Disusun sebagai kelanjutan tidak resmi Edisi Seabad Pramoedya Ananta Toer oleh seorang pembacanya, omnibus ini mengumpulkan karya-karya Pram yang menempatkan perempuan di tengah pusaran sejarah.
Di dalamnya ada empat roman, Cerita Calon Arang, Gadis Pantai, Larasati, dan Midah Si Manis Bergigi Emas, bersama cerita-cerita pendek dari Cerita dari Blora, Cerita dari Jakarta, dan Pertjikan Revolusi.
Tidak semua perempuan di sini menang. Calon Arang murka lalu ditumpas. Gadis Pantai diusir dari rumah Bendoro setelah melahirkan anaknya. Inem dikawinkan pada umur delapan tahun dan pulang sebagai janda. Amilah mencari anaknya dari tangsi ke tangsi tanpa pernah menemukannya. Sri dan adik-adiknya memilih menyerah pada keadaan. Midah memang menjadi biduan terkenal, tetapi Pram menutup kisahnya dengan kalimat bahwa ia telah lenyap sebagai wanita.
Pram menulis mereka apa adanya: perempuan yang dihimpit adat, perang, kemiskinan, dan lelaki di sekitar mereka. Sebagian melawan, sebagian bertahan sebisanya, dan tidak sedikit yang kalah. Lewat kisah-kisah ini pembaca diajak melihat harga yang harus mereka bayar.
Edisi Seabad · 1925–2025
Pramoedya Ananta Toer
Perempuan
Kisah-Kisah di Pusaran Zaman
KOLEKSI PRIBADI
MUHAMMAD REZA MAGISTRA
Lund, 2026
Perempuan: Kisah-Kisah di Pusaran Zaman. Pramoedya Ananta Toer.
Edisi Seabad 1925–2025, edisi digital tidak resmi. Disusun oleh penggemar sebagai kelanjutan peringatan seratus tahun Pramoedya, tidak berhubungan dengan ahli waris maupun penerbit karya-karyanya. Disusun dari: Cerita Calon Arang (Lentera Dipantara); Gadis Pantai (Hasta Mitra); Cerita dari Blora, cetak ulang IV (Hasta Mitra, 2002); Larasati (Lentera Dipantara); Pertjikan Revolusi (cetakan lama); Midah Si Manis Bergigi Emas (Lentera Dipantara); Cerita dari Jakarta, cetak ulang I (Hasta Mitra, 2002).
Ejaan diseragamkan menurut Ejaan yang Disempurnakan edisi kelima (EYD V).
Hak cipta karya © Pramoedya Ananta Toer dan ahli warisnya. Edisi digital ini disusun untuk koleksi pribadi dan peringatan seratus tahun Pramoedya Ananta Toer, tidak untuk diperjualbelikan.
Ilustrasi di halaman depan: Nashar, untuk Pertjikan Revolusi cetakan kedua (1957). Sampul, tata letak, ornamen melati bulan, dan catatan penyunting: Muhammad Reza Magistra. Diset dengan Newsreader.
KOLEKSI PRIBADI MUHAMMAD REZA MAGISTRA · LUND, 2026
“Ndoro, Inem tak mau punya laki.”
Inem
“Di kota perempuan berada dalam dunia yang dipunyai lelaki, Mas Nganten.”
Gadis Pantai
“Biarlah semua itu terjadi. Biarlah. Kita harus bisa menghilangkan diri kita sendiri.”
Dia yang Menyerah
“Kalau mati, dengan berani: kalau hidup, hidup dengan berani.”
Larasati
Tak setetes pun air mata jatuh. Ia tetap Amilah yang dulu juga — keras sebagai batu.
Mencari Anak Hilang
“Aku bukan orang hina, dan aku tak pernah menjalani kehinaan.”
Midah Si Manis Bergigi Emas
Dari Kami untuk Pembaca
Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora pada 6 Februari 1925 dan wafat di Jakarta pada 30 April 2006. Genap seratus tahun sejak kelahirannya, kami mengumpulkan kisah-kisahnya tentang perempuan dalam satu buku. Ini bukan terbitan resmi. Kami membuatnya sebagai pembaca, untuk meneruskan peringatan itu dengan cara kami sendiri.
Perempuan dalam fiksi Pram jarang menjadi hiasan. Mereka juga tidak selalu menang. Mereka dikawinkan pada umur delapan tahun, diambil dari kampung nelayan untuk dijadikan istri percobaan seorang priyayi, ditinggal suami yang ditangkap atau gugur, lalu harus mencari makan sendiri di kota yang tidak mengenal mereka. Sebagian menyerah. Sebagian melawan dengan cara yang hanya mereka punya: bernyanyi di jalan, menolak bersuara, atau pergi.
Buku ini disusun dalam empat bagian menurut zaman yang melatari ceritanya. Bagian pertama dimulai dari dunia dongeng dan feodal, Cerita Calon Arang dan Gadis Pantai. Bagian kedua berisi cerita-cerita pedesaan Blora. Bagian ketiga berlangsung di masa pendudukan Jepang dan revolusi. Bagian keempat membawa kita ke Jakarta tahun lima puluhan.
Teks dari berbagai sumber kami salin ulang dan kami seragamkan ejaannya dengan Ejaan yang Disempurnakan edisi kelima. Susunan kalimat Pram tidak kami ubah, begitu pula kata-kata Jawa dan Betawi dalam percakapan. Catatan kaki dari edisi asal tetap kami pertahankan; catatan tambahan dari kami diawali tulisan Catatan penyunting. Rincian tentang sumber dan cara penyalinan ada di bagian akhir buku.
Lund, Oktober 2026
Muhammad Reza Magistra dan kawan-kawan
Bagian Pertama
Mitos, Takhayul, dan Pendopo Feodal
Cerita Calon Arang
Gadis Pantai
Cerita
Cerita Calon Arang
Ditulis 1954, terbit pertama 1957. Teks dari edisi Lentera Dipantara.
Pengantar Penulis
Cerita ini dikarang pada tahun Saka 14621. Calon Arang ini memperlihatkan bahwa pengaruh-pengaruh kepercayaan kuno tidak terlampau terikat pada kepercayaan Hindu-Jawa pada masanya. Bahasanya pun tidak di-sansekerta-kan — suatu kebiasaan yang dipergunakan oleh kaum terpelajar, kaum istana dan kaum Brahmana pada waktu itu.
Tulisan lama naskah ini ada dua macam, yaitu yang berasal dari Jawa dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh R. Ng. Purbatjaraka2 dalam Bijdr.3 K.I deel 82 hlm 110-180, kemudian dimacapatkan4 (dilagukan) oleh Raden Wiradat dan diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1931 (seri buku no. 942). Yang lain cerita Calon Arang yang berasal Bali. Antara kedua cerita ini terdapat perbedaan sedikit, tetapi tak perlu benar dipanjang-lebarkan.
Erlangga dan Baradah (Bharada) adalah dua nama yang berpengaruh besar dalam sejarah Hindu-Jawa. Dari cerita ini orang akan dapat menanggap sejumlah segi kepercayaan kuno itu, antaranya penyembahan pada Dewi Durga5 menurut keibadahan dari mazhab Bhairawa6.
Mpu Bharadah, seorang pujangga atau pendita, yang hidup bersamaan dengan Airlangga yang bertahta di Jawa Timur dari tahun 1019 sampai 1042 Masehi.
Mpu Bharadah semasa hidupnya sangat dihormati, ternyata dari pemasangan arca Raja Kertanagara7 (Mahasobhva atau Joko Dolok) di Wurare, sebagai penghormatan atau peringatan jasa Mpu tersebut. Prof. Dr. Purbatjaraka menarik kesimpulan, bahwa “dengan sendirinyalah bahwa tempat itu dulunya tempat kediaman Mpu Bharadah” (Bahasa dan Budaya ii-III, Desember 1954, 32-33). Perkataan Wurare terdiri dari Bhu=tanah, sedang rare berarti anak. Karena itulah tempat itu bisa juga disebut Lemah-putra, di mana Lemah artinya juga tanah. Lama-kelamaan Lemah-putra disebut Lemah-patra. Karena patra searti dengan tulis, surat dan citra, Lemah-citra. Di dalam cerita Calon Arang sendiri disebutkan, bahwa tempat Mpu Bharadah dalah di Lemah-tulis, demikian pula disebutkan dalam kitab Nagarakretagama8.
Kata Wurare yang sebenarnya adalah Wurara. Dan oleh mulut rakyat yang kurang memahami bahasa, nama ini berubah-ubah menjadi Wrura, Wlura, Blura, akhirnya kini menjadi Blora. Jadi tempat kediaman Mpu Bharadah adalah Blora pada waktu sekarang.
Nama tempat Wurara atau Blora sekarang sudah muncul pada tahun 827 S, dengan nama Hurantan (ntan adalah bentuk karma dari ra dalam bahasa Jawa kuno). Hurantan ini dapat disamakan dengan nama kerjaan Jawa yang disebut dalam berita Tionghoa agak kuno dengan nama Ho-lo-tan, yang diberitakan telah mempunyai hubungan dengan kerjaan Tiongkok, dan pada tahun 430, 436, 449, dan 452 M mengirimkan utusan. Raja negeri Holotan disebut Che-li-p’o-ta-t’o-a-la-pa-mo yang dapat dikira-kirakan Cri bhata(ra) Dwarawarman.
Sekian serba sedikit tentang Mpu Bharadah dan tempat tinggalnya disarikan dari tulisan Prof. Dr. Purbatjaraka.
Buku ini disusun sebagai buku kanak-kanak, agar bisa membangkitkan cerita lama pada mereka. Di samping itu mungkin pula jadi bahan-bahan informasi bagi murid-murid Sekolah Menengah, karena dalam pelajaran sejarah kesusastraan Hindu-Jawa hanya disebut nama-nama belaka, sementara yang terpenting: pengajian isi, diabaikan sama sekali.
Demikianlah supaya buku ini mencapai wujud yang dimaksud.
Djakarta, 21-11-1954
I
Kerajaan Daha di Zaman Erlangga
Adalah sebuah Negara. Daha1 namanya. Daha yang dahulu itu kini bernama Kediri. Negara itu berpenduduk banyak. Dan rata-rata penduduk makmur.
Panen pak tani selalu baik, karena tanaman jarang diganggu hama.
Tiap-tiap sore anak-anak muda berlatih keprajuritan di alun-alun. Dan ada kalanya diadakan pertandingan antara seorang bakal perwira dengan seekor banteng yang digalakkan. Ribuan rakyat menonton pertandingan itu. Kalau bakal perwira yang menang diangkatlah ia menjadi perwira.
Negara Daha termasyhur aman. Tak ada kejahatan terjadi, karena tiap orang hidup makmur, cukup makan dan cukup pakaian. Karena makmurnya itu makanan penduduk teratur, dan karena itu pula tak ada penyakit berjangkit.
Yang memerintah Negara itu ialah seorang raja. Erlangga namanya. Baginda terkenal bijaksana dan berbudi. Pendeta-pendeta yang membuka pertapaan dan asrama sampai jauh di gunung-gunung mendapat perlindungan belaka.
Menurut riwayat, istana Baginda tak ubahnya dengan surga Dewa Indera. Tak ada istana-istana lain yang dapat menandingi. Tiap-tiap tahun Negara-negara lain yang takluk kepada Daha mengirimkan upeti kepada Baginda.
Adapun Baginda selalu memperhatikan dan memeriksa seluruh Negara. Sewaktu-waktu Baginda edari seluruh daerah, bahkan juga seluruh pelosok. Jadi nyata Baginda tidak mengutamakan ibukota saja. Karena ramah-tamah dan sering memperlihatkan diri kepada rakyat, maka Baginda pun dicintai oleh mereka.
Akan tetapi keadaan sentosa segera berubah. Kemanaan terancam. Penduduk jadi gelisah karena tersiar berita ada musuh akan datang. Orang-orang tua melarang anak-anaknya berpergian. Jalan-jalan jadi sunyi sepi. Ibukota Negara seakan-akan berkabung karena sunyinya…. Dan musuh itu sebenarnya penyakit yang hebat.
II
Calon Arang
Menurut riwayat adalah sebuah dusun dalam Negara Daha. Girah namanya. Penduduk Daha takut benar mendengar nama dusun itu. Sebab di sana tinggal seorang janda. Calon Arang nama nya.
Calon Arang seorang perempuan setengah tua. Ia mempunyai anak perawan yang berumur lebih dari 25 tahun. Ratna Manggali namanya. Bukan main cantik gadis itu.
Sekalipun demikian tak seorang pun pemuda yang datang meminang, karena takut kepada ibunya, Calon Arang. Calon Arang ini memang buruk kelakuannya. Ia senang menganiaya sesama manusia, membunuh, merampas dan menyakiti. Calon Arang berkuasa. Ia tukang teluh* dan punya banyak ilmu ajaib untuk membunuh orang.
Sebagai pendeta perempuan pada Candi Dewi Durga banyak sekali murid dan pengikutnya. Ia seorang dukun yang banyak mantranya. Dan mantra-mantranya itu manjur belaka. Itulah sebabnya tak ada orang berani padanya.
Ratna Manggali adalah anak tunggal. Karena itu sangat disayangi oleh ibunya. Walaupun sang ibu seorang perempuan jahat, kepada anaknya sayang juga ia. Akan tetapi karena Calon Arang jahat, pendengki, dan kejam maka tak adalah orang yang berani mendekati anaknya, Ratna Manggali itu. Dan karena itu pulalah gadis itu dijauhi oleh gadis-gadis lainnya, sehingga kawan biasa pun ia tak punya jangankan lagi kawan yang karib. Bila ia menyapa sesorang, orang yang ditegur itu hanya mengangguk atau menggeleng. Tak ada yang mau bicara dengan dia. Karena kalau salah mulut, mungkin Calon Arang marah dan celakalah orang yang menimbulkan marahnya.
Kalau Ratna Manggali pergi berjalan-jalan, biasanya orang menundukkan kepala bila bertemu dengan dia. Dan kalau Ratna telah jauh, mereka pun mempercakapkannya;
“Itulah Ratna Manggali, anak Calon Arang. Hati-hati dengan dia, engkau tak boleh sembarangan.”
“O, itukah Ratna Manggali? Ngeri aku melihatnya”
Bukan satu-dua orang saja mempercakapkan seperti itu. Hampir semua orang. Malah seluruh negeri mendengar belaka namanya dan juga nama ibunya si Calon Arang itu.
Bahkan pun anak-anak kecil, ya sampai-sampai kepada kakek-kakek dan nenek-nenek, semua tahu betapa jahatnya pendeta perempuan itu. Betapa busuk namanya sebagai tukang sihir yang menyebar penyakit dan merusak bagi sesama manusia….
Lama-lama marahlah Calon Arang karena tak banyak orang yang suka padanya. Dari murid-muridnya itu banyak mendengar bahwa anaknya jadi buah percakapan, karena tak juga diperistri orang. Bukan main marahnya. Sifatnya yang jahat pun tumbuhlah. Ia hendak membunuh orang sebanyak-banyaknya, supaya puaslah hatinya.
Setelah niatnya pasti, dipanggil semua muridnya. Di antara murid-muridnya yang terkemuka ialah Weksirsa, Mahisa Wadana, Lendi, Larung, Guyung, dan Gandi. Semua muridnya menyetujui maksudnya.
Dengan tak banyak pertimbangan berangkatlah mereka ke Candi Durga. Durga yang disebut juga disebut Bagawati adalah dewi yang menghendaki kerusakan.
Di dalam candi inilah Calon Arang memuja dewinya. Diucapkan segala mantra dan maksudnya hendak membunuh orang banyak-banyak.
Api pedupaan pun mengepul-ngepulkan asap. Bau ratus dan pandawangi semerbak memenuhi ruangan candi.
Lama Calon Arang memujanya. Murid-muridnya mengikuti memuja, berdengung-dengunglah bunyi puja mereka. Sambil memuja, murid-murid itu menandak menari-nari. Seperti kawanan orang gila saja nampaknya. Dalam menari-nari itu mereka melangkah berputar-putar. Tak karuan tariannya. Yang satu tidak sama dengan yang lain. Seorang menjelir-jelirkan lidah seperti ular. Yang lain mendelik-delik menakutkan. Yang lain lagi miring-miring dan kakinya dipendekkan. Macam-macamlah.
Tidak lama kemudian datanglah dewi yang mereka puja itu. Dewi Durga!
Semua yang ada di candi berjongkok. Kemudian kepala mereka ditundukkan hingga ke tanah. Melaui asap pedupaan itulah Dewi Durga datang. Kian lama kian nyata rupanya. Ia adalah dewi yang luar biasa cantik dan bagusnya. Tak sedikit pun ada cacat pada tubuhnya.
Tenang kembali keadaan candi itu.
“Calon Arang anakku,” kata Sang Dewi, “apakah maksudmu memanggil daku?”
Sekali lagi Calon Arang menyembah. Kemudian menjawab:
“izinkanlah hambamu memohon kasih dari paduka Dewi.”
“Katakan maksudmu, anakku.”
“Ya, paduka Dewi, berilah hamba izin untuk membangkitkan penyakit buat menumpas orang banyak-banyak.”
“Itukah maksudmu, anakku?” kata Dewi Durga.
“Demikianlah, paduka Dewi,” ujar Calon Arang.
“Jangan kau khawatirkan sesuatu apa pun. Aku izinkan engkau membangkitkan penyakit. Dan banyak sekali orang akan mati karenanya.”
Bukan main girang hati Calon Arang. Serentak muridnya bangkit berlutut dan kembali melompat menari dan menandak-nandak.
“Tetapi anakku,” kata Sang Dewi lagi. “Tak kuizinkan engkau meratakan penyakit hingga ke dalam ibukota. Engkau boleh membunuh orang di luar ibukota saja.”
“Terima kasih, paduka Dewi,” sambung Calon Arang.
Perempuan itu pun menyembah lagi. Semua muridnya turut menyembah lagi. Waktu mereka mengangkat kepala masing-masing dan memandangi pedupaan, Dewi Durga sudah tak ada. Dewi yang mereka puja telah menghilang.
Bukan main girang hati perempuan itu bersama murid-muridnya. Mereka pulanglah ke desa Girah.
III
Empu Baradah
Menurut cerita orang tua-tua: Pada waktu itu ada seorang pertapa. Ia bergelar Empu1. Empu artinya guru. Ia bernama Baradah. Orang-orang menyebutnya Empu Baradah.
Empu Baradah orang yang saleh dan taat benar pada agamanya. Ia selalu bertakwa pada dewanya.
Sudah lama ia berasrama di Lemah Tulis, dan di sana pula ia tinggal.
Dusun itu terletak di pegunungan.
Karena Sang Empu sangat taat pada agamanya, penduduk dusun sujud belaka padanya. Lagipula ia selalu ramah, senang menolong orang sengsara, dan tak pernah menolak bila orang datang minta tolong.
Sang Empu sungguh berbeda dengan Calon Arang. Menolong orang adalah pekerjaan yang sangat diutamakan. Karena itu lama-kelamaan penduduk Dusun Lemah Tulis menganggapnya sederajat dengan dewa-dewa. Malah ada juga yang menganggapnya sang dewa sendiri yang menjelma sebagai manusia.
Selain penolong, pengasih dan penyayang pada sesama manusia, ia pun orang pandai dan banyak belajar. Weda-weda habis dibaca dan dipelajarinya. Weda adalah kitab suci orang yang beragama Hindu. Empu Baradah bertapa terus-menerus. Karena itu penduduk desa pun percaya beliau kekasih para dewata.
Demikianlah Sang Empu itu.
Empu Baradah punya istri dan seorang putri yang cantik. Sedang remaja putrinya, gadis itu Wedawati namanya.
Wedawati jadi bunga yang semerbak di Lemah Tulis. Bukan karena kecantikannya saja. Ia pun dihormati oleh penduduk selingkungan asrama, di kampung, dan di sawah serta di ladang, di hutan, dan di lapangan-lapangan tempat anak-anak menggembala binatangnya.
Ia jadi Bunga bukan karena kecantikannya saja. Selain molek ia pun ramah seperti ayahnya. Tak mau ia merugikan orang lain. Tak mau ia menyedihkan sesama manusia. Malah ia ingin membahagiakan semua orang, besar-kecil, tua-muda, tidak ada kecualinya. Ia ingin membahagiakan semua orang kalau bisa.
Ia sudah bekerja, cekatan pula. Semua tingkah-lakunya jadi buah percakapan dan dibuat contoh oleh gadis-gadis di seluruh Lemah Tulis.
Pada suatu hari, Ibu Wedawati jatuh sakit. Lama kelamaan sakitnya kian menjadi-jadi. Kadang-kadang ia mengigau dan memanggil-manggil Wedawati, sekalipun gadis itu ada di sampingnya. Segala obat yang dicobakan padanya batal. Mantra-mantra Empu Baradah pun tak berguna sama sekali.
Sang Empu berpendapat, sampailah sudah hidup istri yang sangat dicintainya itu. Karena itu ia pun memuja pada dewa-dewanya, memohon agar istrinya diterima dengan baik di surga.
Dan benar juga beberapa hari kemudian meninggallah ibu Wedawati. Gadis remaja putri itu menangis dan menangis ditinggal mati ibunya. Ia begitu cinta pada ibunya itu. Dan ibunya begitu cinta padanya. Biasanya barang ke mana ibunya pergi ia mengikut. Dan kalau hujan turun sore-sore dan mereka tak bisa jalan-jalan, berceritalah ibunya tentang segala macam dongeng.
Sekarang ibunya telah meninggal. Siapa tak akan bersedih hati. Siapa lagi yang akan bercerita begitu indah kepada Wedawati? Siapa lagi yang akan mengasihinya? Lalu dengan tersedu-sedu dirangkulnya mayat ibunya. Dan barangsiapa yang melihat keadaan itu, mau tak mau mengucurkan air mata.
“Ya, siapa lagi yang mengasihi daku?” tangisnya.
“Ayah kan masih ada,” hibur ayahnya.
Tapi gadis itu menangis juga.
“Siapakah yang akan mencintaiku sekarang?” ratapnya lagi.
Lalu Sang Empu tak tahan lagi melihat tingkah laku anaknya. Dirangkulnya Wedawati, diusap-usapnya rambut dan pipi anaknya yang piatu itu, sambil mengucurkan air mata.
Tetapi gadis itu tetap juga menangis.
“Ya, Dewata,” ratapnya, “izinkan daku turut mati bersama ibuku.”
Akan tetapi permohonannya tidak dikabulkannya. Ia masih harus hidup lama lagi. Dan karena ia terlampau banyak menangis matanya jadi merah. Pelupuknya bengkak.
Segera mayat ibunya disucikan, sudah itu dibawa ke kuburan untuk ditanam. Maka selesailah penguburan itu.
Dan orang-orang yang melawat pulanglah ke rumah masing-masing.
Beberapa waktu setelah istrinya meninggal, Empu Baradah beristri lagi. Dari ibunya yang baru Wedawati memperoleh adik laki-laki seorang. Sekarang ia ada kawan bermain di rumah atau di taman. Ia tak ingat lagi pada ibunya yang telah meninggal.
Sekarang adiknya telah besar. Sudah bisa bicara, sudah bisa bertanya. Juga sudah mulai belajar membaca pada bapaknya. Ia pun sudah bisa berpakaian sendiri. Wedawati tak perlu lagi menolongnya mengenakan kain.
Ibu Wedawati sangat sayang pada anaknya. Berbeda sungguh sikapnya terhadap Wedawati. Ia tak suka padanya.
Pada suatu hari Sang Empu Baradah pergi ke pertapaan Wisamuka untuk mengajar murid-muridnya mengikuti upacara bersesaji pada para dewa. Murid-muridnya mengikuti upacara itu dari belakangnya. Sudah rindu mereka semua pada Sang Empu. Lama benar ia baru turun ke pertapaan mengunjungi mereka. Dan sudah lama pula murid-murid itu tak mendapat pelajaran dan wejangan. Kemudian setelah bersesaji, Sang Empu duduk bersila dalam kepungan murid-muridnya. Karena itu tak dapat ia buru-buru pulang ke Lemah Tulis.
Di Lemah Tulis, sibuklah Wedawati bekerja. Ia gadis yang suka bekerja. Ia tak senang duduk bermalas-malas, apalagi bertopang dagu dan tak tentu yang dipikirkan. Sudah lama ibu tirinya ingin agar ia pergi dari rumah. Ia ingin agar semua kasih Sang Empu jatuh padanya dan anaknya lelaki. Karena itu dicari-carinya alasan untuk memarahi Wedawati.
Sebentar kemudian ributlah dalam asrama itu. Ibu tirinya memarahi semau-maunya. Bukan main bingung Wedawati mendapat marah yang hebat itu. Ia tak merasa bersalah. Tetapi dilabrak terus. Pada para tetangga ibunya bercerita yang bukan-bukan tentang dirinya.
Tak tahan ia. Air matanya bercucuran. Menangis ia tersedan-sedan. Ia terkenang kembali ibunya yang sudah tidak ada. Ia pun terkenang pada ayahnya. Tapi ia tak menceritakan kebengisan ibu tiri kepada ayahnya.
Bukan main sedih dan iba hati Wedawati waktu itu. Dengan air mata bercucuran ditinggalkannya asrama itu. Berat hatinya pergi. Betapa kan tidak. Di sana ia dilahirkan. Di sana pula ia dibesarkan. Di sana pula ia bergaul dengan kawan-kawannya yang bersikap manis terhadap dirinya.
Perlahan-lahan ia pun berangkatlah menuju ke luar desa ke kuburan ibunya. Sepanjang jalan ia tetap menangis. Banyak orang melihat padanya. Tetapi ia tidak peduli. Di tanah lapang tempat anak-anak gembala menggembala binatangnya, ia ditegur oleh seorang di antara mereka:
“Kak Wati, mengapa kakak menangis?” Wedawati hanya memandang sebentar pada gembala kecil itu. Pertanyaan itu membuat ia tambah sedih. Buru-buru ia meneruskan perjalanan.
Kemudian ram ia-ramai anak-anak gembala memburunya. Ramai-ramai pula mereka bertanya: “Mengapa kakak menangis? Adakah kakak membutuhkan pertolongan kami?”
“Tidak! Tidak!” jawab Wedawati pendek.
“Mengapa kakak menangis?”
Wedawati tambah mencepatkan jalannya. Tetapi anak-anak gembala itu terus juga mengikutinya. Masing-masing ingin menolong.
“Tidak anak-anak, aku tak ingin ditolong,” Wedawati menjawab setelah dapat menahan tangisnya. “Baliklah engkau semua, nanti binatangmu dimakan macan.”
“Betul-betul kak Wati tak ingin ditolong?”
“Tidak!”
Barulah anak-anak gembala itu kembali ke padang rumput, di tempat binatang mereka makan.
Sampai dekat kuburan duduklah Wedawati di bawah sebatang pohon beringin yang rindang. Ia lelah. Keringat bermanik-manik di keningnya.
Tiba-tiba ia tertegak. Ia melihat orang terbujur di sampingnya. Diperhatikannya benar-benar. Orang itu tak bergerak-gerak. Didekatinya. Nyatalah bahwa yang terbujur itu bukanlah orang tidur.
Tetapi… mayat. Bukan seorang saja. Tiga banyaknya. Tak tahulah Wedawati mengapa orang-orang itu meninggal di situ. Sebenarnya mereka itu adalah satu keluarga yang melarikan diri dari daerahnya karena takut kepada teluh Calon Arang. Tetapi teluh itu sudah mengenai mereka.
Mayat yang seorang, perempuan. Di samping anaknya yang masih kecil merangkak-rangkak. Masih hidup anak kecil itu. Sebentar dipeluknya emaknya. Sebentar pula dicari-carinya susu emaknya. Kadang-kadang diisapnya juga. Tentu saja tak keluar air susu dari dada orang mati. Tetapi anak kecil itu tak menangis karena kecewa. Ia bergerak terus tak tinggal diam saja.
Melihat keadaan seperti itu, hilang-lenyaplah kesedihan Wedawati.
“Anak kecil ini lebih sengsara daripada aku,” pikirnya.
Kesedihannya itu lenyap karena melihat anak kecil seorang diri ditinggal mati oleh ibunya itu. Tetapi ia menangis lagi. Bukan menangis karena perlakuan ibu tiri terhadapnya! Tidak! Ia menangis melihat nasib anak kecil itu.
Kemudian dibawanya anak kecil itu ke rumah yang terdekat letaknya dari kuburan. Tidak lama kemudian datanglah beberapa orang mengambil mayat itu untuk disucikan.
“Semua manusia bersaudara satu sama lain,” pikirnya setelah kuburan itu sunyi-senyap kembali. “Karena itu tiap orang membutuhkan pertolongan harus memperoleh pertolongan. Tiap orang keluar dari satu turunan,” pikirnya terus, “karena itu satu sama lain adalah saudara.”
Beberapa lama duduk-duduk melepaskan lelah, tiba-tiba ia teringat akan maksudnya semula: ingin mengunjungi kuburan ibunya! Ia bangun dan berangkat ke tempat ibunya di kuburkan. Teringat kepada ibunya yang pengasih dan penyayang serta cinta padanya, sedih pula rasa hatinya. Air matanya kembali berlinang-linang. Tak ada keinginan padanya untuk pulang kembali ke asrama. Ia ingin tetap di samping ibunya:
“Dewata! Izinkanlah aku turut ibuku,” ratapnya.
Tetapi tidak seorang dewa pun menjawab. Kuburan tetap sunyi-senyap. Di sana-sini pokok pohon baru berayun bila angin kencang datang meniup.
Lama Wedawati duduk di samping kuburan itu. Tak bergerak-gerak ia, seperti patung.
Matahari mulai condong ke barat. Kuburan itu makin sunyi saja rasanya. Tetapi Wedawati tak juga bangkit dari tempat duduknya.
IV
Calon Arang Mulai Mengganas
Penduduk desa tahu belaka, bila Calon Arang dan murid-muridnya pulang dengan girangnya dari Candi Durga pasti ada orang yang akan menemui ajalnya. Kegirangan Calon Arang dan murid-muridnya berarti ketakutan buat banyak orang. Anak-anak kecil dilarang orang tuanya meninggalkan rumah. Bahkan orang-orang tua pun kadang-kadang tak berani keluar rumah. Semua memuja minta perlindungan dewa-dewa agar tetap selamat.
Calon Arang merasa berbahagia bila telah menyakiti dan menewaskan orang-orang yang dibencinya. Dan kalau orang-orang yang dibencinya telah mati mereka bersenang-senang merayakan kemenangan.
Tiap-tiap waktu murid-murid harus berkemas. Yang dipergunakan mengeramasi rambut adalah darah. Darah itu adalah darah manusia juga. Karena itu rambut murid-murid Calon Arang lengket-lengket dan tebal. Kalau mereka sedang berpesta tak ubahnya dengan sekawan binatang buas. Takut orang melihatnya. Kalau ketahuan ada orang mengintip, orang itu diseret ke tengah pesta dan dibunuh dan darahnya dipergunakan keramas.
Lama kelamaan tak adalah orang yang berumah didekat rumah Calon Arang. Mereka lebih suka menjauhi agar bisa hidup aman. Dusun Girah tambah lama tambah sepi. Sawah banyak tak dikerjakan orang. Ladang-ladang jadi padang rumput dan belukar.
Tak ada seorang pun berani menangkap Calon Arang dan murid-muridnya. Kepala desa dan barisannya pun tidak berani. Calon Arang dan murid-muridnya telah termasyhur kebal. Tak ada senjata dapat melukai mereka.
Pendeknya penduduk dusun itu hidup dalam ketakutan terus-menerus.
Dahulu tanah lapang dusun Girah adalah tempat bermain-main anak-anak kecil. Di sore hari banyaklah anak-anak berkumpul dan bermain-main. Apalagi kalau bulan bersinar-sinar. Bermacam-macam permainan mereka itu.
Tetapi sekarang sunyi saja tanah lapang dusun itu. Bila mereka bermain-main dan lewatlah seorang dari murid-murid Calon Arang, larilah mereka masing-masing karena takutnya. Kalau Calon Arang atau salah seorang murid-muridnya sedang tidur, tak ada anak berani berseru atau tertawa-tawa. Kalau anak-anak itu berani membuat gaduh diwaktu mereka tidur, matilah ia diteluh.
Saban hari orang-orang tua melarang anak-anaknya membuat gaduh atau bermain-main dekat rumah Calon Arang atau murid-muridnya. Tentu saja tak senanglah anak-anaknya karena tak bisa bermain-main dengan bebas.
Pada suatu hari anak kepala dusun bermain-main di depan rumah. Tidak dilihatnya bahwa seorang murid Calon Arang lewat. Karena asyik bermain tak tahulah ia bahwa ia sudah menumbuk murid itu. Dalam hari itu juga hilanglah mata anak itu. Kakinya lumpuh dan rambutnya rambut tak mau tumbuh di kepalanya. Segera kepala kampung itu datang ke rumah Calon Arang minta maaf atas kesalahan anaknya. Ia pun minta agar anaknya disembuhkan.
Calon Arang dan beberapa orang muridnya datang ke rumah kepala dusun itu. Di sana mereka tak mengobati anak yang celaka itu. Tidak. Mereka malah tertawa-tawa senang melihat anak yang celaka itu. Melihat hal itu menangislah kepala dusun itu laki-bini. Tapi ia tak dapat berbuat apa-apa karena iapun takut pada Calon Arang dan murid-muridnya.
“Enak, ya? Enak, ya?” kata Calon Arang.
“Tentu saja enaklah ia sekarang, Nyai!” kata murid-muridnya.
Laki-bini itu berdiam diri saja mendengar sindiran itu. Keduanya takut mendapat bencana lebih besar lagi.
“Lihat, lihat, lakinya menangis,” kata Calon Arang.
“Bininya juga menangis, Nyai!” sambung muridnya.
Tiba-tiba, timbullah kemarahan kepala dusun itu. Dengan pikiran buncah ia pun masuk ke dalam kamar. Dari sana di ambilnya tombak yang bertuah. Kemudian ia keluar lagi dan berseru:
“Hinakanlah kami, Calon Arang! Hinakanlah kami” teriaknya. Tombaknya ditujukan pada perempuan tukang sihir. Calon Arang tertawa melihat kepala dusun itu. Tiba-tiba perempuan itu berteriak:
“Bah!”
Kena hawa teriakan itu jadi kaku-kejanglah kepala dusun itu dan ia pun roboh ke tanah. Bininya terlompat dan merangkul suaminya. Tapi kepala dusun itu telah mati. Menangislah istri yang malang itu tersedan-sedan.
Calon Arang dan murid-muridnya tertawa kegirangan.
“Tahu engkau siapa Calon Arang?” ejeknya pada bini kepala dusun itu.
Perempuan itu tak menjawab.
“Bilangkan pada orang banyak, Calon Arang yang membuat segala ini.”
Kemudian ia pun pulanglah ke rumahnya diiringkan murid-muridnya.
Sejak terjadi penganiayaan itu tukang sihir perempuan itu semakin ditakuti. Orang tua-tua dan anak-anaknya tak berani menyebut-nyebut namanya. Dan murid-muridnya kian merajalela.
Suatu malam gelapnya bukan main, Tak sebuah pun bintang bersinar di langit. Bulan telah lama tak muncul di cakrawala. Angin yang dingin sebentar-sebentar meniup dan bunyi pohon-pohonan berdesah kena tiupannya. Mendung amat tebal di langit. Tapi hujan belum juga turun.
Orang-orang telah tidur nyenyak dalam ranjang masing-masing. Jaga dusun tidak meronda lagi karena hari dingin. Mereka berdiam di tempat penjagaan masing-masing. Orang lewat di malam buta tak berani mereka menegur, takut kalau-kalau murid Calon Arang yang ditegur. Apalagi setelah kepala dusun mati kaku, mereka ketakutan saja bila berjaga atau meronda di malam hari.
Dengan tiada yang mengetahui, malam itu telah terjadi apa-apa. Calon Arang bersama murid-muridnya keluar dari rumah. Weksirsa membawa pedupaan, berjalan di depan sekali sambil menandak-nandak gila. Calon Arang berjalan di tengah-tengah membawa kitab sambil mengucapkan mantra-mantra. Murid-murid lainnya menari-nari melingkunginya sambil berjalan. Dan dalam berjalan dan menari itu mereka bergendang-gendang pada tubuh masing-masing.
Cuma Calon Arang tak menari. Ia hanya berjalan membawa kitab sambil mengucapkan berbagai mantra.
Sampai di perempatan inilah mereka menanamkan teluh, agar penyakitnya dapat pergi ke empat mata angin. Dengan girangnya Calon Arang menanamkan teluh itu. Dan semua muridnya terus menandak dan menari-nari.
Setelah itu mereka pulang dengan girangnya ke rumah Calon Arang. Di sana mereka makan-minum bersenang-senang.
Tidak lama kemudian, timbullah penyakit. Tak ada obat bisa melawan penyakit panas-dingin yang merajalela di seluruh negeri. Cuma di ibukota saja penyakit itu tak dapat membunuh orang. Ratusan, bahkan ribuan orang menderita sakit yang tak dapat diobati itu. Bila mereka sakit pastilah tak punya harapan untuk sembuh lagi.
Tiap hari beratus-ratus orang mati dan dibawa ke kuburan. Dan kalau yang menguburkan pulang, ia pun sakit pula, kemudian mati. Begitulah terus-menerus.
Penduduk Negara Daha kian lama kian sedikit. Banyak prajurit dari luar ibukota meninggal. Bukan karena kena senjata di medan perang. Bukan! Tapi mati kena teluh Calon Arang. Dan kalau waktu itu datang musuh hendak merobohkan Daha, robohlah Negara yang agung itu. Penyakit panas-dingin yang dikeluhkan oleh Calon Arang tak bisa dikeluhkan lagi. Kian lama kian melebar di gunung, hutan, dusun, dan sawah. Tambah banyak orang mati dimakan penyakit itu.
Pendeta-pendeta yang baik hati mencoba menolak teluh itu, tetapi sia-sia. Calon Arang lebih pandai daripada mereka semua. Karena itu orang hidup dalam ketakutan. Di rumah-rumah orang menangisi kerabatnya yang meninggal. Seakan-akan tumpaslah seluruh isi Negara Daha waktu itu.
Nama Calon Arang disebut oleh setiap orang. Ia dikutuki oleh semua orang. Kalau bisa mereka mau menumpas perempuan durhaka itu. Tetapi mereka tak bisa dan… mereka pun tidak berani.
V
Calon Arang Mengusir Pasukan Raja
Berita tentang meluasnya teluh Calon Arang telah dilaporkan pada Sri Baginda Erlangga. Bukan main sedih Sri Baginda mendengar penderitaan yang harus ditanggung rakyatnya itu.
Pada suatu hari dipanggilnya semua menteri menghadap. Selain para menteri menghadap juga pendeta-pendeta dan para johan pahlawan yang mengepalai pasukan-pasukan tentara Daha.
Alun-alun penuh oleh penduduk yang ingin mendengar putusan Sri Baginda menitahkan bala tentara memusnahkan Calon Arang dan semua muridnya.
Perdana menteri melaporkan pada Baginda Raja berita tentang penyakit yang menakutkan itu.
“Ampun Baginda,” sembahnya. “Patik menghaturkan periksa, bahwa janda dari Girahlah yang menerbitkan segala keonaran dan bencana ini. Ia memohon tuah dari Dewi Durga untuk menumpas orang banyak-banyak karena hendak membalas dendam.”
“Siapa nama janda itu?” tanya Sri Baginda.
“Calon Arang, tuanku,” jawab perdana menteri.
“Apa yang didendamkan?”
“Semua orang, karena tak ada yang mau memperistri anak tunggalnya Ratna Manggali.”
“Itu bukanlah alasan untuk membunuh begitu banyak orang. Sedangkan membunuh seorang saja ada hukumannya, apalagi ribuan, bahkan puluhan ribu.”
Mereka yang hadir di bangsal diam merenung-renung menunggu putusan Raja.
“Penyakit ini harus dilenyapkan. Kalau tidak bisa, setidak-tidaknya harus dibatasi. Kirimkan bala tentara ke dusun Girah. Tangkap Calon Arang. Kalau melawan, bunuh dia bersama murid-muridnya.”
Tenang sebentar ruangan bangsal. Orang bergirang hati mendengar putusan Sri Baginda. Tiba-tiba terdengarlah sorak-sorai yang gemuruh di alun-alun. Semua orang yang hadir di sana menyetujui putusan Sri Baginda.
Hari itu juga ratusan prajurit berbaris di alun-alun. Mereka ini diperintahkan pergi ke dusun Girah untuk menangkap Calon Arang.
Kembali penduduk datang ke alun-alun untuk memberi selamat pada pasukan yang akan berangkat itu. Dan waktu pasukan telah naik ke kudanya bersorak-sorailah penonton mengucapkan selamat jalan. Pasukan pun menderap pergi. Yang terdepan membawa panji-panji kerajaan. Orang bersorak-sorai terus sampai pasukan itu lenyap dari pemandangan.
Berita tentang putusan Sri Baginda itu dalam waktu sebentar saja telah tersiar ke mana-mana. Tiap-tiap dusun menyambut putusan itu dengan mengadakan selamatan dan mendoakan agar bala tentara Raja berhasil dalam kewajibannya.
Orang-orang tua merasa syukur, dan mengucapkan doa-doa puji untuk keselamatan Sang Baginda. Anak-anak kecil menyanyi-nyanyi.
Demikianlah kegirangan rakyat.
Berbondong-bondong orang ke candi-candi untuk bersesaji.
Orang-orang yang sakit pun dibawa ke sana supaya dapat rahmat para dewa.
Sepasukan bala tentara Raja yang berkuda itu laju menuju ke desa Girah. Panji-panji di barisan depan berkibar-kibar kena angin. Di tiap angin dusun yang dilalui ditiup sangkakala. Seorang yang berkuda di belakang pembawa panji-panji berteriak melalui corong.
“Pasukan Bala tentara Raja pergi untuk menumpas Calon Arang!”
Seruan itu disambut dengan sorak-sorai oleh rakyat dusun-dusun yang dilalui.
Di tiap kabupaten kuda-kuda itu diganti dengan yang baru. Dengan begitu binatang-binatang itu tak merasa begitu lelah dan perjalanan tak terganggu. Di tiap kabupaten Pasukan Bala tentara Raja mendapat sambutan yang meriah. Di mana-mana mereka dielu-elukan oleh penduduk. Semua mendoakan agar kewajiban bisa diselesaikan dengan baik.
Siang-malam Pasukan Bala tentara Raja itu berjalan.
Pada suatu malam sampailah mereka di desa Girah. Gelap-pekat waktu itu. Orang-orang telah tidur. Penjagaan-penjagaan kampung kosong belaka. Tak ada yang berani meronda. Karena itu dengan susah-payah juga pasukan itu dapat menemukan rumah janda tukang sihir Calon Arang.
Tak adalah orang yang tahu akan kedatangan Pasukan Bala tentara Raja.
Segera kepala pasukan bersama dua orang pembantunya masuk ke dalam rumah janda tukang sihir itu. Ketiga-tiganya membawa pedang terhunus. Didapati oleh mereka Calon Arang sedang tidur nyenyak. Napasnya panjang-panjang.
“Aku kira si Calon Arang itu perempuan tua yang buruk rupanya,” bisik kepala pasukan kepada pembantunya.
“Rupa-rupanya tidaklah demikian,” pembantunya berbisik menyambungi. “Tidak buruk sekalipun tidak bagus.”
“Kita tangkap dia sekarang?” tanya kepala pasukan.
“Sebaiknya sekarang aja. Murid-muridnya tak ada yang mengetahui. Mereka tak dapat menolong sedikit pun jua.”
Prajurit-prajurit itu pun mendekatlah. Cepat kepala pasukan menjambak rambut tukang sihir itu. Dua orang pembantunya mengacungkan pedang terhunus di atas tubuh Calon Arang.
Apakah yang terjadi kemudian? Tangan ketiga prajurit itu sekaligus menjadi kaku kejang kena teluh Calon Arang.
Tukang sihir itu pun bangunlah dari tidurnya. Melihat ketiga prajurit itu meluaplah amarahnya. Matanya merah. Sebentar kemudian menyemburkan api dari matanya itu. Juga hidung, kuping dan mulutnya merah padam mengeluarkan api yang menjilat-jilat. Terbakarlah ketiga prajurit itu. Terbakarlah ketiga prajurit itu. Terbakar sampai hangus dan mati di situ juga.
Prajurit-prajurit lainnya yang melihat itu, lari pontang-panting. Pasukan Bala tentara Raja segera melompat ke atas kuda masing-masing. Mereka kehilangan pemimpin beserta kedua orang pembantu. Setelah semua berkumpul, larilah pasukan itu kembali ke ibukota.
Dalam perjalanan pulang Pasukan Bala tentara Raja di elu-elukan lagi oleh penduduk. Dan bila mereka mendengar akan kegagalan perutusan itu, lenyaplah harapan.
Penyakit tak juga tercegah. Kian melebar sampai ke puncak-puncak gunung. Kegembiraan orang-orang yang tadinya telah bersuka-ria lenyaplah kini. Semua kembali merenung-renung takut diserang penyakit.
Para pendeta mereka malu berhadapan dengan rakyat karena mereka tak mampu menolak teluh yang disebarkan oleh Calon Arang. Akhirnya pendeta-pendeta itu mengakui juga bahwa janda tukang sihir itu seorang pendeta perempuan yang sudah tinggi sekali ilmunya.
Pasukan Bala tentara Raja langsung saja menuju ke ibukota. Seorang yang menggantikan kepala pasukan yang gugup itu terus menghadap Baginda dan berdatang sembah:
“Ampun Paduka Baginda, berita buruk yang hendak hamba sembahkan Paduka Baginda.”
Seluruh menteri dan prawira dan pendeta yang hadir memandang prajurit itu belaka.
“Berita buruk apa yang hendak engkau kabarkan,” kata Sang Baginda.
“Kepala pasukan gugur waktu menangkap Calon Arang.”
Sunyi-senyaplah ruangan bangsal itu. Dan prajurit itu meneruskan ceritanya:
“Kepala pasukan menjambak rambut Calon Arang, Dua orang Prajurit mengamangkan pedang terhunus di atas tubuh janda itu. Ampun Paduka Baginda… Patik lihat tangan ketiga prajurit itu jadi kejang-kaku tak dapat bergerak. Patik lihat sendiri betapa ketakutan mereka itu. Patik bersama pasukan datang di waktu tengah malam. Pasukan kami mendapati Calon Arang di rumahnya. Sedang ia tidur waktu itu. Waktu bangun, keluar api besar yang menjilat-jilat ke sana-kemari. Kepala pasukan beserta kedua orang prajurit yang hendak menangkapnya terbakar hangus sama sekali. Karena itu patik bersama sisa pasukan segera mundur dan kembali ke kota. Hemat patik si janda Calon Arang tak dapat dilawan dengan senjata.”
Mendengar laporan itu Sri Erlangga termenung-menung. Kaget juga Sri Baginda mendengar kesaktian tukang sihir wanita itu.
Tak ada seorang pendeta pun yang berani membuka mulut. Mereka pun tak tahu mantra apa yang harus dipergunakan untuk melawan Calon Arang. Prawira-prawira terdiam. Mereka juga tak mengerti dan tak bisa memikir lagi, karena Calon Arang tak bisa dilawan dengan senjata.
Karena tak ada yang bisa memberi pemandangan yang baik, sidang pun dibubarkan.
Seluruh negeri berkabung mendengar berita kekalahan Pasukan Bala tentara Raja. Para prajurit Daha yang tersohor gagah berani dan tak undur menghadapi maut, kini bimbang memikirkan Calon Arang. Sekali ini lawan yang dihadapi bukanlah prajurit musuh. Juga bukan senjata dari besi. Tetapi… kesaktian tukang sihir. Dan mereka tak tahu sihir.
Penyakit terus menular di mana-mana.
Setelah sidang dibubarkan, segera Sri Baginda Erlangga masuk ke sanggar pemujaan. Di sana Baginda memuja pada dewanya agar diberi petunjuk untuk memberantas penyakit yang telah begitu banyak membunuh rakyat kerajaannya.
Tetapi tak ada dewa datang melalui asap pedupaannya.
Dengan hati sedih ditinggalkan sanggar pemujaan itu dan seorang diri berjalan-jalan di taman. Tetapi keindahan taman itu tak menarik lagi. Lama Sri Baginda duduk diam-diam dibangku di bangku dalam taman. Kepalanya tunduk ke bawah. Di atasnya burung bernyanyi-nyanyi girang di dahan-dahan. Itu pun tak menarik perhatiannya.
Ia berjalan lagi. Tak tahulah ia bahwa sudah berpuluh-puluh kali taman itu di edarinya. Tahu-tahu matari sudah lenyap di balik gunung. Dengan sedihnya kembali ia masuk sanggar pemujaan. Seorang dayang menyalakan pedupaan. Bau harum ratus dan rupa memenuhi ruangan. Segera Sang Baginda sujud di depan arca Dewa Guru. Diucapkannya beberapa mantra. Tetapi dewa itu tak juga datang. Dua kali ia mencoba. Tiga kali. Empat kali. Lima kali. Tak juga berhasil. Sudah tengah malam sekarang. Baginda meninggalkan sanggar. Santapan dibiarkannya dingin. Kembali ia turun ke taman dan berjalan-jalan. Gelap-pekat alam waktu itu. Dan hawa bukan main dinginnya.
Kadang-kadang terdengar burung malam bersahut-sahutan. Jengkerik menjering-jering seakan-akan mengabarkan keamanannya di liang-liang tanah yang hangat.
Dengan tak setahu Baginda, sudah berpuluh-puluh kali pula ia mengedari taman itu. Dan matari pun terbit kembali di ufuk timur. Lambat-lambat ia pun menitahkan agar diadakan sidang lagi hari itu….
VI
Gerombolan Tukang Sihir yang Semakin Nekat
Para Prajurit yang mati itu dilemparkan oleh murid-murid Calon Arang ke kali. Bukan main amarah tukang sihir itu. Dendam mengamuk dalam hatinya. Mukanya dan matanya merah. Bibirnya merengut. Ia tak dapat diam. Berjam-jam lamanya ia mondar-mandir di serambi rumah karena kemarahannya.
Sebentar-sebentar ia menyumpah-nyumpah menakutkan. Sang Baginda Erlangga lah yang disumpahi. Murid-muridnya turut ketakutan mendengar perempuan itu menyumpahi raja yang punya Negara. Tetapi mereka tak berani berkata apa-apa. Mereka takut belaka kalau-kalau diteluh pula oleh perempuan celaka itu.
Tiba-tiba tukang sihir itu punya maksud. Segera ia masuk ke dalam sanggar pemujaan. Ia bawa kitabnya. Ratna Manggali menegur:
“Ibu hendak ke mana?”
“Diam, kau anak bayi! Jangan bertanya-tanya.”
Ratna Manggali turut ketakutan. Ia tak bertanya lagi.
Langsung janda itu menuju ke serambi. Murid-muridnya diperintahnya supaya ikut. Karena takut, mereka semua ikut. Di depan sekali berjalan Weksirsa, kemudian Calon Arang dengan membawa kitab. Di belakang berjalanlah murid-muridnya yang terkemuka.
Sampailah mereka di kuburan yang dituju. Seorang demi seorang duduklah di tanah berumput. Di sinilah tempat perundingan mereka. Calon Arang duduk di tengah-tengah bersandar pada pohon kayu yang besar lagi tua. Tumbuh-tumbuhan rambatan berjuluran dari cabang-cabang sampai di tanah.
Jarang benar orang datang ke kuburan itu. Selain gelap, juga menakutkan kelihatannya. Kuburan itu tak terpelihara. Banyak ditumbuhi di semak-semak dan ular berjalaran ke sana-kemari.
Mereka duduk tenang-tenang, dan masing-masing membuat rencana apa yang harus dikerjakan. Sekarang kejahatan mereka telah diketahui Baginda Raja. Tentu Baginda Erlangga akan mendatangkan bala tentara yang kuat untuk membinasakan mereka. Itulah yang dipikirkan.dan mereka merancang-rancang bagaimana harus menyelamatkan diri.
Sebentar-sebentar mereka memandang semak-semak yang lebat dan gelap itu. Kadang-kadang mereka melihat burung gagak terbang dan berteriak-teriak sangat kuat.
Dua kali Calon Arang mengeluh. Berdesis suara keluhannya itu melalui giginya yang kuning lagi besar-besar.murid-muridnya yang turut, yaitu Lendi, Larung, Gandi, Weksirsa, Mahisa Wadana memandangnya.
“Apakah yang kanjeng Nyai pikirkan?” ta nya Lendi.
Calon Arang mengeluh lagi. Kemudian memandang muridnya seorang demi seorang.
“Siapa punya rancangan baik?” tanya tukang sihir itu.
Lendi bertanya dengan hormatnya:
“Bagaimanakah pikiran Kanjeng Nyai?”
“Itulah yang sedang kucari-cari.”
“Sekarang peneluhan kita sudah diketahui oleh Raja,” kata si Lendi pula.
“Dan bala tentara Baginda besar, kuat, dan banyak. Semua kita tahu juga Sri Erlangga adalah seorang panglima yang telah menundukkan banyak negeri.”
“Dan Sri Erlangga dicintai rakyat,” sambung Weksirsa, “Karena ia selalu memikirkan kemakmuran dan keselamatan rakyatnya.”
“Waktu aku masih jadi pengembara,” sela si Larung, “aku lihat sendiri Sri Baginda memeriksa rakyat yang membuat tanggul kali Brantas. Karena perintah Baginda untuk membuat tanggul besar itu rakyat tidak pernah kebanjiran lagi. Sawah-sawah jadi subur dan panen selalu memuaskan. Dengan begitu rakyat hidup makmur.”
Murid-murid Calon Arang tertarik oleh cerita si Larung.
Mereka pun bertanya:
“Bagaimana kemudian?”
“Tanggul itu membuat Sri Baginda dicintai. Karena tanggul kali Brantas itu bisa di lalui perahu dari negeri Cina dan perahu-perahu besar kerajaan dan negeri-negeri lain di seberang lautan.”
“Aku dengar Sri Baginda pun seorang raja yang berbudi,” kata Mahisa Wadana.
Tetapi sebelum selesai ucapannya, Calon Arang membentak:
“Diam, kalian!”
Ia tak suka pada orang yang dianggap berbudi. Hatinya jadi iri bila mendengar itu. Karena itu ia marah.
Cepat-cepat si Lendi mengulangi pertanyaannya:
“Jadi, bagaimanakah keputusan Kanjeng Nyai?”
Calon Arang tak menjawab. Ia memikir sungguh-sungguh sekarang.
“Ya, Kanjeng Nyai, peneluhan ini sudah diketahui oleh orang banyak. Kita semua harus mencari akal. Setidak-tidaknya bala tentara Sri Baginda akan memburu kita semua. Jadi, apakah yang harus kita perbuat?”
Waktu dilihatnya Calon Arang tak menjawab juga, ia meneruskan:
“Kanjeng Nyai! Izinkanlah hamba mengemukakan pendapat.”
“Katakan! Katakan!” Kata Calon Arang.
Semua yang hadir memandang Lendi. Dan Lendi berkata lagi:
“Lebih baik kita semua melarikan diri ke gunung yang masih diliputi hutan lebat. Semua orang tahu siapa Kanjeng Nyai dan kami murid-muridnya. Semua orang akan tahu ke mana saja kita pergi, kita terkenal. Atau…?”
“Atau apa?” Tanya Calon Arang mendesak.
“Atau kita pergi kepada seorang pendeta agung yang bisa mengembalikan kita semua ke jalan yang benar agar bisa hidup baik dan tenang, tidak dibuat permainan segala macam kejahatan seperti sekarang.”
Calon Arang tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan si Lendi itu.
“Penakut! Penakut!” serunya menghinakan si Lendi.
Larung mencela dengan kasarnya:
“Hai Lendi, kita bukan gerombolan penakut. Untuk apa takut? Apa yang kita khawatirkan?” ia tertawa mengejek. Kemudian meneruskan: “Apa gunanya memusingkan kain kalau sudah basah. Lebih baik terus mandi.”
Sesudah bicara begitu ia memandang gurunya. Calon Arang diam saja. Karena itu Larung meneruskan:
“Lebih baik kita hadapi Raja itu dengan semua belantaranya.”
“Bagaimana caranya kita melawan mereka?” tanya Lendi takut-takut.
“Bagaimana?” seru Larung dengan suara menghinakan. “Kita teluh semua penduduk ibu kota, biar mati semua. Biar Raja dan semua rakyatnya kita tumpas pula. Apa salahnya? Kita teruskan saja pekerjaan ini.”
Weksirsa dan Lendi berdiam diri. Kedua orang itu tak setuju dengan pendapat si Larung. Kedua orang itu sadar bahwa mereka telah berbuat salah terhadap sesama manusia.
“Bagaimana pikiran kalian?” tanya Calon Arang.
“Setuju, Kanjeng Nyai.” Semua menyeru setuju.
Karena takut dibunuh oleh gurunya, Weksirsa dan Lendi turut pula menyetujui.
Karena semua muridnya setuju, bukan main girang Calon Arang. Ia pun ingin sekali meneluhi orang-orang di Ibu Kota. Akan girang hatinya bila juga Raja bisa kena teluhnya.
“Nah, menandaklah sekarang,” perintah tukang sihir itu.
Maka murid-muridnya segera berlatih mendadak. Calon Arang memeriksa mana yang kurang betul. Diperbaikinya semua kesalahan. Jadi, nanti kalau ia mengucapkan mantra-mantranya, tak akan timbul kegagalan karena ada yang salah menandak.
Gu yang melompat ke depan dan mulai menandak. Tangannya terkembang-kembang samping-menyamping. Kakinya dilipatnya pendek-pendek seperti cebol jadinya sebentar-sebentar dikebat-kebatkan kainnya. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan. Ia melangkah ke kiri dan ke kanan seperti gandul lonceng.
Sesudah itu majulah si Larung dengan garang dan angkuhnya. Ia telanjang bulat. Tangannya menarik-narik apa saja yang dapat ditariknya. Geraknya seperti orang kaget dan ketakutan, menumbuk ke sana dan menumbuk kemari. Pinggang meliuk-liuk seperti cacing diinjak. Matanya mendelik putih dengan syaraf-syarafnya yang merah menakutkan. Rambutnya yang panjang dan lengket-lengket karena cuma dicuci dengan darah manusia itu merayau-rayau.
Sekarang si Gandi maju ke medan. Ia melompat-lompat dan menjatuh-jatuhkan diri seperti orang kesakitan karena terbakar baju. Rambut seluruhnya tersibak ke kiri. Mata dibelalakkan dengan mendelik. Riuhlah pemandangan di kuburan yang sunyi-senyap dan setengah gelap itu. Burung-burung gagak beterbangan ketakutan sambil berteriak-teriak ngeri. Lumut di tanah yang terinjak-injak tenggelam dalam lumpur.
Puaslah Calon Arang melihat latihan itu. Ia mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.
Sekarang giliran si Lendi. Ia menari-nari seperti burung merak. Jalannya berpincang-pincang seperti habis kena pentung kakinya. Rambutnya dikusau-kusau. Tiap ia bergerak rambut itu merayau-rayau. Matanya melirik-lirik sehingga merah warnanya.
Dan Weksirsa tertegun-tegun tariannya. Kepala diteleng-telengkan ke kiri dan ke kanan. Kain disobeki hingga hampir-hampir ia telanjang bulat seperti bola. Dan Mahisa Wadana menari dengan kaki sebelah. Kepalanya yang besar menggeleng-geleng. Lidah menjulur-julur seperti ulat mencari makan. Kadang-kadang ia berjalan dengan kedua tangannya.
Tambah giranglah perempuan tukang sihir itu melihat kecakapan murid-muridnya yang tak mengecewakan itu. Habislah latihan untuk hari itu. Kemudian tiap-tiap orang mendapat pekerjaan. Selain Weksirsa dan Mahisa Wadana, semua mendapat perintah pergi ke empat penjuru.
Setelah syarat-syarat peneluhan dipenuhi, segera Calon Arang dan murid-muridnya berkumpul lagi di kuburan yang setengah gelap itu.
Candi Durga tak jauh letaknya dari pekuburan itu. Tak ada orang berani lewat di sana. Kalau lewat juga, pastilah melihat bangkai yang dijadikan kurban oleh Calon Arang beserta murid-muridnya untuk bersesaji kepada Dewi Durga.
Segera Calon Arang mengambil bangkai orang. Masih baik mayat itu. Belum lagi rusak. Orang itu mati di hari Sabtu. Dan orang yang mati pada hari Sabtu baik benar buat dijadikan kurban. Mayat itu segera dijengkali. Setelah itu didirikan dan diikatkan pada sebatang pohon dekat candi.
Calon Arang membaca mantra dan mulutnya meniupi mayat itu. Kedua orang muridnya membukakan mata mayat tersebut. Akhirnya mayat itu pun hidup kembali. Dadanya kembang kepis karena napas mulai masuk. Setelah matanya dapat melihat dipandangnya orang-orang di depannya seorang demi seorang. Dengan suara perlahan ia bilang:
“Ya ampun, tuanku. Ya ampun. Hamba sangat berterimakasih karena tuanku hidupkan hamba kembali. Terima kasih. Atas kasihan terhadap diri hamba yang hina ini. Sangatlah hamba banyak berhutang budi kepada tuanku sekalian. Dan tak akan sangguplah hamba membayar utang budi hamba yang sebesar dan sebanyak ini.”
Weksirsa membentuk dengan garangnya:
“Hidup panjang itu gampang sekali. Tapi bukan untuk itu engkau kuhidupkan lagi. Tahu, kau? Lehermu akan kutebas.”
Baru saja ia habis bicara, ia telah menarik pedangnya. Sekali ayun, dan leher kurban itu pun putuslah. Rambut si kurban dicekamnya dan kepala dibawanya. Darah menyembur. Dan darah itulah ia pergunakan untuk mengeramasi rambutnya. Setelah itu usus kurban ditarik-tarik dan dibuatnya jadi selendang. Tubuh yang tinggal dipergunakan oleh orang-orang durhaka itu untuk bersesaji kepada Dewi Durga.
Asap pedupaan mengepul-ngepul di kaki arca Sang Dewi Durga atau Dewi Bagawati.
Calon Arang duduk menunduk di depan arca itu sambil mengucapkan berbagai mantra.
Perlahan-lahan datanglah Sang Dewi melalui asap pedupaan.
“Hai, Calon Arang, anakku!” kata Sang Dewi. “Engkau menyediakan sesaji. Apakah kehendakmu?”
“Ampun, Dewi pujaan hamba. Izinkanlah hamba membuat penyakit besar-besaran. Biarlah penyakit itu sampai merambat ke dalam ibukota, bahkan ke dalam istana sekalipun. Paduka Sang Dewi telah tahu juga, bahwa Sang Baginda Erlangga sangat marah karena teluhan hamba. Sang Baginda pun telah menjatuhkan perintah untuk membunuh hamba. Karena itu sangat benar permohonan hamba ini dikabulkan hendaknya.”
“Baiklah, anakku. Aku kabulkan permintaanmu itu. Tetapi ingat, engkau harus hati-hati bertindak.”
Sehabis bicara itu lenyaplah Dewi Durga. Dan pulanglah Calon Arang bersama murid-muridnya ke desa Girah.
VII
Wedawati Kembali
Melihat Wedawati pergi , bukan main girang hati ibu tirinya.
“Moga-moga ia takkan pulang kembali,” doanya. “Moga-moga ia mati di tengah jalan dimakan macan.”
Setelah anak tiri itu lenyap dari pemandangannya, dengan air muka berseri-seri, pergilah ia mendapatkan anaknya. Ia pun bermain-mainlah dengan anaknya itu. Diberinya berbagai macam janji yang besar-besar.
Karena asyik bermain dengan anaknya, tak sadarlah ia hari telah sore.
Setelah mengajar dan memberi wejangan kepada murid-muridnya, kembali Sang Empu ke asrama Lemah Tulis. Sehabis ganti pakaian, segera disantapnya makanan yang telah tersedia untuknya. Kemudian duduk-duduklah ia di tikar di pendopo membaca-baca.
Istrinya datang mendekati. Kemudian mengabarkan berita kejadian-kejadian pagi itu:
“Tuanku Sang Empu, sepergi tuanku mengajar di pertapaan Wisamuka, ananda Wedawati bertengkar dengan adik-nya.”
Empu Baradah berhenti membaca kitab. Tenang-tenang dipandangnya istrinya. Kemudian bertanyalah ia:
“Apa yang dipertengkarkan?”
“Bunga!” jawab istrinya.
“Masa bunga begitu banyak dipertengkarkan,” ujar Sang Pendeta. “Begitu banyak bunga di taman.”
“Benar tuanku,” kata istrinya. “Setelah bertengkar ia pergi meninggalkan rumah. Tak mau ditahan.”
“Di mana ia sekarang?”
“Tidak tahu, tuanku. Belum pulang sampai sekarang.”
Segera Sang Empu bangun dari tempat duduknya. Kaget benar ia. Cepat-cepat dikenakan kembali jubahnya. Katanya pada istrinya:
“Baiklah kucari sendiri.”
Kemudian jalanlah ia mencari Wedawati. Cepat sekali jalannya. Sebentar-sebentar ia bertanya pada orang di jalan:
“Ada engkau lihat anakku? Ke mana perginya?”
Tiap orang yang mengetahui, menjawablah dengan segera dan hormat.
Sampai di padang rumput Sang Empu sekarang. Anak-anak gembala masih banyak di sana. Pada salah seorang di antara mereka, bertanyalah ia:
“Ada di antara engkau tahu ke mana anakku pergi?”
“Kak Wedawati yang cantik?” tanya seorang gembala.
“Yang menangis sepanjang jalan?” tanya yang lain.
“Ya, itulah anakku Wedawati. Ke mana dia?” tanya Sang Empu.
“Pergi ke luar dusun, bapak Empu,” seorang menjawab. “Lurus ke selatan. Barangkali ke kuburan ibunya.”
Setelah mengucapkan terima kasih banyak-banyak Empu Baradah segera pergi. Cepat-cepat perginya. Langsung ke kuburan seperti yang ditunjuk oleh anak-anak gembala.
Waktu memasuki daerah pekuburan langkahnya jadi lambat-lambat. Ia teringat pada mendiang istrinya yang dikuburkan di situ.
Kuburan itu masih sunyi-senyap seperti tadinya juga. Pohon-pohon besar dan rindang menggeleng-gelengkan tajuknya bila angin datang meniup. Burung bernyanyi bersahut-sahutan. Di pucuk pohon beringin beberapa ekor gagak meraung-raung. Dan sinar matari yang telah tipis membuat kuburan itu bertambah gelap. Jengkerik sudah mulai mendering-dering.
Hati-hati Empu Baradah memandang ke kanan dan ke kiri. Kemudian terlihat olehnya Wedawati duduk terpekur di tanah di samping kuburan mendiang ibunya. Perlahan dan hati-hati ia mendekati. Ia tak mau gadis yang dikasihi itu terkejut.
Sesudah dekat benar, terdengar oleh bisiknya Wedawati:
“Keadaan di rumah tak sebaik dahulu; tak sebaik waktu ibu masih tinggal di sana.”
“Sudahlah, anakku, sudahlah,” bisik Empu Baradah pada kuping anaknya.
Bukan alang-kepalang kaget Wedawati. Waktu melihat ayahnya ada di sampingnya segera orang tua itu dirangkulnya.
“Mengapa engkau pergi dari rumah, anakku?” tanya sang Empu.
Diajaknya Wedawati pulang. Dan gadis itu tidak menolak. Anak dan ayah pun berjalan pelan-pelan pulang ke asrama Lemah Tulis.
Wedawati telah pulang. Lama ia tak keluar-keluar dari asrama. Jarang benar ia mengunjungi rumah kawan-kawannya. Tidak seperti dahulu. Tetapi kalau kawan-kawannya datang ia tak menolak mereka. Ditemuinya mereka itu dengan senang hati.
Memang sudah adat Empu Baradah tidak mengajar dan mewejang tiap hari di pertapaan Wisamuka. Dua atau tiga bulan baru ia turun ke pertapaan. Kadang-kadang pun hingga setahun.
Dan sekarang, sudah lama benar ia belum turun juga. Ia tinggal di asrama mempelajari berpuluh-puluh kitab. Bila hari telah malam, diajarinya Wedawati berbagai ilmu. Tidak satu ilmu saja yang diajarkan. Banyak juga. Wedawati harus belajar ilmu bumi, ilmu alam, agama, ilmu budi pekerti, bahkan juga filsafat. Sang Empu ingin anaknya pandai dan cerdas. Ia pun ingin anaknya tenang dan selalu tenteram hatinya.
Barangkali karena ayahnya orang cerdas, Wedawati begitu juga. semua pelajaran dengan gampang dapat diterimanya. Sekarang gadis itu telah beribadah. Taat sungguh ia pada agamanya. Tambah banyak ia menolong orang yang susah. Tak jarang ia datang ke tempat orang-orang sakit membawa buah-buahan dan menghibur. Tentu saja senang orang-orang yang sakit itu mendapat obat, buah-buahan, dan hiburan.
Karena Wedawati dan ayahnya beragama Hindu, dengan sendirinya mereka ibadah secara agama Hindu.
Tak jarang Wedawati menyendiri dalam khalwatnya.
Di sana ia memuja dewa-dewanya. Di sampingnya, asap ratus mengalun ke atas dengan damainya.
Beribadah itu melenyapkan segala sifat yang buruk. Iri hati, dengki, khizib, dendam, semua itu hilang dari hati Wedawati.
Wedawati adalah gadis yang cantik, penolong, dan saleh.
VIII
Raja Membutuhkan Bantuan Sang Pertapa
Penyakit tambah menghebat. Ratusan orang mati tiap hari. Tak sempat lagi orang menguburkan kerabat atau sahabat yang meninggal. Mayat tergolek-golek di sepanjang jalan, di dalam rumah, di sawah, bahkan di dekat-dekat istana demikian pula.
Bukan main amarah Sang Baginda melihat kesengsaraan rakyatnya, disebabkan oleh kejahatan beberapa orang saja itu. Tetapi apa dayanya? Bala tentaranya yang kuat dan pernah menaklukkan berbagai negeri tak bisa melawan tukang sihir yang bersenjatakan sihirnya. Tak habis-habis ia memikirkan bagaimana dapat membinasakan Calon Arang beserta murid-muridnya.
Hampir dari tiap rumah terdengar tangis menghiba-hiba. Saban hari ada orang-orang yang masih sehat berduyun-duyun ke candi dan berdengunglah doa memohon keselamatan dari para dewa. Saban hari terdengar rintih kesakitan dan tangis serta jerit kesedihan dan ketakutan. Banyak orang mengungsi meninggalkan daerah-daerah yang sudah diserbu oleh penyakit. Tetapi di tengah perjalanan mereka terserang penyakit juga dan roboh di pinggir jalan.
Sawah dan ladang tak sempat diolah lagi. Semak dan rumput merayap merajalela. Seri kerajaan Daha kini menjadi suram.
Lalat besar-kecil merajalela dan terbang berdansa-dansa kian kemari tambah melebarkan serangan penyakit. Dan karena rumput dan semak merajalela, margasatwa pun beranak-biak dengan cepatnya. Di seluruh negeri itu hanya satu dua orang saja yang tidak kurus.
Kata orang,pada waktu itu banyak setan bersuara dari angkasa, dari pohon-pohon, dari padang dan dari mana-mana saja.
Dari sana-sini orang dengar murid-murid Calon Arang mengembara ke seluruh negeri. Dengan garang dan angkuhnya mereka keluar masuk rumah dengan tiada minta izin. Belompatan dari lantai ke tempat tidur. Di dalam rumah mereka menandak-nandak minta diberi sesaji darah hangat dan daging mentah.
Di mana-mana murid-murid itu menakut-nakuti orang-orang dengan tingkahnya yang congkak.
Penyakit tambah menghebat. Tak berkurang sedikit pun. Punggawa-punggawa negara tak bisa berbuat apa-apa. Mereka pun takut kena teluh Calon Arang dan murid-muridnya yang tak dapat ditolak itu.
Demikianlah keadaan negara Daha waktu itu.
Pada suatu hari Sri Baginda mengadakan sidang lagi. Penuhlah bangsal persidangan.
“Penyakit itu disebabkan karena mantra. Karena itu bala tentara tak bisa menumpaskannya. Kalau bala tentara dikerahkan juga, akan buruklah akibatnya,” kata Sri Baginda. “Karena itu mantra harus dilawan dengan mantra. Tak ada jalan lain.”
Hadirin membenarkan pendapat Sang Baginda. “Karena itu pula,” Baginda meneruskan, “kami perintahkan pada semua pendeta di seluruh negara untuk turut mencari jalan yang baik.”
Pendeta-pendeta yang dipanggil itu adalah yang pandai-pandai belaka, mahir dalam segala mantra dan maklum akan segala teluh orang-orang jahat.
“Kami perintahkan sekarang, semua pendeta yang menghadap pergi memuja ke candi, mohon petunjuk dari Dewa Agung guna mendapat obat mujarab untuk memberantas penyakit ini.”
Setelah persidangan bubar, semua pendeta yang hadir pergi berbareng ke candi. Di sana mereka berbareng memohon Dewa Agung agar diberi petunjuk bagaimana cara memberantas penyakit. Juga mereka memohon agar keamanan, kesehatan, dan kemakmuran seluruh rakyat negara Daha dikembalikan sebagai tadi-tadinya.
Ramailah candi kerjaan waktu itu. Penduduk pun datang menyaksikan dari luar candi. Mereka kelihatan kurus-kurus seperti tak makan dalam enam hari.
Di dalam candi, para pendeta berbareng bersemadi. Asap pedupaan besar mengepul-ngepul ke langit. Permohonan para pendeta itu terkabul juga akhirnya.
Maka datanglah Dewa Guru melalui asap pedupaan, kemudian berdiri tegak di atas api. Berkata Dewa ini:
“Berbahagialah engkau semua. Penyakit yang hendak engkau tolak sudah masanya harus dicegah. Cuma seorang saja yang kuasa melawan teluh si Calon Arang. Dan orang itu ialah seorang pendeta yang berasrama di Lemah Tulis. Empu Baradah namanya, seorang pertapa yang telah lulus dalam segala macam ilmu. Dialah yang bertuah segala mantranya. Ia pulalah kelak melindungi kerajaan, memberantas segala kerusuhan dan keonaran.”
Sehabis bicara, hilanglah Sang Dewa Guru. Lenyap ia dari pemandangan.
Para pendeta mengakhiri semedi masing-masing. Segera mereka menghadap Sri Baginda dan melaporkan hasil pekerjaan.
SEGERA Sri Baginda Raja memerintahkan Kanduruan Banyak ia menasihati Kanduruan agar bersikap hormat pada Empu Baradah dan menghadap benar-benar agar pendeta yang mulia itu segera sudi turun tangan menghancurkan seluruh penyakit.
Setelah habis perintah Sri baginda, Kanduruan cepat-cepat melompat ke atas kudanya diiringkan pasukannya.
Waktu sampai di depan asrama Sang Empu kuda-kuda lantas dicencang. Kanduruan masuk dengan hormat ke dalam. Pasukannya menunggu di luar rumah. Kebetulan Sang Empu tidak mengajar.
Sang Pendeta berkata sopan:
“Siapakah tuan, priyayi yang tak pernah kujumpai?”
“Kanduruan hamba ini,” jawab Kanduruan dengan hormat.
“Dari mana, tuan priyayi?”
“Hamba ini dari ibukota, membawa perintah ananda Sri Baginda Raja.”
“Apakah yang dapat kupersembahkan kepada Sri Baginda?” tanya Sang Pendeta.
“Paduka tuanku diharapkan oleh Sri Baginda sudi datang ke Daha untuk membatalkan teluh Calon Arang.”
“Siapa itu Calon Arang, priyayi?” tanya Sang Empu.
“Itulah janda dari desa Girah. Dia tukang sihir yang manjur teluhnya. Telah banyak penduduk meninggal karena tingkahnya,” ujar Kanduruan.
“Apakah sebabnya janda dari Girah itu marah-marah priyayi?” tanya Sang Empu pula.
“Ia beranak seorang perempuan. Sampai sekarang tak ada yang mau memperistri anaknya itu. Itulah sebabnya ia marah-marah,” dan setelah memperbaiki duduknya. Kanduruan meneruskan: “Tidaklah buruk anaknya itu. Cantik bukan kepalang, kata orang Ratna Manggali namanya. Apakah jawabnya yang dapat hamba sembahkan kepada Sang baginda Raja, Maha-Empu?”
“Jadi itulah yang menyebabkan. Hmm,” kata Sang Baradah pada dirinya sendiri. Sangat pelan katanya itu. Kemudian suaranya dikeraskan. “Baiklah, priyayi. Tuan lebih baik segera kembali menghadap Sri Baginda. Sembahkan pada Baginda bahwa aku, Empu Baradah, sanggup membatalkan teluh janda dari Girah yang bernama Calon Arang itu. Sembahkan juga bahwa penyakit pasti akan tumpas dan rakyatnya akan hidup aman kembali. Tetapi…”
Kanduruan mengangkat dan memandang Sang Empu. Waktu melihat Baradah akan meneruskan ucapannya, ia menundukkan kembali.
“Haruslah dikerjakan oleh Sang Baginda dengan jalan apa pun juga, yaitu terlebih dahulu Ratna Manggali harus dijodohkan. Dengarkanlah baik-baik, priyayi! Aku punya murid. Empu Bahula namanya. Sekarang ia juga di sini. Kawinkanlah dia dengan Ratna Manggali. Segala ongkos upacara perkawinan dan emas kawin baiklah Sri Baginda yang memikirkan. Aku harap itu dikerjakan dahulu sampai beres sama sekali. Jangan tidak, priyayi! Jangan sampai Sri Baginda terlampau sedikit menyediakan harta benda untuk itu.”
Setelah pembicaraan habis, utusan Baginda dipersilakan beristirahat di pondok. Di sana mereka dijamu dengan berbagai penganan dan makanan serta buah-buahan. Serba lengkap. Juga segala macam minuman yang terdapat di dusun Lemah Tulis yang segar dan sedap. Giranglah semua yang dijamu.
Waktu masa mengaso sudah habis, berangkat lagi utusan itu membawa Empu Bahula.
Berita tentang kesanggupan Empu Baradah disambut dengan sorak kegirangan di mana-mana. Di alun-alun Daha utusan itu disambut dengan seruan gegap-gempita. Para prajurit membunyikan sangkakala dan segala tabuh-tabuhan. Hari itu berseri-seri lagi penduduk Daha.
IX
Wedawati Jadi Gadis Pertapa
Setelah lama tidak mengajar dan mewejang di pertapaan Wisamuka, pada suatu hari berkatalah Sang Empu pada istrinya:
“Hari ini aku akan turun ke pertapaan.”
Segera istrinya menyediakan jubah Sang Empu. Selain jubah juga terompah dan selendang penutup leher.
Setelah selesai berpakaian, berangkatlah Empu Baradah. Di sepanjang jalan ia mendapat penghormatan dari orang-orang yang lewat.
Hari masih pagi waktu itu. Matari masih tertutup oleh pohon-pohonan. Kambing-kambing belum lagi digembalakan. Sapi dan kerbau baru dibawa ke kali untuk dimandikan.
Embun masih tebal di udara. Dan rumput di tanah masih basah kuyup.
Empu Baradah berjalan bergegas. Ia selalu berjalan bergegas. Sekalipun sudah tua, ia masih kuat, karena selain banyak mempelajari kitab, ia pun banyak berolahraga dan kerja berat mengolah ladangnya.
Setelah sampai di pertapaan, segera Sang Empu membakar pedupaan. Asap dupa mengalun ke atas. Di depannya duduk muridnya berjajar-jajar. Semua menundukkan kepala. Semua hormat belaka pada gurunya. Semua kasih padanya. Sang Empu orang pandai. Sang Empu orang jujur. Sang Empu orang berbudi.
Berjam-jam Sang Empu mengajar. Berbagai ilmu disampaikan pada murid-muridnya. Siang hari Empu Baradah santap di pertapaan. Sudah itu pelajaran dan wejangan diteruskan lagi.
SETELAH Sang Empu pergi, Wedawati mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa. Walaupun banyak bujang di rumah, ia sendiri menyapu dan mencuci piring serta pakaian adiknya.
Waktu matahari telah nampak, ia pun menjemur cuciannya. Tidak disangkanya ibu tirinya selalu saja berdiri di belakangnya.
Setelah selesai menjemur, ia hendak mandi. Tetapi tiba-tiba ditahan ibu tirinya. Ia dimaki-maki. Karena tak tahu kesalahan dirinya, ia pun bertanya:
“Apa salah hamba, ibu?”
Tetapi ibu tirinya tak mau peduli. Terus saja memakinya. Akhirnya Wedawati diusir dari asrama.
Dengan baju basah, dan kain basah, ia pun pergi meninggalkan asrama. Sinar matahari yang mulai panas dengan penuh kasihan mengeringkan pakaiannya. Dan angin yang tiba-tiba bangkit, datang pula menolong mencepatkan kering.
Ia tak tahu ke mana harus pergi. Ayahnya bukan berasal dari Lemah Tulis, karena itu ia tak punya paman ataupun bibi. Nenek atau kakeknya pun tiada. Yang ada hanya orang-orang yang baik hati padanya. Tapi pada mereka ia tak mau minta tolong.
Ke mana ia harus pergi?
Sambil berjalan ia terus berpikir. Ia berpikir dan berpikir. Juga mencari-cari apakah kesalahan yang pernah diperbuatnya terhadap ibu tirinya. Tetapi ia tak ingat sedikit pun telah pernah bersalah pada perempuan tua itu.
Dengan tiada terasa ia telah sampai luar dusun. Dan dengan tiada sadar ia telah masuk ke pekarangan kuburan. Langsung ia menuju ke tempat ibunya dimakamkan.
Waktu ia terkenang kembali pada ibunya yang berbudi itu, bukan main benci hatinya pada ibunya yang baru itu. Ia mencoba memaafkan kejahatan perempuan itu. Tetapi tak bisa. Ia tak bisa memaafkan. Sungguh-sungguh ia benci.
Karena kebenciannya, tak ingin ia pulang kembali ke asrama. Ia mau tinggal dengan ibunya sendiri. Ia ingin tinggal dengan ibu yang kasih dan cinta padanya. Ia mau tinggal saja di kuburan itu.
Diam-diam ia duduk di samping kuburan mendiang ibunya. Tetapi ia tidak menangis seperti dahulu. Ia memuja ibunya dan dewa-dewa yang disembahnya.
Alam di luar sudah mulai gelap. Lampu-lampu telah dipasang belaka. Mendung sangat tebal di langit. Karena itu segera Sang Empu turun dari pertapaan dan pulang buru-buru.
Di tengah perjalanan angin yang keras meniup. Mendung yang tebal diusir belaka oleh angin langit kembali cerah. Dan Sang Empu terus saja berjalan.
Sampai di asrama Lemah Tulis hari telah petang. Untung benar mendung tadi tak jadi turun hujan.
Segera Sang Empu memanggil-manggil anaknya yang sulung.
“Wati! Wati! Ayah minta selop, nak.”
Tetapi Wedawati tidak menyahut. Berulang-ulang ayahnya memanggil. Tetapi anaknya tetap tak menjawab.
Istrinya sedang di ladang mengambil sayuran. Ia mendengar juga suara suaminya. Tetapi ia berdiam diri pura-pura tak dengar.
“Wati! Wati! Anakku manis, di mana engkau? Sedang mengapa?”
Juga tak menjawab.
Bujang-bujang pun tidak menjawab. Mereka semua ketakutan. Tak seorang pun di antara mereka berani mengatakan apa yang telah terjadi pagi tadi.
Terpaksa Sang Empu mencari sendiri selopnya. Kemudian ia turun dari rumah dan melihat-lihat ke sana kemari. Dilihatnya bujang-bujang bekerja seperti biasa. Tetapi ia lihat juga semua mereka ketakutan. Yang lelaki juga, yang perempuan juga.
Sang Empu berpikir sebentar. Kemudian tahulah ia, bahwa sudah terjadi sesuatu di rumahnya.
“Di mana anakku Wati?” tanyanya pada seorang bujang.
“Ampun, tuanku. Hamba tidak tahu.”
“Sudah lama dia pergi?” Sang Empu bertanya lagi.
“Itu pun hamba tidak tahu, tuanku,:” jawabnya.
Perlahan-lahan Empu Baradah masuk kembali ke dalam rumah. Tenang-tenang ia duduk di tikar di pendopo menunggu kedatangan istrinya.
Waktu istrinya datang, ia diam-diam duduk termenung di tikar.
“Tuanku,” kata istrinya.
Sang Empu tetap menunduk.
“Tuanku,” ulang istrinya. “Tadi ananda Wedawati berkelahi lagi dengan adiknya. Kemudian dengan marahnya ia pergi. Hamba tak tahu ke mana ia. Sampai sekarang belum lagi pulang.”
Diam-diam Sang Empu bangun dari duduknya. Tenang-tenang ia kenakan jubah dan pakai terompah. Melihat Sang Empu berdiam diri saja, istrinya menjadi kecut. Ia tak berani berkata-kata lagi.
Waktu Empu Baradah meninggalkan rumah diikutnya dari belakang. Kemudian Sang Empu diiringkannya dengan pandang sampai tak kelihatan lagi. Dengan bimbang ia masuk ke dalam rumah. Ia merasa ketakutan dan cemas. Segera dicarinya anaknya. Setelah bertemu diajaknya bermain-main. Dan dalam bermain itu lupalah ia pada ketakutan dan kecemasannya.
Bergegas-gegas pendeta itu berjalan.
“Ke mana lagi ia kalau tak kekuburan ibunya” pikirnya.
Sekarang ia tak tanya lagi pada siapa pun ke mana anaknya pergi. Selain itu, memang tak ada orang tempat bertanya lagi. Dusun sudah sunyi. Anak-anak gembala telah pulang ke rumah masing-masing. Dan petani-petani telah berangkat ke sawah siang tadi untuk menjaga tanamannya di malam hari, supaya jangan dirusak celeng.
Sampai di kuburan segera ia ke tempat makam mendiang istrinya. Dan betullah, di sana di dapatinya Wedawati sedang memuja. Hati-hati ia duduk di samping anaknya pelan-pelan ia hibur:
“Anakku, manis! Buat apa engkau meninggalkan rumah? Engkau membuat aku bersedih hati. Mari pulang, anakku!”
Wedawati menggelengkan kepala. Ia tak mau pulang lagi. Ia tak ingin hidup bersama ibu tirinya. Karena tak mau menyusahkan orang lain, ia pun tak sudi bila disuruh tinggal di tempat orang lain.
Lama Empu Baradah mengambil hati anaknya. Tapi Wedawati tak mau mengubah pendiriannya. Lama juga ayah itu mengusap-usap rambut dan bahu anaknya. Wedawati tetap tidak peduli.
Sudah lama juga Sang Pendeta itu memberi nasihat. Banyak juga pelajaran disuarakannya. Tidak, Wedawati tetap tak mau ikut pulang.
“Mengapa engkau hendak menyedihkan hati ayahmu, Wati?”
“Ayahanda,” kata Wedawati sopan, “hamba sudah berniat tinggal di kuburan ini. Hamba tak ingin pulang.”
“Kalau engkau tinggal di sini, anakku, angin, hujan, panas, dan dingin udara itu akan membuat engkau tidak sehat,” ayahnya menasihati lagi.
“Biarlah hamba sakit, ayahanda. Biarlah hamba sakit,” jawab Wedawati.
“Mengapa engkau menyedihkan hatiku, Wati?” tanya Sang Pendeta.
“Bukanlah maksud hamba menyedihkan ayah,” kata Wedawati pula. “Kalau hujan turun, dan udara dingin, biarlah hamba sakit. Biarlah hamba lenyap. Kalau hamba lenyap dari muka bumi, tak adalah yang dengki terhadap diri hamba yang hina ini.”
“Siapa yang dengki padamu, anakku?” tanya Sang Empu.
Wedawati tak menjawab.
“Engkau berkelahi dengan ibumu, Wati?” tanya Sang Empu lagi.
Wedawati tetap tak mau menjawab.
“Semua orang kasih dan sayang padamu, anakku. Marilah pulang.”
Gadis itu tak mau juga pulang.
Sekarang malam telah datang. Karena Wedawati tak juga sudi pulang, terpaksa Sang Pendeta menunggui anaknya di kuburan. Ia memuja pada dewanya agar diubahnya niat anaknya itu. Tetapi pemujaannya tidak bermanfaat sama sekali. Wedawati tetap pada niatnya.
Di waktu fajar menyingsing dengan bergegas Sang Pendeta pulang ke dusun. Di sana ia memanggil penduduk laki-laki yang telah dewasa supaya berkumpul. Mereka itu murid-muridnya juga.
“Anakku semua,” ujar Sang Pendeta. “Karena anakku Wedawati tak mau pulang dari kuburan, aku minta agar engkau semua dengan rela hati sudi mendirikan rumah di pekarangan kuburan untuk anakku.”
Orang-orang mengatakan sudi dengan patuhnya. Mereka semua ingin turut membantu mendirikan rumah itu.
Pada hari itu juga ramailah orang mengangkati tiang dan papan serta batu-batu ke kuburan.
Wedawati tak juga berkisar dari samping kuburan ibunya. Ia tetap tenang melihat orang banyak membuat rumah di pekarangan kuburan itu. Kadang-kadang saja ia memandang mereka dari tempat duduknya.
Gadis itu tetap sehat. Hawa dingin semalam dan embun sepagi tak kuasa membuat dirinya sakit. Tanah basah di bawahnya pun tak mengurangi kesehatannya.
Ribut orang bekerja tak menarik perhatiannya. Dahulu senang ia melihat orang bekerja. Tetapi sekarang tidak.
Dengan semangat gotong-royong orang-orang bekerja dengan giat. Dalam waktu sebentar tiang-tiang dan palang-palang telah terpasang.
Waktu sang Empu datang lagi pada anaknya, nampak ia bersedih hati.
“Kalau sudah tetap niatmu, anakku,” katanya perlahan, “untuk tinggal di kuburan, sebaiknya engkau tinggal di rumah yang aku suruh buat itu.”
Wedawati tidak menjawab. Juga ia tak menoleh ke arah orang-orang yang sedang sibuk mendirikan rumah.
“Dan ini ibumu berkirim makanan. Jangan kau biarkan kosong perutmu di hawa dingin seperti semalam. Ibumu bilang, sejak kemarin pagi engkau belum makan.”
Wedawati tak juga mau bicara.
Hari itu juga rumah telah berdiri di pekarangan pekuburan. Berloteng rumah itu. Dengan kasih-sayangnya Sang Pendeta memegang tangan anaknya. Wedawati didirikan. Dan gadis itu tidak membantah. Lambat-lambat mereka berjalan ke arah rumah yang sudah jadi itu.
“Bawa semua perkakas rumah yang terbaik kemari. Juga perkakas pertanian dan perkakas dapur.” Beberapa orang pergi menjalankan perintah Sang Pendeta. Dan hari itu juga, rumah pun telah lengkap berisi perkakas dan dapat didiami.
SEKARANG Wedawati tinggal di pekarangan pekuburan. Saban hari membersihkan kuburan ibunya. Sesudah itu baru mengurus rumah serta perabotnya. Dalam beberapa bulan saja pekuburan itu sekaligus berubah jadi taman bunga yang indah.
Tiap hari Wedawati memuja di samping kuburan ibunya. Di sana ia beribadah pada arwah orang yang kasih sayang dan cinta padanya, dan juga pada semua dewanya.
Sampai sore ia bekerja. Tak dibiarkannya rumput tumbuh merusakkan kuburan ibunya.
Saban hari Sang Pendeta datang membawa Weda-weda dan mengajarkan pada anaknya berbagai ilmu yang patut diketahui setiap orang. Dan bila berhadapan dengan ayahnya, tak pernah gadis itu bertanya tentang ibu, tentang adik, tentang asrama. Ia tak bertanya apa-apa selain tentang pelajarannya. Kalau ia bercerita pada ayahnya, ia hanya bercerita tentang kuburan dan suburnya bunga-bunga yang tumbuh.
Dengan tiada diketahui Wedawati, ayahnya telah menjadi tua. Banyak sekali dari tenaganya yang hilang karena memikirkan gadisnya yang tak mau tinggal bersama keluarganya itu.
Dan Wedawati tetap pada pendiriannya. Ia tak mau kembali ke asrama.
Sekarang banyak orang datang untuk melihat kuburan yang telah jadi taman yang indah. Orang-orang tercengang-cengang melihatnya. Di dusun tak ada taman seindah itu. Di asrama Sang Pendeta pun tidak. Kupu-kupu aneka macam berterbangan dengan girangnya. Dan di tengah-tengah semua itu sebuah rumah kecil yang indah sekali berdiri dengan damai.
Banyak orang datang mengagumi taman. Juga banyak yang datang untuk melihat Wedawati memuja di samping kuburan ibunya. Semua memuji ketabahan gadis itu. Semua menyalahkan ibu tiri yang kejam itu. Mengatakan mereka tidak berani, karena takut kena hukuman dewa-dewa dan Sang Pendeta sendiri.
Dalam sebentar waktu telah tersiar ke seluruh dusun itu kebagusan taman perkuburan. Kabar itu pun tersiar keluar dusun lainnya. Dengan demikian, tambah lama makin banyak orang datang melihat Wedawati. Mereka menganggap gadis itu telah jadi pertapa pula.
Demikianlah keadaan Wedawati, gadis pertapa itu.
X
Rahasia Calon Arang Terbongkar
Sang Baginda Raja Erlangga sangat girang mendengar berita yang dilaporkan oleh Kanduruan padanya. Lenyap segala kerusuhan, kesedihan, kemarahan, dan kejengkelannya. Dengan tidak bertangguh-tangguh lagi ia memerintahkannya pada Empu Bahula untuk berangkat ke dusun Girah melamar Ratna Manggali.
Setelah Sang Baginda menghadiahkan barang-barang berharga dan uang untuk emas kawin serta upacara pernikahannya berangkatlah Empu Bahula ke dusun Girah.
Dengan naik kuda putih besar Empu Bahula diiringkan oleh pasukan berkuda kerajaan.
Pendeknya iring-iringan itu sampailah sudah di dusun Girah. Empu Bahula segera duduk di ruangan tamu menunggu Calon Arang keluar. Anggota-anggota pasukan menunggu di pendopo. Kuda mereka cencang di kandang.
Keluarlah Calon Arang menemui tamunya. Katanya sopan:
“Berbahagialah yang baru sampai. Siapakah tuan, dan dari manakah datang?”
“Berbahagia pulalah tuanku. Empu Bahula hamba, datang dari dusun Lemah Tulis. Kedatangan hamba ini ialah hendak memohon kasih dari tuanku.”
“Silakan duduk, tuan,” kata Calon Arang girang.
Tamu itu pun duduklah berhadapan dengan tukang sihir itu.
“Semoga tuanku jangan gusar mendengar permohonan hamba,” kata Bahula lagi.
“Cobalah terangkan yang terkandung dalam niat tuan,” sambut Calon Arang.
“Kedatangan hamba ialah hendak meminang putri tuan,” kata Bahula.
Bukan main girang Calon Arang. Sekarang ia tak akan disindir-sindir dan dipercakapkan orang lain. Sebentar lagi anaknya jadi pengantin. Dengan girang ia pun menjawab:
“O, apakah yang akan dimarahkan? Cuma si Ratna Manggali anak dusun, tak tahu adat kota.”
“Demikianlah niat hamba. Bila tuan keberatan, dan bila Ratna Manggali pun tak keberatan…,” kata Bahula. “Hamba adalah Bahula, telah banyak mempelajari ilmu, murid dari Empu Baradah yang termasyhur itu.” Bahula diam sebentar. Kemudian meneruskan lagi: “Hamba harap tuan tidak keberatan dengan permohonan hamba itu.”
“Sangat girang hati hamba, Sang Pendeta, karena tuan sudi memperistri anak hamba. Tetapi sudah hamba katakan tadi, Ratna Manggali anak kampung yang tak tahu adat kota. Kerjanya kaku dan kikuk. Dialah anak hamba satu-satunya.”
“Bagaimanakah pendapat tuan tentang permintaan hamba?” tanya Bahula.
“Hamba bersyukur, Pendeta. Hamba serahkan anak hamba kepada tuan.”
“Dan emas kawin apakah yang harus hamba penuhi?” tanya Bahula.
“O, itu perkara gampang, tuan Pendeta! Sembarang hadiah tuan Pendeta akan hamba terima dengan perasaan syukur, beribu-ribu syukur,” jawab janda dusun Girah itu.
Setelah didapat persetujuan, emas kawin yang di bawah oleh pasukan kerajaan itu diserahkan kepada Calon Arang.
Perhelatan perkawinan itu dibuat besar-besaran oleh Calon Arang. Tentu saja, karena Ratna Manggali anak tunggal. Dan anak itu disayang sekali. Harta-benda janda itu banyak, melimpah-limpah. Tentu saja ia tak sayang kehilangan sebagian harta-bendanya.
Beribu-ribu orang datang. Bukan karena sayang mereka datang menyaksikan pernikahan itu. Tetapi karena ketakutan. Tua-muda, laki-perempuan semua keluar dari rumah masing-masing. Segala permainan ada di pesta itu. Segala makanan dan minuman tersedia.
Hari itu Calon Arang orang yang paling berbahagia di seluruh dunia. Sebentar-sebentar ia tertawa-tawa. Ia merasa puas. Sekarang anaknya telah bersuami.
Anak-anak kecil berteriak-teriak kegirangan. Orang-orang tua juga bersenang-senang. Semua mendapat makan cukup dan minum banyak.
Berhari-hari pesta itu diadakan. Dari mana-mana orang datang. Pendek kata sekarang Ratna Manggali telah bersuamikan Empu Bahula.
Beberapa hari setelah anaknya kawin, Calon Arang pamitan dengan menantunya, hendak pergi sebentar.
“Tuan menantu, hamba mau berjalan-jalan sebentar,” katanya.
Kemudian pergilah ia dengan membawa kitabnya. Langsung saja ia ke perkuburan. Sendirian ia pergi. Menantunya disuruhnya tinggal di rumah.
Demikianlah tiap sore Calon Arang pergi membawa kitab. Sebelum pergi selamanya ia pamitan dengan menantunya.
Lama-kelamaan timbullah curiga di hati Empu Bahula. Pada suatu hari bertanya kepada istrinya:
“Kemanakah ibu tiap sore pergi sendirian itu? Kelihatannya perlu sekali. Ia baru kembali kalau beduk malam hari sudah berbunyi. Manggali, kalau engkau tahu, bilangkan apa sebabnya. Tidakkah ibu takut pada binatang buas?”
Ratna Manggali tak buru-buru menyahut.
“Tidakkah engkau mengkhawatirkan ibu?” tanya Bahula lagi.
“Tidak,” jawab Ratna Manggali.
“Mengapa tidak?”
“Sudah biasa ibu pergi di waktu sore kemudian pulang tengah malam.”
“Ceritakanlah, apa sebabnya, Manggali?” tanya Bahula.
“Biarlah hamba ceritakan yang sebenarnya. Tetapi, tuanku, ini tak boleh didengar oleh siapa pun juga. Ini rahasia. Rahasia besar. Kalau ibu tahu rahasianya hamba bongkar, pasti celaka hamba ini. Tidak tuan ceritakan, bukan?” tanya Manggali.
“Tentu saja takkan aku ceritakan kepada orang lain, Manggali!” kata Bahula. “Masa aku akan membongkar rahasia ibu? Aku kan menantunya. Aku pun harus turut memelihara ketertiban rumah tangga, bukan?”
“Sebenarnya, tuanku, kepergian bunda ialah ke perkuburan dekat Candi Durga. Di sana ia meneluh,” Ratna Manggali menceritakan rahasia ibunya.
“Siapakah yang diteluh, Ratna Manggali?” tanya Empu Bahula.
“Penduduk negeri, tuanku. Semua penduduk negeri.”
“Karena itukah sekarang banyak orang mati diserang penyakit?”
“Itulah pekerjaan ibu, tuanku,” kata Manggali lagi.
“O, o,” kata Bahula.
“Karena itu banyak sekali orang mati sekarang. Beribu-ribu tuanku. Tiap orang ketakutan. Tiap orang khawatir. Bangkai bertumpuk-tumpuk tak ada yang memelihara. Tuanku lihat sendiri?”
“Ya, ya,” kata Bahula.
“Kitab ibu sangat bertuah. Kitab itu berisi segala macam ilmu. Karena itu tak pernah ketinggalan. Barang ke mana ia pergi dibawanya serta. Tuanku, ini rahasia. Ini betul-betul rahasia. Bukankah tuanku takkan bercerita pada orang lain?”
“Tentu saja tidak, Manggali!” Empu Bahula berjanji.
Setelah itu Empu terdiam. Barulah ia tahu rahasia tukang sihir itu. Tahulah ia sekarang betapa jahat perempuan itu. Sebentar-sebentar ia mengangguk-anggukan kepala. Ratna Manggali tak bicara lagi.
Kemudian Empu Bahula berkata lagi:
“Ratna Manggali, adikku! Ingin benar aku melihat kitab yang bertuah itu. Ingin aku tahu apakah isinya. Maukah engkau menolong aku?”
“Menolong bagaimana, tuanku?” tanya Ratna Manggali.
“Kalau ibu sedang tidur, cobalah ambilkan kitab itu. Aku ingin tahu isinya. Engkau mau, bukan?”
“Tentu saja hamba mau menolong, tuanku,” jawab Ratna Manggali dengan tidak ragu-ragu sedikit pun juga. “Nanti kalau ibu kelupaan hamba ambilkan.”
Pada suatu hari Calon Arang sedang tidur. Nyenyak sekali tidurnya. Bersitinjak Ratna Manggali mendekati tempat tidur. Dengan tak terdengar oleh ibunya, kitab bertuah itu diambilnya. Segera diserahkannya kitab itu kepada suaminya.
Sangat girang hati Empu Bahula menerima kitab bertuah itu.
“Sekarang terpeganglah semua rahasianya,” pikirnya.
Setelah mendapat barang itu ia pamitan dengan istrinya.
“Mau ke mana tuanku kini?” tanya istrinya.
“Biar aku pergi jalan-jalan sebentar,” jawab Empu Bahula. “Sudah lama juga aku di sini. Sejak nikah kita, aku tak pernah keluar rumah ini.”
Ratna Manggali mengizinkan. Sebentar kemudian Empu Bahula telah melompat ke atas kudanya. Dipacunya kuda itu kencang-kencang. Lemah tulislah yang ditujunya. Pekerjaannya sudah berhasil. Ia sudah memperoleh rahasia Calon Arang tukang sihir celaka itu. Ia hendak melaporkan rahasia itu kepada gurunya Empu Baradah.
Kuda yang ditunggangi lari laju, mendaki dan menuruni gunung. Empat-lima kali harus menyeberangi kali. Di tangan kiri Empu Bahula terselip kitab bertuah Calon Arang.
Di Lemah Tulis ia bertemu dengan gurunya. Kitab segera diserahkan. Kagum Empu Baradah membaca kitab itu. Katanya:
“Inilah kitab yang sangat luar biasa isinya. Hanya saja si Calon Arang salah mempergunakannya. Kalau digunakan untuk maksud yang baik ia akan segera mendapat terima kasih beribu-ribu manusia. Sayang ia salah mempergunakan.”
Setelah kitab itu terbaca habis, bicara lagi Sang Baradah:
“Nah, Bahula, inilah kitab itu, suruh istrimu menyimpan baik-baik. Kembalilah engkau ke dusun Girah.”
Setelah selesai mengaso, Empu Bahula melompat ke atas kudanya dan kembali ke dusun Girah. Di tangan kirinya terselip kitab bertuah si Calon Arang…
Setelah mengetahui rahasia kitab itu, Empu Baradah pergi ke tempat-tempat yang diamuk oleh penyakit. Tiga orang di antara murid-muridnya yang terkemuka mengiringkan.
Sepanjang jalan mereka bertemu dengan orang mati. Dengan tuah mantranya Sang Empu mengobati orang-orang yang sakit. Segera saja mereka sembuh. Tentu saja girang benar yang telah disembuhkan itu. Mereka mengucapkan beribu-ribu terima kasih.
Sang pendeta pun menolong orang-orang yang telah meninggal. Bila mayat itu belum membusuk Sang Pendeta memercikinya dengan air. Dan hiduplah kembali mayat-mayat yang telah meninggal kena teluh itu. Kadang-kadang hanya dengan pandang, sentuhan, atau hembusan napas, mayat-mayat itu dapat hidup kembali.
Barang ke mana Sang Empu datang, tentu beribu-ribu orang datang memohon berkah. Orang-orang yang mati berhayat kembali. Orang-orang sakit segera sembuh lagi. Karena itu tiap langkah Empu Baradah bertindak, ia ditaburi dengan bunga-bungaan aneka macam. Kalau meneruskan perjalanan, semua penduduk sujud menghormatinya.
Pada suatu dusun Empu Baradah melihat seorang perempuan menumpuk kayu hendak membakar mayat suaminya yang baru saja meninggal. Cepat-cepat Empu Baradah mendekati. Bungkus mayat itu disobeknya.
Perempuan itu melompat menghalangi pekerjaan Sang Empu.
“Jangan ganggu suamiku. Jangan ganggu dia!” katanya melarang.
“Sabar, anakku, sabar,” kata Sang Empu perlahan.
Bungkus mayat dibongkarnya sama sekali.
Kena sentuhan tangan Sang Pendeta, jantung mayat itu mulai berdetak perlahan. Darah mulai memerah di mukanya.
Perempuan itu heran. Sebentar ia memandang mayat suaminya. Sebentar ia memandang Empu Baradah.
Sang Empu mengusap dada mayat itu. Dan detakan jantungnya menjadi keras. Sebentar kemudian mayat itu pun membuka matanya. Pelan-pelan ia bangun dan duduk di tanah. Ia bernapas. Ia hidup kembali seperti tadinya.
Perempuan itu girang sekali hatinya. Setelah merangkul suaminya segera ia sujud di depan Sang Pendeta. Suaminya pun demikian pula. Sangat girang kedua laki-bini itu. Anak mereka banyak. Kalau si bapak mati, siapakah yang akan memberi makan anak-anak itu?
Tidak jauh dari tempat itu tergolek tiga mayat. Yang dua belum lagi busuk. Sang Pendeta memerciki mayat-mayat itu dengan air. Segera mereka bangun. Setelah melihat keliling sebentar, cepat-cepat mereka menyembah orang yang telah menolak teluh yang telah merusak tubuhnya.
Sehabis menolong, Empu Baradah menyuruh kedua muridnya pulang kembali ke Lemah Tulis.
Sang pendeta meneruskan perjalanannya. Di suatu tempat ia bertemu dengan perempuan yang telah setengah gila. Sebentar ia berteriak-teriak. Sebentar lagi menangis melolong-lolong. Sebentar pula menggerutu, karena suaminya meninggal. Sudah lama meninggalnya. Lebih dari seminggu.
Melihat Sang Pendeta yang termasyhur itu, perempuan itu segera sujud di atas tanah.
“Tuanku Sang Maha Pendeta. Tolonglah hamba ini. Tolonglah suami hamba yang telah meninggal.”
Setelah bangun dari sujudnya ditariknya ujung jubah Sang Pendeta. Di bawa ke tempat mayat suaminya yang sudah membusuk.
“Inilah suami hamba, tuanku,” kata perempuan itu lagi.
“Kalau ini tidak bisa diobati lagi. Ia sudah busuk,” kata Baradah.
Perempuan itu memaksa dan memaksa.
“Kalau engkau mendesak-desak juga, lebih baik engkau berkumpul saja dengan dia. Nanti engkau bisa berkumpul lagi dengan dia. Ini azimat untuk keselamatanmu.”
Perempuan itu menerima sebuah azimat. Sekarang ia tak menangis atau berteriak-teriak atau menggerutu lagi.
Sang pendeta meneruskan perjalanan.
Di sebuah pekuburan yang gelap dan diruyaki semak belukar ia berhenti. Dilihatnya banyak anjing menyalak-nyalak di situ. Gaok gagak menulikan kuping. Mereka beterbangan di atas. Beratus-ratus pula yang bersenang-senang di tanah mematuki mayat.
Waktu melihat Sang Empu lari semua binatang-binatang itu.
Empu Baradah masuk ke pekarangan pekuburan itu. Dilihatnya banyak sekali mayat manusia di situ. Semua dipercikinya dengan air. Segera bangunlah mayat-mayat itu. Mereka hidup kembali. Ratusan banyaknya mereka.
Empu Baradah meneruskan perjalanannya.
DI sebuah perkuburan lainnya Sang Pendeta menemui dua orang lelaki. Mereka buru-buru sujud pada kakinya.
“Siapa engkau, he lelaki? Aku belum pernah bertemu.”
“Hamba inilah Weksirsa, Sang Maha Pendeta. Dan yang satu ini kawan hamba si Mahisa Wadana. Kami berdua murid nyai janda Calon Arang yang masyhur ke seluruh negeri itu. Kami berdua ini adalah orang-orang berdosa, Maha Pendeta. Hanya tuan hambalah yang sanggup mengampuni dan memperbaikinya.
“Bangunlah engkau berdua,” kata Empu Baradah. “Sekarang aku belum bisa memperbaiki dan mengampuni jiwamu. Calon Arang yang harus dicari dahulu. Nah, pertemukanlah aku dengan dia.”
XI
Daha Terlepas Sihir Calon Arang
Karena asyiknya meneluhi orang, jaranglah Calon Arang tinggal di rumah. Bertambah banyak juga orang yang mati kena teluhnya, bertambah girang hatinya.
Pada suatu hari sedang ia memuja di Candi Durga, datanglah Dewi Durga padanya melalui asap pedupaan. Dengan ringkas dan tegas Dewi itu berkata pada Calon Arang:
“Engkau datang lagi, Calon Arang? Sekarang engkau harus awas. Bahaya telah mendekati dirimu.”
Belum sempat tukang sihir itu menyampaikan maksudnya, Dewi itu telah lenyap. Tentu saja kecewa hatinya. Ia mau minta supaya mendapat izin meneluh Baginda Erlangga.
Sekarang perempuan itu merasa ketakutan. Bahaya telah mendekati, kata Dewi tadi. Diam-diam ia duduk di bawah pohon beringin tua dan memikirkan nasibnya.
“Bahaya telah mendekati!” pikirnya selalu. “Bahaya apakah itu? Mengapa Dewi Durga tak mengatakan? Mengapa ia tak memberi nasihat bagaimana cara menolak bahaya itu?”
Bingunglah ia. Matanya tak berseri-seri lagi.
“Barangkali murid-muridku bisa menolong aku,” pikirnya lagi.
Demikianlah ia seorang diri di bawah pohon beringin tua di perkuburan. Tak ada orang di dekatnya kecuali kuburan-kuburan yang tak dirawat. Dengan bertopang dagu ia memikir dan memikir. Tetapi tak juga mendapat pikiran baik untuk menolak bahaya yang diramalkan oleh Dewi Durga.
Karena asyik berpikir, tak diketahuinya Maha Pendeta Baradah telah ada didekatnya dengan diiringkan oleh Weksirsa dan Mahisa Wadana.
“Nyai!” kata Weksirsa perlahan.
Terkejutlah janda tukang sihir itu mendengar sapaan itu. Segera bangun dari duduknya. Waktu dilihatnya ada seorang pendeta di depannya, buru-buru ia berkata:
“Berbahagialah tuan yang baru datang.”
Empu Baradah mengangguk.
“Nyai,” kata Weksirsa lagi, “semoga Nyai mengetahui, bahwa ini adalah Sang Maha Pendeta Baradah dari lemah Tulis. Beliau kuasa mengembalikan manusia pada yang benar dan mengampuni dosa.”
Karena waktu itu Calon Arang sedang ketakutan dan membutuhkan pertolongan, segera ia berlutut dan menyembah Sang Maha Pendeta. Katanya:
“Ampun Sang Maha Pendeta. Sungguh berbahagia hamba dapat bertemu dengan paduka tuan. Tolonglah hamba yang durhaka ini. Lenyapkanlah segala dosa hamba dan berilah hamba jalan pada budi yang luhur. Ya, Maha Pendeta segeralah paduka tuan menyucikan jiwa-raga hamba yang durhaka ini.”
Empu Baradah menggeleng-gelengkan kepala. Calon Arang mendesak dan mendesak.
“Hai, janda Girah tukang sihir. Engkau Calon Arang yang banyak dosa. Jiwa-ragamu tak dapat disucikan lagi. Engkau tak bisa diampuni lagi. Dosamu terlampau banyak. Puluhan ribu orang tak berdosa mati karena tingkahmu. Begitu banyak orang yang kau buat sengsara. Dosamu terlampau besar. Tak ada seorang pendeta pun yang bisa mengampuni.”
Calon Arang merendah-rendahkan diri supaya pendeta itu mau mensucikan dirinya. Tetapi Empu Baradah tetap menolak. Ia hanya menggelengkan kepala. Tak sudi ia meluluskan permintaan tukang sihir yang banyak dosa itu.
Karena tetap ditolak, lupalah Calon Arang pada ketakutannya. Kemarahan timbul. Matanya melotot galak. Seluruh tubuhnya menggetar. Bibirnya menjadi pucat karena kemarahan itu. Kedua tangannya menggigil. Matanya merah. Kening berkerut menakutkan, sehingga alisnya yang kiri dan kanan bersambung jadi satu. Napasnya sesak oleh kemarahannya itu. Dadanya turun-naik seperti pompa. Akhirnya kemarahannya memuncak. Dari mulut, kuping, dan matanya menyembur api keluar.
Weksirsa dan Mahisa Wadana mundur jauh-jauh melihat itu. Kedua ketakutan terkena api yang keluar dari tubuh tukang sihir itu. Melihat tingkah perempuan tukang sihir itu, tertawalah Sang Maha Pendeta.
“Apakah yang kau perbuat itu?” tanyanya sambil tertawa.
Calon Arang mendekat Empu Baradah. Tapi Sang Empu tidak mundur.
“He, Baradah!” teriak Calon Arang dengan suara ganas. “Engkau menolak perintahku. Engkau tak mau membuat diriku kembali jadi baik. Engkau tak sudi melenyapkan semua dosaku. Mau apa tidak?”
Empu Baradah menggelengkan kepala.
“Kerjakan!” perintah Calon Arang. “Jangan sampai terkena teluhku. Engkau mau tahu siapa Calon Arang yang tak tertandingi di seluruh alam ini? Inilah dia orangnya. Kerjakanlah perintahku, atau kubuat kau jadi barang tontonan yang paling hina.”
Weksirsa dan Mahisa Wadana terus menjauhi kedua orang yang sedang berhadap-hadapan itu.
“Tidak mau? Kalau engkau kena angin tubuhku, hancur-luluhlah engkau.” Calon Arang berteriak-teriak keras. Sambungnya: “Calon Arang belum punya tandingan di seluruh dunia. Jangankan engkau, hai pendeta kurus. Kalau engkau kena tiupanku, barulah engkau tahu siapa aku. Pasti engkau terbakar jadi abu. Kalau engkau mau lihat buktinya, pandanglah pohon beringin itu. Kalau kena tiupanku, pasti dia hancur tersebar-sebar jadi abu.”
Setelah mengatakan itu, Calon Arang segera meniup pohon beringin yang jauh dari tempatnya. Api besar tersembur dari mulutnya. Pohon beringin yang kena tiupannya itu terbang ke angkasa dan terbakar jadi api. Dalam sekejap mata saja lenyaplah pohon itu dari pemandangan.
“Hai Baradah! Kenal engkau sekarang siapa aku?” teriak perempuan itu.
“Perlihatkan seluruh kepandaianmu,” Empu Baradah berkata tenang.
“Kurang ajar kau, pendeta kurus!”
“Ayolah, perlihatkan segala kebiasaanmu. Baradah ingin tahu,” ujar Empu itu dengan sangat tenangnya.
Bertambah marah Calon Arang mendapat tantangan seperti itu. Dadanya kembang-kempis. Keringat bermanik-manik di kening dan menetes-netes di dadanya. Setelah dilihat Maha Pendeta itu tak gentar melihat kepandaiannya, segera ia meniup. Api besar menyembur dari mulut dan menggulung Sang Empu. Tetapi Baradah tidak termakan api yang keluar dari mulutnya itu. Beliau tetap berdiri tenang di tempatnya.
Lama api itu membakar Sang Empu. Dan Calon Arang terus meniup sambil meraung seperti singa. Api tambah besar. Tambah besar. Tetapi Empu Baradah tak terbakar olehnya.
Melihat Baradah taka pa-apa, bertambah murka tukang sihir itu. Giginya gemeletuk. Badannya membungkuk sampai kecil. Kemudian ia melompat menerkam. Bulu tengkuknya berdiri seperti ayam sedang bersabung.
“Keluarkan seluruh kepandaianmu,” kata Baradah.
Api dari tubuh janda itu kian jadi besar. Keluar-masuk bersama napasnya. Bunyi api keluar-masuk itu mengerikan seperti rumah kebakaran.
Akhirnya Sang Maha Pendeta berkata dengan kepastian:
“He, kau, Calon Arang mesti mati!”
Waktu itu juga matilah Calon Arang. Lenyap api yang keluar-masuk dari tubuhnya. Lenyap api yang besar seperti rumah terbakar itu. Dan melihat gurunya telah mati baru Weksirsa dan Mahisa Wadana berani mendekat…
SEKARANG Calon Arang tergolek di tanah. Tak gerak-gerak ia. Weksirsa dan Mahisa Wadana memandangi bekas gurunya dengan sangat kagum dan kaget. Kedua orang tadinya mengira, bahwa Calon Aranglah satu-satunya orang yang paling manjur sihir dan tuahnya. Rupa-rupanya ia dengan gampang saja dilawan oleh Empu Baradah.
Sang Maha Pendeta masih berdiri di tempatnya. Dipandanginya mayat itu diam-diam. Kemudian ia berkata pada dirinya:
“Ini tidak baik. Tidak ada gunanya kalau ia mati begitu saja sebelum jiwanya dibersihkan. Ini artinya pembunuhan.”
Setelah berkata pada dirinya sendiri ditiupnya mayat itu pelan-pelan. Segera Calon Arang bangun kembali.
“Hai, Pendeta Lemah Tulis!” teriak perempuan itu. “Untuk apa kau hidupkan aku lagi? Bukankah lebih baik aku mati?”
“Mati adalah gampang, Calon Arang. Tetapi mati itu tidak berguna kalau tidak membawa kesucian. Baiklah kusucikan jiwamu dahulu,” kata Empu Baradah.
Mendengar itu bukan main girang Calon Arang. Ia telah menganiaya dan membunuh puluhan ribu orang. Itu suatu kejahatan. Dosa besar. Karena itu jiwanya kotor. Cuma orang-orang suci yang bisa menghilangkan kekotoran jiwa itu.
Empu Baradah memberi pelajaran tentang budi pekerti yang baik pada janda Girah itu. Pelajaran itu membuat tukang sihir itu insaf akan segala keburukan hati dan perbuatannya. Itulah sebabnya ia girang sekali. Kemudian tukang sihir itu menyembah Empu Baradah dengan takzim.
Weksirsa dan Mahisa Wadana pun mendapat pelajaran dari Sang Pendeta. Lenyap semua sifat mereka yang buruk. Mereka jadi orang-orang yang berbudi.
Setelah itu Calon Arang dibunuh kembali oleh Sang Empu. Matilah ia. Kematiannya berarti keselamatan untuk orang banyak.
Sekarang Weksirsa dan Mahisa Wadana menjadi murid Baradah yang paling setia, paling penurut, dan paling pembela. Barang ke mana Sang Baradah pergi, keduanya mengiringkan.
Setelah selesai pekerjaan Sang Empu di perkuburan itu, mereka pun terus ke dusun Girah.
DI dusun Girah itu Sang Baradah bertemu dengan muridnya Empu Bahula. Baradah bercerita tentang Calon Arang telah mati. Kemudian Bahula disuruhnya segera ke ibukota. Disuruh menghadap Sang Baginda untuk mengabarkan kematian Calon Arang.
Perintah itu dijalankan oleh Bahula dengan senang hati. Cepat-cepat ia melompat ke atas kudanya. Dengan tiada menoleh-noleh ia menjurus ke Daha.
Di gapura istana ia mencancang kudanya. Kemudian menyampaikan pada penjaga bahwa ia akan menghadap Sri Baginda. Setelah diperkenankan menghadap, Sri Baginda berkata:
“Apa kabar, Bahula?”
“Hamba menghadap ke bawah duli Sang Baginda ialah karena diutus oleh ayahanda Tuan Sang Empu Baradah.”
“Apa kabar dari ayahanda Empu?” kata Sri Baginda.
“Beliau menyembahkan berita, bahwa Calon Arang telah mati setelah bertanding kesaktian dengan ayahanda Sang Empu Baradah. Calon Arang kalah dan mati.”
Girang bukan kepalang Sang Baginda mendengar kabar itu.
“Dimanakah sekarang ayahanda Sang Empu? Ingin aku bertemu.”
“Ayahanda Sang Empu kini di dusun Girah,” jawab Empu Bahula.
Kemudian Sri Baginda Erlangga memerintahkan Perdana Menteri menyiapkan upacara untuk besok hari. Baginda akan menghadap Sang Pendeta Baradah di dusun Girah. Perdana Menteri diperintahkan menyiapkan pasukan yang lengkap bersenjata serta kendaraan-kendaraan lengkap dengan panji-panji dan alat-alat kebesaran.
Setelah selesai menyampaikan kabar, Empu Bahula mundurlah dari hadapan Sang Baginda.
Keesokan harinya Sri Baginda Erlangga berangkatlah ke dusun Girah. Ribuan bala tentara turut serta. Juga dayang-dayang, bayangkara, Perdana Menteri Darmamurti. Di depan Sang Baginda berbaris gamelan dan tukangnya lengkap dengan genderang, suling, sangkakala, dan gong. Seperti prajurit berangkat perang saja nampaknya.
Sri Baginda duduk di kereta berlapis emas yang ditatahi dengan intan dan berlian. Pintu serta jendela dihiasi dengan sutera dari Tiongkok. Demikian pula halnya dengan kasur dan bantal kereta.
Di sepanjang jalan penduduk menghormati belaka.
Demikianlah dengan segala kebesaran Sri Baginda menghadap Empu Baradah di dusun Girah.
Setelah bertemu Sri baginda memohon agar Sang Maha Pendeta sudi mengajarinya ilmu budi pekerti yang baik. Sang Maha Pendeta meluluskan permintaan itu. Segala pengetahuan orang tua itu dicurahkan belaka pada Sri Baginda.
Setelah tamat pelajaran, kembali pulalah Sri Baginda ke Daha.
Pengetahuan yang di dapat Sri Baginda itu dipergunakannya untuk memperbaiki keadaan rakyat. Karena itu Erlangga sangat dicintai. Bahkan negeri-negeri yang takluk kepadanya merasa senang belaka. Orang-orang Tionghoa dan India leluasa datang ke tanah Jawa untuk berdagang. Bukan main bagusnya perdagangan waktu itu. Tiap pedagang mendapat untung yang baik. Perahu-perahu baru dibuat. Pelayaran sangat ramainya. Semua itu membuat senang dan makmurnya seluruh rakyat.
Anak-anak kecil senang kembali bermain-main di alun-alun atau padang rumput sambil menggembalakan binatang masing-masing. Tak ada seorang pun yang merasa takut-takutan. Calon Arang telah tiada lagi. Penyakit tak lagi sebanyak dahulu. Sedikit benar orang yang meninggal. Kebanyakan mati ialah karena sudah tua.
Sawah dan ladang diolah lagi. Panen yang bagus tidak berkeputusan. Tak seorang pun yang takut akan kelaparan. Demikianlah keadaan kerajaan Daha setelah Calon Arang mati.
XII
Kisah Terakhir Kerajaan Daha dan Empu Baradah
Setelah lama memerintah , Sri Baginda berhasrat untuk meninggalkan kerajaan. Ia ingin bertapa jadi pendeta. Karena putranya dua orang, maka sangat bingunglah hatinya. Kalau putra tertua menggantikan mahkota, tentu saja putra kedua tak bisa jadi raja.
Lama Baginda memikirkan putranya yang bungsu. Akhirnya ia mendapat akal juga. Putra bungsu akan diangkatnya jadi raja Bali. Setelah pasti niatnya, dipanggilnya para menteri dan punggawa. Perundingan dimulai. Semua setuju bila sebelum mengangkat putra bungsu jadi raja Bali diminta nasihat dahulu dari Sang Maha Pendeta Baradah.
Segera Sri Baginda memerintahkan Kanduruan pergi ke Lemah Tulis. Sang Pendeta berkata pada utusan itu bahwa ia akan ke Bali untuk mendudukkan putra bungsu di sana.
Utusan Sri baginda kembali pula ke Daha.
Sebelum berangkat ke Bali, Empu Baradah pergi ke pertapaan Wedawati.
“Anakku,” katanya. “Ayah akan pergi. Agak lama juga barangkali. Ayah harap engkau jangan pergi-pergi sebelum ayah datang. Kalau engkau ada niat hendak pergi, nantikan kedatanganku, dan kita berangkat bersama-sama.”
Wedawati bersedia menunggu ayahnya. Dengan hati lega Sang Maha Pendeta berangkatlah sendirian ke pulau Bali.
Dan di Daha, giranglah hati Sri Baginda mendengar berita kepergian Empu Baradah ke Bali. Seisi istana mendoakan agar ia selamat saja dalam perjalanan, tak kurang suatu apa.
Berpuluh-puluh dusun dan kota telah dilalui oleh Sang Maha Pendeta. Akhirnya sampailah ia di tepi laut. Tak tampak sebuah perahu pun. Karena itu diambilnya selembar daun nangka. Daun itu dimantrai. Kemudian ia naik di atasnya dan menyebrangi selat menuju ke pulau Bali.
Setelah sampai di Bali, langsung saja ia ke pertapaan Empu Kuturan1. Waktu itu sang Empu Kuturan sedang samadi. Karena itu Empu Baradah harus menunggu. Lama sekali Empu Kuturan samadi, sehingga Baradah jadi jengkel karenanya. Dengan kesaktiannya ia pun membuat banjir yang merendam tempat Kuturan samadi. Tetapi Empu itu tak tenggelam oleh banjir buatannya. Ia tetap samadi.
Karena usahanya gagal, Baradah mencipta beribu-ribu semut merah. Binatang-binatang itu perlu ke khalwat Kuturan. Tetapi gigitan semut itu tak terasa oleh Kuturan.
Empu Baradah merasa bahwa ia kalah sakti oleh Kuturan.
Waktu Empu Kuturan habis bersamadi, barulah ia menemui tamunya. Baradah menerangkan apa yang jadi maksudnya.
Marah benar Kuturan mendengar berita dari Baradah itu.
“Begitu?” Tanya Empu Kuturan. “Aku tak mengizinkan putra bungsu Sri Baginda Erlangga merajai Pulau Bali. Cucuku sendiri telah jadi raja di sini. Banyak sudah raja yang takluk padanya.”
Sekarang Baradah pun marah mendengar jawaban Kuturan. Segera ia meninggalkan pertapaan itu dengan tiada pamitan. Sampai di pantai dinaiki kembali daun nangka itu. Tetapi heran, daun itu tetap tenggelam ke dalam air. Kembali ia memantrai, tetapi daun itu tetap tenggelam. Ia berpikir-pikir apa sebabnya demikian. Akhirnya tahu jualah ia apa sebabnya. Ia meninggalkan pertapaan Empu Kuturan dengan tiada pamitan. Itu tidak sopan.
Cepat-cepat ia kembali ke pertapaan Kuturan. Ia minta maaf banyak-banyak. Dan Empu Kuturan memaafkan. Dan sekarang daun itu tak tenggelam lagi ditumpakinya. Dengan daun itulah ia berlayar pulang ke tanah Jawa….
Segala pengalamannya di Bali diceritakan belaka oleh Empu Baradah pada Sri Baginda.
“Bagaimana pendapat ayahanda?” tanyanya kemudian pada Baradah.
“Tuanku, baiklah kerajaan ini diparoh dua. Yang sebelah di namai Kediri dan diperintah oleh putra sulung. Yang sebelah lagi dinamai Jenggala2 dan diperintah oleh putra bungsu.”
Semua menteri dan punggawa yang hadir setuju belaka. Dan sejak itu kerajaan Daha dipecah jadi dua kerajaan kecil. Sri Erlangga sendiri meninggalkan istana dan pergi bertapa. Empu Baradah kembali ke pertapaannya mengajar murid-muridnya lagi.
Waktu Kerajaan Kediri menyerang Jenggala, Empu Baradah juga yang mengetengahi kakak-beradik yang berkelahi itu. Dibuatnya batas-batas yang tentu bagi kerajaan-kerajaan mereka. Perang lebih luas dapat dicegah. Dan untuk jasanya ini Sang Maha Pendeta mendapat hadiah dari kedua raja serta Sri Erlangga segala macam emas berlian dan perak.
Sesampainya di asramanya sendiri, segala kekayaan itu diserahkannya kepada anak yang lelaki. Setelah menyerahkan semua harta-bendanya, pergilah ia ke tempat Wedawati bertapa. Diajaknya anaknya yang dicintai itu pergi jauh, jauh sekali.
Maka nampaklah kedua orang itu berjalan bersama-sama, naik gunung. Tambah lama tambah kecil kelihatannya. Akhirnya tak kelihatan sama sekali. Sejak itu tak pernah orang mendengar berita di mana mereka berdua berada.
Roman
Gadis Pantai
Cerita bersambung di Bintang Timur, 1962–1965; dibukukan Hasta Mitra, 1987. Teks dari edisi Hasta Mitra.
Bagian Pertama
Empat belas tahun umurnya waktu itu. Kulit langsat. Tubuh kecil mungil. Mata agak sipit. Hidung ala kadarnya. Dan jadilah ia bunga kampung nelayan sepenggal pantai keresidenan Jepara Rembang.
Hari demi hari batinnya diisi derai ombak dan pandangnya oleh perahu-perahu yang berangkat di subuh hari pulang di siang atau sore hari, berlabuh di muara, menurunkan ikan tangkapan dan menunggu besok sampai kantor lelang buka.
Ta telah tinggalkan abad sembilan belas, memasuki abad dua puluh. Angin yang bersuling di puncak pohon-pohon cemara tidak membuat pertumbuhannya lebih baik. Ia tetap kecil mungil bermata jeli. Dan tidak diketahuinya — di antara derai ombak abadi suling angin dan datang-perginya perahu, seseorang telah mencatatnya dalam hatinya.
Maka pada suatu hari perutusan seseorang itu datang ke rumah orang tua gadis. Dan beberapa hari setelah itu sang gadis harus tinggalkan dapurnya, suasana kampungnya, kampungnya sendiri dengan bau amis abadinya. Ia harus lupakan jala yang setiap pekan diperbaikinya, dan layar tua yang tergantung di dapur — juga bau laut tanah-airnya.
Ia dibawa ke kota. Tubuhnya dibalut kain dan kebaya yang tak pernah diimpikannya bakal punya. Selembar kalung emas tipis sekarang menghias lehernya dan berbentuk medalion berbentuk jantung dari emas, membuat kalung itu manis tertarik ke bawah.
Kemarin malam ia telah dinikahkan. Dinikahkan dengan sebilah keris. Detik itu ia tahu: kini ia bukan anak bapaknya lagi. Ia bukan anak emaknya lagi. Kini ia istri sebilah keris, wakil seseorang yang tak pernah dilihatnya seumur hidup.
Iring-iringan hanya terdiri dua dokar “kretek’, emaknya, bapaknya, dua orang pamannya, ia sendiri, beberapa orang saudaranya, dan lurah kampungnya. Bawaannya beberapa lembar pesalin dan kue-kue buatan kampung nelayan, dan makanan yang diberikan sejak berabad dari laut, berbagai macam ikan dan rumput laut. Bedak tebal pada wajahnya telah berguris-guris mengelimantang oleh air mata. Dan emaknya selalu memperbaikinya kembali,
“Sst. Jangan nangis. Jangan nangis. Hari ini kau jadi istri pembesar.”
Ia tak tahu apa yang di hadapannya. Ia hanya tahu: ia kehilangan seluruh dunianya. Kadang dalam ketakutan ia bertanya: mengapa tak boleh tinggal di mana ia suka, di antara orang-orang tersayang dan tercinta, di bumi dengan pantai dan ombaknya yang amis.
“Sst. Jangan nangis. Mulai hari ini kau tinggal di gedung besar, nak. Tidak lagi di gubuk. Kau tak lagi buang air di pantai. Kau tak lagi menjahit layar dan jala, tapi sutera, nak. Sst, ssst. Jangan nangis.”
Empat belas tahun umurnya. Dan tak pernah ia merasa keberatan buang air di pantai, terkecuali di waktu bulan purnama — ia takut ular di waktu seperti itu.
“Sst. Jangan nangis, nak. Hari ini kau jadi istri orang kaya.”
Ia terisak-isak, tersedan, akhirnya melolong. Ia tak pernah merasa miskin dalam empat belas tahun ini.
Pemandangan pantai sepanjang jalan, tumbuhan laut yang jadi semak-semak, kadal-kadal laut yang bercanda-ria dan ketam pasir yang mundar-mandir bermandi matahari, semua tak menarik hatinya. Irama telapak kuda tak terdengar olehnya. Ia mengangkat kepala sebentar waktu dokar berhenti dan bapaknya turun dari dokar di depan, menghampirinya, dan: “Kau mau diam, tidak?”
Tubuh yang kecil mungil itu meriut seperti keong, ketakutan. Ia tahu bapaknya pelaut, kasar berotot perkasa. Ia tahu sering kena pukul dan tampar tangannya. Tapi sekarang, buat apakah penderitaan ini? Disembunyikan mukanya dalam pangkuan emaknya.
“Biarkan dia pak, biarkan.” Dan dokar berjalan lagi.
“Bapakmu benar, nak. Mana ada orang tua mau lemparkan anaknya pada singa? Dia ingin kau senang seumur hidup, nak. Lihat aku, nak, dari kecil sampai setua ini, tidak pernah punya kain seperti yang kau pakai.”
“Ambillah ini buat mak.”
“Aku dan bapakmu banting tulang biar kau rasakan pakai kain, pakai kebaya, kalung, anting seindah itu. Dan gelang ular itu…”, sekarang emaknya terhenti bicara, menahan sedan. Kemudian meneruskan, “Uh-uh-uh, tak pernah aku mimpi anakku pernah mengenakannya.” Dan sekarang meledak tangisnya yang tertahan.
“Mak juga nangis.” Gadis Pantai menyela antara sedannya.
Emak membuang muka, melalui jendela dokar ke arah laut yang menghidupinya sepanjang umur. Tak mampu ia nyatakan, ia nangis melihat anaknya ke luar selamat dari kampung nelayan, jadi wanita terhormat, tak perlu berkeringat, tak perlu berlari-larian mengangkat ikan jemuran bila rintik hujan mulai membasuh bumi.
“Mulai hari ini, nak,” emaknya tak sanggup meneruskan, kemudian mengubah bicaranya: “Beruntung kau menjadi istri orang alim, dua kali pernah naik haji, entah berapa kali khatam Our’an. Perempuan nak, kalau sudah kawin jeleknya laki jeleknya kita, baiknya laki baiknya kita. Apa yang kurang baik pada dia?”
Dia? Siapa dia? Gadis Pantai menutup mata. Ia tak bisa bayangkan. Baik manakah dia dari Tumpon, abangnya yang hilang di laut waktu badai menerjang perahu? Baik manakah dia dari Kantang, abangnya yang seorang lagi, yang waktu angkat jala yang tersangkut pada batu karang, tidak timbul lagi untuk selamanya, dan hanya warna merah yang timbul ke atas? Dan itu adalah darah yang dihisap laut setelah ikan cucut membelah perutnya. Maukah orang itu memberikan dirinya buat hidup seluruh keluarganya? Seperti Kantang?
“Dia pembesar, nak, Orang berkuasa, sering dipanggil Bendoro1 Bupati. Tuan besar residen juga pernah datang ke rumahnya, nak. Semua orang tahu.”
Dokar mulai memasuki jalanan dengan deretan toko orang Tionghoa. Semua itu pernah dilihatnya dua tahun yang lalu, waktu dengan orang-orang sekampung datang beramai ke kota, nonton pasar malam. Ia masih ingat buaya yang dipajang di atas pintu toko sepatu. Ia masih ingat toko pabrik tegel dengan bunga-bunganya yang berwarna-warni. Ia masih ingat gedung-gedung besar dengan tiang-tiang yang tak dapat dipeluknya, putih, tinggi, bulat.
Waktu dokar sampai di alun-alun, bapak memperbaiki letak bajunya, terdengar mendaham dan menggaruk-garuk leher. Ia lihat ibunya gelisah duduk di sampingnya dan nampak mulai ketakutan.
Dokar membelok ke kanan. Ia masih dapat mengingat sekolah rakyat negeri, kemudian masjid raya. Di seberang alun-alun sana gedung kabupaten, di sampingnya sekolah rendah Belanda, di samping lagi sebuah rumah bertingkat.
Jantungnya berdeburan. Sekilas ia lihat bapaknya dengan susah-payah turun dari dokar, buru-buru menghampiri dokarnya. Wajahnya pucat. Suaranya sangat lembut:
“Turun, nak,” tapi matanya tertebar ke mana-mana, akhirnya berhenti pada gapura yang hendak dilaluinya. Tak seorang pun penyambut di gapura. “Mari, mari.” Tapi ia sendiri tak beranjak dari tempatnya berdiri.
Sewaktu semua sudah turun, mereka menggerombol di pinggir jalan, tak tahu apa yang harus diperbuat. Pagar tembok terlalu tinggi untuk dapat meninjau ke dalam. Emak menyentuh tangan bapak. Seperti dengan sendiri bapak berbisik, “Mari, mari” tapi ia tetap tidak beranjak.
Akhirnya emak yang mulai mengganjur langkah. Melihat tak ada yang mengikutinya, ia terhenti menatap bapak. Dalam kegugupannya bapak meraih tangan si Gadis Pantai — tak ada yang tahu siapa sebenarnya yang terpapah. Dan bergeraklah iringan pengantin itu, selangkah demi selangkah.
Mereka melewati rumah tingkat yang sebenarnya tak lain dari sebuah paviliun gedung utama di sebelahnya. Mereka berhenti di sebuah gang antara paviliun dan gedung utama. Seorang bujang berhenti mengamati mereka dari kaki sampai kepala.
“Mau apa?” tanyanya.
“Bendoro ada?”
“Baru beradu,” kemudian pandangnya menjamah Gadis Pantai.
Suasana lenggang, pemandangan di atas dihitami oleh puncak pohon-pohon beringin dan deburan ombak dari kejauhan, membuat hati iringan pengantin menjadi beku. Emak membuka mulut hendak bicara, tapi tak ada suara keluar dari mulutnya.
“Kami datang hendak menghadap Bendoro, kami baru datang dari kampung…”
Bujang itu pergi masuk ke dalam melalui pintu yang menganga dari pagar tembok agak rendah. Barang ke mana mata ditujukan, bila tak ke atas, yang nampak hanya warna putih kapur tembok. Sedang di samping kanan iringan pengantin, di gedung utama, membubung lantai setinggi pinggang, kemudian sebuah pendopo dengan tiga baris tiang putih. Gadis Pantai takkan bisa memeluknya, bapak pun barangkali juga tidak. Tiang-tiang itu lebih besar dari pelukan tangan manusia. Setiap baris terdiri atas enam tiang. Burung gereja kecil-kecil berterbangan bermain-main di antara burung walet. Dan gagak pada pohon-pohon beringin sana tak henti-hentinya bergaok menyeramkan.
Sekarang seorang perempuan tua muncul di pintu, melambaikan tangan. Dengan sendirinya iringan pengantin menghampiri, kemudian juga memasuki pintu. Mereka mengikutinya berjalan di bawah jendela-jendela besar, melintasi pekarangan dalam yang ditumbuhi pohon-pohon delima serta pagar pohon kingkit. Mereka mendaki lantai, memasuki ruang belakang yang begitu besar, empat kali lebih besar dari seluruh rumah mereka. Sebuah meja setinggi 40 cm berdiri di tengah-tengah ruang. Mereka melaluinya, kemudian masuk ke dalam ruangan yang panjang. Saking panjangnya ruangan itu sehingga nampak seakan sempit. Beberapa kursi berdiri di dalamnya dan sebuah sofa yang merapat ke dinding. Di penghujung ruangan terdapat kamar dengan pintu yang terbuka lebar. Nampak di dalamnya sebuah tempat-tidur besi berpentol kuningan mengkilat, kelambunya menganga berkait pada jangkar-jangkar gading.
Mereka ditinggalkan di ruangan panjang itu. Tak ada seorang pun bicara. Gadis Pantai lupa pada tangisnya. Mereka tak berani bergerak, apa lagi meninggalkan kamar. Di luar kadang terdengar suara orang berbisik.
Akhirnya seorang bujang wanita masuk membawa air teh manis sambil menggendong bayi pada punggungnya.
Dan rombongan penduduk kampung nelayan itu pun mengiringkan pandangnya pada segala gerak-gerik bujang, semua mata tertuju pada bujang itu sendiri — mereka-reka siapa gerangan orok pada punggungnya.
“Silakan minum, silakan,” katanya sambil membungkuk, kemudian mundur-mundur ke belakang untuk meninggalkan kamar.
“Bendoro belum bangun?” kepala kampung bertanya. “Nanti jam lima.”
“Aku kepala kampung…”
“Siapa berani bangunkan?”
“Itu anak siapa?” emak bertanya, suaranya gemetar berbisik. Orok itu diputar dari belakang dan kini dalam gendongan depan. Anak itu berumur dua tahun. Hidungnya mancung. Matanya sedang tertutup tidur. Mulutnya ternga-nga dan sebaris gigi putih nampak menderet kecil-kecil.
“Sunyi benar di sini?” kepala kampung berkata. “Sst. Jangan keras-keras. Di sini bukan kampung,” bujang memperingatkan.
“Itu anak siapa?” emak berbisik lagi bertanya. Suaranya ragu.
“Anak majikanku, anak Bendoro.”
Emak mengigit bibir dan menutupkan selendang pada pundaknya.
“Di mana emaknya?” bapak bertanya.
“Sst. Sst. Dia tak ber-emak, anak priyayi ber-ibu.”
“Di mana ibunya?” bapak mendesak.
“Pulang ke kampung.”
“Kapan kembali lagi kemari?” bapak mendesak terus “Takkan balik lagi. Dia diceraikan.”
“Mengapa dicerai? Kapan?” bapak mendesak.
“Mana aku tahu?’itu urusan Bendoro. Kapan? Hampir Dua tahun yang lalu.”
“Tapi anak ini takkan lebih dari dua tahun umurnya ” emak sekarang mendesak.
“Dua tahun belum pernah lihat ibunya.”
“Mati?”
“Tidak. Pulang ke kampung. Sejak itu tak pernah nampak lagi.”
Emak terdengar menarik nafas panjang dan menghembus— kannya.
“Sst. Jangan keras-keras,” bujang memperingatkan emak. “Di sini yang boleh terdengar hanya suara pembesar yang datang bertamu kemari. Dan Bendoro sendiri tentu.”
“Jadi …,” kepala kampung hendak memulai.
“Sst,” dan mundurlah bujang itu. Ia lenyap dari kamar.
Emak mengangkat dagu Gadis Pantai dan menatap matanya. Gadis Pantai mencoba memeluknya. Emak menolakkan tubuhnya. Kemudian dengar! setangan membenahkan letak pakaian anaknya dan membedakinya kembali. Emak memandangi bapak. Bapak memandangi kepala kampung. Dan Gadis Pantai memandangi air teh yang tiada terjamah. Betapa kering ia rasai dalam kerongkongnya. Ia tak berani. Di rumah ia boleh minum sekenyangnya sampai kembung. Dan dari luar kamar terdengar suara wanita, “Lekas mandi, nanti Bendoro Guru datang, Agus masih kotor.”
Suara itu mendekat menghampiri pintu. Akhirnya ia masuk lagi ke dalam kamar dengan bayi masih tergendong di belakangnya. Segera ia menampak teh yang tak juga terjamah. Ia mencoba ramah mengucapkan, “Silakan minum.”
Semua yang ada di kamar tersenyum mengiakan. Tapi teh tak juga terjamah. Bapak rasai keringat membasahi sekujur badannya. Ia pun haus. Tapi keringat ini lain, tak sama dengan yang ke luar waktu ia menarik jala dari perut laut. Yang ini tak mengeluarkan bau-bau yang sudah sangat terbiasa baginya.
“Siapa anak tadi?” emak bertanya khawatir.
“Agus.”
“Putera Bendoro?”
“Ya.”
“Di mana ibunya?”
“Pulang ke kampung.”
“Kapan balik kemari lagi?”
“Takkan balik.”
“Kangmasnya bayi ini?” ’”
“Ya.”
Semua mata mengawasi bayi dalam gendongan, tersembunyi di balik punggung bujang wanita.
“Kalau begitu anak itu sebagus anak ini,” kepala kampung meneruskan.
“Tidak, ini lebih bagus. Dia dari ibu lain.”
Kepala kampung menggapai-gapai di dalam baju lasting Inggris berwarna hitam —baju keangkatannya. Ia betulkan destar kemudian mendaham.
“Sst. Jangan keras-keras.”
Di meja teh tetap tak terjamah.
“mBok, mBok!” terdengar suara dari luar rumah, suara seorang pria dewasa.
“Sahaya Bendoro Guru,” bujang itu menyahut dengan suara tertahan dan tanpa melihat pada para tamu kempung nelayan ia keluar. “Agus Rahmat sedang mandi Bendoro. Silakan duduk.” Seperempat jam kemudian terdengar suara Bendoro Guru bicara dalam bahasa yang mereka tak kenal dan suara Agus Rahmat menjawab dalam bahasa yang mereka pun tidak kenal. “Betapa hebat Bendoro mengajar putera-puteranya,” kepala kampung berbisik. “Sekecil itu sudah bisa bicara bahasa Belanda. Satu kata pun kita tak paham. Anakmu nanti,” kepala kampung menghadapkan mukanya kepada Gadis Pantai, “juga bakal diajar seperti itu.” Gadis Pantai kecut wajahnya meraih tangan emak dan menggenggamnya erat-erat.
Di luar matahari bersembunyi di balik puncak-pucuk pepohonan kelapa, cemara dan beringin dan deburan ombak makin jelas karena makin merambah pantai. Terdengar suara perlahan dari luar kamar:
“Apa mBok bilang?”
“Jangan main bola! Haram! Haram! Tak ingat pesan Ayahanda? Itu perbuatan terkutuk orang-orang murtad. Ingat! Kepala Hasan-Husin yang mereka tendang! Apa Agus mau jadi kafir juga?”
Dan suara anak kecil terdengar memasuki kamar, juga sama pelannya, “Peduli apa? Kami akan bertanding lawan sekolah Belanda. Kami tak boleh kalah.”
Di antara deru ombak, percakapan dalam bahasa asing, dan berisik angin yang berkisar-kisar di udara bebas, sayup-sayup terdengar bunyi selop kulit berat terseret.
“Bendoro sudah bangun,” kepala kampung memperingatkan.
Semua tegang menegakkan tubuh. Pendengaran tertuju pada sepasang selop yang berbunyi berat sayup terseret-seret di lantai. Bunyi kian mendekat dan akhirnya nyata terdengar: buuuit.
“Apa itu?” emak bertanya pada kepala kampung. Ia kenal bunyi itu tapi ia tak yakin. Ia gelengkan kepala. Di sini tak mungkin terjadi. Tidak! Itu bukan bunyi yang biasa didengarnya, bunyi yang biasa membikin ia geram pada lakinya.
Terdengar bunyi selop berhenti, kemudian, “Mengapa aku tak dibangunkan? Suruh ke sini kepala kampung itu!”
Sunyi senyap dalam kamar. Mata pada melotot mengawasi pintu. Tak seorang mendengar nafas kepala kampung yang terengah-engah. Ia bangkit. Sekali lagi menggapai-gapai ke dalam balik baju kebesarannya. Dikeluarkannya keris bersarung kuningan bertangkai kayu sawo tua berukiran tubuh katak. Dan keris diangkatnya tinggi sampai segaris dengan hidungnya.
Seseorang datang menghampiri ruangan tempat tamu-tamu dari kampung nelayan masih tetap gelisah menunggu. Orang itu menilik ke dalam dan tanpa sesuatu upacara langsung menyampaikan, “Bapak kepala kampung dititahkan menghadap!”
Hampir-hampir kepala kampung membuat kursinya terbalik waktu berdiri. Ia seka keningnya dengan lengan baju kebesarannya, kemudian melangkah berat ke luar kamar — keris tetap terangkat setinggi hidung.
“Selamat. Selamat,” Bapak komat-kamit berdoa.
“Selamat,” emak menguatkan.
Kepala kampung lenyap dari pemandangan. Dan mereka semua berjuang menajamkan pendengaran. Tapi tak terdengar sesuatu percakapan terkecuali dalam bahasa Belanda antara Bendoro Guru dengan Agus Rahmat.
Tiba-tiba terdengar suara keras, “Apa!? Jadi kepala kampung tak tahu?”
“Selamat. Selamat,” Bapak kembali berkomat-kamit.
“Selamat,” sekali lagi emak menguatkan.
Cengkraman tangan Gadis Pantai pada lengan emak semakin kencang. Dan emak berbisik mendesak anaknya, “Bilang: selamat.”
“Se-la-mat,” Gadis Pantai berbisik.
“Selamat,” emak berbisik dan sekali lagi, “selamat buat kau, nak.”
“Jangan aku ditinggal emak.”
“Diam. Selamat. Ayoh bilang lagi.”
Kamar itu tak berjendela. Sinar matahari hanya bisa masuk ke dalam melalui genting-genting kaca. Ini adalah ruangan pada bangunan paling belakang, tidak terbuat dari batu tapi kayu. Pada dinding-dinding bergantungan pigura dengan kaligrafi huruf Arab. Mungkin ayat-ayat Our’an. Sebuah cermin besar berbingkai kayu tebal terukir dengan motif-motif Tionghoa tergantung di dekat pintu.
Setengah jam telah berlalu. Bapak telah bermandi keringat. Menumbuk jagung 40 pikul tidaklah seberat ini, emak berkata dalam hati. Gadis Pantai meriut di kursinya seperti tikus habis kecebur dalam air gula. Terlihat kepala kampung sebentar-sebentar mengintip ke luar pintu. Tapi tak ada terjadi apa-apa terkecuali kaki para bujang yang melangkah mondar-mandir mencoba mengintip.
Dengan wajah pucat kepala kampung akhirnya muncul kembali. Sekarang ia tak membawa keris lagi. Langsung ia menatap emak, “Celaka,” desisnya.
Sekaligus emak jadi pucat. “Mengapa?” tanyanya megap-megap.
“Kau tak pernah bilang, gadismu itu sudah haid apa belum?!”
Emak menatap bapak, kemudian pada si Gadis, “Sudah?” tanyanya.
Dengan kepala masih menunduk Gadis Pantai mengangkat tapuk matanya, kemudian mengerutkan kening.
“Sudah?” emak mendesak Ternyata Gadis Pantai tak tahu apa itu haid.
Dengan amarah tanpa daya bapak mendesak, “Ngerti tidak kau? Tahu apa itu haid?”
Gadis Pantai hanya bisa memandangi emak dalam ketakutannya.
“Ah, nak, barangkali salahku,” emak mengacarai. “Jadi tidak ngerti haid. Itu nak, ah, itu — darah, ah kau ngerti?”
Kepala kampung mengawasi emak dan anak berpandang-pandangan putus asa. Tiba-tiba dengan gesitnya emak bangkit menarik Gadis Pantai dan menyeretnya ke ujung kamar, duduk di atas sofa. Mendadak emak terperanjat dan segera berdiri — empuk sekali kasur sofa itu. Dipegang-pegangnya kasur itu sebentar dan cepat ia menatap anaknya berbisik. Gadis Pantai menyusul duduk — ia pun terperanjat berdiri, meraba-raba kasur, tak jadi duduk. Ia tinggal berdiri mendengarkan bisikan emak, menggeleng sambil memandangi emak. Menggeleng lagi. Emak mengerutkan kening, menggeleng menengok ke samping menatap suaminya. Akhirnya dengan pandang putus asa emak berjalan menghampiri bapak, berbisik, “Bilang saja: sudah.”
Dan bapak berkata pada kepala kampung, “Sudah. Benar sudah.”
Dengan ragu kepala kampung pergi lagi.
“Mengapa kau tak dipanggil?” emak bertanya pada bapak.
Dengan wajah seperti orang menangis bapak hanya membalas dengan pandangnya. Saudara-saudara Gadis Pantai tak ada yang bicara sejak berangkat dari rumah.
“Kan jelek-jelek kau mertuanya?”
“Kita pulang saja, mak?” Gadis Pantai bertanya.
“Husy!”
Waktu kepala kampung masuk kembali ke dalam ruang panjang, beduk magrib mulai bertalu di mesjid raya, beberapa puluh meter saja di luar gedung. Kemudian menyusul juga beduk beberapa meter di samping kiri ruang panjang itu.
“Nah,” katanya pada bapak. “Kewajibanku sudah selesai. Kalian sudah kuserahkan dengan selamat pada Bendoro. Sekarang aku pulang. Baik-baiklah di sini.” Dan kepada Gadis Pantai, “Kau sekarang tinggal di sini. Beberapa hari ini emak dan bapakmu akan kawani kau. Sesudah itu kau tinggal di sini jadi nyonya Bendoro, menguasai semuanya.”
“Jadi kau mau pergi sekarang?” bapak memprotes.
“Lantas? Apa mesti aku perbuat di sini? Kau mertua Bendoro. Kau mesti belajar jadi mertua pembesar. Jangan bodoh. Ajari baik-baik anakmu dalam beberapa hari ini. Ngerti?” Kemudian ia pergi dan tak kembali lagi. Seorang bujang masuk ke dalam ruangan, membawa emak dan bapak keluar bersama saudara-saudara Gadis Pantai.
Tinggal Gadis Pantai termangu seorang diri di dalam.
Teh di atas meja sudah jadi dingin. Dan lampu listrik tiba-tiba menyala. Gadis Pantai terkejut. Diawasinya lampu itu sampai matanya berkunang.
Dengan tangannya yang kasar ia raba-raba taplak meja yang sepanjang tepinya dihias dengan huruf Arab. Taoge-taoge pendek, cincin-cincin dan berbagai macam titik dan garis lekuk. Tiba-tiba ia menyadari tidak pernah ada angin masuk menerobosi dinding di sini dan hawa kamar terasa tiba-tiba mencekik nafasnya.
Sore-sore begini, selalu ia membalik lesung kecil dari pojok rumah. Dituangnya udang kecil yang telah dijemurnya tadi siang dan ditumbuknya sampai halus. Kalau bapak sudah jatuh tertidur pada jam tujuh pagi, pasti datang orang Tionghoa dari kota mengambil tepung udang itu. Emak menghitung uang penjualan, kemudian dimasukkannya ke dalam lubang di dalam tiang bambu.
Diruangan ini tak ada lesung. Tak ada bau udang kering. Tak ada babon tongkol tergantung di atas pengasapan. Tak ada yang bergantungan di dinding terkecuali kaligrafi-kaligrafi Arab yang tak mengeluarkan bau.
Bujang wanita kali ini tanpa bayi dalam gendongan kini kembali masuk. Gadis Pantai berdiri dari kursi. Bujang itu membungkuk padanya, begitu rendah. Mengapa ia membungkuk? Sebentar tadi ia masih jadi sesamanya. Mengapa ia begitu merendahkan dirinya sekarang? Gadis Pantai jadi bimbang, takut, curiga. Apakah semua ini?
Ke mana aku akan dibawanya? Mengapa tak boleh bersama. emak dan bapak? Ingin ia memekik.
Di dalam kamar tidur bujang meletakkan bungkusan di atas meja rias, membukanya dan mengeluarkan anduk, sikat gigi, pasta, selop jerami buatan Jepang, sisir penyu yang bertangkai perak, berbagai macam minyak wangi, bedak dalam kaleng jelas buatan luar negeri.
“Inilah kamar tidur Mas Nganten2,” kata bujang dengan senyum bangga sambil berjongkok di permadani yang menghampar antara tempat tidur dan meja hias. Tak tahu harus berbuat apa Gadis Pantai pun mencangkum, mendekat-dekat ke meja hias. Botol-botol minyak wangi dari berbagai macam bentuk dan bangun, gemerlapan tertimpa cahaya listrik mempesonakan pemandangannya. Ia raih sebuah, mengamatinya, mencium-ciumnya, menatap bujang, mengelus jumbai penutupnya yang terbuat dari benang sutera hijau. Begitu halus belaiannya. Terlupa ia pada kesunyiannya, “Apa ini?”
Bujang itu tertawa sopan, “Minyak wangi Mas Nganten.”
“Mas Nganten? Siapa itu Mas Nganten?”
Bujang itu tertawa terkekeh ditekan. Dipandanginya majikannya yang baru dan terlampau muda itu, dibelainya dagunya yang licin seperti kepala lele. Dan akhirnya dengan empu jari ia menuding ke dada orang yang dilawannya bicara.
“Sahaya?”
Kembali bujang itu tertawa terkekeh ditahan. Membenarkan. “Pada aku ini Mas Nganten tak boleh sebut diri sahaya. Itu kata hina bagi penyebut di hadapan dan untuk Mas Nganten.”
“Mengapa?” tapi Gadis Pantai sudah tak peduli pada keanehan sebutan itu. Tangannya segera meraih sisir penyu berbingkai perak. Pahatan pada bingkai sisir mengikat matanya. “Bagusnya!” bisiknya. Mengapa dibawa kemari?”
“Semua ini buat Mas Nganten.”
Gadis Pantai terperanjat. Sisir di tangannya jatuh di atas meja. Bujang itu nampak begitu asing, mencurigakan. Mengapa barang-barang seindah itu buat dirinya? Orang tuanya sendiri tak pernah memerlukan beli semua itu buat anaknya!
“Buat aku?”
“Mari, Mas Nganten. Ganti pakaian ini,” dan dibeberkannya selembar pakaian panjang — baju kurung sutera, halus dan sangat ringan. “Ganti ini, Mas Nganten. Lantas Mas Nganten pergi mandi.”
Seperti sebuah boneka besar Gadis Pantai dikelupas dari pakaiannya dan seperti kepompong ia memasuki selongsongnya yang baru: sutera biru muda. Ia mersa masih telanjang bulat dalam pakaian seringan itu — ia yang sering merajut dan mengangkat jala 20 kg.
“Di kamar mandi sudah sahaya sediakan air dengan larutan minyak wangi dan bunga-bungaan, Mas Nganten. Biasa mandi sendiri?”
Pertanyaan itu seketika menyadarkan Gadis Pantai dari pukauan. Ia mundur selangkah, mengawasi bujang itu sebentar, kemudian pada sutera biru muda yang membalut tubuhnya. Apa semua ini? teriaknya dalam hati. Tapi yang ke luar, “Mana emak?”
“Di kamar dapur.”
“Antarkan aku padanya, mBok.”
“Sst.”
“Antarkan!” Gadis Pantai menumbuk lantai dengan kaki sebelah.
“Ceh, ceh, ceh. Itu tidak layak bagi wanita utama, Mas Nganten. Wanita utama cukup menggerakkan jari dan semua akan terjadi. Tapi sekarang ini, sahaya inilah yang mengurus Mas Nganten. Sebelum Bendoro memberi izin, Mas Nganten belum bisa bertemu. Mari, mari sahaya mandikan. Pakai selop itu.”
Mendengar nama Bendoro hati Gadis Pantai menjadi kecil dan meriut. Dengan sendirinya kakinya yang tak pernah bersandal, tak pernah berterompah, tak pernah bersepatu dijulurkan dan tiba-tiba saja selop rumput buatan Jepang telah terpasang pada kakinya. Waktu bujang itu mengulurkan tangan dengan sendirinya ia terima tangan itu digandeng.
Mereka berdua ke luar kamar, melintasi ruang belakang yang empat kali besarnya daripada rumahnya di tepi pantai. Bendoro Guru dan Agus Rahmat ternyata telah menyingkir dari ruang itu. Keduanya menuruni jenjang. Kini di hadapannya berdiri sebuah rumah besar bergenteng hitam. Gadis Pantai ra ru sebentar.
“Itu hanya dapur, Mas Nganten.” Keduanya membelok ke: kiri, menepi pinggiran dapur dan kini sebuah kamar mandi besar, seluruhnya terbuat dari batu, menganga di hadapannya.
Waktu keduanya masuk ke dalam, seperti dengan sendirinya pintu tertutup. Kemudian terdengar gercik dan kecibak air.
Gadis Pantai merasa aneh sekujur tubuhnya setelah kembali ke kamar dan ganti pakaian. Bau-bauan harum yang membumbung dari tubuhnya membuat ia mula-mula agak pening. Ia meras asing. Badannya tak pernah seharum itu. Itu bukan bau badannya. Dan pakaian yang terlalu ringan dan halus itu masih juga memberinya perasaan ia masih telanjang bulat. Tapi selop rumput itu memang menyenangkan tungkainya. Sedang suara bujang tak henti-henti berdengung pada kupingnya: Nah ingat-ingat Mas Nganten, begini atau begitu …
Dan waktu bujang itu menghias tepi-tepi mata Gadis Pantai dengan celak buatan Arab terdengar lagi suaranya, “Biar mata kelihatan dalam, biar nampak punya perbawa.”
Sedikit demi sedikit Gadis Pantai melihat pada cermin bagaimana wajahnya berubah, sampai akhirnya ia tidak mengenalnya sama sekali.
“Aku itu?” bisiknya pada cermin.
“Cantik sekali.”
Dan inilah dunia Gadis Pantai untuk selanjutnya.
Malam itu jam dinding jauh di ruang tengah telah berbunyi dua belas kali. Sunyi’ senyap di sekeliling. Dan ketak-ketik itu begitu menyiksa pendengarannya. Namun ia rasai tubuhnya nikmat tenggelam dalam kasur yang begitu lunak seperti lumpur hangat. Sedang bau wangi yang membumbung dari sekujur badannya dan pakaiannya membawa pikirannya melayang-layang ke kampung halaman. Tak pernah ia impikan di dunia ada bau begitu menyegarkan. Di Kampungnya ke mana pun ia pergi dan di mana pun ia berada yang tercium hanya satu macam bau: amis tepian laut.
Dahulu bapak pernah menolong orang karam di tengah laut. Orang sekampung merawatnya, memberinya makan, pakaian dan juga jamu-jamuan. Orang itu — ah ia tak ingat lagi namanya — bisa bercerita tentang wangi-wangian yang keluar dari bermacam-macam bunga-bungaan. Tapi ia tak pernah temukan bunga yang mengeluarkan semerbak wangi di kampungnya di tepi pantai.
Dan bila ia menengok ke bawah di depan ranjangnya, bujang wanita nampak masih tenang bergolek di atas tikar pandan buatan kampung sepuluh kilometer di selatan kota. Betapa sayang ia pada wanita di bawah itu. Seumur hidup ia baru temui seseorang dan asing pula, mau bercerita padanya dongeng yang begitu indah tentang Joko Tarub3 menjebak bidadari di tepi telaga, dibawanya pulang dan dikawininya. Betapa senangnya jadi bidadari, jadi idaman semua orang.
Matanya tak juga terpejam. Dan ia sudah lupa, apakah ia senang atau tidak. Malam kian larut. Dari ruang tengah mulai terdengar sekencang tenaga seorang mengaji. Suaranya dalam, merongga, seperti guruh keluar dari gua di bawah gunung. Tak pernah ia dengar orang mengaji seindah itu.
Udara kamar makin sejuk kemudian dingin. Sedang angin laut berkisar-kisar di atas genteng setelah menerjangi tajuk-tajuk pepohonan besar di sepanjang tepi pantai.
Dua jam kemudian suara ngaji itu berhenti. Dirasanya seakan dunia berhenti dan waktu berhenti, jantungnya seakan berhenti. Terdengar olehnya bunyi selop berat kian lama kian mendekat. Didengarnya pintu kamarnya terbuka. Dan langkah selop itu kini hati-hati. Matanya dipejamkan sedikit, mengawasi orang yang makin mendekat menghampiri ranjangnya. Nampak seorang pria bertumbuh tinggi kuning langsat berwajah agak tipis dan berhidung mancung. Ia berkopiah haji dan berbaju teluk belanga dari sutera putih dan bersarung bugis hitam dengan beberapa genggang putih tipis-tipis. Ia lihat orang itu membangunkan bujang dengan kakinya. Dan bujang itu bangun, cepat-cepat menggulung tikar dengan bantal di dalamnya, merangkak mundur kemudian berdiri membungkuk, ke luar dari pintu lenyap dari pandangan.
Gadis Pantai cepat-cepat memiringkan tubuh menghadap dinding. Ia tak rasai lagi jantungnya berdenyut. Sekujur tubuhnya bermandikan keringat dingin. Dan ia tak tahu lagi apa makna takut. Bahkan mau menangis pun ia takut, berpikir pun takut.
Tanpa melihat dirasainya orang itu membuka kelambu dan didengarnya bisikan pelahan:
“Mas Nganten.”
Rasanya jutaan semut rang-rang berkerumun di setiap titik dari kulitnya. Ia tak menjawab.
“Mas Nganten,” sekali lagi.
Seperti boneka otomat ia bergerak memusatkan diri ke arah datangnya suara. Kemudian duduk membungkuk berjagangkan kedua belah tangan di atas kasur.
“Sahaya Bendoro,” ia berbisik.
“Akulah suamimu.”
“Sahaya Bendoro.”
“Mengucaplah.”
Gadis Pantai tak mengerti.
“Syukur pada Allah.”
“Syukur pada Allah.” Gadis Pantai mengikuti. Tak tahu lagi ia apa dia ulangi lagi sesudah itu. Yang ia ketahui ia telah rebah kembali, hanya tidak di atas bantal semula, tapi di atas lengan Bendoro. Ia rasai sebuah tangan halus meraba tangannya dan ia dengar suara lemah sayup:
“Betapa kasarnya tanganmu.”
“Sahaya Bendoro,” Gadis Pantai berbisik dengan sendirinya.
“Di sini kau tak boleh kerja. Tanganmu harus halus seperti beludu. Wanita utama tak boleh kasar.”
“Sahaya Bendoro.” Entah berapa kali ia harus ulangi dua kata itu. Ya entah berapa kali. Tak mungkin ia menghitungnya, karena ia tak pernah dalam hidupnya menghitung sampai lima puluh.
Waktu subuh datang menjelang ia dengar bunyi burung hantu mendesis dan berseru di atas bubungan. Bulu badannya meremang. Tapi dada Bendoro itu pun ada dirasainya berdetakan seperti ada mercun tahun baru Cina.
“Kau senang di sini?”
“Sahaya Bendoro.”
“Kau suka pakaian sutera?”
“Sahaya Bendoro.” Dan ia rasai tangan yang lunak itu mengusap-usap rambutnya. Tak pernah emak dan bapak berbuat begitu padanya. Dan tangan yang lunak itu sedikit demi sedikit mencabarkan kepengapan, ketakutan dan kengerian. Setiap rabaan dirasainya seperti usapan pada hatinya sendiri. Betapa halus tangan itu: tangan seorang ahli-buku! Hanya buku yang dipegangnya, dan bilah bambu tipis panjang penunjuk baris. Tidak seperti tangan bapak dan emak, yang selalu melayang ke udara dan mendarat di salah satu bagian tubuhnya pada setiap kekeliruan yang dilakukannya. Dan tangan yang kasar itu Segera meninggalkan kesakitan pada tempat-tempat tertentu pada tubuhnya, tapi hatinya tak pernah terjamah, apa lagi terusik. Sebentar setelah itu mereka berbaik kembali padanya. Tapi tangan halus ini —ah, betapa mengusap hati, betapa mendesarkan darah.
Waktu bendoro terlelap tidur, dengan kepala pada lengannya, ia mencoba mengamati wajahnya. Begitu langsat, pikirnya. Orang mulia, pikirnya, tak perlu terkelantang di terik matahari. Betapa lunak kulitnya dan selalu tersapu selapis ringan lemak muda! Ingin ia rasi dengan tangannya betapa lunak kulitnya, seperti ia mengemasi si adik kecil dulu. Ja tak berani. Ia tergeletak diam-diam di situ tanpa berani bergerak, sampai jago-jago di belakang kamarnya mulai berkokok. Jam tiga. Dengan sigap Bendoro bangun. Dan dengan sendirinya ia pun ikut serta bangkit.
“Mandi, Mas Nganten.”
Ia selalu bangun pada waktu jago-jago pada berkeruyuk, kemudian berdiri di belakang rumah. Dari situ setiap orang dapat melepas pandang ke laut lepas. Maka dari kandungan malam pun berkelap-kelip lampu perahu-perahu yang menuju ke tengah. Salah sebuah dari lampu-lampu itu adalah kepunyaan ayahnya.
Tapi mandi? Mandi sepagi ini?
Ia takut berjalan seorang diri menuju ke kamar mandi. Tapi Bendoro lebih menakutkan lagi. Ia turuni jenjang ruang belakang berjalan menuju ke arah dapur. Ah, kagetnya. Bujang itu telah menegurnya menuntunnya dan membawanya ke kamar mandi. Lampu listrik kecil dinyalakan dan ia lihat lantai bergambar warna-warni begitu indah seperti karang kesayangan di rumahnya. Mau rasanya ia punya sebongkah dari lantai ini, menyimpannya di rumah dan melihat-lihatnya dan mengusap-usapnya di sore hari. Betapa indah.
Air pembasuh yang wangi telah tersedia di jambang porselen buatan Tiongkok, terhias dengan liong begitu panjang. Dan seperti pada sore kemarin, air pun mulai menggercik dan berkecibak. Air pembasuh harum itu dipergunakan setelah ia habis mandi.
Bujang kemudian mengajarnya ambil air wudu. “Air suci sebelum sembahyang, Mas Nganten.”
“Apakah mandi dengan air sebanyak itu kurang bersih?” tanyanya.
“Selamanya memang begini, Mas N ganten.”
Untuk pertama kali dalam hidupnya Gadis Pantai bersuci diri dengan air wudu dan dengan sendirinya bersiap untuk bersembahyang.
Bujang itu membawanya kembali ke kamarnya, menyisiri dan menghiasinya kemudian menuntunnya ke luar lagi melintasi ruang belakang. Ia buka sebuah pintu yang nampak begitu kecil dibanding luas ruangan berlangit-langit tinggi dari lembaran besi berukir dan bercat krem. Pintu itu terpasang pada salah sebuah dinding ruang belakang.
“Ini khalwat,” bujang itu berbisik.
“Kalwat?”
“Ia khalwat. Jangan salah sebut — khalwat.” Bujang itu tak membetulkannya lagi. Mereka masuk.
Ruang itu luas, sangat luas, persegi panjang. Lampu listrik teram-temaram menyala di dua tempat, tergantung rendah pada tali kawat. Tak ada sebuah perabot pun di sana — terkecuali dua lembar permadani — selembar di sana, selembar di dekat pintu mereka berdua masuk.
Dari sebuah pojok bujang itu mengeluarkan selembar mukena putih dan mengenakannya pada Gadis Pantai. “Duduk sekarang diam-diam di sini. Jangan bergerak, Bendoro duduk di sana. Mas Nganten harus bersembahyang dengan beliau.”
“Aku tak bisa.”
“Ikuti saja apa Bendoro lakukan.”
“Aku tak bisa.”
“Wanita utama mesti belajar — mesti bisa melegakan hati Bendoro, ingat-ingatlah itu.”
Bujang itu pun ke luar dari pintu semula tanpa meninggalkan bunyi apa pun seperti seekor kucing menyelinap di malam gelap.
Tertinggal Gadis Pantai seorang diri dalam ruangan besar yang tak pernah diinjaknya semula, laksana seekor tikus di dalam perangkap. Suasana khalwat itu menakutkan, menyeramkan. Sekali-sekali seekor burung walet masuk dari lubang angin jauh pada dinding atas sana, kemudian pergi lagi. Gadis Pantai tersadar sekarang betapa takutnya ia pada kesunyian, pada keadaan tak boleh bergerak. Ia tersedan — sedan seorang diri. Dan tak ada seorang pun peduli padanya.
Dinding-dinding batu tebal itu bisu-kelabu tanpa hati. Apakah guna hatiku ini? Ia berteriak dalam hati.
Gadis Pantai telah jadi bagian dari tembok khalwat.
Ia angkat pandangnya sekilas ke depan sana ketika dari pintu samping Bendoro masuk. Ia mengenakan sorban, teluk belanga sutera putih, sarung bugis hitam, selembar selendang berenda melibat lehernya. Selopnya tak dikenakannya. Pada tangan kanannya ia membawa tasbih, pada tangan kirinya ia membawa bangku lipat tempat menaruhkan Our’an. Tanpa bicara sepatah pun, bahkan tanpa menengok pada seorang lain di dalam khalwat itu, langsung ia menuju ke permadani di depan, meletakkan bangku lipat di samping kiri dan tasbih di samping kanan dan mulai bersembahyang.
Seperti diperintah oleh tenaga gaib Gadis Pantai pun berdiri dan mengikuti segala gerak-gerik Bendoro dari permadani belakang. Pikirannya melayang ke laut, pada kawan-kawan se- 7? permainannya, pada bocah-bocah pantai berkulit dekil, telanjang bergolek-golek di pasir hangat pagi hari. Dahulu ia pun menjadi bagian dari gerombolan anak-anak telanjang bulat itu. Dan ia tak juga dapat mengerti, benarkah ia menjadi jauh lebih bersih karena basuhan air wangi? Ia merasa masih seperti bocah yang dulu, menepi-nepi pantai sampai ke muara, pulang ke rumah dengan kaki terbungkus lumpur amis.
Bendoro di depan sana berukuk. Seperti mesin ia mengikuti Bendoro — di sana bersujud, ia pun bersujud, Bendoro duduk ia pun duduk. Ia pernah angkat sendiri seekor ikan pari dari 30 kg, tak dibawa ke lelang, buat sumbangan kampung waktu pesta. Ia bermandi keringat dan buntut ikan itu mengganggu kakinya sampai barut berdarah. Tapi ia tahu ikan itu buat dimakan seluruh kampung. Dan kini. Hanya menirukan gerak dirasanya begitu berat. Dahulu ia selalu katakan apa yang dipikirkan, tangiskan, apa yang ditanggungkan, teriakan ria kesukaan di dalam hati remaja. Kini ia harus diam — tak ada kuping sudi suaranya. Sekarang ia hanya boleh berbisik. Dan dalam khal- : wat ini, bergerak pun harus ikuti acuan yang telah tersedia.
Keringat dingin mengucur sepagi itu menjalari seluruh tubuhnya.
Kemarin, kemarin dulu. Ia masih dapat tebarkan pandang lepas ke mana pun ia suka. Kini hanya boleh memandangi lantai, karena ia tak tahu mana dan apa yang sebenarnya boleh dipandangnya.
Ia menggigil waktu Bendoro mengubah duduk menghadapinya, membuka bangku lipat tempat Our’an, mengeluarkan bilah bambu kecil dari dalam kitab dan ia rasai pandangnya mengawasinya memberi perintah. Seumur hidup baru sekali ia menggigil. Kenangan pada belaian tangannya yang lembut dan lunak lenyap. Tiba-tiba didengarnya ayam di belakang rumah pada berkokok kembali. Moga-moga matahari sudah terbit seperti kemarin, ia mendoa. Dan Bendoro telah menyelesaikan “Bismillahirohmanirrohim”, sekali lagi mentapnya dari atas permadani sana. Ia tak mampu mengulang menirukan. Ia tak pernah diajarkan demikian. Tanpa setahunya air matanya telah menitik membasahi tepi lubang rukuhnya4.
Sekali lagi ia merasa dipandangi begitu lama oleh Bendoro. Ia tahu Bendoro mengulangi kata-katanya. Waktu Bendoro mendaham, seperti dengan sendirinya ia mengangkat pandang. Dirasainya hatinya jadi ciut waktu diketahuinya benar-benar Bendoro sedang menatapnya dan dengan bilah bambu penunjuk menghalaunya pergi.
Ia berlutut, membungkuk, berlutut berjalan mundur. Sampai di pintu ia berhenti sebentar, menebarkan pandang jauh ke depan, pada Bendoro. Dilihatnya untuk kedua kali Bendoro menghalaunya dengan bilah bambu penunjuk baris.
Dirasainya tangan yang diangkatnya begitu berat waktu mencari tangkai kunci. Kaki-kaki pun dirasanya kelu waktu hendak berdiri. Tangkai itu berputar sendiri. Ia terperanjat dan tahu-tahu sudah berada di luar khalwat, dalam pelukan bujang, lari masuk ke dalam kamar menghempaskan diri di ranjang.
“Oh, mak … bapak,” panggilnya berbisik-bisik.
“Mas Nganten, Mas Nganten.”
“Bawa aku pada emak. Aku mau pulang, pulang ke kampung.”
“Mas Nganten, jangan menangis.” Gadis Pantai tenggelam dalam tangisnya.
“Wanita utama mesti belajar bijaksana. Berakit-rakit ke hulu…”
“Emak! Aku mau sama emak.”
“Sst. Diamlah. Mas Nganten sebentar lagi Bendoro datang ” Gadis Pantai terdiam. Sedu-sedannya tertahan, timbul tenggelam dalam kesenyapan pagi seakan kepingan-kepingan jiwanya sendiri yang pecah belah.
Sejurus kemudian, dengan suara agak reda ia bertanya, “Di mana emak?”
“Di kamar dapur.”
“Kalau aku tak boleh ke sana, biarlah dia kemari.”
“Masih tidur.”
“Hari begini emak sudah bangun…”
“Ya-ya, tahu sahaya. Biasanya sudah bangun mengantarkan laki berangkat ke laut, ya kan? Tapi tidak bijaksana wanita uta- : ima tinggalkan kamar tidak pada waktunya. Ayam pun masih tinggal di kandang Mas Nganten.”
Segera setelah suara merongga dari khalwat berhenti mengaji, terdengar bunyi selop berat yang menggentarkan hatinya. Kian lama kian mendekat. Di saat-saat seperti itu ia takut dan akhirnya takut pada ketakutannya sendiri. Dihapusnya air matanya. Ia duduk diam-diam di ranjang. Ia lihat bujang itu bersicepat merapihkan baju suteranya yang telah terbebas dari mukena, kemudian buru-buru ke luar kamar seperti kucing hitam habis menyambar dendeng di lemari makan.
“Mas Nganten, mari,” ia dengar suara Bendoro.
Ia sudah hafal suara itu: lunak, lembut, sopan. Dan seperti ditarik oleh benang-benang baja gaib, ia bangkit berjalan tanpa jiwa menuju ke pintu, Bendoro mengulurkan tangannya sendiri untuk menggenggamnya.
Mereka berdua berjalan menuruni jenjang ruang belakang, membelok ke kanan. Tiba-tiba saja Gadis Pantai melihat alam bebas kembali — sejauh pagar tembok tinggi yang melingkunginya. Gadis Pantai merasa begitu lama tak melihat pohon. Dan dalam rembang subuh, dengan bulan memancar suram di atas, dilihatnya sebuah pohon di hadapannya lebih besar daripada yang lain-lain. Itulah pohon sawo, pikirnya, nampaknya tidak seperti yang kulihat selama ini, mengerikan. Ia eratkan genggaman tangannya pada tangan Bendoro. Dengan tangannya yang lain Bendoro mengusap bahunya.
Mereka sedang menghirup udara pagi di kebun belakang. Dan kebun belakang itu jauh lebih besar dari seluruh kampung nelayan tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Seluruhnya terpagari dinding tembok tinggi.
Pasir di bawah itu terasa lunak dan buyar kena tendangan. Pohon mangga tertanam berderet seperti serdadu, sedang pohon-pohon pisang yang merana berbaris menepi pagar, seperti tahu akan kekecilannya.
“Kau suka jalan-jalan begini?”
“Sahaya Bendoro,” dan Gadis Pantai ingat, pagi begini biasanya ia kembali merangkak ke balenya setelah melihat perahu bapak kian menjauh bahkan lampunya pun tidak nampak lagi. Ia membiarkan diri terlelap sejenak untuk kemudian dibangunkan emak: Ai-ai, anak ini. Ayam sudah dikasih makan? Jangan suka tidur pagi, nanti disambar buaya. Dan ia pun bangun memberi makan ayam yang telah berlari-larian sekitar rumah.
“Apa yang kau makan di kampung sana?”
Tak mampu Gadis Pantai menjawab. Ia takut. Ia tak pernah diajar menggunakan bahasa yang biasa dipergunakan di kota. Ia diam saja.
“Jagung?”
“Sahaya Bendoro.”
“Jarang makan nasi?”
“Sahaya Bendoro.”
“Bersyukurlah di sini kau selalu akan makan nasi. Insya Allah. Tuhan akan selalu memberkati.” Mereka terus berjalan pelan-pelan.
“Itu pohon mangga, dua tahun umurnya. Ditanam waktu orang memasang listrik. Tak ada orang menanam buat dirinya sendiri. Betapa pemurahnya Allah. Dia pun tak ciptakan alam semesta dan manusia buat diriNya sendiri. Kau masih ngantuk?”
“Tidak, Bendoro.”
“Kau lapar.”
“Tidak Bendoro.”
“Berceritalah.”
Kembali Gadis Pantai jadi bisu ketakutan. Ia rasai nafasnya tersumbat. Mengapa bicara saja tak berani, sedang ia suka memekik-menjerit panggil-panggil si Kuntring, ayamnya? panggil-panggil kawan-kawan bermainnya? panggil-panggil Pak Karto tetangganya yang selalu dimintai tolong bila mengangkat barang-barang berat?
“Tak perlulah kalau kau tak suka. Aku tahu kampung-kampung sepanjang pantai sini. Sama saja. Sepuluh tahun yang baru lalu aku juga pernah datang ke kampungmu. Kotor, miskin, orangnya tak pernah beribadah. Kotor itu tercela, tidak dibenarkan oleh orang yang tahu agama. Di mana banyak terdapat kotoran, orang-orang di situ kena murka Tuhan, rezeki mereka tidak lancar, mereka miskin.”
“Sahaya Bendoro.”
“Kebersihan, Mas Nganten, adalah bagian penting dari iman. Itu namanya kebersihan batin. Ngerti Mas Nganten?”
“Sahaya Bendoro.”
“Kebersihan batin membuat orang dekat pada Tuhan.”
“Sahaya Bendoro.”
“Apa kau ingin buat hari ini?”
Tiba-tiba Gadis Pantai menyadari dirinya sangat lelah, mengantuk dan ingin rebahkan tubuhnya di atas kasur lunak, seorang diri di dalam kamar. Tapi ia tak berani mengatakan sesuatu. Bendoro membawanya duduk di atas sebuah bangku di bawah pohon yang ia tak tahu namanya. Dari kantong teluk belanga sutera Syantung dikeluarkan sesuatu benda. Dan tanpa menyadari tahu-tahu telah terpasang sebentuk cincin pada jari manis Gadis Pantai dan sepasang gelang pada kedua belah tangannya yang lampai.
Beberapa menit kemudian kedua orang suami-istri itu telah duduk pada meja makan. Roti hangat yang masih mengepul yang dikirimkan tadi dari bengkel roti, telah tersayat-sayat di atas meja. Botol-botol selai, serbuk coklat, gula-kembang,: perasan air jeruk, krupuk udang dan bubur havermout, telah terderet di atas meja. Kopi mengepul-ngepul dari cangkir porselen buatan Jepang. Sendok-garpu, pisau, semua dari perak putih mengkilat berderet-deret memusingkan kepala Gadis Pantai. Sebuah tempat buah dari perak begitu menyilaukan matanya. Otaknya terpilin-pilin dan ia lapar. Tapi apa guna alat sebanyak itu dan serba mengkilat?
“Mana Mas Nganten lebih suka? Bubur? Roti? Atau air jeruk saja?” bujang wanita itu berbisik.
Apa saja Gadis Pantai mau, asal tanpa pengawasan siapa pun. Tapi bujang itu telah berbisik lagi, “Tanyalah Bendoro apa beliau suka, dan layanilah.”
Gadis Pantai menebarkan pandang sekilas pada Bendoro sama dengan mata itu ia bisa bicara, kemudian menunduk lagi. Waktu Bendoro menunjuk pada roti, Gadis Pantai berdiri, melirik pada bujang. Kembali bujang membungkuk berbisik:
“Tanyailah Bendoro rotinya apa pakai lapis coklat, gula kembang, selai…”
Gadis Pantai menggigil. Ia tak tahu yang bernama coklat, gula-kembang dan mana pula selai.
“Coklat,” Bendoro berbisik.
Bujang wanita itu menangkap tangan Gadis Pantai, membimbingnya ke arah botol serbuk coklat, meraihkannya pada sendok perak kecil yang begitu aneh bentuknya dan mengaurkan serbuk itu di atas sayatan-sayatan roti yang telah dibuat mengkilat dengan mentega Friesland …
Pagi itu Gadis Pantai kembali ke kamar dengan perut tetap lapar. Ingin ia makan roti coklat itu barang sesayat lagi. Tapi Bendoro begitu sedikit makannya. Ah, roti itu mungkin yang terlampau terlalu enak … roti dengan aur serbuk coklat, ia meyakinkan dirinya. Bukan diri yang lapar, cuma perut ini memang tak tahu diri.
Tapi lapar tetap membelit-belit dalam perutnya. Tak pernah it tanggungkan yang demikian, biarpun pada dua tahun yang lalu, waktu kampung nelayan disapu lenyap oleh gelombang pasang. Perahu-perahu yang tak dibinasakan laut, tertinggal di pantai terkubur lumpur.
Ia masih ingat waktu tong-tong bambu kepala kampung bertalu tanpa hentinya sampai bayi terakhir dapat dilarikan dari kampung yang terkepung maut. Dan dalam gelap itu daun-daun kelapa tua beterbangan cari kepala manusia menjadi korbannya Waktu penduduk kampung pulang ke tempatnya, tak sebatang rumput pun tinggal berdiri. Batang-batang kelapa silang melintang memagari pantai. Batang kelapa bapak sendiri tinggal satu yang baru saja berbuah, begitu rendah, rasanya bisa dijolok begitu mudah. Tapi seluruh buahnya telah jadi coklat dan dua minggu kemudian pada rontok. Busuk isinya. Pada waktu itulah ia menderita kelaparan. Tak kurang dari seminggu. Tebat-tebat lenyap dan tanggul-tanggulnya hilang tanpa bekas. Tak seekor bibit bandeng tinggal di tempatnya. Tapi kelaparan waktu itu hanya kelaparan karena tak makan beras-jagung. Setidak-tidaknya laut masih memberi makan, kerang-kerangan panjang, kepiting dan ganggang laut.
Sekarang, makan tersedia, malah melimpah-limpah. Tapi tak mungkin ia memakannya. Di sini terlalu banyak benang-benang baja, tangan-tangan gaib yang selalu mencegah, roh-roh mahakuasa yang membuat hati selalu kecut.
“Mak, mak,” ia berseru dalam bisiknya.
“Mas Nganten ini mak.” terdengar suara bujang wanita.
Gadis Pantai melompat. Waktu dilihatnya emak memasuki pintu, ia lari menubruk wanita tua itu dan merangkulnya, “Mak, emak mari pulang.”
“Hus.”
“Mas Nganten wajib tetap ingat, mak,” bujang itu memperingatkan, “wanita utama harus belajar berhati teguh, kendalikan segala perasaan dengan bibir tetap tersenyum.”
“Ya-ya mBok.”
“Katakanlah pada Mas Nganten.”
“Ya-ya mBok. Diamlah kau nak. Ketakutan ini kurang patut.”
“Aku tak suka di sini, mak.”
“Segalanya harus dipelajari, nak. Lama kelamaan kau akan suka.”
“Mak, bawa aku pulang.”
“Apa dia bilang?” terdengar suara bapak. Dan tahu-tahu bapak telah berada di samping Gadis Pantai
“Apa kau bilang?” tanyanya sekali lagi dan suaranya mengeras membentak.
“Tak ada orang berani berlaku kasar terhadap wanita utama.” bujang memperingatkan.
Bapak terkulai di atas kursi. Tenaganya yang biasa diadu dengan badai dan gelombang, remuk di dalam kamar pengantin ini. Terdengar nafasnya megap-megap. Kedua belah tangannya lunglai di atas kursi.
“Kalau wanita utama suka,” bujang itu meneruskan, “Mas Nganten bisa usir bapak dari kamar.”
Gadis Pantai meronta dari pelukannya di dada emak. Ia terisak-isak. Sekarang ia berlutut merangkul kaki bapak. “Ampuni aku bapak, pukullah anakmu ini.”
Dua titik air menggantung layu pada sepasang mata bapak. Diangkatnya dengan tangan kanannya yang layu terkulai, diusapnya rambut Gadis Pantai. Didirikannya pengantin itu, didudukkannya di atas kursi tempat ia tadi terjatuh layu.
“Selamat untukmu, nak,” bapak berbisik.
“Bilang pengestu,” emak mendesak.
“Pangestu bapak.”
Tanpa menengok lagi bapak meninggalkan kamar.
Siang itu Gadis Pantai makan seorang diri di kamar makan. : Bujang wanita menunggunya di pojok kamar makan. Sebentar-sebentar wanita itu menghampiri, membantunya menggunakan sendok, garpu, pisau. Ah, sulitnya setiap baki dan cawan punya sendoknya sendiri.
“Bendoro tidak pulang Mas Nganten. Hari begini biasanya dipanggil Bendoro Bupati.”
“Mengapa aku mesti diikuti terus, mBok?”
“Bukan sahaya mengikuti, Mas Nganten. Tugas sahaya hanya membantu.”
“Jangan mempergunakan sahaya itu mBok.”
Bujang itu tertegun. Ia heran. Baru kemarin Gadis Pantai datang kini telah berani melarang.
“Sahaya hanya bujang, Mas Nganten.”
Dan sekarang Gadis Pantai tertegun. Ia mulai mengerti, di sini ia tak boleh punya kawan seorang pun yang sederajat dengannya. Ia merasai adanya jarak yang begitu jauh, begitu dalam antara dirinya dengan wanita yang sebaik itu yang hampir-hampir tak pernah tidur menjaga dan mengurusnya, selalu siap lakukan keinginannya, selalu siap terangkan segala yang ia tak paham, bisa mendongeng begitu memikat tentang Joko Tarub, dan bisa mengusap bahunya begitu sayang bila ia siap hendak menangis. Hatinya memekik: mengapa aku tak boleh berkawan dengannya? Mengapa ia mesti jadi sahaya bagiku? Siapakah aku? Apa kesalahan dia sampai harus jadi sahayaku?
“Makanlah, Mas Nganten! Mengapa melamun saja?”
Gadis Pantai berhenti makan. Ia bangkit. Tanpa menengok masuk ke dalam kamar, langsung ke kasur kesayangan dan mengucurkan air matanya. Ia rasai bagaimana dirinya seperti seekor ayam direnggut dari rumpunnya. Harus hidup seorang diri, di tengah orang yang begitu banyak. Tak boleh punya sahabat, cuma boleh menunggu perintah, cuma boleh memerintah. Betapa sunyi! Betapa dingin. Dan iklim sedingin ini tak pernah dirasainya di pantai, betapa pun cuaca pagi telah membekukan seluruh minyak kelapa di dalam botol. Ia puaskan tangisnya sampai tertidur.
Belaian tangan halus sahabat yang jadi sahaya itu membangunkannya. Buat ke sekian kali ia dibimbing ke kamar mandi dan dimandikan. Buat ke sekian kali ia dibimbing masuk ke dalam kamar.
“Aku mau bertemu bapak,” bisiknya.
“Sejak tadi siang tak ada. Tak ada yang tahu ke mana. Bendoro akan marah kalau tahu. Marah pada kami semua, tak bisa urus tamu.”
“Emak?”
“Emak kelihatan begitu bingung. Dia mau kemari, tapi sahaya larang. Mas Nganten baru tidur tadi.”
“Tolong aku panggilkan dia,” bisik Gadis Pantai.
“Biar rapi dulu, Mas Nganten.”
“Tolong panggilkan.” Bujang itu pergi dan sebentar kemudian kembali lagi mengiringkan emak.
Dan ia lihat wajah emak begitu muram. “Mana bapak, mak?”
Emak tak menjawab. Ia menghampir, membantu bujang mendandani dan merias. Celak Arab itu kembali memperbawakan wajahnya. Dan rouge buatan Perancis itu menyalakan wajahnya.
“Lihat di kaca,” bujang menganjurkan.
Gadis Pantai menatap wajahnya. Tiba-tiba ditutupnya wajahnya dengan kedua belah tangannya.
“Mengapa, nak?” emak bertanya waktu dilihatnya Gadis Pantai berpaling dari kaca. “Nak, nak, … nak.”
Dengan tangannya yang kiri Gadis Pantai menuding pada kaca, memekik, “Itu bukan aku, bukan aku. Bukan! Bukan! Iblis.”
Gadis Pantai lupa pada kesulitannya sendiri serenta mengetahui kebingungan emak yang kehilangan bapak. Ke mana lagi? Pulang, kata bujang meyakinkan. Emak juga tahu bapak pulang. Bujang tak perlu menerangkan padanya. Tapi apa bakal jawabnya pada Bendoro kalau dia pulang tanpa minta diri?
Tak pernah Gadis Pantai menyayangi bapak seperti sekarang. Bapak, katanya dalam hati, mungkin sekarang sedang memeriksa layar buat nanti malam atau subuh pergi menantang badai, menantang gelombang, menangkap ikan buat keselamatan seluruh keluarga.
“Biar Mas Nganten yang memohon akan ampun,” bujang mengusulkan.
Emak bertanya pada Gadis Pantai dengan matanya dan Gadis Pantai menjadi ragu sejenak, kemudian mengangguk. Namun hatinya teraduk. Apakan Bendoro lebih berkuasa daripada laut, sampai bapak melarikan diri? Dua abangnya telah tewas ditelan laut, mereka tidak pernah lari. Bapak pun tak pernah lari. Mengapa dia sekarang lari? Ia sendiri pun tak pernah takut pada laut. Mengapa takut pada Bendoro? Mengapa? Bapak lebih kukuh dan kuat dari Bendoro. Bendoro bertubuh tinggi langsing, berwajah pucat, kulitnya terlalu halus, ototnya tak berkembang. Mengapa semua orang takut? Juga diriku?
“Mengapa Mas Nganten melamun? Bapak pasti selamat sampai di rumah.”
Gadis Pantai berhenti membayangkan bapak.
“Dengarkan, sahaya ajari, katakan begini pada Bendoro nanti, “Ampuni sahaya Bendoro …, hafalkan. Lantas Bendoro akan menegur, “Ya, Mas Nganten, ada yang kau inginkan?””
Gadis Pantai menyimak tanpa mengedip.
“Dan Mas Nganten bilang begini, bapak sahaya terpaksa pergi Bendoro. Ampuni sahaya, bapak dan emak sahaya, dia lupa memohon diri. Dan nanti Bendoro akan tertawa senang. Tak apa, tak apa, Bendoro nanti akan bilang. Kemudian…”
“Apa kemudian?”
Bujang itu diam. Menarik Gadis Pantai ke depan cermin. ’ “Lihatlah itu bukan iblis. Bidadari dari surga itu sendiri!”
Pada cermin Gadis Pantai melihat wajahnya sendiri: itu bukan diriku! pekiknya dalam hati. Wajah itu memang bukan wajahnya yang kemarin dulu. Wajah itu seperti boneka, tak ada tanda-tanda kebocahannya lagi yang kemarin dulu. Sari kebocahan telah lenyap dari matanya, dan untuk selama-lamanya, Emaknya pun tak ada melihat nyala pada anaknya lagi. Belum lagi 3 x 24 jam, dan kelincahan dan kegesitan anaknya telah padam
Tiba-tiba Gadis Pantai mendengar tawanya sendiri beriak bergelumbang-gelumbang pada setiap kelucuan. Tapi itu tawa bocahnya dulu. Tawa semacam itu tak terdengar lagi olehnya di gedung Bendoro ini, dan mungkin juga tidak buat selamanya.
“Bendoro mana pun akan hasratkan wanita berwajah ini,” bujang meneruskan. “Lihat,” katanya kemudian pada emak. “Tubuh yang kecil mungil seenteng kapas. Kulit langsat selicin tapak setrika. Cuma tangannya yang harus direndam air asam, biar cepat jadi tipis. Dan mata lindri5 terpancar dari tapuk yang setengah sipit: seperti putri Cina. Siapa tak memuji kecantikan putri Cina? Mas Nganten, nanti malam sahaya akan ceritakan kisah peperangan antara putri Cina melawan Amir Hamzah. Ah, berapa orang saja yang telah kucurkan air mata, dengarkan tangisnya waktu anak panah menembus bahunya, ia menggelesot di tanah, berguling mengucurkan darah, tanpa ada orang datang membantunya.”
Dan ia pun mulai menggumamkan “megatruh” pada saat dikisahkan putri Cina terjatuh dari kuda di medan perang, tapi tiba-tiba, “Ah, mak, mari aku antarkan balik ke kamar dapur lagi. Siapa tahu Bendoro segera tiba?”
Kedua orang itu keluar. Dan Gadis Pantai tertinggal seorang diri, berdiri tanpa semangat di depan kaca.
Cerminnya di kampung sederhana saja. Makin besar cermin, makin terhormat tempat seseorang di lingkungan tetangga-tetangga. Dan setiap cermin dipasang pada tempat yang segera dapat dilihat orang. Setiap tamu yang datang mengagumi cermin pada luas dan tebalnya, terutama juga pada pahatan piguranya. Tapi hanya orang dari luar kampung yang mengagumi pahatan. Seluruh kampung nelayan itu sendiri terlalu terlibat kesibukan, mereka hanya memahat di waktu senggang.
Tapi cermin yang sebuah ini sama sekali tidak pernah menarik hatinya untuk berkaca. Ia tatap wajahnya di situ dengan curiga, dengan prasangka. Di sini semua serba lebih bagus dari di kampungnya. Tidak! Wajah yang lebih bagus di cermin itu bukan wajah yang sering dilihatnya pada cermin di rumahnya sendiri. Cermin di rumahnya memang sederhana tanpa pigura, tapi ia sudah mengenalnya, ia sudah yakin pada kejujurannya. Dengan cermin di rumahnya ia juga bisa membersihkan mukanya dari tahi mata, dan menyeka pipi dari jelaga dapur. Tapi di sini celak Arab berwarna jelaga justru dipulaskan pada sekitar matanya. Orang-orang bilang, kulit mukanya halus, rata, dan langsat. Ia suka menyekanya bila berkeringat. Tapi di sini selapisan rouge menutupnya, hilang langsat timbul warna jambu. Sedang satu garis tipis hitam berenang di tengah-tengah alisnya yang lebar, seperti tulang punggung ikan lajur. Bahkan bertemu wajahnya sendiri, di sini tidak diperkenankan!
Ia pandangi kalung, gelang, cincin — semua emas bertatahkan permata. Uh, betapa bencinya, seluruh kampung nelayan pada pak Kintang, yang mengukur segala-galanya dari mutu dan berat emas. Dan waktu orang tertua di kampung meninggal, ia sama sekali tak menyumbang sesuatu pun! Emas bagi kampungnya selalu bergandengan dengan kepalsuan.
Gadis Pantai tertegun, Ah-ya, siapa pula yang bicara tentang emas dulu? Ia mulai mengingat-ingat. Akhirnya kenangannya mengangkat sebuah wajah kurus cekung-cekung dengan bibir selalu senyum, orang dari kota — datang ke kampung buat meminjam uang dan mengutangkan emas-emasan. Ya-ya, orang itu datang ke rumah. Bapak sedang di laut. Dan emak menyilakannya duduk di bale. Emas, mBok, belilah. Tidak kontan, mencicil juga boleh. Ayoh, mulai kumpulkan emas. Kan punya anak perawan? Dengan emas bisa didapat segala-galanya. mBok dengar? Segala-galanya!
Waktu itu Gadis Pantai duduk pada kaki emak. Dan ia lihat kakek tertua kampung masuk tertatih-tatih ke dalam bertunjangan tongkat. Ia tertawa terkekeh-kekeh. Aku dengar, katanya, dan ditunjuknya orang kota itu dengan tongkatnya. En1as? heh-heh-heh, itu dia yang bikin perahu-perahu kita pada tidak punya layar, pada bolong dan karam di tepian. Perahu! Perahu yang perlu! Jangan dengarkan dia. Perahu datangkan segala-galanya. Emas habiskan segala-galanya. Dan dengan tongkatnya juga ia usir orang dari kota itu dari rumah. Waktu orang kota berwajah kurus cekung-cekung itu sampai di bendul pintu, kakek menuding emak dengan tongkatnya: kalau kau dengarkan dia kau celakakan lakimu. Ngerti? Ingat-ingat, barang siapa lebih banyak bicara tentang emas, itulah iblis keparat. Jauhi dia. Kampung ini harus selamat …
Dan sekarang di hadapannya, di atas meja, tergeletak benda-benda emas bertatahkan permata, gemerlapan kena cahaya lampu. Ia pandangi dan pandangi. Terkejut. Sepantun suara berdesis pada kupingnya benar, “Betapa semua orang mengimpikannya.” Itulah suara bujang wanita.
“mBok bikin aku kaget saja.”
“Mas Nganten suka perhiasan, bukan?” Gadis Pantai tak pernah punya perhiasan sebelumnya. Ia suka pada keindahannya. “Halus buatannya,” bujang meneruskan, “buatan Solo khusus dipesan buat Mas Nganten.”
“mBok suka? Ambillah.”
Mata bujang itu berkilau-kilau. Kedua belah tangannya legang tergenggam di depan mulut, dan dengan suara gemetar berkata, “Siapa tidak mau? Jangan berkata begitu. Jangan. Sahaya takut, Mas Nganten.”
“Apa yang ditakutkan dengan emas ini?”
“Sahaya takut, benar-benar takut, Mas Nganten. Takut khilaf.” Dan dengan suara masih juga gemetar ia meneruskan, “Sahaya adalah sahaya. Kalau tidak ada sahaya, mana bisa ada Bendoro? Takdir Allah Mas Nganten. Kakek sahaya memang bukan sahaya tadinya. Anak-anaknya tak ada yang bisa seperti itu. Dan sahaya ini. Inilah sahaya yang ditakdirkan melayani Bendoro, melayani Mas Nganten.”
“Ambillah kalau suka.”
“Emak dan bapak Mas Nganten sendiri takkan berani menerimanya.”
Kembali Gadis Pantai tertegun. Lambat-lambat dengan pikiran yang tertindas beban, ia mulai mengerti: Di sini semua takut terkecuali Bendoro. Mengapa semua takut padanya? Juga diriku sendiri? Dia tidaklah nampak garang, tidak ganas, malahan halus dan sopan.
“Adik sahaya,” bujang itu meneruskan dengan suara mulai kehilangan getarannya, “ingin punya sebaris telenan-mas6 buat penitinya. Cantik bukan main dia berangkat ke Lasem mencoba peruntungan memikat hartawan Tionghoa. Pagar-depannya terbuat dari deretan tombak besi. Gedungnya tinggi, gentingnya berkilat-kilat biru, bubungannya melengkung terhias patung barongsai.”
