Sudah terlalu lama warga desa hidup dalam bayang-bayang ketakutan: dipajak perkebunan, dijarah gerombolan di pasar, dan diperas habis-habisan oleh Juragan Musa. Ranta, petani miskin yang tanahnya telah dirampas sang juragan, bahkan dipaksa menjadi maling demi sesuap nasi. Titik balik terjadi saat Ranta pulang dengan tubuh babak belur dan tangan terluka akibat dikeroyok suruhan Musa.
Bersama istrinya dan dua pedagang singkong yang bernasib serupa, Ranta memutuskan berhenti takut. Berbekal tas milik Musa yang tertinggal, mereka melaporkan rahasia besar sang juragan ke markas tentara. Saduran panggung karya Dhalia dari cerita Pramoedya Ananta Toer ini menghidupkan kembali ketegangan desa-desa di Banten lewat dialog yang hidup, getir, sekaligus penuh harapan.
Edisi Seabad · 1925–2025
Pramoedya Ananta Toer
Orang-orang Baru dari Banten
drama dua babak
disadur ke dalam bentuk drama oleh
Dhalia
KOLEKSI PRIBADI
MUHAMMAD REZA MAGISTRA
Lund, 2026
Orang-orang Baru dari Banten, drama 2 babak. Disadur oleh Dhalia dari Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer.
Edisi Seabad 1925–2025, edisi digital tidak resmi. Disusun oleh penggemar sebagai kelanjutan peringatan seratus tahun Pramoedya, tidak berhubungan dengan ahli waris maupun penerbit.
Terbitan asal: Bagian Penerbitan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), Jakarta, 1959. Rencana kulit: Mardjo. Teks edisi ini dibaca dari foto buku koleksi pribadi dan diseragamkan menurut Ejaan yang Disempurnakan edisi kelima (EYD V).
Hak cipta karya © Pramoedya Ananta Toer, Dhalia, dan ahli waris masing-masing. Edisi digital ini disusun untuk koleksi pribadi dan peringatan seratus tahun Pramoedya Ananta Toer, tidak untuk diperjualbelikan.
Sampul depan, sampul belakang, dan lidah: rancangan Muhammad Reza Magistra, memakai gambar dari kulit terbitan 1959 (rencana kulit Mardjo). Tata letak dan catatan penyunting: Muhammad Reza Magistra. Diset dengan Newsreader.
KOLEKSI PRIBADI MUHAMMAD REZA MAGISTRA · LUND, 2026
Kalau kita semua tidak bodoh seperti sekarang, sudah tentu hidup kita tidak begini.
Ranta, Babak Kedua
Dari Kami untuk Pembaca
Orang-orang Baru dari Banten adalah drama dua babak yang disadur oleh Dhalia dari cerita Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer. Cerita itu ditulis Pram pada 1958, dan ia sendiri menyebutnya cerita bacaan yang dapat juga dipentaskan. Drama ini terbit pada 1959 dari Bagian Penerbitan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) di Jakarta. Halaman hak cipta cetakan keempat Sekali Peristiwa di Banten Selatan (Lentera Dipantara, 2009) mencatatnya sebagai saduran Dhalia yang dipanggungkan di Medan pada 1960.
Ini alihwahana: cerita bertutur diubah menjadi naskah panggung. Tokoh, alur, dan pokok soalnya berasal dari Pram, tetapi kalimat-kalimat drama ini adalah pekerjaan penyadurnya. Karena itu halaman judul mencantumkan keduanya. Dhalia yang dimaksud adalah bintang film Indonesia; artikel Historia, “Dhalia dan Orang-orang Baru dari Banten” (28 September 2025), menyebutnya sebagai dramawan perempuan yang mengalihwahanakan karya Pram ke naskah drama.
Naskah kami baca dari foto buku koleksi pribadi, halaman demi halaman. Kata-katanya mengikuti yang tercetak. Ejaan kami alihkan ke Ejaan yang Disempurnakan edisi kelima, dan bahasa percakapan para tokoh dibiarkan. Salah cetak yang kami temukan tidak diperbaiki, dan daftarnya ada di Catatan tentang Edisi Ini. Kata dan peristiwa yang mungkin asing dijelaskan di catatan kaki dan Daftar Kata.
Edisi ini tidak resmi. Kami menyusunnya sebagai pembaca untuk meneruskan peringatan seratus tahun Pramoedya Ananta Toer, dan tidak berhubungan dengan ahli waris Pram, ahli waris Dhalia, maupun penerbit mana pun. Hak cipta tetap pada pengarang, penyadur, dan ahli warisnya. Kalau Anda menemukan salah baca, mohon kabari kami.
Lund, November 2026
Muhammad Reza Magistra
Para Pelaku
Ireng
Ranta
Musa tuan tanah
Nyonya Musa
Komandan T.N.I.
Jali pelayan
Jameng mata-mata
Kasan algojo
Pedagang Singkong I
Pedagang Singkong II
Lurah
Beberapa orang prajurit T.N.I.
Beberapa orang OKD
Beberapa orang anggota gerombolan
Beberapa orang pedagang
Waktu / suasana. Sore, magrib, malam, jauh malam, subuh, pagi, tengah hari.
Dekorasi. 1. Rumah gubuk di kaki gunung dengan pohon-pohon besar di sekitarnya. 2. Rumah besar dan kuno.
Suara-suara yang diperlukan. 1. Burung malam. 2. Jangkerik. 3. Katak. 4. Kicau burung pagi. 5. Kokok ayam. 6. Salak anjing. 7. Guruh/petir. 8. Angin. 9. Tong-tong/beduk. 10. Suara-suara orang ramai. 11. Tembakan senapan. 12. Fluit (kode) tanda bahaya. 13. Kecapi/suling sebagai ilustrasi. 14. Truk dan derap kaki.
Babak Kesatu
Musik. (Ketika layar diangkat, tampak pemandangan sebuah desa di kaki gunung dengan pohon-pohon raksasa tumbuh liar di sana sini. Di sebelah kanan panggung, sebuah gubuk hampir roboh berdindingkan anyaman — bambu kasar dan jarang, beratap rumbia yang sudah tidak menentu. Letak gubuk agak memencong — Suasana hampir senja, cahaya matahari yang kemerah-merahan lapat-lapat tampak di kejauhan sedang menurun di balik gunung yang terletak di sebelah kiri panggung agak jauh ke belakang. Beberapa orang lewat membawa pikulannya. Mereka berjalan bergegas-gegas menuju ke-. Rumah masing-masing. Di depan gubuk terdapat sebuah bangku atau bale-bale dari bambu, dan pintu gubuk itu terkunci dari luar, y Setelah beberapa orang pedagang lewat dan terus menghilang ke sebelah kiri panggung, panggung kosong seketika. Tak lama, masuk dua orang membawa pikulan dari kiri panggung menuju ke depan mendekati bale-bale).
Adegan I
Orang I. (Sambil meletakkan pikulannya mengeluh letih) Ngaso dulu di sini, ah! (duduk…)
Orang II. Ntar keburu hujan! (Tapi ia pun meletakkan pikulannya kemudian duduk dekat orang pertama).
Orang I. (Mengambil tempat tembakau dari pesaknya sambil menggulung daun kaung menyodorkan kepada orang kedua).
Ngerokok?
Orang II. Enggak, ah!
(Sementara itu cahaya berubah, tanda matahari sudah terbenam dan udara mulai agak mendung dan sekali-sekali terdengar suara guruh menandakan hujan akan jatuh. Sambil melihat ke atas).
Mau hujan lagi rupanya (kemudian bangkit digeserkannya pikulannya agak ke muka sedikit).
Orang I. (ngelamun) Coba kalau kita punya gerobak, kan enggak capek begini?
Orang II. (menghampiri sambil duduk) Ngomong kayak orang ngimpi. Yang bukan-bukan saja!
Orang I. (Tak menghiraukan) Hohoh, ya! Kenapa jadi begini?
Orang II. Begini bagaimana?
Orang I. Iya begini. Coba saja pikir, dulu kan kita yang rame bikin jalanan ini?
Orang II. Heuheuh, memangnya kenapa?
Orang I. Itu dia, nah kita yang bikin, sekarang kalau kita yang lewati mesti bayar pajak pada onderneming. Dua pintu jalan, dua kali pajak. Heran!
Orang II. Ya enggak perlu heran, habis mereka sih yang kuasa. Kita ini apa!
Orang I. Mentang-mentang sih kuasa, ini pajak itu pajak. Segala pajak.
Orang II. Heuhheuh, ya. Orang begitu bagus-bagus, kulitnya putih-putih hidungnya mancung, serakahnya dubilah setan. (Terus bangkit mengajak kawannya).
Yook, ah! Entar keburu hujan. (mengangkat pikulannya).
Orang I. Coba, kalau kita punya gerobak, kan enggak capek begini? (sambil jalan).
Orang II. Gerobak lagi. (Mereka terus keluar ke sebelah kanan panggung kemudian menghilang).
Adegan II
(Panggung sementara kosong, kemudian suara petir dan kilat menyambar. Dari kiri panggung masuk Ranta berjalan lesu langsung menuju ke pintu, berhenti sebentar dilihatnya pintu terkunci dari luar kemudian melihat ke kiri kanan lalu memanggil-manggil).
Ranta. Reng, Reng! (mencari-cari) Ke mana dia, belum pulang? (duduk di bale-bale, berpeluk lutut).
Adegan III
(Dari kanan panggung masuk Ireng membawa bakul kosong. Setelah dilihatnya suaminya duduk, dengan agak tergesa ia masuk terus menghampiri suaminya lalu duduk).
Ireng. Sudah lama, pak? (sambil bicara bakul diletakkannya. Ranta tak menjawab, hanya diturunkannya kedua kakinya, kemudian memandang Ireng mengeluh). Hasil pak? (memandang suaminya dengan penuh kasih).
Ranta. (berdiri) Kerbaunya sudah dijualkan orang lain. Bagaimana di pasar tadi, Reng? (jalan menuju ke pintu. Ireng mengikuti sambil menjawab dibukanya pintu).
Ireng. Di pasar lagi rame, Pak. Diobrak-abrik DI.1 (Ranta terus masuk ke dalam rumah, menyahut dengan suara kesal) Heuh, dia lagi! (Ireng masih di luar, mengumpulkan ranting-ranting kayu yang berjatuhan. Sambil jalan diambilnya bakul di atas bale-bale, ia pun masuk ke dalam rumah. Kembali panggung kosong).
Adegan IV
(Masuk juragan Musa dari kiri panggung berpakaian necis, membawa tongkat dan aktentas, langsung menuju ke tengah ruangan berhenti di muka bale-bale, berseru dengan suaranya yang sombong).
Musa. Ranta! Hei Ranta! Keluar!!
(berdiri terus di tempatnya menantikan jawaban ia mengisap lisong dengan angkuh. Ranta tak keluar, pun tidak menjawab. Musa berjalan maju sedikit menghampiri pintu. Berseru lagi memanggil-manggil dengan kasarnya. Ia maju lebih dekat lagi ke pintu lalu membongkok mengintip. Kemudian mengubah aksinya, suaranya dihaluskan, sambil tersenyum-senyum palsu berseru). Reng, Reng! Mana lakimu? Suruh dia keluar, Reng, aku bawa rezeki, nih! (jalan membelakangi rumah lalu berhenti dipaksakannya suaranya merayu-rayu memanggil-manggil Ireng lagi). Jangan sembunyikan lakimu, Reng, aku perlu sama dia (Musa tetap membelakangi pintu dan agak maju ke depan. Dari dalam rumah tampak Ireng menjengukkan kepalanya, setelah dilihatnya Musa, lekas-lekas ia memasukkan kepalanya lagi. Ketika itu Musa berbalik dan dilihatnya Ireng lalu marah). Hei, keluar! Sejak kapan kau tidak menghargai aku? Tidak tau adat! Hayo keluar!
Adegan V
(Ireng keluar agak gelisah dan ketakutan, tapi pura-pura tersenyum menghormati Musa).
Ireng. Oh, juragan Musa, saya kira siapa? Duduk, Gan! (menyeka bale-bale. Musa menghampiri Ireng dengan sombong, mengacung-acungkan tongkatnya).
Musa. Hei, mana Ranta? Kenapa dipanggil-panggil tidak menyahut, tuli apa?
Ireng. Belum pulang, Gan. (mundur sedikit).
Musa. Bohong! (mendekati Ireng) Tadi kulihat dia sudah pulang. Hayo, suruh keluar.
Ireng. Sungguh mati, belum pulang, Gan (mundur ketakutan).
Musa. (cepat berbalik tak menghiraukan Ireng lalu menghampiri pintu ia berteriak keras memanggil Ranta dengan suara mengancam). Kalau tidak keluar, aku bakar rumahmu, mengerti! Lekas!!
Adegan VI
(Dari dalam rumah Ranta keluar. Mukanya tampak kesal, berjalan keluar kepalanya ditundukkannya, lalu berhenti di hadapan Musa).
Musa. Hei, sejak kapan kau tuli, heh? Dipanggil-panggil tidak menyahut! (Ranta terus tunduk menyahut dengan tidak memandang Musa).
Ranta. Ya, Gan.
Musa. Hei, kemari! (memerintah dengan tongkatnya, Ranta menghampiri dengan lesu. Kemudian, menoleh kepada Ireng. Ireng tambah gelisah). Masuk, aku mau bicara dengan lakimu! (Ireng masuk ke dalam rumah. Musa mengubah sikapnya, pura-pura tersenyum: menengadah ke langit seolah-olah ada yang dilihatnya). Coba lihat! Mau hujan, tuh. (senyum) Waktu baik, musim baik, bukan begitu, Ranta?
Ranta. Ya, Gan.
Musa. Bagaimana? Bisa jual kerbau Minin?
Ranta. Sudah dijualkan orang lain, Gan.
Musa. Tidak apa. Lihat langit tuh! (melihat langit dengan senyum palsu).
Ranta. Iya, Gan. Waktu baik, musim baik, Gan.
Musa. (Musa tertawa puas mendekati). Sudah tahu, Ta, pasar diobrak-abrik DI? (mengerling) Tentunya binimu tidak bisa jualan, ya? (Ranta mengangguk sedih). Jangan khawatir, Ranta, selama juragan Musa berkuasa kau tidak perlu pusing-pusing memikirkan hidupmu, asal…
Ranta. (cepat memandang dengan tajam). Asal apa, Gan?
Musa. (mengerling) Ya… asal kau turut perintahku… kau tidak bakal kelaparan (menengadah ke langit, tongkatnya dimain-mainkannya).
