Baca EPUB: Perempuan: Kisah-Kisah di Pusaran Zaman

58 bagian · 0.2 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Perempuan
  2. Daftar Isi
  3. Dari Kami untuk Pembaca
  4. Mitos, Takhayul, dan Pendopo Feodal
  5. Cerita Calon Arang
  6. Pengantar Penulis
  7. Kerajaan Daha di Zaman Erlangga
  8. Calon Arang
  9. Empu Baradah
  10. Calon Arang Mulai Mengganas
  11. Calon Arang Mengusir Pasukan Raja
  12. Gerombolan Tukang Sihir yang Semakin Nekat
  13. Wedawati Kembali
  14. Raja Membutuhkan Bantuan Sang Pertapa
  15. Wedawati Jadi Gadis Pertapa
  16. Rahasia Calon Arang Terbongkar
  17. Daha Terlepas Sihir Calon Arang
  18. Kisah Terakhir Kerajaan Daha dan Empu Baradah
  19. Gadis Pantai
  20. Bagian Pertama
  21. Bagian Kedua
  22. Bagian Ketiga
  23. Bagian Keempat
  24. Luka Pedesaan dan Kungkungan Tradisi
  25. Inem
  26. Pelarian yang Tak Dicari
  27. Anak Haram
  28. Yang Sudah Hilang
  29. Kemudian Lahirlah Dia
  30. Yang Menyewakan Diri
  31. Bara Pendudukan Jepang dan Revolusi Fisik (1942–1949)
  32. Dia yang Menyerah
  33. Larasati
  34. Mencari Anak Hilang
  35. Jalanan Ibu Kota dan Harga Diri (1950-an)
  36. Midah Si Manis Bergigi Emas
  37. Bagian Pertama
  38. Bagian Kedua
  39. Bagian Ketiga
  40. Bagian Keempat
  41. Bagian Kelima
  42. Bagian Keenam
  43. Bagian Ketujuh
  44. Bagian Kedelapan
  45. Bagian Kesembilan
  46. Bagian Kesepuluh
  47. Bagian Kesebelas
  48. Bagian Kedua Belas
  49. Berita dari Kebayoran
  50. Tanpa Kemudian
  51. Makhluk di Belakang Rumah
  52. Catatan tentang Edisi Ini
  53. Daftar Kata
  54. Tentang Pengarang
  55. Daftar Karya Pramoedya Ananta Toer
  56. Penghargaan
  57. Terima Kasih

Disu­sun seba­gai kelan­jutan tidak resmi Edisi Seabad Pra­mo­edya Ananta Toer oleh seo­rang pem­ba­ca­nya, omni­bus ini mengum­pul­kan karya-karya Pram yang menem­pat­kan perem­puan di tengah pusaran seja­rah.

Di dalam­nya ada empat roman, Cerita Calon Arang, Gadis Pantai, Larasati, dan Midah Si Manis Bergigi Emas, ber­sama cerita-cerita pendek dari Cerita dari Blora, Cerita dari Jakarta, dan Pertjikan Revolusi.

Tidak semua perem­puan di sini menang. Calon Arang murka lalu ditum­pas. Gadis Pantai diusir dari rumah Ben­doro sete­lah mela­hir­kan anak­nya. Inem dika­win­kan pada umur dela­pan tahun dan pulang seba­gai janda. Amilah men­cari anak­nya dari tangsi ke tangsi tanpa pernah mene­mu­kan­nya. Sri dan adik-adik­nya memi­lih menye­rah pada kea­daan. Midah memang men­jadi biduan ter­ke­nal, tetapi Pram menu­tup kisah­nya dengan kali­mat bahwa ia telah lenyap seba­gai wanita.

Pram menu­lis mereka apa adanya: perem­puan yang dihim­pit adat, perang, kemis­kinan, dan lelaki di seki­tar mereka. Seba­gian mela­wan, seba­gian ber­ta­han sebi­sa­nya, dan tidak sedi­kit yang kalah. Lewat kisah-kisah ini pem­baca diajak meli­hat harga yang harus mereka bayar.


Amilah, tokoh Keluarga Gerilya dan Mencari Anak Hilang. Ilustrasi Nashar untuk Pertjikan Revolusi, cetakan kedua, 1957.

Edisi Seabad · 1925–2025

Pramoedya Ananta Toer

Perempuan

Kisah-Kisah di Pusaran Zaman

KOLEKSI PRIBADI

MUHAMMAD REZA MAGISTRA

Lund, 2026


Perempuan: Kisah-Kisah di Pusaran Zaman. Pra­mo­edya Ananta Toer.

Edisi Seabad 1925–2025, edisi digi­tal tidak resmi. Disu­sun oleh peng­ge­mar seba­gai kelan­jutan per­i­ng­atan sera­tus tahun Pra­mo­edya, tidak ber­hu­bungan dengan ahli waris maupun pener­bit karya-kar­ya­nya. Disu­sun dari: Cerita Calon Arang (Len­tera Dipan­tara); Gadis Pantai (Hasta Mitra); Cerita dari Blora, cetak ulang IV (Hasta Mitra, 2002); Larasati (Len­tera Dipan­tara); Pertjikan Revolusi (cetakan lama); Midah Si Manis Bergigi Emas (Len­tera Dipan­tara); Cerita dari Jakarta, cetak ulang I (Hasta Mitra, 2002).

Ejaan dise­ra­gam­kan menu­rut Ejaan yang Disem­pur­na­kan edisi kelima (EYD V).

Hak cipta karya © Pra­mo­edya Ananta Toer dan ahli waris­nya. Edisi digi­tal ini disu­sun untuk koleksi pri­badi dan per­i­ng­atan sera­tus tahun Pra­mo­edya Ananta Toer, tidak untuk diper­ju­al­be­li­kan.

Ilus­trasi di halaman depan: Nashar, untuk Pertjikan Revolusi cetakan kedua (1957). Sampul, tata letak, orna­men melati bulan, dan catatan penyun­ting: Muham­mad Reza Magis­tra. Diset dengan New­s­re­a­der.

KOLEKSI PRI­BADI MUHAM­MAD REZA MAGIS­TRA · LUND, 2026


“Ndoro, Inem tak mau punya laki.”

Inem

“Di kota perempuan berada dalam dunia yang dipunyai lelaki, Mas Nganten.”

Gadis Pantai

“Biarlah semua itu terjadi. Biarlah. Kita harus bisa menghilangkan diri kita sendiri.”

Dia yang Menyerah

“Kalau mati, dengan berani: kalau hidup, hidup dengan berani.”

Larasati

Tak setetes pun air mata jatuh. Ia tetap Amilah yang dulu juga — keras sebagai batu.

Mencari Anak Hilang

“Aku bukan orang hina, dan aku tak pernah menjalani kehinaan.”

Midah Si Manis Bergigi Emas



Dari Kami untuk Pembaca

Pra­mo­edya Ananta Toer lahir di Blora pada 6 Feb­ru­ari 1925 dan wafat di Jakarta pada 30 April 2006. Genap sera­tus tahun sejak kela­hir­an­nya, kami mengum­pul­kan kisah-kisah­nya ten­tang perem­puan dalam satu buku. Ini bukan ter­bitan resmi. Kami mem­bu­at­nya seba­gai pem­baca, untuk mene­rus­kan per­i­ng­atan itu dengan cara kami sen­diri.

Perem­puan dalam fiksi Pram jarang men­jadi hiasan. Mereka juga tidak selalu menang. Mereka dika­win­kan pada umur dela­pan tahun, diam­bil dari kam­pung nela­yan untuk dija­di­kan istri per­co­baan seo­rang pri­yayi, diting­gal suami yang ditang­kap atau gugur, lalu harus men­cari makan sen­diri di kota yang tidak menge­nal mereka. Seba­gian menye­rah. Seba­gian mela­wan dengan cara yang hanya mereka punya: ber­nya­nyi di jalan, meno­lak ber­su­ara, atau pergi.

Buku ini disu­sun dalam empat bagian menu­rut zaman yang mela­tari ceri­ta­nya. Bagian per­tama dimu­lai dari dunia dong­eng dan feodal, Cerita Calon Arang dan Gadis Pantai. Bagian kedua berisi cerita-cerita pede­saan Blora. Bagian ketiga ber­lang­sung di masa pen­du­dukan Jepang dan revo­lusi. Bagian keem­pat mem­bawa kita ke Jakarta tahun lima puluhan.

Teks dari ber­ba­gai sumber kami salin ulang dan kami sera­gam­kan eja­an­nya dengan Ejaan yang Disem­pur­na­kan edisi kelima. Susunan kali­mat Pram tidak kami ubah, begitu pula kata-kata Jawa dan Betawi dalam per­ca­kapan. Catatan kaki dari edisi asal tetap kami per­ta­han­kan; catatan tam­ba­han dari kami dia­wali tulisan Catatan penyunting. Rin­cian ten­tang sumber dan cara penya­li­nan ada di bagian akhir buku.

Lund, Oktober 2026

Muhammad Reza Magistra dan kawan-kawan


Bagian Pertama

Mitos, Takhayul, dan Pendopo Feodal

Cerita Calon Arang

Gadis Pantai


Cerita

Cerita Calon Arang

Ditulis 1954, terbit pertama 1957. Teks dari edisi Lentera Dipantara.

Pengantar Penulis

Cerita ini dikarang pada tahun Saka 14621. Calon Arang ini mem­per­li­hat­kan bahwa penga­ruh-penga­ruh keper­ca­yaan kuno tidak ter­lam­pau ter­i­kat pada keper­ca­yaan Hindu-Jawa pada masa­nya. Baha­sa­nya pun tidak di-san­se­kerta-kan — suatu kebi­a­saan yang diper­gu­na­kan oleh kaum ter­pel­a­jar, kaum istana dan kaum Brah­mana pada waktu itu.

Tulisan lama naskah ini ada dua macam, yaitu yang ber­a­sal dari Jawa dan telah diter­je­mah­kan ke dalam bahasa Belanda oleh R. Ng. Pur­bat­jar­aka2 dalam Bijdr.3 K.I deel 82 hlm 110-180, kemu­dian dima­cap­at­kan4 (dila­gu­kan) oleh Raden Wira­dat dan diter­bit­kan oleh Balai Pus­taka pada tahun 1931 (seri buku no. 942). Yang lain cerita Calon Arang yang ber­a­sal Bali. Antara kedua cerita ini ter­da­pat per­be­daan sedi­kit, tetapi tak perlu benar dipan­jang-lebar­kan.

Erlangga dan Bara­dah (Bha­rada) adalah dua nama yang ber­pe­nga­ruh besar dalam seja­rah Hindu-Jawa. Dari cerita ini orang akan dapat menang­gap sejum­lah segi keper­ca­yaan kuno itu, anta­ra­nya penyem­ba­han pada Dewi Durga5 menu­rut kei­ba­dahan dari mazhab Bha­ir­awa6.

Mpu Bha­ra­dah, seo­rang pujangga atau pen­dita, yang hidup ber­sa­maan dengan Air­langga yang ber­tahta di Jawa Timur dari tahun 1019 sampai 1042 Masehi.

Mpu Bha­ra­dah semasa hidup­nya sangat dihor­mati, ter­nyata dari pema­sangan arca Raja Ker­ta­na­gara7 (Maha­sob­hva atau Joko Dolok) di Wurare, seba­gai peng­hor­matan atau per­i­ng­atan jasa Mpu ter­se­but. Prof. Dr. Pur­bat­jar­aka mena­rik kesim­pulan, bahwa “dengan sen­di­r­i­nya­lah bahwa tempat itu dulu­nya tempat kedi­a­man Mpu Bha­ra­dah” (Bahasa dan Budaya ii-III, Dese­m­ber 1954, 32-33). Per­ka­taan Wurare ter­diri dari Bhu=tanah, sedang rare ber­arti anak. Karena itulah tempat itu bisa juga dise­but Lemah-putra, di mana Lemah arti­nya juga tanah. Lama-kela­maan Lemah-putra dise­but Lemah-patra. Karena patra searti dengan tulis, surat dan citra, Lemah-citra. Di dalam cerita Calon Arang sen­diri dise­but­kan, bahwa tempat Mpu Bha­ra­dah dalah di Lemah-tulis, demi­kian pula dise­but­kan dalam kitab Naga­rak­re­ta­gama8.

Kata Wurare yang sebe­nar­nya adalah Wurara. Dan oleh mulut rakyat yang kurang mema­hami bahasa, nama ini beru­bah-ubah men­jadi Wrura, Wlura, Blura, akhir­nya kini men­jadi Blora. Jadi tempat kedi­a­man Mpu Bha­ra­dah adalah Blora pada waktu seka­rang.

Nama tempat Wurara atau Blora seka­rang sudah muncul pada tahun 827 S, dengan nama Hur­an­tan (ntan adalah bentuk karma dari ra dalam bahasa Jawa kuno). Hur­an­tan ini dapat disa­ma­kan dengan nama ker­jaan Jawa yang dise­but dalam berita Tiong­hoa agak kuno dengan nama Ho-lo-tan, yang dibe­ri­ta­kan telah mem­pu­nyai hubungan dengan ker­jaan Tiong­kok, dan pada tahun 430, 436, 449, dan 452 M mengir­im­kan utusan. Raja negeri Holo­tan dise­but Che-li-p’o-ta-t’o-a-la-pa-mo yang dapat dikira-kira­kan Cri bhata(ra) Dwa­ra­war­man.

Sekian serba sedi­kit ten­tang Mpu Bha­ra­dah dan tempat ting­gal­nya disa­ri­kan dari tulisan Prof. Dr. Pur­bat­jar­aka.

Buku ini disu­sun seba­gai buku kanak-kanak, agar bisa mem­bang­kit­kan cerita lama pada mereka. Di sam­ping itu mung­kin pula jadi bahan-bahan infor­masi bagi murid-murid Seko­lah Mene­ngah, karena dalam pel­a­jaran seja­rah kesu­sas­traan Hindu-Jawa hanya dise­but nama-nama belaka, semen­tara yang ter­pen­ting: penga­jian isi, dia­ba­ikan sama sekali.

Demi­ki­an­lah supaya buku ini men­ca­pai wujud yang dimak­sud.

Djakarta, 21-11-1954



I

Kerajaan Daha di Zaman Erlangga

Adalah sebuah Negara. Daha1 nama­nya. Daha yang dahulu itu kini ber­nama Kediri. Negara itu ber­pen­du­duk banyak. Dan rata-rata pen­du­duk makmur.

Panen pak tani selalu baik, karena tanaman jarang diganggu hama.

Tiap-tiap sore anak-anak muda ber­la­tih kep­ra­ju­r­i­tan di alun-alun. Dan ada kala­nya dia­da­kan per­tan­dingan antara seo­rang bakal per­wira dengan seekor ban­teng yang diga­lak­kan. Ribuan rakyat menon­ton per­tan­dingan itu. Kalau bakal per­wira yang menang diang­kat­lah ia men­jadi per­wira.

Negara Daha ter­masy­hur aman. Tak ada keja­hatan ter­jadi, karena tiap orang hidup makmur, cukup makan dan cukup pakaian. Karena mak­mur­nya itu makanan pen­du­duk ter­a­tur, dan karena itu pula tak ada penya­kit ber­jang­kit.

Yang meme­rin­tah Negara itu ialah seo­rang raja. Erlangga nama­nya. Baginda ter­ke­nal bijak­sana dan ber­budi. Pen­deta-pen­deta yang mem­buka per­ta­paan dan asrama sampai jauh di gunung-gunung men­da­pat per­lin­dungan belaka.

Menu­rut riwa­yat, istana Baginda tak ubah­nya dengan surga Dewa Indera. Tak ada istana-istana lain yang dapat menan­dingi. Tiap-tiap tahun Negara-negara lain yang takluk kepada Daha mengir­im­kan upeti kepada Baginda.

Adapun Baginda selalu mem­per­ha­ti­kan dan meme­riksa selu­ruh Negara. Sewaktu-waktu Baginda edari selu­ruh daerah, bahkan juga selu­ruh pelo­sok. Jadi nyata Baginda tidak meng­u­ta­ma­kan ibu­kota saja. Karena ramah-tamah dan sering mem­per­li­hat­kan diri kepada rakyat, maka Baginda pun dicin­tai oleh mereka.

Akan tetapi kea­daan sen­tosa segera beru­bah. Kema­naan ter­an­cam. Pen­du­duk jadi geli­sah karena ter­siar berita ada musuh akan datang. Orang-orang tua mela­rang anak-anak­nya ber­per­gian. Jalan-jalan jadi sunyi sepi. Ibu­kota Negara seakan-akan ber­ka­bung karena sunyi­nya…. Dan musuh itu sebe­nar­nya penya­kit yang hebat.



II

Calon Arang

Menurut riwayat adalah sebuah dusun dalam Negara Daha. Girah nama­nya. Pen­du­duk Daha takut benar men­de­ngar nama dusun itu. Sebab di sana ting­gal seo­rang janda. Calon Arang nama nya.

Calon Arang seo­rang perem­puan sete­ngah tua. Ia mem­pu­nyai anak pera­wan yang beru­mur lebih dari 25 tahun. Ratna Mang­gali nama­nya. Bukan main cantik gadis itu.

Seka­li­pun demi­kian tak seo­rang pun pemuda yang datang memi­nang, karena takut kepada ibunya, Calon Arang. Calon Arang ini memang buruk kela­ku­an­nya. Ia senang meng­a­n­i­aya sesama manu­sia, mem­bu­nuh, meram­pas dan menya­kiti. Calon Arang ber­ku­asa. Ia tukang teluh* dan punya banyak ilmu ajaib untuk mem­bu­nuh orang.

Seba­gai pen­deta perem­puan pada Candi Dewi Durga banyak sekali murid dan peng­i­kut­nya. Ia seo­rang dukun yang banyak man­tra­nya. Dan mantra-man­tra­nya itu manjur belaka. Itulah sebab­nya tak ada orang berani pada­nya.

Ratna Mang­gali adalah anak tung­gal. Karena itu sangat disa­yangi oleh ibunya. Walau­pun sang ibu seo­rang perem­puan jahat, kepada anak­nya sayang juga ia. Akan tetapi karena Calon Arang jahat, pen­dengki, dan kejam maka tak adalah orang yang berani men­de­kati anak­nya, Ratna Mang­gali itu. Dan karena itu pula­lah gadis itu dija­uhi oleh gadis-gadis lain­nya, sehingga kawan biasa pun ia tak punya jangan­kan lagi kawan yang karib. Bila ia menyapa seso­rang, orang yang dite­gur itu hanya meng­ang­guk atau meng­ge­leng. Tak ada yang mau bicara dengan dia. Karena kalau salah mulut, mung­kin Calon Arang marah dan cela­ka­lah orang yang menim­bul­kan marah­nya.

Kalau Ratna Mang­gali pergi ber­ja­lan-jalan, bia­sa­nya orang menun­duk­kan kepala bila ber­temu dengan dia. Dan kalau Ratna telah jauh, mereka pun mem­per­ca­kap­kan­nya;

“Itulah Ratna Mang­gali, anak Calon Arang. Hati-hati dengan dia, engkau tak boleh sem­ba­rangan.”

“O, itukah Ratna Mang­gali? Ngeri aku meli­hat­nya”

Bukan satu-dua orang saja mem­per­ca­kap­kan seperti itu. Hampir semua orang. Malah selu­ruh negeri men­de­ngar belaka nama­nya dan juga nama ibunya si Calon Arang itu.

Bahkan pun anak-anak kecil, ya sampai-sampai kepada kakek-kakek dan nenek-nenek, semua tahu betapa jahat­nya pen­deta perem­puan itu. Betapa busuk nama­nya seba­gai tukang sihir yang menye­bar penya­kit dan meru­sak bagi sesama manu­sia….

Lama-lama marah­lah Calon Arang karena tak banyak orang yang suka pada­nya. Dari murid-mur­id­nya itu banyak men­de­ngar bahwa anak­nya jadi buah per­ca­kapan, karena tak juga dipe­ris­tri orang. Bukan main marah­nya. Sifat­nya yang jahat pun tum­buh­lah. Ia hendak mem­bu­nuh orang seba­nyak-banyak­nya, supaya puas­lah hati­nya.

Sete­lah niat­nya pasti, dipang­gil semua mur­id­nya. Di antara murid-mur­id­nya yang ter­ke­muka ialah Wek­sirsa, Mahisa Wadana, Lendi, Larung, Guyung, dan Gandi. Semua mur­id­nya menye­tu­jui mak­sud­nya.

Dengan tak banyak per­tim­bangan berang­kat­lah mereka ke Candi Durga. Durga yang dise­but juga dise­but Baga­wati adalah dewi yang meng­hen­daki keru­sakan.

Di dalam candi inilah Calon Arang memuja dewi­nya. Diu­cap­kan segala mantra dan mak­sud­nya hendak mem­bu­nuh orang banyak-banyak.

Api pedu­paan pun menge­pul-nge­pul­kan asap. Bau ratus dan pan­da­wa­ngi semer­bak meme­nuhi ruangan candi.

Lama Calon Arang memu­ja­nya. Murid-mur­id­nya meng­i­kuti memuja, ber­de­ngung-dengung­lah bunyi puja mereka. Sambil memuja, murid-murid itu menan­dak menari-nari. Seperti kawanan orang gila saja nam­pak­nya. Dalam menari-nari itu mereka melang­kah ber­pu­tar-putar. Tak karuan tari­an­nya. Yang satu tidak sama dengan yang lain. Seo­rang men­je­lir-jelir­kan lidah seperti ular. Yang lain men­de­lik-delik mena­kut­kan. Yang lain lagi miring-miring dan kaki­nya dipen­dek­kan. Macam-macam­lah.

Tidak lama kemu­dian datang­lah dewi yang mereka puja itu. Dewi Durga!

Semua yang ada di candi ber­jong­kok. Kemu­dian kepala mereka ditun­duk­kan hingga ke tanah. Melaui asap pedu­paan itulah Dewi Durga datang. Kian lama kian nyata rupa­nya. Ia adalah dewi yang luar biasa cantik dan bagus­nya. Tak sedi­kit pun ada cacat pada tubuh­nya.

Tenang kem­bali kea­daan candi itu.

“Calon Arang anakku,” kata Sang Dewi, “apakah mak­sudmu memang­gil daku?”

Sekali lagi Calon Arang menyem­bah. Kemu­dian men­ja­wab:

“izin­kan­lah ham­bamu memo­hon kasih dari paduka Dewi.”

“Kata­kan mak­sudmu, anakku.”

“Ya, paduka Dewi, beri­lah hamba izin untuk mem­bang­kit­kan penya­kit buat menum­pas orang banyak-banyak.”

“Itukah mak­sudmu, anakku?” kata Dewi Durga.

“Demi­ki­an­lah, paduka Dewi,” ujar Calon Arang.

“Jangan kau kha­wa­tirkan sesu­atu apa pun. Aku izin­kan engkau mem­bang­kit­kan penya­kit. Dan banyak sekali orang akan mati kare­na­nya.”

Bukan main girang hati Calon Arang. Seren­tak mur­id­nya bang­kit ber­lu­tut dan kem­bali melom­pat menari dan menan­dak-nandak.

“Tetapi anakku,” kata Sang Dewi lagi. “Tak kui­zin­kan engkau mera­ta­kan penya­kit hingga ke dalam ibu­kota. Engkau boleh mem­bu­nuh orang di luar ibu­kota saja.”

“Terima kasih, paduka Dewi,” sam­bung Calon Arang.

Perem­puan itu pun menyem­bah lagi. Semua mur­id­nya turut menyem­bah lagi. Waktu mereka meng­ang­kat kepala masing-masing dan meman­dangi pedu­paan, Dewi Durga sudah tak ada. Dewi yang mereka puja telah meng­hi­lang.

Bukan main girang hati perem­puan itu ber­sama murid-mur­id­nya. Mereka pulang­lah ke desa Girah.


III

Empu Baradah

Menurut cerita orang tua-tua: Pada waktu itu ada seo­rang per­tapa. Ia ber­ge­lar Empu1. Empu arti­nya guru. Ia ber­nama Bara­dah. Orang-orang menye­but­nya Empu Bara­dah.

Empu Bara­dah orang yang saleh dan taat benar pada aga­ma­nya. Ia selalu ber­takwa pada dewa­nya.

Sudah lama ia ber­as­rama di Lemah Tulis, dan di sana pula ia ting­gal.

Dusun itu ter­le­tak di pegu­nungan.

Karena Sang Empu sangat taat pada aga­ma­nya, pen­du­duk dusun sujud belaka pada­nya. Lagi­pula ia selalu ramah, senang meno­long orang seng­sara, dan tak pernah meno­lak bila orang datang minta tolong.

Sang Empu sung­guh ber­beda dengan Calon Arang. Meno­long orang adalah peker­jaan yang sangat diu­ta­ma­kan. Karena itu lama-kela­maan pen­du­duk Dusun Lemah Tulis meng­ang­gap­nya sede­ra­jat dengan dewa-dewa. Malah ada juga yang meng­ang­gap­nya sang dewa sen­diri yang men­jelma seba­gai manu­sia.

Selain peno­long, penga­sih dan penya­yang pada sesama manu­sia, ia pun orang pandai dan banyak bel­a­jar. Weda-weda habis dibaca dan dipel­a­jar­i­nya. Weda adalah kitab suci orang yang ber­a­gama Hindu. Empu Bara­dah ber­tapa terus-mene­rus. Karena itu pen­du­duk desa pun per­caya beliau keka­sih para dewata.

Demi­ki­an­lah Sang Empu itu.

Empu Bara­dah punya istri dan seo­rang putri yang cantik. Sedang remaja put­ri­nya, gadis itu Weda­wati nama­nya.

Weda­wati jadi bunga yang semer­bak di Lemah Tulis. Bukan karena kecan­ti­kan­nya saja. Ia pun dihor­mati oleh pen­du­duk seling­kungan asrama, di kam­pung, dan di sawah serta di ladang, di hutan, dan di lap­angan-lap­angan tempat anak-anak meng­gem­bala bina­tang­nya.

Ia jadi Bunga bukan karena kecan­ti­kan­nya saja. Selain molek ia pun ramah seperti ayah­nya. Tak mau ia meru­gi­kan orang lain. Tak mau ia menye­dih­kan sesama manu­sia. Malah ia ingin mem­ba­ha­gi­a­kan semua orang, besar-kecil, tua-muda, tidak ada kecu­a­li­nya. Ia ingin mem­ba­ha­gi­a­kan semua orang kalau bisa.

Ia sudah bekerja, cekatan pula. Semua ting­kah-laku­nya jadi buah per­ca­kapan dan dibuat contoh oleh gadis-gadis di selu­ruh Lemah Tulis.

Pada suatu hari, Ibu Weda­wati jatuh sakit. Lama kela­maan sakit­nya kian men­jadi-jadi. Kadang-kadang ia meng­i­gau dan memang­gil-mang­gil Weda­wati, seka­li­pun gadis itu ada di sam­ping­nya. Segala obat yang dico­ba­kan pada­nya batal. Mantra-mantra Empu Bara­dah pun tak ber­guna sama sekali.

Sang Empu ber­pen­da­pat, sam­pai­lah sudah hidup istri yang sangat dicin­ta­i­nya itu. Karena itu ia pun memuja pada dewa-dewa­nya, memo­hon agar istri­nya dite­rima dengan baik di surga.

Dan benar juga bebe­rapa hari kemu­dian mening­gal­lah ibu Weda­wati. Gadis remaja putri itu mena­ngis dan mena­ngis diting­gal mati ibunya. Ia begitu cinta pada ibunya itu. Dan ibunya begitu cinta pada­nya. Bia­sa­nya barang ke mana ibunya pergi ia meng­i­kut. Dan kalau hujan turun sore-sore dan mereka tak bisa jalan-jalan, ber­ce­ri­ta­lah ibunya ten­tang segala macam dong­eng.

Seka­rang ibunya telah mening­gal. Siapa tak akan ber­se­dih hati. Siapa lagi yang akan ber­ce­rita begitu indah kepada Weda­wati? Siapa lagi yang akan menga­sih­i­nya? Lalu dengan ter­sedu-sedu dirang­kul­nya mayat ibunya. Dan barang­si­apa yang meli­hat kea­daan itu, mau tak mau meng­u­cur­kan air mata.

“Ya, siapa lagi yang menga­sihi daku?” tangis­nya.

“Ayah kan masih ada,” hibur ayah­nya.

Tapi gadis itu mena­ngis juga.

“Sia­pa­kah yang akan men­cin­ta­iku seka­rang?” ratap­nya lagi.

Lalu Sang Empu tak tahan lagi meli­hat ting­kah laku anak­nya. Dirang­kul­nya Weda­wati, diusap-usap­nya rambut dan pipi anak­nya yang piatu itu, sambil meng­u­cur­kan air mata.

Tetapi gadis itu tetap juga mena­ngis.

“Ya, Dewata,” ratap­nya, “izin­kan daku turut mati ber­sama ibuku.”

Akan tetapi per­mo­hon­an­nya tidak dika­bul­kan­nya. Ia masih harus hidup lama lagi. Dan karena ia ter­lam­pau banyak mena­ngis mata­nya jadi merah. Pelu­puk­nya beng­kak.

Segera mayat ibunya disu­ci­kan, sudah itu dibawa ke kuburan untuk dita­nam. Maka sele­sai­lah pengu­buran itu.

Dan orang-orang yang mela­wat pulang­lah ke rumah masing-masing.

Bebe­rapa waktu sete­lah istri­nya mening­gal, Empu Bara­dah ber­is­tri lagi. Dari ibunya yang baru Weda­wati mem­per­o­leh adik laki-laki seo­rang. Seka­rang ia ada kawan ber­main di rumah atau di taman. Ia tak ingat lagi pada ibunya yang telah mening­gal.

Seka­rang adik­nya telah besar. Sudah bisa bicara, sudah bisa ber­ta­nya. Juga sudah mulai bel­a­jar mem­baca pada bapak­nya. Ia pun sudah bisa ber­pa­kaian sen­diri. Weda­wati tak perlu lagi meno­long­nya menge­na­kan kain.

Ibu Weda­wati sangat sayang pada anak­nya. Ber­beda sung­guh sikap­nya ter­ha­dap Weda­wati. Ia tak suka pada­nya.

Pada suatu hari Sang Empu Bara­dah pergi ke per­ta­paan Wis­a­muka untuk meng­a­jar murid-mur­id­nya meng­i­kuti upa­cara ber­se­saji pada para dewa. Murid-mur­id­nya meng­i­kuti upa­cara itu dari bela­kang­nya. Sudah rindu mereka semua pada Sang Empu. Lama benar ia baru turun ke per­ta­paan mengun­jungi mereka. Dan sudah lama pula murid-murid itu tak men­da­pat pel­a­jaran dan wejangan. Kemu­dian sete­lah ber­se­saji, Sang Empu duduk ber­sila dalam kepungan murid-mur­id­nya. Karena itu tak dapat ia buru-buru pulang ke Lemah Tulis.

Di Lemah Tulis, sibuk­lah Weda­wati bekerja. Ia gadis yang suka bekerja. Ia tak senang duduk ber­ma­las-malas, apa­lagi ber­to­pang dagu dan tak tentu yang dipi­kir­kan. Sudah lama ibu tiri­nya ingin agar ia pergi dari rumah. Ia ingin agar semua kasih Sang Empu jatuh pada­nya dan anak­nya lelaki. Karena itu dicari-cari­nya alasan untuk mema­rahi Weda­wati.

Seben­tar kemu­dian ribut­lah dalam asrama itu. Ibu tiri­nya mema­rahi semau-maunya. Bukan main bingung Weda­wati men­da­pat marah yang hebat itu. Ia tak merasa ber­sa­lah. Tetapi dilab­rak terus. Pada para tetangga ibunya ber­ce­rita yang bukan-bukan ten­tang dir­i­nya.

Tak tahan ia. Air mata­nya ber­cu­curan. Mena­ngis ia ter­se­dan-sedan. Ia ter­ke­nang kem­bali ibunya yang sudah tidak ada. Ia pun ter­ke­nang pada ayah­nya. Tapi ia tak men­ce­ri­ta­kan kebe­ng­isan ibu tiri kepada ayah­nya.

Bukan main sedih dan iba hati Weda­wati waktu itu. Dengan air mata ber­cu­curan diting­gal­kan­nya asrama itu. Berat hati­nya pergi. Betapa kan tidak. Di sana ia dila­hir­kan. Di sana pula ia dibe­sar­kan. Di sana pula ia ber­gaul dengan kawan-kawan­nya yang ber­si­kap manis ter­ha­dap dir­i­nya.

Per­la­han-lahan ia pun berang­kat­lah menuju ke luar desa ke kuburan ibunya. Sepan­jang jalan ia tetap mena­ngis. Banyak orang meli­hat pada­nya. Tetapi ia tidak peduli. Di tanah lapang tempat anak-anak gem­bala meng­gem­bala bina­tang­nya, ia dite­gur oleh seo­rang di antara mereka:

“Kak Wati, meng­apa kakak mena­ngis?” Weda­wati hanya meman­dang seben­tar pada gem­bala kecil itu. Per­ta­nyaan itu mem­buat ia tambah sedih. Buru-buru ia mene­rus­kan per­ja­lanan.

Kemu­dian ram ia-ramai anak-anak gem­bala mem­bu­ru­nya. Ramai-ramai pula mereka ber­ta­nya: “Meng­apa kakak mena­ngis? Adakah kakak mem­bu­tuh­kan per­to­longan kami?”

“Tidak! Tidak!” jawab Weda­wati pendek.

“Meng­apa kakak mena­ngis?”

Weda­wati tambah men­ce­pat­kan jalan­nya. Tetapi anak-anak gem­bala itu terus juga meng­i­kut­i­nya. Masing-masing ingin meno­long.

“Tidak anak-anak, aku tak ingin dito­long,” Weda­wati men­ja­wab sete­lah dapat mena­han tangis­nya. “Balik­lah engkau semua, nanti bina­tangmu dima­kan macan.”

“Betul-betul kak Wati tak ingin dito­long?”

“Tidak!”

Baru­lah anak-anak gem­bala itu kem­bali ke padang rumput, di tempat bina­tang mereka makan.

Sampai dekat kuburan duduk­lah Weda­wati di bawah seba­tang pohon beringin yang rin­dang. Ia lelah. Keri­ngat ber­ma­nik-manik di kening­nya.

Tiba-tiba ia ter­te­gak. Ia meli­hat orang ter­bu­jur di sam­ping­nya. Diper­ha­ti­kan­nya benar-benar. Orang itu tak ber­ge­rak-gerak. Dide­kat­i­nya. Nya­ta­lah bahwa yang ter­bu­jur itu bukan­lah orang tidur.

Tetapi… mayat. Bukan seo­rang saja. Tiga banyak­nya. Tak tahu­lah Weda­wati meng­apa orang-orang itu mening­gal di situ. Sebe­nar­nya mereka itu adalah satu kelu­arga yang mela­ri­kan diri dari dae­rah­nya karena takut kepada teluh Calon Arang. Tetapi teluh itu sudah menge­nai mereka.

Mayat yang seo­rang, perem­puan. Di sam­ping anak­nya yang masih kecil merang­kak-rang­kak. Masih hidup anak kecil itu. Seben­tar dipe­luk­nya emak­nya. Seben­tar pula dicari-cari­nya susu emak­nya. Kadang-kadang dii­sap­nya juga. Tentu saja tak keluar air susu dari dada orang mati. Tetapi anak kecil itu tak mena­ngis karena kecewa. Ia ber­ge­rak terus tak ting­gal diam saja.

Meli­hat kea­daan seperti itu, hilang-lenyap­lah kese­dihan Weda­wati.

“Anak kecil ini lebih seng­sara dari­pada aku,” pikir­nya.

Kese­dih­an­nya itu lenyap karena meli­hat anak kecil seo­rang diri diting­gal mati oleh ibunya itu. Tetapi ia mena­ngis lagi. Bukan mena­ngis karena per­la­kuan ibu tiri ter­ha­dap­nya! Tidak! Ia mena­ngis meli­hat nasib anak kecil itu.

Kemu­dian diba­wa­nya anak kecil itu ke rumah yang ter­de­kat letak­nya dari kuburan. Tidak lama kemu­dian datang­lah bebe­rapa orang meng­am­bil mayat itu untuk disu­ci­kan.

“Semua manu­sia ber­sau­dara satu sama lain,” pikir­nya sete­lah kuburan itu sunyi-senyap kem­bali. “Karena itu tiap orang mem­bu­tuh­kan per­to­longan harus mem­per­o­leh per­to­longan. Tiap orang keluar dari satu turunan,” pikir­nya terus, “karena itu satu sama lain adalah sau­dara.”

Bebe­rapa lama duduk-duduk mele­pas­kan lelah, tiba-tiba ia ter­i­ngat akan mak­sud­nya semula: ingin mengun­jungi kuburan ibunya! Ia bangun dan berang­kat ke tempat ibunya di kubur­kan. Ter­i­ngat kepada ibunya yang penga­sih dan penya­yang serta cinta pada­nya, sedih pula rasa hati­nya. Air mata­nya kem­bali ber­li­nang-linang. Tak ada kei­ng­inan pada­nya untuk pulang kem­bali ke asrama. Ia ingin tetap di sam­ping ibunya:

“Dewata! Izin­kan­lah aku turut ibuku,” ratap­nya.

Tetapi tidak seo­rang dewa pun men­ja­wab. Kuburan tetap sunyi-senyap. Di sana-sini pokok pohon baru ber­a­yun bila angin ken­cang datang meniup.

Lama Weda­wati duduk di sam­ping kuburan itu. Tak ber­ge­rak-gerak ia, seperti patung.

Mata­hari mulai con­dong ke barat. Kuburan itu makin sunyi saja rasa­nya. Tetapi Weda­wati tak juga bang­kit dari tempat duduk­nya.



IV

Calon Arang Mulai Mengganas

Penduduk desa tahu belaka, bila Calon Arang dan murid-mur­id­nya pulang dengan girang­nya dari Candi Durga pasti ada orang yang akan mene­mui ajal­nya. Kegi­rangan Calon Arang dan murid-mur­id­nya ber­arti keta­kutan buat banyak orang. Anak-anak kecil dila­rang orang tuanya mening­gal­kan rumah. Bahkan orang-orang tua pun kadang-kadang tak berani keluar rumah. Semua memuja minta per­lin­dungan dewa-dewa agar tetap sela­mat.

Calon Arang merasa ber­ba­ha­gia bila telah menya­kiti dan mene­was­kan orang-orang yang diben­ci­nya. Dan kalau orang-orang yang diben­ci­nya telah mati mereka ber­se­nang-senang mera­ya­kan keme­nangan.

Tiap-tiap waktu murid-murid harus ber­ke­mas. Yang diper­gu­na­kan menge­ra­masi rambut adalah darah. Darah itu adalah darah manu­sia juga. Karena itu rambut murid-murid Calon Arang leng­ket-leng­ket dan tebal. Kalau mereka sedang ber­pesta tak ubah­nya dengan seka­wan bina­tang buas. Takut orang meli­hat­nya. Kalau keta­huan ada orang meng­in­tip, orang itu dise­ret ke tengah pesta dan dibu­nuh dan darah­nya diper­gu­na­kan kera­mas.

Lama kela­maan tak adalah orang yang beru­mah dide­kat rumah Calon Arang. Mereka lebih suka men­ja­uhi agar bisa hidup aman. Dusun Girah tambah lama tambah sepi. Sawah banyak tak diker­ja­kan orang. Ladang-ladang jadi padang rumput dan belu­kar.

Tak ada seo­rang pun berani menang­kap Calon Arang dan murid-mur­id­nya. Kepala desa dan baris­an­nya pun tidak berani. Calon Arang dan murid-mur­id­nya telah ter­masy­hur kebal. Tak ada sen­jata dapat melu­kai mereka.

Pen­dek­nya pen­du­duk dusun itu hidup dalam keta­kutan terus-mene­rus.

Dahulu tanah lapang dusun Girah adalah tempat ber­main-main anak-anak kecil. Di sore hari banyak­lah anak-anak ber­kum­pul dan ber­main-main. Apa­lagi kalau bulan ber­si­nar-sinar. Ber­ma­cam-macam per­ma­inan mereka itu.

Tetapi seka­rang sunyi saja tanah lapang dusun itu. Bila mereka ber­main-main dan lewat­lah seo­rang dari murid-murid Calon Arang, lari­lah mereka masing-masing karena takut­nya. Kalau Calon Arang atau salah seo­rang murid-mur­id­nya sedang tidur, tak ada anak berani ber­seru atau ter­tawa-tawa. Kalau anak-anak itu berani mem­buat gaduh diwaktu mereka tidur, mati­lah ia dite­luh.

Saban hari orang-orang tua mela­rang anak-anak­nya mem­buat gaduh atau ber­main-main dekat rumah Calon Arang atau murid-mur­id­nya. Tentu saja tak senang­lah anak-anak­nya karena tak bisa ber­main-main dengan bebas.

Pada suatu hari anak kepala dusun ber­main-main di depan rumah. Tidak dili­hat­nya bahwa seo­rang murid Calon Arang lewat. Karena asyik ber­main tak tahu­lah ia bahwa ia sudah menum­buk murid itu. Dalam hari itu juga hilang­lah mata anak itu. Kaki­nya lumpuh dan ram­but­nya rambut tak mau tumbuh di kepa­la­nya. Segera kepala kam­pung itu datang ke rumah Calon Arang minta maaf atas kesal­ahan anak­nya. Ia pun minta agar anak­nya dise­m­buh­kan.

Calon Arang dan bebe­rapa orang mur­id­nya datang ke rumah kepala dusun itu. Di sana mereka tak meng­o­bati anak yang celaka itu. Tidak. Mereka malah ter­tawa-tawa senang meli­hat anak yang celaka itu. Meli­hat hal itu mena­ngis­lah kepala dusun itu laki-bini. Tapi ia tak dapat ber­buat apa-apa karena iapun takut pada Calon Arang dan murid-mur­id­nya.

“Enak, ya? Enak, ya?” kata Calon Arang.

“Tentu saja enak­lah ia seka­rang, Nyai!” kata murid-mur­id­nya.

Laki-bini itu ber­diam diri saja men­de­ngar sin­diran itu. Kedu­a­nya takut men­da­pat ben­cana lebih besar lagi.

“Lihat, lihat, laki­nya mena­ngis,” kata Calon Arang.

“Bini­nya juga mena­ngis, Nyai!” sam­bung mur­id­nya.

Tiba-tiba, tim­bul­lah kema­rahan kepala dusun itu. Dengan piki­ran buncah ia pun masuk ke dalam kamar. Dari sana di ambil­nya tombak yang ber­tuah. Kemu­dian ia keluar lagi dan ber­seru:

“Hina­kan­lah kami, Calon Arang! Hina­kan­lah kami” teri­ak­nya. Tom­bak­nya ditu­ju­kan pada perem­puan tukang sihir. Calon Arang ter­tawa meli­hat kepala dusun itu. Tiba-tiba perem­puan itu ber­te­riak:

“Bah!”

Kena hawa teri­akan itu jadi kaku-kejang­lah kepala dusun itu dan ia pun roboh ke tanah. Bini­nya ter­lom­pat dan merang­kul sua­mi­nya. Tapi kepala dusun itu telah mati. Mena­ngis­lah istri yang malang itu ter­se­dan-sedan.

Calon Arang dan murid-mur­id­nya ter­tawa kegi­rangan.

“Tahu engkau siapa Calon Arang?” ejek­nya pada bini kepala dusun itu.

Perem­puan itu tak men­ja­wab.

“Bilang­kan pada orang banyak, Calon Arang yang mem­buat segala ini.”

Kemu­dian ia pun pulang­lah ke rumah­nya dii­ring­kan murid-mur­id­nya.

Sejak ter­jadi peng­a­n­i­a­yaan itu tukang sihir perem­puan itu sema­kin dita­kuti. Orang tua-tua dan anak-anak­nya tak berani menye­but-nyebut nama­nya. Dan murid-mur­id­nya kian mera­ja­lela.

Suatu malam gelap­nya bukan main, Tak sebuah pun bin­tang ber­si­nar di langit. Bulan telah lama tak muncul di cak­ra­wala. Angin yang dingin seben­tar-seben­tar meniup dan bunyi pohon-pohonan ber­de­sah kena tiup­an­nya. Men­dung amat tebal di langit. Tapi hujan belum juga turun.

Orang-orang telah tidur nye­nyak dalam ran­jang masing-masing. Jaga dusun tidak meronda lagi karena hari dingin. Mereka ber­diam di tempat pen­ja­gaan masing-masing. Orang lewat di malam buta tak berani mereka mene­gur, takut kalau-kalau murid Calon Arang yang dite­gur. Apa­lagi sete­lah kepala dusun mati kaku, mereka keta­kutan saja bila ber­jaga atau meronda di malam hari.

Dengan tiada yang menge­ta­hui, malam itu telah ter­jadi apa-apa. Calon Arang ber­sama murid-mur­id­nya keluar dari rumah. Wek­sirsa mem­bawa pedu­paan, ber­ja­lan di depan sekali sambil menan­dak-nandak gila. Calon Arang ber­ja­lan di tengah-tengah mem­bawa kitab sambil meng­u­cap­kan mantra-mantra. Murid-murid lain­nya menari-nari meling­kung­i­nya sambil ber­ja­lan. Dan dalam ber­ja­lan dan menari itu mereka ber­gen­dang-gen­dang pada tubuh masing-masing.

Cuma Calon Arang tak menari. Ia hanya ber­ja­lan mem­bawa kitab sambil meng­u­cap­kan ber­ba­gai mantra.

Sampai di per­em­patan inilah mereka mena­nam­kan teluh, agar penya­kit­nya dapat pergi ke empat mata angin. Dengan girang­nya Calon Arang mena­nam­kan teluh itu. Dan semua mur­id­nya terus menan­dak dan menari-nari.

Sete­lah itu mereka pulang dengan girang­nya ke rumah Calon Arang. Di sana mereka makan-minum ber­se­nang-senang.

Tidak lama kemu­dian, tim­bul­lah penya­kit. Tak ada obat bisa mela­wan penya­kit panas-dingin yang mera­ja­lela di selu­ruh negeri. Cuma di ibu­kota saja penya­kit itu tak dapat mem­bu­nuh orang. Ratusan, bahkan ribuan orang men­de­rita sakit yang tak dapat dio­bati itu. Bila mereka sakit pas­ti­lah tak punya harapan untuk sembuh lagi.

Tiap hari bera­tus-ratus orang mati dan dibawa ke kuburan. Dan kalau yang mengu­bur­kan pulang, ia pun sakit pula, kemu­dian mati. Begi­tu­lah terus-mene­rus.

Pen­du­duk Negara Daha kian lama kian sedi­kit. Banyak pra­ju­rit dari luar ibu­kota mening­gal. Bukan karena kena sen­jata di medan perang. Bukan! Tapi mati kena teluh Calon Arang. Dan kalau waktu itu datang musuh hendak mero­boh­kan Daha, roboh­lah Negara yang agung itu. Penya­kit panas-dingin yang dike­luh­kan oleh Calon Arang tak bisa dike­luh­kan lagi. Kian lama kian mele­bar di gunung, hutan, dusun, dan sawah. Tambah banyak orang mati dima­kan penya­kit itu.

Pen­deta-pen­deta yang baik hati men­coba meno­lak teluh itu, tetapi sia-sia. Calon Arang lebih pandai dari­pada mereka semua. Karena itu orang hidup dalam keta­kutan. Di rumah-rumah orang mena­ngisi kera­bat­nya yang mening­gal. Seakan-akan tum­pas­lah selu­ruh isi Negara Daha waktu itu.

Nama Calon Arang dise­but oleh setiap orang. Ia diku­tuki oleh semua orang. Kalau bisa mereka mau menum­pas perem­puan dur­haka itu. Tetapi mereka tak bisa dan… mereka pun tidak berani.


V

Calon Arang Mengusir Pasukan Raja

Berita tentang meluasnya teluh Calon Arang telah dila­por­kan pada Sri Baginda Erlangga. Bukan main sedih Sri Baginda men­de­ngar pen­de­ri­taan yang harus ditang­gung rak­yat­nya itu.

Pada suatu hari dipang­gil­nya semua men­teri meng­ha­dap. Selain para men­teri meng­ha­dap juga pen­deta-pen­deta dan para johan pah­la­wan yang menge­pa­lai pasukan-pasukan ten­tara Daha.

Alun-alun penuh oleh pen­du­duk yang ingin men­de­ngar putusan Sri Baginda meni­tah­kan bala ten­tara memus­nah­kan Calon Arang dan semua mur­id­nya.

Per­dana men­teri mela­por­kan pada Baginda Raja berita ten­tang penya­kit yang mena­kut­kan itu.

“Ampun Baginda,” sem­bah­nya. “Patik meng­ha­tur­kan periksa, bahwa janda dari Gir­ah­lah yang mener­bit­kan segala keo­naran dan ben­cana ini. Ia memo­hon tuah dari Dewi Durga untuk menum­pas orang banyak-banyak karena hendak mem­ba­las dendam.”

“Siapa nama janda itu?” tanya Sri Baginda.

“Calon Arang, tuanku,” jawab per­dana men­teri.

“Apa yang diden­dam­kan?”

“Semua orang, karena tak ada yang mau mem­per­is­tri anak tung­gal­nya Ratna Mang­gali.”

“Itu bukan­lah alasan untuk mem­bu­nuh begitu banyak orang. Sedang­kan mem­bu­nuh seo­rang saja ada hukum­an­nya, apa­lagi ribuan, bahkan puluhan ribu.”

Mereka yang hadir di bang­sal diam mere­nung-renung menunggu putusan Raja.

“Penya­kit ini harus dile­nyap­kan. Kalau tidak bisa, seti­dak-tidak­nya harus diba­tasi. Kirim­kan bala ten­tara ke dusun Girah. Tang­kap Calon Arang. Kalau mela­wan, bunuh dia ber­sama murid-mur­id­nya.”

Tenang seben­tar ruangan bang­sal. Orang ber­gi­rang hati men­de­ngar putusan Sri Baginda. Tiba-tiba ter­de­ng­ar­lah sorak-sorai yang gemu­ruh di alun-alun. Semua orang yang hadir di sana menye­tu­jui putusan Sri Baginda.

Hari itu juga ratusan pra­ju­rit ber­ba­ris di alun-alun. Mereka ini dipe­rin­tah­kan pergi ke dusun Girah untuk menang­kap Calon Arang.

Kem­bali pen­du­duk datang ke alun-alun untuk mem­beri sela­mat pada pasukan yang akan berang­kat itu. Dan waktu pasukan telah naik ke kuda­nya ber­so­rak-sorai­lah penon­ton meng­u­cap­kan sela­mat jalan. Pasukan pun men­de­rap pergi. Yang ter­de­pan mem­bawa panji-panji kera­jaan. Orang ber­so­rak-sorai terus sampai pasukan itu lenyap dari peman­dangan.

Berita ten­tang putusan Sri Baginda itu dalam waktu seben­tar saja telah ter­siar ke mana-mana. Tiap-tiap dusun menyam­but putusan itu dengan meng­a­da­kan sela­matan dan men­do­a­kan agar bala ten­tara Raja ber­ha­sil dalam kewa­ji­b­an­nya.

Orang-orang tua merasa syukur, dan meng­u­cap­kan doa-doa puji untuk kese­la­matan Sang Baginda. Anak-anak kecil menya­nyi-nyanyi.

Demi­ki­an­lah kegi­rangan rakyat.

Ber­bon­dong-bon­dong orang ke candi-candi untuk ber­se­saji.

Orang-orang yang sakit pun dibawa ke sana supaya dapat rahmat para dewa.

Sepasukan bala ten­tara Raja yang ber­kuda itu laju menuju ke desa Girah. Panji-panji di barisan depan ber­ki­bar-kibar kena angin. Di tiap angin dusun yang dila­lui ditiup sang­ka­kala. Seo­rang yang ber­kuda di bela­kang pem­bawa panji-panji ber­te­riak mela­lui corong.

“Pasukan Bala ten­tara Raja pergi untuk menum­pas Calon Arang!”

Seruan itu disam­but dengan sorak-sorai oleh rakyat dusun-dusun yang dila­lui.

Di tiap kabu­pa­ten kuda-kuda itu diganti dengan yang baru. Dengan begitu bina­tang-bina­tang itu tak merasa begitu lelah dan per­ja­lanan tak ter­ganggu. Di tiap kabu­pa­ten Pasukan Bala ten­tara Raja men­da­pat sam­butan yang meriah. Di mana-mana mereka dielu-elukan oleh pen­du­duk. Semua men­do­a­kan agar kewa­ji­ban bisa dise­le­sai­kan dengan baik.

Siang-malam Pasukan Bala ten­tara Raja itu ber­ja­lan.

Pada suatu malam sam­pai­lah mereka di desa Girah. Gelap-pekat waktu itu. Orang-orang telah tidur. Pen­ja­gaan-pen­ja­gaan kam­pung kosong belaka. Tak ada yang berani meronda. Karena itu dengan susah-payah juga pasukan itu dapat mene­mu­kan rumah janda tukang sihir Calon Arang.

Tak adalah orang yang tahu akan keda­tangan Pasukan Bala ten­tara Raja.

Segera kepala pasukan ber­sama dua orang pem­ban­tu­nya masuk ke dalam rumah janda tukang sihir itu. Ketiga-tiga­nya mem­bawa pedang ter­hu­nus. Dida­pati oleh mereka Calon Arang sedang tidur nye­nyak. Napas­nya pan­jang-pan­jang.

“Aku kira si Calon Arang itu perem­puan tua yang buruk rupa­nya,” bisik kepala pasukan kepada pem­ban­tu­nya.

“Rupa-rupa­nya tidak­lah demi­kian,” pem­ban­tu­nya ber­bi­sik menyam­bungi. “Tidak buruk seka­li­pun tidak bagus.”

“Kita tang­kap dia seka­rang?” tanya kepala pasukan.

“Seba­ik­nya seka­rang aja. Murid-mur­id­nya tak ada yang menge­ta­hui. Mereka tak dapat meno­long sedi­kit pun jua.”

Pra­ju­rit-pra­ju­rit itu pun men­de­kat­lah. Cepat kepala pasukan men­jam­bak rambut tukang sihir itu. Dua orang pem­ban­tu­nya meng­a­cung­kan pedang ter­hu­nus di atas tubuh Calon Arang.

Apakah yang ter­jadi kemu­dian? Tangan ketiga pra­ju­rit itu seka­li­gus men­jadi kaku kejang kena teluh Calon Arang.

Tukang sihir itu pun bangun­lah dari tidur­nya. Meli­hat ketiga pra­ju­rit itu melu­ap­lah ama­rah­nya. Mata­nya merah. Seben­tar kemu­dian menyem­bur­kan api dari mata­nya itu. Juga hidung, kuping dan mulut­nya merah padam menge­lu­ar­kan api yang men­ji­lat-jilat. Ter­ba­kar­lah ketiga pra­ju­rit itu. Ter­ba­kar­lah ketiga pra­ju­rit itu. Ter­ba­kar sampai hangus dan mati di situ juga.

Pra­ju­rit-pra­ju­rit lain­nya yang meli­hat itu, lari pon­tang-pan­ting. Pasukan Bala ten­tara Raja segera melom­pat ke atas kuda masing-masing. Mereka kehi­langan pemim­pin beserta kedua orang pem­bantu. Sete­lah semua ber­kum­pul, lari­lah pasukan itu kem­bali ke ibu­kota.

Dalam per­ja­lanan pulang Pasukan Bala ten­tara Raja di elu-elukan lagi oleh pen­du­duk. Dan bila mereka men­de­ngar akan kega­galan peru­tusan itu, lenyap­lah harapan.

Penya­kit tak juga ter­ce­gah. Kian mele­bar sampai ke puncak-puncak gunung. Kegem­bi­raan orang-orang yang tadi­nya telah ber­suka-ria lenyap­lah kini. Semua kem­bali mere­nung-renung takut dise­rang penya­kit.

Para pen­deta mereka malu ber­ha­dapan dengan rakyat karena mereka tak mampu meno­lak teluh yang dise­bar­kan oleh Calon Arang. Akhir­nya pen­deta-pen­deta itu meng­a­kui juga bahwa janda tukang sihir itu seo­rang pen­deta perem­puan yang sudah tinggi sekali ilmu­nya.

Pasukan Bala ten­tara Raja lang­sung saja menuju ke ibu­kota. Seo­rang yang meng­gan­ti­kan kepala pasukan yang gugup itu terus meng­ha­dap Baginda dan ber­da­tang sembah:

“Ampun Paduka Baginda, berita buruk yang hendak hamba sem­bah­kan Paduka Baginda.”

Selu­ruh men­teri dan pra­wira dan pen­deta yang hadir meman­dang pra­ju­rit itu belaka.

“Berita buruk apa yang hendak engkau kabar­kan,” kata Sang Baginda.

“Kepala pasukan gugur waktu menang­kap Calon Arang.”

Sunyi-senyap­lah ruangan bang­sal itu. Dan pra­ju­rit itu mene­rus­kan ceri­ta­nya:

“Kepala pasukan men­jam­bak rambut Calon Arang, Dua orang Pra­ju­rit meng­a­mang­kan pedang ter­hu­nus di atas tubuh janda itu. Ampun Paduka Baginda… Patik lihat tangan ketiga pra­ju­rit itu jadi kejang-kaku tak dapat ber­ge­rak. Patik lihat sen­diri betapa keta­kutan mereka itu. Patik ber­sama pasukan datang di waktu tengah malam. Pasukan kami men­da­pati Calon Arang di rumah­nya. Sedang ia tidur waktu itu. Waktu bangun, keluar api besar yang men­ji­lat-jilat ke sana-kemari. Kepala pasukan beserta kedua orang pra­ju­rit yang hendak menang­kap­nya ter­ba­kar hangus sama sekali. Karena itu patik ber­sama sisa pasukan segera mundur dan kem­bali ke kota. Hemat patik si janda Calon Arang tak dapat dila­wan dengan sen­jata.”

Men­de­ngar laporan itu Sri Erlangga ter­me­nung-menung. Kaget juga Sri Baginda men­de­ngar kesak­tian tukang sihir wanita itu.

Tak ada seo­rang pen­deta pun yang berani mem­buka mulut. Mereka pun tak tahu mantra apa yang harus diper­gu­na­kan untuk mela­wan Calon Arang. Pra­wira-pra­wira ter­diam. Mereka juga tak meng­erti dan tak bisa memi­kir lagi, karena Calon Arang tak bisa dila­wan dengan sen­jata.

Karena tak ada yang bisa mem­beri peman­dangan yang baik, sidang pun dibu­bar­kan.

Seluruh negeri ber­ka­bung men­de­ngar berita keka­lahan Pasukan Bala ten­tara Raja. Para pra­ju­rit Daha yang ter­so­hor gagah berani dan tak undur meng­ha­dapi maut, kini bim­bang memi­kir­kan Calon Arang. Sekali ini lawan yang diha­dapi bukan­lah pra­ju­rit musuh. Juga bukan sen­jata dari besi. Tetapi… kesak­tian tukang sihir. Dan mereka tak tahu sihir.

Penya­kit terus menu­lar di mana-mana.

Sete­lah sidang dibu­bar­kan, segera Sri Baginda Erlangga masuk ke sang­gar pemu­jaan. Di sana Baginda memuja pada dewa­nya agar diberi petun­juk untuk mem­be­ran­tas penya­kit yang telah begitu banyak mem­bu­nuh rakyat kera­ja­an­nya.

Tetapi tak ada dewa datang mela­lui asap pedu­pa­an­nya.

Dengan hati sedih diting­gal­kan sang­gar pemu­jaan itu dan seo­rang diri ber­ja­lan-jalan di taman. Tetapi kein­dahan taman itu tak mena­rik lagi. Lama Sri Baginda duduk diam-diam dibangku di bangku dalam taman. Kepa­la­nya tunduk ke bawah. Di atas­nya burung ber­nya­nyi-nyanyi girang di dahan-dahan. Itu pun tak mena­rik per­ha­ti­an­nya.

Ia ber­ja­lan lagi. Tak tahu­lah ia bahwa sudah ber­pu­luh-puluh kali taman itu di edar­i­nya. Tahu-tahu matari sudah lenyap di balik gunung. Dengan sedih­nya kem­bali ia masuk sang­gar pemu­jaan. Seo­rang dayang menya­la­kan pedu­paan. Bau harum ratus dan rupa meme­nuhi ruangan. Segera Sang Baginda sujud di depan arca Dewa Guru. Diu­cap­kan­nya bebe­rapa mantra. Tetapi dewa itu tak juga datang. Dua kali ia men­coba. Tiga kali. Empat kali. Lima kali. Tak juga ber­ha­sil. Sudah tengah malam seka­rang. Baginda mening­gal­kan sang­gar. San­tapan dibi­ar­kan­nya dingin. Kem­bali ia turun ke taman dan ber­ja­lan-jalan. Gelap-pekat alam waktu itu. Dan hawa bukan main dingin­nya.

Kadang-kadang ter­de­ngar burung malam ber­sa­hut-sahutan. Jeng­ke­rik men­je­ring-jering seakan-akan menga­bar­kan kea­man­an­nya di liang-liang tanah yang hangat.

Dengan tak setahu Baginda, sudah ber­pu­luh-puluh kali pula ia meng­e­dari taman itu. Dan matari pun terbit kem­bali di ufuk timur. Lambat-lambat ia pun meni­tah­kan agar dia­da­kan sidang lagi hari itu….


VI

Gerombolan Tukang Sihir yang Semakin Nekat

Para Prajurit yang mati itu dilem­par­kan oleh murid-murid Calon Arang ke kali. Bukan main amarah tukang sihir itu. Dendam meng­a­muk dalam hati­nya. Muka­nya dan mata­nya merah. Bibir­nya mere­ngut. Ia tak dapat diam. Berjam-jam lama­nya ia mondar-mandir di serambi rumah karena kema­rah­an­nya.

Seben­tar-seben­tar ia menyum­pah-nyum­pah mena­kut­kan. Sang Baginda Erlangga lah yang disum­pahi. Murid-mur­id­nya turut keta­kutan men­de­ngar perem­puan itu menyum­pahi raja yang punya Negara. Tetapi mereka tak berani ber­kata apa-apa. Mereka takut belaka kalau-kalau dite­luh pula oleh perem­puan celaka itu.

Tiba-tiba tukang sihir itu punya maksud. Segera ia masuk ke dalam sang­gar pemu­jaan. Ia bawa kitab­nya. Ratna Mang­gali mene­gur:

“Ibu hendak ke mana?”

“Diam, kau anak bayi! Jangan ber­ta­nya-tanya.”

Ratna Mang­gali turut keta­kutan. Ia tak ber­ta­nya lagi.

Lang­sung janda itu menuju ke serambi. Murid-mur­id­nya dipe­rin­tah­nya supaya ikut. Karena takut, mereka semua ikut. Di depan sekali ber­ja­lan Wek­sirsa, kemu­dian Calon Arang dengan mem­bawa kitab. Di bela­kang ber­ja­lan­lah murid-mur­id­nya yang ter­ke­muka.

Sam­pai­lah mereka di kuburan yang dituju. Seo­rang demi seo­rang duduk­lah di tanah berum­put. Di sini­lah tempat perun­dingan mereka. Calon Arang duduk di tengah-tengah ber­san­dar pada pohon kayu yang besar lagi tua. Tumbuh-tum­buhan ram­batan ber­ju­luran dari cabang-cabang sampai di tanah.

Jarang benar orang datang ke kuburan itu. Selain gelap, juga mena­kut­kan keli­hat­an­nya. Kuburan itu tak ter­pe­li­hara. Banyak ditum­buhi di semak-semak dan ular ber­ja­laran ke sana-kemari.

Mereka duduk tenang-tenang, dan masing-masing mem­buat ren­cana apa yang harus diker­ja­kan. Seka­rang keja­hatan mereka telah dike­ta­hui Baginda Raja. Tentu Baginda Erlangga akan men­da­tang­kan bala ten­tara yang kuat untuk mem­bi­na­sa­kan mereka. Itulah yang dipi­kir­kan.dan mereka meran­cang-ran­cang bagai­mana harus menye­la­mat­kan diri.

Seben­tar-seben­tar mereka meman­dang semak-semak yang lebat dan gelap itu. Kadang-kadang mereka meli­hat burung gagak ter­bang dan ber­te­riak-teriak sangat kuat.

Dua kali Calon Arang menge­luh. Ber­de­sis suara keluh­an­nya itu mela­lui gigi­nya yang kuning lagi besar-besar.murid-mur­id­nya yang turut, yaitu Lendi, Larung, Gandi, Wek­sirsa, Mahisa Wadana meman­dang­nya.

“Apakah yang kan­jeng Nyai pikir­kan?” ta nya Lendi.

Calon Arang menge­luh lagi. Kemu­dian meman­dang mur­id­nya seo­rang demi seo­rang.

“Siapa punya ran­cangan baik?” tanya tukang sihir itu.

Lendi ber­ta­nya dengan hor­mat­nya:

“Bagai­man­akah piki­ran Kan­jeng Nyai?”

“Itulah yang sedang kucari-cari.”

“Seka­rang pene­lu­han kita sudah dike­ta­hui oleh Raja,” kata si Lendi pula.

“Dan bala ten­tara Baginda besar, kuat, dan banyak. Semua kita tahu juga Sri Erlangga adalah seo­rang pang­lima yang telah menun­duk­kan banyak negeri.”

“Dan Sri Erlangga dicin­tai rakyat,” sam­bung Wek­sirsa, “Karena ia selalu memi­kir­kan kemak­muran dan kese­la­matan rak­yat­nya.”

“Waktu aku masih jadi peng­em­bara,” sela si Larung, “aku lihat sen­diri Sri Baginda meme­riksa rakyat yang mem­buat tang­gul kali Bran­tas. Karena perin­tah Baginda untuk mem­buat tang­gul besar itu rakyat tidak pernah keban­jiran lagi. Sawah-sawah jadi subur dan panen selalu memu­as­kan. Dengan begitu rakyat hidup makmur.”

Murid-murid Calon Arang ter­ta­rik oleh cerita si Larung.

Mereka pun ber­ta­nya:

“Bagai­mana kemu­dian?”

“Tang­gul itu mem­buat Sri Baginda dicin­tai. Karena tang­gul kali Bran­tas itu bisa di lalui perahu dari negeri Cina dan perahu-perahu besar kera­jaan dan negeri-negeri lain di sebe­rang lautan.”

“Aku dengar Sri Baginda pun seo­rang raja yang ber­budi,” kata Mahisa Wadana.

Tetapi sebe­lum sele­sai ucap­an­nya, Calon Arang mem­ben­tak:

“Diam, kalian!”

Ia tak suka pada orang yang diang­gap ber­budi. Hati­nya jadi iri bila men­de­ngar itu. Karena itu ia marah.

Cepat-cepat si Lendi meng­u­langi per­ta­nya­an­nya:

“Jadi, bagai­man­akah kepu­tusan Kan­jeng Nyai?”

Calon Arang tak men­ja­wab. Ia memi­kir sung­guh-sung­guh seka­rang.

“Ya, Kan­jeng Nyai, pene­lu­han ini sudah dike­ta­hui oleh orang banyak. Kita semua harus men­cari akal. Seti­dak-tidak­nya bala ten­tara Sri Baginda akan mem­buru kita semua. Jadi, apakah yang harus kita per­buat?”

Waktu dili­hat­nya Calon Arang tak men­ja­wab juga, ia mene­rus­kan:

“Kan­jeng Nyai! Izin­kan­lah hamba menge­mu­ka­kan pen­da­pat.”

“Kata­kan! Kata­kan!” Kata Calon Arang.

Semua yang hadir meman­dang Lendi. Dan Lendi ber­kata lagi:

“Lebih baik kita semua mela­ri­kan diri ke gunung yang masih dili­puti hutan lebat. Semua orang tahu siapa Kan­jeng Nyai dan kami murid-mur­id­nya. Semua orang akan tahu ke mana saja kita pergi, kita ter­ke­nal. Atau…?”

“Atau apa?” Tanya Calon Arang men­de­sak.

“Atau kita pergi kepada seo­rang pen­deta agung yang bisa mengem­ba­li­kan kita semua ke jalan yang benar agar bisa hidup baik dan tenang, tidak dibuat per­ma­inan segala macam keja­hatan seperti seka­rang.”

Calon Arang ter­tawa ter­ba­hak-bahak men­de­ngar ucapan si Lendi itu.

“Pena­kut! Pena­kut!” seru­nya meng­hi­na­kan si Lendi.

Larung men­cela dengan kasar­nya:

“Hai Lendi, kita bukan gerom­bolan pena­kut. Untuk apa takut? Apa yang kita kha­wa­tirkan?” ia ter­tawa meng­e­jek. Kemu­dian mene­rus­kan: “Apa guna­nya memu­sing­kan kain kalau sudah basah. Lebih baik terus mandi.”

Sesu­dah bicara begitu ia meman­dang guru­nya. Calon Arang diam saja. Karena itu Larung mene­rus­kan:

“Lebih baik kita hadapi Raja itu dengan semua belan­ta­ra­nya.”

“Bagai­mana cara­nya kita mela­wan mereka?” tanya Lendi takut-takut.

“Bagai­mana?” seru Larung dengan suara meng­hi­na­kan. “Kita teluh semua pen­du­duk ibu kota, biar mati semua. Biar Raja dan semua rak­yat­nya kita tumpas pula. Apa salah­nya? Kita terus­kan saja peker­jaan ini.”

Wek­sirsa dan Lendi ber­diam diri. Kedua orang itu tak setuju dengan pen­da­pat si Larung. Kedua orang itu sadar bahwa mereka telah ber­buat salah ter­ha­dap sesama manu­sia.

“Bagai­mana piki­ran kalian?” tanya Calon Arang.

“Setuju, Kan­jeng Nyai.” Semua menyeru setuju.

Karena takut dibu­nuh oleh guru­nya, Wek­sirsa dan Lendi turut pula menye­tu­jui.

Karena semua mur­id­nya setuju, bukan main girang Calon Arang. Ia pun ingin sekali mene­luhi orang-orang di Ibu Kota. Akan girang hati­nya bila juga Raja bisa kena teluh­nya.

“Nah, menan­da­k­lah seka­rang,” perin­tah tukang sihir itu.

Maka murid-mur­id­nya segera ber­la­tih men­da­dak. Calon Arang meme­riksa mana yang kurang betul. Diper­ba­ik­i­nya semua kesal­ahan. Jadi, nanti kalau ia meng­u­cap­kan mantra-man­tra­nya, tak akan timbul kega­galan karena ada yang salah menan­dak.

Gu yang melom­pat ke depan dan mulai menan­dak. Tangan­nya ter­kem­bang-kem­bang sam­ping-menyam­ping. Kaki­nya dili­pat­nya pendek-pendek seperti cebol jadi­nya seben­tar-seben­tar dike­bat-kebat­kan kain­nya. Mata­nya meli­rik ke kiri dan ke kanan. Ia melang­kah ke kiri dan ke kanan seperti gandul lon­ceng.

Sesu­dah itu maju­lah si Larung dengan garang dan ang­kuh­nya. Ia telan­jang bulat. Tangan­nya mena­rik-narik apa saja yang dapat dita­rik­nya. Gerak­nya seperti orang kaget dan keta­kutan, menum­buk ke sana dan menum­buk kemari. Ping­gang meliuk-liuk seperti cacing diin­jak. Mata­nya men­de­lik putih dengan syaraf-sya­raf­nya yang merah mena­kut­kan. Ram­but­nya yang pan­jang dan leng­ket-leng­ket karena cuma dicuci dengan darah manu­sia itu mera­yau-rayau.

Seka­rang si Gandi maju ke medan. Ia melom­pat-lompat dan men­ja­tuh-jatuh­kan diri seperti orang kesa­kitan karena ter­ba­kar baju. Rambut selu­r­uh­nya ter­si­bak ke kiri. Mata dibe­la­lak­kan dengan men­de­lik. Riuh­lah peman­dangan di kuburan yang sunyi-senyap dan sete­ngah gelap itu. Burung-burung gagak beter­bangan keta­kutan sambil ber­te­riak-teriak ngeri. Lumut di tanah yang ter­in­jak-injak teng­ge­lam dalam lumpur.

Puas­lah Calon Arang meli­hat latihan itu. Ia meng­ang­guk-ang­guk­kan kepala tanda setuju.

Seka­rang giliran si Lendi. Ia menari-nari seperti burung merak. Jalan­nya ber­pin­cang-pin­cang seperti habis kena pen­tung kaki­nya. Ram­but­nya diku­sau-kusau. Tiap ia ber­ge­rak rambut itu mera­yau-rayau. Mata­nya meli­rik-lirik sehingga merah war­na­nya.

Dan Wek­sirsa ter­te­gun-tegun tari­an­nya. Kepala dite­leng-teleng­kan ke kiri dan ke kanan. Kain diso­beki hingga hampir-hampir ia telan­jang bulat seperti bola. Dan Mahisa Wadana menari dengan kaki sebe­lah. Kepa­la­nya yang besar meng­ge­leng-geleng. Lidah men­ju­lur-julur seperti ulat men­cari makan. Kadang-kadang ia ber­ja­lan dengan kedua tangan­nya.

Tambah girang­lah perem­puan tukang sihir itu meli­hat keca­kapan murid-mur­id­nya yang tak menge­ce­wa­kan itu. Habis­lah latihan untuk hari itu. Kemu­dian tiap-tiap orang men­da­pat peker­jaan. Selain Wek­sirsa dan Mahisa Wadana, semua men­da­pat perin­tah pergi ke empat pen­juru.

Setelah syarat-syarat pene­lu­han dipe­nuhi, segera Calon Arang dan murid-mur­id­nya ber­kum­pul lagi di kuburan yang sete­ngah gelap itu.

Candi Durga tak jauh letak­nya dari peku­buran itu. Tak ada orang berani lewat di sana. Kalau lewat juga, pas­ti­lah meli­hat bang­kai yang dija­di­kan kurban oleh Calon Arang beserta murid-mur­id­nya untuk ber­se­saji kepada Dewi Durga.

Segera Calon Arang meng­am­bil bang­kai orang. Masih baik mayat itu. Belum lagi rusak. Orang itu mati di hari Sabtu. Dan orang yang mati pada hari Sabtu baik benar buat dija­di­kan kurban. Mayat itu segera dijeng­kali. Sete­lah itu didi­r­i­kan dan dii­kat­kan pada seba­tang pohon dekat candi.

Calon Arang mem­baca mantra dan mulut­nya meni­upi mayat itu. Kedua orang mur­id­nya mem­bu­ka­kan mata mayat ter­se­but. Akhir­nya mayat itu pun hidup kem­bali. Dada­nya kem­bang kepis karena napas mulai masuk. Sete­lah mata­nya dapat meli­hat dipan­dang­nya orang-orang di depan­nya seo­rang demi seo­rang. Dengan suara per­la­han ia bilang:

“Ya ampun, tuanku. Ya ampun. Hamba sangat ber­te­ri­ma­ka­sih karena tuanku hidup­kan hamba kem­bali. Terima kasih. Atas kasihan ter­ha­dap diri hamba yang hina ini. Sangat­lah hamba banyak ber­hu­tang budi kepada tuanku seka­lian. Dan tak akan sang­gup­lah hamba mem­ba­yar utang budi hamba yang sebe­sar dan seba­nyak ini.”

Wek­sirsa mem­ben­tuk dengan garang­nya:

“Hidup pan­jang itu gam­pang sekali. Tapi bukan untuk itu engkau kuhi­dup­kan lagi. Tahu, kau? Lehermu akan kute­bas.”

Baru saja ia habis bicara, ia telah mena­rik pedang­nya. Sekali ayun, dan leher kurban itu pun putus­lah. Rambut si kurban dice­kam­nya dan kepala diba­wa­nya. Darah menyem­bur. Dan darah itulah ia per­gu­na­kan untuk menge­ra­masi ram­but­nya. Sete­lah itu usus kurban dita­rik-tarik dan dibu­at­nya jadi selen­dang. Tubuh yang ting­gal diper­gu­na­kan oleh orang-orang dur­haka itu untuk ber­se­saji kepada Dewi Durga.

Asap pedu­paan menge­pul-ngepul di kaki arca Sang Dewi Durga atau Dewi Baga­wati.

Calon Arang duduk menun­duk di depan arca itu sambil meng­u­cap­kan ber­ba­gai mantra.

Per­la­han-lahan datang­lah Sang Dewi mela­lui asap pedu­paan.

“Hai, Calon Arang, anakku!” kata Sang Dewi. “Engkau menye­di­a­kan sesaji. Apakah kehen­dakmu?”

“Ampun, Dewi pujaan hamba. Izin­kan­lah hamba mem­buat penya­kit besar-besaran. Biar­lah penya­kit itu sampai meram­bat ke dalam ibu­kota, bahkan ke dalam istana seka­li­pun. Paduka Sang Dewi telah tahu juga, bahwa Sang Baginda Erlangga sangat marah karena telu­han hamba. Sang Baginda pun telah men­ja­tuh­kan perin­tah untuk mem­bu­nuh hamba. Karena itu sangat benar per­mo­honan hamba ini dika­bul­kan hen­dak­nya.”

“Baik­lah, anakku. Aku kabul­kan per­min­ta­anmu itu. Tetapi ingat, engkau harus hati-hati ber­tin­dak.”

Seha­bis bicara itu lenyap­lah Dewi Durga. Dan pulang­lah Calon Arang ber­sama murid-mur­id­nya ke desa Girah.


VII

Wedawati Kembali

Melihat Wedawati pergi , bukan main girang hati ibu tiri­nya.

“Moga-moga ia takkan pulang kem­bali,” doanya. “Moga-moga ia mati di tengah jalan dima­kan macan.”

Sete­lah anak tiri itu lenyap dari peman­dang­an­nya, dengan air muka ber­seri-seri, per­gi­lah ia men­da­pat­kan anak­nya. Ia pun ber­main-main­lah dengan anak­nya itu. Dibe­ri­nya ber­ba­gai macam janji yang besar-besar.

Karena asyik ber­main dengan anak­nya, tak sadar­lah ia hari telah sore.

Sete­lah meng­a­jar dan mem­beri wejangan kepada murid-mur­id­nya, kem­bali Sang Empu ke asrama Lemah Tulis. Seha­bis ganti pakaian, segera disan­tap­nya makanan yang telah ter­se­dia untuk­nya. Kemu­dian duduk-duduk­lah ia di tikar di pen­dopo mem­baca-baca.

Istri­nya datang men­de­kati. Kemu­dian menga­bar­kan berita keja­dian-keja­dian pagi itu:

“Tuanku Sang Empu, sepergi tuanku meng­a­jar di per­ta­paan Wis­a­muka, ananda Weda­wati ber­teng­kar dengan adik-nya.”

Empu Bara­dah ber­henti mem­baca kitab. Tenang-tenang dipan­dang­nya istri­nya. Kemu­dian ber­ta­nya­lah ia:

“Apa yang diper­teng­kar­kan?”

“Bunga!” jawab istri­nya.

“Masa bunga begitu banyak diper­teng­kar­kan,” ujar Sang Pen­deta. “Begitu banyak bunga di taman.”

“Benar tuanku,” kata istri­nya. “Sete­lah ber­teng­kar ia pergi mening­gal­kan rumah. Tak mau dita­han.”

“Di mana ia seka­rang?”

“Tidak tahu, tuanku. Belum pulang sampai seka­rang.”

Segera Sang Empu bangun dari tempat duduk­nya. Kaget benar ia. Cepat-cepat dike­na­kan kem­bali jubah­nya. Kata­nya pada istri­nya:

“Baik­lah kucari sen­diri.”

Kemu­dian jalan­lah ia men­cari Weda­wati. Cepat sekali jalan­nya. Seben­tar-seben­tar ia ber­ta­nya pada orang di jalan:

“Ada engkau lihat anakku? Ke mana per­gi­nya?”

Tiap orang yang menge­ta­hui, men­ja­wab­lah dengan segera dan hormat.

Sampai di padang rumput Sang Empu seka­rang. Anak-anak gem­bala masih banyak di sana. Pada salah seo­rang di antara mereka, ber­ta­nya­lah ia:

“Ada di antara engkau tahu ke mana anakku pergi?”

“Kak Weda­wati yang cantik?” tanya seo­rang gem­bala.

“Yang mena­ngis sepan­jang jalan?” tanya yang lain.

“Ya, itulah anakku Weda­wati. Ke mana dia?” tanya Sang Empu.

“Pergi ke luar dusun, bapak Empu,” seo­rang men­ja­wab. “Lurus ke selatan. Barang­kali ke kuburan ibunya.”

Sete­lah meng­u­cap­kan terima kasih banyak-banyak Empu Bara­dah segera pergi. Cepat-cepat per­gi­nya. Lang­sung ke kuburan seperti yang ditun­juk oleh anak-anak gem­bala.

Waktu mema­suki daerah peku­buran lang­kah­nya jadi lambat-lambat. Ia ter­i­ngat pada men­di­ang istri­nya yang diku­bur­kan di situ.

Kuburan itu masih sunyi-senyap seperti tadi­nya juga. Pohon-pohon besar dan rin­dang meng­ge­leng-geleng­kan tajuk­nya bila angin datang meniup. Burung ber­nya­nyi ber­sa­hut-sahutan. Di pucuk pohon beringin bebe­rapa ekor gagak mera­ung-raung. Dan sinar matari yang telah tipis mem­buat kuburan itu ber­tam­bah gelap. Jeng­ke­rik sudah mulai men­de­ring-dering.

Hati-hati Empu Bara­dah meman­dang ke kanan dan ke kiri. Kemu­dian ter­li­hat oleh­nya Weda­wati duduk ter­pe­kur di tanah di sam­ping kuburan men­di­ang ibunya. Per­la­han dan hati-hati ia men­de­kati. Ia tak mau gadis yang dika­sihi itu ter­ke­jut.

Sesu­dah dekat benar, ter­de­ngar oleh bisik­nya Weda­wati:

“Kea­daan di rumah tak sebaik dahulu; tak sebaik waktu ibu masih ting­gal di sana.”

“Sudah­lah, anakku, sudah­lah,” bisik Empu Bara­dah pada kuping anak­nya.

Bukan alang-kepa­lang kaget Weda­wati. Waktu meli­hat ayah­nya ada di sam­ping­nya segera orang tua itu dirang­kul­nya.

“Meng­apa engkau pergi dari rumah, anakku?” tanya sang Empu.

Dia­jak­nya Weda­wati pulang. Dan gadis itu tidak meno­lak. Anak dan ayah pun ber­ja­lan pelan-pelan pulang ke asrama Lemah Tulis.

Wedawati telah pulang. Lama ia tak keluar-keluar dari asrama. Jarang benar ia mengun­jungi rumah kawan-kawan­nya. Tidak seperti dahulu. Tetapi kalau kawan-kawan­nya datang ia tak meno­lak mereka. Dite­mu­i­nya mereka itu dengan senang hati.

Memang sudah adat Empu Bara­dah tidak meng­a­jar dan mewe­jang tiap hari di per­ta­paan Wis­a­muka. Dua atau tiga bulan baru ia turun ke per­ta­paan. Kadang-kadang pun hingga seta­hun.

Dan seka­rang, sudah lama benar ia belum turun juga. Ia ting­gal di asrama mem­pel­a­jari ber­pu­luh-puluh kitab. Bila hari telah malam, dia­jar­i­nya Weda­wati ber­ba­gai ilmu. Tidak satu ilmu saja yang dia­jar­kan. Banyak juga. Weda­wati harus bel­a­jar ilmu bumi, ilmu alam, agama, ilmu budi pekerti, bahkan juga fil­sa­fat. Sang Empu ingin anak­nya pandai dan cerdas. Ia pun ingin anak­nya tenang dan selalu ten­te­ram hati­nya.

Barang­kali karena ayah­nya orang cerdas, Weda­wati begitu juga. semua pel­a­jaran dengan gam­pang dapat dite­ri­ma­nya. Seka­rang gadis itu telah ber­i­ba­dah. Taat sung­guh ia pada aga­ma­nya. Tambah banyak ia meno­long orang yang susah. Tak jarang ia datang ke tempat orang-orang sakit mem­bawa buah-buahan dan meng­hi­bur. Tentu saja senang orang-orang yang sakit itu men­da­pat obat, buah-buahan, dan hiburan.

Karena Weda­wati dan ayah­nya ber­a­gama Hindu, dengan sen­di­r­i­nya mereka ibadah secara agama Hindu.

Tak jarang Weda­wati menyen­diri dalam khal­wat­nya.

Di sana ia memuja dewa-dewa­nya. Di sam­ping­nya, asap ratus meng­a­lun ke atas dengan dama­inya.

Ber­i­ba­dah itu mele­nyap­kan segala sifat yang buruk. Iri hati, dengki, khizib, dendam, semua itu hilang dari hati Weda­wati.

Weda­wati adalah gadis yang cantik, peno­long, dan saleh.


VIII

Raja Membutuhkan Bantuan Sang Pertapa

Penyakit tambah menghebat. Ratusan orang mati tiap hari. Tak sempat lagi orang mengu­bur­kan kera­bat atau saha­bat yang mening­gal. Mayat ter­golek-golek di sepan­jang jalan, di dalam rumah, di sawah, bahkan di dekat-dekat istana demi­kian pula.

Bukan main amarah Sang Baginda meli­hat keseng­sa­raan rak­yat­nya, dise­bab­kan oleh keja­hatan bebe­rapa orang saja itu. Tetapi apa daya­nya? Bala ten­ta­ra­nya yang kuat dan pernah menak­luk­kan ber­ba­gai negeri tak bisa mela­wan tukang sihir yang ber­sen­ja­ta­kan sihi­r­nya. Tak habis-habis ia memi­kir­kan bagai­mana dapat mem­bi­na­sa­kan Calon Arang beserta murid-mur­id­nya.

Hampir dari tiap rumah ter­de­ngar tangis meng­hiba-hiba. Saban hari ada orang-orang yang masih sehat ber­du­yun-duyun ke candi dan ber­de­ngung­lah doa memo­hon kese­la­matan dari para dewa. Saban hari ter­de­ngar rintih kesa­kitan dan tangis serta jerit kese­dihan dan keta­kutan. Banyak orang meng­ungsi mening­gal­kan daerah-daerah yang sudah diserbu oleh penya­kit. Tetapi di tengah per­ja­lanan mereka ter­se­rang penya­kit juga dan roboh di ping­gir jalan.

Sawah dan ladang tak sempat diolah lagi. Semak dan rumput mera­yap mera­ja­lela. Seri kera­jaan Daha kini men­jadi suram.

Lalat besar-kecil mera­ja­lela dan ter­bang ber­dansa-dansa kian kemari tambah mele­bar­kan serangan penya­kit. Dan karena rumput dan semak mera­ja­lela, mar­ga­satwa pun ber­a­nak-biak dengan cepat­nya. Di selu­ruh negeri itu hanya satu dua orang saja yang tidak kurus.

Kata orang,pada waktu itu banyak setan ber­su­ara dari ang­kasa, dari pohon-pohon, dari padang dan dari mana-mana saja.

Dari sana-sini orang dengar murid-murid Calon Arang meng­em­bara ke selu­ruh negeri. Dengan garang dan ang­kuh­nya mereka keluar masuk rumah dengan tiada minta izin. Belom­patan dari lantai ke tempat tidur. Di dalam rumah mereka menan­dak-nandak minta diberi sesaji darah hangat dan daging mentah.

Di mana-mana murid-murid itu mena­kut-nakuti orang-orang dengan ting­kah­nya yang cong­kak.

Penya­kit tambah meng­he­bat. Tak ber­ku­rang sedi­kit pun. Pung­gawa-pung­gawa negara tak bisa ber­buat apa-apa. Mereka pun takut kena teluh Calon Arang dan murid-mur­id­nya yang tak dapat dito­lak itu.

Demi­ki­an­lah kea­daan negara Daha waktu itu.

Pada suatu hari Sri Baginda meng­a­da­kan sidang lagi. Penuh­lah bang­sal per­si­dangan.

“Penya­kit itu dise­bab­kan karena mantra. Karena itu bala ten­tara tak bisa menum­pas­kan­nya. Kalau bala ten­tara dike­rah­kan juga, akan bur­uk­lah aki­bat­nya,” kata Sri Baginda. “Karena itu mantra harus dila­wan dengan mantra. Tak ada jalan lain.”

Hadirin mem­be­nar­kan pen­da­pat Sang Baginda. “Karena itu pula,” Baginda mene­rus­kan, “kami perin­tah­kan pada semua pen­deta di selu­ruh negara untuk turut men­cari jalan yang baik.”

Pen­deta-pen­deta yang dipang­gil itu adalah yang pandai-pandai belaka, mahir dalam segala mantra dan maklum akan segala teluh orang-orang jahat.

“Kami perin­tah­kan seka­rang, semua pen­deta yang meng­ha­dap pergi memuja ke candi, mohon petun­juk dari Dewa Agung guna men­da­pat obat mujarab untuk mem­be­ran­tas penya­kit ini.”

Sete­lah per­si­dangan bubar, semua pen­deta yang hadir pergi ber­ba­reng ke candi. Di sana mereka ber­ba­reng memo­hon Dewa Agung agar diberi petun­juk bagai­mana cara mem­be­ran­tas penya­kit. Juga mereka memo­hon agar kea­manan, kese­hatan, dan kemak­muran selu­ruh rakyat negara Daha dikem­ba­li­kan seba­gai tadi-tadi­nya.

Ramai­lah candi ker­jaan waktu itu. Pen­du­duk pun datang menyak­si­kan dari luar candi. Mereka keli­hatan kurus-kurus seperti tak makan dalam enam hari.

Di dalam candi, para pen­deta ber­ba­reng ber­se­madi. Asap pedu­paan besar menge­pul-ngepul ke langit. Per­mo­honan para pen­deta itu ter­ka­bul juga akhir­nya.

Maka datang­lah Dewa Guru mela­lui asap pedu­paan, kemu­dian ber­diri tegak di atas api. Ber­kata Dewa ini:

“Ber­ba­ha­gi­a­lah engkau semua. Penya­kit yang hendak engkau tolak sudah masa­nya harus dice­gah. Cuma seo­rang saja yang kuasa mela­wan teluh si Calon Arang. Dan orang itu ialah seo­rang pen­deta yang ber­as­rama di Lemah Tulis. Empu Bara­dah nama­nya, seo­rang per­tapa yang telah lulus dalam segala macam ilmu. Dialah yang ber­tuah segala man­tra­nya. Ia pula­lah kelak melin­dungi kera­jaan, mem­be­ran­tas segala keru­suhan dan keo­naran.”

Seha­bis bicara, hilang­lah Sang Dewa Guru. Lenyap ia dari peman­dangan.

Para pen­deta meng­a­khiri semedi masing-masing. Segera mereka meng­ha­dap Sri Baginda dan mela­por­kan hasil peker­jaan.

SEGERA Sri Baginda Raja meme­rin­tah­kan Kan­dur­uan Banyak ia mena­si­hati Kan­dur­uan agar ber­si­kap hormat pada Empu Bara­dah dan meng­ha­dap benar-benar agar pen­deta yang mulia itu segera sudi turun tangan meng­han­cur­kan selu­ruh penya­kit.

Sete­lah habis perin­tah Sri baginda, Kan­dur­uan cepat-cepat melom­pat ke atas kuda­nya dii­ring­kan pasuk­an­nya.

Waktu sampai di depan asrama Sang Empu kuda-kuda lantas dicen­cang. Kan­dur­uan masuk dengan hormat ke dalam. Pasuk­an­nya menunggu di luar rumah. Kebe­tulan Sang Empu tidak meng­a­jar.

Sang Pen­deta ber­kata sopan:

“Sia­pa­kah tuan, pri­yayi yang tak pernah kujum­pai?”

“Kan­dur­uan hamba ini,” jawab Kan­dur­uan dengan hormat.

“Dari mana, tuan pri­yayi?”

“Hamba ini dari ibu­kota, mem­bawa perin­tah ananda Sri Baginda Raja.”

“Apakah yang dapat kuper­se­m­bah­kan kepada Sri Baginda?” tanya Sang Pen­deta.

“Paduka tuanku diha­rap­kan oleh Sri Baginda sudi datang ke Daha untuk mem­ba­tal­kan teluh Calon Arang.”

“Siapa itu Calon Arang, pri­yayi?” tanya Sang Empu.

“Itulah janda dari desa Girah. Dia tukang sihir yang manjur teluh­nya. Telah banyak pen­du­duk mening­gal karena ting­kah­nya,” ujar Kan­dur­uan.

“Apakah sebab­nya janda dari Girah itu marah-marah pri­yayi?” tanya Sang Empu pula.

“Ia ber­a­nak seo­rang perem­puan. Sampai seka­rang tak ada yang mau mem­per­is­tri anak­nya itu. Itulah sebab­nya ia marah-marah,” dan sete­lah mem­per­ba­iki duduk­nya. Kan­dur­uan mene­rus­kan: “Tidak­lah buruk anak­nya itu. Cantik bukan kepa­lang, kata orang Ratna Mang­gali nama­nya. Apakah jawab­nya yang dapat hamba sem­bah­kan kepada Sang baginda Raja, Maha-Empu?”

“Jadi itulah yang menye­bab­kan. Hmm,” kata Sang Bara­dah pada dir­i­nya sen­diri. Sangat pelan kata­nya itu. Kemu­dian sua­ra­nya dike­ras­kan. “Baik­lah, pri­yayi. Tuan lebih baik segera kem­bali meng­ha­dap Sri Baginda. Sem­bah­kan pada Baginda bahwa aku, Empu Bara­dah, sang­gup mem­ba­tal­kan teluh janda dari Girah yang ber­nama Calon Arang itu. Sem­bah­kan juga bahwa penya­kit pasti akan tumpas dan rak­yat­nya akan hidup aman kem­bali. Tetapi…”

Kan­dur­uan meng­ang­kat dan meman­dang Sang Empu. Waktu meli­hat Bara­dah akan mene­rus­kan ucap­an­nya, ia menun­duk­kan kem­bali.

“Harus­lah diker­ja­kan oleh Sang Baginda dengan jalan apa pun juga, yaitu ter­le­bih dahulu Ratna Mang­gali harus dijo­doh­kan. Deng­ar­kan­lah baik-baik, pri­yayi! Aku punya murid. Empu Bahula nama­nya. Seka­rang ia juga di sini. Kawin­kan­lah dia dengan Ratna Mang­gali. Segala ongkos upa­cara per­ka­winan dan emas kawin baik­lah Sri Baginda yang memi­kir­kan. Aku harap itu diker­ja­kan dahulu sampai beres sama sekali. Jangan tidak, pri­yayi! Jangan sampai Sri Baginda ter­lam­pau sedi­kit menye­di­a­kan harta benda untuk itu.”

Sete­lah pem­bi­ca­raan habis, utusan Baginda diper­si­la­kan ber­is­ti­ra­hat di pondok. Di sana mereka dijamu dengan ber­ba­gai penganan dan makanan serta buah-buahan. Serba leng­kap. Juga segala macam minuman yang ter­da­pat di dusun Lemah Tulis yang segar dan sedap. Girang­lah semua yang dijamu.

Waktu masa meng­aso sudah habis, berang­kat lagi utusan itu mem­bawa Empu Bahula.

Berita ten­tang kesang­gupan Empu Bara­dah disam­but dengan sorak kegi­rangan di mana-mana. Di alun-alun Daha utusan itu disam­but dengan seruan gegap-gem­pita. Para pra­ju­rit mem­bu­nyi­kan sang­ka­kala dan segala tabuh-tabuhan. Hari itu ber­seri-seri lagi pen­du­duk Daha.


IX

Wedawati Jadi Gadis Pertapa

Setelah lama tidak meng­a­jar dan mewe­jang di per­ta­paan Wis­a­muka, pada suatu hari ber­ka­ta­lah Sang Empu pada istri­nya:

“Hari ini aku akan turun ke per­ta­paan.”

Segera istri­nya menye­di­a­kan jubah Sang Empu. Selain jubah juga terom­pah dan selen­dang penu­tup leher.

Sete­lah sele­sai ber­pa­kaian, berang­kat­lah Empu Bara­dah. Di sepan­jang jalan ia men­da­pat peng­hor­matan dari orang-orang yang lewat.

Hari masih pagi waktu itu. Matari masih ter­tu­tup oleh pohon-pohonan. Kam­bing-kam­bing belum lagi digem­ba­la­kan. Sapi dan kerbau baru dibawa ke kali untuk diman­di­kan.

Embun masih tebal di udara. Dan rumput di tanah masih basah kuyup.

Empu Bara­dah ber­ja­lan ber­ge­gas. Ia selalu ber­ja­lan ber­ge­gas. Seka­li­pun sudah tua, ia masih kuat, karena selain banyak mem­pel­a­jari kitab, ia pun banyak bero­lah­raga dan kerja berat meng­o­lah ladang­nya.

Sete­lah sampai di per­ta­paan, segera Sang Empu mem­ba­kar pedu­paan. Asap dupa meng­a­lun ke atas. Di depan­nya duduk mur­id­nya ber­ja­jar-jajar. Semua menun­duk­kan kepala. Semua hormat belaka pada guru­nya. Semua kasih pada­nya. Sang Empu orang pandai. Sang Empu orang jujur. Sang Empu orang ber­budi.

Berjam-jam Sang Empu meng­a­jar. Ber­ba­gai ilmu disam­pai­kan pada murid-mur­id­nya. Siang hari Empu Bara­dah santap di per­ta­paan. Sudah itu pel­a­jaran dan wejangan dite­rus­kan lagi.

SETE­LAH Sang Empu pergi, Weda­wati menge­r­ja­kan peker­jaan rumah seperti biasa. Walau­pun banyak bujang di rumah, ia sen­diri menyapu dan men­cuci piring serta pakaian adik­nya.

Waktu mata­hari telah nampak, ia pun men­je­mur cuci­an­nya. Tidak disang­ka­nya ibu tiri­nya selalu saja ber­diri di bela­kang­nya.

Sete­lah sele­sai men­je­mur, ia hendak mandi. Tetapi tiba-tiba dita­han ibu tiri­nya. Ia dimaki-maki. Karena tak tahu kesal­ahan dir­i­nya, ia pun ber­ta­nya:

“Apa salah hamba, ibu?”

Tetapi ibu tiri­nya tak mau peduli. Terus saja mema­ki­nya. Akhir­nya Weda­wati diusir dari asrama.

Dengan baju basah, dan kain basah, ia pun pergi mening­gal­kan asrama. Sinar mata­hari yang mulai panas dengan penuh kasihan menge­ring­kan pakai­an­nya. Dan angin yang tiba-tiba bang­kit, datang pula meno­long men­ce­pat­kan kering.

Ia tak tahu ke mana harus pergi. Ayah­nya bukan ber­a­sal dari Lemah Tulis, karena itu ia tak punya paman atau­pun bibi. Nenek atau kakek­nya pun tiada. Yang ada hanya orang-orang yang baik hati pada­nya. Tapi pada mereka ia tak mau minta tolong.

Ke mana ia harus pergi?

Sambil ber­ja­lan ia terus ber­pi­kir. Ia ber­pi­kir dan ber­pi­kir. Juga men­cari-cari apakah kesal­ahan yang pernah diper­bu­at­nya ter­ha­dap ibu tiri­nya. Tetapi ia tak ingat sedi­kit pun telah pernah ber­sa­lah pada perem­puan tua itu.

Dengan tiada terasa ia telah sampai luar dusun. Dan dengan tiada sadar ia telah masuk ke peka­rangan kuburan. Lang­sung ia menuju ke tempat ibunya dima­kam­kan.

Waktu ia ter­ke­nang kem­bali pada ibunya yang ber­budi itu, bukan main benci hati­nya pada ibunya yang baru itu. Ia men­coba mema­af­kan keja­hatan perem­puan itu. Tetapi tak bisa. Ia tak bisa mema­af­kan. Sung­guh-sung­guh ia benci.

Karena keben­ci­an­nya, tak ingin ia pulang kem­bali ke asrama. Ia mau ting­gal dengan ibunya sen­diri. Ia ingin ting­gal dengan ibu yang kasih dan cinta pada­nya. Ia mau ting­gal saja di kuburan itu.

Diam-diam ia duduk di sam­ping kuburan men­di­ang ibunya. Tetapi ia tidak mena­ngis seperti dahulu. Ia memuja ibunya dan dewa-dewa yang dise­m­bah­nya.

Alam di luar sudah mulai gelap. Lampu-lampu telah dipa­sang belaka. Men­dung sangat tebal di langit. Karena itu segera Sang Empu turun dari per­ta­paan dan pulang buru-buru.

Di tengah per­ja­lanan angin yang keras meniup. Men­dung yang tebal diusir belaka oleh angin langit kem­bali cerah. Dan Sang Empu terus saja ber­ja­lan.

Sampai di asrama Lemah Tulis hari telah petang. Untung benar men­dung tadi tak jadi turun hujan.

Segera Sang Empu memang­gil-mang­gil anak­nya yang sulung.

“Wati! Wati! Ayah minta selop, nak.”

Tetapi Weda­wati tidak menya­hut. Ber­u­lang-ulang ayah­nya memang­gil. Tetapi anak­nya tetap tak men­ja­wab.

Istri­nya sedang di ladang meng­am­bil sayuran. Ia men­de­ngar juga suara sua­mi­nya. Tetapi ia ber­diam diri pura-pura tak dengar.

“Wati! Wati! Anakku manis, di mana engkau? Sedang meng­apa?”

Juga tak men­ja­wab.

Bujang-bujang pun tidak men­ja­wab. Mereka semua keta­kutan. Tak seo­rang pun di antara mereka berani menga­ta­kan apa yang telah ter­jadi pagi tadi.

Ter­paksa Sang Empu men­cari sen­diri selop­nya. Kemu­dian ia turun dari rumah dan meli­hat-lihat ke sana kemari. Dili­hat­nya bujang-bujang bekerja seperti biasa. Tetapi ia lihat juga semua mereka keta­kutan. Yang lelaki juga, yang perem­puan juga.

Sang Empu ber­pi­kir seben­tar. Kemu­dian tahu­lah ia, bahwa sudah ter­jadi sesu­atu di rumah­nya.

“Di mana anakku Wati?” tanya­nya pada seo­rang bujang.

“Ampun, tuanku. Hamba tidak tahu.”

“Sudah lama dia pergi?” Sang Empu ber­ta­nya lagi.

“Itu pun hamba tidak tahu, tuanku,:” jawab­nya.

Per­la­han-lahan Empu Bara­dah masuk kem­bali ke dalam rumah. Tenang-tenang ia duduk di tikar di pen­dopo menunggu keda­tangan istri­nya.

Waktu istri­nya datang, ia diam-diam duduk ter­me­nung di tikar.

“Tuanku,” kata istri­nya.

Sang Empu tetap menun­duk.

“Tuanku,” ulang istri­nya. “Tadi ananda Weda­wati ber­ke­lahi lagi dengan adik­nya. Kemu­dian dengan marah­nya ia pergi. Hamba tak tahu ke mana ia. Sampai seka­rang belum lagi pulang.”

Diam-diam Sang Empu bangun dari duduk­nya. Tenang-tenang ia kena­kan jubah dan pakai terom­pah. Meli­hat Sang Empu ber­diam diri saja, istri­nya men­jadi kecut. Ia tak berani ber­kata-kata lagi.

Waktu Empu Bara­dah mening­gal­kan rumah dii­kut­nya dari bela­kang. Kemu­dian Sang Empu dii­ring­kan­nya dengan pan­dang sampai tak keli­hatan lagi. Dengan bim­bang ia masuk ke dalam rumah. Ia merasa keta­kutan dan cemas. Segera dica­ri­nya anak­nya. Sete­lah ber­temu dia­jak­nya ber­main-main. Dan dalam ber­main itu lupa­lah ia pada keta­kutan dan kece­mas­an­nya.

Bergegas-gegas pen­deta itu ber­ja­lan.

“Ke mana lagi ia kalau tak keku­buran ibunya” pikir­nya.

Seka­rang ia tak tanya lagi pada siapa pun ke mana anak­nya pergi. Selain itu, memang tak ada orang tempat ber­ta­nya lagi. Dusun sudah sunyi. Anak-anak gem­bala telah pulang ke rumah masing-masing. Dan petani-petani telah berang­kat ke sawah siang tadi untuk men­jaga tanam­a­n­nya di malam hari, supaya jangan dir­u­sak celeng.