“Besar mana dengan gedung ini?”
“Besar sana.”
“Bagus mana dengan gedung ini?”
“Bagus sana.”
“Dia?”
“Dia masuk ke gedung itu, dan tak muncul lagi buat selamanya.”
“Dia dapat sebaris telenan-mas itu buat penitinya?”
“Siapa tahu. Dia tidak muncul lagi. Dua puluh tahun telah lewat.”
Gadis Pantai jadi ketakutan. Digenggamnya tangan bujang, “Apa aku bakal muncul lagi dari sini? Ah-ah, ambillah emas ini.”
3. telenan-mas, uang logam emas yang disebut gouden tienije (Belanda) bernilai sepuluh gulden.
Bujang itu menarik meja hias, mengeluarkan anak kunci menyerahkannya pada Gadis Pantai, berkata: “Tiga bulan lagi Mas Nganten bisa muncul sesuka hati, asal dengan izin Bendoro. Masukkan perhiasan itu dalam lemari, Mas Nganten. Sahaya tidak berani.”
“Mengapa orang pada suka emas?”
“Karena, ya, karena. Yah, apa mesti sahaya katakan? Karena dengan emas … karena … ya, supaya dia tidak kelihatan seorang sahaya, supaya tidak sama dengan orang kebanyakan ”
“Apa itu orang kebanyakan?”
“Aah, Mas Nganten ada-ada saja tanyanya. Orang kebanyakan, ya, sahaya inilah.”
“Mengapa mBok sebetulnya?”
“Ya, orang kebanyakan seperti sahaya inilah, bekerja berat tapi makan pun hampir tidak.”
“Mengapa mBok tak ambil saja, biar mBok tak jadi orang kebanyakan? Tak perlu kerja berat, dan dapat makan banyak? Mbok boleh jual, boleh mengenakannya.”
“Aah, Mas Nganten, Mas Nganten, itu gunanya ada Bendoro…”
Bujang wanita itu nampak mulai besar hati melihat Mas Ngantennya mulai jadi ramah padanya. Tapi hal itu tak berlangsung lama. Kedua orang wanita itu terdiam ketika suara panggilan yang mereka kenal baik:
“Mardi.” Serta jawabnya, yang juga mereka kenal baik:
“Sahaya, Bendoro.”
Tapi sekali ini perintah yang dijatuhkan lain. Terdengar, “Bendi! Suruh sediakan bendi! Di dalam satu jam mesti sudah sedia.”
“Sahaya, Bendoro.”
Terdengar kemudian hiruk-pikuk di jurusan pagar di belakang rumah. Baru waktu itu Gadis Pantai menyadari di rumah itu lebih banyak orang tinggal daripada yang pernah diketahuinya.
“Siapa saja mereka?”
“Kemenakan-kemenakan yang pada dititipkan.”
“Apa kerja mereka di sini?”
“Mengabdi, kalau siang belajar.”
“Di mana saja mereka selama ini?”
“Di surau.”
“Surau?”
“Ya, di samping kiri kan ada surau. Di sana mereka belajar, juga mengaji.”
“Aku tak pernah dengar.”
“Guru ngaji sudah diusir. Malas. Dan tamak juga.”
“Dia mengajar malas dan tamak?”
“Barangkali itu kepandaiannya, mungkin sekali. Ma’af, Mas Nganten, aku tak tahu benar. Tapi mari sahaya rapikan riasannya.”
Kembali Gadis Pantai menyadari keadaannya. Dan ia meriut kecut. Tapi ia diam saja waktu bujang menyisirinya kembali serta memasangkan sanggul yang telah dipertebal dengan cemara, serta menyuntingkan bunga cempaka di sela-sela. “Di kampung orang tak berhias bunga pada sanggulnya,” Gadis Pantai memprotes.
“Di kota, Mas Nganten, barang siapa sudah bersuami, sanggulnya sebaiknya dihias kembang.”
Sekali lagi Gadis Pantai menyadari keadaan dirinya: istri seorang pembesar.
“Aku lebih suka di kampungku sana.” Ia mulai protes lagi. “Siapa yang tak lebih suka tinggal di kampungnya sendiri?”
“Mengapa mBok tak balik?”
“Bagi orang sudah tua seperti sahaya ini, siapa yang beri makan di sana? Semua pada hidup susah.”
“Apa yang disusahkan sebenarnya?”
“Ah, Mas Nganten, Mas Nganten, bocah kecil, kecil juga susahnya. Bocah gede, gede juga susahnya. Orang tua semacam sahaya ini semuanya serba susah, Mas Nganten.”
“mBok dipukuli di kampung?”
“Dipukuli? Dipukuli benar memang tidak Tapi ada saja dan siapa saja boleh pukuli orang-orang kebanyakan seperti sahaya ini,” kata bujang wanita sambil membetulkan wiron kain.
“Mardi,” kembali terdengar teriakan Bendoro.
“Sahaya Bendoro.”
“Sudah siap?”
“Bendoro terburu-buru rupanya,” bisik bujang, “mungkin ada pembesar kawin.”
“Dengan keris?”
“Ah, hanya orang kebanyakan dikawini dengan keris,” tiba-tiba bujang itu terkejut sendiri. “Tidak, kalau pengantin pria berhalangan, juga boleh diwakili dengan keris.”
“Mengapa orang mesti kawin mBok?”
Bujang itu tertawa, dan kepalanya digeleng-gelengkan, “Ah, Mas Nganten ini. Bagi orang kebanyakan seperti sahaya ini, kita kawin supaya semakin menjadi susah. Tentu beda dengan para priyayi besar, mereka kawin supaya jadi senang.”
“Mengapa kawin juga kalau jadi semakin susah.”
“Ya, itulah, itulah, ya, itu gunanya ada takdir, Mas Nganten.” . Ia diam sebentar, kemudian meneruskan, “Kakekku dulu bilang, bapaknya digantung waktu tuan besar Guntur membuat jalan pos yang panjang itu,” tangannya menuding ke arah laut, “Kakek lantas lari.”
“Kenapa digantung?”
“Dia mandor, Mas Nganten, dapat perintah bikin jalan seminggu mesti jadi. Seminggu kemudian datang pemeriksaan. lalan belum jadi. Rawa-rawa membuat orang kebanyakan sakit, pada demam. Mereka semua digantung.”
“Ha?”
“Ya, begitulah takdir bagi orang kebanyakan. Kakek sahaya lari lantas ikut huru-hara di sini. Waktu Pangeran Diponegoro7 kalah perang — kakek lari lagi bersama seorang priyayi yang juga ikut huru-hara. Waktu priyayi itu menyerah, kakek juga ikut. Waktu priyayi diangkat jadi pembesar, kakek diangkat menjadi sahayanya, tidak lebih dari sahayanya, seperti sahaya sekarang ini. Setiap kali patroli, kakek sahaya ikut. Pada suatu malam pergi patroli, priyayi itu tewas dibunuh orang-orang jahat. Kakek pulang sendiri, dipukuli dimasukkan ke penjara. Lima tahun lamanya. Waktu keluar hilang pekerjaannya sebagai sahaya. Dia bertani di selatan kota. Dan semua anaknya jadi petani, tak ada yang bisa jadi sahaya.” Sewaktu bujang lihat Gadis Pantai menunduk menghindari pandangnya, ia meneruskan, “Mas Nganten beruntung, patut bersyukur pada Allah. Tidak semua wanita bisa tinggal dalam gedung semacam ini bukan sebagai sahaya,”
“Aku lebih suka kampungku sendiri.”
“Tidak benar.”
“Di sana tidak ada ketakutan…”
Bunyi langkah selop berat terdengar kian mendekat menghampiri kamar, Gadis Pantai mencekam lengan bujang, dan bujang membisikinya, “Senyumlah, Mas Nganten mesti sudah belajar. Sambutlah Bendoro di belakang pintu,” dan dipapahnya Gadis Pantai menuju pintu.
Tepat pada waktu itu Bendoro memanggil-manggil, “Sahaya, Bendoro,” sambut Gadis Pantai di dekat pintu.
“Hari ini aku tak pulang,” dan tanpa menjenguk ke dalam kamar terdengar selop-beratnya menjauh.
Malam itu Gadis Pantai minta pada bujang untuk tidur de-’ ngan emak. Tapi bujang tak meluluskan.
“Biarlah emak kawani aku di sini, kalau aku tak boleh tidur di kamar dapur.”
“Itu tidak layak bagi wanita utama.”
“Dia emakku, emakku sendiri, mBok.”
“Begitulah Mas Nganten, biar emak sendiri, kalau emaknya orang kebanyakan, dia tetap seorang sahayanya.”
“Tidak, tidak, akulah sahaya emakku. Di kampungku aku lakukan segala perintahnya, aku akan teruskan lakukan perintahnya.”
“Itulah salahnya, Mas Nganten, adat priyayi tinggi lain lagi. Dan di sini ini kota, bukan kampung di tepi pantai.”
“Ah, lantas apa aku mesti kerjakan di sini?”
“Cuma dua, Mas Nganten, tidak banyak: mengabdi pada Bendoro dan memerintah para sahaya dan semua orang yang ada di sini.”
“Apa, aku mesti kerjakan buat Bendoro?”
“Apa? Lakukan segala perintahnya, turutkan segala kehendaknya.”
“Aku tidak bisa, aku tidak mengerti.”
“Dengan sendirinya saja nanti bisa, dengan sendirinya juga ngerti nanti.”
“AH,”
“Gampang sekali.”
“Apa aku perintahkan pada mereka selebihnya?”
“Segala yang Mas Nganten kehendakkan.”
“Cuma satu yang aku kehendakkan.”
“Cuma satu? Sederhana betul.”
“Sama emak pulang ke kampung.”
“Cuma itu yang tidak mungkin.”
“Cuma satu itu kehendakku.”
“Dengarlah sahaya punya cerita,” ujang itu membujuk sambil menggelar tikar ketidurannya di samping ranjang. “Cuma satu yang dikehendaki Allah, Mas Nganten, yaitu supaya orang ini baik. Buat itu ada agama. Buat itu orang-orang berkiblat kepada-Nya. Tapi nyatanya, kehendak Allah yang satu itu saja tidak seluruhnya terpenuhi. Di dunia ini terlalu banyak orang jahat.”
“Oh! Lantas aku ini apa termasuk orang jahat yang tak dikehendaki Allah?”
“Ah-ah, siapa tahu hati orang? Iblis sendiri pun tak tahu. Si orang itu sendiri pun tak tahu. Kalau bisa diketahui, mungkin dia tidak ditakdirkan hidup di atas bumi ini, Mas Nganten. Sudah, sudah — tidurlah.”
“Dongengi aku.”
Dan dengan demikian bujang itu setapak mulai berhasil menyabarkan keliaran Gadis Pantai dan menertibkannya sebagai wanita utama. Buat ke sekian kali ia mendongeng. Lebih dari empat wanita telah ia dongengi dengan dongeng-dongeng yang itu-itu juga. Dan diulangnya setiap datang wanita utama baru, tentang pangeran-pangeran yang tergila-gila pada gadis kampung. Tentang gadis kampung yang masuk ke dalam gedung. Tentang kehidupan yang mewah penuh sahaya. Tentang putra yang dilahirkan. Tentang Allah dengan segala kemurahanNya dan kepelitan-Nya bagi orang-orang yang jahat. Tentang tuan besar Guntur dengan tiang gantungannya. Tentang kuburan-kuburan besar sepanjang pantai. Tentang pemberontakan Diponegoro. Dan tentang rumah tangga pembesar-pembesar kota. Tentang perayaan perkawinan Raden Ajeng Kartini beberapa tahun yang lalu, dan tentang upacara pemakamannya juga beberapa tahun yang lalu.
Dan bila dongengnya telah selesai, ia bangun melihat ke atas ranjang. Dan dilihatnya Gadis Pantai telah tertidur senang di atas kasurnya yang empuk. Ia pun mengucap kepada Allah, karena telah terbebas dari tugas hari itu dengan hasil yang bisa menyenangkan Bendoro.
Ternyata seminggu lamanya Bendoro tak pulang. Gadis Pantai merasa senang selama itu. Dan bujang wanita juga merasa senang, karena pada kesempatan-kesempatan ini — pada saat-saat Bendoro tak hadir beberapa hari — apa yang dilakukannya selama ini atas sekian banyak wanita utamanya selalu berhasil, ia dapat melunakkan hati para wanita utama itu. Seminggu cukup panjang untuk membuat para wanita utama yang berganti-ganti itu ditertibkan melewati persahabatannya.
Dan pada suatu sore, datang seorang guru mengaji mengajar Gadis Pantai membaca huruf-huruf suci, yang tercetak di atas kertas suci. Beberapa kali saja ia sudah ulangi kata-kata, suku-suku yang ia tak tahu makna dan tujuannya. Juga di malam hari waktu bujang wanita sudah terbaring di bawah samping ranjangnya, sedang dengung nyamuk di luar kelambu begitu bisingnya. Ia miringkan badan memunggungi dinding, meninjau ke bawah dilihatnya bujangnya sedang melamun dengan mata terbuka lebar meninjau langit-langit.
“mBok kan pernah kawin, mBok?”
mBok terkejut dan buru-buru duduk. “Pernah, Mas Nganten. Dua kali.”
“Tidak punya anak?”
“Mestinya punya, Mas Nganten.”
“Mati laki mBok?”
“Ya, Mas Nganten. Begitulah cerita orang kebanyakan seperti sahaya ini. Sahaya kawin, dan karena sudah kawin lantas dianggap dewasa oleh lurah. Lantas sahaya dikirim ke Jepara sana buat kerja rodi, tanam coklat. Suami sahaya ikut. Empat bulan lamanya, Mas Nganten. Anak sahaya gugur sebelum dapat menghirup udara, Mas Nganten. Perut sahaya disepak mandor. Ya, apa mau dikata. Waktu itu kepala sahaya pening, duduk berteduh di bawah pohon. Dia datang, dia — mandor. Tiba-tiba datang seorang pembesar Belanda dengan beberapa orang kompeni8. Mandor menarik-narik tangan sahaya supaya kerja lagi. Tapi sahaya sudah lemas. Dia sepak perut sahaya. Pemandangan sahaya berputar-putar. Tapi masih sahaya dengar laki sahaya datang berlari-larian, memekik seperti orang gila. Lantas sahaya tak sadarkan diri.”
“Ah. Keterlaluan.”
“Ya, begitulah orang-orang kebanyakan ini, Mas Nganten.”
“Di kampungku tak pernah terjadi semacam itu ”
“Memang, Mas Nganten. Laki sahaya tadinya mengajak sahaya lari. Tinggal saja di kampung nelayan katanya. Kita bisa lari ke pulau-pulau kecil. Tapi sahaya bilang itu belum tentu lebih buat anak kita. Tapi nyatanya itulah yang terjadi. Ya-ya, Mas Nganten, Bapak Mas Nganten punya perahu sendiri?”
“Punya, mBok.”
“Itu memang cita-cita laki sahaya dulu. Punya perahu mestinya bisa lari ke salah satu pulau. Mas Nganten beberapa kali pernah dibawa naik perahu bapak?”
Gadis Pantai berpikir, pelan menjawab, “Tiga kali, lebih tiga kali.”
“Itu artinya, tiga kali pernah lari ke pulau, ingat?”
“Ya, aku pernah ingat tinggal di pulau kecil. Kalau pagi pesisirnya tertaburi ubur-ubur. Aku belah perutnya. Kukeluarkan ikan-ikan tanggung dari dalamnya. Aku bakar. Tapi bapak tak pernah bilang lari.”
“Apalah perlunya dibilang-bilang? Itu dialami semua orang dari kalangan kebanyakan, Mas Nganten.”
“Lantas bagaimana, laki mBok?”
“Tidak tahulah. Waktu sahaya bangun, sahaya sudah bermandi darah. Darah sahaya sendiri. Darah bayi sahaya. Darah laki sahaya. Darah mandor.”
“Begitu banyak darah?”
“Begitulah orang pada cerita. Sahaya sendiri tidak tahu, Mas Nganten. Orang saja yang bilang: Laki sahaya jadi mata gelap, mandor dibelah pada perutnya. Dia dodet perut itu. Dan dia merubuh-rubuhi saja semua orang yang mau membantu mandor. Kompeni-kompeni yang ada di situ lantas menyergapnya. Dengan parangnya dia amuk mereka. Waktu mereka mengepungnya, dan waktu dia tidak bisa mendekat buat menikam lagi, lantas dia lemparkan parangnya pada seorang kompeni. Kena tapi tidak mati. Ah, laki sahaya sudah begitu kurus kehabisan tenaga, Mas Nganten. Tinggal kulit sama tulang. Dagingnya sudah habis. Kulitnya pun penuh kudis dan baluran cambuk.”
“mBok lihat laki mBok?”
“Tidak Mas Nganten. Waktu sahaya bangun sudah tidak ada apa-apa. Yang ada hanya tiga orang kawan wanita sahaya. Mereka coba menolong sahaya, tapi tak bisa, jadi cuma duduk menunggu. Waktu itu sudah agak gelap, lantas datang gerobak. Beberapa orang turun dari atasnya. Ketiga-tiganya kawan sahaya ditendangi disuruh pergi. Dan sahaya sendiri? Setiap orang pegang sahaya pada kaki kanan-kiri, juga tangan kanan kiri. Jadi sahaya masih ingat empat orang yang datang itu. Mereka bilang satu, dua, tiga dan dilemparkan sahaya ke udara kemudian jatuh di atas geladak gerobak. Sahaya tak ingat diri lagi.”
Waktu bujang itu berhenti bercerita ternyata Gadis Pantai telah tersedan-sedan dalam tangisnya.
“Mengapa, Mas Nganten? Ada apa?”
Gadis Pantai tak mampu menjawab.
“Mengapa?”
“Kan boleh?”
“Mengapa, Mas Nganten?”
“Menangis buat mBok?”
Secepat kilat bujang wanita itu berdiri, membuka kelambu dan memeluk serta menciumi kaki Gadis Pantai. “Ah-ah, Mas Nganten. Kenang-kenangan ini jahat. Di luar gedung. Mas Nganten, yang ada cuma keganasan, keganasan atas kepala kami, orang-orang kebanyakan.”
“Ke mana dibawa dengan gerobak itu?”
“Ke mana lagi perginya orang kebanyakan, Mas Nganten? Ke penjara.”
“mBok menderita di sana, mBok?”
“Tiga bulan sahaya tidak bangun, Mas Nganten. Masih juga kaki sahaya dirantai. Waktu rantai dilepas, sahaya dibawa — entah ke mana. Sahaya ditelentangkan di lantai dingin, Mas Nganten, dan tiga orang Bendoro menanyai sahaya berganti-ganti. Seorang Belanda melihat pada sahaya, Mas Nganten. Dia tidak tanya apa-apa. Cuma bilang: anjing.”
“Kata orang, biar laut kasih kita makan, dia kejam bukan buatan.”
“Ya, dia kejam, tapi tidak menyiksa, Mas Nganten.”
“Betul, dia tidak menyiksa. Kata bapak dia cuma menagih utang yang mesti dibayar. Lain tidak. Benar! Bapak tak pernah bilang menyiksa.” Dan Gadis Pantai bangun. “Mengapa mBok tidur di bawah? Mengapa tak mau di sampingku sini?”
“Sahaya, adalah sahaya. Dosa pada Bendoro, pada Allah, seperti sahaya begini menempatkan diri lebih tinggi dari lutut Bendoronya.”
“mBok, aku tak pernah dilayani sebelum kemari.”
“Sahaya, Mas Nganten.”
“Aku tak tahu apa mesti aku perbuat.”
“Sahaya, Mas Nganten.”
“Ah, mengapa aku mesti bicara tentang diriku sendiri? mBok lebih menderita begitu. Bagaimana mBok keluar dari penjara?”
“Ya, begitulah Mas Nganten. Pada suatu pagi orang mengusir sahaya keluar dari penjara.”
“Jadi?”
“Sahaya jalan kaki tak tahu tujuan. Sahaya tak tahu di mana, di kota mana waktu itu. Kembali ke kampung sahaya tidak berani, takut kena rodi lagi. Sahaya tinggal beberapa malam di bawah beringin-kurung di alun-alun. Yadi situ.” Bujang wanita itu menunjuk ke arah pantai, “kalau pagi sembunyi di pasar.” Ia menuding ke arah selatan kota. “Di kota ini juga rupanya sahaya dipenjarakan. Sahaya bertemu dengan seorang lelaki dan kawin. Orang itu tukang bendi Bendoro. Lima tahun sahaya kawin dan tinggal di sini, tapi tak pernah punya anak. Sampai pada suatu sore laki sahaya jatuh dari pohon kelapa, mati.”
“Lantas, tinggal terus di sini?”
“Sahaya, Mas Nganten. Sahaya suka pada bocah. Entah sudah berapa bocah saja saya besarkan Sudah lima belas tahun lebih sahaya tinggal di sini.”
Kedua orang wanita itu terdiam. Dan ombak laut berdeburan riuh. Sedang angin bersuling-suling tiada henti-hentinya, membuat Gadis Pantai teringat pada bapak. Tiba-tiba ia bertanya sendiri, “Siapa yang masak buat bapak sekarang?”
Bujang itu diam saja. Gadis Pantai berbicara sendiri, “Mestinya aku. Sekarang bapak tinggal seorang diri. Emak ada di sini.”
“Jangan pikirkan orang lelaki, Mas Nganten, biarpun bapak sendiri. Lelaki tahu bawa diri, biarpun di neraka.”
“Dia, bapakku mBok.”
“Sekarang Mas Nganten seorang wanita utama, tinggal di gedung sebesar ini. Tak ada orang berani ganggu bapak, sekalipun bapak tinggal di kampung nelayan di tepi pantai. Bendoro-bendoro priyayi tak berani ganggu, kompeni juga tak berani ranggu. Bapak tak perlu lagi lari dengan perahu, tinggal di pulau-pulau karang anak-beranak. Tidak. Bapak sekarang jadi orang terpandang di kampung. Setiap orang bakal dengar katanya. Senang-senangkan hati Mas Nganten.”
“Bagaimana bisa tahu semua itu, mBok?”
“Sahaya banyak tahu, Mas Nganten. Terlalu banyak. Bendoro sendiri kadang-kadang tanya pada sahaya.”
“mBok sayang padaku, mBok?”
“Bukan sayang lagi, Mas Nganten.”
“Ambillah gelang itu! Atau kalung.”
“Jangan ulangi lagi, Mas Nganten. Kalau sahaya diusir dari sini, ke mana lagi sahaya mesti pergi? Dunia memang luas, Mas Nganten, tapi mau ke mana? Susah.”
“Aku juga sayang mBok. Katakanlah padaku kalau aku keliru.”
“Tidak ada yang keliru, Mas Nganten, selama hati Bendoro tak dikecewakan.” Terdengar ia membalik bantal dan menepuk-nepuknya. “Kalau kita salah pada Bendoro, di mana pun kita bakal dapat kesusahan, Mas Nganten mengerti?”
Gadis Pantai telah tertidur.
Waktu Bendoro telah pulang, berhari, berminggu, bujang tak lagi masuk ke dalam kamar Gadis Pantai.
Emak telah pulang ke kampung dengan bekal sekarung beras, beberapa puluh rupiah, beberapa pasang pesalin bekas Bendoro buat bapak, satu kilo asam Jawa dan beberapa kaleng bumbu-bumbuan.
Beberapa menit sebelum berangkat, Gadis Pantai baru dapat menemui emaknya di kamarnya sendiri. Ia tawarkan emas-emasan pada emak. Tetapi emak pura-pura tak dengar selalu, dan kemudian langsung bicara tentang bapak yang sudah pulang lebih dulu ke kampung, tentang jala baru yang harus di buat, karena yang ada sudah terlalu tua, tentang kain layar yang sedang turun harga, tentang damar yang tiba-tiba meningkat harganya, sehingga sudah agak lama juga bapak segan menambal bocoran-bocoran pada lambung perahunya.
“Ada pesan yang harus kusampaikan pada bapakmu?”
“Ada, mak, tentu ada. Sampaikan permintaan ampunku buat kesekian kalinya.”
“Kau sudah suka tinggal di sini?”
“Bapak dan emak yang menghendaki aku tinggal di sini. Aku lebih suka di kampung kita.”
“Setiap perempuan mesti ikut lakinya. Emak sendiri juga begitu,” emak menghiburnya. “Biar di pondok buruk, biar dia tak senang, dia harus belajar menyenangkan lakinya.”
Gadis Pantai menyerahkan padanya dua lembar kain panjang. Dan emak menerimanya tanpa mengatakan sesuatu.
“Aku pergi sekarang.”
“Maaak!”
“Jangan panggil begitu lagi, kau bukan bocah lagi.”
“Ya, mak.”
“Sekarang kamu mesti belajar menangis buat dirimu sendi- 11. Tak perlu orang lain lihat atau dengarkan. Kau mesti belajar menyukakan hati semua orang.”
Gadis Pantai memunggungi emaknya, dan menghindari per- ‘i ke depan cermin. Waktu dilihat bayangan tubuh, dan wajahnya, mencoba melihat air mukanya, segera ia punggungi cermin dan merubuhkan diri di kasur.
Seakan belum cukup siksaan dalam dua-tiga minggu ini, pekik Gadis Pantai dalam hatinya. Tapi di sini ia tak punya hak apa-apa, memekik melepaskan duka pun tidak. Dalam beberapa minggu ini setapak demi setapak ia dipimpin untuk mengerli, bahwa satu-satunya yang ia boleh dan harus kerjakan ialah mengabdi pada Bendoro, dan Bendoro itu tak lain dari suaminya sendiri. Di kampung ia memberikan jasa pada kedua orang- Inanya, saudara-saudaranya, dan kepada seluruh penduduk kampung. Ada ia rasai sekarang hidupnya dimasukkan ke dalam kerucut yang makin dalam dimasukinya makin jadi sempit seperti memasuki corong minyak, terus ke bawah, tapi dasar itu tak pernah tersentuh.
Sebuah tangan membelai pipinya, dan ia tidak angkat mukanya. Beberapa saat kemudian, waktu ia dapat atasi perasaannya dan mencoba bicara lagi dengan emak, orangnya sudah tak da. Yang ada hanyalah bujang wanita yang mengawasinya dengan diam-diam dari dekat pintu.
“Emak sudah pergi, Mas Nganten. Mardi yang panggilkan dokar.”
Mengapa tidak diantarkan dengan bendi Bendoro? Tiba-tiba 1 mengerjap tanya dalam pikirannya, tapi ia tidak bicara.
Pagi yang cerah waktu itu. Deburan laut terdengar kian lama kian menjauh sedang angin darat mulai meriuh tanpa kendali
“Apa harus kuperbuat sekarang?” Gadis Pantai bertanya.
“Tambah mulia seseorang, Mas Nganten, tambah tak perlu ia kerja. Hanya orang kebanyakan yang kerja.”
“Lama, lama sekali rasanya aku tak kerja. Badanku sakit semua. Boleh aku bantu menumbuk tepung?”
“Menumbuk tepung? Ribuan orang bisa kerjakan itu. Mengapa mesti Mas Nganten sendiri? Tiga benggol sehari, Mas Nganten, kita sudah kewalahan menolak orang.”
“Jadi apa mesti aku kerjakan?”
“Benar-benar mau kerja?”
“Tak mungkin mBok, tak mungkin aku terus berkurung begini.”
“Sebelum tiga bulan, sebenarnya Mas Nganten tidak boleh berbuat apa-apa. Nanti sahaya menghadap Bendoro. Mas Nganten mau kerja apa?”
“Tak tahulah aku,” kata Gadis Pantai, tapi dalam pikirannya terbayang emak yang kini terpaksa menumbuk jagung sendirian. Dan kalau bapak tidak pergi ke laut, dan jam tujuh pagi mulai tidur, ia harus gantungkan sendiri jala pada tiang jemuran dari balok berat yang tinggi itu. Ia harus tarik sendiri talinya, ia harus bikin katrol itu berputar. Tak ada yang bantu menaikkan jala dengan cabang kayu. Sekarang emak harus tumbuk sendiri udang kering buat dapatkan uang beberapa benggol dari orang Tionghoa dari kota itu. “Apa sesungguhnya dikerjakan di sini?”
“Semua, Mas Nganten, untuk mengabdi pada Bendoro.”
Kerja mengabdi! Kerja mengabdi! Gadis Pantai masih juga kurang memahami.
Gadis Pantai mulai membatik, seorang guru batik didatangkan. Di pagi hari, tangannya yang telah diperhalus oleh keadaan tanpa-kerja, mulai memainkan pensil membuat pola. Seminggu sekali datang guru yang mengajarinya memasak kue. Dan setiap tiga hari sekali, datang guru lain yang menyampaikan padanya kisah-kisah agama dari negeri Padang Pasir nan jauh.
Lambat laun ingatannya pada emak, bapak dan saudara-saudaranya jadi memudar. Dan bila ia terkenang pada mereka, pada kampung-halamannya, diajaknya bujang wanita itu bicara tentang cerita-cerita nelayan yang dikenalnya.
Gadis Pantai mulai terbiasa pada kehidupan yang diperlengkap alat-alat begitu banyak dan menggampangkan kerja. Ia mulai terbiasa dengar suara pemuda-pemuda yang bicara dalam bahasa Belanda setelah meninggalkan surau di sebelah kiri rumah utama. Suara-suara mereka yang menerobosi dinding kamarnya memberitakan pada banyak hal yang tak pernah diketahui sebelumnya. Salah seorang kerabat baru saja pulang dari negeri Belanda, tidak membawa ijasah, tapi seorang noni Belanda, sebuah kapal perang sedang berlabuh kira-kira 7 km dari pantai, tebing pantai di utara Lasem gugur, dan banjir besar terjadi: tiga buah perahu bajak telah mendarat di sebuah dusun dekat kampung halamannya, membinasakan lebih sepersepuluh penduduknya dan mengangkuti seluruh emas, perak dan barang berharga, beberapa orang pemuda kampung telah masuk kompeni buat berperang di seberang.
“Kalau Mas Nganten meninjau kampung, Mas Nganten benar-benar sudah jadi putri bangsawan.”
Kemudian Gadis Pantai pun belajar menyulam, merenda, menjahit. Kecerdasan dan ketrampilannya menyukakan semua gurunya.
Beberapa kali ia turun ke dapur, tapi kini tidak lagi. Bebeapa pasang mata para bujang di situ menatapnya begitu tak menyenangkan.
“Jangan lagi ke dapur, Mas Nganten. Mereka hanya bujang yang tak suka pada keadaannya sendiri. Semestinya mereka tinggal di gubuknya sendiri. Orang-orang tak tahu diuntung.”
Bendoro belum juga kunjungi kamarnya.
“Bendoro sibuk sekali, Mas Nganten. Bendoro Bupati bakalnya kawin lagi dengan putri kraton Solo. Kasihan mendiang Den-ajeng Tini. Begitu berani. Siapa lebih berani dari beliau? Menghadapi Belanda mana saja tidak takut. Pembesar-pembesar sendiri pada hormat.”
Juga Gadis Pantai sekarang tahu siapa Den-ajeng Tini. Kartini yang beberapa tahun yang lalu dalam bendi agung memasuki perbatasan kota, dan semua penduduk disuruh lurah menyambutnya sepanjang jalan, dengan bendera tiga warna kertas berkibaran di tangan coklat hitam mereka. Sekarang ia mengerti cerita bapak yang pulang dari kota beberapa tahun yang lalu, mengapa dia dan beberapa orang kawannya mesti pergi ke kota, ke alun-alun, ke kabupaten, buat menyatakan hormat pada pengantin dari Jepara itu. Itulah Den-ajeng Tini? Betapa singkat usia, tapi betapa dihormati. Ia tak suka perkawinan agung itu. Ia tak tahu apa terjadi waktu itu. Dan bila bujang itu bercerita tentang putranya Bendoro, timbul hasrat hendak menggendong dan menyayanginya. Sedang putra-putri wanita utama sebelum dirinya, dengan sengaja seakan disingkirkan darinya. Hampir-hampir ia tak pernah bertemu dengan Agus Rahmat, biar pun saban sore didengarnya ia berbicara dalam bahasa asing dengan gurunya di ruang belakang.
Hari-hari lewat cepat, dan Gadis Pantai mengisi dirinya dengan berbagai kecakapan baru. Kulitnya yang tak lagi terpanggang panas matahari jadi langsat kemerahan, dan wajah bocahnya telah lenyap digantikan oleh pandang orang dewasa.
Bulan demi bulan lewat. Dan Bendoro hampir tak pernah ditemuinya. Tak pernah memasuki kamarnya.
Perkawinan Bendoro Bupati semakin menghampir. Dan Bendoro semakin jarang di rumah. Kota mulai dihias. Putri dari kraton Solo harus disambut lebih hebat dari putri dari kabupaten Jepara.
Gapura-gapura kabupaten dan pinggiran-pinggiran kota mulai dipajang daun kelapa muda serta batang-batang pisang. Jangkar keramat di pinggir pantai mulai diganti pagarnya.
Setengah tahun lewat, beberapa minggu setelah Gadis Pantai memasuki gedung ini, kota itu jadi semarak bermandikan cahaya, berhiaskan penonton dari seluruh penjuru. Bujang wanita itu memimpin Gadis Pantai meninggalkan kamarnya, meninggalkan pelataran tengah, memasuki paviliun di samping kanan, naik ke loteng menyaksikan keramaian di alun-alun. Ia ingin bergabung dengan orang-orang itu yang telah terbiasa dengannya sejak jabang bayi, tapi kini tidak mungkin. Kini ia lebih tinggi daripada mereka.
Malam itu ia kembali ke ranjang dengan banyak pikiran. Perkawinannya tak dirayakan seperti itu. Bupati yang kawin jauh lebih tua dari Bendoro. Dan putri kraton itu lebih tua dari dirinya. Tapi ia tidak disambut dengan perayaan. Dan jam tiga pagi ia terbangun. Bujang tak ada di bawah ranjangnya lagi. api Bendoro telah tergolek di sampingnya.
Pada jam 5 subuh, waktu bujang masuk ke dalam kamar, dilihatnya Mas Nganten-nya masih tergolek. Ia sedang mendekat, dan didengarnya suara memanggilnya:
“mBok, tolonglah aku.”
Bujang membuka kelambu dan menyangkutkan pada jangkarnya. “Sakit, Mas Nganten?”
“mBok, mBok.”
Bujang itu meraba kaki Gadis Pantai. “Tidak apa-apa, Mas Nganten, tidak panas.”
“Aku sakit, mBok. Bawa aku ke kamar mandi,” diulurkannya kedua belah tangannya minta dibangunkan.
Wanita itu meraihkan lengannya, di bawah tengkuk Gadis Pantai, mendudukannya, merapikan rambutnya yang kacau balau, membenahi baju dan kainnya yang lepas porak poranda, menarik-narik seprai yang berkerut di sana-sini.
“Ooh! Mas Nganten tidak sakit,” katanya bujang sekali lagi, dan menurunkannya dari ranjang.
“mBok,” sepantun panggilan dengan suara lembut. “Tidak apa-apa Mas Nganten. Yang sudah terjadi ini takkan terulang lagi.”
“Apa yang sudah terjadi, mBok?”
Dan setelah Gadis Pantai terpapah berdiri, bujang menunjuk pada seprai yang dihiasi beberapa titik merak kecoklatan, berkata, “Sedikit kesakitan Mas Nganten, dan beberapa titik darah setelah setengah tahun ini tidaklah apa-apa.”
“mBok!” suara yang tetap lembut.
“Sahaya, Mas Nganten.”
“Aku takut.”
“Sahaya, Mas Nganten.”
“Mari ke kamar mandi.”
Gadis Pantai terpapah menuruni ranjang. “mBok!”
“Sahaya Mas Nganten.”
“Kapan emak datang kemari?” Mereka berjalan terus. “mBok!”
“Sahaya, Mas Nganten.”
“Apakah aku cantik?”
“Gilang-gemilang, Mas Nganten.”
“Tidaklah mereka lebih cantik?”
“Di dunia ini, Mas Nganten, yang lain-lain harus menyingkir buat yang tercantik.” Mereka berhenti di tengah-tengah pekarangan-dalam. “mBok, apakah mereka manis?”
“Ah, Mas Nganten lebih manis.”
“mBok.”
“Sahaya, Mas Nganten.”
“mBok sayang padaku?”
“Apa masih meragukan sahaya, Mas Nganten?”
“Tidak, aku tidak meragukan. Orang-orang lain?”
“Bendorolah yang paling sayang, Mas Nganten.”
“mBok!”
“Sahaya, Mas Nganten.”
“Aku takut.”
“Apa yang ditakuti, Mas Nganten?”
“Apakah aku bisa tetap cantik?”
“Mengapa tidak, Mas Nganten?”
“mBok dulu cantik?”
“Tidak pernah, Mas Nganten.”
“Aku takut, Mbok.” Keduanya lenyap di balik pintu kamar mandi …
Bagian Kedua
Setahun telah lewat. Kini Gadis Pantai merasa sunyi bila semalam saja Bendoro tak datang berkunjung ke kamarnya. Bujang itu tak perlu membantunya lebih banyak lagi. Di luar dugaan ia telah dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya. Namun wanita tua itu tetap menjadi sahabat dan tempat bertanya yang bijaksana.
Ia telah banyak dan sering meninggalkan kamar, jalan-jalan seorang diri di sore hari di kebun belakang, bicara dengan sanak kerabat suaminya yang mengabdikan diri, dan bersekolah di pagi hari serta mengaji di malam hari, dengan para bujang, kadang dengan tetangga. Dan dalam setahun itu tak pernah sekalipun ia menginjakkan kaki di ruang depan ataupun tengah, apalagi memasuki kamar-kamarnya, terkecuali khalwat. Ada suatu kekuasaan yang tidak memperkenankannya. Tak ada orang menyampaikan ini kepadanya tapi aturan dan ketentuan yang berlaku ia rasai dengan sendirinya saja.
Pada suatu sore Bendoro memerintahkan Mardi menyiapkan bendi. Sesuatu terasa menyambar dalam hati Gadis Pantai. Paling sedikit seminggu Bendoro akan meninggalkan kota. Perintah pada Mardi itu dengan sendirinya menyebabkan ia berkemas-kemas dan merapikan diri, kemudian menunggu di kursi dalam kamar sampai suaminya datang dan meminta diri. Selama setahun ini lebih sekali peristiwa demikian terjadi — kali ini bukanlah yang terakhir.
Setelah dirasanya bendi itu meluncur menjauh, ia pun keluar dari kamar, menuruni jenjang ruang belakang, membelok ke kanan dan memasuki kebun belakang. Langsung ia menuju bangku tempat ia pertama kali duduk bersanding dengan suaminya. Ia menginginkan sore segar dalam suasana hati tak menentu, keruh dan kacau balau. Ia ingin seorang diri di tengah-tengah alam, seperti hampir selamanya bila ia ada di kampung nelayan dulu. Ia ingin kenangkan segala yang indah dan memadamkan kekacauan hati sekarang ini. Betapa ia rindukan suaminya yang baru pergi, baru saja, belum lagi sepuluh menit. Betapa ia sesali nasibnya tak pernah lama tinggal bersama Bendoro, suaminya, terkecuali beberapa malam dalam seminggu. Apa pun yang terjadi Bendoro berpesan padanya: jangan kenangkan yang buruk-buruk, itu perbuatan bodoh. Kenang yang indah-indah, yang baik-baik, biar hati tetap bersih, dan pikiran tinggal segar. Cuma keledai yang selalu renungkan nasibnya yang buruk, karena itu sampai mati ia cuma jadi pengangkut beban orang. Ia tak pernah tahu apa itu keledai. Dan bujang wanita itu bilang keledai tak lain dari kuda-kerdil yang saban hari digiring dari dan ke kota, dari dan ke selatan untuk mengangkuti orang dan kapur. Keledaikah aku? Tidak! Tidak layak Bendoroku beristrikan seekor keledai.
Entah berapa kali. ia yakinkan diri bukan keledai. Tapi hatinya begitu keruh. Ia tak mengerti sampai waktu itu, bahwa ia merasa sangat, sangat cemburu.
Belum lagi seperempat jam ia merenungi dirinya bujang wanita telah datang menghampiri.
“Guru baca sudah datang, Mas Nganten. Sahaya cari di mana-mana.”
“Bilang aku tak belajar hari ini. Kepalaku pening.”
“Dia takkan pergi sebelum jalankan kewajibannya, Mas Nganten. Untuk itu menerima nafkahnya, katanya.”
“Pergi!” Gadis Pantai membentak. Terkejut sendiri, segera ia sambung, “ah, maafkan aku. Pikiranku sedang kacau. Maafkan aku mBok.”
Dengan perasaan tersinggung bujang itu pergi. Kini perasaan berdosa karena telah mengasari wanita tua itu, membuat ia terjerambab dalam kekacauan baru. Segera ia bangkit dan mengikuti bujangnya. Dengan lemah lembut sebagaimana biasa, ia sampaikan pada guru baca ia tak belajar sekali ini.
“Mas Nganten,” tegur guru itu, “apa akan jawab sahaya bila Bendoro murka pada sahaya?”
“Aku tak belajar kali ini, besok tidak, lusa tidak, sampai Bendoro datang.”
Guru itu pergi dan bujang wanita itu dipandanginya masuk.
“mBok sekali lagi, mBok, jangan gusar padaku. Bukan maksudku berlaku kasar padamu.”
“Wanita siapakah yang tak pernah cemburu, Mas Nganten. Tapi jangan ajak orang lain merasa tak senang.”
“Terima kasih, mBok. Terima kasih. Ke manakah biasanya Bendoro pergi — sampai berhari-hari begini?”
“Ah, Mas Nganten, itu urusan pria dengan pekerjaannya. jangan ikut campur, karena wanita tak tahu apa-apa tentang itu. Kita hanya tahu daerah kita sendiri: rumah tangga yang harus kita urus.”
“Daerah kita itu pun aku tahu pasti, mBok. Ke ruang tengah dan depan saja aku belum pernah.”
“Mari sahaya antarkan, Mas Nganten.”
“Apa ada gunanya?” namun ajakan itu begitu merangsang hatinya. Ia bangkit. Bujang itu pun mengantarkannya meninggalkan kamar, melintasi ruang belakang dan memasuki ruang tengah. Sebuah pintu raksasa telah mereka lewati: sekian kali besar mejanya di kampung nelayan dulu! Sebuah ruangan luas terpampang di depannya. Dan bila pandangnya ditebarkan ke atas tergelar sederetan langit-langit yang rata, berkotak-kotak berbunga, berwarna-warni terbuat dari lembaran besi seluruhnya. Di tengah-tengah langit-langit terhias lingkaran tebal yang berbentuk ikatan jerami-jerami semacam padi, dengan butir-butirnya kadang tergelar di luar lingkaran. Sedang tepat di tengah-tengah lingkaran tergantung pipa kuningan yang digantungi lampu listrik beberapa buah, terhias manik-manik sebesar kristal, bergantungan seperti berlian-berlian pada kuping wanita.
Di samping pintu, Gadis Pantai melihat di sebuah meja kecil rendah terletak sebuah stoples di atasnya, berisi air dan benda-benda kehitaman pada mendekam di dasar stoples. Ia kenal benda-benda kehitaman itu: lintah.
“Mengapa dia ditaruh di sini?” Gadis Pantai bertanya.
“Dengan pertolongan binatang-binatang itu saban bulan Bendoro membuang darah beliau.”
“Buat apa darah dibuang?”
“Sinse yang beri nasihat.”
“Sakitkah Bendoro?”
“Benar. Beberapa dokter Belanda sudah dipanggil. Dari Jepara, Pati, Semarang, tak ada yang bisa sembuhkan.”
“Sakit apa?”
“Tak ada yang tahu.”
Gadis Pantai kehilangan keinginan melihat-lihat ruangan tengah lebih jauh lagi. Ia berdiri diam-diam di tengah-tengah ruang. Di antara lemari-lemari kaca yang berdiri di sepanjang dinding, hiasan kaligrafi di mana-mana, permadani biru, hitam, merah, putih dengan gambar-gambar pemandangan nc ‘c1! Padang Pasir dengan onta serta kuda. Antara ruang tengah dan pendopo menganga sebuah pintu raksasa yang separuhnya tertutup penyekat lipat terbuat dari kayu sonokeling dengan ukiran Jepara dan ditutupi dengan anyaman kulit bambu halus bersulamkan benang emas yang menggambarkan laut.
Dengan ucapan yang tak terpusat Gadis Pantai memulai lagi:
“Bersih amat di sini. Saudara-saudara Agus Rahmat tak pernah main-main di sini?”
“Tak ada anak-anak di sini. Semua tinggal di kamar dapur. Kalau main mereka pergi ke pelataran depan, atau ke alun-alun.”
“Mana bayi yang sering mBok gendong dulu?”
“Diungsikan biar tak mengganggu Mas Nganten.”
“Biarlah aku urus dia.”
“Oh, Mas Nganten, harap Mas Nganten jangan bicara begitu di hadapan Bendoro. Soal anak selamanya soal pelik di rumah-rumah gedung, jadi sumber pertengkaran, sekalipun yang mengurus cuma para sahaya.” Gadis Pantai tak mengerti. Ia diam tak meneruskan.
“Beberapa waktu lagi Mas Nganten akan dikaruniai putra sendiri.”
Gadis Pantai berseri riang, dan sekejap terlupa pada cemburunya. Naluri keibuannya mulai bekerja. Dan lebih keras lagi naluri ini menjejaki darah hidup suaminya.
“Jadi dengan siapa Bendoro sehari-hari di sini?”
“Seorang diri. Tamu-tamu diterima di ruang tengah. Di sini tidak terima tamu wanita.”
“Mengapa tidak? Di kampung kami pria dan wanita sama-sama bertamu.”
Nampak bujang itu merasa kasihan kepada Gadis Pantai. Pengalaman selama ini membuat ia banyak tahu tentang perbedaan antara kehidupan orang kebanyakan dan kaum Bendoro di daerah Pantai. Seorang Bendoro dengan istri orang kebanyakan tidaklah dianggap sudah beristri, sekalipun telah beranak selusin. Perkawinan demikian hanyalah satu latihan buat perkawinan sesungguhnya: dengan wanita dari karat kebangsawanan yang setingkat. Perkawinan dengan orang kebanyakan tidak mungkin bisa menerima tamu dengan istri dari karat kebangsawanan yang tinggi, karena dengan istri asal orang kebanyakan — itu penghinaan bila menerimanya.
“Mengapa mBok diam saja?” Gadis Pantai bertanya.
“Sahaya sering berpikir, Mas Nganten…”
“Ya?”
“Betapa adilnya kalau setiap orang punya rumah sebesar ini.”
“Takkan bisa diurus sendiri semuanya!”
“Ya-ya sehingga setiap rumah bakal jadi beban setiap orang. Lihat itu,” dan bujang mengalih menunjuk pada sebuah meja kecil, dengan sebuah kotak kayu cendana di atasnya, terukir dengan berbagai gambar kupu-kupu dan bunga-bungaan. “Itulah kotak obat Bendoro.”
“Obat? Kelihatannya Bendoro tidak sakit.”
“Mas Nganten ingin lihat kamar?” dan sebelum mendapat jawaban ia telah membuka salah sebuah pintu besar pada dinding.
Gadis Pantai menjenguk ke dalam. Pertama-tama yang dilihatnya adalah jagang kayu, tempat tombak-tombak didirikan. Ia melompat ke samping dan memunggungi pintu.
“Tidak-tidak, terima kasih.”
Bujang itu menutup kembali pintu dan Gadis Pantai pulang ke kamarnya.
Di luar hari telah mulai rembang.
Dan beduk mesjid serta surau bertalu bersahut-sahutan.
Sampai di pintu kamarnya tiba-tiba Gadis Pantai tak dapat menahan hatinya yang selama ini diaduk ketakutan dan kekhawatiran. Bertanya:
“Adakah wanita utama lain yang akan menggantikan aku?”
“Tidak! Tidak! Sahaya tidak tahu!” bujang itu memalin ’kan mukanya bersicepat pergi menuruni jenjang ruang belakang, hilang ke dalam dapur.
Setahun yang telah lewat merupakan perkisaran dari banyak perasaan dalam jiwa Gadis Pantai. Meninggalkan kampung nelayan di tepi pantai berarti memasuki ketakutan dan hari depan tidak menentu. Memasuki kota dan gedung tempat ia tinggal sekarang adalah memasuki dunia tanpa ketentuan. Dahulu ia tahu harga sesuatu jasa, tak peduli kepada siapa. Di sini jasa tak punya nilai, dia merupakan bagian pengabdian seorang sahaya kepada Bendoro. Dahulu ia dapat bicara bebas kepada siapa pun, bisa menyinggung martabat Bendoro atau siapa saja. Kini tak dapat ia bicara dengan siapa ia suka.
“Tidak, Mas Nganten,” pelayan tua itu tak bosan-bosannya memperingatkan, “tidak semestinya wanita utama bicara dengan semua orang. Perintah saja orang-orang itu, jangan ragu-ragu. Tak ada gunanya Mas Nganten dengarkan pendapat atau keberatan mereka. Mereka di sini buat diperintah. Sahaya ini begitu juga Mas Nganten.”
Begitulah lama-lama ia mengerti, di sini ia menjadi seorang ratu yang memerintah segala. Hanya ada seorang saja yang berhak memerintahnya: Bendoro, tuannya, suaminya. Otaknya yang masih bocah itu tidak mengerti mengapa cuma perintah dan memerintah. Ia kehilangan sesuatu yang besar: keriaan, yang ditimbulkan oleh kerjasama dengan semua orang. Di sini tidak ada kerjasama. Di sini hanya ada pengabdian dan perintah.
Pada suatu hari, karena merasa kesepian ia bertanya:
“mBok mengapa di sini tak ada orang tertawa dan tersenyum denganku?”
“Lantas apa guna senyum dan tawa?” Mereka hanya abdi, hanya sahaya. Tak layak jual senyum dan tawa pada Mas Nganten. Juga tak baik layani senyum dan tawa mereka. Tahu, Mas Nganten, seorang wanita utama adalah laksana gunung Dia tidak terungkit dari kedudukannya, terkecuali oleh tangan Bendoro. Bendoro lebih tidak terungkit, terkecuali Gusti Allah sendiri.”
“Ah, ah.”
“Mengapa, Mas Nganten?”
“Bodohnya aku ini. Aku tak mengerti.”
“Kalau semua orang bisa mengerti, Mas Nganten, gampang saja jadi priyayi.”
“Jadi? Aku bagaimana?”
“Mas Nganten adalah wanita utama, segala apa terbawa karena Bendoro. Begitulah Mas Nganten, jalan kepada kemuliaan dan kebangsawanan tak dapat ditempuh oleh semua orang.”
Dahulu Gadis Pantai cuma mengerti: hanya nelayan-nelayan gagah perkasa saja yang patut dihormati dan dimuliakan. Mereka lintasi laut dan menangkap ratusan, bahkan ribuan ikan dengan jalanya sendiri. Nelayan yang paling terhormat, dialah yang bawa pulang ikan terbesar. Dia pahlawan. Ikan demikian tak dijual, tapi dibagi-bagikan, terkecuali tulangnya. Karena tulang-belulang itu akan dihias di atas pintu masuk rumahnya. Dahulu ia bersama-sama kawannya sering berhenti lama-lama di depan pintu yang dihiasi dengan tulang-tulang yang besar dan panjang. Ia sendiri bayangkan gerigi dan mata yang semestinya dahulu terpasang jeli pada kelopak mata tengkoraknya. Betapa kuat ikan semacam itu, dua-tiga kali lebih besar dari dirinya sendiri. Ingin ia melihat mahluk semacam itu masih hidup-hidup dibawa ke darat. Tidak pernah! Selamanya binatang itu sudah mati. Malah ia pernah minta pada bapak. “Bawalah pulang yang besar, yang masih hidup!” Dan bapak membungkamnya dengan kata-kata keras, “Kalau kau kuat sekalipun, jangan kau tentang maut kalau tak perlu.” Tentu ia tidak mengerti. Ia hanya rasai ketakutan menjalar di seluruh tubuhnya. Ia meriut dan waktu bapak berangkat, ia tidur di bale kawani emak, tanpa bicara sesuatu pun sampai malam tiba. Dan malam-malam ia rangkul emak, tanpa bicara sesuatu pun san1pai emak sengit. “Anak manja,” ben tak emak. Malam itu Gadis Pantai tak dapat tidur. Yang terbayang olehnya hanya ikan besar yang gagah bersirip merah. Mereka kuasai samudra dan ikan-ikan kecil. Tidurnya gelisah tak menentu. Akhirnya emak terbangun juga. Memandanginya lama-lama dalam temaram pelita.
“Mengapa kau ini?”
Bapak waktu itu seperti biasa, tidak di rumah. Dia bergabung dengan kawan-kawannya untuk membantu nelayan-nelayan yang membutuhkan tenaga. Dan Gadis Pantai menceritakan pada emak pengalamannya dengan bapak. “Anak bodoh!” bisik emak sambil menepuk-nepuk pipinya. “Tidur, nak, tidur. Buat apa kau pikirkan ikan-ikan itu? Ikan besar-besar? Jan gan bicara dengan bapakmu tentang ikan besar: jangan sekali lagi. Tidak boleh. Jangan kecilkan hati bapakmu, nak. Setiap ikan besar adalah bahaya. Dan di laut, nak, siapa yang bisa tolong? Biar orang menjerit setahun lamanya? Ombak itu lebih besar dari jeritannya. Ikan besar-besar itu lebih banyak dari nelayan. Gigi mereka lebih perkasa dari tombak bapakmu. Kau mengerti, nak? Kau mengerti?” Dan bulu badan Gadis Pantai meremang. Mulai waktu itu, setiap hari ia mendoa buat keselamatan bapak. Mulai waktu itu ia mengerti sekeping kepahlawanan bapaknya, bapaknya sendiri. Juga mulai waktu itu ia tak lagi bicara tentang ikan besar yang hidup, ikan besar yang menakutkan.
Pikirannya yang masih muda kini mulai membandingkan semua yang baru dengan semua yang lama. Akhirnya ia tak mau berpikir membanding-banding lagi, ia tak mengerti, ia tahu ia tak tahu sesuatu pun. Ia melihat, dan segera bertanya. Begitulah pada lain kali ia bertanya, “mBok, apa sebab semua takut pada Bendoro?”
Ia ingin bertanya apakah kepahlawanan Bendoro. Apakah kehebatan dan keberanian orang selangsing, selangsat, dan sepucat, serta sehalus itu. Tapi ia tak berani. Dalam pembisuan itu pelayan tua menepuk-nepuk dadanya sendiri seperti hendak meyakinkan dirinya sendiri bahwa ingatannya masih bisa dipercaya.
Ia bercerita: “Mas Nganten dalam setiap peperangan raksasa selamanya dikalahkan oleh satria yang kurus-kurus gepeng dan layu. Gergaji cakil yang gesit penuh api sekali tersenggol jari kelingking satria, dia rubuh takkan bangun lagi. Dan satria itu hampir-hampir tidak pernah beranjak dari tempatnya, sedang si cakil berputar melompat, berjungkir balik meledek.”
“Wayangkah itu?”
“Di tempat Mas Nganten tak ada wayang?”
“Kami hanya pernah dengar. Tak ada gambar wayang di rumah-rumah kami di kampung nelayan.”
“Lha, mengapa?”
“Sekali seorang kota membawa wayang kulit ke kampung nelayan. Kakek tua marah. Dipukulnya orang itu dengan tongkatnya. Orang itu juga jadi marah kena pukul. Digelandangnya kakek. Waktu hendak diguguhkan tinjunya pada mulut kakek, nampak ia tak sampai hati, dan didorongnya kakek sampai terjatuh di atas pasir. Kakek keparat, kata orang itu. Apa dosaku? Apa dosa wayang ini? Kakek mengerang-ngerang. Waktu itu aku ada di situ. Mereka berhadap-hadapan di sebuah jalan kecil yang terapit barisan semak-semak. Tak ada orang lain lagi yang melihat. Aku hampiri kakek, mencoba mendirikannya. Orang kota itu melihat padaku, kemudian membantu aku mendirikan kakek. Dosamu, orang kota berangasan, kau mau tipu kami dengan wayangmu. Tipu? pekik orang kota. Benar, tipu! kakek menjerit. Kau mau menjual omong kosong. Kau mau buali orang kampung dengan kehebatan selembar kulit kerbau yang kau pahati dan kau lukisi berwarna-warni, kau akan katakan pada mereka, wayangmu, sangat berkuasa, tak ada bandingan. Bohong! Di sini cuma laut yang berkuasa. Bukan wayang-wayang itu.”
“Sombong benar kakek kampung itu. Kalau dia di sini, dia akan tergetak tak dapat berkutik seperti batu yang habis dibelah.”
“Nelayan dari kampung-kampung lebih-lebih lagi malah tidak mau menyebut kata wayang mBok. Mereka tak suka.”
“Mereka tidak mengerti, Mas Nganten. Wayang itu nenek moyang kita sendiri.”
“Nenek moyang mBok sudah tidak ada, tapi laut tetap ada.”
“Uh-uh. Mas Nganten, kita tidak bakal ada kalau nenek moyang tidak ada.”
“Kakek itu pernah bilang mBok, segalanya bersumber di laut. Tak ada yang lebih berkuasa dari laut. Nenek moyang kami juga bakal tidak ada kalau laut tidak ada.”
“Entahlah, Mas Nganten, entahlah,” jawab pelayan itu sopan dengan kejengkelannya
Dan tanpa disadari, semua pertanyaan Gadis Pantai tak lain dari ucapan cemburu hatinya. Ia ingin ketahui segala tentang suaminya yang sekaligus juga tuan dan majikannya, tapi itu takan mungkin ia berani tanyakan pada Bendoro sendiri.
“Jangan gusar padaku, mBok. Aku hanya bertanya.”
“Bingunglah sahaya ini, Mas Nganten, pertanyaan-pertanyaan begitu tak pernah sahaya dengar seumur hidup.”
Sebenarnya Gadis Pantai ingin mengetahui pasti, ke mana saja Bendoro pergi bila meninggalkan rumah berhari-hari lamanya. Siapa-siapa yang ditemuinya. Apa yang dibicarakannya. Bagaimana pendapat Bendoro tentang dirinya. Akhirnya ia berpendapat: betapa mahalnya pengetahuan di sini. Aku harus belajar segala, dari membatik, menyulam, sampai membaca dan mengaji. Terkecuali belajar tentang suami sendiri, bahkan juga pendapat suami tentang istrinya. Di kampung ia sering dengar istri-istri pada mengkritik suami masing-masing. Kadang-kadang kritik itu membuat mereka pada bertengkar, tapi di sini? Di sini?
“mBok pernah tinggal di kampung nelayan?”
“Pernah. Mas Nganten.”
“Suami-istri hidupnya tidak seperti di sini ”
“Sahaya tahu. Mereka bersama-sama makan, bersama-sama duduk, minum. Kalau sedang tak berlayar, mereka bicara tentang segala.”
“Yah, tentang musim, tentang bulan, tentang angin, tentang binatang.”
“Sahaya, Mas Nganten.”
“Tentang layar dan dayung, tentang jaring tersangkut pada batu karang dan kaki yang tertusuk duri babi.”
“Sahaya, Mas Nganten.”
“Apakah di kota suami-istri tidak pernah bicara?”
“Ah, Mas Nganten, di kota, barangkali di semua kota — dunia kepunyaan lelaki. Barangkali di kampung nelayan tidak. Di kota perempuan berada dalam dunia yang dipunyai lelaki, Mas Nganten.”
“Lantas apa yang dipunyai perempuan kota?”
“Tak punya apa-apa, Mas Nganten kecuali…”
“Ya?”
“Kewajiban menjaga setiap milik lelaki.”
“Lantas milik perempuan itu sendiri apa?”
“Tidak ada, Mas Nganten. Dia sendiri hak-milik lelaki ” Gadis Pantai tahu benar: Bendoro telah tiga hari pergi. Dan ia tahu tepat pula: ia hanyalah hak milik Bendoro. Yang ia tak habis mengerti mengapa ia harus berlaku sedemikian rupa sehingga sama nilainya dengan meja, dengan kursi dan lemari, dengan kasur tempat ia dan Bendoro pada malam-malam tertentu bercengkerama.
Tiga hari telah lewat. Setiap hari semakin panjang saja cemburu yang mengerumuti dalam hatinya.
Hari ke empat Bendoro datang.
Sore waktu itu, beberapa waktu setelah beduk asar bertalu. Ia dengar bendi berhenti, di depan pendopo. Ia dengar roda bendi dan telapak kuda itu berjalan perlahan di samping kamarnya Ia dengar selop melangkah-langkah berat di ruang tengah. Ia dengar bunyi buutt terkenal itu. Jantungnya berdebar. Ia tutup pintunya rapat-rapat, tetapi ia tiada menguncinya. Tidak! Bendoro tidak membawa wanita utama baru, ia menjerit dalam hati. Tidak! Tidak mungkin.
Ia duduk di kursi dan meletakkan kepalanya di atas meja dengan mata melotot mengawasi pintu. Pintu itu harus terbuka perlahan, dan setelah itu wajah pucat berhidung bangir harus tersembul. Sosok tubuhnya yang langsing tinggi kurus menyelinap masuk ke dalam menghampirinya, meletakkan tangan di atas pundaknya seperti biasa, dan harus berbisik lunak seperti biasanya pula kepadanya, “Mas Nganten, kau sehat bukan?”
Ia menunggu dan menunggu, menunggu dengan hati meriut dan jantung berdebaran. Tapi wajah pucat berhidung bangir itu tak juga menyembul di kirai pintu.
Suatu kekuatan gaib telah bangkitkan ia dari kursi, ia menghampiri pintu — mengiraikan sedikit dan dipusatkan seluruh kupingnya pada setiap kata yang bisa terdengar dari kamar. Tidak! ia tak dengar suara wanita. Hanya bunyi selop berat saja berjalan mondar-mandir diselang-seling terbuka dan tertutupnya pintu serta berpindah-pindahnya kaki kursi. Tiba-tiba terdengar olehnya perintah yang keras mengandung ancaman gaib.
“Mardi!”
Ia segera tahu apa artinya: Bendi harus segera disiapkan. Hatinya jadi kecut. Bendoro hendak berangkat lagi. Berapa hari lagi ia harus menunggu kedatangannya? Tanpa disadarinya matanya jadi sembab. Ditutupnya kembali pintu. Satu-satunya pelindungnya yang setia selama ini adalah kasur dan bantal ranjang. Kalau saja pelayan wanita itu begitu menyenangkan seperti itu! Tapi bertambah meningkat pengetahuan dan kecerdasannya, pelayan itu makin kurang kemampuannya menghibur hatinya.
Juga sekali ini ia lari pada pelindungnya. Dipeluknya bantal dingin itu. Ia teringat pada emak, pada bapak, dan saudara-saudaranya. Dan ia merasa begitu malu selama ini tak banyak mengingat mereka. Betapa ia rindukan suaminya. Betapa perasaan cemburu telah menyiksa ia begini macam. Siapakah dia? Siapakah dia yang begitu berkuasa atas Bendoro yang maha kuasa ini? Siapakah dia yang dapat perintahkan Bendoro terungkit dari gedung ini menempuh jarak begitu panjang dan menahannya berhari-hari buat dirinya sendiri? Ah, ah. Dan ia tinggal demikian sampai magrib.
Waktu beduk bertalu, ia masih dengar selop Bendoro berjalan mondar-mandir, beliau belum lagi pergi. Terburu-buru ia keluar dari kamar, turun ke kamar mandi, mandi dan ambil air wudu. Ia masuk ke khalwat. Ia duduk, duduk, duduk dan menunggu, menunggu. Pintu pada dinding samping di depan sana masih juga belum terbuka. Pintu itu, ah pintu itu. Dalam khalwat ini tak sepantun pun suara dapat menembusinya, sekalipun dinding samping itu saja yang memisahkan khalwat dari ruang tengah.
Waktu pintu dinding samping itu akhirnya terbuka juga, buru-buru ia menunduk namun masih dilihatnya juga sosok tubuh yang dirindukannya berhari-hari belakangan ini. Ia lihat — sarung baru berwarna merah bergenggang biru dikenakannya. Dan sosok tubuh itu mulai sembahyang. Tanpa sedikit pun berpaling padanya. Sudah berubah sikapnya!
Ia pun mengikuti bersembahyang. Dalam rukuh putih itu ia merasa lebih aman daripada di luarnya. Rukuh ini mampu menyembunyikan, tubuhnya, pikirannya dan perasaannya tanpa bisa diketahui orang.
Selesai sembahyang ia segera menuju ke kamarnya kembali, merias diri dan menunggu Bendoro pada meja makan. Di luar dugaannya Bendoro muncul lebih cepat, langsung menuju padanya berbisik, “Ada tamu akan bersantap,” dan Bendoro berdiri tegak mengawasinya.
Ia bangkit dari kursi, menunduk membungkuk dan pergi kembali masuk ke dalam sangkarnya.
Dari kamar didengarnya percakapan antara Bendoro dengan tamunya. Baru hatinya lega sedikit mengetahui tamu itu bukan wanita. Apa mereka bicarakan sambil santap? Tentang wanita utama baru? Betapa tegang urat saraf nya mengerahkan seluruh kemampuan buat setiap pantun suara.
“Ya, huru-hara,” kata tamu itu.
“Mereka tak kenal terima kasih pada Gubermen1, pada Gusti Allah. Apa saja yang tak dilakukan Gubermen buat menjaga keselamatan mereka? Tumpas saja tuan.”
Ia hafal sekali, yang akhir itu adalah suara orang yang dirindukannya selama ini.
“Terima kasih. Tuan tahu, saya dikirim kemari oleh kanjeng Gubermen…”
“Ah, tuan?”
“Benar, menurut keputusan Raad Hindia…”
Bendoro terdiam dalam terkejutnya.
“… buat cari ketetapan, tetapi sebelumnya Gubermen mau dengar dulu bagaimana pendapat pembesar-permbesar negeri tentang huru-hara di Lombok ini.”
“Ya, ya, saya paham.”
“Tuanlah yang pertama-tama memberi pendapat yang tegas Yang lain-lain para bupati yang telah saya kunjungi, sampai-sampai tidak tahu di mana Lombok ini.”
“Terima kasih.”
Mereka bicara tentang perang. Gadis Pantai berbisik pada dirinya sendiri. Dan selama setahun ini ia sudah terlalu sering dengar tentang perang di gedung ini. Tapi perang itu sendiri tak pernah nampak olehnya, hanya jauh, jauh sekali. Tempatnya terjadi jauh sekali. Ia tak pernah tahu dan tak ingin tahu di mana. Ia hanya tahu: di seberang menempuh laut, lebih jauh yang pernah di tempuh bapak sehari-hari. Jantungnya berhenti meronta dan hatinya jadi damai kembali.
“Bagaimana kalau tuan menginap, di sini? Kita masih bisa bicarakan banyak hal.”
“Tuan sudah perintahkan siapkan bendi, bukan? Malam ini juga saya harus berangkat, dan besok pagi saya harus sudah susun laporan tentang pendapat Bendoro Bupati Blora.”
“Jadi tuan akan keliling seluruh Jawa?”
“Tidak. Ada enam orang bertugas seperti saya. Saya mendapat bagian daerah pesisir utara. Itu pun bukan seluruh pesisir Jawa, sebagian Jawa Tengah saja.”
“Jadi kita tidak bisa bicarakan lain soal?”
“Maafkan saya.”
Suara itu menarik hati Gadis Pantai. Suara tegas, perkasa, berkuasa, dan selalu bernada memerintah. Ah, rasa-rasanya ia rela diperintah olehnya, apa saja. Dengan hati-hati ia kiraikan sedikit pintu kamarnya dan mengintip ke luar. Melalui punggung Bendoro ia lihat seorang priyayi muda, berperawakan kecil. Ikat kepalanya tinggi, tidak lazim terdapat pada priyayi pantai, sedang ujung-ujungnya tertarik pongah agak sedikit ke atas, kepalanya selalu terangkat lurus, jarang menunduk. Matanya berkilau gemerlapan, lebih indah dan menarik daripada berlian-berlian dan intan-intan dan jamrut yang pernah menghias tubuhnya. Kulitnya agak kehitaman, sedang gerak-geriknya begitu lincah menangani sendok-garpu-pisau. Jantungnya kini berdenyut lain, manis dan mengusap-usap.
Tiba-tiba ia sadar akan dirinya. Ditutupnya kembali pintu, Ia merasa sangat malu pada dirinya sendiri. Diambilnya bakul benang wol, mulai merenda.
Waktu didengarnya kaki-kaki kursi meja makan pada terdorong, ia berhenti sebentar. Suatu tenaga gaib menariknya untuk sekali lagi mengiraikan pintu dan mengintip. Ia lihat tamu, priyayi muda itu, berjalan tegap meninggalkan ruang belakang menuju ke ruang tengah. Diletakkan bakulnya. Ia keluar kamar langsung ke meja makan, duduk di tempat bekas priyayi muda tesebut. Betapa gagahnya priyayi muda itu. Dan dengan berahi ia rasai bekas tempat tamu itu. Ia resapkan sisa hangat pada kursi ke sekujur badannya. Ia menoleh ke arah dapur.
Dilihatnya pelayan tua sudah keluar dari pintu dapur dan sedang menuju ke tempatnya. Segera disendoknya nasi dan dituangnya di atas piring bekas tamu. Sebelum ia sempat menyendok sayur, pelayan tua telah datang. Mata wanita tua yang merabai wajahnya membuat hatinya kecut, dan dengan sendirinya saja ia berbisik, “Tidak, mBok, tidak salah ini piring bekas Bendoro.”
“Mas Nganten memerlukan sayur lagi? Atau yang lain-lain.”
“Tidak, benar tidak.”
Pelayan tua itu menarik diri kembali ke dapur.
Gadis Pantai menyendok sayur. Ia mulai menyuap perlahanlahan. Dan dalam bayangannya muncul priyayi muda gagah. Tanpa disadarinya ia rasai betapa kemudaan pria itu begitu penuh, melimpah gesit, dan hanya dengan matanya yang bersinar, tanpa melihatnya, telah dapat taklukkan seluruh hatinya. Satria seperti dia takkan tinggal-tinggal istrinya, pikirnya. Betapa nikmat sisa sayur dan butir-butir nasi yang telah tersentuh oleh bibirnya. Siapakah dia? Siapa namanya? Di mana tempatnya?
“Siapa tamu tadi, mBok?” tanyanya sehabis makan.
“Mana sahaya tahu, Mas Nganten, orang bilang dari Betawi.”
“Betawi kota besar. Aku ingin lihat Betawi.”
“Semua orang pernah mimpi pergi ke Betawi, Mas Nganten.”
“Kalau sudah selesai semua, temani aku di kamar, mBok.”
“Sahaya, Mas Nganten.”
Ia bangkit dan masuk kembali ke dalam kamarnya. Dan jantung yang beberapa jam yang lalu masih berdebaran karena cemburu pada Bendoro kini berdebaran kental dan manis berisikan sesuatu yang hampir dapat dinamai harapan, penyerahan, kerelaan dan pengabdian pada seseorang yang namanya pun ia tidak tahu …
Ternyata tamu itu masih beberapa jam lagi duduk di ruang tengah bersama Bendoro. Dari kamarnya tak ada sesuatu pun yang dapat tertangkap kecuali derai tertawa yang kadang-kadang menerobosi deru angin malam dari laut.
“Sudah tidur Mas Nganten?’: tanya pelayan tua dari tikar tidurnya.
“Ha?”
“Sudah ngantuk?”
“Ha?”
“Sebentar lagi tamu akan pergi. Jangan tidur malam ini. Bendoro begitu lama pergi. Empat hari. Empat hari kalau sahaya tidak salah?”
“Ya, empat.”
“Kalau tamu sudah pergi,” suara wanita tua jadi perlahanlahan dan merongga. Tiba-tiba suaranya berubah jadi tegas, “ah ya buat apa sahaya mesti bicarakan?”
“Dongengi aku.”
“Dongeng apa? Nabi Sulaiman?”
“Tidak, tidak, jangan. Dongengi aku tentang dirimu sendiri.”
“Apa yang mesti sahaya dongengkan? Orang kecil memang cuma punya dongeng tentang dirinya. Tapi apa mesti sahaya dongengkan?”
“mBok, mBok sayang pada suami mBok?”
“Ah, Mas Nganten ini ada-ada saja. Di mana lagi seorang sahaya bisa menerima sayang kalau bukan dari suaminya sendiri. Cuma dialah yang dapat kita sayangi.”
“Suami yang mana? Yang pertama? Yang kedua?”
“Suami yang mana saja, Mas Nganten. Pertama atau kedua itu tidak penting.”
“Tidak pernah mereka pukul mBok?”
“Perempuan ini diciptakan ke bumi, Mas Nganten, barangkali memang buat dipukul lelaki. Karena itu jangan bicarakan itu, Mas Nganten. Pukulan itu apakah artinya kalau dibandingkan dengan segala usahanya buat bininya, buat anak-anaknya. Kalau saja Tuhan dulu mengurniakan sahaya anak, barangkali seorang, barangkali juga selusin? Apakah artinya pukulan pada emak? Mas Nganten sendiri lihat, bapak saban hari menentang maut.”
“Ya, mBok, ya-ya. Saban hari menentang maut, dapatnya cuma nasi-jagung.”
“Ah-ah, tentang kemiskinan — janganlah dibicarakan, itu kekuasaan Tuhan, Mas Nganten.”
“Ya-ya, mBok. Cuma sedikit saja yang tidak miskin.”
“Apa mesti sahaya dongengkan, Mas Nganten?”
“mBok, mBok, bagaimana semua orang jadi kaya, atau semua miskin?”
“Tidak mungkin. Jangan pikir-pikir seperti itu, Mas Nganten. Itu syirik! Mas Nganten tahu artinya syirik?”
“Tidak. Setidak-tidaknya terdengar menjijikkan.”
“Tuhan ciptakan bumi dan langit, alam dan dunia dalam kesempurnaannya. Ada siang ada malam. Ada malaikat ada setan dan iblis. Ada tinggi dan rendah. Kalau semua miskin, semua kaya, lantas bagaimana zakat, bagaimana fitrah, mana hamba dan mana Bendoro? Kiamat. Ya-ya mungkin itu tanda-tanda kiamat, Mas Nganten.”
“Jelek benar dongeng mBok malam ini. Pijitlah aku.”
Wanita tua itu bangkit dari lapik-ketidurannya, menyingkap kelambu dan sambil berdiri memijiti kaki Gadis Pantai.
“Aku ingin mBok sayangi aku.”
“Apakah kurang sayang, sahaya?”
“Aku ingin senangkan hati mBok.”
“Apa dikira sahaya kurang senang layani Mas Nganten?”
Demikianlah mereka terus-menerus bicara dan bicara Gadis Pantai tanpa pernah peroleh kata-kata tepat untuk mencoba mendapatkan kasih sayang yang tulus, yang terucapkan, tanpa tertutup-tutup kesopanan berlebihan. Wanita tua itu tanpa pernah peroleh kata-kata tepat, mencoba dapatkan kasih sayang pula dalam penghambaan dan pelayanannya. Mereka rasai sesuatu kekurangan dalam kehidupan mereka, tapi mereka tak menyadari, tak mengetahui apa yang mereka rasai. “Bagaimana kalau aku ini anak mBok?”
Wanita tua itu berhenti memijiti.
“Mengapa mBok?”
“Ah, Mas Nganten ini ada-ada saja. Mana bisa, mana mungkin?”
“Biarlah kita andaikan mungkin, bagaimana?”
“Janganlah siksa sahaya ini, Mas Nganten.”
“Mengapa mBok? Mengapa?”
Waktu diketahuinya mBok sama sekali berhenti memijit, Gadis Pantai bangkit. Ia duduk di kasur. Dan kala dilihatnya wanita tua itu mencoba menghindarkan wajahnya dari pandangnya, ia segera turun ke bawah dan meletakkan kedua belah tangannya, di atas pundak wanita tua itu. Dirasainya kedua pasang pundak itu menggigil sedikit.
“Kok menangis, mBok, mengapa?”
“Sudahlah bolehlah sahaya balik ke dapur, Mas Nganten?”
“Mengapa mBok menangis? Apa salahku mBok?”
“Biarlah sahaya kembali, Mas Nganten.”
“Tapi mengapa menangis?”
“Pertanyaan itu, Mas Nganten! Pertanyaan itu. Apa masih kurang kutukan ditimpakan pada sahaya?”
“Siapa telah kutuki orang sebaik mBok?”
“Siapa? Yah yang menguasai hidup sahaya.”
“Bendoro?”
“Bukan, nasib!”
“Ah.”
“Dirampasnya anak sahaya. Dirampasnya suami sahaya. Dan suami sahaya yang kemudian. Ke mana lagi perginya sahaya ini, kalau sudah tak sanggup lagi layani Bendoro? Mengapa Mas Nganten ingatkan sahaya pada masa tua sahaya? Tak lama lagi sahaya sudah jompo.”
“Ampuni aku mBok. Bukan maksudku menyiksa mBok. Kan masih ada aku? mBok boleh ikut aku sampai jompo. Akan kupelihara sendiri mBok di hari jompo nanti.”
Ingin sekali wanita tua itu peringatkan Gadis Pantai, tapi ia tak berani. Ia takut. Ia tahu benar, dalam sehari wanita utama bisa berganti 25 kali tanpa sedikit pun mengurangi perbawa Bendoro. Ia tahu besok atau lusa paling lama setelah Gadis Pantai melahirkan anaknya yang pertama, wanita muda tak berdosa ini pun mungkin akan langkahi dan lalui jalan hidupnya sendiri tanpa ragu-ragu lagi: jalan hidup sebagai sahaya. Dan ibu muda ini lebih menderita daripadanya karena ia punya anak tapi harus pergi dari anaknya. Ia tak boleh bertemu. Dan bila bertemu anak, maka itu bukan anaknya, tapi Bendoronya, orang yang harus disembah dan dilayaninya. Ditindasnya perasaannya sendiri, dan dengan lemah-lembut dicobanya juga memperingatkan Gadis Pantai akan nasibnya yang akan datang.
“Mas Nganten jangan pikirkan sahaya. Sahaya ini orang kecil, orang kebanyakan, orang lata, orang rendah, kalaupun jatuh — ya sakit memang, tapi tak seberapa. Bagi orang atasan ingat-ingatlah itu, Mas Nganten, tambah tinggi tempatnya tambah sakit jatuhnya. Tambah tinggi, tambah mematikan jatuhnya. Orang rendahan ini, setiap hari boleh jatuh seribu kali, tapi ia selalu berdiri lagi. Dia ditakdirkan untuk sekian kali berdiri setiap hari.”
Tapi Gadis Pantai tak mengerti. “Mengapa orang mesti jatuh? Dia kurang hati-hati,” katanya kemudian seperti anak yang tak berdosa.
“Mas Nganten benar sekali. Kurang hati-hati, tapi sayang sekali, orang tak dapat berhati-hati setiap saat buat seumur hidupnya, Mas Nganten. Ada kalanya kita mengenangkan bapak atau emak, kita lupa pada diri sendiri, lupa pada Bendoro. Tentulah kekurangan mahluk Allah yang daif ini Mas Nganten, lantas dia tak hati-hati lagi melayani Bendoro.”
“Lantas aku ini, bagaimanakan aku ini?”
“Mas Nganten ampunilah sahaya. Sahaya bukan bermaksud jelek. Boleh sahaya bicara?”
“Ah, mBok apa yang salah pada diriku?”
“Tidak Mas Nganten. Cuma saja…”
Gadis Pantai duduk di atas kasur ranjang mengawasi wanita tua yang menunduk itu, gelisah, mendesak, “Apa salahku?”
“Salah Mas Nganten seperti salah sahaya, salah kita, berasal dari orang kebanyakan.”
“Lantas mBok, lantas?”
“Kita sudah ditakdirkan oleh yang kita puji dan yang kita sembah buat jadi pasangan orang atasan. Kalau tidak ada orang-orang rendahan, tentu tidak ada orang atasan.”
“Aku ini, mBok, aku ini orang apa? Rendahan? Atasan?” . “Rendahan Mas Nganten, maafkanlah sahaya, tapi menumpang di tempat atasan.”
“Jadi apa mesti aku perbuat, mBok?”
“Ah, beberapa kali sudah sahaya katakan. Mengabdi, Mas Nganten. Sujud, takluk sampai ke tanah pada Bendoro. Mari sahaya dongengi. Tahu bawang merah bawang putih?”
“Sudah tahu itu. Jadi mBok, bagaimana mengabdi sebaik-baiknya? Sujud-takluk sebaik-baiknya?”
“Mas Nganten sudah tahu cerita Trunojoyo menyeberangi Bengawan Solo?”
“Sudah, tapi agak lupa. Apa pengabdianku masih ada cacatnya?”
“Saban hari harus disempurnakan, Mas Nganten. Karena seorang abdi, Mas Nganten, setiap hari semakin nampak cacatnya. Mas Nganten sudah tahu tentang Surapati2?”
“Ah Surapati itu, seorang budak-belian saja ”
“Betul, Mas Nganten, tapi akhirnya dia jadi raja. Dia kalahkan raja-raja Jawa. Dia kalahkan kompeni, Mas Nganten. Bukan main.”
“Apa cacatku?”
“Cacat itu tidak ada pada kita, Mas Nganten. Tapi di dalam hati orang atasan.” Tiba-tiba ia terdiam. “Dengar.”
Gadis Pantai memusatkan pendengarannya. Terdengar hiruk-pikuk dari depan rumah, kemudian bunyi cambuk melecut. Tamu meninggalkan rumah.
“Jadi?” Gadis Pantai mendesak.
“Tidak ada jadi, Mas Nganten, kita kan terlalu lancang bila bicarakan Bendoro kita. Maafkan sahaya, tamu sudah pergi, izinkan sahaya kembali ke dapur.” Dan tanpa menunggu izin, ia menggulung tikarnya dan membawa keluar dari kamar. Tak lama kemudian Gadis Pantai merapikan rambutnya. Belum lagi selesai, sesosok tubuh tinggi langsing telah muncul dalam bayangan cermin.
“Mas Nganten,” ia dengar suara bisikan.
Gadis Pantai menjatuhkan diri, mencium kaki Bendoro, kemudian memeluknya. Waktu Bendoro duduk di atas kasur ranjang, ia angkat kedua-duanya, ia cium telapaknya.
“Inilah sahaya, Bendoro.”
“Kau baik-baik saja selama ini?”
“Sahaya menanggung, Bendoro, rindu tiada tertahankan.” Gadis Pantai mengulangi hafalan dari pelajarannya.
“Apa kau harapkan dari kedatanganku? Emas? Berlian? Batik paling indah?”
“Tidak Bendoro, cuma keselamatan Bendoro.” Gadis Pantai meneruskan hafalannya. Dan jelas-jelas didengarnya derai ombak menjamah pantai mentertawakan dirinya. Dan lebih jelas lagi adalah gambar wajah tamu sebentar tadi, yang kini berangkat entah ke mana. Kaki Bendoro menjadi sosok tubuh tamu tadi. Dan bulu kaki Bendoro menjadi usapan tangan tamu tadi.
“Kau sendiri? Kau tak kekurangan sesuatu apa?”
“Sekarang sahaya, Bendoro, sudah kecukupan segala-galanya, selama kasih Bendoro tiada putus.”
“Ah, kau, siapa ajari kau?”
“Siapa? Keinsafan sahaya sendiri, Bendoro, keinsafan sebagai sahaya.”
“Ah, kau bukan sahayaku. Kau temanku. Mari, nak, mari nak berdiri.” Tapi Gadis Pantai tetap berjongkok di atas lantai. Bendoro mengusap-usap rambutnya, turun dari ranjang, mengangkatnya dari bawah kedua belah ketiaknya. Dan bangunlah Gadis Pantai.
“Mari, nak, mari.”
“Sahaya, Bendoro.”
“Aku terlalu lelah, Mas Nganten. Buatlah aku bermimpi tanpa tidur.”
“Inilah sahaya Bendoro.”
“Naiklah ke ranjang, Mas Nganten.”
“Sahaya, Bendoro.” Dan naiklah Gadis Pantai ke atas kasur. Ia duduk termangu sambil duduk.
“Tidaklah kau lelah seperti aku, Mas Nganten?”
“Tidak Bendoro.”
“Biarpun begitu, bertidurlah.”
Sunyi-senyap sejenak di dalam kamar. Tapi angin dari laut dengan ganasnya menggaruki genteng, sedang laut yang makin lama makin mendesak ke kota, dalam malam tanpa suara manusia, terdengar merangsang masuk ke dalam hati.
“Dengar!”
“Sahaya, Bendoro.”
“Apa yang terdengar?”
“Angin Bendoro.”
“Cuma angin?”
“Ombak Bendoro.”
“Kau suka pada laut?”
“Laut, itulah, kampung sahaya Bendoro.”
“Dengar?”
“Sahaya, Bendoro.”
“Tak ada lagi kau dengar?”
“Suara Bendoro, Bendoro.”
“Tak ada lain yang terdengar?”
“Tidak, Bendoro.”
“Dekatlah, sini.”
“Sahaya, Bendoro.”
“Tak ada lain yang terdengar?”
“Nafas Bendoro, Bendoro.”
“Dekatlah lagi.”
“Sahaya.”
“Apa yang terdengar?”
“Apa Bendoro? Detakan jantung?”
“Aku dengar juga nafasmu.”
“Sahaya, Bendoro.”
“Aku dengar juga detakan jantungmu.”
“Sahaya, Bendoro.”
“Apa kau dengar lagi?”
Angin semakin menggaruk genteng. Dan ombak semakin mendesak kota.
“Pohon-pohon cemara sepanjang pantai itu takkan patah diterjang angin sebesar itu. Kau tahu dari mana datangnya cemara itu?”
“Tidak, Bendoro.”
“Itu keturunan cemara yang dibawa tuan besar Guntur waktu membuat jalan pos. Waktu itu aku belum lahir, tapi ayahku bisa bercerita.”
“Sahaya, Bendoro.”
“Apa sekarang kau dengar?”
“Detak jantung Bendoro.”
Bendoro terdengar tertawa. “Benar, detak jantung.”
“Keras berdetakan.”
“Benar.”
“Nah sekarang apa terdengar?” Tiada jawaban.
“Dengarkan lagi baik-baik.”
“Sahaya mendengarkan, Bendoro.”
“Ada?”
Diam sejurus. Angin berhenti menggaruk. Seekor burung hantu melenguh-lenguh sunyi pada pohon beringin di tengah alun-alun. Sedang ombak kian mengancam.
“Ada Bendoro.”
“Apa yang terdengar?”
“Suara Bendoro. Suara kasih yang dibawakan oleh denyut jantung.”
“Kau mulai pintar. Mulai pintar — siapa ajari?” Gadis Pantai tertawa lemah “Siapa yang ajari?”
“Kasih Bendoro sendiri.”
“Bagaimana kau perlakukan kasih itu?”
“Sahaya sambut setiap saat dia bersuara, Bendoro.”
“Ah, Mas Nganten, kau belum lagi tanyakan apa oleh-olehku.”
“Sahaya, Bendoro.” Terdiam sebentar kemudian, “… tapi …, apakah oleh-oleh seorang suami, Bendoro, terkecuali rindu?”
“Tidak seluruhnya benar. Ada yang lain: kain Lasem, Mas Nganten, kain Pekalongan. Bosan aku melihat kau mengenakan pakaian Solo itu jua. Gantilah sekali-sekali. Dan juga: intan laut, Mas Nganten. Mutiara, kau pernah lihat mutiara?”
“Belum, Bendoro.”
Bendoro tertawa terbahak sekali ini, senang, terbuka. “Anak laut yang tak pernah lihat intan laut.” Sekali lagi ia tertawa. “Bapakmu bagaimana, pernah lihat mutiara?”
“Cerita pun tidak pernah Bendoro.”
Kembali Bendoro tertawa terbahak. “Cuma orang-orang berani bisa dapatkan mutiara, Mas Nganten. Dia selami laut sampai ke dasarnya. Dibaliknya setiap karang di dasar sana, diangkatnya setiap tiram…”
Gadis Pantai merasa jantungnya terhenti berdetak, dan sebilah sembilu mengiris ujung hatinya. “Bapak sahaya, Bendoro, mungkin kurang berani, mungkin juga tidak menyelam,” katanya hati-hati. “Kasihan bapak sahaya, Bendoro. Kasihan memang. Tapi dia memang bukan cari mutiara, tapi cari nasi, jagung buat anak-bininya.”
“Salah,” Bendoro menggunting. “Mencari jagung tidaklah di laut.”
“Sahaya Bendoro. Mungkin itulah yang disebut takdir bagi orang-orang rendahan yang bodoh.”
“Ahai, guru ngaji yang ajari kau seperti itu?”
“Tidak, Bendoro.”
“Katakanlah, dari siapa?”
“Sahaya pernah dengar orang bilang, Bendoro, orang bawahan selalu lapar, karena itu matanya melihat segala-galanya, kupingnya dengar segala-galanya dan hatinya rasakan segala-galanya, sedang jantungnya deburkan darah buat segala-galanya.”
“Guru ngajimu besok tak perlu datang lagi. Dan kau, Mas Nganten, jangan bicara lagi tentang orang rendahan dan orang atasan. Kita ini manusia yang menjalani perintah dan ketentuan Yang Maha Kuasa. Jangan pernah lagi membicarakannya.”
Baru sekali ini Gadis Pantai tak menyambut.
“Engkau anak yang cerdik.”
Sementara itu dalam kepala Gadis Pantai mengaum-ngaum cerita-cerita pelayan tua itu, cerita tentang segala-galanya, tentang nasib orang bawahan dan kebesaran orang atasan, tentang kejatuhan orang bawahan dan kemuliaan orang atasan, tentang orang bawahan yang menumpang diri kepada orang atasan, tentang kekuasaan dan tentang takdir, tentang Gusti Allah dan tentang kompeni. Jiwanya yang muda itu menangkap dan menggenggam semua, tak peduli mengerti seluruhnya atau sebagian darinya.
“Bendoro.”
“Ya, nak.”
“Bolehkah, sahaya…”
“Katakan, katakan, jangan sampai ayam terburu berkokok.”
“Mengapa Bendoro begitu sering pergi? Berhari-hari? Tinggalkan sahaya menanggung siksa?”
Bendoro tiba-tiba berubah pikirannya. Hatinya yang beku mendadak cair Yang keras dingin mendadak kembali cair hangat. Berbisik ramah:
“Kau, cemburu!”
“Sahaya, Bendoro. Sahaya cemburu.”
“Kau juga tak pernah tanya pada bapakmu ke mana saja perginya kalau dia berlayar, bukan?”
“Ampun Bendoro, tidak pernah.”
“Mengapa tak pernah?”
“Karena sahaya tahu dia bekerja.”
“Mestinya kau tahu juga aku bekerja.”
“Sahaya, Bendoro.”
“Sunyi-senyap benar. Sebentar lagi ayam berkokok…”
“Ah, Bendoro, Bendoro, ben … do…” dengan suara terengah-engah. Tinggal angin kini berjingkrak merajai alam … Dan waktu pun merangkak terus, kadang-kadang saja melompat tanpa irama.
Sk ok ok Gadis Pantai memasuki tahun perkawinannya yang kedua. Kini setiap sebulan sekali ia terpanggil ke ruang tengah. Bendoro, suaminya, duduk pada kursi yang terbalik arahnya, sedang ia sendiri dengan sebuah jepitan bambu menjepit lintah-lintah seekor demi seekor dari stoples, dan diletakkan pada tengkuk, pelipis, kening, juga lengan Bendoro.
“Ya, ya letakkan di sini…”
“Sini, Bendoro?”
“Ke bawah sedikit, beberapa jari ke bawah, ya situ selalu terasa pegal.”
Demikianlah setiap bulan. Dan binatang-binatang yang kurus kering itu menempel dengan letaknya, punggungnya menggelinjang, berombak-ombak, menghisap darah Bendoro dengan rakusnya, semenit, lima, sepuluh, lima belas, dan berubahlah binatang-binatang langsing itu jadi bola-bola bening dengan jeroannya yang nampak coklat gelap. Bila sudah demikian, Gadis Pantai menjaga jatuhnya binatang-binatang yang kekenyangan dengan selembar karet sarang tawon. Binatang-binatang itu tak boleh jatuh ke lantai. Dia tidak boleh jadi pecah dan binasa. Dia harus dikembalikan ke dalam stoples. Dan bila pekerjaan yang membutuhkan keuletan kesabaran itu selesai, pasti terdengar Bendoro mengucap syukur memuji kegunaan binatang-binatang purba itu. Binatang pun tahu berdagang. Rupa-rupanya dagang bukan pekerjaan luar biasa. Lihat! Dan ditunjuknya binatang-binatang itu.
“Itu si Kempul, ini si Karti, itu si Kutil, Ah, mengapa pula namanya si Kutil. Ini si Gempal. Itu si Kunyuk. Itu pedagang-pedagang tulen. Dia terima darahku, dia berikan padaku kesehatan, Mas Nganten, apa mereka tak bijaksana dan berbudi?”
“Terlalu berbudi Bendoro.”
“Aku tak jadi kaya karena pemberiannya. Mereka pun tak jadi kaya karena pemberianku. Itulah kebijaksanaan.”
“Sahaya, Bendoro.”
“Selesai sudah kerja lintah — sekarang pergilah.”
Dan ia pergi balik ke kanan jalan menuju ruang belakang, kadang langsung menuju sasaran, kamarnya sendiri, kadang ke tempat ia biasa membatik. Tapi, baik ia pergi ke kamar maupun terus kerja atau belajar, hatinya selalu kecewa. Sudah memasuki tahun perkawinan kedua, tak pernah hasratnya terkabul.
Suatu kali Bendoro mempersilakannya menemani duduk-duduk di ruang tengah. Dalam hatinya, demi mengabdi pada Bendoro, sengaja ia tindas kenangan dan kangennya pada kedua orang tuanya, pada saudara-saudaranya. Pengabdian ini tak boleh cacat, tak boleh merosot dalam penglihatan dan perasaan Bendoro. Bicara tentang saudara-saudara dan orang tua ia tak mau, biar tidak merusak kewajiban pengabdian yang kokoh. Wanita tua itu telah mengajari bagaimana menjadi bangsawan sejati, jadi ningrat, jadi orang atasan.
Dua tiga kali Bendoro bertanya, “Kau tak ingin lihat orang tuamu?”
“Tidak Bendoro, sahaya lebih suka melayani Bendoro.”
Dan Bendoro selalu tertawa senang.
“Tapi kau anaknya, kau bukan hanya istriku.”
“Sekarang ini kewajiban sahaya adalah mengabdikan diri pada Bendoro. Orang tua sahaya dapat menolong diri sendiri tanpa sahaya, Bendoro.”
“Tak pernah kau kirim utusan ke sana?”
“Tidak Bendoro.”
“Tentu aku percaya. Tak pernah kirim uang atau pakaian ke sana?”
“Tidak Bendoro.”
“Aku percaya, tapi mengapa?”
“Saya tak berani Bendoro. Sahaya hanyalah sahaya.”
Dan sudah tiga kali ini, percakapan semacam itu mati tanpa sambungan. Tentu. Baik di kamar maupun di tempat kerja, dengan sendiri Gadis Pantai kontan teringat dan kangen kepada orang tua dan saudara dan mulailah pekerjaan berat menindas perasaan. Cuma doa saja yang dapat menghibur hatinya, moga-moga keadaan semua berubah, dan ia dapat membalas budi dan segala jerih payah orang tua, terutama bapak yang selalu menentang maut buat menghidupinya.
Ia telah memasuki tahun perkawinan kedua, mendekati umur keenam belas dan keadaan tidak pernah berubah.
Kini ia harus lebih banyak berpikir sendiri, mengambil putusan sendiri, bertindak sendiri. Wanita tua itu makin lama makin tak dapat memberi apa yang ia butuhkan. Ia tak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaannya, ia harus makin memikirkan dirinya sendiri. Malah pada suatu kali ia merasa jengkel, karena jawaban yang pendek tanpa sesuatu keterangan.
“Bagi wanita yang masih muda, Mas Nganten, sebenarnya tak ada kesulitan hidup di dunia, apalagi kalau ia cantik, dan rodi sudah tak ada lagi.”
Ia mengerti wanita itu menyindir dirinya. Ia diam saja. Mau juga ia pada suatu kali membalas menyindir, tapi masih banyak bantuannya yang dibutuhkan. Pada suatu kali ia memberikan perintah pada sanak kerabat yang tinggal di situ untuk membongkar kamar, menjemur segala yang ada. Dan di sore hari waktu semua sudah diletakkan di tempatnya kembali, dan kamar itu menyebarkan bau kapur yang setengah kering, diketahuinya dompetnya sudah tidak tersimpan aman lagi di dalam laci meja hias. Yang demikian baru sekali terjadi. Sekaligus ia berpendapat pasti bukan pelayan tua yang melakukannya, ia hanya seorang sahaya. Dia tak akan merusak kehidupannya yang telah tua. Tak pernah ia begitu ketakutan seperti waktu itu. Apa harus dimakan besok, lusa, kalau uang tak ada? Apa harus dibelanjakan?
Buru-buru dipegangnya wanita tua itu. Ia lupakan sindirannya yang tajam, ia membutuhkan bantuannya, wanita tua itu mendengarkan, menatapnya dengan mata kuyu seperti kehilangan semangat, dan:
“Tidak, bukan mBok, yang kutuduh. mBok tak akan lakukan itu. mBok cukup minta padaku, dan aku akan beri, biarpun sampai sekarang mBok tak pernah minta dan tak mau diberi. Tapi apa mesti kulakukan kalau, kalau … kalau … kita semua toh musti makan? Bagaimana aku harus ganti uang itu?”
“Siapa yang Mas Nganten duga?”
“Mana aku berani menduga? Aku sendirilah yang bersalah. Mungkin aku sendiri yang kurang hati-hati Seperti kata mBok, kurang hati-hati sama juga tidak jujur.”
“Tak ada orang lain masuk ke kamar selain Agus.”
“Ya cuma Agus.”
“Duduk tenang-tenang, Mas Nganten biar sahaya coba usut.”
Ia pergi, dan Gadis Pantai mulai sibuk kembali memeriksa sana sini tapi tanpa hasil. Apakah mungkin bangsawan-bangsawan muda mencuri? pikirnya. Dan pikiran itu sungguh-sungguh menyiksa. Bangsawan! Ningrat! Orang atasan yang ditakdirkan buat memerintah orang bawahannya. Mungkinkah mereka bisa mencuri? Mereka? Ia bebaskan pikiran itu dari otaknya. Syirik! Ia berteriak dalam hatinya, itu pikiran syirik menyangkal takdir! Tentulah aku sendiri yang salah, aku telah lupa tempat menyimpannya! Aku sendiri orang bawahan, orang rendahan, orang kebanyakan. Hanya orang-orang yang seperti aku yang mencuri. Tak ada bujang dapur yang berani masuk kemari! Jangankan kemari ke belakang pun tidak. Pencuri! Pencuri!
Gadis Pantai mendapat serangan saraf —ia mau menjerit, tapi mulutnya dibungkamnya. Bapak emak ampunilah anakmu ini. Ampuni ia. Tak ada orang atasan bisa dan boleh disalahkan. Mereka ditakdirkan buat memerintah. Ya bapak, emak! Ia teguk habis air teh segelas yang terletak di atas meja. Ketegangan sarafnya mereda sejenak, dan jantungnya berdebaran kencang waktu wanita tua itu masuk kembali ke dalam kamar.
“Saya telah panggil agus-agus, periksalah mereka, Mas Nganten.”
“Apa?” Pekiknya tak terkendali. Dan waktu ia menyadari dirinya, suaranya diturunkan jadi bisikan ketakutan.
“Mana mungkin? Mana mungkin? Mereka kerabat Ben-
“Periksalah mereka. Tanyailah mereka,” desak wanita tua itu sambil memimpinnya ke luar kamar.
Wanita tua itu merasai tangan Gadis Pantai menggigil waktu menghadapi para kerabat Bendoro yang pada berdiri di depan pintunya. Tanpa diduga sebelumnya dengan gagah berani ia mulai angkat bicara. Ia telah bertindak sebagai jaksa:
“Gus, jangan susahkan Mas Nganten, siapa merasa ambil uang Mas Nganten? Itu uang belanja. Kalau tak dikembalikan besok semua terpaksa tak makan. Bendoro sendiri juga tak makan. Kembalikan uang itu.”
Dengan mata berapi-api pemuda kerabat-kerabat Bendoro itu menentang mata Gadis Pantai. Dan wanita tua itu merasai tangannya menggigil, wajahnya lesu. Dikencangkan pegangannya untuk memberanikan wanita utama itu. Dengan mata berapi-api karena merasa dihina, seorang pemuda angkat bicara:
“Kau pikir apa kami ini? Orang kampung? Orang dusun? Orang pantai yang tidak pernah lihat duit?”
“Apa ini semua maksudnya menghina kami?” yang lain lagi menyerang.
“Kami bukan bermaksud menghina agus-agus. Bukan. Ada kesulitan bersama, agus-agus. Siapa yang tahu uang itu dipindahkan? Siapa tidak bakal kena murka besok kalau Bendoro mengetahui? Semua kena!”
“Persetan!” seorang lain lagi mendesis. “Dikiranya kami ini maling kelaparan dari kampung nelayan?”
Gadis Pantai tersedan-sedan.
“Kami ini anak sekolahan, tahu pengajaran.”
“Dituduh bandit?”
“Kalau air mata bisa tebus hinaan ini, betapa murahnya itu!”
Gadis Pantai terserang demam saraf dan memekik, “Akulah anak kampung nelayan. Akulah pencurinya. Aku!” dan kemudian meraung, “Aku! cuma aku yang yang mungkin mencuri: Aku! Aku!” dan dipeluknya pelayan tua itu.
Mendengar pekik dan raung pemuda-pemuda itu berpandang-pandangan ketakutan. Bujang-bujang dapur pada berdiri di depan pintu dapur mengawasi adegan itu. Dan wanita itu menepuk-nepuk Gadis Pantai, “Baik, tidak ada yang mengaku. Sahaya cuma orang kampung. Cuma Sahaya. Tapi sahaya tahu apa mesti sahaya perbuat, agus-agus.”
Nampak pemuda-pemuda itu menjadi pucat dan berpandang-padangan satu sama lain.
“Ayoh, kembalikan itu uang!” Tak ada yang menjawab.
“Baik, tunggu agus-agus di sini. Sahaya akan urus. Sahaya akan tunjukan orang kampung juga mengerti bagaimana berbuat. Tunggu di sini bendoro-bendoro kecil, dan ia bimbing Gadis Pantai menuju pintu ke ruang dalam.
“Tunggu!” seorang di antara para pemuda itu menengahi.
“Bagaimana kalau kita rundingkan baik-baik dahulu?”
Gadis Pantai dan pelayan tua itu kini terhenti memunggungi pintu, menghadapi pemuda-pemuda itu. Gadis Pantai tetap menunduk ketakutan, sedang pelayan tua itu meradang menantang. Dengan suara perlahan, sopan dan hati-hati pelayan tua mengacarai, “Apakah yang masih bisa dirundingkan?”
“Kau mau mengadu?”
“Bukankah kewajiban kita mendudukkan kembali apa yang tidak benar?” tangkis pelayan tua itu.
“Kita? Apa maksudnya dengan kita?”
“Kau harus ingat, ingat mBok,” pemuda yang tergarang di antara semuanya menghantam, “kami adalah kerabat terdekat. Orang-orang kampung yang tinggal di sini, kapan saja bisa pergi dari sini buat mati kelaparan di luar sana. Kami tinggal di sini. Tinggal tetap di sini, biar seribu orang kampung ke luar dari sini setiap hari, mengerti?”
Gadis Pantai tersedan-sedan. Ia rangkul kembali pelayan tua itu berbisik di antara sedan-sedannya:
“Aku kemari bukan karena melarikan diri dari kelaparan.”
“Tentu Mas Nganten.” Pelayan itu meneruskannya kepada pemuda-pemuda, “Mas Nganten pergi kemari bukan karena lari dari kelaparan, laut tetap kaya takkan kurang, cuma hati dan budi manusia semakin dangkal dan miskin. Lihat saja ini, uang di rumah dikelilingi tembok begini bisa hilang.”
“Terang-terang saja mBok menuduh kami mencuri?”
“Aku cuma bilang,” pelayan tua itu jadi kasar, “kembalikan uang itu! Di sini ada hukum. Kalau hukum tidak ditaati lagi, mari, mari kita panggil hakim.”
“Kau jangan kurang ajar mau panggil hakim, mBok. Kau sendiri bakal celaka.”
“Orang kampung semacam sahaya ini, bendoro muda, kelahirannya sendiri sudah suatu kecelakaan. Tak ada sesuatu yang lebih celaka, dari nasib orang kampung. Ayoh, mau berunding apa lagi? Kembalikan tidak uang itu?”
“Baik-baik, carilah hakim itu, biar dia adili kau sendiri!”
“Baik, mari mas Nganten,” pelayan itu memapah Gadis Pantai masuk ke dalam ruangan tengah.
Bendoro sedang duduk senang di atas kursi malas. Sebuah meja kecil berdiri di sampingnya. Di atasnya terletak sebuah stoples kristal berisi biskuit buatan negeri Belanda, sedang sebilah capit perak tergeletak di sampingnya. Sinar matahari sore jatuh melimpah-limpah pada deretan tafsir yang sedang dibacanya.
“Ampun Bendoro,” pelayan tua itu memelas setelah menggelesot di lantai. Juga Gadis Pantai duduk menggelesot dilantai.
Bendoro menutup tafsir. Melepas kacamatanya, meletakkannya di pangkuan dan bangkit duduk dari rebahnya, memandang ke samping bawah pada kedua wanita itu, lemah lembut ia bertanya, “Hemmmm?”
“Ampun sahaya, Bendoro, sebentar lagi bendoro masuk khalwat bersembahyang magrib, semoga tidak mengganggu sembahyang Bendoro. Tapi soal ini…soal ini, uang…ah.”
“Uang Mas Nganten hilang?” Bendoro meneruskan dengan tanya.
“Ampun,” Gadis Pantai menjawab sambil semakin menundukkan kepala, dengan kedua tangan menjagangkan pada lantai.
“Kau kurang hati-hati. Uang itu biar rezeki dari Tuhan sekalipun, tidak jatuh begitu saja dari langit.”
“Ampun Bendoro,” sekali lagi Gadis Pantai bersuara semakin perlahan.
“Dan kau, mBok apa yang kau ributkan?”
“Ampun bendoro uang itu hilang.”
“Aku tahu uang itu hilang. Apa yang kau ributkan?” Pelayan tua tak menjawab. Kedua belah tangannya menggigil, sehingga tubuhnya yang bertunjangan pada tangannya meliuk-liuk sedikit.
“Mardi!” Bendoro memekik.
Dari kejauhan terdengar suara sahutan. Dan beberapa detik kemudian muncul seorang anak muda menyembah sebelum memasuki pintu dan duduk menggelesot di lantai, di belakang kedua wanita itu.
“Panggil semua agus kemari.”
Mardi menyembah lagi — hilang dari pandangan dan segera kemudian muncul pemuda-pemuda itu seorang demi seorang dari pintu ruang belakang. Mereka masuk tanpa menyembah, hanya langsung duduk di lantai di samping kedua wanita itu. Semua bersila dan merenungi lantai.
“Siapa ambil uang itu?” Bendoro bertanya perlahan tanpa melihat pada mereka, tapi justru pada lembaran-lembaran tafsir yang mulai dibuka kembali.
Tiada jawaban.
“Benar? Tidak ada yang mau menjawab?”
Tiada berjawab Bendoro tertawa perlahan. Gadis Pantai mengangkat muka untuk melihatnya. Dilihatnya Bendoro sedang mulai membaca tafsirnya. Tapi terdengar suara perlahannya.
“Sejak zaman Nabi memang sudah ada hamba-hamba iblis.” Ia mendengarkan tawa ejekan. “Maling. Siapa heran ada maling selama iblis ada? Tapi maling pun butuh kehormatan, semakin dia tidak punya kehormatan diri ” Tiba-tiba ia tutup tafsir itu dengan kasarnya sehingga berdetak Semua mereka yang duduk di lantai mengangkat pandang. Tapi segera dilihat mereka Bendoro dengan kasar sedang lemparkan pandang ke arah mereka, mereka menunduk kembali.
“Siapa tidak mengerti?” Bendoro bertanya dengan suara mengancam. Setiap orang yang duduk di lantai semakin dalam tunduknya.
“Ya, semua mengerti, itu penting buat dipahami. Tapi apa kehormatan itu?”
Diam sejenak tak seorang berani bergerak.
“Abdullah, apa kehormatan itu?”
Tak berjawab.
“Pertanyaan dibuat untuk dijawab, Abdullah,” suaranya menurun jadi lembut kembali. “Berapa tahun kau sudah tinggal di sini? Tujuh? Kau tak mau menjawab pertanyaanku? Jawabanmu mau kudengar. Hanya jawaban. Kau takkan rugi apa-apa.”
“Sahaya, pamanda.”
“Apa itu kehormatan?” Tak berjawab.
“Tapi kau tahu artinya maling?”
“Sahaya, pamanda.”
“Kau tak tahu apa arti kehormatan?” Tak berjawab.
“Jadi sampai di mana kau belajar mengaji? Benar-benar kau tak tahu maknanya?” Tak berjawab.
“Jadi kau tidak punya kehormatan?”
“Sahaya, pamanda.”
“Kau malingnya!”
“Tidak, tidak, pamanda sahaya bukan maling Sahaya tahu makna maling. Dan sahaya tahu sahaya bukan maling ”
“Apa penjelasannya, maka kau bukan maling?”
“Tidak ada bukti dapat dikemukakan sahaya seorang maling, pamanda.”
“Siapa guru ngajimu?”
“Haji Masduhak, pamanda.”
“Apa sabda Rasulullah kalau bukti itu ada?”
“Disumpah, pamanda.”
“Berani kau disumpah?”
“Pamanda yang memutuskan.”
“Karim! Haji Masduhak juga gurumu? Kau, Karim, apa kata gurumu tentang kemunafikan?”
“Ampun, pamanda, sahaya tiada hafal.”
“Berapa umurmu?”
“Sembilan belas, pamanda.”
“Kau duduk di kelas berapa?”
“Enam, pamanda.”
“Sini, kau berdiri di hadapanku.”
Pemuda Karim beringsut-ingsut dari duduknya sampai di hadapan Bendoro, ia tetap duduk menggelesot di lantai. “Kau dengar aku Karim? Berdiri?”
“Ampun, pamanda,” dan Karim tetap tidak berdiri. “Said,” panggil Bendoro pada pemuda yang lain. “Sahaya, pamanda.”
“Apakah guru ngajimu sama dengan Abdullah?”
“Sama, pamanda.”
“Sama dengan Karim?”
“Sama, pamanda. Haji Masduhak.”
“Gurumu Haji Duhak itu pernah dia ajari kalian tentang ciri-ciri kemunafikan?”
“Pernah, pamanda.”
“Kau, masih ingat?”
“Kau lihat Karim menolak perintahku. Apakah itu munafik?”
“Tidak menurut Ustad, pamanda.”
“Jadi apa itu munafik?”
“Kelihatannya suci dan setia, tapi sebenarnya tidak, pamanda.”
“Karim!” panggil Bendoro tegas-tegas.
“Apa sebabnya uang itu kau ambil?”
Tiada jawaban.
“Terkecuali wanita-wanita ini dan Karim, semua harus pergi.”
Pemuda-pemuda yang diperintahkan beringsut-ingsut mengundurkan diri dan sesampainya di pintu baru mereka berdiri dan lenyap dari pemandangan.
“Karim!”
“Ampun, pamanda. Ampunilah sahaya yang telah khilaf ini.”
“Kau tidak lakukan kekhilafan, Karim.”
“Ampuni kekhilafan sahaya, pamanda.”
“Kau tak dengar aku? Kau tidak khilaf. Dengar! Orang tuamu telah kirimkan kau kemari. Aku telah berikan rumah, sekolah segalanya terbaik bagimu. Aku berikan guru ngaji terbaik di kota ini. Aku berikan pengajaran terbaik di dunia ini. Sabda Allah dan nabi apakah yang masih kurang? Kalau semua ini tidak juga mencukupi bagi pendidikanmu, pergilah pada si guru yang lebih baik. Pergilah kau. Pergi! Aku tak sudi lihat tampangmu lagi seumur hidup. Pergi!”
Tanpa menjawab Karim bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan. Semua mata mengikutinya. Dan waktu ia telah hilang di balik pintu, kembali suara Bendoro terdengar:
“mBok, kau mau lawan kejahatan ini dengan tanganmu, tapi kau tak mampu. Maka itu kau lawan dengan lidahmu Kau pun tak mampu. Kemudian kau cuma melawan dengan hatimu. Setidak-tidaknya kau melawan.”
“Sahaya Bendoro.”
“Itu baik sekali.”
“Siapa ajari kau berbuat begitu?”
“Pengalaman dan perasaan seumur hidup inilah, Bendoro.”
“Kalau begitu pengalaman dan perasaan itu belum lagi cukup.”
“Sahaya, Bendoro.”
“Tahu kau di mana kekurangannya?”
“Kalau tidak khilaf, tahulah sahaya Bendoro.”
“Aku ingin tahu kekurangan itu.”
“Kekurangan sahaya ialah …ialah…ialah karena sahaya terus berusaha bersetia pada Bendoro dan melakukan segala yang dijadikan kewajiban sahaya, karena itu sampai-sampai berani menggugat agus-agus bendoro-bendoro muda.”
“Tepat.”
“Sahaya Bendoro.”
“Jadi kau tahu hukumannya.”
“Bagi orang semacam sahaya, Bendoro, sebenarnya tidak ada hukuman lagi. Hidup pun sudah hukuman.”
“Syirik! tak tahu bersyukur pada Tuhan.”
“Sahaya, Bendoro.”
“Pergi kau. Sekarang juga tak perlu injakkan kaki di rumah ini, jangan pula di pekarangannya.”
“Sahaya, Bendoro.”
“mBok, mBok!” Gadis Pantai meraih tangan pelayan tua itu. “Ampuni dia, Bendoro, Ampuni dia.”
“Jangan buat bising! Kembali kau ke kamarmu sendiri.” Pelayan wanita itu beringsut-ingsut mundur menyembah, kemudian mencapai pintu. Dan Gadis Pantai mengikuti contohnya. Di ruang belakang kedua wanita itu berdiri. Dan di hadapannya telah menunggu bangsawan-bangsawan muda dengan sikap yang masih juga menantang.
“Apa aku bilang?” seorang menegur.
“Kaulah yang terusir ”
Pelayan tua tak menjawab sedang Gadis Pantai menariknya masuk ke dalam kamarnya.
“mBok, mBok sudah tahu, bakal beginilah kejadiannya. Mengapa mBok lakukan juga? Apa aku mesti perbuat tanpa mBok?”
“Biar sahaya ceritai, Mas Nganten, mungkin ini buat penghabisan kali. Mas Nganten masih ingat cerita sahaya tentang kakek sahaya yang ikut berontak bersama Pangeran Diponegoro? Ya Mas Nganten masih ingat, bukan? Seorang penewu3 pernah mengurniainya wejangan: Kau tidak mengabdi kepadaku, man, tidak, man! Kalau kau cuma mengabdi kepadaku, kalau aku tewas dan kau tinggal hidup, kau mengabdi kepada siapa lagi? Kau cari Bendoro baru kalau dia juga tewas? Tidak man, tidak. Kau mengabdi pada tanah ini, tanah yang memberimu nasi dan air. Tapi para raja dan para pangeran dan para bupati sudah jual tanah keramat ini pada Belanda. Kau hanya baru sampai melawan para raja, para pangeran dan para bupati. Satu turunan tidak bakal selesai, man. Kalau para raja, pangeran dan bupati sudah dikalahkan, baru kau bisa berhadapan pada Belanda. Entah berapa turunan lagi. Tapi kerja itu mesti dimulai.”
“Aku tidak mengerti, mBok.” Ia pegangi tangan pelayan tua itu. “Jangan buru-buru pergi. Bisa aku ikut denganmu, mBok?”
“Tidak, Mas Nganten, tidak bakal lama lagi Mas Nganten bakal mengerti wejangan itu. Ayah sahaya teruskan wejangan itu pada sahaya, dan sahaya teruskan pada Mas Nganten. Sekarang Mas Nganten belum mengerti, tapi pengalaman bakal membuat Mas Nganten memahaminya baik-baik. Tuhan senantiasa melindungi Mas Nganten hendaknya.” Dan ia pun bergegas pergi.
Gadis Pantai tertinggal seorang diri di kamarnya, tercabut dari seluruh kekuatan dan tenaganya. Nafasnya megap-megap, tubuhnya meliuk di atas kursi, kedua belah tangannya terkulai di atas meja, dadanya turun naik, sedang matanya merah jingga sebak, dengan pandangan tidak menentu. Ingatannya menangkap dan menggenggam kata-kata pelayan tua itu, tapi ia tak mengerti, terdengar seperti sebuah mantra. Bapak selalu mengucapkan mantra bila hendak tinggalkan darat. Dan tak pernah ia mengerti makna kata-katanya.
Hari-hari meluncur sendat, tertegun, setelah pelayan tua itu lenyap dari kehidupan gedung besar berkurung pagar tembok tinggi itu. Bila tadinya Gadis Pantai hidup sebagai pendiam karena terpaksa, kini ia jadi pendiam karena kehilangan hasrat untuk bicara. Orang sebaik itu keluhnya dalam hati selalu. Orang sebaik itu! Orang sebaik itu! Dan untuk mengisi hari-harinya yang lamban menyebalkan ia menenggelamkan diri dalam kerja batik.
Ingin ia menghadiahkan salah sebuah batik tulisnya pada wanita tua itu. Tapi di gedung ini tak ada orang menyebut-nyebutnya, tak ada yang tahu di mana ia tinggal. Tak pula punya perhatian ke mana perginya. Mereka yang telah keluar dari ge- ’ dung ini, bila bukan kerabat Bendoro, adalah laksana roh-roh yang tidak punya suatu bekas. Mungkin hanya Gadis Pantai yang mau dan selalu mengenangnya.
Musim hujan datang lebih cepat dari seharusnya. Angin kencang antara sebentar mendesak dengan kekuatan besar dari timur-laut, mengangkat sampah dan pasir pantai, pasir alun-alun yang mulai gundul karena kemarau, menerobosi pintu dan jendela, masuk ke dalam kamar bahkan juga ke dalam lemari pakaian dan makan. Masa demikian adalah masa banyak mendoa di kampung nelayan. Dahulu Gadis Pantai tak pernah bersungguh-sungguh mendoa. Tapi kini dirasanya hasrat untuk mengucapkan permohonan pada Tuhan agar seluruh nelayan dilindungi dari mara bahaya, agar angin tidak terlalu kencang, agar ombak tak terlalu jahat, dan agar ikan menjadi jinak.
Sk kok Pada suatu pagi dalam hujan lebat, empat orang wanita dalam keadaan basah kuyup masuk ke dalam dapur. Seorang di antara mereka diantarkan oleh Mardi datang kepadanya.
“Mas Nganten,” Mardi memulai, “pelayan baru buat Mas Nganten.”
Gadis Pantai meletakkan cantingnya, dan mori yang baru setengah terbatik ia gulung dan gantungkan pada jagangnya. “Apa harus kupanggil kau?” Gadis Pantai bertanya. “Mas Nganten, nama sahaya Mardinah.”
“Itu bukan nama orang desa.”
“Sahaya lahir di kota. Mas Nganten. Di Semarang.”
“Berapa umurmu?”
“Empat belas, Mas Nganten.”
“Belum ada laki?”
“Janda Mas Nganten.”
Gadis Pantai tertegun. Ditatapnya wanita muda itu. Lebih tinggi dari dirinya. Air mukanya begitu jernih dan ceria, gerak-geriknya cepat tanpa ragu-ragu.
“Di mana pernah kerja?”
“Di kabupaten Demak, Mas Nganten.”
“Mengapa keluar dan kerja di sini?”
“Sahaya diperintahkan Bendoro Putri Demak bekerja di sini, Mas Nganten.”
“Apa hubungannya Bendoro Putri Demak dengan aku?”
“Mana sahaya tahu, Mas Nganten? Sahaya cuma jalankan perintah.”
“Engkau terlalu cantik buat pelayanku, juga terlalu muda.” Tiba-tiba Gadis Pantai terkejut dengan ucapannya sendiri. Tiba-tiba ia pun menduga pelayan muda ini berseri bebas dan ceria itu sadar akan kelebihan-kelebihannya. Ah, mengapa dia dikirim kemari? Ia teringat pada mBok yang telah pergi. Ah, tidak! Kini aku harus berpikir sendiri, berbuat sendiri tanpa siapa pun. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya ia mulai belajar curiga.
Apa sebabnya wanita muda berumur empat belas dikirimkan kepadaku? Dan dengan sendirinya mengiang-ngiang kembali suara pelayan tua itu: Sekarang Mas Nganten belum mengerti, tapi pengalaman akan membuat Mas Nganten memahaminya baik-baik!
Sekarang ia belajar memahami, mencurigai.
Tak lebih dari dua hari kedatangan Mardinah, terjadi suatu peristiwa. Sore hari ketika Gadis Pantai merasa tak nyaman, dan bertiduran di ranjangnya. Mardinah masuk ke kamarnya dan duduk di kursi.
“Sinilah sebentar,” Gadis Pantai memanggil. Mardinah langsung duduk di kasur.
“Apa Bendoromu yang dulu tidak marah padamu kau duduk di kursi?”
“Bendoro tidak pernah lihat sahaya duduk di kursi. “Apa Bendoromu yang dulu tidak pernah marah melihat kau duduk di kasurnya seperti ini?”
“Bendoro tidak pernah lihat sahaya duduk di kasur.”
“Aku tidak marah padamu.”
“Tentu saja.”
“Mengapa tentu saja?”
“Karena Mas Nganten bukan Bendoro sahaya.”
“Lantas siapa Bendoromu?”
“Bendoro sahaya, ya, Bendoro sendiri.”
“Dan aku?”
“Ah, Mas Nganten. Mas Nganten kan orang kampung?”
Jantung Gadis Pantai terguncang. Dengan sendirinya ia bangkit dan duduk, menantang wajah Mardinah. Tapi ternyata Mardinah membalas tatapan matanya tanpa sedikit pun ragu-ragu. Melihat mata yang berapi-api, Gadis Pantai menjadi takut, menyesali diri.
“Benar, aku orang dari kampung, dan aku tidak menyesal berasal dari kampung. Siapa kau sebenarnya?”
“Yang jelas, sahaya bukan berasal dari kampung.”
“Apa hinanya orang kampung?”
“Setidak-tidaknya dia sebangsa kuli.”
Untuk kedua kali Gadis Pantai terguncang. Ketakutan menjamah seluruh batinnya. Ia mencoba memberanikan diri. “Jadi buat apa kau datang kemari?”
“Yang jelas bukan buat mengabdi pada Mas Nganten.”
“Lantas buat apa kau mendekam di kamar ini?”
Mardinah tak menjawab. Ia hanya tersenyum. Kemudian membuka mata, sedang giginya yang tampak tak terhitami oleh sirih kapur dan pinang ataupun sugi itu gemerlapan menantang.
“Mas Nganten,” katanya perlahan. “Sahaya bisa baca bisa tulis, Mas Nganten bisa?”
Untuk ketiga kali dalam sehari Gadis Pantai terguncang.
“Apa bapak Mas Nganten? Nelayan, bukan? Benar, sahaya tidak salah. Mas Nganten tahu siapa orang tua sahaya? Pensiunan juru tulis.”
Untuk keempat kali jantung Gadis Pantai terguncang. Mardinah tertawa menang dan senang, tapi tak melanjutkan. Gadis Pantai turun dari ranjang. Diperiksanya seluruh lemari dan laci, dikuncinya yang belum terkunci, meninggalkan kamar menuju ke kebun belakang.
Tanah sehabis hujan kemarin sore berwarna coklat tua, sedang butiran-butiran putih kulit kerang yang terhampar membuat tanah berwarna coklat itu silau gemerlapan kena cahaya matahari. Uap yang membumbung dari tanah membuat nafas jadi berat dan sesak. Gadis Pantai duduk di atas bangku kebun di bawah pohon mangga tanaman Bendoro beberapa tahun lalu.
Sekarang Mas Nganten belum mengerti, tapi pengalaman membuat Mas Nganten memahami baik-baik, terngiang kembali wejangan pelayan tua itu. Jadi ini adalah permulaan. Ia tak dapat memikir, ia tak tahu pada siapa ia harus adukan hal dan kesulitannya. Setidak-tidaknya kejadian begini tidak bakal terjadi di kampungnya — kampung nelayan pinggir pantai. Seorang demi seorang di antara keluarganya terbayang: ayahnya yang sedang mengangkat jala, melompat dari perahu turun ke darat, emak sedang menumbuk udang kering, abang-abangnya sedang menambal lunas pada buritan perahu, dengan samar adik-kecilnya sedang memperbarui cat pada pahatan hiasan pada lambung dan haluan perahu … dan terbayang juga dirinya sendiri sedang bertanak nasi-jagung. Bertanak nasi-jagung! Ah, itu dua tahun yang lalu. Sekarang ia tak pernah bertanak Tak pernah menyambal. Tak pernah mencuci piring dan cobek. Dengan lenyapnya kampung nelayan dalam hidupnya lenyap pula laut yang tiada bertepi. Dunianya kini hanyalah kamarnya, dengan beberapa meter radius sebagai lapangan bergerak.
Tiba-tiba pikirannya menangkap Mardi. Mungkin orang itu mau menyampaikan halnya pada Bendoro. Tapi segera kemudian dicegahnya sendiri pikirannya itu. Tidak! Aku harus selesaikan sendiri. Rumah ini harus selamat. Bendoro harus bebas dari segala kesulitan, bebas dari pikiran tentang istrinya. Tidak! Tidak! Aku harus selesaikan sendiri semua. Semua! Semua!
Ia meronta bangun, dengan langkah tegap menaiki jenjang ruang belakang, langsung menuju kamar. Didapatinya Mardinah telah bertiduran di ranjangnya.
Dengan langkah tegap itu pula ia langsung menghampiri Mardinah.
“Orang kota, bangun! Menurut ukuran orang kampung tidaklah sopan tidur di tempat orang lain tanpa izin.” Mardinah tertawa dan bangkit sendiri.
“Rupa-rupanya kau bisa menggeletak dan terlentang di mana-mana, di mana saja.”
Ternyata Mardinah kebal tusukan kata Ia masih juga tertawa. Dan tanpa terduga oleh Gadis Pantai keluar kata-katanya: “Ini, Mas Nganten,” sambil menunjuk-nunjuk dadanya sendiri, “tak lain dan tak bukan adalah tubuh sahaya sendiri. Terserah pada sahaya di mana sahaya taruh dan sahaya geletakkan.”
“Tidak. Tidak terserah padamu semata-mata. Keluar kau dari kamar ini! Jangan masuk lagi. Keluar!”
Lenyaplah tawa dari wajah Mardinah. Dengan mata berapi-api ditantangnya Gadis Pantai.dan dengan suara mengancam ia menyatakan, “Tidak mungkin orang kampung memerintah anak priyayi. Tidak bisa. Tidak mungkin.”
Tapi Gadis Pantai telah menudingnya tepat pada matanya. “Keluar!”
Mardinah dengan kasar melemparkan lengan yang menudung matanya. Tapi Gadis Pantai menuding dengan tangannya yang lain. Kemudian, “juh!” dan sepercik ludah bertengger pada hidung Mardinah.
Tidak kurang dari seminggu lamanya Mardinah tak pernah muncul di kamar Gadis Pantai. Ia tinggal di dapur. Dan karena bukan seorang pekerja dapur, ia hanya duduk-duduk di sana sambil mengobrol dengan para pekerja dapur.
Saban pagi Gadis Pantai turun dari kamarnya, memasuki dapur dan mengawasi santapan yang akan dihidangkan pada suaminya. Ia cicipi semua untuk menentukan baik tidaknya dihidangkan, kemudian ia tutup meja, setelah itu membatik. Dalam seminggu ini bila ia masuk ke dapur, matanya tajam mengikuti segala gerak-gerik pelayannya. Tapi tiada sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Pagi itu waktu ia kembali masuk ke dapur, dilihatnya Mardinah telah menunggunya di belakang pintu. Dilihatnya wanita itu siap hendak menegurnya. Tapi Gadis Pantai jalan terus menuju tungku. Demikian pula waktu ia hendak balik naik ke ruang belakang, dilihatnya Mardinah masih berdiri di belakang pintu, tapi kali ini berhasil membuka suara “Mas Nganten saha…”
Gadis Pantai berjalan terus tanpa menengok.
Mardinah memburunya dan menghadang jalannya.
“Mas Nganten,” tegurnya, dan hadangan itu membuat kedua orang itu berhadap-hadapan.
“Sahaya membutuhkan Mas Nganten.”
“Bukankah aku bukan pelayanmu?”
“Tidak, tentu saja tidak. Tapi sahaya pun bukan pelayan Mas Nganten.”
“Jadi pergilah dari sini. Yang aku butuhkan hanya pelayan.”
“Biarlah sahaya melayani Mas Nganten.”
“Maaf, aku tak butuhkan kau. Aku tahu mengapa kau di sini. Aku akan sampaikan sendiri pada Bendoro.”
Mardinah terdiam. Ia tak tahu apa mesti diperbuat. Nampak pikirannya kacau. Dan kesempatan itu dipergunakan Gadis Pantai untuk menyisihkannya dan meneruskan jalannya ke tempat pembatikan.
Tapi baru saja ia duduk di bangku rendah membatik, Mardinah telah datang menghampirinya membawa batikan pula, juga ikut membatik.
“Mas Nganten,” Mardinah berbisik sehabis meniup cucuk cantingnya.
“Apa kerjamu di sini?”
“Sekarang ini membatik, Mas Nganten.”
“Siapa menggaji kau?”
Mardinah tak menyahut. Ia celupkan cantingnya ke dalam belanga kecil lilin cair dan melukis cucuk burung garuda di atas kain.
“Mas Nganten,” Mardinah memanggil lagi. Dan tanpa menunggu reaksi ia meneruskan. “Mas Nganten bisa membaca, bukan?”
Mengerti kelemahannya sendiri Gadis Pantai terdiam.
“Ada surat buat Mas Nganten.”
“Aku tak membutuhkan surat dari siapa pun.”
“Tapi surat ini sangat penting.”
“Tak ada yang penting bagiku kecuali satu.”
“Tidak ada yang penting? Juga percintaan tidak?”
“Tidak, aku hanya tahu mengabdi pada Bendoro, lain tidak.”
“Bodohnya Mas Nganten ini. Setiap istri pembesar mempunyai kesenangannya, yang satu main ceki, yang lain main cinta, tapi Mas Nganten cuma sibuk di rumah seperti pesakitan.”
Gadis Pantai terhenti membatik. Sekaligus tergambar dalam ingatannya seorang pria bertubuh tegap, tidak begitu tinggi, kulitnya kehitaman, dan suaranya begitu tegas dan yakin, dan bijaksana: tamu Bendoro yang ia tak ketahui namanya. Ia tersenyum sedikit.
“Sahaya juga bekas istri pembesar, Mas Nganten.”
Canting Gadis Pantai yang sedang terangkat dari belanga lilin ke arah batikan terhenti di tengah-tengah pengangkutan, jatuh ke lantai, dan lilin cair dalam canting itu pun tertumpah di atas lantai, mengental kemudian membeku. “Berhentilah membatik bila canting jatuh,” pelayan tua dulu sering memperingatkan. “Ingatlah pada Bendoro, karena otakmu sedang diganggu iblis.”
Sambil mengawasi Mardinah yang sedang tersenyum menyindir, ia meletakkan canting di dalam kotak cerutu. Dan sebelum bangkit berdiri kembali ia awasi Mardinah yang masih juga tersenyum mengawasinya.
“Siapa sedang Mas Nganten pikirkan?” Mardinah bertanya.
Gadis Pantai kaget, bingung. Tahukah dia siapa aku pikirkan? Ia selamatkan wajahnya dari pandang Mardinah. Melangkah masuk ke dalam kamar, duduk termenung di atas kursi di dalam kamarnya. Dua tiga kali ia mengusap wajahnya. Ia ingin bicara. Ia ingin mengadukan halnya. Tak ada orang lain selama ini yang dapat diajak bicara selain Mardinah Beberapa malam ini Bendoro tidak mengunjunginya. Dan ia pun terlalu lelah sehingga tertidur tanpa sempat mengimpi.
Ia ingin bertemu dengan pelayan tua itu. Ia ingin mengadukan halnya. Ia pun ingin tahu bagaimana halnya. Tapi yang ada cuma Mardinah, hanya Mardinah. Dia ingin bicara. “Mardinah,” panggilnya.
“Sahaya, Mas Nganten.”
Dan sebentar kemudian Mardinah masuk ke kamar berdiri di sampingnya agak beberapa meter menjauh.
“Katakan apa yang hendak kau katakan,” Gadis Pantai memulai.
“Seorang pemuda gagah ingin berkenalan, Mas Nganten.”
“Apa lagi?”
“Inilah suratnya Mas Nganten.”
“Apalagi?”
“Haruskah saya bacakan?”
“Tidak. Aku tak membutuhkan surat. Apa lagi hendak kau lakukan?”
“Apa Mas Nganten tak ingin tahu isi surat ini dan membalasnya?”
“Tidak. Apa lagi?”
Mardinah terdiam.
“Kapan pergi dari rumah ini?”
“Kapan? Tapi ini bukan rumah Mas Nganten.”
Sekarang Gadis Pantai terkejut. “Jadi menurut pendapatmu, siapa aku ini?”
“Selir.”
“Baiklah selir. Apa kau sebenarnya?”
“Sahaya.”
“Kapan kau pergi?”
“Sahaya akan bicara sendiri dengan Bendoro.”
“Kapan?”
“Belum tahulah sahaya.”
“Baik, biar aku bawa kau pada Bendoro.”
“Tidak. Tidak perlu.”
“Bendoro pun tak tahu siapa kau ”
“Tidak mungkin.”
“Mari menghadap.”
“Mari. Tapi tidak sekarang.”
“Baik, tidak sekarang nanti jam dua siang.”
“Baik. Tapi jangan jam dua.”
“Baik,” dan Gadis Pantai terdiam. Mardinah masih berdiri beberapa meter di sampingnya.
“Siapa yang menggaji kau di sini?” Gadis Pantai bertanya. “Mas Nganten.”
“Tidak. Aku tak suka menggajimu. Minta gaji pada Bendo- : romu dari Demak. Aku sekarang mulai tahu siapa kau, kau datang kemari buat membuat onar.”
“Tidak, sahaya datang buat kepentingan Bendoro.”
“Ha?”
“Karena tidak layak beberapa kali beristrikan orang kampung melulu.”
Gadis Pantai menjadi pucat. Nafasnya megap-megap. Ia tahu tak punya kekuatan sedikit pun untuk menegakkan diri di tengah-tengah kumpulan bangsawan. Tangannya menggapai-gapai mencari pegangan daun marmer meja. Tapi marmer yang dingin itu tetap dingin. Tak ada sesuatu kekuatan menyembur darinya dan mengisi dirinya.
Melihat keadaan itu segera Mardinah menyerang. “Jadi Mas Nganten tahu siapa sahaya. Seorang yang kebangsawanannya lebih tinggi dari Bendoro telah perintahkan sahaya kemari. Sudah waktunya Bendoro kawin benar-benar dengan seorang gadis yang benar-benar bangsawan juga. Di Demak sudah banyak gadis bangsawan menunggu. Siapa saja boleh Bendoro ambil, sekalipun sampai empat.”
Nafas Gadis Pantai tidak lagi megap-megap, tapi menyekat di tenggorokan. Dengan suara lemas ia berbisik lesu, “Sudah, sudah. Pergi kau. Jangan dekat-dekat aku.”
“Terima kasih Mas Nganten. Sahaya boleh undurkan diri ke dapur.”
Tanpa melihat pada Mardinah, Gadis Pantai mendengar langkah kaki yang lirih hampir-hampir tak tertangkap oleh pendengaran. Ia rasai Mardinah berhenti di depan pintu mengintip padanya. Ia tak bergerak.
Hanya Bendoro yang tak terungkit di sini kata pelayan tua dahulu. Hanya dewa-dewa yang tak terungkit dalam kehidupan ini, yang lain-lain adalah goyah tanpa pegangan. Kelahiran sahaya sudah satu hukuman! terngiang suara pelayan tua itu. Ia meradang — apakah dosa suatu kelahiran di tengah-tengah orang kebanyakan? Mengapa? Apa dosa? Dan tanpa disadari air matanya telah mengembangkan cairan dukacita buat seluruh orang yang berasal dari kampung, terutama kampung nelayan.
Sekarang aku harus pikirkan sendiri semua ini.
Sekarang Mas Nganten belum mengerti kata pelayan tua dulu, tapi pengalaman bakal membuat Mas Nganten memahami baik-baik! Pelayan itu telah pergi. Kini ia harus berpikir sendiri. Dan dalam usia tidak lebih dari 16 tahun. Ia mengerti semua itu dengan perasaannya, dengan tubuh dan jantungnya. Dan ia pun kenangkan kembali kampung nelayan nun jauh di tepi pantai, hari-hari yang penuh tawa, keringat yang mengucur rela, tangan-tangan yang coklat kuat, dan lemah-lembut, dan kasar yang pada saling membantu. Ia tersedan-sedan di sini. Semua pada banting-membanting. Buat apa? Buat apa? Ia merintih buat kehormatan dan nasi. Di sana di kampung nela yan tetesan deras keringat membuat orang tak sempat membuat kehormatan, bahkan tak sempat mendapatkan nasi dalam hidupnya terkecuali jagung tumbuk yang kuning. Betapa mahalnya kehormatan dan nasi!
Dan Gadis Pantai baru 16 umurnya.
Ia bertekad bicara dengan Bendoro, bila Bendoro datang menginap di kamarnya. Ia akan curahkan perasaannya Ia akan minta penjelasan tentang Mardinah, tentang dirinya sendiri. Beberapa malam ia tidak tidur menunggu kedatangan Bendoro. Tapi banyak kali Bendoro kembali lagi ke ruang tengah, setelah bersantap di ruang belakang, bahkan dua tiga kali tanpa menegurnya. Bila malam Jum’at ia tahu Bendoro takkan mungkin menginap. Ia menunggu pada malam Sabtu, malam Minggu, malam Senin, malam Jum’at lagi.
Akhirnya 15 hari setelah pembicaraannya dengan Mardinah, pada suatu malam Bendoro mengetuk pintunya perlahan-lahan. Ia turun dari ranjang dan membukakannya. Bendoro masuk langsung menuju ke ranjang, dan Gadis Pantai menguncinya kembali. Ia tak menyusul suaminya ke ranjang, tapi duduk tepekur di kursi. Ia kehilangan keberanian untuk mulai bicara.
“Kau sakit, Mas Nganten?”
“Tidak, Bendoro.”
“Sudah malam sekarang, mari tidur nak.”
Gadis Pantai bangkit, tapi kemudian duduk kembali, kepala tertunduk. Bendoro turun lagi dari ranjang menghampiri. “Engkau pucat.”
“Sahaya, Bendoro.”
“Benar-benar tidak sakit?”
Gadis Pantai menggeleng, mengangkat pandang sebentar memandang Bendoro, kemudian menunduk kembali.
“Kau rindu pada orang tuamu?”
Gadis Pantai menghembuskan nafas keluh. Ia tetap tak berani mencurahkan perasaannya. Bendoro meletakkan tangannya, di atas bahu Gadis Pantai, dan dengan tangan yang lain mengusap-usap rambut wanita muda itu.
“Aku tahu. Kau mau bicara. Bicaralah.”
“Sahaya, Bendoro.” Dan keberanian Gadis Pantai mulai timbul sedikit. Lidahnya dirasanya kelu, dan segulung rasa yang linu menyerang di bawah kedua belah rahangnya.
“Bicaralah, aku dengarkan.”
“Bendoro…”
“Ya?”
“Mengapa wanita Mardinah dikirim kemari?”
“Buat membantu kau.”
“Siapa dia, Bendoro?”
“Kemenakan jauh, Mas Nganten.”
Gadis Pantai tak mampu meneruskan kata-katanya. Dia kerabat jauh Bendoro. Ia tak punya hak menggugat. Ia berdiri dengan langkah lesu menuju ranjang dan naik ke atas. Waktu Bendoro telah berbaring di sampingnya dan memeluknya, dirasainya air mata hangat telah membasahi wajahnya. Dan waktu Bendoro mengusap-usap wajahnya yang basah itu, Bendoro terhenti sejenak, duduk menatap wajahnya tenang-tenang dalam cahaya listrik yang telah dipatahkan oleh kelambu, bertanya, “Engkau menangis kenapa?”
“Bendoro.”
“Ya?”
“Tidak, tidak jadi Bendoro. Ampuni sahaya.”
“Aku tak mengerti.”
“Bendoro.”
“Ya?”
“Ampuni sahaya. Bolehkah sahaya … tapi jangan murkai sahaya.”
“Tidak tentu saja tidak. Bicaralah.”
“Sahaya ingin … ingin … ingin melihat orang tua sahaya ”
“Tapi mengapa kau menangis?”
“Sahaya hanya mohon diperkenankan melihat orang tua sahaya di kampung, Bendoro. Sahaya takut dimurkai Bendoro.”
“Kau boleh pergi — kapan kau mau pergi?”
“Jika diizinkan besok Bendoro.”
“Baik Besok kau boleh lihat orang tuamu. Mardinah akan temani kau.”
“Ampun Bendoro, jangan.”
“Apa telah diperbuat Mardinah terhadapmu?”
“Tiada Bendoro. Biar sahaya pergi sendiri.”
“Husy, itu tidak benar. Kau harus ditemani.”
“Sahaya, Bendoro. Tapi Mardinah … ampun, Bendoro, jangan.”
“Siapa akan temani kau?”
“Siapa saja Bendoro asal bukan Mardinah.”
“Apakah ia membuat onar.di sini. Mardinah itu?”
“Tentu saja tidak Bendoro. Seorang kerabat Bendoro tidaklah layak mengantarkan orang seperti sahaya ini.”
“Kau tak boleh pergi seorang diri.”
“Sahaya, Bendoro.”
“Kau milikku. Aku yang menentukan apa yang kau boleh dan tidak boleh, harus dan mesti kerjakan. Diamlah kau sekarang. Malam semakin larut,” lalu seperti ada yang terlupa, “tapi kau belum punya persiapan.”
“Apalah yang perlu dipersiapkan Bendoro?”
“Husy. Kau harus selalu ingat-ingat, tak boleh ada sesuatu terjadi yang menyebabkan penghormatan orang berkurang padaku. Bawalah juga beras sekarung.”
“Sahaya, Bendoro.”
“Belanja dulu besok pagi di pasar. Beli dua puluh meter kain kasar, sarung, benang jala, damar, sandal, biskuit ” Bendoro diam mengingat-ingat — tasbih yang baik, hitam mengkilat tanpa cacat. Hitung benar-benar jumlah bizinva, lengkap tidak. Beli juga sebagai hadiahku: tembakau kretek Bojonegoro. Beli satu keranjang.”
“Tak ada yang memikulkan barang yang sebanyak itu, Bendoro.”
“Dokar sewaan bisa antarkan kau sampai ke rumahmu.”
Gadis Pantai ingin menyampaikan, kampungnya tak dapat dicapai oleh dokar. Orang mesti berjalan kaki dua atau tiga kilo meter dari pos. Tapi ia padamkan keinginan itu. Jalan itu sunyi Dan ia bayangkan dirinya terengah-engah mengangkut barang-barang di atas kepalanya, seperti biasanya wanita-wanita nelayan, karena tak mampu beli kain gendongan. Wanita, wanita melulu yang ada di kampung di pagi hari. Kaum pria masih menyisiri laut, atau tidur di gubuk masing-masing, atau sedang menggigil-gigil, karena malaria. Wanita melulu.
Demikianlah malam itu berjalan sangat lambat bagi Gadis Pantai.
Waktu Bendoro telah tergolek layu di sampingnya, lelah dalam kenikmatan, berkeruh deras dalam tidurnya, mulut menganga dan mata masih sedikit terbuka, lambat-lambat Gadis Pantai turun dari ranjang meninggalkan kamar menuju kamar mandi.
Malam gelap gulita waktu itu. Bintang-bintang bertabur di langit hitam. Ia berdiri lama-lama di tengah-tengah pelataran. Bibirnya menggeletar di malam gelap itu membisikan doa syukur. Wajah manusia-manusia tercinta ganti-berganti muncul dalam bayangannya. Wajah manusia-manusia yang tak punya sesuatu pun untuk diberikan, kecuali tenaga, kasih sayang dan ikan. Ah bapak, bapak. Kita ini, ia masih ingat kata-kata bapak pada malam sebelum ia diberangkatkan ke kota,kita ini biar hidup dua belas kali di dunia, tidak bisa kumpulkan duit buat beli barang-barang yang terdapat dalam hanya satu kamar orang-orang kota. Laut, memang luas tak dapat terkuras, kaya tiada terbatas, tapi kerja kita yang memang hina tiada berharga. Besok kau mulai tinggal di kota, “nduk, jadi bini seorang pembesar Kau cuma buka mulut, dan semua kau maui akan berbaris datang kepadamu. Kau tinggal pilih. Ah, bapak. Bapak. Itulah dunia yang kau tawarkan padaku, dunia serba gampang, cuma hati juga yang berat buat dibuka, meski tinggal memilih dan tinggal meminta. Ah, bapak. Bapak. Aku tak butuhkan sesuatu dari dunia kita ini. Aku cuma butuhkan orang-orang tercinta, hati-hati yang terbuka, senyum tawa dan dunia tanpa duka, tanpa takut. Ah, bapak. Bapak. Sia-sia kau kirimkan anakmu ke kota, jadi bini percobaan seorang pembesar.
Dari kamar mandi ia berjalan ke arah dapur. Berhenti sejenak di depan pintu. Itulah pintu yang sehari lebih sepuluh kali dilewati mBok tua yang kini entah ada di mana. Orang yang pernah ia kasari karena perasaannya tersinggung, tapi yang kini ia sesali pernah berbuat kasar itu.
Waktu ingatannya tersentuh pada Mardinah. Ia terhenyak buru-buru ia tinggalkan tempat itu. Di situ ada Mardinah, pekiknya dalam hati. Bodohnya aku, aku kenangkan orang sebaik itu, nyatanya orang yang kubenci yang ada di dalamnya. Ia bersicepat menaiki jenjang ruang belakang, masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam. Duduk termenung di kursi, sampai kemudian terdengar suara lirih, “Mas Nganten, tidurlah.”
“Sahaya, Bendoro,” tapi ia tak bergerak.
“Sudah malam tidurlah, kalau tidak, kau tak perlu pergi besok. Aku khawatir kau masuk angin kelelahan.”
“Sahaya, Bendoro,” dan Gadis Pantai berdiri naik kembali ke dalam ranjang.
“Mengapa kau punggungi aku? Aku tak suka dipunggungi.”
Gadis Pantai mengubah letak tidurnya. “Mas Nganten, kalau kau sudah datang ke kampung,” kata Bendoro dengan suara mengantuk, “sampaikan salamku pada orang tuamu.”
“Beribu terima kasih, Bendoro.”
“Jangan berlaku seperti orang kampung, kau istri priyayi.”
“Sahaya, Bendoro.”
“Tidurlah, tidur.”
Sebentar kemudian seluruh alam pun tertidur Tinggal bintang, ombak dan angin yang masih melakukan tugasnya …
Bagian Ketiga
Kita catat dari daerah ini, kawan
nelayan dimakan ikan
sedang di darat hanya tiga jam istirahat
dari segala yang didapat
untuk tengkulak dan pajak
nasi dan pukat— dari “Kampung Nelayan”, Pinore Gangga
Iblis itu mau giring aku sampai ke neraka, teriaknya dalam hati. Dan dokar sewaan berjalan tenang mengangguk-angguk di jalan pos buatan tuan besar Guntur alias Daendels1. Kuda kacang yang menarik dokar sarat muatan nampak seperti sedang berjingkrak kepanasan. Sedang semak-semak bakau sepanjang pantai nampak begitu hijau dan sunyi. Bau tembakau yang ke luar dari keranjang bergumul melawan bau laut yang abadi.
Gadis Pantai menarik nafas panjang. Sekejap diliriknya Mardinah yang duduk di sampingnya. Mengapa Bendoro kirimkan dia untuk antarkan aku? Mengapa? Mengapa? Bendoro lebih percaya padanya mungkin, pada kerabatnya sendiri. “Surat itu mestinya Mas Nganten balas.”
“Kau pernah ke kampung nelayan, man?” Gadis Pantai bertanya pada kusir tanpa mengacuhkan kata-kata Mardinah. “Sahaya, Bendoro Putri, tentu saja. Sahaya lahir di pantai.”
“Kau tak suka ke laut rupanya.”
“Kalau semua ke laut siapa yang ke darat, Bendoro Putri? Biarlah mereka mendapat makan dari ikan, sahaya lebih senang dari kuda. Cukup satu sajalah binatang sahaya.” Udara bebas itu meniupkan hidup ke dalam dada Gadis Pantai. Buat pertama kali dalam lebih dua tahun ia tertawa puas, tertawa terbuka.
“Apa yang lucu?” Mardinah menegur. “Itu bukan layaknya seorang istri priyayi.”
Gadis Pantai tersumbat.
Angin darat yang kencang menyebabkan kusir tak dengar teguran itu. “Sahaya lebih suka darat, Bendoro Putri, kalau mati ketahuan di mana bangkainya.”
“Bangkai siapa maksudmu, man? Kudamu?”
“Bangkai sahaya sendiri tentu, Bendoro Putri. Sahaya…”
“Sayang benar kau rupanya pada bangkaimu sendiri,” Gadis Pantai memotong kemudian tertawa lepas lagi Dan lagi Mardinah menegur.
“Kau tinggal di mana, man?”
“Kauman Pantai,” khawatir menjawab tanpa menengok pada lawan bicaranya sejak awal percakapan.
“Di tempatmu apa orang tak boleh tertawa?”
“Masya’allaaaah, di mana ada di dunia ini orang tak boleh tertawa?”
Gadis Pantai kembali terdiam. Aku masih terlalu muda, tapi aku lebih tahu dunia, pikirnya. “Berapa umurmu, man?”
“Empat puluh, Bendoro Putri.”
“Lebih baik kau terima surat itu daripada mencoba-coba seorang kusir.”
“Banyak cucumu, man?”
“Bukan banyak lagi, Bendoro Putri, lebih dua puluh.”
“Jangan teruskan bicara dengannya. Aku adukan pada Bendoro.”
“Ada yang kau sayangi, man?”
“Sahaya, sayangi? Semua, Bendoro Putri.”
“Kau tak pernah rodi di kebun coklat, man?”
“Inilah sahaya, Bendoro Putri, sisa yang masih tinggal dari hidup sahaya. Kiai sahaya dulu bilang, setiap orang dikaruniai hidup oleh Allah yang Maha Pengasih, tapi cuma segumpil saja hidup karunia Allah yang benar-benar sahaya miliki, Bendoro Putri. Inilah diri sahaya yang segumpil ini. Sebagian besar habis buat rodi di kebun coklat.”
“Mengapa tak lari?”
“Lari? Ke mana? Di sana kompeni. Di sini kompeni Bapak sahaya seratus dua puluh tahun umurnya baru meninggal. Tapi sahaya ini, baru empat puluh sudah begini reyot, kehabisan tenaga, Bendoro Putri. Bapak sahaya lari-larian saja kerjanya, tak mau kena rodi. Badannya besar, keberaniannya besar. Asal ada huru-hara pasti ikut. Sahaya tidak berani. Sahaya takut mati. Jadilah begini sahaya. Sama laut takut, ikan besar takut. Berani cuma sama kuda dan cucu-cucu.
Kembali Gadis Pantai tertawa senang. Ia temukan dalam logat kusir bahasa yang selama ini ia rindukan, yang ia sendiri ingin ucapkan: kata-kata yang keluar dari hati yang lugu — dari hati yang tertindas.
“Kalau ada nasib, mau kau jadi pembesar?”
“Nasib? Aiya-aiya, kudanya kelelahan, Bendoro Putri terlalu banyak bawaannya. Biar lambat-lambat saja, ya Bendoro Putri? Kasihan dia. Kalau dia angkut tembakau, maka diangkutnyalah tembakau tanpa pernah mendapat bagian. Kalau dia angkut limun, seteguk pun ia tak penah minum. Aiya-aiya, mengapa tuhan takdirkan dia menjadi kuda, dan bukan jadi pembesar?”
Gadis Pantai tertawa lepas terbahak.
“Mas Nganten benar-benar sudah keterlaluan. Apa kata kusir tentang Bendoro nanti? Jadi tertawaan tidak patut.”
“Kalau kuda itu jadi pembesar…”
“Aiya, untung tidak, Bendoro Putri. Kosong terus kuali sahaya nanti. Nasib jelek si kuda, Bendoro Putri, membuat sahaya sekadar makan, kawin dan bercucu sebanyak itu, membuat sahaya tidak menjadi kuda. Tapi dia, dia! Aiya.”
“Apa aiya itu?”
“Sedap mengucapkannya, Bendoro Putri. Lepaslah segala sesak di dada.”
“Dari mana aiya itu?”
“Aiya, dulu sahaya pernah tumpangi seorang singkek. Ngomong tak karuan, Bendoro Putri. Ngobrol banyak. Dari Rembang dia menuju Lasem. Dia bercerita, dahulu dialah yang jadi kuda —di Hongkong katanya — menarik kereta sewaan sambil berlari. Begitulah Bendoro Putri, setiap ngomong mesti ke luar aiya-nya yang ah, ah, senang sekali mengucapkannya. Coba ucapkan Bendoro Putri.”
“Aiya!”
“Enak?”
“Sedap,” dan Gadis Pantai terbahak lepas.
“Tidak bisa, Mas Nganten. Ini tak bisa diteruskan. Sahaya akan adukan pada Bendoro.”
“Kau punya Bendoro, man?”
“Aiya. Semua orang Bendoro sahaya, Bendoro Putri. Cuma itulah susahnya. Tiap hari sahaya mendoa moga-moga tak ada penyakit menyerang kuda sahaya.”
Kembali Gadis Pantai tertawa terbahak, kemudian bertanya, “Berdoa buat kuda? lantas doa apa yang buat anak dan cucumu, man?”
“Mereka bisa berdoa sendiri, Bendoro Putri. Itulah jeleknya takdir kuda. Dia doa saja tak mampu. Aiya, barangkali dia berdoa dengan bahasanya sendiri … bahasa kuda. Mungkin di dalam hati saja.”
“Sayang…”
“Ya, sayang Bendoro Putri.”
“Apa yang sayang.” ,
“Apa? Doanya tidak pernah terkabul, Bendoro Putri. Mungkin ia berdoa agar tidak ditakdirkan jadi kuda lagi seperti sekarang, tapi jadi kusir seperti sahaya ini. Tapi sahaya terus berdoa keras agar sahaya tetap sehat seperti kuda. Kalau takdir berubah, aiya, mungkin sahaya kudanya, dia kusirnya. Celakalah badan yang sudah tua ini, Bendoro Putri.”
“Menyebalkan,” bisik Mardinah.
“Ya menyebalkan, ya man? Nasib dan takdir kuda?”
“Begitulah.”
Dan dokar berjalan kian perlahan, kian perlahan. Pada sebuah tanjakan kuda itu benar-benar kehabisan tenaga dan berhenti. Kusir terpaksa lompat turun, mengambil dua buah batu dan mengganjal rodanya.
“Biar dia mengaso, man.”
“Terima kasih, Bendoro Putri.”
“Nanti kemalaman kita pulang,” Mardinah memperingatkan.
Dan Gadis Pantai pun turun berdiri memunggungi kereta, menebarkan pandang ke laut lepas, menerobosi daerah pesisir yang dirimbuni tunggul-tunggul akar bakau.
“Dua tahun lamanya aku cuma dengar suaranya dari kamar.”
“Lhah, mengapa Bendoro Putri di kamar saja selama dua tahun? Sakit?”
“Sakit?”
“Tentulah sakit parah ”
“Kalau malam hembusan anginnya melalui genteng kamarku. Tambah malam deburannya tambah menyata. Dia memanggil-manggil sini, sini, sini, nak. Mengapa kau lari dari pangkuanku? Semua nenek moyangmu telah kupangku, kuusapi, kubesarkan dan ku…”
“… kuburkan,” kusir itu meneruskan. “Cerita-cerita nelayan selalu begitulah, Bendoro Putri, membuat sahaya ngeri turun ke laut.”
Gadis Pantai membungkuk, menyendok segenggam pasir dengan tangannya dari pinggir jalan. Kersik kerang nampak gemerlapan kena cahaya matahari. Ia taburkan pasir itu perlahan ke tanah, dan jatuh miring tertiup angin.
“Lihatlah kuda sahaya, Bendoro Putri.”
Tiba-tiba Gadis Pantai menjadi murung. Didorongnya pasir di bawah kakinya dengan sandal. Ia angkat muka menghampiri kuda, memperhatikan matanya yang tertutup selembar kulit yang jadi satu dengan abah-abah.
“Kasihan, buat apa punya mata?”
“Kalau sedang dinas begini, matanya cuma jadi hiasan, Bendoro Putri. Kalau dibuka penutupnya, dia tahu nanti apa yang ditariknya: tembakau. Mungkin karena tahu tembakau dia tak mau kerja.”
“Tapi, kau tak merokok kulihat, man?”
“Kuda sahaya juga tidak merokok, Bendoro Putri, tapi sahaya sendiri menyisik.”
“Nanti kuberi persen.”
Kusir itu menepuk-nepuk punggung kudanya. Seluruh tubuh binatang itu sudah bermandikan keringat.
“Ayoh, Gombak, Gombak, ucapkan beribu terima kasih.”
“Dia tidak menyisik, kau yang menyisik, man?”
“Benar, Bendoro Putri, tapi kalau sahaya dapat menyisik, Bendoro Putri, dia dapat persen minum air gula- jawa” Kuda itu mengangkat kepalanya ke atas. “Dia minta istirahat lebih lama dikit, Bendoro Putri. Diperkenankan, kan?”
Gadis Pantai tak menjawab. Ia berjalan menjauh, meninggalkan jalan pos buatan tuan besar Guntur alias Daendels, melompati semak-semak rendah menuju ke laut.
“Mas Nganten,” Mardinah berteriak kemudian melompat turun dari dokar dan memburu. “Ke mana? Banyak ular di akar-akaran bakau di pantai tanpa penghuni begini ” Tanpa memandang Mardinah Gadis Pantai berkata lemah: “Bukankah itu yang kau inginkan?”
“Duduk saja di dalam dokar.”
“Mungkin sekali kalau ada takdir, seekor ular gigit aku, dan kau bisa senang gantikan aku sebagai wanita utama.”
“Tidak mungkin.”
“Mengapa tidak mungkin.”
“Mas Nganten tahu sendiri sahaya cuma seorang janda.”
“Tapi kau wanita bukan?”
“Ah, Mas Nganten begitu lama di gedung tak juga mengerti para pembesar cuma mau terima wanita langsung dari tangan Gusti Allah.”
“Kau?”
“Sahaya bekas lelaki lain.”
“Lantas. Mengapa surat itu kau paksa-paksa padaku?”
“Ayolah, naik ke atas Mas Nganten.”
“Naiklah. Aku lebih suka bicara dengan kusir.”
“Bendoro akan marah.”
“Lebih baik buat kau kan?”
“Tidak enak buat sahaya naik ke atas, sedang Mas Nganten masih di bawah.”
“Kau sering membuat surat buat orang lain?”
“Lantas, siapa yang mesti sahaya surati? Tetapi sahaya bisa menulis.”
“Apakah semua keturunan pembesar begitu?”
“Begitu, bagaimana Mas Nganten?”
”Ya, begitu seperti iblis.”
“Sahaya akan adukan ”
“Pergilah. Adukan sekarang juga. Suruh kusir itu balik ke kota dengan seluruh muatan. Aku bisa jalan kaki.”
Gadis Pantai berjalan balik menuju ke dokar, dan Mardinah mengikuti.
“Habis lelahnya si Gombak, man?”
“Silakan naik, Mas Nganten. Dia memang cerdik cepat benar segarnya kalau tuannya bakal kena tembakau.”
“Tentang tembakau itu, man, aku tak lupa. Tapi kudamu sama sekali tak membutuhkannya.”
“Memang tidak, tapi kusirnya membutuhkannya, Bendoro Putri,” dan dengan suara senang ia berseru, “Silakan naik, Bendoro Putri. Angin sudah tak begitu kencang.”
Semua telah duduk di atas dan dokar berjalan lagi.
“Betapa besar dan luas laut itu. Tanpa batas.”
“Sahaya Bendoro Putri,” kemudian kepada kudanya, “Aiya, yoh, lebih cepat, Gombak! Hati-hati kalau sampai kemalaman di jalan.”
“Pasti kemalaman,” Mardinah memprotes.
“Bukan sekarang saja ada malam, bukan, man?”
“Seumur-umur sahaya, Bendoro Putri, sahaya tahu saban hari ada malam, tidak sekarang saja. Aiya. Ayoh Gombak maju!” dan dengan ujung cambuknya dikilik-kilik kudanya.
“Kau tak pernah cambuk dia.”
“Hanya orang dan binatang bodoh saja kena cambuk, Bendoro Putri.”
“Kalau orang atau binatang jahil.”
“Patutnya disrimpung saja kakinya.”
“Binatangnya atau orangnya? Kalau dia priyayi?”
“Itulah susahnya, Bendoro Putri. Itulah susahnya ditakdirkan jadi kuda dan jadi orang seperti sahaya. Dan hanya orang-orang seperti sahaya kebagian cambuk seperti si Gombak. Tetapi kalau terus menerus dicambuk tentu siapa saja tidak bisa terima. Macan sakit saja, biar sudah lemas kalau diusik-usik terus, tentu akan melawan, Aiya,” cambuknya digeletarkan di udara. Begitu membelah suaranya dalam kesenyapan pantai utara.
Sudah dua jam dokar kretek itu berjalan, belum juga mereka berpapasan dengan dokar lainnya. Grobak pun tak ada mereka papasi. Besok bukan hari pasaran. “Kalau kemalaman kau berani pulang ke kota, man?”
“Ini bukan perjalanan pertama, juga bukan terakhir, Bendoro Putri. Lebih dari lima puluh kali sahaya pulang dari perjalanan jauh. Kadang-kadang sampai di tempat ini laut sudah di pinggiran darat itu, jadi sudah jam tiga pagi.”
“Tidak takut?”
“Siapa tidak takut?”
“Takut, tapi berani juga ya.”
“Bagaimana takkan berani, Bendoro Putri. Malu sahaya pada kuda sahaya nanti. Setan dia tak takut. Rampok dia tak takut. Itulah untungnya kalau mata ditutup.”
Kembali Gadis Pantai tertawa. Sebelum habis tertawanya selesai, disadarinya tertawanya tidak seperti dulu. Dahulu terdengar seperti loyang kuningan tersentuh batu. Ia perpanjang tawanya. Seperti apa suara tawaku? Ia bergeleng-geleng, tak mendapatkan perbandingan.
Gadis Pantai terdiam. Waktu ia melirik dilihatnya Mardinah tertidur senang bersandaran keranjang tembakau. Ia awasi wajah wanita muda itu. Bodohlah pria bila tak perhatikan dia. Mukanya bulat, dan mulutnya begitu kecil, seakan sebuah bawang merah menempel pada sebuah cobek. Sepasang alisnya hitam tebal, hampir-hampir bersambung, sedang dagunya yang begitu tumpul seakan merupakan bagian dari dasar mukanya yang bulat. Wajah yang seindah itu. Tapi apa saja yang dikerjakan hatinya?
Kini ia merasa mengantuk. Sekalinya diawasinya wajah bulat di sampingnya. Berapa pria yang telah dinikmatinya? Ah, mengapa aku punya pikiran sekotor itu?
Ia dengarkan deburan ombak sepanjang pantai yang semakin mendekati darat. Matahari makin condong ke barat, dan ombak tampak semakin besar. Apakah yang dikerjakan bapak sekarang? Dan emak?
Angin bebas meninabobokannya. Seperti emak meninabobokan si adik. Ia senang nikmat dalam buaiannya. Ia tertidur pada keranjang tembakau juga. Dan kedua wanita itu baru terbangun waktu dokar berhenti. Kusir bertanya, “Benar, berhenti di sini, Bendoro Putri?”
Gadis Pantai menebar pandang ke luar jendela dokar, ia masih hafal tempat itu. Tiga batang pohon jati raksasa berdiri beberapa meter di pinggir jalan, sedang pantai tidak nampak sama sekali, bahkan deru ombaknya pun tak terdengar, karena laut berada tidak kurang dari 5 kilometer dari tempat itu. Semua orang di kampung nelayan tahu benar tentang tiga pohon jati itu. Seperti orang-orang sekampungnya, Gadis Pantai setelah turun dari dokar, langsung menuju ke tiga pohon jati itu, mengagumi batangnya yang perkasa dan lurus menjulang ke atas, paling tinggi di antara semua pohon. Ia pegang-pegang batang pohon itu, ia goyangkan tapi sedikit pun tak tergoyangkan, pindah pada batang yang lain dan juga pada yang ke tiga.
“Peninggalan nenek moyang yang tersisa,” kata kusir.
“Jadi kau tahu riwayat tiga batang jati ini?”
Kusir tertawa senang mendapat kehormatan itu. “Sahaya sudah lebih dari sepuluh kali kemari, Bendoro Putri.”
Mardinah mengawasi kedua-duanya, dari atas dokar.
“Waktu tuan Guntur perintahkan seluruh penduduk kampung sini, laki dan perempuan, membuat jalanan ini, mereka tiga harmal tak boleh pulang. Bayi-bayi pada mati kelaparan di rumah.”
“Aku kira cuma di kampung nelayan sana saja orang tahu riwayatnya.”
“Banyak orang yang tahu, Bendoro Putri, sampai-sampai ada tembangnya.”
“Mas Nganten, hari sudah hampir magrib,” Mardinah memotong.
“Man, dokar bisa membelok ke kanan?”
“Jalannya tidak keras, Bendoro Putri, roda agak tenggelam dalam pasir, kasihan kudanya, tapi kita coba pelan-pelan saja.”
“Tiga pal lagi.”
“Benar, sesudah itu dokar tak bisa terus. Ada yang menjemput di sana nanti?”
“Tidak.”
“Tidak?”
Gadis Pantai naik ke atas dokar kembali diikuti oleh kusir. Dokar membelok ke kanan. Roda dokar tenggelam beberapa sentimeter di dalam pasir dan dengan susah payah kuda menarik bebannya. Kusir pun mulai menembang:
duh-duh aduh bayi bocah jadi korban emak pikul tanah bapak babat hutan orang-orang kampung dilarang pulang kejamnya rodi tiada alang kepalang waktu jalan besar sampai ke rembang orang-orang kampung barulah pulang oh nasib bayi bocah sungguhlah malang berserak sudah jadi tulang belulang seluruh kampung dirundung duka di tengah malam pakai obor pelita tiga jati kenangan ditanam bersama rodi celaka jangan sampai terlupa “Orang kampung pun tak semua pulang.”
“Memang tidak semua, Bendoro Putri, lebih separuhnya terkubur sepanjang jalan. Beruntung bapak sahaya kerjanya lari-larian dan berhuru-hara.”
Gadis Pantai ingat pada pelayan tua. Bukanlah kakeknya juga selalu ikut setiap terbit huru-hara? Tapi tak ada keinginannya untuk bertanya. Ia terus membayangkan siapa saja yang bisa dipinta pertolongannya buat angkut barang-barang bawaannya. Dan emak, bapak, saudara-saudara bagaimana mereka akan sambut dia?
“Ayoh, Gombak dua pal lagi. Kau boleh tidur nanti di bawah petecina!”
Dan waktu dokar berhenti di depan sebuah dangau, di tempat jalanan pasir berubah jalan setapak, hari sudah tambah magrib.
“Kalau bukan perintah Bendoro enggan sahaya pergi ke sini.”
“Aku tak perlukan kau, balik saja sekarang.”
Mardinah terdiam.
Mendengar pertengkaran kusir terkejut, mengawasi kedua wanita itu berganti-ganti. Keceriaannya tiba-tiba hilang. Matilah pelanduk bila dua ekor gajah sedang bertarung. Ia menyingkirkan diri dan menutup kuping, duduk di bangku kayu dangau dan memasukkan sejumput tembakau ke dalam mulut - nya, dan memainkannya di antara gusi depan dengan dinding bibir dalam.
“Man!” Gadis Pantai memanggil.
Kusir melompat dan segera menghadap. Sebelum sampai dekat Gadis Pantai, ia dengar suara wanita lain mendesis, “Dasar perempuan kampungan!”
“Inilah kampung. Kampungku. Jangan injakkan kakimu yang indah di atas pasir ini, nyonya janda, kalau tidak mau kena kutukanku.”
Melihat kusir mendekat Mardinah terdiam.
“Bawa dia balik ke kota, man!”
“Perintah Bendoro antarkan Mas Nganten Sahaya tak mungkin pulang seorang diri.”
“Kampung nelayan bukan tempatmu. Pulang kau sendiri.”
“Memang tidak mungkin, Bendoro Putri. Mari kita bereskan dulu bawaan ini.”
“Ayolah, kau bisa angkut yang mana, man?”
“Beras jelas sahaya tidak bakal kuat, Bendoro Putri.”
“Apa kau kira aku kuat.”
“Gombak tentu kuat, tapi ia bukan kuda beban, cuma kuda tarik.”
“Tepat, Bendoro Putri.”
“Cancang kudamu. Pergi kau ke kampung panggil empat orang.”
“Gombak bisa bawa sahaya lebih cepat, Bendoro Putri.” Dan sebentar kusir melepas aba-aba kuda, melompat ke atasnya. Kuda dan kusir kemudian berjalan memasuki jalan setapak dan lenyap di balik rumpun pepohonan petecina, kingkit dan semak-semak.
Gadis Pantai menjauhkan diri dari dokar dan menuju ke dangau, ia duduk di atas bangku kayu. Mardinah melihat sekelilingnya. Kemudian Mardinah pun menyusul.
“Buat apa kau dekat aku?”
“Takut.”
“Kau! Cuma aku tak kau takuti.”
“Sahaya benci pada kampung. Kampung mana saja.”
“Pergi, cepat!”
“Bagaimana sahaya mesti pergi?”
“Kau bukan orang kampung, tentu kau punya kelebihan.”
“Tentu. Sahaya punya kelebihan, sahaya bukan orang kampung. Bapak sahaya juru tulis dan masih kerabat Bendoro.”
“Pergi pada Bendoromu. Roh-roh nenek moyang kami bakal cekik kau kalau berani memasukinya. Kau telah hinakan kampungku, kampung kami kampung nelayan dengan nelayan-nelayan yang gagah berani, yang saban hari pergi ke laut hadapi maut.” Ia menunjuk ke langit.
“Gelap. Petir kampung kami selalu menyambar orang-orang kota yang tak tahu diuntung.” Ditunjuknya Mardinah pada dadanya. “Kau bakal celaka di kampungku. Pulang. Ayoh, balik ke kota sebelum langit menjadi hitam.” Dan mendadak sepasang kilat mengintip dari balik awan gelap.
“Ampuni sahaya, Mas Nganten.”
“Pasangan matanya putih, kalau ia melompat api menyembur. Kemudian dikeluarkannya dua belas tangannya dari balik awan hitam, dan dibelahnya orang yang membenci kampung nelayan dengan pisau kecilnya, kecil dan tumpul. Seminggu dia butuhkan buat membelah musuhnya.”
Nampak Mardinah begitu kecil seperti kucing kehabisan mangsa. “Ampuni sahaya, ampuni. Sahaya cuma dapat titah antarkan Mas Nganten.”
“Benar kau dari Demak?”
“Sahaya, Mas Nganten.”
“Tidak apa dari Demak sana?”
Suara Mardinah menggigil dan ragu-ragu tapi paksakan diri bicara terus, “Panjang ceritanya Mas Nganten. Tapi sahaya cuma dapat perintah.”
“Perintah, buat usir aku?”
“Persaudaraan sekandung dan sepupu di Demak sangat malu, Mas Nganten, karena sampai sekarang Bendoro masih perjaka.”
“Perjaka?” Jadi aku ini apanya?”
“Apa mesti sahaya katakan? Bendoro masih perjaka sebelum beristrikan wanita berbangsa.”
“Kau berbangsa, apa kau ingin diperistri Bendoro.”
“Sahaya, Mas Nganten.”
“Biarpun Bendoro pamanmu sendiri?”
“Sahaya, Mas Nganten, tapi saya cuma seorang janda.” Kembali Gadis Pantai bertanya, “Jadi aku bukan istri Bendoro?”
“Istri, ya, istri, Mas Nganten, cuma namanya istri percobaan.”
“Lantas kau dapat perintah mengusir aku: Biar Bendoro dapat kawin dengan wanita berbangsa, bukan? Ah, ah. Aku bisa menetap di kampung ini, kampungku sendiri. Kau boleh pulang. Jangan ikut masuk ke kampung.”
“Sahaya takut, Mas Nganten.”
“Takut? Di mana kelebihan orang kota, orang berbangsa? Orang kampungan seperti aku ini tidak takut.”
“Jangan biarkan sahaya seorang diri, Mas Nganten.”
“Lebih dua tahun aku tinggal di kota, sampai akhirnya kau datang. Dan baru sekarang ini aku tahu, orang-orang kota, orang-orang berbangsa itu, begitu takutnya kalau orang tidak lagi menghormatinya. Dan mereka begitu takutnya kalau terpaksa menghormati orang-orang kampung.”
Hari telah mulai gelap. Dalam kegelapan Gadis Pantai melihat Mardinah hanya menunduk di atas bangku di sampingnya, kepalanya ditumpangkannya di atas kedua belah tangannya.
Kedua wanita itu masih muda belia, namun berpengalaman sudah dalam banyak hal, seperti umumnya wanita-wanita di rumah-rumah gedung. Keduanya jadi dewasa dalam gemblengan kesulitan-kesulitan.
“Dan Mas Nganten sendiri? Mau kembali ke kampung apa tak takut kehilangan sesuatu?”
“Segalanya telah lenyap dari tangan orang seperti aku, semua orang kampungan. Kami cuma dapat mengimpi. Apa lagi yang dapat hilang dari kami? Impian itu?”
“Apa yang Mas Nganten impikan?”
“Segala-galanya yang tak pernah ada dalam kehidupan kami.”
“Lantas, apa saja yang ada dalam kehidupan Mas Nganten?”
“Setelah lebih dari dua tahun tinggal di gedung, tahulah aku, kami cuma punya kemiskinan, kehinaan dan ketakutan terutama pada orang kota. Di kampung kami tahu benar tepung udang dibayar sebenggol, padahal mestinya empat sen. Itu tidak layak, tidak adil Tapi lihatlah diriku ini. Bukan lagi tepung udang. Manusia! Aku tak bisa dipungut begitu saja dari kampung, disimpan di dalam gedung. Kau, kau orang kota, apa yang kau tahu tentang orang kampung?”
Mardinah tak menjawab.
“Aku kenal seorang wanita tua. Dulu dia layani aku di gedung sejak aku tinggal di sana. Tapi dia diusir karena tuduh agus-agus colong duitku.”
“Dia harus diusir.”
“Mengapa?”
“Dia harus berbakti, bukan menuduh.”
“Tapi ada yang colong duit di antara agus-agus itu.”
“Dia seorang abdi tak tahu lagi cara-cara mengabdi.”
“Pengabdian yang membosankan! Tanpa mengabdi nenek moyangku juga hidup. Laut lebih kaya dari segala-galanya.” Kemudian, “Baliklah kau ke kota aku mau tinggal di kampungku sendiri.”
“Apa sahaya harus katakan pada Bendoro?”
“Mintalah ampun, dan serahkan dirimu, biar Bendoro masih pamanmu sendiri, orang tuamu sendiri, kau sendiri saja jadi bini percobaannya. Mau bukan?”
Dan kusir itu tak juga muncul.
“Mengapa kau diam saja?”
“Sahaya kacau, Mas Nganten.”
“Karena kampung ini yang mau kau hinakan? Coba pikir, lebih dua tahun aku mesti tinggalkan kampungku, hidup di gedung, di lingkungan orang-orang yang tak kukenal, kau baru beberapa saat di sini, sudah kelabakan seperti nenek kehilangan Susur.”
“Sahaya bisa jadi gila di sini.”
“Aku ingin tinggal agak lama di kampungku sendiri.”
“Tidak mungkin, Mas Nganten, sahaya tak sanggup tinggal begitu lama.”
“Kau boleh pulang sekarang pun, aku tak ada keberatan.”
“Berapa lama Mas Nganten akan tinggal di sini?”
“Seminggu, barangkali sebulan.”
“Bendoro tak pernah bilang begitu.”
“Kalau kau orang yang mengerti, sekarang ini kau mesti tahu akulah Bendoro.”
“Tidak mungkin! Tidak mungkin! Sahaya masih punya gelar Mas Nganten, biar pun cuma, Mas.”
Mereka terdiam sejenak. Angin kencang tiba-tiba menerobosi tajuk-tajuk pepohonan dan semak-semak.
“Dingin, Mas Nganten.”
“Kau tak pernah ingat pada nelayan. Telanjang dada mereka pergi ke laut.”
“Mengapa harus telanjang dada?”
“Pakaiannya tak cukup.”
“Oh.”
“Apa yang oh? kau ini aku tertawa tak boleh, begini salah, begitu salah, apa yang oh? Kami memang orang miskin, dan di mata orang kota kemiskinan pun kesalahan. Aku masih ingat pada hari-hari pertama. Bendoro bilang kami orang-orang jorok, tak tahu iman, itu miskin, kau mengerti agama?”
“Sahaya tak pernah belajar ngaji, Mas Nganten.”
“Aku pun, tidak.”
Tanpa mereka sadari kusir telah datang, dan turun dari kudanya. “Empat orang, Bendoro Putri, semua bawa pikulan.”
“Uruslah semua pengangkutannya. Kau mau balik ke kota?”
“Belum, Bendoro Putri. Si Gombak masih lelah, belum lagi mengaso. Kota begitu jauh dan…”
“Tembakau itu? Ambil satu bungkus dari keranjang itu.”
“Beribu terima kasih Bendoro Putri. Cukuplah buat lima belas hari si Gombak minum air gula-jawa.”
Kusir itu memerintahkan mengangkuti barang-barang, kemudian kembali datang pada Gadis Pantai “Cukup orangnya, man?”
“Tentu tidak, Bendoro Putri. Cuma mereka, rupanya yang nanti malam tak turun ke laut. Apa boleh buat. Biarlah sahaya ikut saja membantu.”
“Wah-wah, banyak benar barangnya,” salah seorang penolong berkata. “Ini barang-barang siapa, Bendoro Putri?” seorang lain bertanya.
“Ya, aku yang punya.”
“Mau dibawa ke mana?”
“Ke kampung nelayan.”
Tiba-tiba mereka tak bicara lagi, mulai mengangkuti barang-barang dari dokar dan menyusunnya untuk dipikul. “Tembakaumu sudah kau ambil, man? Jangan lupa.”
Mereka mulai berjalan beriringan memasuki kegelapan malam.
“Sahaya takut,” Mardinah berbisik.
“Lebih baik kau bawa botol-botol itu Aku sendiri keberatan dengan bawaanku.”
“Ah, Mas Nganten…”
“Ya, ya, aku tahu, kerja memang hina, tapi apa salahnya menolong aku?” Dan dengan ragu-ragu Mardinah menjin-jing empat botol yang telah diikat dua-dua.
Mereka berjalan. Cabang dan ranting semak antara sebentar menyangkut pada baju, dan pasir di bawah kaki begitu empuknya seperti lumpur hangat. Para pemikul telah jauh mendahului. Tertinggal dua wanita dan kusir di belakang. “Cepat benar, Mas Nganten, tak bisa lebih perlahan?”
“Lebih baik kau berdoa semoga tak turun hujan.” Mereka berjalan terus dan malam kian menghampiri.
“Masih jauh, Mas Nganten?”
“Kau mau tinggal sendirian di sini?” Dan mereka berjalan terus.
“Mas Nganten sendiri mestinya juga capek ”
“Siapa yang tidak capek, tapi ada yang kita tuju, dan kita belum lagi sampai.”
“Bagaimana sahaya pulang, nanti?” kusir bertanya.
“Man, malam ini juga kau pulang.”
“Sahaya Bendoro Putri.”
“Bawa pulang Bendoro ini, ya?”
“Tidak Mas Nganten, sahaya diperintahkan mengantarkan, dan sahaya akan terus antarkan.”
“Kau dengar, Mardinah? Di sini, di tempat Bendoro suamiku tak ada, akulah Bendoromu. Aku yang perintahkan kau balik ke kota, kalau kau tak suka, ya apa boleh buat, kau mesti menginap. Suka atau tidak tanggunglah sendiri.”
“Kalau menginap, maafkan sahaya, Mas Nganten, ah … ah…”
“Tentu kami akan perhatikan segala keperluanmu.”
Dan mereka berjalan terus. Beberapa buah lampu nampak berkelap-kelip dari kejauhan. Tiba-tiba angin kencang datang meniup. Mardinah menghampiri Gadis Pantai dan mencoba berpegangan padanya.
“Mas Nganten, sahaya…” Gadis Pantai berjalan terus.
“Itulah rumah orang-orang yang menolong angkut barang Bendoro Putri.”
Gadis Pantai masih dapat mengingat-ingat rumah itu — rumah-rumah penghabisan kampung nelayan. Kedua-duanya tak pernah punya perahu sendiri seumur hidupnya, dan terpaksa membantu nelayan-nelayan lain dengan tenaganya. Ia pun ingat namanya. Suli dan Kardi, tapi ia tak pernah bicara dengan mereka. Anak mereka banyak dan kecil-kecil dan kerja anak-anak itu sehari-harian mencari kayu bakar untuk emaknya masing-masing dan bermain-main di pantai.
Waktu sampai di depan rumah mereka, Suli dan Kardi berhenti menunggu. “Sekarang ke mana Bendoro Putri?” kusir bertanya.
Suli dan Kardi sengaja hendak menatap wajah kedua wanita itu. Dan kala Gadis Pantai muncul kena cahaya lampu pelita, mereka berpandang-pandangan kemudian mengawasi Gadis Pantai lama-lama tapi tak bicara sesuatu pun kecuali dengan mata mereka.
“Kalian kenal aku pak? Pak Suli? Pak Kardi?”
“Rasa-rasanya Bendoro.”
“Bendoro? Mengapa aku dipanggil Bendoro, aku orang sini.”
“Sahaya, Bendoro.”
“Bendoro?”
“Ayoh. Suli cepat.” Kardi menganjurkan.
Sementara itu istri-istri dan anak-anak mereka keluar dan merubung. Salah seorang di antara mereka menuding Gadis Pantai dan hendak menegur, tapi emaknya menarik jauh-jauh dan menyuruhnya masuk ke dalam rumah kembali. Tinggal suaranya terdengar oleh semua, “Itu kan Gadis Pantai?”
“Husy, diam kau. Jangan sekali lagi.”
“Mengapa tak boleh?”
“Biarlah, mak, biar dia ke luar,” Gadis Pantai memberanikan.
“Anak-anak ini memang susah diajar, Bendoro.”
“Tidak, aku bukan Bendoro. Mak sendiri kenal aku waktu kecil, kan?”
Wanita itu keluar lagi dengan anak kecilnya yang ditekap mulutnya. “Yang dahulu tinggal dahulu, Bendoro yang sekarang kan lain lagi?”
“Ah, bisa saja omongnya ini mak.”
“Yang itu jangan diangkat sendiri, Bendoro. Biar anak-anak yang bawa.”
“Ayolah, kalau mereka mau.” Dan anak-anak itu berebut keras mau ikut menolong.
“Ayoh, mari ikut semua. Ayoh, mak sama-sama ikut.”
“Biarlah sahaya tunggu di rumah. Anak-anak saja yang iringkan Bendoro.”
Sampai yang masih menetek pun mau ikut. Suli dan Kardi telah mendahului. Dan rombongan belakang itu, berjalan sendiri seperti mengiringkan pengantin.
“Dulu tak dipanggil Bendoro,” seorang anak berbisik nyata. “Cantik, ya sekarang?”
“Ah-ah, anak-anak ini,” kusir memperingatkan.
“Ayoh, nyanyi!” Gadis Pantai memberanikan “Apa? Menyanyi, Mas Nganten?”
“Nyanyi apa? Angin meniup?”
“Angin meniup, ya, ayoh!”
Suara bening kanak-kanak itu pun menembusi kegelapan dan kesunyian pantai:
menukik-nukik menukik-nukik menukik kau angin beliung masuklah masuk masuklah masuk masuklah kau ke kawah gunung pergilah pergi pergilah pergi pergilah kau ke dalam hutan di sanalah sana di sanalah sana berganda mangsa berkeliaran Gadis Pantai menitikkan air mata. Terbayang olehnya bapak sedang menebarkan jala di dalam gelap. Angin beliung telah menderu-deru dari kejauhan. Langit gelap gulita, dan jala tersangkut pada cabang karang. Ah, berapa kali saja bapak pulang bawa cerita semacam itu? Dan bapak bersama saudara-saudaranya melompat ke dalam air dingin, menyelam, melepaskan jala.
“Nyanyi yang lain,” kusir mengacarai.
Gadis Pantai tak dengar, ia bayangkan bapak. Karena dialah aku sekarang selamat ada di sini. Ah, bapak, dan ia bayangkan emak. Apa yang sedang dikerjakan sekarang?
Suli dan Kardi telah jauh di depan. Tiba-tiba dari kejauhan nampak berbagai obor bergerak menyambut, sedang lelatu daun kelapa kering bertebaran tertiup angin.
“Siapa mereka itu Mas Nganten?”
“Orang tuaku, tetanggaku, kenalanku.”
Anak-anak kecil itu tiba-tiba mendahului menyerbu lari sambil berteriak-teriak, “Gadis Pantai datang, Gadis Pantai datang.”
Obor dan lampu pun kian banyak dalam kegelapan, kemudian muncul juga wajah-wajah mengkilat keringatan. “Gadis Pantai! Gadis Pantai.”
“Husy, diam! Jangan kurang ajar anak-anak!” seorang dari rombongan penjemput menggertak.
Gadis Pantai terbangun dari sendunya. Ia rasai sesuatu menggerumuti bulu tengkuknya. Dahulu tak pernah orang menyambutnya seperti sekarang. Ia merasa begitu asing. Dari kejauhan ia lihat bapak berjalan paling depan membawa obor daun kelapa kering. Ia bertelanjang dada. Dan otot-ototnya yang perkasa berkilat-kilat setiap bergerak kena cahaya obor. Gadis Pantai lari, lari, lari. Pasir di bawah kakinya berhamburan. Gadis Pantai hanya melihat satu sosok tubuh saja di antara sekian banyak.
“Bapak! Bapak!” dan ia pun menubruk kaki bapak, memeluknya dengan kedua belah tangannya.
Bapak mengusap-usap rambutnya. “Selamat kau, nak?”
Seluruh obor turun ke bawah dan mengepung kedua bapak dan anak. “Pangestu, bapak.”
Tiada seorang pun bicara, berdiri pesona laksana segerombolan patung.
“Berdiri, nak.”
Gadis Pantai berdiri mengawasi sekelilingnya, menatap setiap wajah yang melingkunginya. Dan setiap orang yang dipandangnya segera nunduk gelisah. Gadis Pantai jadi kecut. Mereka tak begitu dulu. Benar, tidak begitu dulu, ia yakinkan dirinya sendiri. Ia merasa asing dan terpencil laksana seekor kera dalam kerangkeng. Ia berdiri dengan bantuan tangan perkasa bapak.
“Mari pulang, emak menunggu di rumah.”
Ia pandangi bapak dan dengan mata ragu-ragu bapak menghindarkan pandangnya.
Bapak? Mengapa bapak pun segan menatap aku? Anaknya sendiri. Dan bumi di bawah kakinya terasa goyah. Kampung nelayan ini telah kehilangan perlindungan yang meyakinkan baginya. Sedang dari belakang terus juga mengikuti mata-mata Bendoro yang tak dapat dikebaskan dari bayang-bayangnya. Ia masih kenal benar siapa-siapa yang menjemputnya — tetangga-tetangganya. Ada yang dahulu pernah menjewernya. Ada yang pernah mendongenginya. Ada yang pernah mengangkat dan menggendongnya sewaktu ia habis jatuh dari pohon jambu. Ada yang sering dibantunya menunggu dapur. Dan ada bocah-bocah kecil yang digendongnya dulu. Tapi semua tidaklah wajar lagi terhadapnya, tidak seperti dulu. Antara sebentar ia dengar kata Bendoro Putri! Bendoro! Bendoro! Bendoro Putri! Kata itu mendengung memburu. Mengiris dan meremas di dalam otaknya Bendoro! Bendoro Putri! Bendoro! Bendoro Putri! Dan pasang-pasang mata yang menunduk hormat bila tertatap olehnya seakan menyindirnya: semu, semu, semua semu!
Dalam iringan bapak ia berjalan lambat ragu-ragu. Benar, kampung nelayan ini bukan kampungnya yang dulu lagi. Bahkan kegelapan malam yang ditembusi cahaya obor-obor daun kelapa kering rasa-rasanya juga bukan kegelapan malam kampung nelayan yang dulu. Sedang riak yang menjilati pantai, dan gemerlapan lemah kena cahaya obor, rasa-rasanya bukan lagi riak sejak sejuta tahun yang lalu. Suara-suara yang terdengar sekalipun, dalam bisikan lemah pun, terdengar olehnya begitu suram, begitu tak rela dan menyindir.
Mardinah tiada buka mulut sama sekali. Kusir pun segan membuka bibir. Bocah-bocah kecil berloncatan mengelilingi sambil memandangnya, seakan dia ikan duyung yang baru saja tertangkap.
Di depan dan di belakangnya bocah-bocah kecil tak habis-habisnya mengawasi setiap gerak-gerik, dan setiap benda yang lekat pada tubuhnya. Seorang bocah bahkan menahan tangan kirinya dan mengawasi cincinnya, beberapa orang bocah berlari mendahului masuk ke dalam rumah. Ia mengerahkan seluruh perhatiannya, untuk mendapatkan emak menyambutnya di depan pintu. Tapi wanita itu tidak nampak. Hatinya jadi kecut.
Semua orang dewasa mengiringkannya di belakangnya. Cuma bapak berjalan di sampingnya pun agak di belakangnya.
“Mengapa di belakang, bapak?”
Bapak terbatuk-batuk.
“Mana emak, bapak?”
“Di mana tempat perempuan kampung kalau tak di dapur?”
“Ah, Emak,” dan Gadis Pantai lari. Sandalnya yang sebelah melompat entah di mana ia menyerbu ke dalam rumah. “Emak, mak! Emak, mak.”
Tapi tak terdengar suara menjawab. Cuma api di dapur menjilat-jilat belanga besar yang selama ini tak dipergunakan, terkecuali bila kampung mengadakan pesta. Ia berdiri di depan api. Ia mencoba mendengarkan. Ya, ada sesuatu terdengar olehnya: angin dari laut. Ya, ada sesuatu lagi: suara lirih tertahan-tahan.
“Mak!” ia menjerit waktu dilihatnya emak berlutut di pojokan rumah. “Ah, emak, emak.”
Tapi emak Cuma menjawab dengan sedu-sedannya Gadis Pantai menyambut dengan sedu-sedannya juga. Keduanya berlutut tanpa bicara.
Dan orang-orang pun kini telah masuk semua ke dalam rumah.
Melihat tamasya itu semua orang berhenti tak menghampiri. Bapak membalikkan badan, dengan tergesa-gesa ke luar dari rumah, menyerahkan dirinya pada kegelapan pantai. “Kau baik, nak?” emak bertanya terputus-putus. “Pangestu, mak.”
“Begitu lama kau tak nampak,” dan emak terus tersedan-sedan.
“Emak dan bapak tak pernah panggil aku pulang.”
“Ah, terlalu, terlalu. Apakah hak kami memanggil istri seorang Bendoro?”
“Ampuni aku, mak, ampuni.”
Orang tua-tua dan orang dewasa seorang demi seorang ke luar rumah, mengikuti contoh bapak. Tinggal bocah-bocah yang jadi saksi bagi anak dan emak di pojok rumah di kampung nelayan.
“Mengapa mak sambut aku dengan tangis, mak?”
“Apakah jahatnya air mata buat anaknya sendiri, biarpun dia istri seorang Bendoro?”
“Mak tak suka aku pulang, mak?”
Emak sekarang melolong.
“Emak!”
Kemudian wanita-wanita kampung nelayan pun pada masuk ke dalam. Mereka berhenti tidak jauh dari anak-anak itu. “Pengabdianmu diterima Bendoro, nak?”
“Apa yang dikehendaki emak dan bapak kucoba lakukan sebaiknya, mak.”
“Bukan bapakmu, bukan emakmu tapi Gusti Allah yang menghendaki, nak.”
“Emak baik, mak?”
“Cuma kau yang selalu terbayang, mengapa kau pulang?” ’ “Aku masih anakmu, mak”
“Kau tak kena murka?”
“Tidak.”
“Kau tidak dikembalikan pada kami?”
“Tidak.”
“Kau datang atas kehendak sendiri?”
“Benar”
“Kau datang dengan seizin Bendoro suamimu?”
“Tidak bisa lain, mak.”
Emak menghapus air matanya, berdiri. “Betapa cantiknya kau sekarang.”
Dan wanita-wanita tetangga pun mulai mendekat. “Seperti bidadari,” beberapa orang menyambung suara.
Dan Gadis Pantai merasai setiap orang mencoba kuat-kuat untuk meniru kesopanan orang kota, menempatkannya di tempat yang lain, membedakannya dari yang lain-lain seperti pada penderita kusta. Setiap pandangannya bertatap pada wajah, segera wajah itu pun tunduk sambil tersenyum, dengan kedua belah tangan tergantung tanpa tenaga! Tangan-tangan yang biasa lumatkan biji-biji jagung keras, yang biasa mengeping-ngeping kayu bakar yang keras ulet seperti berasal di zaman purba.
“Kita, masak!” Gadis Pantai mencoba mengubah suasana.
Tanpa membuka mulut orang-orang itu pun menuju ke dapur. Sejurus sunyi. Tiba-tiba seorang nenek melengking, “Mana orang-orang lelaki? Ayoh, kerja!” Hore, bocah-bocah bersorak.
Karung beras dibongkar. Botol-botol kecap lari ke dapur. Oleh-oleh digelar di atas ambin. Kaum lelaki mulai masuk kembali ke dalam rumah. Gadis Pantai mengeluarkan dua lembar sarung pelekat dan diserahkan pada kakek tertua kampung nelayan, selembar lainnya pada lurah.
“Yang lain-lain,” kakek tua angkat bicara, “cukup makan kenyang-kenyang saja, ya.”
“Beras sekarung takkan habis buat orang sebanyak ini.” Gadis Pantai menyusul suaranya.
“Terima kasih, Bendoro Putri.”
“Mengapa Bendoro Putri? Inilah Bendoro yang tulen!” Gadis Pantai menunjuk dengan jempolnya pada Mardinah.
Barulah kini perhatian teralih pada Mardinah, wanita kota bermuka bulat, bermulut kecil laksana sebuah bawang merah menempel pada bawah cobek.
Malam itu kampung nelayan bermandikan cahaya obor. Di sana-sini terdengar orang menyanyi, dan menjelang subuh tiada satu pun yang turun ke laut.
“Jangan ikut masak, Bendoro Putri,” orang-orang mencegah Gadis Pantai. Ternyata kusir pun ikut berpesta, lupa pada si Gombak kudanya yang tercancang sebatang kara di penghujung jalan setapak.
Cuma setahun sekali kegirangan dan kedamaian semacam -ini terjadi: di waktu lebaran haji, dan seluruh keluarga nelayan turun ke laut, menyerahkan ketupat pada dewa laut, meminta berkah dan memohon jangan hendaknya diganggu dalam pekerjaan sehari-hari.
Setiap orang merasa bangga, seorang gadis dari kampung mereka telah jadi orang kota, jadi bangsawan, jadi Bendoro. Dan setiap orang merasa bangga kampung mereka dikunjungi seorang bangsawan turunan: Mardinah.
Si Dul pendongeng dengan rebana di tangan sedang asyik mendongeng ketika orang-orang pada sibuk melayani Gadis Pantai. Ia menyanyikan cerita waktu tuan besar Guntur alias Daendels membangun jalan raya menerjang selatan daerah mereka.
oh, oh dewa sejagad kalah bengisnya malilah dia berani tolak perintahnya bupati mantre Semua priyayi apalagi orang kecil yang ditakdirkan jadi kuli dia sandang pedang tipis di pinggang kiri tapi titahnya wah wah wah lebih dahsyat lagi laksana geledek sambar perahu dan tali-temali sehela nafas sedepa jalan harus jadi menggigil semua dengar namanya guntur semua pada takluk gunung kali dan rawa pantai dan jalan berjajar panjang membujur kepala kawula jadi titian orang yang kuasa … “Bukan main, tuan besar Guntur,” seorang menyela. “Kalau ada empat orang seperti dia, habislah orang Jawa.” waktu jalan panjang Sempurna jadi kereta-kereta indah jalan tiap hari bawa tuan-tuan nyonya-nyonya dan putri-putri tuan besar gubernur jenderal dan para abdi “Ganti saja ceritanya!” seseorang lain menyela. “Ya, ya, ganti! Ceritakan saja kisah Gadis Pantai,” seseorang mengusulkan. Pendongeng itu berhenti sebentar. Menarik nafas dan mereguk kopinya, kemudian memulai dengan cerita baru. Laut tenang angin pun damai “Panggil Bendoro Putri biar ikut dengarkan.”
“Suruh dia mendongeng lebih keras — tak usah dipanggil.”
“Ya, nyanyinya keras sedikit.”
Pendongeng memukul rebananya keras-keras dan mengencangkan suaranya:
laut tenang angin pun damai nelayan pulang melepas dahaga tiada tandingan cantiknya gadis pantai laksana nawangwulan turun ke telaga “Bendoro Putri mari keluar — ke sinilah!” seorang berseru. “Mari ikut dengarkan.” Pendongeng memukul rebana lebih kencang dan bersemangat.
gadis tercantik kampung nelayan idaman pemuda pujaan perawan kekasih tua-muda laki-perempuan gadis pantai “duhai cantik rupawan orang-orang kota penasaran bunga mekar di kampung nelayan bendoro pun cepat kirim utusan bawa lamaran orang kasmaran bunga dipetik menghias gedongan dimandikan mawar disunting berlian tiada lupa orang tua dan kenalan manis budi gadis pantai jadi teladan …
Rebana makin keras dipukul, giring-giringnya makin menggerincing. Dongeng semakin asyik menggelitik, suara laut semakin mendekat, dan malam semakin larut. Keriuhan mencapai puncaknya waktu hidangan tersedia, lengkap dengan segala lauk-pauk dan bumbu-bumbu dari kota. Beberapa orang mulai menjelepoh di pasir, di bawah-bawah pohon karena mabuk tuak, sedang ruas-ruas bambu tempat bekas tuak bertebaran di mana-mana. Perut yang kenyang membuat keriuhan semakin lama semakin surut. Obor-obor makin pudar dan padam. Bocah-bocah pada kehabisan tenaga bergolek di teritis rumah, bahkan di bawah ambin. Akhirnya padam sama sekali kampung nelayan. Yang ronda pun lupa pada kewajibannya. “Mas Nganten,” Mardinah berbisik, “di mana sahaya tidur?”
“Tidurlah bersama aku.”
“Tidak ada kamar?”
“Menggeletak bersama dan seperti yang lain.”
“Mas Nganten…”
Matahari merangkak cepat tanpa disadari. Baru setelah ada bocah menjerit bangun karena boroknya dipatuk ayam, orang-orang mulai membuka mata, mengucek-ngucek, terbatuk-batuk, kemudian mencari tempat-tempat kelindungan untuk melepas air Laut telah lama menjauh dari pantai dan perahu-perahu yang kemarin telah disediakan kini pada kandas di pasir. Bocah-bocah berebutan pada menyerbu dapur mencari sisa-sisa semalam. Dan mendadak saja kampung nelayan sibuk kembali.
“Di mana sahaya mesti mandi Mas Nganten?”
“Di kulah, tentu.”
“Air asin tentu. Sabun tak bakal mudah lenyap terbasuh.”
“Jangan dengan sabun.”
“Sehabis perjalanan kemarin? Tanpa mandi semalam?”
“Kami hanya orang kampung miskin. Kadang-kadang sama sekali tak mandi air, lebih banyak mandi keringat dan laut.”
“Seminggu saja di sini, jadi ikan asinlah sahaya.”
“Man, Man!” Gadis Pantai berseru-seru.
Sambil mengerudungi badan bawahnya kusir segera menghadap. “Ah, Bendoro Putri, lupa sahaya pada kuda sahaya.”
“Jangan khawatir tak ada bajak semalam.”
“Tak ada memang. Bagaimana kalau kakinya digigit ular?”
“Terpaksa kau turun juga ke laut.”
“Tak ada binatang yang lebih menyenangkan daripada kuda, Bendoro Putri. Makannya cuma dedak dan rumput, tapi dia beri anak bini sahaya segala yang kami butuhkan. Sahaya tak perlu cari dia, tidak seperti ikan, Bendoro Putri.”
“Tak lupa tembakaumu?”
“Semalam sahaya pergunakan jadi bantal, Bendoro Putri, sayang benar kalau jadi asap tanpa lewat hidung sahaya sendiri.”
“Bawa Bendoro Putri ini pulang ke kota.”
“Sahaya Bendoro.”
“Mas Nganten juga mesti balik.”
“Kapan kau punya hak memerintah aku? Man, bersiap-siap kau, cepat.”
“Lhah, di mana sahaya mandi Bendoro Putri?”
“Tanyalah pada kudamu.”
Dengan demikian di pagi hari itu juga Mardinah kembali ke kota. Ternyata cuma segumpil kecil saja kelegaan yang diperoleh Gadis Pantai. Pasang-pasang mata yang menyinarkan pandang tak wajar padanya, kesopanan yang dibuat-buat, kekakuan yang menjengkelkan. Terutama orang tuanya yang begitu jauh terhadapnya, menyebabkan ia merasa seperti batu karang tunggal, tak punya sesuatu hubungan dengan dirinya, terkecuali laut yang mengandung kesepian.
Bila ia masuk ke dalam rumah bukan lagi emak yang ramah dan selalu melindunginya yang didapatkan, tapi tetangganya yang dengan sukarela bekerja buat menyenangkannya. Sekarang bapaknya hampir-hampir tak berani masuk ke dalam bila ia tidak di luar rumah. Berapa kali sudah dalam sepagi itu, ia panggil bapak. Tapi ia muncul hanya sampai di pintu mendengarkan suaranya, mengangguk dalam, dan kemudian pergi lagi.
