Enam bulan setelah bebas dari kamp tawanan Belanda di Bukit Duri, seorang mantan prajurit revolusi pulang ke Blora untuk menjenguk ayahnya yang sakit keras. Namun, kepulangan ke tanah kelahiran itu sama sekali tak disambut oleh kemeriahan. Di rumah masa kecil yang dindingnya mulai rapuh dan perabotannya habis terjual, ia mendapati sang ayah—seorang guru dan nasionalis gigih yang dulu begitu berwibawa—kini terbaring lemah digerogoti TBC.
Di sela-sela batuk darah sang ayah dan himpitan kemiskinan adik-adiknya yang terlantar, ia dipaksa berhadapan dengan kekecewaan paling pahit pasca-kemerdekaan: ketika republik yang diperjuangkan dengan nyawa ternyata belum mampu mengobati luka pejuangnya sendiri. Ditulis dari pengalaman pribadi Pramoedya Ananta Toer saat melepas kepergian ayahnya pada 1950, Bukan Pasar Malam adalah renungan sunyi tentang kesepian manusia: bahwa kita lahir seorang diri, dan akan kembali menghadap maut seorang diri pula, tak seperti keramaian pasar malam yang datang dan pergi bersama-sama.
Edisi Seabad · 1925–2025
Pramoedya Ananta Toer
Bukan Pasar Malam
KOLEKSI PRIBADI
MUHAMMAD REZA MAGISTRA
Lund, 2026
Bukan Pasar Malam. Pramoedya Ananta Toer.
Edisi Seabad 1925–2025, edisi digital tidak resmi. Disusun oleh penggemar sebagai kelanjutan peringatan seratus tahun Pramoedya, tidak berhubungan dengan ahli waris maupun penerbit karya-karyanya.
Terbit pertama: Balai Pustaka, 1951. Teks edisi ini disalin dari cetakan ketiga (1961) dan dicocokkan dengan pindaiannya. Ejaan diseragamkan menurut Ejaan yang Disempurnakan edisi kelima (EYD V).
Hak cipta karya © Pramoedya Ananta Toer dan ahli warisnya. Edisi digital ini disusun untuk koleksi pribadi dan peringatan seratus tahun Pramoedya Ananta Toer, tidak untuk diperjualbelikan.
Ilustrasi: A. Wakidjan, untuk cetakan pertama (1951). Sampul, tata letak, ornamen pelita (dari ilustrasi Wakidjan), dan catatan penyunting: Muhammad Reza Magistra. Diset dengan Newsreader.
KOLEKSI PRIBADI MUHAMMAD REZA MAGISTRA · LUND, 2026
“Ya. Mengapa kita ini harus mati seorang diri? Lahir seorang diri pula?”
Bab 14
Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi.
Bab 16
Dari Kami untuk Pembaca
Bukan Pasar Malam terbit pertama kali pada 1951 di Balai Pustaka. Ceritanya sederhana. Seorang lelaki muda yang belum lama keluar dari penjara menerima surat bahwa ayahnya sakit keras di Blora. Ia mencari utang untuk ongkos, naik kereta bersama istrinya, lalu menunggui ayahnya, di rumah sakit dan kemudian di rumah, sampai ayahnya meninggal. Hampir tak ada peristiwa besar lain. Yang mengisi buku ini justru hal-hal kecil: rumah yang mulai rusak, adik yang menangis sambil menghafal pelajaran, para tetangga yang datang dan pergi, dan pertanyaan seorang penjudi Tionghoa pada malam kematian itu, mengapa manusia lahir dan mati seorang diri.
Kisah ini dekat dengan hidup Pram sendiri. Ia ditahan Belanda di Bukit Duri sampai 1949, dan ayahnya seorang guru yang aktif di Boedi Oetomo. Meski begitu, kami membacanya sebagai novel, dan kami tidak mencoba mencocokkan setiap halamannya dengan riwayat pengarangnya.
Edisi ini tidak resmi. Kami menyusunnya sebagai pembaca, untuk meneruskan peringatan seratus tahun Pramoedya Ananta Toer dengan cara kami sendiri. Teksnya kami ambil dari cetakan ketiga (1961) dan kami alihkan ke Ejaan yang Disempurnakan edisi kelima tanpa mengubah susunan kalimat Pram. Empat gambar A. Wakidjan dari cetakan pertama kami pasang kembali di dekat bagian cerita yang digambarnya, dan lampu minyak dari salah satu gambar itu menjadi hiasan pembuka bab. Rincian tentang sumber dan cara penyalinan ada di bagian akhir buku.
Lund, November 2026
Muhammad Reza Magistra dan kawan-kawan
1
Sesungguhnya surat itu takkan begitu menyayat hatiku, kalau saja sebelumnya aku tak mengirimi surat yang berisi sesuatu yang tak enak untuk dibaca. Begini kata surat yang kuterima itu:
Blora, 17 Desember 1949
Anakku yang kucintai!
Di dunia ini tak ada suatu kegirangan yang lebih besar daripada kegirangan seorang bapak yang mendapatkan anaknya kembali, anaknya yang tertua, pembawa kebesaran dan kemegahan bapak, anaknya yang dalam beberapa waktu terasing dari masyarakat ramai, terasing dari cara hidup manusia biasa.
Anakku!
Aku dapat menggambarkan kesulitan jiwamu; aku dapat menggambarkan penderitaanmu dalam ruang yang sangat terbatas, karena aku mengalami sendiri ketika pemberontakan P …,1 selama dua minggu hidup dalam tiga penjara. Mulai saat itu sampai kini tiap malam aku bermohon kepada Tuhan seru sekalian alam akan keselamatan dan kebahagiaan sekeluarga, turun-temurun. Dosa kita sekeluarga moga-moga diampuni-Nya.
Ya, begitu permulaan suratnya setelah aku dua minggu keluar dari penjara. Surat yang pedas yang kukirimkan, dan surat balasan yang kuterima itu membuat air mataku bertitik. Dan berjanjilah aku dalam hati: aku harus memperbaiki kelancanganku.
Aku tak pernah menyangka, bahwa ayah pun pernah tertawan oleh komunis.2 pula. Dan setengah tahun kemudian melayang pula surat dari Blora3 Sekali ini bukan dari ayah — seorang paman:
Kalau bisa, pulanglah engkau ke Blora untuk dua atau empat hari. Ayahmu sakit. Tadinya malaria dan batuk. Kemudian ditambah dengan ambeien. Akhirnya ketahuan beliau kena tbc. Ayahmu ada di rumah sakit sekarang dan telah empat kali memuntahkan darah.
Mula-mula aku terkejut membaca berita itu. Sesak di dada. Kegugupan datang menyusul. Dalam kepalaku terbayang: ayah. Kemudian: uang. Dari mana aku dapat memperoleh uang untuk ongkos pergi? Dan ini membuat aku mengedari kota Jakarta — mencari kawan-kawan — dan hutang.
Panas waktu itu. Dan mobil yang berpuluh ribu banyaknya itu menyemburkan debu pada badan yang berkeringat. Dan debu yang merupakan berbagai macam campuran: reak kering, tahi kuda, hancuran ban mobil, hancuran ban sepeda dan beca, dan barangkali juga hancuran ban sepedaku sendiri yang kemarin meluncur jalan-jalan yang kulalui kini. Dan debu yang berpancaragam itu melengket bersama keringat seperti lem pada badan. Ini membuat aku memaki sedikit — sedikit saja — dalam hati.
Ya, sekiranya aku punya mobil — sekiranya, kataku — semua ini mungkin takkan terjadi. Di kala itu juga aku berpendapat, bahwa orang yang punya itu banyak menimbulkan kesusahan pada yang tak punya. Dan mereka tidak merasai ini.
Beberapa puluh menit sesudah magrib, berhasillah aku mendapat hutang itu. Sekiranya kawan yang baik itu tak dapat mengulurkan uangnya sambil berkata uang ini sementara bisa engkau pakai, pastilah keadaanku lebih tersiksa daripada tadinya. Surat pedas yang sudah kukirimkan dahulu, mengakibatkan perasaan berdosa dalam dadaku. Dan untuk menghilangkan semua itu aku wajib datang menemui ayah yang sedang sakit. Begitu kata hatiku.
Antara gelap dan lembayung sinar sekarat di barat yang merah, sepedaku meluncuri jalan kecil depan istana. Istana itu — mandi dalam cahaya lampu listrik. Entah berapa puluh ratus watt. Aku tak tahu. Hanya perhitungan dalam persangkaanku mengatakan: listrik di istana itu paling sedikit sebesar lima kilowatt. Dan sekiranya ada dirasa kekurangan listrik, orang tinggal mengangkat til pun dan istana mendapat tambahan.
Presiden memang orang praktis — tidak seperti mereka yang memperjuangkan hidupnya di pinggir jalan berhari-harian. Kalau engkau bukan presiden, dan juga bukan menteri, dan engkau ingin mendapat tambahan listrik tiga puluh atau lima puluh watt, engkau harus berani menyogok dua atau tiga ratus rupiah. Ini sungguh tidak praktis. Dan kalau isi istana itu mau berangkat ke A atau ke B, semua sudah sedia — pesawat udaranya, mobilnya, rokoknya, dan uangnya. Dan untuk ke Blora ini aku harus pergi mengedari Jakarta dulu dan mendapatkan hutang. Sungguh tidak praktis kehidupan seperti itu.
Dan kalau engkau jadi presiden, dan ibumu sakit, atau ambillah bapakmu atau ambillah salah seorang dari keluargamu yang terdekat — besok atau lusa engkau sudah bisa datang menengok. Dan sekiranya engkau pegawai kecil yang bergaji cukup hanya untuk bernafas saja, minta perlop untuk pergi pun susah. Karena sep-sep kecil itu merasa besar kalau dia bisa memberi larangan sesuatu pada pegawainya.
Ini semua merupakan kekesalan hatiku semata. Demokrasi sungguh suatu sistem yang indah. Engkau boleh jadi presiden. Engkau boleh memilih pekerjaan yang engkau sukai. Engkau mempunyai hak sama dengan orang-orang lainnya. Dan demokrasi itu membuat aku tak perlu menyembah atau menundukkan kepala pada presiden atau menteri atau paduka-paduka lainnya. Sungguh — ini pun suatu kemenangan demokrasi. Dan engkau boleh berbuat sekehendak hatimu bila saja masih berada dalam lingkungan batas hukum. Tapi kalau engkau tak punya uang, engkau akan lumpuh tak bisa bergerak. Di negara demokrasi engkau boleh membeli barang yang engkau sukai. Tapi kalau engkau tak punya uang, engkau hanya boleh menonton barang yang engkau ingini itu. Ini juga semacam kemenangan demokrasi.
Semua mengisi dadaku di kala aku sedang mengayuh pedal dengan uang hutang di saku. Dan, ya, hutang pun suatu kebaikan atau budi juga dalam masa orang sedang kesempitan.
Hutang! Presiden! Menteri! Para paduka tuan! Dan penyakit! Mobil! Keringat dan debu tahi kuda! — Hatiku berteriak.
2
Pagi-pagi itu kereta pertama telah meluncur di atas relnya dari stasiun Gambir. Gundukan tanah merah yang tinggi, yang selalu kulihat di zaman Jepang dulu bila aku bepergian ke Blora juga, kini tinggal seperempatnya lagi. Diendapkan oleh hujan. Dicangkuli. Diseret oleh air hujan. Tiba-tiba saja terasa ngeri olehku melihat gundukan tanah merah di stasiun Jatinegara itu. Bukankah hidup manusia ini tiap hari dicangkul, diendapkan, dan diseret juga seperti gundukan tanah merah itu?
Pagi itu kabut tipis masih menabiri pemandangan. Dan mukaku kutarik dari jendela — agar tak melihat gundukan tanah itu. Yang terbayang dalam kepalaku: ayah. Bukankah hidup ayah juga dicangkuli, diendapkan, dan diseret juga? Dan karena aku sudah beristri, dan istriku duduk di sampingku pandangku kulemparkan padanya. Berkata:
“Kita pergi bukan untuk pesiar penganten. Kita pergi berziarah orang sakit sekarang.”
Desing dan desah kereta yang mulai berangkat lagi itu membuat aku tak mendengar apa yang dikatakannya. Hanya mulutnya saja kulihat berkecumik. Dan aku berkata lagi:
“Besok jam dua belas siang kita sampai di Blora.”
Aku lihat dia mengangguk. Kembali pandangku kulemparkan keluar kereta. Kabut pagi kian lama kian tipis. Kemudian Klender pun nampaklah dari jendela kereta itu. Bangkai-bangkai pantserwagen, brencarrier, truk, bergelimpangan di ladang-ladang dan di pinggir jalan raya — senjata Inggeris yang dilumpuhkan oleh barisan pemuda, dan juga dilumpuhkan oleh ketuaannya sendiri. Dan sekilas teringat olehku: pasukan pemuda yang terdesak oleh kekayaan senjata pasukan asing sampai di seberang kali Cakung.
Kemudian kereta pun sampailah di Cakung. Banyak sekali kenang-kenanganku yang terikat pada dusun kecil itu. Cakung — dalam lingkungan kebun karet, di mana berganti-ganti pasukan pemuda terkurung dan kemudian pasukan asing.
Kuisap sebatang rokok. Dan dingin pagi serta dingin angin itu tiada terasa betul kini. Sawah yang tandus dan yang hampir masanya dipaneni silih berganti berkejar-kejaran. Dan di sawah-sawah itu dahulu, kadang-kadang kapal capung Belanda melempari petani dengan granat tangan. Adakalanya juga capung itu mendarat di lapangan tandus dan mencuri kambing penduduk. Ya, semua itu teringat kembali kini. Dan di rumput-rumput itu pula sebagian dari kawan-kawan yang mempertahankan garis jalan kereta api dulu menggelepak gugur, dan darahnya menyirami rumput yang menghijau selalu itu.
“Jam berapa kita sampai di Semarang?” istriku bertanya.
“Empat.”
Dan aku meneruskan kenang-kenanganku kembali. Kranji. Tambun. Cikarang. — Rangkaian pertahanan sebelum aksi militer pertama.1 Dan kereta berjalan terus dengan lajunya. Dan tiba-tiba terkenang kembali olehku akan surat paman itu: muntah darah empat kali! Dan ingatanku berhenti dan berkisar-kisar pada perkataan darah itu. Kemudian aku ingat juga pada sambungan surat itu:
Aku kira ayahmu tak bisa diharapkan lagi sembuhnya.
Engkau bisa pulang, bukan? Tentu engkau bisa pulang.
Aku menggigil di dalam tubuhku — seperti kena malaria. Dan sandiwara ketentaraan itu lenyap dari kepalaku. Ayahku lagi yang terbayang.
“Jangan terlalu lama di Blora,” kata istriku.
Kupandang istriku itu. Aku rasai keningku jadi tebal oleh kerut-mirut. Dan aku menjawab pendek:
“Kita melihat keadaannya dulu.”
Sebentar bayangan kenangan pada ayah hilang.
“Barangkali kalau terlampau lama, aku terpaksa pulang dahulu.”
Hatiku kesal.
Dipandangnya aku. Dulu — dulu sebelum bertunangan — matanya amat bagus dalam perasaanku. Tapi kebagusan itu telah lenyap sekarang. Ya, matanya seperti mata orang-orang lainnya yang tak menarik perhatianku. Dan aku membalas pandangnya. Barangkali mataku yang buruk itu — dan ini sudah kuketahui sejak kecilku — juga tak menarik hatinya lagi. Menjawab:
“Itu tergantung padamu sendiri.”
Kepalaku, dan juga mataku, kutarik dari daerah pandangnya dan kulemparkan kembali keluar jendela.
Sampai di Lemah Abang sekarang.
Sekilas melela kenangan lama. Dulu — empat tahun yang lalu! Dengan tiada tersangka-sangka Belanda menghujani pertahanan kita dari tiga penjuru dengan delapan atau sepuluh pucuk howitser. Jumlah itu bisa dihitung oleh bekas serdadu artileri KNIL2 sebelum perang, rakyat jadi panik. Mereka melarikan diri ke sawah. Aku masih ingat waktu itu, aku berteriak dengan bercorong kedua tanganku: Jangan lari! Rebahkan badan! Tapi mereka itu terlampau banyak, terlampau bingung, terlampau ketakutan — dan suaraku tak terdengar oleh mereka. Dan di kala aku bertiarap di bawah pohon besar itu kulihat sebuah — dua buah, tiga, empat, lima — peluru meriam jatuh meledak di sekitar bondongan manusia yang melarikan diri. Darah. Kurban. Bangkai. Dan ingatanku melalu darah, kurban, bangkai ke surat, ke paman, dan kepada ayah.
Aku mengeluh. Hatiku tersayat. Aku memang perasa. Dan keluargaku pun terdiri dari makhluk-makhluk perasa.
Kututup mataku rapat-rapat agar tak melihat tamasa daerah Lemah Abang. Tapi masih juga terbayang sisa-sisa ingatan itu. Hasil luar biasa dari penembakan Belanda: empat domba gugur di depan kandangnya. Dan ini yang memilukan: seekor domba tua, bunting, dengan mata merenungi langit, kepala tersandar pada cabang tonggak cancangan, dengan kedua kaki belakang berlutut, dengan kaki depan tetap berdiri — dan domba itu sudah mati. Waktu badan domba itu kugoyangkan sedikit, dia rebah ke tanah. Tak bergerak. Sungguh — dia sudah mati. Seorang kawan bilang, potong saja domba itu. Kupandang matanya yang melek dan pucat itu. Ada terasa menggigil dalam dadaku. Aku lari pulang. Dan bayangan domba yang merenungi langit itu masih terbawa-bawa dalam kepalaku selama tiga hari. Domba! Ingatanku berkisar — domba itu jadi manusia. Dan manusia itu ayahku.
Aku mengeluh.
Aku terasa juga menggigil dalam dadaku. Aku merintih.
“Mengapa?” istriku bertanya.
“Barangkali masuk angin aku,” aku menjawab.
“Pakailah jasmu.”
Dan jas yang kulepas sehabis menaik-naikkan koper di Gambir tadi kukenakan lagi. Habis kerja tadi, terlalu panas rasanya. Dan rasa panas itu ditambah pula oleh tekanan ketakutan tak mendapat tempat.
Ia mengenakan kancingnya.
“Engkau ini gampang betul masuk angin,” istriku menambahi.
Peringatannya itu kubiarkan dingin.
Sekarang kepalaku membayangkan kuburan — tempat manusia yang terakhir. Tapi kadang-kadang manusia tak mendapat tempat dalam kandungan bumi. Ya, kadang-kadang. Pelaut, prajurit di zaman perang — sering mereka tak mendapat tempat tinggal terakhir. Dan kepalaku membayangkan — kalau ayah yang tak mendapat tempat itu.
Aku menggigil.
Mataku berkaca-kaca. Tapi air mata tak sampai jatuh.
“Ah, aku tak mau mengikuti segala bayangan kepala ini.” Teriakku dalam hati.
Dan aku berpikir: sekiranya aku mendapat lotre. Muluk juga pengelamunan itu. Dan pengelamunan itu diakhiri dengan pikiran lama: akhirnya manusia ini mati juga. Mati. Sakit. Dan sakit ini mengembalikan pikiranku pada ayah.
Kembali aku mengeluh.
“Moga-moga paman terlalu terburu-buru menulis surat itu,” istriku berkata. “Moga-moga keadaan bapak tak seburuk yang digambarkannya.”
Kembali kupandang matanya yang tak begitu menarik hatiku lagi itu. Sekali ini ia tunduk dan memperbaiki rambutnya yang disibakkan angin.
“Moga-moga,” aku berkata.
Pandangku kulemparkan lagi keluar jendela. Kebun karet berkejar-kejaran. Kota-kota kecil yang dulu sering kulalui, kini kulalui kembali. Dan berpuluh-puluh kenang-kenangan yang pahit dan yang senang dengan sewenang-wenangnya menyerbu ke dalam kepalaku. Dan kala itu aku insaf: kadang-kadang manusia ini tak kuasa melawan kenangan-kenangannya sendiri. Dan tersenyum aku oleh keinsafan itu. Ya, kadang-kadang tak sadar manusia terlampau kuat dan menenggelamkan kesadarannya. Aku tersenyum lagi.
