Baitur Rahman'' yang terletak di pusat kota Banda Aceh. Jenderal Belanda tewas di bawah pohon rindang yang ada dalam pekarangan masjid tersebut. Kemudian Belan- da memberi nama kepada pohon itu "Kohier Boom"(Pohon Kohier). Akhirnya Belanda memutuskan menebang dan membongkar "Pohon Kohier" itu.

(Repro Bonbeek/"Aki").-

§ O

-ai

O

I 5 •« S

a. Pemberontak Bayu

Tanggal 10-11-1942 meletuslah pemberontakan pertama bangsa Indonesia terhadap Jepang, yaitu di desa Bayu, Lhok Seumawe dipimpin oleh seorang ulama muda Tgk. Abdul Jalil, usia sekitar 45 tahun.

Ia memimpin Dayah (pesantren) Cot Plieng, melanjutkan cita-cita mertuanya yang meninggal sebelumnya.

Tgk. Abdul Jalil murid seorang ulama besar di Aceh, yaitu Tengku H. Hasan Krueng-Kale.

Pada awal revolusi 1945, yaitu 15 Oktober 1945, Tengku H. Hasan Krueng-Kale bersama 3 ulama besar lainnya, yaitu Tgk. Mohd. Daud Beureuh, Tgk. H. Djakfar Sidik Lamdjabat dan Tgk. H. Ahmad Hasballah Indrapuri pernah mengeluarkan "Fatwa Perang Sabil" bagi rakyat Aceh melawan penjajahan Belanda yang ingin kembali ke Indonesia.

Tgk. Abdul Jalil menamakan Jepang sebagai "Kafir Majusi" dan Belanda sebagai "Kafir Kitabi". "Kafir Majusi" ini jauh lebih bahaya dari "Kafir Kitabi". (Belanda kaphee fneukitab, Jepang keuparat biek majusi). Disuruh membungkuk sebentar-sebentar, kiblat berubah ke matahari. (Ji yue rukuk sikeujap keujap, ji ubah kiblat u matahari).

Selanjutnya Tgk. Abdul Jalil menjuluki Jepang "Ta leet ase, ta peutamong bui". Artinya : Kita usiranjing, tapi kita masukkan babi.

"Ji plueng kaphee, ji tamong dajeu". Artinya : "Kafir lari masuklah dajal".

Kata-kata sinis yang dilemparkan ke Jepang diucapkannya secara terbuka dalam dakwah dan khutbahnya di masjid Cot Plieng itu.

Suara itu tentu saja sampai ke Jepang dan berusaha menangkapnya, namun, ia tak gubris semua peringatan serdadu Jepang.

Tgk. Abdul Jalil bersama ratusan muridnya serta ribuan pengikutnya di kampung Bayu dan sekitarnya, sudah ikhlas berjihad fi sabilillah, daripada hidup di bawah pemerintahan kaum Dajal yang majusi.

Demikianlah, tanggal 10 November sampai 13 November 1942 berkecamuk Perang Bayu yang dahsyat dan banyak jatuh korban dari kedua belah pihak.

Tgk. Abdul Jalil bermarkas dalam masjid dikelilingi oleh murid dan pengikutnya yang setia. Setelah Jepang bombardemen masjid dengan tembakan artileri yang bertalu-talu, barulah Tgk. Abdul Jalil dan pengikutnya keluar dari masjid dan menghadapi perang bersosoh dalam jarak dekat. Karena serdadu Jepang sampai mempergunakan senjata berat melawan rencong, keiewang dan senapan mesin, akhirnya Tgk. Abdul Jalil syahid, setelah perang berkecamuk selama tiga hari tiga malam.

T71

b. Pemberontakan Pandrah

Peristiwa ini terjadi tanggal 5 Mei 1945 di Pandrah, Samalanga, Aceh Utara. Jepang memeras harta benda dan padi rakyat sehingga kesabaran rakyat sudah sampai ke batasnya. Rakyat bersama Gyugun bertekad melawan aturan Jepang yang tidak adil dan sampai terjadi bentrokan senjata yang memakan korban.

c. Pemberontakan Janka Buya Ini terjadi bulan November 1944, merupakan pemberontakan Gyugun kepada Jepang di desa Janka Buya dekat Meureudu. Tengku Hamid, perwira Gyugun dengan 2 peleton senjata lengkap meninggalkan kesatuannya dan bertahan di gunung di atas kampung Beuracaan dekat Janka Buya. Tuntutan mereka Komandan Kompi Letnan Nemoto yang kejam dan sadis supaya diganti. Tuntutan mereka dipenuhi dan T. Hamid dan kawan-kawan kembali ke asrama. Demikianlah serentetan "perang-panjang" yang melanda Aceh selama 8 dekade,
terhitung sejak ultimatum Gubernur Jenderal Mijer tahun 1867 ditujukan kepada Sultan Aceh dan berakhir sampai penjajahan "Kafir Kitabi" tahun 1949 yang diselingi penjajahan "Kafir Majusi" tahun 1942-1945.

(CP-4) KOMPOSISI DAN PERSONALIA LASKAR PERJUANGAN DI ACEH

(I). Badan Perjuangan rakyat MUJAHIDIN lahir Agustus 1945 dan dikukuhkan 1947 tergabung dalam kesatuan bersenjata yang diberi nama DIVISI X/TGK. CIK DI TIRO. Hasballah Daud pimpinan pertama, kemudian digantikan oleh Letkol. Cek Mat Rahmany. Komposisi dan personalia pimpinan saat peleburan ke dalam TNI, sebagai berikut:

A. Staf Divisi

  1. Komandan Divisi • : Cek Mat Rahmany.
  2. Kepala Staf : Abdul Muthalib.
  3. Kepala Seksi I : Abdul Muthalib.
  4. Kepala Seksi II : UyasLeubey.
  5. Kepala Seksi BI : A. Hamdany.
  6. Kepala Seksi IV : Hasballah Asyek.
  7. Kepala Seksi V : Said Ali.
  8. Kepala Seksi VI : Ajad Musyi.

Yusuf Bachrun. Yusuf H. Saleh. Hasballah Daud.

  1. Kepala Seksi VTI :
    10. Kepala Seksi Vffl :
    11. Penasehat :

    B. Staf Resimen

a. Resimen I Aceh Besar di Kutaraja

1. Komandan Resimen :
2. Kepala Staf :
3. Batalyon I-Komandan :
4. Batalyon II-Komandan :

b. Resimen II Aceh Pidie di Sigli

1. Komandan Resimen :
2. Wakil Komandan :
3. Batalyon I-Komandan :
4. Batalyon II-Komandan :
5. Kompi Istimewa-Komandan :
1. Komandan Resimen :
2. Wakil Komandan :
3. Batalyon I-Komandan :
4. Wakil Komandan :
5. Batalyon II-Komandan :
6. Wakil Komandan :
1. Komandan Resimen :
2. Wakil Komandan :
3. Kepala Staf :
4. Kepala Seksi I :
5. Kepala Seksi II :
6. Kepala Seksi BI :
7. Kepala Seksi IV :
8. Batalyon I :
9. Batalyon II :
Said Usman. dirangkap. Tgk. Harun Ali, Indrapuri. Tgk. Ibrahim Pait, Tungkup.

Said Usman. Tgk. Amin Syamy.

A. Djalil Daud, Bireuen. Djalil Sufi, Meureudu. Mahmuddin, Sigli.
A. Muthalib, Bireuen. Tgk. Yusuf Berawang. Tgk. A. Wahab Husny, Langsa.
M. Amin Bugeh. Tgk. Jakfar, Lhok Seumawe. Tgk. Hasan Bambi. Tgk. Hasan Hanafiah. Tgk. Nyak Cut.
T.R. Idris Putih. Daud Ahmad. Muhammad (Datok). Abdurrachman Adnan.
H. Ibrahim N.A. Rasyid Adami, Meulaboh. Saleh Kapa.

c. Resimen III Bireuen-Lhok Seumawe-Langsa

d. Resimen IV Aceh Barat di Meulaboh

e- Resimen V Aceh Tengah/Takengon-Blangkejeren-Kutacane

  1. Komandan Resimen : Tgk. Ilyas Leubey, Takengon.
  2. Kepala Staf : Tgk. Saleh Adry.
  3. Batalyon I : Adb. Gani, Takengon.
  4. Batalyon II : Yasin Bale, Takengon.
  5. Batalyon III : Aman Kemala Intan, Takengon.
  6. Batalyon IV : Tgk. A. Latif Rousdy, Takengon.
  7. Komandan Kompi Ist : Tgk. A. Salam/Kejurun Dagang, di
    Blangkejeren.
Blangkejeren.
8. Komandan Kompi Ist : M. Chamis di Kutacane.

BARISAN HISBULLAH DAERAH ACEH

Dalam Musyawarah Besar Alim Ulama terkemuka di Aceh Besar, yang dilangsungkan di masjid raya Baiturrachman, Kutaraja telah diambil keputusan bulat sebagai berikut:

  1. Membela dan memperjuangkan Proklamasi 17 Agustus 1945.
    .2. Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia dan mengusir penjajahan Belanda hukumnya wajib. 3 Melakukan perang sabil hukumnya Fardhu 'ain untuk menegakkan Kemerdekaan Negara Republik Indonesia.
  2. Untuk itu perlu dibentuk Barisan Perjuangan Hisbullah dengan susunan pengurus sebagai berikut:
  3. Tgk. Mohd. Daud Bereueh (Ketua I), 2. Tgk. Ahmad Hasballah Indrapuri (Ketua II) dengan Setia Usaha T.M. Amin, Tgk. Syech Marhaban dan Sulaiman Mahmud. Ikrar ini didukung oleh Alim Ulama besar Aceh antara lain Tgk. Haji Hasan Krueng-Kale, Tgk. Mohd. Daud Bereueh, Said Abdullah Kajue, Tgk. Haji Ahmad Hasballah Inderapuri, Tgk. Haji Makam Gampong Blang, Tgk. Mohd. Ali Lampisang, Tgk. A. Wahab Seulimum, Tgk. Mohd. Saleh Lam Bhuek, Tuanku Abdul Azis, Tgk. Haji Hamzah Lam Teh, Tgk. Mohd. Ali Sigli, Tgk. Mohd. Daud Ulee-lheu, Tgk. Mohd. Amin Alue, Tgk. H. Mohd. Jakfar Lamdjabat, Tgk. Sulaiman Ulee Kareeng dan Tgk. Marhaban Krueng Kale.

(II). DIVISI RENCONG

A. PIMPINAN DIVISI

  1. Pimpinan Umum :
  2. Komandan Divisi :
  3. Kepala Staf :
  4. Kepala Bagian Operasi :
  5. Kepala Bagian Perencanaan :
  6. Kepala Bagian Pertahanan :
  7. Kepala Bagian Kerahan Tenaga Rakyat :
  8. Kepala Bagian Perlengkapan :
  9. Kepala Intelijen :
  10. Kepala Genie/Perhubungan :
  11. Kepala Bagian Keuangan :
  12. Kepala Bagian Kewanitaan (Pocut Baren) :
  13. Kepala Bagian Pelayanan :
  14. Kepala Bagian Urusan Bank :
    A. Hasjmy. Nyak Neh Lhoknga.
    M. Saleh Rahmany.
    M. Saleh Rahmany. Sauni.
    A. Jalil Amin/M. Ali Korewa. Pawang Leman.
    M. Zainun/Tgk. Achmad Adam.
    M. Yusuf Scony. UmarHusny.
    M. Razali Nyak Neh/Muhammad. Muhammad Z.Z. Nyak Mubin.
    T. Machmud/T.M. Amin.
    Komandan : Wakil Komandan :

B. PIMPINAN RESIMEN

Komandan Resimen :

b. Resimen I di Kutaraja
1. Komandan Resimen :
2. Kepala Staf :
3. Yon I Komandan :
4. Wakil Komandan :
5. Komandan Yon II :
Nyak Neh. Abdullah Syam.

Z a h a r a.

A. Gani Adam. Jarimin. Said Yasin, Ulee-lheu. Tgk. Nawawi.
M. Nurdin, Lam Baso Angan.

BATALYON ARTILERI ISTIMEWA

a. Resimen Pocut Baren (Laskar Wanita) di Kutaraja

  1. Wakil Komandan :
  2. Komandan Yon III :
  3. Wakil Komandan :

    c. Resimen II di Sigli

  4. Komandan Resimen :

  5. Kepala Staf :
  6. Komandan Yon I :
  7. Komandan Yon II :
  8. Komandan Yon IR :

    d. Resimen in Lhok Seumawe

  9. Komandan Resimen :

  10. Kepala Staf :
  11. Wakil Kepala Staf :
  12. Komandan Yon I :
  13. Komandan Yon II :
  14. Komandan Yon III :

    e. Resimen IV Aceh Tengah

  15. Komandan Resimen :

  16. Wakil Komandan :
  17. Kepala Staf :
  18. Komandan Yon I :
  19. Komandan Yon II :
  20. Komandan Yon III :
  21. Komandan Yon IV :
  22. Komandan Yon V :
  23. Wakil Komandan :

    f. Resimen V Aceh Timur, Langsa

  24. Komandan Resimen :

  25. Wakil Komandan :
  26. Komandan Yon I :
  27. Komandan Yon II :
  28. Komandan Yon III :
    T.M. Luthan.
    M. Ali Basyah, Blang Bintang. Ishak Ibrahim. Putih Mauni, Sigli. ZainuddinHs.
    T. Raja Husin, Sigli. Insya Basyah.Meureudu.
    T. Muhammad, Sigli.
    T. Syammaun Latif.
    T. Banta Sulaiman.
    H. Abdullah HS. Nizan Harun, Lhok Seumawe.
    M. Hasyim, Lhok Seumawe. Abu Bakar, Idi Bintan.
    M. Zaharaddin, Takengon.
    M. Syukur. Asep Jalil.
    M. Hasan Amin. Rafli. Sali Gabel.
    M. Arif Amiruddin. Burhanuddin, Blangkejeren. Samadun, Kutacane. Tgk. Usman Aziz. Ismail.
    A. Hanafiah, Idi. Razali, Langsa. Razali, Kuala Simpang.

g. Resimen VI Aceh Barat
1. Komandan Resimen :
2. Wakil Komandan : (membawa 3 batalyon).
h. Resimen VII Aceh Selatan
1. Komandan Resimen :
2. Kepala Staf :
3. Komandan Yon I :
4. Komandan Yon II :
5. Komandan Yon III :
6. Komandan Yon IV :
7. Komandan Yon V :
8. Komandan Yon VI :
9. Komandan Yon VII :
10. Komandan Yon VIII :
11. Komandan Yon IX :

H. Daud Dariah. T.H. Iskandar.

M. Sahim Hasyim.
A. Gafur Akir. Zainuddin, Tapaktuan. Said Sulaiman, Sawang. Tgk. Hasyim, Meuke. Djamidin Away, Labuhan Haji. Imam Nurdin, Manggeng. Ramli Saidi, Blang Pidie. Tgk. M. Yatim, Susuh.,
T. Ramli Angkasah, Bakongan. Saajudin, Singkil.
A. Pimpinan Divisi
1. Panglima Divisi :
2. Wakil Panglima/Logistik :
3. Pelaksana Tugas Panglima :
4. Ajudan Jenderal :
5. Perlengkapan :
6. Organisasi :
7. Panitera Umum :
8. Koordinator :
9. Imam Divisi :
10. Pendidikan Rohani Tentara :
11. Kepala Siasat :
12. Kepala Seksi Penerangan :
Tgk. Amir Husin Al-Mujahid. Tgk. Machmud. Ajad Musyi. Tgk. A. Bakar Amin. Tgk. Abdullah. Tgk. Ismail. Usman Ali. Tgk. Usman Peudada. Tgk. Nyak Makam. Tgk. Mahmud Harun. Husin G. Tgk. Jalil Ms.

DIVISI TGK. CIK PAYA BAKONG

  1. Kepala Seksi Perlengkapan/Pengobatan :
  2. Kepala Seksi Kesehatan :
  3. Kepala Seksi Pembangunan :
  4. Kepala Seksi Perhubungan :
  5. Kepala Seksi Juni Bayar :

    B. Komandan Batalyon "Berani Mati"

  6. Aceh Timur :

  7. Aceh Utara :
  8. Aceh Tengah :
  9. Aceh Pidie :
  10. Aceh Besar :
  11. Aceh Barat :
  12. Aceh Selatan :
  13. Komandan Resimen Front :
  14. Komandan Batalyon Timur :
  15. Komandan Batalyon Lhok Sukun :
  16. Komandan Batalyon Lhok Seumawe :
  17. Kepala Penyantun :
    C.
  18. Panglima Revolusi :
  19. Wakil Panglima :
  20. Kepala Staf :
  21. Komandan Operasi/Jaksa :
  22. Perlengkapan :
  23. Siasat Umum :
  24. Kepala Siasat :
  25. Kepala Kesehatan :
  26. Ajudan Panglima :
  27. Jaksa TPR :
    •278

Tgk. Hasballah. Raden Umar. Tgk. Puteh. Ben Sawang. Hanafiah.

Tgk. Usman Peudada. Tgk. M. Kasim Rasyidi. Tgk. Banta Cut/Saleh Ardy. Tgk. Abdurrahman Buloh. Tgk. Nyak Sandang. Said Sulaiman. Tgk. Nyak Raja. Tgk. M. Yusuf Waly. Tgk. A. Rahman Hanafï.

Amin R.P.D.

Abubakar Bambak. Tgk. Hasballah Haji/Abubakar Abdy

Tgk. Amir Husin Al-Mujahid. Tgk. Abubakar Amin. Tgk. Nurdin Sufi. Hasanuddin. Usman Adami.

A. Bakar Madjid.
A. Manaf Juned.
T.M. Zein.
T. Husin/G. Rani. Usman Makam.

Anggota Staf "Tentara Perjuangan Rakyat" (TPR)

D. Staf Istimewa/Mobilisasi

  1. Muhammad Datok Peukan.
  2. Tgk. Husin Itam.
  3. Abdul Rahman T.M.

    E. Staf Istimewa/Mobilisasi Wanita

  4. Ibu Maryam.

  5. Tgk. Aisyah Amin.
  6. Ti Aman lm Latif.
  7. Khatijah Abu.

    F. Penasihat

  8. Tgk. Muhammad Zein.

  9. Pak Ilyas.
  10. Tgk. Bakar.

    (CP-5)

Tanggal 17 Februari 1946, Divisi-V TKR Komandemen Sumatera berubah menjadi Divisi-V/TKR Komandemen Sumatera dengan simbul (badge) Gajah Putih yang utuh. Peresmian dilakukan oleh dan atas nama Staf Umum Tentara Republik Indonesia Komandemen Sumatera, Jenderal Mayor Teuku Nyak Arif. Susunan pimpinan dan staf Divisi-V/TKR tersebut sebagai berikut:

a. Staf Divisi Komandan Divisi : Kolonel Sjamaun Gaharu. Kepala Staf : Mayor T.A. Hamid Azwar. Ajudan Staf Umum : Mayor Husein Yusuf. Kepala Intendance : Mayor Said Usman. Kepala Keuangan : Mayor Bachtiar Idham. Kepala Genie : Mayor T. Hamzah.
b. Staf Resimen
1. Resimen I berkedudukan di Banda Aceh. Komandan, Mayor Hasballah Haji. Kepala Staf, Kapten T. Manyak.