Sampai di kuburan segera ia ke tempat makam men­di­ang istri­nya. Dan betul­lah, di sana di dapat­i­nya Weda­wati sedang memuja. Hati-hati ia duduk di sam­ping anak­nya pelan-pelan ia hibur:

“Anakku, manis! Buat apa engkau mening­gal­kan rumah? Engkau mem­buat aku ber­se­dih hati. Mari pulang, anakku!”

Weda­wati meng­ge­leng­kan kepala. Ia tak mau pulang lagi. Ia tak ingin hidup ber­sama ibu tiri­nya. Karena tak mau menyu­sah­kan orang lain, ia pun tak sudi bila disu­ruh ting­gal di tempat orang lain.

Lama Empu Bara­dah meng­am­bil hati anak­nya. Tapi Weda­wati tak mau meng­u­bah pen­di­r­i­an­nya. Lama juga ayah itu meng­u­sap-usap rambut dan bahu anak­nya. Weda­wati tetap tidak peduli.

Sudah lama juga Sang Pen­deta itu mem­beri nasi­hat. Banyak juga pel­a­jaran disu­a­ra­k­an­nya. Tidak, Weda­wati tetap tak mau ikut pulang.

“Meng­apa engkau hendak menye­dih­kan hati ayahmu, Wati?”

“Ayah­anda,” kata Weda­wati sopan, “hamba sudah ber­niat ting­gal di kuburan ini. Hamba tak ingin pulang.”

“Kalau engkau ting­gal di sini, anakku, angin, hujan, panas, dan dingin udara itu akan mem­buat engkau tidak sehat,” ayah­nya mena­si­hati lagi.

“Biar­lah hamba sakit, ayah­anda. Biar­lah hamba sakit,” jawab Weda­wati.

“Meng­apa engkau menye­dih­kan hatiku, Wati?” tanya Sang Pen­deta.

“Bukan­lah maksud hamba menye­dih­kan ayah,” kata Weda­wati pula. “Kalau hujan turun, dan udara dingin, biar­lah hamba sakit. Biar­lah hamba lenyap. Kalau hamba lenyap dari muka bumi, tak adalah yang dengki ter­ha­dap diri hamba yang hina ini.”

“Siapa yang dengki padamu, anakku?” tanya Sang Empu.

Weda­wati tak men­ja­wab.

“Engkau ber­ke­lahi dengan ibumu, Wati?” tanya Sang Empu lagi.

Weda­wati tetap tak mau men­ja­wab.

“Semua orang kasih dan sayang padamu, anakku. Mari­lah pulang.”

Gadis itu tak mau juga pulang.

Seka­rang malam telah datang. Karena Weda­wati tak juga sudi pulang, ter­paksa Sang Pen­deta menung­gui anak­nya di kuburan. Ia memuja pada dewa­nya agar diu­bah­nya niat anak­nya itu. Tetapi pemu­ja­an­nya tidak ber­man­faat sama sekali. Weda­wati tetap pada niat­nya.

Di waktu fajar menying­sing dengan ber­ge­gas Sang Pen­deta pulang ke dusun. Di sana ia memang­gil pen­du­duk laki-laki yang telah dewasa supaya ber­kum­pul. Mereka itu murid-mur­id­nya juga.

“Anakku semua,” ujar Sang Pen­deta. “Karena anakku Weda­wati tak mau pulang dari kuburan, aku minta agar engkau semua dengan rela hati sudi men­di­r­i­kan rumah di peka­rangan kuburan untuk anakku.”

Orang-orang menga­ta­kan sudi dengan patuh­nya. Mereka semua ingin turut mem­bantu men­di­r­i­kan rumah itu.

Pada hari itu juga ramai­lah orang meng­ang­kati tiang dan papan serta batu-batu ke kuburan.

Weda­wati tak juga ber­ki­sar dari sam­ping kuburan ibunya. Ia tetap tenang meli­hat orang banyak mem­buat rumah di peka­rangan kuburan itu. Kadang-kadang saja ia meman­dang mereka dari tempat duduk­nya.

Gadis itu tetap sehat. Hawa dingin sema­lam dan embun sepagi tak kuasa mem­buat dir­i­nya sakit. Tanah basah di bawah­nya pun tak mengu­rangi kese­hat­an­nya.

Ribut orang bekerja tak mena­rik per­ha­ti­an­nya. Dahulu senang ia meli­hat orang bekerja. Tetapi seka­rang tidak.

Dengan sema­ngat gotong-royong orang-orang bekerja dengan giat. Dalam waktu seben­tar tiang-tiang dan palang-palang telah ter­pa­sang.

Waktu sang Empu datang lagi pada anak­nya, nampak ia ber­se­dih hati.

“Kalau sudah tetap niatmu, anakku,” kata­nya per­la­han, “untuk ting­gal di kuburan, seba­ik­nya engkau ting­gal di rumah yang aku suruh buat itu.”

Weda­wati tidak men­ja­wab. Juga ia tak meno­leh ke arah orang-orang yang sedang sibuk men­di­r­i­kan rumah.

“Dan ini ibumu ber­ki­rim makanan. Jangan kau biar­kan kosong perutmu di hawa dingin seperti sema­lam. Ibumu bilang, sejak kema­rin pagi engkau belum makan.”

Weda­wati tak juga mau bicara.

Hari itu juga rumah telah ber­diri di peka­rangan peku­buran. Ber­lo­teng rumah itu. Dengan kasih-sayang­nya Sang Pen­deta meme­gang tangan anak­nya. Weda­wati didi­r­i­kan. Dan gadis itu tidak mem­ban­tah. Lambat-lambat mereka ber­ja­lan ke arah rumah yang sudah jadi itu.

“Bawa semua per­ka­kas rumah yang ter­baik kemari. Juga per­ka­kas per­ta­nian dan per­ka­kas dapur.” Bebe­rapa orang pergi men­ja­lan­kan perin­tah Sang Pen­deta. Dan hari itu juga, rumah pun telah leng­kap berisi per­ka­kas dan dapat didi­ami.

SEKA­RANG Weda­wati ting­gal di peka­rangan peku­buran. Saban hari mem­ber­sih­kan kuburan ibunya. Sesu­dah itu baru mengu­rus rumah serta pera­bot­nya. Dalam bebe­rapa bulan saja peku­buran itu seka­li­gus beru­bah jadi taman bunga yang indah.

Tiap hari Weda­wati memuja di sam­ping kuburan ibunya. Di sana ia ber­i­ba­dah pada arwah orang yang kasih sayang dan cinta pada­nya, dan juga pada semua dewa­nya.

Sampai sore ia bekerja. Tak dibi­ar­kan­nya rumput tumbuh meru­sak­kan kuburan ibunya.

Saban hari Sang Pen­deta datang mem­bawa Weda-weda dan meng­a­jar­kan pada anak­nya ber­ba­gai ilmu yang patut dike­ta­hui setiap orang. Dan bila ber­ha­dapan dengan ayah­nya, tak pernah gadis itu ber­ta­nya ten­tang ibu, ten­tang adik, ten­tang asrama. Ia tak ber­ta­nya apa-apa selain ten­tang pel­a­jar­an­nya. Kalau ia ber­ce­rita pada ayah­nya, ia hanya ber­ce­rita ten­tang kuburan dan subur­nya bunga-bunga yang tumbuh.

Dengan tiada dike­ta­hui Weda­wati, ayah­nya telah men­jadi tua. Banyak sekali dari tena­ga­nya yang hilang karena memi­kir­kan gadis­nya yang tak mau ting­gal ber­sama kelu­ar­ga­nya itu.

Dan Weda­wati tetap pada pen­di­r­i­an­nya. Ia tak mau kem­bali ke asrama.

Seka­rang banyak orang datang untuk meli­hat kuburan yang telah jadi taman yang indah. Orang-orang ter­ce­ngang-cengang meli­hat­nya. Di dusun tak ada taman sein­dah itu. Di asrama Sang Pen­deta pun tidak. Kupu-kupu aneka macam ber­ter­bangan dengan girang­nya. Dan di tengah-tengah semua itu sebuah rumah kecil yang indah sekali ber­diri dengan damai.

Banyak orang datang menga­gumi taman. Juga banyak yang datang untuk meli­hat Weda­wati memuja di sam­ping kuburan ibunya. Semua memuji keta­ba­han gadis itu. Semua menya­lah­kan ibu tiri yang kejam itu. Menga­ta­kan mereka tidak berani, karena takut kena hukuman dewa-dewa dan Sang Pen­deta sen­diri.

Dalam seben­tar waktu telah ter­siar ke selu­ruh dusun itu keba­gusan taman per­ku­buran. Kabar itu pun ter­siar keluar dusun lain­nya. Dengan demi­kian, tambah lama makin banyak orang datang meli­hat Weda­wati. Mereka meng­ang­gap gadis itu telah jadi per­tapa pula.

Demi­ki­an­lah kea­daan Weda­wati, gadis per­tapa itu.


X

Rahasia Calon Arang Terbongkar

Sang Baginda Raja Erlangga sangat girang men­de­ngar berita yang dila­por­kan oleh Kan­dur­uan pada­nya. Lenyap segala keru­suhan, kese­dihan, kema­rahan, dan kejeng­kel­an­nya. Dengan tidak ber­tang­guh-tang­guh lagi ia meme­rin­tah­kan­nya pada Empu Bahula untuk berang­kat ke dusun Girah mela­mar Ratna Mang­gali.

Sete­lah Sang Baginda meng­ha­di­ah­kan barang-barang ber­harga dan uang untuk emas kawin serta upa­cara per­ni­kah­an­nya berang­kat­lah Empu Bahula ke dusun Girah.

Dengan naik kuda putih besar Empu Bahula dii­ring­kan oleh pasukan ber­kuda kera­jaan.

Pen­dek­nya iring-iringan itu sam­pai­lah sudah di dusun Girah. Empu Bahula segera duduk di ruangan tamu menunggu Calon Arang keluar. Ang­gota-ang­gota pasukan menunggu di pen­dopo. Kuda mereka cen­cang di kan­dang.

Kelu­ar­lah Calon Arang mene­mui tamu­nya. Kata­nya sopan:

“Ber­ba­ha­gi­a­lah yang baru sampai. Sia­pa­kah tuan, dan dari manakah datang?”

“Ber­ba­ha­gia pula­lah tuanku. Empu Bahula hamba, datang dari dusun Lemah Tulis. Keda­tangan hamba ini ialah hendak memo­hon kasih dari tuanku.”

“Sila­kan duduk, tuan,” kata Calon Arang girang.

Tamu itu pun duduk­lah ber­ha­dapan dengan tukang sihir itu.

“Semoga tuanku jangan gusar men­de­ngar per­mo­honan hamba,” kata Bahula lagi.

“Coba­lah terang­kan yang ter­kan­dung dalam niat tuan,” sambut Calon Arang.

“Keda­tangan hamba ialah hendak memi­nang putri tuan,” kata Bahula.

Bukan main girang Calon Arang. Seka­rang ia tak akan disi­n­dir-sindir dan diper­ca­kap­kan orang lain. Seben­tar lagi anak­nya jadi pengan­tin. Dengan girang ia pun men­ja­wab:

“O, apakah yang akan dima­rah­kan? Cuma si Ratna Mang­gali anak dusun, tak tahu adat kota.”

“Demi­ki­an­lah niat hamba. Bila tuan kebe­ratan, dan bila Ratna Mang­gali pun tak kebe­ratan…,” kata Bahula. “Hamba adalah Bahula, telah banyak mem­pel­a­jari ilmu, murid dari Empu Bara­dah yang ter­masy­hur itu.” Bahula diam seben­tar. Kemu­dian mene­rus­kan lagi: “Hamba harap tuan tidak kebe­ratan dengan per­mo­honan hamba itu.”

“Sangat girang hati hamba, Sang Pen­deta, karena tuan sudi mem­per­is­tri anak hamba. Tetapi sudah hamba kata­kan tadi, Ratna Mang­gali anak kam­pung yang tak tahu adat kota. Ker­ja­nya kaku dan kikuk. Dialah anak hamba satu-satu­nya.”

“Bagai­man­akah pen­da­pat tuan ten­tang per­min­taan hamba?” tanya Bahula.

“Hamba ber­syu­kur, Pen­deta. Hamba serah­kan anak hamba kepada tuan.”

“Dan emas kawin apakah yang harus hamba penuhi?” tanya Bahula.

“O, itu per­kara gam­pang, tuan Pen­deta! Sem­ba­rang hadiah tuan Pen­deta akan hamba terima dengan pera­saan syukur, beribu-ribu syukur,” jawab janda dusun Girah itu.

Sete­lah dida­pat per­se­tu­juan, emas kawin yang di bawah oleh pasukan kera­jaan itu dise­rah­kan kepada Calon Arang.

Perhelatan per­ka­winan itu dibuat besar-besaran oleh Calon Arang. Tentu saja, karena Ratna Mang­gali anak tung­gal. Dan anak itu disa­yang sekali. Harta-benda janda itu banyak, melim­pah-limpah. Tentu saja ia tak sayang kehi­langan seba­gian harta-ben­da­nya.

Beribu-ribu orang datang. Bukan karena sayang mereka datang menyak­si­kan per­ni­kahan itu. Tetapi karena keta­kutan. Tua-muda, laki-perem­puan semua keluar dari rumah masing-masing. Segala per­ma­inan ada di pesta itu. Segala makanan dan minuman ter­se­dia.

Hari itu Calon Arang orang yang paling ber­ba­ha­gia di selu­ruh dunia. Seben­tar-seben­tar ia ter­tawa-tawa. Ia merasa puas. Seka­rang anak­nya telah ber­su­ami.

Anak-anak kecil ber­te­riak-teriak kegi­rangan. Orang-orang tua juga ber­se­nang-senang. Semua men­da­pat makan cukup dan minum banyak.

Ber­hari-hari pesta itu dia­da­kan. Dari mana-mana orang datang. Pendek kata seka­rang Ratna Mang­gali telah ber­su­a­mi­kan Empu Bahula.

Beberapa hari sete­lah anak­nya kawin, Calon Arang pamitan dengan menan­tu­nya, hendak pergi seben­tar.

“Tuan menantu, hamba mau ber­ja­lan-jalan seben­tar,” kata­nya.

Kemu­dian per­gi­lah ia dengan mem­bawa kitab­nya. Lang­sung saja ia ke per­ku­buran. Sen­di­r­ian ia pergi. Menan­tu­nya disu­r­uh­nya ting­gal di rumah.

Demi­ki­an­lah tiap sore Calon Arang pergi mem­bawa kitab. Sebe­lum pergi sela­ma­nya ia pamitan dengan menan­tu­nya.

Lama-kela­maan tim­bul­lah curiga di hati Empu Bahula. Pada suatu hari ber­ta­nya kepada istri­nya:

“Kema­nakah ibu tiap sore pergi sen­di­r­ian itu? Keli­hat­an­nya perlu sekali. Ia baru kem­bali kalau beduk malam hari sudah ber­bu­nyi. Mang­gali, kalau engkau tahu, bilang­kan apa sebab­nya. Tidak­kah ibu takut pada bina­tang buas?”

Ratna Mang­gali tak buru-buru menya­hut.

“Tidak­kah engkau meng­kha­wa­tirkan ibu?” tanya Bahula lagi.

“Tidak,” jawab Ratna Mang­gali.

“Meng­apa tidak?”

“Sudah biasa ibu pergi di waktu sore kemu­dian pulang tengah malam.”

“Ceri­ta­kan­lah, apa sebab­nya, Mang­gali?” tanya Bahula.

“Biar­lah hamba ceri­ta­kan yang sebe­nar­nya. Tetapi, tuanku, ini tak boleh dide­ngar oleh siapa pun juga. Ini raha­sia. Raha­sia besar. Kalau ibu tahu raha­si­a­nya hamba bong­kar, pasti celaka hamba ini. Tidak tuan ceri­ta­kan, bukan?” tanya Mang­gali.

“Tentu saja takkan aku ceri­ta­kan kepada orang lain, Mang­gali!” kata Bahula. “Masa aku akan mem­bong­kar raha­sia ibu? Aku kan menan­tu­nya. Aku pun harus turut meme­li­hara keter­tiban rumah tangga, bukan?”

“Sebe­nar­nya, tuanku, keper­gian bunda ialah ke per­ku­buran dekat Candi Durga. Di sana ia mene­luh,” Ratna Mang­gali men­ce­ri­ta­kan raha­sia ibunya.

“Sia­pa­kah yang dite­luh, Ratna Mang­gali?” tanya Empu Bahula.

“Pen­du­duk negeri, tuanku. Semua pen­du­duk negeri.”

“Karena itukah seka­rang banyak orang mati dise­rang penya­kit?”

“Itulah peker­jaan ibu, tuanku,” kata Mang­gali lagi.

“O, o,” kata Bahula.

“Karena itu banyak sekali orang mati seka­rang. Beribu-ribu tuanku. Tiap orang keta­kutan. Tiap orang kha­wa­tir. Bang­kai ber­tum­puk-tumpuk tak ada yang meme­li­hara. Tuanku lihat sen­diri?”

“Ya, ya,” kata Bahula.

“Kitab ibu sangat ber­tuah. Kitab itu berisi segala macam ilmu. Karena itu tak pernah keting­galan. Barang ke mana ia pergi diba­wa­nya serta. Tuanku, ini raha­sia. Ini betul-betul raha­sia. Bukan­kah tuanku takkan ber­ce­rita pada orang lain?”

“Tentu saja tidak, Mang­gali!” Empu Bahula ber­janji.

Sete­lah itu Empu ter­diam. Baru­lah ia tahu raha­sia tukang sihir itu. Tahu­lah ia seka­rang betapa jahat perem­puan itu. Seben­tar-seben­tar ia meng­ang­guk-ang­gukan kepala. Ratna Mang­gali tak bicara lagi.

Kemu­dian Empu Bahula ber­kata lagi:

“Ratna Mang­gali, adikku! Ingin benar aku meli­hat kitab yang ber­tuah itu. Ingin aku tahu apakah isinya. Maukah engkau meno­long aku?”

“Meno­long bagai­mana, tuanku?” tanya Ratna Mang­gali.

“Kalau ibu sedang tidur, coba­lah ambil­kan kitab itu. Aku ingin tahu isinya. Engkau mau, bukan?”

“Tentu saja hamba mau meno­long, tuanku,” jawab Ratna Mang­gali dengan tidak ragu-ragu sedi­kit pun juga. “Nanti kalau ibu kelu­paan hamba ambil­kan.”

Pada suatu hari Calon Arang sedang tidur. Nye­nyak sekali tidur­nya. Ber­si­tin­jak Ratna Mang­gali men­de­kati tempat tidur. Dengan tak ter­de­ngar oleh ibunya, kitab ber­tuah itu diam­bil­nya. Segera dise­rah­kan­nya kitab itu kepada sua­mi­nya.

Sangat girang hati Empu Bahula mene­rima kitab ber­tuah itu.

“Seka­rang ter­pe­gang­lah semua raha­si­a­nya,” pikir­nya.

Sete­lah men­da­pat barang itu ia pamitan dengan istri­nya.

“Mau ke mana tuanku kini?” tanya istri­nya.

“Biar aku pergi jalan-jalan seben­tar,” jawab Empu Bahula. “Sudah lama juga aku di sini. Sejak nikah kita, aku tak pernah keluar rumah ini.”

Ratna Mang­gali meng­i­zin­kan. Seben­tar kemu­dian Empu Bahula telah melom­pat ke atas kuda­nya. Dipa­cu­nya kuda itu ken­cang-ken­cang. Lemah tulis­lah yang ditu­ju­nya. Peker­ja­an­nya sudah ber­ha­sil. Ia sudah mem­per­o­leh raha­sia Calon Arang tukang sihir celaka itu. Ia hendak mela­por­kan raha­sia itu kepada guru­nya Empu Bara­dah.

Kuda yang ditung­gangi lari laju, men­daki dan menu­runi gunung. Empat-lima kali harus menye­ber­a­ngi kali. Di tangan kiri Empu Bahula ter­se­lip kitab ber­tuah Calon Arang.

Di Lemah Tulis ia ber­temu dengan guru­nya. Kitab segera dise­rah­kan. Kagum Empu Bara­dah mem­baca kitab itu. Kata­nya:

“Inilah kitab yang sangat luar biasa isinya. Hanya saja si Calon Arang salah mem­per­gu­na­kan­nya. Kalau digu­na­kan untuk maksud yang baik ia akan segera men­da­pat terima kasih beribu-ribu manu­sia. Sayang ia salah mem­per­gu­na­kan.”

Sete­lah kitab itu ter­baca habis, bicara lagi Sang Bara­dah:

“Nah, Bahula, inilah kitab itu, suruh istrimu menyim­pan baik-baik. Kem­ba­li­lah engkau ke dusun Girah.”

Sete­lah sele­sai meng­aso, Empu Bahula melom­pat ke atas kuda­nya dan kem­bali ke dusun Girah. Di tangan kir­i­nya ter­se­lip kitab ber­tuah si Calon Arang…

Setelah menge­ta­hui raha­sia kitab itu, Empu Bara­dah pergi ke tempat-tempat yang diamuk oleh penya­kit. Tiga orang di antara murid-mur­id­nya yang ter­ke­muka meng­iring­kan.

Sepan­jang jalan mereka ber­temu dengan orang mati. Dengan tuah man­tra­nya Sang Empu meng­o­bati orang-orang yang sakit. Segera saja mereka sembuh. Tentu saja girang benar yang telah dise­m­buh­kan itu. Mereka meng­u­cap­kan beribu-ribu terima kasih.

Sang pen­deta pun meno­long orang-orang yang telah mening­gal. Bila mayat itu belum mem­bu­suk Sang Pen­deta memer­cik­i­nya dengan air. Dan hidup­lah kem­bali mayat-mayat yang telah mening­gal kena teluh itu. Kadang-kadang hanya dengan pan­dang, sen­tuhan, atau hem­busan napas, mayat-mayat itu dapat hidup kem­bali.

Barang ke mana Sang Empu datang, tentu beribu-ribu orang datang memo­hon berkah. Orang-orang yang mati ber­ha­yat kem­bali. Orang-orang sakit segera sembuh lagi. Karena itu tiap lang­kah Empu Bara­dah ber­tin­dak, ia dita­buri dengan bunga-bungaan aneka macam. Kalau mene­rus­kan per­ja­lanan, semua pen­du­duk sujud meng­hor­mat­i­nya.

Pada suatu dusun Empu Bara­dah meli­hat seo­rang perem­puan menum­puk kayu hendak mem­ba­kar mayat sua­mi­nya yang baru saja mening­gal. Cepat-cepat Empu Bara­dah men­de­kati. Bung­kus mayat itu diso­bek­nya.

Perem­puan itu melom­pat meng­ha­langi peker­jaan Sang Empu.

“Jangan ganggu sua­miku. Jangan ganggu dia!” kata­nya mela­rang.

“Sabar, anakku, sabar,” kata Sang Empu per­la­han.

Bung­kus mayat dibong­kar­nya sama sekali.

Kena sen­tuhan tangan Sang Pen­deta, jan­tung mayat itu mulai ber­de­tak per­la­han. Darah mulai meme­rah di muka­nya.

Perem­puan itu heran. Seben­tar ia meman­dang mayat sua­mi­nya. Seben­tar ia meman­dang Empu Bara­dah.

Sang Empu meng­u­sap dada mayat itu. Dan deta­kan jan­tung­nya men­jadi keras. Seben­tar kemu­dian mayat itu pun mem­buka mata­nya. Pelan-pelan ia bangun dan duduk di tanah. Ia ber­na­pas. Ia hidup kem­bali seperti tadi­nya.

Perem­puan itu girang sekali hati­nya. Sete­lah merang­kul sua­mi­nya segera ia sujud di depan Sang Pen­deta. Sua­mi­nya pun demi­kian pula. Sangat girang kedua laki-bini itu. Anak mereka banyak. Kalau si bapak mati, sia­pa­kah yang akan mem­beri makan anak-anak itu?

Tidak jauh dari tempat itu ter­golek tiga mayat. Yang dua belum lagi busuk. Sang Pen­deta memer­ciki mayat-mayat itu dengan air. Segera mereka bangun. Sete­lah meli­hat keli­ling seben­tar, cepat-cepat mereka menyem­bah orang yang telah meno­lak teluh yang telah meru­sak tubuh­nya.

Seha­bis meno­long, Empu Bara­dah menyu­ruh kedua mur­id­nya pulang kem­bali ke Lemah Tulis.

Sang pen­deta mene­rus­kan per­ja­lan­an­nya. Di suatu tempat ia ber­temu dengan perem­puan yang telah sete­ngah gila. Seben­tar ia ber­te­riak-teriak. Seben­tar lagi mena­ngis melo­long-lolong. Seben­tar pula meng­ge­rutu, karena sua­mi­nya mening­gal. Sudah lama mening­gal­nya. Lebih dari seminggu.

Meli­hat Sang Pen­deta yang ter­masy­hur itu, perem­puan itu segera sujud di atas tanah.

“Tuanku Sang Maha Pen­deta. Tolong­lah hamba ini. Tolong­lah suami hamba yang telah mening­gal.”

Sete­lah bangun dari sujud­nya dita­rik­nya ujung jubah Sang Pen­deta. Di bawa ke tempat mayat sua­mi­nya yang sudah mem­bu­suk.

“Inilah suami hamba, tuanku,” kata perem­puan itu lagi.

“Kalau ini tidak bisa dio­bati lagi. Ia sudah busuk,” kata Bara­dah.

Perem­puan itu memaksa dan memaksa.

“Kalau engkau men­de­sak-desak juga, lebih baik engkau ber­kum­pul saja dengan dia. Nanti engkau bisa ber­kum­pul lagi dengan dia. Ini azimat untuk kese­la­mat­anmu.”

Perem­puan itu mene­rima sebuah azimat. Seka­rang ia tak mena­ngis atau ber­te­riak-teriak atau meng­ge­rutu lagi.

Sang pen­deta mene­rus­kan per­ja­lanan.

Di sebuah peku­buran yang gelap dan dir­u­yaki semak belu­kar ia ber­henti. Dili­hat­nya banyak anjing menya­lak-nyalak di situ. Gaok gagak menu­li­kan kuping. Mereka beter­bangan di atas. Bera­tus-ratus pula yang ber­se­nang-senang di tanah mema­tuki mayat.

Waktu meli­hat Sang Empu lari semua bina­tang-bina­tang itu.

Empu Bara­dah masuk ke peka­rangan peku­buran itu. Dili­hat­nya banyak sekali mayat manu­sia di situ. Semua diper­cik­i­nya dengan air. Segera bangun­lah mayat-mayat itu. Mereka hidup kem­bali. Ratusan banyak­nya mereka.

Empu Bara­dah mene­rus­kan per­ja­lan­an­nya.

DI sebuah per­ku­buran lain­nya Sang Pen­deta mene­mui dua orang lelaki. Mereka buru-buru sujud pada kaki­nya.

“Siapa engkau, he lelaki? Aku belum pernah ber­temu.”

“Hamba inilah Wek­sirsa, Sang Maha Pen­deta. Dan yang satu ini kawan hamba si Mahisa Wadana. Kami berdua murid nyai janda Calon Arang yang masy­hur ke selu­ruh negeri itu. Kami berdua ini adalah orang-orang ber­dosa, Maha Pen­deta. Hanya tuan ham­balah yang sang­gup meng­am­puni dan mem­per­ba­ik­i­nya.

“Bangun­lah engkau berdua,” kata Empu Bara­dah. “Seka­rang aku belum bisa mem­per­ba­iki dan meng­am­puni jiwamu. Calon Arang yang harus dicari dahulu. Nah, per­te­mu­kan­lah aku dengan dia.”


XI

Daha Terlepas Sihir Calon Arang

Karena asyiknya meneluhi orang, jarang­lah Calon Arang ting­gal di rumah. Ber­tam­bah banyak juga orang yang mati kena teluh­nya, ber­tam­bah girang hati­nya.

Pada suatu hari sedang ia memuja di Candi Durga, datang­lah Dewi Durga pada­nya mela­lui asap pedu­paan. Dengan ring­kas dan tegas Dewi itu ber­kata pada Calon Arang:

“Engkau datang lagi, Calon Arang? Seka­rang engkau harus awas. Bahaya telah men­de­kati dirimu.”

Belum sempat tukang sihir itu menyam­pai­kan mak­sud­nya, Dewi itu telah lenyap. Tentu saja kecewa hati­nya. Ia mau minta supaya men­da­pat izin mene­luh Baginda Erlangga.

Seka­rang perem­puan itu merasa keta­kutan. Bahaya telah men­de­kati, kata Dewi tadi. Diam-diam ia duduk di bawah pohon beringin tua dan memi­kir­kan nasib­nya.

“Bahaya telah men­de­kati!” pikir­nya selalu. “Bahaya apakah itu? Meng­apa Dewi Durga tak menga­ta­kan? Meng­apa ia tak mem­beri nasi­hat bagai­mana cara meno­lak bahaya itu?”

Bingung­lah ia. Mata­nya tak ber­seri-seri lagi.

“Barang­kali murid-mur­idku bisa meno­long aku,” pikir­nya lagi.

Demi­ki­an­lah ia seo­rang diri di bawah pohon beringin tua di per­ku­buran. Tak ada orang di dekat­nya kecu­ali kuburan-kuburan yang tak dira­wat. Dengan ber­to­pang dagu ia memi­kir dan memi­kir. Tetapi tak juga men­da­pat piki­ran baik untuk meno­lak bahaya yang dira­mal­kan oleh Dewi Durga.

Karena asyik ber­pi­kir, tak dike­ta­hu­i­nya Maha Pen­deta Bara­dah telah ada dide­kat­nya dengan dii­ring­kan oleh Wek­sirsa dan Mahisa Wadana.

“Nyai!” kata Wek­sirsa per­la­han.

Ter­ke­jut­lah janda tukang sihir itu men­de­ngar sapaan itu. Segera bangun dari duduk­nya. Waktu dili­hat­nya ada seo­rang pen­deta di depan­nya, buru-buru ia ber­kata:

“Ber­ba­ha­gi­a­lah tuan yang baru datang.”

Empu Bara­dah meng­ang­guk.

“Nyai,” kata Wek­sirsa lagi, “semoga Nyai menge­ta­hui, bahwa ini adalah Sang Maha Pen­deta Bara­dah dari lemah Tulis. Beliau kuasa mengem­ba­li­kan manu­sia pada yang benar dan meng­am­puni dosa.”

Karena waktu itu Calon Arang sedang keta­kutan dan mem­bu­tuh­kan per­to­longan, segera ia ber­lu­tut dan menyem­bah Sang Maha Pen­deta. Kata­nya:

“Ampun Sang Maha Pen­deta. Sung­guh ber­ba­ha­gia hamba dapat ber­temu dengan paduka tuan. Tolong­lah hamba yang dur­haka ini. Lenyap­kan­lah segala dosa hamba dan beri­lah hamba jalan pada budi yang luhur. Ya, Maha Pen­deta sege­ralah paduka tuan menyu­ci­kan jiwa-raga hamba yang dur­haka ini.”

Empu Bara­dah meng­ge­leng-geleng­kan kepala. Calon Arang men­de­sak dan men­de­sak.

“Hai, janda Girah tukang sihir. Engkau Calon Arang yang banyak dosa. Jiwa-ragamu tak dapat disu­ci­kan lagi. Engkau tak bisa diam­puni lagi. Dosamu ter­lam­pau banyak. Puluhan ribu orang tak ber­dosa mati karena ting­kahmu. Begitu banyak orang yang kau buat seng­sara. Dosamu ter­lam­pau besar. Tak ada seo­rang pen­deta pun yang bisa meng­am­puni.”

Calon Arang meren­dah-ren­dah­kan diri supaya pen­deta itu mau men­su­ci­kan dir­i­nya. Tetapi Empu Bara­dah tetap meno­lak. Ia hanya meng­ge­leng­kan kepala. Tak sudi ia melu­lus­kan per­min­taan tukang sihir yang banyak dosa itu.

Karena tetap dito­lak, lupa­lah Calon Arang pada keta­kut­an­nya. Kema­rahan timbul. Mata­nya melo­tot galak. Selu­ruh tubuh­nya meng­ge­tar. Bibir­nya men­jadi pucat karena kema­rahan itu. Kedua tangan­nya meng­gi­gil. Mata­nya merah. Kening ber­ke­rut mena­kut­kan, sehingga alis­nya yang kiri dan kanan ber­sam­bung jadi satu. Napas­nya sesak oleh kema­rah­an­nya itu. Dada­nya turun-naik seperti pompa. Akhir­nya kema­rah­an­nya memun­cak. Dari mulut, kuping, dan mata­nya menyem­bur api keluar.

Wek­sirsa dan Mahisa Wadana mundur jauh-jauh meli­hat itu. Kedua keta­kutan ter­kena api yang keluar dari tubuh tukang sihir itu. Meli­hat ting­kah perem­puan tukang sihir itu, ter­ta­walah Sang Maha Pen­deta.

“Apakah yang kau per­buat itu?” tanya­nya sambil ter­tawa.

Calon Arang men­de­kat Empu Bara­dah. Tapi Sang Empu tidak mundur.

“He, Bara­dah!” teriak Calon Arang dengan suara ganas. “Engkau meno­lak perin­tahku. Engkau tak mau mem­buat diriku kem­bali jadi baik. Engkau tak sudi mele­nyap­kan semua dosaku. Mau apa tidak?”

Empu Bara­dah meng­ge­leng­kan kepala.

“Ker­ja­kan!” perin­tah Calon Arang. “Jangan sampai ter­kena teluhku. Engkau mau tahu siapa Calon Arang yang tak ter­tan­dingi di selu­ruh alam ini? Inilah dia orang­nya. Ker­ja­kan­lah perin­tahku, atau kubuat kau jadi barang ton­tonan yang paling hina.”

Wek­sirsa dan Mahisa Wadana terus men­ja­uhi kedua orang yang sedang ber­ha­dap-hadapan itu.

“Tidak mau? Kalau engkau kena angin tubuhku, hancur-luluh­lah engkau.” Calon Arang ber­te­riak-teriak keras. Sam­bung­nya: “Calon Arang belum punya tan­dingan di selu­ruh dunia. Jangan­kan engkau, hai pen­deta kurus. Kalau engkau kena tiup­anku, baru­lah engkau tahu siapa aku. Pasti engkau ter­ba­kar jadi abu. Kalau engkau mau lihat buk­ti­nya, pan­dang­lah pohon beringin itu. Kalau kena tiup­anku, pasti dia hancur ter­se­bar-sebar jadi abu.”

Sete­lah menga­ta­kan itu, Calon Arang segera meniup pohon beringin yang jauh dari tem­pat­nya. Api besar ter­se­m­bur dari mulut­nya. Pohon beringin yang kena tiup­an­nya itu ter­bang ke ang­kasa dan ter­ba­kar jadi api. Dalam seke­jap mata saja lenyap­lah pohon itu dari peman­dangan.

“Hai Bara­dah! Kenal engkau seka­rang siapa aku?” teriak perem­puan itu.

“Per­li­hat­kan selu­ruh kepan­dai­anmu,” Empu Bara­dah ber­kata tenang.

“Kurang ajar kau, pen­deta kurus!”

“Ayolah, per­li­hat­kan segala kebi­a­sa­anmu. Bara­dah ingin tahu,” ujar Empu itu dengan sangat tenang­nya.

Ber­tam­bah marah Calon Arang men­da­pat tan­tangan seperti itu. Dada­nya kem­bang-kempis. Keri­ngat ber­ma­nik-manik di kening dan mene­tes-netes di dada­nya. Sete­lah dili­hat Maha Pen­deta itu tak gentar meli­hat kepan­dai­an­nya, segera ia meniup. Api besar menyem­bur dari mulut dan meng­gu­lung Sang Empu. Tetapi Bara­dah tidak ter­ma­kan api yang keluar dari mulut­nya itu. Beliau tetap ber­diri tenang di tem­pat­nya.

Lama api itu mem­ba­kar Sang Empu. Dan Calon Arang terus meniup sambil mera­ung seperti singa. Api tambah besar. Tambah besar. Tetapi Empu Bara­dah tak ter­ba­kar oleh­nya.

Meli­hat Bara­dah taka pa-apa, ber­tam­bah murka tukang sihir itu. Gigi­nya geme­le­tuk. Badan­nya mem­bung­kuk sampai kecil. Kemu­dian ia melom­pat mener­kam. Bulu teng­kuk­nya ber­diri seperti ayam sedang ber­sa­bung.

“Kelu­ar­kan selu­ruh kepan­dai­anmu,” kata Bara­dah.

Api dari tubuh janda itu kian jadi besar. Keluar-masuk ber­sama napas­nya. Bunyi api keluar-masuk itu menge­ri­kan seperti rumah keba­karan.

Akhir­nya Sang Maha Pen­deta ber­kata dengan kepas­tian:

“He, kau, Calon Arang mesti mati!”

Waktu itu juga mati­lah Calon Arang. Lenyap api yang keluar-masuk dari tubuh­nya. Lenyap api yang besar seperti rumah ter­ba­kar itu. Dan meli­hat guru­nya telah mati baru Wek­sirsa dan Mahisa Wadana berani men­de­kat…

SEKA­RANG Calon Arang ter­golek di tanah. Tak gerak-gerak ia. Wek­sirsa dan Mahisa Wadana meman­dangi bekas guru­nya dengan sangat kagum dan kaget. Kedua orang tadi­nya mengira, bahwa Calon Arang­lah satu-satu­nya orang yang paling manjur sihir dan tuah­nya. Rupa-rupa­nya ia dengan gam­pang saja dila­wan oleh Empu Bara­dah.

Sang Maha Pen­deta masih ber­diri di tem­pat­nya. Dipan­da­ng­i­nya mayat itu diam-diam. Kemu­dian ia ber­kata pada dir­i­nya:

“Ini tidak baik. Tidak ada guna­nya kalau ia mati begitu saja sebe­lum jiwa­nya diber­sih­kan. Ini arti­nya pem­bu­nuhan.”

Sete­lah ber­kata pada dir­i­nya sen­diri diti­up­nya mayat itu pelan-pelan. Segera Calon Arang bangun kem­bali.

“Hai, Pen­deta Lemah Tulis!” teriak perem­puan itu. “Untuk apa kau hidup­kan aku lagi? Bukan­kah lebih baik aku mati?”

“Mati adalah gam­pang, Calon Arang. Tetapi mati itu tidak ber­guna kalau tidak mem­bawa kesu­cian. Baik­lah kusu­ci­kan jiwamu dahulu,” kata Empu Bara­dah.

Men­de­ngar itu bukan main girang Calon Arang. Ia telah meng­a­n­i­aya dan mem­bu­nuh puluhan ribu orang. Itu suatu keja­hatan. Dosa besar. Karena itu jiwa­nya kotor. Cuma orang-orang suci yang bisa meng­hi­lang­kan keko­toran jiwa itu.

Empu Bara­dah mem­beri pel­a­jaran ten­tang budi pekerti yang baik pada janda Girah itu. Pel­a­jaran itu mem­buat tukang sihir itu insaf akan segala kebu­r­ukan hati dan per­bu­at­an­nya. Itulah sebab­nya ia girang sekali. Kemu­dian tukang sihir itu menyem­bah Empu Bara­dah dengan takzim.

Wek­sirsa dan Mahisa Wadana pun men­da­pat pel­a­jaran dari Sang Pen­deta. Lenyap semua sifat mereka yang buruk. Mereka jadi orang-orang yang ber­budi.

Sete­lah itu Calon Arang dibu­nuh kem­bali oleh Sang Empu. Mati­lah ia. Kema­ti­an­nya ber­arti kese­la­matan untuk orang banyak.

Seka­rang Wek­sirsa dan Mahisa Wadana men­jadi murid Bara­dah yang paling setia, paling penu­rut, dan paling pem­bela. Barang ke mana Sang Bara­dah pergi, kedu­a­nya meng­iring­kan.

Sete­lah sele­sai peker­jaan Sang Empu di per­ku­buran itu, mereka pun terus ke dusun Girah.

DI dusun Girah itu Sang Bara­dah ber­temu dengan mur­id­nya Empu Bahula. Bara­dah ber­ce­rita ten­tang Calon Arang telah mati. Kemu­dian Bahula disu­r­uh­nya segera ke ibu­kota. Disu­ruh meng­ha­dap Sang Baginda untuk menga­bar­kan kema­tian Calon Arang.

Perin­tah itu dija­lan­kan oleh Bahula dengan senang hati. Cepat-cepat ia melom­pat ke atas kuda­nya. Dengan tiada meno­leh-noleh ia men­ju­rus ke Daha.

Di gapura istana ia men­can­cang kuda­nya. Kemu­dian menyam­pai­kan pada pen­jaga bahwa ia akan meng­ha­dap Sri Baginda. Sete­lah diper­ke­nan­kan meng­ha­dap, Sri Baginda ber­kata:

“Apa kabar, Bahula?”

“Hamba meng­ha­dap ke bawah duli Sang Baginda ialah karena diutus oleh ayah­anda Tuan Sang Empu Bara­dah.”

“Apa kabar dari ayah­anda Empu?” kata Sri Baginda.

“Beliau menyem­bah­kan berita, bahwa Calon Arang telah mati sete­lah ber­tan­ding kesak­tian dengan ayah­anda Sang Empu Bara­dah. Calon Arang kalah dan mati.”

Girang bukan kepa­lang Sang Baginda men­de­ngar kabar itu.

“Diman­akah seka­rang ayah­anda Sang Empu? Ingin aku ber­temu.”

“Ayah­anda Sang Empu kini di dusun Girah,” jawab Empu Bahula.

Kemu­dian Sri Baginda Erlangga meme­rin­tah­kan Per­dana Men­teri menyi­ap­kan upa­cara untuk besok hari. Baginda akan meng­ha­dap Sang Pen­deta Bara­dah di dusun Girah. Per­dana Men­teri dipe­rin­tah­kan menyi­ap­kan pasukan yang leng­kap ber­sen­jata serta ken­da­raan-ken­da­raan leng­kap dengan panji-panji dan alat-alat kebe­saran.

Sete­lah sele­sai menyam­pai­kan kabar, Empu Bahula mun­dur­lah dari hadapan Sang Baginda.

Keesokan hari­nya Sri Baginda Erlangga berang­kat­lah ke dusun Girah. Ribuan bala ten­tara turut serta. Juga dayang-dayang, bayang­kara, Per­dana Men­teri Dar­ma­murti. Di depan Sang Baginda ber­ba­ris game­lan dan tukang­nya leng­kap dengan gen­de­rang, suling, sang­ka­kala, dan gong. Seperti pra­ju­rit berang­kat perang saja nam­pak­nya.

Sri Baginda duduk di kereta ber­la­pis emas yang dita­tahi dengan intan dan ber­lian. Pintu serta jen­dela dihi­asi dengan sutera dari Tiong­kok. Demi­kian pula halnya dengan kasur dan bantal kereta.

Di sepan­jang jalan pen­du­duk meng­hor­mati belaka.

Demi­ki­an­lah dengan segala kebe­saran Sri Baginda meng­ha­dap Empu Bara­dah di dusun Girah.

Sete­lah ber­temu Sri baginda memo­hon agar Sang Maha Pen­deta sudi meng­a­jar­i­nya ilmu budi pekerti yang baik. Sang Maha Pen­deta melu­lus­kan per­min­taan itu. Segala penge­ta­huan orang tua itu dicu­r­ah­kan belaka pada Sri Baginda.

Sete­lah tamat pel­a­jaran, kem­bali pula­lah Sri Baginda ke Daha.

Penge­ta­huan yang di dapat Sri Baginda itu diper­gu­na­kan­nya untuk mem­per­ba­iki kea­daan rakyat. Karena itu Erlangga sangat dicin­tai. Bahkan negeri-negeri yang takluk kepa­da­nya merasa senang belaka. Orang-orang Tiong­hoa dan India lelu­asa datang ke tanah Jawa untuk ber­da­gang. Bukan main bagus­nya per­da­gangan waktu itu. Tiap peda­gang men­da­pat untung yang baik. Perahu-perahu baru dibuat. Pela­yaran sangat rama­inya. Semua itu mem­buat senang dan mak­mur­nya selu­ruh rakyat.

Anak-anak kecil senang kem­bali ber­main-main di alun-alun atau padang rumput sambil meng­gem­ba­la­kan bina­tang masing-masing. Tak ada seo­rang pun yang merasa takut-takutan. Calon Arang telah tiada lagi. Penya­kit tak lagi seba­nyak dahulu. Sedi­kit benar orang yang mening­gal. Keba­nyakan mati ialah karena sudah tua.

Sawah dan ladang diolah lagi. Panen yang bagus tidak ber­ke­pu­tusan. Tak seo­rang pun yang takut akan kela­paran. Demi­ki­an­lah kea­daan kera­jaan Daha sete­lah Calon Arang mati.


XII

Kisah Terakhir Kerajaan Daha dan Empu Baradah

Setelah lama memerintah , Sri Baginda ber­has­rat untuk mening­gal­kan kera­jaan. Ia ingin ber­tapa jadi pen­deta. Karena put­ra­nya dua orang, maka sangat bingung­lah hati­nya. Kalau putra tertua meng­gan­ti­kan mah­kota, tentu saja putra kedua tak bisa jadi raja.

Lama Baginda memi­kir­kan put­ra­nya yang bungsu. Akhir­nya ia men­da­pat akal juga. Putra bungsu akan diang­kat­nya jadi raja Bali. Sete­lah pasti niat­nya, dipang­gil­nya para men­teri dan pung­gawa. Perun­dingan dimu­lai. Semua setuju bila sebe­lum meng­ang­kat putra bungsu jadi raja Bali diminta nasi­hat dahulu dari Sang Maha Pen­deta Bara­dah.

Segera Sri Baginda meme­rin­tah­kan Kan­dur­uan pergi ke Lemah Tulis. Sang Pen­deta ber­kata pada utusan itu bahwa ia akan ke Bali untuk men­du­duk­kan putra bungsu di sana.

Utusan Sri baginda kem­bali pula ke Daha.

Sebe­lum berang­kat ke Bali, Empu Bara­dah pergi ke per­ta­paan Weda­wati.

“Anakku,” kata­nya. “Ayah akan pergi. Agak lama juga barang­kali. Ayah harap engkau jangan pergi-pergi sebe­lum ayah datang. Kalau engkau ada niat hendak pergi, nan­ti­kan keda­tanganku, dan kita berang­kat ber­sama-sama.”

Weda­wati ber­se­dia menunggu ayah­nya. Dengan hati lega Sang Maha Pen­deta berang­kat­lah sen­di­r­ian ke pulau Bali.

Dan di Daha, girang­lah hati Sri Baginda men­de­ngar berita keper­gian Empu Bara­dah ke Bali. Seisi istana men­do­a­kan agar ia sela­mat saja dalam per­ja­lanan, tak kurang suatu apa.

Ber­pu­luh-puluh dusun dan kota telah dila­lui oleh Sang Maha Pen­deta. Akhir­nya sam­pai­lah ia di tepi laut. Tak tampak sebuah perahu pun. Karena itu diam­bil­nya selem­bar daun nangka. Daun itu diman­t­rai. Kemu­dian ia naik di atas­nya dan menyeb­rangi selat menuju ke pulau Bali.

Sete­lah sampai di Bali, lang­sung saja ia ke per­ta­paan Empu Kuturan1. Waktu itu sang Empu Kuturan sedang samadi. Karena itu Empu Bara­dah harus menunggu. Lama sekali Empu Kuturan samadi, sehingga Bara­dah jadi jeng­kel kare­na­nya. Dengan kesak­ti­an­nya ia pun mem­buat banjir yang meren­dam tempat Kuturan samadi. Tetapi Empu itu tak teng­ge­lam oleh banjir buat­an­nya. Ia tetap samadi.

Karena usa­ha­nya gagal, Bara­dah men­cipta beribu-ribu semut merah. Bina­tang-bina­tang itu perlu ke khal­wat Kuturan. Tetapi gigitan semut itu tak terasa oleh Kuturan.

Empu Bara­dah merasa bahwa ia kalah sakti oleh Kuturan.

Waktu Empu Kuturan habis ber­sa­madi, baru­lah ia mene­mui tamu­nya. Bara­dah mene­rang­kan apa yang jadi mak­sud­nya.

Marah benar Kuturan men­de­ngar berita dari Bara­dah itu.

“Begitu?” Tanya Empu Kuturan. “Aku tak meng­i­zin­kan putra bungsu Sri Baginda Erlangga mera­jai Pulau Bali. Cucuku sen­diri telah jadi raja di sini. Banyak sudah raja yang takluk pada­nya.”

Seka­rang Bara­dah pun marah men­de­ngar jawaban Kuturan. Segera ia mening­gal­kan per­ta­paan itu dengan tiada pamitan. Sampai di pantai dina­iki kem­bali daun nangka itu. Tetapi heran, daun itu tetap teng­ge­lam ke dalam air. Kem­bali ia meman­t­rai, tetapi daun itu tetap teng­ge­lam. Ia ber­pi­kir-pikir apa sebab­nya demi­kian. Akhir­nya tahu jualah ia apa sebab­nya. Ia mening­gal­kan per­ta­paan Empu Kuturan dengan tiada pamitan. Itu tidak sopan.

Cepat-cepat ia kem­bali ke per­ta­paan Kuturan. Ia minta maaf banyak-banyak. Dan Empu Kuturan mema­af­kan. Dan seka­rang daun itu tak teng­ge­lam lagi ditum­pa­ki­nya. Dengan daun itulah ia ber­la­yar pulang ke tanah Jawa….

Segala peng­a­lam­an­nya di Bali dice­ri­ta­kan belaka oleh Empu Bara­dah pada Sri Baginda.

“Bagai­mana pen­da­pat ayah­anda?” tanya­nya kemu­dian pada Bara­dah.

“Tuanku, baik­lah kera­jaan ini diparoh dua. Yang sebe­lah di namai Kediri dan dipe­rin­tah oleh putra sulung. Yang sebe­lah lagi dina­mai Jeng­gala2 dan dipe­rin­tah oleh putra bungsu.”

Semua men­teri dan pung­gawa yang hadir setuju belaka. Dan sejak itu kera­jaan Daha dipe­cah jadi dua kera­jaan kecil. Sri Erlangga sen­diri mening­gal­kan istana dan pergi ber­tapa. Empu Bara­dah kem­bali ke per­ta­pa­an­nya meng­a­jar murid-mur­id­nya lagi.

Waktu Kera­jaan Kediri menye­rang Jeng­gala, Empu Bara­dah juga yang menge­te­ngahi kakak-ber­a­dik yang ber­ke­lahi itu. Dibu­at­nya batas-batas yang tentu bagi kera­jaan-kera­jaan mereka. Perang lebih luas dapat dice­gah. Dan untuk jasa­nya ini Sang Maha Pen­deta men­da­pat hadiah dari kedua raja serta Sri Erlangga segala macam emas ber­lian dan perak.

Sesam­pai­nya di asra­m­a­nya sen­diri, segala keka­yaan itu dise­rah­kan­nya kepada anak yang lelaki. Sete­lah menye­rah­kan semua harta-ben­da­nya, per­gi­lah ia ke tempat Weda­wati ber­tapa. Dia­jak­nya anak­nya yang dicin­tai itu pergi jauh, jauh sekali.

Maka nam­pak­lah kedua orang itu ber­ja­lan ber­sama-sama, naik gunung. Tambah lama tambah kecil keli­hat­an­nya. Akhir­nya tak keli­hatan sama sekali. Sejak itu tak pernah orang men­de­ngar berita di mana mereka berdua berada.



Roman

Gadis Pantai

Cerita bersambung di Bintang Timur, 1962–1965; dibukukan Hasta Mitra, 1987. Teks dari edisi Hasta Mitra.

Bagian Pertama

Empat belas tahun umurnya waktu itu. Kulit langsat. Tubuh kecil mungil. Mata agak sipit. Hidung ala kadar­nya. Dan jadilah ia bunga kam­pung nela­yan sepeng­gal pantai kere­si­de­nan Jepara Rem­bang.

Hari demi hari batin­nya diisi derai ombak dan pan­dang­nya oleh perahu-perahu yang berang­kat di subuh hari pulang di siang atau sore hari, ber­la­buh di muara, menu­run­kan ikan tang­kapan dan menunggu besok sampai kantor lelang buka.

Ta telah ting­gal­kan abad sem­bi­lan belas, mema­suki abad dua puluh. Angin yang ber­su­ling di puncak pohon-pohon cemara tidak mem­buat per­tum­buh­an­nya lebih baik. Ia tetap kecil mungil ber­mata jeli. Dan tidak dike­ta­hu­i­nya — di antara derai ombak abadi suling angin dan datang-per­gi­nya perahu, sese­o­rang telah men­ca­tat­nya dalam hati­nya.

Maka pada suatu hari peru­tusan sese­o­rang itu datang ke rumah orang tua gadis. Dan bebe­rapa hari sete­lah itu sang gadis harus ting­gal­kan dapur­nya, sua­sana kam­pung­nya, kam­pung­nya sen­diri dengan bau amis aba­di­nya. Ia harus lupa­kan jala yang setiap pekan diper­ba­ik­i­nya, dan layar tua yang ter­gan­tung di dapur — juga bau laut tanah-airnya.

Ia dibawa ke kota. Tubuh­nya diba­lut kain dan kebaya yang tak pernah diim­pi­kan­nya bakal punya. Selem­bar kalung emas tipis seka­rang meng­hias leher­nya dan ber­ben­tuk meda­lion ber­ben­tuk jan­tung dari emas, mem­buat kalung itu manis ter­ta­rik ke bawah.

Kema­rin malam ia telah dini­kah­kan. Dini­kah­kan dengan sebi­lah keris. Detik itu ia tahu: kini ia bukan anak bapak­nya lagi. Ia bukan anak emak­nya lagi. Kini ia istri sebi­lah keris, wakil sese­o­rang yang tak pernah dili­hat­nya seumur hidup.

Iring-iringan hanya ter­diri dua dokar “kretek’, emak­nya, bapak­nya, dua orang paman­nya, ia sen­diri, bebe­rapa orang sau­da­ra­nya, dan lurah kam­pung­nya. Bawa­an­nya bebe­rapa lembar pesa­lin dan kue-kue buatan kam­pung nela­yan, dan makanan yang dibe­ri­kan sejak ber­a­bad dari laut, ber­ba­gai macam ikan dan rumput laut. Bedak tebal pada wajah­nya telah ber­gu­ris-guris menge­li­man­tang oleh air mata. Dan emak­nya selalu mem­per­ba­ik­i­nya kem­bali,

“Sst. Jangan nangis. Jangan nangis. Hari ini kau jadi istri pem­be­sar.”

Ia tak tahu apa yang di hadap­an­nya. Ia hanya tahu: ia kehi­langan selu­ruh duni­a­nya. Kadang dalam keta­kutan ia ber­ta­nya: meng­apa tak boleh ting­gal di mana ia suka, di antara orang-orang ter­sa­yang dan ter­cinta, di bumi dengan pantai dan ombak­nya yang amis.

“Sst. Jangan nangis. Mulai hari ini kau ting­gal di gedung besar, nak. Tidak lagi di gubuk. Kau tak lagi buang air di pantai. Kau tak lagi men­ja­hit layar dan jala, tapi sutera, nak. Sst, ssst. Jangan nangis.”

Empat belas tahun umur­nya. Dan tak pernah ia merasa kebe­ratan buang air di pantai, ter­ke­cu­ali di waktu bulan pur­nama — ia takut ular di waktu seperti itu.

“Sst. Jangan nangis, nak. Hari ini kau jadi istri orang kaya.”

Ia ter­i­sak-isak, ter­se­dan, akhir­nya melo­long. Ia tak pernah merasa miskin dalam empat belas tahun ini.

Peman­dangan pantai sepan­jang jalan, tum­buhan laut yang jadi semak-semak, kadal-kadal laut yang ber­canda-ria dan ketam pasir yang mundar-mandir ber­mandi mata­hari, semua tak mena­rik hati­nya. Irama tela­pak kuda tak ter­de­ngar oleh­nya. Ia meng­ang­kat kepala seben­tar waktu dokar ber­henti dan bapak­nya turun dari dokar di depan, meng­ham­pir­i­nya, dan: “Kau mau diam, tidak?”

Tubuh yang kecil mungil itu meriut seperti keong, keta­kutan. Ia tahu bapak­nya pelaut, kasar bero­tot per­kasa. Ia tahu sering kena pukul dan tampar tangan­nya. Tapi seka­rang, buat apakah pen­de­ri­taan ini? Dise­m­bu­nyi­kan muka­nya dalam pang­kuan emak­nya.

“Biar­kan dia pak, biar­kan.” Dan dokar ber­ja­lan lagi.

“Bapakmu benar, nak. Mana ada orang tua mau lem­par­kan anak­nya pada singa? Dia ingin kau senang seumur hidup, nak. Lihat aku, nak, dari kecil sampai setua ini, tidak pernah punya kain seperti yang kau pakai.”

“Ambil­lah ini buat mak.”

“Aku dan bapakmu ban­ting tulang biar kau rasa­kan pakai kain, pakai kebaya, kalung, anting sein­dah itu. Dan gelang ular itu…”, seka­rang emak­nya ter­henti bicara, mena­han sedan. Kemu­dian mene­rus­kan, “Uh-uh-uh, tak pernah aku mimpi anakku pernah menge­na­kan­nya.” Dan seka­rang mele­dak tangis­nya yang ter­ta­han.

“Mak juga nangis.” Gadis Pantai menyela antara sedan­nya.

Emak mem­bu­ang muka, mela­lui jen­dela dokar ke arah laut yang meng­hi­dup­i­nya sepan­jang umur. Tak mampu ia nya­ta­kan, ia nangis meli­hat anak­nya ke luar sela­mat dari kam­pung nela­yan, jadi wanita ter­hor­mat, tak perlu ber­ke­ri­ngat, tak perlu ber­lari-larian meng­ang­kat ikan jemu­ran bila rintik hujan mulai mem­ba­suh bumi.

“Mulai hari ini, nak,” emak­nya tak sang­gup mene­rus­kan, kemu­dian meng­u­bah bica­ra­nya: “Berun­tung kau men­jadi istri orang alim, dua kali pernah naik haji, entah berapa kali khatam Our’an. Perem­puan nak, kalau sudah kawin jelek­nya laki jelek­nya kita, baik­nya laki baik­nya kita. Apa yang kurang baik pada dia?”

Dia? Siapa dia? Gadis Pantai menu­tup mata. Ia tak bisa bayang­kan. Baik manakah dia dari Tumpon, abang­nya yang hilang di laut waktu badai mener­jang perahu? Baik manakah dia dari Kan­tang, abang­nya yang seo­rang lagi, yang waktu angkat jala yang ter­sang­kut pada batu karang, tidak timbul lagi untuk sela­ma­nya, dan hanya warna merah yang timbul ke atas? Dan itu adalah darah yang dihi­sap laut sete­lah ikan cucut mem­be­lah perut­nya. Maukah orang itu mem­be­ri­kan dir­i­nya buat hidup selu­ruh kelu­ar­ga­nya? Seperti Kan­tang?

“Dia pem­be­sar, nak, Orang ber­ku­asa, sering dipang­gil Ben­doro1 Bupati. Tuan besar resi­den juga pernah datang ke rumah­nya, nak. Semua orang tahu.”

Dokar mulai mema­suki jalanan dengan deretan toko orang Tiong­hoa. Semua itu pernah dili­hat­nya dua tahun yang lalu, waktu dengan orang-orang sekam­pung datang bera­mai ke kota, nonton pasar malam. Ia masih ingat buaya yang dipa­jang di atas pintu toko sepatu. Ia masih ingat toko pabrik tegel dengan bunga-bunga­nya yang ber­warna-warni. Ia masih ingat gedung-gedung besar dengan tiang-tiang yang tak dapat dipe­luk­nya, putih, tinggi, bulat.

Waktu dokar sampai di alun-alun, bapak mem­per­ba­iki letak baju­nya, ter­de­ngar men­da­ham dan meng­ga­ruk-garuk leher. Ia lihat ibunya geli­sah duduk di sam­ping­nya dan nampak mulai keta­kutan.

Dokar mem­be­lok ke kanan. Ia masih dapat meng­i­ngat seko­lah rakyat negeri, kemu­dian masjid raya. Di sebe­rang alun-alun sana gedung kabu­pa­ten, di sam­ping­nya seko­lah rendah Belanda, di sam­ping lagi sebuah rumah ber­ting­kat.

Jan­tung­nya ber­de­buran. Seki­las ia lihat bapak­nya dengan susah-payah turun dari dokar, buru-buru meng­ham­piri dokar­nya. Wajah­nya pucat. Sua­ra­nya sangat lembut:

“Turun, nak,” tapi mata­nya ter­te­bar ke mana-mana, akhir­nya ber­henti pada gapura yang hendak dila­lu­i­nya. Tak seo­rang pun penyam­but di gapura. “Mari, mari.” Tapi ia sen­diri tak ber­an­jak dari tem­pat­nya ber­diri.

Sewaktu semua sudah turun, mereka meng­ge­rom­bol di ping­gir jalan, tak tahu apa yang harus diper­buat. Pagar tembok ter­lalu tinggi untuk dapat menin­jau ke dalam. Emak menyen­tuh tangan bapak. Seperti dengan sen­diri bapak ber­bi­sik, “Mari, mari” tapi ia tetap tidak ber­an­jak.

Akhir­nya emak yang mulai meng­gan­jur lang­kah. Meli­hat tak ada yang meng­i­kut­i­nya, ia ter­henti mena­tap bapak. Dalam kegu­gup­an­nya bapak meraih tangan si Gadis Pantai — tak ada yang tahu siapa sebe­nar­nya yang ter­pa­pah. Dan ber­ge­rak­lah iringan pengan­tin itu, selang­kah demi selang­kah.

Mereka mele­wati rumah ting­kat yang sebe­nar­nya tak lain dari sebuah pavi­liun gedung utama di sebe­lah­nya. Mereka ber­henti di sebuah gang antara pavi­liun dan gedung utama. Seo­rang bujang ber­henti meng­a­mati mereka dari kaki sampai kepala.

“Mau apa?” tanya­nya.

“Ben­doro ada?”

“Baru beradu,” kemu­dian pan­dang­nya men­ja­mah Gadis Pantai.

Sua­sana leng­gang, peman­dangan di atas dihi­tami oleh puncak pohon-pohon beringin dan deburan ombak dari keja­uhan, mem­buat hati iringan pengan­tin men­jadi beku. Emak mem­buka mulut hendak bicara, tapi tak ada suara keluar dari mulut­nya.

“Kami datang hendak meng­ha­dap Ben­doro, kami baru datang dari kam­pung…”

Bujang itu pergi masuk ke dalam mela­lui pintu yang menga­nga dari pagar tembok agak rendah. Barang ke mana mata ditu­ju­kan, bila tak ke atas, yang nampak hanya warna putih kapur tembok. Sedang di sam­ping kanan iringan pengan­tin, di gedung utama, mem­bu­bung lantai setinggi ping­gang, kemu­dian sebuah pen­dopo dengan tiga baris tiang putih. Gadis Pantai takkan bisa meme­luk­nya, bapak pun barang­kali juga tidak. Tiang-tiang itu lebih besar dari pelukan tangan manu­sia. Setiap baris ter­diri atas enam tiang. Burung gereja kecil-kecil ber­ter­bangan ber­main-main di antara burung walet. Dan gagak pada pohon-pohon beringin sana tak henti-hen­ti­nya ber­gaok menye­ram­kan.

Seka­rang seo­rang perem­puan tua muncul di pintu, melam­bai­kan tangan. Dengan sen­di­r­i­nya iringan pengan­tin meng­ham­piri, kemu­dian juga mema­suki pintu. Mereka meng­i­kut­i­nya ber­ja­lan di bawah jen­dela-jen­dela besar, melin­tasi peka­rangan dalam yang ditum­buhi pohon-pohon delima serta pagar pohon king­kit. Mereka men­daki lantai, mema­suki ruang bela­kang yang begitu besar, empat kali lebih besar dari selu­ruh rumah mereka. Sebuah meja setinggi 40 cm ber­diri di tengah-tengah ruang. Mereka mela­lu­i­nya, kemu­dian masuk ke dalam ruangan yang pan­jang. Saking pan­jang­nya ruangan itu sehingga nampak seakan sempit. Bebe­rapa kursi ber­diri di dalam­nya dan sebuah sofa yang mera­pat ke din­ding. Di peng­hu­jung ruangan ter­da­pat kamar dengan pintu yang ter­buka lebar. Nampak di dalam­nya sebuah tempat-tidur besi ber­pen­tol kuningan meng­ki­lat, kelam­bu­nya menga­nga ber­kait pada jang­kar-jang­kar gading.

Mereka diting­gal­kan di ruangan pan­jang itu. Tak ada seo­rang pun bicara. Gadis Pantai lupa pada tangis­nya. Mereka tak berani ber­ge­rak, apa lagi mening­gal­kan kamar. Di luar kadang ter­de­ngar suara orang ber­bi­sik.

Akhir­nya seo­rang bujang wanita masuk mem­bawa air teh manis sambil meng­gen­dong bayi pada pung­gung­nya.

Dan rom­bongan pen­du­duk kam­pung nela­yan itu pun meng­iring­kan pan­dang­nya pada segala gerak-gerik bujang, semua mata ter­tuju pada bujang itu sen­diri — mereka-reka siapa gerangan orok pada pung­gung­nya.

“Sila­kan minum, sila­kan,” kata­nya sambil mem­bung­kuk, kemu­dian mundur-mundur ke bela­kang untuk mening­gal­kan kamar.

“Ben­doro belum bangun?” kepala kam­pung ber­ta­nya. “Nanti jam lima.”

“Aku kepala kam­pung…”

“Siapa berani bangun­kan?”

“Itu anak siapa?” emak ber­ta­nya, sua­ra­nya geme­tar ber­bi­sik. Orok itu dipu­tar dari bela­kang dan kini dalam gen­do­ngan depan. Anak itu beru­mur dua tahun. Hidung­nya man­cung. Mata­nya sedang ter­tu­tup tidur. Mulut­nya ternga-nga dan seba­ris gigi putih nampak men­de­ret kecil-kecil.

“Sunyi benar di sini?” kepala kam­pung ber­kata. “Sst. Jangan keras-keras. Di sini bukan kam­pung,” bujang mem­per­i­ng­at­kan.

“Itu anak siapa?” emak ber­bi­sik lagi ber­ta­nya. Sua­ra­nya ragu.

“Anak maji­kanku, anak Ben­doro.”

Emak meng­i­git bibir dan menu­tup­kan selen­dang pada pun­dak­nya.

“Di mana emak­nya?” bapak ber­ta­nya.

“Sst. Sst. Dia tak ber-emak, anak pri­yayi ber-ibu.”

“Di mana ibunya?” bapak men­de­sak.

“Pulang ke kam­pung.”

“Kapan kem­bali lagi kemari?” bapak men­de­sak terus “Takkan balik lagi. Dia dice­rai­kan.”

“Meng­apa dice­rai? Kapan?” bapak men­de­sak.

“Mana aku tahu?’itu urusan Ben­doro. Kapan? Hampir Dua tahun yang lalu.”

“Tapi anak ini takkan lebih dari dua tahun umur­nya ” emak seka­rang men­de­sak.

“Dua tahun belum pernah lihat ibunya.”

“Mati?”

“Tidak. Pulang ke kam­pung. Sejak itu tak pernah nampak lagi.”

Emak ter­de­ngar mena­rik nafas pan­jang dan meng­hem­bus— kannya.

“Sst. Jangan keras-keras,” bujang mem­per­i­ng­at­kan emak. “Di sini yang boleh ter­de­ngar hanya suara pem­be­sar yang datang ber­tamu kemari. Dan Ben­doro sen­diri tentu.”

“Jadi …,” kepala kam­pung hendak memu­lai.

“Sst,” dan mun­dur­lah bujang itu. Ia lenyap dari kamar.

Emak meng­ang­kat dagu Gadis Pantai dan mena­tap mata­nya. Gadis Pantai men­coba meme­luk­nya. Emak meno­lak­kan tubuh­nya. Kemu­dian dengar! seta­ngan mem­be­nah­kan letak pakaian anak­nya dan mem­be­dak­i­nya kem­bali. Emak meman­dangi bapak. Bapak meman­dangi kepala kam­pung. Dan Gadis Pantai meman­dangi air teh yang tiada ter­ja­mah. Betapa kering ia rasai dalam kerong­kong­nya. Ia tak berani. Di rumah ia boleh minum seke­nyang­nya sampai kem­bung. Dan dari luar kamar ter­de­ngar suara wanita, “Lekas mandi, nanti Ben­doro Guru datang, Agus masih kotor.”

Suara itu men­de­kat meng­ham­piri pintu. Akhir­nya ia masuk lagi ke dalam kamar dengan bayi masih ter­gen­dong di bela­kang­nya. Segera ia menam­pak teh yang tak juga ter­ja­mah. Ia men­coba ramah meng­u­cap­kan, “Sila­kan minum.”

Semua yang ada di kamar ter­se­nyum mengi­a­kan. Tapi teh tak juga ter­ja­mah. Bapak rasai keri­ngat mem­ba­sahi seku­jur badan­nya. Ia pun haus. Tapi keri­ngat ini lain, tak sama dengan yang ke luar waktu ia mena­rik jala dari perut laut. Yang ini tak menge­lu­ar­kan bau-bau yang sudah sangat ter­bi­asa bagi­nya.

“Siapa anak tadi?” emak ber­ta­nya kha­wa­tir.

“Agus.”

“Putera Ben­doro?”

“Ya.”

“Di mana ibunya?”

“Pulang ke kam­pung.”

“Kapan balik kemari lagi?”

“Takkan balik.”

“Kang­mas­nya bayi ini?” ’”

“Ya.”

Semua mata meng­a­wasi bayi dalam gen­do­ngan, ter­se­m­bu­nyi di balik pung­gung bujang wanita.

“Kalau begitu anak itu seba­gus anak ini,” kepala kam­pung mene­rus­kan.

“Tidak, ini lebih bagus. Dia dari ibu lain.”

Kepala kam­pung meng­ga­pai-gapai di dalam baju las­ting Ing­gris ber­warna hitam —baju keang­kat­an­nya. Ia betul­kan destar kemu­dian men­da­ham.

“Sst. Jangan keras-keras.”

Di meja teh tetap tak ter­ja­mah.

“mBok, mBok!” ter­de­ngar suara dari luar rumah, suara seo­rang pria dewasa.

“Sahaya Ben­doro Guru,” bujang itu menya­hut dengan suara ter­ta­han dan tanpa meli­hat pada para tamu kem­pung nela­yan ia keluar. “Agus Rahmat sedang mandi Ben­doro. Sila­kan duduk.” Seper­em­pat jam kemu­dian ter­de­ngar suara Ben­doro Guru bicara dalam bahasa yang mereka tak kenal dan suara Agus Rahmat men­ja­wab dalam bahasa yang mereka pun tidak kenal. “Betapa hebat Ben­doro meng­a­jar putera-pute­ra­nya,” kepala kam­pung ber­bi­sik. “Seke­cil itu sudah bisa bicara bahasa Belanda. Satu kata pun kita tak paham. Anakmu nanti,” kepala kam­pung meng­ha­dap­kan muka­nya kepada Gadis Pantai, “juga bakal diajar seperti itu.” Gadis Pantai kecut wajah­nya meraih tangan emak dan meng­geng­gam­nya erat-erat.

Di luar mata­hari ber­se­m­bu­nyi di balik puncak-pucuk pepo­honan kelapa, cemara dan beringin dan deburan ombak makin jelas karena makin meram­bah pantai. Ter­de­ngar suara per­la­han dari luar kamar:

“Apa mBok bilang?”

“Jangan main bola! Haram! Haram! Tak ingat pesan Ayah­anda? Itu per­bu­atan ter­ku­tuk orang-orang murtad. Ingat! Kepala Hasan-Husin yang mereka ten­dang! Apa Agus mau jadi kafir juga?”

Dan suara anak kecil ter­de­ngar mema­suki kamar, juga sama pelan­nya, “Peduli apa? Kami akan ber­tan­ding lawan seko­lah Belanda. Kami tak boleh kalah.”

Di antara deru ombak, per­ca­kapan dalam bahasa asing, dan beri­sik angin yang ber­ki­sar-kisar di udara bebas, sayup-sayup ter­de­ngar bunyi selop kulit berat ter­se­ret.

“Ben­doro sudah bangun,” kepala kam­pung mem­per­i­ng­at­kan.

Semua tegang mene­gak­kan tubuh. Pen­de­ng­aran ter­tuju pada sepa­sang selop yang ber­bu­nyi berat sayup ter­se­ret-seret di lantai. Bunyi kian men­de­kat dan akhir­nya nyata ter­de­ngar: buuuit.

“Apa itu?” emak ber­ta­nya pada kepala kam­pung. Ia kenal bunyi itu tapi ia tak yakin. Ia geleng­kan kepala. Di sini tak mung­kin ter­jadi. Tidak! Itu bukan bunyi yang biasa dide­ng­ar­nya, bunyi yang biasa mem­bi­kin ia geram pada laki­nya.

Ter­de­ngar bunyi selop ber­henti, kemu­dian, “Meng­apa aku tak diba­ngun­kan? Suruh ke sini kepala kam­pung itu!”

Sunyi senyap dalam kamar. Mata pada melo­tot meng­a­wasi pintu. Tak seo­rang men­de­ngar nafas kepala kam­pung yang ter­e­ngah-engah. Ia bang­kit. Sekali lagi meng­ga­pai-gapai ke dalam balik baju kebe­sar­an­nya. Dike­lu­ar­kan­nya keris ber­sa­rung kuningan ber­tang­kai kayu sawo tua ber­u­ki­ran tubuh katak. Dan keris diang­kat­nya tinggi sampai sega­ris dengan hidung­nya.

Sese­o­rang datang meng­ham­piri ruangan tempat tamu-tamu dari kam­pung nela­yan masih tetap geli­sah menunggu. Orang itu meni­lik ke dalam dan tanpa sesu­atu upa­cara lang­sung menyam­pai­kan, “Bapak kepala kam­pung diti­tah­kan meng­ha­dap!”

Hampir-hampir kepala kam­pung mem­buat kur­si­nya ter­ba­lik waktu ber­diri. Ia seka kening­nya dengan lengan baju kebe­sar­an­nya, kemu­dian melang­kah berat ke luar kamar — keris tetap ter­ang­kat setinggi hidung.

“Sela­mat. Sela­mat,” Bapak komat-kamit berdoa.

“Sela­mat,” emak mengu­at­kan.

Kepala kam­pung lenyap dari peman­dangan. Dan mereka semua ber­ju­ang mena­jam­kan pen­de­ng­aran. Tapi tak ter­de­ngar sesu­atu per­ca­kapan ter­ke­cu­ali dalam bahasa Belanda antara Ben­doro Guru dengan Agus Rahmat.

Tiba-tiba ter­de­ngar suara keras, “Apa!? Jadi kepala kam­pung tak tahu?”

“Sela­mat. Sela­mat,” Bapak kem­bali ber­ko­mat-kamit.

“Sela­mat,” sekali lagi emak mengu­at­kan.

Ceng­k­ra­man tangan Gadis Pantai pada lengan emak sema­kin ken­cang. Dan emak ber­bi­sik men­de­sak anak­nya, “Bilang: sela­mat.”

“Se-la-mat,” Gadis Pantai ber­bi­sik.

“Sela­mat,” emak ber­bi­sik dan sekali lagi, “sela­mat buat kau, nak.”

“Jangan aku diting­gal emak.”

“Diam. Sela­mat. Ayoh bilang lagi.”

Kamar itu tak ber­jen­dela. Sinar mata­hari hanya bisa masuk ke dalam mela­lui gen­ting-gen­ting kaca. Ini adalah ruangan pada bangu­nan paling bela­kang, tidak ter­buat dari batu tapi kayu. Pada din­ding-din­ding ber­gan­tungan pigura dengan kali­grafi huruf Arab. Mung­kin ayat-ayat Our’an. Sebuah cermin besar ber­bing­kai kayu tebal ter­u­kir dengan motif-motif Tiong­hoa ter­gan­tung di dekat pintu.

Sete­ngah jam telah ber­lalu. Bapak telah ber­mandi keri­ngat. Menum­buk jagung 40 pikul tidak­lah sebe­rat ini, emak ber­kata dalam hati. Gadis Pantai meriut di kur­si­nya seperti tikus habis kece­bur dalam air gula. Ter­li­hat kepala kam­pung seben­tar-seben­tar meng­in­tip ke luar pintu. Tapi tak ada ter­jadi apa-apa ter­ke­cu­ali kaki para bujang yang melang­kah mondar-mandir men­coba meng­in­tip.

Dengan wajah pucat kepala kam­pung akhir­nya muncul kem­bali. Seka­rang ia tak mem­bawa keris lagi. Lang­sung ia mena­tap emak, “Celaka,” desis­nya.

Seka­li­gus emak jadi pucat. “Meng­apa?” tanya­nya megap-megap.

“Kau tak pernah bilang, gadismu itu sudah haid apa belum?!”

Emak mena­tap bapak, kemu­dian pada si Gadis, “Sudah?” tanya­nya.

Dengan kepala masih menun­duk Gadis Pantai meng­ang­kat tapuk mata­nya, kemu­dian menge­rut­kan kening.

“Sudah?” emak men­de­sak Ter­nyata Gadis Pantai tak tahu apa itu haid.

Dengan amarah tanpa daya bapak men­de­sak, “Ngerti tidak kau? Tahu apa itu haid?”

Gadis Pantai hanya bisa meman­dangi emak dalam keta­kut­an­nya.

“Ah, nak, barang­kali salahku,” emak meng­a­ca­rai. “Jadi tidak ngerti haid. Itu nak, ah, itu — darah, ah kau ngerti?”

Kepala kam­pung meng­a­wasi emak dan anak ber­pan­dang-pan­dangan putus asa. Tiba-tiba dengan gesit­nya emak bang­kit mena­rik Gadis Pantai dan menye­ret­nya ke ujung kamar, duduk di atas sofa. Men­da­dak emak ter­pe­ran­jat dan segera ber­diri — empuk sekali kasur sofa itu. Dipe­gang-pegang­nya kasur itu seben­tar dan cepat ia mena­tap anak­nya ber­bi­sik. Gadis Pantai menyu­sul duduk — ia pun ter­pe­ran­jat ber­diri, meraba-raba kasur, tak jadi duduk. Ia ting­gal ber­diri men­de­ng­ar­kan bisikan emak, meng­ge­leng sambil meman­dangi emak. Meng­ge­leng lagi. Emak menge­rut­kan kening, meng­ge­leng mene­ngok ke sam­ping mena­tap sua­mi­nya. Akhir­nya dengan pan­dang putus asa emak ber­ja­lan meng­ham­piri bapak, ber­bi­sik, “Bilang saja: sudah.”

Dan bapak ber­kata pada kepala kam­pung, “Sudah. Benar sudah.”

Dengan ragu kepala kam­pung pergi lagi.

“Meng­apa kau tak dipang­gil?” emak ber­ta­nya pada bapak.

Dengan wajah seperti orang mena­ngis bapak hanya mem­ba­las dengan pan­dang­nya. Sau­dara-sau­dara Gadis Pantai tak ada yang bicara sejak berang­kat dari rumah.

“Kan jelek-jelek kau mer­tu­a­nya?”

“Kita pulang saja, mak?” Gadis Pantai ber­ta­nya.

“Husy!”

Waktu kepala kam­pung masuk kem­bali ke dalam ruang pan­jang, beduk magrib mulai ber­talu di mesjid raya, bebe­rapa puluh meter saja di luar gedung. Kemu­dian menyu­sul juga beduk bebe­rapa meter di sam­ping kiri ruang pan­jang itu.

“Nah,” kata­nya pada bapak. “Kewa­ji­b­anku sudah sele­sai. Kalian sudah kuse­rah­kan dengan sela­mat pada Ben­doro. Seka­rang aku pulang. Baik-baik­lah di sini.” Dan kepada Gadis Pantai, “Kau seka­rang ting­gal di sini. Bebe­rapa hari ini emak dan bapakmu akan kawani kau. Sesu­dah itu kau ting­gal di sini jadi nyonya Ben­doro, mengu­a­sai semu­a­nya.”

“Jadi kau mau pergi seka­rang?” bapak mem­pro­tes.

“Lantas? Apa mesti aku per­buat di sini? Kau mertua Ben­doro. Kau mesti bel­a­jar jadi mertua pem­be­sar. Jangan bodoh. Ajari baik-baik anakmu dalam bebe­rapa hari ini. Ngerti?” Kemu­dian ia pergi dan tak kem­bali lagi. Seo­rang bujang masuk ke dalam ruangan, mem­bawa emak dan bapak keluar ber­sama sau­dara-sau­dara Gadis Pantai.

Ting­gal Gadis Pantai ter­ma­ngu seo­rang diri di dalam.

Teh di atas meja sudah jadi dingin. Dan lampu lis­trik tiba-tiba menyala. Gadis Pantai ter­ke­jut. Dia­was­i­nya lampu itu sampai mata­nya ber­ku­nang.

Dengan tangan­nya yang kasar ia raba-raba taplak meja yang sepan­jang tepi­nya dihias dengan huruf Arab. Taoge-taoge pendek, cincin-cincin dan ber­ba­gai macam titik dan garis lekuk. Tiba-tiba ia menya­dari tidak pernah ada angin masuk mene­ro­bosi din­ding di sini dan hawa kamar terasa tiba-tiba men­ce­kik nafas­nya.

Sore-sore begini, selalu ia mem­ba­lik lesung kecil dari pojok rumah. Ditu­ang­nya udang kecil yang telah dije­mur­nya tadi siang dan ditum­buk­nya sampai halus. Kalau bapak sudah jatuh ter­ti­dur pada jam tujuh pagi, pasti datang orang Tiong­hoa dari kota meng­am­bil tepung udang itu. Emak meng­hi­tung uang pen­ju­alan, kemu­dian dima­suk­kan­nya ke dalam lubang di dalam tiang bambu.

Dir­u­angan ini tak ada lesung. Tak ada bau udang kering. Tak ada babon tong­kol ter­gan­tung di atas peng­a­sapan. Tak ada yang ber­gan­tungan di din­ding ter­ke­cu­ali kali­grafi-kali­grafi Arab yang tak menge­lu­ar­kan bau.

Bujang wanita kali ini tanpa bayi dalam gen­do­ngan kini kem­bali masuk. Gadis Pantai ber­diri dari kursi. Bujang itu mem­bung­kuk pada­nya, begitu rendah. Meng­apa ia mem­bung­kuk? Seben­tar tadi ia masih jadi sesa­ma­nya. Meng­apa ia begitu meren­dah­kan dir­i­nya seka­rang? Gadis Pantai jadi bim­bang, takut, curiga. Apakah semua ini?

Ke mana aku akan diba­wa­nya? Meng­apa tak boleh ber­sama. emak dan bapak? Ingin ia meme­kik.

Di dalam kamar tidur bujang mele­tak­kan bung­kusan di atas meja rias, mem­bu­ka­nya dan menge­lu­ar­kan anduk, sikat gigi, pasta, selop jerami buatan Jepang, sisir penyu yang ber­tang­kai perak, ber­ba­gai macam minyak wangi, bedak dalam kaleng jelas buatan luar negeri.

“Inilah kamar tidur Mas Ngan­ten2,” kata bujang dengan senyum bangga sambil ber­jong­kok di per­ma­dani yang meng­ham­par antara tempat tidur dan meja hias. Tak tahu harus ber­buat apa Gadis Pantai pun men­cang­kum, men­de­kat-dekat ke meja hias. Botol-botol minyak wangi dari ber­ba­gai macam bentuk dan bangun, gemer­lapan ter­timpa cahaya lis­trik mem­pe­so­na­kan peman­dang­an­nya. Ia raih sebuah, meng­a­mat­i­nya, men­cium-cium­nya, mena­tap bujang, meng­e­lus jumbai penu­tup­nya yang ter­buat dari benang sutera hijau. Begitu halus belai­an­nya. Ter­lupa ia pada kesu­nyi­an­nya, “Apa ini?”

Bujang itu ter­tawa sopan, “Minyak wangi Mas Ngan­ten.”

“Mas Ngan­ten? Siapa itu Mas Ngan­ten?”

Bujang itu ter­tawa ter­ke­keh dite­kan. Dipan­da­ng­i­nya maji­kan­nya yang baru dan ter­lam­pau muda itu, dibe­la­inya dagu­nya yang licin seperti kepala lele. Dan akhir­nya dengan empu jari ia menu­ding ke dada orang yang dila­wan­nya bicara.

“Sahaya?”

Kem­bali bujang itu ter­tawa ter­ke­keh dita­han. Mem­be­nar­kan. “Pada aku ini Mas Ngan­ten tak boleh sebut diri sahaya. Itu kata hina bagi penye­but di hadapan dan untuk Mas Ngan­ten.”

“Meng­apa?” tapi Gadis Pantai sudah tak peduli pada kea­nehan sebutan itu. Tangan­nya segera meraih sisir penyu ber­bing­kai perak. Pahatan pada bing­kai sisir meng­i­kat mata­nya. “Bagus­nya!” bisik­nya. Meng­apa dibawa kemari?”

“Semua ini buat Mas Ngan­ten.”

Gadis Pantai ter­pe­ran­jat. Sisir di tangan­nya jatuh di atas meja. Bujang itu nampak begitu asing, men­cu­r­i­ga­kan. Meng­apa barang-barang sein­dah itu buat dir­i­nya? Orang tuanya sen­diri tak pernah memer­lu­kan beli semua itu buat anak­nya!

“Buat aku?”

“Mari, Mas Ngan­ten. Ganti pakaian ini,” dan dibe­ber­kan­nya selem­bar pakaian pan­jang — baju kurung sutera, halus dan sangat ringan. “Ganti ini, Mas Ngan­ten. Lantas Mas Ngan­ten pergi mandi.”

Seperti sebuah boneka besar Gadis Pantai dike­lu­pas dari pakai­an­nya dan seperti kepom­pong ia mema­suki selong­song­nya yang baru: sutera biru muda. Ia mersa masih telan­jang bulat dalam pakaian seri­ngan itu — ia yang sering mera­jut dan meng­ang­kat jala 20 kg.

“Di kamar mandi sudah sahaya sedi­a­kan air dengan larutan minyak wangi dan bunga-bungaan, Mas Ngan­ten. Biasa mandi sen­diri?”

Per­ta­nyaan itu seke­tika menya­dar­kan Gadis Pantai dari pukauan. Ia mundur selang­kah, meng­a­wasi bujang itu seben­tar, kemu­dian pada sutera biru muda yang mem­ba­lut tubuh­nya. Apa semua ini? teri­ak­nya dalam hati. Tapi yang ke luar, “Mana emak?”

“Di kamar dapur.”

“Antar­kan aku pada­nya, mBok.”

“Sst.”

“Antar­kan!” Gadis Pantai menum­buk lantai dengan kaki sebe­lah.

“Ceh, ceh, ceh. Itu tidak layak bagi wanita utama, Mas Ngan­ten. Wanita utama cukup meng­ge­rak­kan jari dan semua akan ter­jadi. Tapi seka­rang ini, sahaya inilah yang mengu­rus Mas Ngan­ten. Sebe­lum Ben­doro mem­beri izin, Mas Ngan­ten belum bisa ber­temu. Mari, mari sahaya man­di­kan. Pakai selop itu.”

Men­de­ngar nama Ben­doro hati Gadis Pantai men­jadi kecil dan meriut. Dengan sen­di­r­i­nya kaki­nya yang tak pernah ber­san­dal, tak pernah ber­te­rom­pah, tak pernah ber­se­patu diju­lur­kan dan tiba-tiba saja selop rumput buatan Jepang telah ter­pa­sang pada kaki­nya. Waktu bujang itu meng­u­lu­r­kan tangan dengan sen­di­r­i­nya ia terima tangan itu digan­deng.

Mereka berdua ke luar kamar, melin­tasi ruang bela­kang yang empat kali besar­nya dari­pada rumah­nya di tepi pantai. Ben­doro Guru dan Agus Rahmat ter­nyata telah menying­kir dari ruang itu. Kedu­a­nya menu­runi jen­jang. Kini di hadap­an­nya ber­diri sebuah rumah besar ber­gen­teng hitam. Gadis Pantai ra ru seben­tar.

“Itu hanya dapur, Mas Ngan­ten.” Kedu­a­nya mem­be­lok ke: kiri, menepi ping­giran dapur dan kini sebuah kamar mandi besar, selu­r­uh­nya ter­buat dari batu, menga­nga di hadap­an­nya.

Waktu kedu­a­nya masuk ke dalam, seperti dengan sen­di­r­i­nya pintu ter­tu­tup. Kemu­dian ter­de­ngar gercik dan keci­bak air.

Gadis Pantai merasa aneh seku­jur tubuh­nya sete­lah kem­bali ke kamar dan ganti pakaian. Bau-bauan harum yang mem­bum­bung dari tubuh­nya mem­buat ia mula-mula agak pening. Ia meras asing. Badan­nya tak pernah seha­rum itu. Itu bukan bau badan­nya. Dan pakaian yang ter­lalu ringan dan halus itu masih juga mem­be­ri­nya pera­saan ia masih telan­jang bulat. Tapi selop rumput itu memang menye­nang­kan tung­ka­i­nya. Sedang suara bujang tak henti-henti ber­de­ngung pada kuping­nya: Nah ingat-ingat Mas Ngan­ten, begini atau begitu …

Dan waktu bujang itu meng­hias tepi-tepi mata Gadis Pantai dengan celak buatan Arab ter­de­ngar lagi sua­ra­nya, “Biar mata keli­hatan dalam, biar nampak punya per­bawa.”

Sedi­kit demi sedi­kit Gadis Pantai meli­hat pada cermin bagai­mana wajah­nya beru­bah, sampai akhir­nya ia tidak menge­nal­nya sama sekali.

“Aku itu?” bisik­nya pada cermin.

“Cantik sekali.”

Dan inilah dunia Gadis Pantai untuk selan­jut­nya.

Malam itu jam din­ding jauh di ruang tengah telah ber­bu­nyi dua belas kali. Sunyi’ senyap di seke­li­ling. Dan ketak-ketik itu begitu menyiksa pen­de­ng­ar­an­nya. Namun ia rasai tubuh­nya nikmat teng­ge­lam dalam kasur yang begitu lunak seperti lumpur hangat. Sedang bau wangi yang mem­bum­bung dari seku­jur badan­nya dan pakai­an­nya mem­bawa piki­ran­nya mela­yang-layang ke kam­pung halaman. Tak pernah ia impi­kan di dunia ada bau begitu menye­gar­kan. Di Kam­pung­nya ke mana pun ia pergi dan di mana pun ia berada yang ter­cium hanya satu macam bau: amis tepian laut.

Dahulu bapak pernah meno­long orang karam di tengah laut. Orang sekam­pung mera­wat­nya, mem­be­ri­nya makan, pakaian dan juga jamu-jamuan. Orang itu — ah ia tak ingat lagi nama­nya — bisa ber­ce­rita ten­tang wangi-wang­ian yang keluar dari ber­ma­cam-macam bunga-bungaan. Tapi ia tak pernah temu­kan bunga yang menge­lu­ar­kan semer­bak wangi di kam­pung­nya di tepi pantai.

Dan bila ia mene­ngok ke bawah di depan ran­jang­nya, bujang wanita nampak masih tenang ber­golek di atas tikar pandan buatan kam­pung sepu­luh kilo­me­ter di selatan kota. Betapa sayang ia pada wanita di bawah itu. Seumur hidup ia baru temui sese­o­rang dan asing pula, mau ber­ce­rita pada­nya dong­eng yang begitu indah ten­tang Joko Tarub3 men­je­bak bida­dari di tepi telaga, diba­wa­nya pulang dan dika­win­i­nya. Betapa senang­nya jadi bida­dari, jadi idaman semua orang.

Mata­nya tak juga ter­pe­jam. Dan ia sudah lupa, apakah ia senang atau tidak. Malam kian larut. Dari ruang tengah mulai ter­de­ngar seken­cang tenaga seo­rang mengaji. Sua­ra­nya dalam, merongga, seperti guruh keluar dari gua di bawah gunung. Tak pernah ia dengar orang mengaji sein­dah itu.

Udara kamar makin sejuk kemu­dian dingin. Sedang angin laut ber­ki­sar-kisar di atas gen­teng sete­lah mener­jangi tajuk-tajuk pepo­honan besar di sepan­jang tepi pantai.

Dua jam kemu­dian suara ngaji itu ber­henti. Dira­sa­nya seakan dunia ber­henti dan waktu ber­henti, jan­tung­nya seakan ber­henti. Ter­de­ngar oleh­nya bunyi selop berat kian lama kian men­de­kat. Dide­ng­ar­nya pintu kamar­nya ter­buka. Dan lang­kah selop itu kini hati-hati. Mata­nya dipe­jam­kan sedi­kit, meng­a­wasi orang yang makin men­de­kat meng­ham­piri ran­jang­nya. Nampak seo­rang pria ber­tum­buh tinggi kuning lang­sat ber­wa­jah agak tipis dan ber­hi­dung man­cung. Ia ber­ko­piah haji dan ber­baju teluk belanga dari sutera putih dan ber­sa­rung bugis hitam dengan bebe­rapa geng­gang putih tipis-tipis. Ia lihat orang itu mem­ba­ngun­kan bujang dengan kaki­nya. Dan bujang itu bangun, cepat-cepat meng­gu­lung tikar dengan bantal di dalam­nya, merang­kak mundur kemu­dian ber­diri mem­bung­kuk, ke luar dari pintu lenyap dari pan­dangan.

Gadis Pantai cepat-cepat memi­ring­kan tubuh meng­ha­dap din­ding. Ia tak rasai lagi jan­tung­nya ber­de­nyut. Seku­jur tubuh­nya ber­man­di­kan keri­ngat dingin. Dan ia tak tahu lagi apa makna takut. Bahkan mau mena­ngis pun ia takut, ber­pi­kir pun takut.

Tanpa meli­hat dira­sa­i­nya orang itu mem­buka kelambu dan dide­ng­ar­nya bisikan pelahan:

“Mas Ngan­ten.”

Rasa­nya jutaan semut rang-rang ber­ke­ru­mun di setiap titik dari kul­it­nya. Ia tak men­ja­wab.

“Mas Ngan­ten,” sekali lagi.

Seperti boneka otomat ia ber­ge­rak memu­sat­kan diri ke arah datang­nya suara. Kemu­dian duduk mem­bung­kuk ber­ja­gang­kan kedua belah tangan di atas kasur.

“Sahaya Ben­doro,” ia ber­bi­sik.

“Akulah sua­mimu.”

“Sahaya Ben­doro.”

“Meng­u­cap­lah.”

Gadis Pantai tak meng­erti.

“Syukur pada Allah.”

“Syukur pada Allah.” Gadis Pantai meng­i­kuti. Tak tahu lagi ia apa dia ulangi lagi sesu­dah itu. Yang ia keta­hui ia telah rebah kem­bali, hanya tidak di atas bantal semula, tapi di atas lengan Ben­doro. Ia rasai sebuah tangan halus meraba tangan­nya dan ia dengar suara lemah sayup:

“Betapa kasar­nya tanganmu.”

“Sahaya Ben­doro,” Gadis Pantai ber­bi­sik dengan sen­di­r­i­nya.

“Di sini kau tak boleh kerja. Tanganmu harus halus seperti beludu. Wanita utama tak boleh kasar.”

“Sahaya Ben­doro.” Entah berapa kali ia harus ulangi dua kata itu. Ya entah berapa kali. Tak mung­kin ia meng­hi­tung­nya, karena ia tak pernah dalam hidup­nya meng­hi­tung sampai lima puluh.

Waktu subuh datang men­je­lang ia dengar bunyi burung hantu men­de­sis dan ber­seru di atas bubungan. Bulu badan­nya mere­mang. Tapi dada Ben­doro itu pun ada dira­sa­i­nya ber­de­ta­kan seperti ada mercun tahun baru Cina.

“Kau senang di sini?”

“Sahaya Ben­doro.”

“Kau suka pakaian sutera?”

“Sahaya Ben­doro.” Dan ia rasai tangan yang lunak itu meng­u­sap-usap ram­but­nya. Tak pernah emak dan bapak ber­buat begitu pada­nya. Dan tangan yang lunak itu sedi­kit demi sedi­kit men­ca­bar­kan kepe­ngapan, keta­kutan dan kenge­rian. Setiap rabaan dira­sa­i­nya seperti usapan pada hati­nya sen­diri. Betapa halus tangan itu: tangan seo­rang ahli-buku! Hanya buku yang dipe­gang­nya, dan bilah bambu tipis pan­jang penun­juk baris. Tidak seperti tangan bapak dan emak, yang selalu mela­yang ke udara dan men­da­rat di salah satu bagian tubuh­nya pada setiap keke­li­ruan yang dila­ku­kan­nya. Dan tangan yang kasar itu Segera mening­gal­kan kesa­kitan pada tempat-tempat ter­tentu pada tubuh­nya, tapi hati­nya tak pernah ter­ja­mah, apa lagi ter­u­sik. Seben­tar sete­lah itu mereka ber­baik kem­bali pada­nya. Tapi tangan halus ini —ah, betapa meng­u­sap hati, betapa men­de­sar­kan darah.

Waktu ben­doro ter­le­lap tidur, dengan kepala pada leng­an­nya, ia men­coba meng­a­mati wajah­nya. Begitu lang­sat, pikir­nya. Orang mulia, pikir­nya, tak perlu ter­ke­lan­tang di terik mata­hari. Betapa lunak kul­it­nya dan selalu ter­sapu sela­pis ringan lemak muda! Ingin ia rasi dengan tangan­nya betapa lunak kul­it­nya, seperti ia menge­masi si adik kecil dulu. Ja tak berani. Ia ter­ge­le­tak diam-diam di situ tanpa berani ber­ge­rak, sampai jago-jago di bela­kang kamar­nya mulai ber­ko­kok. Jam tiga. Dengan sigap Ben­doro bangun. Dan dengan sen­di­r­i­nya ia pun ikut serta bang­kit.

“Mandi, Mas Ngan­ten.”

Ia selalu bangun pada waktu jago-jago pada ber­ke­ru­yuk, kemu­dian ber­diri di bela­kang rumah. Dari situ setiap orang dapat mele­pas pan­dang ke laut lepas. Maka dari kan­dungan malam pun ber­ke­lap-kelip lampu perahu-perahu yang menuju ke tengah. Salah sebuah dari lampu-lampu itu adalah kepu­nyaan ayah­nya.

Tapi mandi? Mandi sepagi ini?

Ia takut ber­ja­lan seo­rang diri menuju ke kamar mandi. Tapi Ben­doro lebih mena­kut­kan lagi. Ia turuni jen­jang ruang bela­kang ber­ja­lan menuju ke arah dapur. Ah, kaget­nya. Bujang itu telah mene­gur­nya menun­tun­nya dan mem­ba­wa­nya ke kamar mandi. Lampu lis­trik kecil dinya­la­kan dan ia lihat lantai ber­gam­bar warna-warni begitu indah seperti karang kesa­yangan di rumah­nya. Mau rasa­nya ia punya sebong­kah dari lantai ini, menyim­pan­nya di rumah dan meli­hat-lihat­nya dan meng­u­sap-usap­nya di sore hari. Betapa indah.

Air pem­ba­suh yang wangi telah ter­se­dia di jam­bang por­se­len buatan Tiong­kok, ter­hias dengan liong begitu pan­jang. Dan seperti pada sore kema­rin, air pun mulai meng­ge­r­cik dan ber­ke­ci­bak. Air pem­ba­suh harum itu diper­gu­na­kan sete­lah ia habis mandi.

Bujang kemu­dian meng­a­jar­nya ambil air wudu. “Air suci sebe­lum sem­bah­yang, Mas Ngan­ten.”

“Apakah mandi dengan air seba­nyak itu kurang bersih?” tanya­nya.

“Sela­ma­nya memang begini, Mas N ganten.”

Untuk per­tama kali dalam hidup­nya Gadis Pantai ber­suci diri dengan air wudu dan dengan sen­di­r­i­nya ber­siap untuk ber­se­m­bah­yang.

Bujang itu mem­ba­wa­nya kem­bali ke kamar­nya, menyi­siri dan meng­hi­asi­nya kemu­dian menun­tun­nya ke luar lagi melin­tasi ruang bela­kang. Ia buka sebuah pintu yang nampak begitu kecil diban­ding luas ruangan ber­la­ngit-langit tinggi dari lem­baran besi ber­u­kir dan bercat krem. Pintu itu ter­pa­sang pada salah sebuah din­ding ruang bela­kang.

“Ini khal­wat,” bujang itu ber­bi­sik.

“Kalwat?”

“Ia khal­wat. Jangan salah sebut — khal­wat.” Bujang itu tak mem­be­tul­kan­nya lagi. Mereka masuk.

Ruang itu luas, sangat luas, per­segi pan­jang. Lampu lis­trik teram-tema­ram menyala di dua tempat, ter­gan­tung rendah pada tali kawat. Tak ada sebuah pera­bot pun di sana — ter­ke­cu­ali dua lembar per­ma­dani — selem­bar di sana, selem­bar di dekat pintu mereka berdua masuk.

Dari sebuah pojok bujang itu menge­lu­ar­kan selem­bar mukena putih dan menge­na­kan­nya pada Gadis Pantai. “Duduk seka­rang diam-diam di sini. Jangan ber­ge­rak, Ben­doro duduk di sana. Mas Ngan­ten harus ber­se­m­bah­yang dengan beliau.”

“Aku tak bisa.”

“Ikuti saja apa Ben­doro laku­kan.”

“Aku tak bisa.”

“Wanita utama mesti bel­a­jar — mesti bisa mele­gakan hati Ben­doro, ingat-ing­at­lah itu.”

Bujang itu pun ke luar dari pintu semula tanpa mening­gal­kan bunyi apa pun seperti seekor kucing menye­li­nap di malam gelap.

Ter­ting­gal Gadis Pantai seo­rang diri dalam ruangan besar yang tak pernah diin­jak­nya semula, lak­sana seekor tikus di dalam perang­kap. Sua­sana khal­wat itu mena­kut­kan, menye­ram­kan. Sekali-sekali seekor burung walet masuk dari lubang angin jauh pada din­ding atas sana, kemu­dian pergi lagi. Gadis Pantai ter­sa­dar seka­rang betapa takut­nya ia pada kesu­nyian, pada kea­daan tak boleh ber­ge­rak. Ia ter­se­dan — sedan seo­rang diri. Dan tak ada seo­rang pun peduli pada­nya.

Din­ding-din­ding batu tebal itu bisu-kelabu tanpa hati. Apakah guna hatiku ini? Ia ber­te­riak dalam hati.

Gadis Pantai telah jadi bagian dari tembok khal­wat.

Ia angkat pan­dang­nya seki­las ke depan sana ketika dari pintu sam­ping Ben­doro masuk. Ia menge­na­kan sorban, teluk belanga sutera putih, sarung bugis hitam, selem­bar selen­dang berenda meli­bat leher­nya. Selop­nya tak dike­na­kan­nya. Pada tangan kanan­nya ia mem­bawa tasbih, pada tangan kir­i­nya ia mem­bawa bangku lipat tempat mena­ruh­kan Our’an. Tanpa bicara sepa­tah pun, bahkan tanpa mene­ngok pada seo­rang lain di dalam khal­wat itu, lang­sung ia menuju ke per­ma­dani di depan, mele­tak­kan bangku lipat di sam­ping kiri dan tasbih di sam­ping kanan dan mulai ber­se­m­bah­yang.

Seperti dipe­rin­tah oleh tenaga gaib Gadis Pantai pun ber­diri dan meng­i­kuti segala gerak-gerik Ben­doro dari per­ma­dani bela­kang. Piki­ran­nya mela­yang ke laut, pada kawan-kawan se- 7? per­ma­in­an­nya, pada bocah-bocah pantai ber­ku­lit dekil, telan­jang ber­golek-golek di pasir hangat pagi hari. Dahulu ia pun men­jadi bagian dari gerom­bolan anak-anak telan­jang bulat itu. Dan ia tak juga dapat meng­erti, benar­kah ia men­jadi jauh lebih bersih karena basuhan air wangi? Ia merasa masih seperti bocah yang dulu, menepi-nepi pantai sampai ke muara, pulang ke rumah dengan kaki ter­bung­kus lumpur amis.