“Jam berapa, mas?” istriku bertanya.
Mataku kuhadapkan padanya. Sekali lagi pandangku tertumbuk pada matanya yang dulu bagus dan yang kini tak menarik hatiku lagi itu. Sebentar saja. Kemudian pandangku kujatuhkan pada arloji tangan. Menjawab:
“Hampir jam sembilan.”
“Barangkali tilgram sudah dikirimkan.”
“Moga-moga sudah,” kataku.
Dan pandangku kulemparkan ke jendela lagi. Tilgram yang terbayang dalam kepalaku sekarang. Barangkali saja tilgram yang bunyinya “besok sampai dengan nyonya” itu bisa jadi obat ayah. Sebetulnya harapan itu bukan orisinil lagi. Semalam seorang kawan bilang, sudah lama engkau ditahan — dua setengah tahun! Dan selama itu tentunya ayahmu merindukan kedatanganmu. Bukan itu saja. Pasti dia mengkhawatirkan keadaanmu juga. Dan itulah yang mendorong aku mengirimkan — maksudku menyuruh kirimkan — tilgram itu. Dan kawan itu berkata juga, pergilah. Barangkali kedatanganmu itu bisa jadi obat yang mujarab untuknya.
Pikiran seperti itu tiba-tiba mati waktu mataku jatuh pada sebuah dusun di tengah-tengah sawah yang diselimuti rumpun bambu dan pohon-pohonan. Aku tahu betul keadaan dusun itu. Dusun itu dulu ada dalam kekuasaan garong. Sekali aku — dalam pasukan — berpatroli ke sana dan membuat lapuran panjang. Dan lapuran itu beku di lemari. Dan aku berkenalan dengan wanita cantik. Karena dusun itu kepunyaan tuan tanah, datang saja pikiran begini: dia mesti anak blaster. Tapi aku tak peduli. Dan bapaknya berjanji padaku: Kalau bapak mengawini anakku, bapak tak perlu kerja. Sawah cukup luas. Dan bapak boleh mengambil separuh dari sawah-sawahku. Dan aku jadi mabok kepayang mendengar tawaran itu. Kala itu kemiskinan selalu melayang-layang di angkasa dan menyambari kepalaku. Ya, waktu itu aku selalu tersenyum karena janji itu. Tapi patroli itu takkan bisa lebih lama dari sehari semalam. Dan pasukan kami kembali ke pangkalan.
Kemudian aku pergi lagi ke sana. Tapi wanita cantik itu telah digondol oleh garong. Dan aku kembali dengan penyesalan dan juga kegembiraan karena tak jadi menggadaikan diri. Tapi kecantikan dan nasib wanita itu memburu-buru saja dalam kepalaku.
Kemudian dalam kepalaku aku bercerita pada diriku sendiri. Begini:
“Dia sekarang sudah hidup senang dengan garong yang mencurinya. Dia sekarang sudah punya anak dua. Badannya sudah dibaluti dengan sutera dan perhiasan emas intan berlian.”
Kereta berjalan cepat. Dan dusun itu pun hapuslah — dari pemandangan, dari kenang-kenangan.
Aku batuk-batuk.
“Engkau terlalu dekat pada jendela,” kata istriku.
Dan kami bergantian tempat. Kurapatkan gobak jasku pada leher. Kemudian aku bersandaran. Menutup mata. Tertidur. Tapi tidur itu tak bisa berlangsung dengan amannya. Kereta kian penuh dengan penumpang baru. Jadi aku melek lagi. Sampai di daerah yang baru saja lepas dari ancaman dan teror Darul Islam3 kami lihat kawat-kawat tilgram rantas-rantas dan berjuluran pada tiangnya yang bengkok-bengkok dan melata di tanah.
“Wah, tilgram takkan mungkin sampai,” aku berkata.
“Ya, tilgram takkan mungkin sampai,” istriku mengiakan kereta jalan terus. Jalan terus. Jalan terus — Semarang.
Kami menginap di hotel. Dan hotel itu bukan main kotornya. Tapi kami bisa beristirahat dengan senang.
3
Subuh-subuh kami telah pergi ke stasiun. Antre beli karcis. Dan kereta berjalan memantai laut Jawa. Kadang-kadang kereta kami berpacu dengan mobil, dan kami memperhatikan tamasa itu dengan hati gemas. Debu yang ditiupkan oleh mobil — debu yang bercampur dengan berbagai macam tahi kuda, tahi manusia, reaknya, ludahnya — mengepul dan menghinggapi kulit kami. Kadang-kadang kami dapati anak-anak kecil bersorak-sorak sambil mengulurkan topinya — mengemis. Dan keadaan ini berlaku sejak jalan kereta api dibuka dan kereta api meluncur di atas relnya. Bila orang melempar-lemparkan sisa-sisa makanan, mereka berebutan. Tapi ini tidak penting betul kuceritakan.
Kereta berjalan terus dan berjalan terus. Sampai di Rembang, dia mulai membelok ke selatan dan melintas hutan jati dan sawah. Kian dekat dengan kota kelahiran, kian nyata terbayang-bayang jalan-jalannya yang sempit, penduduknya yang miskin, dan ayah. Kadang-kadang nampak kijang berlari-larian ketakutan oleh desah kereta. Dan mereka lari masuk kesemak-semak dengan kaki depan dan belakang hampir tersilang, dan perutnya tertekan hingga kelihatan kembung ke atas. Kundektur yang mengontrol karcis masih kundektur waktu aku masih kecil dan sering pergi ke Rembang untuk melihat pantai bila hari libur sudah tiba. Tapi kundektur itu kini sudah tua dan tak kenal padaku lagi. Ia tak memperhatikan manusia dalam kereta itu. Yang diperhatikannya hanya karcis.
Kupandang istriku. Berkata:
“Lihatlah, betapa cantiknya hutan itu.”
Diam-diam istriku menjengukkan kepalanya keluar jendela. Kemudian kepalanya ditariknya lagi dan ia bersandaran di pojok bangku kereta.
Aku memandang keindahan hutan itu. Pernah juga aku dulu memasuki — dulu di waktu masih jadi pandu dan berziarah ke makam Raden Ajeng Kartini.1 Makam itu tak jauh dari kereta kami waktu itu. Tiba-tiba sebuah jurang melela di bawah mataku. Dan dengan sendirinya saja aku berseru:
“Lihatlah jurang itu. Alangkah dalam!”
Kupandang istriku. Ia membuka tapuk matanya. Dan kemudian tapuk matanya itu turun pula dan tertutup kembali.
Aku mengeluh.
Ingin aku memperkenalkan keindahan daerahku dengan jurang dan hutannya, dengan kijang dan monyetnya. Ya, ingin sekali.
Kereta kami melalui stasiun dan halte-halte yang tinggal lantai belaka, pembakaran kapur, penumpukan kayu jati. Dan semua itu mengembalikan kenang-kenangan pada masa kecil waktu sering bertamasa bersepeda keluar masuk hutan. Ya, alangkah indah masa kecil yang lalu. Dan kini aku menembangkan keindahannya dalam kenang-kenangan.
Waktu kereta memasuki batas kota Blora, nampak olehku, tanah lapang — dan dulu gedung-gedung yang berdiri di tanah lapang itu. Sekaligus terpikir olehku: peperangan yang meruntuhkan bangun-bangunan itu. Dan keinginan mau tahu itu membuat aku selalu menjengukkan kepala. Kemudian dengan tiba-tiba saja aku berkata:
“Moga-moga tilgram itu sampai juga. Dan moga-moga ada orang menjemput di stasiun.”
Istriku membuka matanya. Dan waktu kami berpandangan aku berkata:
“Kita sampai di Blora sekarang.”
Ia berkemas. Dan aku berkemas. Kemudian kereta berhenti di stasiun Blora. Kembali kepalaku kujengukkan. Tapi mataku tak dapat meraih orang yang kuharapkan datang menjemput kami. Dan betul, tilgram memang tak sampai.
Kami jinjing bawaan kami. Dan dokar yang membawa kami ke rumah yang sudah kutinggalkan selama ini berjalan ayem seperti dulu juga. Dan pak kusir tak henti-hentinya menghalau-halaukan kudanya dengan cambuk dan perkataan — hanya karena kebiasaan saja. Banyak gedung runtuh di sepanjang jalan. Dan gedung PTT yang jadi kebanggaan penduduk kota Blora yang kecil itu kini telah tinggal beton-beton tiangnya yang bersusun tindih seperti bantal dan guling. Aku menarik nafas panjang. Tugu peringatan empat puluh tahun pemerintahan Wilhelmina2 masih berdiri. Tapi keindahannya yang dulu lenyap. Dan tugu itu kini dicat merah muda. Dan aku tak mengerti mengapa. Mungkin pasukan merah3 yang mengecatnya waktu mereka menduduki kota kami.
Dan di kala dokar kami berhenti di rumah yang sudah lama kutinggalkan itu, adik-adik berseru riang:
“Mas datang! Mas datang!”
Tapi mereka tak mau mendekat. Mereka malah menjauh — mereka yang belum dewasa itu. Barangkali juga mereka malu karena aku telah punya istri, dan istri itu kini berdiri di sampingku. Aku tak tahu betul. Hanya adik-adikku yang sudah dewasa jua datang menolong membawakan barang-barang bawaan.
Kala aku masuk ke dalam rumah, kepalaku tersenggol pada palang atap. Dan aku jadi berpikir, aku jadi tinggi sekarang. Waktu aku meninggalkan rumah ini, palang itu masih tinggi di atas kepala.
4
Kami duduk-duduk di ruang depan. Adik-adik yang belum dewasa, yang nampak masih liar itu kini mulai mendekati. Dan kami mengobrol panjang tentang Jakarta, tentang Semarang, dan tentang mobil. Mengobrol adalah suatu pekerjaan yang tak membosankan, menyenangkan, dan biasanya panjang-panjang. Dan di kala aku bertanya:
“Bagaimana kesehatan bapak?”
Semua berdiam diri. Dan tak ada sepasang mata pun menentang mataku. Obrolan yang panjang dan menyenangkan tadi sekaligus lenyap. Suasana kesungguh-sungguhan menggantikan. Dan aku bertanya lagi:
“Bagaimana kesehatan bapak?”
Dan adikku yang keempat menjawab pelahan dan hati-hati:
“Kirimanmu pel dan selimut untuk ayah sudah kami terima. Juga wisselmu sudah kuterima, dan sudah kupergunakan untuk beli susu dan telur seperti yang engkau pesankan.”
Aku dan istriku diam mendengarkan. Ia meneruskan:
“Kemeja untuk bapak pun sudah kuambil dari pos. Selimut, kemeja dan pel sudah juga kubawa ke rumah sakit. Tapi bapak bilang, bawa saja semua itu ke rumah. Dan barang-barang itu kubawa pulang.”
Aku terkejut. Bertanya: “Dan pel?”
“Sudah satu tube dimakan.”
Aku gembira sedikit.
“Dan susu dengan telur itu?” aku bertanya lagi.
“Bapak tak suka. Telur dan susu aku sudah bosan, kata bapak.”
Aku tak bisa berkata apa-apa. Kupandang istriku. Tapi pada air mukanya tak kudapati jawaban. Kulemparkan pandang keluar rumah. Nampak pohon jeruk yang dahulu ditanam oleh ayah. Pohon itu telah kering dan hampir mati sekarang.
“Dan kesehatan bapak?” aku mengulangi pertanyaanku.
Adikku yang keempat itu tak menjawab. Matanya jadi merah berkaca-kaca.
“Mengapa tak kaujawab?” aku bertanya ketakutan.
“Kemarin dan kemarin dulu bapak tersenyum saja — banyak senyum. Tapi tadi … tadi … “
Ia terdiam. Aku pun tak memaksa ia meneruskan bicaranya. Aku terdiam pula. Agak lama juga kami menundukkan kepala. Adikku yang paling kecil yang mulai berani bertanya-tanya pun tak berkata apa-apa. Waktu itu baru jam setengah satu siang. Dan bunyi penggorengan di dapur terdengar nyata. Kemudian adikku yang keempat itu meneruskan dengan suaranya yang masih juga pelahan, gelap dan hati-hati:
“… dan tadi pagi … ayah tak tersenyum lagi. Suaranya sudah jadi rendah dan hampir tak kedengaran.” Ia tak meneruskan bicaranya.
“Dan apa kata dokter?” aku bertanya.
“Dokter tak pernah berkata apa-apa pada kami. Di sini cuma ada satu dokter saja. Dan obat-obatan pun tidak mencukupi.”
Kemudian adikku yang kedua, yang kebetulan sedang mendapat perlop dari komendannya, berkata:
“Aku sudah juga menanyakan tentang kesehatan bapak pada dokter. Dia bilang, aku sudah tahu penyakit bapakmu.”
“Itu saja katanya?” aku bertanya.
“Ya, itu saja — kemudian aku disuruh pergi.”
Kembali suasana yang kesungguh-sungguhan terasa. Orang mengikuti perasaan dan pikirannya masing-masing. Dengan tiada kusadari adikku yang keempat membelokkan arah percakapan ke jurusan lain. Ia berkata, bahwa adikku yang ketiga — adikku perempuan yang sudah bersuami — waktu itu ada di Blora. Dan segera saja aku bertanya:
“Di mana dia sekarang?”
Tangannya menuding ke pintu sebuah kamar. Dan semua mata mengikuti arah tudingan itu. Dan dalam kepalaku terbayang wajah adikku — dan terbayang dia sudah kurus. Aku tahu, dia sedang sakit. Tapi mulutku berkata:
“Suruhlah dia keluar.”
Adikku yang keempat — adik perempuan — itu pergi. Hati-hati ia membuka pintu kamar. Semua mata memperhatikan. Ia hilang ke dalam kamar. Kemudian kembali keluar dengan mata merah. Berkata setengah menangis “
“Mbak masih tidur.”
Dan kami mengobrol tentang hal-hal lain. Tapi segera adikku yang ketiga itu terbayang lagi dalam kepalaku. Karena dia jualah aku dulu menulis surat untuk ayah — surat yang pedas karena membiarkan dia sakit. Tapi waktu itu aku masih ada di dalam penjara. Dan ayah membalasi:
Ya, anakku, selama hidupku yang lima puluh enam tahun ini tahulah aku, bahwa usaha dan ikhtiar manusia itu sangat terbatas. Aku sendiri tak membiarkan adikmu sakit bila saja aku ini berkuasa atas nasib manusia. Penyakitnya itu diperolehnya waktu adikmu turut terkurung oleh pasukan merah di daerah rawa, di daerah malaria. Dan barangkali engkau bisa mengerti sendiri bagaimana keadaan obat- obatan di daerah perang, — dan sekiranya engkau sendiri bukan prajurit.
Surat balasan itu membuat kegaranganku luluh cair. Dan ada terdengar pertanyaan di dalam dada, “Berdosakah aku karena menulis surat yang pedas itu?” Dan jawaban itu datang dengan sendirinya saja. “Ya, engkau berdosa.” Dan oleh jawaban itu aku merasa jadi orang berdosa hingga kini — sebelum bertemu kembali dengan ayah. Tapi obrolan yang bersambung-sambung itu melenyapkan segala kenangan buruk itu. Aku lihat keenam adikku yang sedang merubung kami — aku dan istriku — mulai bebas dari suasana yang kesungguh-sungguhan. Tapi aku masih tersangkut-sangkut pada berbagai pikiran dan kenangan yang menyesak-nyesak.
Satu jam kami mengobrol. Aku lihat ini dari arloji tangan. Kemudian kupandang adikku yang paling kecil. Berkata pelahan:
“Coba lihat kakakmu, barangkali dia sudah bangun.”
Dia berangkat. Sampai di depan pintu ia berseru dengan suara kanak-kanaknya:
“Mbak, mbak, mas datang.”
Ia hilang ke dalam kamar.
Tak ada orang yang memperhatikannya. Kembali obrolan mengamuk pula. Dan di kala adikku yang terkecil keluar dari kamar, obrolan itu mati. Adikku yang kecil itu mendekati daku. Berbisik:
“Mbak sedang menangis.”
Aku menarik nafas dalam.
Pelahan aku bangun. Pergi ke kamar. Dan tertelentang di ranjang besi yang tiada berkelambu, berselimut kain separuh, — adikku! Lengannya ditutupkannya pada matanya. Dan lengan itu kuangkat. Tampak olehku sepasang mata memandang daku. Dan mata itu merah dan berair-air. Kurangkul dia. Dia menangis dan aku pun menangis. Dan di antara tangisku itu aku mendengar suaraku sendiri:
“Mengapa engkau begini kurus?”
Tangisnya kian tertekan dan ditekannya agar tak membadai. Dan kemudian aku begitu pula.
“Sudah lama aku sakit, mas,” aku mendengar suara yang patah-patah.
“Engkau sudah pergi ke dokter?” aku bertanya — dengan suara patah-patah pula.
“Aku sudah pergi ke dokter, tapi masih tetap begini saja,” suara yang patah-patah juga.
“Barangkali lebih baik engkau pergi ke kota besar. Di sana banyak spesialis,” suaraku yang patah-patah juga.
Hanya sedan-sedan.
“Engkau sudah beranak, dik?”
“Sudah mas.”
“Mana?”
Tangisku sudah reda. Tapi tangis adikku tambah meningkat sekarang. Menjawab dengan suara kosong:
“Dia sudah tidak ada, mas. Dia sudah tidak ada.”
Ditariknya lengannya yang kupegangi dan ditutupkan kembali pada matanya. Kukeluarkan saputanganku dan kuseka air matanya yang berleleran.
“Tidak ada bagaimana?” tanyaku.
“Umur enam bulan anakku lahir. Dia menangis sekali. Aku ada mendengar tangisnya. Kemudian dia diminta lagi oleh Tuhan.”
Sekali lagi aku menangis. Sekali lagi dia menangis. Aku tak mendengar apa-apa sekarang selain badai yang menderu-deru dalam dadaku sendiri. Dan yang tertampak hanya tubuh kurus, selimut kain sepotong, kasur yang cuma separuh saja menutupi ranjang, dan besi-besi serta palang-palang bambu di samping kasur itu mencongak-congak.
“Engkau masih muda, adikku, dan engkau masih ada harapan punya anak lagi,” kataku menghibur. “Mana suamimu?”
“Sedang dilatih di Semarang, mas.”
Kedua tangis dalam kamar itu mengendur. Akhirnya mati.
Kuperbaiki letak selimutnya itu. Kucium adikku itu pada pipinya. Berkata:
“Tidurlah.”
Ditariknya lengannya dari matanya. Ia sudah tenang sekarang. Pelahan-lahan ia mengatupkan tapuk matanya. Sekali lagi kucium pipinya yang dulu montok dan kini kering itu. Kemudian kutinggalkan kamar itu.
5
Kendaraan satu-satunya yang boleh dipergunakan oleh orang banyak di kota kami yang kecil itu hanyalah dokar. Rumah sakit terletak dua kilometer dari rumah kami. Jadi sore itu kami pergi dengan dokar ke rumah sakit. Kami berangkat berempat, aku sendiri, istriku dan adikku yang keempat dan seorang adikku yang belum dewasa.
Rumah sakit itu nampak sepi. Dan para pasien dari bangsal gratis duduk-duduk di teritis sambil mencari kutu kepala, mengobrol-ngobrol atau bertiduran di dalam bangsalnya.
Kamar nomer tiga belas — kamar ayahku.
Pelahan-lahan kami masuk. Kerait pintu membuat mata ayah tertuju pada kami. Aku lihat ayah tersenyum — senyum orang yang sudah merasa puas hidup di dunia ini.
Aku dan istriku berjalan di depan dan mendekati ranjang. Tiba-tiba kulihat senyum itu hilang. Dan mata ayah berhenti pada mukaku. Kemudian terdengar suaranya yang hampir tak terdengar:
“Engkau!”