  1. Resimen II berkedudukan di Bireuen. Komandan, Mayor T. Cut Rahman. Kepala Staf, Kapten Nurdin Sufï.
  2. Resimen III berkedudukan di Meulaboh. Komandan, Mayor A. Wahab Makmour. Kepala Staf, Kapten Nyak Adam Kamil.
    Tidak sampai sebulan, susunan pimpinan Divisi tersebut mengalami perubahan, meyusul kehadiran barisan "Tentara Perjuangan Rakyat" (TPR) pimpinan Amir Husein Al-Mujahid ke Banda Aceh, melakukan "tindakan koreksi" terhadap beberapa pimpinan pemerintahan dan ketentaraan di Daerah Aceh. Sejak tanggal 12 Maret 1946, susunan pimpinan Divisi V/TKR Komandemen Sumatera, yang berkedudukan di Banda Aceh adalah sebagai berikut:

Komandan Divisi : Kolonel Husein Yusuf. Wakil Komandan : Letnan Kolonel Nurdin Sufj. Kepala Staf : Mayor Bachtiar Idham. Organisasi : Mayor M. Nazir. Panitera Umum : Kapten Ibrahim Hatta. Siasat : Kapten Abdul Manaf.- Polisi Tentara : Kapten Abubakar Majid. Penerangan : Mayor A. Gani Usman. Pendidikan : Mayor M. Nur El Ibrahimy Mayor Supeno. Genie/Pengangkutan : Kapten T. Hamzah. PHB : Lettu T. Ibrahim. Perlengkapan/Keuangan j Mayor T.M. Daud, kemudian diganti Mayor Usman Adamy. Kesehatan : Mayor Dr. Mohd. Mahyudin.

  1. Resimen I berkedudukan di Banda Aceh dengan 3 batalyon. Komandan resimen, Mayor Hasbullah Haji. Kepala Staf, Kapten T. Manyak. Batalyon-1 berkedudukan di Aceh : Komandan Hasan Ahmad.

Kompi-1 di Banda Aceh, Komandan Lettu. M. Yakob. Kompi-2di Ulee-lheu, Komandan Letda. B. Budiman. Kompi-3 di Seuliman, Komandan Letda. Tgk. Husin. Kompi-4 di Banda Aceh, Komandan Letda. A. Hamid/Letda. Abdullah. Batalyon-2 berkedudukan di Banda Aceh : Komandan Kapten Hasan Saleh. Kompi-1 di Banda Aceh, Komandan Letda. Saleh Ahmad. Kompi-2 di Banda Aceh, Komandan Letda. T. Ubit. Kompi-3 di Ulee-lheu, Komandan Letda. M. Amin. Kompi-4 di Lham-No, Komandan Letda. Gani.

Batalyon-3 di Sigli, Komandan Mayor A. Rahman. Kompi-1 di Meureudu, Komandan Letda. Tgk. Harun. Kompi-2 di Padang Tiji, Komandan Letda. Cut Kaoy. Kompi-3 di Kota Bakti, Komandan Letda. Ishak Pakeh. Kompi-4 di Sigli, Komandan Letda. M. Husin.

2. Resimen II kedudukan di Bireuen dengan 4 Batalyon. Komandan Resimen, Mayor T. Cut Rachman. Kepala Staf, Kapten Ali Hasan A.S. Batalyon-4 di Bireuen, Komandan Kapten A.M. Namploh. Kompi-1 di Bireuen, Komandan Letda. Syahkubat Mahmud. Kompi-2 di Samalanga, Komandan Letda. Nyak Hasan. Kompi-3 di Takengon, Komandan Letda. Taharuddin. Kompi-4 di Takengon, Komandan Letda: Marijan. Batalyon-5 di Lhok Seumawe, Komandan Kapten Hasbi Wahidy. Kompi-1 Komandan Letda. Nurdin Hatta. Kompi-2 Komandan Letda. A. Gani Dadeh. Kompi-3 Komandan Letda. T. Usman Mahmud. Kompi-4 Komandan Letda. T. Jacub Muli. Batalyon-6 di Langsa, Komandan Kapten Adjad Musyi. Kompi-1 di Idi, Komandan Kapten M. Hanafiah.

Kompi-2 di Langsa, Komandan Letda. A. Hanafiah.

Kompi-3 di Peurelak, Komandan Letda. Daud Malem.

Kompi-4 di Peurelak, Komandan Letda. Dahlan.

Batalyon-9 di Kuala Simpang, Komandan Kapten Alamsyah. Kompi-1 Komandan Letda. Nurdin Hatta. Kompi-2 Komandan Letda. Usman Thamin. Kompi-3 Komandan Letda. A. Kadir. Kompi-4 Komandan Letda. Ben Bok.

3. Resimen III di Meulaboh dengan 2 batalyon. Komandan Resimen, Mayor A. Wahab Makmour. Kepala Staf, Kapten Nyak Adam Kamil. Batalyon-7 di Meulaboh, Komandan Kapten A.K. Jailani, kemudian diganti Kapten B.B. Ja lal. Kompi-1 di Meulaboh, Komandan Lettu. T. Cut Hasan / Letda. Abdullah S. Kompi-2 di Calang, Komandan Pang Indah. Kompi-3 di Seunagan, Komandan Letda. Abdullah Sani. Kompi-4 di Sinabang, Komandan Lettu. Ali Hasan. Batalyon-8 Tapaktuan, Komandan Kapten Habib Muhamad Syarif. Kompi-1 di Tapaktuan, Komandan Lettu. M. Jazun. Kompi-2 di Blang Pidie, Komandan Letda. S.A. Wahab. Kompi-3 di Bakongan, Komandan Letda. Iskandar. Kompi-4 di Singkel, Komandan Letda. T. Asahan. Setahun kemudian, yaitu tepatnya tanggal 26 April 1947, Panglimaa
Komandemen Sumatera, Jenderal Mayor R. Suharjo Harjo Wardoyo, meresmikan penggabungan dua divisi, yaitu Divisi Gajah I (Aceh) dan Divisi Gajah II (Sumatera Timur) menjadi Divisi X/TRI Komandemen Sumatera. Divisi X ini semula berkedudukan di Bah Jambi (Pematang Siantar) kemudian diali^kan ke Bireuen (Aceh).

282.

Susunan pimpinan Divisi X/TRI Komandemen Sumatera dengan penetapan Panglima TRI Komandemen Sumatera no. 31/Pres/47 tanggal 25 April 1947 sebagai berikut: Panglima Divisi : Kolonel Husein Yusuf. Kepala Staf : Kolonel H. Sitompul. Kepala Seksi I/Operasi : Kolonel H. Sitompul. Kepala Seksi II/Organisasi : Letnan Kolonel M. Nazir. Kepala Seksi III/Pendidikan/ Penerangan : Kapten Yakob Lubis. Kepala Seksi IV/Artileri : Letkol. Nurdin Sufi. Kepala Seksi V/Komandan Genie : Mayor T. Nurdin. Kepala Seksi VI/Kesehatan : Mayor Dr. Mohd. Mahyudin. Kepala Seksi VlI/Pengangkutan : Kapten T. Hamzah. Kepala Seksi VlII/Polisi Tentara : Mayor Siagian/Kapten A. Muzakir Walad. Kepala Seksi IX/Perhubungan : Kapten Y. Sidhahuruk. Kepala Seksi X/Adm/Penyantunan : Mayor Usman Adamy. Resimen I di Berastagi, Komandan Mayor Djamin Gintings. Resimen II di Rantau Prapat, Komandan Mayor Kasim Nasution. Resimen III di Tebing Tinggi, Komandan Mayor Rikardo Siahaan. Resimen IV di Banda Aceh, Komandan Letnan Kolonel Hasballah Haji. Resimen V di Bireuen, Komandan Letnan Kolonel T. Cut Rachman. Resimen VI di Meulaboh, Komandan Letnan Kolonel A. Wahab Makmour. Resimen Artileri berkedudukan di Banda Aceh dengan Komandan Letnan Kolonel Nurdin Sufi. Pasukan Baterai I di Banda Aceh, Komandan Lettu. Urip/Lettu. Jalaludin Umar. Pasukan Baterai II di Rantau Panjang (Peurelak), Komandan Letda. Nukum Sanany. Pasukan Baterai III di Lhok-Nga, Komandan Letda. Abdullah Syam.

Terhitung sejak Februari 1947, TRI Komandemen Sumatera dibagi dalam sub Komandemen sebagai berikut:

  1. Sub Komandemen Sumatera Utara berkedudukan di Banda Aceh dengaan pimpinan Jenderal Mayor Tituler T.M. Daud Syah (Residen Aceh waktu itu).
  2. Sub Komandemen Sumatera Tengah berkedudukan di Bukit Tinggi dengan pimpinan Kolonel Dahlan Djambek.
  3. Sub Komandemen Sumatera Selatan berkedudukan di Lahat dengan pimpinan Dr. A.K. Gani. Selanjutnya tanggal 3 Juni 1947 Pemerintah mengeluarkan penetapan yang
    dimuat dalam Berita Negara No. 24/1947 yang antara lain berbunyi:

  4. Mulai tanggal 3 Juni disahkan berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI).

  5. Segenap anggota Angkatan Perang dan segenap Laskar-laskar Bersenjata mulai saat ini dimasukkan serentak ke dalam Tentara Nasional Indonesia.
  6. Pucuk pimpinan Tentara Nasional Indonesia dipegang oleh Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia.

    (Buku Dua Whindu Kodam-I/Iskandar Muda).

(CP-6)

Mayor Maarten Knottenbelt, Letnan Raymond Westerling dan Letnan Brondgeest, ketiganya adalah perwira Belanda yang bertugas dalam pasukan komando ADC S (Anglo-Ducth Country Section) berkedudukan di Kindy, Srilangka. Panglima Angkatan Laut Belanda, Laksamana C.E.L. Helfrich termasuk sebagai anggota komando ADCS, yang atas nama Sekutu menugaskan ketiga perwira di atas untuk menyusup dan terjun di hutan-hutan di Sumatera Utara. Ini direncanakan sebelum Jepang menyerah kepada Sekutu. Tapi pelaksanaan penerjunan Mayor Maarten Knottenbelt dan Letnan Raymond Westerling dilakukan setelah Jepang menyerah kepada Sekutu. Maarten Knottenbelt sendiri mendarat di Polonia, Medan tanggal 1 Oktober 1945 dan tanggal 5 Oktober berikutnya mendarat di lapangan militer Lhoknga, Banda Aceh. Ia disambut Jepang sebagai wakil Sekutu yang akan mengatur pemulangan serdadu Jepang ke negerinya dan mengawasi supaya senjata Jepang tidak ada yang jatuh ke tangan pemuda Indonesia. Sebagai wakil Sekutu ia memperoleh sambutan yang wajar dari pemerintah Indonesia, seraya tetap waspada memantau kegiatannya. Akhirnya para pemuda mengetahui peranan rangkap dari Knottenbelt di samping bertugas sebagai wakil

Sekutu. Memainkan peranan sebagai orang NICA, yang mencoba mengibarkan bendera "tiga warna di bumi Tanah Rencong". Tentu saja reaksi datang bergelombang dari para pemuda, karena dalam urusan ini tak ada kompromi bagi pemuda Aceh. Knottenbelt "dikerjain" oleh para pemuda. Ancaman lewat telepon, gangguan hiruk pikuk yang mencemaskan terjadi setiap hari, maksudnya supaya wakil NICA ini tak betah lagi tinggal di Aceh. Pihak Jepang pun merasa kuatir terhadap nasib orang NICA ini, sehingga terpaksa disarankan supaya cepat meninggalkan Banda Aceh. Sebenarnya Knottenbelt yang "pasukan komando" ini sudah agak terbiasa dengan perlakuan seperti itu. Tidak merasa aneh lagi. Tapi orang-orang di sekelilingnya semua menasehatkan, supaya segera kembali saja ke Medan. Akhirnya tanggal 10 November 1945 ia kembali ke Medan dan minta diantar dengan pasukan khusus, supaya terhindar dari cegatan, gangguan di tengah jalan. Usul ini disetujui Tuanku Mahmud, Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah Aceh. Bahkan diinstruksikannya supaya Komandan Markas Daerah "API" Aceh, Sjamaun Gaharu dan wakil pemuda, Saleh Rahmany turut mengantarkannya. Seorang perwira Jepang, Maeda Chui, yang ditugaskan Jepang memimpin pengawalan Knottenbelt ke Medan berkomentar, hampir saja Knottenbelt kami tembak dari belakang, karena tingkah lakunya yang "sok" di tengah jalan. Setelah Knottenbelt menyingkir ke Medan, ia mengangkat seorang Cina, Goh Moh Wan, bertindak sebagai wakil Sekutu di Banda Aceh. Ia dikenal sebagai penterjemah di zaman Jepang, mahir berbahasa Inggeris. Di zaman Belanda, ia terkenal aktif sebagai sekretaris sebuah organisasi dagang Cina di Banda Aceh, yang dikenal akrab dengan Belanda. Munculnya Goh sebagai wakil Sekutu di Aceh, telah membuat tercengang para pejuang. Karena tokoh ini dikenal bermuka dua, aktivitas Poh An Tui yang tidak asing lagi. Dalam sebuah perjalanannya kembali dari Medan menuju Aceh, di tengah jalan ia dicegat oleh para pemuda dan menemukan surat yang mencurigakan dalam sakunya sebagai penghubung Sekutu. Ia dituduh sebagai mata-mata NICA, yang hendak menyusup ke Aceh. Lalu anak muda itu menghabisi riwayatnya sampai di situ saja. Kebetulan suasana waktu itu sedang dicekam oleh gempuran Sekutu/NICA terhadap kota Surabaya yang menelan korban banyak kaum pemuda dan penduduk. Peristiwa 10 November 1945 yang baru berlalu itu, masih menggelora di dada kaum muda Aceh, yang ingin membalas dendam terhadap Sekutu/NICA. Hadirnya Goh Moh Wan disitu, tampaknya dijadikan sasaran penglepasan amarah yang tak terkendali lagi. Itulah semangat dan setia kawan seperjuangan kaum Republikein yang paling murni di zaman Revolusi 45.

(CP-7)

Seperti diketahui, pada awal kemerdekaan dalam pimpinan Markas API Daerah Aceh dengan Komandan Sjamaun Gaharu, mantan Kapten Tokobetsu Muhammad Din diserahi tugas memimpin Wakil Markas Daerah VI (WMD-VI) berkedudukan di Kutacane. Para pembantunya terdiri dari komandan pasukan

Bahrin Yoga, Ma-aris, Ma-at, A. Rahim dan A. Djalim Umar. Setelah menata organisasi pertahanan dan keamanan di wilayah kabupaten Aceh Tengah, Muhammad Din dalam bulan November 1945 turut meletakkan dasar organisasi pemerintahan sipil kabupaten Aceh Tengah dengan mengadakan

konperensi kerja para pemimpin se kabupaten Aceh Tengah di Takengon. Dari kewedanaan Takengon hadir Abdul Wahab, Muda Sedang, Anwar Badan. Dari kewedanaan Blangkejeren hadir Muhammad Din, M. Saleh Jakobi, Ahmad Pos. Dari Kutacane tak ada yang hadir. Dalam pemilihan Bupati, utusan Blangkejeren mendukung dan mengusulkan A.R. Hajat. Utusan Takengon mengajukan A. Wahab. Akhirnya dalam rapat tersebut disetujui Abdul Wahab

(Bupati), A.R. Hajat (Patih) dan Wedana Takengon (Muda Sedang), Wedana Blangkejeren M. Saleh Jakobi dan Tengku Mahmud. Wedan a Kutacane (Raja Maribun/KhabarGinting). Sejak tersusunriya aparat pemerintahan Aceh Tengah dan Wakil Markas Daerah-VI API, maka tugas pokok Muhammad Din di Aceh Tengah telah dapat dirampungkan dan tugas kemiliteran diserahkan kepada Mayor Bahrin.

Muhammad Din selanjutnya bergabung dengan Panglima Tentara Komandemen Sumatera di Parapat dan mendapat tugas khusus di Medan Area. Kemudian sejak Maret 1947 ditetapkan sebagai Panglima Divisi VI/Banteng dengan ajudan Kapten Zakaria, berkedudukan di Sibolga. Hubungan lalu lintas di tiga kewedanaan Aceh Tengah (Takengon-Blangkejeren-Kutacane) putus sama sekali dan komunikasi terpaksa dilakukan dengan jalan kaki atau mengendarai kuda.

Blangkejeren yang terisolir, terpaksa memilih diantara yang terjelek, yaitu bergabung ke Kutacane yang relatif lebih dekat. Karena alasan komunikasi ini

pula, kedua kewedanaan aceh Tengah ini akhirnya lebih efektif kalau militernya menggabung ke Divisi Gajah II/TRI di Sumatera Timur. Sedangkan pemerintahan sipilnya tetap dalam lingkungan Karesidenan Aceh di Banda Aceh. Setelah kedua divisi digabung menjadi Divisi X TNI Komandemen Sumatera tanggal 26 April 1947, keadaan kembali seperti sediakala. Agak ironis memang, hubungan lalu lintas yang putus antara Takengon-Blangkejeren yang terjadi sejak tahun 1945 (selama Jepang hubungan normal) sampai sekarang masih belum berrungsi, setelah kita merdeka 46 tahun.

Kelompok berikutnya dari Aceh Tengah yang terjun ke "Medan Area" adalah pimpinan Tgk. M. Ilyas Leubey dan M. Jasa S.R.

Rombongan ini mendarat di Medan bulan Februari 1946 dan pasukannya mengambil posisi di Pancur Batu.

TGK SALEH ADRY, Komandan Barisan Gurilla Rakyat (BAGURA) tanda (I) dan Panglima (II) bersama rekan- rekannya di Blangkejeren dalam perjalanan ke front Tanah Karo. Gambar bawah : pimpinan API/TKRJTRI/TNI diAceh Tengah pada Perang Kemerdekaan. Arah jarum jam dari kiri Kapten M. Djalim Umar, Komandan Kompi di Blangkejeren. Kapten Ma-at Komandan Batalyon di Kuta Cane. Kapten A. Rahim, Komandan Polisi Militer Resimen I di Kutacane. Letnan Darsjat dan Letnan Ismail, tenaga staf. (KoleksiFoto "Aki").

Empat orang TP Aceh dari Takengon, yang pernah "diterjunkan " di front Tanah Karo dalam Perang Kemerdekaan Rl 1945 - 1949. Dari kiri ke kanan (jarum jam) Prof. M. Ali Daud, SH (Kini Dekan Tak. Agama UT), A. Rachman Ali (Perwakilan Kertas Kraft Banda

Aceh), AS;'. Coubat (Wiraswasta), Moh. Hatta, Almarhum (Mantan Ketua PGRI).

Semula, kelompok Tgk. Ilyas Leubey ini tidak akan lama menetap di Medan, harus melanjutkan perjalanannya kembali ke Jakarta. Tapi keadaan "Medan Area" yang gawat, menyebabkan ia mengambil keputusan lain, menangguhkan perjalanannya ke Jakarta dan turnt berjuang bersama pemuda dan

rakyat di "Medan Area". Kisahnya bermula sewaktu Tgk. Ilyas Leubey dan dua orang teman lainnya

A. Wahab Nyakman dan T. Sulaiman dikirim oleh pemerintah pusat ke daerah Aceh sebagai delegasi pemuda Indonesia. Delegasi pemuda ini sampai di Aceh bulan Desember 1945. Tugasnya untuk menyampaikan kebijaksanaan dan latar belakang perjuanga Republik kepada para pemimpin di Aceh dan langkah-langkah serta prospek masa depan. Selain itu memasyarakatkan tujuan kemerdekaan Rl

kepada masyarakat Aceh secara luas. Menjelaskan arti Proklamasi 17 Agustus

1945 untuk membangun masyarakat Indonesia yang adil, makmur dan merata berlandaskan Pancasila.

Ketiga anggota delegasi itu kebetulan berasal dan kelahiran Aceh. Kecuali Tgk. Ilyas Leubey yang telah berpulang, dua teman lainnya masih hidup, A. Wahab Nyakman menetap di Jakarta dan T. Sulaiman tinggal di Langsa.