Ben­doro di depan sana beru­kuk. Seperti mesin ia meng­i­kuti Ben­doro — di sana ber­su­jud, ia pun ber­su­jud, Ben­doro duduk ia pun duduk. Ia pernah angkat sen­diri seekor ikan pari dari 30 kg, tak dibawa ke lelang, buat sum­bangan kam­pung waktu pesta. Ia ber­mandi keri­ngat dan buntut ikan itu meng­ganggu kaki­nya sampai barut ber­da­rah. Tapi ia tahu ikan itu buat dima­kan selu­ruh kam­pung. Dan kini. Hanya meni­ru­kan gerak dira­sa­nya begitu berat. Dahulu ia selalu kata­kan apa yang dipi­kir­kan, tangis­kan, apa yang ditang­gung­kan, teri­akan ria kesu­kaan di dalam hati remaja. Kini ia harus diam — tak ada kuping sudi sua­ra­nya. Seka­rang ia hanya boleh ber­bi­sik. Dan dalam khal- : wat ini, ber­ge­rak pun harus ikuti acuan yang telah ter­se­dia.

Keri­ngat dingin meng­u­cur sepagi itu men­ja­lari selu­ruh tubuh­nya.

Kema­rin, kema­rin dulu. Ia masih dapat tebar­kan pan­dang lepas ke mana pun ia suka. Kini hanya boleh meman­dangi lantai, karena ia tak tahu mana dan apa yang sebe­nar­nya boleh dipan­dang­nya.

Ia meng­gi­gil waktu Ben­doro meng­u­bah duduk meng­ha­dap­i­nya, mem­buka bangku lipat tempat Our’an, menge­lu­ar­kan bilah bambu kecil dari dalam kitab dan ia rasai pan­dang­nya meng­a­was­i­nya mem­beri perin­tah. Seumur hidup baru sekali ia meng­gi­gil. Kenangan pada belaian tangan­nya yang lembut dan lunak lenyap. Tiba-tiba dide­ng­ar­nya ayam di bela­kang rumah pada ber­ko­kok kem­bali. Moga-moga mata­hari sudah terbit seperti kema­rin, ia mendoa. Dan Ben­doro telah menye­le­sai­kan “Bis­mil­la­h­iro­h­ma­ni­r­ro­him”, sekali lagi men­tap­nya dari atas per­ma­dani sana. Ia tak mampu meng­u­lang meni­ru­kan. Ia tak pernah dia­jar­kan demi­kian. Tanpa seta­hunya air mata­nya telah meni­tik mem­ba­sahi tepi lubang rukuh­nya4.

Sekali lagi ia merasa dipan­dangi begitu lama oleh Ben­doro. Ia tahu Ben­doro meng­u­langi kata-kata­nya. Waktu Ben­doro men­da­ham, seperti dengan sen­di­r­i­nya ia meng­ang­kat pan­dang. Dira­sa­i­nya hati­nya jadi ciut waktu dike­ta­hu­i­nya benar-benar Ben­doro sedang mena­tap­nya dan dengan bilah bambu penun­juk meng­ha­lau­nya pergi.

Ia ber­lu­tut, mem­bung­kuk, ber­lu­tut ber­ja­lan mundur. Sampai di pintu ia ber­henti seben­tar, mene­bar­kan pan­dang jauh ke depan, pada Ben­doro. Dili­hat­nya untuk kedua kali Ben­doro meng­ha­lau­nya dengan bilah bambu penun­juk baris.

Dira­sa­i­nya tangan yang diang­kat­nya begitu berat waktu men­cari tang­kai kunci. Kaki-kaki pun dira­sa­nya kelu waktu hendak ber­diri. Tang­kai itu ber­pu­tar sen­diri. Ia ter­pe­ran­jat dan tahu-tahu sudah berada di luar khal­wat, dalam pelukan bujang, lari masuk ke dalam kamar meng­hem­pas­kan diri di ran­jang.

“Oh, mak … bapak,” pang­gil­nya ber­bi­sik-bisik.

“Mas Ngan­ten, Mas Ngan­ten.”

“Bawa aku pada emak. Aku mau pulang, pulang ke kam­pung.”

“Mas Ngan­ten, jangan mena­ngis.” Gadis Pantai teng­ge­lam dalam tangis­nya.

“Wanita utama mesti bel­a­jar bijak­sana. Bera­kit-rakit ke hulu…”

“Emak! Aku mau sama emak.”

“Sst. Diam­lah. Mas Ngan­ten seben­tar lagi Ben­doro datang ” Gadis Pantai ter­diam. Sedu-sedan­nya ter­ta­han, timbul teng­ge­lam dalam kese­nyapan pagi seakan kepingan-kepingan jiwa­nya sen­diri yang pecah belah.

Seju­rus kemu­dian, dengan suara agak reda ia ber­ta­nya, “Di mana emak?”

“Di kamar dapur.”

“Kalau aku tak boleh ke sana, biar­lah dia kemari.”

“Masih tidur.”

“Hari begini emak sudah bangun…”

“Ya-ya, tahu sahaya. Bia­sa­nya sudah bangun meng­an­tar­kan laki berang­kat ke laut, ya kan? Tapi tidak bijak­sana wanita uta- : ima ting­gal­kan kamar tidak pada wak­tu­nya. Ayam pun masih ting­gal di kan­dang Mas Ngan­ten.”

Segera sete­lah suara merongga dari khal­wat ber­henti mengaji, ter­de­ngar bunyi selop berat yang meng­gen­tar­kan hati­nya. Kian lama kian men­de­kat. Di saat-saat seperti itu ia takut dan akhir­nya takut pada keta­kut­an­nya sen­diri. Diha­pus­nya air mata­nya. Ia duduk diam-diam di ran­jang. Ia lihat bujang itu ber­si­ce­pat mera­pih­kan baju sute­ra­nya yang telah ter­be­bas dari mukena, kemu­dian buru-buru ke luar kamar seperti kucing hitam habis menyam­bar den­deng di lemari makan.

“Mas Ngan­ten, mari,” ia dengar suara Ben­doro.

Ia sudah hafal suara itu: lunak, lembut, sopan. Dan seperti dita­rik oleh benang-benang baja gaib, ia bang­kit ber­ja­lan tanpa jiwa menuju ke pintu, Ben­doro meng­u­lu­r­kan tangan­nya sen­diri untuk meng­geng­gam­nya.

Mereka berdua ber­ja­lan menu­runi jen­jang ruang bela­kang, mem­be­lok ke kanan. Tiba-tiba saja Gadis Pantai meli­hat alam bebas kem­bali — sejauh pagar tembok tinggi yang meling­kung­i­nya. Gadis Pantai merasa begitu lama tak meli­hat pohon. Dan dalam rem­bang subuh, dengan bulan meman­car suram di atas, dili­hat­nya sebuah pohon di hadap­an­nya lebih besar dari­pada yang lain-lain. Itulah pohon sawo, pikir­nya, nam­pak­nya tidak seperti yang kul­i­hat selama ini, menge­ri­kan. Ia erat­kan geng­gaman tangan­nya pada tangan Ben­doro. Dengan tangan­nya yang lain Ben­doro meng­u­sap bahu­nya.

Mereka sedang meng­hi­rup udara pagi di kebun bela­kang. Dan kebun bela­kang itu jauh lebih besar dari selu­ruh kam­pung nela­yan tempat ia dila­hir­kan dan dibe­sar­kan. Selu­r­uh­nya ter­pa­gari din­ding tembok tinggi.

Pasir di bawah itu terasa lunak dan buyar kena ten­dangan. Pohon mangga ter­ta­nam ber­de­ret seperti ser­dadu, sedang pohon-pohon pisang yang merana ber­ba­ris menepi pagar, seperti tahu akan keke­cil­an­nya.

“Kau suka jalan-jalan begini?”

“Sahaya Ben­doro,” dan Gadis Pantai ingat, pagi begini bia­sa­nya ia kem­bali merang­kak ke bale­nya sete­lah meli­hat perahu bapak kian men­jauh bahkan lam­punya pun tidak nampak lagi. Ia mem­bi­ar­kan diri ter­le­lap seje­nak untuk kemu­dian diba­ngun­kan emak: Ai-ai, anak ini. Ayam sudah dika­sih makan? Jangan suka tidur pagi, nanti disam­bar buaya. Dan ia pun bangun mem­beri makan ayam yang telah ber­lari-larian seki­tar rumah.

“Apa yang kau makan di kam­pung sana?”

Tak mampu Gadis Pantai men­ja­wab. Ia takut. Ia tak pernah diajar meng­gu­na­kan bahasa yang biasa diper­gu­na­kan di kota. Ia diam saja.

“Jagung?”

“Sahaya Ben­doro.”

“Jarang makan nasi?”

“Sahaya Ben­doro.”

“Ber­syu­kur­lah di sini kau selalu akan makan nasi. Insya Allah. Tuhan akan selalu mem­ber­kati.” Mereka terus ber­ja­lan pelan-pelan.

“Itu pohon mangga, dua tahun umur­nya. Dita­nam waktu orang mema­sang lis­trik. Tak ada orang mena­nam buat dir­i­nya sen­diri. Betapa pemu­r­ah­nya Allah. Dia pun tak cip­ta­kan alam semesta dan manu­sia buat dir­i­Nya sen­diri. Kau masih ngan­tuk?”

“Tidak, Ben­doro.”

“Kau lapar.”

“Tidak Ben­doro.”

“Ber­ce­ri­ta­lah.”

Kem­bali Gadis Pantai jadi bisu keta­kutan. Ia rasai nafas­nya ter­sum­bat. Meng­apa bicara saja tak berani, sedang ia suka meme­kik-men­je­rit pang­gil-pang­gil si Kun­tring, ayam­nya? pang­gil-pang­gil kawan-kawan ber­ma­in­nya? pang­gil-pang­gil Pak Karto tetang­ga­nya yang selalu dimin­tai tolong bila meng­ang­kat barang-barang berat?

“Tak per­lu­lah kalau kau tak suka. Aku tahu kam­pung-kam­pung sepan­jang pantai sini. Sama saja. Sepu­luh tahun yang baru lalu aku juga pernah datang ke kam­pungmu. Kotor, miskin, orang­nya tak pernah ber­i­ba­dah. Kotor itu ter­cela, tidak dibe­nar­kan oleh orang yang tahu agama. Di mana banyak ter­da­pat kotoran, orang-orang di situ kena murka Tuhan, rezeki mereka tidak lancar, mereka miskin.”

“Sahaya Ben­doro.”

“Keber­sihan, Mas Ngan­ten, adalah bagian pen­ting dari iman. Itu nama­nya keber­sihan batin. Ngerti Mas Ngan­ten?”

“Sahaya Ben­doro.”

“Keber­sihan batin mem­buat orang dekat pada Tuhan.”

“Sahaya Ben­doro.”

“Apa kau ingin buat hari ini?”

Tiba-tiba Gadis Pantai menya­dari dir­i­nya sangat lelah, mengan­tuk dan ingin rebah­kan tubuh­nya di atas kasur lunak, seo­rang diri di dalam kamar. Tapi ia tak berani menga­ta­kan sesu­atu. Ben­doro mem­ba­wa­nya duduk di atas sebuah bangku di bawah pohon yang ia tak tahu nama­nya. Dari kan­tong teluk belanga sutera Syan­tung dike­lu­ar­kan sesu­atu benda. Dan tanpa menya­dari tahu-tahu telah ter­pa­sang seben­tuk cincin pada jari manis Gadis Pantai dan sepa­sang gelang pada kedua belah tangan­nya yang lampai.

Bebe­rapa menit kemu­dian kedua orang suami-istri itu telah duduk pada meja makan. Roti hangat yang masih menge­pul yang diki­rim­kan tadi dari beng­kel roti, telah ter­sa­yat-sayat di atas meja. Botol-botol selai, serbuk coklat, gula-kem­bang,: perasan air jeruk, krupuk udang dan bubur haver­mout, telah ter­de­ret di atas meja. Kopi menge­pul-ngepul dari cang­kir por­se­len buatan Jepang. Sendok-garpu, pisau, semua dari perak putih meng­ki­lat ber­de­ret-deret memu­sing­kan kepala Gadis Pantai. Sebuah tempat buah dari perak begitu menyi­lau­kan mata­nya. Otak­nya ter­pi­lin-pilin dan ia lapar. Tapi apa guna alat seba­nyak itu dan serba meng­ki­lat?

“Mana Mas Ngan­ten lebih suka? Bubur? Roti? Atau air jeruk saja?” bujang wanita itu ber­bi­sik.

Apa saja Gadis Pantai mau, asal tanpa peng­a­wasan siapa pun. Tapi bujang itu telah ber­bi­sik lagi, “Tanya­lah Ben­doro apa beliau suka, dan layan­i­lah.”

Gadis Pantai mene­bar­kan pan­dang seki­las pada Ben­doro sama dengan mata itu ia bisa bicara, kemu­dian menun­duk lagi. Waktu Ben­doro menun­juk pada roti, Gadis Pantai ber­diri, meli­rik pada bujang. Kem­bali bujang mem­bung­kuk ber­bi­sik:

“Tanya­i­lah Ben­doro roti­nya apa pakai lapis coklat, gula kem­bang, selai…”

Gadis Pantai meng­gi­gil. Ia tak tahu yang ber­nama coklat, gula-kem­bang dan mana pula selai.

“Coklat,” Ben­doro ber­bi­sik.

Bujang wanita itu menang­kap tangan Gadis Pantai, mem­bim­bing­nya ke arah botol serbuk coklat, mera­ih­kan­nya pada sendok perak kecil yang begitu aneh ben­tuk­nya dan meng­a­ur­kan serbuk itu di atas saya­tan-saya­tan roti yang telah dibuat meng­ki­lat dengan men­tega Fri­es­land …

Pagi itu Gadis Pantai kem­bali ke kamar dengan perut tetap lapar. Ingin ia makan roti coklat itu barang sesa­yat lagi. Tapi Ben­doro begitu sedi­kit makan­nya. Ah, roti itu mung­kin yang ter­lam­pau ter­lalu enak … roti dengan aur serbuk coklat, ia meya­kin­kan dir­i­nya. Bukan diri yang lapar, cuma perut ini memang tak tahu diri.

Tapi lapar tetap mem­be­lit-belit dalam perut­nya. Tak pernah it tang­gung­kan yang demi­kian, biar­pun pada dua tahun yang lalu, waktu kam­pung nela­yan disapu lenyap oleh gelom­bang pasang. Perahu-perahu yang tak dibi­na­sa­kan laut, ter­ting­gal di pantai ter­ku­bur lumpur.

Ia masih ingat waktu tong-tong bambu kepala kam­pung ber­talu tanpa hen­ti­nya sampai bayi ter­a­khir dapat dila­ri­kan dari kam­pung yang ter­ke­pung maut. Dan dalam gelap itu daun-daun kelapa tua beter­bangan cari kepala manu­sia men­jadi kor­ban­nya Waktu pen­du­duk kam­pung pulang ke tem­pat­nya, tak seba­tang rumput pun ting­gal ber­diri. Batang-batang kelapa silang melin­tang mema­gari pantai. Batang kelapa bapak sen­diri ting­gal satu yang baru saja ber­buah, begitu rendah, rasa­nya bisa dijo­lok begitu mudah. Tapi selu­ruh buah­nya telah jadi coklat dan dua minggu kemu­dian pada rontok. Busuk isinya. Pada waktu itulah ia men­de­rita kela­paran. Tak kurang dari seminggu. Tebat-tebat lenyap dan tang­gul-tang­gul­nya hilang tanpa bekas. Tak seekor bibit ban­deng ting­gal di tem­pat­nya. Tapi kela­paran waktu itu hanya kela­paran karena tak makan beras-jagung. Seti­dak-tidak­nya laut masih mem­beri makan, kerang-kerangan pan­jang, kepi­ting dan gang­gang laut.

Seka­rang, makan ter­se­dia, malah melim­pah-limpah. Tapi tak mung­kin ia mema­kan­nya. Di sini ter­lalu banyak benang-benang baja, tangan-tangan gaib yang selalu men­ce­gah, roh-roh maha­ku­asa yang mem­buat hati selalu kecut.

“Mak, mak,” ia ber­seru dalam bisik­nya.

“Mas Ngan­ten ini mak.” ter­de­ngar suara bujang wanita.

Gadis Pantai melom­pat. Waktu dili­hat­nya emak mema­suki pintu, ia lari menub­ruk wanita tua itu dan merang­kul­nya, “Mak, emak mari pulang.”

“Hus.”

“Mas Ngan­ten wajib tetap ingat, mak,” bujang itu mem­per­i­ng­at­kan, “wanita utama harus bel­a­jar ber­hati teguh, ken­da­li­kan segala pera­saan dengan bibir tetap ter­se­nyum.”

“Ya-ya mBok.”

“Kata­kan­lah pada Mas Ngan­ten.”

“Ya-ya mBok. Diam­lah kau nak. Keta­kutan ini kurang patut.”

“Aku tak suka di sini, mak.”

“Sega­la­nya harus dipel­a­jari, nak. Lama kela­maan kau akan suka.”

“Mak, bawa aku pulang.”

“Apa dia bilang?” ter­de­ngar suara bapak. Dan tahu-tahu bapak telah berada di sam­ping Gadis Pantai

“Apa kau bilang?” tanya­nya sekali lagi dan sua­ra­nya menge­ras mem­ben­tak.

“Tak ada orang berani ber­laku kasar ter­ha­dap wanita utama.” bujang mem­per­i­ng­at­kan.

Bapak ter­ku­lai di atas kursi. Tena­ga­nya yang biasa diadu dengan badai dan gelom­bang, remuk di dalam kamar pengan­tin ini. Ter­de­ngar nafas­nya megap-megap. Kedua belah tangan­nya lung­lai di atas kursi.

“Kalau wanita utama suka,” bujang itu mene­rus­kan, “Mas Ngan­ten bisa usir bapak dari kamar.”

Gadis Pantai meronta dari peluk­an­nya di dada emak. Ia ter­i­sak-isak. Seka­rang ia ber­lu­tut merang­kul kaki bapak. “Ampuni aku bapak, pukul­lah anakmu ini.”

Dua titik air meng­gan­tung layu pada sepa­sang mata bapak. Diang­kat­nya dengan tangan kanan­nya yang layu ter­ku­lai, diu­sap­nya rambut Gadis Pantai. Didi­r­i­kan­nya pengan­tin itu, didu­duk­kan­nya di atas kursi tempat ia tadi ter­ja­tuh layu.

“Sela­mat untukmu, nak,” bapak ber­bi­sik.

“Bilang pengestu,” emak men­de­sak.

“Pang­estu bapak.”

Tanpa mene­ngok lagi bapak mening­gal­kan kamar.

Siang itu Gadis Pantai makan seo­rang diri di kamar makan. : Bujang wanita menung­gu­nya di pojok kamar makan. Seben­tar-seben­tar wanita itu meng­ham­piri, mem­ban­tu­nya meng­gu­na­kan sendok, garpu, pisau. Ah, sul­it­nya setiap baki dan cawan punya sen­dok­nya sen­diri.

“Ben­doro tidak pulang Mas Ngan­ten. Hari begini bia­sa­nya dipang­gil Ben­doro Bupati.”

“Meng­apa aku mesti dii­kuti terus, mBok?”

“Bukan sahaya meng­i­kuti, Mas Ngan­ten. Tugas sahaya hanya mem­bantu.”

“Jangan mem­per­gu­na­kan sahaya itu mBok.”

Bujang itu ter­te­gun. Ia heran. Baru kema­rin Gadis Pantai datang kini telah berani mela­rang.

“Sahaya hanya bujang, Mas Ngan­ten.”

Dan seka­rang Gadis Pantai ter­te­gun. Ia mulai meng­erti, di sini ia tak boleh punya kawan seo­rang pun yang sede­ra­jat deng­an­nya. Ia mera­sai adanya jarak yang begitu jauh, begitu dalam antara dir­i­nya dengan wanita yang sebaik itu yang hampir-hampir tak pernah tidur men­jaga dan mengu­rus­nya, selalu siap laku­kan kei­ng­in­an­nya, selalu siap terang­kan segala yang ia tak paham, bisa men­do­ng­eng begitu memi­kat ten­tang Joko Tarub, dan bisa meng­u­sap bahu­nya begitu sayang bila ia siap hendak mena­ngis. Hati­nya meme­kik: meng­apa aku tak boleh ber­ka­wan deng­an­nya? Meng­apa ia mesti jadi sahaya bagiku? Sia­pa­kah aku? Apa kesal­ahan dia sampai harus jadi saha­yaku?

“Makan­lah, Mas Ngan­ten! Meng­apa mela­mun saja?”

Gadis Pantai ber­henti makan. Ia bang­kit. Tanpa mene­ngok masuk ke dalam kamar, lang­sung ke kasur kesa­yangan dan meng­u­cur­kan air mata­nya. Ia rasai bagai­mana dir­i­nya seperti seekor ayam dir­eng­gut dari rum­pun­nya. Harus hidup seo­rang diri, di tengah orang yang begitu banyak. Tak boleh punya saha­bat, cuma boleh menunggu perin­tah, cuma boleh meme­rin­tah. Betapa sunyi! Betapa dingin. Dan iklim sedi­ngin ini tak pernah dira­sa­i­nya di pantai, betapa pun cuaca pagi telah mem­be­ku­kan selu­ruh minyak kelapa di dalam botol. Ia puas­kan tangis­nya sampai ter­ti­dur.

Belaian tangan halus saha­bat yang jadi sahaya itu mem­ba­ngun­kan­nya. Buat ke sekian kali ia dibim­bing ke kamar mandi dan diman­di­kan. Buat ke sekian kali ia dibim­bing masuk ke dalam kamar.

“Aku mau ber­temu bapak,” bisik­nya.

“Sejak tadi siang tak ada. Tak ada yang tahu ke mana. Ben­doro akan marah kalau tahu. Marah pada kami semua, tak bisa urus tamu.”

“Emak?”

“Emak keli­hatan begitu bingung. Dia mau kemari, tapi sahaya larang. Mas Ngan­ten baru tidur tadi.”

“Tolong aku pang­gil­kan dia,” bisik Gadis Pantai.

“Biar rapi dulu, Mas Ngan­ten.”

“Tolong pang­gil­kan.” Bujang itu pergi dan seben­tar kemu­dian kem­bali lagi meng­iring­kan emak.

Dan ia lihat wajah emak begitu muram. “Mana bapak, mak?”

Emak tak men­ja­wab. Ia meng­ham­pir, mem­bantu bujang men­dan­dani dan merias. Celak Arab itu kem­bali mem­per­ba­wa­kan wajah­nya. Dan rouge buatan Peran­cis itu menya­la­kan wajah­nya.

“Lihat di kaca,” bujang meng­an­jur­kan.

Gadis Pantai mena­tap wajah­nya. Tiba-tiba ditu­tup­nya wajah­nya dengan kedua belah tangan­nya.

“Meng­apa, nak?” emak ber­ta­nya waktu dili­hat­nya Gadis Pantai ber­pa­ling dari kaca. “Nak, nak, … nak.”

Dengan tangan­nya yang kiri Gadis Pantai menu­ding pada kaca, meme­kik, “Itu bukan aku, bukan aku. Bukan! Bukan! Iblis.”

Gadis Pantai lupa pada kesu­l­it­an­nya sen­diri serenta menge­ta­hui kebi­ngungan emak yang kehi­langan bapak. Ke mana lagi? Pulang, kata bujang meya­kin­kan. Emak juga tahu bapak pulang. Bujang tak perlu mene­rang­kan pada­nya. Tapi apa bakal jawab­nya pada Ben­doro kalau dia pulang tanpa minta diri?

Tak pernah Gadis Pantai menya­yangi bapak seperti seka­rang. Bapak, kata­nya dalam hati, mung­kin seka­rang sedang meme­riksa layar buat nanti malam atau subuh pergi menan­tang badai, menan­tang gelom­bang, menang­kap ikan buat kese­la­matan selu­ruh kelu­arga.

“Biar Mas Ngan­ten yang memo­hon akan ampun,” bujang meng­u­sul­kan.

Emak ber­ta­nya pada Gadis Pantai dengan mata­nya dan Gadis Pantai men­jadi ragu seje­nak, kemu­dian meng­ang­guk. Namun hati­nya ter­a­duk. Apakan Ben­doro lebih ber­ku­asa dari­pada laut, sampai bapak mela­ri­kan diri? Dua abang­nya telah tewas dite­lan laut, mereka tidak pernah lari. Bapak pun tak pernah lari. Meng­apa dia seka­rang lari? Ia sen­diri pun tak pernah takut pada laut. Meng­apa takut pada Ben­doro? Meng­apa? Bapak lebih kukuh dan kuat dari Ben­doro. Ben­doro ber­tu­buh tinggi lang­sing, ber­wa­jah pucat, kul­it­nya ter­lalu halus, otot­nya tak ber­kem­bang. Meng­apa semua orang takut? Juga diriku?

“Meng­apa Mas Ngan­ten mela­mun? Bapak pasti sela­mat sampai di rumah.”

Gadis Pantai ber­henti mem­ba­yang­kan bapak.

“Deng­ar­kan, sahaya ajari, kata­kan begini pada Ben­doro nanti, “Ampuni sahaya Ben­doro …, hafal­kan. Lantas Ben­doro akan mene­gur, “Ya, Mas Ngan­ten, ada yang kau ing­in­kan?””

Gadis Pantai menyi­mak tanpa menge­dip.

“Dan Mas Ngan­ten bilang begini, bapak sahaya ter­paksa pergi Ben­doro. Ampuni sahaya, bapak dan emak sahaya, dia lupa memo­hon diri. Dan nanti Ben­doro akan ter­tawa senang. Tak apa, tak apa, Ben­doro nanti akan bilang. Kemu­dian…”

“Apa kemu­dian?”

Bujang itu diam. Mena­rik Gadis Pantai ke depan cermin. ’ “Lihat­lah itu bukan iblis. Bida­dari dari surga itu sen­diri!”

Pada cermin Gadis Pantai meli­hat wajah­nya sen­diri: itu bukan diriku! pekik­nya dalam hati. Wajah itu memang bukan wajah­nya yang kema­rin dulu. Wajah itu seperti boneka, tak ada tanda-tanda kebo­cah­an­nya lagi yang kema­rin dulu. Sari kebo­cahan telah lenyap dari mata­nya, dan untuk selama-lama­nya, Emak­nya pun tak ada meli­hat nyala pada anak­nya lagi. Belum lagi 3 x 24 jam, dan kelin­ca­han dan kege­si­tan anak­nya telah padam

Tiba-tiba Gadis Pantai men­de­ngar tawanya sen­diri beriak ber­ge­lum­bang-gelum­bang pada setiap kelu­cuan. Tapi itu tawa bocah­nya dulu. Tawa sema­cam itu tak ter­de­ngar lagi oleh­nya di gedung Ben­doro ini, dan mung­kin juga tidak buat sela­ma­nya.

“Ben­doro mana pun akan has­rat­kan wanita ber­wa­jah ini,” bujang mene­rus­kan. “Lihat,” kata­nya kemu­dian pada emak. “Tubuh yang kecil mungil seen­teng kapas. Kulit lang­sat seli­cin tapak set­rika. Cuma tangan­nya yang harus dir­en­dam air asam, biar cepat jadi tipis. Dan mata lindri5 ter­pan­car dari tapuk yang sete­ngah sipit: seperti putri Cina. Siapa tak memuji kecan­ti­kan putri Cina? Mas Ngan­ten, nanti malam sahaya akan ceri­ta­kan kisah pepe­rangan antara putri Cina mela­wan Amir Hamzah. Ah, berapa orang saja yang telah kucur­kan air mata, deng­ar­kan tangis­nya waktu anak panah menem­bus bahu­nya, ia meng­ge­le­sot di tanah, ber­gu­ling meng­u­cur­kan darah, tanpa ada orang datang mem­ban­tu­nya.”

Dan ia pun mulai meng­gu­mam­kan “megat­ruh” pada saat diki­sah­kan putri Cina ter­ja­tuh dari kuda di medan perang, tapi tiba-tiba, “Ah, mak, mari aku antar­kan balik ke kamar dapur lagi. Siapa tahu Ben­doro segera tiba?”

Kedua orang itu keluar. Dan Gadis Pantai ter­ting­gal seo­rang diri, ber­diri tanpa sema­ngat di depan kaca.

Cer­min­nya di kam­pung seder­hana saja. Makin besar cermin, makin ter­hor­mat tempat sese­o­rang di ling­kungan tetangga-tetangga. Dan setiap cermin dipa­sang pada tempat yang segera dapat dili­hat orang. Setiap tamu yang datang menga­gumi cermin pada luas dan tebal­nya, ter­u­tama juga pada pahatan pigu­r­a­nya. Tapi hanya orang dari luar kam­pung yang menga­gumi pahatan. Selu­ruh kam­pung nela­yan itu sen­diri ter­lalu ter­li­bat kesi­bukan, mereka hanya mema­hat di waktu seng­gang.

Tapi cermin yang sebuah ini sama sekali tidak pernah mena­rik hati­nya untuk ber­kaca. Ia tatap wajah­nya di situ dengan curiga, dengan pra­sangka. Di sini semua serba lebih bagus dari di kam­pung­nya. Tidak! Wajah yang lebih bagus di cermin itu bukan wajah yang sering dili­hat­nya pada cermin di rumah­nya sen­diri. Cermin di rumah­nya memang seder­hana tanpa pigura, tapi ia sudah menge­nal­nya, ia sudah yakin pada keju­jur­an­nya. Dengan cermin di rumah­nya ia juga bisa mem­ber­sih­kan muka­nya dari tahi mata, dan menyeka pipi dari jelaga dapur. Tapi di sini celak Arab ber­warna jelaga justru dipu­las­kan pada seki­tar mata­nya. Orang-orang bilang, kulit muka­nya halus, rata, dan lang­sat. Ia suka menye­ka­nya bila ber­ke­ri­ngat. Tapi di sini sela­pisan rouge menu­tup­nya, hilang lang­sat timbul warna jambu. Sedang satu garis tipis hitam bere­nang di tengah-tengah alis­nya yang lebar, seperti tulang pung­gung ikan lajur. Bahkan ber­temu wajah­nya sen­diri, di sini tidak diper­ke­nan­kan!

Ia pan­dangi kalung, gelang, cincin — semua emas ber­ta­tah­kan per­mata. Uh, betapa ben­ci­nya, selu­ruh kam­pung nela­yan pada pak Kin­tang, yang meng­u­kur segala-gala­nya dari mutu dan berat emas. Dan waktu orang tertua di kam­pung mening­gal, ia sama sekali tak menyum­bang sesu­atu pun! Emas bagi kam­pung­nya selalu ber­gan­de­ngan dengan kepal­suan.

Gadis Pantai ter­te­gun, Ah-ya, siapa pula yang bicara ten­tang emas dulu? Ia mulai meng­i­ngat-ingat. Akhir­nya kenang­an­nya meng­ang­kat sebuah wajah kurus cekung-cekung dengan bibir selalu senyum, orang dari kota — datang ke kam­pung buat memin­jam uang dan meng­u­tang­kan emas-emasan. Ya-ya, orang itu datang ke rumah. Bapak sedang di laut. Dan emak menyi­la­kan­nya duduk di bale. Emas, mBok, beli­lah. Tidak kontan, men­ci­cil juga boleh. Ayoh, mulai kum­pul­kan emas. Kan punya anak pera­wan? Dengan emas bisa dida­pat segala-gala­nya. mBok dengar? Segala-gala­nya!

Waktu itu Gadis Pantai duduk pada kaki emak. Dan ia lihat kakek tertua kam­pung masuk ter­ta­tih-tatih ke dalam ber­tun­jangan tong­kat. Ia ter­tawa ter­ke­keh-kekeh. Aku dengar, kata­nya, dan ditun­juk­nya orang kota itu dengan tong­kat­nya. En1as? heh-heh-heh, itu dia yang bikin perahu-perahu kita pada tidak punya layar, pada bolong dan karam di tepian. Perahu! Perahu yang perlu! Jangan deng­ar­kan dia. Perahu datang­kan segala-gala­nya. Emas habis­kan segala-gala­nya. Dan dengan tong­kat­nya juga ia usir orang dari kota itu dari rumah. Waktu orang kota ber­wa­jah kurus cekung-cekung itu sampai di bendul pintu, kakek menu­ding emak dengan tong­kat­nya: kalau kau deng­ar­kan dia kau cela­ka­kan lakimu. Ngerti? Ingat-ingat, barang siapa lebih banyak bicara ten­tang emas, itulah iblis kepa­rat. Jauhi dia. Kam­pung ini harus sela­mat …

Dan seka­rang di hadap­an­nya, di atas meja, ter­ge­le­tak benda-benda emas ber­ta­tah­kan per­mata, gemer­lapan kena cahaya lampu. Ia pan­dangi dan pan­dangi. Ter­ke­jut. Sepan­tun suara ber­de­sis pada kuping­nya benar, “Betapa semua orang meng­im­pi­kan­nya.” Itulah suara bujang wanita.

“mBok bikin aku kaget saja.”

“Mas Ngan­ten suka per­hi­asan, bukan?” Gadis Pantai tak pernah punya per­hi­asan sebe­lum­nya. Ia suka pada kein­dah­an­nya. “Halus buat­an­nya,” bujang mene­rus­kan, “buatan Solo khusus dipe­san buat Mas Ngan­ten.”

“mBok suka? Ambil­lah.”

Mata bujang itu ber­ki­lau-kilau. Kedua belah tangan­nya legang ter­geng­gam di depan mulut, dan dengan suara geme­tar ber­kata, “Siapa tidak mau? Jangan ber­kata begitu. Jangan. Sahaya takut, Mas Ngan­ten.”

“Apa yang dita­kut­kan dengan emas ini?”

“Sahaya takut, benar-benar takut, Mas Ngan­ten. Takut khilaf.” Dan dengan suara masih juga geme­tar ia mene­rus­kan, “Sahaya adalah sahaya. Kalau tidak ada sahaya, mana bisa ada Ben­doro? Takdir Allah Mas Ngan­ten. Kakek sahaya memang bukan sahaya tadi­nya. Anak-anak­nya tak ada yang bisa seperti itu. Dan sahaya ini. Inilah sahaya yang ditak­dir­kan mela­yani Ben­doro, mela­yani Mas Ngan­ten.”

“Ambil­lah kalau suka.”

“Emak dan bapak Mas Ngan­ten sen­diri takkan berani mene­ri­ma­nya.”

Kem­bali Gadis Pantai ter­te­gun. Lambat-lambat dengan piki­ran yang ter­tin­das beban, ia mulai meng­erti: Di sini semua takut ter­ke­cu­ali Ben­doro. Meng­apa semua takut pada­nya? Juga diriku sen­diri? Dia tidak­lah nampak garang, tidak ganas, malahan halus dan sopan.

“Adik sahaya,” bujang itu mene­rus­kan dengan suara mulai kehi­langan getar­an­nya, “ingin punya seba­ris tele­nan-mas6 buat peni­ti­nya. Cantik bukan main dia berang­kat ke Lasem men­coba per­un­tungan memi­kat har­ta­wan Tiong­hoa. Pagar-depan­nya ter­buat dari deretan tombak besi. Gedung­nya tinggi, gen­ting­nya ber­ki­lat-kilat biru, bubung­an­nya meleng­kung ter­hias patung barong­sai.”

“Besar mana dengan gedung ini?”

“Besar sana.”

“Bagus mana dengan gedung ini?”

“Bagus sana.”

“Dia?”

“Dia masuk ke gedung itu, dan tak muncul lagi buat sela­ma­nya.”

“Dia dapat seba­ris tele­nan-mas itu buat peni­ti­nya?”

“Siapa tahu. Dia tidak muncul lagi. Dua puluh tahun telah lewat.”

Gadis Pantai jadi keta­kutan. Digeng­gam­nya tangan bujang, “Apa aku bakal muncul lagi dari sini? Ah-ah, ambil­lah emas ini.”

3. tele­nan-mas, uang logam emas yang dise­but gouden tie­nije (Belanda) ber­ni­lai sepu­luh gulden.

Bujang itu mena­rik meja hias, menge­lu­ar­kan anak kunci menye­rah­kan­nya pada Gadis Pantai, ber­kata: “Tiga bulan lagi Mas Ngan­ten bisa muncul sesuka hati, asal dengan izin Ben­doro. Masuk­kan per­hi­asan itu dalam lemari, Mas Ngan­ten. Sahaya tidak berani.”

“Meng­apa orang pada suka emas?”

“Karena, ya, karena. Yah, apa mesti sahaya kata­kan? Karena dengan emas … karena … ya, supaya dia tidak keli­hatan seo­rang sahaya, supaya tidak sama dengan orang keba­nyakan ”

“Apa itu orang keba­nyakan?”

“Aah, Mas Ngan­ten ada-ada saja tanya­nya. Orang keba­nyakan, ya, sahaya inilah.”

“Meng­apa mBok sebe­tul­nya?”

“Ya, orang keba­nyakan seperti sahaya inilah, bekerja berat tapi makan pun hampir tidak.”

“Meng­apa mBok tak ambil saja, biar mBok tak jadi orang keba­nyakan? Tak perlu kerja berat, dan dapat makan banyak? Mbok boleh jual, boleh menge­na­kan­nya.”

“Aah, Mas Ngan­ten, Mas Ngan­ten, itu guna­nya ada Ben­doro…”

Bujang wanita itu nampak mulai besar hati meli­hat Mas Ngan­ten­nya mulai jadi ramah pada­nya. Tapi hal itu tak ber­lang­sung lama. Kedua orang wanita itu ter­diam ketika suara pang­gilan yang mereka kenal baik:

“Mardi.” Serta jawab­nya, yang juga mereka kenal baik:

“Sahaya, Ben­doro.”

Tapi sekali ini perin­tah yang dija­tuh­kan lain. Ter­de­ngar, “Bendi! Suruh sedi­a­kan bendi! Di dalam satu jam mesti sudah sedia.”

“Sahaya, Ben­doro.”

Ter­de­ngar kemu­dian hiruk-pikuk di jurusan pagar di bela­kang rumah. Baru waktu itu Gadis Pantai menya­dari di rumah itu lebih banyak orang ting­gal dari­pada yang pernah dike­ta­hu­i­nya.

“Siapa saja mereka?”

“Keme­na­kan-keme­na­kan yang pada diti­tip­kan.”

“Apa kerja mereka di sini?”

“Meng­a­bdi, kalau siang bel­a­jar.”

“Di mana saja mereka selama ini?”

“Di surau.”

“Surau?”

“Ya, di sam­ping kiri kan ada surau. Di sana mereka bel­a­jar, juga mengaji.”

“Aku tak pernah dengar.”

“Guru ngaji sudah diusir. Malas. Dan tamak juga.”

“Dia meng­a­jar malas dan tamak?”

“Barang­kali itu kepan­dai­an­nya, mung­kin sekali. Ma’af, Mas Ngan­ten, aku tak tahu benar. Tapi mari sahaya rapikan ria­san­nya.”

Kem­bali Gadis Pantai menya­dari kea­da­an­nya. Dan ia meriut kecut. Tapi ia diam saja waktu bujang menyi­sir­i­nya kem­bali serta mema­sang­kan sang­gul yang telah diper­te­bal dengan cemara, serta menyun­ting­kan bunga cem­paka di sela-sela. “Di kam­pung orang tak ber­hias bunga pada sang­gul­nya,” Gadis Pantai mem­pro­tes.

“Di kota, Mas Ngan­ten, barang siapa sudah ber­su­ami, sang­gul­nya seba­ik­nya dihias kem­bang.”

Sekali lagi Gadis Pantai menya­dari kea­daan dir­i­nya: istri seo­rang pem­be­sar.

“Aku lebih suka di kam­pungku sana.” Ia mulai protes lagi. “Siapa yang tak lebih suka ting­gal di kam­pung­nya sen­diri?”

“Meng­apa mBok tak balik?”

“Bagi orang sudah tua seperti sahaya ini, siapa yang beri makan di sana? Semua pada hidup susah.”

“Apa yang disu­sah­kan sebe­nar­nya?”

“Ah, Mas Ngan­ten, Mas Ngan­ten, bocah kecil, kecil juga susah­nya. Bocah gede, gede juga susah­nya. Orang tua sema­cam sahaya ini semu­a­nya serba susah, Mas Ngan­ten.”

“mBok dipu­kuli di kam­pung?”

“Dipu­kuli? Dipu­kuli benar memang tidak Tapi ada saja dan siapa saja boleh pukuli orang-orang keba­nyakan seperti sahaya ini,” kata bujang wanita sambil mem­be­tul­kan wiron kain.

“Mardi,” kem­bali ter­de­ngar teri­akan Ben­doro.

“Sahaya Ben­doro.”

“Sudah siap?”

“Ben­doro ter­buru-buru rupa­nya,” bisik bujang, “mung­kin ada pem­be­sar kawin.”

“Dengan keris?”

“Ah, hanya orang keba­nyakan dika­wini dengan keris,” tiba-tiba bujang itu ter­ke­jut sen­diri. “Tidak, kalau pengan­tin pria ber­ha­langan, juga boleh diwa­kili dengan keris.”

“Meng­apa orang mesti kawin mBok?”

Bujang itu ter­tawa, dan kepa­la­nya dige­leng-geleng­kan, “Ah, Mas Ngan­ten ini. Bagi orang keba­nyakan seperti sahaya ini, kita kawin supaya sema­kin men­jadi susah. Tentu beda dengan para pri­yayi besar, mereka kawin supaya jadi senang.”

“Meng­apa kawin juga kalau jadi sema­kin susah.”

“Ya, itulah, itulah, ya, itu guna­nya ada takdir, Mas Ngan­ten.” . Ia diam seben­tar, kemu­dian mene­rus­kan, “Kakekku dulu bilang, bapak­nya digan­tung waktu tuan besar Guntur mem­buat jalan pos yang pan­jang itu,” tangan­nya menu­ding ke arah laut, “Kakek lantas lari.”

“Kenapa digan­tung?”

“Dia mandor, Mas Ngan­ten, dapat perin­tah bikin jalan seminggu mesti jadi. Seminggu kemu­dian datang peme­rik­saan. lalan belum jadi. Rawa-rawa mem­buat orang keba­nyakan sakit, pada demam. Mereka semua digan­tung.”

“Ha?”

“Ya, begi­tu­lah takdir bagi orang keba­nyakan. Kakek sahaya lari lantas ikut huru-hara di sini. Waktu Pange­ran Dipo­ne­goro7 kalah perang — kakek lari lagi ber­sama seo­rang pri­yayi yang juga ikut huru-hara. Waktu pri­yayi itu menye­rah, kakek juga ikut. Waktu pri­yayi diang­kat jadi pem­be­sar, kakek diang­kat men­jadi saha­ya­nya, tidak lebih dari saha­ya­nya, seperti sahaya seka­rang ini. Setiap kali pat­roli, kakek sahaya ikut. Pada suatu malam pergi pat­roli, pri­yayi itu tewas dibu­nuh orang-orang jahat. Kakek pulang sen­diri, dipu­kuli dima­suk­kan ke pen­jara. Lima tahun lama­nya. Waktu keluar hilang peker­ja­an­nya seba­gai sahaya. Dia ber­tani di selatan kota. Dan semua anak­nya jadi petani, tak ada yang bisa jadi sahaya.” Sewaktu bujang lihat Gadis Pantai menun­duk meng­hin­dari pan­dang­nya, ia mene­rus­kan, “Mas Ngan­ten berun­tung, patut ber­syu­kur pada Allah. Tidak semua wanita bisa ting­gal dalam gedung sema­cam ini bukan seba­gai sahaya,”

“Aku lebih suka kam­pungku sen­diri.”

“Tidak benar.”

“Di sana tidak ada keta­kutan…”

Bunyi lang­kah selop berat ter­de­ngar kian men­de­kat meng­ham­piri kamar, Gadis Pantai men­ce­kam lengan bujang, dan bujang mem­bi­sik­i­nya, “Senyum­lah, Mas Ngan­ten mesti sudah bel­a­jar. Sam­but­lah Ben­doro di bela­kang pintu,” dan dipa­pah­nya Gadis Pantai menuju pintu.

Tepat pada waktu itu Ben­doro memang­gil-mang­gil, “Sahaya, Ben­doro,” sambut Gadis Pantai di dekat pintu.

“Hari ini aku tak pulang,” dan tanpa men­je­nguk ke dalam kamar ter­de­ngar selop-berat­nya men­jauh.

Malam itu Gadis Pantai minta pada bujang untuk tidur de-’ ngan emak. Tapi bujang tak melu­lus­kan.

“Biar­lah emak kawani aku di sini, kalau aku tak boleh tidur di kamar dapur.”

“Itu tidak layak bagi wanita utama.”

“Dia emakku, emakku sen­diri, mBok.”

“Begi­tu­lah Mas Ngan­ten, biar emak sen­diri, kalau emak­nya orang keba­nyakan, dia tetap seo­rang saha­ya­nya.”

“Tidak, tidak, akulah sahaya emakku. Di kam­pungku aku laku­kan segala perin­tah­nya, aku akan terus­kan laku­kan perin­tah­nya.”

“Itulah salah­nya, Mas Ngan­ten, adat pri­yayi tinggi lain lagi. Dan di sini ini kota, bukan kam­pung di tepi pantai.”

“Ah, lantas apa aku mesti ker­ja­kan di sini?”

“Cuma dua, Mas Ngan­ten, tidak banyak: meng­a­bdi pada Ben­doro dan meme­rin­tah para sahaya dan semua orang yang ada di sini.”

“Apa, aku mesti ker­ja­kan buat Ben­doro?”

“Apa? Laku­kan segala perin­tah­nya, turut­kan segala kehen­dak­nya.”

“Aku tidak bisa, aku tidak meng­erti.”

“Dengan sen­di­r­i­nya saja nanti bisa, dengan sen­di­r­i­nya juga ngerti nanti.”

“AH,”

“Gam­pang sekali.”

“Apa aku perin­tah­kan pada mereka sele­bih­nya?”

“Segala yang Mas Ngan­ten kehen­dak­kan.”

“Cuma satu yang aku kehen­dak­kan.”

“Cuma satu? Seder­hana betul.”

“Sama emak pulang ke kam­pung.”

“Cuma itu yang tidak mung­kin.”

“Cuma satu itu kehen­dakku.”

“Deng­ar­lah sahaya punya cerita,” ujang itu mem­bu­juk sambil meng­ge­lar tikar keti­dur­an­nya di sam­ping ran­jang. “Cuma satu yang dike­hen­daki Allah, Mas Ngan­ten, yaitu supaya orang ini baik. Buat itu ada agama. Buat itu orang-orang ber­kib­lat kepada-Nya. Tapi nya­ta­nya, kehen­dak Allah yang satu itu saja tidak selu­r­uh­nya ter­pe­nuhi. Di dunia ini ter­lalu banyak orang jahat.”

“Oh! Lantas aku ini apa ter­ma­suk orang jahat yang tak dike­hen­daki Allah?”

“Ah-ah, siapa tahu hati orang? Iblis sen­diri pun tak tahu. Si orang itu sen­diri pun tak tahu. Kalau bisa dike­ta­hui, mung­kin dia tidak ditak­dir­kan hidup di atas bumi ini, Mas Ngan­ten. Sudah, sudah — tidur­lah.”

“Dong­engi aku.”

Dan dengan demi­kian bujang itu seta­pak mulai ber­ha­sil menya­bar­kan keli­aran Gadis Pantai dan mener­tib­kan­nya seba­gai wanita utama. Buat ke sekian kali ia men­do­ng­eng. Lebih dari empat wanita telah ia dong­engi dengan dong­eng-dong­eng yang itu-itu juga. Dan diu­lang­nya setiap datang wanita utama baru, ten­tang pange­ran-pange­ran yang ter­gila-gila pada gadis kam­pung. Ten­tang gadis kam­pung yang masuk ke dalam gedung. Ten­tang kehi­dupan yang mewah penuh sahaya. Ten­tang putra yang dila­hir­kan. Ten­tang Allah dengan segala kemu­r­ah­an­Nya dan kepe­litan-Nya bagi orang-orang yang jahat. Ten­tang tuan besar Guntur dengan tiang gan­tung­an­nya. Ten­tang kuburan-kuburan besar sepan­jang pantai. Ten­tang pem­be­ron­takan Dipo­ne­goro. Dan ten­tang rumah tangga pem­be­sar-pem­be­sar kota. Ten­tang pera­yaan per­ka­winan Raden Ajeng Kar­tini bebe­rapa tahun yang lalu, dan ten­tang upa­cara pema­kam­an­nya juga bebe­rapa tahun yang lalu.

Dan bila dong­eng­nya telah sele­sai, ia bangun meli­hat ke atas ran­jang. Dan dili­hat­nya Gadis Pantai telah ter­ti­dur senang di atas kasu­r­nya yang empuk. Ia pun meng­u­cap kepada Allah, karena telah ter­be­bas dari tugas hari itu dengan hasil yang bisa menye­nang­kan Ben­doro.

Ter­nyata seminggu lama­nya Ben­doro tak pulang. Gadis Pantai merasa senang selama itu. Dan bujang wanita juga merasa senang, karena pada kesem­patan-kesem­patan ini — pada saat-saat Ben­doro tak hadir bebe­rapa hari — apa yang dila­ku­kan­nya selama ini atas sekian banyak wanita uta­ma­nya selalu ber­ha­sil, ia dapat melu­nak­kan hati para wanita utama itu. Seminggu cukup pan­jang untuk mem­buat para wanita utama yang ber­ganti-ganti itu diter­tib­kan mele­wati per­sa­ha­bat­an­nya.

Dan pada suatu sore, datang seo­rang guru mengaji meng­a­jar Gadis Pantai mem­baca huruf-huruf suci, yang ter­ce­tak di atas kertas suci. Bebe­rapa kali saja ia sudah ulangi kata-kata, suku-suku yang ia tak tahu makna dan tuju­an­nya. Juga di malam hari waktu bujang wanita sudah ter­ba­ring di bawah sam­ping ran­jang­nya, sedang dengung nyamuk di luar kelambu begitu bising­nya. Ia miring­kan badan memung­gungi din­ding, menin­jau ke bawah dili­hat­nya bujang­nya sedang mela­mun dengan mata ter­buka lebar menin­jau langit-langit.

“mBok kan pernah kawin, mBok?”

mBok ter­ke­jut dan buru-buru duduk. “Pernah, Mas Ngan­ten. Dua kali.”

“Tidak punya anak?”

“Mes­ti­nya punya, Mas Ngan­ten.”

“Mati laki mBok?”

“Ya, Mas Ngan­ten. Begi­tu­lah cerita orang keba­nyakan seperti sahaya ini. Sahaya kawin, dan karena sudah kawin lantas diang­gap dewasa oleh lurah. Lantas sahaya diki­rim ke Jepara sana buat kerja rodi, tanam coklat. Suami sahaya ikut. Empat bulan lama­nya, Mas Ngan­ten. Anak sahaya gugur sebe­lum dapat meng­hi­rup udara, Mas Ngan­ten. Perut sahaya dise­pak mandor. Ya, apa mau dikata. Waktu itu kepala sahaya pening, duduk ber­te­duh di bawah pohon. Dia datang, dia — mandor. Tiba-tiba datang seo­rang pem­be­sar Belanda dengan bebe­rapa orang kom­peni8. Mandor mena­rik-narik tangan sahaya supaya kerja lagi. Tapi sahaya sudah lemas. Dia sepak perut sahaya. Peman­dangan sahaya ber­pu­tar-putar. Tapi masih sahaya dengar laki sahaya datang ber­lari-larian, meme­kik seperti orang gila. Lantas sahaya tak sadar­kan diri.”

“Ah. Keter­la­luan.”

“Ya, begi­tu­lah orang-orang keba­nyakan ini, Mas Ngan­ten.”

“Di kam­pungku tak pernah ter­jadi sema­cam itu ”

“Memang, Mas Ngan­ten. Laki sahaya tadi­nya meng­a­jak sahaya lari. Ting­gal saja di kam­pung nela­yan kata­nya. Kita bisa lari ke pulau-pulau kecil. Tapi sahaya bilang itu belum tentu lebih buat anak kita. Tapi nya­ta­nya itulah yang ter­jadi. Ya-ya, Mas Ngan­ten, Bapak Mas Ngan­ten punya perahu sen­diri?”

“Punya, mBok.”

“Itu memang cita-cita laki sahaya dulu. Punya perahu mes­ti­nya bisa lari ke salah satu pulau. Mas Ngan­ten bebe­rapa kali pernah dibawa naik perahu bapak?”

Gadis Pantai ber­pi­kir, pelan men­ja­wab, “Tiga kali, lebih tiga kali.”

“Itu arti­nya, tiga kali pernah lari ke pulau, ingat?”

“Ya, aku pernah ingat ting­gal di pulau kecil. Kalau pagi pesi­sir­nya ter­ta­buri ubur-ubur. Aku belah perut­nya. Kuke­lu­ar­kan ikan-ikan tang­gung dari dalam­nya. Aku bakar. Tapi bapak tak pernah bilang lari.”

“Apalah per­lu­nya dibi­lang-bilang? Itu dia­lami semua orang dari kalangan keba­nyakan, Mas Ngan­ten.”

“Lantas bagai­mana, laki mBok?”

“Tidak tahu­lah. Waktu sahaya bangun, sahaya sudah ber­mandi darah. Darah sahaya sen­diri. Darah bayi sahaya. Darah laki sahaya. Darah mandor.”

“Begitu banyak darah?”

“Begi­tu­lah orang pada cerita. Sahaya sen­diri tidak tahu, Mas Ngan­ten. Orang saja yang bilang: Laki sahaya jadi mata gelap, mandor dibe­lah pada perut­nya. Dia dodet perut itu. Dan dia meru­buh-rubuhi saja semua orang yang mau mem­bantu mandor. Kom­peni-kom­peni yang ada di situ lantas menyer­gap­nya. Dengan parang­nya dia amuk mereka. Waktu mereka menge­pung­nya, dan waktu dia tidak bisa men­de­kat buat meni­kam lagi, lantas dia lem­par­kan parang­nya pada seo­rang kom­peni. Kena tapi tidak mati. Ah, laki sahaya sudah begitu kurus keha­bisan tenaga, Mas Ngan­ten. Ting­gal kulit sama tulang. Daging­nya sudah habis. Kul­it­nya pun penuh kudis dan balu­ran cambuk.”

“mBok lihat laki mBok?”

“Tidak Mas Ngan­ten. Waktu sahaya bangun sudah tidak ada apa-apa. Yang ada hanya tiga orang kawan wanita sahaya. Mereka coba meno­long sahaya, tapi tak bisa, jadi cuma duduk menunggu. Waktu itu sudah agak gelap, lantas datang gero­bak. Bebe­rapa orang turun dari atas­nya. Ketiga-tiga­nya kawan sahaya diten­dangi disu­ruh pergi. Dan sahaya sen­diri? Setiap orang pegang sahaya pada kaki kanan-kiri, juga tangan kanan kiri. Jadi sahaya masih ingat empat orang yang datang itu. Mereka bilang satu, dua, tiga dan dilem­par­kan sahaya ke udara kemu­dian jatuh di atas gela­dak gero­bak. Sahaya tak ingat diri lagi.”

Waktu bujang itu ber­henti ber­ce­rita ter­nyata Gadis Pantai telah ter­se­dan-sedan dalam tangis­nya.

“Meng­apa, Mas Ngan­ten? Ada apa?”

Gadis Pantai tak mampu men­ja­wab.

“Meng­apa?”

“Kan boleh?”

“Meng­apa, Mas Ngan­ten?”

“Mena­ngis buat mBok?”

Sece­pat kilat bujang wanita itu ber­diri, mem­buka kelambu dan meme­luk serta men­ci­umi kaki Gadis Pantai. “Ah-ah, Mas Ngan­ten. Kenang-kenangan ini jahat. Di luar gedung. Mas Ngan­ten, yang ada cuma kega­nasan, kega­nasan atas kepala kami, orang-orang keba­nyakan.”

“Ke mana dibawa dengan gero­bak itu?”

“Ke mana lagi per­gi­nya orang keba­nyakan, Mas Ngan­ten? Ke pen­jara.”

“mBok men­de­rita di sana, mBok?”

“Tiga bulan sahaya tidak bangun, Mas Ngan­ten. Masih juga kaki sahaya diran­tai. Waktu rantai dile­pas, sahaya dibawa — entah ke mana. Sahaya dite­len­tang­kan di lantai dingin, Mas Ngan­ten, dan tiga orang Ben­doro mena­nyai sahaya ber­ganti-ganti. Seo­rang Belanda meli­hat pada sahaya, Mas Ngan­ten. Dia tidak tanya apa-apa. Cuma bilang: anjing.”

“Kata orang, biar laut kasih kita makan, dia kejam bukan buatan.”

“Ya, dia kejam, tapi tidak menyiksa, Mas Ngan­ten.”

“Betul, dia tidak menyiksa. Kata bapak dia cuma mena­gih utang yang mesti diba­yar. Lain tidak. Benar! Bapak tak pernah bilang menyiksa.” Dan Gadis Pantai bangun. “Meng­apa mBok tidur di bawah? Meng­apa tak mau di sam­pingku sini?”

“Sahaya, adalah sahaya. Dosa pada Ben­doro, pada Allah, seperti sahaya begini menem­pat­kan diri lebih tinggi dari lutut Ben­do­r­o­nya.”

“mBok, aku tak pernah dila­yani sebe­lum kemari.”

“Sahaya, Mas Ngan­ten.”

“Aku tak tahu apa mesti aku per­buat.”

“Sahaya, Mas Ngan­ten.”

“Ah, meng­apa aku mesti bicara ten­tang diriku sen­diri? mBok lebih men­de­rita begitu. Bagai­mana mBok keluar dari pen­jara?”

“Ya, begi­tu­lah Mas Ngan­ten. Pada suatu pagi orang meng­u­sir sahaya keluar dari pen­jara.”

“Jadi?”

“Sahaya jalan kaki tak tahu tujuan. Sahaya tak tahu di mana, di kota mana waktu itu. Kem­bali ke kam­pung sahaya tidak berani, takut kena rodi lagi. Sahaya ting­gal bebe­rapa malam di bawah beringin-kurung di alun-alun. Yadi situ.” Bujang wanita itu menun­juk ke arah pantai, “kalau pagi sem­bu­nyi di pasar.” Ia menu­ding ke arah selatan kota. “Di kota ini juga rupa­nya sahaya dipen­ja­ra­kan. Sahaya ber­temu dengan seo­rang lelaki dan kawin. Orang itu tukang bendi Ben­doro. Lima tahun sahaya kawin dan ting­gal di sini, tapi tak pernah punya anak. Sampai pada suatu sore laki sahaya jatuh dari pohon kelapa, mati.”

“Lantas, ting­gal terus di sini?”

“Sahaya, Mas Ngan­ten. Sahaya suka pada bocah. Entah sudah berapa bocah saja saya besar­kan Sudah lima belas tahun lebih sahaya ting­gal di sini.”

Kedua orang wanita itu ter­diam. Dan ombak laut ber­de­buran riuh. Sedang angin ber­su­ling-suling tiada henti-hen­ti­nya, mem­buat Gadis Pantai ter­i­ngat pada bapak. Tiba-tiba ia ber­ta­nya sen­diri, “Siapa yang masak buat bapak seka­rang?”

Bujang itu diam saja. Gadis Pantai ber­bi­cara sen­diri, “Mes­ti­nya aku. Seka­rang bapak ting­gal seo­rang diri. Emak ada di sini.”

“Jangan pikir­kan orang lelaki, Mas Ngan­ten, biar­pun bapak sen­diri. Lelaki tahu bawa diri, biar­pun di neraka.”

“Dia, bapakku mBok.”

“Seka­rang Mas Ngan­ten seo­rang wanita utama, ting­gal di gedung sebe­sar ini. Tak ada orang berani ganggu bapak, seka­li­pun bapak ting­gal di kam­pung nela­yan di tepi pantai. Ben­doro-ben­doro pri­yayi tak berani ganggu, kom­peni juga tak berani ranggu. Bapak tak perlu lagi lari dengan perahu, ting­gal di pulau-pulau karang anak-ber­a­nak. Tidak. Bapak seka­rang jadi orang ter­pan­dang di kam­pung. Setiap orang bakal dengar kata­nya. Senang-senang­kan hati Mas Ngan­ten.”

“Bagai­mana bisa tahu semua itu, mBok?”

“Sahaya banyak tahu, Mas Ngan­ten. Ter­lalu banyak. Ben­doro sen­diri kadang-kadang tanya pada sahaya.”

“mBok sayang padaku, mBok?”

“Bukan sayang lagi, Mas Ngan­ten.”

“Ambil­lah gelang itu! Atau kalung.”

“Jangan ulangi lagi, Mas Ngan­ten. Kalau sahaya diusir dari sini, ke mana lagi sahaya mesti pergi? Dunia memang luas, Mas Ngan­ten, tapi mau ke mana? Susah.”

“Aku juga sayang mBok. Kata­kan­lah padaku kalau aku keliru.”

“Tidak ada yang keliru, Mas Ngan­ten, selama hati Ben­doro tak dike­ce­wa­kan.” Ter­de­ngar ia mem­ba­lik bantal dan mene­puk-nepuk­nya. “Kalau kita salah pada Ben­doro, di mana pun kita bakal dapat kesu­sahan, Mas Ngan­ten meng­erti?”

Gadis Pantai telah ter­ti­dur.

Waktu Bendoro telah pulang, ber­hari, ber­minggu, bujang tak lagi masuk ke dalam kamar Gadis Pantai.

Emak telah pulang ke kam­pung dengan bekal seka­rung beras, bebe­rapa puluh rupiah, bebe­rapa pasang pesa­lin bekas Ben­doro buat bapak, satu kilo asam Jawa dan bebe­rapa kaleng bumbu-bum­buan.

Bebe­rapa menit sebe­lum berang­kat, Gadis Pantai baru dapat mene­mui emak­nya di kamar­nya sen­diri. Ia tawar­kan emas-emasan pada emak. Tetapi emak pura-pura tak dengar selalu, dan kemu­dian lang­sung bicara ten­tang bapak yang sudah pulang lebih dulu ke kam­pung, ten­tang jala baru yang harus di buat, karena yang ada sudah ter­lalu tua, ten­tang kain layar yang sedang turun harga, ten­tang damar yang tiba-tiba mening­kat har­ga­nya, sehingga sudah agak lama juga bapak segan menam­bal bocoran-bocoran pada lam­bung pera­hu­nya.

“Ada pesan yang harus kusam­pai­kan pada bapakmu?”

“Ada, mak, tentu ada. Sam­pai­kan per­min­taan ampunku buat kese­kian kali­nya.”

“Kau sudah suka ting­gal di sini?”

“Bapak dan emak yang meng­hen­daki aku ting­gal di sini. Aku lebih suka di kam­pung kita.”

“Setiap perem­puan mesti ikut laki­nya. Emak sen­diri juga begitu,” emak meng­hi­bur­nya. “Biar di pondok buruk, biar dia tak senang, dia harus bel­a­jar menye­nang­kan laki­nya.”

Gadis Pantai menye­rah­kan pada­nya dua lembar kain pan­jang. Dan emak mene­ri­ma­nya tanpa menga­ta­kan sesu­atu.

“Aku pergi seka­rang.”

“Maaak!”

“Jangan pang­gil begitu lagi, kau bukan bocah lagi.”

“Ya, mak.”

“Seka­rang kamu mesti bel­a­jar mena­ngis buat dirimu sendi- 11. Tak perlu orang lain lihat atau deng­ar­kan. Kau mesti bel­a­jar menyu­ka­kan hati semua orang.”

Gadis Pantai memung­gungi emak­nya, dan meng­hin­dari per- ‘i ke depan cermin. Waktu dili­hat bayangan tubuh, dan wajah­nya, men­coba meli­hat air muka­nya, segera ia pung­gungi cermin dan meru­buh­kan diri di kasur.

Seakan belum cukup sik­saan dalam dua-tiga minggu ini, pekik Gadis Pantai dalam hati­nya. Tapi di sini ia tak punya hak apa-apa, meme­kik mele­pas­kan duka pun tidak. Dalam bebe­rapa minggu ini seta­pak demi seta­pak ia dipim­pin untuk mengerli, bahwa satu-satu­nya yang ia boleh dan harus ker­ja­kan ialah meng­a­bdi pada Ben­doro, dan Ben­doro itu tak lain dari sua­mi­nya sen­diri. Di kam­pung ia mem­be­ri­kan jasa pada kedua orang- Inanya, sau­dara-sau­da­ra­nya, dan kepada selu­ruh pen­du­duk kam­pung. Ada ia rasai seka­rang hidup­nya dima­suk­kan ke dalam keru­cut yang makin dalam dima­suk­i­nya makin jadi sempit seperti mema­suki corong minyak, terus ke bawah, tapi dasar itu tak pernah ter­sen­tuh.

Sebuah tangan mem­be­lai pipi­nya, dan ia tidak angkat muka­nya. Bebe­rapa saat kemu­dian, waktu ia dapat atasi pera­sa­an­nya dan men­coba bicara lagi dengan emak, orang­nya sudah tak da. Yang ada hanya­lah bujang wanita yang meng­a­was­i­nya dengan diam-diam dari dekat pintu.

“Emak sudah pergi, Mas Ngan­ten. Mardi yang pang­gil­kan dokar.”

Meng­apa tidak dian­tar­kan dengan bendi Ben­doro? Tiba-tiba 1 menge­r­jap tanya dalam piki­ran­nya, tapi ia tidak bicara.

Pagi yang cerah waktu itu. Deburan laut ter­de­ngar kian lama kian men­jauh sedang angin darat mulai meriuh tanpa ken­dali

“Apa harus kuper­buat seka­rang?” Gadis Pantai ber­ta­nya.

“Tambah mulia sese­o­rang, Mas Ngan­ten, tambah tak perlu ia kerja. Hanya orang keba­nyakan yang kerja.”

“Lama, lama sekali rasa­nya aku tak kerja. Badanku sakit semua. Boleh aku bantu menum­buk tepung?”

“Menum­buk tepung? Ribuan orang bisa ker­ja­kan itu. Meng­apa mesti Mas Ngan­ten sen­diri? Tiga beng­gol sehari, Mas Ngan­ten, kita sudah kewa­lahan meno­lak orang.”

“Jadi apa mesti aku ker­ja­kan?”

“Benar-benar mau kerja?”

“Tak mung­kin mBok, tak mung­kin aku terus ber­ku­rung begini.”

“Sebe­lum tiga bulan, sebe­nar­nya Mas Ngan­ten tidak boleh ber­buat apa-apa. Nanti sahaya meng­ha­dap Ben­doro. Mas Ngan­ten mau kerja apa?”

“Tak tahu­lah aku,” kata Gadis Pantai, tapi dalam piki­ran­nya ter­ba­yang emak yang kini ter­paksa menum­buk jagung sen­di­r­ian. Dan kalau bapak tidak pergi ke laut, dan jam tujuh pagi mulai tidur, ia harus gan­tung­kan sen­diri jala pada tiang jemu­ran dari balok berat yang tinggi itu. Ia harus tarik sen­diri tali­nya, ia harus bikin katrol itu ber­pu­tar. Tak ada yang bantu mena­ik­kan jala dengan cabang kayu. Seka­rang emak harus tumbuk sen­diri udang kering buat dapat­kan uang bebe­rapa beng­gol dari orang Tiong­hoa dari kota itu. “Apa sesung­guh­nya diker­ja­kan di sini?”

“Semua, Mas Ngan­ten, untuk meng­a­bdi pada Ben­doro.”

Kerja meng­a­bdi! Kerja meng­a­bdi! Gadis Pantai masih juga kurang mema­hami.

Gadis Pantai mulai mem­ba­tik, seo­rang guru batik dida­tang­kan. Di pagi hari, tangan­nya yang telah diper­ha­lus oleh kea­daan tanpa-kerja, mulai mema­in­kan pensil mem­buat pola. Seminggu sekali datang guru yang meng­a­jar­i­nya mema­sak kue. Dan setiap tiga hari sekali, datang guru lain yang menyam­pai­kan pada­nya kisah-kisah agama dari negeri Padang Pasir nan jauh.

Lambat laun ing­at­an­nya pada emak, bapak dan sau­dara-sau­da­ra­nya jadi memu­dar. Dan bila ia ter­ke­nang pada mereka, pada kam­pung-halaman­nya, dia­jak­nya bujang wanita itu bicara ten­tang cerita-cerita nela­yan yang dike­nal­nya.

Gadis Pantai mulai ter­bi­asa pada kehi­dupan yang diper­leng­kap alat-alat begitu banyak dan meng­gam­pang­kan kerja. Ia mulai ter­bi­asa dengar suara pemuda-pemuda yang bicara dalam bahasa Belanda sete­lah mening­gal­kan surau di sebe­lah kiri rumah utama. Suara-suara mereka yang mene­ro­bosi din­ding kamar­nya mem­be­ri­ta­kan pada banyak hal yang tak pernah dike­ta­hui sebe­lum­nya. Salah seo­rang kera­bat baru saja pulang dari negeri Belanda, tidak mem­bawa ijasah, tapi seo­rang noni Belanda, sebuah kapal perang sedang ber­la­buh kira-kira 7 km dari pantai, tebing pantai di utara Lasem gugur, dan banjir besar ter­jadi: tiga buah perahu bajak telah men­da­rat di sebuah dusun dekat kam­pung halaman­nya, mem­bi­na­sa­kan lebih seper­se­pu­luh pen­du­duk­nya dan meng­ang­kuti selu­ruh emas, perak dan barang ber­harga, bebe­rapa orang pemuda kam­pung telah masuk kom­peni buat ber­pe­rang di sebe­rang.

“Kalau Mas Ngan­ten menin­jau kam­pung, Mas Ngan­ten benar-benar sudah jadi putri bang­sa­wan.”

Kemu­dian Gadis Pantai pun bel­a­jar menyu­lam, merenda, men­ja­hit. Kecer­dasan dan ketram­pil­an­nya menyu­ka­kan semua guru­nya.

Bebe­rapa kali ia turun ke dapur, tapi kini tidak lagi. Bebe­apa pasang mata para bujang di situ mena­tap­nya begitu tak menye­nang­kan.

“Jangan lagi ke dapur, Mas Ngan­ten. Mereka hanya bujang yang tak suka pada kea­da­an­nya sen­diri. Semes­ti­nya mereka ting­gal di gubuk­nya sen­diri. Orang-orang tak tahu diun­tung.”

Ben­doro belum juga kun­jungi kamar­nya.

“Ben­doro sibuk sekali, Mas Ngan­ten. Ben­doro Bupati bakal­nya kawin lagi dengan putri kraton Solo. Kasihan men­di­ang Den-ajeng Tini. Begitu berani. Siapa lebih berani dari beliau? Meng­ha­dapi Belanda mana saja tidak takut. Pem­be­sar-pem­be­sar sen­diri pada hormat.”

Juga Gadis Pantai seka­rang tahu siapa Den-ajeng Tini. Kar­tini yang bebe­rapa tahun yang lalu dalam bendi agung mema­suki per­ba­ta­san kota, dan semua pen­du­duk disu­ruh lurah menyam­but­nya sepan­jang jalan, dengan ben­dera tiga warna kertas ber­ki­ba­ran di tangan coklat hitam mereka. Seka­rang ia meng­erti cerita bapak yang pulang dari kota bebe­rapa tahun yang lalu, meng­apa dia dan bebe­rapa orang kawan­nya mesti pergi ke kota, ke alun-alun, ke kabu­pa­ten, buat menya­ta­kan hormat pada pengan­tin dari Jepara itu. Itulah Den-ajeng Tini? Betapa sing­kat usia, tapi betapa dihor­mati. Ia tak suka per­ka­winan agung itu. Ia tak tahu apa ter­jadi waktu itu. Dan bila bujang itu ber­ce­rita ten­tang put­ra­nya Ben­doro, timbul hasrat hendak meng­gen­dong dan menya­ya­ng­i­nya. Sedang putra-putri wanita utama sebe­lum dir­i­nya, dengan sengaja seakan dising­kir­kan dari­nya. Hampir-hampir ia tak pernah ber­temu dengan Agus Rahmat, biar pun saban sore dide­ng­ar­nya ia ber­bi­cara dalam bahasa asing dengan guru­nya di ruang bela­kang.

Hari-hari lewat cepat, dan Gadis Pantai meng­isi dir­i­nya dengan ber­ba­gai keca­kapan baru. Kul­it­nya yang tak lagi ter­pang­gang panas mata­hari jadi lang­sat keme­rahan, dan wajah bocah­nya telah lenyap digan­ti­kan oleh pan­dang orang dewasa.

Bulan demi bulan lewat. Dan Ben­doro hampir tak pernah dite­mu­i­nya. Tak pernah mema­suki kamar­nya.

Per­ka­winan Ben­doro Bupati sema­kin meng­ham­pir. Dan Ben­doro sema­kin jarang di rumah. Kota mulai dihias. Putri dari kraton Solo harus disam­but lebih hebat dari putri dari kabu­pa­ten Jepara.

Gapura-gapura kabu­pa­ten dan ping­giran-ping­giran kota mulai dipa­jang daun kelapa muda serta batang-batang pisang. Jang­kar ker­a­mat di ping­gir pantai mulai diganti pagar­nya.

Sete­ngah tahun lewat, bebe­rapa minggu sete­lah Gadis Pantai mema­suki gedung ini, kota itu jadi sema­rak ber­man­di­kan cahaya, ber­hi­as­kan penon­ton dari selu­ruh pen­juru. Bujang wanita itu memim­pin Gadis Pantai mening­gal­kan kamar­nya, mening­gal­kan pela­taran tengah, mema­suki pavi­liun di sam­ping kanan, naik ke loteng menyak­si­kan kera­maian di alun-alun. Ia ingin ber­ga­bung dengan orang-orang itu yang telah ter­bi­asa deng­an­nya sejak jabang bayi, tapi kini tidak mung­kin. Kini ia lebih tinggi dari­pada mereka.

Malam itu ia kem­bali ke ran­jang dengan banyak piki­ran. Per­ka­win­an­nya tak dir­a­ya­kan seperti itu. Bupati yang kawin jauh lebih tua dari Ben­doro. Dan putri kraton itu lebih tua dari dir­i­nya. Tapi ia tidak disam­but dengan pera­yaan. Dan jam tiga pagi ia ter­ba­ngun. Bujang tak ada di bawah ran­jang­nya lagi. api Ben­doro telah ter­golek di sam­ping­nya.

Pada jam 5 subuh, waktu bujang masuk ke dalam kamar, dili­hat­nya Mas Ngan­ten-nya masih ter­golek. Ia sedang men­de­kat, dan dide­ng­ar­nya suara memang­gil­nya:

“mBok, tolong­lah aku.”

Bujang mem­buka kelambu dan menyang­kut­kan pada jang­kar­nya. “Sakit, Mas Ngan­ten?”

“mBok, mBok.”

Bujang itu meraba kaki Gadis Pantai. “Tidak apa-apa, Mas Ngan­ten, tidak panas.”

“Aku sakit, mBok. Bawa aku ke kamar mandi,” diu­lu­r­kan­nya kedua belah tangan­nya minta diba­ngun­kan.

Wanita itu mera­ih­kan leng­an­nya, di bawah teng­kuk Gadis Pantai, men­du­duk­an­nya, mer­a­pikan ram­but­nya yang kacau balau, mem­be­nahi baju dan kain­nya yang lepas porak poranda, mena­rik-narik seprai yang ber­ke­rut di sana-sini.

“Ooh! Mas Ngan­ten tidak sakit,” kata­nya bujang sekali lagi, dan menu­run­kan­nya dari ran­jang.

“mBok,” sepan­tun pang­gilan dengan suara lembut. “Tidak apa-apa Mas Ngan­ten. Yang sudah ter­jadi ini takkan ter­u­lang lagi.”

“Apa yang sudah ter­jadi, mBok?”

Dan sete­lah Gadis Pantai ter­pa­pah ber­diri, bujang menun­juk pada seprai yang dihi­asi bebe­rapa titik merak kecok­la­tan, ber­kata, “Sedi­kit kesa­kitan Mas Ngan­ten, dan bebe­rapa titik darah sete­lah sete­ngah tahun ini tidak­lah apa-apa.”

“mBok!” suara yang tetap lembut.

“Sahaya, Mas Ngan­ten.”

“Aku takut.”

“Sahaya, Mas Ngan­ten.”

“Mari ke kamar mandi.”

Gadis Pantai ter­pa­pah menu­runi ran­jang. “mBok!”

“Sahaya Mas Ngan­ten.”

“Kapan emak datang kemari?” Mereka ber­ja­lan terus. “mBok!”

“Sahaya, Mas Ngan­ten.”

“Apakah aku cantik?”

“Gilang-gemi­l­ang, Mas Ngan­ten.”

“Tidak­lah mereka lebih cantik?”

“Di dunia ini, Mas Ngan­ten, yang lain-lain harus menying­kir buat yang ter­can­tik.” Mereka ber­henti di tengah-tengah peka­rangan-dalam. “mBok, apakah mereka manis?”

“Ah, Mas Ngan­ten lebih manis.”

“mBok.”

“Sahaya, Mas Ngan­ten.”

“mBok sayang padaku?”

“Apa masih mera­gu­kan sahaya, Mas Ngan­ten?”

“Tidak, aku tidak mera­gu­kan. Orang-orang lain?”

“Ben­do­r­o­lah yang paling sayang, Mas Ngan­ten.”

“mBok!”

“Sahaya, Mas Ngan­ten.”

“Aku takut.”

“Apa yang dita­kuti, Mas Ngan­ten?”

“Apakah aku bisa tetap cantik?”

“Meng­apa tidak, Mas Ngan­ten?”

“mBok dulu cantik?”

“Tidak pernah, Mas Ngan­ten.”

“Aku takut, Mbok.” Kedu­a­nya lenyap di balik pintu kamar mandi …



Bagian Kedua

Setahun telah lewat. Kini Gadis Pantai merasa sunyi bila sema­lam saja Ben­doro tak datang ber­kun­jung ke kamar­nya. Bujang itu tak perlu mem­ban­tu­nya lebih banyak lagi. Di luar dugaan ia telah dapat menye­su­ai­kan diri dengan kehi­dupan baru­nya. Namun wanita tua itu tetap men­jadi saha­bat dan tempat ber­ta­nya yang bijak­sana.

Ia telah banyak dan sering mening­gal­kan kamar, jalan-jalan seo­rang diri di sore hari di kebun bela­kang, bicara dengan sanak kera­bat sua­mi­nya yang meng­a­b­di­kan diri, dan ber­se­ko­lah di pagi hari serta mengaji di malam hari, dengan para bujang, kadang dengan tetangga. Dan dalam seta­hun itu tak pernah seka­li­pun ia meng­in­jak­kan kaki di ruang depan atau­pun tengah, apa­lagi mema­suki kamar-kamar­nya, ter­ke­cu­ali khal­wat. Ada suatu keku­a­saan yang tidak mem­per­ke­nan­kan­nya. Tak ada orang menyam­pai­kan ini kepa­da­nya tapi aturan dan keten­tuan yang ber­laku ia rasai dengan sen­di­r­i­nya saja.

Pada suatu sore Ben­doro meme­rin­tah­kan Mardi menyi­ap­kan bendi. Sesu­atu terasa menyam­bar dalam hati Gadis Pantai. Paling sedi­kit seminggu Ben­doro akan mening­gal­kan kota. Perin­tah pada Mardi itu dengan sen­di­r­i­nya menye­bab­kan ia ber­ke­mas-kemas dan mer­a­pikan diri, kemu­dian menunggu di kursi dalam kamar sampai sua­mi­nya datang dan meminta diri. Selama seta­hun ini lebih sekali peris­tiwa demi­kian ter­jadi — kali ini bukan­lah yang ter­a­khir.

Sete­lah dira­sa­nya bendi itu melun­cur men­jauh, ia pun keluar dari kamar, menu­runi jen­jang ruang bela­kang, mem­be­lok ke kanan dan mema­suki kebun bela­kang. Lang­sung ia menuju bangku tempat ia per­tama kali duduk ber­san­ding dengan sua­mi­nya. Ia meng­i­ng­in­kan sore segar dalam sua­sana hati tak menentu, keruh dan kacau balau. Ia ingin seo­rang diri di tengah-tengah alam, seperti hampir sela­ma­nya bila ia ada di kam­pung nela­yan dulu. Ia ingin kenang­kan segala yang indah dan mema­dam­kan keka­cauan hati seka­rang ini. Betapa ia rin­du­kan sua­mi­nya yang baru pergi, baru saja, belum lagi sepu­luh menit. Betapa ia sesali nasib­nya tak pernah lama ting­gal ber­sama Ben­doro, sua­mi­nya, ter­ke­cu­ali bebe­rapa malam dalam seminggu. Apa pun yang ter­jadi Ben­doro ber­pe­san pada­nya: jangan kenang­kan yang buruk-buruk, itu per­bu­atan bodoh. Kenang yang indah-indah, yang baik-baik, biar hati tetap bersih, dan piki­ran ting­gal segar. Cuma kele­dai yang selalu renung­kan nasib­nya yang buruk, karena itu sampai mati ia cuma jadi peng­ang­kut beban orang. Ia tak pernah tahu apa itu kele­dai. Dan bujang wanita itu bilang kele­dai tak lain dari kuda-kerdil yang saban hari digi­ring dari dan ke kota, dari dan ke selatan untuk meng­ang­kuti orang dan kapur. Kele­dai­kah aku? Tidak! Tidak layak Ben­do­r­oku ber­is­tri­kan seekor kele­dai.

Entah berapa kali. ia yakin­kan diri bukan kele­dai. Tapi hati­nya begitu keruh. Ia tak meng­erti sampai waktu itu, bahwa ia merasa sangat, sangat cem­buru.

Belum lagi seper­em­pat jam ia mere­nungi dir­i­nya bujang wanita telah datang meng­ham­piri.

“Guru baca sudah datang, Mas Ngan­ten. Sahaya cari di mana-mana.”

“Bilang aku tak bel­a­jar hari ini. Kepa­laku pening.”

“Dia takkan pergi sebe­lum jalan­kan kewa­ji­b­an­nya, Mas Ngan­ten. Untuk itu mene­rima naf­kah­nya, kata­nya.”

“Pergi!” Gadis Pantai mem­ben­tak. Ter­ke­jut sen­diri, segera ia sam­bung, “ah, maaf­kan aku. Piki­ranku sedang kacau. Maaf­kan aku mBok.”

Dengan pera­saan ter­sing­gung bujang itu pergi. Kini pera­saan ber­dosa karena telah meng­a­sari wanita tua itu, mem­buat ia ter­je­ram­bab dalam keka­cauan baru. Segera ia bang­kit dan meng­i­kuti bujang­nya. Dengan lemah lembut seba­gai­mana biasa, ia sam­pai­kan pada guru baca ia tak bel­a­jar sekali ini.

“Mas Ngan­ten,” tegur guru itu, “apa akan jawab sahaya bila Ben­doro murka pada sahaya?”

“Aku tak bel­a­jar kali ini, besok tidak, lusa tidak, sampai Ben­doro datang.”

Guru itu pergi dan bujang wanita itu dipan­da­ng­i­nya masuk.

“mBok sekali lagi, mBok, jangan gusar padaku. Bukan mak­sudku ber­laku kasar padamu.”

“Wanita sia­pa­kah yang tak pernah cem­buru, Mas Ngan­ten. Tapi jangan ajak orang lain merasa tak senang.”

“Terima kasih, mBok. Terima kasih. Ke manakah bia­sa­nya Ben­doro pergi — sampai ber­hari-hari begini?”

“Ah, Mas Ngan­ten, itu urusan pria dengan peker­ja­an­nya. jangan ikut campur, karena wanita tak tahu apa-apa ten­tang itu. Kita hanya tahu daerah kita sen­diri: rumah tangga yang harus kita urus.”

“Daerah kita itu pun aku tahu pasti, mBok. Ke ruang tengah dan depan saja aku belum pernah.”

“Mari sahaya antar­kan, Mas Ngan­ten.”

“Apa ada guna­nya?” namun ajakan itu begitu merang­sang hati­nya. Ia bang­kit. Bujang itu pun meng­an­tar­kan­nya mening­gal­kan kamar, melin­tasi ruang bela­kang dan mema­suki ruang tengah. Sebuah pintu rak­sasa telah mereka lewati: sekian kali besar meja­nya di kam­pung nela­yan dulu! Sebuah ruangan luas ter­pam­pang di depan­nya. Dan bila pan­dang­nya dite­bar­kan ke atas ter­ge­lar sede­retan langit-langit yang rata, ber­ko­tak-kotak ber­bu­nga, ber­warna-warni ter­buat dari lem­baran besi selu­r­uh­nya. Di tengah-tengah langit-langit ter­hias ling­karan tebal yang ber­ben­tuk ikatan jerami-jerami sema­cam padi, dengan butir-butirnya kadang ter­ge­lar di luar ling­karan. Sedang tepat di tengah-tengah ling­karan ter­gan­tung pipa kuningan yang digan­tungi lampu lis­trik bebe­rapa buah, ter­hias manik-manik sebe­sar kris­tal, ber­gan­tungan seperti ber­lian-ber­lian pada kuping wanita.

Di sam­ping pintu, Gadis Pantai meli­hat di sebuah meja kecil rendah ter­le­tak sebuah stop­les di atas­nya, berisi air dan benda-benda kehi­taman pada men­de­kam di dasar stop­les. Ia kenal benda-benda kehi­taman itu: lintah.

“Meng­apa dia dita­ruh di sini?” Gadis Pantai ber­ta­nya.

“Dengan per­to­longan bina­tang-bina­tang itu saban bulan Ben­doro mem­bu­ang darah beliau.”

“Buat apa darah dibu­ang?”

“Sinse yang beri nasi­hat.”

“Sakit­kah Ben­doro?”

“Benar. Bebe­rapa dokter Belanda sudah dipang­gil. Dari Jepara, Pati, Sema­rang, tak ada yang bisa sem­buh­kan.”

“Sakit apa?”

“Tak ada yang tahu.”

Gadis Pantai kehi­langan kei­ng­inan meli­hat-lihat ruangan tengah lebih jauh lagi. Ia ber­diri diam-diam di tengah-tengah ruang. Di antara lemari-lemari kaca yang ber­diri di sepan­jang din­ding, hiasan kali­grafi di mana-mana, per­ma­dani biru, hitam, merah, putih dengan gambar-gambar peman­dangan nc ‘c1! Padang Pasir dengan onta serta kuda. Antara ruang tengah dan pen­dopo menga­nga sebuah pintu rak­sasa yang sepa­ruh­nya ter­tu­tup penye­kat lipat ter­buat dari kayu sono­ke­ling dengan ukiran Jepara dan ditu­tupi dengan anyaman kulit bambu halus ber­su­lam­kan benang emas yang meng­gam­bar­kan laut.

Dengan ucapan yang tak ter­pu­sat Gadis Pantai memu­lai lagi:

“Bersih amat di sini. Sau­dara-sau­dara Agus Rahmat tak pernah main-main di sini?”

“Tak ada anak-anak di sini. Semua ting­gal di kamar dapur. Kalau main mereka pergi ke pela­taran depan, atau ke alun-alun.”

“Mana bayi yang sering mBok gen­dong dulu?”

“Diung­si­kan biar tak meng­ganggu Mas Ngan­ten.”

“Biar­lah aku urus dia.”

“Oh, Mas Ngan­ten, harap Mas Ngan­ten jangan bicara begitu di hadapan Ben­doro. Soal anak sela­ma­nya soal pelik di rumah-rumah gedung, jadi sumber per­teng­karan, seka­li­pun yang mengu­rus cuma para sahaya.” Gadis Pantai tak meng­erti. Ia diam tak mene­rus­kan.

“Bebe­rapa waktu lagi Mas Ngan­ten akan dika­ru­niai putra sen­diri.”

Gadis Pantai ber­seri riang, dan seke­jap ter­lupa pada cem­bu­ru­nya. Naluri kei­bu­an­nya mulai bekerja. Dan lebih keras lagi naluri ini men­je­jaki darah hidup sua­mi­nya.

“Jadi dengan siapa Ben­doro sehari-hari di sini?”

“Seo­rang diri. Tamu-tamu dite­rima di ruang tengah. Di sini tidak terima tamu wanita.”

“Meng­apa tidak? Di kam­pung kami pria dan wanita sama-sama ber­tamu.”

Nampak bujang itu merasa kasihan kepada Gadis Pantai. Peng­a­laman selama ini mem­buat ia banyak tahu ten­tang per­be­daan antara kehi­dupan orang keba­nyakan dan kaum Ben­doro di daerah Pantai. Seo­rang Ben­doro dengan istri orang keba­nyakan tidak­lah diang­gap sudah ber­is­tri, seka­li­pun telah ber­a­nak selu­sin. Per­ka­winan demi­kian hanya­lah satu latihan buat per­ka­winan sesung­guh­nya: dengan wanita dari karat kebang­sa­wa­nan yang seting­kat. Per­ka­winan dengan orang keba­nyakan tidak mung­kin bisa mene­rima tamu dengan istri dari karat kebang­sa­wa­nan yang tinggi, karena dengan istri asal orang keba­nyakan — itu peng­hi­naan bila mene­ri­ma­nya.

“Meng­apa mBok diam saja?” Gadis Pantai ber­ta­nya.

“Sahaya sering ber­pi­kir, Mas Ngan­ten…”

“Ya?”

“Betapa adil­nya kalau setiap orang punya rumah sebe­sar ini.”

“Takkan bisa diurus sen­diri semu­a­nya!”

“Ya-ya sehingga setiap rumah bakal jadi beban setiap orang. Lihat itu,” dan bujang meng­a­lih menun­juk pada sebuah meja kecil, dengan sebuah kotak kayu cen­dana di atas­nya, ter­u­kir dengan ber­ba­gai gambar kupu-kupu dan bunga-bungaan. “Itulah kotak obat Ben­doro.”

“Obat? Keli­hat­an­nya Ben­doro tidak sakit.”

“Mas Ngan­ten ingin lihat kamar?” dan sebe­lum men­da­pat jawaban ia telah mem­buka salah sebuah pintu besar pada din­ding.

Gadis Pantai men­je­nguk ke dalam. Per­tama-tama yang dili­hat­nya adalah jagang kayu, tempat tombak-tombak didi­r­i­kan. Ia melom­pat ke sam­ping dan memung­gungi pintu.

“Tidak-tidak, terima kasih.”

Bujang itu menu­tup kem­bali pintu dan Gadis Pantai pulang ke kamar­nya.

Di luar hari telah mulai rem­bang.

Dan beduk mesjid serta surau ber­talu ber­sa­hut-sahutan.

Sampai di pintu kamar­nya tiba-tiba Gadis Pantai tak dapat mena­han hati­nya yang selama ini diaduk keta­kutan dan kekha­wa­tiran. Ber­ta­nya:

“Adakah wanita utama lain yang akan meng­gan­ti­kan aku?”

“Tidak! Tidak! Sahaya tidak tahu!” bujang itu mema­lin ’kan muka­nya ber­si­ce­pat pergi menu­runi jen­jang ruang bela­kang, hilang ke dalam dapur.

Seta­hun yang telah lewat meru­pa­kan per­ki­saran dari banyak pera­saan dalam jiwa Gadis Pantai. Mening­gal­kan kam­pung nela­yan di tepi pantai ber­arti mema­suki keta­kutan dan hari depan tidak menentu. Mema­suki kota dan gedung tempat ia ting­gal seka­rang adalah mema­suki dunia tanpa keten­tuan. Dahulu ia tahu harga sesu­atu jasa, tak peduli kepada siapa. Di sini jasa tak punya nilai, dia meru­pa­kan bagian peng­a­b­dian seo­rang sahaya kepada Ben­doro. Dahulu ia dapat bicara bebas kepada siapa pun, bisa menying­gung mar­ta­bat Ben­doro atau siapa saja. Kini tak dapat ia bicara dengan siapa ia suka.

“Tidak, Mas Ngan­ten,” pela­yan tua itu tak bosan-bosan­nya mem­per­i­ng­at­kan, “tidak semes­ti­nya wanita utama bicara dengan semua orang. Perin­tah saja orang-orang itu, jangan ragu-ragu. Tak ada guna­nya Mas Ngan­ten deng­ar­kan pen­da­pat atau kebe­ratan mereka. Mereka di sini buat dipe­rin­tah. Sahaya ini begitu juga Mas Ngan­ten.”

Begi­tu­lah lama-lama ia meng­erti, di sini ia men­jadi seo­rang ratu yang meme­rin­tah segala. Hanya ada seo­rang saja yang berhak meme­rin­tah­nya: Ben­doro, tuan­nya, sua­mi­nya. Otak­nya yang masih bocah itu tidak meng­erti meng­apa cuma perin­tah dan meme­rin­tah. Ia kehi­langan sesu­atu yang besar: keri­aan, yang ditim­bul­kan oleh ker­ja­sama dengan semua orang. Di sini tidak ada ker­ja­sama. Di sini hanya ada peng­a­b­dian dan perin­tah.

Pada suatu hari, karena merasa kese­pian ia ber­ta­nya:

“mBok meng­apa di sini tak ada orang ter­tawa dan ter­se­nyum deng­anku?”

“Lantas apa guna senyum dan tawa?” Mereka hanya abdi, hanya sahaya. Tak layak jual senyum dan tawa pada Mas Ngan­ten. Juga tak baik layani senyum dan tawa mereka. Tahu, Mas Ngan­ten, seo­rang wanita utama adalah lak­sana gunung Dia tidak terung­kit dari kedu­duk­an­nya, ter­ke­cu­ali oleh tangan Ben­doro. Ben­doro lebih tidak terung­kit, ter­ke­cu­ali Gusti Allah sen­diri.”

“Ah, ah.”

“Meng­apa, Mas Ngan­ten?”

“Bodoh­nya aku ini. Aku tak meng­erti.”

“Kalau semua orang bisa meng­erti, Mas Ngan­ten, gam­pang saja jadi pri­yayi.”

“Jadi? Aku bagai­mana?”

“Mas Ngan­ten adalah wanita utama, segala apa ter­bawa karena Ben­doro. Begi­tu­lah Mas Ngan­ten, jalan kepada kemu­li­aan dan kebang­sa­wa­nan tak dapat ditem­puh oleh semua orang.”

Dahulu Gadis Pantai cuma meng­erti: hanya nela­yan-nela­yan gagah per­kasa saja yang patut dihor­mati dan dimu­l­i­a­kan. Mereka lin­tasi laut dan menang­kap ratusan, bahkan ribuan ikan dengan jala­nya sen­diri. Nela­yan yang paling ter­hor­mat, dialah yang bawa pulang ikan ter­be­sar. Dia pah­la­wan. Ikan demi­kian tak dijual, tapi dibagi-bagi­kan, ter­ke­cu­ali tulang­nya. Karena tulang-belu­lang itu akan dihias di atas pintu masuk rumah­nya. Dahulu ia ber­sama-sama kawan­nya sering ber­henti lama-lama di depan pintu yang dihi­asi dengan tulang-tulang yang besar dan pan­jang. Ia sen­diri bayang­kan gerigi dan mata yang semes­ti­nya dahulu ter­pa­sang jeli pada kelo­pak mata teng­ko­rak­nya. Betapa kuat ikan sema­cam itu, dua-tiga kali lebih besar dari dir­i­nya sen­diri. Ingin ia meli­hat mahluk sema­cam itu masih hidup-hidup dibawa ke darat. Tidak pernah! Sela­ma­nya bina­tang itu sudah mati. Malah ia pernah minta pada bapak. “Bawalah pulang yang besar, yang masih hidup!” Dan bapak mem­bung­kam­nya dengan kata-kata keras, “Kalau kau kuat seka­li­pun, jangan kau ten­tang maut kalau tak perlu.” Tentu ia tidak meng­erti. Ia hanya rasai keta­kutan men­ja­lar di selu­ruh tubuh­nya. Ia meriut dan waktu bapak berang­kat, ia tidur di bale kawani emak, tanpa bicara sesu­atu pun sampai malam tiba. Dan malam-malam ia rang­kul emak, tanpa bicara sesu­atu pun san1pai emak sengit. “Anak manja,” ben tak emak. Malam itu Gadis Pantai tak dapat tidur. Yang ter­ba­yang oleh­nya hanya ikan besar yang gagah ber­si­rip merah. Mereka kuasai samudra dan ikan-ikan kecil. Tidur­nya geli­sah tak menentu. Akhir­nya emak ter­ba­ngun juga. Meman­da­ng­i­nya lama-lama dalam tema­ram pelita.

“Meng­apa kau ini?”

Bapak waktu itu seperti biasa, tidak di rumah. Dia ber­ga­bung dengan kawan-kawan­nya untuk mem­bantu nela­yan-nela­yan yang mem­bu­tuh­kan tenaga. Dan Gadis Pantai men­ce­ri­ta­kan pada emak peng­a­lam­an­nya dengan bapak. “Anak bodoh!” bisik emak sambil mene­puk-nepuk pipi­nya. “Tidur, nak, tidur. Buat apa kau pikir­kan ikan-ikan itu? Ikan besar-besar? Jan gan bicara dengan bapakmu ten­tang ikan besar: jangan sekali lagi. Tidak boleh. Jangan kecil­kan hati bapakmu, nak. Setiap ikan besar adalah bahaya. Dan di laut, nak, siapa yang bisa tolong? Biar orang men­je­rit seta­hun lama­nya? Ombak itu lebih besar dari jerit­an­nya. Ikan besar-besar itu lebih banyak dari nela­yan. Gigi mereka lebih per­kasa dari tombak bapakmu. Kau meng­erti, nak? Kau meng­erti?” Dan bulu badan Gadis Pantai mere­mang. Mulai waktu itu, setiap hari ia mendoa buat kese­la­matan bapak. Mulai waktu itu ia meng­erti seke­ping kepah­la­wanan bapak­nya, bapak­nya sen­diri. Juga mulai waktu itu ia tak lagi bicara ten­tang ikan besar yang hidup, ikan besar yang mena­kut­kan.

Piki­ran­nya yang masih muda kini mulai mem­ban­ding­kan semua yang baru dengan semua yang lama. Akhir­nya ia tak mau ber­pi­kir mem­ban­ding-ban­ding lagi, ia tak meng­erti, ia tahu ia tak tahu sesu­atu pun. Ia meli­hat, dan segera ber­ta­nya. Begi­tu­lah pada lain kali ia ber­ta­nya, “mBok, apa sebab semua takut pada Ben­doro?”

Ia ingin ber­ta­nya apakah kepah­la­wanan Ben­doro. Apakah kehe­batan dan kebe­ra­nian orang selang­sing, selang­sat, dan sepu­cat, serta seha­lus itu. Tapi ia tak berani. Dalam pem­bi­suan itu pela­yan tua mene­puk-nepuk dada­nya sen­diri seperti hendak meya­kin­kan dir­i­nya sen­diri bahwa ing­at­an­nya masih bisa diper­caya.

Ia ber­ce­rita: “Mas Ngan­ten dalam setiap pepe­rangan rak­sasa sela­ma­nya dika­lah­kan oleh satria yang kurus-kurus gepeng dan layu. Ger­gaji cakil yang gesit penuh api sekali ter­seng­gol jari keling­king satria, dia rubuh takkan bangun lagi. Dan satria itu hampir-hampir tidak pernah ber­an­jak dari tem­pat­nya, sedang si cakil ber­pu­tar melom­pat, ber­jung­kir balik mele­dek.”

“Wayang­kah itu?”

“Di tempat Mas Ngan­ten tak ada wayang?”

“Kami hanya pernah dengar. Tak ada gambar wayang di rumah-rumah kami di kam­pung nela­yan.”

“Lha, meng­apa?”

“Sekali seo­rang kota mem­bawa wayang kulit ke kam­pung nela­yan. Kakek tua marah. Dipu­kul­nya orang itu dengan tong­kat­nya. Orang itu juga jadi marah kena pukul. Dige­lan­dang­nya kakek. Waktu hendak digu­guh­kan tin­ju­nya pada mulut kakek, nampak ia tak sampai hati, dan dido­r­ong­nya kakek sampai ter­ja­tuh di atas pasir. Kakek kepa­rat, kata orang itu. Apa dosaku? Apa dosa wayang ini? Kakek meng­e­rang-nge­rang. Waktu itu aku ada di situ. Mereka ber­ha­dap-hadapan di sebuah jalan kecil yang ter­a­pit barisan semak-semak. Tak ada orang lain lagi yang meli­hat. Aku ham­piri kakek, men­coba men­di­r­i­kan­nya. Orang kota itu meli­hat padaku, kemu­dian mem­bantu aku men­di­r­i­kan kakek. Dosamu, orang kota bera­nga­san, kau mau tipu kami dengan wayangmu. Tipu? pekik orang kota. Benar, tipu! kakek men­je­rit. Kau mau men­jual omong kosong. Kau mau buali orang kam­pung dengan kehe­batan selem­bar kulit kerbau yang kau pahati dan kau lukisi ber­warna-warni, kau akan kata­kan pada mereka, wayangmu, sangat ber­ku­asa, tak ada ban­dingan. Bohong! Di sini cuma laut yang ber­ku­asa. Bukan wayang-wayang itu.”

“Som­bong benar kakek kam­pung itu. Kalau dia di sini, dia akan ter­ge­tak tak dapat ber­ku­tik seperti batu yang habis dibe­lah.”

“Nela­yan dari kam­pung-kam­pung lebih-lebih lagi malah tidak mau menye­but kata wayang mBok. Mereka tak suka.”

“Mereka tidak meng­erti, Mas Ngan­ten. Wayang itu nenek moyang kita sen­diri.”

“Nenek moyang mBok sudah tidak ada, tapi laut tetap ada.”

“Uh-uh. Mas Ngan­ten, kita tidak bakal ada kalau nenek moyang tidak ada.”

“Kakek itu pernah bilang mBok, sega­la­nya ber­sum­ber di laut. Tak ada yang lebih ber­ku­asa dari laut. Nenek moyang kami juga bakal tidak ada kalau laut tidak ada.”

“Entah­lah, Mas Ngan­ten, entah­lah,” jawab pela­yan itu sopan dengan kejeng­kel­an­nya

Dan tanpa disa­dari, semua per­ta­nyaan Gadis Pantai tak lain dari ucapan cem­buru hati­nya. Ia ingin keta­hui segala ten­tang sua­mi­nya yang seka­li­gus juga tuan dan maji­kan­nya, tapi itu takan mung­kin ia berani tanya­kan pada Ben­doro sen­diri.

“Jangan gusar padaku, mBok. Aku hanya ber­ta­nya.”

“Bingung­lah sahaya ini, Mas Ngan­ten, per­ta­nyaan-per­ta­nyaan begitu tak pernah sahaya dengar seumur hidup.”

Sebe­nar­nya Gadis Pantai ingin menge­ta­hui pasti, ke mana saja Ben­doro pergi bila mening­gal­kan rumah ber­hari-hari lama­nya. Siapa-siapa yang dite­mu­i­nya. Apa yang dibi­ca­ra­kan­nya. Bagai­mana pen­da­pat Ben­doro ten­tang dir­i­nya. Akhir­nya ia ber­pen­da­pat: betapa mahal­nya penge­ta­huan di sini. Aku harus bel­a­jar segala, dari mem­ba­tik, menyu­lam, sampai mem­baca dan mengaji. Ter­ke­cu­ali bel­a­jar ten­tang suami sen­diri, bahkan juga pen­da­pat suami ten­tang istri­nya. Di kam­pung ia sering dengar istri-istri pada meng­kri­tik suami masing-masing. Kadang-kadang kritik itu mem­buat mereka pada ber­teng­kar, tapi di sini? Di sini?

“mBok pernah ting­gal di kam­pung nela­yan?”

“Pernah. Mas Ngan­ten.”

“Suami-istri hidup­nya tidak seperti di sini ”

“Sahaya tahu. Mereka ber­sama-sama makan, ber­sama-sama duduk, minum. Kalau sedang tak ber­la­yar, mereka bicara ten­tang segala.”

“Yah, ten­tang musim, ten­tang bulan, ten­tang angin, ten­tang bina­tang.”

“Sahaya, Mas Ngan­ten.”

“Ten­tang layar dan dayung, ten­tang jaring ter­sang­kut pada batu karang dan kaki yang ter­tu­suk duri babi.”

“Sahaya, Mas Ngan­ten.”

“Apakah di kota suami-istri tidak pernah bicara?”

