Baca EPUB: Bukan Pasar Malam

29 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Bukan Pasar Malam
  2. Daftar Isi
  3. Dari Kami untuk Pembaca
  4. 1
  5. 2
  6. 3
  7. 4
  8. 5
  9. 6
  10. 7
  11. 8
  12. 9
  13. 10
  14. 11
  15. 12
  16. 13
  17. 14
  18. 15
  19. 16
  20. Catatan tentang Edisi Ini
  21. Daftar Kata
  22. Tentang Pengarang
  23. Daftar Karya Pramoedya Ananta Toer
  24. Penghargaan
  25. Terima Kasih

Enam bulan sete­lah bebas dari kamp tawanan Belanda di Bukit Duri, seo­rang mantan pra­ju­rit revo­lusi pulang ke Blora untuk men­je­nguk ayah­nya yang sakit keras. Namun, kepul­angan ke tanah kela­hiran itu sama sekali tak disam­but oleh keme­ri­a­han. Di rumah masa kecil yang din­ding­nya mulai rapuh dan pera­bot­an­nya habis ter­jual, ia men­da­pati sang ayah—seo­rang guru dan nasi­o­na­lis gigih yang dulu begitu ber­wi­bawa—kini ter­ba­ring lemah dige­ro­goti TBC.

Di sela-sela batuk darah sang ayah dan him­pitan kemis­kinan adik-adik­nya yang ter­lan­tar, ia dipaksa ber­ha­dapan dengan keke­ce­waan paling pahit pasca-kemer­de­kaan: ketika repub­lik yang diper­ju­ang­kan dengan nyawa ter­nyata belum mampu meng­o­bati luka peju­ang­nya sen­diri. Ditu­lis dari peng­a­laman pri­badi Pra­mo­edya Ananta Toer saat mele­pas keper­gian ayah­nya pada 1950, Bukan Pasar Malam adalah renungan sunyi ten­tang kese­pian manu­sia: bahwa kita lahir seo­rang diri, dan akan kem­bali meng­ha­dap maut seo­rang diri pula, tak seperti kera­maian pasar malam yang datang dan pergi ber­sama-sama.


Ilustrasi A. Wakidjan untuk cetakan pertama Bukan Pasar Malam, 1951.

Edisi Seabad · 1925–2025

Pramoedya Ananta Toer

Bukan Pasar Malam

KOLEKSI PRIBADI

MUHAMMAD REZA MAGISTRA

Lund, 2026


Bukan Pasar Malam. Pra­mo­edya Ananta Toer.

Edisi Seabad 1925–2025, edisi digi­tal tidak resmi. Disu­sun oleh peng­ge­mar seba­gai kelan­jutan per­i­ng­atan sera­tus tahun Pra­mo­edya, tidak ber­hu­bungan dengan ahli waris maupun pener­bit karya-kar­ya­nya.

Terbit per­tama: Balai Pus­taka, 1951. Teks edisi ini disa­lin dari cetakan ketiga (1961) dan dico­cok­kan dengan pin­dai­an­nya. Ejaan dise­ra­gam­kan menu­rut Ejaan yang Disem­pur­na­kan edisi kelima (EYD V).

Hak cipta karya © Pra­mo­edya Ananta Toer dan ahli waris­nya. Edisi digi­tal ini disu­sun untuk koleksi pri­badi dan per­i­ng­atan sera­tus tahun Pra­mo­edya Ananta Toer, tidak untuk diper­ju­al­be­li­kan.

Ilus­trasi: A. Wakid­jan, untuk cetakan per­tama (1951). Sampul, tata letak, orna­men pelita (dari ilus­trasi Wakid­jan), dan catatan penyun­ting: Muham­mad Reza Magis­tra. Diset dengan New­s­re­a­der.

KOLEKSI PRI­BADI MUHAM­MAD REZA MAGIS­TRA · LUND, 2026


“Ya. Mengapa kita ini harus mati seorang diri? Lahir seorang diri pula?”

Bab 14

Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi.

Bab 16



Dari Kami untuk Pembaca

Bukan Pasar Malam terbit per­tama kali pada 1951 di Balai Pus­taka. Ceri­ta­nya seder­hana. Seo­rang lelaki muda yang belum lama keluar dari pen­jara mene­rima surat bahwa ayah­nya sakit keras di Blora. Ia men­cari utang untuk ongkos, naik kereta ber­sama istri­nya, lalu menung­gui ayah­nya, di rumah sakit dan kemu­dian di rumah, sampai ayah­nya mening­gal. Hampir tak ada peris­tiwa besar lain. Yang meng­isi buku ini justru hal-hal kecil: rumah yang mulai rusak, adik yang mena­ngis sambil meng­ha­fal pel­a­jaran, para tetangga yang datang dan pergi, dan per­ta­nyaan seo­rang pen­judi Tiong­hoa pada malam kema­tian itu, meng­apa manu­sia lahir dan mati seo­rang diri.

Kisah ini dekat dengan hidup Pram sen­diri. Ia dita­han Belanda di Bukit Duri sampai 1949, dan ayah­nya seo­rang guru yang aktif di Boedi Oetomo. Meski begitu, kami mem­ba­ca­nya seba­gai novel, dan kami tidak men­coba men­co­cok­kan setiap halaman­nya dengan riwa­yat penga­rang­nya.

Edisi ini tidak resmi. Kami menyu­sun­nya seba­gai pem­baca, untuk mene­rus­kan per­i­ng­atan sera­tus tahun Pra­mo­edya Ananta Toer dengan cara kami sen­diri. Tek­s­nya kami ambil dari cetakan ketiga (1961) dan kami alih­kan ke Ejaan yang Disem­pur­na­kan edisi kelima tanpa meng­u­bah susunan kali­mat Pram. Empat gambar A. Wakid­jan dari cetakan per­tama kami pasang kem­bali di dekat bagian cerita yang digam­bar­nya, dan lampu minyak dari salah satu gambar itu men­jadi hiasan pem­buka bab. Rin­cian ten­tang sumber dan cara penya­li­nan ada di bagian akhir buku.

Lund, November 2026

Muhammad Reza Magistra dan kawan-kawan


1

Sesungguhnya surat itu takkan begitu menya­yat hatiku, kalau saja sebe­lum­nya aku tak mengir­imi surat yang berisi sesu­atu yang tak enak untuk dibaca. Begini kata surat yang kute­rima itu:

Blora, 17 Dese­m­ber 1949

Anakku yang kucintai!

Di dunia ini tak ada suatu kegirangan yang lebih besar daripada kegirangan seorang bapak yang mendapatkan anaknya kembali, anaknya yang tertua, pembawa kebesaran dan kemegahan bapak, anaknya yang dalam beberapa waktu terasing dari masyarakat ramai, terasing dari cara hidup manusia biasa.

Anakku!

Aku dapat menggambarkan kesulitan jiwamu; aku dapat menggambarkan penderitaanmu dalam ruang yang sangat terbatas, karena aku mengalami sendiri ketika pemberontakan P …,1 selama dua minggu hidup dalam tiga penjara. Mulai saat itu sampai kini tiap malam aku bermohon kepada Tuhan seru sekalian alam akan keselamatan dan kebahagiaan sekeluarga, turun-temurun. Dosa kita sekeluarga moga-moga diampuni-Nya.

Ya, begitu per­mu­laan surat­nya sete­lah aku dua minggu keluar dari pen­jara. Surat yang pedas yang kuki­rim­kan, dan surat balasan yang kute­rima itu mem­buat air mataku ber­ti­tik. Dan ber­jan­ji­lah aku dalam hati: aku harus mem­per­ba­iki kelan­cang­anku.

Aku tak pernah menyangka, bahwa ayah pun pernah ter­ta­wan oleh komu­nis.2 pula. Dan sete­ngah tahun kemu­dian mela­yang pula surat dari Blora3 Sekali ini bukan dari ayah — seo­rang paman:

Kalau bisa, pulanglah engkau ke Blora untuk dua atau empat hari. Ayahmu sakit. Tadinya malaria dan batuk. Kemudian ditambah dengan ambeien. Akhirnya ketahuan beliau kena tbc. Ayahmu ada di rumah sakit sekarang dan telah empat kali memuntahkan darah.

Mula-mula aku ter­ke­jut mem­baca berita itu. Sesak di dada. Kegu­gupan datang menyu­sul. Dalam kepa­laku ter­ba­yang: ayah. Kemu­dian: uang. Dari mana aku dapat mem­per­o­leh uang untuk ongkos pergi? Dan ini mem­buat aku meng­e­dari kota Jakarta — men­cari kawan-kawan — dan hutang.

Panas waktu itu. Dan mobil yang ber­pu­luh ribu banyak­nya itu menyem­bur­kan debu pada badan yang ber­ke­ri­ngat. Dan debu yang meru­pa­kan ber­ba­gai macam cam­puran: reak kering, tahi kuda, han­curan ban mobil, han­curan ban sepeda dan beca, dan barang­kali juga han­curan ban sepe­daku sen­diri yang kema­rin melun­cur jalan-jalan yang kula­lui kini. Dan debu yang ber­pan­ca­ra­gam itu meleng­ket ber­sama keri­ngat seperti lem pada badan. Ini mem­buat aku memaki sedi­kit — sedi­kit saja — dalam hati.

Ya, seki­ra­nya aku punya mobil — seki­ra­nya, kataku — semua ini mung­kin takkan ter­jadi. Di kala itu juga aku ber­pen­da­pat, bahwa orang yang punya itu banyak menim­bul­kan kesu­sahan pada yang tak punya. Dan mereka tidak mera­sai ini.

Bebe­rapa puluh menit sesu­dah magrib, ber­ha­sil­lah aku men­da­pat hutang itu. Seki­ra­nya kawan yang baik itu tak dapat meng­u­lu­r­kan uang­nya sambil ber­kata uang ini sementara bisa engkau pakai, pas­ti­lah kea­da­anku lebih ter­siksa dari­pada tadi­nya. Surat pedas yang sudah kuki­rim­kan dahulu, meng­a­ki­bat­kan pera­saan ber­dosa dalam dadaku. Dan untuk meng­hi­lang­kan semua itu aku wajib datang mene­mui ayah yang sedang sakit. Begitu kata hatiku.

Antara gelap dan lem­ba­yung sinar seka­rat di barat yang merah, sepe­daku melun­curi jalan kecil depan istana. Istana itu — mandi dalam cahaya lampu lis­trik. Entah berapa puluh ratus watt. Aku tak tahu. Hanya per­hi­tungan dalam per­sang­ka­anku menga­ta­kan: lis­trik di istana itu paling sedi­kit sebe­sar lima kilo­watt. Dan seki­ra­nya ada dirasa keku­rangan lis­trik, orang ting­gal meng­ang­kat til pun dan istana men­da­pat tam­ba­han.

Pre­si­den memang orang prak­tis — tidak seperti mereka yang mem­per­ju­ang­kan hidup­nya di ping­gir jalan ber­hari-harian. Kalau engkau bukan pre­si­den, dan juga bukan men­teri, dan engkau ingin men­da­pat tam­ba­han lis­trik tiga puluh atau lima puluh watt, engkau harus berani menyo­gok dua atau tiga ratus rupiah. Ini sung­guh tidak prak­tis. Dan kalau isi istana itu mau berang­kat ke A atau ke B, semua sudah sedia — pesa­wat uda­ra­nya, mobil­nya, rokok­nya, dan uang­nya. Dan untuk ke Blora ini aku harus pergi meng­e­dari Jakarta dulu dan men­da­pat­kan hutang. Sung­guh tidak prak­tis kehi­dupan seperti itu.

Dan kalau engkau jadi pre­si­den, dan ibumu sakit, atau ambil­lah bapakmu atau ambil­lah salah seo­rang dari kelu­ar­gamu yang ter­de­kat — besok atau lusa engkau sudah bisa datang mene­ngok. Dan seki­ra­nya engkau pega­wai kecil yang ber­gaji cukup hanya untuk ber­na­fas saja, minta perlop untuk pergi pun susah. Karena sep-sep kecil itu merasa besar kalau dia bisa mem­beri larangan sesu­atu pada pega­wai­nya.

Ini semua meru­pa­kan keke­salan hatiku semata. Demo­krasi sung­guh suatu sistem yang indah. Engkau boleh jadi pre­si­den. Engkau boleh memi­lih peker­jaan yang engkau sukai. Engkau mem­pu­nyai hak sama dengan orang-orang lain­nya. Dan demo­krasi itu mem­buat aku tak perlu menyem­bah atau menun­duk­kan kepala pada pre­si­den atau men­teri atau paduka-paduka lain­nya. Sung­guh — ini pun suatu keme­nangan demo­krasi. Dan engkau boleh ber­buat seke­hen­dak hatimu bila saja masih berada dalam ling­kungan batas hukum. Tapi kalau engkau tak punya uang, engkau akan lumpuh tak bisa ber­ge­rak. Di negara demo­krasi engkau boleh mem­beli barang yang engkau sukai. Tapi kalau engkau tak punya uang, engkau hanya boleh menon­ton barang yang engkau ingini itu. Ini juga sema­cam keme­nangan demo­krasi.

Semua meng­isi dadaku di kala aku sedang meng­a­yuh pedal dengan uang hutang di saku. Dan, ya, hutang pun suatu keba­ikan atau budi juga dalam masa orang sedang kesem­pitan.

Hutang! Pre­si­den! Men­teri! Para paduka tuan! Dan penya­kit! Mobil! Keri­ngat dan debu tahi kuda! — Hatiku ber­te­riak.



2

Pagi-pagi itu kereta per­tama telah melun­cur di atas relnya dari stas­iun Gambir. Gun­du­kan tanah merah yang tinggi, yang selalu kul­i­hat di zaman Jepang dulu bila aku beper­gian ke Blora juga, kini ting­gal seper­em­pat­nya lagi. Dien­dap­kan oleh hujan. Dicang­kuli. Dise­ret oleh air hujan. Tiba-tiba saja terasa ngeri olehku meli­hat gun­du­kan tanah merah di stas­iun Jati­ne­gara itu. Bukan­kah hidup manu­sia ini tiap hari dicang­kul, dien­dap­kan, dan dise­ret juga seperti gun­du­kan tanah merah itu?

Pagi itu kabut tipis masih mena­biri peman­dangan. Dan mukaku kuta­rik dari jen­dela — agar tak meli­hat gun­du­kan tanah itu. Yang ter­ba­yang dalam kepa­laku: ayah. Bukan­kah hidup ayah juga dicang­kuli, dien­dap­kan, dan dise­ret juga? Dan karena aku sudah ber­is­tri, dan istriku duduk di sam­pingku pan­dangku kulem­par­kan pada­nya. Ber­kata:

“Kita pergi bukan untuk pesiar peng­an­ten. Kita pergi ber­zi­a­rah orang sakit seka­rang.”

Desing dan desah kereta yang mulai berang­kat lagi itu mem­buat aku tak men­de­ngar apa yang dika­ta­kan­nya. Hanya mulut­nya saja kul­i­hat ber­ke­cu­mik. Dan aku ber­kata lagi:

“Besok jam dua belas siang kita sampai di Blora.”

Aku lihat dia meng­ang­guk. Kem­bali pan­dangku kulem­par­kan keluar kereta. Kabut pagi kian lama kian tipis. Kemu­dian Klen­der pun nam­pak­lah dari jen­dela kereta itu. Bang­kai-bang­kai pantserwagen, brencarrier, truk, ber­ge­lim­pangan di ladang-ladang dan di ping­gir jalan raya — sen­jata Ing­ge­ris yang dilum­puh­kan oleh barisan pemuda, dan juga dilum­puh­kan oleh ketu­a­an­nya sen­diri. Dan seki­las ter­i­ngat olehku: pasukan pemuda yang ter­de­sak oleh keka­yaan sen­jata pasukan asing sampai di sebe­rang kali Cakung.

Kemu­dian kereta pun sam­pai­lah di Cakung. Banyak sekali kenang-kenang­anku yang ter­i­kat pada dusun kecil itu. Cakung — dalam ling­kungan kebun karet, di mana ber­ganti-ganti pasukan pemuda ter­ku­rung dan kemu­dian pasukan asing.

Kuisap seba­tang rokok. Dan dingin pagi serta dingin angin itu tiada terasa betul kini. Sawah yang tandus dan yang hampir masa­nya dipa­neni silih ber­ganti ber­ke­jar-keja­ran. Dan di sawah-sawah itu dahulu, kadang-kadang kapal capung Belanda melem­pari petani dengan granat tangan. Ada­ka­la­nya juga capung itu men­da­rat di lap­angan tandus dan men­curi kam­bing pen­du­duk. Ya, semua itu ter­i­ngat kem­bali kini. Dan di rumput-rumput itu pula seba­gian dari kawan-kawan yang mem­per­ta­han­kan garis jalan kereta api dulu meng­ge­le­pak gugur, dan darah­nya menyi­r­ami rumput yang meng­hi­jau selalu itu.

“Jam berapa kita sampai di Sema­rang?” istriku ber­ta­nya.

“Empat.”

Dan aku mene­rus­kan kenang-kenang­anku kem­bali. Kranji. Tambun. Cika­rang. — Rang­kaian per­ta­hanan sebe­lum aksi mil­iter per­tama.1 Dan kereta ber­ja­lan terus dengan laju­nya. Dan tiba-tiba ter­ke­nang kem­bali olehku akan surat paman itu: muntah darah empat kali! Dan ing­at­anku ber­henti dan ber­ki­sar-kisar pada per­ka­taan darah itu. Kemu­dian aku ingat juga pada sam­bungan surat itu:

Aku kira ayahmu tak bisa diha­rap­kan lagi sem­buh­nya.

Engkau bisa pulang, bukan? Tentu engkau bisa pulang.

Aku meng­gi­gil di dalam tubuhku — seperti kena malaria. Dan san­di­wara keten­ta­raan itu lenyap dari kepa­laku. Ayahku lagi yang ter­ba­yang.

“Jangan ter­lalu lama di Blora,” kata istriku.

Kupan­dang istriku itu. Aku rasai keningku jadi tebal oleh kerut-mirut. Dan aku men­ja­wab pendek:

“Kita meli­hat kea­da­an­nya dulu.”

Seben­tar bayangan kenangan pada ayah hilang.

“Barang­kali kalau ter­lam­pau lama, aku ter­paksa pulang dahulu.”

Hatiku kesal.

Dipan­dang­nya aku. Dulu — dulu sebe­lum ber­tu­nangan — mata­nya amat bagus dalam pera­sa­anku. Tapi keba­gusan itu telah lenyap seka­rang. Ya, mata­nya seperti mata orang-orang lain­nya yang tak mena­rik per­ha­ti­anku. Dan aku mem­ba­las pan­dang­nya. Barang­kali mataku yang buruk itu — dan ini sudah kuke­ta­hui sejak kecilku — juga tak mena­rik hati­nya lagi. Men­ja­wab:

“Itu ter­gan­tung padamu sen­diri.”

Kepa­laku, dan juga mataku, kuta­rik dari daerah pan­dang­nya dan kulem­par­kan kem­bali keluar jen­dela.

Sampai di Lemah Abang seka­rang.

Seki­las melela kenangan lama. Dulu — empat tahun yang lalu! Dengan tiada ter­sangka-sangka Belanda meng­hu­jani per­ta­hanan kita dari tiga pen­juru dengan dela­pan atau sepu­luh pucuk howit­ser. Jumlah itu bisa dihi­tung oleh bekas ser­dadu arti­leri KNIL2 sebe­lum perang, rakyat jadi panik. Mereka mela­ri­kan diri ke sawah. Aku masih ingat waktu itu, aku ber­te­riak dengan ber­co­r­ong kedua tanganku: Jangan lari! Rebahkan badan! Tapi mereka itu ter­lam­pau banyak, ter­lam­pau bingung, ter­lam­pau keta­kutan — dan sua­raku tak ter­de­ngar oleh mereka. Dan di kala aku ber­ti­a­rap di bawah pohon besar itu kul­i­hat sebuah — dua buah, tiga, empat, lima — peluru meriam jatuh mele­dak di seki­tar bon­do­ngan manu­sia yang mela­ri­kan diri. Darah. Kurban. Bang­kai. Dan ing­at­anku melalu darah, kurban, bang­kai ke surat, ke paman, dan kepada ayah.

Aku menge­luh. Hatiku ter­sa­yat. Aku memang perasa. Dan kelu­ar­gaku pun ter­diri dari makh­luk-makh­luk perasa.

Kutu­tup mataku rapat-rapat agar tak meli­hat tamasa daerah Lemah Abang. Tapi masih juga ter­ba­yang sisa-sisa ing­atan itu. Hasil luar biasa dari penem­bakan Belanda: empat domba gugur di depan kan­dang­nya. Dan ini yang memi­l­ukan: seekor domba tua, bun­ting, dengan mata mere­nungi langit, kepala ter­san­dar pada cabang tong­gak can­cangan, dengan kedua kaki bela­kang ber­lu­tut, dengan kaki depan tetap ber­diri — dan domba itu sudah mati. Waktu badan domba itu kugo­yang­kan sedi­kit, dia rebah ke tanah. Tak ber­ge­rak. Sung­guh — dia sudah mati. Seo­rang kawan bilang, potong saja domba itu. Kupan­dang mata­nya yang melek dan pucat itu. Ada terasa meng­gi­gil dalam dadaku. Aku lari pulang. Dan bayangan domba yang mere­nungi langit itu masih ter­bawa-bawa dalam kepa­laku selama tiga hari. Domba! Ing­at­anku ber­ki­sar — domba itu jadi manu­sia. Dan manu­sia itu ayahku.

Aku menge­luh.

Aku terasa juga meng­gi­gil dalam dadaku. Aku merin­tih.

“Meng­apa?” istriku ber­ta­nya.

“Barang­kali masuk angin aku,” aku men­ja­wab.

“Pakai­lah jasmu.”

Dan jas yang kule­pas seha­bis menaik-naik­kan koper di Gambir tadi kuke­na­kan lagi. Habis kerja tadi, ter­lalu panas rasa­nya. Dan rasa panas itu ditam­bah pula oleh tekanan keta­kutan tak men­da­pat tempat.

Ia menge­na­kan kan­cing­nya.

“Engkau ini gam­pang betul masuk angin,” istriku menam­bahi.

Per­i­ng­at­an­nya itu kubi­ar­kan dingin.

Seka­rang kepa­laku mem­ba­yang­kan kuburan — tempat manu­sia yang ter­a­khir. Tapi kadang-kadang manu­sia tak men­da­pat tempat dalam kan­dungan bumi. Ya, kadang-kadang. Pelaut, pra­ju­rit di zaman perang — sering mereka tak men­da­pat tempat ting­gal ter­a­khir. Dan kepa­laku mem­ba­yang­kan — kalau ayah yang tak men­da­pat tempat itu.

Aku meng­gi­gil.

Mataku ber­kaca-kaca. Tapi air mata tak sampai jatuh.

“Ah, aku tak mau meng­i­kuti segala bayangan kepala ini.” Teri­akku dalam hati.

Dan aku ber­pi­kir: seki­ra­nya aku men­da­pat lotre. Muluk juga penge­lam­unan itu. Dan penge­lam­unan itu dia­khiri dengan piki­ran lama: akhir­nya manu­sia ini mati juga. Mati. Sakit. Dan sakit ini mengem­ba­li­kan piki­ranku pada ayah.

Kem­bali aku menge­luh.

“Moga-moga paman ter­lalu ter­buru-buru menu­lis surat itu,” istriku ber­kata. “Moga-moga kea­daan bapak tak sebu­ruk yang digam­bar­kan­nya.”