Seluruh Aceh didatangi oleh delegasi pemuda tersebut dan selalu disambut dengan rapat umum dan rapat terbatas dan kehadiran delegasi ini ke Aceh sangat tepat, di tengah-tengah hausnya masyarakat akan informasi dan tuntutan perjuangan di zaman revolusi. Mereka berhasil menanamkan etos perjuangan dan sekaligus membakar semangat rakyat dan pejuang yang gandrung kemerdekaan,kebebasan dan keadilan. Sekitar tiga bulan mereka bertugas di daerah Aceh dan bulan Maret 1946 bermaksud kembali ke Jakarta. Sewaktu rombongan Tgk. Ilyas Leubey berangkat meninggalkan Takengon, Blangkejeren dan Kutacane dengan "Long March" selama sepekan menuju Medan ia diantar oleh sejumlah pejuang dan pemuda. Jadi, ada dua kelompok yang menyertai rombongan Ilyas Leubey ini. Pertama : kelompok pejuang yang terdiri dari Pang-pang Gayo dan anggota masyarakat yang pernah mendapat didikan militer di zaman Jepang. Kekuatan pasukan ini sekitar satu kompi (200 orang) dikoordinasikan oleh Tgk. M. Saleh Ardy dan M. Jasa S.R. Pasukan ini menggabung dengan kesatuan Mayor Bahrin Yoga di Pancur Batu dan sebagiannya dengan Kapten NIP Xarim. Kedua : kelompok pemuda yang menurut rencana akan melanjutkan studi ke Jawa. Kelompok ini terbatas tidak banyak, diantaranya Rasyid, Abdullah Rahim, Slamet, Ibnu dan penulis sendiri. Setibanya dalam kota Medan, kami dihadapkan dalam situasi perang, tembak-menembak dengan serdadu Gurkha, NICA dan Poh An Tui. Hubungan pelabuhan Belawan dengan Tanjung Priok terganggu, tidak aman. Akhirnya Tgk. Ilyas Leubey memutuskan, perjalanan ke Jawa dibatalkan dan semua anggota

rombongan membantu pertempuran di front "Medan Area". Bagi yang muda-muda dianjurkan kembali ke Aceh meneruskan studinya. Penulis sendiri mengambil sikap lain. Diam-diam terus melapor kepada kesatuan Mayor Bahrin Yoga di Pancur Batu, ingin menggabungkan diri dan turut menjadi anggota pasukan. Ternyata Mayor Bahrin Yoga, mantan Ketua II PUSA Cabang Blangkejeren, yang penulis kenal pribadi, tidak menyetujui rencana ini dan penulis dianjurkannya harus melanjutkan studi, kalau tidak bisa ke Jawa, ke Aceh saja. "Cukup kami-kami saja di front terdepan yang berjuang dan mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945". Kalian yang muda-muda harus mempersiapkan diri dengan mencari ilmu sebanyak-banyaknya untuk melanjutkan perjuangan kemerdekaan itu, ucapnya dengan bersemangat. Sekitar bulan Maret 1946, penulis berkemas-kemas meninggalkan Medan menuju Bireuen untuk belajar di Normal Islam. Tapi sekolah ini ditutup dan sebulan kemudian Normal Islam pindah ke Banda Aceh dan penulis termasuk di antara rombongan.

Sesampainya di Banda Aceh, Normal Islam berganti nama menjadi Sekolah Menengah Islam (SMI), dibangun pula SGHA (Sekolah Gum Hakim Agama). Inilah sekolah tertinggi Islam yang ada di Aceh waktu itu. Normal Islam didirikan sejak tahun 1940 dan kemudian oleh para siswanya didirikan pula organisasi pelajar yang diberi nama GAPIDA (Gabungan Pelajar Islam Daerah Aceh). Karena tuntutan perjuangan nama GAPIDA dirubah menjadi PERPIINDO (Persatuan Pelajar Islam Indonesia) berskala nasional dan pusatnya di Banda Aceh. Sejaian dengan meningkatnya perjuangan membela dan mempertahankan kemerdekaan Rl, maka PERPIINDO membentuk sebuah barisan perjuangan bersenjata yang diberi nama Tentara Pelajar Islam Indonesia (TPI) yang bergabung dan menjadi bagian dari Divisi X TNI/Komandemen Sumatera. Komando Resimen TPI memiliki enam batalyon lokasinya di tiap kabupaten/kodya dengan sebuah batalyon pertempuran untuk front "Medan Area". Seluruh pelajar Islam mulai tingkat terakhir Sekolah Dasar Islam, Madrasah, Pesantren dan Sekolah Menengah Islam terdaftar sebagai anggota dan dilatih dipersiapkan untuk perang gerilya jangka panjang menghadapi Belanda. Di kalangan pelajar Sekolah Dasar Islam (SDI) tingkat terakhir kelas 6 dibentuk sebuah kesatuan khusus yang diberi nama "Pasukan Semut". Di antara pimpinan terasnya adalah Teuku Youslisyah dan Ramli Ganie.

(CP-8)

Dalam agresi militer II, tentara NICA coba menerobos dan menguasai "lumbung beras" di Kutacane.Aceh Tengah(sekarang Aceh Tenggara). Informasi ini dapat disadap oleh intel kita yang menyelinap di Kaban Jahe. Kebetulan pada saat itu juga, barisan pejuang dari tanah Gayo/Alas, yang dikenal dengan panggilan "BAGURA" (Barisan Gurilla Rakyat) telah siap di tempat, dipimpin oleh Tgk. Ilyas Leubey dan Tgk. M. Saleh Adry. "BAGURA" yang dijuluki sebagai "Barisan Berani Mati" dibentuk di Takengon-Blangkejeren-Kutacane, atas instruksi Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, Tgk. Mohd. Daud Bereueh untuk membentengi perbatasan Aceh/kabupaten Tanah Karo dari serbuan Belanda. Dalam melakukan tugasnya, pasukan "Berani Mati" BAGURA di Tanah Karo dikoordinasikan oleh Selamat Ginting. Komandan Resimen Tgk. Ilyas Leubey, Wakil Tgk. M. Saleh Ardy dan Abu Bakar Salam, Kepala Staf Chairul Bahri. Komandan Batalyon "Bukit" Tgk. Jamaluddin. Komandan Batalyon "Linge" Pang Alim. Komandan Batalyon "Bebesan" Tgk. Harun. Komandan Batalyon "Blangkejeren" T. Kejurun Dagang dan Tgk. A. Salam Badak.

290 ..

Komandan Batalyon "Kutacane" Nyak Obordan kawan-kawan. Dari jumlah pasukan yang diberangkatkan dari Takengon sebanyak 250 orang, melakukan "Long March" lewat Blangkejeren (Gayo) dan Kutacane (Tanah Alas) sejauh sekitar 520 km ditempuh melalui hutan lebat sekitar 9 hari 9 malam. Dengan asumsi schari ditempuh 30 km. Sesampainya di Blangkejeren dan Kutacane anggota pasukan terus bertambah masing-masing 200 orang lagi, sehingga seluruh pasukan BAGURA itu berjumlah 650 orang menuju Tanah Karo. Yang paling uniek dari anggota pasukan ini, kebanyakan terdiri dari Pang-Pang Angkataan Tua, yang sewaktu terjadi perang Aceh-Belanda di Tanah Gayo dan Tanah Alas 1901/1904 mereka telah remaja dan ikut bertempur. Mereka tahu betapa sadisnya Van Daalen membunuh dan menyembelih mereka yang tertangkap. Dari kisah inilah kemudian mengalir pesan-pesan pejuang, pahlawan yang dianiaya oleh serdadu Belanda. Dari pesan inilah pula yang didendangkan oleh sang ibu terhadap anak yang masih dalam buaian sampai remaja, sehingga tumbuh semangat untuk menuntut bela nenek moyang. Pesan itu adalah "amanat" yang menurut adat-istiadat Aceh "wajib" dipenuhi bila kesempatan terbuka kapan dan dimana saja. Yang terlibat dalam pertempuran ini adalah kompi istimewa, terdiri dari tenaga pilihan berjumlah 250 orang. Langsung dipimpin oleh Komandan Tgk. Ilyas Leubey, Sekretaris Chairul Bahri, Keuangan Z. Kejora, Logistik Agus Salim, Ajudan Komandan A. Rahman Ali. Dibantu pimpinan operasi Pang Alim, Aman Dimot, Pang Edem, Pang Ali Rema dan M. Yasin Bale.. Peristiwa ini terjadi tanggal 30 Juli 1949, pihak Belanda sedang gencar-gencarnya melakukan serangan seolah berkejaran dengan waktu. Hal ini terasa di semua front pertempuran di Jawa dan Sumatera. Berdasarkan pertimbangan dan penelitian, maka dipilihlah lokasi yang paling strategis untuk menghadang convoi Belanda yang akan menuju Tiga Binanga terus ke Kutacane. Lokasi yang dipilih adalah tikungan di desa Kandi Bata, Sukaramai, sekitar 7 km dari Kaban Jahe yang diduduki Belanda. Memang pimpinan pasukan "BAGURA" sudah memperoleh informasi bahwa pagi itu iring-iringan serdadu Belanda akan menuju Tiga Binanga dengan formasi yang tangguh. Biasanya didului oleh tank, panser kemudian infanteri dan senjata bantuan lainnya. Pasukan "BAGURA" sejak penghujung malam telah berkemas dan menjelang subuh setelah selesai sholat subuh terus mengambil posisi di dalam parit tepi jalan yang telah ditetapkan. Bertindak sebagai komandan pertempuran Aman Dimot, Pang Alim, Pang Edem dan Pang Ali Rema.

Sekitar pukul 08.00 (pagi) deru convoi Belanda sudah mulai terdengar dan berangsur-angsur merapat dan mendekat di lokasi yang sudah'dtunggu. Setelah iringi-iringan serdadu Belanda dalam formasi penuh mulai datang, maka berderailah tembakan mitraliur sebagai komando serangan dan bersamaan itu sejumlah Pang-Pang yang memiliki ilmu "tenaga dalam" terus menyerbu tank dan panser. Serangan mendadak ini diluar dugaan serdadu NICA dan mereka tampak panik seraya berloncatan dari kendaraannya untuk mencari perlindungan di dalam parit di tepi jalan. Namun sayangnya paarit-parit itu dipenuhi oleh pejuang kita, sehingga banyak serdadu NICA yang sempat disambar oleh tajamnya pedang Zulfakar dan terjadilah perang bersosob yang berkuah darah satu lawan satu. Banyak korban berjatuhan, baik dari pihak Belanda maupun dari pejuang. Karena pasukan infanteri yang berada di belakang masih sempat memberikan perlawanan yang berarti. Pertempuran itu berlangsung lebih dua jam dan menurut saksi mata yang melihat korban di rumah sakit Ka ban Jahe, jumlah korban di pihak Belanda sekitar 80 orang yang tewas dan luka parah atau cacat. Juga di pihak kita tidak kurang syahid 50 orang pejuang. Pada saat pertempuran mulai mereda, tiba-tiba terdengar datang tenaga bantuan Belanda, sebuah convoi baru dengan senjata lengkap. Melihat situasi ini, Panglima Aman Dimot perintahkan kepada pasukan lainnya untuk mengundurkan diri melalui semak-semak yang telah disiapkan. Sedangkan dia sendiri bersama dua teman lainnya Pang Ali Rema dan Pang Edem bertahan seraya merebahkan dirinya di tengah-tengah tumpukan jenazah yang bergelimpangan, seolah-olah mereka pun sudah tewas. Pada saat serdadu Belanda sedang asyiknya memeriksa mayat-mayat serdadunya yang menjadi korban, maka ketiga Panglima yang pura- pura mati itu pun bangkit seraya menebaskan parang Zulfakarnya terhadap serdadu Belanda di sekelilingnya. Banyak juga lawan yang tewas, tapi mereka pun akhirnya dapat diringkus karena terlalu lelah. Ketiga Panglima itu langsung di eksekusi oleh Belanda. Panglima Edem dan Panglima Ali Rema roboh, setelah dilanggar sejumlah rentetan peluru otomatis. Namun, Panglima Aman Dimot tetap kukuh tak tergoyahkan. Pasukan Belanda sempat bingung dan merasa ngeri sendiri. Akhirnya timbul pikiran untuk meletakkan granat tangan dalam mulut Panglima Aman Dimot, kemudian barulah ditembak dengan mitraliur. Akhirnya Panglima Aman Dimot juga roboh. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Setelah Panglima Aman Dimot tumbang, Belanda belum puas juga, lalu jenazahnya digilas dengan tank. Hanya tulangnya yang remuk redam, tapi kulit badan sekujur tubuhnya tetap utuh. Pertempuran yang dahsyat itu, sempat ditonton dari atas bukit oleh pemuda yang menyaksikannya.

Sejak peristiwa itu, tak pernah lagi Belanda berniat untuk menerobos ke Tanah Rencong. Sebuah gubahan syair telah dirangkum oleh Z. Kejora Aman As untuk melestarikan kisah kepahlawanan itu. Z. Kejora Aman As juga turut dalam pertempuran itu. Lagu ini sangat popuier di Aceh Tengah selama Perang Kemerdekaan dan untuk sekian lama terpendam. Kini lagu itu kita angkat lagi. Mudah- mudahan ada sambutan.

J^Tai»T*£.±viii**.pjul*£w-7uu. -.... __. —**
T*»Ai»rt ijvAb^ f bi*lütv sei>v\t>»|i>-v • ***jrê^-^-n K<n st««f"n .** *UiiUKflütv sei>v\t>»|i>-v • *jrê^-^-n K<n st««f"n . *UiiUKf Mma i ali. TMn^'fl }Cf\ro

z . P**-i»riliM«* Aman Pimor. _ ._** wenyeri»^ •nenyerbu k««Up« s«k«i<-** *.._. „tsA\jiiS9najy • ] .

Tïba s^«-tl>A^i.Ky^,^u^u.»»/t>e>,tti>uv) s«t

^e^; &tr^w!u^-J?uiuh muxuk.tvitKj^.»tL ^o/t«Kk<-'T-': i... __.

-~Tt.|tC föi.ft.|^w/-in +e.^«W, f>^'+«v^i ju^ t 3«.t'aivjl^uK.'7t^ • ~** *., ttet^t>n«+ "A^uk'tew.t^^^lc.cieiv, levK^R.'ti.otn.t i^f i- feeVotayc*.-...** _. ï'er+ewsbu.if^t-v Sulwtomat. +>cV^|» Iwni ïvure^i.'.,

**levyxb^f-tw sej-^i'^t&v. Pet» +**1 w i. _ TAA4AH KARO I7^a-19^Q

Z. KEJORA

(Aman As) Pengarang Lagu

Sumber: - Makalah "Peranan rakyat Aceh Tengah (Gayo-Alas) dalam

Perang Kemerdekaan Rl". Jakarta-1986.

- Makalah "Peranan Kejuangan Rakyat Aceh di Medan Area" Oleh Ali Hasan As (Kolonel Purn) - Medan 1989.
- Uraian Bupati Aceh Tengah Moh. Saleh. Takengon-1965.

(CP-9)

(IV). SEJARAH PERJUANGAN BERSENJATA TENTARA PELAJAR ACEH "KOMANDO T.P.I. RESIMEN ACEH / DIVISI X T.N.1."

PENASEHAT

1. Letnan Kolonel Husin Jusuf.

2. Letnan Kolonel Tjekmat Rahmany.

3. Letnan Kolonel Ayah Gani.

4. Kapten Moedjihardjo.

PENDIRI 1. Sulaiman Hamzah. 2. A.K. Jakobi.

  1. M. Amin Hanafiah.
  2. Said Ahmad El-Idrusy.
  3. M. Zein Anwar. PIMPINAN KOMAND O
  4. Komandan Resimen :
  5. Wakil :
  6. Kepala Staf :
  7. W a k i 1 :
  8. Staf Resimen
    a. Kepala Seksi Operasi : Wakil :
    b. Kepala Seksi Teritorial : Wakil :
    c. Kepala Seksi Organisasi : Wakil :
    d. Kepala Seksi Penerangan : Wakil :
    e. Kepala Seksi Perhubungan : Wakil :
    f. Kepala Seksi Keuangan : Wakil :
    g. Kepala Seksi Perbekalan : Wakil :
    h. Kepala Seksi Palang Merah : Wakil : Anggota :
    i. Kepala Seksi Dapur Umum : Wakil : Anggota :
    A.K. Jakobi, Mayor.
    M. Saleh Banta, Kapten. Moh. Hasan Ben, Kapten.
    M. Amin Hanafiah, Kapten. Abubakar Ibrahim, Lettu Hasan Husin, Letda. Ismail Hasan Meutareum, Lettu. Abdullah Husin, Letda. Sulaiman Badal, Lettu. Muhamadar, Letda. Alyus Iskandar, Lettu.
    M. Ali Jusuf, Letda.
    M. A. Ismail, Lettu.
    M. Amin Musa, Letda. Gazali Amin, Lettu. Usman Sufi, Letda.
    Abdul Hamid, Lettu. Sofyan Hamzah, Letda. Nn. Rohana Hasyim. Nn. Chamsiah Azis. Nn. Faida, Asma Abdul Wahab, Nn. Azizah A.R., Nn. Hasanah Lam U. Nn. Halimah Madjid. Nn. Ainul Mardhiah Ali. Nn. Syaarifah Nursyidah, Nn. Lazimah Ali, Nn. Fatimah Umar,

Nn. Mariah Sagub, Nn. Maryam Hasan, Nn. Siti Ruhama Bereueh.

j. Kepala Seksi Khusus : Said Ahmad El-Idrusy. Wakil : Lisanuddin. Anggota : Syamaun Muhammad, A.Wahab Ismail
Jacob Amin, Djakfar Hasyim, Muhtar M. Asyik Ali, Ibrahim Risyad, Ahmad Arsyad, Sulaiman Mahmud, Ibrahim Ubid, Abdullah Thaib, Ismail Suny dan Abdullah Hasan.

6. Staf Komando
a. Batalyon Komando & Pertem- : Komandan Kapten M. Saleh Banta puran Front Medan Area, \u, •, v r > -rr m v (dirangka p Wakil Kom. Resimen TPI).
b. Kompi Markas & Latihan : Komandan Kapten T.A. Mahmudy
(dirangkap Wakil Kom. Batalyon-I).

c. Kompi Bantuan Kawal Pantai : Komandan Lts. Abdullah Mahmud.
d. Kompi Khusus Bumi Hangus : Komandan Lts. Said Muchtar.

I £ 3 1 II M

s § £ 6 il B ^ 8-

***$> 4 $ ****

i^ï l i

-c _J u s

•§ ^ 1 Is "« « I 3 -3

^ ft- S ^ -S

^ i

11 l I i 5

B §11 1 1

^ 1 3 « ^ H.

- 0 3 -8 S r§ s »; K 35 g « « "ï S B S N S

i. sj J c f- g 1

I £ « § g i J t

m r* u c - Lr? •

R .* § .s ^ ~ c°

|m< § s -s -2

S 1 H 'S O 3 ^ -5

S. « 5 £ .5 g
*** . »<** S J tl 55 •§ S » s 3 5 I £ w -iü ts § w §- 5 fc 3 * £ - è ^£ 1 ? « -g R S <3

s 4* a. o

S £ g 5

5 •« ^ s

X | §-£

.3 Q ü £
* ^ 5 r- CL, S —• —> o H -g ^ -g £

1 ^ S E S j

11111

« Ji c< ^

BATALYON-BATALYON

Di samping BATALYON KOMANDO, di setiap ibukota Kabupaten di seluruh Daerah Aceh dibentuk Organik Kesatuan BATALYO N dan bagian-bagiannya yang langsung berada di bawah Komando dari Komandan Resimen TPI Aceh/Divisi X TNI. Markas Batalyon ini didukung oleh Kesatuan Tentara Pelajar yang tersebar di tiap Perguruan Islam tingkat Sanawiyah dan Madrasah (Pesantren) di seluruh Propinsi Aceh. Dan dalam pidato MOBILISASI UMU M yang diucapkan oleh Komandan Resimen TPI Aceh/Divisi X TNI pada radio perjuangan yang bernama RADIO RIMBA RAYA, tertanggal 17 Agustus 1947 dengan Surat Penetapan Nomor 0272/Kom.Res/TPI-47 telah diberlakukan MOBILISASI UMU M terhadap seluruh pelajar pada Madrasah Ibtidaiyah,

S.D.I di seluruh propinsi Aceh, Kabupaten Langkat dan Tanah Karo. Selengkapnya susunan BATALYON/RESJMEN TPI ACEH/DIVISI X TNI sebagai berikut:
(A). BATALYON-I (Berkedudukan di Kutaraja, ibukota Kabupaten Aceh Besar). Komandan Batalyon : Ibrahim A.R., Kapten. Wakil : T. A. Mahmudy, Kapten. Kepala Staf : M. Husin Ahmad, Lts. Wakil : Said Ibrahim, Ltd.
Masdi, Ltd. Komandan Kompi-I : Ali Basyah, Pit. Komandan Kompi-II : T. Ali Lam Lhong, Pit. Komandan Kompi-III : Djakfar Hasyim, Pit. Komandan Kompi-IV : M. Saleh Putih, Pit. Komandan Kompi-V : Usman Hamzah, Pit. Komandan Kompi-VI : Usman Ahmad, Pit. (Tiap kompi mempunyai 250 orang pasukan, termasuk anggota Palang Merah dan Dapur Umum).