Aku kian mendekati ranjang.
Mata ayah tertutup sekarang. Dan lingkaran yang biru membatasi kelopaknya. Kemudian aku lihat air mata meleleh pada mata yang cekung itu. Dan air mata itu diam saja di sudut-sudut matanya — tak menggelinang. Dan aku lihat juga mulut ayah berkecumik. Aku tahu: ayah menangis, dan tangis yang tiada bertenaga. Kulemparkan pandangku ke jendela, ke arah kamar mati. Nafas panjang kuisap bersambung-sambung.
Segera kupegang tangan ayah. Dan kulihat kini badan ayah yang dahulu tegap itu kini telah menyerupai sebilah papan. Aku lihat ayah membuka matanya. Hati-hati dan menyengsarakan diangkatnya tangannya yang hanya tinggal tulang dan kulit. Diusap-usapnya rambutku. Terdengar suara yang dalam, gelap, kosong dan tidak bertenaga:
“Kapan engkau datang?”
“Jam dua belas siang tadi, bapak.”
“Alangkah cepat. Engkau naik pesawat udara?”
“Kereta api, ayah.”
Ayah tak bicara lagi. Matanya yang pudar ditutupnya kembali. Aku berdiri dan melepaskan peganganku pada tangannya. Dan aku lihat ayah mengatur nafasnya. Dan aku lihat juga, bahwa nafas itu tak berhenti di dadanya. Nafas itu pulang dan pergi dari perutnya, dan perut itu jadi kembang kempis selalu. Di saat-saat ayah diserang haruan, perut itu terguncang-guncang oleh nafas. Dan aku lihat juga, rambut ayah yang lima tahun ke belakang masih hitam kini sudah jadi putih. Dan kumis, cambang serta janggut yang hitam putih abu-abu itu membuat muka ayah yang cekung-cekung itu jadi nampak kotor.
“Dan ini menantu bapak,” aku berkata lagi.
Dan kembali ayah membuka matanya. Dipandangnya perempuan yang selama setengah tahun ini jadi istriku.
“Sini,” kata ayah lemah.
Dan istriku mendekati, menyembah. Kala itu luar biasa besar hatiku karena ia mau menyembah ayahku. Dan ayah mengusap-usap rambutnya. Dengan suaranya yang gelap, kosong, dalam dan tiada bertenaga, merestui:
“Selamat, ya? Selamat. Selamat.”
Ayah menutup matanya kembali. Tiba-tiba badai batuk menyerang ayah. Dan ayah memiringkan badannya ke dinding. Dan setelah ayah agak reda dari batuknya terdengar suaranya:
“Jangan dekat-dekat.”
Dan kami menjauh. Badai batuk menyerang pula. Dan badan yang menyerupai sebilah papan itu tertarik-tarik karenanya. Kami semua memperhatikan — memperhatikan dengan kepiluan yang memaksa-maksa. Badai batuk itu reda juga dan akhirnya lenyap. Ayah menyeka-nyeka mulutnya yang basah oleh ludah dan reak dengan sengsaranya. Diambilnya tempat ludah yang terletak di kursi. Ia meludah di situ. Dan waktu tempat ludah itu diletakkan kembali di kursi, kami lihat ludah baru itu bewarna merah Ya, merah hitam — darah! Tapi kami berdiam-diam saja, seakan-akan antara kami sudah ada suatu saling mengerti yang telah berjalan lama. Terdengar istriku berbisik: “Tanyai ayah tentang kesehatannya.”
Seperti burung beo mulutku bersuara:
“Bagaimana kesehatan bapak sekarang?”
“Sama saja, anakku. Cuma pelmu itu sudah bisa menghilangkan bau busuk dari mulutku.”
Aku lihat ayah tersenyum, seakan-akan mengucapkan terima kasih atas pengiriman pel itu.
“Bagaimana kalau bapak dibawa ke sanatorium saja?” aku bertanya.
Dan ayah menutup matanya kembali. Kulihat ia menggelengkan kepalanya — gelengan yang lemah. Terdengar suara yang jauh:
“O, — sudah tidak sampai, anakku.”
Kami berdiam diri pula. Tapi saling mengerti mengawang di tiap tempurung otak.
“Bapak mau doklonyo?”
“Sebetulnya lebih baik kalau ada.”
Kusuruh adikku membelikan doklonyo.
“Bapak suka minyakikan?”
Matanya dibuka. Ia tersenyum. Kemudian giginya nampak. Dan gusinya masih merah muda warnanya seperti dulu. Terdengar suara yang jauh:
“Kalau aku minum minyakikan — jadi cuci perut akhirnya.”
Aku menangis sekarang. Menangis oleh pengertian yang takkan terucapkan oleh mulut.
Sebentar-sebentar bunyi langkah sepatu para tamu yang mau mengunjungi familinya berdegap menyerbu ke dalam kamar. Dan ayah memandangi aku yang sedang menangis. Tapi sebentar kemudian mata itu padam kembali. Aku kehilangan ayahku, kata hatiku sendiri. Dan sekalipun setelah pertemuan itu aku merasa tiada menanggung dosa lagi, tapi — minyakikan itu! O, aku akan kehilangan ayahku. Di balik air mataku itu nampak gelas susu yang masih penuh. Pisang sesisir yang belum dirabanya. Makanan yang teronggok di piringnya. Dan tempat ludah yang seperampat dari ludah dan reak itu mengandung darah. Aku, aku akan kehilangan ayah. Kembali pandangku yang kabur oleh air mata itu berhenti pada mata ayah yang berlingkar biru dan tertutup itu. Baru mataku kuseka.
Senyap sebentar sekarang.
Tiba-tiba mulut ayah bergerak. Terdengar suara kerongkongan yang dalam dan jauh dan gelap dan tidak bertenaga:
“Tak engkau dapati kerusakan dalam tawanan, bukan, anakku?”
Mata ayah tetap tertutup. Dan aku bilang tidak. Nampak olehku senyum pada mukanya. Dan seri bahagia tergores pada wajahnya.
Istriku mendekati ranjang. Bertanya pelahan:
“Bagaimana makan bapak?”
Ayah membuka matanya dan kepalanya dimiringkan, memandang meja putih — meja rumah sakit — pada piring yang masih dionggoki nasi. Terdengar:
“O —,” tapi ia tersenyum, “siapakah sampai hati makan daging yang sebesar-besar itu?”
Dan kami pandangi daging yang dionggokkan di atas nasi — sebesar-besar ujung kelingking. Aku menunduk.
Senyum ayah hilang.
“Bapak ingin makan apa?” istriku bertanya lagi.
“O —,” senyumnya menggelimang lagi, “aku tidak ingin makan apa-apa.”
Matanya ditutup pelahan. Air mukanya jernih.
Waktu adikku datang membawakan doklonyo, segera istriku membasahi setangan ayah. Dan setangan itu diletakkannya di dadanya.
Kembali ayah membuka matanya. Berkata dengan irama terima kasih.
“Alangkah segar.”
Ayah memiringkan badannya menghadap pada kami. Tangan kanannya meraba-raba di bawah bantal. Kemudian dikeluarkan arloji saku dari bawahnya.
“Jam setengah enam sekarang. Alangkah cepatnya hari ini.”
Kupandang arloji tanganku. Dan jarumnya menunjukkan jam setengah tujuh. Di luar hari sudah mulai gelap. Dan adikku yang keempat, yang waktu itu pergi bersama kami, berbisik:
“Kalau ayah melihat jamnya, artinya kami disuruhnya pulang.”
Aku perhatikan paras adikku itu. Tapi ia berbisik dengan sesungguh hatinya. Dan ayah memperhatikan kami semua dari tempat tidurnya.
“Bapak, hari sudah sore,” aku berkata, “permisi.”
Ayah tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Bapak, — permisi,” istriku berkata.
“Bapak, permisi,” adikku yang keempat berkata.
Ayah tersenyum lagi.
Tapi adikku yang ketujuh mendahului pergi keluar pintu. Kami membungkukkan badan dan meninggalkan kamar nomer tiga belas itu. Di luar kupanggil adikku yang ketujuh itu.
“Engkau harus minta permisi dulu pada ayah.”
Kembali ia masuk ke dalam kamar rumah sakit itu. Dan waktu keluar lagi aku lihat ia menangis — tangis yang ditahan-tahannya. Matanya merah padam.
“Mengapa engkau menangis?” aku bertanya.
Tapi ia tak menjawab.
Lama kami menunggu dokar lewat. Dan selama menunggu di depan rumah sakit itu adikku yang ketujuh itu terus saja dengan tangisnya.
“Mengapa dia menangis?” tanyaku pada adikku yang keempat.
“Selalu dia menangis kalau pulang dari rumah sakit.”
Dan aku tak bertanya lebih lanjut lagi.
6
Malam itu adikku yang ketujuh itu masih juga menangis — tiga jam sudah. Di waktu kami berkumpul-kumpul di ruang depan sambil mengobrol-ngobrol, ia menyendiri di ruang belakang. Berkali-kali dia kupanggil, tetapi ia tak mau datang. Ia memuasi tangisnya sendiri. Empat kali kusuruh kakaknya membawanya ke ruang depan tapi ia menolak.
Dari ruang depan itu kulihat ia membukai buku pelajarannya sambil menangis. Ia membaca dengan menangis. Ia menulis dengan menangis. Pelahan aku bangun dari tempat dudukku dan menghampirinya. Ia sedang mempelajari ilmu bumi — masih tetap menangis juga. Dan ia menghafalkan nama-nama tempat di Asia dengan menangis pula.
Malam itu adikku itu masih juga menangis.
“Mengapa engkau menangis saja?”
Segera ia menutup buku-bukunya. Tapi menjawab? — tidak! Ia tak mau bicara. Ia menangis terus. Kurangkul dia dan kuciumi pada pipinya yang basah. Aku tahu, adikku, aku tahu: engkau menangisi ayah yang sedang sakit. Dan dari mulutku keluar suara:
“Engkau sudah makan?”
Ia hanya menggeleng dan menghapus air matanya di pangkuanku itu.
“Tidur dengan mas, ya?”
“Tidak.”
“Mari turut duduk-duduk di ruang depan.”
“Tidak.”
Ia kuturunkan dari pangkuanku. Ia lari dengan tangisnya. Hilang ke dalam kamarnya. Dan tak muncul-muncul lagi. Yang terdengar dari tempat dudukku itu hanya sedu-sedannya yang mendayu-dayu seperti memanggil sesuatu yang takkan terpanggil oleh suara manusia. Pelahan-lahan aku kembali ke ruang depan dan meneruskan obrolan tentang Jakarta, tentang Semarang, tentang mobil dan tentang banyaknya bajingan di Jakarta.
Di waktu itu jugalah paman datang dengan bibi. Dan karena sudah diadatkan di kampung kami bahwa anak-anak tak boleh turut bercakap-cakap dengan orang-orang dewasa, mereka pergi ke ruang belakang dan belajar.
Dan sebagaimana biasanya pada pertemuan yang menutup suatu perceraian yang lama, terdengar:
“Bagaimana?”
Dan aku menjawab selamat. Dan istriku berkenalan dengan paman dan bibi. Obrolan bersambung. Tanya-menanya berganti. Kopi menyelingi. Akhirnya datang pula ke obrolan. Kemudian sampailah pada:
“Rupa-rupanya ayahku tak bisa ditolong lagi.”
Aku memperhatikan bibir paman. Dan bersambunglah suara itu:
“Barangkali ada baiknya kita mencari pertolongan pada dukun.”
Aku memperhatikan matanya. Dan mata itu memandang aku dengan sungguh-sungguh. Terdengar pula:
“Aku sendiri baru dua kali pergi ke rumah sakit. Bukan karena tak mau. Aku tak sampai hati. Badan yang teguh itu kini tinggal tulang belaka. Suara yang lantang dan selamanya mematahkan pendebat di tiap permusyawaratan itu kini tak punya tenaga lagi. Mata yang selalu menundukkan kepala orang itu, kini tak bercahaya lagi. Tidak — tidak — aku tak sampai hati melihatnya.”
Aku menundukkan kepala. Seakan-akan suara itu menegaskan suatu pengertian: ayahmu mesti mati. Kuteguk kopiku. Batuk-batuk sebentar.
“Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti,” teriakku dengan suara lemah.
“Ya, aku juga tidak mengerti. Aku tidak tahu. Aku terlampau bingung.”
Di depanku mengawang malam yang hitam. Hitam betul-betul.
“Engkau sudah pergi ke rumah sakit?”
“Baru tadi sore.”
“Bagaimana keadaan ayahmu tadi?”
“Aku tak mengerti. Aku tak tahu,” kembali aku berteriak dengan suara lemah — hampir-hampir tak kedengaran.
“Barangkali ayahmu sudah terlalu lama merindukan engkau. Bagaimana kalau engkau menungguinya di rumah sakit? Dan kalau engkau ingin menulis, menulis saja di sana.”
Kugaruki kepalaku oleh kebingungan. Berkata aku lambat-lambat:
“Sebenarnya aku tak bisa melihat bapak dalam keadaannya yang seperti itu. Aku tak bisa. Aku tak sampai hati.”
Kami berlima berdiam diri.
“Bagaimana makannya?” tiba-tiba paman bertanya.
Dan adikku yang kedua menjawab dengan suara sayu:
“Lebih buruk daripada kemarin atau kemarin dulu.”
“Moga-moga kedatanganmu akan meringankan penyakitnya.”
“Moga-moga,” kami berdoa.
Tapi suaranya hampa. Dan ada terasa olehku ia tak percaya pada suara yang diucapkannya sendiri. Kami berdiam-diam lagi. Dan tiap kepala membayangkan tubuh ayah yang menggelepak di ranjang rumah sakit seperti sebilah papan. Dan terdengar-dengar juga batuknya yang dalam, kehabisan tenaga, lembek dan merongga. Terdengar-dengar olehku, O — aku tak ingin makan apa-apa.
“Besok kami pergi cari dukun,” paman memandang aku.
Dan aku mengangguk. Berbareng kami meneguk kopi yang masih hangat itu. Percakapan pindah jadi obrolan. Dan suara kembali berkisar pada Jakarta, Semarang dan bajingan-bajingan mobil. Tiba-tiba terdengar:
“Engkau bekerja di mana sekarang?”
“Balai Pustaka — tapi baru tiga hari, dan aku berangkat kemari.”
“Apa kata sepmu?” dia bertanya.
“Apa kata sepku? Dia tak punya hak apa-apa tentang apa kataku dan diriku.”
Percakapan mati lagi. Kembali kami meneguk kopi.
“Bukan ini yang begitu mengkhawatirkan hatiku,” kataku, “tapi akibat-akibat yang timbul karena ini,” sambungku dengan suara kian jadi pelahan.
“Ya,” kata paman.
Dan aku tak tahu adakah ya-nya itu diucapkannya dengan sadar atau tidak. Aku lihat ia memandang cangkir kopiku dengan pandang yang tak sampai. Ia juga bingung. Terdengar ia menarik nafas dalam, dan dilemparkan pandangnya padaku. Berkata:
“Dan apa rencanamu sekarang?”
“Aku tak tahu. Aku tak mengerti. Aku terlampau bingung.”
Kulemparkan pandangku pada istriku. Ia sedang merenungi kegelapan melalui lubang pintu. Kupandang bibi. Ia sedang memandangi potret di dinding melalui lampu minyak tanah di atas meja.
Aku mengeluh. Dan malam kian mendalam.
7
Jam sembilan pagi aku bangun. Baru sesudah mandi ada kesempatan padaku melihat-lihat rumah dan pelataran. Mandi itu sebetulnya bukan mandi betul-betul. Air di kota kami yang kecil itu tebal oleh lumpur. Pembagian air leding di sini tak boleh diharapkan. Barangkali air mandi yang tebal inilah yang membuat penduduk kota kecil ini berbeda dengan penduduk kota besar yang mempunyai pembagian air leding dengan teratur, bening dan baik. Di sini, orang berjalan-jalan dengan kulitnya yang berkerak-kerak.
Rumah yang kudiami semasa kecilku, kini sudah nampak miring. Sebagian dari dinding temboknya telah runtuh oleh tuanya. Tanah daerah kami adalah tanah bercampur kapur dan lempung. Di musim panas tanah lempung itu pecah-pecah, dan lantai yang terbuat dari batu disobek-sobeknya.
Di kebun, dekat pagar, kutemui seorang tetangga yang dulu juga — tukang potong kambing.
“Engkau datang, Gus?”1 ia bertanya kehormat-hormatan. “Aduh — sudah begitu lama baru datang. Dan waktu datang, ayahnya sakit pula.”
Aku tersenyum oleh perhatiannya itu. Menjawab:
“Ya, pak, perang sudah begitu lama menceraikan kita.”
“Engkau sudah dewasa sekarang; sudah punya istri pula.”
Aku tersenyum lagi oleh perhatiannya itu. Terdengar lagi:
“Kabarnya engkau ditawan.”
Aku tersenyum lagi.
“Ayahmu bercerita, engkau dicintai Belanda, katanya. Engkau harus tinggal dengannya. Berapa bulan ditawan, Gus?”
Dan aku menjawab pertanyaannya. Kemudian aku menyusulkan suaraku:
“Blora ini masih tetap seperti waktu kutinggalkan dulu. Rumah-rumah baru banyak didirikan. Dan rumah-rumah yang dulu sudah miring-miring.” Aku menengok ke arah rumah. Meneruskan. “Dan rumah kami pun sudah begitu rusak.”
“Ya, Gus, rumahmu itu aku juga yang mendirikan dulu. Waktu itu engkau baru bisa tengkurap. Dua puluh lima tahun yang lalu! Dan selama itu, rumahmu itu belum pernah diperbaiki. Pikir saja. Dua puluh lima tahun! Itu tidak sebentar dibandingkan dengan jeleknya tanah di sini. Cobalah lihat rumah-rumah tembok yang didirikan sesudah rumahmu — semua itu sudah roboh, bongkar, dan sobek-sobek. Rumahmu itu masih kuat.” Sekarang suaranya jadi ketua-tuaan, “Kalau bisa, Gus, kalau bisa — harap rumahmu itu engkau perbaiki. Engkau sudah terlalu lama meninggalkan tempat ini. Dan engkau sudah terlampau lama tak bergaul dengan orang-orang sini. Karena itu, barangkali ada baiknya kuulangi kata orang tua-tua dulu: Apabila rumah itu rusak, yang menempatinya pun rusak.”
Ia diam. Disekanya mulutnya yang tua itu. Kemudian menundukkan kepalanya. Matanya memandangi ibu jari kakinya yang dipermain-mainkan. Meneruskan dengan irama minta maaf:
“Ayahmu sudah empat puluh hari di rumah sakit.” Suaranya lebih pelahan lagi. “Tadinya beliau baru saja keluar dari rumah sakit. Sehat juga tubuhnya. Nampak betul sifatnya jadi jauh berubah. Kalau tadinya beliau tak pernah memperhatikan apa pun juga selain pekerjaan dan main kartu, di waktu yang akhir-akhir itu beliau selalu ada di rumah. Tiba-tiba kami mendengar kabar: beliau sakit lagi dan dibawa ke rumah sakit.”
Aku tak menggarami ucapannya itu. Tapi ia meneruskan. Sekarang dengan irama menasihati:
“Aku harap ayahmu lekas sembuh oleh kedatanganmu itu. Dan lagi — dan lagi — orang tua-tua bilang — engkau masih ingat, bukan? Masih ingat apa yang kukatakan tadi? ‘Apabila rumahnya rusak … ’”
“Ya,” aku menyambungi.
“Engkau anak sulung. Gus, aku harap — sekalipun aku bukan keluarga atau familimu — peliharalah rumahmu itu.”
Aku mengangguk — anggukan yang berat, diberati oleh perhitungan harga kayu, semen dan paku. Dan aku lihat orang tua itu mengerti juga beratnya anggukanku. Tapi ia tak berkata apa-apa lagi. Dan aku pun tak berkata apa-apa lagi. Kami kehabisan perkataan. Ini adalah kesempatan baik untuk mengelakkan diri.
