Baca EPUB: Orang-orang Baru dari Banten

18 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Orang-orang Baru dari Banten
  2. Daftar Isi
  3. Dari Kami untuk Pembaca
  4. Para Pelaku
  5. Babak Kesatu
  6. Adegan I
  7. Adegan II
  8. Adegan III
  9. Adegan IV
  10. Adegan V
  11. Adegan VI
  12. Adegan VII
  13. Adegan VIII
  14. Adegan IX
  15. Adegan X
  16. Adegan XI
  17. Adegan XII
  18. Adegan XIII
  19. Adegan XIV
  20. Adegan XV
  21. Babak Kedua
  22. Adegan I
  23. Adegan II
  24. Adegan III
  25. Adegan IV
  26. Adegan V
  27. Adegan VI
  28. Adegan VII
  29. Adegan VIII
  30. Adegan IX
  31. Adegan X
  32. Adegan XI
  33. Adegan XII
  34. Adegan XIII
  35. Adegan XIV
  36. Adegan XV
  37. Catatan tentang Edisi Ini
  38. Daftar Kata
  39. Tentang Pengarang
  40. Daftar Karya Pramoedya Ananta Toer
  41. Penghargaan Pramoedya Ananta Toer
  42. Tentang Penyadur
  43. Daftar Karya dan Penghargaan Dhalia
  44. Terima Kasih

Sudah ter­lalu lama warga desa hidup dalam bayang-bayang keta­kutan: dipa­jak per­ke­bunan, dija­rah gerom­bolan di pasar, dan dipe­ras habis-habisan oleh Jur­a­gan Musa. Ranta, petani miskin yang tanah­nya telah dir­am­pas sang jur­a­gan, bahkan dipaksa men­jadi maling demi sesuap nasi. Titik balik ter­jadi saat Ranta pulang dengan tubuh babak belur dan tangan ter­luka akibat dike­ro­yok sur­uhan Musa.

Ber­sama istri­nya dan dua peda­gang sing­kong yang ber­na­sib serupa, Ranta memu­tus­kan ber­henti takut. Ber­be­kal tas milik Musa yang ter­ting­gal, mereka mela­por­kan raha­sia besar sang jur­a­gan ke markas ten­tara. Sadu­ran pang­gung karya Dhalia dari cerita Pra­mo­edya Ananta Toer ini meng­hi­dup­kan kem­bali kete­gangan desa-desa di Banten lewat dialog yang hidup, getir, seka­li­gus penuh harapan.



Edisi Seabad · 1925–2025

Pramoedya Ananta Toer

Orang-orang Baru dari Banten

drama dua babak

disadur ke dalam bentuk drama oleh

Dhalia

KOLEKSI PRIBADI

MUHAMMAD REZA MAGISTRA

Lund, 2026


Orang-orang Baru dari Banten, drama 2 babak. Disa­dur oleh Dhalia dari Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pra­mo­edya Ananta Toer.

Edisi Seabad 1925–2025, edisi digi­tal tidak resmi. Disu­sun oleh peng­ge­mar seba­gai kelan­jutan per­i­ng­atan sera­tus tahun Pra­mo­edya, tidak ber­hu­bungan dengan ahli waris maupun pener­bit.

Ter­bitan asal: Bagian Pener­bitan Lem­baga Kebu­da­yaan Rakyat (Lekra), Jakarta, 1959. Ren­cana kulit: Mardjo. Teks edisi ini dibaca dari foto buku koleksi pri­badi dan dise­ra­gam­kan menu­rut Ejaan yang Disem­pur­na­kan edisi kelima (EYD V).

Hak cipta karya © Pra­mo­edya Ananta Toer, Dhalia, dan ahli waris masing-masing. Edisi digi­tal ini disu­sun untuk koleksi pri­badi dan per­i­ng­atan sera­tus tahun Pra­mo­edya Ananta Toer, tidak untuk diper­ju­al­be­li­kan.

Sampul depan, sampul bela­kang, dan lidah: ran­cangan Muham­mad Reza Magis­tra, mema­kai gambar dari kulit ter­bitan 1959 (ren­cana kulit Mardjo). Tata letak dan catatan penyun­ting: Muham­mad Reza Magis­tra. Diset dengan New­s­re­a­der.

KOLEKSI PRI­BADI MUHAM­MAD REZA MAGIS­TRA · LUND, 2026


Kalau kita semua tidak bodoh seperti sekarang, sudah tentu hidup kita tidak begini.

Ranta, Babak Kedua



Dari Kami untuk Pembaca

Orang-orang Baru dari Banten adalah drama dua babak yang disa­dur oleh Dhalia dari cerita Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pra­mo­edya Ananta Toer. Cerita itu ditu­lis Pram pada 1958, dan ia sen­diri menye­but­nya cerita bacaan yang dapat juga dipen­tas­kan. Drama ini terbit pada 1959 dari Bagian Pener­bitan Lem­baga Kebu­da­yaan Rakyat (Lekra) di Jakarta. Halaman hak cipta cetakan keem­pat Sekali Peristiwa di Banten Selatan (Len­tera Dipan­tara, 2009) men­ca­tat­nya seba­gai sadu­ran Dhalia yang dipang­gung­kan di Medan pada 1960.

Ini alih­wa­hana: cerita ber­tu­tur diubah men­jadi naskah pang­gung. Tokoh, alur, dan pokok soal­nya ber­a­sal dari Pram, tetapi kali­mat-kali­mat drama ini adalah peker­jaan penya­dur­nya. Karena itu halaman judul men­can­tum­kan kedu­a­nya. Dhalia yang dimak­sud adalah bin­tang film Indo­ne­sia; arti­kel His­to­ria, “Dhalia dan Orang-orang Baru dari Banten” (28 Sep­tem­ber 2025), menye­but­nya seba­gai dra­ma­wan perem­puan yang meng­a­lih­wa­ha­nakan karya Pram ke naskah drama.

Naskah kami baca dari foto buku koleksi pri­badi, halaman demi halaman. Kata-kata­nya meng­i­kuti yang ter­ce­tak. Ejaan kami alih­kan ke Ejaan yang Disem­pur­na­kan edisi kelima, dan bahasa per­ca­kapan para tokoh dibi­ar­kan. Salah cetak yang kami temu­kan tidak diper­ba­iki, dan daf­tar­nya ada di Catatan ten­tang Edisi Ini. Kata dan peris­tiwa yang mung­kin asing dije­las­kan di catatan kaki dan Daftar Kata.

Edisi ini tidak resmi. Kami menyu­sun­nya seba­gai pem­baca untuk mene­rus­kan per­i­ng­atan sera­tus tahun Pra­mo­edya Ananta Toer, dan tidak ber­hu­bungan dengan ahli waris Pram, ahli waris Dhalia, maupun pener­bit mana pun. Hak cipta tetap pada penga­rang, penya­dur, dan ahli waris­nya. Kalau Anda mene­mu­kan salah baca, mohon kabari kami.

Lund, November 2026

Muhammad Reza Magistra


Para Pelaku

Ireng

Ranta

Musa tuan tanah

Nyonya Musa

Komandan T.N.I.

Jali pelayan

Jameng mata-mata

Kasan algojo

Pedagang Singkong I

Pedagang Singkong II

Lurah

Beberapa orang prajurit T.N.I.

Beberapa orang OKD

Beberapa orang anggota gerombolan

Beberapa orang pedagang

Waktu / suasana. Sore, magrib, malam, jauh malam, subuh, pagi, tengah hari.

Dekorasi. 1. Rumah gubuk di kaki gunung dengan pohon-pohon besar di sekitarnya. 2. Rumah besar dan kuno.

Suara-suara yang diperlukan. 1. Burung malam. 2. Jangkerik. 3. Katak. 4. Kicau burung pagi. 5. Kokok ayam. 6. Salak anjing. 7. Guruh/petir. 8. Angin. 9. Tong-tong/beduk. 10. Suara-suara orang ramai. 11. Tembakan senapan. 12. Fluit (kode) tanda bahaya. 13. Kecapi/suling sebagai ilustrasi. 14. Truk dan derap kaki.


Babak Kesatu

Musik. (Ketika layar diangkat, tampak pemandangan sebuah desa di kaki gunung dengan pohon-pohon raksasa tumbuh liar di sana sini. Di sebelah kanan panggung, sebuah gubuk hampir roboh berdindingkan anyaman — bambu kasar dan jarang, beratap rumbia yang sudah tidak menentu. Letak gubuk agak memencong — Suasana hampir senja, cahaya matahari yang kemerah-merahan lapat-lapat tampak di kejauhan sedang menurun di balik gunung yang terletak di sebelah kiri panggung agak jauh ke belakang. Beberapa orang lewat membawa pikulannya. Mereka berjalan bergegas-gegas menuju ke-. Rumah masing-masing. Di depan gubuk terdapat sebuah bangku atau bale-bale dari bambu, dan pintu gubuk itu terkunci dari luar, y Setelah beberapa orang pedagang lewat dan terus menghilang ke sebelah kiri panggung, panggung kosong seketika. Tak lama, masuk dua orang membawa pikulan dari kiri panggung menuju ke depan mendekati bale-bale).

Adegan I

Orang I. (Sambil meletakkan pikulannya mengeluh letih) Ngaso dulu di sini, ah! (duduk…)

Orang II. Ntar keburu hujan! (Tapi ia pun meletakkan pikulannya kemudian duduk dekat orang pertama).

Orang I. (Mengambil tempat tembakau dari pesaknya sambil menggulung daun kaung menyodorkan kepada orang kedua).

Nge­ro­kok?

Orang II. Enggak, ah!

(Sementara itu cahaya berubah, tanda matahari sudah terbenam dan udara mulai agak mendung dan sekali-sekali terdengar suara guruh menandakan hujan akan jatuh. Sambil melihat ke atas).

Mau hujan lagi rupa­nya (kemudian bangkit digeserkannya pikulannya agak ke muka sedikit).

Orang I. (ngelamun) Coba kalau kita punya gero­bak, kan enggak capek begini?

Orang II. (menghampiri sambil duduk) Ngo­mong kayak orang ngimpi. Yang bukan-bukan saja!

Orang I. (Tak menghiraukan) Hohoh, ya! Kenapa jadi begini?

Orang II. Begini bagai­mana?

Orang I. Iya begini. Coba saja pikir, dulu kan kita yang rame bikin jalanan ini?

Orang II. Heu­heuh, memang­nya kenapa?

Orang I. Itu dia, nah kita yang bikin, seka­rang kalau kita yang lewati mesti bayar pajak pada onde­r­ne­ming. Dua pintu jalan, dua kali pajak. Heran!

Orang II. Ya enggak perlu heran, habis mereka sih yang kuasa. Kita ini apa!

Orang I. Men­tang-men­tang sih kuasa, ini pajak itu pajak. Segala pajak.

Orang II. Heuh­heuh, ya. Orang begitu bagus-bagus, kul­it­nya putih-putih hidung­nya man­cung, sera­kah­nya dubi­lah setan. (Terus bangkit mengajak kawannya).

Yook, ah! Entar keburu hujan. (mengangkat pikulannya).

Orang I. Coba, kalau kita punya gero­bak, kan enggak capek begini? (sambil jalan).

Orang II. Gero­bak lagi. (Mereka terus keluar ke sebelah kanan panggung kemudian menghilang).

Adegan II

(Panggung sementara kosong, kemudian suara petir dan kilat menyambar. Dari kiri panggung masuk Ranta berjalan lesu langsung menuju ke pintu, berhenti sebentar dilihatnya pintu terkunci dari luar kemudian melihat ke kiri kanan lalu memanggil-manggil).

Ranta. Reng, Reng! (mencari-cari) Ke mana dia, belum pulang? (duduk di bale-bale, berpeluk lutut).

Adegan III

(Dari kanan panggung masuk Ireng membawa bakul kosong. Setelah dilihatnya suaminya duduk, dengan agak tergesa ia masuk terus menghampiri suaminya lalu duduk).

Ireng. Sudah lama, pak? (sambil bicara bakul diletakkannya. Ranta tak menjawab, hanya diturunkannya kedua kakinya, kemudian memandang Ireng mengeluh). Hasil pak? (memandang suaminya dengan penuh kasih).

Ranta. (berdiri) Ker­bau­nya sudah diju­al­kan orang lain. Bagai­mana di pasar tadi, Reng? (jalan menuju ke pintu. Ireng mengikuti sambil menjawab dibukanya pintu).

Ireng. Di pasar lagi rame, Pak. Diob­rak-abrik DI.1 (Ranta terus masuk ke dalam rumah, menyahut dengan suara kesal) Heuh, dia lagi! (Ireng masih di luar, mengumpulkan ranting-ranting kayu yang berjatuhan. Sambil jalan diambilnya bakul di atas bale-bale, ia pun masuk ke dalam rumah. Kembali panggung kosong).

Adegan IV

(Masuk juragan Musa dari kiri panggung berpakaian necis, membawa tongkat dan aktentas, langsung menuju ke tengah ruangan berhenti di muka bale-bale, berseru dengan suaranya yang sombong).

Musa. Ranta! Hei Ranta! Keluar!!

(berdiri terus di tempatnya menantikan jawaban ia mengisap lisong dengan angkuh. Ranta tak keluar, pun tidak menjawab. Musa berjalan maju sedikit menghampiri pintu. Berseru lagi memanggil-manggil dengan kasarnya. Ia maju lebih dekat lagi ke pintu lalu membongkok mengintip. Kemudian mengubah aksinya, suaranya dihaluskan, sambil tersenyum-senyum palsu berseru). Reng, Reng! Mana lakimu? Suruh dia keluar, Reng, aku bawa rezeki, nih! (jalan membelakangi rumah lalu berhenti dipaksakannya suaranya merayu-rayu memanggil-manggil Ireng lagi). Jangan sem­bu­nyi­kan lakimu, Reng, aku perlu sama dia (Musa tetap membelakangi pintu dan agak maju ke depan. Dari dalam rumah tampak Ireng menjengukkan kepalanya, setelah dilihatnya Musa, lekas-lekas ia memasukkan kepalanya lagi. Ketika itu Musa berbalik dan dilihatnya Ireng lalu marah). Hei, keluar! Sejak kapan kau tidak meng­har­gai aku? Tidak tau adat! Hayo keluar!

Adegan V

(Ireng keluar agak gelisah dan ketakutan, tapi pura-pura tersenyum menghormati Musa).

Ireng. Oh, jur­a­gan Musa, saya kira siapa? Duduk, Gan! (menyeka bale-bale. Musa menghampiri Ireng dengan sombong, mengacung-acungkan tongkatnya).

Musa. Hei, mana Ranta? Kenapa dipang­gil-pang­gil tidak menya­hut, tuli apa?

Ireng. Belum pulang, Gan. (mundur sedikit).

Musa. Bohong! (mendekati Ireng) Tadi kul­i­hat dia sudah pulang. Hayo, suruh keluar.

Ireng. Sung­guh mati, belum pulang, Gan (mundur ketakutan).

Musa. (cepat berbalik tak menghiraukan Ireng lalu menghampiri pintu ia berteriak keras memanggil Ranta dengan suara mengancam). Kalau tidak keluar, aku bakar rumahmu, meng­erti! Lekas!!

Adegan VI

(Dari dalam rumah Ranta keluar. Mukanya tampak kesal, berjalan keluar kepalanya ditundukkannya, lalu berhenti di hadapan Musa).

Musa. Hei, sejak kapan kau tuli, heh? Dipang­gil-pang­gil tidak menya­hut! (Ranta terus tunduk menyahut dengan tidak memandang Musa).

Ranta. Ya, Gan.