Kem­bali kupan­dang mata­nya yang tak begitu mena­rik hatiku lagi itu. Sekali ini ia tunduk dan mem­per­ba­iki ram­but­nya yang disi­bak­kan angin.

“Moga-moga,” aku ber­kata.

Pan­dangku kulem­par­kan lagi keluar jen­dela. Kebun karet ber­ke­jar-keja­ran. Kota-kota kecil yang dulu sering kula­lui, kini kula­lui kem­bali. Dan ber­pu­luh-puluh kenang-kenangan yang pahit dan yang senang dengan sewe­nang-wenang­nya menyerbu ke dalam kepa­laku. Dan kala itu aku insaf: kadang-kadang manu­sia ini tak kuasa mela­wan kenangan-kenang­an­nya sen­diri. Dan ter­se­nyum aku oleh kein­safan itu. Ya, kadang-kadang tak sadar manu­sia ter­lam­pau kuat dan meneng­ge­lam­kan kesa­dar­an­nya. Aku ter­se­nyum lagi.

“Jam berapa, mas?” istriku ber­ta­nya.

Mataku kuha­dap­kan pada­nya. Sekali lagi pan­dangku ter­tum­buk pada mata­nya yang dulu bagus dan yang kini tak mena­rik hatiku lagi itu. Seben­tar saja. Kemu­dian pan­dangku kuja­tuh­kan pada arloji tangan. Men­ja­wab:

“Hampir jam sem­bi­lan.”

“Barang­kali til­gram sudah diki­rim­kan.”

“Moga-moga sudah,” kataku.

Dan pan­dangku kulem­par­kan ke jen­dela lagi. Til­gram yang ter­ba­yang dalam kepa­laku seka­rang. Barang­kali saja til­gram yang bunyi­nya “besok sampai dengan nyonya” itu bisa jadi obat ayah. Sebe­tul­nya harapan itu bukan ori­si­nil lagi. Sema­lam seo­rang kawan bilang, sudah lama engkau ditahan — dua setengah tahun! Dan selama itu tentunya ayahmu merindukan kedatanganmu. Bukan itu saja. Pasti dia mengkhawatirkan keadaanmu juga. Dan itulah yang men­do­r­ong aku mengir­im­kan — mak­sudku menyu­ruh kirim­kan — til­gram itu. Dan kawan itu ber­kata juga, pergilah. Barangkali kedatanganmu itu bisa jadi obat yang mujarab untuknya.

Piki­ran seperti itu tiba-tiba mati waktu mataku jatuh pada sebuah dusun di tengah-tengah sawah yang dise­li­muti rumpun bambu dan pohon-pohonan. Aku tahu betul kea­daan dusun itu. Dusun itu dulu ada dalam keku­a­saan garong. Sekali aku — dalam pasukan — ber­pat­roli ke sana dan mem­buat lapuran pan­jang. Dan lapuran itu beku di lemari. Dan aku ber­ke­nalan dengan wanita cantik. Karena dusun itu kepu­nyaan tuan tanah, datang saja piki­ran begini: dia mesti anak blas­ter. Tapi aku tak peduli. Dan bapak­nya ber­janji padaku: Kalau bapak mengawini anakku, bapak tak perlu kerja. Sawah cukup luas. Dan bapak boleh mengambil separuh dari sawah-sawahku. Dan aku jadi mabok kepa­yang men­de­ngar tawaran itu. Kala itu kemis­kinan selalu mela­yang-layang di ang­kasa dan menyam­bari kepa­laku. Ya, waktu itu aku selalu ter­se­nyum karena janji itu. Tapi pat­roli itu takkan bisa lebih lama dari sehari sema­lam. Dan pasukan kami kem­bali ke pang­kalan.

Kemu­dian aku pergi lagi ke sana. Tapi wanita cantik itu telah digon­dol oleh garong. Dan aku kem­bali dengan penye­salan dan juga kegem­bi­raan karena tak jadi meng­ga­dai­kan diri. Tapi kecan­ti­kan dan nasib wanita itu mem­buru-buru saja dalam kepa­laku.

Kemu­dian dalam kepa­laku aku ber­ce­rita pada diriku sen­diri. Begini:

“Dia seka­rang sudah hidup senang dengan garong yang men­cu­r­i­nya. Dia seka­rang sudah punya anak dua. Badan­nya sudah diba­luti dengan sutera dan per­hi­asan emas intan ber­lian.”

Kereta ber­ja­lan cepat. Dan dusun itu pun hapus­lah — dari peman­dangan, dari kenang-kenangan.

Aku batuk-batuk.

“Engkau ter­lalu dekat pada jen­dela,” kata istriku.

Dan kami ber­gan­tian tempat. Kurap­at­kan gobak jasku pada leher. Kemu­dian aku ber­san­daran. Menu­tup mata. Ter­ti­dur. Tapi tidur itu tak bisa ber­lang­sung dengan aman­nya. Kereta kian penuh dengan penum­pang baru. Jadi aku melek lagi. Sampai di daerah yang baru saja lepas dari ancaman dan teror Darul Islam3 kami lihat kawat-kawat til­gram rantas-rantas dan ber­ju­luran pada tiang­nya yang beng­kok-beng­kok dan melata di tanah.

“Wah, til­gram takkan mung­kin sampai,” aku ber­kata.

“Ya, til­gram takkan mung­kin sampai,” istriku mengi­a­kan kereta jalan terus. Jalan terus. Jalan terus — Sema­rang.

Kami meng­i­nap di hotel. Dan hotel itu bukan main kotor­nya. Tapi kami bisa ber­is­ti­ra­hat dengan senang.



3

Subuh-subuh kami telah pergi ke stas­iun. Antre beli karcis. Dan kereta ber­ja­lan meman­tai laut Jawa. Kadang-kadang kereta kami ber­pacu dengan mobil, dan kami mem­per­ha­ti­kan tamasa itu dengan hati gemas. Debu yang diti­up­kan oleh mobil — debu yang ber­cam­pur dengan ber­ba­gai macam tahi kuda, tahi manu­sia, reak­nya, ludah­nya — menge­pul dan meng­hing­gapi kulit kami. Kadang-kadang kami dapati anak-anak kecil ber­so­rak-sorak sambil meng­u­lu­r­kan topi­nya — meng­e­mis. Dan kea­daan ini ber­laku sejak jalan kereta api dibuka dan kereta api melun­cur di atas relnya. Bila orang melem­par-lem­par­kan sisa-sisa makanan, mereka bere­butan. Tapi ini tidak pen­ting betul kuce­ri­ta­kan.

Kereta ber­ja­lan terus dan ber­ja­lan terus. Sampai di Rem­bang, dia mulai mem­be­lok ke selatan dan melin­tas hutan jati dan sawah. Kian dekat dengan kota kela­hiran, kian nyata ter­ba­yang-bayang jalan-jalan­nya yang sempit, pen­du­duk­nya yang miskin, dan ayah. Kadang-kadang nampak kijang ber­lari-larian keta­kutan oleh desah kereta. Dan mereka lari masuk kese­mak-semak dengan kaki depan dan bela­kang hampir ter­si­lang, dan perut­nya ter­te­kan hingga keli­hatan kem­bung ke atas. Kun­dek­tur yang mengon­trol karcis masih kun­dek­tur waktu aku masih kecil dan sering pergi ke Rem­bang untuk meli­hat pantai bila hari libur sudah tiba. Tapi kun­dek­tur itu kini sudah tua dan tak kenal padaku lagi. Ia tak mem­per­ha­ti­kan manu­sia dalam kereta itu. Yang diper­ha­ti­kan­nya hanya karcis.

Kupan­dang istriku. Ber­kata:

“Lihat­lah, betapa can­tik­nya hutan itu.”

Diam-diam istriku men­je­nguk­kan kepa­la­nya keluar jen­dela. Kemu­dian kepa­la­nya dita­rik­nya lagi dan ia ber­san­daran di pojok bangku kereta.

Aku meman­dang kein­dahan hutan itu. Pernah juga aku dulu mema­suki — dulu di waktu masih jadi pandu dan ber­zi­a­rah ke makam Raden Ajeng Kar­tini.1 Makam itu tak jauh dari kereta kami waktu itu. Tiba-tiba sebuah jurang melela di bawah mataku. Dan dengan sen­di­r­i­nya saja aku ber­seru:

“Lihat­lah jurang itu. Alang­kah dalam!”

Kupan­dang istriku. Ia mem­buka tapuk mata­nya. Dan kemu­dian tapuk mata­nya itu turun pula dan ter­tu­tup kem­bali.

Aku menge­luh.

Ingin aku mem­per­ke­nal­kan kein­dahan dae­rahku dengan jurang dan hutan­nya, dengan kijang dan monyet­nya. Ya, ingin sekali.

Kereta kami mela­lui stas­iun dan halte-halte yang ting­gal lantai belaka, pem­ba­karan kapur, penum­pukan kayu jati. Dan semua itu mengem­ba­li­kan kenang-kenangan pada masa kecil waktu sering ber­ta­masa ber­se­peda keluar masuk hutan. Ya, alang­kah indah masa kecil yang lalu. Dan kini aku menem­bang­kan kein­dah­an­nya dalam kenang-kenangan.

Waktu kereta mema­suki batas kota Blora, nampak olehku, tanah lapang — dan dulu gedung-gedung yang ber­diri di tanah lapang itu. Seka­li­gus ter­pi­kir olehku: pepe­rangan yang merun­tuh­kan bangun-bangu­nan itu. Dan kei­ng­inan mau tahu itu mem­buat aku selalu men­je­nguk­kan kepala. Kemu­dian dengan tiba-tiba saja aku ber­kata:

“Moga-moga til­gram itu sampai juga. Dan moga-moga ada orang men­jem­put di stas­iun.”

Istriku mem­buka mata­nya. Dan waktu kami ber­pan­dangan aku ber­kata:

“Kita sampai di Blora seka­rang.”

Ia ber­ke­mas. Dan aku ber­ke­mas. Kemu­dian kereta ber­henti di stas­iun Blora. Kem­bali kepa­laku kuje­nguk­kan. Tapi mataku tak dapat meraih orang yang kuha­rap­kan datang men­jem­put kami. Dan betul, til­gram memang tak sampai.

Kami jin­jing bawaan kami. Dan dokar yang mem­bawa kami ke rumah yang sudah kuting­gal­kan selama ini ber­ja­lan ayem seperti dulu juga. Dan pak kusir tak henti-hen­ti­nya meng­ha­lau-halau­kan kuda­nya dengan cambuk dan per­ka­taan — hanya karena kebi­a­saan saja. Banyak gedung runtuh di sepan­jang jalan. Dan gedung PTT yang jadi kebang­gaan pen­du­duk kota Blora yang kecil itu kini telah ting­gal beton-beton tiang­nya yang ber­su­sun tindih seperti bantal dan guling. Aku mena­rik nafas pan­jang. Tugu per­i­ng­atan empat puluh tahun peme­rin­tahan Wil­hel­mina2 masih ber­diri. Tapi kein­dah­an­nya yang dulu lenyap. Dan tugu itu kini dicat merah muda. Dan aku tak meng­erti meng­apa. Mung­kin pasukan merah3 yang menge­cat­nya waktu mereka men­du­duki kota kami.

Dan di kala dokar kami ber­henti di rumah yang sudah lama kuting­gal­kan itu, adik-adik ber­seru riang:

“Mas datang! Mas datang!”

Tapi mereka tak mau men­de­kat. Mereka malah men­jauh — mereka yang belum dewasa itu. Barang­kali juga mereka malu karena aku telah punya istri, dan istri itu kini ber­diri di sam­pingku. Aku tak tahu betul. Hanya adik-adikku yang sudah dewasa jua datang meno­long mem­ba­wa­kan barang-barang bawaan.

Kala aku masuk ke dalam rumah, kepa­laku ter­seng­gol pada palang atap. Dan aku jadi ber­pi­kir, aku jadi tinggi seka­rang. Waktu aku mening­gal­kan rumah ini, palang itu masih tinggi di atas kepala.



4

Kami duduk-duduk di ruang depan. Adik-adik yang belum dewasa, yang nampak masih liar itu kini mulai men­de­kati. Dan kami meng­o­b­rol pan­jang ten­tang Jakarta, ten­tang Sema­rang, dan ten­tang mobil. Meng­o­b­rol adalah suatu peker­jaan yang tak mem­bo­san­kan, menye­nang­kan, dan bia­sa­nya pan­jang-pan­jang. Dan di kala aku ber­ta­nya:

“Bagai­mana kese­hatan bapak?”

Semua ber­diam diri. Dan tak ada sepa­sang mata pun menen­tang mataku. Obro­lan yang pan­jang dan menye­nang­kan tadi seka­li­gus lenyap. Sua­sana kesung­guh-sung­guhan meng­gan­ti­kan. Dan aku ber­ta­nya lagi:

“Bagai­mana kese­hatan bapak?”

Dan adikku yang keem­pat men­ja­wab pelahan dan hati-hati:

“Kirim­anmu pel dan seli­mut untuk ayah sudah kami terima. Juga wis­se­lmu sudah kute­rima, dan sudah kuper­gu­na­kan untuk beli susu dan telur seperti yang engkau pesan­kan.”

Aku dan istriku diam men­de­ng­ar­kan. Ia mene­rus­kan:

“Kemeja untuk bapak pun sudah kuam­bil dari pos. Seli­mut, kemeja dan pel sudah juga kubawa ke rumah sakit. Tapi bapak bilang, bawa saja semua itu ke rumah. Dan barang-barang itu kubawa pulang.”

Aku ter­ke­jut. Ber­ta­nya: “Dan pel?”

“Sudah satu tube dima­kan.”

Aku gem­bira sedi­kit.

“Dan susu dengan telur itu?” aku ber­ta­nya lagi.

“Bapak tak suka. Telur dan susu aku sudah bosan, kata bapak.”

Aku tak bisa ber­kata apa-apa. Kupan­dang istriku. Tapi pada air muka­nya tak kuda­pati jawaban. Kulem­par­kan pan­dang keluar rumah. Nampak pohon jeruk yang dahulu dita­nam oleh ayah. Pohon itu telah kering dan hampir mati seka­rang.

“Dan kese­hatan bapak?” aku meng­u­langi per­ta­nya­anku.

Adikku yang keem­pat itu tak men­ja­wab. Mata­nya jadi merah ber­kaca-kaca.

“Meng­apa tak kau­ja­wab?” aku ber­ta­nya keta­kutan.

“Kema­rin dan kema­rin dulu bapak ter­se­nyum saja — banyak senyum. Tapi tadi … tadi … “

Ia ter­diam. Aku pun tak memaksa ia mene­rus­kan bica­ra­nya. Aku ter­diam pula. Agak lama juga kami menun­duk­kan kepala. Adikku yang paling kecil yang mulai berani ber­ta­nya-tanya pun tak ber­kata apa-apa. Waktu itu baru jam sete­ngah satu siang. Dan bunyi peng­go­r­engan di dapur ter­de­ngar nyata. Kemu­dian adikku yang keem­pat itu mene­rus­kan dengan sua­ra­nya yang masih juga pelahan, gelap dan hati-hati:

“… dan tadi pagi … ayah tak ter­se­nyum lagi. Sua­ra­nya sudah jadi rendah dan hampir tak kede­ngaran.” Ia tak mene­rus­kan bica­ra­nya.

“Dan apa kata dokter?” aku ber­ta­nya.

“Dokter tak pernah ber­kata apa-apa pada kami. Di sini cuma ada satu dokter saja. Dan obat-obatan pun tidak men­cu­kupi.”

Kemu­dian adikku yang kedua, yang kebe­tulan sedang men­da­pat perlop dari komen­dan­nya, ber­kata:

“Aku sudah juga mena­nya­kan ten­tang kese­hatan bapak pada dokter. Dia bilang, aku sudah tahu penyakit bapakmu.”

“Itu saja kata­nya?” aku ber­ta­nya.

“Ya, itu saja — kemu­dian aku disu­ruh pergi.”

Kem­bali sua­sana yang kesung­guh-sung­guhan terasa. Orang meng­i­kuti pera­saan dan piki­ran­nya masing-masing. Dengan tiada kusa­dari adikku yang keem­pat mem­be­lok­kan arah per­ca­kapan ke jurusan lain. Ia ber­kata, bahwa adikku yang ketiga — adikku perem­puan yang sudah ber­su­ami — waktu itu ada di Blora. Dan segera saja aku ber­ta­nya:

“Di mana dia seka­rang?”

Tangan­nya menu­ding ke pintu sebuah kamar. Dan semua mata meng­i­kuti arah tudingan itu. Dan dalam kepa­laku ter­ba­yang wajah adikku — dan ter­ba­yang dia sudah kurus. Aku tahu, dia sedang sakit. Tapi mulutku ber­kata:

“Sur­uh­lah dia keluar.”

Adikku yang keem­pat — adik perem­puan — itu pergi. Hati-hati ia mem­buka pintu kamar. Semua mata mem­per­ha­ti­kan. Ia hilang ke dalam kamar. Kemu­dian kem­bali keluar dengan mata merah. Ber­kata sete­ngah mena­ngis “

“Mbak masih tidur.”

Dan kami meng­o­b­rol ten­tang hal-hal lain. Tapi segera adikku yang ketiga itu ter­ba­yang lagi dalam kepa­laku. Karena dia jualah aku dulu menu­lis surat untuk ayah — surat yang pedas karena mem­bi­ar­kan dia sakit. Tapi waktu itu aku masih ada di dalam pen­jara. Dan ayah mem­ba­lasi:

Ya, anakku, selama hidupku yang lima puluh enam tahun ini tahulah aku, bahwa usaha dan ikhtiar manusia itu sangat terbatas. Aku sendiri tak membiarkan adikmu sakit bila saja aku ini berkuasa atas nasib manusia. Penyakitnya itu diperolehnya waktu adikmu turut terkurung oleh pasukan merah di daerah rawa, di daerah malaria. Dan barangkali engkau bisa mengerti sendiri bagaimana keadaan obat- obatan di daerah perang, — dan sekiranya engkau sendiri bukan prajurit.

Surat balasan itu mem­buat kega­rang­anku luluh cair. Dan ada ter­de­ngar per­ta­nyaan di dalam dada, “Ber­do­sa­kah aku karena menu­lis surat yang pedas itu?” Dan jawaban itu datang dengan sen­di­r­i­nya saja. “Ya, engkau ber­dosa.” Dan oleh jawaban itu aku merasa jadi orang ber­dosa hingga kini — sebe­lum ber­temu kem­bali dengan ayah. Tapi obro­lan yang ber­sam­bung-sam­bung itu mele­nyap­kan segala kenangan buruk itu. Aku lihat keenam adikku yang sedang meru­bung kami — aku dan istriku — mulai bebas dari sua­sana yang kesung­guh-sung­guhan. Tapi aku masih ter­sang­kut-sang­kut pada ber­ba­gai piki­ran dan kenangan yang menye­sak-nyesak.

Satu jam kami meng­o­b­rol. Aku lihat ini dari arloji tangan. Kemu­dian kupan­dang adikku yang paling kecil. Ber­kata pelahan:

“Coba lihat kakakmu, barang­kali dia sudah bangun.”

Dia berang­kat. Sampai di depan pintu ia ber­seru dengan suara kanak-kanak­nya:

“Mbak, mbak, mas datang.”

Ia hilang ke dalam kamar.

Tak ada orang yang mem­per­ha­ti­kan­nya. Kem­bali obro­lan meng­a­muk pula. Dan di kala adikku yang ter­ke­cil keluar dari kamar, obro­lan itu mati. Adikku yang kecil itu men­de­kati daku. Ber­bi­sik:

“Mbak sedang mena­ngis.”

Aku mena­rik nafas dalam.

Pelahan aku bangun. Pergi ke kamar. Dan ter­te­len­tang di ran­jang besi yang tiada ber­ke­lambu, ber­se­li­mut kain sepa­ruh, — adikku! Leng­an­nya ditu­tup­kan­nya pada mata­nya. Dan lengan itu kuang­kat. Tampak olehku sepa­sang mata meman­dang daku. Dan mata itu merah dan berair-air. Kurang­kul dia. Dia mena­ngis dan aku pun mena­ngis. Dan di antara tangisku itu aku men­de­ngar sua­raku sen­diri:

“Meng­apa engkau begini kurus?”

Tangis­nya kian ter­te­kan dan dite­kan­nya agar tak mem­ba­dai. Dan kemu­dian aku begitu pula.

“Sudah lama aku sakit, mas,” aku men­de­ngar suara yang patah-patah.

“Engkau sudah pergi ke dokter?” aku ber­ta­nya — dengan suara patah-patah pula.

“Aku sudah pergi ke dokter, tapi masih tetap begini saja,” suara yang patah-patah juga.

“Barang­kali lebih baik engkau pergi ke kota besar. Di sana banyak spe­si­a­lis,” sua­raku yang patah-patah juga.

Hanya sedan-sedan.

“Engkau sudah ber­a­nak, dik?”

“Sudah mas.”

“Mana?”

Tangisku sudah reda. Tapi tangis adikku tambah mening­kat seka­rang. Men­ja­wab dengan suara kosong:

“Dia sudah tidak ada, mas. Dia sudah tidak ada.”

Dita­rik­nya leng­an­nya yang kupe­gangi dan ditu­tup­kan kem­bali pada mata­nya. Kuke­lu­ar­kan sapu­ta­nganku dan kuseka air mata­nya yang ber­le­leran.

“Tidak ada bagai­mana?” tanyaku.

“Umur enam bulan anakku lahir. Dia mena­ngis sekali. Aku ada men­de­ngar tangis­nya. Kemu­dian dia diminta lagi oleh Tuhan.”

Sekali lagi aku mena­ngis. Sekali lagi dia mena­ngis. Aku tak men­de­ngar apa-apa seka­rang selain badai yang men­deru-deru dalam dadaku sen­diri. Dan yang ter­tam­pak hanya tubuh kurus, seli­mut kain sepo­tong, kasur yang cuma sepa­ruh saja menu­tupi ran­jang, dan besi-besi serta palang-palang bambu di sam­ping kasur itu men­co­ngak-congak.

“Engkau masih muda, adikku, dan engkau masih ada harapan punya anak lagi,” kataku meng­hi­bur. “Mana sua­mimu?”

“Sedang dila­tih di Sema­rang, mas.”

Kedua tangis dalam kamar itu mengen­dur. Akhir­nya mati.

Kuper­ba­iki letak seli­mut­nya itu. Kucium adikku itu pada pipi­nya. Ber­kata:

“Tidur­lah.”

Dita­rik­nya leng­an­nya dari mata­nya. Ia sudah tenang seka­rang. Pelahan-lahan ia menga­tup­kan tapuk mata­nya. Sekali lagi kucium pipi­nya yang dulu montok dan kini kering itu. Kemu­dian kuting­gal­kan kamar itu.


5

Kendaraan satu-satu­nya yang boleh diper­gu­na­kan oleh orang banyak di kota kami yang kecil itu hanya­lah dokar. Rumah sakit ter­le­tak dua kilo­me­ter dari rumah kami. Jadi sore itu kami pergi dengan dokar ke rumah sakit. Kami berang­kat ber­em­pat, aku sen­diri, istriku dan adikku yang keem­pat dan seo­rang adikku yang belum dewasa.

Rumah sakit itu nampak sepi. Dan para pasien dari bang­sal gratis duduk-duduk di teri­tis sambil men­cari kutu kepala, meng­o­b­rol-ngo­b­rol atau ber­ti­duran di dalam bang­sal­nya.

Kamar nomer tiga belas — kamar ayahku.

Pelahan-lahan kami masuk. Kerait pintu mem­buat mata ayah ter­tuju pada kami. Aku lihat ayah ter­se­nyum — senyum orang yang sudah merasa puas hidup di dunia ini.