Sumur pun kuperiksa. Sudah setua dua puluh lima tahun juga dia. Batu batanya telah mulai runtuh-runtuh bila orang terlalu kasar menimba. Dan lantai sekeliling sumur itu telah hilang terendam oleh tanah. Di daerah kami yang miskin, jarang orang berani membuat sumur. Dan di daerah kami yang kering, sumur adalah pusat perhatian manusia dalam hidupnya di samping beras dan garam. Karena itu — sekalipun pembuatan sumur itu atas ongkos sendiri — akhirnya dia menjadi hak umum. Orang yang membuat sumur adalah orang yang berwakaf di tempat kami. Dan bila orang mempunyai sumur di daerah kami — dia akan mendapat penghormatan penduduk: sedikit atau banyak. Dan kalau engkau punya sumur di sini, dan sumur itu kaututup untuk kepentingan sendiri, engkau akan dijauhi orang dan dicap kedekut.
Rumah dan sumur itu mengisi kepalaku sekarang. Rumah rusak, dan orangnya pun rusak. Dan di sore harinya waktu aku berangkat ke rumah sakit dan bertemu dengan tukang potong kambing itu, dengan tak berpikir panjang keluar saja suaraku:
“Pak — rumah itu akan kuperbaiki.”
Ia berseri-seri, seakan-akan rumah itu termasuk dalam kepentingan hidupnya.
Dan dalam berjalan ke rumah sakit itu aku berpikir, barangkali ayah membenarkan pendapat itu juga. Tambah dekat dengan rumah sakit, tambah yakinlah aku dalam hati: sekali ini aku datang membawa obat. Dan obat itu kutelankan ke dalam pendengaran ayah:
“Bapak, rumah itu akan kuperbaiki.”
Tapi ayah sudah jauh lebih lemah daripada kemarin. Pelahan sekali dibuka tapuk matanya. Berkata dengan suara sengsara: “Ya, anakku, rumah itu … rumah … rumah itu sudah … sudah … terlalu tua.”
Seakan-akan ia mengucapkan sesuatu tentang dirinya sendiri.
Aku pejamkan mata. Obat itu tak termakan olehnya. Lama tak kutanyai ia. Dan waktu aku berkata lagi, suaraku berbunyi begini:
“Bapak, apakah yang sebetulnya bapak pikirkan?”
Aku lihat ayah menarik nafas. Dan aku lihat ia mencari tenaga dalam nafas yang diisapnya itu. Bibirnya yang kering itu tersenyum. Kemudian matanya yang berlingkar biru itu terbuka sedikit. Ia tertawa. Ada juga aku mendengar tertawanya sedikit — sedikit saja. Kemudian bersambung dengan suara orang menyerah:
“Tak … ada … apa-apa … yang kupikirkan … anakku!” lemah sekali.
Aku menangis. Ayah menutup matanya kembali.
Lama tak terdengar suara apa-apa — suaraku dan suara ayah. Kemudian — dengan tiada terduga-duga — terdengar suara lemah, dalam dan melayang:
“Sum-mur … itu,… perbaik-i tem-tembok … nya.”
“Ya, ayah,” aku menjawab.
Lama tak terdengar apa-apa. Kemudian terdengar sambungannya “
“Or-ra-ng itu membu-tuh-kan a-ir —“ tertahan agak lama suara itu, meneruskan, “da-lam hi … dup-nya.”
Matanya dibuka lagi. Dipandangnya aku. Mulutnya tersenyum: ia melemparkan pengertian yang tak terkandung dalam ucapannya. Cepat-cepat aku memaksa tersenyum, menjawab:
“Ya, bapak.”
Dan mata itu tertutup lagi. Sebentar saja. Tiba-tiba seluruh badan itu tertarik-tarik. Matanya terbuka dengan tiada memandang. Kemudian badai batuk menyerang. Dan dalam keadaan seperti itu, tak ada manusia di seluruh dunia bisa meringankan penderitaannya. Dan aku hanya bisa mengawasi dengan penderitaan yang meruyak di dalam dada. Muka yang pucat itu jadi kebiru-biruan oleh batuknya. Dan waktu batuk itu reda terdengar suaranya yang diucapkan cepat-cepat:
“Ada-ada saja hidup manusia ini.”
Kepalanya dimiringkan, memandang daku. Memanggil:
“Sini. Dekat,” dengan suara yang cepat-cepat. “Engkau baru kawin, anakku. Deng-an an … ak dari dae … rah Pasundan. Engkau harus … harus ingat bahwa pembawaan dari daerah Jawa Tengah ini … ini … sedikit atau banyak berbeda dengan pembawaan orang yang … yang dilahirkan, di di, di, Jawa Barat. Engkau mengerti?”
“Mengerti, bapak,” aku menyahuti dengan suara hati-hati.
“Karena itu, anakku, perhatikanlah ucapan dan gerik-gerakmu sendiri, jangan sampai — jangan sampai — ya, jangan sampai menyinggung — menyinggung — menyinggung perasaannya.”
Ayah terdiam. Dipandangnya aku dengan pandang yang mengandung pengharapan besar. Pelahan mata itu tertutup. Cepat-cepat aku berkata:
“Ya, bapak.”
Ia mendeham beberapa kali, dan menelan dahaknya.
“Sudah malam sekarang,” katanya lagi.
Dan aku ingat pada adikku yang keempat: itulah tanda supaya aku pulang. Kudekati ranjang ayahku, kuraba kakinya yang kering. Hatiku tersayat. Bukankah kaki itu dulu seperti kakiku juga dan pernah mengembara ke mana-mana? Dan kini kaki itu terkapar di atas kasur ranjang rumah sakit. Bukan kemauannya. Ya, bukan kemauannya. Rupa-rupanya manusia ini tak selamanya bebas mempergunakan tubuh dan hidupnya. Dan kelak begitu juga halnya dengan kakiku. Aku lihat ayah membuka matanya oleh rabaan itu. Dan aku lihat juga ia tersenyum — tetapi bukan senyumnya manusia yang hidup: senyum yang ganjil. Senyum yang mengandung peringatan. “Hidup ini, anakku, hidup ini tak ada harganya sama sekali. Tunggulah saatnya, dan kelak engkau akan berpikir, bahwa sia-sia saja Tuhan menciptakan manusia di dunia ini.”
Aku menunduk. Bersuara lemah:
“Permisi, bapak.”
Ayah mengambil jam sakunya. Dipandangnya sebentar, kemudian pandangnya dialihkan padaku. Ia mengangguk. Dan dengan langkah berat pergilah aku meninggalkan rumah sakit itu — rumah tempat orang yang tak bebas mempergunakan tubuh dan hidupnya sendiri.
8
Barangkali karena banyak kali aku melihat keajaiban di dunia ini, dan barangkali juga karena sudah empat lima kali turut mengalami dalam dunia mistik, atau barangkali juga karena aku yang lemah, atau barangkali juga karena hal-hal lainnya lagi yang tak kuketahui — masih ada saja kepercayaanku pada kemampuan dukun. Aku tak tahu betul mengapa.
Dan setelah bedug magrib bertalu, kami — aku dan pamanku — berangkat mencari dukun. Sebetulnya kata mencari itu tak tepat dipergunakan, tapi untuk penghormatan pada dukun, kata itu selalu dipakai di tempat kami.
Apa yang kami namai dukun itu ialah seorang guru sekolah rakyat di luar kota. Adat daerah kami yang memulai suatu pembicaraan penting dengan obrolan yang bukan-bukan masih juga berlaku. Dengan demikian kami mengobrol tentang Jakarta, tentang Semarang dan tentang bajingan-bajingan mobil. Dan dukun itu mengobrol tentang jeruk, tentang singkong dipekarangannya, tentang muridnya dan tentang keadaan di masa pendudukan Belanda.
Akhirnya terdengar juga suara paman:
“Sebetulnya kami datang kemari ada keperluan …”
Dan sebagai biasanya, walaupun sudah mengerti kedatangan kami untuk keperluan apa, tuan rumah bertanya kesungguh-sungguhan:
“Keperluan apa?”
Dan paman meneruskan dengan kehormat-hormatan daerah:
“Kami memohon usada untuk menyembuhkan penyakit kakakku.”
Dan dukun itu minta permisi sebentar, kemudian pergi ke dalam rumah. Paman memandang aku. Berkata:
“Aku sering datang kemari kalau ada keperluan apa-apa.”
Tapi aku tak menjawab. Dalam dadaku timbul pergulatan — pergulatan yang biasa timbul bila menghadapi kekuasaan dukun. Betul-betul bisakah seorang dukun mengobati si sakit yang dokter sendiri tidak sanggup? Tapi harapan melenyapkan pergulatan itu: dukun itu bisa, dan mesti bisa. Dan harapan itu membuat aku percaya padanya.
Kemudian keluar pulalah guru dukun itu. Air mukanya jernih seperti kanak-kanak dan matanya berkilau-kilau. Gampang saja aku bisa menebak: ia habis melakukan meditasi.
Aku dan paman memandangnya dengan diam-diam, tetapi ia tak juga berkata apa-apa. Dua tiga kali ia mengubah letak duduknya. Kemudian terdengar juga suaranya, pelahan dan sungguh:
“Ya, saudara-saudara, manusia punya kodratnya masing-masing, dan tak ada seorang pun bisa mengubah kodrat itu.”
Ia diam memandangi kami berganti-ganti.
“Maksud bapak?” paman bertanya.
“Maksudku, tak ada apa-apa yang kutemui di dalam pengheningan cipta itu.”
Ia menunduk.
Kami memandanginya dengan diam-diam, dengan dada berdebaran ingin tahu.
“Barangkali’, ia meneruskan. Sekali ini lama-lama ia memandang daku, “karena ayah tuan lebih tinggi dalam hal ini daripada aku. Ini aku akui.”
“Jadi tak dapatkah bapak memberikan pertolongan pada kami?” aku bertanya gugup.
“Aku hanya bisa memberikan syarat saja.”
Digagapinya sakunya, dan dikeluarkan dari situ sebungkal dupa. Meneruskan dengan suara teratur:
“Ini bukan usada, ini hanya syarat saja. Tuan boleh merendamnya di air minum ayah tuan. Moga-moga, insyallah, ayah tuan bisa sembuh. Tapi aku sendiri tak bisa berkata apa-apa.”
Kami bertiga menunduk seperti takut berpandangan satu sama lain. Kemudian aku lihat paman mengambil dupa itu dan dimasukkan ke dalam sakunya. Percakapan hanya dengan lambat saja bisa hidup kembali. Kemudian terdengar guru dukun itu bercerita:
“Sebetulnya aku banyak berhutang budi pada ayah tuan,” katanya. “Beliau juga yang menempatkan aku di sini. Dan aku sendiri tinggal di luar kota ini. Aku ditempatkan di sini waktu Belanda masih di sini. Dan: ayah tuan memberi perintah untuk membuka sekolahan itu kembali. Aku bilang: Aku takut jadi pegawai Belanda di luar kota. Beliau hanya tertawa saja mendengar alasanku itu. Dan aku menegaskan ketakutanku. Kemudian beliau berkata, Percayalah padaku. Takkan terjadi apa-apa denganmu. Dan aku pun menyingsingkan lengan baju dan bekerja.
Pada hari pembukaan pertama murid yang masuk tiga kali lipat banyaknya daripada di zaman Belanda dulu. Kami di sekolahan kekurangan tenaga. Dan tiga hari sesudah pembukaan itu rumahku didatangi pasukan dari batas kota. Berkata: Kalau bapak meneruskan pembukaan sekolahan itu, sekolahan itu akan kubakar. Kemudian aku menjawab, mengulangi apa yang telah dikatakan ayah tuan. Sekalipun di masa perang, sekolahan harus dibuka. Pembukaan sekolahan ini, sekalipun atas ongkos pemerintah Belanda, akhirnya kita-kita juga yang mengecap hasilnya. Dan pasukan itu menerima alasan itu. Sekolahan tak jadi dibakar. Ya, tak sampai dibakar sampai sekarang. Akhir kelaknya tahu juga aku, bahwa ayah tuan itu tidak lain daripada salah seorang pemimpin pemerintahan gerilya — sekalipun jadi pengawas sekolah angkatan Belanda.”
Ia diam. Kemudian tertawa sedikit. Akhirnya percakapan berkisar pada sekolahan dan guru-gurunya. Hormat ia bertanya:
“Sudah berapa tahun ayah tuan jadi guru?”
Gembira paman menjawabkan:
“Tiga puluh tahun.”
“Alangkah kuatnya. Aku yang baru dinas delapan belas tahun rasa-rasanya sudah tak kuat lagi. Tapi siapakah yang mau jadi guru selain kita-kita ini? Guru tetap jadi guru — untuk selama-lamanya. Sedang selama itu murid-murid telah jadi orang-orang besar. Tapi guru tetap jadi guru. Dalam dinasku itu pernah juga aku kena penyakit jantung. Kalau ayah tuan kena penyakit paru-paru sesudah dinas tiga puluh tahun — itu suatu tanda kekuatan. Beliau sangat kuat.”
Ia diam dan memandang ke jalan raya. Sebuah truk sedang menderum ke timur, ke arah Cepu.1 Sejak pendudukan Belanda hingga kini daerah kami sering dilalui oleh kendaraan bermotor, jauh lebih sering daripada sebelum pendaratan Jepang.
“Barangkali penyakitnya itu didapatnya waktu jadi pengawas sekolah — tiap hari mengayuh sepeda lima belas sampai dua puluh kilometer,” paman berkata.
“Tidak,” kata tuan rumah. “Aku yang sudah lama jadi guru bisa mengatakan — tidak. Sungguh, penyakitnya bukan karena itu. Karena beliau minta kembali jadi guru itulah sebabnya. Lima belas-dua puluh kilometer mengayuh sepeda itu bukan perkara berat untuk seorang guru. Yang berat ialah mengajar, menelan pahit getirnya kesalahan-kesalahan pendidikan orang tua si murid. Itulah yang gampang sekali menghancurkan seorang guru. Apalagi kalau di sekolah menengah seperti beliau. Sekolah menengah masih agak ringan bila tata tertib murid di kelasnya itu masih terpelihara. Cobalah kalau murid-murid di dalam kelasnya itu telah kehilangan tata tertib sama sekali, cobalah …”
Ia tak meneruskan. Ia diam-diam di kursinya seperti sedang mengenang-ngenangkan salah seorang muridnya yang telah begitu banyak menyakitkan hatinya. Kemudian ia meneruskan dengan irama yang ketua-tuaan:
“Sekali,” katanya pelahan-lahan, “kupukul seorang murid. Keesokan harinya ia minta permisi karena ayahnya diangkat jadi bupati di Rembang. O, alangkah kagetku waktu itu. Anak patih aku pukul. Sedang aku? Aku hanya anak petani biasa. Bukan main takutku waktu itu. Mestilah beliau akan datang untuk melabrak aku karena telah berani memukul puteranya. Dan seminggu kemudian …”
Ia memandangi kami. Terdengar ia mengeluh, seakan-akan ia masih dalam waktu ketakutannya dulu, ketakutan menantikan tibanya surat onslah.
“… datanglah tuan bupati dari Rembang dengan mobil. Waktu mobil itu masuk ke halaman sekolahan, sudah terasa saja dalam hatiku. Sekarang datangnya pembalasan. Besok aku boleh tak masuk mengajar lagi. Dan aku boleh hidup dengan tiada boleh mengharapkan gaji lagi. Dan waktu tuan bupati itu menginjakkan kaki di ambang sekolahan, langsung saja beliau menanyakan daku. Dan aku menghadap dengan dada berdebaran. Tetapi …”
Ia mengeluh berat — mengeluh kelegaan. Meneruskan:
“Beliau bukanlah hendak melabrak daku. Tidak. Sebaliknya. Beliau mengucapkan terimakasihnya karena aku menghajar anaknya. Beliau sendiri sudah tak sanggup mendidik anaknya sendiri, katanya.”
Aku lihat ia tersenyum kelegaan. Dan kumis yang memayungi mulutnya itu turut tersenyum kelegaan juga. Meneruskan:
“Dan waktu itu, tak adalah kegembiraan yang begitu besar — yang terbesar dalam hidupku.”
Kami tertawa sedikit. Tuan rumah mengusap kumisnya. Akhirnya diteruskan ceritanya:
“Karena itu waktu aku bertanya pada murid-murid yang akan meninggalkan bangku sekolah. Siapakah yang akan meneruskan ke sekolah guru? di antara murid yang lima puluh orang itu cuma tiga mengacungkan jarinya. Selain itu, semua mau meneruskan ke sekolah menengah. Alangkah sedihku waktu itu. Dan berkata aku pada mereka. Kalau di antara lima puluh orang cuma tiga orang yang ingin jadi guru, siapakah yang akan mengajar anak-anaknya nanti? kalau sekiranya engkau kelak jadi jenderal, adakah akan senang hatimu kalau anakmu diajar oleh anak tukang sate? Tak ada yang menjawab di antara mereka. Kemudian kunasihati mereka yang ingin jadi guru. Kalau engkau tidak yakin betul, lepaskan cita-citamu untuk jadi guru itu, kataku. Seorang guru adalah kurban — kurban untuk selama-lamanya. Dan kewajibannya terlampau berat — membuka sumber kebajikan yang tersembunyi dalam tubuh anak-anak bangsa. Dan mereka yang tiga orang itu bilang dengan sungguh-sungguh, Kami bercita-cita jadi guru walau bagaimanapun juga sukarnya. Dan aku angguk-anggukkan kepalaku kepada tiga orang itu.”
Di kala itu juga terasa olehku, bahwa keturunan masih bersimarajalela di daerah Blora, dan bahwa nasib guru — sekalipun dianggap bapak oleh rakyat — sangatlah mengecewakan. Tapi aku tak bertanya apa-apa. Semua itu dapat kulihat dalam rumah tangga keluargaku sendiri.
Dalam perjalanan pulang di atas sepeda itu paman berkata:
“Karena aku sendiri seorang guru, dapat aku mengatakan padamu, bahwa pengaruh ayahmu di kalangan para guru sangat besar dan terasa.”
Aku tak menjawab.
“Sekiranya ayahmu boleh menerima tamu selain keluarganya sendiri, mereka semua itu akan datang menengok ke rumah sakit. Untunglah larangan itu diadakan. Kalau tidak, kasihan juga ayahmu itu.”
Aku tak mengiakan, juga tak membantah. Paman meneruskan:
“Kalau seorang dukun dalam pengheningan ciptanya tak mendapati sesuatu apa, itulah suatu tanda yang …. Tapi moga-moga selamat.”
9
Sore itu aku menengok ke rumah sakit dengan istriku dan kedua adikku. Istriku menyuapkan sup sungsum ke mulut ayah. Dan di kala itu terasa oleh hatiku betapa gampangnya manusia dengan manusia ini didekatkan oleh kemanusiaan. Aku terharu. Sungguh, aku terharu oleh perbuatan kecil yang tak berharga itu. Sebentar-sebentar tenggorokan ayah meneguk sup itu. Dan tiap tegukan dibarengi oleh bunyi berdetak. Ya, seperti bukan suara tenggorokan yang berbunyi begitu. Dua belas suap! Alangkah gembiraku. Biasanya tak sebanyak itu ayah makan. Datang saja suara pengharapan ini, “Barangkali ayah mulai jadi baik sekarang.”
Kulihat ayah menutup matanya lagi. Dan suaranya yang lemah menyusul:
“Sudah. Sudah cukup.”
Sup itu diletakkan oleh istriku di meja, dan kami duduk di ranjang kosong ditentang ranjang ayah. O, ayah sudah jadi begitu kurus. Lebih kurus daripada di hari-hari kedatanganku. Dan aku teringat pada percakapan semalam.
“Kita harus segera pulang,” kata istriku, “kalau tidak, keuangan kita tak mengizinkan.”
Dan aku membenarkan ucapannya itu. Dan waktu ayah membuka matanya, segera aku mendekati ranjangnya. Pelahan berkata:
“Bapak, bagaimanakah pikir bapak, bila kami kembali dulu ke Jakarta?”