Musa. Hei, kemari! (memerintah dengan tongkatnya, Ranta menghampiri dengan lesu. Kemudian, menoleh kepada Ireng. Ireng tambah gelisah). Masuk, aku mau bicara dengan lakimu! (Ireng masuk ke dalam rumah. Musa mengubah sikapnya, pura-pura tersenyum: menengadah ke langit seolah-olah ada yang dilihatnya). Coba lihat! Mau hujan, tuh. (senyum) Waktu baik, musim baik, bukan begitu, Ranta?

Ranta. Ya, Gan.

Musa. Bagai­mana? Bisa jual kerbau Minin?

Ranta. Sudah diju­al­kan orang lain, Gan.

Musa. Tidak apa. Lihat langit tuh! (melihat langit dengan senyum palsu).

Ranta. Iya, Gan. Waktu baik, musim baik, Gan.

Musa. (Musa tertawa puas mendekati). Sudah tahu, Ta, pasar diob­rak-abrik DI? (mengerling) Ten­tu­nya binimu tidak bisa jualan, ya? (Ranta mengangguk sedih). Jangan kha­wa­tir, Ranta, selama jur­a­gan Musa ber­ku­asa kau tidak perlu pusing-pusing memi­kir­kan hidupmu, asal…

Ranta. (cepat memandang dengan tajam). Asal apa, Gan?

Musa. (mengerling) Ya… asal kau turut perin­tahku… kau tidak bakal kela­paran (menengadah ke langit, tongkatnya dimain-mainkannya).

Ranta. Apa maksud jur­a­gan?

Musa. Nanti malam jam sebe­las! Meng­erti?

Ranta. (Cepat berpaling dan menghampiri Musa) Maksud jur­a­gan…? (matanya tajam menatap Musa. Musa mengangguk. Ranta berjalan mundar-mandir kemudian). Tidak, tidak mung­kin lagi!

Musa. (menghampiri dengan marah). Apa yang tidak mung­kin lagi? Hei, Ranta! Kau mesti meng­erti! Di sini aku yang kuasa, meno­lak perin­tahku, ber­arti……

Ranta. (Cepat menjawab). Tapi Gan, kalau sampai ter­tang­kap?

Musa. Aku tidak per­duli! (mengancam dengan tongkatnya) Aku cuma tahu nanti malam BIBIT KARET itu kau antar­kan ke rumahku, tahu-tahu! Kalau tidak, tahu sen­diri aki­bat­nya!

(Ranta tak menjawab, hanya pandangnya sekarang beralih menjadi kesal dan putus asa. Melihat ini Musa mengerti lalu cepat mengubah aksinya. Sekarang… dengan suara membujuk ia menghampiri Ranta).

Sudah, Ranta, meng­apa kau mesti takut? Kan ada aku yang melin­dungi kalau ter­jadi apa-apa.

Ranta. Tapi berat, Gan. (ber­ba­lik agak men­jauh dari

Musa).

Musa. Goblok! Apa guna­nya otak dalam kepa­lamu itu? Apa kau tega meli­hat binimu mati kela­paran? (Ranta tunduk).

(Musa merogoh sakunya kemudian mengeluarkan beberapa tumpukan uang kertas yang dengan sengaja supaya dilihat Ranta. Kemudian menghitung-hitung uangnya, diambilnya selembar lalu menghampiri Ranta). Nah, bakal binimu! (dikepalkannya di tangan Ranta, Ranta tak berdaya. Musa menepuk bahu Ranta).

Jangan lupa, nanti malam jam sebe­las kau ker­ja­kan! Aku tunggu di rumah jam tiga pagi! (Ranta tak menyahut. Musa berjalan keluar ke sebelah kiri panggung. Ranta masih tetap terpaku di tempatnya. Tiba-tiba Musa muncul lagi dengan mengancam). Ingat! Kalau ada apa-apa jangan sebut-sebut namaku, ngerti! (Terus keluar lagi dan menghilang. Ranta masih tetap berdiri memandang ke jurusan Musa. Pada mukanya tampak dendam dan kesal. Tapi kemudian tunduk berpikir sambil melihat duit yang baru diterimanya. Ia tunduk putus asa).

Adegan VII

(Dari dalam rumah, Ireng memasang pelita lalu ditempelkan ke dinding lalu keluar memandang sekitar tempat, kemudian menghampiri Ranta. Ranta berjalan menuju ke bale-bale dan Ireng mengikutinya dengan pandangan penuh tanya. Suasana malam tambah gelap, dari kejauhan mulai terdengar suara jangkerik dan katak silih berganti. Mereka berdua duduk, kemudian Ranta menyerahkan uang pada Ireng lalu menutupi mukanya dengan kedua tangannya. Ireng menerima uang terus diperhatikannya, kemudian dengan suara yang mengharukan).

Ireng. Ya… cuma sering­git, cukup buat apa?

Ranta. Terima saja­lah, Reng! Cuma sebe­gitu rezeki kita.

Ireng. Kau ter­lalu lemah, pak. Disu­ruh ini turut, disu­ruh itu turut. Kalau aku lelaki aku tekuk batang leher­nya itu setan. Kau disu­ruh nyo­long juga dila­ko­nin sampe badan babak belur. Kenapa sih orang yang begitu musti ditu­rutin? Kenapa? Memang­nya dia jadi apa sih?

Ranta. Diam, Reng, Diam!

Ireng. Diam? Kau kan lakiku, bukan laki­nya. Kalau kau kenapa-kenapa atau sampai ketang­kap yang susah kan cuma aku, dia tidak bakal belain kita? (Ireng mulai kesal dan menangis).

Ranta. Sudah, Reng, (membelai-belai rambut Ireng dengan kasihnya) Sabar, kita mesti sabar, ada wak­tu­nya nanti kita akan hidup senang, per­ca­ya­lah, Reng.

Ireng. Kapan, kapan, pak? Kerja dan usaha kita sudah cukup, tapi rezeki masih juga di tangan Tuhan.

Ranta. (Sambil berdiri diangkatnya Ireng. Mereka berdua berhadap-hadapan, Ranta memegang bahu Ireng sambil berkata dengan suara penuh keyakinan) Tunggu, Reng. Kalau kea­daan sudah aman dan baik kem­bali, kita akan atur rezeki kita sen­diri, ya?

Ireng. (Menjawab tanpa mengerti maksudnya) Insya-Allah, pak. Insya-Allah.

Ranta. (Memandang istrinya dengan kasih) Seka­rang tidur­lah kau dulu.

Ireng. (Agak terkejut memandang suaminya, matanya penuh kecemasan dan suaranya menggetar pilu). Kau, pak? Mau ke mana?

(Ranta tak menjawab Ireng bertambah cemas) Pergi juga, pak? Nyo­long bibit karet?

Ranta. (Ditariknya tangan Ireng dituntunnya dan dibawanya masuk ke dalam rumah. Ireng menurut. Kemudian setelah sampai di ambang pintu). Tidur­lah, tidak lama aku nanti pulang.

(Ireng masih berdiri tegak di ambang pintu, Ranta membalik menuju ke jalan keluar. Tiba-tiba Ireng mengejarnya sambil berseru).

Ireng. Tidak, pak. Jangan pigi. Kau jangan nyo­long lagi (menangis).

Ranta. (Berbalik menghampiri Ireng. Dengan tenang didudukkannya Ireng di atas bale-bale dan ia pun duduk menghibur Ireng).

Ireng. (Sambil menangis dipegangnya tangan Ranta kuat-kuat). Kau jangan nyo­long lagi, pak. Biar­lah kita tidak punya duit, aku kuat tidak makan. Jangan ya, pak.

Ranta. Dengar, Reng. Memang aku sering nyo­long, tapi kau tentu meng­erti, itu bukan kema­u­anku. Aku juga tidak kepi­ngin jadi maling, tapi kea­daan memaksa Reng. Tadi sudah kuka­ta­kan, kalau sudah aman tentu kita tidak begini lagi.

Ireng. (Dengan suara manja dan bodoh).

Nanti kalau sudah aman kau tidak nyo­long-nyo­long lagi, pak?

Ranta. Buat apa nyo­long, siapa orang­nya yang mau jadi maling.

Ireng. Pak, Pak. Jur­a­gan Musa itu jadi apa sih, pak?

Ranta. Yah, orang-orang yang sema­cam dia itulah Reng yang mem­bi­kin kita jadi begini, bikin aku jadi maling (sungguh-sungguh).

Ireng. Habis, kenapa kau takut sama dia, mau saja disu­ruh maling?

Ranta. (Agak lama baru menjawab sambil mengeluh).

Yah… kadang-kadang karena tekanan hidup, manu­sia bisa ber­buat apa saja di luar kema­u­an­nya, Reng!

Ireng. Tapi kalau nyo­long itu kan ber­ba­haya, Pak. Kalau ketang­kap ten­tu­nya kau dipu­kuli sama pen­jaga onde­r­ne­ming.

Ranta. Mereka yang kuasa, Reng, seolah-olah mere­ka­lah yang menen­tu­kan hidup kita, walau­pun sebe­nar­nya mereka itu lebih jahat dari­pada maling.

Ireng. Mereka itu siapa, Pak? Kalau mereka jahat, kenapa tidak ditang­kap?

Ranta. Ah, sudah­lah, Reng, lebih baik kita tidur.

Ireng. Kau juga, pak? (Sambil bangkit menuju ke pintu. Ranta masih tetap duduk. Ireng berdiri di ambang pintu kemudian berpaling pada Ranta). Yook, masuk, Pak. Besuk pagi saja­lah kita makan ya pak?

Ranta. (Sambil bangkit menjawab). Lagi­nya malam-malam begini mau cari makanan di mana? (terus masuk. Ireng mengunci pintu lalu memadamkan pelita. Suasana sunyi senyap, hanya katak dan burung hantu silih berganti. Tak lama dua orang pemikul singkong masuk lagi dari sebelah kanan panggung terus maju ke tengah-tengah).

Adegan VIII

Orang I. (Meletakkan pikulannya menuju ke bale-bale, sambil menguap). Nginep di sini saja, sudah malam.

Orang II. Huhuh, tapi minta izin dulu, ah. (dia pun meletakkan pikulannya kemudian menuju pintu. Berhenti sebentar, kemudian pelahan-lahan berseru sambil mengguncang-guncang pintu). Pak, Pak! (diam sejurus) Bung, bukan DI ni, orang baik-baik. Num­pang nginep, ya? (tetap berdiri menantikan jawaban).

Orang I. (sambil merebahkan badannya di bale-bale). Enggak ada orang­nya barang­kali. Tidur saja­lah! (Orang kedua berjalan menuju ke bale-bale lalu ia pun merebahkan badannya, sambil menggulung-gulungkan kainnya untuk dijadikan bantal. Tak lama mereka pun tertidur. Suasana kembali sunyi).

Adegan IX

(Ranta dengan membawa pikulan dan golok keluar pelahan-lahan kemudian menutupkan kembali pintunya. Melihat ada orang tidur di atas bale-bale ia terhenti agak mundur sedikit. Setelah diperhatikannya benar-benar bahwa orang itu sudah tidur, ia pun bergegas menuju keluar ke sebelah kanan panggung kemudian menghilang. Suasana kembali sunyi).

Adegan X

(Suasana panggung berubah. Cicit burung dan cahaya fajar, menandakan hari sudah menjelang pagi. Kedua orang itu masih tetap tidur dengan nyenyaknya, membelakangi penonton. Tiba-tiba suara pintu dibuka tampak Ireng mengusap-usap mata kemudian melihat ke kiri-kanan dilihatnya ada orang tidur, disangkanya suaminya, ia tersenyum sambil mendekati kemudian duduk di ujung bale-bale mengguncang-guncangkan kaki orang yang sedang tidur).

Ireng. Pak, Pak, bangun! Kenapa tidur di sini?

(Terus mengguncang-guncangkan kakinya).

Orang II. (Terkejut lalu duduk sambil membetulkan kainnya) Eh… siapa?

Ireng. (bangkit terkejut dan mundur beberapa langkah ketakutan).

Orang I. (kemalu-maluan) Maap…… ceuk, kami num­pang tidur di sini. Tadi malam kami sudah pang­gil-pang­gil buat minta izin, tapi tidak ada yang nyaut. Sung­guh mati kami orang baik-baik. Ini teman saya. (Tersipu-sipu senyum menyembunyikan malu dan gugupnya). (membangunkan kawannya) Itu yang punya rumah, minta maap, gih.

Orang II. (Memandang kepada Ireng kemudian berdiri menghampiri). Eh… maap, saya sama teman saya kema­laman jadi num­pang tidur di sini. Kami berdua tukang jualan sing­kong. Tuh sing­kong­nya! (Menunjuk pikulannya).

Ireng. (Hilang cemas dan takutnya). Enggak lihat laki saya tadi malam?

Orang I & II. (Kedua orang itu saling berpandangan, kemudian hampir berbareng menyahut). Enggak! (Ireng gelisah dan cemas).

Orang I. (menawarkan singkongnya) Mau sing­kong? (Ireng tak menjawab hanya dipandangnya singkong dalam pikulan. Kemudian orang pertama mengambil beberapa batang singkong lalu diberikannya pada Ireng. Ireng menerimanya dengan gembira memandang kepada orang pertama sebagai terima kasihnya ia tersenyum lalu masuk ke dalam rumah).

Ireng. (dari dalam). Tunggu saya masakin air, ya. (Orang pertama membetul-betulkan tumpukan singkongnya).

Orang II. Enggak usah repot-repot, cuma num­pang tanya sumur­nya di mana?

Ireng. (dari dalam). Tuh, di sam­ping! (Orang kedua terus ke samping rumah sambil berkata pada kawannya). Eh, enggak mau cuci muka?

Orang I. (Tak menoleh) Pigi­dah duluan, ber­gan­tian! (Orang kedua menghilang ke samping rumah, tinggal orang pertama yang masih jongkok menghitung dan membetul-betulkan susunan singkongnya).

Adegan XI

(Suasana sudah lebih terang dari semula, menandakan hari sudah pagi. Tiba-tiba Ireng muncul sambil membawa rebus singkong dalam piring kaleng dan sebelah tangannya lagi membawa ceret atau teko. Singkong dan teko diletakkannya di atas bale-bale kemudian masuk lagi ke dalam rumah tak lama keluar dengan membawa dua cangkir kaleng diletakkannya di atas bale-bale).

Ireng. Minum, kang! Cuma enggak punya kopi, air mateng doang! (Menuangkan ke dalam cangkir).

Orang I. (Sambil berdiri) Ah, itu juga sudah ribu-ribu terima kasih, sudah nge­re­potin! (Terus duduk mengambil cangkirnya).

Ireng. Akang satu­nya lagi mana?

Orang I. (Sambil menghirup airnya) Masih di sumur.

(Kemudian orang kedua keluar dari samping rumah sambil membetul-betulkan rambut dan memperbaiki sarungnya. Ia terus ke bale-bale kemudian duduk).

Ireng. Tuh, airnya, kang! Minum­lah!

Orang II. (mengambil cangkirnya) Enggak ada kopi­nya? (terus diminumnya). Pakein gula, kek!

Orang I. Hus, sudah dila­denin mau banyak ting­kah, segala diminta, kita tidak diusir juga sudah bagus, (Kemudian senyum pada Ireng) Maap, ya, teman saya ini memang cul­a­mit!

Orang II. (pada Ireng) Bukan­nya cul­a­mit ding, cuman kalau begini kan lebih rapat per­sau­da­raan kita, betul tidak?

Ireng. (Senyum ramah) Ting­gal­nya di mana?

Orang I. (Sambil menunjuk ke belakang) Tuh, di bela­kang bukit itu tuh.

Orang II. (Menyambung) Dekat sarang DI. Mang­ka­nya juga enggak berani pulang kalau sudah kema­le­man.