“Ah, Mas Ngan­ten, di kota, barang­kali di semua kota — dunia kepu­nyaan lelaki. Barang­kali di kam­pung nela­yan tidak. Di kota perem­puan berada dalam dunia yang dipu­nyai lelaki, Mas Ngan­ten.”

“Lantas apa yang dipu­nyai perem­puan kota?”

“Tak punya apa-apa, Mas Ngan­ten kecu­ali…”

“Ya?”

“Kewa­ji­ban men­jaga setiap milik lelaki.”

“Lantas milik perem­puan itu sen­diri apa?”

“Tidak ada, Mas Ngan­ten. Dia sen­diri hak-milik lelaki ” Gadis Pantai tahu benar: Ben­doro telah tiga hari pergi. Dan ia tahu tepat pula: ia hanya­lah hak milik Ben­doro. Yang ia tak habis meng­erti meng­apa ia harus ber­laku sede­mi­kian rupa sehingga sama nila­inya dengan meja, dengan kursi dan lemari, dengan kasur tempat ia dan Ben­doro pada malam-malam ter­tentu ber­ceng­ke­rama.

Tiga hari telah lewat. Setiap hari sema­kin pan­jang saja cem­buru yang menge­ru­muti dalam hati­nya.

Hari ke empat Ben­doro datang.

Sore waktu itu, bebe­rapa waktu sete­lah beduk asar ber­talu. Ia dengar bendi ber­henti, di depan pen­dopo. Ia dengar roda bendi dan tela­pak kuda itu ber­ja­lan per­la­han di sam­ping kamar­nya Ia dengar selop melang­kah-lang­kah berat di ruang tengah. Ia dengar bunyi buutt ter­ke­nal itu. Jan­tung­nya ber­de­bar. Ia tutup pin­tu­nya rapat-rapat, tetapi ia tiada mengun­ci­nya. Tidak! Ben­doro tidak mem­bawa wanita utama baru, ia men­je­rit dalam hati. Tidak! Tidak mung­kin.

Ia duduk di kursi dan mele­tak­kan kepa­la­nya di atas meja dengan mata melo­tot meng­a­wasi pintu. Pintu itu harus ter­buka per­la­han, dan sete­lah itu wajah pucat ber­hi­dung bangir harus ter­se­m­bul. Sosok tubuh­nya yang lang­sing tinggi kurus menye­li­nap masuk ke dalam meng­ham­pir­i­nya, mele­tak­kan tangan di atas pun­dak­nya seperti biasa, dan harus ber­bi­sik lunak seperti bia­sa­nya pula kepa­da­nya, “Mas Ngan­ten, kau sehat bukan?”

Ia menunggu dan menunggu, menunggu dengan hati meriut dan jan­tung ber­de­baran. Tapi wajah pucat ber­hi­dung bangir itu tak juga menyem­bul di kirai pintu.

Suatu keku­atan gaib telah bang­kit­kan ia dari kursi, ia meng­ham­piri pintu — mengirai­kan sedi­kit dan dipu­sat­kan selu­ruh kuping­nya pada setiap kata yang bisa ter­de­ngar dari kamar. Tidak! ia tak dengar suara wanita. Hanya bunyi selop berat saja ber­ja­lan mondar-mandir dise­lang-seling ter­buka dan ter­tu­tup­nya pintu serta ber­pin­dah-pin­dah­nya kaki kursi. Tiba-tiba ter­de­ngar oleh­nya perin­tah yang keras mengan­dung ancaman gaib.

“Mardi!”

Ia segera tahu apa arti­nya: Bendi harus segera disi­ap­kan. Hati­nya jadi kecut. Ben­doro hendak berang­kat lagi. Berapa hari lagi ia harus menunggu keda­tangan­nya? Tanpa disa­dar­i­nya mata­nya jadi sembab. Ditu­tup­nya kem­bali pintu. Satu-satu­nya pelin­dung­nya yang setia selama ini adalah kasur dan bantal ran­jang. Kalau saja pela­yan wanita itu begitu menye­nang­kan seperti itu! Tapi ber­tam­bah mening­kat penge­ta­huan dan kecer­das­an­nya, pela­yan itu makin kurang kemam­pu­an­nya meng­hi­bur hati­nya.

Juga sekali ini ia lari pada pelin­dung­nya. Dipe­luk­nya bantal dingin itu. Ia ter­i­ngat pada emak, pada bapak, dan sau­dara-sau­da­ra­nya. Dan ia merasa begitu malu selama ini tak banyak meng­i­ngat mereka. Betapa ia rin­du­kan sua­mi­nya. Betapa pera­saan cem­buru telah menyiksa ia begini macam. Sia­pa­kah dia? Sia­pa­kah dia yang begitu ber­ku­asa atas Ben­doro yang maha kuasa ini? Sia­pa­kah dia yang dapat perin­tah­kan Ben­doro terung­kit dari gedung ini menem­puh jarak begitu pan­jang dan mena­han­nya ber­hari-hari buat dir­i­nya sen­diri? Ah, ah. Dan ia ting­gal demi­kian sampai magrib.

Waktu beduk ber­talu, ia masih dengar selop Ben­doro ber­ja­lan mondar-mandir, beliau belum lagi pergi. Ter­buru-buru ia keluar dari kamar, turun ke kamar mandi, mandi dan ambil air wudu. Ia masuk ke khal­wat. Ia duduk, duduk, duduk dan menunggu, menunggu. Pintu pada din­ding sam­ping di depan sana masih juga belum ter­buka. Pintu itu, ah pintu itu. Dalam khal­wat ini tak sepan­tun pun suara dapat menem­bus­i­nya, seka­li­pun din­ding sam­ping itu saja yang memi­sah­kan khal­wat dari ruang tengah.

Waktu pintu din­ding sam­ping itu akhir­nya ter­buka juga, buru-buru ia menun­duk namun masih dili­hat­nya juga sosok tubuh yang dir­in­du­kan­nya ber­hari-hari bela­kangan ini. Ia lihat — sarung baru ber­warna merah ber­geng­gang biru dike­na­kan­nya. Dan sosok tubuh itu mulai sem­bah­yang. Tanpa sedi­kit pun ber­pa­ling pada­nya. Sudah beru­bah sikap­nya!

Ia pun meng­i­kuti ber­se­m­bah­yang. Dalam rukuh putih itu ia merasa lebih aman dari­pada di luar­nya. Rukuh ini mampu menyem­bu­nyi­kan, tubuh­nya, piki­ran­nya dan pera­sa­an­nya tanpa bisa dike­ta­hui orang.

Sele­sai sem­bah­yang ia segera menuju ke kamar­nya kem­bali, merias diri dan menunggu Ben­doro pada meja makan. Di luar duga­an­nya Ben­doro muncul lebih cepat, lang­sung menuju pada­nya ber­bi­sik, “Ada tamu akan ber­san­tap,” dan Ben­doro ber­diri tegak meng­a­was­i­nya.

Ia bang­kit dari kursi, menun­duk mem­bung­kuk dan pergi kem­bali masuk ke dalam sang­kar­nya.

Dari kamar dide­ng­ar­nya per­ca­kapan antara Ben­doro dengan tamu­nya. Baru hati­nya lega sedi­kit menge­ta­hui tamu itu bukan wanita. Apa mereka bica­ra­kan sambil santap? Ten­tang wanita utama baru? Betapa tegang urat saraf nya menge­rah­kan selu­ruh kemam­puan buat setiap pantun suara.

“Ya, huru-hara,” kata tamu itu.

“Mereka tak kenal terima kasih pada Guber­men1, pada Gusti Allah. Apa saja yang tak dila­ku­kan Guber­men buat men­jaga kese­la­matan mereka? Tumpas saja tuan.”

Ia hafal sekali, yang akhir itu adalah suara orang yang dir­in­du­kan­nya selama ini.

“Terima kasih. Tuan tahu, saya diki­rim kemari oleh kan­jeng Guber­men…”

“Ah, tuan?”

“Benar, menu­rut kepu­tusan Raad Hindia…”

Ben­doro ter­diam dalam ter­ke­jut­nya.

“… buat cari kete­tapan, tetapi sebe­lum­nya Guber­men mau dengar dulu bagai­mana pen­da­pat pem­be­sar-per­m­be­sar negeri ten­tang huru-hara di Lombok ini.”

“Ya, ya, saya paham.”

“Tuan­lah yang per­tama-tama mem­beri pen­da­pat yang tegas Yang lain-lain para bupati yang telah saya kun­jungi, sampai-sampai tidak tahu di mana Lombok ini.”

“Terima kasih.”

Mereka bicara ten­tang perang. Gadis Pantai ber­bi­sik pada dir­i­nya sen­diri. Dan selama seta­hun ini ia sudah ter­lalu sering dengar ten­tang perang di gedung ini. Tapi perang itu sen­diri tak pernah nampak oleh­nya, hanya jauh, jauh sekali. Tem­pat­nya ter­jadi jauh sekali. Ia tak pernah tahu dan tak ingin tahu di mana. Ia hanya tahu: di sebe­rang menem­puh laut, lebih jauh yang pernah di tempuh bapak sehari-hari. Jan­tung­nya ber­henti meronta dan hati­nya jadi damai kem­bali.

“Bagai­mana kalau tuan meng­i­nap, di sini? Kita masih bisa bica­ra­kan banyak hal.”

“Tuan sudah perin­tah­kan siap­kan bendi, bukan? Malam ini juga saya harus berang­kat, dan besok pagi saya harus sudah susun laporan ten­tang pen­da­pat Ben­doro Bupati Blora.”

“Jadi tuan akan keli­ling selu­ruh Jawa?”

“Tidak. Ada enam orang ber­tu­gas seperti saya. Saya men­da­pat bagian daerah pesi­sir utara. Itu pun bukan selu­ruh pesi­sir Jawa, seba­gian Jawa Tengah saja.”

“Jadi kita tidak bisa bica­ra­kan lain soal?”

“Maaf­kan saya.”

Suara itu mena­rik hati Gadis Pantai. Suara tegas, per­kasa, ber­ku­asa, dan selalu ber­nada meme­rin­tah. Ah, rasa-rasa­nya ia rela dipe­rin­tah oleh­nya, apa saja. Dengan hati-hati ia kira­i­kan sedi­kit pintu kamar­nya dan meng­in­tip ke luar. Mela­lui pung­gung Ben­doro ia lihat seo­rang pri­yayi muda, ber­per­a­wakan kecil. Ikat kepa­la­nya tinggi, tidak lazim ter­da­pat pada pri­yayi pantai, sedang ujung-ujung­nya ter­ta­rik pongah agak sedi­kit ke atas, kepa­la­nya selalu ter­ang­kat lurus, jarang menun­duk. Mata­nya ber­ki­lau gemer­lapan, lebih indah dan mena­rik dari­pada ber­lian-ber­lian dan intan-intan dan jamrut yang pernah meng­hias tubuh­nya. Kul­it­nya agak kehi­taman, sedang gerak-gerik­nya begitu lincah mena­ngani sendok-garpu-pisau. Jan­tung­nya kini ber­de­nyut lain, manis dan meng­u­sap-usap.

Tiba-tiba ia sadar akan dir­i­nya. Ditu­tup­nya kem­bali pintu, Ia merasa sangat malu pada dir­i­nya sen­diri. Diam­bil­nya bakul benang wol, mulai merenda.

Waktu dide­ng­ar­nya kaki-kaki kursi meja makan pada ter­do­r­ong, ia ber­henti seben­tar. Suatu tenaga gaib mena­rik­nya untuk sekali lagi mengirai­kan pintu dan meng­in­tip. Ia lihat tamu, pri­yayi muda itu, ber­ja­lan tegap mening­gal­kan ruang bela­kang menuju ke ruang tengah. Dile­tak­kan bakul­nya. Ia keluar kamar lang­sung ke meja makan, duduk di tempat bekas pri­yayi muda tese­but. Betapa gagah­nya pri­yayi muda itu. Dan dengan berahi ia rasai bekas tempat tamu itu. Ia resap­kan sisa hangat pada kursi ke seku­jur badan­nya. Ia meno­leh ke arah dapur.

Dili­hat­nya pela­yan tua sudah keluar dari pintu dapur dan sedang menuju ke tem­pat­nya. Segera disen­dok­nya nasi dan ditu­ang­nya di atas piring bekas tamu. Sebe­lum ia sempat menyen­dok sayur, pela­yan tua telah datang. Mata wanita tua yang mera­bai wajah­nya mem­buat hati­nya kecut, dan dengan sen­di­r­i­nya saja ia ber­bi­sik, “Tidak, mBok, tidak salah ini piring bekas Ben­doro.”

“Mas Ngan­ten memer­lu­kan sayur lagi? Atau yang lain-lain.”

“Tidak, benar tidak.”

Pela­yan tua itu mena­rik diri kem­bali ke dapur.

Gadis Pantai menyen­dok sayur. Ia mulai menyuap per­la­han­la­han. Dan dalam bayang­an­nya muncul pri­yayi muda gagah. Tanpa disa­dar­i­nya ia rasai betapa kemu­daan pria itu begitu penuh, melim­pah gesit, dan hanya dengan mata­nya yang ber­si­nar, tanpa meli­hat­nya, telah dapat tak­luk­kan selu­ruh hati­nya. Satria seperti dia takkan ting­gal-ting­gal istri­nya, pikir­nya. Betapa nikmat sisa sayur dan butir-butir nasi yang telah ter­sen­tuh oleh bibir­nya. Sia­pa­kah dia? Siapa nama­nya? Di mana tem­pat­nya?

“Siapa tamu tadi, mBok?” tanya­nya seha­bis makan.

“Mana sahaya tahu, Mas Ngan­ten, orang bilang dari Betawi.”

“Betawi kota besar. Aku ingin lihat Betawi.”

“Semua orang pernah mimpi pergi ke Betawi, Mas Ngan­ten.”

“Kalau sudah sele­sai semua, temani aku di kamar, mBok.”

“Sahaya, Mas Ngan­ten.”

Ia bang­kit dan masuk kem­bali ke dalam kamar­nya. Dan jan­tung yang bebe­rapa jam yang lalu masih ber­de­baran karena cem­buru pada Ben­doro kini ber­de­baran kental dan manis ber­i­sikan sesu­atu yang hampir dapat dina­mai harapan, penye­rahan, kere­laan dan peng­a­b­dian pada sese­o­rang yang nama­nya pun ia tidak tahu …

Ter­nyata tamu itu masih bebe­rapa jam lagi duduk di ruang tengah ber­sama Ben­doro. Dari kamar­nya tak ada sesu­atu pun yang dapat ter­tang­kap kecu­ali derai ter­tawa yang kadang-kadang mene­ro­bosi deru angin malam dari laut.

“Sudah tidur Mas Ngan­ten?’: tanya pela­yan tua dari tikar tidur­nya.

“Ha?”

“Sudah ngan­tuk?”

“Ha?”

“Seben­tar lagi tamu akan pergi. Jangan tidur malam ini. Ben­doro begitu lama pergi. Empat hari. Empat hari kalau sahaya tidak salah?”

“Ya, empat.”

“Kalau tamu sudah pergi,” suara wanita tua jadi per­la­han­la­han dan merongga. Tiba-tiba sua­ra­nya beru­bah jadi tegas, “ah ya buat apa sahaya mesti bica­ra­kan?”

“Dong­engi aku.”

“Dong­eng apa? Nabi Sulai­man?”

“Tidak, tidak, jangan. Dong­engi aku ten­tang dirimu sen­diri.”

“Apa yang mesti sahaya dong­eng­kan? Orang kecil memang cuma punya dong­eng ten­tang dir­i­nya. Tapi apa mesti sahaya dong­eng­kan?”

“mBok, mBok sayang pada suami mBok?”

“Ah, Mas Ngan­ten ini ada-ada saja. Di mana lagi seo­rang sahaya bisa mene­rima sayang kalau bukan dari sua­mi­nya sen­diri. Cuma dialah yang dapat kita sayangi.”

“Suami yang mana? Yang per­tama? Yang kedua?”

“Suami yang mana saja, Mas Ngan­ten. Per­tama atau kedua itu tidak pen­ting.”

“Tidak pernah mereka pukul mBok?”

“Perem­puan ini dicip­ta­kan ke bumi, Mas Ngan­ten, barang­kali memang buat dipu­kul lelaki. Karena itu jangan bica­ra­kan itu, Mas Ngan­ten. Pukulan itu apakah arti­nya kalau diban­ding­kan dengan segala usa­ha­nya buat bini­nya, buat anak-anak­nya. Kalau saja Tuhan dulu mengu­r­ni­a­kan sahaya anak, barang­kali seo­rang, barang­kali juga selu­sin? Apakah arti­nya pukulan pada emak? Mas Ngan­ten sen­diri lihat, bapak saban hari menen­tang maut.”

“Ya, mBok, ya-ya. Saban hari menen­tang maut, dapat­nya cuma nasi-jagung.”

“Ah-ah, ten­tang kemis­kinan — jangan­lah dibi­ca­ra­kan, itu keku­a­saan Tuhan, Mas Ngan­ten.”

“Ya-ya, mBok. Cuma sedi­kit saja yang tidak miskin.”

“Apa mesti sahaya dong­eng­kan, Mas Ngan­ten?”

“mBok, mBok, bagai­mana semua orang jadi kaya, atau semua miskin?”

“Tidak mung­kin. Jangan pikir-pikir seperti itu, Mas Ngan­ten. Itu syirik! Mas Ngan­ten tahu arti­nya syirik?”

“Tidak. Seti­dak-tidak­nya ter­de­ngar men­ji­jik­kan.”

“Tuhan cip­ta­kan bumi dan langit, alam dan dunia dalam kesem­pur­na­an­nya. Ada siang ada malam. Ada malai­kat ada setan dan iblis. Ada tinggi dan rendah. Kalau semua miskin, semua kaya, lantas bagai­mana zakat, bagai­mana fitrah, mana hamba dan mana Ben­doro? Kiamat. Ya-ya mung­kin itu tanda-tanda kiamat, Mas Ngan­ten.”

“Jelek benar dong­eng mBok malam ini. Pijit­lah aku.”

Wanita tua itu bang­kit dari lapik-keti­dur­an­nya, menying­kap kelambu dan sambil ber­diri memi­jiti kaki Gadis Pantai.

“Aku ingin mBok sayangi aku.”

“Apakah kurang sayang, sahaya?”

“Aku ingin senang­kan hati mBok.”

“Apa dikira sahaya kurang senang layani Mas Ngan­ten?”

Demi­ki­an­lah mereka terus-mene­rus bicara dan bicara Gadis Pantai tanpa pernah per­o­leh kata-kata tepat untuk men­coba men­da­pat­kan kasih sayang yang tulus, yang ter­u­cap­kan, tanpa ter­tu­tup-tutup keso­panan ber­le­bihan. Wanita tua itu tanpa pernah per­o­leh kata-kata tepat, men­coba dapat­kan kasih sayang pula dalam peng­ham­baan dan pela­yan­an­nya. Mereka rasai sesu­atu keku­rangan dalam kehi­dupan mereka, tapi mereka tak menya­dari, tak menge­ta­hui apa yang mereka rasai. “Bagai­mana kalau aku ini anak mBok?”

Wanita tua itu ber­henti memi­jiti.

“Meng­apa mBok?”

“Ah, Mas Ngan­ten ini ada-ada saja. Mana bisa, mana mung­kin?”

“Biar­lah kita andai­kan mung­kin, bagai­mana?”

“Jangan­lah siksa sahaya ini, Mas Ngan­ten.”

“Meng­apa mBok? Meng­apa?”

Waktu dike­ta­hu­i­nya mBok sama sekali ber­henti memi­jit, Gadis Pantai bang­kit. Ia duduk di kasur. Dan kala dili­hat­nya wanita tua itu men­coba meng­hin­dar­kan wajah­nya dari pan­dang­nya, ia segera turun ke bawah dan mele­tak­kan kedua belah tangan­nya, di atas pundak wanita tua itu. Dira­sa­i­nya kedua pasang pundak itu meng­gi­gil sedi­kit.

“Kok mena­ngis, mBok, meng­apa?”

“Sudah­lah boleh­lah sahaya balik ke dapur, Mas Ngan­ten?”

“Meng­apa mBok mena­ngis? Apa salahku mBok?”

“Biar­lah sahaya kem­bali, Mas Ngan­ten.”

“Tapi meng­apa mena­ngis?”

“Per­ta­nyaan itu, Mas Ngan­ten! Per­ta­nyaan itu. Apa masih kurang kutukan ditim­pa­kan pada sahaya?”

“Siapa telah kutuki orang sebaik mBok?”

“Siapa? Yah yang mengu­a­sai hidup sahaya.”

“Ben­doro?”

“Bukan, nasib!”

“Ah.”

“Dir­am­pas­nya anak sahaya. Dir­am­pas­nya suami sahaya. Dan suami sahaya yang kemu­dian. Ke mana lagi per­gi­nya sahaya ini, kalau sudah tak sang­gup lagi layani Ben­doro? Meng­apa Mas Ngan­ten ing­at­kan sahaya pada masa tua sahaya? Tak lama lagi sahaya sudah jompo.”

“Ampuni aku mBok. Bukan mak­sudku menyiksa mBok. Kan masih ada aku? mBok boleh ikut aku sampai jompo. Akan kupe­li­hara sen­diri mBok di hari jompo nanti.”

Ingin sekali wanita tua itu per­i­ng­at­kan Gadis Pantai, tapi ia tak berani. Ia takut. Ia tahu benar, dalam sehari wanita utama bisa ber­ganti 25 kali tanpa sedi­kit pun mengu­rangi per­bawa Ben­doro. Ia tahu besok atau lusa paling lama sete­lah Gadis Pantai mela­hir­kan anak­nya yang per­tama, wanita muda tak ber­dosa ini pun mung­kin akan lang­kahi dan lalui jalan hidup­nya sen­diri tanpa ragu-ragu lagi: jalan hidup seba­gai sahaya. Dan ibu muda ini lebih men­de­rita dari­pa­da­nya karena ia punya anak tapi harus pergi dari anak­nya. Ia tak boleh ber­temu. Dan bila ber­temu anak, maka itu bukan anak­nya, tapi Ben­do­r­o­nya, orang yang harus dise­m­bah dan dila­yan­i­nya. Ditin­das­nya pera­sa­an­nya sen­diri, dan dengan lemah-lembut dico­ba­nya juga mem­per­i­ng­at­kan Gadis Pantai akan nasib­nya yang akan datang.

“Mas Ngan­ten jangan pikir­kan sahaya. Sahaya ini orang kecil, orang keba­nyakan, orang lata, orang rendah, kalau­pun jatuh — ya sakit memang, tapi tak sebe­rapa. Bagi orang atasan ingat-ing­at­lah itu, Mas Ngan­ten, tambah tinggi tem­pat­nya tambah sakit jatuh­nya. Tambah tinggi, tambah mema­ti­kan jatuh­nya. Orang ren­dahan ini, setiap hari boleh jatuh seribu kali, tapi ia selalu ber­diri lagi. Dia ditak­dir­kan untuk sekian kali ber­diri setiap hari.”

Tapi Gadis Pantai tak meng­erti. “Meng­apa orang mesti jatuh? Dia kurang hati-hati,” kata­nya kemu­dian seperti anak yang tak ber­dosa.

“Mas Ngan­ten benar sekali. Kurang hati-hati, tapi sayang sekali, orang tak dapat ber­hati-hati setiap saat buat seumur hidup­nya, Mas Ngan­ten. Ada kala­nya kita menge­nang­kan bapak atau emak, kita lupa pada diri sen­diri, lupa pada Ben­doro. Ten­tu­lah keku­rangan mahluk Allah yang daif ini Mas Ngan­ten, lantas dia tak hati-hati lagi mela­yani Ben­doro.”

“Lantas aku ini, bagai­man­akan aku ini?”

“Mas Ngan­ten ampun­i­lah sahaya. Sahaya bukan ber­mak­sud jelek. Boleh sahaya bicara?”

“Ah, mBok apa yang salah pada diriku?”

“Tidak Mas Ngan­ten. Cuma saja…”

Gadis Pantai duduk di atas kasur ran­jang meng­a­wasi wanita tua yang menun­duk itu, geli­sah, men­de­sak, “Apa salahku?”

“Salah Mas Ngan­ten seperti salah sahaya, salah kita, ber­a­sal dari orang keba­nyakan.”

“Lantas mBok, lantas?”

“Kita sudah ditak­dir­kan oleh yang kita puji dan yang kita sembah buat jadi pasangan orang atasan. Kalau tidak ada orang-orang ren­dahan, tentu tidak ada orang atasan.”

“Aku ini, mBok, aku ini orang apa? Ren­dahan? Atasan?” . “Ren­dahan Mas Ngan­ten, maaf­kan­lah sahaya, tapi menum­pang di tempat atasan.”

“Jadi apa mesti aku per­buat, mBok?”

“Ah, bebe­rapa kali sudah sahaya kata­kan. Meng­a­bdi, Mas Ngan­ten. Sujud, takluk sampai ke tanah pada Ben­doro. Mari sahaya dong­engi. Tahu bawang merah bawang putih?”

“Sudah tahu itu. Jadi mBok, bagai­mana meng­a­bdi sebaik-baik­nya? Sujud-takluk sebaik-baik­nya?”

“Mas Ngan­ten sudah tahu cerita Tru­no­joyo menye­ber­a­ngi Benga­wan Solo?”

“Sudah, tapi agak lupa. Apa peng­a­b­di­anku masih ada cacat­nya?”

“Saban hari harus disem­pur­na­kan, Mas Ngan­ten. Karena seo­rang abdi, Mas Ngan­ten, setiap hari sema­kin nampak cacat­nya. Mas Ngan­ten sudah tahu ten­tang Surap­ati2?”

“Ah Surap­ati itu, seo­rang budak-belian saja ”

“Betul, Mas Ngan­ten, tapi akhir­nya dia jadi raja. Dia kalah­kan raja-raja Jawa. Dia kalah­kan kom­peni, Mas Ngan­ten. Bukan main.”

“Apa cacatku?”

“Cacat itu tidak ada pada kita, Mas Ngan­ten. Tapi di dalam hati orang atasan.” Tiba-tiba ia ter­diam. “Dengar.”

Gadis Pantai memu­sat­kan pen­de­ng­ar­an­nya. Ter­de­ngar hiruk-pikuk dari depan rumah, kemu­dian bunyi cambuk mele­cut. Tamu mening­gal­kan rumah.

“Jadi?” Gadis Pantai men­de­sak.

“Tidak ada jadi, Mas Ngan­ten, kita kan ter­lalu lan­cang bila bica­ra­kan Ben­doro kita. Maaf­kan sahaya, tamu sudah pergi, izin­kan sahaya kem­bali ke dapur.” Dan tanpa menunggu izin, ia meng­gu­lung tikar­nya dan mem­bawa keluar dari kamar. Tak lama kemu­dian Gadis Pantai mer­a­pikan ram­but­nya. Belum lagi sele­sai, seso­sok tubuh tinggi lang­sing telah muncul dalam bayangan cermin.

“Mas Ngan­ten,” ia dengar suara bisikan.

Gadis Pantai men­ja­tuh­kan diri, men­cium kaki Ben­doro, kemu­dian meme­luk­nya. Waktu Ben­doro duduk di atas kasur ran­jang, ia angkat kedua-duanya, ia cium tela­pak­nya.

“Inilah sahaya, Ben­doro.”

“Kau baik-baik saja selama ini?”

“Sahaya menang­gung, Ben­doro, rindu tiada ter­ta­han­kan.” Gadis Pantai meng­u­langi hafa­lan dari pel­a­jar­an­nya.

“Apa kau harap­kan dari keda­tanganku? Emas? Ber­lian? Batik paling indah?”

“Tidak Ben­doro, cuma kese­la­matan Ben­doro.” Gadis Pantai mene­rus­kan hafa­lan­nya. Dan jelas-jelas dide­ng­ar­nya derai ombak men­ja­mah pantai men­ter­ta­wa­kan dir­i­nya. Dan lebih jelas lagi adalah gambar wajah tamu seben­tar tadi, yang kini berang­kat entah ke mana. Kaki Ben­doro men­jadi sosok tubuh tamu tadi. Dan bulu kaki Ben­doro men­jadi usapan tangan tamu tadi.

“Kau sen­diri? Kau tak keku­rangan sesu­atu apa?”

“Seka­rang sahaya, Ben­doro, sudah kecu­kupan segala-gala­nya, selama kasih Ben­doro tiada putus.”

“Ah, kau, siapa ajari kau?”

“Siapa? Kein­safan sahaya sen­diri, Ben­doro, kein­safan seba­gai sahaya.”

“Ah, kau bukan saha­yaku. Kau temanku. Mari, nak, mari nak ber­diri.” Tapi Gadis Pantai tetap ber­jong­kok di atas lantai. Ben­doro meng­u­sap-usap ram­but­nya, turun dari ran­jang, meng­ang­kat­nya dari bawah kedua belah keti­ak­nya. Dan bangun­lah Gadis Pantai.

“Mari, nak, mari.”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Aku ter­lalu lelah, Mas Ngan­ten. Buat­lah aku ber­mimpi tanpa tidur.”

“Inilah sahaya Ben­doro.”

“Naik­lah ke ran­jang, Mas Ngan­ten.”

“Sahaya, Ben­doro.” Dan naik­lah Gadis Pantai ke atas kasur. Ia duduk ter­ma­ngu sambil duduk.

“Tidak­lah kau lelah seperti aku, Mas Ngan­ten?”

“Tidak Ben­doro.”

“Biar­pun begitu, ber­ti­dur­lah.”

Sunyi-senyap seje­nak di dalam kamar. Tapi angin dari laut dengan ganas­nya meng­ga­ruki gen­teng, sedang laut yang makin lama makin men­de­sak ke kota, dalam malam tanpa suara manu­sia, ter­de­ngar merang­sang masuk ke dalam hati.

“Dengar!”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Apa yang ter­de­ngar?”

“Angin Ben­doro.”

“Cuma angin?”

“Ombak Ben­doro.”

“Kau suka pada laut?”

“Laut, itulah, kam­pung sahaya Ben­doro.”

“Dengar?”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Tak ada lagi kau dengar?”

“Suara Ben­doro, Ben­doro.”

“Tak ada lain yang ter­de­ngar?”

“Tidak, Ben­doro.”

“Dekat­lah, sini.”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Tak ada lain yang ter­de­ngar?”

“Nafas Ben­doro, Ben­doro.”

“Dekat­lah lagi.”

“Sahaya.”

“Apa yang ter­de­ngar?”

“Apa Ben­doro? Deta­kan jan­tung?”

“Aku dengar juga nafasmu.”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Aku dengar juga deta­kan jan­tungmu.”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Apa kau dengar lagi?”

Angin sema­kin meng­ga­ruk gen­teng. Dan ombak sema­kin men­de­sak kota.

“Pohon-pohon cemara sepan­jang pantai itu takkan patah diter­jang angin sebe­sar itu. Kau tahu dari mana datang­nya cemara itu?”

“Tidak, Ben­doro.”

“Itu ketu­runan cemara yang dibawa tuan besar Guntur waktu mem­buat jalan pos. Waktu itu aku belum lahir, tapi ayahku bisa ber­ce­rita.”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Apa seka­rang kau dengar?”

“Detak jan­tung Ben­doro.”

Ben­doro ter­de­ngar ter­tawa. “Benar, detak jan­tung.”

“Keras ber­de­ta­kan.”

“Benar.”

“Nah seka­rang apa ter­de­ngar?” Tiada jawaban.

“Deng­ar­kan lagi baik-baik.”

“Sahaya men­de­ng­ar­kan, Ben­doro.”

“Ada?”

Diam seju­rus. Angin ber­henti meng­ga­ruk. Seekor burung hantu melenguh-lenguh sunyi pada pohon beringin di tengah alun-alun. Sedang ombak kian meng­an­cam.

“Ada Ben­doro.”

“Apa yang ter­de­ngar?”

“Suara Ben­doro. Suara kasih yang diba­wa­kan oleh denyut jan­tung.”

“Kau mulai pintar. Mulai pintar — siapa ajari?” Gadis Pantai ter­tawa lemah “Siapa yang ajari?”

“Kasih Ben­doro sen­diri.”

“Bagai­mana kau per­la­ku­kan kasih itu?”

“Sahaya sambut setiap saat dia ber­su­ara, Ben­doro.”

“Ah, Mas Ngan­ten, kau belum lagi tanya­kan apa oleh-olehku.”

“Sahaya, Ben­doro.” Ter­diam seben­tar kemu­dian, “… tapi …, apakah oleh-oleh seo­rang suami, Ben­doro, ter­ke­cu­ali rindu?”

“Tidak selu­r­uh­nya benar. Ada yang lain: kain Lasem, Mas Ngan­ten, kain Peka­longan. Bosan aku meli­hat kau menge­na­kan pakaian Solo itu jua. Gan­ti­lah sekali-sekali. Dan juga: intan laut, Mas Ngan­ten. Muti­ara, kau pernah lihat muti­ara?”

“Belum, Ben­doro.”

Ben­doro ter­tawa ter­ba­hak sekali ini, senang, ter­buka. “Anak laut yang tak pernah lihat intan laut.” Sekali lagi ia ter­tawa. “Bapakmu bagai­mana, pernah lihat muti­ara?”

“Cerita pun tidak pernah Ben­doro.”

Kem­bali Ben­doro ter­tawa ter­ba­hak. “Cuma orang-orang berani bisa dapat­kan muti­ara, Mas Ngan­ten. Dia selami laut sampai ke dasar­nya. Diba­lik­nya setiap karang di dasar sana, diang­kat­nya setiap tiram…”

Gadis Pantai merasa jan­tung­nya ter­henti ber­de­tak, dan sebi­lah sem­bilu meng­iris ujung hati­nya. “Bapak sahaya, Ben­doro, mung­kin kurang berani, mung­kin juga tidak menye­lam,” kata­nya hati-hati. “Kasihan bapak sahaya, Ben­doro. Kasihan memang. Tapi dia memang bukan cari muti­ara, tapi cari nasi, jagung buat anak-bini­nya.”

“Salah,” Ben­doro meng­gun­ting. “Men­cari jagung tidak­lah di laut.”

“Sahaya Ben­doro. Mung­kin itulah yang dise­but takdir bagi orang-orang ren­dahan yang bodoh.”

“Ahai, guru ngaji yang ajari kau seperti itu?”

“Tidak, Ben­doro.”

“Kata­kan­lah, dari siapa?”

“Sahaya pernah dengar orang bilang, Ben­doro, orang bawahan selalu lapar, karena itu mata­nya meli­hat segala-gala­nya, kuping­nya dengar segala-gala­nya dan hati­nya rasa­kan segala-gala­nya, sedang jan­tung­nya debur­kan darah buat segala-gala­nya.”

“Guru nga­jimu besok tak perlu datang lagi. Dan kau, Mas Ngan­ten, jangan bicara lagi ten­tang orang ren­dahan dan orang atasan. Kita ini manu­sia yang men­ja­lani perin­tah dan keten­tuan Yang Maha Kuasa. Jangan pernah lagi mem­bi­ca­ra­kan­nya.”

Baru sekali ini Gadis Pantai tak menyam­but.

“Engkau anak yang cerdik.”

Semen­tara itu dalam kepala Gadis Pantai meng­aum-ngaum cerita-cerita pela­yan tua itu, cerita ten­tang segala-gala­nya, ten­tang nasib orang bawahan dan kebe­saran orang atasan, ten­tang keja­tuhan orang bawahan dan kemu­li­aan orang atasan, ten­tang orang bawahan yang menum­pang diri kepada orang atasan, ten­tang keku­a­saan dan ten­tang takdir, ten­tang Gusti Allah dan ten­tang kom­peni. Jiwa­nya yang muda itu menang­kap dan meng­geng­gam semua, tak peduli meng­erti selu­r­uh­nya atau seba­gian dari­nya.

“Ben­doro.”

“Ya, nak.”

“Boleh­kah, sahaya…”

“Kata­kan, kata­kan, jangan sampai ayam ter­buru ber­ko­kok.”

“Meng­apa Ben­doro begitu sering pergi? Ber­hari-hari? Ting­gal­kan sahaya menang­gung siksa?”

Ben­doro tiba-tiba beru­bah piki­ran­nya. Hati­nya yang beku men­da­dak cair Yang keras dingin men­da­dak kem­bali cair hangat. Ber­bi­sik ramah:

“Kau, cem­buru!”

“Sahaya, Ben­doro. Sahaya cem­buru.”

“Kau juga tak pernah tanya pada bapakmu ke mana saja per­gi­nya kalau dia ber­la­yar, bukan?”

“Ampun Ben­doro, tidak pernah.”

“Meng­apa tak pernah?”

“Karena sahaya tahu dia bekerja.”

“Mes­ti­nya kau tahu juga aku bekerja.”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Sunyi-senyap benar. Seben­tar lagi ayam ber­ko­kok…”

“Ah, Ben­doro, Ben­doro, ben … do…” dengan suara ter­e­ngah-engah. Ting­gal angin kini ber­jing­k­rak mera­jai alam … Dan waktu pun merang­kak terus, kadang-kadang saja melom­pat tanpa irama.

Sk ok ok Gadis Pantai mema­suki tahun per­ka­win­an­nya yang kedua. Kini setiap sebu­lan sekali ia ter­pang­gil ke ruang tengah. Ben­doro, sua­mi­nya, duduk pada kursi yang ter­ba­lik arah­nya, sedang ia sen­diri dengan sebuah jepitan bambu men­je­pit lintah-lintah seekor demi seekor dari stop­les, dan dile­tak­kan pada teng­kuk, peli­pis, kening, juga lengan Ben­doro.

“Ya, ya letak­kan di sini…”

“Sini, Ben­doro?”

“Ke bawah sedi­kit, bebe­rapa jari ke bawah, ya situ selalu terasa pegal.”

Demi­ki­an­lah setiap bulan. Dan bina­tang-bina­tang yang kurus kering itu menem­pel dengan letak­nya, pung­gung­nya meng­ge­lin­jang, ber­om­bak-ombak, meng­hi­sap darah Ben­doro dengan rakus­nya, seme­nit, lima, sepu­luh, lima belas, dan beru­bah­lah bina­tang-bina­tang lang­sing itu jadi bola-bola bening dengan jero­an­nya yang nampak coklat gelap. Bila sudah demi­kian, Gadis Pantai men­jaga jatuh­nya bina­tang-bina­tang yang keke­nyangan dengan selem­bar karet sarang tawon. Bina­tang-bina­tang itu tak boleh jatuh ke lantai. Dia tidak boleh jadi pecah dan binasa. Dia harus dikem­ba­li­kan ke dalam stop­les. Dan bila peker­jaan yang mem­bu­tuh­kan keu­letan kesa­baran itu sele­sai, pasti ter­de­ngar Ben­doro meng­u­cap syukur memuji kegu­naan bina­tang-bina­tang purba itu. Bina­tang pun tahu ber­da­gang. Rupa-rupa­nya dagang bukan peker­jaan luar biasa. Lihat! Dan ditun­juk­nya bina­tang-bina­tang itu.

“Itu si Kempul, ini si Karti, itu si Kutil, Ah, meng­apa pula nama­nya si Kutil. Ini si Gempal. Itu si Kunyuk. Itu peda­gang-peda­gang tulen. Dia terima darahku, dia beri­kan padaku kese­hatan, Mas Ngan­ten, apa mereka tak bijak­sana dan ber­budi?”

“Ter­lalu ber­budi Ben­doro.”

“Aku tak jadi kaya karena pem­be­ri­an­nya. Mereka pun tak jadi kaya karena pem­be­ri­anku. Itulah kebi­jak­sa­naan.”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Sele­sai sudah kerja lintah — seka­rang per­gi­lah.”

Dan ia pergi balik ke kanan jalan menuju ruang bela­kang, kadang lang­sung menuju sasaran, kamar­nya sen­diri, kadang ke tempat ia biasa mem­ba­tik. Tapi, baik ia pergi ke kamar maupun terus kerja atau bel­a­jar, hati­nya selalu kecewa. Sudah mema­suki tahun per­ka­winan kedua, tak pernah has­rat­nya ter­ka­bul.

Suatu kali Ben­doro mem­per­si­la­kan­nya mene­mani duduk-duduk di ruang tengah. Dalam hati­nya, demi meng­a­bdi pada Ben­doro, sengaja ia tindas kenangan dan kangen­nya pada kedua orang tuanya, pada sau­dara-sau­da­ra­nya. Peng­a­b­dian ini tak boleh cacat, tak boleh mero­sot dalam peng­li­hatan dan pera­saan Ben­doro. Bicara ten­tang sau­dara-sau­dara dan orang tua ia tak mau, biar tidak meru­sak kewa­ji­ban peng­a­b­dian yang kokoh. Wanita tua itu telah meng­a­jari bagai­mana men­jadi bang­sa­wan sejati, jadi ning­rat, jadi orang atasan.

Dua tiga kali Ben­doro ber­ta­nya, “Kau tak ingin lihat orang tuamu?”

“Tidak Ben­doro, sahaya lebih suka mela­yani Ben­doro.”

Dan Ben­doro selalu ter­tawa senang.

“Tapi kau anak­nya, kau bukan hanya istriku.”

“Seka­rang ini kewa­ji­ban sahaya adalah meng­a­b­di­kan diri pada Ben­doro. Orang tua sahaya dapat meno­long diri sen­diri tanpa sahaya, Ben­doro.”

“Tak pernah kau kirim utusan ke sana?”

“Tidak Ben­doro.”

“Tentu aku per­caya. Tak pernah kirim uang atau pakaian ke sana?”

“Tidak Ben­doro.”

“Aku per­caya, tapi meng­apa?”

“Saya tak berani Ben­doro. Sahaya hanya­lah sahaya.”

Dan sudah tiga kali ini, per­ca­kapan sema­cam itu mati tanpa sam­bungan. Tentu. Baik di kamar maupun di tempat kerja, dengan sen­diri Gadis Pantai kontan ter­i­ngat dan kangen kepada orang tua dan sau­dara dan mulai­lah peker­jaan berat menin­das pera­saan. Cuma doa saja yang dapat meng­hi­bur hati­nya, moga-moga kea­daan semua beru­bah, dan ia dapat mem­ba­las budi dan segala jerih payah orang tua, ter­u­tama bapak yang selalu menen­tang maut buat meng­hi­dup­i­nya.

Ia telah mema­suki tahun per­ka­winan kedua, men­de­kati umur keenam belas dan kea­daan tidak pernah beru­bah.

Kini ia harus lebih banyak ber­pi­kir sen­diri, meng­am­bil putusan sen­diri, ber­tin­dak sen­diri. Wanita tua itu makin lama makin tak dapat mem­beri apa yang ia butuh­kan. Ia tak dapat men­ja­wab per­ta­nyaan-per­ta­nya­an­nya, ia harus makin memi­kir­kan dir­i­nya sen­diri. Malah pada suatu kali ia merasa jeng­kel, karena jawaban yang pendek tanpa sesu­atu kete­rangan.

“Bagi wanita yang masih muda, Mas Ngan­ten, sebe­nar­nya tak ada kesu­l­itan hidup di dunia, apa­lagi kalau ia cantik, dan rodi sudah tak ada lagi.”

Ia meng­erti wanita itu menyin­dir dir­i­nya. Ia diam saja. Mau juga ia pada suatu kali mem­ba­las menyin­dir, tapi masih banyak ban­tu­an­nya yang dibu­tuh­kan. Pada suatu kali ia mem­be­ri­kan perin­tah pada sanak kera­bat yang ting­gal di situ untuk mem­bong­kar kamar, men­je­mur segala yang ada. Dan di sore hari waktu semua sudah dile­tak­kan di tem­pat­nya kem­bali, dan kamar itu menye­bar­kan bau kapur yang sete­ngah kering, dike­ta­hu­i­nya dom­pet­nya sudah tidak ter­sim­pan aman lagi di dalam laci meja hias. Yang demi­kian baru sekali ter­jadi. Seka­li­gus ia ber­pen­da­pat pasti bukan pela­yan tua yang mela­ku­kan­nya, ia hanya seo­rang sahaya. Dia tak akan meru­sak kehi­dup­an­nya yang telah tua. Tak pernah ia begitu keta­kutan seperti waktu itu. Apa harus dima­kan besok, lusa, kalau uang tak ada? Apa harus dibe­lan­jakan?

Buru-buru dipe­gang­nya wanita tua itu. Ia lupa­kan sin­dir­an­nya yang tajam, ia mem­bu­tuh­kan ban­tu­an­nya, wanita tua itu men­de­ng­ar­kan, mena­tap­nya dengan mata kuyu seperti kehi­langan sema­ngat, dan:

“Tidak, bukan mBok, yang kutu­duh. mBok tak akan laku­kan itu. mBok cukup minta padaku, dan aku akan beri, biar­pun sampai seka­rang mBok tak pernah minta dan tak mau diberi. Tapi apa mesti kula­ku­kan kalau, kalau … kalau … kita semua toh musti makan? Bagai­mana aku harus ganti uang itu?”

“Siapa yang Mas Ngan­ten duga?”

“Mana aku berani men­duga? Aku sen­di­ri­lah yang ber­sa­lah. Mung­kin aku sen­diri yang kurang hati-hati Seperti kata mBok, kurang hati-hati sama juga tidak jujur.”

“Tak ada orang lain masuk ke kamar selain Agus.”

“Ya cuma Agus.”

“Duduk tenang-tenang, Mas Ngan­ten biar sahaya coba usut.”

Ia pergi, dan Gadis Pantai mulai sibuk kem­bali meme­riksa sana sini tapi tanpa hasil. Apakah mung­kin bang­sa­wan-bang­sa­wan muda men­curi? pikir­nya. Dan piki­ran itu sung­guh-sung­guh menyiksa. Bang­sa­wan! Ning­rat! Orang atasan yang ditak­dir­kan buat meme­rin­tah orang bawah­an­nya. Mung­kin­kah mereka bisa men­curi? Mereka? Ia bebas­kan piki­ran itu dari otak­nya. Syirik! Ia ber­te­riak dalam hati­nya, itu piki­ran syirik menyang­kal takdir! Ten­tu­lah aku sen­diri yang salah, aku telah lupa tempat menyim­pan­nya! Aku sen­diri orang bawahan, orang ren­dahan, orang keba­nyakan. Hanya orang-orang yang seperti aku yang men­curi. Tak ada bujang dapur yang berani masuk kemari! Jangan­kan kemari ke bela­kang pun tidak. Pen­curi! Pen­curi!

Gadis Pantai men­da­pat serangan saraf —ia mau men­je­rit, tapi mulut­nya dibung­kam­nya. Bapak emak ampun­i­lah anakmu ini. Ampuni ia. Tak ada orang atasan bisa dan boleh disa­lah­kan. Mereka ditak­dir­kan buat meme­rin­tah. Ya bapak, emak! Ia teguk habis air teh sege­las yang ter­le­tak di atas meja. Kete­gangan saraf­nya mereda seje­nak, dan jan­tung­nya ber­de­baran ken­cang waktu wanita tua itu masuk kem­bali ke dalam kamar.

“Saya telah pang­gil agus-agus, perik­sa­lah mereka, Mas Ngan­ten.”

“Apa?” Pekik­nya tak ter­ken­dali. Dan waktu ia menya­dari dir­i­nya, sua­ra­nya ditu­run­kan jadi bisikan keta­kutan.

“Mana mung­kin? Mana mung­kin? Mereka kera­bat Ben-

“Perik­sa­lah mereka. Tanya­i­lah mereka,” desak wanita tua itu sambil memim­pin­nya ke luar kamar.

Wanita tua itu mera­sai tangan Gadis Pantai meng­gi­gil waktu meng­ha­dapi para kera­bat Ben­doro yang pada ber­diri di depan pin­tu­nya. Tanpa diduga sebe­lum­nya dengan gagah berani ia mulai angkat bicara. Ia telah ber­tin­dak seba­gai jaksa:

“Gus, jangan susah­kan Mas Ngan­ten, siapa merasa ambil uang Mas Ngan­ten? Itu uang belanja. Kalau tak dikem­ba­li­kan besok semua ter­paksa tak makan. Ben­doro sen­diri juga tak makan. Kem­ba­li­kan uang itu.”

Dengan mata berapi-api pemuda kera­bat-kera­bat Ben­doro itu menen­tang mata Gadis Pantai. Dan wanita tua itu mera­sai tangan­nya meng­gi­gil, wajah­nya lesu. Diken­cang­kan pegang­an­nya untuk mem­be­ra­ni­kan wanita utama itu. Dengan mata berapi-api karena merasa dihina, seo­rang pemuda angkat bicara:

“Kau pikir apa kami ini? Orang kam­pung? Orang dusun? Orang pantai yang tidak pernah lihat duit?”

“Apa ini semua mak­sud­nya meng­hina kami?” yang lain lagi menye­rang.

“Kami bukan ber­mak­sud meng­hina agus-agus. Bukan. Ada kesu­l­itan ber­sama, agus-agus. Siapa yang tahu uang itu dipin­dah­kan? Siapa tidak bakal kena murka besok kalau Ben­doro menge­ta­hui? Semua kena!”

“Per­se­tan!” seo­rang lain lagi men­de­sis. “Diki­ra­nya kami ini maling kela­paran dari kam­pung nela­yan?”

Gadis Pantai ter­se­dan-sedan.

“Kami ini anak seko­lahan, tahu peng­a­jaran.”

“Ditu­duh bandit?”

“Kalau air mata bisa tebus hinaan ini, betapa mur­ah­nya itu!”

Gadis Pantai ter­se­rang demam saraf dan meme­kik, “Akulah anak kam­pung nela­yan. Akulah pen­cu­r­i­nya. Aku!” dan kemu­dian mera­ung, “Aku! cuma aku yang yang mung­kin men­curi: Aku! Aku!” dan dipe­luk­nya pela­yan tua itu.

Men­de­ngar pekik dan raung pemuda-pemuda itu ber­pan­dang-pan­dangan keta­kutan. Bujang-bujang dapur pada ber­diri di depan pintu dapur meng­a­wasi adegan itu. Dan wanita itu mene­puk-nepuk Gadis Pantai, “Baik, tidak ada yang meng­aku. Sahaya cuma orang kam­pung. Cuma Sahaya. Tapi sahaya tahu apa mesti sahaya per­buat, agus-agus.”

Nampak pemuda-pemuda itu men­jadi pucat dan ber­pan­dang-padangan satu sama lain.

“Ayoh, kem­ba­li­kan itu uang!” Tak ada yang men­ja­wab.

“Baik, tunggu agus-agus di sini. Sahaya akan urus. Sahaya akan tun­jukan orang kam­pung juga meng­erti bagai­mana ber­buat. Tunggu di sini ben­doro-ben­doro kecil, dan ia bim­bing Gadis Pantai menuju pintu ke ruang dalam.

“Tunggu!” seo­rang di antara para pemuda itu mene­ngahi.

“Bagai­mana kalau kita run­ding­kan baik-baik dahulu?”

Gadis Pantai dan pela­yan tua itu kini ter­henti memung­gungi pintu, meng­ha­dapi pemuda-pemuda itu. Gadis Pantai tetap menun­duk keta­kutan, sedang pela­yan tua itu mera­dang menan­tang. Dengan suara per­la­han, sopan dan hati-hati pela­yan tua meng­a­ca­rai, “Apakah yang masih bisa dirun­ding­kan?”

“Kau mau meng­adu?”

“Bukan­kah kewa­ji­ban kita men­du­duk­kan kem­bali apa yang tidak benar?” tang­kis pela­yan tua itu.

“Kita? Apa mak­sud­nya dengan kita?”

“Kau harus ingat, ingat mBok,” pemuda yang ter­ga­rang di antara semu­a­nya meng­han­tam, “kami adalah kera­bat ter­de­kat. Orang-orang kam­pung yang ting­gal di sini, kapan saja bisa pergi dari sini buat mati kela­paran di luar sana. Kami ting­gal di sini. Ting­gal tetap di sini, biar seribu orang kam­pung ke luar dari sini setiap hari, meng­erti?”

Gadis Pantai ter­se­dan-sedan. Ia rang­kul kem­bali pela­yan tua itu ber­bi­sik di antara sedan-sedan­nya:

“Aku kemari bukan karena mela­ri­kan diri dari kela­paran.”

“Tentu Mas Ngan­ten.” Pela­yan itu mene­rus­kan­nya kepada pemuda-pemuda, “Mas Ngan­ten pergi kemari bukan karena lari dari kela­paran, laut tetap kaya takkan kurang, cuma hati dan budi manu­sia sema­kin dang­kal dan miskin. Lihat saja ini, uang di rumah dike­li­lingi tembok begini bisa hilang.”

“Terang-terang saja mBok menu­duh kami men­curi?”

“Aku cuma bilang,” pela­yan tua itu jadi kasar, “kem­ba­li­kan uang itu! Di sini ada hukum. Kalau hukum tidak dita­ati lagi, mari, mari kita pang­gil hakim.”

“Kau jangan kurang ajar mau pang­gil hakim, mBok. Kau sen­diri bakal celaka.”

“Orang kam­pung sema­cam sahaya ini, ben­doro muda, kela­hir­an­nya sen­diri sudah suatu kece­la­kaan. Tak ada sesu­atu yang lebih celaka, dari nasib orang kam­pung. Ayoh, mau berun­ding apa lagi? Kem­ba­li­kan tidak uang itu?”

“Baik-baik, cari­lah hakim itu, biar dia adili kau sen­diri!”

“Baik, mari mas Ngan­ten,” pela­yan itu mema­pah Gadis Pantai masuk ke dalam ruangan tengah.

Ben­doro sedang duduk senang di atas kursi malas. Sebuah meja kecil ber­diri di sam­ping­nya. Di atas­nya ter­le­tak sebuah stop­les kris­tal berisi bis­kuit buatan negeri Belanda, sedang sebi­lah capit perak ter­ge­le­tak di sam­ping­nya. Sinar mata­hari sore jatuh melim­pah-limpah pada deretan tafsir yang sedang diba­ca­nya.

“Ampun Ben­doro,” pela­yan tua itu meme­las sete­lah meng­ge­le­sot di lantai. Juga Gadis Pantai duduk meng­ge­le­sot dilan­tai.

Ben­doro menu­tup tafsir. Mele­pas kaca­mata­nya, mele­tak­kan­nya di pang­kuan dan bang­kit duduk dari rebah­nya, meman­dang ke sam­ping bawah pada kedua wanita itu, lemah lembut ia ber­ta­nya, “Hemmmm?”

“Ampun sahaya, Ben­doro, seben­tar lagi ben­doro masuk khal­wat ber­se­m­bah­yang magrib, semoga tidak meng­ganggu sem­bah­yang Ben­doro. Tapi soal ini…soal ini, uang…ah.”

“Uang Mas Ngan­ten hilang?” Ben­doro mene­rus­kan dengan tanya.

“Ampun,” Gadis Pantai men­ja­wab sambil sema­kin menun­duk­kan kepala, dengan kedua tangan men­ja­gang­kan pada lantai.

“Kau kurang hati-hati. Uang itu biar rezeki dari Tuhan seka­li­pun, tidak jatuh begitu saja dari langit.”

“Ampun Ben­doro,” sekali lagi Gadis Pantai ber­su­ara sema­kin per­la­han.

“Dan kau, mBok apa yang kau ribut­kan?”

“Ampun ben­doro uang itu hilang.”

“Aku tahu uang itu hilang. Apa yang kau ribut­kan?” Pela­yan tua tak men­ja­wab. Kedua belah tangan­nya meng­gi­gil, sehingga tubuh­nya yang ber­tun­jangan pada tangan­nya meliuk-liuk sedi­kit.

“Mardi!” Ben­doro meme­kik.

Dari keja­uhan ter­de­ngar suara sahutan. Dan bebe­rapa detik kemu­dian muncul seo­rang anak muda menyem­bah sebe­lum mema­suki pintu dan duduk meng­ge­le­sot di lantai, di bela­kang kedua wanita itu.

“Pang­gil semua agus kemari.”

Mardi menyem­bah lagi — hilang dari pan­dangan dan segera kemu­dian muncul pemuda-pemuda itu seo­rang demi seo­rang dari pintu ruang bela­kang. Mereka masuk tanpa menyem­bah, hanya lang­sung duduk di lantai di sam­ping kedua wanita itu. Semua ber­sila dan mere­nungi lantai.

“Siapa ambil uang itu?” Ben­doro ber­ta­nya per­la­han tanpa meli­hat pada mereka, tapi justru pada lem­baran-lem­baran tafsir yang mulai dibuka kem­bali.

Tiada jawaban.

“Benar? Tidak ada yang mau men­ja­wab?”

Tiada ber­ja­wab Ben­doro ter­tawa per­la­han. Gadis Pantai meng­ang­kat muka untuk meli­hat­nya. Dili­hat­nya Ben­doro sedang mulai mem­baca taf­sir­nya. Tapi ter­de­ngar suara per­la­han­nya.

“Sejak zaman Nabi memang sudah ada hamba-hamba iblis.” Ia men­de­ng­ar­kan tawa ejekan. “Maling. Siapa heran ada maling selama iblis ada? Tapi maling pun butuh kehor­matan, sema­kin dia tidak punya kehor­matan diri ” Tiba-tiba ia tutup tafsir itu dengan kasar­nya sehingga ber­de­tak Semua mereka yang duduk di lantai meng­ang­kat pan­dang. Tapi segera dili­hat mereka Ben­doro dengan kasar sedang lem­par­kan pan­dang ke arah mereka, mereka menun­duk kem­bali.

“Siapa tidak meng­erti?” Ben­doro ber­ta­nya dengan suara meng­an­cam. Setiap orang yang duduk di lantai sema­kin dalam tun­duk­nya.

“Ya, semua meng­erti, itu pen­ting buat dipa­hami. Tapi apa kehor­matan itu?”

Diam seje­nak tak seo­rang berani ber­ge­rak.

“Abdul­lah, apa kehor­matan itu?”

Tak ber­ja­wab.

“Per­ta­nyaan dibuat untuk dija­wab, Abdul­lah,” sua­ra­nya menu­run jadi lembut kem­bali. “Berapa tahun kau sudah ting­gal di sini? Tujuh? Kau tak mau men­ja­wab per­ta­nya­anku? Jawab­anmu mau kude­ngar. Hanya jawaban. Kau takkan rugi apa-apa.”

“Sahaya, pamanda.”

“Apa itu kehor­matan?” Tak ber­ja­wab.

“Tapi kau tahu arti­nya maling?”

“Sahaya, pamanda.”

“Kau tak tahu apa arti kehor­matan?” Tak ber­ja­wab.

“Jadi sampai di mana kau bel­a­jar mengaji? Benar-benar kau tak tahu mak­na­nya?” Tak ber­ja­wab.

“Jadi kau tidak punya kehor­matan?”

“Sahaya, pamanda.”

“Kau maling­nya!”

“Tidak, tidak, pamanda sahaya bukan maling Sahaya tahu makna maling. Dan sahaya tahu sahaya bukan maling ”

“Apa pen­je­las­an­nya, maka kau bukan maling?”

“Tidak ada bukti dapat dike­mu­ka­kan sahaya seo­rang maling, pamanda.”

“Siapa guru nga­jimu?”

“Haji Mas­du­hak, pamanda.”

“Apa sabda Rasul­ul­lah kalau bukti itu ada?”

“Disum­pah, pamanda.”

“Berani kau disum­pah?”

“Pamanda yang memu­tus­kan.”

“Karim! Haji Mas­du­hak juga gurumu? Kau, Karim, apa kata gurumu ten­tang kemu­na­fikan?”

“Ampun, pamanda, sahaya tiada hafal.”

“Berapa umurmu?”

“Sem­bi­lan belas, pamanda.”

“Kau duduk di kelas berapa?”

“Enam, pamanda.”

“Sini, kau ber­diri di hadap­anku.”

Pemuda Karim bering­sut-ingsut dari duduk­nya sampai di hadapan Ben­doro, ia tetap duduk meng­ge­le­sot di lantai. “Kau dengar aku Karim? Ber­diri?”

“Ampun, pamanda,” dan Karim tetap tidak ber­diri. “Said,” pang­gil Ben­doro pada pemuda yang lain. “Sahaya, pamanda.”

“Apakah guru nga­jimu sama dengan Abdul­lah?”

“Sama, pamanda.”

“Sama dengan Karim?”

“Sama, pamanda. Haji Mas­du­hak.”

“Gurumu Haji Duhak itu pernah dia ajari kalian ten­tang ciri-ciri kemu­na­fikan?”

“Pernah, pamanda.”

“Kau, masih ingat?”

“Kau lihat Karim meno­lak perin­tahku. Apakah itu muna­fik?”

“Tidak menu­rut Ustad, pamanda.”

“Jadi apa itu muna­fik?”

“Keli­hat­an­nya suci dan setia, tapi sebe­nar­nya tidak, pamanda.”

“Karim!” pang­gil Ben­doro tegas-tegas.

“Apa sebab­nya uang itu kau ambil?”

Tiada jawaban.

“Ter­ke­cu­ali wanita-wanita ini dan Karim, semua harus pergi.”

Pemuda-pemuda yang dipe­rin­tah­kan bering­sut-ingsut meng­un­dur­kan diri dan sesam­pai­nya di pintu baru mereka ber­diri dan lenyap dari peman­dangan.

“Karim!”

“Ampun, pamanda. Ampun­i­lah sahaya yang telah khilaf ini.”

“Kau tidak laku­kan kekhi­lafan, Karim.”

“Ampuni kekhi­lafan sahaya, pamanda.”

“Kau tak dengar aku? Kau tidak khilaf. Dengar! Orang tuamu telah kirim­kan kau kemari. Aku telah beri­kan rumah, seko­lah sega­la­nya ter­baik bagimu. Aku beri­kan guru ngaji ter­baik di kota ini. Aku beri­kan peng­a­jaran ter­baik di dunia ini. Sabda Allah dan nabi apakah yang masih kurang? Kalau semua ini tidak juga men­cu­kupi bagi pen­di­dik­anmu, per­gi­lah pada si guru yang lebih baik. Per­gi­lah kau. Pergi! Aku tak sudi lihat tam­pangmu lagi seumur hidup. Pergi!”

Tanpa men­ja­wab Karim bang­kit ber­diri dan mening­gal­kan ruangan. Semua mata meng­i­kut­i­nya. Dan waktu ia telah hilang di balik pintu, kem­bali suara Ben­doro ter­de­ngar:

“mBok, kau mau lawan keja­hatan ini dengan tanganmu, tapi kau tak mampu. Maka itu kau lawan dengan lidahmu Kau pun tak mampu. Kemu­dian kau cuma mela­wan dengan hatimu. Seti­dak-tidak­nya kau mela­wan.”

“Sahaya Ben­doro.”

“Itu baik sekali.”

“Siapa ajari kau ber­buat begitu?”

“Peng­a­laman dan pera­saan seumur hidup inilah, Ben­doro.”

“Kalau begitu peng­a­laman dan pera­saan itu belum lagi cukup.”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Tahu kau di mana keku­rang­an­nya?”

“Kalau tidak khilaf, tahu­lah sahaya Ben­doro.”

“Aku ingin tahu keku­rangan itu.”

“Keku­rangan sahaya ialah …ialah…ialah karena sahaya terus ber­u­saha ber­se­tia pada Ben­doro dan mela­ku­kan segala yang dija­di­kan kewa­ji­ban sahaya, karena itu sampai-sampai berani meng­gu­gat agus-agus ben­doro-ben­doro muda.”

“Tepat.”

“Sahaya Ben­doro.”

“Jadi kau tahu hukum­an­nya.”

“Bagi orang sema­cam sahaya, Ben­doro, sebe­nar­nya tidak ada hukuman lagi. Hidup pun sudah hukuman.”

“Syirik! tak tahu ber­syu­kur pada Tuhan.”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Pergi kau. Seka­rang juga tak perlu injak­kan kaki di rumah ini, jangan pula di peka­rang­an­nya.”

“Sahaya, Ben­doro.”

“mBok, mBok!” Gadis Pantai meraih tangan pela­yan tua itu. “Ampuni dia, Ben­doro, Ampuni dia.”

“Jangan buat bising! Kem­bali kau ke kamarmu sen­diri.” Pela­yan wanita itu bering­sut-ingsut mundur menyem­bah, kemu­dian men­ca­pai pintu. Dan Gadis Pantai meng­i­kuti con­toh­nya. Di ruang bela­kang kedua wanita itu ber­diri. Dan di hadap­an­nya telah menunggu bang­sa­wan-bang­sa­wan muda dengan sikap yang masih juga menan­tang.

“Apa aku bilang?” seo­rang mene­gur.

“Kaulah yang ter­u­sir ”

Pela­yan tua tak men­ja­wab sedang Gadis Pantai mena­rik­nya masuk ke dalam kamar­nya.

“mBok, mBok sudah tahu, bakal begi­ni­lah keja­di­an­nya. Meng­apa mBok laku­kan juga? Apa aku mesti per­buat tanpa mBok?”

“Biar sahaya ceri­tai, Mas Ngan­ten, mung­kin ini buat peng­ha­bisan kali. Mas Ngan­ten masih ingat cerita sahaya ten­tang kakek sahaya yang ikut beron­tak ber­sama Pange­ran Dipo­ne­goro? Ya Mas Ngan­ten masih ingat, bukan? Seo­rang penewu3 pernah mengu­r­ni­ai­nya wejangan: Kau tidak meng­a­bdi kepa­daku, man, tidak, man! Kalau kau cuma meng­a­bdi kepa­daku, kalau aku tewas dan kau ting­gal hidup, kau meng­a­bdi kepada siapa lagi? Kau cari Ben­doro baru kalau dia juga tewas? Tidak man, tidak. Kau meng­a­bdi pada tanah ini, tanah yang mem­be­rimu nasi dan air. Tapi para raja dan para pange­ran dan para bupati sudah jual tanah ker­a­mat ini pada Belanda. Kau hanya baru sampai mela­wan para raja, para pange­ran dan para bupati. Satu turunan tidak bakal sele­sai, man. Kalau para raja, pange­ran dan bupati sudah dika­lah­kan, baru kau bisa ber­ha­dapan pada Belanda. Entah berapa turunan lagi. Tapi kerja itu mesti dimu­lai.”

“Aku tidak meng­erti, mBok.” Ia pegangi tangan pela­yan tua itu. “Jangan buru-buru pergi. Bisa aku ikut deng­anmu, mBok?”

“Tidak, Mas Ngan­ten, tidak bakal lama lagi Mas Ngan­ten bakal meng­erti wejangan itu. Ayah sahaya terus­kan wejangan itu pada sahaya, dan sahaya terus­kan pada Mas Ngan­ten. Seka­rang Mas Ngan­ten belum meng­erti, tapi peng­a­laman bakal mem­buat Mas Ngan­ten mema­ham­i­nya baik-baik. Tuhan senan­ti­asa melin­dungi Mas Ngan­ten hen­dak­nya.” Dan ia pun ber­ge­gas pergi.

Gadis Pantai ter­ting­gal seo­rang diri di kamar­nya, ter­ca­but dari selu­ruh keku­atan dan tena­ga­nya. Nafas­nya megap-megap, tubuh­nya meliuk di atas kursi, kedua belah tangan­nya ter­ku­lai di atas meja, dada­nya turun naik, sedang mata­nya merah jingga sebak, dengan pan­dangan tidak menentu. Ing­at­an­nya menang­kap dan meng­geng­gam kata-kata pela­yan tua itu, tapi ia tak meng­erti, ter­de­ngar seperti sebuah mantra. Bapak selalu meng­u­cap­kan mantra bila hendak ting­gal­kan darat. Dan tak pernah ia meng­erti makna kata-kata­nya.

Hari-hari melun­cur sendat, ter­te­gun, sete­lah pela­yan tua itu lenyap dari kehi­dupan gedung besar ber­ku­rung pagar tembok tinggi itu. Bila tadi­nya Gadis Pantai hidup seba­gai pen­diam karena ter­paksa, kini ia jadi pen­diam karena kehi­langan hasrat untuk bicara. Orang sebaik itu keluh­nya dalam hati selalu. Orang sebaik itu! Orang sebaik itu! Dan untuk meng­isi hari-hari­nya yang lamban menye­bal­kan ia meneng­ge­lam­kan diri dalam kerja batik.

Ingin ia meng­ha­di­ah­kan salah sebuah batik tulis­nya pada wanita tua itu. Tapi di gedung ini tak ada orang menye­but-nye­but­nya, tak ada yang tahu di mana ia ting­gal. Tak pula punya per­ha­tian ke mana per­gi­nya. Mereka yang telah keluar dari ge- ’ dung ini, bila bukan kera­bat Ben­doro, adalah lak­sana roh-roh yang tidak punya suatu bekas. Mung­kin hanya Gadis Pantai yang mau dan selalu menge­nang­nya.

Musim hujan datang lebih cepat dari seha­rus­nya. Angin ken­cang antara seben­tar men­de­sak dengan keku­atan besar dari timur-laut, meng­ang­kat sampah dan pasir pantai, pasir alun-alun yang mulai gundul karena kema­rau, mene­ro­bosi pintu dan jen­dela, masuk ke dalam kamar bahkan juga ke dalam lemari pakaian dan makan. Masa demi­kian adalah masa banyak mendoa di kam­pung nela­yan. Dahulu Gadis Pantai tak pernah ber­sung­guh-sung­guh mendoa. Tapi kini dira­sa­nya hasrat untuk meng­u­cap­kan per­mo­honan pada Tuhan agar selu­ruh nela­yan dilin­dungi dari mara bahaya, agar angin tidak ter­lalu ken­cang, agar ombak tak ter­lalu jahat, dan agar ikan men­jadi jinak.

Sk kok Pada suatu pagi dalam hujan lebat, empat orang wanita dalam kea­daan basah kuyup masuk ke dalam dapur. Seo­rang di antara mereka dian­tar­kan oleh Mardi datang kepa­da­nya.

“Mas Ngan­ten,” Mardi memu­lai, “pela­yan baru buat Mas Ngan­ten.”

Gadis Pantai mele­tak­kan can­ting­nya, dan mori yang baru sete­ngah ter­ba­tik ia gulung dan gan­tung­kan pada jagang­nya. “Apa harus kupang­gil kau?” Gadis Pantai ber­ta­nya. “Mas Ngan­ten, nama sahaya Mar­di­nah.”

“Itu bukan nama orang desa.”

“Sahaya lahir di kota. Mas Ngan­ten. Di Sema­rang.”

“Berapa umurmu?”

“Empat belas, Mas Ngan­ten.”

“Belum ada laki?”

“Janda Mas Ngan­ten.”

Gadis Pantai ter­te­gun. Dita­tap­nya wanita muda itu. Lebih tinggi dari dir­i­nya. Air muka­nya begitu jernih dan ceria, gerak-gerik­nya cepat tanpa ragu-ragu.

“Di mana pernah kerja?”

“Di kabu­pa­ten Demak, Mas Ngan­ten.”

“Meng­apa keluar dan kerja di sini?”

“Sahaya dipe­rin­tah­kan Ben­doro Putri Demak bekerja di sini, Mas Ngan­ten.”

“Apa hubung­an­nya Ben­doro Putri Demak dengan aku?”

“Mana sahaya tahu, Mas Ngan­ten? Sahaya cuma jalan­kan perin­tah.”

“Engkau ter­lalu cantik buat pela­yanku, juga ter­lalu muda.” Tiba-tiba Gadis Pantai ter­ke­jut dengan ucap­an­nya sen­diri. Tiba-tiba ia pun men­duga pela­yan muda ini ber­seri bebas dan ceria itu sadar akan kele­bihan-kele­bih­an­nya. Ah, meng­apa dia diki­rim kemari? Ia ter­i­ngat pada mBok yang telah pergi. Ah, tidak! Kini aku harus ber­pi­kir sen­diri, ber­buat sen­diri tanpa siapa pun. Dan untuk per­tama kali dalam hidup­nya ia mulai bel­a­jar curiga.

Apa sebab­nya wanita muda beru­mur empat belas diki­rim­kan kepa­daku? Dan dengan sen­di­r­i­nya mengi­ang-ngiang kem­bali suara pela­yan tua itu: Seka­rang Mas Ngan­ten belum meng­erti, tapi peng­a­laman akan mem­buat Mas Ngan­ten mema­ham­i­nya baik-baik!

Seka­rang ia bel­a­jar mema­hami, men­cu­r­i­gai.

Tak lebih dari dua hari keda­tangan Mar­di­nah, ter­jadi suatu peris­tiwa. Sore hari ketika Gadis Pantai merasa tak nyaman, dan ber­ti­duran di ran­jang­nya. Mar­di­nah masuk ke kamar­nya dan duduk di kursi.

“Sini­lah seben­tar,” Gadis Pantai memang­gil. Mar­di­nah lang­sung duduk di kasur.

“Apa Ben­do­r­omu yang dulu tidak marah padamu kau duduk di kursi?”

“Ben­doro tidak pernah lihat sahaya duduk di kursi. “Apa Ben­do­r­omu yang dulu tidak pernah marah meli­hat kau duduk di kasu­r­nya seperti ini?”

“Ben­doro tidak pernah lihat sahaya duduk di kasur.”

“Aku tidak marah padamu.”

“Tentu saja.”

“Meng­apa tentu saja?”

“Karena Mas Ngan­ten bukan Ben­doro sahaya.”

“Lantas siapa Ben­do­r­omu?”

“Ben­doro sahaya, ya, Ben­doro sen­diri.”

“Dan aku?”

“Ah, Mas Ngan­ten. Mas Ngan­ten kan orang kam­pung?”

Jan­tung Gadis Pantai ter­gun­cang. Dengan sen­di­r­i­nya ia bang­kit dan duduk, menan­tang wajah Mar­di­nah. Tapi ter­nyata Mar­di­nah mem­ba­las tatapan mata­nya tanpa sedi­kit pun ragu-ragu. Meli­hat mata yang berapi-api, Gadis Pantai men­jadi takut, menye­sali diri.

“Benar, aku orang dari kam­pung, dan aku tidak menye­sal ber­a­sal dari kam­pung. Siapa kau sebe­nar­nya?”

“Yang jelas, sahaya bukan ber­a­sal dari kam­pung.”

“Apa hina­nya orang kam­pung?”

“Seti­dak-tidak­nya dia sebangsa kuli.”

Untuk kedua kali Gadis Pantai ter­gun­cang. Keta­kutan men­ja­mah selu­ruh batin­nya. Ia men­coba mem­be­ra­ni­kan diri. “Jadi buat apa kau datang kemari?”

“Yang jelas bukan buat meng­a­bdi pada Mas Ngan­ten.”

“Lantas buat apa kau men­de­kam di kamar ini?”

Mar­di­nah tak men­ja­wab. Ia hanya ter­se­nyum. Kemu­dian mem­buka mata, sedang gigi­nya yang tampak tak ter­hi­tami oleh sirih kapur dan pinang atau­pun sugi itu gemer­lapan menan­tang.

“Mas Ngan­ten,” kata­nya per­la­han. “Sahaya bisa baca bisa tulis, Mas Ngan­ten bisa?”

Untuk ketiga kali dalam sehari Gadis Pantai ter­gun­cang.

“Apa bapak Mas Ngan­ten? Nela­yan, bukan? Benar, sahaya tidak salah. Mas Ngan­ten tahu siapa orang tua sahaya? Pen­si­u­nan juru tulis.”

Untuk keem­pat kali jan­tung Gadis Pantai ter­gun­cang. Mar­di­nah ter­tawa menang dan senang, tapi tak melan­jut­kan. Gadis Pantai turun dari ran­jang. Dipe­rik­sa­nya selu­ruh lemari dan laci, dikun­ci­nya yang belum ter­kunci, mening­gal­kan kamar menuju ke kebun bela­kang.

Tanah seha­bis hujan kema­rin sore ber­warna coklat tua, sedang butiran-butiran putih kulit kerang yang ter­ham­par mem­buat tanah ber­warna coklat itu silau gemer­lapan kena cahaya mata­hari. Uap yang mem­bum­bung dari tanah mem­buat nafas jadi berat dan sesak. Gadis Pantai duduk di atas bangku kebun di bawah pohon mangga tanaman Ben­doro bebe­rapa tahun lalu.

Seka­rang Mas Ngan­ten belum meng­erti, tapi peng­a­laman mem­buat Mas Ngan­ten mema­hami baik-baik, ter­ng­i­ang kem­bali wejangan pela­yan tua itu. Jadi ini adalah per­mu­laan. Ia tak dapat memi­kir, ia tak tahu pada siapa ia harus adukan hal dan kesu­l­it­an­nya. Seti­dak-tidak­nya keja­dian begini tidak bakal ter­jadi di kam­pung­nya — kam­pung nela­yan ping­gir pantai. Seo­rang demi seo­rang di antara kelu­ar­ga­nya ter­ba­yang: ayah­nya yang sedang meng­ang­kat jala, melom­pat dari perahu turun ke darat, emak sedang menum­buk udang kering, abang-abang­nya sedang menam­bal lunas pada buritan perahu, dengan samar adik-kecil­nya sedang mem­per­ba­rui cat pada pahatan hiasan pada lam­bung dan haluan perahu … dan ter­ba­yang juga dir­i­nya sen­diri sedang ber­ta­nak nasi-jagung. Ber­ta­nak nasi-jagung! Ah, itu dua tahun yang lalu. Seka­rang ia tak pernah ber­ta­nak Tak pernah menyam­bal. Tak pernah men­cuci piring dan cobek. Dengan lenyap­nya kam­pung nela­yan dalam hidup­nya lenyap pula laut yang tiada ber­tepi. Duni­a­nya kini hanya­lah kamar­nya, dengan bebe­rapa meter radius seba­gai lap­angan ber­ge­rak.

Tiba-tiba piki­ran­nya menang­kap Mardi. Mung­kin orang itu mau menyam­pai­kan halnya pada Ben­doro. Tapi segera kemu­dian dice­gah­nya sen­diri piki­ran­nya itu. Tidak! Aku harus sele­sai­kan sen­diri. Rumah ini harus sela­mat. Ben­doro harus bebas dari segala kesu­l­itan, bebas dari piki­ran ten­tang istri­nya. Tidak! Tidak! Aku harus sele­sai­kan sen­diri semua. Semua! Semua!

Ia meronta bangun, dengan lang­kah tegap mena­iki jen­jang ruang bela­kang, lang­sung menuju kamar. Dida­pat­i­nya Mar­di­nah telah ber­ti­duran di ran­jang­nya.

Dengan lang­kah tegap itu pula ia lang­sung meng­ham­piri Mar­di­nah.

“Orang kota, bangun! Menu­rut ukuran orang kam­pung tidak­lah sopan tidur di tempat orang lain tanpa izin.” Mar­di­nah ter­tawa dan bang­kit sen­diri.

“Rupa-rupa­nya kau bisa meng­ge­le­tak dan ter­len­tang di mana-mana, di mana saja.”

Ter­nyata Mar­di­nah kebal tusukan kata Ia masih juga ter­tawa. Dan tanpa ter­duga oleh Gadis Pantai keluar kata-kata­nya: “Ini, Mas Ngan­ten,” sambil menun­juk-nunjuk dada­nya sen­diri, “tak lain dan tak bukan adalah tubuh sahaya sen­diri. Ter­se­rah pada sahaya di mana sahaya taruh dan sahaya gele­tak­kan.”

“Tidak. Tidak ter­se­rah padamu semata-mata. Keluar kau dari kamar ini! Jangan masuk lagi. Keluar!”

Lenyap­lah tawa dari wajah Mar­di­nah. Dengan mata berapi-api ditan­tang­nya Gadis Pantai.dan dengan suara meng­an­cam ia menya­ta­kan, “Tidak mung­kin orang kam­pung meme­rin­tah anak pri­yayi. Tidak bisa. Tidak mung­kin.”

Tapi Gadis Pantai telah menu­ding­nya tepat pada mata­nya. “Keluar!”

Mar­di­nah dengan kasar melem­par­kan lengan yang menu­dung mata­nya. Tapi Gadis Pantai menu­ding dengan tangan­nya yang lain. Kemu­dian, “juh!” dan seper­cik ludah ber­teng­ger pada hidung Mar­di­nah.

Tidak kurang dari seminggu lama­nya Mar­di­nah tak pernah muncul di kamar Gadis Pantai. Ia ting­gal di dapur. Dan karena bukan seo­rang pekerja dapur, ia hanya duduk-duduk di sana sambil meng­o­b­rol dengan para pekerja dapur.

Saban pagi Gadis Pantai turun dari kamar­nya, mema­suki dapur dan meng­a­wasi san­tapan yang akan dihi­dang­kan pada sua­mi­nya. Ia cicipi semua untuk menen­tu­kan baik tidak­nya dihi­dang­kan, kemu­dian ia tutup meja, sete­lah itu mem­ba­tik. Dalam seminggu ini bila ia masuk ke dapur, mata­nya tajam meng­i­kuti segala gerak-gerik pela­yan­nya. Tapi tiada sepa­tah kata pun keluar dari mulut­nya.

Pagi itu waktu ia kem­bali masuk ke dapur, dili­hat­nya Mar­di­nah telah menung­gu­nya di bela­kang pintu. Dili­hat­nya wanita itu siap hendak mene­gur­nya. Tapi Gadis Pantai jalan terus menuju tungku. Demi­kian pula waktu ia hendak balik naik ke ruang bela­kang, dili­hat­nya Mar­di­nah masih ber­diri di bela­kang pintu, tapi kali ini ber­ha­sil mem­buka suara “Mas Ngan­ten saha…”

Gadis Pantai ber­ja­lan terus tanpa mene­ngok.

Mar­di­nah mem­bu­ru­nya dan meng­ha­dang jalan­nya.

“Mas Ngan­ten,” tegur­nya, dan hadangan itu mem­buat kedua orang itu ber­ha­dap-hadapan.

“Sahaya mem­bu­tuh­kan Mas Ngan­ten.”

“Bukan­kah aku bukan pela­yanmu?”

“Tidak, tentu saja tidak. Tapi sahaya pun bukan pela­yan Mas Ngan­ten.”

“Jadi per­gi­lah dari sini. Yang aku butuh­kan hanya pela­yan.”

“Biar­lah sahaya mela­yani Mas Ngan­ten.”

“Maaf, aku tak butuh­kan kau. Aku tahu meng­apa kau di sini. Aku akan sam­pai­kan sen­diri pada Ben­doro.”

Mar­di­nah ter­diam. Ia tak tahu apa mesti diper­buat. Nampak piki­ran­nya kacau. Dan kesem­patan itu diper­gu­na­kan Gadis Pantai untuk menyi­sih­kan­nya dan mene­rus­kan jalan­nya ke tempat pem­ba­tikan.

Tapi baru saja ia duduk di bangku rendah mem­ba­tik, Mar­di­nah telah datang meng­ham­pir­i­nya mem­bawa batikan pula, juga ikut mem­ba­tik.

“Mas Ngan­ten,” Mar­di­nah ber­bi­sik seha­bis meniup cucuk can­ting­nya.

“Apa ker­jamu di sini?”

“Seka­rang ini mem­ba­tik, Mas Ngan­ten.”

“Siapa meng­gaji kau?”

Mar­di­nah tak menya­hut. Ia celup­kan can­ting­nya ke dalam belanga kecil lilin cair dan melu­kis cucuk burung garuda di atas kain.

“Mas Ngan­ten,” Mar­di­nah memang­gil lagi. Dan tanpa menunggu reaksi ia mene­rus­kan. “Mas Ngan­ten bisa mem­baca, bukan?”

Meng­erti kele­mah­an­nya sen­diri Gadis Pantai ter­diam.

“Ada surat buat Mas Ngan­ten.”

“Aku tak mem­bu­tuh­kan surat dari siapa pun.”

“Tapi surat ini sangat pen­ting.”

“Tak ada yang pen­ting bagiku kecu­ali satu.”

“Tidak ada yang pen­ting? Juga per­cin­taan tidak?”

“Tidak, aku hanya tahu meng­a­bdi pada Ben­doro, lain tidak.”

“Bodoh­nya Mas Ngan­ten ini. Setiap istri pem­be­sar mem­pu­nyai kese­nang­an­nya, yang satu main ceki, yang lain main cinta, tapi Mas Ngan­ten cuma sibuk di rumah seperti pesa­kitan.”

Gadis Pantai ter­henti mem­ba­tik. Seka­li­gus ter­gam­bar dalam ing­at­an­nya seo­rang pria ber­tu­buh tegap, tidak begitu tinggi, kul­it­nya kehi­taman, dan sua­ra­nya begitu tegas dan yakin, dan bijak­sana: tamu Ben­doro yang ia tak keta­hui nama­nya. Ia ter­se­nyum sedi­kit.

“Sahaya juga bekas istri pem­be­sar, Mas Ngan­ten.”

Can­ting Gadis Pantai yang sedang ter­ang­kat dari belanga lilin ke arah batikan ter­henti di tengah-tengah peng­ang­kutan, jatuh ke lantai, dan lilin cair dalam can­ting itu pun ter­tum­pah di atas lantai, mengen­tal kemu­dian mem­beku. “Ber­hen­ti­lah mem­ba­tik bila can­ting jatuh,” pela­yan tua dulu sering mem­per­i­ng­at­kan. “Ing­at­lah pada Ben­doro, karena otakmu sedang diganggu iblis.”

Sambil meng­a­wasi Mar­di­nah yang sedang ter­se­nyum menyin­dir, ia mele­tak­kan can­ting di dalam kotak cerutu. Dan sebe­lum bang­kit ber­diri kem­bali ia awasi Mar­di­nah yang masih juga ter­se­nyum meng­a­was­i­nya.

“Siapa sedang Mas Ngan­ten pikir­kan?” Mar­di­nah ber­ta­nya.

Gadis Pantai kaget, bingung. Tahu­kah dia siapa aku pikir­kan? Ia sela­mat­kan wajah­nya dari pan­dang Mar­di­nah. Melang­kah masuk ke dalam kamar, duduk ter­me­nung di atas kursi di dalam kamar­nya. Dua tiga kali ia meng­u­sap wajah­nya. Ia ingin bicara. Ia ingin meng­a­dukan halnya. Tak ada orang lain selama ini yang dapat diajak bicara selain Mar­di­nah Bebe­rapa malam ini Ben­doro tidak mengun­jung­i­nya. Dan ia pun ter­lalu lelah sehingga ter­ti­dur tanpa sempat meng­impi.

Ia ingin ber­temu dengan pela­yan tua itu. Ia ingin meng­a­dukan halnya. Ia pun ingin tahu bagai­mana halnya. Tapi yang ada cuma Mar­di­nah, hanya Mar­di­nah. Dia ingin bicara. “Mar­di­nah,” pang­gil­nya.

“Sahaya, Mas Ngan­ten.”

Dan seben­tar kemu­dian Mar­di­nah masuk ke kamar ber­diri di sam­ping­nya agak bebe­rapa meter men­jauh.

“Kata­kan apa yang hendak kau kata­kan,” Gadis Pantai memu­lai.

“Seo­rang pemuda gagah ingin ber­ke­nalan, Mas Ngan­ten.”

“Apa lagi?”

“Inilah surat­nya Mas Ngan­ten.”

“Apa­lagi?”

“Harus­kah saya baca­kan?”

“Tidak. Aku tak mem­bu­tuh­kan surat. Apa lagi hendak kau laku­kan?”

“Apa Mas Ngan­ten tak ingin tahu isi surat ini dan mem­ba­las­nya?”

“Tidak. Apa lagi?”

Mar­di­nah ter­diam.

“Kapan pergi dari rumah ini?”

“Kapan? Tapi ini bukan rumah Mas Ngan­ten.”

Seka­rang Gadis Pantai ter­ke­jut. “Jadi menu­rut pen­da­patmu, siapa aku ini?”

“Selir.”

“Baik­lah selir. Apa kau sebe­nar­nya?”

“Sahaya.”

“Kapan kau pergi?”

“Sahaya akan bicara sen­diri dengan Ben­doro.”

“Kapan?”

“Belum tahu­lah sahaya.”

“Baik, biar aku bawa kau pada Ben­doro.”

“Tidak. Tidak perlu.”

“Ben­doro pun tak tahu siapa kau ”

“Tidak mung­kin.”

“Mari meng­ha­dap.”

“Mari. Tapi tidak seka­rang.”

“Baik, tidak seka­rang nanti jam dua siang.”

“Baik. Tapi jangan jam dua.”

“Baik,” dan Gadis Pantai ter­diam. Mar­di­nah masih ber­diri bebe­rapa meter di sam­ping­nya.

“Siapa yang meng­gaji kau di sini?” Gadis Pantai ber­ta­nya. “Mas Ngan­ten.”

“Tidak. Aku tak suka meng­ga­jimu. Minta gaji pada Bendo- : romu dari Demak. Aku seka­rang mulai tahu siapa kau, kau datang kemari buat mem­buat onar.”

“Tidak, sahaya datang buat kepen­tingan Ben­doro.”

“Ha?”

“Karena tidak layak bebe­rapa kali ber­is­tri­kan orang kam­pung melulu.”

Gadis Pantai men­jadi pucat. Nafas­nya megap-megap. Ia tahu tak punya keku­atan sedi­kit pun untuk mene­gak­kan diri di tengah-tengah kum­pulan bang­sa­wan. Tangan­nya meng­ga­pai-gapai men­cari pegangan daun marmer meja. Tapi marmer yang dingin itu tetap dingin. Tak ada sesu­atu keku­atan menyem­bur dari­nya dan meng­isi dir­i­nya.

Meli­hat kea­daan itu segera Mar­di­nah menye­rang. “Jadi Mas Ngan­ten tahu siapa sahaya. Seo­rang yang kebang­sa­wa­n­an­nya lebih tinggi dari Ben­doro telah perin­tah­kan sahaya kemari. Sudah wak­tu­nya Ben­doro kawin benar-benar dengan seo­rang gadis yang benar-benar bang­sa­wan juga. Di Demak sudah banyak gadis bang­sa­wan menunggu. Siapa saja boleh Ben­doro ambil, seka­li­pun sampai empat.”

Nafas Gadis Pantai tidak lagi megap-megap, tapi menye­kat di teng­go­r­okan. Dengan suara lemas ia ber­bi­sik lesu, “Sudah, sudah. Pergi kau. Jangan dekat-dekat aku.”

“Terima kasih Mas Ngan­ten. Sahaya boleh undur­kan diri ke dapur.”

Tanpa meli­hat pada Mar­di­nah, Gadis Pantai men­de­ngar lang­kah kaki yang lirih hampir-hampir tak ter­tang­kap oleh pen­de­ng­aran. Ia rasai Mar­di­nah ber­henti di depan pintu meng­in­tip pada­nya. Ia tak ber­ge­rak.

Hanya Ben­doro yang tak terung­kit di sini kata pela­yan tua dahulu. Hanya dewa-dewa yang tak terung­kit dalam kehi­dupan ini, yang lain-lain adalah goyah tanpa pegangan. Kela­hiran sahaya sudah satu hukuman! ter­ng­i­ang suara pela­yan tua itu. Ia mera­dang — apakah dosa suatu kela­hiran di tengah-tengah orang keba­nyakan? Meng­apa? Apa dosa? Dan tanpa disa­dari air mata­nya telah mengem­bang­kan cairan duka­cita buat selu­ruh orang yang ber­a­sal dari kam­pung, ter­u­tama kam­pung nela­yan.

Seka­rang aku harus pikir­kan sen­diri semua ini.

Seka­rang Mas Ngan­ten belum meng­erti kata pela­yan tua dulu, tapi peng­a­laman bakal mem­buat Mas Ngan­ten mema­hami baik-baik! Pela­yan itu telah pergi. Kini ia harus ber­pi­kir sen­diri. Dan dalam usia tidak lebih dari 16 tahun. Ia meng­erti semua itu dengan pera­sa­an­nya, dengan tubuh dan jan­tung­nya. Dan ia pun kenang­kan kem­bali kam­pung nela­yan nun jauh di tepi pantai, hari-hari yang penuh tawa, keri­ngat yang meng­u­cur rela, tangan-tangan yang coklat kuat, dan lemah-lembut, dan kasar yang pada saling mem­bantu. Ia ter­se­dan-sedan di sini. Semua pada ban­ting-mem­ban­ting. Buat apa? Buat apa? Ia merin­tih buat kehor­matan dan nasi. Di sana di kam­pung nela yan tetesan deras keri­ngat mem­buat orang tak sempat mem­buat kehor­matan, bahkan tak sempat men­da­pat­kan nasi dalam hidup­nya ter­ke­cu­ali jagung tumbuk yang kuning. Betapa mahal­nya kehor­matan dan nasi!

Dan Gadis Pantai baru 16 umur­nya.

Ia ber­te­kad bicara dengan Ben­doro, bila Ben­doro datang meng­i­nap di kamar­nya. Ia akan cur­ah­kan pera­sa­an­nya Ia akan minta pen­je­lasan ten­tang Mar­di­nah, ten­tang dir­i­nya sen­diri. Bebe­rapa malam ia tidak tidur menunggu keda­tangan Ben­doro. Tapi banyak kali Ben­doro kem­bali lagi ke ruang tengah, sete­lah ber­san­tap di ruang bela­kang, bahkan dua tiga kali tanpa mene­gur­nya. Bila malam Jum’at ia tahu Ben­doro takkan mung­kin meng­i­nap. Ia menunggu pada malam Sabtu, malam Minggu, malam Senin, malam Jum’at lagi.

Akhir­nya 15 hari sete­lah pem­bi­ca­ra­an­nya dengan Mar­di­nah, pada suatu malam Ben­doro menge­tuk pin­tu­nya per­la­han-lahan. Ia turun dari ran­jang dan mem­bu­ka­kan­nya. Ben­doro masuk lang­sung menuju ke ran­jang, dan Gadis Pantai mengun­ci­nya kem­bali. Ia tak menyu­sul sua­mi­nya ke ran­jang, tapi duduk tepe­kur di kursi. Ia kehi­langan kebe­ra­nian untuk mulai bicara.

“Kau sakit, Mas Ngan­ten?”

“Tidak, Ben­doro.”

“Sudah malam seka­rang, mari tidur nak.”

Gadis Pantai bang­kit, tapi kemu­dian duduk kem­bali, kepala ter­tun­duk. Ben­doro turun lagi dari ran­jang meng­ham­piri. “Engkau pucat.”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Benar-benar tidak sakit?”

Gadis Pantai meng­ge­leng, meng­ang­kat pan­dang seben­tar meman­dang Ben­doro, kemu­dian menun­duk kem­bali.

“Kau rindu pada orang tuamu?”

Gadis Pantai meng­hem­bus­kan nafas keluh. Ia tetap tak berani men­cu­r­ah­kan pera­sa­an­nya. Ben­doro mele­tak­kan tangan­nya, di atas bahu Gadis Pantai, dan dengan tangan yang lain meng­u­sap-usap rambut wanita muda itu.

“Aku tahu. Kau mau bicara. Bica­ra­lah.”

“Sahaya, Ben­doro.” Dan kebe­ra­nian Gadis Pantai mulai timbul sedi­kit. Lidah­nya dira­sa­nya kelu, dan segu­lung rasa yang linu menye­rang di bawah kedua belah rahang­nya.

“Bica­ra­lah, aku deng­ar­kan.”

“Ben­doro…”

“Ya?”

“Meng­apa wanita Mar­di­nah diki­rim kemari?”

“Buat mem­bantu kau.”

“Siapa dia, Ben­doro?”

“Keme­na­kan jauh, Mas Ngan­ten.”

Gadis Pantai tak mampu mene­rus­kan kata-kata­nya. Dia kera­bat jauh Ben­doro. Ia tak punya hak meng­gu­gat. Ia ber­diri dengan lang­kah lesu menuju ran­jang dan naik ke atas. Waktu Ben­doro telah ber­ba­ring di sam­ping­nya dan meme­luk­nya, dira­sa­i­nya air mata hangat telah mem­ba­sahi wajah­nya. Dan waktu Ben­doro meng­u­sap-usap wajah­nya yang basah itu, Ben­doro ter­henti seje­nak, duduk mena­tap wajah­nya tenang-tenang dalam cahaya lis­trik yang telah dipa­tah­kan oleh kelambu, ber­ta­nya, “Engkau mena­ngis kenapa?”

“Ben­doro.”

“Ya?”

“Tidak, tidak jadi Ben­doro. Ampuni sahaya.”

“Aku tak meng­erti.”

“Ben­doro.”

“Ya?”

“Ampuni sahaya. Boleh­kah sahaya … tapi jangan murkai sahaya.”

“Tidak tentu saja tidak. Bica­ra­lah.”

“Sahaya ingin … ingin … ingin meli­hat orang tua sahaya ”

“Tapi meng­apa kau mena­ngis?”

“Sahaya hanya mohon diper­ke­nan­kan meli­hat orang tua sahaya di kam­pung, Ben­doro. Sahaya takut dimur­kai Ben­doro.”

“Kau boleh pergi — kapan kau mau pergi?”

“Jika dii­zin­kan besok Ben­doro.”

“Baik Besok kau boleh lihat orang tuamu. Mar­di­nah akan temani kau.”

“Ampun Ben­doro, jangan.”

“Apa telah diper­buat Mar­di­nah ter­ha­dapmu?”

“Tiada Ben­doro. Biar sahaya pergi sen­diri.”

“Husy, itu tidak benar. Kau harus dite­mani.”

“Sahaya, Ben­doro. Tapi Mar­di­nah … ampun, Ben­doro, jangan.”

“Siapa akan temani kau?”

“Siapa saja Ben­doro asal bukan Mar­di­nah.”

“Apakah ia mem­buat onar.di sini. Mar­di­nah itu?”

“Tentu saja tidak Ben­doro. Seo­rang kera­bat Ben­doro tidak­lah layak meng­an­tar­kan orang seperti sahaya ini.”

“Kau tak boleh pergi seo­rang diri.”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Kau mil­ikku. Aku yang menen­tu­kan apa yang kau boleh dan tidak boleh, harus dan mesti ker­ja­kan. Diam­lah kau seka­rang. Malam sema­kin larut,” lalu seperti ada yang ter­lupa, “tapi kau belum punya per­si­apan.”

“Apalah yang perlu diper­si­ap­kan Ben­doro?”

“Husy. Kau harus selalu ingat-ingat, tak boleh ada sesu­atu ter­jadi yang menye­bab­kan peng­hor­matan orang ber­ku­rang padaku. Bawalah juga beras seka­rung.”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Belanja dulu besok pagi di pasar. Beli dua puluh meter kain kasar, sarung, benang jala, damar, sandal, bis­kuit ” Ben­doro diam meng­i­ngat-ingat — tasbih yang baik, hitam meng­ki­lat tanpa cacat. Hitung benar-benar jumlah bizinva, leng­kap tidak. Beli juga seba­gai hadi­ahku: tem­ba­kau kretek Bojo­ne­goro. Beli satu keran­jang.”

“Tak ada yang memi­kul­kan barang yang seba­nyak itu, Ben­doro.”

“Dokar sewaan bisa antar­kan kau sampai ke rumahmu.”

Gadis Pantai ingin menyam­pai­kan, kam­pung­nya tak dapat dica­pai oleh dokar. Orang mesti ber­ja­lan kaki dua atau tiga kilo meter dari pos. Tapi ia padam­kan kei­ng­inan itu. Jalan itu sunyi Dan ia bayang­kan dir­i­nya ter­e­ngah-engah meng­ang­kut barang-barang di atas kepa­la­nya, seperti bia­sa­nya wanita-wanita nela­yan, karena tak mampu beli kain gen­do­ngan. Wanita, wanita melulu yang ada di kam­pung di pagi hari. Kaum pria masih menyi­siri laut, atau tidur di gubuk masing-masing, atau sedang meng­gi­gil-gigil, karena malaria. Wanita melulu.

Demi­ki­an­lah malam itu ber­ja­lan sangat lambat bagi Gadis Pantai.

Waktu Ben­doro telah ter­golek layu di sam­ping­nya, lelah dalam kenik­matan, ber­ke­ruh deras dalam tidur­nya, mulut menga­nga dan mata masih sedi­kit ter­buka, lambat-lambat Gadis Pantai turun dari ran­jang mening­gal­kan kamar menuju kamar mandi.

Malam gelap gulita waktu itu. Bin­tang-bin­tang ber­ta­bur di langit hitam. Ia ber­diri lama-lama di tengah-tengah pela­taran. Bibir­nya meng­ge­le­tar di malam gelap itu mem­bi­sikan doa syukur. Wajah manu­sia-manu­sia ter­cinta ganti-ber­ganti muncul dalam bayang­an­nya. Wajah manu­sia-manu­sia yang tak punya sesu­atu pun untuk dibe­ri­kan, kecu­ali tenaga, kasih sayang dan ikan. Ah bapak, bapak. Kita ini, ia masih ingat kata-kata bapak pada malam sebe­lum ia dibe­rang­kat­kan ke kota,kita ini biar hidup dua belas kali di dunia, tidak bisa kum­pul­kan duit buat beli barang-barang yang ter­da­pat dalam hanya satu kamar orang-orang kota. Laut, memang luas tak dapat ter­ku­ras, kaya tiada ter­ba­tas, tapi kerja kita yang memang hina tiada ber­harga. Besok kau mulai ting­gal di kota, “nduk, jadi bini seo­rang pem­be­sar Kau cuma buka mulut, dan semua kau maui akan ber­ba­ris datang kepa­damu. Kau ting­gal pilih. Ah, bapak. Bapak. Itulah dunia yang kau tawar­kan padaku, dunia serba gam­pang, cuma hati juga yang berat buat dibuka, meski ting­gal memi­lih dan ting­gal meminta. Ah, bapak. Bapak. Aku tak butuh­kan sesu­atu dari dunia kita ini. Aku cuma butuh­kan orang-orang ter­cinta, hati-hati yang ter­buka, senyum tawa dan dunia tanpa duka, tanpa takut. Ah, bapak. Bapak. Sia-sia kau kirim­kan anakmu ke kota, jadi bini per­co­baan seo­rang pem­be­sar.

Dari kamar mandi ia ber­ja­lan ke arah dapur. Ber­henti seje­nak di depan pintu. Itulah pintu yang sehari lebih sepu­luh kali dile­wati mBok tua yang kini entah ada di mana. Orang yang pernah ia kasari karena pera­sa­an­nya ter­sing­gung, tapi yang kini ia sesali pernah ber­buat kasar itu.

Waktu ing­at­an­nya ter­sen­tuh pada Mar­di­nah. Ia ter­he­nyak buru-buru ia ting­gal­kan tempat itu. Di situ ada Mar­di­nah, pekik­nya dalam hati. Bodoh­nya aku, aku kenang­kan orang sebaik itu, nya­ta­nya orang yang kubenci yang ada di dalam­nya. Ia ber­si­ce­pat mena­iki jen­jang ruang bela­kang, masuk ke kamar dan mengun­ci­nya dari dalam. Duduk ter­me­nung di kursi, sampai kemu­dian ter­de­ngar suara lirih, “Mas Ngan­ten, tidur­lah.”

“Sahaya, Ben­doro,” tapi ia tak ber­ge­rak.

“Sudah malam tidur­lah, kalau tidak, kau tak perlu pergi besok. Aku kha­wa­tir kau masuk angin kele­lahan.”

“Sahaya, Ben­doro,” dan Gadis Pantai ber­diri naik kem­bali ke dalam ran­jang.

“Meng­apa kau pung­gungi aku? Aku tak suka dipung­gungi.”

Gadis Pantai meng­u­bah letak tidur­nya. “Mas Ngan­ten, kalau kau sudah datang ke kam­pung,” kata Ben­doro dengan suara mengan­tuk, “sam­pai­kan salamku pada orang tuamu.”

“Beribu terima kasih, Ben­doro.”

“Jangan ber­laku seperti orang kam­pung, kau istri pri­yayi.”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Tidur­lah, tidur.”

Seben­tar kemu­dian selu­ruh alam pun ter­ti­dur Ting­gal bin­tang, ombak dan angin yang masih mela­ku­kan tugas­nya …



Bagian Ketiga

Kita catat dari daerah ini, kawan

nelayan dimakan ikan

sedang di darat hanya tiga jam istirahat

dari segala yang didapat

untuk tengkulak dan pajak

nasi dan pukat

— dari “Kampung Nelayan”, Pinore Gangga

Iblis itu mau giring aku sampai ke neraka, teriaknya dalam hati. Dan dokar sewaan ber­ja­lan tenang meng­ang­guk-angguk di jalan pos buatan tuan besar Guntur alias Daen­dels1. Kuda kacang yang mena­rik dokar sarat muatan nampak seperti sedang ber­jing­k­rak kepa­nasan. Sedang semak-semak bakau sepan­jang pantai nampak begitu hijau dan sunyi. Bau tem­ba­kau yang ke luar dari keran­jang ber­gu­mul mela­wan bau laut yang abadi.

