Terjepit di antara teror gerombolan bersenjata di hutan dan keserakahan Juragan Musa di desanya sendiri, hidup Ranta sebagai buruh tani di Banten Selatan nyaris tak menyisakan ruang untuk bernapas. Setiap tetes keringatnya jatuh ke kantong sang tuan tanah yang licik dan gemar menindas warga lemah.
Namun, penindasan yang melampaui batas akhirnya menyulut solidaritas yang tak terduga di kalangan warga desa. Ditulis pada akhir 1950-an, Sekali Peristiwa di Banten Selatan adalah salah satu karya Pramoedya Ananta Toer yang paling optimis dan bernyawa kerakyatan—sebuah kisah tentang bangkitnya kesadaran petani dalam merebut kembali kedaulatan atas tanah dan hidup mereka.
Edisi Seabad · 1925–2025
Pramoedya Ananta Toer
Sekali Peristiwa di Banten Selatan
KOLEKSI PRIBADI
MUHAMMAD REZA MAGISTRA
Lund, 2026
Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Pramoedya Ananta Toer.
Edisi Seabad 1925–2025, edisi digital tidak resmi. Disusun oleh penggemar sebagai kelanjutan peringatan seratus tahun Pramoedya, tidak berhubungan dengan ahli waris maupun penerbit karya-karyanya.
Ditulis pada 1958. Teks edisi ini disalin dari cetakan keempat Lentera Dipantara (Maret 2009), dibaca ulang dari pindaiannya, dan dicocokkan dengan sebuah ketikan ulang. Halaman 86–87 diketik dari foto. Ejaan diseragamkan menurut Ejaan yang Disempurnakan edisi kelima (EYD V).
Hak cipta karya © Pramoedya Ananta Toer dan ahli warisnya. Edisi digital ini disusun untuk koleksi pribadi dan peringatan seratus tahun Pramoedya Ananta Toer, tidak untuk diperjualbelikan.
Sampul, tata letak, ornamen, dan catatan penyunting: Muhammad Reza Magistra. Diset dengan Newsreader.
KOLEKSI PRIBADI MUHAMMAD REZA MAGISTRA · LUND, 2026
Kalau ada persatuan, semua bisa kita kerjakan, jangankan rumah, gunung dan laut bisa kita pindahkan.
Bab III
Tak ada orang bisa jadi pandai dengan mewakilkan kepada orang lain.
Bab IV
Dari Kami untuk Pembaca
Sekali Peristiwa di Banten Selatan ditulis Pram pada 1958, setelah ia berkunjung ke Banten Selatan pada akhir 1957. Dalam kata pengantarnya, yang kami muat utuh di awal naskah, ia menyebutnya cerita bacaan yang dapat juga dipentaskan. Ceritanya berlangsung di sebuah desa di kaki gunung yang diancam gerombolan bersenjata. Sebagian tokohnya, kata Pram, diambil dari orang-orang yang ia temui di sana. Persoalan yang ia anggap paling mendesak adalah gotong royong, dan cerita ini berakhir dengan orang-orang desa menyanyikan lagu Gotong royong.
Naskah kami ambil dari cetakan keempat Lentera Dipantara (Maret 2009, 128 halaman). Pindaian buku itu kami baca ulang dan kami bandingkan, kata demi kata, dengan sebuah ketikan ulang di internet. Kalau keduanya berbeda, kami melihat gambar halamannya dan mengikuti yang tercetak. Halaman 86 dan 87 tidak ada di pindaian, jadi kedua halaman itu kami ketik dari foto. Ejaan kami alihkan ke Ejaan yang Disempurnakan edisi kelima, dan kata-kata khas Pram dibiarkan. Rinciannya ada di bagian Catatan tentang Edisi Ini.
Edisi ini tidak resmi. Kami menyusunnya sebagai pembaca, untuk meneruskan peringatan seratus tahun Pramoedya Ananta Toer, dan kami tidak berhubungan dengan ahli waris maupun penerbit karya-karyanya. Hak cipta tetap pada Pram dan ahli warisnya. Kalau Anda menemukan salah cetak di sini, mohon kabari kami supaya bisa diperbaiki.
Lund, November 2026
Muhammad Reza Magistra dan kawan-kawan
Kata Pengantar
Cerita ini adalah hasil kunjunganku beberapa waktu lamanya pada akhir 1957 di Banten Selatan. Perpaduan antara alam yang masih perawan dan tipisnya penduduk serta subur dan kayanya bumi, letak tanahnya yang landai kaya akan gunung dan jurang, menimbulkan banyak ide tentang hari depan daerah ini. Di samping itu melahirkan pula banyak masalah yang segera harus dipecahkan dan digarap, terutama dalam hal penambahan bahan makanan dan kesejahteraan hidup khusus di daerah itu dan umumnya bagi seluruh tanah air. Dengan tulisan ini aku ingin menyumbangkan sedikit pikiran dengan medium dan caraku sendiri, yang tentu saja dengan harapan besar, semoga sumbangsih ini sedikit atau banyak punya arti yang konstruktif.
Cerita yang kutulis sekali ini merupakan cerita bacaan, tetapi di samping itu dapat pula dipentaskan di panggung. Dekor akan memberikan efek yang baik atas pementasan, tetapi bagiku sendiri dekor tidak meminta syarat dalam pementasan ini.
Beberapa orang tokoh dalam cerita ini kuambil dari orang-orang yang pernah kutemui di daerah Banten Selatan, orang-orang yang mengenal daerah ini, yang ikut dengan suka duka perkembangan daerahnya, dan yang sedikit atau banyak pernah menceritakan kepadaku tentang beberapa hal yang pernah mereka alami dan mereka dambakan. Seorang di antaranya adalah Lurah, seorang lagi bekas mandor yang ikut kerja rodi membuka jalan antara Pelabuhan Ratu dan tambang mas Cikotok,1 beberapa orang buruh tambang, beberapa orang petani yang pada waktu itu sedang kerja bakti memperbaiki jalan yang tertimpa tebing longsor.
Gotong royong adalah masalah yang mendesak di daerah ini, seperti yang dilantunkan oleh Pak Lurah dan bekas mandor tersebut. Bagiku sendiri hal ini sungguh tepat, mengingat akan kesuburan alam dan kekayaan buminya yang belum lagi digarap secara merata oleh tangan peradaban. Penduduk daerah sini menghadapi kerja raksasa dengan tenaga yang amat terbatas, maka gotong royong merupakan satu-satunya jalan di waktu negara kita sedang terlibat dalam berbagai kekurangan belanja. Gotong royong ini sangat kupujikan pula, terutama sekali karena sampai dewasa ini mengejek dan mencaci para pemimpin dan pemerintah telah menjadi mode, sebagai overkompensasi dari jiwa yang tak tahu mencari arah yang benar. Sebab, akhir-akhirnya masalah kemasyarakatan, kenegaraan, dan kehidupan bersama kita bukan khusus masalah para pemimpin dan pemerintah belaka, tetapi adalah masalah kita semua, yang harus kita pecahkan dan garap bersama, di mana tiap orang wajib punya sumbangsih dalam kerja pembangunan ini. Aku tetap percaya, bahwa dengan bantuan kita semua maka hanya mereka yang lebih banyak bekerja yang berhak akan apa yang biasa dinamai bahagia. Dan sebaliknya, tanpa sumbangsih kita bersama, sekalipun nasib akan memberi kita umur dua atau tiga kali lipat dari semestinya, keadaan kita akan tetap beku, karena kita semua tidak ikut bekerja memusnahkan sebab-sebab yang mengakibatkan kebekuan ini.
Kembali pada cerita yang kutulis.
Aku tak tahu bagaimana Pak Lurah, bekas mandor jalanan, para petani, dan lain-lain, yang pernah kujumpai itu. Dua bulan setelah Banten Selatan kutinggalkan, daerah mereka diobrak-abrik oleh Darul Islam.2 Kabar terakhir yang kudengar adalah bahwa Pak Lurah terpaksa melarikan diri ke Sukabumi. Aku tak tahu benar. Tetapi hal itu tidak penting. Yang lebih penting adalah apa-apa yang pernah dikatakannya dan diperbuatnya sesuai dengan panggilan. Dan apa yang dikatakannya tidak lain daripada sari renungan, pemikiran, dan pengalamannya selama bertahun-tahun. Dengan mengatakan hal-hal yang konstruktif itu saja mereka telah ikut kerja bakti.
Tentu saja dalam cerita ini mereka tidak kucakup dalam keseluruhan. Beberapa segi dari cerita ini tidaklah terjadi di Banten Selatan, tetapi di masyarakat-masyarakat perkebunan, dan bahkan di kota Jakarta sendiri.
Perlu kukatakan di sini, bahkan untuk memainkan cerita ini di atas panggung, tidak akan banyak ditemui kesukaran, tetapi kuakui juga, bahwa pementasan cerita ini merupakan tantangan para pemain.
Jakarta, Pertengahan 1958
P.A.T.
I
Langit bermendung. Udara berwarna kelabu. Dari jarak dekat, pegunungan di depan desa itu, yang dirimbuni berbagai pepohonan hutan, berwarna kelabu hitam. Antara sebentar terdengar cericip burung kedinginan. Kadang-kadang angin menderu keras membawa bunyi sayup deburan Laut Hindia. Gemericik air kali membanjir yang membanting diri di antara batu-batu gunung besar tak henti-hentinya menggema, serta hempasan arus derasnya pada tebing-tebing yang terbuat dari beton alam antara sebentar terdengar menjompak-jompak ngilu.
Gubuk Ranta terletak di kaki gunung, terbuat dari bambu beratap rumbia. Tinggi pondoknya tidak lebih dari dua meter. Letaknya membelakangi sebuah bukit yang belum pernah digarap oleh tangan manusia—pohon-pohon raksasa tumbuh dengan liarnya dengan semak-semak padat di bawahnya. Karena muramnya hari serta mendung kelabu yang menyelubungi alam, gunung itu nampak hitam, dan di sana-sini digurisi segumpalan mega yang kelabu keputih-putihan. Pendopo gubuk Ranta berlantai tanah diperaboti dengan sebuah bangku panjang yang terbuat dari bambu batangan. Di pojok depan sebelah kiri terpancang sebilah cagang gendi air minum dari bambu batangan pula, yang pada atasnya dianyam menjadi corongan tempat meletakkan gendi. Sebuah pintu bambu anyaman dengan koran penempel yang bercela-cela terlepas dari perekatnya, nampak gelap.
Taram-temaram.
Dua orang pemikul singkong, yang hendak menuju ke tempat truk-truk dari kota memunggah singkong, muncul dari tikungan jalan. Bawaannya begitu beratnya sehingga pikulan mereka nampak melengkung. Kedua-duanya bercelana hitam sedikit di bawah lutut. Mengikatkan sarung pada pinggang masing-masing dan bertopi capio, sedang pada pinggang mereka tersandang kasang dari bambu anyaman.
Sampai di beranda pondok Ranta mereka berhenti. Salah seorang daripadanya mengambil gendi dari cagangnya dan minum. Yang lain mengikuti contohnya.
Yang pertama kemudian duduk di atas bangku, dan menarik kedua belah kaki ke atas. Dengan tiada sadar tangannya melepas kasang dan mengeluarkan selepah tembakau serta daun kaung dari dalam, menggulung, kemudian merokok.
Yang Pertama: Merokok?
Yang Kedua: Tidak ah.
Yang Pertama: Duduk sini.
Yang Kedua duduk di samping Yang Pertama.
Yang Kedua: Mau hujan lagi ni rupanya.
Yang Pertama: Coba kalau kita punya gerobak…
Yang Kedua: Yang bukan-bukan saja…
Kedua-duanya berdiam diri sejenak.
Kembali bunyi air kali terdengar nyata, dicampuri dengan suara-suara burung. Tiba-tiba sunyi senyap.
Yang Pertama, setelah bergumam, mengejek:
Huh! Ingat kau, jalan ini dulu kita yang buat. Dulu, ramai-ramai, rodi. Apa sekarang?
Yang Kedua, bergumam, mengejek:
Huh!
Yang Pertama:
Lewat jalan yang kita buat sendiri kita bayar pajak pada onderneming. Dua pintu jalan, dua kali pajak. Kalau kau coba-coba beli gerobak, berapa pajak mesti dibayar, tiap kali lalui dua pintu jalan onderneming itu?!
Yang Kedua:
I-ya-ya, orang begitu bagus-bagus, kulitnya putih, hidungnya mancung, tapi tamaknya… Ngudubilah setan!
Yang Pertama:
Ngudubilah setan!
Yang Kedua:
Yo-ah, nanti keburu hujan.
Kedua-duanya bangkit. Yang Pertama membuang puntung rokok kaungnya. Setelah menerawang langit mereka memasang kembali kasang pada pinggang dan mulai berangkat, hilang dari pemandangan.
Tak lama kemudian datang Ranta. Ia berumur kurang lebih tiga puluh sembilan tahun. Tubuhnya tinggi lagi besar, penuh dengan otot-otot kasar, menandakan, bahwa ia banyak bekerja keras tapi sebaliknya kurang mendapat makan yang baik. Ia berjalan pulang dengan tenangnya. Ia mengenakan celana panjang putih yang sudah lusuh dan kumal pula, dan sarung genggang biru-ungu melingkar pada lehernya dan tergantung jatuh pada pundaknya. Langsung ia menuju pintu, kemudian bergumam:
Dikunci?
Ia berpaling, memandangi cagang gendi dan berjalan ke situ, kemudian minum dengan rakusnya. Setelah itu ia berjalan menuju ke pintu kembali dan memanggil-manggil pelahan:
Reng! Reng! Ireng!
Ia berdiam diri sejenak untuk mendengarkan jawaban dari dalam rumah. Ireng tidak menjawab panggilannya. Hanya bunyi air dan burung terdengar lebih nyata daripada biasanya. Kembali ia berpaling ke arah gendi, kemudian melangkah ke bale, duduk, menggerundungkan sarung pada tubuhnya, menerawang langit dan bergumam:
Hujan juga. Untung sudah di rumah.
Kemudian datang Ireng, istrinya, menggendong bakul kosong di belakangnya.
Ia berpakaian kebaya hitam dan berkain tenun kehitam-hitaman. Jalannya menunduk. Waktu dilihatnya suaminya, ia agak tertegun. Dan wajahnya yang masih muda itu agak kaget sedikit. Segera ia menghampiri suaminya dan menegur dengan suara setengah berbisik:
Sudah pulang, Pak?
Ranta hanya menurunkan kaki dari bale dan mengeluh.
Ireng bertanya dengan suara lemah:
Tidak ada hasil?
Ranta bangkit dan sambil menghampiri pintu yang masih terkunci berkata tertahan:
Kerbaunya sudah dijualkan orang lain. Bagaimana di pasar tadi?
Istrinya membuka kunci pintu dan menyilakan suaminya masuk. Dengan menghadap pada pintu ternganga di mana suaminya masuk ke dalam rumah ia berkata dengan suara yang masih juga tertahan:
Pasar kacau, Pak. Diobrak-abrik DI.
Dari dalam rumah terdengar suara Ranta menahan marah:
Dia lagi!
Ireng masuk ke dalam.
Tiada lama kemudian datang Musa dari tikungan jalan. Ia berpakaian jas tutup coklat, bersarung pelikat, berpeci tinggi hitam berkembang sutera. Semua yang dikenakannya sudah tua tetapi rapi dan bersih. Ia menjinjing aktentas yang juga telah tua berwarna hitam, tetapi masih bagus. Pada tangan kirinya ia membawa tongkat besar yang melengkung pada hulunya. Ia berumur kurang lebih empat puluh tahun. Dari gerak-geriknya yang sopan terkendali, dan dari perawakannya, nampak benar ia tak pernah bekerja berat ataupun bekerja kasar. Sampai di depan pendopo ia meninjau-ninjau pintu sebentar, kemudian membelakangi pintu sambil memanggil-manggil:
Ta! Ranta! Ta!
Sejenak tiada berjawab. Ia memanggil-manggil lagi, lebih keras, tetapi terkendali:
Ta! Ranta! Ta!
Sekali ini pun tak berjawab.
Ia telengkan kepalanya sedikit ke arah pintu sambil tersenyum licik. Kemudian memanggil-manggil lagi:
Reng, Ireng! Mana lakimu!
Nampak Ireng mengintip sejenak di pintu, kemudian cepat menarik kepalanya, hilang.
Kembali Musa tersenyum licik. Memanggil-manggil lagi:
Reng, Ireng. Jangan sembunyikan lakimu itu, ah.
Ireng muncul di ambang pintu. Bersuara ramah dan agak keras, tetapi nyata suaranya terdengar sumbang:
Siapa sih panggil-panggil itu? O, Juragan Musa. Duduk, Gan!
Tanpa menoleh belakang Musa menyambut:
Mulai kapan sih, pura-pura tak kenal aku?
Ireng merapihkan bale bambu sambil menjawab:
Bukannya pura-pura tak kenal, Gan. Memang tidak tahu sih.
Musa memutar-mutar tongkatnya, dan tanpa menengok pada Ireng meneruskan kata-katanya sambil tersenyum:
Mana Ranta!
Belum datang, Gan.
Dengan suara setengah berbisik Musa mendesak:
Jangan bohong. Sudah kulihat tadi dia pulang. Ta! Ranta.
Benar, Gan, belum datang.
Baru kemudian Musa berbalik dan berjalan lambat-lambat menuju pintu. Berkata dengan agak kasar:
Ta! Ranta! Keluar!
Ireng menyingkir ke pojok bale. Rahang bawahnya bergerak-gerak gugup, sedang kedua belah tangannya nampak mencari-cari sesuatu untuk dipegangnya dalam usahanya untuk menekan kegugupannya. Tenang sejenak, dan bunyi air beserta kicau burung terdengar nyata.
Dengan menundukkan kepala, membongkok sedikit, dan lemah lunglai, Ranta keluar dari rumah melewati pintu. Dengan air muka muram, tak senang hati dan segan ia menghadap Musa. Dan dengan suara bernada bersalah ia memulai:
Saya, Gan.
Mengapa tak dari tadi-tadi muncul?
Ranta tak menjawab, hanya menjatuhkan pandang lebih dalam.
Tak baik pura-pura tak dengar. Biasanya kau tak begitu, Ranta.
Saya, Gan.
Nah, Ireng, aku mau bicara dengan lakimu, pergilah.
Kembali Musa memunggungi pintu. Sementara itu mendung kian lebat tebal sehingga cuaca pun makin gelap. Sambil menoleh sedikit ke belakang Musa memanggil Ranta:
Sini!
Ranta maju sedikit dan berdiri di samping Musa agak di belakangnya. Dengan suara mencoba-coba ramah ia menyilakan:
Duduk, Gan.
Tetapi Musa pura-pura tak dengar. Ia menerawang langit. Berkata:
Mau hujan. Lihat, tu. Ah-ah, waktu baik, musim baik. Bukan, Ta?
Ya, Gan.
Bagaimana? Bisa jual kerbau Minin?
Sudah dijualkan orang lain, Gan.
Tak apa, lihat langit itu!
Saya, Gan. Waktu baik, musim baik, Gan.
Tanpa diduga Musa tertawa senang, dengan suara yang tidak lagi terkendali, tertawa loba dan tama. Baru kemudian ia tak memunggungi pintu lagi. Memandangi Ranta, yang terus juga menunduk sambil mencungkil-cungkil tanah dengan ibu jari kakinya, dari bawah sampai ke atas dan dari atas sampai ke bawah. Setelah diam sejurus ia mendengus.
Kemudian berkata pelahan:
Pasar diobrak-abrik DI. Sudah tahu, Ta? Jadi binimu juga gagal. Nah, waktu baik, musim baik. Malam ini, Ta, ingat-ingat, nanti jam sebelas malam.
Pekerjaan apa, Gan?
Ambil bibit karet, ya?
Susah membawanya, Gan?
Susah mana sama lapar, Ta?
Ranta berdiam diri, menggaruk-garuk tengkuk dan leher, kemudian, setelah merasa pandang Musa ditimpakannya pada keningnya, tangannya yang menggaruk-garuk jatuh lunglai. Musa memulai:
Tahun yang lalu kau juga yang kusuruh ambil bibit karet. Sekarang kau juga yang kusuruh. Apa susahnya?
Juragan tahu sendiri, Gan, dulu hampir-hampir tertangkap.
Goblok! Apa perlunya otak dalam kepalamu itu:
Saya, Gan.
Jadi berangkat nanti malam. Aku tunggu jam tiga pagi di rumah.
Saya, Gan.
Musa merogoh kantungnya dan menyerahkan uang seringgit pada Ranta. Sebelum berangkat ia berpesan:
Kalau ada apa-apa, jangan sebut-sebut namaku. Mengerti?
Dengan tajam ia menentang mata Ranta, kemudian berangkat sambil mengayun-ayunkan tongkatnya.
Sementara hari telah gelap. Ireng memasang lampu minyak di dalam rumah sehingga sinarnya menerobosi sela-sela anyaman bambu dinding depan, jatuh di beranda. Ranta menjatuhkan diri di bale beranda. Mengelamun jauh, kadang-kadang terdengar nafas keluhnya yang panjang, dalam, dan berat.
Waktu Ireng keluar dan menghampirinya ia menyerahkan uang pemberian tadi dan kemudian meneruskan pengelamunannya.
Ireng menerima uang itu, mengajinya pada sinar lampu yang menerobosi dinding, kemudian berkata menanggung geram:
Seringgit! Si buaya!
Diam, Ireng. Diam.
Kalau aku laki-laki, Pak, sudah lama dia kutekuk batang lehernya. Kau yang selamanya baik dipaksa dia jadi pencuri!
Diam Ireng.
Diam? Engkau lakiku, bukan lakinya. Kalau ada apa-apa?
Ranta bangun dan duduk, ditariknya tangan Ireng dan dengan lemah lembutnya berkata dengan kata-kata yang keluar satu-satu, jelas, pelahan, dan penuh kasih sayang:
Ada waktunya, Reng, kita akan hidup baik dan senang. Nanti.
Insya Allah, Pak. Kita sudah cukup bekerja—kita berdua. Tetapi rezeki masih juga di tangan Tuhan.
Ranta bangkit berdiri, meletakkan tangan kanannya pada pundak istrinya, dan berkata seperti sebelumnya, dengan lemah lembut, dengan kata-kata yang keluar satu-satu, jelas, pelahan, dan berkasih sayang:
Kalau keadaan sudah baik, kita akan atur rezeki kita sendiri.
Ireng menyambut kata-kata itu tanpa mengerti maksudnya: Insya Allah, Pak. Insya Allah.
Tidurlah.
Ireng terkejut. Ia cari mata suaminya di dalam kerembangan beranda dan bertanya dengan nada kuwatir:
Kau, Pak? Kau mau ke mana?
Ranta tak menjawab.
Pergi juga, Pak? Nyolong bibit karet?
Ranta menarik tangan istrinya dan dibawanya masuk ke dalam rumah. Di depan pintu Ranta menahan Ireng dan menatap matanya. Berkata:
Dengar, Reng. Memang aku sering nyolong. Tapi bukan karena kemauanku aku jadi maling.
Pak! Pak!
Kalau nanti keadaan sudah baik…
Kalau ditangkap, Pak?… tentu saja tak ada seorang juga mau jadi maling, Ireng…
Kalau dipukuli orang banyak, Pak, dipukuli penjaga onderneming…
Jangan doakan, Ireng, jangan.
Pak! Pak!
Sekarang ini mereka yang tentukan hidup kita, Ireng. Mereka!
Siapa mereka, Pak?
Siapa? Kau tak tahu?
Pak! Pak!
Dalam sinar lampu minyak tanah yang rembang-rembang itu nampak jelas Ranta menarik otot-ototnya yang kukuh lagi kasar, dan dengan amarah yang tertindas suaranya meledak terkendali, satu-satu:
Mereka! Yang datang pada kita hanya untuk menyuruh kita jadi maling. Mereka! Yang hidup memisah dari kita, seperti binatang buas di rimba. Mereka, yang dalam kepalanya cuma ada pikiran mau mangsa sesamanya. Mereka! Mereka! Jangan pergi, Pak!
Tapi besok hari Senen. Kita mesti tengok Riah di rumah sakit.
Pelahan-lahan penuh pikiran keduanya masuk ke dalam. Dari dalam terdengar suara Ireng:
Besok saja kita makan, Pak.
Lantas, dari mana malam-malam begini bisa dapat makan?
Seseorang di antara mereka menghampiri pintu. Terdengar palang pintu dipasakkan. Sebentar kemudian pelita dipadamkan.
Keadaan gelap gulita. Dari jauh terdengar bunyi burung hantu di selang-seling suara gonggong anjing. Antara sebentar kilat mengerjap disusul bunyi guruhnya mendayu-dayu dari jauh. Bunyi air kali kian deras terdengar.