(B). BATALYON-I I (Berkedudukan di Sigli, ibukota Kabupaten Aceh Pidie). Komandan Batalyon : Abubakar Asvek, Kapten.

A. Gani Hasan, Lts. Ishak Ibrahim, Ltd. Ishak Ben, Ltd. Abdullah Husen, Pit. Jusuf Sa ad, Pit. Husin Haji, Pit. Usman Hamzah, Pit. Badaruddin Tjut, Pit.
(Berkedudukan di Bireuen, Kabupaten Aceh Utara/Aceh Tengah).

Wakil : Kepala Staf : Wakil : Komandan Kompi-I : Komandan Kompi-II : Komandan Kompi-III : Komandan Kompi-IV : Komandan Kompi-V :

(C). BATALYON-III Komandan Batalyon : Wakil : Kepala Staf : Wakil : Komandan Kompi-I : Komandan Kompi-II : Komandan Kompi-III : Komandan Kompi-IV : Komandan Kompi-V : Komandan Kompi-VI :
Junus Hasan, Kapten. Said Umar Mahmud, Lts. Moh. Sabi, Ltd.

M. Adjhary, Ltd. Hasri, Ltd. Djakfar Ben, Pit. Abubakar Hanafiah, Pit.
M. Gani, Pit. Ramli Abbas, Pit. Djumala, Plt/Ibrahim Ubi, Pit. di

Takengon.
Komandan Kompi-VII : M. Jakub, Pit. di Kutacane/

(D). BATALYON-IV

Komandan Batalyon : Wakil : Kepala Staf : Komandan Kompi-I : Komandan Kompi-II : Komandan Kompi-III :

Blangkejeren.

A. Djalil Mahmud, Lts. Umar Jusuf, Ltd. Nurdin Mahmud, Ltd. Peunoh Dali, Pit. Ali P., Pit. Muhibbul Djamal, Pit.

(Berkedudukan di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat).

(E). BATALYON-V (Berkedudukan di Susoh, Kabupaten Aceh Sela tan). Komandan Batalyon : Husinsyah, Lts. Wakil : Sukardi Is, Ltd. Komandan Kompi-I : Abubakar Mizan, Pit. Komandan Kompi-II : A. Salam, Pit. Komandan Kompi-III : Idris, Pit.
(F). BATALYON-V I (Berkedudukan di Lhok Seumawe, Kabupaten Aceh Utara/Aceh Timur). Komandan Batalyon : Husin H.A. Lts. Kepala Staf : Zainuddin Lutfi, Ltd. Staf Operasi : Ismail Ben, Ltd. Komandan Kompi-I : S. John, Pit. Komandan Kompi-II : Abdullah Tjut, Pit. Komandan Kompi-III : Isa Bugis, Pit. Komandan Kompi-IV : Nahdy, Pit. Komandan Kompi-V : Buchary Idris, Pit.
(V). PAR A PELATIH
1. Let.Kol. Budiman Daud.
2. Let.Kol. Daud Hasan.
3. Let.Kol. Ibrahim Hatta.
4. Let.Kol. Hasan Saleh.
5. Let.Kol. Ibrahim Saidy.
6. Let.Kol. Muhammad Diah Haji.
7. Let.Kol. A. Mahdani.
8. Let.Kol. T. Ubit.
9. Let.Kol. Abdullah Maari. 10 Kapten Moodjihardjo.

FORMASI

1. Kekuataan organik kesatuan KOMANDO TPI RESIMEN ACEH/DIVISI X TNI tercatat sebaanyak 8.275 anggota dengan pasukan cadangan sekitaar 5.000 anggota hasil Mobilisasi Umum yang dikerahkan dari Madrasah Ibtidaiyah dan SDI klas terakhir, sehingga seluruh formasi diperkirakan mencapai 13.275 anggota di seluruh Propinsi Aceh, Kabupaten Langkat dan Tanah Karo.
2. Kesatuan ini mendapat latihan dasar infanteri secara teratur tehnik dan taktik perang dengan mempergunakan senjata berat dan ringan, yang dilatih oleh perwira-perwira infanteri dari Divisi X TNI. Latihan penjagaan pantai dan pengawalan udara oleh perwira-perwira Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Taktik perang gerilya dalam rangka persiapan menghadapi perang jangka panjang, bilamana tentara NICA berani masuk dan menyerang tanah Rencong. Tekad ini telah terpadu pada setiap anggota pasukan TPI, hasil gemblengan Pimpinan Tentara Nasional Indonesia (Divisi X TNI) dalam rangka mempertahankan kemurnian Proklamasi 17 Agustus 1945 dan sekaligus kesempatan melakukan pembalasan dendam nenek moyang atas pembunuhan massal serdadu penjajah Belanda di masa lalu dalam perang Aceh-Belanda. LINTASAN SEJARAH
1. Komando TPI Resimen Aceh/Divisi X TNI adalah penjelmaan dari Dewan Perjuangan & Kelaskaran, yang dibentuk oleh PERPIINDO (Persaatuan Pelajar Islam Indonesia) Daeraah Aceh sejak tanggal 21 Mei 1946 di Kutaraja oleh para pendirinya.
2. Bulan Agustus 1947 Komando TPI Resimen Aceh secara resmi dikukuhkan bergabung ke dalam Divisi X/TNI.
3. Setelah Pengakuan Kedaulatan oleh Belanda, sebagian besar anggota TPI kembali ke bangku sekolah dan sebagian kecil memasuki dinas kemiliteran. Februari 1950 Organik Kesatuan Komando TPI Resimen Aceh/Divisi X TNI dibubarkan secara resmi.
4. Lahirnya Proklamasi Rl pada 17 Agustus 1945 telah disambut oleh para pejuang dan pemuda dengan mengadakan aksi-aksi perebutan senjata dari tangan Jepang. Seluruh persenjataan Jepang dan mesiu dapat dikuasai oleh para pejuang dengan tidak banyak mengalami kesulitan. Barisan pejuang API dibentuk kemudian berubah nama jadi TKR, TRI dan kemudian TNI. Bersamaan dengan itu Barisan Kelaskaran-pun tumbuh di Aceh seperti Mujahidin, Divisi Tgk. Tjik Ditiro, Divisi Rencong, dimana sejak awalnya banyak tokoh Tentara Pelajar bergabung di dalamnya. Lahirnya Komando TPI Resimen Aceh bulan April 1946 di Aceh, adalah merupakan suatu tuntutan sejarah sebagai cadangan nasional untuk mempersiapkan diri menghadapi perang kolonial Belanda dalam jangka panjang (perang gerilya).

  1. Selama Revolusi Fisik 1945-1950, Komando TPI Resimen Aceh/Divisi X TNI, telah menyumbangkan tenaganya untuk membantu TNI antara lain sebagai berikut:
    5.1. Memberikan penerangan ke kampung-kampung untuk mempertahankan Proklamasi kemerdekaan Rl 17 Agustus 1945 sebagai "Perang Sabilillah" dan mengumpulkan sumbangan rakyat untuk membeli dua pesawat Seulawah-I dan SeuIawah-II untuk disumbangkan kepada Pemerintah Pusat di Yogyakarta.
    5.2. Mengirimkan pasukan, peluru, senjata dan mesiu serta perbekalan dapur umum ke Front Medan Area.
    5.3. Turut membantu pasukan TNI dalam penjagaan tempat-tempat strategis di seluruh daerah Aceh.
    5.4. Turut membantu pasukan Angkatan Laut dalam mengawal pantai dan mengintai kapal-kapal musuh.
    5.5. Mengadakan program pendidikan dan latihan perang dengan menggunakan senjata berat dan ringan secara teratur di tiap kesatuan Batalyon, Kompi di seluruh daerah Aceh dalam rangka meningkatkan kemampuan/keterampilan di lapangan.
    5.6. Mengadakan latihan dasar PPPK, Palang Merah dan Dapur Umum bagi pasukan puteri.
    BERBAGAI KEGIATA N

  2. Meskipun Komando TPI Resimen Aceh/Divisi X TNI secara resmi telah dibubarkan, namun hubungan batin di kalangan bekas anggotanya tetap hidup dan oleh sebab itu mereka membentuk sebuah wadah kekeluargaan dan diberi nama TP ISKANDAR MUD A dengan tujuan untuk membantu mantan TPI untuk menguruskan dan pendaftaran keanggotaan Veteran, uang pemulihan dan fasilitas lainnya.

  3. Tahun 1954 di Bandung oleh tokoh Pelajar Pejuang Iskandar Muda yang dipelopori oleh sdr. Ex. Mayor A.K. Jakobi dan Lts. M. Daud Gade telah diadakan KONGRE S Masyarakat Aceh ke-I seluruh Indonesia, yang bertujuan menghimbau kaum pemberontak d i Aceh supaya meletakkan senjata dan menghimbau Pemerintah Pusat untuk mencari penyelesaian keamanan di Aceh secara musyawarah dan kekeluargaan.
  4. Tahun 1955 di Yogyakarta tokoh TP Iskandar Muda menghadiri, memberikan sumbangan pikiran dalam reünie Perwira Aceh (Divisi Gadjah-I/Divisi X TNI) yang berhasil merumuskan usul penyelesaian keamanan di Aceh untuk disampaikan kepada Pimpinan Angkatan Darat.

  5. 1956 di Medan tokoh TP Iskandar Muda mempelopori terselenggaranya Kongres Masyarakat Aceh ke-II, yang berthema "menuntut lahirnya Propinsi Otonomi Aceh dalamrangkamencari penyelesaian keamanan secara damai dan kekeluargaan". Sebagai penyelenggara' Kongres ditugaskan pada pengurus IPTR (Ikatan Pemuda Tanah Rencong) dengan Ketua Pelaksana M. Nur Nekmat, Said Ibrahim dan Ketua Pengarah A.K. Jakobi, Sulaiman Hamzah dan Ismail Hasan Meutareum. Otonomi Aceh disetujui Pemerintah Pusat sebagai suatu langkah positip untuk mencari penyelesaian keamanan di Aceh secara damai. Kongres Masyarakat Aceh ke-II di Medan itu telah menampung aspirasi masyarakat dengan latar belakang sikap yang beragam. Dan sejak itu dimulailah merintis kembali pembangunan pusat pemerintahan propinsi di daerah Aceh.

  6. 1962 di Kutaraja dilangsungkan Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh dimana tokoh TP Iskandar Muda turut serta menyumbangkan pikiran/dan berperan dalam membantu kebijaksanaan Kodam-I/ Iskandar Muda untuk menciptakan perdamaian nasional di Aceh antara kaum Ulama dan Hulubalang serta pemulihan keamanan.
  7. 1964, disaat intrik "Gestapu/PKI" mencapai puncaknya tokoh ex. T.P. Aceh yang terdiri dari unsur TPI dan TRIP di Jakarta telah sepakat menggabungkan diri dalam satu wadah dengan nama T.P. Iskandar Muda. Bersama kekuatan Pancasilais lainnya, T.P. Iskandar Muda turut aktif mendirikan dan berperan dalam Sekretariat Golongan Karya untuk menghadapi intrik-intrik "Gestapu/PKI dan membina persatuan dan Icesatuan bangsa. Dalam wadah SEKBE R GOLKA R tersebut T.P. Iskandar Muda tergabung dalam KINO HANKAM.
  8. Pemilu 1971, Ketua Umum DPD Golkar, Letjen. Sokowati dan Ajudan Presiden Mayjen. Soedjono Hoemardhani, menugaskan pimpinan Iskandar Muda, yang terdiri dari A.K. Jakobi, M. Amin Hanafiah, Abubakar Ibrahim, S.H. untuk terjun kampanye memenangkan GOLKA R di daerah Istimewa Aceh.
  9. T.P. Iskandar Muda sebagai anggota BAPERIS (Badan Pembina Rumpun Iskandar Muda) merupakan salah saatu slogarde Kodam- I/Iskandar Muda, secara aktif menunjang kebijaksanaan Pangdam Iskandar Muda, baik dalam soal keamanan dan pembangunan daerah. Dalam hubungan ini, pada tahun 1973 Pangdam-I/Iskandar Muda menugaskan sdr. A.K. Jakobi, sebagai koordinator perwakilan BAPERIS untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya (Jawa).
  10. T.P. ISKANDAR MUD A juga aktif berprestasi untuk membantu program pembangunan daerah Istimewa Aceh dengan menyampaikan sumbangan pikiran, konsep kepada Gubernur Kepala Daerah Istimewa Propinsi Aceh.
    304.

"MAIMUN SALEH" adalah nama Pangkalan Militer di kota Sabang, Aceh, sebagat penghormatan kepada MAIMUN SALEH, yang telah gugur dalam menjalankan tugas pada awal Perang Kemerdekaan Rl di daerah Tanah Rencong. Maimun Saleh adalah seorang anggota Tentara Pelajar Iskandar Muda, yang memperoleh tugas dari Komandan Resimen untuk mengikuti latihan penerbangan yang dikelold oleh pejabat KSAU Komodor H. Sujono yang hijrah ke Aceh bersama stafnya untuk membangun kembali AURI. Program ini adalah bagian dari persiapan Perang Gerilya berdasarkan "Doktrin PerangWilayah" di bidang Angkatan Udara. (Koleksi Toto "Aki").

/

| H 3. § |lr| I s

^§• ^^| ra-s-? § §

-30 -
- f\ 5 w.
3
0 3 S O 3 3-
0 3
-~. o " ? s o P"

^' 5| ^ s 1 "8 1 *

JT § K 5' * q- f S. 8 ,J

^tri sn-s-:! :

1 S| j 3.|f |1

3 § * *- « s - 3 1 3 ft- ""3 ca

*M lal-1!!-

gï* Urm

^si 11s:Ii <^Sft- gft.^~" 3^ a " 3 ^ : M s ^ 3 ' ft- £ cT S " S

£ § H. - ---- lil £ i-• ï £

I 3 § * ft » § f §!»r 8. 1 2:^ §. §

ci--10) FORMASI STAF KOMANDEMEN SUMATERA SERTA DIVISI

1). Antara 3 Juli 1946 sampai dengan 9 Februari 1947

a. Komposisi Staf Umum.
1. Panglima Komandemen : Mayjen. Suhardjo Hardjowardojo.
2. Ka. Markas Umum : Kol. Moh. Nuh.
3. Ka. Seksi I (Personalia/ Sekretariat : Letkol. N. Amin Kaum.
4. Ka. Seksi II (Supply) : Kol. Hasan Kasim.
5. Ka. Seksi III (Operasi/ Organisasi) : Kol. M. Simbolon.
6. Ka. Seksi IV (Intelijen) : -Kol. Abudjani.
7. Ka. Seksi V (Penerangan/ Liaison) : Letkol. A- Kartawirana.
8. Ka. Seksi VI (Keuangan : Letkol. Raden Kadiman.'
9. Ka. Seksi VII (Kesehatan) : Letkol. Dr. R. Pringadi.
10. Ka. Seksi VIII (Polisi Tentara/Provost) : Kol. Achmad Tahir.
11. Ka. Seksi IX (Persenjataan/ Perhubungan) : Mayor Art. Kiswoto.
12. Ka. Seksi X (Kehakiman) : Letkol. Mr. Nazaruddin.
- 13. Ka. Seksi XI (Mobilisasi/ Koordinator Perjuangan Rakyat : Kol. M. Syarif Usman.
b. « Komposisi Dewan Panglima.
1. Kolonel Muhammad Nuh.
2. Kolonel Hasan Kasim.
3. Kolonel Maludin Simbolon.
4. Kolonel Abudjani.
5. Letkol. Abdullah Kartawirana.
6. Panitera Dewan Panglima : Letkol. Amin Kaum.

c. Pasukan-pasukan Wilayah.

1. Sub Komandemen-I.

Komandan Sub Komandemen : Kepala Markas Umum : Daerah hukumnya :

Kedudukan Sub Komandemen :

2. Divisi Garuda I. Komandan Divisi : Kepala Markas Umum : Daerah hukumnya : Pasukan-pasukannya :

3. Divisi Garuda II.

Komandan Divisi : Kepala Markas Umum : Daerah hukumnya : Kedudukan Divisi : Pasukan-pasukannya :

4. ALRI Sumatera Selatan. Komandan ALRI : Pangkalan Besar :

5. Sub Komandemen II.

Komandan Sub Komandemen : Daerah hukumnya : Kedudukan Sub Komandemen :

6. Divisi XI. Komandan Divisi : Kepala Markas Umum : Daerah hukumnya : Kedudukan Divisi : Pasukan-pasukannya :
Dr. A.K. Gani. Letkol. Iwan Supardi. Palembang, Lampung, Bengkulu dan Jambi. L a h a t.

Kolonel Barlian. Mayor Nurdin. Lampung, Bengkulu dan Palembang Hulu. 3 Resimen Infanteri.

Letkol. Bambang Utoyo. Mayor Yunus. Palembang Hilir, Jambi. Palembang Kota. 2 Resimen Infanteri.

Kapten Saronsong. Modong (Payakabung Area).

Kol. Dahlan Djambek. Sumbar, Riau, Tapanuli. Bukit Tinggi.

Kolonel Ismail Lengah. Letkol. Dahlan Ibrahim. Sumatera Barat, Riau. Bukit Tinggi. 4 Resimen Infanteri.

  1. Brigade XI. Komandan Brigade : Kepala Markas Umum : Daerah hukumnya : Kedudukan Brigade : Pasukan-pasukannya :
  2. ALR I Tapanuli. Komandan ALRI Tapanuli : Kedudukan Pangkalan Besar :
  3. Sub Komandemen III. Komandan Sub Komandemen : Daerah hukumnya : Kedudukan Sub Komandemen :
  4. Divisi Gajah II. Komandan Divisi : Kepala Markas Umum : Daerah hukumnya : Pasukan-pasukannya :
  5. ALRI Sumatera Timur. Komandan; Pangkalan Besar :
  6. Divisi Gajah I. Komandan Divisi : Kepala Markas Umum : Daerah hukumnya ' : Kedudukan Divisi : Pasukan-pasukannya :
    Letkol. Pandapotan Sitompul. Mayor L. Aruan. Tapanuli. Sibolga. 2 Resimen Infanteri.

Letkol. Achmad Husin Lubis. Sibolga.

Mayjen. Tit. T. Daudsyah. Aceh dan Sumatera Timur. Kutaraja.

Kol. Hopman Sitompul. Letkol. R. Sutjipto. Sumatera Timur. 3 Resimen Infanteri.

Kol. R. Nugrohadi. Tanjung Balai.

Kol. Husin Yusuf. Mayor Bachtiar Idham. Aceh. Bireuen. 3 Resimen Infanteri.