Ranta. Apa maksud juragan?
Musa. Nanti malam jam sebelas! Mengerti?
Ranta. (Cepat berpaling dan menghampiri Musa) Maksud juragan…? (matanya tajam menatap Musa. Musa mengangguk. Ranta berjalan mundar-mandir kemudian). Tidak, tidak mungkin lagi!
Musa. (menghampiri dengan marah). Apa yang tidak mungkin lagi? Hei, Ranta! Kau mesti mengerti! Di sini aku yang kuasa, menolak perintahku, berarti……
Ranta. (Cepat menjawab). Tapi Gan, kalau sampai tertangkap?
Musa. Aku tidak perduli! (mengancam dengan tongkatnya) Aku cuma tahu nanti malam BIBIT KARET itu kau antarkan ke rumahku, tahu-tahu! Kalau tidak, tahu sendiri akibatnya!
(Ranta tak menjawab, hanya pandangnya sekarang beralih menjadi kesal dan putus asa. Melihat ini Musa mengerti lalu cepat mengubah aksinya. Sekarang… dengan suara membujuk ia menghampiri Ranta).
Sudah, Ranta, mengapa kau mesti takut? Kan ada aku yang melindungi kalau terjadi apa-apa.
Ranta. Tapi berat, Gan. (berbalik agak menjauh dari
Musa).
Musa. Goblok! Apa gunanya otak dalam kepalamu itu? Apa kau tega melihat binimu mati kelaparan? (Ranta tunduk).
(Musa merogoh sakunya kemudian mengeluarkan beberapa tumpukan uang kertas yang dengan sengaja supaya dilihat Ranta. Kemudian menghitung-hitung uangnya, diambilnya selembar lalu menghampiri Ranta). Nah, bakal binimu! (dikepalkannya di tangan Ranta, Ranta tak berdaya. Musa menepuk bahu Ranta).
Jangan lupa, nanti malam jam sebelas kau kerjakan! Aku tunggu di rumah jam tiga pagi! (Ranta tak menyahut. Musa berjalan keluar ke sebelah kiri panggung. Ranta masih tetap terpaku di tempatnya. Tiba-tiba Musa muncul lagi dengan mengancam). Ingat! Kalau ada apa-apa jangan sebut-sebut namaku, ngerti! (Terus keluar lagi dan menghilang. Ranta masih tetap berdiri memandang ke jurusan Musa. Pada mukanya tampak dendam dan kesal. Tapi kemudian tunduk berpikir sambil melihat duit yang baru diterimanya. Ia tunduk putus asa).
Adegan VII
(Dari dalam rumah, Ireng memasang pelita lalu ditempelkan ke dinding lalu keluar memandang sekitar tempat, kemudian menghampiri Ranta. Ranta berjalan menuju ke bale-bale dan Ireng mengikutinya dengan pandangan penuh tanya. Suasana malam tambah gelap, dari kejauhan mulai terdengar suara jangkerik dan katak silih berganti. Mereka berdua duduk, kemudian Ranta menyerahkan uang pada Ireng lalu menutupi mukanya dengan kedua tangannya. Ireng menerima uang terus diperhatikannya, kemudian dengan suara yang mengharukan).
Ireng. Ya… cuma seringgit, cukup buat apa?
Ranta. Terima sajalah, Reng! Cuma sebegitu rezeki kita.
Ireng. Kau terlalu lemah, pak. Disuruh ini turut, disuruh itu turut. Kalau aku lelaki aku tekuk batang lehernya itu setan. Kau disuruh nyolong juga dilakonin sampe badan babak belur. Kenapa sih orang yang begitu musti diturutin? Kenapa? Memangnya dia jadi apa sih?
Ranta. Diam, Reng, Diam!
Ireng. Diam? Kau kan lakiku, bukan lakinya. Kalau kau kenapa-kenapa atau sampai ketangkap yang susah kan cuma aku, dia tidak bakal belain kita? (Ireng mulai kesal dan menangis).
Ranta. Sudah, Reng, (membelai-belai rambut Ireng dengan kasihnya) Sabar, kita mesti sabar, ada waktunya nanti kita akan hidup senang, percayalah, Reng.
Ireng. Kapan, kapan, pak? Kerja dan usaha kita sudah cukup, tapi rezeki masih juga di tangan Tuhan.
Ranta. (Sambil berdiri diangkatnya Ireng. Mereka berdua berhadap-hadapan, Ranta memegang bahu Ireng sambil berkata dengan suara penuh keyakinan) Tunggu, Reng. Kalau keadaan sudah aman dan baik kembali, kita akan atur rezeki kita sendiri, ya?
Ireng. (Menjawab tanpa mengerti maksudnya) Insya-Allah, pak. Insya-Allah.
Ranta. (Memandang istrinya dengan kasih) Sekarang tidurlah kau dulu.
Ireng. (Agak terkejut memandang suaminya, matanya penuh kecemasan dan suaranya menggetar pilu). Kau, pak? Mau ke mana?
(Ranta tak menjawab Ireng bertambah cemas) Pergi juga, pak? Nyolong bibit karet?
Ranta. (Ditariknya tangan Ireng dituntunnya dan dibawanya masuk ke dalam rumah. Ireng menurut. Kemudian setelah sampai di ambang pintu). Tidurlah, tidak lama aku nanti pulang.
(Ireng masih berdiri tegak di ambang pintu, Ranta membalik menuju ke jalan keluar. Tiba-tiba Ireng mengejarnya sambil berseru).
Ireng. Tidak, pak. Jangan pigi. Kau jangan nyolong lagi (menangis).
Ranta. (Berbalik menghampiri Ireng. Dengan tenang didudukkannya Ireng di atas bale-bale dan ia pun duduk menghibur Ireng).
Ireng. (Sambil menangis dipegangnya tangan Ranta kuat-kuat). Kau jangan nyolong lagi, pak. Biarlah kita tidak punya duit, aku kuat tidak makan. Jangan ya, pak.
Ranta. Dengar, Reng. Memang aku sering nyolong, tapi kau tentu mengerti, itu bukan kemauanku. Aku juga tidak kepingin jadi maling, tapi keadaan memaksa Reng. Tadi sudah kukatakan, kalau sudah aman tentu kita tidak begini lagi.
Ireng. (Dengan suara manja dan bodoh).
Nanti kalau sudah aman kau tidak nyolong-nyolong lagi, pak?
Ranta. Buat apa nyolong, siapa orangnya yang mau jadi maling.
Ireng. Pak, Pak. Juragan Musa itu jadi apa sih, pak?
Ranta. Yah, orang-orang yang semacam dia itulah Reng yang membikin kita jadi begini, bikin aku jadi maling (sungguh-sungguh).
Ireng. Habis, kenapa kau takut sama dia, mau saja disuruh maling?
Ranta. (Agak lama baru menjawab sambil mengeluh).
Yah… kadang-kadang karena tekanan hidup, manusia bisa berbuat apa saja di luar kemauannya, Reng!
Ireng. Tapi kalau nyolong itu kan berbahaya, Pak. Kalau ketangkap tentunya kau dipukuli sama penjaga onderneming.
Ranta. Mereka yang kuasa, Reng, seolah-olah merekalah yang menentukan hidup kita, walaupun sebenarnya mereka itu lebih jahat daripada maling.
Ireng. Mereka itu siapa, Pak? Kalau mereka jahat, kenapa tidak ditangkap?
Ranta. Ah, sudahlah, Reng, lebih baik kita tidur.
Ireng. Kau juga, pak? (Sambil bangkit menuju ke pintu. Ranta masih tetap duduk. Ireng berdiri di ambang pintu kemudian berpaling pada Ranta). Yook, masuk, Pak. Besuk pagi sajalah kita makan ya pak?
Ranta. (Sambil bangkit menjawab). Laginya malam-malam begini mau cari makanan di mana? (terus masuk. Ireng mengunci pintu lalu memadamkan pelita. Suasana sunyi senyap, hanya katak dan burung hantu silih berganti. Tak lama dua orang pemikul singkong masuk lagi dari sebelah kanan panggung terus maju ke tengah-tengah).
Adegan VIII
Orang I. (Meletakkan pikulannya menuju ke bale-bale, sambil menguap). Nginep di sini saja, sudah malam.
Orang II. Huhuh, tapi minta izin dulu, ah. (dia pun meletakkan pikulannya kemudian menuju pintu. Berhenti sebentar, kemudian pelahan-lahan berseru sambil mengguncang-guncang pintu). Pak, Pak! (diam sejurus) Bung, bukan DI ni, orang baik-baik. Numpang nginep, ya? (tetap berdiri menantikan jawaban).
Orang I. (sambil merebahkan badannya di bale-bale). Enggak ada orangnya barangkali. Tidur sajalah! (Orang kedua berjalan menuju ke bale-bale lalu ia pun merebahkan badannya, sambil menggulung-gulungkan kainnya untuk dijadikan bantal. Tak lama mereka pun tertidur. Suasana kembali sunyi).
Adegan IX
(Ranta dengan membawa pikulan dan golok keluar pelahan-lahan kemudian menutupkan kembali pintunya. Melihat ada orang tidur di atas bale-bale ia terhenti agak mundur sedikit. Setelah diperhatikannya benar-benar bahwa orang itu sudah tidur, ia pun bergegas menuju keluar ke sebelah kanan panggung kemudian menghilang. Suasana kembali sunyi).
Adegan X
(Suasana panggung berubah. Cicit burung dan cahaya fajar, menandakan hari sudah menjelang pagi. Kedua orang itu masih tetap tidur dengan nyenyaknya, membelakangi penonton. Tiba-tiba suara pintu dibuka tampak Ireng mengusap-usap mata kemudian melihat ke kiri-kanan dilihatnya ada orang tidur, disangkanya suaminya, ia tersenyum sambil mendekati kemudian duduk di ujung bale-bale mengguncang-guncangkan kaki orang yang sedang tidur).
Ireng. Pak, Pak, bangun! Kenapa tidur di sini?
(Terus mengguncang-guncangkan kakinya).
Orang II. (Terkejut lalu duduk sambil membetulkan kainnya) Eh… siapa?
Ireng. (bangkit terkejut dan mundur beberapa langkah ketakutan).
Orang I. (kemalu-maluan) Maap…… ceuk, kami numpang tidur di sini. Tadi malam kami sudah panggil-panggil buat minta izin, tapi tidak ada yang nyaut. Sungguh mati kami orang baik-baik. Ini teman saya. (Tersipu-sipu senyum menyembunyikan malu dan gugupnya). (membangunkan kawannya) Itu yang punya rumah, minta maap, gih.
Orang II. (Memandang kepada Ireng kemudian berdiri menghampiri). Eh… maap, saya sama teman saya kemalaman jadi numpang tidur di sini. Kami berdua tukang jualan singkong. Tuh singkongnya! (Menunjuk pikulannya).
Ireng. (Hilang cemas dan takutnya). Enggak lihat laki saya tadi malam?
Orang I & II. (Kedua orang itu saling berpandangan, kemudian hampir berbareng menyahut). Enggak! (Ireng gelisah dan cemas).
Orang I. (menawarkan singkongnya) Mau singkong? (Ireng tak menjawab hanya dipandangnya singkong dalam pikulan. Kemudian orang pertama mengambil beberapa batang singkong lalu diberikannya pada Ireng. Ireng menerimanya dengan gembira memandang kepada orang pertama sebagai terima kasihnya ia tersenyum lalu masuk ke dalam rumah).
Ireng. (dari dalam). Tunggu saya masakin air, ya. (Orang pertama membetul-betulkan tumpukan singkongnya).
Orang II. Enggak usah repot-repot, cuma numpang tanya sumurnya di mana?
Ireng. (dari dalam). Tuh, di samping! (Orang kedua terus ke samping rumah sambil berkata pada kawannya). Eh, enggak mau cuci muka?
Orang I. (Tak menoleh) Pigidah duluan, bergantian! (Orang kedua menghilang ke samping rumah, tinggal orang pertama yang masih jongkok menghitung dan membetul-betulkan susunan singkongnya).
Adegan XI
(Suasana sudah lebih terang dari semula, menandakan hari sudah pagi. Tiba-tiba Ireng muncul sambil membawa rebus singkong dalam piring kaleng dan sebelah tangannya lagi membawa ceret atau teko. Singkong dan teko diletakkannya di atas bale-bale kemudian masuk lagi ke dalam rumah tak lama keluar dengan membawa dua cangkir kaleng diletakkannya di atas bale-bale).
Ireng. Minum, kang! Cuma enggak punya kopi, air mateng doang! (Menuangkan ke dalam cangkir).
Orang I. (Sambil berdiri) Ah, itu juga sudah ribu-ribu terima kasih, sudah ngerepotin! (Terus duduk mengambil cangkirnya).
Ireng. Akang satunya lagi mana?
Orang I. (Sambil menghirup airnya) Masih di sumur.
(Kemudian orang kedua keluar dari samping rumah sambil membetul-betulkan rambut dan memperbaiki sarungnya. Ia terus ke bale-bale kemudian duduk).
Ireng. Tuh, airnya, kang! Minumlah!
Orang II. (mengambil cangkirnya) Enggak ada kopinya? (terus diminumnya). Pakein gula, kek!
Orang I. Hus, sudah diladenin mau banyak tingkah, segala diminta, kita tidak diusir juga sudah bagus, (Kemudian senyum pada Ireng) Maap, ya, teman saya ini memang culamit!
Orang II. (pada Ireng) Bukannya culamit ding, cuman kalau begini kan lebih rapat persaudaraan kita, betul tidak?
Ireng. (Senyum ramah) Tinggalnya di mana?
Orang I. (Sambil menunjuk ke belakang) Tuh, di belakang bukit itu tuh.
Orang II. (Menyambung) Dekat sarang DI. Mangkanya juga enggak berani pulang kalau sudah kemaleman.
Ireng. Itu, singkongnya mau dijual?
Orang I. Niatnya begitu, cuma tau-tau di pasar lagi rame, diserbu DI.
(Sedang mereka asik bercerita, tiba-tiba muncul Ranta dari kanan panggung. Jalannya terhoyong-hoyong, tangan kirinya terbalut dengan gedebong pisang mukanya pucat lesi dan rambutnya kusut tak menentu. Ketika Ireng melihat suaminya, segera bangkit dan berlari merangkul suaminya dan meratap).