Kembali dua orang pemikul singkong datang dari jurusan mereka pergi. Dan dalam kegelapan itu terdengar Yang Kedua berkata:
Menginap sini saja. Minta izin, gé!
Kembali kilat mengerjap, dan nampak kedua-duanya agak basah tertimpa hujan gerimis.
Yang Pertama menghampiri pintu dan menyapa:
Pak, Pak! Bukan DI ini, orang baik-baik. Boleh nginap sini, Pak?
Tak berjawab.
Mereka letakkan bawaan masing-masing di dekat pintu kemudian tidur di atas bale.
Keadaan kembali tenang. Nyaring terdengar suara burung culik terbang ke arah barat. Bunyi air kian deras. Sekali lagi kilat mengerjap. Nampak kedua orang pendatang itu telah tidur. Lambat-lambat terdengar bunyi keruh mereka.
Pelahan dan hati-hati Ranta membuka pintu. Waktu sampai di depan pintu kembali kilat mengerjap, dan nampak dengan hati-hatinya ia membungkuk-bungkuk meninjau kedua orang pendatang itu. Pada pinggangnya terselit sebilah golok panjang. Pada tangan kanannya ia membawa pikulan dan tali. Pada tangan kirinya ia membawa topi capio. Ia tak berbaju, telanjang dada dan hanya bercelana dalam hitam. Setelah dilihatnya kedua orang pendatang itu telah tidur nyenyak ia berjalan mengendap-endap dan akhirnya hilang dari pemandangan.
Bunyi air kali membuat suasana menjadi kian sepi.
Langit mulai memudar, menandakan hari baru menjelang tiba. Sekali dua terdengar ayam berkeruyuk.
Tiba-tiba dari dalam rumah terdengar suara Ireng:
Yahh, ke mana orang ini?
Terdengar ia menyalakan korek api kemudian nyala pelita memancar keluar melalui lubang-lubang dinding. Nampak Ireng membuka pintu, meninjau ke depan, kiri, dan kanan, kemudian terdengar suaranya yang masih setengah mengantuk dan parau:
Pergi juga. Pintu dibiarkan tak terkunci. Ya Allah, selamatkan dia dari bencana dan dosa.
Ia tertegun, mendengar bunyi orang berkeruh di bale beranda. Menyapa:
Siapa?
Salah seorang pendatang itu merintih menjawab dalam tidurnya.
Ireng menghampiri dan membangunkan:
Pak! Aku kira pergi.
Dan langit yang biru pekat sebentar tadi kini sudah menipis sehingga nampak sudah alam sekitar dalam kerembangan yang samar. Nampak Yang Pertama terlompat dari bale, mengocok mata, menatap Ireng kemudian membeliakkan matanya yang belum awas dan dengan kagetnya berseru:
Maaf, Mpok. Kami menginap di sini semalam. Kami sudah…
Yang Kedua pun bangun dan turun dari bale dan meneruskan kata-kata Yang Pertama:
Tapi tak ada yang dengar, jadi kami tidur saja di sini.
Ireng terheran-heran. Kemudian matanya jatuh pada dua pikul singkong di pojokan dekat bale. Yang Pertama mengikuti arah pandang Ireng, dan berkata meminta maaf:
Tadinya mau ke tempat pemunggahan truk, jual singkong. Tahu-tahu truk dibakar DI. Ya Allah, bukan main! Bukan main!
Ireng sebentar masih terheran-heran. Baru kemudian ia sadar akan dirinya dan bertanya:
Tidak lihat lakiku?
Yang Kedua duduk di ambin sambil menjawab dan mengocok mata:
Maaf, Mpok, begitu kami rebah, begitu tertidur.
Kembali Ireng menebarkan pandang pada dua pikul singkong di pojokan. Yang Kedua mengikuti tebaran pandang itu dan menawarkan:
Mau?
Dan sebelum Ireng sempat menjawab, Yang Kedua telah menghampiri pikulannya dan menurunkan beberapa batang singkong di atas lantai tanah. Yang Pertama menyarankan:
Ambillah.
Yang Kedua tersenyum bahagia melihat Ireng berseri-seri. Kemudian bertanya:
Boleh dapat air sedikit?
Sebelum Ireng sempat menjawab, keduanya telah meninggalkan beranda, pergi ke belakang untuk membersihkan diri. Ireng mengambil singkong yang diberikan kepadanya dari tanah dan membawanya masuk ke dalam melalui pintu depan.
Hari telah terang seluruhnya sekarang. Beranda itu tiada berorang. Bunyi air kali tidak seriuh kemarin.
Ireng muncul kembali di beranda membawa sepiring singkong rebus, dan menaruhnya di atas ambin. Kemudian kedua orang pendatang muncul pula dalam keadaan segar setelah mandi. Tak lama kemudian datang pula Ranta dari tikungan jalan, hanya bercelana dalam hitam, berlumuran lumpur sedang tangannya yang sebelah kiri tidak berlenggang, dibebatnya dengan kulit batang pisang basah.
Melihat lakinya pulang dalam keadaan lunglai Ireng menjerit:
Pakkk!
Kedua orang pendatang itu mundur karena terkejut, tetapi waktu menyadari apa yang sedang terjadi, segera mereka menghampiri dan memapah Ranta.
Ireng memeluk lakinya dan bertanya setengah meratap:
Kenapa, Pak? Kenapa? Mana pikulan? Mana golok?
Dengan tenangnya Ranta membebaskan diri dari papahan kedua orang pendatang itu, juga dari pelukan istrinya. Berkata tenang terkendali:
Hilang! Semua. Dirampas binatang-binatang buas itu juga. Mereka!
Kedua orang pendatang itu mundur, tak tahu apa yang harus diperbuat. Tetapi Ranta telah meneruskan:
Aku tak takut di bui. Mereka suruh aku curi bibit karet onderneming. Aku bawakan sampai dua kali balik. Mereka bilang. ‘Cukup, pulang kau!’ Aku tanya, ‘Mana upahku?’ Mereka beri aku upah pukulan rotan, merampas pikulan dan golokku. Tahu apa mereka bilang? ‘Jangan berani-berani ke sini curi bibit karetku, ya?’
Ireng merintih.
Yang Pertama terkejut dan berdiri tegak. Matanya terbelalak. Sejenak kemudian baru buka mulut:
Cuma orang semacam Juragan Musa bisa berbuat begitu!
Sekarang Ranta yang terkejut. Ia terbelalak memandangi Yang Pertama dan bertanya dengan suara masih juga tetap terkendali:
Dari mana tahu?
Yang Pertama menarik Ranta dan didudukkannya di ambin. Katanya:
Dengar. Tahun yang lalu begitu juga yang kualami. Lihat punggungku.
Kemudian Yang Pertama membuka baju kaos kutungnya. Setelah Ranta melihatnya ia mengenakan bajunya kembali sambil berkata:
Dicambuki dengan buntut ikan pari. Juga soal maling karet. Empat orang menghajar aku habis-habisan. Apa katanya? ‘Kalau tidak lekas-lekas pergi aku laporkan pada polisi!’ Aku lari pulang. Tadinya aku berniat mau bunuh dia. Tapi lama-kelamaan niatku menjadi lemah. Akhirnya aku lupakan. Tapi melihat kau sekarang ini…
Ranta menahan Yang Pertama dengan tangannya yang sehat. Berkata:
Biarlah. Membunuh dia tak ada gunanya. Kita sudah dibuatnya jadi maling. Tapi mereka juga dibuat jadi maling.
Ireng berteriak murka:
Siapa membuat dia jadi maling?
Yang Pertama menimbrung:
Mereka kaya, tidak perlu jadi maling.
Ranta menggeleng-gelengkan kepala penuh kesabaran. Dan dengan suara bernada keyakinan ia pun menyabarkan mereka:
Kekayaannya mereka peroleh dari maling. Ireng, kau ingat waktu anak kita yang pertama sakit keras, pinjam hutang pada mereka? Anak kita meninggal. Panen seluruhnya mereka ambil. Kita kelaparan, terpaksa jual tanah. Mereka juga yang ambil tanah kita. Berapa harganya? Tak cukup buat modal dagang di pasar! Ludas! Tandas! Kuras!
Sejenak kesenyapan menyusul. Ireng telah terlepas dari pengaruh yang menggemparkan hatinya. Yang Kedua masih juga terpaku tak tahu apa mesti diperbuat. Yang Pertama mendorong piring singkong kepada Ranta dan menyilakan:
Makan dulu. Makan dulu.
Ranta mengangguk lunglai. Menyambut:
Ya, makan dulu. Sejak kemarin belum makan. Sejak kemarin dulu belum tidur. Tidur? Sebentar lagi mesti pergi ke kota, lihat anak di rumah sakit.
Sakit?
Sakit. Baru sekali ini dibawa ke rumah sakit. Yang lain-lain sudah tak ada umurnya.
Kembali sunyi senyap. Bahkan juga nyanyian burung dan bunyi air kali tak terdengar sedikit pun. Angin pagi yang pertama meniup pelahan-lahan, membuat rumbia bubungan menggetar sedikit. Ireng menghapus matanya dan masuk ke dalam rumah. Dari dalam terdengar suaranya yang menyayukan hati:
Hati mau menyugu kopi. Tapi apa boleh buat, kopi tidak gula pun tidak.
Yang Pertama segera menyambut:
Tak apalah. Air pun jadi, asal panas.
Sebentar kemudian Ireng muncul pula membawa poci berisikan air panas yang masih menguap-uap. Beberapa cangkir dengan piringnya. Dengan lahapnya mereka, selain Ireng, menghirup air panas itu dengan leganya. Sementara itu Ireng menghampiri suaminya dan bertanya:
Biar kurawat tanganmu.
Ranta menghindarkan tangannya. Setelah menaruh piring cangkir di atas ambin ia berkata mencegah:
Biar. Tidak apa-apa, nih.
Pak, seru Ireng dengan suara lemah mengandung haruan dan kasih sayang.
Ranta meneruskan makan singkong, menelannya, dan kemudian berkata:
Tidak apa-apa, Ireng. Aku bilang, tidak apa-apa. Nanti kalau keadaan sudah baik, semua ini tidak lagi terjadi.
Sekali lagi Ireng menghapus matanya, sekali ini dengan ujung kebayanya. Cepat-cepat sambil menunduk menyeka mata ia masuk ke dalam rumah. Dengan suara tertahan-tahan tersumbat di kerongkongan terdengar ia berkata dari dalam:
Ah, Pak, itu-itu juga yang kau katakan. Kau terlalu sabar. Tapi kapan keadaan akan jadi baik?
Ranta tersenyum. Dengan yakinnya ia berkata:
Senang aku dengar pertanyaan seperti itu, Ireng. Sudah lama kutunggu-tunggu. Kapan keadaan jadi baik?
Yang Pertama dan Yang Kedua mengawasi Ranta dengan pandang mengagumi.
Kapan? Itu tergantung pada kapan kita sendiri mulai mengusahakan.
Kembali terdengar suara Ireng dari dalam:
Aku tak mengerti, Pak.
Tanpa ada seorang yang menduga Yang Kedua mendapatkan dirinya kembali dan bertanya menguatkan Ireng:
Ya, kapan? Dulu kita diuber-uber lurah, tuan besar administratur, rodi, wajib desa. Kita tak sempat cari penghidupan layak. Zaman Jepang apa? Romusha1 sampai kurus kering, sampai mampus. Zaman Nica2 apa? Lagi-lagi diuber-uber kena rodi, ditembaki saban hari. Sekarang apa? Diuber-uber DI. Itu belum lagi. Kawan-kawan kita sendiri sekarang sudah sama meningkat, jadi juragan…
Sampai di sini segera Ranta menyambar: Binatang buas:)
Yang Kedua setuju dan mengulangi:
Ya, binatang buas. Mereka takut-takuti kita dengan polisi, dengan tentara, dengan DI, dan kita disuruhnya maling. Kita dipukulinya sebagai upahnya. Ya, kita tak sempat mencari penghidupan yang layak. Tapi kapan kita sendiri mulai mengusahakan?
Ranta meneruskan dengan suara bernada keyakinan:
Kalau kita sudah bersatu seperti dulu. Ingat kau? Waktu Jepang hampir turun? Lima belas tahun yang lalu barangkali? Kita bersatu melawan gerombolan ajag yang tiap malam membunuh kambing dan sapi kita?
Yang Pertama menyela:
Kampungku dapat bunuh dua puluh lima ekor dalam tiga bulan.
Tiba-tiba Ireng keluar dari rumah dan langsung menuju Ranta. Bertanya:
Bagaimana tanganmu. Tidak sakit?
Ranta tersenyum kasih kepada istrinya, berkata dengan nada meyakinkan:
Sakit? Tentu saja sakit. Tapi itu tidak penting. Kita hidup dalam kesakitan melulu. Kalau bukan daging yang sakit, ya hati. Kesakitan melulu!
Yang Kedua memandangi Ranta dengan mata mengagumi, kemudian bertanya:
Abang pernah sekolah dulu?
Sekarang Ranta menatap Yang Kedua, mengangguk dan menjawab:
Kalau hanya membaca dan sedikit menulis aku dapat.
Yang Pertama menambahi:
Kalau tahu begitu, nanti kalau ada pemilihan lurah mesti kita pilih.
Dengan mata berseri-seri Yang Kedua mengiyakan. Ireng pun nampak berseri-seri. Sedang Ranta sendiri pun berseri-seri dan dengan nada berterimakasih tanpa berpura-pura malu menyambutnya: Kalau ada yang pilih aku jadi lurah, tentu aku terima. Tapi aku takkan calonkan diri. Aku tak mampu keluarkan biaya. Tapi kalau aku dipilih, tentu pilihan aku terima.
Matahari memancar dengan terangnya. Berbeda dengan kemarin bunyi kali tak terdengar lagi. Hanya kadang-kadang nyaring terdengar bunyi burung.
Tiba-tiba Yang Pertama kaget. Ia meninjau-ninjau sesuatu di kejauhan, di mana jalan yang bakal ditempuhnya nanti membelok. Dengan, suara cemas ia memberitahukan:
Awas, Juragan Musa datang.
Semua nampak kaget dan cemas terkecuali Ranta yang malah tersenyum dan berkata pelahan:
Aku sudah bosan takut. Biar dia datang.
Segera Yang Pertama dan Kedua mengambil pikulan dan memikul singkongnya ke arah mereka kemarin datang. Namun sempat juga mereka meminta permisi.
Dengan tenangnya Ranta menghadapi kedatangan Juragan Musa. Ireng memegangi lengannya dan berbisik-bisik. Tetapi, Ranta menggelengkan kepala. Terdengar ia berkata:
Kau sudah dengar sendiri. Aku sudah bosan takut!
Ireng mencoba-coba menarik tangan suaminya untuk dibawa masuk ke dalam. Tetapi Ranta tak berkisar dari tempatnya.
Dengan tenang, dagu sedikit terangkat, tongkat di tangan kiri dan aktentas di tangan kanan, dengan pakaian yang kemarin juga, Juragan Musa lewat di depan rumah Ranta tanpa sedikit pun melemparkan pandang pada beranda atau Ranta sendiri atau Ireng yang berdiri ketakutan mengawasinya.
Ranta dan Ireng mengawasi Juragan Musa hilang dari pemandangan. Dan tanpa mereka duga-duga Yang pertama dan Yang Kedua datang lagi tanpa membawa pikulan dari arah Juragan Musa datang.
Yang Pertama ikut mengawasi arah Juragan Musa pergi dan berkata pelahan:
Binatang!
Rupa-rupanya Ireng dan Ranta tak menyadari kehadiran mereka, karena nampak kedua-duanya terkejut. Ireng segera menegur:
Aku kira sudah pergi.
Yang Kedua segera menyambut:
Siapa tahu dia mau berbuat keji lagi? Jadi kami memutar ke belakang rumah. Kalau ada apa-apa kami bisa segera membantu, kan?
Ireng segera menyambar:
Kalau dia mau, siapa di antara kita bisa lawan? Dia tak pakai tenaga badannya. Dia punya uang. Kita tak bisa lawan uangnya. Dia punya kawan orang besar-besar. Kita cuma punya kawan orang kecil-kecil.
Ranta memutuskan kata-kata istrinya:
Kita sudah bosan putus asa. Kita takkan putus asa lagi. Kita akan perbaiki keadaan kita. Bukan, Ireng?
Yang Kedua, yang amat mengagumi Ranta, bertanya:
Benar. Tapi kapan? Bagaimana caranya?
Entahlah, barangkali nanti kita tahu.
Yang Pertama sekarang membuka suara:
Kang, tidak ada apa-apa, kan? Kita akan terus pulang saja sekarang.
Ranta tersenyum, memperbaiki letak lengannya yang sakit dan berkata:
Baiklah. Terima kasih, ya. Kalau ada waktu datang lagi. Ajak kawan-kawan yang lain.
Yang Pertama mengangguk. Ia mulai berjalan. Tetapi sebelum hilang di pengkolan ia berjalan kembali dan menerangkan:
Hampir dua hari sekali kami lewat sini mengangkut singkong.
Dan tanpa menunggu jawaban Yang Pertama pergi lagi, meneruskan perjalanan:
Ireng menatap suaminya. Berkata:
Cuma orang-orang semacam dia kawan kita, Pak.
Ya, orang-orang seperti dia, jangan remehkan, Ireng.
Apa kekuasaannya, Pak?
Belum ada. Tapi yang berkuasa sekarang dan dulu, berasal dari orang-orang seperti dia juga, Ireng. Ingat-ingat! Kita pergi ke rumah sakit?
Ireng menajamkan pendengarannya, kemudian menatap wajah suaminya yang nampak terlalu letih setelah mengalami begitu banyak ketegangan:
Tak ada kedengaran truk tentara lewat.
Lusa saja kita pergi. Aku lelah.
Kasihan si Pi-ah. Barangkali sudah menunggu-nunggu.
Biar aku tidur barang sebentar.
Kedua-duanya masuk ke dalam.
Sunyi senyap sebentar. Sinar matahari bertambah terik. Bayang-bayang pohon di depan rumah yang jatuh di dalam beranda nampak semakin sempit.
Dengan gaya jalan orang kaya yang tiada mempedulikan segala-galanya Juragan Musa datang pula dari arah ia pergi sebentar tadi. Sampai di depan pintu depan rumah Ranta ia berhenti, memunggungi pintu dan memanggil-manggil sopan:
Ranta! Ranta! Keluar!
Tak berjawab.
Ireng! Mana lakimu?
Dengan langkah hati-hati Ireng keluar dari rumahnya melalui pintu depan:
Saya, Juragan.
Tidak dengar? Mana lakimu?
Juragan Musa masih tetap memunggungi pintu, seakan-akan Ireng tiada berharga bagi matanya. Ia berdiri tegak tak bergerak-gerak sedang matanya meninjau langit, seakan-akan dari langit itu akan turun segala yang diharapkannya.
Ranta cape, Juragan, mau tidur sebentar.
Tidak dengar? Suruh keluar lakimu, bangunkan!
Ireng masuk ke dalam dan lama tidak juga keluar. Juragan Musa nampak agak kesal. Tapak tangannya yang terletak di atas bengkokan tongkat digerakkan secara menggigil, tetapi matanya masih juga meninjau langit. Tangan kanannya yang menjinjing aktentas bergerak sedikit saja, sedang kakinya mengetuk tanah melalui ujung sepatunya. Waktu diketahuinya Ireng belum keluar juga dan Ranta demikian pula, barulah matanya dijatuhkan dan melirik sedikit ke belakang. Dan waktu diinsafinya bahwa yang dikehendakinya tak juga keluar, ia meneleng ke belakang sedikit, tetapi waktu didengarnya pintu beranda bergerak, kembali ia meninjau ke langit. Tetapi ternyata tak ada orang keluar, bahkan pintu yang terbuat dari anyaman bambu belah itu ditutup dari dalam. Waktu menyadari ini, nampak perubahan, pada wajah Juragan Musa. Matanya menyala-nyala karena amarah. Sekaligus lenyap sifat yang sopan dan tak peduli, pada sesuatu pun. Dengan kasarnya ia membalik badan menghadap langsung pada pintu dan berteriak keras-keras:
Ranta! Keluar-tidak?
Tak berjawab.
Ranta! Keluar!
Tak berjawab.
Baik. Kau tak mau keluar. Aku laporkan pada polisi bahwa kau sudah curi bibit karetku. Ya?
Dari dalam tak terdengar suara menyahut. Sunyi senyap sebentar. Dari jauh terdengar gonggong anjing—sayup-sayup.
Ranta! Benar-benar tak mau keluar?
Baru setelah itu nampak pintu terbuka, dan Ranta keluar. Juragan Musa menyambutnya dengan kata-kata keras:
Berani-beraninya lawan perintahku…
Ranta melangkah keluar ambang. Bahunya tertarik ke atas, matanya terpusat pada wajah Juragan Musa, sedang kedua belah tangannya terangkat ke atas sedikit. Dengan tubuhnya yang besar perkasa itu, nampak seperti binatang buas hendak menerkam mangsanya. Lengan kirinya yang telah terlepas dari balut kulit batang pisang kering kini telah terbalut dengan kain-kainan. Dan pada pembalut itu merembes darah.
Juragan Musa berteriak menggertak:
Ranta! Berani-bera…
Sebelum ia selesai menghabiskan kata-katanya dilihatnya Ranta terus melangkah maju pelahan-lahan hendak menerkamnya. Juragan Musa melangkah mundur. Tetapi Ranta terus maju. Akhirnya Juragan Musa berteriak:
Kalau berani ganggu, kupukul!
Juragan Musa mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Ranta terus maju. Keadaan itu membuat Juragan Musa kehilangan semangatnya. Karena takutnya ia melompat mundur, aktentas dan tongkatnya jatuh ke tanah, kemudian ia lari terbirit-birit sambil mengangkat sarungnya tinggi-tinggi.
Ranta berhenti di samping rumahnya, berkata dengan suara mendesis melalui giginya:
Binatang buas!
Ireng berlari-larian keluar, menarik tangan kanan Ranta dan menyabarkan:
Jangan marah, Ranta.
Ranta mengikuti tarikan istrinya. Kedua-duanya duduk di atas ambin beranda. Ranta tetap mengawasi arah Juragan Musa lari. Ireng mengawasi suaminya. Sejenak kemudian Ireng melemparkan pandang ke depan rumah dan melihat aktentas serta tongkat Juragan Musa yang terkapar di atas tanah. Segera ia memperingatkan:
Tasnya ketinggalan.
Cepat Ranta mengawasi tas itu pula dan memperingatkan:
Jangan sentuh. Haram! Najis. Lempar dengan kayu.
Ireng masih tetap merenungi tas itu dengan cucuknya.3 Ia turun dari ambin menghampiri tas itu, tetapi kedua belah tangannya ditariknya ke belakang, memberikan kesan pada suaminya, bahwa ia tak bermaksud hendak menyentuhnya. 1.
Tanpa mereka duga-duga, datang Yang Pertama, Yang Kedua, membawa seorang teman Yang Ketiga. Yang Ketiga adalah seorang setengah baya bertubuh kecil, pendek, tetapi gesit tingkah lakunya.
Kang, tegur yang Pertama, ini kawanku. Sudah…
Tiba-tiba Yang Kedua berseru setelah melihat tongkat dan aktentas:
Kepunyaan Juragan Musa ini!
Ireng menyambut mereka dan menyahut:
Hée. Dia lari. Tadi mau dibanting Ranta.
Yang Kedua dengan kagumnya mengawasi Ranta dan berseru:
Sudah mulai kalau begitu…
Yang Pertama dan Yang Ketiga ikut mendekati dan mengawasi benda-benda itu, tetapi dari ambin Ranta memperingatkan:
Jangan sentuh!
Oleh peringatan itu Yang Pertama dan Yang Kedua menjauhkan diri dari benda itu dan menghampiri Ranta dengan mata masih juga terlekat pada aktentas dan tongkat. Tiba-tiba Yang Ketiga berkata:
Cuma aku yang tahu isinya.
Yang Kedua dengan cepatnya memutuskan kata-kata Yang Ketiga dan bertanya:
Dari mana tahu? Yang Ketiga mengawasi Yang Pertama. Oleh pandang itu Yang Pertama menatap Ranta dan berkata:
Begini, kawan kita ini, katanya sambil menunjuk pada Yang Ketiga, sudah dua musim sawahnya tidak dapat air. Orang-orang Juragan Musa sudah pindahkan jalan air dari sawahnya. Dia membantah, tadi dia dipukuli mereka. Kawan kita ini tak dapat bilang apa-apa. Mau bilang apa? Semua yang berkuasa sahabatnya. Tapi, alhamdulillah, kemenakan kawan ini jadi bujang di sana. Dia yang tahu, tiap Rabu malam Juragan Musa berunding dengan DI, sedang kita orang-orang miskin sama dirampoki, dibakari, dibunuhi.