Semua orang menahannya dari bekerja. Semua orang memusatkan perhatian padanya. Setiap langkah dan gerak-geriknya diperhatikan. Maling kesiangan pun tak sejanggal nasibku dewasa ini. Rumah kelahirannya kini tak lagi kuasa melindunginya lagi.
“Bapak,” akhirnya ia memanggil. Dan seperti selama sepagi itu, kini Bapak kembali muncul di pintu. “Mengapa bapak tak terus masuk pak?”
“Di sini lebih senang, panas di dalam.”
“Ah, bapak, aku tahu karena aku di sini. Bapak tak mau masuk.”
“Tidak benar, itu tidak benar. Apakah yang bisa kuperbuat untukmu?”
“Dekatlah sini.”
“Panas di dalam ”
“Panggil namaku pun bapak tak sudi lagi.”
“Bukan galibnya lagi anak terhormat dipanggil pada namanya.”
“Ah, bapak dekatlah, sini.”
“Biarlah, aku di sini saja.”
Gadis Pantai melangkah ke pintu menghampiri bapak. Dan bapak meninggalkan bendul pintu menyingkir keluar. “Aku ingin seperti dulu lagi, bapak, seperti dulu. Orang tak perhatikan aku.”
“Tak ada yang perhatikan.”
“Mari jalan-jalan bapak. Lihat-lihat sepanjang pantai.”
“Apa yang mau dilihat di pantai?”
“Dua tahun lebih aku tak injak pasirnya yang basah dan hangat.”
“Tinggal saja di rumah, masih lelah dari perjalanan kemarin.”
Gadis Pantai melangkah keluar, berjalan lambat-lambat menuju ke pantai. Bocah-bocah segera menyerbu dan mengikuti riuh rendah suara mereka, dan semua orang ke luar rumah menghantarkannya dengan pandang. Bapak mengiringkan dari belakang.
“Mengapa bapak selalu di belakangku? Bukankah bapak masih bapakku?”
Bocah-bocah pada berkicau mengenalkan keanehan pantai. Waktu Gadis Pantai lebih jauh lagi berjalan, yang nampak dan tercium masih yang dulu juga: ampas manusia yang berbaris sepanjang pantai, berbaris tanpa komando. “Ingin aku mandi di laut.”
“Tak jelas, apakah patut.”
“Memang tak patut, tapi aku ingin.”
“Tidak mungkin.”
“Memang tidak mungkin.”
“Ai, bocah-bocah mengapa meriung-riung seperti udang di nampan? Ayoh bubar!” dan dengan tampang mengancam bapak melototi bocah terbesar.
Rombongan bocah itu pun mundur dan menggerombol, berhenti di suatu jarak dan mengawasi anak dan bapak berjalan terus menelusuri pantai.
“Mengapa tidak seperti waktu aku belum kawin? Kampungnya tak berubah, tapi orang-orangnya semua berubah.”
“Kita semua semakin jadi tua.”
“Lihatlah,” ia menuding pada laut, “dia tak berubah,” kemudian membalik badan menuding ke kampung. “Dia pun tak berubah. Atap-atap rumbianya tak ada yang baru. Pohon-pohon kelapa itu kulihat tak bertambah. Ada yang mati sepeninggalku?”
“Tidak.”
“Cuma bocah-bocah semakin besar, dan banyak.”
Bapak mendaham.
“Sedikit sekali perubahannya.”
“Sedikit sekali memang.”
“Tapi orang-orangnya jelas berubah. Terhadap aku. Bahkan bapak sendiri. Seakan mereka pada menuding padaku: pergilah lekas, pulang kau ke kota.”
“Tidak benar. Tidak benar.” Bapak mengulang-ulang dengan jerit tertahan.
“Aku datang dan tak seorang pun turun ke laut.”
“Tak patutkah mereka ikut gembira bersama bapak yang ditinggalkan dua tahun tanpa kabar tanpa berita?”
“Dua tahun lebih sedikit. Tapi tak ada kulihat bapak bergembira.”
“Tak patutlah orang setua ini berjingkrak seperti bocah.”
“Betapa bodohnya aku mengharapkan bapak berjingkrak “” Ia menuding ke arah laut. “Nampaknya itu bukan perahu kampung kita.”
Bapak mengikuti arah tudingan, menggeleng.
“Aku bawakan benang jala.”
“Ya, setiap orang bawa benang jala dari kota.”
“Dan tasbih.”
“Tasbih?”
“Dari Bendoro, buat bapak saja. Hitam. Dari kayu keras, buatan Mekah.”
“Buat apa tasbih?”
“Bendoro menyampaikan salam. Kalau kampung belum punya surau, Bendoro bersedia membiayai pendiriannya.”
“Betapa mulianya ”
“Tapi orang di sini tentu tak ada waktu buat itu. Semua sibuk ke laut dan ikan tak semudah itu ditangkap.”
“Jangan menyindir.”
“Ah, bapak. Mana bisa aku sindir bapak? Kita semua tahu, buat dapatkan jagung pun tenaga tak cukup, jangankan dirikan surau, jangankan membuka-buka kitab!”
“Masih ingat kata kakek semalam?”
“Aku tak dengar apa-apa.”
“Dia bilang, kita ini tak sempat apa-apa. Kaya tidak, cukup tidak, surga tidak, mati pun cuma dapat neraka. Habis segala-galanya tak sampai.”
“Nasib nelayan.”
“Ah, ingat aku,” kata bapak. “Waktu si Dul pendongeng buka cerita, dia bilang: Kalau kakek tua masuk neraka, kita semua masuk neraka. Cuma dia paling tahu di antara kita.”
“Bendoro bilang bisa dikirim guru ngaji.”
“Bagaimana kita mesti upahi dia?”
“Bendoro yang upahi.”
“Barangkali ikan akan lebih jinak kalau kita ngaji, ya?”
“Barangkali. Belum dicoba.”
“Kita tanyakan pada kakek. Cuma kakek tahu menjawab.”
“Bapak, bendoro berpesan, ganti rumah itu dengan kayu. Aku bawakan uang buat biaya ”
“Buat apa uang? Barang tak bisa dibeli di sini. Lagi semua orang seperti itu rumahnya. Dan kita sama dengan yang lain-lain”
“Barangkali buat beli perahu.”
“Kita tetap bikin perahu-perahu sendiri seperti dulu.”
“Apa mesti kujawab pada Bendoro?”
“Laut tetap kaya. Dia berikan kepada kita segala-galanya sampai yang terindah di dunia: mutiara.”
“Bapak tak pemah bicara tentang mutiara.”
“Buat apa? Dia takkan buat tenaga kita lebih berharga.”
“Aku dibelikan seperangkat mutiara oleh Bendoro.”
“Mutiara sangat berharga, memang. Tapi tenaga kita tidak. Cuma orang pilihan dihiasi mutiara. Yang menyelam mengaduk laut pun tak bermutiara.”
“Panggillah aku pada namaku seperti dulu, bapak.”
“Memanggil kadang-kadang cukup dalam hati.”
“Ah, bapak seakan-akan aku bukan anak kampung nelayan ini lagi.”
Bakau di pantai kampung nelayan ini sangat tipis, karena terlalu sering ditebang, dijemur buat kayu bakar. Tapi di suatu tempat semak bakau sangat subur nampak tak pernah terjamah. Jangan ganggu bakau di sini, pernah kata seorang asing dulu. Biar kelak kalau aku ada keberuntungan, aku akan dapat kemari lagi. Aku akan tahu, tanah ini tempat aku injak setelah ditolong perahu nelayan kampung sini, dibawa ke sini, dipelihara di sini dan diantarkan ke kota. Orang asing itu tak pemah datang lagi, tapi semak bakau itu tetap tak terjamah.
“Barang siapa pernah minum air setengah asin kampung ini, dia takkan bakal lupa. Dan barang siapa dilahirkan di kampung sini, dia tetap anak kampung sini.”
“Abang-abang sama sekali tak bicara padaku lagi.”
“Mereka sedang membikin pola ukiran.”
“Nampaknya adik-adikku dilarang mendekati aku.”
“Mereka diajar menghormati kakaknya dari kota.”
“Ah, bapak, bapak. Sekarang aku seperti pertama kali bapak antarkan masuk ke rumah Bendoro.”
Bapak menunduk terharu.
“Barangkali aku harus segera balik ke kota kembali.”
“Kampung ini memang mengecewakan, terlalu hina.”
“Ah, bapak aku cuma ingin diperlakukan seperti dulu. Pukullah aku kalau aku bersalah. Tapi jangan cabarkan hatiku semacam ini. Apa tak cukup penanggunganku di kota? Apa kurang banyak yang kuberikan buat penuhi keinginan orang tua jadi bini priyayi? Mengapa sesudah seumur ini bapak sendiri bersikap begitu? Dan emak hampir-hampir tak mau bicara padaku? Apa dosaku?”
“Siapa sangka anaknya sendiri yang diserahkannya ke tangan priyayi tinggi menanggung?” Tiba-tiba bapak tak dapat teruskan bicaranya. Dan dengan suara sayup-sayup dan sebagian lenyap tertiup angin ia berbisik, “Berapa kali aku telah pukuli anakku, kadang di subuh hari…”
Gadis Pantai berhenti, meneleng ke belakang. Mengawasi bapak yang berjalan menunduk dengan pandang menggaruk pasir. Pemberani itu yang menentang laut melawan badai, mengaduk laut, menangkap ikan setiap hari … betapa jadi kecil hatinya kini cuma karena di dekat anaknya sendiri, dan anak yang jadi bini kecil priyayi.
“Ah, buat apa menyesali diri. Kapan aku dikaruniai seorang cucu?”
“Kehendak Allah belum tiba, bapak.”
“Belum pernah rumah kita dihiasi dengan cucu.”
“Apa bapak harapkan dari cucu bapak?”
“Kesejahteraan, keselamatan, jangan seperti kita.”
“Seperti priyayi?”
“Kalau lelaki dia — akan jadi priyayi tulen.”
“Kalau ada nasib, bapak suka jadi priyayi?”
“Itulah yang dicitakan setiap orang.”
“Kalau bapak tahu bagaimana mereka hidup di sana…”
“Setidak-tidaknya mereka tak mengadu untung setiap hari. Setidak-tidaknya mereka tidak berlumuran kotor setiap hari.”
“Ah, aneh benar pikiran bapak.”
“Aneh dan tak guna. Kita hidup dan bekerja berat dan akan begini terus sampai tak bisa kerja sesuatu lagi. Terkecuali kasih nasihat seperti kakek tua.”
“Mari kita lihat orang-orang memperbaiki jala.”
“Hari ini semua pada mengaso. Tak ada yang kerja.”
“Kita lihat empang.”
“Nanti terlalu lelah, sakit. Bibit sudah ditanam delapan pekan yang baru lalu.”
Gadis Pantai tertawa. “Tahun ini banyak yang beli bibit dari sini?”
“Berkah, berkah. Anak-anak kampung sudah pada besar. Penghasilan bibit lebih banyak. Adik-adikmu saja dapat kumpulkan lebih 1.000 ekor dalam seminggu!”
Dan Gadis Pantai teringat pada masa beberapa tahun dulu, dengan telanjang diri bersenjatakan rumah karang ia sendoki bibit bandeng dari tepian laut, dimasukkan ke dalam belanga kecil yang diisi air dan dedaunan bakau.
“Aku tak lihat orang membuat trasi lagi.”
“Trasi kita tak laku. Sedikit sekali pedagang datang kemari cari trasi kita.”
“Di kota orang lebih suka trasi buatan Lasem ”
“Bukan salah kita. Kata orang-orang trasi kita dibawa ke kota sudah dicampur dengan lempung.”
“Ya, banyak trasi penuh lempung di kota ”
“Bukan kita yang mencampuri.”
“Tentu saja bukan kita. Kita bukan keturunan penipu, bapak. Di kota kudengar itu buatan seorang pedagang. Dia punya istri kedua dan ketiga di kampung nelayan dekat kota. Pedagang itu mengaku diri haji. Dia rusak trasi kita biar kampung istri-istrinya saja dapat laku.”
“Dari bibit bandeng saja tak banyak yang kita peroleh.”
“Sedikit sekali?”
“Tapi kita masih tetap hidup segar, sehat.”
Mereka berjalan menuju ke rumah. Bapak tetap saja diam-diam bila tak ditanyai. “Bapak masih juga tak mau panggil namaku?”
Gadis Pantai merasai bapak tersiksa karena kata-katanya. Tapi ia sendiri pun tersiksa. Dan laut semakin jauh dari kampung. Dataran pasir nampak begitu jauh, begitu lenggang, coklat muda, datar dan kosong. Laut nampak seperti garis biru tipis dengan garis lamat-lamat putih di atasnya. Sama sekali tak menandakan ada perahu di atas garis biru putih itu. Angin tiada teras meniup. Sedang tunggul-tunggul bakau nampak begitu kaku, coklat, hitam tak mengandung hidup, bahkan cuma kematian melulu. Burung-burung camar yang biasa nampak tergantung-gantung di udara, kini tiada mengisi kelenggangan cakrawala. Dan langit di atas sana putih, cuma putih, seperti kapas tanpa setitik pun warna lain.
“Emak sediakan sate ayam siang ini.”
Kata-kata itu membuat Gadis Pantai seakan terasa lengang. Tak pernah seumur hidup emak buatkan dia sate. Ayam yang hanya beberapa ekor, hanya diambil telurnya buat obat kuat bapak. Entah berapa ekor dari yang sedikit itu kini harus membuktikan, bahwa ia memang lain daripada seluruh penduduk kampung selebihnya.
Dengan langkah gontai dan hati bimbang ia masuk ke rumah kembali. Waktu ia menengok ke belakang diketahuinya bapak tak ikut masuk. Bapak! Bapak! serunya dalam hati. Ia dapati beberapa orang wanita tetangganya masih sibuk bekerja membantu emak. Waktu melihatnya, mereka berhenti bekerja menekur ke tanah dan mundur-mundur memberi jalan. Barangkali karena perhiasanku, ia mencoba menarik kesimpulan. Aku harus lepas perhiasan ini nanti sore. Ia menghampiri emak yang sedang membuat sambal. Juga emak berhenti kerja, “Jangan kemari nanti kotor.”
Kotor! Tiba-tiba ia ingat pada hukuman Bendoro pada orang-orang kampung nelayan ini. Mereka kotor kurang beriman, karena itu miskin kata Bendoro. Kalau semua mau serba bersih terus siapa yang lenyapkan kotoran? ia bertanya lugu pada Bendoro.
Kotor! Miskin! Kurang beriman! Neraka! Ia tak pernah dengar kata-kata itu sebelum ke kota. Dan kata-kata baru itu banyak mengacaukan otaknya. Bagaimana ikan asin bisa dibuat kalau orang tak berani tarik ludes isi perut setiap ikan yang menggeletak di atas nampan? Binatang-binatang itu akan busuk dan sia-sia saja kerja kepahlawanan bapak dan abang-abang. Dan bau amis jala. Dan seluruh laut! Minyak wangi? Memang menyenangkan, tapi dia tak kuasa panggil ikan datang ke rumah manusia dengan suka rela.
“Mengapa kalau aku kotor?” Gadis Pantai menukas.
“Tidak baik orang kota kotor. Biarlah kami yang sudah biasa saja melakukannya istirahatlah di ambin. Lelah dari perjalanan kemarin. Mak Pin bisa pijit kalau mau dan kalau suka.”
“Mau! mau aku dipijiti”
“Rah panggil Mak Pin.”
Baru sekali ini dalam seumur hidup seorang ahli pijat meletakkan tangannya yang berbakat itu di atas punggungnya, pinggangnya, mengendurkan urat-urat yang tegang.
“Sudah lama memijit, Mak Pin?”
“Sahaya.”
“Mak Pin pernah tinggal di kota?”
“Sahaya.”
“Mengapa tinggal di sini?”
“Sahaya.”
“Ha?”
“Sahaya?”
Gadis Pantai tersenyum, lenyap hasratnya hendak bicara.
Mak Pin tak pernah dikenalnya sebelum ini. Pendatang, pikirnya. Ia telengkan kepala dan melihat ke arah dapur.
“Dari mana Mak Pin ini?” ia bertanya pada siapa saja yang mau menjawab.
“Siapa tahu? Tahu-tahu sudah ada saja di sini,” seseorang menjawab.
“Di mana tinggalnya?”
“Di mana saja.”
Gadis Pantai tersenyum. Dalam waktu dua tahun lebih tinggal di gedung menyebabkan ia terbiasa memandang setiap orang punya tempat tetap buat tinggalnya. Dan ia sudah terbiasa memandang setiap orang tinggal aman bila pintu rumah telah terkunci, tiada orang asing datang mengganggu, mendengus. Di kampung nelayan, kampung kelahirannya ini pelan-pelan tapi pasti ia mulai belajar kembali tentang masa silamnya dulu. Ia tersenyum. Ia menyesal telah menjadi begitu pelupa. Di sini tak ada rumah terkunci pintunya, siang ataupun malam. Di sini pintu bukanlah dibuat untuk menolak manusia, tapi menahan angin. Di sini semua orang tidur di ambin di malam atau di siang hari, termasuk para tamu yang tak pernah dipedulikan dari mana datangnya. Ia mendengus sekali lagi. Di kota setiap orang baru selalu ditetak dengan tanya: Siapa nama? Dari mana? Di sini, orang tak peduli Mak Pin datang dari mana. Tak peduli Mak Pin gagu. Tak peduli sekalipun dia kelahiran neraka.
“Jadi bagaimana orang tahu dia bernama Mak Pin?”
“Lihat saja kakinya.”
“Mengapa kakinya?”
“Pincang.” Ah, anak-anak bengal itu sudah namai dia pada cacatnya.
Gadis Pantai tertawa. Bukan karena kebengalan bocah-bocah, tapi pada nada yang bicara itu! Ia rasai nada suara itu tak mengandung pembedaan diri lagi, itu suara manusia kampungnya. Bukan suara budak terhadap Bendoro.
Tiba-tiba Mak Pin mengeluarkan suara aneh.
“Apa dia bilang?”
Orang-orang tertawa bergegar-gegaran. Gadis Pantai menghela nafas, itu tertawa manusia kampungnya: lepas, bebas, bukan tertawa budak di depan Bendoro.
“Mak Pin ini ada-ada saja,” seseorang menjerit suka.
“Apa dia bilang?”
“Bendoro belum berputra, katanya.”
“Haa?”
“Belum segala-galanya. Dia bertanya, Bendoro tak ingin segera berputra?”
“Haa?”
Kembali Mak Pin mengeluarkan bunyi aneh dan riuh rendah, seperti suara keluar dari kerongkongan binatang buas sedang menanggung lapar. Kembali orang tertawa bergegar-gegaran.
“Apa dia bilang?”
“Katanya pinggang ini kecil benar — juga pinggulnya,” seseorang memperbaiki, kemudian tertawa melengking.
Gadis Pantai mengangkat kepala untuk melihat benar-benar bagaimana Mak Pin bicara. Ternyata suara-suara aneh itu dibantu oleh gerak-gerik tangannya yang lincah.
“Mengapa kalau kecil pinggang dan pinggul?”
Seseorang menghampiri Mak Pin, menyentilnya pada pinggangnya. Mak Pin terlompat terkejut sambil berteriak melengking, kemudian tertawa terkekeh-kekeh. Wanita yang menyentil bicara dengan bahasa isyarat, tapi Mak Pin terus tawa cekikikan. Gadis Pantai pantai memperhatikan, tapi tak mengerti. Ia lihat Mak Pin menggeleng-geleng dan kembali tangannya bergerak memberi isyarat.
“Apa dia bilang?”
“Ah, ada-ada saja, Mak Pin ini,” kata orang yang sedang mengaduk gulai di tungku sambil tertawa malu cekikikan.
“Keterlaluan memang Mak Pin ini,” orang lain lagi berderai dengan suara keras.
“Memangnya ada apa?”
“Itu lho, Bendoro, katanya, ah, itu…itu…kalau begitu, itu…jadi, ininya…”
“Ah, apa sih ngomong seperti itu?”
“Mak Pin ini memang ada-ada saja bicaranya.”
“Ya, tapi apa yang dibicarakan aku tak mengerti.”
“Itu lho, Bendoro Putri, begitu, katanya, kata dia, sudah bisa punya anak.”
Tiba-tiba Gadis Pantai terlonjak dari bantalnya, melihat pada Mak Pin, wajahnya bersungguh-sungguh, dan seperti orang baru engah ia bertanya, “Mak Pin benar gagu? Tadi bisa sebutkan sahaya.”
“Cuma itu yang dia bisa katakan. Entah berapa tahun lamanya dia pelajari sahayanya. Mungkin dia bisa ucapkan sesudah seratus kali dikepruk kepalanya.”
“Sahaya.”
Gadis Pantai mengawasi Mak Pin, yang dengan tangannya memberi isyarat agar ia rebah lagi. Tapi Gadis Pantai tetap mengawasinya. Tiba-tiba Gadis Pantai merasa takut, wajahnya mendadak kecut. Gelak tawa di dapur terhenti. Semua mata melihat Gadis Pantai, kemudian pada Mak Pin.
Gadis Pantai turun dari bale, berdiri, mengawasi Mak Pin sambil melangkah mundur-mundur. Suasana tiba-tiba berubah. Ketegangan merayapi setiap pojok rumah.
“Bapaaak!” Gadis Pantai memekik sekuat-kuatnya.
Pandang liar ketakutan berkilauan pada mata Gadis Pantai. Beberapa orang lelaki lari masuk ke dalam. Bapak menghampiri anaknya, dan tanpa menengok ke belakang pada bapak, Gadis Pantai mengulurkan tangan ke belakang dan bapak menangkapnya.
“Siapa dia?” Gadis Pantai menuding Mak Pin.
“Mak Pin. Kita kenal dia.”
“Bukan! Dia lelaki!” suara Gadis Pantai melengking sekuat-kuatnya.
“Lelaki?” semua orang berseru, heran.
Mak Pin yang tiba-tiba saja dalam kepungan semua orang mencoba bicara dengan matanya. Tapi semua mata tertuju padanya justru minta jawaban darinya.
“Mak Pin, kau lelaki atau perempuan?” tiba-tiba bapak melompat maju mencekam lengan Mak Pin. Mak Pin menggigil.
“Lima belas hari kau sudah di sini, ya?”
“Mana bisa dia jawab? Dia gagu.”
“Tidak,” Gadis Pantai meraung. “Dia bisa bilang sahaya.”
“Ayoh, katakan sahaya,” bapak meraung.
“Sa-ha-ya,” Mak Pin berkata gugup “Dia tak gagu. Ayoh, katakan lelaki atau perempuan?” Mak Pin mencoba menggerak-gerakkan tangannya. Tapi dengan tangannya yang bebas bapak menampar pipinya. “Kau mengerti omonganku? Kau tak gagu. Laki atau perempuan?” bapak menggertak. “Buka pakaiannya.”
Pengepung-pengepung mengulurkan tangan mau menelanjangi. Mak Pin meronta lepas, menerobos kepungan dan melarikan diri. Beberapa orang lompat berlari.
“Tangkap,” bapak berteriak.
Mak Pin telah berada di luar rumah, hilang. Semua orang lelaki lari meninggalkan rumah.
“Bawa tali,” seseorang berseru dari rumah. Yang tertinggal semua wanita, melihat ke arah lubang pintu.
“Tidak disangka,” seorang nenek mendesis “Siapa sangka?”
“Kemarin dia tidur di rumahku. Ah, tidak kemarin dulu ”
“Kemarin dulunya lagi?”
“Di rumahku, tapi aku benar-benar tidak tahu.”
“Semalam, semalam di mana dia tidur?” tak ada yang menjawab.
“Dia tak ikut pesta semalam?” Tak berjawab.
“Kemarin siang, di mana dia kemarin siang.”
“Sahaya tak lihat, Bendoro Putri.”
“Siapa yang lihat?” Tak berjawab.
“Heran sekali, Bendoro Putri. Kita semua tidak tahu.”
“Mau apa dia sebenarnya kalau dia benar lelaki?”
“Yah, namanya saja lelaki.” Diam sejurus.
“Jadi dia tak gagu?”
“Pura-pura barangkali.”
“Mengapa pura-pura?” Tak berjawab.
Gadis Pantai melangkah ke pintu, melihat ke luar, tapi tiada sesuatu pun dilihatnya. Wanita-wanita lain segera mengikuti dan merubungnya.
“Mata-mata bajak laut,” orang memutuskan.
“Ya ampun, ya ampun.”
Mendengar kata bajak laut, dengan sendirinya orang menutup pintu dan mengunci dengan palang. “Apa yang mau dibajak di sini? Di sini tak ada apa-apa.”
Tiba-tiba orang mengawasi Gadis Pantai, dan semua mata itu membelainya dari ujung rambut ke seluruh tubuh, antara sebentar berhenti, pada perhiasan-perhiasan di leher, di kuping jari, pinggang, dada. Tak lama kemudian semua pada menunduk. Seseorang menggandeng tangan Gadis Pantai, dan dirasainya tangan itu menggentar.
“Ambillah minum, buru! Silakan duduk saja, Bendoro Putri. Lelaki-lelaki kita akan bereskan, jangan khawatir orang itu mesti tertangkap.”
“Mak, di mana mak.”
“Inilah aku,” sahut emak dari sampingnya.
“Sudah lima belas hari dia di sini?”
“Lima belas hari? Belum, belum sampai.”
“Dia ditemukan waktu orang-orang mau turun ke laut ”
“Ya, sedang menggigil kedinginan.”
“Dibawa ke rumah Lurah. Dimasakan kopi.”
“Ya, lantas tidur. Nggak mau ngomong.”
“Besoknya orang baru tahu dia gagu.”
“Ah, ah, ingat aku waktu tidur di rumahku dia ngigau. Ngigau benar-benar, tidak gagu.”
“Ngigau apa dia?”
“Kurang terang Bendoro Putri. Terlalu pelan, tapi tidak gagu memang.”
“Di mana barang bawaannya?”
“Tidak punya. Tidak bawa apa-apa.”
“Makanlah,” emak mencoba memutuskan perhatian dari Mak Pin. Tak seorang pun ingin makan.
“Ada yang pernah kehilangan di sini?”
“Apa yang bisa hilang di sini? Paling-paling tulang ikan ”
“Sudah lama, lama sekali, tak pernah ada bajak.”
“Apa yang mau dibajak dari kita?”
“Mereka takkan bajak kita. Orang kota lebih kaya, di sana menumpuk harta.”
“Ya, di sini ada apa?”
“Pasti di kota sana semua orang punya emas berlian. Bagaimana Bendoro Putri?”
“Diamlah, diam. Buat apa ngomong yang bukan-bukan?” Sate ayam menumpuk dingin tak terbakar di atas tungku. Waktu matahari mulai condong ke barat, barulah para pria kampung nelayan datang ke kampung. Beberapa orang lelaki langsung menuju rumah bapak. Seorang di antaranya bapak sendiri. Dengan wajah muram ia mendekati Gadis Pantai. Wanita-wanita lain datang merubung.
“Laki apa perempuan dia bapak?”
“Memang bukan perempuan.”
“Mana dia sekarang?”
“Dia takkan kemari lagi.”
“Di mana?”
“Dia tak mau mengaku, itu salahnya.”
“Ya, tapi di mana dia sekarang?”
“Dia bilang, dia dari Demak.”
“Demak?”
“Ya, Demak. Siapa percaya dari Demak? Bajak laut takkan pernah berasal dari pedalaman apalagi dari pegunungan. Dia berkukuh tak ngaku mata-mata bajak laut. Dia tak mau ngaku kapan bajak-bajak itu mau menyerbu kemari. Jadi dia diadili di tempat dari mana induk bajak bakal datang.”
“Disuruh berenang?”
“Ya, ditelanjangi, digiring dengan enam biduk.” Gadis Pantai teringat pada cerita yang dikenal semua orang di kampung: setiap bajak yang tertangkap digiring ke tengah laut dengan biduk, sampai tak kuat lagi berenang dan tenggelam, kalau tak terburu disambar hiu.
“Berapa ribu depa dia bisa berenang?”
“Tidak sampai ribuan.”
“Berapa ratus?”
“Tak sampai ratusan.”
“Ha?”
“Segera tenggelam setelah dilempar dari perahu.”
“Tidak berenang? Kalau begitu bukan bajak.”
“Entahlah. Salah sendiri mengapa menyaru jadi perempuan.”
“Bapak salah, salah, bapak, mungkin dia tak bersalah.” Bapak menunduk menekuri lantai.
“Mengapa dia pura-pura gagu?” emak membela bapak. “Mengapa dia pura-pura jadi perempuan?” seorang me- “Di mana dia semalam?” seorang lain menyerbu bertanya. “Tak ada orang lihat dia ikut makan-makan. Barangkali memang mata-mata bajak, cuma tinggal di darat saja.” Mata bapak jadi beringas. Ditatapnya pembicara itu, kemudian menunduk lagi, kepalanya menggeleng.
“Lantas siapa dia?”
“Siap namanya?”
“Mardikun.”
Gadis Pantai terperanjat. Sekaligus ia teringat pada Mardinah. Abang Mardinah? Mengapa namanya Mardikun? Mengapa dua-duanya pakai Mardi? Ia mencoba bayangkan kembali, tapi tak dapat. Dalam bayangannya selalu saja orang itu menunduk bila ditatapnya.
“Mardikun?” desisnya kemudian. “Apa ada yang masih bisa ingat wajah Bendoro Mardinah?”
“Bendoro Mardinah?” orang berseru.
Bapak menatap emak, kemudian pada wanita-wanita lain. “Ya, memang ada. Ada persamaan sedikit.”
“Mukanya bulat, Mardikun itu?”
“Ya, ya hampir bulat, seperti Bendoro Mardinah.”
“Juga Mardinah berasal dari Demak,” Gadis Pantai mengingat-ingat. Barangkali memang abang Mardinah. Barangkali bapaknya. Lantas mau apa dia datang kemari?”
“Kakek pengetua sudah tahu peristiwa ini?”
“Masih tidur dia.”
“Benar, cuma dia yang mengerti.”
Dan waktu kakek datang, matanya segar, tiada tanda-tanda mengantuk atau habis tidur. Seluruh mata ditujukan padanya. Tongkat kayu bakaunya yang setengah membatu itu seperti memerintah menuding pada emak, sedang suaranya yang garang terdengar terengah-engah kecewa, “Berapa kali aku mesti bilang? Emas! Emas itulah sumber bencana.”
“Apa hubungannya semua ini dengan emas?” bapak membantah.
“Apa hubungannya? Kan aku sudah berulangkali bilang, emas itu bikin perahu-perahu pada kandas, tenggelam dalam lumpur. Sudah berapa kali aku bilang emas, emas, emas!” matanya meluncur dan membelai perhiasan — perhiasan pada tubuh Gadis Pantai. “Itu semua membuat perempuan ini membedakan diri dari yang lain-lain. Padahal apa beda kita di sini? Apa beda aku dari kau? Semua hidup berkat kemurahan laut.”
“Kau tak suka aku tinggal di sini, kek?” Gadis Pantai bertanya lemah.
“Bukan aku yang bilang begitu, kau sendiri,” kakek meraung gerang. Hati Gadis Pantai terguncang. Kini ia mulai mengerti, mengapa sikap semua orang jadi berubah terhadapnya. Ia sadari diri bukan lagi penduduk kampung nelayan, hanya karena perhiasan.
“Lantas, apa hubungannya emas dan anakku, dan Mardikun yang menyaru jadi Mak Pin?”
“Jadi kau tak mengerti?” raung kakek dengan marahnya pada bapak. “Baik, ayoh jawah, ke mana perginya luak kalau bukan kepada mangsanya?”
“Siapa mangsanya? Aku? Siapa luaknya? Aku?” juga Gadis Pantai meraung.
Rumah itu tambah lama tambah gelap, karena lubang pintu seluruhnya tertutup oleh penduduk kampung yang menonton. Anak-anak kecil tak seorang hadir, lari ketakutan pada bersembunyi di rumah masing-masing di dekat emak mereka.
“Diam,” pekik kakek.
“Kau kami panggil kemari bukan buat berteriak-teriak seperti monyet gila, kek,” bapak meraung marah. “Kami ingin dapat penjelasan dari kau, apa artinya semua ini.”
“Mana aku tahu?”
“Kau tak tahu, tetapi mengapa marah-marah kayak kesetanan?”
Dengan suara menyurut-nyurut reda kakek memukul-mukul tongkatnya pada tanah dan, “Ingat-ingatlah, berapa kali aku ajari kalian? Emas itu biang keladi di daratan — mutiara biang keladi di lautan. Tambah banyak barang emas masuk kemari, tambah banyak kemungkinan bajak datang kemari.”
“Mardikun bukan bajak.” ,
“Kalau begitu dia bajak darat.”
“Tapi belum terbukti.”
“Tunggu saja. Tak ada bajak laut maupun darat, bisa bekerja seorang diri. Tunggu saja nanti bakal muncul kanca-kancanya. Tunggu saja! Tunggu saja.” Dan sekali lagi kakek membentak gemas, “Lihat saja nanti.”
“Bajak tak peduli siapa yang punya, pinjam atau tidak, dia cuma tahu emasnya, yang mengenakan boleh ditebang lehernya kalau perlu.” Gadis Pantai mengeriut.
“Ya, jadi kau ngeri, kan? Tak ada gunanya seluruh kampung gendadapan cuma karena mau lindungi emas-emas itu. Tahu-tahu luput semua itu darimu. Bodoh semua! Begitulah polisi-polisi kota. Mereka digaji buat jaga emas priyayi, saudagar-saudagar Tionghoa, Belanda dan haji-haji. Goblok! Bodoh! Cuma kerbau tidak mengerti.”
“Kau tak pemah pergi ke kota,” seseorang menuduh.
“Berapa umurmu plonco? Waktu makmu belum lagi bisa buang ingusnya, aku sudah malang-melintang ke Kedah, Trengganu, Mengkasar.”
“Jadi bukan nelayan?” seseorang bertanya.
“Bukan nelayan tadinya. Bajak aku!” kakek berkata bangga.
Tiba-tiba orang-orang mengambil sikap lain terhadap kakek.
“Mengapa terkejut?” Kakek menetak dengan suaranya. “Apa yang aneh? Kalau orang sudah habis kesabaran kumpulkan ikan, kalau orang sudah habis kesabaran karena jerih payahnya “nggak laku di darat, apa diperbuat seorang nelayan kalau tak “mbajak? Kau mau nantang?” teriaknya sambil menudingkan tongkat bakaunya yang setengah membatu. “Tahu apa kau tentang zaman dulu? Zaman sekarang lain — jauh lebih baik.”
“Barangkali kakek pernah membajak kampung kita,” seseorang mengujar.
“Kampung ini? Hei, plonco! Kau tak tahu akulah yang selamatkan kampung ini dari bajak. Empat puluh tahun yang lalu. Waktu itu jadi ingus pun kau belum lagi, plonco, kau tak tahu apa?
“Apa maunya si kakek ini sih?”
“Mau ku? Selamatkan kampung ini. Jangan terjadi apa-apa. Kalian yang sudah agak tua-tua tahu apa itu marsose2. Kalian pernah lihat satu kampung disembelih marsose? Semua bayi-bayi yang baru lahir kemarin? Marsose bakal tahu ada orang digiring ke laut, dikira bajak nyatanya tak bisa berenang, Apa kalian mau bilang kalau marsose datang? Uh, uh-uh,” kakek terbungkuk-bungkuk dalam batuknya.
“Mardikun sudah mati. Mau apa kita sekarang ini?”
“Baik, uh-uh, balik uh-uh-uh. Balik kau kota!” Kakek menunjuk Gadis Pantai dengan tongkatnya.
“Dia cuma mau bertemu orang tuanya. Sudah dua tahun tidak bertemu.”
“Buang itu perhiasan ke laut!”
“Bukan aku punya, Gadis Pantai meyakinkan kakek.
“Kau tak punya apa-apa memang. Semua kepunyaan Bendoro. Kembalikan saja semua pada Bendoro.”
“Jangan kasari dia,” seseorang menyela. “Dia orang kita sendiri datang kemari buat tengok orang tua dan kampungnya. Dan kau sendiri girang dapat sarung bugis dari dia.”
Kakek terdiam.
“Mengapa kau terima sarung itu?”
“Bagaimana takkan kuterima,” kakek mendayu-dayu. “Apa kah layak aku kedinginan terus sampai matiku? Apa itu terlalu banyak?”
“Setiap orang mau dapatkan sarung bigis, bukan kau saja, kek.”
Demikianlah tak pernah selama ini kampung nelayan jadi guncang. Setiap orang terlibat dalam kecurigaan dan duga sangka. Lenyap kedamaian, lenyaplah ketentraman. Di malam hari tiada seorang pun bermaksud menyiapkan perahu dan turun ke laut. Bulan waktu itu tak ada — cuma bintang-bintang gemerlapan tanpa makna, angin pun tiada meniup.
Dan di malam gelap gulita sayup-sayup, antara gong-gongan anjing liar, terdengar nyanyian perlahan si Dul pendongeng dengan iringan sayup pada rebananya.
tiada perahu turun ke laut tiada ikan bermukim ke darat nelayan sekampung pada kalut semua terlibat urusan berat Rebana dan giring-giringnya berbunyi perlahan sayup-sayup.
cring-cring duk-duk-duk — cring-cring duk-duk-duk ombak segan membanting diri menyulam pantai riak pun ragu nelayan sekampung pada jeri dikutuk dewa karamlah perahu cring-cring duk-duk duk — cring-cring duk-duk duk cring-cring duk-duk duk — cring-cring duk-duk duk Keesokan harinya, kembali orang lelaki pada berkumpul-kumpul meneruskan persoalan. Umumnya pada menyoal dalam nada peringatan.
“Siapa pun tak boleh bicara tentang Mardikun.”
“Marsose tak boleh tahu.”
“Juga polisi kota tak boleh tahu.”
“Bendoro juga tidak.”
“Apalagi Mardinah, sudah jelas ada apa-apanya. Mardinah juga berasal dari Demak. Mardikun berasal Demak. Namanya pun sama-sama mulai pakai Mardi.”
Suasana pembicaraan tak lagi sepanas kemarin. Juga kakek tak dipanggil datang. Ia pergi berjalan-jalan dengan hati penasaran sepanjang pantai, di balik-balik semak bakau.
“Ya, ya panggil dia! Urun rembuk, semua kasih pendapat!”
Si Dul dipanggil, muncul membawa rebananya. “Bagaimana pendapatmu?” seseorang bertanya.
Si Dul pendongeng memukul rebananya dan mulai dengan dongengnya:
riuh rendah hati pada cemburu!
“Husy, lempar rebana itu kita tak mau dengar dongeng sekarang. Apa pendapat dan saranmu tentang semua ini?”
Seseorang merenggut rebana dari tangannya, dan dengan hati-hati diletakkan di atas ambin, tepat di tempat Gadis Pantai semalam tidur. Si Dul pendongeng menganga mulutnya melirik ke rebananya. Sungguh aneh sikapnya.
“Bicaralah, apa pendapatmu?” Tetap diam, mulut masih menganga, matanya terus melirik ke arah rebana.
“Mengapa dia?”
“Mengapa kau ini?” seorang bertanya langsung.
“Ah, dia cuma bikin-bikin diri aneh.” Kembali si Dul hanya melirik ke arah rebana. Membisu seribu bahasa. Orang pada heran melihat si Dul menjadi aneh kalau bercerai dari rebananya. Tetapi orang tak sempat memberikan perhatian lebih lama. “Berikan kembali rebananya,” seorang memerintah.
Waktu si Dul pendongeng menerima kembali rebananya, sekaligus nampak wajahnya berseri-seri. Gadis Pantai adalah satu-satunya yang terus memperhatikan si Dul pendongeng. Ia mengenal si Dul pendongeng sejak kecil. Semua orang bilang dia edan Orang sering mengatainya si Dul gendeng, di samping panggilannya sehari-hari si Dul pendongeng, karena ia tak pernah bekerja selain mendongeng. Orangnya malas, padahal badannya sehat dan kekar. Di kampung nelayan tak ada kamusnya orang malas. Kemalasan adalah barang paling aneh di kampung. Katanya, si Dul pendongeng paling takut turun ke laut, sampai-sampai bapaknya membiarkan ia pergi mengembara meninggalkan kampung. Ia pulang bila matahari pun telah lenyap dari langit. Tahu-tahu orang mendapatkannya tidur di depan pintu. Bila bapaknya akan turun ke laut, selamanya hati-hati ia membuka pintu agar tidak mengagetkan anaknya dari tidurnya.
Kini si Dul pendongeng berumur tiga puluh tahun sudah, namun tak ada wanita mau jadi istrinya. Sebenarnya si Dul pendongeng cukup ganteng, tetapi malasnya tidak ketolongan.
Nenek pun, maulah aku, cring-cring-cring, sering ia pukul rebananya di malam hari, perlahan-lahan, lebih buat dongeng dirinya sendiri. Tapi nenek-nenek pun tiada sudi jadi bini lelaki malas.
Dalam riuhnya orang mencari pikiran, tiba-tiba si Dul pendongeng membunyikan rebananya:
cring-cring duk-duk-duk — balik-baliklah bendoro putri
“Husy,” orang membungkamnya. Tapi si Dul pendongeng tak peduli:
balik-baliklah bendoro putri ke kota tempat harta ditampung bawa-bawa emas berlian kemari oh oh celakalah seluruh kampung
“Suruh diam pemalas gila itu!” seseorang berteriak gemas.
“Bungkam mulutnya.”
“Tapi ia dipanggil buat ikut berunding.”
“Ya, tapi bukan untuk mendongeng.”
“Mau apa lagi, bisanya cuma mendongeng.”
“Rebana? Gendang apa tak bisa?”
“Ah, gendang cuma ditetak di rumah-rumah priyayi ”
“Apa dia pernah ke kota?”
“Orang tak pernah pulang begitu, ke mana lagi kalau bukan ke kota?”
“Hai, Dul gendeng, benar kau sering ke kota?”
“Orang tak pernah tanya dari mana dia dapat rebana.”
“Sudah, sudah, kita bukan berunding urusan dia.”
“Jadi apa sebenarnya mau dirundingkan?” semua tercenung diam Tiba-tiba si Dul pendongeng memukul rebananya lagi dan menarik suara:
kembali kembalilah ke kota”
emas berlian bawalah serta di sana kesenangan menanti di Sini bukan tempat bendoro putri “Mengapa aku harus kembali ke kota? Aku lahir di sini, orang tuaku di sini.”
kampung nelayan gelap gulita pakai obor minyak kelapa kalau hidup cuma pikirkan harta sudah pasti datang malapetaka “Hei, Dul gendeng, tak usahlah kasih-kasih nasihat. Urus saja dirimu sendiri. Cari kerja sana!”
“Mana bisa dia? Nangkap selar saja tak mampu.” Rebana segera gemerincing — kata berjawab gayung bersambut: nangkap selar menyombong-nnyombong omongnya besar kepalanya kosong seumur-umur makannya cuma ikan pantas otak buntu perut cacingan “Kurang ajar! Aku tendang kau!” seseorang mengancam. Cring-cring duk-duk-duk, si Dul pendongeng memukul rebana.
“Otakmu itu, otakmu, cuma penuh duri sembilang, pemalas! Pura-pura edan begitu.”
“Sembilang pun bukan!”
“Belanak!” seorang memperbaiki.
“Otak udang.”
“Udang? Teri busuk!”
Suasana tiba-tiba menjadi riang gembira. Orang tertawa riuh rendah. Pendongeng jadi sasaran.
“Otak begitu apa isinya? Tahu enggak? Ubur-ubur!” Ejekan kontan membal kembali pada yang mengejek. kalau marsose datang dar-der-dor seisi kampung digedar-gedor pembual-pembual pada meriut berani sesumbar cuma di tengah laut Tiba-tiba gebrakan keras membungkam setiap orang, terkecuali si Dul pendongeng, mengarahkan pandangan pada pintu Di sana kakek muncul dengan megahnya, “Begitu ya, tingkah orang yang sudah kenal kota?” tongkatnya sehabis memukul daun-pintu menuding si Dul pendongeng. “Nggak bisa hargai kerja nelayan di laut! Pendongeng edan! Pemalas! Bukan rebana yang kasih kita makan, tahu! Ikan, ikan di laut yang bikin seluruh kampung tetap bisa bernafas. Tapi kau mengejek seperti orang kota!”
“Dia tak pernah ke kota.”
“Siapa bilang? Lihat saja rebananya. Dulu dia pakai kaleng rombeng. Hei, mana kalengmu sekarang?” kakek tertawa menghinakan, kemudian menyambung, “itu tanda dia suka mengemis di kota. Kaleng rombeng tak boleh dekati masjid dan surau, ngerti. Tapi rebana di kota boleh masuk mesjid — masuk sampai ke dekat khotib di samping mimbar. Ngemisnya lebih gampang pakai rebana! Jejaka malas tak tahu diuntung!” memang gede-gedenya beduk obral amanat muluk-muluk di depan khalayak beralim-alim di belakang-belakang paling lalim “Jadi pintar nyindir begitu dia.”
“Jual saja ceritamu ke kota sana Tanpa dongengmu orang pun bisa bernafas di sini.” Tapi berbisik-bisik orang saling bertanya, siapa gerangan beduk gede? “Hei, Dul gendeng, siapa yang lalim pura-pura alim?”
Cring-cring duk-duk duk, kemudian tiba-tiba irama rebananya berubah, merangsang, melawan, membangkang, memprotes, cring-cring dung-dung cring dung-dung cring. “Ceritanya dia sedang marah.”
“Kau marah, ya?”
dung-cring dung-cring dung-cring…
“Ah, layani orang edan, ikut Edan.”
“Usir saja, dia!”
Seseorang mengusir si Dul pendongeng dengan satu tendangan mantap. Si Dul pendongeng tertelungkup, rebananya mengguling menggelinding menuju pintu. Seperti orang setengah lumpuh si pendongeng melirik dan merangkak laju menuju rebananya.
“Kok gendengnya menjadi-jadi dia sekarang?”
“Dasar pemalas! Lebih suka dikatai gendeng, asal tak bekerja.” p “Bandeng kena tuba pun tidak begitu menjijikkan.”
“Tahu kalian mengapa dia jadi begitu?”
“Siapa tidak tahu? Waktu emaknya membuntingkan dia, emaknya mencabut hidup-hidup kaki-kaki kepiting. Jadinya dia kayak orang tak berkaki tak bertangan, tak berdaya. Enggak bisa kerja apa-apa.”
“Bagaimana dia kalau mati? Masuk neraka atau surga?”
“Siapa tahu? Berdoa dia tak pernah, bisanya cuma mendongeng.”
“Kita sebenarnya sedang berunding apa sih?”
Sekali lagi orang tercenung membisu. “Enggak ada yang dirundingkan sebenarnya. Kemarin kita minta pendapat kakek, tapi seperti orang kesetanan kakek “nggebah sini, “nggebah sana. Naik pitamlah semua orang jadinya.”
“Lantas apa lagi mesti diributkan sekarang?”
“Ah, dengar! Sst dengar … indah sekali dia menyanyi.”
“Memang si gendeng itu berbakat, tapi sayang, malasnya minta ampun.”
“Sst, dengar.”
Orang-orang terdiam dan sepantun suara lembut, lunak, menghiba-hiba sayup-sayup terdengar di luar rumah, indah. ombak mengombak riak meriak perahu nelayan menembus kelam orang kampung tak kenal tamak peras keringat sepanjang malam seia-sekata ikan cakalang satu hilir Semua hilir hidupi keluarga banting tulang kerja keras rezeki mengalir angin keras menghempas buritan udang-udang dijemur bertebaran lelaki semalu perempuan seresan sepakat sekampung tahan cobaan “Ha, sedang waras dia, ceritanya sudah nggak ngawur Dia barangkali mau ikut bicara.”
“Sekali ngawur, tetap ngawur!”
“Biar dia ikut bicara. Suruh masuk lagi dia.” Seseorang menjenguk keluar dan menyilakan masuk, tapi yang dipanggil tak mau datang, cuma mengeraskan bunyi rebana dan mengeraskan suaranya sendiri.
dasar peruntungan nelayan harta benda tak mampu cari jangankan peroleh emas-berlian gembira sudah dapat sesuap nasi biar bendoro putri ambil sendiri putusan terbaik buat diri pribadi dua tahun sudah bermukim di kota serasa tujuh turunan di kampung kita.
Orang-orang pada mencuri pandang pada Gadis Pantai. “Ya, aku akan putuskan sendiri!”
Cring-cring, duk-duk-duk cring-cring, duk-duk-duk, suara rebana makin lama makin terdengar sayup dan jauh, akhirnya padam sama sekali.
“Barangkali dia berangkat ke kota.”
“Ke kota? Tangkap dia, Ikat! Kita semua celaka nanti.”
“Dia mau ngadu pada marsose? Barangkali ke polisi?”
“Tangkap dia, ayoh lari, buru.”
“Bendoro, apakah mungkin Bendoro…”
“Diam! Aku anak kampung sini.”
“Maaf, Bendoro Putri.”
“Jangan apa-apakan si Dul itu.”
“Tidak, pasti tidak Bendoro, dia dicancang cuma. Biar tak lari melapor ke kota.”
Hari itu perjalanan sangat cepat, malam pun cepat tiba. Belum lagi habis orang mengenangkan kembali segala kejadian sesiang tadi, kampung nelayan tiba-tiba jadi hidup lagi. Mardinah, Mardinah datang. Kali ini dengan beberapa orang pengiring — semua pria. Langsung ia masuk ke dalam rumah Gadis Pantai. Dan langsung menyampaikan, “Bendoro perintahkan Mas Nganten pulang malam ini juga.”
“Mana tandanya?”
Dari dalam kutangnya Mardinah mengeluarkan sepucuk surat bersampul. Ragu-ragu sambil menatap Mardinah Gadis Pantai menerimanya. Waktu itu emak, saudara-saudara dan bapak masih tinggal di rumah. Mereka semua berdiri tanpa menyilakan duduk tamu-tamu tak diundang itu.
“Mas Nganten tak bisa baca. Mari sahaya bacakan.”
“Siapa di kampung ini yang bisa baca, bapak?”
“Siapa? Tak ada.”
Sebelum Mardinah mendapatkan kembali surat itu, orang-orang kampung nelayan ramai-ramai telah berkerumun di depan pintu rumah.
“Barangkali, sahaya bisa,” seseorang berkata. “Tapi sudah lama sekali tidak membaca sahaya ini.”
“Biar sahaya bacakan,” dan Mardinah mengambil kembali surat itu, menyobek sampul dan membacakan, “Mas Nganten pulanglah.” Mardinah terdiam. Ia tak teruskan bacaannya.
“Cuma itu?”
“Cuma itu.”
“Tulisan itu panjang.”
“Tapi bunyinya dikit.”
“Mari sahaya bacakan,” orang yang mengusulkan diri tadi berkata lagi.
“Tak perlu,” gertak Mardinah.
“Baiklah tak perlu. Kalau Bendoro Putri mesti pulang malam ini juga, kita antarkan beramai-ramai.”
“Ha? Bendoro tak sediakan dokar buat orang sebanyak itu. Cuma dua.”
“Semua mesti jalan kaki kalau begitu.”
“Jalan kaki?”
“Ya, atau semua mesti naik dokar,”
“Ya, jangan lupa kudanya.” Orang terdiam.
“Mestikah aku berangkat, bapak?”
“Kalau tergantung pada emakmu ini, kau mesti pergi nak.” Empat pengiring itu tak juga buka mulut. Salah seorang di antaranya mendaham. Dan orang-orang pun segera memandang padanya. Baru waktu itulah orang melihat nyala aneh pada mata mereka. Dan orang-orang kampung pun semakin curiga. “Sini suratnya,” Bapak meminta.
“Apa gunanya? Bapak tak bisa baca.”
“Surat ini buat anakku, bukan buat Bendoro.”
“Ya, berikan surat itu.”
Melihat Mardinah dalam keadaan terancam, keempat orang pengiringnya pun maju melindunginya. “Surat ini tak kuserahkan,” katanya sambil hendak menyelinapkannya kembali di balik kutangnya.
“Kalau begitu anakku tak perlu berangkat. Pulang saja ke kota kalian.” Bapak berkata tegas memutuskan.
“Tidak bisa,” Mardinah membantah. “Mas Nganten harus pulang malam ini.”
“Tidak ada bukti.”
“Surat ini buktinya.”
“Kalau Bendoro perintahkan pulang, itu berarti pulang,” salah seorang pengiring Mardinah menengahi.
“Pergi kalian, aku bisa antarkan sendiri. Malam ini juga.”
“Tak ada tempat di dokar buat kau!” salah seorang pengiring mengancam.
“Tak ada tempat buat kalian di rumah ini. Pergi!”
“Jangan, jangan pergi,” emak menengahi percekcokan Tiba-tiba kentongan bambu dipukul bertalu-talu, dan semua lelaki kampung nelayan menyerbu ke dalam membawa tongkat, pendayung, golok, kampak. Yang tak dapat masuk tinggal di luar mengepung.
“Anakku pergi kalau benar ada bukti. Berikan surat itu!”
“Ya, berikan”
Pria-pria pengiring itu pun mengundurkan diri ketakutan melihat orang banyak masuk. Dan Mardinah terpaksa menyerahkan surat itu pada bapak.
“Siapa tadi bilang bisa baca?”
“Aku. Tapi dua puluh tahun aku tak pernah baca. Mari kubaca.” Orang itu pun mendekati pelita. Ia pandang-pandang surat itu, mencoba membacanya.
“Ayoh. Apa katanya?”
“Lama benar.”
“Aku bilang, dua puluh tahun aku tak membaca.”
“Kami sudah dengar, tapi apa katanya?”
“Tapi ini bukan tulisan Jawa.”
“Lantas tulisan apa?”
“Tulisan iblis kali.”
Mardinah mendengus menghinakan. “Tadi sudah kubacakan, tapi kalian tak percaya.”
“Hitung ada berapa baris surat itu,” bapak meminta. “Satu, dua, tiga, … dua puluh.”
“Yang dibaca cuma sebaris tadi. Mengapa baris-baris lain tidak?”
“Apa gunanya? Itu cuma alamat tempat tinggal Bendoro, dan alamat Mas Nganten di sini.”
“Bagaimana bunyi alamatku di sini?”
Belum pernah selama ini kedua wanita itu berpandangan sedemikian tajam. Para pengiring mengawasi bapak — juga dengan mata tajam. Mardinah tak minta surat itu kembali, juga tak membacanya.
“Aku perintahkan kau baca yang lengkap!” Gadis Pantai menuding Mardinah.
“Tidak perlu, ayoh pergi saja kalian dari sini!” Mardinah mengusir orang-orang kampung yang berkerumun.
“Ada apa ini? Ah-ah orang kota lagi!” Kakek masuk dengan tergopoh-gopoh. Tongkatnya kayu bakau yang setengah membatu menuding orang-orang kota. “Asal ada orang kota datang, selalu mesti ribut.”
“Baik, kita balik saja,” Mardinah mengisyaratkan para pengiringnya. “Kami akan datang lagi bawa polisi.”
“Polisi?”
“Ya, polisi, polisi. Biar kalian didrel habis.”
“Ya, ya, benar polisi,” salah seorang pengiring menguatkan.
Waktu sedang tegang-tegangnya suasana, nampak sekali bapak sedang keras berpikir. Kemudian ia membisikkan sesuatu pada seseorang. Lama betul bapak berbisik. Sesudah itu orang itu pun lari keluar rumah, tak kembali lagi. Ah, sebodoh-bodoh orang kampung, dalam kepepet akal mereka selalu jalan.
“Jangan, jangan datangkan polisi kemari. Silakan duduk kita berunding lebih baik lagi. Jangan marah,” kata bapak menyabarkan.
“Sekarang juga Mas Nganten mesti pulang,” kembali Mardinah mendesak garang.
“Ya, sekarang juga anakku akan kembali ke kota. Tapi tunggu sebentar anakku belum siap.” Suasana tegang menjadi surut sedikit. Dan para pengiring pun nampak mendapatkan kepribadiannya kembali.
Mendadak seluruh kentongan bambu di seluruh kampung berbunyi bertalu-talu. Orang-orang terdiam mendengarkan. Terdengar seseorang berseru. “Bajak laut! Mereka sudah mendarat mau menyerang. Lari! Orang-orang pun bersiaga, melompat ke luar rumah membawa senjata masing-masing.
“Mereka datang.”
Mardinah menjadi pucat. Para pengiringnya menjadi bingung.
“Ke mana kita mesti sembunyi.”
“Ikut sama yang lain-lain.”
“Ikut ke mana?”
“Pertahankan kampung.”
“Tidak. Lebih baik buru-buru pulang ke kota”
“Jalan-jalan tidak mungkin aman sekarang.”
“Biarlah aku bebenah,” Gadis Pantai memutuskan. “Mereka akan segera datang,” bapak memperingatkan. “Tiup itu pelita.”
“Jangan dulu.”
Tiba-tiba dari luar terdengar. “Dua mata-mata bajak tertangkap.”
“Bawa sini!” bapak berteriak.
Dua orang laki-laki itu di dorong ke dalam. Mukanya babak belur kena pukulan. Terhuyung-huyung mereka didekatkan pada pelita.
“Masya’allah. Itu kusir kami,” Mardinah memekik. “Benar, kusir kami.”
“Kusir?”
“Tidak! Dua orang biangkeladi ini mata-mata bajak.”
“Tidak!” Salah seorang kusir membela diri. “Kami berdua cuma kusir. Segerombolan bajak sudah serang dokar dan kuda kami. Waktu dilihatnya dokar kosong mereka bunuh kuda kami. Dan kami lari kemari.”
“Jadi bagaimana kuda itu?”
“Mati. Dua-duanya kita temukan dekat semak-semak, dikampak kepala dan kakinya,” kata seorang kampung. “Kalian tak di buru?”
“Mereka mengejar, mereka terus memburu kemari.”
“Tiup pelita itu!”
Gelap gempita. “Keluar semua!” Semua lari keluar. Di kejauhan terdengar seorang bayi menangis.
“Mereka sudah dekat!” seseorang berbisik. Dan malam pun semakin gulita.
“Ayoh kita semua lari ke tengah laut.”
“Ayoh, ayoh.”
“Bendoro Putri siapa ganti kuda kami?” Kusir bertanya. “Diam!”
“Uh.”
“Sudah bagus kalian sendiri nggak digorok.”
Seluruh kampung lari meninggalkan rumah. Ke tepi laut dan mendekati muara kali kecil tempat pencalang-pencalang nelayan ditambat.
“Selamatkan Bendoro Putri. Bawa ke laut!”
“Ya, dua-dua Bendoro Putri.”
“Satu perahu saja. Pengiring-pengiring di dua perahu lainnya.”
“Benar. Jangan sampai kita kena. Salah nanti.” , “Tapi, apa bajaknya tak ada yang jaga di tengah laut?”
“Laut lebih lebar dari darat.”
“Naik. Silakan. Cepat-cepat.” Dalam kegelapan itu terdengar bunyi kecibakan kaki-kaki yang turun ke air. “Jangan takut-takut orang kota. Di sini tak ada buaya.”
“Benar. Di sini tak ada buaya. Buaya lebih suka di muara kota.”
“Kok kalian tak takut kelihatannya?” tanya salah seorang pengiring Mardinah.
“Biasa. Kita semua sudah biasa. Enam bulan sekali bajak turun kemari.”
“Dari mana?”
“Dari mana? Barangkali dari kota.”
“Husy. Jangan ngobrol. Cepat!” Dalam kegelapan itu pun tiga buah perahu meluncur ke laut lepas.
Kok ok Waktu matahari sudah menjalankan dinasnya, orang-orang pria telah kumpul kembali di rumah bapak.
“Jadi bagaimana?”
“Ya, begitulah, semua menurut rencana.”
“Benar dua kuda itu dibunuh?”
“Tidak. Cuma dipindahkan ke tempat lain.” . “Tapi kusir-kusir itu…”
“Cuma ruji gerobaknya kami gergaji tandas.”
“Kusir-kusir itu … katanya kuda-kuda dibunuh.”
“Ah, memang kuda-kuda itu terpaksa dipukuli agak keras.”
“Di mana kuda-kuda itu sekarang?”
“Di bawa ke hutan, ditinggalkan di sana.”
“Anakku sudah mendarat?”
“Sudah, tapi ditahan dulu.”
“Bagaimana pengiring-pengiring itu?”
“Mereka semua bersenjata tajam, dalam kegelapan kami pukuli mereka dengan dayung.”
“Apa kata mereka?”
“Anak bapak akan dibunuh di tengah jalan.”
“Apa alasannya?”
“Mereka tidak tahu. Mereka hanya tahu melaksanakan perintah dari Demak.”
“Sama dengan Mardikun, jadi?”
“Sama.”
“Nggak bisa berenang, tentu.”
“Tentu saja tidak.”
“Kau lempar ke laut?”
“Dua-duanya.”
“Yang di perahu lainnya?”
“Mungkin sama saja nasibnya.”
“Mardinah? Bagaimana Mardinah.”
“Dia cari-cari abangnya.”
“Orang-orang itu yang bilang?”
“Ya.”
“Siapa orangnya di Demak yang kasih perintah mereka.”
“Mereka tak tahu.”
“Jadi mereka cuma tahu Mardinah?”
“Barangkali.”
“Rupa-rupanya cuma Mardinah yang tahu segalanya.”
“Kita paksa dia. Kita tahan dia di sini.”
“Bukan main perempuan itu, seperti lelaki.”
“Mengapa dia sampai begitu? Siapa yang atur semua itu?”
“Nanti kita periksa.”
“Celakanya tak ada yang bisa baca.”
“Sialan.”
“Ah, barang kali si Dul pendongeng pernah belajar baca. Kita sudah lupakan dia.”
“Selama ini masih dicancang dia?”
“Masih di bedeng sero.”
“Dia tak bertemu kusir-kusir itu?”
“Tidak mungkin.”
“Lepaskan dia. Coba ambil dia kemari.”
Dan waktu si Dul pendongeng muncul membawa rebana, semua mata tertuju padanya. Dipukulnya tepi rebananya lambat-lambat. Ia sedang memperhatikan apa yang bakal mungkin terjadi.
“Kau bisa baca?” bapak berteriak.
Si Dul pendongeng terkejut dan dengan sendirinya membuat pukulan kencang pada rebananya, sedang seperti tersentak dari mulutnya meluncur kata-katanya:
“Tidak! Tidak! Ai-ai Tidak!” — dung-dung-dung-cring! “Jelas nggak bisa baca juga.”
Cancang lagi dia.
Pukulan rebana itu tiba-tiba keras memprotes. Dan orang-orang pun memberikan kesempatan padanya berbicara. Pukulan rebananya kini kembali jadi tenang, dan dengan suara mantap dia bawakan pantunnya:
ke mana pun si kecil per gi ke Sana pun penipu menanti orang kampung sifatnya lugu sasaran empuk para penipu tetapi tetapi — dung-dung-cring dung-dung-cring Suara rebana tiba-tiba berubah. “Tetapi mengapa!?” serentak orang memotong.
tetapi tetapi — dung-dung-cring siapa sangka siapa nyana — dung-dung-cring “Mengapa, oi gendeng?” teriak seorang tak sabar. sejak petang layar terkembang ikan terperangkap dalam langgai aihaih orang kampung sekarang menipu pun sudah pandai …
“Setan! Siapa yang kita tipu?” seorang membentak dengan marah. “Kau jangan mengada-ada, gendeng.” Tapi si Dul pendongeng meneruskan tanpa peduli:
bajak mana mau singgah di kampung cuma udang kering berkarung-karung bajak mana mau datang menggempur cuma perawan dekil di dapur-dapur harta tidak — benda tidak ubur-ubur pun segan mendekat Kali ini si Dul pendongeng tak sempat menyelesaikan nyanyiannya. Dia didorong keluar rumah, “enyah kau!” Semua marah, tak tahu harus diapakan si pendongeng yang terus mengoceh tak keruan. Sekarang tinggal rebananya masih terdengar lambat-lambat gelisah, sayup-sayup karena orangnya sudah menjauh.
“Tak pernah dia seaneh ini,” seorang memecah kesenyapan. “Benar kata kakek. Kota merusak semua-mua. Betul-betul sudah gendeng dia.”
“Selusin iblis sudah bersarang di otaknya.”
“Dua lusin.”
“Ah, tidak,” bapak menyela, “dia cuma kelihatannya saja gendeng, tapi matanya jeli, otaknya jalan.”
“Wah, bahaya kalau begitu. Lantas kita apakan dia?”
“Mulutnya tak boleh mencelakakan kita semua. Cancang lagi dia. Ambil rebananya! Simpan di rumah siapa saja, asal tak dirusakkan anak-anak,” perintah bapak.
Seorang segera meninggalkan rumah, bertugas sekali lagi mencancang kedua kaki si Dul gendeng, kalau perlu tangannya sekalian.
Pukulan-pukulan rebana sekarang lenyap sama sekali. Tapi suasana dalam rumah masih terasa mencekik. Udara kian lama kian merangsang dengan panasnya, seakan angin enggan menyentuh tubuh manusia.
“Tiada selembar rumbia bergerak di atas rumah. Kesaksian hidup cuma panas udara dan sesaknya dada.
“Apa kita lakukan sekarang?” seseorang berkata. “Mengapa kepala kampung tak juga bicara?”
“Mesti bicara apa lagi dia?”
“Setidak-tidaknya keselamatan dirinya juga terancam ”
“Bukan dia sendiri, kita semua.”
“Cuma kakek saja yang tenang-tenang.”
“Bagi dia cuma tinggal cari tempat buat mati.”
“Iblis tua itu, dia cuma pikirkan dirinya sendiri.”
“Itu tidak benar. Dia pikirkan keselamatan kita semua.”
“Mengapa sampai terjadi begini sekarang?”
“Husy, husy, jangan menyesali. Beginilah kita sekarang. Kita mesti dapatkan akal, lain tidak. Bagaimana pengiring yang dua lagi itu?”
“Tin! Coba cari keterangan kau.” Seseorang segera pergi meninggalkan rumah.
Mereka menunggu, menunggu, menunggu. Tapi yang ditunggu tiada muncul.
Di hari-hari akhir ini mereka hidup seakan begitu lama. Tak ada ikan tertangkap. Lebih dua puluh jam perut tak dilalui makanan. Orang-orang hampir tak sempat terlelap. Sedang saraf terus juga dalam keadaan tegang. Minyak tanah pun telah habis. Kini orang mempergunakan minyak kelapa, dan nyalanya yang tak berpribadi membuat suasana semakin teras muram.
Tak lama setelah dapat kabar kedua pengiring lainnya juga tewas dan kedapatan bersenjata tajam juga, muncul Gadis Pantai dan Mardinah diiringkan beberapa orang. Kedua wanita nampak layu kehabisan darah.
“Bendoro Putri takkan mungkin pulang.” Bapak memulai.
“Bajak telah hancurkan dokar. Kedua-dua dokar. Tak ada dengar apa-apa waktu di laut.”
Mardinah cuma setengah mendengarkan. Menjawab, “Tidak.”
“Benar tidak?”
“Tidak.”
“Ingat-ingatlah lagi.”
“Beberapa mayat nelayan kami ditemukan di pantai pagi ini. Juga keempat pengiring Bendoro Putri.”
Wajah Mardinah berubah. Matanya menyala serta tangannya dan bibirnya menggigil.
“Pada mereka terdapat luka-luka senjata tajam. Pasti mereka terkena kepung bajak di tengah laut ”
“Benar Bendoro Putri tak dengar apa-apa waktu di laut?”
“Aku ada dengar teriakan,” Gadis Pantai berbisik lamat-lamat sayup-sayup. Gelap gulita waktu itu. Perahu-perahu kami berpisahan. Kami tak berlampu.”
“Beruntunglah Bendoro tak ikut terpelosok dalam kepungan bajak. Mereka tak kenal kasihan. Tak kenal ampun. Seperti orang-orang yang dendam pada kelahirannya sendiri. Syukur Bendoro Putri, syukur Bendoro masih selamat. Bukankah begitu kanca-kanca?”
“Ya, memang begitu. Syukurlah Bendoro Putri selamat. Kita semua sudah begitu khawatir.”
“Tapi sekarang Bendoro Putri tak mungkin bisa balik ke kota.” Kemudian emak pun masuk ke dalam rumah, juga abang-abang dan saudara-saudara Gadis Pantai.
“Bagaimana makan, emak? Tak ada?”
“Ah, datang pun baru, kami ini.”
“Masaklah.”
“Beras dari kota masih ada kan, mak?”
“Beras masih ada, bajaknya yang sudah tak ada. Mari masak perempuan-perempuan?!”
Dengan tubuh layu, wanita-wanita pun mulai memasak. Mardinah rubuhkan diri di atas bale, dan sebentar kemudian tak bergerak-gerak lagi terkecuali alat-alat pernafasannya. Gadis Pantai menyusul merebahkan diri di ambin. Pun sebentar kemudian terlelap. Orang-orang laki walaupun capek masih kelihatan berembuk. Bersama mereka mencari akal tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Seorang demi seorang meninggalkan rumah setelah lama bicara berbisik-bisik. Akhirnya bapak pun pergi …
Ketika makan tersedia dan dua wanita yang tertidur dibangunkan, makan sore menyusul, lambat tanpa semangat. Dan waktu Mardinah hendak merebahkan diri kembali ke ambin, seperti telah diperhitungkan sebelumnya bapak pun masuk ke dalam dan langsung membuka percakapan:
“Bendoro Putri, Bendoro terpaksa tinggal di kampung sini. Kami tak bisa panggilkan dokar lain kami cuma mau menolong kalau kami pun ditolong. Kami orang-orang miskin saja, setahun sekali saja makan nasi. Biasanya kami makan jagung. - Kami tak mampu sediakan apa-apa pada Bendoro Putri. Cuma sekali ini saja kami sediakan makan. Mulai besok Bendoro Putri silakan cari makan sendiri, mungkin ikut menangkap ikan di laut, mungkin menjahit jala. Sahaya tak tahu apa Bendoro Putri bisa kerjakan.”
“Aku? Aku mesti kerja? Kau tidak tahu siapa aku?”
“Tahu benar Bendoro Putri, karena itu sahaya beritakan sebelumnya. Kami tak mampu sediakan makan lagi mulai besok, juga tak mampu sediakan ambin lagi. Juga tak mampu sediakan atap naungan lagi. Bendoro Putri bisa tidur di bawah-bawah pohon kalau suka.”
“Mengapa dulu bisa sekarang tidak?”
“Karena masih tamu kami, mulai besok tidak lagi.”
“Ah-ah aku tak biasa. Aku tak bisa kerja.”
“Ya, Bendoro Putri lebih baik pulang saja kalau begitu.”
“Kan tidak ada dokar…”
“Jalan kaki.”
“Takut.”
“Kalau begitu harus tinggal di kampung sini.”
“Suruh orang antarkan aku, aku akan bayar dia.”
“Tidak ada yang bisa. Bendoro terpaksa pulang sendiri.”
“Ah-ah, aku takut dan aku tak bisa kerja, aku bayar semua, makanku, tempat tidurku, mandi, minum.”
“Berapa uang Bendoro Putri?”
“Tidak banyak, barangkali mencukupi buat beberapa hari sampai ada dokar.”
“Dokar takkan datang kemari. Dia datang kalau kami panggil.”
“Panggillah.”
“Tak mungkin. Berhari-hari sudah kami tah menangkap ikan. Kami terlalu lelah. Terlalu banyak ribut akhir-akhir ini.”
“Ah-ah, biarlah kupikirkan besok.”
“Maaf Bendoro Putri, pagi besok Bendoro sudah harus cari tempat lain dan cari makan sendiri. Bendoro sebaiknya tentukan sekarang.’
“Janganlah begitu keras padaku,” Mardinah memohon “Seribu maaf, sahaya tak bisa lain.”
“Aku akan bayar semua.”
“Mau bayar?”
“Ya! Minta berapa bayarannya?”
Bapak agak mengangkat muka, berdiri, berjalan menjauh menghampiri pintu, mendaham, kemudian dengan ragu-ragu mendekati Mardinah yang kehilangan kantuknya. “Ongkosnya tinggi sekali.”
“Seringgit?”
Bapak tertawa.
“Kurang banyak? Tiga rupiah.”
Bapak tertawa.
“Lima? Enam? Sepuluh?”
“Dari mana Bendoro punya uang sebanyak itu?” Gadis Pantai bangun dari ambin dan menyumbangkan suara, “Di kota dia kerja melayani aku, bapak.”
“Cuma pelayan? Tapi dari mana uang sebanyak itu Bendoro Putri?”
“Mardinah menarik-narik tepi kainnya sambil menunduk sedikit, kemudian dengan mata menyala menatap Gadis Pantai. “Tahu Mas Nganten tentang orang tuaku?”
“Bapakmu juru tulis.”
“Apa juru tulis tak mungkin kaya?”
“Apa yang dimiliki orang tua Bendoro Putri?”
“Sawah puluhan bahu.”
“Apa lagi?”
“Rumah, puluhan dokar-dokar sewaan ”
“Tapi Bendoro Putri tak bisa keluar dari kampung sini”
“Aku bisa bayar berapa saja diminta.”
“Kalau begitu bayar saja dengan sawah, rumah dan dokar-dokar itu. Buat biaya Bendoro Putri di sini. Setuju? Kepala kampung besok bisa pergi ke kota. Berikan uang yang lima rupiah itu kepadanya. Dia akan melihat sawah dan rumah dan juga delman-delman itu. Mengurusnya pada bendoro-bendoro priyayi sampai semua diserahkan pada kami, sesudah itu Bendoro Putri kami antarkan pulang ke kota setuju?”
“Tidak mungkin. Mana bisa sawah-sawah diserahkan.”
“Beribu maaf, Bendoro Putri, itu kalau Bendoro Putri suka. Kalau tak suka, lebih baik sekarang saja Bendoro Putri cari tempat menginap lain. Tak usah tunggu besok.”
Mardinah menekur.
“Dengar!”
Mardinah mengangkat kepala kembali dan mendengarkan. Sayup-sayup terdengar salak anjing.
“Silakan pergi Bendoro Putri! Ayoh silakan, silakan pergi! Di semak-semak bakau sana ada tempat.” Sementara itu di luar sana suara-suara anjing masih terus melolong panjang.
Mardinah mencekam kedua belah tangan pada dadanya. Wajahnya pucat dan bibirnya jadi biru. Dalam kegelapan malam berlampu pelita nampak seakan rambut kepalanya membumbung lebih tinggi.
“Silakan Bendoro Putri, kalau tak suka pergi, terpaksa sahaya seret keluar.”
“Ampun, bapak. Ampun.”
“Tidak ada ampun. Berapa uang Bendoro Putri bawa sekarang? Jawab lekas.”
Mardinah meriut ketakutan. Orang-orang yang kini masuk ke dalam membawa berbagai macam alat, membikin suasana semakin menyeramkan.
“Orang-orang ini datang buat carikan tempat buat Bendoro Putri di semak-semak bakau.”
“Ampun, jangan aku harus tidur di sana.”
“Berapa uangnya? Sekarang ada?”
“Lima puluh rupiah.”
“Dari mana uang sebanyak itu? Serahkan!”
“Orang tuaku kaya.”
“Bohong!” beberapa orang sekaligus bersuara. Orang-orang yang baru masuk kini nampak mengancam sambil menghampiri. Mardinah menutup matanya dengan kedua belah tangan dan menangis.
“Tidak ada gunanya, nanti di semak-semak bakau Bendoro Putri bisa menangis sepuas-puasnya.”
“Ampun!” jeritan ngilu.
“Dari mana uang itu?”
“Ampuuuun!”
“Angkat saja, bawa saja Bendoro ke semak bakau tepi laut.” Orang-orang semakin mendekat.
“Ampun. Uang itu, uang itu dari…”
“Mengapa tak lekas-lekas diseret? Dibuang!”
“Hayoh, kanca-kanca.”
“Ampuuuun!” Mardinah berpegangan erat-erat pada galar ambin.
“Tak usah minta ampun! Katakan saja dari mana uang sebanyak itu?”
“Aku akan katakan.”
“Katakan, cepat!”
“Dari Bendoro Demak.”
“Bendoro apa? Patih? Mantre Kanjeng Bupati?”
“Bendoro … Bendoro … Tidak, aku tidak akan katakan.”
“Bendoromu yang suruh kau kemari?”
“Tidak.”
“Siapa suruh kau?”
“Siapa? Siapa? Aku sendiri!”
“Mengapa Gadis Pantai mau kau bunuh?”
“Tidak! Tidak! Tidak!”
“Kanca-kanca! Bawa pengiringnya yang masih hidup. Itu yang bahunya belah kena tombak bajak. Suruh dia ngaku di sini. Biar tatap muka. Sedia Bendoro Putri?”
Mardinah terdiam.
“Pengiring itu bilang, kalau Bendoro Putri tak mau ngaku, parang yang dibawanya dari Demak bakal ditebangkan pada leher Bendoro Putri sendiri.”
“Hei, para kanca, ikat kaki tangannya. Kita sendiri saja yang tebang lehernya. Nggak ada yang tahu dia ada di sini. Bendoro di kota pun tak tahu.”
Mardinah membalikan badan merangkul dataran ambin dengan kedua belah tangannya, melekat erat pada galar-galar ambin.
“Tidak ada gunanya Bendoro Putri!”
“Ah, bukan Bendoro dia!”
“Tidak ada gunanya, Bendoro Putri. Gampang saja tangan itu ditebang, lepas sendiri Bendoro dari ambin.” Mardinah menjerit minta-minta tolong.
“Tak ada guna menjerit. Tak ada orang kota di sini, takkan ada yang dengar. Takkan ada yang nolong.”
Gadis Pantai terisak-isak. Mardinah melolong-lolong. “Ngaku cepat!”
“Bendoroku janjikan aku, aku … jadi…”
Orang-orang terdiam mendengarkan. Mardinah masih melekatkan tubuh pada ambin.
“Cepat! Kalau tidak aku lecut dengan buntut pari.”
“Istri … Istri, Istri, istri kelima, kalau…”
“Kalau apa?”
“Kalau, kalau, kalau aku dapat, dapat usahakan…”
“Cepat!”
“… putrinya, dapat … dapat … jadi istri Bendoro, Bendoro suami Mas … Mas Nganten.”
“Tengik!”
“Berapa kau dapat duit dari Bendoro buat usir anakku?”
“Seratus rupiah.”
“Mana sekarang?”
“Tinggal tiga puluh lima.”
“Berapa kau bagi pengiringmu?”
“Baru seringgit-seringgit”
“Kalau berhasil pekerjaannya, ditambah berapa?”
“Ampun! Ampun!”
“Kita apakan perempuan culas begini?”
“Aku ada usul, aku ada usul.”
“Bagaimana? Ayoh cepat apa usulnya?”
“Berikan dia pada si Dul gendeng biar kesampaian maksudnya dapat lelaki.”
“Bagus! Bagus! Setuju!” serentak orang menyambut. “Betapa girang si Dul gendeng. Dia bakal ileran.”
“Ah, ah, Bendoro — pergi jauh-jauh, tahu-tahu jadi bini pendongeng gendeng.”
“Cepat!” Orang pun pada tertawa senang. Mardinah reda sedikit. Ia terisak-isak.
“Ai-ai, tak dapat Bendoro, pendongeng edan pun jadilah. Oi, sudah pernah lihat si Dul?”
“Hmm, kalau malam bisa dengarkan dongengnya: duk-duk-duk, cring!” Kembali orang gelak-gelak. Isak-isak Mardinah semakin surut mendengar gelak-gelak itu.
“Tak jadi dibawa ke semak bakau?” Tak bersambut. “Kasihlah dia pada si gendeng itu. Biar pesta dia malam ini.”
“Bagaimana Bendoro Putri, jawablah, tidur di semak-semak bakau atau ditemani si Dul pendongeng di bedeng sero. Jawab.” Mardinah terdiam dari isak dan sedannya. Ia menekuri bumi sekarang.
“Nggak susah, nggak susah. Ayoh jawab saja.”
“Para kanca! Itu usul baik, bukan?”
“Baik, lebih dari baik.”
“Hebat!”
“Asyik!”
“Jawablah, Bendoro. Bendoro Putri bukankah masih perawan?”
“Janda,” Gadis Pantai membetulkan.
“Ya, ya, biar sekali ini si Dul punya kerja. Kerja jadi lelaki.”
“Benar, biar dia belajar jadi lelaki!” tertawa riuh. “Cepat!”
“Para kanca, Bendoro Putri diam saja, tak menolak — jadi setuju.” Orang-orang mengawasi Mardinah, yang kini duduk diam-diam di ujung ambin.
“Apa lagi yang ditunggu? Ayoh! antarkan dia pada si Dul pendongeng.”
“Ya, ya. Cari laki di sini tidak sulit.”
“Silakan berdiri, Bendoro Putri. Mereka akan antarkan Bendoro Putri.” Ragu-ragu Mardinah berdiri “Para kanca! Yang sopan! Antarkan Bendoro ke bedeng sero —jangan tinggalkan sebelum kalian tahu pasti Bendoro selamat sampai di tempat.”
Mardinah mulai berjalan meninggalkan ruangan, lambat-lambat menuju ke pintu. Kepalanya menunduk dalam. Gadis Pantai berlari-lari menghadang jalan.
“Mardinah, bukan kehendakku semua ini.”
“Sahaya, Mas Nganten.”
“Ini semua barangkali akibat niatmu sendiri.” Mardinah meneruskan langkah, dan Gadis Pantai menyingkir memberi jalan.
“Kau tak keberatan mendampingi si Dul pendongeng?” Ragu-ragu Mardinah mengangkat bahu dan terus melangkah, keluar dari pintu, hilang ke dalam kegelapan malam, orang-orang pun mengiringkan di belakang. Sebagian di depannya.
“Timin!” bapak berseru. Seorang pemuda berjalan sigap menghampiri bapak. “Sampai besok pagi kau bertugas mengawasi si Dul pendongeng dan Mardinah. Jangan sampai mereka lari ke kota. Lepaskan ikatan si Dul dan awasi mereka dari kejauhan saja. Jangan lupa kembalikan lebih dulu rebananya.” Pemuda itu pun segera ke luar rumah
Dari luar terdengar riuh rendah pemuda-pemuda tertawa. “Si Dul pendongeng masih perjaka!” seseorang memekik.
“Baik-baiklah mengurus dia, Bendoro.” Orang pun bersorak.
Gadis Pantai terisak-isak. Bapak menatapnya sebentar kemudian berjalan juga menuju ke pintu.
“Kau menangis,” emak menghampiri.
“Kasihan dia.”
“Disini tak seorang pun mau samasi Dul gendeng. Kan baik ada perempuan yang mengurusnya.”
“Tapi kita orang kampung, mak. Mardinah orang kota, tentu lain kemauannya.”
“Ah, hukuman itu tidak berat.”
“Tidak berat? Kawin dengan orang biasa pun sudah tak ter- ’ tanggungkan, mak.” Tiba-tiba Gadis Pantai teringat lagi pada kejadian yang telah menggegerkan seluruh kampung, ia bertanya, “Apa benar para pengiring mati diserbu bajak, mak?”
“Tanya saja pada bapak.”
“Benar ada pengiring belah punggungnya? Bahunya?”
“Tidurlah, nak.”
“Dia tak berbicara sama sekali tentang Mardikun,” berkata Gadis Pantai terheran-heran tentang Mardinah
“Mardikun?” Emak tersentak. “Si pendongeng tahu tentang Mardikun. — Bapak! Bapak!” emak pun lari mendapatkan bapak yang telah hilang di dalam kelam.
Keruyuk pagi ayam jago pantai mulai terdengar. Terdengar juga deru ombak menjilati pantai dan membanting diri.
“Satu malam lagi mereka tak berangkat ke laut,” Gadis Pantai berbisik sendiri. “Apa jadinya orang-orang ini semua?” Ia rebahkan diri di ambin. Matanya merenungi segala yang telah terjadi Beberapa kali ia menarik nafas keluh, kemudian tertidur. Waktu, bapak dan emak datang ia telah tenggelam di dalam mimpi.
“Kasihan anak kita.” - “Mestinya tak kau kawinkan dengan Bendoro.”
“Diamlah, diam!”
Kedua-duanya pun merebahkan diri di ambin. Abang-abang Gadis Pantai telah keluar semua. Sedang adik-adik Gadis Pantai menyusul orang tua mereka. Kampung itu pun terlelap dalam embun pagi yang sejuk.
Jam sembilan pagi rumah bapak mulai ramai lagi, kedua orang kusir pun muncul, tapi kemudian dibawa ke rumah kepala kampung untuk sarapan pagi dan didengar ceritanya. Pemuda Timin muncul untuk melapor tentang tugasnya semalam, ia menarik bapak ke pojokan. “Luar biasa! Luar biasa!”
“Apa yang luar biasa?”
Mata Timin menyala bangga, takjub heran. “Bagaimana tak luar biasa! tanpa rebana si Dul gendeng bisa senyum, bisa tawa. Dia waras, bisa ngobrol.”
“Ngobrol? Ngobrol apa mereka?”
“Mana aku tahu?”
“Bagaimana Mardinah?”
“Juga dia tertawa-tawa, mencubit dagu si pendongeng.”
“Dasar!” Cih, sebenggol ludah pun mendarat pada dinding bambu.
“Ada mereka sebut-sebut nama Mardikun?”
“Mana sempat? Mereka sibuk kok,…berkasih-kasih.”
“Kau kembalikan rebananya?”
“Tak perlu lagi.”
“Kau lepaskan ikatannya?”
“Ya, sesudah lepas ikatan, ia bersila di tanah. Kami bertiga kemudian mengobrol. Mardinah tak bicara apa-apa tentang abangnya. Aku beranikan diri bertanya, “kau senang ditemani putri cantik dari kota? Tidak semua orang kampung dapat kehormatan seperti kau.”
“Iblis! Kau sendiri kepingin?”
“Tidak! Mereka berdua memang sudah paling cocok. Waktu aku tinggalkan bedeng sero dan keadaan sudah sepi sekali, mereka malahan…”
“Malahan apa?”
“Ya, begitu …,” jawabnya sambil mengedip-ngedipkan matanya sebelah.
“Iblis kau! Aku suruh mengawasi jangan sampai mereka lari ke kota, bukan disuruh ngintip yang tidak-tidak!”
“Apa lagi kalau sudah begitu?”
“Apa lagi? Mereka harus kawin baik-baik ”
“Mau makan apa mereka nanti? Si Dul gendeng begitu takut pada ombak.”
“Barangkali sekarang ia terpaksa harus berani. Di mana keduanya sekarang?”
“Jalan-jalan di tepi laut.”
“Oh, enaknya.”
“Memang. Itu bukan hukuman namanya.”
“Bukan. Perbaikan! Barangkali baik buat dua-duanya.”
“Kapan mereka dikawinkan?”
“Tanya sendiri pada keduanya!”
Pemuda Timin lari meninggalkan ruang rumah bapak, menyegarkan diri ke dalam cerah pagi. Hadirin lainnya ngobrol sambil tertawa-tawa. Antara sebentar terdengar nama si Dul pendongeng disebut-sebut.
“Tahu? Sekarang tidak ada bedanya Bendoro Putri dengan orang kampung seperti kita ini.” Orang-orang pun gelak-gelak tertawa Gadis Pantai mengawasi mereka dengan mata sayu. Mendengar obrolan semua itu, justru yang sebaliknya terbayang dalam angannya: dirinya sendiri — orang kampung — diseret ke kota dan diupetikan pada seorang Bendoro. Tapi nampaknya Mardinah terima nasibnya dengan senang. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa? Ia awasi orang-orang yang pada gelak tertawa. Apakah orang-orang kampung ini tak tertawakan aku juga waktu aku diseret ke kota? Tiba-tiba suatu sayatan menyerang hatinya. Ia bangkit dari ambin, meninggalkan ruangan dan melalui pintu dapur memberanikan dirinya pada alam terbuka. Ia berjalan menuju pantai. Laut telah menjauh dari kampung, sedang pasir pantai yang kuning keputihan itu mengisi hatinya dengan kelapangan.
Di dekat sebuah biduk bergaris biru jauh di sana, dua titik bergerak perlahan. Sekaligus ia tahu: Itulah Mardinah dan Si Dul pendongeng. Ia berjalan cepat menghampiri mereka. Dan ia lihat titik satu lagi juga sedang bergerak menghampiri mereka. Sekaligus ia tahu: Itulah pemuda Timin.
Tak pernah dua tahun ini ia berjalan cepat seperti sekarang ini. Kakinya yang tak bersandal merasa dibelai oleh pasir basah yang hangat.
Bertambah cepat ia berjalan, bertambah membesar titik-titik di hadapannya. Terus semakin besar sampai akhirnya nampak resam tubuh mereka. Titik yang satu nampak bergerak semakin cepat, akhirnya menggabungkan diri dengan yang kedua. Mereka kemudian nampak berjalan menuju ke arah kampung. Dan perjalanan mereka membuat tubuh mereka makin cepat nampak menumbuh jadi jelas.
Akhirnya di bawah genggaman terik matahari pagi Gadis Pantai menemui Mardinah berjalan bersama si Dul pendongeng sedang pemuda Timin mengiringkan di belakang. Ia melihat pancaran bahagia pada mata si pendongeng, dan pancaran menyerah pada mata Mardinah. Tiada terdapat pertarungan antara kedua pancaran mata itu.
Nampaknya tak ada sesuatu pun patut disesali, ia berbisik pada diri sendiri. Ia hampiri Mardinah, ia gandeng tangannya. Dan Mardinah tak menolak.
“Bagaimana kau Mardinah?” Tak berjawab.
“Mereka rupanya mau siapkan pesta,” pemuda Timin menyambung dari belakang.
“Memang patut dirayakan,” si Dul pendongeng mendengus ria tanpa rebananya.
“Kau sendiri, bagaimana kau sendiri, Mardinah?” tetap tak berjawab.
“Mas Nganten!” keluar lagi suara si Dul mendadak. “Ya.”
“Sahaya…”
“Mengapa terdiam?”
“Ayoh,” Timin memberanikannya dari belakang. “Bendoro Putri, sahaya akan ikut turun ke laut ”
“Kau? Kau? Ke laut?”
“Benar, Bendoro Putri!”
“Syukur! Mengapa baru sekarang? Sudah lupa pada rebanamu sekarang?”
“Tidak, Bendoro Putri, tapi sahaya akan turun ke laut. Kapan saja. Besok boleh, lusa pun boleh.”
“Ah, Dul, Dul, kau tak main-main?”
“Percumalah sahaya jadi lelaki, kalau tak berani turun ke laut.”
“Ya, ya Aku mengerti. Tapi mengapa baru sekarang?”
“Ha, ha, ha.”
“Si Dul pendongeng sudah menjadi anak nelayan sejati, Bendoro.” Timin bersuara.
“Ya, anak nelayan sejati!” si Dul pendongeng membenarkan. “Kau bahagia Dul!”
“Anak nelayan harus jadi nelayan.”
Timin terbahak-bahak dari belakang mendengar jawaban jantan si Dul gendeng.
“Kau sendiri bagaimana Mardinah? Kau sedia dikawinkan?” Mardinah angkat bahu. Nasib tak dapat diraih, mujur tak dapat ditolak.
“Kau takkan menyesal?”
“Mau sesali apa lagi, Mas Nganten?”
“Nasib kita memang berlawanan, Mardinah.”
“Sahaya.”
“Aku seperti kau, dipaksa. Aku dipaksa ke kota. Kau ke kampung.”
“Sahaya.”
“Tapi pendongeng pun sesama mahluk Tuhan, bukan? Dia orang baik dan sekarang mau bekerja.”
“Sahaya.”
“Berbahagialah kau. Dia tak punya apa-apa terkecuali kasih sayang…”
“Sahaya, Mas Nganten.”
“… yang ada dalam dada setiap nelayan.”
“Sahaya.”
“Bagaimana kau Timin, ada kasih sayang dalam hatimu?”
“Lebih daripada ikan yang bisa ditangkap, Bendoro Putri.”
“Kau dengar itu, Mardinah?”
“Sahaya.”
“Aku senang kau sudah terima nasibmu.”
“Sahaya.”
“Kalau nanti lakimu turun ke laut, kau akan kerja seperti bini nelayan lainnya. Kau juga mesti menumbuk udang kering. . Kalau subuh antarkan laki tinggalkan darat. Kalau angin kencang, tinggalkan rumah meninjau laut. Dan kalau laki terlambat datang, kau tunggu dia di pantai, sampai dia datang dengan perahunya.”
“Sahaya, Mas Nganten.”
“Tidak seperti di gedung sana, Mardinah.”
“Sahaya.”
“Orang disekap dalam kamar, dalam rumah. Berapa tahun aku di sana? Baru kali ini lagi melihat laut, rasai hangatnya matahari, bertemu orang tua di sini. Mardinah di sini setiap hari kau bertemu dengan setiap orang.”
Si Dul pendongeng terdiam mengangguk-angguk lemah.
Mereka berempat terus berjalan, diam-diam menuju ke kampung Dan ternyata seluruh kampung sedang menunggu mereka, berbaris besar-kecil, tua, muda, laki-perempuan, di pantai di bawah deretan pohon-pohon kelapa yang hijau melambai ria. Waktu mereka telah dekat orang-orang pun bersorak riuh rendah, sedang Timin dan Gadis Pantai mengiringkan di belakang mereka.
“Horeee!” anak-anak bersorak.
“Pengantin datang! Pengantin datang!”
“Horeee!”
“Kanca-kanca, ayoh kita iringkan ke rumah kepala kampung.”
“Ayoh!”
Tiba-tiba rebana si Dul menderu-deru dari tengah-tengah barisan. Si Dul pendongeng berhenti berjalan menengok ke belakang, melambai-lambaikan tangan meminta rebananya. Dan rebana itu pun dilemparkan ke atas, melayang ke udara. Seperti ditarik tenaga gaib, benda itu menghampiri pemiliknya. Dengan cekatan ia menangkapnya, memeluknya, kemudian menciumnya. Dengan kasih sayang ia geletarkan jari-jari halusnya di atas kulit benda itu, dan dengan kuping sebelah diletakkan pada kayu bingkainya. “Oooh!” terdengar sayu suaranya seperti merintih penuh sesal.
Tiba-tiba dengan sekuat tenaga ia pukulkan jari-jari halusnya pada rebana itu. Satu rentakan suara riuh-rendah, merenung, merangsang, mengatasi pekik sorak yang segera berhenti karenanya. Si Dul pendongeng terus membunyikan rebananya. Kadang diangkat tinggi-tinggi di udara, dan cuma bunyi kerincingannya yang terdengar. Kadang ia lemparkan benda itu ke atas untuk kemudian ditangkapnya kembali.
“Mana dongengnya!” orang memekik.
“Dia sudah kehabisan dongeng.”
“Ya, ya, dia sendiri jadi dongeng sekarang!”
“Horeee!”
Waktu iring-iringan sampai di depan rumah kepala kampung, kulit rebananya itu telah pecah. Barisan berhenti. Si Dul pendongeng meletakkan rebananya yang rusak di tanah. Membungkuk mengambilnya kembali. Semua orang terdiam sekarang, melihat si Dul pendongeng berjalan ke luar dari barisan, matanya liar mencari ke kiri, ke kanan, merabai tanah di depannya. Akhirnya dia menemui sebuah batu besar, dan sekali hantam kayu bingkai rebana hancur berantakan. Dengan gaya seorang pemain sandiwara ia lemparkan bingkai itu tanpa melihatnya, matanya tertuju pada semua orang. Tiba-tiba ia angkat kedua belah tangannya. Dan seluruh pengiring itu pun bersorak: “Horeee!” Gegap gempita seluruh pantai.
Dengan langkah tegap ia gandeng Mardinah memasuki beranda kepala kampung.
“Kami ini yang datang …,” serunya menantang.
Dari dalam rumah terdengar sapa, “Siapa itu bikin ribut di. sini?”
“Aku si Dul pendongeng,” ia menyebut dirinya sendiri. “Angkuh benar kamu sekarang.”
“Aku telah rampas wanita buat jadi istriku.”
“Dari mana kau rampas dia?”
“Dari kota!”
Kembali orang pun bersorak gegap gempita. Dan seperti ada komando kemudian terdengar suara membenarkan, “Dia rampas wanita dari kota! Kami saksinya.”
“Siapa nama wanita kota itu?”
“Mardinah.”
“Mana buktinya.”
“Keluarlah! Ini buktinya.”
Kepala kampung keluar sambil memandang Mardinah dan mengangguk-angguk. Kemudian mengangkat tangan, mengisyaratkan agar semua berhenti gaduh. Tinggal angin yang terdengar kini.
“Dul! Si pendongeng kampung kita?”
“Ya, betul.”
“Bagus, bagus. Bawalah wanita itu pulang jadi kawan hidupmu.”
“Tentu.”
“Bawalah pulang. Kau punya rumah?”
“Tidak.”
“Kalau begitu, untuk sementara bawalah ke rumah siapa saja yang mau terima.”
“Kami mau terima,” hampir setiap orang berteriak. “Pergilah pada mereka! Kalau sudah cukup ikan kau tangkap, nanti kau bikin rumahmu sendiri.”
Si Dul pendongeng menggandeng Mardinah. Dipunggunginya kepala kampung dan dihadapinya para pengiring. Kepada orang banyak yang mengerumuninya ia berseru, “Inilah kami. Siapa mau pinjamkan bale dan atapnya?”
Orang melompat-lompat girang menyambut permintaannya, para pengiring pun bersuka-ria. Sorak sorai berjalan terus …
Bagian Keempat
Kehidupan sehari-hari di rumah besar ini kian lama kian terasa sunyi olehnya. Para kerabat Bendoro yang tidur di surau di sebelah kiri rumah dan yang bersekolah di siang hari, terasa olehnya tidak punya persinggungan dengannya sama sekali. Mereka seakan mahluk-mahluk dari dunia lain, apalagi kalau mereka sudah bicara dalam bahasa Belanda yang sepatah pun tak dikenalnya. Bendoro sendiri muncul dalam hidupnya hanya di waktu ia berada dalam setengah tidur, setengah jaga. Bujang-bujang di dapur dirasainya seperti mahluk-mahluk aneh, hanya bicara kalau ditanya dan bergerak seperti bayang-bayang di kala senja. Tamu ia tak pernah menerima. Penjual sayuran yang setiap pagi berdiri di emperan dapur, penjual daging yang duduk di anak tangga ruang belakang — mereka seperti berasal dari alam lain. Sedang bila hari Jum’at tiba, dan para pengemis berbaris di depan rumah, maka ia pun keluar memberikan sedekah mingguan. Dirasainya mereka seperti muncul begitu saja dari bawah tanah.
Cuma satu yang menemaninya dengan setia sejak pertama kali tinggal di gedung besar ini: deru dan derainya ombak laut begitu nyata di malam hari, dan begitu lamat-lamat di siang hari. Bahkan bunyi angin yang setiap hari menggaruk genteng, mengguncang dan membelai pepohonan terdengar begitu asing.
Perabot rumah tangga yang indah-indah itu terkesan olehnya laksana ikan-ikan yang sudah kemarin dulu tertangkap dan menggeletak kaku di penjemuran.
Kedatangannya kembali ke kota, ke dalam gedung, sama sekali tak mendapat teguran dari Bendoro. Perhatian luar biasa pun tidak. Pertanyaan pertama waktu Bendoro mulai bicara:
“Apa jawab bapakmu? Dibutuhkan surau itu?”
“Tidak, Bendoro. Di sana sudah ada.”
“Guru ngaji? Sudah ada?”
“Ada, Bendoro.”
“Bagaimana menurut orang-orang? Cukup pandai dia mengajar?”
“Kata orang-orang memadailah.”
“Sudah ada yang bisa bahasa Arab?”
“Beribu maaf. Bendoro sahaya lupa tanyakan ”
“Lain kali harus ditanyakan.”
“Sahaya, Bendoro.”
“Suka bapakmu dengan sarung pemberianmu?”
“Beribu terima kasih Bendoro. Bukan kepalang girangnya.”
Setelah itu Bendoro tak ditemuinya lagi selama tidak kurang dari tiga harmal.
Sekarang setiap Bendoro pulang dari bepergian, hampir tidak pernah bawa oleh-oleh lagi. Ia pun tak mengharapkannya. . Gedung ini lambat-laun membikin ia belajar tak mengharapkan sesuatu apa. Dari mengontrol dapur ke pekerjaan batik, dari berbelanja di emper dapur sampai melayani Bendoro, dari malam-malam Jum’at yang lowong sampai pada malam-malam lainnya, semua itu terhampar di hadapan dan di belakangnya, laksana jalan-jalan sunyi-senyap. Hanya seorang saja yang menempuh jalan itu, dia sendiri.
Bendoro tak pernah bertanya tentang Mardinah. Ia seperti titik abu yang tertiup dari perapian, hilang terhisap oleh alam semesta. Pada mulanya kenyataan ini mengguncangkan Gadis Pantai. Bukankah Mardinah kerabat Bendoro? Mengapa tak ada perhatian pada nasibnya? Tentang Mardikun yang telah tewas digiring ke laut, Bendoro tak pernah bicara sama sekali. Pernah selama dua minggu beredar berita tentang serbuan bajak di kampung nelayan. Sumber berita adalah dua orang kusir yang pulang jalan kaki dari kampung nelayan tapi pihak yang berwajib tak ambil peduli. Pernah juga pada suatu malam Bendoro bertanya dari sampingnya, di tempat tidur:
“Kau bilang bapak dan emakmu baik-baik saja di sana?”
“Sahaya, Bendoro.”
“Jadi tak ada apa-apa di sana?”
“Tidak ada apa-apa Bendoro.”
“Mereka bicara tentang bajak yang menyerbu. Tidak ada?”
“Tak ada, Bendoro.”
“Syukurlah, mereka cuma omong kosong.” Bendoro tak bertanya lebih lanjut.
Pada suatu hari yang cerah datang seorang Tionghoa diterima menghadap Bendoro di pendopo Mereka berdua duduk di atas kursi goyang. Gadis Pantai sedang membersihkan perabot di ruang tengah. Dan ia dengarkan percakapan dalam bahasa Jawa tinggi yang kini sudah dikuasainya.
“Bendoro sahaya dengar ada bajak menyerbu kampung nelayan…”
“Kampung nelayan mana?”
“Kampung … beribu ampun. Bendoro … kampung nyonya Bendoro.”
“Nyonyaku?” Bendoro menjawab setengah berteriak. “Aku belum punya nyonya!”
“Beribu ampun, Bendoro. Beribu ampun. Sahaya diutus surat kabar sahaya dari Semarang buat datang kemari, menghadap Bendoro dan menanyakan soal ini. Kantor Pusat sahaya yang kasih keterangan.”
“Pergi, sebelum aku marah.”
“Sahaya, Bendoro. Beribu-ribu ampun.”
Dan Gadis Pantai tak mendengar lagi orang Tionghoa itu. Ia menduga Bendoro akan segera memeriksa dirinya kembali tentang peristiwa yang disangkalnya itu. Buru-buru ia tinggalkan ruangan tengah, membawa serta sapu dan bulu ayam, langsung menuju ke kamar, duduk di kursi menunggu datangnya pemeriksaan. Tidak, aku harus bilang tidak, terus, terus mungkir. Ya, Allah lindungilah seluruh kampung kami. Jangan datangkan marsose. Jangan datangkan polisi. Apakah mereka belum cukup diganggu orang kota?
Yang terjadi kemudian tepat sebaliknya. Bendoro tak datang ke kamar untuk memeriksanya. Tapi sepantun suara yang dingin, keras dan memerintah terdengar menggeletar berdembam-dembam memenuhi seluruh ruangan gedung besar itu:
“Mas Nganten, sini!”
Jantung Gadis Pantai terguncang. Jantung yang menjompak-jompak dirasainya memukuli dinding-dinding dadanya. Ia terlompat bangkit, berjalan cepat menuju ke arah datangnya suara. Tidak, kampung kami harus selamat. Kampung kami harus selamat. Harus selamat. Ia mempercepat jalannya, terlupa bahwa ia sedang ketakutan.
Bendoro duduk di kursi goyang di ruang tengah. Ia menghampiri dan berjongkok di hadapannya dengan kepala menunduk.
“Inilah sahaya, Bendoro.”
“Apa katamu perempuan? Benar tak terjadi apa-apa di kampung nelayan?”
“Benar, Bendoro. Tak terjadi sesuatu pun di sana. Sahaya tinggal selamat dalam lindungan Tuhan, Bendoro.”
“Apa yang sudah terjadi di sana?”
“Seperti sehari-hari Bendoro. Orang-orang berangkat ke laut di subuh hari atau tengah malam. Wanita-wanita yang tinggal menjemur ikan dan menumbuk udang kering.”
“Semua orang bicara tentang bajak laut.”
“Tak ada yang tinggal selamet kalau bajak laut menyerbu, Bendoro. Juga bayi-bayi dibinasakan, dan wanita-wanita ditawan. Sahaya tinggal selamat berkat pangestu Bendoro. Tak ada bajak di kampung kami.”
“Baiklah, dengar sekarang. Nanti malam akan datang seorang tamu. Bendoro dari Demak.”
Jantung Gadis Pantai menggigil kencang. Kini aku harus berhadapan sendiri dengan dia. Dia! Dia yang terbitkan rangkaian bencana atas kampung kami. Dia! Dia! Tapi kampungku harus tinggal selamat.
“Siapkan semua, jangan ada sesuatu yang kotor. Ruang tengah mesti dicuci bersih dengan sabun. Kerahkan anak-anak itu. Mereka tumbuh jadi begitu malas.”
“Sahaya, Bendoro.”
“Kamar ruang tengah sebelah belakang harus disusun rapi. Lemari-lemari harus dibenahi dengan kapur barus. Meja rias harus lengkap dengan bedak, minyak wangi, celak, sisir, minyak rambut. Jangan ada terlupa satu pun.”
“Sahaya, Bendoro.”
“Sahaya boleh berangkat, Bendoro?”
“Mulai! Sekarang!”
“Sahaya, Bendoro.”
Bendoro terdiam, Gadis Pantai mengangkat sembah dan meneruskan, “Ya sahaya pergi.”
Gadis Pantai bergerak mundur sambil berjongkok sampai menempuh jarak beberapa meter, kemudian baru berdiri, masuk ke dalam salah sebuah kamar ruang tengah.
Setelah wanita tua pelayannya diusir Bendoro, ia mulai kerjakan sendiri segala-galanya di dalam gedung ini. Kamar-kamar ruang tengah ini tak lagi asing baginya. Di sebuah pojokan berdiri sebuah bupet segitiga. Sebuah buku tebal berdiri di sana. Sering ia buka-buka buku itu untuk melihat gambar-gambarnya. Tapi ia tak mengerti siapa yang tergambar dalam buku itu. Ia banyak melihat gambar berbagai benda aneh yang tak diketahui namanya pun, juga gunanya. Selalu bila ia membawa sapu dan lap atau bulu ayam ke dalam kamar di ruang tengah ia buka buku itu. Barangkali saja anakku nanti bisa membacanya. Bisa menerangkan padaku gambar-gambar ini. Dan selalu ia berhadapan dengan buku itu timbul dalam hatinya pertanyaan yang menyiksa: Apakah sampai mati aku cuma pegang lap, bulu ayam dan sapu? Canting, sayuran dan piring-piring bekas makan Bendoro? Dan ia pun menyesal tak belajar baca tulis ataupun mengaji.
Dan seperti terjadi tiap hari, tangannya pun mulai bergerak melepas debu pada perabot, mengeluarkan permadani dan menjemurnya untuk kemudian memukulinya dengan pemukul kasur.
Sekarang suasana dirasainya lain. Seorang musuh akan datang dengan kebesarannya, memasuki perbentengan yang selama ini dianggapnya masih bisa lindungi hatinya. Tapi dengan keresahan tak menentu ia teruskan kerjanya menyeka seluruh perabot terkecuali senjata-senjata pusaka — sederetan tombak yang berdiri di atas jagangnya, karena yang demikian diharamkan oleh Bendoro. Waktu ia sedang menyeka kaca cermin bundar telur yang terpasang pada lemari pakaian Bendoro, ia lihat wajahnya begitu pucat, letih dan kehijauan.
Sakitkah aku? Mengapa pipiku begitu aneh? Mengapa nadi-nadi pada pipinya bersaluran membayang di kulitnya yang langsat? Ia tantang matanya sendiri. Mata itu kehilangan sinarnya. Sakitkah aku?
Ia masih berdiri seorang diri di hadapan bayangannya sendiri. Ya, aku lelah. Lima belas hari setelah meninggalkan kampung ia sama sekali tidak berkesempatan istirahat. Kepalanya terasa berat dan besar, seakan telah membesar dua-tiga kali lipat. Keringat dingin terus mengucur sepanjang hari dan antara sebentar matanya berkunang-kunang.
Ia teruskan kerjanya waktu didengarnya daham Bendoro dari ruang tengah. Tapi ia masih tak beranjak dari depan cermin. Dan waktu Bendoro masuk ke dalam ia masih menatap wajahnya. Sedang tangan kirinya mengusap-usap rambutnya. Ia kaget waktu bayangan Bendoro muncul di cermin di samping bayangannya.
“Mengapa kau?”
“Ampun, Bendoro.”
“Kau lelah? Mengapa tak kau suruh bujang-bujangmu?”
“Biarlah sahaya kerjakan sendiri.”
Tanpa melihat ia dapat mengetahui Bendoro sedang berganti sarung, mengenakan topi hajinya seperti biasa, dan tanpa melihat ia pun tahu Bendoro meninggalkan rumah, berjalan menuruni jenjang depan, turun ke pasir pelataran depan, menempuh gang pasir dan masuk ke dalam mesjid.
Gadis Pantai menarik nafas panjang. Perabot-perabot di hadapannya semua nampak besar-besar, nampaknya begitu rapuh baginya. Bahkan rumah batu sebesar itu dirasainya tidak pernah sekukuh pondok orang tuanya di kampung nelayan. Ia menuju ke jendela, dilemparkan pandangnya ke arah surau. Pemuda-pemuda kerabat Bendoro pada duduk-duduk di beranda surau membacai buku pelajaran mereka.
Seseorang melihatnya, tapi segera menundukkan muka dan meneruskan bacaannya.
Seakan-akan ia tak pernah ada di dunia. Seakan dia dan mereka pun tak pernah ada!
Tiba-tiba dirasainya sesuatu seperti selembar jarum menusuk hulu hatinya. Ia tertegun. Apakah ini? Benar-benar aku sakit? Dengan sendirinya tangan kirinya meraba tempat yang terserang sakit. Ia berjalan menuju ranjang Bendoro, berpegangan pada tepinya dan duduk di lantai. Ingin ia rebahkan diri di atas kasur itu, tapi ia tak berani. Dan waktu serangan sakit itu berhenti, ia buru-buru berjalan ke luar kamar. Dipanggilnya dua orang bujang wanita untuk meneruskan pekerjaannya: menyabun lantai. Ta sendiri duduk di atas bangku kecil dengan mata berkunang-kunang sedang serangan jarum itu antara sebentar datang berulang. Dirasainya jarum itu berjalan-jalan dengan lamban di dalam tubuhnya, dan selalu ulu-hati itu juga sasaran kesukaannya. Setiap serangan pada ulu-hati dibarengi dengan mengucurnya keringat dingin yang merembes berbareng dari pori-pori kulinya.
Tak kurang dari dua jam ia mengawasi bujang-bujang itu bekerja sampai kamar-kamar ruang tengah bersih dan kering seluruhnya. Baru kemudian ia bangkit, meninggalkan kamar-kamar itu serta menguncinya dan langsung menuju ke kamarnya sendiri. Buru-buru direbahkannya dirinya di ranjang. Dirasainya sekepal-sekepal udara yang padat membumbung ke atas dari dasar perutnya — mendorong seluruh isi perutnya ke atas pula. Kadang-kadang udara itu keluar tanpa berhasil mendorong isi perutnya, tapi tak jarang satu dua kepal dapat memompa benda-benda cair dari bawah sampai ke tenggorokan, ke lidah dan dirasainya udara yang tak sedap dan tajam laksana air asam bercampur pahit empedu. Aku mengandung, bisiknya.
Ia panggil seorang bujang masuk ke dalam kamar dan disuruhnya mengambil paidon1, kuningan besar yang tersimpan dalam gudang.
“Jangan pergi dulu, pijiti aku. Bukan di bawah, tengkukku saja.”
“Seribu ampun, Mas Nganten.”
“Ya, pijiti,” dan Gadis Pantai menengkurapkan dirinya dengan kepala mencekung di luar kasur, mulutnya mengarah pada paidon di lantai.
“Mas Nganten, mengandung.”
“Barangkali.” - “Syukurlah, Mas Nganten. Semoga Tuhan mengaruniai Mas Nganten seorang putra.”
“Ya, seorang putra.”
“Diselimuti Mas Nganten?”
“Ya, selimuti aku, kakiku. Selimutnya lipat biar tebal.”
“Sahaya, Mas Nganten.’
“Jangan tinggalkan dulu aku.”
“Sahaya jaga, Mas Nganten.”
Tiba-tiba Gadis Pantai merasa malu. Tak ada wanita kampung nelayan dimanjakan seperti ini bila mengandung. “Tidak, tak usah, pergi kau membersihkan ruang belakang. Nanti malam akan ada tamu.”
“Sahaya, Mas Nganten. Siapa yang datang?”
“Husy, mulai kapan kau belajar lancang bertanya?”
“Beribu-ribu ampun, Mas Nganten.”
Dan malam itu waktu tamu yang diharapkan datang, ia tergeletak tanpa daya di dalam kamar. Kepalanya dirasainya sangat berat seakan tak mau diangkat lagi buat selama-lamanya. Dan waktu Bendoro masuk ke dalam kamarnya untuk menegurnya, ia hanya menutup wajahnya dengan bantal. Bendoro mengangkat bantal itu dan meraba keningnya.
“Kau mengandung,” bisiknya kemudian dan segera meninggalkan kamar. h Ia memanggil-manggil pemuda kerabatnya. Dan sebentar kemudian menyusul suara perintah bertubi-tubi. Tiga jam kemudian waktu Bendoro menghadapi meja makan bersama tamunya, baru diketahuinya tamu itu seorang wanita. “Adi Mas,” ia dengar wanita itu bicara. Suaranya tinggi dan mengandung perintah. “Aku senang, Adi Mas, melihat tak ada perempuan tinggal di rumah ini.”
“Sahaya, Mas Ayu.”
“Dan aku lupa melihat si Mardinah. Di mana dia?”
“Kurang terang sahaya di mana dia.”
“Ha? Bukankah dia kukirim kemari?”
“Beribu ampun, Mas Ayu, sahaya tidak pernah mengurusi bujang-bujang.”
“Adi Mas priyayi sejati. Pantas banyak orang mengharapkan.”
“Apa yang diharapkan orang dari sahaya, Mas Ayu?”
Tamu itu tertawa mengerti. Percakapan terhenti, sebentar. Gadis Pantai berkunang-kunang pemandangannya. Kembali kepalan-kepalan udara memompa isi perutnya ke atas. Ia mi- ’ ringkan kepalanya, dan ia dorong kepala itu dengan lehernya keluar tepian kasur. Tak ada sesuatu yang berhasil didorong oleh kepalan-kepalan udara itu terkecuali udara itu sendiri yang mengeluarkan bunyi tahak serta beberapa sendok cairan kuning yang rasanya asam dan pahit sekaligus dan segera jatuh ke dalam paidon. Waktu ia geletakkan kembali kepalanya di atas kasur, ia dengar lagi suara percakapan disambung. Tapi juga tamu itu rupanya sempat mendengar suara sendawa dari dalam kamar.
“Siapa itu? Mardinah?’
“Bukan, Mas Ayu.”
“Aa, mengerti aku sekarang!” dan diteruskan dengan nada menggugat, “mengapa tak kau taruh dia di kamar dapur? Tidak patut! Tidak patut! Lihatlah aku. Kau kira patut kau tempatkan dia di bawah satu atap dengan aku?”
“Beribu ampun, Mas Ayu.”
Gadis Pantai tersedan-sedan. Buat pertamakali dalam hampir tiga tahun ini ia mengetahui ada kekuasaan yang lebih tinggi daripada kekuasaan Bendoro. Dan kekuasaan itu berada di tangan seorang wanita. Siapa dia? Siapa? Ia tersedan-sedan kembali. Ia rasai nasibnya sendiri pun berada di tangan wanita kuasa itu. Sia-sia kekukuhan dan kebesaran rumah batu ini Ada kekuasaan lebih perkasa daripada kekukuhan perbentengan batu ini. Ia teriak-teriak dalam hati. Akhirnya ia diantarkan oleh sedan dari isaknya.
Subuh hari waktu ia terbangun, didengarnya suara Bendoro yang sedang mengaji. Suamiku! Ah, suamiku! Tidak, dia bukan suamiku, dia Bendoroku, yang dipertuanku, rajaku. Aku bukan istrinya. Aku cuma budak sahaya yang hina-dina.
Dan sepagi itu kepalan-kepalan udara sudah mulai memompa di dalam perutnya. Ia merasa malu, sangat malu, Di kampung nelayan sana tak ada wanita tergeletak seperti ini waktu mengandung. Dan ayam-ayam yang berkeruyuk seakan bersorak riuh-rendah menganjurkan kepalan-kepalan udara itu memompa lebih cepat, lebih gesit dan lebih sering. Ia teringat pada jagonya. Dia juga berkeruyuk setiap bapak berangkat ke laut. Tapi suaranya jago-jago kota ini kini dirasanya begitu aneh bunyinya, begitu menyindir.
Waktu matahari terbit dan seorang bujang wanita masuk ke dalam, ia mendapat kabar bahwa tamu wanita itu malam itu juga terus pergi. Gadis Pantai mengucap syukur. Ia tahu, seorang Bendoro takkan usir istrinya yang sedang mengandung.
Dan dengan demikian ia menggeletak tiga bulan di dalam kamar yang selalu tertutup pintu dan jendelanya. Ia merasa seperti hidup di dalam gua. Dan ia pun merasa malu, sangat malu. Tak ada wanita kampung mengandung seperti dirinya. Mereka bangun setiap suami mereka turun ke laut. Mereka selalu hadir waktu perahu suami mereka berlabuh di muara. Dan mereka selalu turun ke dapur memasak buat anak-anak dan suami mereka. Tapi ia seorang diri menggeletak tanpa daya.
Waktu tiga bulan telah lewat, baru ia bisa bangun dan melakukan kewajibannya sehari-hari, tapi sementara itu Bendoro sangat jarang di rumah. Orang bilang Bendoro selalu tinggal di mesjid. Makanannya pun diantarkan dari rumah. Dalam masa mengandung itu Gadis Pantai selalu diamuk rasa rindu. Ingin ia duduk atau tinggal lama-lama dengan suaminya, tapi ia hanya seorang budak sahaya. Kadang-kadang ia menangis seorang diri tanpa sesuatu sebab. Ah, seperti anak di bawah jantungnya ini bukan anaknya, tapi calon musuhnya.
Ia ingin berdoa pada Tuhan, mengadu tentang ketidak-adilan yang dirasai, tapi ia tak mampu melakukannya. Ia tak tahu doa mana yang tepat buat itu. Ia tak pernah teruskan ngaji dan pelajarannya dengan naik. Dan ia menyesal. Ia serahkan segalanya pada nasibnya.
Tapi anak ini, anak ini, dia akan bernasib lebih baik dari ibunya. Dan takkan dilahirkan di sebuah kampung nelayan. Dia takkan diantarkan dari kampung pada seseorang Bendoro di kota. Dia akan dilahirkan di sebuah gedung besar yang kukuh, tak sepotong pun angin menerobosinya. Dia akan dilahirkan dalam kerajaan Bendoro, bapaknya sendiri. Dia akan ikut berkuasa bersama bapaknya, dia akan ikut memerintah. Dan dia akan turunkan bendoro-bendoro baru, tanpa perlu turun ke laut menangkap ikan, menantang ombak dan kegelapan malam, tak perlu rasai jilatan air laut pada kakinya.
Apabila perasaan kesunyian serta murung menyerangnya dengan mendadak tanpa sesuatu sebab, dengan sendirinya saja tangannya mengelus-elus mahluk baru yang aman terlindung di bawah jantungnya. Selamatlah kau, anakku. Selamatlah kau, bawalah emakmu ini ikut selamat denganmu.
Masa-masa yang gelisah mengguncangkan telah lewat. Di depannya membentang masa indah, masa keibuan. Seorang mahluk kecil menghembus-hembuskan nafas di dalam pelukannya, seorang mahluk kecil akan menghisap dadanya. Yang kecil ini kelak akan menjadi besar, tapi dia harus dilahirkan dulu.
Dan pada suatu hari yang baik, tanpa saksi Bendoro, bayi itu lahirlah dengan pertolongan seorang dukun bayi masyhur.
Dengan kelelahan dan terengah-engah Gadis Pantai menolong mahluk baru itu lahir ke dunia. Satu, dua, tiga, empat, lima menit tiada didengarnya mahluk baru itu bersuara. Mati?
“Mana, mana suaranya?” ia berbisik dan tangannya meraba-raba tubuh si jabang bayi. Ia rasai gumpalan daging yang hangat. “Mana, suaranya?” ia berbisik dengan mata masih dipejamkan karena terlalu lelah.
Tak berjawab.
Suatu serangan ketakutan menyebabkan jantung Gadis Pantai berdebaran. Ia ingin bangkit dan meniupkan hidup ke dalam dada bayinya.
Bayi itu sama sekali tak bersuara, tak bergerak. Ia ingin menjerit mengguncangkan pendengaran si bayi supaya bangun, tapi tenaga itu tak ada padanya. Dan waktu ia buka matanya dan perhatikan si dukun, dilihatnya wanita itu sedang mengangkat-angkat kaki bayinya ke atas. Begitu putih kulit si bayi, begitu kecil. Itulah anakku, anakku! Tapi mana suaranya, mana tangisnya?
Mulut si dukun berkomat-kamit membaca mantra. Gadis Pantai ingin menjerit. Matikah anakku diangkat-angkat begitu? Tapi tiada suara yang keluar dari mulutnya terkecuali lenguh kecil yang segera tenggelam dalam nafasnya sendiri.
“Sabar, Mas Nganten, sabar,” dukun bayi berbisik. - “Ya, Allah, selamatkan dia.”
“Demi allah, dia akan selamat.”
“Mana suaranya?”
“Air tuban terlalu banyak Mas Nganten,” sambil terus mengangkat-angkat kedua belah kaki si bayi dengan tangannya.
Tiba-tiba terdengar bayi itu merintih, kemudian muncul jerit lemahnya.
“Anakku!”
“Dia sudah menangis Mas Nganten.”
Gadis Pantai menarik nafas dalam, kemudian ia terlena, matanya tertutup dan tertidur kelelahan.
Beberapa menit kemudian waktu ia terbangun, seorang mahluk kecil tidur di sampingnya. Dengan sendirinya saja tangannya meraba-rabanya. Kedua tangannya lengkap, bisiknya. Kedua kakinya lengkap tanpa cacat. Hatinya lega. Kedua kupingnya pun lengkap. Matanya, bibirnya. Semua baik. Dan hidungnya ini, begini sederhana seperti hidungku.
Bayi itu tidur.
Di hadapannya dukun bayi itu masih menunggu duduk termenung di atas kursi rendah. Ia tersenyum padanya.
“Lelaki atau perempuan?” Gadis Pantai berbisik, dengan cemas-cemas berharap anaknya lelaki.
“Perempuan!” jawab dukun bayi.
“Bendoro sudah lihat?”
“Belum.”
“Sudah keras nangisnya?”
“Belum.”
Gadis Pantai menarik nafas panjang. Sekarang ia tunggu kedatangan Bendoro, dan seperti halnya dengan wanita-wanita kampung nelayan, ia akan bilang: Inilah anakmu, sembilan bulan lamanya aku besarkan dia di bawah ulu-hatiku. Terimalah dia, ini anakmu sendiri, aku cuma sekadar mengandungnya.
Pagi sebelum matahari terbit bayi itu mandi. Kini sudah jam sembilan pagi. Dan Bendoro belum juga datang menengok. Di kampungnya sana, seorang bapak takkan turun ke laut tiga hari sebelum anaknya lahir, dan tiga hari sesudahnya. Si bapak akan tunggu anaknya, akan jaga keselamatannya dan ibunya. Ia ingat tetangganya — baru sekali istrinya melahirkan. Ia berjaga siang malam di luar rumah. Dan waktu bayinya lahir menangis kencang, ia tubruk pintu, lupa pada wajahnya yang bercorengan air mata.
Sekarang kepada siapa anak ini kuserahkan kalau tidak pada bapaknya sendiri? Barangkali Bendoro tak pedulikan anaknya sendiri? Tidak, tidak mungkin, dia bapaknya, bapaknya sendiri. Tapi mengapa tak juga datang, sekalipun cuma buat menengok?
Dukun bayi itu turun dari kursinya, menghampiri Gadis Pantai dan menyeka air mata dari wajahnya.
“Bendoro akan datang.”
“Sekarang sudah begini siang.”
“Barangkali banyak pekerjaan.”
Sore itu Bendoro datang membuka pintu kamar belakang Gadis Pantai, berhenti di samping daun pintu.
“Bendoro, ampunilah sahaya, inilah anak Bendoro …,” tapi suara itu tak ke luar dari mulutnya. Ia terlalu takut.
“Jadi sudah lahir dia. Aku dengar perempuan bayimu, benar?”
“Sahaya, Bendoro.”
“Jadi cuma perempuan?”
“Seribu ampun, Bendoro.”
Bendoro membalikkan badan, keluar dari kamar sambil menutup pintu kembali.
Gadis Pantai memiringkan badan, dipeluknya bayinya dan diciumnya rambutnya …
Empat puluh hari kemudian si bayi membuka mata. Dan Gadis Pantai mengagumi matanya sendiri di mata bayinya: agak sipit seperti matanya. Bibirnya pun ada di wajah bayi itu, hidungnya, resam tubuhnya yang kecil. Anak ini akan bertubuh kecil seperti aku, seenteng kapas.
Kini tak lagi ia merindukan Bendoro. Mata yang memandang dengan sopannya itu — apakah Bendoro tak ingin melihatnya? Ia ingin mempersembahkan anak ini pada bapaknya. Ia ingin anak dan bapak berpandang-pandangan mesra. Tapi Bendoro tak pernah menengoknya.
Demikianlah bulan demi bulan meluncur dengan cepatnya. Ia tak lakukan lagi pekerjaan-pekerjaanya yang dahulu. Tungku-batiknya sudah padam. Hanya kadang-kadang ia turun ke dapur memeriksa makanan.
Dan pada suatu hari tanpa diduga-duganya, bapak datang seorang diri dari kampung nelayan.
Segera sang bapak mengangkat, menggendong dan mencium cucunya.
“Jadi sudah lebih tiga bulan umur bayimu?”
“Tiga setengah, bapak.”
“Tak ada yang kasih kabar.”
“Aku kira bapak datang buat lihat cucu.”
“Tentu, tentu, kalau aku tahu. Sekarang aku datang buat melihatnya.”
“Mau beli benang jala?”
“Tidak.”
“Damar?”
“Juga tidak.”
“Jarum?”
“Kau sudah kirimi kami sebanyak itu dulu. Tak perlu beli lagi.”
“Emak, bagaimana emak?”
“Baik. Baik semua baik.”
“Mardinah?
“Sedang mengandung.”
“Syukur, Benar-benar si pendongeng turun ke laut?”
“Ya, benar. Dia ikut perahu kepala kampung sekarang. Semua orang suka padanya. Tapi sayang dia tak mau mendongeng lagi.”
“Ada urusan datang ke kota, bapak?”
“Ada, tentu. Bendoro memanggil aku.”
“Mungkin soal surau. Aku sudah bilangkan pada Bendoro, di sana sudah didirikan surau, guru ngajinya cukupan dan anak-anak sudah mulai belajar ngaji dan bahasa Arab.”
“Mengapa tak dibilangkan tak ada yang sempat ngaji di sana? Sampai bocah-bocah kecil pun turun ke laut.”
“Aku takut.”
“Apa boleh buat.”
“Jadi emak belum tahu, dia sudah bercucu sekarang.”
“Belum, dia akan girang. Dia akan selamati cucunya.”
“Bapak akan lama tinggal di kota?”
“Mungkin. Apalagi di dekat cucu.”
“Bapak naik dokar?”
“Kemarin dokar dari kota datang. Kusir yang menyampaikan panggilan Bendoro. Dia nginap di sana, pagi-pagi kami berangkat kemari.”
“Bendoro sekarang jarang tinggal di rumah, bapak.”
“Apakah bapakmu sendiri sering tinggal di rumah?”
“Sudah makan, bapak?”
“Sudah. Sudah. Emakmu bawakan aku nasi timbal.”
“Apa yang kau bawa, bapak?”
“Bandeng. Di dapur sana. Bandeng sedang baik-baiknya sekarang.”
Seseorang memberitakan Bendoro memanggil bapak. Bapak menyerahkan si bayi pada Gadis Pantai dan menghadap. Tidak terdengar suara mereka di kamar belakang. Si bayi diletakkan kembali di ranjang oleh emaknya. Gadis Pantai kemudian duduk tepekur di kursi. Ia merasa bahagia dapat memberikan seorang cucu pada bapak. Kebahagiaan itu pun akan meningkat ” bila emak pun tahu akan kelahiran ini. Dan juga seluruh kampung. Mereka akan bangga: seorang di antara mereka telah di- :- lahirkan dalam gedung besar di kota, jadi keturunan Bendoro. Tak lama bapak pergi menghadap. Sebentar kemudian ia masuk kembali ke dalam kamar. Wajahnya suram, langsung ia menuju ke ranjang si bayi dan menciuminya.
“Ada apa, bapak?”
Bapak meletakkan telapak tangannya lembut-lembut pada perut bayi.
“Mengapa bapak, mengapa diam?”
“Maafkan aku. Kumpulkan semua pakaianmu ”
“Ada apa, bapak?”
“Jangan bertanya, nak, jangan bertanya. Kita akan pergi sekarang.”
“Ke mana, bapak?”
“Pulang.”
“Pulang?”
“Ya, pulang. Kau tak suka lagi pada kampungmu sendiri sekarang?”
“Mengapa tidak?”
“Mari pulang, nak. Ini bukan tempatmu lagi.”
“Mengapa, bapak?”
“Mengapa? Kau telah dicerai.”
Gadis Pantai menggigil di samping bapak. Bapak pun segera berdiri memapahnya. “Tawakal, nak, Tawakal.”
“Bapak!”
“Nak?”
“Aku belum persembahkan anak ini kepadanya.”
“Persembahkanlah. Mari aku antarkan.”
“Ini anak Bendoro sendiri, bukan anak orang lain.”
“Aku antarkan. Mari.”
Dengan bayi dalam gendongan, dengan bapak mengiringkan dari belakang mereka menghadap Bendoro yang sedang duduk di kursi goyang di ruang tengah. Segera Gadis Pantai duduk bersimpuh di atas lantai.
“Seribu ampun Bendoro. Sahaya dengar tuanku telah ceraikan sahaya.” Gadis Pantai terlupa pada ketakutannya demi bayinya.
“Apa kau tak suka?”
“Sahaya cuma seorang budak yang harus jalani perintah Bendoro.”
“Apalagi?”
“Sahaya belum lagi mempersembahkan anak ini kepada Bendoro. Inilah putri tuanku Bendoro. Putri tuanku sendiri, bukan anak orang lain.”
“Tidurkan dia di tempatnya.”
“Sahaya adalah emaknya, sahaya yang hina ini, tuanku. Bagaimana sahaya harus urus dia di kampung nelayan sana? Ia anak seorang bangsawan, tak mungkin diasuh secara kampung.”
“Aku tak suruh kau mengasuh anakku.”
“Haruskah sahaya pergi tanpa anak sahaya sendiri, tuanku?”
“Kau tak pernah sebanyak itu bicara.”
“Apakah yang takkan diperbuat seorang ibu buat anaknya?”
“Kau tinggalkan rumah ini! Bawa seluruh perhiasan dan pakaian. Semua yang telah kuberikan padamu. Bapakmu sudah kuberikan uang kerugian, cukup buat membeli dua perahu sekaligus dengan segala perlengkapannya. Kau sendiri, ini …,” Bendoro mengulurkan kantong berat berisikan mata uang … pesangon. “Carilah suami yang baik, dan lupakan segala dari gedung ini. Lupakan aku, ngerti?”
“Sahaya, Bendoro.”
“Dan ingat. Pergunakan pesangon itu baik-baik. Dan … tak boleh sekali-kali kau menginjakan kaki di kota ini. Terkutuklah kau bila melanggarnya. Kau dengar?”
“Lantas ke mana dia boleh pergi Bendoro?” bapak memprotes.
“Ke mana saja asal tidak di bumi kota ini.”
“Sahaya, Bendoro.”
“Apa lagi mesti kukatakan? Dokar itu sudah lama menunggu.”
“Anak ini, tuanku, bagaimana nasib anak ini?” Gadis Pantai memekik rintihan.
“Anak itu? Apa guna kau pikirkan? Banyak orang bisa urus dia. Jangan pikirkan si bayi.”
“Mestikah saya pergi tanpa anak sendiri? Tak boleh balik ke kota untuk melihatnya?”
“Lupakan bayimu. Anggap dirimu tak pernah punya anak.” Gadis Pantai tersedan-sedan “Sahaya harus berangkat, Bendoro, tanpa anak sahaya sendiri?”
“Aku bilang kau tak punya anak. Kau belum pernah punya anak.”
“Sahaya, Bendoro.”
“Pergilah.”
“Tanpa anak ini perhiasan dan uang pesangon tanpa artinya, Bendoro.”
“Kau boleh berikan pada si bayi.”
Baik bapak maupun Gadis Pantai terdiam kehabisan kata. Dan Bendoro menggoyang-goyangkan kursinya.
Gadis Pantai pun berjalan berlutut mundur-mundur kemudian pergi diikuti oleh Bapak. Sesampainya di kamar ia segera memeluk bayinya.
“Maafkan aku, anakku, tiada kusangka akan begini akhirnya.”
“Kalau aku bersalah, apakah salahku, bapak?”
Bayi itu membuka matanya dan menangis.
“Kita pergi sekarang, nak.”
“Ya, bapak, biarkan anakku minum dari dadaku buat penghabisan kali.”
“Ya, biar dia minum. Barangkali buat penghabisan kali.” Gadis Pantai membuka kutangnya memberikan dadanya pada bayinya.
“Minum, nak, minum!” bisiknya. Dan waktu bayi itu menyentuh kemudian menghisap ujung dadanya, diusap-usapnya rambut jarang si bayi dengan tangannya yang lain. Berbisik, “Apa yang takkan kuberikan kepadamu, nak? Apa yang takkan kukurbankan? Sekarang, sekarang hakku sebagai ibumu pun kurelakan buat kau!”
“Maafkan aku, nak,” bapak berkata perlahan dari samping ranjang, “tiada kuduga sebelumnya seperti begini bakal jadinya.”
“Ah, bapak, bapak orang baik. Bapak tidak salah, tidak keliru.”
“Kau menangis tapi.”
“Apa yang dapat bapak perbuat? Bapak cuma menangis begini.”
“Ah, siapa tak sayang pada anak?”
“Ini anakku yang pertama, bapak.”
“Maafkan bapakmu yang bodoh ini, nak.”
“Kita maafkan semua dan segalanya, bapak, terkecuali satu…”
“Kau bijaksana, nak. Memang tak patut seorang ibu dibatalkan haknya sebagai ibu. Tidak patut. Tidak patut! Tapi cucuku itu, nak, dia bisa jadi priyayi, tidak seperti kita.”
“Mengerikan, bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini. Ah, ah, mengapa bocah ini tak mau minum?”
“Tidak patut kita lebih lama tinggal di sini, nak. Kita tak punya sesuatu pun hak lagi di sini.”
“Bapak benar, bapak benar. Anak ini, anak ini anakku. Kulahirkan dia dengan kesakitan. Lihat hidungnya. Bapak, itu hidungku. Dia anakku. Apa kurang darah yang telah kucucurkan? Duh-duuuh anak semanis ini — anak semanis ini! Pak, bapak, bapak kakeknya. Mengapa diam saja?”
“Apa mesti aku katakan, nak. Apa kurang cukup remasan di dalam hati melihat anak, anaknya sendiri seperti kau nasibnya. Seperti dia nasibnya? Kurang cukup itu?”
“Anakku, anakku, bayiku. Apa aku mesti bilang padamu?” Kedua-duanya terdiam. Tapi keriuhan mengamuk di dalam hati masing-masing.
“Seperti kuburan rumah ini.”
“Batu tanpa persaan.”
“Untuk ini mungkin kita harus dirikan surau?”
“Mari kita berangkat.”
“Anakku ini … bagaimana anakku ini?”
Seseorang memanggil di depan pintu, kemudian:
“Dokar sudah tersedia di depan, Mas Nganten.”
Gadis Pantai tersedan-sedan.
“Pakaianmu, nak, biar aku bereskan.”
“Biar, bapak. Biarlah. Tambah banyak yang tertinggal di sini barangkali saja bertambah sering dia terkenang pada emaknya kelak.”
“Apa kau pakai di kampung nanti?”
“Biarlah aku jadi seperti yang lain-lain.”
“Ah, anakku.”
Sekali lagi suara di depan pintu terdengar memanggil-manggil, “Dokar sudah tersedia di depan, Mas Nganten.” Bapak menatap Mas Nganten yang masih juga tergolek di ranjang memeluk bayinya.
“Jadi, bagaimana, nak, maksudmu?”
“Dia ini bayi, bapak, bayi. Biarlah dia minum dulu. Biarlah dia kenyang barang sedikit. Siapa tahu ini penghabisan kali dia menyusu emaknya sendiri.”
“Tapi ini bukan rumahmu lagi, nak. Mari bawa si bayi ke luar rumah. Susui dia di bawah pohon tanjung di tepi alun-alun.”
“Anak ini belum turun bumi. bapak, belum potong rambut, mana dia kuat menahan angin laut?”
“Aku ngerti, nak, sangat ngerti. Tapi kita tidak ada hak tinggal di sini lebih lama. Kau dengar sendiri, kuda dokar sudah siap menolong kita menjauhi tempat ini.”
“Bagaimanapun dia pernah suamiku, bapak. Sebentar tadi dia masih suamiku. Mana mungkin dia begitu angkuh terhadap emak dari anaknya sendiri?”
“Kita tak mengerti perangai bendoro-bendoro, nak. Kita tak ngerti.”
“Tidak, bapak, kita tidak mengerti, tapi anak ini, anak ini…”
“Dia akan dididik untuk tak mengenal kemiskinan, nak. Dia akan dididik untuk memerintah Dia akan dididik untuk memerintah kau juga.”
“Bayi ini anakku, bapak. Aku rela diperintahnya.”
“Ah, bukan perintah itu yang menakutkan, nak. Kau tahu sendiri selain itu. Sayang aku baru tahu sesudah kejadian.”
“Ini bayiku, bapak. Aku yang lahirkan dia. Biarlah aku lebih lama tinggal dengan dia. Biarlah dosaku pada Bendoro kuperbanyak barang sedikit. Dia butuhkan dada emaknya. Ah, besok dia takkan minum susu emaknya lagi. Bapak tak mengerti ini?”
Bapak tak menjawab, hanya mondar-mandir gelisah. Akhirnya Gadis Pantai bangkit dari ranjang menghampiri bapak.
“Biar aku menghadap lagi, bapak. Bapak turunlah dulu dari rumah ini. Tunggu aku di depan mesjid, di alun-alun sana, di bawah pohon-pohon tanjung.” Dilihatnya bapak jadi ragu-ragu, Gadis Pantai meneruskan, “Jangan khawatir, bapak. Turunlah.”
Dengan pandang memerintah Gadis Pantai mengikuti gerak-gerik bapak. Akhirnya bapak meninggalkan kamar, dan hilang dari pemandangannya.
Gadis Pantai mengambil selembar selendang. Digendongnya anaknya. Beberapa kali diciumnya pada pipi, kening, jari-jarinya yang putih mungil. Tiba-tiba ia tersedan-sedan seorang diri. Anak ini, anak ini bagaimana kau bakalnya, nak? Lambat-lambat ia melangkah ke pintu, menyeberangi ruang belakang memasuki ruang tengah. Dilihatnya Bendoro masih duduk di tempatnya dengan buku Hadith di tangan. Ia menghampiri tanpa meninggalkan suara, kemudian duduk di lantai di belakang kursi Bendoro.
“Seribu ampun, Bendoro.”
Tanpa menengok Bendoro menurunkan Hadithnya. Ia mendaham.
“Seribu ampun, sahaya datang buat serahkan anak sahaya ini, anak sahaya sendiri, bukan anak orang lain, Bendoro. Terimalah dia Bendoro.”
“Letakkan di ranjang!”
“Tidak mungkin, tuan.”
“Kau tak dengar perintahku?”
“Sahaya ini emak si bayi. Kalau bapaknya pegang pun tak mau, apa pula merawatnya, Bendoro. Sebaiknya sahaya bawa pulang ke kampung.”
Bendoro meronta bangun. Dan kursi goyang itu pun terayun-ayun tanpa penghuni. Ia berdiri menghadapi Gadis Pantai yang menunduk menekuri lantai.
“Murkailah sahaya ini, Bendoro. Bayi bukan perhiasan, bukan cincin, bukan kalung yang bisa dilemparkan pada setiap orang.”
“Mulai kapan kau punya ingatan mau larikan bayi ini?”
Gadis Pantai mengangkat muka, menantang mata Bendoro. Perlahan-lahan ia berdiri tegak dengan bayi dalam gendongannya.
“Ayam pun bisa membela anaknya, Bendoro. Apalagi sahaya ini — seorang manusia, biar pun sahaya tidak pernah mengaji di surau.”
“Pergi!”
Gadis Pantai memunggungi Bendoro, dan dengan bayi dalam gendongannya ia melangkah cepat menuju pintu.
“Tinggalkan anak itu!”
Gadis Pantai telah keluar dari pintu ruang tengah.
Bendoro meraih tongkat, meletakkan Hadith di atas meja kecil di sampingnya, lari memburu Gadis Pantai dan mendapatkannya di jenjang ruang belakang di tentang dapur rumah. Dan bujang-bujang telah berderet di depan pintu dapur dengan mata ketakutan.
“Tahan dia!” seru Bendoro sambil mengayun-ayunkan tongkatnya.
Seperti sebuah peleton serdadu, bujang-bujang — laki dan perempuan — lari menahan dan mengepung Gadis Pantai.
“Bukan pencuri aku!” teriak Gadis Pantai dengan lantang.
“Semua kutinggalkan di kamar. Aku cuma bawa anakku sendiri. Cuma anakku sendiri,” kakinya menyepak tapi bujang-bujang lain mendesak.
“Maling!” ben tak Bendoro. “Ayoh. Lepaskan bayi itu dari gendongannya. Kau mau kupanggil polisi? Marsose?”
“Aku cuma bawa bayiku sendiri. Bayi aku! Bayi yang kulahirkan sendiri. Dia anakku, bapaknya seorang setan, iblis. Lepaskan!”
Seseorang memukul mulutnya hingga berdarah. Masih terdengar orang berbisik ke telinganya, “Kau hanya dipukul sedikit.”
Ia tak tahu kepala tongkat Bendoro yang mengucurkan darah pada bibirnya. Bayi itu tahu-tahu telah lepas dari tubuhnya, dan selendang itu tergantung kosong di depan perutnya.
“Anakku sendiri dia!” raungnya.
“Lempar dia keluar!” Bendoro berteriak.
Satu gabungan tenaga telah mendorongnya ke pelataran tengah. Ia memberontak dan meraung. Waktu diangkatnya mukanya ke arah langit, dilihatnya pada jendela rumah tingkat di samping gedung seorang wanita melemparkan pandang kosong padanya. Dan Gadis Pantai mengadu:
“Dia bayiku sendiri! Biar bapaknya setan, biar iblis neraka, - dia bayiku sendiri!”
Wanita di jendela itu menghapus matanya, membalikkan diri dan menutup jendela.
“Buat apa dia mesti rampas anakku? Selusin anak dia bisa buat dalam seminggu. Dia cuma siksa aku! Dia, Bendoromu itu. Dia cuma mau siksa bayiku, Bendoromu itu. Sini, mana bayiku. Berikan padaku.”
Ia telah didorong melewati pintu pelataran tengah.
“Bayiku! Nak, anakku. Sini, kau, nak!”
Dengan kekuatan yang tersisa berusaha berjalan balik. Seseorang mendorongnya dengan kasar. Sebelum jatuh rubuh di pasiran ia masih sempat melihat pintu masuk ke pelataran tengah telah tertutup — tertutup buat selama-lamanya baginya. Ia dengar seseorang berbisik, “Maafkan kami, Mas Nganten.”
“Aku tak boleh masuk ke sana lagi?”
“Tidak boleh, Mas Nganten, maafkan, beribu maaf. Kami telah berbuat kasar.”
Gadis Pantai tersedan-sedan di atas pasiran.
“Putri Mas Nganten akan kami rawat. Percayalah.”
“Sahaya akan gendong, sahaya bawa jalan-jalan kalau sore.”
“Sahaya akan tunggui kalau malam.”
“Terima kasih. Terima kasih.”
“Mari sahaya antarkan ke dokar, Mas Nganten.”
Seseorang menolongnya berdiri Gadis Pantai tak melawan. ” Ta sandarkan diri pada orang-orang yang selama itu melayaninya sebagai bujang. Mereka membimbingnya keluar dari pelataran depan, turun ke jalan raya, ke tepian alun-alun. Dan bapak yang duduk bersandaran dengan lamanya pada pohon tanjung segera berdiri, terburu-buru menghampiri anaknya, kemudian memapahnya menaiki ke atas dokar.
Waktu dokar mulai berjalan, bapak berbisik menghibur. “Nasib kitalah memang, nak. Nasib kita. Seganas-ganas laut, dia lebih pemurah dari hati priyayi.”
“Kita ke mana, bapak?”
“Ke mana? Ke tempat kau dilahirkan. Ke tempat leluhurmu dikuburkan.”
“Tak sanggup aku tentang mata mereka lagi, bapak.”
“Tak ada tempat lain yang lebih pemurah dari kampung kita, nak.”
Dan dokar berjalan terus menggelinding di atas jalan pos buatan Daendels. Cemara yang berkejar-kejaran tiada menarik perhatian semua yang ada di dalam dokar. Hutan-hutan jati dan bakau yang bergandeng-gandengan terkesan seakan gumpalan-gumpalan mendung yang melintas tanpa makna di malam hari.
“Apa mesti kukatakan pada emak?”
“Seorang emak, nak, biar tak lihat anaknya dia tahu apa yang ditanggungkannya!”
“Aku tahu penanggungan bayiku, bapak.”
“Diamlah, tidurlah, nak. Tidur.”
Ada masanya Gadis Pantai berusaha keras agar tak jatuh tertidur, menunggu kedatangan Bendoro. Kini bapak menyuruhnya tidur, dan ia tak mampu. Sedang bunyi telapak kuda yang berirama mengetuki daratan jalan raya yang keras itu, bergaung dalam hatinya, seperti ketukan-ketukan martil pada dinding-dinding jantungnya.
Dokar macam ini juga yang menyeret aku dari orang tuaku dan kampungku. Dan dokar macam ini pula yang menyeret aku dari perkawinanku dan anakku.
Ia rasai pelupuk matanya terlalu berat. Apa mesti aku kerjakan di kampung sana? Buat siapa aku mesti kerja?
“Bapak?”
“Ya?”
Tapi Gadis Pantai tak meneruskan. Ia teringat pada penduduk kampung yang menyusulnya dengan obor waktu ia pulang setelah kawin, ia ingat pada orang-orang yang menyebutnya Bendoro Putri. Ia ingat pada Mardinah? Tapi segera - ingatannya berbalik pada anaknya.
Sedang menangiskah dia sekarang, manisku itu? Ia raba dadanya yang sederhana. Dan kutangnya rasanya basah kena tetesan air susu. Betapa sia-sia buah dada ini diberikan kepadaku. Ah-ah, mengapa aku sesali buah dada yang telah dihisap anakku?
Kemudian ia teringat pada Bendoro: orang yang tinggi semampai tanpa otot — betapa besar kekuasaannya, biar pun tak pernah melihat laut! Disuruh apakah anakku kelak? Aku emaknya sendiri? Disuruh kelak hinakan emaknya sendiri? Ahah, dia bakal jadi serupa dengan bapaknya.
“Barangkali ini yang memang sebaiknya, bapak?”
“Nak”
“Kalau anakku besar nanti — kalau dia tahu emaknya cuma orang dusun dari kampung nelayan — barangkali dia malu punya emak seperti aku ini.”
“Ah, anakku. Mengapa kau bilang begitu?”
“Aku, pikir, barangkali ini memang sebaiknya, biar begini berat rasanya. Biarlah ia tak perlu tahu emaknya. Dia akan jadi seperti bapaknya. Dia akan memerintah. Dia akan tinggal di gedung — tak perlu melihat laut. Ah, bapak, aku harus berikan semua itu. Aku harus berikan.”
Matahari di atas sudah melewati puncak ketinggiannya sekarang. Beberapa gumpal mendung antara sebentar menutup — matahari dan menyuramkan dunia. “Hari sepanas ini dan hawa seberat ini. Hujan bakalnya.”
Betapa senang tinggal di gedung bila hujan jatuh. Tak setitik tampias menyinggung tubuh.
Dan mendung di langit semakin tebal. Kini guruh mulai menderu-deru berselingan dengan deburan laut. Waktu hujan turun kuda yang nampak kelelahan itu menjadi segar dan kuat kembali, lari gesit kedinginan. Waktu hujan reda, dokar telah sampai di ujung jalan yang tak dapat lagi ditempuh oleh dokar. Gadis Pantai turun. Ia tebarkan pandangnya keliling. Ia masih hafal pohon-pohon yang tumbuh di sekitarnya. Tak ada sesuatu pun perubahan pada pohon-pohon itu. Cuma air hujan membuat daun-daunnya nampak jadi lebih berat dan lebih hijau.
Ia dengar suara tangis bayinya. Buah dadanya dirasainya keras menekan dadanya, mendenyut. Ia mulai melangkah tanpa tenaga, kakinya telah lupa mengenakan sandal yang biasa dikenakan dalam tahun-tahun belakangan ini. Dirasainya pasir basah halus itu membelai telapak kakinya Ditengoknya pasiran di bawah kakinya. Ia terhenti.
Bekas telapak kaki yang ditinggalkan di pasiran itu, ruang jejaknya jauh lebih besar daripada yang pernah dicapkannya pada pasir kampungnya hampir empat tahun yang lalu. Sekali lagi buah dadanya mendenyut ngilu, sekujur punggungnya menggigil sedikit. Kembali ia dengar tangis bayinya.
Dia akan jadi priyayi. Dia anakku. Dia akan tinggal di gedung. Dia akan memerintah. Ah, tidak. Aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedung berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan. Tak ada orang mau dengarkan tangisnya. Kalau anak itu besar kelak, dia pun takkan dengarkan keluh-kesah ibunya. Dia akan perintah dan perlakukan aku seperti orang dusun, seperti abdi. Dia pelakukan aku seperti bapaknya memperlakukan aku kini dan selama ini. Ya, Allah, pergunakanlah kekuasaan-Mu, buatlah dia tidak mengenal emaknya. Buatlah aku takkan bertemu dengannya kelak. Tapi lindungilah dia. Dia anakku yang tak mengenal emaknya, tak kenal lagi air susu emaknya.
Kembali ia merenungi tanah dan mengamati bekas telapak kakinya yang begitu besar. Waktu diangkat kepalanya ia lihat bapak berdiri di hadapannya.
“Kampung kita akan terima kau seperti dahulu waktu kau dilahirkan, nak. Semua orang datang dan memberikan berkahnya.”
Indahnya orang-orang kampung di pinggir pantai itu. Gadis Pantai kembali teringat pada bayinya: tiada seorang menyambut kedatangannya terkecuali emaknya sendiri. Bapaknya sendiri pun tak acuh terhadap kelahirannya
“Memang berat di kampung, nak. Kau pernah mengalami hidup yang lain di kota.”
Gadis Pantai melangkah dua tindak lagi. Tiba-tiba berseru pada kusir, “Jangan jalan dulu, man!”
“Mengapa kau, nak?”
“Tidak, bapak, aku tak kembali ke kampung. Aku mau pergi jauh!”
“Nak.”
Gadis Pantai bersimpuh mencium kaki bapak. Kainnya bergelimangan pasir basah.
“Ampuni aku, bapak. Aku tak dapat tentang mata emak, para tetangga dan semuanya. Ampuni aku, bapak. Aku akan pergi bawa diriku sendiri.”
“Kau sudah janji takkan balik ke kota, nak?”
“Aku akan balik ke kota, bapak, tapi tidak menetap. Besok aku pergi ke selatan.”
“Kau mau ke mana?”
“Ke Blora, Bapak.”
“Kau, mau ikut siapa?”
“Dulu aku punya pelayan. Dia sudah diusir. Mungkin ke sana dia pergi, bapak.”
“Jangan, nak, mari tinggal di kampungmu sendiri. Kau tak kenal tempat lain.”
“Beribu ampun, bapak. Bapak pulanglah sendiri ke kampung. Belilah perahu besar model baru buatan Lasem. Dia akan gantikan aku sebagai anak bapak. Mintakan maafku pada emak, pada semua saudara, tetangga dan siapa saja. Anggaplah anak bapak sudah tiada lagi. Perahu buatan Lasem itu bakal jadi anak bapak yang paling ceria.” Gadis Pantai berdiri, kemudian merangkul bapak.
“Beri aku uang sekadarnya, bapak.”
Bapak masih berdiri termangu tak tahu apa mesti diperbuat. Gadis Pantai merogoh kantong bapak, mengambil beberapa mata uang perak, kemudian tanpa ragu-ragu menuju dokar dan naik ke atasnya.
“Kembali ke kota, man!”
“Bagaimana ini, kanca!” seru kusir itu pada bapak.
Bapak juga masih tak tahu apa mesti diperbuat. Gadis Pantai mengambil cambuk dan melecut kuda dari bawah perutnya. Kuda pun melompat dan lari. Roda-rodanya menggilas jalanan pasir, lari laju menuju jalan pos. Tanpa menengok ke belakang lagi Gadis Pantai memusatkan mata ke depan.
Dalam satu bulan setelah itu sering orang melihat sebuah dokar berhenti di depan pintu pekarangan depan Bendoro dan sebuah wajah mengintip dari kiraian jendela dokar, tapi tak ada terjadi apa-apa di pekarangan itu. Selewat sebulan, tak pernah lagi ada dokar berhenti, tak ada lagi wajah mengintip dari kirainya.
Bagian Kedua
Luka Pedesaan dan Kungkungan Tradisi
Inem
Pelarian yang Tak Dicari
Anak Haram
Yang Sudah Hilang
Kemudian Lahirlah Dia
Yang Menyewakan Diri
Cerita pendek
Inem
Dari Cerita dari Blora (1952). Teks dari cetak ulang Hasta Mitra, 2002.
Inem adalah kawanku di antara kawan-kawan perempuanku. Ia berumur delapan tahun — jadi dua tahun lebih tua daripada diriku sendiri. Ia tak berbeda dengan kawan-kawanku yang lain. Dan kalau perbedaan itu ada ialah ini: ia tergolong cantik buat gadis-gadis kecil di kampung kami. Senang orang melihatnya. Ia sopan, tak manja, cekatan dan rajin. Sifat-sifat yang segera saja memasyhurkan namanya sampai di kampung sebelah-menyebelah. Inem patut benar jadi temanku.
Dan pada suatu kali sedang memasak air di dapur ia berkata padaku: “Gus1 Muk, aku akan dikawinkan.”
“Masa?” kataku.
“Ya. Seminggu yang lalu sudah datang lamarannya. Emak dan Bapak dan kerabat-kerabat lainnya sudah menerima baik lamaran itu.”
“Alangkah senang jadi pengantin!” seruku riang.
“Alangkah senang. Tentu saja! Nanti aku dibelikan pakaian bagus-bagus. Nanti aku didandani pakaian pengantin, dibungai, dibedaki, disipati dan dicelaki. Alangkah senang! Alangkah senang!”
Dan betullah. Pada suatu sore, datanglah emaknya menemui ibu. Waktu itu Inem dititipkan pada orang tuaku. Pekerjaannya tiap hari membantu masak di dapur dan menemani aku dan adik-adikku bermain-main.
Penghasilan emak si Inem ialah dari upah membatik. Perempuan-perempuan di kampung kami, apabila tak bekerja di sawah, membatiklah pekerjaaninya. Ada yang membatik kain dan ada pula yang membatik ikat kepala. Mereka yang miskin membatik ikat kepala, karena ikat kepala lekas dapat diselesaikan, dan lekas pula orang mendapat upah. Dan penghasilan emak si Inem ialah dari membatik ikat kepala itu. Mori dan lilin diterimanya dari Toko Ijo, majikannya. Tiap dua lembar yang sudah dibatikinya, ia menerima upah satu setengah sen. Tiap hari rata-rata orang dapat menghasilkan delapan sampai sebelas lembar ikat kepala.
Bapak si Inem seorang pengadu jago. Tiap-tiap hari kerjanya hanya berjudi dengan pertarungan jagonya. Kalau ia kalah, jagonya diambil oleh yang menang. Dan ia pun harus membayar seringgit2 atau paling sedikit tiga talen. Kalau tidak adu jago, ia main kartu dengan tetangga dengan uang pasangan satu sen. Kadang-kadang bapak Inem tak pulang satu atau setengah bulan, mengembara dengan berjalan kaki. Bila sampai di rumah lagi, artinya ia ada membawa uang.
Ibu pernah bilang padaku, bapak si Inem kerjanya yang terutama ialah membegal3 di tengah hutan jati antara kota kami Blora4 dan kota pesisir Rembang. Waktu itu aku sedang duduk di kelas satu dan banyak mendengar cerita tentang pembegalan, perampokan, pencurian dan pembunuhan. Oleh cerita-cerita itu dan juga oleh cerita ibu, jadi takutlah aku pada bapak si Inem.
Semua orang tahu belaka, bapak Inem jadi penjahat. Tapi tak seorang pun berani mengadukan pada polisi. Dan tak seorang pun dapat membuktikan dia seorang penjahat. Karena itu ia tak pernah ditangkap oleh polisi. Lagi pula saudara-saudara emak si Inem hampir semuanya jadi polisi. Malah ada yang jadi agen kelas satu. Dan pak Inem sendiri pun pernah jadi polisi dan dipecat karena menerima suapan.
Cerita ibu pula, dahulu pak Inem penjahat besar. Untuk memberantas kejahatan yang merajalela, ia diangkat jadi polisi oleh pemerintah Hindia Belanda untuk memberantas kawan-kawannya. Sejak itu ia tak pernah merampok lagi. Tetapi di lingkungan kami ia masih tetap jadi tempat orang menaruh kecurigaan.
Waktu emak si Inem menemui ibu, Inem sedang memasak air di dapur. Aku turut menemui emaknya. Dan tamu itu, ibu dan aku duduk di bale rendah berwarna merah.
“Ndoro,” kata emak si Inem, “aku datang untuk meminta si Inem.”
“Mengapa si Inem diminta? Bukankah lebih baik kalau dia ada di sini? Engkau tak perlu mengongkosi dan di sini dia bisa belajar masak.”
“Tapi, ndoro, habis panen ini aku bermaksud menikahkan dia.”
“Ha?” seru ibu kaget. “Dinikahkan?”
“Ya, ndoro. Dia sudah perawan sekarang — sudah berumur delapan tahun,” kata emak si Inem.
Sekarang ibu tertawa. Dan tamu itu heran melihat ibu tertawa.
“Delapan tahun ’kan masih kanak-kanak?” tanya ibu kemudian.
“Kami bukan dari golongan priyayi, ndoro. Aku pikir dia sudah ketuaan setahun. Si Asih itu mengawinkan anaknya dua tahun lebih muda daripada anakku.”
Ibu mencoba menghalangi maksud perempuan itu. Tetapi emak si Inem punya alasan lain. Akhirnya tamu itu berkata lagi: “Aku sudah merasa beruntung kalau ada orang minta. Kalau sekali ini lamaran itu kami tangguhkan, mungkin takkan ada lagi yang meminta si Inem. Dan alangkah akan malunya punya anak jadi perawan tua. Dan barangkali saja nanti dia bisa membantu meringankan keperluan sehari-hari.”
Ibu tak menyambut. Kemudian ditentangnya aku dan berkata: “Ambilkan kotak sirih dan paidon5.”
Aku pun pergilah mengambil tempat sirih dan tempolong ludah yang terbuat dari kuningan.
“Dan apa kata laki mbok Inem?”
“O, bapak si Inem setuju saja. Apalagi si Markaban anak orang kaya — anak satu-satunya. Dia sendiri sekarang sudah mulai turut berdagang sapi di Rembang, di Cepu6, di Medang, di Pati, di . Ngawen, dan juga di Blora sini,” kata mbok Inem.
Ibu nampak gembira mendengar kabar itu, kegembiraan yang aku tak mengerti mengapa. Kemudian dipanggilnya Inem yang sedang menjerang air di dapur. Inem datang. Dan ibu bertanya: “Inem, sudah maukah engkau dikawinkan?”
Inem menundukkan kepala. Ia sangat hormat terhadap bunda. Tak pernah satu kali pun kudengar ia membantah. Memang tidak jarang terdapat pada seseorang, bahwa dia tak punya tenaga untuk membantah apa saja yang dikatakan orang padanya.
Waktu itu kulihat Inem berseri-seri. Sering ia kelihatan seperti itu. Berikan apa saja padanya yang akan menyenangkan hatinya barang sedikit, dan ia akan berseri-seri. Tapi ia tak biasa mengucapkan terima kasih. Dalam pergaulan keluarga-keluarga orang sederhana di kampung kami, kata terima kasih masih asing. Hanya seri yang memancar di paras jua ucapan itu mendapat jalan.
“Ya, ndoro,” kata Inem pelahan sekali hampir tak terdengar.
Kemudian mbok Inem dan ibu makan sirih. Ibu sendiri tak suka sering-sering makan sirih. Ini dikerjakannya bila ada tamu perempuan saja. Dan sebentar-sebentar diludahkan dubangnya7 ke tempolong kuningan.
“Mbok Inem,” kata ibu waktu Inem sudah kembali ke dapur. “Anak-anak kecil tidak boleh dikawinkan.”
Mbok Inem heran mendengar perkataan ibu itu. Tapi ia tak berkata apa-apa. Juga matanya tak bertanya.
“Aku kawin pada umur delapan belas,” kata ibu.
Keheranan mbok Inem hilang. Ia tak heran lagi sekarang. Tapi ia tetap tak berkata apa-apa.
“Mbok Inem, kanak-kanak tak boleh dikawinkan,” ibu mengulangi.
Dan mbok Inem heran lagi.
“Nanti anaknya jadi kerdil-kerdil.”
Keheranan mbok Inem hilang lagi.
“Ya, ndoro,” kemudian ia berkata dingin, “emakku kawin pada umur delapan juga.”
Ibu tak peduli dan meneruskan: “Bukan saja tubuhnya kerdil, juga kesehatannya terganggu.”
“Ya, ndoro, tapi keluarga kami tergolong keluarga yang berumur panjang. Emak masih hidup sampai sekarang, sekalipun umurnya sudah lebih dari 59 tahun. Dan nenek pun masih hidup. Kukira umurnya ada 74. Masih gagah dan masih kuat menumbuk jagung.”
Ibu tak juga mau peduli, meneruskan: “Apalagi kalau lakinya kanak-kanak juga.”
“Ya, ndoro, tapi Markaban sudah berumur tujuh belas tahun.”
“Tujuh belas tahun! Bapak si Mamuk baru kawin dengan aku waktu dia berumur tiga puluh tahun.”
Mbok Inem berdiam diri. Tak henti-hentinya ia memutar-mutar tembakau yang terselit di antara kedua bibirnya. Sebentar tembakau itu dipindahkan ke kanan, sebentar ke kiri, sebentar lagi digulung-gulungnya untuk penggosok giginya yang hitam arang itu.
Sekarang ibu tak punya alasan lagi untuk menahan-nahan kehendak tamunya. “Kalau sudah jadi kehendak mbok Inem untuk mengawinkannya, ya, moga-moga Inem mendapat laki yang baik yang dapat mengurusnya. Dan moga-moga dia mendapat jodohnya.”
Mbok Inem pergi pulang dengan masih jua memutar-mutarkan tembakau dalam mulutnya.
“Moga-moga tak ada kecelakaan menimpa diri anak kecil itu.”
“Mengapa ada kecelakaan menimpanya?” tanyaku.
“Tidak, Muk, tidak apa-apa.” Kemudian bunda mengubah arah percakapan. “Kalau keadaan keluarga mereka jadi baik, nanti takkan ada ayam kita yang hilang.”
“Dicurikah ayam-ayam kita, bu?” tanyaku.
“Tidak, Muk, tidak apa-apa,” ibu berkata pelahan-lahan. “Anak begitu kecil. Baru delapan tahun. Kasihan. Tapi mereka butuh uang. Dan jalan satu-satunya hanya mengawinkan anaknya.”
Kemudian bunda pergi ke ladang di belakang rumah mengambil kacang panjang untuk disayur sebentar lagi.
Lima belas hari sesudah kedatangannya, mbok Inem datang lagi untuk mengambil anaknya. Senang betul kelihatannya waktu si Inem tak membantah dibawa. Dan waktu Inem akan meninggalkan rumah kami untuk takkan jadi anggota keluarga buat selama-lamanya, ia berkata padaku di pintu dapur: “Sudah, ya, gus Muk. Inem pulang, gus Muk,” katanya pelahan sekali.
Ia selalu bicara pelan. Dan kepelanan adalah salah satu dari adat untuk pergaulan kota kecil kami buat menyopankan diri. Ia pergi dengan keriangan kanak-kanak yang akan menerima baju baru.
Mulai saat itu Inem tak lagi diam di rumah kami. Terasa sekali olehku akan kehilangan kawan yang dekat itu. Dan mulai saat itu juga, bukan Inem lagi yang mengantarkan aku ke kamar mandi untuk mencuci kaki di malam hari bila hendak tidur, tapi kakak-angkatku.
Kadang-kadang aku merasai rindu yang amat sangat untuk bertemu dengan Inem. Tak jarang, bila aku telah berbaring di tempat tidur, terkenang padanya waktu tangannya ditarik oleh emaknya. Dan kedua orang itu pergi meninggalkan rumah kami.
Rumah Inem ada di belakang rumah kami, hanya dibatasi oleh pagar kayu.
Sebulan lamanya ia telah pergi. Aku sering datang ke rumahnya untuk bermain-main dengannya. Dan ibu selalu marah bila tahu aku ada di sana. Katanya selalu: “Kepandaian apa yang bisa kau dapat dari rumah Inem?”
Dan selalu aku tak menjawab. Ibu selalu dengan alasan bila memarahi aku. Tiap kata-katanya merupakan dinding tebal yang tak bisa dilalui oleh dalih-dalih. Karena itu lebih baik aku berdiam diri. Dan sebagai kunci kemarahannya, hampir dapat dipastikan ia mengulangi kalimat yang sering diucapkannya: “Buat apa kau bermain-main dengan dia? Bukankah masih banyak anak-anak yang boleh kau ajak bermain-main? Dan lagi dia perempuan yang sebentar lagi dikawinkan pula.”
Tetapi aku datang saja ke rumahnya dengan mencuri-curi. Sungguh mengherankan kadang-kadang mengapa larangan itu ada dan penting hanya untuk dilanggar. Dan dalam pelanggaran itu ada terasa olehku bahwa apa yang kukerjakan itu menikmatkan. Dan untuk kanak-kanak seperti aku pada waktu itu — oh, alangkah banyak larangan dan pantangan yang ditimpakan pada kepala kami. Ya, seakan-akan semua yang ada di dunia ini mengawasi kami, dan tak memperbolehkan sebarang yang kami perbuat dan hendaki. Mau-tak-mau kami kanak-kanak merasa, sesungguhnya dunia ini hanya diperuntukkan buat orang-orang dewasa.
Kemudian datanglah hari perkawinan itu.
Lima hari sebelum pernikahan dilangsungkan, keluarga si Inem sibuk memasak-masak juadah dan makanan di dapur. Ini membuat aku lebih kerap lagi datang ke rumahnya.
Sehari sebelum pernikahan, Inem dihiasi bagus-bagus. Ibu menyuruh aku datang ke sana mengantarkan lima kilo beras dan uang setalen buat sumbangan. Dan soreharinya kami kanak-kanak datang merubungnya dan mengagumi. Anak rambut di kening, alis dan cambang Inem dicukur dan dibentuk baik-baik serta ditebalkan dengan celak. Sanggulnya yang kecil dibesarkan dengan cemara rambut yang dibungai dengan kembang kertas bertangkaikan pegas yang kami namai sunduk mentul. Pakaiannya terbuat dari sutera satin. Kainnya kain mahal buatan Solo. Semua itu disewa dari seorang Tionghoa di pecinan dekat alun-alun. Juga cincin dan gelang yang terbuat dari emas adalah sewaan belaka.
Rumah pun telah diperbagus dengan pajangan daun beringin dan daun kelapa muda. Bendera tiga warna disilang-silangkan di tiap dinding dalam lingkaran daun palma. Juga tiang-tiang dihiasi dengan pita tiga warna.
Ibu sendiri datang dan turut membantu menyelenggarakan. Tetapi tidak lama. Hal yang demikian jarang dilakukan oleh bunda bila tak untuk tetangga yang paling dekat. Belum lagi sejam ia telah pulang lagi. Dan di waktu itu juga datang kiriman dari bakal laki Inem: satu pikul juadah, seekor kambing bandot, satu dacin beras, satu pak garam, satu karung kelapa yang telah dikupas sambuknya dan setengah karung gula pasir.
Waktu itu baru habis panen. Beras murah. Dan bila beras murah segala bahan makanan turut murah. Itulah sebabnya sehabis musim kawin banyak diadakan peralatan. Oleh karena itu - pula keluarga Inem tak berhasil memperoleh tanggapan wayang. Dalang-dalang sudah menerima permintaan dari lain-lain keluarga dan kampung. Wayang adalah tontonan yang paling populer di tempat kami. Dan di kota kami ada tiga macam wayang, wayang purwa yang memainkan mahabarata dan ramayana serta cerita-cerita yang sejalan dengan pokok cerita tersebut. Wayang krucil yang terbuat dari kayu dan berbentuk orang yang memainkan-cerita-cerita Arab, Persia, India, Tionghoa dan cerita zaman Majapahit. Wayang golek yang berbentuk boneka dari kayu. Tapi yang akhir ini tak begitu disukai orang.
Karena tak ada dalang lagi, keluarga Inem menanggap joget. Mula-mula terjadi pertengkaran. Famili pihak mbok Inem terdiri dari barisan orang ulama. Tapi pak Inem tak dapat dikalahkan. Dan joget pun datanglah dengan gamelannya. Tayuban8 pun diadakan.
Biasanya tayub di tempat kami dihadiri oleh orang-orang yang turut menari dan anak-anak kecil yang hanya hendak menonton — anak-anak kecil yang pengetahuannya tentang kejenisan belum lagi melampaui mencium. Anak-anak yang telah dewasa tak suka menonton: malu. Apalagi kaum wanita — tak ada sama sekali. Dan tayuban di tempat kami — untuk memanaskan semangat seksual — selalu disertai dengan minuman keras: arak, bir, wiski, jenewer atau gin.
Tayuban itu dilakukan dua-hari-dua malam. Senang betul kami kanak-kanak melihat orang lelaki dan perempuan menjoget dan bercium-ciuman dan sebentar-sebentar mengadu gelas dan meneguk minuman keras itu sambil menjoget dan berteriak: “Husee!”
Dan walaupun ibu melarang aku datang menonton, tapi aku pergi juga dengan mencuri-curi.
“Mengapa engkau datang juga ke tempat orang-orang durhaka itu? Lihatlah kiaimu, sekalipun dia ipar pak Inem, tapi dia tak juga datang menonton. Engkau lihat sendiri itu.”
Kiai kami berumah di belakang rumah kami juga, di sebelah - kanan rumah Inem. Di kemudian hari tak hadirnya kiai ini jadi buah percakapan yang selalu menghangatkan percakapan. Juga menimbulkan dua hal yang menggatal saja di ujung lidah: pak kiai memang orang alim dan pak Inem memang bangsat.
Ibu menguatkan kemarahannya padaku itu dengan kata-kata yang waktu itu tak dapat kupahami: “Tahu kau? Mereka itu adalah orang-orang yang tak tahu menghargai wanita,” katanya dengan suara menusuk.
Dan waktu pengantin lelaki datang untuk dipertemukan dengan pengantin perempuan, Inem yang duduk di puadai dituntun orang. Pengantin lelaki sudah sampai di pendopo. Si Inem berjongkok dan menyembah bakal lakinya kemudian mencuci kaki lelaki itu dengan air bunga dari jambang kuningan. Kemudian pengantin itu diikat jadi satu dan dituntun dibawa bersama ke puadai. Waktu itu juga terdengar hadirin bersama-sama: “Anak satu jadi dua. Anak satu jadi dua. Anak satu jadi dua.”
Dan perempuan-perempuan yang menonton berseri-seri seakan-akan mereka sendiri yang bakal mendapat kesenangan.
Waktu itu jualah kulihat Inem menangis hingga bedaknya rusak, dan air matanya menjaluri mukanya yang cantik itu. Di rumah aku bertanya pada ibu: “Mengapa pengantin tadi menangis, bu?”
“Kalau pengantin menangis, ialah karena dia ingat pada nenek-moyang yang sudah lama meninggal. Arwah-arwah mereka turut menghadiri upacara itu. Dan lagi mereka bersenang-hati keturunannya telah menikah dengan selamat,” jawab ibu.
Perkataannya itu tak pernah kupikirkan. Di kemudian hari tahu juga aku mengapa dia menangis. Inem mau kencing, tapi tak berani bilang.
Peralatan itu habis dengan dingin saja. Tak ada lagi tamu yang datang menyumbang. Rumah kembali seperti tadi-tadinya. Dan waktu mindring-mindring datang menagih, pak Inem sudah meninggalkan kota Blora. Mbok Inem dan Inem sendiri sesudah pernikahan itu terus membatik dan membatik — siang dan malam. Dan bila orang datang ke rumah mereka pada jam tiga Pagi, tak jarang mereka dapat ditemui masih membatik. Dan asap dapur lilin mengepul-ngepul di antara keduanya. Selain itu, seringkali terdengar pertengkaran di rumah itu.
Dan pada suatu kali waktu aku sedang tidur di ranjang dengan bunda teriakan yang keras membangunkan daku: “Tak mau! Tak mau!”
Masih malam waktu itu. Dan teriakan itu diulang-ulang dibarengi dengan pukulan pada pintu dan berdembam-dembam. Aku tahu, teriakan itu ke luar dari mulut Inem. Aku kenal suaranya.
“Bu, mengapa Inem berteriak, bu?” aku bertanya pada bunda.
“Berkelahi. Moga-moga tak ada kecelakaan menimpa anak kecil itu,” katanya. Tapi ia tidak menjelaskan apa-apa lagi.
“Mengapa ada kecelakaan menimpanya, bu?” tanyaku mendesak.
Ibu tak mau memberikan jawabannya. Dan kemudian, bila pekik-raung itu habis, kami tertidur kembali. Dan teriakan seperti itu hampir dapat dipastikan terjadi tiap malam. Teriak, dan teriak. Dan tiap aku mendengarnya aku bertanya pada bunda. Ibu tak mau menjawab dengan semestinya. Kadang ia hanya mengeluh: “Kasihan, anak begitu kecil.”
Dan pada suatu hari datanglah si Inem ke rumah kami. Langsung saja ia mencari bunda. Parasnya pucat tak berdarah. Sebelum berkata apa-apa ia mengacarai pertemuan itu dengan tangisnya — tangis yang sopan.
“Mengapa menangis, Inem? Engkau berkelahi lagi?” tanya ibu.
“Ndoro,” kata Inem, “aku harap,” di antara sedu-sedannya,
“sudi menerima aku di sini seperti dulu.”
“Bukankah engkau sudah berlaki, Inem?” Dan Inem menangis lagi. Dalam tangisnya itu ia berkata: “Aku .tak tahan, ndoro.”
“Mengapa, Inem? Tak senangkah engkau pada lakimu,” tanya bunda.
“Ndoro, kasihanilah aku ini. Tiap malam dia mau menggelut saja kerjanya, ndoro.”
“Bukankah engkau bisa bilang. “Kang, jangan begitu.”?”
“Inem takut, ndoro. Inem takut padanya. Dia begitu besar. Dan kalau menggelut kerasnya bukan main hingga Inem tak bisa bernafas, ndoro. Bukankah ndoro mau menerima aku lagi?” pintanya terhiba-hiba.
“Kalau engkau tak punya laki, Inem, tentu saja engkau kuterima. Tapi engkau punya laki…” kata bunda.
Dan Inem menangis lagi mendengar perkataan ibu itu.
“Ndoro, Inem tak mau punya laki.”
“Walau engkau tak mau, tapi engkau tetap punya, Inem. Barangkali di kemudian hari lakimu jadi baik, dan engkau berdua bisa hidup senang. Bukankah engkau dulu mau dikawinkan?” kata ibu.
“Ya, ndoro … tapi, tapi…”
“Inem, bagaimanapun, seorang perempuan harus berbakti pada suaminya. Bila engkau tak berbakti pada lakimu, engkau akan kena sumpah nenek-moyangmu,” kata ibu.
Tambah keras tangis Inem, hingga tak bisa berkata apa-apa.
“Sekarang, Inem, berjanjilah engkau, engkau akan selalu menyediakan makan untuk lakimu. Kalau engkau menganggur, engkau harus berdoa pada Tuhan agar dia selamat selalu. Engkau harus berjanji akan mencuci pakaiannya, dan engkau harus memijitnya kalau dia capek dari mencari rezeki. Engkau harus mengerikinya kalau dia masuk angin.”
Inem tak juga menjawab. Hanya air matanya terus jatuh.
“Nah pulanglah engkau, dan mulai saat ini, berbaktilah engkau padanya. Baik dia buruk, baik dia baik, engkau harus berbakti padanya karena dia itu tak lain dari lakimu sendiri.”
Inem yang duduk di lantai tak juga bergerak.
“Berdirilah, dan pulanglah pada lakimu. Engkau — kalau engkau meninggalkan lakimu begitu saja, takkan baik jadinya dengan dirimu di kemudian hari dan sekarang,” kata ibu lagi.
“Ya, ndoro,” katanya patuh.
Pelahan-lahan ia berdiri dan berjalan pulang.
“Kasihan, begitu kecil,” kata bunda.
“Bu, pernahkah ibu digelut ayah?” tanyaku.
Hati-hati ibu mengamat-amati mataku. Kemudian pengamat- . amatannya hilang. Ia tersenyum.
“Tidak,” katanya. “Ayahmu adalah orang yang paling baik di seluruh dunia, Muk.”
Kemudian ibu pergi ke dapur mengambil pacul dan mencangkul di ladang bersama daku.
Satu tahun pun berlalulah dengan tiada terasa. Pada suatu kali datang pula si Inem. Satu tahun itu telah membuat dia jauh lebih besar daripada sebelumnya. Nampak betul ia sudah jadi dewasa walaupun baru berumur sembilan. Seperti biasa, langsung dia menemui ibu, duduk di lantai sambil menundukkan kepala. Berkata: “Ndoro, sekarang Inem sudah tak punya laki lagi.”
“Apa?”
“Inem sekarang sudah tak berlaki lagi.”
“Engkau sudah janda?” ibu bertanya.
“Ya, ndoro.”
“Mengapa engkau bercerai dengannya?”
Ia tak menjawab.
“Engkau tak berbakti padanya?”
“Inem pikir, Inem selalu berbakti padanya, ndoro.”
“Engkau pijiti dia kalau pulang kelelahan mencari rezeki?” tanya bunda menyelidiki.
“Ya, ndoro, semua pesan sudah Inem jalankan.”
“Mengapa bercerai juga?”
“Ndoro, dia sering memukuli Inem.”
“Memukuli? Anak begini kecil dipukuli?”
“Inem sudah cukup berbakti, ndoro. Dan kalau dia memukuli, dan Inem kesakitan, berbakti jugakah itu, ndoro?” tanyanya betul-betul minta keterangan.
Bunda berdiam diri. Matanya menyelidiki Inem.
“Dipukuli,” bisik bunda kemudian.
“Ya, ndoro — dipukuli, seperti emak dan bapak memukuli aku.”
“Barangkali engkau memang kurang berbakti padanya. Seorang suami takkan sampai hati memukuli bininya bila dia sungguh-sungguh berbakti.”
Inem tak menjawab. Diubahnya arah percakapan: “Sudikah ndoro menerima Inem kembali?”
Tak bunda berbimbang-bimbang dalam menjawabnya. Berkata tegas: “Inem, engkau sekarang janda. Di sini banyak anak lelaki yang sudah besar-besar. Bukankah tidak baik dipandang mata orang lain?”
“Tapi mereka takkan memukuli Inem,” kata janda itu.
“Bukan. Bukan itu maksudku. Kalau di tempat yang banyak lelakinya ada seorang janda yang begitu muda seperti engkau, tidak baiklah dipandang mata orang lain.”
“Karena Inemkah itu, ndoro?”
“Bukan, Inem, karena kesopananlah itu.”
“Kesopanan, ndoro? Karena kesopanankah Inem tak boleh di sini?”
“Ya, begitulah, Inem.”
Janda itu tak berkata apa-apa lagi. Ia tinggal duduk di lantai. Dan nampaknya, ia tak ada maksud untuk mening tempat duduknya. Ibu mendekati dan menepuk-nepuk bahunya — menghibur: “Sekarang, Inem — lebih baik engkau bantu orang tuamu mencari rezeki. Sungguh sayang, aku tak bisa menerima engkau lagi.” Dua tetes air mata membutir di sudut-sudut mata perempuan kecil itu. Ia berdiri. Lesu ia melangkahkan kakinya meninggalkan rumah kami menuju ke rumah orang tuanya. Dan sejak itu ia-jarang nampak ke luar dari rumah.
Dan kemudian, janda yang berumur sembilan tahun itu karena hanya membebani rumah tangga orang tuanya boleh dipukuli oleh siapa saja yang suka: emaknya, adiknya yang lelaki, pamannya, tetangganya, bibinya. Namun Inem tak pernah datang lagi ke rumah kami.
Sering terdengar teriak-kesakitannya. Bila ia meraung, kututup kupingku dengan kedua belah tangan. Dan ibu pun tetap memegang kesopanan rumah tangganya.
Jakarta, iii-1950
Cerita pendek
Pelarian yang Tak Dicari
Dari Cerita dari Blora (1952). Teks dari cetak ulang Hasta Mitra, 2002.
Siman — pemuda yang bodoh di kampung kami — mengambil bini yang sederajat dengan tingkat pikirannya: bodoh pula. Orang dengan segera tahu kebodohannya bila sudah bergaul dengannya — sebentar saja. Ia hanya dapat menghitung sampai lima ratus. Lebih dari itu — kalau engkau memaksa dia menghitung juga — dia akan merasa ada dalam neraka yang selalu terbayang dalam kepalanya. Dan sebagai seorang bodoh yang tahu kebodohannya, ia pun sangat mendewakan mereka yang lulus sekolah, terutama lulusan sekolah menengah. Ia selalu mencoba mendekati para murid sekolah dasar kelas empat ke atas dan dari merekalah ia mendapat cerita-cerita bagus tentang negara-negara di seberang lautan. Kesukaannya ialah mendengarkan dongeng-dongeng tentang alat-alat senjata yang modern, yang begitu gampang melenyapkan jiwa manusia. Dan dongeng yang didengarnya ini diceritakannya kembali kepada istrinya, pada emaknya, pada anak-anaknya yang tiga orang itu.
Orang-orang yang bodoh selalu menjadi makanan orang-orang yang cerdik. Demikian di mana-mana. Ini dirasai juga oleh Siman. Ia merasa selalu ditipu. Dan bila ia merasa telah ditipu ia merasa amat sengsara jadi orang bodoh. Karena itulah ia suka mendengarkan cerita-cerita tentang senjata-senjata modern yang begitu gampang melenyapkan jiwa manusia. Ya, seakan-akan dengan cerita-cerita tentang senjata modern itu ia bisa menegaskan pada istrinya yang selalu menerima uang belanja yang kurang: lihatlah, apakah artinya hidup ini? Kalau ada sebuah bom saja meletus di tengah-tengah rumah kita, kita semua akan mati. Zaman sekarang gampang sekali orang jadi mati. Untuk apa kita harus berloba-loba mempunyai kekayaan? Tapi karena bodohnya ia tak bisa menjelaskan ceritanya itu. Dan cerita tambahan tinggal tertanam saja dalam kepalanya.
Siti — istrinya yang bodoh juga — insaf akan isi dongeng-dongeng yang tersirat itu. Dan seperti lakinya ia pun tak bisa mengatakan bahwa ia mengerti tentang apa yang tersirat itu. Tetapi seperti istri-istri yang lain, dialah yang menanggung segala akibat kekurangan uang belanja. Karena itu waktu iparnya yang mandul datang dan minta anak sulungnya yang lelaki, segera saja anak itu diberikannya. Dengan demikian ia masih beranak dua orang lagi — perempuan kedua-duanya. Tetapi keluarga itu selalu hidup rukun dengan kebodohan masing-masing. Ya, oleh kebodohannya Siman tak berani membantah dan berubah sedikit juga dalam pergaulan umum dan pergaulan keluarga. Oleh kebodohan ini pula Siti tak pernah membantah mengapa uang belanja tak pernah ditambah. Dan keluarga itu pun merasa tenang dan aman dan bahagia.
Tapi keadaan selamanya mengalami perubahan. Dan pada suatu kali — suatu kali yang tak baik untuk keluarga Siman — terjadilah sesuatu keonaran. Mula-mula terdengar pekik kesakitan. Para tetangga berduyun-duyun datang ke rumah Siman yang tenang dan aman selama tujuh tahun itu. Orang melihat Siti yang cantik menggelepak di tanah sambil meraung-raung kesakitan.
Sebagai biasanya di tempat kami yang tidak penting itu, orang-orang berdiam diri mendengarkan pertengkaran suami-istri. Mereka pura-pura tak mengetahui dan mendengar apa-apa.
Tetapi bila pertengkaran itu telah diselingi oleh pekik dan raung kesakitan, barulah orang datang berduyun-duyun untuk memberikan pertolongan atau gangguan. Setelah diusut-usut nyatalah, bahwa pertengkaran itu timbul karena uang juga. Mariem — anaknya yang bungsu sakit malaria. Siti minta tambahan uang pada suaminya untuk membeli papaya1 buat mengobati anaknya. Tapi Siman meradang sambil menggertak: “Sekalipun engkau menerima uang belanja satu sen, engkau harus mempergunakannya sampai cukup.”
Kemudian pertengkaran mulailah. Mula-mula pelahan-lahan kemudian menderas, akhirnya dibarengi tendang dan tampar. Para tetangga meleraikan. Seorang tetangga yang baik hati mengurbankan uangnya yang lima sen. Pertengkarannya pun selesai dengan kepuasan di kedua belah pihak.
Tetapi perdamaian itu sebentar kemudian hancur pula. Begini: Waktu kedua suami-istri itu duduk menekuri anaknya yang sakit, tiba-tiba anak itu bergerak-gerak dalam tidurnya. Matanya mendelik dan badannya jadi kaku. Siti berteriak bingung. Siman mengguncang-guncangkan badan anaknya. Akhirnya terdengar suara Siti: “Pergi! Pergilah cari dukun.”
“Dukun? Kita tak punya ayam dan kelapa untuk membayar dukun.”
“Lelaki biadab! Dan anakmu yang sakit ini? Akan kaubiarkan mampus dia?”
“Biadab? Aku biadab? Sudah tujuh tahun engkau kuberi makan.”
Dan tamparan pun menyusullah. Siti yang dalam sehari itu mendapat hajaran dua kali, jatuh menggelimpang di tanah tak ingatkan diri. Mukanya yang cantik tertengadah ke genting rumah. Waktu itu malam sedang gelap-gelapnya — bulan tua. Tapi para tetangga datang juga dan memberikan pertolongannya. Tetapi keadaan tidak berhenti sampai di situ saja …
Di POJOK JALAN yang membelok ke arah pasar hewan, di situlah tiap pagi penduduk kampung di selingkungan rumahku berkumpul. Mereka berjongkok dalam kerudung sarung seperti katak, menghadapi penjaja sarapan, sambil sarapan dan mengobrol tentang macam-macam hal. Berpuluh-puluh tahun — ya, mungkin juga lebih dari itu — tiap pagi sebelum mandi penduduk kampung kami duduk-duduk dulu di pojok jalan itu. Dan di kala itulah asap rokok daun jagung mengepul ke udara pagi yang masih berat bercampur halimun. Dalam keadaan seperti itulah biasanya orang mengobrol tentang kejadian semalam atau kemarin — di sawah atau di ladang atau di rumah tangga masing-masing. Di saat-saat seperti itu pula anak-anak gembala berangkat membawa sapi atau kerbaunya ke sawah. Juga di waktu seperti itu banyak orang lewat untuk pergi ke pasar hewan atau pasar biasa.
Dan di saat seperti itu pulalah orang-orang yang sedang nongkrong itu melihat Siti meninggalkan rumahnya pergi ke arah pasar. Apabila bukan pedagang, jarang orang pergi pagi-pagi ke pasar. Juga demikian halnya dengan penduduk kampung kami. Ada juga orang menegurnya dan Siti menjawabnya sepintas lalu saja. Kemudian orang-orang melepaskan perhatiannya kembali, meneruskan makannya atau merokok sambil mengobrol-ngobrol tiada berkeputusan.
Siman sendiri di waktu itu sedang berjalan ke sawah untuk menyiangi padi. Sawah ia tak punya. Ia hanya jadi buruh petani-petani kecil yang memerlukan tenaganya. Untuk ini ia harus bekerja sepotong hari dan dan mendapat upah dua setengah sen. Kadang-kadang ia pun menerima sepiring nasi sebagai tambahan. Nasi itu selalu tak dimakannya, tapi dibungkusnya baik-baik dan dibawanya pulang untuk dimakan beramai-ramai. Siang atau sore hari ia berjaga di gardu, dan untuk ini ia menerima tiga sen untuk semalam. Seperti itulah kerjanya bila musim hujan masih mengisi sepotong tahun. Tapi bila musim panas datang, barulah ia mendapat waktu yang agak menyenangkan. Di musim panas air kali turun, dan ia bisa mengambil kerikil dari dasar kali. Dari tiap kibik kerikil ia memperoleh empat sen. Kadang-kadang sehari ia mendapat dua sampai tiga kibik kerikil.
Siti terus saja berjalan di dalam kabut tipis itu. Ia tak beruang sesen pun. Ia sendiri belum lagi tahu mana arah yang ditujunya. Karena itu ia berjalan dan berjalan terus seperti orang-orang lainnya yang melarikan diri — hasil pikiran yang mendadak — melarikan diri dari suaminya sebelum ia — beratus-ratus tahun sebelum ia. Sepanjang jalan ia menitikkan air mata sebagai jamaknya orang yang merasa paling celaka di dunia ini. Ada juga ia ingat pada anaknya yang masih memerlukan buah dadanya. Dan ada juga ia ingat pada lakinya yang masih memerlukan tenaga dan badannya. Ia pun teringat pada rumah tangganya yang harus dibereskannya. Dan ia ingat juga pada kemiskinan yang harus dideritakannya. Badannya yang kurus oleh menyusui dan oleh kurang makan itu terus melangkah-langkah jua.
Tiba-tiba ia teringat pada pedagang cita bangsa Tionghoa — dua tahun yang lalu. Waktu itu ia sedang mencari cita Jepang untuk kutang lakinya. Dan Cina itu sudah mengganggunya dan bertanya juga: “Mau engkau tinggal di rumahku?”
Dan ia memberengut. Dan orang Tionghoa itu berkata lagi: “Kalau turut sama aku, engkau tak perlu kerja. Tanganmu tak lagi kaku dan keras karena menumbuk jagung.”
Waktu itu ada juga ia memikirkan untung-rugi jadi gundik orang. Tapi di kala itu ia belum punya alasan melarikan diri dari samping lakinya. Siman selalu baik padanya, sekalipun susah sekali ia mendapat rezeki. Jadi ia tetap tinggal pada lakinya. Biarlah orang Tionghoa itu kaya. Biarlah ia menumbuk jagung tiap hari. Dan ia pun tetap jadi istri Siman.
Tapi sekarang? Dengan mendadak saja Siman sudah jadi buas. Dua kali ia telah dihajar. Dan ini membuat ia teringat pada ajakan lelaki asing itu. Segera ia masuk ke pasar dan mencari tempat orang Tionghoa yang mengajaknya dulu. Ha, ia sudah membuka dagangannya.
“Ai, ai, begini pagi sudah datang?” seru orang asing itu.
Hilanglah keberaniannya. Ia tak berani menawarkan dirinya. Di kepalanya meruyak segala yang ada di rumah tangganya. Segera saja datang keinginannya kembali pulang.
“Mbok perlu apa?”
“Aku tidak perlu apa-apa, koh,” ia diam lagi. Tapi tiba-tiba keluar saja suara dari mulutnya. “Tapi barangkali koh…”
Orang Tionghoa itu terdiam dan mengamat-amati. Tiba-tiba ia tersenyum dan menjawab: “Ya, ya, aku masih ingat tapi sekarang aku sudah punya gundik. Baru kemarin! Dan lebih cantik.”
Ada juga beberapa pedagang yang baru membuka dagangannya mendengarkan percakapan itu. Semua berhenti bekerja dan mengawasi Siti. Siti kemalu-maluan. Disumpahi dirinya. Bergegas ia pergi. Pergi! Pergi! Pergi ke arah yang tiada tentu. Tapi ia harus pergi. Pergi dan takkan kembali.
Orang-orang di kampung kami Jarang naik kereta api kalau menempuh jarak lima atau tujuh kilometer. Jarak itu biasanya dilangkahinya saja dengan kaki. Dengan demikian mereka bisa menahan uangnya yang dua-empat sen guna keperluan rumah tangganya. Mungkin empat sen itu tak dapat diperolehnya untuk sepotong hari. Mereka yang penghidupannya dari mengambil kayu bakar dari hutan hanya dengan susah payah saja bisa memperoleh nafkah dua belas sen setelah mengumpulkan, membelahi, mengikati dan memikul kayu itu ke kota melampaui jarak yang lima kilometer itu. Demikianlah.
Dan Siti berjalan dan berjalan. Arah yang tiada tetap dan tentu itu membuat kepalanya jarang berpikir. Banyak benar ruwet terentang dalam pikirannya. Kadang-kadang juga hatinya menggetar oleh ketakutan pada hari depan. Tapi ia perempuan. Dan perempuan mempunyai alat untuk melampaui saat-saat yang sulit. Ya, apalagi kalau ia mempunyai kecantikan barang sedikit. Adat dunia!
Jalan-jalan kota kecil kami yang dilaluinya mulai hidup oleh penduduk yang berangkat berjalan ke pasar. Juga derak-derik gerobak yang mengangkuti hasil bumi dari desa-desa telah membangunkan nyanyian pagi di kota kecil. Ia berjalan dan berjalan. Kemudian lalulah gerobak dari belakangnya.
“Kak, numpang, kak!” ia berkata kacau.
Ia tak pernah menyebut kak pada orang yang asing buatnya. Apalagi kalau orang asing itu tidak sejenis dengannya. Dan karena untuk penduduk kampung kami, pertolongan yang kecil bukan merupakan pertolongan lagi, atau kebaikan lagi, tetapi sudah jadi kebiasaan yang tak ada harganya, jadi tukang gerobak menjawab dengan tiada menengok atau memperhatikan: “Naiklah.”
Dan Siti pun naiklah ke atas gerobak. Gerobak jalan terus. Di atas gerobak ada pula empat orang yang menumpangkan dirinya untuk pergi ke distrik lain untuk mencari dagangan domba yang akan dibawanya besok ke pasar hewan di Blora.
Di gerobak, Siti tak henti-hentinya mengenang dan mengenang. Ada terbayang-bayang dalam kepalanya, anaknya yang baru berumur tiga bulan menangis-nangis minta disusui. Sejak subuh tadi anak yang masih tidur dalam sakitnya itu ditinggalkannya — belum diberinya susu. Ya, barangkali anaknya sudah tak ingatkan dirinya lagi. Barangkali semua tetangga datang dan menyumpahi dirinya karena meninggalkan anaknya yang sakit. Kemudian ia ingat pada lakinya. Barangkali nanti kalau lakinya datang habis menyiangi padi, meja masih kosong. Belum ada makanan. Tapi ia tak bisa kembali. Ia tak mau kembali. Ia mencari kebebasannya. Ia melarikan diri dari kewajibannya. Barangkali Siman akan kaget karena ia tidak ada. Dan kemudian menyesal. Tapi siapa salah? Ia tak merasa bersalah. Ia sudah berbakti selama tujuh tahun sebagai istri. Barangkali oleh kesedihannya, nanti sore Siman tak mau mencarikan rumput untuk kerbau adiknya? Mengapa semua akan kacau karena ia pergi? Mengapa? Dan ia pun menitikkan air mata.
“Mengapa menangis, yu?” tanya seorang anak yang menumpang di atas gerobak. Tapi Siti diam saja. Dan oleh pertanyaan itu tangisnya kian menjadi-jadi.
“Barangkali yu sakit?” tanya seorang lagi. Dan ia tak perlu jawab pertanyaan yang kosong itu. Sama sekali tidak perlu. Perhitungan yang ekonomis juga! Dan gerobak terus juga berjalan.
“Turun mana?” tanya tukang gerobak.
Tapi Siti tak tahu di mana ia harus turun. Karena itu ia diam saja. Oleh diamnya tukang gerobak menengok padanya. Kemudian bertanya lagi: “Cari pekerjaan, barangkali?”
Siti mengusap air matanya sambil mengangguk. Dan tahulah tukang gerobak ke mana arah tujuan perempuan itu. Ia sudah biasa melalui jarak Blora-Jepon2. Dan di jarak-jarak itulah banyak berdiri warung-warung kecil dari kajang — warung penjual kopi dan daging wanita. Warung-warung itu ialah tempat singgah pedagang-pedagang sapi, kerbau dan kambing. Juga jadi tempat singgah pedagang-pedagang hasil bumi. Dan sambil bersinggah mereka minum kopi, menginap dan menikmati daging perempuan. Ya, tukang gerobak itu tahu daerahnya. Tenang berkata: “Itu ada warung!”
Gerobak dihentikannya. Dan Siti turun. Sebentar tukang gerobak itu mengusap pipi perempuan itu. Tapi Siti tik membantah — tak berani. Kepalanya tambah jadi kosong, dan hatinya penuh-sesak oleh berbagai perasaan.
Warung-warung itu biasa saja seperti warung-warung lain yang tersebar di pinggir jalan antara Blora dan Jepon — jarak yang lima kilometer itu. Dan warung-warung itu belum lagi dikatakan rumah. Hanya gubuk-gubuk belaka. Angin dengan bebas mengembara di dalamnya. Mereka yang mendirikan warung-warung itu ialah orang-orang yang baru menerima tanah dari pemerintah — tanah di pinggir jalan. Dan sambil bertani kecil-kecilan mereka menjual kopi dan daging perempuan. Banyak juga mereka mendapat hasil. Makelar-makelar3 hewan yang banyak untungnya biasanya hidup royal — tak memandang uang belanja yang dihamburkannya.
Seperti anjing takut pentung. Siti mendekati sebuah warung. Dia diterima dengan baik, sebagai layaknya manusia menerima manusia. “Aku datang mencari pekerjaan,” katanya setengah merintih.
“Sini ada pekerjaan, nduk, tapi engkau dari mana?”
Dan Siti pun bercerita tentang daerah asal yang ada dalam kepalanya belaka, dengan suara yang meminta kasihan.
“Mengapa engkau pergi dari rumah? Engkau ada suami? Engkau ada anak?”
Dan Siti menjawab dengan suara setengah merintih juga: “Lakiku mati. Aku tak pernah punya anak, bu, mandul! Dan inilah yang membuat aku jadi celaka. Kalau aku ada anak, pastilah aku tak disia-siakan oleh mertuaku.”
Waktu Siti menjawab begitu, ia teringat pada pengemis yang pernah berkata begitu juga. Dan ia tak takut terdapat kesalahan di dalamnya.
“Baiklah. Baru kemarin pembantuku pulang ke desa dipanggil lakinya. Si Mariam juga celaka hidupnya. Dia selalu dipukuli oleh suaminya … Dan bagaimana suamimu dulu? Sering memukul engkau?” tanya tukang warung.
“Tidak, bu — suamiku dulu orang yang paling baik. Hanya saja dia bodoh.”
“Bodoh itu tak seberapa dibandingkan dengan kenakalan, nduk. Nakalkah dia?” tanya tukang warung itu lagi.
“Tidak, bu, lakiku tidak nakal seperti lelaki lain.”
“Baiklah, kalau begitu. Mau juga aku menerima engkau. Tetapi engkau tak bisa mengharapkan uang di sini. Dan bagaimana engkau mencari uang itu aku tidak tahu. Cari akal sendiri. Hanya — jangan engkau sampai mencuri uangku. Engkau perempuan, bukan?”
Dan Siti hanya menjawab dengan menekankan kepalanya.
“Di sini engkau hanya melayani langganan. Itu sudah cukup. Engkau tak perlu memasak air atau nasi. Aku sendiri yang masak. Engkau hanya melayani mereka dan menggembirakan hati mereka. Aku lihat engkau manis — tidak seperti si Mariam. Kalau ada blantik4 kerugian datang kemari, engkau harus bisa menghibur hatinya. Engkau harus bisa mencari akal supaya daganganku laku selaris-larisnya. Pergunakanlah kemanisanmu sebaik-baiknya. Mengerti nduk?”
“Mengerti ibu.”
“Dan kalau ada tamu baru, engkau harus duduk di dekatnya. Engkau harus pintar berbicara hingga mereka mau makan dagangan kita sebanyak-banyaknya. Kalau engkau i ingin mendapat uang, cobalah rogoh hatinya. Engkau mesti bisa. O, tiap perempuan bisa berbuat seperti itu.”
Siti tak tahan mendengar ucapan itu. Sekali lagi air matanya menitik.
“Jangan bersedih-sedih. Engkau cukup manis untuk mata lelaki. Dan kalau nanti engkau mendapat uang banyak — segala kesedihanmu itu akan lenyap sama sekali.”
“Ya…”
“Dan kalau ada anak sekolah datang kemari, ajaklah dia bicara banyak-banyak … tanyakan siapa ayahnya, siapa familinya, apa pangkat orang tuanya, berapa penghasilannya dan sebagainya. Anak priyayi … semua pada mabok kepriyayian dan pangkat. Dan oleh pertanyaanmu itu dada mereka akan gembung seperti perut orang bunting tua. Mengerti, nduk?”