Ireng. Itu, sing­kong­nya mau dijual?

Orang I. Niat­nya begitu, cuma tau-tau di pasar lagi rame, diserbu DI.

(Sedang mereka asik bercerita, tiba-tiba muncul Ranta dari kanan panggung. Jalannya terhoyong-hoyong, tangan kirinya terbalut dengan gedebong pisang mukanya pucat lesi dan rambutnya kusut tak menentu. Ketika Ireng melihat suaminya, segera bangkit dan berlari merangkul suaminya dan meratap).

Adegan XII

Ireng. Kenapa Pak? Kenapa tanganmu? (dipeluknya suaminya dibawanya masuk dan didudukkannya di atas bale-bale. Ranta tak menjawab, tampak ia sangat letih bercampur marah yang tertahan. Kedua orang itu bangkit ketika melihat Ranta terhoyong-hoyong, mereka berdua saling pandang memandang keheranan. Ireng terus juga bertanya sambil menangis). Sudah aku larang, kau pigi juga. Mana piku­lanmu, mana golok, pak? (Terus menangis).

Ranta. Hilang! Habis semua! Dir­am­pas bina­tang-bina­tang itu. (bernapsu) Aku tidak takut dibui. Mereka yang suruh aku men­curi bibit karet onde­r­ne­ming. Aku turut, aku bawa­kan sampai dua kali balik. Tapi waktu aku tanya­kan mana upahku, bina­tang-bina­tang itu men­ja­wab dengan pukulan dan meng­u­sir aku seperti meng­u­sir anjing. Penipu! Bina­tang! Aku dipu­kul­i­nya sete­ngah mati. Aku dike­ro­yok, golok dan piku­lanku dir­am­pas­nya, mereka ber­te­riak-teriak “Bang­sat! Pen­curi! Jangan berani-berani datang kemari men­curi bibit karetku” Hah, bina­tang! (Ranta bertambah kesal dan marah).

Ireng. (Sambil menangis) Sudah­lah, pak. Lebih baik kita pindah ke kota, kita kuli di kota. (Orang pertama dan orang kedua saling berpandangan).

Orang II. (Dengan bernapsu) Huh, tentu si Sri­gala Musa dengan kom­p­lot­an­nya yang punya kela­kuan seperti itu. Sudah berapa banyak yang dija­di­kan korban. Sesu­dah dihi­sap dibu­nuh­i­nya.

Ranta. (Heran memandang kedua orang itu. Ia baru sadar bahwa ada orang lain dihadapannya). Kenapa bung tahu, Musa? Apa kenal?

Orang I. (Dibukanya bajunya sambil membelakangi Ranta). Lihat inilah upah­nya yang kute­rima dari bina­tang itu! (Ranta dengan penuh dendam melihat tanda bekas-bekas pukulan yang melekat di belakang orang pertama itu. Tanda-tanda yang membekas merah biru bekas pukulan. Orang pertama kemudian memakai bajunya kembali). Dicam­buki dengan buntut ikan pari! Juga soal maling bibit karet, pada­hal dia sen­diri yang suruh, Aku dike­ro­yok sama empat orang, kata­nya mereka mau mela­por ke polisi. Aku lari pulang. Tadi­nya nia­t­anku mau kubu­nuh si setan Musa itu, tapi kemu­dian aku insyaf, kalau sampai ter­jadi, bagai­mana nasib anak biniku. Seka­rang timbul lagi nap­suku mau meng­ha­bis­kan riwa­yat si setan itu sete­lah meli­hat kau dia­ni­aya begini.

Ranta. (Tenang menyabarkan). Sabar, bung! Mem­bu­nuh dia tidak ada arti­nya, karena bukan cuma satu Musa yang pegang peranan sema­cam ini. Banyak, bung! Yah…… kita dibi­kin jadi maling, dija­di­kan sapi perah­an­nya… Tapi sebe­nar­nya mereka sen­diri dibi­kin jadi maling dan dija­di­kan kerbau.

Ireng. (Heran tak mengerti). Siapa yang bikin dia jadi maling, Pak?

Orang I. Dia orang kaya, kenal­an­nya orang-orang pang­kat, rumah­nya banyak, sawah­nya banyak, kebun dan tanah­nya banyak di mana-mana, masa jadi maling?

Orang II. Bini­nya juga banyak, di mana ada pera­wan cantik dia sikat, kalau dila­mar tidak dikasi, diam­bil dengan keke­ra­san atau rumah­nya tau-tau sudah ter­ba­kar. Heuh­heuh, ampun!

Ranta. Memang, memang dia orang kaya. Rumah­nya banyak, di mana-mana. Tanah­nya lebar. Tapi dia boleh dapat dari mana itu semua? Dari mana coba? (Semuanya diam terpikir. Ranta meneruskan). Dari maling. Dia maling gede. Tapi cara maling­nya dia pintar, licin, sekong­kol sama orang pang­kat-pang­kat. Tentu enggak ken­tara, enggak ketang­kap kayak kita disu­ruh maling bibit karet. Maling bibit karet cuma buat menyam­bung hidup pagi dan sore. (Diam sebentar, semua terpikir dan terasa kebangkitan hati yang menggelegak panas karena sudah mulai agak disadari, kenapa hidup mereka jadi begitu).

Ireng. Lha, cara­nya dia maling bagai­mana kok enggak ketang­kap dan bisa kaya? (Ranta berpikir keras, tapi tenang wajah dan matanya).

Ranta. Ireng! Kau ingat! Waktu anak kita yang per­tama sakit keras! Kau ingat! Kita pinjam duit pada Jur­a­gan Musa. Dengan apa kita lunasi hutang itu?! Ingat kau! Selu­ruh hasil panen kita dir­am­pasi­nya! Dan sesu­dah itu, tanah kita ter­paksa kita jual. Kau tahu, siapa yang ambil tanah kita? Jur­a­gan Musa! Dengan harga berapa?! Buat dagang di pasar saja tidak cukup. Seka­rang apa yang ting­gal pada kita? Keme­la­ratan, keta­kutan dan keta­kutan tidak makan. Waktu itu aku sudah merasa. Yang miskin ber­tam­bah miskin dan yang kaya ber­tam­bah kaya dengan jalan meram­poki harta benda si miskin. Cuma cara­nya saja yang macam-macam. Tapi nanti kalau kea­daan sudah aman, tentu semu­a­nya ini akan beres.

Ireng. Ah, Pak, itu-itu juga yang kau kata­kan. Kapan, kapan kea­daan aman?!

Ranta. Haah, itu dia. Per­ta­nyaan itu yang sudah lama kutunggu-tunggu. Kapan, kapan, ya?! (Semua mengagumi Ranta dan keadaan mereka sendiri).

Orang II. Ya… kapan ya? Dulu, diuber-uber lurah, tuan besar admi­nis­tra­tur, rodi, pajak dan wajib desa. Itu zaman Belanda. Zaman Nipon apa? Romusya! Semua kurus kering, peyot-peyot sampai pada modar. Zaman Nika.2 Lagi-lagi diuber rodi, ditem­ba­kin saban hari. Eeee…… seka­rang?? Diuber-uber DI. Kawan-kawan kita sen­diri yang seka­rang sudah pada jadi orang pang­kat, jadi jur­a­gan… haiih…!

(Segera disambut Ranta).

Ranta. Bina­tang buas! Seri­gala!

Orang I. Benar-benar buas! Kita dita­kut-takuti sama poli­si­lah, sama ten­ta­ra­lah, sama DI-lah, dan kita disu­ruh maling. Bukan buat kita! Buat mereka! Buat upah kita cuma pukulan. Tapi bagai­mana, apa begini terus-terusan?!

Ranta. Begini! Kalau kita sudah ber­satu lagi kayak dulu. Ha… itu baru. Kau ingat! Waktu Nipon mau turun? Lima belas tahun yang lalu. Kita ’kan ber­satu mela­wan gerom­bolan ajag yang sering mem­bu­nuh kam­bing dan sapi kita?

Orang II. Ya… heuh­heuh… kam­pungku saja dalam tiga bulan dapat bunuh dua puluh ekor!

Ireng. Tanganmu masih sakit, Pa?

Ranta. Tentu saja sakit. Tapi itu sudah biasa. Kita ’kan hidup kesa­kitan melulu. Kalau tidak daging yang sakit, hati. Kesa­kitan melulu!

Orang II. Akang apa pernah seko­lah dulu?

Ranta. Kalau baca sedi­kit, tulis sedi­kit ya… bisa juga.

Orang I. Kalau tahu begitu kan nanti bisa dica­lon­kan jadi lurah kalau ada pemi­l­ihan umum.

Orang II. (Ia seperti melihat sesuatu bahaya dari jauh). Awas…! Jur­a­gan Musa datang!

(Semua nampak kaget dan cemas, kecuali Ranta).

Ranta. Biar, biar dia datang. Sudah bosan! Bosan takut!

(Tapi orang pertama dan kedua segera mengambil pikulannya dan pergi).

Ireng. (memegang tangan Ranta).

Ranta. Kau dengar sen­diri… Aku sudah bosan takut! (Ia melihat-lihat terus ke arah Juragan Musa yang datang, tapi akhirnya tidak segera datang juga, lalu ia masuk ke dalam rumahnya dengan tarikkan Ireng).

Adegan XIII

(Panggung sunyi senyap sebentar).

Musa. (Musa tahu-tahu datang dengan angkuhnya melengos ke depan rumah Ranta). Ranta! Keluar! (Tak berjawab). Ireng! Mana lakimu?

Ireng. (Dari dalam) Ranta cape Jur­a­gan.

Musa. Tidak dengar! Suruh keluar!

Ireng. Lagi tidur keca­pean jur­a­gan!

Musa. Babi! Bangun­kan! (Juragan Musa bertambah kesal). Hei… Ranta! Keluar tidak! (Tak berjawab). Baik… aku repot­kan kau pada polisi. Maling bibit karetku… ya!

Adegan XIV

(Tahu-tahu Ranta keluar perlahan-lahan, sementara Musa masih sedang membelakangi rumah Ranta. Begitu ia menengok kembali ke rumah Ranta begitu Ranta dilihatnya terpampang di depan pintu rumahnya).

Musa. Berani-berani kau lawan perin­tahku… babi! (Ranta melangkah agak menghampiri Musa dan dengan hati menggelagak terus menuju Musa pelahan-lahan tapi pasti). Hei… berani kau!

(Tapi Ranta terus dengan sikap mau membanting juragan Musa yang sudah mau memukul Ranta dengan tongkatnya, sehingga akhirnya ia diserbu oleh Ranta dan Musa lari lintang pukang, sampai-sampai tas dan tongkatnya ketinggalan).

Ranta. Bina­tang buas!

Ireng. (keluar) Jangan Ranta! (Sambil menarik suaminya dan membawanya duduk di bale-bale. Ranta terus mengawasi ke mana juragan Musa lari. Ireng melihat tas dan tongkat juragan Musa yang berantakan di tanah). Tasnya keting­galan…!

Ranta. Jangan, jangan disi­n­tuh! Haram! Lempar dengan kayu saja.

Adegan XV

(Tanpa mereka duga-duga, orang pertama dan kedua datang. Orang kedua tiba-tiba melotot melihat barang-barang juragan Musa berantakan di tanah dan berteriak).

Orang II. Haiiih…… kepu­nyaan jur­a­gan Musa, aaiiih……!

Ireng. Kabur dia waktu mau diban­ting Ranta.

Orang I. Sudah mulai kalau begitu (Orang kedua dengan diiringi oleh orang pertama ikut-ikut mendekati dan mengelilingi barang juragan Musa, tapi Ranta segera menegor).

Ranta. Hei…! Jangan! (Orang kedua dan pertama segera saja tidak jadi memegang barang-barangnya Musa yang berantakan itu). (Sementara itu Ranta masih terus berpikir keras, apa yang harus dilakukannya lagi).

Ireng. Pak! Baik­nya kita ke kota saja.

Ranta. Mau apa ke kota?

Ireng. Kuli atau jualan, apa saja asal aman.

Ranta. Di kota juga susah Reng. Di mana-mana orang pada kele­leran tidak ada kerja. Jualan ini itu di ping­gir jalan, juga susah, Reng! Kata orang seben­tar-seben­tar ditang­kapi. Haah… sudah­lah di sini saja. Ini kam­pung kita. Kenapa kita mesti lari? Sudah kela­maan kita takut-takut saja. Seka­rang per­se­tan sama takut! (Orang pertama dan kedua juga membenarkan Ireng).

Ranta. (Sambil menoleh kepada orang kedua dan pertama). Seka­rang begini! Pung­utin barang-barang Jur­a­gan Musa itu, kita repot­kan sama koman­dan. Aku sedi­kit banyak tahu, hubungan Jur­a­gan Musa dengan DI. Ini raha­si­a­nya kenapa rumah­nya tidak pernah diga­rong atau diganggu. (Orang pertama dan kedua bersama-sama memungutin barang-barang Juragan Musa). (pada Ireng) Reng, bung­kusin semua pakaian dan kunci rumah ini. Biar kita pergi dulu. (Sementara itu orang pertama dan kedua sudah siap memungutin barang-barang juragan Musa dan semua barang-barang itu diserahkan mereka kepada Ranta. Dan Ranta mengajak pergi semua setelah Ireng juga selesai dengan buntalan pakaiannya).

Orang II. Seka­rang benar-benar niih…! (Mereka pergi bersama-sama ke kantor Komandan dan ruangan panggung kosong atau digelapkan atau ditutup layar dan selesailah babak pertama).



Babak Kedua

Musik. (Pemandangan dalam sebuah rumah besar dengan alat-alat dan perhiasan dinding serba kuno, lampu gantung kuno dari kuningan, kursi goyang dengan meja marmer, dan ditiap sudut tampak standard bunga dengan pot-pot kuningan. Sebuah kapstok dengan kaca bundar telur dan sebuah buffet model kuno. Seorang wanita muda dan cantik berpakaian mentereng dengan warna yang menyolok. Ia berdiri di ambang pintu seperti sedang menantikan sesuatu, kemudian berbalik dan mundar-mandir lalu duduk kemudian bangkit kembali. Kemudian memanggil-manggil seseorang).

Adegan I

Nyonya. Jali! Li! (Kemudian duduk).

Jali. Saya Jur­a­gan! (Dari dalam, kemudian Jali keluar. Jali seorang kacung berumur kira-kira 18 tahun. Sambil terbungkuk-bungkuk hormat Jali maju menghampiri Nyonyanya sambil jongkok). Saya Jur­a­gan?

Nyonya. Jur­a­gan pame­get ke mana, apa tidak pesan apa-apa tadi?

Jali. Enggak, Gan! Cuma saya dengar tadi mau ke rumah Ranta.

Nyonya. Aneh! Bia­sa­nya kalau pergi tidak begini lama, coba susul, Li!

Jali. Jur­a­gan pame­get suka marah kalau disu­sul-susul, Gan!

Nyonya. Ah, bilang saja disu­ruh Jur­a­gan Istri, gitu! Kapan janji mau ngajak ke kota.

Jali. (menghormat terus menuju ke pintu lalu keluar. Nyonya Muda mengikuti Jali sampai ke pintu kemudian kembali mundar-mandir. Ketika nyonya Muda mau masuk ke dalam, persis di pintu masuk, ia terhenti karena mendengar dari kejauhan suara Juragan Musa berteriak-teriak memanggil-manggil Jali. Nyonya Muda berbalik, ketika itu Juragan Musa sudah berada di samping/di ambang pintu dengan muka muram dan pakaian kusut tak menentu. Matanya liar seperti orang ketakutan. Ia berteriak-teriak memanggil-manggil Jali, seolah-olah tak melihat bahwa istrinya berada di situ memandangnya dengan tercengang dan gugup. Juragan Musa tetap dalam keadaan panik sambil memanggil-manggil).