Yang Ketiga maju ke depan Ranta dan menyambung:
Karena itu dia tak pernah diganggu.
Sekarang dengan ketakutan Ireng menengahi:
Kalau begitu, kita dalam bahaya.
Yang Ketiga segera menyambung:
Benar. Lebih baik kalian mengungsi.
Ranta bangkit berdiri, menatap tamunya seorang demi seorang, berkata:
Jadi kuli di kota?
Ranta menggeleng:
Tidak! Sedikit-banyak aku tahu juga Juragan Musa sering berunding dengan gerombolan. Begini, mari kita pergi ke rumah bapak Komandan, lapor.
Yang Ketiga dengan puasnya mengawasi Ranta. Ranta mengangguk, dan dengan suara lincah mengiyakan:
Ya, benar. Kita bawa juga tas dan tongkatnya. Yang Kedua menyumbangkan pendapatnya dengan kata-kata girang:
Sekarang benar-benar! Benar-benar!
Ranta tak mempedulikan kata-kata Yang Kedua. Cepat ia berpaling pada istrinya dan berkata:
Reng, ambil semua pakaian. Kalau sudah kunci pintunya.
Segera Ireng masuk ke dalam. Ia keluar lagi membawa bungkusan kecil. Dan sebelum meninggalkan beranda, terlebih dahulu ia mengunci pintu, menyelipkan anak kunci di dalam kutangnya. Ranta dengan tenangnya berkata:
Mari berangkat, jangan lewat jalan besar!
Sebelum berangkat Ranta memungut aktentas dan dimasukkannya ke dalam bungkusan yang dibawa Ireng. Kemudian bungkusan itu ia ambil dari tangan istrinya. Setelah itu diambilnya pula tongkat Juragan Musa, dan dipergunakannya sebagai pikulan ganjal di atas pundaknya.
Dengan cepat-cepat mereka berangkat meninggalkan beranda dan hilang di tikungan jalan. Sunyi senyap di beranda. Sayup-sayup terdengar bunyi air kali. Tetapi suara burung bernyanyi aneka ragam lebih nyata terdengar. Langit yang cerah kini mulai redup.
Maghrib pun tiba.
Dari jauh terdengar talu beduk surau. Kemudian langit! menjadi hitam tanpa bintang. Malam. Dua tiga kali terdengar guruh di kejauhan.
Dari jarak yang tidak jauh terdengar suara-suara:
Masih jauh rumahnya?
Tu!
Sebuah lampu senter menyoroti beranda. Dari pancaran sinar senter nampak siluet beberapa orang laki-laki bersepatu. Seorang di antara mereka menggedor-gedor pintu. Kemudian salah seorang di antaranya berseru-seru:
Ranta, Ranta! Keluar!
Terdengar suara yang lain:
Dikunci dari luar. Orangnya tak ada!
Setan kranjingan! Bakar saja! Waktu lampu senter mati terdengar beberapa pasang sepatu menendang-nendang, riuh, tiang rumah yang ditarik-tarik, dan paling akhir sekali terdengar gubuk Ranta rubuh. Bakar! Ya, bakar saja! Rumah Ranta hilang lenyap dari muka bumi.
II
Siang hari menjelang dhuhur di suatu desa di Banten Selatan.
Langit amat cerah dan terik.
Ruang tamu lebar yang terang benderang. Sepasang sice tua setengah antik yang terpelihara baik terpasang di dekat dinding. Sebuah lemari pajangan berisikan berbagai macam barang pecah belah tersusun dengan rapi terletak di dekat sice. Pada salah sebuah langkan pintu yang menjurus masuk ke dalam kamar tidur di samping ruang tamu terpasang kaligrafi ayat kur’an. Pada dinding-dinding lain yang melingkupi ruang tamu selain terpasang kaligrafi ayat kur’an yang berbentuk kapal dan lain-lain, juga terpasang gambar-gambar Presiden Soekarno dan Hatta. Hampir-hampir menghalang jalan keluar, di sebuah pojokan terpasang sebuah meja tulis, model lama. Sebuah lampu gantung yang indah model lama tergantung di tengah-tengah ruang tamu. Lantai terbuat dari ubin kuning.
Seorang wanita muda lagi cantik, berkain batik, berkebaya potongan baru serta berkerudung tule halus sedang duduk menghadapi kopi. Ia berumur kurang lebih dua puluh tahun. Antara sebentar ia mengawasi pintu depan. Ia nampak agak gelisah. Sejenak kemudian ia bangkit dan meninjau-ninjau pelataran melalui lubang pintu depan. Tetapi keadaan masih juga sunyi senyap. Nampak benar ia tak dapat menguasai kegelisahannya dan berseru-seru memanggil bujangnya:
Li! Li!
Rodjali, bujang kesayangan, muncul dalam pakaian piama tua yang di sana-sini sudah ditambal, sedang di atas kepalanya bertengger peci merah, yang juga telah tua. Ia berumur kurang lebih delapan belas tahun. Perawakannya tinggi lampai, gerak-geriknya gesit, sedang pada matanya tergambar kesigapan dan kecerdasan.
Tanpa menjawab ia menghadap Nyonya lewat pintu dalam. Melihat Rodjali sudah ada di hadapannya, Nyonya bertanya dengan suara cepat:
Juragan tidak pesan apa-apa tadi?
Setelah menyekakan kedua belah telapak tangan pada samping-menyamping celana piama, Rodjali menjawab:
Ada, Nya. Katanya pergi ke rumah Ranta.
Biasanya tak begini lama.
Barangkali banyak urusan.
Coba susul, Li. Cepat!
Tanpa menjawab Rodjali menghilang melalui pintu yang dimasukinya tadi. Nyonya mengikuti Rodjali dengan pandang tak sabar. Akhirnya ia berdiri dan berjalan meninggalkan ruang tamu masuk ke dalam kamar samping. Sebentar kemudian ia keluar lagi membawa jahitan dan mulai menisik di atas kursi ditentang kursi yang tadi didudukinya. Tetapi ia masih juga tak dapat mengendalikan kegelisahannya, karena antara sebentar ia berhenti menisik dan mengawasi pintu ke arah pelataran. Akhirnya ia bangkit lagi dan pindah ke kursi yang didudukinya pertama kali. Di situ pun ia masih juga gelisah. Jahitan itu terjatuh di atas pangkuan dan kini pandangnya semata-mata tertuju ke pelataran depan, melewati pintu.
Tiba-tiba wajahnya berubah. Ia berdiri terkejut. Jahitannya jatuh ke lantai. Tetapi ia tak menyadari ini. Kedua belah tangannya terangkat sedikit seakan orang hendak menubruk sesuatu. Mulutnya ternganga sedikit, lehernya tertarik ke depan, sedang matanya agak melotot. Tetapi dari mulutnya tak keluar sepantun suara pun.
Maka masuklah Juragan Musa dalam keadaan yang luarbiasa. Kerapiannya, yang biasa, hilang lenyap. Demikian juga kesopanan dan yakin dirinya. Baju jasnya tidak terkancing. Kebersihan pada baju itu lenyap pula, karena di sana-sini coreng-moreng dengan pasir dan abu merah. Baju dalamnya tak lagi terselip di bawah sabuk, tetapi terlepas melewati panjang jas pada bagian belakang. Sarungnya pun berbentongan abu dan pasir merah. Pecinya tak tepat lagi duduknya. Seluruh pemunculannya mirip dengan penjudi kalah main yang kesiangan pulang. Baru sampai di ambang ia telah berteriak-teriak dengan suara histeris:
Li! Li! Djali! Ro-dja-li Nyonya masih juga dalam keadaan sebermula.
Li! Djali! Djali! Baru kemudian, setelah yang dipanggilnya tak menjawab, sadarlah ia bahwa di hadapannya ada berdiri seseorang, dan orang itu adalah Nyonya yang sudah berdandan rapi. Menyadari ini, ia menjadi agak tenang sedikit dan mendapatkan sebagian kesopanannya. Bertanya setengah sopan:
Mana Djali?
Nyonya menjatuhkan tangannya, memungut jahitan dari lantai dan menaruhnya di atas meja, kemudian buru-buru menghampiri suaminya, memperingatkan:
Bagaimana peci ini? Baju dan sarung begitu kotor. Kemeja berantakan.
Tetapi Juragan Musa tak menghiraukannya dan berseru setengah histeris:
Li! Djali!
Nyonya menatapnya dan kemudian menuduh:
Berkelahi sama yang sana?
Juragan Musa menatap Nyonya dengan pandang muak.Nampak benar ia mencoba untuk menguasai diri, tetapi gagal. Ia mulai kebas-kebaskan baju dan sarungnya, kemudian memanggil lagi:
Li! Budek? Li! Cepat!
Nyonya ikut membantu mengebaskan abu dan pasir dari baju dan sarung suaminya, berkata:
Djali tak ada.
Dengan gugup dan berang Juragan Musa meraung:
Ke mana si keparat itu?!
Aku suruh. Cari kau! Kenapa kau ini?
Dengan gusarnya Juragan Musa mengambil peci dari kepalanya dan peci itu pun dibantingnya di atas meja seraya meraung kesakitan:
Mati aku! Mati aku!
Mendengar itu Nyonya pun ikut menjadi gugup. Dengan tak tahu akal ia mundur beberapa langkah sambil mengawasi suaminya, tak tahu apa ia harus perbuat. Juragan Musa meraung dengan ganasnya sambil membelalak pada Nyonya: Sudah kuwanti-wanti, Djali tak boleh keluar tanpa izinku!
Nyonya melangkah mundur beberapa langkah lagi, sampai akhirnya ia tiba di pojokan dan berkata sayu:
Kau begitu lama Juragan Musa kini melangkah mau menghampiri istrinya. Tangannya terangkat hendak menempeleng, tetapi tak jadi. Sebagai gantinya ia meraung:
Peduli apa aku lama atau tidak?
Terdengar suara Nyonya yang lemah lembut mencoba merayu:
Tapi kau mau bawa aku ke kota!
Persetan!
Inilah baru pertama kali Nyonya mendapat perlakuan kasar dari suaminya sehingga segala macam perasaan yang tak nyaman: syak, amarah, dukacita, kecewa, dan sekaligus malu dan takut, berkecamuk dalam hatinya.
Sekarang Juragan Musa jalan mondar-mandir cepat-cepat, dengan tangan di belakang. Pada wajahnya tergambar kegugupan, ketakutan, kecurigaan, kekhawatiran. Setelah dua tiga kali mondar-mandir ia berhenti di hadapan dinding di mana terpasang kaligrafi dalam bentuk kapal. Mulutnya berkomat-kamit mengucapkan beberapa patah doa. Dengan doa itu ia mengharap dapat memperoleh sedikit keberanian. Ia mencoba menenangkan diri dengan membalik badan dan melangkah pelahan-lahan. Tetapi dalam usahanya ini ujung sandalnya tersentuh kaki kursi sehingga ia terhuyung-huyung nyaris jatuh kalau tidak ditangkap istrinya. Ia menyebut keras-keras. Tetapi waktu ia teringat lagi akan kesulitan-kesulitannya, ia tatap wajah istrinya sambil berseru murka:
Setan sialan!
Mendengar itu cepat-cepat istrinya melepas pegangannya pada suaminya dan mundur sampai merapat dinding. Di sana ia berhenti kehilangan akal, akhirnya bertanya takut:
Apa salahku?
Kembali Juragan Musa menatapnya tajam-tajam dan berteriak:
Salahmu? Salahmu: bawa sial!
Dengan itu Juragan Musa masuk ke dalam kamar di samping ruang tamu. Sebentar kemudian terdengar daun pintu lemari dilemparkan, akhirnya ia muncul kembali membawa keris yang kemudian disisipkannya di pinggang. Ia menuju langsung ke pintu hendak pergi lagi. Tetapi sampai di ambang istrinya memperingatkan:
Pecimu ketinggalan Juragan Musa balik kembali untuk mengambil peci, sedang istrinya bertanya dengan suara takut:
Mau ke mana bawa keris pusaka?
Ke mana? Bunuh si Ranta jahanam?
Diambilnya pecinya dari meja dan dikenakan sejadi-jadinya. Sampai di depan istrinya, ia meludah ke lantai sambil menyumpahi:
Sialan!
Sumpahan itu menyebabkan istrinya naik darah. Lengan baju suaminya ditariknya. Karena Juragan Musa tak menyangka akan perlawanan istrinya, jalannya tertahan, dan tubuhnya terbawa oleh tarikan istrinya. Mereka bertentang-tentangan. Istrinya memekik murka:
Kau yang sialan. Aku sumpahi kau—kau bakal dibunuh Ranta Tak dapat Juragan Musa mengendalikan amarahnya lagi dan ditempelengnya istrinya sampai terjatuh.
Sewaktu jatuh di lantai Nyonya segera mengumpulkan tenaga dan bangkit berdiri dan berteriak:
Aku minta cerai. Sekarang juga. Biar kau dibunuh Ranta!
Juragan Musa baru melangkah hendak keluar dari ambang pintu waktu kata-kata terakhir istrinya terdengar. Mendengar itu ia tertegun, terhenti, tangannya berpegangan pada tiang pintu, akhirnya dengan lambat-lambat ia balik menghampiri kursi sice dan duduk.
Nyonya berteriak:
Padaku saja kau berani. Ayo, hadapi Ranta! Ayo, pahlawan! Kalau tidak berani, tentu kau berani ceraikan aku! Ayo!
Juragan Musa tak memberikan reaksi apa-apa. Ia duduk terpekur dengan wajah tenggelam dalam kedua belah telapak tangannya. Tiba-tiba ia menegakkan badannya di atas kursi itu, melepas peci dan dipergunakan untuk mengipasi lehernya, kemudian secara mendadak ia bangkit berdiri dan menengok ke arah pintu depan, berteriak murka:
Gila kau, Li. Sudah kuwanti-wanti jangan pergi!
Djali muncul dari pintu depan mengendap-endap maju, kemudian berhenti menatap Nyonya, meminta dengan matanya agar Nyonya suka menjawabkannya. Tetapi sebaliknya daripada itu Nyonya menggertak Juragan Musa:
Apa aku tak boleh suruh dia?
Juragan Musa tak menggubris Nyonya. Dengan mendelik ia bertanya pada Djali:
Dari rumah Ranta?
Saya, Juragan.
Tidak lihat tasku ketinggalan di sana?
Tidak, Juragan.
Tongkatku?
Tidak, Juragan.
Pergi lagi ke rumah Ranta!
Saya, Juragan.
Minta tas dan tongkatku dari dia.
Saya, Juragan.
Kalau dia tak mau kasih, bunuh dia!
Tapi orangnya tak ada, Juragan.
Tidak ada?
Rumahnya terkunci, Juragan.
Ke mana? Kau tahu?
Tidak, Juragan.
Ya, Allah, ya Allah.
Sejurus Juragan Musa berpikir, kemudian menatap istrinya. Bertanya dengan nada mengandung kasih sayang sedikit:
Kau bisa hidup melarat denganku, Nah?
Nyonya tak menjawab. Matanya dilemparkannya pada Djali seakan-akan tak menghendaki ada orang lain mendengar percakapan intim antara suami-istri itu. Oleh pandangnya itu Juragan Musa pun menatap Djali dan memerintahkan:
Djali! Pergi ke tempat Pak Kasan. Bilang ada urusan penting. Diminta datang. Tidak boleh tidak! Cepat.
Tanpa menjawab Djali meninggalkan ruang tamu melalui pintu dalam. Segera Juragan Musa menatap istrinya dan bertanya:
Kau mau mengikuti aku dalam senang dan sengsara, bukan, Nah?
Kau sendiri dengar bagaimana janji nikahku. Cuma soalnya, bagaimana yang sana?
Biar aku ceraikan.
Nyonya menatap suaminya dengan kasih sayangnya.
Aku dalam kesulitan, Nah.
Nyonya tersenyum tak percaya. Tetapi Juragan Musa meneruskan dengan keterangannya:
Benar, Nah. Maafkan segala kata-kata yang telanjur tadi.
Nyonya agak terharu mendengar itu. Ia hampiri suaminya dan duduk di atas tangan-tangan kursi suaminya. Tetapi tiba-tiba Juragan Musa ingat akan kesulitannya dan segera mengelakkan. Berkata gugup:
Jangan ajak aku bicara panjang-panjang. Keadaan amat sulit. Lebih baik siapkan barang-barang yang perlu.
Kita tak jadi ke kota?
Tidak, Nah, tidak ke kota, mungkin ke hutan.
Dengan suara berteriak setengah terkejut Nyonya bertanya:
Ke hutan?
Juragan Musa mengangguk.
Tapi sebelum kawin kau tak pernah bicarakan kemungkinan ini!
Apa boleh buat, kemungkinan ini sekarang datang.
Mengapa mesti ke hutan? Masuk DI? Apa boleh buat, Nah. Keadaan memaksa. Kau ikut, bukan?
Sejenak Nyonya merenung bimbang. Kemudian nampak ia memberanikan diri dan menjawab:
Apa boleh buat. Janji sudah diikrarkan waktu nikah. Tentu saja aku akan tetap setia kepadamu, dunia-akhirat. Hanya pintaku, perlakukan aku sepatutnya. Kau sendiri tahu aku bukan perempuan sembarangan, tetapi keluaran SKP!
Kau akan kuperlakukan sepatutnya, Nah. Berkemaslah.
Nyonya meninggalkan ruangan melalui pintu samping masuk ke dalam kamar. Juragan Musa menarik keris pusaka dari ikat pinggangnya dan mengaji-ngajinya. Nampak ia menggeleng-geleng sebentar, kemudian mencium tangkai senjata itu dan menyelipkannya kembali pada sabuknya. Akhirnya ia duduk merenung-renung di kursi dengan mata tetap mengawasi pelataran depan. Tiba-tiba ia bangkit berdiri. Tangan kanannya terangkat ke atas dan mulutnya bersuara:
Allaikumsalam! Masuk, Mèng!
Seorang tua bersarung compang-camping, bertopi capio yang terbuat dari daun arèn, masuk ke dalam setelah membuka topinya. Ia berjongkok di lantai. Tetapi segera Juragan Musa menghampirinya dan berkata:
Sekarang tak perlu begitu lagi, duduk saja sini, di kursi!
Dengan takut dan malunya Djamèng menolak ajakan tuan rumah dan segera melaporkan:
Juragan, jangan abdi disuruh berdosa pada Juragan. Biar abdi di sini saja. Abdi mau melaporkan. Sebentar tadi abdi dengar ramai-ramai di jalanan hutan. Abdi lihat Ranta sama beberapa orang.
Ranta! Berapa orang?
Empat, Juragan, sama Ranta sendiri.
Kau lihat dia bawa tasku?
Saya, Juragan, dan tongkat Juragan juga.
Kerak neraka! Ke mana mereka pergi?
Begini Gan, waktu mereka melihat abdi, Ranta memanggil abdi. Diamangkan tasnya pada abdi, Gan. Dia bilang, ‘Lihat ini! Tas Juraganmu. Apa isinya? Tahu?’ Abdi cuma ketakutan Gan.
Apa dia bilang, si jahanam itu?
Katanya, Gan, ‘Malaikat yang mau cabut nyawa Juragan!’
Juragan Musa membelalak sambil meriutkan giginya. Tangannya terkepal menjadi tinju, dan dipukulkannya pada meja. Djamèng kaget, dan duduknya di atas lantai beringsut. Dan sebelum ia sempat melunakkan berita yang disampaikannya, Juragan Musa sudah meneruskan:
Ke mana dia pergi?
Abdi tak tanya, Gan, takut.
Mau pergi ke mana orang seperti dia? Tidak ada orang mau percaya. Si pencuri itu! Siapa mau percaya sama pencuri? Kalau dia pergi ke rumah Pak Komandan…
Tiba-tiba Djamèng menengahi:
Mereka menyebut-nyebut nama Pak Komandan juga, Gan.
Pak Komandan ke kota sekarang. Kalau dia ke sana juga, dia akan kusuruh tangkap! Pencuri jahanam itu.
Djamèng tetap duduk terpekur di lantai. Juragan Musa memanggil-manggil istrinya:
Nah! Nah! Sudah siap? Dari dalam kamar di samping ruang tamu terdengar jawaban pelahan:
Sebentar lagi.
Kini Juragan Musa menatap Djamèng dan berkata:
Cukup Djamèng. Pergi kau.
Ia ulurkan selembar uang pada tamunya, dan Djamèng pun membungkuk-bungkuk berterimakasih, pada istrinya:
Siap, Nah?
Dan dari dalam terdengar pertanyaan kembali:
Bagaimana perhiasan-perhiasan? Dibawa?
Goblok. Tentu saja.
Sinar matahari hampir-hampir padam.
Nyonya datang ke ruang tamu mengantarkan kopi. Juragan Musa menghirup dengan gelisahnya. Nyonya menatap suaminya dan memperingatkan:
Lupa aku! Ambilkan rokokku.
Nyonya pergi, kemudian datang kembali membawa kotak rokok. Juragan Musa mengambil sebatang dan Nyonya menyalakan geretan. Asap mulai mengepul dari rongga mulut dan hidungnya.
Matahari telah tenggelam.
Nyonya masuk ke dalam dan sebentar kemudian keluar lagi membawa lampu minyak tanah yang telah menyala. Kegelapan dalam ruang tamu itu pun hilang lenyaplah. Juragan Musa mengambil lampu dari tangan istrinya dan berdiri di atas kursi dan memasangnya pada gantungannya. Kini kedua-duanya duduk termenung-menung. Tiba-tiba mereka terkejut. Dan dari luar rumah tiba-tiba terdengar:
Assalamu alaikum!
Berbareng dengan itu masuk Pak Kasan diiringkan oleh Rodjali. Pak Kasan adalah sosok pemuda yang galak. Rambut, kumis, jenggot serta cambang tak tercukur. Dalam seminggu sehingga menggermang menyeramkan. Ia berkemeja coklat tua dan bercelana wol kebiru-biruan. Celananya kombor longgar. Sepatunya adalah sepatu bot yang boleh dikata hampir-hampir baru. Ikat pinggangnya lebar.
Tanpa menunggu disilakan, juga tanpa menunggu tuan dan nyonya rumah bangkit berdiri, ia duduk ditentang nyonya rumah dan sambil menoleh pada Juragan Musa bertanya tak acuh:
Ada urusan penting, Pak Residen?
Tasku direbut Ranta. Kau kenal Ranta, kan? Kau tahu juga apa isi tas itu.
Sekarang juga, Pak Residen?
Kau bawa anak buah?
Ada di luar.
Bawa senjata?
Senjata?
Pak Kasan bangkit berdiri, kemudian sambil tertawa yakin diri menepuk-nepuk saku celananya. Perbuatan itu menyebabkan Juragan Juragan Musa berseri-seri kemudian menatap istrinya dan berkata:
Barangkali kita tak perlu mengungsi.
Tiba-tiba Pak Kasan terbahak-bahak tertawa dan dengan lantangnya berkata:
Mengungsi? Tambah hari tambah kuat kita di sini, Pak! Kapan mesti dibereskan si Ranta itu?
Sekarang! Setelah memberi salam secara militer kepada Juragan Musa, Pak Kasan pergi meninggalkan ruang tamu. Rodjali masih berdiri di pintu menunggu perintah dengan mata antara sebentar menatap tuannya. Waktu insyaf akan kehadiran Rodjali, Juragan Musa menjadi marah dan menggerundal:
Seperti patung! Ayoh sana bantu Pak Kasan.
Tanpa membantah, dan juga tanpa menjawab, Rodjali pergi meninggalkan pintu ruang tamu. Tinggallah sekarang tuan dan nyonya. Dari jauh terdengar salak anjing, kemudian disusul oleh salak yang lain-lain. Dengan suara pelahan dan yakin Juragan Musa berkata tanpa menatap istrinya, dan seperti pada diri sendiri:
Allah selamanya bersama kita.
Sekarang ia menatap istrinya yang sejak tadi tak membuka mulut dan hanya mempermain-mainkan ujung kebaya. Juragan Musa berkata:
Mengapa diam saja?
Nyonya hanya menggeleng.
Marah?
Kembali Nyonya menggeleng dan terus juga mempermainkan ujung kebaya.
Percayalah. Allah selamanya ada di pihak yang benar.
Sekarang Juragan Musa menatap istrinya keras-keras, menunggu jawaban. Dalam suaranya terkandung nada yang meminta jawaban. Nyonya tak membalas pandangnya, hanya mengangguk dengan mengangkat kepala tinggi-tinggi dan menjatuhkannya pelahan-lahan. Hal itu menyebabkan Juragan Musa tak bersenang hati. Bertanya:
Jadi kau tak percaya Tuhan Allah?