Siti yang bodoh itu tak mengerti betul arah omongan tukang warung itu. Hanya dengan menebak-nebak saja ia mengertikannya. Dan dengan patuhnya ia menjawab: “Ya.”
Walaupun ia tahu juga apa yang akan terjadi atas diri perempuan yang menghambakan dirinya pada warung-warung kopi di pinggir jalan, namun kesucian hati yang dibawanya dari kampungnya selalu saja memperingatkan: engkau di sini akan menjual dirimu. Pergilah dari sini. Dan tiap peringatan itu terdengar, kembali air matanya menitik lembut.
“Mengapa engkau menangis, nduk? Apa tak sanggup engkau tinggal di sini? Engkau di sini mendapat kamar sendiri.”
Tukang warung itu menudingkan jarinya pada dinding berpintu yang melekat pada warung itu — hanya ditabiri dengan kain Jepang yang harganya enam sen semeter, berwarna merah berbunga besar-besar.
Dan Siti tambah menghebatkan tangisnya. Rumahnya sendiri lega. Dan di sini ia mendapat kamar sempit, yang hanya cukup diisi dengan sebuah bale tanggung. Ia menangis — tangis perempuan betul-betul. Tiba-tiba saja ia ingat pada anaknya yang barangkali sedang menangis minta disusui. Terbayang dalam kepalanya seluruh tetangga yang sedang ribut oleh kepergiannya. Dan mereka sama memaki-makinya sebagai perempuan terkutuk. Ia ingat segala-galanya. Dan ia ingat juga pada segala kebaikan suaminya. Ia ingat juga pada bale yang belum lagi dirapikannya. Dan barangkali juga anaknya yang berangkat sekolah akan pulang dengan tiada makanan di rumah. Dan ia menderaskan air matanya.
“Biasa, nduk — itu memang biasa. Kalau perempuan bekerja kemari, mula-mula menangis dahulu. Ya seakan-akan tangis jadi upacara pekerjaan yang menyenangkan ini. Mula-mula! Tapi sebentar kemudian — bila sudah menerima tetamu — bila sudah dapat mengumpulkan uang simpanan di bawah bantal — dia akan jadi gembira dan bersemangat seperti kanak-kanak.”
“Dan kata-kata seperti itu dingin saja untuk hatinya. “Nah, hilangkan air matamu. Duduklah di bangku itu manis-manis. Atau berdirilah engkau di tengah-tengah pintu menarik penjaja. Barangkali sebentar lagi ada pedagang ikan laut lewat berkendara sepeda. Angkatlah mukamu yang manis itu. Para tamu selamanya takut pada air mata. Inilah yang harus selalu kauingat sebagai pelayan. Atau boleh juga engkau mengaso sebentar di dalam kamarmu.”
Dan sekali lagi tukang warung itu menunjuk pada dinding berpintu kain Jepang, merah berbunga-bunga besar itu.
Dengan tiada berpikir panjang Siti melangkah masuk ke dalam kamarnya. Segera direbahkan badannya, dan bale berkerait berbunyi. Dikucurkan air mata sebanyak-banyaknya. Ia merintih bertahan-tahan. Dan dalam hatinya ia minta ampun — ampun yang mahabesar dari lakinya, dari kedua orang tuanya yang telah meninggal, pada Tuhannya, dari segala-galanya. Tapi kembali? Ia tidak sanggup. Ia tak berani menerima pukulan dari lakinya. Dan lakinya kini sudah jadi begitu galak dan pemukul.
“Siman! Siman! Mengapa engkau kutinggalkan?” ia merintih pelahan.
Dan dalam kepalanya terbayang masa pengantin barunya. Siman mengenakan kain, baju hitam, kemeja putih, blangkon buatan kota dan kacamata hitam. Tampan juga. Tapi mengapa susah betul ia mencari rezeki? Ia tak tahu. Mengapa ia sekarang dengan tiba-tiba saja jadi galak dan pemukul?
“Haruskah aku kembali?”
Tapi bila kembali, ia akan menerima pukulan yang lebih banyak lagi. Dan kalau ia dicari? Dan kedapatan di rumah terkutuk ini? Ia tak tahu. Ia tak bisa memikir lebih panjang lagi. Dan — tangisnya jadi tertahan-tahan oleh ketakutan dan kengerian pada hari depan.
Banyak sekali suara-suara yang mengamuk dalam kepalanya. Tetapi suara-suara itu tinggal jadi suara saja, dan sedikit pun tak berhubungan dengan niat pulang. Dan setelah ia kehabisan air mata, keluarlah ia dari kamar itu. Hati-hati duduk di bangku, dan mukanya dipasangnya di jendela agar tertampak oleh lalulintas.
Tukang warung perempuan itu sedang sibuk menggoreng pisang. Berkata: “Di sini engkau hanya mendapat makan, minum dan tempat tidur yang baik. Ada juga kepinding di bal? itu, tapi engkau bisa membersihkannya sendiri. Aku takkan menggaji engkau. Tapi tiap perempuan bisa mendapat uang dengan gampang asal dia mau. Dan engkau manis. Engkau cantik.”
Siti tak menjawab.
Kemudian datanglah seorang tamu. Segera saja tamu itu meraba dada Siti dan berkata girang: “Orang baru ini?”
Tukang warung perempuan yang sedang menggoreng pisang tertawa dari sudut warung yang dipergunakan sebagai dapur. Tapi tak berkata apa-apa.
Siti kebingungan, sekalipun lakinya sudah berbuat beratus kali terhadapnya seperti itu. Ia hanya duduk di sudut bangku. Dan tamu itu menjajarinya agak mendesak badannya sedikit. Dan Siti menundukkan kepalanya seperti pengantin baru di puadai yang kehilangan kepribadiannya.
“Ladeni kakak itu, Siti!” teriak tukang warung itu senang.
Barulah Siti berdiri dan berkata tanggung: “Kopi atau teh, tuan?”
Tamu dan tukang warung tertawa pahit mendengar sebutan itu. Segera saja tamu itu berkata girang: “Tuan? Di sini tidak ada tuan. “Kan masih banyak perkataan manis yang boleh dipakai? Kak! Ya, kak lebih manis daripada tuan.”
“Nah, dia bukan saja tamu, tetapi juga guru, nduk. Lama-kelamaan banyak pelajaran yang kauperoleh dengan sendirinya.”
“Aku minta kopi kental, ning!”
Tapi Siti belum kuasa meladeni permintaan tamu itu. Buru-buru ia masuk ke kamarnya. Seluruh macam kecanggungan terbayang di dalam kepalanya. Seluruh isi rumah pun berbayang dalam ingatannya. Dan seluruh air matanya tertumpah di atas pangkuannya. Juga Siman terbayang kembali. Siman! Siman yang baik hati dan jujur itu! Hanya kebodohannya jualah yang membuat dia jadi miskin dan tak terpandang oleh para tetangga.
Dari luar terdengar suara gembira: “Memang susah mengajar orang baru, kak, tapi sebentar lagi ia tahu jalannya sendiri.”
Tamu itu tertawa senang. Kemudian terdengar suaranya: “Pintar betul engkau mencari orang. Baru datang dari desa?”
“Ya, baru tadi pagi. Dia seorang diri di dunia ini dan mertuanya menyia-nyiakannya, karena dia tak beranak dan lakinya mati.”
Tamu itu terdengar tertawa pelahan. Kemudian berkata penuh kepastian: “Ya, itu banyak terjadi sejak dulu. Nanti malam aku menginap di sini.”
“Menginap di sini? Aduh-aduh. Kontan saja. Tapi apa kata Wiro nanti?” perempuan itu berkata.
“Lakimu? Apa kaupikir aku mengharapkan badanmu?”
Ia tertawa terbahak-bahak. “Aku bosan padamu.”
Dan Siti tak bisa menahan tangisnya lagi. Dalam hidupnya ia tak pernah mendengar kata-kata lelaki yang seperti itu. Siman — lakinya — pun tidak pernah. Dan sekalipun ia bodoh, namun ada juga ia merasai suatu kehinaan dalam suasana warung itu. Tapi ia memerlukan kebebasan. Ia memerlukan makan. Dan ia harus menundukkan dirinya.
“Ning! Ning! Mana kopinya?” seru tamu itu.
Tapi Siti terus juga menangis di balenya. Kemudian masuklah Markaban ke dalam kamarnya. Dengan tiada segan-segan, langsung saja ia duduk menjajari Siti. Dan Siti tidak melawan. Ia tahu: ia harus menyerahkan dirinya pada siapa pun juga. “Jangan menangis, ning. Nanti malam aku menginap di sini. Aku suka padamu. Atau, — maukah engkau turut denganku?”
Tapi Siti menggelengkan kepalanya. Ia takut pada pukulan. Karena itu ia takut pada suami. Dan apa yang selanjutnya terjadi adalah suatu adat yang lazim terjadi antara makhluk yang bisa bergerak.
Penduduk kampung kami yang tak pernah membaca buku, selamanya memperlihatkan tentangan yang hebat kala harus memasuki kebiasaan baru. Tapi bila kebiasaan itu sudah dimasukinya jarang ia bisa melepaskan diri dari padanya. Demikian j juga halnya dengan Siti.
Air mata telah berganti dengan tertawa yang beruntun-runtun. Baju yang tak pernah berubah modelnya itu berganti dengan baju kutubaru, selembar kain yang menghiasi buah dadanya. Dan kalau dulu ia hanya berbaju dua lembar, kini ia telah dapat membeli koper — dan penuhlah isinya. Sudah lama ia tak memegang-megang gincu merah. Muka selamanya berbedak tebal. Dan kadang-kadang juga hampir-hampir menyerupai tembok. Tapi semua itu sudah jadi kebiasaan di antara mereka — perempuan-perempuan yang hidup di warung-warung kopi antara Blora-Jepon. Tingkahnya pun sudah berbeda daripada dulu. Banyak tertawa. Banyak canda. Banyak bicara. Dan genit pula. Kehidupan kampung yang tak berubah-ubah itu kini berganti dengan kehidupan yang selalu berubah. Banyak lelaki datang padanya. Banyak mereka mengeluarkan cumbuan, rayuan dan segala perkataan yang enak didengar. Sungguh, dalam pergaulan seperti itu, daging muda dan baru selalu jadi rebutan. Dan kalau dulu ia terima uang sen-sen saja tiap hari, kini tak jarang ia menerima sampai serupiah atau serupiah setengah.
Semua perubahan itu memabokkan hatinya. Tak ada lagi teringat olehnya akan Siman dan ketiga anaknya. Dan sekalipun ia ingat, ia hanya ingat sedikit saja dengan bibir tertarik tanda menghinakan. Mereka itu boleh mampus satu-satu. Dan ia tak peduli. Di dunia ini banyak lelaki — dan bukan Siman saja yang lelaki.
Dan pada suatu kali datanglah Nawawi. Langganan itu duduk di pojok bangku. Dan Siti duduk di pangkuannya. Sebentar- ..:- sebentar ia pergi melayani langganannya itu. Dan sebagai biasanya Nawawi mabok oleh bau minyak rambut Siti. Tapi ia berdiam diri saja. Dan karena Siti tak mendapat uang secepeng pun dari induknya, dicarinya berbagai akal untuk mendapat uang sebanyak-banyaknya dari langganan yang datang. Ia turut makan juga dengan langganan itu, dan langganan itulah yang membayarnya. Kelakuan seperti itulah yang terpuji benar oleh tukang warung. Laris, katanya.
Keduanya minum kopi kental sekarang. Di jalan raya menderum bis dari Cepu. Debu mengepul ke udara. Dan karena warung itu terlampau dekat pada jalan raya, debu itu pun masuk pulalah ke dalamnya. Hancuran tai kuda, hancuran ban mobil. Pasir. Hancuran kotoran manusia yang dibuang-buang di pinggir jalan. Semua turut terbang ke udara dan hinggap pada kue pisang, kue serabi. Dan sebagian masuk pula ke dalam kopi Nawawi dan Siti. Tapi mereka masih juga bercanda-canda dengan amannya.
Malam itu Nawawi menginap. Dan malam yang dingin itu lalulah dengan tiada terganggu dan terasa. Keesokan harinya Siti melayani langganan sebagaimana mestinya. Tapi pada jam dua belas siang terasa sakit perutnya. Dan sakitnya ini kian lama kian terasa.
“Perutku sakit, bu,” lapornya pada tukang warung.
Dan tukang warung itu tertawa menyengir.
“Sakit bukan main,” Siti menyambung.
Dan tukang warung itu meneruskan tertawanya. Muka Siti sudah mulai pucat. Berkata pula ia: “Mengapa ibu tertawa saja?”
“Itu sudah adatnya di warung-warung. Sekali-sekali orang yang jadi pelayan terserang penyakit perut. Tapi itu tidak apa-apa.”
“Tidak apa-apa? Sakitnya tak tertahankan lagi.”
Dan mukanya pucat juga. Tapi perempuan tukang warung itu hanya tertawa-tawa saja. Berkata lagi ia: “Si Mariam dulu sakit begitu juga. Aku juga. Dan Nining juga. Tapi obatnya mudah saja. Makan nanas muda. Habiskan sebuah. Dan penyakitmu itu akan musnah.”
Hari itu Siti tak keluar dari kamarnya. Dihabiskannya buah nanas muda. Dan betullah apa kata tukang warung itu. Penyakitnya mulai mengendur. Dan ia mulai melayani langganannya — siang dan malam. Tapi suatu kali ia kena penyakit lagi. Dan lima-enam buah nanas muda tak mempan lagi untuk obat. Kian lama kian kurus ia. Dan segala hal yang sudah terjadi terbayang-bayang dalam kepalanya. Siman. Ketiga anaknya. Rumah tangganya. Kerbau iparnya. Ya, semua yang telah ditinggalkan tiga tahun yang lalu. Dalam sakitnya itu kadang-kadang ia menerima langganan malam juga. Dan mukanya yang pucat itu ditutupnya dengan bedak tebal-tebal, dimerahinya kedua pipinya dengan gincu. Namun badannya yang kurus itu tak dapat menyembunyikan penyakitnya. Kesegarannya hilang. Gairah hidupnya hilang. Jarang ia tertawa. Uang simpanannya telah habis tandas untuk pembeli obat kampung. Tapi ia butuh uang. Uang dan uang. Karena itu ia terus juga menerima langganan malam. Perempuan tukang warung itu tak dapat lagi menarik keuntungan darinya. Siti berubah jadi tua dan rombeng. Orang tidak tertarik lagi. Sebaliknya malah, banyak langganan jijik melihatnya, dan menghindari warung yang menyebalkan itu.
Dan pada suatu kali jatuhlah putusan atas dirinya.
“Siti,” tukang warung itu berkata, “karena engkau tak dapat bekerja lagi dan menarik tamu, lebih baik engkau meninggalkan warung ini. Aku tak bisa mengumpani engkau tiap hari dengan percuma. Aku sendiri bekerja setengah mati, dan untuk nafkahku sendiri, hampir-hampir tak mendapat sisa dari semuanya itu.”
Belum habis ia berbicara, datang perempuan baru yang akan menggantikannya. Dan Siti memandangi perempuan baru itu dengan mata berkilat-kilat oleh kemarahannya sendiri. Tapi sifat penakut yang dibawanya dari kampungnya tak membolehkan ia melabrak perempuan baru itu. Juga tidak pada induknya. Diam-diam ia masuk ke dalam kamarnya. Dibukanya kopernya. Isinya telah habis terjual untuk mencari obat. Tinggal koper belaka. Dan atas kebaikan tukang warung itu, koper itu boleh ditinggal dan ia mendapat setalen sebagai penggantinya.
“Jangan marah, Siti,” kata tukang warung itu pula. “Kita ini sama-sama mencari nafkah. Engkau mencari nafkah. Dan aku pun mencari nafkah. Dan tak baiklah jadinya bila antara dua orang yang sudah bisa mencari nafkah, hanya satu saja yang mencarinya, dan yang lain hanya tidur enak-enakan saja.”
“Tapi aku sakit, ibu.”
“Dengan uangmu yang setalen itu engkau bisa datang ke kota — ke rumah sakit. Dan kalau engkau sudah sembuh kembali, engkau bisa mencari nafkah lagi sebagaimana mestinya.”
Siti tidak membantah. Dengan badannya yang hampir-hampir tidak bertenaga itu ia berjalan menuju ke kota. Jalannya tak gesit dan gagah seperti dahulu. Ada gerak yang aneh terdapat dalam jalannya. Tapi ia berjalan dan berjalan juga untuk melampaui jarak yang empat kilometer itu. Angin yang meniup — angin sawah yang mengapit jalan raya itu — terlampau berat dan tebal dan tajam rasanya untuk badannya yang sudah jadi tipis itu.
Ia ditempatkan di bangsal yang paling rendah di rumah sakit itu — bangsal gratis. Tapi ia tak merasa dihinakan. Bangsal itu jauh lebih bagus dan bersih daripada kamar yang disediakan untuknya di warung. Juga jauh lebih bagus dan bersih daripada rumahnya — ya, dulu, waktu ia masih hidup bersama dengan Siman. Hanya yang disesalinya dalam hatinya ialah: orang-orang memperlakukan dia dengan buruknya. Tiap gerak dan ucapan yang ditujukan padanya selalu menyakitkan hatinya. Dan ia tidak bisa mengerti mengapa orang-orang memandang rendah padanya. Ya, sama sekali ia tak mengerti. Ia tak merasa pernah menciderai orang. Tapi di rumah sakit itu ia dianggap t tak ubahnya dengan hewan saja.
Perlakuan itu membuat ia jadi penyendiri. Namun para perawat itu tetap suka menertawakannya, mengejeknya dan kadang-kadang juga memaki-makinya dengan tiada diketahuinya apa sebabnya. Semua itu membuat ia tidak kerasan. Semua itu membuat ia ingin kembali ke rumahnya dulu — dengan Siman. Dengan anak-anaknya. Kembali bergaul dengan para tetangga. Dan bila senja sudah mati, duduk-duduk di teritis sambil mendengarkan santre-santre mengaji di langgar. Semua yang baik-baik di masa yang lalu terkenang kembali bila ia tidak bisa tidur. Atau bila baru saja ia disindir orang. Atau bila ia habis ditertawakan orang. Namun belum juga ia merasa, bahwa tindakan yang diambilnya — melarikan diri dari suaminya — itu Suatu dosa belaka.
Waktu seorang tetangga dulu datang di rumah sakit karena borok tua, mula-mula ia malu menerimanya. Tetangga itu ditempatkan di satu bangsal dengannya. Dalam lima jam setelah ditempatkan di bangsal itu, tetangga itu belum juga mengenali Siti yang jauh sudah jadi tua dan berubah dan kurus itu. Akhirnya Siti tak bisa juga menahan keinginannya untuk mendengar kabar dari kampungnya. Berkata ia kemalu-maluan: “Ngadimun, bagaimana kabar dari kampung Jetis5?”
Ngadimun — orang setengah tua itu mengawasinya. Kemudian menjawab tak acuh: “Kabar dari Jetis baik.” Ia mengulangi pengawasannya. “Siapa, engkau?”
“Ya, tentulah engkau lupa padaku. Sudah tiga tahun aku belum lagi pulang ke Jetis. Aku Siti, — Siti bininya Siman.”
Orang setengah tua itu terkejut. “O, Allah, engkaulah ini?” Ia diam dan mendoa. Menyambung, “tega, sampai hati engkau meninggalkan laki dan anak-anakmu. Anakmu mati dua hari setelah engkau pergi. Dan engkau tak juga datang.”
Mendengar perkataan mati Siti jadi tertegun. Matanya menggerebak. Tapi ia lebih sedih pada kematian dirinya sendiri daripada kematian anaknya.
“Ya, Sariem anakmu yang paling kecil itu mati sudah,” sambung Ngadimun. “Dan aku tak juga mengerti mengapa engkau sampai hati meninggalkannya.”
Sebentar Siti mengumbar tangisnya. Kemudian menyusulkan penjelasannya: “Aku takut pada Siman. Tiba-tiba saja dia sering memukuli aku. Dan aku takut pada pukulannya.”
“Bukankah engkau tahu, bahwa karena kesedihannya juga Siman jadi mata gelap dan berani memukul engkau. Selamanya — Siman pendiam. Kalau dia berani memukul engkau — ya begitulah karena engkau sudah begitu keterlaluan.”
“Aku selamanya setia padanya, Ngadimun.”
“Aku tahu, tiap bini harus setia pada lakinya. Tapi, Siti, dengarlah sekarang. Ada saat-saat seorang lelaki itu tak memerlukan kesetiaan bininya. Tapi ia lebih memerlukan yang lebih penting daripada itu — bantuan lahir.”
Siti menggeleng-geleng kepala tak mengerti. Ia berkata kaku: “Aku tidak mengerti.”
“Ya, sampai seribu tahun perkataan itu kuulang-ulang, engkau tak juga akan mengerti. Kalau engkau mengerti barang sedikit saja, engkau takkan lari dari lakimu. Itu aku mengerti juga.”
Dan Siti jadi tambah tak mengerti karena perkataan yang banyak itu. Ia diam saja sambil menghapus-hapus air matanya. Kemudian meratap: “Sariem mati. O, anakku. Engkau sudah mati sekarang. Dan aku tak melihat engkau waktu dimandikan.”
“Dan bagaimana sekarang? Akan pulangkah engkau ke Jetis?”
Siti tak menjawab. Ia tak mengerti. Ia malu. Dan malunya itu bergumul dengan kesedihannya. Ia terseret-seret oleh kedua perasaannya sendiri itu. Ngadimun berkata lagi: “Ya, lebih baik engkau pulang saja kalau sudah sehat. Uruslah Siman dan anakmu itu baik-baik. Siman belum juga kawin setelah engkau tinggalkan. Siapakah yang mau kawin dengan Siman di dunia ini selain engkau?”
Tapi Siti tak juga menjawab ajakan itu. Ia jadi bingung sekarang. Terbayang dalam kepalanya si Miah anaknya yang kedua. Ia bertanya malu: “Sudah besarkan si Miah?”
“Miah sudah disekolahkan pamannya. Dia sudah besar sekarang. Sudah kelas dua. Bapaknya sendiri tak sanggup menyekolahkan. Tujuh sen setengah tiap bulan berat juga.”
Siti berhenti menangis.
“Kalau aku pulang ke kampung, apakah akan kata orang-orang nanti?”
“Apa kata orang-orang nanti?” Ngadimun berseru. “Mula-mula mereka heran. Ada juga yang menghina dan menertawakan engkau. Tapi itu sudah jamak diterima oleh perempuan yang berani melarikan diri dari lakinya. Kemudian keadaan berjalan sebagai biasanya. Dan kembali engkau hidup seperti dulu — mengambil air dari kali, mencari kayu bakar, masak, dan itu engkau tahu, lebih tahu lagi daripadaku. Siman akan bersenang hati juga kalau engkau mau kembali. Apakah dia akan tahan makan nasi masakan emaknya? Engkau bisa mengerti sendiri itu. Siti, sungguh tak enak makan nasi orang lain, sekalipun orang lain itu emaknya sendiri. Pulanglah. Dan Miah pun akan bersenang hati karena engkau mau pulang. Dia akan mendapat emak lagi. Di manakah engkau selama ini?”
“Jadi babu di Cepu, Dimun!”
“Babu? Itu baik sekali. Jadi salahkah desas-desus yang mengabarkan bahwa engkau menjalani pekerjaan maksiat di warung kopi?”
Siti tunduk kemalu-maluan. Sekali lagi ia merasa, bahwa pekerjaan yang dikerjakannya selama tiga tahun itu tentulah dikutuki oleh orang kampung. Hatinya tertusuk. Tertusuk untuk sekian kalinya. Tapi ia tak membantah. Ia tak bisa membantah, bahwa pekerjaan itu memang jahat. Dari dulu juga ia pendiam seperti Siman — pendiam oleh kebodohannya sendiri. Terlampau banyak perkataan yang ia tak mengerti artinya. Jadi ia harus berdiam diri. Dan itu yang lebih baik untuknya. Dan terlampau banyak pula yang ia tak mengerti di dunia ini.
Dan pertemuan itu disusul oleh berbagai-bagai cerita yang buruk dan yang baik. Tentang Siman dan Miah.
Tapi pertemuan itu tak habis sampai di situ saja. Paling lama tiga hari sekali ada orang datang dari Jetis untuk mengirim nasi pada Ngadimun. Dan orang-orang yang datang mengirim itu kenal belaka pada Siti. Dengan demikian nama Siti kembali disebut-sebut di kampungnya. Siti tak bisa menyembunyikan dirinya lagi. Dan yang paling aneh untuknya: ia tak dicari oleh siapa pun juga. Dan hal itu membuat dirinya berpikir: barangkali aku tak berharga lagi untuk mereka.
Dan pada suatu kali, seorang pengirim menyampaikan berita dari Siman kepadanya: “Siti, kalau engkau mau kembali pada lakimu, Siman tak merasa keberatan. Ia akan menerima engkau, sekalipun pak kiai dan famili-famili yang lain tak dapat mengiakan maksudnya. Tapi Siman sendiri mau menerima engkau kembali. Dan inilah yang lebih penting dari semuanya.”
Siti tertawa senang mendengar berita itu. Matanya bersinar-sinar. Tiba-tiba saja ia memperoleh harapannya kembali. Ia akan punya rumah lagi. Ia akan punya laki lagi. Ia akan punya anak lagi.
“Dan kalau engkau sudah jadi bini Siman lagi, pastilah engkau tak kan menderita penyakit seperti yang engkau deritakan sekarang ini.” Siti mengangguk lega.
“Tapi yang penting lagi ialah, Siman tak lagi makan nasi masakan emaknya yang sudah setua itu.”
Sekaligus Siti teringat pada mertuanya perempuan yang sudah dua puluh tahun kena batuk kering itu. Perempuan itulah yang membangunkan para tetangga di pagi hari dengan batuknya yang beruntun-runtun. Dan batuknya itu baru reda bila matahari sudah beberapa puluh derajat di langit. Dan ingatan itu disusul oleh ingatan yang lain: kerbau adik iparnya. Kerbau itu adalah warisan satu-satunya untuk iparnya yang bungsu itu — buat ongkos perkawinannya. Bertanya ia: “Bagaimana kerbau Sipan itu sekarang?”
“O, Sipan sudah kawin, dan dengan sendirinya kerbaunya sudah dijualnya.”
“Dapat siapa dia?” Orang itu tak menjawab. Namun Siti sudah mendengar desas-desus juga, bahwa Sipan mengawini sundal yang diperolehnya dari warung kopi di depan setasiun.
“Sudah beranakkah dia?”
“Belum,” kata orang itu sunyi.
“Dan Miah, mengapa dia tak pernah diajak kemari?”
“Dia tak suka. Dia takut. Maklumlah — sudah begitu lama tidak bertemu. Dan kalau engkau bertemu dengan anakmu itu, engkau pun sudah tak kenal lagi.”
“Dan Siman, mengapa dia tak pernah datang kemari?”
“Tentu saja dia tidak mau. Orang-orang bilang, bila Siman berani menengok engkau di rumah sakit, dia akan merendahkan dirinya.”
Siti tidak mengerti betul ucapan itu. Bertanya ingin: “Mengapa merendahkan dirinya sendiri? Bukankah aku bininya sendiri?”
“Ya, engkau bininya sendiri, tapi selama tiga tahun itu engkau telah tersasar dari adat orang baik-baik. Selama itu engkau menjalani pekerjaan maksiat yang dilarang oleh agama.”
Siti yang masih juga tak mengerti meneruskan pertanyaannya: “Dilarang oleh agama?”
“O, kerbau! Kerbau!” seru orang itu.
Dan Siti terdiam mendengar seruan itu. Kembali hatinya jadi tertusuk. Tapi sekali ini ia tidak berdiam diri saja. Sekali ini ia menitikkan air matanya oleh sakit hati. Ia kerbau, katanya. Ia berdosa, katanya. Ia menjalani pekerjaan maksiat yang dilarang oleh agama, katanya. Tapi ia sendiri tak merasa berdosa. Ia tak merasa bersalah. Tapi semua orang — ya, hampir semua orang saja menyalahkan dirinya. Dan Siman — lakinya — tak berani membantah semua perkataan orang itu. Dan ia sendiri tak tahu bagaimana caranya membantah. Ia diam. Diam saja sambil merasakan sakit hatinya. Namun semua itu tak memudarkan harapannya untuk kembali bisa punya rumah dan laki lagi. Tidak.
“Bagaimana sekarang, Siti, sudahkah engkau punya maksud untuk memperbaiki dirimu? Engkau sudah terlampau banyak berdosa, pada lakimu dan pada Tuhan.”
Siti berhenti menangis oleh ketakutan. Berdosa pada lakinya, katanya. Kalau ia melarikan diri takut dipukuli Siman, adakah itu berdosa? Ia bertanya dalam hati. Dan dosa pada Tuhan, katanya. Tuhan ini selamanya membayangkan raksasa yang memegang penggada api dalam kepalannya. Dan ia takut pada Tuhan yang disebut-sebut orang itu. Tuhan punya neraka dari api. Dan barangsiapa berdosa padanya akan dimasukkan ke dalam api hingga bertahun-tahun lamanya. Ia takut. Pelahan ia merintih.
“Ya, pastilah engkau menyesali perbuatanmu yang dulu-dulu itu.” Tapi untunglah, jam bicara telah selesai. Dan penjenguk itu pulang ke Jetis. Siti memperoleh dirinya kembali. Ia duduk ter-’ menung-menung di teritis bangsal sambil mengenangkan dosa, Siman, dan Tuhan. Tapi tak ada sesuatu keputusan yang dapat diambilnya. Ia tak pernah mencari keputusan.
Waktu juru rawat itu mengatakan padanya “engkau sudah sembuh sekarang, engkau boleh pulang”, bukan main riang hatinya. Segera dilepas pakaian rumah sakit. Badannya sudah sehat kembali dan segar. Tubuhnya sudah berisi lagi. Dengan langkah orang sehat ia berjalan melalui jalan-jalan yang sudah tiga tahun ini ditinggalkannya. Kadang-kadang ada juga ia bertemu dengan kenalannya dulu. Kemudian terjadi percakapan sebentar di pinggir jalan. Akhirnya sampai juga ia ke rumah Siman. Masih seperti dahulu — tidak berjendela! Dari kiri kanan orang memandanginya dengan diam-diam saja. Dan ia pun tak menegur mereka itu. Ia malu. Ia menunduk saja. Sampai di beranda ia tak juga berani masuk. Ia berjalan mundar-mandir sebentar. Tak ada orang di dalam. Ia tak tahan lagi. Masuklah ia ke dalam rumah. Semua masih lengkap seperti dulu: bale kampung yang berpunggung, bale tidur yang lebar. Pelita yang dipasang di tiang guru, bangku dapur yang rendah. Ia mengucurkan air mata.
“Ya, mengapa engkau kutinggalkan, Siman?”
Lambat-lambat ia duduk di bale tidur itu. Dulu ia selalu tidur dengan laki dan anaknya di situ. Tapi kini semua sudah kosong. Siman sudah pergi mencari kerikil di kali. Anaknya yang sulung turut dengan pamannya. Miah sedang bersekolah. Dan anaknya yang kecil sudah mati. Tiba-tiba menggigil seluruh badannya mengenangkan semuanya itu. Dan dengan tiada bertujuan sedikit pun juga, ia berbisik pelahan: “Ampun, Siman! Ampun, Tuhan.”
Dan ucapan itu membuat hatinya lega sedikit. Rintih dan tangisnya mengendur. Akhirnya hilang. Ditelentangkan badannya di bale itu. Dan dengan tiada disadarinya, ia telah jatuh tertidur.
Lama rasanya ia tertidur itu. Suara gadis kecil membangunkannya. Anak itu bernyanyi-nyanyi menghafalkan nyanyian daerah yang baru didapatnya sebentar tadi. Dan waktu dilihatnya ada orang baru bangun dari bale, anak itu terdiam. Mengamat-amati. Segera Siti bersuara: “Jangan takut, Miah! Aku emakmu. Aku Siti.”
Oleh suara itu Miah jadi ketakutan. Sambil mundur-mundur pelahan ia menjauh. Siti mendekati. Tapi Miah kian menjauh. Akhirnya sampai juga Miah ke pintu. Dan setelah ia keluar dari dalam rumah ia lari — lari — lari kencang-kencang ke rumah neneknya. Siti kembali menelentangkan badannya di bale. Dan dengan tiada disadarinya, ia sudah menjadi terlampau sedih.
Waktu mertua perempuannya datang, ia bangun, duduk saja di bale dan mengawasi perempuan tua yang berpenyakit batuk kering itu. “Siti! Jadi engkau kembali?”
“Ya.”
“Kalau aku jadi engkau, kalau aku sudah rusak dan bejat-bejat, aku takkan kembali lagi. Sekalipun aku tidak rusak dan bejat-bejat, kalau aku berani melarikan diri dari lakiku, hmmmm, aku takkan pulang. Dan sekiranya aku berani pulang, bukannya aku hendak kembali jadi istri lakiku lagi. Tidak! Tidak! Sama sekali tidak. Tahu? Aku akan terus langsung saja pergi ke sumur Bromo dan melemparkan diri ke situ sampai mati.”
Siti tak-bisa berkata apa-apa mendengarkan perkataan yang begitu banyak itu. Kembali hatinya jadi sedih. Kemudian berkata ia — lebih pada dirinya sendiri daripada ke mertuanya:
“Mengapa semua orang memusuhi aku — itulah yang aku tak mengerti.”
Mertuanya batuk-batuk sebentar. Badannya hingga membungkuk-bungkuk, kemudian menjawab:
“Siapa di antara perempuan sedunia ini yang bisa berbaikan dengan sundal kehabisan langganan?”
“Sundal?” Siti bertanya.
“Apa? Apa kau tak mengakui habis jadi sundal?”
Dan Siti jadi berpikir. Selama ia berada di warung, tak seorang pun pernah menamai dirinya sundal. Di rumah sakit pun tidak. Ya, dulu, waktu di rumah sakit. Tapi kini dengan langsung saja ia dinamai sundal. Dan ia tak mengerti sebabnya. Namun ada ia merasai kehinaan dalam perkataan itu.
“Engkau boleh bersarang di sumur itu,” perempuan tua itu berkata lagi.
Miah muncul dari belakang badan mertuanya. Dan Siti berseru: “Miah! Miah! Lupakah engkau padaku?”
Miah mengintipnya dengan mata liar. Pada parasnya tergambar ketakutan.
“Emak seperti itu, Miah, lebih baik engkau bakar hidup-hidup,” perempuan tua itu meneruskan siksaannya. “O, semua lelaki memang goblok, tak ubahnya dengan kambing. Mereka tak peduli lagi pada harga perempuan. Kalau suka … O, anakku, orang seperti itu…”
Tertatih-tatih ia meninggalkan rumah itu diiringkan oleh Miah. Dan di tengah jalan ia berbatuk-batuk sampai lama. Kembali Siti membaringkan badannya di bale sambil memikirkan semua ucapan mertuanya. Tapi ia tak begitu mengerti.
Hanya ada terasa: mertuanya telah mengatakan sesuatu yang buruk padanya. Hanya itu saja.
“Aku mesti masak!” katanya pelahan.
Dan perkataan disusulnya dengan tindakan. Ia bangun dan pergi ke dapur. Tapi di dapur sepi saja. Tak ada kayu. Tak ada air. Tak ada beras. Diambilnya buyung yang dulu selalu dipergunakannya. Ia pergi ke kali. Dan mata orang yang melihatnya memandang-mandang bertanya. Dan bila ada orang bertanya, dijawabnya dengan baik.
Banyak juga di antara mereka, yang sudah mengetahui riwayatnya, menyindir-nyindir. Tapi ia diam saja. Berulang kali ia naik turun tebing kali itu mengambil air. Akhirnya tempat air itu penuh jugalah. Kerajinannya dahulu datang kembali. Segera ia mencari batang-batang dan ranting-ranting kayu yang terbuang-buang di pinggir-pinggir kali untuk kayu bakar. Ya, ia ingat juga waktu dahulu bekerja seperti itu juga. Dan dalam bekerja itu, selamanya ia tak pernah merasa sengsara. Juga ia tak pernah merasa bersenang hati. Seakan-akan semua itu berjalan dengan sendirinya — seperti sudah semestinya. Ia memasak air sekarang. Tapi beras masih tetap tak ada. Ia beristirahat, duduk di bale sambil menantikan kedatangan Siman. Menelentangkan badannya. Dan dengan tiada terasa ia telah tertidur.
Waktu Siman datang, ia tak merasa dan tak tahu. Tahu-tahu ada tangan menarik bajunya. Di kala ia bangun, Siman telah berdiri di depannya tersenyum-senyum. Terlupalah ia pada segala sikap laki sejati. Dan waktu yang tiga tahun itu hilanglah dengan begitu saja. Semua menjadi beres kembali. Pertentangan yang dulu-dulu tiada berbekas lagi. Siman kini mempunyai tenaga tersenyum yang panjang sekali. Namun Siti masih juga takut, malu, dan khawatir bergaul dengan para tetangga.
Di waktu anaknya datang, ia menyambutnya dengan senyum, tawa dan cumbuan. Mula-mula anak itu merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri, tetapi lama kelamaan ia tak merasa canggung lagi. Anak kembali pada ibu. Bini kembali pada laki. — Kunci dari beribu macam cerita dunia.
Jakarta, v-1950
Cerita pendek
Anak Haram
Dari Cerita dari Blora (1952). Teks dari cetak ulang Hasta Mitra, 2002.
Pak guru menggelengkan kepala. Hatinya kesal. Mau ia memukul kepala gundul si Ahyat. Tapi Ahyat bukan anaknya sendiri. Dan anaknya sendiri pun segoblok Ahyat. Karena itu dipukulkan tongkatnya pada papan tulis keras-keras dan kemudian ia pergi ke jendela — mengisap udara jernih, menyabarkan diri. Kapur yang sudah jadi tulisan di papan rontok berguguran ke lantai. Dan tak ada satu pun mulut bersuara. Semua murid ketakutan. Semua mata mengikuti pak guru yang kesal di jendela. Pikiran mereka gugup dan menebak-nebak sejadi-jadinya, ke kiri dan ke kanan. Dan murid-murid perempuan yang duduk di bangku depan gugup memegangi bangku tulisnya.
Ahyat, anak lelaki berumur dua belas tahun yang duduk di baris paling belakang menunduk. Dan bila ia mengangkat pandangnya, tak tahulah ia apa yang ia harus pandang. Ia anak terbesar di kelas. Dan ia anak yang tergoblok. Dan ia pun anak yang paling penakut.
Ruang kelas sunyi sekarang. Dengung ruang kelas tiga dan lima menyerbu ke dalam kelas empat itu. Dan pikiran yang bukan-bukan pun turut menyerbu ke dalam benak para murid. Dan tiba-tiba saja mereka ingat: pak guru jadi kalahan bininya di rumahnya. Dunia memang penuh dengan pembalasan dendam. Di saat-saat seperti itu kadang-kadang para murid mencaci makinya dalam benak mereka. Memaki sesuka hati. Kadang-kadang para murid berdoa dalam kepalanya: moga-moga besok pak guru mati. Moga-moga dia sakit keras dan tak bisa mengajar. Apa yang mereka tahu: pak guru pemarah. Tak peduli siapa: yang bodoh kena, yang pandai kena juga, yang buruk, yang cakap, yang bopeng, dan si tolol Ahyat pun kena dan terutama sekali, papan tulis juga, dan kerap mejanya tak luput dari tongkatnya.
Anak-anak — tak ubahnya dengan anak sebaya kelas empat lainnya — terlalu suka pada kabar urusan pribadi guru-gurunya yang galak. Dan dengan jalan menyiar-nyiarkan kabar pribadi ini mereka membalaskan dendam pada guru. Suatu kali sesudah pak guru marah-marah seorang mengabarkan: kemarin pak guru utang di warungku. Dan pernah juga seorang memberitakan: tadi pagi pak guru diburu anjing tetangganya. Dia lari ketakutan. Dan apa yang mereka ketahui sungguh-sungguh: pak guru selalu mau jadi raja di kelas dan di rumahnya sendiri tak ubahnya dia dengan ayam yang tak berbulu di depan istrinya. Namun, mereka yakin, pak guru adalah sepandai-pandai orang di dunia ini.
Kini pak guru masih berdiri di jendela. Anak-anak masih diam oleh ketakutannya masing-masing.
Kemudian datang perubahan.
Pak guru membalikkan badan dan memandang melalui kepala murid-muridnya pada Ahyat. Berkata ia disabar-sabarkan: “Barangkali engkau tak ingat lagu kebangsaanmu lagi.”
Ketakutan murid-murid menghindari pandang pak guru. Dan Ahyat tak menjawab. Ia tetap menunduk memandangi bangkunya.
“He — tulikah engkau?” teriak pak guru.
Ahyat tak menjawab juga. Ia makin ketakutan.
“Hafalkah, kau?”
Ahyat tergagap-gagap. Diangkatnya kepalanya sedikit. Menjawab pelan: “Hafal.”
“Coba ulangi syairnya.”
Gugup Ahyat mengulangi. Tapi karena biasanya ia menyan nyikannya dan kini tidak, ia tak bisa. Sebentar-sebentar ia berhenti untuk mengingat-ingat. Dan sebelum ia habis mengulangi, pak guru memotong: “Lihat. Lihat! Syair lagu kebangsaan pun tak bisa. Dan sudah di kelas empat pula. Berapa tahun engkau di kelas tiga?”
“Dua.”
Pak guru tertawa menghinakan, berseru pahit: “Mau engkau kembali ke kelas tiga lagi?”
Tak menjawab. Murid-murid mulai mengangkat kepalanya dan memandang Ahyat yang diamuk kemarahan pak guru. Kemudian: “O — mengapa engkau masih segoblok itu?” Diam sebentar. “Berapa tahun engkau di kelas dua?”
“Satu.”
“Di kelas satu?”
“Dua.”
“Otak udang! Sebaiknya engkau tinggal saja di kandang babi. Itu baik untuk babi dan untukmu sendiri. Berapa tahun engkau minta di kelas empat ini?”
Ahyat tak menjawab.
“He — jangan menunduk saja. Jawab, kataku!”
Ketakutan Ahyat membalas pandang gurunya. Cepat-cepat dan gugup ia menunduk kembali. Tapi ia tak sanggup menjawab. Dalam kepalanya bersimpang-siur bermacam-macam ingatan. Ia ingat pada ibunya, pada bapaknya, pada anjingnya, pada kebunnya — manusia, benda dan binatang yang dikasihinya. Ia ingin melarikan diri. Ia ingin kembali dan bergaul dengan manusia, benda dan binatang yang dikasihinya itu. Tapi ia tak berani pergi. Ia tinggal saja di tempat duduknya.
Dan pak guru berkata lagi dengan suara dilembutkan: “Sejarah harus dikenal betul oleh setiap murid, Ahyat. Tulis syair lagu kebangsaan itu dua puluh kali dan serahkan besok padaku. Serahkan besok sebelum arak-arakan. Kau dengar?”
“Ya, pak guru.”
“He … tanggal berapa besok?”
“Tujuh belas Agustus seribu sembilan ratus empat puluh sembilan.”
“Ulang tahun ke berapa?”
“Empat.”
“Berapa umurmu?”
“Dua belas.”
Sekarang ketakutan murid-murid agak berkurang — jauh lebih berkurang daripada sebelumnya. Sebentar-sebentar mereka mencuri pandang pada Ahyat dan pak guru. Mereka tak mengerti mengapa. Hanya merasa: pak guru sudah jadi raja. Sudah menjatuhkan hukuman pada yang bersalah. Dan tak ada alasan sama sekali pada mereka untuk takut lebih lama lagi.
“Itulah,” pak guru meneruskan, “kalau engkau anak pengkhianat. He … jadi apa bapakmu waktu revolusi?”
Ahyat tak menjawab. Ketakutan murid-murid lainnya hilang sama sekali sekarang. Sebaliknya malah. Dan dengan kegembiraan yang menumbuh mereka melihat Ahyat dengan pandang - turut menghina, dan pada pak guru dengan pandang turut bersuka hati.
“Tulikah, kau?” pak guru berteriak.
Ia tetap membisu. Dan kembali kepalanya penuh dengan benda-benda yang dikasihinya: ayahnya, ibunya, kebun dan anjingnya.
“Haruskah tongkat ini membuka mulutmu?”
Gugup Ahyat memandang gurunya. Sebentar saja. Kemudian pandangnya pecah belah terhambar ke mana-mana.
“Jadi apa bapakmu waktu revolusi?” pak guru berteriak dari belakang mejanya.
Malu, takut dan sedih ia menjawab — pelan sekali: “Mata-mata.”
Matanya merah berkaca-kaca. Tapi tak ada orang yang peduli pada matanya. Juga tak ada yang peduli pada badannya, pada kenang-kenangan yang bermain dalam kepalanya. Semua murid tertawa senang. Dan pak guru betul-betul merasa jadi guru sekarang. Ia pun turut tertawa-tertawa besar.
“Anak-anak,” katanya kemudian. Ia diam sebentar, mengawasi Ahyat lama-lama. Akhirnya meneruskan bicaranya seakan-akan Ahyat tak termasuk dalam lingkungan mereka. “Kita semua hidup atas rahmat perjuangan pemuda-pemuda Indonesia dalam melawan penjajahan Belanda dan Jepang. Juga anak mata-mata diperkenankan mengecap jerih-payah para pejuang itu.” Suaranya jadi ringan dan ditujukan spesial pada Ahyat. “Dan engkau juga, Ahyat!”
Anak-anak meriuhkan tertawanya. Pak guru lupa pada kemarahannya. Ia pun lupa pada kewajibannya sebagai guru.
“Coba…”, ia menunjuk pada Ahyat seperti menunjuk kambing yang mau dibelinya di pasar hewan, “kalau revolusi tak digerakkan, kalau para pemuda tak merelakan daging dan darahnya, barangkali dia sudah jadi tukang cuci piring Belanda. Atau tukang memandikan anjingnya. Anak-anak, engkau tak mengalami penjajahan Belanda dulu. Aku ada merasai sampai umurku yang delapan belas. Dan engkau tahu? Mereka lebih menghargai anjingnya daripada jongos atau babunya.”
Ia tertawa senang. Dan murid-murid pun tertawa senang. Sebentar. Kemudian mereka mengagumi bayangan otaknya sendiri: tentang Belanda yang berkulit putih, tentang anjing yang lebih berharga daripada manusia Indonesia. Mini — murid perempuan yang duduk di bangku terdepan — tertawa juga. Kemudian, dengan tiba-tiba saja tertawanya hilang. Diamat-amatinya pak guru yang sedang tertawa kesenangan itu. Kemudian bertanya kesungguh-sungguhan: “Pak guru, perlukah itu diajarkan juga?”
“Tentu.”
“Apa itu termasuk pelajaran sejarah juga?”
“Ya, ini termasuk pelajaran sejarah juga.”
Mini tak meneruskan pertanyaannya. Ia menengok ke belakang mencari muka Ahyat. Dan dilihatnya Ahyat sedang menunduk. Ia hanya melihat rambutnya yang tersisir rapi. Bertanya pula dengan suara keanak-anakan: “Bukankah itu menyakiti hati orang, pak guru?”
“Tidak — sama sekali tidak. Ini adalah contoh dari sejarah. Dan tiap-tiap sejarah punya contohnya.” Suaranya jadi menyelidik sekarang. “Jadi apa bapakmu waktu revolusi mengamuk?”
“Aku tidak tahu.”
“Mata-mata juga?”
“Bapak meninggal sebelum aku dilahirkan.”
Orang tak senang pada Mini. Terdengar usul dari bangku belakang — dua baris di depan Ahyat: “Teruskan, pak guru.”
Pak guru mengawasi Mini. Dan murid-murid mulai mengobrol semau-maunya. Kesunyian di kelas empat hilang. Ahyat masih tetap menunduk. Dan mukanya nampak kering dan kurus. Sebentar-sebentar hidungnya tersenik-senik seperti menahan sedan: ia merasa dianggap sebagai pengkhianat revolusi seperti bapaknya.
Pak guru memukulkan tongkatnya pada meja. Keributan berhenti.
“Dan sejarah,” katanya, “harus diketahui betul oleh tiap warganegara. Kalau orang tak tahu sejarah bangsanya sendiri — tanah airnya sendiri — engkau gampang jadi orang asing di antara bangsamu sendiri. Engkau gampang kesasar di tanah airmu sendiri. Engkau besok harus hafal lagu kebangsaan dan terutama sekali syairnya. Harus! Tahu?”
“Ya, pak guru.”
“Sebelum turut arak-arakan ke alun-alun, besok kulihat dulu.”
Kemudian bel mengaso berdering. Gairah murid-murid meninjau pelataran dari jendela dan pintu.
“Ya — engkau semua boleh keluar sekarang.”
Kini semua murid berdiri tegak, seperti prajurit dalam apel pagi. Pak guru menutup bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian keluarlah ia dengan membawa tas dan tongkatnya. Dan dengan gembira murid-murid berlompat-lompatan pergi ke luar. Semua pergi ke luar. Pelahan-lahan Ahyat, yang berjalan dengan termangu-mangu, keluar pula dari kelas.
Anak-anak pun punya musim dalam permainannya. Kini mereka sedang gila main maling-malingan. Gundu dan karet, dan perang-perangan, sudah membosankan mereka. Dan Ahyat duduk seorang diri di dekat kakus. Matanya masih juga berkaca-kaca. Dan tak diketahuinya bu guru yang mengajar nyanyi sudah ada saja di sampingnya. Ia mendengar suara: “Ahyat? Engkau tak turut main-main dengan mereka?”
Ahyat menengadahkan mukanya. Dipandangnya muka bu guru yang berdiri di sampingnya. Menunduk lagi. Kemudian menjawab: “Tidak, ibu,” katanya.
“Mengapa tidak? Aku lihat engkau turut main-main juga kemarin. Bukan?”
“Tapi sekarang tidak, bu.”
“Engkau dimusuhi lagi, bukan?”
Ahyat tak menjawab. Ia melihat langit, kemudian menunduk dalam-dalam. Tenang di tempat dekat kakus itu. Dan tak jauh dari mereka teriak dan pekik keriangan terdengar nyata.
“Anak-anak harus banyak bermain-main. Engkau juga. Ahyat! Kalau tidak, nanti engkau sakit. Engkau tak boleh sakit. Engkau tak mau sakit, bukan?”
“Tidak, bu, aku tak suka sakit. Satu kali aku jatuh sakit, dan ibu dan bapak jadi bersedih hati karenanya.”
“Kerap aku lihat engkau dimusuhi anak-anak. Dan di kelas — kata pak guru — engkau tak pernah bertanya apa-apa. Mengapa, Ahyat?”
“Tak berani, bu.”
“Tak berani? Mengapa tak berani?”
“Karena semua memusuhi aku, bu.”
“Tapi aku tak memusuhi, bukan?”
“Tidak, bu.”
“Apa ada di antara bapak-bapak guru yang memusuhi juga.” Dan kembali Ahyat tak menjawab.
“Takut engkau menjawab?” Dan waktu Ahyat tak menjawab juga bu guru mengalih pertanyaannya. “Barangkali engkau tak suka bersekolah.”
“Ibu, aku lebih suka tinggal di rumah. Di sana tidak ada orang yang memusuhi aku. Tapi di sini aku dimusuhi saja, sekalipun aku tak bersalah. Cuma bapak dan ibu tak pernah memusuhi aku. Di sini aku dianggap yang paling bodoh. Ibu dan bapak tak pernah bilang aku bodoh. Dan cuma ibu dan bapak saja yang bilang padaku: “engkau bisa memainkan piano dengan baik sekali dan suara nyanyimu pun bagus juga.”
“Memang. Memang begitu, Ahyat.” Ia duduk mendekati dan berkata lagi. “Engkau pandai memainkan piano dan menyanyi.”
“Selain bapak dan ibu cuma bu guru yang berkata begitu. Terima kasih, bu. Aku di rumah punya kebun cabai dan tomat yang bagus. Aku pun punya anjing yang kurawat baik-baik. Tapi mereka di sini bilang: “kalau tak ada revolusi engkau jadi tukang cuci piring Belanda atau jadi tukang memandikan anjingnya’.”
Bu guru memperhatikan pencurahan perasaan anak yang terpencil di lingkungannya sendiri itu. Ia tak menengahi. Dirasakannya pencurahan itu sampai ke dasar hatinya. Kemudian Ahyat meneruskan: “Kalau aku bisa meninggalkan sekolah ini dengan tiada menyusahkan ibu dan bapak,” anak itu berkata seperti pada dirinya sendiri, “pastilah sekolahan ini sudah kutinggalkan. Tapi kalau aku tak mau sekolah, bapak dan ibu mesti bersedih hati, dan bapak mesti menghadap ke depan pengadilan. Aku lebih suka jadi orang bodoh daripada jadi musuh orang, bu. Aku lebih suka bergaul dengan piano dan anjingku dan tanamanku di kebun dan dengan bapak dan ibu di rumah. Aku lebih suka bergaul dengan mereka daripada dengan kawan-kawan di sini.”
“Tidak, Ahyat. Itu tidak boleh. Engkau harus sekolah terus. Engkau tidak boleh jadi penyendiri. Itu tidak boleh. Dan kelak engkau jadi orang pandai, Ahyat, pemain musik yang pandai.”
Mata Ahyat bersinar-sinar mendengar perkataan itu. Tapi tiba-tiba sinar itu lenyap dan kembali matanya jadi murung.
“Apakah gunanya kepandaian, bu? Bapakku dulu jadi mata-mata Belanda. Semua orang tahu belaka. Tapi dengan sengaja mereka bertanya padaku dan aku harus menjawabnya. Ya, bapakku memang berdosa pada bangsa dan tanah airnya. Tapi mengapa aku dianggap berdosa juga seperti sampai sekarang. Barangkali juga sampai tiga turunan.”
“Tidak, Ahyat, engkau tak boleh berkata seperti itu. Engkau pasti jadi orang pandai. Engkau bukan anak bodoh.”
“Dua tahun aku di kelas satu dan dua tahun lagi di kelas tiga. Di kelas empat ini mungkin dua tahun lagi. Ibu, aku tak bisa mengikuti pelajaran. Pikiranku selalu melayang pada anjing dan pianoku. Dan pada ibu dan bapak. Dan pada tanamanku yang bagus. Alangkah senangnya kalau kelak aku pandai memainkan piano. Tapi mustahil. Mustahil!”
“Itu bukan barang mustahil, Ahyat. Engkau bisa jadi ahli musik besar nanti,” bu guru menghibur.
Ahyat menggelengkan kepalanya. Kemudian bersuara: “Siapakah yang mau mendengarkan permainan piano anak pengkhianat, bu?” katanya murung.
“Aku pasti mau…”
“Ya, bu guru dan bapak dan ibu dan anjingku saja.” Diam sebentar.
“Maukah engkau nanti jam lima datang ke rumahku, Ahyat?”
“Terima kasih, bu, tidak.”
“Mengapa tak mau? Aku ada lagu baru ciptaan kakakku sendiri yang dinamainya Gunung Kembar. Aku kira jadi populer lagu itu nanti. Engkau harus mempelajarinya sendiri di rumah, Ahyat.”
“Aku tak bisa datang, bu.”
“Mengapa engkau masih murung juga? Engkau harus bergembira, Ahyat. Bersendiri-sendiri itu membuat orang jadi berpikir yang bukan-bukan.”
Kini keduanya diam memandangi anak-anak yang sedang berkejar-kejaran dan gadis-gadis yang main lompat tali.
“Tidakkah engkau ingin bermain seperti mereka?”
Ahyat mengeluh.
“Tentu saja,” katanya. “Tapi lebih baik tidak.”
“Cobalah bermain-main sebentar.”
“Hanya sebentar saja mereka lupa, bahwa aku anak pengkhianat. Kalau mereka ingat lagi pasti sebagai biasanya, ditudingnya hidungku dan mereka berteriak,’sih, anak haram, kau’. Dan aku disoraki seperti lawak di atas panggung. Kemudian semua mencemooh aku. Tidak, bu — aku tak mau diperlakukan seperti itu.”
“Engkau harus memaafkan mereka itu, Ahyat.”
“Aku? Tentu saja aku memaafkan mereka, ibu.”
“Itu baik sekali. Tapi, Ahyat, aku takut engkau nanti jadi sakit karena tak mau bermain-main.”
“Bolehkah aku pergi sekarang, bu?”
“Tak sukakah engkau kukawani?”
“Terima kasih, bu, aku ingin sendirian.”
Ia berdiri, mengangguk pada bu guru. Kemudian dengan tangan tersilang di belakang ia berjalan menunduk ke pagar jalan raya melihat lalu lintas.
Bu guru mengikuti dengan pandangannya. Tak ada tergambar apa-apa pada parasnya dan matanya, seperti orang sedang kosong otak karena terkejut. Kemudian berdiri dan berbisik lemah: “Kasihan,” itu saja.
Ia pun pergi pula dari situ. Dan murid-murid lainnya terus dengan keriangannya. Akhirnya bel masuk berdering. Keributanberubah jadi seruan tak keruan. Kemudian keriaan waktu mengaso lenyap. Seorang demi seorang masuk kembali ke ruang kelasnya dengan muka merah, keringatan dan kegerahan.
Di WAKTU-WAKTU berangkat atau pulang sekolah, keduanya — Ahyat dan Mini — berjalan bersama-sama. Kini keduanya pun demikian. Mereka melalui jarak yang tak jauh. Di sepanjang jalan nampak gedung-gedung baru dan bakal pabrik minyak yang sedang dibangun.
“Ahyat,” Mini berkata, “barangkali dengan sengaja mereka mau mengganggu engkau.”
“Aku berpendapat begitu juga, Mini. Tapi biarlah. Aku sudah terbiasa. Biarlah mereka mendapat kesenangan dengan itu.”
“Tapi tak enak rasa hatiku mendengar hal yang seperti itu, Ahyat. Mengapa orang tuanmu tak kaupinta supaya mengajukan pengaduan pada direktur?”
“Biarlah, Mini, aku tak suka kalau mereka mendapat kesusahan karena itu. Dan aku sendiri pun tahu, aku tak punya hak apa-apa di tanah air ini sebetulnya. Bukankah semua orang tahu juga bapak dulu pengkhianat?”
“Ya, aku tahu juga, Ahyat. Aku sendiri tak mengerti tentang semuanya itu, tapi perlakuan terhadap dirimu tak enak terasa oleh hatiku. Maukah engkau besok sebelum arak-arakan menghadap direktur bersamaku?”
“Biarlah. Biarlah. Biarlah mereka mendapat kesenangan dari mengganggu itu, Mini. Barangkali lama-kelamaan mereka akan - lupa dan tak mengganggu aku lagi. Barangkali itulah yang lebih baik, Mini.”
Keduanya berdiam diri dan terus berjalan di terik matahari. Murid-murid lainnya telah berpencaran dalam gerombolan-gerombolan. Di sepanjang jalan ditumpuk orang besi, batu, tong-tong aspal, kayu bakar. Tanah yang mengandung minyak dan selama itu tak pernah diolah, kini mulai dibor. Beberapa pengeboran telah berdiri. Teng-teng minyak yang besar telah tersebar di seluruh daerah. Mobil dan kendaraan lain bersimpang siur. Mereka terus juga berjalan. Di angkasa, pesawat terbang menderu-deru.
“Alangkah baiknya kalau kita semua bisa hidup rukun dan damai dan tak ganggu-mengganggu,” Mini berkata pelahan seorang diri. “Kita tak perlu memaki-maki satu-sama-lain. Dan kita semua jadi saudara.”
“Ya, alangkah baiknya,” Ahyat berkata dengan suara tawar.
Segerombolan unggas terbang dan hilang di balik-balik rumpun bambu kala kedua anak itu lalu. Dan Mini berkata pula:
“Kadang-kadang binatang itu hidup lebih senang daripada kita, bukan, Ahyat? Lihatlah, gerombolan unggas itu hidup rukun dan mereka tak perlu berkelahi dan caci-mencaci seperti kita.”
“Ya,” Ahyat mengiakan.
“Engkau tak benci padaku, bukan, Ahyat?”
“Mengapa aku benci padamu, Mini?”
“Karena aku tak bisa menolong engkau di waktu mereka mengganggumu.”
“Mengapa aku akan benci, Mini? Aku takkan benci padamu. Juga aku tak benci pada mereka yang mengganggu aku. Barangkali juga sudah hak mereka menggangguku, karena bapak mereka telah berjuang betul-betul untuk tanah air kita.”
Mereka berjalan terus tanpa berkata-kata. Kedua-duanya berhadap-hadapan. Dan Mini mengulang, “engkau tak benci padaku, bukan?”
Ahyat menggeleng.
“Dan juga tidak pada mereka, bukan?”
“Tentu saja aku tidak benci pada mereka, Mini.”
“Besok berangkat bersama-sama, lagi, ya? Aku tunggu engkau di sini.”
Ahyat mengangguk.
“Kapan engkau datang ke rumah kami, Ahyat? Ayah tanya, kapan engkau datang. Ibu juga. Dan aku pun ingin engkau datang ke sana.”
“Besok habis arak-arakan, Mini. Katakan pada bapak dan ibumu.”
“Betul ya, Ahyat, ya?” Dan mereka bercerai melalui jalannya masing-masing.
Di meja makan bapak memperhatikan air muka anaknya. Kemudian pelan bertanya: “Yat, baik-baik engkau di sekolah tadi?”
Ahyat menelan nasinya cepat-cepat. Dipandangnya bapaknya. Menjawab: “Aku tak tahan. Aku tak tahan,” katanya menyerupai teriak yang tertahan-tahan.
“Diganggu lagi?” tanya bapak murung.
Ahyat tak meneruskan makannya. Dan ibu begitu juga. Dan bapak pula. Ketiganya berdiam-diam saja sekarang. Akhirnya bapak berkata lagi: “Ya, Ahyat, pikiran manusia terlampau lembek untuk meraba tiap hal yang mungkin terjadi dan yang mungkin menimpa diri seseorang. Karena itu engkau pasti mengerti, aku telah salah pilih di masa dulu waktu revolusi sedang mengamuk. Dan kini bukan saja kami — orang tuamu — juga engkau sendiri kena akibat salah pilihku itu.”
“Mengapa bapak memilih jadi mata-mata, dulu?” Ahyat bertanya dengan suara kosong.
“Ya, mengapa?” susul ibu.
Bapak tersenyum getir. Ia batuk-batuk buatan. Kulit mukanya mengendur. Kemudian menjawab terbata-bata: “Oh, Oh. Itu hanya perkataan saja. Mata-mata hanya perkataan saja. Sudah lama juga aku tahu. Itu hanya perkataan saja.”
“Bapak tak menyesal?” Ahyat menyesali.
“Aku terlampau menyesal, anakku. Itu memang betul. Sudah teranglah itu. Tapi bahwa aku jahat itu hanya fitnah saja. Itu hanya perkataan saja.”
Ahyat berdiri. Dia minum airnya. Ditinggalkan makanannya. Dan pergilah ia ke ruang sebelah kamar makan. Kemudian dari ruang sebelah itu berdengung piano memainkan Barcarole1. Bapak tak meneruskan bicaranya. Ia menunduk melihat nasinya yang belum habis. Dan ibu memperhatikan bapak. Bunyi piano terus jua mengalun menguasai seluruh suasana rumah. Akhirnya matilah piano itu. Bapak mengeluh berat.
“Ahyat bukan anak bodoh,” katanya. “Dia pun bukan penakut. Aku tahu. Dengarkanlah betapa mantap bunyi piano itu. Dan kemantapan suara itu takkan mungkin terjadi sekiranya dia tak punya keberanian. Dengarkanlah. Dia pun punya perasaan halus — dan itu sudah cukup untuk jadi seorang seniman ke
Ibu masih tetap memperhatikan bapak. Ia tak menyusulkan suaranya. Dan bapak masih juga memandangi nasinya yang belum habis. Akhirnya terdengar andante Gounod: Ave Maria2. Bapak terdiam. Ibu terdiam. Kemudian: “Aku kira, suatu kali ia akan timbul sebagai orang luar biasa.”
Ibu menajamkan pandang pada bapak. Berkata pahit: Engkau menipu pikiranmu sendiri.”
Dan bapak diam lagi sekarang.
“Aku seret engkau waktu Belanda masih jaya,” sambung ibu menyesali. “Tapi aku — sebagai juga dengan engkau dulu — tidaklah berpikir, kejayaan Belanda hanya sinar sekarat belaka. Dan kalahlah Belanda. Dia rubuh. Dan kita? Kita turut rubuh juga bersama dia. Dan kita lari ke gunung ..
“Ya, kita lari ke gunung,” bapak menyesali.
“Aku heran, siapa yang menggerakkan hatimu lari ke gunung itu.”
“Ketakutan membuat orang bertindak yang aneh-aneh. Tapi mata-mata hanya perkataan saja, kasihku. Hanya nama belaka. Ada beribu-ribu orang yang lebih jahat lagi daripada itu.” Ia batuk-batuk. “Ah, mengapa kita bongkar-bongkar lagi yang dulu-dulu? Bukankah aku sekarang bekerja sungguh-sungguh untuk kepentingan bersama? Bukankah itu sudah cukup?”
Ibu tak memperhatikan suara bapak. Ia meneruskan penyesalannya: “Kita lari ke gunung. Tapi engkau salah terka lagi. Engkau mengira Westerling3 akan menang dengan Apra-nya. Tapi Westerling rubuh juga seperti Belanda. Dan kita tak mempunyai daerah baru melarikan diri. Dan kita menyerahkan diri pada takdir. Kita turun ke kota. Dan orang kota tak berbuat sesuatu kekejaman terhadap kita. Mereka tidak merejam engkau, seperti engkau merejam anak-anak perjuangan dulu. Dan lagi…”
“Sudahlah. Sekarang aku bekerja sungguh-sungguh. Bukankah itu sudah cukup, kasihku?”
“Cukup? — Coba, hukuman ini belum habis-habis juga. Lihat! Lihat! Kita tak bisa beramah-tamah dengan para tetangga sebagaimana harusnya. Kita tak bisa bergaulan sebagai orang-orang lain. Di dalam hati kita selalu merasa bersalah. Kita selalu merasa tak berharga dibandingkan dengan mereka yang dulu berjuang untuk tanah airnya. Dan bila kita bertandang ke rumah kawan, kita merasa, mereka bersikap baik hanya di lahirnya saja. Di dalam hati mereka mencaci dan menghinakan kita. Cukupkah itu? Cukupkah itu untuk seorang manusia yang ingin hidup dengan baik di antara manusia-manusia lainnya? Kita bertiga sebagai tikus mati terkurung dalam perangkap. Coba — cukupkah itu untuk seorang manusia yang menghendaki yang lebih baik dari semua itu?”
“Apa hendak dikata…”
“Apa hendak dikata? Ini belum lagi. Lihat! Ahyat, baru anak kemarin, harus juga menerima akibat perbuatanmu.”
“Apa hendak di kata…”
“Apa hendak dikata? Gampang saja engkau berkata apa hendak dikata. Ahyat itu — barangkali ia tak punya kawan bermain di sekolah.”
Diam sebentar. Dari ruang sebelah Ave Maria masih juga berdengung dengan dibarengi suara Ahyat.
“Senang betul ia pada lagu itu,” ibu berkata lagi.
Baru bapak mengangkat kepalanya. Memandang ibu. Berkata: “Dicarinya hiburan dalam lagu itu.”
“Kasihan.”
“Ya, kasihan.”
“Kita belikan dia biola. Sudah lama dia minta biola. Apa pikirmu?”
Bapak terkejut.
“Biola?” katanya. “Jangan. Aku takut mendengar jeritan biola. Apalagi kalau memainkannya di waktu sunyi di malam hari. Jangan.”
Ibu tersenyum pahit. Bibirnya tertarik kaku. Berkata: “Aku tahu — engkau ketakutan pada perbuatanmu sendiri. Biola itu membuat engkau ingat pada pemuda berambut panjang di Puncak yang kautangkap malam hari waktu memainkan biola. Dan akhirnya pemuda itu ditembak di pinggir jalan. Ditembak oleh engkau sendiri! Dan bangkainya kaulemparkan ke hutan. Dan engkau menyaksikan perbuatan itu. Engkau sendiri mengerjakan itu. Dan engkau yang jadi saksi perbuatanmu sendiri ternuduh-nuduh selalu bila engkau mendengar biola. Bukan? Bukan?”
“Jangan belikan biola dia. Jangan.”
Ibu mengalih percakapan: “Apa jadinya anak kita nanti?” katanya lembut.
“Dia anak pandai. Dengarkan permainannya. Lagu klasik semua. Dan lagu-lagu setengah klasik — lagu seriosa. Aku merasa dia sudah dewasa dalam dadanya yang masih kanak-kanak itu.”
Dengan Ave Maria lepas hilang. Dan Ahyat muncul di pintu. Air mukanya nampak jernih dan matanya bersinar kesungguh-sungguhan.
“Ahyat, engkau bersedih hati aku lihat,” bapak berkata. “Ada juga aku rasai kesedihanmu itu bila engkau memainkan Ave Maria.”
“Bapak — besok hari raya kebangsaan.”
Dan bapak batuk-batuk. Tapi ia tak berkata apa-apa.
“Besok — kuingin memainkan lagu-lagu nasional. Tapi aku takut — aku takut dihinakan mereka.” Bapak masih juga diam dan ibu tak berani memandangnya.
“Mereka nanti pasti akan bilang, “anak pengkhianat memainkan lagu nasional!’ Alangkah inginku memainkan lagu-lagu it itu. Ingin sekali. Tapi aku tak berani. Aku takut.”
Baru ibu memandangnya. Berkata: “Kalau begitu, lebih baik tidak saja, Ahyat.”
“Tapi aku ingin sekali. Ingin sekali.”
Ia pergi lagi.
Ibu dan bapak berpandang-pandangan. Piano di ruang sebelah berbunyi lagi. Kali ini Ahyat memainkan lagu Kepada Arwah Pahlawan Kemerdekaan. Dan bapak dan ibu menunduk mendengarkan. Tiba-tiba saja suasana jadi berat — lagu itu menyiksa suami-istri itu. Kedua makhluk itu tak berpandang-pandangan lagi. Mereka merasa terpencil, sunyi merana batin dan sendirian di dunia ini. Sinar surya tak selamanya kuasa menerangi batin manusia. Demikian pula halnya sekarang. Dan lagu itu terus jua menyetan dalam jiwa keduanya. Juga dalam jiwa yang sedang memainkannya. Kemudian lagu itu mati. Kedua orang tua itu mengeluh berbareng. Akhirnya berpandang-pandangan tak seorang pun berkata-kata.
Akhirnya ibu berdiri dan mengintip ke ruang sebelah. Dan bapak memperhatikan ibu dari kursinya. Dan di waktu ibu menengok pada bapak, mukanya nampak sedih dan kepala itu digeleng-gelengkan lemah. Kemudian pelahan-lahan berjalan menuju ke kursinya dan duduk lagi.
“Kasihan si Ahyat itu,” katanya.
“Ya.”
“Piano itu dipeluknya,” ibu menerangkan.
Bapak kaget. Dan tahulah ia: anaknya merindukan sesuatu yang ia sendiri tidak tahu. Dan tak ada manusia yang bisa memuaskan kerinduannya itu. Pelahan ia berkata: “Kita pindahkan saja ia ke kota yang sejuk.”
“Engkau gila. Engkau akan lebih-lebih lagi menyiksa dia.”
“O …?”
Bapak tak bicara lagi. Ibu juga tidak. Pelahan-lahan keduanya berdiri dan pergi ke ruang sebelah melalui pintu yang tadi dilalui oleh Ahyat. Kini hanya lalat yang bermain-main di meja makan dengan riang dan sigapnya.
Ahyat bangun oleh bunyi langkah kaki di ambang pintu. Di kala dilihatnya ibu dan bapaknya, ia bangun dari tempat duduknya. Berkata: “Bapak tidak berangkat kerja?”
Bapak tersenyum oleh pertanyaan itu. Menjawab bermanis-manis: “Tiga jam lagi.”
“Ahyat!” Ibunya bertanya: “Mengapa engkau begitu sedih nampaknya? Engkau sakit barangkali?”
“Tidak, ibu, aku baru menghafalkan not-not lagu dalam kepalaku. Mengapa ibu menyangka aku sakit?”
“Aku lihat engkau begitu lemas.”
“Aku sehat. Sungguh-sungguh sehat. Bu, aku belum lagi dengar si Minggu.”
“Sedang tidur di kandangnya. Dia sudah diberi makan tadi. Aku sendiri yang memberinya makan.”
Bapak dan ibu duduk di dipan. Ahyat duduk di bangku piano dan ia menghadapi mereka itu. Kemudian bapak bertanya sayang: “Engkau ingin punya apa. Ahyat?”
Air muka Ahyat berseri-seri. Menjawab senang: “Sudah lama aku ingin punya biola, bapak.”
“Biola!” bapak hampir memekik. “Aku tak bisa membelikan biola untukmu. Sayang. Sungguh sayang.” Ia terdiam.
“Sayang. Justru itulah yang kuinginkan.”
“Harmonika, barangkali?” ibu menyusulkan suaranya.
Ahyat menggeleng. Berkata pelahan: “Aku tak begitu suka pada bunyi harmonika. Kurang dalam dan kurang tinggi bunyinya. Harmonika terlampau datar. Hanya biola aku i ingin memainkannya. Mengapa tak bisa, bapak?”
“Aku ngeri mendengar jeritan biola,” bapak berkata.
“Justru jeritannya itulah yang kusukai, bapak.”
Dan bapak berdiri. Pelahan-lahan ia mendekati Ahyat. Ditepuk-tepuk bahu Ahyat. Tapi ia tak berkata-kata apa-apa.
“Suling, barangkali?” ibu bertanya.
Ahyat menggeleng. l.
“Hanya biola yang aku hendaki,” Ahyat berkata. “Mengapa biola tak dapat? Bukankah ada juga biola yang murah?”
“Aku takut mendengarkan teriak biola. Sudah kukatakan juga tadi, Ahyat.”
Ahyat diam dan berpikir. Kemudian berkata lagi: “Kalau begitu tak usah bapak belikan. Piano ini sudah cukup untukku.” Ia diam. Di punggunginya kedua orang tuanya. Ia menghadapi piano sekarang. Dan jari-jarinya mulai menari-nari di atas tuts-tuts. Kemudian membubungkan iringan bersama dendang pelahan dari mulut Ahyat menyanyikan Ave Maria, lambat-lambat dan pelan, kemudian menggairahkan seperti sedang berteriak dan memanggil-manggil dan mencapai-capai sesuatu yang takkan tercapai oleh suara manusia.
Bapak mengawasi kuduk Ahyat. Ibu mengawasi bapak. Kemudian, di antara lagu yang sedang membubung, ibu berbisik: “Betul-betul engkau tak kuasa membelikan biola?”
“- Bapak tak menjawab. Dengan gerak lesu ia kembali ke dipan, duduk, diam termenung-menung mendengar lagu yang sedang dimainkan. Pada mukanya nampak suatu pergulatan dalam ingatannya. Raut mukanya tertarik-tarik kaku. Dan di antara lagu yang sedang membubung itu ia menarik nafas keluh dalam-dalam. Ibu memperhatikan bapak. Kemudian memperhatikan Ahyat. Ia pun menarik keluh nafas. Dan Ave Maria telah mencapai puncak teriakannya. Kemudian mengendur, terengah-engah seperti nafas orang kepayahan habis lari. Akhirnya lagu itu ..jadi menyerah menghiba-hiba. Kemudian lagi matilah bunyi piano dan nyanyian pelahan itu.
“Ahyat!” suara bapak.
Ahyat menengok. Mukanya berseri-seri mengharapkan pujian.
“Engkau sudah cukup pandai memainkan lagu gereja itu. Aku tak sanggup mendengarkannya. Sungguh — kecakapanmu sudah cukup. Aku tak tahan mendengarkannya. Apa pula kalau biola yang engkau mainkan dengan iringan piano besar. Aku takkan sanggup mendengarkan. Pemuda itu sedang memainkan lagu itu juga waktu…” Bapak kaget. Ia tak meneruskan bicaranya.
“Mengapa pemuda itu, bapak?” Ahyat bertanya ingin.
“Tidak. Tidak apa-apa. Ahyat. Mainlah terus. Mainkan aku lagu yang riang. Mau engkau, bukan?”
“Siapa pemuda itu?” Ahyat mendesak.
Ibu memperhatikan bapak. Dan bapak menyenyum-nyenyumkan bibirnya minta kepercayaan.
“Siapa pemuda itu?” Ahyat mendesak.
“Apa aku tadi bicara tentang pemuda?”
“Ya, bapak bilang, pemuda itu sedang memainkan lagu itu juga.”
“Ya-ya, memang pemuda itu memainkan Ave Maria juga waktu aku datang padanya. Dialah yang tadinya memiliki piano itu. Tadinya dia kekurangan uang dan menawarkan pianonya padaku. Dan waktu piano itu sudah kubayar, ia menangis. Dirangkulnya papan tuts. Kemudian bilang, “Biarlah aku memainkan Ave Maria dulu sebelum berpisah dengan kekasihku ini.” Begitulah katanya. Dan sehabis dimainkannya, aku bertanya mengapa berat betul hatinya berpisah dengan benda yang tak bernyawa itu.” Bapak diam, tak menyambung ceritanya.
“Alangkah cintanya dia pada piano,” seru Ahyat kagum.
“Ya, Ahyat. Ia bercerita, bahwa sebelum kedaulatan diserahkan oleh Belanda pada bangsa Indonesia, ia bertunangan dengan seorang gadis Belanda. Waktu kedaulatan diserahkan famili gadis itu pulang kembali ke Nederland. Dan gadis itu harus turut pergi. Dan sebagai kenang-kenangan piano itulah yang ditinggalkan gadis itu pada pemuda itu. Kisman nama pemuda itu. Di bawah piano itu ada tertulis namanya juga. Dan waktu ia habis bercerita ia minta memainkan lagu itu pula untuk penghabisan kalinya. Aku perkenankan permintaannya. Aku terharu juga oleh bagusnya permainannya. Dan waktu lagu itu selesai, ia memandang aku seperti minta kasihan. Juga waktu piano itu diangkat ke atas gerobak sudah jauh dari tempatnya, aku lihat ia berdiri di tengah jalan memandangi pianonya, sampai aku tak melihat badannya lagi.”
“Kasihan pemuda itu, bapak,” kata Ahyat pelahan sambil menundukkan kepala.
Ibu memandang bapak dengan pandang tak mempercayai. Tapi bapak tak mengerti akan pandang itu. Berkata ia pada anaknya: “Karena itu engkau wajib memelihara piano itu baik-baik.”
“Tentu, bapak.” Ia diam sebentar mengawasi paras bapak. Bertanya hati-hati. “Tapi bapak takut pada teriakan biola?”
“Karena itu mengenangkan aku pada masa buruk yang lalu, Ahyat.”
“Hebatkah masa buruk itu, bapak?”
“Ya — engkau tak perlu mengetahui, masa buruk apa yang kualami waktu itu. Itulah sebabnya aku takut mendengar teriakan biola.”
“Sedihkah hati bapak bila mendengar teriakan biola?”
“Sedih, Ahyat. Dan takut juga. Dan khawatir juga. Dan gugup juga.”
“Kalau begitu tak perlu benar aku punya biola.”
Nampak bapak tersenyum mendengar ucapan anaknya. Didekatinya Ahyat. Diciumnya pada rambutnya, berkata kasih, “engkau anak bakti. Engkau mengerti penanggunganku, Ahyat. Aku tak bisa tinggal di rumah di mana selalu dimainkan biola.”
“Aku takkan membunyikan biola di rumah ini, bapak.”
Kemudian bapak pergi. Dan ibu berkata lembut: “Engkau tak makan lagi, Ahyat?”
Bunyi piano mendengung-dengung di udara siang yang menyesakkan nafas oleh panasnya. Ibu merenungi anaknya. Merenungi saja. Dan kedua makhluk itu tak tahu apa yang sedang dipikirkannya sendiri.
Gong-gong anjing membangunkan Ahyat dari tidurnya. Kemudian di depan ranjang terdengar suara yang manis: “Bangun, Ahyat. Gurumu dan Mini datang kemari.”
Ahyat melompat bangun. Dari luar terdengar olehnya suara tertawa bu guru dan Mini. Segera ia pergi ke kamar mandi, berdandan, menemui.
Kemudian: “Kami datang, Ahyat! Kami i ingin main musik dengan engkau,” kata bu guru.
“Engkau suka, bukan, Ahyat?” tanya Mini. “Bu guru membawa biola.”
“Biola?” seru Ahyat kaget.
“Mengapa engkau kaget mendengar biola, Ahyat?”
Ibu yang turut juga menemui memandangi anaknya dengan pandang hati-hati. Tapi ia tak berkata apa-apa. Bu guru menyambung: “Aku tahu, engkau terlampau girang karenanya. Bukankah…” ia memandang ibu, meneruskan. “Sudah lama — anak nyonya ingin mempunyai biola.”
“Ya, nona guru, Ahyat memang ingin punya biola,” kata ibu dengan suara gembira tapi penuh kekhawatiran.
“Bolehkah kami main, nyonya?”
“Silakan. Silakan.” Ia memandang Ahyat. “Bawa bu guru ke ruang sebelah, Ahyat.”
Mereka bertiga masuk ke ruang sebelah.
“Kita mainkan Kepada Arwah Pahlawan Kemerdekaan, Ahyat. Engkau yang memainkan piano. Aku biola. Mini yang menyanyi.”
“Bu guru, biarlah aku saja yang main di piano. Biola itu tak perlu dibunyikan, dan kita bertiga menyanyi bersama.”
Lagu Kepada Arwah Pahlawan Kemerdekaan segera berdengung untuk segera mati kembali. Lagu yang lain menyusul. Mati pula. Berganti-ganti lagu dimainkan. Akhirnya sampai juga mereka pada lagu-lagu sekolahan.
“Lebih baik kita barengi dengan biola,” bu guru mengusulkan.
“Ya, lebih baik dengan biola, Ahyat,” Mini menyambungi.
Ahyat diam merenung-renung.
“Biola,” bisiknya. “Perlukah biola itu dibunyikan juga?”
“Tentu saja, Ahyat, dan Mini sendiri yang menyanyikannya. Aku yang memainkan biola dan kau di piano.” Dan bu guru melihat suatu perubahan pada air muka Ahyat. “Mengapa engkau terdiam? Tak sukakah engkau mendengarkan biola? Bukankah lebih baik dengan biola, Mini?”
“Tentu saja,” Mini berseru riang. Tapi di kala dilihatnya Ahyat tak menyambut keriangannya, ia mendekati sahabatnya. Bertanya: “Sakitkah engkau, Ahyat?”
“Aku tak suka mendengarkan biola.”
“Apa?” bu guru berseru. “Bukankah engkau selalu ingin mempunyai biola? Engkau bilang juga dulu, engkau ingin memainkan biola. Dan sekarang engkau tak suka. Barangkali engkau patah hati padaku, Ahyat?”
“Tidak! Tidak!”
“Barangkali patah hati padaku, Ahyat?” Mini menyusulkan suaranya.
“Tidak, Mini. Tidak, bu.” Dilemparkan pandangnya melalui jendela.
Keriangan dalam kamar itu lenyap. Suasana menjadi lesu. “Mengapa engkau tak suka pada biola, Ahyat?” bu guru bertanya.
“Aku — aku tak sanggup mendengarkan jeritan biola.”
“Barangkali engkau sakit,” bu guru.
“Ya, barangkali engkau sakit, Ahyat,” Mini dengan suara kasihnya.
“Kalau aku mendengar jeritan biola, dan biola itu memainkan lagu Ave Maria juga dalam iringan piano, aku ingat pada suatu kesedihan yang tak dapat kuterangkan.”
“Engkau ingat pada kawan-kawan yang memusuhi engkau, Ahyat?” bu guru bertanya dengan suara kasihan.
“Ya, lagu yang dimainkan oleh biola, lagu Ave Maria itu, selalu mengingatkan daku pada kawan-kawan yang sudah memusuhi daku. Maaf, bu, aku tak bisa mendengarkan jeritan biola. Barangkali di kemudian hari bisa mendengarnya lagi dan memainkannya sendiri pula.”
Bu guru menarik nafas keluh. Kemudian: “Ahyat, tadinya biola ini akan kuberikan padamu. Engkau ingin sekali punya biola sendiri dan memainkan segala lagu yang engkau sukai. Bukan? Tapi engkau sekarang tak suka.”
Bu guru membuka peti biola. Dan Ahyat memandangi biola itu dengan mata yang menyinarkan kegairahan. I Dan bu guru melihat juga hal itu.
“Aku tahu, Ahyat, ingin juga engkau memiliki biola ini. Mengapa engkau tak suka?”
Ahyat tersenyum malu. Tiba-tiba senyumnya hilang.
“Barangkali karena engkau malu menerimanya?” Ahyat menggeleng. “Mengapa engkau tak suka?” Keinginan mau tahu timbul dalam dada bu guru. “Mengapa?” desaknya kemudian.
“Bapak tak sanggup mendengarkan jeritan biola,” katanya. “Dan aku telah berjanji takkan memainkan biola di rumah ini. Bapak jadi terkenang pada suatu masa menderita bila mendengarnya, apalagi kalau biola itu memainkan Ave Maria.”
“Tapi biola ini boleh engkau simpan di rumahku, dan engkau boleh membunyikannya di sana. Bukankah begitu, Mini?”
“Dan kita main di rumah bu guru tiap sore, Ahyat. Engkau juga. Dan aku juga.” Ahyat mengangguk, — anggukan yang kosong.
“Atau aku tinggalkan saja biola ini di sini, dan bila engkau ingin mempergunakannya, engkau datang saja ke rumahku?”
Ahyat mengangguk. Kemudian bu guru memainkan lagu-lagu sekolah di piano. Ahyat dan Mini menyanyi bersama-sama. Suasana riang timbul kembali. Lebih dari satu jam mereka main musik. Kemudian sampai juga saatnya mereka harus berpisah. Lengang pula kamar itu. Ahyat melihat-lihat biola yang sudah lama di kenang-kenangkannya dalam harapannya. Kini benda itu telah dimilikinya betul-betul. Ingin ia segera mempergunakannya. Tapi anjingnya si Minggu telah menggonggong-gong-gong pula: bapaknya datang dari kantor.
MALAM ITU Ahyat meninggalkan tempat tidur. Dibawanya biola pemberian bu guru. Ia pergi ke pojok pekarangan — suatu tempat yang terjauh dari rumah. Mula-mula ia duduk seorang diri di bawah pohon jambu. Ia termenung-menung oleh ketakutan dan keinginan menggesek biola. Dalam kepalanya terbayang bu guru dengan segala kemanisannya. Terbayang juga Mini dengan keramahannya. Ia ingin segera menggabungkan diri dengan mereka dan memainkan Ave Maria bersama-sama, dengan piano dan biola. Mini pandai memainkan harmonika. Dan Mini akan menyanyikan lagu-lagu koboi. Tapi malam telah menghalang keinginannya itu. Ia ingin menggesek biola itu seorang diri. Pelahan dibukanya biola. Diciumnya biola itu dengan kasihnya. Pelahan dan hati-hati digeseknya. Bunyi yang lemah mendayu-dayu terdengar di tengah malam buta. Sebuah lagu membubung ke udara malam yang dingin. Dan suasana yang mati berubah jadi suasana yang mendesak-desak dalam dada. Ahyat berhenti menggesek. Kembali ia duduk di tanah. Di atas cuma ada bintang yang berkedip-kedipan. Dan bila awan lalu, bintang-bintang itu hilang tersaput dan kemudian muncul pula. Kemudian ia berdiri lagi. Bunyi biolanya kembali membubung ke udara. Dan keasyikan itu telah menghilangkan ingatannya, bahwa ia takkan memainkan biola. Ia tak ingat lagi. Ia turut terseret oleh lagu yang dimainkannya sendiri. Malam hilang. Dingin hilang. Langit di atas hilang. Juga bintang-bintang “hilang. Alam pun hilang. Yang ada hanya suatu ketidakadaan. Ahyat terkejut. Sekejut badannya jadi dingin dan menggigil. “Ahyat!” suara bapaknya. “Jadi engkau mainkan juga biola itu?” Ahyat tak menjawab. Ia mengeluh. “Aku mengganggu engkau, bukan? Ya, tentulah aku mengganggu engkau,” kata bapaknya. Ahyat tak juga bicara. . “Begini malam, Ahyat, dan engkau meninggalkan tempat tidur — hanya untuk dapat menggesek biola.”
“Bapak, aku menyiksa ingatanmu, bukan?” Ahyat merintih. Dan waktu rintihnya hilang, terdengar dua rentetan nafas besar yang berbareng. Dan bintang di atas mengerdip-ngerdip juga aman dan damai. Bapak batuk-batuk sebentar. Kemudian terdengar pula nafasnya yang besar-besar. Dan antara sebentar saja angin desir malam meniup lembut.
“Mari kembali, Ahyat,” kata bapak. “Barangkali lebih baik engkau menggesek biola di rumah.”
“Marahkah bapak?”
“Mari masuk, Ahyat,” kata bapak dengan suara lembut berisi kegemasan.
“Bapak marah, barangkali?”
Tak ada suara lagi. Bunyi peti bila ditutup terdengar. Kemudian menyusul bunyi langkah kaki.
Di ruang tempat piano, duduk ibu di dipan — menangis. Dan waktu bapak dan anak terdengar olehnya mendekati rumah, segera matanya dihapusnya kering-kering. Ia menjenguk ke luar pintu. Bapak berjalan di depan dan langsung saja merebahkan badannya di dipan. Kemudian muncul Ahyat dengan muka pucat menjin-jing biolanya. Ia berdiri lama-lama — tak tahu apa yang harus diperbuatnya.
Ibu menghampiri Ahyat. Berseru: “Ahyat!” Diam sebentar, akhirnya: “Bukankah engkau sudah mengatakan takkan menggesek biola? Bukankah baru tadi siang engkau berkata seperti itu?”
Bapak rebahan di dipan. Matanya tertutup. Dan nafasnya besar-besar dan teratur. Kadang-kadang nafas itu dihembuskan keras-keras seperti orang sedang meniup-niup.
“Aku ingin melagukannya di biola,” kata Ahyat pelahan minta maaf.
“Bukankah engkau tahu, biola itu membuat ingatan bapakmu terganggu?”
“Aku tahu, ibu.”
“Mengapa engkau memainkan juga?”
Bunyi kerikit dipan mematikan percakapan: antara ibu dan anak. Bapak bangun dan menghampiri Ahyat. Diambilnya peti biola dari tangan Ahyat. Kembali ia pergi ke dipan. Dibukanya peti itu dan dikeluarkan biola dari dalamnya. Kedua tangannya memegangi kedua ujung benda itu. Kemudian diangkatnya dengkulnya, ditekankan pada perut biola. Dan Ahyat memekik: “Jangan patahkan biola itu!”
Ibu terkejut. Ia terpaku di lantai. Biola mulai berdetak, dan ibu dan anak melihat biola itu telah hancur. Pelan-pelan Ahyat pergi ke pintu — memasuki malam yang hitam.
“Ahyat!” ibu memanggil.
Bapak pergi ke kamarnya kembali.
Ibu keluar, masuk ke dalam malam yang hitam. Didapatinya Ahyat sedang duduk tersedan-sedan di teritis. Ibu duduk di sampingnya.
“Biola pemberian gurumu itu telah hancur sekarang. Bapakmu marah. Engkau kehilangan. Ahyat!”
Tapi Ahyat tak menjawab. Ia meneruskan sedan-sedannya.
“Ahyat,” ibu berkata pelahan, “bapakmu bangun seperti orang kaget waktu mendengar jeritan biolamu itu. Kemudian bapakmu duduk di tepi ranjang. Berkali-kali ia mengangkat kepalanya yang selalu mau tunduk saja dan aku memperhatikan dia. Kemudian bapakmu berkata: “Lagu itu hanya mungkin begitu ngeri jika dimainkan oleh si Ahyat’. Buru-buru ia bangun dan pergi ke tempat tidurmu. “Engkau tak ada,’ katanya. Ia kembali ke kamar dan bertanya padaku. “Dari mana Ahyat dapat biola? Dan aku bilang. “Dari gurunya.” Waktu itu aku pun heran, Ahyat, mengapa engkau jadi aneh betul malam itu: tengah malam meninggalkan tempat tidur, pergi ke pojok kebun, hanya untuk dapat memainkan Ave Maria pada biola. Mengapa ingin betul engkau memainkan lagu itu?”
“Ibu. Siapakah yang mengerti mengapa orang menyukai sesuatu lagu?”
“Untukku sendiri, Ahyat, tak ada satu pun lagu yang kusukai benar-benar. Sekalipun engkau suka pada lagu itu, Ahyat. Engkau tahu, bukan, lagu itu dibenci oleh bapakmu. Bukan dibenci saja — lagu itu menjadi momok yang menakutkan bagi bapakmu. Engkau tahu juga, bukan, lagu itu selalu membangkitkan kenang-kenangan yang menyedihkan dalam diri bapakmu. Mengapa engkau mainkan? Dan di malam hari pula?”
“Aku tidak tahu mengapa, ibu. Aku ingin sekali memainkannya. Dan aku pun tak mengerti mengapa aku ingin sekali memainkannya. Sekarang…” ia memuaskan sedu-sedannya, “— biola pemberian bu guru itu telah rusak. Bu guru pasti akan tak bersenang hati karenanya. Dan dia takkan mengajar aku memainkan lagu-lagu yang bagus lagi. Apakah kesalahan Ave Maria? Mengapa aku tak boleh memainkannya? Mengapa bapak tak boleh mendengarkannya? Dan biola dari bu guru itu dihancurkan bapak pula.”
“Ingin betulkah engkau memainkan lagu itu pada biola, Ahyat?”
“Tentu, ibu. Aku sudah mencari kesempatan memainkannya di tengah malam agar bapak tak mendengarnya.”
“Mengapa engkau memainkannya begitu keras?”
“Keras? Pelahan sekali aku memainkannya, ibu.”
“Pelahan? Dari kamar kudengar juga biolamu menjerit-jerit.”
Ahyat diam. “Sudahlah, Ahyat. Mari tidur. Sudah malam sekarang. Besok engkau masuk sekolah, bukan?”
Hari raya nasional selalu dirayakan secara besar-besaran oleh tiap orang. Baju yang paling baru dikenakan. Dan dengan muka berseri-seri orang menghadiri tiap keramaian yang diadakan. Semua merayakannya, juga buaya-buaya dan tukang-tukang copet tak lupa pada hari kebangsaannya. Semua orang mabok. Juga mereka yang dulu memusuhi kemerdekaan negaranya sendiri. Dan terutama sekali mereka yang mempunyai kenang-kenangan bagus di masa revolusi — di masa mudanya.
Tetapi seperti di hari-hari nasional lainnya, selalu keluarga bapak Ahyat merasa lebih terpencil. Terutama Ahyat sendiri. Demikian pula halnya kali ini. Bersamaan dengan menggelegarnya bunyi meriam di alun-alun seluruh isi rumah bangun dan membersihkan diri.
Hasrat Ahyat yang terbesar dalam hidupnya — turut perlombaan memainkan lagu-lagu nasional di piano — tiadalah sampai.
Sebaliknya ia harus menyerahkan hukumannya: menulis syair lagu kebangsaan dua puluh kali. Dan kawan-kawannya tertawa-tawa gembira melihat kekecewaan yang tergambar pada paras Ahyat. - Hari itu anak-anak tak mendapat pelajaran. Sebentar saja bu guru yang mengajar menyanyi datang padanya dan bertanya mengapa matanya merah dan bengkak. Dan Mini pun menanyakan mengapa matanya jadi begitu. Ia menjawab, “semalam aku menangis.”
Kemudian meluncurlah cerita tentang Ave Maria. Dan bu guru dan Mini menunduk. Ada sesuatu yang meruyak di dalam dada. Tapi semua itu lenyap kala bel sekolahan berdering. Murid-murid bersorak-sorak masuk ke dalam ruang kelasnya masing-masing. Sebelum berangkat arak-arakan suasana tiap kelas tak bisa dikendalikan lagi. Semua murid berpakaian serba baru. Sebagian dari anak-anak menyindir-nyindir Ahyat. Ahyat tak kuasa membela diri atas hujan sindiran itu. Mini mendengarkan segala sindiran itu dari bangkunya. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Antara sebentar ia menengok ke belakang ke tempat duduk
Ahyat. Kadang-kadang keduanya bisa berpandang-pandangan.
Dan pada mata kanak-kanak itu memancar sesuatu yang tak dapat dipahami. Semua itu sudah tak tertahankan lagi oleh Ahyat. Tiba-tiba saja ia merasa tak dapat lagi membiarkan dirinya dianak-tirikan. Meledaklah keberaniannya yang selama itu masih terpendam saja — keberanian yang mendekati kenekatan. Ia melompat berdiri di bangkunya dan berteriak tinggi: “Tidakkah ada sedikit keadilan dalam hatimu sekalian?”
Dan sebagai periskop kapal silam kepalanya ditengok-tengokkan ke kiri dan ke kanan. Suasana kelas tiba-tiba jadi berubah. Sebentar semua orang diam. Dan murid-murid lainnya tak berani menentang pandang Ahyat yang berapi-api. Tenang. Diam.
“Bukankah kita tidak perlu memusuhi seseorang?” Mini berseru.
Ketenangan dan kediaman itu pecah. Anak-anak meribut kembali. Dan Ahyat masih juga berdiri di bangkunya. Akhirnya salah seorang guru yang mengajar ilmu hayat berkata mengancam: “Turun!” teriaknya. “Sini bukan panggung sandiwara. Turun!”
“Aku minta keadilan,” kata Ahyat membabi buta.
“Dari mana engkau mendapat pelajaran tentang keadilan?”
Ahyat tak menjawab. Semua mata tertuju pada Ahyat. Dan mata Mini berkaca-kaca memandangi kawannya yang nekat itu.
Pelahan-lahan pak guru datang menghampiri. Dipegangnya tangan Ahyat dan ditariknya kasar. Ahyat terlompat ke lantai dan badannya menumbuk bangku meja.
“Ini bukan kumidi tahu? Ini sekolahan — tempat murid mempelajari pengetahuan dan budi pekerti. Engkau tahu juga itu.”
Tangan pak guru yang perkasa itu mencekam kuduk murid nakal itu dan diayun-ayunkan ke depan dan ke belakang. Dan Ahyat pontang-panting oleh tangan perkasa itu. Dadanya sesak. Ia tersedan-sedan. Akhirnya terdengar juga tangisnya. Dan air matanya meleleh bengkok-bengkok di pipinya. Ya, ia menangis — menangis anak yang terpencil minta keadilan di lingkungannya sendiri. Dan anak-anak lainnya tertawa-tawa girang. Sebagian diam-diam kasihan melihat Ahyat.
Di tempat duduknya, Mini menutup matanya dengan sapu tangan. Kemudian kepalanya diletakkan di meja bangkunya. Di antara keriuhan itu samar-samar terdengar ia tersedan-sedan. Dan kawan-kawan yang ada di dekatnya terdengar bercakap-cakap: “Mengapalah Ahyat jadi nekat?”
“Dan pak guru jadi benci padanya?”
Tapi Mini tak mau mendengarkan percakapan itu. Ia ribut merasakan sesuatu yang sedang mengamuk dalam dadanya. Guru-guru dari kelas lainnya yang datang melihat, terdiam mengawasi peristiwa itu. Mereka mendapat masalah baru dalam pendidikan. Dan bu guru — guru nyanyi — memandang kawan-kawannya seorang demi seorang minta pertimbangan. Tapi pertimbangan itu tak diperolehnya. Kemudian ia menghampiri Ahyat dan berdiri seperti tonggak.
“Ahyat, engkau tak boleh bersikeras,” katanya keibu-ibuan.
Ahyat menggeleng-gelengkan kepala dan lehernya tegang oleh kemarahan. “Biar,” katanya nekat. “Aku tidak bisa. Aku: tidak bisa. Aku tidak mau diperlakukan begini.”
Dan guru ilmu hayat yang menanganinya tertawa mengejek.
“Suruh dia berdiri di belakang papan tulis sampai arak-arakan selesai,” katanya kasar dan menggigit.
Lemah lembut bu guru berkata menghibur: “Engkau harus berani, Ahyat! Engkau harus berani bersabar hati. Engkau menyukai Ave Maria bukan? Bukankah dalam lagu itu terkandung keberanian bersabar hati, dan dengan diam-diam mencapai-capai sesuatu yang tinggi? Bersitegang ini bukan keberanian. Ini tindakan orang habis akal. Bukan?”
“Sekali lagi Ahyat menggelengkan lehernya yang tegang.
“Tidak,” katanya membatu.
“Berdiri di belakang papan tulis, setan kecil!” teriak pak guru memerintah dan dipelototinya Ahyat tajam-tajam.
“Tidak,” suara yang pasti dan membatu.
“Apa? Tidak?”
Tak menjawab.
“Harus aku memaksamu?”
Tak menjawab.
“Baik,” kata pak guru mengandung ancaman. “Engkau akan mendapat angka jelek untuk kelakuanmu.”
“Aku tak perlu angkamu.”
“Apa peduliku? Aku tak perlu dianak-tirikan di sini.”
“Adakah kami menganak-tirikan engkau di sini?”
“Mengapa mereka menyindir-nyindir aku dan memanggil-manggil aku anak pengkhianat?” Ahyat berkata kacau.
“Karena engkau memang anak pengkhianat. Bukankah begitu?” kata pak guru menekankan. Dan dalam suaranya terasa suatu kemenangan.
Kini kemarahan Ahyat sampailah di puncaknya. Ditariknya botol tinta dari bangku tulisnya dan dilemparkannya ke muka pak guru.
Muka pak guru yang merah oleh kemarahannya sendiri, tiba-tiba saja jadi biru oleh tinta. Dan tinta itu menetes-netes pula di seluruh baju dan celananya.
Sunyi-senyap ruang itu. Dari luar kelas masuk keriuhan anak-anak yang sedang berbaris menuju ke alun-alun. Pak guru tak berkata apa-apa dan disekanya matanya dengan saputangan. Dan saputangan itu turut jadi biru kena tinta. Kemudian pelahan-lahan ia keluar dari ruang dan hilang dari pemandangan.
Ahyat tinggal berdiri di tempatnya dan ditentangnya seluruh benda yang ada di kelas itu. Kawan-kawannya telah habis pergi arak-arakan ke alun-alun. Dan Mini tak ada nampak olehnya. Bu guru yang masih juga ada di dekatnya dan juga kena percikan tinta berkata menyesali: “Ahyat,” katanya lembut, “aku tidak menyangka engkau akan berbuat seperti itu.” — Tapi Ahyat tak peduli lagi pada kelembutan siapa pun juga. Ditentangnya bu guru dengan pandang nekat, berkata kasar: “Aku tak peduli lagi. Aku tadi bilang juga, mengapa aku dianaktirikan? Aku tak mau dianak-tirikan. Aku tidak mau.”
“Tapi engkau harus memikirkan akibat segala perbuatanmu itu.”
“Aku tahu. Aku tahu.”
“Apa yang akan terjadi dengan dirimu?”
“Penjara kanak-kanak,” kata Ahyat hampa.
“Ya —aku tahu juga. Engkau mesti masuk ke penjara kanak-kanak, Ahyat. Itulah yang sangat kusesalkan. Kita tak bisa memainkan Ave Maria bersama-sama. Dan sekalipun bapakmu tak suka mendengarkan lagu itu, kita bisa. memainkannya di rumahku, atau di rumah Mini, bukan?”
“Apalah gunanya sekarang? Bapak melarang aku menyimpan biola di rumah. Dan tiap saat timbul keinginanku memainkan biola — tak boleh aku memainkannya. Dan biola yang baru kuterima itu telah membangkitkan kemarahan bapak. Benda yang sangat kukasihi telah dihancurkannya, dengan begitu saja. Biar! Biar! Aku tak peduli lagi pada penjara kanak-kanak.”
Bu guru memandang Ahyat dengan diam-diam. Ada ia merasai sesuatu pergulatan dalam diri muridnya — murid yang dicintainya karena jarang di antara kawan-kawannya mencintainya.
Mini muncul di pintu dan mendekati mereka.
“Mini, engkau tak turut pergi arak-arakan?”
Mini hanya menunduk. Kemudian ia memandang Ahyat. Dan Ahyat memandangnya. Dan dalam pandangnya itu memancar kasihnya — seperti biasanya.
“Mengapa engkau tak turut pergi?” bu guru bertanya lagi.
“Tidak, bu.” Sekali lagi ia memandang Ahyat. “Lebih baik aku tak pergi.”
“Tidakkah engkau merugi tak turut pergi?”
“Tidak, bu.” Dan sekali lagi ia memandang Ahyat.
“Dengan sendirinya Ahyat tak bisa pergi, Mini,” bu guru berkata. “Aku kira dia harus tinggal di penjara kanak-kanak.”
“Mengapa dia harus masuk ke penjara, bu?” Mini bertanya dengan suara setengah menangis. “Bukankah Ahyat yang dimusuhi mereka?”
“Ya, Mini, tapi dia telah melemparkan botol tinta ke muka gurunya.”
“Dan mereka? Apa tidak dihukum mereka yang memusuhinya?”
Bu guru terdiam memikir. Nampak ia menggeleng. Kemudian ia berkata pelahan-lahan, sungguh-sungguh dan hati-hati:
“Ya, Mini, mereka itu sesungguhnya tak boleh memusuhi Ahyat. Ahyat tak mempunyai kesalahan apa-apa. Dia tidak boleh dimusuhi. Begitulah harusnya. Kalau ada kesalahan itu, bapaknyalah yang salah. Tapi kesalahan bisa dimaafkan, bukan? Tiap kesalahan bisa dimaafkan. Tapi Ahyat tak bersalah sama sekali. Kesalahannya ialah, ia telah melempar muka gurunya dengan botol tinta.”
Ahyat berdiam diri mendengar percakapan itu. Kemudian dengan diam-diam pula ia duduk di bangku. Dan Mini meneruskan: “Bolehkah aku turut masuk ke penjara, ibu?”
“Tentu saja tidak, Mini. Orang tuamu takkan mengizinkan dan direktur penjara pun takkan mengizinkan. Tapi engkau boleh mengunjungi Ahyat di hari-hari yang telah ditentukan. Aku pun akan datang mengunjunginya kelak.” Ia memandang Ahyat. Berkata lagi, “bukan begitu, Ahyat?”
Ahyat mengangguk.
“Di dalam penjara pun ada disediakan biola dan piano, Ahyat. Dan engkau boleh memuaskan hatimu memainkan Ave Maria di sana.”
Baru Ahyat berkata pelahan-lahan: “Kalau begitu, biarlah aku tinggal di sana saja. Tak ada kepuasan untukku daripada memainkan Ave Maria dengan biola, di malam hari, dan sendirian pula dan mulutku berdendang pelan — pelahan sekali.” Ia diam.
Bu guru diam. Dan Mini pun diam.
Arak-arakan itu dilangsungkan menurut rencana semula.
Semua murid dari sekolahan kota minyak4 yang kecil itu turut arak-arakan belaka. Semua berair muka berseri-seri berangkat” ke alun-alun. Sekali lagi meriam berdentum. Hanya seorang murid saja ketinggalan: Ahyat. Dan hanya seorang murid saja tak suka pada arak-arakan itu: Mini. Sebentar tadi Ahyat diangkat oleh mobil hijau tanah — mobil polisi — ke penjara kanak-kanak. Bu guru ikut pergi dalam mobil itu — mengantarkan. Dan Mini juga.
“Ibu, sampaikan pada ibu dan bapak, aku tidak menyesal atas perbuatanku tadi. Aku hanya menyesal kalau ini membuat kesedihan ibu. Lain tidak. Katakan pada mereka, di penjara aku bisa melagukan Ave Maria dengan biola sesuka hatiku.”
“Engkau harus jadi orang baik, Ahyat. Pesanmu akan kusampaikan.”
Mini memegangi lengan baju bu guru sambil menangis. Kemudian di antara tangisnya ia berkata putus-putus: “Ahyat — aku akan datang mengunjungi engkau.”
Pintu penjara kanak-kanak tertutup kini. Dua tetes air mata menitik di mata Ahyat.
“He — cepat menghadap direktur!” teriak orang di sampingnya.
Bingung Ahyat segera menghapus mata. Membalikkan badan. Kemudian masuk ke kantor tuan direktur penjara kanak-kanak.
Penjara Bukit Duri, iv-1949
Jakarta, vii-1950
Cerita pendek
Yang Sudah Hilang
Dari Cerita dari Blora (1952). Teks dari cetak ulang Hasta Mitra, 2002.
Kali Lusi melingkari separuh bagian kota Blora yang sebelah selatan. Di musim kering dasarnya yang dialasi batu-kerikil-lumpur dan pasir mencongak-congak seperti menjenguk langit. Air hanya beberapa desimeter saja Tapi bila musim hujan datang, air yang kehijau-hijauan itu jadi kuning tebal mengandung lumpur. Tinggi air hingga dua puluh meter. Kadang-kadang sampai lebih. Dan air yang mengalir damai jadi gila berpusing-pusing. Diseretinya rumpun-rumpun bambu di tepi-tepi kali seperti anak kecil mencabuti rumput. : Digugurinya tebing-tebing dan diseretnya beberapa bidang ladang penduduk. Lusi1! Dia merombak tebing-tebingnya. . Dan di dalam hidup ini, kadang-kadang aliran yang deras menyeret tubuh dan nasib manusia. Dan dengan tak setahunya ia kehilangan beberapa bagian dari hidup itu sendiri …
Dari depan rumah kami nampak pucuk rumpun-rumpun bambu yang hijau hitam. Bila angin meniup mereka bersuling-suling meliuk-liuk yang selalu menimbulkan perasaan takut dalam hatiku di waktu kecil. Segera aku lari ke pangkuan bunda dan menangis. Dan masih terdengar-dengar hingga kini bunda bertanya: “Mengapa menangis?”
Dan tangannya yang tak lembut lagi seperti semasa gadisnya mengusap-usap pipiku yang kurus. Dan suara kanak-kanakku— yang masih cedal-cedal itu menjawab di antara sedu-sedan: “Ibu … bambu itu menangis.”
Dan bunda mengambil daku dan diletakkan di pangkuannya. Berkata ia memberanikan: “Dia tidak menangis. Tidak. Dia sedang bernyanyi.”
Kemudian bunda menyanyikan lagu daerah. Dan suaranya yang lembut-lunak itu mendayu-dayu dan menidurkan ketakutanku. Kubelai-belai rambutnya yang kacau ditiup angin, kupermain-mainkan kupingnya yang dihiasi dengan markis berlian itu. Kemudian, kemudian terdengar suaranya yang manis dalam perasaanku: “Engkau mengantuk. Mari kutidurkan”.
Dan kubuka mataku besar-besar agar dapat terus menikmati nyanyian bunda. Tapi aku tak kuasa membuka tapuk mataku lagi…
Tapi semua itu sudah hilang kini. Semua itu telah lenyap seperti tebing dan rumpun-rumpun bambu yang disereti oleh air pasang kali Lusi. Dan aku tak kuasa menahan arus besar itu. Terasa benar olehku betapa mudahnya manusia dilemparkan oleh gelombang waktu dari tempat ke tempat, dari perasaan ke perasaan.
Suatu kali, aku masih ingat waktu itu — aku bermimpi menemu uang satu sen. Dan waktu aku membukakan mata, tanganku tergenggam rapat agar uang yang kutemu tidak hilang. Segera aku bangun dan mendapatkan bunda. Berseru riang: “Ibu, ibu, aku menemu uang sesen”.
Dan aku lihat juga bunda tersenyum turut bergembira hati. Memperlihatkan kegembiraannya, ia bertanya: “Di mana engkau menemunya? Mana uangnya?”
Kuacungkan genggaman tanganku padanya. Teriakku senang: “Ini! ini!”
Kemudian genggaman itu kuurai. Tapi tangan itu kosong saja. Dan bunda menyusulkan suaranya yang manis itu: “Mana?”
Aku tertegun oleh kaget dan kecewa karena uang yang kutemu dalam impian tak ada dalam genggaman. Dan aku menangis oleh kekecewaan. Dan terdengar olehku bunda tertawa. Kemudian membujuk-bujuk: “Engkau baru bangun tadi. Engkau bermimpi tadi. Jangan menangis.”
Tapi kekecewaan itu masih juga menggulung-gulung dalam dadaku. Dan aku meneruskan tangisku. Bunda mengusap air mataku dengan ujung kebayanya. “Diam. Diam,” katanya lagi.
Dikeluarkannya uang setengah sen dari lipatan ambennya dan diulurkannya padaku. Dan aku diam sambil mempermain-mainkan uang setengah sen dengan masih ada setengah dari kekecewaan itu di dalam dada.
“Sudah sore sekarang,” kata bunda, “sana mandi. Minta mandi nyi2 Kin.”
Dan aku pun berdiri dari pangkuan ibu. Tapi aku tak juga pergi untuk dimandikan. Aku lihat paras bunda jadi keruh. Kemudian terdengar suaranya yang tak lunak lagi dan mengandung kepastian: “Pergi.”
Kepastiannya itu membuat aku bangun dan berjalan lambat-lambat mencari nyi Kin di dapur. Dari belakangku terdengar suara yang memperingatkan: “Cepat! Sudah sore sekarang.”
Kepastiannya itu pula yang membuat aku tak berani menangis. Pelahan aku pergi mendapatkan nyi Kin di dapur minta mandi.
Hingga kini aku masih bisa membayangkan nyi Kin. Ia adalah perempuan di antara banyak perempuan di dunia ini yang kawin dengan seorang lelaki yang tak dikenalnya sebelumnya. Dari perkawinan itu ia mendapat rajasinga3. Penyakit rajasinga itu membuat laki-bini itu bercerai mencari jalan hidupnya masing-masing. Rajasinga itu pula yang telah merampas sebuah dari dua buah biji matanya. Merusakkan kecantikannya sama sekali. Dan selain itu: memecahkan bola dengkulnya. Sebelah kakinya harus diseretnya bila ia berjalan. Di siang hari ia tak ada kesempatan untuk menyesali nasibnya. Kehidupan sehari-hari menyita se-: bagian besar perhatiannya. Hanya bila malam telah sampai, dan kecapean badan itu pun tak kuasa menidurkan dirinya, ada juga ia menyesali kecantikannya yang hilang.
Dan di kala nyi Kin itu jadi bujang kami, matanya telah hilang dan kakinya yang sebelah telah diseretnya bila ia berjalan. Ia sendiri tidak beranak. Ya, sebelum ia sempat beranak, rajasinga telah pula makan peranakannya. Itu pula sebabnya ia selalu, menyayangi kami. Dan kesayangannya itu masih terasa di mana pun jua aku terkenang padanya. Nyi Kin yang cantik dulu telah jadi kurban oleh kecantikannya sendiri. Kadang-kadang dibelai-belainya pipiku seperti ia sedang membelai-belai anaknya sendiri. Dan masih teringat-ingat olehku waktu menggendong daku ia menyembunyikan mukanya di balik selendang. Tiba-tiba selendang itu ditariknya cepat-cepat. Terdengar: “Bba.”
Berulang-ulang ia berbuat seperti itu. Dan bukan main senangku diperbuat seperti itu. Aku tertawa-tawa senang. Ia pun tertawa-tawa senang. Tapi tiba-tiba selendang yang menutup mukanya itu tak ditariknya. Kurenggutkan selendang itu. Dan aku lihat paras yang manis tadi kehilangan kemanisannya. Aku lihat matanya merah. Kemudian pipiku dilekatkan pada pipinya lama-lama: ia rindu pada anak-anaknya yang belum pernah dilahirkannya di dunia ini.
Sebagian dari uang upah nyi Kin disimpannya. Dan hampir separuhnya dipergunakannya untuk membeli makanan. Dan makanan itu ialah untukku. Di kemudian hari tahulah aku, bahwa ia menerima upah delapan puluh sen dari bunda tiap bulannya. Seperti juga bunda, nyi Kin pun suka mendongengi aku.
Hanya bedanya bunda selamanya mendongengkan cerita-cerita pahlawan perang yang bermain di negeri-negeri Asia Dekat, sedang nyi Kin selamanya mendongeng tentang kehidupan binatang-binatang purbakala yang bicara dan bisa membangun kerajaan di dalam hutan.
Aku tak ingat betul, adakah semua itu didongengkannya padaku waktu aku berumur empat-lima tahun atau beberapa tahun kemudian. Sering ia menerangkan dalam dongengnya betapa sucinya orang-orang dahulu sehingga mereka itu mengerti bahasa binatang. Tapi orang sekarang kebanyakan dosa, katanya. Orang sekarang sering mencelakakan sesama manusia, katanya. Itulah sebabnya orang sekarang tak bisa mengerti bahasa binatang. Pernah juga ia bercerita tentang pengalamannya waktu masih kecil — lebih tua beberapa tahun daripada aku pada waktu itu. Cerita itu selalu kuminta diulangi lagi dan diulangi lagi. Dan ia tak pernah menolak. Dan aku mendengarkannya dengan keheranan dan kekaguman.
Begini cerita yang mengagumkan itu: Waktu itu ia masih kecil. Bupati yang memerintah kabupaten Blora ialah ndoro kanjeng Said. Suatu kali kota kami mengalami musim hujan dobel. Kali Lusi meluap melampaui tepinya. Kota kami yang aman dan damai digenangi air banjir yang mengandung lumpur. Dan karena alun-alun kota kami terletak pada salah sebuah pucuk pegunungan, gumpal tanah ini akhirnya merupakan pulau di antara laut air yang luas. Penduduk daerah kami digiring oleh air ke alun-alun. Mereka membawa anak, kerbau, sapi dan diri sendiri. Dan barangsiapa tak cepat-cepat pergi akan digulung oleh air dan dibawa ke muaranya. Hujan terus jua jatuh dengan lebatnya. Rumah ndoro bupati penuh sesak oleh manusia. Kemudian dia lihat ndoro bupati ke luar dari rumahnya membawa sebilah cemeti. Dipecutnya air yang menjilati tepi alun-alun sambil memantrai. Dan pelahan-lahan tapi pasti air pun mulai surut dan kembali masuk di kali Lusi.
Aku masih ingat betul hingga kini, begitulah ceritanya. Ada dua puluh lima kali cerita itu diulang-ulangnya, dan aku mendengarkan dengan perhatian penuh. Dan ia bercerita juga tentang tangisnya bayi yang kehujanan. Ia bercerita juga tentang kegagahan bupati yang membawa cemeti, dan betapa takluknya rakyat padanya. Betapa rapinya orang berjongkok waktu ndoro kanjeng pergi ke luar rumahnya untuk melindungi rakyatnya dari serangan banjir. Dongeng itu membuat aku kagum pada kanjeng bupati. Tapi kala aku dilahirkan ia sudah dikuburkan orang. Namun keharuman ndoro kanjeng Said itu tetap dalam kenang-kenangan penduduk kota kami yang kecil itu.
Cerita nyi Kin yang tak kurang-kurang menariknya ialah tentang mahluk-mahluk dewa atau setengah jin yang berkeliaran di malam dan di siang hari di kala manusia kosong dari segala perhatian. Nyi Kin bisa bercerita bagus tentang awan yang berarak — ia menceritakan sebuah petikan dari Ramayana — dan di balik awan itu pula Dasamuka4 yang mencuri putri berkelahi melawan Jatayu yang menghalang-halangi pencurian itu. Biasanya ia bercerita sambil memandangi awan itu. Dan sering pula ia bercerita tentang pahlawan-pahlawan dalam Mahabharata. Sederhana dan indah segala apa yang diceritakannya itu. Dan aku mengerti juga sedikit-sedikit tentang ceritanya itu. Dan pikiranku mengagumi betapa hebatnya orang-orang di zaman purba itu — tak ubahnya aku waktu itu dengan orang sekarang yang kehilangan masanya sendiri mengagumi masa-masa yang telah silam.
Dan bila. di malam hari aku tak bisa tidur, menangis membabi buta, bunda menepuk-nepuk pahaku, biasanya ia mengucapkan kata-kata yang bagus. Dan kadang-kadang juga bunda menyanyikan lagu daerah, lagu Belanda dan Arab. Tapi suaranya yang indah tak selamanya indah untuk perasaanku — apa pula bila perasaan itu sedang berisi kekesalan hati. Ya, anak kecil pun ada merasai kekesalan hati.
Saat-saat yang penting selamanya susah bisa dihilangkan begitu saja dari ingatan. Juga dari ingatan kanak-kanak. Dan ingatan itu akan tetap tinggal dalam kepalanya sampai tuanya.
Aku masih ingat, waktu itu aku menangis terus. Karena rumah kami masih jauh dari aliran listrik, bila malam datang murunglah suasana rumah kami. Bunda membawa aku ke luar rumah. Embun itu membuat badanku dingin dan lelah. Dan dingin embun itu pula yang telah menyiram kekesalan hatiku. Rupa-rupanya aku kegerahan tadi. Dan di pelataran itu bunda mencium daku dan berbisik dalam bahasa yang lunak dan lembut: “Sayangku, mengapa engkau menangis saja? Tak tahukah engkau ibumu sudah lelah oleh bekerja sepagi? Tidurlah, sayang. Besok akan terbit hari baru, dengan langit baru, dengan matari baru, dengan hawa baru. Dan engkau boleh bermain-main sekenyang hatimu, sayang.”
Suara itu sungguh lunak untuk perasaanku waktu itu. Kurangkul bunda, dan kukirimkan sedan-sedanku ke dalam dadanya. Dan bunda mendekapkan dadanya pada mukaku. Dan ada kudengar detak-detik di dalam dadanya. Kemudian aku dengar bunda menyanyi. Aku tak berontak lagi. Dingin embun di malam hari itu menyedapkan bunyi nyanyian bunda. Kemudian aku tak ingat lagi sambungannya. Dan di kala aku membukakan mata, matahari telah tinggi: hari baru yang dijanjikan oleh bunda. Hari baru dengan langit baru, dengan hawa baru dan dengan nyanyian baru pula.
Tetapi semua itu sudah hilang kini. Hilang dari rabaan panca-indera untuk abadi bersinggasana dalam kenang-kenangan.
Aku masih ingat, waktu itu nyi Kin jatuh sakit. Ya, jatuh sakit. Dan dia pergi tanpa memberitahukan keberangkatannya padaku. Aku cari dia ke mana-mana. Tapi dia tak dapat kutemu. Dan aku menangis berpanjang-panjang. Ada dua jam aku menangis. Bunda menghibur aku dengan pisang susu. Tapi aku tak kuasa mengerem tangisku. Ada terasa suatu kekosongan besar dalam hatiku. Dan bunda bilang dan bilang: “Nyi Kin pulang, sayang. Nyi Kin sakit. Kalau nyi Kin sakit engkau tak boleh dekat-dekat dengannya. Nanti engkau turut sakit juga.”
Tapi kata rayu itu tak kuasa mengisi kekosongan dalam hatiku. Aku menangis terus. Hanya kecapean jua yang menidurkan badanku. Waktu aku bangun lagi, kekosongan itu terasa terus. Dan aku menangis terus. Air mata meleleh seperti mata nyi Kin yang tak ada bizinya lagi itu, selalu mengeluarkan air dan disekanya dengan ujung selendang. Tapi kekosongan itu akhirnya berkurang dengan kian jauh waktu pergi. Perhatian-perhatian baru masuk ke dalam jiwa. Hanya kadang-kadang saja nyi Kin terkenang, dan aku berkata pada bunda: “Mengapa nyi Kin belum datang juga, bu?”
“Dia masih sakit.”
Waktu itu aku belum lagi tahu, rumah nyi Kin tak jauh dari rumah kami — hanya antara tujuh bubungan atap. Namun aku puas juga mendengar sahutan itu. Di kemudian hari dari mulut bunda sendiri aku mendengar mengapa nyi Kin meninggalkan rumah kami: dia mencuri bumbu dapur, dan bunda tak mengizinkan terjadi hal seperti itu di rumahnya.
Nyi KIN diganti oleh perempuan yang agak muda. Waktu itu aku sudah punya adik yang berumur setahun. Biasa aku bangun jam lima pagi waktu itu. Sebabnya ialah, bunda tidur dengan adik kecilku dan aku tidur dengan babu itu. Dan babu itu harus bangun jam lima pagi untuk menggorengkan nasi buat anak-anak angkat orang tuaku yang akan berangkat ke sekolah. Berdua saja kami menghadapi tungku sambil menggoreng nasi. Dan tiap ada kerak nasi goreng yang cukup kering, kuminta dari ‘bujang dan kumakan. Aku tak ingat lagi siapa nama babu itu. Tapi, seperti nyi Kin ia pun kasih padaku. Ia anak seorang petani, bekas bini seorang petani pula. Oleh gagalnya panen mereka bercerai mencari jalan hidup masing-masing.
Masih tebal dalam ingatanku apa yang kualami pada umurku yang ketiga atau keempat dengan babu baru itu. Tiap pagi kami berdualah yang paling dahulu bangun. Seperti biasanya aku minta kerak nasi goreng dan kugerumiti sambil berdiang di depan api.
Dapur kami berdiri lepas dari rumah untuk tempat tinggal. Bangun atapnya tak ubahnya dengan lembaran seng yang dilipat sedikit dan diletakkan di atas rangka dapur. Bangun atap yang demikian disebut bekuk lulang yang berarti lipat kulit. Pada dua ujung atap, dilihat dari dalam dapur, menganga dua lubang yang berbentuk segitiga. Di salah satu-lubang ini banyak kulihat keajaiban-keajaiban waktu kecilku itu.
Pada jam lima pagi itu alam di luar nampak hitam dari dalam dapur. Lebih hitam lagi karena kami menghadapi api tungku sendiri. Di lubang atap yang berbentuk segitiga itu nampak olehku sebuah kepala besar menjenguk-jenguk. Lubang itu punya garis tinggi dua meter. Aku lihat janggut dan alis dan kumisnya putih dan seluruh mukanya hitam — lebih hitam dari alam di luar. Aku pandangi muka besar itu dengan diam-diam sambil menggerumiti kerak nasi goreng. Pada suatu kali kutunjuk kepala itu. Berkata pada babu: “Lihat! Lihat! Kepala yang besar itu menjenguk kita lagi.”
Sebagai biasanya babu itu mengangkat kepalanya memandang lubang atap itu dan sebagai biasanya ia hanya tertawa dan bilang dengan suara dingin: “Aku tak melihat apa-apa. Apa yang kau lihat sekarang?”
“Kepala — kepala yang besar sekali.”
“Aku tidak lihat. Bagaimana rupanya?”
“Hitam. Aku lihat hitam.”
“Engkau bohong. Aku tak melihat apa-apa”.
Dan biasanya juga aku tak mendesak-desaknya untuk percaya. Percakapan seperti itu biasanya terus saja mati. Babu mencuci piring, dan aku membalik-balik nasi goreng itu. Kadang-kadang, bila kerak tak juga jadi, kutekan nasi itu pada penggorengan dengan sodet hingga berbunyi. Indah benar suara itu dalam pendengaranku. Dan bau nasi yang tertekan menjadi kerak itu membubung menyedapkan penciuman.
Pernah juga aku bercerita tentang apa yang sudah kulihat itu pada bunda. Bunda tak mau mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Kadang-kadang sebaliknya malah. Ia merengut. Dipandangnya aku dengan matanya yang marah: “Siapa yang bercerita padamu tentang setan-setan itu?”
Dan waktu itulah aku kenal akan perkataan setan. Bertanya:
“Jadi itukah setan?”
“Siapa yang bercerita padamu seperti itu?”
“Aku lihat sendiri, bu”.
“Engkau tak boleh membohong. Siapa yang mengajari engkau membohong? Nyi Kin? Babu baru? Siapa?”
“Aku lihat sendiri, bu”.
Kemudian babu ditanyai oleh bunda. Dan babu itu bilang: “Setiap pagi dia melihat setan itu. Dia bercerita juga padaku. Tapi kalau aku sendiri yang memandangi lubang atap itu, aku tak melihat apa-apa.”
“Engkau tidak boleh membohongi dia”, kata bunda akhirnya.
“Tidak, ndoro, aku tidak pernah membohongi dia”.
“Awas, engkau jangan menakut-nakuti dia”.
“Tidak pernah, ndoro. Tidak pernah”.
Dan sejak itu aku tak pernah lagi menceritakan apa yang kulihat di lubang atap itu pada ibu dan juga tidak pada siapa pun juga. Tapi pada suatu kali terjadi sesuatu yang lebih hebat daripada apa yang pernah kulihat itu.
Begini ceritanya: Pada suatu pagi waktu menghadapi dapur aku lihat kembali kepala yang menjenguk-jenguk itu. Aku diam-diam saja memandangi kepala itu. Tapi tiba-tiba kepala itu hilang dan seekor monyet yang sebesar aku sendiri melompat dari lubang itu. Segera saja binatang itu memburu-buru babu. Dan babu lari berputar-putar dalam dapur mengedari tungku. Aku lihat ketakutan pada paras babu. Tapi ia tak menjerit atau minta tolong. Ia lari dan lari saja. Dan aku pun tak mengerti mengapa ia tak menjerit minta tolong. Sebentar-sebentar binatang itu bergeseran dengan badanku. Tapi ia tak mengganggu daku. Binatang itu hanya hendak menangkap babu itu. Kedua mahluk itu lari, lari berputar — memutari tungku yang berjajar-jajar.
Yang satu mau menangkap dan yang lain mau ditangkap. Tapi kemudian kulihat monyet itu hilang begitu saja. Aku tak tahu ke mana perginya. Aku lihat babu itu berjongkok kecapean dan kainnya basah oleh air kencing.
Waktu bunda telah bangun, babu itu berkata padanya: “Ndoro, hari ini sahaya minta keluar”.
“Mengapa? Tak senangkah hatimu di sini?”
“Sebetulnya senang juga, ndoro, tapi…”, ia tidak meneruskan.
Ibu pun tak mendesak-desakkan kemauannya. Dan hari itu juga babu itu meninggalkan rumah kami. Aku sendiri tak berani mengatakan pada bunda apa yang telah terjadi sepagi atas diri babu baru itu. Jadi kepergian babu itu tak meninggalkan kesan apa-apa pada kami serumah. Beberapa tahun kemudian barulah kejadian sepagi itu kuceritakan pada bunda, dan bunda bilang: “Itu monyet tetangga yang lepas di waktu subuh”.
Dan sesungguhnya tetangga di belakang rumah kami mempunyai seekor monyet. Tapi itu beberapa tahun kemudian sesudah terjadi peristiwa itu. Tapi kepala yang besar dengan alis-janggut-kumis yang putih dan monyet besar itu kini telah hilang — hilang seperti tebing-tebing dan rumpun bambu yang disereti oleh banjirnya kali Lusi.
Ayah guru di sekolahan partikelir. Bila pagi hari ayah hendak berangkat ke sekolah dan aku melihat ini, segera aku minta ikut. Dan seperti biasanya ayah menolak permintaanku. Aku menangis. Dan ibu dan ayah berkata bermanis-manis padaku: “Nanti kalau sudah besar engkau boleh bersekolah”.
“Betul, bu, ya? Ya, pak, ya?”
“Tentu. Engkau akan sekolah sampai di sekolah tinggi, di Surabaya, di Betawi atau di Eropa.”
Dan bila hatiku telah reda kembali ayah mencium kedua pipiku. Kemudian ia berjalan dengan amannya. Tapi kadang-kadang aku lari mengikutinya, dan bunda lari ke jalan menangkap daku. Dan aku menangis lagi. Tapi bila bunda berkata — melarang — dengan kepastian aku tak berani membantahnya.
Aku masih ingat betul bila ayah tak ada di rumah. Kaleng cat yang diberi poros dan bertali oleh bunda kutarik-tarik ke mana aku pergi. Tapi semua itu pun telah hilang tak ubahnya dengan tebing dan rumpun bambu yang disereti oleh banjir kali Lusi.
Biasanya ayah datang dari sekolahan dengan tertawa riang. Dipanggilnya dulu namaku dan adikku yang berumur setahun itu. Baru setelah menciumi kami ia duduk dengan bunda menghadapi meja makan. Dan aku berdiri di samping bunda, turut makan pula. Bunda menyuapi daku dalam makannya. Dan setelah menerima suapan aku berlari-lari ke sana kemari hingga nasi di mulut habis terkunyah dan ketelan sekali.
“Enak? Enak?” biasanya ayah bertanya padaku.
Dan biasanya juga aku tertawa sambil menjawab: “Enak.”
Makan ayah terlampau sedikit. Biasanya ia makan setengah piring saja. Jarang sekali ia makan bertambah. Dan sebelum ayah meninggalkan meja makan aku sudah mengantuk oleh kekenyangan. Baru kalau ayah bilang: “Ah, engkau sudah mengantuk. Sana tidur”. Barulah aku tahu, bahwa aku sebenarnya sudah mengantuk dan ingin tidur. Bunda membawa daku ke ranjang. Ditepuk-tepuknya pahaku hingga tertidur. Dan dalam pandangku yang kabur-kabur oleh mengantuk itu nampak seleretan giginya yang rampak kecil-kecil membiji mentimun. Dan matanya yang agak sipit bersinar-sinar penuh dengan kasih-sayang. Tapi semua itu pun hilang terseret-seret. Yang tinggal hanya kenangan indah dalam kepala.
Bunda wanita yang saleh. Dalam keadaan tak mengandung ia mesti bersembahyang dalam mukenanya yang putih bersih. Hanya mukanya dan jari-jarinya saja nampak bila ia bersembahyang. Kadang-kadang tangannya memegangi tasbih. Selamanya aku tak berani mendekatinya bila ia dalam keadaan seperti itu. Kutunggu ia dari luar kamar hingga ia habis bersembahyang.
“Untuk apa orang bersembahyang, ibu?” pernah aku bertanya.
YANG SUDAH HILANG Da 13
“Supaya mendapat rahmat dari Tuhan”, katanya. “Nanti kalau engkau sudah besar engkau akan mengerti sendiri apa gunanya. Engkau sekarang masih kecil. Lebih baik engkau bermain-main saja”.
Dan aku tak pernah bertanya-tanya lagi tentang hal itu.
Bila malam telah sampai, dan ayah belum juga pulang ke rumah, sering aku terbangun oleh suara ibu yang sedang mengaji. Seperti juga halnya dengan suara nyanyiannya, suara mengajinya pun bagus. Dan bila ayah tak pulang juga sampai di pagi hari, bunda terus juga mengaji. Sekali aku pernah terbangun dan pergi mendekatinya. Bertanya: “Sudah begini malam ibu masih mengaji saja?”
Ibu mengambil daku dan didudukkan di pangkuannya. Tapi ia tak berkata apa-apa. Aku diciumnya. Dan masih terasa-rasa olehku betapa hangat nafasnya waktu hidungnya melekat pada pipiku.
“Mengapa ibu mengaji terus?” tanyaku lagi.
“Supaya ayahmu selalu selamat. Supaya ayahmu dijauhkan dari perbuatan maksiat. Engkau tak tidur lagi?”
“Mengapa bapak belum datang juga?”
Dan bunda menjawab pertanyaan itu dengan cium yang ditekankan keras-keras pada pipiku. Tapi ia tak berkata apa-apa.
“Di mana bapak, bu?” tanyaku lagi.
“Bapak sedang bekerja”.
“Sudah begini malam?” tanyaku lagi.
“Ya, bapak banyak bekerja”.
“Kapan bapak datang, bu?”
“Kalau engkau bangun tidur, bapak nanti pulang. Ayo tidur lagi, anakku”.
Dan dibawanya aku ke ranjang. Sebentar terdengar bundamenina-bobokkan. Waktu aku terbangun lagi, bunda masih terdengar mengaji. Ingin aku menanyakan adakah ayah sudah datang atau belum. Tetapi aku tak kuasa bangun. Aku tertidur lagi. Dan aku mimpi tentang ayah dan bunda dan adikku yang berumur setahun.
Pagi hari waktu aku bangun kupanggil bunda dan berseru: “Mana bapak, ibu?”
“Bapak sudah pergi mengajar”.
“Sudah datangkah bapak tadi?”
“Sudah. Sebelum berangkat bapak menengok engkau dulu. Diciumnya engkau dan kemudian bapak pergi mengajar lagi”.
“Mengapa bapak tak senang tinggal di rumah dan main-main dengan aku, ibu?”
“Bapak harus mencari uang untuk kita semua, untuk membeli bajumu, untuk makan kita dan adik”.
Dan aku tak bertanya lagi. Siang hari waktu ayah pulang dari sekolahan segera aku datang padanya. Bertanya: “Mengapa bapak semalam tak pulang juga? Aku bangun malam-malam, tapi bapak belum datang juga.”
Ayah hanya tertawa. Bunda tunduk saja di kursi.
“Ibu semalam mengaji terus, pak”.
Sekaligus tertawa ayah lenyap.
“Mengapa bapak tak suka tinggal di rumah dan bermain-main denganku?”
Kembali ayah tertawa. Ia tak mau menjawab. Kemudian kami menghadapi meja makan. Dalam makan itu aku bertanya padanya: “Boleh aku pergi malam, bapak?”
Terdengar ayah tertawa lagi. “Engkau masih kecil, anakku. Kalau engkau sudah besar engkau tak perlu turut siapa-siapa. Engkau boleh pergi ke mana-mana sesuka hatimu”.
Dan aku melonjak-lonjak kegirangan oleh janji itu.
“Boleh aku sendirian pergi ke rumah nenek, pak?”
“Tentu saja boleh. Tapi sekarang belum boleh. Engkau masih kecil”.
“Sudah, jangan banyak bertanya-tanya”, ibu melarang. “Ayah sudah capek dan mau tidur. Dan engkau harus tidur juga”.
Dan semua itu pun telah habis terseret dan takkan mungkin datang kembali.
MasiH TERANG dalam ingatanku hingga kini betapa pada suatu hari aku ketakutan mendekati bunda. Pagi itu hari Minggu. Anak-anak angkat orang tuaku — yang sebetulnya bukan anak angkat benar, hanya anak-anak yang diserahkan kepada orang tuaku — pergi melancong ke tempat pelancongan para pemuda kota kecil kami, Blora. Rumah kami sunyi saja. Yang tinggal hanya bunda, adikku kecil dan babu. Ayah tak ada di rumah waktu itu. Aku sedang kesunyian dan kucari bunda, kudapati dia sedang berbaring di samping adikku kecil di ranjang. Adikku sedang tidur waktu itu. Dan bunda merenungi langit-langit kelambu.
“Ibu! Ibu!” aku berseru.
Ibu tak menyahuti, juga tak bergerak dari tempatnya. Dengan susah payah aku naik ke atas ranjang. Dan kulihat mata bunda merah, sebentar-sebentar dihapusnya dengan selimut adikku kecil. Aku terdiam. Lama. Terdiam oleh ketakutan. “Mengapa menangis, bu?” aku bertanya. Baru bunda memandang aku. Diraihnya aku dan ditidurkan di sampingnya.
“Mengapa, bu?” aku bertanya lagi.
“Tidak apa-apa, anakku”.
Waktu itu juga aku ingat suatu kali yang indah — perjalanan dengan kereta api ke Rembang — melihat laut yang tak kunjung diam, selalu berdeburan dengan ombaknya yang buru-memburu ke pantai itu. Bertanya lagi aku: “Kapan kita pergi naik kereta api lagi, bu? Ke Rembang? Dan lihat laut yang biru itu?”
Ayah dan ibu bunda bertempat tinggal di Rembang. Mendengar perkataan Rembang itu bunda jadi tersedan-sedan. Aku tak tahu mengapa. Bertanya: “Mengapa ibu menangis?”
Ia bangun, dan diciumnya aku berulang-ulang. Ada terasa olehku air matanya mendingini pipiku. Kemudian bunda berkata pelahan-lahan: “Nanti kita akan meninggalkan Blora, anakku sayang, dan tinggal di Rembang untuk selama-lamanya”.
“Mengapa untuk selama-lamanya, ibu?”
“Bukankah engkau senang melihat laut, anakku sayang?”
“Senang sekali, bu. Tentu aku senang tinggal lama-lama di laut. Kapan kita pergi, bu?” tanyaku gembira.
Tapi oleh kegembiraanku itu bunda tambah menangis. Kemudian berkata: “Sebentar lagi”, katanya.
“Nanti, bu?”
“Tak tahulah aku. Tak tahulah aku. Tapi senangkah engkau tinggal di Rembang, anakku sayang?” Dan bunda menghapus air matanya.
“Tentu, bu. Dan bapak turut juga, bukan?”
Bunda terkejut mendengar itu. Aku lihat benar pada bola matanya yang berhenti, tak bergerak-gerak dan melemparkan pandangannya padaku. Aku tak tahu mengapa. Tapi pandangnya itu tiba-tiba menimbulkan ketakutan dalam hatiku. Tiba-tiba saja aku menjerit kencang-kencang. Dan segera bunda mencium aku lagi dan berkata lunak: “Jangan menangis, sayang”.
Tapi sebelum tangisku harus kunikmati, adikku kecil menjerit — terkejut oleh tangisku itu. Bunda berkata lagi: “Bapak juga turut pergi dan melihat laut”. Ia diam dan menyusui adikku kecil. Meneruskan. “Mengapa engkau menangis?”
“Aku tak mau pergi ke Rembang. Aku senang di sini dengan ibu dan bapak. Mana bapak, bu?”
“Bapak pergi. Bekerja”.
Dan aku mengulangi pertanyaan yang pernah kukatakan padanya: “Mengapa bapak tak suka tinggal di rumah dan bermain-main denganku bu?”
“Bapak banyak pekerjaannya”.
“Bekerja terus sajakah bapak, bu?”
“Ya,” katanya. Dan dalam menyebut perkataan itu ada terasa sesuatu dalam hatiku. Tapi aku tak tahu benar apa sesuatu itu.
Aku berhenti menangis sama sekali. Bertanya lagi: “Mengapa ibu tadi menangis?”
Ibu tak menjawab. Hanya bertanya dengan suara menyerah: “Engkau sudah makan?”
“Sudah. Nanti kalau bapak makan aku turut makan lagi. Aku senang makan bersama-sama ibu dan bapak. Tapi alangkah lamanya — dan bapak belum datang-datang juga. Nanti malam barangkali bapak datang. Datang, bu?”
“Barangkali. Barangkali saja datang”.
“Bapak tadi malam ada di rumah, bu?” tanyaku lagi.
“Ya. Bapak tadi malam ada di rumah. Tapi engkau sudah tidur. Engkau tidak tahu. Tapi bapak datang di ranjangmu dan mencium engkau empat kali”.
Aku tertawa senang.
“Ibu mengaji juga semalam, bu?” Dan dalam bertanya itu antara ingat dan tiada aku mendengar ibu mengaji semalam.
“Tidak. Ibu semalam merenda. Dan engkau sudah tidur. Bapak membaca buku. Dan anak-anak lainnya sudah tidur. Tidurlah engkau sekarang.”
“Kalau bapak datang, bangunkan aku, ya, bu, ya?”
“He-e.”
Kemudian aku berdiam-diam saja dan tak bertanya-tanya lagi. Aku lihat bunda habis menyusui. Kemudian ia terlentang diam-diam saja merenungi sotoh kelambu. Tapi aku tak berkata apa-apa. Ada juga kulihat matanya memerah. Tapi aku tak berkata-kata lagi. Kemudian aku pun tertidurlah.
Waktu aku bangun, bunda masih ada di sampingku — berdiam diri memandangi langit-langit kelambu. Tapi matanya tak merah lagi seperti waktu hendak tidur tadi. Sebelum aku bergerak dari tempatku, segera saja aku bertanya: “Bapak sudah datang, bu?”
Aku lihat bunda terkejut. Dimiringkan badannya dan dipandangnya aku. “Belum, sayang. Lama betul engkau tidur tadi. Badanmu sehat. Sana turun. Minta mandi pada babu, ya?”
Tapi keinginanku untuk bertemu dengan ayah tak dapat ditahan-tahan lagi. Dan aku pun membantah bunda. Berkata setengah merengek: “Bapak. Bapak. Mana bapak, buuu?”
“Nanti bapak datang, sayang.” Kemudian suaranya mengandung kepastian seperti biasanya. “Sana minta mandi sama babu.”
Kali itu aku tak peduli pada kepastian yang terkandung dalam ucapannya: “Bapak bekerja,” kata bunda masih juga berisi kepastian. “Mandi!”
Aku tak mengindahkan suara bunda. Tiba-tiba kepastian bunda hilang. Diciuminya aku dengan sayangnya. Diturunkannya aku dari ranjang. Diletakkannya aku di lantai. Kemudian berkata penuh kasih sayang sambil menciumi daku: “Nanti bapak datang. Mandilah dulu, anakku. Kalau engkau sudah mandi, bapak akan senang bermain-main dan mencium engkau. Mandilah sekarang. Hari sudah sore. Nanti kalau bapak datang, engkau kupanggil. Lekaslah mandi. Sekarang.”
Dan kasih sayang yang terkandung dalam ucapannya itu menundukkan pemberontakanku. Lambat-lambat aku pergi mendapatkan babu dan minta mandi.
Sehabis mandi, ayah tak juga datang. Aku mulai menangis. Kutolak segala janji dan makanan yang disuguhkan di depan hidungku. Malam itu ayah tak juga datang. Dan aku menangis terus tak habis-habisnya. Tak ada terasa kecapean dalam menjerit-jerit itu. Malam itu bunda membawa daku ke luar rumah. Tapi dingin hawa malam itu tak berpengaruh apa-apa terhadap kekosongan yang bersarang dalam hatiku. Aku tahu juga bunda jadi kesal oleh tangisku. Kasih sayangnya yang dicurahkannya padaku tak termakan oleh hatiku. Aku tahu juga bunda menjadi jengkel karenanya. Malam telah larut. Beberapa kali — di antara tangisku — terdengar bunda menyebut dan minta ampun pada Yang Mahakuasa. Tapi aku menangis terus sambil menyebut-nyebut bapak. Alam di luar waktu itu gelap. Bunda tak pernah - menakut-nakuti aku. Bila aku menangis selalu ia memperlihatkan dalam ucapannya seluruh kasih sayangnya.
Kemudian terdengar olehku bunda memanggil salah seorang anak angkatnya: “Dipo! Dipo!” Dan waktu yang dipanggilnya datang, bunda berkata lagi: “Cari bapak.”
“Tapi di mana bapak?” tanyanya
“Cari, kataku. Aku tidak tahu di mana. Tapi engkau harus mencarinya sampai dapat. Suruh dia pulang. Bilangkan anaknya sedang motah5.”
Kemudian dengan menggendong daku bunda masuk ke - dalam rumah. Dan aku mengendurkan tangisku. Tapi kala ayah tak datang juga, aku menjerit-jerit lagi. Aku masih ingat betul. Waktu itu jam tiga malam. Aku tahu ini waktu bunda membawa daku ke ruangan depan. Dibawanya lampu dinding, diteranginya jam dinding yang dipasang di ruang depan. Berkata pahit: “Sudah jam tiga malam.”
Kemudian bunda pergi ke ruang belakang kembali sambil membawa lampu dinding. “Bapak! Bapak!” teriakku selalu. “Sebentar lagi bapak datang, sayang, tidurlah. Tidurlah.”
Tapi ayah tak datang-datang juga. Dan aku menangis terus, kadang-kadang pelahan-lahan, kadang-kadang menjerit-jerit. Kemudian ayah datang juga diiringkan oleh Dipo.
“Bapak,” aku berteriak.
Bunda menghampiri ayah. Ia tak berkata apa-apa. Diserahkannya aku padanya kemudian dengan diam-diam juga bunda pergi ke tempat tidurnya.
“Bapak!” panggilku lagi.
Ayah mendekapkan daku pada badannya. Dan pelahan-lahan tapi pasti tangisku mengendur. Kemudian hilang. Tinggal sedu-sedan mengisi dada. Pelahan-lahan, sambil menggendong daku, ayah berkata: “Anakku sayang. Sayang. Jangan menangis lagi. Bapak sudah datang sekarang, ya? Tidurlah, tidur, sayangku. Hari sudah malam sekarang.”
Lambat-lambat tapi pasti sedu-sedanku pun berkurang dan akhirnya lenyap dalam malam. Ayah pergi ke tempat tidur bunda sambil menggendong aku. Dan aku dengar bunda sedang menangis. Disembunyikan mukanya di dalam bantal. Aku lihat ayah mengusap-usap rambut ibu. Tapi bunda tetap menangis saja. Ayah tak berkata apa-apa pada bunda. Dan bunda pun tak berkata apa-apa pada ayah. Antara kami bertiga hanya ada sedu-sedan ibu yang menggoyang-goyangkan hati kami. Kemudian, dengan diam-diam juga, ayah ke luar dari kamar. Dibawanya aku ke luar rumah, di dalam malam yang sejuk dan hitam.
“Mengapa engkau menangis saja?” ia bertanya.
“Bapak tak datang-datang saja,” kataku setengah menangis. “Ibu bilang nanti malam bapak datang, tapi bapak tak datang juga.”
“Tapi bapak sekarang sudah datang, bukan?” katanya penuh sayang. “Nah, tidurlah sekarang. Tidurlah.”
Aku dengar ayah menyanyi pelahan-lahan. Kemudian aku tak ingat lagi apa yang terjadi. Hanya waktu aku bangun dari tidurku, ayah masih tidur di sampingku. Kemudian aku pun tertidur lagi.
Pagi itu hari masih libur. Ayah tak masuk kerja. Waktu aku bangun hari sudah siang. Kudapati ayah dan bunda sedang duduk-duduk di ruang depan. Setelah dimandikan oleh babu itulah aku pergi mendapatkan mereka. Berseru: “Bapak, engkau tak pergi lagi, bukan?”
Aku lihat bunda memandangi ayah. Ayah tertawa memandangi daku. Katanya: “Tidak, hari ini bapak tak pergi kerja. Engkau jangan menangis lagi, ya?”
“Bapak-bapak, kemarin ibu juga menangis.”
Aku lihat ayah memandangi bunda. Tapi bunda tak berkata apa-apa. Dan ayah pun tak berkata apa-apa. Aku berseru riang seperti tak terjadi apa-apa di sekelilingku: “Ibu bilang mau pergi ke Rembang.” . — Sekali lagi ayah memandang bunda. Tapi tak berkata apa-apa.
“Dan aku dibawa. Juga adik. Dan kami akan melihat laut. Bapak turut, bukan? Bukan? Bapak ikut juga, bukan?”
Sekali lagi kulihat ayah memandangi bunda. Kemudian berkata padaku: “Tentu saja bapak ikut. Kapan kita pergi?”
Kuhadapkan mukaku pada bunda. Dengan suara kanak-kanakku aku bertanya: “Kapan kita berangkat ke Rembang, bu?”
Aku lihat bunda berdiam diri saja. Ia tak menjawab. Dan aku lihat mata yang agak sipit itu jadi merah. Kemudian — kemudian matanya berkaca-kaca. Dan waktu air matanya akan jatuh, cepat-cepat disekanya dengan ujung kebayanya. Melihat itu segera saja aku berteriak, menjerit dan menangis. Dan di kala bunda bangun dari tempat tidurnya. Dan pergi meninggalkan kami, aku kian menjerit. Aku lari dan memegangi kainnya. Berseru: “Mengapa ibu menangis, bu?”
Bunda mengambil aku, diayunkan, kemudian digendongnya. Tapi ia tak berkata apa-apa. Sampai di tempat tidur disembunyikan mukanya di dadaku. Dan ayah tak datang ke tempat tidur itu.
Ya, kejadian itu masih terang dalam ingatanku. Dan seperti yang lain-lain juga semuanya itu telah hilang — seperti tebing dan rumpun bambu yang disereti oleh banjir kali Lusi. Sungguh mengherankan hatiku. Mengapa semua yang terjadi itu tidak tetap terjadi. Tiap-tiap perubahan yang selalu berpindah-pindah itu, kadang-kadang tak dapat atau tak sampai dalam pengamatan manusia, mengumbang-ambingkan begini banyak manusia di dunia ini.
Di TiAP-TiAP lebaran ayah membeli mercon segerobak. Aku dan adikku kecil dan bunda dan anak-anak angkat orang tua kami mendapat baju baru dan uang dari ayah. Mercon dibakari dan pecahannya bersebaran di pelataran. Anak-anak para tetangga datang merubungi mercon yang akan diledakkan. Dan bukan main gembiraku di hari-hari lebaran seperti itu. Namun semua itu tak pernah menimbulkan seri gembira pada air muka bunda. Aku lihat bunda selalu murung. Dan aku lihat ayah sering meninggalkan rumah. Lama kelamaan aku telah biasa dengan perceraian dengan ayah dan tak perlu motah lagi. Dan ayah pun jadi tak perlu dipanggil pulang lagi. Sampai besar aku tak tahu ke mana ayah selalu pergi di waktu-waktu tak mengajar itu. Bunda pun tak pernah menanyakan dari mana. Bunda berdiam diri saja bila ayah pergi, juga tak menegur bila ayah datang. Biasanya ayah pergi di kala bunda ada di ruang belakang, di dapur atau di ladang. Dan bila aku melihat ayah meninggalkan rumah, aku pun berdiam diri saja dan tak bertanya-tanya lagi. Sekali-sekali pernah juga aku bertanya:
“Mau pergi ke mana, pak?”
“Kerja,” katanya pendek.
Dan pernah juga aku berkata lebih dari itu: “Bolehkah aku ikut?”
Dan dengan ringkas dan cepat-cepat, sambil berjalan, tanpa menengok-nengok lagi, ayah menjawab permintaanku itu:
“Tidak boleh. Nanti kalau besar engkau boleh pergi sendiri. Main-main sajalah dengan mas-masmu.”
Dan aku sudah merasa puas dengan jawabannya itu.
Di waktu lebaran itu bunda memandangi anak-anak yang meledakkan mercon di kursinya di ruang depan. Ia tak berkata apa-apa, hingga pada suatu ketika ia bilang padaku, yakni waktu aku mendekatinya: “Mercon itu tak boleh dipergunakan di waktu lebaran. Itu dilarang oleh agama,” katanya. “Mercon adalah alat-alat upacara orang Tionghoa dan sama sekali bukan termasuk dalam alat-alat upacara orang yang beragama Islam.”
Tapi tiap lebaran ayah terus saja membeli segerobak mercon, hingga pada suatu kali seorang anak angkatnya mendapat kecelakaan, dan ayah tak pernah membeli mercon lagi.
Kemudian menyusullah peristiwa besar. Ayah bunda, kakekku, yang tinggal di Rembang meninggal dunia sesudah naik haji dua kali. Segera saja ayah menyewa mobil dan bersama-sama kami pergi. Aku tak ingat betul apa yang terjadi dalam peristiwa itu. Hanya waktu bunda sudah sampai di Blora kembali, dia jadi layu, seperti orang yang kehilangan besar — kehilangan tempat pelariannya di dunia ini. Ibu bunda di Rembang adalah ibu tiri. Dan dalam seminggu setelah melawat itu bunda selalu menangis.
“Mati adalah kewajiban tiap manusia,” pernah kudengar ayah menghibur.
Tapi bunda tak mau mendengarkan nasihat itu. Aku lihat bunda selalu menangis. Kalau waktu itu aku bisa mengatakan, pastilah kukatakan, bahwa sesungguhnya bunda sedang kehilangan tempat berlindungnya yang kadang-kadang diharapkannya di kala ia membutuhkan tempat pelarian. Di kemudian hari ada juga aku pernah merasai suatu kehilangan dalam hidupku — kehilangan sesuatu yang takkan mungkin didapat penggantinya. Dan aku kira tiap orang pun pernah atau pada suatu kali akan mengalami kehilangan seperti itu.
Seminggu telah lewat. Dan bila saat itu aku dapat mencurahkan isi hatiku, pastilah akan kukatakan, bahwa bunda nampak menyerah pada waktu sesudah itu. Dan sekalipun ia melihat ayah pergi di waktu malam di depannya, ia tak berkata sepatah pun jua, seakan-akan tak terjadi sesuatu di lingkungannya sendiri. Dan semua itu membuat bunda lebih-lebih lagi mendekati kami anak-anaknya. Kami jadi pelariannya.
Di saat-saat yang sunyi, bukan kesunyian dunia, tapi kesunyian hati, dibawanya kami berjalan-jalan satu sampai satu setengah kilometer, dan didongengi kami tentang sesuatu yang terkandung dalam bagian-bagian alam yang telanjang. Bunda bercerita tentang burung, tentang air kali Lusi waktu kami menyeberangi jembatannya, tentang sawah dan padi, tentang hama padi yang sering merusakkan panen dan harapan petani, tentang angin dan mendung, matahari dan bintang, dan terutama sekali tentang penghidupan rakyat jelata. Pengetahuan kanak-kanak jadi bertambah karenanya.
Bila sore telah sampai, dibawanya kami duduk-duduk di bangku pelataran. Dan bunda bercerita tentang tumbuh-tumbuhan, tentang rumpun-rumpun bambu yang meliuk-liuk ditiup angin, tentang buah-buahan, tentang kapal, kereta api, mobil dan sepeda. Bunda pandai bercerita. Kadang-kadang bunda bercerita tentang kota-kota yang pernah dilihatnya, tentang saudara-saudaranya dan keluarganya dulu, tentang pelajaran di sekolahan, tentang guru-gurunya. Dan tidak lupa pada kami yang kecil-kecil bunda bercerita tentang politik penjajahan Belanda. Hingga kini aku masih ingat betapa bunda bercerita padaku, betapa orang-orang yang berjuang dalam gerakan politik itu dibuangi dan dipenjarakan. Dan masih teringat olehku bunda bercerita tentang Ki Hajar Dewantoro6, yang dibuang ke negeri Belanda.
Dan seperti yang lain-lain juga, semua itu pun telah terseret-seret dan lenyap dari jangkauan pancaindra kami.
Ibu bunda diam di pinggir kota kami, Blora, setelah kawin dengan penduduk di situ. Kadang-kadang nenek datang ke tempat kami membawakan buah-buahan. Penghasilan nenek ialah menjual sayur-sayuran. Pagi-pagi ia bangun dan mencegat petani yang membawa sayur-mayurnya yang mau dibawanya ke pasar. Ia membeli dagangannya dari mereka dan menjualnya ke rumah-rumah para priyayi, atau kukatakan yang menyebut dirinya priyayi. Kakek yang diam di pinggir kota mencari penghasilannya dengan berjualan sate ayam di pasar. Kakek sendiri jarang datang selain untuk keperluan meminjam uang. Tadinya kakek bertani juga, tapi panennya selalu gagal.
Orang-orang penduduk kota kecil kami mempunyai kepercayaan yang aneh. Dan ini kuketahui waktu aku sudah dewasa. Orang akan kejatuhan sial — sial untuk seumur hidupnya — bila telah menurunkan manusia yang disebut umum tidak sah. Demikian juga halnya dengan kakek. Tapi tentang hal itu aku tak tahu betul.
Kadang-kadang aku lihat bunda berparas kesal bila bapak tirinya datang. Dan pernah suatu kali ia berkata padaku dengan jalan tak langsung: “Engkau tak boleh menjalani jalan maksiat,” katanya. “Lihatlah kakekmu itu. Begitulah akibatnya. Segala usahanya gagal. Segala doa dan harapannya tak sampai ke tempatnya.”
Tapi pengertian kanak-kanakku tak sampai pada apa yang dimaksudkan olehnya. Dan sekali itu juga aku pernah bertanya: “Mengapa kakek, bu?”
“Kalau engkau sudah besar engkau. akan tahu sendiri mengapa.”
Dan aku tak bertanya-tanya lagi.
Bunda biasa mencangkul di ladang. Dan di waktu-waktu seperti itu, kalau aku tak sedang bermain-main, pasti ikut dengannya. Dalam waktu-waktu seperti itu biasa meluncur dari mulut bunda dongeng-dongeng yang semua berisi pendidikan — pendidikan agar anaknya mencintai alam, mencintai sesuatu pekerjaan yang tertentu, dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Pengertian kanak-kanakku tak dapat menangkap apa yang dimaksudkannya. Tahunan kemudianlah aku baru mengerti apa yang dimaksudkannya.
“Orang hidup dari keringatnya sendiri, anakku. Kalau engkau sudah dewasa, engkau pun akan demikian pula. Dan segala barang yang kau terima tidak dari hasil pekerjaanmu sendiri itu tidak sah. Ya, sekalipun barang itu barang pemberian orang dermawan padamu.”
Dan seperti yang lain juga, semua itu hilang sudah. Hilang untuk takkan kembali lagi — hilang untuk abadi menetap dalam ingatan dan kenangan. Kali Lusi mengalami banjir dan surutnya, mengalami naik dan turunnya. Demikianlah juga halnya dengan segala yang telah terjadi dalam hidup semasa kanak-kanak itu.
“Dan engkau boleh berbuat sekehendak hatimu dengan barang-barang yang kauperoleh — juga hidup dan badanmu sendiri. Semua saja, semua saja yang kauperoleh dengan sah,” pernah sekali ayah berkata.
Suara itu hanya terdengar beberapa detik saja dalam hidup. Getaran suara yang sebentar saja berdengung, takkan terulang lagi. Tapi seperti juga halnya dengan kali Lusi, yang abadi menggarisi kota Blora, dan seperti kali itu juga, suara yang tersimpan menggarisi kenangan dan ingatan itu mengalir juga — mengalir ke muaranya, ke lautan yang tak bertepi. Dan tak seorang pun tahu kapan laut itu akan kering dan berhenti bertepi.
Hilang.
Semua itu sudah hilang dari jangkauan pancaindra.
Jakarta, vii-1950
Cerita pendek
Kemudian Lahirlah Dia
Dari Cerita dari Blora (1952). Teks dari cetak ulang Hasta Mitra, 2002.
Selain saudara-saudara angkat, di rumah kami pun banyak anak-anak lelaki menumpang. Mereka semua masih bersekolah. Seorang di antara saudara-angkatku bernama Hurip. Ia telah tamat sekolah menengah gubermen di ibukota propinsi, Semarang. Anak-anak yang telah dewasa sering berkumpul bercanda-canda. Tapi banyak di antara percakapan mereka tak dapat kupahami. Juga tak dapat kumengerti apa yang dikatakan kak Hurip pada suatu kali: “Kita memerlukan dinamik. Masyarakat kita terlampau beku. Sekali-sekali ki punya keberanian melepaskan cita-cita jadi pegawai negeri”
Aku selalu ingin tahu apa saja yang sekiranya mungkin dapat kuketahui. Karena itu aku tak pernah dapat menyalahkan diriku bila sering membongkar-bongkar lemari buku atau meja tulis ayah. Yang tak dapat kufami dari apa yang kudengar selalu kutanyakan pada ibu. Dan ucapan kak Hurip itu pun kutanyakan padanya. Ramah ibu menjawab: “Nanti kalau engkau sudah besar akan mengerti sendiri apa artinya.”
Dan ucapan kak Hurip itu mengganggu terus dalam benakku. Kawan-kawan sebayaku pun tak mengerti apa artinya. Malah bujang kami yang umurnya tujuh kali umurku pun tak mengerti.
Kak Hurip sangat terpandang di pergaulan rumah kami karena telah lulus Mulo1. Ibu pun menghormatinya. Tak heran bila ia jadi pusat perhatian dan semua katanya didengarkan orang. Dalam tiap percakapan ia jadi tuan yang berdaulat. Ibu bilang, kak Hurip sudah masuk partai politik. Bukan main kagetku mendengar dia campur tangan dalam politik. Menurut pengersaja yang berhubungan dengan polisi.
“Tidak marahkah bapak karena dia masuk polisi?” tanyaku.
Ibu tersenyum manis mendengar pertanyaanku itu. Kemudian dengan kata-kata sederhana menjelaskan apa artinya politik: “Mereka yang masuk partai politik adalah musuh polisi.”
Dan aku mengerti sedikit. Segera kukabarkan pada kawan-kawan sebayaku arti politik, dan mereka menyambut keteranganku dengan tertawa tak percaya. Juga bujang kami tak percaya. Dan dengan tak sadar terasa olehku, bahwa diriku dilingkungi oleh dinding tebal yang tak bisa ditembus.
Kemudian datanglah sore itu — sore sesudah mandi dan semua kakak-angkat belum mulai main catur, belajar atau menggambar. Mereka duduk di tikar melingkungi meja rendah — meja belajar kami — dan percakapan yang serius terjadilah. Aku duduk di belakang kak Hurip, dan dia bilang dengan suara bersemangat: “Kehidupan pegawai sungguh membosankan. Mereka berangkat kerja pada jam tertentu, tinggal di kantor untuk sekian jam, pulang di jamnya yang tertentu pula, main-main dengan bininya — dan anak baru pun lahirlah ke dunia ini. Dan kehidupan seperti itu berjalan terus dari tahun ke tahun. Sungguh membosankan. Dalam kepala mereka meruyak harapan kuda pedati akan setekam rumput, setangkuk air dan istirahat sejenak. Pengelamunan yang indah akan datangnya kenaikan gaji. Kemudian di sela-selanya melonjak-lonjak cumbuan anjing: pujian dari tuan kepala dan sedikit nyala di lubuk harapan untuk kenaikan pangkat. Kemudian lagi ketakutan kelinci: gertak tuan sep2 dan kehilangan kursi kantor.”
Anak-anak yang lain mendengarkan dengan perhatian sungguh-sungguh. Aku pun memperhatikan betul-betul, tapi tak dapat mengikuti semuanya. Satu pengertian yang tinggal dalam ingatanku ialah, kalau orang main-main dengan bininya anak baru pun lahirlah.
Dan kak Hurip meneruskan ceritanya: kehidupan pegawai terlampau membosankan. Tak ada selingan, katanya. Padahal selingan hidup menyuburkan daya cipta. Dan bila bulan lalu dengan selamat para pegawai membawa gaji pulang dengan air muka riang — sedikit kemerah-merahan. Pertengahan sampai akhir bulan mereka pengap-pengap kekurangan belanja. Dan dalam kepalanya menari-narilah lembaran-lembaran bon, surat hutang dan surat gadai. Dan mereka yang tak bosan sungguh-sungguh pegawai dari derajat yang tinggi karat. Kehidupan yang tak berubah-ubah. Anak yang kian membanyak juga …
Tahun-tahun sebelum perang dunia kedua terbayang. Dan aku sungguh-sungguh tak mengerti apa yang dimaksudkan oleh kak Hurip. Tapi aku berdiam diri saja mendengarkan.
Sesudah makan sore kutanyakan pada ibu tentang betul tidaknya permainan dengan bini yang mengakibatkan lahirnya anak baru. Ibu tak menjawab pertanyaanku. Dengan tiada berubah paras ia menyuruh aku pergi belajar dan juga menyuruh aku memanggil kak Hurip. Waktu dilihatnya aku masih juga mengharapkan jawaban, ia berkata tegas: “Belajar! Jangan tangguhkan pelajaranmu. Pelajaran takkan ada habis-habisnya sampai engkau besar. Pergilah.”
Dan aku mengulangi pertanyaanku lagi. Bunda marah. Aku tak pernah melihat ibu berbimbang-bimbang. Sampai dalam hal-hal yang kecil pun ia selalu memperlihatkan ketegasannya. Dan ketegasan inilah yang telah begitu berjasa dalam mengendalikan rumah-tangga. Aku pun pergilah. Dan sebentar kemudian terdengar ia memanggil kak Hurip. Sejak waktu itu kakak angkatku berhati-hati dalam percakapannya bila aku ada di dekatnya. Ini kuketahui waktu ia sedang bercakap-cakap meriah dengan anak-anak lain, tiba-tiba ia membelokkan percakapannya yang bersungguh-sungguh menjadi bercanda-canda waktu aku datang mendekati.
Kehidupan sederhana di kota kecil kami tiba-tiba berubah. Walaupun kehidupan itu tak kuketahui betul tapi ada kurasai. Dari pendengaran-pendengaran yang sampai ke kupingku tahulah aku, ada terdapat keguncangan di golongan priyayi. Juga di kalangan kaum pedagang. Juga di kalangan kaum petani dan kaum tukang. Dan pada suatu kali ada tertangkap olehku kata-kata tentang India, tentang swadesi3, tentang Jepang, tentang kebangunan Asia dari mulut kak Hurip. Selain itu ia bicara berkobar-kobar seperti bapak sedang berpidato: “Sudah jadi tradisi sejak adanya raja di tanah-air ini kaum priyayi merupakan golongan berdaulat — kedaulatan yang bukan pada tempatnya. Mereka merasa punya hak, sekalipun hak itu tak ada yang mengakui dan mensahkan selain golongan itu sendiri, menerima sebutan ndoro dari mereka yang bukan termasuk golongannya. Mereka lebih banyak kelihatan tenang daripada gelisah. Ketenangan karena mereka tak banyak memikirkan keadaan selingkungannya. Perhatiannya hanya pernantian akan datangnya kenaikan pangkat, kebesaran, gaji. Kadang-kadang mimpi bagus itu terbentur pada ketakutan yang tak beralasan: pemecatan, semprotan tuan sep dan turun gaji. Tapi sekarang, kita sudah bergerak. Bila priyayi tak suka bergerak, mereka akan tercecer.”
Sebagai biasanya aku tak mengerti betul apa yang dimaksudkan oleh semua ucapannya.
Di WAKTU-WAKTU itu nampak juga olehku akan adanya kegugupan yang meraba kehidupan kota kecil kami. Orang-orang dewasa mendirikan perkumpulan sepakbola. Dalam waktu yang sebentar tak kurang dari tiga perkumpulan didirikan di tiap kampung. Di kalangan anak-anak pun perkumpulan sepakbola tumbuh seperti cendawan. Di kalangan priyayi timbul perkumpulan-perkumpulan kesenian: ketoprak, wayang purwa, tari-menari Jawa atau beksan, menyanyi dan gamelan. Di kalangan anak-anak muda: sandiwara dan orkes. Ayah menjadi pelindung beberapa perkumpulan kesenian, olahraga dan sosial. Dan kabar yang kudengar dari ibu, bunda pun jadi pelindung perkumpulan wanita.
Banyak di antara orang-orang kampung kami jadi polisi. Dan dari mereka datang berita, gubermen menambah kekuatan polisinya. Tapi ini tak menghalangi datangnya bondongan-bondongan penduduk waktu mendengar, insinyur Sukarno datang berpidato di kota kecil kami. Juga tak menghalangi berkerumunnya beribu-ribu orang datang minta air obat dari doktorandus Sosrokartono4 waktu melawat ke sana. Dan hampir tiap kepala keluarga pulang membawa setengah botol air tawar dengan girangnya, seakan-akan seluruh keselamatannya terjamin oleh air itu.
Pagi-pagi benar selalu nampak puluhan orang berlari-lari dalam barisan. Dan tiap minggu hampir selalu terdengar ada pertandingan sepakbola. Seringkali nampak anak-anak berbaris dan menyanyikan:
Di Timur matahari mulai bercaya Bangun dan berdiri kita semua …
Ayah menyuruh kami semua masuk kepanduan. Dan waktu diadakan api unggun ada kulihat sebarisan orang-orang tua disumpah sebagai anggota kehormatan Kepanduan Bangsa Indonesia5. Dan di antara mereka itu terdapat juga ayah dalam uniform pandu. Kepanduan lipat empat banyaknya. Dan kemudian timbul dua kepanduan lagi, yang satu beraliran agama dan yang lain mempergunakan bahasa Belanda sebagai pengantar.
Pelahan-lahan tapi pasti kebencian pada Belanda timbul. Dan kebencian ini akhirnya merata. Dan suatu kali dengan senyum manis ayah berkata pada ibu: “Jangan dikira orang barat akan tetap lebih tinggi daripada orang timur.”
Ibu menikmati lezatnya kata-kata itu. Dan waktu kuperhatikan benar-benar, nyata bahwa perut bunda telah berisi. Aku masih ingat ucapan ayah yang dikatakannya waktu aku berumur tujuh tahun. Di kala itu juga ibu sedang memegangi buku. Sepuluh atau sebelas tahun kemudian kuketahui, buku tersebut adalah buku politik perekonomian tentang pergolakan kapas. Ya, kapas yang jadi rebutan dunia perdagangan dan jadi warna politik waktu itu.
Dengan pandang manis ibu melihat daku, berkata setelah memandang ayah: “Uang tidak saja datang dari kantor. Engkau mau jadi apa kelak, anakku?”
“Petani,” jawabku riang.
“Petani?” ayah bertanya. Dan aku bilang ya. Ibu meneruskan: “Kalau engkau betul-betul ingin jadi petani engkau tak boleh malas seperti sekarang.” Kemudian ia bercerita tentang ranca-ranca6 di Amerika Serikat, Australi dan kepulauan Hawaii.
Ucapannya yang sederhana menimbulkan semangatku untuk mencangkuli bidang tanah kecil yang disediakan untukku. Kadang-kadang bunda membantu mencangkulkan. Dan sekali waktu kami sedang menanam ubi jalar bunda berkata penuh pengharapan: “Buah jerih-payah sendiri lebih nikmat rasanya, anakku,” katanya. “Lihatlah! Keringatmu mulai bertitik. Itu akan baik untuk jalan darah dan kesehatanmu.”
Malah bunda bercerita juga bahwa kelak pegawai-pegawai tinggi yang memerintah seluruh Indonesia bukan Belanda lagi, tapi bangsa sendiri. Kemudian: “Engkau masih kecil sekarang. Nanti, kalau kau sudah lepas dari satu sekolahan lagi dan suka membaca buku-buku tebal seperti bapak, engkau akan banyak mengetahui, anakku — dan ubi yang kau tanam itu kelak akan berumbi. Juga pekerjaan orang-orang sekarang yang menghendaki pemerintahan bangsa sendiri. Tapi engkau belum lagi mengerti. Engkau tahu kesibukan ayah sekarang?”
“Bapak jarang di rumah,” kataku menyisipi.
“Ya, ayahmu jarang di rumah. Ayah sedang menanam ubi untukmu kelak — puluhan tahun yang akan datang — ubi yang takkan habis-habisnya kau makan.”
“Ubi. yang takkan habis-habisnya?” tanyaku.
“Ya, ubi. Maksudku ubi bukan yang kau makan sekarang. Maksudku ubi yang hanya dapat dimakan kalau engkau sudah besar. Maksudku keadaan yang lebih baik dari ini. Lebih baik untukmu nanti daripada untukmu sekarang. Juga untuk kawan-kawanmu.”
Aku berhenti mencangkul dan memandangi lama-lama. Melihat cangkulku tak berayun, bunda pun berhenti dan membalas pandangku.
“Engkau belum mengerti,” katanya menyesali diri sendiri. “Kelak engkau akan mengerti tanpa diceritai.”
Perkataan-perkataannya itu tak dapat terlupakan olehku hingga kini. Juga kegugupan yang meraba kehidupan kota kecil
Kak Hurip tak nampak sering mengobrol lagi. Ia diwajibkan oleh ayah mengajar di sekolah yang dikepalai ayah: sebuah sekolahan partikelir yang didirikan sembilan tahun sebelum aku lahir ke dunia. Setelah pulang dari mengajar ia tidur. Dan di sore hari ia memeriksa pekerjaan murid-muridnya, sedang di malam hari ia belajar. Ia tak punya banyak waktu lagi untuk mengobrol atau main catur ataupun main biola.
Sekali — aku masih ingat — pada suatu sore menghadapi seminggu liburan saudara-saudara angkatku menggerombol melingkungi meja belajar. Aku pun ada di sana dan sebagai biasanya di belakang kak Hurip. Dengan suara dikendalikan ia berkata penuh kepastian: “Pajak yang dipungut gubermen telah melemahkan kita semua. Ada-ada saja yang dikenai pajak. Dan kita semua menanggung bersama-sama oleh adanya pajak itu. Kita diharuskan membayar pajak pada tiap meter kain yang kita beli, juga waktu melangkahkan kaki di jalan aspal.”
Aku bisa menangkap apa yang dikatakannya itu. Dalam kepala aku berkhayal tentang senangnya hidup orang-orang bila pajak ditiadakan. Dan kak Hurip meneruskan: “Belanda datang kemari bukan untuk mengangkat engkau semua jadi pegawai tinggi. Mereka datang untuk minta uang dari kita — uang yang dinamainya pajak. Dan bila kita tak mau membayar, barang-barang kita dirampas, dan bila tak ada barang boleh dirampas, kita harus menjalani kerja paksa di penjara. Sungguh bijaksana kaum Samin7 itu. Mereka tak mau membayar pajak untuk selama-lamanya.”
Suaranya selalu mengandung kesungguh-sungguhan. Dan ini yang membuat anak-anak lain percaya pada tiap kata yang diucapkannya.
Perubahan yang kulihat kian nyata lagi, waktu orang-orang menyukai lurik, yakni kain tenunan dusun yang kasar dan lekas luntur itu. Juga para priyayi mengenakannya. Sekalipun aku bukan anak hartawan, tapi lurik tak pernah membangkitkan keinginanku. Cucilah dua-tiga kali dan warnanya tak menentu lagi. Tapi kulihat ayah berpiama dan berbaju lurik pula. Dan pada suatu hari yang baik kami semua mendapat baju lurik sesetel seorang. Aku tambah tak mengerti. Bila suatu kali kak Hurip dalam kepungan anak-anak berkata, bahwa: “Orang di India memakai lurik juga, dan kain-kain dari luar negeri dibakar di tanah lapang,” dengan sendirinya saja keluar dari mulutku: “Alangkah sayang. Kalau diberikan padaku, maulah aku.”
Tertawa berbareng membuat aku terdiam. Di kala itu insaflah aku bahwa aku belum masuk hitungan, dl dan apa yang patut kukerjakan hanya mendengarkan dan bukan memperdengarkan suara. Sekarang kak Hurip mengangkat aku di pangkuannya dan bilang: “Pemakaian lurik buatan sendiri dan pembakaran pakaian dari luar negeri itu swadesi namanya. Gunanya supaya bangsa sendiri bisa bekerja, dan bila mereka bekerja, mereka mendapat rezeki. Kalau yang kau pakai pakaian buatan orang asing, orang asing itulah yang bekerja membuatnya, dan dialah yang mendapat rezeki.”
Aku mengangguk tak mengerti. Percakapan yang sama sekali tak dapat kuikuti pun tak dapat kupahami terjadi sampai jauh tengah malam. Aku tertidur di tikar dan dibiarkan saja sampai pagi hari waktu dingin udara menggigit kulit.
Sungguh, di waktu-waktu itu lurik menambahi harga manusia yang memakainya. Tak heran bila suatu kali bunda bilang pada seorang perempuan tua yang datang dari kampung: “Buatkan aku dua belas potong sarung lurik yang warna dan coraknya baik untuk anak-anak.”
Aku mengerti, sarung itu adalah untuk kami semua. Bunda sendiri tak pesan kain panjang lurik karena ia tak senang memakainya.
Tukang tenun itu berkata riang: “Banyak sekali orang memesan lurik sekarang.”
“Sekarang zaman swadesi, mbok,” ibu menerangkan.
“Ya, perkataan itu sering diucapkan oleh orang-orang dusun kami,” tukang tenun itu menceritakan. “Zaman swadesi kata orang. Semua tetanggaku menenun siang-malam seperti waktu aku masih kanak-kanak. Dan orang-orang mulai menanam kapas di pekarangannya masing-masing. Malah tetanggaku tukang sandal — sandal dari ban mobil tua — laku amat dagangannya. Hampir tiap minggu datang orang koperasi memesan sekian pasang atau sekian kodi. Buruhnya banyak sekarang. Tadinya dia kerja sendirian. Dan waktu ini sudah lima belas buruhnya.”
Ibu tertawa senang mendengar kabar itu. Dan aku masih jua tak mengerti apa alasannya ibu jadi senang mendengarnya. Di kala tukang tenun pergi bunda berkata pada dirinya sendiri dengan pandang ditujukan padaku. “Swadesi menghidupkan kerajinan orang-orang dusun. Kalau ini bisa hidup sampai sekian puluh tahun, pak Kromo…” ia menunjuk ke arah selatan, ke rumah pak Kromo pembuat barang-barang dari bambu, “pasti dia akan hidup senang, tak sengsara seperti sekarang. Anaknya banyak. Delapan orang. Dan harga bakul cuma segobang. Satu bakul tak habis dikerjakan setengah hari oleh satu orang.” Sekalipun sudah banyak kudengar tentang swadesi, namun masih jua tak tahu benar aku apa pentingnya. Dan aku pun tak merasa punya kebutuhan untuk mendapat keterangan tentangnya.
Sementara itu kandungan bunda kian membesar jua. Oleh menuanya kandungan ia jarang bekerja. Seperangkat alat-alat tenun yang dibelinya dari dusun disimpannya di gudang. Tiga bulan yang lalu alat-alat itu dibelinya dan didatangkan olehnya tukang tenun untuk mengajarinya. Tujuh hari setelah belajar ia menenun sendiri. Tapi ia tak tahan menenun lebih dari tiga jam. Perut dan seluruh badannya terguncang-guncang, katanya. Kini ia sering duduk di teritis pendopo menghadap ke alam lepas sambil membacai buku asing tebal atau tipis. Dan ayah kian jarang nampak di rumah. Menanam ubi hari depan, kata bunda selalu. Dan bila ayah datang tidak jarang tiga-empat orang ikut dengannya. Kemudian percakapan tentang segala hal yang tak sempat kupahami terjadi di seling-seling tertawa terbahak atau bisik kesungguh-sungguhan. Di sela-sela percakapan yang meriah itu tak jarang terdengar olehku kata-kata: swadesi, koperasi, bank rakyat, perguruan, bacaan rakyat dan kegiatan pribumi. Aku senang mengetahui apa saja yang boleh kuketahui. Karena itu aku tak dapat menyalahkan diriku bila ikut-ikut mendengarkan percakapan para tamu itu dari sudut ruang tengah. Ini perbuatan yang tak terpuji untuk kanak-kanak di daerah kami. Tapi ayah tak pernah melarang. Malah waktu suatu kali seorang tamu menunjuk padaku dan berkata setengah ditujukan pada ayah setengah padaku: “Dia nanti meneruskan pekerjaan yang kini sudah kau mulai.”
Aku sering mendengarkan percakapan mereka: didorong oleh keinginan mendapat kata yang manis itu. Ayah tak menyambut ucapan itu, hanya tersenyum dan kumisnya yang tebal tertarik lempang oleh bibir.
Selamanya tamu-tamu itu berpakaian lurik, dengan sandal ban mobil atau telanjang kaki. Pada paras mereka memancar-mancar kemauan dan semangat besar oleh baju-lurik itu.
Lama-kelamaan tamu yang datang ke rumah kami kian membanyak. Para tetangga yang kukenal sebagai buta huruf datang untuk bicara dengan ayah. Dan lagi orang-orang yang sama sekali tak kukenal, juga punggawa-punggawa desa dari dusun-dusun yang jauh datang untuk bertemu. Kemudian banyak pula orang-orang tua datang dan mereka itu bukanlah buta huruf — minta kesempatan untuk turut mengikuti kursus politik, ekonomi dan pengetahuan umum. Juga banyak murid-murid yang baru lepas sekolah rakyat — baik gubermen maupun partikelir — untuk memasuki kursus guru dan pertukangan. Semua kakak-angkatku mengurus semua ini. Ayah mengawasi pendaftaran dari kursinya dengan air muka penuh kemenangan.
Beberapa minggu kemudian rumah kami tambah isi: dua duplikator, sepeti besar kertas dan lima mesin-tulis. Tiba-tiba saja rumah kami merupakan kantor. Semua mesin-tulis berdetak-detak, dan duplikator berputar mencetak pelajaran.
Di daftar penerimaan murid dapat kubaca: tiga ratus murid baru untuk pemberantasan buta huruf. Empat puluh untuk calon guru. Tiga puluh untuk pertukangan. Lima puluh untuk pengetahuan umum. Lima belas masuk taman kanak-kanak dan dua puluh untuk kursus bahasa Inggris. Kursus bahasa Belanda hanya sebelas orang, yakni para guru sekolah gubermen.
“Kita mulai sekarang,” sekali ayah bilang pada kak Hurip.
Dan sejak itu nampak olehku ayah menjadi pusat perhatian orang-orang di kota kecil kami. Selalu nampak ia sibuk bekerja, atau lama sekali tak pulang. Tumpukan buku tulis yang harus diperiksanya kian lama kian banyak. Kadang-kadang kakak-kakak-angkatku membantu memeriksa. Dan kelihatan juga olehku bunda senang dengan keadaan baru itu. Wanita pun banyak datang ke rumah kami dan bertanya-tanya pada bunda tentang ini dan itu. Dan selamanya bunda meluluskan permintaan mereka untuk jadi pelindung perkumpulan wanita yang banyak didirikan. Ada kalanya ia menghadiri rapat sekalipun kandungan sangat mengganggunya.
Sementara itu, bila ayah sedang di rumah, sering lewat polisi dengan mata menyelidik ke rumah kami dari atas sepedanya. Tapi mereka tak berbuat lebih jauh daripada menjiratkan pandang. Aku tak mengerti apa maksud polisi-polisi itu berbuat seperti itu. Dan waktu kutanyakan pada bunda mengapa, ia berkata menerangkan: “Mereka suka bila ayahmu tak berbuat apa-apa.”
“Bukankah kerja bapak hanya mengajar orang?”
“Mereka tak suka bila banyak di antara bangsa kita yang mengerti dan dapat baca-tulis.”
Bunda tak mau meneruskan keterangannya sekalipun aku bertanya terus. Dan aku diharuskan bersenang hati menunggu beberapa tahun lagi untuk mengerti dengan sendirinya.
Perubahan besar-besaran terjadi dalam keluarga kami. Kesibukan selalu mengisi waktu-waktu yang biasanya kosong dan lesu. Dan kalau aku sedang melayap ke jalan-jalan kota, kadang-kadang kutemui orang berkata pada kawannya sambil menunjuk daku. “Ini dia anaknya.”
Malah pernah di antara orang-orang seperti itu mengajak aku bercakap-cakap tentang ayah, dan kadang-kadang juga memberi aku uang. Dan aku merasa bersenang hati. Dengan sendirinya saja terbit dalam pikiranku: ayahku orang penting di kota kami.
Hampir-hampir menjadi kebiasaan setelah pulang mengajar ayah makan bersama bunda. Di waktu seperti itu juga pada suatu kali kulihat wajah ayah suram dan dingin. Sedang menyediakan makanan untukku waktu itu, kemudian terdengar olehku: “Engkau terlampau banyak bekerja. Tak enak badankah, kau?” ibu bertanya.
Ayah jawab tidak.
“Lebih baik engkau ambil istirahat barang seminggu.”
“Bukan karena pekerjaan. Ini — sebetulnya kita harus jadi tuan rumah dulu, baru kita boleh berbuat sekehendak hati. Tentu saja berbuat yang memberi faedah pada masyarakat.”
“Bicaramu tak punya pembukaan dan buntut,” bunda menuduh.
“Surat sudah datang.”
“Mengapa bicaramu begitu kacau?”
“Surat dari gubermen.”
“Mengapa surat?”
“Surat ancaman. Atau bolehlah kau sebut surat peringatan. Aku harus mematikan semua kegiatanku.”
Tajam-tajam bunda mengamat-amati ayah. Di saat itu pulalah aku pergi. Selalu saja aku berhasrat mengabarkan apa saja yang kuketahui. Dan kejadian itu kukatakan pada kak Hurip. Tapi beritaku tak disambutnya dengan keheranan. Aku lihat parasnya lesu seperti air muka ayah. Ia pun tak menyambut kabar itu dengan semestinya. Kecewa aku duduk diam-diam di ambin dapur menantikan ayah dan bunda habis makan. Dan di waktu itu juga terbayang wajah ayah yang dingin dan muram itu.
“Engkau tak makan dengan bapak?” babu bertanya.
Aku menggeleng.
“Mengapa tidak?”
“Bapak tak boleh kerja,” kataku mengadu setengah mengabarkan.
“Siapa berani melarang ayahmu? Tak ada orang berani melarang ayahmu. Orang-orang bilang, sampai ndoro wedono pun takut pada ayahmu.”
Ucapan itu kupikirkan benar-benar — kuhafalkan untuk dapat kukatakan pada orang lain. Tapi wajah ayah yang suram dingin menghapus pikiran itu. Bersicepat aku pergi pada kakak angkatku yang berumur lima belas dan masih duduk di kelas lima. Kuceritakan padanya apa yang kudengar dari ayah dan bunda.
“Ya,” selanya. “Waktu bapak sedang mengajar pembuka ilmu kenegaraan di kelas kami datang lima orang polisi dan mantre polisinya sekali.”
“Mengapa aku tak lihat?” tanyaku ingin.
“Kelasmu sudah pulang.”
Dan aku mengerti sekarang. Ia meneruskan ceritanya: “Semua buku karangan bapak yang dicetak di Semarang — buku pemberantasan buta huruf kelas satu dan dua — disita. Tak kurang dari tujuh ribu buah. Sungguh sayang. Bapak begitu payah mengerjakannya. Dan mencetaknya pun minta ongkos yang bukan sedikit. Untuk tiga jam kami tak mendapat pelajaran apa-apa. Kemudian semua guru dikumpulkan. Dan kami semua menunggu di. kelas masing-masing. Waktu itu pulalah kami lihat polisi-polisi mengangkuti buku-buku itu. Dan hari itu juga kawat-kawat listrik di sekolahan dicabuti. Sekarang orang tak dapat belajar malam lagi.”
Akhirnya ceritanya itu tak penting benar untukku. Cuma wajah ayah yang suram dingin membayangkan bencana hebat bakal datang.
Waktu aku datang kembali di meja makan, ayah dan bunda telah selesai. Terdengar olehku: “Dan bagaimana nasib bank rakyat yang kau modali lima ribu rupiah itu?” ibu bertanya. Ayah hanya menggeleng. Dan dalam gelengannya itu tersembunyi bencana lebih besar yang akan mengancam. “Akhirnya kita-kita juga yang harus menyelesaikan hutang untuk modal itu.”
Lambat-lambat ayah berkata dengan kata-kata yang lepas-lepas: “Kewajiban kita hanya berusaha. Tapi bila keadaan lain dari yang kita harapkan, itu bukanlah urusan kita lagi.”
“Yah,” kata bunda seperti keluhan terpagas. Kemudian dengan suara membohongi kesedihan diri: “Namun aku percaya, tanamanmu takkan kering disapu terik matari. Aku selalu berdoa untuk keselamatanmu dan kelancaran pekerjaanmu. Tapi kalau yang buruk jua yang datang — sesungguhnya memang bukan urusan kita lagi.”
Sejak itu tak banyak lagi orang datang ke rumah kami. Juga anak-anak sekolah yang biasanya bermain-main tak datang. Dengan demikian rumah kami merupakan sebuah pulau terpencil. Ibu lebih pendiam lagi dari biasanya. Sering kulihat kak Hurip duduk termenung-menung memegang buku. Tapi buku itu tak dibacanya. Dan bila ia insaf akan keadaannya, matanya diruntuhkan kembali pada jajaran-jajaran huruf. Tapi ia tak membaca. Ia mengeluh panjang, kemudian bangun dan pergi meninggalkan rumah. Sampai aku pergi tidur biasanya ia belum juga datang.
Di sekolahan, murid kian lama kian mengurang. Seorang kawan yang bapaknya jadi pegawai negeri bilang padaku: “Pegawai gubermen bila punya anak bersekolah di sekolahan partikelir takkan menerima tunjangan lagi.”
Tambah lama murid tambah sedikit. Sekolah rakyat tempat kami bersekolah dan bermurid hampir-hampir empat ratus orang kini tinggal delapan puluh-empat lagi. Gedung sekolahan kami tak menyinarkan seri dan keagungan lagi seperti tadinya. Suram dan muram.
Dan waktu suatu kali aku mendekati bunda yang sedang berbaring terdengar olehku ia mengeluh seorang diri: “Kasihan, mereka akan dilepas dari pekerjaan dan jabatannya bila berani terus jadi anggota perkumpulan.” Dan aku lihat air mata melelehi pipinya. Air mata itu membuat aku bisu dan segera melarikan diri.
Suatu malam aku terbangun. Suara dari kamar sebelah kamarku tempat kak Hurip tinggal, terdengar membatu dan kejam: “Mereka mencekik urat nadi kita. Aku tak tahan lagi tinggal di kota kecil yang terlampau banyak penyakitnya ini.”
Aku tahu suara itu ke luar dari mulut kak Hurip. Lagu suaranya menerbitkan sangkaanku bahwa ia sedang meletuskan kemarahannya. Tapi aku tak mengerti mengapa ia marah. Dan pada keesokan harinya ia menghadap ayah dan minta izin untuk pergi mengembara. Sejak itu ia tak pernah memberi kabar tentang kesehatannya, di mana tempat tinggalnya dan juga tak menyurati adakah ia bekerja atau meneruskan pelajaran.
Sering bunda menasihati daku agar mencontoh kak Hurip dalam kerajinannya membaca — sampai-sampai di kakus ia tak ketinggalan dengan bukunya. Dan sejak ia meninggalkan kami, ia selalu disebut-sebut dengan rasa sayang yang jujur dan tak ditonjol-tonjolkan. Tapi kini ia tak pernah mengirimkan kabar ada di mana.
Seperti juga halnya dengan di masa-masa yang sibuk dulu, kini ayah lebih sering tak datang ke rumah. Kadang-kadang hingga tiga-hari-tiga-malam ia tak nampak. Di sekolahan pun tidak. Bila ia ada di rumah tak lagi ia membaca buku atau memeriksa pekerjaan murid-muridnya, juga tak nampak lagi ia jalan-jalan di kebun atau mengajak kami berjalan-jalan di waktu subuh. Jarang ia tersenyum. Malah bicara — bila tak perlu betul — jarang sekali. Dan bunda lebih sering berbaringan di ranjang daripada pergi ke dapur atau melihat-lihat tanaman di kebun. Perubahan yang cepat dan mahabesar itu tak luput dari perhatianku. Dan aku pikir — pikiranku yang kecil pula: ada sesuatu yang terjadi di luar kekuasaan ayah dan bunda.
Setelah pelataran sekolahan kami dibelukari rumput, kegelapan dan kesuram-dinginan lenyap dari paras ayah. Ia mulai masuk mengajar dengan teratur. Tapi di malam hari sering ia tak pulang. Dan pada suatu malam waktu ayah tak ada di rumah, bunda berkata padaku: “Sudah terlampau banyak kita memberi keenakan pada bangsa asing di sini. Tapi apa yang harus kita terima darinya hanya kesengsaraan dan tipuan, kekerasan dan ancaman, kepalsuan dan tindasan,” katanya parau seperti orang mengancam.
Kucoba dengan pikiran kanak-kanakku untuk mengertikan ucapan itu. Tapi sia-sia. Aku tak mengerti. Dua kali kucoba mengertikannya. Sia-sia jua. Dan aku tak berani menanyakan. Lagu suara ibu itu — aku takut mengenangkannya. Aku diam. Dan bunda tak peduli pada kediamanku.
“Aku harap,” ia berkata lagi. Tapi sekali ini bukan dengan lagu mengancam, parau dan gelap. Suaranya lunak penuh harapan dan anjuran, “belajarlah engkau baik-baik, anakku. Kak Hurip pandai, tapi ia belum kuasa mengatasi keadaan ini. Ia terpaksa melarikan diri untuk melupakan kekecewaannya. Ayahmu pun pandai, tapi juga belum kuasa. Karena itu, anakku, engkau harus lebih pandai daripada mereka semua. Kalau engkau bisa lebih pandai dari mereka — jauh lebih pandai — takkan gagallah usaha dan pekerjaanmu.”
Aku tak mengerti benar apa maksud ucapannya itu. Tapi kelunakan suaranya itu membuat aku terharu dan tak tahu apa yang harus kuucapkan. Bunda merangkul daku dan mencium leherku. Dan ada kurasai hangat air matanya. Aku masih jua tak mengerti.
Waktu badai itu telah reda, bersuaralah aku: “Bapak tak boleh bekerja lagi. Tapi mengapa dia sering pergi juga?”
“Pelajaran murid-muridnya tak boleh tercecer, anakku.”
“Tapi kawat-kawat listrik sudah dicabut dan malam hari bapak masih jua tak datang. Bekerja juakah bapak?”
“Ayahmu sangat kecewa. Engkau takkan mengerti apa maksudku. Engkau masih kanak-kanak dan tak pernah merasai kekecewaan orang dewasa. Ayahmu kecewa, dan dia membutuhkan hiburan.”
Jawaban itu membatalkan maksudku untuk bertanya lebih panjang lagi. Bukan saja karena aku tak mengerti, pun karena irama suaranya mengandung sesuatu yang mengerikan dalam perasaanku.
Di masa kanak-kanakku, sering aku pergi melayap ke seluruh daerahku. Mula-mula yang kukunjungi ialah pasar sehabis jualan berhenti dan tukang sapu belum memulai pekerjaannya. Di sana kukumpulkan cap-cap benang bola. Dan kertas-kertas itu kukumpulkan dalam kotak geretan. Banyak di antara kawan-kawanku punya ratusan, bahkan ribuan. Dan barangsiapa mempunyai lebih banyak daripada yang lain, dia akan merasa lebih kaya — tak ubahnya dengan orang-orang dewasa dalam masyarakat dengan uangnya. Dalam percakapan, pengumpulan cap-cap benang bola mendapat tempat istimewa. Dan orang segan membantah jika ada yang membual, karena dalam hati mengharapkan sekian lembar dari milik si pembual.
Di waktu melayap itu tak jarang kulihat ayah sedang main judi di pendopo rumah orang lain, kadang-kadang rumah orang Tionghoa. Dan aku lewat di depan rumah itu pura-pura tak tahu. Dengan demikian tahulah aku apa yang dimaksudkan bunda dengan hiburan itu. Namun aku tak pernah mencocokkan pengertianku itu padanya.
Dalam melayap itu kadangkala terdengar olehku orang mempercakapkan ayah yang membelokkan kegiatannya dalam berbagai lapangan gerakan ke dalam kegiatan berjudi. Tapi selamanya aku diam saja mendengar itu. Hati kanak-kanakku sudah dapat merasai suatu kehinaan dalam ucapan judi itu. Ajaran etik dari bunda sangat kuat pengaruhnya atas kehidupan kanak-kanakku. Namun semua ini tak pernah kuceritakan pada bunda, hingga pada suatu hari: “Barangkali ada engkau melihat ayahmu?” tanya bunda.
Sore hari waktu itu. Dari sekolahan ayah tak langsung pulang. Semua ini kuketahui. Dan segera aku menjawab: “Aku lihat ayah ada di…”
“Carilah. Katakan padanya, ibu minta supaya dia pulang.”
Kudapati ayah sedang menghadapi kartu. Di kala dilihatnya aku datang, air mukanya nampak keruh. Tapi, sekalipun begitu, kala kukatakan padanya ibu memanggilnya pulang, ia bilang: “Sebentar lagi aku pulang.”
Beberapa detik sesudah aku sampai di rumah ayah pun datang.
Bunda tak banyak bicara. Ayah pun tak banyak bicara. Malam itu kulihat ayah membaca sebuah buku bahasa Belanda. Aku tak tahu tentang apa. Dan waktu aku pergi tidur terdengar olehku bunda berkata dalam kamarnya pada ayah: “Aku kira sudah cukup lama engkau menghibur kekecewaanmu itu.”
Aku tak ada mendengar ayah menjawabi. Dan aku pun tertidurlah. Dua-hari-dua-malam keadaan berjalan aman. Ayah tak .- pergi. Sehabis sekolahan bubar ayah pulang seperti biasanya. Tapi waktu dua-hari-dua-malam itu berlalu nampak ayah jadi gelisah. Dan pada suatu jam yang tak terduga-duga ia pergi lagi. Bunda tak berkata apa-apa melihat kepergiannya itu. Dan bila kebetulan ayah datang dari sekolahan sebelum berangkat pula untuk berjudi, bunda pun tak melarangnya pergi. Sampai pada suatu hari: “Sudah empat hari ayahmu belum juga pulang,” kata bunda di ranjang.
Aku lihat kemurungan sedang menyerang air mukanya. Dan aku bilang ya.
“Ambillah potlot dan kertas,” kata bunda lagi.
Bunda menulis surat. Aku lihat susah benar ia mengisi kertas itu dengan kata-kata yang dikehendakinya. Hanya sebentar ia menulis. Surat kecil itu diserahkannya padaku dengan tiada berkata apa-apa, kemudian ia berbaring lagi di ranjang.
“Untuk ayah, ibu?” aku bertanya bimbang.
Lama ibu tak menjawab. Dan aku memandanginya dengan hati bingung. Akhirnya kulihat juga bunda mengangguk. Dan aku pergi. Dalam sepotong hari itu ayah kucari. Tak juga kudapat. Tempat-tempat yang biasanya dipergunakan untuk main judi kosong saja. Dan setiap aku datang ke rumah yang biasanya jadi tempat judi segera saja aku mendapat sambutan: “Ayahmu tak ada di sini.”
“Barangkali tuan tahu di mana dia berada?”
“Barangkali di rumah tuan Anu-anu.”
Dan aku pergi ke rumah tuan Anu-anu. Tak juga ada. Empat-lima jam aku berjalan mengedari kota. Tak berhasil. Dan aku tak berani pulang mengingat air muka bunda sebentar tadi. Putus asa kududukkan badanku di bawah pohon asam pinggir jalan. Kenangan yang sedih-sedih timbul tenggelam dalam benak kanak-kanakku. Sedih! Dan aku tak tahu mengapa kesedihan yang kukenang-kenangkan. Penyitaan buku-buku karangan ayah oleh polisi, koperasi dan bank yang gagal, murid yang menipis, duplikator yang tak pernah diputar lagi, mesin-tulis yang tak berdetakan seperti biasanya, lapangan sekolah yang diruyaki rerumputan — dan sebuah warung koperasi pusat yang terletak di sudut kota — tempat yang sering kukunjungi bersama ayah dulu — itu pun harus ditutup pintu dindingnya. Itu pun terbayang dalam benakku. Kemudian kebun percobaan ayah yang membentang di depan rumah — kebun yang harus dijual untuk pembayar hutang modal di bank — yang kini kepunyaan pemerintah gubermen. Itu pun terbayang. Tiba-tiba wajah ayah bermain dalam ingatanku: kumisnya dan jenggotnya yang jarang dicukur di hari-hari belakangan ini. Ya, aku lihat ayah nampak lebih tua daripada biasanya oleh kumis dan jenggotnya. Tiba-tiba suatu perasaan yang aku tak mengerti tapi menyayukan menyerang diriku. Badanku kusandarkan pada batang asam. Kuraba kantong celanaku. Kukeluarkan surat kecil bunda. Aku takut membacanya. Tapi keinginanku mengetahui apa saja yang mungkin dapat kuketahui membatalkan ketakutanku. Dan kubaca surat itu:
Adakah engkau tak pernah memikirkan mahluk yang sedang kukandungkan ini? Hormatilah dia dengan tirakatmu pada Yang Mahakuasa, agar kelak dia jadi manusia yang berbudi dan cerdas. Pulanglah.
Sekiranya engkau tak sudi pulang setelah menerima surat ini, doakan saja aku mati dengan membawa anakmu yang belum kulahirkan ini ke liang kubur.