Adegan XII
Ireng. Kenapa Pak? Kenapa tanganmu? (dipeluknya suaminya dibawanya masuk dan didudukkannya di atas bale-bale. Ranta tak menjawab, tampak ia sangat letih bercampur marah yang tertahan. Kedua orang itu bangkit ketika melihat Ranta terhoyong-hoyong, mereka berdua saling pandang memandang keheranan. Ireng terus juga bertanya sambil menangis). Sudah aku larang, kau pigi juga. Mana pikulanmu, mana golok, pak? (Terus menangis).
Ranta. Hilang! Habis semua! Dirampas binatang-binatang itu. (bernapsu) Aku tidak takut dibui. Mereka yang suruh aku mencuri bibit karet onderneming. Aku turut, aku bawakan sampai dua kali balik. Tapi waktu aku tanyakan mana upahku, binatang-binatang itu menjawab dengan pukulan dan mengusir aku seperti mengusir anjing. Penipu! Binatang! Aku dipukulinya setengah mati. Aku dikeroyok, golok dan pikulanku dirampasnya, mereka berteriak-teriak “Bangsat! Pencuri! Jangan berani-berani datang kemari mencuri bibit karetku” Hah, binatang! (Ranta bertambah kesal dan marah).
Ireng. (Sambil menangis) Sudahlah, pak. Lebih baik kita pindah ke kota, kita kuli di kota. (Orang pertama dan orang kedua saling berpandangan).
Orang II. (Dengan bernapsu) Huh, tentu si Srigala Musa dengan komplotannya yang punya kelakuan seperti itu. Sudah berapa banyak yang dijadikan korban. Sesudah dihisap dibunuhinya.
Ranta. (Heran memandang kedua orang itu. Ia baru sadar bahwa ada orang lain dihadapannya). Kenapa bung tahu, Musa? Apa kenal?
Orang I. (Dibukanya bajunya sambil membelakangi Ranta). Lihat inilah upahnya yang kuterima dari binatang itu! (Ranta dengan penuh dendam melihat tanda bekas-bekas pukulan yang melekat di belakang orang pertama itu. Tanda-tanda yang membekas merah biru bekas pukulan. Orang pertama kemudian memakai bajunya kembali). Dicambuki dengan buntut ikan pari! Juga soal maling bibit karet, padahal dia sendiri yang suruh, Aku dikeroyok sama empat orang, katanya mereka mau melapor ke polisi. Aku lari pulang. Tadinya niatanku mau kubunuh si setan Musa itu, tapi kemudian aku insyaf, kalau sampai terjadi, bagaimana nasib anak biniku. Sekarang timbul lagi napsuku mau menghabiskan riwayat si setan itu setelah melihat kau dianiaya begini.
Ranta. (Tenang menyabarkan). Sabar, bung! Membunuh dia tidak ada artinya, karena bukan cuma satu Musa yang pegang peranan semacam ini. Banyak, bung! Yah…… kita dibikin jadi maling, dijadikan sapi perahannya… Tapi sebenarnya mereka sendiri dibikin jadi maling dan dijadikan kerbau.
Ireng. (Heran tak mengerti). Siapa yang bikin dia jadi maling, Pak?
Orang I. Dia orang kaya, kenalannya orang-orang pangkat, rumahnya banyak, sawahnya banyak, kebun dan tanahnya banyak di mana-mana, masa jadi maling?
Orang II. Bininya juga banyak, di mana ada perawan cantik dia sikat, kalau dilamar tidak dikasi, diambil dengan kekerasan atau rumahnya tau-tau sudah terbakar. Heuhheuh, ampun!
Ranta. Memang, memang dia orang kaya. Rumahnya banyak, di mana-mana. Tanahnya lebar. Tapi dia boleh dapat dari mana itu semua? Dari mana coba? (Semuanya diam terpikir. Ranta meneruskan). Dari maling. Dia maling gede. Tapi cara malingnya dia pintar, licin, sekongkol sama orang pangkat-pangkat. Tentu enggak kentara, enggak ketangkap kayak kita disuruh maling bibit karet. Maling bibit karet cuma buat menyambung hidup pagi dan sore. (Diam sebentar, semua terpikir dan terasa kebangkitan hati yang menggelegak panas karena sudah mulai agak disadari, kenapa hidup mereka jadi begitu).
Ireng. Lha, caranya dia maling bagaimana kok enggak ketangkap dan bisa kaya? (Ranta berpikir keras, tapi tenang wajah dan matanya).
Ranta. Ireng! Kau ingat! Waktu anak kita yang pertama sakit keras! Kau ingat! Kita pinjam duit pada Juragan Musa. Dengan apa kita lunasi hutang itu?! Ingat kau! Seluruh hasil panen kita dirampasinya! Dan sesudah itu, tanah kita terpaksa kita jual. Kau tahu, siapa yang ambil tanah kita? Juragan Musa! Dengan harga berapa?! Buat dagang di pasar saja tidak cukup. Sekarang apa yang tinggal pada kita? Kemelaratan, ketakutan dan ketakutan tidak makan. Waktu itu aku sudah merasa. Yang miskin bertambah miskin dan yang kaya bertambah kaya dengan jalan merampoki harta benda si miskin. Cuma caranya saja yang macam-macam. Tapi nanti kalau keadaan sudah aman, tentu semuanya ini akan beres.
Ireng. Ah, Pak, itu-itu juga yang kau katakan. Kapan, kapan keadaan aman?!
Ranta. Haah, itu dia. Pertanyaan itu yang sudah lama kutunggu-tunggu. Kapan, kapan, ya?! (Semua mengagumi Ranta dan keadaan mereka sendiri).
Orang II. Ya… kapan ya? Dulu, diuber-uber lurah, tuan besar administratur, rodi, pajak dan wajib desa. Itu zaman Belanda. Zaman Nipon apa? Romusya! Semua kurus kering, peyot-peyot sampai pada modar. Zaman Nika.2 Lagi-lagi diuber rodi, ditembakin saban hari. Eeee…… sekarang?? Diuber-uber DI. Kawan-kawan kita sendiri yang sekarang sudah pada jadi orang pangkat, jadi juragan… haiih…!
(Segera disambut Ranta).
Ranta. Binatang buas! Serigala!
Orang I. Benar-benar buas! Kita ditakut-takuti sama polisilah, sama tentaralah, sama DI-lah, dan kita disuruh maling. Bukan buat kita! Buat mereka! Buat upah kita cuma pukulan. Tapi bagaimana, apa begini terus-terusan?!
Ranta. Begini! Kalau kita sudah bersatu lagi kayak dulu. Ha… itu baru. Kau ingat! Waktu Nipon mau turun? Lima belas tahun yang lalu. Kita ’kan bersatu melawan gerombolan ajag yang sering membunuh kambing dan sapi kita?
Orang II. Ya… heuhheuh… kampungku saja dalam tiga bulan dapat bunuh dua puluh ekor!
Ireng. Tanganmu masih sakit, Pa?
Ranta. Tentu saja sakit. Tapi itu sudah biasa. Kita ’kan hidup kesakitan melulu. Kalau tidak daging yang sakit, hati. Kesakitan melulu!
Orang II. Akang apa pernah sekolah dulu?
Ranta. Kalau baca sedikit, tulis sedikit ya… bisa juga.
Orang I. Kalau tahu begitu kan nanti bisa dicalonkan jadi lurah kalau ada pemilihan umum.
Orang II. (Ia seperti melihat sesuatu bahaya dari jauh). Awas…! Juragan Musa datang!
(Semua nampak kaget dan cemas, kecuali Ranta).
Ranta. Biar, biar dia datang. Sudah bosan! Bosan takut!
(Tapi orang pertama dan kedua segera mengambil pikulannya dan pergi).
Ireng. (memegang tangan Ranta).
Ranta. Kau dengar sendiri… Aku sudah bosan takut! (Ia melihat-lihat terus ke arah Juragan Musa yang datang, tapi akhirnya tidak segera datang juga, lalu ia masuk ke dalam rumahnya dengan tarikkan Ireng).
Adegan XIII
(Panggung sunyi senyap sebentar).
Musa. (Musa tahu-tahu datang dengan angkuhnya melengos ke depan rumah Ranta). Ranta! Keluar! (Tak berjawab). Ireng! Mana lakimu?
Ireng. (Dari dalam) Ranta cape Juragan.
Musa. Tidak dengar! Suruh keluar!
Ireng. Lagi tidur kecapean juragan!
Musa. Babi! Bangunkan! (Juragan Musa bertambah kesal). Hei… Ranta! Keluar tidak! (Tak berjawab). Baik… aku repotkan kau pada polisi. Maling bibit karetku… ya!
Adegan XIV
(Tahu-tahu Ranta keluar perlahan-lahan, sementara Musa masih sedang membelakangi rumah Ranta. Begitu ia menengok kembali ke rumah Ranta begitu Ranta dilihatnya terpampang di depan pintu rumahnya).
Musa. Berani-berani kau lawan perintahku… babi! (Ranta melangkah agak menghampiri Musa dan dengan hati menggelagak terus menuju Musa pelahan-lahan tapi pasti). Hei… berani kau!
(Tapi Ranta terus dengan sikap mau membanting juragan Musa yang sudah mau memukul Ranta dengan tongkatnya, sehingga akhirnya ia diserbu oleh Ranta dan Musa lari lintang pukang, sampai-sampai tas dan tongkatnya ketinggalan).
Ranta. Binatang buas!
Ireng. (keluar) Jangan Ranta! (Sambil menarik suaminya dan membawanya duduk di bale-bale. Ranta terus mengawasi ke mana juragan Musa lari. Ireng melihat tas dan tongkat juragan Musa yang berantakan di tanah). Tasnya ketinggalan…!
Ranta. Jangan, jangan disintuh! Haram! Lempar dengan kayu saja.
Adegan XV
(Tanpa mereka duga-duga, orang pertama dan kedua datang. Orang kedua tiba-tiba melotot melihat barang-barang juragan Musa berantakan di tanah dan berteriak).
Orang II. Haiiih…… kepunyaan juragan Musa, aaiiih……!
Ireng. Kabur dia waktu mau dibanting Ranta.
Orang I. Sudah mulai kalau begitu (Orang kedua dengan diiringi oleh orang pertama ikut-ikut mendekati dan mengelilingi barang juragan Musa, tapi Ranta segera menegor).
Ranta. Hei…! Jangan! (Orang kedua dan pertama segera saja tidak jadi memegang barang-barangnya Musa yang berantakan itu). (Sementara itu Ranta masih terus berpikir keras, apa yang harus dilakukannya lagi).
Ireng. Pak! Baiknya kita ke kota saja.
Ranta. Mau apa ke kota?
Ireng. Kuli atau jualan, apa saja asal aman.
Ranta. Di kota juga susah Reng. Di mana-mana orang pada keleleran tidak ada kerja. Jualan ini itu di pinggir jalan, juga susah, Reng! Kata orang sebentar-sebentar ditangkapi. Haah… sudahlah di sini saja. Ini kampung kita. Kenapa kita mesti lari? Sudah kelamaan kita takut-takut saja. Sekarang persetan sama takut! (Orang pertama dan kedua juga membenarkan Ireng).
Ranta. (Sambil menoleh kepada orang kedua dan pertama). Sekarang begini! Pungutin barang-barang Juragan Musa itu, kita repotkan sama komandan. Aku sedikit banyak tahu, hubungan Juragan Musa dengan DI. Ini rahasianya kenapa rumahnya tidak pernah digarong atau diganggu. (Orang pertama dan kedua bersama-sama memungutin barang-barang Juragan Musa). (pada Ireng) Reng, bungkusin semua pakaian dan kunci rumah ini. Biar kita pergi dulu. (Sementara itu orang pertama dan kedua sudah siap memungutin barang-barang juragan Musa dan semua barang-barang itu diserahkan mereka kepada Ranta. Dan Ranta mengajak pergi semua setelah Ireng juga selesai dengan buntalan pakaiannya).
Orang II. Sekarang benar-benar niih…! (Mereka pergi bersama-sama ke kantor Komandan dan ruangan panggung kosong atau digelapkan atau ditutup layar dan selesailah babak pertama).
Babak Kedua
Musik. (Pemandangan dalam sebuah rumah besar dengan alat-alat dan perhiasan dinding serba kuno, lampu gantung kuno dari kuningan, kursi goyang dengan meja marmer, dan ditiap sudut tampak standard bunga dengan pot-pot kuningan. Sebuah kapstok dengan kaca bundar telur dan sebuah buffet model kuno. Seorang wanita muda dan cantik berpakaian mentereng dengan warna yang menyolok. Ia berdiri di ambang pintu seperti sedang menantikan sesuatu, kemudian berbalik dan mundar-mandir lalu duduk kemudian bangkit kembali. Kemudian memanggil-manggil seseorang).
Adegan I
Nyonya. Jali! Li! (Kemudian duduk).
Jali. Saya Juragan! (Dari dalam, kemudian Jali keluar. Jali seorang kacung berumur kira-kira 18 tahun. Sambil terbungkuk-bungkuk hormat Jali maju menghampiri Nyonyanya sambil jongkok). Saya Juragan?
Nyonya. Juragan pameget ke mana, apa tidak pesan apa-apa tadi?
Jali. Enggak, Gan! Cuma saya dengar tadi mau ke rumah Ranta.
Nyonya. Aneh! Biasanya kalau pergi tidak begini lama, coba susul, Li!
Jali. Juragan pameget suka marah kalau disusul-susul, Gan!
Nyonya. Ah, bilang saja disuruh Juragan Istri, gitu! Kapan janji mau ngajak ke kota.
Jali. (menghormat terus menuju ke pintu lalu keluar. Nyonya Muda mengikuti Jali sampai ke pintu kemudian kembali mundar-mandir. Ketika nyonya Muda mau masuk ke dalam, persis di pintu masuk, ia terhenti karena mendengar dari kejauhan suara Juragan Musa berteriak-teriak memanggil-manggil Jali. Nyonya Muda berbalik, ketika itu Juragan Musa sudah berada di samping/di ambang pintu dengan muka muram dan pakaian kusut tak menentu. Matanya liar seperti orang ketakutan. Ia berteriak-teriak memanggil-manggil Jali, seolah-olah tak melihat bahwa istrinya berada di situ memandangnya dengan tercengang dan gugup. Juragan Musa tetap dalam keadaan panik sambil memanggil-manggil).
Adegan II
Musa. Li, Jalil! Ke mana binatang itu?!!! (Mundar-mandir, kemudian menoleh kepada istrinya. Juragan Musa berusaha menenangkan dirinya kemudian tersenyum pahit, Juragan Musa menegur istrinya yang masih tetap tercengang dan terpaku melihat tingkah laku suaminya). Oo, kau? (Berjalan menuju ke kursi). Ke mana si Jali? (duduk).