Aku tak pernah bilang aku tak percaya.
Jadi?
Nyonya bangkit dan hendak pergi, tetapi Juragan Musa menangkap pada lengannya dan dengan kasarnya didudukkannya istrinya di kursi kembali. Dengan suara pelahan tetapi kasar ia menggertak:
Barangkali kau tak percaya Allah bersama kita?
Dengan suara ketakutan, tetapi terpaksa mengatakannya, Nyonya menjawab:
Aku tidak percaya Allah bersama kita. Aku baru tahu, engkau orang Darul Islam.
Apa salahnya? Tuhan sudah tentukan nasib makhluknya. Kita hanya menjalani.
Nyonya mencoba untuk melepaskan diri dari pegangan suaminya, tetapi sebaliknya Juragan Musa kian mengukuhi. Dengan ganasnya Juragan Musa mencoba menembus isi hati istrinya dengan pandang tajam, tetapi istrinya selalu dan selalu mengelakkan matanya. Akhirnya suaminya menuduh:
Kau tidak yakin! Kau tak berani tentang mataku.
Lepaskan aku!
Lepaskan? Kau mau khianati suamimu?
Baru kemudian Nyonya mengangkat dagu, mengebaskan pegangan suaminya dan meradang garang:
Kapan aku pernah khianati kau? Kau yang selalu khianati janjimu.
Khianati kau?
Kau janji mau tetap sopan kepadaku. Baru tadi kau janji.
Aku bisa perbuat kau sekehendak hatiku.
Baik! Kalau begitu aku juga akan perbuat sekehendak hatiku.
Jadi kau mau khianati aku?
Jadi kau sudah lupa, orang tuaku dihabisi DI? Keluargaku lari tunggang-langgang karena DI. Sekarang aku baru tahu engkau sendiri ini pembesar DI! Juragan Musa berdiri, bertolak pinggang dan meradang juga:
Kau yang pura-pura alim! Kau yang pura-pura saleh! Kau murtad pada takdir Tuhan. Tuhan sudah pilih aku jadi hambaNya untuk menegakkan hukumNya.
Penipu!
Jadi kau minta direjam seperti yang lain-lain?
Tempat kita terpencil. Engkau pembesar DI. Engkau suamiku. Tak ada yang menghalangi kau merejam aku. Rejamlah.
Tangan Juragan Musa melayang. Nyonya jatuh terduduk. Dan sewaktu duduk Nyonya menyeka mulutnya yang berdarah sambil berkata muak:
Kalau aku Ranta, kau akan tunggang-langgang!
Juragan Musa mengayunkan kaki hendak menendang mulut istrinya, tetapi pada waktu itu juga masuk beberapa orang prajurit sambil berkata:
Cukup! Tak perlu lagi Juragan Musa!
Juragan Musa sangat terkejut. Dengan gugup ia hampiri istrinya hendak menolongnya berdiri. Tetapi salah seorang di antara para prajurit itu menengahinya dan menolong Nyonya bangun. Setelah mendudukkan Nyonya di atas kursi prajurit itu menatap Juragan Musa, yang sementara itu sedang mencari-cari kesempatan untuk melarikan diri. Berkata:
Juragan Musa, sekarang tak perlu lagi berpura-pura sopan.
Nampak Juragan Musa berusaha untuk menguasai dirinya, tetapi kegugupan, ketakutan, dan putus asa lebih berkuasa atas dirinya. Dengan gagap ia menyilakan tamu-tamunya duduk:
Silakan! Silakan!
Komandan rombongan prajurit tertawa sumbang dan berkata:
Kami tak perlu disilakan. Duduklah!
Hening sebentar. Juragan Musa menunduk di atas kursi. Semua mata tertuju padanya.
Sambil masih juga menunduk Juragan Musa bertanya sopan:
Apakah keperluan bapak-bapak datang kemari?:
Menangkap Juragan.
Baru kemudian Juragan Musa menatap Komandan sambil bertanya:
Mengapa? Karena berkelahi dengan istri?
Semua yang hadir tertawa sopan. Kemudian Komandan itu menyambut:
Kebetulan tidak. Begini, Juragan Musa, biar aku ceritai: Sudah lama daerah sini kacau. Gerombolan terus-menerus menggedor, membakari rumah. Sampai keluarga yang paling miskin tak luput dari kebiadabannya. Tapi aneh, Juragan Musa yang kaya ini tidak pernah diganggu olehnya. Mengapa? Nah, kami curiga.
Cepat Juragan Musa mengangkat dagu, memandang istrinya sebentar, dan dengan mata berapi-api menatap Komandan itu seraya menyambar:
Itu bukan alasan untuk menangkap.
Dengan tenangnya Komandan itu menjelaskan:
Juragan benar. Tetapi ada bukti-bukti yang membuat kami curiga. Juragan punya hubungan akrab dengan gerombolan pengacau.
Juragan Musa meronta bangun dan sambil melambai-lambaikan tangan tanda menolak. Ia berteriak mabuk:
Tidak! Tidak mungkin! Dan sambil menunjuk istrinya ia meneruskan: Hanya dia yang menuduh begitu. Kemudian bapak Komandan dengar. Itu bukan bukti! Itu cuma perkelahian rumah tangga biasa.
Semua hadirin tertawa sopan. Nyonya nampak gugup di kursinya.
Komandan meneruskan:
Dalam hal ini Juragan juga benar.
Cepat Juragan Musa menyambar lagi:
Nah, kalau begitu apa guna aku ditangkap?
Semua yang hadir kembali tertawa, tetapi sekali ini tertawa yang ditahan sekuat-kuatnya agar tak menyinggung perasaan tuan rumah.
Komandan meneruskan dengan tidak melupakan kesopanannya:
Tahu, Juragan Musa, kami datang kemari bukan saja dengan serombongan prajurit ini, katanya sambil menunjuk para prajurit, tapi juga dengan serombongan OKD dengan senjata lengkap. Tengok saja di luar kalau suka.
Juragan Musa menunduk. Komandan dan para prajurit tetap berdiri di tempatnya masing-masing.
Mendadak Komandan itu berpaling ke belakang kepada para prajuritnya dan memberi isyarat dengan kepala. Para prajuritnya itu serentak bubar dan menghilang melalui segala pintu yang ada. Melihat perubahan suasana itu Nyonya baru insyaf akan bahaya yang juga bakal mengancam keselamatannya sendiri, keselamatan rumah tangga dan harta miliknya. Ia melonjak bangun, sebentar mengawasi suaminya yang menengok ke kiri dan ke kanan karena kebingungan dan ketakutan.
Akhirnya terdengar kembali suara Komandan, entah ditujukan kepada siapa:
Tak perlu kuwatir. Kekuwatiran hanya bagian pendurhaka.
Nyonya tersedan-sedan.
Sekarang Komandan menatap Juragan Musa, berkata menguji:
Bagi mereka yang beriman, yang percaya pada Allah, tak ada sesuatu pun di dunia ini dapat merusuhkan hati. Bukan, Juragan? Itu kata-kata Juragan sendiri waktu masih jaya.
Juragan Musa menunduk dalam.
Komandan meneruskan:
Celakalah Juragan, kalau dalam rumah ini kedapatan senjata api. Baru Juragan Musa mengangkat kepala menatap Komandan itu sejenak dan buru-buru menegaskan:
Di rumah ini tak ada senjata api. Yang ada hanya keris pusaka.
Komandan menghampiri tuan rumah, dengan mata berseri-seri memerintahkan:
Berdiri tegak, Juragan!
Juragan Musa berdiri tegak.
Tangan angkat tinggi-tinggi, Juragan.
Juragan Musa mengangkat tangan kanannya.
Lebih tinggi, Juragan. Lempang ke atas.
Juragan Musa melempangkan kedua belah tangannya. Setelah itu seluruh tubuhnya digerayangi. Akhirnya ditemukan keris pusaka itu dari balik baju Juragan Musa, mencabutnya dan menaruhnya di atas meja.
Melihat itu Juragan Musa memprotes sambil menuding-nuding:
Jangan ganggu pusaka warisan, Pak, tidak baik.
Tetapi segera Komandan itu menyambar:
Angkat tangan tinggi-tinggi! Juragan Musa, yang sudah sedia untuk meneruskan protesnya terpaksa membisu dan mengangkat tangan tinggi-tinggi kembali. Pada wajahnya tergambar kekuwatiran dan kesebalan. Mulutnya terbuka hendak meneruskan protesnya, tetapi tak ada sesuatu suara keluar daripadanya. Akhirnya ditutupnya kembali.
Sekarang Komandan menggagapi tubuh bagian belakang sambil bertanya dengan mulut dihampirkan pada kuping tangkapannya:
Apa guna keris pusaka dibawa ke mana-mana, Juragan?
Biar hati aman, Pak.
Komandan tertawa senang dan segera menyambut:
O, mengerti aku sekarang. Jadi selamanya hati Juragan tidak aman, eh? Mengapa selamanya tidak aman, Juragan?
Komandan itu berhenti menggagapi. Ia berdiri diam-diam di belakang Juragan Musa. Waktu Juragan Musa hendak menurunkan tangannya, disentuhnya ketiak tangkapannya, dan dengan kagetnya Juragan Musa kembali mengangkat tangannya.
Nyonya Juragan Musa menghampiri Komandan dan meminta dengan amat sangatnya:
Jangan siksa suamiku lebih lama, Pak.
Komandan itu membungkuk sambil berkata:
Suami Nyonya benar-benar orang yang baik-baik dan terhormat, tetapi orang yang berdiri di hadapan Nyonya ini lain lagi, Nyonya.
Segera Nyonya menyambar:
Tidak. Di mana lainnya? Dia tetap orang baik-baik. Dia memang keras, tapi baik.
Komandan meleraikan Nyonya dari Juragan, karena sementara itu Nyonya telah merangkul suaminya. Dengan kata-kata keras tetapi masih tetap sopan ia berkata:
Dia orang tangkapan, tak boleh didekati.
Nyonya maju ke depan lagi hendak memegangi suaminya, tetapi dicegah oleh Komandan. Hanya dengan mulutnya saja Nyonya masih bisa memprotes:
Ya, tapi apa kesalahannya? Mengapa rumah tanggaku, mesti diaduk-aduk.
Komandan nampak kehilangan kesabarannya dan dengan suara kehilangan kesabaran tetapi masih mengukuhi kesopanan berkata:
Mau tahu buktinya? Baik. Ranta!
Muncullah Ranta di ambang pintu membawa aktentas Juragan Musa. Komandan menerima aktentas itu sambil berkata:
Ini tas siapa?
Juragan Musa mengawasi tas itu sebentar, kemudian menunduk.
Nyonya meneliti tas itu, memandangi suaminya sebentar, dan waktu melihat suaminya tak berani menentang aktentasnya sendiri, insyaflah Nyonya bahwa suaminya tak ingin mengakui tas itu sebagai miliknya, maka ia pun ikut menunduk dan dengan tergopoh-gopoh menjauhkan diri dari suaminya.
Komandan melangkah, kemudian berdiri di tengah-tengah antara Juragan dan Nyonya. Sebentar dipelototinya Juragan Musa yang hendak mengendorkan tegak tangannya. Setelah yakin Juragan Musa akan tetap menegakkan tangan, ia berkata setengah mengejek:
Kalau tak ada yang mengakui, baiklah. Ranta! Tas siapa ini?
Ranta maju ke hadapan Komandan dan dengan tiada ragu-ragu lagi menjawab sambil melirik pada Juragan Musa:
Dia punya, Pak. Abdi pungut dari depan rumah abdi.
Semua mata tertuju pada Juragan Musa. Karena merasa bahwa semua mata tertuju kepadanya dengan gugupnya Juragan Musa bersuara:
Memang tasku, Pak.
Komandan segera menyambar:
Mengapa tak bilang dari tadi?
Juragan Musa berdiam diri sebentar. Tiba-tiba menjawab:
Malam begini, Pak, tidak begitu terang. Tapi, Pak, waktu kubawa pergi tidak ada isinya.
Tanpa ditanya Ranta membantah:
Tidak benar, Pak. Abdi pungut tas itu. Tidak abdi buka-buka, Pak. Ada beberapa saksi. Kami berlima, abdi, istri abdi, dan tiga orang lain terus langsung menghadap Bapak. Bapak sendiri yang buka tas itu.
Komandan menatap Juragan Musa dan bertanya:
Jadi dari mana isi itu masuk dalam tas kosong ini?
Wallahualam, Pak.
Mendengar itu Komandan jadi marah. Dicekaunya Juragan pada lehernya dan berteriak:
Memangnya Juragan Musa piara setan? Sementara itu prajurit-prajurit yang diwajibkan menggeledah kembali ke ruang tamu dan masing-masing melaporkan bahwa tiada sesuatu pun yang dapat ditemukan selain bungkusan pakaian.
Mendengar itu segera saja Juragan Musa angkat bicara:
Tak ada apa-apa yang mencurigakan di sini, Pak.
Komandan membentak:
Diam! Siapa yang memasukkan surat-surat Darul Islam ke dalam tas itu?
Juga sekali ini Juragan Musa berdiam diri.
Tiba-tiba dari luar terdengar bunyi burung—alamat yang disuarakan oleh orang-orang OKD, menandakan ada seseorang datang. Semua prajurit yang ada di kamar tamu melihat keluar, kemudian Komandan memberi perintah: Ada orang datang. Sembunyi semua! Kau, Juragan Musa, kalau lari aku tembak dari belakang pintu. Kau mesti sambut tamumu seperti biasa. Mengerti? Turunkan tanganmu! Juragan Musa mengangguk. Semua prajurit sembunyi di balik-balik pintu, sedang Komandan sendiri, setelah mengambil keris pusaka dari meja berkata pada Nyonya: Nyonya, kami tidak main-main. Terima tamu Nyonya seperti biasa. Kalau Nyonya menyulitkan kami, kami bisa bertindak dari belakang pintu itu.
Sesudah itu ia pun pergi menyingkir.
Tinggallah sekarang Juragan dan Nyonya. Masing-masing mengambil tempat duduk dan berhadapan. Kesempatan itu dipergunakan oleh Juragan untuk bicara dengan istrinya:
Maafkan segala kekhilafanku, Nah.
Tetapi Nyonya tak menyahut.
Juragan meneruskan:
Adakalanya orang tak dapat menahan keberangan, Nah.
Nyonya menunduk. Tangannya menggapai-gapai, kemudian menyekakannya pada matanya. Setelah terpesona sejenak ia pun berkata pelahan menyesali diri:
Dasar sudah nasib.
Dari luar terdengar seruan pelahan:
Assalamualaikum!
Kedua suami-istri itu menengok ke pintu ruang tamu, kemudian hampir berbareng menyambut:
Alaikum salam!
Dan masuklah Pak Lurah, seorang yang kurus, berumur kurang lebih empat puluh tahun, berbaju dan bercelana hitam, berkalung sarung, dan melintangi sarung itu adalah tali revolver cap kuda yang terbuat dari pilinan benang sutera berwarna hijau dan kuning.
Juragan Musa menyambut dengan segannya:
Lurah? Kebetulan datang kemari. Kami sedang kesepian.
Pak Lurah tertawa bercanda, dan kemudian memperingatkan:
Mana bisa pengantin baru kesepian? Ada-ada saja.
Juragan memandang Nyonya, dan Nyonya memandang Juragan. Kedua-duanya menyengir dan menggerenjot pahit. Tanpa disilakan Lurah duduk dan segera kemudian memulai:
Tak ada waktu ini, Juragan. Baiklah cepat-cepat saja. Pak Residen, ada datang laporan, Komandan pergi cuti ke kota. Kemarin dia pergi. Penyelidikan membuktikan, benar-benar Komandan pergi, membawa tiga orang pengawal. Jadi, apa kan kita perbuat sekarang? Markas Tentara itu bisa kita serbu malam ini. Di markas tinggal sepuluh orang. Tidak lebih. Kita bisa geropyok dengan dua puluh orang saja. Bagaimana pikiran Pak Residen?
Sampai sebegitu jauh Juragan masih seperti orang kena bius. Tetapi mendadak ia bangkit berdiri. Wajahnya merah memberanang dan menghantam meja dan berteriak keras-keras:
Tutup mulut! Pak Residen? Siapa Residen?
Mendengar itu Pak Lurah terkejut. Nampak kakinya yang tak bersepatu itu bergerak kikuk. Matanya bertebaran tak tentu apa mesti ditatapnya, akhirnya mata itu dilekatkan pada Nyonya untuk minta penjelasan tentang duduknya perkara. Oleh pandang itu Nyonya menatap suaminya. Tetapi melihat suaminya sedang melotot kepadanya, Nyonya menatap Pak Lurah sebentar kemudian menunduk dalam. Terdengar Nyonya menarik nafas sedan, tetapi tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Melihat hal seperti itu Pak Lurah menjadi kebingungan. Karena kehilangan akal kedua belah tangannya menggagapi sakunya. Sekali lagi ia mencoba menentang mata Juragan untuk mengetahui perubahan apa yang sedang terjadi atas dirinya. Tetapi melihat Juragan masih tetap melotot, kembali kedua belah tangannya menggagap-gagap ke mana-mana, dan akhirnya berhasil menutupi kegugupannya dengan mengeluarkan selepah tembakau, menarik daun kaung dari dalamnya, menggulung rokok, membakar, dan menghisapnya. Ia angkat dagunya tinggi-tinggi kemudian menghembuskan asap. Dengan itu dapatlah ia menguasai dirinya kembali. Dengan hati-hatinya ia bertanya kepada Juragan Musa:
Kedatanganku hanya untuk menjalankan tugas yang dipikulkan pada pundakku. Diterima atau tidak oleh Pak Residen, eh, maaf kalau tak suka dipanggil demikian lagi, itu bukan soalku lagi. Kewajibanku hanya meneruskan. Karena tak ada sambungan, jadi pasukan sekali ini akan kupimpin sendiri.
Setelah itu Pak Lurah bangkit berdiri, bersaluir secara militer dan kemudian pergi tanpa meminta diri.
Barulah kemudian Komandan beserta para prajurit muncul kembali dari balik-balik pintu. Dengan wajah berseri-seri penuh kemenangan Komandan segera menghampiri Juragan Musa dan berkata mendesak:
Jadi bagaimana sekarang, Pak Residen? Mengaku?
Juragan Musa menundukkan kepalanya dan berkata tak bertenaga:
Apa yang mesti kuakui, Pak Komandan? Bukan aku yang mesti mengaku, tapi mereka yang memanggil aku begitu.
Tetapi Pak Komandan mendesak terus tanpa menggubris irama suara Juragan Musa yang meminta dibelaskasihani:
Sudah tiga bukti menyatakan, kau Residen DI. Pertama-tama istrimu sendiri menyebut kau pembesar DI. Kedua Pak Lurah sini, yang sekarang baru ketahuan orang DI juga, dan ketiga surat-surat dalam tas Juragan sendiri.
Juragan Musa masih juga membantah sekalipun dengan suara kehilangan tenaga:
Tadi juga sudah kukatakan, tasku kosong, istriku hanya menuduh-nuduh, dan Lurah itu sungguh-sungguh orang gila.
Mendengar itu kembali Komandan kehilangan kesabarannya. Dengan dagunya ia memberi isyarat kepada salah seorang anak buahnya dan memberi perintah:
Bawa separuh anak buah ini dan separuh dari OKD yang ada di luar. Jebak gerombolan yang mau menyerang markas itu. Binasakan kalau tak mau menyerah!
Yang mendapat tugas bersaluir dan pergi membawa separuh dari anak buah komandan itu. Segera setelah mereka meninggalkan ruang tamu, dari luar rumah terdengar percakapan-percakapan yang tertahan sehingga hampir-hampir menyerupai bisik:
Ya, kau ikut.
Siapa lagi, Pak?
Aku juga?
Itu, itu, itu, dan ini.
Orang-orang yang berada di dalam ruang tamu diam-diam mendengarkan semua percakapan yang tertahan itu. Setelah kesenyapan merajalela baru Komandan memulai:
Baik. Juragan Musa tak mau mengaku. Tapi kalau benar-benar sebentar nanti terjadi pertempuran, aku takkan beri kau ampun lagi.
Nampak Juragan Musa menggerak-gerakkan kaki dan tangan, sedang bibirnya pun bergerak-gerak hendak bicara, tapi tak jadi. Tiba-tiba Komandan berpaling pada Nyonya dan bertanya:
Benar Nyonya tak tahu apa-apa tentang suami Nyonya?
Nyonya tak dapat menjawab, hanya menyembunyikan mukanya ke dalam kedua belah telapak tangannya. Dari balik telapak tangan itu terdengar suaranya yang kacau-balau:
Apa mesti kukatakan, Pak Komandan?
Komandan itu tak mengambil pusing Nyonya dan kemudian mendesak Juragan Musa:
Dengar, Juragan Musa. Daerah sini daerah paling kacau. Sudah kuusahakan bermusyawarah dengan orang-orang terkemuka di sini dan Pak Lurah, tapi apa buktinya? Bukti-buktinya: Juragan dan Pak Lurah sendiri pengkhianat rakyatnya sendiri. Juragan Musa berjanji mau bantu kami. Sebagai orang beragama, tidak layak memungkiri janji. Tidak layak berkhianat! Islam tidak mengajarkan dan mewajibkan pengkhianatan pada rakyat dan sesamanya. Juragan Musa dan Pak Lurah ikut bertanggungjawab atas peristiwa-peristiwa pembunuhan dan pembakaran, perampokan dan penganiayaan di daerah sini. Dengar…
Sekali lagi terdengar bunyi burung dari luar rumah, suatu isyarat yang disuarakan OKD, yang memberi alamat bahwa ada datang orang banyak.
Komandan itu meninjau kelilingnya. Dengan terburu-buru ia memberikan perintah suami-istri itu:
Sekarang gerombolan akan datang. Juragan Musa, Nyonya, perbuat seperti Juragan dan Nyonya perbuat terhadap Pak Lurah tadi. Gerak-gerik Juragan dan Nyonya kami awasi terus.
Setelah itu dengan lambaian tangan ia mengisyaratkan kepada anak buahnya untuk bersembunyi dan bersiap-siap.
Dari luar terdengar pelahan suara seseorang:
Assalamualaikum!
Juragan bangkit dari kursinya. Matanya liar tertebar ke kiri, ke kanan, dan ke belakang. Melihat gelagat yang tidak baik itu Nyonya buru-buru bangun. Orang-orang yang datang telah mulai masuk. Bersamaan dengan itu Juragan Musa bersiap-siap hendak lari. Tetapi Nyonya, yang tetap mengawasi gerak-gerik suaminya segera menangkap tangan Juragan Musa dan menarik-nariknya kembali ke tengah-tengah ruangan. Juragan Musa masih tetap berjuang. Maka masuklah gerombolan Juragan Musa. Mereka memandangi tamasya itu dengan terheran-heran. Akhirnya Juragan Musa berteriak histeris:
Lepaskan aku, setan!
Nyonya pun berteriak membalas:
Tak mungkin aku kau tinggalkan terlantar!
Juragan Musa menjadi mata gelap dan meraung:
Lepaskan!
Pak Kasan, yang tidak tahu duduk perkara yang sebenarnya, akhirnya menghampiri Juragan Musa sambil bertanya canggung:
Pak Residen, barangkali membutuhkan bantuanku, Dengan suara mendesis murka Juragan Musa menjawab, gagap:
Pecahkan kepala perempuan murtad ini!
Mendengar itu Pak Kasan terpaku termangu-mangu. Dengan mata membelalak ia tatap Juragan Musa untuk meminta keterangan lebih banyak. Tetapi sinar mata Juragan sudah demikian liarnya, sehingga tak mungkin orang mendapatkan jawaban daripadanya. Dengan diam-diam Pak Kasan menatap mata anak buahnya seorang demi seorang. Juga pada mata mereka tak terdapat jawaban apa-apa selain, keheran-heranan dan takjub. Nyonya masih juga menarik-narik lengan Juragan. Sedang Juragan sendiri dengan kepalannya memukuli muka istrinya. Tetapi Nyonya menahankan semua pukulan itu tanpa mengaduh.
Tiba-tiba Pak Kasan dapat menguasai dirinya kembali dan berkata dalam sikap resmi:
Pak Residen, tugas akan kami dahulukan. Laporan: Ranta tidak ada di rumah. Tas dan tongkat Pak Residen tak ada di sana. Rumah yang berkepentingan telah kami…
Sampai di situ Juragan Musa meraung gila:
Persetan dengan rumah yang berkepentingan!