Catatan: 1. Tanggal 3 Juli 1946 organisasi baru TRI Sumatera tersusun dan nama berubah "Komandemen Tentara Sumatera".

  1. Dibentuk 3 buah sub Komandemen untuk mereorganisasi 6 Divisi di Sumatera menjadi 3 Divisi. 1 Brigade berdiri sendiri, sebagai berikut:

a. Divisi Garuda I dan Divisi Garuda II digabung jadi Divisi VI.
b. Divisi Banteng I secara tunggal menjadi Divisi DL
c. Divisi Banteng II secara tunggal menjadi Brigade XI.
d. Divisi Gajah I dan Divisi Gajah II digabung menjadi Divisi X.
3. Tanggal 10 Juli 1946 Markas Besar Komandemen Sumatera pindah ke Parapat.
4. Tanggal 2 Oktober 1946 M. Simbolon gantikan AK. Gani yang jadi Menteri Kemakmuran Kabinet Syahrir III. Markas Umumnya digantikan dari Letkol. Iwan Supardi kepada Kolonel Abudjani.

(II). Antara 10 Februari sampai dengan Juli 1947.

a. Komandemen Tentara Sumatera.

Panglima Komandemen : Kepala Markas Besar Umum : Kedudukan Markas Besar :

b. Divisi VIII.

Komandan Divisi : Kepala Markas Umum : Kedudukan Markas Umum :

1. Resimen-41. Komandan Resimen; Kedudukan Resimen : Dislokasi pasukan :

2. Resimen-42.

Komandan Resimen : Kedudukan Resimen : Dislokasi pasukan :

3. Resimen-43. Komandan Resimen : Kedudukan Resimen : Dislokasi pasukan :
Letjen. Suhardjo Hardjowardojo. Mayjen. R. Sutopo. Parapat.

Kol. Muhammad Nuh. LetkoJ. Nursjirwan. L a h a t.

Letkol. Muhammad Arief. Tanjung Karang. lampung, Palembang Tenggara.

Letkol. Zainal Abidin. Bengkulu Kota.

  • Palembang Selatan, Bengkulu. Letkol. Aziddin. Jambi Kota. Jambi.

4. Resimen-44.

Komandan Resimen : Kedudukan Resimen : Dislokasi pasukan :

5. Resimen-45. Komandan Resimen : Kedudukan Resimen : Dislokasi pasukan :

c. ALRI Sumatera Selatan.

Komandan ALRI : Daerah hukum :

d. Divisi IX.

Komandan Divisi : Kepala Markas Umum : Kedudukan Markas Umum :

Pasukan:

1. Resimen-1.

Komandan Resimen : Kedudukan Resimen : Dislokasi pasukan :

2. Resimen-2. Komandan Resimen : Kedudukan Resiman : Dislokasi pasukan :

3. Resimen-3.

Komandan Resimen : Kedudukan Resimen : Dislokasi pasukan :

Mayor Rasyad Nawawi. Tanjung Raja. Batun, Tanjung Raja dan Kayu Agung.

Mayor Dani Effendi. Prabumulih. Payakabung.

Kapten Sarongsong. Modong/Payakabung Area.

Kol. Ismail Lengah. Letkol. Dahlan Ibrahim. Bukit Tinggi.

It

Mayor Abdul Hakim. Bukit Tinggi. Agam dan sekitarnya.

Letkol. A. Thalib. Sawahlunto Timur. Minangkabau Timur.

Letkol. Achmad Husen. S o 1 o k. Minangkabau Selatan.

Letkol. Hasan Basri. Pakan Baru. Riau Daratan.

Kol. Pandapotan Sitompul. Letkol. L. Aruan. Sibolga.

Letkol. Maraden Panggabean. Sibolga. Tapanuli Tengah dan Selatan.

Letkol. Jansen Siahaan. Tarutung. Tapanuli Utara.

4. Resimen-4

Komandan Resimen : Kedudukan Resimen : Dislokasi pasukan :

e. Brigade XI.

Komandan Brigade : Kepala Markas Umum : Kedudukan Markas Umum :

Pasukan:

1. Resimen-1.

Komandan Resimen : Kedudukan Resimen : Dislokasi pasukan :

2. Resimen-2. Komandan Resimen : Kedudukan Resimen : Dislokasi pasukan :

f. ALRI Sumatera Selatan.

Komandan ALRI : Kedudukan pangkalan : Dislokasi pasukan :

g. Divisi X.

Komandan Divisi : Kepala Markas Umum : Ka. Seksi I (Operasi) : Ka. Seksi II (Organisasi) : Ka. Seksi UI (Penyelidikan) : Ka. Seksi IV (Artileri) :

Letkol. Achmad Husin Lubis. Sibolga. Seluruh perairan Tapanuli.

Kol. Husin Jusuf. Kol. Hopman Sitompul. Kol. Hopman Sitompul. Letkol. M. Nazier. Kapten Jacob Lubis. Letkol. Nurdin Sufi.

Mayor Tengku Nurdin. Mayor Dr. Machmud Hamzah. Mayor Teuku Hamzah. Mayor A.H. Siagian. : Kapten J.A.P. Dauruk. Mayor Usman Adamy.

Ka. Seksi V (Zeni) : Ka. Seksi VI (Kesehatan) : Ka. Seksi VII (Angkutan) : Ka. Seksi VIII (Polisi Tentara) : Ka. Seksi JX (Perhubungan). Ka. Seksi X (Adm./Penyatuan) :

Pasukan:

  1. Resimen-1. Komandan Resimen : Kedudukan Resimen : Dislokasi pasukan :
  2. Resimen-2. Komandan Resimen : Kedudukan Resimen : Dislokasi pasukan :
  3. Resimen-3. Komandan Resimen : Kedudukan Resimen : Dislokasi pasukan :
  4. Resimen-4. Komandan Resimen : Kedudukan Resimen : Dislokasi pasukan :
  5. Resimen-5. Komandan Resimen : Kedudukan Resimen : Dislokasi pasukan :
  6. Resimen-6. Komandan Resimen : Kedudukan Resimen : Dislokasi pasukan :
    Mayor Djamin Ginting. Brastagi. Tanah Karo dan Langkat.

Mayor M. Kasim Nasution. Rantau Pera. Asahan dan Labuhan Batu.

Mayor Ricardo Siahaan. Tebing Tinggi. Simelungun, Deli/Serdang.

Letkol. Hasballah Haji. Kutaraja. Aceh Besar.

Letkol. Tjut Rachman. Bireuen. Aceh Utara/Aceh Timur.

Letkol. Wahab Makmur. Meulaboh. Aceh Barat.

h. ALRI Sumatera Timur. Komandan ALRI : Letkol. R. Nugrohadi. Kedudukan pangkalan besar : Tanjung Balai. Pasukan.
1. Pangkalan-l di Teluk Nibung. Komandan, Kapten Jakfar Siddik.
2. Pangkalan-2 di Tanjung Tiram. Komandan, Kapten Dahrif Nasution.
3. Pangkalan-3 di Tanjung Beringin. Komandan, Kapten SoparSinaga.
4. Pangkalan-4 di Pangkalan Susu. Komandan, Kapten Bistok Hutauruk.
5. Pangkalan-5 di Labuhan Bilik. Komandan, Kapten Ahmad Jacub.
Catatan : 1. Tanggal 10 Februari 1947 Divisi-VIII terbentuk.

  1. Tanggal 25 April 1947 Divisi X terbentuk.
  2. Setelah Divisi baru selesai dibentuk, sub-sub Komandemen di seluruh Sumatera pun dibubarkan. Susunan TRI Sumatera garis besarnya, sebagai berikut:
    a. Divisi VIII berdislokasi di Sumatera Selatan.
    b. Divisi IX berdislokasi di Sumatera Tengah.
    c. Divisi X berdislokasi di Aceh dan Sumatera Timur.
    d. Brigade XI berdislokasi di Tapanuli.
  3. Tanggal 5 Mei 1947, keluar Penetapan Presiden mempersatukan TRI dan Laskar-laskar bersenjata ke dalam TNI. Penetapan ini dikeluarkan, setelah TRI selesai di reorganisasi menjadi 10 Divisi (7 Divisi di Jawa dan 3 Divisi di Sumatera). Bermula pulalah kesibukan baru penyusunan dan pemantapan organisasi TNI secara keseluruhan.
  4. Tanggal 1 Juni 1947, Wapres. Drs. M. Hatta ditetapkan oleh Presiden menjadi Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Perang Rl berkedudukan di Sumatera untuk menjalankan fungsi kepanglimaan tertinggi dan kekuasaan Pemerintah Pusat Rl untuk sementara waktu di Sumatera.

  5. Tanggal 9 Juni 1947, (penetapan tertulis menyusul kemudian tanggal 12 September 1947) Letjen. Suhardjo Hardjowardoyo ditetapkan menjadi Wakil Panglima Besar Angkatan Perang Rl di Sumatera.

  6. Tanggal 13 Juni 1947, keluar Maklumat Tentara sumatera No. l/TNI.47/1, seluruh barisan bersenjata bergabung dalam TNI segera.
  7. Tiap daerah terus melangsungkan rapat-rapat untuk merumuskan pembentukan ke dalam TNI.
  8. Tanggal 26 Juni 1947, berlangsung rapat di Bah Jambi pimpinan Kolonel Husin Jusuf.
  9. Tanggal 3 Juli 1947, Presiden keluarkan penetapan (BN 1947 no. 24) isinya:
    a. tanggal 3 Juli disahkan berdirinya TNI;
    b. Segenap AP dan Laskar masuk ke dalam TNI;
    c. Pucuk pimpinan TNI dipegang Panglima Éesar TNI.
  10. Pada hari yang sama Panglima Besar instruksikan di tiap daerah dibentuk Dewan Pimpinan TNI.
  11. Sebelum realisasi itu, Belanda lancarkan agresi tanggal 21 Juli sehingga peleburan ke dalam TNI terpaksa diundurkan.
    (Bahan: Medan Area Mengisi Proklamasi oleh Biro Sejarah Prima, 1976/Dua Windhu Kodam I/Iskandar Muda, Kutaraja-1972).

DATA & FAKTA

Akhir. 06. 1945 : B.W. Lefrand, mantan Kepala Pabean Belanda di Sigli sebelum Perang Dunia II, diterjunkan Sekutu di dekat kampung Lam Teubah (Seulimum) pegunungan Seulawah untuk persiapan pen- daratan pasukan terjun payung.

    1. 1945 : Bo m Atom AS jatuh di kota Hiroshima, Jepang, yang hangus
      berantakan.
    1. 1945 : Bo m Atom kedua AS jatuh lagi di kota Nagasaki, Jepang.
    1. 1945 : Mr. Teuku Muhamad Hassan bersama Dr. M. Amir bertolak ke

      Jakarta lewat Singapura untuk menghadiri rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
    1. 1945 : Ir. Soekarno dan Drs. Mohd. Hatta kembali ke Jakarta, setelah

      menemui Panglima Tentara Jepang Asia Tenggara, Jenderal Terauchi di Saigon.
    1. 1945 : Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia dikuman-

      dangkan Soekarno-Hatta ke seluruh dunia.
    1. 1945 : Pengumuman Sekutu menyatakan Jepang sudah kalah dan Perang

      Asia Timur Raya sudah berakhir.
    1. 1945 : Ketua Aceh Syu Sangi-Kai (sejenis Dewan Perwakilan Rakyat

      setempat di zaman Jepang) di Kutaraja (Banda Aceh sekarang), Teuku Nyak Arif mengendarai mobilnya secara terbuka menyebarkan teks proklamasi sepanjang jalan raya yang ramai lalu lintas dengan mendapat sambutan meriah dari rakyat banyak.
    1. 1945 : Untuk pertama kalinya Sang Saka Merah Putih dikibarkan di kan-

      tor Polisi Kutaraja dengan inspektur upacara Wakil Kepala Polisi Muhamad Hasjim. Sempat timbul insiden, karena serdadu Jepang yang masih bertugas pengawalan membentak dan melarang pemuda menurunkan bendera Jepang Hinomaru dan menggan- tinya dengan Merah Putih. Tiba-tiba muncul seorang pemuda M. Amin Bugis yang membentak lagi pengawal Jepang seraya menarik dan memasang kembali Merah Putih dan berkibar terus dan pengawal Jepang menghindar.
    1. 1945 : Penyerahan Jepang tanpa syarat kepada Amerika Serikat (Sekutu)

      dilakukan di Teluk Tokyo di atas geladak kapal induk yang cang- gih "Missouri". Jenderal Mac Arthur yang tersohor dalam Perang Dunia II bertindak sebagai wakil Sekutu yang menerima

Nyak Arif sebagai Residen Aceh dan Tuanku Mahmud sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah Aceh.

    1. 1945 : Mayo r Maarten Knottenbelt, kelompok intelijen Sekutu
      berkebangsaan Belanda mendarat di lapangan udara Lhoknga dan disambut Jepang sebagai wakil Sekutu yang akan mengurus pemulangan serdadu Jepang dari Aceh.
    1. 1945 : Sjamaun Gaharu dan T. Hamid Azwar bentuk API daerah Aceh
      sebagai cikal bakal tentara Republik Indonesia.
    1. 1945 : Ace h Syu Tyokan (Residen Aceh di zaman Jepang) S. lino,
      mengundang tokoh-tokoh masyarakat Aceh dan mempertanyakan kehadiran API dan dimintanya supaya dibubarkan. T. Nyak Arif dan Sjamaun Gaharu tegas-tegas menentang.
    1. 1945 : Empa t Ulama besar Aceh, Tgk. H. Hasan Krueng Kale, Tgk.
      Mohd. Daud Bereueh, Tgk. H. Djakfar Sidik dan Tgk. Ahmad Hasballah Inderapuri menyerukan rakyat Aceh ambil bagian dalam PERANG SABIL untuk mengusir penjajahan Jepang dan Belanda.
    1. 1945 : Barisan Rakyat bersenjata tumbuh bagaikan cendawan untul
      mempersiapkan pertahanan dan keamanan, maka lahirlah Barisan Mujahidin, Divisi Tgk. Cik Di Tiro, Divisi Rencong, Divisi Tgk. Paya Bakung, Barisan Gurila Rakyat (BAGURA), Barisan Berani Mati dan Barisan Kelasjkaran Pelajar Islam, yang dilahirkan oleh Gabungan Pelajar Islam Daerah Aceh (GAPIDA/PERPIINDO) dan kemudian dikenal bernama Komando Resimen Tentara Pelajar Islam Daerah Aceh (TPI) dan TRIP.
    1. 1945 : Peristiwa "Cumbok" berkecamuk di daerah Pidie.
    1. 1945 : Mayo r Maarten Knottenbelt lari terbirit-birit meninggalkan Aceh
      menuju Medan, karena kedoknya sebagai agen Nica telah diketahui pemuda.
  1. li. 1945 : Pertempuran di Krueng Panjou menghadapi satu batalyon ten-
    tara Jepang yang ingin merebut kembali kota Bireuen. Pasukan Jepang dapat dilumpuhkan dan komandannya Mayor Ibi Hara melakukan bunuh diri.

    1. 1945 : Pertempuran Lhoknga di bawah pimpinan Abdullah Masri,
      Pawang Leman, Nyak Neh dan akhirnya Jepang menyerah dengan meninggalkan bergudang senjata ringan dan berat.
    1. 1945 : Pertempuran Blang Bintang berakhir dengan diserahkannya sen-
      jata Jepang kepada pejuang.
    1. 1945 : Pertempuran di Idi pimpinan Nurdin Sufi, Ilyas Mahmud, Maito
      Mukmin dan Daud Malem untuk merebut senjata Jepang sebanyak 220 buah.
    1. 1945 : Pertempuran di Langsa pimpinan Mayor Bachtiar dan berhasil
      merebut 300 pucuk senjata api.
    1. 1945 : Seluruh serdadu Jepang telah diungsikan dari daerah Aceh lewat
      Medan menuju Negara Matahari Terbit.
    1. 1945 : Inggeris/Nica di Medan perintahkan dua batalyon Jepang masuk
      kembali ke Kuala Simpang/Langsa (Aceh Timur) dan Lhok Seumawe/Bireuen (Aceh Utara) untuk merebut kembali senjata yang telah jatuh ke tangan pemuda/pejuang.
    1. 1946 : Pemberontakan T. Daud Cumbok dapat ditumpas.
    1. 1946 : Pasukan Letnan Kolonel Muhammad Din, Mayor Bahrin Yoga
      dari Kutacane terjun ke front Medan Area dan mengambil posisi di front Tuntungan.
    1. 1946 : Lon g March pasukan Amir Husin Al-Mujahid dari kota Idi
      melalui jalan raya sepanjang kabupaten Aceh Timur-Aceh Utara
  • Pidie-Aceh Besar.
    1. 1946 : Divisi V/TKR Ko. Sumatera menjadi Divisi V/TRI Ko. Sumatera
      dengan Kolonel Sjamaun Gaharu sebagai Panglima dan Kepala Staf Mayor T.A. Hamid Azwar. Markas di Bireuen.
    1. 1946 : Pasukan Ilyas Leubey, M. Jasa S.R. Datok Seure, Datok Pinding,
      Pang Lokop, Tengku Panjang dan Panglima Aman Dimot turun ke front Medan Area dan bergabung dengan pasukan Kapten NIP Xarim.
    1. 1946 : Pasukan Amir Husin Al-Mujahid mendalangi serah terima jabatan
      Komandan Divisi V/TRI Komandemen Sumatera dari tangan Kolonel Sjamaun Gaharu ke pundak Mayor Husin Jusuf dan pergantian Residen Aceh dari T. Nyak Arif kepada T.T.M Daudsyah.
    1. 1945 : Dibentuk Komando Resimen RLRMA (Resimen Lasykar Rakyat
      Medan Area) dengan Komandan Kapten NIP Xarim berkedudukan di Trepes, didukung kesatuan TKR dan Barisan Rakyat bersenjata dari Sumatera Utara dan Aceh.
    1. 1946 : Pasukan Kapten Alamsyah, Mahmud dan Zainuddin memperkuat

front Medan Area.

    1. 1946 : Batalyon istimewa TRI/Divisi V dari Aceh pimpinan Kapten
      Alamsyah diperkuat pasukan meriam pimpinan Letnan Nukum Sanany mengambil posisi di front kampung Lalang dan sekitar Binjai.
    1. 1947 : Komp i "Parang Berdarah" pimpinan Letnan Bustanil Arifin
      (sekarang Menteri Koperasi/Ka. Bulog) beroperasi khusus di malam hari dengan senjata parang dan rencong, menjegal patroli- patroli Belanda yang menyusup ke garis depan.
    1. 1947 : Peluru meriam Republik pimpinan Nukum Sanani untuk pertama
      kalinya menggelegar di front Medan Area menghujani posisi ser- dadu Belanda di sekitar Polonia. 7/9. 01. 1947 : Rapat Panglima Daerah Aceh dan Sumut di Bireuen dipimpin Kolonel Husin Jusuf.
    1. 1947 : Diresmikan berdirinya Komando Medan Area (KMA) sebagai
      pengganti Komando LRMA, yang bertugas sebagai koordinator dan organisator pasukan Republik untuk mengimbangi pasukan Nica di front Medan Area. Komandan Letnan Kolonel Sucipto.
    1. 1947 : Rakyat Aceh berpuasa tiga hari berturut-turut untuk mendoakan
      keselamatan negara Republik Indonesia dari serangan "Kaphe" Belanda.
    1. 1947 : Pasukan RIMA (Resimen Istimewa Medan Area) diresmikan, ber-
      markas di Binjai Komandan pertama Mayor Cut Rachman. Mengkoordinasikan seluruh pasukan dari Aceh dan bertanggung jawab di Bagian Sektor Barat dan Utara dari front Medan Area.
    1. 1947 : Komandan KM A melakukan serangan umum terhadap
      kedudukan Belanda di seluruh front Medan Area.
    1. 1947 : Du a kompi pasukan Belanda yang sedang bergerak dari Helvetia
      ke pasar Klumpang, Kelambir Lima dihadang oleh sebuah kompi pimpinan Letnan Bustanil Arifin (sekarang Menkop/Ka. Bulog).
    1. 1947 : Perundingan Linggajati ditandatangani.
    1. 1947 : Panglima Sumatera, Letnan Jenderal Suhardjo Hardjowardoyo
      tiba di Kutaraja melakukan inspeksi pasukan militer dan barisan rakyat bersenjata.
    1. 1947 : Pertempuran di pantai Lhoknga dengan kapal perang Belanda
      "Piet Hein" yang muncul tiba-tiba dan menembaki sasaran di

pantai Lhoknga. Kapal itu terkena tembakan meriam kita dan terbirit-birit lari meninggalkan arena, akhirnya tenggelam men- jelang sampai ke Sabang.

