Baca EPUB: Sekali Peristiwa di Banten Selatan

18 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Sekali Peristiwa di Banten Selatan
  2. Daftar Isi
  3. Dari Kami untuk Pembaca
  4. Kata Pengantar
  5. I
  6. II
  7. III
  8. IV
  9. Catatan tentang Edisi Ini
  10. Daftar Kata
  11. Tentang Pengarang
  12. Daftar Karya Pramoedya Ananta Toer
  13. Penghargaan
  14. Terima Kasih

Ter­je­pit di antara teror gerom­bolan ber­sen­jata di hutan dan kese­ra­kahan Jur­a­gan Musa di desa­nya sen­diri, hidup Ranta seba­gai buruh tani di Banten Selatan nyaris tak menyi­sa­kan ruang untuk ber­na­pas. Setiap tetes keri­ng­at­nya jatuh ke kan­tong sang tuan tanah yang licik dan gemar menin­das warga lemah.

Namun, penin­dasan yang melam­paui batas akhir­nya menyu­lut soli­da­ri­tas yang tak ter­duga di kalangan warga desa. Ditu­lis pada akhir 1950-an, Sekali Peristiwa di Banten Selatan adalah salah satu karya Pra­mo­edya Ananta Toer yang paling opti­mis dan ber­nyawa kerak­yatan—sebuah kisah ten­tang bang­kit­nya kesa­daran petani dalam mere­but kem­bali kedau­latan atas tanah dan hidup mereka.



Edisi Seabad · 1925–2025

Pramoedya Ananta Toer

Sekali Peristiwa di Banten Selatan

KOLEKSI PRIBADI

MUHAMMAD REZA MAGISTRA

Lund, 2026


Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Pra­mo­edya Ananta Toer.

Edisi Seabad 1925–2025, edisi digi­tal tidak resmi. Disu­sun oleh peng­ge­mar seba­gai kelan­jutan per­i­ng­atan sera­tus tahun Pra­mo­edya, tidak ber­hu­bungan dengan ahli waris maupun pener­bit karya-kar­ya­nya.

Ditu­lis pada 1958. Teks edisi ini disa­lin dari cetakan keem­pat Len­tera Dipan­tara (Maret 2009), dibaca ulang dari pin­dai­an­nya, dan dico­cok­kan dengan sebuah ketikan ulang. Halaman 86–87 dike­tik dari foto. Ejaan dise­ra­gam­kan menu­rut Ejaan yang Disem­pur­na­kan edisi kelima (EYD V).

Hak cipta karya © Pra­mo­edya Ananta Toer dan ahli waris­nya. Edisi digi­tal ini disu­sun untuk koleksi pri­badi dan per­i­ng­atan sera­tus tahun Pra­mo­edya Ananta Toer, tidak untuk diper­ju­al­be­li­kan.

Sampul, tata letak, orna­men, dan catatan penyun­ting: Muham­mad Reza Magis­tra. Diset dengan New­s­re­a­der.

KOLEKSI PRI­BADI MUHAM­MAD REZA MAGIS­TRA · LUND, 2026


Kalau ada persatuan, semua bisa kita kerjakan, jangankan rumah, gunung dan laut bisa kita pindahkan.

Bab III

Tak ada orang bisa jadi pandai dengan mewakilkan kepada orang lain.

Bab IV



Dari Kami untuk Pembaca

Sekali Peristiwa di Banten Selatan ditu­lis Pram pada 1958, sete­lah ia ber­kun­jung ke Banten Selatan pada akhir 1957. Dalam kata peng­an­tar­nya, yang kami muat utuh di awal naskah, ia menye­but­nya cerita bacaan yang dapat juga dipen­tas­kan. Ceri­ta­nya ber­lang­sung di sebuah desa di kaki gunung yang dian­cam gerom­bolan ber­sen­jata. Seba­gian tokoh­nya, kata Pram, diam­bil dari orang-orang yang ia temui di sana. Per­so­alan yang ia anggap paling men­de­sak adalah gotong royong, dan cerita ini ber­a­khir dengan orang-orang desa menya­nyi­kan lagu Gotong royong.

Naskah kami ambil dari cetakan keem­pat Len­tera Dipan­tara (Maret 2009, 128 halaman). Pin­daian buku itu kami baca ulang dan kami ban­ding­kan, kata demi kata, dengan sebuah ketikan ulang di inter­net. Kalau kedu­a­nya ber­beda, kami meli­hat gambar halaman­nya dan meng­i­kuti yang ter­ce­tak. Halaman 86 dan 87 tidak ada di pin­daian, jadi kedua halaman itu kami ketik dari foto. Ejaan kami alih­kan ke Ejaan yang Disem­pur­na­kan edisi kelima, dan kata-kata khas Pram dibi­ar­kan. Rin­ci­an­nya ada di bagian Catatan ten­tang Edisi Ini.

Edisi ini tidak resmi. Kami menyu­sun­nya seba­gai pem­baca, untuk mene­rus­kan per­i­ng­atan sera­tus tahun Pra­mo­edya Ananta Toer, dan kami tidak ber­hu­bungan dengan ahli waris maupun pener­bit karya-kar­ya­nya. Hak cipta tetap pada Pram dan ahli waris­nya. Kalau Anda mene­mu­kan salah cetak di sini, mohon kabari kami supaya bisa diper­ba­iki.

Lund, November 2026

Muhammad Reza Magistra dan kawan-kawan


Kata Pengantar

Cerita ini adalah hasil kun­jung­anku bebe­rapa waktu lama­nya pada akhir 1957 di Banten Selatan. Per­pa­duan antara alam yang masih pera­wan dan tipis­nya pen­du­duk serta subur dan kaya­nya bumi, letak tanah­nya yang landai kaya akan gunung dan jurang, menim­bul­kan banyak ide ten­tang hari depan daerah ini. Di sam­ping itu mela­hir­kan pula banyak masa­lah yang segera harus dipe­cah­kan dan diga­rap, ter­u­tama dalam hal penam­ba­han bahan makanan dan kese­jah­te­raan hidup khusus di daerah itu dan umum­nya bagi selu­ruh tanah air. Dengan tulisan ini aku ingin menyum­bang­kan sedi­kit piki­ran dengan medium dan caraku sen­diri, yang tentu saja dengan harapan besar, semoga sum­bang­sih ini sedi­kit atau banyak punya arti yang kon­struk­tif.

Cerita yang kutu­lis sekali ini meru­pa­kan cerita bacaan, tetapi di sam­ping itu dapat pula dipen­tas­kan di pang­gung. Dekor akan mem­be­ri­kan efek yang baik atas pemen­tasan, tetapi bagiku sen­diri dekor tidak meminta syarat dalam pemen­tasan ini.

Bebe­rapa orang tokoh dalam cerita ini kuam­bil dari orang-orang yang pernah kute­mui di daerah Banten Selatan, orang-orang yang menge­nal daerah ini, yang ikut dengan suka duka per­kem­bangan dae­rah­nya, dan yang sedi­kit atau banyak pernah men­ce­ri­ta­kan kepa­daku ten­tang bebe­rapa hal yang pernah mereka alami dan mereka dam­ba­kan. Seo­rang di anta­ra­nya adalah Lurah, seo­rang lagi bekas mandor yang ikut kerja rodi mem­buka jalan antara Pela­buhan Ratu dan tam­bang mas Ciko­tok,1 bebe­rapa orang buruh tam­bang, bebe­rapa orang petani yang pada waktu itu sedang kerja bakti mem­per­ba­iki jalan yang ter­timpa tebing long­sor.

Gotong royong adalah masa­lah yang men­de­sak di daerah ini, seperti yang dilan­tun­kan oleh Pak Lurah dan bekas mandor ter­se­but. Bagiku sen­diri hal ini sung­guh tepat, meng­i­ngat akan kesu­buran alam dan keka­yaan bumi­nya yang belum lagi diga­rap secara merata oleh tangan per­a­daban. Pen­du­duk daerah sini meng­ha­dapi kerja rak­sasa dengan tenaga yang amat ter­ba­tas, maka gotong royong meru­pa­kan satu-satu­nya jalan di waktu negara kita sedang ter­li­bat dalam ber­ba­gai keku­rangan belanja. Gotong royong ini sangat kupu­ji­kan pula, ter­u­tama sekali karena sampai dewasa ini meng­e­jek dan men­caci para pemim­pin dan peme­rin­tah telah men­jadi mode, seba­gai over­kom­pen­sasi dari jiwa yang tak tahu men­cari arah yang benar. Sebab, akhir-akhir­nya masa­lah kema­sya­ra­k­atan, kene­ga­raan, dan kehi­dupan ber­sama kita bukan khusus masa­lah para pemim­pin dan peme­rin­tah belaka, tetapi adalah masa­lah kita semua, yang harus kita pecah­kan dan garap ber­sama, di mana tiap orang wajib punya sum­bang­sih dalam kerja pem­ba­ngu­nan ini. Aku tetap per­caya, bahwa dengan ban­tuan kita semua maka hanya mereka yang lebih banyak bekerja yang berhak akan apa yang biasa dina­mai baha­gia. Dan seba­lik­nya, tanpa sum­bang­sih kita ber­sama, seka­li­pun nasib akan mem­beri kita umur dua atau tiga kali lipat dari semes­ti­nya, kea­daan kita akan tetap beku, karena kita semua tidak ikut bekerja memus­nah­kan sebab-sebab yang meng­a­ki­bat­kan kebe­kuan ini.

Kem­bali pada cerita yang kutu­lis.

Aku tak tahu bagai­mana Pak Lurah, bekas mandor jalanan, para petani, dan lain-lain, yang pernah kujum­pai itu. Dua bulan sete­lah Banten Selatan kuting­gal­kan, daerah mereka diob­rak-abrik oleh Darul Islam.2 Kabar ter­a­khir yang kude­ngar adalah bahwa Pak Lurah ter­paksa mela­ri­kan diri ke Suka­bumi. Aku tak tahu benar. Tetapi hal itu tidak pen­ting. Yang lebih pen­ting adalah apa-apa yang pernah dika­ta­kan­nya dan diper­bu­at­nya sesuai dengan pang­gilan. Dan apa yang dika­ta­kan­nya tidak lain dari­pada sari renungan, pemi­ki­ran, dan peng­a­lam­an­nya selama ber­ta­hun-tahun. Dengan menga­ta­kan hal-hal yang kon­struk­tif itu saja mereka telah ikut kerja bakti.

Tentu saja dalam cerita ini mereka tidak kuca­kup dalam kese­lu­r­uhan. Bebe­rapa segi dari cerita ini tidak­lah ter­jadi di Banten Selatan, tetapi di masya­ra­kat-masya­ra­kat per­ke­bunan, dan bahkan di kota Jakarta sen­diri.

Perlu kuka­ta­kan di sini, bahkan untuk mema­in­kan cerita ini di atas pang­gung, tidak akan banyak dite­mui kesu­karan, tetapi kuakui juga, bahwa pemen­tasan cerita ini meru­pa­kan tan­tangan para pemain.

Jakarta, Per­te­ngahan 1958

P.A.T.



I

Langit ber­men­dung. Udara ber­warna kelabu. Dari jarak dekat, pegu­nungan di depan desa itu, yang dir­im­buni ber­ba­gai pepo­honan hutan, ber­warna kelabu hitam. Antara seben­tar ter­de­ngar ceri­cip burung kedi­nginan. Kadang-kadang angin men­deru keras mem­bawa bunyi sayup deburan Laut Hindia. Geme­ri­cik air kali mem­ban­jir yang mem­ban­ting diri di antara batu-batu gunung besar tak henti-hen­ti­nya meng­gema, serta hem­pasan arus deras­nya pada tebing-tebing yang ter­buat dari beton alam antara seben­tar ter­de­ngar men­jom­pak-jompak ngilu.

Gubuk Ranta ter­le­tak di kaki gunung, ter­buat dari bambu ber­a­tap rumbia. Tinggi pon­dok­nya tidak lebih dari dua meter. Letak­nya mem­be­la­kangi sebuah bukit yang belum pernah diga­rap oleh tangan manu­sia—pohon-pohon rak­sasa tumbuh dengan liar­nya dengan semak-semak padat di bawah­nya. Karena mur­am­nya hari serta men­dung kelabu yang menye­lu­bungi alam, gunung itu nampak hitam, dan di sana-sini digu­r­isi segum­palan mega yang kelabu kepu­tih-putihan. Pen­dopo gubuk Ranta ber­lan­tai tanah dipe­ra­boti dengan sebuah bangku pan­jang yang ter­buat dari bambu batangan. Di pojok depan sebe­lah kiri ter­pan­cang sebi­lah cagang gendi air minum dari bambu batangan pula, yang pada atas­nya dia­nyam men­jadi cor­ongan tempat mele­tak­kan gendi. Sebuah pintu bambu anyaman dengan koran penem­pel yang ber­cela-cela ter­le­pas dari pere­kat­nya, nampak gelap.

Taram-tema­ram.

Dua orang pemi­kul sing­kong, yang hendak menuju ke tempat truk-truk dari kota memung­gah sing­kong, muncul dari tikungan jalan. Bawa­an­nya begitu berat­nya sehingga piku­lan mereka nampak meleng­kung. Kedua-duanya ber­ce­lana hitam sedi­kit di bawah lutut. Meng­i­kat­kan sarung pada ping­gang masing-masing dan ber­topi capio, sedang pada ping­gang mereka ter­san­dang kasang dari bambu anyaman.

Sampai di beranda pondok Ranta mereka ber­henti. Salah seo­rang dari­pa­da­nya meng­am­bil gendi dari cagang­nya dan minum. Yang lain meng­i­kuti con­toh­nya.

Yang per­tama kemu­dian duduk di atas bangku, dan mena­rik kedua belah kaki ke atas. Dengan tiada sadar tangan­nya mele­pas kasang dan menge­lu­ar­kan sele­pah tem­ba­kau serta daun kaung dari dalam, meng­gu­lung, kemu­dian mero­kok.

Yang Per­tama: Mero­kok?

Yang Kedua: Tidak ah.

Yang Per­tama: Duduk sini.

Yang Kedua duduk di sam­ping Yang Per­tama.

Yang Kedua: Mau hujan lagi ni rupa­nya.

Yang Per­tama: Coba kalau kita punya gero­bak…

Yang Kedua: Yang bukan-bukan saja…

Kedua-duanya ber­diam diri seje­nak.

Kem­bali bunyi air kali ter­de­ngar nyata, dicam­puri dengan suara-suara burung. Tiba-tiba sunyi senyap.

Yang Per­tama, sete­lah ber­gu­mam, meng­e­jek:

Huh! Ingat kau, jalan ini dulu kita yang buat. Dulu, ramai-ramai, rodi. Apa seka­rang?

Yang Kedua, ber­gu­mam, meng­e­jek:

Huh!

Yang Per­tama:

Lewat jalan yang kita buat sen­diri kita bayar pajak pada onde­r­ne­ming. Dua pintu jalan, dua kali pajak. Kalau kau coba-coba beli gero­bak, berapa pajak mesti diba­yar, tiap kali lalui dua pintu jalan onde­r­ne­ming itu?!

Yang Kedua:

I-ya-ya, orang begitu bagus-bagus, kul­it­nya putih, hidung­nya man­cung, tapi tamak­nya… Ngu­du­bi­lah setan!

Yang Per­tama:

Ngu­du­bi­lah setan!

Yang Kedua:

Yo-ah, nanti keburu hujan.

Kedua-duanya bang­kit. Yang Per­tama mem­bu­ang pun­tung rokok kau­ng­nya. Sete­lah mene­ra­wang langit mereka mema­sang kem­bali kasang pada ping­gang dan mulai berang­kat, hilang dari peman­dangan.

Tak lama kemu­dian datang Ranta. Ia beru­mur kurang lebih tiga puluh sem­bi­lan tahun. Tubuh­nya tinggi lagi besar, penuh dengan otot-otot kasar, menan­da­kan, bahwa ia banyak bekerja keras tapi seba­lik­nya kurang men­da­pat makan yang baik. Ia ber­ja­lan pulang dengan tenang­nya. Ia menge­na­kan celana pan­jang putih yang sudah lusuh dan kumal pula, dan sarung geng­gang biru-ungu meling­kar pada leher­nya dan ter­gan­tung jatuh pada pun­dak­nya. Lang­sung ia menuju pintu, kemu­dian ber­gu­mam:

Dikunci?

Ia ber­pa­ling, meman­dangi cagang gendi dan ber­ja­lan ke situ, kemu­dian minum dengan rakus­nya. Sete­lah itu ia ber­ja­lan menuju ke pintu kem­bali dan memang­gil-mang­gil pelahan:

Reng! Reng! Ireng!

Ia ber­diam diri seje­nak untuk men­de­ng­ar­kan jawaban dari dalam rumah. Ireng tidak men­ja­wab pang­gil­an­nya. Hanya bunyi air dan burung ter­de­ngar lebih nyata dari­pada bia­sa­nya. Kem­bali ia ber­pa­ling ke arah gendi, kemu­dian melang­kah ke bale, duduk, meng­ge­run­dung­kan sarung pada tubuh­nya, mene­ra­wang langit dan ber­gu­mam:

Hujan juga. Untung sudah di rumah.

Kemu­dian datang Ireng, istri­nya, meng­gen­dong bakul kosong di bela­kang­nya.

Ia ber­pa­kaian kebaya hitam dan ber­kain tenun kehi­tam-hitaman. Jalan­nya menun­duk. Waktu dili­hat­nya sua­mi­nya, ia agak ter­te­gun. Dan wajah­nya yang masih muda itu agak kaget sedi­kit. Segera ia meng­ham­piri sua­mi­nya dan mene­gur dengan suara sete­ngah ber­bi­sik:

Sudah pulang, Pak?

Ranta hanya menu­run­kan kaki dari bale dan menge­luh.

Ireng ber­ta­nya dengan suara lemah:

Tidak ada hasil?

Ranta bang­kit dan sambil meng­ham­piri pintu yang masih ter­kunci ber­kata ter­ta­han:

Ker­bau­nya sudah diju­al­kan orang lain. Bagai­mana di pasar tadi?

Istri­nya mem­buka kunci pintu dan menyi­la­kan sua­mi­nya masuk. Dengan meng­ha­dap pada pintu ter­nga­nga di mana sua­mi­nya masuk ke dalam rumah ia ber­kata dengan suara yang masih juga ter­ta­han:

Pasar kacau, Pak. Diob­rak-abrik DI.

Dari dalam rumah ter­de­ngar suara Ranta mena­han marah:

Dia lagi!

Ireng masuk ke dalam.

Tiada lama kemu­dian datang Musa dari tikungan jalan. Ia ber­pa­kaian jas tutup coklat, ber­sa­rung peli­kat, ber­peci tinggi hitam ber­kem­bang sutera. Semua yang dike­na­kan­nya sudah tua tetapi rapi dan bersih. Ia men­jin­jing akten­tas yang juga telah tua ber­warna hitam, tetapi masih bagus. Pada tangan kir­i­nya ia mem­bawa tong­kat besar yang meleng­kung pada hulu­nya. Ia beru­mur kurang lebih empat puluh tahun. Dari gerak-gerik­nya yang sopan ter­ken­dali, dan dari per­a­wak­an­nya, nampak benar ia tak pernah bekerja berat atau­pun bekerja kasar. Sampai di depan pen­dopo ia menin­jau-ninjau pintu seben­tar, kemu­dian mem­be­la­kangi pintu sambil memang­gil-mang­gil:

Ta! Ranta! Ta!

Seje­nak tiada ber­ja­wab. Ia memang­gil-mang­gil lagi, lebih keras, tetapi ter­ken­dali:

Ta! Ranta! Ta!

Sekali ini pun tak ber­ja­wab.

Ia teleng­kan kepa­la­nya sedi­kit ke arah pintu sambil ter­se­nyum licik. Kemu­dian memang­gil-mang­gil lagi:

Reng, Ireng! Mana lakimu!

Nampak Ireng meng­in­tip seje­nak di pintu, kemu­dian cepat mena­rik kepa­la­nya, hilang.

Kem­bali Musa ter­se­nyum licik. Memang­gil-mang­gil lagi:

Reng, Ireng. Jangan sem­bu­nyi­kan lakimu itu, ah.

Ireng muncul di ambang pintu. Ber­su­ara ramah dan agak keras, tetapi nyata sua­ra­nya ter­de­ngar sum­bang:

Siapa sih pang­gil-pang­gil itu? O, Jur­a­gan Musa. Duduk, Gan!

Tanpa meno­leh bela­kang Musa menyam­but:

Mulai kapan sih, pura-pura tak kenal aku?

Ireng mera­pih­kan bale bambu sambil men­ja­wab:

Bukan­nya pura-pura tak kenal, Gan. Memang tidak tahu sih.

Musa memu­tar-mutar tong­kat­nya, dan tanpa mene­ngok pada Ireng mene­rus­kan kata-kata­nya sambil ter­se­nyum:

Mana Ranta!

Belum datang, Gan.

Dengan suara sete­ngah ber­bi­sik Musa men­de­sak:

Jangan bohong. Sudah kul­i­hat tadi dia pulang. Ta! Ranta.

Benar, Gan, belum datang.

Baru kemu­dian Musa ber­ba­lik dan ber­ja­lan lambat-lambat menuju pintu. Ber­kata dengan agak kasar:

Ta! Ranta! Keluar!

Ireng menying­kir ke pojok bale. Rahang bawah­nya ber­ge­rak-gerak gugup, sedang kedua belah tangan­nya nampak men­cari-cari sesu­atu untuk dipe­gang­nya dalam usa­ha­nya untuk mene­kan kegu­gup­an­nya. Tenang seje­nak, dan bunyi air beserta kicau burung ter­de­ngar nyata.

Dengan menun­duk­kan kepala, mem­bong­kok sedi­kit, dan lemah lung­lai, Ranta keluar dari rumah mele­wati pintu. Dengan air muka muram, tak senang hati dan segan ia meng­ha­dap Musa. Dan dengan suara ber­nada ber­sa­lah ia memu­lai:

Saya, Gan.

Meng­apa tak dari tadi-tadi muncul?

Ranta tak men­ja­wab, hanya men­ja­tuh­kan pan­dang lebih dalam.

Tak baik pura-pura tak dengar. Bia­sa­nya kau tak begitu, Ranta.

Saya, Gan.

Nah, Ireng, aku mau bicara dengan lakimu, per­gi­lah.

Kem­bali Musa memung­gungi pintu. Semen­tara itu men­dung kian lebat tebal sehingga cuaca pun makin gelap. Sambil meno­leh sedi­kit ke bela­kang Musa memang­gil Ranta:

Sini!

Ranta maju sedi­kit dan ber­diri di sam­ping Musa agak di bela­kang­nya. Dengan suara men­coba-coba ramah ia menyi­la­kan:

Duduk, Gan.

Tetapi Musa pura-pura tak dengar. Ia mene­ra­wang langit. Ber­kata:

Mau hujan. Lihat, tu. Ah-ah, waktu baik, musim baik. Bukan, Ta?

Ya, Gan.

Bagai­mana? Bisa jual kerbau Minin?

Sudah diju­al­kan orang lain, Gan.

Tak apa, lihat langit itu!

Saya, Gan. Waktu baik, musim baik, Gan.

Tanpa diduga Musa ter­tawa senang, dengan suara yang tidak lagi ter­ken­dali, ter­tawa loba dan tama. Baru kemu­dian ia tak memung­gungi pintu lagi. Meman­dangi Ranta, yang terus juga menun­duk sambil men­cung­kil-cung­kil tanah dengan ibu jari kaki­nya, dari bawah sampai ke atas dan dari atas sampai ke bawah. Sete­lah diam seju­rus ia men­de­ngus.

Kemu­dian ber­kata pelahan:

Pasar diob­rak-abrik DI. Sudah tahu, Ta? Jadi binimu juga gagal. Nah, waktu baik, musim baik. Malam ini, Ta, ingat-ingat, nanti jam sebe­las malam.

Peker­jaan apa, Gan?

Ambil bibit karet, ya?

Susah mem­ba­wa­nya, Gan?

Susah mana sama lapar, Ta?

Ranta ber­diam diri, meng­ga­ruk-garuk teng­kuk dan leher, kemu­dian, sete­lah merasa pan­dang Musa ditim­pa­kan­nya pada kening­nya, tangan­nya yang meng­ga­ruk-garuk jatuh lung­lai. Musa memu­lai:

Tahun yang lalu kau juga yang kusu­ruh ambil bibit karet. Seka­rang kau juga yang kusu­ruh. Apa susah­nya?

Jur­a­gan tahu sen­diri, Gan, dulu hampir-hampir ter­tang­kap.

Goblok! Apa per­lu­nya otak dalam kepa­lamu itu:

Saya, Gan.

Jadi berang­kat nanti malam. Aku tunggu jam tiga pagi di rumah.

Saya, Gan.

Musa mero­goh kan­tung­nya dan menye­rah­kan uang sering­git pada Ranta. Sebe­lum berang­kat ia ber­pe­san:

Kalau ada apa-apa, jangan sebut-sebut namaku. Meng­erti?

Dengan tajam ia menen­tang mata Ranta, kemu­dian berang­kat sambil meng­a­yun-ayun­kan tong­kat­nya.

Semen­tara hari telah gelap. Ireng mema­sang lampu minyak di dalam rumah sehingga sinar­nya mene­ro­bosi sela-sela anyaman bambu din­ding depan, jatuh di beranda. Ranta men­ja­tuh­kan diri di bale beranda. Menge­lamun jauh, kadang-kadang ter­de­ngar nafas keluh­nya yang pan­jang, dalam, dan berat.

Waktu Ireng keluar dan meng­ham­pir­i­nya ia menye­rah­kan uang pem­be­rian tadi dan kemu­dian mene­rus­kan penge­lam­un­an­nya.

Ireng mene­rima uang itu, menga­ji­nya pada sinar lampu yang mene­ro­bosi din­ding, kemu­dian ber­kata menang­gung geram:

Sering­git! Si buaya!

Diam, Ireng. Diam.

Kalau aku laki-laki, Pak, sudah lama dia kute­kuk batang leher­nya. Kau yang sela­ma­nya baik dipaksa dia jadi pen­curi!

Diam Ireng.

Diam? Engkau lakiku, bukan laki­nya. Kalau ada apa-apa?

Ranta bangun dan duduk, dita­rik­nya tangan Ireng dan dengan lemah lem­but­nya ber­kata dengan kata-kata yang keluar satu-satu, jelas, pelahan, dan penuh kasih sayang:

Ada wak­tu­nya, Reng, kita akan hidup baik dan senang. Nanti.

Insya Allah, Pak. Kita sudah cukup bekerja—kita berdua. Tetapi rezeki masih juga di tangan Tuhan.

Ranta bang­kit ber­diri, mele­tak­kan tangan kanan­nya pada pundak istri­nya, dan ber­kata seperti sebe­lum­nya, dengan lemah lembut, dengan kata-kata yang keluar satu-satu, jelas, pelahan, dan ber­ka­sih sayang:

Kalau kea­daan sudah baik, kita akan atur rezeki kita sen­diri.

Ireng menyam­but kata-kata itu tanpa meng­erti mak­sud­nya: Insya Allah, Pak. Insya Allah.

Tidur­lah.

Ireng ter­ke­jut. Ia cari mata sua­mi­nya di dalam kerem­bangan beranda dan ber­ta­nya dengan nada kuwa­tir:

Kau, Pak? Kau mau ke mana?

Ranta tak men­ja­wab.

Pergi juga, Pak? Nyo­long bibit karet?

Ranta mena­rik tangan istri­nya dan diba­wa­nya masuk ke dalam rumah. Di depan pintu Ranta mena­han Ireng dan mena­tap mata­nya. Ber­kata:

Dengar, Reng. Memang aku sering nyo­long. Tapi bukan karena kema­u­anku aku jadi maling.

Pak! Pak!

Kalau nanti kea­daan sudah baik…

Kalau ditang­kap, Pak?… tentu saja tak ada seo­rang juga mau jadi maling, Ireng…

Kalau dipu­kuli orang banyak, Pak, dipu­kuli pen­jaga onde­r­ne­ming…

Jangan doakan, Ireng, jangan.

Pak! Pak!

Seka­rang ini mereka yang ten­tu­kan hidup kita, Ireng. Mereka!

Siapa mereka, Pak?

Siapa? Kau tak tahu?

Pak! Pak!

Dalam sinar lampu minyak tanah yang rem­bang-rem­bang itu nampak jelas Ranta mena­rik otot-otot­nya yang kukuh lagi kasar, dan dengan amarah yang ter­tin­das sua­ra­nya mele­dak ter­ken­dali, satu-satu:

Mereka! Yang datang pada kita hanya untuk menyu­ruh kita jadi maling. Mereka! Yang hidup memi­sah dari kita, seperti bina­tang buas di rimba. Mereka, yang dalam kepa­la­nya cuma ada piki­ran mau mangsa sesa­ma­nya. Mereka! Mereka! Jangan pergi, Pak!

Tapi besok hari Senen. Kita mesti tengok Riah di rumah sakit.

Pelahan-lahan penuh piki­ran kedu­a­nya masuk ke dalam. Dari dalam ter­de­ngar suara Ireng:

Besok saja kita makan, Pak.

Lantas, dari mana malam-malam begini bisa dapat makan?

Sese­o­rang di antara mereka meng­ham­piri pintu. Ter­de­ngar palang pintu dipa­sak­kan. Seben­tar kemu­dian pelita dipa­dam­kan.

Kea­daan gelap gulita. Dari jauh ter­de­ngar bunyi burung hantu di selang-seling suara gong­gong anjing. Antara seben­tar kilat menge­r­jap disu­sul bunyi gur­uh­nya men­dayu-dayu dari jauh. Bunyi air kali kian deras ter­de­ngar.