Nyonya. (menghampiri kemudian). Kusuruh mencari kau. (Berdiri di belakang kursi sambil mengebas-ngebaskan baju Musa).
Musa. Ke mana?
Nyonya. (Dengan kemanja-manjaan yang dibuat-buat). Katanya ke tempat Ranta!
Musa. (Terbelalak matanya). Ha? Ke tempat Ranta?! (Meraung seperti orang kesakitan sambil memukul-mukul meja). Mati… Mati… cilaka… ya Allah… (Berdiri mundar-mandir sambil memukul-mukul kepalanya, kemudian marah sambil berteriak-teriak). Sudah berapa kali aku bilang, si Jali tidak boleh keluar rumah tanpa izinku! Binatang! Jahanam! (Mundar-mandir tambah panik).
Nyonya. (Dengan keheran-heranan tapi masih dapat menguasai dirinya, ia mencoba menenangkan Musa). Yang menyuruh kan aku. Laginya kau ini kenapa, pulang-pulang marah tidak karuan? Berkelahi dengan yang sana? (Melengos seperti orang merajuk).
Musa. (Dengan membanting kaki berteriak membentak) Diam! Perempuan sialan. Kau yang bawa sial, mengerti!!!!
Nyonya. (Mulai hilang sabarnya, berbalik dihampirinya Musa yang sedang mundar-mandir). Apa? Perempuan sialan?
Musa. (membentak). Diam! Kenapa kau berani-berani suruh si Jali nyusul aku? Perempuan keparat!
Nyonya. Habis begitu lama, sedangkan kau sudah janji mau bawa aku ke kota.
Musa. Persetan! Peduli apa lama atau tidak? (Masuk. Sedang Nyonya dengan perasaan panas hendak mengejar mengikuti Musa masuk akan tetapi di ambang pintu terhenti, seolah-olah melihat sesuatu yang menakutkan. Ia undur beberapa langkah dengan mulut ternga-nga dan mata terbelalak. Tak lama tampak Musa keluar membawa keris. Dengan pelahan ia berjalan dan keris dijunjungnya ke atas keningnya. Setelah sampai di kursi, dengan tangan gemetar, dibukanya keris pusaka dari sarungnya, dengan mulut berkumat-kamit diciumnya keris pusaka itu dengan khusyuk dan hidmat. Tiba-tiba matanya terbelalak seperti kesetanan, tangannya gemetar keris segera dimasukkan kembali ke dalam sarungnya kemudian dimasukkan dan diselipkan di dalam jasnya. Ia bergegas menuju keluar berlari. Persis sampai di pintu Musa berpapasan dengan Jali, mereka hampir bertabrakan, sedangkan Nyonya melihat dengan kesal dan heran. Musa marah membentak dengan garangnya pada Jali, Jali tunduk ketakutan).
Adegan III
Musa. Jahanam! Tidak punya mata? Bangsat! (Jali tunduk terus masuk. Musa hendak meneruskan tujuannya tapi tiba-tiba ia berbalik seperti baru teringat akan sesuatu).
Musa. Hei! Dari mana kau? (Kepada Jali. Jali dengan hormat-hormat ketakutan menghampiri lalu menjawab dengan perlahan).
Jali. Disuruh Juragan istri?
Musa. Hei, monyet! Kalau bicara sama aku musti jongkok, biar tahu adat!! (Jali jongkok, Musa meneruskan). Di rumah ini aku yang kuasa, aku yang kasi makan, tidak perlu turut perintah orang lain, hanya perintahku, mengerti!
Jali. Saya, Juragan. (Nyonya Musa mendengar ini timbul amarahnya).
Nyonya. Aku yang menyuruh! (marah) Apa aku tidak boleh menyuruh orang gajianmu?
Musa. (membentak) Diam! Jangan turut campur, aku tidak bicara sama kau! Ini urusanku sendiri!
Nyonya. Urusanmu juga urusanku!
Musa. Aku bilang diam!!! (Berteriak lebih keras) Tidak perlu turut campur! Aku cuma bicara sama si Jali, setan! (Kepada Jali sambil ditendangnya) Hayo, jawab! Ke mana tadi, ha?
Jali. Ke rumah Ranta, Gan. (Musa marah lalu berjalan mundar-mandir, tiba-tiba seperti orang yang baru ingat. Lalu kembali menghampiri Jali).
Musa. Hei! Kau lihat tasku di sana?!
Jali. Apa, Gan? (Musa berteriak dengan memukul-mukul kepalanya).
Musa. Tasku! Tasku, tongkatku, tuliiiiiii (disentaknya tangan Jali lalu ditegakkannya. Ditantangnya mata Jali seperti hendak diterkamnya). Tasku…… tasku…… tongkatku…… kau lihat??!!! (Digoncang-goncangnya kedua bahu Jali).
Jali. Tidak, Gan! Enggak ada! (Ketakutan dan gemetar).
Musa. Hayo, kau musti pergi lagi ke sana! Ambil tas dan tongkatku, rebut dari si jahanam itu! Kalau tidak dikasi, bunuh dia! Hayo lekas!
Jali. Rumahnya dikunci dari luar, Gan!
Musa. Ke mana dia? (melotot ketakutan).
Nyonya. (Yang sejak tadi memperhatikan kelakuan suaminya sambil duduk di kursi mengejek). Ala… lagak! Bunuh si Ranta! (Dengan suara menirukan Musa). Kalau betul-betul jagoan, bunuh saja sendiri jangan suruh anak kecil. Hayo, maju Pahlawan! Siapa yang tidak kenal Juragan Musa (Menepuk-nepuk dada mengejek. Musa mendengar ejekan itu, marah tapi kemudian sedih, ditutupnya mukanya dengan kedua tangannya lalu meraung menangis seperti orang hilang akal).
Musa. Ya Allah… lindungilah hambamu… ya Allah. (Kemudian menghampiri istrinya dengan muka minta dikasihani). Tolonglah aku, Nah! (Istrinya berpaling tak menjawab. Musa tambah mendekati seperti orang ketakutan minta perlindungan). Nah. (terisak-isak menangis) jangan tinggalkan aku, kau istriku yang setia, Nah!
Nyonya. (Dengan agak sombong tapi timbul rasa kasihannya). Kenapa kau ini sebetulnya, pulang marah-marah, kalap, ngamuk ke sana ke sini. Kenapa?
Musa. (Musa tertunduk malu kemudian teringat ada Jali di antara mereka, dengan mengubah mimik Musa melotot dan membentak Jali). Masuk! (Jali dengan ketakutan masuk. Musa mengubah mimiknya lagi seperti semula, mimik orang yang meminta belas kasihan, ditatapnya istrinya dengan sayu, sedangkan istrinya masih tetap tenang). Kau mau menolong aku, Nah?
Nyonya. Aku kan istrimu, sudah sepatutnya menolong kalau kau dalam kesukaran, asal aku tahu sebab-sebabnya!
Musa. Kau bakal setia biarpun kita bakal hidup melarat, Nah?
Nyonya. Apa masih kurang kesetiaanku? Tapi kenapa, kenapa kita mesti jadi melarat?
Musa. (Musa meraih tangan istrinya kemudian didudukkannya di kursi. Musa berjalan membelakangi seperti orang sedang berpikir. Ia berjalan mendekati istrinya kemudian menghela napas panjang. Tampak ragu, bimbang, ketakutan dan putus asa. Istrinya memperhatikan terus gerak-gerik Musa dengan tak berkedip). Kau sanggup hidup melarat? (Istrinya mengangguk heran) Sanggup hidup di hutan? (Istrinya terkejut ditatapnya Musa dengan penuh pertanyaan tapi mulut tak kuasa mengucap sepatah-kata, Musa mengangguk dan meneruskan). Ya… ke hutan!
Nyonya. (seperti orang baru sadar). Ke hutan???? (Suaranya bimbang, heran penuh tanya) Di hutan??!!!
Musa. Aku dalam kesulitan, kita terpaksa… (Tiba-tiba terdengar suara dari luar “Assalamualaikum”. Musa dan Nyonya terkejut dan gugup). Siapa?
Adegan IV
(Di ambang pintu muncul seorang laki-laki setengah tua berpakaian cumpang-camping dengan terbungkuk-bungkuk hormat dibukanya topi tikarnya yang juga sudah cumpang-camping).
Jameng. Abdi, Gan. (Matanya agak liar melihat kekirikanan).
Musa. Masuk, Meng! Kebetulan, aku ada urusan penting! (Jameng dengan terbungkuk-bungkuk masuk lalu duduk di ubin. Kemudian Musa kepada istrinya). Masuk dulu, aku ada urusan! (Istrinya masuk, Musa menyuruh Jameng maju. Jameng maju dengan gaya ketakutan yang dibuat-buat, lalu duduk dekat kursi Musa). Sekali ini aku kasih permisi, duduk saja di kursi!
Jameng. Ah, biar di sini saja, Gan. (Tersipu-sipu).
Musa. (Dengan gaya tak sabar). Ada kabar apa?
Jameng. (Melihat ke kiri-kanan kemudian duduknya menggeser sedikit lebih mendekat pada Musa). Bahaya, Gan! (Musa terbelalak, korsinya dikisarkannya menghadap ke arah Jameng).
Musa. Bahaya?? (Ditatapnya Jameng) Bahaya bagaimana? Hayo lekas bilang!
Jameng. Ya… bahaya, Gan! Juragan musti hati-hati Juragan terancam! (Musa yang semula terbelalak ketakutan berubah tertawa sombong sambil berdiri seperti acuh tak acuh).
Musa. Hahaha… kau seperti baru kenal kekuasaanku! Siapa yang berani ganggu aku berarti dia sudah bosan hidup. Dengan uang aku bisa berbuat sesuka hatiku hahaha… (Ditepuknya bahu Jameng).
Jameng. Tapi tas Juragan apa tidak ada isinya yang penting? (Musa baru teringat akan tasnya, kemudian kembali ia melotot ketakutan, gugup, gemetar lalu berteriak).
Musa. Tasku… Lekas ambil tasku… lekas! (memukul-mukul kepalanya kemudian pada Jameng). Kau lihat tasku? Siapa yang bawak? Ke mana dibawanya? (Kembali Musa mundar-mandir). Bahaya!… Mati aku, … cilaka…! Ya, Allah… (Musa terduduk sedangkan Jameng kebingungan dan ketakutan).
Jameng. Tadi saya lihat dibawa Ranta dengan beberapa orang temannya, Gan.
Musa. (Berteriak) Bunuh si Ranta!… Rebut tas dan tongkatku! Hei, Meng, kau tidak tanya mau dibawa ke mana tasku?
Jameng. Tidak, Gan, saya takut. Cuma dari jauh dia berteriak-teriak memanggil-manggil saya sambil mengacungkan tas dan tongkat Juragan, dia berteriak: Hei, Meng! Lihat, nih, banda Juraganmu! Kau tahu apa isinya? Nyawa Juraganmu, nih!
Musa. (Berpikir kemudian tampak kesombongannya kembali, ia mencoba meredakan pikirannya dengan merokok lalu mundar-mandir. Ditengadahkannya mukanya ke atas kemudian tersenyum sombong dan mengejek). Hem… biar saja, … mau ke mana manusia seperti dia itu. Siapa yang mau percaya sama orang jembel. Mau apa? Mau melapor ke polisi? Aku kenal sama pembesarnya. Mau ngelapor ke Komandan? Apa lagi! Pendeknya tidak perlu takut, laginya pak Komandan sedang ke kota! Heh… ke mana dia pergi masa bodoh, malah dia yang bisa dibui… (Mundar-mandir kemudian seperti ingat sesuatu siasat). Nah, aku laporkan saja lebih dulu, dia pencuri, maling bibit karetku?!! Ah, pendeknya beres. (Tapi tiba-tiba mukanya berubah. Sedang mulutnya gemetar, Musa kembali panik dan meraung). Tapi isinya… isinya tidak boleh ada yang tahu… lekas ambil tasku… tolong… ya Allah… tasku ada isinya… mati aku Meng, lekas cari,… kalau tidak kau aku bunuh! (Jameng bangkit kemudian berdiri seperti menanti sesuatu. Musa menggentak). Lekas, monyet! (Jameng pura-pura merogo pesaknya dengan senyum-senyum palsu pura-pura malu).
Jameng. Ongkosnya. Gan? Laginya laporan yang kemaren dulu belum dikasih…
Musa. Apanya? (melotot).
Jameng. Uang jasa, Gan!
Musa. Setan! (merogoh pesak dan mengeluarkan beberapa lembar uang kemudian diberikannya dengan suara sombong dan memerintah). Nah! Pergi, lekas uruskan sijahanam itu! (Jameng menerima uang dengan gembira serta manggut-manggut kemudian dengan hormat yang berkelebihan keluar setengah berlari. Musa setelah tinggal sendirian berjalan mundar-mandir, sebentar duduk kemudian bangkit lagi. Tak lama dipanggilnya istrinya).
Adegan V
Musa. Nah! Inah! Sudah beres?
Nyonya. (istrinya) Apa yang sudah beres? Dari tadi aku masih belum mengerti maksudmu?
Musa. (membentak) Goblok! Aku bilang kita mesti lari ke hutan!
Nyonya. Memangnya biar dibunuh DI? (Acuh tak acuh, tapi tiba-tiba rupanya berubah dipandangnya Musa dengan penuh curiga, dengan suara berat tertahan). Atau… atau kau sendiri… (bibirnya gemetar matanya tak berkedip).
Musa. (Musa terkejut kemudian dihampirinya istrinya, dan dengan suara halus membujuk) Keadaan memaksa, Nah! Kau tidak tinggalkan aku, bukan?
Nyonya. (Nyonya diam tak menjawab, kepalanya ditundukkannya kemudian menangis. Dengan suara terisak-isak) Orang tuaku…… saudaraku, mati dibunuh gerombolan DI dengan kejam…… lalu rumahku habis dibakar…… (Ditutupnya mukanya dengan kedua tangan dan menangis tersedu-sedu, dengan suara sedih terputus-putus meneruskan). Sekarang, aku sendiri berada disarang DI. Suamiku sendiri rupanya pemimpin DI. (Menangis lebih keras). (Musa kebingungan, dicobanya menghibur istrinya).
Musa. Sudahlah, sabarkan hatimu. Percayalah, Tuhan senantiasa melindungi asal kita tetap menjalankan perintahnya!