Ayah berdiam diri. Kupandang matanya yang dilingkungi lingkaran biru itu. Dan aku lihat di sudut-sudut matanya air mata tergenang. Aku mundur menjauh pula. Dan aku lihat juga perut ayah terguncang-guncang. Aku terkejut, dan sekaligus menyesal telah mengucapkan kalimat itu. Dan di kala guncangan perut ayah mengendur, ayah mengusap matanya, memandang istriku. Tampak juga olehku senyum buatan tergambar pada bibirnya. Kemudian menyusul suaranya yang dipaksa-paksakannya:
“Nanti dulu, ya? Tunggu seminggu lagi.”
Dan istriku membalasi senyum itu. Dan ayah masih tersenyum juga. Dan di kala senyum itu lenyap, kembali mata itu tertutup. Lingkaran biru itu nampak bertambah biru. Kemudian aku lihat air mata bertitik pula dan kembali perutnya terguncang-guncang. Aku lihat adik-adikku menangis melihat itu. Dan aku sendiri menangis pula. Mengapa aku menangis? Aku tak tahu. Dan mengapa ayah minta seminggu lagi? Aku tak tahu. Tapi ayah minta seminggu. Dan aku menangis. Datang kembali perasaan ini: Ayah akan meninggalkan kami, Ayah meninggalkan kami. Dan air mataku kian jatuh berderai. Kulihat ayah menutup mukanya dengan saputangan putih. Perutnya kian terguncang-guncang. Waktu setangan itu ditarik dari mukanya, mata itu tak berair lagi tapi masih tetap tertutup. Nafas ayah mulai jadi teratur lagi. Terdengar suaranya yang pelahan:
“Sudah malam sekarang, anak-anakku!”
Tapi mata ayah masih tetap tertutup. Baru waktu kami minta permisi mata itu terbuka kembali. Kami pergi. Aku menyendiri di belakang. Dan di kala anak-anak telah keluar dari pintu, aku masuk lagi. Kuintip ayah dari balik tabir mori putih. Dan aku lihat ayah menangis tersedu-sedu seperti orang yang takut kehilangan sesuatu. Sekaligus membadai tangisku yang tertahan di dalam dada.
“Bapak! Bapak!” aku berteriak di dalam hati.
Kemudian aku pun lari keluar dari kamar sambil menghapus mata.
Kembali datang penyesalan dalam diriku mengapa kalimat tadi kuucapkan. Dan sejak hari itu banyak terjadi perubahan dalam kesehatan ayah. Dalam minggu sesudah itu banyak yang dipintanya. Ikan lele! Dan istri serta adikku memasakkan ikan lele. Tapi ayah tak menjamahnya sedikit pun juga. Kemudian keinginan ayah pindah lagi. Papaya! Dan serbat papaya pun dibuatlah. Tapi ayah hanya meminumnya dua suap saja. Dan banyak lagi permintaannya. Tapi permintaan itu tinggal jadi permintaan saja. Kesehatan ayah kian mundur. Yang terkemudian sekali dipintanya ialah es. Es!
Dan sekali lagi es. Sekalipun es jadi larangan dokter, tapi larangan itu kami terjang juga untuk memuaskan hati ayah.
“Anakku, es!” kata ayah bila kami memasuki kamarnya.
Dan setelah es itu melalui kerongkongannya, ia berseri-seri. Berkata:
“Nafasku, anak-ku, na-fas-ku … jadi … jadi lega kalau … kalau … kalau minum es.”
Dan kami memandangi ayah yang kadang-kadang makan kepingan-kepingan es itu dengan perasaan khawatir.
Suatu malam paman bilang di pelataran rumah yang gelap gelita:
“Ayahmu selalu melihat jam saja. Permintaannya sudah banyak sekarang, dan permintaan itu hanya karena keinginan selintas saja. Kedua-duanya itu adalah suatu pertandaan …”
Ia tak meneruskan.
Diambilnya sepeda yang disandarkannya pada tiang pagar. Kemudian ia naik di atasnya. Menengok ke belakang dan berkata:
“Aku mau pulang. Hari sudah malam.”
Dan hilanglah ia ke dalam kegelapan malam.
Apa yang dikatakannya itu berpengaruh besar atas diriku. Malam itu aku sengaja tak tidur. Adikku yang keempat demikian juga.
Kami berdua duduk berhadapan menghadapi lampu minyak tanah. Banyak yang kami berdua perkatakan waktu itu. Dan aku bertanya:
“Bagaimana keadaanmu waktu pendudukan merah, adikku?”
Ia tak segera menjawab pertanyaan itu. Sebentar ia termenung-menung. Baru kemudian menjawab:
“Ya, mas, aku tidak bisa berkata apa-apa. Ayah ditangkap oleh pasukan merah.”
“Ya, aku sudah dengar juga itu. Tapi, mengapa ditangkap?”
“Aku tidak tahu, mas.”
“Dan bagaimana penghidupan selama ayah ditangkap?”
Ia tak menjawab. Aku lihat matanya berkaca-kaca. Dan suatu pengertian yang lebih terang daripada jawaban tergambar pada matanya yang berkaca-kaca itu. Aku tak mendesak.
“Bagaimana ayah bisa lepas dari tangan pasukan merah, adikku?”
“Ayah dipenjarakan di penjara sini, kemudian digiring jalan kaki ke Rembang. Dan sampai di Rembang, Siliwangi1 mulai masuk, dan ayah dibebaskan. Tapi ipar marhum ibu tewas di sini.”
“Ya, perang memang kutukan untuk manusia, adikku,” kataku menasihati. “Perang ini menyuruh manusia mendekati dirinya sendiri. Karena, adikku, dalam diri sendiri itu terletak segala-galanya yang ada di dunia, yang dirasakan juga oleh tiap orang.”
Aku tertegun. Perkataan itu sesungguhnya kutujukan pada diriku sendiri, dan sekali-kali bukan pada adikku. Dan adikku berkata: “Ya.”
Diam sebentar. Angin menderu-deru di luar. Dan bila angin itu mati terdengar percakapan orang-orang jaga malam di gardu. Adikku meneruskan:
“Waktu ayah pulang, badannya sudah begitu kurus.”
“Dan waktu penyerbuan Belanda?”
“Belanda tak segera memasuki Blora, mas, Belanda ditahan untuk beberapa jam di Maningan — lima kilometer dari sini. Tapi pasukan kita tak mempunyai senjata berat. Jadi Belanda masuk juga. Tapi waktu pertempuran yang sebentar itu sudah cukup untuk jadi tanda buat menyusun tenaga di seberang kali.”
Ia diam. Mengawasi aku. Kemudian tangannya ditudingkan ke arah selatan. Meneruskan:
“Dan ayah turut melarikan diri ke seberang kali.”
“Dan bagaimana penghidupanmu sekeluarga waktu itu?”
Ia tertegun mendengar pertanyaanku itu. Menjawab lambat-lambat:
“Mula-mula kami jual apa yang bisa kami jual. Kami berdagang. Orang-orang suka beli pada kami. Lama kelamaan mereka mulai mengebon, karena uang susah didapat. Dan kemudian — kemudian mereka tak mau membayar hutangnya. Ya, mas, seakan-akan senanglah hati mereka bila kami semua runtuh.”
Ia diam lagi dan aku lihat matanya berkaca-kaca. Tidak sampai di situ saja. Air mata mulai menitik-nitik. Sedu-sedan. Akhirnya ia menangis.
“O — mereka itu seakan-akan tak tahu, bahwa ayah sedang memperjuangkan republik.”
“Biarlah, adikku, biarlah. Yang sudah lalu kini tinggal jadi sejarah. Jangan engkau sedihkan semuanya itu. Engkau masih punya kakak. Dan aku akan berbuat sekuat tenagaku untuk kebaikanmu semua.”
Dihapusnya air matanya cepat-cepat.
“Dunia ini memang aneh, adikku,” kataku lagi, “kalau suatu keluarga itu bisa timbul mengatasi keluarga-keluarga yang lain, orang-orang menjadi dengki. Ada saja mereka punya bahan untuk memaki dan menghina-hinakan di belakang layar. Tapi ada sebuah keluarga yang runtuh, ramai-ramai orang menyoraki dan turut meruntuhkannya. Aku tahu, adikku, inilah adat di kota kecil. Karena, adikku, penduduk kota kecil ini tak mempunyai perhatian apa-apa selain dirinya sendiri, keluarga, dan lingkungannya. Lain dengan di kota besar. Banyak yang masuk ke dalam perhatian mereka. Karena itu, adikku, lebih baik engkau jangan turut campur dalam kepentingan-kepentingan mereka. Engkau mengerti, bukan?”
Dan sekali lagi aku tertegun. Nasihat itu rupa-rupanya kutujukan pada diriku sendiri, dan bukan padanya. Adikku mengangguk. Berkata:
“Ya. Aku pun berpendapat begitu juga.”
“Ya, tak ada yang bisa kita harapkan dari mereka itu. Kalau kita toh harus mengharap, kita harus mengharap dari kita sendiri.”
“Ya, mas.”
“Dulu kita selalu senang saja, karena, karena waktu itu kita masih kecil-kecil. Dan kini, adikku, kini terasa betul oleh kita, pahit sungguh hidup di dunia ini, bila kita selalu ingat pada kejahatan orang lain. Tapi untuk kita sendiri, adikku, bukankah kita tak perlu menjahati orang lain?”
“Tidak, mas, aku tak mau menjahati orang lain.”
“Itu sudah cukup, adikku — lebih dari cukup.”
Kami berdiam-diam lagi. Kemudian dengan suara yang dalam aku menasihati — dan seperti yang tadi-tadi juga, nasihat itu sebetulnya kutujukan pada diriku sendiri:
“Kita bangunkan keluarga baru, adikku — dengan tenaga kita sendiri, untuk kita sendiri. Biarlah kita jadi pulau terpencil di tengah-tengah samudera. Bila kita jatuh, adikku, kita jatuh dengan tidak berteriak. Bila pulau kita terendam samudera, kita akan terendam sendirian dan tak ada orang yang melihat. Aku sendiri, adikku, aku sendiri sudah bosan pada semua ini. Aku sudah bosan pada kesopanan yang sia-sia ini. O, aku tak mengerti. Aku tak tahu apa-apa lagi.”
Adikku tak menjawab. Dan aku tak meneruskan kataku. Kuteguk kopi yang disediakannya untukku. Akhirnya ia berkata lagi:
“Akhirnya ayah tertangkap juga oleh Belanda. Ayah turun dari hutan dan menuju ke Ngawen. Engkau belum lupa pada Ngawen, bukan? — lima kilometer di timur Blora.”
“Mengapa aku kan lupa? Aku sering ke sana dulu.”
“Waktu itu ayah sedang tidur dilanggar. Dan waktu ayah membuka matanya ayah telah dikurung oleh pasukan Belanda dan ditodong pula. Begitulah cerita ayah sendiri waktu pulang ke rumah. Ayah membawa keranjang bambu. Dan di keranjang itu tersimpan botol tempat minum, pakaian dalam selembar dan destar sebuah. Ayah datang kemari dengan bertongkat. Waktu itu bukan main terkejutku. Tiba-tiba saja ayah sudah jadi tua, mas.”
Ia terdiam lagi setelah menyebut kata tua itu. Kembali matanya berkaca-kaca. Aku tak mendesaknya. Dan waktu haruannya itu telah habis, ia meneruskan:
“Tiba-tiba saja rambutnya lebih banyak yang putih daripada yang hitam. Ayah lebih jarang bicara daripada dulu-dulu. Ayah diangkat oleh Belanda jadi pengawas sekolah. Besar sekali gajinya, mas. Pembagiannya luar biasa banyaknya. Tapi ayah jarang betul di rumah. Ayah memang suka berjudi. Tapi kepergiannya di masa pendudukan itu bukan hanya akan berjudi saja, mas, bukan. Ayah berjuang terus untuk hidupnya republik. Semua tentara tahu ini, mas, semua. Dan engkau barangkali belum tahu apa yang terjadi setelah ayah bekerja pada Belanda.”
Ia diam lagi dan meneguk udara malam besar-besar. Aku menggeleng. Ia meneruskan dengan suara seperti memuja:
“Ya, mas, tiap hari datang surat kemari, baik dari tentara maupun dari mereka yang menyebut dirinya orang non. Engkau tahu surat apa, mas? Sokongan! Minta sokongan. Dan tiap hari begitu saja yang terjadi. Dan semua surat itu tak dibiarkan hampa saja oleh ayah. Tidak. Semua mesti berhasil. Kadang-kadang, mas, ya, kadang-kadang aku tak menerima belanja secepeng pun juga sekalipun untuk makan ayah sendiri — dan untuk satu bulan penuh. Dan semua ini, mas, semua ini mengingatkan aku pada seorang budiman Tionghoa. Di waktu ayah masih di daerah gerilya dan juga di masa pendudukan merah, orang Tionghoa itu banyak membantu kami. Dan aku tak mengerti mengapa dia sudi menolong keluarga kami dari bahaya kelaparan.”
“Ya, adikku, kemanusiaan itu kadang-kadang menghubungkan seorang dari kutub utara dan seorang dari kutub selatan. Dan dalam hal ini, kemanusiaan itu telah menghubungkan seorang dari kerajaan langit dengan kita.”
“Ya, mas,” kata adikku dengan suara yang tidak bertujuan. Kemudian ia meneruskan ceritanya. “Kemudian ayah terlampau banyak bekerja untuk republik. Dan waktu kita merdeka, ayah jatuh sakit. Tiga bulan dirawat di rumah sakit. Tapi ayah masih juga banyak bekerja. Akhirnya terasa juga olehnya, bahwa kesehatannya tak mengizinkan, dan sebuah demi sebuah jabatannya dalam pergerakan politik dan sosial dilepaskan. Tapi kesehatannya yang dulu tak kembali. Ayah jatuh sakit lagi hingga kini. Dokter bilang sakit paru-paru. Dan waktu kutanyakan ke sana-sini, barangkali ayah bisa ditempatkan di sebuah sanatorium — ya, mas, pertanyaan itu tinggal jadi dengung belaka. Tak ada setangkup pun mulut yang berani menjawab. Kalau ada orang menjawab, jawabannya hanya begini, ongkos di sanatorium mahal sekarang. Dan kalau tidak begitu jawabannya ialah, sanatorium? Sanatorium sudah penuh oleh pedagang. Kalau engkau jadi pegawai, kalau bukan pegawai tinggi, jangan sekali- kali berani mengharapkan mendapat tempat di sanatorium.”
Ia diam lagi dan dipandangnya aku lama-lama. Aku menggeleng. Dan aku tak mengerti apa yang harus kupikir. Adikku itu menunjukkan kepala dan meneruskan:
“Ya, mas, ayah sendiri pernah mendapat tawaran jadi anggota perwakilan daerah. Dan ayah menolak angkatan itu.”
“Menolak? Bukankah itu suatu kesempatan baik untuk memperbaiki keadaan masyarakat?” aku bertanya.
“Aku tidak tahu. Hanya saja ayah bilang, ayah bilang begini, perwakilan rakyat? Perwakilan rakyat hanya panggung sandiwara. Dan aku tak suka menjadi badut — sekalipun badut besar. Dan ayah tetap menolak. Ayah pun pernah mendapat tawaran jadi koordinator pengajaran untuk mengatur pengajaran untuk seluruh daerah Pati. Tapi ayah menolak juga dan bilang. Tempatku bukan di kantor. Tempatku ada di sekolahan. Ya, barangkali pendiriannya yang seperti itu juga menyebabkan ayah tak mau meneruskan jadi pengawas sekolah, dan kembali menjadi guru. Dan ayah bilang juga, Kita guru-guru di tanah air kita ini jangan sampai kurang seorang pun juga.”
“Ya,” kataku tak bertujuan.
Ia meneguk kopinya. Aku merokok. Asap mengepul-ngepul. Aku lihat tiba-tiba matanya bersinar murung. Bertanya ia hati-hati:
“Engkau masih ingat Sami, mas?”
“Ya, aku masih ingat.”
Dan dalam kepalaku terbayang gadis kecil genit yang pernah jadi umpan keluarganya — umpan makanan Jepang.
“Luar biasa senang hatinya melihat keruntuhan kita. Dan dia bilang pada para tetangga tentang ayah. Dia memang sengaja menyerahkan diri pada Belanda, katanya. Orang yang turut dengan Belanda memang sapi. Dia bukan manusia, katanya pula. Kadang-kadang ia mengucapkan perkataan itu pada kawan-kawannya bila kami sedang ada di dekat-dekatnya. Aduh, aku tak tahan. Aduh! —”
“Untuk apa kauladeni suara orang yang tak punya kesopanan?” kataku kosong.
“Aku tak sanggup mendengar perkataan seperti itu. Dan ayah yang sakit, yang adanya di dunia ini hanya untuk dimintai orang saja, yang sudah mengurbankan segala kepentingan dan kesehatannya sendiri — hanya jadi permainan kata orang-orang seperti itu.”
Ia diam lagi. Dan sekali ini lama ia berdiam diri. Dan aku pun tak berkehendak untuk menengahinya. Ada terasa oleh hatiku, bahwa ia sedang mencari jalan lepas untuk mencurahkan pengaduannya.
Detik demi detik lenyap ditelan malam. Dan dengan tiada terasa umur manusia pun lenyap sedetik demi sedetik ditelan malam dan siang. Tapi masalah-masalah manusia tetap muda seperti waktu. Dimana pun juga dia menampakkan dirinya. Dimana pun juga dia menyerbu ke dalam kepala dan dada manusia, dan kadang-kadang ia pergi lagi dan ditinggalkannya kepala dan dada itu kosong seperti langit.
Kadang-kadang terdengar tabuh dari gardu di depan rumah kami bertalu. Dan tabuh itu bersusul-susulan dengan tabuh dari gardu-gardu yang lain. Dan malam yang sunyi itu tak membatalkan keluarnya pengaduan adikku. Hati-hati ia meneruskan suaranya:
“Selama kepergianmu itu, mas, kakek telah meninggal. Dan nenek lantas diam bersama-sama kami. Waktu itu engkau masih ditawan. Kami tahu tentang penawananmu itu dari suratmu yang kaukirimkan melalui palang merah. Beberapa bulan nenek tinggal bersama-sama dengan kami. Dan pada suatu kali, mas, pada suatu kali seorang tetangganya yang diam di dekat rumahnya dulu — di pinggir kota — meninggal dunia. Ia datang melawat. Lama ia pergi. Tiga hari. Dan aku tak mengerti mengapa selama itu ia pergi untuk melawat tetangganya. Kemudian datang orang kemari dan bilang, dan bilang, mas, Nenekmu meninggal di sana, setelah dua jam kena penyakit perut.”
Ia diam memandang daku. Dan aku bilang:
“Aku sudah dengar juga kabar itu dari surat yang dikirimkan oleh kakakmu.”
“Ya … tapi engkau tidak tahu betapa kacau balau kami waktu itu. Ya, mas, di kala itu ayah sedang ada di daerah gerilya. Dan yang aku tidak mengerti, mengapa ia meninggal di sana.”
“Sudah lebih dari tiga puluh tahun dia diam di sana, adikku. Dan kakek pun meninggal di sana. Adikku … kadang-kadang orang terlalu dekat, terlalu cinta pada gumpal tanah yang sudah berpuluh tahun didiaminya, yang selama itu memberi tempat padanya, yang selama itu memberi hasil yang boleh dimakannya. Dan kadang-kadang orang itu ingin mati di pangkuan gumpal tanah yang sekian lamanya ditumpanginya itu. Ya, kadang-kadang, adikku.”
Ia diam. Dan aku lihat matanya berkaca-kaca. Ia terkenang pada segala waktu buruk yang telah berarak dalam hidupnya. Dan aku meneruskan:
“Dan kadang-kadang, adikku … kadang-kadang keinginannya itu terkabul dan dia meninggallah di pangkuan bumi yang sekian lama ditinggalinya itu.”
“Tapi, mas …,” ia menyela.
“Tapi?”