Kem­bali dua orang pemi­kul sing­kong datang dari jurusan mereka pergi. Dan dalam kege­lapan itu ter­de­ngar Yang Kedua ber­kata:

Meng­i­nap sini saja. Minta izin, gé!

Kem­bali kilat menge­r­jap, dan nampak kedua-duanya agak basah ter­timpa hujan geri­mis.

Yang Per­tama meng­ham­piri pintu dan menyapa:

Pak, Pak! Bukan DI ini, orang baik-baik. Boleh nginap sini, Pak?

Tak ber­ja­wab.

Mereka letak­kan bawaan masing-masing di dekat pintu kemu­dian tidur di atas bale.

Kea­daan kem­bali tenang. Nya­ring ter­de­ngar suara burung culik ter­bang ke arah barat. Bunyi air kian deras. Sekali lagi kilat menge­r­jap. Nampak kedua orang pen­da­tang itu telah tidur. Lambat-lambat ter­de­ngar bunyi keruh mereka.

Pelahan dan hati-hati Ranta mem­buka pintu. Waktu sampai di depan pintu kem­bali kilat menge­r­jap, dan nampak dengan hati-hati­nya ia mem­bung­kuk-bung­kuk menin­jau kedua orang pen­da­tang itu. Pada ping­gang­nya ter­se­lit sebi­lah golok pan­jang. Pada tangan kanan­nya ia mem­bawa piku­lan dan tali. Pada tangan kir­i­nya ia mem­bawa topi capio. Ia tak ber­baju, telan­jang dada dan hanya ber­ce­lana dalam hitam. Sete­lah dili­hat­nya kedua orang pen­da­tang itu telah tidur nye­nyak ia ber­ja­lan meng­en­dap-endap dan akhir­nya hilang dari peman­dangan.

Bunyi air kali mem­buat sua­sana men­jadi kian sepi.

Langit mulai memu­dar, menan­da­kan hari baru men­je­lang tiba. Sekali dua ter­de­ngar ayam ber­ke­ru­yuk.

Tiba-tiba dari dalam rumah ter­de­ngar suara Ireng:

Yahh, ke mana orang ini?

Ter­de­ngar ia menya­la­kan korek api kemu­dian nyala pelita meman­car keluar mela­lui lubang-lubang din­ding. Nampak Ireng mem­buka pintu, menin­jau ke depan, kiri, dan kanan, kemu­dian ter­de­ngar sua­ra­nya yang masih sete­ngah mengan­tuk dan parau:

Pergi juga. Pintu dibi­ar­kan tak ter­kunci. Ya Allah, sela­mat­kan dia dari ben­cana dan dosa.

Ia ter­te­gun, men­de­ngar bunyi orang ber­ke­ruh di bale beranda. Menyapa:

Siapa?

Salah seo­rang pen­da­tang itu merin­tih men­ja­wab dalam tidur­nya.

Ireng meng­ham­piri dan mem­ba­ngun­kan:

Pak! Aku kira pergi.

Dan langit yang biru pekat seben­tar tadi kini sudah meni­pis sehingga nampak sudah alam seki­tar dalam kerem­bangan yang samar. Nampak Yang Per­tama ter­lom­pat dari bale, meng­o­cok mata, mena­tap Ireng kemu­dian mem­be­li­ak­kan mata­nya yang belum awas dan dengan kaget­nya ber­seru:

Maaf, Mpok. Kami meng­i­nap di sini sema­lam. Kami sudah…

Yang Kedua pun bangun dan turun dari bale dan mene­rus­kan kata-kata Yang Per­tama:

Tapi tak ada yang dengar, jadi kami tidur saja di sini.

Ireng ter­he­ran-heran. Kemu­dian mata­nya jatuh pada dua pikul sing­kong di pojo­kan dekat bale. Yang Per­tama meng­i­kuti arah pan­dang Ireng, dan ber­kata meminta maaf:

Tadi­nya mau ke tempat pemung­ga­han truk, jual sing­kong. Tahu-tahu truk diba­kar DI. Ya Allah, bukan main! Bukan main!

Ireng seben­tar masih ter­he­ran-heran. Baru kemu­dian ia sadar akan dir­i­nya dan ber­ta­nya:

Tidak lihat lakiku?

Yang Kedua duduk di ambin sambil men­ja­wab dan meng­o­cok mata:

Maaf, Mpok, begitu kami rebah, begitu ter­ti­dur.

Kem­bali Ireng mene­bar­kan pan­dang pada dua pikul sing­kong di pojo­kan. Yang Kedua meng­i­kuti tebaran pan­dang itu dan mena­war­kan:

Mau?

Dan sebe­lum Ireng sempat men­ja­wab, Yang Kedua telah meng­ham­piri piku­lan­nya dan menu­run­kan bebe­rapa batang sing­kong di atas lantai tanah. Yang Per­tama menya­ran­kan:

Ambil­lah.

Yang Kedua ter­se­nyum baha­gia meli­hat Ireng ber­seri-seri. Kemu­dian ber­ta­nya:

Boleh dapat air sedi­kit?

Sebe­lum Ireng sempat men­ja­wab, kedu­a­nya telah mening­gal­kan beranda, pergi ke bela­kang untuk mem­ber­sih­kan diri. Ireng meng­am­bil sing­kong yang dibe­ri­kan kepa­da­nya dari tanah dan mem­ba­wa­nya masuk ke dalam mela­lui pintu depan.

Hari telah terang selu­r­uh­nya seka­rang. Beranda itu tiada ber­o­rang. Bunyi air kali tidak seriuh kema­rin.

Ireng muncul kem­bali di beranda mem­bawa sepi­ring sing­kong rebus, dan mena­ruh­nya di atas ambin. Kemu­dian kedua orang pen­da­tang muncul pula dalam kea­daan segar sete­lah mandi. Tak lama kemu­dian datang pula Ranta dari tikungan jalan, hanya ber­ce­lana dalam hitam, ber­lu­muran lumpur sedang tangan­nya yang sebe­lah kiri tidak ber­leng­gang, dibe­bat­nya dengan kulit batang pisang basah.

Meli­hat laki­nya pulang dalam kea­daan lung­lai Ireng men­je­rit:

Pakkk!

Kedua orang pen­da­tang itu mundur karena ter­ke­jut, tetapi waktu menya­dari apa yang sedang ter­jadi, segera mereka meng­ham­piri dan mema­pah Ranta.

Ireng meme­luk laki­nya dan ber­ta­nya sete­ngah mera­tap:

Kenapa, Pak? Kenapa? Mana piku­lan? Mana golok?

Dengan tenang­nya Ranta mem­be­bas­kan diri dari papa­han kedua orang pen­da­tang itu, juga dari pelukan istri­nya. Ber­kata tenang ter­ken­dali:

Hilang! Semua. Dir­am­pas bina­tang-bina­tang buas itu juga. Mereka!

Kedua orang pen­da­tang itu mundur, tak tahu apa yang harus diper­buat. Tetapi Ranta telah mene­rus­kan:

Aku tak takut di bui. Mereka suruh aku curi bibit karet onde­r­ne­ming. Aku bawa­kan sampai dua kali balik. Mereka bilang. ‘Cukup, pulang kau!’ Aku tanya, ‘Mana upahku?’ Mereka beri aku upah pukulan rotan, meram­pas piku­lan dan golokku. Tahu apa mereka bilang? ‘Jangan berani-berani ke sini curi bibit karetku, ya?’

Ireng merin­tih.

Yang Per­tama ter­ke­jut dan ber­diri tegak. Mata­nya ter­be­la­lak. Seje­nak kemu­dian baru buka mulut:

Cuma orang sema­cam Jur­a­gan Musa bisa ber­buat begitu!

Seka­rang Ranta yang ter­ke­jut. Ia ter­be­la­lak meman­dangi Yang Per­tama dan ber­ta­nya dengan suara masih juga tetap ter­ken­dali:

Dari mana tahu?

Yang Per­tama mena­rik Ranta dan didu­duk­kan­nya di ambin. Kata­nya:

Dengar. Tahun yang lalu begitu juga yang kua­lami. Lihat pung­gungku.

Kemu­dian Yang Per­tama mem­buka baju kaos kutung­nya. Sete­lah Ranta meli­hat­nya ia menge­na­kan baju­nya kem­bali sambil ber­kata:

Dicam­buki dengan buntut ikan pari. Juga soal maling karet. Empat orang meng­ha­jar aku habis-habisan. Apa kata­nya? ‘Kalau tidak lekas-lekas pergi aku lapor­kan pada polisi!’ Aku lari pulang. Tadi­nya aku ber­niat mau bunuh dia. Tapi lama-kela­maan niatku men­jadi lemah. Akhir­nya aku lupa­kan. Tapi meli­hat kau seka­rang ini…

Ranta mena­han Yang Per­tama dengan tangan­nya yang sehat. Ber­kata:

Biar­lah. Mem­bu­nuh dia tak ada guna­nya. Kita sudah dibu­at­nya jadi maling. Tapi mereka juga dibuat jadi maling.

Ireng ber­te­riak murka:

Siapa mem­buat dia jadi maling?

Yang Per­tama menim­b­rung:

Mereka kaya, tidak perlu jadi maling.

Ranta meng­ge­leng-geleng­kan kepala penuh kesa­baran. Dan dengan suara ber­nada keya­kinan ia pun menya­bar­kan mereka:

Keka­ya­an­nya mereka per­o­leh dari maling. Ireng, kau ingat waktu anak kita yang per­tama sakit keras, pinjam hutang pada mereka? Anak kita mening­gal. Panen selu­r­uh­nya mereka ambil. Kita kela­paran, ter­paksa jual tanah. Mereka juga yang ambil tanah kita. Berapa har­ga­nya? Tak cukup buat modal dagang di pasar! Ludas! Tandas! Kuras!

Seje­nak kese­nyapan menyu­sul. Ireng telah ter­le­pas dari penga­ruh yang meng­gem­par­kan hati­nya. Yang Kedua masih juga ter­paku tak tahu apa mesti diper­buat. Yang Per­tama men­do­r­ong piring sing­kong kepada Ranta dan menyi­la­kan:

Makan dulu. Makan dulu.

Ranta meng­ang­guk lung­lai. Menyam­but:

Ya, makan dulu. Sejak kema­rin belum makan. Sejak kema­rin dulu belum tidur. Tidur? Seben­tar lagi mesti pergi ke kota, lihat anak di rumah sakit.

Sakit?

Sakit. Baru sekali ini dibawa ke rumah sakit. Yang lain-lain sudah tak ada umur­nya.

Kem­bali sunyi senyap. Bahkan juga nya­nyian burung dan bunyi air kali tak ter­de­ngar sedi­kit pun. Angin pagi yang per­tama meniup pelahan-lahan, mem­buat rumbia bubungan meng­ge­tar sedi­kit. Ireng meng­ha­pus mata­nya dan masuk ke dalam rumah. Dari dalam ter­de­ngar sua­ra­nya yang menya­yu­kan hati:

Hati mau menyugu kopi. Tapi apa boleh buat, kopi tidak gula pun tidak.

Yang Per­tama segera menyam­but:

Tak apalah. Air pun jadi, asal panas.

Seben­tar kemu­dian Ireng muncul pula mem­bawa poci ber­i­sikan air panas yang masih meng­uap-uap. Bebe­rapa cang­kir dengan piring­nya. Dengan lahap­nya mereka, selain Ireng, meng­hi­rup air panas itu dengan leganya. Semen­tara itu Ireng meng­ham­piri sua­mi­nya dan ber­ta­nya:

Biar kura­wat tanganmu.

Ranta meng­hin­dar­kan tangan­nya. Sete­lah mena­ruh piring cang­kir di atas ambin ia ber­kata men­ce­gah:

Biar. Tidak apa-apa, nih.

Pak, seru Ireng dengan suara lemah mengan­dung haruan dan kasih sayang.

Ranta mene­rus­kan makan sing­kong, mene­lan­nya, dan kemu­dian ber­kata:

Tidak apa-apa, Ireng. Aku bilang, tidak apa-apa. Nanti kalau kea­daan sudah baik, semua ini tidak lagi ter­jadi.

Sekali lagi Ireng meng­ha­pus mata­nya, sekali ini dengan ujung keba­ya­nya. Cepat-cepat sambil menun­duk menyeka mata ia masuk ke dalam rumah. Dengan suara ter­ta­han-tahan ter­sum­bat di kerong­kongan ter­de­ngar ia ber­kata dari dalam:

Ah, Pak, itu-itu juga yang kau kata­kan. Kau ter­lalu sabar. Tapi kapan kea­daan akan jadi baik?

Ranta ter­se­nyum. Dengan yakin­nya ia ber­kata:

Senang aku dengar per­ta­nyaan seperti itu, Ireng. Sudah lama kutunggu-tunggu. Kapan kea­daan jadi baik?

Yang Per­tama dan Yang Kedua meng­a­wasi Ranta dengan pan­dang menga­gumi.

Kapan? Itu ter­gan­tung pada kapan kita sen­diri mulai meng­u­sa­ha­kan.

Kem­bali ter­de­ngar suara Ireng dari dalam:

Aku tak meng­erti, Pak.

Tanpa ada seo­rang yang men­duga Yang Kedua men­da­pat­kan dir­i­nya kem­bali dan ber­ta­nya mengu­at­kan Ireng:

Ya, kapan? Dulu kita diuber-uber lurah, tuan besar admi­nis­tra­tur, rodi, wajib desa. Kita tak sempat cari peng­hi­dupan layak. Zaman Jepang apa? Romusha1 sampai kurus kering, sampai mampus. Zaman Nica2 apa? Lagi-lagi diuber-uber kena rodi, ditem­baki saban hari. Seka­rang apa? Diuber-uber DI. Itu belum lagi. Kawan-kawan kita sen­diri seka­rang sudah sama mening­kat, jadi jur­a­gan…

Sampai di sini segera Ranta menyam­bar: Bina­tang buas:)

Yang Kedua setuju dan meng­u­langi:

Ya, bina­tang buas. Mereka takut-takuti kita dengan polisi, dengan ten­tara, dengan DI, dan kita disu­r­uh­nya maling. Kita dipu­kul­i­nya seba­gai upah­nya. Ya, kita tak sempat men­cari peng­hi­dupan yang layak. Tapi kapan kita sen­diri mulai meng­u­sa­ha­kan?

Ranta mene­rus­kan dengan suara ber­nada keya­kinan:

Kalau kita sudah ber­satu seperti dulu. Ingat kau? Waktu Jepang hampir turun? Lima belas tahun yang lalu barang­kali? Kita ber­satu mela­wan gerom­bolan ajag yang tiap malam mem­bu­nuh kam­bing dan sapi kita?

Yang Per­tama menyela:

Kam­pungku dapat bunuh dua puluh lima ekor dalam tiga bulan.

Tiba-tiba Ireng keluar dari rumah dan lang­sung menuju Ranta. Ber­ta­nya:

Bagai­mana tanganmu. Tidak sakit?

Ranta ter­se­nyum kasih kepada istri­nya, ber­kata dengan nada meya­kin­kan:

Sakit? Tentu saja sakit. Tapi itu tidak pen­ting. Kita hidup dalam kesa­kitan melulu. Kalau bukan daging yang sakit, ya hati. Kesa­kitan melulu!

Yang Kedua meman­dangi Ranta dengan mata menga­gumi, kemu­dian ber­ta­nya:

Abang pernah seko­lah dulu?

Seka­rang Ranta mena­tap Yang Kedua, meng­ang­guk dan men­ja­wab:

Kalau hanya mem­baca dan sedi­kit menu­lis aku dapat.

Yang Per­tama menam­bahi:

Kalau tahu begitu, nanti kalau ada pemi­l­ihan lurah mesti kita pilih.

Dengan mata ber­seri-seri Yang Kedua mengi­ya­kan. Ireng pun nampak ber­seri-seri. Sedang Ranta sen­diri pun ber­seri-seri dan dengan nada ber­te­ri­ma­ka­sih tanpa ber­pura-pura malu menyam­but­nya: Kalau ada yang pilih aku jadi lurah, tentu aku terima. Tapi aku takkan calon­kan diri. Aku tak mampu kelu­ar­kan biaya. Tapi kalau aku dipi­lih, tentu pilihan aku terima.

Mata­hari meman­car dengan terang­nya. Ber­beda dengan kema­rin bunyi kali tak ter­de­ngar lagi. Hanya kadang-kadang nya­ring ter­de­ngar bunyi burung.

Tiba-tiba Yang Per­tama kaget. Ia menin­jau-ninjau sesu­atu di keja­uhan, di mana jalan yang bakal ditem­puh­nya nanti mem­be­lok. Dengan, suara cemas ia mem­be­ri­ta­hu­kan:

Awas, Jur­a­gan Musa datang.

Semua nampak kaget dan cemas ter­ke­cu­ali Ranta yang malah ter­se­nyum dan ber­kata pelahan:

Aku sudah bosan takut. Biar dia datang.

Segera Yang Per­tama dan Kedua meng­am­bil piku­lan dan memi­kul sing­kong­nya ke arah mereka kema­rin datang. Namun sempat juga mereka meminta per­misi.

Dengan tenang­nya Ranta meng­ha­dapi keda­tangan Jur­a­gan Musa. Ireng meme­gangi leng­an­nya dan ber­bi­sik-bisik. Tetapi, Ranta meng­ge­leng­kan kepala. Ter­de­ngar ia ber­kata:

Kau sudah dengar sen­diri. Aku sudah bosan takut!

Ireng men­coba-coba mena­rik tangan sua­mi­nya untuk dibawa masuk ke dalam. Tetapi Ranta tak ber­ki­sar dari tem­pat­nya.

Dengan tenang, dagu sedi­kit ter­ang­kat, tong­kat di tangan kiri dan akten­tas di tangan kanan, dengan pakaian yang kema­rin juga, Jur­a­gan Musa lewat di depan rumah Ranta tanpa sedi­kit pun melem­par­kan pan­dang pada beranda atau Ranta sen­diri atau Ireng yang ber­diri keta­kutan meng­a­was­i­nya.

Ranta dan Ireng meng­a­wasi Jur­a­gan Musa hilang dari peman­dangan. Dan tanpa mereka duga-duga Yang per­tama dan Yang Kedua datang lagi tanpa mem­bawa piku­lan dari arah Jur­a­gan Musa datang.

Yang Per­tama ikut meng­a­wasi arah Jur­a­gan Musa pergi dan ber­kata pelahan:

Bina­tang!

Rupa-rupa­nya Ireng dan Ranta tak menya­dari keha­diran mereka, karena nampak kedua-duanya ter­ke­jut. Ireng segera mene­gur:

Aku kira sudah pergi.

Yang Kedua segera menyam­but:

Siapa tahu dia mau ber­buat keji lagi? Jadi kami memu­tar ke bela­kang rumah. Kalau ada apa-apa kami bisa segera mem­bantu, kan?

Ireng segera menyam­bar:

Kalau dia mau, siapa di antara kita bisa lawan? Dia tak pakai tenaga badan­nya. Dia punya uang. Kita tak bisa lawan uang­nya. Dia punya kawan orang besar-besar. Kita cuma punya kawan orang kecil-kecil.

Ranta memu­tus­kan kata-kata istri­nya:

Kita sudah bosan putus asa. Kita takkan putus asa lagi. Kita akan per­ba­iki kea­daan kita. Bukan, Ireng?

Yang Kedua, yang amat menga­gumi Ranta, ber­ta­nya:

Benar. Tapi kapan? Bagai­mana cara­nya?

Entah­lah, barang­kali nanti kita tahu.

Yang Per­tama seka­rang mem­buka suara:

Kang, tidak ada apa-apa, kan? Kita akan terus pulang saja seka­rang.

Ranta ter­se­nyum, mem­per­ba­iki letak leng­an­nya yang sakit dan ber­kata:

Baik­lah. Terima kasih, ya. Kalau ada waktu datang lagi. Ajak kawan-kawan yang lain.

Yang Per­tama meng­ang­guk. Ia mulai ber­ja­lan. Tetapi sebe­lum hilang di peng­kolan ia ber­ja­lan kem­bali dan mene­rang­kan:

Hampir dua hari sekali kami lewat sini meng­ang­kut sing­kong.

Dan tanpa menunggu jawaban Yang Per­tama pergi lagi, mene­rus­kan per­ja­lanan:

Ireng mena­tap sua­mi­nya. Ber­kata:

Cuma orang-orang sema­cam dia kawan kita, Pak.

Ya, orang-orang seperti dia, jangan remeh­kan, Ireng.

Apa keku­a­sa­an­nya, Pak?

Belum ada. Tapi yang ber­ku­asa seka­rang dan dulu, ber­a­sal dari orang-orang seperti dia juga, Ireng. Ingat-ingat! Kita pergi ke rumah sakit?

Ireng mena­jam­kan pen­de­ng­ar­an­nya, kemu­dian mena­tap wajah sua­mi­nya yang nampak ter­lalu letih sete­lah meng­a­lami begitu banyak kete­gangan:

Tak ada kede­ngaran truk ten­tara lewat.

Lusa saja kita pergi. Aku lelah.

Kasihan si Pi-ah. Barang­kali sudah menunggu-nunggu.

Biar aku tidur barang seben­tar.

Kedua-duanya masuk ke dalam.

Sunyi senyap seben­tar. Sinar mata­hari ber­tam­bah terik. Bayang-bayang pohon di depan rumah yang jatuh di dalam beranda nampak sema­kin sempit.

Dengan gaya jalan orang kaya yang tiada mem­pe­du­li­kan segala-gala­nya Jur­a­gan Musa datang pula dari arah ia pergi seben­tar tadi. Sampai di depan pintu depan rumah Ranta ia ber­henti, memung­gungi pintu dan memang­gil-mang­gil sopan:

Ranta! Ranta! Keluar!

Tak ber­ja­wab.

Ireng! Mana lakimu?

Dengan lang­kah hati-hati Ireng keluar dari rumah­nya mela­lui pintu depan:

Saya, Jur­a­gan.

Tidak dengar? Mana lakimu?

Jur­a­gan Musa masih tetap memung­gungi pintu, seakan-akan Ireng tiada ber­harga bagi mata­nya. Ia ber­diri tegak tak ber­ge­rak-gerak sedang mata­nya menin­jau langit, seakan-akan dari langit itu akan turun segala yang diha­rap­kan­nya.

Ranta cape, Jur­a­gan, mau tidur seben­tar.

Tidak dengar? Suruh keluar lakimu, bangun­kan!

Ireng masuk ke dalam dan lama tidak juga keluar. Jur­a­gan Musa nampak agak kesal. Tapak tangan­nya yang ter­le­tak di atas beng­kokan tong­kat dige­rak­kan secara meng­gi­gil, tetapi mata­nya masih juga menin­jau langit. Tangan kanan­nya yang men­jin­jing akten­tas ber­ge­rak sedi­kit saja, sedang kaki­nya menge­tuk tanah mela­lui ujung sepa­tu­nya. Waktu dike­ta­hu­i­nya Ireng belum keluar juga dan Ranta demi­kian pula, baru­lah mata­nya dija­tuh­kan dan meli­rik sedi­kit ke bela­kang. Dan waktu diin­saf­i­nya bahwa yang dike­hen­dak­i­nya tak juga keluar, ia mene­leng ke bela­kang sedi­kit, tetapi waktu dide­ng­ar­nya pintu beranda ber­ge­rak, kem­bali ia menin­jau ke langit. Tetapi ter­nyata tak ada orang keluar, bahkan pintu yang ter­buat dari anyaman bambu belah itu ditu­tup dari dalam. Waktu menya­dari ini, nampak per­u­ba­han, pada wajah Jur­a­gan Musa. Mata­nya menyala-nyala karena amarah. Seka­li­gus lenyap sifat yang sopan dan tak peduli, pada sesu­atu pun. Dengan kasar­nya ia mem­ba­lik badan meng­ha­dap lang­sung pada pintu dan ber­te­riak keras-keras:

Ranta! Keluar-tidak?

Tak ber­ja­wab.

Ranta! Keluar!

Tak ber­ja­wab.

Baik. Kau tak mau keluar. Aku lapor­kan pada polisi bahwa kau sudah curi bibit karetku. Ya?

Dari dalam tak ter­de­ngar suara menya­hut. Sunyi senyap seben­tar. Dari jauh ter­de­ngar gong­gong anjing—sayup-sayup.

Ranta! Benar-benar tak mau keluar?

Baru sete­lah itu nampak pintu ter­buka, dan Ranta keluar. Jur­a­gan Musa menyam­but­nya dengan kata-kata keras:

Berani-bera­ni­nya lawan perin­tahku…

Ranta melang­kah keluar ambang. Bahu­nya ter­ta­rik ke atas, mata­nya ter­pu­sat pada wajah Jur­a­gan Musa, sedang kedua belah tangan­nya ter­ang­kat ke atas sedi­kit. Dengan tubuh­nya yang besar per­kasa itu, nampak seperti bina­tang buas hendak mener­kam mang­sa­nya. Lengan kir­i­nya yang telah ter­le­pas dari balut kulit batang pisang kering kini telah ter­ba­lut dengan kain-kainan. Dan pada pem­ba­lut itu merem­bes darah.

Jur­a­gan Musa ber­te­riak meng­ger­tak:

Ranta! Berani-bera…

Sebe­lum ia sele­sai meng­ha­bis­kan kata-kata­nya dili­hat­nya Ranta terus melang­kah maju pelahan-lahan hendak mener­kam­nya. Jur­a­gan Musa melang­kah mundur. Tetapi Ranta terus maju. Akhir­nya Jur­a­gan Musa ber­te­riak:

Kalau berani ganggu, kupu­kul!

Jur­a­gan Musa meng­ang­kat tong­kat­nya tinggi-tinggi. Ranta terus maju. Kea­daan itu mem­buat Jur­a­gan Musa kehi­langan sema­ng­at­nya. Karena takut­nya ia melom­pat mundur, akten­tas dan tong­kat­nya jatuh ke tanah, kemu­dian ia lari ter­bi­rit-birit sambil meng­ang­kat sarung­nya tinggi-tinggi.

Ranta ber­henti di sam­ping rumah­nya, ber­kata dengan suara men­de­sis mela­lui gigi­nya:

Bina­tang buas!

Ireng ber­lari-larian keluar, mena­rik tangan kanan Ranta dan menya­bar­kan:

Jangan marah, Ranta.

Ranta meng­i­kuti tarikan istri­nya. Kedua-duanya duduk di atas ambin beranda. Ranta tetap meng­a­wasi arah Jur­a­gan Musa lari. Ireng meng­a­wasi sua­mi­nya. Seje­nak kemu­dian Ireng melem­par­kan pan­dang ke depan rumah dan meli­hat akten­tas serta tong­kat Jur­a­gan Musa yang ter­ka­par di atas tanah. Segera ia mem­per­i­ng­at­kan:

Tasnya keting­galan.

Cepat Ranta meng­a­wasi tas itu pula dan mem­per­i­ng­at­kan:

Jangan sentuh. Haram! Najis. Lempar dengan kayu.

Ireng masih tetap mere­nungi tas itu dengan cucuk­nya.3 Ia turun dari ambin meng­ham­piri tas itu, tetapi kedua belah tangan­nya dita­rik­nya ke bela­kang, mem­be­ri­kan kesan pada sua­mi­nya, bahwa ia tak ber­mak­sud hendak menyen­tuh­nya. 1.

Tanpa mereka duga-duga, datang Yang Per­tama, Yang Kedua, mem­bawa seo­rang teman Yang Ketiga. Yang Ketiga adalah seo­rang sete­ngah baya ber­tu­buh kecil, pendek, tetapi gesit ting­kah laku­nya.

Kang, tegur yang Per­tama, ini kawanku. Sudah…

Tiba-tiba Yang Kedua ber­seru sete­lah meli­hat tong­kat dan akten­tas:

Kepu­nyaan Jur­a­gan Musa ini!

Ireng menyam­but mereka dan menya­hut:

Hée. Dia lari. Tadi mau diban­ting Ranta.

Yang Kedua dengan kagum­nya meng­a­wasi Ranta dan ber­seru:

Sudah mulai kalau begitu…

Yang Per­tama dan Yang Ketiga ikut men­de­kati dan meng­a­wasi benda-benda itu, tetapi dari ambin Ranta mem­per­i­ng­at­kan:

Jangan sentuh!

Oleh per­i­ng­atan itu Yang Per­tama dan Yang Kedua men­ja­uh­kan diri dari benda itu dan meng­ham­piri Ranta dengan mata masih juga ter­le­kat pada akten­tas dan tong­kat. Tiba-tiba Yang Ketiga ber­kata:

Cuma aku yang tahu isinya.

Yang Kedua dengan cepat­nya memu­tus­kan kata-kata Yang Ketiga dan ber­ta­nya:

Dari mana tahu? Yang Ketiga meng­a­wasi Yang Per­tama. Oleh pan­dang itu Yang Per­tama mena­tap Ranta dan ber­kata:

Begini, kawan kita ini, kata­nya sambil menun­juk pada Yang Ketiga, sudah dua musim sawah­nya tidak dapat air. Orang-orang Jur­a­gan Musa sudah pin­dah­kan jalan air dari sawah­nya. Dia mem­ban­tah, tadi dia dipu­kuli mereka. Kawan kita ini tak dapat bilang apa-apa. Mau bilang apa? Semua yang ber­ku­asa saha­bat­nya. Tapi, alham­dul­il­lah, keme­na­kan kawan ini jadi bujang di sana. Dia yang tahu, tiap Rabu malam Jur­a­gan Musa berun­ding dengan DI, sedang kita orang-orang miskin sama diram­poki, diba­kari, dibu­nuhi.