Adegan II

Musa. Li, Jalil! Ke mana bina­tang itu?!!! (Mundar-mandir, kemudian menoleh kepada istrinya. Juragan Musa berusaha menenangkan dirinya kemudian tersenyum pahit, Juragan Musa menegur istrinya yang masih tetap tercengang dan terpaku melihat tingkah laku suaminya). Oo, kau? (Berjalan menuju ke kursi). Ke mana si Jali? (duduk).

Nyonya. (menghampiri kemudian). Kusu­ruh men­cari kau. (Berdiri di belakang kursi sambil mengebas-ngebaskan baju Musa).

Musa. Ke mana?

Nyonya. (Dengan kemanja-manjaan yang dibuat-buat). Kata­nya ke tempat Ranta!

Musa. (Terbelalak matanya). Ha? Ke tempat Ranta?! (Meraung seperti orang kesakitan sambil memukul-mukul meja). Mati… Mati… cilaka… ya Allah… (Berdiri mundar-mandir sambil memukul-mukul kepalanya, kemudian marah sambil berteriak-teriak). Sudah berapa kali aku bilang, si Jali tidak boleh keluar rumah tanpa izinku! Bina­tang! Jaha­nam! (Mundar-mandir tambah panik).

Nyonya. (Dengan keheran-heranan tapi masih dapat menguasai dirinya, ia mencoba menenangkan Musa). Yang menyu­ruh kan aku. Lagi­nya kau ini kenapa, pulang-pulang marah tidak karuan? Ber­ke­lahi dengan yang sana? (Melengos seperti orang merajuk).

Musa. (Dengan membanting kaki berteriak membentak) Diam! Perem­puan sialan. Kau yang bawa sial, meng­erti!!!!

Nyonya. (Mulai hilang sabarnya, berbalik dihampirinya Musa yang sedang mundar-mandir). Apa? Perem­puan sialan?

Musa. (membentak). Diam! Kenapa kau berani-berani suruh si Jali nyusul aku? Perem­puan kepa­rat!

Nyonya. Habis begitu lama, sedang­kan kau sudah janji mau bawa aku ke kota.

Musa. Per­se­tan! Peduli apa lama atau tidak? (Masuk. Sedang Nyonya dengan perasaan panas hendak mengejar mengikuti Musa masuk akan tetapi di ambang pintu terhenti, seolah-olah melihat sesuatu yang menakutkan. Ia undur beberapa langkah dengan mulut ternga-nga dan mata terbelalak. Tak lama tampak Musa keluar membawa keris. Dengan pelahan ia berjalan dan keris dijunjungnya ke atas keningnya. Setelah sampai di kursi, dengan tangan gemetar, dibukanya keris pusaka dari sarungnya, dengan mulut berkumat-kamit diciumnya keris pusaka itu dengan khusyuk dan hidmat. Tiba-tiba matanya terbelalak seperti kesetanan, tangannya gemetar keris segera dimasukkan kembali ke dalam sarungnya kemudian dimasukkan dan diselipkan di dalam jasnya. Ia bergegas menuju keluar berlari. Persis sampai di pintu Musa berpapasan dengan Jali, mereka hampir bertabrakan, sedangkan Nyonya melihat dengan kesal dan heran. Musa marah membentak dengan garangnya pada Jali, Jali tunduk ketakutan).

Adegan III

Musa. Jaha­nam! Tidak punya mata? Bang­sat! (Jali tunduk terus masuk. Musa hendak meneruskan tujuannya tapi tiba-tiba ia berbalik seperti baru teringat akan sesuatu).

Musa. Hei! Dari mana kau? (Kepada Jali. Jali dengan hormat-hormat ketakutan menghampiri lalu menjawab dengan perlahan).

Jali. Disu­ruh Jur­a­gan istri?

Musa. Hei, monyet! Kalau bicara sama aku musti jong­kok, biar tahu adat!! (Jali jongkok, Musa meneruskan). Di rumah ini aku yang kuasa, aku yang kasi makan, tidak perlu turut perin­tah orang lain, hanya perin­tahku, meng­erti!

Jali. Saya, Jur­a­gan. (Nyonya Musa mendengar ini timbul amarahnya).

Nyonya. Aku yang menyu­ruh! (marah) Apa aku tidak boleh menyu­ruh orang gaji­anmu?

Musa. (membentak) Diam! Jangan turut campur, aku tidak bicara sama kau! Ini urus­anku sen­diri!

Nyonya. Urus­anmu juga urus­anku!

Musa. Aku bilang diam!!! (Berteriak lebih keras) Tidak perlu turut campur! Aku cuma bicara sama si Jali, setan! (Kepada Jali sambil ditendangnya) Hayo, jawab! Ke mana tadi, ha?

Jali. Ke rumah Ranta, Gan. (Musa marah lalu berjalan mundar-mandir, tiba-tiba seperti orang yang baru ingat. Lalu kembali menghampiri Jali).

Musa. Hei! Kau lihat tasku di sana?!

Jali. Apa, Gan? (Musa berteriak dengan memukul-mukul kepalanya).

Musa. Tasku! Tasku, tong­katku, tul­i­i­i­i­iii (disentaknya tangan Jali lalu ditegakkannya. Ditantangnya mata Jali seperti hendak diterkamnya). Tasku…… tasku…… tong­katku…… kau lihat??!!! (Digoncang-goncangnya kedua bahu Jali).

Jali. Tidak, Gan! Enggak ada! (Ketakutan dan gemetar).

Musa. Hayo, kau musti pergi lagi ke sana! Ambil tas dan tong­katku, rebut dari si jaha­nam itu! Kalau tidak dikasi, bunuh dia! Hayo lekas!

Jali. Rumah­nya dikunci dari luar, Gan!

Musa. Ke mana dia? (melotot ketakutan).

Nyonya. (Yang sejak tadi memperhatikan kelakuan suaminya sambil duduk di kursi mengejek). Ala… lagak! Bunuh si Ranta! (Dengan suara menirukan Musa). Kalau betul-betul jagoan, bunuh saja sen­diri jangan suruh anak kecil. Hayo, maju Pah­la­wan! Siapa yang tidak kenal Jur­a­gan Musa (Menepuk-nepuk dada mengejek. Musa mendengar ejekan itu, marah tapi kemudian sedih, ditutupnya mukanya dengan kedua tangannya lalu meraung menangis seperti orang hilang akal).

Musa. Ya Allah… lin­dung­i­lah ham­bamu… ya Allah. (Kemudian menghampiri istrinya dengan muka minta dikasihani). Tolong­lah aku, Nah! (Istrinya berpaling tak menjawab. Musa tambah mendekati seperti orang ketakutan minta perlindungan). Nah. (terisak-isak menangis) jangan ting­gal­kan aku, kau istriku yang setia, Nah!

Nyonya. (Dengan agak sombong tapi timbul rasa kasihannya). Kenapa kau ini sebe­tul­nya, pulang marah-marah, kalap, ngamuk ke sana ke sini. Kenapa?

Musa. (Musa tertunduk malu kemudian teringat ada Jali di antara mereka, dengan mengubah mimik Musa melotot dan membentak Jali). Masuk! (Jali dengan ketakutan masuk. Musa mengubah mimiknya lagi seperti semula, mimik orang yang meminta belas kasihan, ditatapnya istrinya dengan sayu, sedangkan istrinya masih tetap tenang). Kau mau meno­long aku, Nah?

Nyonya. Aku kan istrimu, sudah sepa­tut­nya meno­long kalau kau dalam kesu­karan, asal aku tahu sebab-sebab­nya!

Musa. Kau bakal setia biar­pun kita bakal hidup mela­rat, Nah?

Nyonya. Apa masih kurang kese­ti­a­anku? Tapi kenapa, kenapa kita mesti jadi mela­rat?

Musa. (Musa meraih tangan istrinya kemudian didudukkannya di kursi. Musa berjalan membelakangi seperti orang sedang berpikir. Ia berjalan mendekati istrinya kemudian menghela napas panjang. Tampak ragu, bimbang, ketakutan dan putus asa. Istrinya memperhatikan terus gerak-gerik Musa dengan tak berkedip). Kau sang­gup hidup mela­rat? (Istrinya mengangguk heran) Sang­gup hidup di hutan? (Istrinya terkejut ditatapnya Musa dengan penuh pertanyaan tapi mulut tak kuasa mengucap sepatah-kata, Musa mengangguk dan meneruskan). Ya… ke hutan!

Nyonya. (seperti orang baru sadar). Ke hutan???? (Suaranya bimbang, heran penuh tanya) Di hutan??!!!

Musa. Aku dalam kesu­l­itan, kita ter­paksa… (Tiba-tiba terdengar suara dari luar “Assalamualaikum”. Musa dan Nyonya terkejut dan gugup). Siapa?

Adegan IV

(Di ambang pintu muncul seorang laki-laki setengah tua berpakaian cumpang-camping dengan terbungkuk-bungkuk hormat dibukanya topi tikarnya yang juga sudah cumpang-camping).

Jameng. Abdi, Gan. (Matanya agak liar melihat kekirikanan).

Musa. Masuk, Meng! Kebe­tulan, aku ada urusan pen­ting! (Jameng dengan terbungkuk-bungkuk masuk lalu duduk di ubin. Kemudian Musa kepada istrinya). Masuk dulu, aku ada urusan! (Istrinya masuk, Musa menyuruh Jameng maju. Jameng maju dengan gaya ketakutan yang dibuat-buat, lalu duduk dekat kursi Musa). Sekali ini aku kasih per­misi, duduk saja di kursi!

Jameng. Ah, biar di sini saja, Gan. (Tersipu-sipu).

Musa. (Dengan gaya tak sabar). Ada kabar apa?

Jameng. (Melihat ke kiri-kanan kemudian duduknya menggeser sedikit lebih mendekat pada Musa). Bahaya, Gan! (Musa terbelalak, korsinya dikisarkannya menghadap ke arah Jameng).

Musa. Bahaya?? (Ditatapnya Jameng) Bahaya bagai­mana? Hayo lekas bilang!

Jameng. Ya… bahaya, Gan! Jur­a­gan musti hati-hati Jur­a­gan ter­an­cam! (Musa yang semula terbelalak ketakutan berubah tertawa sombong sambil berdiri seperti acuh tak acuh).

Musa. Hahaha… kau seperti baru kenal keku­a­sa­anku! Siapa yang berani ganggu aku ber­arti dia sudah bosan hidup. Dengan uang aku bisa ber­buat sesuka hatiku hahaha… (Ditepuknya bahu Jameng).

Jameng. Tapi tas Jur­a­gan apa tidak ada isinya yang pen­ting? (Musa baru teringat akan tasnya, kemudian kembali ia melotot ketakutan, gugup, gemetar lalu berteriak).

Musa. Tasku… Lekas ambil tasku… lekas! (memukul-mukul kepalanya kemudian pada Jameng). Kau lihat tasku? Siapa yang bawak? Ke mana diba­wa­nya? (Kembali Musa mundar-mandir). Bahaya!… Mati aku, … cilaka…! Ya, Allah… (Musa terduduk sedangkan Jameng kebingungan dan ketakutan).

Jameng. Tadi saya lihat dibawa Ranta dengan bebe­rapa orang teman­nya, Gan.

Musa. (Berteriak) Bunuh si Ranta!… Rebut tas dan tong­katku! Hei, Meng, kau tidak tanya mau dibawa ke mana tasku?

Jameng. Tidak, Gan, saya takut. Cuma dari jauh dia ber­te­riak-teriak memang­gil-mang­gil saya sambil meng­a­cung­kan tas dan tong­kat Jur­a­gan, dia ber­te­riak: Hei, Meng! Lihat, nih, banda Jur­a­ganmu! Kau tahu apa isinya? Nyawa Jur­a­ganmu, nih!

Musa. (Berpikir kemudian tampak kesombongannya kembali, ia mencoba meredakan pikirannya dengan merokok lalu mundar-mandir. Ditengadahkannya mukanya ke atas kemudian tersenyum sombong dan mengejek). Hem… biar saja, … mau ke mana manu­sia seperti dia itu. Siapa yang mau per­caya sama orang jembel. Mau apa? Mau mela­por ke polisi? Aku kenal sama pem­be­sar­nya. Mau nge­lapor ke Koman­dan? Apa lagi! Pen­dek­nya tidak perlu takut, lagi­nya pak Koman­dan sedang ke kota! Heh… ke mana dia pergi masa bodoh, malah dia yang bisa dibui… (Mundar-mandir kemudian seperti ingat sesuatu siasat). Nah, aku lapor­kan saja lebih dulu, dia pen­curi, maling bibit karetku?!! Ah, pen­dek­nya beres. (Tapi tiba-tiba mukanya berubah. Sedang mulutnya gemetar, Musa kembali panik dan meraung). Tapi isinya… isinya tidak boleh ada yang tahu… lekas ambil tasku… tolong… ya Allah… tasku ada isinya… mati aku Meng, lekas cari,… kalau tidak kau aku bunuh! (Jameng bangkit kemudian berdiri seperti menanti sesuatu. Musa menggentak). Lekas, monyet! (Jameng pura-pura merogo pesaknya dengan senyum-senyum palsu pura-pura malu).

Jameng. Ong­kos­nya. Gan? Lagi­nya laporan yang kema­ren dulu belum dika­sih…

Musa. Apanya? (melotot).

Jameng. Uang jasa, Gan!

Musa. Setan! (merogoh pesak dan mengeluarkan beberapa lembar uang kemudian diberikannya dengan suara sombong dan memerintah). Nah! Pergi, lekas urus­kan sija­ha­nam itu! (Jameng menerima uang dengan gembira serta manggut-manggut kemudian dengan hormat yang berkelebihan keluar setengah berlari. Musa setelah tinggal sendirian berjalan mundar-mandir, sebentar duduk kemudian bangkit lagi. Tak lama dipanggilnya istrinya).

Adegan V

Musa. Nah! Inah! Sudah beres?

Nyonya. (istrinya) Apa yang sudah beres? Dari tadi aku masih belum meng­erti mak­sudmu?

Musa. (membentak) Goblok! Aku bilang kita mesti lari ke hutan!

Nyonya. Memang­nya biar dibu­nuh DI? (Acuh tak acuh, tapi tiba-tiba rupanya berubah dipandangnya Musa dengan penuh curiga, dengan suara berat tertahan). Atau… atau kau sen­diri… (bibirnya gemetar matanya tak berkedip).

Musa. (Musa terkejut kemudian dihampirinya istrinya, dan dengan suara halus membujuk) Kea­daan memaksa, Nah! Kau tidak ting­gal­kan aku, bukan?

Nyonya. (Nyonya diam tak menjawab, kepalanya ditundukkannya kemudian menangis. Dengan suara terisak-isak) Orang tuaku…… sau­da­raku, mati dibu­nuh gerom­bolan DI dengan kejam…… lalu rumahku habis diba­kar…… (Ditutupnya mukanya dengan kedua tangan dan menangis tersedu-sedu, dengan suara sedih terputus-putus meneruskan). Seka­rang, aku sen­diri berada disa­rang DI. Sua­miku sen­diri rupa­nya pemim­pin DI. (Menangis lebih keras). (Musa kebingungan, dicobanya menghibur istrinya).

Musa. Sudah­lah, sabar­kan hatimu. Per­ca­ya­lah, Tuhan senan­ti­asa melin­dungi asal kita tetap men­ja­lan­kan perin­tah­nya!

Nyonya. Apa mem­bu­nuh, meng­ga­rong, menyiksa orang dengan kejam seperti gerom­bolan Darul Islam itu perin­tah Tuhan? (Mulai melawan agak keras).