Aku dan istriku ber­ja­lan di depan dan men­de­kati ran­jang. Tiba-tiba kul­i­hat senyum itu hilang. Dan mata ayah ber­henti pada mukaku. Kemu­dian ter­de­ngar sua­ra­nya yang hampir tak ter­de­ngar:

“Engkau!”

Aku kian men­de­kati ran­jang.

Mata ayah ter­tu­tup seka­rang. Dan ling­karan yang biru mem­ba­tasi kelo­pak­nya. Kemu­dian aku lihat air mata mele­leh pada mata yang cekung itu. Dan air mata itu diam saja di sudut-sudut mata­nya — tak meng­ge­li­nang. Dan aku lihat juga mulut ayah ber­ke­cu­mik. Aku tahu: ayah mena­ngis, dan tangis yang tiada ber­te­naga. Kulem­par­kan pan­dangku ke jen­dela, ke arah kamar mati. Nafas pan­jang kuisap ber­sam­bung-sam­bung.

Segera kupe­gang tangan ayah. Dan kul­i­hat kini badan ayah yang dahulu tegap itu kini telah menye­ru­pai sebi­lah papan. Aku lihat ayah mem­buka mata­nya. Hati-hati dan menyeng­sa­ra­kan diang­kat­nya tangan­nya yang hanya ting­gal tulang dan kulit. Diusap-usap­nya ram­butku. Ter­de­ngar suara yang dalam, gelap, kosong dan tidak ber­te­naga:

“Kapan engkau datang?”

“Jam dua belas siang tadi, bapak.”

“Alang­kah cepat. Engkau naik pesa­wat udara?”

“Kereta api, ayah.”

Ayah tak bicara lagi. Mata­nya yang pudar ditu­tup­nya kem­bali. Aku ber­diri dan mele­pas­kan pegang­anku pada tangan­nya. Dan aku lihat ayah meng­a­tur nafas­nya. Dan aku lihat juga, bahwa nafas itu tak ber­henti di dada­nya. Nafas itu pulang dan pergi dari perut­nya, dan perut itu jadi kem­bang kempis selalu. Di saat-saat ayah dise­rang haruan, perut itu ter­gun­cang-gun­cang oleh nafas. Dan aku lihat juga, rambut ayah yang lima tahun ke bela­kang masih hitam kini sudah jadi putih. Dan kumis, cam­bang serta jang­gut yang hitam putih abu-abu itu mem­buat muka ayah yang cekung-cekung itu jadi nampak kotor.

“Dan ini menantu bapak,” aku ber­kata lagi.

Dan kem­bali ayah mem­buka mata­nya. Dipan­dang­nya perem­puan yang selama sete­ngah tahun ini jadi istriku.

“Sini,” kata ayah lemah.

Dan istriku men­de­kati, menyem­bah. Kala itu luar biasa besar hatiku karena ia mau menyem­bah ayahku. Dan ayah meng­u­sap-usap ram­but­nya. Dengan sua­ra­nya yang gelap, kosong, dalam dan tiada ber­te­naga, meres­tui:

“Sela­mat, ya? Sela­mat. Sela­mat.”

Ayah menu­tup mata­nya kem­bali. Tiba-tiba badai batuk menye­rang ayah. Dan ayah memi­ring­kan badan­nya ke din­ding. Dan sete­lah ayah agak reda dari batuk­nya ter­de­ngar sua­ra­nya:

“Jangan dekat-dekat.”

Dan kami men­jauh. Badai batuk menye­rang pula. Dan badan yang menye­ru­pai sebi­lah papan itu ter­ta­rik-tarik kare­na­nya. Kami semua mem­per­ha­ti­kan — mem­per­ha­ti­kan dengan kepi­luan yang memaksa-maksa. Badai batuk itu reda juga dan akhir­nya lenyap. Ayah menyeka-nyeka mulut­nya yang basah oleh ludah dan reak dengan seng­sa­ra­nya. Diam­bil­nya tempat ludah yang ter­le­tak di kursi. Ia melu­dah di situ. Dan waktu tempat ludah itu dile­tak­kan kem­bali di kursi, kami lihat ludah baru itu bewarna merah Ya, merah hitam — darah! Tapi kami ber­diam-diam saja, seakan-akan antara kami sudah ada suatu saling meng­erti yang telah ber­ja­lan lama. Ter­de­ngar istriku ber­bi­sik: “Tanyai ayah ten­tang kese­hat­an­nya.”

Seperti burung beo mulutku ber­su­ara:

“Bagai­mana kese­hatan bapak seka­rang?”

“Sama saja, anakku. Cuma pelmu itu sudah bisa meng­hi­lang­kan bau busuk dari mulutku.”

Aku lihat ayah ter­se­nyum, seakan-akan meng­u­cap­kan terima kasih atas pengir­iman pel itu.

“Bagai­mana kalau bapak dibawa ke sana­to­r­ium saja?” aku ber­ta­nya.

Dan ayah menu­tup mata­nya kem­bali. Kul­i­hat ia meng­ge­leng­kan kepa­la­nya — gelengan yang lemah. Ter­de­ngar suara yang jauh:

“O, — sudah tidak sampai, anakku.”

Kami ber­diam diri pula. Tapi saling meng­erti meng­a­wang di tiap tem­pu­rung otak.

“Bapak mau dok­lo­nyo?”

“Sebe­tul­nya lebih baik kalau ada.”

Kusu­ruh adikku mem­be­li­kan dok­lo­nyo.

“Bapak suka minyak­i­kan?”

Mata­nya dibuka. Ia ter­se­nyum. Kemu­dian gigi­nya nampak. Dan gusi­nya masih merah muda war­na­nya seperti dulu. Ter­de­ngar suara yang jauh:

“Kalau aku minum minyak­i­kan — jadi cuci perut akhir­nya.”

Aku mena­ngis seka­rang. Mena­ngis oleh peng­er­tian yang takkan ter­u­cap­kan oleh mulut.

Seben­tar-seben­tar bunyi lang­kah sepatu para tamu yang mau mengun­jungi fami­l­inya ber­de­gap menyerbu ke dalam kamar. Dan ayah meman­dangi aku yang sedang mena­ngis. Tapi seben­tar kemu­dian mata itu padam kem­bali. Aku kehi­langan ayahku, kata hatiku sen­diri. Dan seka­li­pun sete­lah per­te­muan itu aku merasa tiada menang­gung dosa lagi, tapi — minyak­i­kan itu! O, aku akan kehi­langan ayahku. Di balik air mataku itu nampak gelas susu yang masih penuh. Pisang sesi­sir yang belum dir­a­ba­nya. Makanan yang terong­gok di piring­nya. Dan tempat ludah yang sepe­ram­pat dari ludah dan reak itu mengan­dung darah. Aku, aku akan kehi­langan ayah. Kem­bali pan­dangku yang kabur oleh air mata itu ber­henti pada mata ayah yang ber­ling­kar biru dan ter­tu­tup itu. Baru mataku kuseka.

Senyap seben­tar seka­rang.

Tiba-tiba mulut ayah ber­ge­rak. Ter­de­ngar suara kerong­kongan yang dalam dan jauh dan gelap dan tidak ber­te­naga:

“Tak engkau dapati keru­sakan dalam tawanan, bukan, anakku?”

Mata ayah tetap ter­tu­tup. Dan aku bilang tidak. Nampak olehku senyum pada muka­nya. Dan seri baha­gia ter­go­res pada wajah­nya.

Istriku men­de­kati ran­jang. Ber­ta­nya pelahan:

“Bagai­mana makan bapak?”

Ayah mem­buka mata­nya dan kepa­la­nya dimi­ring­kan, meman­dang meja putih — meja rumah sakit — pada piring yang masih diong­goki nasi. Ter­de­ngar:

“O —,” tapi ia ter­se­nyum, “sia­pa­kah sampai hati makan daging yang sebe­sar-besar itu?”

Dan kami pan­dangi daging yang diong­gok­kan di atas nasi — sebe­sar-besar ujung keling­king. Aku menun­duk.

Senyum ayah hilang.

“Bapak ingin makan apa?” istriku ber­ta­nya lagi.

“O —,” senyum­nya meng­ge­li­mang lagi, “aku tidak ingin makan apa-apa.”

Mata­nya ditu­tup pelahan. Air muka­nya jernih.

Waktu adikku datang mem­ba­wa­kan dok­lo­nyo, segera istriku mem­ba­sahi seta­ngan ayah. Dan seta­ngan itu dile­tak­kan­nya di dada­nya.

Kem­bali ayah mem­buka mata­nya. Ber­kata dengan irama terima kasih.

“Alang­kah segar.”

Ayah memi­ring­kan badan­nya meng­ha­dap pada kami. Tangan kanan­nya meraba-raba di bawah bantal. Kemu­dian dike­lu­ar­kan arloji saku dari bawah­nya.

“Jam sete­ngah enam seka­rang. Alang­kah cepat­nya hari ini.”

Kupan­dang arloji tanganku. Dan jarum­nya menun­juk­kan jam sete­ngah tujuh. Di luar hari sudah mulai gelap. Dan adikku yang keem­pat, yang waktu itu pergi ber­sama kami, ber­bi­sik:

“Kalau ayah meli­hat jamnya, arti­nya kami disu­r­uh­nya pulang.”

Aku per­ha­ti­kan paras adikku itu. Tapi ia ber­bi­sik dengan sesung­guh hati­nya. Dan ayah mem­per­ha­ti­kan kami semua dari tempat tidur­nya.

“Bapak, hari sudah sore,” aku ber­kata, “per­misi.”

Ayah ter­se­nyum dan meng­ang­guk­kan kepala.

“Bapak, — per­misi,” istriku ber­kata.

“Bapak, per­misi,” adikku yang keem­pat ber­kata.

Ayah ter­se­nyum lagi.

Tapi adikku yang ketu­juh men­da­hu­lui pergi keluar pintu. Kami mem­bung­kuk­kan badan dan mening­gal­kan kamar nomer tiga belas itu. Di luar kupang­gil adikku yang ketu­juh itu.

“Engkau harus minta per­misi dulu pada ayah.”

Kem­bali ia masuk ke dalam kamar rumah sakit itu. Dan waktu keluar lagi aku lihat ia mena­ngis — tangis yang dita­han-tahan­nya. Mata­nya merah padam.

“Meng­apa engkau mena­ngis?” aku ber­ta­nya.

Tapi ia tak men­ja­wab.

Lama kami menunggu dokar lewat. Dan selama menunggu di depan rumah sakit itu adikku yang ketu­juh itu terus saja dengan tangis­nya.

“Meng­apa dia mena­ngis?” tanyaku pada adikku yang keem­pat.

“Selalu dia mena­ngis kalau pulang dari rumah sakit.”

Dan aku tak ber­ta­nya lebih lanjut lagi.


6

Malam itu adikku yang ketu­juh itu masih juga mena­ngis — tiga jam sudah. Di waktu kami ber­kum­pul-kumpul di ruang depan sambil meng­o­b­rol-ngo­b­rol, ia menyen­diri di ruang bela­kang. Ber­kali-kali dia kupang­gil, tetapi ia tak mau datang. Ia memu­asi tangis­nya sen­diri. Empat kali kusu­ruh kakak­nya mem­ba­wa­nya ke ruang depan tapi ia meno­lak.

Dari ruang depan itu kul­i­hat ia mem­bu­kai buku pel­a­jar­an­nya sambil mena­ngis. Ia mem­baca dengan mena­ngis. Ia menu­lis dengan mena­ngis. Pelahan aku bangun dari tempat dudukku dan meng­ham­pir­i­nya. Ia sedang mem­pel­a­jari ilmu bumi — masih tetap mena­ngis juga. Dan ia meng­ha­fal­kan nama-nama tempat di Asia dengan mena­ngis pula.

Malam itu adikku itu masih juga mena­ngis.

“Meng­apa engkau mena­ngis saja?”

Segera ia menu­tup buku-buku­nya. Tapi men­ja­wab? — tidak! Ia tak mau bicara. Ia mena­ngis terus. Kurang­kul dia dan kuci­umi pada pipi­nya yang basah. Aku tahu, adikku, aku tahu: engkau mena­ngisi ayah yang sedang sakit. Dan dari mulutku keluar suara:

“Engkau sudah makan?”

Ia hanya meng­ge­leng dan meng­ha­pus air mata­nya di pang­ku­anku itu.

“Tidur dengan mas, ya?”

“Tidak.”

“Mari turut duduk-duduk di ruang depan.”

“Tidak.”

Ia kuturun­kan dari pang­ku­anku. Ia lari dengan tangis­nya. Hilang ke dalam kamar­nya. Dan tak muncul-muncul lagi. Yang ter­de­ngar dari tempat dudukku itu hanya sedu-sedan­nya yang men­dayu-dayu seperti memang­gil sesu­atu yang takkan ter­pang­gil oleh suara manu­sia. Pelahan-lahan aku kem­bali ke ruang depan dan mene­rus­kan obro­lan ten­tang Jakarta, ten­tang Sema­rang, ten­tang mobil dan ten­tang banyak­nya bajingan di Jakarta.

Di waktu itu juga­lah paman datang dengan bibi. Dan karena sudah dia­dat­kan di kam­pung kami bahwa anak-anak tak boleh turut ber­ca­kap-cakap dengan orang-orang dewasa, mereka pergi ke ruang bela­kang dan bel­a­jar.

Dan seba­gai­mana bia­sa­nya pada per­te­muan yang menu­tup suatu per­ce­raian yang lama, ter­de­ngar:

“Bagai­mana?”

Dan aku men­ja­wab selamat. Dan istriku ber­ke­nalan dengan paman dan bibi. Obro­lan ber­sam­bung. Tanya-mena­nya ber­ganti. Kopi menye­lingi. Akhir­nya datang pula ke obro­lan. Kemu­dian sam­pai­lah pada:

“Rupa-rupa­nya ayahku tak bisa dito­long lagi.”

Aku mem­per­ha­ti­kan bibir paman. Dan ber­sam­bung­lah suara itu:

“Barang­kali ada baik­nya kita men­cari per­to­longan pada dukun.”

Aku mem­per­ha­ti­kan mata­nya. Dan mata itu meman­dang aku dengan sung­guh-sung­guh. Ter­de­ngar pula:

“Aku sen­diri baru dua kali pergi ke rumah sakit. Bukan karena tak mau. Aku tak sampai hati. Badan yang teguh itu kini ting­gal tulang belaka. Suara yang lan­tang dan sela­ma­nya mema­tah­kan pen­de­bat di tiap per­musya­war­a­tan itu kini tak punya tenaga lagi. Mata yang selalu menun­duk­kan kepala orang itu, kini tak ber­ca­haya lagi. Tidak — tidak — aku tak sampai hati meli­hat­nya.”

Aku menun­duk­kan kepala. Seakan-akan suara itu mene­gas­kan suatu peng­er­tian: ayahmu mesti mati. Kute­guk kopiku. Batuk-batuk seben­tar.

“Aku tidak tahu. Aku tidak meng­erti,” teri­akku dengan suara lemah.

“Ya, aku juga tidak meng­erti. Aku tidak tahu. Aku ter­lam­pau bingung.”

Di depanku meng­a­wang malam yang hitam. Hitam betul-betul.

“Engkau sudah pergi ke rumah sakit?”

“Baru tadi sore.”

“Bagai­mana kea­daan ayahmu tadi?”

“Aku tak meng­erti. Aku tak tahu,” kem­bali aku ber­te­riak dengan suara lemah — hampir-hampir tak kede­ngaran.

“Barang­kali ayahmu sudah ter­lalu lama merin­du­kan engkau. Bagai­mana kalau engkau menung­gu­i­nya di rumah sakit? Dan kalau engkau ingin menu­lis, menu­lis saja di sana.”

Kuga­ruki kepa­laku oleh kebi­ngungan. Ber­kata aku lambat-lambat:

“Sebe­nar­nya aku tak bisa meli­hat bapak dalam kea­da­an­nya yang seperti itu. Aku tak bisa. Aku tak sampai hati.”

Kami ber­lima ber­diam diri.

“Bagai­mana makan­nya?” tiba-tiba paman ber­ta­nya.

Dan adikku yang kedua men­ja­wab dengan suara sayu:

“Lebih buruk dari­pada kema­rin atau kema­rin dulu.”

“Moga-moga keda­tanganmu akan meri­ng­an­kan penya­kit­nya.”

“Moga-moga,” kami berdoa.

Tapi sua­ra­nya hampa. Dan ada terasa olehku ia tak per­caya pada suara yang diu­cap­kan­nya sen­diri. Kami ber­diam-diam lagi. Dan tiap kepala mem­ba­yang­kan tubuh ayah yang meng­ge­le­pak di ran­jang rumah sakit seperti sebi­lah papan. Dan ter­de­ngar-dengar juga batuk­nya yang dalam, keha­bisan tenaga, lembek dan merongga. Ter­de­ngar-dengar olehku, O — aku tak ingin makan apa-apa.

“Besok kami pergi cari dukun,” paman meman­dang aku.

Dan aku meng­ang­guk. Ber­ba­reng kami mene­guk kopi yang masih hangat itu. Per­ca­kapan pindah jadi obro­lan. Dan suara kem­bali ber­ki­sar pada Jakarta, Sema­rang dan bajingan-bajingan mobil. Tiba-tiba ter­de­ngar:

“Engkau bekerja di mana seka­rang?”

“Balai Pus­taka — tapi baru tiga hari, dan aku berang­kat kemari.”

“Apa kata sepmu?” dia ber­ta­nya.

“Apa kata sepku? Dia tak punya hak apa-apa ten­tang apa kataku dan diriku.”

Per­ca­kapan mati lagi. Kem­bali kami mene­guk kopi.

“Bukan ini yang begitu meng­kha­wa­tirkan hatiku,” kataku, “tapi akibat-akibat yang timbul karena ini,” sam­bungku dengan suara kian jadi pelahan.

“Ya,” kata paman.

Dan aku tak tahu adakah ya-nya itu diu­cap­kan­nya dengan sadar atau tidak. Aku lihat ia meman­dang cang­kir kopiku dengan pan­dang yang tak sampai. Ia juga bingung. Ter­de­ngar ia mena­rik nafas dalam, dan dilem­par­kan pan­dang­nya padaku. Ber­kata:

“Dan apa ren­ca­namu seka­rang?”

“Aku tak tahu. Aku tak meng­erti. Aku ter­lam­pau bingung.”

Kulem­par­kan pan­dangku pada istriku. Ia sedang mere­nungi kege­lapan mela­lui lubang pintu. Kupan­dang bibi. Ia sedang meman­dangi potret di din­ding mela­lui lampu minyak tanah di atas meja.

Aku menge­luh. Dan malam kian men­da­lam.


7

Jam sem­bi­lan pagi aku bangun. Baru sesu­dah mandi ada kesem­patan padaku meli­hat-lihat rumah dan pela­taran. Mandi itu sebe­tul­nya bukan mandi betul-betul. Air di kota kami yang kecil itu tebal oleh lumpur. Pem­ba­gian air leding di sini tak boleh diha­rap­kan. Barang­kali air mandi yang tebal inilah yang mem­buat pen­du­duk kota kecil ini ber­beda dengan pen­du­duk kota besar yang mem­pu­nyai pem­ba­gian air leding dengan ter­a­tur, bening dan baik. Di sini, orang ber­ja­lan-jalan dengan kul­it­nya yang ber­ke­rak-kerak.

Rumah yang kudi­ami semasa kecilku, kini sudah nampak miring. Seba­gian dari din­ding tem­bok­nya telah runtuh oleh tuanya. Tanah daerah kami adalah tanah ber­cam­pur kapur dan lem­pung. Di musim panas tanah lem­pung itu pecah-pecah, dan lantai yang ter­buat dari batu diso­bek-sobek­nya.

Di kebun, dekat pagar, kute­mui seo­rang tetangga yang dulu juga — tukang potong kam­bing.

“Engkau datang, Gus?”1 ia ber­ta­nya kehor­mat-hor­matan. “Aduh — sudah begitu lama baru datang. Dan waktu datang, ayah­nya sakit pula.”

Aku ter­se­nyum oleh per­ha­ti­an­nya itu. Men­ja­wab:

“Ya, pak, perang sudah begitu lama men­ce­rai­kan kita.”

“Engkau sudah dewasa seka­rang; sudah punya istri pula.”

Aku ter­se­nyum lagi oleh per­ha­ti­an­nya itu. Ter­de­ngar lagi:

“Kabar­nya engkau dita­wan.”

Aku ter­se­nyum lagi.

“Ayahmu ber­ce­rita, engkau dicin­tai Belanda, kata­nya. Engkau harus ting­gal deng­an­nya. Berapa bulan dita­wan, Gus?”

Dan aku men­ja­wab per­ta­nya­an­nya. Kemu­dian aku menyu­sul­kan sua­raku:

“Blora ini masih tetap seperti waktu kuting­gal­kan dulu. Rumah-rumah baru banyak didi­r­i­kan. Dan rumah-rumah yang dulu sudah miring-miring.” Aku mene­ngok ke arah rumah. Mene­rus­kan. “Dan rumah kami pun sudah begitu rusak.”

“Ya, Gus, rumahmu itu aku juga yang men­di­r­i­kan dulu. Waktu itu engkau baru bisa teng­ku­rap. Dua puluh lima tahun yang lalu! Dan selama itu, rumahmu itu belum pernah diper­ba­iki. Pikir saja. Dua puluh lima tahun! Itu tidak seben­tar diban­ding­kan dengan jelek­nya tanah di sini. Coba­lah lihat rumah-rumah tembok yang didi­r­i­kan sesu­dah rumahmu — semua itu sudah roboh, bong­kar, dan sobek-sobek. Rumahmu itu masih kuat.” Seka­rang sua­ra­nya jadi ketua-tuaan, “Kalau bisa, Gus, kalau bisa — harap rumahmu itu engkau per­ba­iki. Engkau sudah ter­lalu lama mening­gal­kan tempat ini. Dan engkau sudah ter­lam­pau lama tak ber­gaul dengan orang-orang sini. Karena itu, barang­kali ada baik­nya kuu­langi kata orang tua-tua dulu: Apa­bila rumah itu rusak, yang menem­pa­ti­nya pun rusak.”

Ia diam. Dise­ka­nya mulut­nya yang tua itu. Kemu­dian menun­duk­kan kepa­la­nya. Mata­nya meman­dangi ibu jari kaki­nya yang diper­main-main­kan. Mene­rus­kan dengan irama minta maaf:

“Ayahmu sudah empat puluh hari di rumah sakit.” Sua­ra­nya lebih pelahan lagi. “Tadi­nya beliau baru saja keluar dari rumah sakit. Sehat juga tubuh­nya. Nampak betul sifat­nya jadi jauh beru­bah. Kalau tadi­nya beliau tak pernah mem­per­ha­ti­kan apa pun juga selain peker­jaan dan main kartu, di waktu yang akhir-akhir itu beliau selalu ada di rumah. Tiba-tiba kami men­de­ngar kabar: beliau sakit lagi dan dibawa ke rumah sakit.”

Aku tak meng­ga­rami ucap­an­nya itu. Tapi ia mene­rus­kan. Seka­rang dengan irama mena­si­hati:

“Aku harap ayahmu lekas sembuh oleh keda­tanganmu itu. Dan lagi — dan lagi — orang tua-tua bilang — engkau masih ingat, bukan? Masih ingat apa yang kuka­ta­kan tadi? ‘Apa­bila rumah­nya rusak … ’”

“Ya,” aku menyam­bungi.