Yang Ketiga maju ke depan Ranta dan menyam­bung:

Karena itu dia tak pernah diganggu.

Seka­rang dengan keta­kutan Ireng mene­ngahi:

Kalau begitu, kita dalam bahaya.

Yang Ketiga segera menyam­bung:

Benar. Lebih baik kalian meng­ungsi.

Ranta bang­kit ber­diri, mena­tap tamu­nya seo­rang demi seo­rang, ber­kata:

Jadi kuli di kota?

Ranta meng­ge­leng:

Tidak! Sedi­kit-banyak aku tahu juga Jur­a­gan Musa sering berun­ding dengan gerom­bolan. Begini, mari kita pergi ke rumah bapak Koman­dan, lapor.

Yang Ketiga dengan puas­nya meng­a­wasi Ranta. Ranta meng­ang­guk, dan dengan suara lincah mengi­ya­kan:

Ya, benar. Kita bawa juga tas dan tong­kat­nya. Yang Kedua menyum­bang­kan pen­da­pat­nya dengan kata-kata girang:

Seka­rang benar-benar! Benar-benar!

Ranta tak mem­pe­du­li­kan kata-kata Yang Kedua. Cepat ia ber­pa­ling pada istri­nya dan ber­kata:

Reng, ambil semua pakaian. Kalau sudah kunci pin­tu­nya.

Segera Ireng masuk ke dalam. Ia keluar lagi mem­bawa bung­kusan kecil. Dan sebe­lum mening­gal­kan beranda, ter­le­bih dahulu ia mengunci pintu, menye­lip­kan anak kunci di dalam kutang­nya. Ranta dengan tenang­nya ber­kata:

Mari berang­kat, jangan lewat jalan besar!

Sebe­lum berang­kat Ranta memu­ngut akten­tas dan dima­suk­kan­nya ke dalam bung­kusan yang dibawa Ireng. Kemu­dian bung­kusan itu ia ambil dari tangan istri­nya. Sete­lah itu diam­bil­nya pula tong­kat Jur­a­gan Musa, dan diper­gu­na­kan­nya seba­gai piku­lan ganjal di atas pun­dak­nya.

Dengan cepat-cepat mereka berang­kat mening­gal­kan beranda dan hilang di tikungan jalan. Sunyi senyap di beranda. Sayup-sayup ter­de­ngar bunyi air kali. Tetapi suara burung ber­nya­nyi aneka ragam lebih nyata ter­de­ngar. Langit yang cerah kini mulai redup.

Magh­rib pun tiba.

Dari jauh ter­de­ngar talu beduk surau. Kemu­dian langit! men­jadi hitam tanpa bin­tang. Malam. Dua tiga kali ter­de­ngar guruh di keja­uhan.

Dari jarak yang tidak jauh ter­de­ngar suara-suara:

Masih jauh rumah­nya?

Tu!

Sebuah lampu senter menyo­roti beranda. Dari pan­caran sinar senter nampak siluet bebe­rapa orang laki-laki ber­se­patu. Seo­rang di antara mereka meng­ge­dor-gedor pintu. Kemu­dian salah seo­rang di anta­ra­nya ber­seru-seru:

Ranta, Ranta! Keluar!

Ter­de­ngar suara yang lain:

Dikunci dari luar. Orang­nya tak ada!

Setan kran­jingan! Bakar saja! Waktu lampu senter mati ter­de­ngar bebe­rapa pasang sepatu menen­dang-nen­dang, riuh, tiang rumah yang dita­rik-tarik, dan paling akhir sekali ter­de­ngar gubuk Ranta rubuh. Bakar! Ya, bakar saja! Rumah Ranta hilang lenyap dari muka bumi.



II

Siang hari men­je­lang dhuhur di suatu desa di Banten Selatan.

Langit amat cerah dan terik.

Ruang tamu lebar yang terang ben­de­rang. Sepa­sang sice tua sete­ngah antik yang ter­pe­li­hara baik ter­pa­sang di dekat din­ding. Sebuah lemari pajangan ber­i­sikan ber­ba­gai macam barang pecah belah ter­su­sun dengan rapi ter­le­tak di dekat sice. Pada salah sebuah lang­kan pintu yang men­ju­rus masuk ke dalam kamar tidur di sam­ping ruang tamu ter­pa­sang kali­grafi ayat kur’an. Pada din­ding-din­ding lain yang meling­kupi ruang tamu selain ter­pa­sang kali­grafi ayat kur’an yang ber­ben­tuk kapal dan lain-lain, juga ter­pa­sang gambar-gambar Pre­si­den Soe­karno dan Hatta. Hampir-hampir meng­ha­lang jalan keluar, di sebuah pojo­kan ter­pa­sang sebuah meja tulis, model lama. Sebuah lampu gan­tung yang indah model lama ter­gan­tung di tengah-tengah ruang tamu. Lantai ter­buat dari ubin kuning.

Seo­rang wanita muda lagi cantik, ber­kain batik, ber­ke­baya potongan baru serta ber­ke­ru­dung tule halus sedang duduk meng­ha­dapi kopi. Ia beru­mur kurang lebih dua puluh tahun. Antara seben­tar ia meng­a­wasi pintu depan. Ia nampak agak geli­sah. Seje­nak kemu­dian ia bang­kit dan menin­jau-ninjau pela­taran mela­lui lubang pintu depan. Tetapi kea­daan masih juga sunyi senyap. Nampak benar ia tak dapat mengu­a­sai kege­li­sah­an­nya dan ber­seru-seru memang­gil bujang­nya:

Li! Li!

Rod­jali, bujang kesa­yangan, muncul dalam pakaian piama tua yang di sana-sini sudah ditam­bal, sedang di atas kepa­la­nya ber­teng­ger peci merah, yang juga telah tua. Ia beru­mur kurang lebih dela­pan belas tahun. Per­a­wak­an­nya tinggi lampai, gerak-gerik­nya gesit, sedang pada mata­nya ter­gam­bar kesi­ga­pan dan kecer­dasan.

Tanpa men­ja­wab ia meng­ha­dap Nyonya lewat pintu dalam. Meli­hat Rod­jali sudah ada di hadap­an­nya, Nyonya ber­ta­nya dengan suara cepat:

Jur­a­gan tidak pesan apa-apa tadi?

Sete­lah menye­ka­kan kedua belah tela­pak tangan pada sam­ping-menyam­ping celana piama, Rod­jali men­ja­wab:

Ada, Nya. Kata­nya pergi ke rumah Ranta.

Bia­sa­nya tak begini lama.

Barang­kali banyak urusan.

Coba susul, Li. Cepat!

Tanpa men­ja­wab Rod­jali meng­hi­lang mela­lui pintu yang dima­suk­i­nya tadi. Nyonya meng­i­kuti Rod­jali dengan pan­dang tak sabar. Akhir­nya ia ber­diri dan ber­ja­lan mening­gal­kan ruang tamu masuk ke dalam kamar sam­ping. Seben­tar kemu­dian ia keluar lagi mem­bawa jahi­tan dan mulai meni­sik di atas kursi diten­tang kursi yang tadi didu­duk­i­nya. Tetapi ia masih juga tak dapat mengen­da­li­kan kege­li­sah­an­nya, karena antara seben­tar ia ber­henti meni­sik dan meng­a­wasi pintu ke arah pela­taran. Akhir­nya ia bang­kit lagi dan pindah ke kursi yang didu­duk­i­nya per­tama kali. Di situ pun ia masih juga geli­sah. Jahi­tan itu ter­ja­tuh di atas pang­kuan dan kini pan­dang­nya semata-mata ter­tuju ke pela­taran depan, mele­wati pintu.

Tiba-tiba wajah­nya beru­bah. Ia ber­diri ter­ke­jut. Jahi­t­an­nya jatuh ke lantai. Tetapi ia tak menya­dari ini. Kedua belah tangan­nya ter­ang­kat sedi­kit seakan orang hendak menub­ruk sesu­atu. Mulut­nya ter­nga­nga sedi­kit, leher­nya ter­ta­rik ke depan, sedang mata­nya agak melo­tot. Tetapi dari mulut­nya tak keluar sepan­tun suara pun.

Maka masuk­lah Jur­a­gan Musa dalam kea­daan yang luar­bi­asa. Ker­ap­i­an­nya, yang biasa, hilang lenyap. Demi­kian juga keso­panan dan yakin dir­i­nya. Baju jasnya tidak ter­kan­cing. Keber­sihan pada baju itu lenyap pula, karena di sana-sini coreng-moreng dengan pasir dan abu merah. Baju dalam­nya tak lagi ter­se­lip di bawah sabuk, tetapi ter­le­pas mele­wati pan­jang jas pada bagian bela­kang. Sarung­nya pun ber­ben­to­ngan abu dan pasir merah. Peci­nya tak tepat lagi duduk­nya. Selu­ruh pemun­cul­an­nya mirip dengan pen­judi kalah main yang kesi­angan pulang. Baru sampai di ambang ia telah ber­te­riak-teriak dengan suara his­te­ris:

Li! Li! Djali! Ro-dja-li Nyonya masih juga dalam kea­daan seber­mula.

Li! Djali! Djali! Baru kemu­dian, sete­lah yang dipang­gil­nya tak men­ja­wab, sadar­lah ia bahwa di hadap­an­nya ada ber­diri sese­o­rang, dan orang itu adalah Nyonya yang sudah ber­dan­dan rapi. Menya­dari ini, ia men­jadi agak tenang sedi­kit dan men­da­pat­kan seba­gian keso­pan­an­nya. Ber­ta­nya sete­ngah sopan:

Mana Djali?

Nyonya men­ja­tuh­kan tangan­nya, memu­ngut jahi­tan dari lantai dan mena­ruh­nya di atas meja, kemu­dian buru-buru meng­ham­piri sua­mi­nya, mem­per­i­ng­at­kan:

Bagai­mana peci ini? Baju dan sarung begitu kotor. Kemeja beran­takan.

Tetapi Jur­a­gan Musa tak meng­hi­r­au­kan­nya dan ber­seru sete­ngah his­te­ris:

Li! Djali!

Nyonya mena­tap­nya dan kemu­dian menu­duh:

Ber­ke­lahi sama yang sana?

Jur­a­gan Musa mena­tap Nyonya dengan pan­dang muak.Nampak benar ia men­coba untuk mengu­a­sai diri, tetapi gagal. Ia mulai kebas-kebas­kan baju dan sarung­nya, kemu­dian memang­gil lagi:

Li! Budek? Li! Cepat!

Nyonya ikut mem­bantu menge­bas­kan abu dan pasir dari baju dan sarung sua­mi­nya, ber­kata:

Djali tak ada.

Dengan gugup dan berang Jur­a­gan Musa mera­ung:

Ke mana si kepa­rat itu?!

Aku suruh. Cari kau! Kenapa kau ini?

Dengan gusar­nya Jur­a­gan Musa meng­am­bil peci dari kepa­la­nya dan peci itu pun diban­ting­nya di atas meja seraya mera­ung kesa­kitan:

Mati aku! Mati aku!

Men­de­ngar itu Nyonya pun ikut men­jadi gugup. Dengan tak tahu akal ia mundur bebe­rapa lang­kah sambil meng­a­wasi sua­mi­nya, tak tahu apa ia harus per­buat. Jur­a­gan Musa mera­ung dengan ganas­nya sambil mem­be­la­lak pada Nyonya: Sudah kuwanti-wanti, Djali tak boleh keluar tanpa izinku!

Nyonya melang­kah mundur bebe­rapa lang­kah lagi, sampai akhir­nya ia tiba di pojo­kan dan ber­kata sayu:

Kau begitu lama Jur­a­gan Musa kini melang­kah mau meng­ham­piri istri­nya. Tangan­nya ter­ang­kat hendak menem­pe­leng, tetapi tak jadi. Seba­gai gan­ti­nya ia mera­ung:

Peduli apa aku lama atau tidak?

Ter­de­ngar suara Nyonya yang lemah lembut men­coba merayu:

Tapi kau mau bawa aku ke kota!

Per­se­tan!

Inilah baru per­tama kali Nyonya men­da­pat per­la­kuan kasar dari sua­mi­nya sehingga segala macam pera­saan yang tak nyaman: syak, amarah, duka­cita, kecewa, dan seka­li­gus malu dan takut, ber­ke­c­a­muk dalam hati­nya.

Seka­rang Jur­a­gan Musa jalan mondar-mandir cepat-cepat, dengan tangan di bela­kang. Pada wajah­nya ter­gam­bar kegu­gupan, keta­kutan, kecu­r­i­gaan, kekha­wa­tiran. Sete­lah dua tiga kali mondar-mandir ia ber­henti di hadapan din­ding di mana ter­pa­sang kali­grafi dalam bentuk kapal. Mulut­nya ber­ko­mat-kamit meng­u­cap­kan bebe­rapa patah doa. Dengan doa itu ia meng­ha­rap dapat mem­per­o­leh sedi­kit kebe­ra­nian. Ia men­coba mene­nang­kan diri dengan mem­ba­lik badan dan melang­kah pelahan-lahan. Tetapi dalam usa­ha­nya ini ujung san­dal­nya ter­sen­tuh kaki kursi sehingga ia ter­hu­yung-huyung nyaris jatuh kalau tidak ditang­kap istri­nya. Ia menye­but keras-keras. Tetapi waktu ia ter­i­ngat lagi akan kesu­l­itan-kesu­l­it­an­nya, ia tatap wajah istri­nya sambil ber­seru murka:

Setan sialan!

Men­de­ngar itu cepat-cepat istri­nya mele­pas pegang­an­nya pada sua­mi­nya dan mundur sampai mera­pat din­ding. Di sana ia ber­henti kehi­langan akal, akhir­nya ber­ta­nya takut:

Apa salahku?

Kem­bali Jur­a­gan Musa mena­tap­nya tajam-tajam dan ber­te­riak:

Salahmu? Salahmu: bawa sial!

Dengan itu Jur­a­gan Musa masuk ke dalam kamar di sam­ping ruang tamu. Seben­tar kemu­dian ter­de­ngar daun pintu lemari dilem­par­kan, akhir­nya ia muncul kem­bali mem­bawa keris yang kemu­dian disi­sip­kan­nya di ping­gang. Ia menuju lang­sung ke pintu hendak pergi lagi. Tetapi sampai di ambang istri­nya mem­per­i­ng­at­kan:

Pecimu keting­galan Jur­a­gan Musa balik kem­bali untuk meng­am­bil peci, sedang istri­nya ber­ta­nya dengan suara takut:

Mau ke mana bawa keris pusaka?

Ke mana? Bunuh si Ranta jaha­nam?

Diam­bil­nya peci­nya dari meja dan dike­na­kan sejadi-jadi­nya. Sampai di depan istri­nya, ia melu­dah ke lantai sambil menyum­pahi:

Sialan!

Sum­pahan itu menye­bab­kan istri­nya naik darah. Lengan baju sua­mi­nya dita­rik­nya. Karena Jur­a­gan Musa tak menyangka akan per­la­wanan istri­nya, jalan­nya ter­ta­han, dan tubuh­nya ter­bawa oleh tarikan istri­nya. Mereka ber­ten­tang-ten­tangan. Istri­nya meme­kik murka:

Kau yang sialan. Aku sum­pahi kau—kau bakal dibu­nuh Ranta Tak dapat Jur­a­gan Musa mengen­da­li­kan ama­rah­nya lagi dan ditem­pe­leng­nya istri­nya sampai ter­ja­tuh.

Sewaktu jatuh di lantai Nyonya segera mengum­pul­kan tenaga dan bang­kit ber­diri dan ber­te­riak:

Aku minta cerai. Seka­rang juga. Biar kau dibu­nuh Ranta!

Jur­a­gan Musa baru melang­kah hendak keluar dari ambang pintu waktu kata-kata ter­a­khir istri­nya ter­de­ngar. Men­de­ngar itu ia ter­te­gun, ter­henti, tangan­nya ber­pe­gangan pada tiang pintu, akhir­nya dengan lambat-lambat ia balik meng­ham­piri kursi sice dan duduk.

Nyonya ber­te­riak:

Padaku saja kau berani. Ayo, hadapi Ranta! Ayo, pah­la­wan! Kalau tidak berani, tentu kau berani cerai­kan aku! Ayo!

Jur­a­gan Musa tak mem­be­ri­kan reaksi apa-apa. Ia duduk ter­pe­kur dengan wajah teng­ge­lam dalam kedua belah tela­pak tangan­nya. Tiba-tiba ia mene­gak­kan badan­nya di atas kursi itu, mele­pas peci dan diper­gu­na­kan untuk mengi­pasi leher­nya, kemu­dian secara men­da­dak ia bang­kit ber­diri dan mene­ngok ke arah pintu depan, ber­te­riak murka:

Gila kau, Li. Sudah kuwanti-wanti jangan pergi!

Djali muncul dari pintu depan meng­en­dap-endap maju, kemu­dian ber­henti mena­tap Nyonya, meminta dengan mata­nya agar Nyonya suka men­ja­wab­kan­nya. Tetapi seba­lik­nya dari­pada itu Nyonya meng­ger­tak Jur­a­gan Musa:

Apa aku tak boleh suruh dia?

Jur­a­gan Musa tak meng­gub­ris Nyonya. Dengan men­de­lik ia ber­ta­nya pada Djali:

Dari rumah Ranta?

Saya, Jur­a­gan.

Tidak lihat tasku keting­galan di sana?

Tidak, Jur­a­gan.

Tong­katku?

Tidak, Jur­a­gan.

Pergi lagi ke rumah Ranta!

Saya, Jur­a­gan.

Minta tas dan tong­katku dari dia.

Saya, Jur­a­gan.

Kalau dia tak mau kasih, bunuh dia!

Tapi orang­nya tak ada, Jur­a­gan.

Tidak ada?

Rumah­nya ter­kunci, Jur­a­gan.

Ke mana? Kau tahu?

Tidak, Jur­a­gan.

Ya, Allah, ya Allah.

Seju­rus Jur­a­gan Musa ber­pi­kir, kemu­dian mena­tap istri­nya. Ber­ta­nya dengan nada mengan­dung kasih sayang sedi­kit:

Kau bisa hidup mela­rat deng­anku, Nah?

Nyonya tak men­ja­wab. Mata­nya dilem­par­kan­nya pada Djali seakan-akan tak meng­hen­daki ada orang lain men­de­ngar per­ca­kapan intim antara suami-istri itu. Oleh pan­dang­nya itu Jur­a­gan Musa pun mena­tap Djali dan meme­rin­tah­kan:

Djali! Pergi ke tempat Pak Kasan. Bilang ada urusan pen­ting. Diminta datang. Tidak boleh tidak! Cepat.

Tanpa men­ja­wab Djali mening­gal­kan ruang tamu mela­lui pintu dalam. Segera Jur­a­gan Musa mena­tap istri­nya dan ber­ta­nya:

Kau mau meng­i­kuti aku dalam senang dan seng­sara, bukan, Nah?

Kau sen­diri dengar bagai­mana janji nikahku. Cuma soal­nya, bagai­mana yang sana?

Biar aku cerai­kan.

Nyonya mena­tap sua­mi­nya dengan kasih sayang­nya.

Aku dalam kesu­l­itan, Nah.

Nyonya ter­se­nyum tak per­caya. Tetapi Jur­a­gan Musa mene­rus­kan dengan kete­rang­an­nya:

Benar, Nah. Maaf­kan segala kata-kata yang telan­jur tadi.

Nyonya agak ter­haru men­de­ngar itu. Ia ham­piri sua­mi­nya dan duduk di atas tangan-tangan kursi sua­mi­nya. Tetapi tiba-tiba Jur­a­gan Musa ingat akan kesu­l­it­an­nya dan segera meng­e­lak­kan. Ber­kata gugup:

Jangan ajak aku bicara pan­jang-pan­jang. Kea­daan amat sulit. Lebih baik siap­kan barang-barang yang perlu.

Kita tak jadi ke kota?

Tidak, Nah, tidak ke kota, mung­kin ke hutan.

Dengan suara ber­te­riak sete­ngah ter­ke­jut Nyonya ber­ta­nya:

Ke hutan?

Jur­a­gan Musa meng­ang­guk.

Tapi sebe­lum kawin kau tak pernah bica­ra­kan kemung­kinan ini!

Apa boleh buat, kemung­kinan ini seka­rang datang.

Meng­apa mesti ke hutan? Masuk DI? Apa boleh buat, Nah. Kea­daan memaksa. Kau ikut, bukan?

Seje­nak Nyonya mere­nung bim­bang. Kemu­dian nampak ia mem­be­ra­ni­kan diri dan men­ja­wab:

Apa boleh buat. Janji sudah diik­rar­kan waktu nikah. Tentu saja aku akan tetap setia kepa­damu, dunia-akhi­rat. Hanya pin­taku, per­la­ku­kan aku sepa­tut­nya. Kau sen­diri tahu aku bukan perem­puan sem­ba­rangan, tetapi kelu­aran SKP!

Kau akan kuper­la­ku­kan sepa­tut­nya, Nah. Ber­ke­mas­lah.

Nyonya mening­gal­kan ruangan mela­lui pintu sam­ping masuk ke dalam kamar. Jur­a­gan Musa mena­rik keris pusaka dari ikat ping­gang­nya dan mengaji-nga­ji­nya. Nampak ia meng­ge­leng-geleng seben­tar, kemu­dian men­cium tang­kai sen­jata itu dan menye­lip­kan­nya kem­bali pada sabuk­nya. Akhir­nya ia duduk mere­nung-renung di kursi dengan mata tetap meng­a­wasi pela­taran depan. Tiba-tiba ia bang­kit ber­diri. Tangan kanan­nya ter­ang­kat ke atas dan mulut­nya ber­su­ara:

Alla­i­kum­sa­lam! Masuk, Mèng!

Seo­rang tua ber­sa­rung com­pang-cam­ping, ber­topi capio yang ter­buat dari daun arèn, masuk ke dalam sete­lah mem­buka topi­nya. Ia ber­jong­kok di lantai. Tetapi segera Jur­a­gan Musa meng­ham­pir­i­nya dan ber­kata:

Seka­rang tak perlu begitu lagi, duduk saja sini, di kursi!

Dengan takut dan malu­nya Djamèng meno­lak ajakan tuan rumah dan segera mela­por­kan:

Jur­a­gan, jangan abdi disu­ruh ber­dosa pada Jur­a­gan. Biar abdi di sini saja. Abdi mau mela­por­kan. Seben­tar tadi abdi dengar ramai-ramai di jalanan hutan. Abdi lihat Ranta sama bebe­rapa orang.

Ranta! Berapa orang?

Empat, Jur­a­gan, sama Ranta sen­diri.

Kau lihat dia bawa tasku?

Saya, Jur­a­gan, dan tong­kat Jur­a­gan juga.

Kerak neraka! Ke mana mereka pergi?

Begini Gan, waktu mereka meli­hat abdi, Ranta memang­gil abdi. Dia­m­ang­kan tasnya pada abdi, Gan. Dia bilang, ‘Lihat ini! Tas Jur­a­ganmu. Apa isinya? Tahu?’ Abdi cuma keta­kutan Gan.

Apa dia bilang, si jaha­nam itu?

Kata­nya, Gan, ‘Malai­kat yang mau cabut nyawa Jur­a­gan!’

Jur­a­gan Musa mem­be­la­lak sambil meri­ut­kan gigi­nya. Tangan­nya ter­ke­pal men­jadi tinju, dan dipu­kul­kan­nya pada meja. Djamèng kaget, dan duduk­nya di atas lantai bering­sut. Dan sebe­lum ia sempat melu­nak­kan berita yang disam­pai­kan­nya, Jur­a­gan Musa sudah mene­rus­kan:

Ke mana dia pergi?

Abdi tak tanya, Gan, takut.

Mau pergi ke mana orang seperti dia? Tidak ada orang mau per­caya. Si pen­curi itu! Siapa mau per­caya sama pen­curi? Kalau dia pergi ke rumah Pak Koman­dan…

Tiba-tiba Djamèng mene­ngahi:

Mereka menye­but-nyebut nama Pak Koman­dan juga, Gan.

Pak Koman­dan ke kota seka­rang. Kalau dia ke sana juga, dia akan kusu­ruh tang­kap! Pen­curi jaha­nam itu.

Djamèng tetap duduk ter­pe­kur di lantai. Jur­a­gan Musa memang­gil-mang­gil istri­nya:

Nah! Nah! Sudah siap? Dari dalam kamar di sam­ping ruang tamu ter­de­ngar jawaban pelahan:

Seben­tar lagi.

Kini Jur­a­gan Musa mena­tap Djamèng dan ber­kata:

Cukup Djamèng. Pergi kau.

Ia ulu­r­kan selem­bar uang pada tamu­nya, dan Djamèng pun mem­bung­kuk-bung­kuk ber­te­ri­ma­ka­sih, pada istri­nya:

Siap, Nah?

Dan dari dalam ter­de­ngar per­ta­nyaan kem­bali:

Bagai­mana per­hi­asan-per­hi­asan? Dibawa?

Goblok. Tentu saja.

Sinar mata­hari hampir-hampir padam.

Nyonya datang ke ruang tamu meng­an­tar­kan kopi. Jur­a­gan Musa meng­hi­rup dengan geli­sah­nya. Nyonya mena­tap sua­mi­nya dan mem­per­i­ng­at­kan:

Lupa aku! Ambil­kan rokokku.

Nyonya pergi, kemu­dian datang kem­bali mem­bawa kotak rokok. Jur­a­gan Musa meng­am­bil seba­tang dan Nyonya menya­la­kan geretan. Asap mulai menge­pul dari rongga mulut dan hidung­nya.

Mata­hari telah teng­ge­lam.

Nyonya masuk ke dalam dan seben­tar kemu­dian keluar lagi mem­bawa lampu minyak tanah yang telah menyala. Kege­lapan dalam ruang tamu itu pun hilang lenyap­lah. Jur­a­gan Musa meng­am­bil lampu dari tangan istri­nya dan ber­diri di atas kursi dan mema­sang­nya pada gan­tung­an­nya. Kini kedua-duanya duduk ter­me­nung-menung. Tiba-tiba mereka ter­ke­jut. Dan dari luar rumah tiba-tiba ter­de­ngar:

Assa­lamu alai­kum!

Ber­ba­reng dengan itu masuk Pak Kasan dii­ring­kan oleh Rod­jali. Pak Kasan adalah sosok pemuda yang galak. Rambut, kumis, jeng­got serta cam­bang tak ter­cu­kur. Dalam seminggu sehingga meng­ger­mang menye­ram­kan. Ia ber­ke­meja coklat tua dan ber­ce­lana wol kebiru-biruan. Cela­na­nya kombor long­gar. Sepa­tu­nya adalah sepatu bot yang boleh dikata hampir-hampir baru. Ikat ping­gang­nya lebar.

Tanpa menunggu disi­la­kan, juga tanpa menunggu tuan dan nyonya rumah bang­kit ber­diri, ia duduk diten­tang nyonya rumah dan sambil meno­leh pada Jur­a­gan Musa ber­ta­nya tak acuh:

Ada urusan pen­ting, Pak Resi­den?

Tasku dir­e­but Ranta. Kau kenal Ranta, kan? Kau tahu juga apa isi tas itu.

Seka­rang juga, Pak Resi­den?

Kau bawa anak buah?

Ada di luar.

Bawa sen­jata?

Sen­jata?

Pak Kasan bang­kit ber­diri, kemu­dian sambil ter­tawa yakin diri mene­puk-nepuk saku cela­na­nya. Per­bu­atan itu menye­bab­kan Jur­a­gan Jur­a­gan Musa ber­seri-seri kemu­dian mena­tap istri­nya dan ber­kata:

Barang­kali kita tak perlu meng­ungsi.

Tiba-tiba Pak Kasan ter­ba­hak-bahak ter­tawa dan dengan lan­tang­nya ber­kata:

Meng­ungsi? Tambah hari tambah kuat kita di sini, Pak! Kapan mesti dibe­res­kan si Ranta itu?

Seka­rang! Sete­lah mem­beri salam secara mil­iter kepada Jur­a­gan Musa, Pak Kasan pergi mening­gal­kan ruang tamu. Rod­jali masih ber­diri di pintu menunggu perin­tah dengan mata antara seben­tar mena­tap tuan­nya. Waktu insyaf akan keha­diran Rod­jali, Jur­a­gan Musa men­jadi marah dan meng­ge­run­dal:

Seperti patung! Ayoh sana bantu Pak Kasan.

Tanpa mem­ban­tah, dan juga tanpa men­ja­wab, Rod­jali pergi mening­gal­kan pintu ruang tamu. Ting­gal­lah seka­rang tuan dan nyonya. Dari jauh ter­de­ngar salak anjing, kemu­dian disu­sul oleh salak yang lain-lain. Dengan suara pelahan dan yakin Jur­a­gan Musa ber­kata tanpa mena­tap istri­nya, dan seperti pada diri sen­diri:

Allah sela­ma­nya ber­sama kita.

Seka­rang ia mena­tap istri­nya yang sejak tadi tak mem­buka mulut dan hanya mem­per­main-main­kan ujung kebaya. Jur­a­gan Musa ber­kata:

Meng­apa diam saja?

Nyonya hanya meng­ge­leng.

Marah?

Kem­bali Nyonya meng­ge­leng dan terus juga mem­per­ma­in­kan ujung kebaya.

Per­ca­ya­lah. Allah sela­ma­nya ada di pihak yang benar.

Seka­rang Jur­a­gan Musa mena­tap istri­nya keras-keras, menunggu jawaban. Dalam sua­ra­nya ter­kan­dung nada yang meminta jawaban. Nyonya tak mem­ba­las pan­dang­nya, hanya meng­ang­guk dengan meng­ang­kat kepala tinggi-tinggi dan men­ja­tuh­kan­nya pelahan-lahan. Hal itu menye­bab­kan Jur­a­gan Musa tak ber­se­nang hati. Ber­ta­nya:

Jadi kau tak per­caya Tuhan Allah?