Nyonya. Apa membunuh, menggarong, menyiksa orang dengan kejam seperti gerombolan Darul Islam itu perintah Tuhan? (Mulai melawan agak keras).
Musa. Jadi kau tidak percaya pada Tuhan? (Nyonya diam dipalingkannya mukanya hingga menimbulkan Musa kesal. Nyonya bangkit kemudian berjalan agak menjauh dari Musa. Musa segera menghampiri dengan kasar ditarik istrinya hingga berhadap-hadapan. Kemudian Musa mengulangi bertanya dengan suara kesal). Kau tidak percaya pada Tuhan? (ditatap-tatapnya istrinya dengan tajam).
Nyonya. (Berdaya melepaskan diri). Aku tidak berkata demikian! Tapi aku tidak percaya perbuatanmu itu perintah Tuhan! (berpaling).
Musa. (berteriak dengan kesal) Murtad! Kufur! Sia-sia punya bini tidak percaya Tuhan! Ya Allah-allah ampuni hambamu yang sesat! (dipukul-pukulnya kepalanya dan ia mundar-mandir).
(Nyonya tetap berdiri membelakangi Musa dan agak menjauh, tak mengacuhkan perkataan suaminya. Musa bertambah marah). Tidak kusangka, kau yang selama ini alim, tidak pernah membantah segala perintahku, rupanya cuma pura-pura! Huh, palsu, penipu!
Nyonya. (Cepat berbalik menantang Musa. Dengan tadan mengejek). Aku pun tidak menyangka, yang suamiku orang kaya, dihormati, ditakuti, rupanya seorang pemeras, penipu! (Suaranya tambah meninggi)
Kau sebar uangmu supaya ditakuti orang! Kau tipu mereka dengan berlagak jadi orang besar, padahal kau sendiri sebenarnya seorang pengkhianat!
(Tambah maju mendekat mengejek). Kau yang segagah ini, segarang ini, sayang keberanianmu cuma untuk melawan aku, memaki aku! Menghadapi seorang Ranta saja mesti mengerahkan orang-orang upahanmu! (berbalik melengos) Hem… pembesar rombengan! (lalu masuk).
Musa. (Dalam marahnya tapi agak terpaku dan terperanjat memperhatikan istrinya seberani itu melawan dia. Mukanya tampak kesal, malu, marah dan putus asa. Ia bingung tak tahu apa yang harus diperbuat. Diambilnya keris pusakanya lalu dijunjung dan diciuminya dengan mulut kumat-kamit. Tiba-tiba suara orang memberi salam dari luar. Musa terperanjat dan gugup lalu keris dimasukkan lagi ke dalam bajunya kemudian menuju ke pintu dengan ketakutan. Tak lama muncul seorang muda tinggi besar berkumis lebat dan bercambang. Di pinggangnya terselip golok yang agak panjang. Di ambang pintu ia memberi isyarat dengan tangan seolah-olah ada beberapa orang di luar yang sedang menantikan tugas daripadanya. Kemudian dengan memberi hormat secara militer kepada Musa ia pun masuk).
Adegan VI
Musa. (Seperti laku seorang yang sedang memberi tugas kepada anak buahnya).
Sudah kau siapkan anak buahmu? (kemudian menyuruh duduk).
Kasan. Siap, Pak! Kami tinggal tunggu perintah! Sekarang juga mereka sudah menunggu di luar!
Musa. Bagus! (berjalan mundar-mandir seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu yang pelik).
Senjata?
Kasan. (Dengan gaya seorang jagoan menepuk-nepuk pinggangnya menunjukkan golok dan pistol yang disembunyikan di dalam sarungnya).
Pak Residen seperti tidak kenal Kasan! (menepuk dada) Pendeknya beri tugas semuanya beres!
Musa. Culik si Ranta dan rampas tasku sekarang juga! Aku dalam bahaya, kalau perlu si Ranta kau……
Kasan. (Tertawa sambil mengangguk-ngangguk) Jangan khawatir. Pak! Sekarang juga saya tamatin riwayatnya. Pak Residen tidak perlu takut, serahkan urusan ini ketangan Kasan.
Musa. Kalau begitu aku tidak perlu mengungsi (gembira).
Kasan. (Tertawa terbahak-bahak) Buat apa Pak Residen mengungsi segala? (mendekat) Tambah hari tambah kuat kedudukan kita di sini, Pak! (Mengubah siasat) Supaya tidak buang tempo, lebih baik sekarang juga saya beresin si Ranta! (bergerak seperti mau keluar tapi tiba-tiba berhenti dan kembali menghampiri Musa) Oh, ya Pak, sedia uang jaminan buat anak-anak?
Musa. Berapa kau perlu?
Kasan. (Aksi menghitung-hitung sambil berpikir). Ya… kira-kira lima puluh ribu dulu cukup!
Musa. (Setelah mendengar jumlah yang diajukan agak melotot heran). Hah… kenapa begitu banyak?
Kasan. Kalau kita mau selamat ya musti berani berkorban. Laginya apa arti uang sebegitu, dibandingkan dengan bahaya yang mengancam Bapak sekarang (aksi acuh-tak acuh) Tapi… ya, itu terserah sama Pak Residen. Pendeknya ada lima puluh ribu, Pak Residen boleh hidup tenteram. Kalau tidak, ya, saya tidak jamin!
Musa. (Terjepit bingung memilih sambil berjalan mundar-mandir mengulangi beberapa kali jumlah lima puluh ribu, sedangkan Kasan memperhatikan dengan gagah).
Kasan. (Mendesak) Bagaimana, Pak? Kalau bapak ragu-ragu ya sudah, saya pulang saja (Cepat bergerak menuju pintu).
Musa. Jangan begitu, tolong aku! Tunggu sebentar! (Musa masuk ke dalam tak lama keluar membawa bungkusan uang kemudian diserahkannya pada Kasan. Kasan menerima dengan mata berseri dan senyum puas, dibukanya sedikit lalu menghitung).
Kasan. (Hormat sebagai seorang militer kembali). Siap menjalankan tugas! (di pintu Kasan memberi isyarat keluar kemudian menghilang).
Adegan VII
(Kembali Musa gelisah, mulutnya berkumat-kamit dan keris pusaka sebentar-bentar dicabut dan dijunjung seolah-olah meminta perlindungan. Di luar hari sudah mulai gelap. Tak lama Nyonya keluar dengan muka masam. Nyonya menyalakan lampu, sedangkan Musa masih tetap khusyuk dengan kerisnya. Nyonya melihat Musa sebentar kemudian melengos. Ketika itu Musa kebetulan melihat nyonya lalu menghampiri. Nyonya duduk di kursi, mukanya lesu sedih matanya memandang jauh kesatu jurusan. Musa menghampiri dengan pelahan, Nyonya tetap tak mengacuhkan, lalu Musa duduk di kursi menghela napas, mencoba menenangkan pikirannya yang sedang kusut. Ditatapnya istrinya dengan ragu).
Musa. Macam mana pikiranmu, Nah? Menurut si Kasan kita tidak perlu ngungsi, tapi rasanya aku tidak bisa tenteram di sini. (sedih) Pasti hidup kita terancam! (Nyonya diam tak memberi reaksi apa-apa). Percayalah Nah, di sana pun kau tidak terlantar, (Timbul kesombongannya kembali) Orang-orang di sana itu semua anak buahku, mereka musti menghormati kau, kalau tidak, kusuruh bunuh! Sebaliknya kalau kau tinggal di sini, aku tidak bisa menjamin keselamatanmu! (Dari kejauhan terdengar suara ramai. Musa terkejut, matanya terbelalak dan gemetar. Nyonya pun terkejut lalu berdiri, ditatapnya Musa dengan mata ketakutan. Mereka berdua berpandangan, masing-masing membisu. Tiba-tiba Musa dengan gugup menarik tangan istrinya). Lekas! Bungkus semua pakaian, kita mesti cepat lari! (Ditolaknya istrinya masuk ke dalam sedangkan Musa tinggal sendiri, gugup dan ketakutan, sebentar-bentar ia lari ke pintu kemudian duduk dan mundar-mandir lagi. Kemudian dengan suara tak sabar berseru). Sudah siap, Nah?
Nyonya. (dari dalam) Belum! Apa semuanya dibawak?! (Suara gugup ketakutan) Tempatnya enggak cukup! (suara-suara pintu lemari dsb-nya terdengar ribut).
Musa. Goblok! (memukul-mukul kepalanya dengan kesal). Ya Allah…… lindungilah kami…… (mulutnya terus berkumat-kamit sedang kedua belah tangannya menengadah mendoa, kemudian berhisteris). Aku bilang… lekaaas!!! (Kemudian nyonya muncul dengan muka kesal lalu duduk memberengut. Musa tambah kalap lalu menghampiri). Heh, perempuan sialan! Orang dalam keadaan begini kau enak-enakan duduk.
Nyonya. Kau cuma bisa berteriak memaki-maki, kenapa tidak kau sendiri yang membungkusi pakaian-pakaianmu? (berpaling kesal).
Musa. (Semula hendak marah, tapi kemudian rupanya berubah seperti orang minta pertolongan). Tolonglah aku, Nah! Cuma kau yang bisa menolong, (tambah mendekat) aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan kau. Bantulah aku, jangan tinggalkan aku sendirian. (Menangis seperti orang ketakutan).
Nyonya. Baru tadi kau bilang aku perempuan sialan! (Goyang-goyang kaki dikursinya).
Musa. Maafkan, Nah! (Seolah-olah hendak berlutut. Sementara itu suara-suara ramai di luar terdengar lagi dan sekarang suara itu terdengar lebih dekat. Kembali Musa terkejut ketakutan dan cepat menuju ke pintu, tak lama kemudian dihampirinya lagi istrinya dan berkata dengan suara menangis). Lekaslah bungkusi pakaian-pakaian, Nah! Kita dalam bahaya ini!! Lekaslah!
Nyonya. Suruh saja anak buahmu! (Marah manja) Aku kan perempuan sialan??? (Melengos).
Musa. Jadi, betul-betul kau sudah tidak mau turut perintahku lagi??? Kau tega mengkhianati lakimu sendiri, Nah? (Sedih putus asa. Nyonya melihat hal itu, lalu mempergunakan siasat untuk kepentingannya sendiri, karena ia tahu kemenangan ada di tangannya).
Nyonya. Aku tidak suka mengkhianati suamiku sendiri, asal… segala permintaanku kau kabulkan (Suara manis sambil mengerling).
Musa. Demi Allah, Nah, aku tidak akan sia-siakan kau, segala permintaanmu kukabulkan, asal tidak tinggalkan aku. Bilanglah!
Nyonya. (Sambil melenggok) Aku tidak minta apa-apa, cuma jangan aku disamakan sama perempuan-perempuan kampung yang lain. (Dengan gaya sombong) Aku bukan perempuan sembarangan, bukan perempuan pasaran, aku keluaran SKP. Dan… aku sudah tidak kuat hidup dimadu seperti sekarang!
(Terdengar suara ramai-ramai lagi di luar, Musa bingung).
Musa. Ya… aku bersumpah tidak akan menyia-nyiakan kau, semua biniku kuceraikan, (Suaranya gugup karena mendengar ramai-ramai di luar. Tambah lama tambah gugup dan panik sambil mundar-mandir).
Nyonya. Kapan-kapan? (Manja).
Musa. Sudahlah, jangan banyak omong! (melotot)
Lekas ambil bungkusan, kita mesti lari sekarang juga! (Ditariknya tangan istrinya dengan kasar).
Nyonya. Baru saja kau bersumpah tidak akan menyia-nyiakan aku, sekarang sudah melotot-lotot (Merajuk).
Musa. Perempuan jahanam! Dikasi hati tambah betingkah! Ya Allah… ya Rabi… menyesal punya bini macam begini (Memukul-mukul kepalanya) Hayo, lekas!!! Apa kau minta kubunuh?!! (Berteriak sambil mencabut keris, ditariknya tangan istrinya dengan keras hingga istrinya tersungkur).
Nyonya. Lepaskan!!! (Berteriak sambil meronta melepaskan diri). Ceraikan aku! Tidak perlu kau mengancam membunuh aku! Bunuh Ranta kalau memang kau berani! (Musa dengan muka buas mendekati, kemudian hendak mencekik istrinya. Istrinya lari berteriak minta tolong sambil memaki menyumpah-nyumpah). Tolong! Tolong! Aku laporkan kau pemimpin DI! Biar kau ditangkap, dibunuh! (Berlari-lari menjauhkan diri sedangkan Musa bertambah kalap, lalu mereka berkejar-kejaran, kemudian Musa berhasil menangkap tangan istrinya, ketika tangan Musa melayang hendak menempeleng, istrinya teriak lebih keras). Tolong!!! (Beberapa kali). Ada D.I. (Musa sudah tambah kalap kesetanan, ditamparnya istrinya sekuat-kuatnya hingga istrinya jatuh tersungkur keluar pintu).
Adegan VIII
(Musa memburu, tapi tiba-tiba seorang Komandan TNI jongkok menolong menegakkan istri Musa dengan tenang. Nyonya heran tercengang, sedangkan Musa gugup).
Komandan. Boleh saya tolong nyonya? (Tenang tersenyum dengan sopan).
Musa. Pak Komandan? (Gugup) Silakan masuk, Pak!
Komandan. (Komandan setelah menolong menegakkan istri Musa lalu masuk. Istri Musa mengikuti masuk dengan keheran-heranan dan agak ketakutan. Musa membetul-betulkan kursi untuk menyembunyikan kegugupannya. Komandan tetap tenang).
Maaf, saya mengganggu, Tuan Musa. Kebetulan saya datang rupanya sedang ada “pertempuran” di sini? (Senyum menyindir, tapi tetap tajam memperhatikan gerak-gerik Musa).
Musa. Ah, tidak apa-apa, Pak! Silakan duduk! (Gugup menarik kursi mempersilakan).
Komandan. Terima kasih! (Duduk).
Musa. Nah! (Pada istrinya yang masih terpaku berdiri di belakang). Sediakan minuman buat Pak Komandan! (Istrinya hendak masuk, tapi cepat Komandan melarangnya).
Komandan. Tidak usah repot-repot Tuan Musa! Kedatangan saya hanya untuk menjalankan tugas! (Kepada Nyonya) Duduk saja di sini, Nyonya! (Nyonya duduk di kursi yang terletak di belakang. Sementara itu beberapa orang prajurit tampak mundar-mandir di luar pintu dengan bayonet terhunus. Musa gelisah ketakutan, Komandan memperhatikan dengan tajam).