Tetapi Pak Kasan yang mendapat tugas meneruskan tanpa peduli:
Kami bongkar pintu dan meneliti dalamnya. Tak terdapat apa-apa. Jadi rumah itu kami bakar…
Sejenak Juragan Musa lupa pada pergulatannya dengan istrinya. Dengan langkah seorang pembesar ia hampiri Pak Kasan dan meraung:
Lelucon! Apa aku suruh bakar rumah si Ranta?
Pak Residen sendiri menganjurkan: bakari rumah, perbesar perang urat-syaraf! Kami hanya jalankan tugas.
Juragan Musa melotot kejam dan menggertak histeris dengan seluruh suara yang dipunyainya:
Siapa kau maksud dengan Pak Residen?
Melihat gelagat yang tidak baik Pak Kasan beserta anak buahnya mundur-mundur sampai ke dinding. Tetapi Juragan Musa terus melangkah maju, dengan mata dan tubuhnya menetak tubuh dan mata Pak Kasan. Setelah tak dapat bergerak dari dinding untuk mundur lebih jauh lagi, Pak Kasan menghindarkan matanya dari pandang Juragan Musa dengan jalan menengok ke samping sambil menjawab:
Juragan Musa.
Juragan Musa mendengar:
Aku? Mulai kapan aku diangkat pemerintah jadi Residen?
Radangan itu membuat Pak Kasan meminta bantuan anak buahnya dengan pandang mata yang menghiba-hiba. Tetapi semua anak buahnya masih juga terbius oleh kejadian yang membingungkan itu.
Perkisaran kejadian itu membuat Nyonya terlena akan pegangannya pada lengan suaminya. Dengan tak disadarinya pegangannya dilepaskan. Kejadian yang sudah diperhitungkan itu dipergunakan oleh Juragan Musa sebaik-baiknya untuk segera membalik, melompat, dan melarikan diri. Tetapi baru saja ia keluar dari pintu depan ia jatuh mundur-mundur masuk kembali ke dalam ruang tamu. Matanya liar menggambarkan ketakutan, kekagetan, dan putus asa. Seperti binatang buas kehilangan senjatanya, ia jatuh tak berdaya di pojokan dan tinggal saja pada keadaannya, dengan nafas, terengah-engah dan terdengar nyata. Sejurus kemudian keluar dari mulutnya:
Astagafirullah halaadin.
Melihat hal demikian Pak Kasan menghampiri dan bertanya dengan nada seorang bawahan pada atasannya:
Sudah ingat, Pak Residen?
Dan diulurkan tangannya hendak menolong Juragan Musa. Tetapi tanpa diduga-duganya Musa menarik tangan itu kasar-kasar, sehingga Pak Kasan tertarik ke depan hampir-hampir terpelanting. Setelah berdiri, cepat-cepat Juragan Musa berbalik untuk menatap mata Pak Kasan. Kembali ia meraung:
Apa kau sudah hilang akal? Sudah berapa kali kau panggil aku Pak Residen! Setan!
Pak Kasan menebarkan pandangnya pada anak buahnya seorang demi seorang. Setelah yakin bahwa tak seorang pun akan membantunya berpikir atau memberikan saran maka diambilnya keputusan dan berkata kepada mereka:
Lebih baik kita pulang.
Seperti orang gila Juragan Musa mengembangkan kedua belah tangan menghadang Pak Kasan dan berkata keras-keras:
Pulang? Pulang ke mana? Ayoh, jelaskan padaku sekarang, aku bukan Residen. Bukan! Dan jelaskan juga aku tidak memerintahkan kau dan anak buahmu membakar rumah Ranta! Ayo! Ayo!
Kembali Pak Kasan kebingungan dan menatap anak buahnya minta pertimbangan. Juga sekali itu mereka tak mampu mengerti apa sesungguhnya yang terjadi atas diri Juragan Musa. Karena tak mendapat nasihat apa-apa, akhirnya Pak Kasan memberanikan diri mengambil komando pada tangannya sendiri:
Ayo, kita berangkat sekarang.
Dan dengan itu ia singkirkan Juragan Musa yang menghadang jalannya.
Pada waktu itulah Komandan dengan disertai oleh para prajurit keluar dari persembunyiannya masing-masing dengan senjata telah diacukan ke tubuh mereka masing-masing. Komandan menggertak:
Angkat tangan! Menyerah!
Pak Kasan dengan sigap melompat keluar pintu, tetapi sebagaimana juga halnya Juragan Musa, ia terpelanting masuk ke ruang tamu kembali. Para prajurit menguasai mereka semua. Kemudian Komandan memberi isyarat pada salah seorang di antara anak buahnya. Yang mendapat isyarat segera mengeluarkan tali dan mengikat mereka seorang demi seorang.
Sunyi senyap sejenak. Pada paras para prajurit tergambar kepuasan dan sukacita. Salah seorang di antara para prajurit berkata:
Amanlah daerah sini sekarang.
Tiba-tiba muncul Ranta dari pintu depan dan menatap tangkapan itu seorang demi seorang. Komandan pada gilirannya mengawasi kelakuan Ranta dengan penuh pikiran. Akhirnya Ranta pun menatap para prajurit itu dan pada matanya terlukiskan terima kasih yang tulus ikhlas.
Tanpa diduga-duga oleh semua orang Ranta menggeleng-gelengkan kepala dan pada wajahnya terlukis rusuh hatinya.
Komandan menghampirinya dan bertanya:
Kami berterimakasih padamu, Ranta. Atas nama Tentara dan Pemerintah, kami pun mengucapkan terima kasih pada jasamu… Ranta hanya menggelengkan kepala. Melihat itu segera Komandan mendesak dengan pertanyaan yang bersungguh-sungguh: Mengapa, Ranta? Nampaknya kau tak bersenang hati.
Ranta menengadahkan mukanya memandangi gambar-gambar di dinding dan setelah mengeluh berat ia berkata lambat-lambat setengah memperingatkan:
Memang dengan tertangkapnya orang-orang ini daerah kita menjadi aman, Pak. Tapi sampai berapa lama? Sambil menunjuk tangkapan-tangkapan ia meneruskan: Orang-orang ini takkan jera-jeranya mengacaukan keamanan kita. Mereka tidak sendirian, mereka akan membalas dendam. Terutama abdi yang akan dimusuhi mereka, Pak.
Tiba-tiba semua mata ditujukan ke arah pintu depan. Tiada jauh terdengar bunyi tembak-menembak, semua orang, terkecuali para tangkapan, menatap Komandan untuk meminta keterangan dengan matanya.
Komandan tersenyum puas, kemudian menerangkan:
Gerombolan Pak Lurah sudah disergap. Habis riwayat pengacauan di sini. Memang benar, kau, Ranta, mereka takkan tinggal diam. Mereka akan membalas dendam. Tapi aku ada pikiran… bagaimana kalau kau kuangkat jadi lurah, sampai diadakan pemilihan lurah baru?
Ranta menunduk. Wajahnya berseri-seri. Dari mulutnya terdengar kata-katanya yang mengambang antara harapan, keyakinan, dan kecemasan:
Apalah abdi ini, Pak?
Pada saat itulah Juragan Musa mengawasi Ranta dengan sengit dan nafsu pembalasan dendam yang berkobar-kobar. Tetapi tanpa disadarinya Komandan mengetahui hal itu. Akhirnya, dengan sengaja untuk menyengitkan hati Juragan Musa, Komandan itu meneruskan sambil menatap Juragan Musa:
Aku percaya padamu, Ranta. Mulai hari ini kau jadi lurah sini. Kau harus ikut jaga keamanan dengan kami. Sudah, jangan bantah.
Pelahan-lahan orang-orang itu pun keluar dari ruang tamu Juragan Musa, para tangkapan di depan, para prajurit di belakang. Yang penghabisan sekali adalah Ranta. Waktu Ranta hendak melangkah keluar, masuklah Rodjali. Kedua-duanya berpandang-pandangan sebentar. Kemudian Rodjali menundukkan kepala dan berkata lambat-lambat:
Aku girang mendengar kau diangkat jadi lurah.
Ranta mengawasi orang itu dengan curiganya. Tanpa menjawab kata-katanya, Ranta melangkah keluar dengan mata terus mengawasi Rodjali, kemudian ia pun hilanglah dari pemandangan.
Rodjali pun pergi keluar.
Tinggallah kini Nyonya duduk seorang diri di kursi. Sebentar ia menghapus matanya dengan lengan kebayanya, kemudian ia telungkupkan mukanya di atas meja. Sunyi senyap di luar rumah. Akhirnya ia bangkit berdiri, mengecilkan lampu, menuju ke pintu kamar, menyandarkan tubuh depannya pada daun pintu dengan telapak tangan menepuk-nepuk putus asa pada bagian atas daun pintu. Tanpa diduga-duganya daun pintu melesit terbuka sehingga tanpa dikehendakinya ia terjerumus masuk ke dalam kamar.
III
Jam tujuh pagi sekarang.
Sinar matahari pagi! melalui jendela dan pintu jatuh di, lantai, di meja, dan lemari serta dinding ruang tamu Juragan Musa. Ruang tamu itu sendiri sunyi senyap. Tetapi dari bagian belakang rumah datang bunyi-bunyian berbagai macam: Istri Ranta yang memanggil ayam, orang mengampaki kayu bakar, beberapa anak kecil tertawa-tawa gembira dibarengi dengan kerait katrol sumur yang sedang dipergunakan menimba.
Setelah suara mengampaki kayu tak terdengar lagi, terdengar suara Ranta:
Nah, cukup buat masak seminggu.
Segera kemudian terdengar orang mandi—suaranya sayup-sayup, namun masih juga jelas karena kesenyapan pagi itu.
Tidak lama kemudian muncul Ranta di ruang tamu dengan masih berkalung anduk bersih. Dari rambut, baju, dan celana dalam yang dipakainya serta dari rambutnya yang basah menandakan bahwa ia baru habis mandi. Setelah meninjau ruang tamu sebentar ia korek-korek kupingnya dengan jari kelingking yang terbungkus dengan ujung anduk. Kemudian ia menghilang lagi melalui pintu dalam.
Setelah sunyi senyap sebentar dan hanya terdengar kokok ayam betina, masuklah dalam ruang tamu itu Rodjali, bercelana piama putih yang terbuat dari poplin, berpeci, berbaju kaos kutang, dan berkalung sarung pelikat yang jatuh di belakang punggung. Langsung ia masuk ke dalam rumah melalui pintu depan, dan keluar lagi membawa topo dan mulai mengelapi perabot. Pada waktu ia hendak keluar ruang tamu melalui pintu depan, setelah pekerjaannya selesai, muncul Ranta yang bersarung, tanpa sandal dan berbaju piama, yang menuju langsung ke sice, kemudian duduk, dan memanggil kembali Rodjali. Setelah Rodjali duduk di hadapannya mulai ia berkata:
Djali, maafkan kekhilafanku. Dahulu aku curigai kau. Ternyata kau pembantu utama. Tanpa kau tak dapat perusuh-perusuh itu digulung.
Dan tanpa menunggu jawaban, langsung ia bertanya dengan nada lain: Bagaimana pendapatmu tentang desa kita sekarang?
Ah, Pak Lurah, tanpa kutanyai, orang-orang sudah bilang: keadaan sekarang sudah mulai baik benar.
Ranta tertawa gembira. Menambahi:
Omong kosong. Mereka tidak tahu. Besok atau lusa gerombolan akan datang lagi mengobrak-abrik kita.
Nampak Rodjali terkejut. Dengan mata membelalak ia pandangi Ranta minta penjelasan. Tetapi Ranta hanya menggeleng. Akhirnya dengan mulutnya Rodjali bertanya:
Nasib kita akan lebih buruk kalau mereka membalas dendam. Sambil bangkit dari kursi Ranta membantah:
Tidak, kalau kita bersatu.
Biar bersatu, mereka punya senjata.
Tidak, kita bersatu dan juga melawan, bahkan menyerang. Ah, Djali, kau berpikir secara dulu juga seperti yang lain-lain. Begini Djali, kalau ada persatuan, semua bisa kita kerjakan, jangankan rumah, gunung dan laut bisa kita pindahkan.
Sejenak Rodjali berseri-seri, kemudian bertanya:
Dan kemiskinan kita?
Itu juga mudah kita lawan. Persatuan saja modalnya. Pertama-tama kita mesti jadi sahabat dan saudara satu dengan yang lain. Kau ingat saluran air sawah yang dangkal dan ditumbuhi semak-semak sejak zaman Jepang dulu? Nah, kalau ada persatuan, kita akan gali beramai-ramai, kemudian sawah kita akan makmur lagi.
Kemudian dengan irama mendongeng Ranta bercerita:
Kalau kita semua tidak mau bersatu, kita semua akan berkelahi terus-menerus satu dengan yang lain. Apa akhirnya? Akhirnya barangsiapa kuat, dia berubah menjadi binatang buas. Tiap hari dia mangsa hidup kita, rezeki kita, anak dan bini kita, kebahagiaan kita, semua-muanya. Binatang-binatang buas ini menarik diri, tidak mau bergaul dengan sesamanya. Mereka keluar dari sarang hanya untuk cari mangsa. Tapi bila sekali waktu binatang buas ini bertemu dengan binatang buas lainnya, kita semua disuruhnya membantu. Orang-orang lemah yang tidak bisa jadi binatang buas, barang ke mana pergi, dia tetap akan menjadi mangsa.
Barang apa dikerjakannya, dia tetap akan jadi mangsa. Kau dengar, Djali?
Abdi dengar, Pak Lurah. Tapi abdi lebih percaya pada kebenaran.
Kau belum banyak makan garam, Djali. Dengar. Aku sudah pernah lihat Palembang, Surabaya, Jakarta, Bandung. Di mana-mana sama saja. Di mana-mana aku selalu dengar: Yang benar juga akhirnya yang menang. Itu benar. Benar sekali. Tapi kapan? Kebenaran tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar…
Sedang mereka asyik mempercakapkan “filsafat”, masuk Komandan diiringkan oleh tiga orang prajurit. Pada wajah Komandan itu tergambar senyum puas. Segera ia menegur Pak Lurah:
Apa kabar, Pak Lurah?
Ranta dan Rodjali, yang sedang tenggelam dalam filsafatnya tak menyadari akan kedatangan mereka, karena itu teguran itu membuat mereka terkejut. Pak Lurah terlonjak, kemudian berlari-larian menyilakan tamunya, sedang Rodjali membungkuk cepat-cepat memberi hormat dan kemudian keluar dari ruang tamu.
Berkah, Pak, berkah!
Tanpa menunggu suatu pembukaan, Komandan langsung menceritakan maksud kedatangannya dengan nada tidak kemiliter-militeran, seperti tidak dalam dinas dan seperti pada seorang tamu di rumah sendiri:
Begini, Pak Lurah. Kami mendapat laporan, gerombolan Oneng sudah ada di sekitar daerah kita ini. Pak Lurah sendiri tahu, kekuatan tentara di sini tidak besar. Maksudku, barangkali Pak Lurah bisa kasih bantuan mempertahankan keamanan daerah ini, tentara bersama rakyat. Dan seboleh-boleh jangan sampai ada jatuh korban.
Ranta merenung-renung sebentar, sementara Komandan itu menunggu jawaban. Akhirnya dengan pelahan-lahan, Ranta menerangkan: Begini, Pak Komandan, jelek-jelek abdi punya juga pengalaman pertempuran. Abdi pernah jadi Heiho1 zaman Jepang. Waktu marine Belanda mendarat di daerah ini, seorang diri abdi pernah binasakan dua atau tiga truk pasukan musuh. Tidak ada orang yang tahu sampai sekarang ini. Tentang gerombolan Oneng, sudah lama memang abdi pikirkan bagaimana menghancurkan mereka. Tetapi…
Mendengar itu nampak Komandan bergirang hati. Bertanya:
Jadi, bagaimana saranmu?
Dengan sungguh-sungguh Pak Lurah menyarankan:
Kita persatukan rakyat, kita lawan musuh bersama-sama. Kita pergunakan bambu untuk ranjau-ranjau. Kita pergunakan tong-tong di tiap rumah untuk menyampaikan berita dan mengerahkan rakyat untuk melawan musuh bersama.
Komandan menengahi:
Maksudmu gotong royong?
Tentu, Pak. Cobalah pikir. Pak, kami di sini hanya tahu tanah dan pacul. Mereka punya senjata dan gerombolan. Kalau kita tidak mau bersatu, tidak mau gotong royong, apa yang kami bisa perbuat dengan cuma tahu tanah tahu pacul ini!
Kembali Komandan menengahi:
Jadi apa mesti kita perbuat, Pak Lurah.
Pak Lurah Ranta menjawab tegas:
Begitulah, Pak. Kita bersama-sama bergotong royong membuat pertahanan, jebakan, ranjau-ranjau. Jalanan di sini tidak banyak.
Kembali Komandan menengahi:
Yakin benar Pak Lurah, kalau kita bakal menang?
Dengan serta-merta Pak Lurah menyambut:
Abdi, mah, kenal daerah sini, Pak. Biar abdi urus, Pak. Percaya sajalah. Kalau sudah beres, nanti abdi menghadap bapak.
Komandan itu mengangguk menyetujui, walaupun pada wajahnya nampak keragu-raguan. Setelah mengangguk lagi, ia meninggalkan ruang tamu rumah Juragan Musa dan pergi dalam iringan para pengawalnya.
Pak Lurah mengantarkan mereka sampai di pintu depan. Kemudian berseru memanggil-manggil:
Djali! Djali!
Dari kejauhan terdengar jawaban:
Ya, Pak.
Sini, cepat!
Kemudian dengan masih menghadapi pintu Ranta meneruskan:
Panggilkan orang-orang kita. Cepat! Kalau tidak mereka akan dahului kita.
Kemudian dengan bergegas Ranta membalik, melintasi ruang tamu dan masuk ke dalam. Sebentar setelah itu ia muncul kembali, bercelana panjang, berbaju piama, dengan berselimpangkan tali revolver, sedang revolver itu sendiri terselitkan pada ikat pinggang di bagian perut. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu sambil memikir dalam-dalam, akhirnya berkomat-kamit:
Mereka harus diajar lebih cepat, lebih gesit. Kalau tidak segala-galanya tinggal sesalan, kehancuran.
Pada waktu itulah Nyonya Musa masuk ke ruang tamu dari pintu kamar samping dan langsung duduk di kursi sice. Tanpa membuang-buang waktu dengan kepala tertunduk ia memulai:
Pak Lurah, hari ini aku mau kembali ke Sukabumi,:
Ranta berhenti di tengah-tengah ruangan, dan tanpa menengok pada Nyonya, ia menyambut:.
Baiklah, Nyonya. Rumah ini tidak akan rusak atau kehilangan prabotnya. Kalau Nyonya datang kembali, semua masih dalam keadaan utuh. Tapi, ngomong-ngomong, Nyonya, bagaimana perasaan Nyonya sekarang?
Terdengar nyata Nyonya menghela nafas panjang, kemudian baru menjawab:
Aku kira sama sajalah dengan perasaan perempuan-perempuan lain kalau ditinggalkan suaminya. Dan tentang aku sendiri—ditinggalkan dalam keadaan bagaimana!
Ranta menghapus keningnya untuk mengisi hatinya yang kosong karena tak dapat menghibur hati Nyonya.
Sunyi senyap seketika. Istri Ranta datang menghampiri dari pintu dalam. Melihat kedatangannya itu segera Nyonya meneruskan:
Istri Pak Lurah bisa cerita, kalau suatu kali Pak Lurah juga mengalami apa yang dialami suamiku… Ah, tidak, ini bukan ancaman.
Ranta mengawasi Nyonya sebentar, kemudian berkata:
Tentu saja bukan ancaman. Nyonya, bagaimana sekarang pendapat Nyonya tentang suami Nyonya?
Nyonya mempermain-mainkan ujung jarinya sambil dengan ragu-ragu menjawab:
Kalau dia DI, tentu saja dia mesti ditangkap. Tapi Pak Lurah jangan lupa, bagaimanapun juga, dia suamiku.
Pak Lurah Ranta menyambar:
Nah, itulah Nyonya, justru karena suami Nyonya itulah aku bertanya: setujukah Nyonya suami Nyonya masuk DI?
Nyonya ragu-ragu sebentar, kemudian menjawab:
Kalau aku tahu jauh sebelumnya, mungkin aku bisa mencegahnya berbuat begitu. Aku kira, tak ada di antara orang baik-baik, yang tidak mengutuk DI. Tetapi Pak Lurah jangan lupa, seorang istri wajib membela dan membantu suaminya.
Tentu, Nyonya. Tetapi bagaimana pendapat Nyonya tentang perlakuan suami Nyonya pada saat-saat terakhir?
Aku akui, Pak Lurah, dia telah tempelengi aku. Pria sejati takkan berbuat seperti itu terhadap istrinya. Tetapi mungkin juga karena sikapku sendiri yang kurang tepat. Dia selamanya begitu baik.
Aku kira, dia tidak sebaik Nyonya sangka.
Ah, Pak Lurah, aku tak tahu apa yang diperbuatnya di luar rumah.
Itulah, Nyonya, aku mau terangkan kepadamu, dari mana dia dapat kekayaannya itu.
Kekayaan warisan, bukan?
Sama sekali tidak. Kami kenal Juragan Musa. Dulu dia semiskin aku dan kami semua di sini. Zaman Jepang dia jadi wèrek roomusya. Barangsiapa pergi, disuruhnya kasih cap jempol. Ternyata cap jempol itu merampas tanahnya. Nah itulah cerita mula-mula dia jadi tuan tanah. Dia mengangkat diri sendiri jadi Juragan. Itu belum semua. Kemudian orang-orang yang semiskin aku dipaksanya jadi pencuri!
Maling? Maling benar-benar?
Ya, maling benar-benar, nyolong benar-benar. Kan nyonya sendiri tahu bagaimana aku dipukuli di serambi rumah ini.
Jadi?
Jadi aku dipaksanya jadi maling.
Maling apa?
Maling apa? Bibit karet, bibit teh.
Nyonya melotot heran menatap Pak Lurah Ranta, menggeleng dan membantah:
Tidak mungkin!
Ah, Nyonya, aku tidak memaksa Nyonya percaya.
Mengapa Pak Lurah dulu dipukuli di serambi situ?
Nah, itulah akal dia. Sesudah aku nyolong untuknya, dia dakwa aku nyolong bibitnya.
Mengapa mesti begitu?
Nyonya tidak mengerti?
Nyonya menggeleng. Ranta tertawa pendek. Kemudian meneruskan:
Begini, Nyonya, suami Nyonya tak mau beri aku upah. Jadi dia usir aku dengan dakwaan. Kalau tidak salah sudah banyak orang didakwa Juragan Musa mencuri barang-barangnya, bukan? Tapi apa gunanya bagi orang semacam aku ini nyolong bibit karet!
Dengan nada menyerang Nyonya menetak:
Mengapa Pak Lurah mau?
Mengapa aku mau? Ya, Allah, Nyonya. Sungguh-sungguh Nyonya tidak mengerti? Biar aku dongengi.
Dongeng?
Ya, dongeng. Dongeng sesungguhnya. Dengar: waktu kita masih kecil, kita semua dapat makan dan perlindungan dari orang tua, atau walinya. Kemudian, Nyonya, setelah kita dewasa kita harus berdiri sendiri, kita seboleh mungkin harus jadi pelindung. Tapi apa nyatanya, Nyonya? Setelah pelindung tidak kita butuhkan, kita memasuki dunia yang sama sekali baru, dunia manusia Nyonya, yang isinya penuh dengan binatang buas berkulit orang. Kulitnya saja kulit orang, tapi adatnya, tingkah lakunya, semuanya sama dengan binatang buas. Barangsiapa lengah, dikunyahnya. Barangsiapa lena, diterkamnya. Aku hanya contoh saja daripada mangsa yang lemah, lengah, dan lena. Karena kebuasannya aku dipaksa jadi maling untuk memenuhi kebutuhannya.
Bodohnya. Kan Pak Lurah sudah dewasa?
Dewasa? Hah! Memang, Nyonya, tapi kebuasanku tidak ikut jadi dewasa. Kalau itu dinamakan kesalahan, ya, itulah kesalahanku.
Jadi suamiku termasuk binatang buas?
Korban-korbannya tentu akan mengiyakan.
Nyonya menghindarkan pandangnya dari Ranta. Nampak suatu kekesalan tergambar pada wajahnya. Setelah melihat ke pintu depan tiba-tiba ia bertanya:
Pak Lurah dendam?
Pada suami Nyonya?
Ya.
Kalau cuma soal dendam, Nyonya, percayalah, sudah lama dia jatuh dalam cengkeramanku.
Senangkah hati Pak Lurah dia ditangkap?
Kesenangan sang kancil melihat macan ditangkap pemburu, Nyonya.