Aku tak pernah bilang aku tak per­caya.

Jadi?

Nyonya bang­kit dan hendak pergi, tetapi Jur­a­gan Musa menang­kap pada leng­an­nya dan dengan kasar­nya didu­duk­kan­nya istri­nya di kursi kem­bali. Dengan suara pelahan tetapi kasar ia meng­ger­tak:

Barang­kali kau tak per­caya Allah ber­sama kita?

Dengan suara keta­kutan, tetapi ter­paksa menga­ta­kan­nya, Nyonya men­ja­wab:

Aku tidak per­caya Allah ber­sama kita. Aku baru tahu, engkau orang Darul Islam.

Apa salah­nya? Tuhan sudah ten­tu­kan nasib makh­luk­nya. Kita hanya men­ja­lani.

Nyonya men­coba untuk mele­pas­kan diri dari pegangan sua­mi­nya, tetapi seba­lik­nya Jur­a­gan Musa kian mengu­kuhi. Dengan ganas­nya Jur­a­gan Musa men­coba menem­bus isi hati istri­nya dengan pan­dang tajam, tetapi istri­nya selalu dan selalu meng­e­lak­kan mata­nya. Akhir­nya sua­mi­nya menu­duh:

Kau tidak yakin! Kau tak berani ten­tang mataku.

Lepas­kan aku!

Lepas­kan? Kau mau khi­a­nati sua­mimu?

Baru kemu­dian Nyonya meng­ang­kat dagu, menge­bas­kan pegangan sua­mi­nya dan mera­dang garang:

Kapan aku pernah khi­a­nati kau? Kau yang selalu khi­a­nati jan­jimu.

Khi­a­nati kau?

Kau janji mau tetap sopan kepa­daku. Baru tadi kau janji.

Aku bisa per­buat kau seke­hen­dak hatiku.

Baik! Kalau begitu aku juga akan per­buat seke­hen­dak hatiku.

Jadi kau mau khi­a­nati aku?

Jadi kau sudah lupa, orang tuaku diha­bisi DI? Kelu­ar­gaku lari tung­gang-lang­gang karena DI. Seka­rang aku baru tahu engkau sen­diri ini pem­be­sar DI! Jur­a­gan Musa ber­diri, ber­to­lak ping­gang dan mera­dang juga:

Kau yang pura-pura alim! Kau yang pura-pura saleh! Kau murtad pada takdir Tuhan. Tuhan sudah pilih aku jadi ham­ba­Nya untuk mene­gak­kan hukum­Nya.

Penipu!

Jadi kau minta dir­e­jam seperti yang lain-lain?

Tempat kita ter­pen­cil. Engkau pem­be­sar DI. Engkau sua­miku. Tak ada yang meng­ha­langi kau mere­jam aku. Rejam­lah.

Tangan Jur­a­gan Musa mela­yang. Nyonya jatuh ter­du­duk. Dan sewaktu duduk Nyonya menyeka mulut­nya yang ber­da­rah sambil ber­kata muak:

Kalau aku Ranta, kau akan tung­gang-lang­gang!

Jur­a­gan Musa meng­a­yun­kan kaki hendak menen­dang mulut istri­nya, tetapi pada waktu itu juga masuk bebe­rapa orang pra­ju­rit sambil ber­kata:

Cukup! Tak perlu lagi Jur­a­gan Musa!

Jur­a­gan Musa sangat ter­ke­jut. Dengan gugup ia ham­piri istri­nya hendak meno­long­nya ber­diri. Tetapi salah seo­rang di antara para pra­ju­rit itu mene­ngah­i­nya dan meno­long Nyonya bangun. Sete­lah men­du­duk­kan Nyonya di atas kursi pra­ju­rit itu mena­tap Jur­a­gan Musa, yang semen­tara itu sedang men­cari-cari kesem­patan untuk mela­ri­kan diri. Ber­kata:

Jur­a­gan Musa, seka­rang tak perlu lagi ber­pura-pura sopan.

Nampak Jur­a­gan Musa ber­u­saha untuk mengu­a­sai dir­i­nya, tetapi kegu­gupan, keta­kutan, dan putus asa lebih ber­ku­asa atas dir­i­nya. Dengan gagap ia menyi­la­kan tamu-tamu­nya duduk:

Sila­kan! Sila­kan!

Koman­dan rom­bongan pra­ju­rit ter­tawa sum­bang dan ber­kata:

Kami tak perlu disi­la­kan. Duduk­lah!

Hening seben­tar. Jur­a­gan Musa menun­duk di atas kursi. Semua mata ter­tuju pada­nya.

Sambil masih juga menun­duk Jur­a­gan Musa ber­ta­nya sopan:

Apakah keper­luan bapak-bapak datang kemari?:

Menang­kap Jur­a­gan.

Baru kemu­dian Jur­a­gan Musa mena­tap Koman­dan sambil ber­ta­nya:

Meng­apa? Karena ber­ke­lahi dengan istri?

Semua yang hadir ter­tawa sopan. Kemu­dian Koman­dan itu menyam­but:

Kebe­tulan tidak. Begini, Jur­a­gan Musa, biar aku ceri­tai: Sudah lama daerah sini kacau. Gerom­bolan terus-mene­rus meng­ge­dor, mem­ba­kari rumah. Sampai kelu­arga yang paling miskin tak luput dari kebi­a­dab­an­nya. Tapi aneh, Jur­a­gan Musa yang kaya ini tidak pernah diganggu oleh­nya. Meng­apa? Nah, kami curiga.

Cepat Jur­a­gan Musa meng­ang­kat dagu, meman­dang istri­nya seben­tar, dan dengan mata berapi-api mena­tap Koman­dan itu seraya menyam­bar:

Itu bukan alasan untuk menang­kap.

Dengan tenang­nya Koman­dan itu men­je­las­kan:

Jur­a­gan benar. Tetapi ada bukti-bukti yang mem­buat kami curiga. Jur­a­gan punya hubungan akrab dengan gerom­bolan penga­cau.

Jur­a­gan Musa meronta bangun dan sambil melam­bai-lam­bai­kan tangan tanda meno­lak. Ia ber­te­riak mabuk:

Tidak! Tidak mung­kin! Dan sambil menun­juk istri­nya ia mene­rus­kan: Hanya dia yang menu­duh begitu. Kemu­dian bapak Koman­dan dengar. Itu bukan bukti! Itu cuma per­ke­la­hian rumah tangga biasa.

Semua hadirin ter­tawa sopan. Nyonya nampak gugup di kur­si­nya.

Koman­dan mene­rus­kan:

Dalam hal ini Jur­a­gan juga benar.

Cepat Jur­a­gan Musa menyam­bar lagi:

Nah, kalau begitu apa guna aku ditang­kap?

Semua yang hadir kem­bali ter­tawa, tetapi sekali ini ter­tawa yang dita­han sekuat-kuat­nya agar tak menying­gung pera­saan tuan rumah.

Koman­dan mene­rus­kan dengan tidak melu­pa­kan keso­pan­an­nya:

Tahu, Jur­a­gan Musa, kami datang kemari bukan saja dengan serom­bongan pra­ju­rit ini, kata­nya sambil menun­juk para pra­ju­rit, tapi juga dengan serom­bongan OKD dengan sen­jata leng­kap. Tengok saja di luar kalau suka.

Jur­a­gan Musa menun­duk. Koman­dan dan para pra­ju­rit tetap ber­diri di tem­pat­nya masing-masing.

Men­da­dak Koman­dan itu ber­pa­ling ke bela­kang kepada para pra­ju­r­it­nya dan mem­beri isya­rat dengan kepala. Para pra­ju­r­it­nya itu seren­tak bubar dan meng­hi­lang mela­lui segala pintu yang ada. Meli­hat per­u­ba­han sua­sana itu Nyonya baru insyaf akan bahaya yang juga bakal meng­an­cam kese­la­mat­an­nya sen­diri, kese­la­matan rumah tangga dan harta mil­ik­nya. Ia melon­jak bangun, seben­tar meng­a­wasi sua­mi­nya yang mene­ngok ke kiri dan ke kanan karena kebi­ngungan dan keta­kutan.

Akhir­nya ter­de­ngar kem­bali suara Koman­dan, entah ditu­ju­kan kepada siapa:

Tak perlu kuwa­tir. Keku­wa­ti­ran hanya bagian pen­dur­haka.

Nyonya ter­se­dan-sedan.

Seka­rang Koman­dan mena­tap Jur­a­gan Musa, ber­kata meng­uji:

Bagi mereka yang ber­i­man, yang per­caya pada Allah, tak ada sesu­atu pun di dunia ini dapat meru­suh­kan hati. Bukan, Jur­a­gan? Itu kata-kata Jur­a­gan sen­diri waktu masih jaya.

Jur­a­gan Musa menun­duk dalam.

Koman­dan mene­rus­kan:

Cela­ka­lah Jur­a­gan, kalau dalam rumah ini keda­patan sen­jata api. Baru Jur­a­gan Musa meng­ang­kat kepala mena­tap Koman­dan itu seje­nak dan buru-buru mene­gas­kan:

Di rumah ini tak ada sen­jata api. Yang ada hanya keris pusaka.

Koman­dan meng­ham­piri tuan rumah, dengan mata ber­seri-seri meme­rin­tah­kan:

Ber­diri tegak, Jur­a­gan!

Jur­a­gan Musa ber­diri tegak.

Tangan angkat tinggi-tinggi, Jur­a­gan.

Jur­a­gan Musa meng­ang­kat tangan kanan­nya.

Lebih tinggi, Jur­a­gan. Lem­pang ke atas.

Jur­a­gan Musa melem­pang­kan kedua belah tangan­nya. Sete­lah itu selu­ruh tubuh­nya dige­ra­yangi. Akhir­nya dite­mu­kan keris pusaka itu dari balik baju Jur­a­gan Musa, men­ca­but­nya dan mena­ruh­nya di atas meja.

Meli­hat itu Jur­a­gan Musa mem­pro­tes sambil menu­ding-nuding:

Jangan ganggu pusaka warisan, Pak, tidak baik.

Tetapi segera Koman­dan itu menyam­bar:

Angkat tangan tinggi-tinggi! Jur­a­gan Musa, yang sudah sedia untuk mene­rus­kan pro­tes­nya ter­paksa mem­bisu dan meng­ang­kat tangan tinggi-tinggi kem­bali. Pada wajah­nya ter­gam­bar keku­wa­ti­ran dan kese­balan. Mulut­nya ter­buka hendak mene­rus­kan pro­tes­nya, tetapi tak ada sesu­atu suara keluar dari­pa­da­nya. Akhir­nya ditu­tup­nya kem­bali.

Seka­rang Koman­dan meng­ga­gapi tubuh bagian bela­kang sambil ber­ta­nya dengan mulut diham­pir­kan pada kuping tang­kap­an­nya:

Apa guna keris pusaka dibawa ke mana-mana, Jur­a­gan?

Biar hati aman, Pak.

Koman­dan ter­tawa senang dan segera menyam­but:

O, meng­erti aku seka­rang. Jadi sela­ma­nya hati Jur­a­gan tidak aman, eh? Meng­apa sela­ma­nya tidak aman, Jur­a­gan?

Koman­dan itu ber­henti meng­ga­gapi. Ia ber­diri diam-diam di bela­kang Jur­a­gan Musa. Waktu Jur­a­gan Musa hendak menu­run­kan tangan­nya, disen­tuh­nya ketiak tang­kap­an­nya, dan dengan kaget­nya Jur­a­gan Musa kem­bali meng­ang­kat tangan­nya.

Nyonya Jur­a­gan Musa meng­ham­piri Koman­dan dan meminta dengan amat sangat­nya:

Jangan siksa sua­miku lebih lama, Pak.

Koman­dan itu mem­bung­kuk sambil ber­kata:

Suami Nyonya benar-benar orang yang baik-baik dan ter­hor­mat, tetapi orang yang ber­diri di hadapan Nyonya ini lain lagi, Nyonya.

Segera Nyonya menyam­bar:

Tidak. Di mana lain­nya? Dia tetap orang baik-baik. Dia memang keras, tapi baik.

Koman­dan mele­ra­i­kan Nyonya dari Jur­a­gan, karena semen­tara itu Nyonya telah merang­kul sua­mi­nya. Dengan kata-kata keras tetapi masih tetap sopan ia ber­kata:

Dia orang tang­kapan, tak boleh dide­kati.

Nyonya maju ke depan lagi hendak meme­gangi sua­mi­nya, tetapi dice­gah oleh Koman­dan. Hanya dengan mulut­nya saja Nyonya masih bisa mem­pro­tes:

Ya, tapi apa kesal­ah­an­nya? Meng­apa rumah tang­gaku, mesti diaduk-aduk.

Koman­dan nampak kehi­langan kesa­bar­an­nya dan dengan suara kehi­langan kesa­baran tetapi masih mengu­kuhi keso­panan ber­kata:

Mau tahu buk­ti­nya? Baik. Ranta!

Mun­cul­lah Ranta di ambang pintu mem­bawa akten­tas Jur­a­gan Musa. Koman­dan mene­rima akten­tas itu sambil ber­kata:

Ini tas siapa?

Jur­a­gan Musa meng­a­wasi tas itu seben­tar, kemu­dian menun­duk.

Nyonya mene­liti tas itu, meman­dangi sua­mi­nya seben­tar, dan waktu meli­hat sua­mi­nya tak berani menen­tang akten­tas­nya sen­diri, insyaf­lah Nyonya bahwa sua­mi­nya tak ingin meng­a­kui tas itu seba­gai mil­ik­nya, maka ia pun ikut menun­duk dan dengan ter­go­poh-gopoh men­ja­uh­kan diri dari sua­mi­nya.

Koman­dan melang­kah, kemu­dian ber­diri di tengah-tengah antara Jur­a­gan dan Nyonya. Seben­tar dipe­lo­tot­i­nya Jur­a­gan Musa yang hendak meng­en­dor­kan tegak tangan­nya. Sete­lah yakin Jur­a­gan Musa akan tetap mene­gak­kan tangan, ia ber­kata sete­ngah meng­e­jek:

Kalau tak ada yang meng­a­kui, baik­lah. Ranta! Tas siapa ini?

Ranta maju ke hadapan Koman­dan dan dengan tiada ragu-ragu lagi men­ja­wab sambil meli­rik pada Jur­a­gan Musa:

Dia punya, Pak. Abdi pungut dari depan rumah abdi.

Semua mata ter­tuju pada Jur­a­gan Musa. Karena merasa bahwa semua mata ter­tuju kepa­da­nya dengan gugup­nya Jur­a­gan Musa ber­su­ara:

Memang tasku, Pak.

Koman­dan segera menyam­bar:

Meng­apa tak bilang dari tadi?

Jur­a­gan Musa ber­diam diri seben­tar. Tiba-tiba men­ja­wab:

Malam begini, Pak, tidak begitu terang. Tapi, Pak, waktu kubawa pergi tidak ada isinya.

Tanpa dita­nya Ranta mem­ban­tah:

Tidak benar, Pak. Abdi pungut tas itu. Tidak abdi buka-buka, Pak. Ada bebe­rapa saksi. Kami ber­lima, abdi, istri abdi, dan tiga orang lain terus lang­sung meng­ha­dap Bapak. Bapak sen­diri yang buka tas itu.

Koman­dan mena­tap Jur­a­gan Musa dan ber­ta­nya:

Jadi dari mana isi itu masuk dalam tas kosong ini?

Wal­la­hu­a­lam, Pak.

Men­de­ngar itu Koman­dan jadi marah. Dice­kau­nya Jur­a­gan pada leher­nya dan ber­te­riak:

Memang­nya Jur­a­gan Musa piara setan? Semen­tara itu pra­ju­rit-pra­ju­rit yang diwa­jib­kan meng­ge­le­dah kem­bali ke ruang tamu dan masing-masing mela­por­kan bahwa tiada sesu­atu pun yang dapat dite­mu­kan selain bung­kusan pakaian.

Men­de­ngar itu segera saja Jur­a­gan Musa angkat bicara:

Tak ada apa-apa yang men­cu­r­i­ga­kan di sini, Pak.

Koman­dan mem­ben­tak:

Diam! Siapa yang mema­suk­kan surat-surat Darul Islam ke dalam tas itu?

Juga sekali ini Jur­a­gan Musa ber­diam diri.

Tiba-tiba dari luar ter­de­ngar bunyi burung—alamat yang disu­a­ra­kan oleh orang-orang OKD, menan­da­kan ada sese­o­rang datang. Semua pra­ju­rit yang ada di kamar tamu meli­hat keluar, kemu­dian Koman­dan mem­beri perin­tah: Ada orang datang. Sem­bu­nyi semua! Kau, Jur­a­gan Musa, kalau lari aku tembak dari bela­kang pintu. Kau mesti sambut tamumu seperti biasa. Meng­erti? Turun­kan tanganmu! Jur­a­gan Musa meng­ang­guk. Semua pra­ju­rit sem­bu­nyi di balik-balik pintu, sedang Koman­dan sen­diri, sete­lah meng­am­bil keris pusaka dari meja ber­kata pada Nyonya: Nyonya, kami tidak main-main. Terima tamu Nyonya seperti biasa. Kalau Nyonya menyu­l­it­kan kami, kami bisa ber­tin­dak dari bela­kang pintu itu.

Sesu­dah itu ia pun pergi menying­kir.

Ting­gal­lah seka­rang Jur­a­gan dan Nyonya. Masing-masing meng­am­bil tempat duduk dan ber­ha­dapan. Kesem­patan itu diper­gu­na­kan oleh Jur­a­gan untuk bicara dengan istri­nya:

Maaf­kan segala kekhi­laf­anku, Nah.

Tetapi Nyonya tak menya­hut.

Jur­a­gan mene­rus­kan:

Ada­ka­la­nya orang tak dapat mena­han keberangan, Nah.

Nyonya menun­duk. Tangan­nya meng­ga­pai-gapai, kemu­dian menye­ka­kan­nya pada mata­nya. Sete­lah ter­pe­sona seje­nak ia pun ber­kata pelahan menye­sali diri:

Dasar sudah nasib.

Dari luar ter­de­ngar seruan pelahan:

Assa­la­mu­a­lai­kum!

Kedua suami-istri itu mene­ngok ke pintu ruang tamu, kemu­dian hampir ber­ba­reng menyam­but:

Alai­kum salam!

Dan masuk­lah Pak Lurah, seo­rang yang kurus, beru­mur kurang lebih empat puluh tahun, ber­baju dan ber­ce­lana hitam, ber­ka­lung sarung, dan melin­tangi sarung itu adalah tali revol­ver cap kuda yang ter­buat dari pili­nan benang sutera ber­warna hijau dan kuning.

Jur­a­gan Musa menyam­but dengan segan­nya:

Lurah? Kebe­tulan datang kemari. Kami sedang kese­pian.

Pak Lurah ter­tawa ber­canda, dan kemu­dian mem­per­i­ng­at­kan:

Mana bisa pengan­tin baru kese­pian? Ada-ada saja.

Jur­a­gan meman­dang Nyonya, dan Nyonya meman­dang Jur­a­gan. Kedua-duanya menye­ngir dan meng­ge­ren­jot pahit. Tanpa disi­la­kan Lurah duduk dan segera kemu­dian memu­lai:

Tak ada waktu ini, Jur­a­gan. Baik­lah cepat-cepat saja. Pak Resi­den, ada datang laporan, Koman­dan pergi cuti ke kota. Kema­rin dia pergi. Penye­li­dikan mem­buk­ti­kan, benar-benar Koman­dan pergi, mem­bawa tiga orang penga­wal. Jadi, apa kan kita per­buat seka­rang? Markas Ten­tara itu bisa kita serbu malam ini. Di markas ting­gal sepu­luh orang. Tidak lebih. Kita bisa gerop­yok dengan dua puluh orang saja. Bagai­mana piki­ran Pak Resi­den?

Sampai sebe­gitu jauh Jur­a­gan masih seperti orang kena bius. Tetapi men­da­dak ia bang­kit ber­diri. Wajah­nya merah mem­ber­a­nang dan meng­han­tam meja dan ber­te­riak keras-keras:

Tutup mulut! Pak Resi­den? Siapa Resi­den?

Men­de­ngar itu Pak Lurah ter­ke­jut. Nampak kaki­nya yang tak ber­se­patu itu ber­ge­rak kikuk. Mata­nya ber­te­baran tak tentu apa mesti dita­tap­nya, akhir­nya mata itu dile­kat­kan pada Nyonya untuk minta pen­je­lasan ten­tang duduk­nya per­kara. Oleh pan­dang itu Nyonya mena­tap sua­mi­nya. Tetapi meli­hat sua­mi­nya sedang melo­tot kepa­da­nya, Nyonya mena­tap Pak Lurah seben­tar kemu­dian menun­duk dalam. Ter­de­ngar Nyonya mena­rik nafas sedan, tetapi tak ada sepa­tah kata pun keluar dari mulut­nya.

Meli­hat hal seperti itu Pak Lurah men­jadi kebi­ngungan. Karena kehi­langan akal kedua belah tangan­nya meng­ga­gapi saku­nya. Sekali lagi ia men­coba menen­tang mata Jur­a­gan untuk menge­ta­hui per­u­ba­han apa yang sedang ter­jadi atas dir­i­nya. Tetapi meli­hat Jur­a­gan masih tetap melo­tot, kem­bali kedua belah tangan­nya meng­ga­gap-gagap ke mana-mana, dan akhir­nya ber­ha­sil menu­tupi kegu­gup­an­nya dengan menge­lu­ar­kan sele­pah tem­ba­kau, mena­rik daun kaung dari dalam­nya, meng­gu­lung rokok, mem­ba­kar, dan meng­hi­sap­nya. Ia angkat dagu­nya tinggi-tinggi kemu­dian meng­hem­bus­kan asap. Dengan itu dapat­lah ia mengu­a­sai dir­i­nya kem­bali. Dengan hati-hati­nya ia ber­ta­nya kepada Jur­a­gan Musa:

Keda­tanganku hanya untuk men­ja­lan­kan tugas yang dipi­kul­kan pada pun­dakku. Dite­rima atau tidak oleh Pak Resi­den, eh, maaf kalau tak suka dipang­gil demi­kian lagi, itu bukan soalku lagi. Kewa­ji­b­anku hanya mene­rus­kan. Karena tak ada sam­bungan, jadi pasukan sekali ini akan kupim­pin sen­diri.

Sete­lah itu Pak Lurah bang­kit ber­diri, ber­sa­luir secara mil­iter dan kemu­dian pergi tanpa meminta diri.

Baru­lah kemu­dian Koman­dan beserta para pra­ju­rit muncul kem­bali dari balik-balik pintu. Dengan wajah ber­seri-seri penuh keme­nangan Koman­dan segera meng­ham­piri Jur­a­gan Musa dan ber­kata men­de­sak:

Jadi bagai­mana seka­rang, Pak Resi­den? Meng­aku?

Jur­a­gan Musa menun­duk­kan kepa­la­nya dan ber­kata tak ber­te­naga:

Apa yang mesti kuakui, Pak Koman­dan? Bukan aku yang mesti meng­aku, tapi mereka yang memang­gil aku begitu.

Tetapi Pak Koman­dan men­de­sak terus tanpa meng­gub­ris irama suara Jur­a­gan Musa yang meminta dibe­las­ka­sih­ani:

Sudah tiga bukti menya­ta­kan, kau Resi­den DI. Per­tama-tama istrimu sen­diri menye­but kau pem­be­sar DI. Kedua Pak Lurah sini, yang seka­rang baru keta­huan orang DI juga, dan ketiga surat-surat dalam tas Jur­a­gan sen­diri.

Jur­a­gan Musa masih juga mem­ban­tah seka­li­pun dengan suara kehi­langan tenaga:

Tadi juga sudah kuka­ta­kan, tasku kosong, istriku hanya menu­duh-nuduh, dan Lurah itu sung­guh-sung­guh orang gila.

Men­de­ngar itu kem­bali Koman­dan kehi­langan kesa­bar­an­nya. Dengan dagu­nya ia mem­beri isya­rat kepada salah seo­rang anak buah­nya dan mem­beri perin­tah:

Bawa sepa­ruh anak buah ini dan sepa­ruh dari OKD yang ada di luar. Jebak gerom­bolan yang mau menye­rang markas itu. Bina­sa­kan kalau tak mau menye­rah!

Yang men­da­pat tugas ber­sa­luir dan pergi mem­bawa sepa­ruh dari anak buah koman­dan itu. Segera sete­lah mereka mening­gal­kan ruang tamu, dari luar rumah ter­de­ngar per­ca­kapan-per­ca­kapan yang ter­ta­han sehingga hampir-hampir menye­ru­pai bisik:

Ya, kau ikut.

Siapa lagi, Pak?

Aku juga?

Itu, itu, itu, dan ini.

Orang-orang yang berada di dalam ruang tamu diam-diam men­de­ng­ar­kan semua per­ca­kapan yang ter­ta­han itu. Sete­lah kese­nyapan mera­ja­lela baru Koman­dan memu­lai:

Baik. Jur­a­gan Musa tak mau meng­aku. Tapi kalau benar-benar seben­tar nanti ter­jadi per­tem­puran, aku takkan beri kau ampun lagi.

Nampak Jur­a­gan Musa meng­ge­rak-gerak­kan kaki dan tangan, sedang bibir­nya pun ber­ge­rak-gerak hendak bicara, tapi tak jadi. Tiba-tiba Koman­dan ber­pa­ling pada Nyonya dan ber­ta­nya:

Benar Nyonya tak tahu apa-apa ten­tang suami Nyonya?

Nyonya tak dapat men­ja­wab, hanya menyem­bu­nyi­kan muka­nya ke dalam kedua belah tela­pak tangan­nya. Dari balik tela­pak tangan itu ter­de­ngar sua­ra­nya yang kacau-balau:

Apa mesti kuka­ta­kan, Pak Koman­dan?

Koman­dan itu tak meng­am­bil pusing Nyonya dan kemu­dian men­de­sak Jur­a­gan Musa:

Dengar, Jur­a­gan Musa. Daerah sini daerah paling kacau. Sudah kuu­sa­ha­kan ber­mu­sya­warah dengan orang-orang ter­ke­muka di sini dan Pak Lurah, tapi apa buk­ti­nya? Bukti-buk­ti­nya: Jur­a­gan dan Pak Lurah sen­diri peng­khi­a­nat rak­yat­nya sen­diri. Jur­a­gan Musa ber­janji mau bantu kami. Seba­gai orang ber­a­gama, tidak layak memung­kiri janji. Tidak layak ber­khi­a­nat! Islam tidak meng­a­jar­kan dan mewa­jib­kan peng­khi­a­natan pada rakyat dan sesa­ma­nya. Jur­a­gan Musa dan Pak Lurah ikut ber­tang­gung­ja­wab atas peris­tiwa-peris­tiwa pem­bu­nuhan dan pem­ba­karan, peram­pokan dan peng­a­n­i­a­yaan di daerah sini. Dengar…

Sekali lagi ter­de­ngar bunyi burung dari luar rumah, suatu isya­rat yang disu­a­ra­kan OKD, yang mem­beri alamat bahwa ada datang orang banyak.

Koman­dan itu menin­jau keli­ling­nya. Dengan ter­buru-buru ia mem­be­ri­kan perin­tah suami-istri itu:

Seka­rang gerom­bolan akan datang. Jur­a­gan Musa, Nyonya, per­buat seperti Jur­a­gan dan Nyonya per­buat ter­ha­dap Pak Lurah tadi. Gerak-gerik Jur­a­gan dan Nyonya kami awasi terus.

Sete­lah itu dengan lam­baian tangan ia meng­i­sya­rat­kan kepada anak buah­nya untuk ber­se­m­bu­nyi dan ber­siap-siap.

Dari luar ter­de­ngar pelahan suara sese­o­rang:

Assa­la­mu­a­lai­kum!

Jur­a­gan bang­kit dari kur­si­nya. Mata­nya liar ter­te­bar ke kiri, ke kanan, dan ke bela­kang. Meli­hat gela­gat yang tidak baik itu Nyonya buru-buru bangun. Orang-orang yang datang telah mulai masuk. Ber­sa­maan dengan itu Jur­a­gan Musa ber­siap-siap hendak lari. Tetapi Nyonya, yang tetap meng­a­wasi gerak-gerik sua­mi­nya segera menang­kap tangan Jur­a­gan Musa dan mena­rik-narik­nya kem­bali ke tengah-tengah ruangan. Jur­a­gan Musa masih tetap ber­ju­ang. Maka masuk­lah gerom­bolan Jur­a­gan Musa. Mereka meman­dangi tama­sya itu dengan ter­he­ran-heran. Akhir­nya Jur­a­gan Musa ber­te­riak his­te­ris:

Lepas­kan aku, setan!

Nyonya pun ber­te­riak mem­ba­las:

Tak mung­kin aku kau ting­gal­kan ter­lan­tar!

Jur­a­gan Musa men­jadi mata gelap dan mera­ung:

Lepas­kan!

Pak Kasan, yang tidak tahu duduk per­kara yang sebe­nar­nya, akhir­nya meng­ham­piri Jur­a­gan Musa sambil ber­ta­nya cang­gung:

Pak Resi­den, barang­kali mem­bu­tuh­kan ban­tu­anku, Dengan suara men­de­sis murka Jur­a­gan Musa men­ja­wab, gagap:

Pecah­kan kepala perem­puan murtad ini!