    1. 1947 : Divisi Gajah I/Aceh dan Divisi Gajah II/Sumut digabungkan jadi
      satu komando Divisi X TRI Komando Sumatera dengan Panglima Kolonel Husin Jusuf dan Kepala Staf Kolonel H. Sitompul.
    1. 1947 : Rombongan Komisi Tiga Negara (KTN) yang beranggotakan
      Australia, Belgia dan Tiongkok meninjau Aceh. Bertemu Panglima Divisi Kolonel Husin Jusuf di Bireuen dan meninjau asrama militer di Lhoknga, Kutaraja.
    1. 1947 : Seluruh Barisan Kelasykaran bersenjata digabung ke dalam TNI.
    1. 1947 : Agresi I Belanda terhadap Republik.
    1. 1947 : Markas RIMA di Binjai hancur dibom Belanda.
    1. 1947 : "Komando Langkat Area" dibentuk dengan Komandan Mayor
      Wiji Alfisah, bermarkas di Tanjung Pura, Kabupaten Langkat.
    1. 1947 : Dewa n Keamanan PBB perintahkan tembak menembak
      dihentikan.
    1. 1947 : Komisi Tiga Negara (KTN) dibentuk.
    1. 1947 : RR I Yogyakarta serukan hentikan tembak menembak.
    1. 1947 : Komando Sektor Barat Oetara (KSBO) dibentuk dengan Koman-
      dan Letnan Kolonel Hasballah Haji. Markasnya di Bukit Kubu.
    1. 1947 : Tambang Minyak Pangkalan Berandan dibumihanguskan.
      Pasukan Belanda menarik diri ke Binjai.
    1. 1947 : Komando Divisi X TNI Komando Sumatera di Bireuen
      menetapkan Sektor-sektor Pertahanan dengan penanggung jawab- nya masing-masing mulai dari front Medan Area sampai ke daerah Aceh.
    1. 1947 : Jembatan Stabat yang strategis jatuh ke tangan pasukan Belan-
      da. Pangkalan Berandan terancam.
    1. 1947 : Tgk. Mohd. Daud Beureueh diangkat jadi Gubernur Militer Aceh,
      Langkat dan Tanah Karo.
    1. 1947 : Kapten Hasby Wahidy memimpin sepasukan Batalyon gabungan
      dari Sigli menuju front Medan Area.
    1. 1947 : Perundingan Renville dimulai di Tanjung Priuk.
    1. 1948 : Gubernur Militer Tgk. Mohd. Daud Beureueh memberikan

      pengarahan perjuangan menghadapi situasi tanah air yang

semakin genting di hadapan Kesatuan Komando Kesimen i en- tara Pelajar Islam (TPI) di gedung Sekolah Menengah Islam (SMI) Peunayung, Kutaraja.

    1. 1948 : Dr. Mansjur selaku Wali Negara Sumatera Timur bentukan pen-
      jajah Belanda berkirim surat kepada Gubernur Militer untuk menghadiri Muktamar Sumatera di Medan tapi ditolak secara tegas oleh Gubernur Militer.
    1. 1948 : Pelantikan Perwira Kader TPI Resimen Aceh setelah
      menyelesaikan latihan dan pendidikan dengan Inspektur Upacara Kepala Staf Divisi X TNI, Letnan Kolonel Chikmat Rahmany dan Komandan Upacara Komandan Resimen TPI Aceh, Mayor A.K. Jakobi.
    1. 1948 : Belanda membentuk negara boneka (federal) di Sumatera Timur
      dengan Wali Negara Dr. Mansjur.
    1. 1948 : Pembentukan Divisi X TNI Komandemen Sumatera dengan
      Komandan Kolonel Husin Jusuf dan Kepala Staf Kolonel H. Sitompul. Markas di Bireuen.
    1. 1948 : Presiden Soekarno selama tiga hari berkunjung ke Tanah Ren-
      cong dalam situasi negeri antara "hidup dan mati" (to be or not to be) karena Rl telah dikepung oleh Belanda dengan pembentukan negara-negara "boneka" Belanda di seluruh wilayah Rl. Satu-satunya wilayah Rl yang masih utuh dan berdaulat penuh adalah propinsi Aceh. Di sinilah lahir gelar yang diberikan Presiden Rl yang pertama itu: "Aceh Daerah Modal" untuk melanjutkan cita-cita perjuangan dan mengamankan atau mempertahankan isi proklamasi 17. 08. 1945.
    1. 1948 : Bun g Karno adakan dialog "empat mata" pertama kalinya dengan
      Gubernur Militer Jenderal Mayor Tgk. Mohd. Daud Bereueh di Bireuen. Bung Karno berucap, Rl sudah dikepung Belanda, Acehlah satu-satunya alternatif untuk dijadikan modal mengusir penjajahan Belanda dari Bumi Indonesia guna menyelamatkan proklamasi 17 Agustus 1945. Nyalakan api perjuangan rakyat Aceh melawan musuh bebuyutan "Kaphe" Belanda.
    1. 1948 : Ketua Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (GASIDA) M.
      Djoened Joesoef menyerahkan sumbangan uang rakyat Aceh untuk membeli dua pesawat terbang "Seulawah RI-001" dan

"Seulawah RI-002", sesuai himbauan Bung Karno untuk menerobos blokade Belanda di laut, darat dan udara sebagai bukti Republik masih survive.

    1. 1948 : Dialog kedua Bung Karno-Ayah Bereueh di pendopo Gubernuran
      Kutaraja sebagai penegasan dan pemantapan dialog pertama di Bireuen.
    1. 1948 : Pemberontakan "PKI/Muso" di Madiun dapat dipatahkan ABRI
      bersama Rakyat.
    1. 1948 : Jenderal Spoor perintahkan pasukan kerajaan Belanda menyer-
      bu Yogyakarta dan menangkap Soekarno-Hatta. Agresi II Belanda bertujuan membubarkan negara Republik Indonesia dan menggantinya dengan negara-negara "boneka" (federal).
    1. 1948 : Gubernur Militer Tgk. Mohd. Daud Bereueh perintahkan
      beroperasinya Radio Perjuangan "Rimba Raya" di dataran tinggi pegunungan Gayo di Takengon, Aceh Tengah sebagai penghubung dan satu-satunya pemancar Republik Indonesia yang masih mengudara. Pemancar ini juga yang menyiarkan agresi II Belanda ke perwakilan Rl di India (Dr. Sudarsono) dan L.N. Palar di PBB.
    1. 1948 : Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dibentuk di
      Halaban Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat dengan Ketua Mr. Sjafruddin Prawiranegara dan Wakil Ketua Mr. T. Mohamad Hassan.
    1. 1948 : Radio Perjuangan "Rimba Raya" di Takengon, Aceh Tengah
      berhasil mengadakan kontak dengan radio PDRI di Sumatera Barat dan melalui radio "Rimba Raya" berhasil disebarluaskan ke seluruh Indonesia dan luar negeri, keputusan Ketua PDRI sebagai berikut:
  1. Seluruh aparatur pemerintah Rl supaya bekerja terus seperti biasa di mana saja berada untuk menyelamatkan proklamasi 17 Agustus 1945.

  2. Untuk pulau Jawa dibentuk Komisariat PDRI yang terdiri dari lima serangkai, Susanto Tirtoprojo, I.Y. Kasimo, K.H. Masjkur, Supomo dan R.P. Suroso.
  3. Pimpinan Angkatan Perang tetap dikukuhkan Jenderal

Sudirman sebagai pimpinan gerilyawan Indonesia.

  1. Panglima Jawa ditetapkan Kolonel A.H.Nasution dan Panglima Sumatera Kolonel R. Hidayat, Panglima ALRI Kolonel M. Nazir, Panglima AURI Kolonel Udara H. Sujono dan Kepala Kepolisian Negara Komisaris Polisi Umar Said.
    1. 1949 : Mayo r John Lee beroperasi di perairan Aceh dan Selat Malaka
      untuk menyelundupkan senjata, mesiu, obat-obatan dan tekstil.
    1. 1949 : Dut a Besar Belanda di Washington, Van Kleffens berkaok-kaok,
      setelah diduduki Yogyakarta dan ditangkapnya Soekarno-Hatta, Republik Indonesia sudah mati.
    1. 1949 : "Serangan Fajar" yang dipimpin Letnan Kolonel Soeharto
      (sekarang Presiden Rl) berhasil menduduki ibukota Yogyakarta selama enam jam disaksikan atase militer perwakilan asing.
    1. 1949 : Perundingan antara Soekarno-Hatta dengan Belanda di Bangka
      untuk menyelesaikan perselisihan secara musyawarah sesuai desakan PBB.
    1. 1949 : Lahirnya persetujuan "Rum-Royen" untuk menjajagi
      kemungkinan perundingan kedua belah pihak yang bertikai.
    1. 1949 : Soekarno-Hatta kembali ke Yogyakarta.
    1. 1949 : Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) menyerahkan
      mandatnya kembali kepada Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Drs. Moh. Hatta.
    1. 1949 : Tentara Belanda mulai ditarik dari kota Yogyakarta.
    1. 1949 : Pasukan TNI memasuki kembali kota Yogyakarta.
    1. 1949: Penandatanganan penyerahan kedaulatan Republik Indonesia tan-

      pa syarat oleh Belanda dalam Konperensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag.

KEPUSTAKAAN

1. ABOEBAKA R ATJEH, Prof. Dr. Gerakan Salafiyah di Indonesia, Permata - Jakarta, 1970.
2. A. HASJMY, Prof. Semangat Merdeka, Bulan bintang-Jakarta, 1985.
3. A. HASJMY, Prof. Perang Gerilya dan Pergerakan Politik di Aceh untuk Merebut Kemerdekaan Kembali, MUI, Banda Aceh, 1980.
4. AHMADY, A.R. Kolonel (Purn), Medan Area dan Pembangunan Nasional, Makalah, Panitia Seminar TP Iskandar Muda-Medan,1989.
5. AL I HASAN, A.S. Kolonel (Pura), Kisah Perjuangan di Medan Area, Makalah, Panitia Seminar TP Iskandar Muda-Medan, 1989.
6. AMRA N ZAMZAMI, S.E., Jihad Akbar di Medan Area, Bulan Bintang-Jakarta
1990.
7. AKIRA NAGAZUMI, Pemberontakan Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang, Yayasan Obor Indonesia-Jakarta, 1988.
8. ANKERSMIT, F.R., Refleksi Tentang Sejarah, PT Gramedia-Jakarta, 1987.
9. ANA S MACHMUD, Drs., Aceh Tidak Pernah Menyerahkan Kedaulatan Kepada Belanda, MUI-Banda Aceh, 1983.
10. AUDREY R. KAHIN, Pergolakan Daerah Pada Awal Kemerdekaan, Grafiti, PT Temprint-Jakarta, 1990.
11. ANTHONY REID, The Blood of The People, Oxford University Press, 1979.
12. A.R. HAJAT, Sejarah Perang Kemerdekaan Rl di Aceh Tengah, Makalah, Seminar Kejuangan-Jakarta, 1986.
13. AMIN, S.M.MR., Sekitar Peristiwa Berdarah di Aceh.
14. BAHARUDDIN WAHAB, Drs., Peranan Rakyat Aceh Tengah dalam Perang Kemerdekaan Rl, Makalah, Tim Diskusi, Jakarta - 1986.
15. BUCHARI, A.S., Mayor (Purn), Peranan dan Rerkembangan Artileri dalam Revolusi Fisik di Aceh 1945-1949, Makalah Seminar Kejuangan-Medan, 1989.
16. CHANIAGO, JR, dkk, Pemerintah Darurat Republik Indonesia, Arsip Nasional Rl-Jakarta, 1989.
17. DADA MEURAXA, Peristiwa Berdarah di Aceh, Pustaka Sadar-Medan, 1957.
18. DENYS LOMBARD, Kerajaan Aceh, Balai Pustaka-Jakarta,1986.
19. DIMYATI, M., Sejarah Perang Dunia, Bulan Bintang-Jakarta, 1952.
20. D E JONG, L.DR., De Bezetting Na 50 Jaar, Sdu Uitgeverij, 's-Gravenhage, 1990.
21. DROSSAARD, WILLEM, Bronbeek, Een Levend Verledend, Uitgeverij 's-Gravenhage, 1990.
22. EKEL, A.A. (Kolonel, Purn), Peranan Rakyat Aceh Dalam Perjuangan Medan Area, Makalah Seminar Kejuangan, Medan, 1989.
23. ERIC EUGENE MORRIS, Ph.D., Islam and Politics in Aceh, Cornell University,
1983.

  1. FUJIWARA IWAICHI, F. Kikan, Operasi Intelijen Tentara Jepang di Asia Tenggara Selama Perang Dunia II, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1988.
25. GERAR D CASIUS/THIJS POSTMA, 40 Jaar Luchtvaart in Indie, Uitgeverij Dc
Alk bv.
26. HASA Nusantara, Penerbit INTIM-Jakarta, 1988. N MUARIF AMBARY
27. HASA TP Iskandar Muda-Medan, 1989. N SALEH, Haji, Medan Area dan Langkat Area, Makalah Panitia Seminar
28. I. WANGS A WIDJAJA, Mengenang Bung Hatta, Penerbit : CV Haji

, Aceh dalam Retrospeksi dan Refleksi Budaya

Masagung-Jakarta,1988.

  1. JAMES T. SIEGEL, The Rope of God, University of California Press Berkeley dan Los Angeles, 1969.
  2. J.J. NORTIR, De Japanse Aanval op Nederlands-Indie, Uitgeveij Ad. Donker bv. Rotterdam, 1988.
  3. J.J. VAN DE VELDE, Surat-surat dari Sumatera 1928-1949, Pustaka Azet-Jakarta,
    1987.
  4. MAED A SUFIAN, H. Maeda Memilih Republik, ITB Bandung, 1987.
  5. MOHAMA D ROEM, Diplomasi : Ujung Tombak Perjuangan Rl, PT Gramedia-Jakarta, 1989.
  6. MUHAMMA D TWH, Drs., Pertempuran di Front Medan Area, YKU, Medan,
    1986.
  7. MUSD A 45 ACEH, Aceh Modal Revolusi, Angkatan 45-Aceh 1960.
  8. NASUTION, A.H. DR., Jenderal Purn., Sekitar Perang Kemerdekaan, Jilid 4 dan 5, Disjarah AD/Pcn.Angkasa, Bandung, 1978.
  9. NAZARUDDIN SJAMSUDDIN, DR., Pemberontakan Kaum Republik, PT. Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 1990.
  10. NU R EL BRAHIMY, M., Teungku Muhammad Daud Bereueh, PT Gunung Agung, Jakarta, 1986.
  11. NYA K ADA M KAMIL, Mayjen. Purn., Peranan Pejuang Aceh di Medan Area, Makalah, Angkatan 45 Acch-Kutaraja, 1960.
  12. NYA K YUSDA, Haji, Pelajar Pejuang Aceh dan Mereka yang terdahulu, Penerbit Yayasan Pahlawan Bangsa, Jakarta, 1986.
  13. NUGROH O NOTOSUSANTO, Pejuang dan Prajurit, Penerbit Sinar Harapan, Jakarta, 1984.
  14. ONGHOKHAM, Runtuhnya Hindia Belanda, PT. Gramedia, Jakarta 1987.
  15. PAU L VAN'T VEER, Perang Aceh, PT Grafiti Press, Jakarta, 1985.
  16. PEMD A ACEH, Revolusi Desember 1945 di Aceh, Kutaraja 1950.
  17. RADIK UTOYO SUDIRJO, Panglima Besar Sudirman, Penerbit Alda, Jakarta,
    1985.
  18. RAMADHAN, K.H., A.E. Kawilarang untuk Sang Merah Putih, Penerbit Sinar Harapan, Jakarta, 1988.
  19. RASJID, S.M.MR., Sekitar PDRI, Bulan Bintang, Jakartaa, 1982.

  20. ROT O SOEWARNO, Pak Dirman Menuju Solo, Penerbit Yayasan Kembang Mas, Jakarta,1988.

  21. SAGIUM, M.D., Perlawanan Rakyat Indonesia Terhadap Fasisme Jepang, Inti Idayu Press, Jakarta, 1985.
  22. SIMATUPANG, T.B., Jenderal Purn., Laporan Dari Banaran, PT Pembangunan Djakarta, 1961.
  23. SIMATUPANG, T.B. Jenderal Purn., Pelopor Dalam Perang Dalam Damai, Yayasan Pustaka Militer, Jakarta, 1945.
  24. SAID ALI, Haji, Memori Sejarah Perjuangan 1942-1953, Makalah, Seminar Kejuangan-Medan 1988.
  25. SJAMAU N GAHARU, Mayjen Purn., Catatan Perjuangan Menegakkan Kemerdekaan Rl di Aceh 1945-Ï949, Makalah, Prasaran, Medan 1976.
  26. SJAHNAN, H.R., Mayjen Purn., Dari Medan Area ke Pedalaman dan Kembali ke Kota Medan, Dinas Sejarah Kodam II/Bukit Barisan, Medan, 1982.
  27. STABELAN, Gedenschrift Knil 1839-1950, Druk : Hijbeek Dordrecht, 1990.
  28. TIM PENULIS, Dua Windhu Kodam I/Iskandar Muda-Kutaraja, 1972.
  29. TIM PENULIS PRIMA, Medan Area Mengisi Proklamasi, Biro Sejarah Prima, Medan, 1976.
  30. TIM PENULIS, Sejarah Perang Kemerdekaan di Sumatera 1945- 1950, Dinas Sejarah Kodam II/Bukit Barisan, Medan, 1984.
  31. TALSYA, Sejarah dan Dokumen Pemberontakan di Aceh, Penerbit Kesuma, Jakarta.
  32. TALSYA, Batu Karang di Tengah Lautan, Penerbit Lembaga Sejarah Aceh, Banda Aceh, 1990.
  33. TAUFIK ABDULLAH/ABDURACHMAN SURJOMIHARDJO, Ilmu Sejarah dan Histori Ografi, PT Gramedia, Jakarta, 1985.
  34. UNSYIAH, Bung Karno dan Rakyat Aceh, Kutaraja, 1961.
  35. VA N DER WAL, S.L. DR., Officiële Bescheiden Betreffende De Nederlands-Indonesische Betrekkingen 1945-1950, Jilid I dan VI, 's-Gravenhage Verkrijgbaar bij Martinus Nijhoff, 1971.
  36. WIBOWO, B., Pasukan Meriam Nukum Sanany, Bulan Bintang, Jakarta, 1985.
  37. ZENTGRAAF, H.C, Aceh, Penerbit Beuna, Jakarta, 1983.
  38. SEWA N SUSANTO, IR, Perjuangan Tentara Pelajar Dalam Perang Kemerdekaan Indonesia, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1985.
  39. INSIDER, Aceh Sepintas Lalu, Fa. Archapada, Jakarta, 1950.
  40. MATRAHI M JINDAN, Gayo Luos Merebut Kemerdekaan, Blangkej eren, 1959.
  41. A. SALIM WAHAB, DRS., Perjuangan Aceh Tengah, Kutacane, 1970.
  42. M. SALEH JAKOBI, Aceh Tengah Merebut Kemerdekaan, Takengon, 1963.