“Aku sendiri — ya, hanya aku sendiri yang pergi daerah gerilya. Barangkali benar juga katamu ia ingin meninggal di pangkuan gumpal tanah yang sudah ditumpanginya lebih dari tiga puluh tahun itu. Tapi, mas, tapi …,” ia tertegun. Tetapi ia memandang daku. Dan waktu dilihatnya aku sedang memandangnya, segera pandangnya dilekatkan pada pintu di belakang badanku. Meneruskan dengan suara ketakutan, “tapi mulutnya yang menciut kejang — ya, aku lihat itu waktu ia dimandi — itulah, mas, itulah yang selalu terbayang oleh ingatanku. Dan mulut itu, mulut itu seakan-akan mengalamatkan ia tak suka pada perawatan manusia yang diberikan padanya, waktu ia menghadapi mautnya.”
Ia mengeluh.
Aku mengeluh.
Diam.
Dan malam di luar terus juga menelan umur manusia. Aku menggelengkan kepala yang sedang membayangkan kalimat-kalimat yang telah diucapkan oleh adikku itu. Kataku:
“Aku tidak mengerti.”
“Aku sendiri juga tak mengerti. Tapi mulutnya itu, mas, — mulut itu, mulut itu seakan-akan mengatakan padaku pula, Mengapa hanya sekelumit saja kesenangan yang oleh kukecap di dunia ini? Mengapa? Barangkali semua itu terjadi hanya karena aku sangat terpengaruh oleh peristiwa itu. Barangkali, ya, barangkali. Tapi begitulah keadaan perasaan dan pikiranku. Dan aku tak bisa membantahnya.”
Tiba-tiba ia terdiam. Dan dengan tiba-tiba pula ia menangis terisak-isak. Aku bangun dari tempat dudukku dan kupeluk dia. Kuusap-usap pada rambutnya. Terdengar suara yang patah-patah.
“Mas, aku mas, aku tak rela nenek meninggal di tempat orang. Aku tak rela. Aku tak tega. Ia tak mendapat perawatan sebagaimana harusnya orang yang meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.”
Dan aku menghiburnya dengan kata-kata kosong:
“Bukankah semua itu sudah terjadi, adikku? Dan semua yang sudah terjadi tak bisa diulangi lagi.”
“Tapi aku tak rela, mas. Aku tak rela.”
“Engkau harus merelakan semua hal yang sudah terjadi, adikku,” kataku.
Dan di kala itu juga aku pun merasa tak rela nenekku mendapat perawatan yang kurang cukup pada waktu menghadapi mautnya. Dan aku turut mengucurkan air mata. O, air mata yang terus mengalir sejak aku menginjakkan kaki di bumi Blora kembali. Aku kehabisan perkataan. Dan aku terdiam. Adikku, yang tahu aku pun sedang mengucurkan air mata, tak berkata apa-apa. Dan tangisnya kian menjadi-jadi.
Dan bersamaan dengan air mata yang bertetesan itu, umur manusia pun bertetesan terhambar di tiap sudut bumi dan hilang takkan tertemui lagi. Dan sebentar-sebentar terdengar gepak sayap kalong yang mengembara di dalam malam hitam di antara cabang-cabang dan daun-daun jambu. Ya — kalong dari puluhan abad yang lalu — kalong yang hidup aman dalam malam, mencari penghidupannya.
Adikku menarik sedan berbareng dengan keluh yang dalam.
“Sudah jam tiga, adikku, barangkali lebih baik engkau tidur.”
Ia menggeleng. Berkata:
“Malam ini aku takkan tidur seperti engkau untuk kesehatan ayah.”
Dan tiba-tiba saja badan ayah yang seperti sebilah papan itu terbayang lagi dalam kepalanya. Dan dengan sendirinya saja keluar sesalanku:
“Sekiranya ayah jadi wakil di perwakilan rakyat, atau jadi koordinator, ayah akan jadi pegawai tinggi. Dan ayah jadi pegawai tinggi barangkali bisa mendapat tempat di sanatorium.”
Aku diam. Adikku diam.
Dan kesenyapan itu menggelisahkan hatiku. Karena itu kupaksakan mulutku bersuara:
“Tapi ayah tak sudi mempergunakan kesempatan yang murah. Ayah menyediakannya untuk orang lain. Ayah …”
“O — ayah yang selalu mengurbankan diri untuk orang lain. Ayah yang selalu jadi kurbannya orang lain …” seru adikku.
Dan di kala seruannya itu lenyap, tangisnya kembali lagi.
“Kita tak menghendaki semua ini, adikku,” kataku menasihati diriku sendiri, “semua itu datang dengan tiada kita pinta. Dan kita harus menerimanya. Kita harus menerimanya saja. O, manusia ini tak bisa berbuat apa-apa terhadap sesuatu yang tak diketahuinya.”
“Mengapa harus ada perang, mas?”
“Karena kita tidak tahu, adikku. Karena kita tidak mengerti.”
“O … perang, mas, … perang telah merampas ibu kami, adik kami yang terkecil, kakek, nenek, dan ayah dirampas kesehatannya. Mengapa, mas? Mengapa bisa jadi begitu, mas?”
“Ya, adikku …, karena kita tak mengerti mengapa itulah sebabnya.”
“Engkau bingung, mas. Aku lihat engkau selalu bingung dan gugup sejak beberapa hari pulang di Blora ini.”
“Ya, adikku, sesungguhnya begitu. Tapi engkau tak perlu memikirkan diriku.”
Dan aku meneguk kopi yang sudah jadi dingin. Duduk kembali dikursiku. Kemudian mengisap rokok. Ayam mulai berkokok di kandang disusul bunyi orang menumbuk tepung. Jam di dinding bertalu lima kali. Adik-adik yang lain mulai bangun.
“Jam lima sekarang, adikku. Marilah tidur. Aku pun hendak tidur.”
Dan kami pun tidurlah.
10
Dalam seminggu itu tak terjadi apa-apa. Hanya kesehatan ayah tambah mengkhawatirkan. Waktu aku datang menengok, ayah tak suka makan seperti halnya selama seminggu itu. Es! Es! Eslah yang selalu dipintanya. Dan karena kami tak sampai hati akan mengecewakan hatinya, kami bawakan selalu es itu. Dan bila pabrik es di Rembang tidak bekerja karena kerusakan mesin, dan kami datang ke rumah sakit dengan tak membawa es, kami merasa sebagai manusia berdosa yang diseret ke depan hakim.
Dalam seminggu itu pula banyak orang berkata pada kami:
“Mengapa ayahmu tak kaubawa pulang saja?”
Dan pertanyaan itu menusuk-nusuk dalam benak kami. Haruskah ayah kami bawa pulang? Haruskah? Pertimbangan membuat orang jadi gelisah. Tapi waktu aku sampai di rumah sakit, tak keluarlah apa yang sedang menusuk-nusuk dalam benakku itu. Sebaliknya ayah berkata padaku:
“Anakku, se-ka-rang, engkau boleh … pergi … pergi … pulang ke Jakarta.”
Mendengar itu aku jadi terkejut. Dan segera aku berkata:
“Tidak, ayah, kami pulang nanti-nanti saja.”
Ayah membuka matanya. Diarahkan senyumnya padaku, seakan-akan senyum itu menguji hatiku dan berkata, “Tidakkah engkau terlampau lama di Blora, dan tidakkah kelamaanmu tinggal di sini mengganggu pekerjaanmu di sana?” Dan aku berkata lagi:
“Kewajiban di Jakarta boleh kutangguhkan, bapak.”
Ayah menggelengkan kepalanya. Matanya kembali tertutup. Dan lingkaran pada kelopak mata itu nampak bertambah biru daripada kemarin dan kemarin dulu. Agak kehitam-hitaman kini. Nampak ia sangat berbahagia oleh jawaban itu. Dan sesudah keadaan tenang sebentar adikku yang ketiga bilang:
“Bagaimana kalau bapak tinggal di rumah saja?”
Ayah membuka matanya. Tersenyum. Mata itu tertutup lagi kemudian. Nampak ia sedang memikir. Kemudian terdengar suaranya yang agak teratur:
“Di sini, anakku, para perawatnya masih kanak-kanak semua.” Matanya dibuka dan memandang bel yang terletak di meja. “Kalau bel itu kubunyikan — kalau aku ingin buang air, anakku, mereka bukanlah datang menolong tapi mereka itu tambah melarikan diri mendengar panggilan bel itu. O, sungguh terlalu.”
Tapi ia tersenyum mengucapkan kata-kata itu.
“Lebih baik ayah tinggal di rumah,” adikku ketiga berkata lagi.
“Ah, cuma memberi banyak pekerjaan saja di rumah,” keluhnya.
Kemudian ayah batuk-batuk. Tangannya yang kurus itu memberi isyarat agar kami menjauh. Dan kami menjauh.
Kala batuk itu telah reda adikku yang keempat menyuapnya dengan cendol hunkwe yang didinginkan dengan es. Dan kami merasa gembira karena ayah dapat menghabiskan lima belas suap. Tapi kesehatan ayah rupa-rupanya tak bisa diukur oleh banyak sedikitnya suapan.
11
Nampak sekali bahwa kemauan dan keinginan ayah tambah berubah-ubah. Pagi itu seorang juru rawat yang semalam kena dinas jaga malam datang ke rumah kami dan menyerahkan selembar kuitansi — minta voorschot gaji untuk bulan Maret! Bulan itu adalah bulan Mei. Kuitansi itu adalah dari ayah. Aku tak mengerti mengapa voorschot untuk bulan Maret yang dipintanya. Dan di kala hal ini kutanyakan pada paman, ia mengatakan:
“Sejak kita merdeka, guru belum lagi dibayar. Hampir setengah tahun ini.”
Dan aku jadi mengerti.
Tiga jam kemudian aku datang pula ke rumah sakit. Sebelum masuk, terdengar rintih dan aduh ayah. Nafasnya berat dan sesak dan sebentar-sebentar nafas itu diganggu oleh batuk-batuk kecil, dalam dan sengsara. Hati-hati kubuka pintu. Diranjangnya kulihat ayah tergelepak tidur. Bersitinjak aku mendekati. Tapi ayah membuka matanya. Nampak ia memusatkan seluruh tenaganya yang masih tinggal. Kemudian terdengar suaranya yang menyesali — juga menyesali segala-galanya: “O, Allah, anakku — apa gunanya aku menunggu di ranjang ini?”
Aku tak mengerti arah tujuan percakapannya. Dan aku menjadi bingung. Dengan sendirinya saja kepalaku menunduk ke lantai. Dan ayah meneruskan:
“Harus berapa hari lagi aku menunggu di sini?”
Dan aku lihat matanya dipejamkan.
“Apa, bapak?” aku bertanya bingung.
“Allah. Allah.” Ia diam sebentar untuk melepas batuknya. Meneruskan. “Tadi ada orang ke sana?”
“Ya, ayah.”
Mata itu kembali terbuka. Dengan tiada disengaja mata itu lekat pada panci tempat sup yang baru saja diletakkan oleh adikku yang kelima. Berkata pula ia:
“Apa yang kaubawa di panci itu?”
Adikku yang kelima menjawab: “Sup sumsum, bapak.”
“Allah. Allah.” Matanya tertutup lagi. “Jadi orang tadi tak bilang apa-apa padamu?”
“Dia hanya menyerahkan kuitansi dan minta uang sepuluh rupiah.”
“Allah. Allah,” ayah menyebut lagi. Dan pada matanya yang tertutup itu terbayang kesedihan, kekesalan dan kasihan pada segala-galanya.
Sekaligus datang saja suara dalam hatiku. Orang tadi pagi itu telah menipu engkau. Tapi suara itu terpenggal saja sampai di situ. Ayah meneruskan:
“Aku bilang, ambillah aku dari rumah sakit ini cepat-cepat.”
Aku terkejut.
“Tak kaubacakah surat itu?”
“Tidak ada surat, ayah.”
“O — Allah.”
Kemudian ayah diam-diam untuk melepaskan lelahnya. Dan aku lihat perutnya kembali terguncang-guncang. Dan di kala guncangan perut itu mereda aku lihat ayah mengumpulkan tenaganya. Meneruskan:
“Balik-balik kuitansi itu. Ada aku tulis di situ.”
Dan sekali ini betul-betul ayah kehabisan tenaga. Ia tak bicara lagi sesudah memiringkan badan menghadap ke dinding. Bersitinjak aku mundur, pergi ke belakang tabir dengan adikku, membuka kuitansi. Dan betullah. Di balik kuitansi itu ada tertulis baris-baris tulisan yang kacau dan huruf-hurufnya tak nyata dan telah terhapus-hapus oleh tangan. Katanya:
Anakku!
Aku sudah tak tahan tinggal di rumah sakit ini. Dan karena para famili telah kumpul, lebih baik aku bawa saja pulang. Datanglah ke rumah sakit secepat mungkin.
Bapakmu.
Aku memandang adikku. Dan dia sedang memandang daku. Kemudian, dengan sendirinya saja pandang kami runtuh ke lantai. Kuhela nafas dalam-dalam untuk memberanikan diriku. Ada sedikit keberanian masuk ke dalam dada. Kuhampiri ayah. Berkata:
“Bapak, baiklah sekarang juga kumintakan izin dari dokter.”
Dan ayah membuka matanya. Tersenyum — senyum seperti biasanya. Segera aku pergi.
Di kota kami yang kecil itu cuma ada seorang dokter. Di zaman Belanda dulu, tiga dokter ada di sini. Tapi selamanya maut terdapat di mana-mana dalam masa perang —, sekalipun perang kecil-kecilan.
Dan kini, dokter yang berdaulat itu duduk seperti raja di belakang meja tulisnya. Suaranya yang berirama merendahkan segala-galanya yang dihadapinya terdengar:
“Tuan ada keperluan apa?”
“Minta izin untuk mengambil ayah dari kamar nomer tiga belas.”
Ia masih ingat siapa yang mendiami kamar nomer tiga belas. Segera saja ia menjawab:
“O — boleh. Boleh.”
“Dan bagaimana dengan kesehatan ayahku?”
Dokter itu menggeleng dengan geleng yang berdaulat. Aku berdebar-debar. Bertanya gugup:
“Tak bisa diharapkan?” Gelengan kepalanya mati.
“Adakah sedikit harapan akan sembuh?”
“Ada,” katanya berbisik, “tapi lama sekali.” Ditegakkan kepalanya, ditusuknya aku dengan pandangnya. “Ayah tuan boleh diambil. Tuan boleh mempergunakan mobil ambulance. Dan sekarang tuan boleh pergi.”
Terdengar bunyi bel berdering. Dan waktu aku meninggalkan kamar tuan dokter, terdengar ia sedang memberi perintah pada bawahannya. Buru-buru aku pergi ke kamar ayah. Gembira kusampaikan kabar gembira itu:
“Sebentar lagi, bapak.”
Ayah tetap menutup matanya. Dan aku lihat bibirnya tersenyum. Aku menunggu ayah membuka matanya, memandang daku dan berkata-kata lagi. Tapi ia tak berkata-kata lagi. Baru waktu para juru rawat datang membawa brankar, ayah membuka mata dan membagikan senyumnya pada mereka. Dan para juru rawat membalas senyum itu — senyum yang menantikan upah.
Dalam pengangkutan di mobil palang merah ayah terus dengan rintihnya. Kadang-kadang ditebarkan pandangnya keluar jendela mobil untuk memandangi hijau daun-daunan. Ayah cinta pada alam, pada tumbuh-tumbuhan dan hewan. Ini kuketahui sejak kecilku.
Nampak suatu kelegaan pada parasnya di kala ayah telah terbaring kembali di rumah yang sudah dua puluh lima tahun ini didiaminya — rumah di mana aku dan adik-adikku dibesarkan. Dan juga rumah di mana ibu menutup matanya. Juga rumah yang sudah rusak. Rusak! Dan kata itu mengingatkan aku pada perkataan tetangga tukang potong kambing: kalau rumahnya rusak — Dan ingatan itu kembali memperingatkan daku untuk memperbaikinya.
Sebagai biasanya di tempat kami, para tetangga mesti datang bila terdengar saja ada orang sakit keras. Mereka itu datang hanya untuk mengobrol-ngobrol di depan si sakit, sekalipun maksudnya bukan begitu. Dan apa lagi kalau bukan mengobrol pabila mereka itu sama sekali tak tahu tentang kesehatan dan ilmu penyakit? Dengan demikian seorang demi seorang dari mereka datang. Dan tak ada alasan padaku dan pada adik-adikku untuk menolak kedatangan orang yang membawa kehendak baik. Jadi kian lama kian banyak orang yang datang untuk menengok.
Malam itu ayah tenang saja di tempat tidurnya. Hanya dahak yang mengganggu nafasnya rasa-rasa ada juga melengket dalam tenggorokanku. Sebentar-sebentar kutengok ayah sambil menyemproti ruang tempat tidurnya dengan DDT. Dan bila kebetulan ayah membuka matanya, pasti terdengar suaranya yang dalam, sengsara dan tidak bertenaga:
“Eng-kau … tak … perlu menunggui aku. Tidurlah.” Dan sebagai biasanya juga aku menjawab:
“Aku tidak mengantuk, bapak.”
Dan sebagai biasanya juga ayah terus menutup matanya kembali.
Bergantian kami menunggu ayah dengan adik-adikku. Dan terasa betul oleh kami betapa bahagia rasanya tidak tidur untuk kepentingan seorang ayah — ayahnya sendiri — yang sedang sakit. Dan terasalah olehku betapa gampangnya orang yang hidup dalam kesengsaraan itu kadang-kadang — dengan diam-diam — menikmati kebahagiaan.
12
Kalau aku tak salah, sore itu baru jam delapan. Aku dan istriku pergi berjalan-jalan melalui jarak lima ratus meter dari rumah. Banyak yang kupercakapkan dengan istriku itu. Terutama sekali tentang keuangan.
“Lebih baik kita pulang dulu. Engkau harus ingat pada keuangan kita,” kata istriku.
Dan sebagai biasanya aku menjawab ucapannya itu:
“Aku takkan kembali ke Jakarta sebelum keadaan beres semua.”
Dan kami jadi bertengkaran dalam berjalan-jalan itu. Uang! Jakarta! Ayah! Rumah yang rusak! Dan sebagai biasanya pertengkaran yang timbul oleh lainnya alasan dan pendirian. Pertengkaran yang terjadi dengan bisik-bisik itu, tak mendapatkan sesuatu keputusan apa-apa. Hanya suatu kebuntuan jua yang menjawabi:
“Engkau boleh pulang dulu. Aku akan tetap tinggal di sini sampai semua jadi beres.”
Dan pertengkaran pun matilah.
Dengan diam-diam kami melangkah dan melangkah jua melalui jalan kota kecil yang sunyi dan tak beraspal itu. Banyak orang sedang duduk-duduk di bangku gotnya1 untuk menikmati alam kota kecil di waktu malam yang sunyi dingin dengan langit ditaburi beribu juta bintang itu. Dan kami tak bercakap-cakap lagi. Masing-masing diganggu oleh pikiran dan kemauannya sendiri-sendiri. Kami masuk lagi ke dalam rumah — rumah yang gelap karena aliran listrik belum sampai di tempat kami. Terdengar ayah batuk-batuk — dalam, sengsara, tak bertenaga dan merongga. Segera saja aku menuju ke kamarnya. Waktu itu ayah telah reda dari batuknya. Terdengar suaranya yang menguji, dengan pandang dipusatkan:
“Apa yang sudah kaupertengkarkan tadi?” tanyanya.
Aku kaget.
Dan nampak betul bahwa ayah sedang memusatkan tenaganya pada suaranya.
“Apa yang kaupertengkarkan tadi?” ulangnya.