“Engkau anak sulung. Gus, aku harap — seka­li­pun aku bukan kelu­arga atau fami­l­imu — peli­ha­ra­lah rumahmu itu.”

Aku meng­ang­guk — ang­gukan yang berat, dibe­rati oleh per­hi­tungan harga kayu, semen dan paku. Dan aku lihat orang tua itu meng­erti juga berat­nya ang­guk­anku. Tapi ia tak ber­kata apa-apa lagi. Dan aku pun tak ber­kata apa-apa lagi. Kami keha­bisan per­ka­taan. Ini adalah kesem­patan baik untuk meng­e­lak­kan diri.

Sumur pun kupe­riksa. Sudah setua dua puluh lima tahun juga dia. Batu bat­a­nya telah mulai runtuh-runtuh bila orang ter­lalu kasar menimba. Dan lantai seke­li­ling sumur itu telah hilang ter­en­dam oleh tanah. Di daerah kami yang miskin, jarang orang berani mem­buat sumur. Dan di daerah kami yang kering, sumur adalah pusat per­ha­tian manu­sia dalam hidup­nya di sam­ping beras dan garam. Karena itu — seka­li­pun pem­bu­atan sumur itu atas ongkos sen­diri — akhir­nya dia men­jadi hak umum. Orang yang mem­buat sumur adalah orang yang ber­wa­kaf di tempat kami. Dan bila orang mem­pu­nyai sumur di daerah kami — dia akan men­da­pat peng­hor­matan pen­du­duk: sedi­kit atau banyak. Dan kalau engkau punya sumur di sini, dan sumur itu kau­t­u­tup untuk kepen­tingan sen­diri, engkau akan dija­uhi orang dan dicap kede­kut.

Rumah dan sumur itu meng­isi kepa­laku seka­rang. Rumah rusak, dan orang­nya pun rusak. Dan di sore hari­nya waktu aku berang­kat ke rumah sakit dan ber­temu dengan tukang potong kam­bing itu, dengan tak ber­pi­kir pan­jang keluar saja sua­raku:

“Pak — rumah itu akan kuper­ba­iki.”

Ia ber­seri-seri, seakan-akan rumah itu ter­ma­suk dalam kepen­tingan hidup­nya.

Dan dalam ber­ja­lan ke rumah sakit itu aku ber­pi­kir, barang­kali ayah mem­be­nar­kan pen­da­pat itu juga. Tambah dekat dengan rumah sakit, tambah yakin­lah aku dalam hati: sekali ini aku datang mem­bawa obat. Dan obat itu kute­lan­kan ke dalam pen­de­ng­aran ayah:

“Bapak, rumah itu akan kuper­ba­iki.”

Tapi ayah sudah jauh lebih lemah dari­pada kema­rin. Pelahan sekali dibuka tapuk mata­nya. Ber­kata dengan suara seng­sara: “Ya, anakku, rumah itu … rumah … rumah itu sudah … sudah … ter­lalu tua.”

Seakan-akan ia meng­u­cap­kan sesu­atu ten­tang dir­i­nya sen­diri.

Aku pejam­kan mata. Obat itu tak ter­ma­kan oleh­nya. Lama tak kuta­nyai ia. Dan waktu aku ber­kata lagi, sua­raku ber­bu­nyi begini:

“Bapak, apakah yang sebe­tul­nya bapak pikir­kan?”

Aku lihat ayah mena­rik nafas. Dan aku lihat ia men­cari tenaga dalam nafas yang dii­sap­nya itu. Bibir­nya yang kering itu ter­se­nyum. Kemu­dian mata­nya yang ber­ling­kar biru itu ter­buka sedi­kit. Ia ter­tawa. Ada juga aku men­de­ngar ter­ta­wanya sedi­kit — sedi­kit saja. Kemu­dian ber­sam­bung dengan suara orang menye­rah:

“Tak … ada … apa-apa … yang kupi­kir­kan … anakku!” lemah sekali.

Aku mena­ngis. Ayah menu­tup mata­nya kem­bali.

Lama tak ter­de­ngar suara apa-apa — sua­raku dan suara ayah. Kemu­dian — dengan tiada ter­duga-duga — ter­de­ngar suara lemah, dalam dan mela­yang:

“Sum-mur … itu,… per­baik-i tem-tembok … nya.”

“Ya, ayah,” aku men­ja­wab.

Lama tak ter­de­ngar apa-apa. Kemu­dian ter­de­ngar sam­bung­an­nya “

“Or-ra-ng itu membu-tuh-kan a-ir —“ ter­ta­han agak lama suara itu, mene­rus­kan, “da-lam hi … dup-nya.”

Mata­nya dibuka lagi. Dipan­dang­nya aku. Mulut­nya ter­se­nyum: ia melem­par­kan peng­er­tian yang tak ter­kan­dung dalam ucap­an­nya. Cepat-cepat aku memaksa ter­se­nyum, men­ja­wab:

“Ya, bapak.”

Dan mata itu ter­tu­tup lagi. Seben­tar saja. Tiba-tiba selu­ruh badan itu ter­ta­rik-tarik. Mata­nya ter­buka dengan tiada meman­dang. Kemu­dian badai batuk menye­rang. Dan dalam kea­daan seperti itu, tak ada manu­sia di selu­ruh dunia bisa meri­ng­an­kan pen­de­ri­ta­an­nya. Dan aku hanya bisa meng­a­wasi dengan pen­de­ri­taan yang meru­yak di dalam dada. Muka yang pucat itu jadi kebiru-biruan oleh batuk­nya. Dan waktu batuk itu reda ter­de­ngar sua­ra­nya yang diu­cap­kan cepat-cepat:

“Ada-ada saja hidup manu­sia ini.”

Kepa­la­nya dimi­ring­kan, meman­dang daku. Memang­gil:

“Sini. Dekat,” dengan suara yang cepat-cepat. “Engkau baru kawin, anakku. Deng-an an … ak dari dae … rah Pasun­dan. Engkau harus … harus ingat bahwa pem­ba­waan dari daerah Jawa Tengah ini … ini … sedi­kit atau banyak ber­beda dengan pem­ba­waan orang yang … yang dila­hir­kan, di di, di, Jawa Barat. Engkau meng­erti?”

“Meng­erti, bapak,” aku menya­h­uti dengan suara hati-hati.

“Karena itu, anakku, per­ha­ti­kan­lah ucapan dan gerik-gerakmu sen­diri, jangan sampai — jangan sampai — ya, jangan sampai menying­gung — menying­gung — menying­gung pera­sa­an­nya.”

Ayah ter­diam. Dipan­dang­nya aku dengan pan­dang yang mengan­dung peng­ha­rapan besar. Pelahan mata itu ter­tu­tup. Cepat-cepat aku ber­kata:

“Ya, bapak.”

Ia men­de­ham bebe­rapa kali, dan mene­lan dahak­nya.

“Sudah malam seka­rang,” kata­nya lagi.

Dan aku ingat pada adikku yang keem­pat: itulah tanda supaya aku pulang. Kude­kati ran­jang ayahku, kuraba kaki­nya yang kering. Hatiku ter­sa­yat. Bukan­kah kaki itu dulu seperti kakiku juga dan pernah meng­em­bara ke mana-mana? Dan kini kaki itu ter­ka­par di atas kasur ran­jang rumah sakit. Bukan kema­u­an­nya. Ya, bukan kema­u­an­nya. Rupa-rupa­nya manu­sia ini tak sela­ma­nya bebas mem­per­gu­na­kan tubuh dan hidup­nya. Dan kelak begitu juga halnya dengan kakiku. Aku lihat ayah mem­buka mata­nya oleh rabaan itu. Dan aku lihat juga ia ter­se­nyum — tetapi bukan senyum­nya manu­sia yang hidup: senyum yang ganjil. Senyum yang mengan­dung per­i­ng­atan. “Hidup ini, anakku, hidup ini tak ada har­ga­nya sama sekali. Tung­gu­lah saat­nya, dan kelak engkau akan ber­pi­kir, bahwa sia-sia saja Tuhan men­cip­ta­kan manu­sia di dunia ini.”

Aku menun­duk. Ber­su­ara lemah:

“Per­misi, bapak.”

Ayah meng­am­bil jam saku­nya. Dipan­dang­nya seben­tar, kemu­dian pan­dang­nya dia­lih­kan padaku. Ia meng­ang­guk. Dan dengan lang­kah berat per­gi­lah aku mening­gal­kan rumah sakit itu — rumah tempat orang yang tak bebas mem­per­gu­na­kan tubuh dan hidup­nya sen­diri.



8

Barangkali karena banyak kali aku meli­hat kea­ja­iban di dunia ini, dan barang­kali juga karena sudah empat lima kali turut meng­a­lami dalam dunia mistik, atau barang­kali juga karena aku yang lemah, atau barang­kali juga karena hal-hal lain­nya lagi yang tak kuke­ta­hui — masih ada saja keper­ca­ya­anku pada kemam­puan dukun. Aku tak tahu betul meng­apa.

Dan sete­lah bedug magrib ber­talu, kami — aku dan pamanku — berang­kat men­cari dukun. Sebe­tul­nya kata men­cari itu tak tepat diper­gu­na­kan, tapi untuk peng­hor­matan pada dukun, kata itu selalu dipa­kai di tempat kami.

Apa yang kami namai dukun itu ialah seo­rang guru seko­lah rakyat di luar kota. Adat daerah kami yang memu­lai suatu pem­bi­ca­raan pen­ting dengan obro­lan yang bukan-bukan masih juga ber­laku. Dengan demi­kian kami meng­o­b­rol ten­tang Jakarta, ten­tang Sema­rang dan ten­tang bajingan-bajingan mobil. Dan dukun itu meng­o­b­rol ten­tang jeruk, ten­tang sing­kong dipe­ka­rang­an­nya, ten­tang mur­id­nya dan ten­tang kea­daan di masa pen­du­dukan Belanda.

Akhir­nya ter­de­ngar juga suara paman:

“Sebe­tul­nya kami datang kemari ada keper­luan …”

Dan seba­gai bia­sa­nya, walau­pun sudah meng­erti keda­tangan kami untuk keper­luan apa, tuan rumah ber­ta­nya kesung­guh-sung­guhan:

“Keper­luan apa?”

Dan paman mene­rus­kan dengan kehor­mat-hor­matan daerah:

“Kami memo­hon usada untuk menyem­buh­kan penya­kit kakakku.”

Dan dukun itu minta per­misi seben­tar, kemu­dian pergi ke dalam rumah. Paman meman­dang aku. Ber­kata:

“Aku sering datang kemari kalau ada keper­luan apa-apa.”

Tapi aku tak men­ja­wab. Dalam dadaku timbul per­gu­latan — per­gu­latan yang biasa timbul bila meng­ha­dapi keku­a­saan dukun. Betul-betul bisa­kah seo­rang dukun meng­o­bati si sakit yang dokter sen­diri tidak sang­gup? Tapi harapan mele­nyap­kan per­gu­latan itu: dukun itu bisa, dan mesti bisa. Dan harapan itu mem­buat aku per­caya pada­nya.

Kemu­dian keluar pula­lah guru dukun itu. Air muka­nya jernih seperti kanak-kanak dan mata­nya ber­ki­lau-kilau. Gam­pang saja aku bisa mene­bak: ia habis mela­ku­kan medi­tasi.

Aku dan paman meman­dang­nya dengan diam-diam, tetapi ia tak juga ber­kata apa-apa. Dua tiga kali ia meng­u­bah letak duduk­nya. Kemu­dian ter­de­ngar juga sua­ra­nya, pelahan dan sung­guh:

“Ya, sau­dara-sau­dara, manu­sia punya kod­rat­nya masing-masing, dan tak ada seo­rang pun bisa meng­u­bah kodrat itu.”

Ia diam meman­dangi kami ber­ganti-ganti.

“Maksud bapak?” paman ber­ta­nya.

“Mak­sudku, tak ada apa-apa yang kute­mui di dalam peng­he­ningan cipta itu.”

Ia menun­duk.

Kami meman­da­ng­i­nya dengan diam-diam, dengan dada ber­de­baran ingin tahu.

“Barang­kali’, ia mene­rus­kan. Sekali ini lama-lama ia meman­dang daku, “karena ayah tuan lebih tinggi dalam hal ini dari­pada aku. Ini aku akui.”

“Jadi tak dapat­kah bapak mem­be­ri­kan per­to­longan pada kami?” aku ber­ta­nya gugup.

“Aku hanya bisa mem­be­ri­kan syarat saja.”

Diga­gap­i­nya saku­nya, dan dike­lu­ar­kan dari situ sebung­kal dupa. Mene­rus­kan dengan suara ter­a­tur:

“Ini bukan usada, ini hanya syarat saja. Tuan boleh meren­dam­nya di air minum ayah tuan. Moga-moga, insyal­lah, ayah tuan bisa sembuh. Tapi aku sen­diri tak bisa ber­kata apa-apa.”

Kami ber­tiga menun­duk seperti takut ber­pan­dangan satu sama lain. Kemu­dian aku lihat paman meng­am­bil dupa itu dan dima­suk­kan ke dalam saku­nya. Per­ca­kapan hanya dengan lambat saja bisa hidup kem­bali. Kemu­dian ter­de­ngar guru dukun itu ber­ce­rita:

“Sebe­tul­nya aku banyak ber­hu­tang budi pada ayah tuan,” kata­nya. “Beliau juga yang menem­pat­kan aku di sini. Dan aku sen­diri ting­gal di luar kota ini. Aku ditem­pat­kan di sini waktu Belanda masih di sini. Dan: ayah tuan mem­beri perin­tah untuk mem­buka seko­lahan itu kem­bali. Aku bilang: Aku takut jadi pega­wai Belanda di luar kota. Beliau hanya ter­tawa saja men­de­ngar alas­anku itu. Dan aku mene­gas­kan keta­kut­anku. Kemu­dian beliau ber­kata, Percayalah padaku. Takkan terjadi apa-apa denganmu. Dan aku pun menying­sing­kan lengan baju dan bekerja.

Pada hari pem­bu­kaan per­tama murid yang masuk tiga kali lipat banyak­nya dari­pada di zaman Belanda dulu. Kami di seko­lahan keku­rangan tenaga. Dan tiga hari sesu­dah pem­bu­kaan itu rumahku dida­tangi pasukan dari batas kota. Ber­kata: Kalau bapak meneruskan pembukaan sekolahan itu, sekolahan itu akan kubakar. Kemu­dian aku men­ja­wab, meng­u­langi apa yang telah dika­ta­kan ayah tuan. Seka­li­pun di masa perang, seko­lahan harus dibuka. Pem­bu­kaan seko­lahan ini, seka­li­pun atas ongkos peme­rin­tah Belanda, akhir­nya kita-kita juga yang menge­cap hasil­nya. Dan pasukan itu mene­rima alasan itu. Seko­lahan tak jadi diba­kar. Ya, tak sampai diba­kar sampai seka­rang. Akhir kelak­nya tahu juga aku, bahwa ayah tuan itu tidak lain dari­pada salah seo­rang pemim­pin peme­rin­tahan gerilya — seka­li­pun jadi peng­a­was seko­lah ang­katan Belanda.”

Ia diam. Kemu­dian ter­tawa sedi­kit. Akhir­nya per­ca­kapan ber­ki­sar pada seko­lahan dan guru-guru­nya. Hormat ia ber­ta­nya:

“Sudah berapa tahun ayah tuan jadi guru?”

Gem­bira paman men­ja­wab­kan:

“Tiga puluh tahun.”

“Alang­kah kuat­nya. Aku yang baru dinas dela­pan belas tahun rasa-rasa­nya sudah tak kuat lagi. Tapi sia­pa­kah yang mau jadi guru selain kita-kita ini? Guru tetap jadi guru — untuk selama-lama­nya. Sedang selama itu murid-murid telah jadi orang-orang besar. Tapi guru tetap jadi guru. Dalam dinasku itu pernah juga aku kena penya­kit jan­tung. Kalau ayah tuan kena penya­kit paru-paru sesu­dah dinas tiga puluh tahun — itu suatu tanda keku­atan. Beliau sangat kuat.”

Ia diam dan meman­dang ke jalan raya. Sebuah truk sedang men­de­rum ke timur, ke arah Cepu.1 Sejak pen­du­dukan Belanda hingga kini daerah kami sering dila­lui oleh ken­da­raan ber­mo­tor, jauh lebih sering dari­pada sebe­lum pen­da­ratan Jepang.

“Barang­kali penya­kit­nya itu dida­pat­nya waktu jadi peng­a­was seko­lah — tiap hari meng­a­yuh sepeda lima belas sampai dua puluh kilo­me­ter,” paman ber­kata.

“Tidak,” kata tuan rumah. “Aku yang sudah lama jadi guru bisa menga­ta­kan — tidak. Sung­guh, penya­kit­nya bukan karena itu. Karena beliau minta kem­bali jadi guru itulah sebab­nya. Lima belas-dua puluh kilo­me­ter meng­a­yuh sepeda itu bukan per­kara berat untuk seo­rang guru. Yang berat ialah meng­a­jar, mene­lan pahit getirnya kesal­ahan-kesal­ahan pen­di­dikan orang tua si murid. Itulah yang gam­pang sekali meng­han­cur­kan seo­rang guru. Apa­lagi kalau di seko­lah mene­ngah seperti beliau. Seko­lah mene­ngah masih agak ringan bila tata tertib murid di kelas­nya itu masih ter­pe­li­hara. Coba­lah kalau murid-murid di dalam kelas­nya itu telah kehi­langan tata tertib sama sekali, coba­lah …”

Ia tak mene­rus­kan. Ia diam-diam di kur­si­nya seperti sedang menge­nang-nge­nang­kan salah seo­rang mur­id­nya yang telah begitu banyak menya­kit­kan hati­nya. Kemu­dian ia mene­rus­kan dengan irama yang ketua-tuaan:

“Sekali,” kata­nya pelahan-lahan, “kupu­kul seo­rang murid. Kee­sokan hari­nya ia minta per­misi karena ayah­nya diang­kat jadi bupati di Rem­bang. O, alang­kah kagetku waktu itu. Anak patih aku pukul. Sedang aku? Aku hanya anak petani biasa. Bukan main takutku waktu itu. Mes­ti­lah beliau akan datang untuk melab­rak aku karena telah berani memu­kul pute­ra­nya. Dan seminggu kemu­dian …”

Ia meman­dangi kami. Ter­de­ngar ia menge­luh, seakan-akan ia masih dalam waktu keta­kut­an­nya dulu, keta­kutan menan­ti­kan tiba­nya surat onslah.

“… datang­lah tuan bupati dari Rem­bang dengan mobil. Waktu mobil itu masuk ke halaman seko­lahan, sudah terasa saja dalam hatiku. Seka­rang datang­nya pem­ba­lasan. Besok aku boleh tak masuk meng­a­jar lagi. Dan aku boleh hidup dengan tiada boleh meng­ha­rap­kan gaji lagi. Dan waktu tuan bupati itu meng­in­jak­kan kaki di ambang seko­lahan, lang­sung saja beliau mena­nya­kan daku. Dan aku meng­ha­dap dengan dada ber­de­baran. Tetapi …”

Ia menge­luh berat — menge­luh kele­gaan. Mene­rus­kan:

“Beliau bukan­lah hendak melab­rak daku. Tidak. Seba­lik­nya. Beliau meng­u­cap­kan teri­ma­ka­sih­nya karena aku meng­ha­jar anak­nya. Beliau sen­diri sudah tak sang­gup men­di­dik anak­nya sen­diri, kata­nya.”

Aku lihat ia ter­se­nyum kele­gaan. Dan kumis yang mema­yungi mulut­nya itu turut ter­se­nyum kele­gaan juga. Mene­rus­kan:

“Dan waktu itu, tak adalah kegem­bi­raan yang begitu besar — yang ter­be­sar dalam hidupku.”

Kami ter­tawa sedi­kit. Tuan rumah meng­u­sap kumis­nya. Akhir­nya dite­rus­kan ceri­ta­nya:

“Karena itu waktu aku ber­ta­nya pada murid-murid yang akan mening­gal­kan bangku seko­lah. Sia­pa­kah yang akan mene­rus­kan ke seko­lah guru? di antara murid yang lima puluh orang itu cuma tiga meng­a­cung­kan jari­nya. Selain itu, semua mau mene­rus­kan ke seko­lah mene­ngah. Alang­kah sedihku waktu itu. Dan ber­kata aku pada mereka. Kalau di antara lima puluh orang cuma tiga orang yang ingin jadi guru, sia­pa­kah yang akan meng­a­jar anak-anak­nya nanti? kalau seki­ra­nya engkau kelak jadi jen­de­ral, adakah akan senang hatimu kalau anakmu diajar oleh anak tukang sate? Tak ada yang men­ja­wab di antara mereka. Kemu­dian kuna­si­hati mereka yang ingin jadi guru. Kalau engkau tidak yakin betul, lepas­kan cita-citamu untuk jadi guru itu, kataku. Seo­rang guru adalah kurban — kurban untuk selama-lama­nya. Dan kewa­ji­b­an­nya ter­lam­pau berat — mem­buka sumber keba­jikan yang ter­se­m­bu­nyi dalam tubuh anak-anak bangsa. Dan mereka yang tiga orang itu bilang dengan sung­guh-sung­guh, Kami bercita-cita jadi guru walau bagaimanapun juga sukarnya. Dan aku angguk-ang­guk­kan kepa­laku kepada tiga orang itu.”

Di kala itu juga terasa olehku, bahwa ketu­runan masih ber­si­ma­ra­ja­lela di daerah Blora, dan bahwa nasib guru — seka­li­pun diang­gap bapak oleh rakyat — sangat­lah menge­ce­wa­kan. Tapi aku tak ber­ta­nya apa-apa. Semua itu dapat kul­i­hat dalam rumah tangga kelu­ar­gaku sen­diri.

Dalam per­ja­lanan pulang di atas sepeda itu paman ber­kata:

“Karena aku sen­diri seo­rang guru, dapat aku menga­ta­kan padamu, bahwa penga­ruh ayahmu di kalangan para guru sangat besar dan terasa.”

Aku tak men­ja­wab.

“Seki­ra­nya ayahmu boleh mene­rima tamu selain kelu­ar­ga­nya sen­diri, mereka semua itu akan datang mene­ngok ke rumah sakit. Untung­lah larangan itu dia­da­kan. Kalau tidak, kasihan juga ayahmu itu.”

Aku tak mengi­a­kan, juga tak mem­ban­tah. Paman mene­rus­kan:

“Kalau seo­rang dukun dalam peng­he­ningan cip­ta­nya tak men­da­pati sesu­atu apa, itulah suatu tanda yang …. Tapi moga-moga sela­mat.”



9

Sore itu aku mene­ngok ke rumah sakit dengan istriku dan kedua adikku. Istriku menyu­ap­kan sup sung­sum ke mulut ayah. Dan di kala itu terasa oleh hatiku betapa gam­pang­nya manu­sia dengan manu­sia ini dide­kat­kan oleh kema­nu­si­aan. Aku ter­haru. Sung­guh, aku ter­haru oleh per­bu­atan kecil yang tak ber­harga itu. Seben­tar-seben­tar teng­go­r­okan ayah mene­guk sup itu. Dan tiap tegukan diba­rengi oleh bunyi ber­de­tak. Ya, seperti bukan suara teng­go­r­okan yang ber­bu­nyi begitu. Dua belas suap! Alang­kah gem­bi­raku. Bia­sa­nya tak seba­nyak itu ayah makan. Datang saja suara peng­ha­rapan ini, “Barang­kali ayah mulai jadi baik seka­rang.”