Tak ada tanggal. Juga tak ada tandatangan menutup surat itu. Namun kata-kata yang tertulis itu sudah cukup kuat untuk mengucurkan air mataku. Segera surat itu kukembalikan ke dalam kantong celana. Dan semua saja yang sebentar tadi terbayang, kini kembali melela megah. Wajah-wajah yang berseri murung dan harapan yang jauh dari darat, laut dan udara — juga jauh dari diri manusia, juga jauh dari diri sendiri.
Surat itu memaksa aku bangkit untuk segera berusaha kembali mencari ayah. Akhirnya kudapati juga dia sedang main judi di beranda-belakang rumah orang Tionghoa. Seperti biasanya bila dipanggil pulang, ia nampak tak senang hati. Tapi surat itu diterimanya juga. Sebentar dibacanya. Kemudian: “Sebentar lagi aku pulang,” runtunan kata-kata yang selalu melegakan dadaku.
Betul-betul ayah datang tak lama sesudah aku tiba. Ia tak segera mendapatkan bunda, tapi hanya memperdengarkan suaranya dalam percakapan dengan anak-anak. Ada terasa olehku suaranya memang dikeraskan agar terdengar oleh bunda. Kemudian aku tak tahu lagi apa yang terjadi antara orang tuaku. Tapi mulai saat itu ayah tak pergi-pergi lagi untuk berjudi. Di rumah sering ia membantu kami belajar. Seminggu pun lalulah.
Kemudian datang tiga orang tamu. Mengobrol sepuluh-lima belas menit. Aku mengeluarkan hidangan untuk mereka. Dan waktu aku sudah kembali dari ruang-depan, ayah mendapatkan bunda di dalam kamar. Terdengar lambat-lambat olehku: “Ini rumah tempat semua anakku selain yang pertama kulahirkan. Aku tak rela rumah ini dipergunakan untuk tempat judi. Engkau harus ingat pada anak-anakmu.”
Aku masih ingat betul: hari itu baru jam dua siang. Dan ayah beserta tamu-tamunya berangkat ke rumah kami yang satunya lagi yang terletak empat ratus meter di sebelah utara yang kami diami. Baru sekali itu bunda tak sudi menerima tamu ayah. Dan apa yang mengherankan hatiku, setelah ayah dan para tamunya pergi, segera ia bangun dari tempat tidurnya. dipanggilnya anak angkatnya yang tertua dan disuruhnya membeli roti tawar enam potong.
Gesit bunda seorang diri pergi ke dapur: memasak poding roti.
Babu dilarang membantunya. Dimasukkan keju manis banyak-banyak agar poding itu lezat sekali cita rasanya. Menjelang senja empat di antara kakak-angkatku dan aku sendiri mengantarkan makanan itu ke tempat judi. Aku lihat ayah sangat terkejut melihat antaran makanan sebanyak itu. Air mukanya berubah. Tapi dengan suara girang berseru: “Aduh! Poding, alangkah enak.”
Dan tamu-tamunya tertawa riang, sekalipun kartu lebih penting daripada makanan. Mereka melepaskan mata dari kartu pada penganan untuk menghormati tuan rumah dan berseru senang lebih ditujukan untuk menghormat daripada sebenarnya: “Alangkah enak.”
Kami pulang dengan tiada berkata sepatah pun jua dalam berjalan itu.
Suatu waktu yang tak kusangka-sangka, tukang tenun dari dusun datang ke tempat kami untuk menemui bunda. Aku pun turut menemui.
“Lurik susah lakunya sekarang,” kata orang itu. “Tadinya banyak orang pesan. Sekarang tak ada. Malah yang sudah jadi tak ada yang mau beli selain orang-orang kampung yang tak beruang. Tidakkah nyonya pesan lurik lagi?”
Lemah-lembut ibu bilang tidak karena lurik sudah banyak di lemari. Orang itu mengeluh. Meneruskan ceritanya: “Perusahaan sandal tetanggaku sudah mati sama sekali. Dia meninggalkan dusun dan menguli di kota. Dan buruhnya tak keruanlah penghidupannya — tak bedanya dengan keluargaku.”
“Ya, zaman swadesi sudah lalu, mbok,” Ibu menerangkan dengan suara gelap merongga. Dan waktu mengucapkan itu matanya berkaca-kaca. Dulu senang ia bercakap-cakap dengan orang-orang yang datang dari dusun. Tapi sekarang tidak.
Lesu tukang tenun itu pergi menyeberangi kali kembali ke dusunnya.
Swadesi jarang sekali dipercakapkan orang. Jauh berbeda dengan dahulu. Dan orang-orang kampung kami banyak menyesal turut menabungkan uangnya di koperasi-koperasi: hilang percuma. Demam swadesi memudar dan padam. Ketenangan kembali menyelimuti kota kecil kami. Para pegawai tak lagi memainkan sandiwara kebesaran bangsa dalam kepalanya. Kembali mereka memaksakan diri memasuki kebiasaannya: berangkat kerja, tinggal di kantor untuk sekian jam, pulang, main-main dengan bininya, tidur, bangun lagi — kemudian berulanglah hari yang kemarin.
Dan di kampung-kampung orang melupakan swadesi dengan berjudi. Judi! Judi! Sampai anak-anak kecil yang baru bisa mencari penghasilan dua-lima sen sehari kena demam judi. Persabungan ayam pun mendapat nyawa dan hidup subur. Kabar dari kampung-kampung menyatakan bahwa gubermen mengadakan lima puluh lowongan untuk calon polisi dan anak-anak muda berebut memasuki lowongan itu. Kabar-kabar lain tentang kian banyaknya orang yang ditangkap karena perjudian, persabungan ayam, pencurian dan pembunuhan, sering datang mengunjungi kuping kami.
Di waktu-waktu seperti itulah kedua duplikator dan semua mesin-tulis yang ada di rumah kami dimasukkan ke dalam peti-peti. Atas pertanyaanku bunda berkata: “Barang-barang itu harus dikembalikan pada tokonya karena ayahmu tak sanggup lagi meneruskan pembayaran.”
Dan beberapa hari kemudian rumah kami kedatangan beberapa orang yang mengangkuti perkakas rumah-tangga. Baru aku hendak bertanya pada bunda mau dibawa ke mana barang-barang itu, bunda telah menggelengkan kepala. Aku tak meneruskan maksudku. Namun di kemudian hari tahu jualah aku, barang-barang itu disita oleh seorang yang menghutangkan uang pada ayah. Ayah tidak ada di rumah waktu orang-orang itu mengangkati perabot rumah-tangga itu. Malam harinya bunda memanggil kami. Seorang disuruhnya mencari ayah. Seorang lagi disuruhnya memanggil bidan. Dan aku mendapat tugas memasak air dengan babu. Dua jam kemudian semua orang yang disuruh telah kembali. Hanya seorang yang tak berhasil, yakni yang mencari ayah. Tapi adikku yang ke empat lahir juga dengan selamat: lelaki! Anak itu menjerit — dengan jeritan suara yang sehat.
Keesokan harinya waktu matahari sudah menyinari bumi, aku datang ke kamar bunda untuk melihat adikku yang baru dan untuk menciumnya — mahluk yang untuk selama-lamanya akan jadi saudaraku sekandung. Bunda menyongsong kedatanganku dengan senyumnya. Dan adikku sedang tidur nyenyak. Segala penderitaan lenyap dari paras bunda. Di saat itu juga ayah datang dan langsung saja menuju ke dalam kamar bunda, berseru lambat: “Lelaki! Dia akan lebih besar daripada bapak dan ibunya.”
Dan terdengar olehku bunda menyahuti dengan suara merongga, tak bertenaga dan dipaksakan keluar, penuh kebanggaan: “Dia takkan mendapat apa-apa dari kau. Juga tidak dari tempat dan zamannya. Dia akan tumbuh sendiri.”
Aku pergi.
Dan bersamaan dengan lahirnya adikku yang ke empat, swadesi menarik nafasnya yang penghabisan, takkan lagi mendarat di bibir pejuangnya yang telah dihancurkannya. Juga koperasi dan pemberantasan buta huruf. Dan perjudian serta persabungan ayam dan pencurian, pembegalan dan pembunuhan berbaris menyerbu di tepi-tepi daerah kami. Kadang-kadang mengguris tengah-tengahnya. Pasukan polisi diperbanyak lagi dengan beberapa puluh orang.
Akhirnya: Semua kembali berjalan seperti tadinya. Tenang dan damai kota kecil kami Blora. Dan yang terkemudian sekali: lahirlah zaman senja yang mengayunkan dan kadang-kadang mengejuti, terus merasuk ke dalam kepekatan malam.
Tapi matari akan terbit lagi di ufuk timur.
Jakarta, viii-1950
Cerita pendek
Yang Menyewakan Diri
Dari Cerita dari Blora (1952). Teks dari cetak ulang Hasta Mitra, 2002.
Empat tahun umurku. Itu kalau aku boleh percaya pada ingatanku. Dan keluarga itu pun sudah kukenal lama: kakek dan nenek Leman, Leman, Siah, Nyamidin dan Sidin.
Bila aku datang ke rumah mereka pada jam sembilan pagi, mereka masih ada di rumah. Belum lagi memulai pekerjaannya. Dan aku menggalai-galai pada kaki kek Leman. Ia mengerti, diberinya aku sisa kopinya. Dan aku tertawa. Dan ia tertawa. Dan nenek Leman tertawa. Dan bila aku bertanya: “Mana, Siah, kek?” jawabnya sudah tentu “masih tidur”.
“Tapi aku sudah bangun.”
Selamanya ia tertawa mendengar kebanggaanku pada diri sendiri.
“Siah anak malas,” suara yang sering terdengar untuk tak melukai kebanggaan diriku.
“Leman, nek?”
“Ke kali — mandi”
“Nyamidin, kek?”
“Belum pulang. Semalam jaga di gardu. Kau sudah lihat gan du di dekat kuburan? Di sana dia tidur.”
“Belum bangun?”
“Barangkali belum bangun. Capek meronda semalam.”
Kadang-kadang aku pun menerima ubi atau singkong rebus. Kalau sesuatu yang menyenangkan tak dapat kuharapkan lagi, aku berlari-larian pulang. Bercerita pada bunda tentang penga- ’ laman sebentar tadi. Hampir dapat dipastikan bunda segera mengangkat telunjuk di depan hidung. Matanya yang agak sipit terpaku pada parasku. Menyuarakan kata-kata:“Ibu sudah sering bilang. Kau tak boleh pergi ke sana. Kau ganggu mereka yang sedang kerja.”
“Mereka tidak bekerja.”
“Karena kau datang ke sana mereka tak kerja.”
“Tapi Siah masih tidur. Yang lain-lain masih tidur juga.
“Karena itu kau tak boleh datang ke sana,” telunjuknya turun dan jatuh di pangkuan. Suaranya yang berisi keteguhan itu melunak: “Malas itu penyakit, seperti penyakit mata. Dia bisa menular. Kalau engkau sering ke sana, engkau ketularan kemalasannya.”
Aku tak pernah mendengar nasihat seperti itu. Dan kembali aku pergi ke sana bila matahari di sepenggalan langit. Aku ceritakan ucapan ibu tentang kemalasan yang bisa menular itu. Dan kek Leman berkata tenang dan jujur: “Aku orang malas. Kalau aku rajin, apa aku kerjakan?” ia tertawa pelahan melalui hidung. “Aku tak punya sawah. Tak punya ladang. Pacul pun tak punya. Aku hanya punya golok. Saban hari kuasah.” Matanya dilemparkannya pada batu-asahan yang mencekung dalam di tengah-tengah, bersih dan hampir-hampir mengkilat. “Kalau ada orang panggil aku untuk menggantinya meronda, aku dapat dua setengah sen. Kalau aku tak punya golok setajam itu, aku takkan dipanggil orang untuk menggantikannya.”
Suaranya berisi musik sayu. Aku suka mendengarkannya.
“Katakan lagi,” pintaku.
Kek Leman hampir tak pernah membantah permintaanku. Diulang-ulangi kata-katanya itu pelahan-lahan. Sekalipun pengertianku atas deretan ucapannya tak begitu lengkap, dapat aku menghafalkannya. Di rumah, bila ibu tak ada, tak jarang kata-kata orang tua itu kuulang-ulang seorang diri. Musik sayu terbawa juga sekalipun kuucapkan melalui mulutku.
Dan suatu kali waktu bunda bilang padaku: “Tiap pemalas doyan makan,” dan lagi, “watak yang menyusahkan orang. banyak,” sejak itu kata-kata kek Leman tak pernah kuulang-ulang lagi. Aku tak tahu mengapa. Namun ada terasa suatu tantangan dalam ucapan bunda, seperti ditujukan padaku dan pada kek Leman.
Kemudian lama aku tak pergi ke rumah keluarga Leman, sampai suatu kali datang kembali aku ke sana. Bertanya: “Mana Siah?”
Kek Leman menundukkan mukanya. Nek Leman mendeham pelan. Dua-duanya tak menjawab. Dan tiap aku datang selalu kutanyakan. Tapi suatu waktu ada kek Leman bilang: “Siah per gi — pergi ke Palembang.”
“Jauh Palembang, kek?”
“Jauh. Di seberang. Naik kapal kalau pergi ke sana.”
“Untuk apa pergi ke sana, nek?”
“Cari uang. Nanti kalau pulang ia akan membawa real emas,” nenek Leman menjawab. Tergambar pada air mukanya ejekan pada dirinya sendiri.
“Sekarang zaman lebih susah,” kakek bercerita dengan tiada dipinta. “Banyak priyayi kehilangan pangkat”
Kata-kata itu kuhafalkan satu-satu, untuk dapat kukabarkan pada bunda atau ayah. Gelisah benar aku sebelum berita itu dapat kusampaikan. Dan di sore hari waktu ayah duduk-duduk di bangku kebun segera aku mendekat. Nyaris saja berita itu kukabarkan, tapi lebih dulu keluar dari mulutnya: “Dulu kau minta disekolahkan. Sekarang tak minta lagi?” Dan aku melonjak-lonjak kegirangan.
“Tentu aku minta lagi sekarang,” teriakku. “Kapan aku disekolahkan, bapak?”
“Besok.”
Berita baru itu.melupakan aku pada berita kuperoleh dari kakek Leman. Keesokan harinya mulailah hari pertama aku jadi murid — pada umurku yang keempat itu. Kini kurasai, betapa rumah sekolah itu betul-betul merampas kopi yang harus kuterima dari kakek Leman. Selain di hari-hari libur atau minggu, tak ada kesempatan padaku guna mengembara di pagi hari. Di sekolahan banyak kawan baru kuperoleh, kabar-kabar baru dari seluruh kota, dan pemandangan yang tiap hari berganti.
Kalau aku pulang sekolah kadang-kadang kakek Leman menunggu aku di depan rumahnya dan diberinya aku layang-layang yang baru dibuatnya. Tapi heran, tak pernah aku bisa menerbangkan layang-layang barang sebentar pun. Tidak seperti anak-anak lain. Akhir-akhirnya layang-layang pemberian itu jadi sasaran kemarahanku belaka — kurobek dan kupatah-patahkan.
Aku kira tak kurang dari setengah tahun lamanya aku tak pernah pergi ke rumah kakek Leman. Hingga datanglah waktu itu: hari libur panjang. Liburan itu membatalkan larangan bunda buatku untuk bermain-main sepuas.hati.
Suatu hari di waktu liburan, waktu aku sedang bermain-main dengan kawan-kawan di tengah jalan, berhenti sebuah dokar di depan rumah kakek Leman. Dengan tiada diperintah semua anak yang bermain-main menyerbu ke dalam rumah kakek Leman untuk mencari kabar baru dan barangkali juga penganan.
Dan aku lihat Siah duduk di bale di samping seorang lelaki setengah tua yang berbaju hitam. Ia menunduk saja. Siah tersenyum melihat aku, bangkit dari bale dan mendekati.
“Sudah lama tidak bertemu. Kangen aku.” Ia tertawa.
Aku lihat ia memakai dua gigi emas. Peniti kebayanya terbuat dari realan emas tujuh buah yang disambung-sambung dengan rantai emas.
“Sudah kaya engkau sekarang?” aku bertanya.
Dari pertanyaan itu aku mendapat jawaban sebuah cium yang jujur.
“Boleh aku mendapat satu real itu?” tanyaku.
Ia menggeleng lembut. Dengan suaranya yang merayu ia bilang: “Kalau engkau sudah besar, engkau bisa dapat sendiri.” Habis berkata diberinya aku penganan oleh-olehnya.
Di kursi kakek Leman bercakap sopan dengan lelaki yang juga bergigi emas seperti Siah. Heran aku kakek bisa sesopan itu. Nenek Leman ribut di dapur menjerang air.
Dan sejak kedatangan Siah, sering lagi aku datang ke rumahnya. Ceritanya tentang gajah, tentang macan, tentang murah-uang dan murah-emas menarik perhatianku. Diajarinya aku menirukan suara-suara binatang buas. Di rumah kuceritakan kembali berita-berita yang terpungut oleh otakku. Juga di sekolah kusiarkan semua kabar itu. Dan setelah cerita habis diberitakan, lega pula rasanya di dalam hati.
Setelah hari libur habis, kedatanganku ke sana ialah setelah bubaran sekolah. Lebih sering kudapati Siah masih tidur di siang hari itu daripada jaga. Hingga pada suatu kali nampak olehku lelaki yang bergigi emas itu tak ada lagi di rumah kek Leman.
“Di mana dia, kek?” tanyaku.
“Pergi,” jawabnya tak senang.
“Ke mana?”
“Tak tahulah.”
“Siah?”
“Belum lagi pulang:
“Turut sama dia?” tanyaku ingin. )
Ia menggelengkan kepala. Berat gelengannya itu.
“Takkan kembali lagi dia, kek?”
Nenek Leman muncul dari dapur dan menjawabkan: “Aku doakan dia takkan kembali lagi. Biar mampus di laut.”
“Laut mana, nek?”
“Laut di seberang,” jawabnya gusar.
Dan aku berpikir, barangkali Siah berangkat ke Palembang lagi. Tapi ini tak kutanyakan. Aku lihat air muka kedua orang tua itu bermurung-murung.
“Sudah lama aku tak melihat Leman. Di mana dia, kek?”
Kakek Leman mengeluh panjang.
Ia mendongeng sayu: “Banyak priyayi kehilangan pangkatnya sekarang. Mereka tak bisa memanggil Leman lagi untuk disuruhnya membetulkan pagar atau kakus. Kalau dia menggantikan orang jaga, aku tak mendapat upah. Sekarang aku sudah tua. Jadi giliran mengambil upah jaga itu diserahkan padaku. Dia pergi mencari uang di tempat lain.”
“Di mana, kek?”
“Cimahi — mendaftar jadi serdadu.”
“Kalau dia pulang mesti berpakaian hijau, bukan kek?”
“Aku kira, dia takkan pulang lagi. Aku pikir, dia takkan ingat pada kakek dan nenek lagi. Aku kira…”
“Dulu memang banyak serdadu tak pulang lagi,” sela nenek. “Spandri pensiun itu bilang, perang Aceh1 sudah habis. Pekerjaan serdadu sekarang tak ada, cuma belajar baris dan menembak-nembak.”
Dan aku ingat pada barisan pelpulisi2 yang tiap Rebo dan Sabtu menuju ke tempat latihan menembak di seberang kali. Gagah mereka. Badan besar-besar dan kerabinnya mencongak-congak di atas punggung.
“Nyamidin, kek?”
“Sekarang sawah dikerjakan yang punya sendiri. Susah uang sekarang. Jadi dia pergi entah ke mana. Tak ada orang yang membuatkan mainan kayu untukmu lagi,” katanya.
“Tidak senang dia di sini?”
“Kalau orang ada uang, di mana-mana pun akan merasa senang. Lain lagi kalau tak punya, dan uang itu susah pula dicari.” Ia batuk-batuk entah karena apa. “Lebih baik jangan tanya-tanya lagi,” katanya kemudian. Kepalanya tunduk — tunduk — terus tunduk sampai ke meja. Rambutnya yang keabu-abuan campur-aduk antara hitam dan putih menenggelamkan mukanya. Aku pergi. Dan ia tak tahu.
Tentu saja semua itu kuceritakan pada bunda dan ayah. Walaupun mereka betul-betul memperhatikan tetapi pura-pura tak mendengarkan. Aku tak tahu mengapa. Namun semua itu tak menyenangkan hatiku.
“Sudah mandi?” tanya ayah memutuskan seluruh beritaku.
Pertanyaan itu cukup untuk memaksa aku pergi ke kamar mandi. Selama mandi kulihat-lihat tembok dinding. Tiba-tiba aku berpikir: “Kamar mandi ini jauh lebih bagus daripada rumah kek Leman.”
Sehabis mandi kutanyakan pada ayah: “Mengapa kamar mandi kita jauh lebih baik daripada rumah kek Leman?”
Ayah nampak berpikir sungguh-sungguh. Tapi waktu menjawab, jawabannya hanya sepantun tertawa sumbang. Dan aku tak mengerti. Aku lihat tiba-tiba bunda berpikir sungguh-sungguh. Dan aku bertanya padanya: “Mengapa kamar mandi kita lebih bagus, bu?”
Aku lihat masih juga ia mengerutkan keningnya. Dan waktu kerut-mirut itu lenyap, ia memandang daku dan berkata:“Sudah bisa membaca engkau sekarang?” pertanyaan yang teramat aku benci.
Aku berdiam diri kebingungan. Ibu bangun dari tempat duduknya, mengambil tanganku, dan digandengnya aku ke pendopo. Belajar! Dan sebentar kemudian kupingku merah-merah karena tangannya. Setelah air mataku kering terdengar larangannya: “Sekarang engkau tak boleh pergi ke sana lagi. Kalau pergi juga …, ancaman yang baru sekali itu kudengar, “hati-hati, aku hajar engkau dengan tangkai sapu.”
Dan sejak itu tak lagi aku datang ke sana.
Waktu yang setahun lewatlah. Tetapi aku masih juga duduk di kelas satu. Tumbuh badanku hampir sama dengan tumbuhnya kecerdasanku: lambat. Di tiap permainan aku masih dianggap pupuk-bawang — hanya ikut-ikutan dan belum mendapat hak penuh. Dan di suatu waktu aku turut dengan anak-anak bermain sembunyi. Kami bersembunyi di belakang rumah kakek Leman. Dengan tiada terduga-duga terdengar olehku suara seorang lelaki yang belum pernah aku mendengarnya: “Mau tidak?” tanya suara lelaki itu mengandung desakan.
“Tidak berani, ndoro. Betul kami miskin, tapi kami orang baik-baik.”
“Lima rupiah?”
“Tidak berani, ndoro.”
“Enam rupiah.”
“Tujuh,” kata orang itu pula, “aku lihat golokmu begitu tajam. Sekali tebas habislah pekerjaanmu.”
“Tujuh setengah,” dan desakan itu terdengar terus, “sepuluh rupiahlah. Aku tak berani lebih tinggi lagi.”
Suara-suara itu tak kuperhatikan benar. Waktu kami merangkak keluar dari sembunyian, kulihat seorang priyayi keluar dari rumah kakek Leman. Ia berkain batik bagus, berselop mengkilat, berblangkon Solo dan berbaju tutup dengan kancing perak. Itu pun tak menarik perhatianku. Dua-tiga hari kemudian ada juga orang itu kulihat. Namun perhatian itu tak juga timbul.
Kemudian sampailah malam itu — malam yang tak dapat kulupakan. Ayah dan bunda duduk-duduk di pelataran dengan aku dan adik. Sinar bulan memancar-mancar terang. Tapi dengan tiba-tiba saja, bulan tersaput oleh mendung tebal: gelap. Guntur mulai menderum. Kadang sayup kadang keras. Dan kilat mengejap-ngejap. Kami masuk ke dalam rumah untuk makan malam. Dan di luar, kentongan sambut-menyambut dari sudut ke sudut.
“Kentongan mana yang memulai tadi?” ibu bertanya.
“Kelurahan kampung sini.”
Kami diam mendengarkan.
“Titir3 — rajapati4,” ayah bilang. Ia bangun dari kursinya. “Jangan keluar. Baik aku pergi sebentar.”
Ibu kelihatan gugup. Tapi aku tak mengerti apa yang telah terjadi. Berulangkali aku bertanya padanya, tapi bunda tak juga menjawab. Matanya menjalang kian kemari, mengembara dari sudut yang gelap ke sudut lain. Lampu minyak di tengah-tengah meja menyala damai. Adik sudah sejak jam tujuh tadi tidur.
Seperempat jam kemudian ayah kembali. Air mukanya kusut.
“Apa yang terjadi?” Ibu menyerangnya dengan pertanyaan.
“Ah, kakek Leman,” jawab ayah sambil duduk di kursinya. “Untung martil yang dipergunakannya. Yang dihantamnya masih bisa lari ke kelurahan.”
“Apa betul kakek Leman si tua itu?” Ayah mengangguk.
“Diapakan orang ia sekarang?”
“Dipukuli. Tapi untung ia tak mempergunakan goloknya.”
“Mengapa pakai martil?” ibu bertanya.
“Waktu diperiksa dia bilang. Golok, ndoro, cuma golokku yang memberi aku penghasilan selama ini. Aku tak boleh mempergunakannya untuk berbuat durhaka. Jadi kupergunakan martil.”
“Ada apa, bapak?” aku bertanya. Tapi ayah tak memperhatikan.
“Aku tak percaya si tua begitu jahat,” bunda bilang.
“Semua itu mungkin. Tidak selamanya orang waras ingatan”
Dengan diam-diam kami makan. Tetapi hal kakek Leman tak juga hapus-hapus dari perhatianku. Dan malam itu seluruh kota diliputi suasana yang gelisah yang membersit dari hati tiap-tiap penduduknya.
Pagi harinya kabar tentang rajapati semalam melebar ke mana-mana. Sejak itu kakek Leman tak lagi nampak di rumahnya.
Orang bilang ia dikunci di dalam penjara. Tiap pagi kutunggu-tunggu, kalau-kalau ia seperti pesakitan lain mengangkuti tong-tong kakus dari penjara ke kali. Ia tak nampak. Dan aku pun berangkat ke sekolah dengan kenang-kenangan padanya.
Tiga bulan kemudian meniup-niup berita: kakek Leman dijatuhi hukuman tujuh bulan dan harus menjalani kerja paksa di Malang. Di rumah ayah bilang pada bunda: “Betul juga dugaanmu. Bukan dia yang jahat. Ia mendapat sepuluh rupiah untuk perbuatannya itu dari seseorang.”
Kucoba bercerita pada mereka tentang desakan priyayi yang datang ke rumah kek Leman. Tapi mereka tak memperhatikan dongengku. Aku terpaksa berdiam diri dengan cerita yang mengamuk dalam hati — cerita yang harus kuceritakan pada siapa saja untuk melapangkan dada.
Berita, bahwa kakek Leman mencoba membunuh orang, betul-betul mengguncangkan pendapatku terhadapnya. Kenang-kenanganku padanya tak jarang membuat aku takut di malam . Sebelum kakek itu pulang kembali ke rumahnya terjadi pula sesuatu yang mengagetkan hatiku.
Sore itu kami main balo di tengah jalan. Dari jauh nampak sesosok tubuh yang berjalan payah, terbungkus dalam pakaian serba hitam. Tapi tubuh berjalan itu tak kuasa mengalahkan keasyikan permainan kami. Karena itu bukan main terkejutku waktu tiba-tiba saja ia berdiri di depanku. Sosok tubuh tadi! Di dekatan nampak ia mesum, membungkuk, tegaknya dibantu oleh sebilah tongkat. Mulutnya tersenyum padaku. “Sudah lupa engkau padaku?”
Nampak olehku gigi-emasnya. Siah! Ingatan itu menghubungkan kenanganku pada kakek Leman. Aku ketakutan, menjerit dan lari pulang. Tiga-empat kali aku menengok ke belakang, dan nampak olehku tubuh Siah masih berdiri membongkok memandangi daku.
Tak kuceritakan pada siapa pun juga pengalamanku sore itu, walaupun ingin benar aku hendak menyiarkan ke mana-mana. Malam itu aku tak sanggup belajar. Tarikan bunda pada kupingku, juga cubitannya sekalipun, tak kuasa membantu menarik perhatianku pada pelajaran.
“Mengapa engkau bertambah goblok!” teriak bunda kesal.
Kemudian aku ditariknya ke kamar mandi, dicuci kakiku, digendong dan dilemparkan ke tempat tidur. Suaranya merayusekarang: “Mengapa engkau begitu bodoh?”
Tapi bayangan Siah dan kenangan pada kakek Leman lebih menguasai diriku daripada ketakutan pada cubitan dan tarikan pada kuping bunda. Waktu kulihat bunda menekur sedih, baru aku memberanikan diri berkata: “Aku ketakutan, bu.”
“Pada apa?”
“Siah datang, mengajak aku berbicara. Aku takut dimartil kakek Leman.”
Ibu mengusap-usap kening dan rambutku. Berkata lunak: “Tidak apa-apa. Tidurlah.”
“Aku takut.”
“Tidur denganku?”
Aku mengangguk. Dan malam itu aku tidur aman dalam rangkulannya.
Di pagi harinya terdengar juga olehku, bahwa realan emas Siah telah habis tandas. Emasnya tinggal yang melekat pada giginya. Sekali kulihat ia pergi ke kali untuk mandi, dan jalannya tak seperti dahulu lagi. Di antara kedua kakinya seakan-akan ada bantal besar yang tak kelihatan. Di mana pun jua ia kelihatan selalu berpakaian hitam itu jua yang melekat pada tubuhnya.
“Mengapa Sidin tak pernah datang ke rumah orang tuanya, bu?” tanyaku pada bunda waktu kabar tentang Siah meniup ke sana kemari.
“Sidin anak rajin. Ia sudah bisa beli rumah sekarang. Tentu saja ia tak mau bersusah-payah untuk orang-orang malas. Ibu pun tak suka bekerja untuk orang malas. Dan kalau engkau malas, ibu juga tak mau memasakkan makanmu.”
Ucapan itu cukup kuat untuk membisukan mulutku.
Waktu yang panjang berderet-deret lenyap dari sehari ke sehari. Kini nek Leman sering nampak keluar rumah. Tiap orang tahu, ia mengembara ke rumah tetangga-tetangganya di waktu saat makan tiba. Siah jarang nampak selain waktu hendak mandi ke kali.
Sekali waktu aku turut makan siang, bunda bilang pada ayah: “Tadi nek Leman kemari.”
“Kau beri nasihat?” tanya ayah.
“Ya.”
“Apalah harganya nasihat untuk dia. Beri uang atau nasi dan suruh pergi lagi ia. Tidak ada seorang pun yang bisa menyembuhkan kemalasannya.”
Aku tak berani menyumbangkan suaraku.
Waktu yang tujuh bulan itu akhirnya habislah.
Kakek Leman kembali ke rumah. Ia tak pernah keluar dari rumah. Tiap hari ia bekerja keras membuat keranjang dan barang-barang lain dari sabut. Ia tak bergaul dengan orang-orang lain lagi. Bila ia diundang selamatan ia datang, tidak mengobrol sedikit pun. Bila selamatan habis, ia pun pulang dengan diam-diam.
Sekali seminggu ia membawa barang buatannya ke pasar. Nenek Leman tak pernah mengembara lagi di waktu saat makan sampai.
Sekali-sekali aku lihat kek Leman menganyam di luar rumah. Melihat aku ia pun tak mau menegur dan terus menyelesaikan pekerjaannya. Dan bila ia kembali merenungi pekerjaan, nampak tak selembar pun rambut yang tinggal hitam — putih semata.
Jakarta, ix-1951
Bagian Ketiga
Bara Pendudukan Jepang dan Revolusi Fisik (1942–1949)
Dia yang Menyerah
Larasati
Mencari Anak Hilang
Cerita
Dia yang Menyerah
Dari Cerita dari Blora (1952). Teks dari cetak ulang Hasta Mitra, 2002.
Jepang tak melupakan kampung-kampung yang sering dilupakan oleh ilmu bumi. Dan karena kampung kami terletak di kota kecil yang merupakan suatu terusan yang menghubungkan pantai Rembang-Lasem dengan daerah pedalaman yang penting, maka pasukan Jepang pun menusuk kota kami — kampung kami yang damai itu.
Aku masih ingat betul.
Waktu itu Jepang datang membawa dua truk serdadu bersenjata lengkap. Di belakangnya mengiringi empat truk berisi mayat yang disusun tumpang-tindih. Di atas mayat-mayat itu digelarkan tenda truk. Tak rapi menggelarnya hingga mayat-mayat dengan mulutnya yang kejang itu menganga-nga-nga menantang langit. Tapi bukan itu yang penting. Inilah yang penting: Jepang datang. Para pegawai kebingungan seperti ayam menghadapi sekaratnya. Kota kami yang kecil, yang miskin, penuh dengan penipu dan orang baik hati itu, jadi goyah.
Tiap hari rakyat membalaskan dendamnya pada undang-undang pemerintahan Hindia-Belanda marhum. Penggedoran terang-terangan mengisi minggu pertama pendaratan bala tentara Jepang. Kota kami kebanjiran manusia yang berduyun-duyun dari tepi-tepi hutan dan kaki-kaki pegunungan untuk menyaksikan ajalnya sejarah kebesaran Belanda di tanah air. Dan di samping itu mereka beramai-ramai menggedori toko-toko, kantor dan rumah sekolah.
Suatu runtunan detik sewaktu orang tak mau mengerti lagi apa gunanya ada pemerintah dan pemerintahan di atas bumi ini.
Tapi akhirnya kekosongan pemerintahan itu diisi oleh pemerintahan militer. Bulatan-bulatan merah tergambar di tiap surat plakat. Hukuman mati dan berat jadi penggada yang teramang-amang di depan tiap keselamatan di tiap detik. Penggedoran mati. Kembali kota jadi tenang dan aman seperti seabad yang lalu — sebelum perdagangan modern memorak-porandakan kehidupan. Toko — pusat pembagian dalam pengertian perdagangan bebas — habis digedori. Perdagangan matilah sekarang. Pemborosan barang gedoran sebentar saja membanjiri pasar. Dan tiga minggu kemudian — semua barang itu lenyap habis dari peredaran. Kota kecil kami mulai guncang dan gelisah selayak ikan dilemparkan ke darat. Perdagangan menghadapi ajalnya.
Kemudian, kekacauan lahir dan batin timbul bersusun-tindih. Dan seorang demi seorang mulai mati oleh kesedihan dan kelaparan. Dan di waktu itulah ibunya meninggal.
Tapi waktu itu Sri masih kecil. Jadi dia hanya menangis sedikit. Kemudian tangis itu hilang dengan sendirinya. Dan kesulitan rumah-tangga belum jua terasa olehnya. Kala itu Sri berumur sebelas tahun. Mei 1942. Dan dia baru duduk di sekolah dasar kelas lima — sekolah rakyat partikelir1.
“Karena Jepang betul-betul berusaha membunuh Belanda dan sekolah-sekolah partikelir yang berdasarkan kebangsaan, sekolahannya itu pun akhirnya merana dan kemudian mati dengan sendirinya: ditutup! Berat hatinya begitu besar untuk meninggalkan bangku rumah sekolah yang sudah sekian lama berdiri — lama sebelum ia dilahirkan! Juga tempat semua kakaknya memperoleh ijazah. Karena perasaan yang halus, ditangisinya juga tempat belajar yang gugur di masa pendudukan itu. Tapi air mata seorang gadis kecil tak ada Nippon.
Dia pindah ke sekolah ialah mencab harganya buat bala tentara Dai pemerintah. Pelajarannya setiap hari uti rumput dan memasakkan nasi buat para romusa2 yang seminggu atau tiga lagi akan harus mati.
Dan selama itu kakaknyalah yang menyelenggarakan rumah tangga. Kakaknya itu berumur dua tahun lebih tua daripada Sri. Setengah tahun yang lalu dia tamat dari sekolah rakyat kebangsaan yang telah mati merana itu.
Sebulan sesudah ibunya meninggal, kedua kakak Sri yang lelaki lagi merantau. Dengan demikian yang ada di rumah tinggallah ayahnya, kakaknya Perempuan, adik perempuan yang bernama Diah, dan tiga anak lelaki bernama Husni, Hutomo dan Kariadi. Dan mereka hidup sebagai sebatang pohon kering di tengah-tengah hutan yang kehabisan air.
Pendaratan balatentara Dai Nippon membuat lapisan muda jadi dinamis. Mereka mengagumi Jepang. Dan Jepang telah meruntuhkan seluruh kebesaran dunia kulit putih di daratan Asia dan pulau-pulaunya. Terutama ini sangat terasa oleh kalangan para murid dan mereka yang baru saja meninggalkan bangku sekolah. Berbagai kursus timbul. Mula-mula: kursus bahasa sendiri. Dan di masa seperti itulah Is tik. Ijazah sekolah dasar dan hidup keluarga. Dia harus mengundurkan diri dari bangku sekolah.
Mula-mula ia berontak juga karena dua bulan lagi dia boleh meninggalkan sekolah dasar pemerintah dengan ijazah dengan angka dan kata-kata yang baik. Tetapi anak yang berumur dua belas tahun itu tak berani melawan kehendak kakaknya yang dua tahun lebih tua daripadanya.
Hampir setiap sore setelah Is pulang bekerja, Sri merajuk: “Mbak, cobalah engkau berhenti kerja untuk dua bulan, biar aku meneruskan sekolah dulu. Dua bulan saja. Kalau aku sudah tamat, engkau bekerja lagi.”
Dan sebagai biasanya Is menggelengkan kepala tanpa berkata sepatah pun jua — terus makan, kemudian tidur seperti juga adat pegawai-pegawai lainnya. Dan seperti biasa juga, Sri merasa diabaikan oleh kakaknya. Dan matanya yang besar jadi berkilau-kilau merah. Dia lari ke pojok rumah dan mengucurkan air mata sepuas-puasnya. Dia merasa jadi mahluk yang sia-sia dan disia-siakan. Dan apabila dia jadi terkenang pada ibunya — pada orang tempat dia mengadukan untung — ibunya yang baru meninggal itu, tambah deraslah air matanya.
Pada bapaknya dia tak berani mengadukan apa-apa. Antara bapak dan anak sudah sejak mulanya terdapat penceraian yang jauh. Bapak terlampau banyak bekerja untuk kebaikan masyarakat. Dengan demikian rumah-tangga sendiri kocar-kacir. Dan antara anak dan bapak kemudian membentang jarak yang jauh — beberapa puluh mil.
Bila adik-adiknya datang bertanya mengapa menangis — dia menjawab sambil mengusap air mata, jawaban yang hampir tak terdengar: “Keadaan sudah begini berubah.
Atau segera ia membuka-buka isi lemari untuk menikmati kenang-kenangan peninggalan mendiang ibunya di lemari itu: surat gadai dua belas lembar yang tak tertebus dan jadi tak berharga oleh penyerbuan bala tentara Dai Nippon3. Barang-barang emas di pegadaian sudah digondol oleh tentara Belanda sebelum mereka melarikan diri ke Australi. Dan surat-surat gadai itu membuat tangisnya kian mengamuk. Kertas-kertas itu memaksa hatinya berteriak-teriak: “Ibu juga menderita! Dia menderita!”
Dan yang tertinggal di dalam lemari hanya sepasang markis dan dua pasang anting-anting, spesial tak digadaikan oleh ibunya agar anak-anaknya ada beremas sedikit.
Kota kecil kami punya dalilnya yang klasik: emas membuat wanita jadi berharga. Dan dalil itu selalu melonjak dan merangkak-rangkak di kalangan kaum wanita. Juga dalam kepala perawan-perawan kecil yang belum balig. Maka peninggalan yang tak berharga itu dibagi untuk ketiga anak perempuan itu.
Is mendapat markis dan kalung yang sudah sejak kecil dipakainya. Sri mendapat anting-anting emas dua puluh dua karat dan seberat empat gram, dan Diah demikian pula.
Selain emas, kain untuk wanita kota kecil kami menjadi barometer harga diri pula. Tapi kain dan kebaya ibunya yang banyak itu telah hilang begitu saja waktu para pelawat datang di kala ibunya itu meninggal dunia. Dan ketiga perawan kecil itu tak kebagian sebagaimana mestinya. Tetapi mereka tidak mengeluh. Orang-orang tua di kota kecil kami selalu merasa berhak untuk dihormati orang yang lebih muda. Juga merasa berhak mendapat bagian yang terbaik, bagian yang terbesar dan yang paling menarik. Mereka yang merasa dirinya lebih muda, tak punya hak penuh untuk membantah — melanggar kesusilaan, kata golongan tua-tua.
Kalau kakak Sri telah bangun dari tempat-tidur, biasa hatinya masih menyimpan kejengkelan-kejengkelan yang dipungutnya dari percakapan dengan adiknya. Dihampirinya Sri dan berkata menusuk: “Menangis? Mengapa menangis?”
Sekali Sri memberanikan diri mencoba membela kepentingannya: “Mbak, kurang dua bulan lagi aku lulus. Aku harap engkau mau ke luar dari pekerjaan dulu. Untuk dua bulan saja. Engkau yang menyelenggarakan rumah-tangga mengganti daku. Dan biarlah aku bersekolah lagi. Kalau aku sudah tamat, engkau boleh bekerja lagi dan aku yang mengurus rumah-tangga kembali. Mau bukan, engkau, mbak?”
Is memberengut. Berkata lagi menusuk: “Engkau adikku — dan engkau harus mengalah.”
Dan insaflah Sri pada istiadat kampung kami. Ia pun mengalah. Is boleh bekerja terus untuk bisa menguasai gaji tiga puluh rupiah sebulan. Dan Sri harus menyerah — harus membiarkan mati citanya untuk dapat memperoleh ijazah sekolah dasar.
Kali ini Sri menyerah untuk pertama kali dalam hidupnya. Dengan seluruh kesadaran dan kerelaan ia menyerah. Dan gadis kecil itu mengharuskan dirinya jadi kurban yang jatuh untuk mengurus kepentingan bapaknya, kakaknya dan keempat adiknya. Ia hanya bisa mengeluh pelahan — keluhan yang kosong: “Alangkah baik kalau ibu masih ada. Tapi keadaan sudah jauh berubah. Dan kita semua sudah berubah pula karenanya.”
Tidak jarang ia berdoa sehabis mengeluh: “Moga-moga mereka dapat mencapai yang mereka citakan.”
Dan dirinya sendiri — kian lama ia kian tertanam pada tempat dan kewajiban yang tertentu dalam rumah-tangga. Dan tak ada ruang lagi untuk bergeser tempat.
Kadang-kadang, bila teringat ia bisa memperoleh yang lebih baik daripada yang sudah didapatnya sekarang, ia menangis. Menangis lagi dan menangis. Tangisan yang tidak lagi pergi kepada penyesalan. Tidak — ia menangis hanya untuk menangis belaka. Ia menangis bukan untuk dirinya yang jatuh jadi kurban perjuangan rumah-tangga. Dan keadaan memang sudah jauh berubah. Tak ada tempat lagi untuk mengadu. Pabila keadaan itu diadukannya pada adik-adiknya, ia takut kalau-kalau terjadi pertentangan keluarga satu-sama-lain. Kalau berani, maulah rasanya ia mengadukan pada bapaknya. Tapi orang itu sama saja dengan momok baginya. Bapaknya hanya mengurus pekerjaan sehari-hari dan kepentingan masyarakat. Kepentingan keluarga sama sekali tak berarti untuknya.
Ia pun tak berani mengadu pada bapaknya, mengapa uang belanja diterimakan pada Is dan bukan padanya yang menyelenggarakan rumah-tangga. Ya, ia tak berani mengadu. Mau, tapi tak ada keberanian. Dan sekiranya dicobanya juga, barangkali ia mendapat salah pula: ia lebih muda daripada Is. Bukankah Is dua tahun lebih tua daripadanya? Tapi pikiran kanak-kanaknya telah dapat meraba kebesaran uang belanja untuk orang yang menyelenggarakan rumah-tangga. Semua itu membuat dia jadi pendiam dan penangis.
Sebagai seorang yang berdarah panas, haus akan perbaikan masyarakat, benci pada penjajahan Belanda dan belum sadar akan kejahatan penjajahan Jepang, bapak mereka terlampau bersimpati pada penjajah baru yang berpanji-panji kemakmuran bersama itu. Siang-malam ia mempelajari bahasa Jepang hingga jadi juara kedua di keresidenan.
Sebelum Jepang menyerbu, ia pun sudah mempelajarinya dari kursus tulisan yang diselenggarakan oleh sekolah Ksatrian4 Bandung. Tapi pelajaran itu tak dapat terus oleh panasnya politik di masa itu — panas politik yang terasa di selingkupan dunia.
Orang tua itu pun berangan-angan ingin punya anak yang besar seperti pahlawan-pahlawan Dai Nippon. Dengan demikian tiap jam setengah lima pagi anak-anak harus sudah bangun: taiso dan kakiashi5.
Karena Is sudah berumur empat belas tahun, sudah sampailah saatnya untuk menghias diri. Dan karena semangat bapaknya itu mendatangkan berpuluh-puluh buku bahasa Jepang, maka semua itu membuat uang belanja bertambah tipis. Dan Sri yang sejak berumur dua belas tahun harus bertanggung-jawab atas makannya tujuh orang, kian jadi kurus, pendiam dan penangis.
Tiap hari ia mendapat belanja dari kakaknya. Dan dengan penetapan besarnya belanja, Is bisa tahu berapa rupiah uang boleh dipergunakannya untuk diri sendiri.
Dan keadaan kian lama kian buruk. Bahan makanan kian susah didapat. Bahan pakaian hanya ada dalam angan-angan belaka. Dan untuk orang jujur serta tak bermodal, uang pun susah. Beras berganti jagung. Jagung berganti gaplek. Dan akhirnya gaplek berpindah ke ubi jalar — daunnya! Semua itu bisa diatasi bila orang mau jadi jahat sebentar saja. Tetapi keluarga Sri turun-temurun takut pada kejahatan. Jadi dengan kejujuran yang tak kenal kompromi mereka menjalani kesengsaraannya.
Untuk bapaknya dan juga untuk Is, semua itu tak begitu terasa. Mereka punya uang belanja sendiri di kantong masing-masing. Dan mereka bisa duduk-duduk di bangku warung bila saja mau.
Sri dan adik-adiknya harus bisa menelan apa saja yang bisa ditelan dan menghilangkan lapar barang sebentar. Tapi akhirnya habis juga daging Sri dan keempat adiknya. Tinggal kepala mereka jua yang masih gemuk — seperti gerundang kering.
Semua keadaan buruk yang menimpa diri anak gadis kecil belum balig itu membuat pikirannya jauh lebih tajam daripada seharusnya. Perasaannya pun jadi runcing, halus dan terasah. Dan selain itu semua: jiwanya telah kejangkitan perasaan menyerah. Ya, anak sekecil itu telah tahu apa artinya menyerah. Dan ada terasa olehnya suatu ketegangan batin dalam penyerahannya itu. Kemudian dipandangnya segala keadaan yang bermain di depan matanya dengan sikap tinggi hati dan menertawakan. Dan bila kakaknya berkeluh-kesah kehabisan uang, dia tersenyum lembut dan berkata merendahkan diri: “Apa arti semua ini, mbak? Tak ada artinya-sama sekali. Anggaplah diri ini sebagai sedang bertirakat saja.”
“Apa? Engkau mau menggurui aku?”
Dan tangkisan itu selalu membuat dia insaf, ia cuma seorang adik saja. Dan ia berdiam sambil menggelimangkan senyum yang disembunyikan di ujung hati.
Suatu kebiasaan di kota kecil kami — juga di antara keluarga orang-orang kecil di tempat kami: apabila pertentangan terjadi antara kakak dan adik, adik harus mengalah. Umur menjadi modal perkasa dalam pergaulan. Dan orang-orang yang lebih tua mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Dan dalam keadaan seperti itu lekas-lekas Sri pergi dari dekat kakaknya. Untuk menghibur diri, ia pergi ke kamar adik-adiknya. Pakaian-pakaian mereka yang robek dijahitinya dengan benang serat nanas. Dan bila pakaian itu dilubangi tikus, dicarikannya tambalan. Kalau tambalan tak ada, disobeknya rok sendiri bagian bawah. Dan dengan pengurbanan yang kecil itu ia merasa berbahagia. Ia merasa jadi seorang ibu yang cinta pada anak-anaknya. “Walaupun zaman ini diperuntukkan dunia buat Jepang, anak sekolah tetap harus berpakaian bersih,” kata perasaannya. Ia mengerti perasaannya itu. Tapi ia tak dapat mengucapkannya. Ia tak punya bahasa untuk itu.
Waktu berjalan dengan lambatnya sebagaimana biasanya di hari-hari yang tak menyenangkan.
Seringkali rumah tak berlelaki dewasa. Jepang menghendaki manusia yang dinamis — dinamik yang diperlukan untuk kemenangan Dai Nippon dalam peperangannya. Dan bapaknya orang dinamis. Sebentar-sebentar satu-satunya orang lelaki dewasa itu didetasir ke kota-kota keresidenan lainnya. Kadang-kadang lama ia tak pulang. Tak jarang ia pergi berkonferensi ke Jawa Timur atau Barat. Dan dalam keadaan seperti itu, bila malam datang dan pelita menyalakan minyak tanah masakan kampung — minyak-tanah gelap — dan kesunyian, kejahatan serta kematian berpatroli merangkak-rangkak di luar rumah, isi rumah yang belum dewasa semua itu berkumpul jadi satu di ruang tengah dan tidur berjajar-jajar di tikar yang sudah robek-robek.
Juga tak jarang salah seorang dari mereka menangis oleh kesunyian dan ketakutan dan ingatan pada ibu mereka yang telah tak ada lagi. Dan bila seorang saja mulai menangis, yang lain-lain pun turut menyumbangkan sedu-sedannya. Rumah mereka terpencil di pojok kota dan terpisah dari para tetangga.
Tetapi, lama-kelamaan mereka tak takut lagi pada malam. Mereka tak gentar lagi pada kegelapan dan kesunyian. Dan ahirnya kesunyian serta kegelapan dan malam itu sendiri jadi kawan mereka yang tak pernah mengkhianati. Ingatan pada mendiang ibu mereka akhirnya menjadi sesuatu yang merupakan penghormatan daripada rindu dan kesedihan. Cuma kelaparan merajalela, di tiap saat, di tiap pojok usus dalam perut. Namun mereka telah memiliki kebesaran: menertawakan perut masing-masing bila sedang berkeruyuk minta isi. Kadang-kadang sambil berkata mengejek: “Tirakat, perut — tirakat!”
Tertawa yang meriah pun menyusul.
Apa yang agak menguntungkan dari keluarga-keluarga lain ialah, keluarga Sri punya kebun lebar. Tidak seperti tanah kami di Blora yang terlampau kurus untuk ditanami. Dan kebun itulah yang mereka usahakan beramai-ramai. Ini membuat kakak-beradik itu menjadi jengkel pada tanam-tanaman mereka. Dan buah atau umbi yang mereka harapkan hanya menghasilkan kekecewaan, mereka membohongi kekecewaan itu dengan memuaskan diri memaneni daun-daunnya.
Suatu kali yang tak dapat mereka lupakan seumur hidup, mereka bongkar kakus keluarga. Isinya mereka pergunakan untuk jadi pupuk. Bukan main tertawa para tetangga mendengar kabar pemupukan dengan kotoran manusia itu. Tetapi keluarga Sri telah pandai penutup kuping. Akibatnya: tanaman mereka hidup subur, hijau, cepat besar, dan buah serta umbinya menggairahkan hati dan perut.
Kemudian — para tetangga datang seorang demi seorang hanya untuk meminta. Tapi keluarga Sri tak sedikit pun merasa tersinggung oleh tingkah laku mereka. Justru sifat pengasih itu diwarisinya dari bapak dan ibu mereka. Dan mereka merasa berbahagia bila bisa meneruskan sifat-sifat warisan itu. Namun sementara itu, perkakas makan dan dapur dan pakaian sebuah demi sebuah turut membantu menggembungkan perut. Lemarinya yang tadinya padat, berkurang waktu ibu mereka meninggal, kini merongga hitam dan menyayukan. Dan untuk wanita — Sri, Is dan Diah terutama — lemari kosong telah cukup untuk menitikkan air mata mereka.
Sudah sekian lama kedua kakak yang lelaki tak juga ada kabarnya. Kadang mereka mengingat-ingat sedikit. Tapi tak ada seorang berani mengatakan ada di mana mereka berdua sekarang. Malah waktu sekali datang tamu dari jauh dan menanyakan, mereka tak berani berkata sedikit pun jua. Dari seorang nenek yang menyebut dirinya telah kenyang garam dunia, mereka dipaksa untuk mengendalikan mulut.
“Dalam zaman kacau seperti ini, jangan engkau mengumbar mulutmu tak berkendali. Maut sekarang amat murah — di mana-mana dan di waktu apa pun jua. Hati-hati, anak-anak,” kata nenek tetangga itu.
Dan mereka menaati nasihat itu.
Kemudian, pada suatu kali yang tak tersangka-sangka, datanglah surat mereka: “Sekarang kami ada di suatu tempat di Birma. Engkau, semua, baik-baik saja, bukan? Kadang-kadang kami. ingat pada kalian semuanya. Tapi kami pikir, ingatan kami itu lebih baik dihilangkan. Kami selalu yakin engkau semua selamat selalu.”
Dan pada mereka ada terasa kesayuan yang tak terkatakan dalam surat itu. Berganti-ganti mereka membacanya. Tapi yang terasa hanya kesayuan itu jua. Akhirnya: “Alangkah jauh,” suara mengeluh. Dan sedikit air mengaca di mata.
Keenam anak itu membalasi surat itu. Alamat kakak-kakak mereka ditulis dengan huruf cetak terang dan tak mungkin salah lagi. Kemudian mereka menunggu surat balasan dari negeri jauh itu. Tak datang. Mereka gelisah. Tak datang. Kecurigaan terhadap nasib kedua kakak itu pelan-pelan mulai merangkak mencekik hati. Sebulan! — balasan pun tak datang. Akhirnya mereka lupa bahwa sedang menunggu surat. Dan kembali hari bersambung hari.
Satu peristiwa lagi. Dengan tiada disangka-sangka datang kiriman dari kelurahan: dua karung beras, sepuluh meter bahan pakaian kasar, uang dua ratus rupiah. Mereka tak mengerti seluk-beluk kiriman itu. Mereka tak mengerti mengapa harus menerima barang dan uang sebanyak itu. Ada juga Sri yang waktu itu sendirian di rumah bertanya pada pembawa kiriman, siapa yang memberi. Tapi pembawanya hanya menggaruk kepala dan bilang: “Sayang, aku sendiri tak tahu.”
“Barangkali salah alamat,” Sri berbisik.
Dibacanya kertas yang lekat pada karung beras dan amplop yang membungkus uang itu. Tidak salah: kepada yang terhormat keluarga Sumo. Sumo adalah bapaknya.
“Barangkali salah sangka,” kata Is setelah pulang kerja.
Dan segera ia pergi ke kewedanan. Jawaban yang didapatnya ialah: “Kedua kakakmu gugur sebagai sakura di medan perang Birma.”
Ia pulang ke rumah membawa tangisnya yang berkelik-kelik. Dan tangis itu dengan tiada sengaja telah kuasa memanggil para tetangga. Beras pun dituang dari karung. Dan para tetangga sekali ini mengecap nasi sekenyang-kenyang dapat. Dalam hati mereka merasa berterimakasih atas kematian kedua kakak itu. Di samping terima kasih ada juga harapan sedikit: “Moga-moga ada pemuda dari kampung kami satu atau dua lagi yang masuk Heiho6 gugur sebagai sakura.”
Beberapa hari kemudian nama kedua kakak itu tersiar di harian-harian. Juga tertulis betapa garang mereka menangkis perlawanan musuh dari segala sasaran. Dan kebanggaan memancar sedikit.
Bapak mereka jadi pendiam oleh gugurnya kedua anaknya itu. Sering kelihatan ia duduk termenung-menung seperti menimbang-nimbang sesuatu yang tak dapat ditimbang oleh manusia. Lambat-lambat kelihatan kemundurannya dalam membantu pemerintahan militer bala tentara Dai Nippon. Tak lagi memesan buku-buku Jepang. Juga tidak lagi segiat dahulu ke sana kemari menghadiri konferensi. Tak lagi ia berteleku mendalami buku-bukunya dan. menelan kanji dalam kepala. Dan hanya dengan lambat saja ia mulai melihat kekurangan-kekurangan dalam rumah tangganya. Mulailah ia membantu anak-anaknya mengurus ladang dan mencarikan kayu bakar.
Bapak mulai jarang meninggalkan rumah. Pada parasnya terbaca isi hatinya: perek persetan dengan konferensi! Dan oleh ini seluruh isi rumah merasa syukur karena merasa punya bapak kembali. Mereka merasa lebih aman bila malam datang, dan kegelapan mulai menyelimuti bumi dan segala kejahatan dan maut berkeliaran di luar rumah. Ia mulai mendekati anak-anaknya. Ia mulai mengurus mereka. Kadang-kadang terdengar ia menyanyi untuk memberi semangat baru pada keluarganya yang telah lesu oleh pendudukan bala tentara Dai Nippon itu. Namun, dalam tiap pembicaraan dengan para tetangga kadang-kadang masih terselip pernyataan kebanggaannya karena kedua anaknya lelaki gugur sebagai bunga sakura — gugur sebagai prajurit yang mempertahankan cita-cita kemakmuran Asia Timur Raya7. Atau dengan kata-katanya sendiri: “Suatu permulaan yang baik untuk modal bila kita mulai bangun jadi bangsa merdeka.”
Zaman dan dunia tak memanjakan Dai Nippon dengan bala tentaranya. Sebagai negara dan bala tentara lain-lainnya yang jaya, akhirnya ia mengalami keruntuhan juga. Dan kekalahan yang dideritanya takkan bisa diperbaikinya lagi. Dai Nippon dipaksa untuk memulai sejarah baru. Dai Nippon menyerah. Tak ada tempat lagi untuk para dewa dan dewi di Indonesia dan orang bersorak riang.
Perubahan datang! Perubahan datang!
Sudah jadi watak manusia selalu merindukan perubahan bila ia ada dalam keadaan yang menyesakkan. Perubahan! Sekalipun apa yang ada di balik perubahan itu baru merupakan kabut tak berangka dan tak bertepi yang mengawang antara bumi dan langit.
Berita kemerdekaan meledak — berdengung ke tiap penjuru kota kami yang kecil. Dan dengung itu bergema-gema hingga menjilati tepi-tepi hutan dan pegunungan. Orang-orang datang berduyun-duyun ke kota untuk melihat-lihat barangkali juga boleh merampoki toko-toko, rumah sekolah dan kantor. Tetapi pemuda-pemuda telah bergabung dalam barisan. Dan mereka merasa tak sanggup melawan penjagaan barisan itu. Namun mereka telah berhak bersenang hati membawa kabar baru untuk dusun dan kampungnya masing-masing: raja kita sekarang adalah raja Jawa — raja yang berpici.
Di langgar-langgar diadakan sembahyang memberkahi negara baru. Dan kiai-kiai berkhotbah dengan kemauan mulutnya sendiri-sendiri. Ayat-ayat dicari-cari untuk mencocokkan keadaan dengan agama. Dan seperti biasa, akhirnya meniup angin ajaib dari mulut mereka: orang Indonesia memang termasuk bangsa luarbiasa di dunia ini — gagah perwira. Dan agama Islam adalah agama yang paling sempurna di seluruh jagat. Orang pun mengamini dengan patuhnya.
Sebagai keluarga-keluarga yang lain juga, keluarga Sri jadi hidup kembali oleh kemerdekaan itu setelah sekian lama suram oleh pendudukan bala tentara Dai Nippon. Harapanlah yang meniupkan ceria pada keluarga-keluarga di kota kecil, di kampung kami. Dan rata-rata orang Indonesia sudah senanglah hatinya bila mempunyai harapan. Sekalipun ia kosong berisi kabut.
Kemerdekaan negara datang dengan megahnya — seperti — kedatangan pahlawan yang menang dalam cerita purba. Tapi lama-kelamaan ia menyelinap dengan diam-diam ke dalam belukar kesukaran hidup. Menyelinap dengan tiada terasa. Orang tak lagi tahu mana yang senang: di dunia penjajahan atau di alam kemerdekaan. Hanya segolongan manusia yang berideologi dan penangguk ikan melompat-lompat bersemangat menyemburkan isi dada masing-masing.
Dan keluarga Sri, yang selalu menelan ajaran-ajaran tentang kebangsaan dari sekolahan dan pergaulan rumah, turut menyambut kedatangan kemerdekaan itu dengan senang hati sampai dasar-dasarnya. Juga hutan kesukaran hidup itu dihadapi dan dimasukinya dengan riang.
Bapak dari keenam anak itu segera masuk jadi anggota Komite Nasional8. Dan sekalipun keluarga itu sudah jadi kocar-kacir oleh pendudukan bala tentara Dai Nippon, hidup itu nampak nyata dan bersinar-sinar — menyinari keluarga-keluarga yang suram di sekeliling rumah mereka.
Barangkali memang sudah jadi hukum: mereka yang kuat jiwanya selalu terpandang oleh jiwa-jiwa lemah di sekelilingnya. Ya, seakan-akan jiwa-jiwa lemah itu sengaja datang untuk melindungkan diri. Dengan demikian keluarga itu sekaligus terpandang di kampung kami. Dan tiap orang pastilah bisa membayangkan betapa keadaan orang atau keluarga yang terpandang di lingkungannya — sekalipun keadaan kemakmurannya tak begitu menyenangkan.
Hari-hari merdeka itu berjalan juga — seperti matahari yang tiada jemu-jemunya menyinari alam. Perhatian penduduk — sekalipun dia cinta pada kemerdekaan — tiadalah bisa terikat pada satu hal saja. Kesulitan hidup oleh adanya blokade Belanda sungguh mencekik orang — terutama mencekik mereka yang tak bisa dan tak berani berbuat jahat. Dan dengan tiada ditulis di buku undang-undang mana pun jua, dengan sendirinya saja orang merasa: di waktu seperti ini kejahatan menjadi hak tiap orang. Tapi mereka tak pernah mempercakapkannya.
Dan isi rumah keluarga Sri kian lama kian menipis juga.
Di kala itu pula, pemuda-pemuda kami yang sudah kehabisan harapan, buru-buru masuk ke dalam ketentaraan — sekalipun apa yang dinamakan tentara itu tiada lain dari laskar revolusi yang miskin senjata. Dan ini memperkuat barisan pencipta harapan baru. Mereka meninggalkan tanahnya yang kurus, sambil menelani kekayaan negara, butir nasi. Itu pun tak ada yang bisa menyalahkan. Orang selamanya cenderung pada tindakan yang ekonomis.
Ds
Di jalan-jalan selalu mondar-mandir pemuda-pemuda bukan militer yang kemiliter-militeran. Bila mereka tiada bersenjata api — dan senjata api ini sedikit sekali terdapat di kampung kami, karena Jepang tak pernah membuat tangsi militer di Blora — apa saja diselitkan di pinggang mereka: pisau, golok, cambuk dari kawat baja. Semangat membunuh telah disiramkan di dalam ladang benak mereka oleh pidato-pidato salah. Kemudian datang akibatnya: senjata jadi kapital untuk jual tampang di tiap — kesempatan. Di waktu seperti itu gelumbang gila-politik mengamuk pula. Tiap orang rasa-rasanya tak bisa hidup bila tak berpolitik, tak berdebat tentang politik. Ya, seakan-akan mereka bisa hidup dengan tiada beras lagi. Guru-guru yang selama itu hidup netral, pun kejangkitan penyakit gila-politik — dan seboleh-boleh mempengaruhi murid-muridnya dengan politik yang dianutnya. Masing-masing berjuang mencari anggota baru buat partai. Dan sekolahan adalah medan perjuangan yang empuk sekali. Politik! Politik tak ubahnya dengan beras di zaman Jepang. Kursus-kursusnya pun timbullah. Dan mereka yang baru saja mendapat pengertian tentang kapitalisme-sosialisme-komunisme berebutan memberi ceramah di warung-warung, pinggir-pinggir jalan dan di gedung-gedung yang menggarang dalam benak masing-masing.
Dan Pesindo9, pemuda sosialis Indonesia, pun tumbuhlah di tanah kampung kami yang kering mengandung kapur itu.
Is telah mengenal masyarakat yang dimasukinya. Ia telah mendapat pergaulan yang jauh lebih luas daripada yang didapatnya dengan semua adik-kakak-orang tuanya. Ia sudah menduduki tempat yang pasti dalam masyarakat itu: sebagai wanita, sebagai juru ketik kantor pemerintahan, sebagai pribadi bebas. Kemudian, ia pun masuk Pesindo.
Bila ia pulang ke rumah, banyak yang dapat diceritakan pada adik-adiknya tentang harapan di hari depan bila negara bercorak sosialistis. Ia telah jadi manusia baru sekarang, dengan pengetahuan baru, dengan dongeng baru, dengan pandangan baru, dengan sikap baru, dengan perhatian baru — kebaruan yang dapat dipungut dan dikumpulkannya dari pergaulan. Dan semua itu berjalan dengan amannya di antara kesukaran hidup sehari-hari. Kemudian keadaan segera berubah.
Karena bapak dan Is jarang di rumah, ia hanya diisi oleh Sri, Diah, Husni, Hutomo dan Kariadi. Diah selalu belajar. Ia sudah menginjak dewasa sekarang dan mengerti apa artinya hari depan buat seseorang.
Di tempat kami, buku-buku yang berguna untuk menggampangkan pelajaran hampir-hampir tak bisa didapat. Anak-anak murid hanya diajar melalui diktat. Dan untuk menyalin diktat ini sekolahan dan muridnya mengurbankan setengah dari jam-jam pelajarannya.
Di antara anak-anak sekolah telah meniup kabar angin, bahwa bila mereka pindah ke daerah pendudukan seperti Semarang atau Jakarta atau Surabaya, mereka akan diturunkan satu kelas ke bawah. Ini membuat Diah tak mau lepas dari diktat-diktatnya di samping membantu kakaknya menyelenggarakan rumah tangga. Waktu baru yang juga tak begitu menyenangkan itu berjalan saja dengan tiada terasa.
Sri telah berumur delapan belas sekarang. Dan umur adik-adiknya bertambah tujuh tahun sejak ibu mereka meninggal dunia. Diah dan Husni sudah menduduki bangku sekolah menengah. Hutomo di bangku sekolah dasar yang tertinggi, sedang Kariadi di kelas tiga.
Ketiga anak lelaki itu — Hutomo, Husni dan Kariadi — masih - jauh dari soal-soal hidupnya sendiri. Mereka belum lagi tertarik pada pelajaran yang diajarkan pada mereka di sekolah dan juga di rumah. Kegilaan mereka dalam bermain-main, terutama main bola, kadang-kadang mendesak jam-jam belajar di rumah. Dan inilah yang sangat menyedihkan hati Sri. Juga hati semua kakak-kakak mereka.
Kadang-kadang Sri memperingatkan mereka: “Belajar, dik! Belajar! Jadi apa nanti kalau tak mau belajar?”
Dan peringatan seperti itu biasa mereka sambut dengan tantangan lelaki: “Apa? Belajar? Engkau menyuruh belajar? Engkau tak membayar uang sekolahku. Bukan engkau — bapak yang membayar.”
Tetapi Sri sendiri mempunyai hasrat besar untuk belajar. Tiap malam dipinjamnya buku-buku Diah, dan ia minta pelajaran dari adiknya itu. Ia sudah dekat pada soal-soal hidupnya sendiri. Dan ia khawatir tentang apa yang terjadi atas nasib adik-adiknya kelak bila mereka tak juga mau belajar. Inilah yang mendorong hatinya memperingatkan mereka akan hari depan masing-masing. Kekhawatiran itu begitu memuncak. Dan pada suatu kali diambilnya sapu dan dipukulkan pada mereka sambil berseru: “Apa akan jadinya engkau semua ini kalau tak mau belajar juga?”
Tetapi kesukaran hidup dan tanggungjawab atas keluarga yang menyita sebagian dari musim kembang kanak-kanaknya sejak ia berumur dua belas tahun itu, membuat Sri terganggu pertumbuhan tubuhnya. Badannya kecil dan sering terserang oleh penyakit.
Waktu ia mendapat serangan, dan pembalasan mendadak datang dari ketiga adiknya, ia tak bisa mempertahankan diri untuk melawan. Segera ia lari ke pojok kamar dan membantingkan diri. Ia mau sendirian. Ia mau merasakan puingan yang menggila di dalam dada. Ia mau memuaskan suatu kegersangan yang tak punya nama dalam bahasa-bahasa manusia di dunia ini. Dan untuk wanita yang kehilangan dirinya, tak tahu keadaannya lagi — bukan barang baru bila ia menitikkan sedikit air.
Semua itu tak dapat ia adukan pada siapa pun. Dan dalam menangis, ia membela kebenarannya. Namun anak-anak itu membuka-buka juga buku mereka tiap pelita dinyalakan — kewajiban batin sebagai murid yang untuk mereka lebih dekat pada syarat daripada kesadaran akan kewajiban itu sendiri. Biasa mereka belajar sampai setengah atau satu jam. Keletihan oleh bermain-main menuntut mereka untuk segera beristirahat. Dan tidurlah mereka.
Bila malam telah sunyi, dan tinggal Diah saja masih belajar di kursi tua bejat-bejat, keluarlah Sri dari pojok kamar dan menemani adiknya itu. Ia pun turut belajar dan minta diberi penerangan hal-hal yang kurang dipahaminya.
“Biarlah aku jadi muridmu, Diah.”
Dan Diah membantunya dengan segala senang hati. Ia ada merasai besarnya pengurbanan kakaknya — untuk kepentingannya, kepentingan adik-adiknya, bapak, dan seluruh keluarga. Dan ucapan kakaknya itu membuat ia terharu, memerahkan mata kadang-kadang. Kemudian malam berjalan dengan diam-diam seperti tak ada yang mengharapkan di dunia ini. Dan di saat-saat seperti itu, Is sering tak pulang ke rumah. Tak jarang ia tidur di asrama bersama kawan-kawannya sekepercayaan — mereka yang jatuh cinta pada isme yang baru dikenalnya. Perhatiannya pada dunia besar mulai terbuka. Hatinya selalu riang. Dan badan yang menaungi dirinya sanggup memberinya makan. Kawan lelaki pun banyak. Dan semua itu membuat bertambah meriahnya semangat hidup di masa muda. Mendadak saja badannya tumbuh begitu baik — gemuk dan sehat. Cekung-cekung di seluruh tubuh warisan pendudukan Jepang lenyap. Mukanya merah berseri. Mulutnya selalu menyanyikan Internasionale10. Ia jadi pemudi revolusioner — menurut istilah golongannya. Dan ia merasa mempunyai hak untuk mengecap seseorang kolot atau maju, pengacau atau pembangun, patut dilenyapkan atau baik dipakai sebagai alat. Sesungguhnya ia ia berubah jadi manusia lain daripada dahulu.
Zaman republik itu membuat bapak mereka jadi dinamis sekali. Jarang ia tinggal di rumah. Dengan semangat pemuda dibentuknya berbagai badan untuk memberantas buta huruf, badan pembantu keluarga prajurit, badan penampung orang cacat yang dipulangkan dari medan perang Semarang. Kemudian badan-badan seperti itu tumbuh segar: badan penyokong prajurit di garis depan, badan penghibur pahlawan, kursus politik, bahasa Inggris dan Indonesia. Ya, kota kami yang kecil itu mulai gelisah seperti kota besar dengan pelbagai mesin dan perdagangannya.
Tetapi keadaan segera berubah lagi. Badai mengamuk dari jurusan timur. Dan tak ada seorang pun dari penduduk kota kecil kami yang pernah meraba-raba, bahwa badai itu begitu cepat datang dan menyapu apa saja yang dapat disapunya.
Kursus-kursus yang tumbuh seperti jelatang di ujung musim hujan habis dicabutnya — dicabut untuk membiarkan mereka mati kering terganggang panas matari.
Waktu itu matahari telah beberapa jam meninggalkan ufuk. Jalan-jalan yang biasanya berisi banyak prajurit berkeliaran kini sepi. Orang belum sampai menyadari hal itu. Pasar berjalan aman seperti di hari-hari biasanya. Kemudian terdengar teriak ngeri: “Merah datang!”
Dengung pasar mengendur sedikit.
“Merah datang!” teriak sekali lagi. Kemudian teriakan itu diulangi oleh beberapa kerongkongan. Dengung pasar mati.
“Merah datang!” teriak berbareng.
Sunyi senyap.
Kemudian seperti disontakkan orang berteriak-teriak berbareng. Terlampau ribut. Sekaligus lalulintas mati. Seperti kehilangan jiwanya orang-orang berhenti dan menengok ke kiri dan ke kanan. Tak ada nampak pasukan Merah11. Tetapi pasar sudah kacau. Orang di dalamnya berebutan keluar cari jalan lepas — menyelamatkan diri. Dan tiap kepala membayangkan pasukan Merah seperti yang dibacanya dari surat kabar atau didengar dari percakapan setengah bercanda.
Dan sebelum orang sempat menyimpan dirinya di tempat-tempat yang aman, pasukan Merah telah menduduki kota kami yang kecil itu. Satu jam. Dua jam. Tiga. Keadaan tetap tenang. Hari baru pun menyusullah.
Sejak pasukan Merah datang, bapak mereka tak pernah meninggalkan rumah. Ia, menantikan apa saja yang akan terjadi. Biasa ia datang terus tidur. Tapi kini tidak. Ia kelihatan gelisah. Telah lima kali terdengar ia berseru: “Segelas air, Sri, Diah, Riadi!”
Sudah berapa kali ia ke luar ke beranda dan berjalan mondar-mandir dengan gerak gugup, dengan kedua tangan tersilang di belakang badan. Mukanya berombak-ombak oleh kerut-mirut. Banyak yang ia pikirkan.
Memang sudah jadi adat dalam rumah-tangga itu, bila si bapak ada di rumah, anak-anak menggerombol di ruang belakang atau melayap di kebun. Dan sekali ini mereka sedang menggerombol di ruang belakang, ribut bercerita tentang kedatangan pasukan Merah.
Tiba-tiba Hutomo berseru: “Besok kita mengibarkan bendera Merah!”
Oleh seruan itu, bapaknya yang sedang mondar-mandir di ruang depan berhenti. Sebentar ia mendengar seruan itu dengan hati-hati. Tiba-tiba ia membalikkan badan dan buru-buru pergi ke ruang belakang. Di saat itu jualah anak-anak melihat muka bapaknya yang nampak kurus dan pucat dan kendur.
“Tidak ada seorang pun di antara anak-anakku yang boleh mengibarkan bendera Merah. Dan engkau semua pun tak boleh berkalung setangan Merah. Tidak ada gunanya kita memerahkan banteng untuk menanduk dada kita.”
Mereka tak mengerti apa yang dimaksudkan bapaknya. Tapi mereka terdiam. Semua tunduk menekuri lantai. Dan mata bapak mereka tajam-tajam memandangi anaknya seorang demiseorang. Meneruskan: “Di sini ada pemerintah yang sah. Dan barangsiapa membuang bendera Merah Putih dan mengibarkan bendera Merah adalah pemberontak. Engkau dari mana, Tomo?”
Ketakutan Hutomo menjawab dengan tiada memandang bapaknya: “Dari alun-alun, pak.”
“Hmmmm. Melihat anak-anak Merah yang berpita janur kuning dan bergelang janur kuning di lengannya itu?”
“Ya, pak.”
Seketika itu juga bapak mereka terhuyung-huyung ke sudut ruang-belakang. Sri dan Diah menolongnya. Bapak tak jadi rebah ke lantai. Nafasnya memberat terisak-isak. Dan setelah didudukkan di ambin, nampak air matanya meleleh. Oleh air mata itu semua anaknya turut menangis.
Bapak mereka berbisik: “Di sini ada pemerintah yang sah, anak-anakku.”
Ia diam lagi. Disusunnya nafasnya baik-baik. Kemudian: “Engkau tak boleh turut berontak dengan mereka. Engkau tak boleh jadi saksi pemberontakan mereka. Dahulu engkau semua telah berjanji setia pada republik. Walaupun janji itu tak tertulis dalam surat dan juga tak kau ucapkan, tapi ada dalam hatimu masing-masing. Engkau pun pernah turut mengibarkan dwiwarna. Mengerti semua? Mengerti? Bukan?”
Tak ada yang menjawab.
“Bukan?”
Tak ada yang menjawab.
Sepasang air mata menyusul berlinang di sudut mata bapak mereka. Buru-buru Diah mengeluarkan suaranya: “Ya, bapak.”
“Engkau tak perlu membohongi aku. Bilang tidak atau ya — presis seperti yang ada dalam hatimu masing-masing.”
“Ya, pak,” Sri menyumbangkan suaranya.
Mereka berdiam-diam sekarang. Kecurigaan orang tua itu menyelidik dari hati ke hati. Matanya merah dan liar. Dan anak-anak kecil itu — mereka telah dewasa untuk kecurigaan yang tak dapat dikendalikan lagi.
Tiba-tiba saja: “Mana Is?” orang tua itu bertanya.
Diam.
“Mana dia?,” sekali lagi.
Pelahan-lahan Hutomo mengangkat kepalanya. Sekilas memandang bapaknya. Kemudian memperdengarkan suaranya dengan lagu bimbang: “Di markas Pesindo.”
“Di markas Pesindo? Betul? Betul? Allah-allah. Pasti dia sudah jadi Merah pula. Anakku! Anakku!”
Kembali bapak mereka kehilangan tenaganya. Dan anak-anaknya menidurkannya di ambin. Di atas segala kebingungan Sri berseru pada Hutomo: “Panggil kakakmu.”
Hutomo lari ke luar dan hilanglah dari pemandangan. Sekali ini ia jadi anak penurut. Dengan mendadak saja badan bapak mereka jadi panas. Diah lari ke kamar mandi mengambil air dingin. Dengan air dingin itu ia mencoba menolong ayahnya. Kening tua itu dikompresnya, juga muka dan kuduk.
Pak Sumo tak sadarkan dirinya.
Tenang di ruang belakang itu — ketenangan yang hanya berisi kegugupan. Seperempat jam kemudian terdengar ia mengigau: “Moga-moga tak ada seorang pun dari anak-anakku kehilangan jalan. Ya, kita semua menderita. Jepang, Republik, kekacauan karena kosongnya kepala. Berontak! Mengapa berontak menambahi kekacauan? He, si Is sudah jadi Merah. Aku baru tahu. Sudah datangkah polisi Merah?”
“Polisi Merah?” Sri bertanya kembali. Mata pak Sumo berputar-putar dan berhenti pada sudut lubang pintu.
“Polisi Merah tak ada di sini, bapak,” ia meneruskan. Kemudian berkata pada Kariadi, “Ambil selimut ayah.”
Dan sekali ini Kariadi pun jadi penurut. Segera saja ia pergi mengambilkan selimut. Dan lekas-lekas barang itu ditebarkan di atas tubuh ayahnya.
Sri, Diah dan Husni merubung. Masing-masing melelehkan air mata. Kariadi berdiri agak menjauh. Dilihatnya segala yang terjadi di depannya dengan mata tidak mengerti. Dan matanya’ sendiri tetap kering. Ia tak berani bercakap dan membuat ribut seperti biasa.
“Bapak,” rintih Sri. Tapi pak Sumo meneruskan igauannya sendiri.
“Husni! Pergi ke rumah sakit. Panggilkan dokter!” perintah Sri.
Bapak mereka terus mengigau dan mengigau. Tentang politik. Tentang militer. Tentang teror. Tentang hancurnya kemakmuran rakyat: isi dada kepala orang-orang di daerah yang belum diduduki Belanda pada waktu itu. Tentang kehancuran individu. Tentang segala-galanya. Anak-anak yang masih tinggal di lingkungannya mendengarkan segala igauan itu sambil mengompres. Lama kelamaan igauan itu mengendur, tak bertenaga, lambat-lambat akhirnya tak terdengar lagi. Pak Sumo tertidur.
“Di mana kakakmu sekarang?”
Hutomo yang baru datang menjawab gugup: “Dia tak ada di markas. Markas Pesindo telah mengibarkan bendera Merah.”
“Aku tak menanyakan bendera Merah. Mana mbak 1s?”
“Tidak ada di markas.”
“Tidak ada? Di mana?” tanya Sri dengan suara mengeras oleh gugup. Tapi kemudian ia ingat pada bapaknya yang sakit, dan mengendurkan suaranya. “Tak bertanya engkau pada penjaga markas?”
“Orang yang kutanyai bilang … bilang … bilang … bilang mbak Is dikirim ke luar kota untuk berlatih naik kuda.”
“Siapa yang mengirim?” 1
“Merah.”
Tenang di ruang belakang itu.
Mata Sri melotot. Kegugupan dan kesedihan sekaligus hilang berubah jadi perasaan lain: kemarahan yang berkobar-kobar. Ia marah pada Is — adat keluarga dan kekeluargaan yang menimbulkannya. Keringatnya meleleh-leleh di jidat. Terdengar ia mengeluh pelahan. Tiba-tiba kegugupannya datang kembali.
“Kasihan bapak,” bisiknya sangat pelahan sambil menundukkan kepala. Lambat-lambat ia pergi ke ruang belakang menunggui bapaknya lagi. Diah sedang sibuk mengompres dan mengompres.
“Bapak tidur,” kata Diah. “Syukur kalau bapak bisa tidur.”
Kedua gadis itu menunduk dengan tak semau sendiri. Tapi mereka tak juga mengerti mengapa bapaknya begitu kaget mendengar berita Is di markas Pesindo. Mereka tidak mengerti. Tidak mengerti. Tidak habis-habis mengerti.
Kariadi mendekati dan bertanya dengan suara kanak-kanaknya: “Mengapa bapak, mbak?”
“Diam, kau! Jangan tanya apa-apa,” larang Sri dengan suara pelan.
Dan Kariadi pergilah ke luar. Sebentar kemudian terdengar ia bernyanyi-nyanyi memanggil kawan-kawannya untuk bermain bola. Atau tidak bermain bola, tapi ke alun-alun melihat pasukan Merah sedang berbaris.
Kedua gadis itu duduk di lantai. Matanya mengawasi bapaknya yang tidur di atas ambin kayu jati keras tiada beralas. Dan di luar, matari telah mulai beringsut-ingsut condong ke barat. Kabut sore mulai turun mengembara seperti berkaki di atas bumi, dan tiap benda yang disaputinya kabur-kabur tiada nyata. Dan siang hari yang terang-benderang dan panas tadi telah berubah jadi senja yang suram.
“Husni belum juga datang,” bisik Sri lagi. Diah tak menyambut. Dan lelaki kecil di sampingnya pun tidak.
“Lebih baik engkau memasang pelita,” Sri berkata lagi.
Diah pergi. Kemudian, hati-hati Sri meraba kaki bapaknya. Berbisik: “Sudah mulai mendingin.”
Ia duduk lagi di lantai. Dan malam pun datang dengan diam-diam. Di luar sunyi senyap. Bapak mereka tetap tidur. Tapi pada air mukanya nampak ketakutan, kekesalan dan kegelisahan. Sinar putus asa menari-nari menyela. Namun Sri tidak maklum akan semua itu. Ia masih terlampau muda untuk mengerti. Yang diketahuinya hanya: bapaknya dengan mendadak saja jatuh sakit.
Pelita telah terpasang. Dan nyala yang samar serta gelisah menyayukan pemandangan. Pojok-pojok rumah masih tetap gelap. Dan cericip margasatwa menyerbu masuk ke dalam rumah dari ladang di samping rumah.
Kemudian datanglah Husni. Nafasnya kepayahan oleh berlari-larian. Berkata ia berbisik: “Pak dokter diseret oleh Merah. Aku lihat sendiri tadi. Rumahnya dikepung dan ia ditarik-tarik pada bajunya. Sunyi di keliling rumah dokter itu. Cuma aku sendiri yang tahu. Dan aku tak berani masuk ke pekarangannya.”
Sri mengeluh dengan tiba-tiba. Hanya keluhan saja. Husni meneruskan ceritanya dengan bisikan gugup: “Aku dipegang oleh serdadu Merah. “Mau apa, kau!’ gertaknya. Kataku, “Bapakku jatuh sakit. Aku mencari pak dokter.” Dan serdadu itu meneruskan, “Bapakmu nasionalis?” Dan aku bilang, aku tak tahu. “Jangan pura-pura, jangan pura-pura,’ katanya lagi. Bukan main takutku dituduh pura-pura. Senjata mereka masih baru, mengkilat dan hitam.”
“Apa katanya lagi?” tanya Diah.
“Katanya lagi, “Kalau bapakmu nasionalis seperti dokter itu, tak perlu dia diobati. Besok atau lusa, aku sendiri yang akan datang mengobati. Dengan ini!” katanya, dan diperlihatkannya padaku senjatanya yang masih baru itu. Aku ketakutan.”
“Ya, ampun,” Sri menyebut.
“Nasionaliskah bapak?” Husni bertanya.
Tak ada yang menjawab.
“Tapi mereka tak tahu rumah kami, bukan mbak?” Husni menghibur diri.
“Jangan bilang pada siapa pun tentang bapak — apa nasionalis apa tidak,” Sri melarang. Dan tiba-tiba seperti orang kaget, “Betul-betulkah dia bilang begitu?”
Husni mengangguk. Anak-anak itu pun berpandang-pandangan satu sama lain. Paras mereka pucat. Dan kepucatan itu menjadi kebiru-biruan oleh sinar pelita yang murung. Kedua gadis itu menggigil sedikit. “Bapak!” Sri berbisik, dan diciumnya kaki bapaknya pelahan-lahan.
Husni duduk di samping Diah — tak tahu apa yang harus diperbuat dan dikatakannya lagi. Dan melihat bapaknya yang terbaring seperti telah mati, juga melihat perbuatan Sri, Diah tak dapat menahan air matanya lagi. Perlahan ia berbisik pada Husni: “Bapak terlalu banyak bekerja untuk engkau semua. Dan engkau menyia-nyiakan jasa beliau. Engkau tak mau belajar baik-baik.”
Tiba-tiba saja suara Husni jadi besar dan parau. Menjawab: “Aku bersalah, mbak. Ya, aku bersalah.”
Kemudian terdengar ia menangis terisak-isak. Di saat itu jualah Kariadi masuk. Mulutnya terbuka — siap akan berteriak mengabarkan sesuatu yang sudah dilihatnya sebentar tadi. Tapi kala dilihatnya bapaknya masih terbujur di ambin seperti telah lama mati, dan ketiga kakaknya sedang menangis, pelahan-lahan mulutnya tertutup. Lambat-lambat ia mendekati mereka dengan langkah bimbang dan goyah. Terus saja ia duduk di lantai dengan mata memandang ke sana kemari.
Dan malam kian mendesak dengan membawa kemurungannya. Nafas bapak mereka sambung-menyambung dengan teratur. Dan tak ada ketakutan yang begitu besar menguasai diri kedua gadis itu selain: apa jadinya kelak kalau bapak meninggalkan dunia ini. Tetapi orang tak bisa memilih nasibnya masing-masing. Dan pintu depan yang telah terkunci diketuk orang. Mula-mula pelahan. Waktu tak ada jawaban dari dalam, ketukan itu dikeraskan.
Diah pergi ke ruang depan. Dan dari luar terdengar percakapan beberapa orang lelaki. Di ruang belakang itu pun ada tertangkap sepatu yang bergeseran di lantai — sepatu bot!
“Pak Sumo ada di rumah?” terdengar suara lelaki bertanya.
“Ada. Sedang sakit,” anak-anak di ruang belakang dengar Diah menjawabi.
Perhatian Kariadi, Husni, Hutomo tertuju pada suara-suara di luar itu. Sri mencoba menulikan pendengarannya dengan menyelimuti bapaknya. Kemudian menyusul langkah sepatu — banyak. Gadis itu tak kuasa menulikan pendengaran lagi. Ia pun turut mendengarkan. Ada sepuluh pasang sepatu. Dan waktu gerombolan itu masuk ke ruang belakang, lalu saja terdengar suara oleh Sri dalam kepalanya: “Polisi Merah.”
Dan ia bertambah gugup. Apalagi waktu seorang dari gerombolan itu datang padanya, berkata tak acuh: “Jangan takut. Kami takkan mengganggu saudara-saudara di sini.”
“Mengapa datang begini malam?” Sri bertanya. Tapi suaranya terlalu lemah hingga tak terdengar oleh siapa pun selain dirinya sendiri.
Seorang lain lagi ke luar dari gerombolan itu dan menuju ke ambin — membangunkan bapaknya. Sri menahannya: “Bapak sedang sakit,” ia memandang orang itu. Dan nyata olehnya, bahwa orang itu tak lain dari tetangganya lelaki.
“Engkau?” tanyanya.
“Ya, aku. Engkau semua tak perlu khawatir.”
“Engkau tahu bapak sedang sakit,” Diah menengahi. “Mengapa engkau bangunkan? Jangan ganggu dia.”
“Tapi pemerintah menghendaki demikian.”
Dan tetangga lelaki itu meneruskan niatnya. Bapaknya bangun. Lambat sekali ia membukakan matanya. Kemudian duduk sambil mengocok matanya. Dan mata itu merah hitam nampak dalam caya pelita suram. Waktu dilihatnya banyak orang melingkunginya, sekaligus menyembur dari mulutnya: “Polisi Merah?”
Tapi tak ada seorang pun di antara gerombolan orang itu menjawab. Cuma tetangga lelaki itu berkata langsung: “Pak Sumo dipanggil oleh bapak bupati.”
Tiba-tiba semangat Pak Sumo kembali bangkit. Tanda-tanda penyakitnya hilang sekaligus. Lambat-lambat ia berdiri dan mendekati Tukijan. Dipandangnya tetangga lelaki itu lama-lama. Kemudian: “Pak bupati? Sudah meninggalkan kota dia?”
Tukijan mengangguk.
Tanpa melihat anak-anaknya lagi, pak Sumo berangkat mengikuti gerombolan itu. Dan tetangga lelaki itu sebentar memandang Sri, berkata lemah lembut mengambil hati: “Aku sendiri tak tahu apa yang hendak mereka perbuat.”
“Bukankah engkau komandan polisi Republik?” Gerombolan itu mulai berjalan melalui pintu ke ruang depan. “Ya, kemarin pagi. Tapi…”
“Engkau mengkhianati tetanggamu yang tak pernah mengkhianati engkau.”
Husni meraung: “Bapak! Bapak! Jangan pergi. Mereka bukan polisi Republik.”
Tetapi bapak mereka terus berjalan. Tidak peduli.
Seorang dari gerombolan kembali masuk ke ruang-belakang. Menarik Tukijan pada lengan kemejanya. Keduanya menyusul gerombolan yang telah berangkat. Hilanglah mereka.
“Moga-moga mereka bukan polisi Merah. Moga-moga mereka tetap polisi Republik,” doa Sri dengan penuh kecemasan — doa yang lebih dekat pada penghiburan diri sendiri daripada harapan. Dan malam pun kian merasuk seperti malam-malam biasanya.
Keadaan sudah jauh berubah setelah seminggu lamanya pak Sumo ditangkap.
Tiap hari Sakidin — tukang gerobak yang punya gerobak sendiri dan sapi sendiri, dan mendapat lima belas rupiah tiap angkutan — memukul canang dan meneriakkan perintah-perintah pasukan Merah yang harus ditaati dan dikerjakan oleh penduduk. Dan hari itu ia memukul canang lagi. Berteriak berulang-ulang:
“Semua anggota Partai Nasional Indonesia — semua anggota Masyumi12 — semua anggota Hizbullah13 — semua anggota Nahdatul Ulama — semua anggota dewan perwakilan rakyat daerah, kabupaten, keresidenan dan propinsi yang bukan Merah — semua dari mereka itu — semua harus mendaftarkan diri di markas besar bala tentara Merah.”
Lama suara itu mati. Kemudian menyusul teriakan sambungannya:
“Dan barangsiapa tak mempedulikan pemberitahuan ini akan dihukum berat. Para pendengar yang terhormat — mereka akan dihukum berat bila tak mau mendaftarkan diri…”
Terdengar ia tertawa-tawa senang. Mukanya merah oleh kegirangan mendapat tugas dari gerombolan yang menang perang. Dan ia pun riang karena berhasil dapat menakut-nakuti orang banyak.
Sri belari-larian ke pelataran. Bertanya: “Apa artinya hukuman berat, pak?”
“Artinya, anak manis? Ayam-ayam selalu kau hukum berat bila engkau mau enak makan.” Dan Sri menundukkan kepala. Kembali dua titik air mata meleleh.
“Jadi mengerti juga engkau.”
Ada juga di antara para tetangga yang sudah jadi Merah dengan mendadak saja. Bertanya dia: “Bapaknya kemarin ditangkap. Akan diapakan dia itu?”
“Merah tak banyak rewel seperti Belanda dan Sukarno,” jawab Sakidin menang. “Merah hanya punya dua perbedaan: Merah dan tak Merah. Merah adalah manusia. Karena itu punya keadilan pembagian rezeki. Yang tak Merah bukan manusia. Mereka hanya ayam. Dan setiap waktu mereka boleh dipergunakan untuk pesta-pesta di markas.” Dan tetangga yang jadi Merah mendadak itu tertawa-tawa senang.
Terhuyung-huyung Sri masuk ke dalam rumah. Dan Sakidin terus berjalan memukuli canang dan berteriak -teriak. Juga manusia dan ayam disebut-sebutnya terus menerus. Akhirnya suara dan bunyi canangnya kian lemah masuk ke dalam rumah itu. Mati.
Diah bertanya: “Engkau menangis lagi, mbak? Bukankah engkau sendiri sudah bilang, bapak memang betul dipanggil bapak bupati?”
“Ya, tukang canang Merah tadi membisikkan padaku, bapak memang dipanggil oleh bapak bupati. Semalam Juga bapak pergi bersama beliau dengan jeep ke Pati.”
“Dan mengapa engkau menangis juga, mbak?” Diah bertanya.
“Bukankah engkau tahu juga, Diah? Mbak Is belum juga datang. Engkau maklum pula, dia masuk ke dalam barisan kuda Merah. Dan engkau lihat sendiri, besok atau lusa pasti ada perang di sini. Perang besar, Diah. Dan mbak Is — o, apakah yang akan terjadi atas dirinya nanti?”
“Ya, mbak, aku mengerti. Dan bapak bilang, kita masih punya pemerintah yang sah. Jadi bapak masih setia pada Republik mbak?” Sri tak menjawab. Ia menderaskan tangisnya.
“O, perang,” Diah mengeluh. “Perang yang membuat perpecahan.” Ia diam lagi. “Kalau mbak Is datang, mbak, apa yang harus kita katakan padanya tentang bapak?”
“Jangan katakan apa-apa padanya. Biar aku sendiri yang bercerita,” jawab Sri di sela-sela sedu-sedannya.
Dan di kala itu pulalah Sarmini — tetangga perempuan dan kakak Tukijan — masuk ke dalam rumah. Melihat Sri sedang menangis, ia tertegun sebentar, kemudian berjalan pula mendekati. Berkata: “Selama bapakmu tidak ada, neng, biarlah aku menemani engkau semua.”
Dan dengan tiada dipinta, ia telah tinggal bersama-sama dengan anak-anak itu. Pekerjaannya tiap hari ialah mencuri barang-barang yang masih dapat dijualnya. Ini diketahui juga oleh anak-anak. Tetapi mereka pura-pura tidak tahu. Dan pada suatu kali Sri bilang pada adik-adiknya berbisik-bisik: “Jangan bilang apa-apa tentang bapak di depan Sarmini. Dia akan mengakibatkan bencana baru buat kita semua.” Dan mereka maklum semua.
Dalam masa yang kacau itu tak ada sebuah sekolah pun di buka. Dengan demikian semua adik Sri tinggal di rumah. Dan sejak bapak mereka ditangkap oleh polisi Merah, Husni, Hutomo dan Kariadi jadi rajin belajar.
Dan pada suatu kali yang tidak penting, berkata Sarmini pada Sri: “Ya, neng, si Tukijan harus menjalankan perintah Merah. Kalau tidak, dia sendiri yang dibunuh.”
“Penakut. Pengkhianat!” Diah berteriak. Tapi Sri tidak berkata apa-apa.
Seminggu sesudah pendudukan pasukan Merah, datanglah Is dari luar kota. Ia menunggangi kuda Sumba, bercelana kuda coklat, bersepatu lars hitam sampai di bawah lutut dan berpacu besi, berkemeja putih dari lena dan pada kepalanya terikat kain merah yang berkibar-kibar bila kena angin.
Hutomo dan Kariadi menyambut dengan perasaan kagum. Dan berseru senang: “Mbak Is datang berkuda.”
Husni melompat ke luar rumah. Dan di saat itu Is mencancang kudanya pada batang pisang. Dibiarkannya mulut binatang itu menggerumiti batangnya. Diah dan Sri berjalan pelahan-lahan beriring, menyambut kakaknya Is dengan senyum. Dan kepahitan yang tersembunyi dalam senyum itu mereka cabarkan dalam kata-kata: “Selamat, mbak?”
“Selamat. Selamat. Terima kasih,” suara yang gagah, berdaulat dan kelaki-lakian.
Kemudian Is tertawa riang berisi kemenangan hidup. Bersama-sama mereka masuk ke dalam rumah dan duduk-duduk di bale kayu jati di ruang belakang. Terdengar Is bercerita: “Kemajuan rakyat jembel tidak dapat ditahan. Merah mesti menang. Merah mesti menguasai seluruh dunia. Kapitalisme harus hancur — juga hamba-hambanya. Aku pun pejuang Merah. Engkau semua harus turut menghancurkan budak-budak imperialisme uang Amerika. Dan bila engkau semua tak sanggup turut berjuang, engkau semua turut jadi pengkhianat rakyat. Burjuisme sudah tercekik, sekarat, mampus, kelabakan, di sini. Nasionalis-nasionalis picisan harus dibasmi. Lenyapkan nasionalisme! Lenyapkan sifat katak dalam tempurung. Kita membangun negara dunia.”
Ia mengatur nafasnya. Tergagap-gagap ia bangun dari tempat duduknya, dengan suara bersemangat menyanyikan Internasionale. Kemudian: “Mengapa engkau tak membarengi?”
“Tak bisa aku,” Sri berkata.
“Barengi aku, engkau bisa sendiri nanti.” Ia menyanyi lagi. “Mengapa tak ada yang mau membarengi?”
Tak ada yang menjawab. Kecewa ia duduk kembali di bale. ” Bertanya: “Aku belum lihat bapak.” Pandangnya jadi menantang. “Mana bapak?”
Mata Sri jadi berkaca-kaca dan menjawab dengan suara tenang: “Bapak turut dengan pasukan Merah menyerbu ke Pati.”
Dan Is tertawa senang. Berteriak girang: “Nasionalisme harus dibongkar sampai ke kutu-kutunya sekali. Untunglah bapak sudah insaf. Engkau tahu? Pasukan Merah sudah mendirikan pejagalan di sini — di Blora ini. Penjagalan orang. Itu yang paling penting untuk tindakan pertama. Ada engkau pernah dengar tentang ayam?”
“Ya, ada,” jawab Sri.
“Kalau begitu ada engkau mengerti sedikit. Ayam-ayam yang cuma bisa berkais untuk perutnya sendiri itu harus segera dimusnahkan. Kita hanya membutuhkan manusia yang sadar, bekerja untuk kemakmuran dan kepentingan bersama. Mereka yang cuma tahu kepentingan diri sendiri tak kami butuhkan. Mereka hanya menghabiskan kekayaan bumi kita. Sama sekali tidak berguna.”
“Engkau sekarang jadi apa, mbak?” Diah bertanya.
“Anggota pasukan ordonans berkuda.”
“Alangkah hebat!” Husni berseru.
“Tentu. Dalam negara Merah, hak lelaki dan perempuan sama. Itu harus engkau ketahui dan ingat benar-benar. Dan engkau Husni, Hutomo dan Kariadi, bila tak giat, hargamu lebih rendah daripada harga wanita yang paling rendah. Engkau harus jadi Merah juga.” Ia tak menunggu sambutan. Meneruskan dengan semangat berapi-api dan pasti: “dan kalau pasukan TNI berani datang kemari, aku pun punya hak untuk menembak mereka.”
“Jadi engkau lawan Merah Putih sekarang?” Kariadi bertanya kagum.
“Merah Putih hanya bisa berteriak dan mencium kaki Amerika — ya, seperti dahulu, perempuan harus menyembah kaki lakinya — ya, seperti dahulu anak harus menyembah kaki orang tua atau neneknya.”
Mendengar itu Sri tak bisa lagi menahan tangisnya. Berkata terisak-isak: “Bukankah kita menyembah orang-tua tanda menghormati?”
“Engkau sisa feodal. Untuk apa itu air mata? Seharusnya engkau mengeram dalam pingitan. Huh! Cuma bangsawan-bangsawan feodal saja yang membuat perbedaan harga antara tua dan muda, antara perempuan dan lelaki. Dan tahu engkau apa pekerjaan bangsawan-bangsawan feodal itu? Berjudi, hutang, merampasi perempuan kampung dan perempuan orang lain, mengajarkan tata susila yang kosong, merampasi kekayaan rakyat. Dan yang lain-lain lagi yang semacam dengan itu. Tapi semua bangsawan sudah habis sekarang. Yang ada kini hanya: buruh, tani dan prajurit — pasukan Merah.”
Adik-adiknya diam saja mendengarkan ajaran itu.
Kala itu Sarmini tak ada. Dan anak-anak pun tak khawatir percakapan kakaknya terdengar orang lain. Kemudian terdengar Kariadi berseru: “Kalau begitu aku turut dengan kau.”
“Tenagamu masih terlampau lemah untuk membantu kami, . Adi! Kalau Husni boleh. Dia sudah berumur empat belas dan sudah di sekolah menengah pula.”
Pelahan-lahan dan disopan-sopankan Husni berkata: “Terima kasih, mbak! Banyak yang kulihat di hari-hari belakang ini. Lebih baik tinggal di rumah.”
“Jadi engkau tak mau membantu pasukan Merah?” ia berteriak.
“Terima kasih, mbak! Aku masih kecil.”
“Cih! Penakut. Lelaki banci. Orang Merah tak kenal takut. Tiap orang Merah adalah pelindung rakyat. Camkan! Betapa mulianya jadi pelindung rakyat.”
Husni tak berkata apa-apa lagi.
“Apa yang sudah banyak kau lihat?” tiba-tiba Is mendesak.
“Tidak apa-apa.”
“Harus kau katakan. Kalau tidak, aku cambuk mulutmu dengan cambuk kuda ini.”
“Dan penjagalan orang itu?” Diah menengahi.
“Itu hanya untuk ayam-ayam yang cuma dapat berkais, makan untuk diri sendiri — bukan untuk para pelindung rakyat.”
“Bukankah mereka itu rakyat juga?” Diah mendesak.
“Mereka bukan rakyat. Mereka pun bukan manusia lagi. Mereka bukan apa-apa. Mereka tak berguna buat kepentingan bersama,” jawab Is berkobar-kobar mengandung kepastian.
“Bukankah mereka itu punya perasaan sakit juga?”
“Mereka tak punya perasaan sakit sedikit puri. Kalau mereka punya perasaan sakit, mereka pasti turut dengan pasukan Merah. Mereka pasti jadi pelindung rakyat.”
“Mengapa Dimin kemarin ditangkap dan ditembak di alun-alun?” Husni turut mengepung Is — dengan suara pelahan-lahan dan hati-hati.
“Dimin? Dimin dalang itu?” Is diam sebentar. Kemudian meneruskan: “Wayang tak ada gunanya untuk orang Merah. Dalang hanya menyita waktu kerja saja. Dan waktu bekerja yang penting untuk produksi hilang percuma — hanya untuk mendengarkan ocehan yang tak keruan ke mana perginya. Dia pun termasuk dalam golongan ayam.”
“Dan kiai Nursewan, mengapa dia diseret dan dibunuh di alun-alun juga?” Sri bertanya. “Dia orang baik-baik.”
“O, dia termasuk golongan ayam. Dia hanya penyebar candu. Oleh ajaran-ajarannya itu rakyat jadi lemah. Dan bila rakyat lemah, ayam-ayam nasionalis itu bisa menyerahkan mereka pada buaya Amerika.” Matanya melotot mengawasi adiknya seorang demi seorang. “Jadi bapak sudah…”
“Aku percaya mereka punya perasaan sakit juga seperti engkau,” kata Diah terus mendesak.
“Tidak”.
“Bukankah mereka berteriak kesakitan bila dipukuli?”
“Tidak. Mereka tidak kesakitan. Kaleng pun berteriak-teriak bila dipukuli, tapi kesakitan? Tidak.”
Diah tak bisa mendesak lagi. Ia terdiam. Dan hatinya mendongkol. Dan Is memandangi adiknya seorang demi seorang. Pada matanya memancar kemenangan. Sri tak dapat berkata apa-apa — ia kehabisan bahasa. Hanya ada pergumulan terjadi dalam hatinya.
Kemudian: “Jadi bapak sudah turut dengan pasukan Merah menyerbu ke Pati?” Ia memandang Sri.
Oleh pandang itu Sri melemparkan matanya pada Diah. Dan oleh lemparan pandang Sri, Diah memandang Is. Sebentar, kemudian menunduk memandangi kaki telanjangnya yang sedang menari-narikan jari jempol. Berkata sopan: “Ya, segera setelah pasukan Merah menduduki kota ini.”
“Kalau begitu aku tak perlu menginsafkan beliau.”
“Tidakkah pasukan Merah datang kemari dan mengambil bapak yang sedang sakit? Dan Tukijan komandannya,” tanya Hutomo sambil memandang Diah.
Tapi Diah tak menjawab. Ia memandang Sri. Dan sekarang Sri menundukkan kepala. Pada matanya tergenang air.
Kariadi menyusulkan suaranya: “Dan bapak menanyakan engkau, mbak Is. Dan mas Hutomo mengatakan engkau ada di markas Pesindo. Kemudian bapak menyebut-nyebut — “O Allahallah’ kemudian beliau jatuh sakit.”
Mereka seperti paku yang tegak pada sebatang kayu. Hanya mata liar pandang-memandang. Dan dengan tiada mereka kehendaki kecurigaan memainkan peran dengan semau-maunya. Is merenungi jendela yang terbuka di depannya. Lambat ia menggelengkan kepala, rambutnya yang terurai bergeparan. Pelahan setangan merah yang melingkari kepala dilepasnya.
Terdengar Kariadi bertanya: “Untuk apa setangan merah itu?”
“Tanda, bahwa yang memakainya orang Merah.”
“Mengapa merah?”
“Mengapa merah? Merah! Darah! Api! Daging! Perang dan pembakaran.”
“Dan darah dalang Dimin dan Kiai Nursewan juga merah,” Sri berkata pelahan tapi menggigit. “Mungkin darahku juga merah. Juga darah Diah dan juga darah bapak, Husni, Hutomo dan Kariadi.”
Ada juga terasa sindiran itu oleh Is. Ia terdiam. Mengalihkan arah percakapan: “Betulkah bapak dibawa pasukan Merah?”
“Betul. Ya, betul,” Sri berkata.
Diam. Tenang. Ketenangan yang mengiris-ngiris. Kemudian terdengar lagi Is bertanya: “Dan apa lagi katanya?”
“Bahwa kita punya pemerintah yang sah. Dan bahwa tak seorang pun di antara anak-anak bapak yang boleh mengibarkan bendera Merah…”
Ia melempar pandangnya ke jendela. Keringat membasahi jidatnya. Dan keringat itu dibiarkannya menitik-nitik. “… bilang juga, barangsiapa membuang bendera Merah Putih dan mengibarkan bendera Merah adalah pemberontak…”
Is melangkah ke jendela. Terdengar nyata ia menghembuskan nafas panjang. Dan semua mata adik-adiknya mengikuti gerak Is. Tiba-tiba Diah berkata: “Tolonglah … merdekakan bapak. Engkau dari pasukan Merah.”
Ia membalikkan badan dan melangkah kembali ke tengah adik-adiknya. Larasnya diketuk-ketukkan pada lantai dengan irama yang gugup. Ia tak berkata apa-apa. Kemudian bergegas ia berjalan ke luar rumah. Semua adiknya mengikuti dari belakang. Ia menghampiri kudanya. Dilepas talinya. Dengan tiada berkata apa-apa pula dan dengan tidak menoleh ia melompat ke atas binatang itu. Lari! Lari! Lari! Kencang. Debu mengepul di belakang kaki kuda. Ia hilang dari pemandangan. “Bisakah dia diharapkan pertolongannya, mbak?” Diah bertanya pada Sri. Hanya air mata yang menjawab.
“Bisakah itu?” ulangan. “Tidak. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Dan ia pun takkan berbuat apa-apa.” Sekaligus Sri lari bersembunyi ke pojok kamarnya. Dicurahkan air-matanya banyak-banyak. Dan waktu hatinya bisa berkata: “Menyerahlah diri, menyerahlah,” ia mendapat kesabarannya kembali. Dihapusnya air matanya. Kemudian ia pergi ke kali mengambil air minum. Dari jauh terdengar tukang-canang meneriakkan peraturan-peraturan baru — gung! gung! gung!
Kabar meniup-niup sampai di ujung-ujung kampung — sekarang Sakidin tukang-canang menjadi galak seperti singa kelaparan. Ke mana saja ia pergi ada tersandang penggada karet di pinggang. Dan tiap orang yang dianggapnya nasionalis diseretnya ke jalan raya, dipukuli pada muka dengan penggadanya hingga minta ampun. Dan ia teramat gembira bila ada orang minta ampun padanya. Ia merasa sebesar komandan-komandan resimen. Dan kalau orang telah minta ampun, diserahkannya pada polisi Merah untuk dibawa ke pejagalan — di alun-alun. Kabar yang meniup-niup itu dalam waktu sebentar bukan lagi merupakan kabar. Orang dapat membuktikannya sendiri. Tapi kabar yang mendesas-desus dan dikatakan orang dengan bisikan lemah mengikuti di belakangnya: Pejagalan orang yang baru sedang dikerjakan. Belum selesai. Dan orang tak tahu ada di mana.
Kabar lain pun meniup-niup: mereka yang mendiami gedung-gedung bagus diusiri. Pegawai-pegawai pemerintah yang kelihatan bersikap anti Merah disereti untuk dijadikan tontonan zaman perang. Kabar-kabar itu membuat penduduk kota kecil kami yang jauh dari pengertian politik mengurung dalam rumah masing-masing. Dan yang punya pengertian segera menggabungkan diri dengan Merah atau melarikan diri ke tempat-tempat yang terpencil.
Mereka yang terseret oleh arus Merah memencak-mencak seperti serigala dapat mangsa. Dan kabar yang paling baru datanglah: seorang anggota dewan daerah ditangkap dan disuruh memilih: hukuman seumur hidup atau mati. Dan anggota dewan itu memilih mati. Ia ditembak di alun-alun. Dan dirinya yang banyak mengeramkan banyak rencana itu kini telah kosong dari segala perasaan dan pikiran.
Penangguk-penangguk keuntungan berkeliaran mencari kurban — mencari muka. Ideologi boleh disepak. Tapi semasa waktu memberi keuntungan mereka memasang tangguknya. Memang sudah jadi adat dunia: kesenangan adalah pembiusan yang berbahaya.
Dan di saat-saat kabar dan desas-desus bersimpang-siur, datanglah Is ke rumah. Diam-diam saja ia memasuki rumah tempat ia dahulu dilahirkan, dan di mana ia dibesarkan. Dengan diam-diam pula diulurkan sepasang gelang emas, kalung dan anting-anting emas kepada Sri.
“Apa ini, mbak?” Tapi Is tak menjawab.
“Untuk apa ini, mbak?”
“Pergunakanlah untuk belanja. Aku tak butuh barang-barang emas.” :- :
“Engkau sendirikah yang punya?” Sri bertanya lagi.
“Engkau tak perlu bertanya. Pergunakan saja.”
“Dan engkau?”
“Aku?” ia diam sebentar. Kemudian dengan suara yang kehilangan semangat: “Pasukan pemerintah terus mendesak. Dan aku tak tahu apa yang akan terjadi kelak. Tapi aku yakin, aku berjuang untuk keselamatan rakyat.”
Setelah itu ia pergi ke luar, naik ke atas kudanya dan berpacu kencang. Hilang dari pemandangan mata. Sri memandang Diah. Di kala itu hanya dua orang saja yang tinggal di rumah. Adik-adik kedua gadis itu sedang pergi ke setasiun melihat dan menga- ’ gumi pasukan Merah baru yang sedang turun.
“Lebih baik kita tanam saja barang-barang ini,” Diah memberikan usul. Dan usul itu tidak dibantah. Barang-barang itu pun ditanamlah. Diam-diam, dengan menengok ke kiri ke kanan. Tak ada yang mengintip. Dan hilang perhiasan-perhiasan itu dari jangkauan pancaindra.
Baru keduanya habis menanam datang pula Is bersama rombongannya. Kepala pasukan ordonans berkuda yang berparas cantik, hitam manis berambut pendek tergerai-gerai itu segera saja menunjuk Sri. Bertanya: “Nama?”
“Sri,” jawabnya hormat. Dan ia tak tahu mengapa ia hormat padanya.
“Umur?”
“Delapan belas.”
“Begitu kurus dan kecil.” Ia memandang Is, “Betul?”
Ia mengangguk.
“Dia harus masuk ke dalam pasukan kami,” komandan rombongan berkuda itu berkata sambil memandang Is lagi. Kemudian pandangnya dialihnya pada Diah. Berkata, “Engkau?” Diah tak menjawab.
“He — berapa umurmu?” ulangnya.
“Enam belas.”
“Engkau harus juga masuk pasukan. Hei — kalau ditanyai, engkau harus menjawab semestinya.”
Kembali komandan pasukan berkuda itu memandang Is. Dan Is termenung saja memikir. Tiba-tiba terdengar suara Sri: “Engkau tak perlu memerintah aku. Kalau aku suka, dengan tiada kau perintah aku akan masuk ke dalam pasukanmu.”
Dan gadis yang berumur dua puluh dua — komandan pasukan itu — melototkan mata. Berkata garang: “Itu bukan jawaban Merah. Itu jawaban burjuis. Di negara Merah, hidup dan mati rakyat ada di tangan pemerintah. Aku memerlukan anggota banyak lagi. Dan engkau…”, ia menunjuk Sri dan Diah, “harus masuk pasukan. Mengerti?”
Sri dan Diah berpandang-pandangan. Tapi mereka menghindari mata Is. Pada kakaknya mereka takkan mengharapkan sesuatu yang menguntungkan. Terdengar Is berkata: “Kedua adikku itu mengurus rumah-tangga di sini. Keduanya mencarikan makan untuk ketiga adik-adiknya.”
Dan komandan itu berkata gampang: “Kalau begitu salah seorang di antara yang dua harus masuk.” Ia tak menantikan jawaban. Dengan sikapnya yang gagah ia ke luar dari rumah dan para pengiringnya turut pula pergi. Is masih tinggal di ruang belakang.
“Aku nasionalis,” teriak Sri. “Bukan karena bapak nasionalis. Tidak. Aku kira aku nasionalis. Aku tak tahu mengapa. Hanya mau membilangkan padamu saja.”
“Aku pun nasionalis,” teriak Diah mengimbangi. “Aku tak butuh Merah. Tidak! Aku cinta pada bapakku. Aku takkan mengibarkan bendera Merah untuk selama-lamanya. Aku masih ingat pesan bapak waktu jatuh sakit.”
Is membalikkan badan memunggungi kedua adiknya. Menggerutu: “Aku harap, lebih baik engkau mencintai keselamatan. Dan bila engkau semua mau mengurbankan keselamatan itu, aku takut takkan ada sesuatu kebaikan yang kita peroleh. Aku sudah tahu, bahwa sikap yang membabi-buta itu terlampau sering hanya membuat celaka saja.”
Sri dan Diah berpandang-pandangan. Diah berbisik: “Kalau toh untuk keselamatan kita semua, biarlah aku yang mengurbankan diri turut dengan mereka.”
Kembali Sri — yang belum juga lulus kelas enam sekolah rakyat itu — melelehkan air-mata. Ia berbisik kembali: “Engkau lebih pandai dari aku, Diah. Sayang aku pada kepandaianmu itu. Dia akan jauh lebih berguna untuk adik-adikmu. Lebih baik engkau tinggal saja di sini. Urus mereka. Dan biarlah aku yang pergi, ya? Biarlah aku yang pergi. Engkau tinggal, ya?”
Dan untuk ke sekian kalinya Sri menyerahkan dirinya untuk keselamatan keluarga dan adik-adiknya.
“Apa pikirmu sekarang?” tanya Is sambil membalikkan badan kembali.
“Bah. Polisi Merah telah membawa bapak,” dengus Diah, “dan engkau…” telunjuknya menunjuk Is, “… engkau membantu pekerjaan polisi Merah yang sudah menyeret bapak dalam keadaan sakit. Dan sekarang? Sekarang engkau menjual adikmu kepada Merah. Engkau menjual adikmu dan dirimu sendiri.”
Muka Is jadi merah oleh kemarahan sendiri. Dikepalkannya tinjunya dan berkata garang: “Kita harus bisa mengatasi kepentingan diri sendiri untuk kepentingan bersama.” Ia melotot pada Diah. Kemudian menyemburkan ucapannya lagi: “Tubuh orang satu takkan berarti apa-apa untuk sekian juta manusia. Dan lagi, barangsiapa tidak tahu kepentingan umum — itulah dia ayamnya.”
Dan Diah insaf akan bahaya yang terkandung dalam perkataan ayam itu. Seluruh kota pun sudah insaf, apabila perkataan itu diucapkan oleh mulut orang Merah, orang yang mendengarkannya harus berdiam diri kalau tak menghendaki bencana. Is melihat juga perubahan air muka Diah. Kepalanya diangguk-anggukkan dan berkata pahit: “Ya, engkau mesti mengerti. Masanya Sukarno sudah habis. Mulai sekarang engkau harus menginsafi keadaan baru ini. Kita bersaudara. Ya, kita ke luar dari satu rahim. Tapi itu cuma kebetulan saja yang membuat kita jadi saudara. Dan aku tak menghargai ikatan yang adanya hanya karena soal kebetulan.” Ia bernafas cepat-cepat. “Aku hanya menghargai ikatan yang terjadi karena kepentingan bersama, perjuangan bersama — dan dengan perhitungan yang menguntungkan sebagian terbesar manusia.”
“Sudahlah, mbak!” Sri menengahi perbantahan antara kakak dan adiknya itu. “Engkau banyak mengikuti kursus politik. Karena itu engkau banyak mengetahui. Dan Diah hanya keluaran sekolah menengah yang belum tahu apa-apa selain buku-buku pelajarannya. Aku hanya dari kelas enam sekolah dasar. Biarlah aku saja yang menggabungkan diri pada pasukanmu. Biarlah Diah saja yang tinggal di rumah mengurus adik-adiknya.”
Dan perkataan Sri itu sungguh-sungguh telah dapat menghabiskan pertengkaran itu. Di saat itulah komandan pasukan ordonans berkuda itu masuk kembali ke dalam rumah. Berkata membantu: “Nah, kita berangkat sekarang.”
Ia memandang Sri dan berkata memerintah: “Dan engkau juga. Engkau yang pergi, bukan?”
“Sebentar mbak Is, aku mau mengambil pakaian dulu.”
“Pakaian?” komandan itu berseru. “Pasukan Merah tak terikat pada pakaian. Kita berangkat sekarang.”
Dengan semau sendiri air-mata kembali bermain di ujung mata Sri. Cepat dirangkulnya Diah. Keduanya bercium-ciuman — bukan karena mereka punya adat berciuman, tapi karena hati dan hati, tubuh dan tubuh mau mempersatukan diri barang sejenak.
Dalam pada itu komandan pasukan kuda itu tertawa terbahak-bahak. Berkata menghina: “Burjuis! Burjuis kecil! Burjuis gagal!” ia tertawa lagi. “Sebentar lagi engkau akan jadi gadis Merah yang murni. Engkau akan mendapat kepandaian melenyapkan air-mata. Dan itu sangat berguna untukmu — untuk selama-lamanya.”
Is menarik Sri, dan dibawa adiknya itu ke luar rumah. Semua anggota pasukan kuda ke luar belaka. Diah mengantarkan hingga di pintu pagar. Diiringkan pasukan yang berangkat itu dengan pandangnya. Dan tampaklah oleh Diah, Sri sebentar-sebentar menengok ke belakang dari atas kuda Is. Dan di depannya, duduklah Is memegangi kendali. Kemudian debu tebal menjadi tabir yang menutup hilang rombongan itu. Dan waktu mereka hilang sama sekali, cepat-cepat Diah lari masuk rumah. Tersenak-senaklah suaranya di antara sedu-sedan: “Lalu apa yang harus kuperbuat sekarang?”
Ia menangis sepuas hati. Kemudian berbisik seorang diri: “Dan bagaimana aku harus mencarikan makan adik-adikku?”
Ia meneruskan tangisnya. Hari itu sedang panas-panasnya. Setelah belajar sedikit, adik-adiknya berangkat pula bermain-main di tanah lapang. Dan kini mereka belum lagi kembali pulang. Kepalanya penuh oleh berbagai pertanyaan: nasib kakaknya, nasib bapaknya, nasib adik-adiknya, dan diri sendiri, dan makan tiap harinya. Tapi keadaan punya peraturannya sendiri. Dan manusia punya jalannya masing-masing.
Bukan barang rahasia lagi: penangkapan dan pembunuhan berjalan tiap hari. Dan kabar-kabar itu berpuing-puing tiap ada kesempatan orang mempergunakan pendengarannya. Orang-orang desa jarang datang ke pasar — takut pada hukuman mati. Pasar jadi sepi. Dan kesepian ini membuat keadaan jadi semakin buruk. Dokter Republik telah diganti oleh dokter Merah. Dan dokter yang digantikannya telah terbang ke alam jauh. Tapi semuanya tidak penting benar. Ada yang lebih penting dari segala-galanya: keselamatan diri sendiri. Mau rasanya orang menggadaikan seluruh harta benda — dan barangkali juga diri sendiri . — bila saja orang tahu dengan pasti, bahwa keselamatan diri sendiri terjamin. Terjamin dalam arti yang sungguh dan sebenar-benarnya. Tetapi terlampau banyak orang yang lupa bahwa tiap orang hidup dengan tiada jaminan siapa pun juga sejak dilahirkan oleh ibunya.
Pemuda-pemuda Pesindo dengan sekaligus telah jadi Merah. Pemudi-pemudinya demikian pula. Pula sebagian dari anggota angkatan perang Republik yang telah jemu pada keadaan diri dan keadaan kelilingnya. Dan bagi mereka yang bukan Merah, rasa dunia ini telah mulai terbakar. Tiap hari anggota-anggota pasukan Merah bergelandangan di kampung-kampung: untuk memaksa penduduk jadi mengeluh: rantaiku dirampas, kainku peninggalan zaman aman disita. Penyakit pendaratan Jepang timbul ke permukaan kembali. Dan orang yang merasa dirinya kaya, diganggu oleh harta bendanya sendiri.
Dan di antara segala keributan yang menyesakkan pendengaran dan perasaan dan pikiran itu, Diah membanting tulang untuk kepentingan adik-adiknya. Ia pun menyerah — tak ubahnya dengan Sri. Dia berjuang. Tapi perjuangan yang tak memberi kesempatan sesuatu padanya. Ia berjuang dalam penyerahannya. Pencahariannya tiap hari ialah mengumpulkan daun pisang di kebun. Dan daun inilah yang dijualnya kepada pembuat tempe. Kadang-kadang ia bertanya dalam hati: “Apa akan jadinya pohon-pohon pisang itu, bila daunnya habis dikikis tiap hari?”
Dan dalam hati ia ada merasai bencana yang ditimpakannya pada tumbuh-tumbuhan itu. Tapi ia dan adik-adiknya harus terus dan terus mengambili daun itu. Kalau tidak, Sarmini dan pencuri-pencuri lainnya akan menghabiskannya. Jadi dikurbankannya juga pohon-pohon itu untuk hidup merana dan tiada berbuah. Suatu kejahatan! pikir Diah. Tapi jalan lain belum nampak olehnya. Dan untuk pengganti nasi, dicabutinya pohon-pohon singkong yang umbinya masih merupakan akar merah.
“Tirakat, perut, tirakat,” kadang-kadang adik-adiknya mengulangi perkataan kakaknya Sri.
Dan bila seorang saja mulai menertawakan kesengsaraan diri sendiri, tertawa terbahak-bahak berbareng menyusullah. Dan dalam pada itu mereka sadar, bahwa mereka menyerah — menyerah dengan seluruh adanya. Mereka menyerah pada keadaan. Mereka menyerah pada peraturan dunia. Dan untuk mereka, penyerahan itu bukan suatu kejahatan. Suatu kemestian yang lebih cenderung pada usaha melindungi kelangsungan hidup masing-masing.
Waktu tidak pernah mati. Dunia tidak pernah mati. Dan hari pun tak pernah mati. Waktu dan tempat hanya ruang belaka untuk diisi oleh berjuta macam perubahan. Perubahan-perubahan baru datang dengan megahnya. Yang lama memberi tempat pada yang baru dilahirkan. Dan sebagaimana orang tak menyangka, bahwa Merah akan masuk, penduduk pun takkan menyangka, bahwa perubahan baru akan datang. Dan datang dengan segera.
Hari itu masih pagi benar. Lalulintas mati. Beribu-ribu pasukan Merah yang datang dari jurusan timur dan selatan memadati jalan-jalan kota kami yang sempit itu — dengan tiba-tiba saja. Warna merah berkibar-kibar di tiap kepala mereka. Juga gelang dan kalung janur kuning tanda pasukan yang sedang menyerbu dengan seluruh kepercayaan akan datangnya kemenangan di. pihaknya. Para pengikut Merah bersorak gegap-gempita menyambut induk pasukan yang datang itu. Dan dengan tiada mereka ketahui sendiri, jenderal besar mereka ada pula di tengah-tengah pasukan yang sedang datang itu.
Anak-anak kecil berteriak-teriak kegirangan melihat begitu banyak manusia dengan warna-warninya. Dan ada juga sebagian kecil dari mereka yang malah melarikan diri, menyembunyikan badan di bawah-bawah kolong ambin atau di balik-balik pintu. Mereka adalah anak-anak yang bapak atau saudaranya telah diseret kemarin, kemarin dulu atau beberapa hari yang telah lalu. Dan sekali saja orang diseret oleh pasukan Merah, orang tak berani mengharapkan kapan dia dikembalikan ke rumahnya lagi. Mungkin baru pulang bila keadaan sudah damai, atau mungkin juga takkan kembali untuk selama-lamanya. Di masa kacau, kepastian sama mahalnya dengan emas di masa damai.
Sorak yang gemuruh itu tak membangkitkan reaksi apa-apa di kalangan pasukan yang sedang datang itu. Muka mereka kuyu-kuyu seperti banyak hal yang wajib mereka pikirkan. Kadang-kadang di tengah-tengah barisan yang bersaf-saf dua belas-dua belas itu terdapat usungan. Dan di atas usungan itu: mait atau orang yang mengerang kesakitan.
Senjata yang ada pada mereka hampir seluruhnya: baru — senjata yang sepanjang pengetahuan penduduk kota kecil itu belum pernah dimiliki oleh angkatan perang pemerintah. Dari mana senjata-senjata yang masih baru dan mengkilat-kilat itu, tak ada seorang pun berani menanyakan. Memikirkan pun barangkali tidak berani. Langsung saja barisan itu menduduki gedung-gedung yang bagus, mengusiri isinya — hidup atau tak hidup — dan segera saja tiap tubuh di antara mereka merebahkan diri di lantai dingin.
Sebagian dari penduduk yang datang untuk melihat atau mengelu-elu, bubarlah dengan ributnya ke tempat masing-masing. Kabar kedatangan itu melebar ke mana-mana mengisi waktu-waktu yang kosong. Keadaan kembali menggelisahkan.
Tiba-tiba kabar mengamuk dari kuping ke kuping: pasukan Merah terpukul mundur dari medan perang Cepu, tiga puluh kilometer di tenggara Blora. Menderita kekalahan hebat, kabar itu punya tambahan. Dan pasukan-pasukan Merah di tempat-tempat lain sekitarnya telah dihancurkan oleh Siliwangi14. Siliwangi! Tiba-tiba hati penduduk bersorak mendengar nama itu. Bukan nama asing. Nama yang sudah sering didengar mereka. Siliwangi! Siliwangi! Dan orang ingin melihat pasukan Siliwangi dari dekat.
Di saat-saat seperti itu, Diah dan adiknya mendengarkan kabar yang berpindah-pindah itu dengan hati-hati. Diah telah melarang adik-adiknya untuk menyiar-nyiarkan kabar. Kabar bisa membunuh orang setiap waktu, kata Diah selalu. Dan nasihat itu mengembalikan ingatan adik-adiknya pada bapaknya yang belum juga kembali. Dan mereka itu pun ingat pada Sri yang juga belum kembali. Ingat pada kiai Nursewan. Pada pegawai-pegawai pemerintahan Republik yang disereti tiap hari. Dan mahluk-mahluk yang belum dewasa itu ada juga memperhitungkan laba-rugi antara menyiarkan kabar dan keselamatan diri sendiri. Dan ini membuat Diah merasa berterimakasih.
Sore hari itu, pasukan Merah yang terpukul mundur oleh Siliwangi bergerak dari semua asramanya: mencari mangsa! Tiap rumah dimasuki. Penggeledahan berulang! Penggeledahan selalu dan selalu berulang dalam tahun-tahun peperangan itu. Tiap benda yang terbuat dari emas dan perak disita. Kemudian: kambing, sapi, dan ayam, dan buah-buahan yang sedang memasak di pohon-pohonnya. Semua diangkuti ke markas untuk pengisi perut yang lapar. Sementara itu mereka pun sibuk menanami kawan-kawan yang sudah tak bernafas lagi — kawan-kawan yang jiwanya telah habis dimakan peluru Siliwangi. Penduduk yang tahunya hanya takut pada peluru dan senjata tajam melarikan diri ke pinggir-pinggir sungai dan di bawah-bawah rumpun bambu rimbun yang disangkanya akan dapat melenyapkan diri dari mata mereka yang ditakutinya.
Juga Diah dan adik-adiknya menyembunyikan diri. Mereka membawa tikar dan menghilang di bawah rumpun bambu yang berduri-duri. Kala itu berbagai macam doa terdengar. Dan tiap orang ingat pada maut, pada daging keraman perasaan, pada sakit, pada harta benda yang sedikit, dan: Tuhan. Dari jauh terdengar pintu-pintu rumah digedor-gedor dan dibongkari.
Mereka yang merasa diri ulama, segera mencari perlindungan di sawah-sawah. Sawah dan ladang tak diperhatikan oleh pasukan Merah. Di bidang-bidang tanah seperti itu takkan ada tersimpan emas dan perak. Dan para pegawai pemerintah Republik yang selama pendudukan Merah berhasil menyembunyikan diri di dalam rumah masing-masing, kali ini terpaksa melarikan diri melalui pintu belakang ke tebing-tebing kali atau — bila kesempatan lari tak ada dan rumah telah terkurung — menyimpan dirinya di loteng di bawah atap.
Dalam tiap persembunyian, orang-orang dewasa sibuk menyumbat mulut anak-anak kecil. Mereka tak boleh bersuara. Mulut mereka yang nyinyir tak boleh jadi pengkhianat keselamatan masing-masing — tak boleh jadi penunjuk jalan untuk pasukan Merah di tempat mereka sedang menyembunyikan diri. Tapi anak-anak itu berteriak-teriak juga. Dan tiap kesempatan menjerit dipergunakannya baik-baik — sekencang-kencangnya di belakang tapak tangan mereka yang melarangnya. Ya, anak-anak yang belum tahu dunia itu, dan yang diketahuinya baru ketakutannya sendiri. Kanak-kanak yang agak mengerti meniarapkan badan seperti bangkai kadal. Bergerak pun takut. Kadang-kadang terdengar gigi mereka menggeletuk di antara tembakan keraben yang terdengar satu-satu antara sebentar. Namun, di kala itu tak ada yang berani satu mulut atau otak menyumpahi Merah. Dan juga tak ada yang berani mengharapkan kedatangan Siliwangi. Sungguh: antara maut dan Tuhan tak ada satu nama pun yang tepat, tak ada satu nama pun diperlukan. Mereka semua takut. Dan ketakutan mematikan segala-galanya yang ada dalam otak dan hati mereka.
Kadang-kadang ada juga terdengar derap kuda lari. Dan segala bunyi itu membuat Diah dan adik-adiknya terkenang pada Sri, pada Is, pada bapaknya, dan pada mereka yang telah diseret oleh pasukan Merah. Terutama pada Kasibun yang seperti beberapa orang lainnya diadili oleh hakim Merah dan mendapat tawaran: hukuman mati atau seumur hidup. Dan Kasibun menjawab: barangkali mati lebih baik untuk diriku. Dan menjelempahlah ia di alun-alun di bawah pohon beringin jadi bangkai. Dan anak-anaknya tak berani menangisi. Barangkali mereka tahu juga, menangisi matinya pengkhianat pasukan Merah berarti jadi pengkhianat Merah dan memanggil peluru untuk menembusi kepala dan dada sendiri. Dan Kasibun sudah begitu tua, dengan gigi tinggal beberapa biji. Ia pencinta Republik dan Presidennya, sekalipun ia tak tahu apa gunanya cinta pada keduanya. Dan kecintaan itu membuatnya jadi fanatik. Tiap-tiap kali ia membesar-besarkan hati kawan-kawannya dengan perkataan: sesuatu keadaan tak bisa dibangun di atas perampokan. Dan kekuasaan Merah yang didapatnya sekarang adalah hasil perampokan semata. Mengapa mereka tak mengambil kekuasaan dari tangan Belanda? Atau Jepang? Mengapa justru dari tangan Republik? Dan oleh mulutnya yang tak mau dikendalikan lagi itu, orang tua itu memperoleh ganjaran: peluru!
Pasukan Merah yang terpukul mundur dari medan pertempuran Cepu dan sekitarnya tak perlu mencari harta benda di pinggir-pinggir kali, sawah atau ladang. Mereka cukup keluar masuk rumah saja. Dengan demikian, waktu matari tenggelam di balik tebing kali, penduduk pulang kembali ke rumah masing-masing. Berpuluh cerita meniup ke mana-mana: kehilangan! kehilangan! Dan mereka yang harta bendanya telah habis tandas oleh pendudukan Jepang, Republik, dan Merah itu mencurahkan kesedihannya dalam hati saja. Sekiranya disuarakan, tak ada kuping mau mendengarkan. Kemudian dengan diam-diam mereka mencari keadilan dari hatinya sendiri — dari sejarah hidup masing-masing.
Dan, tak seorang pun di antara yang dewasa berani menangis. Mata-mata Merah terlampau banyak. Mereka yang dengan tiba-tiba jadi pengkhianat dan yang pekerjaannya menciderai nasib kawan-kawannya sendiri itu termasuk golongan yang juga sudah habis tandas harta bendanya. Tapi mereka ada melihat kesempatan baik untuk memperbaiki nasib dan membangunkan kepercayaan pada hari depan.
Malam buta menyusul — dengan dalilnya sendiri.
Dan di waktu hitam kelam itu kadang-kadang pun terdapat serdadu Merah yang masih berkeliaran. Tak jarang terdengar pintu digedor-gedor dan suara yang parau dan beku minta dibukakan pintu. Para tetangga di selingkungan keluarga yang mendapat gedoran pintu tak ada yang berani memunculkan diri untuk memberikan pertolongan. Mereka hanya bisa berdoa untuk keselamatan keluarga masing-masing. Beduk langgar tak kuasa berdansa-dansa dalam suasana senyap itu. Sejak Merah datang, beduk-beduk itu turut ketakutan dan menghilang di kolong-kolong. Sudah beberapa Jumat mesjid pun sunyi. Tiada orang berani berbondong-bondong ke sana. Kitab-kitab agama disembunyikan dari pandangan mata Merah. Para santre banyak yang melepas pici dan sarungnya. ai KEMUDIAN MENYUSUL peristiwa baru lagi. Waktu itu pagi juga. Di seberang kali Lusi, dekat jembatan, mengamuk tembakan keraben dan mitraliur. Kembali orang-orang jadi kebingungan: Dari rumah Diah yang dekat dengan kali itu bunyi-bunyian yang mengerikan itu terdengar nyata-nyata. Di kala itu banyak nampak prajurit menyeberangi kali dengan tiada melalui jembatan sambil berteriak-teriak: “Tenang! Tenang! Siliwangi datang!”
Tiba-tiba saja orang bersorak lega: “Hore! Siliwangi datang,” dengan suara yang langsung ke luar dari hati Tiang. “Siliwangi datang! Selamat datang. Selamat datang. Siliwangi!” Dan pasukan-pasukan yang datang terus juga menembak-nembak ke udara. Bondongan ledakan dekat jembatan tambah menghebat. Orang-orang yang merasa dirinya tak berdosa pada Republik segera saja ke luar dari rumah masing-masing menyongsong pasukan negaranya yang baru tiba. Sorakan riuh segera mereka sumbangkan di antara dentuman bedil dan rentetan mitraliur. Suasana tiba-tiba jadi hidup, bergerak, berjiwa.
“Merah.tidak membalas,” tiba-tiba terdengar lengkingan menantang.
“Mana berani Merah membalas.”
Kemudian sorak mengejek menyusul, menggulung suasana pagi. “Merah lari — sudah lari. Merah sudah lari. Hore!!”
Dan kesatuan Siliwangi pun turun ke daerah kota. Tiap muka jadi berseri-seri. Prajurit-prajurit itu cepat bergerak merangkak-rangkak maju menusuk ke pusat kota.
Tiba-tiba dari rumah tetangga Diah terdengar seorang nenek berteriak kuat-kuat: “Jangan sembunyi di sini.
Perhatian orang selingkungan rumah Diah tertarik pada teriakan itu. Setelah orang berlari-lari ke rumah nenek itu, terdengar lagi: “Jangan sembunyi di sini. Nanti kami serumah disangka Merah.” Dan sebelum orang-orang itu sampai di rumah yang ditujunya, orang telah melihat Sakidin — tukang canang Merah — berlari-larian gila. Kemudian dengan tubuhnya yang dilarikannya itu hilang ia di ladang Diah. Ada juga perawan itu melihat ini. Tetapi ia diam saja. Dan para tetangga bersorak riuh seperti sudah jadi kawanan orang gila: “Sembunyi di rumah Diah dia!”
Dan pemburuan pun menyusullah. Di saat itu juga datang seregu prajurit dari Siliwangi. Bertanya mereka: “Apa? Ada apa?”
“Merah bersembunyi di tempat itu!”
“Merah?”
“Ya, Merah. Tapi yang punya rumah bukan Merah.”
Dan regu itu pun turut pula memburu. Beratus-ratus orang membanjiri ladang Diah. Dan pohon-pohon singkong patah-patah dan rebah-rebah oleh terjangan kaki dan tangan orang. Tapi orang tak peduli pada bolak singkong. Dan orang pun tak peduli pada hati Diah yang menyesali keadaan itu. Orang terus memburu. Orang hanya peduli pada Sakidin tukang canang Merah. Dalam buruan itu Sakidin menumbuk-numbuk pada pagar berduri. Sekali ini terpegang. Tetapi kekuatan orang nekat itu sanggup melemparkan lima orang yang memeganginya. Dan ia lari terus. Lari terus. Lari terus. Dengan tiada tujuan. Dengan tiada bimbingan maksud. Ia lari karena nekat. Kehilangan segala-galanya yang ada dalam jiwanya. Dan mulutnya yang kering mengapur berteriak-teriak sejadi-jadinya: “Ampun, Siliwangi! Ampun, Siliwangi!”
Tapi orang tak sempat mengumpulkan pengampunan lagi di dalam dadanya. Dan Sakidin tetap berlari-larian dan melompat-lompat. Akhirnya prajurit-prajurit yang kebanyakan peluru melepaskan tembakan. Dan untuk menghindarkan peluru yang dilepaskan padanya, Sakidin menggulung-gulungkan badannya. Pohon-pohon singkong lebih rusak dan patah-patah lagi. Tapi tak ada seorang pun yang peduli.
Akhirnya Sakidin kena juga pada perutnya dan habislah geraknya. Mulutnya berbusa. Dan sebagian dari busa telah menge- .’ ring dan mengerak di sudut-sudut mulutnya. Nafasnya membengkos-bengkos. Dan di antaranya terdengar suara lemah kepayahan: “Ampun. Ampuuun. Biarkan aku hidup. Biarkan aku hidup. Ampun.”
“Nah! Minta hidup pula. Berapa banyak orang mati karena engkau, monyet!” orang meneriakkan caciannya.
Setengah dari gerombolan itu bersorak riang. Dan tiap mata dari mereka tertuju pada Sakidin tukang canang yang tak berdaya lagi.
Mata kurban itu tak kuasa lagi menentang mereka yang membencinya. Pelupuknya diturunkan. Dadanya turun naik oleh nafas berat.
“Seret dia!” seorang mengusulkan.
Kepala Sakidin jatuh ke pundaknya. Tapi ia tak berkata apa-apa. Kemudian orang berebutan mendapatkan kakinya. Ia mulai diseret. Tidak, ia tidak bicara lagi. Matanya terkatup renggang-renggang sekarang. Darah meleleh terus dari balik baju dan melebar ke dada, ke samping, juga ke celananya. Ia diseret terus ke luar dari ladang menuju ke jalan batu. Sementara tak ada yang bicara.
Tiba-tiba seorang berteriak histris: “Hore, mampus kau sekarang. Setan Merah Sakidin kena sudah.”
“Hore, tukang canang Merah sudah kena,” suara anak kecil melengking.
“Hore, hore!”
Dari pojok rumahnya, Diah memandangi segala kejadian itu dengan diam-diam. Husni, Hutomo dan Kariadi berlari-larian mengikuti iring-iringan itu. Dan gadis itu tak bergerak-gerak seperti telah mematung. Cuma dalam benaknya mengamuk berbagai kenangan, keinginan, hasrat dan rasa rindu pada sesuatu yang lebih baik dari semua itu. Tiba-tiba ia lari ke dapur. Dicurahkan air matanya. Ia terkenang pada saudara-saudaranya yang sudah begitu lama belum juga kembali. Cepat-cepat dihapusnya air mata yang membasah itu. Diambilnya abu dapur di piring tanah dan dibawanya sebuah cangkul tua. Berlari-larian ia pergi ke tempat Sakidin tadi mendapat tembakan pada perutnya. Ia berjongkok. Mulutnya mengucapkan beberapa doa. Ditaburkan abu dapur itu di atas darah di tanah yang mulai mencoklat hitam. Kemudian ditimbunnya dengan tanah. Paculnya berayun-ayun lesu. Air mukanya nampak lesu — presis orang yang sedang menimbun lahat saudara yang dikasihinya. Setelah pekerjaannya habis, ia berdoa lagi, kemudian pulang membawa paculnya. Berbisik pada diri sendiri: “Semua orang yang mati harus mendapat penghormatan sebagai manusia.” Tapi air mata tak juga kering-kering dari matanya — mengalir terus dari sumbernya yang subur. Tiba-tiba terdengar berbagai letusan: gedung-gedung yang sedang diterbangkan ke udara oleh pasukan Merah. Asap hitam tebal merayau-rayau di langit, diwarnai oleh api yang merah menjilat-jilat. Semua itu nampak oleh Diah dari jendela.
Tiba-tiba terdengar orang berteriak ngilu: “Penjara dibakar Merah!” mn lo.
Dan teriak seorang lelaki itu disusul oleh pekik perempuan muda: “Ah, ah, — bagaimana? Lakiku masih ada di penjara itu.” Mati kedua suara itu.
Diah melompat. Keluar dari rumah. Mendadak saja datang ingatan padanya: bapaknya! Barangkali orang tuanya ada di dalam penjara itu. Ia lari. Lari. Lari dan lari. Terus lari ke arah utara — ke penjara. Ramai-ramai bersama dengan mereka yang punya keluarga yang dipenjarakan Merah. Para lelaki lari cepat. Orang-orang perempuan terhuyung-huyung dengan kain dikeataskan dan rambut kocar-kacir di punggung. Dan Diah yang tak pernah berlatih lari, sebentar-bentar berhenti untuk menarik nafas. Di jalan ia bertemu dengan seregu prajurit yang sedang mengurung seorang pemuda yang berpakaian rompang-ramping. Pada kepalanya masih terikatkan kain merah. . “Merah? Merah?” tanya prajurit-prajurit itu. “He — mengapa kalian berlari-larian?” seorang prajurit lainnya lagi. : : : “Penjara dibakar Merah. Saudara kami ada di sana.” . “Merah? Merah, kau?” : “Hantam saja orang-orang Merah itu. Keringkan dagingnya!” Pemuda yang kurus itu berdiam diri saja sedang sibuk memikirkan jawaban yang hendak diberikannya. “Merah?” desak para prajurit. Dan pemuda itu hanya-menundukkan kepala. Seorang prajurit memukul kaki pemuda itu hingga ia jatuh tertelungkup di tanah. Tanya lagi seorang: “Merah? Ya?” Pemuda itu menjawab pelahan. Tak terdengar oleh kuping jawabannya. Ia masih juga tertelungkup di tanah. Kakinya tak bersepatu. Ia mencoba untuk bangun. Kemudian: “Ya,” jawabnya sekarang.
Ia merangkak. Dan sebelum kedua kakinya sempat berdiri ia telah kena tembak pada kepalanya. Terus rebah tersungkur. Tak bersuara lagi. Hanya kaki dan tangannya bergerak berkembang ke samping-menyamping. Kemudian kaki dan tangan itu dipegangi prajurit-prajurit itu, diseret — dilemparkan ke dalam truk. Truk menderu. Hilang. Diah menangis lagi. Kembali ia ingat pada segala-galanya yang tak menyenangkan.
Tersedan-sedan ia. Ditimbunnya darah kurban itu dengan pasir pinggiran jalan. Ia lari lagi. Lari dan lari. Dadanya yang sedang menumbuh itu kembang kempis. Dan orang-orang lain pun lari dan lari: nenek, kakek, anak kecil — semua mau mengambil keluarganya yang ada di dalam penjara. Dan tidak satu atau dua orang saja jatuh terguling kehabisan nafas, banyak! Tapi Diah lari terus.
Dari jauh telah nampak: penjara terbakar bagian belakang dan dalamnya. Orang-orang yang datang ke selingkungan gedung batu itu kian banyak — meratus, meribu. Diah pun sampai. Dari sel-sel yang masih terkunci di dalam orang memekik-mekik minta tolong dengan suara parau. Pintu depan terkunci — pintu yang satu-satunya. Di tiap pojok di atas pagar nampak serdadu-serdadu ribut memberi perintah. Dan prajurit-prajurit lainnya naik ke tangga yang tinggi-tinggi untuk melompati pagar dan menolong mereka yang masih tertinggal hidup di dalam. Sebentar-sebentar dari tangga-tangga itu pula diturun-turunkan orang-orang yang masih utuh tubuhnya. Segera ia jatuh ke tanah untuk dikucuri dengan air mata oleh sanak-familinya. Harapan! Sesungguhnya harapan besar yang terpenuhi mengakibatkan hilangnya pegangan.
Lama-kelamaan kian banyak juga orang-orang yang tertolong dengan sanak-familinya menggerombol-gerombol di pinggir-pinggir jalan atau di bawah-bawah pohon. Dan di kanan penjara, tangsi polisi telah merah kuning dimakan api — tak tertolong lagi.
Dari jauh Diah telah memekik gila: “Bapaak — bapaak — 000, bapaaak!”
Tapi tak ada seorang pun yang peduli. Semua sibuk dengan kekhawatiran dan kesengsaraan sendiri. Beratus-ratus orang memandangi prajurit-prajurit yang mengangkuti kurban-kurban dari dalam penjara dengan mata batu. Tak ubahnya dengan mata kucing kelaparan. Diah kian mendekat. Bila satu lagi kurban diturunkan dari pagar tembok, orang berlari-larian datang merubung. Bila bukan sanaknya segera orang-orang pergi menjauh pula menunggu datangnya kurban yang diturunkan lagi. Diah kian mendekat. Ia telah bermandi keringat — oleh lari dan oleh panasnya api tangsi polisi dan oleh banyaknya orang di sekelilingnya dan oleh panas api penjara. Sampai di gerombolan orang yang kebingungan ia rebah kehabisan tenaga.
Teriaknya yang lemah terdengar sayup di sela gemeratak api, pekik-jerit kurban-kurban yang belum tertolong dan tangis dan ratap orang yang menunggu di luar penjara. Sekali lagi ia berteriak, nyaris saja terdengar: “Bapak … bapaak … bapaak…”
Kemudian ia diam menyusun nafas. Berdiri. Rebah pula. Di sandarkan badannya pada batang pohon. Beristirahat. Berdiri lagi. Di sampingnya, seorang kakek mondar-mandir dengan kedua tangan tersilang di belakang badan. Ia pun kebingungan.
“Anakku! Anakku! Dan sudah begitu tinggi — mahasiswa Gajahmada15.”
Sebentar-sebentar ia berhenti mengejut, memandangi lidah api yang menjilat-jilat, mengulangi kata-katanya, dan berjalan pula mondar-mandir dengan kedua tangannya tersilang di belakang badan.
Diah mengumpulkan seluruh tenaga. Berteriak kuat: “Bapaaak — bapakkuuu — Diah di sini. Anakmu di sini,”
Ia diam lagi. Ia tak melihat beberapa mata memandangnya. Bibirnya telah kering dan putih. Setelah terjatuh sekali ia segera bangun pula cepat-cepat. Lari ke bawah runtuhan tembok. Mendekati tangga. Di situ pun orang berjejal menantikan familinya dikeluarkan dari dalam penjara. Sementara itu pintu penjara dipecah bersama-sama dari luar. Dan di belakang penjara, orang melempar-lemparkan pasir, air, batang pisang. Dan pasir yang dilempar-lemparkan itu melayang-layang seperti mendung kena tiupan api yang mengamuk dahsyat.
Satu kurban lagi dikeluarkan dari penjara dan diturunkan melalui tangga. Dua-tiga — orang yang sudah remuk-remuk, tak terkenali lagi oleh siapa pun juga. Dan antara sebentar terdengar: “Bukan! Bukan! Bukan dia,” seperti dengung doa dari surau. Atau tiba-tiba ada seorang rebah di tanah dan memeluk tubuh yang remuk-remuk.
Seorang lagi dikeluarkan: tinggal sepotong badan. Kemudian sepotong kaki kanan diturunkan. Diah menjerit: “Bapakku! Bapakku!”
Dan sepotong kaki itu cacat. Mungkin pada waktu kecilnya, kaki itu kena patek. Dan Diah kenal: kaki itu adalah kaki pak Sumo, — bapak Diah dan saudara-saudaranya. Berteriak lagi: “O, bapak! Bapakku!”
Dan dirangkulnya sepotong kaki itu dan diciuminya pada empu jarinya. Ia lari membawa kaki itu. Tapi seorang prajurit menahannya. Berkata: “Jangan bawa kaki itu. Biar kami carikan badannya dulu. He, jangan bawa lari.”
Diah berhenti. Ia bimbang. Pelahan-lahan ia jalan balik ke tempat tangga berdiri. Dikembalikan sepotong kaki yang berlumuran darah itu di tempatnya semula — di bawah tangga. Sebelum diletakkannya dengan hati-hati, diciuminya empu jari yang kotor dan berdarah-darah itu berkali-kali, kemudian ia lari seperti orang gila menuju ke pintu penjara yang habis dipecahkan beramai-ramai.
Orang tak sabar lagi menunggu di depan pintu itu dan berjejal-jejal masuk ke dalam. Riuh orang memanggil-manggil adik, bapak, anak, saudara — macam-macam. Dan Diah turut pula menyerbu ke dalam. Tiap-tiap sel yang telah dibongkar dimasukinya. Tapi sel-sel itu pasti sudah kosong. Kadang-kadang. tertumpah darah memerahi lantainya.
Kemudian orang berebut dahulu lari ke bangsal panjang. Dan nyala api di bagian belakang penjara membakar badan mereka. Tiap kali asap meniup dan melayah ke bawah orang batuk tercekik-cekik. Dan di dalam bangsal itu berpuluh-puluh orang mengerang-erang kesakitan. Ada juga yang telah lama mati, potongan-potongan tubuh orang.
Dan Diah berteriak kelu: “Bapakku! Bapakku! Diah di sini. Di mana engkau?”
Tapi suaranya ditelan oleh suara-suara lain yang juga sedang diteriak-teriakkan. Tiba-tiba terdengar pekik tinggi: “Sumur ini penuh dengan bangkai!”
Dan mereka yang tak menemukan yang sedang dicarinya di dalam penjara, berlari-larian merubung sumur dan menjenguk ke dalamnya. Dan di dalamnya mengambang bangkai-bangkai manusia. Airnya telah jadi merah. Air selalu bergerak-gerak — di dalamnya masih ada manusianya yang hidup.
Prajurit-prajurit Siliwangi mondar-mandir. Setengah sibuk membongkari sel-sel dengan martil besi besar. Dan Diah berlari-larian mencari bapaknya dari sel ke sel. Ia terus juga berteriak-teriak. Tapi tak seorang pun menjawab teriakannya.
Dari sel-sel yang masih terkunci kadang-kadang terdengar. orang mengaduh, mengerang ataupun bungkem saja, karena yang mendiaminya telah ditembak dari luar.
Tiba-tiba asap tebal meniup ke bawah, bersama pasir yang di lempar-lemparkan dan panas api menyembur ke tengah-tengah penjara. Seorang prajurit, menarik Diah dan melemparkannya ke luar penjara. Api kian menjadi-jadi. Orang di luar menangis dan menangis. Dan tiada kurang yang datang hanya untuk menonton mereka yang menangis dan kebingungan. Dan di antara pekik-tangis itu ada terdengar raung: “Ini mata-mata Merah.”
Terhuyung-huyung Diah menjauhkan diri dari pintu penjara. Ia pun ada melihat prajurit berlari-larian menangkap orang yang dituduh mata-mata Merah itu. Ia pun melihat orang itu ditangkap beramai-ramai. Kemudian kedua belah tangannya diikat. Direbahkan ke tanah, akhirnya ditembak pada kepalanya. Benaknya meleleh putih. Segera ia menutup matanya, menghindari pemandangan itu. Dan di waktu tangannya diturunkan dari mata, ia tak melihat kurban itu lagi — telah hilang dari pemandangan. Cuma kupingnya yang mendengar dengung truk yang menyatakan, bahwa kurban telah dibawa kendaraan itu.
Tembok dinding penjara bagian belakang roboh. Dahsyat bunyinya. Dan bersamaan dengan itu percikan api memencak-mencak dengan riangnya di udara. Panas api tertiup ke sebelah depan dan orang-orang mundur menjauh. Kemudian dinding-dinding lainnya pun turut roboh.
Seorang prajurit berteriak: “Besok saja datang lagi kalau mau mencari saudara!”
Mula-mula orang bimbang pada seruan itu. Dan waktu seorang letnan berseru: “Ya, besok saja datang lagi!”
Barulah orang-orang bubar, pulang membawa tangisnya masing-masing, atau kabar baru untuk keluarganya.
Diah lari ke tempat tangga berdiri untuk mengambil kaki bapaknya. Tetapi tangga itu tak ada lagi sudah. Dan kaki yang dicarinya pun tak nampak olehnya. Ia meraung kesal. Tapi ia turut juga dengan bondongan orang itu pulang ke rumah.
Di rumah didapatinya adik-adiknya duduk-duduk di pendopo menantikan kedatangannya. Ia tak peduli. Segera ia lari ke kamar dan mencurahkan air-mata sebanyak-banyaknya. Matanya jadi bengkak karenanya. Ia tak peduli. Ia ingin menangis — dan sebanyak-banyaknya. Tak ada seorang pun di antara adik-adiknya berani menanyakan sebabnya. Ia sendiri pun tak berani menyampaikan peristiwa yang baru disaksikannya sebentar tadi.
Senja datang.
Dan perut belum juga diisi. Tapi tak seorang pun di antara adik-adiknya membantah keadaan itu. Masing-masing berdiam diri mengenangkan seluruh kejadian yang boleh dan mau dikenangkan. Juga kejadian yang baru tadi mereka saksikan: pembunuhan — pembalasan. Dan orang berganti-ganti mati.
Keadaan lama digantikan oleh keadaan baru — baru dalam bentuk. Isi tetap lama — tetap yang dulu-dulu juga: kesulitan hidup yang membelukar.
Pasukan-pasukan Merah telah digiring oleh pasukan Siliwangi ke arah barat. Dan pembantu-pembantunya disapu bersih dari tempat kami. Namun orang-orang yang hanya ikut-ikutan terseret pada Merah karena ancaman senjata boleh memanjangkan umur sampai maut sendiri dan bukan algojo Merah memenggal jiwanya.
Seorang demi seorang yang terseret turut dengan Merah kembali ke tempat kediamannya masing-masing — hampir semua pemuda atau pemudi. Dan bila mereka telah duduk di kursi dalam rumahnya yang dulu, segera mengenang-ngenang buruk baiknya ikut-ikutan dalam pembunuhan teratur. Dan untuk mengembalikan diri dalam pergaulan, mereka segera datang bertemu ke tempat para tetangganya dan menyemburkan ketakutan — presis seperti serdadu-serdadu Korea waktu Jepang kalah.
“Kalau aku menolak kehendak mereka, matilah aku. Aku bukan Merah. Merah yang memaksa aku.”
Dan ketakutan itu tak pernah penting buat para pendengarnya. Hanya penting untuk keselamatan sendiri. Dan biasanya orang menjawab dengan: “Ya. Ya, memang begitu.”
Maka selesailah ketegangan antara mereka.
Mereka yang punya famili yang turut terseret oleh paksaan Merah tapi belum kembali, menanti-nantikan kedatangan famili itu dengan berbagai macam kekhawatiran. Sungguh! Kedatangan pasukan Merah membuat penduduk daerah kami pandai memaki sekeji-kejinya, dan berdoa sampai sepanjang-panjangnya. Di antara mereka yang menunggu kedatangan familinya yang turut terseret oleh paksaan Merah termasuk Diah beserta adik: adiknya. Tapi Sri tiada juga datang. Dan itu membuat mereka selalu diburu-buru oleh kekhawatiran. Kini mereka baru dapat menginsafi telah banyak berhutang budi pada Sri, kakak mereka. Sri telah mengurbankan dirinya untuk keberesan rumah tangga. Sri telah menyerahkan dirinya untuk mengundurkan diri dari sekolahannya. Ya, mereka ada merasai kebesaran pengurbanan kakaknya itu. Ada juga mereka mengharapkan kedatangan Is. Tapi ada sesuatu yang melarang harapan itu timbul dalam jiwa. Barangkali karena Is dengan sukarela telah menggabungkan diri dengan pasukan yang telah membunuh ayahnya. Ya, barangkali karena itu. Tapi mereka tak mengetahui betul tidaknya perasaan itu.
Rumah-rumah sekolah sudah lama tak dibuka. Baru waktu pemerintahan sipil berdiri kembali, sekolah-sekolah mulai membuka pintunya. Murid-murid mengulangi pelajaran yang dua tiga bulan yang lalu sudah dipelajarinya. Husni, Hutomo dan Kariadi kembali pula ke bangku sekolah. Tapi beberapa kawan mereka tak muncul di kelas seperti dahulu — dan untuk selama-lamanya. Kini Diah tak punya kesempatan untuk bersekolah lagi. Apa yang kadang-kadang mengharukan hatinya ialah, ketiga adiknya mulai senang belajar dan menurutkan nasihat-nasihatnya. Barangkali karena mereka insaf, bahwa yang mencari rezeki hanya dia — Diah kakak mereka yang perempuan itu.
Tiap hari Diah mencari pakaian-pakaian rombeng dari lorong ke lorong. Barang-barang itu dijualnya kembali di mana saja ia dapat menemui pembeli. Dari penjualan inilah ia mencari penghasilan. Kadang-kadang ia pun mendapat dagangan lawon tenunan kampung. Dan ia masih juga tak dapat mengerti mengapa ia tiba-tiba saja bisa berdagang. Keriangan mulai timbul lagi dalam keluarga itu. Dan sinar hidup menyala pula — seperti dahulu waktu ibu mereka masih sehat dan segar bugar.
Kehidupan sehari-hari mulai berjalan tenang di atas relnya. Demikian pula halnya dengan keadaan para tetangga. Pasar telah dibuka. Para pedagang kembali menduduki bidang-bidang kosong di pasar itu. Keempat kakak-beradik itu tak pernah lagi bercakap-cakap tentang bapak, tentang mbak Is dan mbak Sri. Mereka takut pada kenangan sendiri. Mereka pun takut pada kekejaman-kekejaman yang pernah mengisi pancaindra dan benak masing-masing.
Tapi keadaan segera berubah pula. Dan seperti biasa, orang tak menyangka akan datang perubahan baru tersebut. Sekarang bukan Jepang, juga bukan Merah, juga bukan Siliwangi. Sekarang Belandalah yang menyerbu tempat kami yang kecil itu. Sebagaimana Jepang menduduki tempat kami dengan tiada perlawanan, juga Merah dan juga Siliwangi, Belanda pun masuk dengan tiada perlawanan. Hanya waktu mereka berada lima kilometer di utara kota, prajurit-prajurit Republik mencoba menahan kelajuannya. Tapi senjata TNI terbatas sekali buat berperang — persenjataan yang tak mungkin dapat dipergunakan guna mengadakan perlawanan lama. Dan Belanda meneruskan tusukannya ke kota kecil kami itu.
Ada juga terdapat perbedaan kecil antara penusukan Merah dan penusukan Belanda. Pada yang pertama, tak sekalipun terdengar tembakan. Tapi kala Belanda, kota kecil kami diramaikan oleh ledakan-ledakan bumi hangus — presis dengan kala Jepang menusuk kota kami, dan Belandalah yang meledakkan tanki-tanki minyak di sekitar kota kami.
Penghidupan sehari-hari dan sekolah-sekolah yang mulai dibuka dan berjalan dengan baik terganggu pula. Pasar mati. Kembali orang jadi kebingungan. Jembatan kali Lusi diterbangkan ke udara bersamaan dengan mundurnya TNI ke arah selatan dan barat. Dan rangka besinya yang tak turut. terbang menggelepak di tengah-tengah kali. Selanjutnya Belanda tak bisa meneruskan perjalanan ke selatan melampaui jembatan rusak itu — satu kilometer dari alun-alun Blora. Sekalipun dicoba melampauinya, usahanya sia-sia belaka. Dalam keadaan di mana perang gerilya dimulai dengan sengitnya, tiap mulut harus makan saban harinya. Bila orang tak menghendaki mati cepat-cepat ia harus mengumpani mulutnya baik-baik. Dengan demikian Diah tiap hari pergi ke daerah gerilya untuk mencari bahan makanan. Pagi-pagi benar ia berangkat. Di kala itulah pasukan Belanda belum lagi banyak yang bergelandangan di jalan-jalan. Dari daerah pendudukan ia membawa bahan pakaian. Dan dari perdagangan semacam itu ia dan adik-adiknya bisa mendapat makan. Karena sekolah-sekolah belum juga dibuka oleh pemerintah pendudukan, adik-adiknya membantunya mencari rezeki.
“Tiap hari terdengar ledakan dahsyat dari bom tarik. Tentara Belanda tak bisa meninggalkan Blora. Bila ada satu truk saja mau mencoba ke luar daerah kami, kendaraan itu akan terbang ke udara kena bom tarik. Prajurit-prajurit Republik yang mengepung kota kami tak punya senjata selain segudang bom tarik yang disembunyikan di dalam hutan jati.
Suatu kali terjadi pembersihan. Kunduran — suatu tempat lebih kurang empat puluh kilometer di barat Blora mulai mengirimkan pasukan-pasukannya yang bergerak mendesak bala tentara Belanda. Tempat itu belum lagi pernah diinjak oleh sepatu tentara Belanda. Dan berkali-kali pasukan yang dikirimkan ke sana terpukul mundur. Di sana juga pemerintahan Republik berdiri, dengan residen dan gubernurnya sekali. Dan akibat pembersihan itu, kampung-kampung di sepanjang garis demarkasi dibersihkan terlebih dahulu.
Karena deretan rumah di mana rumah keluarga Diah berdiri termasuk daerah tepi, tempat itu pun tak luput dari penggeledahan. Orang-orang kembali ke luar dari rumah dan menyembunyikan diri di bawah-bawah rumpun bambu. Kembali mata penduduk daerah kami kuyu membatu seperti mata kucing kelaparan. Ibu-ibu menyumbat mulut anak-anaknya.
Dan di kala seperti itu pulalah orang melihat sosok tubuh kurus kering menyuruk-nyuruk di antara rumpun-rumpun bambu mendekati mereka yang sedang bersembunyi. Matanya cekung tenggelam ke dalam rongganya. Barangkali sudah dua hari ia tidak makan. Ia bercelana, masih bersepatu sekalipun peot-peot, dan seluruh pakaiannya koyak-koyak. Kian dekat orang itu, kian nyata oleh mata orang-orang, bahwa sosok tubuh itu tiada lain adalah sisa pasukan Merah yang masih selamat. Terdengar orang menyebut: “Merah datang.”
Diah memanjangkan leher dari tempat persembunyiannya. Dan tak salah lagi matanya: Sri datang. Ia lupa pada bahaya pembersihan yang sedang mengamuk di dekat rumpun-rumpun bambu itu. Ia tak peduli. Segera dirangkulnya kakaknya itu. Tapi Sri memekik lemah kesakitan: “Jangan singgung tangan-kananku.”
“Mengapa, mbak? Mengapa?”
“Patah, Diah. Jatuh dari kuda…”
Adik-adiknya datang merubung. Dan orang-orang yang sedang bersembunyi itu jadi ketakutan oleh ke lima saudara yang sedang berkumpul-kumpul berdiri itu. Tembakan berentetan tak jauh dari tempat itu. Serentak kakak-beradik itu merebahkan diri. Dan keadaan yang menyesakkan itu tersapu oleh kegelapan malam sekarang. Terdengar truk-truk dan tank-tank menderai-derai dan berderum pergi. Dan kembali orang pulang ke rumah masing-masing. Seperti biasa, lantas saja orang meniupkan berita basi: aku kehilangan ini … aku kehilangan itu..Namun masing-masing telah merasa senang karena selamat tak tertembak oleh senapan Belanda.
Malam itu adik-adiknya merubung. Semua mata memperhatikan tangan Sri yang bengkak.
“Mengapa tanganmu patah, mbak?” tanya Diah sambil membebat tangan itu.
“Mengapa? Jatuh dari kuda. Pasukan kami diburu-buru oleh Siliwangi. Kudaku kena tembak. Dan aku terpental jatuh ke jurang. Untunglah jurang itu rimbun diselimuti semak. Kalau tidak, barangkali sudah pecahlah kepalaku terbentur batu hitam yang tersebar jadi landasan kali di dasar jurang itu.”
“Dan mbak Is?” Hutomo bertanya.
“Mbak Is terus lari menggabungkan diri dengan induk pasukan Merah.”
“Ke mana perginya?”
“Aku tak tahu. Tapi orang-orang berkata, Merah celah menemui ajalnya di dekat Semarang. Tapi aku tak tahu betul. Mana bapak?”
Keempat adiknya berdiam diri dan menundukkan kepala ke bawah. Sri menjadi curiga oleh sikap itu. Diawasinya adiknya seorang demi seorang. Bertanya lagi: “Mana bapak?”
Dan pelahan-lahan Diah menjawab. dengan suara gemetar: “Bapak telah meninggalkan kita.”
Sri tak berkata apa-apa. Air-matanya meleleh. Ia sangat perasa. Sedu-sedannya tak bisa ditahannya lagi. Dan oleh sedu-sedan itu adik-adiknya turut tersedu-sedu juga. Mereka bersama-sama meratapi bapaknya. Dan dengan tiada ditanya Diah bercerita: “Bapak masih ada di dalam penjara waktu gedung itu dibakar Merah.”
Sri menarik sedan yang sangat keras. Akhirnya tangisnya meledak.
“Dan sebelum meninggalkan penjara, Merah telah membunuhi orang-orang tahanannya. Bapak kucari juga di sana. Tapi yang kudapati hanya kakinya.”
Ia berhenti bicara — turut menangis.
Sri tak dapat menahan tangisnya. Ia tak lagi bisa mengendalikan perasaannya lagi. Ia meraung. Dan adik-adiknya mengikuti suasana yang mencekik itu. Tangis berbareng itu kian lama kian jadi pelahan. Otot-otot leher mereka jadi linu oleh lamanya menangis — tangis yang keluar dari kesadaran derita yang sesungguhnya. Tangis yang tidak menghendaki saksi. Tangis yang merupakan suatu kemestian. Tangis yang menjadi saksi akan adanya sesuatu yang makan jiwa. Dan malam berjalan terus dengan tenang seperti biasanya.
Kemudian terdengar Sri yang telah kehabisan air-mata dan haru: “Sejak aku masuk jadi prajurit Merah,” mata adik-adiknya tertuju padanya, dan mata itu masih merah — “banyak yang aku lihat. Lebih banyak daripada yang kudengar dari seluruh dongeng ibu, tentang peperangan dan keganasan orang-orang biadab.”
Dari luar rumah datang deru angin menggoyangkan puncak-puncak pepohonan. Sri terkejut. Mendengarkan sebentar. Kemudian meneruskan: “Masih juga aku terkejut bila ada bunyi yang dahsyat,” ia terdiam oleh sedu tunggal yang datang menghalang. “Tak ada orang menyangka, bahwa Siliwangi bisa bergerak begitu cepat. Dengan tiba-tiba saja kami dikejuti oleh mereka. Kami melarikan diri. Lari! Lari! Dan lari terus dengan tiada rencana. Dengan tiada tujuan. Waktu itu baru aku tahu apa artinya takut. Dan aku pun turut lari … lari … terus lari. Untung benar mereka tak punya pasukan pemburu. Mereka tak punya barisan berkuda. Mereka hanya menghalau kami dengan berondongan mitraliur. Dan kami lari terus. Dua-tiga kilometer aku telah berpacu dengan peluru. Tapi akhirnya kudaku kena juga — tepat pada paru-parunya. Aku terpental jatuh …
Ia diam dan menghapus matanya yang sudah kering. Meneruskan: “Aku tak mengerti mengapa begini banyak kesengsaraan dilemparkan pada keluarga kami,” seperti ia sedang bicara dengan orang yang tak kelihatan. “Di malam hari aku baru sadar dari pingsan. Aku merangkak-rangkak meninggalkan jurang itu. Pada waktu aku sampai di atas, hari baru telah terbit.
Tempat itu ialah Sulang — tiga puluh tiga kilometer dari sini. Itu kalau perkiraanku tidak salah.
“Tetapi kesengsaraan belum habis sampai di situ saja. Sulang masih ada dalam genggaman pasukan Merah. Dan di kala itu orang-orang Masyumi dengan bantuan rakyat dan Hizbullah sedang mengadakan penggeropyokan umum terhadap Merah. Prajurit dan pegawai Merah mereka tangkapi. Baru saja aku ke luar dari jurang itu sudah terdengar saja orang berteriak: “He! Ada Merah satu lagi.’
“Dan waktu itu baru teringat olehku, bahwa aku masih berikat-kepala merah dan pada lengan dan leherku masih melingkar janur kuning yang telah jadi coklat.”
Tiba-tiba Sri terdiam dan menangis lagi. Dan adik-adiknya mengikuti tangisnya dengan sedan berayun-ayun.
“Aku ditangkap, adik-adikku. Aku ditangkap dan dianiaya. Engkau tahu artinya, bukan?”
Dan selain Kariadi, semua menunduk melihat lantai. Ya, mereka tahu artinya sengsara, ditangkap dan dianiaya. Mereka mengerti hingga di intinya.
“Mereka tak peduli aku lelaki atau perempuan. Kemudian kami orang-orang Merah ramai-ramai dilemparkan di rumah sekolah. Dan gedung itu dikepung oleh beratus — barangkali juga beribu — penduduk. Mereka menyindir-nyindir dan mengamang-amangkan pedang, linggis, golok dan tombaknya. Waktu itu aku berpikir begini: Kalau aku mati di sini, adik-adikku di Blora akan menantikan kedatanganku sampai mereka bosan sendiri. Matilah aku sekarang.” Ia mengeluh lega sekarang. “Tetapi — aku masih diperbolehkan hidup di dunia ini. Dengan secara mendadak dan tak tersangka-sangka satu batalyon Merah yang tadinya terjepit oleh sayap-sayap pasukan Siliwangi dapat meloloskan diri dan lari ke arah pantai utara. Mereka menyerbu Sulang. Orang-orang yang mengepung rumah sekolah tempat kami ditawan, lari — bubar berantakan. Kami bebas kembali. Di kala itu pulalah aku mendapat kesempatan untuk melarikan diri. Aku menyelinap di antara orang banyak dan seorang diri masuk ke dalam hutan jati. Berapa minggu tersesat-sesat di dalam hutan aku tak tahu. Aku pun tak mempedulikannya.
“Di malam hari sajalah aku berani ke kampung untuk bertanya pada penduduknya termasuk distrik mana kampungnya itu. Dan yang kumakan di dalam hutan hanyalah daun-daunan muda, minum air kali banyak-banyak dan berjalan terus — berjalan terus. Kadang-kadang aku terlampau terkejut bila ada kijang lari melintasi jalanku. Dan pikiranku membayangkan kecelakaan baru oleh lintasan binatang itu. Tapi aku berjalan terus. Kadang-kadang aku rebah sendiri karena kecapean. Tak jarang demam yang kuderita karena patahnya tanganku menghalangi aku untuk meneruskan perjalanan. Tapi aku percaya, aku mesti bertemu dengan adik-adikku sebelum maut menjemput jiwaku…” ia tersedan-sedan.
Adik-adiknya pun turut tersedan-sedan. Kemudian anak-anak yang tiada berpelindung itu berdiam-diam — mereka melenyapkan haru masing-masing dari dalam dada.
“Akhirnya, sampai jualah aku kemari.”
“Setelah begitu banyak melampaui penderitaan,” susul Diah
“Seluruh penduduk menderita, adikku,” Sri menggembirai. “Dalam pengembaraan di dalam hutan itu ada juga aku berpikir-pikir tentang penderitaan. Dan aku berpendapat, bahwa penderitaan adalah isi dari keangkaraan. Keangkaraan adalah ruang yang menyediakan tempat buat penderitaan itu. Aku masih ingat pelajaran di sekolah, bahwa benda itu ada karena mengambil ruang. Tapi aku kira, itu tidak benar.”
Suasana malam kini terasa. Angin dingin menerobosi kelangkan-kelangkan di atas jendela mengunjungi mereka…
“Aku kira, mbak lebih baik beristirahat dahulu,” Diah berkata.
“Ya, keadaanku belum lagi baik.” Ia tersenyum. “Keadaanku? Tidak. Keadaan kita sesaudara. Cobalah ingat: Penyerbuan Jepang. Penyerbuan Merah. Penyerbuan Siliwangi. Dan sekarang ditambah satu lagi: Penyerbuan Belanda.”
“Sudahlah, mbak, engkau tidur saja sekarang, agar tanganmu yang patah tak banyak bergerak-gerak. Besok datang saja ke rumah sakit militer Belanda. Mereka takkan tahu siapa engkau.”
Dan Sri menurutkan nasihat adiknya. Direbahkan dirinya di kursi besar. Kemudian tertidurlah ia. Dan adik-adiknya ikut pula tertidur di samping-menyampingnya di tikar di atas lantai.
MALAM ITU Sarmini tak tidur di rumah kakak-beradik itu. Itu pun tak jadi sesalan mereka. Desas-desus sampai juga di kuping mereka, bahwa Sarmini sedang mencari akal untuk bisa mengusir keempat kakak-beradik itu dan menguasai rumah dan pekarangan mereka. Dan selama beberapa bulan turut makan dengan keluarga kanak-kanak itu pekerjaannya hanya mencuri barang apa saja yang bisa dijualnya.
Suatu kali ia bercerita, bahwa Tukijan — adiknya — telah jadi komandan seksi pasukan gerilya di luar kota. Dan perempuan itu bilang juga, bahwa barangsiapa berani kerjasama dengan Belanda akan dibunuh dan rumahnya dibakar.
Waktu keempat kakak-beradik itu sedang duduk-duduk di bale kayu jati di ruang belakang, pintu depan digedor-gedor orang. Sekali ini Husni yang membukakan. Dan muncul diambang: Sucipto — kakak mereka yang dikabarkan mati di medan perang Birma semasa pendudukan Jepang.
Keempat kakak-beradik itu tak lupa pada parasnya. Tapi Sucipto sudah jauh berubah. Badannya yang dahulu kecil tinggi kini tegap besar dan matanya merah. Melihat mata yang merah itu anak itu tak maju mendekat. Dengan tiada disilakan Sucipto terus saja masuk ke dalam. Di depan adik-adiknya ia berkata:
“Aku baru didetasir di Blora. Baru tadi sore aku sampai.” Ia memandang adiknya seorang demi seorang. Bertanya: “Mengapa diam saja semuanya?” Ia berjalan mendekati mereka. Tetapi anak-anak mundur selangkah.
Kemudian didekatinya Sri — adiknya yang paling besar waktu itu. Bertanya lagi: “Mengapa engkau semua diam saja?” Dan waktu tak ada seorang pun yang menjawab ia meneruskan, “bagaimana keadaan di sini?”
“Baik.”
“Mengapa tanganmu, Sri?”
“Patah.”
“Besok kubawa ke rumah sakit. Tapi — mengapa patah?”
“Jatuh dari kuda.”
“Jadi engkau turut dengan barisan pengacau yang bisanya cuma membunuh dan merampok itu?”
Sri diam sekarang. Dan Sucipto pun tak mendesaknya.
“Mana bapak?”
“Dibunuh Merah.”
Sejenak pemuda yang beruniform tentara kerajaan itu berdiam diri. Matanya yang merah berkilau-kilau, terharu. Terdengar ia memaki dengan suara terendam di dalam mulut. Meneruskan: “Mana Is?”
“Turut dengan pasukan Merah. Barangkali tertangkap oleh Siliwangi.”
Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepala. “Aku tak mengerti mengapa jadi begini.” Diseretnya sebuah kursi dan ia pun duduklah di situ. Meneruskan: “Masmu Suradi gugur di medan perang Birma. Perang di sini tak ada sekuku perang di Birma. Tapi aku selamat. Aku tertawan oleh tentara Inggris. Kemudian aku masuk tentara Belanda.
“Kalau engkau anggota tentara Belanda, lebih baik engkau tinggalkan saja rumah ini.”
“Apa? Aku tinggalkan? Aku datang bukan untuk mengambil bagian warisanku. Aku datang dengan maksud baik — hendak menengok adik-adikku. Apakah kejahatanku terhadap engkau semua?”
“Kalau engkau tahu,” Diah berkata pelahan, “betapa keadaan yang sudah begini berubah ..
“Mengapa? Aku tahu benar keadaan sudah jauh berubah. Aku tahu, lemari-lemari kaca kosong semua di rumah ini kulihat.”
“Bukan. Bukan itu maksudku. Maksudku jika ada yang tahu rumah ini punya hubungan dengan tentara kerajaan, dia akan lenyap dari muka bumi jadi unggukan arang.”
“Dibakar?”
“Dibakar.”
“Siapa yang membakar?”
“Siapa lagi?”
Sucipto terkejut mendengar peringatan itu. Berkata: “Tapi engkau takkan membuka mulut, bukan?” pada Diah dan kemudian juga pada semua adiknya.
“Kalau begitu engkau tak kenal perubahan di sini,” Diah menangkis desakan Sucipto. “Engkau tak lagi tahu bahwa mulut di sini tak punya pekerjaan lagi selain untuk makan dan mengeluh. Engkau tidak tahu, bahwa saat ini adalah saat di mana mata mengintip dan membunuhi orang tiap saat.”
Sucipto memandang dengan mata bertanya.
“Mobilmu yang berhenti di depan rumah itu…” Sri meneruskan. “Apakah artinya itu? Semua orang akan tahu: ada tentara Belanda mengadakan hubungan dengan kami.” Ia diam sebentar. Meneruskan dengan suara berbisik. “Lebih baik engkau pergi.”
Tiba-tiba timbul perubahan dalam sikap Sucipto. Kemarahan yang hebat berkilat-kilat di matanya yang merah itu.
“Jadi, inikah penerimaan yang harus kuperoleh? Aku kira engkau semua akan merasa berterimakasih karena aku terlepas dari bahaya maut — begitu jauh, di Birma. Tapi ini tidak. Engkau mengusir aku dengan semau hatimu sendiri. Engkau lebih takut pada perampok daripada tentara kerajaan. Engkau harus ingat — perampok tak pernah punya tank raksasa. Tapi kami — tentara kerajaan punya. Mengapa engkau takut?”
Tak ada yang menjawab. Kariadi — anak yang paling kecil — seperti yang lain-lain juga, mengawasi serdadu kerajaan itu dengan diam-diam. Ia ketakutan.
“Mengapa diam saja semuanya? Tak sukakah engkau semua aku ada di sini? Ha … ?”
Semua terkejut. Ledakan ban mobil menarik mata mereka ke arah pintu depan. Dan pada daun pintu yang terbuka sedikit itu, cahaya api naik-turun dengan gilanya. Sri jadi pusat. Berkata lesu: “Kalau rumah ini dibakar, engkaulah yang berdosa. Engkaulah yang menerakai adik-adikmu. Engkaulah yang …
“Yang apa!” ben tak Sucipto garang.
“Engkau yang merampas tempat tinggal adik-adikmu.”
“Lihatlah, mobilmu sudah dibakar orang.” Diah berkata.
Kegarangan Sucipto tiba-tiba lenyap dan kembali ia memperoleh kepribadiannya. Ia melompat, lari ke pintu, menerjang cahaya api yang berdansa-dansa di daun pintu. Sebentar terdengar letusan pistol beberapa kali. Cahaya api yang bermain di pintu kian terang dan kini melonjak-lonjak kegirangan. Dan belum juga anak-anak itu bergerak dari tempat duduknya.
“Sekarang samalah nasib kita dengan keluarga Singo,” Diah berbisik. Pada air mukanya membayang ketakutan.
“Ya, sekarang datanglah sambungan penderitaan untuk kita,” Sri menyambut.
“Mari kita ke luar, mbak,” Kariadi mengajak.
Sekarang tiap mata memandang wajah Kariadi yang lesu. “Ya, barangkali lebih baik kita semua ke luar rumah.”
Dan kemudian datang juga saat yang mengakhiri segala ketakutan, kekhawatiran dan kecemasan itu. Dinding-dinding rumah dilempar-lempari orang dengan benda-benda yang ringan. Sebentar menyusul gas bensin yang mengembara di ruang udara malam hari itu. Sambungannya: hanya beberapa detik kemudian — rumah itu telah hilang dalam selimutan api.
Dan Cipto tak juga kembali.
Dan pertolongan pun tak ada datang.
Dan di kala mereka bisa meloloskan diri melalui pintu depan, nampak oleh mereka, truk Sucipto masih menyala, dan rangkanya merah menyala seperti bara di dapur.
Mereka pergi menyuruk-nyuruk ke ladang — menjauhi api. Sampai di pojok kebun, di balik-balik rumpun lengkuas mereka berhenti. Kariadi menyembunyikan matanya pada dada Diah. Husni memandangi api dengan mata berkaca-kaca. “Moga-moga mereka tak tahu kita ada di sini,” Diah mendoa.
Angin malam yang keras menjawabi doa itu. Dan api kian menjilat-jilat langit.
Hutomo mempermain-mainkan kepalanya seperti orang yang hendak mengajar lawannya. Diah menangis tapi tak terdengar. Hanya air-matanya bertitik-titik dan sebentar-sebentar gemerlapan bila kena cahaya api yang sedang menelan rumahnya.
Sri diam saja. Ia tak bergerak-gerak dari persembunyiannya. Hanya matanya mengembara dari sudut ke sudut.
“Dan itu warisan yang terakhir untuk kita,” Diah berbisik antara sedu dan sedannya.
“Ya, itulah peninggalan yang satu-satunya.”
Bisik-bisik itu tiba-tiba mati. Ada mereka dengar langkah kaki seregu manusia melompati pagar — lari ke jurusan kali. Api kian lama kian besar. Bunyi bambu meletus terdengar antara sebentar. Tapi tak ada seorang pun datang menolong. Mereka hanya menjenguk dari jendela saja sambil mengucapkan bisikan: “Untunglah bahwa kita tak punya hubungan dengan Belanda,” ucapan yang selalu terdengar oleh kuping dan oleh hati dan oleh saling-mengerti. Tak seorang pun datang menolong memadamkan kebakaran. Tiap orang lebih cinta pada keselamatannya masing-masing. Lama-kelamaan nyala yang menjilati langit kian turun, kian turun. Bunyi kebakaran itu pun turut berkurang. Akhirnya sunyi senyap di sekeliling ke empat mahluk itu. Terdengar pelahan: “Mbak, buku-buku habis terbakar,” suara Kariadi.
Tak berjawab.
“Mbak? Bagaimana, mbak? Sekarang pakaian kita tinggal sepasang ini sajalah,” suara Husni. Tak berjawab. Terdengar Hutomo tersedu-sedan.
“Mengapa menangis Hutomo?” suara Diah.
Tak berjawab.
“Alangkah baik bila ibu masih ada, dan bapak juga,” desis Husni. Tak ada sambutan.
Asap hitam menyaput sebagian dari langit biru kelam. Sekali-sekali angin datang meniup tapi tak disadari oleh ke lima anak yang sedang bersembunyi di rumpun lengkuas itu.
“Lebih baik kita tinggalkan tempat ini,” bisik Diah. “Ah, salah sangka telah menyebabkan kita dimusuhi pasukan gerilya…”
“Dan barangkali juga oleh tetangga sendiri,” Sri menyambung dengan suara patah-patah. Tak berjawab.
Kemudian terdengar derak-derik tiang meng-arang yang mengurai diri. Antara sebentar rumpun lengkuas berdesik-desik.
Dan: “Biarlah. Dari pengalaman-pengalaman yang pahit ini, aku mendapat pelajaran — kita semua bisa mengatasi semua ini bila bisa menghilangkan diri sendiri. Anggaplah diri sendiri tak ada, dan segala kesengsaraan pun jadi tak ada,” suara Sri.
Tak berjawab. Dan api kian mendekati baranya. Kariadi jatuh tertidur dengan kepala di atas pangkuan Diah. Kini tak ada seorang pun di antara ke lima anak itu dapat berselera untuk bercakap atau berkata. Kebakaran hampir-hampir tak menimbulkan bunyi lagi. Kadang-kadang saja detak-detik tiang mengurai diri mengagetkan hati. Tapi jarang sekali — dan tambah lama tambah jarang. Akhirnya rumah itu merupakan timbunan bara belaka.
Tiba-tiba terdengar suara kelu: “Ah,…” Itu saja.
Dan hari baru pun datanglah. Ke lima anak itu bangun dan berjalan. Berjalan lambat dengan tiada tahu akan berhenti atau duduk di mana.
Para pemuda dan pemudi daerah kami yang kecil, yang tak punya lapangan pekerjaan yang luas, yang tanah pertaniannya kurus, yang tak penting dalam ilmu bumi dan perjuangan kebudayaan itu, kini menghadapi keadaan yang tak pernah terjadi “sebelumnya. Sebagian besar dari pemuda-pemuda itu meninggalkan daerahnya untuk tak kembali lagi, karena Blora jarang memberi harapan akan kehidupan yang baik bagi penduduknya. Sebagian lagi meninggalkan kampung-halaman dan menggabungkan diri dengan pasukan gerilya di hutan-hutan: jati. Sebagian lagi turut terseret oleh arus Merah dan ikut membunuh atau dibunuh. Sebagian lagi turut Republik dan mati oleh senjata Merah dan Belanda. Sebagian lagi kehilangan ingatan atau sebagian dari paru-parunya karena ketakutan atau kehilangan harta benda yang dicintainya. Dan kemudian sebagian para pemuda yang tinggal menggabungkan diri dengan tentara Belanda. Blora yang tak penting itu kini sunyi. Tapi barang-barang luar-negeri membanjirinya. Tiap hari Belanda menangkapi orang untuk dijadikan tawanan, pegawai atau dijadikan bangkai — presis seperti yang diperbuat oleh Jepang, oleh Merah dan oleh Siliwangi atau oleh Republik tadinya.
Kini perdagangan antara daerah gerilya dan kota berjalan ramai. Runtuhan-runtuhan rumah ramai dikerubungi oleh penduduk untuk dihancurkan sama sekali: merampoki tegel dan batu bata. Kehidupan sehari-hari mulai kembali seperti dulu — sebelum ada pertumpahan darah, semasa kata perang hanya dipergunakan dalam kamus dan dongeng. Dan kini, selain perdagangan dan kehidupan sehari-hari, ada pula yang takkan kembali lagi: tubuh-tubuh yang telah mati, keindahan budi yang telah dicacatkan dendam …
Waktu pemerintahan dikembalikan pada bangsa sendiri, dan Belanda angkat kaki, orang telah lelah dengan pengalaman perang dan ledakan-ledakan granat serta ledakan-ledakan di hati sendiri. Sebentar orang-orang yang menari-nari riang untuk menerima pangkat-pangkat besar berseru-seru membesarkan semangat penduduk. Tapi tak lama. Kemudian semua berjalan aman seperti biasa. Dan masing-masing berhadapan dengan diri sendiri dan membuat perhitungan dengan diri sendiri pula.
Setelah pemerintahan sendiri berdiri dengan garangnya di atas awang-awang kota kami yang tak penting itu, rumah Sri kakak- . beradik masih tetap gubuk. Sekalipun kata pembangunan hampir tiap hari mengamuk dalam pendengaran, mereka tak jua memulai pembangunannya. Mereka tak punya tenaga dan modal untuk membangun apa pun dengan sisa-sisa hidupnya. Dan pada suatu kali, digali oleh Sri barang-barang emas pemberian Is. Barang-barang itu diserahkannya pada pemerintah. Dan pegawai yang menerimanya memuji-muji kejujurannya. Tapi secabik pun ia tak menerima tanda penerimaan. Tapi ia pun tak membantah hal itu.
Pramoedya Ananta Toer: Cerita dari Blora
Sering Sri berkata pada adik-adiknya dan hatinya sendiri yang sedang memberontak: “Biarlah semua itu terjadi. Biarlah. Kita harus bisa menghilangkan diri kita sendiri. Kita anggap saja diri kita ini tak ada. Dan semua akan berjalan dengan lancar.”
Dan sering juga Diah menyambungi dengan suara menderita: “Biarlah bajingan-bajingan tetap jadi bajingan. Biarlah yang baik tetap baik. Kita berlima menyerah pada keadaan. Ya, kita menyerah. Dan tiada gunanya lagi kita memberontak.”
Waktu tentara Belanda menarik diri, banyak juga di antara pemuda dan pemudi ikut mengungsi dengan mereka. Tapi ke lima kakak-beradik itu tak mau ikut-campur dengan segala-galanya. Dan walaupun Sri telah sembuh, ia tak pernah datang ke alun-alun untuk menghadiri rapat raksasa.
Jakarta, VI-1950
Roman
Larasati
Cerita bersambung di Bintang Timur, 1960; dibukukan Hasta Mitra, 2000. Teks dari edisi Lentera Dipantara.
Setelah mendapat tempat di pojok, kapten itu mendekatkan bibirnya pada kupingnya, berbisik perlahan penuh perasaan, “Aku memang banyak bersalah, Ara.” Ia tak begitu yakin akan suaranya.
Mulutnya kian didekatkan dan suaranya dikeraskan, “Tapi kau pun bukan terkecuali. Kau juga banyak bersalah padaku.”
Larasati membuang pandang keluar jendela wagon. Orang masih berdesak-desak hendak masuk ke dalam dan menguasai tempat yang enak di tengah-tengah kepadatan aneka ragam manusia itu. Keringat menetes setelah mengguris bedak pada pelipisnya. Sepagi itu!
Ia tak ingin mendengarkan kata-kata opsir itu lebih lama. Ia sudah kebal terhadap rayuan, kebal terhadap kata-kata perpisahan, yang keras, yang lunak, yang menghiba-hiba. Tapi sungguh, pria gagah yang seorang ini saja yang pernah menawan hatinya begitu lama. Waktu ia berpaling ke dalam wagon lagi, hampir-hampir pipinya yang montok. seperti pauh dilayang bersinggungan dengan bibir pengantarnya.
“Kau hendak melupakan semuanya, Ara?” opsir itu menuduh.
Larasati tersenyum sambil menunduk.
“Sampai-sampai menentang mataku kau tak mau lagi, Ara!” Opsir itu menarik setangan katun hijau tipis dari kantong dan menyeka tengkuk dan lehernya.
“Kau takkan lupakan aku, bukan?” Ia masukkan kembali setangannya ke dalam kantong. “Kau kembali lagi kepadaku, bukan?”
“Setidak-tidaknya, aku takkan lupakan kau.”
Wajah opsir itu berseri-seri. Dikeluarkannya sebuah sampul kuning dari saku kemejanya dan diserahkannya pada Larasati, “Ini akan berguna sampai di perbatasan. Mungkin juga sampai di Jakarta. Kalau kau sudah di sana, ingat-ingat, Ara, jangan lupa pada Yogya1 lagi, kirimlah surat dulu,” dan tanpa menunggu jawaban ia menerobos para penumpang yang desak-mendesak, siksa-menyiksa satu sama lain, untuk kemudian menongol di bawah jendela.
“Kau lebih cantik dari yang sudah-sudah, Ara.”
Larasati tersenyum dan disentuhnya pipi opsir itu dengan sambil lalu. Tapi dalam bayangannya terbentang hari depan yang gilang-gemilang di daerah pendudukan Nica. Ia akan terjun kembali di gelanggang film. Dan seluruh rakyat, dari Sabang sampai Merauke, akan bertempik-sorak untuknya. Seluruh pria berotak dan berjantung dari Merauke sampai ke Sabang akan memujanya, akan berebutan memiliki tubuhnya. Kembali ia tersenyum. Tapi ia berjanji dalam hatinya, tidak bakal aku main untuk propaganda Belanda, untuk maksud-maksud yang memusuhi Revolusi. Aku akan main film yang ikut menggempur penjajahan.
“Sukses, Ara!”
“Selamat!”
Peluit kondektur ikut menyambut. Lambat-lambat kereta mulai meninggalkan stasiun Yogya. Beberapa lampu jalanan yang belum dipadamkan, nampak muram kelap-kelip seperti harapan yang tidak menentu. Tamasya perjalanan mulai susul-menyusul silih berganti. Di jalan-jalan, di sawah, di ladang, di kebun mulai nampak prajurit-prajurit Revolusi berbaju militer yang tidak seragam, berambut gondrong dan nampak seperti tidak pernah mandi seumur hidupnya.
Kalau surat dari Kapten Oding itu beres, pikirnya, nanti sore aku sudah di Cikampek, besok di Jakarta, Jakarta! Oi, Jakarta! Akan terbukti nanti apakah aku, sebagai bintang film juga sanggup berjuang dengan seniku atau tidak.
Kereta mendengus-dengus payah. Antara sebentar gumpalan asap hitam melayah rendah menerobosi jendela, menaburkan abu batu-arang dekil dan jahil. Ia berdiri mencoba menutup kaca jendela. Ah, rewel benar jendela ini. Dia tak mau diungkit. Seorang pemuda di sampingnya berdiri menolongnya, dengan mata tetap mengawasinya. Setelah jendela kaca tertutup, pemuda itu tersenyum memulai. Larasati mengangguk berterimakasih.
Ia senang melihat berahi yang terpancar pada sepasang mata muda itu. Biar dia paling sedikit tujuh tahun lebih muda dari aku—dia toh masih mengagumi dan mengingini aku.
“Tidak main lagi?” tiba-tiba pemuda itu bertanya.
“Di zaman seperti ini,” jawabnya, “orang tak sempat membuat film.”
“Cuma di panggung saja selama ini?”
“Cuma di panggung.”
Dan pemuda itu kehabisan peluru, termenung-menung di bangkunya, nampak berpikir keras mencari alasan untuk dapat mengulur percakapan. Tak berhasil, Larasati memperhatikannya sejenak, menikmati kemudaan anak itu, membuang pandang keluar jendela, mengeluh dalam hatinya: Tiga tahun lagi aku sudah tiga puluh! Cepatnya umur manusia ini! Tiga tahun lagi! Lima tahun lagi! Dan semua orang akan tahu aku sudah nenek-nenek! Ia ketuk-ketukkan telunjuknya pada dengkul dengan gugupnya. Lima tahun lagi! Lima tahun lagi tidaklah lama! Dan sesudah itu? Sesudah itu masuk arsip! Arsip! Ya, Allah, lambatkan kiranya hidupku ini.
Nampak kedua belah tangannya bergerak-gerak gugup. Lima tahun! Lima tahun! Besok atau lusa yang lima tahun itu pun akan selesai. Lima tahun! Ia tertidur.
Ia terbangun waktu kereta berhenti. Manusia kian padat menjejali wagon. Sekali lagi ia lemparkan pandang ke luar jendela. Baju hijau! Barang ke mana mata memandang, rambut gondrong, mata yang garang, tingkah-laku yang sigap. Kapan dunia dulu datang kembali? Dunia yang kaya akan warna? Dunia tanpa peluru? Dunia yang hanya berisi sukses, tepuk tangan, rayuan, dan perjanjian-perjanjian malam yang menyenangkan? Dan pagi dengan rahmat matari, pulang ke rumah sendiri di mana ibu masuk ke kamar dan memijit seluruh tubuh. Dan sambil tiduran ia serahkan lembaran ratusan kepada ibu. Dan ia mengimpikan kesenangan dan keindahan untuk besok malam? Dan tauke-tauke datang menawarkan peranan yang menggairahkan. Ia dipantul-pantulkan kembali di atas layar perak, seperti dewi, idaman setiap pria, benar-benar bersih tanpa noda, seperti bunga teratai di kebun raya Bogor?
“Nona nampak bingung, merokok?” pemuda itu menyodorkan sebatang rokok.
Ia tersenyum menolak. Nona, dia bilang. Berapa saja pria seperti kau yang sudah kubalikkan kepalanya? Nona, katanya. Dan kalau nyonya, nyonya siapa pula? Ia menggeleng.
“Tidak, tidak. Terima kasih,” Larasati menjawab tak peduli.
“Pergi ke mana?”
“Cikampek.”
“Main di sana?”
“Ya,”
“Aku juga ke Cikampek. Mana rombongannya?”
Larasati kecut berdebar-debar. Siapa pemuda ini? Penyelidik? Ia pura-rupa tak dengar.
“Mana rombongannya?” pemuda itu bertanya lagi.
“Sudah berangkat dulu,” pemuda itu nampak curiga.
Percakapan mati. Setiap penumpang tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Pemuda itu berpaling padanya dengan mata mengimpi. Larasati sendiri berpaling pada dirinya sendiri. Dan kereta berjalan terus.
Larasati ingin tidur lagi melupakan masa dan dunia yang kini tengah diputuskannya dari dirinya. Tak dapat! Pengalaman semasa Revolusi ini, dengan opsir-opsir Revolusi, benar-benar tidak memberinya kekayaan barang seribu rupiah pun! Setidak-tidaknya opsir-opsir Jepang masih dapat memberinya duit. Saburo Sakai, itu Letnan Kolonel Angkatan Laut Jepang, sahabat bekas perdana menteri dan memimpin suatu partai Sosialis itu yang giat menentang kolaborasi dengan Jepang! Apa saja yang tak diterimanya dari dia: dari karung beras sampai gelang zamrud buatan Tiongkok dan cincin delima buatan Birma! Dan Sjimizu: dari kimono sutra komplet dengan bakiak dan kipasnya sampai pada rahasia penyerbuan Jepang ke Australia! Ah, itu serdadu manja kalau menang perang sekali saja! Kemenanganku lebih dari padanya. Aku pernah menguasai dia hanya karena aku tidak seperti perempuan-perempuan lain—aku tidak pernah beranak. Mungkin ada satu kemenangan lain padaku: kelebihan yang dikurniakan Tuhan. Kelebihan daripada yang lain-lain: kewanitaan sejati. Dan opsir-opsir Revolusi itu… Sartono, Sardjono, Hassan Basri, Gultom… ia tersenyum tak nyata— begitu muda, belum begitu berpengalaman, lebih banyak petentang-peten-teng mau mendapatkan hatinya, tubuhnya!
Ia bergeleng-geleng menurut irama kereta. Matari dengan cepat mendaki langit. Dan harapannya sendiri mendaki ke cakrawala, jatuh ke luar melayah dan merayap terbang melambung kembali: Jakarta! Oi, Jakarta! Aku boleh seorang pelacur! Aku boleh seorang sampah masyarakat! Aku seorang bintang film gagal! Tapi beradat! Tidak. Aku juga punya tanah air. Aku, Larasati, bintang Ara. Sedang sebutan Miss pun aku tak pernah pakai. Ara! Cukup Ara. Mengapa mesti dengan Miss? Sebutan itu akan membuat aku berkulit putih. Apakah sebutan itu cuma tantangan kaum pria, kalau aku milik siapa saja?
Dan seperti ada persambungan pikiran, pemuda di depannya itu terbangun, mengocok mata, mata yang meminta maaf, bertanya ingin, “Mengapa tak ada Miss di depan nama nona?”
Larasati menggeleng. Kalau besok sampai di pos Belanda pertama, Bekasi, kembali orang-orang asing dari benua di seberang dua atau tiga samudra akan menyebutnya Miss kembali, seperti dulu—sebelum si Jepang datang sebagai pemenang dan pergi sebagai kalahan. Dan ia yakin, begitu mendarat di bumi penjajahan Belanda, paling sedikit seorang letnan akan menyambut tangannya—letnan bermata abu-abu mungkin—dan mengantarkannya, paling sedikit: dengan jeep. Seperti dulu pertama kali ia bertemu dengan Nisjizumi di Harmoni. Miss, Miss Ara, bukan? Aha, Miss Ara. Sudah lama aku cari-cari. Katanya di Surabaya. Aku cari di Surabaya. Katanya di Semarang, aku cari di Semarang.
Sekarang cuma di sini. Ia tembusi mata-sipit Nisjizumi. Dan ia dapat peranan dalam film propaganda Jepang, “Mari kita ke laut.” Dan ia dapat uang. Ia dapat nyewa rumah di kampung dengan ibunya. Dan ia pun mendapatkan juga sebagian dari tubuhnya si Jepang. Nanti juga—di bumi penjajahan. Bekasi yang bakal menentukan! Bekasi! Tapi biar bagaimanapun, aku tidak akan berkhianat. Aku juga punya tanah air. Jelek-jelek tanah airku sendiri, bumi dan manusia yang menghidupi aku selama ini. Cuma binatang ikut Belanda.