Musa. Silakan merokok, Pak! (Berusaha menyembunyikan kegugupannya).
Komandan. Terima kasih! (Menolak dengan sopan).
Musa. Ada urusan penting rupanya, Pak? Tidak biasanya Pak Komandan datang kemari, apa perlu bantuan saya, Pak?
Komandan. Ya… memang kami sangat mengharapkan bantuan Tuan! Saya rasa Tuan Musa tidak keberatan bukan?
Musa. Sudah tentu… sudah tentu, Pak! (Kelihatan hilang cemasnya dan mulai timbul kesombongannya). Pendeknya apa saja yang Pak Komandan perlukan bantuan dari saya, saya siap sedia! Pak Komandan kan tahu, pengaruh saya pada orang-orang kampung di sini.
Komandan. Ya, justru karena itu saya kemari, karena pengaruh Tuan Musa yang begitu besar hingga menimbulkan kecurigaan di pihak kami.
Musa. Curiga? (Memandang heran).
Komandan. (Cepat memotong) Ya… curiga
Musa. Sebabnya?
Komandan. Tuan Musa tentu tahu, daerah sini sudah lama tidak aman. Gerombolan Darul Islam terus-menerus mengganas, menggarong, menggedor dan membakari rumah rakyat, sampai keluarga yang paling miskin tidak luput dari kebiadabannya. Tapi anehnya, Tuan Musa yang begini kaya tidak pernah diganggu oleh mereka. Kenapa? (Menatap dengan tajam).
Musa. Kenapa hal itu Pak Komandan mesti curiga?
Komandan. Dulu, dulu memang kami curiga, tapi sekarang tidak lagi!
Musa. Nah, kalau begitu buat apa Pak Komandan datang dengan membawa anak buah? (Dengan gaya seorang pembesar yang sombong).
Komandan. (Cepat memotong) Buat menangkap Tuan!
Musa. (Musa terbelalak menjerit geram, dengan membanting kaki). Tidak! Aku tidak perlu ditangkap! Tidak mungkin… tidak mungkin! Tuan Komandan sudah melanggar peraturan, menuduh orang tanpa bukti! (Prajurit di luar dengan serentak bersiap menjaga sekitarnya. Nyonya berdiri seperti patung. Musa seolah-olah mencari jalan hendak melarikan diri, sedangkan Komandan tetap tenang).
Komandan. Kami tidak akan menangkap orang yang tak bersalah, Tuan Musa. Dan kami tidak menuduh orang dengan sembarangan sebelum bukti-bukti berada di tangan kami!
Musa. Kalau begitu kenapa saya musti ditangkap? (Kemudian seperti baru teringat) Oh, barangkali Komandan mendengarkan perkelaian saya tadi dengan istri saya. Memang tadi dia berteriak mengatakan saya pembesar DI, tapi tuduhan seorang yang sedang berkelai, tidak bisa dijadikan sebagai bukti. Dan sebetulnya Tuan Komandan tidak perlu mencampuri urusan perkelaian rumah tangga orang.
Komandan. (Membentak) Cukup! Tidak perlu mencari-mencari alasan membela diri! (Kemudian memberi isyarat pada prajurit-prajurit. Prajurit-prajurit tegak memberi hormat, Komandan memberi perintah). Geledah semua! (Suara Prajurit-prajurit dengan serempak) SIAP! (Mereka berpencar, sebagian masuk ke dalam ke sebelah kanan dan sebagian ke sebelah kiri, dan sebagian menjaga pintu. Musa seperti kesetanan, panik ketakutan, matanya liar mengawasi sekitarnya. Kemudian dilihatnya istrinya yang sedang terpaku ketakutan di pojok lalu Musa melotot dan berteriak).
Musa. Kau yang sialan, jahanam! Aku bunuh kau! (Menghampiri istrinya dengan buas. Komandan memberi perintah pada prajurit-prajurit yang berada di situ).
Komandan. Tangkap! (Dua orang prajurit dengan gesit menangkap tangan Musa. Musa berteriak-teriak).
Musa. Lepaskan aku… lepaskan… aku tidak mau ditangkap… aku tidak bersalah! Perempuan itu yang pengkhianat! (Tapi Musa sudah tidak bisa bergerak lagi, kedua tangannya dipegangi dengan kuat, lalu Komandan memeriksa kantong dan lain-lainnya yang perlu, tiba-tiba Komandan menemukan keris yang terselip dipinggangnya dibagian dalam baju. Musa marah berteriak lagi setelah melihat kerisnya diambil). Jangan pegang keris pusakaku! Kualat! Laginya buat apa rumahku digeledah, tidak ada apa-apa di sini, tidak ada senjata, yang ada cuma keris pusaka itu! (Komandan memberi isyarat pada kedua prajurit yang memegangi Musa supaya dilepaskan. Setelah terlepas Musa dengan suara memohon kepada Komandan). Kembalikanlah keris itu, Pak. Itu warisan dari leluhur saya.
Komandan. Buat apa keris pusaka mesti dibawa-bawa, Tuan Musa?
Musa. Supaya pikiran tentram, Pak!
Komandan. Oh, rupanya Tuan Musa selalu merasa tidak tentram, ya? Kenapa? (Musa tunduk, kemudian dengan suara menghiba).
Musa. Percayalah, Pak, saya tidak bersalah. Demi Allah tidak ada hubungan saya dengan Darul Islam. Kalau ada tuduhan, itu cuma fitnahan orang-orang yang iri hati karena saya kaya. (Kemudian kepada istrinya) Akuilah, Nah, bilang terus terang, aku bukan DI. Kau tadi cuma main-main. (Nyonya yang sedari tadi kebingungan sekarang baru menyadari benar-benar, bahwa suaminya dalam bahaya, kemudian dengan langkah ragu-ragu dihampirinya Komandan yang tetap mengawasi segala gerak-gerik mereka).
Nyonya. Jangan tangkap suami saya, Pak, dia tidak bersalah, dia bukan orang jahat, bukan DI. Pak! Tadi saya cuma main-main.
Komandan. (Tersenyum) Saya sangat menghargai sifat Nyonya, sebagai seorang istri memang sudah sepatutnya membela suami, tapi bagaimana Nyonya tahu suami Nyonya bukan seorang pemimpin DI?
Adegan IX
(Nyonya diam tertunduk sebentar, dipandangnya suaminya dengan pandangan belas kasihan, kemudian menangis. Sementara itu dari dalam sebelah kiri keluar prajurit-prajurit dan dengan sikap secara militer menghadap dan melaporkan pada Komandan).
Prajurit I. Semua telah kami periksa, tapi tidak terdapat sesuatu yang membahayakan! Laporan selesai!
Musa. (Musa dengan muka berseri-seri menghampiri Komandan). Apa saya bilang, Pak, saya tidak menyimpan apa-apa yang membahayakan, jadi tidak ada alasan saya ditangkap.
Komandan. (Membentak) Diam! (Memerintah) Tinggal tetap di situ, jangan bergerak. (Dari sebelah kanan keluar beberapa orang prajurit di antaranya ada yang membawa bungkusan. Dan dengan sikap sebagai militer memberi laporan).
Prajurit II. Pemeriksaan selesai! Kami hanya menemukan bungkusan ini! (Meletakkan bungkusan).
Komandan. Sudah diperiksa isinya?
Prajurit II. Sudah, Pak. Cuma pakaian dan sebuah kotak yang berisi barang-barang perhiasan dan beberapa keping emas.
Komandan. Bawa semua barang-barang itu ke markas!
Musa. Tidak! Jangan dibawa, itu bukan barang curian!
Komandan. Diam! Lebih baik akui terus-terang hubunganmu dengan gerombolan!
Musa. Apa yang musti saya akui, Pak. (Lemah) Demi Allah saya…
Komandan. Cukup! Jangan sebut-sebut nama Tuhan! (Tambah geram) Tuhan kau permainkan, agama kau nodai, tanah airmu sendiri kau perjual-belikan.
Musa. Jangan menuduh orang dengan membabi-buta begitu saja. Saya tidak pernah menodai agama, sebagai umat Islam saya patuh akan ajaran agama dan taat menjalankan perintah Tuhan. (Agak keras melawan).
Komandan. Tuan Musa, saya sebagai seorang Komandan, sebagai seorang alat negara, kewajiban saya hanya untuk menyelamatkan tanah air dan bangsa dari segala macam gangguan yang mengacaukan keamanan negara, dan melindungi rakyat. Itulah tugas utama bagi saya sebagai seorang alat negara, bukan untuk berdebat tentang soal agama. Tapi sebagai manusia biasa, perkenankanlah saya sekarang menerangkan dengan tegas, bahwa cara agama yang tuan jalankan sekarang adalah bertentangan dengan hukum-hukum Islam yang sesungguhnya. Tuhan tidak membedakan umatnya antara si miskin dan si kaya. Tuhan tidak menyuruh umatnya berbuat kejam seperti yang dilakukan oleh Darul Islam. Tuhan menyuruh umatnya supaya bersatu, bukan untuk berpecah-belah, saling garong dan bunuh-bunuhan. (Komandan bicara dengan tenang. Sesaat panggung sunyi, semua mata tertunduk, hanya Komandan yang dengan tenangnya memperhatikan Musa. Tiba-tiba Musa memecah kesunyian).
Musa. Tapi saya bukan gerombolan, saya bukan orang DI. Kenapa saya musti ditangkap?
Komandan. (Komandan kembali sebagai seorang militer, menjawab dengan singkat tapi tegas).
Tuan memang bukan orang DI, tapi pemimpin DI yang menggarong dan memeras rakyat di daerah sini!
Musa. Tidak (melawan) Mana buktinya?
Komandan. Oh, jadi tuan minta bukti? Baik! (kepada seorang prajurit) Suruh Ranta dan kawan-kawannya masuk!
(Setelah memberi hormat prajurit yang diperintahkan lalu keluar. Musa gelisah berpandang-pandangan dengan istrinya).
Nyonya. Bawa aku ke mana pun juga, aku sudah tidak punya teman lagi di sini. (dipeluknya Musa sambil menangis).
Komandan. Sabar nyonya, kami hanya menangkap orang yang bersalah dan melindungi orang yang baik. Da lam hal ini saya mengerti bahwa nyonya tidak tahu-menahu tentang hubungan suami nyonya dengan gerombolan. Tenanglah!
Nyonya. Tapi dia suami saya, dia orang baik, kenapa musti ditangkap (Menangis lebih keras).
Komandan. Sebagai seorang suami mungkin dia baik, tapi bagi negara dan rakyat dia adalah seorang pengkhianat, seorang algojo yang kejam!
Adegan X
(Ranta cs. Masuk diantar atau dikawal oleh seorang prajurit yang membawa tas dan tongkat Musa. Ranta berhenti di pintu, Musa memandang geram dan berusaha hendak lari. Pelukan istrinya dilepaskan hingga istrinya terhoyong-hoyong hampir jatuh. Cepat dua orang prajurit memegang Musa).
Komandan. (Kepada Ranta cs) Terus masuk! Coba lihat tuan Musa, apa itu bukan tas Tuan?
(Musa melihat sebentar kemudian tertunduk lagi. Sesaat sunyi tak ada jawab. Lalu komandan kepada nyonya).
Ha, barangkali Nyonya bisa mengenali, apakah ini betul tas suami nyonya? (Nyonya memperhatikan kemudian melihat kepada Musa lalu kembali tunduk. Kembali panggung sunyi. Kemudian Komandan berpaling pada Ranta). Siapa punya tas itu, Ranta?
Ranta. Juragan Musa, pak.
Komandan. Dari mana kau dapat ini?
Ranta. Di pelataran rumah saya, Pak. Tadi sudah saya laporkan duduk perkaranya.
Komandan. Yaya… (Kemudian kepada Musa).
Perhatikan betul Tuan Musa, apa betul tas itu kepunyaan tuan?
Musa. Ya… memang itu tas saya yang hilang… Dia yang curi rupanya! Tangkap! Memang dia pencuri… suka nyolong bibit karet saya!
Komandan. Tenang! (menghardik).
Ranta. Tidak, Pak Komandan! Saya tidak curi tas ini, saksinya ada, bapak boleh periksa.
Komandan. (kepada Musa) Kenapa tadi diam saja tidak mau mengakui tas itu Tuan punya?
Musa. Tadi belum berapa jelas, Pak, maklum gelap. Tapi… tas itu kosong tidak ada isinya apa-apa Pak!
Komandan. Diam! Saya tidak bicara tentang isinya, kenapa sudah mendahului. Curiga?
Musa. Ya… saya curiga Pak, khawatir kalau ada orang yang jail tarok apa-apa buat memfitnah saya.
Ranta. Tidak betul, Pak! Saya tidak buka-buka, begitu saya pungut terus saya dengan bini dan teman-teman saya ngelapor ke Markas, Bapak sendiri yang buka.
Musa. Bohong dia Pak!
Komandan. Jadi siapa yang memasukkan surat-surat rahasia DI itu ke dalamnya!
Musa. Wallahualam, Pak. (Mendengar itu Komandan hilang sabarnya dihampirinya Musa kemudian dengan geram ditamparnya hingga Musa hampir tersungkur).
Komandan. Pengkhianat! Memangnya setan yang memasukkan? Jawab, terus terang! Siapa yang masukkan surat-surat rahasia Darul Islam itu (Musa diam tertunduk, tiba-tiba dari luar terdengar bunyi tanda ada bahaya. Semua prajurit melihat keluar bersiap-siap lalu komandan memberi perintah).
Semua bersembunyi! Ada orang datang! (Prajurit-prajurit berpencaran kemudian Komandan kepada Musa).
Kau mesti sambut tamumu seperti tidak ada apa-apa. Kalau kau berteriak atau lari, aku tembak dari belakang pintu. Mengerti? (Komandan sambil mengambil keris pusaka yang terletak di atas meja berkata pada nyonya).
Nyonya, kalau mau selamat turut perintah saya! Kalau tidak kami bisa tembak kalian dari balik pintu.
(Terus bersembunyi. Tinggal sekarang Musa dan istrinya saling berpandangan. Tiba-tiba terdengar dari luar suara orang memberi salam).
Adegan XI
Assalamualaikum!
(Musa dan istrinya serentak menjawab).