INDEKS NAMA

A

A. Azim, 170
A. Bakar Z., 48
A. Hasjmy, 3,4,7,11,15,32,48,189,193,223,276
A.K. Gani, 129,309,311
A.R. Hasjim, 199 Abdul Azis, Tuanku, 275 Abdul Djalil, Tgk., 272 Abdul Gaffar, 238 Abdul Gani, 193,199,265,275 Abdul Gani (Ayah), 7,28,30,31,32,199,295 Abdul Hakim, 312 Abdul Halim Hasan, Haji, 116,193 Abdul Hamid, 30,31,1 15,296 Abdul Haris Nasution, DR. 208,231,232,258 Abdul Latif, 64 Abdul Malik Maimuddin, 126 Abdul Manaf, 30,171,281 Abdul Muluk, Ir.H. 245 Abdul Muthalib, 134,195,273,274 Abdul Salam Teungku, 104 Abdul Syam, 210 Abdul Talib, 64,212 Abdul Wahab, Raja, 63,64,108,110 Abdul Wahab Seulimum, Tgk., 30,31,32,35,193,196,197,199,275 Abdulah Budiman, 71 Abdullah Hanafiah, 61 Abdullah Hasan, 189,197 Abdullah Hs.H., 277 Abdullah Husein, 301 Abdullah Husin, 71,296 Abdullah Ibrahim, 189, Abdullah Koto, 115 Abdullah Mahmud, 297 Abdullah Masri, 46,50,302 Abdullah Rahim (Army), 290 Abdullah S., 383 Abdullah Sani, 216,266,283 Abdullah Sjam, 47,189,210,276,284 Abdullah, T., 48,49,265,278 Abdullah Thaib, 189,297 Abdullah Tjut, 108,302 Abdur Rahman Ali (Blagar), 109,292

Abdur Rahman Keumangan, T., 39 Abdur Rahman Meunasah Meucap, Tgk., 53,235 Abdur Rahman Panglah, 121 Abdur Rahman Saleh, Dr., 248 Abdur Rahman Sjihab, Haji, 117 Abdur Rahman, T.Mi., 280,298 Abdur Rahim Aman'Ali, 39,101,149,125 Abdurrachman Adnan, 274 Abdurrachman Buloh, Tgk., 279 Abu Bakar Abdy, 279 Abu Bakar Amin, 30,279 Abu Bakar Asyek, 300 Abu Bakar Bambak, 279 Abu Bakar (Idi), 277 Abu Bakar Hanafiah, 301 Abu Bakar Ibrahim, 189,286,305 Abu Bakar Ibrahim, H., 199 Abu Bakar Jindan (Bkj), 109 Abu Bakar Madjid, 30,197,291 Abu Bakar Mizan, 302 Abu Bakar Said, 11,193 Abu Bakar Salam (Tkn), 104,291 Abu Mukmin (Tkn) 63. Abu Samah, 71 - Abu Thaman (Tkn), 63 Abundjani, 308,311 Achmady, AR., 41,230 Achmad Adam, Tgk., 276. Achmad Husen, 312 Achmad Husin Lubis, 310,313 Achmad Tahir, 39,75,76,77,89,98,308 Adam, 196, 197 Adi Sucipto, 248 Adi Sumarno Wirjokusumo, 248 Adinegoro, 75 Adjad Musi, 15,189,196,265,273,278,282 Adjhary: M., 291 Afan, Haji, 53,111 Agus Husin, 51,52,176,235,265 Agus Salim, 109 Agus Salim, Haji, 203,173,249,234 Agus Salim (Logistik), 292 Ahmad Abdullah, 199 Ahmad Aman Bedus, 129 Ahmad Amins, M., 33 Ahmad Effendi, 19

Ahmad Jakub, 315 Ahmad Jeunib, T., 11 Ahmad Latif, 71 Ahmad, Raja, 71 Ainul Mardhiah Ali, 189, 296 Aisyah Amin, Tgk., 280 Aiyub, 171, 265 Aji Merah, 106 Akil Puradirya, 241 Aksyah, Z., 170 Akta, 189 Alamsyah, 39, 105, 108, 109, 120, 129, 132, 133, 149, 154, 163, 170, 194, 198, 199, 283 Alex Kawilarang, 241 Ali (Bkj), 109 Ali Basyah, T., 29, 300 Ali Diman, 213 Ali Gonang, 104, 106 Ali Hasan, 283 Ali Hasan, A.S., 39, 47, 63, 64, 109, 132, 133, 223, 226, 125, 194, 282, 294, 307

Ali Jusuf, 189, 296 Ali Lam Lhong, T., 300 Ali, Mohd. T. 25, 33 Ali Muchtar, 125 Ali, P., 301 Ali Zaini, 76 Alibasyah, 276 Alibasyah, Taico, 47 Alim, Pang, 109 Alwin Nurdin, 75, 126, 198, 223, 115 Alyus Iskandar, 189, 296 Aman Alang, 167 Aman Dimot, 215, 109, 238, 292, 293 Aman Gereta, 270 Aman Johan, 109 Aman Jusuf, 104 Aman Kemala Intan, 109, 275 Aman Sungkit, 71 Amat Bren (Bkj), 109 Amin Bugeh, M., 274 Amin Hanafiah, M., 189, 296, 305 Amin Ismail, M., 296 Amin Kaum, N., 308 Amin Musa, M., 296

I

I Amin, M., 61, 282 Amin, RPD, 279 Amin, S.M.Mr., 68, 208, 218 Amin Syamy, Tgk., 22, 274 Amin, T.M., 35, 196, 199, 275, 276 Amir, 71, 171 Amir Hamzah, 17, 19, 20, 189 Amir Husin Al-Mujahid, 15, 17, 20, 29, 30, 32, 36, 189, 199, 196, 278, 279, 281 Amir Sjarifuddin, Mr., 131, 201 Amir Yahya, 149, 154, 157 Amran Zamzami, 189, 215 Anas Sofyan, 47 Anis Idham, 189 Anwar Badan, 63, 64, 104, 108, 109, 287 Arahas, 58 Arif Amiruddin, M., 277 Arifin Amin, 163, 252 Arsyad, M., 72 Aruan, L., 300, 304 Asahan, T. (Singkil), 283 Asahan, T.A., 47 Asep Jalil, 277 Askari, 241 Asma Abdul Wahab, 189, 296 Asmatudin, 89 Asyik Ali, M., 297 Atang Muguril, 109 Ayah Hamid, 30, 31 Aziddin, 311 Azis, 218

Azizah, A.R., 296

B Bachtiar Dahlan, 39, 59, 60, 71 Bachtiar Idham, 8, 41, 44, 49, 50, 72, 121, 122, 176, 235, 263 267, 279, 280, 309 Bachtiar Idris, 56 Badaruddin Tjut, 300 Bahrin Yoga, 39, 101, 106, 126, 128, 129, 130, 132, 149, 265, 269, 286, 289 Baihaqy, AK., 109 Bakar Amin, A., 189, 277 Bakar Madjid, A., 197, 278 Bakar, Tgk., 279

Bakar, T.A., 53 Bakar, Z., 47 Bambang Utoyo, 308 Banta Sulaiman, 276 Banta Tjut, Guru, 104,106 Banta Tjut, Tgk., 64,278 Barani Pohan, 115 Barlian, 308 Basjar Abdullah, 134 Basuki Badar, 71 Baswedan, A.R., 173,234 Beek, Dr. 78,80,202 Beel, Dr., 202 Bejo, 116,129,172,184,186 Ben Bok, 106,282 Ben Sawang, 278 Bethels, Brigjen, 81 Bistok Hutauruk, 314 Boediardjo, 248..^ Bosselair. 80 Brondgeest, 77,78,80,92,284 Bruggemants, 78 Buchari, AS., 121,133,139,150,152,193,210 Buchari Idris, 301 Budiman, 30,281 Budiman Daud, 41,157,301 Bunsjuraini, 189 Burhanuddin, 132,166,171,193 Burhanuddin, Bkj., 276 Bustami, 209 Bustanil Arifin, 39,101,127,129,132,155,156,157,158,163,223,251,252 Buyung Ali, 63

C. Chabar Ginting, 63,286 Chailul Usman, 215 Chairul Bachri, 109,290,291 Chambers, H.M. Mayjen, 81 Chamis, M. (Ken), 274 Chamsiah Azis, 189,295 Chiang Kai Sek, 89 Chik Di Tiro, Tgk., 14,15,22,43,98,123,134,150,189,190,192,194,196,240,272 Chik Paya Bakong, 15,43,150,189,195,240,268 Chik Tunong, T., 268 Chikmat Rahmany, 15,16,123,189,192,194,195,197,212,218,225,239,272,294 Crosswell, 81 Cut Agam, 61

Cut Ahmad, 63 Cut Ali, T„ 110,268 Cut Anwar, 306 Cut Hasan, T., 11,282 Cut Kaoy, 281 Cut Meutia, 268 Cut Rachman, T., 39,61,110,122,126,128,147,150,194,198 Cut, T., 63

Cut Usman, 121,132,150

D Daftaruddin, 63 Dahlan Djambek, 284,308 Dahlan (Peurlak), 282 Dahlan Ibrahim, 308,311 Dahlan Lubis, 115 Dakrif Nasution, 314 Dani Effendi, 311 Darsjat (Ken), 287 Dasimah Syukur, Encik, 106 Datok Pining (Bkj), 96,100,101,107,129,238,269 Datok Utel (Bkj), 96,101,238,269 Datuk Seure (Bkj), 96,100,101,129,238,269 Daud Ahmad, 273 Daud Cumbok, T.M., 20,26,27,51 Daud Dariyah, 61,62,277 Daud Egon, M., 116 Daud Gade, M., 41,176,222,228,303 Daud Hasan, 56,196,237,301 Daud Husin, 71 Daud Malem, 59,267,282 Daud Samalanga, T.M., 39,51,280 Daud T., 216,264 Daudsyah, T.T., 36,196,246,248,284,309 Dauruk, JAP, 313 Denning Eag., 259 Denning, RFS, 259 Dharma, A., 116 Djakfar Ben, 300 Djakfar Hasjim, 296,299 Djakfar Siddik Lamdjabat, Tgk., 14,271 Djalil Daud, A., 273 Djalil Sufi, 273 Djamil Djamal, 72 Djamil Djambek, Sjech, 4 Djamil, M., 64

Djamin Gintings, 147,193,283,313 Djanan Zamzamy, 134,189,198 Djenen, M., 64 Djoened Joesoef, H.M., 242,243,244 Djumala (Tkn), 300 Dogok, 173

Douglas Pennant, C.E., 259

E

Edy Amiruddin, 115 Effendie, 199 Ekel, A.A., 176,180,235 F Faida, 189,295 Fatimah Umar, 189,295 Fatmawati Soekarno, 261 Firdaus, 134,194 Frank Graham, Dr., 175

G Gade Husin, 152,157 Gafur Akhir, A., 277 Gam Manyak, 71 Gani, A., 19 Gani Adam, A., 199,275 Gani Dedeh, A., 264,281 Gani Hasan, 300 Gani, M., 300 Gani, M.A., 19,294 Gani Usman, A., 280 Gazali Amin, 294 Gazali, Idris, 30 Gedong, T., 41,61,223,265 Gibbs, G.E., 259 Gindo Siregar, Dr., 186 Goh Moh Wan, 91,295 Gozenson, 75,76

H Habib Putih, 110 Hadijah, Ny.Johan Alamsyah, 106 Haga, Kapten, 269

Hajat, A.R., 63,111,286 Haji Hujen, Ny.Empun Ali, 106 Halim Perdanakusumah, 248 Halimah Madjid, Ny., 189,295 Hamdani, T., 39,53,262 Hamid, 63,237,272 Hamid, A., 115,281 Hamid Azwar, T. 8,9,32,36,39,54,57,67,72,243,223,263,266,279 Hamidy Hs., 61 Hamzah Saat, 213 Hamzah, T., 37,39,51,53,54,55,57,197,216,264,267,279,280,283,313 Hanafiah, 61,132,133,159,278 Hanafiah, A. (Langsa), 132,133,159,265,282 Hanafiah, M. (Idi), 276,281 Harianja, 124 Hardi, Mr., 107 Harun, 49 Harun Ali, 47,273 Harun, Tgk., 281,290 Harmoko, 229 Hasan Alamsjah, T.M., 53,265 Hasan Ali, 7,22,50,104,163,193,196,199 Hasan Ahmad, 39,62,132,148,149,171,194,197,265,290 Hasan Amin, M. 276 Hasan Bambi, 273 Hasan Basri, 101,130,312 Hasan Ben, M., 20,189,237,295,297,298 Hasan Hanafiah, Tgk., 199,273 Hasan Husin, 295 Hasan Kasim, 317 Hasan Krueng Kale, Tgk. H., 14,91,223,271,274 Hasan Saleh, 22,27,35,39,125,132,133,152,153,155,156, 157,158,159,160,161,165,166,170,174,223,281,302 Hasan Sab, 58 Hasan Sulaiman (Pak Jenggot), 101 Hasanah Lam U, 295 Hasanuddin, 30,171,278 Hasanuddin Ali, 104 Hasballah Asyek, 272 Hasballah Daud, 28,197,272,273 Hasballah Haji, 22,27,39,125,147,148,163,168,170,174, 177,179 193,198,230,264,267,278,280,283,313 Hasballah, Tgk., 278 Hasbullah Indrapuri, Ahmad, Tgk., 14,91 Hasby Wahidy, 39,125,163,165,171,179,187,216,264,281

Hasiluddin, 109 Hasjim, Tgk. (Meuke), 277 Hasjim, M., 276 Hasry, 53,55,56,300 Hatta, Mohd. Dr. 1,2,4,13,14,65,75,77,183,184,201,202, 204,207,216,233,249,257,260,262,314 Halimah Ali, 189 Helfrich, CEL (Laksamana). 294 Hendrik Manoppo, 171,177 Hidayat, R., 182,208,209,241 Hirohito, Kaisar, 260 Husin Jusuf, 3,6,20,32,33,35,36,39,51,67,109,123,126,130,134,147,148, 170,177,180,184,189,190,194,197,198,199,208,219,225,230,263,264, 266,267,279,280,283,295,309,312,315

Husin Admad, 299 Husin, G., 277 Husin, H.A., 301 Husin Haji, 300 Husin Itam, 197,279 Husin, M., 64,197 Husin M. (Sigli), 281 Husin Sab, 199 Husin Saleh, 47 Husin T., 278,281 Husinsyah, 301 Howthorn, DC, 81 Hutajulu, B.H., 115

I Ibrahim A.R., 237,299 Ibrahim Aji, 241 Ibrahim Cunda, T., 30 Ibrahim Hamzah, 47 Ibrahim Hasan, 223 Ibrahim Hatta, 198,266,280,301 Ibrahim Husin, 189 Ibrahim, Keuchik, 52,53 Ibrahim, N.A., 273 Ibrahim Pait, Tgk., 273 Ibrahim Risyard, 189,228 Ibrahim Saidy, 301 Ibrahim, T., 47,159,197,231,280 Ibrahim Ubit, 296,300 Ibi Hara, 51,54,57 Ibnu Hajar, 53

Ibnu Sa'dan, 199,231 Ibnu Yogya, 104,289 Idris, 301,306 Idris Ibrahim, 71 Idrus, M., 115 Idris Panteraja, T., 51 Idris Putih, T.R., 273 lino, S., 42 Ilyas Leubey, Tgk., 101,103,104,106,108,109,132,193,215,272,274,286,288, 289,290,291 Ilyas Mahmud, 41,59 Ilyas, Pak, 279 Ilyasak Ali, 134 Imam Nurdin (Manggeng), 277 Indah, 265 Indracaya, Ir., 207 Inen Jali, 106 Inen Mayak Sepiah, 106 lnsya M., 35 Isa Bugis, 301 Ishak Ben, 300 Ishak Ibrahim, 47,276,300 Ishak Pakeh, 62,281 Iskandar,265 Iskandar (Bakongan), 282 Iskandar Muda, 36,70 Ismail, 39,109,276,287 Ismail Ben, 301 Ismail Daud, 177 Ismail Hasan Meutarium, 189,237,295,298,304 Ismail Lengah, 308,311 Ismail Muda, 110 Ismail Suny, 189,296 Ismail, Tgk., 277 Ismail Ishak, 134 Iswayudi, 248 Isyrin Nurdin, 71,72,223 Itagaki, 259 Iwan Supardi, 308,310

I Jakobi, A.K., 134,189,195,212,237,289,294,295,297,298,303,304,306 Jakob Amin 296 Jakob Lubis, 115,124,126,285,312 Jacob Siagian, M., 115

Jailani, A.K., 265, 282 Jakfar, 213, 273 Jakfar Siddik, 91, 314 Jakub, M., 281 Jakub, M. (Ken), 300 Jakub Muli, 264, 281 Jakub Siregar, M., 184, 192 Jalal, B.B., 60, 62, 194, 265, 282 Jalaluddin, 210 Jalaluddin Umar, 121, 283 Jalil Amin, A., 275 Jalil, Ms. Tgk., 277 Jalim Umar, 39, 101, 265, 286, 287 Jalil Sufi, 110 Jamaluddin, Tgk., 290 Jansen Siahaan, 312 Jarimin, 275 Jasa, S.R., 101, 286, 289 Johan Alamsyah, 104 Johan, T., 221 John Lee, 241, 243, 244 Junus Hasan, 300 Jusuf Ahmad, 53, 110 Jusuf Ahmad, M., 52, 110 Jusuf Bahrun, 171, 173 Jusuf Berawang, Tgk., 273 Jusuf Hasan, 134 Jusuf H. Saleh, 273 Jusuf, M., 38, 157, 215, 278 Jusuf, M. Mr., 86, 89 Jusuf Risin, 121, 133, 150 Jusuf Saad, 300 Jusuf Skoni, 250, 275 Jusuf Tanoh Anau, M., 110

K Kadiman, Raden, 307 Kadir, A., 106, 282 Kadir Jailani, A., 60 Kalam, 64 Kaldam, 47 Kali Kuning, Tgk., 109 Kamis, 104 Kapoyos, 176 Kartawirana, A., 123, 241, 307 Karsimin, 63

Kasim, 109 Kasim Nasution, M., 147, 193, 283, 313 Kasim Rasjidi, M. Tgk., 278 Kasim, Raja, 106 Kasimo, I.Y., 207 Kasan, 121, 133, 150 Kelly, TED., 69, 70, 81, 82, 83, 85, 86, 91, 94, 98 Kejora, Z., Aman As., 109, 291, 293, 294 Keujurun Dagang, R., 100, 274, 290 Keumangan Umar, T., 20, 199 Khatijah, Abu, 279 Ki Bagoes Hadi Koesoemo, 260 Kimmins, BCH., 259 Kiswoto, 307 Kohier, JHR, 268, 270 Koiso, 260

Kureiwa, 49, 66, 93, 132, 180

L Langlang Buana, 170 Latif Rousydy, A. Tgk., 274 Lazimah Ali, 295 Lefrand, B.W., 22 Liano Siregar, 193 Lim Seng, 87 Lintong, 158, 159 Lisanuddin A. Afif, 296 Lothan, T.M., 275 Louis Mountbatten, Lord, 1, 77, 80, 81, 135, 259 Lukman Hakim, Mr., 207 Luthan, T.M., 47 **m ***

Ma-aris, 39, 101, 265, 286 Ma-at, 39, 101, 265, 286, 287 Maarten Knottenbelt, 14, 91, 92, 284, 285 Mac Arthur, 1, 2, 80, 81, 135, 261 Machmud Hamzah, Dr., 313 Made Bagiastra, I. Dr., 71 Madjid Upen, 64 Maeda Chui, 58, 66, 93, 285 Maeto Mukmin, 59 Mahadi Nasution, 71 Mahdani, A., 162, 182, 301 Mahmud, A.R., 52, 53