Apa untungnya kesenangan ini?
Setidak-tidaknya bisa jadi Lurah.
Lurah darurat, Nyonya, menunggu ada yang dipilih.
Keduanya berdiam diri. Masing-masing menunduk. Dari luar terdengar seseorang berseru-seru kemudian bertanya:
Mana yang lain-lain?
Ah, sebentar lagi juga datang.
Seseorang mendehem.
Seseorang batuk-batuk.
Nyonya membuang pandangnya ke arah pintu depan, kemudian dengan nada mengeluh berkata:
Begitu cepat rumah ini menghabisi kebahagiaanku.
Ranta menatapnya dan menyela:
Nyonya, begitu lama rumah ini menindas kami. Nampak Nyonya amat berang hati mendengar itu, dan dengan sekaligus menyambut:
Jadi, Pak Lurah beranggapan, kebahagiaan kami, kami dapat dari penindasan atas pendudukan desa ini?
Pak Lurah tertawa pelahan. Dan sambil bangkit berdiri mengangguk dan mengiyakan:
Kata-kataku tadi tak perlu dibetulkan Nyonya. Dan kata-kata Nyonya sungguh tepat! Kapan Nyonya mau berangkat?
Nyonya menahan kemarahan dan kejengkelannya. Tapi ia tak menjawab dan mencoba menutupi kemarahan dan kejengkelannya dengan gerak-gerik yang kikuk. Ia bangkit dari kursi dan meninggalkan ruang tamu masuk ke dalam melalui pintu dalam.
Dari kursinya Lurah Ranta berseru:
Ayoh, masuk, kawan-kawan!
Beberapa orang masuk ke dalam dengan berkalung sarung tenunan, berpeci, tanpa alas kaki. Semua bercelana hitam kolor di bawah lutut tetapi sebagian dari mereka berbaju kaos buntung dan sebagian lagi berbaju teluk belanga. Seorang telanjang dada. Mereka semua berdiri di hadapan Pak Lurah, menunggu perintah.
Pak Lurah tersenyum puas. Berkata:
Jadi sudah datang semua. Bagus. Nah, saudara-saudara, kalian semua ketua Rukun tetangga. Rukun tetangga di sini didirikan buat bantu pemerintahan desa, dan pemerintahan desa dipulihkan buat bantu saudara semua. Kita cuma tahu bantu-membantu, gotong royong, gugur gunung, kerja bakti, bersaudara, satu dengan yang lain, satu dengan semua, semua yang satu. Semua itu saudara-saudara sudah hafal. Nah, sekarang ada soal penting. Dengarkan baik-baik: Gerombolan akan datang menyerang lagi. Tentara yang ditempatkan di desa terpencil ini cuma sedikit. Kita semua harus ikut melawan.
Salah seorang di antara para pendatang itu menengahi:
Apa salahnya kalau kita dapat senjata?
Dengan suara keras karena kejengkelan tertahan Pak Lurah segera menyumbat mulut orang tersebut dengan kata-kata:
Apa salahnya? Mengapa mesti apa salahnya? Kita semua tahu, kita mesti melawan. Kalau kita tidak melawan seperti selama ini, kita dibunuhi, dibakari, seperti kucing! Melawan atau tidak, mereka mau binasakan kita. Karena itu kita mesti melawan! Kalau kita susun perlawanan kita baik-baik, kita pasti menang. Nah, siapa keberatan?
Seorang tua, yang sudah berjenggot dan berkumis putih, menyambut sambil tertawa:
Memang. Kita tak bisa mengandalkan diri pada tentara dan OKD saja. Kita sendiri mesti belajar mempertahankan keselamatan kita sendiri. Bukan saja dari keganasan gerombolan, juga dari kemiskinan dan bencana alam.
Ranta menunjuk pada orang tua itu dan berkata membenarkan:
Tepat! Dengar kawan-kawan, perhatikan dia!
Dan orang tua itu meneruskan:
Kalau kita tak bisa seorang diri pertahankan keselamatan kita, nah, kita kerja beramai-ramai. Coba perhatikan, turun-temurun kita hidup morat-marit. Kenapa? Karena tidak mengerti, kalau kita bersatu, bersama-sama kerja, bersama-sama bela diri, sebenarnya kekuatan kita jauh lebih besar. Semua saja bisa kita kerjakan. Jangankan waduk buat seluruh desa kita, biar penjajah bisa kita usir!
Untuk membatasi kata-kata orang tua itu Ranta segera angkat bicara lagi:
Barangkali itu bisa dipercakapkan lain kali. Sekarang ada soal yang lebih penting, lebih mendesak: Gerombolan akan datang menyerang. Mungkin besok, mungkin lusa, mungkin hari ini juga.
Mendengar keterangan itu semua yang hadir menegangkan perhatian mereka. Beberapa orang nampak agak gugup. Melihat hal itu segera Ranta menenangkan hati mereka:
Dengar, kalian tak perlu takut. Kalian punya anak buah. Satu-satunya yang menyelamatkan kita semua cuma persatuan, persaudaraan. Jadi, pulanglah sudara ke tempat masing-masing. Pasang ranjau-ranjau bambu terpendam di tempat-tempat yang bakal dilewati gerombolan. Panah dan sumpit bagikan pada semua orang, laki, perempuan, tua, muda, semua sebaiknya ikut membantu. Nanti sore aku akan datang ke tempat sudara-sudara, ikut mengatur. Nah, sekarang, pulanglah. Jangan pikirkan yang lain-lain, selain menumpas gerombolan. Kalau gerombolan dapat dihalaukan dari tempat ini, baru kita bisa bekerja dan hidup dengan aman.
Orang-orang mulai bergerak hendak pulang. Tiba-tiba Nyonya masuk ke dalam ruang tamu membawa koper. Semua orang memandang kepadanya. Dan Ranta sendiri berpaling kepadanya dan bertanya:
Tapi belum ada truk tentara berangkat, Nyonya. Biarlah Djali pergi ke markas, bertanya kapan truk berangkat.
Maaf, bukan maksudku hendak mengganggu perundingan ini.
Para pendatang berunding satu sama lain dengan bisik dan kelasak-kelusuk. Melihat gelagat seperti itu Nyonya merasa tersinggung. Dengan langsung ia berkata:
Janganlah anggap aku mau mengkhianati kalian.
Mendengar itu nampak para pendatang itu merasa tersinggung, malu, dan tak bersenang hati. Tanpa diduga-duga pendatang tua itu menyambut:
Nyonya, kami tidak akan ambil peduli Nyonya mau berkhianat atau tidak. Tapi kami harus segera menyelamatkan hidup dan daerah kami. Cuma itu.
Nampak Nyonya menjadi demikian tersinggung sehingga kelihatan kegugupan menjalar pada tangan yang memegangi kopernya. Tetapi ia tak bicara apa-apa, dan tanpa meminta diri, ia pun keluar dari ruang tamu melalui pintu depan. Nampak benar koper itu seakan-akan menjadi lebih berat. Ranta berlari-larian hendak menolong membawakan, tetapi tak lama ia meninggalkan ruang tamu, ia sudah balik kembali, disambut dengan mata bertanya-tanya oleh para pendatang. Pandang-pandang mata bertanya itu memaksa Ranta memberikan keterangan:
Jangan gusar. Dia sedang kebingungan karena suaminya ditangkap. Aku kira istri sudara-sudara juga akan seperti dia kalau sudara-sudara ditangkap. Nah pulanglah, siapkan pertahanan persatuan.
Para pendatang pergi beramai-ramai.
Ranta mengantarkan mereka sampai keluar pintu. Kemudian ia masuk kembali membawa seorang prajurit. Prajurit itulah yang dengan nada resmi memulai:
Pak Lurah…
Tetapi Ranta menengahi:
Silakan duduk, Pak.
Tidak perlu, Pak Lurah, terima kasih. Hanya menyampaikan, tak ada di antara penduduk sini diperbolehkan meninggalkan desa ini. Gerombolan memusatkan kekuatannya pada tiga jalan besar yang menghubungkan desa ini. Jangan sampaikan kepada orang lain.
Kemudian ia memberi saluir secara militer dan bergegas pergi melalui pintu depan. Belum sampai prajurit itu duduk dan pergi lagi melalui pintu depan, Ranta telah berseru-seru:
Djali! Djali!
Seruan itu membuat prajurit itu berpaling dan berhenti, di depan pintu, bertanya:
Ya?
Dari kejauhan terdengar jawaban Rodjali.
Prajurit itu bertanya:
Ada apa, Pak Lurah?
Ranta menggeleng, menjawab:
Memanggil Rodjali, Pak. Tidak apa-apa.
Prajurit meneruskan jalannya dan hilang di balik pintu.
Dari pintu dalam muncul Rodjali, yang langsung menghadap Ranta:
Ya, Pak.
Ha, Djali. Susul Nyonya, ya. Bilangkan dia mesti kembali. Tak ada satu orang boleh tinggalkan desa ini. Lari, cepat!
Tanpa menjawab Djali pergi melalui pintu depan.
Baru saja Ranta hendak duduk, masuk pula Yang Pertama dari pintu depan sambil mengangkat topi capionya dan menegur:
Ha, Pak Lurah! Apa kabar, Pak?
Ranta tak menjawab, hanya tersenyum ramah dan bertanya kembali: — Ada urusan apa nih?
Yang Pertama duduk di kursi dan setelah menebarkan pandang ke keliling memulai:
Begini, Pak… Ehemm, bagaimana urusanku Pak?
Nampak Ranta agak terkejut. Matanya ditebarkannya ke seluruh dinding, kemudian mengangguk mengiyakan dan berkata:
Tak ingat aku. Terlalu sibuk. Ngomong-ngomong urusan kemarin juga nih?
Begini, Pak… Mau ke Jakarta nih.
Urusan penting?
Begitulah.
Naik apa?
Biasa. Numpang truk militer.
Kalau tak ada.
Biasa, jalan kaki sampai Pelabuhan Ratu.
Begini, ya. Baru tadi datang perintah, tak ada seorang pun diperbolehkan meninggalkan desa ini.
Ah, Pak Lurah ini, dulu kan aku yang doakan biar jadi Lurah? Masa sama aku sekarang begitu, Pak Lurah?
Ranta tersenyum dalam usahanya untuk menindas kejengkelannya. Sebelum mendapat kesempatan untuk menerangkan soalnya, Yang Pertama sudah meneruskan:
Dulu kita sama-sama miskin, Pak Lurah. Masak sekarang sudah lupa sama aku? Kan dulu aku ikut mengantarkan, Pak Lurah lapor sama Pak Komandan? Ah-ah-ah.
Yang Pertama mengunci kata-katanya dengan senyum pandang minta diistimewakan. Tetapi senyum itu dengan mendadak dipotong oleh Ranta dengan kata-kata yang dipilihnya dengan hati-hati:
Memang aku tak pernah melupakan jasa-jasamu. Tapi soalnya begini. Aku dipilih jadi Lurah sementara buat mengatur kesejahteraan desa ini, termasuk kesejahteraan kalian. Aku jalankan peraturan-peraturan dari atasan. Kalau tidak ada peraturan, dengarkan baik-baik, kalau peraturan tidak ada, semua bakal kacau-balau. Aku harap engkau mau mengerti.
Yang Pertama menukas dengan kata-kata tangkas:
Akur, Pak Lurah, tapi kalau aku tak bisa pergi ke Jakarta hari ini, nasibku lebih kacau-balau lagi.
Dengar! Dengar! Kalau kau pergi ke Jakarta juga, nasibmu mungkin lebih kacau-balau daripada sangkamu.
Dengan nada yang memperlihatkan hatinya yang tak senang Yang Pertama berkata:
Pendeknya, Pak Lurah tak mau kasih surat keterangan.
Begitulah ceritanya.
Kalau begitu aku pergi tanpa keterangan.
Lebih baik jangan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Yang Pertama pergi meninggalkan ruang tamu dan hilang di balik pintu depan.
Dari tempat duduknya Ranta berseru-seru sambil berdiri:
Dengarkan aku! Jangan pergi. Demi keselamatanmu sendiri.
Tak berjawab. Ranta menggeleng sambil berkecap, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah melalui pintu dalam. Sunyi senyap sejenak. Sinar matahari telah jauh merangkak ke dinding tengah melalui lubang jendela. Dari kejauhan terdengar orang menyanyi “Kembang Beureum”. Tetapi sebelum nyanyian itu selesai, Rodjali telah masuk ke ruang tamu sambil melihat ke kiri dan ke kanan. Waktu dilihatnya Pak Lurah tak ada barulah ia berseru-seru:
Pak Lurah! Pak!
Dari dalam rumah terdengar sahutan pelahan. Rodjali maju sampai ke tengah-tengah ruangan kemudian berhenti. Mengulangi panggilannya:
Pak!
Ranta muncul di lubang pintu dan langsung menegur:
Bagaimana Nyonya. Sudah dibilangi?
Sudah, Pak, tapi tak mau dengar.
Di mana dia sekarang?
Di pinggir jalan, di bawah pohon duren, di tepi jurang itu, Pak. Tunggu truk tentara, katanya.
Sudah sejauh itu?
Ya, Pak.
Apa katanya?
Rodjali menggaruk-garuk kepala, tak tahu apa mesti dikatakannya. Melihat kebingungan menguasai diri Rodjali, Ranta segera memberanikan hatinya:
Ayoh, Djali, mengapa mesti takut?
Rodjali memperhebat garukan pada kepalanya. Dengan ragu-ragu ia mulai berkata, patah demi patah:
Aku takut, Pak Lurah.
Mengapa?
Aku tahu, jawabannya akan menyakiti hati Pak Lurah.
O, itu aku tahu benar. Jadi, apa katanya?
Katanya, katanya. ‘Ah, si Ranta, apa sih dia? Aku kan lebih pintar? Aku kan lebih pandai dari dia? Aku keluaran SKP. Dia? Menulis saja hampir-hampir tak dapat!’ Jangan gusar padaku, Pak Lurah.
Lantas kau bilang apa?
Aku bilang, soalnya bukan pintar atau pandai, Nyonya. Soalnya kewajiban. Pak Lurah wajib menyampaikan kepada Nyonya, Nyonya hendaknya membatalkan perjalanan. Tapi dia malah marah padaku.
Ranta tertawa senang. Tertawa Pak Lurah itu memberanikan Rodjali, sehingga tanpa takut-takut lagi ia meneruskan:
‘Hih! Kau sudah pintar sekarang, ya? Apa terimakasihmu padaku sekarang? Berbulan-bulan kau kukasih makan! Apa terimakasihmu? Mengkhianati suamiku,’ katanya!
Ranta tertawa sambil menengahi:
Sungguh terlalu. Apa jawabmu?
Gampang saja, Pak Lurah. Begini: ‘Mengkhianati pengkhianat bukan pengkhianatan Nyonya.’ Lantas Nyonya saya pinta supaya kembali lagi. Tapi tak juga mau. Katanya: ‘Aku tahu truk militer tak mau bawa aku ke Sukabumi. Tapi truk, pertambangan masih banyak yang bakal lewat. Truk pengangkut singkong dan kayu juga,’ katanya. Jadi pulang sajalah Rodjali ini, Pak Lurah.
Sendirian dia di sana?
Sama siapa lagi?
Susul lagi, Djali. Keadaan tak aman. Dia diminta kembali.
Dengan mata mengimpi Rodjali menatap Pak Lurah. Tapi ia tak membantah. Setelah menyeka keringat pada kening dan tangan dengan lengan baju, ia pergi melakukan perintah.
Ranta berkata pada diri sendiri:
Ada-ada saja orang-orang ini. Biarlah. Nanti mereka akan percaya juga padaku.
Dari dalam rumah terdengar suara istri Ranta:
Masih banyak urusan, Pak?
Ranta menengok ke arah pintu dalam dan menjawab:
Sedang sepi. Ada apa?
Kembali dari dalam rumah terdengar suara istrinya:
Belum lapar?
Masih juga dalam sikapnya dan di tempat semula Ranta membalas dengan pertanyaan:
Memangnya sudah beres semua di belakang situ?
Sekarang muncul istrinya di ambang pintu dalam:
Beres semua sih, belum. Tapi kalau sudah lapar kan lebih baik makan dulu. Nanti tidak keburu makan lagi.
Baru saja Ranta hendak masuk ke dalam, seorang prajurit masuk dan langsung menegur:
Mau ke mana, Pak.
Nampak Ranta amat terkejut dan segera membalikkan badan menghadapi tamu baru. Sebelum ia dapat menyilakan tamunya, prajurit itu telah meneruskan:
Menyampaikan perintah dari Pak Komandan, Pak Lurah. Diharap pertahanan rakyat dipercepat. Di luar sudah menunggu beberapa orang prajurit dan OKD untuk membantu pertahanan rakyat.
Ranta menghapus mukanya dengan tangan sambil menjawab langsung:
Baik. Mari berangkat.
Keduanya bersiap-siap hendak berangkat. Istri Ranta mengikuti mereka dari belakang dan dengan agak segan-segan berkata:
Pak Ranta belum lagi makan dari pagi.
Prajurit itu berpaling kepada perempuan itu dan berkata, menghibur:
Sepuluh jam tak makan, orang masih kuat kerja, Bu. Jangan khawatir.
Dan tak ada sesuatu pun yang dapat dikatakan perempuan itu lagi selain berpesan:
Hati-hati, Pak.
Sekarang prajurit itu berpaling pada Ranta sambil menunjuk tempat di mana revolver diselipkan dan bertanya:
Sudah diisi, Pak.
Ranta mengangguk.
Mereka keluar dari ruang tamu.
Nyonya Ranta mengantarkan sampai ke depan pintu. Di sana ia berhenti lama-lama. Kemudian ia masuk kembali sambil bergumam:
Kasihan. Tiap-tiap hari hampir-hampir tak sempat makan.
Kemudian ia masuk ke dalam melalui pintu dalam dan sebentar kemudian keluar lagi membawa lap, dan mulai menggosok perabot yang ada di ruang tamu. Setelah selesai menggosok di sana-sini ia pandangi dinding sekelilingnya, berkecap-kecap dan menyesali:
Sayang gambar Presiden kurang besar.
Akhirnya ia tutup dan kunci pintu depan, dan setelah itu masuk ke dalam melalui pintu dalam.
Dari jarak yang tak jauh terdengar beduk ashar bertalu-talu. Sinar matahari yang merangkak di dinding telah lenyap. Suasana menjadi lengang. Seekor ayam betina terdengar berkokok. Kemudian dari kejauhan terdengar bunyi tembak-menembak, riuh dan antara sebentar diselang-seling dengan tembakan otomatik berentetan.
Istri Ranta masuk kembali dengan berlari-larian. Sesampainya di pintu depan ia kembali lagi dengan bingungnya ke pintu dalam, tetapi tak jadi masuk, kemudian kembali lagi dan berdiri di tengah-tengah ruangan. Matahari dengan cepatnya condong ke ufuk barat. Tak terdapat lagi sinar matahari di ruangan itu. Rembang-rembang. Beduk magrib di surau tidak terdengar. Istri Ranta masih juga kebingungan terpaku di tengah-tengah ruangan. Tiba-tiba di luar rumah terdengar suara yang masuk melalui pintu depan. Suara itu adalah suara Rodjali:
Bu, Ibu!
Istri Ranta tak sanggup menjawab. Rodjali mengetok-ngetok dari luar. Dengan suara gemetar perempuan itu bertanya:
Si-a-pa?
Rodjali, Bu, cuma Rodjali!
Ireng, istri Ranta, mendengar jawaban Rodjali serta-merta mengusap-usap dada dan menyebut:
Astaga! Cuma Rodjali? Buat kaget orang saja, kau, Li.
Terdengar tertawa pendek di luar yang menyatakan sukacita, kemudian menyusul suaranya:
Benar-benar kaget, Bu?
Ireng membuka kunci dan menarik daun pintu depan. Maka masuklah Nyonya Juragan Musa dalam keadaan mesum, berpakaian compang-camping, rambutnya kacau, terseok-seok, dan matanya jatuh ke lantai. Di belakangnya menyusul Rodjali menjinjing koper, yang nampak amat enteng, serta dalam keadaan kotor.
Melihat hal itu Ireng segera menangkap tangan Nyonya, memandangnya untuk mendapatkan tunjangan. Tetapi ia tak menjawab barang sepatah pun.
Melihat hal itu Rodjali segera bertindak sebagai juru penerang:
Terkepung, Bu, di tengah-tengah pertempuran. Untung saja selamat. Lebih baik Nyonya jangan tanyai dulu, terlalu lelah dan kaget.
Rodjali menaruh koper enteng itu di pojokan ruang tamu dekat pintu dalam, sedang Ireng memapah Nyonya masuk ke dalam rumah. Rodjali mengiringkan mereka masuk, tetapi sebentar kemudian muncul kembali membawa lap dan menyeka koper kotor itu sampai bersih. Akhirnya ia berjalan ke arah pintu depan dan menguncinya kembali. Bunyi tembak-menembak masih mengamuk di kejauhan.
Rodjali berdiri tegak di depan pintu mendengarkan segala bunyi-bunyian yang menyeramkan itu. Tiba-tiba nampak ia mendapat pikiran baru dan lari masuk ke dalam.
Dari dalam terdengar suara Rodjali:
Bu, pistol Pak Lurah dibawa, Bu?
Dan terdengar suara Ireng:
Hah, diam, Nyonya tak sadarkan diri. Tolong ambil bantal itu dari bawah kepalanya. Buru!
Sunyi senyap. Sinar matari tak kuasa lagi menerangi ruang tamu itu. Beduk langgar tak terdengar bertalu, sekalipun magrib sudah lewat. Akhirnya Rodjali muncul mengambil lampu dari gantungan, masuk ke dalam rumah melalui pintu dalam dan keluar lagi membawa lampu yang sudah menyala serta menaruhnya di gantungan kembali.
Malam sekarang.
Terdengar bunyi tembak-menembak yang kian lama kian mendekat, sehingga akhirnya terdengar dekat betul dengan rumah.
Kembali muncul Rodjali di ruang tamu. Bersicepat ia menghampiri lampu minyak yang menerangi ruang itu, menaruh secarik kertas di atas semprong serta memadamkannya.
Dalam kegelapan terdengar suara Ireng:
Bawa golok sama bambu runcing itu. Sini bambu runcingku.
Tiba-tiba terdengar pintu depan digedor-gedor dengan kasarnya dan suara yang juga kasar menyusul:
Lekas buka!
Bunyi gedoran lagi.
Buka! Setan!
Suara-suara lain terdengar:
Bakar!
Bakar!
Mendadak terdengar teriak maut dari mulut seorang lelaki. Teriakan itu berbareng dengan suara Rodjali yang memekik kuat:
Pasukan! Serbuuuuu!
Suara-suara gaduh.
Sekali lagi terdengar jeritan maut dari mulut seorang lelaki lain.
Suara yang minta dibukakan pintu kini terdengar lagi, tetapi pelahan dan hati-hati:
Kita terjebak! Mundur! Mundur!
Terdengar banyak langkah kaki yang melarikan diri tambah lama tambah jauh—dibarengi dengan rubuhnya pagar dan tubuh-tubuh orang, kemudian sunyi senyap.
Bunyi tembak-menembak dari kejauhan kian lama kian menjauh akhirnya padam.
Dalam kesenyapan itu terdengar bisik pelahan Ireng:
Tunggu saja dulu, Bu.
Mati yang kautusuk?
Nah itu orangnya, masih menggelepar. Bagaimana ibu?
Tak apa-apa. Satu orang kutusuk dengan pisau dapur.
Ya Allah.
Kita menang, Djali.
Ya Allah, gampangnya pertempuran ini.
Hss, jangan sombong. Mereka mungkin datang lagi.
Kembali sunyi senyap. Kemudian terdengar lagi suara Ireng:
Mereka tak kembali lagi.
Kita masuk lagi, Bu.
Ayohlah.
Terdengar kerait pintu belakang dibuka. Nampak Rodjali menyalakan geretan dan menyalakan lampu, sehingga ruang tamu kembali menjadi terang:
Dari dalam rumah terdengar suara Ireng yang setengah meratap:
Kasihan, Nyonya. Suami ditangkap. Kawan-kawan suaminya memperlakukan Nyonya seperti ini. Tidak sanak, tidak keluarga. Tertinggal di desa, jauh dari orang tua. Nyonya, ingatlah, Nyonya. Tangan dan hati orang-orang yang tidak Nyonya kenal jua yang menolong Nyonya.
Mendengar suara itu Rodjali berdiri diam-diam mendengarkan. Setelah ucapan Ireng selesai, Rodjali bertanya:
Sudah sadar, Bu?
Ireng menjawab dari dalam rumah:
Kasihan. Belum, Djali. Sudah tengah malam, belum, Djali?