Musa & Nyonya. Alaikum salam! (Di pintu tampak seorang laki-laki setengah umur, berbaju dan bercelana hitam, ikat kepalanya batik dan berkain garut. Dipinggangnya tampak menonjol sebuah revolver, talinya terbuat daripada plinan benang sutera berwarna hijau dan kuning. Juragan Musa menyambut dengan segannya).
Musa. Oh, Lurah? Masuk! (Lurah masuk dan terus duduk. Musa kelihatan kegelisahannya matanya liar. Lurah tak memperhatikan perubahan-perubahan yang tampak pada Musa, Sambil duduk terus saja bicara).
Lurah. Menurut laporan dari bagian penyelidik kita, Pak Komandan sedang cuti ke kota dengan beberapa orang pengawalnya. Jadi sebaiknya Pak Residen segera bertindak malam ini juga kita serbu markas tentara itu. Mereka hanya 10 orang. Kita bisa serang dan gropyok cukup dengan 20 orang saja. Bagaimana pikiran Pak Residen? (Musa yang sejak tadi seperti orang kena bius, mendadak bangkit sambil memukul meja dengan keras dan dengan melotot dihardiknya Lurah yang sedang menggulung-gulung daun kaung hingga ia terkejut).
Musa. Tutup mulut! Pengkhianat! Siapa yang kau sebut Pak Residen? Siapa? (berteriak lebih keras).
Lurah. (menghampiri) Apa Pak Residen lagi sakit? Maaf saja, Pak! Kedatangan saya cuma menjalankan tugas, yaitu melaporkan keadaan yang Pak Residen, eh maaf, Juragan Musa perintahkan. Kalau Juragan takut dan ragu-ragu, baiklah akan saya pimpin sendiri pasukan kita untuk mengadakan penyerbuan malam ini!
Adegan XII
(Tanpa menanti jawab. Lurah terus memberi hormat, bersaluir secara militer terus keluar. Musa terpaku tak berkutik. Tiba-tiba muncul Komandan dari tempat persembunyiannya dan segera menghampiri Musa dengan gaya menirukan Lurah, Komandan berkata dengan mendesak).
Komandan. Jadi, bagaimana, pak Residen? Belum juga mau mengaku? Apa masih mau bersandiwara? (Musa tunduk tak menjawab. Melihat ini Komandan tambah geram lalu dengan menghardik).
Jawab!
(Musa dengan lemah menjawab).
Musa. Apa yang musti saya jawab, Pak. Lurah itu memang setengah gila, kadang-kadang dia menyebut saya Residen, kadang-kadang Presiden, jadi bagaimana saya musti menghadapi orang semacam itu.
Komandan. Sudah tiga bukti menyatakan, kau pemimpin DI. Pertama-tama istrimu sendiri. Kedua surat-surat rahasia dalam tasmu. Ketiga Lurah tadi dengan jelas menyebut kau Pak Residen. Masih juga mungkir? (Kemudian kepada anak-buahnya memerintah). Bawa separo anak-buah ini dan separo dari OKD1 yang ada di luar. Jebak gerombolan yang mau menyerang markas! Binasakan kalau tidak mau menyerah! Segera! (Setelah menerima tugas memberi hormat dan kemudian beberapa orang dari mereka terus keluar. Panggung sunyi, semua yang ada tunduk terdiam, hanya Komandan berjalan mundar-mandir seperti sedang memikirkan sesuatu siasat. Di luar terdengar derap kaki. Setelah derap kaki terdengar semakin menjauh, Komandan berkata pada Musa). Aku masih tetap bisa bersabar menghadapi kau, tapi kalau terdengar nanti ada suara pertempuran, kau tahu sendiri! (Musa tak menjawab tampak putus asa dan gemetar. Tiba-tiba Komandan berkata lagi). Patut di daerah sini tidak pernah aman, rupanya ternyata Lurahnya sendiri yang mengkhianati rakyatnya, dan kau biangkeladinya! Dengan tamakmu sebagai tuan tanah kau perlakukan rakyat seperti sapi perahan. Kau peras, kau tipu rakyat dengan kejam hanya untuk kepentingan dirimu sendiri. Rupanya itu pun belum cukup puas! Kau khianati mereka, kau khianati perjuangan bangsa dan rakyat! Itukah yang kaunamai perintah Islam? (Musa tambah tertunduk, kembali panggung sunyi, hanya langkah Komandan jua yang terdengar mundar-mandir. Kemudian terdengar kembali suara dari luar menandakan ada beberapa orang mendatang. Kembali Komandan memberi isyarat kepada anak-buahnya untuk bersembunyi, dan sambil mengacungkan pistol ke muka Musa). Lakukan perintahku seperti tadi! Sambut gerombolanmu seperti kau menyambut lurah jahanam itu tadi! Kalau membantah, ini! (Menodongkan pistol kedada Musa dan segera bersembunyi. Tak lama tampak di pintu beberapa gerombolan yang dikepalai oleh Kasan. Melihat ini Musa tambah seperti orang gila kemudian seperti orang mencari jalan untuk melarikan diri. Nyonya cepat menarik tangan Musa sambil berteriak-teriak).
Nyonya. Tak mungkin kau tinggalkan aku! (Digantunginya Musa sambil meronta-ronta).
Musa. (Musa tambah kalap) Lepaskan aku, setan! Perempuan sialan!
Adegan XIII
(Kasan cs. Melihat kejadian itu mengira hanya perkelahian biasa antara suami-istri. Dengan cara memisah Kasan masuk).
Kasan. Sabar, Pak, Sabar Pak Residen!
Musa. Diam! Pergi semua! Pecahkan kepala perempuan keparat itu!
Kasan. Kami datang untuk melaporkan tugas yang diperintahkan pada kami, (hormat secara militer). Laporan! Ranta tidak ada di rumah. Tas dan tongkat Pak Residen tidak dapat kami temukan. Rumahnya sudah kami…
Musa. Persetan sama rumahnya (meraung gila).
Kasan. (Kasan tanpa memperdulikan Musa meneruskan laporannya). Kami bongkar pintu dan periksai di dalamnya, tapi tidak ada apa-apa. Jadi rumah itu kami bakar!
Musa. Apa, Siapa yang suruh bakar rumah si Ranta, ha?
Kasan. Pak Residen sendiri menganjurkan: bakar rumah-rumah rakyat yang sekiranya mencurigakan! Perbesar perang urat syaraf untuk memecah-belah rakyat! Kami hanya menjalankan tugas.
Musa. Siapa yang kau maksud dengan pak Residen, monyet? (Sambil maju menantang Kasan, Kasan melihat ini mundur heran sedang Musa terus mendesak sampai mereka berhadap-hadapan. Musa berteriak dengan seluruh suaranya yang dipunyainya. Kasan memandang heran penuh tanya). Jawab! Siapa yang kau maksud dengan pak Residen, ha?
Kasan. Pak Residen sendiri.
Musa. Aku? Mulai kapan aku diangkat pemerintah jadi Residen? (Kasan tambah heran. Ditatapnya anak-buahnya satu persatu seperti meminta jawab, sedangkan anak-buahnya masih tercengang seperti terbius. Musa bergegas hendak melarikan diri. Tapi baru saja sampai di pintu Musa terjatuh. Dengan gugup dan terhoyong-hoyong Musa kembali keruangan sambil mengusap-usap mukanya yang kesakitan dan matanya liar ketakutan. Kasan melihat itu segera memburu hendak menolong).
Kasan. Sudah ingat, Pak Residen? Boleh saya tolong?
Musa. Apa kau juga sudah gila seperti Lurah? Sudah berapa kali kau panggil aku Pak Residen, setan!
Kasan. (Kasan melihat keadaan yang serba membingungkan itu segera mengambil keputusan lalu memerintahkan pada anak-buahnya). Hayo! Lebih baik kita pulang!
Musa. Pulang? Pulang ke mana, gila? Ayo, jelaskan sekarang juga, aku bukan Residen. Bilang… bilang! Aku bukan Residen. Bukan! Lekas! Dan bilang bukan aku yang suruh bakar rumah si Ranta!
(Kasan tambah bingung, tapi kemudian tak menghiraukan Musa. Segera memberi isyarat pada anak-buahnya kemudian mereka pun keluar. Persis di pintu prajurit-prajurit sudah siap mengepung dengan bayonet terhunus. Komandan berserta anak-buahnya yang berada di dalam keluar dan segera Komandan menggertak).
Adegan XIV
Komandan. Angkat tangan! Menyerah! (Kasan dengan gesit melompat keluar, tapi ia tersungkur masuk ke dalam perangkap yang sudah disiapkan. Kasan berusaha mengadakan perlawanan, dicabutnya pistolnya, tapi dengan cepat Komandan menembak tepat pada tangannya). Ikat semua dan rampas senjata-senjatanya!
(Dengan serentak para prajurit menjalankan tugasnya. Gerombolan diikat dijadikan satu dan semua senjata yang mereka bawa dirampas dan dikumpulkan oleh prajurit yang memeriksa. Kemudian Komandan memerintahkan untuk mengikat Musa yang sejak tadi berdiri melongo dengan ketakutan. Musa diikat dan digiring disatukan dengan tangkapan yang lainnya sambil menangis Musa berteriak memohon).
Musa. Ampunilah saya, Pak Komandan. Ya Allah…… lindungilah hambamu (menangis tapi tak seorang yang menghiraukan. Sedang Nyonya dengan mata terbelalak dan mulut ternganga tak bersuara tiba-tiba rebah pingsan).
Komandan. (pada Ranta cs.) Tolong angkat, bawa ke dalam! (Ranta cs. Segera mengangkat dan dibawa ke dalam. Komandan memberi perintah pada prajuritnya). Bawa semua tawanan ke markas dan masukkan ke sel 8. Musa pisahkan sendiri di sel 16.
Serentak. Siap! (Terus menggiring tawanan keluar. Tiba-tiba Komandan berseru).
Komandan. Cepat kirim beberapa orang prajurit dan OKD buat jaga sekitar sini!
Serentak. Siap! (Mereka semua menghilang tinggal Komandan berdiri mundar-mandir. Seketika panggung sunyi, tak lama tampak Ranta cs. (kecuali Ireng) keluar. Komandan menghampiri Ranta dengan tersenyum puas kemudian menegur dengan ramah).
Adegan XV
Komandan. Bagaimana, masih belum sadar nyonya Musa?
Ranta. Belum, Pak! Tapi bini saya lagi masakin air panas buat cacap.
Komandan. Ranta, (sambil mengulurkan tangan) atas nama pemerintah, saya sampaikan terima kasih yang kau telah membantu kami membasmi kawanan gerombolan di daerah sini. Mudah-mudahan, dan ini saya yakin, berkat bantuan dan kerjasama antara rakyat dan tentara kita dapat mengamankan daerah ini kembali. (Komandan menggenggam erat tangan Ranta dengan tersenyum puas. Ranta tunduk kemalu-maluan, sedangkan kawan-kawannya pedagang singkong cs. Dengan melonjak-lonjak kegirangan sambil bersorak-sorak).
Pedagang I. Aman… aman…, aman dah bung!
Aman!
Pedagang II. Pendeknya kita tidak usah takut lagi bebek kita dicolong DI, rumah kita dibakar gerombolan.
Pedagang I. Kita bisa dagang enggak takut dirampas barang dagangan kita.
Ranta. Jangan terburu-buru kegirangan, kawan-kawan! Biar Juragan Musa sudah ketangkap, itu belum berarti daerah ini sudah seratus persen aman.
Komandan. Betul, Ranta! Bukan hanya Musa yang membahayakan, tapi masih banyak lagi kaki tangannya yang dengan sengaja mengacaukan ketertiban negara. Kita musti tetap waspada. Dari itu, kita musti bersatu. Hanya dengan semangat persatuan antara rakyat dan alat-alat negara, baru dapat kita mengusir musuh dari luar dan dalam, yang dengan sengaja hendak menodai bangsa dan tanah-air yang kita cintai. (Semua diam hening mendengarkan. Di pintu berdiri beberapa OKD dan beberapa orang rakyat tua muda, Semua mereka memandang ke dalam dengan pandangan puas dan berterima kasih).
Komandan. Bagaimana Ranta, kalau saya usulkan pada pemerintah, kau menjadi Lurah di sini sementara menunggu pemilihan umum. Saya percaya kau tentu tidak menolak, dan pasti rakyat di sini pun menyetujuinya. Bagaimana?
(Dengan serentak suara dari luar menyahut: “SETUJU!” beberapa kali. Komandan dan Ranta cs. Agak terkejut. Sedang rakyat dan OKD terus masuk kemudian memberi salam pada Ranta). (Ketika itu tampak Ireng keluar dengan keheran-heranan melihat suaminya dikerumuni dan disalami. Ireng kemudian maju mendekat tapi tetap diam tak berkata dan bertanya. Kemudian Ranta dengan agak kemalu-maluan).
Ranta. Saya sangat berterima kasih kepada Bapak Komandan dan Sdr-sdr semua, yang telah mengangkat saya jadi Lurah di sini. Saya berusaha sekuat saya buat menjalankan tugas. Tapi, saya ini orang bodoh, kalau Pak Komandan mau terima saya ada usul. (Komandan senyum mengangguk. Ranta meneruskan) Begini, Pak, seperti bapak sudah tahu sendiri, rakyat di sini termasuk saya, hampir semua bodoh-bodoh dan buta huruf. Bagaimana kalau misalnya diadakan pertemuan seminggu sekali antara bapak dengan penduduk setempat buat kasi penerangan dan pelajaran-pelajaran yang perlu, supaya kami ini tidak terus-menerus ditipu sama orang-orang seperti Musa.
Suara serentak. Akor! Setuju! Betul itu!
Komandan. Usul yang sangat baik, Ranta! Memang seharusnya begitu! Tentara bukan saja untuk menjaga keamanan dan melindungi rakyat, tapi juga sudah seharusnya memberikan penerangan-penerangan seperlunya kepada rakyat. Baik, usul itu saya terima!
Ranta. Terima kasih, Pak! (Kemudian kepada kawan-kawannya). Nah, saudara-saudara semua sudah dengar usul saya diterima. Saya harap saudara-saudara mentaatinya, (Seperti berpidato).
Saudara-saudara,
Kalau kita semua tidak bodoh seperti sekarang, sudah tentu hidup kita tidak begini. Tidak gampang kita ditipu dan diperas seperti yang kita rasakan sekarang. Kita bisa memilih dan membedakan siapa pemimpin yang jujur, betul-betul memperjuangkan nasib kita, dan siapa pemimpin palsu yang kerjanya cuma menipu dan memperalat kita.