Dan militer-militer itu—ia ingat nasib Nisjizumi pada permulaan Revolusi. Doakan aku selamat, Ara. Mungkin aku mati di tengah jalan. Sebelum mati aku mesti pergi buat bertemu anak-angkatku. Ia pergi membawa seberkas dokumen rahasia. Dan ia tak pernah kembali padanya lagi. Nyawanya, rohnya, jiwanya, dagingnya, tulangnya, bahkan bulunya, dicacah orang di Sawah Besar. Mendadak ia tidak percaya pemuda di hadapannya seorang preman di masa Revolusi Agung ini. Bertanya mendesak, “Mengapa tidak masuk militer? Semua pemuda jadi prajurit.”
“Aku juga militer, nona, dalam tugas penyelidikan!”
Benar juga dugaanku, pikirnya. Menyelidiki apa anak muda ini? Ia tersenyum kembali. Tiba-tiba ia kaget karena satu pikiran, jangan jangan anak ini memata-matainya. Ia menggigil sedikit. Tapi aku tidak punya kesalahan. Dengan gugup dicarinya surat keterangan dari Kapten Oding. Masih aman di dalam tas tangan. Asal saja tidak ketahuan kepalsuannya di Cikampek nanti. Pikiran, bahwa mungkin anak itu memata-matainya, membuat ia terpaksa ramah kepadanya.
Percakapan yang meriah terjadi. Akhirnya sampailah ia bercerita tentang kariernya, tentang kemasyhurannya, tentang kebanggaannya. Kemudian tentang orang tuanya, seorang mandor perkebunan di suatu tempat di Deli—perkebunan tembakau yang menghasilkan kulit cerutu terbaik di seluruh dunia. Ia ceritakan bagaimana kehidupan perkebunan seperti yang diketahuinya. Dan kesengsaraan yang menimpa kuli-kuli kontrak yang ditipu mentala-mentala atau diculik dari kampungnya masing-masing di Jawa. Ia dilahirkan di tengah-tengah perkebunan tembakau ini, dan dibesarkan sampai berumur sepuluh. Waktu bapaknya meninggal, ia dan ibunya pulang ke Jawa. Ia tak tahu apa saja penghasilan ibunya waktu itu. Sepucuk surat dari Tuan Employe yang disampaikannya pada seorang Inggris di Jakarta, mengubah kehidupan keluarganya. Ibunya diambil oleh orang Inggris itu jadi pengurus rumah-tangga. Dan di tengah-tengah keluarga ini ia dibesarkan dan berkesempatan mendapat pengajaran dan…
Kereta berhenti. Matari telah rendah di barat Cikampek. Pemuda itu menolongnya menurunkan koper-koper kecil dari karton. Sebentar terdengar beberapa kali letusan kerabin. Hatinya menggigil. Di Yogya tidak seperti ini. Sekiranya pemuda penyelidik ini melaporkan kebohonganku— mengapa aku tadi bilang mau main di Cikampek dan rombongan sudah jalan dulu—sekiranya ketahuan aku bohong— militer akan curiga. Sebuah teriakan dan ledakan kerabin terdengar lagi. Jangan-jangan besok atau lusa senjata itu diledakkan untukku, dan teriakan itu dijeritkan untuk kematianku. Ia coba memberanikan hatinya. Setidak-tidaknya di Purwakarta sana, hanya beberapa kilometer dari sini, diketahuinya tinggal seorang sutradara yang bisa menyelamatkan jiwanya kalau ada apa-apa, Oom Asmara! Hatinya berani sedikit. Moga-moga Oom Asmara seorang pejabat penting di ketentaraan sekarang.
Ternyata tidak ada pemeriksaan apa-apa.
Tukang dokar membawanya ke penginapan di desa Pucung—sebuah bangunan kayu, berdinding kayu dan bambu. Ia rebahkan diri di atas bale kayu, berkasur dekil tanpa seprei. Mendoa perlahan-perlahan: “Selamat aku, ya Tuhan. Aku tidaklah sejahat seperti Kau sangkakan. Kau telah beri aku tubuh molek ini, dan jadi hakku untuk mempergunakannya. Ya, Allah lewatkan aku dengan selamat dari demarkasi2. Hindarkan aku dari kecurigaan.”
Tiba-tiba kamarnya diketuk orang dengan perlahan dari luar. Ia kaget, terperanjat bangun. Moga-moga pelayan mengantarkan kopi. Ia duduk memperhatikan. Ketukan itu berulang terdengar mendesak, memaksa. Hatinya menjadi kecil, jantungnya berdebaran dengan darah tebal. Ia memperhatikan suara-suara lain. Sunyi. Tiba-tiba didengarnya suara yang memerintah, “Buka!”
Ia buka pintu. Dan: seorang perwira piket berada di hadapannya.
Kembali ia merasa kecut. Perwira piket itu mengangguk sedikit padanya—sedikit saja. Ia merasa seperti tak layak mendapat anggukan lebih banyak. Tubuhnya langsing, lebih banyak dapat dikatakan kurus. Berumur tidak lebih dari 22 tahun, biarpun wajahnya menampakkan suatu kesungguh-sungguhan yang menyeramkan. Dan wajah itu pucat. Sejak dulu ia curiga pada wajah-wajah pucat: tanda-tanda perasaan yang tak terkendalikan, nafsu besar, tidak segan-segan melakukan kekejaman untuk mencapai maksudnya.
Cambang, kumis, jenggot yang dicobanya dibiarkan rimbun, untuk memberi kesan revolusioner, tumbuh begitu jarang, dan dua garis menggurat di bawah matanya. Sepucuk kolt terselit telanjang pada sabuk kudanya yang telah tua, dan pedang samurai bintara-bawahan, begitu panjang, buruk, dan canggung, menggeser ubin kadang-kadang. Setidak-tidaknya di Yogya orang tak begitu kelihatan seram.
Dan matari pelan-pelan mulai tenggelam.
Lampu listrik di ruangan tengah dari 10 watt menyala begitu muram. Juga lampu dalam kamarnya tidak lebih terang.
Tanpa disilakan perwira subansirei itu masuk ke dalam kamarnya. Tanpa bicara ia menunjuk pada koper. Terburu-buru Larasati membukanya. Ia mencoba senyum. Dalam bayangannya nampak Oom Asmara di Purwakarta. Dan ia mengharap si Oom suka menolongnya bila kesusahan menimpa dirinya. Sebelum ia dapat senyum, perwira piket telah duduk di atas kasur ranjang yang begitu dekil. Larasati mencoba membohongi ketakutannya dengan merayu, tetapi ketakutan lebih berkuasa atas seluruh kehadirannya. Cikampek ini, terkenal di Yogya sebagai tempat seram, di mana prajurit muda begitu garang dan berhati dingin. Ia lebih suka berhadapan dengan raksasa membawa belati telanjang di tangan, asal wajahnya merah segar, tidak pucat. Setidak-tidaknya si merah segar akan dapat dibalikkan kepalanya dalam satu atau dua sekon.
“Silakan pak,” ia memulai. “Tidak ada apa-apa di dalamnya. Hanya sedikit pakaian. Silakan periksa.”
Perwira piket itu menjarah wajahnya dengan pandangnya. Larasati menggigil tak kentara. Dicurinya pandang pada kolt telanjang. Tapi opsir muda itu nampak tak ada niat untuk mempergunakan senjatanya.
“Tidak diperiksa, pak?” piket itu tak memperhatikan kopernya.
“Surat keterangan,” perintahnya.
Ia merasa lega sedikit. Setidak-tidaknya suaranya tak mengandung kekejaman. Buru-buru ia ambil surat keterangan dari tas tangannya. Opsir itu menerimanya, hanya menatap wajahnya tajam-tajam. Waktu ia dapat menangkap kobaran berahi pada mata si wajah pucat itu, ia mulai dapat menguasai dirinya. Ia tak berbeda dengan laki-laki lainnya. Larasati mencoba membujuk.
“Minum, pak?”
Perwira itu mengangguk tanpa memeriksa suratnya. Dan Larasati tidak berungkit dari tempatnya berdiri. Memanggil. Pelayan disuruhnya bawakan dua gelas kopi. Kemudian duduk di atas salah sebuah dari kursi kayu duren di dalam kamar penginapan itu. Waktu pelayan masuk membawa kopi, yang begitu cepat layanannya, segera bintang film itu menutup dan mengunci pintu dari dalam. Aku harus selamatkan diriku apa pun juga caranya. Mungkin aku datang kemari dicurigai akan menghancurkan moril para perwira. Dan sesungguhnya, baru sekali itu Larasati menyadari berbuat suatu kehinaan: mengunci pria, seorang perwira sedang bertugas, hanya berdua dengan dirinya sendiri. Tapi ia tidak peduli.
Perwira muda belia itu meraba koltnya.
“Dari mana?” tanyanya dingin, tanpa tekanan bertanya.
“Ada dalam keterangan, pak.”
“Dari mana, aku bertanya.”
“Yogya.”
“Huh, Yogya.”
“Pernah ke Yogya, pak?”
Ia tak menjawab. Kembali semangat Larasati turun, dan ia merasa gagal dalam percobaannya untuk membujuk.
“Mau apa ke Cikampek,” tanyanya tanpa tekanan.
Ia menjadi gugup. Ia teringat pada pemuda penyelidik dalam pakaian preman tadi. Ia tahu, ia telah berkata tidak benar kepadanya. Mungkin ini buntutnya. Ia menunduk. Waktu kembali mengangkat mata, perwira berwajah pucat itu masih menjarah dengan pandangannya.
Tiba-tiba penginapan menjadi ramai. Terdengar beberapa langkah sepatu bot berderapan. Seseorang berseru riang: “Mana Ara! Ara! Mana Ara!”
Terdengar mereka berhenti di depan pintu kamar Larasati. “Hai, bung pelayan, mana tamumu bintang film Ara?”
Terdengar langkah kaki telanjang pelayan berlarian menghampiri. Terdengar bisik-bisik tidak nyata. Kemudian langkah-langkah sepatu bot terdengar berhati-hati pergi menjauh, lenyap dalam malam kota kecil Cikampek.
Perwira piket itu menarik nafas dalam. Larasati terkejut. Begitu keras hembusan nafas itu. Baru kelihatan perwira itu tersenyum. Dan memandangnya dengan ramah—ramahnya seorang pria pada wanita yang dikehendakinya— Larasati membalas senyumnya. Kini bintang film itu mengerti: kedatangannya di Cikampek telah menjadi berita yang diketahui setiap orang. Dan piket di hadapannya ini—ia merasa geli sekarang—dia pasti lebih tahu daripada yang lain-lain itu. Dia tahu, yang di hadapannya tidak lain daripada Ara, bintang film Indonesia terkemuka. Ketakutan, kecemasan, dan kekecutannya sekaligus lenyap. Ia ambil kopi, duduk di sebelah tamunya di atas kasur dekil. Anak kecil ini, pikirnya, dia mau coba-coba jadi buaya, tapi pengalaman dia tidak punya!
Sekarang ia dapat meneropong tamunya agak jelas. Opsir itu menerima kopinya. Nampak olehnya tangannya gemetar. Pengalaman buaya pertama kali, barangkali, pikirnya.
“Apa maksud kedatangannya ke Cikampek,” ia bertanya.
“Terus ke Jakarta, pak. Bacalah surat keterangan itu,” ia makin merapat.
Baru opsir itu membaca surat keterangannya.
“Kapten Oding? Kenal?”
Larasati mengangguk.
“Suami? Adik? Kakak?”
“Cuma kenalan,” Larasati berdiri di hadapannya, memamerkan keindahan tubuhnya, tersenyum memutar badan, menghadapi tamunya kembali, mengulurkan tangan mengajak berkenalan, “Ara, Larasati.”
Ia sambut tangan opsir piket itu, terasa panas dan gemetar. Orang semuda itu, tanpa pengalaman macam ini, tidak menarik.
Dan dibiarkannya tamunya mengagumi tubuhnya, sedang ia mengganti kain dan kebayanya dengan house coat.
Juga sekali ini—jerit hati bintang film itu—kemenangan ada padaku.
Kalau ia anak kecil maulah ia melonjak-lonjak. Tiba-tiba ia menjadi kecut, mengingat kebohongannya pada pemuda penyelidik itu. Kembali hati kecilnya meriut. Besok atau lusa mungkin aku kalah. Dan atas dasar pikiran ini ia berusaha keras-keras berbaik-baik dengan pria tanpa pengalaman buaya ini.
Yah, kagumilah tubuhku ini, ia berseru dalam hati.
Dan sebenarnya sajalah, perwira itu menelan tubuhnya dengan pandangnya yang nampak begitu pucat.
Ia tahu opsir muda itu menelan tubuhnya mentah-mentah. Tiba-tiba terdengar suaranya, “Apa yang kau makan sehari-hari?”
Larasati tertegun, tetapi tidak menengok. Secepat kilat pikirannya menebak, mungkin piket itu mencari-cari keterangan tentang mewah tidaknya kehidupannya. Dan kemewahan tidak lain dari hasil pengkhianatan.
Menjawab, “Biasa, seperti seperti bapak: nasi, sayur, dan lauk-pauk.”
“Mengapa bisa begitu cantik?”
Kurang ajar! pikir Larasati. Rupa-rupanya dia belum juga berkisar dari maksud kedatangannya. Segera menyambung, “Sudi makan bersama aku?”
Baru ia memandangi perwira muda itu. Dan yang dipandangnya nampak bimbang sebentar. Pada wajahnya tersirat perasaan malu yang tak dapat disembunyikannya. Pergaulan Larasati yang luas sekaligus memberinya pengertian: opsir piket yang sedang dinas itu, dan yang kini sedang menguasai seluruh kota militer Cikampek, sedang bapet—tidak punya! Dengan cekatan ia panggil pelayan. Dari balik pintu ia memerintahkan membelikan nasi rames untuk dua orang.
“Engkau seorang pemurah,” baru opsir piket itu mau memuji kebajikannya.
“Cuma itu yang dapat aku perbuat. Nyawaku toh tidak bakal berharga bagi Revolusi.”
Mendengar itu mata opsir itu berapi-api. Mendesak, “Jadi kau tetap republikein3. Tidak pernah punya niat masuk NICA4?”
Larasati tersenyum. Kembali ia duduk di samping perwira tamunya. “Apa keuntunganku? Dengan bangsaku sendiri aku merasa lebih terjamin. Belanda tidak nonton aku di film. Dan sekiranya mau masuk Nica, bukan main goblok aku ini kalau mengabarkan pada orang lain.”
Dengan panas dan agak menggigil opsir muda itu meletakkan kedua belah tangannya pada bahu Larasati, menjarakan pandang tajam padanya dan berbisik, “Aku percaya padamu. Karena itu aku datang padamu. Aku dalam kesulitan. Aku membutuhkan pertolonganmu. Engkau seniman yang ikut dalam Revolusi ini,” dan segera kemudian tamu yang berwajah pucat itu bercerita: ia seorang kepala seksi, mengomandani lebih dari 60 orang prajurit. Tugas seksinya terutama sekali memberikan penerangan kepada penduduk di daerah perbatasan, hampir-hampir terlepas dari infantre. Ini membuat seksinya menjadi anak tiri resimennya yang seluruhnya terdiri atas infantre. Hampir seluruh kesulitan harus dipecahkan oleh seksinya sendiri. Satu regu dikirimkannya ke Cepu untuk tukar rokok dari Cirebon dengan minyak tanah. Minyak tanah dibutuhkan penduduk perbatasan. Dan seksinya memberikan minyak tanah pada mereka setelah diberi penerangan tentang situasi politik. Tapi regu itu ditangkap oleh mantre polisi ekonomi Cepu dan barang-barang barternya disita. Ajudannya dengan bantuan seorang wanita kenalan, dikirimkannya ke Jakarta untuk cari walkie-talkie. Itu pun lenyap tak ada kabar beritanya. “Tolong aku carikan keterangan tentang ajudanku dan pembantunya.” Ia tulis alamat-alamat di secarik kertas dan diserahkan pada Larasati. Dalam ia bicara, berahi lenyap dari matanya yang berat, dan kini wajahnya digambari suatu permohonan yang amat sangat. Wajahnya sekarang memberi kesan pada Larasati seperti seorang anak yatim-piatu yang meminta keadilan dan simpati. “Mengapa perbekalan mesti cari sendiri?” tiba-tiba Ara bertanya. “Seluruh kedudukan yang enak diambil orang-orang tua. Mereka hanya pandai korupsi. Rencana-rencanaku kandas di laci-laci. Tapi kau tahu sendiri—itu semua di Yogya lebih banyak kukira. Angkatan tua itu sungguh-sungguh bobrok!” Ia bangkit berdiri, menatap Ara dengan berahinya, dan meneruskan dengan suara menyesal: “Setiap republikein mestinya republikein sejati. Satu kesalahan bisa membuat dia jadi khianat tanpa maunya sendiri. Kapan kau berangkat ke Jakarta?”
“Besok.”
“Aku uruskan suratnya. Besok, di markas.”
“Terima kasih. Boleh aku cium bapak?”
Opsir itu menggelengkan kepalanya untuk menerima cium. Dan Ara mencium pada bibirnya.
“Mengapa bapak tak katakan nama?”
“Kau sudah ketahui kesatuanku. Apa perlunya kau ketahui namaku? Dari anak buahku yang di Jakarta kau akan tahu. Aku ingin tahu, dia menyeberang ke pihak Nica atau dia ditangkap. Dengar, aku percaya padamu. Aku ingin banyak-banyak bicara denganmu, tapi aku sedang berdinas. Sekarang banyak anasir yang bukan-bukan masuk kemari. Tapi aku memang percaya padamu. Kau seniwati. Jelek-jelek aku seniman juga. Kalau Revolusi menang, kau akan dengar namaku sebagai seniman, sebagai pengarang. Aku banyak dengar tentangmu. Kau bisa berjuang lebih baik dengan senimu… Kau memang hebat.”
Dan sekali membuka mulut, opsir itu tak dapat mengendalikan hasratnya untuk bercakap antarseniman.
Waktu pelayan datang membawa nasi rames, Ara membuka pintu. Tamu itu makan dengan lahapnya. Larasati cenderung untuk menduga, opsir, kau belum makan dalam dua hari ini. Dengan cekatan dan baik hatinya, seperti biasa, ia selipkan uang lembaran lima ratus ke dalam saku tamunya, tanpa yang akhir ini mengetahuinya. Tidak, aku bukan menyogok. Aku tak mengharapkan sesuatu pun darinya selain… ia tetap jadi pejuang yang baik, seorang pria yang perwira, seorang republikein yang setia…
Di setumpuk bumi Revolusi inilah baru Larasati menemukan kerelaan dalam keadaan yang utuh. Sampai-sampai namanya pun opsir piket itu tak mau menyebutkan. Ia tak ingin dikenal. Mungkin dia memang seniman, pikirnya. Cuma kebetulan sedang berbaju militer.
“Nampaknya bapak terlalu banyak penderitaan.” Larasati memberikan simpatinya dengan tulus.
“Siapa sebenarnya yang tidak menderita?”
“Berapa umur bapak?”
“Tebaklah!”
“Dua puluh delapan!”
Ia tertawa.
“Dua puluh satu!” opsir itu memperbaiki.
Dia terlalu banyak penderitaan. Larasati memutuskan, tapi semuanya diterimanya dengan rela.
Ia merasa berbahagia dengan kesadarannya sebagai republikein. Ia cium sekali lagi waktu perwira itu minta diri kembali ke tugasnya.
“Kalau bapak suka,” katanya kemudian, “bapak boleh mengobrol sampai besok.”
Opsir itu membungkuk terima kasih, kemudian berkata, “Aku tahu kau orang jujur. Tapi aku sedang dinas, bagaimanapun juga inginku untuk mengobrol lebih panjang. Kalau ada sesuatu yang terjadi, suruh pelayan penginapan lapor padaku. Aku mesti pergi sekarang.”
“Sayang, secepat itu.”
“Sayang sekali. Aku pun ingin lihat kau main di sini. Tapi aku tahu itu tidak mungkin. Mengapa pulang ke Jakarta?”
“Keluargaku tinggal seorang. Ibuku. Tidak baik kuserahkan dia pada nasibnya sendiri. Begitu lama sudah—lebih setahun.”
Opsir itu membungkuk sekali lagi dan pergi.
Larasati segera menutup pintu. Merebahkan dirinya yang molek di atas kasur dekil. Ia merasa sangat, sangat berbahagia.
Malam yang hitam turun ke bumi.
“Tuhan,” Larasati berdoa, “di mana pun juga Kau selalu selamatkan aku, Kau mudahkan perjalananku. Kau gampangkan hidupku. Terima kasih ya, Tuhanku.”
Ia bermimpi tentang hal-hal yang menyenangkan.
Ia tak rasai kutu busuk menyerang dari segala penjuru.
Kereta api ke Jakarta melaju cepat. Sepanjang jalan yang dilaluinya nampak sawah menghijau kuning: ia sedang melintasi daerah gudang beras Jawa Barat Utara. Di setiap halte, setiap stasiun sepanjang perjalanan, penuh prajurit rakyat, prajurit Revolusi berbaju kuning dan hijau, bersenjata karaben Jepang dan ber-Enfield Inggris. Di jalan raya yang kadang-kadang sejajar dengan rel sering ia lihat truk-truk militer Sekutu5 dan jeep dari daerah Bandung. Di daerah sini, pikirnya, berbeda dengan di daerah Bandung. Di sini mereka lebih suka pada senjata yang langsing.
Ia tak mendapat kesulitan waktu meninggalkan Cikampek. Opsir piket kenalan barunya, telah menguruskan segalanya—sampai-sampai pada sebuah tempat duduk yang enak.
“Kalau Revolusi menang,” pesannya, “mungkin kita akan berjumpa di Jakarta, sama-sama sebagai seniman,” cuma itu katanya. Dan kereta berangkat.
“Revolusi pasti menang!” Ara menjerit menjawab.
Mata piket itu nampak bertanya-tanya menyelidiki: Apa akan kau kerjakan?
Dan segera ia menjerit untuk kedua kalinya.
“Aku juga berjuang dengan caraku sendiri.”
Waktu kereta telah berangkat itulah ia berpikir orang seperti aku, bagaimanapun buruk namanya, dia tidak mungkin bakal berkhianat. Berkhianat pada Revolusi ini berarti juga berkhianat pada diri sendiri, pada publik yang membayarnya.
Seorang berusia tua di sampingnya memulai percakapan dengannya, “Kalau sampai di Jakarta—nona ke Jakarta, bukan?—jangan lupakan pemuda-pemuda ini. Mereka sedang melahirkan sejarah. Tak ada guna menghambatnya. Lebih baik membantu mereka.”
Larasati yang merasa dikecilkan oleh kata-kata orang tua itu, menukas, “Mengapa bapak sendiri tidak?”
Orang tua itu tak menjawab. Ia diam saja. Justru karena itu Larasati makin merasa panas. Ia sendiri telah mainkan cerita-cerita perjuangan dan hiburan di tempat-tempat yang sama sekali tidak penting di masa damai, biarpun tidak ada di peta bumi tempat dia bermain! Tidak ada pengagum, tidak ada pemuja, tidak ada honorarium barang sepeser—cuma makan nasi keras dan ikan asin, dan transpor di atas truk yang berdesak membanting-banting! Kadang-kadang tepuk tangan pun tidak —karena penduduk dusun belum biasa bertepuk-tangan, lebih biasa menerima segala diam-diam dengan hatinya. Kadang-kadang memang terasa olehnya bahwa heroisme dan patriotisme wanita di zaman Revolusi ini terletak pada kepalang-merahan saja! Tapi ia takkan meninggalkan kejuruannya. Ia cintai kejuruannya. Dan ia yakin, melalui kejuruannya ia pun dapat berbakti pada Revolusi. Ia merasa dirinya pejuang, berjuang dengan caranya sendiri. Kereta terus melaju ke front. Gerbong-gerbong penuh sesak dengan pencatut beras dan pemuda-pemuda pejuang. Tak ada seorang pun di antara mereka yang berumur. Semuanya kanak-kanak, semua pemuda, jauh lebih muda dari tubuhnya sendiri.
Dua halte sebelum stasiun front, waktu kereta berhenti, orang tua itu turun. Untuk menyatakan amarahnya, Larasati melototkan matanya. Tetapi—sekaligus amarahnya lenyap. Orang tua itu hanya berkaki sebelah. Dua orang pemuda beruniform, kedua-duanya berpangkat kapten memapah orang tua itu. Larasati tak sempat meminta maaf atas kekeliruannya. Waktu turun dari gerbong, orang tua cacat itu disambut oleh satu seksi barisan kehormatan. Ia tak pernah kenal siapa orang tua itu. Dengan tongkatnya orang tua itu memberi perintah. Kemudian masuk ke dalam sedan, hilang dari pemandangan.
Sebelum Larasati ingat siapa si tua itu, kereta telah berhenti di stasiun front. Semua prajurit turun. Baju-baju hijau lenyap dari wagon, kereta menjadi longgar. Seksi penyambut si tua telah lenyap dari ingatannya. Juga kapten pengiringnya. Dalam hati ia mengagumi si tua yang tak ketahuan nama, pekerjaan, dan pangkatnya. Mungkin seorang menteri. Mungkin seorang Inspektur Jenderal dalam pakaian preman. Secacat itu, tapi dia masih berjuang! Mestinya perjuanganku lebih dari dia. Aku tak cacat. Lebih—mesti! Lebih—mesti!
Tiba-tiba terdengar pekikan berulang-ulang. “Ara! Hidup Ara! Merdeka!”
Dari suatu jarak nampak seorang sersan sedang membawa pasukan bersenjata, setengahnya terdiri atas bambu runcing. Ia melambaikan tangan padanya. Beberapa orang memandang si sersan. Dan sersan itu menunjuk-nunjuk kepadanya sambil berjingkrak dan membawa pasukannya lari menghampirinya. Orang-orang mengarahkan pandang pada tudingan si sersan, kepadanya. Sebentar kemudian stasiun kecil di front itu gegap-gempita dengan sorak-sorai, “Ara! Hidup Ara! Merdeka!”
“Mau ke Jakarta Ara? Ingatlah kami!”
“Cium Ara!”
“Husy, yang sopan!”
“Jangan lupakan kami, Ara
Dan sekarang Ara lebih mencangkungkan tubuhnya keluar jendela, melambaikan tangan dan berteriak keras dengan suara rendah agak kelaki-lakian, “Ara takkan lupakan pejuang-pejuangnya! Merdeka! Hidup Revolusi! Merdeka!”
“Merdeka!”
Orang berlari-larian mendekatinya. Dan jendelanya kini
Pp? seperti sebutir gula dalam rubungan semut hijau. Juga orang-orang preman ikut merubung—hanya saja dari suatu jarak. Seseorang melemparkan selendang merah kepadanya. Ara tak berjaga akan ini. Ia kaget waktu selendang itu menutup mukanya. Dan sorak-sorai menyusul.
“Buat dikenang, Ara—di sinilah pemuda-pemuda front mengharapkan kesetiaanmu! Mengharapkan pertunjukanmu! Selamat jalan, Ara!”
Waktu selendang merah itu ia singkirkan dari wajahnya, nampak olehnya anak-anak muda yang nanti, besok, atau lusa mungkin tewas, tanpa mengenal kesenangan-kesenangan yang banyak dikenyamnya selama ini. Dua butir air mata menitik pada wajahnya. Sekarang aku bukan pemain sandiwara, ia tersedan-sedan dalam renungannya—sekarang aku sebagian dari mereka.
Peluit menjerit.
“Hidup Ara! Ara kita yang setia! Ara kita yang cantik jelita! Ara kita yang agung. Merdeka!”
Ia melambai-lambaikan tangan melemparkan selendang merahnya sendiri, entah kepada siapa. Dan dalam satu detik selendang itu telah hancur jadi buah rebutan. Kereta bergerak. Meninggalkan para pemuda front, menerobos garis pertahanan Jakarta Timur, yang melintang dari Cilincing sampai Cibarusa. Lok tua itu terengah-engah.
“Salvo buat Ara yang setia!” seseorang memekik.
Ratusan peluru meletus memekakkan telinga.
Ara terhempas di tempatnya. Tidak, tidak patut mereka dikhianati—mereka yang tidak mengharapkan apa-apa bagi jiwanya yang besok atau lusa diberikan kepada maut. Ya, Allah, apa sebenarnya yang sudah aku berikan pada kemerdekaan ini? Mereka sedang melahirkan sejarah. Apa aku lahirkan? Anak pun tidak.
Untuk pertama kali ini Ara menangis begitu lama, seorang diri. Ia menangisi jiwa-jiwa muda yang begitu rela, yang begitu tanpa dosa. Dan, katanya dalam hati, aku adalah penjelmaan dari dosa ini sendiri.
Sepanjang jalan kereta yang dilewatinya bertebaran prajurit muda dalam keadaan berjaga-jaga. Tambah dekat pada garis demarkasi, tambah banyak yang berada dalam keadaan siap-siap. Pada suatu belokan dilihatnya seorang prajurit kanak-kanak mendaki tiang telegraf DKA dan menyambung kawat telepon lapangan. Kakinya telanjang tiada bersepatu, keringat membasahi mukanya. Waktu melihat kereta menghampiri ia berhenti kerja, melambai-lambai tangan kemudian lenyap dari pemandangan. Kembali Ara mengucurkan air mata sedih mengingat: kalau saja aku pernah beranak, mungkin setua dia. Mungkin dialah yang menyambung kawat tadi.
Juga di daerah tidak bertuan ini sawah tetap kaya dengan padinya. Di sana nampak sebuah regu merah melambaikan tangan pada kereta api. Agak jauh di depannya di balik semak-semak nampak satu regu senapan mesin berpendingin air, dan jauh di depannya lagi bertebaran prajurit-prajurit yang sedang duduk-duduk merokok dan bercanda girang—beberapa orang membaca.
Kereta kini melambat jalannya. Ia seka air matanya. Daerah yang dilewatinya kini tiada bermanusia. Kampung-kampung yang tadinya ramai, kini telah mati tiada bernyawa. Pekarangan-pekarangan rumah dililit semak-semak dan rerumputan liar yang meninggi. Genteng-genteng rumah perkampungan nampak kocar-kacir, suatu tanda, pada suatu kali pernah bumi di sini diguncangkan oleh peluru meriam. Dinding-dinding yang dobol dengan dobolannya cerai-berai ke mana-mana. Akhirnya kereta lebih perlahan lagi. Setelah menyeberangi kali Bekasi, kemudian berhenti di stasiun. Di bawah jembatan kali nampak beberapa orang serdadu Nica inlander6 mencuci pakaian dalam keadaan setengah telanjang. Dan di suatu kerumunan di depan stasiun nampak mulut-mulut meriam mencongak tiada diberangus. Sekaligus Larasati mengerti: senjata-senjata itu habis dipergunakan untuk menghujani pemuda-pemuda pejuang dengan maut, yang sebentar tadi ditinggalkannya. Ia teringat pada si anak kecil penyambung kawat. Sekiranya ia anakku—kembali ia jadi sentimental. Air matanya menitik lagi. Serdadu-serdadu Nica berlari-larian menghampiri kereta. Sebagian besar inlander. Beberapa orang Belanda berpangkat opsir dan bintara meninjau setiap gerbong sambil Seorang berteriak-teriak: “Turun, ayoh, semua turun!” kemudian memukul-mukulkan cemetinya pada badan gerbong. Dan sampai di sini, Larasati berpikir, mulai kita jadi binatang di atas bumi kelahiran sendiri. Ia turunkan koper kecilnya—semua harta-benda yang dimilikinya selama Revolusi ini. Ia perbaiki gincu, menyisiri rambut. Ia perhatikan orang-orang yang jadi pucat dan bergegas meninggalkan tempatnya untuk lebih dahulu memenuhi perintah serdadu penjajah. Lambat-lambat terdengar desah lok hitam di kepala formasi. Ditinjaunya langit tanah airnya yang biru dan beberapa gumpal awan melayang diguris-guris oleh beberapa lembar daun duren dan rambutan. Sebuah kapal capung melayang rendah sehingga nampak pilotnya melambaikan pecinya: benar-benar dia habis jadi penghubung antara pasukan artileri dengan musuh yang hendak dihancurkannya. Benar-benar meriam-meriam itu telah membom anak-anak yang baru tadi nampak begitu riang bertemu denganku, pikirnya. Apa pula nasib si pemberi selendang merah tadi? Wajahnya berkerut. Lambat-lambat bangkit. Dan bersama dengan yang lain-lain meninggalkan wagon.
Orang berdiri dalam barisan. Pria dengan pria. Wanita dengan wanita. Beras tukang-tukang catut diobrak-abrik. Koper-koper yang kehilangan kunci dibongkar dengan paksa. Seseorang terdengar berteriak histris, “Di mana yang pelopor? Kowe?”
Beberapa orang opsir memerintah para penumpang dengan ujung pistolnya. Dan dengan ujung pistol itu pula memerintah orang-orang lelaki untuk angkat tangan tinggi-tinggi. Maka serdadu-serdadu Nica mulai menggeraung seluruh tubuh. Tampak seseorang membentak garang, “Itu surat apa!”
“Peta, tuan.”
“Peta apa! Main-main, hah?”
“Buat cari rumah emak yang sudah pindah, tuan.”
“Di mana? Dekat tangsi kompeni?”
“Jauh tuan, jauh dari tangsi,” dengan suara ketakutan.
“Kalau di tempat Soekarno senang, mengapa mesti kemari?” seseorang berteriak angkuh.
Larasati menahan amarahnya. Ia teringat pada kanak-kanak yang berjuang mempertahankan kemerdekaan tanah airnya sebentar tadi. Dan di bawah kakinya sekarang: daerah pendudukan Belanda, diduduki sesudah membunuh anak-anak tanpa dosa itu. Pembunuh-pembunuh yang menjual tanah air untuk dapat sekadar makan dan pakaian. Seakan pemuda-pemuda pejuangku tak butuh makan dan pakaian! Ia kepalkan tinjunya. Diremas-remasnya selendang merah pemberian prajurit front yang tak dikenalnya. Kalau aku lelaki aku bakar seluruh perkampungan artileri ini. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya ia menyesali kelahirannya sendiri sebagai wanita. Kalau aku lelaki—aku bisa berbuat banyak. Daerah ini bisa kalah berkali-kali. Tapi Revolusi tak bakal menyerah! Pada waktunya, mulut-mulut besar ini akan dibabat oleh Revolusi. Semua!
Tak sebiji pun bakal tinggal. Meriam-meriam itu tidak akan dihadapkan pada kanak-kanak yang lebih cinta pada kemerdekaan daripada maut, tapi bakal dihadapkan pada tuannya sendiri: petualang-petualang dari seberang samudra di ujung utara dunia manusia ini. Semoga selamatlah kanak-kanak pejuang kemerdekaan ini—semua mereka. Selamat hendaknya Revolusi. Mereka juga butuh makan dan pakaian. Tapi mereka lebih membutuhkan kehidupan yang lebih baik.
Tanpa disadarinya barisan wanita itu maju setapak demi setapak membawa bawaan masing-masing yang telah digeledah dan diobrak-abrik—menuju ke dalam kemah hijau tiada berjendela. Nampaknya kemah itu dibangunkan khusus untuk pemeriksaan.
Wanita-wanita itu masuk empat-empat ke dalamnya, dengan wajah pucat. Seseorang nenek kelihatan menggigil sambil menjumput tembakau dari mulutnya. Dan tembakau itu pun ikut menggigil.
Waktu Larasati sampai di depan tenda, seorang inlander mendorong wanita di belakangnya. Dengan demikian ia masuk seorang diri. Untuk memberanikan dirinya ia remas-remas selendang merah pemberian pemuda pejuang sebentar tadi. Di hadapannya duduk seorang sersan inlander berkulit lebih hitam daripadanya sendiri, mengkilat, bermandi keringat.
Di tangannya tergantung-gantung cambuk karet. Pintu kemah jatuh tertutup. Lampu senter yang tergantung di atas palang bambu menyala. Pistol sersan itu mengkilat, lebih hitam dari semestinya.
“Buka baju!” perintah sersan hitam mengkilat itu.
“Buat apa?” Larasati memberontak.
“Buat apa? Buka semua! Cepat! Anjing-anjing Soekarno suka berlagak goblok.”
Garang benar kelihatannya, pikir Larasati. Dia cuma pembunuh bayaran. Melihat aku sebagai anjing. Mungkin matanya bukan mata orang, mata anjing, maka manusia kelihatannya sebagai anjing, itulah dia tuannya. Kalau cuma cari makan dan pakaian, mengapa jadi pembunuh dan penghina orang? Kan aku juga cari makan dan pakaian? Orang-orang macam dia ini mungkin lebih bodoh daripada kerbau.
Paling tidak kerbau tidak membunuh sesamanya.
Waktu melihat Ara tak mengikuti perintahnya, ia bangkit. Matanya berapi-api. Ditariknya kain kurbannya. Tangan Ara menangkis. Selendang merahnya jatuh.
“Binatang!” Ara memekik.
Orang-orang di luar kemah menjadi gempar. Baik serdadu yang berdinas maupun para penumpang dari pedalaman— semua mengarahkan pandang pada kemah. Terdengar sekali lagi Larasati meradang karang, “Ayoh, sentuh kalau berani. Aku garuk mukamu yang jelek sampai dadal!!”
Tiba-tiba seorang serdadu inlander tertawa senang. Yang lain-lain ikut tertawa. Iring-iringan orang ketakutan itu tiba-tiba dapat menarik nafas lega. Ketegangan lenyap.
Larasati keluar dari kemah dengan muka mera-padam. Tapi waktu ia ingat pada selendang merah yang terjatuh, ia masuk lagi untuk memungutnya. Matanya berkaca-kaca. Setelah menggabungkan diri dengan yang lain-lain ia menggerutu. “Sangkanya kalau sudah punya pistol, lantas boleh sembarangi setiap orang. Kurang ajar!”
Seseorang berpakaian preman berlari-larian dari kantor stasiun menghampirinya. Dan sebelum ia menyadari ini, terdengar orang itu berseru-seru girang: “Ara! Ara!”
Larasati menyeka mukanya dengan selendang tengik itu. Menajamkan pandang pada pendatang. Tapi ia pura-pura tak peduli. Dia juga pengkhianat, bisik hatinya. Ia kenal dia: Mardjohan—di zaman Jepang seorang announcer. Sebentar lagi bakal banjir propaganda dari mulutnya yang jorok itu, ia memperingatkan dirinya sendiri. Kalau didiamkan, dia akan bertekuk lutut. Tapi merajalela kalau dilayani. Siapa orang film yang tak kenal dia?
Mardjohan mengulurkan tangan dan dengan yang lain menepuk bahunya. Dia sudah dapat kedudukan dalam barisan pembunuh dan perampok ini pikirnya.
“Tidak ingat aku?” Mardjohan bertanya.
“O, kau,” Larasati menjawab tak acuh.
“Kau tadi yang berteriak?” tanyanya sambil tertawa. “Buat apa begitu keras?”
“Buat tuanmu.”
Wajah Mardjohan tampak merah-padam. Tapi dengan cepat ia dapat menindas perasaannya dan mengucap: “Ah, kau republikein kiranya. Tapi itu tak mengapa. Kami sudah cari-cari alamatmu. Kita bisa bikin film banyak dengan kau.”
“Kau sudah bikin film?”
“Aku sekarang produser, sutradara—segala-galanya.” Waktu dia cerita kebesarannya Larasati tak tertarik.
Segera Mardjohan mengubah pokok, “Nanti aku perkenalkan kau dengan tuan kolonel Surjo Sentono. Dia yang kasih petunjuk bagaimana mendokumenkan pengungsi-pengungsi yang tidak tahan di pedalaman ke daerah pendudukan kerajaan. Mereka berbahagia di bawah lindungan artileri. Kolonel tulen dari kenil. Opsir artileri paling cakap di seluruh Asia. Ayoh, aku bawakan kopermu. Mari kuperkenalkan dengannya.”
“Kau gila.”
“Lebih baik kau pikirkan keselamatanmu.” Mardjohan mulai mengancam. “Lihat, semua orang mengawasi kau. Juga tuan kolonel—itu, di stasiun sana dia bawa tongkat.”
Larasati menyadari benarnya ancaman itu. Ia menunduk. Lambat-lambat ia ikuti langkah Mardjohan—menghadap tuan kolonel.
Ini dia, pikir Larasati, kepala pembunuh, penjual tanah air, penyembelih kawan sepermainan anak-anaknya sendiri.
“Ara, bukan?” kolonel inlander itu mendahului. Dan Larasati mengangguk.
“Buat apa teriak begitu keras? Kan semua tahu siapa kau?”
Kembali amarah meluap di dalam dada Ara. Ia remas lagi selendang merah tengik itu, dan dengan kasar menyekanya pada dahinya, “Benar. Semua orang tahu siapa aku. Semua. Juga tuan kolonel!”
“Kehormatan mana lagi yang mesti kau pertahankan?”
Kembali air mata membasahi matanya yang baru sebentar tadi kering. Tetapi Larasati tahu, terhadap pengkhianat-pengkhianat ini tak perlu mengalah, ia pun tak akan pernah. Dan perlahan-lahan ia menjawab, “Memang aku hanya seorang pelacur, tuan kolonel. Tapi aku masih berhak mempunyai kehormatan. Karena, aku tidak pernah menjual warisan nenek moyang pada orang asing.”
Ia lihat kolonel itu menjadi pucat. Ia ayunkan tongkatnya untuk memukul, tetapi tidak jadi. Sementara itu Larasati telah nekat, meneruskan, “Apa yang bagiku kehormatan mungkin tidak bagi tuan kolonel.”
“Main sandiwara?” kolonel inlander itu batuk-batuk kecil, tapi kemudian suaranya bernada ancaman, “Ah, tidak. Seorang republikein tidak bisa bermain sandiwara dengan tepat.”
“Ah, tuan kolonel, pelacur hina ini terlalu bodoh untuk mengetahui. Ia hanya tahu satu-satunya kehormatan yang masih dimilikinya, seperti anjing yang kadang-kadang rela membela kehormatan anjingnya.”
“Tak ada artinya kemarahanmu, Ara.”
“Memang tuan kolonellah yang lebih berhak marah.”
“Jadi kau mengerti. Kau sungguh pintar ngomong. Tapi baiklah kita lupakan semua ini.”
Larasati sekelibatan dapat menangkap wajah pucat Mardjohan yang berdiri di belakang tuannya.
“Kemarahanku memang tak berarti. Tapi peristiwa penghinaan demi penghinaan ini takkan mau kulupakan.”
“Baiklah. Barangkali lebih tepat kalau aku yang meminta maaf. Maafkanlah. Sekarang, mari,” kolonel inlander itu menepuk bahu Ara dan mengajaknya berjalan.
“Djohan, taruh barangnya ke mobil.”
Larasati dibawa ke bawah rimbunan rambutan dan duren. Di situlah meriam-meriam yang mencongak ke cakrawala tadi, kini telah runduk, dan moncongnya telah berselubung kertas kanvas.
“Aku mengerti apa yang kau maksudkan dengan kehormatan. Kau republikein. Tapi lihat,” dan ia menudingkan tongkat-komandonya pada barisan howitzer yang berderet bersaf-saf —empat puluh delapan buah.
Lok menjerit. Formasi kereta api mulai bergerak, pelan-pelan, mendengus-dengus kemudian tak terkendali, melenguh-lenguh, akhirnya hilang di kejauhan.
“Mardjohan sudah telepon Basis Komandan. Mereka akan antarkan kau sesuai dengan martabat dan kehendak mu: bintang film Indonesia nomor wahid!” Ia pukul-pukulkan tongkatnya pada pahanya sendiri. Meneruskan, “Lupakan yang di seberang sana,” sambil menunjukkan tongkatnya ke arah Cikampek.
“Kau bisa hitung sendiri berapa banyaknya. Ini baru satu tempat. Di seberang sana,” kembali ia menuding, dengan tongkatnya, “hanya ada dua pucuk.” Ia tertawa menghinakan.
“Tinggi-rendahnya nilai republikein akan diuji oleh baterai ini. Besok atau lusa kalau tongkat ini kuayunkan ke atas, semua meriam ini akan berbunyi berbareng untuk empat-lima jam. Kami tak perlu lihat anak-anak nakal itu lagi. Mereka akan pergi kemari menyembah kakiku minta hidup.”
Terbayang oleh Larasati anak-anak pejuang bergelimpangan tewas. Dan orang di depannya ini pembunuhnya. Mau rasanya ia menusuknya dengan pisau sampai perut gendutnya kecar-kecir. Tapi ia tak berani. Lagi pula ia tak punya pisau.
“Lupakan, lupakan yang di seberang kali Bekasi sana. Kau seniman. Seniman mesti netral kalau ada sengketa politik atau militer. Seni selamanya untuk seni.”
Serdadu-serdadu artileri itu yang tampak sebagian kecil saja, diperintah sendirian oleh orang kulit putih. Hampir seluruh di antara mereka mengawasi rombongan yang baru datang. Setiap orang di antara mereka yang dilewati kolonel Surjo Sentono dan Larasati memberi salut. Beberapa orang serdadu pura-pura menggosok-gosok laras meriam. Beberapa orang lagi berjongkok sambil berbisik-bisik. Sebuah tenda setengah terbuka memperlihatkan di dalamnya peti-peti peluru meriam. Dan di ujung lapangan artileri, di bawah sebuah pohon besar, tertumpuk kertus-kertus kosong yang habis dipergunakan menembak. Seekor kuda meringkik dari jarak dekat. Waktu Larasati menebarkan pandang ke tempat datangnya ringkikan, dilihatnya beberapa ekor kuda kurus sedang dicancang pada tonggak-tonggak di bawah rindangan pohon rambutan. Lapangan artileri itu tiba-tiba saja menjadi sunyi-senyap. Sekelibatan Larasati mencuri pandang pada profil kolonel inlander. Dilihatnya, walau tak dapat menyembunyikan usianya yang sudah agak lanjut, tubuh kolonel itu masih penuh dan belum lagi digarisi oleh tanda-tanda tua. Rambutnya memutih pada pelipis di bawah petnya, sedang gerak-geriknya agak lamban.
“Dunia modern ini,” kolonel itu memulai, “dibangunkan di atas pucuk meriam. Kau dengar, Ara?”
“Aku dengar, tuan kolonel!”
“Bagus. Barangsiapa tidak cukup punya meriam, sekarang atau besok, besok lusa atau lusanya lagi, dia harus menyerahkan diri pada yang punya lebih banyak. Kau pernah mempelajari sejarah, Ara? Ah, tentu saja tidak.”
“Belum dan tidak, tuan kolonel!”
“Apalagi sejarah perang. Kau mengerti sekarang, mengapa kau berpihak pada yang di seberang sana? Karena kau tak pernah mempelajari sejarah. Juga semua mereka yang ikut dari seberang sana karena bodohnya. Karena tidak tahu sejarah. Masih ingat Jepang?” Ia tertawa. “Keberanian saja tidak cukup. Apa nasibnya kemudian? Binatang-binatang itu menyerah tanpa syarat. Menyerah begitu hina, sedang pasukannya masih begitu banyak.”
“Memang. Malah mereka menyerah hanya pada pemuda yang cuma punya bambu!”
“Husy! Kau tak tahu apa-apa, Ara. Jepang itu pura-pura bertempur dengan pemuda. Mereka serahkan senjata pada pemuda-pemuda itu, biar tentara Sekutu kalang-kabut tapi dia enak-enak menyerah di tangsi-tangsi.”
“Bertempur, tuan kolonel. Bertempur benar-benar.”
Kolonel inlander itu berhenti berjalan. Juga Larasati berhenti berjalan. Opsir tinggi Nica itu melototkan mata padanya. Dengan suara berang, keras, dan tinggi ia memekik, “Kau tidak tahu politik! Otakmu yang sederhana itu sudah diaduk politik!”
“Tapi aku pernah lihat sendiri, tuan kolonel. Mungkin mataku salah lihat.”
“Aku juga pernah lihat sendiri. Pernah lihat sendiri, maka bagaimana kau bisa bohongi aku.”
“Jepang-jepang itu menyerah, dilucuti, sesudah pertempuran. Di antaranya tewas. Di antaranya juga dibunuh.”
“Aku juga tahu bagaimana orang seberang sana berbohong,” seru kolonel itu dalam usahanya untuk mengendalikan amarahnya.
Ara merasa tersinggung. Apa gunanya berbohong di dunia ini? Kalau yang benar harus dinamai bohong, di mana tempat kebohongan kemudian di dalam hidup manusia ini? Dan dengan suara mengandung kejengkelan ia menyambar, “Lantas apa untungku membohongi tuan kolonel? Apakah aku lantas dapat duit? Dapat pangkat? Kedudukan? Atau sebagian dari meriam itu.”
“Husy. Kau mengerti maksudku.”
“Tidak, tuan kolonel.”
“Tidak? Ara, penjara tidak cocok bagimu.”
“Entahlah, tuan kolonel. Belum pernah aku alami.”
“Mau coba?”
Larasati berdebar-debar. Tak ada guna bicara tentang pokok semacam ini. Aku datang ke bumi penjajahan bukan untuk masuk penjara. Aku datang untuk kembali memasuki dunia film. Ia takut. Penjara berarti kematian.
“Belum lagi sore. Kau boleh lihat penjara kalau suka. Suka?”
Bintang film itu menebarkan pandang pada laras-laras meriam yang hijau kelabu. Kembali ia teringat pada pemuda-pemuda yang baru sebentar tadi ditinggalkannya. Mungkin di antara mereka telah ada yang tergeletak mati, atau kutung, invalid selama-lamanya, anak-anak yang tidak meminta uang, pangkat, atau jaminan hidup itu. Di sampingnya sekarang: pembunuh mereka—hanya untuk dapat duit dan pangkat. Dia kira, cuma dia saja butuh makan butuh kesenangan. Cuma dia saja ingin anaknya maju dan mendapat kedudukan yang terjamin dalam masyarakat. Ia menjadi begitu jijik, benci, dan muak pada kolonel itu.
Ia tak menjawab.
“Mengapa diam saja? Jadi kau ingin lihat penjara. Baik.” Kemudian ia berteriak, “Djohan, Mardjohan!”
Dan Mardjohan terbirit-birit menghadap Surjo Sentono.
“Bawa bintang film terkemuka ini menonton penjara.”
“Menonton penjara? Untuk berapa lama?”
“Husy! Pergunakan mobil dan sopirku. Aku menyusul.”
“Surat izinnya, tuan kolonel.”
“Antarkan dia, aku bilang!”
“Penjara mana, tuan kolonel?”
“Husy, kau tahu di mana monyet-monyet itu dikurung, pergi!”
“Tapi bagaimana rencana shooting, tuan kolonel?”
“Besok masih ada hari. Ayoh!”
Ia ulurkan tangan pada Larasati. Dan Ara menjabatnya—tangan pembunuh sahabat-sahabatnya sendiri, pembunuh sahabat sepermainan anak-anaknya sendiri. Ia berjalan dalam iringan Mardjohan. Ia tak menengok. Ia tak mau untuk kedua kalinya melihat laras-laras meriam yang telah membunuh kanak-kanak di seberang kali sana. Dan mobil lari kencang melalui jalan sempit yang kini merupakan jalan militer.
Sersan yang menyupiri mobil pun serdadu inlander. Sebentar-sebentar ia batuk-batuk seakan-akan hendak ikut campur dengan segala persoalannya. Sedang kedua penumpang itu berdiam-diam, seperti orang bermusuhan.
Tiba-tiba Mardjohan memulai, “Engkau beruntung, Ara.”
“Apa untungku? Di seberang kali Bekasi itu aku mengenal banyak kanak-kanak yang mungkin sekarang telah tewas karena meriam tuanmu. Apa untungku?”
“Sttt.” Mardjohan berbisik.
“Gerombolan binatang!” Larasati berseru setengah memekik.
“Besok atau lusa kau insaf, kau masih beruntung. Aku maafkan kau, Ara.”
“Binatang!” Larasati mengulangi.
Kembali sopir itu batuk-batuk.
“Hati-hati dengan mulutmu, Ara.”
“Apa gunanya? Di sini hati-hati dan tidak sama saja hasilnya.”
“Hati-hati.” Mardjohan mengulangi. “Aku juga bisa hancurkan kau.”
“Ayoh, hancurkanlah.”
Mobil melaju ke arah kota.
Tak terkirakan kecut dan kecil hati Larasati. Rupa-rupanya di bumi jajahan ini setiap orang hidup atas dasar hancur-menghancurkan. Dan siapa tidak dihancurkan di bumi penjajahan ini? Tak pernah sebelumnya pikirannya menjadi sejelas sekarang. Siapa yang tidak dihancurkan? Siapa? Dan akhirnya, “Kalau kau sudah hancurkan aku, lantas apa untungmu? Kalau kau tidak hancurkan aku, apa rugimu?”
Mobil melambatkan jalannya untuk memberi jalan pada sebuah truk militer dari empat setengah ton, yang terengah-engah membawa muatan batangan-batangan besi. Udara mulai mengandung kadar air lebih berat. Panas merajalela di dalam mobil besar dan megah itu. Tetapi Larasati mencoba tidak dipengaruhi oleh keadaan-keadaan di luar dirinya.
Bertanya mendesak: “Apa untungmu?”
Mobil berjalan perlahan-lahan. Mardjohan merenung-renung. Kemudian, “Di dunia ini, Ara, hanya sedikit saja orang yang penting.”
Larasati tertawa memberanikan hatinya sendiri. Berkata: “Tahu aku sekarang. Kiranya kau ingin jadi orang penting!”
Tetapi sementara itu bintang film itu telah mendapat pengertian tentang bangun dari bumi penjajahan: hancur-menghancurkan! Sedang mereka yang tidak dihancurkan, mereka yang tidak menghancurkan, adalah yang jadi landasan hidup binatang ini.
“Tak ada guna dibicarakan terus, Ara.” Mardjohan memutuskan. Ia geserkan duduknya. Mendekat. Kian mendekat. Berapatan. “Kita bisa jadi sekutu yang baik! Kau dan aku.”
“Sekutu apa?”
“Segala-galanya.”
“Menghancurkan atau dihancurkan?”
“Aku bilang, kita tutup pokok tak menyenangkan ini,” ia ambil tangan Larasati dan diciumnya. Dan bintang film itu tertawa dalam hatinya. Kadal ini tak begitu cerdik, pikir Larasati, anak yang baru kemarin jadi announcer, sekarang mau merajai seluruh dunia film, cuma karena semua tenaga telah menyingkir ke pedalaman. Ya Allah, lucu juga kadang-kadang bumi penjajahan ini. Ia pandangi betapa tangannya dicium oleh kadal itu. Ia merasa geli bagaimana serigala uang dan kedudukan itu merayap-rayap begitu hina dan lata.
“Kau tak bersuami, bukan?” Mardjohan meneruskan.
“Itu tidak penting.”
“Jadi setuju kau bersekutu?”
“Sekutu macam apa kau ini?” bintang film itu yakin, tanpa bantuan siapa pun Mardjohan takkan bakal jadi apa-apa.
“Kau orang berani, Ara,” sekarang ia rangkulkan tangannya pada bahu Ara.
Dan Larasati tidak membantah. Bumi penjajahan ini membuat aku kian detik kian berpikir. Tak pernah demikian sebelumnya. Tak pernah ia meneropong dirinya sendiri. Kini ia dapatkan gambaran tentang dirinya sendiri agak jelas, kadang samar: menolak seluruh bentuk. penjajahan apa pun. Ia tak membutuhkan kehancuran orang lain dan dirinya sendiri. Ia inginkan suatu kehidupan damai, di mana ia dapat membaktikan seluruh hidupnya dengan kecakapan satu-satunya yang dimilikinya: main film. Bagaimanapun juga kotornya namaku aku akan tetap dapat berguna. Kotor? Tiba-tiba ia memberontak terhadap dirinya sendiri. Biar aku kotor, perjuangan tidak aku kotori. Revolusi pun tidak! Negara pun tidak! Rakyat apa lagi! Yang aku kotori hanya diriku sendiri. Bukan orang lain. Orang lain takkan rugi karenanya.
“Kau melamun, Ara.” Mardjohan menegur.
Dan bintang film itu tak menjawab.
Pikirannya berkisar pada perjalanan hidupnya sendiri di masa-masa yang sudah—perjalanan hidup penuh dengan pikiran gelandangan, pengelamunan tiada bersasaran lama sekali, tingkah-laku yang tidak keruan. Ia sendiri heran mengapa kini ia menempuh pemikiran dan perbuatan lain. Tidak seperti dulu. Ia tidak pernah belajar, tidak pernah mempelajari sesuatu pun. Mengapa aku sekarang dapat mengerti semua ini? Ia bertanya dalam hati. Siapa yang gurui? Siapa si guru ini? Siapa?
“Kalau tidak ada kekacauan ini,” Mardjohan meneruskan, “aku masih tetap announcer, Ara. Aku sutradara pada kekacauan ini. Kau namai ini Revolusi, bukan?”
“Revolusi,” Ara menjawab. Dan sesungguhnya, ia dapatkan jawaban atas pertanyaannya sendiri: Revolusilah gurunya selama ini. Hanya sang Revolusi yang agung ini. Dan kembali ingatannya melayang pada para hartawan, para cendekiawan yang pernah begitu sinting mengelilingi dan menguber-uber dirinya. Mereka jadi hartawan dan cendekiawan karena pergulatan dan perjuangan yang lama. Aku hanya dari Revolusi ini. Revolusi melingkupi pengalaman puluhan abad. Revolusi melingkupi buku ribuan jilid. “Revolusi,” ia menyebut.
“Mengapa, Ara?”
“Dia sumber.”
“Benar. Dia sumber. Besok atau lusa, hanya kitalah yang akan tentukan dunia film. Kita punya sumber. Kita kuasai sumber. Setuju, Ara?”
“Aku tidak menentukan apa-apa.”
“Kalau begitu aku yang menentukan.”
“Kau hanya setitik busa.”
“Maksudmu?”
“Hanya Revolusi yang menentukan.”
“Setidak-tidaknya kedudukanku sekarang sudah ditentukan.”
Anjing! teriak bintang film itu dalam hatinya, dia tidak pernah bisa berpikir tanpa bawa dirinya sendiri. Dirinya sendiri yang korup itu! Korup! Itu penamaan yang tepat. Ia ingat pada ucapan perwira piket kemarin: Hanya angkatan tua yang korup dan mengajak korup! Angkatan muda membuat Revolusi. Dan orang tua cacat itu berkata: pemuda itu sedang melahirkan sejarah. Ah, ah, pemuda piket itu adalah Revolusi itu sendiri.
“Boleh aku cium kau, Ara?” dan ia menciumnya.
Hari ini aku dicium seekor anjing gila. Dia mau pergunakan aku jadi batu ancak. Dia mau bangunkan dirinya di atas diriku. Di atas diri semua orang yang mau jadi batu ancaknya. Sia-sianya dunia ini kalau untuk meningkatkan satu orang yang lain mesti diinjak. Ya Allah, benar-benarkah ini duniaku? Dunia manusia! Manusia makhluk tertinggi ini? Dunia Tuhan yang diagungkan karena kesempurnaan penciptaan- Nya? Inikah dunia ciptaan Allah? Bukankah ini dunia ciptaanNya tetapi bandit memanfaatkannya?
“Lebih baik jangan ganggu aku, Djohan.”
“Aku tidak mengganggu, Ara. Aku berbuat hanya sebagai sekutu.”
Larasati menjadi jengkel. Apakah yang ada dalam hati dan otak orang semacam Mardjohan ini? Mungkin hanya duit dan makan enak, seperti sebuah lemari yang mau menyimpan segala barang tapi tiada sesuatu yang lebih berharga dari itu.
Dan pepohonan sepanjang jalan itu masih sesubur waktu ia masih kecil berkendara dalam mobil beramai-ramai dengan orang Inggris yang memungutnya. Rumput tumbuh tanpa pengawasan di lereng-lereng selokan, dan di sana-sini di pinggiran jalan teronggok tumpukan batu karang. Semua itu menjadi bagian dari hidupnya sendiri. Cuma orang yang di sampingnya ini tidak: Mardjohan.
Ia tatap wajah Mardjohan. Hatinya mendesis murka: Anjing! Dia cuma anjing! Dan amarahnya luluh sendiri melihat ia menunduk dan tangannya yang sedang merangkul bahunya terkulai pada landasan jok mobil.
“Kapan kau hancurkan aku, Djohan? Aku toh tak berarti apa-apa? Biar besok atau lusa kau jadi orang penting. Tapi bersekutu denganmu, sayang sekali, Djohan, tidak mungkin.”
“Kau takkan dapat lapangan di film.”
“Bumi Revolusi masih luas. Bumi jajahan terlampau sempit. Semua orang penting di bumi penjajahan ini tidak bakal lebih dari kau! Juga kolonelmu sendiri lebih hina dari kau yang paling tinggi kedudukannya.”
“Kau tidak seperti dulu, Ara.”
“Tentu saja tidak. Apa gunanya Revolusi kalau tidak bisa mengubah aku?”
“Kau singa garang.”
“Di bumi penjajahan ini.”
“Kau bakal mati kelaparan.”
“Tidak, selama Revolusi menggelora.”
“Kau mata-mata Republik.”
“Setidak-tidaknya bukan anjing orang asing.” Mardjohan diam dan bintang film itu kehilangan kekang. Ia diam. Kembali Ara memperhatikan lalu-lintas—lebih sunyi daripada di masa pendudukan Jepang. Pakaian karung telah lenyap dari pemandangan. Beri-beri basah tidak nampak lagi. Tentu bukan karena Belanda, pikir Ara. Apa yang pernah diberikan Belanda kepada rakyat? Mereka datang ke sini bukan untuk memberi, tapi untuk meminta! Rakyat mendapat apa yang dicarinya sendiri—sejak dulu si Belanda-lah yang malahan mendapat sebagian besar dari nasi yang dicari oleh rakyat. Apa yang diberikan Belanda kepada rakyat?
Orang-orang dalam lalu-lintas itu nampak lebih segar. Bukan karena Belanda. Tidak! Semua itu karena rakyat sekarang lebih berani daripada dulu. Ia merasa sangat puas dengan pikirannya. Ia heran bagaimana Revolusi mengajarnya berpikir demikian. Ia pun heran mengapa sekarang ia punya keberanian menghadapi orang semacam Mardjohan, sekadar yang cuma bisa mencederai setiap orang itu.
Kedua orang itu duduk diam-diam seperti sedang bermusuhan. Tanpa mendapat perhatian. Mardjohan menjauhi sedikit dari Larasati. Lebih menjauh lagi. Akhirnya melemparkan pandang ke luar jendelanya sendiri. Larasati tetap seekor betina garang, tak dapat ditundukkannya.
Larasati meneruskan renungannya: mengapa dunia ini begini penuh iga manusia busuk? Hanya karena mau hidup lebih sejahtera daripada yang lain? Apakah kesejahteraan hidup sama dengan kebusukan buat orang lain? Alangkah sia-sia pendidikan orang tua kalau demikian. Alangkah sia-sia pendidikan agama. Alangkah sia-sia guru dan sekolah-sekolah. Larasati melempar pandang ke luar, kemudian melemparkan kepala pada ujung jok, menengadah, menarik nafas dalam, menghembuskannya, dan sekaligus ia diserbu oleh kekacauan pikiran. Sekilas nampak suaminya yang pertama-tama: Asman—itu bintang panggung yang melamarnya, diterimanya, dan jadi suaminya. Dia juga orang yang lemah lembut, tetapi bila soalnya mengenai kesejahteraan hidupnya, ia juga berubah jadi singa jantan garang. Dua tiga kali Asman terlibat dalam pertengkaran sengit—yang keempat kalinya adalah dengan dirinya. Keduanya bermaksud untuk pindah ke film, meninggalkan panggung. Tauke menawarkan honorarium lebih tinggi kepadanya daripada suaminya. Dan Asman merasa tak bersenang hati.
“Kau tak bisa hormati suamimu, Ara.”
Pada waktu itulah ia mulai mengerti sedikit tentang kehormatan: dia sama nilainya dengan uang.
“Tapi soalnya bukan kehormatan,” Ara menangkis.
“Apa soalnya kalau bukan uang?”
Asman tiba-tiba menjadi manusia lain—lenyap kelemahlembutannya selama ini. Dan Ara tak dapat menjawab. Ia merasa pada pihak benar, tapi tak dapat mengatakan. Sejak itu hubungan suami-istri itu retak, renggang, dan putus. Dan sejak itu pula ia praktikkan tafsiran, bahwa kehormatan berarti uang. Ia jadi serigala uang untuk mendapatkan kehormatan. Dan sekarang, ia bertemu dengan suatu bentuk murni daripada tafsiran yang selama ini dianutnya. Tetapi heran: ia merasa jijik. Menjijikkan. Tafsiranku merupakan penghinaan.
Ia menarik nafas dalam.
“Mengapa kau?” Mardjohan bertanya. “Kau datang kemari karena kecewa di pedalaman, bukan? Kau pergi ke daerah pendudukan buat cari duit. Tak patut kau bersikap begitu garang.”
“Jangan pedulikan aku. Pedulikan dirimu sendiri. Kau cuma berpikir tentang dirimu sendiri, bukan?”
“Tidak benar, Ara. Aku punya usul yang baik. Usul sudah kuajukan. Mudah sekali bagimu untuk memutuskan.”
Larasati tertawa menghinakan. Kemudian bertanya:
“Kau tak punya usul lebih baik?”
“Yang lebih baik berarti lebih buruk bagiku, Ara.”
“Usulkan yang lebih buruk biar kau mendapatkan lebih baik, Djohan,” Larasati tertawa perlahan, melihat kebingungan kawannya.
“Bicaralah dengan misal, biar lebih jelas bagiku.”
“Misalnya jadi mata-mata untuk Nefis7.”
Mardjohan berkata, “Terima kasih.”
“Aku cuma berani usulkan yang sedang saja, kerjasama denganku, Ara. Jadi sekutu.”
“Kau bisa kerjasama dengan dirimu sendiri.”
Mardjohan menarik nafas keluh. Tetapi sebelum ia dapat pikiran baik untuk menundukkan singa betina garang itu, kekacauan dalam batinnya menyebabkan ia tak dapat tidak mencoba meminta perhatian Larasati tentang dirinya sendiri.
“Dulu kau tidak seperti sekarang. Aku kira kau masih seperti dulu. Sungguh ketinggalan aku ini.”
Bodohnya! pikir Larasati. Dia kira ribuan pemuda yang tewas itu tak bicara apa-apa padaku. Tak ada nama lebih tepat baginya, juga bagi semua orang seperti dia daripada binatang. Berapa juta raung kesakitan telah dipekikkan. Berapa puluh liter air mata dikucurkan. Tapi orang seperti dia cuma dapat berpikir kalau dirinya sendiri diikut-sertakan. Dia tidak bakal mengerti.
“Apakah Revolusi itu benar-benar begitu hebat sampai dapat mengubah kau, Ara?”
“Kau takkan mengerti, Djohan. Hanya nanti kau akan mengerti. Nanti, kalau sudah terlambat. Kalau orang sudah kehilangan kekuasaan untuk memberi ampun.”
“Jadi kau kira aku tak mengerti apa-apa!”
“Kau mengerti apa?”
Larasati
Mardjohan terdiam. Ia gosok tangannya untuk memberanikan diri mengatakan sesuatu, tetapi ia tidak berani. Akhirnya mengancam, “Aku akan laporkan semua pada tuan kolonel.”
“Bagus.”
“Biarpun tuan kolonel tidak sekeras dulu—setahun lalu.”
“Bagus.”
“Tidak akan bagus, Ara. Kau akan dapatkan sebaliknya dari yang akan kau harapkan.”
“Bagus.”
“Apanya yang bagus?”
“Karena aku tidak bakal mengharapkan sesuatu pun dari orang-orang semacam kau.”
“Aku bisa cekik kau di sini, Ara. Biar mampus.”
“Aku juga bisa lawan kau.”
Mardjohan terdiam.
Mardjohan membutuhkan seorang partner—partner yang terkenal di antara artis film, yang bakal dapat meningkatkan namanya menjulang di dunia film. Dan siapa yang lebih terkenal dari Ara! Ara mengerti ini. Ia tidak sudi membawanya ke tingkat yang lebih tinggi. Dan Mardjohan hanya berdiri sendiri.
Ia berusaha harus mengalahkan perasaan-perasaannya sendiri untuk menyelamatkan keinginannya. Putus asa dan harapan silih berganti merebut gelanggang. Akhirnya hanya keluhan yang terdengar dari mulutnya, “Orang Timur seperti kita, Ara, terikat pada hutang-budi.”
“Benar.”
“Aku banyak berhutang-budi pada tuan kolonel. Dia penolong dari maut, dari kelaparan. Di masa-masa yang lalu. Kau tak pernah berhutang-budi, Ara?”
“Tentu. Pada tanah air, hanya pada bangsaku. Pada perseorangan tidak?”
Percakapan mati lagi. Mardjohan mempergunakan kediaman itu untuk mencurahkan beban hatinya: “Ara, kau tahu sendiri.”
Ia—Mardjohan—memulai di zaman Jepang yang hampir-hampir tewas karena kelaparan. Tetapi anak kolonel itu —waktu itu masih mayor besar, Maria Magdalena Sentono membantunya dengan banyak pertolongan. Sebagai balas budi, ia menjadi penghubung gelap antara si nona dengan ayahnya, yang waktu itu tinggal dalam tawanan Jepang. Dan ini berjalan tahun demi tahun. Si nona mendapat pekerjaan di Tjuo Sangi-in. Dan kemudian jadi stenograf di sana.
Berapa banyak jam ia pergunakan bercakap-cakap dengan Maria—di malam hening, sunyi, gelap—membicarakan nasib tuan kolonel. Maria sering bercerita: ayahnya seorang yang keras. Sedang beberapa orang yang kenal dengan ayah ini pernah bercerita padanya: opsir terkemuka kok tidak mengerti bagaimana mengindahkan perasaan karena terlalu banyak hidup di alam serdadu, memerintah dan diperintah. Waktu Jepang akan mendarat dari seorang bintara ia naik jadi mayor besar, diserahi tugas berat. Untuk memberi kesempatan pada pasukan kulit putih untuk melarikan diri ke Australia, “Dan, Ara, nona Maria Magdalena Sentono sendiri tumbuh begitu kurus. Sebagai perawan yang mendekati usia dua puluh tiga ia tidak menarik sama sekali. Dia mewakili zaman pendudukan Jepang itu sendiri. Dia tumbuh lampai, tanpa dada sedikit pun. Hanya pinggulnya menandakan dia telah dewasa. Lain tidak. Hidungnya mancung. Matanya cekung mendalam. Rambutnya tipis. Tetapi keibaan padanya, pada keluarganya, pada ayahnya, lama-kelamaan menyebabkan aku jatuh cinta padanya. Dengan sepenuh hatiku. Heiho-heiho yang menjaga kamp itu banyak aku kenal. Mereka banyak memberi pertolongan.”
“Mestinya kau jatuh cinta pada Heiho-heiho itu,” Ara menengahi.
Tetapi Mardjohan tak mendengar. Ia telah tenggelam dalam perasaannya. Ia menjadi perasa. Dunia luar tertutup mati sekarang. Dan meneruskan: Pada suatu kali datang selembar surat kecil dari kamp kepada nona Maria. Malam itu si nona bercerita padanya: Djohan, Sekutu kian mendesak. Dua atau tiga bulan lagi keadaan akan berubah. Mardjohan tak mengerti apa bakal terjadi kemudian. Tapi ia pun tahu, si nona takkan mengetahui lebih banyak dari ceritanya sendiri. Namun dengan diam-diam ia mengharapkan dua hal: si nona sebagai istri, dan tuan kolonel sebagai pemberi kedudukan baik kelak kalau sudah keluar tawanan.
Tiba-tiba Jepang menyerah. Tiba-tiba cerita Maria menjadi benar sesungguhnya. Dan Revolusi pun pecah.
“Ara, kau masih ingat waktu terjadi ribut-ribut setahun yang lalu? Kau masih di Jakarta waktu itu.”
Larasati mendeham dan menelan hasil dehamannya.
“Kau tak mau dengarkan aku, Ara.” Mardjohan menuduh. “Itu tidak adil. Selama ini hampir selamanya kau di daerah sana. Aku tidak.”
“Mengapa minta keadilan dari aku?”
“Bagaimanapun aku tak setuju adanya Revolusi.” Sekali lagi Larasati mendeham.
“Kau begitu yakin pada kemenangan Revolusi. Aku lebih percaya pada kemenangan meriam.”
Sebentar keduanya terlibat perdebatan. Dan sopir mobil dengan cermat mendengarkan semua. Tanpa mereka sadari sopir memelankan kendaraannya sampai tidak lebih dari 30 km sejam.
“Kau tak mau mengindahkan alasan perseorangan, akhirnya Mardjohan menuduh. “Dengar, Ara. Apa yang diceritakan, lalu tiga bulan setelah itu terjadi perubahan besar. Maksudku bukan menyerahnya Jepang pada Sekutu dan timbulnya kerusuhan-kerusuhan. Tentu saja tidak, semua itu terjadi, karena memang tidak penting bagiku. Perubahan besar itu-ini: karena kerusuhan ini keluarga itu pecah-belah.”
Dan sebelum Mardjohan menyelesaikan kata-katanya, Larasati telah menengahi, “Kau masih tetap seperti dulu. Kau tak dapat berpikir tanpa bawa-bawa dirimu sendiri.”
“Jadi kau kira perseorangan tidak penting?” Mardjohan menolak.
“Tidak, selama dia hanya semacam kau. Dengar! Kalau setiap orang seperti kau, Revolusi tidak bakal ada.”
“Revolusi bukan tidak bakal ada, Ara, tetapi tidak ada!”
“Pengkhianat.”
“Cabul tua!”
Kembali mereka berdiam-diam penuh permusuhan.
“Sopir! Turunkan aku di sini!” akhirnya Larasati memerintahkan.
“Tugasku membawa kau ke penjara,” bantah Mardjohan.
Dan mobil berjalan terus. Perlahan-lahan. Waktu kendaraan itu membelok, Mardjohan yang sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri terlempar ke tempat Ara.
Ia tak memperbaiki kedudukannya. Ia pandangi Ara dengan gemas dan marahnya.
Akhirnya meletup: “Perempuan apa kau ini?”
“Jangan hadapi aku sebagai perempuan macam apa pun, hadapi persoalannya.”
Mardjohan meremas-remas kedua belah tangannya untuk mendapatkan kekuatan. Tiba-tiba hati berkisar begitu sentimental, meneruskan kata-katanya: Waktu Revolusi pecah segera mayor besar Surjo Sentono dibebaskan oleh Sekutu dari kamp Jepang, menggabungkan diri dengan Nica. Maria Magdalena Sentono lari, menggabungkan diri dengan korps mahasiswa—melakukan perlawanan terhadap Nica. Dua manusia dari satu darah kedua-duanya menjadi harapannya pecah-belah, berhadap-hadapan sebagai musuh. Ayah dan anak. Sang ibu tinggal menangis.
“Aku lepaskan cintaku pada Maria. Aku berpihak pada ayahnya.”
“Kau cerdik!” tiba-tiba Ara menuduh.
“Cerdik.”
“Setelah kau dapat kedudukan dari ayahnya kau bakal dapat wanita mana pun juga kau suka, selain si nona, selain aku. Dan besok atau lusa kalau berpihak pada Revolusi, bukan karena kau telah sadar, tapi karena mau ikut mendapatkan kemenangan.”
“Soalnya balas-budi, Ara. Hutang-budi memang berat. Coba rasakan betapa penderitaan yang ditanggung si ayah karena si anak.”
Larasati tertawa dalam hatinya. Kanak-kanak di seberang sana mati karena dia, dia sendiri remuk-redam karena satu orang anaknya. Gila…
“Mari bersekutu, Ara kita bakal jadi sekutu tepat.” Dan mobil telah berhenti persis di depan pintu kayu berat sebuah penjara. Seorang kopral Knil membuka pintu berat itu, memberi salut, membuka pintu mobil dan menyilakan para penumpangnya masuk.
“Kau bakal banyak belajar dari gedung ini, Ara. Bukan dari Revolusi.”
Matari telah melewati sedikit dari titik puncaknya.
Kerikil pekarangan depan penjara berderai-derai. Beberapa orang berhenti berjalan dan menontonnya dari luar pagar kawat duri pekarangan depan penjara, menonton wanita cantik molek memasuki penjara dalam iringan preman. Tiba-tiba saja Ara merasa lapar.
Ruang beranda, di balik pintu besar, seorang kapten Indo menyambutnya dengan sangat sopan, menyilakan tamu-tamunya duduk di kantor penjara. Mereka berkenalan, dan Ara memandang seluruh dinding kantor dengan khusyuknya. Sebuah lukisan menggambarkan sepotong lengan kuat sedang hendak meluncurkan bola kayu, sedang di bawahnya tertulis dalam bahasa Belanda “De Vrijbuiters”. Sebuah kulit biawak. terpampang pada dinding lain, sedang di bawahnya diberi keterangan dalam bahasa Belanda pula “Hasil patroli di Cilincing”.
Di atas meja komandan penjara terdapat penindih kertas, sebuah kertus peluru mortir yang telah meletus hanya pada satu sisi. Dengan bahasa Belanda pula ditempelkan selajur kertas melingkar kertus peluru itu: “Macamnya peluru extremis”.
Dengan bahasa Belanda yang meluncur tanpa rem, kapten Belanda Indo itu melaporkan, barusan ia terima telepon dari basis komando, bahwa nona Larasati akan melihat penjara. Kini ia dengan senang hati ingin mengantarkan dan melaksanakan apa pun yang dikehendaki oleh nona Larasati, asalkan tidak meminta kebebasan salah seorang dari para tawanan.
Seorang spandri menyuguhkan coklat susu. Dan setelah minum semua, mereka berangkat meninggalkan gedung kantor, menyeberangi pekarangan dalam yang terlapis batu kerikil, melewati pintu besi kompleks penjara. Dan tiba-tiba saja mereka sudah masuk ke dalam gedung penjara yang sesungguhnya: sel-sel yang berhadap-hadapan dengan hanya dipisahkan oleh gang memanjang, kemudian membelok di ujung.
Larasati merasa gelisah dan tak senang memasuki gedung yang tak pernah dibayangkan dalam seluruh hidupnya ini. Pintu-pintu nampak tebal dan berat sedang dinding-dinding tembok itu nampak begitu kukuh. Pura-pura tak mengerti sesuatu pun ia bertanya, “Mengapa mereka ditawan?”
Kapten komandan itu tersenyum sopan, kemudian tertawa meringkik. Menjawab, “Hanya dipisahkan dari kegiatannya, nona.”
“Jadi, apa kegiatannya?”
“Jangan pura-pura bodoh, Ara,” bisik Mardjohan dari belakang.
Larasati merasa sangat tak bersenang hati. Ia menengok ke samping pada kapten itu. Rupa-rupanya si komandan penjara mendengar juga bisikan itu, dan tersenyum sopan sambil mengangguk tak kentara dua kali. Mereka berhenti di depan sebuah pintu tebal sekarang—pintu salah sebuah dari sel-sel yang berderet-deret sepanjang gang dalam gedung itu. Tanpa diduga oleh Larasati, kapten itu dengan sangat kasar membuka jendela yang terpasang pada pintu di hadapannya. Waktu terbuka tampak pintu tebal dari kayu dirangkapi oleh jerajak besi. Dan di baliknya berdiri seorang tahanan dalam sikap militer, yang bergumam pelan.
“Yang keras!” perintah kapten komandan.
“Sarkam! Ada di selnya!” seru seorang tahanan dari dalam.
Kapten komandan itu menatap Larasati sambil tersenyum. Kemudian ia membuka jendela pada pintu yang lain. Dari dalam sel itu terdengar suara wanita, “Turinah. Ada di selnya!”
“Perempuan?” Larasati bertanya.
Kembali kapten komando itu menatap Larasati dan tersenyum, mengangguk sopan, kemudian menyilakan Larasati dengan tangannya untuk melihatnya sendiri. Dan Larasati menjenguk ke dalam. Wanita itu berwajah pucat. Mukanya lebar, pendek, berbaju dan bercelana militer. Waktu melihat Larasati nampak ia sangat terkejut, tapi segera menunduk. Juga Larasati sendiri terkejut. Ia pernah melihat wajah itu, di Yogya, belum beberapa bulan berselang. Mungkin salah seorang peminta otograf. Ia pun menunduk dan dengan sopan pelan-pelan menutup jendela pada pintu selnya.
Demikianlah kapten komandan itu membuka dan menutup kembali jendela-jendela pada pintu sel-sel kiri-kanan gang itu satu-persatu. Akhirnya sampailah ia di pojokan di mana gang itu membelok. Kembali kapten itu membuka jendela sebuah pintu. Tapi tiada seorang pun yang menyahut memberi laporan. Kapten itu hilang kesabarannya. Dengan kasarnya ia tendang pintu sel itu. Mukanya merah. Menggertak: “Muncul, kau, binatang!”
Tiada sesuatu yang menyambut.
“Buka pintu!” perintah kapten itu pada sersan dan kopral yang mengiringi.
Ternyata sel itu merembang gelap-gelapan. Sersan itu menahan Larasati di luar sel. Tetapi dari luar bintang film itu melihat dinding di dalam itu penuh dengan corat-coret coklat: darah kepinding. Tak dapat ia menahan hati untuk tahu apa sesungguhnya yang terjadi di dalam sel itu. Ia dorong sersan itu ke samping dan masuk ke dalam.
“Ara!” seru Mardjohan memerah.
Waktu sampai di dalam dirasainya udara sel itu dingin dan lembab. Sebuah bale beton yang tidak cukup panjang memanjang pada dinding. Seorang kurus kering semacam papan tergeletak di atasnya. Di samping kepalanya terletak kaleng mentega berisi air, dan di atasnya mengambang kotoran tenggorokan bercampur darah. Orang di atas bale itu tak bergerak. Matanya setengah mendelik. Dadanya yang tipis turun-naik sewaktu bernafas dengan susahnya. Dan suara perlahan mengerikan keluar dari tenggorokan, tiap kali ia menarik dan menghembuskan nafas. Kapten komandan itu berdiri termangu, tak tahu apa mesti dikerjakan. Akhirnya tanpa menengok ke belakang memanggil, “Sersan!” Setelah orang yang dipanggil masuk, bertanya tanpa menengok, “Kenapa orang ini?”
“Baru kemarin pulang kemari, kapten, dari pemeriksaan Nefis.”
“Sudah lama sakit begini?”
“Sudah, kapten.”
“Mengapa aku tak pernah tahu?”
Sersan itu tak menjawab. “Panggil dokter.”
Dan sersan itu menghilang. Bintang film itu menghampiri tawanan itu. Meraba kakinya: panas di atas 41 derajat. Orang ini akan segera mati, pikir Larasati. Mati, berhadapan dengan pembunuhnya sendiri.
Ada yang membunuh. Ada yang dibunuh. Ada peraturan. Ada undang-undang. Ada pembesar, polisi, dan militer.
Hanya satu yang tidak ada: keadilan. Larasati ingin menghibur orang sakit itu. Orang ini telah jatuh di medan perjuangan—dia tidak bakal menyaksikan kemenangan. Mungkin beranak, mungkin beristri. Mungkin juga tidak sama sekali. Namun ia berjuang. Dan dalam sakitnya ini, setengah sadar pula barangkali, bahkan dalam mimpinya mungkin ia tetap berjuang, tetap melawan.
“Namanya siapa?” tanya Ara.
“Sampai namanya pun tidak penting, nona,” jawab kapten itu sambil tersenyum.
Diam sejenak. Si sakit itu menggerak-gerakkan tangannya.
“Dia minta minum,” kata Larasati
“Tak ada yang mau beri minum padanya?” ia menatap kapten komandan itu. Tetapi yang ditatapnya hanya tersenyum sopan: “Aku yang komandan di sini, nona.”
“Perintahkan kalau begitu.” Larasati lupa ia hanya seorang tamu.
Ia berontak. Tanpa pikir panjang ia menyerang, “Kalau tuan komandannya, perintahkan beri minum.”
“Sayang aku bukan bawahanmu, nona.”
Merah padam muka Larasati. Seorang komandan yang tak tahu keadaan tawanannya—hanya pada jarak beberapa puluh meter dari kantornya sendiri! Terlalu! Ini bukan tempat menjauhkan orang dari kegiatannya. Pembunuh dengan cara baru.
“Mari teruskan peninjauan,” ajak kapten itu.
“Aku mau tahu tentang si sakit ini dulu.”
Wajah kapten itu berubah. Larasati tak peduli. Ia hampiri kepala si sakit. Orang itu mengangkat tangan dan menutup mukanya, kemudian batuk-batuk lemah dan lama. Waktu itulah Larasati tak dapat mengendalikan kejut hatinya melihat lekukan dalam coklat melingkari pergelangan tangan si sakit. Dan waktu dilihatnya tangan si sakit yang sebelah lagi, ternyata pergelangan itu pun dilingkari lekukan dalam coklat. Dia habis digantung pada tangan yang dipulir ke ” belakang. Dia habis digantung lama. Hampir-hampir Larasati berteriak karena kagetnya, “Habis diapakan kau, bung!” Mardjohan datang menghampiri dan berbisik: “Itu pun bisa menimpa dirimu, Ara.”
“Husy,” sen tak Larasati. “Aku menghadapi manusia, bukan hewan. Kalau kau sendiri begini juga aku akan tolong, Djohan.” Si sakit itu berhenti batuk. N ampak ia mengangguk lemah pada Larasati, dan wajahnya berubah begitu lunak menanggung sayatan hati yang terharu. Kapten dan Mardjohan mengawasi Larasati, dan si sakit itu mengangkat lengannya. Pada lengan itu tertulis dengan tatuase biru: Ketut Suratna. Pemandangan Larasati berkunang-kunang, hampir pingsan. Itu dia yang di hadapannya sekarang: ajudan Opsir piket yang hilang tak tentu rimbanya. Ia beranikan hati melawan kelemahan, “Punya keluarga?” Si sakit menggeleng lemah—sangat lemah—hampir-hampir tak nampak. Larasati mengusap rambut Ketut Suratna. Dan kepala itu seperti habis dicelup dalam air panas. Dia tidak berkeluarga. Dia tidak beranak, tidak berbini. Kalau perjuangannya menang, mungkin dia telah tewas, dan kemenangannya itu tidak dinikmati apa pun di antara keluarganya sendiri, tetapi buat orang-orang lain. Tapi sudah pasti buat orang-orang seperti Mardjohan dan kolonel Surjo Sentono juga. Ia tak dapat menahan haruan yang berkobar dalam hati mengenangkan semua ini.
Si sakit itu nampaknya pun tak dapat menahan haru dalam hatinya. Ia mencoba memiringkan badan menghadapi Larasati, mungkin untuk mengucapkan terima kasih atas kebaikannya. Nafasnya terhenti sejenak. Ia hendak menarik nafas lagi, tertahan. Mulutnya megap-megap. Matanya setengah mendelik. Mulutnya terbuka dan tertutup sedangkan dadanya menggelembung seakan hendak muntah. Jakunnya turun-naik.
Larasati membelakangi si sakit. Ia tak tahan melihat. Ia tutup mukanya dengan tangannya. Mardjohan tersenyum, berbisik hampir-hampir tak terdengar olehnya, “Mari kita lihat yang lain.”
Larasati memutar badannya dengan kasar dan kembali menghadapi si sakit. Sepantun suaranya yang seakan tidak keluar dari tenggorokan manusia, suara yang mengajak seseorang muntah, terdengar menyayat hati. Dan si sakit itu meringkaskan kedua bahunya. Mulutnya ternga-nga. Dan buih kental keluar dari mulut itu, kemudian darah kental dalam lempengan menyembur, jatuh berceceran di atas dada si sakit, meluncur jatuh di bale beton, kemudian di lantai.
Larasati pingsan.
Ia tak tahu apa yang terjadi kemudian.
Bau klonyo yang pertama-tama tercium olehnya, seperti dari jauh, sangat jauh. Waktu ia membuka matanya, pertama-tama yang nampak olehnya adalah tuan kolonel Surjo Sentono dan seorang kolonel Belanda. Senyum kolonel inlander itu mengirai puas. Suaranya lemah-lembut bertanya:
“Mungkin kau dakwa kami kejam, Ara,” ia tersenyum lagi. “Dua tiga tahun lagi kau bakal tahu hasilnya. Kau akan berterimakasih atas tindakan kami.”
Larasati tak mengerti. Pikirannya mati. Bau klonyo itu menyegarkan kepalanya yang pening. Kolonel Belanda itu bicara dalam bahasa Indonesia tangsi, “Maaf, nona. Kita terlambat datang.” Larasati tak menjawab.
“Cukup?” ia bertanya lagi. Tetapi bintang film itu tak mengerti semua suara yang ditujukannya.
“Kau mau terus pulang, Ara?” tanya kolonel Surjo Sentono.
Larasati mencoba bangun dari bangku panjang kayu jati tebal itu. Tetapi kakinya terasa lemas. Ta mencoba ingat apa yang telah terjadi. Mula-mula ia teringat pada darah lempengan hitam merah, kemudian pada sebuah wajah. Akhirnya teringatlah ia pada si sakit: Ketut Suratna. Gelombang amarah menjalari seluruh saraf-sarafnya. Ia bangun menyen tak, berdiri, menentang mata kolonel Surjo, kemudian pada tongkat-komandannya, kembali pada matanya, tetapi hanya matanya sendiri yang berkaca-kaca. Ia terduduk.
“Bagaimana rencana film kita, Ara?” kolonel Surjo Sentono bertanya.
“Ah, nona lelah benar,” sambut kolonel Belanda itu. “Lebih baik istirahat dulu, bukan?” ia duduk di samping Ara. “Sersan, ambilkan oranyekrus.”
Mardjohan nampak berdiri di pojok kantor sambil kadang-kadang menghapus keringat dengan setangan indah. Pada bibirnya selalu nampak senyum, yang sengaja dikirimkannya pada Larasati.
“Rupa-rupanya nona habis melihat pemandangan tidak menarik,” kolonel itu meneruskan. “Tapi, ah, biar aku perkenalkan diri, kolonel Drest, komandan basis komando Batavia.” Ia tersenyum lagi seakan sedang menghadapi persoalan menyenangkan dan memberi harapan menyenangkan.
“Sudah lama kita harapkan nona. Apa saja yang tidak bisa kita perbuat? Bukan begitu, kolonel?” ia menengok pada kolonel inlander itu, kemudian meneruskan. “Rencana tuan kolonel ini sungguh hebat. Film dokumentasi pengungsian dari pedalaman! Nona datang. Rencana diubah. Film dokumentasi diganti jadi film cerita. Bintang film cerita! Bintang film Ara primadonanya. En, Djohan sudah dapat inspirasi setelah nona Ara datang?”
“Komplet, tuan kolonel. Sejarah Ara sendiri, akan dimainkan. Dia setuju.”
“Bagus. Bagaimana garis ceritanya?”
Mula-mula Ara pun extremis. Kemudian sadar dia bersalah. Lantas kembali ke jalan benar. Latar belakangnya pengungsian. Dulu pengungsian jadi pokok, sekarang jadi latar belakang.
“Bagus! Bagus sekali
Pp kolonel Drest menyambung sambil tertawa ramah. “En, bagaimana pendapat kolonel Surjo Santono?” Kolonel artileri itu menggeleng.
“Mengapa?”
“Apa peranan artileri kemudian?” Kolonel inlander itu memprotes.
Mardjohan tertawa sopan dari pojokannya.
“Jadi apa jawabmu, Djohan?” Drest bertanya.
“Tetap, tuan kolonel. Semua dimulai dan diakhiri di bawah lindungan laras meriam tuan kolonel Surjo Sentono— maaf, tuan kolonel Surjo Sentono.”
Waktu oranyekrus datang, semua minum. Hanya Larasati tidak. Namun Surjo Sentono nampak masih juga belum puas. Tetapi ia tidak memprotes lagi.
“Apa pendapatmu, Ara?” tanyanya kemudian.
“Aku mau pulang.” Larasati bangkit meninggalkan kamar penjara.
Sampai di luar gedung kantor, di pekarangan depan yang terkurung pagar duri, ia lari terhuyung-huyung menuju mobil yang membawanya ke tempat ini tadi. Para petugas itu buru-buru mengikutinya dari belakang. Mereka berhenti di dekat mobil. Kedua kolonel itu berpandang-pandangan. Paling akhir Mardjohan berjalan perlahan. Ia mempersiapkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bakal menghujani kepalanya. Wajahnya berkerut-kerut. Nadi pada keningnya bergalur menonjol. Suatu kesalahan kecil—dan penghidupannya bisa runtuh sama sekali.
Langsung pada sopir Larasati memerintah kasar, “Turunkan koperku!”
Sopir itu bersiap-siap hendak menurunkan. Kolonel Drest mencegahnya sambil berkata, “Maaf, kalau kita telah menyinggung perasaan nona. Kita memang belum biasa bergaul dengan bintang film—bintang film terkemuka,” ia membungkuk dengan hormatnya.
“Sersan,” kolonel Surjo Sentono memerintah, “bawa nona pulang ke rumahnya. Mardjohan antarkan!”
Larasati memandangi pejabat-pejabat itu dengan tak senang hatinya. Kemudian dengan bimbang masuk ke dalam mobil: ia duduk di bangku belakang. Merebahkan kepalanya pada ujung jok dan tak mempedulikan kelilingnya. Kolonel Drest dengan sopan menutup pintu mobil. Sementara itu Surjo Sentono menghadapi Mardjohan dan mulai dengan penyerangannya.
“Apa arti semua katamu, Djohan?”
Tapi Mardjohan sudah siap-siap dengan jawabannya:
“Jangan lupa tuan kolonel, dia seniman—hidup hanya di alam perasaan.”
“Mungkin kita tak dapat pergunakan dia,” Drest berbisik.
“Serahkan padaku, biar aku kerjakan sendiri,” Mardjohan menyanggupkan.
“Terlampau perasa,” Surjo Sentono menilai Larasati.
“Begitulah seniman. Tapi, kalau perasaannya dapat ditundukkan, orangnya hanya membuntut di belakang,” Mardjohan menghibur mereka.
“Djohan, apa maksudmu kita orang militer tak tahu perasaan?”
“Bukan tuan kolonel…”
Sementara itu kolonel Drest yang tak senang pada semua percakapan itu pergi mendekati sopir yang telah duduk di tempatnya. Sedang Mardjohan yang hendak menghindari kolonel inlander mendekat Ara, berbisik, “Lebih baik aku antarkan, Ara.”
“Sersan! Boleh berangkat!” kolonel Drest memerintah. Mobil menderu dengan cepat meninggalkan pekarangan depan penjara. Dari jauh masih nampak orang banyak menonton wanita ayu keluar dari penjara. Mobil membelok meninggalkan pintu pagar kawat, memasuki lalu-lintas siang. Maka lenyaplah gedung yang mengerikan Ara. Kemudian sopir memelankan kendaraannya. Mengawasi Larasati yang menyembunyikan muka dalam tangannya dari kaca mengintip. Ia batuk-batuk memperkenalkan diri. Kemudian memulai, “Memang begini sehari-hari, nona, di daerah pendudukan ini.”
Larasati menjauhkan mukanya pada pangkuan. Dalam sehari kemarin ia hidup dalam suasana ketakutan yang baru sekali ini dialaminya: begitu panjang, serasa tiada kan habis-habisnya. Dan sehari ini, walaupun merangkak begitu lambat, penuh kengerian, kebencian, kebuasan, kebinatangan. Kalau aku tak memiliki tubuh indah dan wajah cantik mungkin aku jadi sebagian dari mereka yang dibunuh pelan-pelan dalam penjara itu. Atau justru karena kedua-duanya aku jadi begini? Ia menggeleng lemah. Mungkin ini akan terus dialami diriku sampai hilang keindahan dan kecantikanku. Dalam keletihan antara sadar dan tak sadar, berbagai kenangan masa-masa lalu melintas di mata yang dipejamkannya. Walaupun masih muda, bagi Ara sejarah penuh dengan rangkaian pengalaman dahsyat. Satu hari yang tak akan terlupakan seumur hidupnya, dia ingat betul terjadi sejak tubuhnya mekar meningkat dewasa. Empat belas! Ia ingat betul, tepat pada hari ulang-tahunnya yang ke empat belas. Terbayang-bayang kembali ia tinggalkan kamarnya, menyelinap di hari gelap. Jam sebelas malam waktu itu. Ia pergi keluar rumah diiringkan oleh lolong anjing herder, lalu keluar gang. Sebuah sedan hitam menunggunya di bawah pohon jalanan. Seorang keluar dari mobil itu. Sampai waktu itu, Ara tak tahu benar siapa sesungguhnya nama Oom Didong yang baru keluar dari mobil sedan itu. Baru lama kemudian diketahuinya, Oom Didong adalah seorang adik pejuang nasional dan anggota Volksraad yang sangat terkemuka. Perawakan orangnya sedang tapi tegap. Kulitnya kuning gading dan hidungnya sangat mancung. Matanya agak kecoklat-coklatan. Begitu indah pria itu—Oom Didong, seperti seorang pangeran dari gedongan kuno. Dialah yang mula-mula membawanya, membujuknya, dan menuntunnya ke panggung “opera” pecahan rombongan Miss Ribut. Malam itu debutnya gilang-gemilang: ia keluar dengan pertunjukan tari-nyanyi “Es Lilin”. Sorak-sorai gegap-gempita. Ah, ah, di mana gaun malam debut itu sekarang? Di mana?
Habis pertunjukan, Oom Didong membawanya ke dalam sebuah rumah. Ia tak tahu di mana. Malam itu ia tidur bersama dengannya—dengan pria gagah dan mempesona— dua puluh lima tahun lebih tua daripada dirinya. Mana Oom Didong sekarang! Dan pria itu membuat baju gaunnya berbercak-bercak dititiki tetesan-tetesan darah. Darahnya sendiri yang membuat ia untuk selama-lamanya kehilangan masa-perawannya. Tetapi ia merasa bahagia. Malam itu baginya merupakan malam yang bagi anak-anak sebayanya masih merupakan impian. Malam itu pula untuk pertama kalinya ia minum bir sampai mabuk. Dan pada subuh hari ia diantarkan pulang oleh Oom Didong, pulang. Gaunnya masih agak lembab basah sesudah tadi malam sebelum tidur dia mencoba kucek-kucek dengan air kran di wastafel titik-titik merah yang jelas melekat di gaunnya.
Malam-malam dahsyat itu masih berjalan terus sampai akhirnya ketahuan ibunya…
Mendadak Ara terbangun terkejut seakan peristiwa itu baru saja dia alami.
Mobil membelok akhirnya berhenti. “Bukan di sini rumahku,” Larasati membantah.
“Kita makan dulu, nona.”
Larasati tak mengerti mengapa sekali ini ia kehilangan kepandaiannya dan menurutkan saja kemauan sopir itu. Keduanya memasuki rumah makan Tionghoa. Mereka duduk di pojok sunyi. Dan sopir itu memulai, “Semuanya binatang, nona, semuanya. Juga aku.”
Larasati menatap wajah sersan Nica di hadapannya itu.
Dia masih muda. Hidung pesek bertengger di wajahnya. Ia tak mengerti maksud si sopir. Ia tetap menatapnya.
“Nona baru kenal daerah binatang ini. Juga aku.”
“Mengapa kau bawa aku kemari?”
“Ingin tahu tentang pedalaman, nona.”
Larasati mendengus. Ia merasa sedang diselidiki. Tetapi menyambut juga, “Kau lebih tahu dari aku,”
“Nona curiga karena pakaianku, karena pekerjaanku. Aku baru seminggu turun dari Papua, dari Sorong. Tidak tahu tentang semua ini.”
“Pergilah sendiri ke seberang.”
“Seberang mana, nona.”
“Seberang kali Bekasi. Kau akan tahu sendiri.”
“Itulah nona, aku mencari hubungan. Aku yakin nona bisa menghubungkan. Kalau tidak sia-sia saja bakalnya. Aku mau larikan mobil itu, dan beberapa kawan ikut serta nanti,”
Mendadak saja Larasati begitu percaya pada orang itu. Perasaannya kembali membimbingnya. Mungkin ia sudah lelah bercuriga-curiga. Tiba-tiba sopir itu menuding ke suatu tempat. Sebuah sedan berhenti di belakang kendaraan yang habis mereka tumpangi.
“Mardjohan,” sopir itu berbisik dan tanpa mengindahkan pendapat Ara, ia tarik tangan penumpangnya itu lari masuk ke dalam dapur. Membayar belanja lari keluar dari samping, lari ke depan masuk ke dalam mobil, menghidupkan mesin, lari kencang-kencang. Lari—tanpa tujuan.
“Binatang itu mengintip!” sopir itu menggeram.
“Kau bukan Nica?” Larasati bertanya.
Anak muda itu menggeleng.
Mobil berhenti di pinggir jalan besar. Keduanya turun.
Masuk ke dalam kampung. Gang kampung telah sangat rusak. Aspalnya pada beberapa bagian telah gundul. Pada beberapa bagian lagi pelapisan batunya telah menjadi lubang di mana mengendap lumpur hitam. Kiri-kanan gang membujur got yang membubungkan gas sampah dan kotoran manusia. Sebentar-sebentar sopir itu menutup hidungnya sambil memandangi Larasati dari samping. Akhirnya tak dapat lagi menahan hati bertanya, “Memang begini buruk kampung, nona!”
“Rata-rata kampung di Jakarta memang begini.”
“Di Kemayoran agak bersih.”
“Tentu di sana tinggal pejabat-pejabat Nica.”
Ia terdiam.
Seorang tua kurus pucat berdiri di bawah tiang listrik. Ia bersarung sampai pada bahunya. Bertopi haji, bertongkat coklat dari kayu melingkar-lingkar.
“Tahu rumah Lasmidjah, kek?”
Orang itu menunjuk. Tetapi sekelibatan Larasati melihat mata tua kakek itu mencuri pandang pada sersan sopir Nica itu. Kemudian menggeleng tak peduli.
Keduanya berjalan terus. Ara menengok ke belakang. Kakek itu mengawasinya dengan mata berapi-api. Tanpa memandang pada sersan Nica di sampingnya Larasati berbisik: “Kau dicurigai, kembali saja kau ke jalan besar.”
Sopir itu tak membantah dan balik ke jalan besar.
Setelah Larasati sampai di tikungan baru ia bertanya pada seorang lagi—seorang nenek yang sedang menyisiri rambutnya yang masih hitam. Kainnya bertambal-tambal sehingga nampak begitu tebal dan susah dipergunakan bergerak. Nenek itu menunjuk pada sebuah gubuk petak di depannya. Jantung Larasati meriut kecil. Itukah rumah ibuku? Ibuku yang kukenang selama ini? Ibu yang selalu mengampuni kesalahan dan dosaku sampai aku jadi bintang film kenamaan? Ia menengok ke belakang mengucapkan terima kasih pada nenek itu. Naik ke atas tangga got dan sampai di beranda berlantai tanah, beratap rumbia. Di sini ibuku tinggal. Semestinya dia hidup senang denganku. Semestinya dia tak perlu bekerja lagi. Aku yang harus kerja untuknya—aku anak satu-satunya.
Di atas jendela beranda terpasang gambarnya yang telah kumal dan dekil —tanpa kaca pigura: Bintang Ara sedang di atas panggung, sedang menyanyi, mengenakan rok dan melirik pada salah seorang penonton. Penonton itu tak ada dalam gambar, tapi Ara masih ingat siapa orangnya. Ia melirik di bawah payung sutera. Payung itu berwarna jingga. Tapi gambar itu hanya hitam. Sebuah kipas menutup bagian bawah dari mukanya, dan waktu itu ia sedang berbisik. Tapi bisik itu tidak terbawa dalam gambar itu. Ia masih ingat pada bisikannya di balik kipas itu: Jangan lupa pada janjimu sebentar nanti. Ah, si Tan itu! Pemuda Tionghoa itu sangat sopan, pemurah. Ia bangga punya kawan seperti dia, begitu pendiam dan pemalu, tetapi bila tinggal berdua saja dengannya, di sesuatu tempat yang kedua-duanya telah setuju, pemuda itu jadi sangat ganas. Larasati jadi singa betina yang juga ganas.
Larasati tersenyum memandangi gambar kumal, dekil itu. Setidak-tidaknya ibu bangga punya anak sebagai aku. Kemudian ia berjalan menghampiri pintu depan. Tapi terkunci pada dua lembar kawat. Ia mengintip dari sela-sela pintu anyaman bambu. Yang nampak di dalam hanya kehitaman. Ibuku tinggal di sarang. Ini bukan rumah. Di negeri matari ini, bahkan sinar matari dia tidak kebagian! Ia terperanjak jauh di atas kursi rotan dobol. Ia bayangkan tubuh tua itu ibunya. Mungkin sudah bongkok setelah setahun ditinggalkan. Mungkin matanya sudah rabun. Dan pendengarannya telah berkurang. Ibu! Apa gunanya kau punya anak. Ah, ibu. Sedang kemakmuran di waktu-waktu lalu yang kuberikan padamu pun hanya hasil maksiat belaka. Dan hidup masih begini riuh dan sulit. Apalagi buat orang setua kau, ibu.
Nenek itu tertatih-tatih bangun dari duduknya di tepi got. Ia datang menghampiri. Duduk di kursi rotan di depan Ara, yang lebih bejat lagi, sambil berpegangan pada tepi meja kayu duren. Mata tuanya mengawasinya. Tapi Larasati pura-pura tak tahu. Ia bertanya dengan suara tuanya: “Cari siapa, sih? Lasmidjah?”
“Benar, nek.”
“Nanti sore jam enam baru datang dia.”
“Dari mana, nek?”
“Kerja.”
Tentu, tak bisa lalai. Dia, mesti kerja. Dia tahu sudah, ibunya cuma bisa jadi babu—paling tinggi! Babu siapa? Babu Belanda?—dia akan tewas dibunuh pemuda. Tidak, tentu bukan babu Belanda. Babu orang Indonesia pun tidak mungkin. Tak bakal mampu orang Indonesia punya babu dalam keadaan begitu sulit beras.
“Bagaimana, nek, di sini? Kelihatannya sepi begini.” Nenek itu tak hiraukan pertanyaan. Malah dialah yang bertanya kagum, “Apanya Lasmidjah sih? Anaknya?”
“Benar, nek.”
“Benar juga kalau begitu Lasmidjah, ya? Kok anaknya begini cakap?”
“Kan ibuku juga cakap, nek?”
Nenek itu tertawa girang. Kembali ia tak pedulikan pertanyaan Ara. Ia kagumi wanita muda di depannya itu.
Akhirnya bertanya, “Siapa namanya sih?”
“Ara, nek, Ara.”
“Ara. Benar juga kata Lasmidjah. Katanya bintang film, ya?”
“Benar, nek.”
“Apa sih bintang film? Anak wayang?”
“Benar, nek.”
“O…o jadi kalau begitu tak punya laki, ya?” Sekilat-kilat menyambar hati Larasati. Orang tua itu tak tahu bagaimana pucat wajahnya. Tetapi sebelum ia bisa menjawab, lelaki tua yang ditanya tadi menaiki tangga got dan masuk ke beranda. Matanya liar seperti tadi. Sebentar mengawasi Larasati, sebentar pada koper yang dibawanya. Sebelum Larasati dapat menangkap maksud kedatangannya dilihatnya tongkat berlingkar itu berayun-ayun. Dan sebelum ia dapat melihat benar tongkat itu, benda itu sendiri telah terangkat. Dan ujungnya gemetar. Ia awasi ujung itu—kian mendekat, akhirnya berhenti bertengger pada dadanya, pada sela-sela buah dadanya. Ia kaget. Apa dia juga mau merayu dengan umurnya setua itu?
Ia angkat pandangnya. Ia tatap mata lelaki tua itu. Mata tua itu menyala-nyala melotot mengawasi dirinya. Ia mencoba bangun. Tapi ujung tongkat itu ditekankan kuat-kuat pada dadanya. Setiap usaha hendak bangkit menyebabkan kursi dobol itu berayun mengancamnya jatuh terbalik.
Mata menyala-nyala itu membunuh mati semangatnya. “Mo, mau diapakan anak itu, Mo?” tanya nenek itu.
“Diam, kau!” gertak kakek itu dengan suara ganas.
“Dia baru datang, kan?”
“Pergi!” perintah kakek. “Tahu? Ini dia Nica perempuan.”
“Bukan. Anak Lasmidjah dia, Mo.”
“Diam kau! Dia datang sama serdadu Nica. Mau bakar kampung kita.”
Larasati mulai mengerti kesalahannya. Tetapi sudah terlambat. Ia mencari akal. Dengan suara pelan-pelan seperti tiada takut ia mulai menerangkan:
“Aku baru turun dari pedalaman.”
“Nica!”
“Bukan Nica. Prajurit kita dalam pakaian Nica tadi. Menyamar.”
“Buktinya!”
“Dia datang lagi nanti. Tanyai sendiri.”
Ujung tongkat itu tertancap pada dadanya sekarang. Mata tua itu tetap melotot padanya. Mereka akan bunuh aku, pikir Larasati.
“Dia anak Lasmidjah,” bantah nenek. “Lihat gambarnya, itu,” katanya lagi sambil menunjuk pada gambar kumal dekil di atas jendela.
“Diam kau, kalau tidak, aku gebrak mulutmu pakai tongkat.” Kembali kakek itu melotot padanya, “Mana buktinya dari pedalaman.”
Larasati bersiap hendak mengeluarkan karcis kereta dari dalam tangannya.
“Ada karcis kereta,” ia bilang.
“Aku tak butuh karcis kereta. Apa buktinya kau bukan Nica?”
Dia cuma ingin bunuh aku, pikir Larasati. Dia haus darah. Dan ia terdiam.
Kakek itu tertawa mengherankan. Kemudian menonjok pada muka Larasati, mengejek, “Lihat itu, sekarang dia diam. Dia diam. Dia Nica!”
Larasati berjuang keras untuk mendapatkan akal. Tak mendapatkan sesuatu jalan pun. Akhirnya berkata menghiba dengan nada menyerah kalah, “Kalau mau bunuh aku, bunuhlah. Tapi aku bukan Nica.”
“Nek! Bongkar itu koper.”
Koper yang tak terkunci itu dibuka oleh nenek. Dua lembar kain batik, empat lembar kebaya, dua lembar house-coat, beberapa lembar gaun, beberapa pakaian dalam yang setengah dekil kuning.
“Dalam tasnya itu!”
Nenek mengeluarkan setangan merah dekil, sebatang sisir, gincu dan sekotak bedak murah. Kemudian empat lembar Ori dari lima ratusan.”
“Uang apa itu? Uang Merah”? Jepang?” gertak kakek.
“Ori,” Larasati menyusulkan suaranya dengan hati-hati.
Mata tua melotot itu kini pindah dari Larasati pada lembaran Ori. Tiba-tiba ia bertanya sambil menggedorkan tongkatnya. “Uang apa itu—Ori?”
Sekaligus Larasati dapat menangkap arti pertanyaan itu. Ori belum lagi banyak dikenal di daerah pendudukan. Memang baru dua hari dikeluarkan oleh Pemerintah Agung di Yogya. Dan keadaan ini yang dipergunakannya untuk menyelamatkan diri.
“Ori—Oeang Repoeblik Indonesia. Baru beberapa hari
“ “Uang Merah” atau “uang Nica” - uang yang dikeluarkan kekuasaan Hindia-Belanda semasa itu untuk menghadapi “ORI”, Oeang Repoeblik Indonesia. keluar. Pengganti uang Jepang. Uang Jepang tak laku lagi. Seratus Jepang untuk satu Ori.”
Tongkat itu jatuh ke lantai tanah, lengan kakek gemetar merampas lembaran-lembaran itu dari tangan nenek. Dibelainya lembaran-lembaran uang itu dengan gugup. Mata tuanya kehilangan pelototannya. Kini berkaca-kaca sayu. Ia ciumi uang itu, tenggelam dalam gelombang perasaan berlebih-lebihan. Selapisan ingus keluar dari hidungnya yang juga telah tua dan beberapa selaputan merekat lembaran uang itu. Ia lupa pada Larasati, pada nenek, pada segala-galanya.
Dengan suara menggigil ia bergumam seperti berdoa pada Tuhan: “Uang jaya! Jaya! Seratus Jepang, satu Republik, uang jaya.”
Sekali, dua, tiga, kakek itu menciumi, “Kau gila, Mo,” nenek menengahi.
“Gila?” kembali kakek itu memelototkan matanya. “Gila, kau bodoh. Kau tidak mengerti. Kalau beras dibeli dua puluh uang Jepang satu liter. Dengan ini cuma dua picis. Kau mengerti?”
Sekarang perhatian nenek timbul. Ia ambil selembar dari tangan kakek.
Kakek itu mengawasi Larasati. Bertanya sopan, “Benar anak Lasmidjah?” dan Larasati mengangguk.
“Benar, tidak mungkin kau Nica. Di sini belum ada uang semacam ini. Apa namanya tadi? Ori?” kembali Larasati mengangguk. “Jadi berapa semua uang ini?” kakek bertanya.
“Dua ribu Ori, dua puluh ribu Jepang.”
“Masyaallah,” sebut nenek. “Kau bisa beli empat rumah.”
“Dari mana uang sebanyak ini?” kakek bertanya.
Kembali Larasati menjadi kalang-kabut. Sekarang baru terpikir olehnya dari mana kapten Oding punya uang sebanyak itu? Ia menjadi bingung. Tidak mungkin gajinya sebagai opsir. Pasti ini uang tidak halal. Buru-buru ia menjawab: “Dari honorarium, kek.”
“Apa itu honorarium? Belanda?”
“Upah main stambul, kek”
“Banyak amat?”
“Di depan para pembesar Republik, kek, para menteri.”
“Kau banyak kenal orang-orang besar kita?”
Larasati mengangguk. Dan berderet di depan matanya para menteri yang dikenalnya. Presiden dan Wakil Presiden, para perwira Tentara Republik, bupati-bupati, residen-residen. Siapa yang dia tidak kenal? Dan siapa yang tidak kenal dia sendiri? Selain kakek dan nenek di depannya ini? Ia menyadari keadaan ini: ia berada di pihak yang menang. Tetapi kesalahan akan membuat ia dalam bahaya kembali.
Ia berdiri dari kursinya. Pura-pura mengawasi seluruh beranda. Kemudian memperhatikan gambar kumal dekil di atas jendela, menurunkannya dan mengamat-amatinya. Menggeleng-geleng puas. Kemudian memperhatikan kakek dan nenek yang sedang menimang-nimang uang… uang sendiri: Ori—uang tanpa bahasa Belanda, mengalahkan uang Jepang dan Merah. Waktu ingat kembali dari mana asalnya uang itu ia menjadi ragu-ragu. Hati-hati dipasangnya kembali gambar itu di atas jendela beranda. Itu uang haram, mesti kukembalikan. Dan ia rindukan suatu kesempatan untuk mengembalikannya pada Markas Besar Tentara Republik Indonesia di Yogya. Oding tidak berhak memilikinya. Apa pun dirinya. Perlahan-lahan ia bereskan kembali kopernya. Mengais-ngais dalam tas tangan. Mengeluarkan selendang merah dekil menyekakannya pada tengkuknya. Kemudian selendang itu diciumnya. Mungkin si pemberi ini telah tewas. Dihirupnya bau tengik membahagiakan itu. Revolusi—dia adalah guru. Dia adalah penderitaan. Tetapi dia pun harapan. Jangan khianati Revolusi! Kembali ia pandangi kedua orang tua itu, yang mungkin beberapa tahun lagi tewas digulung maut. Namun mereka pun meletakkan harapannya pada Revolusi. Betapa mereka mengagumi lembaran uang— perwujudan Revolusi itu.
“Kau lelah,” tiba-tiba nenek itu memperingatkan.
Larasati mengangguk. Ia tidak lelah karena perjalanan. Ia lelah karena turun naiknya perasaan dalam dua hari ini.
“Rebahan saja di baleku.”
“Terima kasih.”
“Jam enam nanti Lasmidjah baru pulang.”
“Jauh kerjanya?”
Tiba-tiba kakek itu menjadi ramah. Sambil menyerahkan uangnya kembali ia menunjuk dengan tongkatnya ke arah jalan besar dan dengan ramah pula berkata, “Tentu tadi sudah kau lewati. Itu di rumah baru, rumah Arab.”
Ibuku jadi babu Arab! Alhamdulillah. Biarpun karena kesalahanku.
“Biar aku cari sendiri sekarang,” kata Larasati.
“Mari aku antarkan,” kata kakek itu.
“Tak usahlah, terima kasih.”
Nenek itu menyerahkan uangnya kembali padanya. Ia tinggalkan koper. Hanya membawa tas tangan, menuruni jenjang got dan dengan gaya jalan sudah menuju ke jalan raya.
Kedua orang tua itu mengawasinya. Si nenek bergeleng-geleng, mengeluh dalam, “Bukan main Lasmidjah. Punya anak begitu cantik. Begitu molek. Berani!”
Kakek mengangguk:
Dan hilanglah Larasati dari pemandangan keduanya. Ia berjalan menunduk menuju ke jalan raya. Hatinya tak henti-hentinya mengucapkan syukur, karena hampir semua orang yang ditemuinya di masa segenting itu tidak menyusahkan perjalanannya untuk bertemu dengan ibunya.
Betapa beruntungnya jadi bintang film terkenal! Lawan dan kawan sama-sama mengenal, sama-sama membutuhkan. Karena itu pula dengan serta-merta ia dapat memaafkan kekasaran kakek. Dia sangat cinta pada Republik, Revolusi— dia mencintai kampung halamannya, biarpun busuk-busuk membubungkan gas lumpur dan kotorannya sendiri. Kasar karena cinta kadang-kadang juga salah. Dia mau ikut menyelamatkan Revolusi dengan cara yang dia kenal. Larasati mengelus-elus dadanya yang masih merasa ngilu habis kena tongkat. Mungkin akan berbuat lebih kasar bila aku di…
“Nona!” seseorang menegur.
Ara mengangkat pandang. Sersan sopir itu berdiri di dekat mobilnya. Ara menghampiri, memberi isyarat agar segera pergi. Orang itu tidak mengerti.
“Pergi!” Ara mengulangi. “Mereka curiga! Salah-salah kau bisa terbunuh. Coba datang malam nanti. Pakai pakaian preman! Rumahku dekat pengkolan gang. Jangan bicara, pergi. Ayoh pergi lekas!”
“Aku khawatir kalau-kalau nona…”
“Aku segar-bugar. Pergi! Juga aku dalam bahaya!” dan dengan gaya seakan tidak terjadi sesuatu apa pun Larasati meneruskan perjalanannya.
Ea) Da di
Sersan sopir itu masih hendak mencoba bicara, tetapi Ara tiada mengindahkannya. Ia jalan terus. Waktu mendengar deru mobilnya, tambah lama tambah pelan dan akhirnya lenyap dari pendengaran, baru ia perhatikan kelilingnya. Rumah Arab itu dengan segera saja ditemukannya.
Ruang dalam rumah baru itu luas, penuh berisikan kursi dan dinding-dindingnya di sana-sini dihiasi permadani kecil-kecil dari nilai murah, gambar-gambar pemandangan padang pasir dan gedung-gedung dari negeri leluhur. Berbeda dari kebiasaan rumah-rumah Arab lainnya, pagar pekarangan depan terbuka. Garasi mobilnya terbuka, tiada mobil di dalamnya selain kaleng-kaleng minyak motor dan sebuah ban tua. Dari ruang belakang terdengar tawa beberapa orang lelaki, ia memasuki sarang keluarga Alaydrus.
“Sepada!”
Suara tertawa berhenti. Seseorang lelaki tinggi hitam berambut mengombak dengan mata kekuning-kuningan dan menjorok di rongga mata, muncul di lubang jendela. Orang itu terkejut. Bergumam, “Ara!”
“Ibuku kerja di sini. Aku mau bertemu.”
“Ara, bukan?” dan Larasati mengangguk.
“Ibumu siapa?”
“Lasmidjah.”
“Lasmidjah? Ibumu itu?” kemudian orang itu nampak terpesona dengan mata hampir-hampir tiada mengedip. Beberapa orang pemuda Arab lainnya keluar dan ikut mengagumi bintang film Ara. Sekaligus tawa lenyap—sunyi. Curiga-curiga mata mereka yang setengah melotot berkilauan seperti bintang di balik mendung tipis. Lambat-lambat pandang mereka membelai-belai seluruh tubuh Ara dari atas ke bawah, dari bawah ke atas berhenti pada dadanya, kemudian naik ke rambut, turun lagi, pulang balik seperti jarum menjahit. Akhirnya pemuda Arab yang pertama menengok ke belakang sambil berseru. “Bu! Babu!”
Seorang wanita tua belum lagi beruban muncul. “Bu!” Larasati berseru pelan.
Orang tua itu terburu-buru membuka pintu depan, menuruni jenjang rumah dan menubruk Ara. “Ara kebangetan kau. Tidak ada kabar tidak ada cerita.”
Kasih sayang ibunya yang tidak pernah putus ini menyebabkan Larasati terus merasa tersiksa bila jauh darinya— biar hanya buat sehari pun! Dan ia telah tinggalkan orang tua itu lebih dari setahun. “Mari pulang, bu. Bilang dulu sama tuan. Aku tunggu di pinggir jalan.”
Dan perempuan itu kembali masuk ke dalam. Larasati membalik diri ke pinggir jalan. Ia tahu pemuda-pemuda Arab itu masih juga berdiri kelap-kelip pada jendela.
Ara membelakangi mereka. Mereka juga kenal aku. Ke mana aku mesti sembunyikan muka kalau ada apa-apa? Beberapa serdadu inlander yang sedang patroli jalan kaki berhenti di depannya, mencoba-coba menggangu. Anjing-anjing itu baik selama bisa diambil manfaatnya, salah-salah dia menggigit dalam keadaan gila. Ia awasi tingkah laku mereka. Akhirnya inlander-inlander itu menyingkir membawa kekalahan moril.
“Mengapa tak bilang kalau mau pulang?”
Ibunya menarik pada bahunya. Keduanya berjalan bergandengan—seperti dua puluh tahun yang lalu, seperti sepuluh tahun yang lalu—seperti sekarang. Ara tak menjawab. Kalau dia tahu bagaimana pengalamannya selama ini… tidak, dia tak perlu tahu. Aku masih cukup kuat untuk menanggungkan semua ini, juga menanggung semua yang masih bakal datang. Dia sendiri sudah cukup menderita buat menyelamatkan aku.
“Rumahku tak layak buatmu, Ara.”
Kembali Ara tak menjawab. Ia sudah tahu. Tapi ia pun lebih tahu ribuan pemuda tinggal di alam terbuka hanya bersenjatakan bambu runcing membendung datangnya serbuan pasukan baja musuh. Apa yang boleh dikeluhkan lagi? Dan perbaikan apa diperoleh dari keluh?
Kakek dan nenek masih duduk di kursi menunggu kedatangannya.
“Idjah! Anakmu bawa duit dua puluh ribu!” teriak nenek itu.
Lasmidjah memandangi anaknya. Dan Ara menggeleng.
“Aku lihat sendiri,” nenek meneruskan.
“Itu uang negara, bukan uangku.”
Nenek itu terdiam. Semua mengawasi Larasati. Senyap sebentar dalam tingkahan puputan angin. Nenek itu berkecap-kecap. “Dia bisa beli empat rumah sekaligus!”
“Rumah ini sudah cukup baik,” susul Ara. “Kalau kita menang perang, semua kita dapat rumah baik. Tapi sekarang negara lebih butuh uang daripada kita semua.”
“Kau punya uang merah?” kakek mendesak. Ara menggeleng. “Uang Jepang?” Ara menggeleng. “Kau bukan bermaksud kerjasama Belanda?” Ara menggeleng. “Tidak? Jadi makan apa nanti?”
Tiba-tiba Larasati menjadi bingung. Pertanyaan itu tak. pernah dipikirkannya sebelumnya. Apa kau mesti minta makan dari ibu yang sudah setengah kelaparan? Apa mungkin? Ia gelengkan kepalanya yang indah. Matanya runtuh di atas ujung selopnya.
Tidak. Ini bukan kesulitan yang pertama-tama. Ini kesulitan biasa. Tidak, aku bilang. Aku tidak akan serahkan diri pada lelaki siapa saja. Itu biarlah dilupakan oleh masa lampau. Sedang dulu pun ia tidak pernah serahkan diri tanpa suka hatinya sendiri. Ia pandangi kakek, ia pandangi nenek, ia pandangi ibunya, ia pandangi dirinya sendiri. Tidak, aku akan berdiri sebagai satu-satunya Ara di tengah-tengah Revolusi.
“Biar aku mengaso dulu,” Ara bergumam. Dan sebelum masuk ke dalam ia pandangi kakek, meminta.
“Beri aku petunjuk, kek.”
Dan kakek itu bergumam kata-kata tidak jelas. Ketiga orang tua itu berpandang-pandangan satu sama lain.
“Apa pikirmu Idjah?”
Juga Lasmidjah masuk ke dalam.
Malam itu lampu minyak tanah tanpa semprong kelap-kelip di beranda. Sebuah menyala di dalam. Larasati dalam house-coat berbaring di bale ibunya. Antara sebentar kepiding menyerang lengannya, di mana kulitnya telanjang tiada terlindung. Dari jauh terdengar suara tembak-menembak gencar, dengan kerabin, dengan senjata otomatik ringan. Ia merencanakan hari esok kini, tapi tak ada sesuatu pun gambaran datang ke dalam kepalanya.
Ibunya tak ada. Cari beras! Itu Ara tahu. Ia telah melarangnya. Tapi orang tua itu tak sampai hati melihat anaknya lapar. Bagaimanapun Larasati tak dapat mencegah orang tua itu hendak membebaskan diri dari perasaan wajib terhadap dirinya.
Dan dalam tas-tangannya tergeletak mata uang dua ribu Ori—sama dengan dua puluh ribu uang Jepang.
Tak pernah sebelum itu ia merasa jiwanya bolong-bolong dan compang-camping—perasaan seorang pejuang bila kehabisan gagasan-gagasan.
Ia mengharapkan kedatangan seseorang sekarang. Kapten Oding pasti dapat menolongnya. Tetapi setelah ia meragukan kejujurannya, ia tak mau mengenangkan opsir gagah itu kembali. Sekarang ia ingin bicara tentang segala hal. Ia benci pada kekosongan ini.
Hari telah mulai gelap sekarang. Tadi ia mandi dalam tempat mandi terbuka yang ditutup hanya oleh tiga lembar kajang. Airnya memang jernih, tetapi lubangnya telah tertutup oleh lumut tebal dan berbagai binatang kecil menari-nari di antaranya.
Bunyi pertempuran di kejauhan telah padam. Sayup-sayup terdengar tong-tong bambu.
Kemudian disambut oleh yang lain, akhirnya menggelumbang bunyi tong-tong dari segala penjuru. Ia tak kenal lagi Jakarta yang sekarang. Ia mendengarkan—hati-hati. Tiba-tiba di kampungnya sendiri meriuh bunyi tiang listrik dipukuli. Suatu suara tegar keras memerintah, “Padamkan lampu! Padamkan!”
Larasati melompat, meniup lampu, lari ke depan dan meniup lampu beranda. Kemudian masuk lagi. Duduk di bale dalam kegelapan. Suara itu terdengar lagi. Tapi kurang keras. Apa yang terjadi? Di Yogya tidak pernah begini. Kembali ia keluar. Malam telah gelap. Tapi langit masih merembang biru hitam dan bintang-bintang bermunculan pudar.
Terdengar suara truk dekat di jalan besar. Agak lebih jauh lagi menyusul bunyi rentetan senjata otomatik ringan. Larasati menghampiri jenjang got, berpegangan pada pagar bambu. Puluhan pasang sepatu berat lari berderap memasuki gang. Terdengar ledakan granat. Sunyi-senyap. Akhirnya menyusul tembakan pistol. Derap sepatu terdengar lagi. Kini suara-suara menghampiri Larasati yang berdiri di balik pagar. Terdengar seseorang terengah-engah berbicara dengan yang lain:
“Selamat semua, kan?”
“Kurang lima.”
“Mestinya truk tadi dibakar saja. Apa kau pikir mereka tahu tempat kita?”
Dan puluhan pasang sepatu itu berderap melewatinya. Akhirnya padam setelah pengkolan gang yang lain. Sunyi sepi. Tiada bunyi. Tiada cahaya. Cuma ada satu suara yang kini terdengar. Dan suara itu suara hatinya sendiri: juga di sini, pemuda berjuang. Sekutu—Belanda, Inggris, setiap hari mendapat kemenangan selangkah demi selangkah. Tapi pemuda tetap melawan. Mereka bertempur. Mereka tukarkan bambu runcingnya dengan senjata api di pertempuran-pertempuran. Sore-sore begini orang mengaso sehabis kerja berat.
“Lampu boleh nyala!”
Ia masuk ke dalam menyalakan lampu. Sumbu itu terbakar cepat dan menyebarkan cahaya ke sekelilingnya. Tiba-tiba bulu tengkuknya meremang. Ada didengarnya gumam perlahan di belakangnya. Ia beranikan diri menengok ke belakang. Terperanjat ibunya duduk di bale dengan mata tertutup bantal. Sepatah dua masih tergumam dari mulutnya. Larasati menghampiri.
“Mengapa, bu?”
Orang tua itu melepas bantal mencoba tersenyum. Tapi nyata matanya tidak ikut tersenyum. Dan bintang film itu mengerti.
“Sudahlah, Bu, jangan jawab. Aku sudah mengerti. Kau tak berhasil.”
“Kau selamanya mengerti, Ara.”
“Mari tidur. Melupakan semuanya.”
“Tidur? Hhh. Tidur, katanya. Di sini tak ada orang tidur, Ara. Kau dengar derap sepatu tadi? Sebentar lagi mereka tinggalkan kampung kita. Jam tiga malam datang lagi. Jam lima pergi lagi. Kau dengar pertempuran tadi. Sebentar lagi lebih hebat. Dekat-dekat jam tiga pagi puncaknya. Di sini orang tidak tidur. Mereka bilang jangan tidur! Dan kalau ada yang terluka, kita kakek-kakek dan nenek-nenek merawat. Kalau ada yang gugur, kita kakek-kakek dan nenek-nenek ini menguburnya. Di pekarangan rumah-rumah kita ini juga.”
“Jadi kita hidup di antara pejuang-pejuang yang hidup dan yang sudah tewas. Memang tidak layak tidur.”
“Kalau tidur, mereka bilang nanti Nica tahu-tahu bakar kampung ini, semua bakal celaka.”
“Ara tidak pernah melihat ada pemuda di sini. Baru tiga orang tua Ara temui.”
“Siang mereka kerja biasa. Malam pergi perang. Ssstt. Dengar ada orang datang.”
“Slekum!” pelan-pelan.
Sekaligus Ara tahu sersan sopir itulah yang datang. Ia bersiap hendak keluar, menyilakan tamunya. Tapi ibunya memegangi lengan pendek house-coatnya. Memperingatkan: “Bukan orang sini. Orang sini tak pakai slekum.”
Ara mencoba melepaskan diri. Tetapi ibunya kembali menangkapnya dan memperingatkan, “Awas bisa celaka kita semua, Ara. Awas kalau pemuda curiga.”
“Aku tahu, bu. Tapi dia sudah selamatkan aku. Kuceritai nanti.”
“Slekum!”
“Ara!” seru ibunya dengan bisikan ketakutan.
Tetapi Ara telah keluar menyambut tamunya. Ia tak salah sersan sopir itu datang dalam pakaian preman. Ia memberi hormat dengan mengangkat tangan. Dan tanpa disilakan telah mengambil tempat duduk. Segera memulai, “Tentu kau tahu, nona, kini tak bisa tinggal lama. Berilah alamat itu.”
“Kau benar-benar?”
“Apa nona pikir aku orang Belanda? Atau Inggris? Atau Amerika? Sedang orang India membantu Indonesia?”
“Tentu kau orang Indonesia sejati. Tapi alamat saja tidak cukup. Aku akan beri kau alamat, dan surat. Kau bisa datang ke jalan Cilacap. Mereka akan kirimkan kau ke pedalaman dengan selamat.”
“Kalau lewat kantor Jalan Cilacap, aku sendiri sudah tahu. Tapi aku bukan hendak masuk ke sana tanpa bukti apa-apa. Aku mau masuk sebagai pejuang.”
“Aku tak mengerti. Kan kau sendiri pejuang?”
Mata sersan sopir itu nampak gugup dan melihat ke sana kemari. Sebentar-sebentar ia intip jarum jam tangan dari balik jaketnya. Ia menggeser. Menatap Ara dengan tiada sabarnya. Kemudian menerangkan, “Aku mau masuk ke sana dengan bukti perjuangan. Aku mau larikan mobil, beberapa pucuk senjata, ban-ban mobil dan lima atau enam kawan.”
Mata Larasati berkilau-kilau mengawasinya. Ia mengangguk-angguk setuju dan sekaligus juga mengaguminya. “Kau sungguh berani. Bagaimana kau akan kerjakan?”
Kembali sersan sopir itu nampak gugup. Sekarang ia angkat tangannya ke atas meja dan mengawasi jam tangannya dekat-dekat. Gugup meneruskan, “Waktuku hampir habis. Tulislah surat itu. Caranya aku sudah pelajari. Juga jalan-jalan yang mesti kutempuh. Tulislah surat itu cepat! Kalau tidak aku bisa dicurigai.”
Larasati bangkit. Tiba-tiba duduk kembali. Dan dengan pikiran bertanya, “Kau punya kertas?” sersan sopir itu menggeleng, “aku juga tidak punya. Besok saja lebih baik.”
Sersan itu menggeleng kasar menyatakan kekecewaannya. Dengan kasar pula ia bangkit berdiri. Menarik tangan Ara dan berkata cepat-cepat, “Baiklah. Besok aku datang lagi. Sediakan jangan sampai ada kalimat yang salah susun. Kesalahanmu mungkin membuat aku binasa. Merdeka!”
Ia dorong kursi reot itu dengan kasar. Dan dengan terburu-buru meninggalkan beranda, memasuki kegelapan, menuruni jenjang got.
Tiba-tiba: “Nyerah!” suara keras memecah kegelapan.
Sersan sopir itu mundur mendaki jenjang. Tetapi sebelum ia sempat bertahan, seorang kanak-kanak belasan tahun melompatinya. Ia terjatuh. Beberapa orang pemuda muncul dari kegelapan. Dalam sekejap ia telah diringkus dengan tangan terikat ke belakang.
Larasati berdiri kejang di tempatnya.
Beberapa orang pemuda berpakaian preman dengan cepat menyeretnya ke beranda. Seorang anak muda, lebih cocok disebut kanak-kanak usia tujuh belasan, yang nampak jadi pemimpin mereka, mendorong sersan sopir itu ke dinding beranda di bawah gambar kumal dekil Larasati. Bahunya didorong demikian rupa sampai menempel pada daun-daun jendela yang tertutup. Karena tak kena cahaya lampu minyak tanah, mukanya yang cekung-cekung kelaparan itu, nampak menjadi kebiru-biruan. Setelah mengamangkan tinjunya pada muka sersan itu—tinju yang kurus kering menulang-nulang— baru terdengar suaranya yang serak menggertak: “Siapa kau!”
Sersan itu mencoba menatap muka pemimpin itu yang telah mendorong dagunya, sehingga pandangannya menengadah pada bagian bawah atap rumbia beranda. Pemuda-pemuda lain mengawalnya dengan mata ganas.
“Siapa kau!” dan sebelum ada jawaban, pemimpin itu telah menggertak anak buahnya. “Mengapa tak kalian geledah?” dan waktu dilihatnya anak buahnya mulai menggeledah tubuh sersan itu, gertakan ketiga yang juga serak, terdengar kembali, “Ayo, siapa kau?!”
“Martabat!”
“Dari mana!”
Orang itu tak dapat menjawab.
“Mana surat dari lurah Republik!” Orang itu tak dapat menjawab.
“Mata-mata?” Pun tak dapat menjawab.
“Jadi dia mata-mata.”
Larasati tak tahu apa ia mesti kerjakan. Ia masih terpukau. Dan matanya kemudian membelalak, waktu salah seorang pemuda di antara mereka mengeluarkan sepucuk revolver dari balik jaket sersan itu dan dengan diam-diam meletakkannya di atas meja, di dalam bayangan pantat lampu.
Dari dalam rumah terdengar suara menyebut-nyebut.
“Kau siapa!” sekarang pemimpin itu mengarahkan gertakannya pada Larasati.
“Dia anakku. Anakku Larasati!” tiba-tiba terdengar jawaban dari dalam rumah dan segera kemudian muncul Lasmidjah dengan rambut kusut masai dan terhenti di ambang pintu.
“Anakmu, mak? Tapi kawan dia ini Nica.” Pemimpin itu menunjuk pada sersan sopir. “Lihat sendiri. Keterangan dari lurah Republik tidak punya. Lihat tuh, revolvernya.”
“Masih baru!” Ia ambil revolver itu dan ia periksa kokangnya, ia cium-cium baunya, ia periksa paruh kokang, kemudian memutuskan. “Belum lagi dipakai. Salah-salah kita sendiri jadi kurban pertama. Cuhh!” Ia meludah ke lantai.
“Aku baru turun dari pedalaman. Dari Yogya.” Larasati menjawab tenang-tenang. Waktu dilihatnya sersan sopir itu memandangnya dengan mata yang meminta pertolongan, segera ia meneruskan. “Sedang dia baru turun dari Sorong, Papua. Dipaksa masuk Nica. Dengarkan dulu. Aku tahu kalian pejuang. Tapi mestinya pejuang pun tahu kesopanan.”
Pemimpin itu mendelik, dan mengawasi Ara dari dekat.
Tapi tak bicara apa-apa. “Biar aku bicara sendiri,” sersan sopir itu menengahi. Cepat mata pemimpin itu beralih pada si pembicara. “Jangan gusar. Yang dikatakan nona itu memang benar. Aku datang padanya untuk minta tolong.”
“Mana bisa? Dia baru datang dari Yogya. Kau dari Sorong. Mana bisa kenal?”
“Dia sopir kolonel Surjo Sentono!” Larasati menengahi. “Surjo Sentono!” teriak seseorang di antara pemuda itu. Sebelum anak-anak itu mendapat kesempatan untuk mengerubuti sersan itu, segera Larasati menyambung, “Benar, pemuda pejuang juga patut mendengarkan. Aku sendiri pun pejuang,” anak-anak itu pun siap untuk menyangkal, tetapi Larasati tahu cara menguasai suasana. Buru-buru ia meneruskan, “Aku kenal dia waktu sepagi ditangkap di Bekasi, oleh kolonel Surjo Sentono sendiri. Dia bawa aku ke penjara atas perintahnya. Tapi dia dan kolonel Drest membebaskan aku kembali. Aku dipaksa main film untuk propaganda Nica. Aku tak mau. Dia,” ia menunjuk pada sersan sopir, “larikan aku dengan mobil kolonel Surjo sampai depan gang. Ada kakek dan nenek yang sudah tahu. Dia datang kemari minta surat dari aku, mau masuk ke pedalaman.”
“Mengapa mesti kau yang bicara? Bukan dia sendiri,” seseorang memotong.
“Mengapa aku? Tidak semua orang pandai bicara. Aku datang kemari juga membawa tugas.”
Orang mulai berhati-hati kini menghadapi Larasati. Mereka hampir-hampir lupa pada sersan sopir yang masih terikat tangannya.
“Tugas apa, mana tandanya?”
“Tanda? Apa tandanya kalau kau sendiri pejuang untuk Republik? Kau juga tidak punya tanda apa-apa, jangan gegabah.”
“Apa tugasmu?” pemimpin itu bertanya dengan suara kurang galak. “Tugasku sudah selesai. Secara kebetulan diberi tugas. Secara kebetulan aku selesaikan waktu di penjara itu juga. Aku sudah temukan orang yang harus kucari. Kakek dan nenek sudah tahu siapa aku. Kau masih curiga juga? Panggillah mereka.”
“Mereka baru rawat Tukidjan”
“Siapa Tukidjan? Mengapa?”
“Kawan seperjuangan. Tewas, kena peluru,” pemimpin itu menyahut segera. “Aku lebih suka mengubur sepuluh orang yang aku kenal, daripada kehilangan seorang dari anak buahku.”
“Sekalipun yang sepuluh yang tak kau kenal itu pejuang juga?”
Pemimpin itu terdiam. Sekilas Larasati dapat mengerti. Pasukan pejuang ini tak punya hubungan dengan kesatuan yang lebih besar, bergerak dengan inisiatif sendiri. Dan pasukan demikian sangat berbahaya, kalau orang kurang hati-hati menghadapinya.
“Tak begitu berguna kalian memeriksa kami, sekalipun aku puji sikap hati-hati kalian. Dan aku nyatakan belasungkawa karena gugurnya seorang di antara pasukanmu.”
Pemimpin dan pasukannya itu kini tak begitu tegang. Mereka mulai ragu-ragu akan tindakannya. Mereka biasa bertindak. Orang perempuan di hadapannya itu begitu berani menentang, dan memberikan keterangan-keterangan, bahkan jawaban-jawaban yang tak pernah mereka jumpai selama ini. Pemimpin itu mengawasi anak buahnya seorang demi seorang. Tetapi semua bungkam. Akhirnya diambil revolver dari atas meja dan diselitkan pada sabuknya.
“Aku tak tahu apa kalian penipu atau tidak. Kami akan coba percaya. Tapi apa jaminan?” akhirnya pemimpin itu bertanya.
“Jaminan!” Ara menukas. “Aku tidak punya apa-apa, mungkin dia,” ia menunjuk sopir itu dengan dagunya. Mendadak sersan sopir itu bersuara, “Apa yang diminta?”
Semuanya terdiam sekarang. Larasati memandangi kawan barunya itu dengan mata berkilau-kilau kagum: pemuda itu tak juga kehilangan kepalanya dalam keadaan segenting itu. Tiba-tiba bintang film itu mendapat pikiran, yang segera juga dilancarkannya, “Aku, kami berdua ini, juga pejuang. Kami berdua juga dapat berjuang seperti kalian. Perjuangan kami saja jaminannya.”
“Kau!” pemimpin itu menuding Ara. “Bintang film, kan? Apa bisa diperbuat bintang film dalam pertempuran?”
“Dram!” Larasati membentak marah. “Tahu apa kau tentang perjuangan bintang film? Sedang para pemimpin bisa hargai perjuanganku, mengapa kau tidak? Apa kau lebih besar dari mereka? Lepaskan ikatan dia. Kalau hanya bertempur, ayoh. Aku juga bisa bertempur di bawah komando yang baik. Kapan kau mau bertempur? Sekarang?”
Pemimpin itu melihat pada jam tangan Martabat.
“Setengah jam lagi.”
“Baik, dia juga ikut bertempur.”
Ara kembali menunjuk Martabat dengan dagunya. “Dengan syarat kalian mesti antarkan dia pulang. Dia bakal banyak berguna bagi perjuangan.”
Pemuda itu mengangguk mengiyakan.
Pasukan pemuda itu diam-diam mengawasi kedua orang itu, tak tahu apa yang mesti diperbuat. Melihat itu Ara segera menyerbu untuk menguasai suasana: “Malam ini kami ikut bertempur. Mengapa diam semua?”
“Ara!” seru ibunya.
“Apa yang ditakuti, bu? Kita semua hidup terus-menerus dalam ketakutan. Apa kalian biasanya ketakutan? Tidak ada. Kalau Revolusi menang, tidak seorang pun perlu takut lagi. Mari berangkat!”
“Ayoh!”
Dan seperti selamanya dalam perjuangan, mereka bersiap-siap terus, selalu bersiap-siap. Bersiap untuk menyerang dan diserang, bersiap untuk merdeka seratus persen.
Tiba-tiba Larasati tertegun. “Mengapa?” pemimpin pasukan bertanya. “Pinjami aku celana panjang!”
“Semua hampir saja meledak tertawa. Tetapi melihat wajah Ara yang bersungguh-sungguh, mereka terpaksa bersungguh-sungguh pula. “Apa jawabmu?” Larasati mendesak. “Cuma yang ada pada badan kami inilah pakaian kami. Dengan rok panjangmu itu pertempuran tidak akan dipengaruhi. Mari kita pergi.”
“Ke mana?” tanya Larasati sambil menaksir-naksir adakah pakaiannya itu cocok untuk dipergunakan bertempur. “Kami telah banyak kehilangan anak buah, karena tidak lagi menyerang secara teratur. Kita akan cegat patroli-patroli. Cuma itu.” Pemimpin itu kini menatap Martabat. “Bagaimana kau?” tanyanya kemudian. “Aku akan ikut bertempur dengan kalian. Itu kalian sudah dengar dan tahu. Berikan revolver itu padaku.”
“Buat apa? Kita tak bertempur dengan revolver. Tidak pernah.”
“Beri aku senjata yang lain.”
“Kau dan wanita ini…,” ia tak meneruskan, “Ayoh!”
“Angkat house-coatmu tinggi-tinggi, Ara” Lasmidjah berpesan.
Mereka memasuki kegelapan malam. Dari suatu jarak terdengar tiang listrik dipukuli pelan dan berirama.
“Ada patroli mendekati kampung kita,” terdengar suara dalam kegelapan.
“Bukan mangsa kita,” seseorang menyambut. Seseorang mendeham, kemudian menyatakan penda- 94 maree—mara ia patnya. “Kalau kita serang patroli di kampung lain, kampung orang itu yang dibakar. Suatu kali pasukan kampung lain akan serang patroli di sini dan kampung kita dibakar. Sama saja akhirnya. Lebih baik serang saja patroli itu.”
Tak ada yang menyahut.
“Patroli itu tidak lebih dari tiga ratus meter dari tempat kita sekarang.”
Larasati berdebar-debar. Pemimpin itu menaruhnya berjajar dengan Martabat dan ia sendiri mengiringkan dari belakang, dengan revolver di tangan kiri. Ara menggandeng kawannya dengan tangan menggigil. Dan tangan kawan itu hangat. Tangan kirinya mengangkat house-coatnya. Apa aku dapat kerjakan dalam pertempuran? Senjata aku tidak punya, silet pun tidak. Batu pun tidak.
Seluruh kampung telah ditelan kegelapan.
Seseorang berlari-larian seperti kucing dari mulut gang menuju pasukan itu.
“Mereka menghampiri kita.” Bisiknya terengah-engah. “Mereka sudah kelihatan. Bukan totok, inlander semua.”
“Kalian lima orang di sana, bukan?” terdengar suara pemimpin itu. “Pergi dahului. Tinggal di ujung jalan sana, sebelah kiri, aku sendiri di sebelah kanan. Jangan serang patroli itu. Kalian hanya serang bala bantuan yang datang. Ngerti?” Mereka akan bawa bala bantuan dengan truk. Jangan granat truk itu pada mesinnya. Jangan di tengah-tengah geladaknya. Persis antara kabin dan geladak. Ngerti! Ini mangsa bagus. Bagus sekali. Jangan sampai salah lempar. Serang truk yang di tengah-tengah yang pertama dan kedua biarkan lolos. Ngerti? Ayoh cepat. Dului mereka!” Anak yang tak nampak tampangnya itu lari. Bertambah jauh larinya, bertambah berdegup jantung Larasati.
“Karim! Kau dan regumu berangkat. Serang mereka di jarak antara mulut gang dengan tempat regu Sulaiman tadi. Kau masih ingat tempatnya. Suroso dengan tiga granat sekaligus. Satu di tengah-tengah mereka. Dua di pinggirnya. Atur yang baik-baik. Salah-salah bisa konyol. Ayoh cepat berangkat.”
Yang diperintahkan segera lari bersama regunya. Kini tinggal hanya tiga orang: Pemimpin, Larasati, dan Martabat. Sesampainya di mulut gang, terdengar pemimpin itu berbisik-bisik: “Jangan buat aku curiga. Sedikit saja kecurigaan, kepala kalian pecah. Jangan tengok ke belakang. Martabat! Kau dapat bagian dua granat. Kau serdadu, bukan? Kau tahu caranya?” Tanpa menengok Martabat menerima granat itu. “Tidak peduli lagi aku. Mungkin kampung ini dibakar! Beberapa menit lagi. Hah! … Benar, biarlah. Kalau kelak kita mendapat kemenangan mutlak, kita akan bangunkan kembali. Bukan, Martabat?”
“Benar. Lagi pula apa gunanya pertahanan kampung buruk berbau busuk ini. Biar mereka bakar. Kita akan bangunkan gedung-gedung.”
Ketiga-tiganya mengendap-endap menghampiri mulut gang. Lampu senter mereka mulai nampak bertebar-tebar menerobosi tempat-tempat gelap.
“Kurang ajar. Biasanya tak bawa lampu senter. Ayoh masuk di bawah jembatan got. Tabat! Kalau mereka lihat kita, jangan ragu-ragu berikan ubimu…”
Mereka merangkak masuk ke bawah jembatan got yang panjangnya hanya dua meter. Larasati dengar jelas-jelas nafas kedua pemuda itu bersahut-sahutan. Panjang-panjang. Dan ia sendiri pun nafasnya tak kalah panjang-panjang. Gas got Dua… n yang bercampur dengan gas kotoran manusia itu membumbung tebal, mencekik nafas. Keringat-keringat dingin membasahi punggung Ara. Apa aku kerjakan kalau pertempuran terjadi? Menjerit? Apa gunanya jerit? Suara takkan takutkan mereka. Jantungnya terus berdegup kencang. Ia rasai betapa dadanya serasa hendak pecah. Tambah menghampiri sorotan lampu senter, tambah ia rasai betapa daging pantatnya mulai bergerak-gerak tiada terkendali. Akhirnya pantat itu berbunyi seperti orang bertepuk tangan.
“Jangan takut. Duduk biar tidak berbunyi. Kau tidak punya dendam pada mereka, karena itu takut. Kau mesti pikir, bagaimana orang-orang lain mereka bunuh. Kau harus bunuh mereka,” bisik pemimpin itu. “Jangan anggap mereka itu manusia berakal. Pandang saja sebagai ayam-ayam yang datang ke dapur. Beri sedikit jagung, mau? Dan mereka tewas. Cuma begitu saja. Lebih tidak. Kau takut Tabat?”
“Aku pernah bertempur.”
“Suaramu gemetar. Kau tidak punya rasa dendam? Kalau orang cintai tanah airnya dia mesti dendam pada musuh tanah airnya. Dia takkan takut. Kau benar-benar mau berjuang buat tanah airmu?” ia tak meneruskan. Kemudian bicara pada diri sendiri. “Lihat, mereka datang, orang-orang celaka. Hari ini mereka mati—hanya buat sesuap nasi. Bodohnya, kalau mereka lapar dan mau makan sekarang ini, umurnya tak bakal panjang. Awas, bagaimanapun mereka mau bunuh kita. Demi sesuap nasi. Mengapa kita biarkan hidup? Mereka mati! Berapa menit lagi. Hah…”
Sepatu bot mereka mulai nyaring terdengar. Sorotan lampu senter mulai berjatuhan di samping menyamping jembatan got. Dari suatu jarak terdengar percakapan dengan nada tertahan: “Kalau ada serangan tiba-tiba?”
“Sini daerah aman. Tak pernah terjadi apa-apa.”
“Sttt. Jangan ngomong tentang serangan.”
Mereka berjalan terus, akhirnya melewati jembatan. “Sekarang kita cegat di bagian kanan. Mari berangkat. Kalian ke depan.”
Mereka keluar dari got dalam keadaan setengah basah dan jalan melangkahi sejengkal tanah antara bibir got dan pagar. Sampai di pertigaan besar pemimpin itu memerintahkan Martabat naik ke atas pohon asam.
“Lepaskan granat pada truk atau pasukan yang datang. Jangan ragu-ragu. Aku awasi kau dari bawah. Aku akan tembak kau kalau tidak patuh.”
Larasati mengawasi Martabat memanjat pohon besar itu dengan susah payahnya.
Martabat telah hilang ditelan dedaunan pohon asam yang lebat.
“Ayoh!” pemimpin pemuda itu menarik bahu Larasati. “Sini bukan tempat ngelamun. Kau mesti tiduran di pinggir jalan sana, seperti orang luka parah.”
Larasati menggigil tangannya.
“Kau takut?” tanyanya kemudian.
“Aku takut.”
“Apa gunanya takut? Setiap saat aku sendiri bisa bunuh kau.” Dan ditariknya tangan wanita itu ke pinggir jalan, got berlumpur. “Kenapa anak-anak itu tidak juga menyerang?” ia berbisik seorang diri.
Tetapi sementara itu Larasati masih sibuk dengan ketakutannya. Ia tak dengar pemuda itu mendekatkan bibir pada kupingnya. Bertanya: “Masih takut?” Dan waktu wanita itu tiada menjawab, ia menepuk-nepuk bahunya.
Dari kejauhan terdengar seorang bayi menangis ngilu.
“Kau punya anak?”
Pertanyaan itu mengagetkan Larasati untuk ke sekian kalinya. Anak! Sebelum Ara sempat menjawab, pemimpin pemuda itu telah meneruskan: “Ingat, buat dialah kami semua rela mati. Kami semua tidak pernah tidur selama ini—satu demi satu kawan-kawan kami tewas,” tiba-tiba pemuda itu bertanya lagi, “Kau punya anak?”
“Belum.”
“Kalau kau punya anak kau akan mengerti lebih banyak apa kataku. Mengerti? Juga buat anakmu yang belum lahir kami lakukan perjuangan ini.”
Larasati tersedan-sedan. Ia teringat pada opsir Jepang dulu, dua tahun yang lalu. Waktu itu ia duduk di hadapannya. Belum lagi tengah malam. Jepang itu mengeluarkan sebutir pel dari dompetnya. “Mengapa?” Ara bertanya. “Kau bakal berbahagia dengan pel itu.”
“Bahagia?” Jepang itu menyeringai kemudian meneruskan: “Buat selama-lamanya kau tidak bakal melahirkan anak.” Ara tak peduli. Tapi mengapa sekarang ia selalu rindu pada anak yang belum pernah dilahirkannya sendiri? “Mengapa menangis? Apa kau pikirkan? Tidak rela berada di sini?”
“Buat anak yang belum kulahirkan itu, kalian sudah berjuang,” bisik Larasati di tengah-tengah sedannya. “Buat mereka, bayi itu. Kau bahagia dengan pel itu?”
“Bahagia? Kau sendiri dapat apa?”
“Kami dapat peluru. Besok atau lusa.”
“Tidak bakal menyesal?”
Ia tertawa tergumam. Tiba-tiba minta perhatian. “Dengar!” Kedua manusia itu diam-diam mendengarkan. Angin malam menghembus puncak pepohonan di sepanjang jalan, berdesah, dedaunan berdesau-desau. Langit di atas bertambah hitam, tapi bintang-bintang bertambah kuning. Dari jarak yang terlampau jauh, sayup-sayup terdengar letusan-letusan meriam. Dalam bayangan Larasati muncul daging-daging muda ditembusi pecahan mortir dan peluru, dan setiap pemilik daging muda ini juga ingin hidup bahagia dan sejahtera. Cepat bayangan itu berubah memunculkan bayi-bayi, ribuan bayi, tapi tak seorang pun di antara semua itu boleh disebut anaknya. Ia menarik sedu-sedan: bahkan dalam mimpi pun ia tak pernah punya bayi.
Pemuda itu menepuk kembali bahu Larasati dan berbisik hampir-hampir tak terdengar, “Buat setiap bayi yang sudah, dan yang belum dilahirkan, kita semua rela tewas— bayi-bayi yang kita semua sama sekali tidak kenal, tidak pernah lihat, tidak pernah dengar tangisnya.” Ia diam lagi. Kemudian dengan tiada sabarnya mendesis, “Mengapa lama benar anak-anak itu? Mengapa tak juga menyerang?”
Kembali sunyi-senyap.
Tiba-tiba terdengar ledakan keras. Segera menyusul rentetan senjata otomatik ringan, kerabin, dan pistol. “Mengapa cuma satu granat?”
Ledakan granat sekali lagi. Sekali lagi, sekali lagi. Senjata otomatik pada bungkam, hanya kadang-kadang terdengar letusan kerabin.
“Bagus, peleton itu sudah musnah. Kau masih takut?”
“Tidak.”
“Kalau hendak takut, takutlah sekarang. Tadi cuma permulaan.”
“Tidak, aku tak takut lagi.”
“Karena kita menang? Salah, perjuangan selamanya mengalami menang dan kalah, silih berganti. Kalau kau menang, bersiaplah untuk kalah, dan kalau kau kalah, terima kekalahan itu dengan hati besar, dan rebutlah kemenangan.”
Kembali terdengar tangis bayi. Sebentar kemudian padam. Nyata mulut bayi itu disumbat mulutnya oleh tangan penjaganya.
Sayup-sayup terdengar langkah sepatu berat berlari-larian. Tambah lama, tambah dekat. Kembali jantung Larasati berdegupan. Dari kejauhan dilihatnya seorang serdadu inlander lari dengan senjata otomatik ringan di tangan kanannya. Lari terus tanpa menengok. Tambah dekat tambah nyata pipinya berlumuran darah. Larasati mengetahui pemimpin pemuda itu membidikkan revolvernya ke arah dada pelarian terluka itu, Tiba-tiba timbul iba wanita itu. Begitu terluka! Begitu seorang diri dalam kepungan maut.
“Jangan, dia sudah terluka.”
“Diam. Besok atau lusa dia lukai anak bayi itu. Kasihan pada orang yang mau bunuh kita? Perhatikan kanan jalan kau!”
Pelarian itu kian lama kian menghampiri.
“Aku bunuh kau anjing!” bisik pemimpin itu. “Aku bunuh!”
Larasati kembali menggigil. Kepalanya tak mau menengok ke arah kanan jelas, seperti diperintahkan oleh pemimpinnya. Matanya terpaku pada Pipi yang ditembusi peluru granat dan darah yang mengucur ke atas bahu kemejanya. Dengan sendirinya tangan Larasati menahan lengan pemimpin itu untuk mencegah penembakan. Pemuda itu menghen tak tangan Larasati. Mendengar itu pelarian itu segera memberondongkan peluru ke arah datangnya bunyi itu. Pemimpin itu menembak dada pelarian itu. Tetapi pelarian itu terus lari, lari dengan pangkal lengan atas tersobek peluru dan darah baru mengucur sejadi-jadinya. Senjata di tangannya jatuh tergeletak di tengah jalan. Ia terus lari. Kembali pemimpin itu menembak. Tiba-tiba pelarian itu berhenti dengan kedua lengan terangkat sedikit, kemudian lututnya mematah, akhirnya dengan cepat jatuh berlutut, dan dengan cepat pula punggungnya jatuh ke belakang. Ia tak bergerak-gerak.
“Mampus! Kaya tikus saja mampusnya! Kau lihat!” Tapi hanya sedan terdengar dari mulut Larasati.
“Kau tangiskan orang semacam itu? Ingat pada anak-anak kelak. Jangan pada dia. Dengar, kau memang patut menangis kalau anakmu kelak jadi binatang semacam dia. Sekarang tidak ada alasan untuk menangisinya.”
Tapi Larasati tambah bersedan-sedan.
“Mengapa kau? Kau tangisi dia?”
“Tidak.”
“Kau menyesal ikut bertempur?”
“Tidak!”
“Kalau begitu, diam. Diam, kataku.”
Dari kejauhan terdengar tembakan senapan mesin. Tambah lama, tambah mendekat. Kemudian menyusul deru truk. “Kau di sini saja!” kemudian pemimpin itu melompat keluar dari persembunyiannya. Menghampiri mayat serdadu inlander itu, mengambil senjata dan peluru yang terangkum pada sabuk pelurunya. Berdiri melihat kelilingnya sambil bersiap-siap dengan senjata rampasannya.
Tembakan senapan mesin kian lama, kian menghampiri —tembakan untuk menakut-nakuti. Larasati kembali menggigil. Kurang cepat sedikit pemimpin pemuda itu pasti tewas. Tetapi anak itu masih juga berdiri di sana, mengeluarkan sebuah benda hitam dari balik bajunya. Membakar dengan korek api sesuatu pada benda hitam itu, dan menaruhkan benda itu di bawah tubuh mayat itu. Kemudian baru ia berlari-larian kembali ke tempat persembunyiannya. Tembakan senapan mesin itu terus gencar dan mendekati. Juga dari kejauhan menyusul tembakan senapan mesin lain.
“Kalau kau takut, takutlah sekarang.”
“Apa kau pasang di bawah kurban itu?”
“Granat Jepang.”
Kembali Larasati tersedan-sedan. “Kau takut benar?”
“Tidak.”
“Lantas apa yang kau tangisi?”
Larasati menunjuk pada kurban yang tergeletak tak bernyawa di tengah jalan.
“Dia?”
“Bayinya.”
Pemimpin pemuda itu terdiam. Deru truk kian menghampiri bersamaan dengan makin derasnya tembakan senapan mesin. Anak muda belasan tahun itu, seperti seorang ayah mengasihi anaknya, menepuk bahu Larasati.
“Kalau dia ada bayi, bayinya aman di rumahnya.”
“Dia kehilangan bapaknya.”
“Juga untuk bayi dia kita berjuang.”
“Kau bisa menembak?” pemuda itu mendesak.
“Tidak.”
“Nah, pergunakan revolver ini. Pergunakan kalau kau terkurung. Tarik saja pelatuknya, arahkan ke perut. Kalau kau tertangkap kau juga ditembak. Jangan sampai tertangkap!”
Sinar lampu dalam truk musuh itu dengan cepat menghampiri dan telah siap untuk membelok. Peluru senapan mesin dihamburkan terus-menerus ke tempat-tempat gelap. Pemimpin pemuda itu menekan kepala Larasati ke bawah. Truk itu dengan bunyi menjerit membelok dengan kencangnya, kemudian tiba-tiba berhenti di tempat mayat itu tergeletak. Sebuah truk musuh lalu datang menyusul dengan tembakan senapan mesin ke atas. Sementara itu serdadu-serdadu dalam geladak. truk pertama yang berhenti terus-menerus menembak ke kiri dan ke kanan. Beberapa orang turun dari truk untuk memeriksa bangkai itu.
“Mengapa granat itu tidak juga meledak? Mengapa Tabat tidak mulai menyerang truk kedua? Goblok!”
Larasati jongkok di dalam lumpur. Kakinya tiba-tiba saja menjadi lemas. Tiba-tiba terdengar ledakan hebat. Granat Jepang itu akhirnya meledak juga. Api menyemprot ke atas, dan sebentar menerangi daun asam tempat Martabat bersembunyi. Sekali lagi terdengar letusan granat.
“Tabat bukan pengkhianat,” bisik pemimpin itu. “Kau jangan menembak!”
Secepat kilat pemuda itu mengambil granat nanas dari balik bajunya, menggigit calingnya dan membuangnya dengan giginya. Tanpa mengindahkan tembakan senjata otomatik ke tempat-tempat gelap, ia berdiri melemparkan granat pada lambung truk yang segera kemudian meledak dan ia kemudian cepat runtuh ke bawah.
“Jangan takut,” ia bergumam. Tapi Larasati dengar betapa suaranya gemetar. Sekarang terdengar sepatu berat melompat turun dari truk. Pemimpin itu telah menggigit caling granatnya yang kedua.
“Bangun. Lihat bagaimana tingkah mereka.”
Larasati bangun. Ia lihat bagaimana serdadu-serdadu itu turun dari pantat truk. Ia dengar berbagai macam orang kesakitan. Ia pandangi pemimpin pemuda itu. Tiba-tiba pemuda itu melemparkan granatnya. Cahaya menyembur terang. Dan dilihatnya pelipis pemuda itu luka panjang. Dan luka itu mengucurkan darah.
“Kau kena!” bisik Larasati.
“Kena pecahan granatku sendiri. Tapi mereka kena lebih banyak.”
Sekilas Larasati melihat serdadu-serdadu yang baru turun dari pantat truk itu sama menjelempah di jalan raya. Beberapa orang yang masih selamat lari menyelamatkan diri. Truk musuh kedua mengalami nasib yang sama. Juga yang masih selamat melarikan diri ke mana-mana.
“Ayoh keluar!” pemimpin itu memerintah. Ditariknya tangan Larasati. Keduanya meninggalkan tempat persembunyian. Tabat! Turun cepat! Segera setelah sampai di atas ia tembakkan senjata otomatik rampasan itu pada pelarian yang pontang-panting tak ketentuan. Beberapa orang di antaranya rubuh merangkak-rangkak, sebagian terus melarikan diri, sebagian melingkar di atas jalanan aspal.
“Tabat, cepat mereka akan datang lagi, ia melompat menghampiri kurban-kurban itu dan menembakkan senjatanya yang berentetan pada mereka, kemudian bersama-sama dengan Larasati mengumpulkan peluru dan senjata yang tidak terbawa selain dari senapan mesin yang bengkok di atas kabin truk. Juga Martabat ikut mengumpulkan senjata dan peluru yang tercecer. Kemudian mereka lari menuju ke gang. Dari jarak yang tidak jauh terjadi ledakan-ledakan granat senjata-senjata otomatik. Tapi seperti halnya dengan pertempuran tadi. Juga tembakan-tembakan itu akhirnya dipadamkan oleh mengamuknya granat.
“Kawan-kawan kita sedang bertempur!” bisik pemimpin itu dalam hatinya.
“Kita mesti bantu mereka?” Martabat bertanya.
“Mereka berpengalaman,” dan Larasati dengar dengan nyata bagaimana suara itu terdengar lemah dan gemetar. “Ambil bawaanku ini.”
Mereka sampai di mulut gang. “Tabat, ambil bawaan nona ini juga. Jalan dulu kau.”
Larasati menangkap tangan pemimpin itu yang diulurkan kepadanya. Dipapahnya pemuda itu dan dirasainya tubuh itu kian lama kian menjadi berat. Dengan tangannya yang sebelah ia seka darah yang meleleh-leleh pada pelipis pemuda itu.
“Biarkan. Biarkan,” pemuda itu menengok. “Berapa kiranya musuh yang tewas tadi? Ada dua belas?”
“Aku tak sempat menghitung.”
Pertempuran di jarak sedang itu sudah padam. Dan Larasati mendoa dalam hatinya, hendaknya semua dapat kembali dengan selamat.
“Tidak. Tidak kurang dari dua belas.” Ia diam sebentar. Kemudian meneruskan, “Kau ingat kataku tadi? Yang menang mesti bersiap-siap untuk kalah.”
“Aku ingat.”
“Jangan lupa.”
Kini Larasati tak dapat menahan berat tubuh itu yang kian lama bukan saja menjadi sangat berat tapi juga kian panas dan membara.
“Nona, malam ini aku kalah.”
“Kalah? Kau menang. Kita menang.”
“Malam ini sampai ajalku, nona.”
Bunyi pipa celananya yang bergemang lumpur itu kian lama, kian laju mengikuti langkahnya yang sendat-sendat. Akhirnya ia tak melangkah lagi. Larasati mencoba sekuat dayanya untuk menyeretnya. Pemimpin itu tak bicara lagi.
“Kau lelah?” Tak berjawab. Dan ia terus menyeretnya.
Sampai di depan rumah ibunya, Martabat datang menolong. Pemimpin itu, pemuda yang kurus berumur belasan tahun itu, diletakkan di atas ambin Lasmidjah. Larasati menyeka pelipisnya dan menyuruh ibunya mengambilkan air bersih.
“Bukan di situ,” anak itu berkata perlahan sekali. “Perutku.”
Larasati memeriksa perutnya. Ia terbelalak. Darah mengalir dari sana, turun ke pipa celananya bercampur dengan lumpur.
“Sungguh sayang aku kena granatku sendiri. Kau tidak apa-apa nona?”
“Tidak.”
Anak itu membuka matanya. Menatap wajah Larasati dalam keremangan lampu minyak tanah. Meliuk-liuk menahan sakit. Kemudian berkata perlahan-lahan, “Kau tidak takut bukan?” Larasati tak dapat menjawab. Ia tak tahu apa yang mesti dikerjakannya. “Tak perlu lagi tolong aku.” Suaranya kian perlahan. “Kau tidak takut lagi, bukan? Jawablah.”
Tak ada sesuatu apa pun yang dapat dikatakan oleh Larasati selain menggeleng. “Tak perlu takut. Kau harus mendendam. Kita memerlukan dendam.” Dan ia tak bicara lagi. Nafasnya pun tak terdengar lagi.
Seperti hujan disentakkan dari langit, Larasati menggigil, menjerit. Anak itu mati. Ia baru mengenalnya, namun tiada ternilai cintanya padanya. Begitu cepat datangnya cinta itu. Cinta untuk pertama kali dalam hidup. Beberapa jam yang lalu pemuda itu masih dianggapnya sebagai benggolan gerombolan pembunuh. Ah, anak semuda itu. Sepuluh atau sebelas tahun lebih muda dari diri dan tubuhnya sendiri. Kalau umurnya panjang aku rela melakukan segala perintahnya.
Beberapa orang kakek dan nenek mengurusnya, membawanya ke Rumah Sakit Umum Pusat di Salemba. Dan waktu anak-anak lain datang, mereka menundukkan kepala berangkat lagi memasuki kegelapan membawa senjata-senjata rampasan.
Larasati terduduk kejang di ambin. Air mata meleleh sejadi-jadinya. Tidak, tidak mungkin Revolusi kalah, dengan pemuda-pemuda semacam itu, pemuda sekeras itu. Kalau Revolusi kalah, bukan karena mereka kurang berjuang. Kalau Revolusi kalah pasti karena para penguasanya yang berkhianat!
Larasati seperti orang kehilangan akal. Pemimpin pemuda beserta senjata-senjata itu telah diangkut pergi. Ke mana? Ia tak tahu pasti. Ia sadar kembali waktu Martabat datang menghampiri dengan takut-takut bertanya, “Ke mana aku pergi sekarang?”
“Kau mesti pergi,” Lasmidjah memperingatkan. “Kampung ini dalam bahaya. Susul mereka, sebagian pergi ke rumah sakit. Mungkin anak itu tertolong.”
“Aku pergi, nona.”
“Tentu kau mesti pergi. Besok kau belum bisa datang kemari.”
Nampak Martabat menjadi ragu-ragu, tapi akhirnya balik kanan jalan dan lenyap ke dalam kegelapan.
“Tidurlah kau, Ara.” Tapi Ara tak dengar. Pikirannya mengembara mengikuti anak muda yang baru ditemuinya dalam hidupnya, anak muda yang begitu keras sampai-sampai pada kata-katanya, tindakannya, caranya menghadapi maut. Matikah dia? Mati? Bahkan namanya pun ia tak kenal. “Mandilah kau, Ara. Pakaianmu penuh lumpur.” Ara tak dengar. Lasmidjah bangkit. Ditariknya anaknya dibawa ke tempat mandi. “Matikah anak itu, bu?”
“Rumah Sakit biasanya menolong mereka yang ikut bertempur, lebih baik daripada yang lain-lain.”
“Ke mana yang lain-lain pergi, bu?”
“Biasanya mengungsi. Kapan-kapan mereka akan datang lagi. Sebagian anak sini juga.” Sehabis mandi Larasati merasa segar sedikit. Mereka berdua bertiduran di atas ambin yang kurang dari satu meter lebarnya. Perlahan-lahan Lasmidjah memulai: “Benar-benar kau ikut bertempur tadi?”
“Ya.”
“Kau tidak takut?”
“Takut.”
“Kau tidak menangis?”
“Menangis.” Lasmidjah tertidur. Malam terus berjalan, melewati tengah malam lenyap, Manan map digantikan pagi—tanpa atau dengan pertempuran. Juga Larasati jatuh tertidur, betapa pun pengalaman terakhir tadi mengguncangkan hatinya. Orang-orang yang mati tanpa boleh meminta ampun sedikit pun juga, sekarang ikut serta dengannya di dalam mimpi-mimpi dahsyat.
Tiba-tiba pintu dinding depan dipukul dan ditendang-tendang orang dari luar. Larasati membuka matanya. Ia dengar langkah-langkah kaki mondar-mandir dengan sepatu-sepatu berat. “Ayoh, binatang! Buka pintu!”
“Apa itu, bu?”
“Biasa.”
“Apa?”
“Belanda datang menggeledah.” Kedua wanita itu pun bangun, membuka pintu. “Keluar! Semua orang keluar! Ayoh cepat. Aku tembak perutmu kalau lambat.”
Diketahuinya sekarang, langit telah cerah dan bumi telah memperlihatkan permukaannya. Waktu kedua wanita itu telah berada di gang, ternyata sudah banyak kakek-kakek, nenek-nenek, dan kanak-kanak, wanita muda dibariskan di gang itu pula. Beberapa orang serdadu Belanda masuk ke dalam rumah dan mengobrak-abrik segala yang ada di dalam. Larasati ingat pada uang negara yang ada dalam tasnya. “Cari apa tuan?” Lasmidjah berteriak pada serdadu-serdadu yang ada di dalam rumah.
Seorang serdadu inlander yang mondar-mandir menjaga barisan nenek, kakek, wanita, dan kanak-kanak itu menghampiri Lasmidjah dan menempeleng mulutnya. Larasati menjerit. Tapi segera Lasmidjah menatap muka anaknya. Berkata, “Mengapa menjerit? Besok atau lusa mungkin tidak ada kesempatan lagi menempeleng nenek!”
“Diam anjing!”
Orang yang mengobrak-abrik perkakas rumah masih juga sibuk, menendang-nendang kaleng melempar-lemparkan kursi dan menendangi lemari yang terkunci sampai pecah pintunya.
Setengah jam kemudian penduduk digiring dalam kawalan senjata api bersangkur ke jalan raya: kekek, nenek, wanita muda, dan kanak-kanak itu. Matari dengan cepat mendaki langit. Keringat mulai meleleh pada tubuh orang-orang dijemur itu. Bayi-bayi mulai menangis.
“Mau diapakan kita ini?” Larasati bertanya pada ibunya.
“Diapakan? Mereka tak tahu apa mesti dikerjakan.”
“Siapa itu buka mulut?”
Tak ada yang menjawab.
Sebuah jeep datang dari arah di mana pemimpin pemuda semalam menembak serdadu pelarian. Dengan jeritan yang mengilukan jeep itu berhenti di kepala barisan. Maka keluarlah tiga orang serdadu. Seorang opsir dan seorang yang tinggi besar dalam pakaian aneh, seperti sarung guling. Hanya pada mukanya sarung guling itu dilubangi sehingga orang di dalamnya dapat melihat ke luar, tetapi orang di luar sarung guling itu tak dapat mengenalnya.
Opsir Belanda itu bicara dengan bahasa Melayu tangsi, minta dikatakan di mana orang menyimpan senjata, siapa-siapa pemuda yang sering datang ke kampung itu. Ia ulang-ulang kata-katanya tetapi tiada seorang pun menjawab.
“Brani sama kompeni, ha?” Akhirnya ia berteriak murka. Larasati tak dapat menahan geli hatinya melihat kemarahan opsir itu. Mendengar ketawa itu opsir itu datang menghampiri berteriak murka, “Apa kau tertawakan? Badut?”
Larasati menutup mulut dengan tangannya.
Opsir itu melambaikan tangan pada orang tinggi besar berpakaian sarung guling dan kemudian menunjuk pada Larasati. Yang dilambai menghampiri menatap Larasati dengan mata menyala-nyala. Larasati terpakukan pada tanah. Ia pernah lihat mata yang keruh kekuning-kuningan itu. Di mana? Ia tidak ingat. Yang ia tahu mata itu pernah menatapnya dengan berapi-api juga seperti sekarang ini. Larasati mencoba mengingat tempat-tempat di mana ia pernah kenal mata itu. Tetapi begitu banyak lelaki yang pernah mempunyai pergaulan intim dengannya. Di mana? Ya, di mana? Ingatannya berhenti.
“Bagaimana?” opsir itu bertanya pada si tinggi besar berbaju sarung guling. Orang itu menggeleng.
“Awas!” opsir itu mengancam pada Larasati. Kemudian pada sarung guling, “Ayoh mulai dari depan!”
Mereka pergi ke ujung depan barisan orang dijemur itu. Setiap kali meneliti seseorang, orang dari balik sarung guling itu menggeleng. Pada waktu ia mengangguk seseorang dikeluarkan dari barisan. Orang itu adalah kakek Mo. Sampai di hadapan Larasati, opsir itu berjalan terus seakan tidak tahu atau tidak mau tahu.
Tetapi mata dari dalam sarung guling itu mengawasinya dengan berapi-api. Dingin seluruh tubuh bintang film itu. Apa yang ada di balik mata yang kekuning-kuningan itu? Maut? Siksa? Dendam? Ancaman? Larasati menunduk ngilu.
“Cuma satu saja?” opsir Belanda itu berteriak. “Ayoh ulangi lagi.”
Pemeriksaan berulang kembali. Sekarang seorang anak lelaki kecil dikeluarkan dari barisan dan dijaga oleh serdadu-serdadu bersangkur telanjang di bawah pohon asam.
De … …
Larasati belum pernah bertemu dengan anak kecil itu. Matanya kini ditebarkannya pada kampung ibunya. Dari tempatnya yang nampak hanya genteng hitam-hitam yang telah puluhan tahun umurnya, dan di sana-sini atap rumbia yang menggelepar-gelepar tertiup angin laut. Tiada sebuah pun rumah di kampung itu terbuat dari batu, sekalipun tanah airnya sendiri kaya akan batu dan bahan bata. Tiba-tiba semua mata tertarik pada opsir itu yang mulai berteriak lagi, “Kalau terjadi sekali lagi, kampung ini aku bakar semua!”
Tentu saja tak ada yang membantah. “Ayoh, bubar!” Barisan orang dijemur itu bubar, kembali ke rumahnya masing-masing. “Ke mana kakek Mo dan anak itu dibawa, bu?”
“Apa guna ditanyakan?”
“Mengapa tidak.”
“Keduanya tidak akan kembali untuk selama-lamanya. Jangan tanya lagi.”
“Dari mana ibu tahu?”
“Jangan tanya, aku bilang. Aku sudah mengalami empat kali begini.” Dengan diam-diam mereka masuk ke dalam rumah yang telah porak-poranda. Larasati menubruk tas-tangannya. Jantungnya berdegupan kencang. Dan uang itu telah lenyap. “Binatang! Anjing! Serigala!” ia menangis terisak-isak. “Apa guna memaki? Mereka memang anjing, mereka binatang,” Lasmidjah meneruskan. “Dulu bisa mengadu. Dulu ada pengadilan. Dulu ada polisi, kalau duit kita dicolong tetangga kita. Apa sekarang? Hakim-hakim, jaksa-jaksa yang sekarang juga nyolong kita punya. Siapa mesti mengadili kalau hakim dan jaksanya sendiri pencuri?”
Setelah itu nenek itu tak menggubris anaknya. Ia mandi, berpakaian, dan siap hendak pergi.
“Ke mana, bu?”
“Kerja.”
“Habis begini masih kerja juga?” Lasmidjah tak mengindahkannya dan siap hendak meninggalkan rumah.
“Ibu!”
Lasmidjah berhenti.
“Siapa yang berkerudung sarung bantal itu? Ibu kenal?” tapi ibunya sekali lagi pura-pura tak peduli.
“Ya, ibu kenal. Aku pernah lihat mata kuning itu.” Ibunya tetap tak acuh.
Sekarang Larasati mengawasi ibunya dengan hati penuh pertanyaan. Mengapa Lasmidjah menjadi begitu aneh? Melihat ibunya hendak bergegas meninggalkan rumah, ia terburu-buru menghampiri dan menahannya.
“Ibu tahu siapa dia. Katakan siapa.”
Tiba-tiba dengan mata sebak Lasmidjah merangkul anaknya.
“Mengapa, bu?”
“Kembalilah ke pedalaman, Ara.”
“Ibu juga?”
“Aku hanya akan susahkan kau. Tidak, Ara.”
“Tidak, Ibu.”
“Kau harus berjuang, Ara. Kau tak boleh mengingat-ingat aku.”
“Tapi kau ibuku, bukan?”
“Karena kau anakku, aku bilang begitu, Ara.”
Ara menatap kuping ibunya yang masih juga merangkulnya. Dalam hati ia menduga-duga. Tetapi segala dugaannya sia-sia. Mungkin ibunya terlalu banyak mengetahui.
Tapi mengapa tak dikatakannya kepadanya? Rangkulan orang itu membuat Larasati sadar betapa cintanya ibunya kepadanya.
“Aku tak pernah suruh kau, Ara. Aku tak pernah larang kau, juga aku tak pernah meminta sesuatu pun darimu. Cuma sekali ini aku minta, kembalilah kau ke pedalaman. Kau tak boleh macam yang sudah-sudah. Kau mesti mulai hidup yang benar, yang sungguh-sungguh. Jadilah wanita biasa seperti ibumu sendiri dulu, punya suami yang benar, punya anak yang benar. Cuma itu pintaku, Ara.”
“Ibu tak suka ikut ke pedalaman. Biar aku mulai di sini.”
“Tidak mungkin.”
“Karena si mata kuning tadi, bu?”
Lasmidjah terdiam. Ia uraikan rangkulannya dan dengan tubuh melengkung dan lemas ia tinggalkan rumah. Sebelum menuruni jenjang got ia berpesan, “Kalau lapar, mintalah pada tetangga. Mungkin ada.”
Larasati tertinggal seorang diri. Tambah ia berpikir, tambah ia tidak mengerti.
Ja jatuh tertidur di atas bale dengan kepala kacau. Sebelum sempat bermimpi ia tersentak bangun: teringat akan uang dua ribu milik negara. Kembali ia periksa tas tangannya yang terkapar di atas tanah, kemudian di kolong-kolong lemari dan meja. Uang itu memang telah lenyap. Juga semua kain panjang yang dibawanya dari Yogya. Uang dan kain yang hilang itu mengantarkan ingatannya pada pengalaman-pengalaman manis sejak meninggalkan stasiun Yogya. Semua orang begitu ramah dan penolong kepadanya. Tetapi selesainya daerah Republik berarti pula selesainya orang-orang peramah dan penolong. Dan di bumi pendudukan semuanya saja maling yang bisa baris di tengah jalan di siang bolong.
Yang peramah dan penolong hanya mereka yang masih setia pada Republik. Jangan takut! Jangan takut! Kau harus mendendam. Barangsiapa kurang dendamnya akan lebih takutnya. Barangsiapa banyak dendamnya akan kurang takutnya. Pemimpin pemuda itu melela remang-remang dalam ingatannya. Ia belum lagi sempat melihat wajahnya jelas-jelas. Mungkin ia takkan bertemu lagi dengannya untuk selama-lamanya. Namun ia telah mewariskan padanya pegangan: jangan takut, mendendamlah.
Kini mendadak saja ia merasa lapar. Aku mesti berbuat apa sekarang? Di rumah ini tidak ada makanan. Tidak ada orang selain aku. Ia turun dari ambin dan keluar, di beranda duduk nenek yang kemarin. Ia tersenyum menyambutnya.
“Mau makan, nak?” ia mulai menegur.
“Uang itu hilang, nek.”
“Tentu saja,” jawabnya dengan ayemnya. “Tapi kau sudah ikut bertempur. Idjah tak pesan apa-apa padamu?”
“Tidak.”
“Tidak disuruhnya kau pergi?”
“Tidak.”
“Mulanya aku mau bangunkan kau. Tak sampai hati. Kau begitu lelah. Makanlah dulu. Sembrono amat si Idjah itu. Mestinya kau disuruh pergi.”
“Mengapa aku mesti pergi?”
“Kau dalam bahaya. Kau baru datang dari Yogya. Lantas ada pertempuran. Di rumahmu didapatkan Ori kita.”
“Mengapa aku tidak ditangkap tadi?”
“Ah kau, nak. Itu justru lebih berbahaya. Pergilah.”
“Jadi si mata kuning itu kenal aku?”
“Semua orang tahu siapa si mata kuning itu… Dengarkan kata kami, nak. Kau mesti pergi. Kau bisa celaka. Kau bisa mencelakakan semua orang di sini. Kau hanya seorang perempuan, tidak punya senjata pula. Kau juga tidak mungkin bisa pimpin nenek dan kakek-kakek ini bertempur.
“Biarlah, nek. Aku tinggal di sini.”
“Kalau kau ditangkap jangan celakakan yang lain-lain.”
“Insyaallah.”
“Insyaallah? Akhirnya kau sendiri yang menentukan. Kau sendiri harus berusaha. Ingat kakek Mo dan anak itu. Mereka pun tidak akan seret yang lain-lain. Mereka sudah sedia untuk mati. Kami di sini belum kenal kau,”
“Mereka akhirnya akan kenal aku. Aku sudah sebagian dari mereka.”
“Mari makan.”
Kedua perempuan itu bertuntun-tuntunan menuruni jenjang menyeberangi gang dan masuk ke dalam rumah depan. Rumah itu nampak lebih bersih. Tetapi tiada seorang pun penghuninya selain nenek. Nenek membawanya langsung ke dapur. Mereka makan nasi dengan sambal dan ulam-ulaman.
“Nenek sendirian di sini?”
“Ya, kalau siang.” Dan Larasati mengerti cerita selanjutnya yang tak diucapkan. Dengan diam-diam kedua orang itu makan. “Tidak lapar? Mengapa ragu-ragu begitu makannya? Makanlah, masih banyak kesulitan mesti kita tempuh, nak.”
Tiba-tiba mereka berhenti makan. Nenek membersihkan mulut dengan jari telunjuknya. Dari depan terdengar suara seorang lelaki, “Slekum!”
“Bukan orang kita,” bisik nenek.
“Kau sembunyi jangan ikut keluar. Jangan sampai kelihatan.” Dan nenek pergi keluar.
Larasati tak dapat membendung keinginannya untuk mengetahui siapa si tamu. Mengendap-endap ia ikut pergi keluar dan menyembunyikan diri di balik dinding beranda. Kampung ini sungguh penuh dengan kengerian. Apakah dia termasuk salah satu dari kengerian-kengerian itu? Ia cari-cari lubang tempat mengintip. Akhirnya masuk di balik pintu.
“Numpang tanya, nek,” orang itu memulai.
Larasati kaget. Ia pernah dengar suara itu. Di mana? Dari sela daun pintu dengan kusen ia dapat melihat ke luar. Tetapi yang nampak hanya bagian belakang nenek. Orang itu sendiri, yang berdiri di atas tanah depan beranda yang lebih tinggi, hilang tertutup. Siapa dia? Hanya rambutnya yang nampak tersisir rapi dan berombak.
“Rumah Lasmidjah di mana?”
“Orangnya tidak ada, kerja.”
“Anaknya? Di mana dia?”
“Pergi tadi.”
Jantung Larasati berdegupan kencang.
“Mengapa pintunya masih terbuka?”
“Kapan-kapan aku yang biasa jaga rumahnya…”
“Suruh anaknya datang ke rumah, nek.”
“Nanti aku sampaikan kalau dia datang.”
“Terima kasih, nek.”
Nenek bersiap hendak masuk ke dalam. Degupan jantung Larasati bertambah kencang. Tamu itu kini nampak jelas melela di hadapannya: tinggi besar, gagah, bercelana wol berkemeja putih rambutnya berombak hidungnya mancung—terlalu mancung, kulitnya kehitam-hitaman dan— matanya kuning. Waktu tamu itu telah pergi. Larasati terjatuh lemas di balik daun pintu.
Nenek itu menemukannya masih di belakang daun pintu. Ditariknya tangan bintang film itu dengan tenaga neneknya, didudukkannya pada kursi. Ditatapnya dengan sayangnya dan diusap-usap rambut Larasati,
“Jadi kau mengerti, mengapa kau mesti pergi dari sini.” Larasati mengangguk. “Jadi kau mau pergi?” Bintang film itu menggeleng. “Baiklah. Aku tak mau memaksa. Tapi jangan celakakan orang lain. Kau mengerti kalau tetap tinggal di sini!” Larasati menatapnya. Ia menggeleng. “Paling sedikit ibumu sendiri yang kau kurbankan.”
Sekaligus lenyap lemas Larasati. Ia bangkit berdiri dan membelalak.
“Bagaimana bisa?” serunya.
“Kami kenal daerah ini, nak. Kami kenal orang-orang Arab di sana itu.”
“Mengapa ibu kerja di sana?”
“Cuma dia yang tak punya kerabat yang dapat menyokongnya. Jangan salahkan kami. Kami semua hidup dalam kesulitan.”
Kembali bintang film itu menjadi lemas dan jatuh terduduk di atas kursi. Ia tak pernah duga-duga sebelumnya. Hidup dalam keadaan sesulit itu. Hidup ini hanya memberi aku seorang ibu, dan aku tidak sanggup membahagiakannya. Aku masih muda, bagaimana pula kalau sudah tua? Apa bakal nasibnya? Satu-satunya yang aku Punya dalam hidup ini. Tidak bakal lama lagi dan aku pun akan setua dia. Apa kemudian aku perbuat? Orang lain dapat pensiun. Apa aku dapat? Sekalipun aku juga kerja setengah mati? Tak kenal malam? Dan untuk film sepanjang satu setengah jam aku mesti kerja dua bulan, hampir-hampir tanpa tidur? Ah, ibuku, ibuku sayang!
“Apa aku mesti kerjakan, nek?”
“Kau sudah ambil putusan?”
“Apa aku mesti datang, nek?”
“Aku lebih suka kau pergi, nak. Aku tak bisa kasih nasihat terlalu sulit. Aku tak berani.”
“Kalau aku datang, nek, apa akan terjadi, nek?” Orang tua itu tak menjawab, hanya masuk ke dalam. Tapi Larasati tak peduli meneruskan. “Kalau aku tak datang, nek?”
Setelah datang lagi, nenek itu berkata, “Setelah kau ikut berjuang, semua orang di sini sayang padamu, nak. Aku tak peduli siapa kau. Kami hanya mengenal apa yang kau perbuat di sini. Ingin benar aku menolong kau dan ibumu, tapi tidak mungkin. Kalau pertolonganku salah, mungkin bukan pertolongan lagi tapi sebaliknya. Orang-orang Arab sana sudah banyak bunuh anak-anak kita.”
“Mengapa dibiarkan hidup?”
Nenek itu menggeleng-geleng. “Jangan tanya. Anak-anak itu lebih tahu apa yang mesti dan tidak dikerjakan.”
Nenek itu kembali membersihkan mulut dengan telunjuknya. “Tidurlah di sini. Jangan pulang, biar rumahmu dekat di seberang itu.”
Pada waktu itu pulalah Larasati menyadari bahaya yang sedang mengepung dirinya dan sulitnya ibunya hidup sehari-harian di dalam sarang pembunuhan. Masih terbayang olehnya senyum anak Arab yang tinggi besar tadi waktu minta diri. Apa yang tersembunyi di balik senyum itu? Maut? Pemerasan? Apa yang hendak diperasnya dari ibuku? Dari aku?
Atau hendak memeras keterangan tentang pemuda-pemuda kampung sini?
“Sudahlah. Jangan dipikir. Kau cuma bisa menduga-duga apa yang bakal datang. Yang kau duga-duga pasti tidak terduga. Kalau mesti terjadi sesuatu, hadapi dengan berani. Kau belum pernah dengar si Ma’in, itu ayah anak yang semalam gugur. Dia mati setengah tahun yang lalu, waktu menyerbu tangsi. Dia selalu bilang pada anak-anak itu: “Kalau mati, dengan berani: kalau hidup, hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada—itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.”
“Anaknya juga berani.”
“Dia paling berani di kampung ini. Anak keras. Sayang umurnya pendek. Tapi yang umurnya panjang, banyak senang, banyak susah, banyak tahu, banyak merasa, mengapa kebanyakan malah penakut. Huh. Anak semuda itu. Mestinya dia jenderal. Sewaktu masih hidup bapaknya selalu mengundang-ngundang begitu. Kalau besar jadi jenderal. Jadi jenderal, ya? Jangan lupa.”
“Dia sudah jenderal. Dia sudah perintah aku. Dia sudah berkelahi. Dia bertempur dengan gagah berani. Dia mati dengan gagah berani. Sekiranya dia,”
“SlEkum!” terdengar suara dari luar.
Nenek itu keluar.
“O, tuan. Lasmidjah belum pulang tuan.”
“Bagaimana anaknya?”
Larasati menggigil. Seluruh badannya, lemas dan dingin. Keringat bermanik-manik pada keningnya. Di hadapannya terbayang seorang pembunuh yang selalu tersenyum, dengan mata kuning, kulitnya hitam, hidung mancung, dan rambut berombak.
“Ah… hh, tidak tahu, tuan. Barangkali ke pasar.”
“Ke pasar?”
“Mana tahu, tuan.”
Sekarang terdengar suara tamu itu bernada keras: “Suruh buru-buru datang ke sana. Jangan lupa.”
“Tak tahu, tuan, kapan datangnya.”
“Kalau jam enam sore belum datang juga, aku kemari lagi.”
“Baik tuan, nanti disampaikan.”
Ia dengar langkah sepatu kulit ringan tamu itu melangkah mengetak-ngetuk landasan gang. Orang asing itu ikut berkuasa di tanah airku. Dia mau berkuasa atas diri tiap orang —orang yang justru ahli waris nenek moyang sendiri dari tanah dan air sendiri ini. Mukanya telah basah karena keringat dingin.
“Kau takut, Nak?” disekanya keringat bintang film itu dari wajahnya. Berbisik mempengaruhi, “Jangan takut.”
Larasati menghela nafas panjang. Kalau soalnya menghadapi musuh yang sudah tentu barisan dan senjatanya, mungkin ia takkan takut. Setidak-tidaknya semalam ia telah berpengalaman. Apa sesungguhnya maksud dia mengharapkan kedatanganku, kalau tidak ingin mendapatkan keuntungan dari aku?
Berjam-jam kemudian Larasati duduk merenung-renung sampai kepalanya menjadi pening. Dan tepat pada jam enam sore. Lasmidjah tak datang. Yang datang pemuda Arab itu juga yang segera menggertak dengan kasar, “Sudah disampaikan?”
“Mana bisa kalau orangnya belum datang, tuan lihat saja, pintunya masih juga seperti sepagi.”
“Bilang, ibunya tidak pulang sebelum dia datang,” ia pergi tanpa meminta diri seperti pada permulaan datang.
“Kau sayang pada ibumu, nak?”
Larasati mengangguk. “Kalau begitu kau mestinya datang. Aku hanya bisa berdoa untuk keselamatanmu,”
“Kalau aku ditahan di sana?”
Nenek itu tak menjawab. Ia hanya menggeleng. Larasati bangkit dan berjalan perlahan-lahan pulang ke rumah ibunya, menutup pintu, kemudian dengan penuh pikiran berjalan menuju keluar gang dengan house-coat, satu-satunya pakaian yang masih dimilikinya.
Tak pernah sebelumnya ia berlenggang begitu layu. Ayun tangannya begitu berat seperti batu gaib diikatkan pada pergelangannya. Ia tak tahu apakah waktu ini ia harus menangis atau menentang atau harus menyerah. Ah. Itu orang asing yang berkuasa atas hidup dan mati pewaris yang sah dari tanah air sendiri. Apa mungkin yang demikian terjadi? Kalau dia Belanda, masih dapat diterima. Tapi dia Arab, yang tak tahu-menahu tentang politik!—yang dia tahu cuma duit dan datang ke Indonesia hanya cari duit.
Sampai di tengah-tengah perjalanan ia berhenti. Ia ragu. Apakah layak Seorang wanita datang ke rumah seorang asing dalam house-coat? Ia berhenti berpegangan pada tiang listrik. Menarik nafas dalam. Lantas apa mesti aku kenakan? Pakaian orang lain? Orang lain siapa? Revolusi ini tidak memberi Sesuatu pun, dia minta dari setiap orang—segala-galanya.
Mengapa si Arab itu ikut meminta? Dia yang tidak punya sangkut-paut sedikit pun dengan Revolusi? Apakah aku dengan sukarela berjalan seorang diri menuju ke tiang gantungan? Mendadak ia tengadahkan kepalanya ke langit. Tidak! Tidak mungkin. Ia lepaskan pegangannya dari tiang listrik. Ia kepalkan tangannya dan digocohnya tiang listrik itu sekali. Membalik dan bercepat-cepat pulang ke rumah.
Ini bukan caranya. Tidak! Ia masuk ke dalam duduk memandang jauh di atas ambin ibunya. Tidak! Bukan begini caranya. Ia bangkit dan memberes-bereskan barang-barang yang kocar-kacir berantakan di lantai. Aku tunggu dia. Aku akan hadapi dia. Kalau Martabat datang soalnya akan jadi lebih gampang. Itu pun tidak mungkin. Dia pun punya kesulitannya sendiri. Semua ini ditimpakan kepadaku untuk aku selesaikan. Mana kemudian diriku kalau orang lain yang menyelesaikan? Datanglah kau, datanglah kau, hai Arab! Aku menunggu di sini. Aku tidak akan lari. Ia nyalakan lampu dalam dan di beranda. Mandi. Duduk di beranda. Ia merasa segar sekarang. Ia merasa lebih berani.
Seluruh kampung ini biar para pemuda datang atau tidak, tidak bakal bisa selesaikan persoalannya. Bagi mereka, ibunya dan juga dirinya akan sama saja artinya dengan kakek Mo, dan anak kecil yang ditahan itu. Seperti juga pemimpin pemuda itu, semua rela kawan-kawannya tewas Satu demi satu. Malam dengan cepatnya turun ke bumi. Ibunya tak juga datang. Nenek itu tak salah. Tapi rumah nenek itu gelap sekarang. Mungkin ia sedang pergi entah ke mana. Ia merasa berbahagia waktu Martabat datang dan seperti kemarin tanpa disilakan ia ambil kursi dan duduk. Ia keluarkan kertas dan pensil. Pada bibirnya tersimpul senyum ramah, sedang matanya merah warisan pengalaman semalam. “Kau tak mengalami kesulitan, kan?” Ara bertanya. “Tidak, nona.”
“Panggil aku Ara, tanpa nona.”
“Aku akan ikut denganmu, Ibuku juga.” Martabat terkejut. Ja tatap Larasati dengan pandang tak mengerti. “Kau heran? Sini bukan tempatku.”
“Sini bukan tempat kita, Ara. Tapi kalau kau ikut ada juga kesulitannya. Kami hanya dapat larikan satu mobil, mobil kolonel sendiri. Delapan orang ikut serta membawa beberapa ribu peluru kerabin dan kerabin kurang lebih selusin. Jadi…”
“Maksudmu tidak ada tempat?”
“Tentu saja tidak. Maksudku kami sedang akan lakukan terobosan maut. Itu tidak tepat bagi seorang wanita, walau kami ingin membawa.”
Tak terkirakan kecil hati Larasati mendengar jawaban itu. Ia belum dimasukkan ke dalam kelas pejuang oleh si Martabat ini. Tapi ia menjaga agar tak membantah, tidak melukai rencana anak muda itu. Mungkin dia lebih penting bagi Revolusi daripada aku.
“Lagi pula,” Martabat meneruskan, “tidak ada seorang pun di antara kami bisa duduk senang di dalam mobil itu. Semua duduk di atas ban truk dan mobil yang kami serobot. Kami berangkat tengah malam nanti. Tulislah suratnya. Jangan dibiarkan rencana kami gagal.”
Akhirnya tinggal aku sendirian terpencil dari semua pejuang ini. Dengan menindas emosinya ia mulai menulis Surat untuk si kawan yang waktu itu jadi Opsir piket di Cikampek. Ia tuliskan berita tentang ajudannya yang muntah darah di penjara dan sayang ia tak sempat menanyakan nama penjara itu. Ia ceritakan pengalamannya sampai ia bisa masuk ke dalam penjara. Dan menyatakan tekadnya tidak menyerah pada Belanda untuk dijadikan alat propaganda. Akhirnya ia mengharapkan agar perwira itu terus juga menulis, siapa tahu kelak bisa diterbitkan karangannya!
“Cukup?” tanyanya kemudian sambil menyodorkan surat perkenalan itu. “Sengaja aku tak tuliskan alamatku. Salamku padanya. Bilangkan aku akan tetap mengingat dia.”
“Terima kasih, Ara. Kau tak merasa berbahaya di sini? Mana ibumu? Ah, kalau merasa berbahaya kau boleh terima revolverku sebagai kenang-kenangan.”
“Tidak, Tabat, Revolvermu lebih dibutuhkan di pedalaman. Terima kasih.”
Nada suara bintang film yang terdengar mengandung sendu dan dukacita itu terasa memilukan oleh Martabat. Ia tatap bintang film itu, bertanya hati-hati, “Benar-benar aku tak bisa bawa kau, Ara. Maafkan aku.”
“Kami akan temukan cara dan jalan lain, Tabat, jangan kau pikirkan.”
“Aku boleh berangkat, Ara?”
“Sesungguhnya aku membutuhkan kawan sekarang. Tapi aku tak boleh tahan kau. Berangkatlah. Selamat untukmu. Merdeka!”
Martabat bangun lambat-lambat. Ia tatap Ara dengan mata murung. Ia tak menyambut salam itu. Ia sendiri kehilangan semangat. “Kau mesti belajar menjawab pekik Merdeka, Tabat, biarpun perlahan.”
“Merdeka, Ara! Benar-benar kau tak membutuhkan revolver?”
“Tidak, Tabat. Benar, tidak. Pergunakan untuk kau sendiri, anggap itu tanda-mata dari Ara, seorang bintang film yang mungkin baru kau kenal untuk pertama kali.”
“Terima kasih, Ara. Tak dapat aku menyatakan bagaimana menyesal hati tak dapat membawa kau dan ibumu. Aku sangat berhutang-budi padamu. Jangan bantah. Terima kasih kata-kataku sebagai tanda-mata dari padaku. Merdeka!”
“Merdeka!”
“Terimalah tanganku.”
Mereka berjabatan tangan, seperti gunung berjabatan dengan samudera. Mereka hanya dua gumpal daging kecil, tetapi jiwanya lebih besar daripada gunung, lebih luas dari laut, karena mereka ikut melahirkan sesuatu yang nenek moyangnya dan bangsa-bangsa lain tidak atau belum melahirkannya: kemerdekaan.
Martabat melepaskan tangan itu dengan perasaan campur aduk. Larasati tak kurang-kurangnya. Ia antarkan tamunya sampai di jenjang got. Tiba-tiba, “Tabat!”
“Ya.”
Martabat berhenti. Ara terus berjalan.
“Jangan sampai kau jadi kurban sia-sia di sana. Hati-hati kata-katamu terhadap para pejuang di perbatasan. Pasang bendera merah putih kalau sudah melalui daerah pendudukan.
“Aku ingat dan akan kukerjakan, Ara.”
“Sudah kau periksa bensin mobilmu? Cukup?”
“Cukup, Ara.”
“Pengalaman kita semalam takkan kulupakan seumur hidup, Tabat.”
“Tentu saja.”
“Tabat.”
“Ya?”
“Mungkin kau dengar juga apa kata pemimpin semalam.”
“Banyak yang kudengar. Apa maksudmu?”
“Kau harus berani sebaik-baiknya.”
“Tabat!”