Musa. Jadi kau tidak per­caya pada Tuhan? (Nyonya diam dipalingkannya mukanya hingga menimbulkan Musa kesal. Nyonya bangkit kemudian berjalan agak menjauh dari Musa. Musa segera menghampiri dengan kasar ditarik istrinya hingga berhadap-hadapan. Kemudian Musa mengulangi bertanya dengan suara kesal). Kau tidak per­caya pada Tuhan? (ditatap-tatapnya istrinya dengan tajam).

Nyonya. (Berdaya melepaskan diri). Aku tidak ber­kata demi­kian! Tapi aku tidak per­caya per­bu­at­anmu itu perin­tah Tuhan! (berpaling).

Musa. (berteriak dengan kesal) Murtad! Kufur! Sia-sia punya bini tidak per­caya Tuhan! Ya Allah-allah ampuni ham­bamu yang sesat! (dipukul-pukulnya kepalanya dan ia mundar-mandir).

(Nyonya tetap berdiri membelakangi Musa dan agak menjauh, tak mengacuhkan perkataan suaminya. Musa bertambah marah). Tidak kusangka, kau yang selama ini alim, tidak pernah mem­ban­tah segala perin­tahku, rupa­nya cuma pura-pura! Huh, palsu, penipu!

Nyonya. (Cepat berbalik menantang Musa. Dengan tadan mengejek). Aku pun tidak menyangka, yang sua­miku orang kaya, dihor­mati, dita­kuti, rupa­nya seo­rang peme­ras, penipu! (Suaranya tambah meninggi)

Kau sebar uangmu supaya dita­kuti orang! Kau tipu mereka dengan ber­la­gak jadi orang besar, pada­hal kau sen­diri sebe­nar­nya seo­rang peng­khi­a­nat!

(Tambah maju mendekat mengejek). Kau yang sega­gah ini, sega­rang ini, sayang kebe­ra­ni­anmu cuma untuk mela­wan aku, memaki aku! Meng­ha­dapi seo­rang Ranta saja mesti menge­rah­kan orang-orang upah­anmu! (berbalik melengos) Hem… pem­be­sar rom­bengan! (lalu masuk).

Musa. (Dalam marahnya tapi agak terpaku dan terperanjat memperhatikan istrinya seberani itu melawan dia. Mukanya tampak kesal, malu, marah dan putus asa. Ia bingung tak tahu apa yang harus diperbuat. Diambilnya keris pusakanya lalu dijunjung dan diciuminya dengan mulut kumat-kamit. Tiba-tiba suara orang memberi salam dari luar. Musa terperanjat dan gugup lalu keris dimasukkan lagi ke dalam bajunya kemudian menuju ke pintu dengan ketakutan. Tak lama muncul seorang muda tinggi besar berkumis lebat dan bercambang. Di pinggangnya terselip golok yang agak panjang. Di ambang pintu ia memberi isyarat dengan tangan seolah-olah ada beberapa orang di luar yang sedang menantikan tugas daripadanya. Kemudian dengan memberi hormat secara militer kepada Musa ia pun masuk).

Adegan VI

Musa. (Seperti laku seorang yang sedang memberi tugas kepada anak buahnya).

Sudah kau siap­kan anak buahmu? (kemudian menyuruh duduk).

Kasan. Siap, Pak! Kami ting­gal tunggu perin­tah! Seka­rang juga mereka sudah menunggu di luar!

Musa. Bagus! (berjalan mundar-mandir seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu yang pelik).

Sen­jata?

Kasan. (Dengan gaya seorang jagoan menepuk-nepuk pinggangnya menunjukkan golok dan pistol yang disembunyikan di dalam sarungnya).

Pak Resi­den seperti tidak kenal Kasan! (menepuk dada) Pen­dek­nya beri tugas semu­a­nya beres!

Musa. Culik si Ranta dan rampas tasku seka­rang juga! Aku dalam bahaya, kalau perlu si Ranta kau……

Kasan. (Tertawa sambil mengangguk-ngangguk) Jangan kha­wa­tir. Pak! Seka­rang juga saya tamatin riwa­yat­nya. Pak Resi­den tidak perlu takut, serah­kan urusan ini ketangan Kasan.

Musa. Kalau begitu aku tidak perlu meng­ungsi (gembira).

Kasan. (Tertawa terbahak-bahak) Buat apa Pak Resi­den meng­ungsi segala? (mendekat) Tambah hari tambah kuat kedu­dukan kita di sini, Pak! (Mengubah siasat) Supaya tidak buang tempo, lebih baik seka­rang juga saya bere­sin si Ranta! (bergerak seperti mau keluar tapi tiba-tiba berhenti dan kembali menghampiri Musa) Oh, ya Pak, sedia uang jaminan buat anak-anak?

Musa. Berapa kau perlu?

Kasan. (Aksi menghitung-hitung sambil berpikir). Ya… kira-kira lima puluh ribu dulu cukup!

Musa. (Setelah mendengar jumlah yang diajukan agak melotot heran). Hah… kenapa begitu banyak?

Kasan. Kalau kita mau sela­mat ya musti berani ber­kor­ban. Lagi­nya apa arti uang sebe­gitu, diban­ding­kan dengan bahaya yang meng­an­cam Bapak seka­rang (aksi acuh-tak acuh) Tapi… ya, itu ter­se­rah sama Pak Resi­den. Pen­dek­nya ada lima puluh ribu, Pak Resi­den boleh hidup ten­te­ram. Kalau tidak, ya, saya tidak jamin!

Musa. (Terjepit bingung memilih sambil berjalan mundar-mandir mengulangi beberapa kali jumlah lima puluh ribu, sedangkan Kasan memperhatikan dengan gagah).

Kasan. (Mendesak) Bagai­mana, Pak? Kalau bapak ragu-ragu ya sudah, saya pulang saja (Cepat bergerak menuju pintu).

Musa. Jangan begitu, tolong aku! Tunggu seben­tar! (Musa masuk ke dalam tak lama keluar membawa bungkusan uang kemudian diserahkannya pada Kasan. Kasan menerima dengan mata berseri dan senyum puas, dibukanya sedikit lalu menghitung).

Kasan. (Hormat sebagai seorang militer kembali). Siap men­ja­lan­kan tugas! (di pintu Kasan memberi isyarat keluar kemudian menghilang).

Adegan VII

(Kembali Musa gelisah, mulutnya berkumat-kamit dan keris pusaka sebentar-bentar dicabut dan dijunjung seolah-olah meminta perlindungan. Di luar hari sudah mulai gelap. Tak lama Nyonya keluar dengan muka masam. Nyonya menyalakan lampu, sedangkan Musa masih tetap khusyuk dengan kerisnya. Nyonya melihat Musa sebentar kemudian melengos. Ketika itu Musa kebetulan melihat nyonya lalu menghampiri. Nyonya duduk di kursi, mukanya lesu sedih matanya memandang jauh kesatu jurusan. Musa menghampiri dengan pelahan, Nyonya tetap tak mengacuhkan, lalu Musa duduk di kursi menghela napas, mencoba menenangkan pikirannya yang sedang kusut. Ditatapnya istrinya dengan ragu).

Musa. Macam mana piki­ranmu, Nah? Menu­rut si Kasan kita tidak perlu ngungsi, tapi rasa­nya aku tidak bisa ten­te­ram di sini. (sedih) Pasti hidup kita ter­an­cam! (Nyonya diam tak memberi reaksi apa-apa). Per­ca­ya­lah Nah, di sana pun kau tidak ter­lan­tar, (Timbul kesombongannya kembali) Orang-orang di sana itu semua anak buahku, mereka musti meng­hor­mati kau, kalau tidak, kusu­ruh bunuh! Seba­lik­nya kalau kau ting­gal di sini, aku tidak bisa men­ja­min kese­la­mat­anmu! (Dari kejauhan terdengar suara ramai. Musa terkejut, matanya terbelalak dan gemetar. Nyonya pun terkejut lalu berdiri, ditatapnya Musa dengan mata ketakutan. Mereka berdua berpandangan, masing-masing membisu. Tiba-tiba Musa dengan gugup menarik tangan istrinya). Lekas! Bung­kus semua pakaian, kita mesti cepat lari! (Ditolaknya istrinya masuk ke dalam sedangkan Musa tinggal sendiri, gugup dan ketakutan, sebentar-bentar ia lari ke pintu kemudian duduk dan mundar-mandir lagi. Kemudian dengan suara tak sabar berseru). Sudah siap, Nah?

Nyonya. (dari dalam) Belum! Apa semu­a­nya diba­wak?! (Suara gugup ketakutan) Tem­pat­nya enggak cukup! (suara-suara pintu lemari dsb-nya terdengar ribut).

Musa. Goblok! (memukul-mukul kepalanya dengan kesal). Ya Allah…… lin­dung­i­lah kami…… (mulutnya terus berkumat-kamit sedang kedua belah tangannya menengadah mendoa, kemudian berhisteris). Aku bilang… leka­aas!!! (Kemudian nyonya muncul dengan muka kesal lalu duduk memberengut. Musa tambah kalap lalu menghampiri). Heh, perem­puan sialan! Orang dalam kea­daan begini kau enak-enakan duduk.

Nyonya. Kau cuma bisa ber­te­riak memaki-maki, kenapa tidak kau sen­diri yang mem­bung­kusi pakaian-pakai­anmu? (berpaling kesal).

Musa. (Semula hendak marah, tapi kemudian rupanya berubah seperti orang minta pertolongan). Tolong­lah aku, Nah! Cuma kau yang bisa meno­long, (tambah mendekat) aku ber­janji tidak akan menyia-nyi­a­kan kau. Ban­tu­lah aku, jangan ting­gal­kan aku sen­di­r­ian. (Menangis seperti orang ketakutan).

Nyonya. Baru tadi kau bilang aku perem­puan sialan! (Goyang-goyang kaki dikursinya).

Musa. Maaf­kan, Nah! (Seolah-olah hendak berlutut. Sementara itu suara-suara ramai di luar terdengar lagi dan sekarang suara itu terdengar lebih dekat. Kembali Musa terkejut ketakutan dan cepat menuju ke pintu, tak lama kemudian dihampirinya lagi istrinya dan berkata dengan suara menangis). Lekas­lah bung­kusi pakaian-pakaian, Nah! Kita dalam bahaya ini!! Lekas­lah!

Nyonya. Suruh saja anak buahmu! (Marah manja) Aku kan perem­puan sialan??? (Melengos).

Musa. Jadi, betul-betul kau sudah tidak mau turut perin­tahku lagi??? Kau tega meng­khi­a­nati lakimu sen­diri, Nah? (Sedih putus asa. Nyonya melihat hal itu, lalu mempergunakan siasat untuk kepentingannya sendiri, karena ia tahu kemenangan ada di tangannya).

Nyonya. Aku tidak suka meng­khi­a­nati sua­miku sen­diri, asal… segala per­min­ta­anku kau kabul­kan (Suara manis sambil mengerling).

Musa. Demi Allah, Nah, aku tidak akan sia-siakan kau, segala per­min­ta­anmu kuka­bul­kan, asal tidak ting­gal­kan aku. Bilang­lah!

Nyonya. (Sambil melenggok) Aku tidak minta apa-apa, cuma jangan aku disa­ma­kan sama perem­puan-perem­puan kam­pung yang lain. (Dengan gaya sombong) Aku bukan perem­puan sem­ba­rangan, bukan perem­puan pasaran, aku kelu­aran SKP. Dan… aku sudah tidak kuat hidup dimadu seperti seka­rang!

(Terdengar suara ramai-ramai lagi di luar, Musa bingung).

Musa. Ya… aku ber­sum­pah tidak akan menyia-nyi­a­kan kau, semua biniku kuce­rai­kan, (Suaranya gugup karena mendengar ramai-ramai di luar. Tambah lama tambah gugup dan panik sambil mundar-mandir).

Nyonya. Kapan-kapan? (Manja).

Musa. Sudah­lah, jangan banyak omong! (melotot)

Lekas ambil bung­kusan, kita mesti lari seka­rang juga! (Ditariknya tangan istrinya dengan kasar).

Nyonya. Baru saja kau ber­sum­pah tidak akan menyia-nyi­a­kan aku, seka­rang sudah melo­tot-lotot (Merajuk).

Musa. Perem­puan jaha­nam! Dikasi hati tambah beting­kah! Ya Allah… ya Rabi… menye­sal punya bini macam begini (Memukul-mukul kepalanya) Hayo, lekas!!! Apa kau minta kubu­nuh?!! (Berteriak sambil mencabut keris, ditariknya tangan istrinya dengan keras hingga istrinya tersungkur).

Nyonya. Lepas­kan!!! (Berteriak sambil meronta melepaskan diri). Cerai­kan aku! Tidak perlu kau meng­an­cam mem­bu­nuh aku! Bunuh Ranta kalau memang kau berani! (Musa dengan muka buas mendekati, kemudian hendak mencekik istrinya. Istrinya lari berteriak minta tolong sambil memaki menyumpah-nyumpah). Tolong! Tolong! Aku lapor­kan kau pemim­pin DI! Biar kau ditang­kap, dibu­nuh! (Berlari-lari menjauhkan diri sedangkan Musa bertambah kalap, lalu mereka berkejar-kejaran, kemudian Musa berhasil menangkap tangan istrinya, ketika tangan Musa melayang hendak menempeleng, istrinya teriak lebih keras). Tolong!!! (Beberapa kali). Ada D.I. (Musa sudah tambah kalap kesetanan, ditamparnya istrinya sekuat-kuatnya hingga istrinya jatuh tersungkur keluar pintu).

Adegan VIII

(Musa memburu, tapi tiba-tiba seorang Komandan TNI jongkok menolong menegakkan istri Musa dengan tenang. Nyonya heran tercengang, sedangkan Musa gugup).

Komandan. Boleh saya tolong nyonya? (Tenang tersenyum dengan sopan).

Musa. Pak Koman­dan? (Gugup) Sila­kan masuk, Pak!

Komandan. (Komandan setelah menolong menegakkan istri Musa lalu masuk. Istri Musa mengikuti masuk dengan keheran-heranan dan agak ketakutan. Musa membetul-betulkan kursi untuk menyembunyikan kegugupannya. Komandan tetap tenang).

Maaf, saya meng­ganggu, Tuan Musa. Kebe­tulan saya datang rupa­nya sedang ada “per­tem­puran” di sini? (Senyum menyindir, tapi tetap tajam memperhatikan gerak-gerik Musa).

Musa. Ah, tidak apa-apa, Pak! Sila­kan duduk! (Gugup menarik kursi mempersilakan).

Komandan. Terima kasih! (Duduk).

Musa. Nah! (Pada istrinya yang masih terpaku berdiri di belakang). Sedi­a­kan minuman buat Pak Koman­dan! (Istrinya hendak masuk, tapi cepat Komandan melarangnya).

Komandan. Tidak usah repot-repot Tuan Musa! Keda­tangan saya hanya untuk men­ja­lan­kan tugas! (Kepada Nyonya) Duduk saja di sini, Nyonya! (Nyonya duduk di kursi yang terletak di belakang. Sementara itu beberapa orang prajurit tampak mundar-mandir di luar pintu dengan bayonet terhunus. Musa gelisah ketakutan, Komandan memperhatikan dengan tajam).

Musa. Sila­kan mero­kok, Pak! (Berusaha menyembunyikan kegugupannya).

Komandan. Terima kasih! (Menolak dengan sopan).

Musa. Ada urusan pen­ting rupa­nya, Pak? Tidak bia­sa­nya Pak Koman­dan datang kemari, apa perlu ban­tuan saya, Pak?

Komandan. Ya… memang kami sangat meng­ha­rap­kan ban­tuan Tuan! Saya rasa Tuan Musa tidak kebe­ratan bukan?