Saudara-saudara,
Sekarang saya diangkat jadi Lurah, itu bukan berarti saya sendiri yang musti kerja mengamankan desa kita. Tidak, saudara-saudara! Seperti kata Pak Komandan tadi “Kita musti bersatu! Hanya dengan persatuan baru kita bisa mengusir segala musuh yang mengacaukan tanah-air kita”!!!!!!!
LAYAR TURUN
Catatan tentang Edisi Ini
Orang-orang Baru dari Banten terbit pada 1959 dari Bagian Penerbitan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), Jakarta. Teks edisi ini dibaca dari foto 70 halaman buku itu, koleksi pribadi penyusun, dengan dua kali pembacaan otomatis atas foto yang sama, lalu setiap kata yang meragukan dicocokkan dengan gambar halamannya. Tidak ada ketikan ulang lain yang dipakai sebagai pembanding.
Tata letak dialog mengikuti buku: nama pembicara di kolom kiri, ucapan di kolom kanan, dan arahan panggung dalam tanda kurung, dicetak miring. Adegan di buku diberi angka Romawi; angka itu mulai dari awal lagi pada babak kedua, dan kami ikuti. Cetakan sumber tidak memakai tanda kutip untuk ucapan, dan kami ikuti.
Ejaan kami alihkan ke EYD V: dj menjadi j, tj menjadi c, j menjadi y, nj menjadi ny, sj menjadi sy, dan ch menjadi kh. Kata ulang yang di buku ditulis dengan angka 2 kecil (seperti saudara²) kami tulis dengan tanda hubung. Kata depan di dan ke kami pisahkan dari kata yang mengikutinya. Nama tokoh Djali, Djameng, dan Njonja menjadi Jali, Jameng, dan Nyonya. Bahasa percakapan dan kata dialek tokoh dibiarkan, misalnya enggak, nyolong, pigi, ngaso, mangkanya, heuheuh, dan pameget.
Salah cetak dan keanehan sumber yang kami biarkan: tarikkan (babak pertama, adegan XII), perkelaian dan berkelai (babak kedua, adegan VIII; kata perkelahian tercetak benar pada adegan XIII), Akor (adegan terakhir, mungkin akur), periksai, tadan pada arahan “Dengan tadan mengejek” (mungkin nada), cacap pada ucapan Ranta di adegan XV, dan ceuk pada ucapan Orang I di babak pertama. Di adegan III babak pertama, tanda kurung buka pada arahan “Ranta terus masuk ke dalam rumah …” tidak tercetak; kami menambahkannya. Arti kata dubilah (“serakahnya dubilah setan”) tidak kami temukan, jadi tidak kami jelaskan.
Keterangan tentang Dhalia di Tentang Penyadur, Daftar Karya, dan Penghargaan kami himpun dari Wikipedia (bahasa Indonesia dan Inggris), IMDb, iNews, dan artikel Historia. Sumber-sumber itu berbeda pada beberapa hal. Tahun lahirnya 1925 menurut Wikipedia, tetapi 1927 menurut IMDb, dan iNews menyebut ia wafat pada usia 64 tahun, yang cocok dengan 1927. Film pertamanya, Pantjawarna, tercatat 1940 atau 1941. Wikipedia bahasa Indonesia mencantumkan sekitar lima puluh judul film; di Daftar Karya hanya judul yang tercatat pada sedikitnya dua sumber yang kami muat.
Di halaman judul buku tercetak bahwa drama ini disadur Dhalia dari cerita Pramoedya Ananta Toer yang berjudul asal Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Daftar pelaku, waktu, dekorasi, dan suara-suara yang diperlukan, yang di buku ada di halaman sesudah judul asal, kami pindahkan ke awal naskah dengan isi yang sama. Catatan yang diawali Catatan penyunting adalah tambahan kami; hanya hal yang dapat kami periksa yang dicatat. Daftar Kata disusun dari KBBI daring (kbbi.web.id, edisi III) dan hanya memuat kata yang kami temukan di sana.
Daftar Kata
algojo orang yang melaksanakan hukuman mati; kiasan: orang yang bengis dan kejam (suka membunuh)
bersaluir memberi hormat ala prajurit; saluir: pernyataan hormat dengan mengangkat tangan dan menempatkannya dekat telinga
bufet lemari tempat menyimpan makanan atau barang pajangan (tercetak buffet)
kapstok (Belanda) gantungan pakaian, topi, dan sebagainya
kaung enau; di drama ini daunnya digulung sebagai kulit rokok
kufur (Arab) tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya; kafir
lisong rokok yang tembakaunya dicampur kemenyan dan kelembak
modar (kasar) mampus; mati
murtad berbalik belakang; berbalik kafir; membuang iman
necis bersih dan rapi, terutama tentang pakaian
OKD singkatan organisasi keamanan desa
onderneming (Belanda) perkebunan yang diusahakan secara besar-besaran
residen pegawai pamongpraja yang mengepalai daerah (bagian dari provinsi yang meliputi beberapa kabupaten); di drama ini gerombolan memanggil Musa “Pak Residen”
rodi kewajiban bekerja (seperti memperbaiki jalan) tanpa upah; kerja paksa
romusa orang yang dipaksa bekerja berat pada zaman pendudukan Jepang; pekerja paksa (tercetak romusya)
wallahualam (Arab) ungkapan ketidakpastian, artinya “dan Allah Yang Mahatahu”
Tentang Pengarang
Pramoedya Ananta Toer (1925–2006) adalah raksasa sastra Indonesia yang karyanya lahir dari pergulatan sejarah yang keras. Keluar-masuk penjara di masa Kolonial Belanda, Orde Lama, hingga pengasingan Pulau Buru pada masa Orde Baru tidak membuat nyalinya surut. Ia menjadikan sastra sebagai monumen perlawanan terhadap tirani. Diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa dan berkali-kali dinominasikan untuk Nobel Sastra, Pram adalah bukti nyata bahwa kebenaran tidak pernah bisa dipenjarakan.
Daftar Karya Pramoedya Ananta Toer
- Tulisan-tulisan semasa di SD, satu di antaranya pernah ditawarkan pada penerbit Tan Koen Swie, Kediri, ditolak. Semua hilang.
- Sepoeloeh Kepala Nica (1946), hilang di tangan penerbit Balingka, Pasar Baru, Jakarta, 1947.
- Kranji–Bekasi Jatuh (1947), fragmen dari Di Tepi Kali Bekasi.
- Perburuan (1950). Pemenang sayembara Balai Pustaka, Jakarta, 1949.
- Keluarga Gerilya (1950).
- Subuh (1951), kumpulan 3 cerpen.
- Percikan Revolusi (1951), kumpulan cerpen.
- Mereka yang Dilumpuhkan I & II (1951).
- Bukan Pasarmalam (1951).
- Di Tepi Kali Bekasi (1951), sisa naskah yang dirampas Marinir Belanda pada 22 Juli 1947.
- Dia yang Menyerah (1951), kemudian dicetak-ulang dalam kumpulan cerpen.
- Cerita dari Blora (1952), pemenang karya sastra terbaik dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, Jakarta (1953).
- Gulat di Jakarta (1953).
- Midah Si Manis Bergigi Emas (1954).
- Korupsi (1954).
- Cerita Calon Arang (1957).
- Sekali Peristiwa di Banten Selatan (1958).
- Panggil Aku Kartini Saja I & II (1963); III & IV dibakar Angkatan Darat, 13 Oktober 1965.
- Kumpulan Karya Kartini, yang pernah diumumkan di berbagai media; dibakar Angkatan Darat, 13 Oktober 1965.
- Wanita Sebelum Kartini, dibakar Angkatan Darat, 13 Oktober 1965.
- Gadis Pantai (1962–65) dalam bentuk cerita bersambung, bagian pertama trilogi tentang keluarga penulis; terbit sebagai buku, 1987, dilarang Jaksa Agung. Jilid II dan III dibakar Angkatan Darat, 13 Oktober 1965.
- Sejarah Bahasa Indonesia. Satu Percobaan (1964); dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965.
- Mari Mengarang (1955), tak jelas nasibnya di tangan penerbit di Jalan Kramat Raya, Jakarta.
- Cerita dari Jakarta (1957).
- Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (1963).
- Lentera (1965), kumpulan tulisan yang pernah diumumkan oleh Lentera. Tak jelas nasibnya di tangan penerbit di Jalan Pecenongan, Jakarta.
Semua karyanya dilarang oleh Kementerian PPK/PDK, 1966.
- Bumi Manusia (1980), bagian pertama tetralogi Buru. Dilarang Jaksa Agung, 1981.
- Anak Semua Bangsa (1981), bagian kedua tetralogi Buru. Dilarang Jaksa Agung, 1981.
- Sikap dan Peran Intelektual di Dunia Ketiga (1981).
- Tempo Doeloe (1982), antologi sastra pra-Indonesia.
- Jejak Langkah (1985), bagian ketiga tetralogi Buru. Dilarang Jaksa Agung, 1985.
- Hikayat Siti Mariah, (ed.) Haji Mukti (1987). Dilarang Jaksa Agung, 1987.
- Rumah Kaca, bagian keempat tetralogi Buru, 1988. Dilarang Jaksa Agung, 1988.
- Sang Pemula (1985). Dilarang Jaksa Agung, 1985.
- Memoar Oei Tjoe Tat, (ed.) Oei Tjoe Tat, 1995. Dilarang Jaksa Agung, 1995.
- Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I, 1995. Dilarang Jaksa Agung, 1995.
- Arus Balik, 1995.
- Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II, 1997.
- Arok Dedes, 1999.
- Mangir, 2000.
- Larasati (Ara), 2000.
Penghargaan Pramoedya Ananta Toer
1988 Freedom to Write Award dari PEN American Center, Amerika Serikat.
1989 Anugerah dari The Fund for Free Expression, New York, Amerika Serikat.
1995 Wertheim Award, “for his meritorious services to the struggle for emancipation of the Indonesian people”, dari The Wertheim Foundation, Leiden, Belanda.
1995 Ramon Magsaysay Award, “for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognition of his illuminating with brilliant stories the historical awakening, and modern experience of the Indonesian people”, dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina.
1996 Partai Rakyat Demokratik Award, “hormat bagi Pejuang dan Demokrat Sejati” dari Partai Rakyat Demokratik.
1996 UNESCO Madanjeet Singh Prize, “in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence”, dari UNESCO, Paris, Prancis.
1999 Doctor of Humane Letters, “in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom”, dari University of Michigan, Madison, Amerika Serikat.
1999 Chancellor’s Distinguished Honor Award, “for his outstanding literary archievements and for his contributions to etnic tolerance and global understanding”, dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat.
1999 Chevalier de l’Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication République Française, Paris, Prancis.
2000 New York Foundation for the Arts Award, New York, Amerika Serikat.
2000 Fukuoka Cultural Grand Prize, Jepang.
Tentang Penyadur
Dhalia lahir di Medan pada 10 Februari (1925 menurut Wikipedia, 1927 menurut IMDb) dan wafat di Jakarta pada 14 April 1991. Ia aktris film Indonesia yang bermain dalam sekitar lima puluh film, dari awal 1940-an sampai 1990. Ia tumbuh di lingkungan sandiwara: ayahnya, yang bergelar Tengku, menulis dan mengelola rombongan sandiwara Dhalia Opera di Medan.
Pada masa pendudukan Jepang ia bermain dalam film propaganda, antara lain Berdjoang dan Hoedjan. Pada 1955 ia meraih Piala Citra untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik di Festival Film Indonesia lewat Lewat Djam Malam (1954), dan penghargaan itu ia bagi dengan Fifi Young. Sesudah itu ia baru tampil lagi di layar pada 1973 lewat Last Tango in Jakarta dan terus bermain sampai 1990. Namanya dua kali masuk nominasi Pemeran Pembantu Wanita Terbaik, untuk Usia 18 dan Bukan Istri Pilihan.
Di luar film, Historia menyebutnya dramawan perempuan yang mengalihwahanakan karya Pramoedya Ananta Toer ke naskah drama. Hasilnya adalah Orang-orang Baru dari Banten, terbitan Bagian Penerbitan Lekra (1959). Kami tidak menemukan keterangan tentang saduran atau tulisannya yang lain.
Daftar Karya dan Penghargaan Dhalia
Hanya film yang tercatat pada sedikitnya dua sumber; ejaan judul mengikuti sumber, tahun mengikuti Wikipedia bahasa Indonesia kecuali disebut lain. Ini bukan daftar lengkap.
Penulisan
- Orang-orang Baru dari Banten (1959), saduran drama dua babak dari Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer. Bagian Penerbitan Lekra, Jakarta. Dipanggungkan di Medan, 1960.
Film, 1940-an
- Pantjawarna (1940; 1941 menurut Wikipedia bahasa Inggris).
- Moestika dari Djemar (1941).
- Panggilan Darah (1941).
- Boenga Sembodja (1942).
- Berdjoang (1943).
- Hoedjan (1944).
Film, 1950-an
- Chandra Dewi (1952).
- Lewat Djam Malam (1954). Piala Citra, 1955.
- Kopral Djono (1954; menurut IMDb dan iNews).
Film, 1970-an sampai 1990
- Last Tango in Jakarta (1973).
- Usia 18 (1980). Nominasi Piala Citra, 1981.
- Bukan Istri Pilihan (1981). Nominasi Piala Citra, 1982.
- Pendekar Jagad Kelana (1990).
- Ketika Dia Pergi (1990).
Penghargaan
1955 Piala Citra, Pemeran Utama Wanita Terbaik, Lewat Djam Malam; dibagi dengan Fifi Young (Tarmina).
1981 Nominasi Pemeran Pembantu Wanita Terbaik, Usia 18.
1982 Nominasi Pemeran Pembantu Wanita Terbaik, Bukan Istri Pilihan.
Terima Kasih
Terima kasih kepada Bagian Penerbitan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang menerbitkan drama ini di Jakarta pada 1959, dan kepada percetakan yang mengerjakannya.
Terima kasih kepada Dhalia, aktris dan penyadur, yang mengubah cerita Pram menjadi drama dua babak, Orang-orang Baru dari Banten, dan membawanya ke panggung. Edisi ini kami dedikasikan untuknya.
Terima kasih kepada Mardjo, perancang kulit terbitan 1959, yang gambarnya kami pakai pada sampul dan halaman depan.
Terakhir, terima kasih kepada Pramoedya Ananta Toer, yang menulis cerita ini pada 1958. Seratus tahun setelah ia lahir, tulisannya masih kami baca dan kami rawat.