Gadis Pantai mena­rik nafas pan­jang. Seke­jap dili­rik­nya Mar­di­nah yang duduk di sam­ping­nya. Meng­apa Ben­doro kirim­kan dia untuk antar­kan aku? Meng­apa? Meng­apa? Ben­doro lebih per­caya pada­nya mung­kin, pada kera­bat­nya sen­diri. “Surat itu mes­ti­nya Mas Ngan­ten balas.”

“Kau pernah ke kam­pung nela­yan, man?” Gadis Pantai ber­ta­nya pada kusir tanpa meng­a­cuh­kan kata-kata Mar­di­nah. “Sahaya, Ben­doro Putri, tentu saja. Sahaya lahir di pantai.”

“Kau tak suka ke laut rupa­nya.”

“Kalau semua ke laut siapa yang ke darat, Ben­doro Putri? Biar­lah mereka men­da­pat makan dari ikan, sahaya lebih senang dari kuda. Cukup satu saja­lah bina­tang sahaya.” Udara bebas itu meni­up­kan hidup ke dalam dada Gadis Pantai. Buat per­tama kali dalam lebih dua tahun ia ter­tawa puas, ter­tawa ter­buka.

“Apa yang lucu?” Mar­di­nah mene­gur. “Itu bukan layak­nya seo­rang istri pri­yayi.”

Gadis Pantai ter­sum­bat.

Angin darat yang ken­cang menye­bab­kan kusir tak dengar teguran itu. “Sahaya lebih suka darat, Ben­doro Putri, kalau mati keta­huan di mana bang­kai­nya.”

“Bang­kai siapa mak­sudmu, man? Kudamu?”

“Bang­kai sahaya sen­diri tentu, Ben­doro Putri. Sahaya…”

“Sayang benar kau rupa­nya pada bang­kaimu sen­diri,” Gadis Pantai memo­tong kemu­dian ter­tawa lepas lagi Dan lagi Mar­di­nah mene­gur.

“Kau ting­gal di mana, man?”

“Kauman Pantai,” kha­wa­tir men­ja­wab tanpa mene­ngok pada lawan bica­ra­nya sejak awal per­ca­kapan.

“Di tem­patmu apa orang tak boleh ter­tawa?”

“Masya’alla­a­aah, di mana ada di dunia ini orang tak boleh ter­tawa?”

Gadis Pantai kem­bali ter­diam. Aku masih ter­lalu muda, tapi aku lebih tahu dunia, pikir­nya. “Berapa umurmu, man?”

“Empat puluh, Ben­doro Putri.”

“Lebih baik kau terima surat itu dari­pada men­coba-coba seo­rang kusir.”

“Banyak cucumu, man?”

“Bukan banyak lagi, Ben­doro Putri, lebih dua puluh.”

“Jangan terus­kan bicara deng­an­nya. Aku adukan pada Ben­doro.”

“Ada yang kau sayangi, man?”

“Sahaya, sayangi? Semua, Ben­doro Putri.”

“Kau tak pernah rodi di kebun coklat, man?”

“Inilah sahaya, Ben­doro Putri, sisa yang masih ting­gal dari hidup sahaya. Kiai sahaya dulu bilang, setiap orang dika­ru­niai hidup oleh Allah yang Maha Penga­sih, tapi cuma segum­pil saja hidup karu­nia Allah yang benar-benar sahaya miliki, Ben­doro Putri. Inilah diri sahaya yang segum­pil ini. Seba­gian besar habis buat rodi di kebun coklat.”

“Meng­apa tak lari?”

“Lari? Ke mana? Di sana kom­peni. Di sini kom­peni Bapak sahaya sera­tus dua puluh tahun umur­nya baru mening­gal. Tapi sahaya ini, baru empat puluh sudah begini reyot, keha­bisan tenaga, Ben­doro Putri. Bapak sahaya lari-larian saja ker­ja­nya, tak mau kena rodi. Badan­nya besar, kebe­ra­ni­an­nya besar. Asal ada huru-hara pasti ikut. Sahaya tidak berani. Sahaya takut mati. Jadilah begini sahaya. Sama laut takut, ikan besar takut. Berani cuma sama kuda dan cucu-cucu.

Kem­bali Gadis Pantai ter­tawa senang. Ia temu­kan dalam logat kusir bahasa yang selama ini ia rin­du­kan, yang ia sen­diri ingin ucap­kan: kata-kata yang keluar dari hati yang lugu — dari hati yang ter­tin­das.

“Kalau ada nasib, mau kau jadi pem­be­sar?”

“Nasib? Aiya-aiya, kuda­nya kele­lahan, Ben­doro Putri ter­lalu banyak bawa­an­nya. Biar lambat-lambat saja, ya Ben­doro Putri? Kasihan dia. Kalau dia angkut tem­ba­kau, maka diang­kut­nya­lah tem­ba­kau tanpa pernah men­da­pat bagian. Kalau dia angkut limun, sete­guk pun ia tak penah minum. Aiya-aiya, meng­apa tuhan tak­dir­kan dia men­jadi kuda, dan bukan jadi pem­be­sar?”

Gadis Pantai ter­tawa lepas ter­ba­hak.

“Mas Ngan­ten benar-benar sudah keter­la­luan. Apa kata kusir ten­tang Ben­doro nanti? Jadi ter­ta­waan tidak patut.”

“Kalau kuda itu jadi pem­be­sar…”

“Aiya, untung tidak, Ben­doro Putri. Kosong terus kuali sahaya nanti. Nasib jelek si kuda, Ben­doro Putri, mem­buat sahaya seka­dar makan, kawin dan ber­cucu seba­nyak itu, mem­buat sahaya tidak men­jadi kuda. Tapi dia, dia! Aiya.”

“Apa aiya itu?”

“Sedap meng­u­cap­kan­nya, Ben­doro Putri. Lepas­lah segala sesak di dada.”

“Dari mana aiya itu?”

“Aiya, dulu sahaya pernah tum­pangi seo­rang sing­kek. Ngo­mong tak karuan, Ben­doro Putri. Ngo­b­rol banyak. Dari Rem­bang dia menuju Lasem. Dia ber­ce­rita, dahulu dialah yang jadi kuda —di Hong­kong kata­nya — mena­rik kereta sewaan sambil ber­lari. Begi­tu­lah Ben­doro Putri, setiap ngo­mong mesti ke luar aiya-nya yang ah, ah, senang sekali meng­u­cap­kan­nya. Coba ucap­kan Ben­doro Putri.”

“Aiya!”

“Enak?”

“Sedap,” dan Gadis Pantai ter­ba­hak lepas.

“Tidak bisa, Mas Ngan­ten. Ini tak bisa dite­rus­kan. Sahaya akan adukan pada Ben­doro.”

“Kau punya Ben­doro, man?”

“Aiya. Semua orang Ben­doro sahaya, Ben­doro Putri. Cuma itulah susah­nya. Tiap hari sahaya mendoa moga-moga tak ada penya­kit menye­rang kuda sahaya.”

Kem­bali Gadis Pantai ter­tawa ter­ba­hak, kemu­dian ber­ta­nya, “Berdoa buat kuda? lantas doa apa yang buat anak dan cucumu, man?”

“Mereka bisa berdoa sen­diri, Ben­doro Putri. Itulah jelek­nya takdir kuda. Dia doa saja tak mampu. Aiya, barang­kali dia berdoa dengan baha­sa­nya sen­diri … bahasa kuda. Mung­kin di dalam hati saja.”

“Sayang…”

“Ya, sayang Ben­doro Putri.”

“Apa yang sayang.” ,

“Apa? Doanya tidak pernah ter­ka­bul, Ben­doro Putri. Mung­kin ia berdoa agar tidak ditak­dir­kan jadi kuda lagi seperti seka­rang, tapi jadi kusir seperti sahaya ini. Tapi sahaya terus berdoa keras agar sahaya tetap sehat seperti kuda. Kalau takdir beru­bah, aiya, mung­kin sahaya kuda­nya, dia kusir­nya. Cela­ka­lah badan yang sudah tua ini, Ben­doro Putri.”

“Menye­bal­kan,” bisik Mar­di­nah.

“Ya menye­bal­kan, ya man? Nasib dan takdir kuda?”

“Begi­tu­lah.”

Dan dokar ber­ja­lan kian per­la­han, kian per­la­han. Pada sebuah tan­jakan kuda itu benar-benar keha­bisan tenaga dan ber­henti. Kusir ter­paksa lompat turun, meng­am­bil dua buah batu dan meng­gan­jal roda­nya.

“Biar dia meng­aso, man.”

“Terima kasih, Ben­doro Putri.”

“Nanti kema­laman kita pulang,” Mar­di­nah mem­per­i­ng­at­kan.

Dan Gadis Pantai pun turun ber­diri memung­gungi kereta, mene­bar­kan pan­dang ke laut lepas, mene­ro­bosi daerah pesi­sir yang dir­im­buni tung­gul-tung­gul akar bakau.

“Dua tahun lama­nya aku cuma dengar sua­ra­nya dari kamar.”

“Lhah, meng­apa Ben­doro Putri di kamar saja selama dua tahun? Sakit?”

“Sakit?”

“Ten­tu­lah sakit parah ”

“Kalau malam hem­busan angin­nya mela­lui gen­teng kamarku. Tambah malam debur­an­nya tambah menyata. Dia memang­gil-mang­gil sini, sini, sini, nak. Meng­apa kau lari dari pang­ku­anku? Semua nenek moyangmu telah kupangku, kuu­sapi, kube­sar­kan dan ku…”

“… kubur­kan,” kusir itu mene­rus­kan. “Cerita-cerita nela­yan selalu begi­tu­lah, Ben­doro Putri, mem­buat sahaya ngeri turun ke laut.”

Gadis Pantai mem­bung­kuk, menyen­dok segeng­gam pasir dengan tangan­nya dari ping­gir jalan. Kersik kerang nampak gemer­lapan kena cahaya mata­hari. Ia tabur­kan pasir itu per­la­han ke tanah, dan jatuh miring ter­tiup angin.

“Lihat­lah kuda sahaya, Ben­doro Putri.”

Tiba-tiba Gadis Pantai men­jadi murung. Dido­r­ong­nya pasir di bawah kaki­nya dengan sandal. Ia angkat muka meng­ham­piri kuda, mem­per­ha­ti­kan mata­nya yang ter­tu­tup selem­bar kulit yang jadi satu dengan abah-abah.

“Kasihan, buat apa punya mata?”

“Kalau sedang dinas begini, mata­nya cuma jadi hiasan, Ben­doro Putri. Kalau dibuka penu­tup­nya, dia tahu nanti apa yang dita­rik­nya: tem­ba­kau. Mung­kin karena tahu tem­ba­kau dia tak mau kerja.”

“Tapi, kau tak mero­kok kul­i­hat, man?”

“Kuda sahaya juga tidak mero­kok, Ben­doro Putri, tapi sahaya sen­diri menyi­sik.”

“Nanti kuberi persen.”

Kusir itu mene­puk-nepuk pung­gung kuda­nya. Selu­ruh tubuh bina­tang itu sudah ber­man­di­kan keri­ngat.

“Ayoh, Gombak, Gombak, ucap­kan beribu terima kasih.”

“Dia tidak menyi­sik, kau yang menyi­sik, man?”

“Benar, Ben­doro Putri, tapi kalau sahaya dapat menyi­sik, Ben­doro Putri, dia dapat persen minum air gula- jawa” Kuda itu meng­ang­kat kepa­la­nya ke atas. “Dia minta isti­ra­hat lebih lama dikit, Ben­doro Putri. Diper­ke­nan­kan, kan?”

Gadis Pantai tak men­ja­wab. Ia ber­ja­lan men­jauh, mening­gal­kan jalan pos buatan tuan besar Guntur alias Daen­dels, melom­pati semak-semak rendah menuju ke laut.

“Mas Ngan­ten,” Mar­di­nah ber­te­riak kemu­dian melom­pat turun dari dokar dan mem­buru. “Ke mana? Banyak ular di akar-akaran bakau di pantai tanpa peng­huni begini ” Tanpa meman­dang Mar­di­nah Gadis Pantai ber­kata lemah: “Bukan­kah itu yang kau ing­in­kan?”

“Duduk saja di dalam dokar.”

“Mung­kin sekali kalau ada takdir, seekor ular gigit aku, dan kau bisa senang gan­ti­kan aku seba­gai wanita utama.”

“Tidak mung­kin.”

“Meng­apa tidak mung­kin.”

“Mas Ngan­ten tahu sen­diri sahaya cuma seo­rang janda.”

“Tapi kau wanita bukan?”

“Ah, Mas Ngan­ten begitu lama di gedung tak juga meng­erti para pem­be­sar cuma mau terima wanita lang­sung dari tangan Gusti Allah.”

“Kau?”

“Sahaya bekas lelaki lain.”

“Lantas. Meng­apa surat itu kau paksa-paksa padaku?”

“Ayolah, naik ke atas Mas Ngan­ten.”

“Naik­lah. Aku lebih suka bicara dengan kusir.”

“Ben­doro akan marah.”

“Lebih baik buat kau kan?”

“Tidak enak buat sahaya naik ke atas, sedang Mas Ngan­ten masih di bawah.”

“Kau sering mem­buat surat buat orang lain?”

“Lantas, siapa yang mesti sahaya surati? Tetapi sahaya bisa menu­lis.”

“Apakah semua ketu­runan pem­be­sar begitu?”

“Begitu, bagai­mana Mas Ngan­ten?”

”Ya, begitu seperti iblis.”

“Sahaya akan adukan ”

“Per­gi­lah. Adukan seka­rang juga. Suruh kusir itu balik ke kota dengan selu­ruh muatan. Aku bisa jalan kaki.”

Gadis Pantai ber­ja­lan balik menuju ke dokar, dan Mar­di­nah meng­i­kuti.

“Habis lelah­nya si Gombak, man?”

“Sila­kan naik, Mas Ngan­ten. Dia memang cerdik cepat benar segar­nya kalau tuan­nya bakal kena tem­ba­kau.”

“Ten­tang tem­ba­kau itu, man, aku tak lupa. Tapi kudamu sama sekali tak mem­bu­tuh­kan­nya.”

“Memang tidak, tapi kusir­nya mem­bu­tuh­kan­nya, Ben­doro Putri,” dan dengan suara senang ia ber­seru, “Sila­kan naik, Ben­doro Putri. Angin sudah tak begitu ken­cang.”

Semua telah duduk di atas dan dokar ber­ja­lan lagi.

“Betapa besar dan luas laut itu. Tanpa batas.”

“Sahaya Ben­doro Putri,” kemu­dian kepada kuda­nya, “Aiya, yoh, lebih cepat, Gombak! Hati-hati kalau sampai kema­laman di jalan.”

“Pasti kema­laman,” Mar­di­nah mem­pro­tes.

“Bukan seka­rang saja ada malam, bukan, man?”

“Seumur-umur sahaya, Ben­doro Putri, sahaya tahu saban hari ada malam, tidak seka­rang saja. Aiya. Ayoh Gombak maju!” dan dengan ujung cam­buk­nya diki­lik-kilik kuda­nya.

“Kau tak pernah cambuk dia.”

“Hanya orang dan bina­tang bodoh saja kena cambuk, Ben­doro Putri.”

“Kalau orang atau bina­tang jahil.”

“Patut­nya dis­rim­pung saja kaki­nya.”

“Bina­tang­nya atau orang­nya? Kalau dia pri­yayi?”

“Itulah susah­nya, Ben­doro Putri. Itulah susah­nya ditak­dir­kan jadi kuda dan jadi orang seperti sahaya. Dan hanya orang-orang seperti sahaya keba­gian cambuk seperti si Gombak. Tetapi kalau terus mene­rus dicam­buk tentu siapa saja tidak bisa terima. Macan sakit saja, biar sudah lemas kalau diusik-usik terus, tentu akan mela­wan, Aiya,” cam­buk­nya dige­le­tar­kan di udara. Begitu mem­be­lah sua­ra­nya dalam kese­nyapan pantai utara.

Sudah dua jam dokar kretek itu ber­ja­lan, belum juga mereka ber­pa­pasan dengan dokar lain­nya. Grobak pun tak ada mereka papasi. Besok bukan hari pasaran. “Kalau kema­laman kau berani pulang ke kota, man?”

“Ini bukan per­ja­lanan per­tama, juga bukan ter­a­khir, Ben­doro Putri. Lebih dari lima puluh kali sahaya pulang dari per­ja­lanan jauh. Kadang-kadang sampai di tempat ini laut sudah di ping­giran darat itu, jadi sudah jam tiga pagi.”

“Tidak takut?”

“Siapa tidak takut?”

“Takut, tapi berani juga ya.”

“Bagai­mana takkan berani, Ben­doro Putri. Malu sahaya pada kuda sahaya nanti. Setan dia tak takut. Rampok dia tak takut. Itulah untung­nya kalau mata ditu­tup.”

Kem­bali Gadis Pantai ter­tawa. Sebe­lum habis ter­ta­wanya sele­sai, disa­dar­i­nya ter­ta­wanya tidak seperti dulu. Dahulu ter­de­ngar seperti loyang kuningan ter­sen­tuh batu. Ia per­pan­jang tawanya. Seperti apa suara tawaku? Ia ber­ge­leng-geleng, tak men­da­pat­kan per­ban­dingan.

Gadis Pantai ter­diam. Waktu ia meli­rik dili­hat­nya Mar­di­nah ter­ti­dur senang ber­san­daran keran­jang tem­ba­kau. Ia awasi wajah wanita muda itu. Bodoh­lah pria bila tak per­ha­ti­kan dia. Muka­nya bulat, dan mulut­nya begitu kecil, seakan sebuah bawang merah menem­pel pada sebuah cobek. Sepa­sang alis­nya hitam tebal, hampir-hampir ber­sam­bung, sedang dagu­nya yang begitu tumpul seakan meru­pa­kan bagian dari dasar muka­nya yang bulat. Wajah yang sein­dah itu. Tapi apa saja yang diker­ja­kan hati­nya?

Kini ia merasa mengan­tuk. Seka­li­nya dia­was­i­nya wajah bulat di sam­ping­nya. Berapa pria yang telah dinik­mat­i­nya? Ah, meng­apa aku punya piki­ran seko­tor itu?

Ia deng­ar­kan deburan ombak sepan­jang pantai yang sema­kin men­de­kati darat. Mata­hari makin con­dong ke barat, dan ombak tampak sema­kin besar. Apakah yang diker­ja­kan bapak seka­rang? Dan emak?

Angin bebas meni­na­bo­bo­kan­nya. Seperti emak meni­na­bo­bo­kan si adik. Ia senang nikmat dalam buai­an­nya. Ia ter­ti­dur pada keran­jang tem­ba­kau juga. Dan kedua wanita itu baru ter­ba­ngun waktu dokar ber­henti. Kusir ber­ta­nya, “Benar, ber­henti di sini, Ben­doro Putri?”

Gadis Pantai mene­bar pan­dang ke luar jen­dela dokar, ia masih hafal tempat itu. Tiga batang pohon jati rak­sasa ber­diri bebe­rapa meter di ping­gir jalan, sedang pantai tidak nampak sama sekali, bahkan deru ombak­nya pun tak ter­de­ngar, karena laut berada tidak kurang dari 5 kilo­me­ter dari tempat itu. Semua orang di kam­pung nela­yan tahu benar ten­tang tiga pohon jati itu. Seperti orang-orang sekam­pung­nya, Gadis Pantai sete­lah turun dari dokar, lang­sung menuju ke tiga pohon jati itu, menga­gumi batang­nya yang per­kasa dan lurus men­ju­lang ke atas, paling tinggi di antara semua pohon. Ia pegang-pegang batang pohon itu, ia goyang­kan tapi sedi­kit pun tak ter­go­yang­kan, pindah pada batang yang lain dan juga pada yang ke tiga.

“Pening­galan nenek moyang yang ter­sisa,” kata kusir.

“Jadi kau tahu riwa­yat tiga batang jati ini?”

Kusir ter­tawa senang men­da­pat kehor­matan itu. “Sahaya sudah lebih dari sepu­luh kali kemari, Ben­doro Putri.”

Mar­di­nah meng­a­wasi kedua-duanya, dari atas dokar.

“Waktu tuan Guntur perin­tah­kan selu­ruh pen­du­duk kam­pung sini, laki dan perem­puan, mem­buat jalanan ini, mereka tiga harmal tak boleh pulang. Bayi-bayi pada mati kela­paran di rumah.”

“Aku kira cuma di kam­pung nela­yan sana saja orang tahu riwa­yat­nya.”

“Banyak orang yang tahu, Ben­doro Putri, sampai-sampai ada tem­bang­nya.”

“Mas Ngan­ten, hari sudah hampir magrib,” Mar­di­nah memo­tong.

“Man, dokar bisa mem­be­lok ke kanan?”

“Jalan­nya tidak keras, Ben­doro Putri, roda agak teng­ge­lam dalam pasir, kasihan kuda­nya, tapi kita coba pelan-pelan saja.”

“Tiga pal lagi.”

“Benar, sesu­dah itu dokar tak bisa terus. Ada yang men­jem­put di sana nanti?”

“Tidak.”

“Tidak?”

Gadis Pantai naik ke atas dokar kem­bali dii­kuti oleh kusir. Dokar mem­be­lok ke kanan. Roda dokar teng­ge­lam bebe­rapa sen­ti­me­ter di dalam pasir dan dengan susah payah kuda mena­rik beban­nya. Kusir pun mulai menem­bang:

duh-duh aduh bayi bocah jadi korban emak pikul tanah bapak babat hutan orang-orang kam­pung dila­rang pulang kejam­nya rodi tiada alang kepa­lang waktu jalan besar sampai ke rem­bang orang-orang kam­pung baru­lah pulang oh nasib bayi bocah sung­guh­lah malang ber­se­rak sudah jadi tulang belu­lang selu­ruh kam­pung dir­un­dung duka di tengah malam pakai obor pelita tiga jati kenangan dita­nam ber­sama rodi celaka jangan sampai ter­lupa “Orang kam­pung pun tak semua pulang.”

“Memang tidak semua, Ben­doro Putri, lebih sepa­ruh­nya ter­ku­bur sepan­jang jalan. Berun­tung bapak sahaya ker­ja­nya lari-larian dan ber­huru-hara.”

Gadis Pantai ingat pada pela­yan tua. Bukan­lah kakek­nya juga selalu ikut setiap terbit huru-hara? Tapi tak ada kei­ng­in­an­nya untuk ber­ta­nya. Ia terus mem­ba­yang­kan siapa saja yang bisa dipinta per­to­long­an­nya buat angkut barang-barang bawa­an­nya. Dan emak, bapak, sau­dara-sau­dara bagai­mana mereka akan sambut dia?

“Ayoh, Gombak dua pal lagi. Kau boleh tidur nanti di bawah pete­cina!”

Dan waktu dokar ber­henti di depan sebuah dangau, di tempat jalanan pasir beru­bah jalan seta­pak, hari sudah tambah magrib.

“Kalau bukan perin­tah Ben­doro enggan sahaya pergi ke sini.”

“Aku tak per­lu­kan kau, balik saja seka­rang.”

Mar­di­nah ter­diam.

Men­de­ngar per­teng­karan kusir ter­ke­jut, meng­a­wasi kedua wanita itu ber­ganti-ganti. Kece­ri­a­an­nya tiba-tiba hilang. Mati­lah pelan­duk bila dua ekor gajah sedang ber­ta­rung. Ia menying­kir­kan diri dan menu­tup kuping, duduk di bangku kayu dangau dan mema­suk­kan sejum­put tem­ba­kau ke dalam mulut - nya, dan mema­in­kan­nya di antara gusi depan dengan din­ding bibir dalam.

“Man!” Gadis Pantai memang­gil.

Kusir melom­pat dan segera meng­ha­dap. Sebe­lum sampai dekat Gadis Pantai, ia dengar suara wanita lain men­de­sis, “Dasar perem­puan kam­pungan!”

“Inilah kam­pung. Kam­pungku. Jangan injak­kan kakimu yang indah di atas pasir ini, nyonya janda, kalau tidak mau kena kutuk­anku.”

Meli­hat kusir men­de­kat Mar­di­nah ter­diam.

“Bawa dia balik ke kota, man!”

“Perin­tah Ben­doro antar­kan Mas Ngan­ten Sahaya tak mung­kin pulang seo­rang diri.”

“Kam­pung nela­yan bukan tem­patmu. Pulang kau sen­diri.”

“Memang tidak mung­kin, Ben­doro Putri. Mari kita beres­kan dulu bawaan ini.”

“Ayolah, kau bisa angkut yang mana, man?”

“Beras jelas sahaya tidak bakal kuat, Ben­doro Putri.”

“Apa kau kira aku kuat.”

“Gombak tentu kuat, tapi ia bukan kuda beban, cuma kuda tarik.”

“Tepat, Ben­doro Putri.”

“Can­cang kudamu. Pergi kau ke kam­pung pang­gil empat orang.”

“Gombak bisa bawa sahaya lebih cepat, Ben­doro Putri.” Dan seben­tar kusir mele­pas aba-aba kuda, melom­pat ke atas­nya. Kuda dan kusir kemu­dian ber­ja­lan mema­suki jalan seta­pak dan lenyap di balik rumpun pepo­honan pete­cina, king­kit dan semak-semak.

Gadis Pantai men­ja­uh­kan diri dari dokar dan menuju ke dangau, ia duduk di atas bangku kayu. Mar­di­nah meli­hat seke­li­ling­nya. Kemu­dian Mar­di­nah pun menyu­sul.

“Buat apa kau dekat aku?”

“Takut.”

“Kau! Cuma aku tak kau takuti.”

“Sahaya benci pada kam­pung. Kam­pung mana saja.”

“Pergi, cepat!”

“Bagai­mana sahaya mesti pergi?”

“Kau bukan orang kam­pung, tentu kau punya kele­bihan.”

“Tentu. Sahaya punya kele­bihan, sahaya bukan orang kam­pung. Bapak sahaya juru tulis dan masih kera­bat Ben­doro.”

“Pergi pada Ben­do­r­omu. Roh-roh nenek moyang kami bakal cekik kau kalau berani mema­suk­i­nya. Kau telah hina­kan kam­pungku, kam­pung kami kam­pung nela­yan dengan nela­yan-nela­yan yang gagah berani, yang saban hari pergi ke laut hadapi maut.” Ia menun­juk ke langit.

“Gelap. Petir kam­pung kami selalu menyam­bar orang-orang kota yang tak tahu diun­tung.” Ditun­juk­nya Mar­di­nah pada dada­nya. “Kau bakal celaka di kam­pungku. Pulang. Ayoh, balik ke kota sebe­lum langit men­jadi hitam.” Dan men­da­dak sepa­sang kilat meng­in­tip dari balik awan gelap.

“Ampuni sahaya, Mas Ngan­ten.”

“Pasangan mata­nya putih, kalau ia melom­pat api menyem­bur. Kemu­dian dike­lu­ar­kan­nya dua belas tangan­nya dari balik awan hitam, dan dibe­lah­nya orang yang mem­benci kam­pung nela­yan dengan pisau kecil­nya, kecil dan tumpul. Seminggu dia butuh­kan buat mem­be­lah musuh­nya.”

Nampak Mar­di­nah begitu kecil seperti kucing keha­bisan mangsa. “Ampuni sahaya, ampuni. Sahaya cuma dapat titah antar­kan Mas Ngan­ten.”

“Benar kau dari Demak?”

“Sahaya, Mas Ngan­ten.”

“Tidak apa dari Demak sana?”

Suara Mar­di­nah meng­gi­gil dan ragu-ragu tapi pak­sa­kan diri bicara terus, “Pan­jang ceri­ta­nya Mas Ngan­ten. Tapi sahaya cuma dapat perin­tah.”

“Perin­tah, buat usir aku?”

“Per­sau­da­raan sekan­dung dan sepupu di Demak sangat malu, Mas Ngan­ten, karena sampai seka­rang Ben­doro masih per­jaka.”

“Per­jaka?” Jadi aku ini apanya?”

“Apa mesti sahaya kata­kan? Ben­doro masih per­jaka sebe­lum ber­is­tri­kan wanita ber­bangsa.”

“Kau ber­bangsa, apa kau ingin dipe­ris­tri Ben­doro.”

“Sahaya, Mas Ngan­ten.”

“Biar­pun Ben­doro pamanmu sen­diri?”

“Sahaya, Mas Ngan­ten, tapi saya cuma seo­rang janda.” Kem­bali Gadis Pantai ber­ta­nya, “Jadi aku bukan istri Ben­doro?”

“Istri, ya, istri, Mas Ngan­ten, cuma nama­nya istri per­co­baan.”

“Lantas kau dapat perin­tah meng­u­sir aku: Biar Ben­doro dapat kawin dengan wanita ber­bangsa, bukan? Ah, ah. Aku bisa mene­tap di kam­pung ini, kam­pungku sen­diri. Kau boleh pulang. Jangan ikut masuk ke kam­pung.”

“Sahaya takut, Mas Ngan­ten.”

“Takut? Di mana kele­bihan orang kota, orang ber­bangsa? Orang kam­pungan seperti aku ini tidak takut.”

“Jangan biar­kan sahaya seo­rang diri, Mas Ngan­ten.”

“Lebih dua tahun aku ting­gal di kota, sampai akhir­nya kau datang. Dan baru seka­rang ini aku tahu, orang-orang kota, orang-orang ber­bangsa itu, begitu takut­nya kalau orang tidak lagi meng­hor­mat­i­nya. Dan mereka begitu takut­nya kalau ter­paksa meng­hor­mati orang-orang kam­pung.”

Hari telah mulai gelap. Dalam kege­lapan Gadis Pantai meli­hat Mar­di­nah hanya menun­duk di atas bangku di sam­ping­nya, kepa­la­nya ditum­pang­kan­nya di atas kedua belah tangan­nya.

Kedua wanita itu masih muda belia, namun ber­peng­a­laman sudah dalam banyak hal, seperti umum­nya wanita-wanita di rumah-rumah gedung. Kedu­a­nya jadi dewasa dalam gem­b­lengan kesu­l­itan-kesu­l­itan.

“Dan Mas Ngan­ten sen­diri? Mau kem­bali ke kam­pung apa tak takut kehi­langan sesu­atu?”

“Sega­la­nya telah lenyap dari tangan orang seperti aku, semua orang kam­pungan. Kami cuma dapat meng­impi. Apa lagi yang dapat hilang dari kami? Impian itu?”

“Apa yang Mas Ngan­ten impi­kan?”

“Segala-gala­nya yang tak pernah ada dalam kehi­dupan kami.”

“Lantas, apa saja yang ada dalam kehi­dupan Mas Ngan­ten?”

“Sete­lah lebih dari dua tahun ting­gal di gedung, tahu­lah aku, kami cuma punya kemis­kinan, kehi­naan dan keta­kutan ter­u­tama pada orang kota. Di kam­pung kami tahu benar tepung udang diba­yar sebeng­gol, pada­hal mes­ti­nya empat sen. Itu tidak layak, tidak adil Tapi lihat­lah diriku ini. Bukan lagi tepung udang. Manu­sia! Aku tak bisa dipu­ngut begitu saja dari kam­pung, disim­pan di dalam gedung. Kau, kau orang kota, apa yang kau tahu ten­tang orang kam­pung?”

Mar­di­nah tak men­ja­wab.

“Aku kenal seo­rang wanita tua. Dulu dia layani aku di gedung sejak aku ting­gal di sana. Tapi dia diusir karena tuduh agus-agus colong duitku.”

“Dia harus diusir.”

“Meng­apa?”

“Dia harus ber­bakti, bukan menu­duh.”

“Tapi ada yang colong duit di antara agus-agus itu.”

“Dia seo­rang abdi tak tahu lagi cara-cara meng­a­bdi.”

“Peng­a­b­dian yang mem­bo­san­kan! Tanpa meng­a­bdi nenek moyangku juga hidup. Laut lebih kaya dari segala-gala­nya.” Kemu­dian, “Balik­lah kau ke kota aku mau ting­gal di kam­pungku sen­diri.”

“Apa sahaya harus kata­kan pada Ben­doro?”

“Min­ta­lah ampun, dan serah­kan dirimu, biar Ben­doro masih pamanmu sen­diri, orang tuamu sen­diri, kau sen­diri saja jadi bini per­co­ba­an­nya. Mau bukan?”

Dan kusir itu tak juga muncul.

“Meng­apa kau diam saja?”

“Sahaya kacau, Mas Ngan­ten.”

“Karena kam­pung ini yang mau kau hina­kan? Coba pikir, lebih dua tahun aku mesti ting­gal­kan kam­pungku, hidup di gedung, di ling­kungan orang-orang yang tak kuke­nal, kau baru bebe­rapa saat di sini, sudah kela­bakan seperti nenek kehi­langan Susur.”

“Sahaya bisa jadi gila di sini.”

“Aku ingin ting­gal agak lama di kam­pungku sen­diri.”

“Tidak mung­kin, Mas Ngan­ten, sahaya tak sang­gup ting­gal begitu lama.”

“Kau boleh pulang seka­rang pun, aku tak ada kebe­ratan.”

“Berapa lama Mas Ngan­ten akan ting­gal di sini?”

“Seminggu, barang­kali sebu­lan.”

“Ben­doro tak pernah bilang begitu.”

“Kalau kau orang yang meng­erti, seka­rang ini kau mesti tahu akulah Ben­doro.”

“Tidak mung­kin! Tidak mung­kin! Sahaya masih punya gelar Mas Ngan­ten, biar pun cuma, Mas.”

Mereka ter­diam seje­nak. Angin ken­cang tiba-tiba mene­ro­bosi tajuk-tajuk pepo­honan dan semak-semak.

“Dingin, Mas Ngan­ten.”

“Kau tak pernah ingat pada nela­yan. Telan­jang dada mereka pergi ke laut.”

“Meng­apa harus telan­jang dada?”

“Pakai­an­nya tak cukup.”

“Oh.”

“Apa yang oh? kau ini aku ter­tawa tak boleh, begini salah, begitu salah, apa yang oh? Kami memang orang miskin, dan di mata orang kota kemis­kinan pun kesal­ahan. Aku masih ingat pada hari-hari per­tama. Ben­doro bilang kami orang-orang jorok, tak tahu iman, itu miskin, kau meng­erti agama?”

“Sahaya tak pernah bel­a­jar ngaji, Mas Ngan­ten.”

“Aku pun, tidak.”

Tanpa mereka sadari kusir telah datang, dan turun dari kuda­nya. “Empat orang, Ben­doro Putri, semua bawa piku­lan.”

“Urus­lah semua peng­ang­kut­an­nya. Kau mau balik ke kota?”

“Belum, Ben­doro Putri. Si Gombak masih lelah, belum lagi meng­aso. Kota begitu jauh dan…”

“Tem­ba­kau itu? Ambil satu bung­kus dari keran­jang itu.”

“Beribu terima kasih Ben­doro Putri. Cukup­lah buat lima belas hari si Gombak minum air gula-jawa.”

Kusir itu meme­rin­tah­kan meng­ang­kuti barang-barang, kemu­dian kem­bali datang pada Gadis Pantai “Cukup orang­nya, man?”

“Tentu tidak, Ben­doro Putri. Cuma mereka, rupa­nya yang nanti malam tak turun ke laut. Apa boleh buat. Biar­lah sahaya ikut saja mem­bantu.”

“Wah-wah, banyak benar barang­nya,” salah seo­rang peno­long ber­kata. “Ini barang-barang siapa, Ben­doro Putri?” seo­rang lain ber­ta­nya.

“Ya, aku yang punya.”

“Mau dibawa ke mana?”

“Ke kam­pung nela­yan.”

Tiba-tiba mereka tak bicara lagi, mulai meng­ang­kuti barang-barang dari dokar dan menyu­sun­nya untuk dipi­kul. “Tem­ba­ka­umu sudah kau ambil, man? Jangan lupa.”

Mereka mulai ber­ja­lan ber­i­ringan mema­suki kege­lapan malam.

“Sahaya takut,” Mar­di­nah ber­bi­sik.

“Lebih baik kau bawa botol-botol itu Aku sen­diri kebe­ratan dengan bawa­anku.”

“Ah, Mas Ngan­ten…”

“Ya, ya, aku tahu, kerja memang hina, tapi apa salah­nya meno­long aku?” Dan dengan ragu-ragu Mar­di­nah menjin-jing empat botol yang telah diikat dua-dua.

Mereka ber­ja­lan. Cabang dan ran­ting semak antara seben­tar menyang­kut pada baju, dan pasir di bawah kaki begitu empuk­nya seperti lumpur hangat. Para pemi­kul telah jauh men­da­hu­lui. Ter­ting­gal dua wanita dan kusir di bela­kang. “Cepat benar, Mas Ngan­ten, tak bisa lebih per­la­han?”

“Lebih baik kau berdoa semoga tak turun hujan.” Mereka ber­ja­lan terus dan malam kian meng­ham­piri.

“Masih jauh, Mas Ngan­ten?”

“Kau mau ting­gal sen­di­r­ian di sini?” Dan mereka ber­ja­lan terus.

“Mas Ngan­ten sen­diri mes­ti­nya juga capek ”

“Siapa yang tidak capek, tapi ada yang kita tuju, dan kita belum lagi sampai.”

“Bagai­mana sahaya pulang, nanti?” kusir ber­ta­nya.

“Man, malam ini juga kau pulang.”

“Sahaya Ben­doro Putri.”

“Bawa pulang Ben­doro ini, ya?”

“Tidak Mas Ngan­ten, sahaya dipe­rin­tah­kan meng­an­tar­kan, dan sahaya akan terus antar­kan.”

“Kau dengar, Mar­di­nah? Di sini, di tempat Ben­doro sua­miku tak ada, akulah Ben­do­r­omu. Aku yang perin­tah­kan kau balik ke kota, kalau kau tak suka, ya apa boleh buat, kau mesti meng­i­nap. Suka atau tidak tang­gung­lah sen­diri.”

“Kalau meng­i­nap, maaf­kan sahaya, Mas Ngan­ten, ah … ah…”

“Tentu kami akan per­ha­ti­kan segala keper­lu­anmu.”

Dan mereka ber­ja­lan terus. Bebe­rapa buah lampu nampak ber­ke­lap-kelip dari keja­uhan. Tiba-tiba angin ken­cang datang meniup. Mar­di­nah meng­ham­piri Gadis Pantai dan men­coba ber­pe­gangan pada­nya.

“Mas Ngan­ten, sahaya…” Gadis Pantai ber­ja­lan terus.

“Itulah rumah orang-orang yang meno­long angkut barang Ben­doro Putri.”

Gadis Pantai masih dapat meng­i­ngat-ingat rumah itu — rumah-rumah peng­ha­bisan kam­pung nela­yan. Kedua-duanya tak pernah punya perahu sen­diri seumur hidup­nya, dan ter­paksa mem­bantu nela­yan-nela­yan lain dengan tena­ga­nya. Ia pun ingat nama­nya. Suli dan Kardi, tapi ia tak pernah bicara dengan mereka. Anak mereka banyak dan kecil-kecil dan kerja anak-anak itu sehari-harian men­cari kayu bakar untuk emak­nya masing-masing dan ber­main-main di pantai.

Waktu sampai di depan rumah mereka, Suli dan Kardi ber­henti menunggu. “Seka­rang ke mana Ben­doro Putri?” kusir ber­ta­nya.

Suli dan Kardi sengaja hendak mena­tap wajah kedua wanita itu. Dan kala Gadis Pantai muncul kena cahaya lampu pelita, mereka ber­pan­dang-pan­dangan kemu­dian meng­a­wasi Gadis Pantai lama-lama tapi tak bicara sesu­atu pun kecu­ali dengan mata mereka.

“Kalian kenal aku pak? Pak Suli? Pak Kardi?”

“Rasa-rasa­nya Ben­doro.”

“Ben­doro? Meng­apa aku dipang­gil Ben­doro, aku orang sini.”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Ben­doro?”

“Ayoh. Suli cepat.” Kardi meng­an­jur­kan.

Semen­tara itu istri-istri dan anak-anak mereka keluar dan meru­bung. Salah seo­rang di antara mereka menu­ding Gadis Pantai dan hendak mene­gur, tapi emak­nya mena­rik jauh-jauh dan menyu­r­uh­nya masuk ke dalam rumah kem­bali. Ting­gal sua­ra­nya ter­de­ngar oleh semua, “Itu kan Gadis Pantai?”

“Husy, diam kau. Jangan sekali lagi.”

“Meng­apa tak boleh?”

“Biar­lah, mak, biar dia ke luar,” Gadis Pantai mem­be­ra­ni­kan.

“Anak-anak ini memang susah diajar, Ben­doro.”

“Tidak, aku bukan Ben­doro. Mak sen­diri kenal aku waktu kecil, kan?”

Wanita itu keluar lagi dengan anak kecil­nya yang dite­kap mulut­nya. “Yang dahulu ting­gal dahulu, Ben­doro yang seka­rang kan lain lagi?”

“Ah, bisa saja omong­nya ini mak.”

“Yang itu jangan diang­kat sen­diri, Ben­doro. Biar anak-anak yang bawa.”

“Ayolah, kalau mereka mau.” Dan anak-anak itu bere­but keras mau ikut meno­long.

“Ayoh, mari ikut semua. Ayoh, mak sama-sama ikut.”

“Biar­lah sahaya tunggu di rumah. Anak-anak saja yang iring­kan Ben­doro.”

Sampai yang masih mene­tek pun mau ikut. Suli dan Kardi telah men­da­hu­lui. Dan rom­bongan bela­kang itu, ber­ja­lan sen­diri seperti meng­iring­kan pengan­tin.

“Dulu tak dipang­gil Ben­doro,” seo­rang anak ber­bi­sik nyata. “Cantik, ya seka­rang?”

“Ah-ah, anak-anak ini,” kusir mem­per­i­ng­at­kan.

“Ayoh, nyanyi!” Gadis Pantai mem­be­ra­ni­kan “Apa? Menya­nyi, Mas Ngan­ten?”

“Nyanyi apa? Angin meniup?”

“Angin meniup, ya, ayoh!”

Suara bening kanak-kanak itu pun menem­busi kege­lapan dan kesu­nyian pantai:

menu­kik-nukik menu­kik-nukik menu­kik kau angin beli­ung masuk­lah masuk masuk­lah masuk masuk­lah kau ke kawah gunung per­gi­lah pergi per­gi­lah pergi per­gi­lah kau ke dalam hutan di sana­lah sana di sana­lah sana ber­ganda mangsa ber­ke­li­aran Gadis Pantai meni­tik­kan air mata. Ter­ba­yang oleh­nya bapak sedang mene­bar­kan jala di dalam gelap. Angin beli­ung telah men­deru-deru dari keja­uhan. Langit gelap gulita, dan jala ter­sang­kut pada cabang karang. Ah, berapa kali saja bapak pulang bawa cerita sema­cam itu? Dan bapak ber­sama sau­dara-sau­da­ra­nya melom­pat ke dalam air dingin, menye­lam, mele­pas­kan jala.

“Nyanyi yang lain,” kusir meng­a­ca­rai.

Gadis Pantai tak dengar, ia bayang­kan bapak. Karena dialah aku seka­rang sela­mat ada di sini. Ah, bapak, dan ia bayang­kan emak. Apa yang sedang diker­ja­kan seka­rang?

Suli dan Kardi telah jauh di depan. Tiba-tiba dari keja­uhan nampak ber­ba­gai obor ber­ge­rak menyam­but, sedang lelatu daun kelapa kering ber­te­baran ter­tiup angin.

“Siapa mereka itu Mas Ngan­ten?”

“Orang tuaku, tetang­gaku, kenal­anku.”

Anak-anak kecil itu tiba-tiba men­da­hu­lui menyerbu lari sambil ber­te­riak-teriak, “Gadis Pantai datang, Gadis Pantai datang.”

Obor dan lampu pun kian banyak dalam kege­lapan, kemu­dian muncul juga wajah-wajah meng­ki­lat keri­ng­atan. “Gadis Pantai! Gadis Pantai.”

“Husy, diam! Jangan kurang ajar anak-anak!” seo­rang dari rom­bongan pen­jem­put meng­ger­tak.

Gadis Pantai ter­ba­ngun dari sen­du­nya. Ia rasai sesu­atu meng­ge­ru­muti bulu teng­kuk­nya. Dahulu tak pernah orang menyam­but­nya seperti seka­rang. Ia merasa begitu asing. Dari keja­uhan ia lihat bapak ber­ja­lan paling depan mem­bawa obor daun kelapa kering. Ia ber­te­lan­jang dada. Dan otot-otot­nya yang per­kasa ber­ki­lat-kilat setiap ber­ge­rak kena cahaya obor. Gadis Pantai lari, lari, lari. Pasir di bawah kaki­nya ber­ham­buran. Gadis Pantai hanya meli­hat satu sosok tubuh saja di antara sekian banyak.

“Bapak! Bapak!” dan ia pun menub­ruk kaki bapak, meme­luk­nya dengan kedua belah tangan­nya.

Bapak meng­u­sap-usap ram­but­nya. “Sela­mat kau, nak?”

Selu­ruh obor turun ke bawah dan menge­pung kedua bapak dan anak. “Pang­estu, bapak.”

Tiada seo­rang pun bicara, ber­diri pesona lak­sana sege­rom­bolan patung.

“Ber­diri, nak.”

Gadis Pantai ber­diri meng­a­wasi seke­li­ling­nya, mena­tap setiap wajah yang meling­kung­i­nya. Dan setiap orang yang dipan­dang­nya segera nunduk geli­sah. Gadis Pantai jadi kecut. Mereka tak begitu dulu. Benar, tidak begitu dulu, ia yakin­kan dir­i­nya sen­diri. Ia merasa asing dan ter­pen­cil lak­sana seekor kera dalam kerang­keng. Ia ber­diri dengan ban­tuan tangan per­kasa bapak.

“Mari pulang, emak menunggu di rumah.”

Ia pan­dangi bapak dan dengan mata ragu-ragu bapak meng­hin­dar­kan pan­dang­nya.

Bapak? Meng­apa bapak pun segan mena­tap aku? Anak­nya sen­diri. Dan bumi di bawah kaki­nya terasa goyah. Kam­pung nela­yan ini telah kehi­langan per­lin­dungan yang meya­kin­kan bagi­nya. Sedang dari bela­kang terus juga meng­i­kuti mata-mata Ben­doro yang tak dapat dike­bas­kan dari bayang-bayang­nya. Ia masih kenal benar siapa-siapa yang men­jem­put­nya — tetangga-tetang­ga­nya. Ada yang dahulu pernah men­je­wer­nya. Ada yang pernah men­do­ng­e­ng­i­nya. Ada yang pernah meng­ang­kat dan meng­gen­dong­nya sewaktu ia habis jatuh dari pohon jambu. Ada yang sering diban­tu­nya menunggu dapur. Dan ada bocah-bocah kecil yang digen­dong­nya dulu. Tapi semua tidak­lah wajar lagi ter­ha­dap­nya, tidak seperti dulu. Antara seben­tar ia dengar kata Ben­doro Putri! Ben­doro! Ben­doro! Ben­doro Putri! Kata itu men­de­ngung mem­buru. Meng­iris dan mere­mas di dalam otak­nya Ben­doro! Ben­doro Putri! Ben­doro! Ben­doro Putri! Dan pasang-pasang mata yang menun­duk hormat bila ter­ta­tap oleh­nya seakan menyin­dir­nya: semu, semu, semua semu!

Dalam iringan bapak ia ber­ja­lan lambat ragu-ragu. Benar, kam­pung nela­yan ini bukan kam­pung­nya yang dulu lagi. Bahkan kege­lapan malam yang ditem­busi cahaya obor-obor daun kelapa kering rasa-rasa­nya juga bukan kege­lapan malam kam­pung nela­yan yang dulu. Sedang riak yang men­ji­lati pantai, dan gemer­lapan lemah kena cahaya obor, rasa-rasa­nya bukan lagi riak sejak sejuta tahun yang lalu. Suara-suara yang ter­de­ngar seka­li­pun, dalam bisikan lemah pun, ter­de­ngar oleh­nya begitu suram, begitu tak rela dan menyin­dir.

Mar­di­nah tiada buka mulut sama sekali. Kusir pun segan mem­buka bibir. Bocah-bocah kecil ber­lon­ca­tan menge­li­lingi sambil meman­dang­nya, seakan dia ikan duyung yang baru saja ter­tang­kap.

Di depan dan di bela­kang­nya bocah-bocah kecil tak habis-habis­nya meng­a­wasi setiap gerak-gerik, dan setiap benda yang lekat pada tubuh­nya. Seo­rang bocah bahkan mena­han tangan kir­i­nya dan meng­a­wasi cin­cin­nya, bebe­rapa orang bocah ber­lari men­da­hu­lui masuk ke dalam rumah. Ia menge­rah­kan selu­ruh per­ha­ti­an­nya, untuk men­da­pat­kan emak menyam­but­nya di depan pintu. Tapi wanita itu tidak nampak. Hati­nya jadi kecut.

Semua orang dewasa meng­iring­kan­nya di bela­kang­nya. Cuma bapak ber­ja­lan di sam­ping­nya pun agak di bela­kang­nya.

“Meng­apa di bela­kang, bapak?”

Bapak ter­ba­tuk-batuk.

“Mana emak, bapak?”

“Di mana tempat perem­puan kam­pung kalau tak di dapur?”

“Ah, Emak,” dan Gadis Pantai lari. San­dal­nya yang sebe­lah melom­pat entah di mana ia menyerbu ke dalam rumah. “Emak, mak! Emak, mak.”

Tapi tak ter­de­ngar suara men­ja­wab. Cuma api di dapur men­ji­lat-jilat belanga besar yang selama ini tak diper­gu­na­kan, ter­ke­cu­ali bila kam­pung meng­a­da­kan pesta. Ia ber­diri di depan api. Ia men­coba men­de­ng­ar­kan. Ya, ada sesu­atu ter­de­ngar oleh­nya: angin dari laut. Ya, ada sesu­atu lagi: suara lirih ter­ta­han-tahan.

“Mak!” ia men­je­rit waktu dili­hat­nya emak ber­lu­tut di pojo­kan rumah. “Ah, emak, emak.”

Tapi emak Cuma men­ja­wab dengan sedu-sedan­nya Gadis Pantai menyam­but dengan sedu-sedan­nya juga. Kedu­a­nya ber­lu­tut tanpa bicara.

Dan orang-orang pun kini telah masuk semua ke dalam rumah.

Meli­hat tama­sya itu semua orang ber­henti tak meng­ham­piri. Bapak mem­ba­lik­kan badan, dengan ter­gesa-gesa ke luar dari rumah, menye­rah­kan dir­i­nya pada kege­lapan pantai. “Kau baik, nak?” emak ber­ta­nya ter­pu­tus-putus. “Pang­estu, mak.”

“Begitu lama kau tak nampak,” dan emak terus ter­se­dan-sedan.

“Emak dan bapak tak pernah pang­gil aku pulang.”

“Ah, ter­lalu, ter­lalu. Apakah hak kami memang­gil istri seo­rang Ben­doro?”

“Ampuni aku, mak, ampuni.”

Orang tua-tua dan orang dewasa seo­rang demi seo­rang ke luar rumah, meng­i­kuti contoh bapak. Ting­gal bocah-bocah yang jadi saksi bagi anak dan emak di pojok rumah di kam­pung nela­yan.

“Meng­apa mak sambut aku dengan tangis, mak?”

“Apakah jahat­nya air mata buat anak­nya sen­diri, biar­pun dia istri seo­rang Ben­doro?”

“Mak tak suka aku pulang, mak?”

Emak seka­rang melo­long.

“Emak!”

Kemu­dian wanita-wanita kam­pung nela­yan pun pada masuk ke dalam. Mereka ber­henti tidak jauh dari anak-anak itu. “Peng­a­b­di­anmu dite­rima Ben­doro, nak?”

“Apa yang dike­hen­daki emak dan bapak kucoba laku­kan seba­ik­nya, mak.”

“Bukan bapakmu, bukan emakmu tapi Gusti Allah yang meng­hen­daki, nak.”

“Emak baik, mak?”

“Cuma kau yang selalu ter­ba­yang, meng­apa kau pulang?” ’ “Aku masih anakmu, mak”

“Kau tak kena murka?”

“Tidak.”

“Kau tidak dikem­ba­li­kan pada kami?”

“Tidak.”

“Kau datang atas kehen­dak sen­diri?”

“Benar”

“Kau datang dengan seizin Ben­doro sua­mimu?”

“Tidak bisa lain, mak.”

Emak meng­ha­pus air mata­nya, ber­diri. “Betapa can­tik­nya kau seka­rang.”

Dan wanita-wanita tetangga pun mulai men­de­kat. “Seperti bida­dari,” bebe­rapa orang menyam­bung suara.

Dan Gadis Pantai mera­sai setiap orang men­coba kuat-kuat untuk meniru keso­panan orang kota, menem­pat­kan­nya di tempat yang lain, mem­be­da­kan­nya dari yang lain-lain seperti pada pen­de­rita kusta. Setiap pan­dang­an­nya ber­ta­tap pada wajah, segera wajah itu pun tunduk sambil ter­se­nyum, dengan kedua belah tangan ter­gan­tung tanpa tenaga! Tangan-tangan yang biasa lumat­kan biji-biji jagung keras, yang biasa menge­ping-nge­ping kayu bakar yang keras ulet seperti ber­a­sal di zaman purba.

“Kita, masak!” Gadis Pantai men­coba meng­u­bah sua­sana.

Tanpa mem­buka mulut orang-orang itu pun menuju ke dapur. Seju­rus sunyi. Tiba-tiba seo­rang nenek meleng­king, “Mana orang-orang lelaki? Ayoh, kerja!” Hore, bocah-bocah ber­so­rak.

Karung beras dibong­kar. Botol-botol kecap lari ke dapur. Oleh-oleh dige­lar di atas ambin. Kaum lelaki mulai masuk kem­bali ke dalam rumah. Gadis Pantai menge­lu­ar­kan dua lembar sarung pele­kat dan dise­rah­kan pada kakek tertua kam­pung nela­yan, selem­bar lain­nya pada lurah.

“Yang lain-lain,” kakek tua angkat bicara, “cukup makan kenyang-kenyang saja, ya.”

“Beras seka­rung takkan habis buat orang seba­nyak ini.” Gadis Pantai menyu­sul sua­ra­nya.

“Terima kasih, Ben­doro Putri.”

“Meng­apa Ben­doro Putri? Inilah Ben­doro yang tulen!” Gadis Pantai menun­juk dengan jem­pol­nya pada Mar­di­nah.

Baru­lah kini per­ha­tian ter­a­lih pada Mar­di­nah, wanita kota ber­muka bulat, ber­mu­lut kecil lak­sana sebuah bawang merah menem­pel pada bawah cobek.

Malam itu kam­pung nela­yan ber­man­di­kan cahaya obor. Di sana-sini ter­de­ngar orang menya­nyi, dan men­je­lang subuh tiada satu pun yang turun ke laut.

“Jangan ikut masak, Ben­doro Putri,” orang-orang men­ce­gah Gadis Pantai. Ter­nyata kusir pun ikut ber­pesta, lupa pada si Gombak kuda­nya yang ter­can­cang seba­tang kara di peng­hu­jung jalan seta­pak.

Cuma seta­hun sekali kegi­rangan dan keda­maian sema­cam -ini ter­jadi: di waktu leba­ran haji, dan selu­ruh kelu­arga nela­yan turun ke laut, menye­rah­kan ketu­pat pada dewa laut, meminta berkah dan memo­hon jangan hen­dak­nya diganggu dalam peker­jaan sehari-hari.

Setiap orang merasa bangga, seo­rang gadis dari kam­pung mereka telah jadi orang kota, jadi bang­sa­wan, jadi Ben­doro. Dan setiap orang merasa bangga kam­pung mereka dikun­jungi seo­rang bang­sa­wan turunan: Mar­di­nah.

Si Dul pen­do­ng­eng dengan rebana di tangan sedang asyik men­do­ng­eng ketika orang-orang pada sibuk mela­yani Gadis Pantai. Ia menya­nyi­kan cerita waktu tuan besar Guntur alias Daen­dels mem­ba­ngun jalan raya mener­jang selatan daerah mereka.

oh, oh dewa seja­gad kalah beng­is­nya mali­lah dia berani tolak perin­tah­nya bupati mantre Semua pri­yayi apa­lagi orang kecil yang ditak­dir­kan jadi kuli dia san­dang pedang tipis di ping­gang kiri tapi titah­nya wah wah wah lebih dah­syat lagi lak­sana gele­dek sambar perahu dan tali-temali sehela nafas sedepa jalan harus jadi meng­gi­gil semua dengar nama­nya guntur semua pada takluk gunung kali dan rawa pantai dan jalan ber­ja­jar pan­jang mem­bu­jur kepala kawula jadi titian orang yang kuasa … “Bukan main, tuan besar Guntur,” seo­rang menyela. “Kalau ada empat orang seperti dia, habis­lah orang Jawa.” waktu jalan pan­jang Sem­purna jadi kereta-kereta indah jalan tiap hari bawa tuan-tuan nyonya-nyonya dan putri-putri tuan besar guber­nur jen­de­ral dan para abdi “Ganti saja ceri­ta­nya!” sese­o­rang lain menyela. “Ya, ya, ganti! Ceri­ta­kan saja kisah Gadis Pantai,” sese­o­rang meng­u­sul­kan. Pen­do­ng­eng itu ber­henti seben­tar. Mena­rik nafas dan mere­guk kopi­nya, kemu­dian memu­lai dengan cerita baru. Laut tenang angin pun damai “Pang­gil Ben­doro Putri biar ikut deng­ar­kan.”

“Suruh dia men­do­ng­eng lebih keras — tak usah dipang­gil.”

“Ya, nya­nyi­nya keras sedi­kit.”

Pen­do­ng­eng memu­kul reban­a­nya keras-keras dan mengen­cang­kan sua­ra­nya:

laut tenang angin pun damai nela­yan pulang mele­pas dahaga tiada tan­dingan can­tik­nya gadis pantai lak­sana nawang­wu­lan turun ke telaga “Ben­doro Putri mari keluar — ke sini­lah!” seo­rang ber­seru. “Mari ikut deng­ar­kan.” Pen­do­ng­eng memu­kul rebana lebih ken­cang dan ber­se­ma­ngat.

gadis ter­can­tik kam­pung nela­yan idaman pemuda pujaan pera­wan keka­sih tua-muda laki-perem­puan gadis pantai “duhai cantik rupa­wan orang-orang kota pena­saran bunga mekar di kam­pung nela­yan ben­doro pun cepat kirim utusan bawa lamaran orang kas­ma­ran bunga dipe­tik meng­hias gedongan diman­di­kan mawar disun­ting ber­lian tiada lupa orang tua dan kenalan manis budi gadis pantai jadi tela­dan …

Rebana makin keras dipu­kul, giring-giring­nya makin meng­ge­rin­cing. Dong­eng sema­kin asyik meng­ge­li­tik, suara laut sema­kin men­de­kat, dan malam sema­kin larut. Keri­u­han men­ca­pai pun­cak­nya waktu hidangan ter­se­dia, leng­kap dengan segala lauk-pauk dan bumbu-bumbu dari kota. Bebe­rapa orang mulai men­je­le­poh di pasir, di bawah-bawah pohon karena mabuk tuak, sedang ruas-ruas bambu tempat bekas tuak ber­te­baran di mana-mana. Perut yang kenyang mem­buat keri­u­han sema­kin lama sema­kin surut. Obor-obor makin pudar dan padam. Bocah-bocah pada keha­bisan tenaga ber­golek di teri­tis rumah, bahkan di bawah ambin. Akhir­nya padam sama sekali kam­pung nela­yan. Yang ronda pun lupa pada kewa­ji­b­an­nya. “Mas Ngan­ten,” Mar­di­nah ber­bi­sik, “di mana sahaya tidur?”

“Tidur­lah ber­sama aku.”

“Tidak ada kamar?”

“Meng­ge­le­tak ber­sama dan seperti yang lain.”

“Mas Ngan­ten…”

Mata­hari merang­kak cepat tanpa disa­dari. Baru sete­lah ada bocah men­je­rit bangun karena borok­nya dipa­tuk ayam, orang-orang mulai mem­buka mata, meng­u­cek-ngucek, ter­ba­tuk-batuk, kemu­dian men­cari tempat-tempat kelin­dungan untuk mele­pas air Laut telah lama men­jauh dari pantai dan perahu-perahu yang kema­rin telah dise­di­a­kan kini pada kandas di pasir. Bocah-bocah bere­butan pada menyerbu dapur men­cari sisa-sisa sema­lam. Dan men­da­dak saja kam­pung nela­yan sibuk kem­bali.

“Di mana sahaya mesti mandi Mas Ngan­ten?”

“Di kulah, tentu.”

“Air asin tentu. Sabun tak bakal mudah lenyap ter­ba­suh.”

“Jangan dengan sabun.”

“Seha­bis per­ja­lanan kema­rin? Tanpa mandi sema­lam?”

“Kami hanya orang kam­pung miskin. Kadang-kadang sama sekali tak mandi air, lebih banyak mandi keri­ngat dan laut.”

“Seminggu saja di sini, jadi ikan asin­lah sahaya.”

“Man, Man!” Gadis Pantai ber­seru-seru.

Sambil menge­ru­dungi badan bawah­nya kusir segera meng­ha­dap. “Ah, Ben­doro Putri, lupa sahaya pada kuda sahaya.”

“Jangan kha­wa­tir tak ada bajak sema­lam.”

“Tak ada memang. Bagai­mana kalau kaki­nya digi­git ular?”

“Ter­paksa kau turun juga ke laut.”

“Tak ada bina­tang yang lebih menye­nang­kan dari­pada kuda, Ben­doro Putri. Makan­nya cuma dedak dan rumput, tapi dia beri anak bini sahaya segala yang kami butuh­kan. Sahaya tak perlu cari dia, tidak seperti ikan, Ben­doro Putri.”

“Tak lupa tem­ba­ka­umu?”

“Sema­lam sahaya per­gu­na­kan jadi bantal, Ben­doro Putri, sayang benar kalau jadi asap tanpa lewat hidung sahaya sen­diri.”

“Bawa Ben­doro Putri ini pulang ke kota.”

“Sahaya Ben­doro.”

“Mas Ngan­ten juga mesti balik.”

“Kapan kau punya hak meme­rin­tah aku? Man, ber­siap-siap kau, cepat.”

“Lhah, di mana sahaya mandi Ben­doro Putri?”

“Tanya­lah pada kudamu.”

Dengan demi­kian di pagi hari itu juga Mar­di­nah kem­bali ke kota. Ter­nyata cuma segum­pil kecil saja kele­gaan yang diper­o­leh Gadis Pantai. Pasang-pasang mata yang menyi­nar­kan pan­dang tak wajar pada­nya, keso­panan yang dibuat-buat, keka­kuan yang men­jeng­kel­kan. Ter­u­tama orang tuanya yang begitu jauh ter­ha­dap­nya, menye­bab­kan ia merasa seperti batu karang tung­gal, tak punya sesu­atu hubungan dengan dir­i­nya, ter­ke­cu­ali laut yang mengan­dung kese­pian.

Bila ia masuk ke dalam rumah bukan lagi emak yang ramah dan selalu melin­dung­i­nya yang dida­pat­kan, tapi tetang­ga­nya yang dengan suka­rela bekerja buat menye­nang­kan­nya. Seka­rang bapak­nya hampir-hampir tak berani masuk ke dalam bila ia tidak di luar rumah. Berapa kali sudah dalam sepagi itu, ia pang­gil bapak. Tapi ia muncul hanya sampai di pintu men­de­ng­ar­kan sua­ra­nya, meng­ang­guk dalam, dan kemu­dian pergi lagi.

Semua orang mena­han­nya dari bekerja. Semua orang memu­sat­kan per­ha­tian pada­nya. Setiap lang­kah dan gerak-gerik­nya diper­ha­ti­kan. Maling kesi­angan pun tak sejang­gal nasibku dewasa ini. Rumah kela­hir­an­nya kini tak lagi kuasa melin­dung­i­nya lagi.

“Bapak,” akhir­nya ia memang­gil. Dan seperti selama sepagi itu, kini Bapak kem­bali muncul di pintu. “Meng­apa bapak tak terus masuk pak?”

“Di sini lebih senang, panas di dalam.”

“Ah, bapak, aku tahu karena aku di sini. Bapak tak mau masuk.”

“Tidak benar, itu tidak benar. Apakah yang bisa kuper­buat untukmu?”

“Dekat­lah sini.”

“Panas di dalam ”

“Pang­gil namaku pun bapak tak sudi lagi.”

“Bukan galib­nya lagi anak ter­hor­mat dipang­gil pada nama­nya.”

“Ah, bapak dekat­lah, sini.”

“Biar­lah, aku di sini saja.”

Gadis Pantai melang­kah ke pintu meng­ham­piri bapak. Dan bapak mening­gal­kan bendul pintu menying­kir keluar. “Aku ingin seperti dulu lagi, bapak, seperti dulu. Orang tak per­ha­ti­kan aku.”

“Tak ada yang per­ha­ti­kan.”

“Mari jalan-jalan bapak. Lihat-lihat sepan­jang pantai.”

“Apa yang mau dili­hat di pantai?”

“Dua tahun lebih aku tak injak pasir­nya yang basah dan hangat.”

“Ting­gal saja di rumah, masih lelah dari per­ja­lanan kema­rin.”

Gadis Pantai melang­kah keluar, ber­ja­lan lambat-lambat menuju ke pantai. Bocah-bocah segera menyerbu dan meng­i­kuti riuh rendah suara mereka, dan semua orang ke luar rumah meng­han­tar­kan­nya dengan pan­dang. Bapak meng­iring­kan dari bela­kang.

“Meng­apa bapak selalu di bela­kangku? Bukan­kah bapak masih bapakku?”

Bocah-bocah pada ber­ki­cau menge­nal­kan kea­nehan pantai. Waktu Gadis Pantai lebih jauh lagi ber­ja­lan, yang nampak dan ter­cium masih yang dulu juga: ampas manu­sia yang ber­ba­ris sepan­jang pantai, ber­ba­ris tanpa komando. “Ingin aku mandi di laut.”

“Tak jelas, apakah patut.”

“Memang tak patut, tapi aku ingin.”

“Tidak mung­kin.”

“Memang tidak mung­kin.”

“Ai, bocah-bocah meng­apa meri­ung-riung seperti udang di nampan? Ayoh bubar!” dan dengan tam­pang meng­an­cam bapak melo­toti bocah ter­be­sar.

Rom­bongan bocah itu pun mundur dan meng­ge­rom­bol, ber­henti di suatu jarak dan meng­a­wasi anak dan bapak ber­ja­lan terus mene­lu­suri pantai.

“Meng­apa tidak seperti waktu aku belum kawin? Kam­pung­nya tak beru­bah, tapi orang-orang­nya semua beru­bah.”

“Kita semua sema­kin jadi tua.”

“Lihat­lah,” ia menu­ding pada laut, “dia tak beru­bah,” kemu­dian mem­ba­lik badan menu­ding ke kam­pung. “Dia pun tak beru­bah. Atap-atap rum­bi­a­nya tak ada yang baru. Pohon-pohon kelapa itu kul­i­hat tak ber­tam­bah. Ada yang mati sepe­ning­galku?”

“Tidak.”

“Cuma bocah-bocah sema­kin besar, dan banyak.”

Bapak men­da­ham.

“Sedi­kit sekali per­u­ba­han­nya.”

“Sedi­kit sekali memang.”

“Tapi orang-orang­nya jelas beru­bah. Ter­ha­dap aku. Bahkan bapak sen­diri. Seakan mereka pada menu­ding padaku: per­gi­lah lekas, pulang kau ke kota.”

“Tidak benar. Tidak benar.” Bapak meng­u­lang-ulang dengan jerit ter­ta­han.

“Aku datang dan tak seo­rang pun turun ke laut.”

“Tak patut­kah mereka ikut gem­bira ber­sama bapak yang diting­gal­kan dua tahun tanpa kabar tanpa berita?”

“Dua tahun lebih sedi­kit. Tapi tak ada kul­i­hat bapak ber­gem­bira.”

“Tak patut­lah orang setua ini ber­jing­k­rak seperti bocah.”

“Betapa bodoh­nya aku meng­ha­rap­kan bapak ber­jing­k­rak “” Ia menu­ding ke arah laut. “Nam­pak­nya itu bukan perahu kam­pung kita.”

Bapak meng­i­kuti arah tudingan, meng­ge­leng.

“Aku bawa­kan benang jala.”

“Ya, setiap orang bawa benang jala dari kota.”

“Dan tasbih.”

“Tasbih?”

“Dari Ben­doro, buat bapak saja. Hitam. Dari kayu keras, buatan Mekah.”

“Buat apa tasbih?”

“Ben­doro menyam­pai­kan salam. Kalau kam­pung belum punya surau, Ben­doro ber­se­dia mem­bi­a­yai pen­di­r­i­an­nya.”

“Betapa mul­i­a­nya ”

“Tapi orang di sini tentu tak ada waktu buat itu. Semua sibuk ke laut dan ikan tak semu­dah itu ditang­kap.”

“Jangan menyin­dir.”

“Ah, bapak. Mana bisa aku sindir bapak? Kita semua tahu, buat dapat­kan jagung pun tenaga tak cukup, jangan­kan dir­i­kan surau, jangan­kan mem­buka-buka kitab!”

“Masih ingat kata kakek sema­lam?”

“Aku tak dengar apa-apa.”

“Dia bilang, kita ini tak sempat apa-apa. Kaya tidak, cukup tidak, surga tidak, mati pun cuma dapat neraka. Habis segala-gala­nya tak sampai.”

“Nasib nela­yan.”

“Ah, ingat aku,” kata bapak. “Waktu si Dul pen­do­ng­eng buka cerita, dia bilang: Kalau kakek tua masuk neraka, kita semua masuk neraka. Cuma dia paling tahu di antara kita.”

“Ben­doro bilang bisa diki­rim guru ngaji.”

“Bagai­mana kita mesti upahi dia?”

“Ben­doro yang upahi.”

“Barang­kali ikan akan lebih jinak kalau kita ngaji, ya?”

“Barang­kali. Belum dicoba.”

“Kita tanya­kan pada kakek. Cuma kakek tahu men­ja­wab.”

“Bapak, ben­doro ber­pe­san, ganti rumah itu dengan kayu. Aku bawa­kan uang buat biaya ”

“Buat apa uang? Barang tak bisa dibeli di sini. Lagi semua orang seperti itu rumah­nya. Dan kita sama dengan yang lain-lain”

“Barang­kali buat beli perahu.”

“Kita tetap bikin perahu-perahu sen­diri seperti dulu.”

“Apa mesti kuja­wab pada Ben­doro?”

“Laut tetap kaya. Dia beri­kan kepada kita segala-gala­nya sampai yang terin­dah di dunia: muti­ara.”

“Bapak tak pemah bicara ten­tang muti­ara.”

“Buat apa? Dia takkan buat tenaga kita lebih ber­harga.”

“Aku dibe­likan sepe­rang­kat muti­ara oleh Ben­doro.”

“Muti­ara sangat ber­harga, memang. Tapi tenaga kita tidak. Cuma orang pilihan dihi­asi muti­ara. Yang menye­lam meng­a­duk laut pun tak ber­mu­ti­ara.”

“Pang­gil­lah aku pada namaku seperti dulu, bapak.”

“Memang­gil kadang-kadang cukup dalam hati.”

“Ah, bapak seakan-akan aku bukan anak kam­pung nela­yan ini lagi.”

Bakau di pantai kam­pung nela­yan ini sangat tipis, karena ter­lalu sering dite­bang, dije­mur buat kayu bakar. Tapi di suatu tempat semak bakau sangat subur nampak tak pernah ter­ja­mah. Jangan ganggu bakau di sini, pernah kata seo­rang asing dulu. Biar kelak kalau aku ada kebe­run­tungan, aku akan dapat kemari lagi. Aku akan tahu, tanah ini tempat aku injak sete­lah dito­long perahu nela­yan kam­pung sini, dibawa ke sini, dipe­li­hara di sini dan dian­tar­kan ke kota. Orang asing itu tak pemah datang lagi, tapi semak bakau itu tetap tak ter­ja­mah.

“Barang siapa pernah minum air sete­ngah asin kam­pung ini, dia takkan bakal lupa. Dan barang siapa dila­hir­kan di kam­pung sini, dia tetap anak kam­pung sini.”

“Abang-abang sama sekali tak bicara padaku lagi.”

“Mereka sedang mem­bi­kin pola ukiran.”

“Nam­pak­nya adik-adikku dila­rang men­de­kati aku.”

“Mereka diajar meng­hor­mati kakak­nya dari kota.”

“Ah, bapak, bapak. Seka­rang aku seperti per­tama kali bapak antar­kan masuk ke rumah Ben­doro.”

Bapak menun­duk ter­haru.

“Barang­kali aku harus segera balik ke kota kem­bali.”

“Kam­pung ini memang menge­ce­wa­kan, ter­lalu hina.”

“Ah, bapak aku cuma ingin diper­la­ku­kan seperti dulu. Pukul­lah aku kalau aku ber­sa­lah. Tapi jangan cabar­kan hatiku sema­cam ini. Apa tak cukup penang­gung­anku di kota? Apa kurang banyak yang kube­ri­kan buat penuhi kei­ng­inan orang tua jadi bini pri­yayi? Meng­apa sesu­dah seumur ini bapak sen­diri ber­si­kap begitu? Dan emak hampir-hampir tak mau bicara padaku? Apa dosaku?”

“Siapa sangka anak­nya sen­diri yang dise­rah­kan­nya ke tangan pri­yayi tinggi menang­gung?” Tiba-tiba bapak tak dapat terus­kan bica­ra­nya. Dan dengan suara sayup-sayup dan seba­gian lenyap ter­tiup angin ia ber­bi­sik, “Berapa kali aku telah pukuli anakku, kadang di subuh hari…”

Gadis Pantai ber­henti, mene­leng ke bela­kang. Meng­a­wasi bapak yang ber­ja­lan menun­duk dengan pan­dang meng­ga­ruk pasir. Pem­be­rani itu yang menen­tang laut mela­wan badai, meng­a­duk laut, menang­kap ikan setiap hari … betapa jadi kecil hati­nya kini cuma karena di dekat anak­nya sen­diri, dan anak yang jadi bini kecil pri­yayi.

“Ah, buat apa menye­sali diri. Kapan aku dika­ru­niai seo­rang cucu?”

“Kehen­dak Allah belum tiba, bapak.”

“Belum pernah rumah kita dihi­asi dengan cucu.”

“Apa bapak harap­kan dari cucu bapak?”

“Kese­jah­te­raan, kese­la­matan, jangan seperti kita.”

“Seperti pri­yayi?”

“Kalau lelaki dia — akan jadi pri­yayi tulen.”

“Kalau ada nasib, bapak suka jadi pri­yayi?”

“Itulah yang dici­ta­kan setiap orang.”

“Kalau bapak tahu bagai­mana mereka hidup di sana…”

“Seti­dak-tidak­nya mereka tak meng­adu untung setiap hari. Seti­dak-tidak­nya mereka tidak ber­lu­muran kotor setiap hari.”

“Ah, aneh benar piki­ran bapak.”

“Aneh dan tak guna. Kita hidup dan bekerja berat dan akan begini terus sampai tak bisa kerja sesu­atu lagi. Ter­ke­cu­ali kasih nasi­hat seperti kakek tua.”

“Mari kita lihat orang-orang mem­per­ba­iki jala.”

“Hari ini semua pada meng­aso. Tak ada yang kerja.”

“Kita lihat empang.”

“Nanti ter­lalu lelah, sakit. Bibit sudah dita­nam dela­pan pekan yang baru lalu.”

Gadis Pantai ter­tawa. “Tahun ini banyak yang beli bibit dari sini?”

“Berkah, berkah. Anak-anak kam­pung sudah pada besar. Peng­ha­silan bibit lebih banyak. Adik-adikmu saja dapat kum­pul­kan lebih 1.000 ekor dalam seminggu!”

Dan Gadis Pantai ter­i­ngat pada masa bebe­rapa tahun dulu, dengan telan­jang diri ber­sen­ja­ta­kan rumah karang ia sen­doki bibit ban­deng dari tepian laut, dima­suk­kan ke dalam belanga kecil yang diisi air dan deda­unan bakau.

“Aku tak lihat orang mem­buat trasi lagi.”

“Trasi kita tak laku. Sedi­kit sekali peda­gang datang kemari cari trasi kita.”

“Di kota orang lebih suka trasi buatan Lasem ”

“Bukan salah kita. Kata orang-orang trasi kita dibawa ke kota sudah dicam­pur dengan lem­pung.”

“Ya, banyak trasi penuh lem­pung di kota ”

“Bukan kita yang men­cam­puri.”

“Tentu saja bukan kita. Kita bukan ketu­runan penipu, bapak. Di kota kude­ngar itu buatan seo­rang peda­gang. Dia punya istri kedua dan ketiga di kam­pung nela­yan dekat kota. Peda­gang itu meng­aku diri haji. Dia rusak trasi kita biar kam­pung istri-istri­nya saja dapat laku.”

“Dari bibit ban­deng saja tak banyak yang kita per­o­leh.”

“Sedi­kit sekali?”

“Tapi kita masih tetap hidup segar, sehat.”

Mereka ber­ja­lan menuju ke rumah. Bapak tetap saja diam-diam bila tak dita­nyai. “Bapak masih juga tak mau pang­gil namaku?”

Gadis Pantai mera­sai bapak ter­siksa karena kata-kata­nya. Tapi ia sen­diri pun ter­siksa. Dan laut sema­kin jauh dari kam­pung. Dataran pasir nampak begitu jauh, begitu leng­gang, coklat muda, datar dan kosong. Laut nampak seperti garis biru tipis dengan garis lamat-lamat putih di atas­nya. Sama sekali tak menan­da­kan ada perahu di atas garis biru putih itu. Angin tiada teras meniup. Sedang tung­gul-tung­gul bakau nampak begitu kaku, coklat, hitam tak mengan­dung hidup, bahkan cuma kema­tian melulu. Burung-burung camar yang biasa nampak ter­gan­tung-gan­tung di udara, kini tiada meng­isi keleng­gangan cak­ra­wala. Dan langit di atas sana putih, cuma putih, seperti kapas tanpa seti­tik pun warna lain.

“Emak sedi­a­kan sate ayam siang ini.”

Kata-kata itu mem­buat Gadis Pantai seakan terasa leng­ang. Tak pernah seumur hidup emak buat­kan dia sate. Ayam yang hanya bebe­rapa ekor, hanya diam­bil telu­r­nya buat obat kuat bapak. Entah berapa ekor dari yang sedi­kit itu kini harus mem­buk­ti­kan, bahwa ia memang lain dari­pada selu­ruh pen­du­duk kam­pung sele­bih­nya.

Dengan lang­kah gontai dan hati bim­bang ia masuk ke rumah kem­bali. Waktu ia mene­ngok ke bela­kang dike­ta­hu­i­nya bapak tak ikut masuk. Bapak! Bapak! seru­nya dalam hati. Ia dapati bebe­rapa orang wanita tetang­ga­nya masih sibuk bekerja mem­bantu emak. Waktu meli­hat­nya, mereka ber­henti bekerja mene­kur ke tanah dan mundur-mundur mem­beri jalan. Barang­kali karena per­hi­as­anku, ia men­coba mena­rik kesim­pulan. Aku harus lepas per­hi­asan ini nanti sore. Ia meng­ham­piri emak yang sedang mem­buat sambal. Juga emak ber­henti kerja, “Jangan kemari nanti kotor.”

Kotor! Tiba-tiba ia ingat pada hukuman Ben­doro pada orang-orang kam­pung nela­yan ini. Mereka kotor kurang ber­i­man, karena itu miskin kata Ben­doro. Kalau semua mau serba bersih terus siapa yang lenyap­kan kotoran? ia ber­ta­nya lugu pada Ben­doro.

Kotor! Miskin! Kurang ber­i­man! Neraka! Ia tak pernah dengar kata-kata itu sebe­lum ke kota. Dan kata-kata baru itu banyak menga­cau­kan otak­nya. Bagai­mana ikan asin bisa dibuat kalau orang tak berani tarik ludes isi perut setiap ikan yang meng­ge­le­tak di atas nampan? Bina­tang-bina­tang itu akan busuk dan sia-sia saja kerja kepah­la­wanan bapak dan abang-abang. Dan bau amis jala. Dan selu­ruh laut! Minyak wangi? Memang menye­nang­kan, tapi dia tak kuasa pang­gil ikan datang ke rumah manu­sia dengan suka rela.

“Meng­apa kalau aku kotor?” Gadis Pantai menu­kas.

“Tidak baik orang kota kotor. Biar­lah kami yang sudah biasa saja mela­ku­kan­nya isti­ra­hat­lah di ambin. Lelah dari per­ja­lanan kema­rin. Mak Pin bisa pijit kalau mau dan kalau suka.”

“Mau! mau aku dipi­jiti”

“Rah pang­gil Mak Pin.”

Baru sekali ini dalam seumur hidup seo­rang ahli pijat mele­tak­kan tangan­nya yang ber­ba­kat itu di atas pung­gung­nya, ping­gang­nya, mengen­dur­kan urat-urat yang tegang.

“Sudah lama memi­jit, Mak Pin?”

“Sahaya.”

“Mak Pin pernah ting­gal di kota?”

“Sahaya.”

“Meng­apa ting­gal di sini?”

“Sahaya.”

“Ha?”

“Sahaya?”

Gadis Pantai ter­se­nyum, lenyap has­rat­nya hendak bicara.

Mak Pin tak pernah dike­nal­nya sebe­lum ini. Pen­da­tang, pikir­nya. Ia teleng­kan kepala dan meli­hat ke arah dapur.

“Dari mana Mak Pin ini?” ia ber­ta­nya pada siapa saja yang mau men­ja­wab.

“Siapa tahu? Tahu-tahu sudah ada saja di sini,” sese­o­rang men­ja­wab.

“Di mana ting­gal­nya?”

“Di mana saja.”

Gadis Pantai ter­se­nyum. Dalam waktu dua tahun lebih ting­gal di gedung menye­bab­kan ia ter­bi­asa meman­dang setiap orang punya tempat tetap buat ting­gal­nya. Dan ia sudah ter­bi­asa meman­dang setiap orang ting­gal aman bila pintu rumah telah ter­kunci, tiada orang asing datang meng­ganggu, men­de­ngus. Di kam­pung nela­yan, kam­pung kela­hir­an­nya ini pelan-pelan tapi pasti ia mulai bel­a­jar kem­bali ten­tang masa silam­nya dulu. Ia ter­se­nyum. Ia menye­sal telah men­jadi begitu pelupa. Di sini tak ada rumah ter­kunci pin­tu­nya, siang atau­pun malam. Di sini pintu bukan­lah dibuat untuk meno­lak manu­sia, tapi mena­han angin. Di sini semua orang tidur di ambin di malam atau di siang hari, ter­ma­suk para tamu yang tak pernah dipe­du­li­kan dari mana datang­nya. Ia men­de­ngus sekali lagi. Di kota setiap orang baru selalu dite­tak dengan tanya: Siapa nama? Dari mana? Di sini, orang tak peduli Mak Pin datang dari mana. Tak peduli Mak Pin gagu. Tak peduli seka­li­pun dia kela­hiran neraka.

“Jadi bagai­mana orang tahu dia ber­nama Mak Pin?”

“Lihat saja kaki­nya.”

“Meng­apa kaki­nya?”

“Pin­cang.” Ah, anak-anak bengal itu sudah namai dia pada cacat­nya.

Gadis Pantai ter­tawa. Bukan karena kebe­ng­a­lan bocah-bocah, tapi pada nada yang bicara itu! Ia rasai nada suara itu tak mengan­dung pem­be­daan diri lagi, itu suara manu­sia kam­pung­nya. Bukan suara budak ter­ha­dap Ben­doro.

Tiba-tiba Mak Pin menge­lu­ar­kan suara aneh.

“Apa dia bilang?”

Orang-orang ter­tawa ber­ge­gar-gegaran. Gadis Pantai meng­hela nafas, itu ter­tawa manu­sia kam­pung­nya: lepas, bebas, bukan ter­tawa budak di depan Ben­doro.

“Mak Pin ini ada-ada saja,” sese­o­rang men­je­rit suka.

“Apa dia bilang?”

“Ben­doro belum ber­putra, kata­nya.”

“Haa?”

“Belum segala-gala­nya. Dia ber­ta­nya, Ben­doro tak ingin segera ber­putra?”

“Haa?”

Kem­bali Mak Pin menge­lu­ar­kan bunyi aneh dan riuh rendah, seperti suara keluar dari kerong­kongan bina­tang buas sedang menang­gung lapar. Kem­bali orang ter­tawa ber­ge­gar-gegaran.

“Apa dia bilang?”

“Kata­nya ping­gang ini kecil benar — juga ping­gul­nya,” sese­o­rang mem­per­ba­iki, kemu­dian ter­tawa meleng­king.

Gadis Pantai meng­ang­kat kepala untuk meli­hat benar-benar bagai­mana Mak Pin bicara. Ter­nyata suara-suara aneh itu dibantu oleh gerak-gerik tangan­nya yang lincah.

“Meng­apa kalau kecil ping­gang dan ping­gul?”

Sese­o­rang meng­ham­piri Mak Pin, menyen­til­nya pada ping­gang­nya. Mak Pin ter­lom­pat ter­ke­jut sambil ber­te­riak meleng­king, kemu­dian ter­tawa ter­ke­keh-kekeh. Wanita yang menyen­til bicara dengan bahasa isya­rat, tapi Mak Pin terus tawa ceki­kikan. Gadis Pantai pantai mem­per­ha­ti­kan, tapi tak meng­erti. Ia lihat Mak Pin meng­ge­leng-geleng dan kem­bali tangan­nya ber­ge­rak mem­beri isya­rat.

“Apa dia bilang?”

“Ah, ada-ada saja, Mak Pin ini,” kata orang yang sedang meng­a­duk gulai di tungku sambil ter­tawa malu ceki­kikan.

“Keter­la­luan memang Mak Pin ini,” orang lain lagi ber­de­rai dengan suara keras.

“Memang­nya ada apa?”

“Itu lho, Ben­doro, kata­nya, ah, itu…itu…kalau begitu, itu…jadi, ininya…”

“Ah, apa sih ngo­mong seperti itu?”

“Mak Pin ini memang ada-ada saja bica­ra­nya.”

“Ya, tapi apa yang dibi­ca­ra­kan aku tak meng­erti.”

“Itu lho, Ben­doro Putri, begitu, kata­nya, kata dia, sudah bisa punya anak.”

Tiba-tiba Gadis Pantai ter­lon­jak dari ban­tal­nya, meli­hat pada Mak Pin, wajah­nya ber­sung­guh-sung­guh, dan seperti orang baru engah ia ber­ta­nya, “Mak Pin benar gagu? Tadi bisa sebut­kan sahaya.”

“Cuma itu yang dia bisa kata­kan. Entah berapa tahun lama­nya dia pel­a­jari saha­ya­nya. Mung­kin dia bisa ucap­kan sesu­dah sera­tus kali dikep­ruk kepa­la­nya.”

“Sahaya.”

Gadis Pantai meng­a­wasi Mak Pin, yang dengan tangan­nya mem­beri isya­rat agar ia rebah lagi. Tapi Gadis Pantai tetap meng­a­was­i­nya. Tiba-tiba Gadis Pantai merasa takut, wajah­nya men­da­dak kecut. Gelak tawa di dapur ter­henti. Semua mata meli­hat Gadis Pantai, kemu­dian pada Mak Pin.

Gadis Pantai turun dari bale, ber­diri, meng­a­wasi Mak Pin sambil melang­kah mundur-mundur. Sua­sana tiba-tiba beru­bah. Kete­gangan mera­yapi setiap pojok rumah.

“Bapa­aak!” Gadis Pantai meme­kik sekuat-kuat­nya.

Pan­dang liar keta­kutan ber­ki­lauan pada mata Gadis Pantai. Bebe­rapa orang lelaki lari masuk ke dalam. Bapak meng­ham­piri anak­nya, dan tanpa mene­ngok ke bela­kang pada bapak, Gadis Pantai meng­u­lu­r­kan tangan ke bela­kang dan bapak menang­kap­nya.

“Siapa dia?” Gadis Pantai menu­ding Mak Pin.

“Mak Pin. Kita kenal dia.”

“Bukan! Dia lelaki!” suara Gadis Pantai meleng­king sekuat-kuat­nya.

“Lelaki?” semua orang ber­seru, heran.

Mak Pin yang tiba-tiba saja dalam kepungan semua orang men­coba bicara dengan mata­nya. Tapi semua mata ter­tuju pada­nya justru minta jawaban dari­nya.

“Mak Pin, kau lelaki atau perem­puan?” tiba-tiba bapak melom­pat maju men­ce­kam lengan Mak Pin. Mak Pin meng­gi­gil.

“Lima belas hari kau sudah di sini, ya?”

“Mana bisa dia jawab? Dia gagu.”

“Tidak,” Gadis Pantai mera­ung. “Dia bisa bilang sahaya.”

“Ayoh, kata­kan sahaya,” bapak mera­ung.

“Sa-ha-ya,” Mak Pin ber­kata gugup “Dia tak gagu. Ayoh, kata­kan lelaki atau perem­puan?” Mak Pin men­coba meng­ge­rak-gerak­kan tangan­nya. Tapi dengan tangan­nya yang bebas bapak menam­par pipi­nya. “Kau meng­erti omong­anku? Kau tak gagu. Laki atau perem­puan?” bapak meng­ger­tak. “Buka pakai­an­nya.”

Penge­pung-penge­pung meng­u­lu­r­kan tangan mau mene­lan­jangi. Mak Pin meronta lepas, mene­ro­bos kepungan dan mela­ri­kan diri. Bebe­rapa orang lompat ber­lari.

“Tang­kap,” bapak ber­te­riak.

Mak Pin telah berada di luar rumah, hilang. Semua orang lelaki lari mening­gal­kan rumah.

“Bawa tali,” sese­o­rang ber­seru dari rumah. Yang ter­ting­gal semua wanita, meli­hat ke arah lubang pintu.

“Tidak disangka,” seo­rang nenek men­de­sis “Siapa sangka?”

“Kema­rin dia tidur di rumahku. Ah, tidak kema­rin dulu ”

“Kema­rin dulu­nya lagi?”

“Di rumahku, tapi aku benar-benar tidak tahu.”

“Sema­lam, sema­lam di mana dia tidur?” tak ada yang men­ja­wab.

“Dia tak ikut pesta sema­lam?” Tak ber­ja­wab.

“Kema­rin siang, di mana dia kema­rin siang.”

“Sahaya tak lihat, Ben­doro Putri.”

“Siapa yang lihat?” Tak ber­ja­wab.

“Heran sekali, Ben­doro Putri. Kita semua tidak tahu.”

“Mau apa dia sebe­nar­nya kalau dia benar lelaki?”

“Yah, nama­nya saja lelaki.” Diam seju­rus.

“Jadi dia tak gagu?”

“Pura-pura barang­kali.”

“Meng­apa pura-pura?” Tak ber­ja­wab.

Gadis Pantai melang­kah ke pintu, meli­hat ke luar, tapi tiada sesu­atu pun dili­hat­nya. Wanita-wanita lain segera meng­i­kuti dan meru­bung­nya.

“Mata-mata bajak laut,” orang memu­tus­kan.

“Ya ampun, ya ampun.”

Men­de­ngar kata bajak laut, dengan sen­di­r­i­nya orang menu­tup pintu dan mengunci dengan palang. “Apa yang mau diba­jak di sini? Di sini tak ada apa-apa.”

Tiba-tiba orang meng­a­wasi Gadis Pantai, dan semua mata itu mem­be­la­inya dari ujung rambut ke selu­ruh tubuh, antara seben­tar ber­henti, pada per­hi­asan-per­hi­asan di leher, di kuping jari, ping­gang, dada. Tak lama kemu­dian semua pada menun­duk. Sese­o­rang meng­gan­deng tangan Gadis Pantai, dan dira­sa­i­nya tangan itu meng­gen­tar.

“Ambil­lah minum, buru! Sila­kan duduk saja, Ben­doro Putri. Lelaki-lelaki kita akan beres­kan, jangan kha­wa­tir orang itu mesti ter­tang­kap.”

“Mak, di mana mak.”

“Inilah aku,” sahut emak dari sam­ping­nya.

“Sudah lima belas hari dia di sini?”

“Lima belas hari? Belum, belum sampai.”

“Dia dite­mu­kan waktu orang-orang mau turun ke laut ”

“Ya, sedang meng­gi­gil kedi­nginan.”

“Dibawa ke rumah Lurah. Dima­sakan kopi.”

“Ya, lantas tidur. Nggak mau ngo­mong.”

“Besok­nya orang baru tahu dia gagu.”

“Ah, ah, ingat aku waktu tidur di rumahku dia ngigau. Ngigau benar-benar, tidak gagu.”

“Ngigau apa dia?”

“Kurang terang Ben­doro Putri. Ter­lalu pelan, tapi tidak gagu memang.”

“Di mana barang bawa­an­nya?”

“Tidak punya. Tidak bawa apa-apa.”

“Makan­lah,” emak men­coba memu­tus­kan per­ha­tian dari Mak Pin. Tak seo­rang pun ingin makan.

“Ada yang pernah kehi­langan di sini?”

“Apa yang bisa hilang di sini? Paling-paling tulang ikan ”

“Sudah lama, lama sekali, tak pernah ada bajak.”

“Apa yang mau diba­jak dari kita?”

“Mereka takkan bajak kita. Orang kota lebih kaya, di sana menum­puk harta.”

“Ya, di sini ada apa?”

“Pasti di kota sana semua orang punya emas ber­lian. Bagai­mana Ben­doro Putri?”

“Diam­lah, diam. Buat apa ngo­mong yang bukan-bukan?” Sate ayam menum­puk dingin tak ter­ba­kar di atas tungku. Waktu mata­hari mulai con­dong ke barat, baru­lah para pria kam­pung nela­yan datang ke kam­pung. Bebe­rapa orang lelaki lang­sung menuju rumah bapak. Seo­rang di anta­ra­nya bapak sen­diri. Dengan wajah muram ia men­de­kati Gadis Pantai. Wanita-wanita lain datang meru­bung.

“Laki apa perem­puan dia bapak?”

“Memang bukan perem­puan.”

“Mana dia seka­rang?”

“Dia takkan kemari lagi.”

“Di mana?”

“Dia tak mau meng­aku, itu salah­nya.”

“Ya, tapi di mana dia seka­rang?”

“Dia bilang, dia dari Demak.”

“Demak?”

“Ya, Demak. Siapa per­caya dari Demak? Bajak laut takkan pernah ber­a­sal dari peda­laman apa­lagi dari pegu­nungan. Dia ber­ku­kuh tak ngaku mata-mata bajak laut. Dia tak mau ngaku kapan bajak-bajak itu mau menyerbu kemari. Jadi dia dia­dili di tempat dari mana induk bajak bakal datang.”

“Disu­ruh bere­nang?”

“Ya, dite­lan­jangi, digi­ring dengan enam biduk.” Gadis Pantai ter­i­ngat pada cerita yang dike­nal semua orang di kam­pung: setiap bajak yang ter­tang­kap digi­ring ke tengah laut dengan biduk, sampai tak kuat lagi bere­nang dan teng­ge­lam, kalau tak ter­buru disam­bar hiu.

“Berapa ribu depa dia bisa bere­nang?”

“Tidak sampai ribuan.”

“Berapa ratus?”

“Tak sampai ratusan.”

“Ha?”

“Segera teng­ge­lam sete­lah dilem­par dari perahu.”

“Tidak bere­nang? Kalau begitu bukan bajak.”

“Entah­lah. Salah sen­diri meng­apa menyaru jadi perem­puan.”

“Bapak salah, salah, bapak, mung­kin dia tak ber­sa­lah.” Bapak menun­duk mene­kuri lantai.

“Meng­apa dia pura-pura gagu?” emak mem­bela bapak. “Meng­apa dia pura-pura jadi perem­puan?” seo­rang me- “Di mana dia sema­lam?” seo­rang lain menyerbu ber­ta­nya. “Tak ada orang lihat dia ikut makan-makan. Barang­kali memang mata-mata bajak, cuma ting­gal di darat saja.” Mata bapak jadi beringas. Dita­tap­nya pem­bi­cara itu, kemu­dian menun­duk lagi, kepa­la­nya meng­ge­leng.

“Lantas siapa dia?”

“Siap nama­nya?”

“Mar­di­kun.”

Gadis Pantai ter­pe­ran­jat. Seka­li­gus ia ter­i­ngat pada Mar­di­nah. Abang Mar­di­nah? Meng­apa nama­nya Mar­di­kun? Meng­apa dua-duanya pakai Mardi? Ia men­coba bayang­kan kem­bali, tapi tak dapat. Dalam bayang­an­nya selalu saja orang itu menun­duk bila dita­tap­nya.

“Mar­di­kun?” desis­nya kemu­dian. “Apa ada yang masih bisa ingat wajah Ben­doro Mar­di­nah?”

“Ben­doro Mar­di­nah?” orang ber­seru.

Bapak mena­tap emak, kemu­dian pada wanita-wanita lain. “Ya, memang ada. Ada per­sa­maan sedi­kit.”

“Muka­nya bulat, Mar­di­kun itu?”

“Ya, ya hampir bulat, seperti Ben­doro Mar­di­nah.”

“Juga Mar­di­nah ber­a­sal dari Demak,” Gadis Pantai meng­i­ngat-ingat. Barang­kali memang abang Mar­di­nah. Barang­kali bapak­nya. Lantas mau apa dia datang kemari?”

“Kakek penge­tua sudah tahu peris­tiwa ini?”

“Masih tidur dia.”

“Benar, cuma dia yang meng­erti.”

Dan waktu kakek datang, mata­nya segar, tiada tanda-tanda mengan­tuk atau habis tidur. Selu­ruh mata ditu­ju­kan pada­nya. Tong­kat kayu bakau­nya yang sete­ngah mem­batu itu seperti meme­rin­tah menu­ding pada emak, sedang sua­ra­nya yang garang ter­de­ngar ter­e­ngah-engah kecewa, “Berapa kali aku mesti bilang? Emas! Emas itulah sumber ben­cana.”

“Apa hubung­an­nya semua ini dengan emas?” bapak mem­ban­tah.

“Apa hubung­an­nya? Kan aku sudah ber­u­lang­kali bilang, emas itu bikin perahu-perahu pada kandas, teng­ge­lam dalam lumpur. Sudah berapa kali aku bilang emas, emas, emas!” mata­nya melun­cur dan mem­be­lai per­hi­asan — per­hi­asan pada tubuh Gadis Pantai. “Itu semua mem­buat perem­puan ini mem­be­da­kan diri dari yang lain-lain. Pada­hal apa beda kita di sini? Apa beda aku dari kau? Semua hidup berkat kemu­r­ahan laut.”

“Kau tak suka aku ting­gal di sini, kek?” Gadis Pantai ber­ta­nya lemah.

“Bukan aku yang bilang begitu, kau sen­diri,” kakek mera­ung gerang. Hati Gadis Pantai ter­gun­cang. Kini ia mulai meng­erti, meng­apa sikap semua orang jadi beru­bah ter­ha­dap­nya. Ia sadari diri bukan lagi pen­du­duk kam­pung nela­yan, hanya karena per­hi­asan.

“Lantas, apa hubung­an­nya emas dan anakku, dan Mar­di­kun yang menyaru jadi Mak Pin?”

“Jadi kau tak meng­erti?” raung kakek dengan marah­nya pada bapak. “Baik, ayoh jawah, ke mana per­gi­nya luak kalau bukan kepada mang­sa­nya?”

“Siapa mang­sa­nya? Aku? Siapa luak­nya? Aku?” juga Gadis Pantai mera­ung.

Rumah itu tambah lama tambah gelap, karena lubang pintu selu­r­uh­nya ter­tu­tup oleh pen­du­duk kam­pung yang menon­ton. Anak-anak kecil tak seo­rang hadir, lari keta­kutan pada ber­se­m­bu­nyi di rumah masing-masing di dekat emak mereka.

“Diam,” pekik kakek.

“Kau kami pang­gil kemari bukan buat ber­te­riak-teriak seperti monyet gila, kek,” bapak mera­ung marah. “Kami ingin dapat pen­je­lasan dari kau, apa arti­nya semua ini.”

“Mana aku tahu?”

“Kau tak tahu, tetapi meng­apa marah-marah kayak kese­tanan?”

Dengan suara menyu­rut-nyurut reda kakek memu­kul-mukul tong­kat­nya pada tanah dan, “Ingat-ing­at­lah, berapa kali aku ajari kalian? Emas itu biang keladi di daratan — muti­ara biang keladi di lautan. Tambah banyak barang emas masuk kemari, tambah banyak kemung­kinan bajak datang kemari.”

“Mar­di­kun bukan bajak.” ,

“Kalau begitu dia bajak darat.”

“Tapi belum ter­bukti.”

“Tunggu saja. Tak ada bajak laut maupun darat, bisa bekerja seo­rang diri. Tunggu saja nanti bakal muncul kanca-kan­ca­nya. Tunggu saja! Tunggu saja.” Dan sekali lagi kakek mem­ben­tak gemas, “Lihat saja nanti.”

“Bajak tak peduli siapa yang punya, pinjam atau tidak, dia cuma tahu emas­nya, yang menge­na­kan boleh dite­bang leher­nya kalau perlu.” Gadis Pantai menge­riut.

“Ya, jadi kau ngeri, kan? Tak ada guna­nya selu­ruh kam­pung gen­da­dapan cuma karena mau lin­dungi emas-emas itu. Tahu-tahu luput semua itu darimu. Bodoh semua! Begi­tu­lah polisi-polisi kota. Mereka digaji buat jaga emas pri­yayi, sau­da­gar-sau­da­gar Tiong­hoa, Belanda dan haji-haji. Goblok! Bodoh! Cuma kerbau tidak meng­erti.”

“Kau tak pemah pergi ke kota,” sese­o­rang menu­duh.

“Berapa umurmu plonco? Waktu makmu belum lagi bisa buang ingus­nya, aku sudah malang-melin­tang ke Kedah, Treng­ganu, Meng­ka­sar.”

“Jadi bukan nela­yan?” sese­o­rang ber­ta­nya.

“Bukan nela­yan tadi­nya. Bajak aku!” kakek ber­kata bangga.

Tiba-tiba orang-orang meng­am­bil sikap lain ter­ha­dap kakek.

“Meng­apa ter­ke­jut?” Kakek mene­tak dengan sua­ra­nya. “Apa yang aneh? Kalau orang sudah habis kesa­baran kum­pul­kan ikan, kalau orang sudah habis kesa­baran karena jerih payah­nya “nggak laku di darat, apa diper­buat seo­rang nela­yan kalau tak “mbajak? Kau mau nan­tang?” teri­ak­nya sambil menu­ding­kan tong­kat bakau­nya yang sete­ngah mem­batu. “Tahu apa kau ten­tang zaman dulu? Zaman seka­rang lain — jauh lebih baik.”

“Barang­kali kakek pernah mem­ba­jak kam­pung kita,” sese­o­rang meng­u­jar.

“Kam­pung ini? Hei, plonco! Kau tak tahu akulah yang sela­mat­kan kam­pung ini dari bajak. Empat puluh tahun yang lalu. Waktu itu jadi ingus pun kau belum lagi, plonco, kau tak tahu apa?

“Apa maunya si kakek ini sih?”

“Mau ku? Sela­mat­kan kam­pung ini. Jangan ter­jadi apa-apa. Kalian yang sudah agak tua-tua tahu apa itu mar­sose2. Kalian pernah lihat satu kam­pung dise­m­be­lih mar­sose? Semua bayi-bayi yang baru lahir kema­rin? Mar­sose bakal tahu ada orang digi­ring ke laut, dikira bajak nya­ta­nya tak bisa bere­nang, Apa kalian mau bilang kalau mar­sose datang? Uh, uh-uh,” kakek ter­bung­kuk-bung­kuk dalam batuk­nya.

“Mar­di­kun sudah mati. Mau apa kita seka­rang ini?”