Musa. Sudah tentu… sudah tentu, Pak! (Kelihatan hilang cemasnya dan mulai timbul kesombongannya). Pen­dek­nya apa saja yang Pak Koman­dan per­lu­kan ban­tuan dari saya, saya siap sedia! Pak Koman­dan kan tahu, penga­ruh saya pada orang-orang kam­pung di sini.

Komandan. Ya, justru karena itu saya kemari, karena penga­ruh Tuan Musa yang begitu besar hingga menim­bul­kan kecu­r­i­gaan di pihak kami.

Musa. Curiga? (Memandang heran).

Komandan. (Cepat memotong) Ya… curiga

Musa. Sebab­nya?

Komandan. Tuan Musa tentu tahu, daerah sini sudah lama tidak aman. Gerom­bolan Darul Islam terus-mene­rus meng­ga­nas, meng­ga­rong, meng­ge­dor dan mem­ba­kari rumah rakyat, sampai kelu­arga yang paling miskin tidak luput dari kebi­a­dab­an­nya. Tapi aneh­nya, Tuan Musa yang begini kaya tidak pernah diganggu oleh mereka. Kenapa? (Menatap dengan tajam).

Musa. Kenapa hal itu Pak Koman­dan mesti curiga?

Komandan. Dulu, dulu memang kami curiga, tapi seka­rang tidak lagi!

Musa. Nah, kalau begitu buat apa Pak Koman­dan datang dengan mem­bawa anak buah? (Dengan gaya seorang pembesar yang sombong).

Komandan. (Cepat memotong) Buat menang­kap Tuan!

Musa. (Musa terbelalak menjerit geram, dengan membanting kaki). Tidak! Aku tidak perlu ditang­kap! Tidak mung­kin… tidak mung­kin! Tuan Koman­dan sudah melang­gar per­a­turan, menu­duh orang tanpa bukti! (Prajurit di luar dengan serentak bersiap menjaga sekitarnya. Nyonya berdiri seperti patung. Musa seolah-olah mencari jalan hendak melarikan diri, sedangkan Komandan tetap tenang).

Komandan. Kami tidak akan menang­kap orang yang tak ber­sa­lah, Tuan Musa. Dan kami tidak menu­duh orang dengan sem­ba­rangan sebe­lum bukti-bukti berada di tangan kami!

Musa. Kalau begitu kenapa saya musti ditang­kap? (Kemudian seperti baru teringat) Oh, barang­kali Koman­dan men­de­ng­ar­kan per­ke­laian saya tadi dengan istri saya. Memang tadi dia ber­te­riak menga­ta­kan saya pem­be­sar DI, tapi tuduhan seo­rang yang sedang ber­ke­lai, tidak bisa dija­di­kan seba­gai bukti. Dan sebe­tul­nya Tuan Koman­dan tidak perlu men­cam­puri urusan per­ke­laian rumah tangga orang.

Komandan. (Membentak) Cukup! Tidak perlu men­cari-men­cari alasan mem­bela diri! (Kemudian memberi isyarat pada prajurit-prajurit. Prajurit-prajurit tegak memberi hormat, Komandan memberi perintah). Gele­dah semua! (Suara Prajurit-prajurit dengan serempak) SIAP! (Mereka berpencar, sebagian masuk ke dalam ke sebelah kanan dan sebagian ke sebelah kiri, dan sebagian menjaga pintu. Musa seperti kesetanan, panik ketakutan, matanya liar mengawasi sekitarnya. Kemudian dilihatnya istrinya yang sedang terpaku ketakutan di pojok lalu Musa melotot dan berteriak).

Musa. Kau yang sialan, jaha­nam! Aku bunuh kau! (Menghampiri istrinya dengan buas. Komandan memberi perintah pada prajurit-prajurit yang berada di situ).

Komandan. Tang­kap! (Dua orang prajurit dengan gesit menangkap tangan Musa. Musa berteriak-teriak).

Musa. Lepas­kan aku… lepas­kan… aku tidak mau ditang­kap… aku tidak ber­sa­lah! Perem­puan itu yang peng­khi­a­nat! (Tapi Musa sudah tidak bisa bergerak lagi, kedua tangannya dipegangi dengan kuat, lalu Komandan memeriksa kantong dan lain-lainnya yang perlu, tiba-tiba Komandan menemukan keris yang terselip dipinggangnya dibagian dalam baju. Musa marah berteriak lagi setelah melihat kerisnya diambil). Jangan pegang keris pusa­kaku! Kualat! Lagi­nya buat apa rumahku dige­le­dah, tidak ada apa-apa di sini, tidak ada sen­jata, yang ada cuma keris pusaka itu! (Komandan memberi isyarat pada kedua prajurit yang memegangi Musa supaya dilepaskan. Setelah terlepas Musa dengan suara memohon kepada Komandan). Kem­ba­li­k­an­lah keris itu, Pak. Itu warisan dari lelu­hur saya.

Komandan. Buat apa keris pusaka mesti dibawa-bawa, Tuan Musa?

Musa. Supaya piki­ran ten­tram, Pak!

Komandan. Oh, rupa­nya Tuan Musa selalu merasa tidak ten­tram, ya? Kenapa? (Musa tunduk, kemudian dengan suara menghiba).

Musa. Per­ca­ya­lah, Pak, saya tidak ber­sa­lah. Demi Allah tidak ada hubungan saya dengan Darul Islam. Kalau ada tuduhan, itu cuma fit­nahan orang-orang yang iri hati karena saya kaya. (Kemudian kepada istrinya) Aku­i­lah, Nah, bilang terus terang, aku bukan DI. Kau tadi cuma main-main. (Nyonya yang sedari tadi kebingungan sekarang baru menyadari benar-benar, bahwa suaminya dalam bahaya, kemudian dengan langkah ragu-ragu dihampirinya Komandan yang tetap mengawasi segala gerak-gerik mereka).

Nyonya. Jangan tang­kap suami saya, Pak, dia tidak ber­sa­lah, dia bukan orang jahat, bukan DI. Pak! Tadi saya cuma main-main.

Komandan. (Tersenyum) Saya sangat meng­har­gai sifat Nyonya, seba­gai seo­rang istri memang sudah sepa­tut­nya mem­bela suami, tapi bagai­mana Nyonya tahu suami Nyonya bukan seo­rang pemim­pin DI?

Adegan IX

(Nyonya diam tertunduk sebentar, dipandangnya suaminya dengan pandangan belas kasihan, kemudian menangis. Sementara itu dari dalam sebelah kiri keluar prajurit-prajurit dan dengan sikap secara militer menghadap dan melaporkan pada Komandan).

Prajurit I. Semua telah kami periksa, tapi tidak ter­da­pat sesu­atu yang mem­ba­ha­ya­kan! Laporan sele­sai!

Musa. (Musa dengan muka berseri-seri menghampiri Komandan). Apa saya bilang, Pak, saya tidak menyim­pan apa-apa yang mem­ba­ha­ya­kan, jadi tidak ada alasan saya ditang­kap.

Komandan. (Membentak) Diam! (Memerintah) Ting­gal tetap di situ, jangan ber­ge­rak. (Dari sebelah kanan keluar beberapa orang prajurit di antaranya ada yang membawa bungkusan. Dan dengan sikap sebagai militer memberi laporan).

Prajurit II. Peme­rik­saan sele­sai! Kami hanya mene­mu­kan bung­kusan ini! (Meletakkan bungkusan).

Komandan. Sudah dipe­riksa isinya?

Prajurit II. Sudah, Pak. Cuma pakaian dan sebuah kotak yang berisi barang-barang per­hi­asan dan bebe­rapa keping emas.

Komandan. Bawa semua barang-barang itu ke markas!

Musa. Tidak! Jangan dibawa, itu bukan barang curian!

Komandan. Diam! Lebih baik akui terus-terang hubung­anmu dengan gerom­bolan!

Musa. Apa yang musti saya akui, Pak. (Lemah) Demi Allah saya…

Komandan. Cukup! Jangan sebut-sebut nama Tuhan! (Tambah geram) Tuhan kau per­ma­in­kan, agama kau nodai, tanah airmu sen­diri kau per­jual-belikan.

Musa. Jangan menu­duh orang dengan mem­babi-buta begitu saja. Saya tidak pernah meno­dai agama, seba­gai umat Islam saya patuh akan ajaran agama dan taat men­ja­lan­kan perin­tah Tuhan. (Agak keras melawan).

Komandan. Tuan Musa, saya seba­gai seo­rang Koman­dan, seba­gai seo­rang alat negara, kewa­ji­ban saya hanya untuk menye­la­mat­kan tanah air dan bangsa dari segala macam gang­guan yang menga­cau­kan kea­manan negara, dan melin­dungi rakyat. Itulah tugas utama bagi saya seba­gai seo­rang alat negara, bukan untuk ber­de­bat ten­tang soal agama. Tapi seba­gai manu­sia biasa, per­ke­nan­kan­lah saya seka­rang mene­rang­kan dengan tegas, bahwa cara agama yang tuan jalan­kan seka­rang adalah ber­ten­tangan dengan hukum-hukum Islam yang sesung­guh­nya. Tuhan tidak mem­be­da­kan umat­nya antara si miskin dan si kaya. Tuhan tidak menyu­ruh umat­nya ber­buat kejam seperti yang dila­ku­kan oleh Darul Islam. Tuhan menyu­ruh umat­nya supaya ber­satu, bukan untuk ber­pe­cah-belah, saling garong dan bunuh-bunuhan. (Komandan bicara dengan tenang. Sesaat panggung sunyi, semua mata tertunduk, hanya Komandan yang dengan tenangnya memperhatikan Musa. Tiba-tiba Musa memecah kesunyian).

Musa. Tapi saya bukan gerom­bolan, saya bukan orang DI. Kenapa saya musti ditang­kap?

Komandan. (Komandan kembali sebagai seorang militer, menjawab dengan singkat tapi tegas).

Tuan memang bukan orang DI, tapi pemim­pin DI yang meng­ga­rong dan meme­ras rakyat di daerah sini!

Musa. Tidak (melawan) Mana buk­ti­nya?

Komandan. Oh, jadi tuan minta bukti? Baik! (kepada seorang prajurit) Suruh Ranta dan kawan-kawan­nya masuk!

(Setelah memberi hormat prajurit yang diperintahkan lalu keluar. Musa gelisah berpandang-pandangan dengan istrinya).

Nyonya. Bawa aku ke mana pun juga, aku sudah tidak punya teman lagi di sini. (dipeluknya Musa sambil menangis).

Komandan. Sabar nyonya, kami hanya menang­kap orang yang ber­sa­lah dan melin­dungi orang yang baik. Da lam hal ini saya meng­erti bahwa nyonya tidak tahu-menahu ten­tang hubungan suami nyonya dengan gerom­bolan. Tenang­lah!

Nyonya. Tapi dia suami saya, dia orang baik, kenapa musti ditang­kap (Menangis lebih keras).

Komandan. Seba­gai seo­rang suami mung­kin dia baik, tapi bagi negara dan rakyat dia adalah seo­rang peng­khi­a­nat, seo­rang algojo yang kejam!

Adegan X

(Ranta cs. Masuk diantar atau dikawal oleh seorang prajurit yang membawa tas dan tongkat Musa. Ranta berhenti di pintu, Musa memandang geram dan berusaha hendak lari. Pelukan istrinya dilepaskan hingga istrinya terhoyong-hoyong hampir jatuh. Cepat dua orang prajurit memegang Musa).

Komandan. (Kepada Ranta cs) Terus masuk! Coba lihat tuan Musa, apa itu bukan tas Tuan?

(Musa melihat sebentar kemudian tertunduk lagi. Sesaat sunyi tak ada jawab. Lalu komandan kepada nyonya).

Ha, barang­kali Nyonya bisa menge­nali, apakah ini betul tas suami nyonya? (Nyonya memperhatikan kemudian melihat kepada Musa lalu kembali tunduk. Kembali panggung sunyi. Kemudian Komandan berpaling pada Ranta). Siapa punya tas itu, Ranta?

Ranta. Jur­a­gan Musa, pak.

Komandan. Dari mana kau dapat ini?

Ranta. Di pela­taran rumah saya, Pak. Tadi sudah saya lapor­kan duduk per­ka­ra­nya.

Komandan. Yaya… (Kemudian kepada Musa).

Per­ha­ti­kan betul Tuan Musa, apa betul tas itu kepu­nyaan tuan?

Musa. Ya… memang itu tas saya yang hilang… Dia yang curi rupa­nya! Tang­kap! Memang dia pen­curi… suka nyo­long bibit karet saya!

Komandan. Tenang! (menghardik).

Ranta. Tidak, Pak Koman­dan! Saya tidak curi tas ini, sak­si­nya ada, bapak boleh periksa.

Komandan. (kepada Musa) Kenapa tadi diam saja tidak mau meng­a­kui tas itu Tuan punya?

Musa. Tadi belum berapa jelas, Pak, maklum gelap. Tapi… tas itu kosong tidak ada isinya apa-apa Pak!

Komandan. Diam! Saya tidak bicara ten­tang isinya, kenapa sudah men­da­hu­lui. Curiga?

Musa. Ya… saya curiga Pak, kha­wa­tir kalau ada orang yang jail tarok apa-apa buat mem­fit­nah saya.

Ranta. Tidak betul, Pak! Saya tidak buka-buka, begitu saya pungut terus saya dengan bini dan teman-teman saya nge­lapor ke Markas, Bapak sen­diri yang buka.

Musa. Bohong dia Pak!

Komandan. Jadi siapa yang mema­suk­kan surat-surat raha­sia DI itu ke dalam­nya!

Musa. Wal­la­hu­a­lam, Pak. (Mendengar itu Komandan hilang sabarnya dihampirinya Musa kemudian dengan geram ditamparnya hingga Musa hampir tersungkur).

Komandan. Peng­khi­a­nat! Memang­nya setan yang mema­suk­kan? Jawab, terus terang! Siapa yang masuk­kan surat-surat raha­sia Darul Islam itu (Musa diam tertunduk, tiba-tiba dari luar terdengar bunyi tanda ada bahaya. Semua prajurit melihat keluar bersiap-siap lalu komandan memberi perintah).

Semua ber­se­m­bu­nyi! Ada orang datang! (Prajurit-prajurit berpencaran kemudian Komandan kepada Musa).

Kau mesti sambut tamumu seperti tidak ada apa-apa. Kalau kau ber­te­riak atau lari, aku tembak dari bela­kang pintu. Meng­erti? (Komandan sambil mengambil keris pusaka yang terletak di atas meja berkata pada nyonya).

Nyonya, kalau mau sela­mat turut perin­tah saya! Kalau tidak kami bisa tembak kalian dari balik pintu.

(Terus bersembunyi. Tinggal sekarang Musa dan istrinya saling berpandangan. Tiba-tiba terdengar dari luar suara orang memberi salam).

Adegan XI

Assa­la­mu­a­lai­kum!

(Musa dan istrinya serentak menjawab).

Musa & Nyonya. Alai­kum salam! (Di pintu tampak seorang laki-laki setengah umur, berbaju dan bercelana hitam, ikat kepalanya batik dan berkain garut. Dipinggangnya tampak menonjol sebuah revolver, talinya terbuat daripada plinan benang sutera berwarna hijau dan kuning. Juragan Musa menyambut dengan segannya).

Musa. Oh, Lurah? Masuk! (Lurah masuk dan terus duduk. Musa kelihatan kegelisahannya matanya liar. Lurah tak memperhatikan perubahan-perubahan yang tampak pada Musa, Sambil duduk terus saja bicara).