Aku tak mengerti maksud dan tujuan ucapannya itu. Hanya mataku saja memandanginya. Aku mau bertanya, apa yang dimaksudkannya. Tapi aku tak berani. Dan waktu matanya sampai pula pada mataku, nampak olehku ayah tersenyum. Meneruskan dengan suara yang sehat:
“Ya, ya, anakku! Engkau tak perlu bertengkar lagi. Sungguh tidak perlu. Engkau tahu? Di dunia ini hanya kemenangan saja yang dibutuhkan. Kemenangan. Kemenangan. Kemenangan …”
Dan diulang-ulanginya perkataan itu dengan suara kian lama kian lemah akhirnya tak terdengar. Ayah tertidur lagi. Sebagai biasanya kalau sedang tertidur, dahak yang menahani jalan nafasnya menimbulkan keruh yang menggemparkan dadaku. Dan aku pergi duduk di bale ditentang ranjangnya.
Dan malam beredar terus di luar. Seluruh isi rumah tidur. Aku pun tertidur.
Bila ayah terbatuk-batuk dan bangun, salah seorang di antara kami pasti telah ada di depannya. Dan biasanya terdengar ayah berbisik:
“Es.”
Kadang-kadang es yang kami sediakan telah cair karena kami tak punya termos di rumah. Keadaan seperti itu sungguh tak tertanggungkan oleh kami. Dan bila es itu sungguh-sungguh telah habis, hanya dengan pelahan saja kami menjawab:
“Es telah habis, bapak.”
Dan seperti biasanya bila ayah mendengar jawaban seperti itu, terus saja matanya tertutup kembali. Dan kalau ayah terbatuk-batuk pula dan bangun, terulang lagi suara itu:
“Es.”
Sekiranya matahari belum lagi terbit, jawaban yang sama menyusul pula, — jawaban yang pelahan dan tak tertanggungkan dalam dada:
“Es telah habis, bapak.”
Dan ayah menutup matanya kembali hingga batuk baru membangunkannya.
Malam itu juga ayah terbangun oleh batuknya. Waktu itu aku yang datang di depannya. Ia tak menanyakan es. Tapi:
“Apa yang kaupikirkan sekarang, anakku?”
“Tidak ada yang terpikir, bapak.”
“Apa yang sudah kautulis tentang keluarga?”
“Surat telah dikirimkan ke Jakarta dan Kediri, mengatakan bahwa ayah sedang sakit keras.”
“Ada lagi yang tak kaukatakan padaku.”
Aku bingung. Tak mengerti maksudnya. Bertanya:
“Apa maksud, bapak?”
Cepat-cepat ayah menutup matanya. Aku dengar ia mengeluh. Aku tambah tak mengerti. Suara yang sengsara menyusul:
“Co-ba-lah tanya — ta-nya-kan.”
Kemudian ia tertidur lagi. Dan dalam tidur itu terdengar rintihnya yang beruntun-runtun. Rintih inilah yang biasanya memburu-buru kami, hingga tidur kami tak pernah bisa pulas dan tenang. Dan untukku sendiri pertanyaannya yang aneh-aneh itu tak juga terpikir olehku.
13
Dupa yang selamanya dicelupkan di air minum ayah tak memberi berkat apa-apa pada kesehatannya. Ini membuat kami malas mengerjakannya lagi.
Siang itu hari terlampau panas. Tempat kami, daerah yang terkurung oleh hutan jati, panas sengangar di siang hari dan dinginnya menggigit kulit di malam dan pagi hari. Dan siang dinihari — hari yang takkan mungkin bisa kulupakan seumur hidupku — panasnya luar biasa. Angin meniup-niup kencang. Dan debu menyembur-nyembur mengisi ruang hawa yang panas itu. Waktu itu baru sejenak saja aku tertidur oleh kecapaian semalam. Adikku yang keempat berlari-larian mencari daku. Berkata:
“Mas, bapak bicara tentang jagung. Aku tak mengerti. Bapak bicara juga tentang jagung yang ditembak. Aku tak mengerti, mas.”
Aku berlari-larian ke kamar ayah. Dan kudapati ayah sedang ditunggui oleh adikku yang kelima.
“Pegangi tanganku, anakku!” katanya.
Kulihat adikku yang kelima itu memegangi tangan ayah. Dan ayah berkata:
“Sembilan puluh sembilan butir jagung …”
“Sembilan puluh sembilan butir jagung …” adikku mengulangi.
Ayah terbatuk-batuk dan menghadap ke dinding — ke timur. Kemudian ia kugantikan. Dan setelah ayah reda dari batuknya. Berkata padaku:
“Pegangi tanganku, anakku!”
Kupegangi tangannya.
“Yang kuat.”
Kueratkan peganganku. Dan terasa olehku tangannya hangat dan menggigil. Dengan tangan kanannya telunjuknya ditunjukkan pada dinding. Bertanya:
“Tahu engkau apa itu?”
“Dinding, bapak.”
Ayah mengeluh.
“Bukan, bukan dinding. Itu timur.”
“Ya, bapak, timur.”
“Di sini, anakku —,” ayah berhenti sebentar. Dihelanya nafas. Dicurahkan seluruh tenaganya pada suaranya. Meneruskan dengan suara dalam, sungguh-sungguh dan tenang, “— di sini ada sembilan puluh sembilan jagung yang disayembarakan. Mengerti?”
Aku jadi gugup, bingung dan gelap pikir. Menjawab:
“Tidak mengerti, bapak,” jawabku ketakutan.
Terdengar ayah mengeluh. Waktu keluh itu lenyap terasa pegangan tangannya pada tanganku dikuatkan. Berkata:
“Kuatkan pegangan tanganmu.”
Dan kukuatkan pegangan tanganku. Tanganku hingga menggetar. Dan tangan ayah pun menggetar.
Terdengar lagi:
“Di sini ada sembilan puluh sembilan jagung yang disayembarakan. Mengerti?”
Kembali aku jadi bingung, gugup dan gelap pikir. Dan untuk menghemat tenaga ayah, kujawab saja:
“Mengerti, bapak.”
Ayah tersenyum. Meneruskan dengan suara yang mengandung kepuasan:
“Jagung itu ditembak dari sana —” Kembali ayah menuding pada dinding, “— dari jurusan timur. Tapi tak sebutir pun di antara jagung yang sembilan puluh sembilan itu kena. Mengerti?”
Dan untuk menghemat tenaga ayah, kujawab langsung:
“Mengerti, bapak.”
“Baiklah.”
Ayah terbatuk-batuk. Ia miring ke dinding. Setelah membuang dahak dan menghapus bibirnya dengan setangan, meneruskan:
“Tak ada yang kena, anakku. Itu adalah berkah kekuasaanNya. Mengerti?”
“Mengerti, bapak.”
Sejenak ayah berhenti dan mengembalikan tenaganya yang telah terbuang-buang itu. Kemudian meneruskan:
“Aku ini anak ulama.”
“Ya, bapak.”
“Tapi aku tak mau jadi ketib. Aku tak mau jadi naib. Aku tak mau jadi penghulu.” Berhenti sebentar. Kemudian, “Siapa yang bisa mengatakan padaku hari kelahiran sesuatu yang kita perjuangkan selama ini?”
“Tujuh belas Agustus tahun seribu sembilan ratus empat puluh lima, bapak.”
Ayah tersenyum senang dan puas.
“Ya,” katanya. Dipegang-pegang dan dibelai-belai janggut dan kumisnya dengan tangan kiri.
“Cukur, bapak?” aku bertanya.
“Tidak.” Diam sebentar.
Semua adik-adikku duduk di bale ditentang ranjang ayah.
“Aku tak mau jadi ulama,” sambung ayah dengan suara tegas. “Aku mau jadi nasionalis.” Diam lagi. “Karena itu aku jadi guru.” Diam lagi. “Membukakan pintu hati anak-anak untuk pergi ke taman —,” tertahan sebentar, “patriotisme. Dengar?”
“Dengar, bapak.”
“Mengerti?”
“Mengerti bapak.”
“Karena itu aku jadi nasionalis.” Diam sebentar lagi. “Berat, anakku,” diam lagi. “Sungguh berat jadi seorang nasionalis.”
Nampak olehku mata ayah bersinar sedikit. Dan aku menyahut:
“Ya, bapak.”
“Karena itu aku memilih jadi guru.”
“Ya, bapak.”
“Jadi lembaga bangsa.”
Hatiku mulai tersayat oleh kata-katanya yang akhir itu.
“Tapi aku rela jadi nasionalis. Aku rela jadi kurban semua ini.”
Sekali ini aku tak bisa menahan hatiku lagi. Pegangan tanganku pada ayah kueratkan dan tersontaklah tangisku — seperti tangis anak-anak kecil. Ayah terdiam oleh tangisku itu. Matanya yang berlingkar biru itu berkaca-kaca menitikkan air. Perutnya terguncang-guncang. Aku menunduk mencurahkan air mata itu. Kemudian terdengar suara ayah di antara tangisku:
“Sudah, anakku, jangan kaupikirkan lanjut-lanjut.”
Dan aku lihat semua adikku yang duduk di bale menangis pula. Dan ada saja terasa oleh hatiku: ayah akan meninggalkan kami! Dan kami terus jua menangis. Ayah terbatuk-batuk lagi. Kemudian berkata:
“Cukup, anakku, sekian dulu. Pergilah engkau semuanya. Tinggalkan aku sendirian.”
Dan kami meninggalkan kamar ayah itu dengan tersedan-sedan. Langsung saja aku menuju ke kamarku. Merebahkan badan di bale — mengenang-ngenangkan segala-galanya. Dan samar-samar terkenang juga olehku surat pedas yang kukirimkan padanya dulu:
Anakanda tak suka mendengar kabar tentang sakitnya adikku itu. Sungguh aku tak bersenang hati. Mengapatah adik saya itu bapak biarkan sakit. O, manusia ini hidup bukan untuk dimakan tbc, bapak. Bukan.
Dan sekarang nyata olehku sendiri, bukan adikku yang sakit seperti itu, tapi ayahku sendiri, ayahku sendiri. Kacau dadaku. Dan air mata terus menderas. Leher-leherku terasa kaku oleh tangisku sendiri itu. Mata jadi sepat dan akhirnya — dengan tiada terasa — aku telah jatuh tertidur.
Hari itu pun tak terlupakan olehku — hari Kemis siang. Menjelang magrib aku bangun. Duduk-duduk di kursi sambil meneguki air kopi. Kemudian adikku yang keempat berlari-larian mendapatkan daku. Berkata gugup ia:
“Mas mas, bapak sudah — sudah — sudah — sudah tak ada.”
Cepat-cepat aku lari ke dalam kamar ayah yang sudah diterangi lampu minyak tanah. Sebagian dari adik-adikku sudah ada di situ. Segera aku melompat di samping ayah. Aku lihat mulutnya telah terbuka. Tangannya terkulai di sampingnya. Dan istrikupun turut lari dan berdiri di dekatku. Katanya:
“Sebut: — ayah!”
Karena aku tak pernah mengalami peristiwa seperti itu, aku menurut. Kudekatkan mulutku pada kupingnya. Berseru:
“Bapak!”
“Lagi,” susul istriku.
“Bapak!” seruku lagi.
Kemudian diam sebentar. Tiba-tiba teringat olehku: ayah orang Islam. Dan kembali kudekatkan mulutku pada kupingnya, berseru:
“Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar.”
Adikku yang keempat menyela:
“Jangan biarkan terbuka mulut bapak, mas.”
Dan kurapatkan dagu ayah ke atas. Tapuk matanya kuturunkan. Di saat itu juga dengan tiada kusangka-sangka para tetangga datang dan memberikan bantuannya. Dagu ayah diikat dengan sepotong kain dengan kepala dan kemudian, — dengan sendirinya saja — berbareng kami menangis.
Adikku yang keempat merangkul daku, menyuarakan pengaduannya yang patah-patah:
“Tadi, mas, tadi, waktu engkau tidur, para tetangga datang. Mas, mereka menunggui ayah, mas, dan ayah, mas, ayah merasa terganggu. Ayah menyuruh mereka semua pergi. Juga aku dan adik-adik. Dan waktu tadi, mas, waktu aku datang lagi, mas, untuk membawakan bubur, mas, ayah, mas, ayah sudah tak ada.”
Dan aku membalasi pengaduannya itu:
“BIarlah, adikku. Semua itu sudah terjadi. Engkau masih ada kakak, bukan?”
Dan aku ciumi dia. Tapi tangis kami disaput oleh kedatangan para tetangga yang lebih banyak lagi. Dan sebentar kemudian — sebentar kemudian, rumah kami telah penuh oleh pelawat.
Dan kami merupakan, pulau dikeliling para pelawat itu.
14
Malam itu ayah yang tak bernyawa lagi itu dibaringkan di bale dalam kerumunan orang banyak yang duduk-duduk di kursi. Beratus macam percakapan timbul. Dan asap setanggi mengepul-ngepul dari bawah bale jenazah. Asap itu dibawa oleh angin malam, menghampiri hidung-hidung para pelawat dan kemudian bercampur dengan asap rokok. Kadang-kadang bila ada terdengar orang batuk — dengan suara rendah sengsara dan merongga — aku terkejut. Juga adik-adikku. Dan datang saja suara dalam kepala. Adakah ayah hidup kembali?
Para tamu menggerombol-gerombol dengan kawan sepahamnya masing-masing. di sebuah sudut pendopo menggerombol orang-orang yang mempercakapkan perjudian.
“Alah, Alah,” seorang pelawat Tionghoa berkata, “kawan kita yang paling baik telah mendahului kita. Dan sekarang? Sekarang aku tak dapat mengharapkan uang cuk1 lagi daripadanya.”
Orang itu berdiam diri dan memandangi kawan-kawannya yang lain.
“Tak ada orang yang begitu kuat berjudi selain dia,” yang lain menyela.
“Sekarang kita harus mencari kawan baru untuk melengkapkan permainan,” yang lain lagi menyusulkan suaranya.
“Ya,” orang Tionghoa itu mengeluh. Diambilnya sebatang rokok yang tersedia di depannya. Merokok. Meneruskan, “Dan tak ada orang yang bisa bercerita tentang babad tanah Jawa begitu bagus dalam kita bermain.”
“Ya,” seorang tua yang gendut menyambungi. “Dan aku masih ingat — sepuluh tahun yang lalu. Kita berempat menghadapi meja. Kemudian salah seorang di antara kami menyemburkan tantangannya. Ayo, siapa berani lama- lamaan pegang kartu? Berbareng saja terdengar jawaban, Mari! Mari! Tapi dia diam saja. Dalam sehari itu dia tak berdiri dari kursinya. Tak makan. Tak minum. Malamnya begitu juga. Seorang demi seorang di antara kami sudah mulai gelisah. Orang yang pertama kali berdiri dari kursi adalah aku sendiri. Dan aku bilang, Aku tidak kuat. Biarlah aku pergi dulu. Dan tempatku diduduki oleh orang lain. Sesudah itu aku tidur selama enam jam. Sehabis mandi dan makan, segera aku berangkat pergi kembali, dan tahu engkau? Dia masih duduk juga di tempatnya. Sudah dua tempat berganti orang. Dan aku bertanya, Engkau belum berdiri juga sejak kemarin dulu? Ia hanya menggeleng sambil tersenyum. Lima jam kemudian tempat yang ketiga kutempati. Dua hari dua malam, kawan, dan dia belum juga bergerak dari tempat duduknya. Jadi lima hari lima malam sudah. Juga tidak makan, tidak minum dan tidak buang air. Aku pikir, dia bukan sembarang orang”
“Seperti dongeng,” seorang yang agak muda menambahi.
“Aku sudah dengar juga kabar itu,” sambung orang Tionghoa itu, “— sepuluh tahun yang lalu. Tapi kawan kita itu, kini sudah tak ada lagi.” Baru saja ia habis berkata, ia menjenguk ke dalam rumah dari pintu melihat kawan seperjudiannya yang kini telah terbujur tak bernafas lagi.
“Kita semua sudah menjadi tua sekarang,” sambung orang gendut tua itu. “Cobalah, sebulan yang lalu kakakku mati tua. Dan aku ini? Hanya sepuluh tahun saja bedanya umurku ini daripada umurnya. Bukankah kita semua ini sudah jadi tua sekarang?” Dan karena tak ada seorang pun yang menjawab, orang itu memandang orang Tionghoa itu, meneruskan, “Dan anakmu sekarang sudah lima. Malah sudah ada yang perawan.”
“Ya, mengapa hidup ini begini cepat?” orang Tionghoa itu menyambung.
ORang yang masih agak muda itu berkata sekarang:
“Waktu ia sakit aku belum lagi datang menengoknya. Sekali aku datang ke rumah sakit tapi pada pintu kamarnya ada tergantung sepotong karton yang ditulis selain keluarga tak boleh menengoki. Jadi aku terus pergi pulang sampai — sampai kawan kita itu tidak ada.” Ia menjenguk ke dalam rumah melihat jenazah yang terbaring itu.
“Sejak dia sakit, aku pun belum lagi menengokinya,” orang gendut tua itu menyusulkan suaranya.
“Aku juga belum,” orang Tionghoa itu menggarami.
“Kasihan,” kata yang agak muda, “waktu dia sehat, selalu kita cari-cari dia untuk melengkapi perjudian. Waktu dia sakit, tak ada seorang pun di antara kita datang menengok. Dan waktu meninggal, ia meninggal seorang diri.” Ia terdiam seperti terkejut oleh perkataannya sendiri. Kemudian meneruskan dengan suara yang tak ditujukan kepada siapa pun juga. “Ya, mengapa orang ini harus mati seorang diri?”
Tak ada yang menjawab.
Dan segerombolan penjudi itu jadi termenung-menung oleh pertanyaan penjudi agak muda yang tak berjawab itu. Malam itu dingin juga seperti malam-malam biasanya di kota kecil Blora yang dilingkari hutan jati. Kemudian orang Tionghoa itu berkata dengan mata ditujukan pada genteng yang tak disotohi:
“Ya. Mengapa kita ini harus mati seorang diri? Lahir seorang diri pula? Dan mengapa kita ini harus hidup di satu dunia yang banyak manusianya? Dan kalau kita sudah bisa mencintai seorang manusia, dan orang itu pun mencintai kita —,” ia duduk berlurut dan menjenguk melalui jendela ke ruang tengah di mana jenazah itu terbaring sendirian. Meneruskan, “seperti mendiang kawan kita itu misalnya — mengapa kemudian kita harus bercerai-berai dalam maut. Seorang. Seorang. Seorang. Dan seorang lagi lahir. Seorang lagi. Seorang lagi. Mengapa orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti pasar malam.”
Ketiga kawan itu tertawa oleh ucapan orang Tionghoa itu. Dan orang Tionghoa itu sendiri pun tertawa. Orang lain tak mengerti ucapannya. Dan iapun tak mengerti ucapannya sendiri. Kemudian percakapan itu mati. Seorang tamu baru datang dan duduk di dekat gerombolan itu. Kemudian terdengar orang menegur dari belakangnya:
“Mas Mantri!”
Tamu baru itu menengok dan berseru:
“O, dik Juru.”
Mas Mantri mengeluarkan keluh. Kemudian berkata lambat-lambat:
“Kawan kita telah meninggal. Aku pikir, kita sekarang kehilangan orang kuat dalam perjuangan daerah kita.”
“Ya. Dan marhum kawan kita begitu aktifnya. Tak kenal siang atau malam semua keperluan partai diladeni. Tapi sekarang dia sudah tak ada.” Ia mengeluh, seperti betul-betul merasa kehilangan sesuatu yang besar dalam hidupnya.
“Cobalah, dik Juru, dua bulan yang lalu dia masih naik sepeda datang ke rumahku untuk membereskan urusan obligasi — Tahu engkau perkara obligasi nasional2 dulu?”
Ia diam. Dan orang yang dipanggilnya dik Juru berkata:
“Obligasi yang hilang dulu?” tanyanya.
“Ya. Obligasi itu dulu ada pada kawan kita marhum. Dan tikus telah melarikannya untuk jadi sarangnya. Lima belas lembar. Tapi heran —” ia diam sebentar seperti sedang menikmati suatu kenangan yang indah. “Digantinya harga obligasi itu penuh-penuh dengan tidak merasa kepayahan sedikit pun juga. Kabarnya banyak barang-barangnya yang dijualnya. Tapi itu aku tak tahu betul. Hanya perasaan tanggungjawabnya itu yang selalu mengagumkan hatiku. Sungguh! Aku kagum, aku mengagumi dia dengan seluruh hatiku. Tahu engkau apa yang mau kukerjakan padanya dulu? — dulu di masa sebelum perang?” Ia diam menantikan jawaban.