“Baik, uh-uh, balik uh-uh-uh. Balik kau kota!” Kakek menun­juk Gadis Pantai dengan tong­kat­nya.

“Dia cuma mau ber­temu orang tuanya. Sudah dua tahun tidak ber­temu.”

“Buang itu per­hi­asan ke laut!”

“Bukan aku punya, Gadis Pantai meya­kin­kan kakek.

“Kau tak punya apa-apa memang. Semua kepu­nyaan Ben­doro. Kem­ba­li­kan saja semua pada Ben­doro.”

“Jangan kasari dia,” sese­o­rang menyela. “Dia orang kita sen­diri datang kemari buat tengok orang tua dan kam­pung­nya. Dan kau sen­diri girang dapat sarung bugis dari dia.”

Kakek ter­diam.

“Meng­apa kau terima sarung itu?”

“Bagai­mana takkan kute­rima,” kakek men­dayu-dayu. “Apa kah layak aku kedi­nginan terus sampai matiku? Apa itu ter­lalu banyak?”

“Setiap orang mau dapat­kan sarung bigis, bukan kau saja, kek.”

Demi­ki­an­lah tak pernah selama ini kam­pung nela­yan jadi gun­cang. Setiap orang ter­li­bat dalam kecu­r­i­gaan dan duga sangka. Lenyap keda­maian, lenyap­lah keten­tra­man. Di malam hari tiada seo­rang pun ber­mak­sud menyi­ap­kan perahu dan turun ke laut. Bulan waktu itu tak ada — cuma bin­tang-bin­tang gemer­lapan tanpa makna, angin pun tiada meniup.

Dan di malam gelap gulita sayup-sayup, antara gong-gongan anjing liar, ter­de­ngar nya­nyian per­la­han si Dul pen­do­ng­eng dengan iringan sayup pada reban­a­nya.

tiada perahu turun ke laut tiada ikan ber­mu­kim ke darat nela­yan sekam­pung pada kalut semua ter­li­bat urusan berat Rebana dan giring-giring­nya ber­bu­nyi per­la­han sayup-sayup.

cring-cring duk-duk-duk — cring-cring duk-duk-duk ombak segan mem­ban­ting diri menyu­lam pantai riak pun ragu nela­yan sekam­pung pada jeri diku­tuk dewa karam­lah perahu cring-cring duk-duk duk — cring-cring duk-duk duk cring-cring duk-duk duk — cring-cring duk-duk duk Kee­sokan hari­nya, kem­bali orang lelaki pada ber­kum­pul-kumpul mene­rus­kan per­so­alan. Umum­nya pada menyoal dalam nada per­i­ng­atan.

“Siapa pun tak boleh bicara ten­tang Mar­di­kun.”

“Mar­sose tak boleh tahu.”

“Juga polisi kota tak boleh tahu.”

“Ben­doro juga tidak.”

“Apa­lagi Mar­di­nah, sudah jelas ada apa-apanya. Mar­di­nah juga ber­a­sal dari Demak. Mar­di­kun ber­a­sal Demak. Nama­nya pun sama-sama mulai pakai Mardi.”

Sua­sana pem­bi­ca­raan tak lagi sepa­nas kema­rin. Juga kakek tak dipang­gil datang. Ia pergi ber­ja­lan-jalan dengan hati pena­saran sepan­jang pantai, di balik-balik semak bakau.

“Ya, ya pang­gil dia! Urun rembuk, semua kasih pen­da­pat!”

Si Dul dipang­gil, muncul mem­bawa reban­a­nya. “Bagai­mana pen­da­patmu?” sese­o­rang ber­ta­nya.

Si Dul pen­do­ng­eng memu­kul reban­a­nya dan mulai dengan dong­eng­nya:

riuh rendah hati pada cem­buru!

“Husy, lempar rebana itu kita tak mau dengar dong­eng seka­rang. Apa pen­da­pat dan saranmu ten­tang semua ini?”

Sese­o­rang mereng­gut rebana dari tangan­nya, dan dengan hati-hati dile­tak­kan di atas ambin, tepat di tempat Gadis Pantai sema­lam tidur. Si Dul pen­do­ng­eng menga­nga mulut­nya meli­rik ke reban­a­nya. Sung­guh aneh sikap­nya.

“Bica­ra­lah, apa pen­da­patmu?” Tetap diam, mulut masih menga­nga, mata­nya terus meli­rik ke arah rebana.

“Meng­apa dia?”

“Meng­apa kau ini?” seo­rang ber­ta­nya lang­sung.

“Ah, dia cuma bikin-bikin diri aneh.” Kem­bali si Dul hanya meli­rik ke arah rebana. Mem­bisu seribu bahasa. Orang pada heran meli­hat si Dul men­jadi aneh kalau ber­ce­rai dari reban­a­nya. Tetapi orang tak sempat mem­be­ri­kan per­ha­tian lebih lama. “Beri­kan kem­bali reban­a­nya,” seo­rang meme­rin­tah.

Waktu si Dul pen­do­ng­eng mene­rima kem­bali reban­a­nya, seka­li­gus nampak wajah­nya ber­seri-seri. Gadis Pantai adalah satu-satu­nya yang terus mem­per­ha­ti­kan si Dul pen­do­ng­eng. Ia menge­nal si Dul pen­do­ng­eng sejak kecil. Semua orang bilang dia edan Orang sering menga­tai­nya si Dul gen­deng, di sam­ping pang­gil­an­nya sehari-hari si Dul pen­do­ng­eng, karena ia tak pernah bekerja selain men­do­ng­eng. Orang­nya malas, pada­hal badan­nya sehat dan kekar. Di kam­pung nela­yan tak ada kamus­nya orang malas. Kema­lasan adalah barang paling aneh di kam­pung. Kata­nya, si Dul pen­do­ng­eng paling takut turun ke laut, sampai-sampai bapak­nya mem­bi­ar­kan ia pergi meng­em­bara mening­gal­kan kam­pung. Ia pulang bila mata­hari pun telah lenyap dari langit. Tahu-tahu orang men­da­pat­kan­nya tidur di depan pintu. Bila bapak­nya akan turun ke laut, sela­ma­nya hati-hati ia mem­buka pintu agar tidak meng­a­get­kan anak­nya dari tidur­nya.

Kini si Dul pen­do­ng­eng beru­mur tiga puluh tahun sudah, namun tak ada wanita mau jadi istri­nya. Sebe­nar­nya si Dul pen­do­ng­eng cukup gan­teng, tetapi malas­nya tidak keto­lo­ngan.

Nenek pun, maulah aku, cring-cring-cring, sering ia pukul reban­a­nya di malam hari, per­la­han-lahan, lebih buat dong­eng dir­i­nya sen­diri. Tapi nenek-nenek pun tiada sudi jadi bini lelaki malas.

Dalam riuh­nya orang men­cari piki­ran, tiba-tiba si Dul pen­do­ng­eng mem­bu­nyi­kan reban­a­nya:

cring-cring duk-duk-duk — balik-balik­lah ben­doro putri

“Husy,” orang mem­bung­kam­nya. Tapi si Dul pen­do­ng­eng tak peduli:

balik-balik­lah ben­doro putri ke kota tempat harta ditam­pung bawa-bawa emas ber­lian kemari oh oh cela­ka­lah selu­ruh kam­pung

“Suruh diam pema­las gila itu!” sese­o­rang ber­te­riak gemas.

“Bung­kam mulut­nya.”

“Tapi ia dipang­gil buat ikut berun­ding.”

“Ya, tapi bukan untuk men­do­ng­eng.”

“Mau apa lagi, bisa­nya cuma men­do­ng­eng.”

“Rebana? Gen­dang apa tak bisa?”

“Ah, gen­dang cuma dite­tak di rumah-rumah pri­yayi ”

“Apa dia pernah ke kota?”

“Orang tak pernah pulang begitu, ke mana lagi kalau bukan ke kota?”

“Hai, Dul gen­deng, benar kau sering ke kota?”

“Orang tak pernah tanya dari mana dia dapat rebana.”

“Sudah, sudah, kita bukan berun­ding urusan dia.”

“Jadi apa sebe­nar­nya mau dirun­ding­kan?” semua ter­ce­nung diam Tiba-tiba si Dul pen­do­ng­eng memu­kul reban­a­nya lagi dan mena­rik suara:

kem­bali kem­ba­li­lah ke kota”

emas ber­lian bawalah serta di sana kese­nangan menanti di Sini bukan tempat ben­doro putri “Meng­apa aku harus kem­bali ke kota? Aku lahir di sini, orang tuaku di sini.”

kam­pung nela­yan gelap gulita pakai obor minyak kelapa kalau hidup cuma pikir­kan harta sudah pasti datang mala­pe­taka “Hei, Dul gen­deng, tak usah­lah kasih-kasih nasi­hat. Urus saja dirimu sen­diri. Cari kerja sana!”

“Mana bisa dia? Nang­kap selar saja tak mampu.” Rebana segera geme­rin­cing — kata ber­ja­wab gayung ber­sam­but: nang­kap selar menyom­bong-nnyom­bong omong­nya besar kepa­la­nya kosong seumur-umur makan­nya cuma ikan pantas otak buntu perut cacingan “Kurang ajar! Aku ten­dang kau!” sese­o­rang meng­an­cam. Cring-cring duk-duk-duk, si Dul pen­do­ng­eng memu­kul rebana.

“Otakmu itu, otakmu, cuma penuh duri sem­bi­lang, pema­las! Pura-pura edan begitu.”

“Sem­bi­lang pun bukan!”

“Bela­nak!” seo­rang mem­per­ba­iki.

“Otak udang.”

“Udang? Teri busuk!”

Sua­sana tiba-tiba men­jadi riang gem­bira. Orang ter­tawa riuh rendah. Pen­do­ng­eng jadi sasaran.

“Otak begitu apa isinya? Tahu enggak? Ubur-ubur!” Ejekan kontan membal kem­bali pada yang meng­e­jek. kalau mar­sose datang dar-der-dor seisi kam­pung dige­dar-gedor pem­bual-pem­bual pada meriut berani sesum­bar cuma di tengah laut Tiba-tiba gebr­akan keras mem­bung­kam setiap orang, ter­ke­cu­ali si Dul pen­do­ng­eng, meng­a­rah­kan pan­dangan pada pintu Di sana kakek muncul dengan megah­nya, “Begitu ya, ting­kah orang yang sudah kenal kota?” tong­kat­nya seha­bis memu­kul daun-pintu menu­ding si Dul pen­do­ng­eng. “Nggak bisa hargai kerja nela­yan di laut! Pen­do­ng­eng edan! Pema­las! Bukan rebana yang kasih kita makan, tahu! Ikan, ikan di laut yang bikin selu­ruh kam­pung tetap bisa ber­na­fas. Tapi kau meng­e­jek seperti orang kota!”

“Dia tak pernah ke kota.”

“Siapa bilang? Lihat saja reban­a­nya. Dulu dia pakai kaleng rom­beng. Hei, mana kalengmu seka­rang?” kakek ter­tawa meng­hi­na­kan, kemu­dian menyam­bung, “itu tanda dia suka meng­e­mis di kota. Kaleng rom­beng tak boleh dekati masjid dan surau, ngerti. Tapi rebana di kota boleh masuk mesjid — masuk sampai ke dekat khotib di sam­ping mimbar. Nge­mis­nya lebih gam­pang pakai rebana! Jejaka malas tak tahu diun­tung!” memang gede-gede­nya beduk obral amanat muluk-muluk di depan kha­la­yak ber­alim-alim di bela­kang-bela­kang paling lalim “Jadi pintar nyin­dir begitu dia.”

“Jual saja ceri­tamu ke kota sana Tanpa dong­engmu orang pun bisa ber­na­fas di sini.” Tapi ber­bi­sik-bisik orang saling ber­ta­nya, siapa gerangan beduk gede? “Hei, Dul gen­deng, siapa yang lalim pura-pura alim?”

Cring-cring duk-duk duk, kemu­dian tiba-tiba irama reban­a­nya beru­bah, merang­sang, mela­wan, mem­bang­kang, mem­pro­tes, cring-cring dung-dung cring dung-dung cring. “Ceri­ta­nya dia sedang marah.”

“Kau marah, ya?”

dung-cring dung-cring dung-cring…

“Ah, layani orang edan, ikut Edan.”

“Usir saja, dia!”

Sese­o­rang meng­u­sir si Dul pen­do­ng­eng dengan satu ten­dangan mantap. Si Dul pen­do­ng­eng ter­te­lung­kup, reban­a­nya meng­gu­ling meng­ge­lin­ding menuju pintu. Seperti orang sete­ngah lumpuh si pen­do­ng­eng meli­rik dan merang­kak laju menuju reban­a­nya.

“Kok gen­deng­nya men­jadi-jadi dia seka­rang?”

“Dasar pema­las! Lebih suka dika­tai gen­deng, asal tak bekerja.” p “Ban­deng kena tuba pun tidak begitu men­ji­jik­kan.”

“Tahu kalian meng­apa dia jadi begitu?”

“Siapa tidak tahu? Waktu emak­nya mem­bun­ting­kan dia, emak­nya men­ca­but hidup-hidup kaki-kaki kepi­ting. Jadi­nya dia kayak orang tak ber­kaki tak ber­ta­ngan, tak ber­daya. Enggak bisa kerja apa-apa.”

“Bagai­mana dia kalau mati? Masuk neraka atau surga?”

“Siapa tahu? Berdoa dia tak pernah, bisa­nya cuma men­do­ng­eng.”

“Kita sebe­nar­nya sedang berun­ding apa sih?”

Sekali lagi orang ter­ce­nung mem­bisu. “Enggak ada yang dirun­ding­kan sebe­nar­nya. Kema­rin kita minta pen­da­pat kakek, tapi seperti orang kese­tanan kakek “ngge­bah sini, “ngge­bah sana. Naik pitam­lah semua orang jadi­nya.”

“Lantas apa lagi mesti dir­i­but­kan seka­rang?”

“Ah, dengar! Sst dengar … indah sekali dia menya­nyi.”

“Memang si gen­deng itu ber­ba­kat, tapi sayang, malas­nya minta ampun.”

“Sst, dengar.”

Orang-orang ter­diam dan sepan­tun suara lembut, lunak, meng­hiba-hiba sayup-sayup ter­de­ngar di luar rumah, indah. ombak meng­om­bak riak meriak perahu nela­yan menem­bus kelam orang kam­pung tak kenal tamak peras keri­ngat sepan­jang malam seia-sekata ikan caka­lang satu hilir Semua hilir hidupi kelu­arga ban­ting tulang kerja keras rezeki meng­a­lir angin keras meng­hem­pas buritan udang-udang dije­mur ber­te­baran lelaki semalu perem­puan sere­san sepa­kat sekam­pung tahan cobaan “Ha, sedang waras dia, ceri­ta­nya sudah nggak ngawur Dia barang­kali mau ikut bicara.”

“Sekali ngawur, tetap ngawur!”

“Biar dia ikut bicara. Suruh masuk lagi dia.” Sese­o­rang men­je­nguk keluar dan menyi­la­kan masuk, tapi yang dipang­gil tak mau datang, cuma menge­ras­kan bunyi rebana dan menge­ras­kan sua­ra­nya sen­diri.

dasar per­un­tungan nela­yan harta benda tak mampu cari jangan­kan per­o­leh emas-ber­lian gem­bira sudah dapat sesuap nasi biar ben­doro putri ambil sen­diri putusan ter­baik buat diri pri­badi dua tahun sudah ber­mu­kim di kota serasa tujuh turunan di kam­pung kita.

Orang-orang pada men­curi pan­dang pada Gadis Pantai. “Ya, aku akan putus­kan sen­diri!”

Cring-cring, duk-duk-duk cring-cring, duk-duk-duk, suara rebana makin lama makin ter­de­ngar sayup dan jauh, akhir­nya padam sama sekali.

“Barang­kali dia berang­kat ke kota.”

“Ke kota? Tang­kap dia, Ikat! Kita semua celaka nanti.”

“Dia mau ngadu pada mar­sose? Barang­kali ke polisi?”

“Tang­kap dia, ayoh lari, buru.”

“Ben­doro, apakah mung­kin Ben­doro…”

“Diam! Aku anak kam­pung sini.”

“Maaf, Ben­doro Putri.”

“Jangan apa-apakan si Dul itu.”

“Tidak, pasti tidak Ben­doro, dia dican­cang cuma. Biar tak lari mela­por ke kota.”

Hari itu per­ja­lanan sangat cepat, malam pun cepat tiba. Belum lagi habis orang menge­nang­kan kem­bali segala keja­dian sesi­ang tadi, kam­pung nela­yan tiba-tiba jadi hidup lagi. Mar­di­nah, Mar­di­nah datang. Kali ini dengan bebe­rapa orang pengiring — semua pria. Lang­sung ia masuk ke dalam rumah Gadis Pantai. Dan lang­sung menyam­pai­kan, “Ben­doro perin­tah­kan Mas Ngan­ten pulang malam ini juga.”

“Mana tan­da­nya?”

Dari dalam kutang­nya Mar­di­nah menge­lu­ar­kan sepu­cuk surat ber­sam­pul. Ragu-ragu sambil mena­tap Mar­di­nah Gadis Pantai mene­ri­ma­nya. Waktu itu emak, sau­dara-sau­dara dan bapak masih ting­gal di rumah. Mereka semua ber­diri tanpa menyi­la­kan duduk tamu-tamu tak diun­dang itu.

“Mas Ngan­ten tak bisa baca. Mari sahaya baca­kan.”

“Siapa di kam­pung ini yang bisa baca, bapak?”

“Siapa? Tak ada.”

Sebe­lum Mar­di­nah men­da­pat­kan kem­bali surat itu, orang-orang kam­pung nela­yan ramai-ramai telah ber­ke­ru­mun di depan pintu rumah.

“Barang­kali, sahaya bisa,” sese­o­rang ber­kata. “Tapi sudah lama sekali tidak mem­baca sahaya ini.”

“Biar sahaya baca­kan,” dan Mar­di­nah meng­am­bil kem­bali surat itu, menyo­bek sampul dan mem­ba­ca­kan, “Mas Ngan­ten pulang­lah.” Mar­di­nah ter­diam. Ia tak terus­kan baca­an­nya.

“Cuma itu?”

“Cuma itu.”

“Tulisan itu pan­jang.”

“Tapi bunyi­nya dikit.”

“Mari sahaya baca­kan,” orang yang meng­u­sul­kan diri tadi ber­kata lagi.

“Tak perlu,” gertak Mar­di­nah.

“Baik­lah tak perlu. Kalau Ben­doro Putri mesti pulang malam ini juga, kita antar­kan bera­mai-ramai.”

“Ha? Ben­doro tak sedi­a­kan dokar buat orang seba­nyak itu. Cuma dua.”

“Semua mesti jalan kaki kalau begitu.”

“Jalan kaki?”

“Ya, atau semua mesti naik dokar,”

“Ya, jangan lupa kuda­nya.” Orang ter­diam.

“Mes­ti­kah aku berang­kat, bapak?”

“Kalau ter­gan­tung pada emakmu ini, kau mesti pergi nak.” Empat pengiring itu tak juga buka mulut. Salah seo­rang di anta­ra­nya men­da­ham. Dan orang-orang pun segera meman­dang pada­nya. Baru waktu itulah orang meli­hat nyala aneh pada mata mereka. Dan orang-orang kam­pung pun sema­kin curiga. “Sini surat­nya,” Bapak meminta.

“Apa guna­nya? Bapak tak bisa baca.”

“Surat ini buat anakku, bukan buat Ben­doro.”

“Ya, beri­kan surat itu.”

Meli­hat Mar­di­nah dalam kea­daan ter­an­cam, keem­pat orang pengiring­nya pun maju melin­dung­i­nya. “Surat ini tak kuse­rah­kan,” kata­nya sambil hendak menye­li­nap­kan­nya kem­bali di balik kutang­nya.

“Kalau begitu anakku tak perlu berang­kat. Pulang saja ke kota kalian.” Bapak ber­kata tegas memu­tus­kan.

“Tidak bisa,” Mar­di­nah mem­ban­tah. “Mas Ngan­ten harus pulang malam ini.”

“Tidak ada bukti.”

“Surat ini buk­ti­nya.”

“Kalau Ben­doro perin­tah­kan pulang, itu ber­arti pulang,” salah seo­rang pengiring Mar­di­nah mene­ngahi.

“Pergi kalian, aku bisa antar­kan sen­diri. Malam ini juga.”

“Tak ada tempat di dokar buat kau!” salah seo­rang pengiring meng­an­cam.

“Tak ada tempat buat kalian di rumah ini. Pergi!”

“Jangan, jangan pergi,” emak mene­ngahi per­cek­cokan Tiba-tiba ken­to­ngan bambu dipu­kul ber­talu-talu, dan semua lelaki kam­pung nela­yan menyerbu ke dalam mem­bawa tong­kat, pen­da­yung, golok, kampak. Yang tak dapat masuk ting­gal di luar menge­pung.

“Anakku pergi kalau benar ada bukti. Beri­kan surat itu!”

“Ya, beri­kan”

Pria-pria pengiring itu pun meng­un­dur­kan diri keta­kutan meli­hat orang banyak masuk. Dan Mar­di­nah ter­paksa menye­rah­kan surat itu pada bapak.

“Siapa tadi bilang bisa baca?”

“Aku. Tapi dua puluh tahun aku tak pernah baca. Mari kubaca.” Orang itu pun men­de­kati pelita. Ia pan­dang-pan­dang surat itu, men­coba mem­ba­ca­nya.

“Ayoh. Apa kata­nya?”

“Lama benar.”

“Aku bilang, dua puluh tahun aku tak mem­baca.”

“Kami sudah dengar, tapi apa kata­nya?”

“Tapi ini bukan tulisan Jawa.”

“Lantas tulisan apa?”

“Tulisan iblis kali.”

Mar­di­nah men­de­ngus meng­hi­na­kan. “Tadi sudah kuba­ca­kan, tapi kalian tak per­caya.”

“Hitung ada berapa baris surat itu,” bapak meminta. “Satu, dua, tiga, … dua puluh.”

“Yang dibaca cuma seba­ris tadi. Meng­apa baris-baris lain tidak?”

“Apa guna­nya? Itu cuma alamat tempat ting­gal Ben­doro, dan alamat Mas Ngan­ten di sini.”

“Bagai­mana bunyi ala­matku di sini?”

Belum pernah selama ini kedua wanita itu ber­pan­dangan sede­mi­kian tajam. Para pengiring meng­a­wasi bapak — juga dengan mata tajam. Mar­di­nah tak minta surat itu kem­bali, juga tak mem­ba­ca­nya.

“Aku perin­tah­kan kau baca yang leng­kap!” Gadis Pantai menu­ding Mar­di­nah.

“Tidak perlu, ayoh pergi saja kalian dari sini!” Mar­di­nah meng­u­sir orang-orang kam­pung yang ber­ke­ru­mun.

“Ada apa ini? Ah-ah orang kota lagi!” Kakek masuk dengan ter­go­poh-gopoh. Tong­kat­nya kayu bakau yang sete­ngah mem­batu menu­ding orang-orang kota. “Asal ada orang kota datang, selalu mesti ribut.”

“Baik, kita balik saja,” Mar­di­nah meng­i­sya­rat­kan para pengiring­nya. “Kami akan datang lagi bawa polisi.”

“Polisi?”

“Ya, polisi, polisi. Biar kalian didrel habis.”

“Ya, ya, benar polisi,” salah seo­rang pengiring mengu­at­kan.

Waktu sedang tegang-tegang­nya sua­sana, nampak sekali bapak sedang keras ber­pi­kir. Kemu­dian ia mem­bi­sik­kan sesu­atu pada sese­o­rang. Lama betul bapak ber­bi­sik. Sesu­dah itu orang itu pun lari keluar rumah, tak kem­bali lagi. Ah, sebo­doh-bodoh orang kam­pung, dalam kepe­pet akal mereka selalu jalan.

“Jangan, jangan datang­kan polisi kemari. Sila­kan duduk kita berun­ding lebih baik lagi. Jangan marah,” kata bapak menya­bar­kan.

“Seka­rang juga Mas Ngan­ten mesti pulang,” kem­bali Mar­di­nah men­de­sak garang.

“Ya, seka­rang juga anakku akan kem­bali ke kota. Tapi tunggu seben­tar anakku belum siap.” Sua­sana tegang men­jadi surut sedi­kit. Dan para pengiring pun nampak men­da­pat­kan kepri­ba­di­an­nya kem­bali.

Men­da­dak selu­ruh ken­to­ngan bambu di selu­ruh kam­pung ber­bu­nyi ber­talu-talu. Orang-orang ter­diam men­de­ng­ar­kan. Ter­de­ngar sese­o­rang ber­seru. “Bajak laut! Mereka sudah men­da­rat mau menye­rang. Lari! Orang-orang pun ber­si­aga, melom­pat ke luar rumah mem­bawa sen­jata masing-masing.

“Mereka datang.”

Mar­di­nah men­jadi pucat. Para pengiring­nya men­jadi bingung.

“Ke mana kita mesti sem­bu­nyi.”

“Ikut sama yang lain-lain.”

“Ikut ke mana?”

“Per­ta­han­kan kam­pung.”

“Tidak. Lebih baik buru-buru pulang ke kota”

“Jalan-jalan tidak mung­kin aman seka­rang.”

“Biar­lah aku bebe­nah,” Gadis Pantai memu­tus­kan. “Mereka akan segera datang,” bapak mem­per­i­ng­at­kan. “Tiup itu pelita.”

“Jangan dulu.”

Tiba-tiba dari luar ter­de­ngar. “Dua mata-mata bajak ter­tang­kap.”

“Bawa sini!” bapak ber­te­riak.

Dua orang laki-laki itu di dorong ke dalam. Muka­nya babak belur kena pukulan. Ter­hu­yung-huyung mereka dide­kat­kan pada pelita.

“Masya’allah. Itu kusir kami,” Mar­di­nah meme­kik. “Benar, kusir kami.”

“Kusir?”

“Tidak! Dua orang biang­ke­ladi ini mata-mata bajak.”

“Tidak!” Salah seo­rang kusir mem­bela diri. “Kami berdua cuma kusir. Sege­rom­bolan bajak sudah serang dokar dan kuda kami. Waktu dili­hat­nya dokar kosong mereka bunuh kuda kami. Dan kami lari kemari.”

“Jadi bagai­mana kuda itu?”

“Mati. Dua-duanya kita temu­kan dekat semak-semak, dikam­pak kepala dan kaki­nya,” kata seo­rang kam­pung. “Kalian tak di buru?”

“Mereka menge­jar, mereka terus mem­buru kemari.”

“Tiup pelita itu!”

Gelap gem­pita. “Keluar semua!” Semua lari keluar. Di keja­uhan ter­de­ngar seo­rang bayi mena­ngis.

“Mereka sudah dekat!” sese­o­rang ber­bi­sik. Dan malam pun sema­kin gulita.

“Ayoh kita semua lari ke tengah laut.”

“Ayoh, ayoh.”

“Ben­doro Putri siapa ganti kuda kami?” Kusir ber­ta­nya. “Diam!”

“Uh.”

“Sudah bagus kalian sen­diri nggak digo­rok.”

Selu­ruh kam­pung lari mening­gal­kan rumah. Ke tepi laut dan men­de­kati muara kali kecil tempat pen­ca­lang-pen­ca­lang nela­yan ditam­bat.

“Sela­mat­kan Ben­doro Putri. Bawa ke laut!”

“Ya, dua-dua Ben­doro Putri.”

“Satu perahu saja. Pengiring-pengiring di dua perahu lain­nya.”

“Benar. Jangan sampai kita kena. Salah nanti.” , “Tapi, apa bajak­nya tak ada yang jaga di tengah laut?”

“Laut lebih lebar dari darat.”

“Naik. Sila­kan. Cepat-cepat.” Dalam kege­lapan itu ter­de­ngar bunyi keci­bakan kaki-kaki yang turun ke air. “Jangan takut-takut orang kota. Di sini tak ada buaya.”

“Benar. Di sini tak ada buaya. Buaya lebih suka di muara kota.”

“Kok kalian tak takut keli­hat­an­nya?” tanya salah seo­rang pengiring Mar­di­nah.

“Biasa. Kita semua sudah biasa. Enam bulan sekali bajak turun kemari.”

“Dari mana?”

“Dari mana? Barang­kali dari kota.”

“Husy. Jangan ngo­b­rol. Cepat!” Dalam kege­lapan itu pun tiga buah perahu melun­cur ke laut lepas.

Kok ok Waktu mata­hari sudah men­ja­lan­kan dinas­nya, orang-orang pria telah kumpul kem­bali di rumah bapak.

“Jadi bagai­mana?”

“Ya, begi­tu­lah, semua menu­rut ren­cana.”

“Benar dua kuda itu dibu­nuh?”

“Tidak. Cuma dipin­dah­kan ke tempat lain.” . “Tapi kusir-kusir itu…”

“Cuma ruji gero­bak­nya kami ger­gaji tandas.”

“Kusir-kusir itu … kata­nya kuda-kuda dibu­nuh.”

“Ah, memang kuda-kuda itu ter­paksa dipu­kuli agak keras.”

“Di mana kuda-kuda itu seka­rang?”

“Di bawa ke hutan, diting­gal­kan di sana.”

“Anakku sudah men­da­rat?”

“Sudah, tapi dita­han dulu.”

“Bagai­mana pengiring-pengiring itu?”

“Mereka semua ber­sen­jata tajam, dalam kege­lapan kami pukuli mereka dengan dayung.”

“Apa kata mereka?”

“Anak bapak akan dibu­nuh di tengah jalan.”

“Apa alas­an­nya?”

“Mereka tidak tahu. Mereka hanya tahu melak­sa­nakan perin­tah dari Demak.”

“Sama dengan Mar­di­kun, jadi?”

“Sama.”

“Nggak bisa bere­nang, tentu.”

“Tentu saja tidak.”

“Kau lempar ke laut?”

“Dua-duanya.”

“Yang di perahu lain­nya?”

“Mung­kin sama saja nasib­nya.”

“Mar­di­nah? Bagai­mana Mar­di­nah.”

“Dia cari-cari abang­nya.”

“Orang-orang itu yang bilang?”

“Ya.”

“Siapa orang­nya di Demak yang kasih perin­tah mereka.”

“Mereka tak tahu.”

“Jadi mereka cuma tahu Mar­di­nah?”

“Barang­kali.”

“Rupa-rupa­nya cuma Mar­di­nah yang tahu sega­la­nya.”

“Kita paksa dia. Kita tahan dia di sini.”

“Bukan main perem­puan itu, seperti lelaki.”

“Meng­apa dia sampai begitu? Siapa yang atur semua itu?”

“Nanti kita periksa.”

“Cela­ka­nya tak ada yang bisa baca.”

“Sialan.”

“Ah, barang kali si Dul pen­do­ng­eng pernah bel­a­jar baca. Kita sudah lupa­kan dia.”

“Selama ini masih dican­cang dia?”

“Masih di bedeng sero.”

“Dia tak ber­temu kusir-kusir itu?”

“Tidak mung­kin.”

“Lepas­kan dia. Coba ambil dia kemari.”

Dan waktu si Dul pen­do­ng­eng muncul mem­bawa rebana, semua mata ter­tuju pada­nya. Dipu­kul­nya tepi reban­a­nya lambat-lambat. Ia sedang mem­per­ha­ti­kan apa yang bakal mung­kin ter­jadi.

“Kau bisa baca?” bapak ber­te­riak.

Si Dul pen­do­ng­eng ter­ke­jut dan dengan sen­di­r­i­nya mem­buat pukulan ken­cang pada reban­a­nya, sedang seperti ter­sen­tak dari mulut­nya melun­cur kata-kata­nya:

“Tidak! Tidak! Ai-ai Tidak!” — dung-dung-dung-cring! “Jelas nggak bisa baca juga.”

Can­cang lagi dia.

Pukulan rebana itu tiba-tiba keras mem­pro­tes. Dan orang-orang pun mem­be­ri­kan kesem­patan pada­nya ber­bi­cara. Pukulan reban­a­nya kini kem­bali jadi tenang, dan dengan suara mantap dia bawa­kan pan­tun­nya:

ke mana pun si kecil per gi ke Sana pun penipu menanti orang kam­pung sifat­nya lugu sasaran empuk para penipu tetapi tetapi — dung-dung-cring dung-dung-cring Suara rebana tiba-tiba beru­bah. “Tetapi meng­apa!?” seren­tak orang memo­tong.

tetapi tetapi — dung-dung-cring siapa sangka siapa nyana — dung-dung-cring “Meng­apa, oi gen­deng?” teriak seo­rang tak sabar. sejak petang layar ter­kem­bang ikan ter­pe­rang­kap dalam lang­gai aihaih orang kam­pung seka­rang menipu pun sudah pandai …

“Setan! Siapa yang kita tipu?” seo­rang mem­ben­tak dengan marah. “Kau jangan meng­ada-ada, gen­deng.” Tapi si Dul pen­do­ng­eng mene­rus­kan tanpa peduli:

bajak mana mau sing­gah di kam­pung cuma udang kering ber­ka­rung-karung bajak mana mau datang meng­gem­pur cuma pera­wan dekil di dapur-dapur harta tidak — benda tidak ubur-ubur pun segan men­de­kat Kali ini si Dul pen­do­ng­eng tak sempat menye­le­sai­kan nya­nyi­an­nya. Dia dido­r­ong keluar rumah, “enyah kau!” Semua marah, tak tahu harus dia­pa­kan si pen­do­ng­eng yang terus meng­o­ceh tak keruan. Seka­rang ting­gal reban­a­nya masih ter­de­ngar lambat-lambat geli­sah, sayup-sayup karena orang­nya sudah men­jauh.

“Tak pernah dia seaneh ini,” seo­rang meme­cah kese­nyapan. “Benar kata kakek. Kota meru­sak semua-mua. Betul-betul sudah gen­deng dia.”

“Selu­sin iblis sudah ber­sa­rang di otak­nya.”

“Dua lusin.”

“Ah, tidak,” bapak menyela, “dia cuma keli­hat­an­nya saja gen­deng, tapi mata­nya jeli, otak­nya jalan.”

“Wah, bahaya kalau begitu. Lantas kita apakan dia?”

“Mulut­nya tak boleh men­ce­la­ka­kan kita semua. Can­cang lagi dia. Ambil reban­a­nya! Simpan di rumah siapa saja, asal tak dir­u­sak­kan anak-anak,” perin­tah bapak.

Seo­rang segera mening­gal­kan rumah, ber­tu­gas sekali lagi men­can­cang kedua kaki si Dul gen­deng, kalau perlu tangan­nya seka­lian.

Pukulan-pukulan rebana seka­rang lenyap sama sekali. Tapi sua­sana dalam rumah masih terasa men­ce­kik. Udara kian lama kian merang­sang dengan panas­nya, seakan angin enggan menyen­tuh tubuh manu­sia.

“Tiada selem­bar rumbia ber­ge­rak di atas rumah. Kesak­sian hidup cuma panas udara dan sesak­nya dada.

“Apa kita laku­kan seka­rang?” sese­o­rang ber­kata. “Meng­apa kepala kam­pung tak juga bicara?”

“Mesti bicara apa lagi dia?”

“Seti­dak-tidak­nya kese­la­matan dir­i­nya juga ter­an­cam ”

“Bukan dia sen­diri, kita semua.”

“Cuma kakek saja yang tenang-tenang.”

“Bagi dia cuma ting­gal cari tempat buat mati.”

“Iblis tua itu, dia cuma pikir­kan dir­i­nya sen­diri.”

“Itu tidak benar. Dia pikir­kan kese­la­matan kita semua.”

“Meng­apa sampai ter­jadi begini seka­rang?”

“Husy, husy, jangan menye­sali. Begi­ni­lah kita seka­rang. Kita mesti dapat­kan akal, lain tidak. Bagai­mana pengiring yang dua lagi itu?”

“Tin! Coba cari kete­rangan kau.” Sese­o­rang segera pergi mening­gal­kan rumah.

Mereka menunggu, menunggu, menunggu. Tapi yang ditunggu tiada muncul.

Di hari-hari akhir ini mereka hidup seakan begitu lama. Tak ada ikan ter­tang­kap. Lebih dua puluh jam perut tak dila­lui makanan. Orang-orang hampir tak sempat ter­le­lap. Sedang saraf terus juga dalam kea­daan tegang. Minyak tanah pun telah habis. Kini orang mem­per­gu­na­kan minyak kelapa, dan nya­la­nya yang tak ber­pri­badi mem­buat sua­sana sema­kin teras muram.

Tak lama sete­lah dapat kabar kedua pengiring lain­nya juga tewas dan keda­patan ber­sen­jata tajam juga, muncul Gadis Pantai dan Mar­di­nah dii­ring­kan bebe­rapa orang. Kedua wanita nampak layu keha­bisan darah.

“Ben­doro Putri takkan mung­kin pulang.” Bapak memu­lai.

“Bajak telah han­cur­kan dokar. Kedua-dua dokar. Tak ada dengar apa-apa waktu di laut.”

Mar­di­nah cuma sete­ngah men­de­ng­ar­kan. Men­ja­wab, “Tidak.”

“Benar tidak?”

“Tidak.”

“Ingat-ing­at­lah lagi.”

“Bebe­rapa mayat nela­yan kami dite­mu­kan di pantai pagi ini. Juga keem­pat pengiring Ben­doro Putri.”

Wajah Mar­di­nah beru­bah. Mata­nya menyala serta tangan­nya dan bibir­nya meng­gi­gil.

“Pada mereka ter­da­pat luka-luka sen­jata tajam. Pasti mereka ter­kena kepung bajak di tengah laut ”

“Benar Ben­doro Putri tak dengar apa-apa waktu di laut?”

“Aku ada dengar teri­akan,” Gadis Pantai ber­bi­sik lamat-lamat sayup-sayup. Gelap gulita waktu itu. Perahu-perahu kami ber­pi­sahan. Kami tak ber­lampu.”

“Berun­tung­lah Ben­doro tak ikut ter­pe­lo­sok dalam kepungan bajak. Mereka tak kenal kasihan. Tak kenal ampun. Seperti orang-orang yang dendam pada kela­hir­an­nya sen­diri. Syukur Ben­doro Putri, syukur Ben­doro masih sela­mat. Bukan­kah begitu kanca-kanca?”

“Ya, memang begitu. Syu­kur­lah Ben­doro Putri sela­mat. Kita semua sudah begitu kha­wa­tir.”

“Tapi seka­rang Ben­doro Putri tak mung­kin bisa balik ke kota.” Kemu­dian emak pun masuk ke dalam rumah, juga abang-abang dan sau­dara-sau­dara Gadis Pantai.

“Bagai­mana makan, emak? Tak ada?”

“Ah, datang pun baru, kami ini.”

“Masak­lah.”

“Beras dari kota masih ada kan, mak?”

“Beras masih ada, bajak­nya yang sudah tak ada. Mari masak perem­puan-perem­puan?!”

Dengan tubuh layu, wanita-wanita pun mulai mema­sak. Mar­di­nah rubuh­kan diri di atas bale, dan seben­tar kemu­dian tak ber­ge­rak-gerak lagi ter­ke­cu­ali alat-alat per­na­fa­san­nya. Gadis Pantai menyu­sul mere­bah­kan diri di ambin. Pun seben­tar kemu­dian ter­le­lap. Orang-orang laki walau­pun capek masih keli­hatan berem­buk. Ber­sama mereka men­cari akal ten­tang apa yang harus dila­ku­kan selan­jut­nya.

Seo­rang demi seo­rang mening­gal­kan rumah sete­lah lama bicara ber­bi­sik-bisik. Akhir­nya bapak pun pergi …

Ketika makan ter­se­dia dan dua wanita yang ter­ti­dur diba­ngun­kan, makan sore menyu­sul, lambat tanpa sema­ngat. Dan waktu Mar­di­nah hendak mere­bah­kan diri kem­bali ke ambin, seperti telah diper­hi­tung­kan sebe­lum­nya bapak pun masuk ke dalam dan lang­sung mem­buka per­ca­kapan:

“Ben­doro Putri, Ben­doro ter­paksa ting­gal di kam­pung sini. Kami tak bisa pang­gil­kan dokar lain kami cuma mau meno­long kalau kami pun dito­long. Kami orang-orang miskin saja, seta­hun sekali saja makan nasi. Bia­sa­nya kami makan jagung. - Kami tak mampu sedi­a­kan apa-apa pada Ben­doro Putri. Cuma sekali ini saja kami sedi­a­kan makan. Mulai besok Ben­doro Putri sila­kan cari makan sen­diri, mung­kin ikut menang­kap ikan di laut, mung­kin men­ja­hit jala. Sahaya tak tahu apa Ben­doro Putri bisa ker­ja­kan.”

“Aku? Aku mesti kerja? Kau tidak tahu siapa aku?”

“Tahu benar Ben­doro Putri, karena itu sahaya beri­ta­kan sebe­lum­nya. Kami tak mampu sedi­a­kan makan lagi mulai besok, juga tak mampu sedi­a­kan ambin lagi. Juga tak mampu sedi­a­kan atap naungan lagi. Ben­doro Putri bisa tidur di bawah-bawah pohon kalau suka.”

“Meng­apa dulu bisa seka­rang tidak?”

“Karena masih tamu kami, mulai besok tidak lagi.”

“Ah-ah aku tak biasa. Aku tak bisa kerja.”

“Ya, Ben­doro Putri lebih baik pulang saja kalau begitu.”

“Kan tidak ada dokar…”

“Jalan kaki.”

“Takut.”

“Kalau begitu harus ting­gal di kam­pung sini.”

“Suruh orang antar­kan aku, aku akan bayar dia.”

“Tidak ada yang bisa. Ben­doro ter­paksa pulang sen­diri.”

“Ah-ah, aku takut dan aku tak bisa kerja, aku bayar semua, makanku, tempat tidurku, mandi, minum.”

“Berapa uang Ben­doro Putri?”

“Tidak banyak, barang­kali men­cu­kupi buat bebe­rapa hari sampai ada dokar.”

“Dokar takkan datang kemari. Dia datang kalau kami pang­gil.”

“Pang­gil­lah.”

“Tak mung­kin. Ber­hari-hari sudah kami tah menang­kap ikan. Kami ter­lalu lelah. Ter­lalu banyak ribut akhir-akhir ini.”

“Ah-ah, biar­lah kupi­kir­kan besok.”

“Maaf Ben­doro Putri, pagi besok Ben­doro sudah harus cari tempat lain dan cari makan sen­diri. Ben­doro seba­ik­nya ten­tu­kan seka­rang.’

“Jangan­lah begitu keras padaku,” Mar­di­nah memo­hon “Seribu maaf, sahaya tak bisa lain.”

“Aku akan bayar semua.”

“Mau bayar?”

“Ya! Minta berapa bayar­an­nya?”

Bapak agak meng­ang­kat muka, ber­diri, ber­ja­lan men­jauh meng­ham­piri pintu, men­da­ham, kemu­dian dengan ragu-ragu men­de­kati Mar­di­nah yang kehi­langan kan­tuk­nya. “Ong­kos­nya tinggi sekali.”

“Sering­git?”

Bapak ter­tawa.

“Kurang banyak? Tiga rupiah.”

Bapak ter­tawa.

“Lima? Enam? Sepu­luh?”

“Dari mana Ben­doro punya uang seba­nyak itu?” Gadis Pantai bangun dari ambin dan menyum­bang­kan suara, “Di kota dia kerja mela­yani aku, bapak.”

“Cuma pela­yan? Tapi dari mana uang seba­nyak itu Ben­doro Putri?”

“Mar­di­nah mena­rik-narik tepi kain­nya sambil menun­duk sedi­kit, kemu­dian dengan mata menyala mena­tap Gadis Pantai. “Tahu Mas Ngan­ten ten­tang orang tuaku?”

“Bapakmu juru tulis.”

“Apa juru tulis tak mung­kin kaya?”

“Apa yang dimi­l­iki orang tua Ben­doro Putri?”

“Sawah puluhan bahu.”

“Apa lagi?”

“Rumah, puluhan dokar-dokar sewaan ”

“Tapi Ben­doro Putri tak bisa keluar dari kam­pung sini”

“Aku bisa bayar berapa saja diminta.”

“Kalau begitu bayar saja dengan sawah, rumah dan dokar-dokar itu. Buat biaya Ben­doro Putri di sini. Setuju? Kepala kam­pung besok bisa pergi ke kota. Beri­kan uang yang lima rupiah itu kepa­da­nya. Dia akan meli­hat sawah dan rumah dan juga delman-delman itu. Mengu­rus­nya pada ben­doro-ben­doro pri­yayi sampai semua dise­rah­kan pada kami, sesu­dah itu Ben­doro Putri kami antar­kan pulang ke kota setuju?”

“Tidak mung­kin. Mana bisa sawah-sawah dise­rah­kan.”

“Beribu maaf, Ben­doro Putri, itu kalau Ben­doro Putri suka. Kalau tak suka, lebih baik seka­rang saja Ben­doro Putri cari tempat meng­i­nap lain. Tak usah tunggu besok.”

Mar­di­nah mene­kur.

“Dengar!”

Mar­di­nah meng­ang­kat kepala kem­bali dan men­de­ng­ar­kan. Sayup-sayup ter­de­ngar salak anjing.

“Sila­kan pergi Ben­doro Putri! Ayoh sila­kan, sila­kan pergi! Di semak-semak bakau sana ada tempat.” Semen­tara itu di luar sana suara-suara anjing masih terus melo­long pan­jang.

Mar­di­nah men­ce­kam kedua belah tangan pada dada­nya. Wajah­nya pucat dan bibir­nya jadi biru. Dalam kege­lapan malam ber­lampu pelita nampak seakan rambut kepa­la­nya mem­bum­bung lebih tinggi.

“Sila­kan Ben­doro Putri, kalau tak suka pergi, ter­paksa sahaya seret keluar.”

“Ampun, bapak. Ampun.”

“Tidak ada ampun. Berapa uang Ben­doro Putri bawa seka­rang? Jawab lekas.”

Mar­di­nah meriut keta­kutan. Orang-orang yang kini masuk ke dalam mem­bawa ber­ba­gai macam alat, mem­bi­kin sua­sana sema­kin menye­ram­kan.

“Orang-orang ini datang buat cari­kan tempat buat Ben­doro Putri di semak-semak bakau.”

“Ampun, jangan aku harus tidur di sana.”

“Berapa uang­nya? Seka­rang ada?”

“Lima puluh rupiah.”

“Dari mana uang seba­nyak itu? Serah­kan!”

“Orang tuaku kaya.”

“Bohong!” bebe­rapa orang seka­li­gus ber­su­ara. Orang-orang yang baru masuk kini nampak meng­an­cam sambil meng­ham­piri. Mar­di­nah menu­tup mata­nya dengan kedua belah tangan dan mena­ngis.

“Tidak ada guna­nya, nanti di semak-semak bakau Ben­doro Putri bisa mena­ngis sepuas-puas­nya.”

“Ampun!” jeritan ngilu.

“Dari mana uang itu?”

“Ampu­u­uun!”

“Angkat saja, bawa saja Ben­doro ke semak bakau tepi laut.” Orang-orang sema­kin men­de­kat.

“Ampun. Uang itu, uang itu dari…”

“Meng­apa tak lekas-lekas dise­ret? Dibu­ang!”

“Hayoh, kanca-kanca.”

“Ampu­u­uun!” Mar­di­nah ber­pe­gangan erat-erat pada galar ambin.

“Tak usah minta ampun! Kata­kan saja dari mana uang seba­nyak itu?”

“Aku akan kata­kan.”

“Kata­kan, cepat!”

“Dari Ben­doro Demak.”

“Ben­doro apa? Patih? Mantre Kan­jeng Bupati?”

“Ben­doro … Ben­doro … Tidak, aku tidak akan kata­kan.”

“Ben­do­r­omu yang suruh kau kemari?”

“Tidak.”

“Siapa suruh kau?”

“Siapa? Siapa? Aku sen­diri!”

“Meng­apa Gadis Pantai mau kau bunuh?”

“Tidak! Tidak! Tidak!”

“Kanca-kanca! Bawa pengiring­nya yang masih hidup. Itu yang bahu­nya belah kena tombak bajak. Suruh dia ngaku di sini. Biar tatap muka. Sedia Ben­doro Putri?”

Mar­di­nah ter­diam.

“Pengiring itu bilang, kalau Ben­doro Putri tak mau ngaku, parang yang diba­wa­nya dari Demak bakal dite­bang­kan pada leher Ben­doro Putri sen­diri.”

“Hei, para kanca, ikat kaki tangan­nya. Kita sen­diri saja yang tebang leher­nya. Nggak ada yang tahu dia ada di sini. Ben­doro di kota pun tak tahu.”

Mar­di­nah mem­ba­li­kan badan merang­kul dataran ambin dengan kedua belah tangan­nya, mele­kat erat pada galar-galar ambin.

“Tidak ada guna­nya Ben­doro Putri!”

“Ah, bukan Ben­doro dia!”

“Tidak ada guna­nya, Ben­doro Putri. Gam­pang saja tangan itu dite­bang, lepas sen­diri Ben­doro dari ambin.” Mar­di­nah men­je­rit minta-minta tolong.

“Tak ada guna men­je­rit. Tak ada orang kota di sini, takkan ada yang dengar. Takkan ada yang nolong.”

Gadis Pantai ter­i­sak-isak. Mar­di­nah melo­long-lolong. “Ngaku cepat!”

“Ben­do­r­oku jan­ji­kan aku, aku … jadi…”

Orang-orang ter­diam men­de­ng­ar­kan. Mar­di­nah masih mele­kat­kan tubuh pada ambin.

“Cepat! Kalau tidak aku lecut dengan buntut pari.”

“Istri … Istri, Istri, istri kelima, kalau…”

“Kalau apa?”

“Kalau, kalau, kalau aku dapat, dapat usa­ha­kan…”

“Cepat!”

“… put­ri­nya, dapat … dapat … jadi istri Ben­doro, Ben­doro suami Mas … Mas Ngan­ten.”

“Tengik!”

“Berapa kau dapat duit dari Ben­doro buat usir anakku?”

“Sera­tus rupiah.”

“Mana seka­rang?”

“Ting­gal tiga puluh lima.”

“Berapa kau bagi pengiringmu?”

“Baru sering­git-sering­git”

“Kalau ber­ha­sil peker­ja­an­nya, ditam­bah berapa?”

“Ampun! Ampun!”

“Kita apakan perem­puan culas begini?”

“Aku ada usul, aku ada usul.”

“Bagai­mana? Ayoh cepat apa usul­nya?”

“Beri­kan dia pada si Dul gen­deng biar kesam­paian mak­sud­nya dapat lelaki.”

“Bagus! Bagus! Setuju!” seren­tak orang menyam­but. “Betapa girang si Dul gen­deng. Dia bakal ileran.”

“Ah, ah, Ben­doro — pergi jauh-jauh, tahu-tahu jadi bini pen­do­ng­eng gen­deng.”

“Cepat!” Orang pun pada ter­tawa senang. Mar­di­nah reda sedi­kit. Ia ter­i­sak-isak.

“Ai-ai, tak dapat Ben­doro, pen­do­ng­eng edan pun jadilah. Oi, sudah pernah lihat si Dul?”

“Hmm, kalau malam bisa deng­ar­kan dong­eng­nya: duk-duk-duk, cring!” Kem­bali orang gelak-gelak. Isak-isak Mar­di­nah sema­kin surut men­de­ngar gelak-gelak itu.

“Tak jadi dibawa ke semak bakau?” Tak ber­sam­but. “Kasih­lah dia pada si gen­deng itu. Biar pesta dia malam ini.”

“Bagai­mana Ben­doro Putri, jawab­lah, tidur di semak-semak bakau atau dite­mani si Dul pen­do­ng­eng di bedeng sero. Jawab.” Mar­di­nah ter­diam dari isak dan sedan­nya. Ia mene­kuri bumi seka­rang.

“Nggak susah, nggak susah. Ayoh jawab saja.”

“Para kanca! Itu usul baik, bukan?”

“Baik, lebih dari baik.”

“Hebat!”

“Asyik!”

“Jawab­lah, Ben­doro. Ben­doro Putri bukan­kah masih pera­wan?”

“Janda,” Gadis Pantai mem­be­tul­kan.

“Ya, ya, biar sekali ini si Dul punya kerja. Kerja jadi lelaki.”

“Benar, biar dia bel­a­jar jadi lelaki!” ter­tawa riuh. “Cepat!”

“Para kanca, Ben­doro Putri diam saja, tak meno­lak — jadi setuju.” Orang-orang meng­a­wasi Mar­di­nah, yang kini duduk diam-diam di ujung ambin.

“Apa lagi yang ditunggu? Ayoh! antar­kan dia pada si Dul pen­do­ng­eng.”

“Ya, ya. Cari laki di sini tidak sulit.”

“Sila­kan ber­diri, Ben­doro Putri. Mereka akan antar­kan Ben­doro Putri.” Ragu-ragu Mar­di­nah ber­diri “Para kanca! Yang sopan! Antar­kan Ben­doro ke bedeng sero —jangan ting­gal­kan sebe­lum kalian tahu pasti Ben­doro sela­mat sampai di tempat.”

Mar­di­nah mulai ber­ja­lan mening­gal­kan ruangan, lambat-lambat menuju ke pintu. Kepa­la­nya menun­duk dalam. Gadis Pantai ber­lari-lari meng­ha­dang jalan.

“Mar­di­nah, bukan kehen­dakku semua ini.”

“Sahaya, Mas Ngan­ten.”

“Ini semua barang­kali akibat niatmu sen­diri.” Mar­di­nah mene­rus­kan lang­kah, dan Gadis Pantai menying­kir mem­beri jalan.

“Kau tak kebe­ratan men­dam­pingi si Dul pen­do­ng­eng?” Ragu-ragu Mar­di­nah meng­ang­kat bahu dan terus melang­kah, keluar dari pintu, hilang ke dalam kege­lapan malam, orang-orang pun meng­iring­kan di bela­kang. Seba­gian di depan­nya.

“Timin!” bapak ber­seru. Seo­rang pemuda ber­ja­lan sigap meng­ham­piri bapak. “Sampai besok pagi kau ber­tu­gas meng­a­wasi si Dul pen­do­ng­eng dan Mar­di­nah. Jangan sampai mereka lari ke kota. Lepas­kan ikatan si Dul dan awasi mereka dari keja­uhan saja. Jangan lupa kem­ba­li­kan lebih dulu reban­a­nya.” Pemuda itu pun segera ke luar rumah

Dari luar ter­de­ngar riuh rendah pemuda-pemuda ter­tawa. “Si Dul pen­do­ng­eng masih per­jaka!” sese­o­rang meme­kik.

“Baik-baik­lah mengu­rus dia, Ben­doro.” Orang pun ber­so­rak.

Gadis Pantai ter­i­sak-isak. Bapak mena­tap­nya seben­tar kemu­dian ber­ja­lan juga menuju ke pintu.

“Kau mena­ngis,” emak meng­ham­piri.

“Kasihan dia.”

“Disini tak seo­rang pun mau samasi Dul gen­deng. Kan baik ada perem­puan yang mengu­rus­nya.”

“Tapi kita orang kam­pung, mak. Mar­di­nah orang kota, tentu lain kema­u­an­nya.”

“Ah, hukuman itu tidak berat.”

“Tidak berat? Kawin dengan orang biasa pun sudah tak ter- ’ tang­gung­kan, mak.” Tiba-tiba Gadis Pantai ter­i­ngat lagi pada keja­dian yang telah meng­ge­ger­kan selu­ruh kam­pung, ia ber­ta­nya, “Apa benar para pengiring mati diserbu bajak, mak?”

“Tanya saja pada bapak.”

“Benar ada pengiring belah pung­gung­nya? Bahu­nya?”

“Tidur­lah, nak.”

“Dia tak ber­bi­cara sama sekali ten­tang Mar­di­kun,” ber­kata Gadis Pantai ter­he­ran-heran ten­tang Mar­di­nah

“Mar­di­kun?” Emak ter­sen­tak. “Si pen­do­ng­eng tahu ten­tang Mar­di­kun. — Bapak! Bapak!” emak pun lari men­da­pat­kan bapak yang telah hilang di dalam kelam.

Keru­yuk pagi ayam jago pantai mulai ter­de­ngar. Ter­de­ngar juga deru ombak men­ji­lati pantai dan mem­ban­ting diri.

“Satu malam lagi mereka tak berang­kat ke laut,” Gadis Pantai ber­bi­sik sen­diri. “Apa jadi­nya orang-orang ini semua?” Ia rebah­kan diri di ambin. Mata­nya mere­nungi segala yang telah ter­jadi Bebe­rapa kali ia mena­rik nafas keluh, kemu­dian ter­ti­dur. Waktu, bapak dan emak datang ia telah teng­ge­lam di dalam mimpi.

“Kasihan anak kita.” - “Mes­ti­nya tak kau kawin­kan dengan Ben­doro.”

“Diam­lah, diam!”

Kedua-duanya pun mere­bah­kan diri di ambin. Abang-abang Gadis Pantai telah keluar semua. Sedang adik-adik Gadis Pantai menyu­sul orang tua mereka. Kam­pung itu pun ter­le­lap dalam embun pagi yang sejuk.

Jam sem­bi­lan pagi rumah bapak mulai ramai lagi, kedua orang kusir pun muncul, tapi kemu­dian dibawa ke rumah kepala kam­pung untuk sarapan pagi dan dide­ngar ceri­ta­nya. Pemuda Timin muncul untuk mela­por ten­tang tugas­nya sema­lam, ia mena­rik bapak ke pojo­kan. “Luar biasa! Luar biasa!”

“Apa yang luar biasa?”

Mata Timin menyala bangga, takjub heran. “Bagai­mana tak luar biasa! tanpa rebana si Dul gen­deng bisa senyum, bisa tawa. Dia waras, bisa ngo­b­rol.”

“Ngo­b­rol? Ngo­b­rol apa mereka?”

“Mana aku tahu?”

“Bagai­mana Mar­di­nah?”

“Juga dia ter­tawa-tawa, men­cu­bit dagu si pen­do­ng­eng.”

“Dasar!” Cih, sebeng­gol ludah pun men­da­rat pada din­ding bambu.

“Ada mereka sebut-sebut nama Mar­di­kun?”

“Mana sempat? Mereka sibuk kok,…ber­ka­sih-kasih.”

“Kau kem­ba­li­kan reban­a­nya?”

“Tak perlu lagi.”

“Kau lepas­kan ikat­an­nya?”

“Ya, sesu­dah lepas ikatan, ia ber­sila di tanah. Kami ber­tiga kemu­dian meng­o­b­rol. Mar­di­nah tak bicara apa-apa ten­tang abang­nya. Aku bera­ni­kan diri ber­ta­nya, “kau senang dite­mani putri cantik dari kota? Tidak semua orang kam­pung dapat kehor­matan seperti kau.”

“Iblis! Kau sen­diri kepi­ngin?”

“Tidak! Mereka berdua memang sudah paling cocok. Waktu aku ting­gal­kan bedeng sero dan kea­daan sudah sepi sekali, mereka malahan…”

“Malahan apa?”

“Ya, begitu …,” jawab­nya sambil menge­dip-nge­dip­kan mata­nya sebe­lah.

“Iblis kau! Aku suruh meng­a­wasi jangan sampai mereka lari ke kota, bukan disu­ruh ngin­tip yang tidak-tidak!”

“Apa lagi kalau sudah begitu?”

“Apa lagi? Mereka harus kawin baik-baik ”

“Mau makan apa mereka nanti? Si Dul gen­deng begitu takut pada ombak.”

“Barang­kali seka­rang ia ter­paksa harus berani. Di mana kedu­a­nya seka­rang?”

“Jalan-jalan di tepi laut.”

“Oh, enak­nya.”

“Memang. Itu bukan hukuman nama­nya.”

“Bukan. Per­ba­ikan! Barang­kali baik buat dua-duanya.”

“Kapan mereka dika­win­kan?”

“Tanya sen­diri pada kedu­a­nya!”

Pemuda Timin lari mening­gal­kan ruang rumah bapak, menye­gar­kan diri ke dalam cerah pagi. Hadirin lain­nya ngo­b­rol sambil ter­tawa-tawa. Antara seben­tar ter­de­ngar nama si Dul pen­do­ng­eng dise­but-sebut.

“Tahu? Seka­rang tidak ada beda­nya Ben­doro Putri dengan orang kam­pung seperti kita ini.” Orang-orang pun gelak-gelak ter­tawa Gadis Pantai meng­a­wasi mereka dengan mata sayu. Men­de­ngar obro­lan semua itu, justru yang seba­lik­nya ter­ba­yang dalam angan­nya: dir­i­nya sen­diri — orang kam­pung — dise­ret ke kota dan diu­pe­tikan pada seo­rang Ben­doro. Tapi nam­pak­nya Mar­di­nah terima nasib­nya dengan senang. Bagai­mana bisa? Bagai­mana bisa? Ia awasi orang-orang yang pada gelak ter­tawa. Apakah orang-orang kam­pung ini tak ter­ta­wa­kan aku juga waktu aku dise­ret ke kota? Tiba-tiba suatu saya­tan menye­rang hati­nya. Ia bang­kit dari ambin, mening­gal­kan ruangan dan mela­lui pintu dapur mem­be­ra­ni­kan dir­i­nya pada alam ter­buka. Ia ber­ja­lan menuju pantai. Laut telah men­jauh dari kam­pung, sedang pasir pantai yang kuning kepu­tihan itu meng­isi hati­nya dengan kela­p­angan.

Di dekat sebuah biduk ber­ga­ris biru jauh di sana, dua titik ber­ge­rak per­la­han. Seka­li­gus ia tahu: Itulah Mar­di­nah dan Si Dul pen­do­ng­eng. Ia ber­ja­lan cepat meng­ham­piri mereka. Dan ia lihat titik satu lagi juga sedang ber­ge­rak meng­ham­piri mereka. Seka­li­gus ia tahu: Itulah pemuda Timin.

Tak pernah dua tahun ini ia ber­ja­lan cepat seperti seka­rang ini. Kaki­nya yang tak ber­san­dal merasa dibe­lai oleh pasir basah yang hangat.

Ber­tam­bah cepat ia ber­ja­lan, ber­tam­bah mem­be­sar titik-titik di hadap­an­nya. Terus sema­kin besar sampai akhir­nya nampak resam tubuh mereka. Titik yang satu nampak ber­ge­rak sema­kin cepat, akhir­nya meng­ga­bung­kan diri dengan yang kedua. Mereka kemu­dian nampak ber­ja­lan menuju ke arah kam­pung. Dan per­ja­lanan mereka mem­buat tubuh mereka makin cepat nampak menum­buh jadi jelas.

Akhir­nya di bawah geng­gaman terik mata­hari pagi Gadis Pantai mene­mui Mar­di­nah ber­ja­lan ber­sama si Dul pen­do­ng­eng sedang pemuda Timin meng­iring­kan di bela­kang. Ia meli­hat pan­caran baha­gia pada mata si pen­do­ng­eng, dan pan­caran menye­rah pada mata Mar­di­nah. Tiada ter­da­pat per­ta­rungan antara kedua pan­caran mata itu.

Nam­pak­nya tak ada sesu­atu pun patut dise­sali, ia ber­bi­sik pada diri sen­diri. Ia ham­piri Mar­di­nah, ia gan­deng tangan­nya. Dan Mar­di­nah tak meno­lak.

“Bagai­mana kau Mar­di­nah?” Tak ber­ja­wab.

“Mereka rupa­nya mau siap­kan pesta,” pemuda Timin menyam­bung dari bela­kang.

“Memang patut dir­a­ya­kan,” si Dul pen­do­ng­eng men­de­ngus ria tanpa reban­a­nya.

“Kau sen­diri, bagai­mana kau sen­diri, Mar­di­nah?” tetap tak ber­ja­wab.

“Mas Ngan­ten!” keluar lagi suara si Dul men­da­dak. “Ya.”

“Sahaya…”

“Meng­apa ter­diam?”

“Ayoh,” Timin mem­be­ra­ni­kan­nya dari bela­kang. “Ben­doro Putri, sahaya akan ikut turun ke laut ”

“Kau? Kau? Ke laut?”

“Benar, Ben­doro Putri!”

“Syukur! Meng­apa baru seka­rang? Sudah lupa pada reba­namu seka­rang?”

“Tidak, Ben­doro Putri, tapi sahaya akan turun ke laut. Kapan saja. Besok boleh, lusa pun boleh.”

“Ah, Dul, Dul, kau tak main-main?”

“Per­cu­ma­lah sahaya jadi lelaki, kalau tak berani turun ke laut.”

“Ya, ya Aku meng­erti. Tapi meng­apa baru seka­rang?”

“Ha, ha, ha.”

“Si Dul pen­do­ng­eng sudah men­jadi anak nela­yan sejati, Ben­doro.” Timin ber­su­ara.

“Ya, anak nela­yan sejati!” si Dul pen­do­ng­eng mem­be­nar­kan. “Kau baha­gia Dul!”

“Anak nela­yan harus jadi nela­yan.”

Timin ter­ba­hak-bahak dari bela­kang men­de­ngar jawaban jantan si Dul gen­deng.

“Kau sen­diri bagai­mana Mar­di­nah? Kau sedia dika­win­kan?” Mar­di­nah angkat bahu. Nasib tak dapat diraih, mujur tak dapat dito­lak.

“Kau takkan menye­sal?”

“Mau sesali apa lagi, Mas Ngan­ten?”

“Nasib kita memang ber­la­wanan, Mar­di­nah.”

“Sahaya.”

“Aku seperti kau, dipaksa. Aku dipaksa ke kota. Kau ke kam­pung.”

“Sahaya.”

“Tapi pen­do­ng­eng pun sesama mahluk Tuhan, bukan? Dia orang baik dan seka­rang mau bekerja.”

“Sahaya.”

“Ber­ba­ha­gi­a­lah kau. Dia tak punya apa-apa ter­ke­cu­ali kasih sayang…”

“Sahaya, Mas Ngan­ten.”

“… yang ada dalam dada setiap nela­yan.”

“Sahaya.”

“Bagai­mana kau Timin, ada kasih sayang dalam hatimu?”

“Lebih dari­pada ikan yang bisa ditang­kap, Ben­doro Putri.”

“Kau dengar itu, Mar­di­nah?”

“Sahaya.”

“Aku senang kau sudah terima nasibmu.”

“Sahaya.”

“Kalau nanti lakimu turun ke laut, kau akan kerja seperti bini nela­yan lain­nya. Kau juga mesti menum­buk udang kering. . Kalau subuh antar­kan laki ting­gal­kan darat. Kalau angin ken­cang, ting­gal­kan rumah menin­jau laut. Dan kalau laki ter­lam­bat datang, kau tunggu dia di pantai, sampai dia datang dengan pera­hu­nya.”

“Sahaya, Mas Ngan­ten.”

“Tidak seperti di gedung sana, Mar­di­nah.”

“Sahaya.”

“Orang dise­kap dalam kamar, dalam rumah. Berapa tahun aku di sana? Baru kali ini lagi meli­hat laut, rasai hang­at­nya mata­hari, ber­temu orang tua di sini. Mar­di­nah di sini setiap hari kau ber­temu dengan setiap orang.”

Si Dul pen­do­ng­eng ter­diam meng­ang­guk-angguk lemah.

Mereka ber­em­pat terus ber­ja­lan, diam-diam menuju ke kam­pung Dan ter­nyata selu­ruh kam­pung sedang menunggu mereka, ber­ba­ris besar-kecil, tua, muda, laki-perem­puan, di pantai di bawah deretan pohon-pohon kelapa yang hijau melam­bai ria. Waktu mereka telah dekat orang-orang pun ber­so­rak riuh rendah, sedang Timin dan Gadis Pantai meng­iring­kan di bela­kang mereka.

“Horeee!” anak-anak ber­so­rak.

“Pengan­tin datang! Pengan­tin datang!”

“Horeee!”

“Kanca-kanca, ayoh kita iring­kan ke rumah kepala kam­pung.”

“Ayoh!”

Tiba-tiba rebana si Dul men­deru-deru dari tengah-tengah barisan. Si Dul pen­do­ng­eng ber­henti ber­ja­lan mene­ngok ke bela­kang, melam­bai-lam­bai­kan tangan meminta reban­a­nya. Dan rebana itu pun dilem­par­kan ke atas, mela­yang ke udara. Seperti dita­rik tenaga gaib, benda itu meng­ham­piri pemi­l­ik­nya. Dengan cekatan ia menang­kap­nya, meme­luk­nya, kemu­dian men­ci­um­nya. Dengan kasih sayang ia gele­tar­kan jari-jari halus­nya di atas kulit benda itu, dan dengan kuping sebe­lah dile­tak­kan pada kayu bing­kai­nya. “Oooh!” ter­de­ngar sayu sua­ra­nya seperti merin­tih penuh sesal.

Tiba-tiba dengan sekuat tenaga ia pukul­kan jari-jari halus­nya pada rebana itu. Satu ren­takan suara riuh-rendah, mere­nung, merang­sang, meng­a­tasi pekik sorak yang segera ber­henti kare­na­nya. Si Dul pen­do­ng­eng terus mem­bu­nyi­kan reban­a­nya. Kadang diang­kat tinggi-tinggi di udara, dan cuma bunyi kerin­cing­an­nya yang ter­de­ngar. Kadang ia lem­par­kan benda itu ke atas untuk kemu­dian ditang­kap­nya kem­bali.

“Mana dong­eng­nya!” orang meme­kik.

“Dia sudah keha­bisan dong­eng.”

“Ya, ya, dia sen­diri jadi dong­eng seka­rang!”

“Horeee!”

Waktu iring-iringan sampai di depan rumah kepala kam­pung, kulit reban­a­nya itu telah pecah. Barisan ber­henti. Si Dul pen­do­ng­eng mele­tak­kan reban­a­nya yang rusak di tanah. Mem­bung­kuk meng­am­bil­nya kem­bali. Semua orang ter­diam seka­rang, meli­hat si Dul pen­do­ng­eng ber­ja­lan ke luar dari barisan, mata­nya liar men­cari ke kiri, ke kanan, mera­bai tanah di depan­nya. Akhir­nya dia mene­mui sebuah batu besar, dan sekali hantam kayu bing­kai rebana hancur beran­takan. Dengan gaya seo­rang pemain san­di­wara ia lem­par­kan bing­kai itu tanpa meli­hat­nya, mata­nya ter­tuju pada semua orang. Tiba-tiba ia angkat kedua belah tangan­nya. Dan selu­ruh pengiring itu pun ber­so­rak: “Horeee!” Gegap gem­pita selu­ruh pantai.

Dengan lang­kah tegap ia gan­deng Mar­di­nah mema­suki beranda kepala kam­pung.

“Kami ini yang datang …,” seru­nya menan­tang.

Dari dalam rumah ter­de­ngar sapa, “Siapa itu bikin ribut di. sini?”

“Aku si Dul pen­do­ng­eng,” ia menye­but dir­i­nya sen­diri. “Angkuh benar kamu seka­rang.”

“Aku telah rampas wanita buat jadi istriku.”

“Dari mana kau rampas dia?”

“Dari kota!”

Kem­bali orang pun ber­so­rak gegap gem­pita. Dan seperti ada komando kemu­dian ter­de­ngar suara mem­be­nar­kan, “Dia rampas wanita dari kota! Kami sak­si­nya.”

“Siapa nama wanita kota itu?”

“Mar­di­nah.”

“Mana buk­ti­nya.”

“Kelu­ar­lah! Ini buk­ti­nya.”

Kepala kam­pung keluar sambil meman­dang Mar­di­nah dan meng­ang­guk-angguk. Kemu­dian meng­ang­kat tangan, meng­i­sya­rat­kan agar semua ber­henti gaduh. Ting­gal angin yang ter­de­ngar kini.

“Dul! Si pen­do­ng­eng kam­pung kita?”

“Ya, betul.”

“Bagus, bagus. Bawalah wanita itu pulang jadi kawan hidupmu.”

“Tentu.”

“Bawalah pulang. Kau punya rumah?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, untuk semen­tara bawalah ke rumah siapa saja yang mau terima.”

“Kami mau terima,” hampir setiap orang ber­te­riak. “Per­gi­lah pada mereka! Kalau sudah cukup ikan kau tang­kap, nanti kau bikin rumahmu sen­diri.”

Si Dul pen­do­ng­eng meng­gan­deng Mar­di­nah. Dipung­gung­i­nya kepala kam­pung dan diha­dap­i­nya para pengiring. Kepada orang banyak yang menge­ru­mun­i­nya ia ber­seru, “Inilah kami. Siapa mau pin­jam­kan bale dan atap­nya?”

Orang melom­pat-lompat girang menyam­but per­min­ta­an­nya, para pengiring pun ber­suka-ria. Sorak sorai ber­ja­lan terus …



Bagian Keempat

Kehidupan sehari-hari di rumah besar ini kian lama kian terasa sunyi oleh­nya. Para kera­bat Ben­doro yang tidur di surau di sebe­lah kiri rumah dan yang ber­se­ko­lah di siang hari, terasa oleh­nya tidak punya per­sing­gungan deng­an­nya sama sekali. Mereka seakan mahluk-mahluk dari dunia lain, apa­lagi kalau mereka sudah bicara dalam bahasa Belanda yang sepa­tah pun tak dike­nal­nya. Ben­doro sen­diri muncul dalam hidup­nya hanya di waktu ia berada dalam sete­ngah tidur, sete­ngah jaga. Bujang-bujang di dapur dira­sa­i­nya seperti mahluk-mahluk aneh, hanya bicara kalau dita­nya dan ber­ge­rak seperti bayang-bayang di kala senja. Tamu ia tak pernah mene­rima. Pen­jual sayuran yang setiap pagi ber­diri di emperan dapur, pen­jual daging yang duduk di anak tangga ruang bela­kang — mereka seperti ber­a­sal dari alam lain. Sedang bila hari Jum’at tiba, dan para peng­e­mis ber­ba­ris di depan rumah, maka ia pun keluar mem­be­ri­kan sede­kah ming­guan. Dira­sa­i­nya mereka seperti muncul begitu saja dari bawah tanah.

Cuma satu yang mene­man­i­nya dengan setia sejak per­tama kali ting­gal di gedung besar ini: deru dan derai­nya ombak laut begitu nyata di malam hari, dan begitu lamat-lamat di siang hari. Bahkan bunyi angin yang setiap hari meng­ga­ruk gen­teng, meng­gun­cang dan mem­be­lai pepo­honan ter­de­ngar begitu asing.

Pera­bot rumah tangga yang indah-indah itu ter­ke­san oleh­nya lak­sana ikan-ikan yang sudah kema­rin dulu ter­tang­kap dan meng­ge­le­tak kaku di pen­je­mu­ran.

Keda­tangan­nya kem­bali ke kota, ke dalam gedung, sama sekali tak men­da­pat teguran dari Ben­doro. Per­ha­tian luar biasa pun tidak. Per­ta­nyaan per­tama waktu Ben­doro mulai bicara:

“Apa jawab bapakmu? Dibu­tuh­kan surau itu?”

“Tidak, Ben­doro. Di sana sudah ada.”

“Guru ngaji? Sudah ada?”

“Ada, Ben­doro.”

“Bagai­mana menu­rut orang-orang? Cukup pandai dia meng­a­jar?”

“Kata orang-orang mema­dai­lah.”

“Sudah ada yang bisa bahasa Arab?”

“Beribu maaf. Ben­doro sahaya lupa tanya­kan ”

“Lain kali harus dita­nya­kan.”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Suka bapakmu dengan sarung pem­be­ri­anmu?”

“Beribu terima kasih Ben­doro. Bukan kepa­lang girang­nya.”

Sete­lah itu Ben­doro tak dite­mu­i­nya lagi selama tidak kurang dari tiga harmal.

Seka­rang setiap Ben­doro pulang dari beper­gian, hampir tidak pernah bawa oleh-oleh lagi. Ia pun tak meng­ha­rap­kan­nya. . Gedung ini lambat-laun mem­bi­kin ia bel­a­jar tak meng­ha­rap­kan sesu­atu apa. Dari mengon­trol dapur ke peker­jaan batik, dari ber­be­lanja di emper dapur sampai mela­yani Ben­doro, dari malam-malam Jum’at yang lowong sampai pada malam-malam lain­nya, semua itu ter­ham­par di hadapan dan di bela­kang­nya, lak­sana jalan-jalan sunyi-senyap. Hanya seo­rang saja yang menem­puh jalan itu, dia sen­diri.

Ben­doro tak pernah ber­ta­nya ten­tang Mar­di­nah. Ia seperti titik abu yang ter­tiup dari per­a­pian, hilang ter­hi­sap oleh alam semesta. Pada mula­nya kenya­taan ini meng­gun­cang­kan Gadis Pantai. Bukan­kah Mar­di­nah kera­bat Ben­doro? Meng­apa tak ada per­ha­tian pada nasib­nya? Ten­tang Mar­di­kun yang telah tewas digi­ring ke laut, Ben­doro tak pernah bicara sama sekali. Pernah selama dua minggu ber­e­dar berita ten­tang ser­buan bajak di kam­pung nela­yan. Sumber berita adalah dua orang kusir yang pulang jalan kaki dari kam­pung nela­yan tapi pihak yang ber­wa­jib tak ambil peduli. Pernah juga pada suatu malam Ben­doro ber­ta­nya dari sam­ping­nya, di tempat tidur:

“Kau bilang bapak dan emakmu baik-baik saja di sana?”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Jadi tak ada apa-apa di sana?”

“Tidak ada apa-apa Ben­doro.”

“Mereka bicara ten­tang bajak yang menyerbu. Tidak ada?”

“Tak ada, Ben­doro.”

“Syu­kur­lah, mereka cuma omong kosong.” Ben­doro tak ber­ta­nya lebih lanjut.

Pada suatu hari yang cerah datang seo­rang Tiong­hoa dite­rima meng­ha­dap Ben­doro di pen­dopo Mereka berdua duduk di atas kursi goyang. Gadis Pantai sedang mem­ber­sih­kan pera­bot di ruang tengah. Dan ia deng­ar­kan per­ca­kapan dalam bahasa Jawa tinggi yang kini sudah diku­a­sa­i­nya.

“Ben­doro sahaya dengar ada bajak menyerbu kam­pung nela­yan…”

“Kam­pung nela­yan mana?”

“Kam­pung … beribu ampun. Ben­doro … kam­pung nyonya Ben­doro.”

“Nyo­nyaku?” Ben­doro men­ja­wab sete­ngah ber­te­riak. “Aku belum punya nyonya!”

“Beribu ampun, Ben­doro. Beribu ampun. Sahaya diutus surat kabar sahaya dari Sema­rang buat datang kemari, meng­ha­dap Ben­doro dan mena­nya­kan soal ini. Kantor Pusat sahaya yang kasih kete­rangan.”

“Pergi, sebe­lum aku marah.”

“Sahaya, Ben­doro. Beribu-ribu ampun.”

Dan Gadis Pantai tak men­de­ngar lagi orang Tiong­hoa itu. Ia men­duga Ben­doro akan segera meme­riksa dir­i­nya kem­bali ten­tang peris­tiwa yang disang­kal­nya itu. Buru-buru ia ting­gal­kan ruangan tengah, mem­bawa serta sapu dan bulu ayam, lang­sung menuju ke kamar, duduk di kursi menunggu datang­nya peme­rik­saan. Tidak, aku harus bilang tidak, terus, terus mung­kir. Ya, Allah lin­dung­i­lah selu­ruh kam­pung kami. Jangan datang­kan mar­sose. Jangan datang­kan polisi. Apakah mereka belum cukup diganggu orang kota?

Yang ter­jadi kemu­dian tepat seba­lik­nya. Ben­doro tak datang ke kamar untuk meme­rik­sa­nya. Tapi sepan­tun suara yang dingin, keras dan meme­rin­tah ter­de­ngar meng­ge­le­tar ber­dem­bam-dembam meme­nuhi selu­ruh ruangan gedung besar itu:

“Mas Ngan­ten, sini!”

Jan­tung Gadis Pantai ter­gun­cang. Jan­tung yang men­jom­pak-jompak dira­sa­i­nya memu­kuli din­ding-din­ding dada­nya. Ia ter­lom­pat bang­kit, ber­ja­lan cepat menuju ke arah datang­nya suara. Tidak, kam­pung kami harus sela­mat. Kam­pung kami harus sela­mat. Harus sela­mat. Ia mem­per­ce­pat jalan­nya, ter­lupa bahwa ia sedang keta­kutan.

Ben­doro duduk di kursi goyang di ruang tengah. Ia meng­ham­piri dan ber­jong­kok di hadap­an­nya dengan kepala menun­duk.

“Inilah sahaya, Ben­doro.”

“Apa katamu perem­puan? Benar tak ter­jadi apa-apa di kam­pung nela­yan?”

“Benar, Ben­doro. Tak ter­jadi sesu­atu pun di sana. Sahaya ting­gal sela­mat dalam lin­dungan Tuhan, Ben­doro.”

“Apa yang sudah ter­jadi di sana?”

“Seperti sehari-hari Ben­doro. Orang-orang berang­kat ke laut di subuh hari atau tengah malam. Wanita-wanita yang ting­gal men­je­mur ikan dan menum­buk udang kering.”

“Semua orang bicara ten­tang bajak laut.”

“Tak ada yang ting­gal selamet kalau bajak laut menyerbu, Ben­doro. Juga bayi-bayi dibi­na­sa­kan, dan wanita-wanita dita­wan. Sahaya ting­gal sela­mat berkat pang­estu Ben­doro. Tak ada bajak di kam­pung kami.”

“Baik­lah, dengar seka­rang. Nanti malam akan datang seo­rang tamu. Ben­doro dari Demak.”

Jan­tung Gadis Pantai meng­gi­gil ken­cang. Kini aku harus ber­ha­dapan sen­diri dengan dia. Dia! Dia yang ter­bit­kan rang­kaian ben­cana atas kam­pung kami. Dia! Dia! Tapi kam­pungku harus ting­gal sela­mat.

“Siap­kan semua, jangan ada sesu­atu yang kotor. Ruang tengah mesti dicuci bersih dengan sabun. Kerah­kan anak-anak itu. Mereka tumbuh jadi begitu malas.”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Kamar ruang tengah sebe­lah bela­kang harus disu­sun rapi. Lemari-lemari harus dibe­nahi dengan kapur barus. Meja rias harus leng­kap dengan bedak, minyak wangi, celak, sisir, minyak rambut. Jangan ada ter­lupa satu pun.”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Sahaya boleh berang­kat, Ben­doro?”

“Mulai! Seka­rang!”

“Sahaya, Ben­doro.”

Ben­doro ter­diam, Gadis Pantai meng­ang­kat sembah dan mene­rus­kan, “Ya sahaya pergi.”

Gadis Pantai ber­ge­rak mundur sambil ber­jong­kok sampai menem­puh jarak bebe­rapa meter, kemu­dian baru ber­diri, masuk ke dalam salah sebuah kamar ruang tengah.

Sete­lah wanita tua pela­yan­nya diusir Ben­doro, ia mulai ker­ja­kan sen­diri segala-gala­nya di dalam gedung ini. Kamar-kamar ruang tengah ini tak lagi asing bagi­nya. Di sebuah pojo­kan ber­diri sebuah bupet segi­tiga. Sebuah buku tebal ber­diri di sana. Sering ia buka-buka buku itu untuk meli­hat gambar-gam­bar­nya. Tapi ia tak meng­erti siapa yang ter­gam­bar dalam buku itu. Ia banyak meli­hat gambar ber­ba­gai benda aneh yang tak dike­ta­hui nama­nya pun, juga guna­nya. Selalu bila ia mem­bawa sapu dan lap atau bulu ayam ke dalam kamar di ruang tengah ia buka buku itu. Barang­kali saja anakku nanti bisa mem­ba­ca­nya. Bisa mene­rang­kan padaku gambar-gambar ini. Dan selalu ia ber­ha­dapan dengan buku itu timbul dalam hati­nya per­ta­nyaan yang menyiksa: Apakah sampai mati aku cuma pegang lap, bulu ayam dan sapu? Can­ting, sayuran dan piring-piring bekas makan Ben­doro? Dan ia pun menye­sal tak bel­a­jar baca tulis atau­pun mengaji.

Dan seperti ter­jadi tiap hari, tangan­nya pun mulai ber­ge­rak mele­pas debu pada pera­bot, menge­lu­ar­kan per­ma­dani dan men­je­mur­nya untuk kemu­dian memu­kul­i­nya dengan pemu­kul kasur.

Seka­rang sua­sana dira­sa­i­nya lain. Seo­rang musuh akan datang dengan kebe­sar­an­nya, mema­suki per­ben­tengan yang selama ini diang­gap­nya masih bisa lin­dungi hati­nya. Tapi dengan kere­sahan tak menentu ia terus­kan ker­ja­nya menyeka selu­ruh pera­bot ter­ke­cu­ali sen­jata-sen­jata pusaka — sede­retan tombak yang ber­diri di atas jagang­nya, karena yang demi­kian diha­ram­kan oleh Ben­doro. Waktu ia sedang menyeka kaca cermin bundar telur yang ter­pa­sang pada lemari pakaian Ben­doro, ia lihat wajah­nya begitu pucat, letih dan kehi­jauan.

Sakit­kah aku? Meng­apa pipiku begitu aneh? Meng­apa nadi-nadi pada pipi­nya ber­sa­luran mem­ba­yang di kul­it­nya yang lang­sat? Ia tan­tang mata­nya sen­diri. Mata itu kehi­langan sinar­nya. Sakit­kah aku?

Ia masih ber­diri seo­rang diri di hadapan bayang­an­nya sen­diri. Ya, aku lelah. Lima belas hari sete­lah mening­gal­kan kam­pung ia sama sekali tidak ber­ke­sem­patan isti­ra­hat. Kepa­la­nya terasa berat dan besar, seakan telah mem­be­sar dua-tiga kali lipat. Keri­ngat dingin terus meng­u­cur sepan­jang hari dan antara seben­tar mata­nya ber­ku­nang-kunang.

Ia terus­kan ker­ja­nya waktu dide­ng­ar­nya daham Ben­doro dari ruang tengah. Tapi ia masih tak ber­an­jak dari depan cermin. Dan waktu Ben­doro masuk ke dalam ia masih mena­tap wajah­nya. Sedang tangan kir­i­nya meng­u­sap-usap ram­but­nya. Ia kaget waktu bayangan Ben­doro muncul di cermin di sam­ping bayang­an­nya.

“Meng­apa kau?”

“Ampun, Ben­doro.”

“Kau lelah? Meng­apa tak kau suruh bujang-bujangmu?”

“Biar­lah sahaya ker­ja­kan sen­diri.”

Tanpa meli­hat ia dapat menge­ta­hui Ben­doro sedang ber­ganti sarung, menge­na­kan topi haji­nya seperti biasa, dan tanpa meli­hat ia pun tahu Ben­doro mening­gal­kan rumah, ber­ja­lan menu­runi jen­jang depan, turun ke pasir pela­taran depan, menem­puh gang pasir dan masuk ke dalam mesjid.

Gadis Pantai mena­rik nafas pan­jang. Pera­bot-pera­bot di hadap­an­nya semua nampak besar-besar, nam­pak­nya begitu rapuh bagi­nya. Bahkan rumah batu sebe­sar itu dira­sa­i­nya tidak pernah sekukuh pondok orang tuanya di kam­pung nela­yan. Ia menuju ke jen­dela, dilem­par­kan pan­dang­nya ke arah surau. Pemuda-pemuda kera­bat Ben­doro pada duduk-duduk di beranda surau mem­ba­cai buku pel­a­jaran mereka.

Sese­o­rang meli­hat­nya, tapi segera menun­duk­kan muka dan mene­rus­kan baca­an­nya.

Seakan-akan ia tak pernah ada di dunia. Seakan dia dan mereka pun tak pernah ada!

Tiba-tiba dira­sa­i­nya sesu­atu seperti selem­bar jarum menu­suk hulu hati­nya. Ia ter­te­gun. Apakah ini? Benar-benar aku sakit? Dengan sen­di­r­i­nya tangan kir­i­nya meraba tempat yang ter­se­rang sakit. Ia ber­ja­lan menuju ran­jang Ben­doro, ber­pe­gangan pada tepi­nya dan duduk di lantai. Ingin ia rebah­kan diri di atas kasur itu, tapi ia tak berani. Dan waktu serangan sakit itu ber­henti, ia buru-buru ber­ja­lan ke luar kamar. Dipang­gil­nya dua orang bujang wanita untuk mene­rus­kan peker­ja­an­nya: menya­bun lantai. Ta sen­diri duduk di atas bangku kecil dengan mata ber­ku­nang-kunang sedang serangan jarum itu antara seben­tar datang ber­u­lang. Dira­sa­i­nya jarum itu ber­ja­lan-jalan dengan lamban di dalam tubuh­nya, dan selalu ulu-hati itu juga sasaran kesu­ka­an­nya. Setiap serangan pada ulu-hati diba­rengi dengan meng­u­cur­nya keri­ngat dingin yang merem­bes ber­ba­reng dari pori-pori kul­i­nya.

Tak kurang dari dua jam ia meng­a­wasi bujang-bujang itu bekerja sampai kamar-kamar ruang tengah bersih dan kering selu­r­uh­nya. Baru kemu­dian ia bang­kit, mening­gal­kan kamar-kamar itu serta mengun­ci­nya dan lang­sung menuju ke kamar­nya sen­diri. Buru-buru dir­e­bah­kan­nya dir­i­nya di ran­jang. Dira­sa­i­nya seke­pal-seke­pal udara yang padat mem­bum­bung ke atas dari dasar perut­nya — men­do­r­ong selu­ruh isi perut­nya ke atas pula. Kadang-kadang udara itu keluar tanpa ber­ha­sil men­do­r­ong isi perut­nya, tapi tak jarang satu dua kepal dapat memompa benda-benda cair dari bawah sampai ke teng­go­r­okan, ke lidah dan dira­sa­i­nya udara yang tak sedap dan tajam lak­sana air asam ber­cam­pur pahit empedu. Aku mengan­dung, bisik­nya.

Ia pang­gil seo­rang bujang masuk ke dalam kamar dan disu­r­uh­nya meng­am­bil paidon1, kuningan besar yang ter­sim­pan dalam gudang.

“Jangan pergi dulu, pijiti aku. Bukan di bawah, teng­kukku saja.”

“Seribu ampun, Mas Ngan­ten.”

“Ya, pijiti,” dan Gadis Pantai meneng­ku­rap­kan dir­i­nya dengan kepala men­ce­kung di luar kasur, mulut­nya meng­a­rah pada paidon di lantai.

“Mas Ngan­ten, mengan­dung.”

“Barang­kali.” - “Syu­kur­lah, Mas Ngan­ten. Semoga Tuhan menga­ru­niai Mas Ngan­ten seo­rang putra.”

“Ya, seo­rang putra.”

“Dise­li­muti Mas Ngan­ten?”

“Ya, seli­muti aku, kakiku. Seli­mut­nya lipat biar tebal.”

“Sahaya, Mas Ngan­ten.’

“Jangan ting­gal­kan dulu aku.”

“Sahaya jaga, Mas Ngan­ten.”

Tiba-tiba Gadis Pantai merasa malu. Tak ada wanita kam­pung nela­yan diman­jakan seperti ini bila mengan­dung. “Tidak, tak usah, pergi kau mem­ber­sih­kan ruang bela­kang. Nanti malam akan ada tamu.”

“Sahaya, Mas Ngan­ten. Siapa yang datang?”

“Husy, mulai kapan kau bel­a­jar lan­cang ber­ta­nya?”

“Beribu-ribu ampun, Mas Ngan­ten.”

Dan malam itu waktu tamu yang diha­rap­kan datang, ia ter­ge­le­tak tanpa daya di dalam kamar. Kepa­la­nya dira­sa­i­nya sangat berat seakan tak mau diang­kat lagi buat selama-lama­nya. Dan waktu Ben­doro masuk ke dalam kamar­nya untuk mene­gur­nya, ia hanya menu­tup wajah­nya dengan bantal. Ben­doro meng­ang­kat bantal itu dan meraba kening­nya.

“Kau mengan­dung,” bisik­nya kemu­dian dan segera mening­gal­kan kamar. h Ia memang­gil-mang­gil pemuda kera­bat­nya. Dan seben­tar kemu­dian menyu­sul suara perin­tah ber­tubi-tubi. Tiga jam kemu­dian waktu Ben­doro meng­ha­dapi meja makan ber­sama tamu­nya, baru dike­ta­hu­i­nya tamu itu seo­rang wanita. “Adi Mas,” ia dengar wanita itu bicara. Sua­ra­nya tinggi dan mengan­dung perin­tah. “Aku senang, Adi Mas, meli­hat tak ada perem­puan ting­gal di rumah ini.”

“Sahaya, Mas Ayu.”

“Dan aku lupa meli­hat si Mar­di­nah. Di mana dia?”

“Kurang terang sahaya di mana dia.”

“Ha? Bukan­kah dia kuki­rim kemari?”

“Beribu ampun, Mas Ayu, sahaya tidak pernah mengu­rusi bujang-bujang.”

“Adi Mas pri­yayi sejati. Pantas banyak orang meng­ha­rap­kan.”

“Apa yang diha­rap­kan orang dari sahaya, Mas Ayu?”

Tamu itu ter­tawa meng­erti. Per­ca­kapan ter­henti, seben­tar. Gadis Pantai ber­ku­nang-kunang peman­dang­an­nya. Kem­bali kepalan-kepalan udara memompa isi perut­nya ke atas. Ia mi- ’ ring­kan kepa­la­nya, dan ia dorong kepala itu dengan leher­nya keluar tepian kasur. Tak ada sesu­atu yang ber­ha­sil dido­r­ong oleh kepalan-kepalan udara itu ter­ke­cu­ali udara itu sen­diri yang menge­lu­ar­kan bunyi tahak serta bebe­rapa sendok cairan kuning yang rasa­nya asam dan pahit seka­li­gus dan segera jatuh ke dalam paidon. Waktu ia gele­tak­kan kem­bali kepa­la­nya di atas kasur, ia dengar lagi suara per­ca­kapan disam­bung. Tapi juga tamu itu rupa­nya sempat men­de­ngar suara sen­dawa dari dalam kamar.

“Siapa itu? Mar­di­nah?’

“Bukan, Mas Ayu.”

“Aa, meng­erti aku seka­rang!” dan dite­rus­kan dengan nada meng­gu­gat, “meng­apa tak kau taruh dia di kamar dapur? Tidak patut! Tidak patut! Lihat­lah aku. Kau kira patut kau tem­pat­kan dia di bawah satu atap dengan aku?”

“Beribu ampun, Mas Ayu.”

Gadis Pantai ter­se­dan-sedan. Buat per­ta­mak­ali dalam hampir tiga tahun ini ia menge­ta­hui ada keku­a­saan yang lebih tinggi dari­pada keku­a­saan Ben­doro. Dan keku­a­saan itu berada di tangan seo­rang wanita. Siapa dia? Siapa? Ia ter­se­dan-sedan kem­bali. Ia rasai nasib­nya sen­diri pun berada di tangan wanita kuasa itu. Sia-sia kekuk­u­han dan kebe­saran rumah batu ini Ada keku­a­saan lebih per­kasa dari­pada kekuk­u­han per­ben­tengan batu ini. Ia teriak-teriak dalam hati. Akhir­nya ia dian­tar­kan oleh sedan dari isak­nya.

Subuh hari waktu ia ter­ba­ngun, dide­ng­ar­nya suara Ben­doro yang sedang mengaji. Sua­miku! Ah, sua­miku! Tidak, dia bukan sua­miku, dia Ben­do­r­oku, yang diper­tu­anku, rajaku. Aku bukan istri­nya. Aku cuma budak sahaya yang hina-dina.

Dan sepagi itu kepalan-kepalan udara sudah mulai memompa di dalam perut­nya. Ia merasa malu, sangat malu, Di kam­pung nela­yan sana tak ada wanita ter­ge­le­tak seperti ini waktu mengan­dung. Dan ayam-ayam yang ber­ke­ru­yuk seakan ber­so­rak riuh-rendah meng­an­jur­kan kepalan-kepalan udara itu memompa lebih cepat, lebih gesit dan lebih sering. Ia ter­i­ngat pada jago­nya. Dia juga ber­ke­ru­yuk setiap bapak berang­kat ke laut. Tapi sua­ra­nya jago-jago kota ini kini dira­sa­nya begitu aneh bunyi­nya, begitu menyin­dir.

Waktu mata­hari terbit dan seo­rang bujang wanita masuk ke dalam, ia men­da­pat kabar bahwa tamu wanita itu malam itu juga terus pergi. Gadis Pantai meng­u­cap syukur. Ia tahu, seo­rang Ben­doro takkan usir istri­nya yang sedang mengan­dung.

Dan dengan demi­kian ia meng­ge­le­tak tiga bulan di dalam kamar yang selalu ter­tu­tup pintu dan jen­de­la­nya. Ia merasa seperti hidup di dalam gua. Dan ia pun merasa malu, sangat malu. Tak ada wanita kam­pung mengan­dung seperti dir­i­nya. Mereka bangun setiap suami mereka turun ke laut. Mereka selalu hadir waktu perahu suami mereka ber­la­buh di muara. Dan mereka selalu turun ke dapur mema­sak buat anak-anak dan suami mereka. Tapi ia seo­rang diri meng­ge­le­tak tanpa daya.

Waktu tiga bulan telah lewat, baru ia bisa bangun dan mela­ku­kan kewa­ji­b­an­nya sehari-hari, tapi semen­tara itu Ben­doro sangat jarang di rumah. Orang bilang Ben­doro selalu ting­gal di mesjid. Makan­an­nya pun dian­tar­kan dari rumah. Dalam masa mengan­dung itu Gadis Pantai selalu diamuk rasa rindu. Ingin ia duduk atau ting­gal lama-lama dengan sua­mi­nya, tapi ia hanya seo­rang budak sahaya. Kadang-kadang ia mena­ngis seo­rang diri tanpa sesu­atu sebab. Ah, seperti anak di bawah jan­tung­nya ini bukan anak­nya, tapi calon musuh­nya.

Ia ingin berdoa pada Tuhan, meng­adu ten­tang keti­dak-adilan yang dira­sai, tapi ia tak mampu mela­ku­kan­nya. Ia tak tahu doa mana yang tepat buat itu. Ia tak pernah terus­kan ngaji dan pel­a­jar­an­nya dengan naik. Dan ia menye­sal. Ia serah­kan sega­la­nya pada nasib­nya.

Tapi anak ini, anak ini, dia akan ber­na­sib lebih baik dari ibunya. Dan takkan dila­hir­kan di sebuah kam­pung nela­yan. Dia takkan dian­tar­kan dari kam­pung pada sese­o­rang Ben­doro di kota. Dia akan dila­hir­kan di sebuah gedung besar yang kukuh, tak sepo­tong pun angin mene­ro­bosi­nya. Dia akan dila­hir­kan dalam kera­jaan Ben­doro, bapak­nya sen­diri. Dia akan ikut ber­ku­asa ber­sama bapak­nya, dia akan ikut meme­rin­tah. Dan dia akan turun­kan ben­doro-ben­doro baru, tanpa perlu turun ke laut menang­kap ikan, menan­tang ombak dan kege­lapan malam, tak perlu rasai jila­tan air laut pada kaki­nya.

Apa­bila pera­saan kesu­nyian serta murung menye­rang­nya dengan men­da­dak tanpa sesu­atu sebab, dengan sen­di­r­i­nya saja tangan­nya meng­e­lus-elus mahluk baru yang aman ter­lin­dung di bawah jan­tung­nya. Sela­mat­lah kau, anakku. Sela­mat­lah kau, bawalah emakmu ini ikut sela­mat deng­anmu.

Masa-masa yang gelisah meng­gun­cang­kan telah lewat. Di depan­nya mem­ben­tang masa indah, masa kei­buan. Seo­rang mahluk kecil meng­hem­bus-hem­bus­kan nafas di dalam peluk­an­nya, seo­rang mahluk kecil akan meng­hi­sap dada­nya. Yang kecil ini kelak akan men­jadi besar, tapi dia harus dila­hir­kan dulu.

Dan pada suatu hari yang baik, tanpa saksi Ben­doro, bayi itu lahir­lah dengan per­to­longan seo­rang dukun bayi masy­hur.

Dengan kele­lahan dan ter­e­ngah-engah Gadis Pantai meno­long mahluk baru itu lahir ke dunia. Satu, dua, tiga, empat, lima menit tiada dide­ng­ar­nya mahluk baru itu ber­su­ara. Mati?

“Mana, mana sua­ra­nya?” ia ber­bi­sik dan tangan­nya meraba-raba tubuh si jabang bayi. Ia rasai gum­palan daging yang hangat. “Mana, sua­ra­nya?” ia ber­bi­sik dengan mata masih dipe­jam­kan karena ter­lalu lelah.

Tak ber­ja­wab.

Suatu serangan keta­kutan menye­bab­kan jan­tung Gadis Pantai ber­de­baran. Ia ingin bang­kit dan meni­up­kan hidup ke dalam dada bayi­nya.

Bayi itu sama sekali tak ber­su­ara, tak ber­ge­rak. Ia ingin men­je­rit meng­gun­cang­kan pen­de­ng­aran si bayi supaya bangun, tapi tenaga itu tak ada pada­nya. Dan waktu ia buka mata­nya dan per­ha­ti­kan si dukun, dili­hat­nya wanita itu sedang meng­ang­kat-angkat kaki bayi­nya ke atas. Begitu putih kulit si bayi, begitu kecil. Itulah anakku, anakku! Tapi mana sua­ra­nya, mana tangis­nya?

Mulut si dukun ber­ko­mat-kamit mem­baca mantra. Gadis Pantai ingin men­je­rit. Mati­kah anakku diang­kat-angkat begitu? Tapi tiada suara yang keluar dari mulut­nya ter­ke­cu­ali lenguh kecil yang segera teng­ge­lam dalam nafas­nya sen­diri.

“Sabar, Mas Ngan­ten, sabar,” dukun bayi ber­bi­sik. - “Ya, Allah, sela­mat­kan dia.”

“Demi allah, dia akan sela­mat.”

“Mana sua­ra­nya?”

“Air tuban ter­lalu banyak Mas Ngan­ten,” sambil terus meng­ang­kat-angkat kedua belah kaki si bayi dengan tangan­nya.

Tiba-tiba ter­de­ngar bayi itu merin­tih, kemu­dian muncul jerit lemah­nya.

“Anakku!”

“Dia sudah mena­ngis Mas Ngan­ten.”

Gadis Pantai mena­rik nafas dalam, kemu­dian ia ter­lena, mata­nya ter­tu­tup dan ter­ti­dur kele­lahan.

Bebe­rapa menit kemu­dian waktu ia ter­ba­ngun, seo­rang mahluk kecil tidur di sam­ping­nya. Dengan sen­di­r­i­nya saja tangan­nya meraba-raba­nya. Kedua tangan­nya leng­kap, bisik­nya. Kedua kaki­nya leng­kap tanpa cacat. Hati­nya lega. Kedua kuping­nya pun leng­kap. Mata­nya, bibir­nya. Semua baik. Dan hidung­nya ini, begini seder­hana seperti hidungku.

Bayi itu tidur.

Di hadap­an­nya dukun bayi itu masih menunggu duduk ter­me­nung di atas kursi rendah. Ia ter­se­nyum pada­nya.

“Lelaki atau perem­puan?” Gadis Pantai ber­bi­sik, dengan cemas-cemas ber­ha­rap anak­nya lelaki.

“Perem­puan!” jawab dukun bayi.

“Ben­doro sudah lihat?”

“Belum.”

“Sudah keras nangis­nya?”

“Belum.”

Gadis Pantai mena­rik nafas pan­jang. Seka­rang ia tunggu keda­tangan Ben­doro, dan seperti halnya dengan wanita-wanita kam­pung nela­yan, ia akan bilang: Inilah anakmu, sem­bi­lan bulan lama­nya aku besar­kan dia di bawah ulu-hatiku. Teri­ma­lah dia, ini anakmu sen­diri, aku cuma seka­dar mengan­dung­nya.

Pagi sebe­lum mata­hari terbit bayi itu mandi. Kini sudah jam sem­bi­lan pagi. Dan Ben­doro belum juga datang mene­ngok. Di kam­pung­nya sana, seo­rang bapak takkan turun ke laut tiga hari sebe­lum anak­nya lahir, dan tiga hari sesu­dah­nya. Si bapak akan tunggu anak­nya, akan jaga kese­la­mat­an­nya dan ibunya. Ia ingat tetang­ga­nya — baru sekali istri­nya mela­hir­kan. Ia ber­jaga siang malam di luar rumah. Dan waktu bayi­nya lahir mena­ngis ken­cang, ia tubruk pintu, lupa pada wajah­nya yang ber­co­r­engan air mata.