Mahmud Hamzah, 121, 133, 150 Mahmud, Kechik, 71 Mahmud, T., 11, 14, 106 Mahmud, Tgk., 286 Mahmud, Tuanku, 4, 11, 14, 48, 250 Mahmuddin, 273 Mahmud Harun, Tgk., 197 Mahruzar, 75 Mahmudy, T.A., 189, 237, 296, 298, 299 Mahyuddin Hasyim, 19, 189 Mahyuddin, M. Dr., 280, 283 Mahyuddin Syah, 121 Maimun Saleh, 305 Maimun Habsyah, Tgk., 35. 193 Main, 121, 133, 150 Makam Gampong Blang, Tgk., 264 Manaf Juned, A., 278 Manap, A., 179 Mansergh, E.C., 81 Mansjur Bakar, 72 Manyak, T., 39, 44, 45, 193, 198, 199, 216, 264, 267, 279, 280 Maraden Panggabean, 312 Maramis, 204 Marhaban Krueng Kale, Tgk., 274 Madam Daud Bereueh, 189 Mariah Sagub, 189, 296 Maribun, Raja, 286 Marijan (Tkn), 281 Martadinata, 241 Martinus Lubis, 135 Maryam Hasan Jakobi, 189, 296 Maryono Subroto, 207 Marzuki Abubakar, 51, 53 Marzuki Lubis, 115 Masubutsi, S., 11 Masdi, 299 Matrahim Jindan, Ny., 106 Matjali, 109 Minggu, Kapten, 193 Moedjihardjo, 195, 294, 301 Muchtar, 189 Muda Sedang, 63, 64, 104, 106, 108 Muda Sedang, Ny., 106 Mufti A.S., 41, 252 Muhammad, 275

Muhammad Ali Lampisang, Tgk., 274 Muhammad Ali, Sigli, Tgk., 274 Muhammad Amin Alue, Tgk., 274 Muhammad Amin Bugis, 8 Muhammad Arif, 301 Muhammad Bt Lon, 71 Muhammad Daud Beureueh, Tgk., 4, 5, 11, 14, 15, 35, 65, 68, 91, 104, 116, 134, 184, 186, 187, 188, 190, 192, 194, 195, 196, 197, 198, 201, 208, 218, 220, 224, 225, 230, 234, 235, 239, 240, 250, 271, 274, 290 Muhammad Din, 39, 63, 100, 101, 106, 149, 263, 265, 266, 268, 269, 286 Muhammad Hasan, T. Mr., 4, 67, 68, 69, 77, 89, 100, 184, 185 201, 218 Muhammad Hasyim, 8 Muhammad Syah, T., 39, 67, 264 Muhammad, Datok, 273, 279 Muhammad Daud Ulee-Lheu, Tgk., 274 Muhammad Nuh, 307, 310 Muhammad Rasjid, St. Mr., 207 Muhammad Saleh Lam Bhuek, Tgk., 274 Muhammad Zein, Tgk., 279 Muhammad ZZ., 275 Muhammat, T., 276 Muhammadar, 189, 295, 297 Muhammadiyah Haji, 41 Muhibbul Djamal, 300 Mura Moto, 54, 57 Musa, 61, 54 Musa Aman Kong, 269 Muso, 203 Mutyara, A.G., 50, 134, 197 Muzakkir Walad, A., 45, 171, 197, 223, 283

N

Na'am Rasmadin, 51, 53 Nahdy, 301 Nainggolan, B., 192, 197, 265 Naka Kubu, 52 Namploh, AM., 35, 163, 194, 281 Nawawi, Tgk., 275 Nazaruddin, Mr., 307 Nazaruddin Nasution, 171 Nazir, M., 39, 148, 170, 192, 197, 208, 265, 266, 267, 280, 283, 312

Nelang Sembiring, 193, 198 Nemoto, 272 Nieuwenhuizen, 268 „ Nip Xarim, 75,123,158,159,160,165,166,171,193,289 Nugrohadi, R., 309,314 Nukum Sanany, 39,60,61,62,125,132,133,161,162,165,166,170,192,210,213, 215,130,283 Nur El-Ibrahimy, M., 14,30,32,34,37,280 Nur, M., 72,199 Nur, M., Tgk., 199 Nur Nekmaf, M., 53,56,189,304 Nurdin, 308 Nurdin Hatta, 264,281,282 Nurdin, M., 47,171,275 Nurdin M.D., 211 Nurdin Mahmud, 300 Nurdin Sufi, 30,33,45,59,125,148,264,267,278,279,280,283,212 Nurdin, T., 124,126,283,313 Nursjirwan, 310 Nyak Adam Kamil, 39,60,61,62,125,132,133,161,162,165,166,170,192,265, 267,280,282 Nyak Ali Pulo Drien, 110 Nvak Arif, T., 33,35,42,48,69,265,266,279» Nyak Cut, Tgk., 273 Nyak Do, 53 Nyak Hukum, 39,265 Nyak Makam, 277 Nyak Neh Rica, 8,39,67,264 Nyak Neh, 15,16,32,46,123,132,180,181,189,193,194,197,210,263,275 Nyak Obor, 104,105,291 Nyak Raja, Tgk., 278 Nyak Sandang, 278

O Omar Husny, 199,250 Omura Syo-sa, 66,67,69 Osman Adamy, 29,148,243 Osman Raliby, 35

P Pang Akub, 110,238 Pang Ali Rema, 292 Pang Alim, 290,291 Pang Edem, 291,292 Pang Indah, 282 Palar, L.N., 173,204,251

Pang Lokop, 101,127,129,238 Pang Nanggrou, 268 Panglima Polim Moh.Ali, T., 25,33 Parengkuan, G.A., 176,235 Paris, Kapten, 268 Paruntu, B., 180 Paul Van Zeeland, 175 Pawang Leman, 32,46,250,275 Pendapotan Sitompul, 186,309,312 Penenek Usman, 216 Penney, WRC, 259 Peunoh Dali, 300 Peutua Ali, 53 Peutua Husin, 72,199,265 Philip Christison, 81 Pinke, Laksamana, 243 Putih Mauni, 22,276

R

Rachmat Budin, 177 Raden, Pak, 125 Raden Umar, 278 Radjiman, Dr., 262 Ram, 276 Rahil Harahap, 106 Rahman Hanafi, A. Tgk., 278 Rahman, 106,265,281 Raja Angkasah, T., 268 Raja Husin, 276 Rakub, 265 Rakuta Sembiring, 184 Ramli Abbas, 300 Ramli Angkasah, Bakongan, 277 ' Ramly, A.R., 41,163,223,229,252 Ramly Ganie, 290 Ramly Saidy, 277 Rani, G., 58 Rasjad Nawawi, 311 Rasyid Adamy, 273 Rasyid, 289 Rasyid, M., 121,133,150 Raymond Westerling, 284 Razali, 39,63 Razali Idris, 72 Razali Amin, 189

Razali Nyak Neh, 275 Razali, Langsa, 276 Razali, K. Simpang, 276 Rica, T., 264 Richard Kirby, 175 Ricardo Siahaan, 147,186,193,283,313 Rohana Hasjim, 189,237 Rohana Ramly, 19 Ruhama Daud Bereueh, 189,196 Rumiati, 19 Rustam, 214 Rusli Wali, 19,189 Rusli Higuchi, 93

S

S.John,301 Saajudin, Singkil, 277 Sabar Datuk, 263,266,267 Sabi, M., 53,300 Sadau Iguchi, 8,39,67,263,262 Sahadat, 106 Sahudin Tamin, 130 Said-Abdullah, 264 Said Abdullah Kajue, 274 Said Ahmad El-Idrusy, 199,295 Said Ali, 8,39,44,67,125,263,264,272 Said Ibrahim Husin, 189,299 Said Moh. Idrus, 199 Said Mochtar, 296 Said Sulaiman, 278 Said Sulaiman, Sawang, 277 Said Tarmizi, 121 !- Said Usman, 8,22,39,49,125,134,171,263,267,273,279 Said Umar Mahmud, 56,134 Said Yasin, Ulee Lheu, 275 Said Zakaria, 47 Saiman, 49,155,163 Sainon, 155 Salam, A., 274,301 Salam Badak, Tgk., 105,290 Saleh Adry, Tgk., 53,54,104,105,108,109,110,132,193,274,278,287,289,290 Saleh Ahmad, 157,160,281 Saleh, A.R., 176,252 Saleh Banta, M., 189,237,295,296,297 Saleh Jakobi, M., 63,108,269,286

Saleh Kapa, 273 Saleh Putih, M., 299 Saleh Rahmany, S., 15,189,285 Saleh Rahmany, M., 189,275 Saleh Umar, M., 56,184 Sali Gabel, 276 Salim, M., 189 Samadun, 106,276 Samiala Haji Thaib, Ny., 106 Saragih Ras, 116,186 Sarongsong, 308 Sarung,, T., 8,39,67,263 Sauni, 275 Sawamura, Mayjen., 82 Scholten, 98,116,136,139,140,143,147,149,152,161 Selamat Ginting, 116,184,290 Senduk, 159 Siagian, A.H., 194,313 Sianipar, G., 124 Sidhahuruk, Y., 283 Simbolon, 307,310 Sinaga, K., 124 Sitompul, H., 39,75,123,132,147,148,184,189,192,220,230,283,309,312 Sitompul, M. Ir., 207 Sitorus, M., 193 Sjafruddin Prawiranegara, Mr., 204,205,206,207,208,233 Sjahbuddin, Tgk., 53 Sjahkubat Mahmud, 251 Sjamaun Gaharu, 1,4,6,9,11,12,20,21,23,32,33,36,37,39,43,44,48,49,54,67,69,223 258,263,266,279,285,286

Sjamaun Latif, T., 276 Sjamaun Muhammad, 134,296 Sjarip, 64 Syarif, Haji Moh., 39,60,61,62,194,265 Sjarif Usman, M., 307 Sjarifah Fadlun, Teungku, 250 Sjarifah Nurdin, 106 Sjarifah Nursyidah, 295 Sjarifuddin Kadir, 109 Sjamsuddin bin Geumpa, 51 Sjech Marhaban, 32,274 Sjukur, M., 104,108,276 Sjukur, M.A., Gani, 108 Slamet, Pegasing, 184,289 Snel, 268

Snouck Hurgronye, Dr., 238 Sjech Hasan 106 Soedarsono, Dr., 173,204,206,233,234,249,251,257 Soekarno, Ir., 1,2,4,13,14,52,65,66,68,75,77,112,190,202,203,204,207,213,216,217 218,219,224,230,233,239,240,245,246,248,250,257,259,260,261,262 Soehardjo Hardjowardojo, 147,164,188,192,208,218,230,282,307,310,315 Soeharto, 234,253,254,255,256 Soepomo, Dr., 208 Sofyan Hamzah, Tgk., 74,189,237,295 Sofyan Harun, 192 Sokowati, S., 304 Solichin, G.P., 97,107 Sopar Sinaga, 314 Spoor, S.H., 202,225 Sri Kaja, 106 Sudjono Humardhani, 241,304 Sutopo, 310 Sudirman, 13,170,202,203,207,254 Sutan Sjahrir, 173 Sultan Siak, 35,249,250 Sulaiman Hamzah, 47,189,294,304 Sulaiman Makam, 47 Sukiman, Dr., 68,217,218 Sutikno Padmo Sumarto, 193,196 Suryosularso, RMS 192,196,241 Sultan Alaiddin Mahmud Syah, 267,268,270,272 Sulong T., 59,70 Sucipto, 75,76,124,126,309 Sutan Maruzar, 76 Sulaiman, Tgk., 106,288 Sudomo, 187,241,243 Sudono, Dr., 1971 Suroso, R.P., 208 Subiyakto, 241 Susanto Tirtoprojo, S.H., 208 Sujono, H., 208,241 Sultan Hamid, 202 Supeno, 280 Sutan Sitompul, 115,126 Syaki, 115 Syakban, 170 Sumampov, 176,222 Sugiarto, 180 Sulaiman Badal, 189,295,297 Sulaiman Daud, 199 Sukardi, 193

Syah, T.M., 198 Sulaiman Mahmud, 274,296 Sulaiman Ulee Kareng, Tgk., 274 Sulaiman, T., 19 Sukardi Is, 301

T Taharuddin (Tkn), 281 Taib, 64 Thaib, M., 72 Tawiriyah Hasan, Ny., 106 Thaib Husin, 189 Tenno Heika, 262 Tojo, 259,260 Timur Pane, 116,186 Tobing, F.L.Dr., 125,208 Thaib Bulan, 52 Tetsuzo Nakashima, 75 Teungku Thapa, 101,238 Teungku Alibasyah, Ny.(Bkj), 106 Teungku Amin Cot Trung, 110 Tjut Hasan, T, 11

T.Eiri, 11 Tjut Rahman, 39,128,147,150 Teungku Isa Basjah, 110 Ti Aman lm Latif, 279 Tinggelman, J.C., 269 Teungku Mahmud, 286 U . Ubit, T., 281,301 Urip Sumoharjo, 131 Urip, 150,283 Umar Ali, T., 61,189 Umar Said, 208 Umar Jusuf, 300 Ummi Salamah Husin Jusuf, Ny., 182 Umar Alang, 173 Utoyo Ramelan, 249 Utoh Husin, 52,53 Usman Ali, 277 Usman Aziz, Tgk., 276 Usman Ahmad, 299 Usman Mahmud, 264,281 Usman Hamzah, 299,300

Usman Jakub, T., 39, 61, 62, 265, 266 Usman Jusuf, 47 Usman Nyak Gade, 48, 62, 67, 72, 264 Usman Peudada, Tgk., 20, 30, 67, 277, 278 Uhum Pane, 170 Usman Tamin, 125, 155, 156, 157, 158, 273 Usman Makam, 278 Usman Sufi, 295 Usman, 71

V

Van Daalen, 100, 101, 238, 268 Van der Wal, S.L. Dr., 259 Van der Plas, 4, 80, 87, 259 Van Heutsz, 238 Van Kleffens, 13 Van Mook, Dr., 4, 13, 66, 80, 87, 89, 135, 201, 202, 216, 243 259, 262 Van den Berg, 269 Van Sperling, 269. Van Swieten, 268

W

Wahab Ismail, A., 296 Wahab Makmur, 39, 147, 194, 198, 266, 280, 282, 283, 313 Wahab Amin, 104, 106 Wahab Husny, A. Tgk., 196, 197, 199, 273 Wahab Nyakman, A., 101, 189 Walter Foote, Dr., 175 Wangsa Wijaya, 184 Wiejerman, FGL., 259, 267, 270, 272: Wiji Alfisah, 75, 132, 165, 169, 171, 179, 180, 193 William Slim, 259 Wiweko Soepono, 241, 248 Wahab, S.A. B. Pidie, 282 Westerling, 78, 80 Wahid, A., 154

Y

Yamada, K., 3 Yahya Aceh, 115 Yahya Badin, Tgk., 199 Yatim, 171 Yatim, M. Tgk., Susoh., 277

Yasin Bale, M., 109 Yahya Zamazami, 19 Youslisyah, T., 192 Yunus, M., 151, 152, 308 Yusda, 134, 189 Yusrrïan Kandow, 171

Z

Zaini Bakri, 32, 35, 197, 199, 250 Zamzam, Tgk., 53 Zakaria, 101, 286 Zainab, 130 Zain Hamid, 130, 193 Zainal Arifin Abbas, 116, 171, 196, 198 Zahara, 276 Zahirsyah T., 19, 157 Zagloel, T., 228 Zaharuddin, Tkn., 276 Zainal Abidin, 310 Zainuddin Lutfi, 301 Zainuddin, H.S., 276 Zainuddin, T. Tuan, 277 Zulkarnaen Ali, Dr., 19, 189 Zulkifli, 20, 189 Zulkifli, T., 264 Zainun, M., 275 Zeyn Manaf, H.M., 102, 104, 105 Zein, T.M., 71, 278 Zein Anwar, M., 295 Zainuddin, 19, 149

RIWAYAT HIDUP A.K. JAKOBI

Nama : Teungku Abdul Karim Jakobi Mayor Vetcran, NPV 09.027.772

Mayor Vetcran, NPV 09.027.772
L a h i r : 8 Agustus 1928, Blangkejeren, Aceh Tenggara.
A 1 a m a t : Jalan Bunga Rampai VII Kclurahan Malaka Jaya, Jakarta Timur 13470.
Pckcrjaan : -Publisher/Editor. - Direktur PT "Pelita Persatuan" -Anggota MPR.R1.
Pendidikan : . - Thawalibschool, Padang Panjang (1939-1945) - Sekolah Menengah Islam, Kutaraja (1945-1949) - Sarjana Muda Publisistik UNPAD Bandung (1960-1966).
Isteri Ny . Maryam binti Hasan.
Anak : 6 (enam orang).

PENGAIWMAN PEKERIAA

1945-1949 :

1950-1960 : 1961-1969 : 1960-kini : 1952-1969 : 1969- kini : 1967-1979 : 1970- 1972 : 1973-1979 : 1979 : 1980-1981 : 1982-1990 : 1991-kini : 1988-1992 :

N

Komandan Resimen Tentara Pelajar TPI Acch/Div. X TNI Komandemen Sumatera (Pangkat Mayor). Wartawan "Pikiran Rakyat" Bandung. Pcm. Umum/Redaksi Harian "Karya" Bandung. Pcndiri Fakultas Publisistik UNPAD Bandung. Pengurus PWI Cabang Bandung. Anggota PWI DKI Jakarta. Pengurus/Anggota BPK SPS Pusat Jakarta. Pemimpin Rcdaksi Majalah "Sport" Jakarta. Wakil Pemimpin Rcdaksi "Warta SPS" Jakarta. Pimpinan Perusahaan Harian Umum "AB" Jakarta. Redaktur Pelaksana Majalah "BOLA" Jakarta. Pemimpin Rcdaksi Harian Umum "PELITA" Jakarta. Dircktur Penerbitan PT Pelita Pcrsatuan/Wakil Pemimpin Umum. Anggota MPR Rl Nomor D 989 (FKP).

N SEMINAR D I LUAR NEGERI.

Singapura, Kuala Lumpur. Kamboja, Bangkok, Birma, RRC. India, Teheran, Moskow, Tasjkcnt, Baqu. Sidney, Canberra, Mclboume. ArabSaudi. Hadiri Kongres Ulama Islam Scdunia di Baghdad (Irak). Hadiri Seminar Hukum Islam di Islamabad (Pakistan). Hadiri Seminar Sejarah Ibnu Saud di Riyadh. i Seminar Masalah Palcstina-Israil di Mcsir. Jepang, Belanda, Jcrinan Barat,. Finlandia., Belanda, Paris.

M PERAN

  1. 1957 :
  2. 1964 :
  3. 1965 :
  4. 1967 :
  5. 1981 :
  6. 1983 :
  7. 1984 :
  8. 1985 :
  9. 1986 Hadir
    10.1989 :
    11.1990 London
1'IAGAM PENGHARGAAN , TA N DA JASA DALA G KEMERDEKAA N R l
1. Mcmpcrolch "BINTANG GERILYA" .
2. Mcmpcrolch "SATYA LANCAN 3. Anggota Lcgiun Veteran Pejuang Kemerdekaan Rl. 4. Piagam Penghargaan Dcpartcincn P dan K dalam Pcran 5. Berbagai Piagam Penghargaan dari instansi Pemerintah, Swasta, Lembaga Pendidikan, Aga dan Organisasi Sosial karena jasa dan partisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. (Tidak lerlibal "Gestapu/PKI") A PERANG KEMERDEKAA karena jasa incmobilisir pemuda pelaj N I dan II".

: Kemerdekaan Rl 1945-1949.

PERJALANAN JURNALISTIK DA

45341992

  • • TDK O BUXU " J Gramedia
    Dieetak : P.T. Yudha Gama Corp. perc. "Slipi Baru" Jakarta Barat