Orang yang disebutnya dik Juru itu berdiam-diam tak menjawab. Gerombolan penjudi itu dengan pelahan-lahan dan tidak diketahui telah turut mendengarkan percakapan itu.
“Waktu aku masih jadi mantri polisi — dulu sebelum perang — aku mendapat perintah dari Hindia Belanda untuk mengawasinya. Dia tercantum di lis orang merah — di garis yang pertama sekali. Kukirimkan tiga orang reserse untuk bergantian mengikuti dan menyelidikinya. Tahu apa yang diperbuatnya terhadap reserse yang kukirimkan dulu?”
Orang mendengarkan dengan penuh perhatian. Tapi tak ada seorang pun yang menyela. Dan mas Mantri itu meneruskan:
“Suatu malam, ia tahu bahwa sedang diikuti. Dibawa reserse itu masuk ke dalam kuburan. Dan karena reserse itu tak berani menginjakkan kakinya ke dalam kuburan ia menunggu di luar pagar. Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Kawan kita itu tak juga muncul. Dan reserse itu? Ia lari terbirit-birit oleh ketakutan.”
Orang-orang tertawa. Dan orang yang melingkungi mas Mantri itu kian banyak. Ceritanya tambah lama tambah banyak. Terutama waktu kopi diedarkan. Tapi malam memaksa para tamu itu pergi pulang ke rumahnya masing-masing.
Malam itu yang tinggal hanya para tetangga yang terdekat. Di antara mereka pun timbul percakapan yang semuanya memuji-muji kawannya yang baru saja meninggal dunia. Dan dengan tiada terasa, hari baru pun datanglah dengan megahnya. Tamu-tamu baru datang. Dan para pelawat yang tak memincingkan matanya seluruh malam, pergi untuk mandi. Tamu baru kian lama kian banyak juga. Akhirnya jenazah itu pun dibawalah ke rumah manusia yang terakhir: kuburan.
15
Selama zaman perang — selama Jepang mendarat hingga runtuhnya pemerintahan Belanda di Indonesia — kami telah kehilangan ibu, adik yang terkecil. Keduanya berjajar dalam satu kuburan. Kemudian di samping kuburan bunda membujur kuburan nenek. Dan di sampingnya lagi kuburan baru — rumah ayah yang terakhir. Dan di samping kuburan itu membujur kuburan kakek. Ya, banyak kami kehilangan di masa perang itu. Dan kuburan yang telah delapan tahun tak pernah kulihat lagi itu kini telah penuh oleh kuburan baru — kuburan mereka yang dianggap pahlawan. Dan di antara kuburan mereka yang dianggap pahlawan itu ada juga terdapat bajingan yang karena salah penyelidikan termasuk juga dalam golongan pahlawan.
Di kala para pengantar telah menyaksikan penurunan jenazah ayah ke dalam lahatnya; juga di kala mereka telah menurunkan tanah dari unggukannya; juga setelah ayah telah lenyap ke dalam pelukan bumi — belum juga aku bangun dari tindasan haruan. Hati yang tersayat-sayat ini membatalkan maksudku untuk mengucapkan terimakasihku kepada mereka. Ada juga beberapa mata yang memandang daku — karena tahu bahwa aku anak sulung — untuk mengucapkan beberapa kalimat. Tapi tak sepatah pun suara keluar dari mulutku. Akhirnya seorang demi seorang pergi. Dan kami — aku dan adik-adikku — berlutut dengan kepala tunduk merenungi kuburan baru.
O — manusia yang terkubur itulah yang telah menurunkan kami. Dulu ia bercita-cita tinggi juga. Dulu ia mengalami percintaan juga — cinta yang gagal dan tak gagal. Dulu ia sering terdengar menyanyi — menyanyikan lagu daerah, lagu-lagu kebangsaan dan lagu-lagu sekolahan Belanda. Tapi suaranya itu kini telah mati. Dulu ia mengajar. Dan telah beribu-ribu murid dibukakan jalannya. Dulu ia giat memperjuangkan tercapainya kemerdekaan bangsanya: selama tiga puluh tahun. Dan kini, belum lagi setahun kemerdekaan tercapai ia telah tak digunakan lagi oleh sejarah, oleh dunia dan oleh manusia. Dan seperti kami juga, dulu iapun pernah mengalami ketakutan, kesengsaraan, kesenangan dan segala perasaan lain yang ada dalam tubuh manusia. Tapi semua itu kini sudah mati baginya.
Aku menitikkan air mata lagi.
Dan adik-adikku menitikkan air mata lagi.
Kemudian, pelahan-lahan kami meninggalkan kuburan di mana tonggak mencongak-congak. Sebentar tadi banyak sekali orang — tak kurang dari dua ribu. Tapi kini tinggal kami kakak beradik. Dan pelahan lahan kami sampai di jalan raya. Siang itu terik mulai membakar kulit. Dan kami berjalan terus pulang — ke rumah di mana ibu meninggal, di mana adik kami yang terkecil meninggal, di mana ayah kemarin meninggal, dan barangkali juga di mana kelak kami meninggal dunia. Dan dalam berjalan pulang terbayang dalam kepalaku kuburan ibu, adik, nenek, ayah dan kakek. Dan barangkali juga kelak di sampingnya, mayatku sendiri dikuburkan orang. Dan orang Tionghoa semalam menghendaki dunia yang seperti pasar malam, di mana orang beramai-ramai datang dan beramai-ramai pergi. Tinggal mereka yang harus menyapui saja yang tinggal. Dan yang menyapui itu — sekalipun tak dikatakan olehnya — ialah Tuhan yang disebut-sebut orang yang tak pernah mengetahuinya.
16
Sampai di rumah, lenyaplah segala kesayuan, kesedihan dan kesengsaraan. Rumah yang selama aku datang dari Jakarta — sebulan yang lalu — nampak gelap, kini kelihatan terang dan berseri-seri. Juga manusia-manusia yang mendiaminya. Sunyi lagi rumah kami. Dari belakang rumah terdengar adikku yang duduk di sekolah menengah klas dua menyanyikan lagu Old Kentucky Home.1 Aku terdiam mendengarkan. Tapi lagu itu pun mati. Dan seperti dengan sendirinya saja keluarlah dari mulutku lagu-lagu Negro Spirituals,2 suara manusia yang tertindas, suara manusia yang merindukan sesuatu yang tak dimengertinya. Dan hari berjalan dengan malasnya.
Sore itu dengan pelahan saja datang. Dan di kala matahari hampir saja lenyap di ufuk barat, datanglah tamu baru. Katanya:
“Aku sudah lama kenal pada marhum ayah tuan. Kami dulu mengembara menjalankan tugas di daerah gerilya. Ya, aku kenal betul ayah tuan. Ia bekerja pada Belanda, tapi terus saja marhum bekerja bawah tanah. Banyak yang telah dikatakannya padaku. Tapi apa yang sudah dikatakannya itu tak perlu kukatakan. Pasti tuan dan adik-adik tuan mengetahui sudah. Hanya yang bisa kukatakan dengan pasti, dan barangkali inilah yang tak tuan ketahui, ialah: ayah tuan gugur di lapangan politik.”
Aku kaget. Kupandang mulutnya. Bibirnya bergerak-gerak pula. Dan terdengarlah suaranya:
“Aku lihat tuan kaget. Tapi sesungguhnyalah be gitu. Ayah tuan jatuh sakit oleh kekecewaan — kecewa oleh keadaan yang terjadi sesudah kemerdekaan tercapai. Rasa-rasanya tak sanggup lagi ia melihat dunia kelilingnya yang jadi bobrok itu — bobrok dengan segala akibatnya. Mereka yang dulu jadi jendral di daerah gerilya, mereka yang tadinya menduduki kedudukan-kedudukan penting sebelum Belanda menyerbu, jadi pemimpin pula di daerah gerilya dan jadi bapak rakyat sungguh-sungguh. Dan bukan tanggung-tanggung lagi ayah tuan membela kepentingan mereka itu. Tapi kala kemerdekaan telah tercapai, mereka itu sama berebutan gedung dan kursi. Dan barangsiapa tak memperoleh yang diinginkannya, mereka pergi — karena mereka tak perlu mengharapkan gaji lagi. Dan ayah tuan, ayah tuan tak sanggup melihat keadaan seperti itu. Tapi dalam hidup manusia ini orang harus bergaul. Dan pergaulan yang harus dimasuki oleh orang inilah yang mengeramkan penyakit dalam diri marhum ayah tuan. Ayah tuan tak bicara apa-apa tentang mereka itu. Segala kekecewaannya itu direndamnya saja di dalam hatinya. Tapi akibat yang sangat besar tak diduganya akan menimpa dirinya, Tbc kilat! Dua setengah bulan sakit, dan beliau terus pergi.”
Ia diam sebentar untuk menarik nafas. Dan aku diam sebentar untuk melepaskan perhatianku dari suaranya. Kemudian ia menghembuskan nafas besar seperti sedang menyesali sesuatu. Katanya lagi:
“Barangkali sudah cukuplah apa yang kukatakan. Tidak kurang dan tidak lebih. Benar, ayah tuan gugur di lapangan politik. Ayah tuan mengundurkan diri dari partai dan segala tetek-bengek agar bisa menghindari manusia-manusia badut-badut pencuri untung itu. Tapi karena perhatiannya pada masyarakat terlalu besar itulah ia tak bisa melepaskan diri betul-betul dari semuanya itu. Tapi tuan hendaknya merasa bangga punya ayah seperti marhum. Bukan?” Ia memandang daku.
Aku tak menyahutinya. Terdengar ia mengeluh.
“Kalau ayah tuan ada di kota besar — bisa mengembangkan kepribadiannya — barangkali sudah yadi besar. Barangkali sudah jadi menteri.” Ia mengeluh lagi. “Tapi, ya, ayah tuan selalu berpegangan pada ajaran Ronggowarsito.3 Karena itu beliau tak mau turut dengan badut-badut yang bergila-gilaan itu.”
Ia diam.
Senja sekarang. Beduk magrib telah bertalu-talu. Tamu itu bangun dari tempat duduknya. Berdiri, berkata sopan dan menarik-narik:
“Nah, tuan, hari sudah malam. Hanya pesanku jangan dilupakan, kerap-keraplah menyekar ke kuburan ayah tuan.”
Kemudian ia pergi. Kuantarkan ia sampai di pagar. Dan dengan tiada terduga-duga malam cepat-cepat datang. Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana ….
Catatan tentang Edisi Ini
Bukan Pasar Malam terbit pertama kali di Balai Pustaka pada 1951. Teks edisi ini berasal dari cetakan ketiga (1961), yang sampul dan ilustrasinya dibuat Wen Peor. Kami memakai dua salinan digital buku itu yang beredar daring: sebuah pindaian dan sebuah ketikan ulang.
Ketikan ulang itu ternyata tidak setia pada bukunya. Ada kata yang diganti dengan bentuk yang lebih baru (pelahan menjadi perlahan, turut menjadi ikut, tilpun menjadi telepon), ada kalimat yang hilang, dan ada salah ketik. Karena itu setiap kata di ketikan itu kami cocokkan dengan hasil pembacaan mesin atas pindaian. Setiap perbedaan yang menyangkut makna, juga setiap kata yang hilang atau berlebih, kami lihat langsung pada gambar halamannya. Yang kami pakai adalah bacaan pindaian.
Ejaan kami alihkan ke EYD V: dj menjadi j, tj menjadi c, j menjadi y, nj menjadi ny, sj menjadi sy, dan ch menjadi kh. Kata depan di dan ke kami pisahkan dari kata yang mengikutinya, kata majemuk yang dulu ditulis serangkai (rumahsakit, airmata) kami pisahkan, dan tanda baca kami sesuaikan. Bentuk kata yang menjadi ciri bahasa masa itu kami biarkan, misalnya pelahan, tilgram, kundektur, perlop, marhum, beca, dan lapuran. Sebagian dijelaskan di Daftar Kata. Ucapan yang terbata-bata, seperti Deng-an an … ak dan na-fas-ku, kami tulis seperti di sumber.
Pada dua tempat kami mempertahankan bacaan sumber walaupun tampak seperti salah cetak: Adikku itu menunjukkan kepala (bab 9) dan ia duduk berlurut (bab 14).
Empat ilustrasi di dalam buku ini dibuat A. Wakidjan untuk cetakan pertama (1951); gambar-gambar itu bertanda tahun ’51. Gambar-gambar itu difoto dari buku cetakan pertama, dibersihkan dari warna kertas, lalu dipasang di dekat bagian cerita yang sama dengan letaknya di buku itu. Ilustrasi Wen Peor dari cetakan 1961 tidak kami pakai. Gambar rumah juga kami pasang di halaman sebelum halaman judul. Lampu minyak di setiap pembuka bab kami ambil dari ilustrasi jendela.
Empat catatan kaki berasal dari edisi sumber. Catatan yang diawali Catatan penyunting adalah tambahan kami, dan hanya kami berikan untuk hal yang dapat kami periksa.
Daftar Kata
ambeien wasir
ayem (Jawa) tenang, tenteram
beca becak
brencarrier (Inggris Bren carrier) kendaraan lapis baja ringan beroda rantai
dokar kereta beroda dua yang ditarik kuda
famili kaum kerabat
howitser meriam berlaras pendek untuk tembakan melengkung
kedekut kikir
ketib khatib, petugas masjid yang menyampaikan khotbah
kundektur kondektur
leding (Belanda leiding) air ledeng
marhum almarhum
naib wakil penghulu
pantserwagen (Belanda) mobil lapis baja
pelawat pelayat
perlop (Belanda verlof) cuti
reak dahak
sampai hati tega
sep (Belanda chef) kepala kantor, atasan
setanggi dupa yang harum baunya
tamasa tamasya, pemandangan
tapuk mata kelopak mata
teritis bagian atap yang menjorok ke luar dinding; emper
tetek bengek hal-hal kecil yang remeh
tilgram telegram
usada (Jawa) obat, pengobatan
voorschot (Belanda) uang muka, persekot
Tentang Pengarang
Pramoedya Ananta Toer (1925–2006) adalah raksasa sastra Indonesia yang karyanya lahir dari pergulatan sejarah yang keras. Keluar-masuk penjara di masa Kolonial Belanda, Orde Lama, hingga pengasingan Pulau Buru pada masa Orde Baru tidak membuat nyalinya surut. Ia menjadikan sastra sebagai monumen perlawanan terhadap tirani. Diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa dan berkali-kali dinominasikan untuk Nobel Sastra, Pram adalah bukti nyata bahwa kebenaran tidak pernah bisa dipenjarakan.
Daftar Karya Pramoedya Ananta Toer
- Tulisan-tulisan semasa di SD, satu di antaranya pernah ditawarkan pada penerbit Tan Koen Swie, Kediri, ditolak. Semua hilang.
- Sepoeloeh Kepala Nica (1946), hilang di tangan penerbit Balingka, Pasar Baru, Jakarta, 1947.
- Kranji–Bekasi Jatuh (1947), fragmen dari Di Tepi Kali Bekasi.
- Perburuan (1950). Pemenang sayembara Balai Pustaka, Jakarta, 1949.
- Keluarga Gerilya (1950).
- Subuh (1951), kumpulan 3 cerpen.
- Percikan Revolusi (1951), kumpulan cerpen.
- Mereka yang Dilumpuhkan I & II (1951).
- Bukan Pasarmalam (1951).
- Di Tepi Kali Bekasi (1951), sisa naskah yang dirampas Marinir Belanda pada 22 Juli 1947.
- Dia yang Menyerah (1951), kemudian dicetak-ulang dalam kumpulan cerpen.
- Cerita dari Blora (1952), pemenang karya sastra terbaik dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, Jakarta (1953).
- Gulat di Jakarta (1953).
- Midah Si Manis Bergigi Emas (1954).
- Korupsi (1954).
- Cerita Calon Arang (1957).
- Sekali Peristiwa di Banten Selatan (1958).
- Panggil Aku Kartini Saja I & II (1963); III & IV dibakar Angkatan Darat, 13 Oktober 1965.
- Kumpulan Karya Kartini, yang pernah diumumkan di berbagai media; dibakar Angkatan Darat, 13 Oktober 1965.
- Wanita Sebelum Kartini, dibakar Angkatan Darat, 13 Oktober 1965.
- Gadis Pantai (1962–65) dalam bentuk cerita bersambung, bagian pertama trilogi tentang keluarga penulis; terbit sebagai buku, 1987, dilarang Jaksa Agung. Jilid II dan III dibakar Angkatan Darat, 13 Oktober 1965.
- Sejarah Bahasa Indonesia. Satu Percobaan (1964); dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965.
- Mari Mengarang (1955), tak jelas nasibnya di tangan penerbit di Jalan Kramat Raya, Jakarta.
- Cerita dari Jakarta (1957).
- Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (1963).
- Lentera (1965), kumpulan tulisan yang pernah diumumkan oleh Lentera. Tak jelas nasibnya di tangan penerbit di Jalan Pecenongan, Jakarta.
Semua karyanya dilarang oleh Kementerian PPK/PDK, 1966.
- Bumi Manusia (1980), bagian pertama tetralogi Buru. Dilarang Jaksa Agung, 1981.
- Anak Semua Bangsa (1981), bagian kedua tetralogi Buru. Dilarang Jaksa Agung, 1981.
- Sikap dan Peran Intelektual di Dunia Ketiga (1981).
- Tempo Doeloe (1982), antologi sastra pra-Indonesia.
- Jejak Langkah (1985), bagian ketiga tetralogi Buru. Dilarang Jaksa Agung, 1985.
- Hikayat Siti Mariah, (ed.) Haji Mukti (1987). Dilarang Jaksa Agung, 1987.
- Rumah Kaca, bagian keempat tetralogi Buru, 1988. Dilarang Jaksa Agung, 1988.
- Sang Pemula (1985). Dilarang Jaksa Agung, 1985.
- Memoar Oei Tjoe Tat, (ed.) Oei Tjoe Tat, 1995. Dilarang Jaksa Agung, 1995.
- Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I, 1995. Dilarang Jaksa Agung, 1995.
- Arus Balik, 1995.
- Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II, 1997.
- Arok Dedes, 1999.
- Mangir, 2000.
- Larasati (Ara), 2000.
Penghargaan
1988 Freedom to Write Award dari PEN American Center, Amerika Serikat.
1989 Anugerah dari The Fund for Free Expression, New York, Amerika Serikat.
1995 Wertheim Award, “for his meritorious services to the struggle for emancipation of the Indonesian people”, dari The Wertheim Foundation, Leiden, Belanda.
1995 Ramon Magsaysay Award, “for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognition of his illuminating with brilliant stories the historical awakening, and modern experience of the Indonesian people”, dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina.
1996 Partai Rakyat Demokratik Award, “hormat bagi Pejuang dan Demokrat Sejati” dari Partai Rakyat Demokratik.
1996 UNESCO Madanjeet Singh Prize, “in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence”, dari UNESCO, Paris, Prancis.
1999 Doctor of Humane Letters, “in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom”, dari University of Michigan, Madison, Amerika Serikat.
1999 Chancellor’s Distinguished Honor Award, “for his outstanding literary archievements and for his contributions to etnic tolerance and global understanding”, dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat.
1999 Chevalier de l’Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication République Française, Paris, Prancis.
2000 New York Foundation for the Arts Award, New York, Amerika Serikat.
2000 Fukuoka Cultural Grand Prize, Jepang.
Terima Kasih
Terima kasih kepada orang-orang yang dulu memindai dan mengetik ulang buku ini lalu membagikannya di internet. Dari salinan merekalah edisi ini bisa dimulai.
Terima kasih kepada kawan-kawan yang ikut membaca dan memeriksa, dan kepada pembaca yang mau memberi tahu kami bila menemukan kesalahan di edisi ini.