Men­de­ngar itu Pak Kasan ter­paku ter­ma­ngu-mangu. Dengan mata mem­be­la­lak ia tatap Jur­a­gan Musa untuk meminta kete­rangan lebih banyak. Tetapi sinar mata Jur­a­gan sudah demi­kian liar­nya, sehingga tak mung­kin orang men­da­pat­kan jawaban dari­pa­da­nya. Dengan diam-diam Pak Kasan mena­tap mata anak buah­nya seo­rang demi seo­rang. Juga pada mata mereka tak ter­da­pat jawaban apa-apa selain, kehe­ran-heranan dan takjub. Nyonya masih juga mena­rik-narik lengan Jur­a­gan. Sedang Jur­a­gan sen­diri dengan kepal­an­nya memu­kuli muka istri­nya. Tetapi Nyonya mena­han­kan semua pukulan itu tanpa meng­a­duh.

Tiba-tiba Pak Kasan dapat mengu­a­sai dir­i­nya kem­bali dan ber­kata dalam sikap resmi:

Pak Resi­den, tugas akan kami dahu­lu­kan. Laporan: Ranta tidak ada di rumah. Tas dan tong­kat Pak Resi­den tak ada di sana. Rumah yang ber­ke­pen­tingan telah kami…

Sampai di situ Jur­a­gan Musa mera­ung gila:

Per­se­tan dengan rumah yang ber­ke­pen­tingan!

Tetapi Pak Kasan yang men­da­pat tugas mene­rus­kan tanpa peduli:

Kami bong­kar pintu dan mene­liti dalam­nya. Tak ter­da­pat apa-apa. Jadi rumah itu kami bakar…

Seje­nak Jur­a­gan Musa lupa pada per­gu­lat­an­nya dengan istri­nya. Dengan lang­kah seo­rang pem­be­sar ia ham­piri Pak Kasan dan mera­ung:

Lelu­con! Apa aku suruh bakar rumah si Ranta?

Pak Resi­den sen­diri meng­an­jur­kan: bakari rumah, per­be­sar perang urat-syaraf! Kami hanya jalan­kan tugas.

Jur­a­gan Musa melo­tot kejam dan meng­ger­tak his­te­ris dengan selu­ruh suara yang dipu­nya­i­nya:

Siapa kau maksud dengan Pak Resi­den?

Meli­hat gela­gat yang tidak baik Pak Kasan beserta anak buah­nya mundur-mundur sampai ke din­ding. Tetapi Jur­a­gan Musa terus melang­kah maju, dengan mata dan tubuh­nya mene­tak tubuh dan mata Pak Kasan. Sete­lah tak dapat ber­ge­rak dari din­ding untuk mundur lebih jauh lagi, Pak Kasan meng­hin­dar­kan mata­nya dari pan­dang Jur­a­gan Musa dengan jalan mene­ngok ke sam­ping sambil men­ja­wab:

Jur­a­gan Musa.

Jur­a­gan Musa men­de­ngar:

Aku? Mulai kapan aku diang­kat peme­rin­tah jadi Resi­den?

Radangan itu mem­buat Pak Kasan meminta ban­tuan anak buah­nya dengan pan­dang mata yang meng­hiba-hiba. Tetapi semua anak buah­nya masih juga ter­bius oleh keja­dian yang mem­bi­ngung­kan itu.

Per­ki­saran keja­dian itu mem­buat Nyonya ter­lena akan pegang­an­nya pada lengan sua­mi­nya. Dengan tak disa­dar­i­nya pegang­an­nya dile­pas­kan. Keja­dian yang sudah diper­hi­tung­kan itu diper­gu­na­kan oleh Jur­a­gan Musa sebaik-baik­nya untuk segera mem­ba­lik, melom­pat, dan mela­ri­kan diri. Tetapi baru saja ia keluar dari pintu depan ia jatuh mundur-mundur masuk kem­bali ke dalam ruang tamu. Mata­nya liar meng­gam­bar­kan keta­kutan, keka­ge­tan, dan putus asa. Seperti bina­tang buas kehi­langan sen­ja­t­a­nya, ia jatuh tak ber­daya di pojo­kan dan ting­gal saja pada kea­da­an­nya, dengan nafas, ter­e­ngah-engah dan ter­de­ngar nyata. Seju­rus kemu­dian keluar dari mulut­nya:

Asta­ga­fi­r­ul­lah hala­a­din.

Meli­hat hal demi­kian Pak Kasan meng­ham­piri dan ber­ta­nya dengan nada seo­rang bawahan pada ata­s­an­nya:

Sudah ingat, Pak Resi­den?

Dan diu­lu­r­kan tangan­nya hendak meno­long Jur­a­gan Musa. Tetapi tanpa diduga-duga­nya Musa mena­rik tangan itu kasar-kasar, sehingga Pak Kasan ter­ta­rik ke depan hampir-hampir ter­pe­lan­ting. Sete­lah ber­diri, cepat-cepat Jur­a­gan Musa ber­ba­lik untuk mena­tap mata Pak Kasan. Kem­bali ia mera­ung:

Apa kau sudah hilang akal? Sudah berapa kali kau pang­gil aku Pak Resi­den! Setan!

Pak Kasan mene­bar­kan pan­dang­nya pada anak buah­nya seo­rang demi seo­rang. Sete­lah yakin bahwa tak seo­rang pun akan mem­ban­tu­nya ber­pi­kir atau mem­be­ri­kan saran maka diam­bil­nya kepu­tusan dan ber­kata kepada mereka:

Lebih baik kita pulang.

Seperti orang gila Jur­a­gan Musa mengem­bang­kan kedua belah tangan meng­ha­dang Pak Kasan dan ber­kata keras-keras:

Pulang? Pulang ke mana? Ayoh, jelas­kan padaku seka­rang, aku bukan Resi­den. Bukan! Dan jelas­kan juga aku tidak meme­rin­tah­kan kau dan anak buahmu mem­ba­kar rumah Ranta! Ayo! Ayo!

Kem­bali Pak Kasan kebi­ngungan dan mena­tap anak buah­nya minta per­tim­bangan. Juga sekali itu mereka tak mampu meng­erti apa sesung­guh­nya yang ter­jadi atas diri Jur­a­gan Musa. Karena tak men­da­pat nasi­hat apa-apa, akhir­nya Pak Kasan mem­be­ra­ni­kan diri meng­am­bil komando pada tangan­nya sen­diri:

Ayo, kita berang­kat seka­rang.

Dan dengan itu ia sing­kir­kan Jur­a­gan Musa yang meng­ha­dang jalan­nya.

Pada waktu itulah Koman­dan dengan diser­tai oleh para pra­ju­rit keluar dari per­se­m­bu­nyi­an­nya masing-masing dengan sen­jata telah dia­cu­kan ke tubuh mereka masing-masing. Koman­dan meng­ger­tak:

Angkat tangan! Menye­rah!

Pak Kasan dengan sigap melom­pat keluar pintu, tetapi seba­gai­mana juga halnya Jur­a­gan Musa, ia ter­pe­lan­ting masuk ke ruang tamu kem­bali. Para pra­ju­rit mengu­a­sai mereka semua. Kemu­dian Koman­dan mem­beri isya­rat pada salah seo­rang di antara anak buah­nya. Yang men­da­pat isya­rat segera menge­lu­ar­kan tali dan meng­i­kat mereka seo­rang demi seo­rang.

Sunyi senyap seje­nak. Pada paras para pra­ju­rit ter­gam­bar kepu­asan dan suka­cita. Salah seo­rang di antara para pra­ju­rit ber­kata:

Aman­lah daerah sini seka­rang.

Tiba-tiba muncul Ranta dari pintu depan dan mena­tap tang­kapan itu seo­rang demi seo­rang. Koman­dan pada gilir­an­nya meng­a­wasi kela­kuan Ranta dengan penuh piki­ran. Akhir­nya Ranta pun mena­tap para pra­ju­rit itu dan pada mata­nya ter­lu­kis­kan terima kasih yang tulus ikhlas.

Tanpa diduga-duga oleh semua orang Ranta meng­ge­leng-geleng­kan kepala dan pada wajah­nya ter­lu­kis rusuh hati­nya.

Koman­dan meng­ham­pir­i­nya dan ber­ta­nya:

Kami ber­te­ri­ma­ka­sih padamu, Ranta. Atas nama Ten­tara dan Peme­rin­tah, kami pun meng­u­cap­kan terima kasih pada jasamu… Ranta hanya meng­ge­leng­kan kepala. Meli­hat itu segera Koman­dan men­de­sak dengan per­ta­nyaan yang ber­sung­guh-sung­guh: Meng­apa, Ranta? Nam­pak­nya kau tak ber­se­nang hati.

Ranta mene­nga­dah­kan muka­nya meman­dangi gambar-gambar di din­ding dan sete­lah menge­luh berat ia ber­kata lambat-lambat sete­ngah mem­per­i­ng­at­kan:

Memang dengan ter­tang­kap­nya orang-orang ini daerah kita men­jadi aman, Pak. Tapi sampai berapa lama? Sambil menun­juk tang­kapan-tang­kapan ia mene­rus­kan: Orang-orang ini takkan jera-jera­nya menga­cau­kan kea­manan kita. Mereka tidak sen­di­r­ian, mereka akan mem­ba­las dendam. Ter­u­tama abdi yang akan dimu­suhi mereka, Pak.

Tiba-tiba semua mata ditu­ju­kan ke arah pintu depan. Tiada jauh ter­de­ngar bunyi tembak-menem­bak, semua orang, ter­ke­cu­ali para tang­kapan, mena­tap Koman­dan untuk meminta kete­rangan dengan mata­nya.

Koman­dan ter­se­nyum puas, kemu­dian mene­rang­kan:

Gerom­bolan Pak Lurah sudah diser­gap. Habis riwa­yat penga­cauan di sini. Memang benar, kau, Ranta, mereka takkan ting­gal diam. Mereka akan mem­ba­las dendam. Tapi aku ada piki­ran… bagai­mana kalau kau kuang­kat jadi lurah, sampai dia­da­kan pemi­l­ihan lurah baru?

Ranta menun­duk. Wajah­nya ber­seri-seri. Dari mulut­nya ter­de­ngar kata-kata­nya yang meng­am­bang antara harapan, keya­kinan, dan kece­masan:

Apalah abdi ini, Pak?

Pada saat itulah Jur­a­gan Musa meng­a­wasi Ranta dengan sengit dan nafsu pem­ba­lasan dendam yang ber­ko­bar-kobar. Tetapi tanpa disa­dar­i­nya Koman­dan menge­ta­hui hal itu. Akhir­nya, dengan sengaja untuk menye­ngit­kan hati Jur­a­gan Musa, Koman­dan itu mene­rus­kan sambil mena­tap Jur­a­gan Musa:

Aku per­caya padamu, Ranta. Mulai hari ini kau jadi lurah sini. Kau harus ikut jaga kea­manan dengan kami. Sudah, jangan bantah.

Pelahan-lahan orang-orang itu pun keluar dari ruang tamu Jur­a­gan Musa, para tang­kapan di depan, para pra­ju­rit di bela­kang. Yang peng­ha­bisan sekali adalah Ranta. Waktu Ranta hendak melang­kah keluar, masuk­lah Rod­jali. Kedua-duanya ber­pan­dang-pan­dangan seben­tar. Kemu­dian Rod­jali menun­duk­kan kepala dan ber­kata lambat-lambat:

Aku girang men­de­ngar kau diang­kat jadi lurah.

Ranta meng­a­wasi orang itu dengan cur­i­ga­nya. Tanpa men­ja­wab kata-kata­nya, Ranta melang­kah keluar dengan mata terus meng­a­wasi Rod­jali, kemu­dian ia pun hilang­lah dari peman­dangan.

Rod­jali pun pergi keluar.

Ting­gal­lah kini Nyonya duduk seo­rang diri di kursi. Seben­tar ia meng­ha­pus mata­nya dengan lengan keba­ya­nya, kemu­dian ia telung­kup­kan muka­nya di atas meja. Sunyi senyap di luar rumah. Akhir­nya ia bang­kit ber­diri, menge­cil­kan lampu, menuju ke pintu kamar, menyan­dar­kan tubuh depan­nya pada daun pintu dengan tela­pak tangan mene­puk-nepuk putus asa pada bagian atas daun pintu. Tanpa diduga-duga­nya daun pintu mele­sit ter­buka sehingga tanpa dike­hen­dak­i­nya ia ter­je­ru­mus masuk ke dalam kamar.


III

Jam tujuh pagi seka­rang.

Sinar mata­hari pagi! mela­lui jen­dela dan pintu jatuh di, lantai, di meja, dan lemari serta din­ding ruang tamu Jur­a­gan Musa. Ruang tamu itu sen­diri sunyi senyap. Tetapi dari bagian bela­kang rumah datang bunyi-bunyian ber­ba­gai macam: Istri Ranta yang memang­gil ayam, orang meng­a­m­paki kayu bakar, bebe­rapa anak kecil ter­tawa-tawa gem­bira diba­rengi dengan kerait katrol sumur yang sedang diper­gu­na­kan menimba.

Sete­lah suara meng­a­m­paki kayu tak ter­de­ngar lagi, ter­de­ngar suara Ranta:

Nah, cukup buat masak seminggu.

Segera kemu­dian ter­de­ngar orang mandi—sua­ra­nya sayup-sayup, namun masih juga jelas karena kese­nyapan pagi itu.

Tidak lama kemu­dian muncul Ranta di ruang tamu dengan masih ber­ka­lung anduk bersih. Dari rambut, baju, dan celana dalam yang dipa­kai­nya serta dari ram­but­nya yang basah menan­da­kan bahwa ia baru habis mandi. Sete­lah menin­jau ruang tamu seben­tar ia korek-korek kuping­nya dengan jari keling­king yang ter­bung­kus dengan ujung anduk. Kemu­dian ia meng­hi­lang lagi mela­lui pintu dalam.

Sete­lah sunyi senyap seben­tar dan hanya ter­de­ngar kokok ayam betina, masuk­lah dalam ruang tamu itu Rod­jali, ber­ce­lana piama putih yang ter­buat dari poplin, ber­peci, ber­baju kaos kutang, dan ber­ka­lung sarung peli­kat yang jatuh di bela­kang pung­gung. Lang­sung ia masuk ke dalam rumah mela­lui pintu depan, dan keluar lagi mem­bawa topo dan mulai menge­lapi pera­bot. Pada waktu ia hendak keluar ruang tamu mela­lui pintu depan, sete­lah peker­ja­an­nya sele­sai, muncul Ranta yang ber­sa­rung, tanpa sandal dan ber­baju piama, yang menuju lang­sung ke sice, kemu­dian duduk, dan memang­gil kem­bali Rod­jali. Sete­lah Rod­jali duduk di hadap­an­nya mulai ia ber­kata:

Djali, maaf­kan kekhi­laf­anku. Dahulu aku cur­i­gai kau. Ter­nyata kau pem­bantu utama. Tanpa kau tak dapat peru­suh-peru­suh itu digu­lung.

Dan tanpa menunggu jawaban, lang­sung ia ber­ta­nya dengan nada lain: Bagai­mana pen­da­patmu ten­tang desa kita seka­rang?

Ah, Pak Lurah, tanpa kuta­nyai, orang-orang sudah bilang: kea­daan seka­rang sudah mulai baik benar.

Ranta ter­tawa gem­bira. Menam­bahi:

Omong kosong. Mereka tidak tahu. Besok atau lusa gerom­bolan akan datang lagi meng­o­b­rak-abrik kita.

Nampak Rod­jali ter­ke­jut. Dengan mata mem­be­la­lak ia pan­dangi Ranta minta pen­je­lasan. Tetapi Ranta hanya meng­ge­leng. Akhir­nya dengan mulut­nya Rod­jali ber­ta­nya:

Nasib kita akan lebih buruk kalau mereka mem­ba­las dendam. Sambil bang­kit dari kursi Ranta mem­ban­tah:

Tidak, kalau kita ber­satu.

Biar ber­satu, mereka punya sen­jata.

Tidak, kita ber­satu dan juga mela­wan, bahkan menye­rang. Ah, Djali, kau ber­pi­kir secara dulu juga seperti yang lain-lain. Begini Djali, kalau ada per­sa­tuan, semua bisa kita ker­ja­kan, jangan­kan rumah, gunung dan laut bisa kita pin­dah­kan.

Seje­nak Rod­jali ber­seri-seri, kemu­dian ber­ta­nya:

Dan kemis­kinan kita?

Itu juga mudah kita lawan. Per­sa­tuan saja modal­nya. Per­tama-tama kita mesti jadi saha­bat dan sau­dara satu dengan yang lain. Kau ingat saluran air sawah yang dang­kal dan ditum­buhi semak-semak sejak zaman Jepang dulu? Nah, kalau ada per­sa­tuan, kita akan gali bera­mai-ramai, kemu­dian sawah kita akan makmur lagi.

Kemu­dian dengan irama men­do­ng­eng Ranta ber­ce­rita:

Kalau kita semua tidak mau ber­satu, kita semua akan ber­ke­lahi terus-mene­rus satu dengan yang lain. Apa akhir­nya? Akhir­nya barang­si­apa kuat, dia beru­bah men­jadi bina­tang buas. Tiap hari dia mangsa hidup kita, rezeki kita, anak dan bini kita, keba­ha­gi­aan kita, semua-muanya. Bina­tang-bina­tang buas ini mena­rik diri, tidak mau ber­gaul dengan sesa­ma­nya. Mereka keluar dari sarang hanya untuk cari mangsa. Tapi bila sekali waktu bina­tang buas ini ber­temu dengan bina­tang buas lain­nya, kita semua disu­r­uh­nya mem­bantu. Orang-orang lemah yang tidak bisa jadi bina­tang buas, barang ke mana pergi, dia tetap akan men­jadi mangsa.

Barang apa diker­ja­kan­nya, dia tetap akan jadi mangsa. Kau dengar, Djali?

Abdi dengar, Pak Lurah. Tapi abdi lebih per­caya pada kebe­naran.

Kau belum banyak makan garam, Djali. Dengar. Aku sudah pernah lihat Palem­bang, Sur­a­baya, Jakarta, Ban­dung. Di mana-mana sama saja. Di mana-mana aku selalu dengar: Yang benar juga akhir­nya yang menang. Itu benar. Benar sekali. Tapi kapan? Kebe­naran tidak datang dari langit, dia mesti diper­ju­ang­kan untuk men­jadi benar…

Sedang mereka asyik mem­per­ca­kap­kan “fil­sa­fat”, masuk Koman­dan dii­ring­kan oleh tiga orang pra­ju­rit. Pada wajah Koman­dan itu ter­gam­bar senyum puas. Segera ia mene­gur Pak Lurah:

Apa kabar, Pak Lurah?

Ranta dan Rod­jali, yang sedang teng­ge­lam dalam fil­sa­fat­nya tak menya­dari akan keda­tangan mereka, karena itu teguran itu mem­buat mereka ter­ke­jut. Pak Lurah ter­lon­jak, kemu­dian ber­lari-larian menyi­la­kan tamu­nya, sedang Rod­jali mem­bung­kuk cepat-cepat mem­beri hormat dan kemu­dian keluar dari ruang tamu.

Berkah, Pak, berkah!

Tanpa menunggu suatu pem­bu­kaan, Koman­dan lang­sung men­ce­ri­ta­kan maksud keda­tangan­nya dengan nada tidak kemi­l­iter-mil­it­e­ran, seperti tidak dalam dinas dan seperti pada seo­rang tamu di rumah sen­diri:

Begini, Pak Lurah. Kami men­da­pat laporan, gerom­bolan Oneng sudah ada di seki­tar daerah kita ini. Pak Lurah sen­diri tahu, keku­atan ten­tara di sini tidak besar. Mak­sudku, barang­kali Pak Lurah bisa kasih ban­tuan mem­per­ta­han­kan kea­manan daerah ini, ten­tara ber­sama rakyat. Dan sebo­leh-boleh jangan sampai ada jatuh korban.

Ranta mere­nung-renung seben­tar, semen­tara Koman­dan itu menunggu jawaban. Akhir­nya dengan pelahan-lahan, Ranta mene­rang­kan: Begini, Pak Koman­dan, jelek-jelek abdi punya juga peng­a­laman per­tem­puran. Abdi pernah jadi Heiho1 zaman Jepang. Waktu marine Belanda men­da­rat di daerah ini, seo­rang diri abdi pernah bina­sa­kan dua atau tiga truk pasukan musuh. Tidak ada orang yang tahu sampai seka­rang ini. Ten­tang gerom­bolan Oneng, sudah lama memang abdi pikir­kan bagai­mana meng­han­cur­kan mereka. Tetapi…

Men­de­ngar itu nampak Koman­dan ber­gi­rang hati. Ber­ta­nya:

Jadi, bagai­mana saranmu?

Dengan sung­guh-sung­guh Pak Lurah menya­ran­kan:

Kita per­sa­tu­kan rakyat, kita lawan musuh ber­sama-sama. Kita per­gu­na­kan bambu untuk ranjau-ranjau. Kita per­gu­na­kan tong-tong di tiap rumah untuk menyam­pai­kan berita dan menge­rah­kan rakyat untuk mela­wan musuh ber­sama.

Koman­dan mene­ngahi:

Mak­sudmu gotong royong?

Tentu, Pak. Coba­lah pikir. Pak, kami di sini hanya tahu tanah dan pacul. Mereka punya sen­jata dan gerom­bolan. Kalau kita tidak mau ber­satu, tidak mau gotong royong, apa yang kami bisa per­buat dengan cuma tahu tanah tahu pacul ini!

Kem­bali Koman­dan mene­ngahi:

Jadi apa mesti kita per­buat, Pak Lurah.

Pak Lurah Ranta men­ja­wab tegas:

Begi­tu­lah, Pak. Kita ber­sama-sama ber­go­tong royong mem­buat per­ta­hanan, jebakan, ranjau-ranjau. Jalanan di sini tidak banyak.

Kem­bali Koman­dan mene­ngahi:

Yakin benar Pak Lurah, kalau kita bakal menang?

Dengan serta-merta Pak Lurah menyam­but:

Abdi, mah, kenal daerah sini, Pak. Biar abdi urus, Pak. Per­caya saja­lah. Kalau sudah beres, nanti abdi meng­ha­dap bapak.

Koman­dan itu meng­ang­guk menye­tu­jui, walau­pun pada wajah­nya nampak keragu-raguan. Sete­lah meng­ang­guk lagi, ia mening­gal­kan ruang tamu rumah Jur­a­gan Musa dan pergi dalam iringan para penga­wal­nya.

Pak Lurah meng­an­tar­kan mereka sampai di pintu depan. Kemu­dian ber­seru memang­gil-mang­gil:

Djali! Djali!

Dari keja­uhan ter­de­ngar jawaban:

Ya, Pak.

Sini, cepat!

Kemu­dian dengan masih meng­ha­dapi pintu Ranta mene­rus­kan:

Pang­gil­kan orang-orang kita. Cepat! Kalau tidak mereka akan dahu­lui kita.

Kemu­dian dengan ber­ge­gas Ranta mem­ba­lik, melin­tasi ruang tamu dan masuk ke dalam. Seben­tar sete­lah itu ia muncul kem­bali, ber­ce­lana pan­jang, ber­baju piama, dengan ber­se­lim­pang­kan tali revol­ver, sedang revol­ver itu sen­diri ter­se­lit­kan pada ikat ping­gang di bagian perut. Ia ber­ja­lan mondar-mandir di ruang tamu sambil memi­kir dalam-dalam, akhir­nya ber­ko­mat-kamit:

Mereka harus diajar lebih cepat, lebih gesit. Kalau tidak segala-gala­nya ting­gal sesalan, kehan­curan.

Pada waktu itulah Nyonya Musa masuk ke ruang tamu dari pintu kamar sam­ping dan lang­sung duduk di kursi sice. Tanpa mem­bu­ang-buang waktu dengan kepala ter­tun­duk ia memu­lai:

Pak Lurah, hari ini aku mau kem­bali ke Suka­bumi,:

Ranta ber­henti di tengah-tengah ruangan, dan tanpa mene­ngok pada Nyonya, ia menyam­but:.

Baik­lah, Nyonya. Rumah ini tidak akan rusak atau kehi­langan pra­bot­nya. Kalau Nyonya datang kem­bali, semua masih dalam kea­daan utuh. Tapi, ngo­mong-ngo­mong, Nyonya, bagai­mana pera­saan Nyonya seka­rang?

Ter­de­ngar nyata Nyonya meng­hela nafas pan­jang, kemu­dian baru men­ja­wab:

Aku kira sama saja­lah dengan pera­saan perem­puan-perem­puan lain kalau diting­gal­kan sua­mi­nya. Dan ten­tang aku sen­diri—diting­gal­kan dalam kea­daan bagai­mana!

Ranta meng­ha­pus kening­nya untuk meng­isi hati­nya yang kosong karena tak dapat meng­hi­bur hati Nyonya.

Sunyi senyap seke­tika. Istri Ranta datang meng­ham­piri dari pintu dalam. Meli­hat keda­tangan­nya itu segera Nyonya mene­rus­kan:

Istri Pak Lurah bisa cerita, kalau suatu kali Pak Lurah juga meng­a­lami apa yang dia­lami sua­miku… Ah, tidak, ini bukan ancaman.

Ranta meng­a­wasi Nyonya seben­tar, kemu­dian ber­kata:

Tentu saja bukan ancaman. Nyonya, bagai­mana seka­rang pen­da­pat Nyonya ten­tang suami Nyonya?

Nyonya mem­per­main-main­kan ujung jari­nya sambil dengan ragu-ragu men­ja­wab:

Kalau dia DI, tentu saja dia mesti ditang­kap. Tapi Pak Lurah jangan lupa, bagai­man­a­pun juga, dia sua­miku.

Pak Lurah Ranta menyam­bar:

Nah, itulah Nyonya, justru karena suami Nyonya itulah aku ber­ta­nya: setu­ju­kah Nyonya suami Nyonya masuk DI?

Nyonya ragu-ragu seben­tar, kemu­dian men­ja­wab:

Kalau aku tahu jauh sebe­lum­nya, mung­kin aku bisa men­ce­gah­nya ber­buat begitu. Aku kira, tak ada di antara orang baik-baik, yang tidak mengu­tuk DI. Tetapi Pak Lurah jangan lupa, seo­rang istri wajib mem­bela dan mem­bantu sua­mi­nya.

Tentu, Nyonya. Tetapi bagai­mana pen­da­pat Nyonya ten­tang per­la­kuan suami Nyonya pada saat-saat ter­a­khir?

Aku akui, Pak Lurah, dia telah tem­pe­lengi aku. Pria sejati takkan ber­buat seperti itu ter­ha­dap istri­nya. Tetapi mung­kin juga karena sikapku sen­diri yang kurang tepat. Dia sela­ma­nya begitu baik.

Aku kira, dia tidak sebaik Nyonya sangka.

Ah, Pak Lurah, aku tak tahu apa yang diper­bu­at­nya di luar rumah.

Itulah, Nyonya, aku mau terang­kan kepa­damu, dari mana dia dapat keka­ya­an­nya itu.

Keka­yaan warisan, bukan?

Sama sekali tidak. Kami kenal Jur­a­gan Musa. Dulu dia semis­kin aku dan kami semua di sini. Zaman Jepang dia jadi wèrek roo­musya. Barang­si­apa pergi, disu­r­uh­nya kasih cap jempol. Ter­nyata cap jempol itu meram­pas tanah­nya. Nah itulah cerita mula-mula dia jadi tuan tanah. Dia meng­ang­kat diri sen­diri jadi Jur­a­gan. Itu belum semua. Kemu­dian orang-orang yang semis­kin aku dipak­sa­nya jadi pen­curi!

Maling? Maling benar-benar?

Ya, maling benar-benar, nyo­long benar-benar. Kan nyonya sen­diri tahu bagai­mana aku dipu­kuli di serambi rumah ini.

Jadi?

Jadi aku dipak­sa­nya jadi maling.

Maling apa?

Maling apa? Bibit karet, bibit teh.

Nyonya melo­tot heran mena­tap Pak Lurah Ranta, meng­ge­leng dan mem­ban­tah:

Tidak mung­kin!

Ah, Nyonya, aku tidak memaksa Nyonya per­caya.

Meng­apa Pak Lurah dulu dipu­kuli di serambi situ?

Nah, itulah akal dia. Sesu­dah aku nyo­long untuk­nya, dia dakwa aku nyo­long bibit­nya.

Meng­apa mesti begitu?

Nyonya tidak meng­erti?

Nyonya meng­ge­leng. Ranta ter­tawa pendek. Kemu­dian mene­rus­kan:

Begini, Nyonya, suami Nyonya tak mau beri aku upah. Jadi dia usir aku dengan dak­waan. Kalau tidak salah sudah banyak orang didakwa Jur­a­gan Musa men­curi barang-barang­nya, bukan? Tapi apa guna­nya bagi orang sema­cam aku ini nyo­long bibit karet!

Dengan nada menye­rang Nyonya mene­tak:

Meng­apa Pak Lurah mau?

Meng­apa aku mau? Ya, Allah, Nyonya. Sung­guh-sung­guh Nyonya tidak meng­erti? Biar aku dong­engi.

Dong­eng?

Ya, dong­eng. Dong­eng sesung­guh­nya. Dengar: waktu kita masih kecil, kita semua dapat makan dan per­lin­dungan dari orang tua, atau wali­nya. Kemu­dian, Nyonya, sete­lah kita dewasa kita harus ber­diri sen­diri, kita sebo­leh mung­kin harus jadi pelin­dung. Tapi apa nya­ta­nya, Nyonya? Sete­lah pelin­dung tidak kita butuh­kan, kita mema­suki dunia yang sama sekali baru, dunia manu­sia Nyonya, yang isinya penuh dengan bina­tang buas ber­ku­lit orang. Kul­it­nya saja kulit orang, tapi adat­nya, ting­kah laku­nya, semu­a­nya sama dengan bina­tang buas. Barang­si­apa lengah, diku­nyah­nya. Barang­si­apa lena, diter­kam­nya. Aku hanya contoh saja dari­pada mangsa yang lemah, lengah, dan lena. Karena kebu­as­an­nya aku dipaksa jadi maling untuk meme­nuhi kebu­tuh­an­nya.