Lurah. Menu­rut laporan dari bagian penye­li­dik kita, Pak Koman­dan sedang cuti ke kota dengan bebe­rapa orang penga­wal­nya. Jadi seba­ik­nya Pak Resi­den segera ber­tin­dak malam ini juga kita serbu markas ten­tara itu. Mereka hanya 10 orang. Kita bisa serang dan grop­yok cukup dengan 20 orang saja. Bagai­mana piki­ran Pak Resi­den? (Musa yang sejak tadi seperti orang kena bius, mendadak bangkit sambil memukul meja dengan keras dan dengan melotot dihardiknya Lurah yang sedang menggulung-gulung daun kaung hingga ia terkejut).

Musa. Tutup mulut! Peng­khi­a­nat! Siapa yang kau sebut Pak Resi­den? Siapa? (berteriak lebih keras).

Lurah. (menghampiri) Apa Pak Resi­den lagi sakit? Maaf saja, Pak! Keda­tangan saya cuma men­ja­lan­kan tugas, yaitu mela­por­kan kea­daan yang Pak Resi­den, eh maaf, Jur­a­gan Musa perin­tah­kan. Kalau Jur­a­gan takut dan ragu-ragu, baik­lah akan saya pimpin sen­diri pasukan kita untuk meng­a­da­kan penyer­buan malam ini!

Adegan XII

(Tanpa menanti jawab. Lurah terus memberi hormat, bersaluir secara militer terus keluar. Musa terpaku tak berkutik. Tiba-tiba muncul Komandan dari tempat persembunyiannya dan segera menghampiri Musa dengan gaya menirukan Lurah, Komandan berkata dengan mendesak).

Komandan. Jadi, bagai­mana, pak Resi­den? Belum juga mau meng­aku? Apa masih mau ber­san­di­wara? (Musa tunduk tak menjawab. Melihat ini Komandan tambah geram lalu dengan menghardik).

Jawab!

(Musa dengan lemah menjawab).

Musa. Apa yang musti saya jawab, Pak. Lurah itu memang sete­ngah gila, kadang-kadang dia menye­but saya Resi­den, kadang-kadang Pre­si­den, jadi bagai­mana saya musti meng­ha­dapi orang sema­cam itu.

Komandan. Sudah tiga bukti menya­ta­kan, kau pemim­pin DI. Per­tama-tama istrimu sen­diri. Kedua surat-surat raha­sia dalam tasmu. Ketiga Lurah tadi dengan jelas menye­but kau Pak Resi­den. Masih juga mung­kir? (Kemudian kepada anak-buahnya memerintah). Bawa separo anak-buah ini dan separo dari OKD1 yang ada di luar. Jebak gerom­bolan yang mau menye­rang markas! Bina­sa­kan kalau tidak mau menye­rah! Segera! (Setelah menerima tugas memberi hormat dan kemudian beberapa orang dari mereka terus keluar. Panggung sunyi, semua yang ada tunduk terdiam, hanya Komandan berjalan mundar-mandir seperti sedang memikirkan sesuatu siasat. Di luar terdengar derap kaki. Setelah derap kaki terdengar semakin menjauh, Komandan berkata pada Musa). Aku masih tetap bisa ber­sa­bar meng­ha­dapi kau, tapi kalau ter­de­ngar nanti ada suara per­tem­puran, kau tahu sen­diri! (Musa tak menjawab tampak putus asa dan gemetar. Tiba-tiba Komandan berkata lagi). Patut di daerah sini tidak pernah aman, rupa­nya ter­nyata Lur­ah­nya sen­diri yang meng­khi­a­nati rak­yat­nya, dan kau biang­ke­la­di­nya! Dengan tamakmu seba­gai tuan tanah kau per­la­ku­kan rakyat seperti sapi perahan. Kau peras, kau tipu rakyat dengan kejam hanya untuk kepen­tingan dirimu sen­diri. Rupa­nya itu pun belum cukup puas! Kau khi­a­nati mereka, kau khi­a­nati per­ju­angan bangsa dan rakyat! Itukah yang kau­na­mai perin­tah Islam? (Musa tambah tertunduk, kembali panggung sunyi, hanya langkah Komandan jua yang terdengar mundar-mandir. Kemudian terdengar kembali suara dari luar menandakan ada beberapa orang mendatang. Kembali Komandan memberi isyarat kepada anak-buahnya untuk bersembunyi, dan sambil mengacungkan pistol ke muka Musa). Laku­kan perin­tahku seperti tadi! Sambut gerom­bol­anmu seperti kau menyam­but lurah jaha­nam itu tadi! Kalau mem­ban­tah, ini! (Menodongkan pistol kedada Musa dan segera bersembunyi. Tak lama tampak di pintu beberapa gerombolan yang dikepalai oleh Kasan. Melihat ini Musa tambah seperti orang gila kemudian seperti orang mencari jalan untuk melarikan diri. Nyonya cepat menarik tangan Musa sambil berteriak-teriak).

Nyonya. Tak mung­kin kau ting­gal­kan aku! (Digantunginya Musa sambil meronta-ronta).

Musa. (Musa tambah kalap) Lepas­kan aku, setan! Perem­puan sialan!

Adegan XIII

(Kasan cs. Melihat kejadian itu mengira hanya perkelahian biasa antara suami-istri. Dengan cara memisah Kasan masuk).

Kasan. Sabar, Pak, Sabar Pak Resi­den!

Musa. Diam! Pergi semua! Pecah­kan kepala perem­puan kepa­rat itu!

Kasan. Kami datang untuk mela­por­kan tugas yang dipe­rin­tah­kan pada kami, (hormat secara militer). Laporan! Ranta tidak ada di rumah. Tas dan tong­kat Pak Resi­den tidak dapat kami temu­kan. Rumah­nya sudah kami…

Musa. Per­se­tan sama rumah­nya (meraung gila).

Kasan. (Kasan tanpa memperdulikan Musa meneruskan laporannya). Kami bong­kar pintu dan perik­sai di dalam­nya, tapi tidak ada apa-apa. Jadi rumah itu kami bakar!

Musa. Apa, Siapa yang suruh bakar rumah si Ranta, ha?

Kasan. Pak Resi­den sen­diri meng­an­jur­kan: bakar rumah-rumah rakyat yang seki­ra­nya men­cu­r­i­ga­kan! Per­be­sar perang urat syaraf untuk meme­cah-belah rakyat! Kami hanya men­ja­lan­kan tugas.

Musa. Siapa yang kau maksud dengan pak Resi­den, monyet? (Sambil maju menantang Kasan, Kasan melihat ini mundur heran sedang Musa terus mendesak sampai mereka berhadap-hadapan. Musa berteriak dengan seluruh suaranya yang dipunyainya. Kasan memandang heran penuh tanya). Jawab! Siapa yang kau maksud dengan pak Resi­den, ha?

Kasan. Pak Resi­den sen­diri.

Musa. Aku? Mulai kapan aku diang­kat peme­rin­tah jadi Resi­den? (Kasan tambah heran. Ditatapnya anak-buahnya satu persatu seperti meminta jawab, sedangkan anak-buahnya masih tercengang seperti terbius. Musa bergegas hendak melarikan diri. Tapi baru saja sampai di pintu Musa terjatuh. Dengan gugup dan terhoyong-hoyong Musa kembali keruangan sambil mengusap-usap mukanya yang kesakitan dan matanya liar ketakutan. Kasan melihat itu segera memburu hendak menolong).

Kasan. Sudah ingat, Pak Resi­den? Boleh saya tolong?

Musa. Apa kau juga sudah gila seperti Lurah? Sudah berapa kali kau pang­gil aku Pak Resi­den, setan!

Kasan. (Kasan melihat keadaan yang serba membingungkan itu segera mengambil keputusan lalu memerintahkan pada anak-buahnya). Hayo! Lebih baik kita pulang!

Musa. Pulang? Pulang ke mana, gila? Ayo, jelas­kan seka­rang juga, aku bukan Resi­den. Bilang… bilang! Aku bukan Resi­den. Bukan! Lekas! Dan bilang bukan aku yang suruh bakar rumah si Ranta!

(Kasan tambah bingung, tapi kemudian tak menghiraukan Musa. Segera memberi isyarat pada anak-buahnya kemudian mereka pun keluar. Persis di pintu prajurit-prajurit sudah siap mengepung dengan bayonet terhunus. Komandan berserta anak-buahnya yang berada di dalam keluar dan segera Komandan menggertak).

Adegan XIV

Komandan. Angkat tangan! Menye­rah! (Kasan dengan gesit melompat keluar, tapi ia tersungkur masuk ke dalam perangkap yang sudah disiapkan. Kasan berusaha mengadakan perlawanan, dicabutnya pistolnya, tapi dengan cepat Komandan menembak tepat pada tangannya). Ikat semua dan rampas sen­jata-sen­ja­t­a­nya!

(Dengan serentak para prajurit menjalankan tugasnya. Gerombolan diikat dijadikan satu dan semua senjata yang mereka bawa dirampas dan dikumpulkan oleh prajurit yang memeriksa. Kemudian Komandan memerintahkan untuk mengikat Musa yang sejak tadi berdiri melongo dengan ketakutan. Musa diikat dan digiring disatukan dengan tangkapan yang lainnya sambil menangis Musa berteriak memohon).

Musa. Ampun­i­lah saya, Pak Koman­dan. Ya Allah…… lin­dung­i­lah ham­bamu (menangis tapi tak seorang yang menghiraukan. Sedang Nyonya dengan mata terbelalak dan mulut ternganga tak bersuara tiba-tiba rebah pingsan).

Komandan. (pada Ranta cs.) Tolong angkat, bawa ke dalam! (Ranta cs. Segera mengangkat dan dibawa ke dalam. Komandan memberi perintah pada prajuritnya). Bawa semua tawanan ke markas dan masuk­kan ke sel 8. Musa pisah­kan sen­diri di sel 16.

Serentak. Siap! (Terus menggiring tawanan keluar. Tiba-tiba Komandan berseru).

Komandan. Cepat kirim bebe­rapa orang pra­ju­rit dan OKD buat jaga seki­tar sini!

Serentak. Siap! (Mereka semua meng­hi­lang ting­gal Koman­dan ber­diri mundar-mandir. Seke­tika pang­gung sunyi, tak lama tampak Ranta cs. (kecuali Ireng) keluar. Koman­dan meng­ham­piri Ranta dengan ter­se­nyum puas kemu­dian mene­gur dengan ramah).

Adegan XV

Komandan. Bagai­mana, masih belum sadar nyonya Musa?

Ranta. Belum, Pak! Tapi bini saya lagi masakin air panas buat cacap.

Komandan. Ranta, (sambil mengulurkan tangan) atas nama peme­rin­tah, saya sam­pai­kan terima kasih yang kau telah mem­bantu kami mem­basmi kawanan gerom­bolan di daerah sini. Mudah-mudahan, dan ini saya yakin, berkat ban­tuan dan ker­ja­sama antara rakyat dan ten­tara kita dapat meng­a­man­kan daerah ini kem­bali. (Komandan menggenggam erat tangan Ranta dengan tersenyum puas. Ranta tunduk kemalu-maluan, sedangkan kawan-kawannya pedagang singkong cs. Dengan melonjak-lonjak kegirangan sambil bersorak-sorak).

Pedagang I. Aman… aman…, aman dah bung!

Aman!

Pedagang II. Pen­dek­nya kita tidak usah takut lagi bebek kita dico­long DI, rumah kita diba­kar gerom­bolan.

Pedagang I. Kita bisa dagang enggak takut dir­am­pas barang dagangan kita.

Ranta. Jangan ter­buru-buru kegi­rangan, kawan-kawan! Biar Jur­a­gan Musa sudah ketang­kap, itu belum ber­arti daerah ini sudah sera­tus persen aman.

Komandan. Betul, Ranta! Bukan hanya Musa yang mem­ba­ha­ya­kan, tapi masih banyak lagi kaki tangan­nya yang dengan sengaja menga­cau­kan keter­tiban negara. Kita musti tetap was­pada. Dari itu, kita musti ber­satu. Hanya dengan sema­ngat per­sa­tuan antara rakyat dan alat-alat negara, baru dapat kita meng­u­sir musuh dari luar dan dalam, yang dengan sengaja hendak meno­dai bangsa dan tanah-air yang kita cintai. (Semua diam hening mendengarkan. Di pintu berdiri beberapa OKD dan beberapa orang rakyat tua muda, Semua mereka memandang ke dalam dengan pandangan puas dan berterima kasih).

Komandan. Bagai­mana Ranta, kalau saya usul­kan pada peme­rin­tah, kau men­jadi Lurah di sini semen­tara menunggu pemi­l­ihan umum. Saya per­caya kau tentu tidak meno­lak, dan pasti rakyat di sini pun menye­tu­ju­i­nya. Bagai­mana?

(Dengan serentak suara dari luar menyahut: “SETUJU!” beberapa kali. Komandan dan Ranta cs. Agak terkejut. Sedang rakyat dan OKD terus masuk kemudian memberi salam pada Ranta). (Ketika itu tampak Ireng keluar dengan keheran-heranan melihat suaminya dikerumuni dan disalami. Ireng kemudian maju mendekat tapi tetap diam tak berkata dan bertanya. Kemudian Ranta dengan agak kemalu-maluan).

Ranta. Saya sangat ber­te­rima kasih kepada Bapak Koman­dan dan Sdr-sdr semua, yang telah meng­ang­kat saya jadi Lurah di sini. Saya ber­u­saha sekuat saya buat men­ja­lan­kan tugas. Tapi, saya ini orang bodoh, kalau Pak Koman­dan mau terima saya ada usul. (Komandan senyum mengangguk. Ranta meneruskan) Begini, Pak, seperti bapak sudah tahu sen­diri, rakyat di sini ter­ma­suk saya, hampir semua bodoh-bodoh dan buta huruf. Bagai­mana kalau misal­nya dia­da­kan per­te­muan seminggu sekali antara bapak dengan pen­du­duk setem­pat buat kasi pene­rangan dan pel­a­jaran-pel­a­jaran yang perlu, supaya kami ini tidak terus-mene­rus ditipu sama orang-orang seperti Musa.

Suara serentak. Akor! Setuju! Betul itu!

Komandan. Usul yang sangat baik, Ranta! Memang seha­rus­nya begitu! Ten­tara bukan saja untuk men­jaga kea­manan dan melin­dungi rakyat, tapi juga sudah seha­rus­nya mem­be­ri­kan pene­rangan-pene­rangan seper­lu­nya kepada rakyat. Baik, usul itu saya terima!

Ranta. Terima kasih, Pak! (Kemudian kepada kawan-kawannya). Nah, sau­dara-sau­dara semua sudah dengar usul saya dite­rima. Saya harap sau­dara-sau­dara men­ta­at­i­nya, (Seperti berpidato).

Sau­dara-sau­dara,

Kalau kita semua tidak bodoh seperti seka­rang, sudah tentu hidup kita tidak begini. Tidak gam­pang kita ditipu dan dipe­ras seperti yang kita rasa­kan seka­rang. Kita bisa memi­lih dan mem­be­da­kan siapa pemim­pin yang jujur, betul-betul mem­per­ju­ang­kan nasib kita, dan siapa pemim­pin palsu yang ker­ja­nya cuma menipu dan mem­per­alat kita.

Sau­dara-sau­dara,

Seka­rang saya diang­kat jadi Lurah, itu bukan ber­arti saya sen­diri yang musti kerja meng­a­man­kan desa kita. Tidak, sau­dara-sau­dara! Seperti kata Pak Koman­dan tadi “Kita musti ber­satu! Hanya dengan per­sa­tuan baru kita bisa meng­u­sir segala musuh yang menga­cau­kan tanah-air kita”!!!!!!!