Hampir subuh, Bu.
Kukira masih sore.
Djali mesti pergi cari Pak Lurah, Bu?
Tidak! Urus mayat-mayat itu, Li.
Rodjali bergerak dari tempatnya dan menghilang masuk melalui pintu dalam.
Baru saja ia hilang, terdengar pintu belakang diketok orang.
Ireng menegur dari dalam rumah:
Bapak itu?
Ya. Buka lekas.
Terdengar suara Rodjali dari dalam:
Selamat, Pak?
Selamat. Selamat, berkat persatuan dan kerjasama.
Alhamdulillah.
Ireng memanggil suaminya dari dalam:
Pak, sini buru, Pak.
Ada apa?
Nyonya.
Nyonya? Kembali?
Kembali dibawa Rodjali.
Selamat?
Tidak seluruhnya.
Bagaimana sekarang?
Masih pingsan.
Sudah lama?
Lebih tiga jam.
Coba lihat. Nah itu sudah membuka mata.
Sunyi senyap sejenak. Terdengar Ranta bertanya:
Tidak apa-apa di sini tadi?
Selamat.
Kami lihat gerombolan menjurus kemari.
Tidak, tidak apa-apa.
Apa diperbuat Djali di belakang itu?
Mengurus mayat.
Ha? Mayat siapa?
Gerombolan. Dua orang. Kami tebang.
Engkau? Maksudku engkau berdua?
Benar.
Ah! Ah!
Terdengar pintu depan diketok-ketok orang kemudian menyusul suaranya:
Pak Lurah? Tak boleh masuk kami ini?
Nampak Ranta muncul dengan masih berselempang tali revolver, berjalan langsung menuju pintu depan, kemudian membukanya:
Ah, ah, maafkanlah. Lupa sungguh aku.
Maka masuklah Pak Komandan bersama beberapa orang prajurit yang bersenjata semuanya. Mereka berjalan menuju ke sice. Sebelum duduk Pak Lurah menjabat tangan Pak Komandan dan sambil berkata:
Terima kasih, Pak, terima kasih banyak.
Komandan itu tertawa puas dan menjawab:
Terima kasih? Apa yang diterimakasihkan?
Dan Ranta segera menyambut:
Apa yang diterimakasihkan? Membersihkan desa ini dari kekacauan!
Kembali Pak Komandan tertawa senang. Prajurit-prajurit lain setengahnya duduk sedang yang tak kebagian tempat pergi keluar rumah.
Komandan itu mengulangi tertawanya dan bertanya:
Di mana Pak Lurah belajar resmi-resmian semacam ini?
Dengan herannya Ranta membelalak menatap prajurit itu dan menukas heran:
Resmi-resmian? Jadi bagaimana kami mesti berterimakasih?
Barulah Komandan itu mengerti, bahwa Pak Lurah tidak bermain-main. Setelah menyadari ini buru-buru ia memperbaiki kesalahannya:
Begini, Pak Lurah, kamilah yang seharusnya berterimakasih. Baru sekali ini sejak jadi Komandan di sini kami dapat menghancurkan gerombolan dengan begitu baik, dan sudah dua kali pula. Malah menangkap biang keladinya. Tak pernah sebelumnya ini terimpi-impi oleh kami.
Ranta mendesak terus, tapi sekarang sambil melepaskan tangan Komandan:
Itu memang kewajiban Bapak, tapi hasilnya buat kami.
Hahah, sebenarnya kita semua wajib berterimakasih pada semangat gotong royong, pada semangat persatuan…
Pak Komandan berpaling pada salah seorang anak buahnya dan bertanya:
Penyelidik belum datang?
Para prajurit hampir berbareng menengok ke pintu dan menjawab:
Belum, Pak.
Sementara itu dari dalam rumah terdengar suara Nyonya:
Selamatkah aku?
Dan terdengar suara Ireng menyahut:
Alhamdulillah, selamat, Nyonya.
Semua mata yang hadir di ruang tamu kini dengan sendirinya tertuju ke pintu dalam. Komandan kemudian menatap Pak Lurah, Ranta menunduk dan melaporkan:
Istri Juragan Musa.
Komandan bertanya lagi:
Kenapa?
Pingsan.
Kenapa pingsan? Takut pertempuran?
Dari pintu dalam muncul Djali dan segera Ranta bertanya:
Kenapa Nyonya sampai pingsan? Kau, kan, yang menyusul?
Dengan agak segan-segan Rodjali bercerita:
Ya, Pak. Abdi temukan Nyonya terbaring di tengah-tengah rumpun teh liar. Pak, Pak, sudah tidak berpakaian lagi. Kopernya kosong…
Ranta menajamkan pendengaran dan mengawasi Rodjali baik-baik:
Kenapa?
Kenapa? Gerombolan, Pak.
Komandan menggeleng-gelengkan kepala. Para prajurit berpandang-pandangan satu sama lain dan berbisik-bisik antara mereka. Setengahnya mengangguk-angguk, dan pada paras mereka tergambar kegemasan hati mereka. Terdengar suara Komandan:
Jadi mereka tidak kenal Nyonya? Nyonya Bapak Residen DI?
Ranta mencegah diteruskannya ucapan Komandan:
Hsss. Tak baik terdengar olehnya, Pak. He, Djali, coba laporkan gerombolan yang datang kemari tadi.
Rodjali berseri-seri dan memulai ceritanya:
Wah, Pak, satu rombongan DI kami lawan berdua! Dua kami binasakan, Pak. Kami, Pak, kami berdua, abdi dan Bu Lurah!
Pak Komandan tertawa senang dan berkata riang:
Omong kosong saja, kau, Djali.
Lihat di belakang, Pak. Dua korban, dua pucuk senjata rampasan.
Pak Komandan menatap Pak Lurah untuk meminta keterangan. Dan Pak Lurah mengangguk. Melihat itu Komandan kembali berpaling pada Rodjali dan menimbang-nimbangnya dengan matanya, mengangguk dan berkata:
Baiklah. Aku percaya. Aku masukkan dalam laporan. Aku percaya, tiap pemuda Indonesia bisa lakukan segala perjuangan dan pekerjaan kalau dia mau. Mana senjatanya?
Mendengar itu Rodjali meringis dan meminta menghiba-hiba:
Biarlah senjata itu ada di sini, Pak, biar kami merasa lebih aman.
Pak Lurah menatap Pak Komandan, memberikan perkuatan pada permohonan Rodjali. Melihat itu Komandan mengangguk dan menjawab:
Tentu saja boleh. Tapi semua harus dilaporkan dulu. Nomor senjata harus dicatat dahulu, apa macamnya, berapa pelurunya… masak seperti minta pisang goreng saja? Eh, Djali, antarkan anak-anak ini untuk memeriksa mayat-mayat itu.
Rodjali berpaling pada beberapa orang prajurit yang masih tinggal, dan dengan matanya memberi isyarat untuk mengikuti.
Sementara itu terdengar rintih Nyonya Musa dari dalam rumah. Ranta memanggil istrinya:
Mak! Mak!
Ireng menjawab dari dalam rumah, kemudian muncul dalam pakaian yang telah kacau-balau dan dengan mata menanggung lelah:
Ya, Pak?
Pak Komandan bertanya pelahan sambil membungkuk:
Bagaimana dengan Nyonya? Berbahaya?
Bagaimana abdi tahu, Pak? Badannya panas sekali sekarang. Ia mengigau juga pelahan-lahan.
Ranta menyela:
Sudah dikompres?
Dan istri Ranta segera menjawab:
Sudah, Pak. Memang waktu ada pertempuran tidak sempat. Sekarang sudah. Sungguh susah, Pak, di sini tidak ada dokter.
Ranta bertanya:
Sudah turun panasnya?
Sedang panas-panasnya sekarang.
Ranta memulai lagi:
Biarlah, Pak, biar kami urus di sini. Bapak tak perlu kuwatir.
Pak Komandan menyambut:
Siapa kuwatir dengan orang-orang semacam kalian? Dengan persatuan dan gotong royong semua bisa dilaksanakan Pak Lurah sendiri yang sering bilang begitu, kan?
Sementara itu udara di luar sudah mulai dingin lembab, sedang langit mulai menerawang pucat. Di sana-sini mulai terdengar keruyuk ayam serta cericit burung-burung aneka macam.
Dari dalam rumah muncul beberapa orang prajurit beserta Rodjali membawa senjata-senjata rampasan dan beberapa lembar kertas. Senjata-senjata itu ditaruh di atas meja, sedangkan kertas diserahkan langsung kepada Pak Komandan, yang segera memeriksanya di bawah lampu. Ia tak mengatakan sesuatu pun, hanya mengangguk, dan memasukkan kertas-kertas itu ke dalam kantong. Kemudian ia menunjuk pada senjata-senjata di atas meja dan memerintahkan:
Catat nomor, macam, jenis dan kalibernya. Pelurunya ada?
Seorang menjawab:
Tidak banyak, Pak.
Korban pihak gerombolan yang sekarang dan banyak senjata rampasan ini tambahkan pada laporan. Jangan lupa. Nah, mari pulang ke markas. Kedua pucuk senjata rampasan itu tinggal saja. Nah, Pak Lurah, baik-baik menjaga Nyonya.
Setelah itu dengan langkah tegap ia tinggalkan ruang tamu dan hilang melalui pintu depan dalam iringan anak buahnya. Rodjali mengikuti sampai di pintu, kemudian mengunci pintu dari dalam.
Ranta menegurnya:
Tidak lelah, Djali?
Siapa yang tak lelah, Pak?
Mengasohlah.
Masih ada yang menderita, Pak. Nyonya Benar juga.
Tidurlah, Pak.
Tidur?
Ranta menebarkan pandangnya ke keliling. Kemudian menyebut keras-keras, yang menunjukkan kekagetannya:
Ya Allah!
Kenapa, Pak?
Sudah pagi lagi, Djali.
Djali pun menebarkan pandangnya ke keliling, menggeleng-geleng dan bergumam:
Bukan main cepatnya.
Tidurlah, Li. Sudah siang sekarang. Banyak yang gantikan kau. Tapi jangan lupa: tetaplah waspada, juga di waktu tidur nyenyak, dalam mimpi!
Sebelum Djali pergi ke dalam ia berhenti sebentar di hadapan meja, mengawasi senjata-senjata itu dan berkata:
Disimpan di mana ini, Pak?
Tidurlah. Biar aku simpan sendiri.
Rodjali masuk melalui pintu dalam. Sementara itu terdengar rintih Nyonya. Ranta melepas revolver dari selitan pada ikat pinggang dan menimang-nimangnya. Bergumam dengan puas hati:
Waspada! Waspada!
Dari dalam rumah terdengar panggilan:
Pak! Pak!
Ranta menengok ke arah pintu dalam sambil mengembalikan revolver itu pada selitannya kembali. Menjawab:
Reng? Panggil aku?
Belum juga tidur?
Sudah pagi, Reng.
Pagi? Syukur alhamdulillah.
Ranta mengangkat senjata-senjata di atas meja dan dibawanya masuk ke dalam. Kemudian keluar kembali. Sebentar kemudian muncul pula Ireng. Waktu Ranta mengambil tempat duduk di sice, Ireng menepuk bahunya dan menegur lagi:
Tidurlah, Pak. Nanti sakit.
Kapan ada kau yang mengurus?
Tapi urusanmu sendiri banyak, kan?
Sebentar lagi banyak urusan. Biar tak tidur saja.
Kau belum lagi makan sejak kemarin pagi.
Ranta terlompat dari duduknya. Berseru:
Belum makan? Benar juga, aku belum lagi makan.
Tidak lapar?
Memangnya sudah masak?
Ireng tersenyum malu, dan tanpa berkata sesuatu pun bersiap-siap hendak masuk lagi ke dalam. Tiba-tiba terdengar pekik Nyonya:
Ampun! Tidak mau! Ampun! Ampun!
Ireng menatap suaminya, berbisik:
Mengigau lagi.
Kedua suami-istri itu berpandang-pandangan, kemudian Nyonya berlari-larian masuk ke dalam. Ranta mendekati pintu dalam sambil mendengar-dengarkan. Tak terdengar pekikan Nyonya lagi. Lambat-lambat dengan kepala penuh pikiran ia menghampiri pintu depan. Tangannya menggagapi tombol pintu untuk membukanya, tetapi tidak jadi. Seperti kepada seorang gaib di hadapannya ia berkata:
Akibat perbuatan durhaka satu orang? Berapa orang menanggung aniaya? Berapa orang? Termasuk si durhaka sendiri?
Telunjuknya diamang-amangkannya pada si orang gaib, di hadapannya dan diteruskannya percakapannya dengan diri sendiri:
Satu pendurhaka dapat hancurkan seluruh kebahagiaan tiap orang, seluruh bangsa. Benar! Tapi keselamatan tiap orang, seluruh bangsa, cuma dapat dilaksanakan oleh semua orang. Pelaksanaan ini mungkin, kalau ada persatuan, kerukunan, persaudaraan. Hati-hatilah! Hati-hatilah! Satu orang bisa hancurkan kita semua. Tapi kesejahteraan kita harus diciptakan oleh semua kita bersama-sama. Ya, itu gotong royong, kan?
Dibantingnya telunjuknya ke bawah. Ia tertawa pelahan, puas. Dengan lenggang tangan tinggi dibuat-buat ia menghampiri sice, duduk di salah sebuah kursi daripadanya. Tersentak dari lamunan yang hendak dimulainya seakan ada sesuatu pikiran agung sedang berkunjung di kepalanya, kemudian ia tersenyum, menyandarkan seluruh punggungnya pada punggung kursi, menekuk tengkuknya ke belakang sehingga kepalanya berbantalkan puncak kursi. Masih terdengar juga kata-katanya:
Waspada! Waspadalah!
Terdengar ia berkeruh bahagia.
IV
Kejadian ini berlaku tiga bulan kemudian. Hari baru jam sepuluh pagi. Matahari memancar dengan terangnya. Sekalipun demikian hawa udara masih segar.
Ini terjadi di sebuah halaman sekolah rakyat yang baru dibangun, di sebuah pojokan di bawah pepohonan yang rindang. Bayangan pohon dan sinar matahari bertentang-tentangan dengan jelasnya, terhampar di atas tanah.
Gemericik air kali yang membanting diri di antara batu-batu gunung besar tak henti-hentinya menggema, serta hempasan arus derasnya pada tebing-tebingnya yang terbuat dari beton alam antara sebentar terdengar menjompak-jompak ngilu.
Kadang-kadang angin menderu keras membawa bunyi sayup deburan Lautan Hindia.
Tiap di atas segala bunyi-bunyian alam itu, lebih keras dan tegas lagi terdengar paduan suara beberapa rombongan orang yang sedang bekerja tak jauh dari tempat itu.
Sebuah rombongan pekerja sukarela memulai nyanyiannya:
Tul lopis!
Sebuah rombongan pekerja sukarela lain terdengar menyenggaki:
Kuntul baris, Yang segera kemudian disusul oleh bunyi hembusan balok besar di atas balok pasak.
Paduan suara yang demikian terdengar berulang-ulang akhirnya terdengar serumpun percakapan diselang-seling ketawa dan canda:
Cukup dalamnya?
Cukup! Cukup!
Coba dari dulu kita gotong royong begini.
Dasar lebih suka ketinggalan zaman.
Jangankan desa kita…
Ya, jangankan desa kita…
Jakarta juga tak bisa bangun dalam sehari!
Minum!
Mengapa tidak dengan makannya sekali?!
Bukan main panasnya!
Panas? Memangnya kau lahir di negeri Belanda!
Dasar, memang tukang mengeluh.
Jih!
Kira-kira, dong!
Ayoh, tinggal satu pasak lagi.
Ayoh, kawan-kawan, habiskan. Tinggal satu.
Dan kembali terdengar nyanyian bersama seperti sebelumnya dengan senggakan, yang disusul dengan bunyi hempasan balok besar di atas balok pasak.
Seorang prajurit, yang tidak berkemeja dan tidak berbaju dalam, muncul, bernafas terengah-engah. Dada dan tangannya berlumuran lumpur. Kemudian duduk di atas sebuah batu di bawah pohon. Hanya sepatu dan celana panjangnya menunjukkan ia seorang prajurit. Setelah duduk ia tersenyum senang, menyelujurkan kedua belah kakinya dan mencoba menikmati hawa pegunungan yang sejuk.
Dari jauh sayup-sayup terdengar para pekerja beramai-ramai menyanyikan lagu Gotong royong Satu Jiwa. Prajurit itu ikut menyanyi beberapa baris, kemudian berhenti waktu dilihatnya Pak Lurah Ranta datang menghampirinya.
Ranta hanya bercelana dalam hitam sampai di bawah lutut. Ia pun berlumuran lumpur.
Ranta menegur:
Cape?
Cape, Pak. Bukan main orang kerja, seperti banteng ngamuk!
Tak disangka tak dinyana! Jadinya begitu indah waduknya!
Nah, Pak Komandan datang.
Prajurit dan Ranta berdiri untuk menyambut Pak Komandan. Maka muncul Pak Komandan, yang juga telanjang dada berlumpur-lumpur. Melihat prajurit dan Pak Lurah bangkit berdiri, segera ia menegah:
Duduklah, duduklah.
Ia pun ikut duduk dengan mereka di bawah pohon rindang. Kakinya yang sebelah diselunjurkan, tetapi yang lain ditarik dan dipeluk dengan kedua belah tangannya. Meneruskan:
Benar juga kata orang tadi.
.
Ranta bertanya:
Apa yang benar, Pak?
Ini, kalau sejak dulu begini… Yah, mengapa baru bulan-bulan ini? Tapi, yah, memang keadaan tadinya begitu kacau.
Ranta menengahi:
Abdi pikir-pikir semalam, Pak. Kalau waduk sudah jadi, kita tanami ikan. Aduh, tiap orang boleh menangkap ikan, di situ. Tapi tiap orang wajib juga memeliharanya supaya besar-besar.
Tiba-tiba Komandan melepas pelukannya pada kakinya yang sebelah dan dengan langsung bertanya pada Pak Lurah:
Eh, Pak Lurah, ngomong-ngomong, mengapa orang di sini tak ada yang mau jadi nelayan? Kan laut begitu dekat?
Ranta menunjukkan telunjuknya ke arah selatan:
Lihat, Pak. Kami semua ini pendatang, semua petani. Tak ada yang mengerti tentang perahu. Lagipula, lihatlah sendiri itu. Jalan dari sini ke pantai tidak ada! Seluruh daerah tertutup semak-semak!
Prajurit itu mengusulkan dengan agak malu-malu:
Kita bongkar semak-semak itu, kita buka perladangan baru.
Ranta dan Komandan itu termenung-menung sebentar, kemudian Komandan itu mengangguk-angguk mengiyakan. Tetapi tiba-tiba mata Ranta berseri-seri dan menyanggah:
Kalau kita bongkar semak-semak itu, kita kehilangan bahan makanan yang sehat dan murah. Maksudku, Pak, kita takkan dapat makan daging kancil lagi. Lagipula kayu semak-semak itu akan lenyap jadi kayu bakar saja.
Mereka kembali termenung-menung.
Masing-masing mencoba untuk menghimpun pikiran mereka yang paling baik buat kepentingan seluruh lingkungan beserta penduduknya. Tetapi sebelum mereka berhasil, dari kejauhan terdengar suara bersorak-sorak senang:
Selesai!
Hore!
Habis.
Mengasoh!
Beberapa orang, sambil dengan asyiknya tertawa dan mengobrol tentang pekerjaan yang baru diselesaikan, muncul tanpa menyadari kehadiran Komandan, Lurah, dan Prajurit itu.
Demi seorang di antara mereka menginsyafi kehadiran para pemimpin itu, ia terkejut, dan dengan sendirinya saja kedua belah tangannya terkembang, sehingga menahan orang-orang yang ada di belakangnya. Sejenak kemudian, mereka yang ada di belakangnya pun terdiam. Mereka telah bersiap-siap hendak mundur pelahan-lahan, tetapi Komandan itu memberanikan:
Ayoh sini!
Ranta menegakkan badannya dan juga memberanikan:
Mengapa mesti takut? Ayoh!
Orang yang berdiri di kepala rombongan itu tertawa malu, menunduk, kemudian memperdengarkan suaranya:
Kami kira bapak-bapak tak ada di sini.
Mendengar itu sekaligus Komandan tertawa, kemudian bertanya:
Memangnya mengapa kalau kami tak ada?
Tidak, Pak.
Ranta memberanikan lagi: Ayoh sini!
Dengan segan-segan mereka menghampiri dan duduk setengah lingkaran di hadapan Pak Lurah, Pak Komandan, dan Prajurit. Komandan tersenyum senang dan menambahi:
Nah, begitu dong, masak sama-sama orang segan-menyegani? Ayoh, siapa punya usul yang baik? Dengar! Kita sudah dirikan sekolah, kita bersama-sama sudah bersihkan, daerah ini dari gerombolan pengacau. Sekarang kita sedang menyelesaikan waduk pula. Semua untuk kita bersama. Itu kalian tahu sudah. Tapi siapa punya usul baik? Ranta meneruskan, waktu mengetahui, bahwa rombongan pekerja sukarela itu sama menunduk:
Misalnya…
Suara itu membuat semua mata ditujukan kepada Ranta.
Ranta meneruskan: Tadi aku dan Pak Komandan baru saja memperbincangkan tentang semak-semak yang menutup daerah kita sampai ke laut sana. Sayang benar kalau tanah itu tidak digarap. Bagaimana usul saudara-saudara? Cobalah ikut pikirkan.
Semua yang hadir diam-diam dengan gayanya masing-masing karena tenggelam dalam pikiran. Tetapi tidak lama karena ketenangan segera diganggu oleh datangnya Yang Pertama. Pada muka, kaki, dan tangannya nampak bekas luka-luka kena senjata tajam. Segera ia ditegur oleh Pak Lurah waktu ia berdiri termangu-mangu:
Nah, apa kabar? Sudah lama tidak kelihatan. Yang Pertama tersenyum malu, kemudian menerangkan:
Pulang dari rumah sakit, Pak Lurah.
Rumah sakit mana? Pelabuhan Ratu?
Benar, Pak Lurah.
Tidak jadi ke Jakarta?
Mau apa lagi, Pak Lurah?
Ayoh, duduk sini beramai-ramai. Ceritakan pengalamanmu.
Yang Pertama kini duduk di antara orang banyak. Sedang orang banyak memperhatikan tubuhnya dari atas sampai ke bawah dan sebaliknya, dan akhirnya pandang mereka berhenti pada mulutnya. Kemudian Yang Pertama memulai:
Begini, Pak. Mula-mula abdi nyatakan penyesalan abdi telah langgar larangan itu. Karena pelanggaran itu abdi dikeroyok dan dirampok gerombolan, Pak. Semua modal habis. Yang tinggal cuma celana dalam. Abdi dipukuli setengah mati.
Komandan itu menegakkan badannya dan bertanya:
Dari dulu aku bilang, barangkali kau sendiri pernah dengar, kita semua mesti bisa kerjasama. Kerjasama dalam segala hal: mengamankan daerah sendiri, merawat daerah sendiri, memakmurkan daerah sendiri, dan juga, menjaga ketertiban dan keselamatan bersama. Dengar! Dari dahulu kita hidup kocar-kacir, melarat, dan miskin. Mengapa? Karena orang semuanya ini tidak rela kerjasama. Karena itu juga kalian dulu tidak punya sekolah untuk anak-anak kalian. Tidak punya jalanan yang baik. Baru berapa bulan kita mau kerjasama? Lihat sendiri, sudah begitu banyak kita dapat perbuat.
Yang Pertama menunduk, kemudian menjawab:
Ya, Pak. Abdi sendiri memang salah, Pak.
Jangan minta maaf padaku, berjanji pada saudara-saudaramu itu!
Yang Pertama diam saja, dan makin menunduk.
Apa kau malu kerjasama dengan saudara-saudaramu sendiri?
Tidak, Pak.
Mengapa tak juga bicara pada mereka?
Yang Pertama menegakkan badannya, memandang ke sekelilingnya, mula-mula pada Ranta, kemudian pada Komandan, Prajurit, kemudian pada kerumunan pekerja sukarela, dan akhirnya memperdengarkan suaranya:
Sudara-sudara, aku berjanji akan kerjasama dengan kalian, dalam segala usaha yang bermanfaat.
Yang Pertama menunduk kembali. Kerumunan orang itu, setelah memperhatikan Yang Pertama, kemudian menatap Pak Lurah dan Pak Komandan, tak tahu apa mesti mereka perbuat dalam keadaan seperti itu.