Seka­rang kepada siapa anak ini kuse­rah­kan kalau tidak pada bapak­nya sen­diri? Barang­kali Ben­doro tak pedu­li­kan anak­nya sen­diri? Tidak, tidak mung­kin, dia bapak­nya, bapak­nya sen­diri. Tapi meng­apa tak juga datang, seka­li­pun cuma buat mene­ngok?

Dukun bayi itu turun dari kur­si­nya, meng­ham­piri Gadis Pantai dan menyeka air mata dari wajah­nya.

“Ben­doro akan datang.”

“Seka­rang sudah begini siang.”

“Barang­kali banyak peker­jaan.”

Sore itu Ben­doro datang mem­buka pintu kamar bela­kang Gadis Pantai, ber­henti di sam­ping daun pintu.

“Ben­doro, ampun­i­lah sahaya, inilah anak Ben­doro …,” tapi suara itu tak ke luar dari mulut­nya. Ia ter­lalu takut.

“Jadi sudah lahir dia. Aku dengar perem­puan bayimu, benar?”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Jadi cuma perem­puan?”

“Seribu ampun, Ben­doro.”

Ben­doro mem­ba­lik­kan badan, keluar dari kamar sambil menu­tup pintu kem­bali.

Gadis Pantai memi­ring­kan badan, dipe­luk­nya bayi­nya dan dici­um­nya ram­but­nya …

Empat puluh hari kemu­dian si bayi mem­buka mata. Dan Gadis Pantai menga­gumi mata­nya sen­diri di mata bayi­nya: agak sipit seperti mata­nya. Bibir­nya pun ada di wajah bayi itu, hidung­nya, resam tubuh­nya yang kecil. Anak ini akan ber­tu­buh kecil seperti aku, seen­teng kapas.

Kini tak lagi ia merin­du­kan Ben­doro. Mata yang meman­dang dengan sopan­nya itu — apakah Ben­doro tak ingin meli­hat­nya? Ia ingin mem­per­se­m­bah­kan anak ini pada bapak­nya. Ia ingin anak dan bapak ber­pan­dang-pan­dangan mesra. Tapi Ben­doro tak pernah mene­ngok­nya.

Demi­ki­an­lah bulan demi bulan melun­cur dengan cepat­nya. Ia tak laku­kan lagi peker­jaan-peker­ja­a­nya yang dahulu. Tungku-batik­nya sudah padam. Hanya kadang-kadang ia turun ke dapur meme­riksa makanan.

Dan pada suatu hari tanpa diduga-duga­nya, bapak datang seo­rang diri dari kam­pung nela­yan.

Segera sang bapak meng­ang­kat, meng­gen­dong dan men­cium cucu­nya.

“Jadi sudah lebih tiga bulan umur bayimu?”

“Tiga sete­ngah, bapak.”

“Tak ada yang kasih kabar.”

“Aku kira bapak datang buat lihat cucu.”

“Tentu, tentu, kalau aku tahu. Seka­rang aku datang buat meli­hat­nya.”

“Mau beli benang jala?”

“Tidak.”

“Damar?”

“Juga tidak.”

“Jarum?”

“Kau sudah kirimi kami seba­nyak itu dulu. Tak perlu beli lagi.”

“Emak, bagai­mana emak?”

“Baik. Baik semua baik.”

“Mar­di­nah?

“Sedang mengan­dung.”

“Syukur, Benar-benar si pen­do­ng­eng turun ke laut?”

“Ya, benar. Dia ikut perahu kepala kam­pung seka­rang. Semua orang suka pada­nya. Tapi sayang dia tak mau men­do­ng­eng lagi.”

“Ada urusan datang ke kota, bapak?”

“Ada, tentu. Ben­doro memang­gil aku.”

“Mung­kin soal surau. Aku sudah bilang­kan pada Ben­doro, di sana sudah didi­r­i­kan surau, guru nga­ji­nya cukupan dan anak-anak sudah mulai bel­a­jar ngaji dan bahasa Arab.”

“Meng­apa tak dibi­lang­kan tak ada yang sempat ngaji di sana? Sampai bocah-bocah kecil pun turun ke laut.”

“Aku takut.”

“Apa boleh buat.”

“Jadi emak belum tahu, dia sudah ber­cucu seka­rang.”

“Belum, dia akan girang. Dia akan sela­mati cucu­nya.”

“Bapak akan lama ting­gal di kota?”

“Mung­kin. Apa­lagi di dekat cucu.”

“Bapak naik dokar?”

“Kema­rin dokar dari kota datang. Kusir yang menyam­pai­kan pang­gilan Ben­doro. Dia nginap di sana, pagi-pagi kami berang­kat kemari.”

“Ben­doro seka­rang jarang ting­gal di rumah, bapak.”

“Apakah bapakmu sen­diri sering ting­gal di rumah?”

“Sudah makan, bapak?”

“Sudah. Sudah. Emakmu bawa­kan aku nasi timbal.”

“Apa yang kau bawa, bapak?”

“Ban­deng. Di dapur sana. Ban­deng sedang baik-baik­nya seka­rang.”

Sese­o­rang mem­be­ri­ta­kan Ben­doro memang­gil bapak. Bapak menye­rah­kan si bayi pada Gadis Pantai dan meng­ha­dap. Tidak ter­de­ngar suara mereka di kamar bela­kang. Si bayi dile­tak­kan kem­bali di ran­jang oleh emak­nya. Gadis Pantai kemu­dian duduk tepe­kur di kursi. Ia merasa baha­gia dapat mem­be­ri­kan seo­rang cucu pada bapak. Keba­ha­gi­aan itu pun akan mening­kat ” bila emak pun tahu akan kela­hiran ini. Dan juga selu­ruh kam­pung. Mereka akan bangga: seo­rang di antara mereka telah di- :- lahir­kan dalam gedung besar di kota, jadi ketu­runan Ben­doro. Tak lama bapak pergi meng­ha­dap. Seben­tar kemu­dian ia masuk kem­bali ke dalam kamar. Wajah­nya suram, lang­sung ia menuju ke ran­jang si bayi dan men­ci­um­i­nya.

“Ada apa, bapak?”

Bapak mele­tak­kan tela­pak tangan­nya lembut-lembut pada perut bayi.

“Meng­apa bapak, meng­apa diam?”

“Maaf­kan aku. Kum­pul­kan semua pakai­anmu ”

“Ada apa, bapak?”

“Jangan ber­ta­nya, nak, jangan ber­ta­nya. Kita akan pergi seka­rang.”

“Ke mana, bapak?”

“Pulang.”

“Pulang?”

“Ya, pulang. Kau tak suka lagi pada kam­pungmu sen­diri seka­rang?”

“Meng­apa tidak?”

“Mari pulang, nak. Ini bukan tem­patmu lagi.”

“Meng­apa, bapak?”

“Meng­apa? Kau telah dice­rai.”

Gadis Pantai meng­gi­gil di sam­ping bapak. Bapak pun segera ber­diri mema­pah­nya. “Tawa­kal, nak, Tawa­kal.”

“Bapak!”

“Nak?”

“Aku belum per­se­m­bah­kan anak ini kepa­da­nya.”

“Per­se­m­bah­kan­lah. Mari aku antar­kan.”

“Ini anak Ben­doro sen­diri, bukan anak orang lain.”

“Aku antar­kan. Mari.”

Dengan bayi dalam gen­do­ngan, dengan bapak meng­iring­kan dari bela­kang mereka meng­ha­dap Ben­doro yang sedang duduk di kursi goyang di ruang tengah. Segera Gadis Pantai duduk ber­sim­puh di atas lantai.

“Seribu ampun Ben­doro. Sahaya dengar tuanku telah cerai­kan sahaya.” Gadis Pantai ter­lupa pada keta­kut­an­nya demi bayi­nya.

“Apa kau tak suka?”

“Sahaya cuma seo­rang budak yang harus jalani perin­tah Ben­doro.”

“Apa­lagi?”

“Sahaya belum lagi mem­per­se­m­bah­kan anak ini kepada Ben­doro. Inilah putri tuanku Ben­doro. Putri tuanku sen­diri, bukan anak orang lain.”

“Tidur­kan dia di tem­pat­nya.”

“Sahaya adalah emak­nya, sahaya yang hina ini, tuanku. Bagai­mana sahaya harus urus dia di kam­pung nela­yan sana? Ia anak seo­rang bang­sa­wan, tak mung­kin diasuh secara kam­pung.”

“Aku tak suruh kau meng­a­suh anakku.”

“Harus­kah sahaya pergi tanpa anak sahaya sen­diri, tuanku?”

“Kau tak pernah seba­nyak itu bicara.”

“Apakah yang takkan diper­buat seo­rang ibu buat anak­nya?”

“Kau ting­gal­kan rumah ini! Bawa selu­ruh per­hi­asan dan pakaian. Semua yang telah kube­ri­kan padamu. Bapakmu sudah kube­ri­kan uang keru­gian, cukup buat mem­beli dua perahu seka­li­gus dengan segala per­leng­kap­an­nya. Kau sen­diri, ini …,” Ben­doro meng­u­lu­r­kan kan­tong berat ber­i­sikan mata uang … pesa­ngon. “Cari­lah suami yang baik, dan lupa­kan segala dari gedung ini. Lupa­kan aku, ngerti?”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Dan ingat. Per­gu­na­kan pesa­ngon itu baik-baik. Dan … tak boleh sekali-kali kau meng­in­ja­kan kaki di kota ini. Ter­ku­tuk­lah kau bila melang­gar­nya. Kau dengar?”

“Lantas ke mana dia boleh pergi Ben­doro?” bapak mem­pro­tes.

“Ke mana saja asal tidak di bumi kota ini.”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Apa lagi mesti kuka­ta­kan? Dokar itu sudah lama menunggu.”

“Anak ini, tuanku, bagai­mana nasib anak ini?” Gadis Pantai meme­kik rin­tihan.

“Anak itu? Apa guna kau pikir­kan? Banyak orang bisa urus dia. Jangan pikir­kan si bayi.”

“Mes­ti­kah saya pergi tanpa anak sen­diri? Tak boleh balik ke kota untuk meli­hat­nya?”

“Lupa­kan bayimu. Anggap dirimu tak pernah punya anak.” Gadis Pantai ter­se­dan-sedan “Sahaya harus berang­kat, Ben­doro, tanpa anak sahaya sen­diri?”

“Aku bilang kau tak punya anak. Kau belum pernah punya anak.”

“Sahaya, Ben­doro.”

“Per­gi­lah.”

“Tanpa anak ini per­hi­asan dan uang pesa­ngon tanpa arti­nya, Ben­doro.”

“Kau boleh beri­kan pada si bayi.”

Baik bapak maupun Gadis Pantai ter­diam keha­bisan kata. Dan Ben­doro meng­go­yang-goyang­kan kur­si­nya.

Gadis Pantai pun ber­ja­lan ber­lu­tut mundur-mundur kemu­dian pergi dii­kuti oleh Bapak. Sesam­pai­nya di kamar ia segera meme­luk bayi­nya.

“Maaf­kan aku, anakku, tiada kusangka akan begini akhir­nya.”

“Kalau aku ber­sa­lah, apakah salahku, bapak?”

Bayi itu mem­buka mata­nya dan mena­ngis.

“Kita pergi seka­rang, nak.”

“Ya, bapak, biar­kan anakku minum dari dadaku buat peng­ha­bisan kali.”

“Ya, biar dia minum. Barang­kali buat peng­ha­bisan kali.” Gadis Pantai mem­buka kutang­nya mem­be­ri­kan dada­nya pada bayi­nya.

“Minum, nak, minum!” bisik­nya. Dan waktu bayi itu menyen­tuh kemu­dian meng­hi­sap ujung dada­nya, diusap-usap­nya rambut jarang si bayi dengan tangan­nya yang lain. Ber­bi­sik, “Apa yang takkan kube­ri­kan kepa­damu, nak? Apa yang takkan kukur­bankan? Seka­rang, seka­rang hakku seba­gai ibumu pun kur­e­la­kan buat kau!”

“Maaf­kan aku, nak,” bapak ber­kata per­la­han dari sam­ping ran­jang, “tiada kuduga sebe­lum­nya seperti begini bakal jadi­nya.”

“Ah, bapak, bapak orang baik. Bapak tidak salah, tidak keliru.”

“Kau mena­ngis tapi.”

“Apa yang dapat bapak per­buat? Bapak cuma mena­ngis begini.”

“Ah, siapa tak sayang pada anak?”

“Ini anakku yang per­tama, bapak.”

“Maaf­kan bapakmu yang bodoh ini, nak.”

“Kita maaf­kan semua dan sega­la­nya, bapak, ter­ke­cu­ali satu…”

“Kau bijak­sana, nak. Memang tak patut seo­rang ibu diba­tal­kan haknya seba­gai ibu. Tidak patut. Tidak patut! Tapi cucuku itu, nak, dia bisa jadi pri­yayi, tidak seperti kita.”

“Menge­ri­kan, bapak, menge­ri­kan kehi­dupan pri­yayi ini. Ah, ah, meng­apa bocah ini tak mau minum?”

“Tidak patut kita lebih lama ting­gal di sini, nak. Kita tak punya sesu­atu pun hak lagi di sini.”

“Bapak benar, bapak benar. Anak ini, anak ini anakku. Kulah­ir­kan dia dengan kesa­kitan. Lihat hidung­nya. Bapak, itu hidungku. Dia anakku. Apa kurang darah yang telah kucu­cur­kan? Duh-duuuh anak semanis ini — anak semanis ini! Pak, bapak, bapak kakek­nya. Meng­apa diam saja?”

“Apa mesti aku kata­kan, nak. Apa kurang cukup rema­san di dalam hati meli­hat anak, anak­nya sen­diri seperti kau nasib­nya. Seperti dia nasib­nya? Kurang cukup itu?”

“Anakku, anakku, bayiku. Apa aku mesti bilang padamu?” Kedua-duanya ter­diam. Tapi keri­u­han meng­a­muk di dalam hati masing-masing.

“Seperti kuburan rumah ini.”

“Batu tanpa per­saan.”

“Untuk ini mung­kin kita harus dir­i­kan surau?”

“Mari kita berang­kat.”

“Anakku ini … bagai­mana anakku ini?”

Sese­o­rang memang­gil di depan pintu, kemu­dian:

“Dokar sudah ter­se­dia di depan, Mas Ngan­ten.”

Gadis Pantai ter­se­dan-sedan.

“Pakai­anmu, nak, biar aku beres­kan.”

“Biar, bapak. Biar­lah. Tambah banyak yang ter­ting­gal di sini barang­kali saja ber­tam­bah sering dia ter­ke­nang pada emak­nya kelak.”

“Apa kau pakai di kam­pung nanti?”

“Biar­lah aku jadi seperti yang lain-lain.”

“Ah, anakku.”

Sekali lagi suara di depan pintu ter­de­ngar memang­gil-mang­gil, “Dokar sudah ter­se­dia di depan, Mas Ngan­ten.” Bapak mena­tap Mas Ngan­ten yang masih juga ter­golek di ran­jang meme­luk bayi­nya.

“Jadi, bagai­mana, nak, mak­sudmu?”

“Dia ini bayi, bapak, bayi. Biar­lah dia minum dulu. Biar­lah dia kenyang barang sedi­kit. Siapa tahu ini peng­ha­bisan kali dia menyusu emak­nya sen­diri.”

“Tapi ini bukan rumahmu lagi, nak. Mari bawa si bayi ke luar rumah. Susui dia di bawah pohon tan­jung di tepi alun-alun.”

“Anak ini belum turun bumi. bapak, belum potong rambut, mana dia kuat mena­han angin laut?”

“Aku ngerti, nak, sangat ngerti. Tapi kita tidak ada hak ting­gal di sini lebih lama. Kau dengar sen­diri, kuda dokar sudah siap meno­long kita men­ja­uhi tempat ini.”

“Bagai­man­a­pun dia pernah sua­miku, bapak. Seben­tar tadi dia masih sua­miku. Mana mung­kin dia begitu angkuh ter­ha­dap emak dari anak­nya sen­diri?”

“Kita tak meng­erti pera­ngai ben­doro-ben­doro, nak. Kita tak ngerti.”

“Tidak, bapak, kita tidak meng­erti, tapi anak ini, anak ini…”

“Dia akan didi­dik untuk tak menge­nal kemis­kinan, nak. Dia akan didi­dik untuk meme­rin­tah Dia akan didi­dik untuk meme­rin­tah kau juga.”

“Bayi ini anakku, bapak. Aku rela dipe­rin­tah­nya.”

“Ah, bukan perin­tah itu yang mena­kut­kan, nak. Kau tahu sen­diri selain itu. Sayang aku baru tahu sesu­dah keja­dian.”

“Ini bayiku, bapak. Aku yang lahir­kan dia. Biar­lah aku lebih lama ting­gal dengan dia. Biar­lah dosaku pada Ben­doro kuper­ba­nyak barang sedi­kit. Dia butuh­kan dada emak­nya. Ah, besok dia takkan minum susu emak­nya lagi. Bapak tak meng­erti ini?”

Bapak tak men­ja­wab, hanya mondar-mandir geli­sah. Akhir­nya Gadis Pantai bang­kit dari ran­jang meng­ham­piri bapak.

“Biar aku meng­ha­dap lagi, bapak. Bapak turun­lah dulu dari rumah ini. Tunggu aku di depan mesjid, di alun-alun sana, di bawah pohon-pohon tan­jung.” Dili­hat­nya bapak jadi ragu-ragu, Gadis Pantai mene­rus­kan, “Jangan kha­wa­tir, bapak. Turun­lah.”

Dengan pan­dang meme­rin­tah Gadis Pantai meng­i­kuti gerak-gerik bapak. Akhir­nya bapak mening­gal­kan kamar, dan hilang dari peman­dang­an­nya.

Gadis Pantai meng­am­bil selem­bar selen­dang. Digen­dong­nya anak­nya. Bebe­rapa kali dici­um­nya pada pipi, kening, jari-jari­nya yang putih mungil. Tiba-tiba ia ter­se­dan-sedan seo­rang diri. Anak ini, anak ini bagai­mana kau bakal­nya, nak? Lambat-lambat ia melang­kah ke pintu, menye­ber­a­ngi ruang bela­kang mema­suki ruang tengah. Dili­hat­nya Ben­doro masih duduk di tem­pat­nya dengan buku Hadith di tangan. Ia meng­ham­piri tanpa mening­gal­kan suara, kemu­dian duduk di lantai di bela­kang kursi Ben­doro.

“Seribu ampun, Ben­doro.”

Tanpa mene­ngok Ben­doro menu­run­kan Hadi­t­h­nya. Ia men­da­ham.

“Seribu ampun, sahaya datang buat serah­kan anak sahaya ini, anak sahaya sen­diri, bukan anak orang lain, Ben­doro. Teri­ma­lah dia Ben­doro.”

“Letak­kan di ran­jang!”

“Tidak mung­kin, tuan.”

“Kau tak dengar perin­tahku?”

“Sahaya ini emak si bayi. Kalau bapak­nya pegang pun tak mau, apa pula mera­wat­nya, Ben­doro. Seba­ik­nya sahaya bawa pulang ke kam­pung.”

Ben­doro meronta bangun. Dan kursi goyang itu pun ter­a­yun-ayun tanpa peng­huni. Ia ber­diri meng­ha­dapi Gadis Pantai yang menun­duk mene­kuri lantai.

“Mur­ka­i­lah sahaya ini, Ben­doro. Bayi bukan per­hi­asan, bukan cincin, bukan kalung yang bisa dilem­par­kan pada setiap orang.”

“Mulai kapan kau punya ing­atan mau lari­kan bayi ini?”

Gadis Pantai meng­ang­kat muka, menan­tang mata Ben­doro. Per­la­han-lahan ia ber­diri tegak dengan bayi dalam gen­do­ng­an­nya.

“Ayam pun bisa mem­bela anak­nya, Ben­doro. Apa­lagi sahaya ini — seo­rang manu­sia, biar pun sahaya tidak pernah mengaji di surau.”

“Pergi!”

Gadis Pantai memung­gungi Ben­doro, dan dengan bayi dalam gen­do­ng­an­nya ia melang­kah cepat menuju pintu.

“Ting­gal­kan anak itu!”

Gadis Pantai telah keluar dari pintu ruang tengah.

Ben­doro meraih tong­kat, mele­tak­kan Hadith di atas meja kecil di sam­ping­nya, lari mem­buru Gadis Pantai dan men­da­pat­kan­nya di jen­jang ruang bela­kang di ten­tang dapur rumah. Dan bujang-bujang telah ber­de­ret di depan pintu dapur dengan mata keta­kutan.

“Tahan dia!” seru Ben­doro sambil meng­a­yun-ayun­kan tong­kat­nya.

Seperti sebuah pele­ton ser­dadu, bujang-bujang — laki dan perem­puan — lari mena­han dan menge­pung Gadis Pantai.

“Bukan pen­curi aku!” teriak Gadis Pantai dengan lan­tang.

“Semua kuting­gal­kan di kamar. Aku cuma bawa anakku sen­diri. Cuma anakku sen­diri,” kaki­nya menye­pak tapi bujang-bujang lain men­de­sak.

“Maling!” ben tak Ben­doro. “Ayoh. Lepas­kan bayi itu dari gen­do­ng­an­nya. Kau mau kupang­gil polisi? Mar­sose?”

“Aku cuma bawa bayiku sen­diri. Bayi aku! Bayi yang kulah­ir­kan sen­diri. Dia anakku, bapak­nya seo­rang setan, iblis. Lepas­kan!”

Sese­o­rang memu­kul mulut­nya hingga ber­da­rah. Masih ter­de­ngar orang ber­bi­sik ke teli­nga­nya, “Kau hanya dipu­kul sedi­kit.”

Ia tak tahu kepala tong­kat Ben­doro yang meng­u­cur­kan darah pada bibir­nya. Bayi itu tahu-tahu telah lepas dari tubuh­nya, dan selen­dang itu ter­gan­tung kosong di depan perut­nya.

“Anakku sen­diri dia!” raung­nya.

“Lempar dia keluar!” Ben­doro ber­te­riak.

Satu gabungan tenaga telah men­do­r­ong­nya ke pela­taran tengah. Ia mem­be­ron­tak dan mera­ung. Waktu diang­kat­nya muka­nya ke arah langit, dili­hat­nya pada jen­dela rumah ting­kat di sam­ping gedung seo­rang wanita melem­par­kan pan­dang kosong pada­nya. Dan Gadis Pantai meng­adu:

“Dia bayiku sen­diri! Biar bapak­nya setan, biar iblis neraka, - dia bayiku sen­diri!”

Wanita di jen­dela itu meng­ha­pus mata­nya, mem­ba­lik­kan diri dan menu­tup jen­dela.

“Buat apa dia mesti rampas anakku? Selu­sin anak dia bisa buat dalam seminggu. Dia cuma siksa aku! Dia, Ben­do­r­omu itu. Dia cuma mau siksa bayiku, Ben­do­r­omu itu. Sini, mana bayiku. Beri­kan padaku.”

Ia telah dido­r­ong mele­wati pintu pela­taran tengah.

“Bayiku! Nak, anakku. Sini, kau, nak!”

Dengan keku­atan yang ter­sisa ber­u­saha ber­ja­lan balik. Sese­o­rang men­do­r­ong­nya dengan kasar. Sebe­lum jatuh rubuh di pasiran ia masih sempat meli­hat pintu masuk ke pela­taran tengah telah ter­tu­tup — ter­tu­tup buat selama-lama­nya bagi­nya. Ia dengar sese­o­rang ber­bi­sik, “Maaf­kan kami, Mas Ngan­ten.”

“Aku tak boleh masuk ke sana lagi?”

“Tidak boleh, Mas Ngan­ten, maaf­kan, beribu maaf. Kami telah ber­buat kasar.”

Gadis Pantai ter­se­dan-sedan di atas pasiran.

“Putri Mas Ngan­ten akan kami rawat. Per­ca­ya­lah.”

“Sahaya akan gen­dong, sahaya bawa jalan-jalan kalau sore.”

“Sahaya akan tung­gui kalau malam.”

“Terima kasih. Terima kasih.”

“Mari sahaya antar­kan ke dokar, Mas Ngan­ten.”

Sese­o­rang meno­long­nya ber­diri Gadis Pantai tak mela­wan. ” Ta san­dar­kan diri pada orang-orang yang selama itu mela­yan­i­nya seba­gai bujang. Mereka mem­bim­bing­nya keluar dari pela­taran depan, turun ke jalan raya, ke tepian alun-alun. Dan bapak yang duduk ber­san­daran dengan lama­nya pada pohon tan­jung segera ber­diri, ter­buru-buru meng­ham­piri anak­nya, kemu­dian mema­pah­nya mena­iki ke atas dokar.

Waktu dokar mulai ber­ja­lan, bapak ber­bi­sik meng­hi­bur. “Nasib kita­lah memang, nak. Nasib kita. Sega­nas-ganas laut, dia lebih pemu­rah dari hati pri­yayi.”

“Kita ke mana, bapak?”

“Ke mana? Ke tempat kau dila­hir­kan. Ke tempat lelu­hurmu diku­bur­kan.”

“Tak sang­gup aku ten­tang mata mereka lagi, bapak.”

“Tak ada tempat lain yang lebih pemu­rah dari kam­pung kita, nak.”

Dan dokar ber­ja­lan terus meng­ge­lin­ding di atas jalan pos buatan Daen­dels. Cemara yang ber­ke­jar-keja­ran tiada mena­rik per­ha­tian semua yang ada di dalam dokar. Hutan-hutan jati dan bakau yang ber­gan­deng-gan­de­ngan ter­ke­san seakan gum­palan-gum­palan men­dung yang melin­tas tanpa makna di malam hari.

“Apa mesti kuka­ta­kan pada emak?”

“Seo­rang emak, nak, biar tak lihat anak­nya dia tahu apa yang ditang­gung­kan­nya!”

“Aku tahu penang­gungan bayiku, bapak.”

“Diam­lah, tidur­lah, nak. Tidur.”

Ada masa­nya Gadis Pantai ber­u­saha keras agar tak jatuh ter­ti­dur, menunggu keda­tangan Ben­doro. Kini bapak menyu­r­uh­nya tidur, dan ia tak mampu. Sedang bunyi tela­pak kuda yang ber­i­rama menge­tuki daratan jalan raya yang keras itu, ber­ga­ung dalam hati­nya, seperti ketukan-ketukan martil pada din­ding-din­ding jan­tung­nya.

Dokar macam ini juga yang menye­ret aku dari orang tuaku dan kam­pungku. Dan dokar macam ini pula yang menye­ret aku dari per­ka­win­anku dan anakku.

Ia rasai pelu­puk mata­nya ter­lalu berat. Apa mesti aku ker­ja­kan di kam­pung sana? Buat siapa aku mesti kerja?

“Bapak?”

“Ya?”

Tapi Gadis Pantai tak mene­rus­kan. Ia ter­i­ngat pada pen­du­duk kam­pung yang menyu­sul­nya dengan obor waktu ia pulang sete­lah kawin, ia ingat pada orang-orang yang menye­but­nya Ben­doro Putri. Ia ingat pada Mar­di­nah? Tapi segera - ing­at­an­nya ber­ba­lik pada anak­nya.

Sedang mena­ngis­kah dia seka­rang, manisku itu? Ia raba dada­nya yang seder­hana. Dan kutang­nya rasa­nya basah kena tetesan air susu. Betapa sia-sia buah dada ini dibe­ri­kan kepa­daku. Ah-ah, meng­apa aku sesali buah dada yang telah dihi­sap anakku?

Kemu­dian ia ter­i­ngat pada Ben­doro: orang yang tinggi semam­pai tanpa otot — betapa besar keku­a­sa­an­nya, biar pun tak pernah meli­hat laut! Disu­ruh apakah anakku kelak? Aku emak­nya sen­diri? Disu­ruh kelak hina­kan emak­nya sen­diri? Ahah, dia bakal jadi serupa dengan bapak­nya.

“Barang­kali ini yang memang seba­ik­nya, bapak?”

“Nak”

“Kalau anakku besar nanti — kalau dia tahu emak­nya cuma orang dusun dari kam­pung nela­yan — barang­kali dia malu punya emak seperti aku ini.”

“Ah, anakku. Meng­apa kau bilang begitu?”

“Aku, pikir, barang­kali ini memang seba­ik­nya, biar begini berat rasa­nya. Biar­lah ia tak perlu tahu emak­nya. Dia akan jadi seperti bapak­nya. Dia akan meme­rin­tah. Dia akan ting­gal di gedung — tak perlu meli­hat laut. Ah, bapak, aku harus beri­kan semua itu. Aku harus beri­kan.”

Mata­hari di atas sudah mele­wati puncak keting­gi­an­nya seka­rang. Bebe­rapa gumpal men­dung antara seben­tar menu­tup — mata­hari dan menyu­r­am­kan dunia. “Hari sepa­nas ini dan hawa sebe­rat ini. Hujan bakal­nya.”

Betapa senang ting­gal di gedung bila hujan jatuh. Tak seti­tik tam­pias menying­gung tubuh.

Dan men­dung di langit sema­kin tebal. Kini guruh mulai men­deru-deru ber­se­lingan dengan deburan laut. Waktu hujan turun kuda yang nampak kele­lahan itu men­jadi segar dan kuat kem­bali, lari gesit kedi­nginan. Waktu hujan reda, dokar telah sampai di ujung jalan yang tak dapat lagi ditem­puh oleh dokar. Gadis Pantai turun. Ia tebar­kan pan­dang­nya keli­ling. Ia masih hafal pohon-pohon yang tumbuh di seki­tar­nya. Tak ada sesu­atu pun per­u­ba­han pada pohon-pohon itu. Cuma air hujan mem­buat daun-daun­nya nampak jadi lebih berat dan lebih hijau.

Ia dengar suara tangis bayi­nya. Buah dada­nya dira­sa­i­nya keras mene­kan dada­nya, men­de­nyut. Ia mulai melang­kah tanpa tenaga, kaki­nya telah lupa menge­na­kan sandal yang biasa dike­na­kan dalam tahun-tahun bela­kangan ini. Dira­sa­i­nya pasir basah halus itu mem­be­lai tela­pak kaki­nya Dite­ngok­nya pasiran di bawah kaki­nya. Ia ter­henti.

Bekas tela­pak kaki yang diting­gal­kan di pasiran itu, ruang jejak­nya jauh lebih besar dari­pada yang pernah dicap­kan­nya pada pasir kam­pung­nya hampir empat tahun yang lalu. Sekali lagi buah dada­nya men­de­nyut ngilu, seku­jur pung­gung­nya meng­gi­gil sedi­kit. Kem­bali ia dengar tangis bayi­nya.

Dia akan jadi pri­yayi. Dia anakku. Dia akan ting­gal di gedung. Dia akan meme­rin­tah. Ah, tidak. Aku tak suka pada pri­yayi. Gedung-gedung ber­din­ding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa pera­saan. Tak ada orang mau deng­ar­kan tangis­nya. Kalau anak itu besar kelak, dia pun takkan deng­ar­kan keluh-kesah ibunya. Dia akan perin­tah dan per­la­ku­kan aku seperti orang dusun, seperti abdi. Dia pela­ku­kan aku seperti bapak­nya mem­per­la­ku­kan aku kini dan selama ini. Ya, Allah, per­gu­na­kan­lah keku­a­saan-Mu, buat­lah dia tidak menge­nal emak­nya. Buat­lah aku takkan ber­temu deng­an­nya kelak. Tapi lin­dung­i­lah dia. Dia anakku yang tak menge­nal emak­nya, tak kenal lagi air susu emak­nya.

Kem­bali ia mere­nungi tanah dan meng­a­mati bekas tela­pak kaki­nya yang begitu besar. Waktu diang­kat kepa­la­nya ia lihat bapak ber­diri di hadap­an­nya.

“Kam­pung kita akan terima kau seperti dahulu waktu kau dila­hir­kan, nak. Semua orang datang dan mem­be­ri­kan ber­kah­nya.”

Indah­nya orang-orang kam­pung di ping­gir pantai itu. Gadis Pantai kem­bali ter­i­ngat pada bayi­nya: tiada seo­rang menyam­but keda­tangan­nya ter­ke­cu­ali emak­nya sen­diri. Bapak­nya sen­diri pun tak acuh ter­ha­dap kela­hir­an­nya

“Memang berat di kam­pung, nak. Kau pernah meng­a­lami hidup yang lain di kota.”

Gadis Pantai melang­kah dua tindak lagi. Tiba-tiba ber­seru pada kusir, “Jangan jalan dulu, man!”

“Meng­apa kau, nak?”

“Tidak, bapak, aku tak kem­bali ke kam­pung. Aku mau pergi jauh!”

“Nak.”

Gadis Pantai ber­sim­puh men­cium kaki bapak. Kain­nya ber­ge­li­mangan pasir basah.

“Ampuni aku, bapak. Aku tak dapat ten­tang mata emak, para tetangga dan semu­a­nya. Ampuni aku, bapak. Aku akan pergi bawa diriku sen­diri.”

“Kau sudah janji takkan balik ke kota, nak?”

“Aku akan balik ke kota, bapak, tapi tidak mene­tap. Besok aku pergi ke selatan.”

“Kau mau ke mana?”

“Ke Blora, Bapak.”

“Kau, mau ikut siapa?”

“Dulu aku punya pela­yan. Dia sudah diusir. Mung­kin ke sana dia pergi, bapak.”

“Jangan, nak, mari ting­gal di kam­pungmu sen­diri. Kau tak kenal tempat lain.”

“Beribu ampun, bapak. Bapak pulang­lah sen­diri ke kam­pung. Beli­lah perahu besar model baru buatan Lasem. Dia akan gan­ti­kan aku seba­gai anak bapak. Min­ta­kan maafku pada emak, pada semua sau­dara, tetangga dan siapa saja. Ang­gap­lah anak bapak sudah tiada lagi. Perahu buatan Lasem itu bakal jadi anak bapak yang paling ceria.” Gadis Pantai ber­diri, kemu­dian merang­kul bapak.

“Beri aku uang seka­dar­nya, bapak.”

Bapak masih ber­diri ter­ma­ngu tak tahu apa mesti diper­buat. Gadis Pantai mero­goh kan­tong bapak, meng­am­bil bebe­rapa mata uang perak, kemu­dian tanpa ragu-ragu menuju dokar dan naik ke atas­nya.

“Kem­bali ke kota, man!”

“Bagai­mana ini, kanca!” seru kusir itu pada bapak.

Bapak juga masih tak tahu apa mesti diper­buat. Gadis Pantai meng­am­bil cambuk dan mele­cut kuda dari bawah perut­nya. Kuda pun melom­pat dan lari. Roda-roda­nya meng­gi­las jalanan pasir, lari laju menuju jalan pos. Tanpa mene­ngok ke bela­kang lagi Gadis Pantai memu­sat­kan mata ke depan.

Dalam satu bulan sete­lah itu sering orang meli­hat sebuah dokar ber­henti di depan pintu peka­rangan depan Ben­doro dan sebuah wajah meng­in­tip dari kira­ian jen­dela dokar, tapi tak ada ter­jadi apa-apa di peka­rangan itu. Sele­wat sebu­lan, tak pernah lagi ada dokar ber­henti, tak ada lagi wajah meng­in­tip dari kira­i­nya.



Bagian Kedua

Luka Pedesaan dan Kungkungan Tradisi

Inem

Pelarian yang Tak Dicari

Anak Haram

Yang Sudah Hilang

Kemudian Lahirlah Dia

Yang Menyewakan Diri


Cerita pendek

Inem

Dari Cerita dari Blora (1952). Teks dari cetak ulang Hasta Mitra, 2002.

Inem adalah kawanku di antara kawan-kawan perem­pu­anku. Ia beru­mur dela­pan tahun — jadi dua tahun lebih tua dari­pada diriku sen­diri. Ia tak ber­beda dengan kawan-kawanku yang lain. Dan kalau per­be­daan itu ada ialah ini: ia ter­go­long cantik buat gadis-gadis kecil di kam­pung kami. Senang orang meli­hat­nya. Ia sopan, tak manja, cekatan dan rajin. Sifat-sifat yang segera saja memasy­hur­kan nama­nya sampai di kam­pung sebe­lah-menye­be­lah. Inem patut benar jadi temanku.

Dan pada suatu kali sedang mema­sak air di dapur ia ber­kata padaku: “Gus1 Muk, aku akan dika­win­kan.”

“Masa?” kataku.

“Ya. Seminggu yang lalu sudah datang lamar­an­nya. Emak dan Bapak dan kera­bat-kera­bat lain­nya sudah mene­rima baik lamaran itu.”

“Alang­kah senang jadi pengan­tin!” seruku riang.

“Alang­kah senang. Tentu saja! Nanti aku dibe­likan pakaian bagus-bagus. Nanti aku didan­dani pakaian pengan­tin, dibu­ngai, dibe­daki, disi­pati dan dice­laki. Alang­kah senang! Alang­kah senang!”

Dan betul­lah. Pada suatu sore, datang­lah emak­nya mene­mui ibu. Waktu itu Inem diti­tip­kan pada orang tuaku. Peker­ja­an­nya tiap hari mem­bantu masak di dapur dan mene­mani aku dan adik-adikku ber­main-main.

Peng­ha­silan emak si Inem ialah dari upah mem­ba­tik. Perem­puan-perem­puan di kam­pung kami, apa­bila tak bekerja di sawah, mem­ba­tik­lah peker­ja­a­ni­nya. Ada yang mem­ba­tik kain dan ada pula yang mem­ba­tik ikat kepala. Mereka yang miskin mem­ba­tik ikat kepala, karena ikat kepala lekas dapat dise­le­sai­kan, dan lekas pula orang men­da­pat upah. Dan peng­ha­silan emak si Inem ialah dari mem­ba­tik ikat kepala itu. Mori dan lilin dite­ri­ma­nya dari Toko Ijo, maji­kan­nya. Tiap dua lembar yang sudah diba­tik­i­nya, ia mene­rima upah satu sete­ngah sen. Tiap hari rata-rata orang dapat meng­ha­sil­kan dela­pan sampai sebe­las lembar ikat kepala.

Bapak si Inem seo­rang peng­adu jago. Tiap-tiap hari ker­ja­nya hanya ber­judi dengan per­ta­rungan jago­nya. Kalau ia kalah, jago­nya diam­bil oleh yang menang. Dan ia pun harus mem­ba­yar sering­git2 atau paling sedi­kit tiga talen. Kalau tidak adu jago, ia main kartu dengan tetangga dengan uang pasangan satu sen. Kadang-kadang bapak Inem tak pulang satu atau sete­ngah bulan, meng­em­bara dengan ber­ja­lan kaki. Bila sampai di rumah lagi, arti­nya ia ada mem­bawa uang.

Ibu pernah bilang padaku, bapak si Inem ker­ja­nya yang ter­u­tama ialah mem­be­gal3 di tengah hutan jati antara kota kami Blora4 dan kota pesi­sir Rem­bang. Waktu itu aku sedang duduk di kelas satu dan banyak men­de­ngar cerita ten­tang pem­be­galan, peram­pokan, pen­cu­r­ian dan pem­bu­nuhan. Oleh cerita-cerita itu dan juga oleh cerita ibu, jadi takut­lah aku pada bapak si Inem.

Semua orang tahu belaka, bapak Inem jadi pen­ja­hat. Tapi tak seo­rang pun berani meng­a­dukan pada polisi. Dan tak seo­rang pun dapat mem­buk­ti­kan dia seo­rang pen­ja­hat. Karena itu ia tak pernah ditang­kap oleh polisi. Lagi pula sau­dara-sau­dara emak si Inem hampir semu­a­nya jadi polisi. Malah ada yang jadi agen kelas satu. Dan pak Inem sen­diri pun pernah jadi polisi dan dipe­cat karena mene­rima suapan.

Cerita ibu pula, dahulu pak Inem pen­ja­hat besar. Untuk mem­be­ran­tas keja­hatan yang mera­ja­lela, ia diang­kat jadi polisi oleh peme­rin­tah Hindia Belanda untuk mem­be­ran­tas kawan-kawan­nya. Sejak itu ia tak pernah meram­pok lagi. Tetapi di ling­kungan kami ia masih tetap jadi tempat orang mena­ruh kecu­r­i­gaan.

Waktu emak si Inem mene­mui ibu, Inem sedang mema­sak air di dapur. Aku turut mene­mui emak­nya. Dan tamu itu, ibu dan aku duduk di bale rendah ber­warna merah.

“Ndoro,” kata emak si Inem, “aku datang untuk meminta si Inem.”

“Meng­apa si Inem diminta? Bukan­kah lebih baik kalau dia ada di sini? Engkau tak perlu mengong­kosi dan di sini dia bisa bel­a­jar masak.”

“Tapi, ndoro, habis panen ini aku ber­mak­sud meni­kah­kan dia.”

“Ha?” seru ibu kaget. “Dini­kah­kan?”

“Ya, ndoro. Dia sudah pera­wan seka­rang — sudah beru­mur dela­pan tahun,” kata emak si Inem.

Seka­rang ibu ter­tawa. Dan tamu itu heran meli­hat ibu ter­tawa.

“Dela­pan tahun ’kan masih kanak-kanak?” tanya ibu kemu­dian.

“Kami bukan dari golongan pri­yayi, ndoro. Aku pikir dia sudah ketu­aan seta­hun. Si Asih itu menga­win­kan anak­nya dua tahun lebih muda dari­pada anakku.”

Ibu men­coba meng­ha­langi maksud perem­puan itu. Tetapi emak si Inem punya alasan lain. Akhir­nya tamu itu ber­kata lagi: “Aku sudah merasa berun­tung kalau ada orang minta. Kalau sekali ini lamaran itu kami tang­guh­kan, mung­kin takkan ada lagi yang meminta si Inem. Dan alang­kah akan malu­nya punya anak jadi pera­wan tua. Dan barang­kali saja nanti dia bisa mem­bantu meri­ng­an­kan keper­luan sehari-hari.”

Ibu tak menyam­but. Kemu­dian diten­tang­nya aku dan ber­kata: “Ambil­kan kotak sirih dan paidon5.”

Aku pun per­gi­lah meng­am­bil tempat sirih dan tem­po­long ludah yang ter­buat dari kuningan.

“Dan apa kata laki mbok Inem?”

“O, bapak si Inem setuju saja. Apa­lagi si Mar­kaban anak orang kaya — anak satu-satu­nya. Dia sen­diri seka­rang sudah mulai turut ber­da­gang sapi di Rem­bang, di Cepu6, di Medang, di Pati, di . Ngawen, dan juga di Blora sini,” kata mbok Inem.

Ibu nampak gem­bira men­de­ngar kabar itu, kegem­bi­raan yang aku tak meng­erti meng­apa. Kemu­dian dipang­gil­nya Inem yang sedang men­je­rang air di dapur. Inem datang. Dan ibu ber­ta­nya: “Inem, sudah maukah engkau dika­win­kan?”

Inem menun­duk­kan kepala. Ia sangat hormat ter­ha­dap bunda. Tak pernah satu kali pun kude­ngar ia mem­ban­tah. Memang tidak jarang ter­da­pat pada sese­o­rang, bahwa dia tak punya tenaga untuk mem­ban­tah apa saja yang dika­ta­kan orang pada­nya.

Waktu itu kul­i­hat Inem ber­seri-seri. Sering ia keli­hatan seperti itu. Beri­kan apa saja pada­nya yang akan menye­nang­kan hati­nya barang sedi­kit, dan ia akan ber­seri-seri. Tapi ia tak biasa meng­u­cap­kan terima kasih. Dalam per­ga­ulan kelu­arga-kelu­arga orang seder­hana di kam­pung kami, kata terima kasih masih asing. Hanya seri yang meman­car di paras jua ucapan itu men­da­pat jalan.

“Ya, ndoro,” kata Inem pelahan sekali hampir tak ter­de­ngar.

Kemu­dian mbok Inem dan ibu makan sirih. Ibu sen­diri tak suka sering-sering makan sirih. Ini diker­ja­kan­nya bila ada tamu perem­puan saja. Dan seben­tar-seben­tar dilu­dah­kan dub­ang­nya7 ke tem­po­long kuningan.

“Mbok Inem,” kata ibu waktu Inem sudah kem­bali ke dapur. “Anak-anak kecil tidak boleh dika­win­kan.”

Mbok Inem heran men­de­ngar per­ka­taan ibu itu. Tapi ia tak ber­kata apa-apa. Juga mata­nya tak ber­ta­nya.

“Aku kawin pada umur dela­pan belas,” kata ibu.

Kehe­ranan mbok Inem hilang. Ia tak heran lagi seka­rang. Tapi ia tetap tak ber­kata apa-apa.

“Mbok Inem, kanak-kanak tak boleh dika­win­kan,” ibu meng­u­langi.

Dan mbok Inem heran lagi.

“Nanti anak­nya jadi kerdil-kerdil.”

Kehe­ranan mbok Inem hilang lagi.

“Ya, ndoro,” kemu­dian ia ber­kata dingin, “emakku kawin pada umur dela­pan juga.”

Ibu tak peduli dan mene­rus­kan: “Bukan saja tubuh­nya kerdil, juga kese­hat­an­nya ter­ganggu.”

“Ya, ndoro, tapi kelu­arga kami ter­go­long kelu­arga yang beru­mur pan­jang. Emak masih hidup sampai seka­rang, seka­li­pun umur­nya sudah lebih dari 59 tahun. Dan nenek pun masih hidup. Kukira umur­nya ada 74. Masih gagah dan masih kuat menum­buk jagung.”

Ibu tak juga mau peduli, mene­rus­kan: “Apa­lagi kalau laki­nya kanak-kanak juga.”

“Ya, ndoro, tapi Mar­kaban sudah beru­mur tujuh belas tahun.”

“Tujuh belas tahun! Bapak si Mamuk baru kawin dengan aku waktu dia beru­mur tiga puluh tahun.”

Mbok Inem ber­diam diri. Tak henti-hen­ti­nya ia memu­tar-mutar tem­ba­kau yang ter­se­lit di antara kedua bibir­nya. Seben­tar tem­ba­kau itu dipin­dah­kan ke kanan, seben­tar ke kiri, seben­tar lagi digu­lung-gulung­nya untuk peng­go­sok gigi­nya yang hitam arang itu.

Seka­rang ibu tak punya alasan lagi untuk mena­han-nahan kehen­dak tamu­nya. “Kalau sudah jadi kehen­dak mbok Inem untuk menga­win­kan­nya, ya, moga-moga Inem men­da­pat laki yang baik yang dapat mengu­rus­nya. Dan moga-moga dia men­da­pat jodoh­nya.”

Mbok Inem pergi pulang dengan masih jua memu­tar-mutar­kan tem­ba­kau dalam mulut­nya.

“Moga-moga tak ada kece­la­kaan menimpa diri anak kecil itu.”

“Meng­apa ada kece­la­kaan menim­panya?” tanyaku.

“Tidak, Muk, tidak apa-apa.” Kemu­dian bunda meng­u­bah arah per­ca­kapan. “Kalau kea­daan kelu­arga mereka jadi baik, nanti takkan ada ayam kita yang hilang.”

“Dicu­r­i­kah ayam-ayam kita, bu?” tanyaku.

“Tidak, Muk, tidak apa-apa,” ibu ber­kata pelahan-lahan. “Anak begitu kecil. Baru dela­pan tahun. Kasihan. Tapi mereka butuh uang. Dan jalan satu-satu­nya hanya menga­win­kan anak­nya.”

Kemu­dian bunda pergi ke ladang di bela­kang rumah meng­am­bil kacang pan­jang untuk disa­yur seben­tar lagi.

Lima belas hari sesu­dah keda­tangan­nya, mbok Inem datang lagi untuk meng­am­bil anak­nya. Senang betul keli­hat­an­nya waktu si Inem tak mem­ban­tah dibawa. Dan waktu Inem akan mening­gal­kan rumah kami untuk takkan jadi ang­gota kelu­arga buat selama-lama­nya, ia ber­kata padaku di pintu dapur: “Sudah, ya, gus Muk. Inem pulang, gus Muk,” kata­nya pelahan sekali.

Ia selalu bicara pelan. Dan kepel­anan adalah salah satu dari adat untuk per­ga­ulan kota kecil kami buat menyo­pan­kan diri. Ia pergi dengan keri­angan kanak-kanak yang akan mene­rima baju baru.

Mulai saat itu Inem tak lagi diam di rumah kami. Terasa sekali olehku akan kehi­langan kawan yang dekat itu. Dan mulai saat itu juga, bukan Inem lagi yang meng­an­tar­kan aku ke kamar mandi untuk men­cuci kaki di malam hari bila hendak tidur, tapi kakak-ang­katku.

Kadang-kadang aku mera­sai rindu yang amat sangat untuk ber­temu dengan Inem. Tak jarang, bila aku telah ber­ba­ring di tempat tidur, ter­ke­nang pada­nya waktu tangan­nya dita­rik oleh emak­nya. Dan kedua orang itu pergi mening­gal­kan rumah kami.

Rumah Inem ada di bela­kang rumah kami, hanya diba­tasi oleh pagar kayu.

Sebu­lan lama­nya ia telah pergi. Aku sering datang ke rumah­nya untuk ber­main-main deng­an­nya. Dan ibu selalu marah bila tahu aku ada di sana. Kata­nya selalu: “Kepan­daian apa yang bisa kau dapat dari rumah Inem?”

Dan selalu aku tak men­ja­wab. Ibu selalu dengan alasan bila mema­rahi aku. Tiap kata-kata­nya meru­pa­kan din­ding tebal yang tak bisa dila­lui oleh dalih-dalih. Karena itu lebih baik aku ber­diam diri. Dan seba­gai kunci kema­rah­an­nya, hampir dapat dipas­ti­kan ia meng­u­langi kali­mat yang sering diu­cap­kan­nya: “Buat apa kau ber­main-main dengan dia? Bukan­kah masih banyak anak-anak yang boleh kau ajak ber­main-main? Dan lagi dia perem­puan yang seben­tar lagi dika­win­kan pula.”

Tetapi aku datang saja ke rumah­nya dengan men­curi-curi. Sung­guh meng­he­ran­kan kadang-kadang meng­apa larangan itu ada dan pen­ting hanya untuk dilang­gar. Dan dalam pelang­garan itu ada terasa olehku bahwa apa yang kuker­ja­kan itu menik­mat­kan. Dan untuk kanak-kanak seperti aku pada waktu itu — oh, alang­kah banyak larangan dan pan­tangan yang ditim­pa­kan pada kepala kami. Ya, seakan-akan semua yang ada di dunia ini meng­a­wasi kami, dan tak mem­per­bo­leh­kan sebarang yang kami per­buat dan hen­daki. Mau-tak-mau kami kanak-kanak merasa, sesung­guh­nya dunia ini hanya diper­un­tuk­kan buat orang-orang dewasa.

Kemudian datanglah hari per­ka­winan itu.

Lima hari sebe­lum per­ni­kahan dilang­sung­kan, kelu­arga si Inem sibuk mema­sak-masak juadah dan makanan di dapur. Ini mem­buat aku lebih kerap lagi datang ke rumah­nya.

Sehari sebe­lum per­ni­kahan, Inem dihi­asi bagus-bagus. Ibu menyu­ruh aku datang ke sana meng­an­tar­kan lima kilo beras dan uang seta­len buat sum­bangan. Dan sor­e­ha­ri­nya kami kanak-kanak datang meru­bung­nya dan menga­gumi. Anak rambut di kening, alis dan cam­bang Inem dicu­kur dan diben­tuk baik-baik serta dite­bal­kan dengan celak. Sang­gul­nya yang kecil dibe­sar­kan dengan cemara rambut yang dibu­ngai dengan kem­bang kertas ber­tang­kai­kan pegas yang kami namai sunduk mentul. Pakai­an­nya ter­buat dari sutera satin. Kain­nya kain mahal buatan Solo. Semua itu disewa dari seo­rang Tiong­hoa di peci­nan dekat alun-alun. Juga cincin dan gelang yang ter­buat dari emas adalah sewaan belaka.

Rumah pun telah diper­ba­gus dengan pajangan daun beringin dan daun kelapa muda. Ben­dera tiga warna disi­lang-silang­kan di tiap din­ding dalam ling­karan daun palma. Juga tiang-tiang dihi­asi dengan pita tiga warna.

Ibu sen­diri datang dan turut mem­bantu menye­leng­ga­ra­kan. Tetapi tidak lama. Hal yang demi­kian jarang dila­ku­kan oleh bunda bila tak untuk tetangga yang paling dekat. Belum lagi sejam ia telah pulang lagi. Dan di waktu itu juga datang kiriman dari bakal laki Inem: satu pikul juadah, seekor kam­bing bandot, satu dacin beras, satu pak garam, satu karung kelapa yang telah diku­pas sam­buk­nya dan sete­ngah karung gula pasir.

Waktu itu baru habis panen. Beras murah. Dan bila beras murah segala bahan makanan turut murah. Itulah sebab­nya seha­bis musim kawin banyak dia­da­kan per­al­atan. Oleh karena itu - pula kelu­arga Inem tak ber­ha­sil mem­per­o­leh tang­gapan wayang. Dalang-dalang sudah mene­rima per­min­taan dari lain-lain kelu­arga dan kam­pung. Wayang adalah ton­tonan yang paling popu­ler di tempat kami. Dan di kota kami ada tiga macam wayang, wayang purwa yang mema­in­kan maha­ba­rata dan rama­yana serta cerita-cerita yang seja­lan dengan pokok cerita ter­se­but. Wayang krucil yang ter­buat dari kayu dan ber­ben­tuk orang yang mema­in­kan-cerita-cerita Arab, Persia, India, Tiong­hoa dan cerita zaman Maja­pa­hit. Wayang golek yang ber­ben­tuk boneka dari kayu. Tapi yang akhir ini tak begitu disu­kai orang.

Karena tak ada dalang lagi, kelu­arga Inem menang­gap joget. Mula-mula ter­jadi per­teng­karan. Famili pihak mbok Inem ter­diri dari barisan orang ulama. Tapi pak Inem tak dapat dika­lah­kan. Dan joget pun datang­lah dengan game­lan­nya. Tayu­ban8 pun dia­da­kan.

Bia­sa­nya tayub di tempat kami diha­diri oleh orang-orang yang turut menari dan anak-anak kecil yang hanya hendak menon­ton — anak-anak kecil yang penge­ta­hu­an­nya ten­tang keje­ni­san belum lagi melam­paui men­cium. Anak-anak yang telah dewasa tak suka menon­ton: malu. Apa­lagi kaum wanita — tak ada sama sekali. Dan tayu­ban di tempat kami — untuk mema­nas­kan sema­ngat sek­sual — selalu diser­tai dengan minuman keras: arak, bir, wiski, jene­wer atau gin.

Tayu­ban itu dila­ku­kan dua-hari-dua malam. Senang betul kami kanak-kanak meli­hat orang lelaki dan perem­puan men­jo­get dan ber­cium-ciuman dan seben­tar-seben­tar meng­adu gelas dan mene­guk minuman keras itu sambil men­jo­get dan ber­te­riak: “Husee!”

Dan walau­pun ibu mela­rang aku datang menon­ton, tapi aku pergi juga dengan men­curi-curi.

“Meng­apa engkau datang juga ke tempat orang-orang dur­haka itu? Lihat­lah kiaimu, seka­li­pun dia ipar pak Inem, tapi dia tak juga datang menon­ton. Engkau lihat sen­diri itu.”

Kiai kami beru­mah di bela­kang rumah kami juga, di sebe­lah - kanan rumah Inem. Di kemu­dian hari tak hadir­nya kiai ini jadi buah per­ca­kapan yang selalu meng­ha­ng­at­kan per­ca­kapan. Juga menim­bul­kan dua hal yang meng­ga­tal saja di ujung lidah: pak kiai memang orang alim dan pak Inem memang bang­sat.

Ibu mengu­at­kan kema­rah­an­nya padaku itu dengan kata-kata yang waktu itu tak dapat kupah­ami: “Tahu kau? Mereka itu adalah orang-orang yang tak tahu meng­har­gai wanita,” kata­nya dengan suara menu­suk.

Dan waktu pengan­tin lelaki datang untuk diper­te­mu­kan dengan pengan­tin perem­puan, Inem yang duduk di puadai ditun­tun orang. Pengan­tin lelaki sudah sampai di pen­dopo. Si Inem ber­jong­kok dan menyem­bah bakal laki­nya kemu­dian men­cuci kaki lelaki itu dengan air bunga dari jam­bang kuningan. Kemu­dian pengan­tin itu diikat jadi satu dan ditun­tun dibawa ber­sama ke puadai. Waktu itu juga ter­de­ngar hadirin ber­sama-sama: “Anak satu jadi dua. Anak satu jadi dua. Anak satu jadi dua.”

Dan perem­puan-perem­puan yang menon­ton ber­seri-seri seakan-akan mereka sen­diri yang bakal men­da­pat kese­nangan.

Waktu itu jualah kul­i­hat Inem mena­ngis hingga bedak­nya rusak, dan air mata­nya men­ja­luri muka­nya yang cantik itu. Di rumah aku ber­ta­nya pada ibu: “Meng­apa pengan­tin tadi mena­ngis, bu?”

“Kalau pengan­tin mena­ngis, ialah karena dia ingat pada nenek-moyang yang sudah lama mening­gal. Arwah-arwah mereka turut meng­ha­diri upa­cara itu. Dan lagi mereka ber­se­nang-hati ketu­run­an­nya telah meni­kah dengan sela­mat,” jawab ibu.

Per­ka­ta­an­nya itu tak pernah kupi­kir­kan. Di kemu­dian hari tahu juga aku meng­apa dia mena­ngis. Inem mau ken­cing, tapi tak berani bilang.

Peralatan itu habis dengan dingin saja. Tak ada lagi tamu yang datang menyum­bang. Rumah kem­bali seperti tadi-tadi­nya. Dan waktu min­dring-min­dring datang mena­gih, pak Inem sudah mening­gal­kan kota Blora. Mbok Inem dan Inem sen­diri sesu­dah per­ni­kahan itu terus mem­ba­tik dan mem­ba­tik — siang dan malam. Dan bila orang datang ke rumah mereka pada jam tiga Pagi, tak jarang mereka dapat dite­mui masih mem­ba­tik. Dan asap dapur lilin menge­pul-ngepul di antara kedu­a­nya. Selain itu, sering­kali ter­de­ngar per­teng­karan di rumah itu.

Dan pada suatu kali waktu aku sedang tidur di ran­jang dengan bunda teri­akan yang keras mem­ba­ngun­kan daku: “Tak mau! Tak mau!”

Masih malam waktu itu. Dan teri­akan itu diu­lang-ulang diba­rengi dengan pukulan pada pintu dan ber­dem­bam-dembam. Aku tahu, teri­akan itu ke luar dari mulut Inem. Aku kenal sua­ra­nya.

“Bu, meng­apa Inem ber­te­riak, bu?” aku ber­ta­nya pada bunda.

“Ber­ke­lahi. Moga-moga tak ada kece­la­kaan menimpa anak kecil itu,” kata­nya. Tapi ia tidak men­je­las­kan apa-apa lagi.

“Meng­apa ada kece­la­kaan menim­panya, bu?” tanyaku men­de­sak.

Ibu tak mau mem­be­ri­kan jawab­an­nya. Dan kemu­dian, bila pekik-raung itu habis, kami ter­ti­dur kem­bali. Dan teri­akan seperti itu hampir dapat dipas­ti­kan ter­jadi tiap malam. Teriak, dan teriak. Dan tiap aku men­de­ng­ar­nya aku ber­ta­nya pada bunda. Ibu tak mau men­ja­wab dengan semes­ti­nya. Kadang ia hanya menge­luh: “Kasihan, anak begitu kecil.”

Dan pada suatu hari datang­lah si Inem ke rumah kami. Lang­sung saja ia men­cari bunda. Paras­nya pucat tak ber­da­rah. Sebe­lum ber­kata apa-apa ia meng­a­ca­rai per­te­muan itu dengan tangis­nya — tangis yang sopan.

“Meng­apa mena­ngis, Inem? Engkau ber­ke­lahi lagi?” tanya ibu.

“Ndoro,” kata Inem, “aku harap,” di antara sedu-sedan­nya,

“sudi mene­rima aku di sini seperti dulu.”

“Bukan­kah engkau sudah ber­laki, Inem?” Dan Inem mena­ngis lagi. Dalam tangis­nya itu ia ber­kata: “Aku .tak tahan, ndoro.”

“Meng­apa, Inem? Tak senang­kah engkau pada lakimu,” tanya bunda.

“Ndoro, kasih­a­n­i­lah aku ini. Tiap malam dia mau meng­ge­lut saja ker­ja­nya, ndoro.”

“Bukan­kah engkau bisa bilang. “Kang, jangan begitu.”?”

“Inem takut, ndoro. Inem takut pada­nya. Dia begitu besar. Dan kalau meng­ge­lut keras­nya bukan main hingga Inem tak bisa ber­na­fas, ndoro. Bukan­kah ndoro mau mene­rima aku lagi?” pin­ta­nya ter­hiba-hiba.

“Kalau engkau tak punya laki, Inem, tentu saja engkau kute­rima. Tapi engkau punya laki…” kata bunda.

Dan Inem mena­ngis lagi men­de­ngar per­ka­taan ibu itu.

“Ndoro, Inem tak mau punya laki.”

“Walau engkau tak mau, tapi engkau tetap punya, Inem. Barang­kali di kemu­dian hari lakimu jadi baik, dan engkau berdua bisa hidup senang. Bukan­kah engkau dulu mau dika­win­kan?” kata ibu.

“Ya, ndoro … tapi, tapi…”

“Inem, bagai­man­a­pun, seo­rang perem­puan harus ber­bakti pada sua­mi­nya. Bila engkau tak ber­bakti pada lakimu, engkau akan kena sumpah nenek-moyangmu,” kata ibu.

Tambah keras tangis Inem, hingga tak bisa ber­kata apa-apa.

“Seka­rang, Inem, ber­jan­ji­lah engkau, engkau akan selalu menye­di­a­kan makan untuk lakimu. Kalau engkau meng­ang­gur, engkau harus berdoa pada Tuhan agar dia sela­mat selalu. Engkau harus ber­janji akan men­cuci pakai­an­nya, dan engkau harus memi­jit­nya kalau dia capek dari men­cari rezeki. Engkau harus menge­riki­nya kalau dia masuk angin.”

Inem tak juga men­ja­wab. Hanya air mata­nya terus jatuh.

“Nah pulang­lah engkau, dan mulai saat ini, ber­bak­ti­lah engkau pada­nya. Baik dia buruk, baik dia baik, engkau harus ber­bakti pada­nya karena dia itu tak lain dari lakimu sen­diri.”

Inem yang duduk di lantai tak juga ber­ge­rak.

“Ber­di­ri­lah, dan pulang­lah pada lakimu. Engkau — kalau engkau mening­gal­kan lakimu begitu saja, takkan baik jadi­nya dengan dirimu di kemu­dian hari dan seka­rang,” kata ibu lagi.

“Ya, ndoro,” kata­nya patuh.

Pelahan-lahan ia ber­diri dan ber­ja­lan pulang.

“Kasihan, begitu kecil,” kata bunda.

“Bu, per­nah­kah ibu dige­lut ayah?” tanyaku.

Hati-hati ibu meng­a­mat-amati mataku. Kemu­dian peng­a­mat- . amat­an­nya hilang. Ia ter­se­nyum.

“Tidak,” kata­nya. “Ayahmu adalah orang yang paling baik di selu­ruh dunia, Muk.”

Kemu­dian ibu pergi ke dapur meng­am­bil pacul dan men­cang­kul di ladang ber­sama daku.

Satu tahun pun ber­la­lu­lah dengan tiada terasa. Pada suatu kali datang pula si Inem. Satu tahun itu telah mem­buat dia jauh lebih besar dari­pada sebe­lum­nya. Nampak betul ia sudah jadi dewasa walau­pun baru beru­mur sem­bi­lan. Seperti biasa, lang­sung dia mene­mui ibu, duduk di lantai sambil menun­duk­kan kepala. Ber­kata: “Ndoro, seka­rang Inem sudah tak punya laki lagi.”

“Apa?”

“Inem seka­rang sudah tak ber­laki lagi.”

“Engkau sudah janda?” ibu ber­ta­nya.

“Ya, ndoro.”

“Meng­apa engkau ber­ce­rai deng­an­nya?”

Ia tak men­ja­wab.

“Engkau tak ber­bakti pada­nya?”

“Inem pikir, Inem selalu ber­bakti pada­nya, ndoro.”

“Engkau pijiti dia kalau pulang kele­lahan men­cari rezeki?” tanya bunda menye­li­diki.

“Ya, ndoro, semua pesan sudah Inem jalan­kan.”

“Meng­apa ber­ce­rai juga?”

“Ndoro, dia sering memu­kuli Inem.”

“Memu­kuli? Anak begini kecil dipu­kuli?”

“Inem sudah cukup ber­bakti, ndoro. Dan kalau dia memu­kuli, dan Inem kesa­kitan, ber­bakti juga­kah itu, ndoro?” tanya­nya betul-betul minta kete­rangan.

Bunda ber­diam diri. Mata­nya menye­li­diki Inem.

“Dipu­kuli,” bisik bunda kemu­dian.

“Ya, ndoro — dipu­kuli, seperti emak dan bapak memu­kuli aku.”

“Barang­kali engkau memang kurang ber­bakti pada­nya. Seo­rang suami takkan sampai hati memu­kuli bini­nya bila dia sung­guh-sung­guh ber­bakti.”

Inem tak men­ja­wab. Diu­bah­nya arah per­ca­kapan: “Sudi­kah ndoro mene­rima Inem kem­bali?”

Tak bunda ber­bim­bang-bim­bang dalam men­ja­wab­nya. Ber­kata tegas: “Inem, engkau seka­rang janda. Di sini banyak anak lelaki yang sudah besar-besar. Bukan­kah tidak baik dipan­dang mata orang lain?”

“Tapi mereka takkan memu­kuli Inem,” kata janda itu.

“Bukan. Bukan itu mak­sudku. Kalau di tempat yang banyak lela­ki­nya ada seo­rang janda yang begitu muda seperti engkau, tidak baik­lah dipan­dang mata orang lain.”

“Karena Inem­kah itu, ndoro?”

“Bukan, Inem, karena keso­pan­an­lah itu.”

“Keso­panan, ndoro? Karena keso­pan­an­kah Inem tak boleh di sini?”

“Ya, begi­tu­lah, Inem.”

Janda itu tak ber­kata apa-apa lagi. Ia ting­gal duduk di lantai. Dan nam­pak­nya, ia tak ada maksud untuk mening tempat duduk­nya. Ibu men­de­kati dan mene­puk-nepuk bahu­nya — meng­hi­bur: “Seka­rang, Inem — lebih baik engkau bantu orang tuamu men­cari rezeki. Sung­guh sayang, aku tak bisa mene­rima engkau lagi.” Dua tetes air mata mem­bu­tir di sudut-sudut mata perem­puan kecil itu. Ia ber­diri. Lesu ia melang­kah­kan kaki­nya mening­gal­kan rumah kami menuju ke rumah orang tuanya. Dan sejak itu ia-jarang nampak ke luar dari rumah.

Dan kemu­dian, janda yang beru­mur sem­bi­lan tahun itu karena hanya mem­be­bani rumah tangga orang tuanya boleh dipu­kuli oleh siapa saja yang suka: emak­nya, adik­nya yang lelaki, paman­nya, tetang­ga­nya, bibi­nya. Namun Inem tak pernah datang lagi ke rumah kami.

Sering ter­de­ngar teriak-kesa­kit­an­nya. Bila ia mera­ung, kutu­tup kupingku dengan kedua belah tangan. Dan ibu pun tetap meme­gang keso­panan rumah tang­ga­nya.

Jakarta, iii-1950



Cerita pendek

Pelarian yang Tak Dicari

Dari Cerita dari Blora (1952). Teks dari cetak ulang Hasta Mitra, 2002.

Siman — pemuda yang bodoh di kampung kami — meng­am­bil bini yang sede­ra­jat dengan ting­kat piki­ran­nya: bodoh pula. Orang dengan segera tahu kebo­doh­an­nya bila sudah ber­gaul deng­an­nya — seben­tar saja. Ia hanya dapat meng­hi­tung sampai lima ratus. Lebih dari itu — kalau engkau memaksa dia meng­hi­tung juga — dia akan merasa ada dalam neraka yang selalu ter­ba­yang dalam kepa­la­nya. Dan seba­gai seo­rang bodoh yang tahu kebo­doh­an­nya, ia pun sangat men­de­wa­kan mereka yang lulus seko­lah, ter­u­tama lulusan seko­lah mene­ngah. Ia selalu men­coba men­de­kati para murid seko­lah dasar kelas empat ke atas dan dari mere­ka­lah ia men­da­pat cerita-cerita bagus ten­tang negara-negara di sebe­rang lautan. Kesu­ka­an­nya ialah men­de­ng­ar­kan dong­eng-dong­eng ten­tang alat-alat sen­jata yang modern, yang begitu gam­pang mele­nyap­kan jiwa manu­sia. Dan dong­eng yang dide­ng­ar­nya ini dice­ri­ta­kan­nya kem­bali kepada istri­nya, pada emak­nya, pada anak-anak­nya yang tiga orang itu.

Orang-orang yang bodoh selalu men­jadi makanan orang-orang yang cerdik. Demi­kian di mana-mana. Ini dira­sai juga oleh Siman. Ia merasa selalu ditipu. Dan bila ia merasa telah ditipu ia merasa amat seng­sara jadi orang bodoh. Karena itulah ia suka men­de­ng­ar­kan cerita-cerita ten­tang sen­jata-sen­jata modern yang begitu gam­pang mele­nyap­kan jiwa manu­sia. Ya, seakan-akan dengan cerita-cerita ten­tang sen­jata modern itu ia bisa mene­gas­kan pada istri­nya yang selalu mene­rima uang belanja yang kurang: lihat­lah, apakah arti­nya hidup ini? Kalau ada sebuah bom saja mele­tus di tengah-tengah rumah kita, kita semua akan mati. Zaman seka­rang gam­pang sekali orang jadi mati. Untuk apa kita harus ber­loba-loba mem­pu­nyai keka­yaan? Tapi karena bodoh­nya ia tak bisa men­je­las­kan ceri­ta­nya itu. Dan cerita tam­ba­han ting­gal ter­ta­nam saja dalam kepa­la­nya.

Siti — istri­nya yang bodoh juga — insaf akan isi dong­eng-dong­eng yang ter­si­rat itu. Dan seperti laki­nya ia pun tak bisa menga­ta­kan bahwa ia meng­erti ten­tang apa yang ter­si­rat itu. Tetapi seperti istri-istri yang lain, dialah yang menang­gung segala akibat keku­rangan uang belanja. Karena itu waktu ipar­nya yang mandul datang dan minta anak sulung­nya yang lelaki, segera saja anak itu dibe­ri­kan­nya. Dengan demi­kian ia masih ber­a­nak dua orang lagi — perem­puan kedua-duanya. Tetapi kelu­arga itu selalu hidup rukun dengan kebo­dohan masing-masing. Ya, oleh kebo­doh­an­nya Siman tak berani mem­ban­tah dan beru­bah sedi­kit juga dalam per­ga­ulan umum dan per­ga­ulan kelu­arga. Oleh kebo­dohan ini pula Siti tak pernah mem­ban­tah meng­apa uang belanja tak pernah ditam­bah. Dan kelu­arga itu pun merasa tenang dan aman dan baha­gia.

Tapi kea­daan sela­ma­nya meng­a­lami per­u­ba­han. Dan pada suatu kali — suatu kali yang tak baik untuk kelu­arga Siman — ter­j­a­dilah sesu­atu keo­naran. Mula-mula ter­de­ngar pekik kesa­kitan. Para tetangga ber­du­yun-duyun datang ke rumah Siman yang tenang dan aman selama tujuh tahun itu. Orang meli­hat Siti yang cantik meng­ge­le­pak di tanah sambil mera­ung-raung kesa­kitan.

Seba­gai bia­sa­nya di tempat kami yang tidak pen­ting itu, orang-orang ber­diam diri men­de­ng­ar­kan per­teng­karan suami-istri. Mereka pura-pura tak menge­ta­hui dan men­de­ngar apa-apa.

Tetapi bila per­teng­karan itu telah dise­lingi oleh pekik dan raung kesa­kitan, baru­lah orang datang ber­du­yun-duyun untuk mem­be­ri­kan per­to­longan atau gang­guan. Sete­lah diusut-usut nya­ta­lah, bahwa per­teng­karan itu timbul karena uang juga. Mariem — anak­nya yang bungsu sakit malaria. Siti minta tam­ba­han uang pada sua­mi­nya untuk mem­beli papaya1 buat meng­o­bati anak­nya. Tapi Siman mera­dang sambil meng­ger­tak: “Seka­li­pun engkau mene­rima uang belanja satu sen, engkau harus mem­per­gu­na­kan­nya sampai cukup.”

Kemu­dian per­teng­karan mulai­lah. Mula-mula pelahan-lahan kemu­dian men­de­ras, akhir­nya diba­rengi ten­dang dan tampar. Para tetangga mele­ra­i­kan. Seo­rang tetangga yang baik hati mengur­bankan uang­nya yang lima sen. Per­teng­kar­an­nya pun sele­sai dengan kepu­asan di kedua belah pihak.

Tetapi per­da­maian itu seben­tar kemu­dian hancur pula. Begini: Waktu kedua suami-istri itu duduk mene­kuri anak­nya yang sakit, tiba-tiba anak itu ber­ge­rak-gerak dalam tidur­nya. Mata­nya men­de­lik dan badan­nya jadi kaku. Siti ber­te­riak bingung. Siman meng­gun­cang-gun­cang­kan badan anak­nya. Akhir­nya ter­de­ngar suara Siti: “Pergi! Per­gi­lah cari dukun.”

“Dukun? Kita tak punya ayam dan kelapa untuk mem­ba­yar dukun.”

“Lelaki biadab! Dan anakmu yang sakit ini? Akan kau­bi­ar­kan mampus dia?”

“Biadab? Aku biadab? Sudah tujuh tahun engkau kuberi makan.”

Dan tam­paran pun menyu­sul­lah. Siti yang dalam sehari itu men­da­pat hajaran dua kali, jatuh meng­ge­lim­pang di tanah tak ing­at­kan diri. Muka­nya yang cantik ter­te­nga­dah ke gen­ting rumah. Waktu itu malam sedang gelap-gelap­nya — bulan tua. Tapi para tetangga datang juga dan mem­be­ri­kan per­to­long­an­nya. Tetapi kea­daan tidak ber­henti sampai di situ saja …

Di POJOK JALAN yang mem­be­lok ke arah pasar hewan, di situ­lah tiap pagi pen­du­duk kam­pung di seling­kungan rumahku ber­kum­pul. Mereka ber­jong­kok dalam keru­dung sarung seperti katak, meng­ha­dapi pen­jaja sarapan, sambil sarapan dan meng­o­b­rol ten­tang macam-macam hal. Ber­pu­luh-puluh tahun — ya, mung­kin juga lebih dari itu — tiap pagi sebe­lum mandi pen­du­duk kam­pung kami duduk-duduk dulu di pojok jalan itu. Dan di kala itulah asap rokok daun jagung menge­pul ke udara pagi yang masih berat ber­cam­pur hali­mun. Dalam kea­daan seperti itulah bia­sa­nya orang meng­o­b­rol ten­tang keja­dian sema­lam atau kema­rin — di sawah atau di ladang atau di rumah tangga masing-masing. Di saat-saat seperti itu pula anak-anak gem­bala berang­kat mem­bawa sapi atau ker­bau­nya ke sawah. Juga di waktu seperti itu banyak orang lewat untuk pergi ke pasar hewan atau pasar biasa.

Dan di saat seperti itu pula­lah orang-orang yang sedang nong­k­rong itu meli­hat Siti mening­gal­kan rumah­nya pergi ke arah pasar. Apa­bila bukan peda­gang, jarang orang pergi pagi-pagi ke pasar. Juga demi­kian halnya dengan pen­du­duk kam­pung kami. Ada juga orang mene­gur­nya dan Siti men­ja­wab­nya sepin­tas lalu saja. Kemu­dian orang-orang mele­pas­kan per­ha­ti­an­nya kem­bali, mene­rus­kan makan­nya atau mero­kok sambil meng­o­b­rol-ngo­b­rol tiada ber­ke­pu­tusan.

Siman sen­diri di waktu itu sedang ber­ja­lan ke sawah untuk menyi­angi padi. Sawah ia tak punya. Ia hanya jadi buruh petani-petani kecil yang memer­lu­kan tena­ga­nya. Untuk ini ia harus bekerja sepo­tong hari dan dan men­da­pat upah dua sete­ngah sen. Kadang-kadang ia pun mene­rima sepi­ring nasi seba­gai tam­ba­han. Nasi itu selalu tak dima­kan­nya, tapi dibung­kus­nya baik-baik dan diba­wa­nya pulang untuk dima­kan bera­mai-ramai. Siang atau sore hari ia ber­jaga di gardu, dan untuk ini ia mene­rima tiga sen untuk sema­lam. Seperti itulah ker­ja­nya bila musim hujan masih meng­isi sepo­tong tahun. Tapi bila musim panas datang, baru­lah ia men­da­pat waktu yang agak menye­nang­kan. Di musim panas air kali turun, dan ia bisa meng­am­bil keri­kil dari dasar kali. Dari tiap kibik keri­kil ia mem­per­o­leh empat sen. Kadang-kadang sehari ia men­da­pat dua sampai tiga kibik keri­kil.

Siti terus saja ber­ja­lan di dalam kabut tipis itu. Ia tak ber­u­ang sesen pun. Ia sen­diri belum lagi tahu mana arah yang ditu­ju­nya. Karena itu ia ber­ja­lan dan ber­ja­lan terus seperti orang-orang lain­nya yang mela­ri­kan diri — hasil piki­ran yang men­da­dak — mela­ri­kan diri dari sua­mi­nya sebe­lum ia — bera­tus-ratus tahun sebe­lum ia. Sepan­jang jalan ia meni­tik­kan air mata seba­gai jamak­nya orang yang merasa paling celaka di dunia ini. Ada juga ia ingat pada anak­nya yang masih memer­lu­kan buah dada­nya. Dan ada juga ia ingat pada laki­nya yang masih memer­lu­kan tenaga dan badan­nya. Ia pun ter­i­ngat pada rumah tang­ga­nya yang harus dibe­res­kan­nya. Dan ia ingat juga pada kemis­kinan yang harus dide­ri­ta­kan­nya. Badan­nya yang kurus oleh menyu­sui dan oleh kurang makan itu terus melang­kah-lang­kah jua.

Tiba-tiba ia ter­i­ngat pada peda­gang cita bangsa Tiong­hoa — dua tahun yang lalu. Waktu itu ia sedang men­cari cita Jepang untuk kutang laki­nya. Dan Cina itu sudah meng­gang­gu­nya dan ber­ta­nya juga: “Mau engkau ting­gal di rumahku?”

Dan ia mem­be­re­ngut. Dan orang Tiong­hoa itu ber­kata lagi: “Kalau turut sama aku, engkau tak perlu kerja. Tanganmu tak lagi kaku dan keras karena menum­buk jagung.”

Waktu itu ada juga ia memi­kir­kan untung-rugi jadi gundik orang. Tapi di kala itu ia belum punya alasan mela­ri­kan diri dari sam­ping laki­nya. Siman selalu baik pada­nya, seka­li­pun susah sekali ia men­da­pat rezeki. Jadi ia tetap ting­gal pada laki­nya. Biar­lah orang Tiong­hoa itu kaya. Biar­lah ia menum­buk jagung tiap hari. Dan ia pun tetap jadi istri Siman.

Tapi seka­rang? Dengan men­da­dak saja Siman sudah jadi buas. Dua kali ia telah diha­jar. Dan ini mem­buat ia ter­i­ngat pada ajakan lelaki asing itu. Segera ia masuk ke pasar dan men­cari tempat orang Tiong­hoa yang meng­a­jak­nya dulu. Ha, ia sudah mem­buka dagang­an­nya.

“Ai, ai, begini pagi sudah datang?” seru orang asing itu.

Hilang­lah kebe­ra­ni­an­nya. Ia tak berani mena­war­kan dir­i­nya. Di kepa­la­nya meru­yak segala yang ada di rumah tang­ga­nya. Segera saja datang kei­ng­in­an­nya kem­bali pulang.

“Mbok perlu apa?”

“Aku tidak perlu apa-apa, koh,” ia diam lagi. Tapi tiba-tiba keluar saja suara dari mulut­nya. “Tapi barang­kali koh…”

Orang Tiong­hoa itu ter­diam dan meng­a­mat-amati. Tiba-tiba ia ter­se­nyum dan men­ja­wab: “Ya, ya, aku masih ingat tapi seka­rang aku sudah punya gundik. Baru kema­rin! Dan lebih cantik.”

Ada juga bebe­rapa peda­gang yang baru mem­buka dagang­an­nya men­de­ng­ar­kan per­ca­kapan itu. Semua ber­henti bekerja dan meng­a­wasi Siti. Siti kemalu-maluan. Disum­pahi dir­i­nya. Ber­ge­gas ia pergi. Pergi! Pergi! Pergi ke arah yang tiada tentu. Tapi ia harus pergi. Pergi dan takkan kem­bali.

Orang-orang di kam­pung kami Jarang naik kereta api kalau menem­puh jarak lima atau tujuh kilo­me­ter. Jarak itu bia­sa­nya dilang­kah­i­nya saja dengan kaki. Dengan demi­kian mereka bisa mena­han uang­nya yang dua-empat sen guna keper­luan rumah tang­ga­nya. Mung­kin empat sen itu tak dapat diper­o­leh­nya untuk sepo­tong hari. Mereka yang peng­hi­dup­an­nya dari meng­am­bil kayu bakar dari hutan hanya dengan susah payah saja bisa mem­per­o­leh nafkah dua belas sen sete­lah mengum­pul­kan, mem­be­lahi, meng­i­kati dan memi­kul kayu itu ke kota melam­paui jarak yang lima kilo­me­ter itu. Demi­ki­an­lah.

Dan Siti ber­ja­lan dan ber­ja­lan. Arah yang tiada tetap dan tentu itu mem­buat kepa­la­nya jarang ber­pi­kir. Banyak benar ruwet teren­tang dalam piki­ran­nya. Kadang-kadang juga hati­nya meng­ge­tar oleh keta­kutan pada hari depan. Tapi ia perem­puan. Dan perem­puan mem­pu­nyai alat untuk melam­paui saat-saat yang sulit. Ya, apa­lagi kalau ia mem­pu­nyai kecan­ti­kan barang sedi­kit. Adat dunia!

Jalan-jalan kota kecil kami yang dila­lu­i­nya mulai hidup oleh pen­du­duk yang berang­kat ber­ja­lan ke pasar. Juga derak-derik gero­bak yang meng­ang­kuti hasil bumi dari desa-desa telah mem­ba­ngun­kan nya­nyian pagi di kota kecil. Ia ber­ja­lan dan ber­ja­lan. Kemu­dian lalu­lah gero­bak dari bela­kang­nya.

“Kak, num­pang, kak!” ia ber­kata kacau.

Ia tak pernah menye­but kak pada orang yang asing buat­nya. Apa­lagi kalau orang asing itu tidak seje­nis deng­an­nya. Dan karena untuk pen­du­duk kam­pung kami, per­to­longan yang kecil bukan meru­pa­kan per­to­longan lagi, atau keba­ikan lagi, tetapi sudah jadi kebi­a­saan yang tak ada har­ga­nya, jadi tukang gero­bak men­ja­wab dengan tiada mene­ngok atau mem­per­ha­ti­kan: “Naik­lah.”

Dan Siti pun naik­lah ke atas gero­bak. Gero­bak jalan terus. Di atas gero­bak ada pula empat orang yang menum­pang­kan dir­i­nya untuk pergi ke dis­trik lain untuk men­cari dagangan domba yang akan diba­wa­nya besok ke pasar hewan di Blora.

Di gero­bak, Siti tak henti-hen­ti­nya menge­nang dan menge­nang. Ada ter­ba­yang-bayang dalam kepa­la­nya, anak­nya yang baru beru­mur tiga bulan mena­ngis-nangis minta disu­sui. Sejak subuh tadi anak yang masih tidur dalam sakit­nya itu diting­gal­kan­nya — belum dibe­ri­nya susu. Ya, barang­kali anak­nya sudah tak ing­at­kan dir­i­nya lagi. Barang­kali semua tetangga datang dan menyum­pahi dir­i­nya karena mening­gal­kan anak­nya yang sakit. Kemu­dian ia ingat pada laki­nya. Barang­kali nanti kalau laki­nya datang habis menyi­angi padi, meja masih kosong. Belum ada makanan. Tapi ia tak bisa kem­bali. Ia tak mau kem­bali. Ia men­cari kebe­bas­an­nya. Ia mela­ri­kan diri dari kewa­ji­b­an­nya. Barang­kali Siman akan kaget karena ia tidak ada. Dan kemu­dian menye­sal. Tapi siapa salah? Ia tak merasa ber­sa­lah. Ia sudah ber­bakti selama tujuh tahun seba­gai istri. Barang­kali oleh kese­dih­an­nya, nanti sore Siman tak mau men­ca­ri­kan rumput untuk kerbau adik­nya? Meng­apa semua akan kacau karena ia pergi? Meng­apa? Dan ia pun meni­tik­kan air mata.

“Meng­apa mena­ngis, yu?” tanya seo­rang anak yang menum­pang di atas gero­bak. Tapi Siti diam saja. Dan oleh per­ta­nyaan itu tangis­nya kian men­jadi-jadi.

“Barang­kali yu sakit?” tanya seo­rang lagi. Dan ia tak perlu jawab per­ta­nyaan yang kosong itu. Sama sekali tidak perlu. Per­hi­tungan yang eko­no­mis juga! Dan gero­bak terus juga ber­ja­lan.

“Turun mana?” tanya tukang gero­bak.

Tapi Siti tak tahu di mana ia harus turun. Karena itu ia diam saja. Oleh diam­nya tukang gero­bak mene­ngok pada­nya. Kemu­dian ber­ta­nya lagi: “Cari peker­jaan, barang­kali?”

Siti meng­u­sap air mata­nya sambil meng­ang­guk. Dan tahu­lah tukang gero­bak ke mana arah tujuan perem­puan itu. Ia sudah biasa mela­lui jarak Blora-Jepon2. Dan di jarak-jarak itulah banyak ber­diri warung-warung kecil dari kajang — warung pen­jual kopi dan daging wanita. Warung-warung itu ialah tempat sing­gah peda­gang-peda­gang sapi, kerbau dan kam­bing. Juga jadi tempat sing­gah peda­gang-peda­gang hasil bumi. Dan sambil ber­sing­gah mereka minum kopi, meng­i­nap dan menik­mati daging perem­puan. Ya, tukang gero­bak itu tahu dae­rah­nya. Tenang ber­kata: “Itu ada warung!”

Gero­bak dihen­ti­kan­nya. Dan Siti turun. Seben­tar tukang gero­bak itu meng­u­sap pipi perem­puan itu. Tapi Siti tik mem­ban­tah — tak berani. Kepa­la­nya tambah jadi kosong, dan hati­nya penuh-sesak oleh ber­ba­gai pera­saan.

Warung-warung itu biasa saja seperti warung-warung lain yang ter­se­bar di ping­gir jalan antara Blora dan Jepon — jarak yang lima kilo­me­ter itu. Dan warung-warung itu belum lagi dika­ta­kan rumah. Hanya gubuk-gubuk belaka. Angin dengan bebas meng­em­bara di dalam­nya. Mereka yang men­di­r­i­kan warung-warung itu ialah orang-orang yang baru mene­rima tanah dari peme­rin­tah — tanah di ping­gir jalan. Dan sambil ber­tani kecil-kecilan mereka men­jual kopi dan daging perem­puan. Banyak juga mereka men­da­pat hasil. Make­lar-make­lar3 hewan yang banyak untung­nya bia­sa­nya hidup royal — tak meman­dang uang belanja yang diham­bur­kan­nya.

Seperti anjing takut pen­tung. Siti men­de­kati sebuah warung. Dia dite­rima dengan baik, seba­gai layak­nya manu­sia mene­rima manu­sia. “Aku datang men­cari peker­jaan,” kata­nya sete­ngah merin­tih.

“Sini ada peker­jaan, nduk, tapi engkau dari mana?”

Dan Siti pun ber­ce­rita ten­tang daerah asal yang ada dalam kepa­la­nya belaka, dengan suara yang meminta kasihan.

“Meng­apa engkau pergi dari rumah? Engkau ada suami? Engkau ada anak?”

Dan Siti men­ja­wab dengan suara sete­ngah merin­tih juga: “Lakiku mati. Aku tak pernah punya anak, bu, mandul! Dan inilah yang mem­buat aku jadi celaka. Kalau aku ada anak, pas­ti­lah aku tak disia-siakan oleh mer­tu­aku.”

Waktu Siti men­ja­wab begitu, ia ter­i­ngat pada peng­e­mis yang pernah ber­kata begitu juga. Dan ia tak takut ter­da­pat kesal­ahan di dalam­nya.

“Baik­lah. Baru kema­rin pem­ban­tuku pulang ke desa dipang­gil laki­nya. Si Mariam juga celaka hidup­nya. Dia selalu dipu­kuli oleh sua­mi­nya … Dan bagai­mana sua­mimu dulu? Sering memu­kul engkau?” tanya tukang warung.

“Tidak, bu — sua­miku dulu orang yang paling baik. Hanya saja dia bodoh.”

“Bodoh itu tak sebe­rapa diban­ding­kan dengan kena­kalan, nduk. Nakal­kah dia?” tanya tukang warung itu lagi.

“Tidak, bu, lakiku tidak nakal seperti lelaki lain.”

“Baik­lah, kalau begitu. Mau juga aku mene­rima engkau. Tetapi engkau tak bisa meng­ha­rap­kan uang di sini. Dan bagai­mana engkau men­cari uang itu aku tidak tahu. Cari akal sen­diri. Hanya — jangan engkau sampai men­curi uangku. Engkau perem­puan, bukan?”

Dan Siti hanya men­ja­wab dengan mene­kan­kan kepa­la­nya.

“Di sini engkau hanya mela­yani lang­ganan. Itu sudah cukup. Engkau tak perlu mema­sak air atau nasi. Aku sen­diri yang masak. Engkau hanya mela­yani mereka dan meng­gem­bi­ra­kan hati mereka. Aku lihat engkau manis — tidak seperti si Mariam. Kalau ada blan­tik4 keru­gian datang kemari, engkau harus bisa meng­hi­bur hati­nya. Engkau harus bisa men­cari akal supaya dagang­anku laku sela­ris-laris­nya. Per­gu­na­kan­lah keman­is­anmu sebaik-baik­nya. Meng­erti nduk?”

“Meng­erti ibu.”

“Dan kalau ada tamu baru, engkau harus duduk di dekat­nya. Engkau harus pintar ber­bi­cara hingga mereka mau makan dagangan kita seba­nyak-banyak­nya. Kalau engkau i ingin men­da­pat uang, coba­lah rogoh hati­nya. Engkau mesti bisa. O, tiap perem­puan bisa ber­buat seperti itu.”

Siti tak tahan men­de­ngar ucapan itu. Sekali lagi air mata­nya meni­tik.

“Jangan ber­se­dih-sedih. Engkau cukup manis untuk mata lelaki. Dan kalau nanti engkau men­da­pat uang banyak — segala kese­dih­anmu itu akan lenyap sama sekali.”

“Ya…”

“Dan kalau ada anak seko­lah datang kemari, ajak­lah dia bicara banyak-banyak … tanya­kan siapa ayah­nya, siapa fami­l­inya, apa pang­kat orang tuanya, berapa peng­ha­sil­an­nya dan seba­gai­nya. Anak pri­yayi … semua pada mabok kep­ri­ya­yian dan pang­kat. Dan oleh per­ta­nya­anmu itu dada mereka akan gem­bung seperti perut orang bun­ting tua. Meng­erti, nduk?”

Siti yang bodoh itu tak meng­erti betul arah omongan tukang warung itu. Hanya dengan mene­bak-nebak saja ia meng­er­ti­kan­nya. Dan dengan patuh­nya ia men­ja­wab: “Ya.”

Walau­pun ia tahu juga apa yang akan ter­jadi atas diri perem­puan yang meng­ham­ba­kan dir­i­nya pada warung-warung kopi di ping­gir jalan, namun kesu­cian hati yang diba­wa­nya dari kam­pung­nya selalu saja mem­per­i­ng­at­kan: engkau di sini akan men­jual dirimu. Per­gi­lah dari sini. Dan tiap per­i­ng­atan itu ter­de­ngar, kem­bali air mata­nya meni­tik lembut.

“Meng­apa engkau mena­ngis, nduk? Apa tak sang­gup engkau ting­gal di sini? Engkau di sini men­da­pat kamar sen­diri.”

Tukang warung itu menu­ding­kan jari­nya pada din­ding ber­pintu yang mele­kat pada warung itu — hanya dita­biri dengan kain Jepang yang har­ga­nya enam sen seme­ter, ber­warna merah ber­bu­nga besar-besar.

Dan Siti tambah meng­he­bat­kan tangis­nya. Rumah­nya sen­diri lega. Dan di sini ia men­da­pat kamar sempit, yang hanya cukup diisi dengan sebuah bale tang­gung. Ia mena­ngis — tangis perem­puan betul-betul. Tiba-tiba saja ia ingat pada anak­nya yang barang­kali sedang mena­ngis minta disu­sui. Ter­ba­yang dalam kepa­la­nya selu­ruh tetangga yang sedang ribut oleh keper­gi­an­nya. Dan mereka sama memaki-maki­nya seba­gai perem­puan ter­ku­tuk. Ia ingat segala-gala­nya. Dan ia ingat juga pada segala keba­ikan sua­mi­nya. Ia ingat juga pada bale yang belum lagi dira­pikan­nya. Dan barang­kali juga anak­nya yang berang­kat seko­lah akan pulang dengan tiada makanan di rumah. Dan ia men­de­ras­kan air mata­nya.

“Biasa, nduk — itu memang biasa. Kalau perem­puan bekerja kemari, mula-mula mena­ngis dahulu. Ya seakan-akan tangis jadi upa­cara peker­jaan yang menye­nang­kan ini. Mula-mula! Tapi seben­tar kemu­dian — bila sudah mene­rima tetamu — bila sudah dapat mengum­pul­kan uang sim­panan di bawah bantal — dia akan jadi gem­bira dan ber­se­ma­ngat seperti kanak-kanak.”

“Dan kata-kata seperti itu dingin saja untuk hati­nya. “Nah, hilang­kan air matamu. Duduk­lah di bangku itu manis-manis. Atau ber­di­ri­lah engkau di tengah-tengah pintu mena­rik pen­jaja. Barang­kali seben­tar lagi ada peda­gang ikan laut lewat ber­ken­dara sepeda. Ang­kat­lah mukamu yang manis itu. Para tamu sela­ma­nya takut pada air mata. Inilah yang harus selalu kau­i­ngat seba­gai pela­yan. Atau boleh juga engkau meng­aso seben­tar di dalam kamarmu.”

Dan sekali lagi tukang warung itu menun­juk pada din­ding ber­pintu kain Jepang, merah ber­bu­nga-bunga besar itu.

Dengan tiada ber­pi­kir pan­jang Siti melang­kah masuk ke dalam kamar­nya. Segera dir­e­bah­kan badan­nya, dan bale ber­ke­rait ber­bu­nyi. Diku­cur­kan air mata seba­nyak-banyak­nya. Ia merin­tih ber­ta­han-tahan. Dan dalam hati­nya ia minta ampun — ampun yang maha­be­sar dari laki­nya, dari kedua orang tuanya yang telah mening­gal, pada Tuhan­nya, dari segala-gala­nya. Tapi kem­bali? Ia tidak sang­gup. Ia tak berani mene­rima pukulan dari laki­nya. Dan laki­nya kini sudah jadi begitu galak dan pemu­kul.

“Siman! Siman! Meng­apa engkau kuting­gal­kan?” ia merin­tih pelahan.

Dan dalam kepa­la­nya ter­ba­yang masa pengan­tin baru­nya. Siman menge­na­kan kain, baju hitam, kemeja putih, blang­kon buatan kota dan kaca­mata hitam. Tampan juga. Tapi meng­apa susah betul ia men­cari rezeki? Ia tak tahu. Meng­apa ia seka­rang dengan tiba-tiba saja jadi galak dan pemu­kul?

“Harus­kah aku kem­bali?”

Tapi bila kem­bali, ia akan mene­rima pukulan yang lebih banyak lagi. Dan kalau ia dicari? Dan keda­patan di rumah ter­ku­tuk ini? Ia tak tahu. Ia tak bisa memi­kir lebih pan­jang lagi. Dan — tangis­nya jadi ter­ta­han-tahan oleh keta­kutan dan kenge­rian pada hari depan.

Banyak sekali suara-suara yang meng­a­muk dalam kepa­la­nya. Tetapi suara-suara itu ting­gal jadi suara saja, dan sedi­kit pun tak ber­hu­bungan dengan niat pulang. Dan sete­lah ia keha­bisan air mata, kelu­ar­lah ia dari kamar itu. Hati-hati duduk di bangku, dan muka­nya dipa­sang­nya di jen­dela agar ter­tam­pak oleh lalu­lin­tas.

Tukang warung perem­puan itu sedang sibuk meng­go­r­eng pisang. Ber­kata: “Di sini engkau hanya men­da­pat makan, minum dan tempat tidur yang baik. Ada juga kepin­ding di bal? itu, tapi engkau bisa mem­ber­sih­kan­nya sen­diri. Aku takkan meng­gaji engkau. Tapi tiap perem­puan bisa men­da­pat uang dengan gam­pang asal dia mau. Dan engkau manis. Engkau cantik.”

Siti tak men­ja­wab.

Kemu­dian datang­lah seo­rang tamu. Segera saja tamu itu meraba dada Siti dan ber­kata girang: “Orang baru ini?”

Tukang warung perem­puan yang sedang meng­go­r­eng pisang ter­tawa dari sudut warung yang diper­gu­na­kan seba­gai dapur. Tapi tak ber­kata apa-apa.

Siti kebi­ngungan, seka­li­pun laki­nya sudah ber­buat bera­tus kali ter­ha­dap­nya seperti itu. Ia hanya duduk di sudut bangku. Dan tamu itu men­ja­jar­i­nya agak men­de­sak badan­nya sedi­kit. Dan Siti menun­duk­kan kepa­la­nya seperti pengan­tin baru di puadai yang kehi­langan kepri­ba­di­an­nya.

“Ladeni kakak itu, Siti!” teriak tukang warung itu senang.

Baru­lah Siti ber­diri dan ber­kata tang­gung: “Kopi atau teh, tuan?”

Tamu dan tukang warung ter­tawa pahit men­de­ngar sebutan itu. Segera saja tamu itu ber­kata girang: “Tuan? Di sini tidak ada tuan. “Kan masih banyak per­ka­taan manis yang boleh dipa­kai? Kak! Ya, kak lebih manis dari­pada tuan.”

“Nah, dia bukan saja tamu, tetapi juga guru, nduk. Lama-kela­maan banyak pel­a­jaran yang kau­per­o­leh dengan sen­di­r­i­nya.”

“Aku minta kopi kental, ning!”

Tapi Siti belum kuasa mela­deni per­min­taan tamu itu. Buru-buru ia masuk ke kamar­nya. Selu­ruh macam kecang­gungan ter­ba­yang di dalam kepa­la­nya. Selu­ruh isi rumah pun ber­ba­yang dalam ing­at­an­nya. Dan selu­ruh air mata­nya ter­tum­pah di atas pang­ku­an­nya. Juga Siman ter­ba­yang kem­bali. Siman! Siman yang baik hati dan jujur itu! Hanya kebo­doh­an­nya jualah yang mem­buat dia jadi miskin dan tak ter­pan­dang oleh para tetangga.

Dari luar ter­de­ngar suara gem­bira: “Memang susah meng­a­jar orang baru, kak, tapi seben­tar lagi ia tahu jalan­nya sen­diri.”

Tamu itu ter­tawa senang. Kemu­dian ter­de­ngar sua­ra­nya: “Pintar betul engkau men­cari orang. Baru datang dari desa?”

“Ya, baru tadi pagi. Dia seo­rang diri di dunia ini dan mer­tu­a­nya menyia-nyi­a­kan­nya, karena dia tak ber­a­nak dan laki­nya mati.”

Tamu itu ter­de­ngar ter­tawa pelahan. Kemu­dian ber­kata penuh kepas­tian: “Ya, itu banyak ter­jadi sejak dulu. Nanti malam aku meng­i­nap di sini.”

“Meng­i­nap di sini? Aduh-aduh. Kontan saja. Tapi apa kata Wiro nanti?” perem­puan itu ber­kata.

“Lakimu? Apa kau­pi­kir aku meng­ha­rap­kan badanmu?”

Ia ter­tawa ter­ba­hak-bahak. “Aku bosan padamu.”

Dan Siti tak bisa mena­han tangis­nya lagi. Dalam hidup­nya ia tak pernah men­de­ngar kata-kata lelaki yang seperti itu. Siman — laki­nya — pun tidak pernah. Dan seka­li­pun ia bodoh, namun ada juga ia mera­sai suatu kehi­naan dalam sua­sana warung itu. Tapi ia memer­lu­kan kebe­basan. Ia memer­lu­kan makan. Dan ia harus menun­duk­kan dir­i­nya.

“Ning! Ning! Mana kopi­nya?” seru tamu itu.

Tapi Siti terus juga mena­ngis di bale­nya. Kemu­dian masuk­lah Mar­kaban ke dalam kamar­nya. Dengan tiada segan-segan, lang­sung saja ia duduk men­ja­jari Siti. Dan Siti tidak mela­wan. Ia tahu: ia harus menye­rah­kan dir­i­nya pada siapa pun juga. “Jangan mena­ngis, ning. Nanti malam aku meng­i­nap di sini. Aku suka padamu. Atau, — maukah engkau turut deng­anku?”

Tapi Siti meng­ge­leng­kan kepa­la­nya. Ia takut pada pukulan. Karena itu ia takut pada suami. Dan apa yang selan­jut­nya ter­jadi adalah suatu adat yang lazim ter­jadi antara makh­luk yang bisa ber­ge­rak.

Penduduk kampung kami yang tak pernah mem­baca buku, sela­ma­nya mem­per­li­hat­kan ten­tangan yang hebat kala harus mema­suki kebi­a­saan baru. Tapi bila kebi­a­saan itu sudah dima­suk­i­nya jarang ia bisa mele­pas­kan diri dari pada­nya. Demi­kian j juga halnya dengan Siti.

Air mata telah ber­ganti dengan ter­tawa yang berun­tun-runtun. Baju yang tak pernah beru­bah model­nya itu ber­ganti dengan baju kutu­baru, selem­bar kain yang meng­hi­asi buah dada­nya. Dan kalau dulu ia hanya ber­baju dua lembar, kini ia telah dapat mem­beli koper — dan penuh­lah isinya. Sudah lama ia tak meme­gang-megang gincu merah. Muka sela­ma­nya ber­be­dak tebal. Dan kadang-kadang juga hampir-hampir menye­ru­pai tembok. Tapi semua itu sudah jadi kebi­a­saan di antara mereka — perem­puan-perem­puan yang hidup di warung-warung kopi antara Blora-Jepon. Ting­kah­nya pun sudah ber­beda dari­pada dulu. Banyak ter­tawa. Banyak canda. Banyak bicara. Dan genit pula. Kehi­dupan kam­pung yang tak beru­bah-ubah itu kini ber­ganti dengan kehi­dupan yang selalu beru­bah. Banyak lelaki datang pada­nya. Banyak mereka menge­lu­ar­kan cum­buan, rayuan dan segala per­ka­taan yang enak dide­ngar. Sung­guh, dalam per­ga­ulan seperti itu, daging muda dan baru selalu jadi rebutan. Dan kalau dulu ia terima uang sen-sen saja tiap hari, kini tak jarang ia mene­rima sampai seru­piah atau seru­piah sete­ngah.