Kul­i­hat ayah menu­tup mata­nya lagi. Dan sua­ra­nya yang lemah menyu­sul:

“Sudah. Sudah cukup.”

Sup itu dile­tak­kan oleh istriku di meja, dan kami duduk di ran­jang kosong diten­tang ran­jang ayah. O, ayah sudah jadi begitu kurus. Lebih kurus dari­pada di hari-hari keda­tanganku. Dan aku ter­i­ngat pada per­ca­kapan sema­lam.

“Kita harus segera pulang,” kata istriku, “kalau tidak, keu­angan kita tak meng­i­zin­kan.”

Dan aku mem­be­nar­kan ucap­an­nya itu. Dan waktu ayah mem­buka mata­nya, segera aku men­de­kati ran­jang­nya. Pelahan ber­kata:

“Bapak, bagai­man­akah pikir bapak, bila kami kem­bali dulu ke Jakarta?”

Ayah ber­diam diri. Kupan­dang mata­nya yang diling­kungi ling­karan biru itu. Dan aku lihat di sudut-sudut mata­nya air mata ter­ge­nang. Aku mundur men­jauh pula. Dan aku lihat juga perut ayah ter­gun­cang-gun­cang. Aku ter­ke­jut, dan seka­li­gus menye­sal telah meng­u­cap­kan kali­mat itu. Dan di kala gun­cangan perut ayah mengen­dur, ayah meng­u­sap mata­nya, meman­dang istriku. Tampak juga olehku senyum buatan ter­gam­bar pada bibir­nya. Kemu­dian menyu­sul sua­ra­nya yang dipaksa-pak­sa­kan­nya:

“Nanti dulu, ya? Tunggu seminggu lagi.”

Dan istriku mem­ba­lasi senyum itu. Dan ayah masih ter­se­nyum juga. Dan di kala senyum itu lenyap, kem­bali mata itu ter­tu­tup. Ling­karan biru itu nampak ber­tam­bah biru. Kemu­dian aku lihat air mata ber­ti­tik pula dan kem­bali perut­nya ter­gun­cang-gun­cang. Aku lihat adik-adikku mena­ngis meli­hat itu. Dan aku sen­diri mena­ngis pula. Meng­apa aku mena­ngis? Aku tak tahu. Dan meng­apa ayah minta seminggu lagi? Aku tak tahu. Tapi ayah minta seminggu. Dan aku mena­ngis. Datang kem­bali pera­saan ini: Ayah akan mening­gal­kan kami, Ayah mening­gal­kan kami. Dan air mataku kian jatuh ber­de­rai. Kul­i­hat ayah menu­tup muka­nya dengan sapu­ta­ngan putih. Perut­nya kian ter­gun­cang-gun­cang. Waktu seta­ngan itu dita­rik dari muka­nya, mata itu tak berair lagi tapi masih tetap ter­tu­tup. Nafas ayah mulai jadi ter­a­tur lagi. Ter­de­ngar sua­ra­nya yang pelahan:

“Sudah malam seka­rang, anak-anakku!”

Tapi mata ayah masih tetap ter­tu­tup. Baru waktu kami minta per­misi mata itu ter­buka kem­bali. Kami pergi. Aku menyen­diri di bela­kang. Dan di kala anak-anak telah keluar dari pintu, aku masuk lagi. Kuin­tip ayah dari balik tabir mori putih. Dan aku lihat ayah mena­ngis ter­sedu-sedu seperti orang yang takut kehi­langan sesu­atu. Seka­li­gus mem­ba­dai tangisku yang ter­ta­han di dalam dada.

“Bapak! Bapak!” aku ber­te­riak di dalam hati.

Kemu­dian aku pun lari keluar dari kamar sambil meng­ha­pus mata.

Kem­bali datang penye­salan dalam diriku meng­apa kali­mat tadi kuu­cap­kan. Dan sejak hari itu banyak ter­jadi per­u­ba­han dalam kese­hatan ayah. Dalam minggu sesu­dah itu banyak yang dipin­ta­nya. Ikan lele! Dan istri serta adikku mema­sak­kan ikan lele. Tapi ayah tak men­ja­mah­nya sedi­kit pun juga. Kemu­dian kei­ng­inan ayah pindah lagi. Papaya! Dan serbat papaya pun dibu­at­lah. Tapi ayah hanya memi­num­nya dua suap saja. Dan banyak lagi per­min­ta­an­nya. Tapi per­min­taan itu ting­gal jadi per­min­taan saja. Kese­hatan ayah kian mundur. Yang ter­ke­mu­dian sekali dipin­ta­nya ialah es. Es!

Dan sekali lagi es. Seka­li­pun es jadi larangan dokter, tapi larangan itu kami ter­jang juga untuk memu­as­kan hati ayah.

“Anakku, es!” kata ayah bila kami mema­suki kamar­nya.

Dan sete­lah es itu mela­lui kerong­kong­an­nya, ia ber­seri-seri. Ber­kata:

“Nafasku, anak-ku, na-fas-ku … jadi … jadi lega kalau … kalau … kalau minum es.”

Dan kami meman­dangi ayah yang kadang-kadang makan kepingan-kepingan es itu dengan pera­saan kha­wa­tir.

Suatu malam paman bilang di pela­taran rumah yang gelap gelita:

“Ayahmu selalu meli­hat jam saja. Per­min­ta­an­nya sudah banyak seka­rang, dan per­min­taan itu hanya karena kei­ng­inan selin­tas saja. Kedua-duanya itu adalah suatu per­tan­daan …”

Ia tak mene­rus­kan.

Diam­bil­nya sepeda yang disan­dar­kan­nya pada tiang pagar. Kemu­dian ia naik di atas­nya. Mene­ngok ke bela­kang dan ber­kata:

“Aku mau pulang. Hari sudah malam.”

Dan hilang­lah ia ke dalam kege­lapan malam.

Apa yang dika­ta­kan­nya itu ber­pe­nga­ruh besar atas diriku. Malam itu aku sengaja tak tidur. Adikku yang keem­pat demi­kian juga.

Kami berdua duduk ber­ha­dapan meng­ha­dapi lampu minyak tanah. Banyak yang kami berdua per­ka­ta­kan waktu itu. Dan aku ber­ta­nya:

“Bagai­mana kea­da­anmu waktu pen­du­dukan merah, adikku?”

Ia tak segera men­ja­wab per­ta­nyaan itu. Seben­tar ia ter­me­nung-menung. Baru kemu­dian men­ja­wab:

“Ya, mas, aku tidak bisa ber­kata apa-apa. Ayah ditang­kap oleh pasukan merah.”

“Ya, aku sudah dengar juga itu. Tapi, meng­apa ditang­kap?”

“Aku tidak tahu, mas.”

“Dan bagai­mana peng­hi­dupan selama ayah ditang­kap?”

Ia tak men­ja­wab. Aku lihat mata­nya ber­kaca-kaca. Dan suatu peng­er­tian yang lebih terang dari­pada jawaban ter­gam­bar pada mata­nya yang ber­kaca-kaca itu. Aku tak men­de­sak.

“Bagai­mana ayah bisa lepas dari tangan pasukan merah, adikku?”

“Ayah dipen­ja­ra­kan di pen­jara sini, kemu­dian digi­ring jalan kaki ke Rem­bang. Dan sampai di Rem­bang, Sili­wa­ngi1 mulai masuk, dan ayah dibe­bas­kan. Tapi ipar marhum ibu tewas di sini.”

“Ya, perang memang kutukan untuk manu­sia, adikku,” kataku mena­si­hati. “Perang ini menyu­ruh manu­sia men­de­kati dir­i­nya sen­diri. Karena, adikku, dalam diri sen­diri itu ter­le­tak segala-gala­nya yang ada di dunia, yang dira­sa­kan juga oleh tiap orang.”

Aku ter­te­gun. Per­ka­taan itu sesung­guh­nya kutu­ju­kan pada diriku sen­diri, dan sekali-kali bukan pada adikku. Dan adikku ber­kata: “Ya.”

Diam seben­tar. Angin men­deru-deru di luar. Dan bila angin itu mati ter­de­ngar per­ca­kapan orang-orang jaga malam di gardu. Adikku mene­rus­kan:

“Waktu ayah pulang, badan­nya sudah begitu kurus.”

“Dan waktu penyer­buan Belanda?”

“Belanda tak segera mema­suki Blora, mas, Belanda dita­han untuk bebe­rapa jam di Maningan — lima kilo­me­ter dari sini. Tapi pasukan kita tak mem­pu­nyai sen­jata berat. Jadi Belanda masuk juga. Tapi waktu per­tem­puran yang seben­tar itu sudah cukup untuk jadi tanda buat menyu­sun tenaga di sebe­rang kali.”

Ia diam. Meng­a­wasi aku. Kemu­dian tangan­nya ditu­ding­kan ke arah selatan. Mene­rus­kan:

“Dan ayah turut mela­ri­kan diri ke sebe­rang kali.”

“Dan bagai­mana peng­hi­dup­anmu seke­lu­arga waktu itu?”

Ia ter­te­gun men­de­ngar per­ta­nya­anku itu. Men­ja­wab lambat-lambat:

“Mula-mula kami jual apa yang bisa kami jual. Kami ber­da­gang. Orang-orang suka beli pada kami. Lama kela­maan mereka mulai menge­bon, karena uang susah dida­pat. Dan kemu­dian — kemu­dian mereka tak mau mem­ba­yar hutang­nya. Ya, mas, seakan-akan senang­lah hati mereka bila kami semua runtuh.”

Ia diam lagi dan aku lihat mata­nya ber­kaca-kaca. Tidak sampai di situ saja. Air mata mulai meni­tik-nitik. Sedu-sedan. Akhir­nya ia mena­ngis.

“O — mereka itu seakan-akan tak tahu, bahwa ayah sedang mem­per­ju­ang­kan repub­lik.”

“Biar­lah, adikku, biar­lah. Yang sudah lalu kini ting­gal jadi seja­rah. Jangan engkau sedih­kan semu­a­nya itu. Engkau masih punya kakak. Dan aku akan ber­buat sekuat tena­gaku untuk keba­ik­anmu semua.”

Diha­pus­nya air mata­nya cepat-cepat.

“Dunia ini memang aneh, adikku,” kataku lagi, “kalau suatu kelu­arga itu bisa timbul meng­a­tasi kelu­arga-kelu­arga yang lain, orang-orang men­jadi dengki. Ada saja mereka punya bahan untuk memaki dan meng­hina-hina­kan di bela­kang layar. Tapi ada sebuah kelu­arga yang runtuh, ramai-ramai orang menyor­aki dan turut merun­tuh­kan­nya. Aku tahu, adikku, inilah adat di kota kecil. Karena, adikku, pen­du­duk kota kecil ini tak mem­pu­nyai per­ha­tian apa-apa selain dir­i­nya sen­diri, kelu­arga, dan ling­kung­an­nya. Lain dengan di kota besar. Banyak yang masuk ke dalam per­ha­tian mereka. Karena itu, adikku, lebih baik engkau jangan turut campur dalam kepen­tingan-kepen­tingan mereka. Engkau meng­erti, bukan?”

Dan sekali lagi aku ter­te­gun. Nasi­hat itu rupa-rupa­nya kutu­ju­kan pada diriku sen­diri, dan bukan pada­nya. Adikku meng­ang­guk. Ber­kata:

“Ya. Aku pun ber­pen­da­pat begitu juga.”

“Ya, tak ada yang bisa kita harap­kan dari mereka itu. Kalau kita toh harus meng­ha­rap, kita harus meng­ha­rap dari kita sen­diri.”

“Ya, mas.”

“Dulu kita selalu senang saja, karena, karena waktu itu kita masih kecil-kecil. Dan kini, adikku, kini terasa betul oleh kita, pahit sung­guh hidup di dunia ini, bila kita selalu ingat pada keja­hatan orang lain. Tapi untuk kita sen­diri, adikku, bukan­kah kita tak perlu men­ja­hati orang lain?”

“Tidak, mas, aku tak mau men­ja­hati orang lain.”

“Itu sudah cukup, adikku — lebih dari cukup.”

Kami ber­diam-diam lagi. Kemu­dian dengan suara yang dalam aku mena­si­hati — dan seperti yang tadi-tadi juga, nasi­hat itu sebe­tul­nya kutu­ju­kan pada diriku sen­diri:

“Kita bangun­kan kelu­arga baru, adikku — dengan tenaga kita sen­diri, untuk kita sen­diri. Biar­lah kita jadi pulau ter­pen­cil di tengah-tengah samu­dera. Bila kita jatuh, adikku, kita jatuh dengan tidak ber­te­riak. Bila pulau kita ter­en­dam samu­dera, kita akan ter­en­dam sen­di­r­ian dan tak ada orang yang meli­hat. Aku sen­diri, adikku, aku sen­diri sudah bosan pada semua ini. Aku sudah bosan pada keso­panan yang sia-sia ini. O, aku tak meng­erti. Aku tak tahu apa-apa lagi.”

Adikku tak men­ja­wab. Dan aku tak mene­rus­kan kataku. Kute­guk kopi yang dise­di­a­kan­nya untukku. Akhir­nya ia ber­kata lagi:

“Akhir­nya ayah ter­tang­kap juga oleh Belanda. Ayah turun dari hutan dan menuju ke Ngawen. Engkau belum lupa pada Ngawen, bukan? — lima kilo­me­ter di timur Blora.”

“Meng­apa aku kan lupa? Aku sering ke sana dulu.”

“Waktu itu ayah sedang tidur dilang­gar. Dan waktu ayah mem­buka mata­nya ayah telah diku­rung oleh pasukan Belanda dan dito­dong pula. Begi­tu­lah cerita ayah sen­diri waktu pulang ke rumah. Ayah mem­bawa keran­jang bambu. Dan di keran­jang itu ter­sim­pan botol tempat minum, pakaian dalam selem­bar dan destar sebuah. Ayah datang kemari dengan ber­tong­kat. Waktu itu bukan main ter­ke­jutku. Tiba-tiba saja ayah sudah jadi tua, mas.”

Ia ter­diam lagi sete­lah menye­but kata tua itu. Kem­bali mata­nya ber­kaca-kaca. Aku tak men­de­sak­nya. Dan waktu haru­an­nya itu telah habis, ia mene­rus­kan:

“Tiba-tiba saja ram­but­nya lebih banyak yang putih dari­pada yang hitam. Ayah lebih jarang bicara dari­pada dulu-dulu. Ayah diang­kat oleh Belanda jadi peng­a­was seko­lah. Besar sekali gaji­nya, mas. Pem­ba­gi­an­nya luar biasa banyak­nya. Tapi ayah jarang betul di rumah. Ayah memang suka ber­judi. Tapi keper­gi­an­nya di masa pen­du­dukan itu bukan hanya akan ber­judi saja, mas, bukan. Ayah ber­ju­ang terus untuk hidup­nya repub­lik. Semua ten­tara tahu ini, mas, semua. Dan engkau barang­kali belum tahu apa yang ter­jadi sete­lah ayah bekerja pada Belanda.”

Ia diam lagi dan mene­guk udara malam besar-besar. Aku meng­ge­leng. Ia mene­rus­kan dengan suara seperti memuja:

“Ya, mas, tiap hari datang surat kemari, baik dari ten­tara maupun dari mereka yang menye­but dir­i­nya orang non. Engkau tahu surat apa, mas? Sokongan! Minta sokongan. Dan tiap hari begitu saja yang ter­jadi. Dan semua surat itu tak dibi­ar­kan hampa saja oleh ayah. Tidak. Semua mesti ber­ha­sil. Kadang-kadang, mas, ya, kadang-kadang aku tak mene­rima belanja sece­peng pun juga seka­li­pun untuk makan ayah sen­diri — dan untuk satu bulan penuh. Dan semua ini, mas, semua ini meng­i­ng­at­kan aku pada seo­rang budi­man Tiong­hoa. Di waktu ayah masih di daerah gerilya dan juga di masa pen­du­dukan merah, orang Tiong­hoa itu banyak mem­bantu kami. Dan aku tak meng­erti meng­apa dia sudi meno­long kelu­arga kami dari bahaya kela­paran.”

“Ya, adikku, kema­nu­si­aan itu kadang-kadang meng­hu­bung­kan seo­rang dari kutub utara dan seo­rang dari kutub selatan. Dan dalam hal ini, kema­nu­si­aan itu telah meng­hu­bung­kan seo­rang dari kera­jaan langit dengan kita.”

“Ya, mas,” kata adikku dengan suara yang tidak ber­tu­juan. Kemu­dian ia mene­rus­kan ceri­ta­nya. “Kemu­dian ayah ter­lam­pau banyak bekerja untuk repub­lik. Dan waktu kita mer­deka, ayah jatuh sakit. Tiga bulan dira­wat di rumah sakit. Tapi ayah masih juga banyak bekerja. Akhir­nya terasa juga oleh­nya, bahwa kese­hat­an­nya tak meng­i­zin­kan, dan sebuah demi sebuah jabat­an­nya dalam per­ge­rakan poli­tik dan sosial dile­pas­kan. Tapi kese­hat­an­nya yang dulu tak kem­bali. Ayah jatuh sakit lagi hingga kini. Dokter bilang sakit paru-paru. Dan waktu kuta­nya­kan ke sana-sini, barang­kali ayah bisa ditem­pat­kan di sebuah sana­to­r­ium — ya, mas, per­ta­nyaan itu ting­gal jadi dengung belaka. Tak ada setang­kup pun mulut yang berani men­ja­wab. Kalau ada orang men­ja­wab, jawab­an­nya hanya begini, ongkos di sanatorium mahal sekarang. Dan kalau tidak begitu jawab­an­nya ialah, sanatorium? Sanatorium sudah penuh oleh pedagang. Kalau engkau jadi pegawai, kalau bukan pegawai tinggi, jangan sekali- kali berani mengharapkan mendapat tempat di sanatorium.”

Ia diam lagi dan dipan­dang­nya aku lama-lama. Aku meng­ge­leng. Dan aku tak meng­erti apa yang harus kupi­kir. Adikku itu menun­juk­kan kepala dan mene­rus­kan:

“Ya, mas, ayah sen­diri pernah men­da­pat tawaran jadi ang­gota per­wa­kilan daerah. Dan ayah meno­lak ang­katan itu.”

“Meno­lak? Bukan­kah itu suatu kesem­patan baik untuk mem­per­ba­iki kea­daan masya­ra­kat?” aku ber­ta­nya.

“Aku tidak tahu. Hanya saja ayah bilang, ayah bilang begini, perwakilan rakyat? Perwakilan rakyat hanya panggung sandiwara. Dan aku tak suka menjadi badut — sekalipun badut besar. Dan ayah tetap meno­lak. Ayah pun pernah men­da­pat tawaran jadi koor­di­na­tor peng­a­jaran untuk meng­a­tur peng­a­jaran untuk selu­ruh daerah Pati. Tapi ayah meno­lak juga dan bilang. Tempatku bukan di kantor. Tempatku ada di sekolahan. Ya, barang­kali pen­di­r­i­an­nya yang seperti itu juga menye­bab­kan ayah tak mau mene­rus­kan jadi peng­a­was seko­lah, dan kem­bali men­jadi guru. Dan ayah bilang juga, Kita guru-guru di tanah air kita ini jangan sampai kurang seorang pun juga.”

“Ya,” kataku tak ber­tu­juan.

Ia mene­guk kopi­nya. Aku mero­kok. Asap menge­pul-ngepul. Aku lihat tiba-tiba mata­nya ber­si­nar murung. Ber­ta­nya ia hati-hati:

“Engkau masih ingat Sami, mas?”

“Ya, aku masih ingat.”

Dan dalam kepa­laku ter­ba­yang gadis kecil genit yang pernah jadi umpan kelu­ar­ga­nya — umpan makanan Jepang.

“Luar biasa senang hati­nya meli­hat kerun­tuhan kita. Dan dia bilang pada para tetangga ten­tang ayah. Dia memang sengaja menyerahkan diri pada Belanda, kata­nya. Orang yang turut dengan Belanda memang sapi. Dia bukan manusia, kata­nya pula. Kadang-kadang ia meng­u­cap­kan per­ka­taan itu pada kawan-kawan­nya bila kami sedang ada di dekat-dekat­nya. Aduh, aku tak tahan. Aduh! —”

“Untuk apa kau­la­deni suara orang yang tak punya keso­panan?” kataku kosong.

“Aku tak sang­gup men­de­ngar per­ka­taan seperti itu. Dan ayah yang sakit, yang adanya di dunia ini hanya untuk dimin­tai orang saja, yang sudah mengur­bankan segala kepen­tingan dan kese­hat­an­nya sen­diri — hanya jadi per­ma­inan kata orang-orang seperti itu.”

Ia diam lagi. Dan sekali ini lama ia ber­diam diri. Dan aku pun tak ber­ke­hen­dak untuk mene­ngah­i­nya. Ada terasa oleh hatiku, bahwa ia sedang men­cari jalan lepas untuk men­cu­r­ah­kan peng­a­du­an­nya.

Detik demi detik lenyap dite­lan malam. Dan dengan tiada terasa umur manu­sia pun lenyap sede­tik demi sede­tik dite­lan malam dan siang. Tapi masa­lah-masa­lah manu­sia tetap muda seperti waktu. Dimana pun juga dia menam­pak­kan dir­i­nya. Dimana pun juga dia menyerbu ke dalam kepala dan dada manu­sia, dan kadang-kadang ia pergi lagi dan diting­gal­kan­nya kepala dan dada itu kosong seperti langit.

Kadang-kadang ter­de­ngar tabuh dari gardu di depan rumah kami ber­talu. Dan tabuh itu ber­su­sul-susulan dengan tabuh dari gardu-gardu yang lain. Dan malam yang sunyi itu tak mem­ba­tal­kan kelu­ar­nya peng­a­duan adikku. Hati-hati ia mene­rus­kan sua­ra­nya:

“Selama keper­gi­anmu itu, mas, kakek telah mening­gal. Dan nenek lantas diam ber­sama-sama kami. Waktu itu engkau masih dita­wan. Kami tahu ten­tang pena­wa­n­anmu itu dari suratmu yang kau­ki­rim­kan mela­lui palang merah. Bebe­rapa bulan nenek ting­gal ber­sama-sama dengan kami. Dan pada suatu kali, mas, pada suatu kali seo­rang tetang­ga­nya yang diam di dekat rumah­nya dulu — di ping­gir kota — mening­gal dunia. Ia datang mela­wat. Lama ia pergi. Tiga hari. Dan aku tak meng­erti meng­apa selama itu ia pergi untuk mela­wat tetang­ga­nya. Kemu­dian datang orang kemari dan bilang, dan bilang, mas, Nenekmu meninggal di sana, setelah dua jam kena penyakit perut.”

Ia diam meman­dang daku. Dan aku bilang:

“Aku sudah dengar juga kabar itu dari surat yang diki­rim­kan oleh kakakmu.”

“Ya … tapi engkau tidak tahu betapa kacau balau kami waktu itu. Ya, mas, di kala itu ayah sedang ada di daerah gerilya. Dan yang aku tidak meng­erti, meng­apa ia mening­gal di sana.”

“Sudah lebih dari tiga puluh tahun dia diam di sana, adikku. Dan kakek pun mening­gal di sana. Adikku … kadang-kadang orang ter­lalu dekat, ter­lalu cinta pada gumpal tanah yang sudah ber­pu­luh tahun didi­am­i­nya, yang selama itu mem­beri tempat pada­nya, yang selama itu mem­beri hasil yang boleh dima­kan­nya. Dan kadang-kadang orang itu ingin mati di pang­kuan gumpal tanah yang sekian lama­nya ditum­pang­i­nya itu. Ya, kadang-kadang, adikku.”