LAYAR TURUN



Catatan tentang Edisi Ini

Orang-orang Baru dari Banten terbit pada 1959 dari Bagian Pener­bitan Lem­baga Kebu­da­yaan Rakyat (Lekra), Jakarta. Teks edisi ini dibaca dari foto 70 halaman buku itu, koleksi pri­badi penyu­sun, dengan dua kali pem­ba­caan oto­ma­tis atas foto yang sama, lalu setiap kata yang mera­gu­kan dico­cok­kan dengan gambar halaman­nya. Tidak ada ketikan ulang lain yang dipa­kai seba­gai pem­ban­ding.

Tata letak dialog meng­i­kuti buku: nama pem­bi­cara di kolom kiri, ucapan di kolom kanan, dan arahan pang­gung dalam tanda kurung, dice­tak miring. Adegan di buku diberi angka Romawi; angka itu mulai dari awal lagi pada babak kedua, dan kami ikuti. Cetakan sumber tidak mema­kai tanda kutip untuk ucapan, dan kami ikuti.

Ejaan kami alih­kan ke EYD V: dj men­jadi j, tj men­jadi c, j men­jadi y, nj men­jadi ny, sj men­jadi sy, dan ch men­jadi kh. Kata ulang yang di buku ditu­lis dengan angka 2 kecil (seperti saudara²) kami tulis dengan tanda hubung. Kata depan di dan ke kami pisah­kan dari kata yang meng­i­kut­i­nya. Nama tokoh Djali, Djameng, dan Njonja men­jadi Jali, Jameng, dan Nyonya. Bahasa per­ca­kapan dan kata dialek tokoh dibi­ar­kan, misal­nya enggak, nyolong, pigi, ngaso, mangkanya, heuheuh, dan pameget.

Salah cetak dan kea­nehan sumber yang kami biar­kan: tarikkan (babak per­tama, adegan XII), perkelaian dan berkelai (babak kedua, adegan VIII; kata perkelahian ter­ce­tak benar pada adegan XIII), Akor (adegan ter­a­khir, mung­kin akur), periksai, tadan pada arahan “Dengan tadan meng­e­jek” (mung­kin nada), cacap pada ucapan Ranta di adegan XV, dan ceuk pada ucapan Orang I di babak per­tama. Di adegan III babak per­tama, tanda kurung buka pada arahan “Ranta terus masuk ke dalam rumah …” tidak ter­ce­tak; kami menam­bah­kan­nya. Arti kata dubilah (“sera­kah­nya dubi­lah setan”) tidak kami temu­kan, jadi tidak kami jelas­kan.

Kete­rangan ten­tang Dhalia di Ten­tang Penya­dur, Daftar Karya, dan Peng­har­gaan kami himpun dari Wiki­pe­dia (bahasa Indo­ne­sia dan Ing­gris), IMDb, iNews, dan arti­kel His­to­ria. Sumber-sumber itu ber­beda pada bebe­rapa hal. Tahun lahir­nya 1925 menu­rut Wiki­pe­dia, tetapi 1927 menu­rut IMDb, dan iNews menye­but ia wafat pada usia 64 tahun, yang cocok dengan 1927. Film per­ta­ma­nya, Pantjawarna, ter­ca­tat 1940 atau 1941. Wiki­pe­dia bahasa Indo­ne­sia men­can­tum­kan seki­tar lima puluh judul film; di Daftar Karya hanya judul yang ter­ca­tat pada sedi­kit­nya dua sumber yang kami muat.

Di halaman judul buku ter­ce­tak bahwa drama ini disa­dur Dhalia dari cerita Pra­mo­edya Ananta Toer yang ber­ju­dul asal Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Daftar pelaku, waktu, deko­rasi, dan suara-suara yang diper­lu­kan, yang di buku ada di halaman sesu­dah judul asal, kami pin­dah­kan ke awal naskah dengan isi yang sama. Catatan yang dia­wali Catatan penyunting adalah tam­ba­han kami; hanya hal yang dapat kami periksa yang dica­tat. Daftar Kata disu­sun dari KBBI daring (kbbi.web.id, edisi III) dan hanya memuat kata yang kami temu­kan di sana.


Daftar Kata

algojo orang yang melaksanakan hukuman mati; kiasan: orang yang bengis dan kejam (suka membunuh)

bersaluir memberi hormat ala prajurit; saluir: pernyataan hormat dengan mengangkat tangan dan menempatkannya dekat telinga

bufet lemari tempat menyimpan makanan atau barang pajangan (tercetak buffet)

kapstok (Belanda) gantungan pakaian, topi, dan sebagainya

kaung enau; di drama ini daunnya digulung sebagai kulit rokok

kufur (Arab) tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya; kafir

lisong rokok yang tembakaunya dicampur kemenyan dan kelembak

modar (kasar) mampus; mati

murtad berbalik belakang; berbalik kafir; membuang iman

necis bersih dan rapi, terutama tentang pakaian

OKD singkatan organisasi keamanan desa

onderneming (Belanda) perkebunan yang diusahakan secara besar-besaran

residen pegawai pamongpraja yang mengepalai daerah (bagian dari provinsi yang meliputi beberapa kabupaten); di drama ini gerombolan memanggil Musa “Pak Residen”

rodi kewajiban bekerja (seperti memperbaiki jalan) tanpa upah; kerja paksa

romusa orang yang dipaksa bekerja berat pada zaman pendudukan Jepang; pekerja paksa (tercetak romusya)

wallahualam (Arab) ungkapan ketidakpastian, artinya “dan Allah Yang Mahatahu”


Tentang Pengarang

Pra­mo­edya Ananta Toer (1925–2006) adalah rak­sasa sastra Indo­ne­sia yang kar­ya­nya lahir dari per­gu­latan seja­rah yang keras. Keluar-masuk pen­jara di masa Kolo­nial Belanda, Orde Lama, hingga peng­a­singan Pulau Buru pada masa Orde Baru tidak mem­buat nya­li­nya surut. Ia men­ja­di­kan sastra seba­gai monu­men per­la­wanan ter­ha­dap tirani. Diter­je­mah­kan ke lebih dari 40 bahasa dan ber­kali-kali dino­mi­na­si­kan untuk Nobel Sastra, Pram adalah bukti nyata bahwa kebe­naran tidak pernah bisa dipen­ja­ra­kan.


Daftar Karya Pramoedya Ananta Toer

  • Tulisan-tulisan semasa di SD, satu di anta­ra­nya pernah dita­war­kan pada pener­bit Tan Koen Swie, Kediri, dito­lak. Semua hilang.
  • Sepoeloeh Kepala Nica (1946), hilang di tangan pener­bit Balingka, Pasar Baru, Jakarta, 1947.
  • Kranji–Bekasi Jatuh (1947), frag­men dari Di Tepi Kali Bekasi.
  • Perburuan (1950). Peme­nang sayem­bara Balai Pus­taka, Jakarta, 1949.
  • Keluarga Gerilya (1950).
  • Subuh (1951), kum­pulan 3 cerpen.
  • Percikan Revolusi (1951), kum­pulan cerpen.
  • Mereka yang Dilumpuhkan I & II (1951).
  • Bukan Pasarmalam (1951).
  • Di Tepi Kali Bekasi (1951), sisa naskah yang dir­am­pas Mari­nir Belanda pada 22 Juli 1947.
  • Dia yang Menyerah (1951), kemu­dian dice­tak-ulang dalam kum­pulan cerpen.
  • Cerita dari Blora (1952), peme­nang karya sastra ter­baik dari Badan Musya­warah Kebu­da­yaan Nasi­o­nal, Jakarta (1953).
  • Gulat di Jakarta (1953).
  • Midah Si Manis Bergigi Emas (1954).
  • Korupsi (1954).
  • Cerita Calon Arang (1957).
  • Sekali Peristiwa di Banten Selatan (1958).
  • Panggil Aku Kartini Saja I & II (1963); III & IV diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Kumpulan Karya Kartini, yang pernah diu­mum­kan di ber­ba­gai media; diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Wanita Sebelum Kartini, diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Gadis Pantai (1962–65) dalam bentuk cerita ber­sam­bung, bagian per­tama tri­logi ten­tang kelu­arga penu­lis; terbit seba­gai buku, 1987, dila­rang Jaksa Agung. Jilid II dan III diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Sejarah Bahasa Indonesia. Satu Percobaan (1964); diba­kar Ang­katan Darat pada 13 Okto­ber 1965.
  • Mari Mengarang (1955), tak jelas nasib­nya di tangan pener­bit di Jalan Kramat Raya, Jakarta.
  • Cerita dari Jakarta (1957).
  • Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (1963).
  • Lentera (1965), kum­pulan tulisan yang pernah diu­mum­kan oleh Lentera. Tak jelas nasib­nya di tangan pener­bit di Jalan Pece­nongan, Jakarta.

Semua kar­ya­nya dila­rang oleh Kemen­te­rian PPK/PDK, 1966.

  • Bumi Manusia (1980), bagian per­tama tet­ra­logi Buru. Dila­rang Jaksa Agung, 1981.
  • Anak Semua Bangsa (1981), bagian kedua tet­ra­logi Buru. Dila­rang Jaksa Agung, 1981.
  • Sikap dan Peran Intelektual di Dunia Ketiga (1981).
  • Tempo Doeloe (1982), anto­logi sastra pra-Indo­ne­sia.
  • Jejak Langkah (1985), bagian ketiga tet­ra­logi Buru. Dila­rang Jaksa Agung, 1985.
  • Hikayat Siti Mariah, (ed.) Haji Mukti (1987). Dila­rang Jaksa Agung, 1987.
  • Rumah Kaca, bagian keem­pat tet­ra­logi Buru, 1988. Dila­rang Jaksa Agung, 1988.
  • Sang Pemula (1985). Dila­rang Jaksa Agung, 1985.
  • Memoar Oei Tjoe Tat, (ed.) Oei Tjoe Tat, 1995. Dila­rang Jaksa Agung, 1995.
  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I, 1995. Dila­rang Jaksa Agung, 1995.
  • Arus Balik, 1995.
  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II, 1997.
  • Arok Dedes, 1999.
  • Mangir, 2000.
  • Larasati (Ara), 2000.

Penghargaan Pramoedya Ananta Toer

1988 Freedom to Write Award dari PEN American Center, Amerika Serikat.

1989 Anugerah dari The Fund for Free Expression, New York, Amerika Serikat.

1995 Wertheim Award, “for his meritorious services to the struggle for emancipation of the Indonesian people”, dari The Wertheim Foundation, Leiden, Belanda.

1995 Ramon Magsaysay Award, “for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognition of his illuminating with brilliant stories the historical awakening, and modern experience of the Indonesian people”, dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina.

1996 Partai Rakyat Demokratik Award, “hormat bagi Pejuang dan Demokrat Sejati” dari Partai Rakyat Demokratik.

1996 UNESCO Madanjeet Singh Prize, “in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence”, dari UNESCO, Paris, Prancis.

1999 Doctor of Humane Letters, “in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom”, dari University of Michigan, Madison, Amerika Serikat.

1999 Chancellor’s Distinguished Honor Award, “for his outstanding literary archievements and for his contributions to etnic tolerance and global understanding”, dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat.

1999 Chevalier de l’Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication République Française, Paris, Prancis.

2000 New York Foundation for the Arts Award, New York, Amerika Serikat.

2000 Fukuoka Cultural Grand Prize, Jepang.


Tentang Penyadur

Dhalia lahir di Medan pada 10 Feb­ru­ari (1925 menu­rut Wiki­pe­dia, 1927 menu­rut IMDb) dan wafat di Jakarta pada 14 April 1991. Ia aktris film Indo­ne­sia yang ber­main dalam seki­tar lima puluh film, dari awal 1940-an sampai 1990. Ia tumbuh di ling­kungan san­di­wara: ayah­nya, yang ber­ge­lar Tengku, menu­lis dan menge­lola rom­bongan san­di­wara Dhalia Opera di Medan.

Pada masa pen­du­dukan Jepang ia ber­main dalam film pro­pa­ganda, antara lain Berdjoang dan Hoedjan. Pada 1955 ia meraih Piala Citra untuk Peme­ran Utama Wanita Ter­baik di Fes­ti­val Film Indo­ne­sia lewat Lewat Djam Malam (1954), dan peng­har­gaan itu ia bagi dengan Fifi Young. Sesu­dah itu ia baru tampil lagi di layar pada 1973 lewat Last Tango in Jakarta dan terus ber­main sampai 1990. Nama­nya dua kali masuk nomi­nasi Peme­ran Pem­bantu Wanita Ter­baik, untuk Usia 18 dan Bukan Istri Pilihan.

Di luar film, His­to­ria menye­but­nya dra­ma­wan perem­puan yang meng­a­lih­wa­ha­nakan karya Pra­mo­edya Ananta Toer ke naskah drama. Hasil­nya adalah Orang-orang Baru dari Banten, ter­bitan Bagian Pener­bitan Lekra (1959). Kami tidak mene­mu­kan kete­rangan ten­tang sadu­ran atau tulis­an­nya yang lain.


Daftar Karya dan Penghargaan Dhalia

Hanya film yang ter­ca­tat pada sedi­kit­nya dua sumber; ejaan judul meng­i­kuti sumber, tahun meng­i­kuti Wiki­pe­dia bahasa Indo­ne­sia kecu­ali dise­but lain. Ini bukan daftar leng­kap.

Penu­lisan

  • Orang-orang Baru dari Banten (1959), sadu­ran drama dua babak dari Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pra­mo­edya Ananta Toer. Bagian Pener­bitan Lekra, Jakarta. Dipang­gung­kan di Medan, 1960.

Film, 1940-an

  • Pantjawarna (1940; 1941 menu­rut Wiki­pe­dia bahasa Ing­gris).
  • Moestika dari Djemar (1941).
  • Panggilan Darah (1941).
  • Boenga Sembodja (1942).
  • Berdjoang (1943).
  • Hoedjan (1944).

Film, 1950-an

  • Chandra Dewi (1952).
  • Lewat Djam Malam (1954). Piala Citra, 1955.
  • Kopral Djono (1954; menu­rut IMDb dan iNews).

Film, 1970-an sampai 1990

  • Last Tango in Jakarta (1973).
  • Usia 18 (1980). Nomi­nasi Piala Citra, 1981.
  • Bukan Istri Pilihan (1981). Nomi­nasi Piala Citra, 1982.
  • Pendekar Jagad Kelana (1990).
  • Ketika Dia Pergi (1990).

Penghargaan

1955 Piala Citra, Pemeran Utama Wanita Terbaik, Lewat Djam Malam; dibagi dengan Fifi Young (Tarmina).

1981 Nominasi Pemeran Pembantu Wanita Terbaik, Usia 18.

1982 Nominasi Pemeran Pembantu Wanita Terbaik, Bukan Istri Pilihan.


Terima Kasih

Terima kasih kepada Bagian Pener­bitan Lem­baga Kebu­da­yaan Rakyat (Lekra), yang mener­bit­kan drama ini di Jakarta pada 1959, dan kepada per­ce­takan yang menge­r­ja­kan­nya.

Terima kasih kepada Dhalia, aktris dan penya­dur, yang meng­u­bah cerita Pram men­jadi drama dua babak, Orang-orang Baru dari Banten, dan mem­ba­wa­nya ke pang­gung. Edisi ini kami dedi­ka­si­kan untuk­nya.

Terima kasih kepada Mardjo, peran­cang kulit ter­bitan 1959, yang gam­bar­nya kami pakai pada sampul dan halaman depan.

Ter­a­khir, terima kasih kepada Pra­mo­edya Ananta Toer, yang menu­lis cerita ini pada 1958. Sera­tus tahun sete­lah ia lahir, tulis­an­nya masih kami baca dan kami rawat.