Melihat itu, Pak Komandan terpaksa bangkit berdiri. Berkata:
Ah, kalian ini. Seorang sudara kalian sudah berjanji dengan serela itu kepada kalian. Dan kalian diam saja. Ayoh, sambutlah dengan rela hati pula!
Sejenak kerumunan orang itu terdiam tersipu-sipu. Keadaan itu memaksa Pak Komandan memberanikan mereka:
Ayoh berdiri!
Semua berdiri.
Pak Lurah, lebih baik Pak Lurah yang memulai.
Ranta meninggalkan tempatnya, mengulurkan tangannya pada Yang Pertama. Waktu mereka berjabatan tangan, Yang Pertama bertanya kepadanya dengan suara mengandung malu:
Benar-benar Pak Lurah memaafkan abdi?
Mengapa tidak? Aku girang kau bersedia kerjasama dengan kita semua!
Jabatan tangan terlepas. Segera kemudian Ranta berseru:
Ayoh!
Maka orang pun mulai berjabat tangan dibarengi dengan tawa dan canda riang gembira.
Pak Komandan berteriak:
Cukup!
Sunyi senyap sejenak.
Nah, duduk lagi sekarang.
Semuanya duduk setengah lingkaran menghadapi Pak Lurah, Pak Komandan, dan Prajurit. Pak Komandan meneruskan:
Aku punya usul. Bagaimana kalau tanah liar itu kita tanami pohon kelapa dan duren?
Seseorang di antara kerumunan itu bersuara:
Abdi sendiri akur, Pak. Tapi…
Tapi apa?
Pohon kelapa lama berbuah. Mungkin abdi sudah terburu mati.
Seseorang lain meneruskan:
Biar tidak keburu mati, kita punya gerobak buat menjualnya di kota.
Duren begitu juga nasibnya, Pak.
Sekarang Pak Lurah mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan berkata dengan suara tegas:
Begitulah, Pak. Kita di sini bisa menanam apa saja yang kita mau. Tetapi yang kita tanam cuma yang kita butuhkan. Kita tak punya pasar. Pelabuhan Ratu begitu jauh! Gerobak harus bayar pajak kalau lewat, jalanan onderneming. Itulah, Pak. Dari dulu sampai sekarang hidup kita kayak begini. Tiap pekan dua kali memang datang truk beli hasil bumi, tapi harganya, Pak? Di Pelabuhan Ratu mereka jual tiga kali lipat! Kalau sampai di Jakarta, entah berapa kali lipat!
Seseorang di antara kerumunan mendesak:
Biar punya gerobak, biar onderneming tidak pungut pajak-lewat lagi, apa gunanya kalau kita keburu mati?
Pak Komandan berteriak:
Stop!
Sunyi senyap. Dan Pak Komandan meneruskan: Apa salahnya kalau kita mati dulu? Dengar!
Siapa tanamkan duren dan kelapa buat kalian waktu kalian masih bayi? Kalian sendiri? Ha-ha! Orang tua, kakek kalian! Kalau semua orang cuma mau menanam buat diri sendiri, bagaimana anak-cucu kita!
Seorang orang tua dalam kelompokan itu menyusulkan suaranya:
Sudara-sudara, sebenarnya tidak ada orang yang bertanam buat dirinya sendiri.
Ranta berteriak mengatasi keributan yang timbul:
Benar! Juga kita hidup bukan untuk diri kita, tetapi buat anak-cucu kita!
Seseorang berteriak sengit:
Tidak mungkin! Pak Lurah tidak punya anak! Aku sendiri juga tidak punya anak!
Ranta membentak:
Diam!
Tetapi kerumunan orang itu mulai berbantah satu dengan yang lain. Melihat hal itu Pak Komandan berteriak keras-keras:
Diam! Soalnya bukan anak bukan cucu. Soalnya kerjasama. Soalnya gotong royong. Dan kita semua sudah berjanji untuk gotong royong, untuk kerjasama dalam segala hal yang bermanfaat. Pak Lurah! Coba terangkan kepada mereka, kita bukan binatang buas!
Sekarang Pak Lurah berdiri, mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan mulai pidato:
Sudara-sudara, dengar! Kita ini bukan binatang buas. Kalau binatang buas hidup sendiri-sendiri. Kalau dia menemui sesama makhluk, ini berarti, yang ditemuinya bakal jadi kurbannya. Karena itu dia terpaksa hidup sendiri-sendiri. Tidak mau bergaul. Mereka cuma hidup dari pembunuhan. Pada suatu kali pun dia akan dibunuh. Tapi kita bukan binatang buas. Kita ini manusia. Kita tak perlu hidup dari pembunuhan. Tetapi lebih baik lagi kalau kita hidup rukun, gotong royong, kerjasama, bersatu, bersudara. Dulu kita tak berani berkumpul-kumpul semacam ini, karena ganasnya gerombolan. Lihat, sesudah kita bersatu, gerombolan dapat kita musnahkan. Jadi…
Sebelum ia selesai dengan pidatonya, muncul Nyonya dalam iringan Ireng dan Rodjali.
Pak Komandan mengangguk menghormati dan langsung bertanya:
Truknya belum berangkat, Nyonya?
Sudah, Pak Komandan.
Ketinggalan? Mana kopernya?
Koper sudah dibawa pulang lagi. Aku bukannya ketinggalan, Pak.
Lantas?
Aku pikir-pikir…
Semua orang mengawasi Nyonya dan kedua pengiringnya. Sekarang Ireng yang tampil ke muka dan meneruskan kata-kata Nyonya:
Nyonya tak jadi pulang ke Sukabumi, Nyonya mau tinggal di sini. Mau mengajar perempuan-perempuan di sini. Mengajar baca-tulis!
Pak Komandan berteriak girang:
Benar, Nyonya?
Nyonya mengangguk senang sambil tersenyum. Tiba-tiba keributan timbul lagi di antara kerumunan orang itu. Di antaranya terdengar seruan-seruan tak senang hati:
Yang bukan-bukan!
Ada-ada saja!
Ah!
Kembali Ranta berteriak:
Mengapa ribut-ribut?
Seseorang menjawab lancang:
Abdi tak bisa baca-tulis, masak bini abdi…
Seorang lain membenarkan:
Masa perempuan nanti lebih pintar dari lelaki?
Lurah Ranta membentak:
Husy! Kalau kalian tidak bisa baca-tulis, mengapa bini kalian mesti dilarang kalau ingin belajar baca-tulis? Kalau kalian tidak bisa, mengapa tidak belajar?
Sejenak sunyi senyap. Tiba-tiba Pak Komandan membuka suara:
Dengar! Kepintaran harus dicari sendiri. Tak ada orang bisa jadi pandai dengan mewakilkan kepada orang lain. Mengerti? Sekarang aku bertanya: Siapa di antara kalian ingin bisa baca-tulis?
Hanya seorang menjawab:
Abdi, Pak!
Pak Komandan menatap kerumunan orang itu. Kemudian:
Cuma satu! Jadi apa gunanya diributkan kalau kalian sendiri tidak kepingin pandai? Baik! Kau, yang ingin bisa baca-tulis, datang saban sore di markas, ya? Biar kami ajari.
Baik, Pak.
Kalau kau rajin, dalam tiga bulan kau sudah bisa baca-tulis!
Tiba-tiba seseorang memperdengarkan suaranya:
Abdi sebenarnya ingin juga, Pak, tapi…
Komandan segera menyambut:
Barangsiapa mau belajar, datang tiap hari di markas. Kami selalu bersedia menolong sudara-sudara. Lantas bagaimana, Nyonya?
Sekarang semua orang mencoba menatap Nyonya. Tetapi bagian terbesar dari kerumunan itu akhirnya menunduk. Nyonya menjawab:
Kalau di antara wanita di sini tak ada yang boleh belajar, yah, apa boleh buat. Tak ada gunanya aku di sini kalau tak ada pekerjaan. Bukan?
Pak Komandan bertanya pada kerumunan:
Bagaimana sekarang? Kalian tak mengizinkan bini dan anak-anak perempuan kalian belajar baca-tulis?
Tak ada yang menjawab.
Pak Komandan tertawa geli, kemudian meneruskan:
Dengar! Kalian sudah perlihatkan kegagahan, keberanian, dan keuletan dalam melawan gerombolan, menentang maut, menghadang bala. Tapi aneh benar. Begitu takutnya kalian ini belajar baca-tulisnya! Sampai-sampai tak rela anak dan bini ikut belajar. Aneh benar. Mana keberanian, kegagahan, dan keuletan kalian?
Tak ada yang menjawab. Dan Pak Komandan meneruskan:
Coba jawab: apakah bahayanya kertas dan potlot?
Tak ada yang menjawab. Pak Komandan menuding seorang di antara mereka dan mendesak:
Hai, kau, coba jawab, di mana bahayanya kertas dan potlot?
Tidak ada, Pak.
Nah, mengapa tidak mau belajar?
Abdi, mah, sudah terlalu tua, Pak?
Tua? Kan ladang itu kau sendiri yang garap?
Benar, Pak.
Kan paculmu lebih berat dari selembar kertas?
Cocok, Pak.
Mengapa takut pada kertas dan potlot?
Tak berjawab. Pak Komandan menebarkan pandang ke keliling, dan akhirnya matanya berhenti pada Pak Lurah. Bertanya:
Pak Lurah bisa baca-tulis?
Tidak, Pak.
Mau belajar?
Tentu saja, Pak.
Nah. Buat apa bisa baca-tulis, Bu Ireng?
Ah, Pak, lebih baik daripada tidak, kan?
Sebelum persoalan selesai, muncul Yang Kedua, bertunjangan tongkat, terbungkuk-bungkuk, dan berjalan dengan lemasnya. Ia angkat tangannya memberi salam, kemudian langsung menuju pada Pak Lurah dan berkata:
Pak Lurah, kalau ada truk militer berangkat ke kota, mohon abdi diperbolehkan ikut.
Pak Lurah segera bertanya dengan cucuknya:
Kenapa, kau?
Sakit, Pak Lurah.
Kepada Pak Komandan, Pak Lurah bertanya:
Hari ini ada lagi truk ke kota, Pak?
Tidak. Sakit apa?
Demam, Pak. Sudah lama.
Nanti kuantarkan sendiri ke kota. Dengan jeep.
Bapak sendiri mengantarkan?
Apa salahnya?
Ya Allah. Ya Allah. Bapak sendiri?
Sementara itu Pak Lurah menengahi:
Mengapa tak kirim kabar dari dulu-dulu?
Siapa yang disuruh, Pak?
Komandan memberi perintah pada Prajurit untuk mengambil jeep, kemudian berkata pada Yang Kedua:
Kita berangkat sekarang juga. Ya?
Terima kasih banyak, Pak.
Tapi sebelum itu duduklah di sini dulu. Hé, saudara-saudara, bagaimana? Siapa yang mau belajar baca-tulis selain yang seorang itu?
Yang Kedua, tanpa membuka mulut, mengangkat tangan.
Orang-orang memandangi tangan Yang Kedua dengan herannya. Dan Pak Komandan segera meneruskan:
Baiklah. Tapi kau sakit, buat apa belajar?
Kalau sudah baik, abdi mau belajar, Pak?
Buat apa?
Abdi mah yakin, Bapak hanya punya maksud-maksud baik terhadap kita.
Ha? Dari mana keyakinan itu?
Ah, Pak, sejak kecil abdi di sini, jadi tahu. Tak pernah sebelumnya ada pembesar mau kerjasama dengan kami, apalagi ikut memikirkan kepentingan kami.
Jadi?
Ya, begitulah, Pak.
Dari jarak dekat terdengar bunyi jeep yang membuang gas. Sebentar kemudian muncul Prajurit, yang langsung menghadap Pak Komandan. Pak Komandan berjalan meninggalkan gelanggang sambil memberi isyarat pada Yang Kedua:
Ayo.
Dengan tertatih-tatih Yang Kedua mengiringkan Pak Komandan, tetapi sebelum ia hilang dari pemandangan ia lambaikan tangan kepada yang tinggal dan berkata:
Belajarlah!
Sekali lagi ia melambaikan tangan dengan lemasnya kemudian hilang dari pemandangan.
Pak Lurah menganjurkan:
Nasihat dia baik diturut. Bagaimana pendapat sudara?
Suara berbareng menyahut:
Baiklah kami pikir dulu!
Abdi mau, Pak!
Baiklah, Pak.
Kemudian Ranta mengalihkan pokok percakapan:
Bagaimana tentang kelapa dan duren itu.
Tiba-tiba Nyonya menyela:
Mengapa kami, wanita, tak dimintai jawaban?
Nampak Pak Lurah terkejut. Untuk menutupi kebingungannya sejenak ia menguap-uap bibir, kemudian dengan terbata-bata menjawab:
Maaf, Nyonya. Ah, ya, mengapa aku sampai selupa itu? Bagaimana menurut pendapat Nyonya?
Nyonya menatap Ireng sejenak, kemudian menjawab:
Menurut pendapatku, begini. Sebaiknya tanah liar itu kita garap beramai-ramai. Kami, kaum wanita, lebih banyak memikir tentang anak dan keturunan. Ya, kita semua bukan bekerja untuk diri sendiri semata. Kita bekerja terutama sekali buat anak dan keturunan. Bukan begitu, Bu Lurah?
Tiba-tiba kerumunan itu meledakkan kegembiraan mendengar jawaban Nyonya. Di antaranya terdengar pekikan nyaring di antara kerumunan itu:
Bagaimana pendapatmu, Bu Lurah?
Ireng tersenyum berbahagia, kemudian dengan malu-malu berkata:
Sampai sebegitu jauh, Tuhan telah ambil kembali semua anak kami. Cacing kata dokter. Itulah kalau tak tahu baca-tulis. Tapi itu bukan soal. Barangkali pada suatu kali Tuhan akan ingat juga sudah semua anakku diambilNya. Barangkali juga Tuhan tidak melihat nasib hambaNya ini, aku maksudku. Tapi, itu memang bukan soal. Aku sendiri setuju dengan jawaban Nyonya.
Ranta berseri-seri. Seluruh kerumunan bersorak bareng. Ranta mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada kerumunan orang itu untuk tenang. Setelah tenang ia berkata satu-satu:
Kita harus kerja—kerja buat anak, buat seluruh keturunan! Ayo berdiri semua…
Semua berdiri sambil berseri-seri.
Ranta meneruskan dengan mengayun-ayunkan tinjunya:
Mari kita teriakkan bersama-sama: Kita harus kerja…
Kita harus kerja…
Kerja buat anak…
Kerja buat anak…
Buat seluruh keturunan…
Buat seluruh keturunan…
Hore Hore…
Kembali mereka jadi tenang dan duduk-duduk kembali. Dari jarak yang tak jauh terdengar suara serombongan orang bernyanyi bersama-sama melagukan lagu Gotong royong.
Nyanyian mereka kian lama kian mendekat, akhirnya muncul rombongan prajurit, OKD, dan beberapa orang preman. Semua telanjang dada dan berlumuran lumpur.
Kembali Ranta berdiri dan berteriak:
Ayo, meriahkan hari ini.
Mereka semua bangkit, bergandengan tangan, dan menyanyikan Gotong royong dengan irama yang cepat, yakin, riang gembira, penuh kepercayaan pada hari depan dan pada rahmat kerja.
Catatan tentang Edisi Ini
Sekali Peristiwa di Banten Selatan ditulis pada 1958. Teks edisi ini berasal dari cetakan keempat Lentera Dipantara (Maret 2009; cetakan pertama April 2004), yang kami pakai dalam dua bentuk digital yang beredar daring: sebuah pindaian dan sebuah ketikan ulang. Penerbit edisi pertama belum dapat kami pastikan, jadi tidak kami sebut.
Ketikan ulang itu tidak setia pada tata letak bukunya. Dialog yang di buku berupa label pembicara dan ucapan di paragraf berikutnya, di ketikan itu digabung dalam satu baris. Karena itu kata-kata kami ambil dari pindaian, dan ketikan itu hanya kami pakai sebagai saksi kedua. Setiap perbedaan yang menyangkut makna, juga setiap kata yang hilang atau berlebih, kami lihat langsung pada gambar halamannya.
Halaman 86 dan 87 tidak ada di pindaian dan juga tidak termuat di ketikan ulang. Kedua halaman itu kami ketik dari foto buku.
Ejaan kami alihkan ke EYD V: dj menjadi j, tj menjadi c, j menjadi y, nj menjadi ny, sj menjadi sy, dan ch menjadi kh. Kata depan di dan ke kami pisahkan dari kata yang mengikutinya, kata majemuk yang dulu ditulis serangkai kami pisahkan, dan tanda baca kami sesuaikan. Cetakan sumber tidak memakai tanda kutip untuk dialog, dan kami ikuti. Bentuk kata yang menjadi ciri bahasa Pram atau dialek tokohnya kami biarkan, misalnya pelahan, kuwatir, sudara, ayoh, abdi, matari, dan mengasoh.
Satu catatan kaki di bab I berasal dari buku sumber. Di dalamnya tercetak nieuwagierig, tampaknya salah cetak untuk nieuwsgierig; kami biarkan seperti tercetak. Kami juga membiarkan Juragan Juragan Musa di bab II, yang tercetak dengan kata ganda. Catatan yang diawali Catatan penyunting adalah tambahan kami, dan hanya diberikan untuk hal yang dapat kami periksa.
Daftar Kata
geropyok menangkap beramai-ramai; menggerebek, menyergap
onderneming (Belanda) perkebunan besar
poplin kain katun halus yang garis-garis benangnya tampak jelas
rodi kerja paksa tanpa upah, misalnya memperbaiki jalan
sice seperangkat meja kursi untuk duduk-duduk, biasanya di ruang tamu
wèrek orang yang mencari tenaga kerja kontrak untuk perkebunan di luar Jawa, biasanya dengan tipu muslihat (zaman Belanda)
Tentang Pengarang
Pramoedya Ananta Toer (1925–2006) adalah raksasa sastra Indonesia yang karyanya lahir dari pergulatan sejarah yang keras. Keluar-masuk penjara di masa Kolonial Belanda, Orde Lama, hingga pengasingan Pulau Buru pada masa Orde Baru tidak membuat nyalinya surut. Ia menjadikan sastra sebagai monumen perlawanan terhadap tirani. Diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa dan berkali-kali dinominasikan untuk Nobel Sastra, Pram adalah bukti nyata bahwa kebenaran tidak pernah bisa dipenjarakan.
Daftar Karya Pramoedya Ananta Toer
- Tulisan-tulisan semasa di SD, satu di antaranya pernah ditawarkan pada penerbit Tan Koen Swie, Kediri, ditolak. Semua hilang.
- Sepoeloeh Kepala Nica (1946), hilang di tangan penerbit Balingka, Pasar Baru, Jakarta, 1947.
- Kranji–Bekasi Jatuh (1947), fragmen dari Di Tepi Kali Bekasi.
- Perburuan (1950). Pemenang sayembara Balai Pustaka, Jakarta, 1949.
- Keluarga Gerilya (1950).
- Subuh (1951), kumpulan 3 cerpen.
- Percikan Revolusi (1951), kumpulan cerpen.
- Mereka yang Dilumpuhkan I & II (1951).
- Bukan Pasarmalam (1951).
- Di Tepi Kali Bekasi (1951), sisa naskah yang dirampas Marinir Belanda pada 22 Juli 1947.
- Dia yang Menyerah (1951), kemudian dicetak-ulang dalam kumpulan cerpen.
- Cerita dari Blora (1952), pemenang karya sastra terbaik dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, Jakarta (1953).
- Gulat di Jakarta (1953).
- Midah Si Manis Bergigi Emas (1954).
- Korupsi (1954).
- Cerita Calon Arang (1957).
- Sekali Peristiwa di Banten Selatan (1958).
- Panggil Aku Kartini Saja I & II (1963); III & IV dibakar Angkatan Darat, 13 Oktober 1965.
- Kumpulan Karya Kartini, yang pernah diumumkan di berbagai media; dibakar Angkatan Darat, 13 Oktober 1965.
- Wanita Sebelum Kartini, dibakar Angkatan Darat, 13 Oktober 1965.
- Gadis Pantai (1962–65) dalam bentuk cerita bersambung, bagian pertama trilogi tentang keluarga penulis; terbit sebagai buku, 1987, dilarang Jaksa Agung. Jilid II dan III dibakar Angkatan Darat, 13 Oktober 1965.
- Sejarah Bahasa Indonesia. Satu Percobaan (1964); dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965.
- Mari Mengarang (1955), tak jelas nasibnya di tangan penerbit di Jalan Kramat Raya, Jakarta.
- Cerita dari Jakarta (1957).
- Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (1963).
- Lentera (1965), kumpulan tulisan yang pernah diumumkan oleh Lentera. Tak jelas nasibnya di tangan penerbit di Jalan Pecenongan, Jakarta.
Semua karyanya dilarang oleh Kementerian PPK/PDK, 1966.
- Bumi Manusia (1980), bagian pertama tetralogi Buru. Dilarang Jaksa Agung, 1981.
- Anak Semua Bangsa (1981), bagian kedua tetralogi Buru. Dilarang Jaksa Agung, 1981.
- Sikap dan Peran Intelektual di Dunia Ketiga (1981).
- Tempo Doeloe (1982), antologi sastra pra-Indonesia.
- Jejak Langkah (1985), bagian ketiga tetralogi Buru. Dilarang Jaksa Agung, 1985.
- Hikayat Siti Mariah, (ed.) Haji Mukti (1987). Dilarang Jaksa Agung, 1987.
- Rumah Kaca, bagian keempat tetralogi Buru, 1988. Dilarang Jaksa Agung, 1988.
- Sang Pemula (1985). Dilarang Jaksa Agung, 1985.
- Memoar Oei Tjoe Tat, (ed.) Oei Tjoe Tat, 1995. Dilarang Jaksa Agung, 1995.
- Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I, 1995. Dilarang Jaksa Agung, 1995.
- Arus Balik, 1995.
- Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II, 1997.
- Arok Dedes, 1999.
- Mangir, 2000.
- Larasati (Ara), 2000.
Penghargaan
1988 Freedom to Write Award dari PEN American Center, Amerika Serikat.
1989 Anugerah dari The Fund for Free Expression, New York, Amerika Serikat.
1995 Wertheim Award, “for his meritorious services to the struggle for emancipation of the Indonesian people”, dari The Wertheim Foundation, Leiden, Belanda.
1995 Ramon Magsaysay Award, “for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognition of his illuminating with brilliant stories the historical awakening, and modern experience of the Indonesian people”, dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina.
1996 Partai Rakyat Demokratik Award, “hormat bagi Pejuang dan Demokrat Sejati” dari Partai Rakyat Demokratik.
1996 UNESCO Madanjeet Singh Prize, “in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence”, dari UNESCO, Paris, Prancis.
1999 Doctor of Humane Letters, “in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom”, dari University of Michigan, Madison, Amerika Serikat.
1999 Chancellor’s Distinguished Honor Award, “for his outstanding literary archievements and for his contributions to etnic tolerance and global understanding”, dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat.
1999 Chevalier de l’Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication République Française, Paris, Prancis.
2000 New York Foundation for the Arts Award, New York, Amerika Serikat.
2000 Fukuoka Cultural Grand Prize, Jepang.
Terima Kasih
Terima kasih kepada Gus Hasan Al Mubarok dan rekan, yang meminjamkan koleksi Sekali Peristiwa di Banten Selatan dan memindainya. Tanpa pindaian itu edisi ini tidak akan ada.
Terima kasih kepada Lentera Dipantara, penerbit cetakan yang kami pakai, dan kepada penerbit-penerbit yang mencetak buku ini sebelumnya, sebagaimana tercatat di halaman hak cipta cetakan itu: Djawatan Pengerahan Tenaga, Kementerian Pekerdjaan Umum dan Tenaga (1959), Penerbitan Lekra (1959, dengan judul Orang-orang Baru dari Banten), N.V. Nusantara (1963), dan penerbit edisi terjemahan Rusia di Moskwa (1961). Halaman itu juga mencatat edisi 1958 tanpa menyebut penerbitnya. Berkat kerja merekalah buku ini masih bisa dibaca sampai sekarang.
Terima kasih kepada Dhalia, yang menyadur buku ini ke dalam bentuk drama, Orang-orang Baru dari Banten, yang kemudian dipanggungkan di Medan pada 1960. Cerita ini jadi punya hidup kedua di atas panggung, seperti yang dibayangkan Pram dalam kata pengantarnya.
Terima kasih kepada siapa pun yang dulu mengetik ulang buku ini dan membagikannya di internet, dan kepada pembaca yang mau memberi tahu kami bila menemukan kesalahan.
Terakhir, terima kasih kepada Pramoedya Ananta Toer, yang menulis cerita ini pada 1958. Seratus tahun setelah ia lahir, tulisannya masih kami baca dan kami rawat.