“Yap”
“Berangkatlah.” Malam itu langit diliputi mendung tebal. Suasana sunyi senyap, seperti orang bukan tinggal di atas bumi manusia, tetapi di alam lain, penuh rahasia, penuh keganasan, juga penuh kecintaan yang lembut, penuh kepengecutan, juga penuh dengan kepahlawanan —semua yang tak pernah nampak dan terasa di waktu-waktu biasa. Malam ini sunyi-senyap sungguh. Juga hati Larasati. Malam ini adalah malam tanpa pria bagi Larasati. Tapi ia tidak peduli lagi. Ia bertekad menempuh jalan baru. Ibunya tak juga datang. Hujan turun dengan romantis, tetapi yang membuat hati lebih sunyi-senyap. Larasati menginginkan sesuatu. Ia tak tahu apa ia inginkan. Ia tidur seorang diri malam itu. Pagi itu udara cerah cemerlang. Sinar matari yang jauh di atas landasan gang aspal yang berselaput lumpur, menyala dengan tajamnya. Dan uap pagi meruap, membumbung sedikit, kemudian menghilang ditelan alam besar. Dedaunan yang masih bermandi air hujan semalam gemerlapan, nampak lebih hijau daripada kemarin. Rombongan burung gelatik terbang cepat menuju ke barat laut. Di daerah yang baru ditinggalkannya panen dengan hasil memuaskan—tak peduli pasukan Nica atau KL menyerbu hasil panen itu atau tidak. Angin meniup sejuk, membawa udara dari pedalaman. Sehabis menimba dan mandi Larasati membuka pintu depan dan keluar. Suara nenek di seberang menyambutnya: “Kau pergi semalam?”
“Tidak!”
“Kalau begitu ibumu tak pulang.”
“Memang.”
“Sebentar aku ke sana.”
Larasati merasa terhibur oleh janji itu. Ia sungguh tak tahu apa mesti dikerjakan. Kalau ada beras, mau ia memasak. Jangankan beras, daun pun tak ada di rumah ini.
Waktu nenek itu datang kembali segera terdengar pujiannya: “Kau memang berani.”
Larasati tak tahu apa ia mesti jawab. Ia pun tak tahu di mana keberaniannya. Ia tatap mata nenek itu dengan pandang bertanya. Dan ia lihat nenek itu berkata sungguh-sungguh. Matanya bersinar-sinar mengandung kekaguman, “Sebentar lagi dia kemari. Kau masih berani hadapi dia!”
“Aku coba, nek.”
“Biar aku bantu. Biar jelek-jelek aku sudah berpengalaman. Aku senang kau melawan. Semalam aku pergi beritahukan ini pada orang-orang. Siap dulu, jangan pergi-pergi, aku ambilkan sedikit sarapan.”
Ia pergi tetapi pemuda Arab itu justru yang datang. “Selamat pagi, nona Ara!”
Larasati mengangguk tanpa menyilakan.
“Ah, kemarin kami tunggu-tunggu tidak juga datang.”
Jadi dianggap apa aku ini? Larasati memberontak dalam hati. Wajahnya menyemburat merah karena darah yang menjompak ke atas. Dan sekelibatan ia lihat betapa menjijikkan senyum orang asing itu. Dan giginya yang putih gemerlapan waktu membuka mulut. Kulitnya yang hitam mengkilat mengingatkan ia pada iblis yang tak pernah dilihatnya, tetapi yang pernah dimainkan oleh Oom Didong di atas panggung. Ia mencoba menjelajah kejahatan yang terpendam dalam hati pemuda asing itu. Tapi yang ia rasai hanya dia mata duitan, haus kekuasaan, haus darah, haus kurban baru. Ia tantang matanya yang kuning.
“Mengapa kau pandangi aku begitu, nona? Aneh?”
“Aku tak ingin diganggu.”
“Tentu itu aku mengerti. Nona sangat lelah. Mungkin semalam-malaman tidak tidur. Tapi aku datang bukan untuk mengganggu, nona.” Dan suaranya begitu lemah-lembut sampai hampir-hampir Larasati tidak percaya suara semacam itu bisa keluar dari mulut binatang.
“Mengapa mesti datang? Aku ingin sendirian.”
“Ah, ah, nona. Mana bisa orang hidup sendirian?” dan tanpa disilakan ia masuk ke beranda, duduk di atas kursi peot di depannya. Sebentar memandangi gambar kumal di atas jendela beranda yang tak pernah dibuka, kemudian menengok ke seberang, ke rumah nenek, akhirnya meneruskan, “Nona orang baru di sini, bukan?”
Larasati enggan menjawab.
“Kami tiadalah jahat, nona. Kami mempunyai orkes gambus. Tentu nona mau menyanyi buat orkes kami.”
Selama tamunya bicara, Ara mengawasi matanya yang kuning. Tamu itu sebentar-sebentar menunduk atau membuang muka. Mengapa matanya begitu kuning kalau dia tidak sakit kuning? Kena racun rokok? Waktu ia meneliti tangan pemuda itu nampak ujung telunjuk dan jari tengahnya kehitam-hitaman bercampur sedikit kuning.
“Aku bukan penyanyi. Biarpun menyanyi juga bukan gambus.”
“Kami juga baru mulai, nona. Tak perlu nona takut. Banyak orang ternama dalam orkes kami. Ada tuan Alaydrus, tuan tanah Tanah Abang. Ada tuan Husain dari Krukut. Dan aku sendiri Jusman, nona. Aku memang orang Arab, tapi tak biasa pakai nama suku. Tidak senang, 2eya orang kolot.”
Larasati terus mengawasi tamunya.
“Yang bertempur, bertempur, yang main gambus, main gambus. Kami tak tahu urusan pertempuran. Itu urusan Belanda. Kami orang Arab, tidak mau turut campur. Kami takkan mendapat keuntungan apa-apa dari semua itu. N g0mMONng-ngomong, mengapa nona awasi aku saja?”
“Aku pernah lihat mata itu.”
Orang itu tertawa terbahak sampai kepalanya menengadah dan air ludah bersemburan. Tertawanya berhenti dengan acuhnya. Seperti pemain gulat, kedua tangannya diangkat, diletakkan di atas meja, memandang Larasati dari atas dan berkata membujuk, “Tentu. Waktu nona mencari ibu nona, akulah yang menyambut nona, bukan?”
“Aku masih ingat itu. Tapi itu yang pertama kali. Aku pernah lihat untuk yang kedua kalinya. Kemarin kalau tak salah.”
Mulut Arab yang masih setengah tertawa itu tiba-tiba tertutup kejang, dan matanya setengah melotot. Tapi kemudian tertawa lagi dan berkata, “Tidak mungkin. Nona salah ingat. Tapi Ngomong-ngomong bagaimana nona bisa menyanyi untuk orkes kami bukan?”
Dan nenek seberang datang membawa sarapan. Ia tak mempedulikan tamu Arab itu dan terus saja duduk di satu kursi peot dengan Ara.
“Makan, Ara kau belum makan sejak kemarin.”
“Ah, nek, kalau aku tahu, tentu aku bawakan,” tamu itu kemudian mengeluarkan kotak rokok, mengeluarkan sebatang rokok Amerika dan mulai menghisapnya. “Nona juga merokok?”
Larasati menggeleng, tapi diambilnya penganan di hadapannya dan mulai makan tanpa menawari siapa pun juga.
“Ini, nek,” pemuda Arab itu kini menghadapkan matanya pada nenek. “Nona ini kami ajak main gambus.”
“Tapi dia bintang film, kan, bukan penyanyi!”
“Ah, nek, bintang film bisa segala-galanya,” sambil melirikkan mata kuningnya pada Larasati. “Aku juga ikut-ikut main film sekarang, nek, jadi tahu sedikit-sedikit.”
Larasati berhenti makan. Kalau begitu dia kenal Mardjohan. Ini sungguh-sungguh berbahaya. Dia tidak boleh tahu aku ada di sini. Kalau tidak, sia-sia saja pertolongan Martabat. Kini ia ingat pesan ibunya yang menyuruhnya pergi. Di mana ibunya sekarang? Diapakan ibunya yang telah tua itu? Hatinya berontak. Dihentikan penganan yang belum termakan seluruhnya dan berkata keras: “Aku takkan kerjasama dengan tuan.”
Pemuda Arab itu terkejut. Mengawasi Larasati dengan mata tiba-tiba menyala-nyala.
“Tapi nona, ibu nona juga di sana. Bagaimana pikir nona?”
“Kau boleh ambil ibuku kalau suka. Dia boleh tidak pulang untuk selama-lamanya.”
Pemuda Arab itu kini menatap nenek tapi tak berkata apa-apa. Akhirnya ia bangkit berdiri, bersiap hendak pulang, tetapi berhenti dan berpaling ke belakang, “Tapi ibu nona dalam bahaya.”
“Aku tahu. Aku juga tahu mata siapa yang memandangi aku dari balik sarung guling kemarin dulu.”
Pemuda Arab itu tiba-tiba menegakkan badan, menghadapi Ara, dengan mata tajam mengawasi. Dengan suara mengancam ia berbisik, “Jadi kau tahu, bagus.”
“Kau juga tahu siapa aku?”
“Jangan sesali yang akan terjadi.”
“Jadikanlah. Kau kuasa.”
“Baik.”
Kemudian pemuda Arab itu melangkah bercepat-cepat, mengeloyor keluar kampung…
Hari-hari lewat dengan pelannya. Dan serangan lapar kian hari kian meningkat dan hebatnya—tak mengerti Ara, mengapa orang tua-tua dan kanak-kanak di kampung itu dapat menahan semua itu.
Barisan pemuda tak juga datang. Ia akan gabungkan diri dengan mereka. Berita dari Martabat pun tak kunjung datang.
Akhirnya pada suatu hari Ara keluar dari rumah, mengunjungi kantor Republik, sebuah demi sebuah. Tetapi tak ada satu pun yang mau menerimanya.
“Kami hanya mendapat gaji beras sekadarnya, itu pun tidak cukup. Tentu lebih tidak cukup kalau ada pegawai baru.”
Atau, “Sayang sekali. Lowongan tidak ada.”
Dan kadang-kadang jawaban itu ditambahi dengan kecurigaan.
Bulan demi bulan melewat.
Perubahan demi perubahan terjadi.
Belanda lancarkan aksi militer pertama.
Di mana-mana terjadi bentrokan antara patroli Belanda dengan pemuda. Negara boneka muncul satu demi satu, disatukan oleh Gubernur Jendral Belanda dalam kumpulan BFO, Bijeenkomst Federaal Overleg, sebuah musyawarah negara-negara federal. Tentara Belanda kian hari kian diperkuat dengan tenaga baru dari Nederland.
Akhirnya Belanda menyerbu lebih jauh ke pedalaman.
Ara tak banyak tahu tentang perkisaran politik. Tak banyak mengikuti diplomasi. Kota-kota jatuh di tangan Belanda. Juga Yogya sendiri. Dan berita runtuhnya Yogya disambut oleh Ara dengan tangis tersedan-sedan. Dengan air mata yang mengucur sejadi-jadinya membasahi wajahnya yang kian menjadi kurus dan pucat. Tidak, keyakinanku tidak bisa diguncangkan oleh jatuhnya Yogya. Revolusi tidak pernah kalah. Setiap kekalahan yang dideritakannya tidak lain dari kemenangan kaum koruptor. Revolusi selalu menang. Sekilas nampak dalam bayangannya kapten Oding dan opsir-opsir gagah. Dengan sepatu lars mengkilat —semua serba mengkilat, uniform dari wol. Koruptor! Koruptor! Sampai-sampai jiwa dan api Revolusi diredupkannya. Apa guna urat leher ditegangkan, gembar-gembor di atas mimbar, kalau sejumlah kecil tentara musuh dapat buat moncong-moncong mereka jadi bungkam? Tentu, tentara musuh pastilah kecil—mana bisa besar dari seberang laut. Suatu bangsa kerdil mempunyai tentara besar? Mana mungkin? Mana bisa suatu bangsa besar dikalahkan bangsa kecil? Kecuali mereka hanya pura-pura Revolusioner. Pura-pura! Belum apa-apa sudah kibarkan kain kafan! Mereka belum lagi kelaparan! Mereka belum lagi lecet! Kacuak-kacuak busuk yang cuma pintar pamorkan belangnya sendiri itu! Apa katanya dulu? Masing-masing mau pimpin perang gerilya! Dengan senjata apa saja: pacul, linggis, arit, golok, tombak, bambu runcing, ayoh, siapkan semua! Apa sekarang? Ternyata orang lama menyelamatkan dirinya sendiri-sendiri di bawah bendera kain kuburan! Mayat-mayat yang pandai sorak itu! Larasati berdiri dan berjalan mondar-mandir. Lapar itu telah menjadi sahabat setia. Dan ibunya tak juga pulang lebih setahun ini. Biarlah, dia tak pernah punya kekuasaan. Ia berhenti berjalan. Terbayang wajah ibunya.
Tiba-tiba tak dapat ia menahan kesunyian sekelilingnya.
Ia ingin bertemu ibunya, ia ingin sampaikan kejengkelan, kekecewaan, kesedihan hatinya. Ia mau adukan kepadanya, kepada ibu, yang tak pernah berkuasa dan karenanya tak pernah korup, bahwa anak-anak muda yang tak tahu apa-apa dari Setiap saat rela mati itu, jauh lebih berharga dari pemimpinnya. Pemimpin? Apa mereka itu berhak dinamakan pemimpin? Mereka tidak memimpin! Mereka menjerumuskan Revolusi. Pimpinan, apa yang sudah mereka berikan? Hanya omong besar mereka semburkan.
Bah! Dan aku? Apa aku sendiri tidak ikut bersalah? Mengapa aku mesti menjadi begini konyol tersangkut di kampung celaka ini? Aku? Aku juga terkutuk! Tidak waspada menjaga Revolusi.
Sekali lagi Ara tersedan-sedan. Dan lapar itu… ah, ya, mengapa nenek tak pernah antar makanan lagi? Mengapa barisan pemuda tak muncul lagi?
Tanpa sesuatu tujuan ia pun menutup pintu dan menguncinya. Berjalan layu ke jalan besar. Keadaan masih sunyi senyap, sekalipun hari kian lama kian tinggi. Deru truk dari kejauhan—lebih memusingkan daripada biasanya. Ia jalan, jalan saja. Pohon cemara di sepanjang jalan itu menyanyi ngilu tertiup angin. Dan tajuknya berayun-ayun seirama seperti sepasukan tawanan yang telah patah morilnya terima komando dari musuhnya.
Ia lewati toko-toko dengan pajangan meriah, dengan sang merah putih biru terhias di mana-mana. Ia rasai desah nafas orang-orang lalu-lintas yang berjalan cepat-cepat sambil menunduk. Ia tak pernah ingat lagi bagaimana macam pakaiannya selama ini. Ia sadar duduk di bangku sebuah taman sewaktu kakinya hampir-hampir menolak disuruh jalan terus. Langit di alam tidak seperti biasanya lagi, dan awan-awan melayang kaku, seperti terbuat dari papan yang setiap waktu dapat runtuh ke bumi menerima kepala siapa saja yang hendak dikenainya.
“Ara!” seseorang berbisik di kupingnya. Dan suara itu… tanpa menengok pun ia dapat ketahui: suara lelaki. Dan lelaki itu meneruskan. “Masa kau sampai begini, Ara.”
Suara yang mengandung simpati dan teguran itu mau tak mau menarik perhatiannya. Ia tegakkan duduknya. Tiba-tiba merasa malu: mungkin sekali ini ia duduk merosot di tempat umum. Biasanya ia selalu tunjukkan harga dirinya, juga dalam gaya duduknya. Ia tatap pria yang duduk di sampingnya. Sepasang mata merah menantangnya dengan menyala-nyala. Ara segera meruntuhkan pandangnya. Siapa pria bermata merah ini? Apakah dia kalong yang tak bersayap yang tak pernah pejamkan matanya? Siapa dia? Dan sebelum pikirannya bekerja mengingat-ingat, pemuda bermata merah itu telah meneruskan, “Chaidir, kau tak pernah dengar nama Chaidir?”
Ara menggeleng. Ia coba mengingat-ingat siapa orang itu. Apa maksud pemuda kerempeng ini? Dan sebelum pikirannya sempat bekerja, Chaidir langsung jelaskan dirinya.
“Chaidir. Masa tidak kenal? Aku penyair.”
Bulu badan Ara meremang. Rupa-rupanya anak kecil dekil bermata merah ini penyair yang banyak guncangkan pendapat-pendapat di dunia sandiwara di Yogya. Ha, ia sekarang ingat. Ia duduk di kejauhan. Chaidir duduk di samping kepala redaksi majalah Arena di depan perdana menteri yang juga setinggi Chaidir, hanya gemuk dan tidak dekil, dan juga tidak bermata merah.
“Sandiwara?” kata perdana menteri, “apa yang bisa diperbuat sandiwara dalam masa orang tidak membutuhkan seni apa pun juga sekarang ini?”
Dan Chaidir dengan berapi-api membela seakan-akan sandiwara itu dirinya sendiri, “Dalam keadaan bagaimanapun setiap orang membutuhkan segala-galanya. Berikan apa yang mereka butuhkan. Tapi jangan padamkan api Revolusi. Berikan minyak pada api itu!”
Dan karena kata-katanya ini, sandiwara berkembang cepat laksana api di tengah-tengah padang rumput kering. Begitu bersimpati ia kepada pemuda kerempeng ini. Tapi mengapa sekarang matanya semerah itu? Mengapa tubuhnya sedekil itu?
Ara tak dengar lagi apa kata Chaidir selanjutnya. Ia tatap pemuda itu kembali waktu pemuda itu bertanya, “Kau ada uang, Ara? Aku lapar.”
Mau rasanya Ara mengucurkan air mata untuk ke sekian kalinya dalam sehari ini. Api yang juga harus menanggung kelaparan! Api Revolusi ini. Ara menggeleng. Dan baru sekarang Ara mulai bicara, “Apa guna makan hari ini? Yogya jatuh!”
Chaidir menundukkan kepala.
“Yang jatuh bukan Yogya.”
“Ya.”
“Yang jatuh adalah kerajaan keangkuhan, angkuh karena saking bodohnya. Celakanya keangkuhan itu justru yang selama ini dapat kemenangan.”
“Kau begitu kurus, Chaidir.”
“Tak apa. Sebentar lagi aku mati, sebagaimana Revolusi juga bakal mampus di tangan orang-orang gila hormat, gila tepuk tangan. Gila puji-sanjung itu.” Kata-katanya bagai badai menyembur dari mulutnya, “Apa guna perkembangan edan semacam itu. Dia paksa aku menjadi edan keparat juga semacam ini. Siapa yang suka edan kalau tidak terpaksa? Begitu banyak aku coba beri nasihat mereka! Dasar kepalanya cuma berisi kerikil! Bukan begitu caranya memimpin Revolusi. Apa kemudian? Masa semangat Revolusi bisa dipreteli seperti panggang ayam! Kota demi kota jatuh. Pada setiap serangan musuh masing-masing pada rontok. Apa gunanya ngomong lagi? Revolusi ada dalam diri kita. Kitalah Revolusi itu sendiri. Keadaan kita keadaan Revolusi. Hidup kita hidup Revolusi. Mari cari makan Ara.”
Tanpa sesuatu kemauan pasti, Ara mengikuti tarikan kemauan Chaidir. Keduanya berjalan berjajar, dengan kaki tertusuk-tusuk mengepulkan debu, di atas bumi tanah air yang kering, di bawah langit yang putih menggigit mata. Tanpa angin. Dan uap dalam udara begitu menekan. Seperti dengan sendirinya saja kedua-dua terduduk di bangku tukang kue pancong di pinggir jalan.
“Kau ada duit?” Ara berbisik.
“Jadi kau mengira duit masih penting?”
Mereka menghirup kopi panas yang menyegarkan dalam udara panas mencekik itu. Dan sebuah demi sebuah kue dengan bersemangat melewati tenggorokan keduanya, bertamasya dengan senangnya ke dalam waduk mereka.“Kita jalan lagi, Ara.” Dan Ara mengangguk. “Lima belas kuenya, bung. Kopi empat. Berapa?” Dan cepat Chaidir meneruskan bicara pada Ara. “Tak ada niatmu main di panggung lagi?”
Ara mengawasi Chaidir melepas kancing kemejanya. Dilihatnya dada telanjang basah karena keringat, dan tulang-tulang iganya mengepak-ngepak seperti sayap elang. “Tentu saja. Tapi apa mungkin?”
“Mari kita temui Jassir, kritikus sastra kita. Sesudah itu Uzman. Kau sudah lama kenal dia. Mereka sudah punya rombongan sandiwara amatir.”
“Amatir?” Ara tertawa terbahak.
“Ayoh berangkat.”
“Kau belum bayar belanjamu!”
Chaidir melemparkan kemejanya pada tukang kue pancong.
“Nih,” katanya.
Dan mereka pun meneruskan perjalanan.
“Di mana rumahmu, Ara?” Chaidir bertanya.
Ara tak menjawab. Dan mereka sampai di jalan besar, di mana serdadu-serdadu Belanda bersorak-sorak, di atas truk-truk yang belang-belentong memberitakan kemenangannya dengan huruf-huruf putih dan biru. Sayup-sayup Larasati terbau hawa badan penyair yang menusuk hidung sangat tajamnya itu. Di sebuah pertigaan Ara berhenti memandangi kawannya, berkata, “Aku tinggal di daerah berbahaya. Pergilah kau sekarang. Biar aku jalan sendiri.”
“Orang-orang semacam kita semestinya bersatu, Ara.”
“Dikuburan persatuan lebih kekal, Chaidir. Kita sedang memperjuangkan hidup, bukan mati. Jalanlah kau. Biar aku tempuh hidupku sendiri. Kau penyair, kau pasti tahu maksudku.”
Penyair itu bersiap-siap untuk membantah, tapi Ara tiada mempedulikan dan jalan sendiri. Menengok pun ia tidak lagi. Ia berjalan terus dan berjalan terus. Sampai di depan sebuah depot, seseorang berseru: “Ara! Ara!” ia kenal suara itu. Hanya binatang buas bisa berseru-seru semacam itu. Si Jusman bermata kucing. Ia mempercepat langkahnya tanpa menengok. Tapi tak lebih dari dua menit kemudian Jusman telah berdiri di sampingnya, dan tanpa upacara sesuatu pun dia telah cengkam tangan Ara yang tak melawan. Ia heran, mengapa terasa olehnya tenaga perlawanan tiba-tiba patah. Ia rasai cengkaman itu seperti penjepit kakaktua pada pergelangannya. Ia rasai suatu arus listrik dengan memancar dari cengkaman kakaktua itu dan merangsang memabukkan jantungnya. Ia merasa seperti berjumpa kapuk yang tak punya kemampuan apa-apa. Ia terhuyung-huyung. Tapi ia sempat dengar Jusman berseru ganas, “Becak!”
Mereka naik becak sekarang. Ara tak peduli lagi menuju arah ke mana. Dan becak itu dengan amannya menuju ke kampungnya sendiri. Sampai di depan rumah orang Arab itu seperti dengan sendirinya becak membelok masuk. Dan seperti dengan sendirinya pula ia berjalan dalam tuntunan orang Arab itu masuk ke dalam. Sekali lagi ia dengar suaranya yang ganas, “Idjah, Idjah! Ini bintangmu datang.”
Seorang wanita tua muncul di hadapannya. Orang itu adalah ibunya—ibunya yang sudah setahun ini tak dijumpainya. Kedua orang wanita itu berhadap-hadapan. Kemudian: “Kau, Ara. Kau tak dengar kataku. Mengapa kau kemari?”
Ara memalingkan mukanya ke arah jendela. Dan cengkaman tulang-tulang pemuda Arab yang seperti kakaktua itu tak juga lepas dari pergelangannya. Dan waktu ia memandangi ibunya lagi, orang tua itu sudah ada di hadapannya.
Jusman menariknya hati-hati duduk di kursi panjang, duduk di sampingnya. Dengan bibir menghampiri pipinya berbisik:
“Sejak kini kau tinggal di sini. Kau cintai ibumu, bukan?” Pemandangan Ara berayun-ayun. Permadani-permadani murah yang bergantungan di dinding-dinding nampak seperti tamasya hidup. Onta-onta yang berbaris di padang pasir itu nampak berjalan perlahan-lahan, dan mengepulkan debu.
Kembali tercium olehnya bau badan Chaidir. Tapi penyair kerdil itu kini berubah perkasa, tinggi, hitam, dan matanya kuning.
“Tak ada satu kekuatan dapat menghalangi aku, Ara. Kau kepunyaanku sekarang.” Tiba-tiba ia berseru-seru, “Idjah, ambilkan minuman dingin.”
Dan Ara melihat ibunya menyediakan minum baginya.
Dan ia lihat pemuda itu mengangkat gelas dari meja, dan meminumkan oranyekrus pada bibirnya. Ia meneguk, sekali, dua, sampai minuman itu tandas ke dasar gelas. Baru Jusman menghindarkannya dari bibirnya. Dan mata kuning itu menjarah matanya. Pemuda itu meletakkan gelas ke atas meja.
Dengan cengkaman kakaktuanya ia tarik Ara untuk bangun.
“Mari kutunjukkan kamarmu.” Mereka berjalan, masuk ke dalam kamar yang kosong tiada terhias sesuatu pun selain sebuah ranjang lebar model kuno dan sebuah lemari pakaian berpintu cermin.
“Ini kamarmu. Kau tinggal dan tidur di sini. Mengapa tak bicara juga? Ini kamarmu. Kau dengar Ara?”
Dan Ara mengangguk. “Dan juga kamarku. Kau dengar Ara?”
Sekali lagi Ara mengangguk. “Tidurlah, kau letih hari ini. Kau begitu pucat dan kurus. Aku juga lelah hari ini. Dan aku pun tumbuh menjadi kurus mengenangkan kau selama ini. Aku pun akan tidur.”
Ara terbangun waktu matari telah lenyap. Mula-mula yang teringat olehnya ialah Yogya jatuh! Yogya jatuh! Kemudian suara serdadu di atas truk bersorak-sorai menderu-deru di kupingnya. Perlahan-lahan ia bangun, kau pikir, mana mungkin Yogya bisa jatuh. Mana mungkin segampang itu? Seperti mencabut sebuah gigi dengan tang saja. Yang jatuh bukan Yogya, tapi keangkuhan karena kebodohan sendiri. Yang jatuh adalah semangat korupsi. Barisan truk depan itu biar sama menerima perlindungan Sri Ratu, tapi pemuda Indonesia terus berjuang, karena dia sendirilah Revolusi. Juga aku, juga Chaidir.
Ara hendak melompat turun. Ia kaget!
Derai gambus terdengar begitu dekat. Disusul dengan nyanyian dalam bahasa Arab. Ada makhluk bergerak di sampingnya. Dengan makin meriuhnya musik gambus itu, kepalanya mendadak pening dan makin pening, akhirnya ia jatuhkan kepalanya di atas bantal kembali. Orang di sampingnya itu bergerak-gerak bangun mendengus-dengus. Dan musik gambus itu kian lama terdengar kian kehilangan warna-warninya dan menjadi beberapa macam suara yang terdengar berulang-ulang tiada henti-hentinya: Yogya jatuh! Yogya jatuh! Yogya jatuh! Yogya jatuh!
Kembali ia tak dengarkan kesadarannya lagi. Remang-remang dirasanya lampu kamar menyala. Seseorang yang tinggi hitam berdiri di hadapan cermin pintu lemari pakaian, menyisir rapi-rapi, kemudian menghampirinya. Dan di antara “Yogya jatuh” itu terdengar sayup-sayup olehnya, “Kau tinggal di sini! Kau tinggal di sini.”
Remang-remang oleh Ara nampak orang itu keluar dari kamar, dan mengunci pintu kamar dari luar. Tapi mata kuningnya tertinggal di dalam kamar, terus mengawasinya. Lampu kamar itu kini padam. Tapi mata kuning itu terus menerangi kelilingnya dengan sinar yang aneh, ajaib membius. Remang-remang ia mendengar jendela kamar terketuk orang. Ia dengar sayup suara ibunya memanggil-manggil perlahan: “Ara! Ara! Ara-ku!”
Dan suara lemah-lembut yang sepanjang umurnya telah lindungi hatinya dari kehancuran, dan telah tiupkan ketabahan-ketabahan di masa-masa hatinya kecut menghadapi dunia itu, kini terdengar seperti suara asing yang ia tidak mengerti. Otaknya menolak disuruh berpikir, seperti segenggam pasir hangat yang merindukan air.
Sekali lagi ia bangun, duduk, dan kembali terdengar suara yang itu-itu juga, tapi kini meraung-raung, “Yogya jatuh! Yogya jatuh!”
Ia mencoba berpikir di mana Yogya itu. Tapi tak mampu. Dan tanpa setahu dan sesadarnya, musik gambus kian larut malam kian mendayu-dayu. Sedang bunyi biola itu meremas-remas jantung. Akhirnya keruyuk ayam yang permulaan terdengar. Ia ingin ke kamar kecil. Ia ingin turun, tetapi mata kuning tanpa tubuh itu mendorongnya jatuh kembali di atas bantalnya. Ia ingin mengubah mata kuning itu menjadi merah, jadi mata Chaidir. Tapi ia pun tidak ingat lagi siapa itu Chaidir.
Sekali lagi jendela kamarnya di ketuk-ketuk dari luar. Sekali lagi terdengar suara ibunya. Tetapi kemauan yang mulai timbul dalam hatinya kini patah kembali. Ia kehilangan kesadarannya lagi.
Dan kesadaran itu mulai hendak bangkit lagi, sewaktu dirasanya ada seseorang di sampingnya, dan meletakkan kepalanya yang berbau wangi itu di atas bantalnya juga. Tapi lampu kamar itu… di mana lampu kamar yang tadi menyala? Ia rasai beberapa lembar ujung misai menusuk mukanya, dan terdengar olehnya bisikan bercampur bau abab yang asam dan aneh, mencabar penciumannya. Ia rasai tangan yang menulang-nulang seperti besi yang mengandung daya berani itu melayang-layang di atas tubuhnya. Akhirnya kesadarannya padam lagi.
Waktu malam telah berganti pagi, ia masih dalam keadaan seperti itu.
Dan waktu sinar matari menerobos kere jendela untuk pertama kalinya, seperti ada sesuatu tenaga kesadarannya diguncangkan. Ia terbangun, duduk, memikirkan apa sebenarnya yang telah terjadi. Dan kembali suara yang satu itu berdengung-dengung ngilu, “Yogya jatuh! Yogya jatuh!”
Ia kocok matanya. Ia hendak melompat turun. Tetapi tubuh hitam panjang di sampingnya itu kembali menangkap pergelangannya. Ia melawan. Mereka bergumul. Tapi ia kalah. Dan ia terlempar lagi ke atas ranjang. Kini ia hanya bisa menunggu dan menderitakan serangan tanpa bisa membela diri.
“Bukan saja Yogya yang jatuh. Juga aku,” bisiknya pada diri sendiri.
“Apa lagi mau kau lawan?” pemuda Arab itu mengejek. Ara diam saja.
“Sekarang tak ada lagi permusuhan,” Jusman meneruskan. “Yang ada sekarang cuma satu: kepatuhan. Barangsiapa tak sanggup patuh, dia dihancurkan.”
Ara menggaruk muka Jusman sekuat ia dapat. Pemuda itu mendengus menghinakan. Dengan sabarnya ia letakkan ujung kukunya pada muka Ara. Katanya mengancam: “Kalau kukuku kusuruh bekerja, sekarang juga riwayatmu tamat. Akan kutamatkan riwayatmu? Ayoh bicara. Ha? Aku garuk?” Matanya melotot, lebih kuning dari biasanya.
Ara tersedan-sedan. Ia rasai bagaimana pahit menderitakan kekalahan.
“Jangan. Jangan,” pintanya, dan ia rasai bagaimana hinanya dirinya sekarang ini.
Demikianlah. Kehidupan berjalan terus—disukai atau tidak disukai. Baik Ara, Jusman, dan siapa pun juga di waktu itu hanya butir-butir pasir yang membentuk bumi kehidupan.
Telah sebulan Ara tinggal dalam genggaman kekuasaan pemuda Arab itu. Ia tak dapat merasakan lagi dirinya mati atau hidup. Hanya masih ada satu keinginan tinggal: ia ingin mendapatkan hubungan dengan dunia luar. Ia ingin tahu tentang nasib Revolusi. Tapi tak pernah ada koran masuk ke dalam rumah itu. Tak ada selembar buku pun, selain buku catatan kecil yang selalu berada di kantong Jusman. Ia tidak pernah tinggalkan tempat itu.
Dan waktu setelah sebulan ia hidup dalam keramahan, ia mulai melihat, memang ada sesuatu yang baik pada pemuda itu: Jusman mencintainya dengan gairah yang selalu menggelora.
“Seakan kau tak suka aku hidup sebagai manusia biasa,” sekali waktu Ara berkata pada Jusman.
“Apa yang kurang? Cinta? Kau dapatkan seluruhnya dari aku. Kau sekarang sudah mulai gemuk. Pakaianmu sudah cukup. Apa lagi?”
Sudah sejak semula Ara dapat rasakan, pemuda itu tidak mempunyai sesuatu perasaan apa pun, bila tidak mengenai kepentingan dirinya sendiri. Dan sejak semula ia pun dapat rasai, pemuda itu tak punya sesuatu perhatian terhadap segala yang terjadi di sekitarnya terkecuali gambarnya, dan kadang-kadang ia pergi entah ke mana. Ia tak tahu apa pekerjaan pemuda itu. Ia pun tak tahu benar dari mana sumber penghasilannya. Tetapi terhadap dirinya, ia lakukan segala yang dirasa akan menyebabkan ia bersenang hati. Kadang-kadang Ara merasa belas terhadapnya, namun kemuakan terhadapnya tidak pernah surut. Ara mencoba melupakan perbuatan-perbuatan pemuda itu yang sangat membuatnya merasa mual. Bahkan sikapnya terhadap ibunya pun masih nampak sikap seorang majikan terhadap bujangnya!
“Aku ingin tahu apa sesungguhnya telah terjadi di luar.”
“Tapi kau tidak boleh keluar tanpa izinku.”
“Belilah radio.”
Hari itu juga rumah itu dihiasi dengan sebuah radio yang cukup mahal.
Malam itu, barulah ia dapat merasakan kenikmatan musik setelah hampir dua tahun hidup montang-manting tiada menentu. Ia suka musik apa saja, tapi terutama yang mengantarkannya pada kenangan-kenangan zaman senang dulu. Pada Oom Didong, pada Oom Asmara, pada semua kawan sepanggung. Pada lemparan-lemparan uang pada kakinya di atas panggung. Pada tepuk sorak yang membelah gedung. Dan semua adalah untuknya, untuknya sendiri. Tiba-tiba ia ingat pada Oom Djamal. Ah, Oom Djamal, sesuai benar dia dinamai Oom “Djamal Gattal.” Lucunya orang itu, kesukaannya hanya petentang-peten-teng memamerkan dirinya yang pendek gemuk. Ah, Oom Djamal Gattal periang itu.
Kenangan-kenangan mendadak berhenti. Warta berita itu kini menyeretnya ke zaman Revolusi, ke bumi Revolusi, beberapa ribu langkah saja dari tempatnya duduk sekarang. Dan berita radio itu dengan lancar melukiskan bagaimana kekuatan pemuda Indonesia telah digencar, dikoyak-koyak, dipatahkan, diserbit, disobek-sobek. Pada akhirnya warta berita dalam negeri itu menceritakan sesuatu yang pernah bersinggungan dengan hidupnya: “Penyair Chaidir meninggal dunia. Tadi siang telah dimakamkan dengan upacara sederhana di Karet…”
Chaidir mati. Chaidir? Yogya telah jatuh. Para penguasa dan pembesar sudah kibarkan bendera kain kafan, menyerahkan diri dalam perlindungan Sri Ratu. Sekarang Chaidir pula. Dia meninggal! Dia—R evolusi itu sendiri! Dan aku— aku sendiri telah patah dua di sini. Aku—Revolusi itu sendiri juga, seperti kata Chaidir. Apa nasibnya Revolusi kemudian? Chaidir mati. Chaidir anak kerempeng bermata merah itu.
Tapi Ara tak bicara sepatah pun tentangnya.
Waktu Jusman pagi keesokan harinya pulang, segera ia menghampiri.
“Jus,” tegurnya manis.
“Kau sudah mulai bicara denganku sekarang, Ara!” Jusman berseri-seri berbahagia. Ja tangkap tangan Ara, ia tarik dan dipeluknya erat-erat.
“Belikan aku semua surat kabar kemarin dan sekarang. Juga semua majalah. Kau dari mana?”
Jusman hanya tersenyum. Dan kumisnya berayun sekilas.
“Mau kau belikan?”
“Nanti sore. Biar aku istirahat dulu.” Buru-buru ia ganti pakaian, pergi ke kamar mandi, langsung masuk ke kamar, dan segera kemudian tidur dengan nyenyaknya.
Ara menghampirinya. Dilihatnya wajah pemuda itu, dan mengapa dia begitu berubah? Mulutnya sedikit ternga-nga. Matanya pun sedikit ternga-nga. Dan wajahnya itu… garis-garis yang samar-samar menggurisi wajah itu… ah, ia tak pernah lihat adanya garis-garis itu. Mungkin dia terlalu lelah semalam. Mungkin banyak pemuda yang telah ditangkapnya, mungkin dibunuhnya. Tapi wajah itu! Mengapa seperti tikus klenger? Tiba-tiba Ara merasa jijik melihat wajah itu. Balik kanan jalan, menghampiri celana Jusman yang tergantung pada sebatang paku. Tidak, dia tidak akan ketahui: dikeluarkannya buku catatan kecil dari dalamnya. Kurang ajar! Ara tak dapat membacanya. Semua tertulis dalam huruf dan mungkin juga dalam bahasa Arab. Dengan hati-hati ia kembalikan buku kecil itu dan pergi keluar kamar.
Sudah sejak sepagi ia pasang radio, tapi lanjutan berita tentang Chaidir ternyata tak ada. Revolusi yang mati di atas bumi tanah air, dan bumi tanah air yang sedang dikepal musuh. Nasibnya seperti aku. Tapi aku belum lagi mati. Aku baru menjalani lakon. Dan lakon ini, bagaimanapun akan tamat.
Sudah sejak di rumah ini ia ingin menulis, ingin mengarang. Tetapi ia tak mampu. Ia ingin menyusun sebuah repertoire sandiwara yang melukiskan kebesaran Revolusi, dan ia akan tunjukkan dirinya sendiri di tengah-tengah situasi revolusioner, sebagai tokoh dan juga sebagai api Revolusi itu sendiri. Ia akan tokohkan pikiran-pikirannya dan perasaan-perasaannya. Ia akan hukum pembesar-pembesar dan penguasa-penguasa zaman Revolusi itu, yang bercokol seperti feodal baru di atas pundaknya tubuh Revolusi, dan yang segera terbirit-birit apabila saatnya datang untuk menentukan sikap dan mengambil tindakan. Berkali-kali ia mencoba merancang bagan, tetapi selalu gagal. Mungkin opsir piket dulu itu, yang mengaku seniman, dapat tolong aku dalam keadaan seperti ini. Di mana dia sekarang? Sudah tewas juga seperti Chaidir? Sudah tewas bersama Revolusi itu sendiri?
Ia terbangun dari renungannya waktu Jusman bangun, pergi mandi, berdandan, dan kemudian duduk di sampingnya.
“Aku harus pergi sekarang,” katanya.
“Kau belum lagi makan.”
“Aku makan di luar. Makanlah sendiri. Aku pergi sekarang.” Dan tanpa menunggu sesuatu jawaban ia pun telah keluar rumah.
“Koran dan majalah jangan lupa.”
“Ho! dan hilanglah ia dari pemandangan. Hari itu berlalu dengan lambatnya. Pada jam lima sore Ara mencoba kembali mencari berita tentang Chaidir melalui radio. Tetapi tiada sesuatu pun memenuhi harapan, selain berita tentang tertangkapnya beberapa orang pemuda di berbagai tempat gerakan-gerakan pembersihan dan bentrokan-bentrokan bersenjata di sana-sini. Malam datang, tapi Jusman tak juga datang. Pintu-pintu telah mulai dikunci, tetapi Jusman masih juga belum muncul. Pada jam sebelas malam, terdengar mobil berhenti di depan rumah. Seseorang memanggil-manggil dari luar membuka pintu. “Siapa!” Ara berseru ketakutan. Lasmidjah datang menghampirinya. Demikian juga beberapa orang lain dalam rumah itu.
Bo…
“Sersan Mossel,” terdengar suara seorang Belanda dari luar.
“Kami tidak kenal.”
“Buka pintu, ada soal penting.”
“Jusman tidak ada.”
“Kami tahu. Kami datang bawa berita tentang Jusman.”
“Di mana dia?”
“Di rumah sakit. Bukakan pintu.”
Mereka di dalam rumah itu tidak membukakan pintu. Terdengar sersan Mossel mendengus-dengus dalam bahasa Belanda, kemudian terdengar juga ia menggebrak-gebrak pintu pagar, berteriak menyatakan tak senang hatinya, “Buka! Ada kabar jelek. Jusman kena celaka. Dia ditembak orang di Gang Tengah.”
Mereka di dalam rumah tetap tidak membukakan pintu. “Baik. Baik. Kalau begitu, ini, pesannya aku lemparkan.” Dan menggedebuk bunyi sesuatu jatuh di atas lantai beranda.
“Kalau ada keperluan, datang di Basis Commando, yah, bertemu sersan Mossel. Jangan lupa sersan Mossel!” Sebentar kemudian terdengar derung jeep, kian lama kian lenyap.
Dan kemudian kehidupan berjalan lagi dari semula.
Lasmidjah merengkuh tangan anaknya, maju ke depan sambil bertanya, “Jusman? Ditembak orang?”
Orang serumah yang telah menggerombol itu, kini berpandang-pandangan. Masing-masing bertanya satu pada yang lain. Tiba-tiba ada seorang di antaranya bertanya, “Benar-benar? Apa orang jahat?”
Mereka menunggu-nunggu. Tak ada yang menjawab.
Juga tak ada terdengar suara sesuatu pun dari luar rumah.
“Mari kita lihat,” Ara mengusulkan. “Lampu matikan dulu.”
ISO
Nana Met ERA pe “Bagaimana dengan Jusman? Apa kita mesti perbuat?” seseorang bertanya.
“Matikan lampu,” Ara memerintahkan. Tak ada yang tahu siapa mengerjakan perintah itu. Tetapi lampu telah padam. Gelap-gulita di dalam. Perlahan-lahan Ara membuka pintu sambil mendengar-dengarkan. Hanya suara burung malam menyanyi ngilu. Sudah lama tembakan tak terdengar lagi di dalam kota. Ia tarik daun pintu. Dan sinar rembang bulan yang baru timbul menyambutnya. Di hadapannya tergeletak sebuah bungkusan. Granat? Bom-waktu dari barisan pemuda? Ia mendorong benda tersebut dengan kakinya, Bukan barang logam. Ia membungkuk dan memungutnya. Orang-orang di belakangnya mundur selangkah. Ara rasai sesuatu yang lengket merekat pada benda tersebut. Ia mencium-cium dan tercium bau amis mengawang dari benda tersebut. Tiba-tiba ia menjadi curiga, cepat-cepat masuk ke dalam kembali, dan mengunci pintu.
“Lampu!”
Dan sekaligus lampu menyala.
Di hadapannya di lantai, tergeletak sebungkus benda yang berlumuran darah. Bungkus setangan besar berlumuran darah ia urai, dan… segulungan koran dan majalah ada di dalamnya. Tiada sesuatu pun yang patut dicurigakan. Dan darah itu… Benda itu sekaligus memberitakan pada Ara, Jusman selalu ingat akan dirinya. Sudah pasti ia meminta pada seseorang untuk menyampaikan padanya, apa yang dipesankannya pada Jusman. Ia terharu dan matanya berkaca-kaca. Dia cintai aku! Dia begitu jujur padaku. Tapi hatiku bukan buat dia. Hatiku buat sesuatu yang lain: Revolusi.
“Darah Jusman,” seseorang berkata.
Mata Ara bertebaran dari bungkus berlumuran darah dan gulungan majalah serta koran. Ia ambil selembar dari koran-koran berbahasa Belanda, di halaman depan, ia tidak temukan sesuatu pun yang boleh dianggapnya penting.
Di bawah koran Belanda itu tergelar harian Fajar, yang dikeluarkan oleh RVD8. Di sebuah pojok terdapat berita kecil “Penyair Chaidir Meninggal” dan di bawahnya “Bekas, Perdana Menteri … berpidato pada upacara penguburannya.” Juga koran-koran itu berbercak-bercak kena darah.
Chaidir! Revolusi! Dia menarik nafas begitu keras. Ia bongkar seluruh majalah dan harian. Tangannya berbercak-bercak kena darah pula. Ia pergi ke bawah lampu dan mulai membalik-balik semua. Dan, “Ara! Kebangetan kau! Jusman kena celaka. Tanganmu kena darahnya. Kau enak-enakan baca koran!” tegur ibunya.
Ara meletakkan koran dan majalah di atas meja. Ia pandangi semua yang ada di dekatnya seakan minta perintah apa yang mesti diperbuat. Tapi tak seorang buka mulut. Bahkan ibunya sendiri tak tahu apa mesti diperbuat.
“Apa kita kerjakan sekarang?” Ara bertanya.
“Kau yang paling mengerti, Ara,” ibunya menyela.
“Katakan apa mesti kita perbuat sekarang.”
“Bersihkan darah itu,” Ara memberi perintah. “Bukan itu,” sela ibunya sekali lagi.
“Apa kita mesti perbuat—Jusman maksudku.”
Dalam hati Ara tertawa. Biar dia rasai apa yang selama ini hanya dirasakan pemuda-pemuda pejuang. Mati dia? Atau oo mi ca cuma luka? Ia tak ingat betul kata orang tadi. Bertanya, “Bagaimana Jusman? Parah atau enteng lukanya?”
Tak ada yang tahu.
“Di rumah sakit mana dia dirawat?”
Tak ada yang tahu.
“Kalau begitu darah itu saja bersihkan. Biar dia diurus besok. Jusman sudah di tangan dokter,” Ara tak tahu apa mesti dikatakannya. Bagaimana ia harus sembunyikan wajahnya.
Bahkan ia tak tahu apakah hatinya girang, sedih, atau polos saja. Dan apakah aku harus menunjukkan kesedihanku? Dan untuk menutupi kebingungannya, ia berkata pada ibunya: “Seka darah dari koran-koran itu. Bu, tolonglah Ara.”
Lasmidjah mengawasinya tak mengerti. Menggeleng lemah, kemudian, “Begitu lama aku dikurung di sini Ara.”
“Jangan dikira aku tidak mengerti ibu. Aku tahu. Juga ibu tahu perasaanku. Karena itu tolong selamatkan mukaku. Aku tak tahu bagaimana harus bersikap.”
“Bodohnya kau, Ara, biar bagaimanapun kau benci padanya, perlihatkanlah kesedihanmu. Kau mestinya tanya, kau mestinya perlihatkan mengkhawatirkan jiwa Jusman. Bagaimanapun dia lakimu.”
Mereka masih tinggal berdua. Dan waktu orang-orang lain datang pula, Lasmidjah segera pergi lagi membawa koran dan majalah untuk diseka.
“Kalau sudah, tolong bawa ke sini lagi, bu.” Dan kepada orang-orang lain, “Seorang di antara kalian besok pergi ke Basis Commando, tanyakan di mana Jusman dirawat.”
“Kau sendirilah mestinya, Ara. Kau perempuannya.”
“Lancangnya,” Ara memutuskan, “aku tak boleh tinggalkan rumah ini tanpa izinnya.”
“Tapi kaulah perempuannya.”
Ara tak dapat mengatakan sesuatu pun. Ia tak tahu bagaimana harus bersikap waktu ibunya datang lagi membawa koran dan majalah, ia hampir-hampir tak dapat mengendalikan diri. Buru-buru ia lari ke kamar dan meneliti segala penerbitan itu. Anehnya, mengapa aku sekarang tak dapat main sandiwara? Aku anak panggung ini? Ia tutup mukanya dengan kedua belah tangan untuk menyembunyikan wajahnya, untuk memperlihatkan pada mereka bahwa ia sedang bingung. Tetapi tambah ia mencoba bersandiwara, bertambah ia tak dapat menahan keinginan-keinginannya untuk segera meninggalkan panggung terkutuk sekarang ini dan mengikuti pengalaman-pengalaman Chaidir yang terakhir dalam penerbitan-penerbitan itu.
“Biarlah, tidur semua kalian. Besok saja dipikir,” kata Lasmidjah.
Suara itu seperti wahyu yang turun dari langit, langsung mengunjungi hati Ara. Ia berterimakasih pada ibunya untuk ke sekian ratus kalinya.
“Ibu!” ia berbisik pada orang tua itu.
Berdua mereka menuju ke kamar, diikuti dengan curiga oleh pasang-pasang mata lain.
Mereka berdua duduk di atas ranjang. Lasmidjah mengawasi anaknya seperti hendak memahatkan wajah itu untuk dibawanya bekal mati. Perlahan-lahan hampir berbisik ia memulai: “Mengapa kau kemari. Ara, aku sudah pesan, kau mesti kembali ke pedalaman.”
Dan inilah untuk pertama kali ibu dan anak itu bisa berhadap-hadapan sebagai seorang ibu dan seorang anak.
“Ibu, kalau bisa ditempuh jalan itu, tentu sudah kutem- “Mengapa pergi juga ke sarang ini?”
“Kalau ada jalan keselamatan, tentu juga kutempuh jalan itu ibu.”
“Sayang. Perjuanganmu jadi sia-sia, Ara.”
Bulu badan Ara meremang. Sekaligus ia mengerti, bukan perjuangannya, tapi perjuangan ibunya yang telah dirusakkannya. Untuk menghiburnya, segera ia pun memberikan hiburannya, “Ibu, kau pejuang yang gagah berani.”
“Huss, diam.”
“Tapi ibu, setiap pejuang harus selalu bersedia untuk kalah.”
“Bersedia kalah?”
“Dalam perjuangan, bukankah kekalahan harus selalu diterima sebagai sahabat?”
“Ara, aku tidak mengerti. Tentu kau lebih tahu dari aku. Tapi aku sungguh menyesal kau datang kemari.”
Ara mengawasi ibunya. Sekali lagi ia maklum ibunya merasa perbuatannya selama ini dirusakkan oleh anaknya sendiri, anak yang disayangnya, anak yang dijaganya agar jangan sampai rusak hatinya, tertindas batinnya. Tak dapat ia menahan serangan haruan dalam hatinya. Dan dengan suara setengah menangis ia berkata, “Biarlah kita kalah sekali ini, ibu.”
Ibunya menunduk. Nampak matanya berkilau-kilau kena cahaya lampu listrik.
“Tidurlah, bu, sudah larut malam sekarang.”
“Aku tahu aku mesti tidur, Ara. Tapi bagaimana sikapmu sekarang?”
“Ibu, biarlah kita tidak bicarakan lagi soal ini.”
“Tapi kau pejuang!”
Ara menaruh koran-koran dan majalah-majalah di atas bantalnya. Ia menghela nafas panjang. Meletakkan tangan di atas bahu ibunya dan kepalanya di atas pangkal lengan.
“Tapi bagaimana sikap Jusman sendiri?”
“Siapa dapat menduga pemain gambus, tinggal di daerah pendudukan pula?”
“Kita bicarakan besok saja, ibu.”
“Baru sekarang kita bisa bicara, Ara. Aku ingin tahu bagaimana sikapmu sekarang.”
“Kami belum lagi kawin, ibu.”
“Itu saja jawabmu?”
“Barangkali.”
“Tapi sudah lama kau hidup dengan dia. Sekarang dia kena celaka. Kau tak juga punya sikap.”
Ara merasai adanya sebongkah batu tumbuh di dalam kepalanya. Ia tak mampu mengambil sikap. Ia letakkan kepalanya di atas bantal sekarang. Wanita tua itu bangkit dari duduknya, berjalan lambat-lambat keluar dari kamar. Ara memandanginya sebentar kemudian berbisik: “Harus bagaimana aku sekarang? Bagaimana?” juga tanpa jawaban.
Semalam Ara menelan seluruh berita tentang Chaidir yang termuat dalam harian dan majalah tapi ia masih juga belum puas. Revolusi yang menderu-deru yang hidup dan menggelagak dalam diri penyair itu, tidak nampak dalam semua pemberitaan tentangnya. Si perdana menteri dalam upacara penguburannya itu pun tidak menerjemahkan deru dan gelegak Revolusi ini. Nasib Revolusi! Dia tidak disebut-sebut orang lagi, biarpun dialah sumber segala-galanya ini.
Kepalanya sedikit pening. Tapi ia tiada pedulikan. Peristiwa penembakan Jusman itu sekali pukul telah mengubah kedudukannya dalam keluarga ini. Ia menjadi pusat keluarga. Posisi itu membuat ia menjadi makin kalang-kabut. Yang lain masih terus bertempur—pemuda-pemuda itu. Tapi aku kebingungan bagaimana mesti ambil sikap, bagaimana mesti mengatur orang-orang ini, biar diri disayangi Jusman! Bahkan seribu, dua ribu Jusman tak pernah dibutuhkan oleh Revolusi, apalagi yang seorang ini.
Pagi itu ibunya telah pergi ke Basis Commando. Sekarang belum lagi pulang. Pemain-pemain gambus itu tak pernah datang lagi selama ia ada di rumah ini, terkecuali dengan perjanjian, dan terkecuali Jusman menyediakan diri untuk itu di rumahnya. Tetapi permainan gambus itu tak dilakukan lagi di sini.
Siang itu ibunya belum juga datang.
Tepat pada jam satu siang, pemain gambus Achmad datang.
“Nyonya Ara, ada?” tanyanya tanpa upacara atau kesopanan sebagaimana biasanya.
Ara keluar dari kamar dan menyilakan tamunya duduk. Pemuda itu menyengir tiada menentu. Kemudian keluar dari mulutnya, kata-kata yang kering dan keras seperti batu kersik: “Ingin benar diri bertemu Jusman. Kukira dia tidak ada sekarang. Tapi diri boleh bertemu dengan nyonya Ara, bukan?”
Matanya kelap-kelip memandangi Ara. Dan Ara menentang mata hitam seperti mata kijang itu. Kulitnya yang hitam mengkilat, rambutnya yang hitam, mengkilat, dan kaku, kumisnya yang kaku pula—semua memberikan kesan aneh pada Ara. Tiba-tiba Ara menyadari, pemuda di hadapannya yang biasanya dekil dan mesum itu, kini nampak bersih bahkan kemejanya hampir-hampir baru.
“Bukan?” pemuda itu bertanya lagi sambil menunduk dan menyengir.
Ara tak menjawab. Hanya mengawasi rumpun rambutnya yang hitam kilau-kemilau dan berombak-ombak.
“Diri kira, Jusman mesti pergi keluar kota dalam sebulan ini.”
Ara tetap tak menyambut, tetapi matanya terus mengawasi pemuda yang nampak salah tingkah itu. Dalam tunduknya, Ara melihat pada kantong kemeja pemuda itu gumpalan uang Nica. Ara tak tahu berapa, tapi menurut tak sirannya tidak kurang dari tiga ribu.
“Diri ada usul,” katanya kemudian. “Jusman tidak bakal pulang dalam sebulan ini. Bagaimana kalau kita happy-happy ke Bandung? Barangkali untuk seminggu. Barangkali sebulan penuh?”
Waktu pemuda itu mengangkat matanya. Ara masih juga mengawasinya dan mencoba menembus warna hitam pada matanya yang kelam kilau-kemilau itu. Dan di balik mata itu apakah yang tersembunyi? Dia tak bisa berpikir lain kecuali happy-happy. Orang-orang semacam inilah yang meruntuhkan semangat Revolusi dengan cepatnya. Tapi dari mana dia tahu Jusman tidak ada? Dari mana dia tahu Jusman sebulan lamanya bakal tidak pulang?
“Lebih baik kau berterus terang,” Ara memulai.
“Apakah diri kurang berterus terang?”
“Jadi kau yang menembak Jusman?”
Pemuda itu terkejut. Nampak matanya menjadi liar. Dan nampak pula ia berusaha menguasai kegugupannya. Dengan keras dan kering muncul kata-katanya, “Diri tidak pernah bilang menembak Jusman.”
“Dari mana kau tahu dia tidak bakal pulang?”
“Tapi diri tidak bicara apa-apa tentang penembakan itu.”
“Dari mana kau tahu dia tidak pulang dalam sebulan ini, tanyaku?”
Pemuda itu berdiam diri sebentar. Kemudian bangkit berdiri dan berjalan mondar-mandir.
Dengan suaranya yang kering itu ia meneruskan, “Diri hanya mengajak kau happy-happy ke Bandung. Kau mau syukur! Tidak mau juga syukur. Tapi…” ia berhenti. Berdiri mengawasi Ara sekarang, sebentar kemudian menunduk dan meneruskan, “Hati-hatilah. Aku tahu sifat Jusman.”
“Maksudmu kau mengancam aku?”
“Diri tidak mengancam. Tapi kau mestinya mengerti maksudku.”
“Pergilah kau, kau juga membutuhkan keselamatan.”
Pemuda itu melotot mengawasinya: “Jadi kau yang mengancam aku?”
“Diri tidak mengancam. Tapi kau semestinya mengerti maksudku?” Ara mengulangi kata-kata pemuda Arab itu.
Sekali lagi pemuda itu melotot mengawasinya, kemudian balik kanan, jalan dan pergi tanpa meminta diri.
Sore itu ibu Ara belum juga datang.
Seorang pemuda Arab lainnya, juga pemain gambus sore itu datang. Langsung bercerita: Jusman ditembak oleh pemuda sewaktu turun dari rumah kawannya pada sebuah toko perkakas rumah tangga di Gang Tengah. Ia tak tahu benar bagaimana nasibnya. Kepalanya kena. Tapi perutnya tembus.
Orang mengira dia telah mati. Kemarin jam delapan malam peristiwa itu terjadi.
“Kalian sahabatnya, bukan? Mengapa tidak kalian urus?”
“Kami mengurusnya? Mestikah kami ditembak juga oleh pemuda?”
“Pemuda?” Ara berdebar-debar.
Jadi Revolusi belum lagi bangkrut sama sekali, sekalipun sudah banyak para pembesar dan penguasa sudah angkat bendera kain mayat! Ia tersenyum. Aku sudah kalah sekarang, tapi Revolusi belum lagi bangkrut! Aku sudah kalah tapi besok, mungkin lusa, mungkin sebulan, mungkin setahun lagi, aku pun bisa menangkan dia! Debaran jantung sekali ini terasa sedemikian tebal darahnya. Ia terharu. Matanya berkaca-kaca. Indahnya dunia ini bila pemuda masih tahu perjuangan!
“Kau tahu benar?” Ara mendesak.
“Siapa lagi? Biarpun kami hanya menduga-duga. Siapa lagi? Belanda? Tidak mungkin. Dan kami dengar gerakan pemuda di sini sekarang mulai meningkat lagi.”
“Pembunuhan sudah terjadi di sana-sini. Kau tak tahu, Ara, bagaimana cemas kami di hari-hari belakangan ini.”
“Tapi kalian masih terus main gambus.”
“Main gambus? Sudah empat bulan tidak!”
“Empat bulan? Kalau main di radio?”
“Itu lain lagi, kami dikawal.”
“Main gambus dikawal?”
Pemuda Arab itu termenung sebentar. Terdengar ia menelan ludah.
“Minum?” Ara menawarkan.
“Dengan segala senang hati. Berilah aku minum.”
“Ada kau ketahui sedikit tentang pemuda itu?”
“Siapa yang tahu, setan-setan laknat itu?”
“Di mana terjadi banyak pembunuhan?”
“Di mana-mana. Kramat, Tanah Abang, pinggiran kota. Malah di Tanjung Priuk sendiri, Cilincing.”
Ara mendengar dengan hati kian berdebaran. Tidak, dia tidak boleh tahu maksudku. Dia mesti dibelokkan: “Bagaimana Jusman?”
“Sepagi dan sesiang ini aku sibuk mondar-mandir cari keterangan. Datang ke polisi. Polisi bilang, sudah diurus militer. Mereka tidak tahu, disuruh ke militer. Militer banyak, militer yang mana? Datang ke MP, mereka bilang mereka memang mengurus juga hal-hal seperti itu, tapi katanya sudah ditangani Basis Commando. Jadi aku datang ke sana. Tapi semua mereka malah mencurigai aku. Kowe keluarganya? Mereka tanya. Cuma kawan saja kataku. Kita orang tidak ada urusan sama kawan-kawannya, katanya. Jadi buru-buru aku datang kemari buat cari keterangan. Kau sendiri tidak tahu, Ara? Mari ke sana, kau ia…, ia… istrinya, bukan?” pemuda Arab itu membuang mukanya.
Ara mengerti. Ia pun membuang muka ke arah yang berlainan. Tidak, aku tidak sepengecut itu menghadapi kenyataan. Menyambung, “Tidak, aku bukan istrinya.”
“Setidak-tidaknya kau hidup bersama dengannya.”
“Benar.”
“Kau lebih dari hanya seorang kawan.”
“Itu tidak benar. Aku tak pernah jadi kawannya.”
Pemuda Arab itu mengawasinya dengan hati-hati, mengambil saputangan dari kantong dan menyeka keningnya yang telah basah oleh keringat. Waktu minuman datang, tanpa disilakan ia meneguknya habis sampai di dasarnya.
“Jadi?”
“Hh, jadi apa aku mesti namai? Sahabat hidup?”
“Tidak tepat!”
“Jadi?”
“Aku hanyalah tawanan yang dipekerjakan.”
“Tawanan!” pemuda itu berseru. Seperti orang terkejut ia bangkit berdiri, “Jadi kau orang Republik, maksudmu?”
“Kau pernah pulang ke negeri Arab?” Pemuda itu menggeleng. “Kau begitu sia-sia saja bicara tentang perjuangan. Kau tak pernah membutuhkan perjuangan itu.”
Berita-berita dari radio kian lama kian banyak mengabarkan tentang bentrokan-bentrokan bersenjata. Mula-mula di dekat Yogya, kemudian di sebelah baratnya. Dan makin lama makin banyak terjadi ke arah barat. Bila tempat-tempat bentrokan tersebut ditandai, dan diberi bergaris, akan nampak suatu garis yang terus-menerus menuju ke arah barat dari Yogya menuju ke Jakarta. Ara menganalisis bentrokan-bentrokan itu dengan cara sebagaimana pernah didengarnya dari obrolan beberapa opsir. Dulu di pedalaman.
Berita-berita lain yang mengabarkan serangan Belanda terhadap suatu tempat di dekat Purwokerto dengan mengerahkan angkatan udaranya, menimbulkan perkiraan pada Ara, bahwa gerakan ke barat ini bukanlah suatu kebetulan, tetapi memang telah direncanakan.
Dan datanglah hari itu: Jusman pulang, diantarkan oleh sebuah mobil militer. Seorang opsir Belanda mengantarkannya masuk sampai ke dalam rumah, duduk di atas kursi. Dengan kaki sebelah ditopangkan pada kaki yang lain, opsir Belanda itu menunggu Jusman keluar dari kamar lagi.
Waktu itu Ara sedang berada di kamar. Ia sedang merenung, ke luar jendela. Segera Jusman menghampiri dan M1 an ae dengan kasar ditariknya tangan Ara, dipeluk dan diciumnya. Tak pernah Ara mengalami perlakuan yang sekasar dan juga segairah itu. “Kau pulang?” Jusman merenggangkan pelukannya dan memandangi Ara tenang-tenang. Pada matanya menyala nafsu berahi yang tiada terkendalikan. Dan Ara melihat suatu galur panjang bekas luka pada pipi dan pelipis Jusman. Dan bekas luka itu berwarna merah muda. “Kau tak pernah tengok aku di rumah sakit,” Jusman segera menyerang. “Kau sendiri tak pernah izinkan aku keluar dari rumah ini.” Opsir Belanda yang menunggu di ruang tengah mendeham.
“Ada tamu?” Ara bertanya. Jusman mengangguk. “Layani tamumu.”
Waktu Jusman telah keluar dari kamar, Ara rasai betapa kini jantungnya berdebaran. Sikap pemuda itu telah jauh berlainan daripada dahulu. Begitu kasar dia sekarang.
“Barangkali sekarang sudah tak ada yang perlu kukerjakan untuk tuan,” ia dengar Jusman memulai.
Terdengar Belanda itu tertawa.
“Masih banyak,” katanya. “Memang benar keadaan makin susah, tuan masih sangat dibutuhkan,” opsir itu terdengar tertawa lagi. “Basis Comandant tidak akan lupakan pengurbanan tuan. Barangkali ada permintaan sesuatu?”
Ara tak dengar kelanjutan percakapan itu selain derung mobil yang sebentar kemudian terdengar, dan Jusman dengan wajah merah tergapah-gapah masuk ke dalam kamar kembali. Perubahan pada wajah Arab itu menimbulkan ngeri dalam hati Ara. Ada sesuatu yang terjadi. Ada sesuatu. Dan mata hitam yang menyemburkan nafsu berahi tiada terkendalikan tercampur suatu sinar yang ia tidak pahami, membuat dirinya mengkerut menjadi kecil.
Jusman melangkah perlahan-lahan, perkasa, menghampirinya. Sekali lagi ia tangkap pergelangan Ara. Tapi ia tak bicara apa-apa. Matanya melotot hampir-hampir diloncatkan dari rongganya. Kini cengkraman kakaktua itu terasa hendak membenam ke darah daging pergelangannya.
Ara mencoba memikirkan jalan untuk membela diri, apabila terjadi sesuatu. Dan ia tak berani menentang mata hitam yang berapi-api itu. Apa yang dikehendaki Jusman sekarang ini? Tentu yang biasa! Tapi mengapa matanya begitu aneh?
“Apa jawabmu,” tiba-tiba Jusman berbisik dengan suaranya sedemikian mantapnya seperti geledek.
Ara tak mengerti maksudnya. Cengkaman kakaktua pada pergelangan tangannya itu kini benar-benar tak tertanggungkan nyerinya.
“Apa jawabmu!”
“Kau belum lagi bertanya,” Ara menjawab dengan suara lambat, perlahan ketakutan.
“Orang seperti aku tak dapat kau bohongi. Siapa saja boleh aku perlakukan sesuka hatiku. Ingat-ingat kata-kataku.”
Barangkali dia sudah gila, pikir Ara. Mungkin otaknya sudah terganggu kena singgung peluru. Pikiran itu menyebabkan ia berusaha untuk lebih waspada terhadap setiap kemungkinan. Aku tidak boleh takut. Ketakutan tidak akan menolong diriku.
“Aku tidak mengerti!” katanya kemudian.
“Tidak mengerti! Apa bukan pura-pura tidak mengerti?”
“Coba katakan apa maksudmu.”
“Kau tak pernah tengok aku.”
“Kau tak pernah izinkan aku keluar dari rumah.”
“Aku sudah dengar. Mestinya kau mengerti bagaimana rinduku padamu.”
“Hanya karena itu?”
“Hanya karena itu? Aku tahu kau tak pedulikan aku. Kalau tidak, pasti kau datang.”
Mata pemuda itu kian menyala. Tapi sekarang suaranya tidak seyakin tadinya. “Bukan karena tanpa izinku kau tak mau tengok aku.” Dan tiba-tiba suaranya kini mengancam lagi. “Siapa kau masukkan ke dalam rumah ini?”
“Masukkan?” Dan sebelum Ara sempat memahami sesungguhnya apa maksud pemuda itu, amarah telah menjompak dalam hatinya. Ia lupa pada kekecutan hatinya. Ia lupa bahwa setiap saat dirinya berada dalam bahaya. Tangannya yang bebas telah melayang menampar mulut pemuda itu. Tapi Jusman kini dengan ganas menariknya lebih dekat pada tubuhnya. Dan cengkaman kakaktua pergelangan tangan itu kembali menyakiti dagingnya.
“Kau sudah masukkan Achmad ke dalam kamar ini.”
Sekarang Ara tahu perubahan sikap Jusman. Ia mengerti pemuda itu cemburu. Dan ia tahu benar cara meredakan hati yang cemburu. Ia tersenyum, membuang muka, menyeka bibirnya dengan punggung lengannya yang masih bebas, ia lenyapkan ketegangan tubuhnya.
“Jadi kau cuma tersenyum?”
“Sekiranya benar, apakah hakmu menegur? Apakah aku Da Ea ini? Istrimu?” Cengkaman kakaktua itu mengendur, akhirnya lepas sama sekali. “Tapi kau jangan lupa ini rumahku.”
“Kalau ini rumahmu mengapa aku sampai sekian lamanya di sini. Tanpa semau hatiku sendiri? Kau kuasa memang.”
“Artinya kau masukkan Achmad ke dalam kamarku?” Ara menggeleng. “Buktikan kalau tidak.”
“Buktikan kalau ya. Kau sendiri yang masukkan orang dalam kamarmu ini, aku!”
“Wan Jusman, wan, wan…,” terdengar suara Lasmidjah dari luar kamar. Dan terdengar juga ia mengetuk-ngetuk pintu. Dengan kasarnya Jusman memunggungi Ara melangkah ke arah pintu dan membukanya. “Ada apa?” tanyanya kasar. “Kami baru tahu Wan Jusman pulang.” Perhatian itu meredakan amarah Jusman. “Terima kasih Idjah, kau sudah urus aku. Apa anakmu juga kau jaga?”
“Lasmidjah ini cuma ibunya, wan, bukan anjingnya.” Sekaligus Jusman mengerti Lasmidjah berpihak pada anaknya. Mendadak ia menarik kesimpulan, bahwa Ara tidaklah berbuat sebagaimana ia dengar dari beberapa berita. Tidak mungkin Ara berbuat demikian di bawah mata ibunya sendiri. Ia mencoba tersenyum, membungkuk sedikit, “Terima kasih, Idjah. Biarlah aku istirahat sebentar,” kemudian dikuncinya kamar dari dalam. Ia hampiri Ara. Dan sekali lagi ia mencoba tersenyum. “Lupakan,” katanya, “begitu kesepian aku di rumah sakit.” Ara mengawasi mata pemuda itu untuk berjaga-jaga. Tetapi keganasan dendam itu kini telah lenyap dari wajahnya.
Yang diketahuinya sekarang adalah kobaran nafsu berahi yang tiada terkendalikan—meluap lebih keras. Ia lihat kumis itu kini mengepak-ngepak dan sesuatu yang manis keluar dari mulutnya, “Kadang-kadang salah paham itu baik dan sangat manis.”
“Antara aku dan kau tidak ada salah paham. Tapi kesalahan benar-benar. Kau telah rampas kemerdekaanku. Kau telah tawan aku.”
“Apa salahnya? Aku selalu rindukan kau. Aku tak mau sia-sia menanggung rindu.”
“Apamu aku ini?”
“Kau?” pemuda itu tertawa perlahan. Tapi mata itu kian berkobar-kobar menyalakan nafsu berahinya. Ia tangkap tubuh Ara dan dilemparkan ke ranjang.
“Apamu aku ini?” Ara mendesak terus. “Kau?”
Dan pemuda itu tak mampu meneruskan jawabannya.
Ia hanya menjawab dengan perbuatan.
Sore itu Ara duduk di sebuah bangku, menunggu giliran nomornya. Sudah beberapa bulan ia menjadi pasien spesialis penyakit dalam. Pendarahan-pendarahan yang serius berulang kali datang menyerang, segera setelah beberapa minggu Jusman keluar dari rumah sakit. Ia merasa seperti segumpal lilin hangat di tangan Jusman dan boleh diperlakukan sekehendak pemuda Arab itu. Juga dalam keadaan pendarahan-pendarahan ini. Ia tak dapat melawan. Kadang-kadang ia begitu benci pada diri sendiri. Malah pernah ia memikirkan untuk menghabisi hidupnya daripada menjadi orang yang bukan dirinya sendiri.
Dan bila sore seperti ini ia duduk di bangku dengan merasakan kebasahan dan rasa sakit dalam peranakan. Ia pandangi lalu-lintas yang mondar-mandir dengan perasaan mual.
Tapi sore ini ada dirasainya angin baru datang meniup. Sewaktu sedang asyik ia merenungi lalu-lintas, dilihatnya seseorang menghampiri pendopo dokter tempat ia menunggu, langsung menuju kepadanya. Menegur, “Ara?”
Larasati mengangguk tanpa semangat. Semangat hidupnya memang sedang padam waktu itu.
“Kami sedang menyiapkan sebuah film.”
“Tentunya film RVD.”
“Benar sekali. Mari ikut main. Ada tambahan ekstra dari wali-negara Sumatra Timur.”
“Mau ikut?”
“Mainlah.”
“Kau sakit?”
Ara mengangguk layu.
“Kami bisa usahakan tanggung ongkosnya kalau kau suka.”
Ara menggoyangkan kepala. Dan dengan tangannya memberikan isyarat supaya orang itu pergi. Biarlah kekalahan ini sampai di sini saja. Lebih dari itu sudah tidak bisa lagi.
Tapi, mengapa orang begitu mudahnya mau membantu Belanda, di masa pemuda-pemuda masih melanjutkan Revolusi? Ia terkejut. Seorang pasien lain mendekatinya dan menyentuh bahunya.
“Terimalah. Sudah begitu lama kami tak pernah melihat nyonya di layar perak.”
Ingin Ara waktu itu meletakkan kepalanya di atas meja dan tidur di sana untuk menahan lelah dan sakitnya. Dengan mata redup ia tengok wanita di sampingnya. Rupa-rupanya, pikirnya, mereka telah sekongkol. Dia bukan wanita sakit.
Dia sehat. Tiba-tiba ia bertanya, “Nomor berapa kartu nyonya?”
Wanita itu agak kaget, tapi segera tersenyum dan berkata: “Hanya mengantarkan kawan: tetangga.” Ia pun tersenyum. “Aku bermaksud baik. Terima sajalah ajakan itu. Nyonya bakal dapat dua kali honorarium. Lagi pula Republik sudah bersedia kerjasama dengan Belanda. Sebentar lagi pemimpin-pemimpin, yang ditawan di Prapat akan dikembalikan ke Yogya.
Ara terlonjak bangun. Pemimpin? Masa pemimpin bisa diambil dan ditaruh kembali seperti bidak-bidak di atas papan catur? Tanpa diketahuinya darah menyembur dari pangkuannya, menjalar-jalar di lantai, merayap melingkar-lingkar. Ia terduduk kembali. Pemandangannya berkunang-kunang akhirnya pingsan.
Ia sadar waktu telah terbujur di sebuah rumah sakit. Jusman sudah duduk di samping ranjang, dan mata kelamnya tak lepas-lepas mengawasinya.
“Bagaimana perasaanmu, Ara? Baik?” tanyanya bermanis-manis.
Dengan layunya Ara menutup matanya kembali dan menarik nafas dalam-dalam. Ia rasai pertanyaan itu sebagai permintaan maaf. Dan waktu ia buka matanya kembali ia lihat Jusman masih juga mengawasinya.
“Senang-senangkan hatimu, biar lekas sembuh,”
Sembuh? Selama Jusman terus-menerus menempel pada batang hidupnya, ia tidak mungkin sembuh dan pendarahan-pendarahan ini akan makin hebat. Tiba-tiba ia menyadari semua keadaannya: alangkah busuknya, kalau aku mati karena pendarahan dan pendarahan yang disebabkan pemuda Arab, pengkhianat Revolusi ini… betapa konyolnya! Ah, konyolnya!
“Kau ingin apa, Ara?”
Tak pernah sebelumnya Ara merasai suatu irisan dalam hatinya seperti sekarang ini. Pertanyaan pemuda itu mengilukan. Ta rasai seakan ia ditawari untuk menghirup darah pemuda yang berleleran, darah pemuda yang disemburkan oleh peluru musuhnya. Ia menggeleng. Jusman mengambil tangannya dan mengelus-elus sayang. Dan Ara mengejek dalam hatinya: dia akan tetap sayangi aku selama aku masih berguna baginya.
Ia menggeleng. Sudahlah, selesailah saja sampai di sini. Ia menarik nafas sedan. Ia ingin mendapatkan kekuatan seratus kali lebih besar daripada sekarang untuk menghadapi semuanya ini. Sekiranya Revolusi dapat menang dengan gampang! Tentu ia tak perlu menghadapi lawan-lawan yang tidak perlu sebagaimana yang banyak dihadapinya selama ini. Tapi Revolusi setapak demi setapak berkapitulasi…
“Pulanglah, kau…” Ia ingin tinggal seorang diri.
Dan dengan demikian lebih dari satu setengah bulan ia tergolek di ranjang rumah sakit. Tapi ia merasa lebih tenang daripada sebelumnya. Di sini tak ada orang mengganggunya. Dengan tenang ia memikirkan bagaimana dapat menyusun diri kembali agar dapat diterima masyarakat setelah sembuh Berita tentang kompromi antara Revolusi dan kontra-Revolusi yang akan melahirkan negara Indonesia Serikat, menyeretnya dari situasinya yang buruk ke situasi yang memberi harapan. Dan pada suatu kali waktu Jusman datang berkunjung, ia bertanya: “Kau tak punya rencana apa-apa?”
Jusman dengan curiga mengawasi.
“Pandangmu begitu aneh, Jus.”
Tapi Ara dapat menduga, bahwa Jusman sedang tak merasa senang dan aman dengan makin meningkatnya berita-berita akhir-akhir ini. Ara segera membelokkan perhatian, “Bagaimana kau sendiri?” Jusman tersenyum.
“Siapa yang urus kau sekarang?”
“Ibumu.” Ia diam sebentar, kemudian meneruskan.
“Lekaslah sembuh. Tentu kau bisa urus aku lebih baik.” Ia diam lagi sebentar. “Dengar Ara, kata dokter beberapa hari lagi kau sudah boleh pulang.”
Ara terkejut, tetapi ia tutupi gejolak perasaannya.
“Aku sudah bicara-bicara dengan ibumu tentang sesuatu hal yang penting bagi kita berdua. Tapi aku tak bisa mengambil sesuatu faedah dari pembicaraan itu.” Ia diam lagi seketika. Pandangnya meraba-raba hati Ara. “Aku sudah pikir-pikir, Ara,” ia diam lagi.
Ara telah dapat menduga, bahwa perkiraan politik telah membuat pemuda Arab itu menjadi panik. Dan sekarang ia hendak pergunakan dirinya untuk menyelamatkannya.
“Biasanya bicaramu lancar,” Ara memberanikan.
“Ya, Ara, aku ada usul, bagaimana kalau kita nikah saja daripada begini terus?”
Ara menutup matanya.
“Aku kira,” Jusman meneruskan tapi segera tertahan. “Aku kira, kau girang mendengar ajakanku, Ara.”
Ara menghela nafas dalam. “Jadi kau tak setuju, Ara?”
Dan Ara tetap menutup mata. Dalam keadaan seperti itu ia menjawab, “Biarlah aku sembuh sama sekali dahulu. Kemudian, biarlah aku istirahat beberapa minggu. Sesudah itu biarlah aku jawab ajakanmu.”
“Lamanya, Ara.”
“Kau masih dapat hidup delapan puluh tahun lagi, Jus.” Sekarang Jusman yang menghela nafas keluh. “Kau mengeluh, Jus. Mengapa?”
Tapi Jusman tidak menjawab.
“Tak ada kabar buruk, bukan?” Ara bertanya lagi.
“Ara,” akhirnya Jusman membuka suara. “Suasana kian lama kian menjadi buruk.”
Kembali Ara menutup matanya untuk tak dapat dibaca perubahan air mukanya oleh pemuda di hadapannya itu. Kalau musuh Revolusi berkata suasana menjadi buruk… Ara tersenyum dalam hatinya. Itulah tanda: kemenangan ada pada Revolusi. Tak banyak berita yang diterima Ara di rumah sakit. Tetapi kabar buruk Jusman, dan itu pun sedikit sudah cukup bagi Ara untuk memahami keadaan.
“Ara, kawan-kawan sudah anjurkan aku cepat menyingkir ke Singapura atau Malaya. Tapi kalau kau suka kawin denganku, aku rasa sama sekali tidak perlu pergi dari sini.”
“Siapa yang mengancam kau? Mengapa mesti sampai menyingkir?”
Jusman tak menjawab.
Waktu dokter datang memberitahukan kepada Jusman, bahwa sekarang Ara sudah boleh diambil sembarang waktu terkecuali hari itu sampai lusa, segera Jusman mengucapkan terimakasihnya pada dokter itu.
“Tapi,” kata dokter itu selanjutnya, “kalau tuan ingin supaya nyonya sehat-sehat saja, janganlah campur dengannya selama tiga bulan ini.”
Jusman terlompat dari tempatnya duduk. Tapi segera dokter itu meneruskan: “Bukan perintah, tuan, hanya anjuran. Tentulah tuan mengerti, apalagi nyonya…” dan tanpa menunggu jawaban ia pun pergi.
Ara menatap Jusman. Jusman menggeleng lemah dan membalas pandang Ara dengan pandang yang lembut penuh kasih sayang.
“Inilah putusan hakim bagiku, Ara. Apa pun pendapat orang tentang dirimu, aku sayangi dan cintai kau, Ara, dengan sepenuh hati. Justru karena itu, yah, apa boleh buat. Aku harapkan kau selamat dan panjang umur. Rupa-rupanya aku memang harus menyingkir. Aku akan menyingkir ke Singapura. Moga-moga saja ada umur sekadarnya yang memungkinkan kita kelak bertemu kembali, Ara.” HARI-HARI belakangan ini berjalan dengan cepat. Ara dan ibunya telah tinggalkan rumah Jusman, Jusman sendiri telah cau entah ke mana. Ia tidak tahu. Seorang opsir Belanda membawanya dengan sedan hijau. Hampir-hampir keduanya tidak sempat berkata atau berpesan. Pada wajah Jusman nampak kebingungan dan ketakutan. Dan sebelum pemuda itu hilang entah ke mana, keluarga Jusman datang mendesak Ara dan ibunya keluar dari rumah.
Ara kembali tinggal dalam pondoknya yang dulu. Kampung itu kini telah mulai banyak ditinggali orang. Keramahan yang dulu telah mempengaruhi dirinya, kini tiada lagi. Orang menjadi tidak peduli lagi satu sama lain.
Semangat Revolusi kian lama akan pudar di kampung-kampung. Perundi ngan-perundingan di negeri Belanda tidak menimbulkan sesuatu perasaan agung di dalam hati mereka. Konferensi Meja Bundar! Di sana-sini terdengar ejekan: Itulah kalau orang cuma pura-pura jadi revolusioner! Banteng-banteng sudah kehilangan tanduknya, jadi banteng dungkul: sudah kehilangan otaknya! Singa tua ompong pun tak dapat dikalahkannya! Ha? Mana bisa Revolusi kalah, kalau jiwa revolusioner sendiri tidak patah? Orang lain lagi membela: ini hanya taktik bukan strategi! Ah-ah, mana bisa orang selalu ambil taktik kompromi dengan musuhnya, sampai akhirnya dirinya sendiri tidak ada?! Yang ada tinggal komprominya?!
Tapi pendapat-pendapat, kritik-kritik, dan pembelaan-pembelaan itu, semua saja melayang di langit hijau. Mereka bukanlah orang-orang berkuasa, bukan pembesar, bukan penguasa. Mereka hanya rakyat biasa, yang merdeka berpendapat, tapi tak merdeka mengatur diri. Dan dengan demikian KMB9 ditandatangani. Dan dengan demikian, kekuasaan Republik dipulihkan…
Dan pada suatu hari mendengung-dengung berita aneh: “Tentara Nasional Indonesia akan masuk ke Jakarta!”
Tiba-tiba orang lupa pada selisih-selisih dan pertentangan-pertentangan pendapat. Revolusi menang! Belanda bakal angkat pantat pulang ke negeri leluhur! Di mana-mana timbul suasana pesta. Seperti disulap, kewaspadaan dan kekhawatiran, ketakutan dan kekecutan hilang dari tiap dada. Merdeka! Merdeka! Dan kembali orang menjeritkan lagu-lagu perjuangan tanpa ragu-ragu lagi. Dan kembali anak-anak sekolah menyanyikan hari depan yang gilang-gemilang, sebagai dirinya sendiri! Tumpaslah perbudakan! Punahlah penjajahan!
Maka datanglah hari itu, di mana yang kelaparan lupa pada kelaparannya. Pencopet lupa pada keahliannya! Maling-maling lupa pada kewajibannya! Orang berduyun-duyun membanjiri Merdeka Utara, menyambut Presiden Soekarno dari Yogyakarta, menggantikan Gubernur Jenderal Hindia Belanda sebagai Presiden Sementara Negara Republik Indonesia Serikat? Orang tidak peduli Serikat atau Kesatuan. Pokoknya penjajahan Belanda telah diakhiri.
Ara adalah seorang di antara sekian ratus ribu hadirin. Sekarang tak lagi terdengar lagu Wilhelmus10 yang manis membelai-belai syahdu itu, tetapi Indonesia Raya yang menderu-deru, menggelegak, dan menggapai-gapai. Peleton-peleton TNI berbaju baru menderap-derap di jalan besar dengan CPM11-nya yang jangkung-jangkung lampai. Semua itu milik semua orang! Juga TNI-nya, juga CPM-nya, juga Istana-nya, juga Presiden-nya, segala yang berada di atas bumi tanah tumpah darah. Tak ada orang merasa jauh lebih kaya daripada yang pernah dirasai dalam hidupnya masing-masing.
Langit di atas demikian biru. Dan semangat di dada begitu panas.
Waktu upacara selesai, Ara pulang, berjalan lambat-lambat. Orang di samping menyampingnya, di belakang dan depannya, bergegas-gegas tertawa-tawa. Aku tak ingin pulang sekarang ini, pikirnya. Ia terus berjalan lambat-lambat. Apa akan terjadi sesudah ini? Aku mesti apa? Aku harus ke mana? Apakah aku tidak berhak menikmati, ikut menikmati hasil Revolusi? Ia ingin minum segelas air jeruk dingin. Hawa dan suasana terasa demikian panas. Tapi depot-depot tiada buka.
Lalu-lintas kian lama kian menjadi tipis. Dalam etalase-etalase terpampang hiasan-hiasan yang mengucapkan selamat datang pada kepala negara. Ke mana kaki ini membawa diriku? Ara mulai bertanya pada dirinya. Sebuah jeep hampir-hampir menyerempetnya dan berhenti tepat di depan hidungnya. Sekali ini Ara tidak marah. Jeep itu kepunyaan Tentara dan Tentara adalah juga kepunyaannya. Tak ada alasan untuk marah. Prajurit-prajurit itu berhak berpesta setelah hidup melarat begitu lama.
Ara menghindari jeep yang berhenti di hadapannya, menyingkir, untuk meneruskan perjalanan. Sewaktu ia sampai di samping kendaraan sebelah kiri, seseorang yang tinggi lampai melompat turun mencengkam pergelangannya. Ara terkejut. Jusman? Tapi kumisnya bukan kumis Jusman.
“Ara!” perwira itu berteriak keras.
Ara menatap wajah di depannya itu. Kekagetannya cair, meruap cepat.
“Oding!” juga Ara hampir-hampir berteriak.
Mereka berpeluk di pinggir jalan. Tak ada alasan untuk tidak menyatakan kegirangan masing-masing.
“Ayoh masuk ke dalam!”
Dan dengan demikian jeep pun menderung menuju ke arah yang Ara tidak tahu. Sampailah mereka di sebuah gedung, nyata bekas tempat tinggal Belanda. Mereka duduk, dan Oding mulai dengan serangannya: “Sekarang kita hidup bersama-sama lagi. Kau tentu tidak ada keberatan apa-apa. Sudah bertemu dengan ibumu?”
Ara mengangguk. “Di mana kalian tinggal?”
Ara hanya menjawab dengan pandang matanya.
“Baik-baik, nanti malam kuambil. Kalian tinggal di sini bersama-sama denganku. Kita kawin Ara!”
Ara tetap menatapnya.
“Kau ada keberatan?”
Ara menggelengkan kepala. Dan waktu ia menunduk dilihatnya beberapa titik air mata membasahi kainnya. Oding menghampiri, mengeluarkan setangan militer hijau dan menyeka matanya.
“Kita sudah menangkan Revolusi ini,” Oding meneruskan. “Air mata tak kita butuhkan lagi. Kita akan nikmati hasil kemenangan ini. Ia keluarkan kaleng rokok Player Navy Cut. Ia sodorkan pada Ara. “Merokoklah.”
“Kau tahu aku tak merokok.”
“Kita harus nikmati kemenangan Revolusi. Ayoh ambil, kita merokok.”
Dengan tangan ragu-ragu Ara menarik sebatang dari kaleng menaruhnya di bibir. Oding menyalakan geretan.
“Isap! Isap yang baik!”
Ara terbatuk-batuk. Dan waktu hendak membuangnya, Oding mencegahnya.
“Kita nikmati hasil Revolusi. Itu hak kita, Ara.”
“Tapi aku tak biasa merokok.”
“Kau harus biasakan. Segala dan semua ini sudah jadi milik kita. Kau tak pernah ikut Belanda, bukan?” Ara menggeleng.
Seperti anak kecil yang baru menerima hadiah ulangtahun, Oding menarik Ara bangkit dari kursi, menuntunnya masuk ke dalam rumah. Bergaya girang memperkenalkan: “Lihat. Radio! Dua belas lampu Philips!” ia menyetelnya. Lagu-lagu mars perjuangan mendengung. Ara menggermang. Alangkah mendunia… Dari Barat sampai ke Timur—Berjajar pulau-pulau.
“Ara, apa yang kau ragukan lagi? Ini kepunyaan kita.” Ara ditariknya masuk ke dalam kamar.
“Ranjang seperti ini kita tak pernah punya. Hanya kemenangan Revolusi, kemenangan kita yang mampu memberikan ranjang semacam ini. Bukan, Ara? Dan malam ini, semua ini mulai kita nikmati bersama-sama. Juga dengan Ibu. Bagaimana pendapatmu, Ara?”
Ara terharu. Ia tak dapat bicara apa-apa. Ia hanya pandangi Oding. Dan Oding menciumnya.
“Indahnya dunia ini kalau kita menang. Bukan, Ara?”
Ara mengangguk.
Dan malam itu keluarga Ara pindah ke gedung ini.
Sampai tengah malam mereka belum juga tidur, masing-masing menceritakan pengalaman yang pahit. Waktu radio menyiarkan musik dansa, Oding terlonjak dari sofanya.
“Berapa tahun sudah kita tak nikmati musik ini, hampir sepuluh tahun.” Ia teguk gelas bir yang penghabisan. Ia melompat bangun. Menarik lengan Ara. “Ayoh dansa, Ara.”
Dalam menikmati kebahagiaannya hari ini, Ara melompat bangun, merangkul Oding dan berayun-ayunlah sepasang merpati malam itu mengiringi Wals Wina. Malam di luar menjadi gelap pekat. Ibu menarik diri ke kamarnya.
“Senangnya kalau orang menang.”
Ara menjawabnya dengan ciuman pada bibirnya.
Guruh terdengar sayup-sayup di sela-sela musik. Sepersepuluh dari satu sekon musik itu terhenti, dan angin yang keras terdengar meniup menderu.
“Hujan,” Ara berbisik.
“Biar segala-galanya terjadi sekarang. Kita adalah pemenang. Kitalah yang menghaki semua-muanya.”
Dan hujan turun seperti dilemparkan.
Cerita pendek
Mencari Anak Hilang
Dari Pertjikan Revolusi, cetakan kedua (1957). Disalin dari buku cetakan lama dan dialihkan ke ejaan sekarang.
Kurang lebih pada jam lima pagi, Amilah1 telah meninggalkan rumah. Di tangan kanannya ia menjinjing kebaya Salamah, anaknya. Kebaya itu dicurinya sebentar tadi. Kini ia ada di jalan raya. Dan bergegas-gegas ia berjalan menuju Jakarta Kota. Tapi jalannya tak secepat waktu ia masih muda, sewaktu ia mendapat julukan Selendang Mayang bunga tangsi2.
Lihat! Bibirnya terus jua bergerak-gerak, seperti Arab mindering mencari pengaruh di kalangan orang dusun dengan doanya. Tapi Amilah tidaklah mendoa. Ia menggerutu. Kadang-kadang mencaci juga seorang diri. Dan kadangkala juga tersenyum senang. Kadang-kadang mengeluarkan suara menghiba-hiba — seorang diri pula.
“Barangkali dia memang mau mempermain-mainkan aku,” gerutunya sekarang. “Barangkali Aman, anakku, sudah lama ada di tangsinya. Mesti dia mau mengageti aku yang sudah tua ini. Kurang ajar. Sungguh kurang ajar!” Ia tersenyum senang. Dan langkahnya dipercepat. Tapi kakinya sudah berat sekarang, seberat timah. Tiba-tiba mukanya berubah jadi keruh. Dan mulutnya bergerak pula. “Bajingan!” makinya pelan. “Kalau dia membohongi aku? Bagaimana kalau aku dibohonginya? Tahu? Amilah ini. Tahu Amilah? Kenali Amilah dulu. Amilah yang dijuluki Selendang Mayang di tiap tangsi.”
Ia berjalan terus.
Hari masih pagi betul. Tapi simpang siur kendaraan sudah mulai meramai. Ia lebih lagi mempercepat jalannya. Tapi langkahnya masih berat dan lambat saja sebagai tadi. Ia sudah tua. Dan ia tak beruang. Kebaya Salamah belum lagi terjual. Hanya Aman — Saaman, anak sulungnya — yang penting untuknya, yang selalu memenuhi otaknya. Dan mengisi otaknya selama tiga bulan ini. Saaman hilang. Dan ia tak tahu di mana adanya. Pikirannya yang tua itu tak bisa mengerti mengapa Aman — anaknya sendiri itu — harus ditangkap oleh M.P.3 dan tak juga pulang membawa uang sebagaimana biasanya.
“Dia mesti sudah ada di sana,” bisiknya lagi. “Aman,” panggilnya penuh kasih seperti betul-betul Saaman ada di depannya. “Kita jual saja baju ini, ya?” Sebentar ia memandang kebaya Salamah. “Ini kau juga yang beli dan yang selama ini dipakai Amah. Dan nanti kita pergi ke Senen, ya? Kita beli bawang merah, cabe rawit dan cuka. Terlalu gila engkau pada asinan, bukan? Bukan begitu, Aman —” Tiba-tiba ia melompat.
Raung klakson mobil mengagetkannya. Bubar berantakan sandiwara dalam kepalanya. Dan Saaman pun hilanglah dalam bayangannya. Dengan pandang kejam-ganas diikutinya mobil yang lari di depannya itu. Kembali ia memaki keji.
“Buaya! Bangsat!” makinya pelan.
Dan waktu mobil itu hilang di tikungan, parasnya digulung oleh kemurungan. Muka itu kian lama kian gelap. Tapi hari kian lama kian terang. Kedua pipinya cekung. Dan kerinyut kulitnya kian merapat oleh kemarahannya. Ia berjalan juga. Tapi bukan tenaga tuanya yang menggerakkan: semangatnya, pengelamunannya, harapannya. Kakinya berjalan seperti otomat, dengan langkah berat dan lemah seperti tadi.
Ia bicara lagi sekarang. Suaranya keji menyumpahi. “Bajingan! Dia mesti membohongi. Sersan dia. Dia datang ke rumah dan cuma membawa pesan saja. Pesan saja. Lain tidak. Bajingan! Buaya tangsi juga dia! ’Bu, aku membawakan pesan dari saudara Aman,’ katanya. Pesan saja. Orangnya tak datang. Saaman tidak datang. Uang pun tidak.”
Kemudian ia mengancam. “Sungguh mati,” katanya, “hati-hati, kau! Kalau engkau membohongi aku, pasti kupecahkan kepalamu. Kenali ini. Ini Amilah Selendang Mayang. Ini Selendang Mayang yang sudah membuat gila banyak pemuda. Lihat! Sebentar lagi engkau kupaksa jongkok menyembah kakiku! Aku tahu sipat lelaki. Engkau bangsat! Engkau buaya! Mengerti?”
Kemudian mukanya berubah lagi. Terkilat pada pandangnya — kirut-mirut pada kulitnya! Ia insaf — ia sudah tua kini. Kemudian ia mengeluh mengiba-iba — “Oh, anakku. Aman, anakku. Di mana engkau? Sudah lama kucari, kau. Di mana kau?”
Kegarangannya lenyap dan kembali matanya kabur oleh kemurungan. Dan sepasang betisnya yang tipis itu melangkah-langkah jua. Ia bukan wanita muda yang gagah sebagai dulu. Ia sudah tua dan tegak badannya sudah seperti tanda tanya sonder titik.
Sampailah ia kini di jalan raya. Kota. Rel kereta api. Rel kereta listrik. Aspal — jalan raya. Mobil — ban besar, hitam, coklat, putih, segala warna, beratus-ratus. Derum dan dengung. Di atas — di angkasa — pemburu pengangkut, pembom, kapal capung. Dan di sepanjang jalan: bengkel-bengkel besar dengan mesinnya yang menderu-deru. Toko berbagai macam. Istana gubernur. Ratusan polisi. Ratusan militer yang kurang pekerjaan. Juga M.P. yang menangkap anaknya. Dan juga penjara, tempat tahanan dan tawanan disuruh belajar dan mengaji undang-undang dan hukum. Gedung bioskop yang menadah uang kelebihan dan uang hutang penduduk. Gedung-gedung bank yang menantang lalu-lintas. Dan di antara segala bentuk dan warna dan gerak dan bunyi itu terdapatlah dia: Amilah perempuan tua, Amilah yang mencari anaknya yang ditangkap M.P. tiga bulan yang lalu. Aman, Saaman, harta bendanya yang satu-satunya di dunia ini.
Matahari telah melela beberapa derajat di atas muka bumi. Dan sebentar berhentilah ia di sudut pasar Glodok. Matanya jalang melihat ke keliling. Barang dagangan. Pandangnya penuh oleh barang yang dibutuhkannya. Tapi ia tak beruang. Baju si Salamah belum lagi ia jual. Dan sekiranya kebaya itu sudah terjual, ia pun takkan membeli barang kelontong. Ia mau memuaskan hati Saaman anaknya yang hilang dengan asinan — sebanyak-banyaknya. Tak ada uang lain untuk barang lain. Tiba-tiba hatinya jadi sakit — terlalu sakit. Sakit hati pada segala-galanya — juga pada trem kota yang lalu di depannya. Ia tak boleh naik di trem itu — ia tak beruang.
Tak seorang pun yang diperhatikannya. Dan ia pun tak diperhatikan orang. Kota dengan kegelisahannya yang biasa. Kota yang tak kenal manusia dan kemanusiaan. Kota hanya mengenal urusan.
Ia berjalan lagi. Pendek-pendek langkahnya. Kini ia berjalan menepi jajaran teritis toko-toko Tionghoa. Sebentar-sebentar ia mengecilkan diri bila trem kota liwat. Kemudian sampailah ia di tempat yang ditujunya: tangsi militer pinggir Ciliwung — tangsi yang disebut sersan Kasdan sepagi buta. Ia berhenti. Sudah dua jam ia berjalan. Dan keringatnya hanya dua titik saja di kening.
Pintu tangsi itu, kayu silang mintang yang dibeliti kawat berduri, berdiri di depannya. Seorang prajurit jaga berdiri gagah di kandang monyetnya. Apa? Ia tak peduli pada jaga. Saaman lebih dari segala-galanya di dunia ini. Dan ia pun masuklah. Tapi jaga itu tak membiarkan kewajibannya dilanggar orang.
“He — nenek!” serunya.
Amilah berhenti di depan jaga dan menentang dengan pandangnya, kemudian ia berbisik pelan, “Aman! Saaman, anakku, mesti di sini.” Ia berjalan terus.
Kini turunlah jaga itu dari kandang monyetnya. Dengan tangan membawa Lee Enfield4 ia mengadang Amilah.
“Tak boleh masuk,” katanya garang.
“Mengapa? Sersan Kasdan bilang, aku harus datang kemari. Aku mau mencari Aman anakku.”
“Itu aku tak peduli. Jangan masuk.”
“Sersan Kasdan bilang, dia ada di sini.”
“Aku bilang — jangan masuk.” Kemudian ia berbisik ramah. “Nek, di dalam sedang ada kontrolan. Hati-hati. Mayor besar sedang mengontrol,” kata jaga itu tak kehilangan kesabarannya. “Kalau nenek masuk juga, aku yang kena getok nanti. Mengerti, nek?”
Tapi Amilah tak pernah memikirkan kepentingan orang lain. Mulutnya berkecumik lagi. Kemudian terdengar suaranya. “Tapi —” katanya.
“Tidak ada tapi,” potong jaga itu. “Dengar, nek, semalam, waktu appel, ketahuan ada delapan belas orang lari. Ya, melarikan diri — membawa senjata pula dan satu truk,” kata jaga itu mengabarkan berita penting. Tapi Amilah tak tahu di mana pentingnya.
“Tapi Aman tidak lari,” katanya tak bertujuan.
“Itu belum lagi diketahui, sekarang baru diadakan apel-nama.”
Tiba-tiba Amilah ingat pada masa ia masih jadi perempuan tangsi dan kopral Paijan masih jadi lakinya. Berkata ia tegas-tegas. “Tapi kopral Paijan selalu hadir diapel-nama.”
“Kopral Paijan?” jaga itu bertanya. “Di tangsi ini tak ada kopral yang bernama Paijan.”
Nampak Amilah kaget. Ia ingat sekarang — kopral Paijan sudah hilang di jaman siap. Meledaklah kemarahannya sekarang. “Aku mau masuk,” serunya.
“Tidak boleh.”
“Mau bertemu sersan Kasdan. Dan Aman, anakku.” Mulailah jaga itu kehilangan kesabarannya. “Pergi!” bentaknya.
Amilah mundur ketakutan. Diam-diam ia duduk di pinggir jalan dekat pagar kawat tangsi. Terlalu sakit hatinya. Kembali ia digulung oleh perasaannya sendiri. Ia mau membalas dendam. Ia mau mengadukan kekasaran jaga itu pada letnan Gedergeder. Oh, ia tak bisa menyebut nama itu dengan betul. Dan dengan sendirinya ingatannya mulailah melayang ke masa yang lalu.
“Hallo, Selendang Mayang manis,” kata letnan Gedergeder.
Dan sebelum ia menjawab, ia sudah dicium. Dan dalam seumur hidupnya tak ada ciuman yang begitu menyenangkan daripada ciuman letnan kulit putih itu.
Amilah kaget lagi. Ia ingat dirinya. Ia kini bukan Selendang Mayang bunga tangsi yang dulu. Kini ia Amilah tua. Letnan Gedergeder pun sudah tak ada lagi. Mungkin juga dia sudah dimakan samurai Jepang.
Sebentar dipandangnya langit silau di atas. Kemudian ia mengeluh. Ya, ia ingat dirinya sekarang: perempuan tua yang tak ada faedahnya untuk kesenangan dunia. Berganti-ganti bermacam-macam kenangan yang indah berarak di ingatannya — ingatan yang kabur. Ingatannya pun turut tua kini.
Jaga itu mengawasi Amilah dari kandang monyetnya. “Ya, tunggu di situ,” katanya. “Kalau kontrolan sudah selesai — dan apel-nama juga — engkau boleh masuk.”
Amilah tak mendengar. Tak peduli pandangnya merenungi lalu lintas di depannya. Tapi tiada sesuatu yang tertampak oleh matanya. Yang kelihatan hanyalah gambaran kenangan dulu. Kini ia terkenang pada Benni — pemuda satu-satunya yang benar-benar dicintainya. Tapi pemuda itu telah hancurlah oleh tombak Aceh5. Lihat, mulut perempuan tua itu kembali berkecumik. Tapi yang disebutnya bukan nama Benni, tapi Aman yang dicarinya.
“Aku sudah tua sekarang,” gerutunya kemudian. “Takkan datang kekasih baru. Benni sudah lama dibunuh orang Aceh. Dan letnan Gedergeder dibunuh Jepang.”
Bisiknya kian lama kian melembek dan jadi getaran bibir saja. Detik lalu dan datang dan pergi pula. Setengah jam ia duduk demikian. Jam delapan kini. Matahari kota Jakarta mulai memperlihatkan kegarangannya. Amilah berdiri mau mencari teduhan. Ia sudah terlupa pada maksudnya, lupa pada Aman dan sersan Kasdan yang menyuruhnya datang ke tangsi. Duduklah ia di teritis kantor mengenang-ngenang. Dan yang terkenang sekarang ialah tangsi-tangsi yang pernah didiaminya. Akhirnya melelalah kenangannya yang terindah.
Ia berdiri di depan cermin besar — di tangsi Makasar. Dari cermin itu tampak olehnya Benni, pemuda Menado yang belum berpangkat, hanya serdadu kelas dua.
Dan ia pura-pura tidak tahu. Ia pura-pura menunduk dan memperbaiki peniti kebayanya. Tapi mata pemuda yang agak sipit itu — itulah yang membuat ia tergila-gila padanya. Saat yang ajaib pun datanglah. Bersitinjak Benni mendekatinya. Ia terus jua dengan pura-puranya. Akhirnya Benni mencium lehernya. Ia meloncat. Sekali ini ia sungguh-sungguh terkejut — bukan pura-pura lagi. Dari cermin itu ia melihat mukanya memerah jambu. Dan dalam hatinya ada sesuatu yang hidup dan menyala. Ia tak tahu apa. Tapi keajaiban itu ada di dalam. Dan ia mencandu pada sesuatu itu.
Genit ia memeluk pemuda itu — sekali-kalinya yang ia pernah berbuat. Dan pemuda itu membalas rangkulannya. Dan Saaman pun lahirlah.
Perempuan tua itu tersenyum-senyum sendirian. Mukanya berseri-seri senang.
“Benni, mengapa engkau tak datang kemarin?” katanya seorang diri. Tapi tiba-tiba ia kaget. Jalang ia melihat kelilingnya. “Bangsat!” makinya, “Bajingan! Buaya tangsi! Aku sudah tua sekarang. Benni sudah mati dibunuh orang Aceh.”
Jaga itu turunlah dari kandang monyetnya dan mendekati pagar. “Siapa?” tanyanya.
Waktu itu Amilah sudah kehilangan ingatannya lagi.
“Benni,” jawabnya.
“Benni? Aku kenal Benni. Dia didetasir6 di Sukabumi sekarang.”
Perhatian Amilah tertarik oleh perkataan jaga itu. Bertanya ia setengah mohon. “Benar? Benni yang matanya agak sipit?”
“Benni yang kukenal matanya besar — orang Sunda.”
Amilah mendapatkan ingatannya kembali. Dan berdiam dirilah ia. Sekarang ia teringat pada Aman. Ia mengeluh. Cepat ingatannya pindah lagi pada cermin besar yang menyaksikan percintaannya dengan Benni.
“Aku lupa di mana cermin besar itu sekarang,” katanya seorang diri.
Mendengar itu jaga itu tersenyum kasihan. Dan waktu penggantinya datang segera ia pergi dan tak menoleh-noleh lagi.
“Cermin besar!” sambungnya. Suaranya meledak. “Anjing! Ingat aku sekarang — dirampok Jepang.”
“Ada apa, nek?” tanya jaga baru.
Amilah berdiri, berjalan dan menghampiri jaga baru. Kemudian berdiri saja di depan pintu pagar kawat. Dan jaga baru itu tersenyum melihat tegaknya yang seperti tanda tanya sonder titik. Amilah berdiam diri sekejap — berpikir dan berpikir. Akhirnya nampaklah kegugupan pada air mukanya dan berseru.
“Aman — Saaman, anakku!”
“Saaman? Mengapa dia?” tanya jaga baru.
“Dia ada di sini. Sersan Kasdan bilang, dia ada di sini.” Ia diam lagi mengingat-ingat. “Bukan, bukan begitu katanya. Sersan Kasdan bilang, aku harus datang kemari. Di tangsi ini, katanya. Dulu aku pernah tinggal di tangsi ini juga.”
Dan jaga itu tak mengerti apa yang dimaksudkan Amilah tua. “Lantas — mau apa sekarang?” tanyanya.
“Mengambil Aman — Saaman, anakku.”
“Nama Aman tak ada di sini. Saaman juga tidak ada,” kata jaga setengah menggoda.
Amilah memberengut. Alisnya bersambung. Sekarang menyemburlah kemarahannya. “Bangsat! Buaya tangsi! Engkau juga mau mempermain-mainkan aku?”
Sekarang jaga turut marah. Garang ia membentak. “Anjing tua — minggat, kowé!”
Oleh bentakan itu Amilah bertambah maju. Ia telah memasuki pintu. Gugup jaga itu turun dari kandang monyetnya dan menahan Amilah. Dan matanya liar berpindah-pindah dari Amilah ke tangsi. Dan Amilah tak peduli lagi.
“Aku mau masuk,” pekik Amilah. “Aku mau masuk.”
“Tidak boleh.”
“Aku mau ambil Aman — Saaman, anakku sendiri. Aku mau bertemu dengan sersan Kasdan.”
“Di sini tak ada Saaman,” bentak jaga. “Sersan Kasdan juga tidak ada.”
“Mesti ada,” Amilah bersikeras. “Mesti ada dia di sini.”
“Mana surat pas?”
“Kan Jepang sudah kalah? Perlukah surat pas?”
“He — jangan banyak mulut.” Dan jaga itu melototkan matanya. Tangannya yang menunjuk-nunjuk kini mengusap keringat yang menyerang matanya.
Dan Amilah meniru menyeka keringatnya. Tapi keringat itu taklah sebanyak keringatnya waktu ia diciumi letnan Gedergeder — cuma tiga titik.
“Tak ada pas, tak boleh masuk,” kata jaga.
“Tak boleh? Berani kubilangkan letnan Gedergeder?”
“Sama overste7 aku tak takut. Biar letnan beskuit, biar letnan keju, biar kapten roti, aku tak takut.” Kemudian tangannya menuding.
“Pergi!” bentaknya.
Tapi Amilah tak takut sama sekali. Ia bertambah maju. Ia bertambah mendesak, sekalipun ia sudah lupa pada maksudnya semula. Dan jaga itu kini mempergunakan bayonetnya.
“Ayo, masuk terus, kalau berani,” ia mengancam “Sungguh mati — aku tembak jidatmu kalau berani masuk.”
Barulah Amilah sadar lagi akan dirinya. Ia mengikuti dorongan lemah dari bayonet yang terpasang pada perutnya. Kecewa ia keluar dari pintu dan duduk lagi di teritis. Kacau balau kenangannya sekarang — terlalu ruwet. Sebelum ia tahu apa yang ada di kepalanya, baju Salamah telah dikerudungkan di kepalanya.
Lebih kurang jam sembilan pagi sekarang. Mobil mayor besar yang mengontrol barisan dan menerima apel-nama darurat telah pergi melalui pintu. Amilah memanjangkan leher, menjenguk dalamnya mobil.
“Bukan Benni,” bisiknya. “Bukan letnan Gedergeder. Bukan sersan Kasdan. Bukan kopral Paijan, lakiku. Bukan Aman — Anakku.”
Ia menunduk lagi. Kemudian mulailah tangsi jadi ramai. Apel-nama telah selesai. Ia dengar jaga bercakap-cakap dengan orang lain.
“Siapa tadi?”
“Perempuan. Nenek sinting yang memaksa mau masuk. Cari anaknya, katanya — Aman.”
Mendengar nama Aman, Amilah menengok pada jaga. Dan dilihatnya orang yang menyebut dirinya sersan Kasdan. Dan dilihatnya juga sersan itu menuju padanya. Ia bangun.
“Tuan sersan,” serunya nyaring. “Mana Aman — Saaman anakku?”
“Aman? Aman tak ada di sini,” kata sersan itu dan diajaknya Amilah berjalan.
“Tuan bilang,” kata Amilah kecewa dari belakang sersan itu. “Tuan bilang Aman boleh diambil di tangsi sini. Tuan sendiri bilang tadi pagi buta. Tuan tadi pagi buta datang ke rumahku, bukan? Dan tuan bilang, Aman boleh diambil.”
Tenang sersan yang menyebut dirinya Kasdan itu merokok. Kemudian berseru. “Ai,” katanya. “Tahulah aku. Ibu ini satu-satunya perempuan yang tak punya kesabaran. Coba, ibu, aku pernah di London. Aku pernah di Amerika, dan Ustrali, dan Spanyol. Tapi perempuan yang begini tak sabaran, baru kali inilah kutemui.”
“Sabar? Bangsat, kau. Engkau juga menyuruh aku bersabar-sabar. Semua orang bilang, ’sabar, sabar, sabar!’”
Orang yang menyebut dirinya sersan Kasdan itu tersenyum. Ia masih tetap tuan dalam menundukkan perasaannya.
“Aku bilang,” katanya kemudian, “sudara Aman boleh diambil, tapi pada jam dua siang. Bukankah begitu yang kukatakan tadi pagi?” Ia diam menanti jawaban. Tapi Amilah tak memberikan jawabannya. Ia memandang arlojinya. “Sekarang baru jam sembilan lewat lima. Tadi pagi ibu bilang mengerti. Apa sekarang?” Tajam-tajam ditentangnya Amilah yang kini berjalan di sampingnya. “Dan aku bilang juga — jangan ibu sendiri yang datang menjemput sudara Aman. Tapi — tapi — Amah, Salamah. Apalagi Amah belum lagi bersuami, jadi tak banyak kerjanya di rumah. Dan aku bilang juga, kalau ibu turut campur juga dalam perkara ini, takkan baik jadinya. Ibu tak bisa menahan mulut. Dan ibu gampang sekali menyiar-nyiarkan hal ini. Sedang ini adalah hal yang sangat berbahaya. Kalau ketahuan M.P. kita semua turut terseret. Tahu, ibu? Tahu ibu? Dan aku bilang juga, kalau ibu turut campur juga dalam perkara ini, tak mau lagi aku menolong. Biarlah tak kuteruskan usahaku. Dan sudara Aman sendiri bilang begitu.”
Amilah tak mengerti pada perkataan yang begitu banyak. Gugup ia bersuara. “Tapi Aman — Saaman, anakku sendiri.”
“Tak ada yang bisa membantah. Memang sudara Aman anak ibu.”
“Dan aku emaknya sendiri.”
“Ya, dan ibu emaknya sendiri.”
“Ya.”
“Mengapa dia tak boleh kuambil? Mengapa?” kata Amilah sayu.
“Aku tak pernah bilang tidak boleh, ibu — tapi suruh Amah mengambilnya. Dan jangan ibu.”
“Aku masih kuat, tuan sersan. Aku masih sanggup mengangkat beras sepuluh kilo. Tuan tak perlu menolong aku. Tunjukkan saja di mana dia. Nanti kuambil sendiri,” kata Amilah cepat-cepat dan bersemangat. Orang yang menyebut dirinya sersan Kasdan itu diam menantikan Amilah mendapat keredaannya kembali. Dan setelah perempuan tua itu habis bicara baru ia berkata. “Baik,” katanya, “baik sekali. Kalau begitu tak kulanjutkan pertolonganku. Sekarang ibu pulang saja ke rumah. Dan aku mau jalan-jalan ke Tanjung.”
Amilah kaget mendengar ancaman itu. Tunduklah ia sekarang. Lama ia berdiam diri. Dan sersan itu begitu juga. Dan Amilah tunduk menekur menyerah, presis seperti opsir Belanda menekur digertak serdadu Jepang yang pernah dilihatnya sekali dulu. Sekali ini ia menyerah. Tak berani ia mengangkat kepala. Trem kota liwat. Tak juga ia berani mengangkat kepala.
“Bagaimana, ibu?” tanya sersan itu bermanis-manis.
“Aman — Saaman, anakku sendiri. Kembalikan dia padaku.”
“Aku kembalikan dia pada ibu. Tapi Amah — Salamah suruh mengambilnya. Bukan ibu. Dan aku bilang — jam dua siang nanti. Jam dua tepat.” Ia menuding ke arah kota bawah. “Sekarang ibu pulang. Amah kunantikan di setasiun trem yang penghabisan. Di sini.”
Keduanya sampailah di setasiun trem yang penghabisan.
“Kalau tidak,” kata sersan itu lagi. “Ingat, aku tak peduli lagi. Ini uang. Nanti kalau ada trem ke Jatinegara ibu pulang saja.”
Diam-diam Amilah menerima uang seringgit.
“Sekarang belum lagi jam dua. Dan aku belum lagi tidur.”
Setelah berkata ia mempercepat jalannya menuju ke Pasar Ikan. Amilah mengeluh sendirian. “Aku bilang,” bisiknya seorang diri, “dia mesti menipu aku. Itu buaya tangsi!” Dan kembali ia bermuram durja. “Anakku — Aman — Saaman, anakku. Mengapa engkau tak boleh pulang? Mengapa tak boleh kuambil? Engkau anakku sendiri. Mengapa tak ada orang yang mau menunjukkan tempatmu?”
Ia tersedan-sedan dengan suara tuanya. Tapi matanya tetap kering. Tak setetes pun air mata jatuh. Ia tetap Amilah yang dulu juga — keras sebagai batu.
Seorang anak laki-laki yang nampak sakitan dan rupa-rupanya belum boleh masuk sekolah, mendekatinya. Di tangannya ia membawa botol obat. Mukanya pucat dan geraknya lesu.
“Ibu, mengapa menangis?” tanyanya sayang.
Amilah menyeka matanya. “Anakku,” kata Amilah setengah mengadu.
“Mengapa ibu?”
“Anakku hilang — sudah tiga bulan.”
“Hilang? Di mana hilangnya ibu?”
“Ditangkap M.P. Sampai sekarang belum pulang,” kata Amilah minta-minta hati.
“Ditangkap M.P.? O. Bapakku juga ditangkap M.P., ibu. Dan dia pun belum pulang juga sampai sekarang,” kata anak itu. “Dan aku sudah lama sakit. Tapi bapak belum pulang juga. Ibu bilang, bapak tak boleh pulang.”
Tapi Amilah tak peduli pada lain keterangan. “Sudah lama dia ditangkap?” tanyanya.
Anak itu mengangguk. “Hampir tiga tahun ini,” katanya lesu.
“Tiga tahun?” Kemudian Amilah memekik. “Tiga tahun? Bangsat!” Kepalanya diacukan pada anak kecil itu.
Dan anak itu pun jadi ketakutan dan larilah cepat-cepat.
“Tikus tangsi!” gerutunya. “Dia juga mau membohongi aku. Penipu! Buaya! Kadal! Tikus! Celeng! Babi Cina.”
Kasar ditariknya baju Salamah dari kepalanya. Kemudian ia naik ke trem yang baru tiba dan mau balik ke kota bawah. Di Senen ia turun dan menjual baju itu — baju kebaya Salamah satu-satunya yang masih tinggal. Enam rupiah. Kemudian ia membeli bawang merah dan cabe rawit. Teramat sakit hatinya karena ia tak punya botol cuka. Sampai di rumah, barang-barang itu disembunyikannya di bawah bale agar tak ketahuan oleh anak-anaknya yang lain. Kemudian disuruhnya gadis Salamah ke kota.
Dan di kala gadis Salamah menuju ke setasiun trem penghabisan — jam dua belas liwat sedikit — palu telah terketuk di pengadilan. Hukuman mati dijatuhkan pada Saaman bin Paijan.
Dengan muka pucat dan bibir kering pemuda itu meninggalkan gedung pengadilan diiringkan oleh M.P. Kedua tangannya terbelenggu rantai besi. Dalam mobil kurung ia diangkut ke penjara yang sudah dua kali dilalui kaki tua emaknya.
Bagian Keempat
Jalanan Ibu Kota dan Harga Diri (1950-an)
Midah Si Manis Bergigi Emas
Berita dari Kebayoran
Tanpa Kemudian
Makhluk di Belakang Rumah
Roman
Midah Si Manis Bergigi Emas
Terbit pertama 1954. Teks dari edisi Lentera Dipantara.
Bagian Pertama
Kalau mereka kelak pulang ke Cibatok1, semua kawan-kawannya yang dahulu begitu penakut tak berani merantau ke Jakarta. Pasti akan datang berjejal di rumah dan mengagumi mereka. Apalagi! Kerja di Jakarta. Kumpul-kumpul uang, dan akhirnya terbeli juga rumah di Cibatok. Bukan rumah bambu seperti kawan-kawannya punya. Kayu, setengah tembok! Itu belum lagi. Cita-citanya yang terbesar sudah terkabul pula, dan sekarang kawan-kawannya akan menyebut Haji Abdul. Ah, hidup ini alangkah manis kalau cita demi cita terampas di tangan kiri dan kebesaran dikuasai di tangan kanan.
Itu pun belum seluruhnya. Midah begitu manis dan montok dan tujuh atau delapan tahun lagi dia akan menguasai seluruh hati-muda di seluas daerah Cibatok. Dan ia tinggal pilih saja siapa pemuda yang bakalnya bisa jadi haji, bisa mengaji begitu mengharukan seperti Syeh Ali Mubarrak, yang dikenalnya di Kairo.
Kairo! Siapa pula di antara kawan-kawannya yang penakut itu pernah dengar nama itu. Itu pun belum lagi habis. Masih ada kebesaran yang tidak terlawankan: bisa bercerita sambil berbisik tentang Umi Kalsum2—itu biduan Mesir yang menawan hati penduduk di kampung-kampung Jakarta.
Dan Haji Abdul tidaklah merugi tiap hari mengucapkan syukur kepada Tuhannya yang telah begitu murah terhadapnya—memberinya segala kesenangan dan kenikmatan yang sejak kecil didambakannya. Dan ia yakin, apabila seluruh umat seibadah dirinya, tidak lama lagi—dan dunia benar-benar akan berubah menjadi surga.
Tiap hari ia bawa tubuhnya yang mulai menggemuk itu pergi ke toko kulitnya. Dan di sepanjang jalan ia pandangi lalu lintas yang begitu gelisah, begitu pontang-panting dalam keterbanan nasib manusia—ia menggeleng-gelengkan kepala sambil berjalan kaki, mendoa dengan sejujur hatinya.
“Sudi kiranya Tuhan mengampuni kemurtadan mereka. Berilah mereka bimbingan, dan cairkan panasnya hawa nafsu mereka. Tidakkah engkau lepaskan mereka dari siksaan tunggang langgang tiap hari di jalan-jalan besar yang begitu ramai?”
Dan dengan sikapnya yang tenang, ia anggukkan kepala kepada buruhnya yang telah sedia menunggu di depan toko kulitnya. Ia perlakukan semua mereka dengan lemah lembut dan ia beri mereka upah yang patut. Dalam hal ini semua tingkah lakunya ikut menggantungkan jalannya perusahaannya. Ia tak perlu takut menghadapi persaingan dari pihak pengusaha asing maupun sebangsanya. Ia tetap percaya kepada kemurahan Tuhannya dalam usaha yang baik dan jujur.
Sore hari ia pulang kembali ke rumah di antara anaknya si Midah dan bininya. Sudah dapat ditentukan ia duduk di kursi goyang sambil mendengarkan piring hitam yang membawakan suara Umi Kalsum kepadanya. Juga sudah dapat ditentukan Midah duduk di pangkuannya, dan ia mengelus-elus pipinya yang montok sambil merestui selamat dalam hatinya.
Keyakinannya kepada Tuhannya telah menyediakan jalan-jalan yang tegas dan menuju ke arah yang pasti bagi Haji Abdul. Ketegasan, kepastian, ditambah dengan keyakinan pada kebaikan menyebabkan ada sesuatu kekuatan padanya yang sanggup menundukkan daerah selingkungannya. Dan karena keimanannya juga ia tak pernah mencurigai siapa pun. Ia bahkan tidak mau—sekalipun hanya dalam otak belaka—berpikir jahat kepada orang lain. Jiwanya tidak pernah tersiksa oleh kekusutan dan kekotoran pikirannya. Hatinya selalu aman.
Keinginannya untuk mempunyai anak lagi, selalu ditindasnya. Apabila Tuhan telah menakdirkan, demikian selalu ia berpendapat, pada suatu kali yang baik dia akan datang ke rumah kami untuk menjadi anak kami.
Hingga Midah berumur sembilan tahun, anak baru itu tak juga datang. Dan sewaktu umur Midah bertambah setahun lagi, anak baru itu tak juga datang. Mulai saat itu kebimbangan merayap dalam hatinya. Bahkan sekali ia pernah mengucapkan kata-kata:
“Biarlah semua aku kurbankan, asalkan mendapat anak lagi—terutama lelaki.”
Dan sehabis mengucapkan kata-kata itu ia menyebut lagi beberapa kali. Ia kaget. Ia merasa dirinya murtad dan ingkar janji terhadap kehendak Tuhannya. Ia berpuasa. Ia bersedekah. Tetapi kata-kata itu terlepas dan takdir Tuhannya itu merupakan dua kekuatan yang berperang dalam sanubarinya. Ia menyesal terus. Berkali-kali sembahyangnya gagal dan terpaksa ia ulangi dari permulaan, apabila seperti kilat kata-kata terlepas itu menyambut hatinya. Dan ia menggigil takut pada murka Tuhannya. Ia merasa sudah menerima sebagian terbesar dambaannya dari Tuhan. Dan kini ia syukur sepenuh hatinya. Beberapa malam ia tidak bisa tidur, dan untuk membohongi tuntutan keimanannya dari kemungkinan murka Tuhannya, ia terus-menerus berzikir. Kadang-kadang hingga matahari yang kemarin telah datang lagi di ufuk timur.
Pada suatu hari istrinya datang kepadanya dan berbisik: “Tuhan telah mengabulkan permintaanmu. Aku mengandung.”
Sedekah besar-besaran diadakan. Dan waktu bang Sarean siap hendak mengumumkan hajat Haji Abdul, yang akhir ini belum juga berani menambahkan kepada bang Sarean, bahwa sedekah itu pun dimaksudkan untuk mengucapkan syukur bukan saja karena kehendaknya terkabul tetapi juga karena Tuhan telah mengampuni kemungkirannya.
Kembali Haji Abdul memperoleh kepercayaan dirinya, sekalipun belum lagi seratus persen. Kandungan istrinya menyebabkan ia memperbuat sesuatu yang sangat dilebih-lebihkan tidak lain daripada imbangan pada kegoyahan hati kecilnya. Tapi walau bagaimana juga, keteguhan yang dahulu-dahulu telah hilang dari jiwanya. Kini ia menjadi makhluk, yang setiap sadar merasa celaka, diganggu oleh penyesalan yang tidak habis-habisnya.
Waktu anak kedua lahir, sekali lagi diadakan pesta besar yang menyita banyak sekali dana persediaan uangnya. Tamu datang dari mana-mana. Bahkan kawan-kawannya sepermainan di Cibatok ia undangi belaka. Seluruh biaya perjalanan ditanggung. Ke sana kemari ia memperlihatkan tertawanya, cerutu dan makanan yang paling mahal beredar. Lampu menghiasi seluruh sudut pekarangannya, dan malam dibuat menjadi siang. Ia sambut semuanya dengan senyum berdaulat.
Tetapi waktu pesta telah habis, kegelisahannya kembali mengamuk. Sesalannya karena ucapan yang mengingkari takdir Tuhannya mengintip tiap saat ia miliki kesadaran budinya. Akhirnya anak kedua menjadi sasaran kegelisahannya. Ia lebihkan segala-galanya daripada yang ia pernah sediakan untuk Midah.
Belum setahun kemudian Haji Abdul mendapat anak kembar lelaki. Setahun kemudiannya lagi ia memperoleh anak perempuan. Terus menerus.
Bagian Kedua
Kelahiran si adik bukan saja mengguncangkan iman bapak! Juga hati Midah guncang karenanya. Tak cukup kata-kata padanya untuk mengucapkan itu. Hanya dalam hatinya timbul perasaan yang tidak enak. Sejak kelahiran si adik, ia tidak mendapatkan perhatian dari bapak. Juga tidak dari emak. Berbagai lagak dan lagu ia perlihatkan, tapi semua luput.
Seminggu kemudian ia demam. Bapak hanya datang sebentar membawakan kue. Dan emak masih terbujur saja di ranjang di dekat si adik. Midah harus memulai yang baru memulai tanpa dimanjakan, tanpa duduk di pangkuan bapak mendengarkan Umi Kalsum. Tanpa segala-galanya. Ia terlepas seorang diri. Ia hendak kembali ke suasana manis yang bertahun-tahun dihirupnya. Tapi suasana itu bukan miliknya lagi-milik adiknya.
Waktu ia sembuh dari sakitnya, dengan pipi kempot dan kaki gemetar melangkah, ia melihat si adik di sisi emak. Emak tertawa kepadanya. Tapi mata Midah terbuka lebar kosong dari segala kesan. Dan bibirnya tidak terbuka. Cuma dalam hatinya terasa: itu dia merampas segala-galanya yang menjadi milikku. Ia masih juga mencoba memikat perhatian emak. Tetapi tak ia peroleh apa yang ia harapkan. Bapak pun tak sanggup ia pikat lagi. Sehabis pulang kerja segera ia menggendong adik. Tidak mendengarkan Kalsum lagi, tetapi mondar-mandir di kamar emak sambil menyanyi.
Kebiasaan telah menyebabkan Midah sering memutar gramofon sendiri. Kebiasaan ini menyebabkan ia tidak dapat menikmati seni suara Mesir itu. Haji Abdul tak tahu bahasa Arab, dan Midah apalagi. Sekalipun yang akhir ini sudah tujuh tahun belajar mengaji pada ustazah Mariamah, belum lagi sanggup ia terjemahkan satu kalimat Arab yang sederhana pun.
Sehabis mengaji, atau apabila suara Kalsum tak menarik hatinya lagi, ia tak senang lagi tinggal di rumah. Ia tak mendapat sesuatu lagi dari emak dan bapaknya—sesuatu yang dahulu indah dan nikmat. Ia mencari yang indah dan nikmat itu di luar rumahnya.
Demikianlah kesukaannya pada lagu Mesir pada suatu hari menemui perubahannya. Dalam pengembaraannya di sekitar Kampung Duri1—di mana ia tinggal sejak dilahirkan—ia temui satu rombongan pengamen kroncong2, karenanya tidak heran mendengar lagu yang berlainan dengan yang datang dari Mesir itu. Namun sekali ini memperhatikan dan menikmatinya —dengan kata-kata yang ia mengerti—akhirnya ia tertawan olehnya. Begitu langsung sampai ke hatinya. Begitu tepat menerjemahkan perasaan dan kemauannya. Dan ia jatuh cinta padanya.
Hingga berkilo-kilo jauhnya ia ikuti rombongan pengamen itu. Bahkan dia sendiri, banyak lagi pemuda dan pemudi kecil berbuat seperti dirinya. Dan dengan diam-diam mereka ini meneguk habis seluruh rangkaian suara yang keluar dari rombongan pengamen itu. Bahkan canda sindiran anggota-anggota rombongan satu sama lain seakan memberi silaan yang lepas dari segala kesulitan: hidup yang hanya dipergunakan untuk mengabdi pada kesukaan: kesukaan menyanyi, kesukaan membagi kesukaan dengan para pendengarnya.
Tidak disadari betul oleh Midah betapa kehidupan rombongan ini. Midah belum lagi dirusakkan oleh kehidupan . Dan hidupnya masih bersih belum dikotori oleh masalah-masalah dan kesulitan-kesulitan. Dan kehidupan rombongan pengamen terlepas dari kesulitan-kesulitan dan masalah-masalah seperti diri Midah. Mereka merasa penuh apabila telah dapat menciptakan rangkaian suara yang memikat hati.
Mereka tidak mengeluh mendapat derma sedikit. Adanya kesamaan itu mungkin yang menyebabkan Midah telah merasa bersatu dengan mereka. Dan pergaulan yang begitu bebas antara satu-sama-lain membangkitkan perasaan-perasaan baru di hati Midah. Di rumah ia selalu berada dalam kemanisan-kemanisan antara orang tua dan anak, dan bukan antara sesama. Sedang ia menghendaki yang akhir.
Midah tidak ada niat untuk melawan ikatan rombongan pengamen. Ia terus mengikuti, dari Kampung Duri hingga Glodok dan dari Glodok ke Pasar Baru. Waktu matahari telah tenggelam, baru ia merasa takut pada orang tuanya. Sesegera ia melompat ke atas trem dan pulang ke rumah.
Emak dan bapak tidak marah oleh keterlambatannya.
Bahkan bapak tak bertanya sama sekali ke mana saja ia pergi sehari-harian itu. Dan keesokan harinya Midah mencoba mencari rombongan itu, tetapi tidak didapatnya. Di Glodok dibelinya piringan-piringan hitam lagu-lagu kroncong dan dibawanya pulang. Waktu ia memutar Jali-jali, emak tidak menegur. Bahkan babu dan jongos kegirangan dan merubungi gramofon itu. Satu demi satu dari piringan hitamnya ia putar. Dan tiap kali lagu kroncong membumbung dari pesawat itu terasa kembali suasana mereka yang begitu manis, begitu langsung, begitu khas dari rombongan pengamen. Dikala orang lain telah merasa bosan, ia masih tinggal seorang diri, menirukan lagu-lagu itu. Apabila benar bahwa tiap orang dilahirkan ke dunia dengan hadiah bakat, Midah ternyata mempunyai bakat juga. Dan bakatnya adalah menyanyi. Empat piringan ia beli dan sehari itu ia telah hafal delapan buah lagu dengan tidak menyalahi irama.
Sedang ia asyik bernyanyi mengikuti gramofon, tiba-tiba bapak pulang dari toko. Mendengar Moresko3 melayang-layang di rumahnya, jauh-jauh bapak sudah berteriak dengan suara kejam:
“Haram! Haram! Siapa memutar lagu itu di rumah?”
Dan waktu dilihatnya Midah masih asyik mengiringi lagu itu, ia tampar gadis itu pada pipinya. Midah terjatuh di lantai. Kekagetan lebih terasa padanya daripada kesakitan. Ia pandangi bapaknya yang bermata merah di depannya, kemudian dengan ketakutan ia bangun. Ia menangis perlahan. Dan waktu dilihat mata bapaknya masih mendelikinya, ia menjerit ketakutan.
“Siapa mengajari engkau menyanyi lagu haram ini?” Tangannya telah melayang untuk sekali lagi mendarat di kepala Midah.
Midah tak menjawab. Ia lari mencari perlindungan pada emaknya. Bapak memburunya ke kamar emak dan berteriak:
“Siapa yang mengajar? Jawab! Kalau tidak, aku banting kau di lantai.”
Emak tidak melindungi Midah, hanya memandangi dua orang itu dengan mata kosong dari segala kesan. Akhirnya gadis itu mencari jalan dari pintu lain dan melarikan diri ke dapur mencari perlindungan pada babu. Tapi bapak belum lagi reda dari amarahnya. Ia buru Midah. Tapi babu memberi perlindungan anak itu satu perlindungan yang kuat.
“Kau yang mengajari?” teriaknya pada babu.
“Tidak bang Haji. Dia sendiri.”
“Haram! Haram! Pasti ada yang mengajari.”
Tidak ada orang yang bisa menjawab tuduhan bang Haji. Dan karena amarahnya tidak dapat ditahannya lagi, semua orang yang bekerja di dapur diusirnya hari itu juga.
Peristiwa itu ditutup oleh keguncangan baru yang terjadi dalam sanubari, harapannya dan keyakinannya akan kebesarannya. Bayangan sambutan kawan-kawannya kelak bila mereka pulang ke Cibatok ikut terguncang. Malam itu sehabis bersembahyang ia terus menerus berzikir hingga subuh tiba dan ia bersembahyang isya. Sebelum pergi bekerja dipesannya bininya agar menjaga Midah.
Peristiwa itu, buat Midah, telah mengguncangkan anggapannya selama ini terhadap ayah dan emaknya. Ia menyaksikan betapa amarah bapak telah menyebabkan piringan-piringan yang begitu ia cintai, baru kemarin pula dibeli dan menjadi miliknya, pecah belah tak tertolong lagi. Sekali hentak ia telah menjadi gadis kecil liar. Beberapa hari itu ia mengurung diri di dalam kamarnya. Ia malu pada emaknya. Ia malu pada tetangganya. Ia malu pada segala-segalanya.
Dan juga yang lebih hebat daripada itu: ia takut pada bapak. Bapak yang beberapa tahun yang lalu masih membelai-belai pipinya di kursi goyang sambil mendengarkan Umi Kalsum.
Bertambah banyak adik gadis Midah, bertambah jauh dia tercerai dari kedua orang tuanya. Kadang-kadang ia dengar ia dilamar. Kemudian setelah terbetik berita penolakan lamaran, ia tak dengar apa-apa tentang dirinya melalui pendapat orang lain. Suatu malam emak datang ke kamarnya dan bercerita dengan irama rendah tenang.
“Midah, sekarang engkau sudah besar. Sebentar lagi kawin. Jangan kira engkau tidak cantik. Sudah banyak bapakmu menerima lamaran. Tapi bapakmu hanya mau menerima lamaran kalau ada Haji dari Cibatok yang mengerjakannya.”
Tentu saja cerita seperti itu tidak patut dijawab bagi seorang seperti Midah yang telah menjadi liar oleh perasaan malu dan takut.
“Sekarang haji yang diharapkan itu datang melamar pada bapakmu. Ia punya sawah banyak, kerbau berpuluh-puluh, ibadatnya kuat. Ah, engkau akan mendapat suami yang baik, yang takut pada Tuhan.”
Demikian pada suatu hari yang mendung, Midah dikawinkan dengan haji Terbus dari Cibatok—seorang yang berperawakan gagah, tegap, berkumis lebat, dan langkahnya yang tidak pernah berisi kebimbangan, menandakan ia seorang lelaki yang mahir dalam memerintah, dan biasa hidup dalam kekayaan.
Di tangan lelaki ini Midah tak ubahnya dengan sejumput tembakau. Ia bisa dipilin pendek dipilin panjang, dipilin dalam berbagai bentuk. Di daerah, di mana dahulu bapaknya dilahirkan, ia merasa sebagai sebatang tunggul terpancang di tengah-tengah padang. Apalagi setelah diketahuinya bahwa Haji Tebus bukan bujang dan bukan muda. Ini diketahuinya waktu ia mengandung tiga bulan.
Waktu ia tidak sanggup lagi menanggung segalanya, dengan diam-diam ia kembali ke Jakarta. Tetapi tak berani ia terus langsung ke rumah orang tuanya. Mula-mula sekali ditujunya adalah rumah babu yang pernah memberinya perlindungan terhadap pukulan bapaknya.
“Mengapa engkau tak langsung pulang ke rumah orang tuamu?” Riah—bekas babunya itu—bertanya.
“Takut.” Ia menjawab.
Riah sejak dahulu kasih kepadanya. Dipandanginya Midah lama-lama dengan rasa kasihan memancar-mancar pada matanya.
“Seganas-ganas macan, dia takkan memakan anaknya sendiri. Mari aku antarkan.”
“Aku takut”
“Engkau begitu kurus dan hijau. Engkau mengandung?”
Midah mengangguk.
“Apa pendapatmu kalau aku sendirian datang ke rumah orang tuamu?”
Dan Midah tak dapat memilih mana yang harus disetujuinya.
“Baiklah. Sebentar aku pergi ke sana. Midah, tidur-tiduranlah engkau di bale.”
Dan setelah menyediakan kopi, Riah pergi ke rumah orang tua Midah.
Sebelumnya sudah tahulah Riah bahwa bang Haji takkan mungkin bisa menerimanya dengan baik, apalagi berterimakasih. Ia tahu kegarangan orang itu di hari-hari belakangan. Perdagangannya yang mundur, anaknya yang bertambah banyak juga, hutangnya yang mulai meningkat- semua itu menyebabkan orang itu seakan pisau cukur yang kehilangan sarungnya dan tiap waktu bisa melukai orang.
Mula-mula Riah disambut dengan sikap tidak peduli. Kemudian mulailah perempuan itu memperkenalkan maksud-maksudnya:
“Bang Haji, anak bang Haji—si Midah—sekarang ada di Jakarta.”
“Kurang ajar! Mengapa tidak terus pergi ke rumah orang tuanya?”
“Takut.”
“Takut? Mengapa takut?”
“Karena seorang diri.”
“Minggat dari lakinya?”
Riah tidak menjawab. Dan pembisuannya adalah pengiaannya atas pertanyaan itu.
“Anak Haji Abdul tidak bakal lari dari rumah lakinya. Anak Haji Abdul dididik baik. Engkau yang jadi biang keladi kalau terjadi seperti ini.”
“Baiklah, aku sampaikan kepadanya apa yang bang Haji katakan kepadaku.”
“Di mana dia sekarang?”
“Ada di Jakarta.”
“Di rumahmu?”
“Tidak. Di Jakarta.”
“Awas! Engkau yang bakal ditangkap polisi kalau ada apa-apa. Suruh dia kemari, biar dia kenal siapa bapaknya.”
Riah segera pulang. Didapatinya Midah sedang menyapu. Ia tak tahu apa yang harus dikatakannya. Berulang-ulang Midah bertanya kepadanya bagaimana pendapat bapaknya.
Waktu dilihatnya perempuan itu berdiam diri terus, tahulah ia bahwa keadaannya telah tentu. Namun sementara itu ancaman bang Haji Abdul tidaklah menimbulkan kegentaran dalam hatinya. Ia patah hati karena kepercayaannya pada kebaikan diremukkan oleh orang lain.
“Baiklah, kalau begitu aku mencoba mencari kerja,” kata Midah malam itu.
“Seperti aku tak pernah bunting, Midah,” bantah Riah. “Baru saja engkau bangun dari jongkok matamu berkunang-kunang. Kalau tak ada benda tempat engkau berpegangan engkau rubuh di tanah. Dan kalau engkau muntah—ah, aku kira segera tuanmu akan mengusir.”
“Tapi mesti kucoba.”
“Apa yang engkau bisa?”
Midah kaget. Ia memikir dan mencoba mengerti sesungguhnya yang bisa ia kerjakan.
“Jadi babu aku bisa,” akhirnya dengan suara rendah ia menjawab.
“Itu tidak baik bagi dirimu. Engkau cantik, lagipula tidak bisa diperintah orang. Engkau gampang tersinggung dan tidak cekatan.”
Mereka tidak mendapatkan kata sepakat. Akhirnya Riah bercerita:
“Bertahun-tahun aku membujang pada bapakmu. Begitu baik tadinya. Aku masih ingat bagaimana engkau dimanjakan. Bagaimana ia berbangga kian-kemari, engkau adalah anak yang paling sempurna di antara semua anak-anak yang ada. Ia bangga karena tidak ada anak lain yang begitu dimanjakan seperti engkau.”
Midah mendengarkan. Ia mencoba mencari dirinya sendiri dalam cerita itu. Yang ditemuinya hanyalah masa manis yang telah habis direguknya—dahulu. Antara sebentar Riah bercerita tentang kekayaan orang tuanya—juga kekayaan itu juga yang kian lama kian susut. Tapi itu tidak menarik perhatian Midah. Ia telah biasa hidup dalam kemewahan baik di tempat orang tuanya sendiri maupun di tempat suaminya, dan kini kekayaan dan kemewahan itu bukan barang yang menarik hatinya.
Akhirnya cerita itu sampai pada babak lain:
“Dan sekarang anak manis yang dahulu dimanjakan begitu rupa menjadi—” ia pandangi Midah, tetapi Midah tersenyum menghiburnya—“aku tak tahu apa harus kunamai keadaanmu sekarang ini!”
Akhirnya cerita itu sampai pada babak lain:
“Baik? Begini baik?”
“Setidak-tidaknya ada kekayaan yang terbawa olehku.”
“Engkau? Membawa kekayaan?”
“Ya, dalam kandunganku.”
“Midah! Midah! Lebih baik kuatkan hatimu, dan mari aku antarkan kepada orang tuamu. Itu jalan yang paling gampang dan selamat. Engkau takkan mungkin hidup di tempatku ini, engkau yang biasa hidup gampang.”
Orang sebagai Riah yang tak ada lain modalnya daripada kejujurannya sendiri, selalu mencoba berbuat baik untuk orang lain, tidak bisa mengerti apabila Midah akan mengambil jalan yang lebih susah untuk penghidupannya sendiri dan bakal anaknya.
“Riah, jangan engkau khawatir-aku tidak akan memberatkan tanggunganmu. Untuk beberapa hari ini biarlah aku coba-coba mencari pekerjaan.”
“Kalau ketemu orang tuamu?”
“Emak tidak pernah keluar rumah kalau tidak pergi ke peralatan. Dan bapak selalu ada di tokonya.”
“Matamu bersinar-sinar. Engkau punya jalan sendiri nampaknya.”
Dan Midah terkenang pada rombongan kroncong. Kini tarikan untuk memasuki kehidupan tanpa kesulitan itu makin terasa. Kehidupan yang hanya mengabdi kepada kenikmatan, kegirangan, dan keriaan ditingkah kroncong.
“Setidak-tidaknya orang yang kenal padamu akan bertanya pada orang tuamu.”
Sinar di mata Midah sekaligus padam. Tapi tarikan itu masih begitu terasa.
“Jadi, apa nasihatmu, Riah?”
“Sesungguhnya, apa yang akan engkau kerjakan?”
Tapi Midah tidak berani memperkenalkan niatnya. Ia tahu dengan pasti, bahwa juga Riah akan mencemoohkan pilihannya. Karena itu ia beranikan diri.
“Mengapa tidak engkau jawab? Ah, Midah, aku takut─takut sekali kalau engkau sampai tergelincir di dalam kehinaan.”
“Kehinaan? Menjual diriku?”
“Ya.”
Midah tersenyum. Giginya putih gemerlapan.
“Ah-ah, itulah yang aku takuti. Dengan senyummu itu runtuhlah iman lelaki yang melihatmu.”
Midah menyeka senyumnya dengan tangan. Dan ia menggelengkan kepala.
“Itu tidak akan terjadi atas diriku.”
“Kalau begitu, apa yang hendak kau kerjakan?”
“Besok atau barangkali lusa, atau barangkali juga engkau takkan mengetahui apa yang hendak kukerjakan.”
“Midah, orang tuamu adalah orang-orang yang menaati perintah Tuhan. Dan aku harap engkau takkan menjauhi jalan mereka.”
Sekali lagi Midah tersenyum. Dan hatinya pun tersenyum menghadapi hari besok, harapannya pun tersenyum. Dan kalbunya berbisik padanya:
“Untuk anak ini─biar dia pilih sendiri kelak apa dikehendakinya.”
Ia masih ingat betapa sakit hatinya terhadap ayahnya atas tindakannya dahulu: piring-piringan hitam kroncong yang dicintainya ditarik dengan kasarnya kemudian dibantingkan ke lantai: pecah belah.
“Dan untuk engkau,” katanya kepada makhluk yang bersanggar di bawah jantungnya, “segala-galanya tersedia untuk memilih sendiri yang kau kehendaki.”
Dengan keputusan itu hilang lenyap seluruh kesedihannya, perasaannya akan kegoyahan nasibnya, ketakutan dan keliarannya. Ia sendiri kini telah memilih yang dianggapnya sebaik-baiknya untuk dirinya sendiri. Rerak kebimbangannya. Dan ia merasa di depannya telah tersedia jalan yang akan dilaluinya.
Bagian Ketiga
Dengan semua uang yang dibawanya dari rumah suaminya, dengan mengatasi kemualan perut dan pening kepalanya, sejak pagi ia telah minta diri dengan Riah. Berulang-ulang ia mengucapkan terimakasihnya atas pertolongan perempuan yang hanya percaya kepada kebaikan itu. Dan Riah berulang-ulang pula berpesan bila terjadi halangan hendaknya segera datang kepadanya.
Mula-mula ia jalan kaki. Bila capek ia mengaso atau naik trem. Matanya menjalang memandangi kelilingnya. Tetapi yang dicarinya belum tersua jua. Tidak banyak yang dipinta oleh hatinya, juga tidak banyak rencana yang terentang dalam kepalanya. Hanya satu: hendaknya hari ini ia dapat menemui rombongan kroncong, atau rombongan lain yang sejiwa dengan itu.
Glodok, Pasar Baru, Jatinegara, Senen, Sawah Besar, Tanah Abang, Priok. Berjam-jam ia mondar-mandir. Tetapi rombongan yang sesuai dengan hatinya belum juga ditemuinya. Lebih dari empat kali ia minum es di pinggir jalan. Hari semakin habis dimakan kegiatannya. Tetapi yang dicarinya masih juga belum tersua.
Waktu malam tiba, ia mulai ragu. Ia tak ingin secepat itu kembali ke rumah Riah. Ia malu. Ia merasa belum lagi mencoba segala-galanya. Akhirnya ia memberanikan diri masuk ke dalam hotel kecil.
Ia banyak mendengar cerita tentang kemesuman di hotel-hotel. Karena itu tidak henti-hentinya ia mendoa. Tiap kali ia dengar langkah kaki di depan pintunya ia mencepatkan doanya. Dan waktu tak tertahankan lagi kantuknya, ia tepuk perutnya lambat-lambat, berbisik:
“Dihindarkanlah engkau hendaknya dari segala bencana.” Ia ulang-ulangi bisikannya itu untuk memperoleh keyakinan lebih banyak. Akhirnya ia jatuh tertidur. Pagi-pagi benar ia telah bangun dan segera lari ke kamar mandi untuk membuang muntahnya. Dan setelah berpakaian, terasa olehnya betapa pegal semua anggota tubuhnya. Kembali ia usap perutnya, berbisik:
“Kita sekarang berjalan lagi, Nak. Engkau adalah makhluk yang membawakan kejayaan bagi orang tua. Engkau membawakan keselamatan, rezeki, dan kebahagiaan.”
Barulah ia mulai dengan usahanya.
Di Senen ia temui rombongan kroncong yang agak besar. Ia mulai mengikuti. Ia mencoba-coba hendak menegur dan menyatakan keinginannya, tetapi keberaniannya tidak cukup untuk itu. Ia hanya mengikuti dari belakang ke mana pun rombongan itu bergerak. Kadang-kadang ia lihat salah seorang di antara mereka memasuki restoran dan mengulurkan pecinya meminta sedekah. Mula-mula jijik melihat perbuatan itu. Tapi akhirnya ia menyadari kesombongan yang tidak lagi berlaku dalam keadaannya seperti sekarang. Sekali ia lihat betapa rombongan itu diusir dengan ganasnya oleh seorang yang sedang makan besar di restoran. Ia sangat terkejut dan takut.
“Begitu dihinakan!” teriak hatinya. Sedang mereka tidaklah mengemis. Mereka membagi keriangannya kepada pendengarnya dan minta perhatian dari si pendengar dengan sekadar penghargaan.
Kemudian ia mengerti, bahwa tidak semua orang sudi beriang dengan rombongan orang asing yang tidak dikenalnya.
Pengertian itu membuat ia memaafkan. Dan ia ingat dirinya sendiri. Mungkin aku pun sering menyinggung perasaan orang karena tak adanya pengertian padaku. Ia mulai mengingat-ingat. Akhirnya yang mula-mula teringat adalah bapaknya sendiri yang untuk selama-lamanya takkan dilupakannya: tindakan yang satu itu! tindakan yang merampas kesenangan daripadanya. Dan apa yang diperbuatnya sendiri hingga menyinggung perasaan orang lain lain tak dapat ia mengenangkannya kembali. Berkali-kali ia mencoba, tetapi tidak bisa. Kemudian ia menghibur dirinya dengan ucapan yang biasa itu: kekhilafan sudah sifatnya manusia. Dan dengan itu selesailah pemikirannya. Kembali perhatiannya tertuju pada rombongan kroncong yang ada di depannya.
Ah itu musik! Itu lagu! Itu keindahan! Itu kebebasan, keriangan, kebahagiaan─terkurung dalam ketumpulan manusia yang tergilas nafsu-nafsunya.
“Barangkali cuma aku dapat menghargai. Barangkali aku cuma dapat merasakannya. Aku dan anakku.” Kembali ia pegang perutnya. Midah ingin jadi musik itu sendiri, yang membubung dan melayang ke arah tiada terartikan.
Tetapi tambah siang hari, tambah jauh rombongan itu menghindari tempat-tempat ramai. Ia tak mengerti alasan-alasan untuk itu. Namun ia tetap mengikuti. Dan waktu sampai di tempat sepi, mereka berhenti. Ia tak berani mendekat. Ia berdiri di kejauhan sambil meneliti apa yang hendak mereka perbuat.
“Hitung, Min,” perintah seorang yang mengepalai mereka.
Seorang pemuda kurus mengeluarkan kantong dari sakunya. Uang dituangkan di atas tanah. Mereka merubung. Dan uang pun dihitung bersama-sama.
Seorang perempuan setengah tua bergigi emas menganjurkan:
“Sekarang kita makan di warung sana,” tangannya menunjuk ke suatu arah.
Orang-orang bangun setelah mendapat bagiannya masing-masing. Dan waktu rombongan berangkat lagi ke arah yang dituding oleh perempuan itu, Min masih tinggal berdiri di tempatnya sambil memandangi Midah. Kedua-duanya berpandang-pandangan. Tapi Min kemudian berjalan lagi mengikuti rombongannya.
Midah mencoba tersenyum oleh pandangan itu. Tetapi pikatannya belum lagi berhasil. Dan dalam hatinya ia berjanji akan memperbaiki usahanya. Kembali ia mengusap perut dan berbisik penuh kepercayaan:
“Tidak, Nak. Engkau tidak akan emak rusakkan. Tidak, raja, tidak.”
Dengan kepercayaan diri ia melangkah lambat-lambat mengikuti rombongan itu. Di warung tempat mereka makan, ia segera masuk dan memesan makan. Ia lihat mata pemuda Min, yang juga kurus seperti tubuhnya itu, tak lepas-lepas memandanginya. Sekali ia tersenyum, dan senyum itu disambut oleh Min dengan wajah merah membera. Tetapi pemuda itu tak juga mendekatinya untuk membuka percakapan. Akhirnya keduanya berpandang-pandangan begitu lama, sehingga pemuda Min lupa pada makanan yang ada di depannya.
Tiba-tiba pecah ketawa girang. Terdengar seorang:
Burung pipit hinggap di kawat
Hinggap di kawat di atas rumput.
Perempuan bergigi emas pun meneruskan dengan suara genitnya:
Kalau hati telah terpikat
Ke mana lagi kalau tak ikut.
Tertawa pecah kembali. Sebagian mata memandang pada Min sebagian pada Midah. Kedua-duanya membera. Min malu karena tahu ada wanita jatuh cinta padanya. Dan Midah malu karena diperolokkan orang di depan umum. Tapi ia berpendapat, inilah jalan satu-satunya yang ramah yang memberinya kesempatan untuk menjadi sebagian dari mereka. Ia tak merasa adanya sakit hati oleh olokan itu. Ia rasai kebebasan pantun yang segera mengena di perasaannya. Tangannya diangkatnya dari meja dan diturunkan di atas perutnya. Pada anak di bawah jantung itu ia mencari kekuatan dan keimanan.
“Jawab, Min, jawab!” tukang gendang menganjurkan.
Min bergulat melawan kemalu-maluannya. Wajahnya yang membera-bera, tetapi ia mulai berdiri dan mencari kata-kata. Kemudian:
Surabaya ada di Wetan, Pasar Turi nama pasarnya.
Mana ada hati yang tahan, kalau si dia gini manisnya.
Waktu tertawa pecah kembali sudah berkali-kali Midah mencari kekuatan pada anaknya.
“Sekarang saatnya,” pikirnya. Dan setelah tersenyum memandangi rombongan itu seorang demi seorang ia pun menyanyilah dalam pantun jawaban:
Petir Cibatok menyambar tiang, tiang besi di tengah bolong.
Pikir-pikir habis dipikir, memang diri dimabuk kroncong.
Dalam menyanyi itu ia merasa dirinya telah ada di depan khalayak. Ia telah merasa diri jadi sri panggung. Orang mendengarnya dengan penuh kecucukan. Kefasihannya dalam berpantun membangkitkan keheranan mereka. Waktu pemimpin rombongan datang menghampirinya, nampak seri cemburu memancar di wajah Min dan perempuan bergigi emas.
“Kalau kacang jatuh di lumpur,” seorang mulai berdendang.
“Diam dulu,” perintah kepala rombongan. Dan pada Midah ia bertanya:
“Pernah ikut main kroncong sesindiran?”
Midah menggeleng.
“Bagaimana bisa bersindiran?”
Midah mengusap-usap perutnya. Menjawab sejadi-jadinya:
“Begitu saja.”
“Suaramu begitu bagus.” Setelah menunjuk perempuan setengah tua bergigi emas, ia meneruskan: “Dia sudah tua, tidak menarik pendengar lagi. Suaranya pun tak sebagus engkau.”
“Apa? Habis manis sepah dibuang!” teriak wanita bergigi emas itu.
“Nanti dulu, Nini. Biar aku bicara sama orang ini.”
“Kalau engkau ambil dia dalam rombongan, sekarang juga aku pergi.”
“Sabar, Nini. Kalau engkau begitu cemburuan, aku takut engkau jatuh jadi pengemis di Pasar Senen.”
“Biola itu aku punya,” bantah Nini. “Sonder biola, kalian boleh merengek-rengek minta hujan!”
“Jangan dengarkan dia,” orang itu menasihati Midah. “Mau engkau ikut rombongan?”
Midah mengangguk, dan dalam hatinya ia bersyukur kepada Tuhannya─Tuhan bapaknya juga.
“Kapan mau mulai ikut?”
“Sekarang juga.”
“Bangsat! Kau kira apa aku ini?” teriak wanita itu. “Cuma satu perempuan boleh ikut dalam rombongan. Tidak boleh lebih.”
“Nini! Di sini aku kepalanya. Bukan engkau!”
“Sini biolaku!” teriak Nini. Dan setelah mendapat barangnya ia pergi meninggalkan rombongan. Suasana yang terpecah belah timbul dalam rombongan itu.
“Dan dia belum lagi bisa main biola,” keluh Min dan meneruskan makannya.
Yang tinggal tak membuka mulutnya.
Akhirnya kepala itu berbisik setengah mengeluh:
“Kalau lusa dia kelaparan, dia akan cari kita lagi. Kan kalian setuju kalau ada yang baik suaranya?”
Yang lain-lain mengangguk. Hanya Min mengangguk lebih dalam.
“Babi-babi itu tidak mengerti musik. Baru kalau ada yang manis dia mengerti. Bagaimana pendapatmu semua?”
“Setuju,” suara berbareng yang lesu.
“Aku tahu kalian kehilangan sedikit dari semangat kalian karena kepergian Nini. Tapi yakinlah, lusa dia akan mencari kita.”
“Tapi apa kata keluarganya?” tanya seseorang.
“Ya, bagaimana pendapat keluargamu nanti,” tanya kepala itu.
“Tidak punya keluarga.”
“Tapi pakaianmu begitu baik. Engkau masih bercincin emas. Tasmu dari kulit baik dan tidak begitu jelek.”
“Aku sendiri punya.”
“Kalau ada yang mengadukan kami pada polisi?”
“Mengapa?”
“Melarikan orang.”
“Biarlah aku sendiri yang cerita pada itu polisi.”
Diam-diam mereka meneruskan makan lagi. Tiba-tiba:
“Aku? Ah.” Midah tidak bisa meneruskan. Sekaligus terbayang segala-galanya, dan terutama yang tidak menyenangkan, dalam sanubarinya. Tak pernah kegarangan dan kekerasan bapaknya nampak begitu jelas pada waktu itu. Dan ketakpedulian emaknya melela membabi buta. Kemudian kelunakan sikapnya sendiri terhadap si anak yang ada di bawah jantungnya kini. Berbagi kenangan yang tak sedap datang sekaligus. Riah pun muncul dalam ingatannya. Dan segala pesannya kembali memperingatkan dirinya agar jangan sampai tergelincir.
“Ah. Mengapa malu menyebut nama?” Seorang tukang gitar yang bermata satu mencoba menolong kebingungan Midah. “Lihatlah aku sebagai contoh. Mataku cuma sebelah, dan di rombongan ini aku disebut Mak Pecak. Dan itu,” tangannya menunjuk pada pemuda yang disebut Min, “di sini dia disebut Mimin Kurus. Perempuan yang pergi itu Gobang Bolong. Apalagi. Si tukang gendang yang ada di sampingmu itu Dul Gendang. Habis perkara. Dan karena engkau begini manis—memang cocok pantun Min tadi. Engkau memang manis. Jadi kami sebut saja Si Manis.”
Sehabis makan mereka mengobrol tentang berbagai hal. Tetapi selamanya percakapan tidak pernah memanjang bertele-tele seperti biasanya. Obrolan-obrolan terus-menerus diputuskan oleh perhatian mereka kepada Si manis.
Midah tahu ia menjadi pusat perhatian. Dalam kesadarannya ia berniat hendak mempergunakan kesempatan yang sebaik-baiknya untuk merebut tempat dalam rombongan. Ia sebarkan senyum manisnya. Dan dengan menelan segala perasaan malunya ia mencoba ikut mengobrol tentang berbagai hal.
Tiba-tiba Rois, kepala rombongan, memperhatikannya lagi, bertanya:
“Lagu apa saja engkau bisa?”
“Jali-jali, Kicir-kicir, Moresko, Telemoyo, Roda Dunia…”
“Itu sudah cukup banyak.”
“Bengawan Solo1?” tanya Min mencoba-coba mematahkan cemburu hatinya.
“Kan tiap orang bisa menyanyikannya?”
“Ya, semua bisa menyanyikannya.”
“Sudah engkau pikirkan betul-betul hendak ikut rombongan kami?” tanya Rois.
“Tentu saja sudah. Sudah bertahun-tahun.”
“Jadi sudah kau pertimbangkan bagaimana kita ini begitu hina di mata orang?”
“Ya, sudah kupertimbangkan.”
“Apa engkau harapkan keuntungan ikut dengan rombongan ini?”
Simanis tidak bisa menjawab.
“Engkau melarikan diri dari rumah?”
Sekali lagi Simanis tidak dapat menjawab.
“Apalagi gunanya bertanya tentang dirinya?” Min menyuarakan pendapatnya. “Lebih baik sekarang juga kita berangkat.”
Mereka berangkat. Kini Simanis mendapat kesempatan bernyanyi di depan umum. Dengan peci Mimin Kurus ia memasuki restoran-restoran, melemparkan senyum ke kiri dan ke kanan. Bukan tidak jarang ia mendapat usapan mesra pada pipinya. Bahkan sekali ia ditarik oleh seorang untuk ikut duduk sebentar menemaninya makan. Ia tidak membantah, dan musik berjalan terus. Waktu ia bernyanyi untuk seorang itu ia mendapat lembaran-lembaran kertas yang tidak sedikit. Ada timbul hidup dalam jiwa Midah. Ada terbit suasana hati yang baru, yang belum pernah dialaminya selama ini─kebebasan tanpa ikatan apa pun jua dalam pengabdian pada kroncong. Juga ikatan susila sejenak yang begitu berpengaruh dalam keluarga orang, yang menamai dirinya baik-baik, lenyap mendadak. Bagaimanapun juga ia bergerak, betapa pun jua ia bertingkah, yang ada hanya kebebasan, kegairahan yang tak terartikan.
Demikian rombongan itu mengembara dari restoran ke restoran. Dan hari itu habis pula dimakan kegiatan manusia. Sekarang datanglah kesulitan bagi Simanis dengan kesederhanaan hatinya. Satu pertanyaan telah membuat perasaannya tunggang langgang tak menentu:
“Di mana engkau tidur malam ini?” Mimin bertanya.
“Dan engkau?” Simanis bertanya.
“Kami tidur dalam rombongan, mencari penginapan murah. Kami sudah punya penginapan sendiri—di Jatinegara. Engkau?”
Simanis menghitung-hitung uang yang ada padanya. Untuk menginap di hotel terus-menerus sudah pasti dalam beberapa bulan ini ia akan ambruk sebagai orang yang miskin. Dan sebelum habis menghitung-hitung telah menyerang lagi satu persilaan:
“Tidur saja dengan kami.”
“Masih ada satu kamar untukku?”
“Selamanya kami tidur di satu kamar.”
Kembali tangan Midah meraba perutnya dan meminta kekuatan dari anaknya. Terbayang dalam kepalanya segala yang akan diperbuatnya oleh bapak dan ibunya apabila seluruh diri dan jiwanya ia serahkan kepada kehidupan rombongan ini. Bapak akan berteriak dan menyumpah-nyumpah dan berzikir bermalam-malam memohon kepada Tuhan agar ia segera ditumpas habis daripada memalukan dirinya. Dan emak akan menangis beberapa menit lamanya, kemudian menyebut tiada habis-habisnya dan tidak keluar-keluar dari kamar, akhirnya lupa lagi akan segala-galanya yang terjadi.
“Ya, engkau tidur dengan kami, dengan aku,” Mimin Kurus menguatkan ucapan keinginannya. “Tak pernah aku melihat perempuan semanis engkau ini.”
“Engkau begitu muda─masih kanak-kanak.”
“Tiap orang dalam rombongan kami sudah dewasa, Simanis!”
“Engkau juga harus menganggap aku demikian.”
Tiba-tiba Haji Terbus datang ke dalam ingatannya. Begitu perkasa. Begitu berdaulat, dan perutnya yang menonjol ke depan itu begitu menantang berisi daya. Sekarang didekatnya mengembik-ngembik kuda kacang ingin menggantikan benteng liar.
Ia tersenyum seorang diri.
“Mari kita tidur berdua,” Mimin Kurus mengacarai.
Dan malam itu untuk pertama kali Simanis tidur di samping lelaki yang tidak diikat oleh peraturan agam. Kadang-kadang ia merasa khawatir akan akibat selanjutnya dari perbuatannya itu. Tetapi kembali ia meminta kekuatan pada makhluk belum dilahirkan yang ada dalam perutnya. Kadang-kadang ia teringat pada Riah. Ah, orang-orang miskin itu miskin pula. Kepalanya, juga hatinya, juga pengertiannya. Sedikit kesulitan telah dianggapnya kebaikan, dan mereka gampang percaya.
Sekarang ia berpikir apa jadinya dunia ini apabila tidak ada orang miskin, dan semuanya orang kaya: penduduk dunia berisi orang yang juga kaya kecurigaan dan kegiatan memperebutkan keuntungan. Ah, dalam tiga hari dunia demikian akan kembali mempunyai orang-orang miskin lagi, dan kembalilah semuanya pada keadaan yang sebermula.
Sekarang ia berpikir, adakah dirinya kini miskin atau kaya. Tiba-tiba tergelimang senyum pada bibirnya yang menggairahkan lelaki itu. Sesungguhnya pengertian miskin itu telah hilang lenyap setelah ia meninggalkan suaminya. Kemiskinan baru ada setelah ada perbandingan dengan keliling, kemiskinan hanya ditentukan oleh kebutuhan. Dan anakku ini, anak yang tidak akan kunodai dengan kesalahan susila ini, dia tidak akan miskin, karena ia tidak lari pada kebutuhan, tetapi kebutuhan yang lari kepadanya. Dia tidak akan kaya, karena kekayaan dilahirkan oleh kemiskinan keliling, dan dia tidak akan memiskinkan kelilingnya. Dia akan jadi sebagai aku, jadi penyanyi yang mengajak semua orang ikut girang, ikut merasa apa yang dirasakan juga oleh orang lain─perasaan yang murni.
Ia tertidur.
Siapa yang tidak akan merenung-renung dalam memasuki dunia baru yang tidak dikenalnya sebelumnya? Dan Midah bukanlah orang yang luar biasa. Ia yang selalu hidup di antara kekayaan, baik orang tuanya sendiri maupun suaminya─kekayaan─yang begitu biasa dengan kegampangan hidup─kekayaan itu pula yang menerbitkan pikiran-pikiran baru padanya. Dan ia tidak menyesal meninggalkan kekayaan itu. Dalam terlelap itu ia bertemu sebentar dengan anaknya sendiri yang belum ia lahirkan. Ia bercakap sebentar dan kemudian tersentak bangun.
“Jangan ganggu aku,” katanya berbisik.
Dari pojok-pojok kamar yang gelap, terdengar tertawa senang. Dan ia menjadi jaga benar. Ia ingat keadaannya sekarang.
“Mengapa takut padaku?” Suara lelaki di sampingnya. “Aku sudah dewasa seperti yang lain-lain.”
“Berapa umurmu?”
Dari pojok-pojok terdengar tertawa senang.
“Tujuh belas.”
“Engkau masih kambing kacang.”
Tertawa dari pojok-pojok menderu-deru. Juga Midah ikut tertawa dalam hatinya. Tetapi tidaklah lama karena dari pojok-pojok itu lahir berbagai macam ucapan yang memberangsangkan hati si kambing kacang.
“Ah, si kurus masih dianggap kacang!”
“Kurus! Kalau kalah minggir saja, aku bisa menggantikan!”
Tertawa mengisi udara kamar gelap itu.
Mulai Midah merasa takut. Ia lindungi perutnya dari segala kemungkinan. Tidak! Makhluk kecil di dalam ini tidak boleh dinodai. Ia merasa air asam telah naik di leher dan telan kembali sehingga panas dan getir rasa tenggorokannya.
Tetapi gangguan di tenggorokannya dan perut itu terasa benar sebagaimana biasanya. Perhatiannya hanya tertuju pada keselamatannya. Kalau saja Nini tidak meninggalkan rombongan…
Mimin Kurus menjadi panas oleh suara-suara itu dan tubuhnya diterkamnya mentah-mentah. Kini ia menghadapi kenyataan sebagai wanita dalam kerumunan pria gelap kamar. Kini ia berhadapan dengan tenaga gila yang dibuat darah yang sedang mendidih.
Ia melawan, tetapi percuma. Akhirnya berbisik lemah:
“Jangan ganggu aku. Aku sedang mengandung.”
Tetapi Mimin tidak peduli. Tubuhnya telah terguncang-guncang oleh terkaman itu.
“Jangan ganggu aku!” Simanis mengeraskan cegahannya.
“Aku sedang mengandung.”
Keriuhan dalam kamar lenyap. Tetapi Mimin tetap mengamuk. Ia dengar orang melangkah dan lampu listrik dinyalakan. Bersama dengan itu lenyaplah keedanan Mimin. Ia terjatuh di sampingnya. Tak ada suara memanaskan lagi. Kepala rombongan mendekatinya dan bertanya:
“Beginilah kehidupan kami, Manis. Dan selamanya begini.”
Semua mata memandang pada Midah. Hanya Mimin Kurus tak berani memperlihatkan tampang dan terengah-engah di tempatnya. Suasana canda lalu menjadi kesungguh-sungguhan. Midah hanya menunduk sambil memegang perutnya.
“Tetapi, aku sudah bilang aku bunting.”
“Karena itu aku datang menolongmu.” Kepala rombongan itu duduk di dekatnya. “Jangan takut. Aku juga punya anak. Dan tiap lelaki yang tidak menghormati makhluk yang masih dikandungkan tidak patut lebih lama hidup di atas dunia ini.”
“Mengapa kehidupan kalian mesti begini?”
“Bagaimana aku tahu, selamanya memang begini. Sejak kecil aku hidup dalam rombongan seperti ini.”
“Kan masih ada cara lain yang lebih baik?”
“Tentu saja, tetapi yang lebih baik tidaklah ikut dalam rombongan penggelandang demikian. Kalau engkau menghendaki cara kehidupan yang baik, tentu saja rombongan ini bukan tempatmu, Manis, tetapi engkau harus kembali ke rumah suamimu, atau orang-orang yang engkau cintai. Mengerti engkau, Manis?”
Midah mengangguk.
“Tapi aku sedang bunting,” katanya lagi.
“Karena itu tidurlah di dekatku, dan tidak seorang pun akan berani mengganggu.”
“Tetapi engkau juga satu bagian dari mereka.”
“Manis, dalam rombongan seperti ini selamanya ada yang mesti dipercaya. Dan orang itu adalah kepalanya. Kalau tidak dapat dipercaya, dia sudah lama diusir dari rombongan.”
“Jadi?”
“Tidurlah bersama aku, dan engkau akan selamat.” Kepala rombongan itu merenung-renung sebentar. Kemudian perlahan-lahan bercerita.
Waktu ia masih muda ada perawan yang jatuh cinta kepadanya dan mengikutinya ke mana pun juga ia pergi mengamen. Dan perawan itu akhirnya dibuntinginya. Karena anak itu masih di bawah umur, suatu kali perkara itu mempunyai akibat yang panjang. Ia ditangkap polisi. Tetapi orang tua anak itu menghendaki ia kawin dengan anaknya. Jadi ia terlepas dari hukuman dan kawin. Setelah anak itu lahir─seorang lelaki yang memikat hati barang siapa yang memandangnya─mertuaku menjatuhkan perintah: ia harus bercerai. Dan bercerailah mereka. Istrinya tinggal di rumah orang tuanya sedang ia sendiri meneruskan kehidupannya sebagai pengembara yang selalu diganggu oleh ingatan dan perasaan kangen pada anak-anaknya sendiri.
“Kalian tahu Simanis sedang mengandung,” akhirnya suaranya ditujukan kepada anak buahnya. “Barang siapa mengganggu Simanis berarti mengganggu anaknya. Dan barang siapa berani berbuat demikian, aku patahkan batang lehernya.”
Akhirnya kepala rombongan itu bertanya padanya.
“Siapa lelaki yang membuntingi eng aku?”
“Suamiku.”
“Suamimu! Mengapa dia engkau tinggalkan? Kembalilah kepadanya.”
Midah tidak dapat meneruskan ceritanya.
“Rumah baik-baik adalah tempat yang paling aman buat wanita, bukan kehidupan rombongan pengamen seperti ini. Mau engkau aku antarkan pulang?”
Midah menggeleng. Kemudian:
“Biarlah aku bawa hidupku sendiri.”
“Engkau akan menyesal.”
“Biarlah kucoba dahulu.”
Kepala rombongan kini mendadak menjadi takut. Ia ingat pengalamannya dengan polisi dahulu. Tetapi tidak berkata apa-apa. Ia padamkan lampu. Midah tidur dengannya. Malam kembali aman. Midah terus-menerus memohon kepada Tuhannya agar selalu selamat, agar anak yang dikandungnya tidak diganggu oleh siapa pun juga. Dan waktu tengah malam telah lama lewat dan kepala rombongan itu jatuh tertidur sambil merangkulnya ia masih tetap mendoa, dan terus mendoa sehingga akhirnya pun jatuh tertidur pula.
Dalam tidurnya pun ia merasa aman dalam rangkulan lelaki yang asing baginya itu─lelaki yang kehangatan hatinya terasa olehnya. Pikiran-pikiran tentang dosa hilang dari pikirannya. Bahkan juga dalam mimpi ia tidak merasa berdosa dalam keadaan seperti itu. Antara lelaki dan wanita kadang-kadang tiada sesuatu yang mengguncangkan iman, dan tidak tiap lelaki berbahaya bagi keselamatan, kesusilaan dan anak yang tidur nyenyak dalam kandungannya.
Pagi-pagi waktu ia terbangun, tergelincir saja ucapan syukur dari hati dan bibirnya.
“Engkau memang dapat dipercaya,” ia menyinarkan pandang pada kepala rombongan.
Lelaki itu hanya mengangguk.
Bagian Keempat
Mereka bergerak dari jalan ke jalan, dari restoran ke restoran. Dan pada suatu kali Nini tua bergigi emas kembali menggabungkan diri. Hal itu menggirangkan hati Midah, karena setidak-tidaknya ada wanita yang menyalurkan hawa nafsu rombongan itu.
Kandungannya kian lama kian besar juga. Tetapi uang penghasilannya sendiri telah terkumpulkan dan tersimpan rapi-rapi. Suatu kali ia bisa bersalin melahirkan di rumah sakit dengan tidak khawatir ataupun menyusahkan siapa pun juga. Di malam hari dikala anggota-anggota gerombolan mengembara mencari saluran hawa nafsunya, atau sedang bergulat mesra dengan Nini atau sedang berjudi di bawah lampu listrik yang redup itu, ia berdoa di pojok-pojok kamar, moga-moga Tuhan mengaruniainya seorang anak yang sempurna, yang tidak cacat baik jasmani maupun rohaninya.
Sering ia berangan-angan apa yang hendak diperbuatnya di bulan-bulan sehabis melahirkan itu. ia tahu tak mungkin ia ikut bergerak dengan rombongan. Dan ini berarti ia takkan memperoleh penghasilan lagi. Ia menjadi takut. Dan apabila ketakutan itu tak bisa dilawannya dengan alasan apa pun juga, ia menyanyi─bukanlah menyanyi untuk orang banyak, tetapi menyanyikan keadaan dirinya sendiri dengan tiada memperhitungkan upah yang bakal diterima. Dan sering ia bernyanyi demikian dengan tiada disadarinya melatih menyanyi bersungguh-sungguh.
“Nyanyianmu begitu baik dan suaramu begitu bagus,” suatu kali kepala rombongan memberinya perhatian. “Sebenarnya engkau bisa juga menyanyi di radio.”
“Aku bisa menyanyi di radio,” katanya pada diri sendiri. Dan sejak itu pun ia bercita-cita menyanyi di depan corong.
“Banyakkah nafkah yang bisa diterima kalau menyanyi di radio?”
Kepala rombongan itu menggelengkan kepalanya.
“Tetapi keuntungannya banyak sekali,” akhirnya lelaki itu meneruskan. “Di sana engkau bisa terkenal, dan rombonganmu tiap kali mendapat panggilan dari orang-orang yang berpesta. Di situlah baru engkau terima uang banyak.”
Selanjutnya Midah tak punya perhatian lagi.
Perhatian Midah lebih-lebih condong kepada makhluk kecil yang akan menjadi anaknya─menjadi anaknya untuk selama-lamanya.
Tambah lama kekuatannya tambah habis. Ia tak sanggup lagi ikut mengembara, ia tak sanggup lagi menggetarkan pita suaranya selama delapan jam sehari. Terpaksalah ia pada suatu hari berkata kepada kepala rombongan:
“Kandunganku bertambah tua. Tenagaku tambah habis. Izinkanlah aku tidak bekerja sehingga melahirkan.”
“Aku mengerti juga, Manis. Tetapi engkau harus pula ingat, tiada bekerja engkau pun tiada menerima nafkah.”
Berita itu mengguncangkan hati Midah. Ia tidak menyangka akan terjadi yang demikian. Namun ia lebih memihak kepada anaknya, karena itu disampaikannya juga:
“Biarlah.”
“Tapi toh aku usahakan agar engkau tetap menerima nafkah sekalipun tidak mungkin sebanyak yang biasa engkau terima.”
Malam itu diadakan perundingan. Mimin Kurus, yang dihembalang oleh kekecewaannya dahulu dan lambat laun menyimpan dendam dalam hati, tidak akan menyetujui pengurangan nafkahnya sendiri demi dia yang tidak bekerja. Juga Nini, yang memandang Simanis sebagai saingannya, berpihak kepadanya.
Dua orang lagi, yang juga mengalami kegagalan dalam percobaannya untuk mempergunakan jenis Midah, berpihak belaka pada Nini dan Mimin. Dan kepala rombongan yang selalu mengingat pentingnya keutuhan rombongannya, mengambil putusan yang tidak menguntungkan Midah. Dan Midah mengikuti jalannya persetujuan itu dengan harapan hendaknya orang mengerti keadaannya. Tetapi orang tak mau mengerti.
Waktu kamar telah digelapkan, dan hanya ia sendiri tinggal jaga di samping kepala rombongan, ia teringat segala-galanya yang telah terjadi. Juga ia ingat pada Riah. Sekilas ingin ia mengunjungi perempuan miskin yang baik hati itu, tetapi niat itu ditelan bersama ludahnya. Ia merasa terpencil. Ia raba perutnya dan ia merasa lebih kaya dari semua orang di atas dunia ini. Ia ingat pada kedua orang tuanya yang tidak pernah ia dengar kabar beritanya lagi. Ia pun ingat pada suaminya yang menjadi raja di kampungnya. Akhirnya barulah ia ingat pada dirinya dan keadaannya. Kakinya berdenyut-denyut, tenggorokannya kering dan nafasnya terengah-engah. Sudah lama ia membutuhkan dua atau tiga bantal karena anak yang ada di bawah jantungnya kini kian lama kian menyempitkan rongga pernafasannya. Tambah malam hari tambah berat seluruh anggota tubuhnya dipergunakan untuk bergerak. Ia tak tahu lagi apakah di dalam kegelapan itu ia menangis atau tidak.
Yang ia ketahui:
Ia tetap berdoa dan memohon agar anaknya kelak dapat berbuat sekehendak hatinya tanpa halangan dari siapa pun yang tidak menyetujui. Dan agar anaknya hidup berbahagia terlepas dari tindasan orang lain.
“Anakku harus jadi manusia bebas! Bebas dan lebih bebas daripada aku sendiri.”
Ia dengar keruh di samping-menyamping. Tangan kepala rombongan yang merangkul dadanya terasa hangat. Perlahan ia cium tangan itu, tapi orangnya tidak merasa, bahkan tidak bergerak dalam tidurnya.
Waktu pagi-pagi bangun ia merasa sangat lelah. Sejak hari itu ia tidak ikut bekerja dan mencoba menghemat simpanannya sedapat mungkin. Ia kurangi makannya. Kemudian diketahuinya bahwa empat hari kemudian kedua kakinya menjadi bengkak. Ketakutan pada kematian menyebabkan ia menjadi kebingungan. Dan untuk mendapatkan nasihat tak ada orang demikian di dekatnya. Barulah hatinya merasa lega, apabila malam datang pula dan rombongan itu pulang ke penginapan.
Waktu sakit pertama menyerang perutnya, buru-buru ia pergi ke rumah sakit. Tetapi alangkah kagetnya waktu diketahuinya, bahwa tidak segampang yang dikira-kirakannya untuk dapat melahirkan di situ. Dengan menahan sakit perutnya ia jawab segala pertanyaan. Berkali-kali ia bilang, bahwa ia sanggup membayar biaya perawatan melahirkan, tetapi segala usahanya tidak berhasil.
“Kami tidak terima orang. Semua tempat sudah dipesan.”
“Di mana aku harus melahirkan?”
“Pulang saja. Kan ada dukun kampung di sana?”
“Kami juga bisa kirim bidan.”
Midah menangislah sekarang. Ia tak bisa kembali lagi. Ia tak kuat pulang ke penginapan lagi. Perutnya terlampau sakit. Dan orang yang melayani itu kemudian melayani orang lain. Ia rebahkan tubuhnya di lantai.
“Pulang buruan!” seru orang yang melayani tadi.
Dalam hatinya Midah masih sempat mendoa, bukan untuk keselamatan dirinya, tetapi untuk keselamatan anak-anaknya yang hampir datan. Kemudian ia tak kuasa bergerak lagi. Waktu ada dirasainya kainnya mulai basah ia jatuh tak sadarkan diri…
Waktu ia bangun kembali ternyata ia telah terbujur di atas ranjang. Di samping-menyampingnya terlentang wanita-wanita yang hendak melahirkan seperti dirinya sendiri. Suara orang kesakitan dan sebutan pada segala-galanya membumbung ke udara, bahkan ada pula antara sebentar terdengar tangis yang menghiba-hiba.
Seorang bidan berdiri di dekatnya. Ia memandanginya lama-lama. Kemudian:
“Siapa nama?”
“Midah—kalau boleh berilah aku minum.”
“Di mana tinggal?”
“Di Penginapan.”
“Suami?”
“Ah, berilah aku minum.”
Midah tak kuasa menjawab. Sakit perutnya mulai mengaduk kembali.
“Aku di sini kerja, bukan main-main.”
“Midah namaku. Hanya itu saja. Yang lain-lain aku tak tahu.”
“O, mengertilah aku. Mengerti benar.”
“Berilah aku minum.”
Dan Midah mendapat minum air dingin. Kemudian datang bidan lain lagi, memandanginya lama-lama, kemudian:
“Memang manis. Patut tak tak tahu lakinya.”
Midah tidak menyambut. Sakit dalam perutnya berlomba dengan teriak anak-anak yang baru datang mengunjungi dunia. Ada ia rasa perutnya pecah dan anaknya akan datang. Ia berzikir. Dalam zikir ia minta ampun pada Tuhannya, pada kedua orang tuanya, juga pada suaminya. Dalam hatinya ia terus-menerus berseru bahwa ia tidak pernah berdosa. Dan waktu anak itu tak dapat ia tahan lagi, ia pun berteriak sekuat tenaganya:
“Nona, anakku… anakku…”
“Kenapa anakmu?” sambut seorang bidan sambil tersenyum mengejek.
“Anakku datang.” Berteriak: “Anak… ku, da… tang…”
Dan dengan bersamaan dengan akhir teriakan itu datanglah anak itu di bawahnya. Ia mengucapkan syukur. Ia melahirkan tanpa pertolongan siapa pun jua. Dan barulah datang bidan mengambil anak itu setelah menyelesaikan pusar. Anak itu diambil oleh bidan dan dimandikan. Ia dengar anaknya menangis, begitu sehat, begitu keras. Air matanya kembali mengalir.
“Anakku,” bisiknya. Seakan tak percaya bahwa ia pun mempunyai anak, ia berbisik lagi: “Anakku, dia anakku.”
Ia terlampau capek dan lemah. Diminumnya kopi panas seteguk-kopi yang disediakan di sampingnya, kemudian ia jatuh tertidur dengan senyum yang lebih memaniskan bibitnya.
Waktu ia bangun lagi ternyata olehnya, bahwa ruangan di mana ia tidur banyak terdapat kaum ibu yang baru saja melahirkan. Pada paras mereka tergambarkan perasaan-perasaan yang tidak sama. Dan di antara mereka semua itu. Midahlah yang menyadari keuntungannya.
Tiba-tiba ia teringat pada anaknya. Ia tegakkan kepala sambil dengan tangannya meraba-raba sampingnya, tetapi anak itu tak ada di dekatnya. Dikumpulkannya tenaga untuk memanggil bidan, tetapi suara yang keluar dari kerongkongan tidak sebanyak yang ia harapkan. Kekhawatiran mengamuk dalam dadanya. Kini anak itu merupakan satu-satu pegangan baginya. Karena anak itulah ia sanggup meninggalkan segala galanya yang ia selama itu telah biasa.
Matanya jalang berkeliaran. Akhirnya bertanya ia pada perempuan tetangganya:
“Di mana anakku, nyonya?”
“Di kamar bayi.”
“Anak nyonya?”
“Di sana juga tentu.”
Hatinya agak lega. Ditariknya nafas dalam-dalam. Dan kala ingatannya sampai pada mereka yang menetakinya dengan berbagai pertanyaan hatinya kembali menjadi muram.
Ia ingin beristirahat. Dan bila mereka menghendaki ongkos-ongkos yang diperlukan segera ia dapat memberikan. Ia tak ingin mendapat pertanyaan sepatah pun jua.
Tetapi seorang bidan datang kepadanya dan mengulangi tetakannya.
“Kami harus tahu suami empok1. Bukan hendak menyiksa empok, tapi semua harus ditulis dalam daftar.”
“Aku tak sudi menyebut nama suamiku lagi.”
“O, jadi empok bercerai?”
Midah mengangguk.
“Tetapi kami tetap ingin mengetahuinya.”
“Aku takkan mengatakannya.”
“Jadi harus anak empok dianggap anak haram?”
Merah padam muka Midah. Ia takkan sanggup mendengar perkataan itu diulangi lagi.
“Mengapa marah?” tanya bidan itu. “Empok bisa menulis?”
Dengan mata berkaca-kaca. Midah menganggukkan kepalanya sedikit.
“O, jadi bukan buta huruf!”
“Bisa bicara asing?”
Midah mengangguk lagi.
“Jadi nyonya terpelajar? Ah, kalau begitu nama suaminya nyonya tuliskan saja.”
“Tak perlu dikatakan. Itu lebih aman, bukan?”
“Tapi.” Midah menolak potlot dan kertas yang disodorkan kepadanya.
“Kalau sekarang tidak suka, baik nanti kuulangi lagi.”
“Di mana tempat tinggal sebenarnya?”
“Tidak punya.”
“Tidak punya? Mana bisa nyonya tiap hari mengembara?”
“Ya, tiap hari aku mengembara.”
Bidan itu memandanginya lama-lama. Tertawa tidak percaya, kemudian meneruskan:
“Ini tidak bisa jadi, nyonya. Nyonya harus sebutkan di mana nyonya tinggal.”
“Jangan aku ditanyai lagi. Katakan saja berapa aku harus bayar sampai sembuh.”
Bidan itu pun pergi dengan paras muram.
Dan siang itu ibu-ibu yang baru melahirkan itu mendapat nasi dengan sayur kangkung.
Dari sana-sini terdengar keluhan. Dan waktu Midah melihat tida ulat mati dalam kangkungnya, ia letakkan kembali makanan itu di mejanya. Perutnya terasa lebar oleh sebab banyaknya tenaga yang ia keluarkan sehari itu.Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa beginilah keadaan rumah sakit bersalin.
Ia tutup kembali matanya dan mengenang-ngenang segala-galanya. Kemudian ia tertidur lagi.
Di malam hari sebuah tangan membangunkannya. Dan di sampingnya menangis dan meronta-ronta seorang bayi.
“Anakku,” bisiknya.
“Sudah waktunya diberi minum, nyonya.”
Midah membuka dadanya, dan waktu dada itu hendak diberikan kepada bayi itu ia berteriak terkejut:
“Ini bukan anakku!”
“Bukan?”
“Mana anakku? Mana anakku?”
“Itulah anak nyonya.”
“Tak mungkin anakku begitu sipit! Ini anak Tionghoa.” “Anak Tionghoa?” seru perempuan itu.
Sebentar terjadi keributan di bangsal itu. Dan waktu di sebuah pojok ada terdengar seruan kaget:
“Ini bukan anakku.”
Selesailah keributan itu dengan kepuasan di pihak-pihak yang berkepentingan.
Tetapi untuk Midah sendiri semua belum selesai.
Malam itu juga seorang datang kepadanya dan mendesaknya untuk mengetahui nama suaminya dan di mana tinggalnya.
“Bukankah nyonya tidak suka anak ini menjadi anak haram?”
Dan Midah meraba kening merah anaknya dan berbisik:
“Biarlah mereka menamai engkau anak haram. Nama apa yang engkau pinta, yang?”
“Bukan maksudku menghina anak itu dan nyonya sendiri.”
Jangan coba menanyainya lagi. Midah ingin berada di samping anaknya terus-menerus. Tetapi ia tidak membantah bila anak itu diambil dari sampingnya dan diletakkan di kamar bayi. Dalam waktu-waktu hatinya merasa sunyi, ia ingin menyanyikan kesunyian hatinya. Tetapi itu tidaklah pernah diperbuatnya. Dan ia hanya menyanyi dalam batinnya.
“Nyonya, tempat ini akan dipergunakan orang lain,” suatu hari seorang bidan berkata kepadanya.
“Aku mesti pergi dari sini?”
“Ya.”
“Tapi aku belum lagi sehat.”
“Kami kekurangan tempat, nyonya.”
Midah bangkit. Matanya berkunang-kunang. Ia berdiri, tetapi kakinya gemetar.
“Kuatkah aku menggendong anakku?” bisiknya.
“Nyonya tak perlu menggendong. Di luar banyak baca, nyonya.”
“Mana anakku?”
Dengan kaki gemetar Midah mengikuti bidan itu pergi ke kamar bayi. Ia tersenyum melihat anaknya yang merah sehat.
“Biarlah aku bayar biaya perawatan dulu,” katanya kemudian. “Maukah Nona mengantarkan aku ke tempat pembayaran?”
Ia diantarkan ke kantor, dan paras-paras masam menrimanya dengan dingin. Ia diharuskan membayar seratus dua puluh lima rupiah. Ia ambil uang simpanannya dari balik kutangnya dan kembalilah ia ke kamar bayi. Dan alangkan terkejutnya ia waktu melihat anaknya ditelanjangi bulat bulat.
“Mengapa anakku ditelanjangi? Kan bisa masuk angin?”
“Po dan pakaian bayi ini kepunyaan rumah sakit, nyonya.”
Tak tahan lagi. Midah melihat anak itu. Sambil bercucuran air mata di bawahnya makhluk yang baru beberapa hari datang itu keluar dari rumah sakit. Dipanggilnya sebuah beca. Dan dalam berjalan ditutupnya anak itu dengan sebagian dari bajunya. Tak henti-hentinya ia ciumi anaknya itu-anak sendiri.
Sepanjang jalan tak henti-hentinya air mata mengucur dari matanya. Dan tak henti-hentinya anak kecil itu menangis kedinginan kena angin.
Bagian Kelima
Midah tak tahu benar ke mana seharusnya ia pergi. Ia tahu rombongan pengamen keroncong itu akan bersikap lain terhadapnya setelah ia harus memelihara seorang bayi yang tidak berguna apa apa bagi mereka. Di atas beca itu ia teringat kembali pada kedua orang tuanya, pada Riah, pada suaminya. Dalam kebingungannya, ia hanya dapat menangis.
“Ke mana?” tukang beca bertanya.
Pertanyaan itu menambah kebingungannya.
“Mengapa menangis terus.”
Akhirnya Midah minta diantarkan kembali ke penginapannya yang dahulu. Dan sampai di sana ia disambut oleh pintu terkunci. Malam hari waktu rombongan pulang, baru ia dapat masuk. Ia disambut dengan bibir-bibir yang diberengutkan.
“Mana bisa kita tidur di samping orok ini.” Nini melepaskan perasaannya.
“Lebih baik dia pergi dari rombongan.” Mimin menyambung. “Dengan orok itu dia takkan bisa kerja apa-apa.”
“Aku bisa kerja sambil menggendong anak ini,” bantah Midah.
“Omong kosong,” seru yang lain. “Yang kedengaran bukan nyanyianmu, tapi tangis si orok jahanam itu!”
“Jahanam? Engkau jahanam anakku?”
Akhirnya kepala rombongan menengahi:
“Biarlah kita kawin saja. Manis. Engkau tinggal di rumah merawat anak ini, dan bila aku pulang makan sudah sedia.”
“Tidak mungkin! Tidak mungkin!”
“Aku belum begitu tua.”
“Tidak mungkin!”
“Mengapa tidak mungkin, Manis?” Nama sebutan Midah diucapkan kepala rombongan itu dengan perasaan kasih dan berahi sekaligus.
“Aku masih punya laki. Dan anak ini punya bapa yang sah.”
“Apa salahnya? Engkau bisa minta cerai.”
Ah, Midah tak berani lagi muncul pada suami atau orang tuanya untuk minta diceraikan. Ia hanya dapat menangis dalam kebingungannya.
“Baiklah. Engkau tidak berani minta cerai,” kepala rombongan meneruskan. “Kita bisa kawin dengan wali hakim1.”
Itu pun hanya menambahi kebingungannya. Dan air matanya menderas. Tindakan-tindakan yang menurut saluran-saluran sah itu menakutkan hatinya. Ia takut kehilangan kebebasannya yang hanya bisa diperolehnya dengan menghindari jalan-jalan yang sah itu.
Anaknya menjerit.
“Dia sudah mulai!” teriak Nini. “Mestikah kita tidur di samping anjing kesakitan ini?”
“Anakku bukan anjing, bangsat!” Midah meneriakkan kesakitan hatinya.
“Kalau bukan anjing singkirkan dia dari sini.”
Kepala rombongan itu melompat ke depan Nini, dan ditamparnya mulut perempuan itu.
Menggerutu:
“Engkau bisa bertingkah lebih sopan lagi.”
Nini menangis.
“Kami menginap di sini. Kami bukan datang mendengarkan orang berkelahi!” seru beberapa orang di depan pintu.
Bahkan orang-orang di samping menyampingi penginapan memerlukan datang untuk menyaksikan jalannya pertandingan mulut. Kemudian muncul pula seorang polisi lalu lintas.
Penuh sesak rumah itu oleh penonton-penonton prodeo.
“Jangan bikin ribut, ya?” polisi lalu lintas memperingatkan. “Nanti kupanggilkan polisi. Ayo, pulang semua orang-orang luaran ini.”
Dengan susah payah saja polisi lalu lintas itu dapat mengusir mereka. Pintu depan penginapan terpaksa dikunci. Dan akhirnya ia minta penjelasan. Kepala rombonganlah yang memberikan penjelasan.
Akhirnya polisi itu memandangi Simanis yang tersedan-sedan dan menunduk dalam tangisnya. Mengusulkan:
“Biarlah dia ikut menyanyi sambil menggendong anaknya,” katanya. “Baik ada yang menyanyi atau tidak, atau teriak anak kecil, orang-orang itu toh tidak mendengarkan kalian. Mereka tak menghargai musik kalian sama sekali.”
“Tidak bisa! Tidak bisa!” teriak kepala rombongan yang tersinggung kehormatannya.
“Ah, saudara, aku sendiri tukang musik juga.”
“Tuan?”
“Tentu saja.”
“Di radio?”
“Kadang-kadang di radio juga.”
“Bawalah aku ke radio.” Nini mengusulkan.
Polisi lalu lintas itu tertawa.
“Suaraku bagus juga.” Nini mendesak.
“Kami sudah punya penyanyi.”
“Jadi serap juga boleh,” desak Nini terus.
“Diamlah. Aku sedang dinas sekarang. Dan jangan bikin ribut lagi. Aku harap rombongan kalian tidak pecah karena dia,” dan ia memandang Simanis. “Terimalah dia dalam rombonganmu. Dia juga butuh hidup, dan anak kecil itu juga butuh hidup.”
“Berilah kami jalan agar bisa main di radio,” kepala rombongan itu mengusulkan.
“Baiklah, baiklah. Lain kali aku datang kemari. Kulihat dulu bagaimana kalian main.”
“Setuju?”
“Ah, alat-alat kami tidak lengkap,” kepala rombongan mengeluh.
“Bukan soal alat, tapi soal kebisaan kalian. Setuju?”
“Setuju, tentu kami setuju,” seru Nini.
“Baiklah. Sekarang aku pergi. Lain kali aku datang kemari.” Dan sebelum pergi diangkatnya dagu Simanis. Ia tertegun melihat kemanisan wanita itu. Ia memandanginya lama-lama.
“Ah, tuan polisi ini nanti bisa kena bujuknya,” Nini mengejek.
“Jangan menangis—siapa namamu?”
“Panggil dia Simanis, tuan polisi!” sambut kepala rombongan. “Ia tak pernah membilangkan namanya yang sesungguhnya.”
“Simanis. Ya, sesungguhnya engkau memang manis.”
Midah menundukkan kepalanya lagi.
“Jangan takut. Besok aku datang kemari lagi untuk melihat.”
“Kalau hanya datang untuk dia, tuan tidak perlu datang,” teriak Nini.
“Diam!” gertak kepala rombongan. “Tuan bisa datang kemari tiap waktu. Tapi kami ada di sini kalau sudah malam.”
“Baiklah. Baiklah. Harap dia jangan banyak diganggu. Dia baru melahirkan dan sebaiknya mendapat perawatan yang baik. Tetapi sebagian dari kalian memusuhinya. Itu aku tidak setuju.”
Kemudian ia pergi. Di pintu ia menengok lagi melihat Simanis, kemudian terus pergi. Dan campur tangannya menyebabkan Midah mendapat tempat lagi dalam rombongan itu.
Dan sejak itu pula ia ikut menyanyi lagi. Iris-irisan mendalam di hatinya menyebabkan nyanyiannya begitu mengiris bagi yang mendengarkannya. Dan nyanyian-nyanyian gembira melahirkan suara yang sinis. Dan tempatnya di rombongan lebih banyak merupakan bisul dalam tubuh.
Kepala rombongan sekali-dua kali mengulangi lamarannya. Tetapi Simanis tetap menolak. Kegagalan perkawinannya merupakan sebab utama mengapa ia menjijiki jenis lelaki, dan mengapa ia tidak punya perhatian lagi untuk menjadi istri orang. Sebaliknya sikap yang keluar dari alasan-alasan itu menjengkelkan kepala rombongan—dan dari jengkel akhirnya berubah menjadi benci.
Midah sadar akan kecantikannya. Midah mengetahui, bagaimana lelaki-lelaki itu tiada ubahnya dengan kuping dombak lembeknya bila mencari saluran nafsunya pada wanita. Dan waktu menyelamatkan tempatnya di rombongan, harapan kepala rombongan itu dibangunkannya kembali. Tapi kepala rombongan yang sudah banyak makan garam itu tidak bisa dibohongi.
Tiap kali bila rombongan itu makan di sebuah warung kecil, Midah tidaklah mendapat teguran. Ia makan seorang diri di tempat yang seakan-akan sudah diasingkan baginya.
Di sana pula ia kembali menyusui anaknya. Dan di waktu-waktu kerja, kala anaknya menangis, ia berhenti sebentar untuk menyusui, sedang rombongan itu berjalan terus seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
Kelemahan hati kadang-kadang mengajaknya kembali kepada orang tuanya, atau ke rumah Riah. Tetapi keberanian untuk itu tidak ada padanya.
Kemudian datanglah hari yang memperhebat penanggungannya:
Pada suatu hari waktu ia tertinggal oleh rombongan dan sedang menyusui anaknya di sebuah gang kecil—dengan mendadak saja Riah telah ada di depannya. Tak dapat ia menyembunyikan kekagetannya.
“Midah, anakku!”
Suara itu memberi belaian yang manis di hatinya yang diperkeras oleh keadaannya selama itu. Menitik air matanya.
“Anakku! Anakku! Di mana engkau tinggal sekarang?”
Midah menutup dadanya dan berdiri.
“Di mana saja aku tinggal, Riah. Engkau mau ke pasar?”
“Dan anakmu itu! Alangkah sehat. Engkau bawa-bawa ke mana-mana juga dia.”
“Ya.”
“Mari pulang. Mari aku antarkan pulang ke rumah orang tuamu.”
“Biarlah aku hidup begini.”
“Kalau begitu pulanglah ke rumahku.”
“Biarlah.”
“Mau ke mana lagi engkau ini?”
“Meneruskan perjalanan.”
Riah memegangi lengan bajunya.
“Jangan halangi aku. Biarlah aku pergi.”
Setidak-tidaknya ia merasa aman dalam gendongan emaknya.
Ia pun berjalanlah. Tapi Riah mengikutinya.
“Jangan aku diikuti. Lain kali aku datang ke rumahmu.”
Ia percepat memburu rombongan.
Riah mengikuti perlahan-lahan dari belakang. Dan ia lihat betapa anak majikannya, yang dahulu dimanjakan itu, menyanyi di depan restoran. Ia lihat betapa perempuan itu, mempermain-mainkan bibirnya membuat senyum pemikat. Dan ia lihat juga betapa orang-orang di restoran yang memandanginya menyinarkan pandangannya yang jijik.
Tapi Midah menyanyi terus. Selama ada anak dalam kandungannya, setidak-tidaknya ia menyanyi untuk dirinya sendiri untuk hatinya sendiri, dan untuk anaknya.
Dengan diam-diam Riah kembali pulang. Midah tak mengetahui, sekalipun dalam menyanyi matanya jalang mencari-cari kalau-kalau Riah mengikutinya dan kala ia yakin menatanya, kembali mata itu menjadi tenang sebagai biasa. Ketenangan untuk sementara waktu. Ia yakin perempuan itu akan bercerita ke kiri dan ke kanan tentang dirinya. Ia tahu pula itu akan dikerjakannya bukan untuk maksud-maksud jahat, bahkan sebaliknya. Bahkan, Midah telah dapat membayangkan, bahwa Riah segera akan datang ke rumah orang tuanya dan bercerita panjang tentang dirinya.
Sejak pertemuan itu, Jakarta mulai terasa tidak aman baginya. Dan keadaannya tidak tertanggungkan lagi. Kini ia sering tak ikut bekerja dengan rombongan untuk menghindarkan diri dari orang tuanya, dari Riah dan dari semua orang yang disuruh orang tuanya untuk mencarinya.