Bodoh­nya. Kan Pak Lurah sudah dewasa?

Dewasa? Hah! Memang, Nyonya, tapi kebu­as­anku tidak ikut jadi dewasa. Kalau itu dina­ma­kan kesal­ahan, ya, itulah kesal­ah­anku.

Jadi sua­miku ter­ma­suk bina­tang buas?

Korban-kor­ban­nya tentu akan mengi­ya­kan.

Nyonya meng­hin­dar­kan pan­dang­nya dari Ranta. Nampak suatu keke­salan ter­gam­bar pada wajah­nya. Sete­lah meli­hat ke pintu depan tiba-tiba ia ber­ta­nya:

Pak Lurah dendam?

Pada suami Nyonya?

Ya.

Kalau cuma soal dendam, Nyonya, per­ca­ya­lah, sudah lama dia jatuh dalam ceng­ke­ram­anku.

Senang­kah hati Pak Lurah dia ditang­kap?

Kese­nangan sang kancil meli­hat macan ditang­kap pem­buru, Nyonya.

Apa untung­nya kese­nangan ini?

Seti­dak-tidak­nya bisa jadi Lurah.

Lurah daru­rat, Nyonya, menunggu ada yang dipi­lih.

Kedu­a­nya ber­diam diri. Masing-masing menun­duk. Dari luar ter­de­ngar sese­o­rang ber­seru-seru kemu­dian ber­ta­nya:

Mana yang lain-lain?

Ah, seben­tar lagi juga datang.

Sese­o­rang men­de­hem.

Sese­o­rang batuk-batuk.

Nyonya mem­bu­ang pan­dang­nya ke arah pintu depan, kemu­dian dengan nada menge­luh ber­kata:

Begitu cepat rumah ini meng­ha­bisi keba­ha­gi­a­anku.

Ranta mena­tap­nya dan menyela:

Nyonya, begitu lama rumah ini menin­das kami. Nampak Nyonya amat berang hati men­de­ngar itu, dan dengan seka­li­gus menyam­but:

Jadi, Pak Lurah ber­ang­gapan, keba­ha­gi­aan kami, kami dapat dari penin­dasan atas pen­du­dukan desa ini?

Pak Lurah ter­tawa pelahan. Dan sambil bang­kit ber­diri meng­ang­guk dan mengi­ya­kan:

Kata-kataku tadi tak perlu dibe­tul­kan Nyonya. Dan kata-kata Nyonya sung­guh tepat! Kapan Nyonya mau berang­kat?

Nyonya mena­han kema­rahan dan kejeng­kel­an­nya. Tapi ia tak men­ja­wab dan men­coba menu­tupi kema­rahan dan kejeng­kel­an­nya dengan gerak-gerik yang kikuk. Ia bang­kit dari kursi dan mening­gal­kan ruang tamu masuk ke dalam mela­lui pintu dalam.

Dari kur­si­nya Lurah Ranta ber­seru:

Ayoh, masuk, kawan-kawan!

Bebe­rapa orang masuk ke dalam dengan ber­ka­lung sarung tenunan, ber­peci, tanpa alas kaki. Semua ber­ce­lana hitam kolor di bawah lutut tetapi seba­gian dari mereka ber­baju kaos bun­tung dan seba­gian lagi ber­baju teluk belanga. Seo­rang telan­jang dada. Mereka semua ber­diri di hadapan Pak Lurah, menunggu perin­tah.

Pak Lurah ter­se­nyum puas. Ber­kata:

Jadi sudah datang semua. Bagus. Nah, sau­dara-sau­dara, kalian semua ketua Rukun tetangga. Rukun tetangga di sini didi­r­i­kan buat bantu peme­rin­tahan desa, dan peme­rin­tahan desa dipu­l­ih­kan buat bantu sau­dara semua. Kita cuma tahu bantu-mem­bantu, gotong royong, gugur gunung, kerja bakti, ber­sau­dara, satu dengan yang lain, satu dengan semua, semua yang satu. Semua itu sau­dara-sau­dara sudah hafal. Nah, seka­rang ada soal pen­ting. Deng­ar­kan baik-baik: Gerom­bolan akan datang menye­rang lagi. Ten­tara yang ditem­pat­kan di desa ter­pen­cil ini cuma sedi­kit. Kita semua harus ikut mela­wan.

Salah seo­rang di antara para pen­da­tang itu mene­ngahi:

Apa salah­nya kalau kita dapat sen­jata?

Dengan suara keras karena kejeng­kelan ter­ta­han Pak Lurah segera menyum­bat mulut orang ter­se­but dengan kata-kata:

Apa salah­nya? Meng­apa mesti apa salah­nya? Kita semua tahu, kita mesti mela­wan. Kalau kita tidak mela­wan seperti selama ini, kita dibu­nuhi, diba­kari, seperti kucing! Mela­wan atau tidak, mereka mau bina­sa­kan kita. Karena itu kita mesti mela­wan! Kalau kita susun per­la­wanan kita baik-baik, kita pasti menang. Nah, siapa kebe­ratan?

Seo­rang tua, yang sudah ber­jeng­got dan ber­ku­mis putih, menyam­but sambil ter­tawa:

Memang. Kita tak bisa meng­an­dal­kan diri pada ten­tara dan OKD saja. Kita sen­diri mesti bel­a­jar mem­per­ta­han­kan kese­la­matan kita sen­diri. Bukan saja dari kega­nasan gerom­bolan, juga dari kemis­kinan dan ben­cana alam.

Ranta menun­juk pada orang tua itu dan ber­kata mem­be­nar­kan:

Tepat! Dengar kawan-kawan, per­ha­ti­kan dia!

Dan orang tua itu mene­rus­kan:

Kalau kita tak bisa seo­rang diri per­ta­han­kan kese­la­matan kita, nah, kita kerja bera­mai-ramai. Coba per­ha­ti­kan, turun-temu­run kita hidup morat-marit. Kenapa? Karena tidak meng­erti, kalau kita ber­satu, ber­sama-sama kerja, ber­sama-sama bela diri, sebe­nar­nya keku­atan kita jauh lebih besar. Semua saja bisa kita ker­ja­kan. Jangan­kan waduk buat selu­ruh desa kita, biar pen­ja­jah bisa kita usir!

Untuk mem­ba­tasi kata-kata orang tua itu Ranta segera angkat bicara lagi:

Barang­kali itu bisa diper­ca­kap­kan lain kali. Seka­rang ada soal yang lebih pen­ting, lebih men­de­sak: Gerom­bolan akan datang menye­rang. Mung­kin besok, mung­kin lusa, mung­kin hari ini juga.

Men­de­ngar kete­rangan itu semua yang hadir mene­gang­kan per­ha­tian mereka. Bebe­rapa orang nampak agak gugup. Meli­hat hal itu segera Ranta mene­nang­kan hati mereka:

Dengar, kalian tak perlu takut. Kalian punya anak buah. Satu-satu­nya yang menye­la­mat­kan kita semua cuma per­sa­tuan, per­sau­da­raan. Jadi, pulang­lah sudara ke tempat masing-masing. Pasang ranjau-ranjau bambu ter­pen­dam di tempat-tempat yang bakal dile­wati gerom­bolan. Panah dan sumpit bagi­kan pada semua orang, laki, perem­puan, tua, muda, semua seba­ik­nya ikut mem­bantu. Nanti sore aku akan datang ke tempat sudara-sudara, ikut meng­a­tur. Nah, seka­rang, pulang­lah. Jangan pikir­kan yang lain-lain, selain menum­pas gerom­bolan. Kalau gerom­bolan dapat diha­lau­kan dari tempat ini, baru kita bisa bekerja dan hidup dengan aman.

Orang-orang mulai ber­ge­rak hendak pulang. Tiba-tiba Nyonya masuk ke dalam ruang tamu mem­bawa koper. Semua orang meman­dang kepa­da­nya. Dan Ranta sen­diri ber­pa­ling kepa­da­nya dan ber­ta­nya:

Tapi belum ada truk ten­tara berang­kat, Nyonya. Biar­lah Djali pergi ke markas, ber­ta­nya kapan truk berang­kat.

Maaf, bukan mak­sudku hendak meng­ganggu perun­dingan ini.

Para pen­da­tang berun­ding satu sama lain dengan bisik dan kela­sak-kelu­suk. Meli­hat gela­gat seperti itu Nyonya merasa ter­sing­gung. Dengan lang­sung ia ber­kata:

Jangan­lah anggap aku mau meng­khi­a­nati kalian.

Men­de­ngar itu nampak para pen­da­tang itu merasa ter­sing­gung, malu, dan tak ber­se­nang hati. Tanpa diduga-duga pen­da­tang tua itu menyam­but:

Nyonya, kami tidak akan ambil peduli Nyonya mau ber­khi­a­nat atau tidak. Tapi kami harus segera menye­la­mat­kan hidup dan daerah kami. Cuma itu.

Nampak Nyonya men­jadi demi­kian ter­sing­gung sehingga keli­hatan kegu­gupan men­ja­lar pada tangan yang meme­gangi koper­nya. Tetapi ia tak bicara apa-apa, dan tanpa meminta diri, ia pun keluar dari ruang tamu mela­lui pintu depan. Nampak benar koper itu seakan-akan men­jadi lebih berat. Ranta ber­lari-larian hendak meno­long mem­ba­wa­kan, tetapi tak lama ia mening­gal­kan ruang tamu, ia sudah balik kem­bali, disam­but dengan mata ber­ta­nya-tanya oleh para pen­da­tang. Pan­dang-pan­dang mata ber­ta­nya itu memaksa Ranta mem­be­ri­kan kete­rangan:

Jangan gusar. Dia sedang kebi­ngungan karena sua­mi­nya ditang­kap. Aku kira istri sudara-sudara juga akan seperti dia kalau sudara-sudara ditang­kap. Nah pulang­lah, siap­kan per­ta­hanan per­sa­tuan.

Para pen­da­tang pergi bera­mai-ramai.

Ranta meng­an­tar­kan mereka sampai keluar pintu. Kemu­dian ia masuk kem­bali mem­bawa seo­rang pra­ju­rit. Pra­ju­rit itulah yang dengan nada resmi memu­lai:

Pak Lurah…

Tetapi Ranta mene­ngahi:

Sila­kan duduk, Pak.

Tidak perlu, Pak Lurah, terima kasih. Hanya menyam­pai­kan, tak ada di antara pen­du­duk sini diper­bo­leh­kan mening­gal­kan desa ini. Gerom­bolan memu­sat­kan keku­at­an­nya pada tiga jalan besar yang meng­hu­bung­kan desa ini. Jangan sam­pai­kan kepada orang lain.

Kemu­dian ia mem­beri saluir secara mil­iter dan ber­ge­gas pergi mela­lui pintu depan. Belum sampai pra­ju­rit itu duduk dan pergi lagi mela­lui pintu depan, Ranta telah ber­seru-seru:

Djali! Djali!

Seruan itu mem­buat pra­ju­rit itu ber­pa­ling dan ber­henti, di depan pintu, ber­ta­nya:

Ya?

Dari keja­uhan ter­de­ngar jawaban Rod­jali.

Pra­ju­rit itu ber­ta­nya:

Ada apa, Pak Lurah?

Ranta meng­ge­leng, men­ja­wab:

Memang­gil Rod­jali, Pak. Tidak apa-apa.

Pra­ju­rit mene­rus­kan jalan­nya dan hilang di balik pintu.

Dari pintu dalam muncul Rod­jali, yang lang­sung meng­ha­dap Ranta:

Ya, Pak.

Ha, Djali. Susul Nyonya, ya. Bilang­kan dia mesti kem­bali. Tak ada satu orang boleh ting­gal­kan desa ini. Lari, cepat!

Tanpa men­ja­wab Djali pergi mela­lui pintu depan.

Baru saja Ranta hendak duduk, masuk pula Yang Per­tama dari pintu depan sambil meng­ang­kat topi capi­o­nya dan mene­gur:

Ha, Pak Lurah! Apa kabar, Pak?

Ranta tak men­ja­wab, hanya ter­se­nyum ramah dan ber­ta­nya kem­bali: — Ada urusan apa nih?

Yang Per­tama duduk di kursi dan sete­lah mene­bar­kan pan­dang ke keli­ling memu­lai:

Begini, Pak… Ehemm, bagai­mana urus­anku Pak?

Nampak Ranta agak ter­ke­jut. Mata­nya dite­bar­kan­nya ke selu­ruh din­ding, kemu­dian meng­ang­guk mengi­ya­kan dan ber­kata:

Tak ingat aku. Ter­lalu sibuk. Ngo­mong-ngo­mong urusan kema­rin juga nih?

Begini, Pak… Mau ke Jakarta nih.

Urusan pen­ting?

Begi­tu­lah.

Naik apa?

Biasa. Num­pang truk mil­iter.

Kalau tak ada.

Biasa, jalan kaki sampai Pela­buhan Ratu.

Begini, ya. Baru tadi datang perin­tah, tak ada seo­rang pun diper­bo­leh­kan mening­gal­kan desa ini.

Ah, Pak Lurah ini, dulu kan aku yang doakan biar jadi Lurah? Masa sama aku seka­rang begitu, Pak Lurah?

Ranta ter­se­nyum dalam usa­ha­nya untuk menin­das kejeng­kel­an­nya. Sebe­lum men­da­pat kesem­patan untuk mene­rang­kan soal­nya, Yang Per­tama sudah mene­rus­kan:

Dulu kita sama-sama miskin, Pak Lurah. Masak seka­rang sudah lupa sama aku? Kan dulu aku ikut meng­an­tar­kan, Pak Lurah lapor sama Pak Koman­dan? Ah-ah-ah.

Yang Per­tama mengunci kata-kata­nya dengan senyum pan­dang minta diis­ti­me­wa­kan. Tetapi senyum itu dengan men­da­dak dipo­tong oleh Ranta dengan kata-kata yang dipi­lih­nya dengan hati-hati:

Memang aku tak pernah melu­pa­kan jasa-jasamu. Tapi soal­nya begini. Aku dipi­lih jadi Lurah semen­tara buat meng­a­tur kese­jah­te­raan desa ini, ter­ma­suk kese­jah­te­raan kalian. Aku jalan­kan per­a­turan-per­a­turan dari atasan. Kalau tidak ada per­a­turan, deng­ar­kan baik-baik, kalau per­a­turan tidak ada, semua bakal kacau-balau. Aku harap engkau mau meng­erti.

Yang Per­tama menu­kas dengan kata-kata tang­kas:

Akur, Pak Lurah, tapi kalau aku tak bisa pergi ke Jakarta hari ini, nasibku lebih kacau-balau lagi.

Dengar! Dengar! Kalau kau pergi ke Jakarta juga, nasibmu mung­kin lebih kacau-balau dari­pada sang­kamu.

Dengan nada yang mem­per­li­hat­kan hati­nya yang tak senang Yang Per­tama ber­kata:

Pen­dek­nya, Pak Lurah tak mau kasih surat kete­rangan.

Begi­tu­lah ceri­ta­nya.

Kalau begitu aku pergi tanpa kete­rangan.

Lebih baik jangan.

Tanpa meng­u­cap­kan sepa­tah kata pun Yang Per­tama pergi mening­gal­kan ruang tamu dan hilang di balik pintu depan.

Dari tempat duduk­nya Ranta ber­seru-seru sambil ber­diri:

Deng­ar­kan aku! Jangan pergi. Demi kese­la­mat­anmu sen­diri.

Tak ber­ja­wab. Ranta meng­ge­leng sambil ber­ke­cap, kemu­dian ber­ja­lan masuk ke dalam rumah mela­lui pintu dalam. Sunyi senyap seje­nak. Sinar mata­hari telah jauh merang­kak ke din­ding tengah mela­lui lubang jen­dela. Dari keja­uhan ter­de­ngar orang menya­nyi “Kem­bang Beu­r­eum”. Tetapi sebe­lum nya­nyian itu sele­sai, Rod­jali telah masuk ke ruang tamu sambil meli­hat ke kiri dan ke kanan. Waktu dili­hat­nya Pak Lurah tak ada baru­lah ia ber­seru-seru:

Pak Lurah! Pak!

Dari dalam rumah ter­de­ngar sahutan pelahan. Rod­jali maju sampai ke tengah-tengah ruangan kemu­dian ber­henti. Meng­u­langi pang­gil­an­nya:

Pak!

Ranta muncul di lubang pintu dan lang­sung mene­gur:

Bagai­mana Nyonya. Sudah dibi­langi?

Sudah, Pak, tapi tak mau dengar.

Di mana dia seka­rang?

Di ping­gir jalan, di bawah pohon duren, di tepi jurang itu, Pak. Tunggu truk ten­tara, kata­nya.

Sudah sejauh itu?

Ya, Pak.

Apa kata­nya?

Rod­jali meng­ga­ruk-garuk kepala, tak tahu apa mesti dika­ta­kan­nya. Meli­hat kebi­ngungan mengu­a­sai diri Rod­jali, Ranta segera mem­be­ra­ni­kan hati­nya:

Ayoh, Djali, meng­apa mesti takut?

Rod­jali mem­per­he­bat garukan pada kepa­la­nya. Dengan ragu-ragu ia mulai ber­kata, patah demi patah:

Aku takut, Pak Lurah.

Meng­apa?

Aku tahu, jawab­an­nya akan menya­kiti hati Pak Lurah.

O, itu aku tahu benar. Jadi, apa kata­nya?

Kata­nya, kata­nya. ‘Ah, si Ranta, apa sih dia? Aku kan lebih pintar? Aku kan lebih pandai dari dia? Aku kelu­aran SKP. Dia? Menu­lis saja hampir-hampir tak dapat!’ Jangan gusar padaku, Pak Lurah.

Lantas kau bilang apa?

Aku bilang, soal­nya bukan pintar atau pandai, Nyonya. Soal­nya kewa­ji­ban. Pak Lurah wajib menyam­pai­kan kepada Nyonya, Nyonya hen­dak­nya mem­ba­tal­kan per­ja­lanan. Tapi dia malah marah padaku.

Ranta ter­tawa senang. Ter­tawa Pak Lurah itu mem­be­ra­ni­kan Rod­jali, sehingga tanpa takut-takut lagi ia mene­rus­kan:

‘Hih! Kau sudah pintar seka­rang, ya? Apa teri­ma­ka­sihmu padaku seka­rang? Ber­bu­lan-bulan kau kuka­sih makan! Apa teri­ma­ka­sihmu? Meng­khi­a­nati sua­miku,’ kata­nya!

Ranta ter­tawa sambil mene­ngahi:

Sung­guh ter­lalu. Apa jawabmu?

Gam­pang saja, Pak Lurah. Begini: ‘Meng­khi­a­nati peng­khi­a­nat bukan peng­khi­a­natan Nyonya.’ Lantas Nyonya saya pinta supaya kem­bali lagi. Tapi tak juga mau. Kata­nya: ‘Aku tahu truk mil­iter tak mau bawa aku ke Suka­bumi. Tapi truk, per­tam­bangan masih banyak yang bakal lewat. Truk peng­ang­kut sing­kong dan kayu juga,’ kata­nya. Jadi pulang saja­lah Rod­jali ini, Pak Lurah.

Sen­di­r­ian dia di sana?

Sama siapa lagi?

Susul lagi, Djali. Kea­daan tak aman. Dia diminta kem­bali.

Dengan mata meng­impi Rod­jali mena­tap Pak Lurah. Tapi ia tak mem­ban­tah. Sete­lah menyeka keri­ngat pada kening dan tangan dengan lengan baju, ia pergi mela­ku­kan perin­tah.

Ranta ber­kata pada diri sen­diri:

Ada-ada saja orang-orang ini. Biar­lah. Nanti mereka akan per­caya juga padaku.

Dari dalam rumah ter­de­ngar suara istri Ranta:

Masih banyak urusan, Pak?

Ranta mene­ngok ke arah pintu dalam dan men­ja­wab:

Sedang sepi. Ada apa?

Kem­bali dari dalam rumah ter­de­ngar suara istri­nya:

Belum lapar?

Masih juga dalam sikap­nya dan di tempat semula Ranta mem­ba­las dengan per­ta­nyaan:

Memang­nya sudah beres semua di bela­kang situ?

Seka­rang muncul istri­nya di ambang pintu dalam:

Beres semua sih, belum. Tapi kalau sudah lapar kan lebih baik makan dulu. Nanti tidak keburu makan lagi.

Baru saja Ranta hendak masuk ke dalam, seo­rang pra­ju­rit masuk dan lang­sung mene­gur:

Mau ke mana, Pak.

Nampak Ranta amat ter­ke­jut dan segera mem­ba­lik­kan badan meng­ha­dapi tamu baru. Sebe­lum ia dapat menyi­la­kan tamu­nya, pra­ju­rit itu telah mene­rus­kan:

Menyam­pai­kan perin­tah dari Pak Koman­dan, Pak Lurah. Diha­rap per­ta­hanan rakyat diper­ce­pat. Di luar sudah menunggu bebe­rapa orang pra­ju­rit dan OKD untuk mem­bantu per­ta­hanan rakyat.

Ranta meng­ha­pus muka­nya dengan tangan sambil men­ja­wab lang­sung:

Baik. Mari berang­kat.

Kedu­a­nya ber­siap-siap hendak berang­kat. Istri Ranta meng­i­kuti mereka dari bela­kang dan dengan agak segan-segan ber­kata:

Pak Ranta belum lagi makan dari pagi.

Pra­ju­rit itu ber­pa­ling kepada perem­puan itu dan ber­kata, meng­hi­bur:

Sepu­luh jam tak makan, orang masih kuat kerja, Bu. Jangan kha­wa­tir.

Dan tak ada sesu­atu pun yang dapat dika­ta­kan perem­puan itu lagi selain ber­pe­san:

Hati-hati, Pak.

Seka­rang pra­ju­rit itu ber­pa­ling pada Ranta sambil menun­juk tempat di mana revol­ver dise­lip­kan dan ber­ta­nya:

Sudah diisi, Pak.

Ranta meng­ang­guk.

Mereka keluar dari ruang tamu.

Nyonya Ranta meng­an­tar­kan sampai ke depan pintu. Di sana ia ber­henti lama-lama. Kemu­dian ia masuk kem­bali sambil ber­gu­mam:

Kasihan. Tiap-tiap hari hampir-hampir tak sempat makan.

Kemu­dian ia masuk ke dalam mela­lui pintu dalam dan seben­tar kemu­dian keluar lagi mem­bawa lap, dan mulai meng­go­sok pera­bot yang ada di ruang tamu. Sete­lah sele­sai meng­go­sok di sana-sini ia pan­dangi din­ding seke­li­ling­nya, ber­ke­cap-kecap dan menye­sali:

Sayang gambar Pre­si­den kurang besar.

Akhir­nya ia tutup dan kunci pintu depan, dan sete­lah itu masuk ke dalam mela­lui pintu dalam.

Dari jarak yang tak jauh ter­de­ngar beduk ashar ber­talu-talu. Sinar mata­hari yang merang­kak di din­ding telah lenyap. Sua­sana men­jadi leng­ang. Seekor ayam betina ter­de­ngar ber­ko­kok. Kemu­dian dari keja­uhan ter­de­ngar bunyi tembak-menem­bak, riuh dan antara seben­tar dise­lang-seling dengan tem­bakan oto­ma­tik beren­tetan.

Istri Ranta masuk kem­bali dengan ber­lari-larian. Sesam­pai­nya di pintu depan ia kem­bali lagi dengan bingung­nya ke pintu dalam, tetapi tak jadi masuk, kemu­dian kem­bali lagi dan ber­diri di tengah-tengah ruangan. Mata­hari dengan cepat­nya con­dong ke ufuk barat. Tak ter­da­pat lagi sinar mata­hari di ruangan itu. Rem­bang-rem­bang. Beduk magrib di surau tidak ter­de­ngar. Istri Ranta masih juga kebi­ngungan ter­paku di tengah-tengah ruangan. Tiba-tiba di luar rumah ter­de­ngar suara yang masuk mela­lui pintu depan. Suara itu adalah suara Rod­jali:

Bu, Ibu!

Istri Ranta tak sang­gup men­ja­wab. Rod­jali menge­tok-ngetok dari luar. Dengan suara geme­tar perem­puan itu ber­ta­nya:

Si-a-pa?

Rod­jali, Bu, cuma Rod­jali!

Ireng, istri Ranta, men­de­ngar jawaban Rod­jali serta-merta meng­u­sap-usap dada dan menye­but:

Astaga! Cuma Rod­jali? Buat kaget orang saja, kau, Li.

Ter­de­ngar ter­tawa pendek di luar yang menya­ta­kan suka­cita, kemu­dian menyu­sul sua­ra­nya:

Benar-benar kaget, Bu?

Ireng mem­buka kunci dan mena­rik daun pintu depan. Maka masuk­lah Nyonya Jur­a­gan Musa dalam kea­daan mesum, ber­pa­kaian com­pang-cam­ping, ram­but­nya kacau, ter­seok-seok, dan mata­nya jatuh ke lantai. Di bela­kang­nya menyu­sul Rod­jali men­jin­jing koper, yang nampak amat enteng, serta dalam kea­daan kotor.

Meli­hat hal itu Ireng segera menang­kap tangan Nyonya, meman­dang­nya untuk men­da­pat­kan tun­jangan. Tetapi ia tak men­ja­wab barang sepa­tah pun.

Meli­hat hal itu Rod­jali segera ber­tin­dak seba­gai juru pene­rang:

Ter­ke­pung, Bu, di tengah-tengah per­tem­puran. Untung saja sela­mat. Lebih baik Nyonya jangan tanyai dulu, ter­lalu lelah dan kaget.

Rod­jali mena­ruh koper enteng itu di pojo­kan ruang tamu dekat pintu dalam, sedang Ireng mema­pah Nyonya masuk ke dalam rumah. Rod­jali meng­iring­kan mereka masuk, tetapi seben­tar kemu­dian muncul kem­bali mem­bawa lap dan menyeka koper kotor itu sampai bersih. Akhir­nya ia ber­ja­lan ke arah pintu depan dan mengun­ci­nya kem­bali. Bunyi tembak-menem­bak masih meng­a­muk di keja­uhan.

Rod­jali ber­diri tegak di depan pintu men­de­ng­ar­kan segala bunyi-bunyian yang menye­ram­kan itu. Tiba-tiba nampak ia men­da­pat piki­ran baru dan lari masuk ke dalam.

Dari dalam ter­de­ngar suara Rod­jali:

Bu, pistol Pak Lurah dibawa, Bu?

Dan ter­de­ngar suara Ireng:

Hah, diam, Nyonya tak sadar­kan diri. Tolong ambil bantal itu dari bawah kepa­la­nya. Buru!

Sunyi senyap. Sinar matari tak kuasa lagi mene­rangi ruang tamu itu. Beduk lang­gar tak ter­de­ngar ber­talu, seka­li­pun magrib sudah lewat. Akhir­nya Rod­jali muncul meng­am­bil lampu dari gan­tungan, masuk ke dalam rumah mela­lui pintu dalam dan keluar lagi mem­bawa lampu yang sudah menyala serta mena­ruh­nya di gan­tungan kem­bali.

Malam seka­rang.

Ter­de­ngar bunyi tembak-menem­bak yang kian lama kian men­de­kat, sehingga akhir­nya ter­de­ngar dekat betul dengan rumah.

Kem­bali muncul Rod­jali di ruang tamu. Ber­si­ce­pat ia meng­ham­piri lampu minyak yang mene­rangi ruang itu, mena­ruh seca­rik kertas di atas sem­prong serta mema­dam­kan­nya.

Dalam kege­lapan ter­de­ngar suara Ireng:

Bawa golok sama bambu run­cing itu. Sini bambu run­cingku.

Tiba-tiba ter­de­ngar pintu depan dige­dor-gedor dengan kasar­nya dan suara yang juga kasar menyu­sul:

Lekas buka!

Bunyi gedo­ran lagi.

Buka! Setan!

Suara-suara lain ter­de­ngar:

Bakar!

Bakar!

Men­da­dak ter­de­ngar teriak maut dari mulut seo­rang lelaki. Teri­akan itu ber­ba­reng dengan suara Rod­jali yang meme­kik kuat:

Pasukan! Ser­bu­u­uuu!

Suara-suara gaduh.

Sekali lagi ter­de­ngar jeritan maut dari mulut seo­rang lelaki lain.

Suara yang minta dibu­ka­kan pintu kini ter­de­ngar lagi, tetapi pelahan dan hati-hati:

Kita ter­je­bak! Mundur! Mundur!

Ter­de­ngar banyak lang­kah kaki yang mela­ri­kan diri tambah lama tambah jauh—diba­rengi dengan rubuh­nya pagar dan tubuh-tubuh orang, kemu­dian sunyi senyap.

Bunyi tembak-menem­bak dari keja­uhan kian lama kian men­jauh akhir­nya padam.

Dalam kese­nyapan itu ter­de­ngar bisik pelahan Ireng:

Tunggu saja dulu, Bu.

Mati yang kau­t­usuk?

Nah itu orang­nya, masih meng­ge­le­par. Bagai­mana ibu?

Tak apa-apa. Satu orang kutusuk dengan pisau dapur.

Ya Allah.

Kita menang, Djali.

Ya Allah, gam­pang­nya per­tem­puran ini.