Ia diam. Dan aku lihat mata­nya ber­kaca-kaca. Ia ter­ke­nang pada segala waktu buruk yang telah ber­a­rak dalam hidup­nya. Dan aku mene­rus­kan:

“Dan kadang-kadang, adikku … kadang-kadang kei­ng­in­an­nya itu ter­ka­bul dan dia mening­gal­lah di pang­kuan bumi yang sekian lama diting­gal­i­nya itu.”

“Tapi, mas …,” ia menyela.

“Tapi?”

“Aku sen­diri — ya, hanya aku sen­diri yang pergi daerah gerilya. Barang­kali benar juga katamu ia ingin mening­gal di pang­kuan gumpal tanah yang sudah ditum­pang­i­nya lebih dari tiga puluh tahun itu. Tapi, mas, tapi …,” ia ter­te­gun. Tetapi ia meman­dang daku. Dan waktu dili­hat­nya aku sedang meman­dang­nya, segera pan­dang­nya dile­kat­kan pada pintu di bela­kang badanku. Mene­rus­kan dengan suara keta­kutan, “tapi mulut­nya yang men­ciut kejang — ya, aku lihat itu waktu ia dimandi — itulah, mas, itulah yang selalu ter­ba­yang oleh ing­at­anku. Dan mulut itu, mulut itu seakan-akan meng­a­la­mat­kan ia tak suka pada pera­watan manu­sia yang dibe­ri­kan pada­nya, waktu ia meng­ha­dapi maut­nya.”

Ia menge­luh.

Aku menge­luh.

Diam.

Dan malam di luar terus juga mene­lan umur manu­sia. Aku meng­ge­leng­kan kepala yang sedang mem­ba­yang­kan kali­mat-kali­mat yang telah diu­cap­kan oleh adikku itu. Kataku:

“Aku tidak meng­erti.”

“Aku sen­diri juga tak meng­erti. Tapi mulut­nya itu, mas, — mulut itu, mulut itu seakan-akan menga­ta­kan padaku pula, Mengapa hanya sekelumit saja kesenangan yang oleh kukecap di dunia ini? Mengapa? Barang­kali semua itu ter­jadi hanya karena aku sangat ter­pe­nga­ruh oleh peris­tiwa itu. Barang­kali, ya, barang­kali. Tapi begi­tu­lah kea­daan pera­saan dan piki­ranku. Dan aku tak bisa mem­ban­tah­nya.”

Tiba-tiba ia ter­diam. Dan dengan tiba-tiba pula ia mena­ngis ter­i­sak-isak. Aku bangun dari tempat dudukku dan kupe­luk dia. Kuusap-usap pada ram­but­nya. Ter­de­ngar suara yang patah-patah.

“Mas, aku mas, aku tak rela nenek mening­gal di tempat orang. Aku tak rela. Aku tak tega. Ia tak men­da­pat pera­watan seba­gai­mana harus­nya orang yang mening­gal­kan dunia ini untuk selama-lama­nya.”

Dan aku meng­hi­bur­nya dengan kata-kata kosong:

“Bukan­kah semua itu sudah ter­jadi, adikku? Dan semua yang sudah ter­jadi tak bisa diu­langi lagi.”

“Tapi aku tak rela, mas. Aku tak rela.”

“Engkau harus mere­la­kan semua hal yang sudah ter­jadi, adikku,” kataku.

Dan di kala itu juga aku pun merasa tak rela nenekku men­da­pat pera­watan yang kurang cukup pada waktu meng­ha­dapi maut­nya. Dan aku turut meng­u­cur­kan air mata. O, air mata yang terus meng­a­lir sejak aku meng­in­jak­kan kaki di bumi Blora kem­bali. Aku keha­bisan per­ka­taan. Dan aku ter­diam. Adikku, yang tahu aku pun sedang meng­u­cur­kan air mata, tak ber­kata apa-apa. Dan tangis­nya kian men­jadi-jadi.

Dan ber­sa­maan dengan air mata yang ber­te­tesan itu, umur manu­sia pun ber­te­tesan ter­ham­bar di tiap sudut bumi dan hilang takkan ter­te­mui lagi. Dan seben­tar-seben­tar ter­de­ngar gepak sayap kalong yang meng­em­bara di dalam malam hitam di antara cabang-cabang dan daun-daun jambu. Ya — kalong dari puluhan abad yang lalu — kalong yang hidup aman dalam malam, men­cari peng­hi­dup­an­nya.

Adikku mena­rik sedan ber­ba­reng dengan keluh yang dalam.

“Sudah jam tiga, adikku, barang­kali lebih baik engkau tidur.”

Ia meng­ge­leng. Ber­kata:

“Malam ini aku takkan tidur seperti engkau untuk kese­hatan ayah.”

Dan tiba-tiba saja badan ayah yang seperti sebi­lah papan itu ter­ba­yang lagi dalam kepa­la­nya. Dan dengan sen­di­r­i­nya saja keluar sesal­anku:

“Seki­ra­nya ayah jadi wakil di per­wa­kilan rakyat, atau jadi koor­di­na­tor, ayah akan jadi pega­wai tinggi. Dan ayah jadi pega­wai tinggi barang­kali bisa men­da­pat tempat di sana­to­r­ium.”

Aku diam. Adikku diam.

Dan kese­nyapan itu meng­ge­li­sah­kan hatiku. Karena itu kupak­sa­kan mulutku ber­su­ara:

“Tapi ayah tak sudi mem­per­gu­na­kan kesem­patan yang murah. Ayah menye­di­a­kan­nya untuk orang lain. Ayah …”

“O — ayah yang selalu mengur­bankan diri untuk orang lain. Ayah yang selalu jadi kur­ban­nya orang lain …” seru adikku.

Dan di kala seru­an­nya itu lenyap, tangis­nya kem­bali lagi.

“Kita tak meng­hen­daki semua ini, adikku,” kataku mena­si­hati diriku sen­diri, “semua itu datang dengan tiada kita pinta. Dan kita harus mene­ri­ma­nya. Kita harus mene­ri­ma­nya saja. O, manu­sia ini tak bisa ber­buat apa-apa ter­ha­dap sesu­atu yang tak dike­ta­hu­i­nya.”

“Meng­apa harus ada perang, mas?”

“Karena kita tidak tahu, adikku. Karena kita tidak meng­erti.”

“O … perang, mas, … perang telah meram­pas ibu kami, adik kami yang ter­ke­cil, kakek, nenek, dan ayah dir­am­pas kese­hat­an­nya. Meng­apa, mas? Meng­apa bisa jadi begitu, mas?”

“Ya, adikku …, karena kita tak meng­erti mengapa itulah sebab­nya.”

“Engkau bingung, mas. Aku lihat engkau selalu bingung dan gugup sejak bebe­rapa hari pulang di Blora ini.”

“Ya, adikku, sesung­guh­nya begitu. Tapi engkau tak perlu memi­kir­kan diriku.”

Dan aku mene­guk kopi yang sudah jadi dingin. Duduk kem­bali dikur­siku. Kemu­dian meng­i­sap rokok. Ayam mulai ber­ko­kok di kan­dang disu­sul bunyi orang menum­buk tepung. Jam di din­ding ber­talu lima kali. Adik-adik yang lain mulai bangun.

“Jam lima seka­rang, adikku. Mari­lah tidur. Aku pun hendak tidur.”

Dan kami pun tidur­lah.



10

Dalam seminggu itu tak ter­jadi apa-apa. Hanya kesehatan ayah tambah meng­kha­wa­tirkan. Waktu aku datang mene­ngok, ayah tak suka makan seperti halnya selama seminggu itu. Es! Es! Eslah yang selalu dipin­ta­nya. Dan karena kami tak sampai hati akan menge­ce­wa­kan hati­nya, kami bawa­kan selalu es itu. Dan bila pabrik es di Rem­bang tidak bekerja karena keru­sakan mesin, dan kami datang ke rumah sakit dengan tak mem­bawa es, kami merasa seba­gai manu­sia ber­dosa yang dise­ret ke depan hakim.

Dalam seminggu itu pula banyak orang ber­kata pada kami:

“Meng­apa ayahmu tak kau­bawa pulang saja?”

Dan per­ta­nyaan itu menu­suk-nusuk dalam benak kami. Harus­kah ayah kami bawa pulang? Harus­kah? Per­tim­bangan mem­buat orang jadi geli­sah. Tapi waktu aku sampai di rumah sakit, tak kelu­ar­lah apa yang sedang menu­suk-nusuk dalam benakku itu. Seba­lik­nya ayah ber­kata padaku:

“Anakku, se-ka-rang, engkau boleh … pergi … pergi … pulang ke Jakarta.”

Men­de­ngar itu aku jadi ter­ke­jut. Dan segera aku ber­kata:

“Tidak, ayah, kami pulang nanti-nanti saja.”

Ayah mem­buka mata­nya. Dia­rah­kan senyum­nya padaku, seakan-akan senyum itu meng­uji hatiku dan ber­kata, “Tidak­kah engkau ter­lam­pau lama di Blora, dan tidak­kah kela­ma­anmu ting­gal di sini meng­ganggu peker­ja­anmu di sana?” Dan aku ber­kata lagi:

“Kewa­ji­ban di Jakarta boleh kutang­guh­kan, bapak.”

Ayah meng­ge­leng­kan kepa­la­nya. Mata­nya kem­bali ter­tu­tup. Dan ling­karan pada kelo­pak mata itu nampak ber­tam­bah biru dari­pada kema­rin dan kema­rin dulu. Agak kehi­tam-hitaman kini. Nampak ia sangat ber­ba­ha­gia oleh jawaban itu. Dan sesu­dah kea­daan tenang seben­tar adikku yang ketiga bilang:

“Bagai­mana kalau bapak ting­gal di rumah saja?”

Ayah mem­buka mata­nya. Ter­se­nyum. Mata itu ter­tu­tup lagi kemu­dian. Nampak ia sedang memi­kir. Kemu­dian ter­de­ngar sua­ra­nya yang agak ter­a­tur:

“Di sini, anakku, para pera­wat­nya masih kanak-kanak semua.” Mata­nya dibuka dan meman­dang bel yang ter­le­tak di meja. “Kalau bel itu kubu­nyi­kan — kalau aku ingin buang air, anakku, mereka bukan­lah datang meno­long tapi mereka itu tambah mela­ri­kan diri men­de­ngar pang­gilan bel itu. O, sung­guh ter­lalu.”

Tapi ia ter­se­nyum meng­u­cap­kan kata-kata itu.

“Lebih baik ayah ting­gal di rumah,” adikku ketiga ber­kata lagi.

“Ah, cuma mem­beri banyak peker­jaan saja di rumah,” keluh­nya.

Kemu­dian ayah batuk-batuk. Tangan­nya yang kurus itu mem­beri isya­rat agar kami men­jauh. Dan kami men­jauh.

Kala batuk itu telah reda adikku yang keem­pat menyu­ap­nya dengan cendol hunkwe yang didi­ngin­kan dengan es. Dan kami merasa gem­bira karena ayah dapat meng­ha­bis­kan lima belas suap. Tapi kese­hatan ayah rupa-rupa­nya tak bisa diukur oleh banyak sedi­kit­nya suapan.


11

Nampak sekali bahwa kema­uan dan kei­ng­inan ayah tambah beru­bah-ubah. Pagi itu seo­rang juru rawat yang sema­lam kena dinas jaga malam datang ke rumah kami dan menye­rah­kan selem­bar kui­tansi — minta voor­s­c­hot gaji untuk bulan Maret! Bulan itu adalah bulan Mei. Kui­tansi itu adalah dari ayah. Aku tak meng­erti meng­apa voor­s­c­hot untuk bulan Maret yang dipin­ta­nya. Dan di kala hal ini kuta­nya­kan pada paman, ia menga­ta­kan:

“Sejak kita mer­deka, guru belum lagi diba­yar. Hampir sete­ngah tahun ini.”

Dan aku jadi meng­erti.

Tiga jam kemu­dian aku datang pula ke rumah sakit. Sebe­lum masuk, ter­de­ngar rintih dan aduh ayah. Nafas­nya berat dan sesak dan seben­tar-seben­tar nafas itu diganggu oleh batuk-batuk kecil, dalam dan seng­sara. Hati-hati kubuka pintu. Dir­an­jang­nya kul­i­hat ayah ter­ge­le­pak tidur. Ber­si­tin­jak aku men­de­kati. Tapi ayah mem­buka mata­nya. Nampak ia memu­sat­kan selu­ruh tena­ga­nya yang masih ting­gal. Kemu­dian ter­de­ngar sua­ra­nya yang menye­sali — juga menye­sali segala-gala­nya: “O, Allah, anakku — apa guna­nya aku menunggu di ran­jang ini?”

Aku tak meng­erti arah tujuan per­ca­kap­an­nya. Dan aku men­jadi bingung. Dengan sen­di­r­i­nya saja kepa­laku menun­duk ke lantai. Dan ayah mene­rus­kan:

“Harus berapa hari lagi aku menunggu di sini?”

Dan aku lihat mata­nya dipe­jam­kan.

“Apa, bapak?” aku ber­ta­nya bingung.

“Allah. Allah.” Ia diam seben­tar untuk mele­pas batuk­nya. Mene­rus­kan. “Tadi ada orang ke sana?”

“Ya, ayah.”

Mata itu kem­bali ter­buka. Dengan tiada dise­ngaja mata itu lekat pada panci tempat sup yang baru saja dile­tak­kan oleh adikku yang kelima. Ber­kata pula ia:

“Apa yang kau­bawa di panci itu?”

Adikku yang kelima men­ja­wab: “Sup sumsum, bapak.”

“Allah. Allah.” Mata­nya ter­tu­tup lagi. “Jadi orang tadi tak bilang apa-apa padamu?”

“Dia hanya menye­rah­kan kui­tansi dan minta uang sepu­luh rupiah.”

“Allah. Allah,” ayah menye­but lagi. Dan pada mata­nya yang ter­tu­tup itu ter­ba­yang kese­dihan, keke­salan dan kasihan pada segala-gala­nya.

Seka­li­gus datang saja suara dalam hatiku. Orang tadi pagi itu telah menipu engkau. Tapi suara itu ter­peng­gal saja sampai di situ. Ayah mene­rus­kan:

“Aku bilang, ambil­lah aku dari rumah sakit ini cepat-cepat.”

Aku ter­ke­jut.

“Tak kau­ba­cakah surat itu?”

“Tidak ada surat, ayah.”

“O — Allah.”

Kemu­dian ayah diam-diam untuk mele­pas­kan lelah­nya. Dan aku lihat perut­nya kem­bali ter­gun­cang-gun­cang. Dan di kala gun­cangan perut itu mereda aku lihat ayah mengum­pul­kan tena­ga­nya. Mene­rus­kan:

“Balik-balik kui­tansi itu. Ada aku tulis di situ.”

Dan sekali ini betul-betul ayah keha­bisan tenaga. Ia tak bicara lagi sesu­dah memi­ring­kan badan meng­ha­dap ke din­ding. Ber­si­tin­jak aku mundur, pergi ke bela­kang tabir dengan adikku, mem­buka kui­tansi. Dan betul­lah. Di balik kui­tansi itu ada ter­tu­lis baris-baris tulisan yang kacau dan huruf-hur­uf­nya tak nyata dan telah ter­ha­pus-hapus oleh tangan. Kata­nya:

Anakku!

Aku sudah tak tahan tinggal di rumah sakit ini. Dan karena para famili telah kumpul, lebih baik aku bawa saja pulang. Datanglah ke rumah sakit secepat mungkin.

Bapakmu.

Aku meman­dang adikku. Dan dia sedang meman­dang daku. Kemu­dian, dengan sen­di­r­i­nya saja pan­dang kami runtuh ke lantai. Kuhela nafas dalam-dalam untuk mem­be­ra­ni­kan diriku. Ada sedi­kit kebe­ra­nian masuk ke dalam dada. Kuham­piri ayah. Ber­kata:

“Bapak, baik­lah seka­rang juga kumin­ta­kan izin dari dokter.”

Dan ayah mem­buka mata­nya. Ter­se­nyum — senyum seperti bia­sa­nya. Segera aku pergi.

Di kota kami yang kecil itu cuma ada seo­rang dokter. Di zaman Belanda dulu, tiga dokter ada di sini. Tapi sela­ma­nya maut ter­da­pat di mana-mana dalam masa perang —, seka­li­pun perang kecil-kecilan.

Dan kini, dokter yang ber­dau­lat itu duduk seperti raja di bela­kang meja tulis­nya. Sua­ra­nya yang ber­i­rama meren­dah­kan segala-gala­nya yang diha­dap­i­nya ter­de­ngar:

“Tuan ada keper­luan apa?”

“Minta izin untuk meng­am­bil ayah dari kamar nomer tiga belas.”

Ia masih ingat siapa yang men­di­ami kamar nomer tiga belas. Segera saja ia men­ja­wab:

“O — boleh. Boleh.”

“Dan bagai­mana dengan kese­hatan ayahku?”

Dokter itu meng­ge­leng dengan geleng yang ber­dau­lat. Aku ber­de­bar-debar. Ber­ta­nya gugup:

“Tak bisa diha­rap­kan?” Gelengan kepa­la­nya mati.

“Adakah sedi­kit harapan akan sembuh?”

“Ada,” kata­nya ber­bi­sik, “tapi lama sekali.” Dite­gak­kan kepa­la­nya, ditu­suk­nya aku dengan pan­dang­nya. “Ayah tuan boleh diam­bil. Tuan boleh mem­per­gu­na­kan mobil ambu­lance. Dan seka­rang tuan boleh pergi.”

Ter­de­ngar bunyi bel ber­de­ring. Dan waktu aku mening­gal­kan kamar tuan dokter, ter­de­ngar ia sedang mem­beri perin­tah pada bawah­an­nya. Buru-buru aku pergi ke kamar ayah. Gem­bira kusam­pai­kan kabar gem­bira itu:

“Seben­tar lagi, bapak.”

Ayah tetap menu­tup mata­nya. Dan aku lihat bibir­nya ter­se­nyum. Aku menunggu ayah mem­buka mata­nya, meman­dang daku dan ber­kata-kata lagi. Tapi ia tak ber­kata-kata lagi. Baru waktu para juru rawat datang mem­bawa bran­kar, ayah mem­buka mata dan mem­ba­gi­kan senyum­nya pada mereka. Dan para juru rawat mem­ba­las senyum itu — senyum yang menan­ti­kan upah.

Dalam peng­ang­kutan di mobil palang merah ayah terus dengan rin­tih­nya. Kadang-kadang dite­bar­kan pan­dang­nya keluar jen­dela mobil untuk meman­dangi hijau daun-daunan. Ayah cinta pada alam, pada tumbuh-tum­buhan dan hewan. Ini kuke­ta­hui sejak kecilku.

Nampak suatu kele­gaan pada paras­nya di kala ayah telah ter­ba­ring kem­bali di rumah yang sudah dua puluh lima tahun ini didi­am­i­nya — rumah di mana aku dan adik-adikku dibe­sar­kan. Dan juga rumah di mana ibu menu­tup mata­nya. Juga rumah yang sudah rusak. Rusak! Dan kata itu meng­i­ng­at­kan aku pada per­ka­taan tetangga tukang potong kam­bing: kalau rumah­nya rusak — Dan ing­atan itu kem­bali mem­per­i­ng­at­kan daku untuk mem­per­ba­ik­i­nya.

Seba­gai bia­sa­nya di tempat kami, para tetangga mesti datang bila ter­de­ngar saja ada orang sakit keras. Mereka itu datang hanya untuk meng­o­b­rol-ngo­b­rol di depan si sakit, seka­li­pun mak­sud­nya bukan begitu. Dan apa lagi kalau bukan meng­o­b­rol pabila mereka itu sama sekali tak tahu ten­tang kese­hatan dan ilmu penya­kit? Dengan demi­kian seo­rang demi seo­rang dari mereka datang. Dan tak ada alasan padaku dan pada adik-adikku untuk meno­lak keda­tangan orang yang mem­bawa kehen­dak baik. Jadi kian lama kian banyak orang yang datang untuk mene­ngok.

Malam itu ayah tenang saja di tempat tidur­nya. Hanya dahak yang meng­ganggu nafas­nya rasa-rasa ada juga meleng­ket dalam teng­go­r­ok­anku. Seben­tar-seben­tar kute­ngok ayah sambil menyem­proti ruang tempat tidur­nya dengan DDT. Dan bila kebe­tulan ayah mem­buka mata­nya, pasti ter­de­ngar sua­ra­nya yang dalam, seng­sara dan tidak ber­te­naga:

“Eng-kau … tak … perlu menung­gui aku. Tidur­lah.” Dan seba­gai bia­sa­nya juga aku men­ja­wab:

“Aku tidak mengan­tuk, bapak.”

Dan seba­gai bia­sa­nya juga ayah terus menu­tup mata­nya kem­bali.

Ber­gan­tian kami menunggu ayah dengan adik-adikku. Dan terasa betul oleh kami betapa baha­gia rasa­nya tidak tidur untuk kepen­tingan seo­rang ayah — ayah­nya sen­diri — yang sedang sakit. Dan tera­sa­lah olehku betapa gam­pang­nya orang yang hidup dalam keseng­sa­raan itu kadang-kadang — dengan diam-diam — menik­mati keba­ha­gi­aan.


12

Kalau aku tak salah, sore itu baru jam dela­pan. Aku dan istriku pergi ber­ja­lan-jalan mela­lui jarak lima ratus meter dari rumah. Banyak yang kuper­ca­kap­kan dengan istriku itu. Ter­u­tama sekali ten­tang keu­angan.

“Lebih baik kita pulang dulu. Engkau harus ingat pada keu­angan kita,” kata istriku.

Dan seba­gai bia­sa­nya aku men­ja­wab ucap­an­nya itu:

“Aku takkan kem­bali ke Jakarta sebe­lum kea­daan beres semua.”

Dan kami jadi ber­teng­karan dalam ber­ja­lan-jalan itu. Uang! Jakarta! Ayah! Rumah yang rusak! Dan seba­gai bia­sa­nya per­teng­karan yang timbul oleh lain­nya alasan dan pen­di­r­ian. Per­teng­karan yang ter­jadi dengan bisik-bisik itu, tak men­da­pat­kan sesu­atu kepu­tusan apa-apa. Hanya suatu kebun­tuan jua yang men­ja­wabi:

“Engkau boleh pulang dulu. Aku akan tetap ting­gal di sini sampai semua jadi beres.”

Dan per­teng­karan pun mati­lah.

Dengan diam-diam kami melang­kah dan melang­kah jua mela­lui jalan kota kecil yang sunyi dan tak ber­as­pal itu. Banyak orang sedang duduk-duduk di bangku gotnya1 untuk menik­mati alam kota kecil di waktu malam yang sunyi dingin dengan langit dita­buri beribu juta bin­tang itu. Dan kami tak ber­ca­kap-cakap lagi. Masing-masing diganggu oleh piki­ran dan kema­u­an­nya sen­diri-sen­diri. Kami masuk lagi ke dalam rumah — rumah yang gelap karena aliran lis­trik belum sampai di tempat kami. Ter­de­ngar ayah batuk-batuk — dalam, seng­sara, tak ber­te­naga dan merongga. Segera saja aku menuju ke kamar­nya. Waktu itu ayah telah reda dari batuk­nya. Ter­de­ngar sua­ra­nya yang meng­uji, dengan pan­dang dipu­sat­kan:

“Apa yang sudah kau­per­teng­kar­kan tadi?” tanya­nya.

Aku kaget.

Dan nampak betul bahwa ayah sedang memu­sat­kan tena­ga­nya pada sua­ra­nya.