Suatu kali, untuk mengimbangi kekuasaan Nini, pergilah ia ke tukang gigi dan memasangkan sebuah gigi emas pada gigi taringnya. Dan kejadian itu disambut dengan ejekan yang lebih hebat oleh Nini. Midah mengharapkan kedatangan polisi lalu lintas dahulu, tetapi ia tak lagi muncul.
“Dia ikut-ikut bergigi emas!” teriak Nini dengan sengitnya.
Pengetahuan bahwa kepala rombongan tak lagi melindunginya lagi, menyebabkan perempuan itu kian berani terhadapnya.
“Apa alat kau di rombongan ini! Apa! Cuma itu anak anjing, yang cuma menyusahkan kita semua.”
Penghinaan terhadap anaknya yang tidak berdosa menyebabkan Midah bangkit amarahnya.
Untuk anaknya ia berani berbuat segala-galanya bahkan yang tidak mungkin pun.
“Jangan kau hina lagi anakku.”
Dan seluruh rombongan tertawa.
“Aku bisa tusuk perutmu.”
“Kerjakan sekarang juga kalau berani!”
Sebuah tempeleng melayang pada pipi Midah. Ia terjatuh di samping anaknya.
“Tiru-tiru pakai gigi emas. Tidak laku gigimu itu!” teriak Nini.
“Mengapa dia juga tidak diusir?” tanya orang-orang lain pada kepala rombongan.
“Aku punya biola, Mimin punya gendang, semua orang di rombongan punya alatnya sendiri-sendiri. Punya apa kau? Betina begini mesti diusir.”
“Manis,” kata kepala rombongan itu akhirnya. “Dengan gigi emasmu itu engkau bertambah manis. Sayang tak mau jadi biniku. Jadi…”
“Baiklah. Baiklah. Aku mengerti,” kata Midah akhirnya.
Dan sambil membawa anak dan buntalan po serta pakaiannya ia tinggalkan penginapan itu.
Ia sendiri tak tahu ke mana harus pergi. Tapi ia harus pergi. Dan ia pun pergilah.
Bagian Keenam
Berita tentang Midah itu mengguncangkan keluarga Haji Abdul. Antara sebentar terdengar haji itu menyebut dan mengeluh-ngeluh;
“Tuhan. Tidak habis-habisnya cobaan yang Kautimpakan kepadaku.”
Dan istrinya yang tidak pernah memberikan suara dalam berbagai urusan antara sebentar memperdengarkan sebutan-sebutan yang tak ketentuan maksudnya.
“Anakku yang paling manis! Anakku yang keras hati! Sampai begitu engkau.”
Anak-anak lain antara sebentar kena bentak bapaknya. Kemudian mereka mendapat perintah untuk mencari kakaknya. Haji Abdul sendiri memerlukan ikut campur tangan dalam mencari anaknya. Ia terus berjalan kaki dari kampung ke kampung, dari jalan ke jalan. Ia bukanlah orang mampu lagi sebagaimana dahulu. Untuk beca atau trem apa pula taksi tak ada lagi uang tersedia untuk itu. Mula-mula ia pergi ke tempat di mana Riah bertemu dengan anaknya. Tetapi tempat itu kosong saja. Ia teliti tiap-tiap gerombolan pengamen kroncong. Begitu banyak gerombolan kroncong. Tetapi anaknya sendiri tak didapatkannya di sana.
Perusahaannya dibiarkannya terlantar. Tiap hari kerjanya hanya mencari anaknya.
Orang yang dahulu selalu merasa puas akan dirinya, akan kejayaan dan kebenaran dirinya ini kini mengalami ketumbangan segala: perusahaan, iman, hari depan, dan kebesaran yang hendak dipamerkannya di kampung asalnya—Cibatok.
Dahulu ia yakin, bahwa semua anaknya takluk dan takzim padanya, selalu siap menjunjung namanya terutama dimasa-masa genting. Tapi kini:
“Midah! Midah! Ampunilah aku karena telah mengejami engkau. Tapi itu aku pun bermaksud baik. Apakah layak kau balas aku dengan ikut mempercepat kehancuranku? Jadi pengamen kroncong? Jadi doger1. Anakku! Anakku!”
Hampir-hampir Haji Abdul tak mampu bersembahyang lagi. Segala percobaannya selamanya gagal, karena pikirannya terus mengembara mencari anaknya.
“Walau bagaimana juga, akhir-akhirnya dia anakku sendiri. Walau doger—walau lebih buruk dari itu, dia harus kubawa pulang dan kuperbaiki.”
Dan pagi-pagi benar ia telah turun jenjang memulai pekerjaan barunya mencari anaknya sendiri, anak yang dianggapnya tersasar.
Segala orang yang layak ditanyainya, diminta keterangannya. Terutama di restoran-restoran. Dan pada suatu kali ia mendapat keterangan sedikit dari tukang restoran:
“Bagaimana orangnya, pak Haji?”
“Mukanya bulat. Wajahnya manis.”
“Ada tahi lalat di kupingnya?”
“Ya! Itu dia.”
“Selalu menggendong anak?”
“Menggendong anak?” Haji Abdul hampir berteriak terkejut.
“Menggendong anak?”
“Yang kulihat, dia selalu membawa anak.”
“Berapa umurnya anak itu?”
“Kurang lebih tiga bulan.”
“Tiga bulan!” Haji Abdul mulai menghitung-hitung waktu sejak anaknya melarikan diri dari suaminya. Kemudian menggeleng-geleng. “Ya Tuhanku, dan dari mulut orang lain aku dengar aku telah Kauberi seorang cucu.”
“Cucu? Dia anak pak Haji?”
“Dia anakku.”
“Tapi bapak kan seorang haji? Seorang saleh? Seorang beribadah?”
“Biar binatang sekalipun kalau dia anakku, dia tetap anakku—”
“Aku lihat dia sehat, hanya setelah menggendong anak nampak kurus. Tapi anaknya merah, sehat, walafiat.”
“Tentunya dia tuan usir kalau datang kemari.”
“Sekali dua memang aku usir.”
“Anakku! Dari restoran ke restoran. Diusir di sini diusir ke sana! Anakku!”
Semua itu telah melampaui batas, terlampau berat untuk jantung Haji Abdul yang dihembalang kegagalan dari kiri dari kanan. Ia terjatuh di meja dan tidak bergerak-gerak. Dan apabila ia bangun kembali ia telah terbujur di ranjang rumah sakit.
“Aku cari anakku─si Midah,” kata-kata yang mula-mula sekali keluar dari mulutnya. Ia hendak bangun, tapi tenaganya telah habis. Seorang perawat menahannya.
“Tuan tidak boleh bergerak,” katanya.
“Tapi aku harus pergi.”
“Tuan sakit.”
“Aku sehat. Aku mau cari anakku.”
“Dengarlah, tuan sakit. Tuan tidak boleh bergerak.”
“Aku tidak sakit.”
“Lihatlah ini,” perawat itu memperlihatkan grafik panas dan detik darah. Detikan darah lebih dari seratus tiga puluh dan panas lebih dari empat puluh satu.
“Aku tidak sakit. Aku tidak mengerti itu,” dan ia jatuh tak sadarkan diri lagi.
“Dan aku sudah punya cucu. Baru aku ketahui!” igaunya waktu ia agak sadar.
Kompresan es meleleh-leleh di pipi dan keningnya. Tangan kakinya diikat dan hanya kepalanya yang dapat bergeleng-geleng.
“Ini suaminya, nyonya?” tanya perawat itu waktu istri Haji Abdul masuk.
“Mengapa dia diikat? Apa salah dia?”
“Suami nyonya tak boleh bergerak. Dia sakit keras.”
“Tidak mungkin! Dia tak pernah sakit. Waktu berangkat dari rumah dia begitu sehat dan kuat.”
“Tapi sekarang sakit.”
“Sakit apa dia?”
“Jantung.”
“Tidak mungkin. Biarlah aku bawa pulang dia.”
“Tidak mungkin! Dia tak boleh meninggalkan rumah sakit ini.”
“Sampai kapan? Ah, tuan dokter, cuma dia yang bisa cari uang untuk kami.”
“Lama sekali dia harus tinggal di sini. Mungkin setahun.”
“Tapi dia sedang mencari anaknya.”
“Ke mana anaknya?”
“Lari. Sudah lebih dari empat bulan.”
“Suruh saja polisi mencarinya.”
“Cucuku! Perempuan atau lelaki engkau?” Haji Abdul mengigau lagi.
“Cucu? Aku punya cucu?” seru istri Abdul. Tapi orang sakit yang ditanyainya tidak menjawab.
“Nyonya lihat, dia sakit. Di mengigau tapi tak mendengar suara nyonya.”
“Riah! Riah!” Dan Riah masuk ke dalam kamar itu. “Ada engkau lihat Midah punya anak?”
“Ya, nyonya.”
“Mengapa tidak diceritakan pada kami?”
Riah tidak menjawab.
“Sebaiknya jangan rebut-ribut di sini.”
Tapi istri Abdul yang begitu kebingungan itu kehilangan sifatnya yang biasa, yang tidak pernah ikut campur dalam segala perkara dan tidak pernah menyumbangkan suara. Kini ia bangkit jadi wanita yang berontak waktu dihadapkan kepada kenyataan-kenyataan yang merupakan batas kekurangajaran nasib.
“Aku mesti tunggu dia.”
“Nyonya tidak akan kuat menunggu.”
“Aku mesti tunggu dia.”
“Nyonya tidak kuat menunggunya sampai seminggu.”
“Seminggu?”
“Barangkali sebulan.”
“Kalau begitu kubawa pulang dia.”
“Dia tak boleh bergerak.”
“Dia suamiku.”
“Kalau ada terjadi apa-apa, nyonya akan lebih susah lagi. Di sini dia akan diurus sebaik-baik mungkin. Lebih baik nyonya pergi ke kantor polisi.”
“Untuk apa?”
“Untuk apa? Minta mencarikan anak nyonya. Setidak-tidaknya ada kemungkinan nyonya dapat menyelamatkan kedua-duanya dan bukan sebaliknya: kehilangan kedua-duanya.”
“Ah, Midah! Sampai hati engkau menyusahkan orang tuamu.”
“Ya, lebih baik nyonya pergi ke kantor polisi.”
Barulah perempuan itu mengalah. Dengan bimbang hati ia meninggalkan kamar itu dalam iringan Riah. Mereka berjalan tanpa bercakap. Dan Haji Abdul meneruskan igauannya: tentang Riah, tentang anak-anaknya, tentang Midah, tentang menantunya yang selama ini menyemaikan dendam dalam hatinya, tentang cucunya, tentang kemunduran perusahaannya. Kadang-kadang tertawa, mengeluh. Akhirnya jatuh pingsan kembali.
Hanya karena mempercayakan nasib kepada takdir ia dapat menumpas perasaan celaka dan sengsara. Tujuh hari kemudian ia telah diperbolehkan duduk. Dan waktu istrinya datang menengok cuma satu permintaannya.
“Bawa tasbihku kemari.”
Dan sejak itu Haji Abdul nampak menutup mata, dengan bibir terus-menerus berkecumik dan tangan menghitung buah tasbih. Dalam keadaan demikian itu lebih suka ia menjadi buta hingga tak melihat apa pun juga. Ia menyerahkan segala-galanya kepada kebijaksanaan Tuhannya. Apabila ia mulai diserang kegugupan kala terkenang akan anaknya yang melarikan diri, buru-buru ia kuatkan doanya, dan hitungan pada tasbih menjadi lebih cepat, dan lambat-laun gerak itu menjadi berirama kembali sebagaimana biasanya. Akhirnya semua orang yang biasa dalam ruang itu mengetahui keadaan Haji Abdul dari cepat tidaknya jari-jari itu mendorong-dorong buah tasbih.
Berhari-hari dalam mistik itu membuat ia tak mendengar apa pun juga yang dikatakan orang kepadanya. Bahkan sekali waktu istrinya datang menengok, ia pun tak menyadari kehadiran itu. Dan sekali waktu, kala istrinya menengok mengabarkan bahwa ia telah minta pertolongan dari polisi, nama Midah yang diucapkan oleh istrinya itu masuk dalam kuping Haji Abdul ke dalam otak dan menjadi sebagian dari alam tasaufnya. Ia berhenti berdoa, dan dari mulutnya keluar bisikan.
“Dia akan selamat. Bapaknya mendoakan, dan Tuhan mengabulkan. Tidak ada di antara anak-anakku runtuh dalam kehinaan.”
Istrinya bergirang hati melihat ucapannya mendapat sambutan. Ia bertanya lagi, tapi Haji Abdul kembali tenggelam dalam tasaufnya. Wanita itu telah menyangka suaminya berubah ingatan. Tetapi ia tak pernah menyampaikan sangkaannya itu kepada siapa pun juga. Dalam keadaan seperti itu tidak ada satu orang pun bisa menolongnya. Yang kuasa menolong hanya satu kekuatan gaib. Dan kekuatan gaib itu adalah rahmat dari Tuhannya. Dalam keadaan kurang makan dan kurang tidur wanita itu terus berdoa dan tiap sampai waktunya ia bersembahyang. Bukan untuk dirinya! Tapi untuk keselamatan suami dan Midah, dan semua anak-anaknya.
Sebulan kemudian Haji Abdul boleh meninggalkan rumah sakit. Ia mendapat keterangan dari dokter, bahwa ia mempunyai penyakit jantung. Ia tak boleh bekerja kasar dan sebaik-baiknya tinggal duduk-duduk dan berjalan-jalan sedikit sampai kuat benar, mungkin dalam setahun mungkin dalam dua tahun ia harus berbuat begitu terus-menerus.
Dan apabila ada apa-apa ia boleh datang kembali.
Haji Abdul mengucapkan terima kasih dengan amat sopannya-sesuatu yang baru terjadi atas dirinya. Dalam papahan perawatnya ia naik mobil rumah sakit dan diantarkan pulang.
Anggapannya bahwa dirinyalah orang yang paling suci di dunia ini dan paling dikasihi Tuhan, dan paling baik serta paling beribadah, kini hilang sama sekali. Ia merasa menjadi kecil dalam hubungan segala-galanya. Pandangan hidup dan dunianya berubah hingga seratus delapan puluh derajat.
Sejak Midah melarikan diri, menantunya tak pernah datang mengabarkan hal itu kepadanya. Dan dendam itu dilenyapkannya dalam ketawakalannya pada kekuasaan Tuhannya. Ah, tanpa ketawakalan ini dirinya sebenarnya sudah lama hancur.
Ia pun tak mengharapkan lagi adakah anaknya akan kembali kepadanya atau tidak. Perusahaan kulitnya diteruskannya dengan sikap fatal. Kekuasaannya membualkan segala kebesarannya lenyap. Buruhnya yang tinggal seorang itu bekerja sendiri, sedang tokonya ia hanya duduk dan melayani pembeli atau pemesan. Nafsu untuk mengerjakan segala usaha untuk memperbesar perusahaannya ini telah lenyap. Hanya tenaga damai yang yang kemistik-mistikan ada dalam dadanya. Dan itu sudah cukup untuknya.
“Bila aku mati,” pikirnya, “biarlah aku mati kapan juga Engkau hendakkan. Tak ada lagi di dunia ini yang aku sesalkan dan inginkan.”
Perubahan itu tidak membuat jalan perusahaannya lebih baik lagi. Tambah lama tambah mundur. Dan akhirnya tak kuat lagi ia membayar buruhnya. Tak mau ia mencari usaha bagaimana ia harus memperbaiki keuangan rumah tangganya yang juga ikut memburuk itu. Kasihnya pada suaminya yang menderita menyebabkan istrinya dengan tidak setahunya mencari pekerjaan jahit-menjahit di luar rumah.
Haji Abdul tidak pernah berpikir dari mana saja keluarganya bisa makan tiap hari.
Juga ia tak pernah bertanya kepada istrinya, apakah ada uang untuk makan besok.
Sebaliknya Haji Abdul, istrinya berubah menjadi wanita giat yang menolong keluarga dalam masa kehancuran kian lama kian menghampiri. Tak bosan-bosannya ia datang ke kantor polisi untuk menanyakan bagaimana hasil mereka dalam mencari anaknya.
“Tunggu! Tunggu! Kalau dapat mesti kami kabari!”
Kalimat yang berulang-ulang itu tidak mematahkan harapannya.
Dengan relanya Riah kadang-kadang datang membantu menyelenggarakan dapur. Ia pun dengan diam-diam ikut berdoa dan apabila harus pergi ke kota atau ke Jatinegara tidak lupa ia mempergunakan matanya mencari majikannya.
Tetapi semua usaha sia-sia, karena Midah telah mengetahui apa yang akan terjadi akan dirinya setelah pertemuan itu. Ia mencari daerah lain di mana ia dengan bebas dapat menyanyi: untuk dirinya sendiri, untuk anaknya. Orang-orang lain cuma ia harapkan sedekahnya.
Bagian Ketujuh
Daerah Simanis bukanlah di jantung kota di mana banyak terdapat restoran. Ia memilih daerah Jatinegara yang aman untuk keselamatannya. Dan di sini tidak banyak terdapat restoran. Ia menyanyi di depot-depot. Ia pergunakan senyum pemikat sebaik-baiknya. Kadang-kadang ia menyanyi dari rumah ke rumah dan lebih banyak diusir daripada menerima rezeki.
Tapi walau apa pun jua yang terjadi, dengan anaknya sendiri dalam gendongan itu, ia merasa lebih kaya daripada siapa pun juga. Suaranya yang sinis hilang, dan ia pun tidak lagi menyanyi untuk hati sendiri dan anaknya. Yang tersuarakan oleh hatinya kini adalah lagu yang bernafaskan kebebasan dan keberuntungan.
Dan pada suatu hari waktu ia sedang menyanyi di depot, depot orang Tionghoa, seorang memberinya tepuk tangan. Ia malu. Selama ini baru sekali inilah ia menerima tepuk tangan. Dari depot kemudian muncul polisi lalu lintas yang telah dikenalnya.
“Suaramu bagus, Manis. Mari makan bersama aku.”
Perut yang lapar menyebabkan ia menerima tawaran itu.
“Anakmu tetap sehat aku lihat. Syukurlah. Mengapa sendirian? Diusir juga dari rombongan? Ya, tentulah diusir. Tapi itu tidak mengapa. Apa kabar tentang dirimu? Baik? Hai, mengapa belum juga buka suara? Malu?”
Polisi itu tidak menghiraukan pandangan orang-orang lain.
“Tidakkah malu makan di dekatku?”
“Malu? Mengapa malu?”
Keramahannya itu melenyapkan kemalu-maluan Midah terhadapnya.
Juga terhadap orang-orang lain yang menonton mereka makan.
“Kopi? Mau kopi? Taoke, kasih kopi dua gelas.”
“Tadinya kami masih punya harapan dilatih dan kemudian dibawa ke radio. Tapi yang ditunggu tak pernah muncul.”
“Haha. Kroncong jalanan itu tidak berharga apa-apa. Cuma meributi kuping.”
“Kan suaraku bagus?”
“Suaramu memang bagus, penuh penyerahan pada seni suara.”
“Bisa aku menyanyi di radio?”
“Aku tadi dengar suaramu. Memang baik. Tapi, di mana engkau tinggal?”
“Di mana-mana saja.”
Polisi itu tertawa senang. Kemudian meneruskan ucapannya:
“Aku mengerti maksudmu. Tidak, Manis, aku takkan datang ke tempatmu untuk mengganggu engkau. Aku juga sudah dengar dari kawan-kawanmu bagaimana sebenarnya kelakuanmu.”
“Buruk bukan?”
“Buruk bagi yang benci kepadamu. Ya, tentu.”
“Dan tuan benci juga kepadaku, bukan?”
“Benci? Engkau manis dan suaramu baik.”
“Aku tak mengerti dengan semua maksudmu.”
“Tunggulah aku nanti jam lima di depan stasiun Jatinegara. Mau?”
“Untuk apa?”
“Sekarang aku masih dinas. Nanti sore kubawa engkau. Engkau harus dilatih menyanyi dahulu.”
“Suaramu baik, dan engkau bisa menyanyi di radio.”
“Kita menyanyi di radio, yang,” Midah berbisik pada anaknya.
“Yang? Mengapa dipanggil yang? Siapa namanya?”
Bukan main kaget Midah. Teringat olehnya, bahwa ia belum lagi menamai anaknya, dan bahwa ia belum lagi menyedekahinya.
“Sekali waktu aku namai dia. Tetapi bagaimana menyedekahinya?”
“Sedekahi di rumahku. Aku cuma punya satu kamar, tapi aku kira cukup baik kalau kuundang kawan-kawanku sepekerjaan. Setuju?”
“Begitu baik pada orang yang tidak dikenal?”
“Apa yang tidak dikenal? Walau kecil-kecilan, kita berdua adalah seniman. Dan tiap seniman adalah kawan satu sama lain.”
“Apa seniman?”
Polisi lalu lintas itu menerangkan. Dan Midah mengerti.
“Jadi, engkau mau menunggu aku jam lima sore di stasiun, bukan?”
“Insya Allah. Tapi aku tak mau diganggu.”
“Apa aku punya tampang buaya?”
Kehidupan bebas selama ini menyebabkan wanita ini berubah menjadi seorang yang bebas dalam percakapan, sekalipun berpegangan pada norma-norma kesusilaan yang dibawanya dari rumah. Hatinya lega menemui seorang bebas pula sebagai polisi lalu lintas yang ada di dekatnya itu.
“Kalau saja engkau lelaki, engkau akan kubawa pulang dan tidur bersama-sama dengan aku. Tapi kalau engkau suka, mau juga aku carikan kamar untukmu. Mau?”
Midah mengangguk.
“Setidak-tidaknya, anakmu tidak selamanya kena angin.”
“Cukup penghasilanmu dengan menyanyi sepanjang jalan itu.”
Dan Midah teringat pada pria-pria yang memberinya uang yang kadang-kadang melampaui batas royalnya, dengan senyum di bibir kemudian dengan ajakan yang diucapkannya amat perlahan dan berisi perasaan. Dan selamanya Midah menerima uang itu dengan segera untuk pergi dengan segera pula. Ia teringat pada sopir taksi yang selalu mencegatnya di perempatan jalan di sebuah tempat di Jatinegara. Tapi dalam keadaannya seperti itu Midah tidaklah memaki atau mengucapkan kata-kata yang kurang sopan, tapi ia tersenyum. Dan sekali waktu sopir itu mengajaknya bermalam di suatu tempat dan dengan sopannya ia menjawab: “Sayang aku bukan perempuan jalang, cuma nasibku seperti ini.” Dan setelah itu ia meneruskan pekerjaannya. Sekali ia ingat bagaimana anaknya jatuh sakit karena masuk angin, dan dengan beraninya ia pergi ke tempat dokter kanak-kanak, dan kemudian membeli obat di apotek. Di waktu itu segala ketakutannya pada barang siapa yang mengenalnya hilang lenyap.
“Baiklah. Itu tak kutanyakan lagi,” kata polisi itu kemudian. “Sekarang aku harus pergi berdinas lagi. Sampai nanti, ya?”
Setelah membayar ia melompat di atas sepedanya dan Midah meneruskan perjalanan yang tiada bertujuan. Hari itu telah cukup ia memperoleh penghasilan untuk makan dua hari.
Hampir-hampir Midah tak mengenali polisi lalu lintas itu dalam pakaian preman. Dengan becak ia dibawa ke sekitar daerah Matraman, di mana sebuah kamar telah disediakan untuknya. Sekali lihat ia telah dapat menentukan, bahwa kamar ini akan memberinya tempat teduh dan kedamaian. Ia letakkan anaknya di ambin kayu yang dialasi tikar, dan kemudian berdua mereka duduk di kursi yang telah tersedia.
“Aku harap engkau tak menjual murah suaramu,” kata polisi itu.
“Apa harus aku sebut kau?”
“Ahmad. Dan siapa namamu sebenarnya?”
“Panggil sebagaimana biasa engkau memanggil aku.”
“Baiklah. Itu rahasiamu sendiri. Senang engkau di sini?”
“Terima kasih untukmu. Apa harus kami makan kalau tak boleh menjual suara?”
“Mula-mula, engkau harus kulatih menyanyi yang baik. Engkau harus bisa baca not balok. Engkau mau belajar, bukan? Masih mau belajar, bukan?”
Mereka berhadap-hadapan. Keduanya berpandang-pandangan. Kini masanya datang bagi Midah untuk jatuh cinta. Kalau hatinya tidak bergerak, biarlah hatiku sendiri yang guncang. Akhir-akhirnya aku sudah punya anak dan dia masih bujangan.
Nyonya rumah masuk membawakan minuman.
“Aku harap nyonya senang tinggal di sini. Aku percaya nyonya orang baik-baik yang akan ikut memelihara kesopanan rumah tanggaku.”
“He, ibu, apa ibu pikir tentang dia?”
Perempuan itu menghadapi polisi lalu lintas dalam pakaian preman itu dan meneruskan dengan suara tuanya yang hati-hati:
“Semua sudah berubah, nak. Tidak seperti dulu.”
“Kan ibu tahu juga dia bakal istriku?”
Midah memandang pemuda itu, dan sebentar saja pemuda itu membalas pandangannya.
“O, kalau dari tadi atau sebelumnya sudah menceritakannya, itu lain lagi.”
Dengan membawa baki ia meninggalkan kamar itu.
Dan waktu pemuda itu menengok padanya, ia telah bercucuran air mata. Midah sangat berbahagia di masa hidupnya terkurung oleh kekerasan. Dan ia tidak mungkin menyampaikan perasaannya itu untuk mengajak orang lain merasainya.
“Kak Ahmad?”
“Ya?”
“Benarkah yang kau katakan itu?”
Ahmad tertawa girang. Dari mulutnya terdengar:
“Tentu saja tidak.”
Kalimat yang diucapkan dengan riang itu menggugurkan perasaannya yang mulai bersemi di dalam dada.
“Mengapa menangis?”
Dan Midah tersedan-sedan. Dirangkulnya anaknya. Tak ada orang yang dengan sejujur hatinya mencintai daku. Dan waktu aku mencintai, cinta itu hanya disambut dengan ucapan bermain-main. Air matanya membasahi muka anaknya.
“Begitu mudahnya engkau menangis.” Ahmad memperingatkan. “Tapi biarlah, seorang seniman terlampau lembut perasaannya. Minumlah kopimu.”
Midah tak juga bangkit dari kursi. Dan Ahmad membawakan cangkir itu kepadanya.
Ia teguk minum hangat itu dan merasa badannya agak nyaman dan hatinya agak kuat.
Tapi ia tak berani memandang pemuda itu lagi.
“Terhinakah engkau karena aku begini kasar?”
Dalam merangkul anaknya, Midah membayangkan merangkul Ahmad. Begitu lurus hati dia, begitu terus terang. Tak ada aku lihat kepalsuan terkandung dalam tiap gerak-geriknya. Tapi dia tidak boleh aku cintai. Dia tak boleh jadi suamiku. Engkau! Engkau anakku! Engkau yang menyebabkan! Tapi biarlah, aku kurbankan segala-galanya untukmu. Biarlah hatiku guncang sendirian. Dan biarlah gunung dalam hatinya tetap agung tidak terganggu oleh apa pun juga. Dan dengan demikian mulailah Midah berkenalan dengan perasaan cinta. Perasaan sakit dan pahit. Tapi walau bagaimanapun jua kesakitan dan kepahitan itu ia kasihi dan ia berjanji akan tetap menyimpannya untuk selama-lamanya: sakit dan pahit untuk selama-lamanya.
“Sekarang sudah malam, Manis. Biarlah aku pulang.”
Midah belum juga kuasa, belum juga berani, menghadapinya.
“Jangan marah padaku, Manis. Aku takkan mengganggumu. Biarlah, engkau tak perlu mengantarkan aku sampai ke pintu.” Suara Ahmad menjadi rendah dan serak. “Aku harap tak tersinggung hatimu oleh tingkahku yang kasar ini.”
Ia terdiam berdiri di pintu. Ia ingin mengetahui jawaban wanita itu. Tapi Midah tidak berkata apa-apa. Ia kembali ke dalam dan berkata sopan:
“Engkau makan di sini nanti dengan ibu yang punya rumah.”
Dan waktu Midah tak juga menjawab, ia bertanya:
“Engkau butuh uang?”
Barulah Midah menggelengkan kepalanya.
“Anakmu tidur sekarang. Kalau engkau lelah, tidurlah saja.”
Midah menyelimuti anaknya dengan selendang.
“Mengapa engkau menangis terus? Mengapa tidak bicara sedikit pun juga? Marah padaku barangkali? Marah karena apa?” Tangannya diletakkannya di bahu wanita itu.
Tak tahan lagi Midah. Hatinya terasa pecah. Apakah aku tak boleh berbagi perasaan? Dan mengapa tidak? Air matanya terus menderas. Ia tak kuat menahan kesakitan dan kepahitan di dalam dadanya, dan diletakkan tangannya di atas tangan pemuda itu.
“Tapi engkau tahu, Manis, takkan mungkin aku jadi—Ya, tahulah aku sekarang, engkau cin—Tapi itu tidak boleh. Kita berdua adalah orang dari lain-lain sifat, asal, dan daerah.”
Tangan Midah ditariknya kembali. Hanya terasa olehnya ucapan pemuda yang terakhir itu merupakan hinaan baginya, hinaan untuk membentengi diri pemuda di sampingnya.
Ia kumpulkan tenaganya untuk menggagalkan hinaan dan benteng itu. Tetapi yang keluar hanya kata-kata lesu:
“Aku bukan orang hina, dan aku tak pernah menjalani kehinaan.”
“Aku girang mendengar itu. Setidak-tidaknya engkau kelak takkan menyusahkan daku. Aku takkan ditertawakan orang karena menolong engkau.”
Kembali Midah merangkul anaknya.
“Apa akan kaunamai anakmu itu?”
Dan untuk melanjutkan usaha menggagalkan hinaan dan benteng itu, Midah berkata agak kehilangan kelesuannya:
“Kalau saja bapaknya ada di sini—itu tidaklah akan susah.”
“Di mana bapaknya?”
“Di suatu tempat yang aku ketahui.”
“Mengapa dia tak kau kabari, atau engkau pergi ke tempatnya?”
“Apa pun penghidupan akan kutempuh asalkan tidak lagi bertemu dengannya.”
“Dan orang tuamu?”
“Aku takut karena meninggalkan suamiku.”
“Ha! Mengerti aku sekarang. Mengerti aku sekarang,” polisi itu menjadi girang kembali. “Bagaimana kalau kuantarkan kau ke rumah orang tuamu?”
“Aku suka tinggal di sini,” jawab Midah. Tapi ia tahu, ia suka terus ada di dekat pemuda itu, tapi tak berani mengatakannya.
“Aku kenal bapakmu.”
“Apa salahnya kalau engkau kenal dia?”
“Haji Abdul. Aku tahu sekarang.”
Midah menyembunyikan kekagetannya dalam rangkulan pada anaknya.
“Sudah lama polisi mencari-cari engkau.”
“Polisi?”
“Tentu saja polisi.”
“Aku tak pernah melakukan kejahatan!”
“Tapi orang tuamu meminta pertolongan polisi.”
“Engkau mau tangkap aku?”
“Aku bisa adukan engkau dan kemudian engkau ditangkap. Tapi kalau engkau tak suka kembali pada orang tuamu, tentu saja engkau takkan kuadukan.”
“Kapan kau mulai beri aku pelajaran nyanyi dan membaca not balok?”
“Besok. Besok aku datang lagi. Mengapa kau tinggalkan suamimu?”
“Pulanglah sekarang, aku lelah.”
Ahmad memperbaiki letak pakaiannya. Mencubit pipi anak itu dengan hati-hatinya, mengangguk pada Midah, kemudian lenyap dari kamar.
Segera Midah mengunci pintu dari dalam. Segera merubuhkan diri di ambin dan meneruskan tangisnya. Kehidupan keras dan kejam selama itu ia hadapi dengan keberanian, karena ada modalnya untuk berani. Karena ada modal untuk menghadapinya: keyakinan, bahwa ia bisa juga hidup dari tangannya sendiri. Tapi dalam kepahitan dan kesakitan cinta ini, siapakah yang punya modal untuk menghadapinya? Siapa yang mempunyai kekuatan untuk menghancurkannya?
Waktu pintu diketok dan dari luar terdengar ajakan makan, ia meneruskan tangisnya—menangisi sesuatu yang ia tidak mengerti. Tapi kesakitan dan kepahitan itu terus membanjirkan air matanya. Dan malam itu adalah malam panjang yang berisi satu tubuh satu jiwa: Ahmad dengan sikapnya yang lurus dan tingkah lakunya yang bebas. Ia rangkum itu untuk takkan dilepas-lepaskannya untuk selama-lamanya.
Bagian Kedelapan
Hampir tiap hari Ahmad datang untuk mengajar menyanyi. Dan wanita ini merasa aman di dekat pemuda itu. Cinta yang terpendam dalam dadanya memperlunak kekerasan kehidupannya selama itu. Kadang-kadang ia telah mengubah dirinya sekaligus, dalam berbagai hal. Tiap hari ia mengharapkan—sekalipun harapan kosong, tapi harapan itu ada—suatu kali ia menjadi istri Ahmad: suami-istri penyanyi, pemusik.
Kemarin anaknya diselamati dan dinamai Rodjali. Semua kawan-kawan pemusik Ahmad datang. Waktu itulah ia berkenalan dengan mereka. Dan waktu itu pulalah ia mempunyai kawan yang tidak terpisah-pisahkan oleh kesadaran bahwa dirinya wanita dan mereka pria.
Ia senang mendengar tertawa mereka. Ia senang menyediakan minum untuk mereka. Dan ia senang anaknya kini mempunyai nama. Si anak itu dipanggil Djali, dan tak ada seorang pun di antara tamunya membantah pemberian nama panggilan itu.
Hanya Ahmad yang tidak memperdengarkan pendapatnya. Kini ia jadi pendiam. Gerak-geriknya kaku seperti orang bangun sakit. Dan matanya cekung.
Waktu para tamu telah pulang, Ahmad tinggal di kamar tamu bersama Midah. Djali ada di pangkuan ibunya mempermain-mainkan kuping.
“Engkau sakit, kak?”
“Ya, aku sakit.”
“Mengapa tidak pergi ke dokter?”
“Penyakitku sama dengan yang kau deritakan.”
Midah terdiam. Ia mengerti maksud pemuda itu.
“Aku boleh mencintai engkau, bukan, Midah? Ah, aku tak berani lagi menyebut engkau Manis, karena— Mengapa engkau diam saja? Bukankah engkau cinta juga kepadaku? Ya, aku tahu, yang kau katakan dahulu tidaklah percuma. Dan aku mengerti mengapa engkau dahulu menangis. Aku pun kesakitan.”
“Tidaklah lebih baik kita bicara tentang hal-hal lain.”
Keduanya tidaklah bicara apa-apa. Masing-masing merasakan kesakitan di dalam dada.
Kemudian Midah menyanyi dan Ahmad pun menyanyi.
Aku menyesal kau menangis
Aku menyesal kau merana
Tapi apa hendak dikata
Katalah jadi peristiwa
Katalah jadi pertemuan
Katalah jadi perpisahan
Tapi musik lebih berharga
Bersama gendang dan biola
Kedua-duanya tak bercakap-cakap lagi. Kemudian nyonya rumah datang menemani, dan suasana mendung digagalkan:
“Engkau nampak berubah, nak. Biasanya begitu gembira. Sekarang begitu layu.”
“Sakit, bu.”
“Kalau begitu nyanyilah lagi.”
Mereka berdua mengulangi nyanyiannya.
“Sayang tak ada gendang di sini,” nyonya rumah menyesali. “Gendangku dipinjam tetangga untuk main gambus. Mendiang suamiku dahulu mempunyai harmonium. Tiap malam sehabis kerja dimainkannya. Waktu meninggal tidak ada yang memainkannya lagi. Karena itu kujual.”
“Ya, bu, aku masih ingat waktu pegang gendang dulu.”
Kemudian percakapan mati sama sekali. Sayup-sayup terdengar radio tetangga menyanyikan lagu rakyat populer.
“Kapan kalian kawin?”
“Itulah, bu. Kami belum mendapat rumah.”
“Kawinlah dan tinggal di sini.”
Percakapan mati lagi. Waktu nyonya rumah melihat mendung menyapu wajah kedua orang muda itu, nampak terkejut.
“Mengapa kalian berdiam-diam saja? Ah, barangkali aku hanya mengganggu.” Dan tanpa menunggu jawaban ia pun pergilah.
“Kita sudah tahu riwayat masing-masing,” akhirnya Midah memulai. “Aku tahu kita tak mungkin kawin.”
“Ya.”
“Aku adalah milik diriku dan anakku. Engkau milik orang tuamu.”
“Ya.”
“Engkau bisa saja menyerahkan kesulitanmu pada mereka. Dan pada diriku sendiri.”
“Ya.”
“Kita tak bisa kawin.”
“Ya, aku tahu.”
“Karena itu tak perlu dibicarakan lagi.”
“Aku tak punya apa-apa, Midah. Kawanku banyak, kawan orang tuaku banyak. Aku tak berani jadi buah bibir mereka.”
“Aku tahu kesulitanmu. Lebih baik bicara tentang lain-lain hal.”
“Tentang apa, Midah?”
“Kapan aku mulai menyanyi?”
“Besok.”
“Lebih baik kita ulangi latihan kita.”
Dan mereka pun menyanyi bersama. Ahmad memberikan irama dengan pipa rokok ke atas meja. Dan di luar malam telah merasuk. Berulang keduanya menyanyi. Nyonya rumah tak memperdengarkan bunyi atau suara lagi.
“Tidurkanlah si Djali, Midah.”
Midah bangkit dan membawa anaknya masuk ke dalam kamar.
Ahmad tinggal di kamar tamu.
Nampak ia sedang berjuang melawan pikirannya sendiri. Djali menjerit. Terdengar Midah:
“Tidur, Djali, tidur. Semua orang sudah tidur.” Kemudian ia menyanyi.
Ahmad menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian ia bangkit. Matanya yang redup menyala.
“Sudah tidur?”
“Lebih baik engkau di luar saja. Aku pun hendak keluar.”
Tetapi Ahmad telah menghampirinya. Ia rangkul wanita itu dan diciuminya.
“Kita takkan jadi suami-istri, kak. Lebih baik engkau keluar.”
“Midah, Manis. Engkau tahu bagaimana hancur hatiku.”
“Lawanlah. Lawanlah.”
“Aku tidak kuasa melawan, Manis. Tidak bisa!”
“Engkau harus kuat! Mari keluar.”
Tapi Ahmad tak mau keluar.
“Lain kali ada waktu yang banyak untukmu, dan lain kali ada waktu yang lebih banyak memenuhi kebutuhanmu.”
“Engkau begini beradab, Midah.”
“Walau aku hidup di jalanan, kak, aku bukanlah orang jalanan. Itu engkau ketahui.”
“Janganlah kau sebabkan aku jadi wanita seperti itu.”
“Midah, Manis, Midah—” Ahmad sambil menciumi. Lebih dari itu ia tak bisa.
“Aku tahu apa engkau maksudkan. Karena itu marilah keluar.”
“Manisku! Midahku—” sambil terus menciumi.
“Kak, siapakah yang tidak bahagia dengan seorang yang dicintainya. Tapi engkau harus ingat pada diriku, anakku.”
“Midahku! Midahku!”
“Aku adalah seorang ibu, dan engkau tak pernah merasa menjadi ayah.”
“Biarlah aku bersama engkau, Manis. Izinkanlah.”
“Aku berikan segala-galanya yang mungkin. Tapi janganlah aku kaunodai. Kalau aku kembali….”
“Janganlah banyak bicara, Midah. Biarlah kita…..”
“Kalau aku kembali kepada orang tuaku….”
Sebuah ciuman yang mesra menghalangi ucapannya. Kemudian:
“Biarlah aku masih suci sebagaimana aku pergi.”
Tapi Ahmad tak dapat menahan berangsang hawa nafsunya lagi. Midah menangis. Apalagi yang dapat diperbuatnya selain menangis!
“Aku tidak rela! Aku tidak rela! Walau bagaimanapun jua cintaku padamu,” bisiknya.
Kemudian ia tenggelam.
Ahmad tenggelam.
Malam tenggelam.
“Begini cantik engkau Midah. Begini manis. Tak ada satu cacat pun merusakkan kulitmu.”
Midah hanya memperdengarkan keluhan.
“Midahku! Midahku!”
“Aku tahu, engkau hendak menghancurkan aku. Dan engkau sampai hati. Hancurkanlah aku.”
“Jangan aku terlampau kau siksa, Midah.”
“Engkau terlampau memikirkan dirimu sendiri.”
Kemudian tak terdengar percakapan lagi. Mereka lebih larut tenggelam. Waktu sayup-sayup terdengar lonceng, barulah terdengar bisikan lagi:
“Besok saja aku pulang.”
“Ya besok! Besok saja. Engkau pulang dan membawa pulang cintamu pula. Aku tahu itu. Engkau takkan balik kembali membawa cinta. Engkau akan datang hanya sebagai tamu…. sebagai tamu—mungkin juga sebagai tamu yang hanya menagih hutang. Sampai hati engkau.”
“Diamlah, Midah, diamlah.”
“Aku kira engkau akan menyesal—dan untuk selama-lamanya.”
“Tidak. Aku tidak menyesal.”
“Tidak? Ya, mungkin aku yang menyesal.”
“Mengapa?”
“Mengapa? Perbuatan ini menghancurkan cintamu. Dan aku berbahagia dengan cintamu.”
“Baiklah, aku tidur, Midah.”
“Tidurlah. Besok engkau bukan orang yang mencintai aku lagi.”
“Besok?”
“Barangkali sekarang engkau bukan Ahmad yang tadi.”
“Biarlah aku tidur.”
Kemudian tak terdengar mereka berbisik ataupun bergerak. Lama. Beberapa jam. Kemudian Djali menangis. Ketiga-tiganya bangun. Mulai pula berangsang nafsu mengamuk dalam dada Ahmad. Dan mulai lagi kedua orang itu jatuh tenggelam. Dan anak kecil itu terus menangis, menjerit, kaki dan tangan menghentak-hentak.
“Tahu kan apa artinya?”
“Apa?”
“Djali menangis!”
“Tidak.”
“Dia menyaksikan bagaimana untuk pertama kali karena cintanya ibunya rela dinodai. Dan yang menodai adalah engkau.”
Ayam pun berkeruyuk.
“Sudah pagi sekarang.”
“Sudah pagi sekarang, engkau mau pulang? Pulanglah.”
Dan setelah Ahmad mengenakan pakaiannya, Ahmad pulang. Kelesuannya hilang. Ia kembali jadi pemuda yang periang dahulu. Dan waktu ia telah hilang dari kamar, Midah meneruskan menyusui anaknya. Kembali air mata meleleh-leleh melalui pipi jatuh ke bantal.
“Apakah cuma ini yang engkau berikan kepadaku?” bisiknya. Ia tersedan-sedan. “Dan bila demikian, apa lagikah yang bisa diperbuat oleh suamiku atas diriku?”
Ia tahu orang tuanya tak perlu mengalami apa yang baru saja dialaminya. Karena mereka punya rumah yang tetap, dan mereka mencintai rumahnya. Berbeda denga Midah, anak mereka, yang tidak mempunyai rumah tetap dan juga tidak mencintai yang tak dimilikinya.
Hingga ayam berhenti berkeruyuk ia tak memejamkan matanya lagi. Pikirannya mengembara ke mana-mana, terutama membayang-bayangkan kemungkinan perhubungan dengan Ahmad sekalipun ia tahu takkan ada perhubungan apa-apa dengannya. Dengan perbuatannya semalam, segala-galanya yang pahit dan sakit tetapi membahagiakan itu telah punah.
Waktu pintu diketok nyonya rumah, ia baru bangkit. Kemudian menangis lagi. Dan setelah menyeka mata, ia pun pergi ke kamar mandi.
Dan benarlah dugaannya. Sejak itu Ahmad bukan saja melatihnya menyanyi, tetapi juga bertindak sebagai tamu yang terus-menerus menagih.
Bagian Kesembilan
Dari kiri dari kanan nyonya Haji Abdul memperoleh kabar bahwa sekarang anaknya menyanyi di radio. Ia mencoba menutupi kupingnya dari berita itu. Tapi keterangan Riah bahwa Midah menyanyi di depan-depan restoran mau tak mau membuat ia jadi bimbang.
“Kalau saja menjadi penyanyi seperti Umi Kalsum—itu lain perkara.”
Sekali waktu tetangganya berlari-larian menemuinya. Kemudian:
“Ayolah kalau tidak percaya. Ayolah.” Dan ditariknya perempuan itu diajak ikut mendengarkan radio.
Dan kedua perempuan itu mendengarkan.
“Engkau dengar? Itu adalah suara anakmu. Aku tak bimbang. Aku pernah dengar anakmu menyanyi nyanyian itu. Dengarkan.”
Nyonya Abdul mendengarkan. Dan terbayang di matanya perawan manis dan cantik yang beberapa tahun yang lalu masih bergaun pendek dan berkerudung putih. Anak itu adalah anaknya. Dan anak itu kini menyanyikan lagu yang kini didengarnya.
“Akhirnya orkes Irama Bakti akan mengakhiri permainannya dengan suara Simanis Bergigi Emas dalam lagu Jali-jali!” kata radio.
“Ya, anakmu memang manis.”
“Tapi dia tak bergigi mas.”
Nyonya Abdul pulang kembali ke rumahnya. Tiba-tiba timbul keinginannya untuk membuktikan sendiri. Buru-buru ia berpakaian. Dan dengan beca ia menuju ke studio.
Malam waktu itu. Ia tak berani masuk ke studio. Ia hanya menunggu di gapura, menunggu, dan menunggu. Tapi di antara mereka yang meninggalkan gedung itu tak ada yang dijumpainya Midah. Akhirnya ia pulang kembali ke rumah, dan bersamaan dengan itu hilang pula harapannya untuk dapat bertemu dengan anaknya.
Pada suatu hari tetangganya datang pula untuk mengajaknya mendengarkan suara Simanis bergigi emas. Lambat laun ia yakin akan kebenaran tetangganya.
“Kalau engkau mau,” katanya, “anakku bisa mengantarkan engkau ke gedung radio.”
Dan dengan demikian nyonya Abdul pergi diantarkan anak tetangganya.
Nyonya Abdul telah dapat membayangkan apa yang akan terjadi bila bertemu dengan anaknya. Midah akan menghadapinya dengan benteng kecurigaan. Dan ia dengan kegoyahan perasaan yang terguncang-guncang antara dua ujung: kebencian pada pekerjaan anaknya dan cinta ibu terhadap seseorang yang dahulu pernah dilahirkannya dengan kesakitan dan menumpahkan sebagian dari darahnya. Sebenarnya ia takut pada pertemuan itu. Tapi suara yang memanggil-manggil dari hati kecilnya menarik-nariknya untuk berbuat. Berbuat! Berbuat! Orang akan tetap gelisah bila tidak berbuat.
“Seharusnya aku pergi sendirian,” pikirnya. “Anak ini akan menjadi saksi pertemuan kami. Ah, moga-moga anakku selamat. Moga-moga ia tidak bernoda. Tuhan, kembalikan anakku padaku dalam keadaan seperti waktu ia meninggalkan rumah kami. Suci dan manis, cantik dan baik budi.”
“Ibu menggigil,” kata anak itu.
“Dingin, nak.”
Anak itu menutupkan pada tubuhnya selendangnya sendiri. Dan ia menolak.
“Baru jam setengah enam sekarang, bu. Ibu sakit?”
“Malaria.”
“Aku juga pernah malaria. Pulang saja kita?”
“Biar-biar. Kita pergi terus.”
“Bukankah ibu harus menelan pil dahulu?”
“Nanti saja. Nanti saja. Nanti, ya nanti.”
Nyonya Abdul tak ingin berbicara. Ia terlampau sibuk dengan angan-angannya sendiri.
Di pertengahan jalan baru ia ingat bahwa jam enam suaminya nanti datang. Dia akan marah. Dan ia takut hati suaminya terganggu. Mungkin membangkitkan sakit jantungnya kembali. Ia ingin kembali untuk keselamatan suaminya. Tapi ia pun ingin terus untuk keselamatan anaknya. Tak ada di antara keduanya ia pilih dan beca terus meluncur. Seperempat jam kemudian sampailah mereka di gedung studio.
Nyonya Abdul gemetar. Dan anak itu memapahnya. Mereka menaiki jenjang menuju ke kantor.
“Nyonya, rombongan Irama Bakti baru saja pulang. Naik pikap.”
Gigilan nyonya tak dapat ditahan lagi. Dan tanpa disilangkan ia telah duduk saja di atas kursi.
“Sakit, nyonya?” Dan nyonya hanya menggeleng.
“Nyonya Abdul mencari anaknya, tuan.”
“Dalam rombongan Irama Bakti?”
“Ya.”
“Tuan, anakku Midah—anakku—dia ikut menyanyi?”
“Midah?”
“Siapa sebenarnya Simanis Bergigi Emas?”
“Biduan Simanis? Aku tidak tahu. Di buku namanya begitu juga.”
“Tidak! Tidak! Dia anakku! Aku kenal dari suaranya. Aku kenal suaranya sejak dia kulahirkan—” Bendungan nyonya Abdul telah pecah. Ucapan-ucapan emosinya berhamburan dalam kantor studio. Akhirnya: “Minum, beri aku minum.”
Segelas air dingin diteguknya habis. Ia bernapas lega dan memperoleh kendalinya kembali.
“Haji Terbus itu memang bangsat,” kembali ia kehilangan kendali. “Anakku juga begitu cantik, begitu manis—tidak mungkin! Kalau dia tak kejami, tidak mungkin dia lari. Tidak mungkin dia jadi penyanyi.”
“Nyonya sakit, tuan, bawa pulang saja buru-buru.”
Anak itu tak meladeni. Berkata:
“Aku pun kenal suara itu. Suara Midah. Aku kenal Midah.”
“Aku tak mengerti maksud kalian.”
“Berilah kami alamatnya. Dia adalah ibunya. Sudah lama terpisah, tuan.”
“O, kalau cuma alamatnya, tentu saja aku dapat berikan.” Dan ia pun menyerahkan sesobek kertas berisi alamat.
“Mari, bu, mari kita pergi,” dan dipapahnya perempuan itu. “Ke mana ibu mau sekarang? Pulang? Ke Matraman?”
Napas besar-besar mendesak-desak di hidung orang tua itu.
“Aku mau bertemu dengan anakku. Antarkan aku, nak.”
Pegawai itu memandangi perempuan itu dari jendela kaca kantornya. Dan matanya tetap memandangi hingga kedua-duanya hilang ke dalam beca.
Malam mulai menggantikan siang. Tanah lapang gambir telah diselubungi rembang dan lampu jalanan telah menyala, berbaris seperti serdadu membawa obor.
“Mereka mau menipu.”
“Siapa mereka, bu?”
Nyonya Haji sendiri tak tahu siapa mereka itu. Waktu ia dapat menguasai dirinya kembali terdengar ia menyebut beberapa kali, kemudian tenang. Dan beca terus meluncur dengan amannya ke arah Matraman.
Selama itu tidak disadarinya betul rasa cinta-ibu-terhadap-anak. Tetapi waktu menurut anggapannya ada bahaya kebatinan akan menimpa anaknya, cinta itu melonjak keluar dari persembunyiannya. Antara sebentar ia menyuruh cepatkan kendaraan yang ditumpanginya. Dan kala sampai di Matraman, barulah mereka berputar-putar mencari alamat. Dari gang ke gang nampak kegugupan nyonya Haji tampil kembali pada air mukanya dan dengan kegigilan yang tertahankan di dalam hati, ia terus-menerus mendoa agar bertemu dengan Midah, dengan cucunya yang ia belum pernah melihatnya.
“Sini tinggal seorang penyanyi?”
“Ya, tuan.”
Gigilan dalam hati nyonya Abdul tak tertahan lagi bagi jantungnya. Ia hanya berpegangan di tiang pintu. Kakinya pun agak menggigil, dan ia membutuhkan kursi. Kepalanya tak ubahnya dengan lalu lintas Senen sehabis waktu kantor.
“Midah?”
“Ya, tuan. Setengah orang orang memanggilnya Midah. Setengah lagi Simanis.”
“Ada dia di rumah?”
“Belum pulang, tuan.”
“Boleh aku masuk, nyonya?” nyonya Abdul bertanya.
Mereka masuk. Segera ibu menyemburkan segala pertanyaan mungkin dan tidak mungkin. Kemudian:
Nyonya rumah mengeluarkan seorang anak kecil yang kurus dan nampak tak terpelihara.
“Masya Allah! Inikah cucuku? Alangkah kurus.”
“Ya, nyonya, Midah terus-menerus sibuk dengan musiknya. Tapi anak ini tidak sakit. Dia sehat, nyonya.”
“Sehat? Ah, cucuku. Begini kurus engkau!” Dan diciuminya anak kecil itu. Djali menjerit-jerit.
“Alangkah amis baumu. Alangkah amis. Barangkali tidak pernah dimandikan.”
Nyonya rumah tak menyatakan pendapatnya.
“Mengapa anakku tinggal di sini?”
“Mengapa tinggal di sini? Kemauannya sendiri.”
“Mengapa begini hari dia belum datang?”
“Mengapa? Dia penyanyi. Hari ini nyanyi di rumah Tionghoa kawin.”
“Nyanyi di rumah Tionghoa kawin! Midah! Anakku!”
“Nyonya, aku sendiri suka menyanyi. Dulu! Aku kira tak ada jeleknya orang menyanyi untuk mencari penghasilan.”
“Aku bawa pulang anak ini.”
“Nyonya akan bawa pulang? Apa kataku nanti terhadap dia?”
“Bilang neneknya yang ambil.”
“Jangan, nyonya. Jangan.”
“Aku berhak mengambilnya. Aku kawinkan dia dengan Haji Terbus. Ini anak Haji Terbus dan dia. Aku berhak mengambilnya.”
“Apa kataku kalau ditanya?”
“Suruh dia datang ke rumah orang tuanya. Di sana akan dia dapati anaknya.”
Sebelum nyonya rumah sempat menyatakan pendapatnya lebih lanjut, nyonya Abdul telah membawa keluar anak kecil itu dan Djali terus menjerit-jerit. Dengan tiada tawar-menawar ditumpanginya beca yang mula-mula didapatinya, dan dengan demikian mereka pun menyebrangi malam menuju ke rumahnya. Dalam hatinya ia merasa bersyukur. Djali ini bisa jadi pengganti Midah. Sekalipun Midah mau mengambil anaknya, sekalipun perempuan itu tak mau pulang ke rumahnya lagi, setidak-tidaknya ia dapat menebus segala kesalahannya dengan memperlakukan anak itu sebaik mungkin.
Tiba-tiba ia terkejut. Ada keinsyafan menyelinap ke dalam pengertiannya, ke dalam kesadarannya: usahanya mencari Midah tidak lain daripada usaha memperbaiki kesalahannya terhadap anaknya sendiri.
“Anak yang begitu cantik, begitu manis, begitu berbudi,” bisiknya. “Abdul merasa bersalah karena gila pujian. Aku bersalah karena tidak pernah mempedulikannya. Tapi sekarang semua bisa diperbaiki kembali.”
Hatinya menjadi lega. Seluruh keruwetannya hilang. Djali terus-menerus menjerit kedinginan di malam gelap itu. Dan jeritan itu mengembalikan kenangan-kenangan nyonya Abdul waktu untuk pertama kalinya ia mempunyai anak. Dan anak itu adalah Midah. Perasaan syukur kepada Tuhannya karena telah diberi keselamatan waktu melahirkan, kini datang kembali. Diciuminya anak itu sambil mengelus-elus kepalanya yang kecil.
“Raja, raja, manisku, alangkah amis baumu. Diam-diam jangan menangis. Nanti kubuatkan kau bubur hapermot1 dengan susu.”
Karena capek menangis, akhirnya Djali diam dengan sendirinya. Kemudian tertidur dalam pangkuan neneknya. Tapi nyonya Abdul terus menciuminya. Di waktu itu ia terlupa sama sekali pada suaminya yang sudah lama menunggunya. Ia terlampau sibuk dengan kegirangannya. Ia terlampau bersemangat dengan maksud-maksudnya hendak menebus segala dosa-dosanya kepada anaknya, ia tidak ingat sama sekali, bahwa di sampingnya duduk anak tetangganya. Lalu lintas di sekelilingnya, bahkan gedung-gedung yang megah mengapiti jalan raya yang dilaluinya, hilang tidak Nampak sedikit pun juga. Yang ada hanya kegirangannya, cucunya, dan semangatnya.
Ia terkejut waktu dari sampingnya terdengar suara:
“Bu, kita telah sampai.”
“Ya, kita telah sampai,” bisiknya pada cucunya. Diperbaikinya rangkulannya dan kemudian ia turun, tanpa melihat beca yang ditinggalkannya. Langsung ia masuk ke dalam rumah. Menjerit:
“Cucuku! Lihat cucuku.”
Sekaligus seluruh isi rumah datang merubung. Berbagai seruan keluar dari berbagai mulut.
“Mana bapakmu?” nyonya Abdul bertanya kepada anak-anaknya.
“Di khalwat.”
Belum juga habis sembahyang! Tidak disambutnya cucunya yang semanis ini. Akhirnya dengan tiada meminta izin terlebih dahulu ia pun sampai masuk ke dalam khalwat.
“Lihat dulu, ini cucumu! Cucumu!”
Haji Abdul terkejut dari zikirnya. Ia menoleh ke belakang.
“Cucumu!”
Hampir-hampir lelaki itu melompat. Tapi segera ia dapat mengendalikan diri. Diletakkan tasbihnya di atas permadani. Lambat-lambat ia bangkit dan menghampiri anak kecil yang disebut cucunya. Ia amat-amati makhluk kecil itu. Djali menjerit ketakutan melihat kirut-mirut wajah kakeknya.
“Diam-diam, kakek tidak mengganggumu.” Dan dielusnya pipi cucunya. Senyum manis tersungging pada bibirnya—senyum untuk pertama kali selama ini.
“Manis seperti ibunya,” nyonya meyakinkan.
Haji Abdul mengangguk. Kemudian:
“Mana ibunya?”
“Ah, anak ini terlampau sering ditinggalkan ibunya. Tidak terurus. Coba cium baunya. Tapi dia manis. Lihatlah, bagaimana kurus dia. Barangkali seminggu tidak diteteki.”
“Mana ibunya?”
“Sayang manisku sayang, jangan takut sama nenek. Kakek juga tidak jahat.”
“Mana ibunya?”
“Aku rangkul terus di beca tadi. Kedinginan rupanya. Barangkali dia tak pernah diajak keluar.”
“Mana ibunya?”
Nyonya sekali ini terpaksa mendengarkan pertanyaan suaminya. Masih juga dicobanya menghindari pertanyaan dengan bertanya kembali:
“Ibunya? Mengapa menanyakan ibunya?”
“Mana ibunya?”
“Aku belum bertemu. Aku ambil dari rumahnya—dari pondokannya.”
Haji Abdul menarik napas keluh. Ia punggungi istri dan cucunya, kemudian pergi lagi ke tempatnya semula, mengambil tasbih dan meneruskan zikirnya.
Nyonya memandangi tingkah suaminya dengan diam-diam. Pada parasnya nampak kekecutan. Tapi ia tak bilang apa-apa. Ditinggalkannya khalwat setelah menutup pintu dengan hati-hati.
“Dinah, buatkan bubur hapermot dengan susu.”
“Hapermot kita tak punya, ibu. Susu juga kita tak punya.”
“Beli di toko.”
“Begini malam semua toko juga sudah tutup.”
“Beli! Biar mahal tak apa,” dan dikeluarkannya uang dari sakunya.
Dengan wajah tak bersenang hati anak yang disuruhnya pergilah. Nyonya segera memasak air, membasuh cucunya dengan air hangat kemudian mengganti baju Djali dengan baju yang tersimpan di dalam lemari.
Dan sejak itu hanya dua perhatian nyonya Abdul: pekerjaannya sendiri dan cucunya. Yang lain-lain ia tak peduli.
Bagian Kesepuluh
Taman Chairil Anwar itu sudah gelap. Tetapi buat Midah ada bagian yang terang-benderang. Dan di dalam cahayanya itu ada makhluk tergolek dan pada wajahnya tertarik garis-garis kegoyahan. Mulutnya kejang seperti telah terlampau capai menangis. Makhluk itu adalah anaknya: Rodjali! Tapi ia kini tidak tertarik pada cahaya dalam kegelapan itu. Ia hanya tertarik pada nasibnya sendiri.
Dicengkeramnya baju lelaki yang ada di sampingnya. Berbisik:
“Aku tahu. Engkaulah satu-satunya harta benda orang tuamu.”
“Kita pulang saja, Manis. Aku lelah, aku ingin tidur.”
“Walau bagaimanapun juga, Ahmad, engkau harus dengarkan aku sekali ini. Aku minta waktumu sebentar saja.”
“Katakan. Katakan. Aku begini cape sekarang.”
“Ada makhluk aku simpan di bawah jantungku sekarang. Dan makhluk ini adalah anakmu.”
“Anakku?”
“Ahmad! Mengapa engkau terkejut? Bukankah ini akibat sewajarnya dari perbuatanmu atas diriku?”
Lelaki itu tidak berkata apa-apa lagi. Nyata sekali ia terkejut. Ia menjadi bapak?
Ia? Anak muda yang riang gembira dan tidak pernah tersenggol masalah yang dalam. Tidak mungkin! Tidak mungkin ada anak yang akan mengakui dirinya sebagai anakku! Selama ini fitnahan. Midah ingin diperistri.
Tiba-tiba meledak dari mulutnya:
“Tidak mungkin!”
“Engkaulah satu-satunya orang yang kucintai.”
“Tidak mungkin aku memperistri engkau.”
“Bukan itu maksudku. Untuk cinta ini segala-galanya kuberikan kepadamu. Juga diriku.”
“Apa kaupinta daripadaku sekarang?”
“Apa yang kupinta? Akui ini anakmu. Beri aku surat sah, bahwa ini anakmu. Aku dengan kejadian ini akan bertanggung jawab. Tetapi akui ini anakmu.”
“Engkau mau jebak aku.”
“Menjebak? Ini hanya akibat perbuatanmu.”
“Tidak! Engkau mau jebak aku. Engkau mau paksa aku kawini kau.”
“Ah, mengapa engkau tidak mengerti maksudku? Aku tahu engkau orang baik-baik, engkau anak dari keluarga baik-baik. Itu tidak kusinggung-singgung. Yang kupinta hanyalah, akui anak ini anakmu. Kelak, nanti kalau engkau sudah tua, mungkin dia akan bertanya kepadaku siapa bapaknya. Dan dengan tiada ragu aku akan dapat katakan, engkaulah bapaknya.”
“Engkau mau jebak aku.”
“Apa gunanya menjebak engkau? Apakah keuntunganku? Pengakuan itu hanya untuk anak itu sendiri.”
“Untuk kau sendiri?”
“Untukku, aku sanggup derita segala-galanya karena cintaku kepadamu.”
“Penipu!”
“Mengapa baru sekarang kau ucapkan. Mengapa tidak dahulu?”
“Penipu!”
“Apakah jahatnya menipu untuk kepentingan anakmu sendiri?”
“Aku tidak punya anak! Tidak!”
Cahaya di mana ada makhluk tergolek menjadi terang. Midah dengan makhluk itu menjerit-jerit memanggilnya. Ia ingin segera pergi. Tapi ia harus selesaikan urusannya dulu.
“Sebelum anak ini lahir, bapaknya sudah tak mengakui. Apakah jadinya anak ini kelak?”
“Jangan kau coba agar aku mengakui ini lagi.”
“Anak siapa ini?”
“Anak siapa? Bukankah ada banyak lelaki lain di ranjangmu?”
“Ya, Tuhan!” Midah menyebut. Kemudian ia tak bisa meneruskan. Dadanya sesak. Cengkeramannya pada baju lelaki itu dilepaskannya. Dan akhirnya:
“Kalau betul tuduhanmu itu, setidak-tidaknya karena cintaku kepadamu semua itu terjadi.”
“Omong kosong. Kau mau tipu aku.”
Lama Midah tak bisa berkata apa-apa. Kembali air matanya yang lama bercucuran.
Akhirnya lambat-lambat ia keluarkan suara dari mulutnya:
“Aku tidak keberatan apabila engkau tak mau mengakui anakmu sendiri. Aku pun tidak keberatan kau tuduh bercampur dengan lelaki-lelaki lain. Baiklah semua ini aku ambil untuk diriku sendiri. Dan engkau, kak, engkau boleh terpandang sebagai orang baik-baik untuk selama-lamanya. Biarlah segala yang kotor aku ambil sebagai tanggung jawabku sendiri.”
Ahmad pun terdiam oleh ucapan itu.
“Setidak-tidaknya aku mengerti, bukan engkau tidak mau mengakui anakmu sendiri. Bukannya engkau membimbangkan cintaku kepadamu. Tapi aku kini mengetahui bahwa seorang yang kucintai itu adalah pengecut yang tidak punya keberanian sedikit pun juga. Itu pun aku tak menyesal, karena tak ada gunanya lagi. Biarlah semua itu. Hanya satu yang tidak akan terlupa olehmu: anak ini adalah anakmu.”
Ia bangkit dan lambat-lambat berjalan ke arah jalan besar. Dipanggilnya beca, dan dengan tiada menawar segera ia beri perintah untuk menuju ke Matraman. Sepanjang jalan ia dengar pekikan Rodjali. Air matanya telah kering. Dan akhirnya orang sadar, bahwa sekalipun penderitaan itu ditambah lima derajat lagi, jiwanya akan tetap kuat menghadapi. Sebab kalau tidak, orang tak lagi berpikir, orang dengan sendirinya telah berjalan dan berbuat tanpa sepengetahuannya: ia telah gila.
Di pintu rumah ia disambut nyonya rumah dengan ucapan gopah-gapah:
“Ah, Midah Manis—anakmu diambil ….”
Midah tak kesempatan untuk mendengar ucapan itu.
Ia terlampau sibuk dengan diri dan kepentingannya sendiri. Waktu ia memasuki kamarnya anaknya tidak ada.
Ia terhenyak. Ia lihat jendela yang masih terbuka. Kemudian:
“Djali! Djali! Djaliku! Djali, ibu! Di mana?”
“Ah, Manis, anakku—” nyonya rumah mengulangi ucapannya di lubang pintu. “Dengarkan dulu ibumu ini. Anakmu diambil oleh ibumu.”
“Ibuku!” Ia terhenyak terduduk di ranjangnya.
“Apa yang sebenarnya telah terjadi antara engkau dengan ibumu?”
Dan setelah mendengar cerita perjalanan hidup Midah, nyonya rumah menyuarakan lagi:
“Anakku, apa untungnya beretak-retak dengan orang tua sendiri. Pergilah padanya, Manis.”
“Ibu, aku tidak berani.”
“Mari aku antarkan.”
“Aku tak bisa lupa tamparan ayahku. Tapi bukan tamparan pada pipiku yang kurasakan, tetapi tamparan yang mengenai hatiku.”
“Tidak bisa anakku. Engkau harus maafkan mereka. Kalau engkau tahu bagaimana seorang tua harus membanting tulang mencari penghasilan, engkau akan mengerti bagaimana keruh hatinya bila tak dapat diterima apa yang sudah meminta banyak dari tenaganya. Orang tua ingin kembali ke rumahnya yang damai, di mana ia beristirahat dengan senang. Pekerjaan sehari melelahkan. Dan kalau di rumah terjadi yang tidak menyenangkan, tidak menghiburnya, dia gampang marah. Maafkan mereka.”
“Tentu saja aku maafkan.”
“Kalau begitu ayolah aku antarkan.”
“Aku takut.”
“Biarlah kupanggil Ahmad, biar kau diantarkannya.”
“Jangan, bu. Biarlah dia tidak akan terganggu lagi…”
“Apa? Apa pula yang terjadi antara kau dan dia?”
Pecah seluruh pertahanan Midah. Ia ceritakan segala yang terjadi.
“Anakku! Anakku! Alangkah panjang jalan penderitaanmu.”
“Dan itu belum berakhir.”
“Apakah mungkin Ahmad berbuat semacam itu atas dirimu! Dia harus kawini kau! Harus! Kalau tidak mau, aku yang akan repotkan pada polisi. Dia sendiri polisi. Dia akan banyak mendapat susah. Dan engkau, mengapa engkau begitu bodoh menyerahkan dirimu padanya?”
“Aku cinta padanya.”
“Kau telah pernah kawin. Engkau telah punya anak. Tidak mungkin itu karena cinta. Kalau engkau tahu, Midah, bagaimana rasa hatiku. Engkau telah nodai kehormatan rumah tanggaku…”
“Apakah bisa melawan cinta?”
“Cinta? Dan apakah akhirnya cinta itu?”
Midah kebingungan. Dari segala sudut datang topan. Anaknya, cintanya, ketakutannya terhadap orang tuanya, dan cinta yang melukai kehormatan rumah tangga nyonya rumah.
“Apa akhirnya?”
“Tidak tahu aku! Tidak tahu aku!” Midah menggelengkan kepalanya, karena hanya itu yang kuasa ia perbuat.
“Rumahku jadi rumah cabul!”
“Tuhan, ampuni aku.”
“Dan engkau cabulnya!”
“Tuhan, bimbing aku!”
“Tahu aku sekarang mengapa engkau takut sama orang tua sendiri!”
Tambah lama suara nyonya rumah tambah meningkat. Para tetamu kiri dan kanan mulai datang menonton seorang demi seorang. Semangat nyonya rumah tambah menderu dalam hasrat melabrak.
Midah tidak tahu lagi apa yang harus dipikirkan. Berpasang-pasang mata yang memandangnya seperti hendak mengorek isi dadanya. Cahaya terang yang menyala-nyala di taman tadi kini berada di mana pun juga matanya ditebarkan. Dan seruan Djali yang mendayu-dayu tak dapat ditolaknya dengan kekuatan apa pun juga,
“Kalau engkau tak kawini Ahmad,” seru nyonya rumah sekali lagi, “sekarang juga kau mesti angkat pantat dari sini.”
Dengan tiada menjawab ia langsung menuju pintu, menguak penontonnya ke kiri dan ke kanan, kemudian melenyap ke dalam malam gelap gulita. Juga waktu itu air matanya sudah tak sanggup mengalir lagi. Kelenjarnya telah kecapaian. Tapi serangan terus menderum-derum di atas kepalanya. Pikirannya timbul tenggelam dalam bayang-bayang Djali, Ahmad, Terbus, dirinya sendiri kemudian bayang-bayang itu digantikan oleh pengertian-pengertian yang dibenci dan disukainya: cinta, dendam, ketakutan, kekhawatiran. Dan beca terus meluncur tak tentu arahnya. Kebalauan itu berhenti sejenak waktu terdengar suara dari belakang.
“Ke mana, nyonya?”
Baru ia memerintahkan tukang beca menuju ke rumah orang tuanya. Sayup-sayup ia dengar jam sebelas yang dipukul bersambut-sambutan. Dan lalu lintas kota telah lama mengendur.
Lama ia berhenti di depan rumah, di mana pernah sekali ia dilahirkan oleh ibunya.
Sebelum ia mengetuk pintu banyak masa lalu yang dikenangnya. Apalagi! Rumah adalah rumah masa lalu, apabila untuk beberapa waktu ia tinggalkan. Rumah adalah kenang-kenangan itu sendiri baik sebagai isi ataupun tempat. Mereka akan labrak aku. Mereka akan sindir aku. Bapak akan tempeleng aku entah beberapa kali dan ibu memandang aku tanpa ada kesan terbaca pada wajahnya. Ia dengar Djali menjerit. Segera tangannya meraih kenop pintu. Tetapi lemas tangan itu terkulai kembali. Sekali lagi terdengar jerit. Apakah yang akan menyambung kepahitan ini lagi, Djali? Djaliku? Anakku sendiri! Ia tegak ke belakang. Nampak bayangan pagar dalam rembang cahaya bintang. Ia lihat pelataran sempit di mana dahulu ia pernah bermain-main dan memanggil penjaja lewat. Sekali lagi terdengar jeritan dari dalam. Anakku! Anakku! Ia belum juga berani mengetuk pintu. Potongan-potongan hidup yang terenggut oleh waktu dan compang-camping bersebaran ke mana-mana datang kembali berduyun-duyun dalam kepalanya.
“Tuhan, beri aku kekuatan.”
“Ya, aku beri engkau kekuatan, masuklah,” ia dengar suara sayup-sayup dari hatinya sendiri.
Tetapi ia belum berani.
“Tuhan, berilah aku kekuatan.”
“Mereka orang tuamu sendiri,” terdengar lagi suara sayup-sayup. “Tiap orang tua akan mengampuni kejahatan anaknya, asal saja dia pandai menyatakan alasan yang sebenarnya. Tiap orang tua akan mencuci anaknya hingga bersih setelah anak itu terjatuh dalam selokan lumpur.”
Djali menjerit lagi.
“Rajaku! Manisku! Sayangku!” Ia dengar ibunya. Dan suara itu menggempur segala kerisauan, ketakutan, dan segala-galanya yang menekan kepribadiannya. Sebelum ia sempat berpikir tangannya telah mencekam kenop pintu dan diguncang-guncangkan.
“Midah?” Suara dari dalam dan berat.
“Ya, pak. Midah di sini.”
Pintu terbuka. Dan tahu-tahu ia telah masuk ke dalam ruang depan yang rembang-rembang.
Ruang depan yang telah beribu-ribu kali dilintasinya dulu!
“Alangkah lamanya engkau.”
Ada terasa kasih sayang dalam suara itu. Tiba-tiba kembali jiwanya yang membatu itu cair tertimpa sinar belas kasihan itu. Ia kembali merasa sebagai dahulu-dahulu waktu meninggalkan rumah untuk pertama kali dengan tak ada dosa tersimpan dalam dirinya. Ia kembali merasa sebagai kanak-kanak yang merasa berhak atas orang tua, atas kasih-sayang dan belas kasihan. Air matanya cair kembali, dan kelenjarnya bekerja. Sekali ini bukan air mata yang keluar karena kepahitan, tapi yang keluar dari hati terbuka seorang anak yang datang kembali ke perasaan kanak-kanaknya yang indah di masa dahulu. Ia cium tangan bapaknya.
Dan lelaki itu mengusap rambut anaknya.
“Ampuni segala kesalahanku, bapak.”
Suara Haji Abdul kian menjadi dalam. Lambat-lambat terdengar: “Seorang tua telah mengampuni anaknya sekalipun dia belum menjalani kesalahan, Midah.”
“Kalau saja aku dahulu telah mendengar itu…”
“Temuilah ibumu.”
Midah pergi sambil menyeka matanya.
“Ibu!”
“Ah, Midah, begitu lama aku cari-cari engkau.” Dan ucapan itu diselesaikan dengan rangkulan, seakan perempuan tua itu hendak mengembalikan tubuh itu menjadi bibit dalam tubuhnya kembali. Oleh karenanya terbayang masa pengantin dahulu, dahulu! Ia ingat waktu tubuh itu dilahirkan dan dimanjakan. Selain itu tak teringat apa-apa.
“Ambillah anakmu,” katanya kemudian. “Menangis saja dari tadi.”
Midah mengambil anaknya. Sekaligus Djali terdiam. Ia mendapat dada emaknya kembali.
Kedua orang tuanya menyingkir di ruang depan. Mereka berunding dengan hati masing-masing, juga bertanya dalam batin masing-masing, mengapa cucu mereka begitu kurus, begitu tak terpelihara, apa saja dikerjakan Midah selama itu.
Tapi keduanya tak berani mengucapkannya melalui mulut. Dan perundingan antara hati dan hati itu ditutup dengan janji: mereka tak akan bertanya-tanya tentang hal anaknya selama itu. Mereka akan diam saja sampai Midah datang dan menyerahkan pengakuannya seperti biasanya di hari lebaran dia menyerahkan hidupnya kembali kepada orang tuanya untuk disucikan.
Anak-anak lain telah tidur di tempat masing-masing. Mereka tidak menyaksikan kedatangan kakak mereka yang selama itu membuat sejarahnya sendiri, dengan diri sendiri dan tanggung jawab sendiri.
Di waktu menyusukan anaknya terbayang-bayang wajah Ahmad di pikirannya. Tapi ia sedia mengampuni kepengecutan pemuda itu untuk memikul tanggung jawabnya. Dan di bawah jantungnya gatranya itu mendetikkan darahnya lebih lambat dari biasanya. Apa kataku pada mereka tentang anak ini? Dahulu kandungannya menjadi tempat ia minta kekuatan. Kini kandungan baru ini tak menimbulkan keyakinan di hatinya. Tapi pada anak kedua ini akan sediakan cintanya lebih daripada yang disediakan untuk bapaknya.
Pikiran-pikiran dalam kepalanya beranak-anak, bercucu, dan berpiut. Tak terasa lagi olehnya bahwa Djali telah tergolek tidur dan tak mengisap dadanya lagi.
“Apa kaupikirkan Midah?”
Midah bangkit, dan tampak olehnya ibu dan bapaknya berdiri di pintu.
“Engkau ada di bawah atap rumahmu sendiri.”
Midah menghampiri mereka dengan tiada berani memandang wajah mereka.
“Ibu,” katanya. “Bapak,” sambungnya.
“Katakanlah apa yang engkau mau katakan.”
“Tak ada gunanya bicara tentang kesalahan, Midah,” bisik bapaknya. “Itu sudah banyak aku pikirkan. Kita bukan pemilik-pemilik hal-hal yang lalu, tapi hal yang akan datang.”
Pikiran Midah kembali ditarik oleh anak di bawah jantungnya. Apa akan kata mereka tentang anak ini? Seorang haji yang begitu salah punya anak jadah. Apa akan kataku?
“Katakan, anakku, Katakan.”
Tapi Midah tak punya cukup keberanian untuk mengatakan. Ah, mengapa cinta melahirkan anak yang dikutuki dan yang bukan melahirkan anak yang sah, yang diakui oleh semua orang? Apakah perasaan bapak dan ibu bila pada suatu kali anak ini lahir dengan jeritan sehat! Mereka akan tutup kupingnya. Mereka akan memohon keselamatan pada Tuhan untuk diriku, dan maut untuk bayiku.
Haji Abdul mengelus kepala anaknya untuk memberikan.
“Bapak,” Midah mencoba sekali lagi. “Aku mencintai seorang lelaki.”
“Apa salahnya, Midah?”
“Mengapa diam?”
“Aku mengerti, Midah,” Haji Abdul memberanikan, “di mana belas kasihan dan kasih sayang jauh dari seseorang, dia akan kepahitan, dan dalam kepahitan dicarinya gula yang disangkanya kebahagiaan. Tapi gula itu adalah bungkus dari racun yang lebih pahit.”
“Ya, bapak. Bapak dan ibu sanggup mengampuni—”
“Anakku, Midah, jangan bicara tentang ampun.”
“Tapi ketika aku memasuki pintu rumah ini, telah aku bawa dosa baru.”
“Dosa?”
“Dosa untuk pandangan orang lain. Hanya untuk aku tidak.”
“Anakmu yang ada di depanmu ini—mengandung.”
“Mengandung? Dengan siapa?”
“Pak,” nyonya Abdul berkata, “pergilah engkau kembali ke kamarmu.”
Tapi Haji Abdul tak mau pergi, berkata:
“Dengan menyerahkan segala-galanya kepada Tuhan, aku cukup kuat untuk menghadapi apa pun juga.”
“Ah, pak. Biarlah aku bicara sendirian dengan anakmu.”
“Tidak!” Haji menggeleng. “Dahulu aku takut penyakit karena itu aku jatuh jadi kurbannya. Sekarang tidak. Aku tidak ta-ta-takut penyakit. Aku hanya takut pada Tuhan yang mahabesar. Katakan anakku, katakan semuanya pada bapakmu.”
Genderang perang berdentaman di hati Midah. Segala perjuangannya, cinta, kekuatan, dan kelemahan menghadapi hidup dan hawa nafsunya sendiri ia ceritakan, berderet berbaris memasuki sanubari kedua orang tuanya.
“Biarlah kita terima semuanya sebagaimana adanya,” nyonya Abdul mengatakan.
“Anakku, buatku sendiri itu bukanlah dosa sekiranya engkau cinta benar-benar kepadanya. Tapi agama ada hukum, dan hukum itu menyalahkan perbuatanmu.”
“Bila aku bersalah, hukumlah aku. Tapi aku sanggup melepaskan cintaku kepadanya. Dan anak yang kukandungkan ini adalah anak yang dirahmati cinta.”
“Engkau mesti kawin dengannya,” ibunya meyakinkan pendapatnya.
“Aku tidak akan kawin dengannya. Dia hanya satu-satunya milik orang tuanya. Dan aku tak akan ajak dia tercemar.”
“Tapi engkau lebih suka membawa kita tercemar,” ibu melontarkan panas hatinya.
“Tidur, Midah. Besok Tuhan hendaknya memberi engkau cahaya terang dalam hatimu,” Haji Abdul berkata. Dan setelah itu ditariknya istrinya keluar dari kamar.
Bagian Kesebelas
Mempunyai pendirian sendiri adalah berhadapan dengan pendapat umum. Bertambah kuat pendirian seorang, bertambah banyak ia memanggil penentang.
Dan Midah terpancang kuat di atas bumi dan pendiriannya. Wanita ini akhirnya menjadi pemeluk kepercayaan cinta yang fanatik. Ah, mengapa tidak kalau cinta itu menjadi satu-satunya harapan baginya— harapan akan berkahnya kedamaian jiwa!
Sejak ia kembali ke rumah orang tuanya, telah begitu sering pendiriannya miring.
Hampir-hampir ia tak sanggup berhadapan dengan para tetangganya yang datang menengok.
Mereka semua musuh! Musuh kepercayaannya. Musuh pendiriannya! Musuh kedamaian jiwa yang dengan susah payah ia pupuk.
Ia dapat mengira-ngira apa saja yang dipercakapkan mereka atas dirinya. Ia pun sudah bisa mengira-ngirakan bahwa mereka, karena sifat berkuasanya, akan membuat dirinya menjadi aduan yang bisa dibuat kue sekehendak hati mereka. Tidak mengherankan kalau ia lebih suka menyembunyikan dirinya di dalam kamar.
Berbulan-bulan kemudian setelah dianggapnya semuanya telah menjadi reda, baru ia memperlihatkan dirinya. Itu pun tidak lama. Perutnya yang bertambah besar memaksa dirinya mengurung dalam kamar kembali. Tapi semua orang sudah tahu. Dan tiap ada pasang mata memandang perutnya, jiwanya melayang jauh dan kepercayaannya merangkul cintanya erat-erat agar tidak terbongkar segala-galanya yang ia kasihi.
Rodjali seakan-akan lenyap dari perhatiannya. Lagipula anak itu serasa telah melekat pada neneknya. Haji Abdul, yang tiada berbeda dengan pertapa, kehilangan kekuatan untuk menginjakkan kaki di atas dunia dan memasuki sangkut-paut segala, kini hanya memandang segala-galanya dari jauh dengan pengertian-pengertian mutlak yang silang siur dalam cintanya. Kadang-kadang apabila ia dengar sindiran atas kelakuan anak sulungnya dengan mengambil perbandingan dengan kesalehannya, segera keluar dari mulutnya:
“Ah, saudara, manusia ini kenal satu sama lain, tapi tidak dengan dirinya sendiri. Kalau aku mencoba mengenal diriku, tentu saja perbuatanku akan lain dengan sekiranya engkau yang hendak mencoba. Memang tidak ada hasilnya untuk kemakmuran kita hendak mengenal diri, karena dia takkan menghasilkan kekayaan. Tapi percobaan orang-orang lain dan kadang-kadang menyalahi kesukaan orang banyak, namun dia telah mencoba yang orang lain tidak berani mencobanya.”
Lambat laun Haji Abdul dianggap keramat oleh kelilingnya. Sekali dua kali datang orang meminta berkah. Dan keikhlasannya ia berkahi orang itu dalam usaha atau dalam mencapai cita-cita. Akhirnya namanya demikian populer dan di depan gelar hajinya orang tambahi dengan kiai dukun.
Hormat keliling kepada bapaknya, membuat Midah tak tertahankan lagi mengingat kandungannya. Ah, cucunya yang kedua ini akan merusakkan segala-galanya. Dan itu tidak boleh. Bapak juga mempunyai hak untuk memiliki kedamaian hati ─bukan aku saja. Juga ibu berhak memilikinya. Alangkah daif dan serakahku kalau semua hendak kurampas untuk diriku dan kandunganku belaka.
Midah ingat pada semua orang yang menengoknya. Dengan kejap dan pandangan mata mereka terasa olehnya menghukum perutnya, kandungannya, cintanya. Dan itu tetap tak tertahankan olehnya. Kekuatan kepercayaannya kepada cinta bukanlah kekuatan untuk melawan pendapat umum. Dan pada suatu hari ia mandikan anaknya – si Djali, ia beri pakaian paling baik. Dan setelah ia sendiri merapikan dirinya, dibawanya sebuah bungkusan dan Djali ke─ tetapi belum lagi ia meninggalkan rumah, ibunya telah menegur:
“Ke mana lagi?”
Midah menyatakan kandungan hatinya. Ia tak boleh mengganggu kedamaian orang tuanya karena hal-hal yang tak disetujui orang banyak ada padanya.
“Midah, apalagi yang hendak kau perbuat ini?”
“Aku hendak pergi, bu. Biarlah bapak dan ibu hidup tenang di sini. Tambah lama aku tambah yakin, bahwa aku tidaklah sebaik orang tuaku.”
“Dan apakah hasilnya keyakinan itu untuk dirimu sendiri?”
“Bahwa tidak sepatutnya aku merusakkan nama baik orang tuaku sendiri.”
“Ah, Midah.”
“Ya, ibu.”
“Tunggulah orang tuamu. Kalau bapakmu pulang dari pekerjaannya bicaralah dengannya.”
“Kalau aku bicara dengan bapak, aku takut aku harus tarik kembali niatku.”
“Engkau tak pernah pikirkan bagaimana si Djali begitu terlantar. Bukankah lebih baik ada yang memeliharanya? Dan neneknya sedia memelihara dia.”
“Ibu, ibu dan bapak telah mengampuni segala dosa dan kesalahanku. Izinkanlah aku pergi, seperti dahulu aku pergi meninggalkan rumah ini. Janganlah tahan aku, karena aku tahu benar apa yang akan aku perbuat.”
“Apakah engkau akan siksa hati bapakmu dengan nyanyianmu melalui radio?”
“Menyanyi bukan kesalahan, ibu. Juga bukan dosa.”
“Midah! Tunggulah bapakmu.”
“Sampaikan saja pada bapak semua yang telah menjadi niatku, ibu.”
“Jangan, Midah. Jangan pergi.”
“Anakmu mesti pergi, ibu.”
“Paling sedikit, si Djali tak boleh engkau bawa.”
“Bukankah dia anakku, ibu?”
“Anak itu akan mati terlantar, bila kau bawa dia ke mana-mana yang tak ada tujuan tertentu itu. Bukankah di sini ada rumah, Midah? Ah, kalau saja kami sekaya dahulu pasti engkau kami buatkan rumah, agar tak perlu lagi engkau bernaung di bawah atap orang.”
“Apa pula ibu katakan itu? Izinkanlah aku pergi. Hanya itu satu-satunya permintaanku sebagai anak, ibu.”
“Aku tak izinkan, Midah. Dan aku kira bapakmu pun tak mengizinkan.”
Midah duduk di kursi memangku anaknya. Bawaannya diletakkan di lantai. Ibunya berdiri menghadapi dia dengan kekhawatiran orang tua atas kegoyahan hari depan anaknya—anak yang baru kembali menjadi miliknya.
“Ibu, pada suatu kali aku akan melahirkan anak tiada bapak. Apabila anak itu turun ke atas dunia, dan dia menjerit—apakah akan rasa ibu, apakah akan kata bapak dan apakah akan cerita orang-orang lain. Aku sendiri tidak berani mengira-ngirakan, dan bakalnya aku cinta pada anak ini. Aku kira aku bakal lebih cinta padanya daripada kepada Djali. Dia adalah anak yang akan dilahirkan dengan cinta ibunya dan dia diadakan oleh cinta orang tuanya.”
“Akan aku terima dia sebagai cucu-cucuku yang lain. Apakah itu belum cukup kujanjikan, Midah?”
“Ibu, sebelum anak ini lahir, tidaklah susah untuk berjanji demikian. Tapi sekali dia lahir, sepanjang hidupnya dia akan mengotori hati ibu dan bapak. Dan itu aku tak suka.”
“Midah! Apa pula kaukatakan itu?”
“Semuanya belum terjadi, ibu. Tapi sekali terjadi, ibu akan rasa bagaimana pahit bercucukan anak seperti yang kukandung sekarang.”
“Midah, bukankah telah kutanyakan padamu, siapa nama lelaki itu, biar aku datang kepada orang tuanya dan mengawinkan kalian?”
“Jangan, jangan pergi, anakku. Rumah ini akan memberi engkau kedamaian.”
“Bukan rumah, ibu, tapi anak!” Tangan Midah meraba perutnya, dan kekuatannya tak diperolehnya. Djali menangis di pangkuan. Ia lapar.
“Lihat, anakmu lapar.”
Dan sebelum Midah sempat membantah, tangan ibunya telah mengambil cucu dan dibawanya masuk ke dalam. Midah terdiam dengan mengawasi jalan di depan rumah.
Angin beliung mengamuk di dalam batinnya. Aku harus pergi! Dan anak itu tak boleh kutinggalkan. Tentu saja tidak boleh. Tapi bila kubawa, dia akan terlantar seperti kata ibu. Benar! Itu memang benar! Di tangannya anak itu lebih selamat daripada di tanganku. Setidak-tidaknya dia anak sah, walaupun lahir beserta kebencianku pada Terbus—dia akan mendapat rawatan yang baik dari neneknya, dari kakeknya, dari pamannya, dan dari bibinya. Tapi ini!! Dia harus kuselamatkan! Harus! Dia tak boleh dihina orang, sekalipun dunia akan menamainya anak haram. Dia anakku yang ada karena cinta, karena kerelaan, karena aku butuh dicintai orang, sekalipun akhirnya hanya aku sendiri yang mencintai orang yang sebenarnya tidak cinta padaku. Tapi semua ini lebih baik daripada hidup dengan hati kosong dan keras dibatukan oleh segala-galanya.
Rodjali akan selamat di tangan nenek dan kakeknya. Dia takkan menghadapi musuh.
Dia takkan menghadapi hukuman semua orang yang kenal riwayatnya. Dia lahir sebagai warga norma dan kesusilaan pergaulan.
Lambat-lambat ia bangkit. Hatinya mendoakan keselamatan abadi untuk anaknya yang sedang disuapi neneknya. Kakinya dengan bimbang melangkah ke gapura pagar, kemudian ia menengok ke arah rumah orang tuanya dan berhenti lagi. Lama ia berhenti.
Ada ia dengar suara Djali menjerit, dan ia berjalan kembali masuk ke dalam, menemui anaknya.
Apakah akan sampai hati aku tinggalkan dia tanpa menciumnya?
Ia hampiri anaknya. Ia cium pipi dan ubun-ubunnya. Anak itu kini telah menjadi gemuk, kedua pipinya merah menjingga. Ia tertawa dan minta digendong. Ia letakkan barang bawaannya dan menggendongnya. Nyonya Abdul memandangi anaknya. Ia tidak mengerti tingkah laku anaknya. Ia mau bertanya tapi nampak olehnya Midah begitu hilang, begitu lenyap dalam pikirannya sendiri. Ia kini dapat merasai apa yang terjadi dalam jiwa anaknya. Kini ia pun mengerti betapa Midah mencoba menyelamatkan keluarga orang tuanya dari buah percakapan orang-orang sekeliling. Keinsyafan itu melahirkan sebilah pisau yang menggurat hatinya. Dan ia terdiam. Kini ia pun tenggelam dalam pikirannya sendiri. Kadang-kadang pengertian orang tentang sesuatu selayak air keras memakan batinnya sendiri—sedikit demi sedikit.
Juga pengertian itu memakan batin nyonya. Begitu sakit terasa di dalam dada.
Tetapi ia tak berkata apa-apa.
“Djali,” Midah berbisik, “ibu mau pergi. Engkau tinggal di sini dengan nenek.”
Anak itu tertawa.
“Barangkali ibu datang lagi menengok. Barangkali juga tidak, Djali.”
“Midah, tak bisakah engkau menangguhkan niatmu?”
“Semuanya sudah kupikirkan baik-baik, ibu.”
Nyonya tak bisa meneruskan.
“Aku tahu ibu kini mengerti maksudku.”
“Ya, aku mengerti. Tapi sebaiknya aku tidak mengerti. Dan kalau engkau tidak dapat dicegah lagi, bukankah engkau sering datang menengok anakmu?”
“Ibu, aku tahu—kedatanganku kemari selamanya akan merupakan tikaman yang melukai bapak dan ibu dan pendidikan yang diterima oleh adik-adik, bahkan juga anakku sendiri.”
“Jadi, tidakkah engkau akan datang kemari lagi?”
“Ibu, walaupun bukanlah maksudku menodai nama keluarga kita, tetapi apa boleh buat—semua itu telah kukerjakan. Aku sendiri tidak menyesal telah mengerjakan semua itu. Dan itu malah yang pasti disesalkan oleh ibu dan bapak.”
“Apa maksudmu, Midah?”
“Biarlah aku pergi sekarang. Ibu, sampaikan kepada bapak, bahwa bukan maksudku melukai hatinya.”
“Midah!”
Midah meletakkan Rodjali dalam pangkuan neneknya.
“Midah!”
Perempuan muda itu lambat-lambat dengan gerak bimbang mulai menjauh meninggalkan ibu dan anaknya sendiri. Sampai di teritis rumah, ia menengok ke belakang, berkata dengan suara hampir tak kedengaran.
“Hanya doa ibu aku harapkan. Hanya restu bapak aku inginkan.”
Ia pun memandang kembali ke tujuannya: jalan raya di depannya. Dengan kepala tunduk seperti memandangi perutnya yang bunting, ia berjalan lambat-lambat. Seakan ada terdengar suara memanggil-manggilnya.
“Midah! Midah!”
Ia tak menengok lagi dan terus berjalan.
Ada seakan terdengar tetangga samping-menyamping menyapanya:
“Mau ke mana, Midah?”
Ia pun tak menengok dan terus berjalan.
Dengan langkah goyah tapi ke arah tujuan yang pasti ia berjalan. Sampai di halte trem, ia berhenti, bercampur dengan orang banyak. Dan waktu datang trem yang dikehendakinya, ia naik, duduk di pojok, dengan mata tak memandang apa pun jua.
Yang terpandang olehnya hanya satu: setumpuk sinar yang tampak oleh orang lain. Dan bermandikan sinar itu berdiri sesosok tubuh. Dan tubuh itu adalah kepunyaan Ahmad. Ia tersenyum. Dan trem terus berjalan…
Bagian Kedua Belas
Bertambah jauh Midah melalui jalan hidupnya, terasa olehnya bertambah tidak berarti kepahitan yang berulang-ulang menimpa dirinya. Dengan anak kedua di tangan kanan ia mencoba, dan terus mencoba, untuk menyanyi bagi dirinya, bagi anaknya yang kedua dan bagi Rodjali, dan bagi semua orang yang sudi, dan bagi semua orang yang mendengarnya. Hanya di waktu ia menyanyi itu ia merasa dirinya berjasa.
Setelah beberapa bulan lamanya nama Simanis Bergigi Emas tak pernah terdengar di peralatan-peralatan atau radio, kini nama itu menggelumbang dari penjuru ke penjuru.
Midah dalam sepotong hidupnya yang sekarang, telah banyak bertemu lelaki—pertemuan antara segala-galanya. Ia tidak mempersoalkan cinta atau tidak, karena cintanya pada Ahmad mengikutinya barang ke mana ia pergi dan merupakan satu-satunya harta benda yang mengisi kekosongan jiwanya. Bertemu dengan begitu banyak lelaki, hatinya tawar. Sekali ia hidup untuk beberapa bulan di villa peristirahatan dengan hartawan Indonesia, Tionghoa, Arab, dan bangsa apalagi yang tidak.
Kesusilaan dan ketertiban peradaban antara baik dan buruk yang dibawanya dari rumahnya, kini tidak membangkitkan pikiran lagi padanya. Dan tambah hebat rasa kangennya pada Djali, tambah sering pula ia coba untuk bertemu dengan lelaki yang sonder cinta, dapat mendesirkan darahnya.
Kepopuleran namanya berkuda dengan kepopulerannya dalam pergaulan dengan lelaki.
Setelah studio radio menjadi gelanggangnya yang biasa, ia merambahi jalan baru ke gelanggangan film. Kemanisannya membangkitkan kekaguman ratusan ribu orang. Dan namanya dibisikkan sebagai ucapan cita dari banyak pemuda dan pemudi.
Tetapi:
Selain bapak dan ibu dan dirinya, tak ada seorang pun di dunia pernah mencoba mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi dan telah terjadi dalam jiwanya.
Sejarah Midah—Simanis Bergigi Emas—mulailah dari sini sebagai penyanyi.
Sejarah Midah—Simanis Bergigi Emas—telah lenyap, sebagai wanita.
Cerita pendek
Berita dari Kebayoran
Dari Cerita dari Jakarta (1957). Teks dari cetak ulang Hasta Mitra, 2002.
Sekali ini — seperti biasanya bila jam malam telah sampai — ia terkenang kembali pada Kebayoran1. Terlalu besar daya penarik daerah itu untuknya. Ia ingin bertemu kembali dengan lakinya, Saleh, dengan adiknya, Khatijah, dengan emaknya, — semua yang dikenalnya dahulu sejak kecil, dan yang juga dikenalnya terus dalam hatinya. Tapi antara dia dan Kebayoran dan orang-orang yang dikasihinya itu tak lagi ada jembatan yang tersedia. Jembatan yang satu-satunya itu sudah lama hancur. Dihancurkan oleh ketakutannya. Dan ia tetap tercancang di taman Fromberg2. Tercancang oleh suatu kemustian.
Mula-mula ia dan golongannya punya daerah di depan istana presis. Tapi lampu-lampu terang dipasang orang di sepanjang jalan yang meretas—retas kegelapan taman depan istana itu. Dan lampu-lampu itulah yang mengusirnya dengan golongannya ke sebelah kanan lagi: tak lebih dari dua ratus lima puluh meter. Tak lebih dua ratus lima meter dari pagar istana.
Sekali waktu ada desas-desus bahwa orang-orang segolongan akan digeropyok oleh polisi. Desas-desus itu membuat Frombergpark sebentar menjadi lengang. Dia dan orang-orang segolongannya mencari daerah lain. Tetapi setelah desas-desus itu tak terdengar lagi mereka kembali ke tempat itu.
Sekarang kota telah kehabisan kesibukannya. Mengantuk ia mendudukkan pantatnya di bangku beton taman itu. Sekali ini ia tak dapat melepaskan kenang-kenangannya: “Kebayoran! Jangan ingat-ingat dia, jangan ingat-ingat dia, ia menasihati hatinya sendiri.”
Dan kemudian ia pun berpikir tentang hari besok.
Taman depan istana untuknya, tak ubahnya dengan Arabia untuk orang Islam atau Palestina untuk orang Kristen. Bila Arabia dan Palestina dipindahkan, dunia akan menghadapi keguncangan. Tapi kepindahan daerahnya tak mengguncangkan siapa pun jua selain dirinya sendiri dan golongannya. Memprotes pada yang berwajib dia tak berkuasa, karena namanya tak terdaftar di buku besar, dan menurut catatan resmi dia belum dilahirkan — belum pernah ada di atas.tanah Jakarta. Dia dan golongannya tetaplah tinggal jadi bayang-bayang malam yang tak bertenaga. Dan kalau Paris menyanyikan chansonnya: Cintaku takut cahaya sang surya, Jakarta merintihkan kisah malamnya: rezekiku terancam sinar sang listrik.
Kemudian:
Ia mengeluh: ia, si Aminah. Jiwanya lesu — ya, jiwanya, sekiranya memang ada jiwa di dalam tubuhnya. Badannya kepayahan. Dengan malasnya kebaya dan kainnya yang bagus ditanggalkannya. Dikenakan pakaian yang biasanya dipergunakan setelah jam malam3 sampai: yang buruk! Kemudian badannya digolekkan di bangku. Dingin! Tapi ia sudah biasa.
Sebentar ia mengangkat kepala. Lampu pagar istana masih menyala dengan megahnya. Dan gelap serta dingin malam membuat ia merasa terpencil. Di sekelilingnya tak terdapat lelaki lagi yang biasanya mengusir kesunyiannya. Mereka telah pulang ke rumah atau istrinya masing-masing. Namun kini ia sudah dapat mengantongi dua belas setengah rupiah. Lima lelaki telah membutuhkan kehangatan jasadnya tadi. Lelaki yang diamok hormon yang mencari jalan lepas! Dan ia — dirinya yang sebatang itu — merupakan padang tandus yang menadah hujan — itu hormon!
Diman belum datang. Ia tak tahu di mana. Diman tukang grobak haminta. Dialah yang dulu membawanya ke Jakarta untuk cari nasib baru! Sesudah jam malam sampai dan ia tergolek di bangku beton, biasa Diman datang dan tidur di sampingnya. Ya, di sampingnya, sebelum turun dari atasnya presis. Dan ia tik pernah berani membantah. Ia merasa agak aman di dekat Diman. Ia merasa tak diganggu oleh kenangannya.
Sebentar ia masih merancang hari besok: ke Pasar Tanah Abang beli nanas muda. Dulu ia selalu beli nanas masak untuk menolak beban hidup: makhluk baru! Kini peranakannya tak sanggup lagi melakukan kewajibannya. Penyakit hebat pernah menusuk dan menyerbit-nyerbitnya. Dan sekarang ia hanya membutuhkan nanas muda. Selama itu buah itulah yang menolak penyakit yang sekali dulu pernah menyerangnya.
Tertidurlah ia sekarang. Wajah menengadah langsung ke tempit di mana surga membentang. Bintang-bintang bersaing dengan lampu jalan, dengan lampu penghias beranda balai pertemuan kota praja dan restoran Yen Pin, juga dengan lampu pengluas pagar istana.
Waktu ia masih kecil ia pernah punya keinginan menikmati sinar listrik dalam kamarnya. Tapi keinginan itu tak pernah terpenuhi hingga sekarang. Sampai sekarang — kala ia tak membutuhkan seikat sinar pun dari segala cahaya buatan manusia.
Tak acuh ia terbangun dan membiarkan dingin malam meriba mata kakinya. Kemudian dingin itu naik ke atas lagi: betis. Naik lagi: paha. Naik lagi: hampir ke perut. Dalam mengimpi ia pun tahu, saat demikian adalah saat Diman datang. Dalam tidur pun ia tahu lanjutannya, benda berat yang hangat menekan sekujur tubuh. Tapi ia tak acuh. Diam saja, dengan mata terpejam. tubuh tidak bergerak. Ia sudah demikian lelah, tidak bertenaga lagi. Geraknya hanya untuk lelaki yang berani membayarnya. Paling tinggi: seringgit! Lebih dari itu adalah keluar biasaan, kemurahan. Dengan tak acuh pula ia dengar di sela mimpinya tubuh berat itu menggelepak jatuh di sampingnya disusul oleh keluh dan nafas terengah-engah. Kemudian malam melanjutkan tugasnya: kosong dari segala perasaan.
Deru-deram-dering lalu lintas tak kuasa membangunkannya. Tubuhnya menghendaki lebih banyak istirahat daripada yang ia sanggup sediakan. Mulutnya masih terbuka, dan pelupuk matanya tergantung berat. Segaris iler mengering di pipi. Rambutnya kacau dan sekalipun dalam tidur nyenyak nafasnya pendek sengal-sengal. Hanya cahaya matahari yang mulai menggigit kulit membuat ia menjenguk dunia dari jendela matanya. Diman sudah tak ada di sampingnya lagi — berangkat kerja. Dengan malasnya ia mengocok kedua belah matanya. Dan seluruh adanya di kala itu merupakan potretnya sendiri. Potret yang membayangkan lukisan sejarah sejak ia dari tiada hingga menjadi ada sampai terlentang di bangku beton taman Fromberg:- Potret yang membayangkan apa yang akan terjadi atas dirinya sejak kini hingga ia kembali ke tiada.
Dibawanya berkas pakaiannya yang semalam dibawanya mengedarkan dagingnya, menyeberangi jalan istana, turun ke kali Besar — mandi. Di jalan dipapasinya berbagai macam orang dengan tampangnya masing-masing. Ia tak kenal lagi berapa puluh di antara mereka yang telah menikmati tubuhnya. Dan mereka pun tak kenal padanya. Apa peduli? Ia tak butuh orangnya. Ia hanya butuh uangnya. Mereka pun tak butuh padanya. Mereka hanya butuh dagingnya, dan itu pun ada masa tertentu pula dan tidak di sepanjang masa.
Air kali yang kuning itu selamanya menyegarkan tubuhnya barang sedikit. Dan tenaganya merangkak kembali memasuki tiap urat nadinya. Dikeluarkan sisirnya dan dirapikan rambutnya.
Waktu ia sedang beristirahat dan duduk di tepian kali, dilihatnya di kejauhan dekat persimpangan jalan kereta api sesosok tubuh manusia di antara puluhan bahkan ratusan sosok yang lain — sosok tubuh yang sangat dikenalnya. Dan tubuh itu telah sekian lama merayu-rayu memburu-buru dalam benaknya: Khatijah!
Ia masih ingat pada pakaian yang melekat pada tubuh itu — pakaiannya sendiri yang dahulu dikasihkannya kepadanya. Sekarang kebaya itu telah kehilangan warna aslinya. Ia turun kembali ke dalam air dan mengecilkan badan. Mengapa takut? Mengapa takut? Ia bicara dengan hatinya. Dia adikku! Adikku sendiri! Adikku yang dulu juga. Dan bergegas ia naik ke darat kembali dan segera berpakaian. Sekarang ia mendaki tebing kali Besar tersebut — mencegat si Khatijah di pelipir, di bawah pohon jalanan. Di depannya radio dari reparasi radio mendengung-dengung. Bukan dunianya! Ia tak dapat memperhatikan musik dansa itu. Mobil menderu-deram di jalanan depannya. Bukan dunianya! Pegawai-pegawai masuk kantor dengan pakaiannya y ing teratur rapi. Bukan dunianya! Hanya Khatijah sebagian dari dunianya.
Khatijah sudah besar sekarang. Dadanya sudah berisi. Ya, kelihatan dari permainan cahaya pada tubuhnya. Khatijah sudah dewasa. Dan dadanya telah berisi. Kesedihan menyerangnya tiba-tiba. Kulitnya sendiri telah terlampau longgar untuk tubuhnya. Dan ia tak punya jalan kembali ke dunianya sendiri. Kampungnya kini seakan telah pindah ke surga — Kebayoran itu! Dan keluarganya yang dahulu ikut pula pindah ke surga.
Diamatinya tubuh adiknya yang kian lama kian mendekat itu. Aku dahulu semontok itu juga. Tapi lebih cantik. Lebih gesit. Dan juga lebih banyak orang yang memberahikan daku. Aku tanggung lebih banyak — jauh lebih banyak daripada dia. Ah, Khatijah tak dapat masak, dan aku paling pandai. Tapi apa gunanya semua itu. Beginilah aku sekarang, dan dia masih boleh memilih. Aku telah memilih — dan pilihanku salah.
Jarak antara Aminah dan Khatijah tambah dekat. Jantungnya berdebaran kencang. Luar biasa kencangnya. Sudah terlampau sering ia menasihati diri sendiri: “Jangan dengarkan berita dari Kebayoran! Dia akan membuat hatimu hancur.” Tapi nasihat itu ini remuk digiling-giling kenangan lama. Kenangan pada kam-ung dan keluarga yang telah pindah ke surga. Sejarah hidupnya kepingin lurus. Kini bengkok-bengkok. Dan dia ingin melurus kembali.
“Tijah!” serunya pada gadis remaja itu.
Dan gadis yang dipanggilnya, gadis yang berpakaian lusuh tua itu memperhatikannya. Khatijah tidak kenal. Ia tak mengenal lagi saudaranya yang selama itu telah reot dibakar angin malam, dibakar oleh kenang-kenangannya, diremukkan oleh hatinya. Mukanya tipis cekung, pantat sempit, mata kabur keputih-putihan dan kulit seakan berjamur. Khatijah hendak segera berangkat lagi. Tapi:
“Khatijah! Engkau tak kenal lagi?” suara yang mencurigai diri sendiri.
Khatijah berpikir. Kaget sebentar. Ketakutan, kejijikan, kekecewaan menari-nari di matanya.
“Minah! Aminah! Engkau ini, kak?” suara gembira yang segera berpindah jadi benci. Matanya meluncur dari rambut melalui pakaian tua busuk rombeng itu. Kini kecurigaan terkandung dalam pandangnya. “Sudah lama kami tak dengar kabarmu.” Kemudian meletup suara kejam: “Engkau mengemis, Minah?”
“Aku …?”
Selama ini Aminah tak tahu lagi mana yang lebih baik, mengemis atau jadi bayang-bayang malam seperti yang terpaksa ia kerjakan berbulan-bulan lamanya.
“Engkau pelesir ke Jakarta, Tijah?” tiba-tiba.
“Belanja, Minah,” bangga memamerkan.“Beli baju. Beli sutera merah satu baju. Beli kain dua. Beli gincu.”
“Engkau mau kawin,” suara yang melayang-layang mau mendarat.
“Aku mau kawin, Minah. Setengah bulan lagi,” teriak kemenangan.
“Senanglah hidupmu,” sesalan yang mendekati iri hati.
“Mending daripada dulu, Minah. Tapi baru sekarang aku merasa senang. Beli sutera merah, kain dan gincu. Kak Saleh yang memberi uang.”
“Saleh? Mengapa aku tak diberinya juga? Aku? Bininya?”
“Salahmu sendiri mengapa lari!” memutuskan.
Aminah mengeluh. Tapi keluhannya tak terdengar oleh kuping manusia — juga tidak oleh kupingnya sendiri. Mengadulah ia dengan lagu minta simpati:
“Siapa kuat, Tijah? Siapa kuat? Kak Saleh sudah kubilangi, jangan jual rumah dan ladang itu. Itu sumber penghidupan kita. api dia bilang, kekayaan kita itu harus kita serahkan pada pemerintah, Minah, kalau kita tak mau mendapat kesusahan daripadanya. Dan rumah serta pekarangan itu dijuallah. Tiga ribu! Tapi sejak itu kita tak dapat membuat tuak dan gula lagi. Aku tak dapat jual rujak buah atap. Tak punya panen singkong dan cabe. Dan kita tak dapat beli ladang orang lain karena tak ada yang jual…”
“Aku mau ke Pasar Baru,” Tijah mendesak.
Aminah merasa tertusuk. Kembali minta simpati:
“Nantilah. Nanti dulu.”
Sekarang ketakutan memancar pada mata Khatijah. Tapi ia tak melawan. Dan Aminah meneruskan ceritanya:
“Kemudian tak ada penghasilan apa-apa, Tijah. Dan kak Saleh tik betah tinggal di pondok orang. Aku sendiri juga tidak. Siapa betah tinggal di pondok orang kalau tadinya pernah tinggal di rumah sendiri? Kak Saleh kemudian kena candu dadu, main dadu tiap hari. Uang habis. Hutang terlampau banyak. Aku sendiri tak punya modal. Saleh juga tidak. Jadi aku ikut sama Diman ke Jakarta cari nasib baru.”
“Salahmu sendiri mengapa lari.”
“Saleh masih main dadu, Tijah?” menghindari.
“Jualan sate. Dan aku yang masak sambal.”
“Kalau begitu engkau mau kawin sama dia.”
Khatijah meruntuhkan pandang ke tanah. Aminah meruntuhkan pandang ke tanah. Sebentar-sebentar ada orang lalu dan berhenti turut mendengarkan, kemudian jalan lagi. Kedua pe- “mpuan itu takut pada kebenaran dan kenyataan masing-masing Akhirnya:
“Kalau begitu engkau mau kawin dengan dia,” ulangan. “Salahmu sendiri mengapa lari,” juga ulangan.
“Diman sekarang kerja jadi tukang gerobak haminta. Rumah kami di bawah-bawah pohon di tengah taman.” Ia mengarahkan mata ke jurusan taman Fromberg.
Aduan itu tak membangkitkan perasaan apa-apa pada Khatijah. Tidak menterjemahkan kehidupan Aminah. Tak berarti apa-apa.
“Kalau hujan kami kehujanan,” Aminah meneruskan. Khatijah tetap kosong rasa. Ia ingin bersicepat pergi menghindari Aminah. Ingin bersicepat ke Pasar Baru beli sutera merah, kain dan gincu.
“Kadang-kadang aku masuk angin. Kadang-kadang demam. Dan Diman kerja. Aku tak tahu di mana kerjanya. Dan tak ada orang yang bisa kusuruh memanggilnya. Jadi aku tinggal tergolek saja di bawah pohon taman,” suara yang benar-benar ingin mendarat di sasarannya.
“Engkau tak ingin pulang ke Kebayoran?” mencoba-coba. Sekarang pintu keinginan Aminah terbuka. Segera menyambut:
“Ingin! Ingin sekali.”
Khatijah mengisap nafas pendek, keras dan menyesak di dada. Melihat Khatijah hendak menghindarinya segera ia mencoba-coba kembali:
“Tapi siapa mau terima? Pekarangan kami yang dahulu sekarang sudah kepunyaan pemerintah. Waktu aku pergi, sebuah gedung sekolah didirikan di sana. Dan sekarang engkau mau kawin sama Saleh, Saleh mau kawin sama engkau.”
“Salahmu sendiri.”
“Emak marah padaku, Tijah?”
“Engkau disumpahi.”
“Disumpahi!” Aminah menghafalkan kata itu.
“Disumpahi supaya mati dirubung lalat.”
Sepasang air bening mengintip di sudut-sudut mata Aminah.
“Dan kalau engkau berani pulang, engkau mau dipukulinya ngan alu.”
Aminah ingat pada alu yang biasa dipergunakannya untuk menumbuk jagung waktu ia masih bini Saleh. Sampai kuning ujung-ujung alu itu. Dan tepung jagung itu dibuburnya, dijualnya di pinggir jalan. Remuk kepalaku kena alu itu, pikirnya. Kembali sepasang air mengintip, keluar, kemudian terguling jatuh ke kebayanya yang kumal. Dadanya merongga. Merongga minta isi. Dan isi itu tak didapatnya dari mulut Khatijah. Sungguh, ia merasa tak punya jalan kembali. Dan Kebayoran merupakan sesuatu yang lebih indah daripada surga yang pernah didengarnya dari berita orang-orang. Sesuatu menyebabkan ia berpegangan pada pohon jalanan. Matanya merenung ke kali Besar di bawahnya. Khatijah tak dapat menahan hati lagi. Ia berangkat.
“Aku bukan hendak minta uangmu,Tijah,” katanya.
Tetapi Khatijah berjalan terus.
“Ambillah kak Saleh, Tijah, aku bukan hendak merampas Saleh dari tanganmu.”
Dan Khatijah terus berjalan.
Sebentar timbul hasrat pada Aminah untuk menahan adiknya. Tapi tak keluar sepatah lagi dari mulutnya. Dan menahan dengan tenaga ia tak mampu. Tambah lama Khatijah bertambah jauh. Ia hanya dapat mengikuti dengan keinginannya, dengan pandangnya, dengan iri hatinya, dengan segala-galanya yang masih ada padanya selain tubuhnya.
Khatijah telah hilang sekarang — lenyap di balik pintu kereta pi. Hampir-hampir ia memekik memanggilnya kembali. Tapi kehendaknya tak mendapat bantuan dari urat sarafnya.
Pelahan ia berangkat ke tempat, yang selama ini memberinya daerah untuk hidupnya: taman Fromberg! — tak lebih dari dua 1 itu lima puluh lima meter dari pagar istana. Badannya dihempaskan di bangku taman. Sekarang ia tersedan-sedan sendirian. Dan sinar matahari yang membakar rambut dan jangat dibiarkannya. Dadanya kian terasa merongga, dan kian terasa membutuhkan isi. Ia ingat Saleh lakinya — Salehnya sendiri. Saleh yang sampai sekarang masih lakinya. Saleh yang kesasar, tetapi waktu kembali ke jalan benar tidak menjemputnya, tetapi menjemput adiknya yang masih perawan. Bertambah ia pikirkan bertambah asing si Saleh baginya — jadi orang yang tak boleh dikenalnya lagi. Dan emaknya mau memukulnya dengan alu. Semua telah menjadi asing, tambah asing — ada, tapi tak ada dalam harapannya.
Hari itu ia tak jadi berangkat ke Pasar Tanah Abang untuk beli nanas muda. Pikiran dan sesalan dan renungan membuat ja sangat lelah.
Lalu lintas di sekelilingnya yang merubung taman itu berjalan seperti biasa. Ia pun kehilangan selera untuk makan mi di Tanah Abang. Trem listrik telah berkali-kali lewat. Ia kehilangan niat untuk menumpang. Parak siang Diman baru turun dari kerja, dan kemudian:
“Mengapa matamu merah, Minah?”
Kini ia merasa, Diman tak sanggup melindungi ketakutan dan kekosongan yang kini menyala dalam dadanya. Dan tak ada satu benda dan satu jiwa pun sanggup melindunginya. Rumput tanah di bawah kakinya membentang hijau. Di sana-sini gundul. Langit melembayang biru. Kadang-kadang angin meniup lunak Tapi segala benda yang mengelilinginya, juga dirinya sendiri telah kosong dari segala perasaan. Hampa! Dan tak jua ada isi mau datang. Seperti batu dengan batu.
“Engkau menangis, Minah? Engkau menyesal. Aku memang bersalah padamu, Minah. Tapi engkau pun bersalah mengapa mau kuajak. Kita berdua bersalah.”
Suara lelaki itu pun kosong. Kosong — kekosongan yang membuat gila. Dan kekosongan itu dengan tiada disadarinya sebenarnya telah ada sejak ia meninggalkan kehidupan keluarga dan mengembara bersama pemuda yang ada di dekatnya itu. Ia mulai menyadari kekosongan itu tatkala Diman telah kehilangan api terhadap dirinya.
Sekali lagi ia mencoba menasihati dirinya agar jangan mengenangkan berita dari Kebayoran itu. Tetapi ia ingin tahu. Ia kepingin dengar kabar tentang bekas pekarangannya yang hingga kini masih tetap ia cintai, tentang Saleh, tentang emaknya, dan tentang suasana ramah seperti dahulu dengan mereka semua. Tapi s muanya itu kini telah pindah ke surga.
Di telentangkan tubuhnya di bawah pohon di rerumputan. Kembali ia merupakan potret dari seluruh adanya.
Lalu lintas kota bergerak terus. Bergerak terus. Nanti malam akan datang dan muncul kembali lelaki berduyun-duyun di tunan Fromberg mencari perempuan seperti dirinya — membutuhkan kehangatan tubuhnya. Di dunia bebas mereka tak mau kenal padanya. Di dunia kelam mereka mencarinya.
Aminah ingin kembali ke Kebayoran. Ia tak berani. Ia takut pada Saleh, pada alu, pada sumpahan emaknya, pada emaknya sendiri, juga pada Khatijah. Dan sampai kapan waktu seperti itu berakhir dan berubah, ia tak ada kesanggupan untuk mengetahuinya. Mengangankan pun tak sanggup.
Beberapa hari kemudian terdengar pada kupingnya bisikan Diman di sampingnya dalam pekat malam mengandung mendung:
“Tadi aku bertemu Saleh. Dia bilang, bulan depan akan buka restoran di kota baru. Bininya sudah bunting,” katanya.
Aminah membelalakkan mata mengatasi kantuknya. Dan kekosongan dalam dadanya kini menggersangkan seluruh jiwanya. “Kalau saja engkau dahulu tak membawa aku kemari…”
“Kita tak dapat mengulangi hari yang sudah lewat, Mina.” Dan sekarang tiba-tiba saja Aminah kepingin punya anak. “Alangkah baiknya kalau aku punya anak,” ia mengeluh. “Besok aku jadi mandor, Minah!”
Sebentar saja mata Aminah bersinar. Kemudian sinar itu mati dalam kegelapan.
“Tak sukakah hatimu?”
“Kalau engkau jadi mandor…”
“Kita sewa pondok kecil dan hidup secara orang baik-baik,” Diman mempengaruhi. “Dan barangkali juga kita bisa dapat anak.”
“Kalau engkau jadi mandor, engkau dapat pondok kecil, dan engkau kawin dengan perempuan baik-baik.”
Ucapan Aminah memberikan ilham pada Diman, dan ia tak meneruskan janjinya. Kedua makhluk itu berdiam diri. Raung mobil pemadam kebakaran membuat perhatian mereka tertarik. Kemudian hilang pula bentuk dan bunyi mobil tersebut.
“Kalau perempuan melacurkan dirinya, dia jahat dan tak diberi kesempatan untuk jadi baik kembali. Tapi kalau lelaki melacurkan diri, tak ada yang menentang, dan dia masih juga bebas, dia boleh berbangga dengan kelacurannya, juga di depan umum,” Aminah berbisik lebih pada malam yang bisu daripada Diman.
Dan kedua makhluk tak beratap itu, tak punya Tuhan yang pemurah seperti Tuhan orang yang kaya, tak punya negara dan tak punya kebangsaan itu — keduanya tidur berpelukan untuk membatalkan dingin malam — untuk membatalkan kegoyahan hari esok yang mengancam dalam kepala.
Sekarang angin meniup ganas. Di langit kilat berkejapan dahsyat. Tapi guntur sudah terlampau biasa buat mereka — tak sanggup membangunkan. Dan kala hujan turun dengan derasnya, keduanya melompat dan melarikan diri ke gubuk pompa bensin kosong. Di sana keduanya meneruskan tidurnya di antara perempuan-perempuan golongan Aminah dan lelaki-lelaki golongan Diman. Tempias mengamuk melalui jendela-jendela yang telah pecah belah kacanya. Dan dari jendela itu nampak dua di antara berpuluh-puluh bola lampu yang menghiasi pagar istana.
Sejak malam itu Diman tak pernah datang lagi.
Ah, Aminah sudah tahu apa yang akan terjadi atas perhubungannya dengan Diman. Bukankah ucapan Diman yang terakhir itu begitu ringan dan melayang tidak berpijak di atas bumi, tercurahkan tidak dari dasar hati yang rela.
Sekarang ia seorang diri mengembara jadi bayang-bayang malam. Kian lama tubuhnya kian lemah. Batuknya kian dalam dan ia tak sanggup berdiri tegak lagi. Punggungnya telah membongkok. Wajahnya selalu pucat. Untuk melenyapkan pucat itu dipergunakannya bedak tebal-tebal dan selapis rouge dan bibirnya yang biru muda dimerahinya dengan lipstik yang semuanya im dibelinya dari Tanah Abang.
Tampangnya menakutkan dirinya sendiri. Dan waktu masa merangkak beberapa bulan lagi, tiap lelaki yang datang kepadanya bicara dahulu lama-lama. Ia tahu sebabnya: mereka hendak menimbang-nimbang tampangnya. Bahkan sekali seorang pemuda berteriak kepadanya: “sayang aku tak bawa saputangan buat menutupi tampangmu. Kalau bawa mau jugalah.”
Ia insaf bahwa syarat-syarat kewanitaan kian lama kian habis tinggal dari dirinya. Segala bedak, rouge dan lipstik tidak lagi menolong. Bahkan klonyo pun tidak. Dan waktu selama dua malam tak ada orang yang hendak menegurnya, karena waktu tu bulan memancar terang dengan sinar kuningnya. Akhirnya diikutinya juga contoh kawan-kawannya dalam mengatasi keidaan yang genting itu dengan menawarkan seluruh kehormatannya:
“Baiklah, bung, dengan mulutku juga boleh.”
Ia tahu bahwa empat orang di antara kawannya tidak kembali lagi ke taman setelah melakukan perbuatan itu. Ia tak tahu alamat mereka, karenanya tak mengetahui betul adakah mereka mati oleh perbuatan demikian atau …
Dan sejak itu ia bekerja dengan mulutnya, dengan lidahnya dan dengan sedikit dari giginya. Mula-mula ia tak tahu harus diapakan getah yang terhisap dan lengket di lidah itu. Sekali dua 1a ludahkan keluar, tetapi akhir-akhirnya ia telan masuk melalui kerongkongan ke dalam perut.
Sejak itu ia merasa bahwa apa yang dinamai kehormatan tidak ida sama sekali di dalam tubuhnya yang telah hancur itu. Cita-citanya untuk meluruskan jalannya sendiri kini telah padam. Ah, sal saja ada orang bisa memberinya barang seringgit sehari ia sanggup mengerjakan segala-galanya yang sebanding dengan tenaga dan kebiasaannya.
Tetapi lambat laun yang datang padanya bertambah sedikit, dan akhirnya tidak ada sama sekali. Tampangnya yang melidi, dan mukanya yang cekung-cekung, rambutnya yang rontok dan kulitnya yang kian longgar membuat orang tak bisa membedakan mana Aminah dan mana monyet.
kak PADA SUATU hari yang cerlang-cemerlang ia tak kuasa bangun lagi dari bangkunya. Ia terlalu lapar. Kerongkongan dan perutnya terasa terbakar. Sehari-harian ia tergolek dalam ganggangan matahari. Dari mulutnya terus-menerus keluar air. Kadang-kadang ia pun terbatuk lemah dan nanah meleleh dari antara lidah dan langit-langitnya. Pita-pita suaranya telah rantas dan tak ada suara bisa keluar lagi dari tenggorokannya.
Kadang-kadang ada orang lewat. Ia mencoba memanggilnya dan minta pertolongan dengan menggerak-gerakkan salah sebuah dari jarinya tetapi orang itu berjalan terus. Mungkin ia tak tahu, dan mungkin juga tidak peduli.
Di malam hari semua orang menyingkir dari tubuh itu, dengan membawa perasaan ngeri pulang ke rumah.
Dan keesokan harinya, waktu matahari mulai memancar kembali, Aminah telah berada di perbatasan antara dua dunia. Matanya masih dapat menangkap pemandangan di kelilingnya tetapi jiwanya tidak lagi.
Waktu ada seorang lelaki datang kepadanya dan memeriksanya sebentar, lelaki itu pun kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Mata Aminah dapat menangkap sosok tubuh itu. Dan pada pengelihatannya orang itu adalah Saleh yang datang hendak menjemputnya. Sekalipun pita-pita suaranya telah rantas, namun, ada juga ia katakan padanya:
“Kak, ampuni segala dosaku. Ampunilah aku. Bawalah aku pulang.”
Dan bibir orang itu seakan-akan berkata kepadanya:
“Tunggu sebentar Minah. Biar aku ambil kereta untuk mengangkutmu.”
“Pergilah. Tapi jangan terlampau lama. Aku haus.” Orang itu pun pergilah. Aminah memejamkan mata sambil menunggu. Tusukan matahari tak terasa lagi olehnya. Lama sekali Saleh belum juga datang. Tetapi ia kini bisa memaafkan. Akhirnya Saleh datang kembali membawa beberapa orang. “Itukah langgananmu yang selalu makan di restoranmu?” Ia bertanya.
Saleh mengangguk.
“Apa? Diman jadi pembantumu sekarang?”
Orang-orang bershort putih itu mengangkatnya ke brancart. Dan tubuh Aminah berayun-ayun sedikit. Kemudian ia dimasukkan ke dalam mobil krip.
“Saleh, bagus amat kereta ini.”
“Ini keretaku sendiri, Minah, dari keuntungan restoran.”
“Mengapa ada alu di dalam kereta ini?”
“Ini pemberian emak untukmu. Kapan engkau mau menumbuk jagung lagi?”
“Apakah di atas itu lampu listrik untukku?”
Tiba-tiba Saleh berubah menjadi bapaknya. Dan ia memulai Lagi:
“Bapak tidak pergi ke sawah?”
“Panen sudah selesai, dan hujan belum turun. Kalau hujan turun sekali, tanah baru dibalik. Kemudian dibiarkan tertimpa matahari. Kalau ada hujan kedua baru dibalik lagi. Dan panen bakalnya bagus.”
“Engkau mau apa?”
“Mesin jahit tentu.” Aminah tertawa.
Tiba-tiba seluruh dinding bermulut dan memonyongkan bibirnya masing-masing kepadanya dan berseru-seru dengan kasarnya: ”
“Monyet lepas! Mau ke mana, kau? Engkau cuma mengotori keindahan taman ini.”
Panas hati Aminah bukan main mendengarnya dan ia berseru-seru:
“Diman, Diman, mereka sama kurang ajar kepadaku. Diman! Diman! Mana kau? Mana?”
Tapi Diman tak juga muncul. Ketakutan dan kepanasan hati mengamuk dengan dahsyatnya. Tubuh Aminah beroleng-oleng. Matanya mendelik. Ia berusaha untuk mempergunakan matanya untuk melihat. Dan tenaga yang menarik bola mata itu ke atas bukan main kuatnya. Tapi Aminah tetap berusaha. Akhirnya ia bisa mempergunakan matanya kembali. Di depannya terbentang rawa dengan air hitam. Pinggirnya dilebati lalang. Tetapi kereta yang ditumpanginya berjalan laju dan tenang. Kadang-kadang udara berubah-ubah warna: biru, kelabu, merah, hijau — segala warna. Kadang-kadang di langit terjadi peperangan dahsyat antara berbagai senjata.
Tiba-tiba segala-galanya lenyap.
Dari jauh ia dengar imbauan suara emaknya:
“Aminah! Aminah! Saleh akan kawin dengan adikmu. Engkau tak datang menyaksikan?”
Kembali Aminah merasai sakit hati. Ia mau rangsang emaknya. Tetapi tiba-tiba di depannya tergelar pekarangannya yang ia cintai: dengan pohon-pohon aren sepanjang pagar. Sebuah rumah kayu berlantai tanah berdiri tenang di atas tengah-tengah pekarangan. Itulah rumahnya di mana ia dan Saleh hidup damai. Kemudian pemandangan yang menyedapkan itu lenyap. Buldozer dan traktor datang sebagai raksasa-raksasa yang hendak menerkamnya. Dan puluhan truk yang menderum-derum membawa kayu dan batu bata dan pasir dan semen seperti sepasukan kerbau liar yang hendak menginjak-injaknya.
Aminah menjerit.
Perubahan tambah lama tambah sering. Gambar demi gambar menyusul. Akhirnya tenang lagi. Aminah melihat Saleh turun dari kereta, kemudian Diman, kemudian Khatijah, emaknya, bapaknya, tetangga-tetangganya. Ia menjerit memanggil mereka seorang demi seorang. Tetapi mereka berseru membalas:
“Kami mau ke kota. Engkau mau ke Kebayoran, bukan?” Dan kereta berjalan terus, lancar dan tenang. Sekarang ia seorang diri. Kereta berjalan terus — terus — terus — terus. Dan ia tetap seorang diri.
Kereta berjalan terus — dan tidak akan berhenti di mana tempat pun juga …
Jakarta, i-1950
Cerita pendek
Tanpa Kemudian
Dari Cerita dari Jakarta (1957). Teks dari cetak ulang Hasta Mitra, 2002.
Padanya aku tak kenal betul. Permunculannya memang amat menggiurkan — seorang perawan remaja, bertubuh tinggi langsing, berkulit langsat mendekati putih, hidung bangir, bibir kecil yang penuh, dan gaya jalan yang melenggok-lenggak ringan. Pada pandangan pertama ini mataku memang tertarik kepadanya. Dan tiadalah salah: seakan ia diciptakan di atas dunia ini untuk menimbulkan berahi pria. Bibirnya yang penuh seakan khusus diciptakan untuk dicium lama-lama. Tingkah lakunya yang kegenit-genitan menggetarkan sendi-sendi iman.
Dan aku tak tahu namanya.
Kata orang: bila perhatian ada, ada pula jalan untuk mengetahui. Demikianlah, maka pada suatu kali terkutip berita sedikit olehku tentangnya. Nama: Nana. Pekerjaan? Tentu saja pekerjaan harus disebutkan pula. Bukankah ia pagi-pagi berangkat di atas sepedanya yang tak berban mati itu, dan tiga empat hari baru pulang ke rumah untuk kemudian berangkat lagi di waktu pagi-pagi benar? Nah: pekerjaan: pelayan Concordia! Itu pusat hiburan para opsir Jepang.
Nama dan pekerjaan hanya suatu ancang-ancang untuk mendapatkan berita yang lebih banyak. Tiap kesempatan kupergunakan untuk mengetahui benar tentang makhluk yang dikaruniai begitu banyak kemauan untuk menggetarkan keberahian. Antipati terhadap pekerjaannya tiadalah menjadi halangan. Karena: yang seperti dia hanya seorang saja di atas buminya Tuhan, dan Tuhan hanya menciptakan seorang saja yang seperti dia.
Berita selanjutnya mudahlah sudah untuk dikira-kirakan: hampir tiap hari Nana diseret oleh opsir-opsir Jepang ke kamar kolong Concordia.
Di masa sekarang memang sudah banyak yang tak kenal nama Concordia — gedung yang kini menjadi tempat wakil-wakil rakyat berkumpul dan bersidang.
Sering, apabila aku pergi ke Balai Pustaka untuk membeli buku, terdengar dari kolong yang di sana-sini diberi berjerajak besi itu, tertawa ria, kadang-kadang pekik ketakutan atau dera yang menggeletar dari ujung rotan mentah. Tawa, pekik itu adalah keluar dari bibir yang penuh dan menggairahkan daripada perawan-perawan muda seperti Nana. Dan Nana sendiri ada di situ.
Orang bilang: Nana tak perlu didera dengan rotan. Lihat saja badannya yang tetap montok. Lihat saja kulitnya yang tak pernah lecet semili persegi pun!
Orang lain lagi bilang: “Nana sih, tak perlu ketakutan.”
“Ya, ia telah sediakan dirinya dengan senang hati untuk dunia kesenangan.”
Ia berumur tujuh belas tahun waktu itu. Tiga tahun lebih muda daripada umurku. Tujuh belas tahun lamanya ia telah mempersiapkan diri untuk menerima saluran bagi kegenitannya. Tujuh belas tahun adalah masa yang amat panjang bagi detik-detik bahagia yang bukan main pendeknya.
Entah sudah berapa kali saja aku menyayangkan tubuh yang dibaktikan kepada bala tentara Dai Nippon itu, tetapi karena tiap pribadi hidup dengan dalil-dalilnya sendiri untuk dapat mengumpani sang hidup yang tiada puas-puasnya itu, tiadalah berfaedah rasa sayangku itu. Namun dalam masa-masa senggang tirikannya kepadaku untuk mengenangkan dirinya begitu kuat dan tiada terbendung. Sedang desas-desus tentangnya dengan diam-diam kusimpan di dalam hati. Dan pada suatu kali meniuplah berita yang benar-benar menusuk perasaanku: Nana kini telah menjadi tinggi, gemuk dan lebih montok, dipiara oleh opsir Jepang daerah Menteng1. Masa pendudukan Jepang dengan kelaparannya tidaklah merupakan suatu masa yang baik bagi desasdesus fitnahan, hampir selamanya benar, karena bagi orang-orang kelaparan hidup menjadi bersungguh-sungguh. Sebagai seorang kanak-kanak seperti aku, yang jiwanya terbuka bagi segala keinginan tiadalah dapat aku melenyapkan buah-buah keinginan dengan begitu saja. Bahkan keinginan-keinginan yang terasa mubazir dan gila masih punya tenaga pendorong untuk menggerakkan tekad dan tubuh. Demikianlah dengan perut yang setengah lapar dan tubuh yang lesu pada hampir tiap sore aku berkeliaran di daerah Menteng untuk dapat memandang wajahnya yang telah sekian lama aku dambakan. Segala anggapan dosa yang dilemparkan oleh umum di atas kepalanya, dapatlah diampuni oleh jiwaku yang masih muda. Segala kesalahannya tidak termasuk ke dalam perhitunganku, dan segala gerak-geriknya yang barangkali juga ditujukan kepadaku, terasa sebagai isyarat dari alam sempurna, dari alam cipta, merupakan rahmat yang setinggi-tingginya.
Dan pada suatu siang kudapati alamatnya.
Ia sedang duduk minum segelas susu coklat di serambi sebuah gedung kelabu yang indah. Waktu melihat aku, ia mengangguk. Dan jambulnya ikut pula mengangguk. Dengan tiada kuduga-duga ia bangkit dari duduknya dan diajaknya aku mampir sebentar. Aku lihat lehernya berkalung rantai emas dengan mainan yang gemerlapan dengan intan dan berlian. Kupingnya dihiasi sepasang markis yang rampai bermatakan berlian pula. Apakah berlian dan intan itu hanya imitasi, pada waktu itu bukanlah menjadi masalah sama sekali. Kupingnya bagiku lebih penting daripada markis, dan lehernya lebih penting daripada kalung beserta mainannya.
Di waktu itu hilang lenyaplah segala rasa takutku terhadap segala macam Jepang yang ada di atas bumi ini. Dengan tenang aku naik ke rumahnya, dan kemudian membuntutinya masuk ke dalam. Perabot rumahnya terdiri atas barang-barang berat yang disusun dengan sembrono. Di segala tempat nampak kaca-kaca cermin yang besar, sebuah fauteuil besar, tebal dan dekil menggagahi sepotong ruangan tengah beserta sebuah meja berdaun kaca kristal. Di tiap meja terdapat asbak yang berisi abu dan puntung, bahkan juga kapas bekas pengorek kuping. Pintu kamar-kamar terbuka sembarangan, dan dari ruang tengah itu nampak berbagai macam pakaian bergelantungan serta kelambu yang tak terpelihara, seperai yang masih teraduk-aduk.
Di luar dugaanku ia adalah begitu ramah, tidak seperti waktu kita masih tinggal segang. Kemasaman air mukanya hilang tiada berbekas. Rouge dan gincu yang memerahi pipi serta bibirnya membuat ia nampak riang. Ia duduk sambil mengangkat kaki sebelah, sehingga sepatu sandalnya yang tali-tumitnya diinjak, tergantung-gantung layu.
Setelah menyediakan bagiku minuman, mulailah ia memperkenalkan kepadaku benda-benda yang dalam waktu yang sebentar itu dapat dikuasainya: pakaian selemari penuh (di antara jutaan orang yang kekurangan pakaian, bahkan berkain goni dan kajang), barang emas-emasan.
“Dan lihat itu, radio besar. Sayang sekarang nggak ada siaran,” katanya sambil menyapu-nyapu dataran peti radio.
Setelah itu pandangnya ditebarkan ke keliling. Tiba-tiba:
“Pecah belah dari kristal. Kata tuan Ozima buatan Osaka.”
“Kau senang di sini, bukan?” tanyaku. Dan justru di waktu itulah aku insyaf, bahwa kami sebenarnya belum lagi berkenalan.
“Nggak perlu berkenalan kan? Kita sudah lama berkenalan. Kita tahu nama masing-masing Aku senang di sini? Ya, memang senang, tapi…”
Ia tujukan pandangnya pada pintu yang terbuka dan mengarah ke ruang belakang. Sekilas kelihatan babu-babu yang tertawa-tawa histeris. Dan aku mengerti.
“Mau makan?” matanya berkilau-kilau.
Waktu aku mengangguk malu, nampak ia bertambah girang.
“Di sini tak perlu takut. Setidak-tidaknya waktu ini. Dia sedang pergi. Pergi ke Surabaya.”
Malam itu aku dibawai olehnya sekantong beras, sekaleng minyak samin dan seekor ikan emas yang belum juga mau mati. Dan kubawa berkat itu melalui pengembara-pengembara kelaparan yang berjalan dengan langkah satu-satu di sepanjang jalan. Jakarta di masa pendudukan Jepang.
Sejak itu aku sering mengembarai Menteng. Bukan hanya untuk memandangi wajahnya — dan siapa tahu mendapat harapan yang lebih besar daripada yang pernah kuharapkan selama ini — tetapi juga karena zaman kelaparan ini telah demikian memberanikan hatiku dengan tak semena-menanya. Tetapi tiap aku sampai di depan rumahnya tak pernah aku melihat ia duduk seorang diri di beranda seperti dahulu.
Sekali dua kulihat ia hanya melintas saja di beranda itu dalam kimono merah berbunga-bunga putih, ungu dan kuning serta bersepatu sendal yang diinjak talinya. Dari kejauhan, dan dalam waktu selintas, ia nampak lebih cantik dan menggairahkan. Selalu dan selalu kudapati di beranda itu opsir-opsir Jepang yang duduk dengan lars kuning terangkat ke atas tangan-tangan fauteuil. Bukan opsir yang itu-itu juga, tetapi berganti-ganti.
Kadang aku lihat Nana duduk di pangkuan salah seorang di antara mereka serta mencubiti pipi atau membelai misai opsir dari negeri matahari terbit itu. Artinya: jarak antara aku dan dia kian hari kian jauh, harapanku kian detik kian surut dan memudar. Namun segala perbuatannya sungguh-sungguh aku maafkan. Bahkan rasanya aku masih dapat terima ia di dalam hatiku bila ia telah berjauhan dengan opsir-opsirnya.
Tiba-tiba Revolusi pecah dengan tiada terduga-duga sebelumnya …
Aku pun masuk tentara. Kenang-kenangan serta pengalaman-pengalaman di zaman Jepang dengan sekaligus padam, terdesak oleh kesibukan-kesibukan baru yang memberikan kebahagiaan bagi pemuda-pemuda miskin, pemuda-pemuda pencinta, kelaparan, kesakitan dan penakut. Revolusi telah membuat tubuh-tubuh muda ini menjadi pusat segala kegiatan. Kini orang hanya ingat pada bala tentara Inggris dan Nica. Orang lebih memberahikan senjata daripada apa pun jua yang mungkin. Orang memberahikan pakaian berwarna hijau serdadu daripada segala pakaian yang mungkin. Orang terseret mentah-mentah pada segala yang berbau kemiliteran. Aku tidaklah berbeda dengan pemuda-pemuda ini.
Pada suatu hari sehabis pulang dengan pasukan dari garis depan, kembalilah aku mendiami kamarku di sebuah rumah Jawatan Kereta api, di Cikampek2, di pangkalan.
Pangkalan ini adalah sebuah kota kecil yang tiap musim dikutuki oleh kekurangan air. Kota ini terjadi karena menjadi stasiun persimpangan daripada lin-lin penting, karena itu hanya pegawai-pegawai Jawatan Kereta apilah yang memperoleh yang baik-baik saja di sini. Juga leiding hanya mengalir ke gedung-gedung dinas Kereta api ini. Dan tidak selamanya penghuni gedung itu rela meminjamkan kamar mandi kepada prajurit-prajurit yang tinggal di beranda mereka. Prajurit-prajurit yang tinggal di beranda? Tentu, karena di sini tak pernah ada tangsi, baik polisi ataupun militer, dan di masa Revolusi kota ini harus menampung tidak kurang dari sepuluh ribu orang prajurit. Di tiap rumah terdapat prajurit mendompleng. Ini belum terhitung para pengungsi dan pencatut beras dari Jakarta. Air menjadi lebih sedikit lagi. Tiap sumur menjadi pusat kegiatan di pagi hari — sejak subuh hingga tengah malam. Bunyi katrol menjerit tiada henti-hentinya.
Pada salah sebuah kesempatan mandi di sore hari, dengan tiada kuduga-duga kulihat seorang wanita langsing menjin-jing ember terbus berisi cucian sedang menunggu gilirannya. Dan wanita itu tiada lain daripada Nana.
“Kau di sini?” segera aku bertanya.
Nampak ia kaget melihat aku. Kemudian aku lihat ia menjadi gugup — ketakutan. Tetapi akhirnya ia mengangguk dan mencoba tersenyum manis. Ia tetap tak menjawab.
“Sudah lama?” kembali aku bertanya — mencoba ramah. Ia mengais-ngais dengan kaki yang telanjang, kemudian meletakkan embernya di tanah, sebentar saja mencuri pandang kepadaku dan berkata hampir-hampir berbisik:
“Baru seminggu,” jawabnya.
Telah setengah bulan ini aku tinggal di Cikampek. Tiap berita yang sekecil-kecilnya pun segera meniup dari mulut ke mulut. Tetapi tentang dia aku tak pernah dengar. Apalagi orang seperti dia tak pernah dikenal oleh tempatku ini. Ini tidak mungkin! Tidak mungkin! pikirku. Namun aku bertanya juga: “Mencari beras?”
“Mengungsi,” jawabnya, tidak lebih keras daripada suaranya yang tadi.
“Mengungsi?”
Rupa-rupanya ia tak senang ditanyai. Jadi kuambil anduk dan pakaian kotor dan tersuruk-suruk kembali ke beranda sebuah gedung Jawatan Kereta api yang jadi tempat tinggalku bersama tujuh orang prajurit lain.
Kembali aku bertemu dengannya waktu ia pulang ke rumahnya dan melewati beranda tempat tinggalku.
“Pulang?” tanyaku.
Ia mengangguk, kemudian menundukkan kepala.
“Tak mampir?”
Ia mengangkat kepala, tersenyum sedikit, kemudian menggeleng.
“Di mana tinggal?” tanyaku lagi.
Dengan bulu matanya yang tebal panjang dan mulut dimonyongkan ia menunjuk arah sebuah rumah di belakang rumah samping tempat tinggalku. Menunduk lagi.
Dekat saja, pikirku. Dan dengan sendirinya saja terlintas dalam otakku untuk berkunjung ke rumahnya. Setidak-tidaknya ia pernah memberi aku bekal makan di masa kelaparan dulu. Ia patut dikunjungi.
Sore itu aku pergi ke markas untuk mengurus sesuatu pekerjaan. Berita yang panas meniup dari kiri-kanan: seorang garong tertangkap waktu sedang mengungsikan hasil garongannya dari Jakarta ke pedalaman. Dia telah dihajar habis-habisan, dikurung di markas polisi militer.
“Apa yang digarongnya?” tanyaku.
“Nona,” jawab seseorang.
Dan aku tak heran. Penggarongan nona-nona manis sudah sering terjadi di Lemah Abang, Cibarusa, Wadas, Teluk Jambe dan sebagainya. Hanya satu hal yang selalu timbul sebagai reaksi atas kejadian semacam itu: muak! Kemuakan masyarakat yang sedang berjuang menghadapi bala tentara musuh yang lebih kuat.
Seperti biasa berita semacam itu menyebabkan orang bertanya:
“Si nona manis, nggak?”
Dan alangkah terkejutku sekali ini waktu mendengar: nona itu tiada lain daripada Nana. Seorang polisi militer yang sedang berada di markas resimen bercerita dengan tangan kiri dan kanan sebentar melambai-lambai bahwa bersama dengan kereta lambat garong itu datang ke Cikampek. Tak ada laporan apa-apa dari Jakarta. Maksudnya bukanlah hendak ke Cikampek, tetapi ke Purwakarta. Tetapi sampai Cikampek si nona turun dan melaporkan pada komandan jaga stasiun, bahwa dirinya telah digarong oleh seorang. Dan seorang itu sedang duduk menantinya di dalam gerbong.
Di saat itu juga si garong ditangkap dan dihajar. Ia tak diberi kesempatan untuk membela diri. Dalam pukulan dan tendangan matanya tetap tenang mengawasi Nana. Orang macam begini mesti dipicis! Orang berteriak-teriak. Yang lain-lain menyerahkan jiwa dan raganya buat perjuangan — dia senang-senang menggarong perempuan!
Polisi militer itu melayang-layangkan tangan dan tinjunya. Ia ikut campur dalam memukul, menetak dan menendangnya. Wajahnya riang dijalari darah patriot yang sedang menerjang golongan anti-revolusi. Bulu-hidungnya menggeletar seakan-akan ikut menyiksa si garong dengan tusukannya.
Waktu komandan resimen lewat ia terhenti bicara, kemudian mendapat perintah untuk memanggil komandannya.
“Nana!” bisikku. “Bekas Jepang! Kini digarong pula dirinya.” Dan sambil berpikir-pikir aku pun pulang ke berandaku. Kucoba hendak menghidupkan api berahiku yang dahulu, tetapi rupa-rupanya ia tak mau berkobar lagi. Orang seperti Nana patut dikasihani. Di masa kelaparan ia telah pilih jadi gundik Jepang, di masa Revolusi ia tak punya hak pilih, bahkan dirampas dirinya.
Waktu hampir sampai ke berandaku, aku tak jadi masuk, tetapi langsung menuju ke rumah Nana. Ia keluar dari kamar. Kuucapkan selamat kepadanya karena telah terlepas dari kekuasaan si garong durhaka.
Aku lihat tak ada kegembiraan tergambar pada wajahnya. Ia nampak kusut dan mencoba menyelesaikan pikiran dan membulatkan keberanian. Ia menunduk dalam. Memandang aku sebentar. Menunduk lagi. Kemudian duduk di kursi di hadapanku. Tetapi semua itu tak kuperhatikan benar.
Waktu datang serombongan polisi militer ke rumahnya, segera aku pun menunta diri.
Ia tak seriang dahulu. Ia telah menjadi layu.
Dan di hari-hari selanjutnya, setelah kuketahui bahwa tiap malam salah seorang prajurit yang berada di bawah komandoku sering datang ke rumahnya dan berniat hendak mengawininya, aku tak pernah lagi datang ke rumahnya …
Beberapa bulan kemudian ia tinggalkan Cikampek tanpa berpamitan kepadaku. Juga prajurit yang berniat hendak mengawininya yang meluap-luap kini padam dengan mendadak. Ia menjadi pendiam. Bahkan pada suatu kali ia minta diberi tugas di sebuah pos yang baru dibuka. Jadi kukirimlah dia ke sana dengan membawa sebuah kerabin, yang telah lama dimilikinya sebelum menjadi prajurit. Ia berangkat seorang diri di pos pemberitaan yang terpencil itu. Sehari-dua datang juga beritanya melalui pos tentara dan telepon. Tetapi pada hari ketiga tak terdengar apa-apa lagi tentangnya. Demikianlah, sehingga lima belas hari lamanya. Waktu kami membuat pengusutan, ternyata prajurit itu meninggalkan posnya dengan membawa kerabin ke pangkalan pembantu untuk mengambil ransum. Tetapi di sebuah warung yang terpencil ia disergap oleh beberapa orang. Kerabinnya dirampas dan ia sendiri dibunuh. Dengan demikian tiadalah akan keluar cerita dari mulutnya tentang Nana.
Lama-kelamaan dapatlah kutangkap sebuah berita, bahwa garong yang menculik Nana bernama Khalil. Tambah lama berita tentangnya yang kukumpulkan bertambah banyak juga. Misalnya, bahwa ia sejak kecil tinggal di Jakarta. Bahwa ia tinggal di sebuah gang di Kemayoran3. Bahwa pekerjaannya berdagang apa saja yang dimungkinkan oleh masa pendudukan Jepang. Bahwa baru sekali ini dalam seluruh hidupnya masuk ke pedalaman. Dan berita itu membuat aku terkenang pada salah seorang tetanggaku segang yang senama dengan dia. Karena tiada dapat menahan hati maka pada suatu kali datanglah aku ke markas polisi militer untuk menjenguk garong yang dibenci oleh seluruh penduduk pangkalan. Waktu aku masuk ke dalam selnya, mula-mula sekali yang nampak olehku adalah tahi lalat pada puncak hidung. Tahi lalat itu adalah kepunyaan tetanggaku Khalil. Wajahnya aku tiada mengenal lagi karena telah tenggelam di dalam bengkak dan bekas-bekas bakaran rokok.
“Khalil!” aku berbisik.
Ia angkat kepalanya dan menentang mataku. Benar, mata itu adalah mata tetanggaku sendiri, sekalipun telah men jadi sepasang garis lidi. Melihat aku, dengan mendadak matanya berapi-api berisi dendam kesumat. Dan dendam kesumat itu juga diarahkannya kepadaku — kawannya sendiri.
Ia tak membuka mulutnya. Mungkin karena bibirnya telah kaku dan lidahnya kelu. Luka bekas cacar pada lehernya dan sebuah tahi lalat kecil pada pipinya, membawa aku pada kenangan masa pendudukan Jepang dengan kesulitan-kesulitan dan kesukaan kecil-kecil yang telah kami alami bersama-sama. Apakah mungkin Khalil seorang garong? Apakah Revolusi telah mengubah pemuda yang sopan-santun, baik dalam laku maupun dalam berpikir ini, menjadi seorang penculik wanita?
Sekaligus kuruntuhkan pandangku, dan ia pun meruntuhkan pandangnya. Terdengar suaranya yang layu:
“Aku kira, tidak ada satu hal pun yang pernah kulakukan, yang melanggar larangan agama. Tapi itu tak apalah. Kau prajurit, dan kau harus berpihak pada kawan-kawanmu. Sekalipun kau kenal aku, sekalipun kau hendak menolong aku, kau lebih baik menolong jiwamu sendiri. Lagi pula kau memang tak bisa menolong aku sedikit jua pun. Kau akan tewas bila berusaha menolong aku.”
Dengan isyarat tangannya ia minta diberi minum.
Dan aku ambilkan ia segelas teh pahit.
“Besok aku ditembak mati,” katanya. “Tapi itu tak mengapa. Untung kau datang. Aku tetap berada dalam keimanan kepada Tuhan dan agama. Matiku ini akan lebih baik bila saja dia dapat berbahagia karena itu.”
“Dia?” tanyaku dalam hati. “Nana?” Tapi aku hanya mendengarkan suaranya yang layu, sayup-sayup, seperti dari kejauhan diucapkannya, dan: mengandung dendam kesumat.
“Aku besok ditembak mati,” ulangnya.”“Tetapi aku tidak akan mati! Aku akan tetap hidup di dalam hati mereka yang telah memfitnah aku.”
“Kau kena fitnah?” tanyaku.
“Ah, biarlah soal ini takkan pernah diketahui orang. Hanya saja, kalau Revolusi ini kelak selesai, dan kau sempat datang di kampung kita di Jakarta, sampaikanlah kabar diriku kepada orang tuaku. Aku merasa beruntung ada seorang yang kukenal datang mengunjungi aku, walaupun tidak dapat dan tidak bermaksud dan tidak mampu menolong aku.”
Ia tak teruskan ucapannya. Dengan isyarat disuruhnya aku pergi. Ia hendak tinggal seorang diri, mempersiapkan diri untuk mati pada besok hari.
Aku pun pergi keluar dari selnya, tersuruk-suruk gontai. Kepalaku penuh dengan ribuan hal yang panas, pedih dan ruwet. Berbagai mata mengawasi aku dengan curiganya. Tetapi aku tidak peduli. Aku ceritakan kepada komandan polisi militer tentang diri si Khalil, bahwa aku kenal padanya. Bahwa dia seorang yang terkenal taat pada agama dan tidak mungkin melakukan penggarongan. Tetapi dia hanya menjawab:
“Yang mengadukan lebih tahu daripada kau!”
“Aku pun kenal siapa yang mengadukan itu,” kataku.
Tetapi percakapan itu tak dapat berlangsung lebih lama. Dan percakapan itu tak kuasa memberinya alasan untuk mengubah keputusannya. (Waktu itu belum ada pengadilan tentara!)
Pada suatu pagi yang cerah, waktu aku dengan pasukanku berada di atas sebuah geladak truk untuk berangkat ke garis depan, nampak olehku iring-iringan tawanan digiring di tempat di mana mereka akan menjalani hukuman mati. Mula-mula adalah tawanan yang bersifat pengkhianatan militer: seorang leveransir bahan makanan mentah kepada Nica dengan dua orang pembantunya, dan di belakang ketiganya nampak sebuah iring-iringan kecil pula. Tubuhnya tinggi dan rambutnya gondrong tiada terurus. Kedua belah tangannya terikat ke belakang. Ujung tali yang satu naik melalui punggung ke atas dan mati pada tengkuk setelah melingkari leher. Jadi pabila tangan di belakang tak diangkat ke atas, maka jalan nafasnya akan tersekat, seperti orang yang menggantung diri. Ujung tali yang lain menjulur ke belakang dan mati dengan seorang prajurit yang menyandang sepucuk kerabin. Di belakang prajurit itu mengiring pula tiga empat orang prajurit.
“Itu dia!” seru seorang di antara kami. “Khalil!”
Seseorang tertawa di sampingku. “Sekarang hari sekaratnya.”
Aku pandangi Khalil. Mula-mula yang kukenali adalah tahi lalat di puncak hidungnya. Hampir-hampir aku berteriak kesakitan melihat tamasya itu. Wajahnya tak kukenali sama sekali, karena wajah yang kemarin membengkak begitu hebatnya, kini bengkakan itu telah menjadi dua kali lipat, sehingga kepalanya merupakan sebuah buyung kecil terbalik. Matanya yang kemarin merupakan sepasang lidi pendek, kini hilang ditelan bengkakan yang kebiru-biruan mengandung air, sedang di sana-sini tercoreng bekas-bekas bakaran api rokok. Bekas-bekas luka cacar pada lehernya lenyap, dan tahi lalat kecil di pipinya pun telah hilang terbakar. Namun ia berjalan tegap seakan memberi kesan pada manusia Revolusi di sekelilingnya: “Inilah aku, yang sanggup menderitakan apa pun jua yang kalian perbuat atas diriku.”
“Tidak mungkin! Tidak mungkin!” teriak hatiku. “Ia seorang berani, karena ia punya kebenaran yang terus dikukuhinya hingga matinya nanti.”
Seorang di antara kami melompat dari geladak, berlari-larian mendapatkan Khalil, dan orang yang tiada berdaya itu dipukulnya pada dadanya. Berteriak:
“Rasai ni! Garong!”
Khalil terbungkuk dalam, terhuyung-huyung ke belakang. Prajurit di belakangnya menadahinya dengan dengkul, sehingga Khalil meliuk ke samping dan roboh di atas tanah basah. Orang-orang tertawa girang, tetapi banyak juga yang menutup matanya, bahkan juga menutup dengan tangan!
“Itu tidak layak!” seorang berseru-seru.
Tetapi prajurit itu hanya tersenyum malu.
Kemudian iring-iringan tawanan berjalan terus, membelok ke sebuah gang becek. Semua orang tahu ke mana tujuannya: sebuah rimbunan bambu di pinggir telaga. Di sana Khalil akan menemui ajalnya. Dia harus mau mati dengan tiga peluru, setelah sekian banyak siksaan yang dideritakannya.
Waktu truk kami lari di atas jalanan yang telah gundul kehilangan aspal, dan nyanyian bersama telah mati di tenggorokan masing-masing, tiba-tiba kami semua menjadi terdiam. Debu mengepul-ngepul ke atas dan kemudian menghujani geladak kamu sementara truk terus lari ke garis depan. Sawah yang menghijau berkejar-kejaran dengan ladang-ladang dan gubuk buruk serta rumah-rumah bambu yang baru didirikan. Ingatanku terus mengembara ke masa-masa lalu, ke dunia di mana salah seorang pendukungnya adalah kawanku segang yang bernama Khalil. Tiba-tiba terdengar-dengar olehku suara ia mengaji di malam hari, waktu malam begitu dalamnya, dan tidur manusia begitu asyiknya. Suaranya mengimbak-imbak menembusi embun dan halimun pagi, mengembara mencari Tuhan.
Dan barangkali semua di antara kami pun sedang mengenang-ngenangkan Khalil dengan nasibnya.
Prajurit yang habis memukulnya menyembunyikan tangan yang dipergunakannya memukul tadi ke dalam kantong celananya. Beberapa pasang mata memandangnya. Dan ia menekur ke lantai.
Tiba-tiba seorang berteriak:
“Tiap pengacau harus dibasmi! Tiap pengkhianat harus dibuat menungging! Tapi, apakah benar si Khalil bersalah?”
Tak ada yang menjawab. Dan truk melaju terus, menerobosi kepulan debu dan jarak yang terasa tiada habis-habisnya. Barangkali tiap orang mencoba hendak menjawab pertanyaan itu. Aku sendiri tiada memperoleh jawaban yang kuharapkan.
Waktu truk berhenti kami menuju ke tugas masing-masing.
Beberapa hari kemudian garis depan kami yang baru saja diajukan dengan jarak 4 km dipukul oleh musuh. Kami mengalami kekalahan. Barisan depan lari kocar-kacir menuju ke garis kedua. Di sanalah kami berkumpul. Malam itu datang bala bantuan. Juga sebuah kesatuan polisi militer datang untuk membersihkan daerah dari kacauan mata-mata musuh. Beberapa orang wanita dan lelaki tewas ditebang lehernya karena didakwa menjadi mata-mata ini, namun tanpa melalui suatu penyiksaan yang lama.
Pada suatu malam seseorang yang baru didatangkan dari pangkalan tidur di sampingku. Aku belum kenal betul kepadanya. Ia seorang pendiam dan lebih banyak merenung-renung, sehingga tak dapat aku menahan hatiku untuk menanyakan kepadanya apa sesungguhnya yang selalu direnungkannya.
Ia tersenyum pahit. Kemudian menjawab:
“Aku algojo, pak.”
Dan bulu romaku mendadak berdiri kaku seperti parutan. Di sampingku tidur seorang algojo. Tetapi kuberanikan hatiku dan bertanya terus:
“Senang jadi algojo?”
Sekali lagi ia tersenyum pahit.
“Senang? Ya. Darah yang memancur itu … Ia tak teruskan ucapannya.
“Jadi apa yang selalu kau renung-renungkan?”
“Hari-hari dan saat-saat terakhir orang-orang celaka itu. Aku banyak merenungkan maut. Mengapa dalam menghadapi mautnya banyak orang jadi pengecut! Banyak orang jadi banci? Padahal sebelumnya dia terkenal garang dan galak. Ada pula yang memfitnah kawan-kawannya sendiri agar dapat diseretnya ke lembah maut. Ada pula yang…”
“Bagaimana leveransir Nica dulu menghadapi mautnya? Kau kan yang mengerjakan?”
Ia bergerak memunggungi aku. Pelahan-lahan tanpa semangat ia bercerita:
“Ya.Aku tahu dia orang sombong waktu masih bebas. Dengan sarung pelekat tersampir di bahu ia masuk ke kampung keluar kampung mencari bahan mentah. Kalau orang lain berani menawar seringgit, ia menawar hampir dua kali lipat. Begitu bayanganku. Akhirnya semua bahan mentah jatuh ke tangannya. Dari mana dapat uang sebanyak itu! Dari mana? Mengapa ia lebih suka bergaul dengan Nica dan meremehkan kita? Itulah kesombongannya. Dan waktu matanya diikat dengan setangan, ia menjatuhkan diri. “Ampun pak, ampun pak. Beri aku hidup. Aku hanya berdagang buat memberi makan anak biniku. Lain tidak. Dan waktu aba-aba untuk menembaknya mulai diberikan, ia menjatuhkan diri berguling-guling di tanah seperti anak kecil minta permen dari emaknya yang amat miskin. Aku ini emaknya, seorang emak yang miskin akan ampun.”
Ia mendeham dalam.
“Aku lihat darah memancar dari nadi yang terputus kena peluru. Begitu indah menyembur! Begitu keras melesit. Tidak lama. Kemudian pelesitan darah itu menurun, kemudian hanya keluar berangsur-angsur. Itulah keindahannya.”
“Tidak dengan samurai?”
“Bagi orang seperti aku ini, samurai lebih banyak memberi kesenangan dan keindahan tetapi kenangan pada kata-katanya terakhir juga lebih menyeramkan. Dan hampir selamanya terbawa dalam mimpi. Begitulah hari dan kata terakhir leveransir Nica. Kedua pembantunya hanya berdiam diri, dan menerima ajalnya dengan diam-diam. Lain halnya dengan Khalil celaka itu!”
Dengan mendadak ia mengubah letak tidurnya. Kini menghadapi aku. Kemudian bangkit dan duduk. Tangannya terkepal menjadi tinju dan diamang-amangkannya entah kepada siapa.
“Khalil terkutuk! “Tembaklah aku, katanya. “Aku tidak akan mati. Aku akan tetap hidup di dalam hati kalian. Bajingan itu! Setelah disiksa begitu lamanya masih punya keberanian buka mulut semacam itu. Dan kata-kata itu memburu-buru aku terus hingga kini. Semua orang menembak kepalanya sehingga menjadi buyar. Waktu ia kami perintahkan untuk menggali kuburannya sendiri, ia lakukan ini dengan cermat. Ia lakukan sambil membaca talkin — itu bajingan!”
“Malam itu kepalaku membayangkan hari dan kata-kata terakhir Khalil. Hingga dalam mimpi masih terdengar-dengar suaranya: Aku akan tetap hidup di dalam hati kalian. Aku hidup di dalam kalian!”
Beberapa tahun kemudian nama Nana tak pernah terlintas di dalam ingatanku. Juga Khalil tidak. Bahkan kenangan pada garong yang saleh itu telah aku bunuh di dalam jiwaku dengan makin banyaknya orang yang berlaku kurang ajar mengkhianati perjuangan. Tiada pernah aku sangka-sangkakan bahwa pada suatu kali Nana dan Khalil mengganggu pula ingatanku. Sedang Khalil yang telah lama lenyap ditelan bumi itu hidup dengan segarnya di dalam pikiranku, sehingga mau tak mau terkenang-kenanglah olehku akan kata-katanya:
“Aku tidak akan mati! Aku akan tetap hidup di dalam hati kalian.”
Ceritanya adalah demikian:
Pada salah suatu hari dari masa aku ditawan, komandan penjara memperbolehkan para tawanan menerima tamu di dalam penjara. Sejak waktu itu di tiap hari Minggu berbondong-bondong wanita, tua dan muda, mengunjungi penjara kami (lelaki tidak diperkenankan).Ya, pada salah suatu hari yang tiada kusangka-sangkakan itu Nana datang bersama seorang temannya. Ia mengenakan gaun sutera taft kuning dengan leher longgar, serta tepi bawah yang menjangkau bawah lutut. Pipinya diberinya rouge agak tebal dan bibirnya digincu merah muda. Alisnya dicukur dan diganti dengan sipat. Kulit mukanya nampak amat lunak dan membeledu. Ia nampak cantik, lebih daripada dahulu. Tubuhnya kehilangan kemontokannya dan menjadi langsing, sedang gerak-geriknya kaku dan tergopoh-gopoh. Juga ia datang untuk menghibur para tawanan.
Aku ikuti ia dengan mataku. Rupa-rupanya tiadalah ia mempunyai kawan seorang pun di dalam penjara itu. Waktu dilihatnya tak ada seorang pun di antara para tawanan yang menegurnya, ia serahkan bungkusan yang dibawanya kepada salah seorang temanku. Aku lihat kawanku, yang tak bersanak di Jakarta itu, mengucapkan terima kasih. Dan sejak waktu itulah ia mempunyai kenalan.
Karena ia masih juga nampak gelisah, maka ia pun kudekati. Kulihat ia terlompat karena kagetnya melihat aku. Wajahnya yang pucat menjadi lebih pucat lagi. Tanganku kuulurkan kepadanya. Ia terima uluran tanganku dengan tangan yang menggetar.
“Kau sakit, Nana?”
Ia menggeleng.
Berkali-kali kucoba agar ia membuka mulutnya. Tetapi mulut, yang kini nampak lebih lebar daripada dahulu itu, tetap membisu.
Beberapa jam pun lewatlah, dan masa berkunjung habis. Aku lihat ia berjalan gontai menuju ke pintu pagar besi. Temanku mengantarkannya.
Pada hari Minggu sesudah itu ia datang lagi. Ia datang tiap hari Minggu, hari berkunjung.
Kemudian datanglah masa kemerdekaan. Kami sepenjara berpencaran di berbagai tempat. Hanya kadang-kadang bertemu secara kebetulan. Namun terbetiklah berita olehku: Nana telah kawin dengan temanku sepenjara dahulu. Sejak itu aku mulai banyak mendengar tentangnya. Ia tak tinggal segang lagi di kampungku, di Kemayoran. Setelah meninggalkan Cikampek, ia pindah ke kampung lain.
Pertama-tama yang kudengar ialah: mereka hidup berbahagia dan sedang merampas cita-citanya untuk dibuat menjadi kenyataan. Berita kedua: Mereka sering cekcok, dan suaminya selalu menghilang sehabis cekcok itu. Berita ketiga: Nana telah melahirkan seorang anak lelaki. Berita keempat:Nana sering berteriak-teriak seperti orang gila. Dan bila ia berhal demikian, segala pekerjaan harus dilakukan oleh suaminya. Berita kelima: Suaminya dipecat dari jabatan karena terlampau sering tak masuk kerja. Kemudian ia bekerja pada kantor dagang. Berita keenam: suami istri itu telah dapat membeli sebuah rumah sederhana di sebuah kampung yang tak jauh dari kampungku. Berita ketujuh: Kini Nana sering kehilangan ingatan dan memencak-mencak seperti orang gila. Setelah agak lama berlaku demikian, ia pun roboh tak sadarkan diri. Bila ia mulai siuman, bisikan terdengar lemah dari mulutnya: “Khalil, ampunilah aku. Ya, Khalil.” Bila tak segera dibelokkan perhatiannya kepada hal-hal biasa, segera ia meraung-raung kembali seperti singa betina yang sedang marah kehilangan anak. Ia menangis tersedan-sedan seperti nenek-nenek tertinggal seorang diri dari atas dunia ini.
Berita-berita itu berlaku dalam masa tiga tahun.
Dan aku tetap tidak mengerti persoalannya. Dan aku tidak ada keinginan untuk mengetahui dan mengerti.
Tetapi pada suatu hari sewaktu aku berkunjung ke rumah orang tua Khalil, bertemu aku dengan ayahnya. Ia masih tetap berkupiah haji yang putih dan berselendang kuning. Ia nampak tak lebih muda daripada dahulu. Tubuhnya lebih gemuk. Perkakas rumah tangga jauh lebih banyak daripada dahulu, bahkan di pojok ruang tengah berdiri sebuah radio salon dari model yang terakhir.
Setelah duduk di kursi, tiba-tiba aku teringat pada pesan Khalil untuk bertanya pada orang tuanya. Maka dengan melalui berbagai macam alasan aku pun bertanyalah kepadanya.
Dengan suara tenang orang tua itu bercerita:
Segera setelah proklamasi diumumkan, Khalil, yang telah lama mencintai Nana, melamar Nana. Lamaran diterima. Orang tua itu sendiri tiada yakin akan keberesan rumah tangga keduanya di kemudian hari. Mengapa? Karena Khalil adalah seorang pemuda yang bersungguh-sungguh. Nana sebaliknya, ia seorang yang menganggap enteng segala-galanya. Bahkan juga telah menganggap enteng harga dirinya sendiri. Orang tua itu tak setuju anaknya menerima seorang wanita bekas Jepang — bermacam-macam Jepang pula. Tetapi Khalil dapat memaafkan seluruh kekurangan dan noda-noda wanita yang dicintainya. Maka kawinlah keduanya.
“Tetapi, nak,” kata orang tua itu, “beberapa minggu kemudian — hanya beberapa minggu — sudah terdengar tuduhan-tuduhan yang memalukan atas diri anakku. Anakku Khalil yang suci itu. Apa katanya, nak? Katanya, dia mengawini Nana hanya hendak mengincar harta benda Nana. Masyaallah, harta benda haram dari Jepang-Jepang sontoloyo itu. Son-to-lo-yo! Paling pol barang-barangnya semua hanya berharga dua puluh ribu harga sekarang, nak. Anakku dituduh mengincar barang-barang yang cuma seharga sebegitu! Coba pikir. Memalukan.”
Ia meludah di lantai.
Ia meludah di lantai dengan tekanan urat-urat leher.
“Memalukan!” dengusnya jijik. “Perempuan durhaka. Waktu anaknya lahir, nak, anaknya yang pertama, anak itu diserahkan kepada kami. Dan matanya sipit pula! Lima bulan kawin, lahirlah si anak sipit. Ya Rasul, ampuni aku ini. Tidak, nak, anak itu tidak kusia-siakan. Dia kuterima dengan syukur. Setidak-tidaknya terbaui juga dia oleh darah Khalil. Khalil sendiri belum pernah lihat anak sipit itu. Dia tak pernah kembali.”
“Di mana Khalil sebenarnya, Pak?” tanyaku.
“Sampai di manakah pengetahuanku, nak? Waktu Inggris mulai mengamuk, perempuan durhaka itu mengajak Khalil mengungsi ke pedalaman. Sesudah itu tak pernah kembali lagi dia. Nana kembali seorang diri. Setelah menyerahkan si sipit, dia tak pernah muncul kemari lagi. Aku sendiri pun tak ingin melihatnya. Dan Khalil itu, aku sendiri tak tahu masih hidup atau mati, atau hanya segan pulang karena hendak melupakan Nana durhaka. Dia sungguh-sungguh cinta kepadanya. Hanya itu kesalahannya, bila dia pernah bersalah.”
“Kasihan!” kataku dalam hati. “Dia belum lagi tahu anaknya direjang dan dibunuh karena fitnahan wanita yang dicintainya: Nana.”
Sekaligus aku merasa berdosa kepada Khalil, karena aku pun pernah mendakwanya sebagai garong yang sesungguhnya. Pernah pula aku tulis sebuah cerita busuk tentangnya. Untuk menyatakan kekhilafan dan kesalahanku itulah kutulis cerita ini, sekalipun ia telah lama mati dan tak dapat memaafkan kekhilafan dan kesalahanku.
Dengan hati berat penuh pikiran aku tinggalkan rumah orang tua Khalil tanpa mengabarkan kejadian ngeri yang telah menimpa diri anaknya.
Dan Nana sendiri?
Dengan suaminya ia memperoleh beberapa orang anak lagi. Tiap seminggu paling sedikit dua kali ia kehilangan ingatannya. Tetapi bukankah sejak kecil ia telah persiapkan dirinya untuk menyalurkan nafsu berahinya ke arah kini? Tanpa kemudian.
Khalil benar-benar hidup terus di dalam hatiku kini.
Jakarta, ii-1956
Cerita pendek
Makhluk di Belakang Rumah
Dari Cerita dari Jakarta (1957). Teks dari cetak ulang Hasta Mitra, 2002.
Dari ram kawat beranda rumahku terlihat sebuah sumur. Tidak lebih dari lima meter jaraknya daripada ram kawat berandaku. Heran sumur berada di depan rumah, dan hanya berantara lima meter. Sebenarnya bukannya dia berada di depan rumahku karena disengaja demikian. Soalnya ialah karena rumahku terletak di bokong deretan rumah petak. (Rumahku juga petak!). Dari balik ram kawat inilah aku saksikan adanya kehidupan aneh — kehidupan makhluk di belakang rumah.
Dan makhluk ini adalah para babu.
Kalau babu keluarga Tionghoa lama-kelamaan berwajah bersih dan mengarah-arah pada air muka Tionghoa, kalau babu keluarga Eropa tumbuh menjadi hati-hati dan sopan, lain pula halnya dengan babu para priyayi1 Jakarta. Beberapa bulan setelah mereka diimport dari daerah memang ia menjadi bersih, nan1pak seperti orang kota benar-benar, dan beberapa waktu setelah itu kembali menjadi dekil! Bukan karena para babu ini pasti jorok, tetapi karena juragan biasanya tak memanjakannya lagi dan segala pekerjaan yang mungkin robohlah di atas kepalanya: memasak (ini pasti), mencuci (dari celana kolor tuan sampai pada popok dan kemeja), membereskan rumah, mencuci piring, memandikan dan menceboki juragan-juragan kecil yang tak boleh dikasari — dan sebelum disadarinya, bahwa ia belum lagi mandi sore, hari telah malam.
Satu hari lagi kesempatan untuk menjadi dekil.
Dan bila ada kesempatan terluang untuk mencuci celana dalam sendiri, sebentar kemudian berjela-jelalah pada kawat jemuran presis di depan rumahku: celana-celana dekil dengan tanjungnya yang kekuning-kuningan. Kadang nampak demikian membusuk, dan rasa-rasanya suburlah bila ditumbuhi kacang tanah barang empat biji, atau jagung ataupun kedelai. Bukan saja karena amoniaknya, tetapi juga karena kain itu sendiri seakan sudah menjadi humus!
Kalau kau membaca tulisan ini, barangkali kau menyangka aku sedang melancarkan suatu penghinaan. Bukan demikian maksudku. Ini adalah suatu fakta yang bertebaran dengan nyatanya di depan rumahku, di lingkunganku, dan barangkali juga di lingkunganmu sendiri, sekalipun tak boleh dianggap sebagai kebenaran yang berdiri sendiri.
Cobalah kau lihat si Dua itu! Kau sendiri belum kenal dia. Mungkin kau juga akan merasa jijik berkenalan. Tetapi dia telah menjadi sebagian daripada duniaku. Namanya yang sebenarnya orang tak tahu benar sekarang. Sebabnya gampang diketahui. Ia tak dapat menghitung lebih dari tujuh. Yang benar-benar dikenalnya adalah bilangan dua. Nah, itulah sebabnya namanya berubah menjadi si Dua. Kini ia berumur tiga belas tahun. Sejak berumur enam tahun ia telah memulai hidupnya di belakang rumah di depan rumahku. Selama setahun aku tinggal di rumah ini, kulihat selamanya ia kenakan gaun yang satu-satunya — bekas kain Pekalongan sang juragan. Rahmat kerja paling sedikit dua belas jam sehari adalah ini: hingga kini bilangan tiga belas merupakan suatu teka-teki yang tak terpecahkan baginya. Tiga belas diambil lima merupakan suatu neraka yang lengkap dengan penyiksa dan apinya yang abadi.
Sebelum aku pindah dari rumahku ini, aku masih sempat menyaksikan betapa dalam tiga malam berturut-turut ja menangis di sumur. Pelahan, ditahan, dengan suara kanak-kanaknya yang masih murni. Kukira tadinya ia habis disemprot oleh sang juragan, tetapi ternyata ia rindu pada orang tuanya. Jalan satu-satunya hanya menangis, karena ia tahu ia tak dapat pergi meninggalkan kewajibannya. Ia buruh percuma. Ia tak bergaji. Ia hanya dapat makan sekali sehari. Dan malam dapat juga kalau ada sisa-sisa tertinggal dari juragan. Itu si Dua.
Aku tak pernah mengatakan, bahwa semua babu priyayi demikian nasibnya. Setidak-tidaknya di petak yang sana lagi, babunya yang masih kanak-kanak di sekolahkan tiap sore. Ia pun tak mendapat gaji selain uang jalan setalen sehari. Tetapi babu kecil ini lama-kelamaan menjadi perawan yang montok, terlampau suka membaca, yang tanpa disadarinya sendiri lambat-laun dianggap oleh nyonya sebagai calon saingannya sendiri. Dan sebelum perawan montok ini menamatkan sekolah rakyat ia telah terusir pergi.
Tentu saja tiap orang mempunyai alasan sendiri-sendiri untuk melindungi keutuhan lingkungannya — lingkungan hidupnya, maksudku — sekalipun lingkungan ini belum tentu menyenangkan, belum tentu bermanfaat benar baginya. Karena itu aku pun tak ada mempunyai hak untuk menggugat. Tetapi pada dasarnya aku adalah seorang penggugat. Karena itu keadaan semacam itu aku gugat pula. Tapi barangkali alasan juragan itu memang benar: tinggi rendahnya sekolah takkan menjadi jaminan sosial apa-apa di kemudian hari.
Barangkali patut pula kuceritakan, bahwa rumahku tergolong pada petak yang terdiri atas dua puluh tiga pintu — dua puluh tiga keluarga! Dapat dikatakan semua petak mempunyai babunya masing-masing. Dan para priyayi dari udik ini tak jarang datang ke kota ini setelah lebih dahulu menjadi babu atau jongos Di daerah petak ini! Untuk mengabdi! Sejalan dengan ajaran para priyayi tua zaman baheula. Berendah—rendah akan luhur akhirnya. Juga priyayi udik yang datang ke Jakarta ini dahulu mengabdi. Pengabdiannya memang membawanya ke harkat yang lebih tinggi: jadi priyayi di kota. Tetapi kadang-kadang mereka lupa pada pengabdiannya dulu. Karena itu sering terdengar teriakan histeris di daerahku ini:
“Sekali lagi, gua setrika perut luh!”
Dan ini adalah teriakan yang disebabkan si babu membawa selisih sepicis dari pasar, pakaian kurang cepat diseterika, padahal tuan akan segera pergi, sepeda tuan masih juga berlumpur-lumpur (petak kami adalah petak liar yang jalan-jalannya tak beraspal). Hanya kadang-kadang saja, bila becek, ditaburi dengan tahi gergaji juragan kecil belum diceboki, dan kesalahan-kesalahan kecil lainnya. Sebenarnya saja tertawa juga aku dalam hati mendengar teriakan-teriakan histeris itu. Tetapi waktu kuketahui, jeritan itu disuarakan demikian keras dan dengan air muka bersungguh-sungguh, yakinlah aku bahwa seorang babu priyayi telah diacu dalam moral yang khas: moral babu priyayi. Barangkali tak ada yang mengerti apa itu moral babu priyayi. Dan aku rasa,aku sendiri pun tidak. Hanya gambaran moral itu membayang tak tegas, seperti rembang tubuh ayam di senja hari waktu mendung mengangkangi bumi.
Teriakan semacam itu menyebabkan si babu hampir selamanya terdesak ke pojok dapur. Dan selalu sama saja jawabannya:
“Beli es, nya!”
“Beli es! Kalo pake duit nenek moyang lu sendiri sih…”
Kemudian babu di sana lagi — babu majikan yang baru mengawini perawan dari kampung halaman sendiri. Dan perawan inilah yang membawa babu itu. Nyonya pengantin tiap pagi duduk di bawah pohon ceri sehingga suaminya pulang dari kantor, dan dengan uletnya memberi kesan pada semua orang yang lewat di depannya, bahwa ia tak biasa kerja di kampungnya: priyayi tulen. Tak biasa kerja! Dalam masa kerja dipinta dari dan oleh tiap orang! Moral priyayi lagi! Tentu saja bukan maksudku membuat penyamarataan. Tetapi aku sungguh-sungguh kenal kehidupan golongan priyayi sebelum perang. Dan para priyayi Jakarta waktu ini hendak meneruskan moralnya yang ketinggalan zaman. Dengan lebih banyak warna dan irama tentu, sesuai dengan kemodernan.
Dan priyayi manakah yang belum ketinggalan zaman?
Para petani yang cerdik telah dapat menguasai hasil panen dan memperbesar kekayaannya. Kaum pedagang telah memperkokoh kedudukannya dan menjadi raja di tiap kota. Kaum buruh telah mengkonsolidasi diri. Hanya kaum priyayi jua ketinggalan. Dengan ideal-bermalasnya yang tak lapuk ditimpa hujan dan panas itu! Kemudian semua orang tahu apa akibatnya: para babu dan jongos yang ketiban pulung.
Sebenarnya terlampau jauh kicauanku tentang hal-hal yang tidak berhubungan langsung dengan makhluk-makhluk di belakang rumah ini.
Di dalam golongan kami, golongan penduduk petak, ada juga suatu type keadaan yang amat menggiurkan untuk tidak diceritakan. Bukannya aku hendak membuka rahasia orang! Antara manusia, bahkan juga antara aku dengan kau, dan keliling kita ini, sebenarnya tidak ada rahasia apa-apa. Jadi begini, di dalam golongan kami, golongan penduduk petak, ada seorang babu pula. Bawaan dari udik tentu. Anggota keluarga juragan ini banyak. Dan menurut nasihat sang dukun, supaya selamat dunia akhirat, murah rezeki turun-temurun, harus dilakukan berbagai syarat. Syarat ini selain yang secara tak berterus-terang menguntungkan sang dukun sendiri, juga: bila juragan masak, tak boleh lebih dari dua liter. Dan karena anggota keluarga itu begitu banyak, babu itu juga yang harus masak tiga kali sehari. Aku tahu, babu itu benar-benar tak mengerti persoalan juragannya. Barangkali karena ini hanya kesimpulan yang kutarik sendiri sewaktu kulihat juragan dengan sembunyi-sembunyi menanam tumbal di depan rumahnya, dan menyembunyikan sebuah lagi di atas langkan pintu depan, di atas langkan pintu belakang — pintu dapur.
Kemudian, bila pada suatu malam tetanggaku terserang penyakit perut dan harus melarikan diri ke kakus umum, akan nampak sumur olehnya, sumur kami, masih terang-benderang diterangi sebuah lampu dinding, babu ini dengan menunduk dalam mencuci pakaian yang serasa tiada selesai-selesainya. Sampai jam sebelas, dua belas, satu, dua, kadang-kadang pun tiga. Setelah jam tiga, dunia daerah kami barulah sunyi senyap. Nanti jam lima pagi, jadi dua jam kemudian, mulailah makhluk-makhluk belakang rumah ini muncul kembali di sumur: mandi, mencuci, sehingga jam sembilan.
Kak APAKAH ARTINYA Revolusi, yang telah banyak meminta kurban beribu-—ribu anggota keluarga babu ini, bagi kepentingan hidup mereka sendiri? Sekali-sekali terlintas masalah ini dalam kepalaku. Dan aku tak bisa menjawab. Bukan karena aku memang bukan seorang ahli negara atau politikus, tetapi yang terutama sekali karena persoalan itu amat peliknya dan bagi seorang ahli negara malah persoalan yang terlampau remehnya. Seorang kawan pernah mengemukakan saran: mari kita masuk agama Buddha. Dengan demikian kita punya kesempatan untuk hidup tiga empat kali. Dan dalam hidup tiga empat kali ini kita pasti dapat menyaksikan apa faedahnya puluhan orang telah diangkat menjadi menteri pendidikan, pengajaran dan kebudayaan.
Tentu saja saran itu suatu kelakar yang amat sinis dan sia-sia, tetapi kalau melihat gelagat semacam ini memang ada benarnya juga.
Sekali lagi aku tersasar di lapangan agama dan kementerian, padahal maksudku hendak bercerita tentang makhluk di belakang di belakang rumah. Baiklah aku teruskan.
Babu yang kuceritakan. tadi lama-kelamaan kehilangan nafsu makan. Bila sedang lapar, nasi belum lagi masak, nasi sudah habis atau pekerjaan masih menumpuk, atau salah seorang juragannya mendorong-dorong agar lebih cepat bekerja. Jadi nafsu makan kaburlah ke langit hijau. Demikian seterusnya. Dan bila pada malam hari ada kesempatan terluang untuk makan, tubuh sudah terlampau letih sehingga usus-usus serta waduk besar dan waduk kecil kehilangan daya kontraksi yang semestinya. Jadi ia tidur sebelum makan. Jadi ia bekerja lagi sebelum makan. Lama-kelamaan, walaupun ia belum lagi mati, suatu keretakan telah terjadi antara badan dan jiwanya. Sungguh aneh kedengaran. Walau demikian ada jua benarnya, walau cuma sedikit. Begini: jiwanya mengembara ke mana-mana sewaktu tubuhnya mencuci, berjalan, atau makan, atau tidur. Dapat dipastikan tiap minggu sekali ia kena bencana: terpeleset di sumur, paku terbenam dalam kakinya, terseterika lengan, terbalik menumbuk bangku, bahkan sekali waktu sedang duduk beristirahat di sebuah kursi rotan yang telah peot, ia kejatuhan sepeda, kursi menjatuhi deretan piring, dan setelah itu ia kejatuhan pulung di atas kepalanya dari juragan.
Mau tak mau bencana ini mengingatkan aku pada pelajaran guruku waktu masih duduk di sekolah rakyat: tubuh dan jiwa harus dipersatukan! Pikiran harus berarah. Kalau tidak, roh pikiran yang tak berarah ini akan mengembara, kemudian bersarang di tempat-tempat tertentu. Dan roh ini menarik tubuhmu, terjadilah perbenturan. Itulah bencana.
Tentu saja itu suatu teori lain lagi tentang bencana.
Lama-kelamaan tubuh babu ini menjadi gemuk benar. Aku mengira beri-beri, tetapi karena aku tak pernah dididik untuk menjadi tabib,tak patutlah aku lancarkan pengiraan semacam itu.
Pada suatu hari ia terjatuh tanpa sebab, yakni sehabis mencuci empat jam di sumur. Kemudian ia mendelik. Mendelik saja. Ini terjadi pada waktu menjelang magrib. Baru di malam hari ia merintih. Dan pada keesokan harinya ia pun dipulangkan ke udik. Setidak-tidaknya pemandangan yang menyesakkan itu berkuranglah dengan sebuah.
Bukan maksudku menekankan, bahwa kehidupan babu selamanya menyesakkan hati. Beberapa di antara mereka sungguh-sungguh telah bersenang hati dengan nasibnya. Dengan tertawa dan senyum yang selalu menghias bibir, dengan kesungguhan hati membela majikan dari tiap omongan orang. Untuk pembelaannya ini ia tak menerima upah tambahan tentu. Kenaikan upah juga tidak. Salah seorang di antara mereka telah menghamba delapan tahun lamanya. Kenaikan upah hanya sekali terjadi: tiga ringgit. Sementara itu masa yang delapan tahun itu meluncur tanpa berkesan: ia telah menjadi perawan tua. Tambah lama tambah tua. Tanpa mendapat kasih dan sayang seorang perjaka idaman. Impian bukan saja tidak menjadi kenyataan, bahkan ia meredup hilang.
Ngomong-ngomong tentang impian yang mungkin ini, mengingatkan aku pada babu di daerah kami, yang kini telah pindah kerja di pabrik. Ia seorang perawan dari udik. Kulitnya bersih, dengan warna yang banyak menerbitkan iri hati para juragan. Ia mempunyai gaun sutera indah yang amat cocok dengan warna kulitnya. Di tiap waktu yang dianggapnya penting, kembali gaun itu dikenakannya. Dari gerak-geriknya nyata-nyata ia mempunyai impian yang mungkin itu. Tiap dikenakan gaunnya yang indah itu dijinjingnya majalah-majalah film atau hiburan lainnya. Aku tak tahu apakah majalah itu dibeli atau dipinjamnya. Yang nyata, dari jauh ia memberi kesan seorang terpelajar. Tetapi bila ia sudah dekat pada kita, dan nampak oleh kita pelompong mulutnya, hilang lenyap kesan terpelajarnya dan beringsut-ingsut kembali pada kesan babunya. Tentu saja ini bukan penghinaan. Ini hanyalah pertemuan antara impian dan kenyataan di dalam satu wajah dan di dalam satu gaya. Dan justru karena impiannya itulah pada suatu hari ia tinggalkan kebabuannya dan menjadi buruh pabrik. Beberapa bulan kemudian, pada suatu sore yang nyaman, kulihat ia berjalan-jalan dengan seorang pemuda yang memiliki sepeda Raleigh2 baru, dengan persnelling dan berko, dengan goncengan dipernikkel.
Dan si Dua?
Waktu juragan menghunjam kepalanya dengan kutukan yang bertubi-tubi dan juragan-juragan kecil menendang dan mencubitinya, ia menangis tersedan-sedan di pojok petak, menghadap ke dinding. Tiga jam lamanya! Pada malam hari ia tak nampak di situ lagi. Ia telah lari. Mengembara! Anak yang belum pernah meninggalkan rumah petak ini, jangankan sejarak 2 kilometer! Karena selama itu ia hanya hidup di sumur, di belakang rumah.
Sehari dua hari juragan masih merasa sebal terhadap si Dua. Tapi lama-kelamaan ia mulai cemas juga dan dicarinya si Dua.
Beberapa hari kemudian seorang tetangga menemukannya duduk tafakur di pojok jembatan dan diajaknya pulang. Hanya satu jawabannya:
“Biar gua ditubruk kereta api!”
Dan berita ngeri yang dibawanya itu menyebabkan juragan menjadi kalang-kabut untuk kedua kalinya, dan dibawalah anak itu pulang. Dengan janji tentu: Besok akan dikembalikan pada orang tuanya. Di udik! Pagi-pagi benar pada keesokan harinya, si Dua tak tampak lagi — mungkin untuk selama-lamanya.
Tentang makhluk-makhluk di belakang rumah ini, terlampau banyak yang dapat diceritakan, tetapi hampir selamanya bernada mineur. Dan justru karena sumur itu tak dapat dipindahkan dari depan rumahku, tiap hari pemandangan mataku tertumbuk pada wajah-wajah mereka ini, tiap hari, waktu kerja, waktu melamun, waktu menerima tamu, pendeknya: tiap duduk di depan. Lama-kelamaan tumbuhlah dalam pikiranku, bahwa moral babu priyayi ini termasuk juga dalam kesusilaan timur, kesopanan timur, seperti yang sering dipropagandakan oleh kaum seniman dan politisi. Cuma saja sering amat dilupakan, bahwa kesusilaan timur, kesopanan timur ini, tiada lain daripada suatu hal kecil yang dibesar-besarkan. Dan soal yang kecil itu adalah kesopanan dan kesusilaan priyayi.
Catatan tentang Edisi Ini
Buku ini disusun dari tujuh sumber. Cerita Calon Arang, Larasati, dan Midah Si Manis Bergigi Emas berasal dari edisi Lentera Dipantara. Gadis Pantai berasal dari edisi Hasta Mitra. Tujuh cerita dari Cerita dari Blora berasal dari cetak ulang keempat Hasta Mitra (2002), dan tiga cerita dari Cerita dari Jakarta dari cetak ulangnya yang pertama (2002). Mencari Anak Hilang kami salin dari buku Pertjikan Revolusi cetakan kedua (1957), bab kedelapan, yang masih memakai ejaan lama.
Sebagian sumber hanya tersedia sebagai pindaian halaman. Pindaian itu kami baca dengan mesin, lalu kami periksa dan betulkan salah bacanya: huruf yang tertukar, kata yang tergabung atau terpotong, tanda hubung pada kata ulang, dan baris yang berpindah tempat. Teks yang sudah berupa salinan digital juga kami periksa, karena banyak mengandung salah ketik.
Salinan digital Midah yang kami pakai kehilangan semua tanda petik dalam percakapan. Tanda petik itu kami pulihkan satu per satu menurut alur percakapan. Di beberapa tempat mungkin ada yang tidak persis sama dengan cetakan aslinya.
Ejaan seluruh teks kami seragamkan dengan Ejaan yang Disempurnakan edisi kelima. Untuk Mencari Anak Hilang ini berarti mengganti tj, dj, j, nj, sj, ch, oe menjadi c, j, y, ny, sy, kh, u, memisahkan kata depan di dan ke, dan menuliskan kata ulang secara penuh. Untuk teks lain kami mengganti bentuk seperti sedar, robah, faham, fikir, kuatir, mashur, samasekali, airmata, orangtua, dan prosen menjadi sadar, ubah, paham, pikir, khawatir, masyhur, sama sekali, air mata, orang tua, dan persen. Susunan kalimat tidak kami sentuh. Kata-kata Jawa dan Betawi dalam percakapan, seperti gua, lu, kagak, pigi, sonder, dan godperdom, kami biarkan. Nama orang kami tulis seperti dalam sumbernya.
Dalam Mencari Anak Hilang ada beberapa salah cetak yang kami betulkan: anak menjadi anaknya pada halaman pertama, tiga itik menjadi tiga titik, mengeri menjadi mengerti, dan tiga ta-tahun menjadi tiga tahun.
Catatan kaki yang tidak diawali tulisan Catatan penyunting berasal dari edisi sumber. Catatan penyunting adalah tambahan kami untuk membantu pembaca hari ini. Kesalahan yang masih tersisa adalah tanggungan kami.
Daftar Kata
ambin balai-balai; tempat tidur dari bambu atau kayu
bale balai-balai
beca becak
Bendoro (Jawa) sebutan untuk bangsawan atau majikan; tuan
bujang pembantu rumah tangga
dokar kereta beroda dua yang ditarik kuda
doger penari ronggeng jalanan; dalam Midah dipakai sebagai cemooh
empok (Betawi) panggilan untuk perempuan yang lebih tua
gendeng (Jawa) sinting, gila
inlander (Belanda) pribumi; sebutan merendahkan pada masa kolonial
kanca (Jawa) kawan
kroncong keroncong
laki suami
marsose pasukan khusus tentara kolonial Hindia Belanda (marechaussee)
nduk (Jawa) panggilan sayang untuk anak perempuan
ndoro (Jawa) tuan, majikan
ori Oeang Republik Indonesia, uang yang dikeluarkan Republik sejak 1946
pamanda paman (bentuk hormat)
priyayi golongan bangsawan dan pegawai pemerintahan di Jawa
republikein (Belanda) pendukung Republik
sahaya saya, hamba (bentuk hormat)
sonder (Belanda zonder) tanpa
swadesi gerakan memakai barang buatan sendiri, dari kata India swadeshi
tangsi asrama tentara
teritis bagian atap yang menjorok ke luar dinding; emper
trem kereta listrik dalam kota
uang Merah uang yang dikeluarkan NICA, saingan ori
wedana kepala distrik, di bawah bupati
Tentang Pengarang
Pramoedya Ananta Toer (1925–2006) adalah raksasa sastra Indonesia yang karyanya lahir dari pergulatan sejarah yang keras. Keluar-masuk penjara di masa Kolonial Belanda, Orde Lama, hingga pengasingan Pulau Buru pada masa Orde Baru tidak membuat nyalinya surut. Ia menjadikan sastra sebagai monumen perlawanan terhadap tirani. Diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa dan berkali-kali dinominasikan untuk Nobel Sastra, Pram adalah bukti nyata bahwa kebenaran tidak pernah bisa dipenjarakan.
Daftar Karya Pramoedya Ananta Toer
- Tulisan-tulisan semasa di SD, satu di antaranya pernah ditawarkan pada penerbit Tan Koen Swie, Kediri, ditolak. Semua hilang.
- Sepoeloeh Kepala Nica (1946), hilang di tangan penerbit Balingka, Pasar Baru, Jakarta, 1947.
- Kranji–Bekasi Jatuh (1947), fragmen dari Di Tepi Kali Bekasi.
- Perburuan (1950). Pemenang sayembara Balai Pustaka, Jakarta, 1949.
- Keluarga Gerilya (1950).
- Subuh (1951), kumpulan 3 cerpen.
- Percikan Revolusi (1951), kumpulan cerpen.
- Mereka yang Dilumpuhkan I & II (1951).
- Bukan Pasarmalam (1951).
- Di Tepi Kali Bekasi (1951), sisa naskah yang dirampas Marinir Belanda pada 22 Juli 1947.
- Dia yang Menyerah (1951), kemudian dicetak-ulang dalam kumpulan cerpen.
- Cerita dari Blora (1952), pemenang karya sastra terbaik dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, Jakarta (1953).
- Gulat di Jakarta (1953).
- Midah Si Manis Bergigi Emas (1954).
- Korupsi (1954).
- Cerita Calon Arang (1957).
- Sekali Peristiwa di Banten Selatan (1958).
- Panggil Aku Kartini Saja I & II (1963); III & IV dibakar Angkatan Darat, 13 Oktober 1965.
- Kumpulan Karya Kartini, yang pernah diumumkan di berbagai media; dibakar Angkatan Darat, 13 Oktober 1965.
- Wanita Sebelum Kartini, dibakar Angkatan Darat, 13 Oktober 1965.
- Gadis Pantai (1962–65) dalam bentuk cerita bersambung, bagian pertama trilogi tentang keluarga penulis; terbit sebagai buku, 1987, dilarang Jaksa Agung. Jilid II dan III dibakar Angkatan Darat, 13 Oktober 1965.
- Sejarah Bahasa Indonesia. Satu Percobaan (1964); dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965.
- Mari Mengarang (1955), tak jelas nasibnya di tangan penerbit di Jalan Kramat Raya, Jakarta.
- Cerita dari Jakarta (1957).
- Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (1963).
- Lentera (1965), kumpulan tulisan yang pernah diumumkan oleh Lentera. Tak jelas nasibnya di tangan penerbit di Jalan Pecenongan, Jakarta.
Semua karyanya dilarang oleh Kementerian PPK/PDK, 1966.
- Bumi Manusia (1980), bagian pertama tetralogi Buru. Dilarang Jaksa Agung, 1981.
- Anak Semua Bangsa (1981), bagian kedua tetralogi Buru. Dilarang Jaksa Agung, 1981.
- Sikap dan Peran Intelektual di Dunia Ketiga (1981).
- Tempo Doeloe (1982), antologi sastra pra-Indonesia.
- Jejak Langkah (1985), bagian ketiga tetralogi Buru. Dilarang Jaksa Agung, 1985.
- Hikayat Siti Mariah, (ed.) Haji Mukti (1987). Dilarang Jaksa Agung, 1987.
- Rumah Kaca, bagian keempat tetralogi Buru, 1988. Dilarang Jaksa Agung, 1988.
- Sang Pemula (1985). Dilarang Jaksa Agung, 1985.
- Memoar Oei Tjoe Tat, (ed.) Oei Tjoe Tat, 1995. Dilarang Jaksa Agung, 1995.
- Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I, 1995. Dilarang Jaksa Agung, 1995.
- Arus Balik, 1995.
- Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II, 1997.
- Arok Dedes, 1999.
- Mangir, 2000.
- Larasati (Ara), 2000.
Penghargaan
1988 Freedom to Write Award dari PEN American Center, Amerika Serikat.
1989 Anugerah dari The Fund for Free Expression, New York, Amerika Serikat.
1995 Wertheim Award, “for his meritorious services to the struggle for emancipation of the Indonesian people”, dari The Wertheim Foundation, Leiden, Belanda.
1995 Ramon Magsaysay Award, “for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognition of his illuminating with brilliant stories the historical awakening, and modern experience of the Indonesian people”, dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina.
1996 Partai Rakyat Demokratik Award, “hormat bagi Pejuang dan Demokrat Sejati” dari Partai Rakyat Demokratik.
1996 UNESCO Madanjeet Singh Prize, “in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence”, dari UNESCO, Paris, Prancis.
1999 Doctor of Humane Letters, “in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom”, dari University of Michigan, Madison, Amerika Serikat.
1999 Chancellor’s Distinguished Honor Award, “for his outstanding literary archievements and for his contributions to etnic tolerance and global understanding”, dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat.
1999 Chevalier de l’Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication République Française, Paris, Prancis.
2000 New York Foundation for the Arts Award, New York, Amerika Serikat.
2000 Fukuoka Cultural Grand Prize, Jepang.
Terima Kasih
Buku ini dikerjakan oleh seorang pembaca, bukan oleh penerbit. Karena itu ia banyak berutang.
Kepada keluarga dan ahli waris Pramoedya Ananta Toer, yang menjaga karya-karyanya tetap hidup. Edisi ini tidak resmi dan tidak untuk dijual. Kami membuatnya sebagai tanda hormat pada seratus tahun Pram.
Kepada Hasta Mitra, Joesoef Isak, dan Hasyim Rachman, yang menerbitkan buku-buku Pram ketika menerbitkannya berarti berhadapan dengan larangan, dan kepada Lentera Dipantara yang meneruskan kerja itu.
Kepada para penyalin dan pemindai yang tak kami kenal namanya, yang lebih dulu mengubah buku-buku lama ini menjadi berkas digital, sehingga cerita-cerita yang sudah lama tak dicetak masih bisa dibaca.
Kepada kawan-kawan yang memotret halaman Pertjikan Revolusi yang hilang dan ikut membaca ulang hasil salinan.
Dan kepada Pram, yang menuliskan hidup perempuan-perempuan ini apa adanya.