Hss, jangan som­bong. Mereka mung­kin datang lagi.

Kem­bali sunyi senyap. Kemu­dian ter­de­ngar lagi suara Ireng:

Mereka tak kem­bali lagi.

Kita masuk lagi, Bu.

Ayoh­lah.

Ter­de­ngar kerait pintu bela­kang dibuka. Nampak Rod­jali menya­la­kan geretan dan menya­la­kan lampu, sehingga ruang tamu kem­bali men­jadi terang:

Dari dalam rumah ter­de­ngar suara Ireng yang sete­ngah mera­tap:

Kasihan, Nyonya. Suami ditang­kap. Kawan-kawan sua­mi­nya mem­per­la­ku­kan Nyonya seperti ini. Tidak sanak, tidak kelu­arga. Ter­ting­gal di desa, jauh dari orang tua. Nyonya, ing­at­lah, Nyonya. Tangan dan hati orang-orang yang tidak Nyonya kenal jua yang meno­long Nyonya.

Men­de­ngar suara itu Rod­jali ber­diri diam-diam men­de­ng­ar­kan. Sete­lah ucapan Ireng sele­sai, Rod­jali ber­ta­nya:

Sudah sadar, Bu?

Ireng men­ja­wab dari dalam rumah:

Kasihan. Belum, Djali. Sudah tengah malam, belum, Djali?

Hampir subuh, Bu.

Kukira masih sore.

Djali mesti pergi cari Pak Lurah, Bu?

Tidak! Urus mayat-mayat itu, Li.

Rod­jali ber­ge­rak dari tem­pat­nya dan meng­hi­lang masuk mela­lui pintu dalam.

Baru saja ia hilang, ter­de­ngar pintu bela­kang dike­tok orang.

Ireng mene­gur dari dalam rumah:

Bapak itu?

Ya. Buka lekas.

Ter­de­ngar suara Rod­jali dari dalam:

Sela­mat, Pak?

Sela­mat. Sela­mat, berkat per­sa­tuan dan ker­ja­sama.

Alham­dul­il­lah.

Ireng memang­gil sua­mi­nya dari dalam:

Pak, sini buru, Pak.

Ada apa?

Nyonya.

Nyonya? Kem­bali?

Kem­bali dibawa Rod­jali.

Sela­mat?

Tidak selu­r­uh­nya.

Bagai­mana seka­rang?

Masih ping­san.

Sudah lama?

Lebih tiga jam.

Coba lihat. Nah itu sudah mem­buka mata.

Sunyi senyap seje­nak. Ter­de­ngar Ranta ber­ta­nya:

Tidak apa-apa di sini tadi?

Sela­mat.

Kami lihat gerom­bolan men­ju­rus kemari.

Tidak, tidak apa-apa.

Apa diper­buat Djali di bela­kang itu?

Mengu­rus mayat.

Ha? Mayat siapa?

Gerom­bolan. Dua orang. Kami tebang.

Engkau? Mak­sudku engkau berdua?

Benar.

Ah! Ah!

Ter­de­ngar pintu depan dike­tok-ketok orang kemu­dian menyu­sul sua­ra­nya:

Pak Lurah? Tak boleh masuk kami ini?

Nampak Ranta muncul dengan masih ber­se­lem­pang tali revol­ver, ber­ja­lan lang­sung menuju pintu depan, kemu­dian mem­bu­ka­nya:

Ah, ah, maaf­kan­lah. Lupa sung­guh aku.

Maka masuk­lah Pak Koman­dan ber­sama bebe­rapa orang pra­ju­rit yang ber­sen­jata semu­a­nya. Mereka ber­ja­lan menuju ke sice. Sebe­lum duduk Pak Lurah men­ja­bat tangan Pak Koman­dan dan sambil ber­kata:

Terima kasih, Pak, terima kasih banyak.

Koman­dan itu ter­tawa puas dan men­ja­wab:

Terima kasih? Apa yang dite­ri­ma­ka­sih­kan?

Dan Ranta segera menyam­but:

Apa yang dite­ri­ma­ka­sih­kan? Mem­ber­sih­kan desa ini dari keka­cauan!

Kem­bali Pak Koman­dan ter­tawa senang. Pra­ju­rit-pra­ju­rit lain sete­ngah­nya duduk sedang yang tak keba­gian tempat pergi keluar rumah.

Koman­dan itu meng­u­langi ter­ta­wanya dan ber­ta­nya:

Di mana Pak Lurah bel­a­jar resmi-res­mian sema­cam ini?

Dengan heran­nya Ranta mem­be­la­lak mena­tap pra­ju­rit itu dan menu­kas heran:

Resmi-res­mian? Jadi bagai­mana kami mesti ber­te­ri­ma­ka­sih?

Baru­lah Koman­dan itu meng­erti, bahwa Pak Lurah tidak ber­main-main. Sete­lah menya­dari ini buru-buru ia mem­per­ba­iki kesal­ah­an­nya:

Begini, Pak Lurah, kami­lah yang seha­rus­nya ber­te­ri­ma­ka­sih. Baru sekali ini sejak jadi Koman­dan di sini kami dapat meng­han­cur­kan gerom­bolan dengan begitu baik, dan sudah dua kali pula. Malah menang­kap biang kela­di­nya. Tak pernah sebe­lum­nya ini terimpi-impi oleh kami.

Ranta men­de­sak terus, tapi seka­rang sambil mele­pas­kan tangan Koman­dan:

Itu memang kewa­ji­ban Bapak, tapi hasil­nya buat kami.

Hahah, sebe­nar­nya kita semua wajib ber­te­ri­ma­ka­sih pada sema­ngat gotong royong, pada sema­ngat per­sa­tuan…

Pak Koman­dan ber­pa­ling pada salah seo­rang anak buah­nya dan ber­ta­nya:

Penye­li­dik belum datang?

Para pra­ju­rit hampir ber­ba­reng mene­ngok ke pintu dan men­ja­wab:

Belum, Pak.

Semen­tara itu dari dalam rumah ter­de­ngar suara Nyonya:

Sela­mat­kah aku?

Dan ter­de­ngar suara Ireng menya­hut:

Alham­dul­il­lah, sela­mat, Nyonya.

Semua mata yang hadir di ruang tamu kini dengan sen­di­r­i­nya ter­tuju ke pintu dalam. Koman­dan kemu­dian mena­tap Pak Lurah, Ranta menun­duk dan mela­por­kan:

Istri Jur­a­gan Musa.

Koman­dan ber­ta­nya lagi:

Kenapa?

Ping­san.

Kenapa ping­san? Takut per­tem­puran?

Dari pintu dalam muncul Djali dan segera Ranta ber­ta­nya:

Kenapa Nyonya sampai ping­san? Kau, kan, yang menyu­sul?

Dengan agak segan-segan Rod­jali ber­ce­rita:

Ya, Pak. Abdi temu­kan Nyonya ter­ba­ring di tengah-tengah rumpun teh liar. Pak, Pak, sudah tidak ber­pa­kaian lagi. Koper­nya kosong…

Ranta mena­jam­kan pen­de­ng­aran dan meng­a­wasi Rod­jali baik-baik:

Kenapa?

Kenapa? Gerom­bolan, Pak.

Koman­dan meng­ge­leng-geleng­kan kepala. Para pra­ju­rit ber­pan­dang-pan­dangan satu sama lain dan ber­bi­sik-bisik antara mereka. Sete­ngah­nya meng­ang­guk-angguk, dan pada paras mereka ter­gam­bar kege­masan hati mereka. Ter­de­ngar suara Koman­dan:

Jadi mereka tidak kenal Nyonya? Nyonya Bapak Resi­den DI?

Ranta men­ce­gah dite­rus­kan­nya ucapan Koman­dan:

Hsss. Tak baik ter­de­ngar oleh­nya, Pak. He, Djali, coba lapor­kan gerom­bolan yang datang kemari tadi.

Rod­jali ber­seri-seri dan memu­lai ceri­ta­nya:

Wah, Pak, satu rom­bongan DI kami lawan berdua! Dua kami bina­sa­kan, Pak. Kami, Pak, kami berdua, abdi dan Bu Lurah!

Pak Koman­dan ter­tawa senang dan ber­kata riang:

Omong kosong saja, kau, Djali.

Lihat di bela­kang, Pak. Dua korban, dua pucuk sen­jata ram­pasan.

Pak Koman­dan mena­tap Pak Lurah untuk meminta kete­rangan. Dan Pak Lurah meng­ang­guk. Meli­hat itu Koman­dan kem­bali ber­pa­ling pada Rod­jali dan menim­bang-nim­bang­nya dengan mata­nya, meng­ang­guk dan ber­kata:

Baik­lah. Aku per­caya. Aku masuk­kan dalam laporan. Aku per­caya, tiap pemuda Indo­ne­sia bisa laku­kan segala per­ju­angan dan peker­jaan kalau dia mau. Mana sen­ja­t­a­nya?

Men­de­ngar itu Rod­jali meri­ngis dan meminta meng­hiba-hiba:

Biar­lah sen­jata itu ada di sini, Pak, biar kami merasa lebih aman.

Pak Lurah mena­tap Pak Koman­dan, mem­be­ri­kan per­ku­atan pada per­mo­honan Rod­jali. Meli­hat itu Koman­dan meng­ang­guk dan men­ja­wab:

Tentu saja boleh. Tapi semua harus dila­por­kan dulu. Nomor sen­jata harus dica­tat dahulu, apa macam­nya, berapa pelu­ru­nya… masak seperti minta pisang goreng saja? Eh, Djali, antar­kan anak-anak ini untuk meme­riksa mayat-mayat itu.

Rod­jali ber­pa­ling pada bebe­rapa orang pra­ju­rit yang masih ting­gal, dan dengan mata­nya mem­beri isya­rat untuk meng­i­kuti.

Semen­tara itu ter­de­ngar rintih Nyonya Musa dari dalam rumah. Ranta memang­gil istri­nya:

Mak! Mak!

Ireng men­ja­wab dari dalam rumah, kemu­dian muncul dalam pakaian yang telah kacau-balau dan dengan mata menang­gung lelah:

Ya, Pak?

Pak Koman­dan ber­ta­nya pelahan sambil mem­bung­kuk:

Bagai­mana dengan Nyonya? Ber­ba­haya?

Bagai­mana abdi tahu, Pak? Badan­nya panas sekali seka­rang. Ia meng­i­gau juga pelahan-lahan.

Ranta menyela:

Sudah dikom­pres?

Dan istri Ranta segera men­ja­wab:

Sudah, Pak. Memang waktu ada per­tem­puran tidak sempat. Seka­rang sudah. Sung­guh susah, Pak, di sini tidak ada dokter.

Ranta ber­ta­nya:

Sudah turun panas­nya?

Sedang panas-panas­nya seka­rang.

Ranta memu­lai lagi:

Biar­lah, Pak, biar kami urus di sini. Bapak tak perlu kuwa­tir.

Pak Koman­dan menyam­but:

Siapa kuwa­tir dengan orang-orang sema­cam kalian? Dengan per­sa­tuan dan gotong royong semua bisa dilak­sa­nakan Pak Lurah sen­diri yang sering bilang begitu, kan?

Semen­tara itu udara di luar sudah mulai dingin lembab, sedang langit mulai mene­ra­wang pucat. Di sana-sini mulai ter­de­ngar keru­yuk ayam serta ceri­cit burung-burung aneka macam.

Dari dalam rumah muncul bebe­rapa orang pra­ju­rit beserta Rod­jali mem­bawa sen­jata-sen­jata ram­pasan dan bebe­rapa lembar kertas. Sen­jata-sen­jata itu dita­ruh di atas meja, sedang­kan kertas dise­rah­kan lang­sung kepada Pak Koman­dan, yang segera meme­rik­sa­nya di bawah lampu. Ia tak menga­ta­kan sesu­atu pun, hanya meng­ang­guk, dan mema­suk­kan kertas-kertas itu ke dalam kan­tong. Kemu­dian ia menun­juk pada sen­jata-sen­jata di atas meja dan meme­rin­tah­kan:

Catat nomor, macam, jenis dan kali­ber­nya. Pelu­ru­nya ada?

Seo­rang men­ja­wab:

Tidak banyak, Pak.

Korban pihak gerom­bolan yang seka­rang dan banyak sen­jata ram­pasan ini tam­bah­kan pada laporan. Jangan lupa. Nah, mari pulang ke markas. Kedua pucuk sen­jata ram­pasan itu ting­gal saja. Nah, Pak Lurah, baik-baik men­jaga Nyonya.

Sete­lah itu dengan lang­kah tegap ia ting­gal­kan ruang tamu dan hilang mela­lui pintu depan dalam iringan anak buah­nya. Rod­jali meng­i­kuti sampai di pintu, kemu­dian mengunci pintu dari dalam.

Ranta mene­gur­nya:

Tidak lelah, Djali?

Siapa yang tak lelah, Pak?

Meng­a­soh­lah.

Masih ada yang men­de­rita, Pak. Nyonya Benar juga.

Tidur­lah, Pak.

Tidur?

Ranta mene­bar­kan pan­dang­nya ke keli­ling. Kemu­dian menye­but keras-keras, yang menun­juk­kan keka­ge­tan­nya:

Ya Allah!

Kenapa, Pak?

Sudah pagi lagi, Djali.

Djali pun mene­bar­kan pan­dang­nya ke keli­ling, meng­ge­leng-geleng dan ber­gu­mam:

Bukan main cepat­nya.

Tidur­lah, Li. Sudah siang seka­rang. Banyak yang gan­ti­kan kau. Tapi jangan lupa: tetap­lah was­pada, juga di waktu tidur nye­nyak, dalam mimpi!

Sebe­lum Djali pergi ke dalam ia ber­henti seben­tar di hadapan meja, meng­a­wasi sen­jata-sen­jata itu dan ber­kata:

Disim­pan di mana ini, Pak?

Tidur­lah. Biar aku simpan sen­diri.

Rod­jali masuk mela­lui pintu dalam. Semen­tara itu ter­de­ngar rintih Nyonya. Ranta mele­pas revol­ver dari seli­tan pada ikat ping­gang dan meni­mang-nimang­nya. Ber­gu­mam dengan puas hati:

Was­pada! Was­pada!

Dari dalam rumah ter­de­ngar pang­gilan:

Pak! Pak!

Ranta mene­ngok ke arah pintu dalam sambil mengem­ba­li­kan revol­ver itu pada seli­tan­nya kem­bali. Men­ja­wab:

Reng? Pang­gil aku?

Belum juga tidur?

Sudah pagi, Reng.

Pagi? Syukur alham­dul­il­lah.

Ranta meng­ang­kat sen­jata-sen­jata di atas meja dan diba­wa­nya masuk ke dalam. Kemu­dian keluar kem­bali. Seben­tar kemu­dian muncul pula Ireng. Waktu Ranta meng­am­bil tempat duduk di sice, Ireng mene­puk bahu­nya dan mene­gur lagi:

Tidur­lah, Pak. Nanti sakit.

Kapan ada kau yang mengu­rus?

Tapi urus­anmu sen­diri banyak, kan?

Seben­tar lagi banyak urusan. Biar tak tidur saja.

Kau belum lagi makan sejak kema­rin pagi.

Ranta ter­lom­pat dari duduk­nya. Ber­seru:

Belum makan? Benar juga, aku belum lagi makan.

Tidak lapar?

Memang­nya sudah masak?

Ireng ter­se­nyum malu, dan tanpa ber­kata sesu­atu pun ber­siap-siap hendak masuk lagi ke dalam. Tiba-tiba ter­de­ngar pekik Nyonya:

Ampun! Tidak mau! Ampun! Ampun!

Ireng mena­tap sua­mi­nya, ber­bi­sik:

Meng­i­gau lagi.

Kedua suami-istri itu ber­pan­dang-pan­dangan, kemu­dian Nyonya ber­lari-larian masuk ke dalam. Ranta men­de­kati pintu dalam sambil men­de­ngar-deng­ar­kan. Tak ter­de­ngar pekikan Nyonya lagi. Lambat-lambat dengan kepala penuh piki­ran ia meng­ham­piri pintu depan. Tangan­nya meng­ga­gapi tombol pintu untuk mem­bu­ka­nya, tetapi tidak jadi. Seperti kepada seo­rang gaib di hadap­an­nya ia ber­kata:

Akibat per­bu­atan dur­haka satu orang? Berapa orang menang­gung aniaya? Berapa orang? Ter­ma­suk si dur­haka sen­diri?

Telun­juk­nya dia­m­ang-amang­kan­nya pada si orang gaib, di hadap­an­nya dan dite­rus­kan­nya per­ca­kap­an­nya dengan diri sen­diri:

Satu pen­dur­haka dapat han­cur­kan selu­ruh keba­ha­gi­aan tiap orang, selu­ruh bangsa. Benar! Tapi kese­la­matan tiap orang, selu­ruh bangsa, cuma dapat dilak­sa­nakan oleh semua orang. Pelak­sa­naan ini mung­kin, kalau ada per­sa­tuan, keru­kunan, per­sau­da­raan. Hati-hati­lah! Hati-hati­lah! Satu orang bisa han­cur­kan kita semua. Tapi kese­jah­te­raan kita harus dicip­ta­kan oleh semua kita ber­sama-sama. Ya, itu gotong royong, kan?

Diban­ting­nya telun­juk­nya ke bawah. Ia ter­tawa pelahan, puas. Dengan leng­gang tangan tinggi dibuat-buat ia meng­ham­piri sice, duduk di salah sebuah kursi dari­pa­da­nya. Ter­sen­tak dari lamunan yang hendak dimu­la­inya seakan ada sesu­atu piki­ran agung sedang ber­kun­jung di kepa­la­nya, kemu­dian ia ter­se­nyum, menyan­dar­kan selu­ruh pung­gung­nya pada pung­gung kursi, mene­kuk teng­kuk­nya ke bela­kang sehingga kepa­la­nya ber­ban­tal­kan puncak kursi. Masih ter­de­ngar juga kata-kata­nya:

Was­pada! Was­pa­da­lah!

Ter­de­ngar ia ber­ke­ruh baha­gia.



IV

Kejadian ini ber­laku tiga bulan kemu­dian. Hari baru jam sepu­luh pagi. Mata­hari meman­car dengan terang­nya. Seka­li­pun demi­kian hawa udara masih segar.

Ini ter­jadi di sebuah halaman seko­lah rakyat yang baru diba­ngun, di sebuah pojo­kan di bawah pepo­honan yang rin­dang. Bayangan pohon dan sinar mata­hari ber­ten­tang-ten­tangan dengan jelas­nya, ter­ham­par di atas tanah.

Geme­ri­cik air kali yang mem­ban­ting diri di antara batu-batu gunung besar tak henti-hen­ti­nya meng­gema, serta hem­pasan arus deras­nya pada tebing-tebing­nya yang ter­buat dari beton alam antara seben­tar ter­de­ngar men­jom­pak-jompak ngilu.

Kadang-kadang angin men­deru keras mem­bawa bunyi sayup deburan Lautan Hindia.

Tiap di atas segala bunyi-bunyian alam itu, lebih keras dan tegas lagi ter­de­ngar paduan suara bebe­rapa rom­bongan orang yang sedang bekerja tak jauh dari tempat itu.

Sebuah rom­bongan pekerja suka­rela memu­lai nya­nyi­an­nya:

Tul lopis!

Sebuah rom­bongan pekerja suka­rela lain ter­de­ngar menyeng­gaki:

Kuntul baris, Yang segera kemu­dian disu­sul oleh bunyi hem­busan balok besar di atas balok pasak.

Paduan suara yang demi­kian ter­de­ngar ber­u­lang-ulang akhir­nya ter­de­ngar serum­pun per­ca­kapan dise­lang-seling ketawa dan canda:

Cukup dalam­nya?

Cukup! Cukup!

Coba dari dulu kita gotong royong begini.

Dasar lebih suka keting­galan zaman.

Jangan­kan desa kita…

Ya, jangan­kan desa kita…

Jakarta juga tak bisa bangun dalam sehari!

Minum!

Meng­apa tidak dengan makan­nya sekali?!

Bukan main panas­nya!

Panas? Memang­nya kau lahir di negeri Belanda!

Dasar, memang tukang menge­luh.

Jih!

Kira-kira, dong!

Ayoh, ting­gal satu pasak lagi.

Ayoh, kawan-kawan, habis­kan. Ting­gal satu.

Dan kem­bali ter­de­ngar nya­nyian ber­sama seperti sebe­lum­nya dengan seng­gakan, yang disu­sul dengan bunyi hem­pasan balok besar di atas balok pasak.

Seo­rang pra­ju­rit, yang tidak ber­ke­meja dan tidak ber­baju dalam, muncul, ber­na­fas ter­e­ngah-engah. Dada dan tangan­nya ber­lu­muran lumpur. Kemu­dian duduk di atas sebuah batu di bawah pohon. Hanya sepatu dan celana pan­jang­nya menun­juk­kan ia seo­rang pra­ju­rit. Sete­lah duduk ia ter­se­nyum senang, menye­lu­jur­kan kedua belah kaki­nya dan men­coba menik­mati hawa pegu­nungan yang sejuk.

Dari jauh sayup-sayup ter­de­ngar para pekerja bera­mai-ramai menya­nyi­kan lagu Gotong royong Satu Jiwa. Pra­ju­rit itu ikut menya­nyi bebe­rapa baris, kemu­dian ber­henti waktu dili­hat­nya Pak Lurah Ranta datang meng­ham­pir­i­nya.

Ranta hanya ber­ce­lana dalam hitam sampai di bawah lutut. Ia pun ber­lu­muran lumpur.

Ranta mene­gur:

Cape?

Cape, Pak. Bukan main orang kerja, seperti ban­teng ngamuk!

Tak disangka tak dinyana! Jadi­nya begitu indah waduk­nya!

Nah, Pak Koman­dan datang.

Pra­ju­rit dan Ranta ber­diri untuk menyam­but Pak Koman­dan. Maka muncul Pak Koman­dan, yang juga telan­jang dada ber­lum­pur-lumpur. Meli­hat pra­ju­rit dan Pak Lurah bang­kit ber­diri, segera ia mene­gah:

Duduk­lah, duduk­lah.

Ia pun ikut duduk dengan mereka di bawah pohon rin­dang. Kaki­nya yang sebe­lah dise­lun­jur­kan, tetapi yang lain dita­rik dan dipe­luk dengan kedua belah tangan­nya. Mene­rus­kan:

Benar juga kata orang tadi.

.

Ranta ber­ta­nya:

Apa yang benar, Pak?

Ini, kalau sejak dulu begini… Yah, meng­apa baru bulan-bulan ini? Tapi, yah, memang kea­daan tadi­nya begitu kacau.

Ranta mene­ngahi:

Abdi pikir-pikir sema­lam, Pak. Kalau waduk sudah jadi, kita tanami ikan. Aduh, tiap orang boleh menang­kap ikan, di situ. Tapi tiap orang wajib juga meme­li­ha­ra­nya supaya besar-besar.

Tiba-tiba Koman­dan mele­pas peluk­an­nya pada kaki­nya yang sebe­lah dan dengan lang­sung ber­ta­nya pada Pak Lurah:

Eh, Pak Lurah, ngo­mong-ngo­mong, meng­apa orang di sini tak ada yang mau jadi nela­yan? Kan laut begitu dekat?

Ranta menun­juk­kan telun­juk­nya ke arah selatan:

Lihat, Pak. Kami semua ini pen­da­tang, semua petani. Tak ada yang meng­erti ten­tang perahu. Lagi­pula, lihat­lah sen­diri itu. Jalan dari sini ke pantai tidak ada! Selu­ruh daerah ter­tu­tup semak-semak!

Pra­ju­rit itu meng­u­sul­kan dengan agak malu-malu:

Kita bong­kar semak-semak itu, kita buka per­la­dangan baru.

Ranta dan Koman­dan itu ter­me­nung-menung seben­tar, kemu­dian Koman­dan itu meng­ang­guk-angguk mengi­ya­kan. Tetapi tiba-tiba mata Ranta ber­seri-seri dan menyang­gah:

Kalau kita bong­kar semak-semak itu, kita kehi­langan bahan makanan yang sehat dan murah. Mak­sudku, Pak, kita takkan dapat makan daging kancil lagi. Lagi­pula kayu semak-semak itu akan lenyap jadi kayu bakar saja.

Mereka kem­bali ter­me­nung-menung.

Masing-masing men­coba untuk meng­him­pun piki­ran mereka yang paling baik buat kepen­tingan selu­ruh ling­kungan beserta pen­du­duk­nya. Tetapi sebe­lum mereka ber­ha­sil, dari keja­uhan ter­de­ngar suara ber­so­rak-sorak senang:

Sele­sai!

Hore!

Habis.

Meng­a­soh!

Bebe­rapa orang, sambil dengan asyik­nya ter­tawa dan meng­o­b­rol ten­tang peker­jaan yang baru dise­le­sai­kan, muncul tanpa menya­dari keha­diran Koman­dan, Lurah, dan Pra­ju­rit itu.

Demi seo­rang di antara mereka meng­in­syafi keha­diran para pemim­pin itu, ia ter­ke­jut, dan dengan sen­di­r­i­nya saja kedua belah tangan­nya ter­kem­bang, sehingga mena­han orang-orang yang ada di bela­kang­nya. Seje­nak kemu­dian, mereka yang ada di bela­kang­nya pun ter­diam. Mereka telah ber­siap-siap hendak mundur pelahan-lahan, tetapi Koman­dan itu mem­be­ra­ni­kan:

Ayoh sini!

Ranta mene­gak­kan badan­nya dan juga mem­be­ra­ni­kan:

Meng­apa mesti takut? Ayoh!

Orang yang ber­diri di kepala rom­bongan itu ter­tawa malu, menun­duk, kemu­dian mem­per­de­ng­ar­kan sua­ra­nya:

Kami kira bapak-bapak tak ada di sini.

Men­de­ngar itu seka­li­gus Koman­dan ter­tawa, kemu­dian ber­ta­nya:

Memang­nya meng­apa kalau kami tak ada?

Tidak, Pak.

Ranta mem­be­ra­ni­kan lagi: Ayoh sini!

Dengan segan-segan mereka meng­ham­piri dan duduk sete­ngah ling­karan di hadapan Pak Lurah, Pak Koman­dan, dan Pra­ju­rit. Koman­dan ter­se­nyum senang dan menam­bahi:

Nah, begitu dong, masak sama-sama orang segan-menye­gani? Ayoh, siapa punya usul yang baik? Dengar! Kita sudah dir­i­kan seko­lah, kita ber­sama-sama sudah ber­sih­kan, daerah ini dari gerom­bolan penga­cau. Seka­rang kita sedang menye­le­sai­kan waduk pula. Semua untuk kita ber­sama. Itu kalian tahu sudah. Tapi siapa punya usul baik? Ranta mene­rus­kan, waktu menge­ta­hui, bahwa rom­bongan pekerja suka­rela itu sama menun­duk:

Misal­nya…

Suara itu mem­buat semua mata ditu­ju­kan kepada Ranta.

Ranta mene­rus­kan: Tadi aku dan Pak Koman­dan baru saja mem­per­bin­cang­kan ten­tang semak-semak yang menu­tup daerah kita sampai ke laut sana. Sayang benar kalau tanah itu tidak diga­rap. Bagai­mana usul sau­dara-sau­dara? Coba­lah ikut pikir­kan.

Semua yang hadir diam-diam dengan gaya­nya masing-masing karena teng­ge­lam dalam piki­ran. Tetapi tidak lama karena kete­nangan segera diganggu oleh datang­nya Yang Per­tama. Pada muka, kaki, dan tangan­nya nampak bekas luka-luka kena sen­jata tajam. Segera ia dite­gur oleh Pak Lurah waktu ia ber­diri ter­ma­ngu-mangu:

Nah, apa kabar? Sudah lama tidak keli­hatan. Yang Per­tama ter­se­nyum malu, kemu­dian mene­rang­kan:

Pulang dari rumah sakit, Pak Lurah.

Rumah sakit mana? Pela­buhan Ratu?

Benar, Pak Lurah.

Tidak jadi ke Jakarta?

Mau apa lagi, Pak Lurah?

Ayoh, duduk sini bera­mai-ramai. Ceri­ta­kan peng­a­lam­anmu.

Yang Per­tama kini duduk di antara orang banyak. Sedang orang banyak mem­per­ha­ti­kan tubuh­nya dari atas sampai ke bawah dan seba­lik­nya, dan akhir­nya pan­dang mereka ber­henti pada mulut­nya. Kemu­dian Yang Per­tama memu­lai:

Begini, Pak. Mula-mula abdi nya­ta­kan penye­salan abdi telah lang­gar larangan itu. Karena pelang­garan itu abdi dike­ro­yok dan diram­pok gerom­bolan, Pak. Semua modal habis. Yang ting­gal cuma celana dalam. Abdi dipu­kuli sete­ngah mati.

Koman­dan itu mene­gak­kan badan­nya dan ber­ta­nya:

Dari dulu aku bilang, barang­kali kau sen­diri pernah dengar, kita semua mesti bisa ker­ja­sama. Ker­ja­sama dalam segala hal: meng­a­man­kan daerah sen­diri, mera­wat daerah sen­diri, memak­mur­kan daerah sen­diri, dan juga, men­jaga keter­tiban dan kese­la­matan ber­sama. Dengar! Dari dahulu kita hidup kocar-kacir, mela­rat, dan miskin. Meng­apa? Karena orang semu­a­nya ini tidak rela ker­ja­sama. Karena itu juga kalian dulu tidak punya seko­lah untuk anak-anak kalian. Tidak punya jalanan yang baik. Baru berapa bulan kita mau ker­ja­sama? Lihat sen­diri, sudah begitu banyak kita dapat per­buat.