“Apa yang kau­per­teng­kar­kan tadi?” ulang­nya.

Aku tak meng­erti maksud dan tujuan ucap­an­nya itu. Hanya mataku saja meman­da­ng­i­nya. Aku mau ber­ta­nya, apa yang dimak­sud­kan­nya. Tapi aku tak berani. Dan waktu mata­nya sampai pula pada mataku, nampak olehku ayah ter­se­nyum. Mene­rus­kan dengan suara yang sehat:

“Ya, ya, anakku! Engkau tak perlu ber­teng­kar lagi. Sung­guh tidak perlu. Engkau tahu? Di dunia ini hanya keme­nangan saja yang dibu­tuh­kan. Keme­nangan. Keme­nangan. Keme­nangan …”

Dan diu­lang-ula­ng­i­nya per­ka­taan itu dengan suara kian lama kian lemah akhir­nya tak ter­de­ngar. Ayah ter­ti­dur lagi. Seba­gai bia­sa­nya kalau sedang ter­ti­dur, dahak yang mena­hani jalan nafas­nya menim­bul­kan keruh yang meng­gem­par­kan dadaku. Dan aku pergi duduk di bale diten­tang ran­jang­nya.

Dan malam ber­e­dar terus di luar. Selu­ruh isi rumah tidur. Aku pun ter­ti­dur.

Bila ayah ter­ba­tuk-batuk dan bangun, salah seo­rang di antara kami pasti telah ada di depan­nya. Dan bia­sa­nya ter­de­ngar ayah ber­bi­sik:

“Es.”

Kadang-kadang es yang kami sedi­a­kan telah cair karena kami tak punya termos di rumah. Kea­daan seperti itu sung­guh tak ter­tang­gung­kan oleh kami. Dan bila es itu sung­guh-sung­guh telah habis, hanya dengan pelahan saja kami men­ja­wab:

“Es telah habis, bapak.”

Dan seperti bia­sa­nya bila ayah men­de­ngar jawaban seperti itu, terus saja mata­nya ter­tu­tup kem­bali. Dan kalau ayah ter­ba­tuk-batuk pula dan bangun, ter­u­lang lagi suara itu:

“Es.”

Seki­ra­nya mata­hari belum lagi terbit, jawaban yang sama menyu­sul pula, — jawaban yang pelahan dan tak ter­tang­gung­kan dalam dada:

“Es telah habis, bapak.”

Dan ayah menu­tup mata­nya kem­bali hingga batuk baru mem­ba­ngun­kan­nya.

Malam itu juga ayah ter­ba­ngun oleh batuk­nya. Waktu itu aku yang datang di depan­nya. Ia tak mena­nya­kan es. Tapi:

“Apa yang kau­pi­kir­kan seka­rang, anakku?”

“Tidak ada yang ter­pi­kir, bapak.”

“Apa yang sudah kau­t­u­lis ten­tang kelu­arga?”

“Surat telah diki­rim­kan ke Jakarta dan Kediri, menga­ta­kan bahwa ayah sedang sakit keras.”

“Ada lagi yang tak kau­ka­ta­kan padaku.”

Aku bingung. Tak meng­erti mak­sud­nya. Ber­ta­nya:

“Apa maksud, bapak?”

Cepat-cepat ayah menu­tup mata­nya. Aku dengar ia menge­luh. Aku tambah tak meng­erti. Suara yang seng­sara menyu­sul:

“Co-ba-lah tanya — ta-nya-kan.”

Kemu­dian ia ter­ti­dur lagi. Dan dalam tidur itu ter­de­ngar rin­tih­nya yang berun­tun-runtun. Rintih inilah yang bia­sa­nya mem­buru-buru kami, hingga tidur kami tak pernah bisa pulas dan tenang. Dan untukku sen­diri per­ta­nya­an­nya yang aneh-aneh itu tak juga ter­pi­kir olehku.



13

Dupa yang sela­ma­nya dice­lup­kan di air minum ayah tak mem­beri berkat apa-apa pada kese­hat­an­nya. Ini mem­buat kami malas menge­r­ja­kan­nya lagi.

Siang itu hari ter­lam­pau panas. Tempat kami, daerah yang ter­ku­rung oleh hutan jati, panas senga­ngar di siang hari dan dingin­nya meng­gi­git kulit di malam dan pagi hari. Dan siang dini­hari — hari yang takkan mung­kin bisa kulu­pa­kan seumur hidupku — panas­nya luar biasa. Angin meniup-niup ken­cang. Dan debu menyem­bur-nyem­bur meng­isi ruang hawa yang panas itu. Waktu itu baru seje­nak saja aku ter­ti­dur oleh keca­paian sema­lam. Adikku yang keem­pat ber­lari-larian men­cari daku. Ber­kata:

“Mas, bapak bicara ten­tang jagung. Aku tak meng­erti. Bapak bicara juga ten­tang jagung yang ditem­bak. Aku tak meng­erti, mas.”

Aku ber­lari-larian ke kamar ayah. Dan kuda­pati ayah sedang ditung­gui oleh adikku yang kelima.

“Pegangi tanganku, anakku!” kata­nya.

Kul­i­hat adikku yang kelima itu meme­gangi tangan ayah. Dan ayah ber­kata:

“Sem­bi­lan puluh sem­bi­lan butir jagung …”

“Sem­bi­lan puluh sem­bi­lan butir jagung …” adikku meng­u­langi.

Ayah ter­ba­tuk-batuk dan meng­ha­dap ke din­ding — ke timur. Kemu­dian ia kugan­ti­kan. Dan sete­lah ayah reda dari batuk­nya. Ber­kata padaku:

“Pegangi tanganku, anakku!”

Kupe­gangi tangan­nya.

“Yang kuat.”

Kue­rat­kan pegang­anku. Dan terasa olehku tangan­nya hangat dan meng­gi­gil. Dengan tangan kanan­nya telun­juk­nya ditun­juk­kan pada din­ding. Ber­ta­nya:

“Tahu engkau apa itu?”

“Din­ding, bapak.”

Ayah menge­luh.

“Bukan, bukan din­ding. Itu timur.”

“Ya, bapak, timur.”

“Di sini, anakku —,” ayah ber­henti seben­tar. Dihe­la­nya nafas. Dicu­r­ah­kan selu­ruh tena­ga­nya pada sua­ra­nya. Mene­rus­kan dengan suara dalam, sung­guh-sung­guh dan tenang, “— di sini ada sem­bi­lan puluh sem­bi­lan jagung yang disa­yem­bar­a­kan. Meng­erti?”

Aku jadi gugup, bingung dan gelap pikir. Men­ja­wab:

“Tidak meng­erti, bapak,” jawabku keta­kutan.

Ter­de­ngar ayah menge­luh. Waktu keluh itu lenyap terasa pegangan tangan­nya pada tanganku diku­at­kan. Ber­kata:

“Kuat­kan pegangan tanganmu.”

Dan kuku­at­kan pegangan tanganku. Tanganku hingga meng­ge­tar. Dan tangan ayah pun meng­ge­tar.

Ter­de­ngar lagi:

“Di sini ada sem­bi­lan puluh sem­bi­lan jagung yang disa­yem­bar­a­kan. Meng­erti?”

Kem­bali aku jadi bingung, gugup dan gelap pikir. Dan untuk meng­he­mat tenaga ayah, kuja­wab saja:

“Meng­erti, bapak.”

Ayah ter­se­nyum. Mene­rus­kan dengan suara yang mengan­dung kepu­asan:

“Jagung itu ditem­bak dari sana —” Kem­bali ayah menu­ding pada din­ding, “— dari jurusan timur. Tapi tak sebu­tir pun di antara jagung yang sem­bi­lan puluh sem­bi­lan itu kena. Meng­erti?”

Dan untuk meng­he­mat tenaga ayah, kuja­wab lang­sung:

“Meng­erti, bapak.”

“Baik­lah.”

Ayah ter­ba­tuk-batuk. Ia miring ke din­ding. Sete­lah mem­bu­ang dahak dan meng­ha­pus bibir­nya dengan seta­ngan, mene­rus­kan:

“Tak ada yang kena, anakku. Itu adalah berkah keku­a­sa­an­Nya. Meng­erti?”

“Meng­erti, bapak.”

Seje­nak ayah ber­henti dan mengem­ba­li­kan tena­ga­nya yang telah ter­bu­ang-buang itu. Kemu­dian mene­rus­kan:

“Aku ini anak ulama.”

“Ya, bapak.”

“Tapi aku tak mau jadi ketib. Aku tak mau jadi naib. Aku tak mau jadi peng­hulu.” Ber­henti seben­tar. Kemu­dian, “Siapa yang bisa menga­ta­kan padaku hari kela­hiran sesu­atu yang kita per­ju­ang­kan selama ini?”

“Tujuh belas Agus­tus tahun seribu sem­bi­lan ratus empat puluh lima, bapak.”

Ayah ter­se­nyum senang dan puas.

“Ya,” kata­nya. Dipe­gang-pegang dan dibe­lai-belai jang­gut dan kumis­nya dengan tangan kiri.

“Cukur, bapak?” aku ber­ta­nya.

“Tidak.” Diam seben­tar.

Semua adik-adikku duduk di bale diten­tang ran­jang ayah.

“Aku tak mau jadi ulama,” sam­bung ayah dengan suara tegas. “Aku mau jadi nasi­o­na­lis.” Diam lagi. “Karena itu aku jadi guru.” Diam lagi. “Mem­bu­ka­kan pintu hati anak-anak untuk pergi ke taman —,” ter­ta­han seben­tar, “pat­ri­ot­isme. Dengar?”

“Dengar, bapak.”

“Meng­erti?”

“Meng­erti bapak.”

“Karena itu aku jadi nasi­o­na­lis.” Diam seben­tar lagi. “Berat, anakku,” diam lagi. “Sung­guh berat jadi seo­rang nasi­o­na­lis.”

Nampak olehku mata ayah ber­si­nar sedi­kit. Dan aku menya­hut:

“Ya, bapak.”

“Karena itu aku memi­lih jadi guru.”

“Ya, bapak.”

“Jadi lem­baga bangsa.”

Hatiku mulai ter­sa­yat oleh kata-kata­nya yang akhir itu.

“Tapi aku rela jadi nasi­o­na­lis. Aku rela jadi kurban semua ini.”

Sekali ini aku tak bisa mena­han hatiku lagi. Pegangan tanganku pada ayah kue­rat­kan dan ter­son­tak­lah tangisku — seperti tangis anak-anak kecil. Ayah ter­diam oleh tangisku itu. Mata­nya yang ber­ling­kar biru itu ber­kaca-kaca meni­tik­kan air. Perut­nya ter­gun­cang-gun­cang. Aku menun­duk men­cu­r­ah­kan air mata itu. Kemu­dian ter­de­ngar suara ayah di antara tangisku:

“Sudah, anakku, jangan kau­pi­kir­kan lanjut-lanjut.”

Dan aku lihat semua adikku yang duduk di bale mena­ngis pula. Dan ada saja terasa oleh hatiku: ayah akan mening­gal­kan kami! Dan kami terus jua mena­ngis. Ayah ter­ba­tuk-batuk lagi. Kemu­dian ber­kata:

“Cukup, anakku, sekian dulu. Per­gi­lah engkau semu­a­nya. Ting­gal­kan aku sen­di­r­ian.”

Dan kami mening­gal­kan kamar ayah itu dengan ter­se­dan-sedan. Lang­sung saja aku menuju ke kamarku. Mere­bah­kan badan di bale — menge­nang-nge­nang­kan segala-gala­nya. Dan samar-samar ter­ke­nang juga olehku surat pedas yang kuki­rim­kan pada­nya dulu:

Anakanda tak suka mendengar kabar tentang sakitnya adikku itu. Sungguh aku tak bersenang hati. Mengapatah adik saya itu bapak biarkan sakit. O, manusia ini hidup bukan untuk dimakan tbc, bapak. Bukan.

Dan seka­rang nyata olehku sen­diri, bukan adikku yang sakit seperti itu, tapi ayahku sen­diri, ayahku sen­diri. Kacau dadaku. Dan air mata terus men­de­ras. Leher-leherku terasa kaku oleh tangisku sen­diri itu. Mata jadi sepat dan akhir­nya — dengan tiada terasa — aku telah jatuh ter­ti­dur.

Hari itu pun tak ter­lu­pa­kan olehku — hari Kemis siang. Men­je­lang magrib aku bangun. Duduk-duduk di kursi sambil mene­guki air kopi. Kemu­dian adikku yang keem­pat ber­lari-larian men­da­pat­kan daku. Ber­kata gugup ia:

“Mas mas, bapak sudah — sudah — sudah — sudah tak ada.”

Cepat-cepat aku lari ke dalam kamar ayah yang sudah dite­rangi lampu minyak tanah. Seba­gian dari adik-adikku sudah ada di situ. Segera aku melom­pat di sam­ping ayah. Aku lihat mulut­nya telah ter­buka. Tangan­nya ter­ku­lai di sam­ping­nya. Dan istri­ku­pun turut lari dan ber­diri di dekatku. Kata­nya:

“Sebut: — ayah!”

Karena aku tak pernah meng­a­lami peris­tiwa seperti itu, aku menu­rut. Kude­kat­kan mulutku pada kuping­nya. Ber­seru:

“Bapak!”

“Lagi,” susul istriku.

“Bapak!” seruku lagi.

Kemu­dian diam seben­tar. Tiba-tiba ter­i­ngat olehku: ayah orang Islam. Dan kem­bali kude­kat­kan mulutku pada kuping­nya, ber­seru:

“Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar.”

Adikku yang keem­pat menyela:

“Jangan biar­kan ter­buka mulut bapak, mas.”

Dan kurap­at­kan dagu ayah ke atas. Tapuk mata­nya kuturun­kan. Di saat itu juga dengan tiada kusangka-sangka para tetangga datang dan mem­be­ri­kan ban­tu­an­nya. Dagu ayah diikat dengan sepo­tong kain dengan kepala dan kemu­dian, — dengan sen­di­r­i­nya saja — ber­ba­reng kami mena­ngis.

Adikku yang keem­pat merang­kul daku, menyu­a­ra­kan peng­a­du­an­nya yang patah-patah:

“Tadi, mas, tadi, waktu engkau tidur, para tetangga datang. Mas, mereka menung­gui ayah, mas, dan ayah, mas, ayah merasa ter­ganggu. Ayah menyu­ruh mereka semua pergi. Juga aku dan adik-adik. Dan waktu tadi, mas, waktu aku datang lagi, mas, untuk mem­ba­wa­kan bubur, mas, ayah, mas, ayah sudah tak ada.”

Dan aku mem­ba­lasi peng­a­du­an­nya itu:

“BIar­lah, adikku. Semua itu sudah ter­jadi. Engkau masih ada kakak, bukan?”

Dan aku ciumi dia. Tapi tangis kami disa­put oleh keda­tangan para tetangga yang lebih banyak lagi. Dan seben­tar kemu­dian — seben­tar kemu­dian, rumah kami telah penuh oleh pela­wat.

Dan kami meru­pa­kan, pulau dike­li­ling para pela­wat itu.


14

Malam itu ayah yang tak ber­nyawa lagi itu diba­ring­kan di bale dalam keru­munan orang banyak yang duduk-duduk di kursi. Bera­tus macam per­ca­kapan timbul. Dan asap setanggi menge­pul-ngepul dari bawah bale jena­zah. Asap itu dibawa oleh angin malam, meng­ham­piri hidung-hidung para pela­wat dan kemu­dian ber­cam­pur dengan asap rokok. Kadang-kadang bila ada ter­de­ngar orang batuk — dengan suara rendah seng­sara dan merongga — aku ter­ke­jut. Juga adik-adikku. Dan datang saja suara dalam kepala. Adakah ayah hidup kem­bali?

Para tamu meng­ge­rom­bol-gerom­bol dengan kawan sepa­ham­nya masing-masing. di sebuah sudut pen­dopo meng­ge­rom­bol orang-orang yang mem­per­ca­kap­kan per­ju­dian.

“Alah, Alah,” seo­rang pela­wat Tiong­hoa ber­kata, “kawan kita yang paling baik telah men­da­hu­lui kita. Dan seka­rang? Seka­rang aku tak dapat meng­ha­rap­kan uang cuk1 lagi dari­pa­da­nya.”

Orang itu ber­diam diri dan meman­dangi kawan-kawan­nya yang lain.

“Tak ada orang yang begitu kuat ber­judi selain dia,” yang lain menyela.

“Seka­rang kita harus men­cari kawan baru untuk meleng­kap­kan per­ma­inan,” yang lain lagi menyu­sul­kan sua­ra­nya.

“Ya,” orang Tiong­hoa itu menge­luh. Diam­bil­nya seba­tang rokok yang ter­se­dia di depan­nya. Mero­kok. Mene­rus­kan, “Dan tak ada orang yang bisa ber­ce­rita ten­tang babad tanah Jawa begitu bagus dalam kita ber­main.”

“Ya,” seo­rang tua yang gendut menyam­bungi. “Dan aku masih ingat — sepu­luh tahun yang lalu. Kita ber­em­pat meng­ha­dapi meja. Kemu­dian salah seo­rang di antara kami menyem­bur­kan tan­tang­an­nya. Ayo, siapa berani lama- lamaan pegang kartu? Ber­ba­reng saja ter­de­ngar jawaban, Mari! Mari! Tapi dia diam saja. Dalam sehari itu dia tak ber­diri dari kur­si­nya. Tak makan. Tak minum. Malam­nya begitu juga. Seo­rang demi seo­rang di antara kami sudah mulai geli­sah. Orang yang per­tama kali ber­diri dari kursi adalah aku sen­diri. Dan aku bilang, Aku tidak kuat. Biarlah aku pergi dulu. Dan tem­patku didu­duki oleh orang lain. Sesu­dah itu aku tidur selama enam jam. Seha­bis mandi dan makan, segera aku berang­kat pergi kem­bali, dan tahu engkau? Dia masih duduk juga di tem­pat­nya. Sudah dua tempat ber­ganti orang. Dan aku ber­ta­nya, Engkau belum berdiri juga sejak kemarin dulu? Ia hanya meng­ge­leng sambil ter­se­nyum. Lima jam kemu­dian tempat yang ketiga kutem­pati. Dua hari dua malam, kawan, dan dia belum juga ber­ge­rak dari tempat duduk­nya. Jadi lima hari lima malam sudah. Juga tidak makan, tidak minum dan tidak buang air. Aku pikir, dia bukan sem­ba­rang orang”

“Seperti dong­eng,” seo­rang yang agak muda menam­bahi.

“Aku sudah dengar juga kabar itu,” sam­bung orang Tiong­hoa itu, “— sepu­luh tahun yang lalu. Tapi kawan kita itu, kini sudah tak ada lagi.” Baru saja ia habis ber­kata, ia men­je­nguk ke dalam rumah dari pintu meli­hat kawan seper­ju­di­an­nya yang kini telah ter­bu­jur tak ber­na­fas lagi.

“Kita semua sudah men­jadi tua seka­rang,” sam­bung orang gendut tua itu. “Coba­lah, sebu­lan yang lalu kakakku mati tua. Dan aku ini? Hanya sepu­luh tahun saja beda­nya umurku ini dari­pada umur­nya. Bukan­kah kita semua ini sudah jadi tua seka­rang?” Dan karena tak ada seo­rang pun yang men­ja­wab, orang itu meman­dang orang Tiong­hoa itu, mene­rus­kan, “Dan anakmu seka­rang sudah lima. Malah sudah ada yang pera­wan.”

“Ya, meng­apa hidup ini begini cepat?” orang Tiong­hoa itu menyam­bung.

ORang yang masih agak muda itu ber­kata seka­rang:

“Waktu ia sakit aku belum lagi datang mene­ngok­nya. Sekali aku datang ke rumah sakit tapi pada pintu kamar­nya ada ter­gan­tung sepo­tong karton yang ditu­lis selain keluarga tak boleh menengoki. Jadi aku terus pergi pulang sampai — sampai kawan kita itu tidak ada.” Ia men­je­nguk ke dalam rumah meli­hat jena­zah yang ter­ba­ring itu.

“Sejak dia sakit, aku pun belum lagi mene­ngok­i­nya,” orang gendut tua itu menyu­sul­kan sua­ra­nya.

“Aku juga belum,” orang Tiong­hoa itu meng­ga­rami.

“Kasihan,” kata yang agak muda, “waktu dia sehat, selalu kita cari-cari dia untuk meleng­kapi per­ju­dian. Waktu dia sakit, tak ada seo­rang pun di antara kita datang mene­ngok. Dan waktu mening­gal, ia mening­gal seo­rang diri.” Ia ter­diam seperti ter­ke­jut oleh per­ka­ta­an­nya sen­diri. Kemu­dian mene­rus­kan dengan suara yang tak ditu­ju­kan kepada siapa pun juga. “Ya, meng­apa orang ini harus mati seo­rang diri?”

Tak ada yang men­ja­wab.

Dan sege­rom­bolan pen­judi itu jadi ter­me­nung-menung oleh per­ta­nyaan pen­judi agak muda yang tak ber­ja­wab itu. Malam itu dingin juga seperti malam-malam bia­sa­nya di kota kecil Blora yang diling­kari hutan jati. Kemu­dian orang Tiong­hoa itu ber­kata dengan mata ditu­ju­kan pada gen­teng yang tak diso­tohi:

“Ya. Meng­apa kita ini harus mati seo­rang diri? Lahir seo­rang diri pula? Dan meng­apa kita ini harus hidup di satu dunia yang banyak manu­si­a­nya? Dan kalau kita sudah bisa men­cin­tai seo­rang manu­sia, dan orang itu pun men­cin­tai kita —,” ia duduk ber­lu­rut dan men­je­nguk mela­lui jen­dela ke ruang tengah di mana jena­zah itu ter­ba­ring sen­di­r­ian. Mene­rus­kan, “seperti men­di­ang kawan kita itu misal­nya — meng­apa kemu­dian kita harus ber­ce­rai-berai dalam maut. Seo­rang. Seo­rang. Seo­rang. Dan seo­rang lagi lahir. Seo­rang lagi. Seo­rang lagi. Meng­apa orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti pasar malam.”

Ketiga kawan itu ter­tawa oleh ucapan orang Tiong­hoa itu. Dan orang Tiong­hoa itu sen­diri pun ter­tawa. Orang lain tak meng­erti ucap­an­nya. Dan iapun tak meng­erti ucap­an­nya sen­diri. Kemu­dian per­ca­kapan itu mati. Seo­rang tamu baru datang dan duduk di dekat gerom­bolan itu. Kemu­dian ter­de­ngar orang mene­gur dari bela­kang­nya:

“Mas Mantri!”

Tamu baru itu mene­ngok dan ber­seru:

“O, dik Juru.”

Mas Mantri menge­lu­ar­kan keluh. Kemu­dian ber­kata lambat-lambat:

“Kawan kita telah mening­gal. Aku pikir, kita seka­rang kehi­langan orang kuat dalam per­ju­angan daerah kita.”

“Ya. Dan marhum kawan kita begitu aktif­nya. Tak kenal siang atau malam semua keper­luan partai dila­deni. Tapi seka­rang dia sudah tak ada.” Ia menge­luh, seperti betul-betul merasa kehi­langan sesu­atu yang besar dalam hidup­nya.

“Coba­lah, dik Juru, dua bulan yang lalu dia masih naik sepeda datang ke rumahku untuk mem­be­res­kan urusan obli­gasi — Tahu engkau per­kara obli­gasi nasi­o­nal2 dulu?”

Ia diam. Dan orang yang dipang­gil­nya dik Juru ber­kata:

“Obli­gasi yang hilang dulu?” tanya­nya.

“Ya. Obli­gasi itu dulu ada pada kawan kita marhum. Dan tikus telah mela­ri­kan­nya untuk jadi sarang­nya. Lima belas lembar. Tapi heran —” ia diam seben­tar seperti sedang menik­mati suatu kenangan yang indah. “Digan­ti­nya harga obli­gasi itu penuh-penuh dengan tidak merasa kepa­yahan sedi­kit pun juga. Kabar­nya banyak barang-barang­nya yang diju­al­nya. Tapi itu aku tak tahu betul. Hanya pera­saan tang­gung­ja­wab­nya itu yang selalu menga­gum­kan hatiku. Sung­guh! Aku kagum, aku menga­gumi dia dengan selu­ruh hatiku. Tahu engkau apa yang mau kuker­ja­kan pada­nya dulu? — dulu di masa sebe­lum perang?” Ia diam menan­ti­kan jawaban.

Orang yang dise­but­nya dik Juru itu ber­diam-diam tak men­ja­wab. Gerom­bolan pen­judi itu dengan pelahan-lahan dan tidak dike­ta­hui telah turut men­de­ng­ar­kan per­ca­kapan itu.

“Waktu aku masih jadi mantri polisi — dulu sebe­lum perang — aku men­da­pat perin­tah dari Hindia Belanda untuk meng­a­was­i­nya. Dia ter­can­tum di lis orang merah — di garis yang per­tama sekali. Kuki­rim­kan tiga orang rese­rse untuk ber­gan­tian meng­i­kuti dan menye­li­dik­i­nya. Tahu apa yang diper­bu­at­nya ter­ha­dap rese­rse yang kuki­rim­kan dulu?”

Orang men­de­ng­ar­kan dengan penuh per­ha­tian. Tapi tak ada seo­rang pun yang menyela. Dan mas Mantri itu mene­rus­kan:

“Suatu malam, ia tahu bahwa sedang dii­kuti. Dibawa rese­rse itu masuk ke dalam kuburan. Dan karena rese­rse itu tak berani meng­in­jak­kan kaki­nya ke dalam kuburan ia menunggu di luar pagar. Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Kawan kita itu tak juga muncul. Dan rese­rse itu? Ia lari ter­bi­rit-birit oleh keta­kutan.”

Orang-orang ter­tawa. Dan orang yang meling­kungi mas Mantri itu kian banyak. Ceri­ta­nya tambah lama tambah banyak. Ter­u­tama waktu kopi die­dar­kan. Tapi malam memaksa para tamu itu pergi pulang ke rumah­nya masing-masing.

Malam itu yang ting­gal hanya para tetangga yang ter­de­kat. Di antara mereka pun timbul per­ca­kapan yang semu­a­nya memuji-muji kawan­nya yang baru saja mening­gal dunia. Dan dengan tiada terasa, hari baru pun datang­lah dengan megah­nya. Tamu-tamu baru datang. Dan para pela­wat yang tak memin­cing­kan mata­nya selu­ruh malam, pergi untuk mandi. Tamu baru kian lama kian banyak juga. Akhir­nya jena­zah itu pun diba­walah ke rumah manu­sia yang ter­a­khir: kuburan.



15

Selama zaman perang — selama Jepang men­da­rat hingga run­tuh­nya peme­rin­tahan Belanda di Indo­ne­sia — kami telah kehi­langan ibu, adik yang ter­ke­cil. Kedu­a­nya ber­ja­jar dalam satu kuburan. Kemu­dian di sam­ping kuburan bunda mem­bu­jur kuburan nenek. Dan di sam­ping­nya lagi kuburan baru — rumah ayah yang ter­a­khir. Dan di sam­ping kuburan itu mem­bu­jur kuburan kakek. Ya, banyak kami kehi­langan di masa perang itu. Dan kuburan yang telah dela­pan tahun tak pernah kul­i­hat lagi itu kini telah penuh oleh kuburan baru — kuburan mereka yang diang­gap pah­la­wan. Dan di antara kuburan mereka yang diang­gap pah­la­wan itu ada juga ter­da­pat bajingan yang karena salah penye­li­dikan ter­ma­suk juga dalam golongan pah­la­wan.

Di kala para peng­an­tar telah menyak­si­kan penu­runan jena­zah ayah ke dalam lahat­nya; juga di kala mereka telah menu­run­kan tanah dari ung­gu­kan­nya; juga sete­lah ayah telah lenyap ke dalam pelukan bumi — belum juga aku bangun dari tin­dasan haruan. Hati yang ter­sa­yat-sayat ini mem­ba­tal­kan mak­sudku untuk meng­u­cap­kan teri­ma­ka­sihku kepada mereka. Ada juga bebe­rapa mata yang meman­dang daku — karena tahu bahwa aku anak sulung — untuk meng­u­cap­kan bebe­rapa kali­mat. Tapi tak sepa­tah pun suara keluar dari mulutku. Akhir­nya seo­rang demi seo­rang pergi. Dan kami — aku dan adik-adikku — ber­lu­tut dengan kepala tunduk mere­nungi kuburan baru.

O — manu­sia yang ter­ku­bur itulah yang telah menu­run­kan kami. Dulu ia ber­cita-cita tinggi juga. Dulu ia meng­a­lami per­cin­taan juga — cinta yang gagal dan tak gagal. Dulu ia sering ter­de­ngar menya­nyi — menya­nyi­kan lagu daerah, lagu-lagu kebang­saan dan lagu-lagu seko­lahan Belanda. Tapi sua­ra­nya itu kini telah mati. Dulu ia meng­a­jar. Dan telah beribu-ribu murid dibu­ka­kan jalan­nya. Dulu ia giat mem­per­ju­ang­kan ter­ca­pai­nya kemer­de­kaan bang­sa­nya: selama tiga puluh tahun. Dan kini, belum lagi seta­hun kemer­de­kaan ter­ca­pai ia telah tak digu­na­kan lagi oleh seja­rah, oleh dunia dan oleh manu­sia. Dan seperti kami juga, dulu iapun pernah meng­a­lami keta­kutan, keseng­sa­raan, kese­nangan dan segala pera­saan lain yang ada dalam tubuh manu­sia. Tapi semua itu kini sudah mati bagi­nya.

Aku meni­tik­kan air mata lagi.

Dan adik-adikku meni­tik­kan air mata lagi.

Kemu­dian, pelahan-lahan kami mening­gal­kan kuburan di mana tong­gak men­co­ngak-congak. Seben­tar tadi banyak sekali orang — tak kurang dari dua ribu. Tapi kini ting­gal kami kakak ber­a­dik. Dan pelahan lahan kami sampai di jalan raya. Siang itu terik mulai mem­ba­kar kulit. Dan kami ber­ja­lan terus pulang — ke rumah di mana ibu mening­gal, di mana adik kami yang ter­ke­cil mening­gal, di mana ayah kema­rin mening­gal, dan barang­kali juga di mana kelak kami mening­gal dunia. Dan dalam ber­ja­lan pulang ter­ba­yang dalam kepa­laku kuburan ibu, adik, nenek, ayah dan kakek. Dan barang­kali juga kelak di sam­ping­nya, mayatku sen­diri diku­bur­kan orang. Dan orang Tiong­hoa sema­lam meng­hen­daki dunia yang seperti pasar malam, di mana orang bera­mai-ramai datang dan bera­mai-ramai pergi. Ting­gal mereka yang harus menya­pui saja yang ting­gal. Dan yang menya­pui itu — seka­li­pun tak dika­ta­kan oleh­nya — ialah Tuhan yang dise­but-sebut orang yang tak pernah menge­ta­hu­i­nya.


16

Sampai di rumah, lenyap­lah segala kesa­yuan, kese­dihan dan keseng­sa­raan. Rumah yang selama aku datang dari Jakarta — sebu­lan yang lalu — nampak gelap, kini keli­hatan terang dan ber­seri-seri. Juga manu­sia-manu­sia yang men­di­am­i­nya. Sunyi lagi rumah kami. Dari bela­kang rumah ter­de­ngar adikku yang duduk di seko­lah mene­ngah klas dua menya­nyi­kan lagu Old Kentucky Home.1 Aku ter­diam men­de­ng­ar­kan. Tapi lagu itu pun mati. Dan seperti dengan sen­di­r­i­nya saja kelu­ar­lah dari mulutku lagu-lagu Negro Spirituals,2 suara manu­sia yang ter­tin­das, suara manu­sia yang merin­du­kan sesu­atu yang tak dimeng­er­ti­nya. Dan hari ber­ja­lan dengan malas­nya.

Sore itu dengan pelahan saja datang. Dan di kala mata­hari hampir saja lenyap di ufuk barat, datang­lah tamu baru. Kata­nya:

“Aku sudah lama kenal pada marhum ayah tuan. Kami dulu meng­em­bara men­ja­lan­kan tugas di daerah gerilya. Ya, aku kenal betul ayah tuan. Ia bekerja pada Belanda, tapi terus saja marhum bekerja bawah tanah. Banyak yang telah dika­ta­kan­nya padaku. Tapi apa yang sudah dika­ta­kan­nya itu tak perlu kuka­ta­kan. Pasti tuan dan adik-adik tuan menge­ta­hui sudah. Hanya yang bisa kuka­ta­kan dengan pasti, dan barang­kali inilah yang tak tuan keta­hui, ialah: ayah tuan gugur di lap­angan poli­tik.”

Aku kaget. Kupan­dang mulut­nya. Bibir­nya ber­ge­rak-gerak pula. Dan ter­de­ng­ar­lah sua­ra­nya:

“Aku lihat tuan kaget. Tapi sesung­guh­nya­lah be gitu. Ayah tuan jatuh sakit oleh keke­ce­waan — kecewa oleh kea­daan yang ter­jadi sesu­dah kemer­de­kaan ter­ca­pai. Rasa-rasa­nya tak sang­gup lagi ia meli­hat dunia keli­ling­nya yang jadi bobrok itu — bobrok dengan segala aki­bat­nya. Mereka yang dulu jadi jen­d­ral di daerah gerilya, mereka yang tadi­nya men­du­duki kedu­dukan-kedu­dukan pen­ting sebe­lum Belanda menyerbu, jadi pemim­pin pula di daerah gerilya dan jadi bapak rakyat sung­guh-sung­guh. Dan bukan tang­gung-tang­gung lagi ayah tuan mem­bela kepen­tingan mereka itu. Tapi kala kemer­de­kaan telah ter­ca­pai, mereka itu sama bere­butan gedung dan kursi. Dan barang­si­apa tak mem­per­o­leh yang dii­ng­in­kan­nya, mereka pergi — karena mereka tak perlu meng­ha­rap­kan gaji lagi. Dan ayah tuan, ayah tuan tak sang­gup meli­hat kea­daan seperti itu. Tapi dalam hidup manu­sia ini orang harus ber­gaul. Dan per­ga­ulan yang harus dima­suki oleh orang inilah yang menge­ram­kan penya­kit dalam diri marhum ayah tuan. Ayah tuan tak bicara apa-apa ten­tang mereka itu. Segala keke­ce­wa­an­nya itu dir­en­dam­nya saja di dalam hati­nya. Tapi akibat yang sangat besar tak didu­ga­nya akan menimpa dir­i­nya, Tbc kilat! Dua sete­ngah bulan sakit, dan beliau terus pergi.”

Ia diam seben­tar untuk mena­rik nafas. Dan aku diam seben­tar untuk mele­pas­kan per­ha­ti­anku dari sua­ra­nya. Kemu­dian ia meng­hem­bus­kan nafas besar seperti sedang menye­sali sesu­atu. Kata­nya lagi:

“Barang­kali sudah cukup­lah apa yang kuka­ta­kan. Tidak kurang dan tidak lebih. Benar, ayah tuan gugur di lap­angan poli­tik. Ayah tuan meng­un­dur­kan diri dari partai dan segala tetek-bengek agar bisa meng­hin­dari manu­sia-manu­sia badut-badut pen­curi untung itu. Tapi karena per­ha­ti­an­nya pada masya­ra­kat ter­lalu besar itulah ia tak bisa mele­pas­kan diri betul-betul dari semu­a­nya itu. Tapi tuan hen­dak­nya merasa bangga punya ayah seperti marhum. Bukan?” Ia meman­dang daku.

Aku tak menya­h­ut­i­nya. Ter­de­ngar ia menge­luh.

“Kalau ayah tuan ada di kota besar — bisa mengem­bang­kan kepri­ba­di­an­nya — barang­kali sudah yadi besar. Barang­kali sudah jadi men­teri.” Ia menge­luh lagi. “Tapi, ya, ayah tuan selalu ber­pe­gangan pada ajaran Rong­go­war­sito.3 Karena itu beliau tak mau turut dengan badut-badut yang ber­gila-gilaan itu.”

Ia diam.

Senja seka­rang. Beduk magrib telah ber­talu-talu. Tamu itu bangun dari tempat duduk­nya. Ber­diri, ber­kata sopan dan mena­rik-narik:

“Nah, tuan, hari sudah malam. Hanya pesanku jangan dilu­pa­kan, kerap-kerap­lah menye­kar ke kuburan ayah tuan.”

Kemu­dian ia pergi. Kuan­tar­kan ia sampai di pagar. Dan dengan tiada ter­duga-duga malam cepat-cepat datang. Dan di dunia ini, manu­sia bukan ber­du­yun-duyun lahir di dunia dan ber­du­yun-duyun pula kem­bali pulang. Seo­rang-seo­rang mereka datang. Seo­rang-seo­rang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nya­wa­nya ter­bang entah ke mana ….



Catatan tentang Edisi Ini

Bukan Pasar Malam terbit per­tama kali di Balai Pus­taka pada 1951. Teks edisi ini ber­a­sal dari cetakan ketiga (1961), yang sampul dan ilus­tra­si­nya dibuat Wen Peor. Kami mema­kai dua salinan digi­tal buku itu yang ber­e­dar daring: sebuah pin­daian dan sebuah ketikan ulang.

Ketikan ulang itu ter­nyata tidak setia pada buku­nya. Ada kata yang diganti dengan bentuk yang lebih baru (pelahan men­jadi perlahan, turut men­jadi ikut, tilpun men­jadi telepon), ada kali­mat yang hilang, dan ada salah ketik. Karena itu setiap kata di ketikan itu kami cocok­kan dengan hasil pem­ba­caan mesin atas pin­daian. Setiap per­be­daan yang menyang­kut makna, juga setiap kata yang hilang atau ber­le­bih, kami lihat lang­sung pada gambar halaman­nya. Yang kami pakai adalah bacaan pin­daian.

Ejaan kami alih­kan ke EYD V: dj men­jadi j, tj men­jadi c, j men­jadi y, nj men­jadi ny, sj men­jadi sy, dan ch men­jadi kh. Kata depan di dan ke kami pisah­kan dari kata yang meng­i­kut­i­nya, kata maje­muk yang dulu ditu­lis serang­kai (rumahsakit, airmata) kami pisah­kan, dan tanda baca kami sesu­ai­kan. Bentuk kata yang men­jadi ciri bahasa masa itu kami biar­kan, misal­nya pelahan, tilgram, kundektur, perlop, marhum, beca, dan lapuran. Seba­gian dije­las­kan di Daftar Kata. Ucapan yang ter­bata-bata, seperti Deng-an an … ak dan na-fas-ku, kami tulis seperti di sumber.

Pada dua tempat kami mem­per­ta­han­kan bacaan sumber walau­pun tampak seperti salah cetak: Adikku itu menunjukkan kepala (bab 9) dan ia duduk berlurut (bab 14).

Empat ilus­trasi di dalam buku ini dibuat A. Wakid­jan untuk cetakan per­tama (1951); gambar-gambar itu ber­tanda tahun ’51. Gambar-gambar itu difoto dari buku cetakan per­tama, diber­sih­kan dari warna kertas, lalu dipa­sang di dekat bagian cerita yang sama dengan letak­nya di buku itu. Ilus­trasi Wen Peor dari cetakan 1961 tidak kami pakai. Gambar rumah juga kami pasang di halaman sebe­lum halaman judul. Lampu minyak di setiap pem­buka bab kami ambil dari ilus­trasi jen­dela.

Empat catatan kaki ber­a­sal dari edisi sumber. Catatan yang dia­wali Catatan penyunting adalah tam­ba­han kami, dan hanya kami beri­kan untuk hal yang dapat kami periksa.


Daftar Kata

ambeien wasir

ayem (Jawa) tenang, tenteram

beca becak

brencarrier (Inggris Bren carrier) kendaraan lapis baja ringan beroda rantai

dokar kereta beroda dua yang ditarik kuda

famili kaum kerabat

howitser meriam berlaras pendek untuk tembakan melengkung

kedekut kikir

ketib khatib, petugas masjid yang menyampaikan khotbah

kundektur kondektur

leding (Belanda leiding) air ledeng

marhum almarhum

naib wakil penghulu

pantserwagen (Belanda) mobil lapis baja

pelawat pelayat

perlop (Belanda verlof) cuti

reak dahak

sampai hati tega

sep (Belanda chef) kepala kantor, atasan

setanggi dupa yang harum baunya

tamasa tamasya, pemandangan

tapuk mata kelopak mata

teritis bagian atap yang menjorok ke luar dinding; emper

tetek bengek hal-hal kecil yang remeh

tilgram telegram

usada (Jawa) obat, pengobatan

voorschot (Belanda) uang muka, persekot


Tentang Pengarang

Pra­mo­edya Ananta Toer (1925–2006) adalah rak­sasa sastra Indo­ne­sia yang kar­ya­nya lahir dari per­gu­latan seja­rah yang keras. Keluar-masuk pen­jara di masa Kolo­nial Belanda, Orde Lama, hingga peng­a­singan Pulau Buru pada masa Orde Baru tidak mem­buat nya­li­nya surut. Ia men­ja­di­kan sastra seba­gai monu­men per­la­wanan ter­ha­dap tirani. Diter­je­mah­kan ke lebih dari 40 bahasa dan ber­kali-kali dino­mi­na­si­kan untuk Nobel Sastra, Pram adalah bukti nyata bahwa kebe­naran tidak pernah bisa dipen­ja­ra­kan.


Daftar Karya Pramoedya Ananta Toer

  • Tulisan-tulisan semasa di SD, satu di anta­ra­nya pernah dita­war­kan pada pener­bit Tan Koen Swie, Kediri, dito­lak. Semua hilang.
  • Sepoeloeh Kepala Nica (1946), hilang di tangan pener­bit Balingka, Pasar Baru, Jakarta, 1947.
  • Kranji–Bekasi Jatuh (1947), frag­men dari Di Tepi Kali Bekasi.
  • Perburuan (1950). Peme­nang sayem­bara Balai Pus­taka, Jakarta, 1949.
  • Keluarga Gerilya (1950).
  • Subuh (1951), kum­pulan 3 cerpen.
  • Percikan Revolusi (1951), kum­pulan cerpen.
  • Mereka yang Dilumpuhkan I & II (1951).
  • Bukan Pasarmalam (1951).
  • Di Tepi Kali Bekasi (1951), sisa naskah yang dir­am­pas Mari­nir Belanda pada 22 Juli 1947.
  • Dia yang Menyerah (1951), kemu­dian dice­tak-ulang dalam kum­pulan cerpen.
  • Cerita dari Blora (1952), peme­nang karya sastra ter­baik dari Badan Musya­warah Kebu­da­yaan Nasi­o­nal, Jakarta (1953).
  • Gulat di Jakarta (1953).
  • Midah Si Manis Bergigi Emas (1954).
  • Korupsi (1954).
  • Cerita Calon Arang (1957).
  • Sekali Peristiwa di Banten Selatan (1958).
  • Panggil Aku Kartini Saja I & II (1963); III & IV diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Kumpulan Karya Kartini, yang pernah diu­mum­kan di ber­ba­gai media; diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Wanita Sebelum Kartini, diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Gadis Pantai (1962–65) dalam bentuk cerita ber­sam­bung, bagian per­tama tri­logi ten­tang kelu­arga penu­lis; terbit seba­gai buku, 1987, dila­rang Jaksa Agung. Jilid II dan III diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Sejarah Bahasa Indonesia. Satu Percobaan (1964); diba­kar Ang­katan Darat pada 13 Okto­ber 1965.
  • Mari Mengarang (1955), tak jelas nasib­nya di tangan pener­bit di Jalan Kramat Raya, Jakarta.
  • Cerita dari Jakarta (1957).
  • Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (1963).
  • Lentera (1965), kum­pulan tulisan yang pernah diu­mum­kan oleh Lentera. Tak jelas nasib­nya di tangan pener­bit di Jalan Pece­nongan, Jakarta.

Semua kar­ya­nya dila­rang oleh Kemen­te­rian PPK/PDK, 1966.

  • Bumi Manusia (1980), bagian per­tama tet­ra­logi Buru. Dila­rang Jaksa Agung, 1981.
  • Anak Semua Bangsa (1981), bagian kedua tet­ra­logi Buru. Dila­rang Jaksa Agung, 1981.
  • Sikap dan Peran Intelektual di Dunia Ketiga (1981).
  • Tempo Doeloe (1982), anto­logi sastra pra-Indo­ne­sia.
  • Jejak Langkah (1985), bagian ketiga tet­ra­logi Buru. Dila­rang Jaksa Agung, 1985.
  • Hikayat Siti Mariah, (ed.) Haji Mukti (1987). Dila­rang Jaksa Agung, 1987.
  • Rumah Kaca, bagian keem­pat tet­ra­logi Buru, 1988. Dila­rang Jaksa Agung, 1988.
  • Sang Pemula (1985). Dila­rang Jaksa Agung, 1985.
  • Memoar Oei Tjoe Tat, (ed.) Oei Tjoe Tat, 1995. Dila­rang Jaksa Agung, 1995.
  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I, 1995. Dila­rang Jaksa Agung, 1995.
  • Arus Balik, 1995.
  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II, 1997.
  • Arok Dedes, 1999.
  • Mangir, 2000.
  • Larasati (Ara), 2000.

Penghargaan

1988 Freedom to Write Award dari PEN American Center, Amerika Serikat.

1989 Anugerah dari The Fund for Free Expression, New York, Amerika Serikat.

1995 Wertheim Award, “for his meritorious services to the struggle for emancipation of the Indonesian people”, dari The Wertheim Foundation, Leiden, Belanda.

1995 Ramon Magsaysay Award, “for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognition of his illuminating with brilliant stories the historical awakening, and modern experience of the Indonesian people”, dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina.

1996 Partai Rakyat Demokratik Award, “hormat bagi Pejuang dan Demokrat Sejati” dari Partai Rakyat Demokratik.

1996 UNESCO Madanjeet Singh Prize, “in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence”, dari UNESCO, Paris, Prancis.

1999 Doctor of Humane Letters, “in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom”, dari University of Michigan, Madison, Amerika Serikat.

1999 Chancellor’s Distinguished Honor Award, “for his outstanding literary archievements and for his contributions to etnic tolerance and global understanding”, dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat.

1999 Chevalier de l’Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication République Française, Paris, Prancis.

2000 New York Foundation for the Arts Award, New York, Amerika Serikat.

2000 Fukuoka Cultural Grand Prize, Jepang.


Terima Kasih

Terima kasih kepada orang-orang yang dulu memin­dai dan menge­tik ulang buku ini lalu mem­ba­gi­kan­nya di inter­net. Dari salinan mere­ka­lah edisi ini bisa dimu­lai.

Terima kasih kepada kawan-kawan yang ikut mem­baca dan meme­riksa, dan kepada pem­baca yang mau mem­beri tahu kami bila mene­mu­kan kesal­ahan di edisi ini.