Yang Per­tama menun­duk, kemu­dian men­ja­wab:

Ya, Pak. Abdi sen­diri memang salah, Pak.

Jangan minta maaf padaku, ber­janji pada sau­dara-sau­da­ramu itu!

Yang Per­tama diam saja, dan makin menun­duk.

Apa kau malu ker­ja­sama dengan sau­dara-sau­da­ramu sen­diri?

Tidak, Pak.

Meng­apa tak juga bicara pada mereka?

Yang Per­tama mene­gak­kan badan­nya, meman­dang ke seke­li­ling­nya, mula-mula pada Ranta, kemu­dian pada Koman­dan, Pra­ju­rit, kemu­dian pada keru­munan pekerja suka­rela, dan akhir­nya mem­per­de­ng­ar­kan sua­ra­nya:

Sudara-sudara, aku ber­janji akan ker­ja­sama dengan kalian, dalam segala usaha yang ber­man­faat.

Yang Per­tama menun­duk kem­bali. Keru­munan orang itu, sete­lah mem­per­ha­ti­kan Yang Per­tama, kemu­dian mena­tap Pak Lurah dan Pak Koman­dan, tak tahu apa mesti mereka per­buat dalam kea­daan seperti itu.

Meli­hat itu, Pak Koman­dan ter­paksa bang­kit ber­diri. Ber­kata:

Ah, kalian ini. Seo­rang sudara kalian sudah ber­janji dengan serela itu kepada kalian. Dan kalian diam saja. Ayoh, sam­but­lah dengan rela hati pula!

Seje­nak keru­munan orang itu ter­diam ter­sipu-sipu. Kea­daan itu memaksa Pak Koman­dan mem­be­ra­ni­kan mereka:

Ayoh ber­diri!

Semua ber­diri.

Pak Lurah, lebih baik Pak Lurah yang memu­lai.

Ranta mening­gal­kan tem­pat­nya, meng­u­lu­r­kan tangan­nya pada Yang Per­tama. Waktu mereka ber­ja­batan tangan, Yang Per­tama ber­ta­nya kepa­da­nya dengan suara mengan­dung malu:

Benar-benar Pak Lurah mema­af­kan abdi?

Meng­apa tidak? Aku girang kau ber­se­dia ker­ja­sama dengan kita semua!

Jabatan tangan ter­le­pas. Segera kemu­dian Ranta ber­seru:

Ayoh!

Maka orang pun mulai ber­ja­bat tangan diba­rengi dengan tawa dan canda riang gem­bira.

Pak Koman­dan ber­te­riak:

Cukup!

Sunyi senyap seje­nak.

Nah, duduk lagi seka­rang.

Semu­a­nya duduk sete­ngah ling­karan meng­ha­dapi Pak Lurah, Pak Koman­dan, dan Pra­ju­rit. Pak Koman­dan mene­rus­kan:

Aku punya usul. Bagai­mana kalau tanah liar itu kita tanami pohon kelapa dan duren?

Sese­o­rang di antara keru­munan itu ber­su­ara:

Abdi sen­diri akur, Pak. Tapi…

Tapi apa?

Pohon kelapa lama ber­buah. Mung­kin abdi sudah ter­buru mati.

Sese­o­rang lain mene­rus­kan:

Biar tidak keburu mati, kita punya gero­bak buat men­ju­al­nya di kota.

Duren begitu juga nasib­nya, Pak.

Seka­rang Pak Lurah meng­ang­kat tangan­nya tinggi-tinggi dan ber­kata dengan suara tegas:

Begi­tu­lah, Pak. Kita di sini bisa mena­nam apa saja yang kita mau. Tetapi yang kita tanam cuma yang kita butuh­kan. Kita tak punya pasar. Pela­buhan Ratu begitu jauh! Gero­bak harus bayar pajak kalau lewat, jalanan onde­r­ne­ming. Itulah, Pak. Dari dulu sampai seka­rang hidup kita kayak begini. Tiap pekan dua kali memang datang truk beli hasil bumi, tapi har­ga­nya, Pak? Di Pela­buhan Ratu mereka jual tiga kali lipat! Kalau sampai di Jakarta, entah berapa kali lipat!

Sese­o­rang di antara keru­munan men­de­sak:

Biar punya gero­bak, biar onde­r­ne­ming tidak pungut pajak-lewat lagi, apa guna­nya kalau kita keburu mati?

Pak Koman­dan ber­te­riak:

Stop!

Sunyi senyap. Dan Pak Koman­dan mene­rus­kan: Apa salah­nya kalau kita mati dulu? Dengar!

Siapa tanam­kan duren dan kelapa buat kalian waktu kalian masih bayi? Kalian sen­diri? Ha-ha! Orang tua, kakek kalian! Kalau semua orang cuma mau mena­nam buat diri sen­diri, bagai­mana anak-cucu kita!

Seo­rang orang tua dalam kelom­pokan itu menyu­sul­kan sua­ra­nya:

Sudara-sudara, sebe­nar­nya tidak ada orang yang ber­ta­nam buat dir­i­nya sen­diri.

Ranta ber­te­riak meng­a­tasi keri­butan yang timbul:

Benar! Juga kita hidup bukan untuk diri kita, tetapi buat anak-cucu kita!

Sese­o­rang ber­te­riak sengit:

Tidak mung­kin! Pak Lurah tidak punya anak! Aku sen­diri juga tidak punya anak!

Ranta mem­ben­tak:

Diam!

Tetapi keru­munan orang itu mulai ber­ban­tah satu dengan yang lain. Meli­hat hal itu Pak Koman­dan ber­te­riak keras-keras:

Diam! Soal­nya bukan anak bukan cucu. Soal­nya ker­ja­sama. Soal­nya gotong royong. Dan kita semua sudah ber­janji untuk gotong royong, untuk ker­ja­sama dalam segala hal yang ber­man­faat. Pak Lurah! Coba terang­kan kepada mereka, kita bukan bina­tang buas!

Seka­rang Pak Lurah ber­diri, meng­ang­kat tangan­nya tinggi-tinggi dan mulai pidato:

Sudara-sudara, dengar! Kita ini bukan bina­tang buas. Kalau bina­tang buas hidup sen­diri-sen­diri. Kalau dia mene­mui sesama makh­luk, ini ber­arti, yang dite­mu­i­nya bakal jadi kur­ban­nya. Karena itu dia ter­paksa hidup sen­diri-sen­diri. Tidak mau ber­gaul. Mereka cuma hidup dari pem­bu­nuhan. Pada suatu kali pun dia akan dibu­nuh. Tapi kita bukan bina­tang buas. Kita ini manu­sia. Kita tak perlu hidup dari pem­bu­nuhan. Tetapi lebih baik lagi kalau kita hidup rukun, gotong royong, ker­ja­sama, ber­satu, ber­su­dara. Dulu kita tak berani ber­kum­pul-kumpul sema­cam ini, karena ganas­nya gerom­bolan. Lihat, sesu­dah kita ber­satu, gerom­bolan dapat kita mus­nah­kan. Jadi…

Sebe­lum ia sele­sai dengan pida­to­nya, muncul Nyonya dalam iringan Ireng dan Rod­jali.

Pak Koman­dan meng­ang­guk meng­hor­mati dan lang­sung ber­ta­nya:

Truk­nya belum berang­kat, Nyonya?

Sudah, Pak Koman­dan.

Keting­galan? Mana koper­nya?

Koper sudah dibawa pulang lagi. Aku bukan­nya keting­galan, Pak.

Lantas?

Aku pikir-pikir…

Semua orang meng­a­wasi Nyonya dan kedua pengiring­nya. Seka­rang Ireng yang tampil ke muka dan mene­rus­kan kata-kata Nyonya:

Nyonya tak jadi pulang ke Suka­bumi, Nyonya mau ting­gal di sini. Mau meng­a­jar perem­puan-perem­puan di sini. Meng­a­jar baca-tulis!

Pak Koman­dan ber­te­riak girang:

Benar, Nyonya?

Nyonya meng­ang­guk senang sambil ter­se­nyum. Tiba-tiba keri­butan timbul lagi di antara keru­munan orang itu. Di anta­ra­nya ter­de­ngar seruan-seruan tak senang hati:

Yang bukan-bukan!

Ada-ada saja!

Ah!

Kem­bali Ranta ber­te­riak:

Meng­apa ribut-ribut?

Sese­o­rang men­ja­wab lan­cang:

Abdi tak bisa baca-tulis, masak bini abdi…

Seo­rang lain mem­be­nar­kan:

Masa perem­puan nanti lebih pintar dari lelaki?

Lurah Ranta mem­ben­tak:

Husy! Kalau kalian tidak bisa baca-tulis, meng­apa bini kalian mesti dila­rang kalau ingin bel­a­jar baca-tulis? Kalau kalian tidak bisa, meng­apa tidak bel­a­jar?

Seje­nak sunyi senyap. Tiba-tiba Pak Koman­dan mem­buka suara:

Dengar! Kepin­taran harus dicari sen­diri. Tak ada orang bisa jadi pandai dengan mewa­kil­kan kepada orang lain. Meng­erti? Seka­rang aku ber­ta­nya: Siapa di antara kalian ingin bisa baca-tulis?

Hanya seo­rang men­ja­wab:

Abdi, Pak!

Pak Koman­dan mena­tap keru­munan orang itu. Kemu­dian:

Cuma satu! Jadi apa guna­nya dir­i­but­kan kalau kalian sen­diri tidak kepi­ngin pandai? Baik! Kau, yang ingin bisa baca-tulis, datang saban sore di markas, ya? Biar kami ajari.

Baik, Pak.

Kalau kau rajin, dalam tiga bulan kau sudah bisa baca-tulis!

Tiba-tiba sese­o­rang mem­per­de­ng­ar­kan sua­ra­nya:

Abdi sebe­nar­nya ingin juga, Pak, tapi…

Koman­dan segera menyam­but:

Barang­si­apa mau bel­a­jar, datang tiap hari di markas. Kami selalu ber­se­dia meno­long sudara-sudara. Lantas bagai­mana, Nyonya?

Seka­rang semua orang men­coba mena­tap Nyonya. Tetapi bagian ter­be­sar dari keru­munan itu akhir­nya menun­duk. Nyonya men­ja­wab:

Kalau di antara wanita di sini tak ada yang boleh bel­a­jar, yah, apa boleh buat. Tak ada guna­nya aku di sini kalau tak ada peker­jaan. Bukan?

Pak Koman­dan ber­ta­nya pada keru­munan:

Bagai­mana seka­rang? Kalian tak meng­i­zin­kan bini dan anak-anak perem­puan kalian bel­a­jar baca-tulis?

Tak ada yang men­ja­wab.

Pak Koman­dan ter­tawa geli, kemu­dian mene­rus­kan:

Dengar! Kalian sudah per­li­hat­kan kega­gahan, kebe­ra­nian, dan keu­letan dalam mela­wan gerom­bolan, menen­tang maut, meng­ha­dang bala. Tapi aneh benar. Begitu takut­nya kalian ini bel­a­jar baca-tulis­nya! Sampai-sampai tak rela anak dan bini ikut bel­a­jar. Aneh benar. Mana kebe­ra­nian, kega­gahan, dan keu­letan kalian?

Tak ada yang men­ja­wab. Dan Pak Koman­dan mene­rus­kan:

Coba jawab: apakah baha­ya­nya kertas dan potlot?

Tak ada yang men­ja­wab. Pak Koman­dan menu­ding seo­rang di antara mereka dan men­de­sak:

Hai, kau, coba jawab, di mana baha­ya­nya kertas dan potlot?

Tidak ada, Pak.

Nah, meng­apa tidak mau bel­a­jar?

Abdi, mah, sudah ter­lalu tua, Pak?

Tua? Kan ladang itu kau sen­diri yang garap?

Benar, Pak.

Kan paculmu lebih berat dari selem­bar kertas?

Cocok, Pak.

Meng­apa takut pada kertas dan potlot?

Tak ber­ja­wab. Pak Koman­dan mene­bar­kan pan­dang ke keli­ling, dan akhir­nya mata­nya ber­henti pada Pak Lurah. Ber­ta­nya:

Pak Lurah bisa baca-tulis?

Tidak, Pak.

Mau bel­a­jar?

Tentu saja, Pak.

Nah. Buat apa bisa baca-tulis, Bu Ireng?

Ah, Pak, lebih baik dari­pada tidak, kan?

Sebe­lum per­so­alan sele­sai, muncul Yang Kedua, ber­tun­jangan tong­kat, ter­bung­kuk-bung­kuk, dan ber­ja­lan dengan lemas­nya. Ia angkat tangan­nya mem­beri salam, kemu­dian lang­sung menuju pada Pak Lurah dan ber­kata:

Pak Lurah, kalau ada truk mil­iter berang­kat ke kota, mohon abdi diper­bo­leh­kan ikut.

Pak Lurah segera ber­ta­nya dengan cucuk­nya:

Kenapa, kau?

Sakit, Pak Lurah.

Kepada Pak Koman­dan, Pak Lurah ber­ta­nya:

Hari ini ada lagi truk ke kota, Pak?

Tidak. Sakit apa?

Demam, Pak. Sudah lama.

Nanti kuan­tar­kan sen­diri ke kota. Dengan jeep.

Bapak sen­diri meng­an­tar­kan?

Apa salah­nya?

Ya Allah. Ya Allah. Bapak sen­diri?

Semen­tara itu Pak Lurah mene­ngahi:

Meng­apa tak kirim kabar dari dulu-dulu?

Siapa yang disu­ruh, Pak?

Koman­dan mem­beri perin­tah pada Pra­ju­rit untuk meng­am­bil jeep, kemu­dian ber­kata pada Yang Kedua:

Kita berang­kat seka­rang juga. Ya?

Terima kasih banyak, Pak.

Tapi sebe­lum itu duduk­lah di sini dulu. Hé, sau­dara-sau­dara, bagai­mana? Siapa yang mau bel­a­jar baca-tulis selain yang seo­rang itu?

Yang Kedua, tanpa mem­buka mulut, meng­ang­kat tangan.

Orang-orang meman­dangi tangan Yang Kedua dengan heran­nya. Dan Pak Koman­dan segera mene­rus­kan:

Baik­lah. Tapi kau sakit, buat apa bel­a­jar?

Kalau sudah baik, abdi mau bel­a­jar, Pak?

Buat apa?

Abdi mah yakin, Bapak hanya punya maksud-maksud baik ter­ha­dap kita.

Ha? Dari mana keya­kinan itu?

Ah, Pak, sejak kecil abdi di sini, jadi tahu. Tak pernah sebe­lum­nya ada pem­be­sar mau ker­ja­sama dengan kami, apa­lagi ikut memi­kir­kan kepen­tingan kami.

Jadi?

Ya, begi­tu­lah, Pak.

Dari jarak dekat ter­de­ngar bunyi jeep yang mem­bu­ang gas. Seben­tar kemu­dian muncul Pra­ju­rit, yang lang­sung meng­ha­dap Pak Koman­dan. Pak Koman­dan ber­ja­lan mening­gal­kan gelang­gang sambil mem­beri isya­rat pada Yang Kedua:

Ayo.

Dengan ter­ta­tih-tatih Yang Kedua meng­iring­kan Pak Koman­dan, tetapi sebe­lum ia hilang dari peman­dangan ia lam­bai­kan tangan kepada yang ting­gal dan ber­kata:

Bel­a­jar­lah!

Sekali lagi ia melam­bai­kan tangan dengan lemas­nya kemu­dian hilang dari peman­dangan.

Pak Lurah meng­an­jur­kan:

Nasi­hat dia baik ditu­rut. Bagai­mana pen­da­pat sudara?

Suara ber­ba­reng menya­hut:

Baik­lah kami pikir dulu!

Abdi mau, Pak!

Baik­lah, Pak.

Kemu­dian Ranta meng­a­lih­kan pokok per­ca­kapan:

Bagai­mana ten­tang kelapa dan duren itu.

Tiba-tiba Nyonya menyela:

Meng­apa kami, wanita, tak dimin­tai jawaban?

Nampak Pak Lurah ter­ke­jut. Untuk menu­tupi kebi­ngung­an­nya seje­nak ia meng­uap-uap bibir, kemu­dian dengan ter­bata-bata men­ja­wab:

Maaf, Nyonya. Ah, ya, meng­apa aku sampai selupa itu? Bagai­mana menu­rut pen­da­pat Nyonya?

Nyonya mena­tap Ireng seje­nak, kemu­dian men­ja­wab:

Menu­rut pen­da­patku, begini. Seba­ik­nya tanah liar itu kita garap bera­mai-ramai. Kami, kaum wanita, lebih banyak memi­kir ten­tang anak dan ketu­runan. Ya, kita semua bukan bekerja untuk diri sen­diri semata. Kita bekerja ter­u­tama sekali buat anak dan ketu­runan. Bukan begitu, Bu Lurah?

Tiba-tiba keru­munan itu mele­dak­kan kegem­bi­raan men­de­ngar jawaban Nyonya. Di anta­ra­nya ter­de­ngar pekikan nya­ring di antara keru­munan itu:

Bagai­mana pen­da­patmu, Bu Lurah?

Ireng ter­se­nyum ber­ba­ha­gia, kemu­dian dengan malu-malu ber­kata:

Sampai sebe­gitu jauh, Tuhan telah ambil kem­bali semua anak kami. Cacing kata dokter. Itulah kalau tak tahu baca-tulis. Tapi itu bukan soal. Barang­kali pada suatu kali Tuhan akan ingat juga sudah semua anakku diam­bil­Nya. Barang­kali juga Tuhan tidak meli­hat nasib ham­ba­Nya ini, aku mak­sudku. Tapi, itu memang bukan soal. Aku sen­diri setuju dengan jawaban Nyonya.

Ranta ber­seri-seri. Selu­ruh keru­munan ber­so­rak bareng. Ranta meng­ang­kat tangan­nya, mem­beri isya­rat kepada keru­munan orang itu untuk tenang. Sete­lah tenang ia ber­kata satu-satu:

Kita harus kerja—kerja buat anak, buat selu­ruh ketu­runan! Ayo ber­diri semua…

Semua ber­diri sambil ber­seri-seri.

Ranta mene­rus­kan dengan meng­a­yun-ayun­kan tin­ju­nya:

Mari kita teri­ak­kan ber­sama-sama: Kita harus kerja…

Kita harus kerja…

Kerja buat anak…

Kerja buat anak…

Buat selu­ruh ketu­runan…

Buat selu­ruh ketu­runan…

Hore Hore…

Kem­bali mereka jadi tenang dan duduk-duduk kem­bali. Dari jarak yang tak jauh ter­de­ngar suara serom­bongan orang ber­nya­nyi ber­sama-sama mela­gu­kan lagu Gotong royong.

Nya­nyian mereka kian lama kian men­de­kat, akhir­nya muncul rom­bongan pra­ju­rit, OKD, dan bebe­rapa orang preman. Semua telan­jang dada dan ber­lu­muran lumpur.

Kem­bali Ranta ber­diri dan ber­te­riak:

Ayo, meri­ah­kan hari ini.

Mereka semua bang­kit, ber­gan­de­ngan tangan, dan menya­nyi­kan Gotong royong dengan irama yang cepat, yakin, riang gem­bira, penuh keper­ca­yaan pada hari depan dan pada rahmat kerja.


Catatan tentang Edisi Ini

Sekali Peristiwa di Banten Selatan ditu­lis pada 1958. Teks edisi ini ber­a­sal dari cetakan keem­pat Len­tera Dipan­tara (Maret 2009; cetakan per­tama April 2004), yang kami pakai dalam dua bentuk digi­tal yang ber­e­dar daring: sebuah pin­daian dan sebuah ketikan ulang. Pener­bit edisi per­tama belum dapat kami pas­ti­kan, jadi tidak kami sebut.

Ketikan ulang itu tidak setia pada tata letak buku­nya. Dialog yang di buku berupa label pem­bi­cara dan ucapan di para­g­raf ber­i­kut­nya, di ketikan itu diga­bung dalam satu baris. Karena itu kata-kata kami ambil dari pin­daian, dan ketikan itu hanya kami pakai seba­gai saksi kedua. Setiap per­be­daan yang menyang­kut makna, juga setiap kata yang hilang atau ber­le­bih, kami lihat lang­sung pada gambar halaman­nya.

Halaman 86 dan 87 tidak ada di pin­daian dan juga tidak termuat di ketikan ulang. Kedua halaman itu kami ketik dari foto buku.

Ejaan kami alih­kan ke EYD V: dj men­jadi j, tj men­jadi c, j men­jadi y, nj men­jadi ny, sj men­jadi sy, dan ch men­jadi kh. Kata depan di dan ke kami pisah­kan dari kata yang meng­i­kut­i­nya, kata maje­muk yang dulu ditu­lis serang­kai kami pisah­kan, dan tanda baca kami sesu­ai­kan. Cetakan sumber tidak mema­kai tanda kutip untuk dialog, dan kami ikuti. Bentuk kata yang men­jadi ciri bahasa Pram atau dialek tokoh­nya kami biar­kan, misal­nya pelahan, kuwatir, sudara, ayoh, abdi, matari, dan mengasoh.

Satu catatan kaki di bab I ber­a­sal dari buku sumber. Di dalam­nya ter­ce­tak nieuwagierig, tam­pak­nya salah cetak untuk nieuwsgierig; kami biar­kan seperti ter­ce­tak. Kami juga mem­bi­ar­kan Juragan Juragan Musa di bab II, yang ter­ce­tak dengan kata ganda. Catatan yang dia­wali Catatan penyunting adalah tam­ba­han kami, dan hanya dibe­ri­kan untuk hal yang dapat kami periksa.


Daftar Kata

geropyok menangkap beramai-ramai; menggerebek, menyergap

onderneming (Belanda) perkebunan besar

poplin kain katun halus yang garis-garis benangnya tampak jelas

rodi kerja paksa tanpa upah, misalnya memperbaiki jalan

sice seperangkat meja kursi untuk duduk-duduk, biasanya di ruang tamu

wèrek orang yang mencari tenaga kerja kontrak untuk perkebunan di luar Jawa, biasanya dengan tipu muslihat (zaman Belanda)


Tentang Pengarang

Pra­mo­edya Ananta Toer (1925–2006) adalah rak­sasa sastra Indo­ne­sia yang kar­ya­nya lahir dari per­gu­latan seja­rah yang keras. Keluar-masuk pen­jara di masa Kolo­nial Belanda, Orde Lama, hingga peng­a­singan Pulau Buru pada masa Orde Baru tidak mem­buat nya­li­nya surut. Ia men­ja­di­kan sastra seba­gai monu­men per­la­wanan ter­ha­dap tirani. Diter­je­mah­kan ke lebih dari 40 bahasa dan ber­kali-kali dino­mi­na­si­kan untuk Nobel Sastra, Pram adalah bukti nyata bahwa kebe­naran tidak pernah bisa dipen­ja­ra­kan.


Daftar Karya Pramoedya Ananta Toer

  • Tulisan-tulisan semasa di SD, satu di anta­ra­nya pernah dita­war­kan pada pener­bit Tan Koen Swie, Kediri, dito­lak. Semua hilang.
  • Sepoeloeh Kepala Nica (1946), hilang di tangan pener­bit Balingka, Pasar Baru, Jakarta, 1947.
  • Kranji–Bekasi Jatuh (1947), frag­men dari Di Tepi Kali Bekasi.
  • Perburuan (1950). Peme­nang sayem­bara Balai Pus­taka, Jakarta, 1949.
  • Keluarga Gerilya (1950).
  • Subuh (1951), kum­pulan 3 cerpen.
  • Percikan Revolusi (1951), kum­pulan cerpen.
  • Mereka yang Dilumpuhkan I & II (1951).
  • Bukan Pasarmalam (1951).
  • Di Tepi Kali Bekasi (1951), sisa naskah yang dir­am­pas Mari­nir Belanda pada 22 Juli 1947.
  • Dia yang Menyerah (1951), kemu­dian dice­tak-ulang dalam kum­pulan cerpen.
  • Cerita dari Blora (1952), peme­nang karya sastra ter­baik dari Badan Musya­warah Kebu­da­yaan Nasi­o­nal, Jakarta (1953).
  • Gulat di Jakarta (1953).
  • Midah Si Manis Bergigi Emas (1954).
  • Korupsi (1954).
  • Cerita Calon Arang (1957).
  • Sekali Peristiwa di Banten Selatan (1958).
  • Panggil Aku Kartini Saja I & II (1963); III & IV diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Kumpulan Karya Kartini, yang pernah diu­mum­kan di ber­ba­gai media; diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Wanita Sebelum Kartini, diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Gadis Pantai (1962–65) dalam bentuk cerita ber­sam­bung, bagian per­tama tri­logi ten­tang kelu­arga penu­lis; terbit seba­gai buku, 1987, dila­rang Jaksa Agung. Jilid II dan III diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Sejarah Bahasa Indonesia. Satu Percobaan (1964); diba­kar Ang­katan Darat pada 13 Okto­ber 1965.
  • Mari Mengarang (1955), tak jelas nasib­nya di tangan pener­bit di Jalan Kramat Raya, Jakarta.
  • Cerita dari Jakarta (1957).
  • Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (1963).
  • Lentera (1965), kum­pulan tulisan yang pernah diu­mum­kan oleh Lentera. Tak jelas nasib­nya di tangan pener­bit di Jalan Pece­nongan, Jakarta.

Semua kar­ya­nya dila­rang oleh Kemen­te­rian PPK/PDK, 1966.

  • Bumi Manusia (1980), bagian per­tama tet­ra­logi Buru. Dila­rang Jaksa Agung, 1981.
  • Anak Semua Bangsa (1981), bagian kedua tet­ra­logi Buru. Dila­rang Jaksa Agung, 1981.
  • Sikap dan Peran Intelektual di Dunia Ketiga (1981).
  • Tempo Doeloe (1982), anto­logi sastra pra-Indo­ne­sia.
  • Jejak Langkah (1985), bagian ketiga tet­ra­logi Buru. Dila­rang Jaksa Agung, 1985.
  • Hikayat Siti Mariah, (ed.) Haji Mukti (1987). Dila­rang Jaksa Agung, 1987.
  • Rumah Kaca, bagian keem­pat tet­ra­logi Buru, 1988. Dila­rang Jaksa Agung, 1988.
  • Sang Pemula (1985). Dila­rang Jaksa Agung, 1985.
  • Memoar Oei Tjoe Tat, (ed.) Oei Tjoe Tat, 1995. Dila­rang Jaksa Agung, 1995.
  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I, 1995. Dila­rang Jaksa Agung, 1995.
  • Arus Balik, 1995.
  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II, 1997.
  • Arok Dedes, 1999.
  • Mangir, 2000.
  • Larasati (Ara), 2000.

Penghargaan

1988 Freedom to Write Award dari PEN American Center, Amerika Serikat.

1989 Anugerah dari The Fund for Free Expression, New York, Amerika Serikat.

1995 Wertheim Award, “for his meritorious services to the struggle for emancipation of the Indonesian people”, dari The Wertheim Foundation, Leiden, Belanda.

1995 Ramon Magsaysay Award, “for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognition of his illuminating with brilliant stories the historical awakening, and modern experience of the Indonesian people”, dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina.

1996 Partai Rakyat Demokratik Award, “hormat bagi Pejuang dan Demokrat Sejati” dari Partai Rakyat Demokratik.

1996 UNESCO Madanjeet Singh Prize, “in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence”, dari UNESCO, Paris, Prancis.

1999 Doctor of Humane Letters, “in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom”, dari University of Michigan, Madison, Amerika Serikat.

1999 Chancellor’s Distinguished Honor Award, “for his outstanding literary archievements and for his contributions to etnic tolerance and global understanding”, dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat.

1999 Chevalier de l’Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication République Française, Paris, Prancis.

2000 New York Foundation for the Arts Award, New York, Amerika Serikat.

2000 Fukuoka Cultural Grand Prize, Jepang.


Terima Kasih

Terima kasih kepada Gus Hasan Al Muba­rok dan rekan, yang memin­jam­kan koleksi Sekali Peristiwa di Banten Selatan dan memin­dai­nya. Tanpa pin­daian itu edisi ini tidak akan ada.

Terima kasih kepada Len­tera Dipan­tara, pener­bit cetakan yang kami pakai, dan kepada pener­bit-pener­bit yang men­ce­tak buku ini sebe­lum­nya, seba­gai­mana ter­ca­tat di halaman hak cipta cetakan itu: Dja­watan Penge­rahan Tenaga, Kemen­te­rian Peker­d­jaan Umum dan Tenaga (1959), Pener­bitan Lekra (1959, dengan judul Orang-orang Baru dari Banten), N.V. Nusan­tara (1963), dan pener­bit edisi ter­je­mahan Rusia di Moskwa (1961). Halaman itu juga men­ca­tat edisi 1958 tanpa menye­but pener­bit­nya. Berkat kerja mere­ka­lah buku ini masih bisa dibaca sampai seka­rang.

Terima kasih kepada Dhalia, yang menya­dur buku ini ke dalam bentuk drama, Orang-orang Baru dari Banten, yang kemu­dian dipang­gung­kan di Medan pada 1960. Cerita ini jadi punya hidup kedua di atas pang­gung, seperti yang diba­yang­kan Pram dalam kata peng­an­tar­nya.

Terima kasih kepada siapa pun yang dulu menge­tik ulang buku ini dan mem­ba­gi­kan­nya di inter­net, dan kepada pem­baca yang mau mem­beri tahu kami bila mene­mu­kan kesal­ahan.

Ter­a­khir, terima kasih kepada Pra­mo­edya Ananta Toer, yang menu­lis cerita ini pada 1958. Sera­tus tahun sete­lah ia lahir, tulis­an­nya masih kami baca dan kami rawat.