Semua per­u­ba­han itu mema­bok­kan hati­nya. Tak ada lagi ter­i­ngat oleh­nya akan Siman dan ketiga anak­nya. Dan seka­li­pun ia ingat, ia hanya ingat sedi­kit saja dengan bibir ter­ta­rik tanda meng­hi­na­kan. Mereka itu boleh mampus satu-satu. Dan ia tak peduli. Di dunia ini banyak lelaki — dan bukan Siman saja yang lelaki.

Dan pada suatu kali datang­lah Nawawi. Lang­ganan itu duduk di pojok bangku. Dan Siti duduk di pang­ku­an­nya. Seben­tar- ..:- seben­tar ia pergi mela­yani lang­gan­an­nya itu. Dan seba­gai bia­sa­nya Nawawi mabok oleh bau minyak rambut Siti. Tapi ia ber­diam diri saja. Dan karena Siti tak men­da­pat uang sece­peng pun dari induk­nya, dica­ri­nya ber­ba­gai akal untuk men­da­pat uang seba­nyak-banyak­nya dari lang­ganan yang datang. Ia turut makan juga dengan lang­ganan itu, dan lang­ganan itulah yang mem­ba­yar­nya. Kela­kuan seperti itulah yang ter­puji benar oleh tukang warung. Laris, kata­nya.

Kedu­a­nya minum kopi kental seka­rang. Di jalan raya men­de­rum bis dari Cepu. Debu menge­pul ke udara. Dan karena warung itu ter­lam­pau dekat pada jalan raya, debu itu pun masuk pula­lah ke dalam­nya. Han­curan tai kuda, han­curan ban mobil. Pasir. Han­curan kotoran manu­sia yang dibu­ang-buang di ping­gir jalan. Semua turut ter­bang ke udara dan hing­gap pada kue pisang, kue serabi. Dan seba­gian masuk pula ke dalam kopi Nawawi dan Siti. Tapi mereka masih juga ber­canda-canda dengan aman­nya.

Malam itu Nawawi meng­i­nap. Dan malam yang dingin itu lalu­lah dengan tiada ter­ganggu dan terasa. Kee­sokan hari­nya Siti mela­yani lang­ganan seba­gai­mana mes­ti­nya. Tapi pada jam dua belas siang terasa sakit perut­nya. Dan sakit­nya ini kian lama kian terasa.

“Perutku sakit, bu,” lapor­nya pada tukang warung.

Dan tukang warung itu ter­tawa menye­ngir.

“Sakit bukan main,” Siti menyam­bung.

Dan tukang warung itu mene­rus­kan ter­ta­wanya. Muka Siti sudah mulai pucat. Ber­kata pula ia: “Meng­apa ibu ter­tawa saja?”

“Itu sudah adat­nya di warung-warung. Sekali-sekali orang yang jadi pela­yan ter­se­rang penya­kit perut. Tapi itu tidak apa-apa.”

“Tidak apa-apa? Sakit­nya tak ter­ta­han­kan lagi.”

Dan muka­nya pucat juga. Tapi perem­puan tukang warung itu hanya ter­tawa-tawa saja. Ber­kata lagi ia: “Si Mariam dulu sakit begitu juga. Aku juga. Dan Nining juga. Tapi obat­nya mudah saja. Makan nanas muda. Habis­kan sebuah. Dan penya­kitmu itu akan musnah.”

Hari itu Siti tak keluar dari kamar­nya. Diha­bis­kan­nya buah nanas muda. Dan betul­lah apa kata tukang warung itu. Penya­kit­nya mulai mengen­dur. Dan ia mulai mela­yani lang­gan­an­nya — siang dan malam. Tapi suatu kali ia kena penya­kit lagi. Dan lima-enam buah nanas muda tak mempan lagi untuk obat. Kian lama kian kurus ia. Dan segala hal yang sudah ter­jadi ter­ba­yang-bayang dalam kepa­la­nya. Siman. Ketiga anak­nya. Rumah tang­ga­nya. Kerbau ipar­nya. Ya, semua yang telah diting­gal­kan tiga tahun yang lalu. Dalam sakit­nya itu kadang-kadang ia mene­rima lang­ganan malam juga. Dan muka­nya yang pucat itu ditu­tup­nya dengan bedak tebal-tebal, dime­rah­i­nya kedua pipi­nya dengan gincu. Namun badan­nya yang kurus itu tak dapat menyem­bu­nyi­kan penya­kit­nya. Kese­gar­an­nya hilang. Gairah hidup­nya hilang. Jarang ia ter­tawa. Uang sim­pan­an­nya telah habis tandas untuk pem­beli obat kam­pung. Tapi ia butuh uang. Uang dan uang. Karena itu ia terus juga mene­rima lang­ganan malam. Perem­puan tukang warung itu tak dapat lagi mena­rik keun­tungan dari­nya. Siti beru­bah jadi tua dan rom­beng. Orang tidak ter­ta­rik lagi. Seba­lik­nya malah, banyak lang­ganan jijik meli­hat­nya, dan meng­hin­dari warung yang menye­bal­kan itu.

Dan pada suatu kali jatuh­lah putusan atas dir­i­nya.

“Siti,” tukang warung itu ber­kata, “karena engkau tak dapat bekerja lagi dan mena­rik tamu, lebih baik engkau mening­gal­kan warung ini. Aku tak bisa meng­um­pani engkau tiap hari dengan per­cuma. Aku sen­diri bekerja sete­ngah mati, dan untuk naf­kahku sen­diri, hampir-hampir tak men­da­pat sisa dari semu­a­nya itu.”

Belum habis ia ber­bi­cara, datang perem­puan baru yang akan meng­gan­ti­kan­nya. Dan Siti meman­dangi perem­puan baru itu dengan mata ber­ki­lat-kilat oleh kema­rah­an­nya sen­diri. Tapi sifat pena­kut yang diba­wa­nya dari kam­pung­nya tak mem­bo­leh­kan ia melab­rak perem­puan baru itu. Juga tidak pada induk­nya. Diam-diam ia masuk ke dalam kamar­nya. Dibu­ka­nya koper­nya. Isinya telah habis ter­jual untuk men­cari obat. Ting­gal koper belaka. Dan atas keba­ikan tukang warung itu, koper itu boleh diting­gal dan ia men­da­pat seta­len seba­gai peng­gan­ti­nya.

“Jangan marah, Siti,” kata tukang warung itu pula. “Kita ini sama-sama men­cari nafkah. Engkau men­cari nafkah. Dan aku pun men­cari nafkah. Dan tak baik­lah jadi­nya bila antara dua orang yang sudah bisa men­cari nafkah, hanya satu saja yang men­ca­ri­nya, dan yang lain hanya tidur enak-enakan saja.”

“Tapi aku sakit, ibu.”

“Dengan uangmu yang seta­len itu engkau bisa datang ke kota — ke rumah sakit. Dan kalau engkau sudah sembuh kem­bali, engkau bisa men­cari nafkah lagi seba­gai­mana mes­ti­nya.”

Siti tidak mem­ban­tah. Dengan badan­nya yang hampir-hampir tidak ber­te­naga itu ia ber­ja­lan menuju ke kota. Jalan­nya tak gesit dan gagah seperti dahulu. Ada gerak yang aneh ter­da­pat dalam jalan­nya. Tapi ia ber­ja­lan dan ber­ja­lan juga untuk melam­paui jarak yang empat kilo­me­ter itu. Angin yang meniup — angin sawah yang meng­a­pit jalan raya itu — ter­lam­pau berat dan tebal dan tajam rasa­nya untuk badan­nya yang sudah jadi tipis itu.

Ia ditempatkan di bang­sal yang paling rendah di rumah sakit itu — bang­sal gratis. Tapi ia tak merasa dihi­na­kan. Bang­sal itu jauh lebih bagus dan bersih dari­pada kamar yang dise­di­a­kan untuk­nya di warung. Juga jauh lebih bagus dan bersih dari­pada rumah­nya — ya, dulu, waktu ia masih hidup ber­sama dengan Siman. Hanya yang dise­sal­i­nya dalam hati­nya ialah: orang-orang mem­per­la­ku­kan dia dengan bur­uk­nya. Tiap gerak dan ucapan yang ditu­ju­kan pada­nya selalu menya­kit­kan hati­nya. Dan ia tidak bisa meng­erti meng­apa orang-orang meman­dang rendah pada­nya. Ya, sama sekali ia tak meng­erti. Ia tak merasa pernah men­ci­de­rai orang. Tapi di rumah sakit itu ia diang­gap t tak ubah­nya dengan hewan saja.

Per­la­kuan itu mem­buat ia jadi penyen­diri. Namun para pera­wat itu tetap suka mener­ta­wa­kan­nya, meng­e­jek­nya dan kadang-kadang juga memaki-maki­nya dengan tiada dike­ta­hu­i­nya apa sebab­nya. Semua itu mem­buat ia tidak kera­san. Semua itu mem­buat ia ingin kem­bali ke rumah­nya dulu — dengan Siman. Dengan anak-anak­nya. Kem­bali ber­gaul dengan para tetangga. Dan bila senja sudah mati, duduk-duduk di teri­tis sambil men­de­ng­ar­kan santre-santre mengaji di lang­gar. Semua yang baik-baik di masa yang lalu ter­ke­nang kem­bali bila ia tidak bisa tidur. Atau bila baru saja ia disi­n­dir orang. Atau bila ia habis diter­ta­wa­kan orang. Namun belum juga ia merasa, bahwa tin­dakan yang diam­bil­nya — mela­ri­kan diri dari sua­mi­nya — itu Suatu dosa belaka.

Waktu seo­rang tetangga dulu datang di rumah sakit karena borok tua, mula-mula ia malu mene­ri­ma­nya. Tetangga itu ditem­pat­kan di satu bang­sal deng­an­nya. Dalam lima jam sete­lah ditem­pat­kan di bang­sal itu, tetangga itu belum juga menge­nali Siti yang jauh sudah jadi tua dan beru­bah dan kurus itu. Akhir­nya Siti tak bisa juga mena­han kei­ng­in­an­nya untuk men­de­ngar kabar dari kam­pung­nya. Ber­kata ia kemalu-maluan: “Nga­di­mun, bagai­mana kabar dari kam­pung Jetis5?”

Nga­di­mun — orang sete­ngah tua itu meng­a­was­i­nya. Kemu­dian men­ja­wab tak acuh: “Kabar dari Jetis baik.” Ia meng­u­langi peng­a­was­an­nya. “Siapa, engkau?”

“Ya, ten­tu­lah engkau lupa padaku. Sudah tiga tahun aku belum lagi pulang ke Jetis. Aku Siti, — Siti bini­nya Siman.”

Orang sete­ngah tua itu ter­ke­jut. “O, Allah, eng­kau­lah ini?” Ia diam dan mendoa. Menyam­bung, “tega, sampai hati engkau mening­gal­kan laki dan anak-anakmu. Anakmu mati dua hari sete­lah engkau pergi. Dan engkau tak juga datang.”

Men­de­ngar per­ka­taan mati Siti jadi ter­te­gun. Mata­nya meng­ge­re­bak. Tapi ia lebih sedih pada kema­tian dir­i­nya sen­diri dari­pada kema­tian anak­nya.

“Ya, Sariem anakmu yang paling kecil itu mati sudah,” sam­bung Nga­di­mun. “Dan aku tak juga meng­erti meng­apa engkau sampai hati mening­gal­kan­nya.”

Seben­tar Siti meng­um­bar tangis­nya. Kemu­dian menyu­sul­kan pen­je­las­an­nya: “Aku takut pada Siman. Tiba-tiba saja dia sering memu­kuli aku. Dan aku takut pada pukul­an­nya.”

“Bukan­kah engkau tahu, bahwa karena kese­dih­an­nya juga Siman jadi mata gelap dan berani memu­kul engkau. Sela­ma­nya — Siman pen­diam. Kalau dia berani memu­kul engkau — ya begi­tu­lah karena engkau sudah begitu keter­la­luan.”

“Aku sela­ma­nya setia pada­nya, Nga­di­mun.”

“Aku tahu, tiap bini harus setia pada laki­nya. Tapi, Siti, deng­ar­lah seka­rang. Ada saat-saat seo­rang lelaki itu tak memer­lu­kan kese­ti­aan bini­nya. Tapi ia lebih memer­lu­kan yang lebih pen­ting dari­pada itu — ban­tuan lahir.”

Siti meng­ge­leng-geleng kepala tak meng­erti. Ia ber­kata kaku: “Aku tidak meng­erti.”

“Ya, sampai seribu tahun per­ka­taan itu kuu­lang-ulang, engkau tak juga akan meng­erti. Kalau engkau meng­erti barang sedi­kit saja, engkau takkan lari dari lakimu. Itu aku meng­erti juga.”

Dan Siti jadi tambah tak meng­erti karena per­ka­taan yang banyak itu. Ia diam saja sambil meng­ha­pus-hapus air mata­nya. Kemu­dian mera­tap: “Sariem mati. O, anakku. Engkau sudah mati seka­rang. Dan aku tak meli­hat engkau waktu diman­di­kan.”

“Dan bagai­mana seka­rang? Akan pulang­kah engkau ke Jetis?”

Siti tak men­ja­wab. Ia tak meng­erti. Ia malu. Dan malu­nya itu ber­gu­mul dengan kese­dih­an­nya. Ia ter­se­ret-seret oleh kedua pera­sa­an­nya sen­diri itu. Nga­di­mun ber­kata lagi: “Ya, lebih baik engkau pulang saja kalau sudah sehat. Urus­lah Siman dan anakmu itu baik-baik. Siman belum juga kawin sete­lah engkau ting­gal­kan. Sia­pa­kah yang mau kawin dengan Siman di dunia ini selain engkau?”

Tapi Siti tak juga men­ja­wab ajakan itu. Ia jadi bingung seka­rang. Ter­ba­yang dalam kepa­la­nya si Miah anak­nya yang kedua. Ia ber­ta­nya malu: “Sudah besar­kan si Miah?”

“Miah sudah dise­ko­lah­kan paman­nya. Dia sudah besar seka­rang. Sudah kelas dua. Bapak­nya sen­diri tak sang­gup menye­ko­lah­kan. Tujuh sen sete­ngah tiap bulan berat juga.”

Siti ber­henti mena­ngis.

“Kalau aku pulang ke kam­pung, apakah akan kata orang-orang nanti?”

“Apa kata orang-orang nanti?” Nga­di­mun ber­seru. “Mula-mula mereka heran. Ada juga yang meng­hina dan mener­ta­wa­kan engkau. Tapi itu sudah jamak dite­rima oleh perem­puan yang berani mela­ri­kan diri dari laki­nya. Kemu­dian kea­daan ber­ja­lan seba­gai bia­sa­nya. Dan kem­bali engkau hidup seperti dulu — meng­am­bil air dari kali, men­cari kayu bakar, masak, dan itu engkau tahu, lebih tahu lagi dari­pa­daku. Siman akan ber­se­nang hati juga kalau engkau mau kem­bali. Apakah dia akan tahan makan nasi masakan emak­nya? Engkau bisa meng­erti sen­diri itu. Siti, sung­guh tak enak makan nasi orang lain, seka­li­pun orang lain itu emak­nya sen­diri. Pulang­lah. Dan Miah pun akan ber­se­nang hati karena engkau mau pulang. Dia akan men­da­pat emak lagi. Di manakah engkau selama ini?”

“Jadi babu di Cepu, Dimun!”

“Babu? Itu baik sekali. Jadi salah­kah desas-desus yang menga­bar­kan bahwa engkau men­ja­lani peker­jaan mak­siat di warung kopi?”

Siti tunduk kemalu-maluan. Sekali lagi ia merasa, bahwa peker­jaan yang diker­ja­kan­nya selama tiga tahun itu ten­tu­lah diku­tuki oleh orang kam­pung. Hati­nya ter­tu­suk. Ter­tu­suk untuk sekian kali­nya. Tapi ia tak mem­ban­tah. Ia tak bisa mem­ban­tah, bahwa peker­jaan itu memang jahat. Dari dulu juga ia pen­diam seperti Siman — pen­diam oleh kebo­doh­an­nya sen­diri. Ter­lam­pau banyak per­ka­taan yang ia tak meng­erti arti­nya. Jadi ia harus ber­diam diri. Dan itu yang lebih baik untuk­nya. Dan ter­lam­pau banyak pula yang ia tak meng­erti di dunia ini.

Dan per­te­muan itu disu­sul oleh ber­ba­gai-bagai cerita yang buruk dan yang baik. Ten­tang Siman dan Miah.

Tapi per­te­muan itu tak habis sampai di situ saja. Paling lama tiga hari sekali ada orang datang dari Jetis untuk mengirim nasi pada Nga­di­mun. Dan orang-orang yang datang mengirim itu kenal belaka pada Siti. Dengan demi­kian nama Siti kem­bali dise­but-sebut di kam­pung­nya. Siti tak bisa menyem­bu­nyi­kan dir­i­nya lagi. Dan yang paling aneh untuk­nya: ia tak dicari oleh siapa pun juga. Dan hal itu mem­buat dir­i­nya ber­pi­kir: barang­kali aku tak ber­harga lagi untuk mereka.

Dan pada suatu kali, seo­rang pengirim menyam­pai­kan berita dari Siman kepa­da­nya: “Siti, kalau engkau mau kem­bali pada lakimu, Siman tak merasa kebe­ratan. Ia akan mene­rima engkau, seka­li­pun pak kiai dan famili-famili yang lain tak dapat mengi­a­kan mak­sud­nya. Tapi Siman sen­diri mau mene­rima engkau kem­bali. Dan inilah yang lebih pen­ting dari semu­a­nya.”

Siti ter­tawa senang men­de­ngar berita itu. Mata­nya ber­si­nar-sinar. Tiba-tiba saja ia mem­per­o­leh harap­an­nya kem­bali. Ia akan punya rumah lagi. Ia akan punya laki lagi. Ia akan punya anak lagi.

“Dan kalau engkau sudah jadi bini Siman lagi, pas­ti­lah engkau tak kan men­de­rita penya­kit seperti yang engkau deri­ta­kan seka­rang ini.” Siti meng­ang­guk lega.

“Tapi yang pen­ting lagi ialah, Siman tak lagi makan nasi masakan emak­nya yang sudah setua itu.”

Seka­li­gus Siti ter­i­ngat pada mer­tu­a­nya perem­puan yang sudah dua puluh tahun kena batuk kering itu. Perem­puan itulah yang mem­ba­ngun­kan para tetangga di pagi hari dengan batuk­nya yang berun­tun-runtun. Dan batuk­nya itu baru reda bila mata­hari sudah bebe­rapa puluh dera­jat di langit. Dan ing­atan itu disu­sul oleh ing­atan yang lain: kerbau adik ipar­nya. Kerbau itu adalah warisan satu-satu­nya untuk ipar­nya yang bungsu itu — buat ongkos per­ka­win­an­nya. Ber­ta­nya ia: “Bagai­mana kerbau Sipan itu seka­rang?”

“O, Sipan sudah kawin, dan dengan sen­di­r­i­nya ker­bau­nya sudah diju­al­nya.”

“Dapat siapa dia?” Orang itu tak men­ja­wab. Namun Siti sudah men­de­ngar desas-desus juga, bahwa Sipan menga­wini sundal yang diper­o­leh­nya dari warung kopi di depan seta­siun.

“Sudah ber­a­nak­kah dia?”

“Belum,” kata orang itu sunyi.

“Dan Miah, meng­apa dia tak pernah diajak kemari?”

“Dia tak suka. Dia takut. Mak­lum­lah — sudah begitu lama tidak ber­temu. Dan kalau engkau ber­temu dengan anakmu itu, engkau pun sudah tak kenal lagi.”

“Dan Siman, meng­apa dia tak pernah datang kemari?”

“Tentu saja dia tidak mau. Orang-orang bilang, bila Siman berani mene­ngok engkau di rumah sakit, dia akan meren­dah­kan dir­i­nya.”

Siti tidak meng­erti betul ucapan itu. Ber­ta­nya ingin: “Meng­apa meren­dah­kan dir­i­nya sen­diri? Bukan­kah aku bini­nya sen­diri?”

“Ya, engkau bini­nya sen­diri, tapi selama tiga tahun itu engkau telah ter­sa­sar dari adat orang baik-baik. Selama itu engkau men­ja­lani peker­jaan mak­siat yang dila­rang oleh agama.”

Siti yang masih juga tak meng­erti mene­rus­kan per­ta­nya­an­nya: “Dila­rang oleh agama?”

“O, kerbau! Kerbau!” seru orang itu.

Dan Siti ter­diam men­de­ngar seruan itu. Kem­bali hati­nya jadi ter­tu­suk. Tapi sekali ini ia tidak ber­diam diri saja. Sekali ini ia meni­tik­kan air mata­nya oleh sakit hati. Ia kerbau, kata­nya. Ia ber­dosa, kata­nya. Ia men­ja­lani peker­jaan mak­siat yang dila­rang oleh agama, kata­nya. Tapi ia sen­diri tak merasa ber­dosa. Ia tak merasa ber­sa­lah. Tapi semua orang — ya, hampir semua orang saja menya­lah­kan dir­i­nya. Dan Siman — laki­nya — tak berani mem­ban­tah semua per­ka­taan orang itu. Dan ia sen­diri tak tahu bagai­mana cara­nya mem­ban­tah. Ia diam. Diam saja sambil mera­sa­kan sakit hati­nya. Namun semua itu tak memu­dar­kan harap­an­nya untuk kem­bali bisa punya rumah dan laki lagi. Tidak.

“Bagai­mana seka­rang, Siti, sudah­kah engkau punya maksud untuk mem­per­ba­iki dirimu? Engkau sudah ter­lam­pau banyak ber­dosa, pada lakimu dan pada Tuhan.”

Siti ber­henti mena­ngis oleh keta­kutan. Ber­dosa pada laki­nya, kata­nya. Kalau ia mela­ri­kan diri takut dipu­kuli Siman, adakah itu ber­dosa? Ia ber­ta­nya dalam hati. Dan dosa pada Tuhan, kata­nya. Tuhan ini sela­ma­nya mem­ba­yang­kan rak­sasa yang meme­gang peng­gada api dalam kepal­an­nya. Dan ia takut pada Tuhan yang dise­but-sebut orang itu. Tuhan punya neraka dari api. Dan barang­si­apa ber­dosa pada­nya akan dima­suk­kan ke dalam api hingga ber­ta­hun-tahun lama­nya. Ia takut. Pelahan ia merin­tih.

“Ya, pas­ti­lah engkau menye­sali per­bu­at­anmu yang dulu-dulu itu.” Tapi untung­lah, jam bicara telah sele­sai. Dan pen­je­nguk itu pulang ke Jetis. Siti mem­per­o­leh dir­i­nya kem­bali. Ia duduk ter-’ menung-menung di teri­tis bang­sal sambil menge­nang­kan dosa, Siman, dan Tuhan. Tapi tak ada sesu­atu kepu­tusan yang dapat diam­bil­nya. Ia tak pernah men­cari kepu­tusan.

Waktu juru rawat itu menga­ta­kan pada­nya “engkau sudah sembuh seka­rang, engkau boleh pulang”, bukan main riang hati­nya. Segera dile­pas pakaian rumah sakit. Badan­nya sudah sehat kem­bali dan segar. Tubuh­nya sudah berisi lagi. Dengan lang­kah orang sehat ia ber­ja­lan mela­lui jalan-jalan yang sudah tiga tahun ini diting­gal­kan­nya. Kadang-kadang ada juga ia ber­temu dengan kenal­an­nya dulu. Kemu­dian ter­jadi per­ca­kapan seben­tar di ping­gir jalan. Akhir­nya sampai juga ia ke rumah Siman. Masih seperti dahulu — tidak ber­jen­dela! Dari kiri kanan orang meman­da­ng­i­nya dengan diam-diam saja. Dan ia pun tak mene­gur mereka itu. Ia malu. Ia menun­duk saja. Sampai di beranda ia tak juga berani masuk. Ia ber­ja­lan mundar-mandir seben­tar. Tak ada orang di dalam. Ia tak tahan lagi. Masuk­lah ia ke dalam rumah. Semua masih leng­kap seperti dulu: bale kam­pung yang ber­pung­gung, bale tidur yang lebar. Pelita yang dipa­sang di tiang guru, bangku dapur yang rendah. Ia meng­u­cur­kan air mata.

“Ya, meng­apa engkau kuting­gal­kan, Siman?”

Lambat-lambat ia duduk di bale tidur itu. Dulu ia selalu tidur dengan laki dan anak­nya di situ. Tapi kini semua sudah kosong. Siman sudah pergi men­cari keri­kil di kali. Anak­nya yang sulung turut dengan paman­nya. Miah sedang ber­se­ko­lah. Dan anak­nya yang kecil sudah mati. Tiba-tiba meng­gi­gil selu­ruh badan­nya menge­nang­kan semu­a­nya itu. Dan dengan tiada ber­tu­juan sedi­kit pun juga, ia ber­bi­sik pelahan: “Ampun, Siman! Ampun, Tuhan.”

Dan ucapan itu mem­buat hati­nya lega sedi­kit. Rintih dan tangis­nya mengen­dur. Akhir­nya hilang. Dite­len­tang­kan badan­nya di bale itu. Dan dengan tiada disa­dar­i­nya, ia telah jatuh ter­ti­dur.

Lama rasa­nya ia ter­ti­dur itu. Suara gadis kecil mem­ba­ngun­kan­nya. Anak itu ber­nya­nyi-nyanyi meng­ha­fal­kan nya­nyian daerah yang baru dida­pat­nya seben­tar tadi. Dan waktu dili­hat­nya ada orang baru bangun dari bale, anak itu ter­diam. Meng­a­mat-amati. Segera Siti ber­su­ara: “Jangan takut, Miah! Aku emakmu. Aku Siti.”

Oleh suara itu Miah jadi keta­kutan. Sambil mundur-mundur pelahan ia men­jauh. Siti men­de­kati. Tapi Miah kian men­jauh. Akhir­nya sampai juga Miah ke pintu. Dan sete­lah ia keluar dari dalam rumah ia lari — lari — lari ken­cang-ken­cang ke rumah nenek­nya. Siti kem­bali mene­len­tang­kan badan­nya di bale. Dan dengan tiada disa­dar­i­nya, ia sudah men­jadi ter­lam­pau sedih.

Waktu mertua perem­pu­an­nya datang, ia bangun, duduk saja di bale dan meng­a­wasi perem­puan tua yang ber­pe­nya­kit batuk kering itu. “Siti! Jadi engkau kem­bali?”

“Ya.”

“Kalau aku jadi engkau, kalau aku sudah rusak dan bejat-bejat, aku takkan kem­bali lagi. Seka­li­pun aku tidak rusak dan bejat-bejat, kalau aku berani mela­ri­kan diri dari lakiku, hmmmm, aku takkan pulang. Dan seki­ra­nya aku berani pulang, bukan­nya aku hendak kem­bali jadi istri lakiku lagi. Tidak! Tidak! Sama sekali tidak. Tahu? Aku akan terus lang­sung saja pergi ke sumur Bromo dan melem­par­kan diri ke situ sampai mati.”

Siti tak-bisa ber­kata apa-apa men­de­ng­ar­kan per­ka­taan yang begitu banyak itu. Kem­bali hati­nya jadi sedih. Kemu­dian ber­kata ia — lebih pada dir­i­nya sen­diri dari­pada ke mer­tu­a­nya:

“Meng­apa semua orang memu­suhi aku — itulah yang aku tak meng­erti.”

Mer­tu­a­nya batuk-batuk seben­tar. Badan­nya hingga mem­bung­kuk-bung­kuk, kemu­dian men­ja­wab:

“Siapa di antara perem­puan sedu­nia ini yang bisa ber­ba­ikan dengan sundal keha­bisan lang­ganan?”

“Sundal?” Siti ber­ta­nya.

“Apa? Apa kau tak meng­a­kui habis jadi sundal?”

Dan Siti jadi ber­pi­kir. Selama ia berada di warung, tak seo­rang pun pernah mena­mai dir­i­nya sundal. Di rumah sakit pun tidak. Ya, dulu, waktu di rumah sakit. Tapi kini dengan lang­sung saja ia dina­mai sundal. Dan ia tak meng­erti sebab­nya. Namun ada ia mera­sai kehi­naan dalam per­ka­taan itu.

“Engkau boleh ber­sa­rang di sumur itu,” perem­puan tua itu ber­kata lagi.

Miah muncul dari bela­kang badan mer­tu­a­nya. Dan Siti ber­seru: “Miah! Miah! Lupa­kah engkau padaku?”

Miah meng­in­tip­nya dengan mata liar. Pada paras­nya ter­gam­bar keta­kutan.

“Emak seperti itu, Miah, lebih baik engkau bakar hidup-hidup,” perem­puan tua itu mene­rus­kan sik­sa­an­nya. “O, semua lelaki memang goblok, tak ubah­nya dengan kam­bing. Mereka tak peduli lagi pada harga perem­puan. Kalau suka … O, anakku, orang seperti itu…”

Ter­ta­tih-tatih ia mening­gal­kan rumah itu dii­ring­kan oleh Miah. Dan di tengah jalan ia ber­ba­tuk-batuk sampai lama. Kem­bali Siti mem­ba­ring­kan badan­nya di bale sambil memi­kir­kan semua ucapan mer­tu­a­nya. Tapi ia tak begitu meng­erti.

Hanya ada terasa: mer­tu­a­nya telah menga­ta­kan sesu­atu yang buruk pada­nya. Hanya itu saja.

“Aku mesti masak!” kata­nya pelahan.

Dan per­ka­taan disu­sul­nya dengan tin­dakan. Ia bangun dan pergi ke dapur. Tapi di dapur sepi saja. Tak ada kayu. Tak ada air. Tak ada beras. Diam­bil­nya buyung yang dulu selalu diper­gu­na­kan­nya. Ia pergi ke kali. Dan mata orang yang meli­hat­nya meman­dang-man­dang ber­ta­nya. Dan bila ada orang ber­ta­nya, dija­wab­nya dengan baik.

Banyak juga di antara mereka, yang sudah menge­ta­hui riwa­yat­nya, menyin­dir-nyin­dir. Tapi ia diam saja. Ber­u­lang kali ia naik turun tebing kali itu meng­am­bil air. Akhir­nya tempat air itu penuh juga­lah. Kera­jin­an­nya dahulu datang kem­bali. Segera ia men­cari batang-batang dan ran­ting-ran­ting kayu yang ter­bu­ang-buang di ping­gir-ping­gir kali untuk kayu bakar. Ya, ia ingat juga waktu dahulu bekerja seperti itu juga. Dan dalam bekerja itu, sela­ma­nya ia tak pernah merasa seng­sara. Juga ia tak pernah merasa ber­se­nang hati. Seakan-akan semua itu ber­ja­lan dengan sen­di­r­i­nya — seperti sudah semes­ti­nya. Ia mema­sak air seka­rang. Tapi beras masih tetap tak ada. Ia ber­is­ti­ra­hat, duduk di bale sambil menan­ti­kan keda­tangan Siman. Mene­len­tang­kan badan­nya. Dan dengan tiada terasa ia telah ter­ti­dur.

Waktu Siman datang, ia tak merasa dan tak tahu. Tahu-tahu ada tangan mena­rik baju­nya. Di kala ia bangun, Siman telah ber­diri di depan­nya ter­se­nyum-senyum. Ter­lu­pa­lah ia pada segala sikap laki sejati. Dan waktu yang tiga tahun itu hilang­lah dengan begitu saja. Semua men­jadi beres kem­bali. Per­ten­tangan yang dulu-dulu tiada ber­be­kas lagi. Siman kini mem­pu­nyai tenaga ter­se­nyum yang pan­jang sekali. Namun Siti masih juga takut, malu, dan kha­wa­tir ber­gaul dengan para tetangga.

Di waktu anak­nya datang, ia menyam­but­nya dengan senyum, tawa dan cum­buan. Mula-mula anak itu merasa seperti orang asing di rumah­nya sen­diri, tetapi lama kela­maan ia tak merasa cang­gung lagi. Anak kem­bali pada ibu. Bini kem­bali pada laki. — Kunci dari beribu macam cerita dunia.

Jakarta, v-1950



Cerita pendek

Anak Haram

Dari Cerita dari Blora (1952). Teks dari cetak ulang Hasta Mitra, 2002.

Pak guru menggelengkan kepala. Hatinya kesal. Mau ia memu­kul kepala gundul si Ahyat. Tapi Ahyat bukan anak­nya sen­diri. Dan anak­nya sen­diri pun segoblok Ahyat. Karena itu dipu­kul­kan tong­kat­nya pada papan tulis keras-keras dan kemu­dian ia pergi ke jen­dela — meng­i­sap udara jernih, menya­bar­kan diri. Kapur yang sudah jadi tulisan di papan rontok ber­gu­gu­ran ke lantai. Dan tak ada satu pun mulut ber­su­ara. Semua murid keta­kutan. Semua mata meng­i­kuti pak guru yang kesal di jen­dela. Piki­ran mereka gugup dan mene­bak-nebak sejadi-jadi­nya, ke kiri dan ke kanan. Dan murid-murid perem­puan yang duduk di bangku depan gugup meme­gangi bangku tulis­nya.

Ahyat, anak lelaki beru­mur dua belas tahun yang duduk di baris paling bela­kang menun­duk. Dan bila ia meng­ang­kat pan­dang­nya, tak tahu­lah ia apa yang ia harus pan­dang. Ia anak ter­be­sar di kelas. Dan ia anak yang ter­goblok. Dan ia pun anak yang paling pena­kut.

Ruang kelas sunyi seka­rang. Dengung ruang kelas tiga dan lima menyerbu ke dalam kelas empat itu. Dan piki­ran yang bukan-bukan pun turut menyerbu ke dalam benak para murid. Dan tiba-tiba saja mereka ingat: pak guru jadi kalahan bini­nya di rumah­nya. Dunia memang penuh dengan pem­ba­lasan dendam. Di saat-saat seperti itu kadang-kadang para murid men­caci maki­nya dalam benak mereka. Memaki sesuka hati. Kadang-kadang para murid berdoa dalam kepa­la­nya: moga-moga besok pak guru mati. Moga-moga dia sakit keras dan tak bisa meng­a­jar. Apa yang mereka tahu: pak guru pema­rah. Tak peduli siapa: yang bodoh kena, yang pandai kena juga, yang buruk, yang cakap, yang bopeng, dan si tolol Ahyat pun kena dan ter­u­tama sekali, papan tulis juga, dan kerap meja­nya tak luput dari tong­kat­nya.

Anak-anak — tak ubah­nya dengan anak sebaya kelas empat lain­nya — ter­lalu suka pada kabar urusan pri­badi guru-guru­nya yang galak. Dan dengan jalan menyiar-nyi­ar­kan kabar pri­badi ini mereka mem­ba­las­kan dendam pada guru. Suatu kali sesu­dah pak guru marah-marah seo­rang menga­bar­kan: kema­rin pak guru utang di warungku. Dan pernah juga seo­rang mem­be­ri­ta­kan: tadi pagi pak guru diburu anjing tetang­ga­nya. Dia lari keta­kutan. Dan apa yang mereka keta­hui sung­guh-sung­guh: pak guru selalu mau jadi raja di kelas dan di rumah­nya sen­diri tak ubah­nya dia dengan ayam yang tak ber­bulu di depan istri­nya. Namun, mereka yakin, pak guru adalah sepan­dai-pandai orang di dunia ini.

Kini pak guru masih ber­diri di jen­dela. Anak-anak masih diam oleh keta­kut­an­nya masing-masing.

Kemu­dian datang per­u­ba­han.

Pak guru mem­ba­lik­kan badan dan meman­dang mela­lui kepala murid-mur­id­nya pada Ahyat. Ber­kata ia disa­bar-sabar­kan: “Barang­kali engkau tak ingat lagu kebang­sa­anmu lagi.”

Keta­kutan murid-murid meng­hin­dari pan­dang pak guru. Dan Ahyat tak men­ja­wab. Ia tetap menun­duk meman­dangi bang­ku­nya.

“He — tuli­kah engkau?” teriak pak guru.

Ahyat tak men­ja­wab juga. Ia makin keta­kutan.

“Hafal­kah, kau?”

Ahyat ter­ga­gap-gagap. Diang­kat­nya kepa­la­nya sedi­kit. Men­ja­wab pelan: “Hafal.”

“Coba ulangi sya­ir­nya.”

Gugup Ahyat meng­u­langi. Tapi karena bia­sa­nya ia menyan nyi­kan­nya dan kini tidak, ia tak bisa. Seben­tar-seben­tar ia ber­henti untuk meng­i­ngat-ingat. Dan sebe­lum ia habis meng­u­langi, pak guru memo­tong: “Lihat. Lihat! Syair lagu kebang­saan pun tak bisa. Dan sudah di kelas empat pula. Berapa tahun engkau di kelas tiga?”

“Dua.”

Pak guru ter­tawa meng­hi­na­kan, ber­seru pahit: “Mau engkau kem­bali ke kelas tiga lagi?”

Tak men­ja­wab. Murid-murid mulai meng­ang­kat kepa­la­nya dan meman­dang Ahyat yang diamuk kema­rahan pak guru. Kemu­dian: “O — meng­apa engkau masih segoblok itu?” Diam seben­tar. “Berapa tahun engkau di kelas dua?”

“Satu.”

“Di kelas satu?”

“Dua.”

“Otak udang! Seba­ik­nya engkau ting­gal saja di kan­dang babi. Itu baik untuk babi dan untukmu sen­diri. Berapa tahun engkau minta di kelas empat ini?”

Ahyat tak men­ja­wab.

“He — jangan menun­duk saja. Jawab, kataku!”

Keta­kutan Ahyat mem­ba­las pan­dang guru­nya. Cepat-cepat dan gugup ia menun­duk kem­bali. Tapi ia tak sang­gup men­ja­wab. Dalam kepa­la­nya ber­sim­pang-siur ber­ma­cam-macam ing­atan. Ia ingat pada ibunya, pada bapak­nya, pada anjing­nya, pada kebun­nya — manu­sia, benda dan bina­tang yang dika­sih­i­nya. Ia ingin mela­ri­kan diri. Ia ingin kem­bali dan ber­gaul dengan manu­sia, benda dan bina­tang yang dika­sih­i­nya itu. Tapi ia tak berani pergi. Ia ting­gal saja di tempat duduk­nya.

Dan pak guru ber­kata lagi dengan suara dilem­but­kan: “Seja­rah harus dike­nal betul oleh setiap murid, Ahyat. Tulis syair lagu kebang­saan itu dua puluh kali dan serah­kan besok padaku. Serah­kan besok sebe­lum arak-arakan. Kau dengar?”

“Ya, pak guru.”

“He … tang­gal berapa besok?”

“Tujuh belas Agus­tus seribu sem­bi­lan ratus empat puluh sem­bi­lan.”

“Ulang tahun ke berapa?”

“Empat.”

“Berapa umurmu?”

“Dua belas.”

Seka­rang keta­kutan murid-murid agak ber­ku­rang — jauh lebih ber­ku­rang dari­pada sebe­lum­nya. Seben­tar-seben­tar mereka men­curi pan­dang pada Ahyat dan pak guru. Mereka tak meng­erti meng­apa. Hanya merasa: pak guru sudah jadi raja. Sudah men­ja­tuh­kan hukuman pada yang ber­sa­lah. Dan tak ada alasan sama sekali pada mereka untuk takut lebih lama lagi.

“Itulah,” pak guru mene­rus­kan, “kalau engkau anak peng­khi­a­nat. He … jadi apa bapakmu waktu revo­lusi?”

Ahyat tak men­ja­wab. Keta­kutan murid-murid lain­nya hilang sama sekali seka­rang. Seba­lik­nya malah. Dan dengan kegem­bi­raan yang menum­buh mereka meli­hat Ahyat dengan pan­dang - turut meng­hina, dan pada pak guru dengan pan­dang turut ber­suka hati.

“Tuli­kah, kau?” pak guru ber­te­riak.

Ia tetap mem­bisu. Dan kem­bali kepa­la­nya penuh dengan benda-benda yang dika­sih­i­nya: ayah­nya, ibunya, kebun dan anjing­nya.

“Harus­kah tong­kat ini mem­buka mulutmu?”

Gugup Ahyat meman­dang guru­nya. Seben­tar saja. Kemu­dian pan­dang­nya pecah belah ter­ham­bar ke mana-mana.

“Jadi apa bapakmu waktu revo­lusi?” pak guru ber­te­riak dari bela­kang meja­nya.

Malu, takut dan sedih ia men­ja­wab — pelan sekali: “Mata-mata.”

Mata­nya merah ber­kaca-kaca. Tapi tak ada orang yang peduli pada mata­nya. Juga tak ada yang peduli pada badan­nya, pada kenang-kenangan yang ber­main dalam kepa­la­nya. Semua murid ter­tawa senang. Dan pak guru betul-betul merasa jadi guru seka­rang. Ia pun turut ter­tawa-ter­tawa besar.

“Anak-anak,” kata­nya kemu­dian. Ia diam seben­tar, meng­a­wasi Ahyat lama-lama. Akhir­nya mene­rus­kan bica­ra­nya seakan-akan Ahyat tak ter­ma­suk dalam ling­kungan mereka. “Kita semua hidup atas rahmat per­ju­angan pemuda-pemuda Indo­ne­sia dalam mela­wan pen­ja­jahan Belanda dan Jepang. Juga anak mata-mata diper­ke­nan­kan menge­cap jerih-payah para peju­ang itu.” Sua­ra­nya jadi ringan dan ditu­ju­kan spe­sial pada Ahyat. “Dan engkau juga, Ahyat!”

Anak-anak meri­uh­kan ter­ta­wanya. Pak guru lupa pada kema­rah­an­nya. Ia pun lupa pada kewa­ji­b­an­nya seba­gai guru.

“Coba…”, ia menun­juk pada Ahyat seperti menun­juk kam­bing yang mau dibe­li­nya di pasar hewan, “kalau revo­lusi tak dige­rak­kan, kalau para pemuda tak mere­la­kan daging dan darah­nya, barang­kali dia sudah jadi tukang cuci piring Belanda. Atau tukang meman­di­kan anjing­nya. Anak-anak, engkau tak meng­a­lami pen­ja­jahan Belanda dulu. Aku ada mera­sai sampai umurku yang dela­pan belas. Dan engkau tahu? Mereka lebih meng­har­gai anjing­nya dari­pada jongos atau babu­nya.”

Ia ter­tawa senang. Dan murid-murid pun ter­tawa senang. Seben­tar. Kemu­dian mereka menga­gumi bayangan otak­nya sen­diri: ten­tang Belanda yang ber­ku­lit putih, ten­tang anjing yang lebih ber­harga dari­pada manu­sia Indo­ne­sia. Mini — murid perem­puan yang duduk di bangku ter­de­pan — ter­tawa juga. Kemu­dian, dengan tiba-tiba saja ter­ta­wanya hilang. Diamat-ama­t­i­nya pak guru yang sedang ter­tawa kese­nangan itu. Kemu­dian ber­ta­nya kesung­guh-sung­guhan: “Pak guru, per­lu­kah itu dia­jar­kan juga?”

“Tentu.”

“Apa itu ter­ma­suk pel­a­jaran seja­rah juga?”

“Ya, ini ter­ma­suk pel­a­jaran seja­rah juga.”

Mini tak mene­rus­kan per­ta­nya­an­nya. Ia mene­ngok ke bela­kang men­cari muka Ahyat. Dan dili­hat­nya Ahyat sedang menun­duk. Ia hanya meli­hat ram­but­nya yang ter­si­sir rapi. Ber­ta­nya pula dengan suara keanak-anakan: “Bukan­kah itu menya­kiti hati orang, pak guru?”

“Tidak — sama sekali tidak. Ini adalah contoh dari seja­rah. Dan tiap-tiap seja­rah punya con­toh­nya.” Sua­ra­nya jadi menye­li­dik seka­rang. “Jadi apa bapakmu waktu revo­lusi meng­a­muk?”

“Aku tidak tahu.”

“Mata-mata juga?”

“Bapak mening­gal sebe­lum aku dila­hir­kan.”

Orang tak senang pada Mini. Ter­de­ngar usul dari bangku bela­kang — dua baris di depan Ahyat: “Terus­kan, pak guru.”

Pak guru meng­a­wasi Mini. Dan murid-murid mulai meng­o­b­rol semau-maunya. Kesu­nyian di kelas empat hilang. Ahyat masih tetap menun­duk. Dan muka­nya nampak kering dan kurus. Seben­tar-seben­tar hidung­nya ter­se­nik-senik seperti mena­han sedan: ia merasa diang­gap seba­gai peng­khi­a­nat revo­lusi seperti bapak­nya.

Pak guru memu­kul­kan tong­kat­nya pada meja. Keri­butan ber­henti.

“Dan seja­rah,” kata­nya, “harus dike­ta­hui betul oleh tiap war­ga­ne­gara. Kalau orang tak tahu seja­rah bang­sa­nya sen­diri — tanah airnya sen­diri — engkau gam­pang jadi orang asing di antara bang­samu sen­diri. Engkau gam­pang kesa­sar di tanah airmu sen­diri. Engkau besok harus hafal lagu kebang­saan dan ter­u­tama sekali sya­ir­nya. Harus! Tahu?”

“Ya, pak guru.”

“Sebe­lum turut arak-arakan ke alun-alun, besok kul­i­hat dulu.”

Kemu­dian bel meng­aso ber­de­ring. Gairah murid-murid menin­jau pela­taran dari jen­dela dan pintu.

“Ya — engkau semua boleh keluar seka­rang.”

Kini semua murid ber­diri tegak, seperti pra­ju­rit dalam apel pagi. Pak guru menu­tup buku­nya dan mema­suk­kan­nya ke dalam tas. Kemu­dian kelu­ar­lah ia dengan mem­bawa tas dan tong­kat­nya. Dan dengan gem­bira murid-murid ber­lom­pat-lom­patan pergi ke luar. Semua pergi ke luar. Pelahan-lahan Ahyat, yang ber­ja­lan dengan ter­ma­ngu-mangu, keluar pula dari kelas.

Anak-anak pun punya musim dalam per­ma­in­an­nya. Kini mereka sedang gila main maling-malingan. Gundu dan karet, dan perang-perangan, sudah mem­bo­san­kan mereka. Dan Ahyat duduk seo­rang diri di dekat kakus. Mata­nya masih juga ber­kaca-kaca. Dan tak dike­ta­hu­i­nya bu guru yang meng­a­jar nyanyi sudah ada saja di sam­ping­nya. Ia men­de­ngar suara: “Ahyat? Engkau tak turut main-main dengan mereka?”

Ahyat mene­nga­dah­kan muka­nya. Dipan­dang­nya muka bu guru yang ber­diri di sam­ping­nya. Menun­duk lagi. Kemu­dian men­ja­wab: “Tidak, ibu,” kata­nya.

“Meng­apa tidak? Aku lihat engkau turut main-main juga kema­rin. Bukan?”

“Tapi seka­rang tidak, bu.”

“Engkau dimu­suhi lagi, bukan?”

Ahyat tak men­ja­wab. Ia meli­hat langit, kemu­dian menun­duk dalam-dalam. Tenang di tempat dekat kakus itu. Dan tak jauh dari mereka teriak dan pekik keri­angan ter­de­ngar nyata.

“Anak-anak harus banyak ber­main-main. Engkau juga. Ahyat! Kalau tidak, nanti engkau sakit. Engkau tak boleh sakit. Engkau tak mau sakit, bukan?”

“Tidak, bu, aku tak suka sakit. Satu kali aku jatuh sakit, dan ibu dan bapak jadi ber­se­dih hati kare­na­nya.”

“Kerap aku lihat engkau dimu­suhi anak-anak. Dan di kelas — kata pak guru — engkau tak pernah ber­ta­nya apa-apa. Meng­apa, Ahyat?”

“Tak berani, bu.”

“Tak berani? Meng­apa tak berani?”

“Karena semua memu­suhi aku, bu.”

“Tapi aku tak memu­suhi, bukan?”

“Tidak, bu.”

“Apa ada di antara bapak-bapak guru yang memu­suhi juga.” Dan kem­bali Ahyat tak men­ja­wab.

“Takut engkau men­ja­wab?” Dan waktu Ahyat tak men­ja­wab juga bu guru meng­a­lih per­ta­nya­an­nya. “Barang­kali engkau tak suka ber­se­ko­lah.”

“Ibu, aku lebih suka ting­gal di rumah. Di sana tidak ada orang yang memu­suhi aku. Tapi di sini aku dimu­suhi saja, seka­li­pun aku tak ber­sa­lah. Cuma bapak dan ibu tak pernah memu­suhi aku. Di sini aku diang­gap yang paling bodoh. Ibu dan bapak tak pernah bilang aku bodoh. Dan cuma ibu dan bapak saja yang bilang padaku: “engkau bisa mema­in­kan piano dengan baik sekali dan suara nya­nyimu pun bagus juga.”

“Memang. Memang begitu, Ahyat.” Ia duduk men­de­kati dan ber­kata lagi. “Engkau pandai mema­in­kan piano dan menya­nyi.”

“Selain bapak dan ibu cuma bu guru yang ber­kata begitu. Terima kasih, bu. Aku di rumah punya kebun cabai dan tomat yang bagus. Aku pun punya anjing yang kura­wat baik-baik. Tapi mereka di sini bilang: “kalau tak ada revo­lusi engkau jadi tukang cuci piring Belanda atau jadi tukang meman­di­kan anjing­nya’.”

Bu guru mem­per­ha­ti­kan pen­cu­r­ahan pera­saan anak yang ter­pen­cil di ling­kung­an­nya sen­diri itu. Ia tak mene­ngahi. Dira­sa­kan­nya pen­cu­r­ahan itu sampai ke dasar hati­nya. Kemu­dian Ahyat mene­rus­kan: “Kalau aku bisa mening­gal­kan seko­lah ini dengan tiada menyu­sah­kan ibu dan bapak,” anak itu ber­kata seperti pada dir­i­nya sen­diri, “pas­ti­lah seko­lahan ini sudah kuting­gal­kan. Tapi kalau aku tak mau seko­lah, bapak dan ibu mesti ber­se­dih hati, dan bapak mesti meng­ha­dap ke depan peng­a­dilan. Aku lebih suka jadi orang bodoh dari­pada jadi musuh orang, bu. Aku lebih suka ber­gaul dengan piano dan anjingku dan tanam­a­nku di kebun dan dengan bapak dan ibu di rumah. Aku lebih suka ber­gaul dengan mereka dari­pada dengan kawan-kawan di sini.”

“Tidak, Ahyat. Itu tidak boleh. Engkau harus seko­lah terus. Engkau tidak boleh jadi penyen­diri. Itu tidak boleh. Dan kelak engkau jadi orang pandai, Ahyat, pemain musik yang pandai.”

Mata Ahyat ber­si­nar-sinar men­de­ngar per­ka­taan itu. Tapi tiba-tiba sinar itu lenyap dan kem­bali mata­nya jadi murung.

“Apakah guna­nya kepan­daian, bu? Bapakku dulu jadi mata-mata Belanda. Semua orang tahu belaka. Tapi dengan sengaja mereka ber­ta­nya padaku dan aku harus men­ja­wab­nya. Ya, bapakku memang ber­dosa pada bangsa dan tanah airnya. Tapi meng­apa aku diang­gap ber­dosa juga seperti sampai seka­rang. Barang­kali juga sampai tiga turunan.”

“Tidak, Ahyat, engkau tak boleh ber­kata seperti itu. Engkau pasti jadi orang pandai. Engkau bukan anak bodoh.”

“Dua tahun aku di kelas satu dan dua tahun lagi di kelas tiga. Di kelas empat ini mung­kin dua tahun lagi. Ibu, aku tak bisa meng­i­kuti pel­a­jaran. Piki­ranku selalu mela­yang pada anjing dan pia­noku. Dan pada ibu dan bapak. Dan pada tanam­a­nku yang bagus. Alang­kah senang­nya kalau kelak aku pandai mema­in­kan piano. Tapi mus­ta­hil. Mus­ta­hil!”

“Itu bukan barang mus­ta­hil, Ahyat. Engkau bisa jadi ahli musik besar nanti,” bu guru meng­hi­bur.

Ahyat meng­ge­leng­kan kepa­la­nya. Kemu­dian ber­su­ara: “Sia­pa­kah yang mau men­de­ng­ar­kan per­ma­inan piano anak peng­khi­a­nat, bu?” kata­nya murung.

“Aku pasti mau…”

“Ya, bu guru dan bapak dan ibu dan anjingku saja.” Diam seben­tar.

“Maukah engkau nanti jam lima datang ke rumahku, Ahyat?”

“Terima kasih, bu, tidak.”

“Meng­apa tak mau? Aku ada lagu baru cip­taan kakakku sen­diri yang dina­ma­inya Gunung Kembar. Aku kira jadi popu­ler lagu itu nanti. Engkau harus mem­pel­a­jar­i­nya sen­diri di rumah, Ahyat.”

“Aku tak bisa datang, bu.”

“Meng­apa engkau masih murung juga? Engkau harus ber­gem­bira, Ahyat. Ber­sen­diri-sen­diri itu mem­buat orang jadi ber­pi­kir yang bukan-bukan.”

Kini kedu­a­nya diam meman­dangi anak-anak yang sedang ber­ke­jar-keja­ran dan gadis-gadis yang main lompat tali.

“Tidak­kah engkau ingin ber­main seperti mereka?”

Ahyat menge­luh.

“Tentu saja,” kata­nya. “Tapi lebih baik tidak.”

“Coba­lah ber­main-main seben­tar.”

“Hanya seben­tar saja mereka lupa, bahwa aku anak peng­khi­a­nat. Kalau mereka ingat lagi pasti seba­gai bia­sa­nya, ditu­ding­nya hidungku dan mereka ber­te­riak,’sih, anak haram, kau’. Dan aku diso­raki seperti lawak di atas pang­gung. Kemu­dian semua men­ce­mooh aku. Tidak, bu — aku tak mau diper­la­ku­kan seperti itu.”

“Engkau harus mema­af­kan mereka itu, Ahyat.”

“Aku? Tentu saja aku mema­af­kan mereka, ibu.”

“Itu baik sekali. Tapi, Ahyat, aku takut engkau nanti jadi sakit karena tak mau ber­main-main.”

“Boleh­kah aku pergi seka­rang, bu?”

“Tak suka­kah engkau kuka­wani?”

“Terima kasih, bu, aku ingin sen­di­r­ian.”

Ia ber­diri, meng­ang­guk pada bu guru. Kemu­dian dengan tangan ter­si­lang di bela­kang ia ber­ja­lan menun­duk ke pagar jalan raya meli­hat lalu lintas.

Bu guru meng­i­kuti dengan pan­dang­an­nya. Tak ada ter­gam­bar apa-apa pada paras­nya dan mata­nya, seperti orang sedang kosong otak karena ter­ke­jut. Kemu­dian ber­diri dan ber­bi­sik lemah: “Kasihan,” itu saja.

Ia pun pergi pula dari situ. Dan murid-murid lain­nya terus dengan keri­ang­an­nya. Akhir­nya bel masuk ber­de­ring. Keri­but­an­be­ru­bah jadi seruan tak keruan. Kemu­dian keri­aan waktu meng­aso lenyap. Seo­rang demi seo­rang masuk kem­bali ke ruang kelas­nya dengan muka merah, keri­ng­atan dan kege­rahan.

Di WAKTU-WAKTU berang­kat atau pulang seko­lah, kedu­a­nya — Ahyat dan Mini — ber­ja­lan ber­sama-sama. Kini kedu­a­nya pun demi­kian. Mereka mela­lui jarak yang tak jauh. Di sepan­jang jalan nampak gedung-gedung baru dan bakal pabrik minyak yang sedang diba­ngun.

“Ahyat,” Mini ber­kata, “barang­kali dengan sengaja mereka mau meng­ganggu engkau.”

“Aku ber­pen­da­pat begitu juga, Mini. Tapi biar­lah. Aku sudah ter­bi­asa. Biar­lah mereka men­da­pat kese­nangan dengan itu.”

“Tapi tak enak rasa hatiku men­de­ngar hal yang seperti itu, Ahyat. Meng­apa orang tuanmu tak kau­pinta supaya meng­a­ju­kan peng­a­duan pada dir­ek­tur?”

“Biar­lah, Mini, aku tak suka kalau mereka men­da­pat kesu­sahan karena itu. Dan aku sen­diri pun tahu, aku tak punya hak apa-apa di tanah air ini sebe­tul­nya. Bukan­kah semua orang tahu juga bapak dulu peng­khi­a­nat?”

“Ya, aku tahu juga, Ahyat. Aku sen­diri tak meng­erti ten­tang semu­a­nya itu, tapi per­la­kuan ter­ha­dap dirimu tak enak terasa oleh hatiku. Maukah engkau besok sebe­lum arak-arakan meng­ha­dap dir­ek­tur ber­sa­maku?”

“Biar­lah. Biar­lah. Biar­lah mereka men­da­pat kese­nangan dari meng­ganggu itu, Mini. Barang­kali lama-kela­maan mereka akan - lupa dan tak meng­ganggu aku lagi. Barang­kali itulah yang lebih baik, Mini.”

Kedu­a­nya ber­diam diri dan terus ber­ja­lan di terik mata­hari. Murid-murid lain­nya telah ber­pen­caran dalam gerom­bolan-gerom­bolan. Di sepan­jang jalan ditum­puk orang besi, batu, tong-tong aspal, kayu bakar. Tanah yang mengan­dung minyak dan selama itu tak pernah diolah, kini mulai dibor. Bebe­rapa penge­boran telah ber­diri. Teng-teng minyak yang besar telah ter­se­bar di selu­ruh daerah. Mobil dan ken­da­raan lain ber­sim­pang siur. Mereka terus juga ber­ja­lan. Di ang­kasa, pesa­wat ter­bang men­deru-deru.

“Alang­kah baik­nya kalau kita semua bisa hidup rukun dan damai dan tak ganggu-meng­ganggu,” Mini ber­kata pelahan seo­rang diri. “Kita tak perlu memaki-maki satu-sama-lain. Dan kita semua jadi sau­dara.”

“Ya, alang­kah baik­nya,” Ahyat ber­kata dengan suara tawar.

Sege­rom­bolan unggas ter­bang dan hilang di balik-balik rumpun bambu kala kedua anak itu lalu. Dan Mini ber­kata pula:

“Kadang-kadang bina­tang itu hidup lebih senang dari­pada kita, bukan, Ahyat? Lihat­lah, gerom­bolan unggas itu hidup rukun dan mereka tak perlu ber­ke­lahi dan caci-men­caci seperti kita.”

“Ya,” Ahyat mengi­a­kan.

“Engkau tak benci padaku, bukan, Ahyat?”

“Meng­apa aku benci padamu, Mini?”

“Karena aku tak bisa meno­long engkau di waktu mereka meng­gang­gumu.”

“Meng­apa aku akan benci, Mini? Aku takkan benci padamu. Juga aku tak benci pada mereka yang meng­ganggu aku. Barang­kali juga sudah hak mereka meng­gang­guku, karena bapak mereka telah ber­ju­ang betul-betul untuk tanah air kita.”

Mereka ber­ja­lan terus tanpa ber­kata-kata. Kedua-duanya ber­ha­dap-hadapan. Dan Mini meng­u­lang, “engkau tak benci padaku, bukan?”

Ahyat meng­ge­leng.

“Dan juga tidak pada mereka, bukan?”

“Tentu saja aku tidak benci pada mereka, Mini.”

“Besok berang­kat ber­sama-sama, lagi, ya? Aku tunggu engkau di sini.”

Ahyat meng­ang­guk.

“Kapan engkau datang ke rumah kami, Ahyat? Ayah tanya, kapan engkau datang. Ibu juga. Dan aku pun ingin engkau datang ke sana.”

“Besok habis arak-arakan, Mini. Kata­kan pada bapak dan ibumu.”

“Betul ya, Ahyat, ya?” Dan mereka ber­ce­rai mela­lui jalan­nya masing-masing.

Di meja makan bapak mem­per­ha­ti­kan air muka anak­nya. Kemu­dian pelan ber­ta­nya: “Yat, baik-baik engkau di seko­lah tadi?”

Ahyat mene­lan nasi­nya cepat-cepat. Dipan­dang­nya bapak­nya. Men­ja­wab: “Aku tak tahan. Aku tak tahan,” kata­nya menye­ru­pai teriak yang ter­ta­han-tahan.

“Diganggu lagi?” tanya bapak murung.

Ahyat tak mene­rus­kan makan­nya. Dan ibu begitu juga. Dan bapak pula. Keti­ga­nya ber­diam-diam saja seka­rang. Akhir­nya bapak ber­kata lagi: “Ya, Ahyat, piki­ran manu­sia ter­lam­pau lembek untuk meraba tiap hal yang mung­kin ter­jadi dan yang mung­kin menimpa diri sese­o­rang. Karena itu engkau pasti meng­erti, aku telah salah pilih di masa dulu waktu revo­lusi sedang meng­a­muk. Dan kini bukan saja kami — orang tuamu — juga engkau sen­diri kena akibat salah pilihku itu.”

“Meng­apa bapak memi­lih jadi mata-mata, dulu?” Ahyat ber­ta­nya dengan suara kosong.

“Ya, meng­apa?” susul ibu.

Bapak ter­se­nyum getir. Ia batuk-batuk buatan. Kulit muka­nya mengen­dur. Kemu­dian men­ja­wab ter­bata-bata: “Oh, Oh. Itu hanya per­ka­taan saja. Mata-mata hanya per­ka­taan saja. Sudah lama juga aku tahu. Itu hanya per­ka­taan saja.”

“Bapak tak menye­sal?” Ahyat menye­sali.

“Aku ter­lam­pau menye­sal, anakku. Itu memang betul. Sudah terang­lah itu. Tapi bahwa aku jahat itu hanya fitnah saja. Itu hanya per­ka­taan saja.”

Ahyat ber­diri. Dia minum airnya. Diting­gal­kan makan­an­nya. Dan per­gi­lah ia ke ruang sebe­lah kamar makan. Kemu­dian dari ruang sebe­lah itu ber­de­ngung piano mema­in­kan Bar­carole1. Bapak tak mene­rus­kan bica­ra­nya. Ia menun­duk meli­hat nasi­nya yang belum habis. Dan ibu mem­per­ha­ti­kan bapak. Bunyi piano terus jua meng­a­lun mengu­a­sai selu­ruh sua­sana rumah. Akhir­nya mati­lah piano itu. Bapak menge­luh berat.

“Ahyat bukan anak bodoh,” kata­nya. “Dia pun bukan pena­kut. Aku tahu. Deng­ar­kan­lah betapa mantap bunyi piano itu. Dan keman­ta­pan suara itu takkan mung­kin ter­jadi seki­ra­nya dia tak punya kebe­ra­nian. Deng­ar­kan­lah. Dia pun punya pera­saan halus — dan itu sudah cukup untuk jadi seo­rang seni­man ke

Ibu masih tetap mem­per­ha­ti­kan bapak. Ia tak menyu­sul­kan sua­ra­nya. Dan bapak masih juga meman­dangi nasi­nya yang belum habis. Akhir­nya ter­de­ngar andante Gounod: Ave Maria2. Bapak ter­diam. Ibu ter­diam. Kemu­dian: “Aku kira, suatu kali ia akan timbul seba­gai orang luar biasa.”

Ibu mena­jam­kan pan­dang pada bapak. Ber­kata pahit: Engkau menipu piki­ranmu sen­diri.”

Dan bapak diam lagi seka­rang.

“Aku seret engkau waktu Belanda masih jaya,” sam­bung ibu menye­sali. “Tapi aku — seba­gai juga dengan engkau dulu — tidak­lah ber­pi­kir, keja­yaan Belanda hanya sinar seka­rat belaka. Dan kalah­lah Belanda. Dia rubuh. Dan kita? Kita turut rubuh juga ber­sama dia. Dan kita lari ke gunung ..

“Ya, kita lari ke gunung,” bapak menye­sali.

“Aku heran, siapa yang meng­ge­rak­kan hatimu lari ke gunung itu.”

“Keta­kutan mem­buat orang ber­tin­dak yang aneh-aneh. Tapi mata-mata hanya per­ka­taan saja, kasihku. Hanya nama belaka. Ada beribu-ribu orang yang lebih jahat lagi dari­pada itu.” Ia batuk-batuk. “Ah, meng­apa kita bong­kar-bong­kar lagi yang dulu-dulu? Bukan­kah aku seka­rang bekerja sung­guh-sung­guh untuk kepen­tingan ber­sama? Bukan­kah itu sudah cukup?”

Ibu tak mem­per­ha­ti­kan suara bapak. Ia mene­rus­kan penye­sal­an­nya: “Kita lari ke gunung. Tapi engkau salah terka lagi. Engkau mengira Wes­ter­ling3 akan menang dengan Apra-nya. Tapi Wes­ter­ling rubuh juga seperti Belanda. Dan kita tak mem­pu­nyai daerah baru mela­ri­kan diri. Dan kita menye­rah­kan diri pada takdir. Kita turun ke kota. Dan orang kota tak ber­buat sesu­atu keke­jaman ter­ha­dap kita. Mereka tidak mere­jam engkau, seperti engkau mere­jam anak-anak per­ju­angan dulu. Dan lagi…”

“Sudah­lah. Seka­rang aku bekerja sung­guh-sung­guh. Bukan­kah itu sudah cukup, kasihku?”

“Cukup? — Coba, hukuman ini belum habis-habis juga. Lihat! Lihat! Kita tak bisa bera­mah-tamah dengan para tetangga seba­gai­mana harus­nya. Kita tak bisa ber­ga­ulan seba­gai orang-orang lain. Di dalam hati kita selalu merasa ber­sa­lah. Kita selalu merasa tak ber­harga diban­ding­kan dengan mereka yang dulu ber­ju­ang untuk tanah airnya. Dan bila kita ber­tan­dang ke rumah kawan, kita merasa, mereka ber­si­kap baik hanya di lahir­nya saja. Di dalam hati mereka men­caci dan meng­hi­na­kan kita. Cukup­kah itu? Cukup­kah itu untuk seo­rang manu­sia yang ingin hidup dengan baik di antara manu­sia-manu­sia lain­nya? Kita ber­tiga seba­gai tikus mati ter­ku­rung dalam perang­kap. Coba — cukup­kah itu untuk seo­rang manu­sia yang meng­hen­daki yang lebih baik dari semua itu?”

“Apa hendak dikata…”

“Apa hendak dikata? Ini belum lagi. Lihat! Ahyat, baru anak kema­rin, harus juga mene­rima akibat per­bu­at­anmu.”

“Apa hendak di kata…”

“Apa hendak dikata? Gam­pang saja engkau ber­kata apa hendak dikata. Ahyat itu — barang­kali ia tak punya kawan ber­main di seko­lah.”

Diam seben­tar. Dari ruang sebe­lah Ave Maria masih juga ber­de­ngung dengan diba­rengi suara Ahyat.

“Senang betul ia pada lagu itu,” ibu ber­kata lagi.

Baru bapak meng­ang­kat kepa­la­nya. Meman­dang ibu. Ber­kata: “Dica­ri­nya hiburan dalam lagu itu.”

“Kasihan.”

“Ya, kasihan.”

“Kita belikan dia biola. Sudah lama dia minta biola. Apa pikirmu?”

Bapak ter­ke­jut.

“Biola?” kata­nya. “Jangan. Aku takut men­de­ngar jeritan biola. Apa­lagi kalau mema­in­kan­nya di waktu sunyi di malam hari. Jangan.”

Ibu ter­se­nyum pahit. Bibir­nya ter­ta­rik kaku. Ber­kata: “Aku tahu — engkau keta­kutan pada per­bu­at­anmu sen­diri. Biola itu mem­buat engkau ingat pada pemuda beram­but pan­jang di Puncak yang kaut­ang­kap malam hari waktu mema­in­kan biola. Dan akhir­nya pemuda itu ditem­bak di ping­gir jalan. Ditem­bak oleh engkau sen­diri! Dan bang­kai­nya kau­lem­par­kan ke hutan. Dan engkau menyak­si­kan per­bu­atan itu. Engkau sen­diri menge­r­ja­kan itu. Dan engkau yang jadi saksi per­bu­at­anmu sen­diri ter­nu­duh-nuduh selalu bila engkau men­de­ngar biola. Bukan? Bukan?”

“Jangan belikan biola dia. Jangan.”

Ibu meng­a­lih per­ca­kapan: “Apa jadi­nya anak kita nanti?” kata­nya lembut.

“Dia anak pandai. Deng­ar­kan per­ma­in­an­nya. Lagu klasik semua. Dan lagu-lagu sete­ngah klasik — lagu seri­osa. Aku merasa dia sudah dewasa dalam dada­nya yang masih kanak-kanak itu.”

Dengan Ave Maria lepas hilang. Dan Ahyat muncul di pintu. Air muka­nya nampak jernih dan mata­nya ber­si­nar kesung­guh-sung­guhan.

“Ahyat, engkau ber­se­dih hati aku lihat,” bapak ber­kata. “Ada juga aku rasai kese­dih­anmu itu bila engkau mema­in­kan Ave Maria.”

“Bapak — besok hari raya kebang­saan.”

Dan bapak batuk-batuk. Tapi ia tak ber­kata apa-apa.

“Besok — kui­ngin mema­in­kan lagu-lagu nasi­o­nal. Tapi aku takut — aku takut dihi­na­kan mereka.” Bapak masih juga diam dan ibu tak berani meman­dang­nya.

“Mereka nanti pasti akan bilang, “anak peng­khi­a­nat mema­in­kan lagu nasi­o­nal!’ Alang­kah ing­inku mema­in­kan lagu-lagu it itu. Ingin sekali. Tapi aku tak berani. Aku takut.”

Baru ibu meman­dang­nya. Ber­kata: “Kalau begitu, lebih baik tidak saja, Ahyat.”

“Tapi aku ingin sekali. Ingin sekali.”

Ia pergi lagi.

Ibu dan bapak ber­pan­dang-pan­dangan. Piano di ruang sebe­lah ber­bu­nyi lagi. Kali ini Ahyat mema­in­kan lagu Kepada Arwah Pah­la­wan Kemer­de­kaan. Dan bapak dan ibu menun­duk men­de­ng­ar­kan. Tiba-tiba saja sua­sana jadi berat — lagu itu menyiksa suami-istri itu. Kedua makh­luk itu tak ber­pan­dang-pan­dangan lagi. Mereka merasa ter­pen­cil, sunyi merana batin dan sen­di­r­ian di dunia ini. Sinar surya tak sela­ma­nya kuasa mene­rangi batin manu­sia. Demi­kian pula halnya seka­rang. Dan lagu itu terus jua menye­tan dalam jiwa kedu­a­nya. Juga dalam jiwa yang sedang mema­in­kan­nya. Kemu­dian lagu itu mati. Kedua orang tua itu menge­luh ber­ba­reng. Akhir­nya ber­pan­dang-pan­dangan tak seo­rang pun ber­kata-kata.

Akhir­nya ibu ber­diri dan meng­in­tip ke ruang sebe­lah. Dan bapak mem­per­ha­ti­kan ibu dari kur­si­nya. Dan di waktu ibu mene­ngok pada bapak, muka­nya nampak sedih dan kepala itu dige­leng-geleng­kan lemah. Kemu­dian pelahan-lahan ber­ja­lan menuju ke kur­si­nya dan duduk lagi.

“Kasihan si Ahyat itu,” kata­nya.

“Ya.”

“Piano itu dipe­luk­nya,” ibu mene­rang­kan.

Bapak kaget. Dan tahu­lah ia: anak­nya merin­du­kan sesu­atu yang ia sen­diri tidak tahu. Dan tak ada manu­sia yang bisa memu­as­kan kerin­du­an­nya itu. Pelahan ia ber­kata: “Kita pin­dah­kan saja ia ke kota yang sejuk.”

“Engkau gila. Engkau akan lebih-lebih lagi menyiksa dia.”

“O …?”

Bapak tak bicara lagi. Ibu juga tidak. Pelahan-lahan kedu­a­nya ber­diri dan pergi ke ruang sebe­lah mela­lui pintu yang tadi dila­lui oleh Ahyat. Kini hanya lalat yang ber­main-main di meja makan dengan riang dan sigap­nya.

Ahyat bangun oleh bunyi lang­kah kaki di ambang pintu. Di kala dili­hat­nya ibu dan bapak­nya, ia bangun dari tempat duduk­nya. Ber­kata: “Bapak tidak berang­kat kerja?”

Bapak ter­se­nyum oleh per­ta­nyaan itu. Men­ja­wab ber­ma­nis-manis: “Tiga jam lagi.”

“Ahyat!” Ibunya ber­ta­nya: “Meng­apa engkau begitu sedih nam­pak­nya? Engkau sakit barang­kali?”

“Tidak, ibu, aku baru meng­ha­fal­kan not-not lagu dalam kepa­laku. Meng­apa ibu menyangka aku sakit?”

“Aku lihat engkau begitu lemas.”

“Aku sehat. Sung­guh-sung­guh sehat. Bu, aku belum lagi dengar si Minggu.”

“Sedang tidur di kan­dang­nya. Dia sudah diberi makan tadi. Aku sen­diri yang mem­be­ri­nya makan.”

Bapak dan ibu duduk di dipan. Ahyat duduk di bangku piano dan ia meng­ha­dapi mereka itu. Kemu­dian bapak ber­ta­nya sayang: “Engkau ingin punya apa. Ahyat?”

Air muka Ahyat ber­seri-seri. Men­ja­wab senang: “Sudah lama aku ingin punya biola, bapak.”

“Biola!” bapak hampir meme­kik. “Aku tak bisa mem­be­li­kan biola untukmu. Sayang. Sung­guh sayang.” Ia ter­diam.

“Sayang. Justru itulah yang kui­ng­in­kan.”

“Har­mo­nika, barang­kali?” ibu menyu­sul­kan sua­ra­nya.

Ahyat meng­ge­leng. Ber­kata pelahan: “Aku tak begitu suka pada bunyi har­mo­nika. Kurang dalam dan kurang tinggi bunyi­nya. Har­mo­nika ter­lam­pau datar. Hanya biola aku i ingin mema­in­kan­nya. Meng­apa tak bisa, bapak?”

“Aku ngeri men­de­ngar jeritan biola,” bapak ber­kata.

“Justru jerit­an­nya itulah yang kusukai, bapak.”

Dan bapak ber­diri. Pelahan-lahan ia men­de­kati Ahyat. Dite­puk-tepuk bahu Ahyat. Tapi ia tak ber­kata-kata apa-apa.

“Suling, barang­kali?” ibu ber­ta­nya.

Ahyat meng­ge­leng. l.

“Hanya biola yang aku hen­daki,” Ahyat ber­kata. “Meng­apa biola tak dapat? Bukan­kah ada juga biola yang murah?”

“Aku takut men­de­ng­ar­kan teriak biola. Sudah kuka­ta­kan juga tadi, Ahyat.”

Ahyat diam dan ber­pi­kir. Kemu­dian ber­kata lagi: “Kalau begitu tak usah bapak belikan. Piano ini sudah cukup untukku.” Ia diam. Di pung­gung­i­nya kedua orang tuanya. Ia meng­ha­dapi piano seka­rang. Dan jari-jari­nya mulai menari-nari di atas tuts-tuts. Kemu­dian mem­bu­bung­kan iringan ber­sama den­dang pelahan dari mulut Ahyat menya­nyi­kan Ave Maria, lambat-lambat dan pelan, kemu­dian meng­gair­ah­kan seperti sedang ber­te­riak dan memang­gil-mang­gil dan men­ca­pai-capai sesu­atu yang takkan ter­ca­pai oleh suara manu­sia.

Bapak meng­a­wasi kuduk Ahyat. Ibu meng­a­wasi bapak. Kemu­dian, di antara lagu yang sedang mem­bu­bung, ibu ber­bi­sik: “Betul-betul engkau tak kuasa mem­be­li­kan biola?”

“- Bapak tak men­ja­wab. Dengan gerak lesu ia kem­bali ke dipan, duduk, diam ter­me­nung-menung men­de­ngar lagu yang sedang dima­in­kan. Pada muka­nya nampak suatu per­gu­latan dalam ing­at­an­nya. Raut muka­nya ter­ta­rik-tarik kaku. Dan di antara lagu yang sedang mem­bu­bung itu ia mena­rik nafas keluh dalam-dalam. Ibu mem­per­ha­ti­kan bapak. Kemu­dian mem­per­ha­ti­kan Ahyat. Ia pun mena­rik keluh nafas. Dan Ave Maria telah men­ca­pai puncak teri­ak­an­nya. Kemu­dian mengen­dur, ter­e­ngah-engah seperti nafas orang kepa­yahan habis lari. Akhir­nya lagu itu ..jadi menye­rah meng­hiba-hiba. Kemu­dian lagi mati­lah bunyi piano dan nya­nyian pelahan itu.

“Ahyat!” suara bapak.

Ahyat mene­ngok. Muka­nya ber­seri-seri meng­ha­rap­kan pujian.

“Engkau sudah cukup pandai mema­in­kan lagu gereja itu. Aku tak sang­gup men­de­ng­ar­kan­nya. Sung­guh — keca­kap­anmu sudah cukup. Aku tak tahan men­de­ng­ar­kan­nya. Apa pula kalau biola yang engkau main­kan dengan iringan piano besar. Aku takkan sang­gup men­de­ng­ar­kan. Pemuda itu sedang mema­in­kan lagu itu juga waktu…” Bapak kaget. Ia tak mene­rus­kan bica­ra­nya.

“Meng­apa pemuda itu, bapak?” Ahyat ber­ta­nya ingin.

“Tidak. Tidak apa-apa. Ahyat. Main­lah terus. Main­kan aku lagu yang riang. Mau engkau, bukan?”

“Siapa pemuda itu?” Ahyat men­de­sak.

Ibu mem­per­ha­ti­kan bapak. Dan bapak menye­nyum-nye­nyum­kan bibir­nya minta keper­ca­yaan.

“Siapa pemuda itu?” Ahyat men­de­sak.

“Apa aku tadi bicara ten­tang pemuda?”

“Ya, bapak bilang, pemuda itu sedang mema­in­kan lagu itu juga.”

“Ya-ya, memang pemuda itu mema­in­kan Ave Maria juga waktu aku datang pada­nya. Dialah yang tadi­nya memi­l­iki piano itu. Tadi­nya dia keku­rangan uang dan mena­war­kan pia­no­nya padaku. Dan waktu piano itu sudah kuba­yar, ia mena­ngis. Dirang­kul­nya papan tuts. Kemu­dian bilang, “Biar­lah aku mema­in­kan Ave Maria dulu sebe­lum ber­pi­sah dengan keka­sihku ini.” Begi­tu­lah kata­nya. Dan seha­bis dima­in­kan­nya, aku ber­ta­nya meng­apa berat betul hati­nya ber­pi­sah dengan benda yang tak ber­nyawa itu.” Bapak diam, tak menyam­bung ceri­ta­nya.

“Alang­kah cin­ta­nya dia pada piano,” seru Ahyat kagum.

“Ya, Ahyat. Ia ber­ce­rita, bahwa sebe­lum kedau­latan dise­rah­kan oleh Belanda pada bangsa Indo­ne­sia, ia ber­tu­nangan dengan seo­rang gadis Belanda. Waktu kedau­latan dise­rah­kan famili gadis itu pulang kem­bali ke Nede­r­land. Dan gadis itu harus turut pergi. Dan seba­gai kenang-kenangan piano itulah yang diting­gal­kan gadis itu pada pemuda itu. Kisman nama pemuda itu. Di bawah piano itu ada ter­tu­lis nama­nya juga. Dan waktu ia habis ber­ce­rita ia minta mema­in­kan lagu itu pula untuk peng­ha­bisan kali­nya. Aku per­ke­nan­kan per­min­ta­an­nya. Aku ter­haru juga oleh bagus­nya per­ma­in­an­nya. Dan waktu lagu itu sele­sai, ia meman­dang aku seperti minta kasihan. Juga waktu piano itu diang­kat ke atas gero­bak sudah jauh dari tem­pat­nya, aku lihat ia ber­diri di tengah jalan meman­dangi pia­no­nya, sampai aku tak meli­hat badan­nya lagi.”

“Kasihan pemuda itu, bapak,” kata Ahyat pelahan sambil menun­duk­kan kepala.

Ibu meman­dang bapak dengan pan­dang tak mem­per­ca­yai. Tapi bapak tak meng­erti akan pan­dang itu. Ber­kata ia pada anak­nya: “Karena itu engkau wajib meme­li­hara piano itu baik-baik.”

“Tentu, bapak.” Ia diam seben­tar meng­a­wasi paras bapak. Ber­ta­nya hati-hati. “Tapi bapak takut pada teri­akan biola?”

“Karena itu menge­nang­kan aku pada masa buruk yang lalu, Ahyat.”

“Hebat­kah masa buruk itu, bapak?”

“Ya — engkau tak perlu menge­ta­hui, masa buruk apa yang kua­lami waktu itu. Itulah sebab­nya aku takut men­de­ngar teri­akan biola.”

“Sedih­kah hati bapak bila men­de­ngar teri­akan biola?”

“Sedih, Ahyat. Dan takut juga. Dan kha­wa­tir juga. Dan gugup juga.”

“Kalau begitu tak perlu benar aku punya biola.”

Nampak bapak ter­se­nyum men­de­ngar ucapan anak­nya. Dide­kat­i­nya Ahyat. Dici­um­nya pada ram­but­nya, ber­kata kasih, “engkau anak bakti. Engkau meng­erti penang­gung­anku, Ahyat. Aku tak bisa ting­gal di rumah di mana selalu dima­in­kan biola.”

“Aku takkan mem­bu­nyi­kan biola di rumah ini, bapak.”

Kemu­dian bapak pergi. Dan ibu ber­kata lembut: “Engkau tak makan lagi, Ahyat?”

Bunyi piano men­de­ngung-dengung di udara siang yang menye­sak­kan nafas oleh panas­nya. Ibu mere­nungi anak­nya. Mere­nungi saja. Dan kedua makh­luk itu tak tahu apa yang sedang dipi­kir­kan­nya sen­diri.

Gong-gong anjing mem­ba­ngun­kan Ahyat dari tidur­nya. Kemu­dian di depan ran­jang ter­de­ngar suara yang manis: “Bangun, Ahyat. Gurumu dan Mini datang kemari.”

Ahyat melom­pat bangun. Dari luar ter­de­ngar oleh­nya suara ter­tawa bu guru dan Mini. Segera ia pergi ke kamar mandi, ber­dan­dan, mene­mui.

Kemu­dian: “Kami datang, Ahyat! Kami i ingin main musik dengan engkau,” kata bu guru.

“Engkau suka, bukan, Ahyat?” tanya Mini. “Bu guru mem­bawa biola.”

“Biola?” seru Ahyat kaget.

“Meng­apa engkau kaget men­de­ngar biola, Ahyat?”

Ibu yang turut juga mene­mui meman­dangi anak­nya dengan pan­dang hati-hati. Tapi ia tak ber­kata apa-apa. Bu guru menyam­bung: “Aku tahu, engkau ter­lam­pau girang kare­na­nya. Bukan­kah…” ia meman­dang ibu, mene­rus­kan. “Sudah lama — anak nyonya ingin mem­pu­nyai biola.”

“Ya, nona guru, Ahyat memang ingin punya biola,” kata ibu dengan suara gem­bira tapi penuh kekha­wa­tiran.

“Boleh­kah kami main, nyonya?”

“Sila­kan. Sila­kan.” Ia meman­dang Ahyat. “Bawa bu guru ke ruang sebe­lah, Ahyat.”

Mereka ber­tiga masuk ke ruang sebe­lah.

“Kita main­kan Kepada Arwah Pah­la­wan Kemer­de­kaan, Ahyat. Engkau yang mema­in­kan piano. Aku biola. Mini yang menya­nyi.”

“Bu guru, biar­lah aku saja yang main di piano. Biola itu tak perlu dibu­nyi­kan, dan kita ber­tiga menya­nyi ber­sama.”

Lagu Kepada Arwah Pah­la­wan Kemer­de­kaan segera ber­de­ngung untuk segera mati kem­bali. Lagu yang lain menyu­sul. Mati pula. Ber­ganti-ganti lagu dima­in­kan. Akhir­nya sampai juga mereka pada lagu-lagu seko­lahan.

“Lebih baik kita barengi dengan biola,” bu guru meng­u­sul­kan.

“Ya, lebih baik dengan biola, Ahyat,” Mini menyam­bungi.

Ahyat diam mere­nung-renung.

“Biola,” bisik­nya. “Per­lu­kah biola itu dibu­nyi­kan juga?”

“Tentu saja, Ahyat, dan Mini sen­diri yang menya­nyi­kan­nya. Aku yang mema­in­kan biola dan kau di piano.” Dan bu guru meli­hat suatu per­u­ba­han pada air muka Ahyat. “Meng­apa engkau ter­diam? Tak suka­kah engkau men­de­ng­ar­kan biola? Bukan­kah lebih baik dengan biola, Mini?”

“Tentu saja,” Mini ber­seru riang. Tapi di kala dili­hat­nya Ahyat tak menyam­but keri­ang­an­nya, ia men­de­kati saha­bat­nya. Ber­ta­nya: “Sakit­kah engkau, Ahyat?”

“Aku tak suka men­de­ng­ar­kan biola.”

“Apa?” bu guru ber­seru. “Bukan­kah engkau selalu ingin mem­pu­nyai biola? Engkau bilang juga dulu, engkau ingin mema­in­kan biola. Dan seka­rang engkau tak suka. Barang­kali engkau patah hati padaku, Ahyat?”

“Tidak! Tidak!”

“Barang­kali patah hati padaku, Ahyat?” Mini menyu­sul­kan sua­ra­nya.

“Tidak, Mini. Tidak, bu.” Dilem­par­kan pan­dang­nya mela­lui jen­dela.

Keri­angan dalam kamar itu lenyap. Sua­sana men­jadi lesu. “Meng­apa engkau tak suka pada biola, Ahyat?” bu guru ber­ta­nya.

“Aku — aku tak sang­gup men­de­ng­ar­kan jeritan biola.”

“Barang­kali engkau sakit,” bu guru.

“Ya, barang­kali engkau sakit, Ahyat,” Mini dengan suara kasih­nya.

“Kalau aku men­de­ngar jeritan biola, dan biola itu mema­in­kan lagu Ave Maria juga dalam iringan piano, aku ingat pada suatu kese­dihan yang tak dapat kute­rang­kan.”

“Engkau ingat pada kawan-kawan yang memu­suhi engkau, Ahyat?” bu guru ber­ta­nya dengan suara kasihan.

“Ya, lagu yang dima­in­kan oleh biola, lagu Ave Maria itu, selalu meng­i­ng­at­kan daku pada kawan-kawan yang sudah memu­suhi daku. Maaf, bu, aku tak bisa men­de­ng­ar­kan jeritan biola. Barang­kali di kemu­dian hari bisa men­de­ng­ar­nya lagi dan mema­in­kan­nya sen­diri pula.”

Bu guru mena­rik nafas keluh. Kemu­dian: “Ahyat, tadi­nya biola ini akan kube­ri­kan padamu. Engkau ingin sekali punya biola sen­diri dan mema­in­kan segala lagu yang engkau sukai. Bukan? Tapi engkau seka­rang tak suka.”

Bu guru mem­buka peti biola. Dan Ahyat meman­dangi biola itu dengan mata yang menyi­nar­kan kegair­ahan. I Dan bu guru meli­hat juga hal itu.

“Aku tahu, Ahyat, ingin juga engkau memi­l­iki biola ini. Meng­apa engkau tak suka?”

Ahyat ter­se­nyum malu. Tiba-tiba senyum­nya hilang.

“Barang­kali karena engkau malu mene­ri­ma­nya?” Ahyat meng­ge­leng. “Meng­apa engkau tak suka?” Kei­ng­inan mau tahu timbul dalam dada bu guru. “Meng­apa?” desak­nya kemu­dian.

“Bapak tak sang­gup men­de­ng­ar­kan jeritan biola,” kata­nya. “Dan aku telah ber­janji takkan mema­in­kan biola di rumah ini. Bapak jadi ter­ke­nang pada suatu masa men­de­rita bila men­de­ng­ar­nya, apa­lagi kalau biola itu mema­in­kan Ave Maria.”

“Tapi biola ini boleh engkau simpan di rumahku, dan engkau boleh mem­bu­nyi­kan­nya di sana. Bukan­kah begitu, Mini?”

“Dan kita main di rumah bu guru tiap sore, Ahyat. Engkau juga. Dan aku juga.” Ahyat meng­ang­guk, — ang­gukan yang kosong.

“Atau aku ting­gal­kan saja biola ini di sini, dan bila engkau ingin mem­per­gu­na­kan­nya, engkau datang saja ke rumahku?”

Ahyat meng­ang­guk. Kemu­dian bu guru mema­in­kan lagu-lagu seko­lah di piano. Ahyat dan Mini menya­nyi ber­sama-sama. Sua­sana riang timbul kem­bali. Lebih dari satu jam mereka main musik. Kemu­dian sampai juga saat­nya mereka harus ber­pi­sah. Leng­ang pula kamar itu. Ahyat meli­hat-lihat biola yang sudah lama di kenang-kenang­kan­nya dalam harap­an­nya. Kini benda itu telah dimi­l­ik­i­nya betul-betul. Ingin ia segera mem­per­gu­na­kan­nya. Tapi anjing­nya si Minggu telah meng­gong­gong-gong-gong pula: bapak­nya datang dari kantor.

MALAM ITU Ahyat mening­gal­kan tempat tidur. Diba­wa­nya biola pem­be­rian bu guru. Ia pergi ke pojok peka­rangan — suatu tempat yang ter­jauh dari rumah. Mula-mula ia duduk seo­rang diri di bawah pohon jambu. Ia ter­me­nung-menung oleh keta­kutan dan kei­ng­inan meng­ge­sek biola. Dalam kepa­la­nya ter­ba­yang bu guru dengan segala keman­is­an­nya. Ter­ba­yang juga Mini dengan kera­mah­an­nya. Ia ingin segera meng­ga­bung­kan diri dengan mereka dan mema­in­kan Ave Maria ber­sama-sama, dengan piano dan biola. Mini pandai mema­in­kan har­mo­nika. Dan Mini akan menya­nyi­kan lagu-lagu koboi. Tapi malam telah meng­ha­lang kei­ng­in­an­nya itu. Ia ingin meng­ge­sek biola itu seo­rang diri. Pelahan dibu­ka­nya biola. Dici­um­nya biola itu dengan kasih­nya. Pelahan dan hati-hati dige­sek­nya. Bunyi yang lemah men­dayu-dayu ter­de­ngar di tengah malam buta. Sebuah lagu mem­bu­bung ke udara malam yang dingin. Dan sua­sana yang mati beru­bah jadi sua­sana yang men­de­sak-desak dalam dada. Ahyat ber­henti meng­ge­sek. Kem­bali ia duduk di tanah. Di atas cuma ada bin­tang yang ber­ke­dip-kedi­pan. Dan bila awan lalu, bin­tang-bin­tang itu hilang ter­sa­put dan kemu­dian muncul pula. Kemu­dian ia ber­diri lagi. Bunyi bio­la­nya kem­bali mem­bu­bung ke udara. Dan kea­syikan itu telah meng­hi­lang­kan ing­at­an­nya, bahwa ia takkan mema­in­kan biola. Ia tak ingat lagi. Ia turut ter­se­ret oleh lagu yang dima­in­kan­nya sen­diri. Malam hilang. Dingin hilang. Langit di atas hilang. Juga bin­tang-bin­tang “hilang. Alam pun hilang. Yang ada hanya suatu keti­dak­a­daan. Ahyat ter­ke­jut. Seke­jut badan­nya jadi dingin dan meng­gi­gil. “Ahyat!” suara bapak­nya. “Jadi engkau main­kan juga biola itu?” Ahyat tak men­ja­wab. Ia menge­luh. “Aku meng­ganggu engkau, bukan? Ya, ten­tu­lah aku meng­ganggu engkau,” kata bapak­nya. Ahyat tak juga bicara. . “Begini malam, Ahyat, dan engkau mening­gal­kan tempat tidur — hanya untuk dapat meng­ge­sek biola.”

“Bapak, aku menyiksa ing­at­anmu, bukan?” Ahyat merin­tih. Dan waktu rin­tih­nya hilang, ter­de­ngar dua ren­tetan nafas besar yang ber­ba­reng. Dan bin­tang di atas menger­dip-nger­dip juga aman dan damai. Bapak batuk-batuk seben­tar. Kemu­dian ter­de­ngar pula nafas­nya yang besar-besar. Dan antara seben­tar saja angin desir malam meniup lembut.

“Mari kem­bali, Ahyat,” kata bapak. “Barang­kali lebih baik engkau meng­ge­sek biola di rumah.”

“Marah­kah bapak?”

“Mari masuk, Ahyat,” kata bapak dengan suara lembut berisi kege­masan.

“Bapak marah, barang­kali?”

Tak ada suara lagi. Bunyi peti bila ditu­tup ter­de­ngar. Kemu­dian menyu­sul bunyi lang­kah kaki.

Di ruang tempat piano, duduk ibu di dipan — mena­ngis. Dan waktu bapak dan anak ter­de­ngar oleh­nya men­de­kati rumah, segera mata­nya diha­pus­nya kering-kering. Ia men­je­nguk ke luar pintu. Bapak ber­ja­lan di depan dan lang­sung saja mere­bah­kan badan­nya di dipan. Kemu­dian muncul Ahyat dengan muka pucat menjin-jing bio­la­nya. Ia ber­diri lama-lama — tak tahu apa yang harus diper­bu­at­nya.

Ibu meng­ham­piri Ahyat. Ber­seru: “Ahyat!” Diam seben­tar, akhir­nya: “Bukan­kah engkau sudah menga­ta­kan takkan meng­ge­sek biola? Bukan­kah baru tadi siang engkau ber­kata seperti itu?”

Bapak reba­han di dipan. Mata­nya ter­tu­tup. Dan nafas­nya besar-besar dan ter­a­tur. Kadang-kadang nafas itu dihem­bus­kan keras-keras seperti orang sedang meniup-niup.

“Aku ingin mela­gu­kan­nya di biola,” kata Ahyat pelahan minta maaf.

“Bukan­kah engkau tahu, biola itu mem­buat ing­atan bapakmu ter­ganggu?”

“Aku tahu, ibu.”

“Meng­apa engkau mema­in­kan juga?”

Bunyi keri­kit dipan mema­ti­kan per­ca­kapan: antara ibu dan anak. Bapak bangun dan meng­ham­piri Ahyat. Diam­bil­nya peti biola dari tangan Ahyat. Kem­bali ia pergi ke dipan. Dibu­ka­nya peti itu dan dike­lu­ar­kan biola dari dalam­nya. Kedua tangan­nya meme­gangi kedua ujung benda itu. Kemu­dian diang­kat­nya deng­kul­nya, dite­kan­kan pada perut biola. Dan Ahyat meme­kik: “Jangan patah­kan biola itu!”

Ibu ter­ke­jut. Ia ter­paku di lantai. Biola mulai ber­de­tak, dan ibu dan anak meli­hat biola itu telah hancur. Pelan-pelan Ahyat pergi ke pintu — mema­suki malam yang hitam.

“Ahyat!” ibu memang­gil.

Bapak pergi ke kamar­nya kem­bali.

Ibu keluar, masuk ke dalam malam yang hitam. Dida­pat­i­nya Ahyat sedang duduk ter­se­dan-sedan di teri­tis. Ibu duduk di sam­ping­nya.

“Biola pem­be­rian gurumu itu telah hancur seka­rang. Bapakmu marah. Engkau kehi­langan. Ahyat!”

Tapi Ahyat tak men­ja­wab. Ia mene­rus­kan sedan-sedan­nya.

“Ahyat,” ibu ber­kata pelahan, “bapakmu bangun seperti orang kaget waktu men­de­ngar jeritan bio­lamu itu. Kemu­dian bapakmu duduk di tepi ran­jang. Ber­kali-kali ia meng­ang­kat kepa­la­nya yang selalu mau tunduk saja dan aku mem­per­ha­ti­kan dia. Kemu­dian bapakmu ber­kata: “Lagu itu hanya mung­kin begitu ngeri jika dima­in­kan oleh si Ahyat’. Buru-buru ia bangun dan pergi ke tempat tidurmu. “Engkau tak ada,’ kata­nya. Ia kem­bali ke kamar dan ber­ta­nya padaku. “Dari mana Ahyat dapat biola? Dan aku bilang. “Dari guru­nya.” Waktu itu aku pun heran, Ahyat, meng­apa engkau jadi aneh betul malam itu: tengah malam mening­gal­kan tempat tidur, pergi ke pojok kebun, hanya untuk dapat mema­in­kan Ave Maria pada biola. Meng­apa ingin betul engkau mema­in­kan lagu itu?”

“Ibu. Sia­pa­kah yang meng­erti meng­apa orang menyu­kai sesu­atu lagu?”

“Untukku sen­diri, Ahyat, tak ada satu pun lagu yang kusukai benar-benar. Seka­li­pun engkau suka pada lagu itu, Ahyat. Engkau tahu, bukan, lagu itu dibenci oleh bapakmu. Bukan dibenci saja — lagu itu men­jadi momok yang mena­kut­kan bagi bapakmu. Engkau tahu juga, bukan, lagu itu selalu mem­bang­kit­kan kenang-kenangan yang menye­dih­kan dalam diri bapakmu. Meng­apa engkau main­kan? Dan di malam hari pula?”

“Aku tidak tahu meng­apa, ibu. Aku ingin sekali mema­in­kan­nya. Dan aku pun tak meng­erti meng­apa aku ingin sekali mema­in­kan­nya. Seka­rang…” ia memu­as­kan sedu-sedan­nya, “— biola pem­be­rian bu guru itu telah rusak. Bu guru pasti akan tak ber­se­nang hati kare­na­nya. Dan dia takkan meng­a­jar aku mema­in­kan lagu-lagu yang bagus lagi. Apakah kesal­ahan Ave Maria? Meng­apa aku tak boleh mema­in­kan­nya? Meng­apa bapak tak boleh men­de­ng­ar­kan­nya? Dan biola dari bu guru itu dihan­cur­kan bapak pula.”

“Ingin betul­kah engkau mema­in­kan lagu itu pada biola, Ahyat?”

“Tentu, ibu. Aku sudah men­cari kesem­patan mema­in­kan­nya di tengah malam agar bapak tak men­de­ng­ar­nya.”

“Meng­apa engkau mema­in­kan­nya begitu keras?”

“Keras? Pelahan sekali aku mema­in­kan­nya, ibu.”

“Pelahan? Dari kamar kude­ngar juga bio­lamu men­je­rit-jerit.”

Ahyat diam. “Sudah­lah, Ahyat. Mari tidur. Sudah malam seka­rang. Besok engkau masuk seko­lah, bukan?”

Hari raya nasi­o­nal selalu dir­a­ya­kan secara besar-besaran oleh tiap orang. Baju yang paling baru dike­na­kan. Dan dengan muka ber­seri-seri orang meng­ha­diri tiap kera­maian yang dia­da­kan. Semua mera­ya­k­an­nya, juga buaya-buaya dan tukang-tukang copet tak lupa pada hari kebang­sa­an­nya. Semua orang mabok. Juga mereka yang dulu memu­suhi kemer­de­kaan nega­ra­nya sen­diri. Dan ter­u­tama sekali mereka yang mem­pu­nyai kenang-kenangan bagus di masa revo­lusi — di masa muda­nya.

Tetapi seperti di hari-hari nasi­o­nal lain­nya, selalu kelu­arga bapak Ahyat merasa lebih ter­pen­cil. Ter­u­tama Ahyat sen­diri. Demi­kian pula halnya kali ini. Ber­sa­maan dengan meng­ge­le­gar­nya bunyi meriam di alun-alun selu­ruh isi rumah bangun dan mem­ber­sih­kan diri.

Hasrat Ahyat yang ter­be­sar dalam hidup­nya — turut per­lom­baan mema­in­kan lagu-lagu nasi­o­nal di piano — tia­da­lah sampai.

Seba­lik­nya ia harus menye­rah­kan hukum­an­nya: menu­lis syair lagu kebang­saan dua puluh kali. Dan kawan-kawan­nya ter­tawa-tawa gem­bira meli­hat keke­ce­waan yang ter­gam­bar pada paras Ahyat. - Hari itu anak-anak tak men­da­pat pel­a­jaran. Seben­tar saja bu guru yang meng­a­jar menya­nyi datang pada­nya dan ber­ta­nya meng­apa mata­nya merah dan beng­kak. Dan Mini pun mena­nya­kan meng­apa mata­nya jadi begitu. Ia men­ja­wab, “sema­lam aku mena­ngis.”

Kemu­dian melun­cur­lah cerita ten­tang Ave Maria. Dan bu guru dan Mini menun­duk. Ada sesu­atu yang meru­yak di dalam dada. Tapi semua itu lenyap kala bel seko­lahan ber­de­ring. Murid-murid ber­so­rak-sorak masuk ke dalam ruang kelas­nya masing-masing. Sebe­lum berang­kat arak-arakan sua­sana tiap kelas tak bisa diken­da­li­kan lagi. Semua murid ber­pa­kaian serba baru. Seba­gian dari anak-anak menyin­dir-nyin­dir Ahyat. Ahyat tak kuasa mem­bela diri atas hujan sin­diran itu. Mini men­de­ng­ar­kan segala sin­diran itu dari bang­ku­nya. Ia tak bisa ber­buat apa-apa. Antara seben­tar ia mene­ngok ke bela­kang ke tempat duduk

Ahyat. Kadang-kadang kedu­a­nya bisa ber­pan­dang-pan­dangan.

Dan pada mata kanak-kanak itu meman­car sesu­atu yang tak dapat dipa­hami. Semua itu sudah tak ter­ta­han­kan lagi oleh Ahyat. Tiba-tiba saja ia merasa tak dapat lagi mem­bi­ar­kan dir­i­nya dianak-tiri­kan. Mele­dak­lah kebe­ra­ni­an­nya yang selama itu masih ter­pen­dam saja — kebe­ra­nian yang men­de­kati kene­katan. Ia melom­pat ber­diri di bang­ku­nya dan ber­te­riak tinggi: “Tidak­kah ada sedi­kit kea­dilan dalam hatimu seka­lian?”

Dan seba­gai peris­kop kapal silam kepa­la­nya dite­ngok-tengok­kan ke kiri dan ke kanan. Sua­sana kelas tiba-tiba jadi beru­bah. Seben­tar semua orang diam. Dan murid-murid lain­nya tak berani menen­tang pan­dang Ahyat yang berapi-api. Tenang. Diam.

“Bukan­kah kita tidak perlu memu­suhi sese­o­rang?” Mini ber­seru.

Kete­nangan dan kedi­a­man itu pecah. Anak-anak meri­but kem­bali. Dan Ahyat masih juga ber­diri di bang­ku­nya. Akhir­nya salah seo­rang guru yang meng­a­jar ilmu hayat ber­kata meng­an­cam: “Turun!” teri­ak­nya. “Sini bukan pang­gung san­di­wara. Turun!”

“Aku minta kea­dilan,” kata Ahyat mem­babi buta.

“Dari mana engkau men­da­pat pel­a­jaran ten­tang kea­dilan?”

Ahyat tak men­ja­wab. Semua mata ter­tuju pada Ahyat. Dan mata Mini ber­kaca-kaca meman­dangi kawan­nya yang nekat itu.

Pelahan-lahan pak guru datang meng­ham­piri. Dipe­gang­nya tangan Ahyat dan dita­rik­nya kasar. Ahyat ter­lom­pat ke lantai dan badan­nya menum­buk bangku meja.

“Ini bukan kumidi tahu? Ini seko­lahan — tempat murid mem­pel­a­jari penge­ta­huan dan budi pekerti. Engkau tahu juga itu.”

Tangan pak guru yang per­kasa itu men­ce­kam kuduk murid nakal itu dan diayun-ayun­kan ke depan dan ke bela­kang. Dan Ahyat pon­tang-pan­ting oleh tangan per­kasa itu. Dada­nya sesak. Ia ter­se­dan-sedan. Akhir­nya ter­de­ngar juga tangis­nya. Dan air mata­nya mele­leh beng­kok-beng­kok di pipi­nya. Ya, ia mena­ngis — mena­ngis anak yang ter­pen­cil minta kea­dilan di ling­kung­an­nya sen­diri. Dan anak-anak lain­nya ter­tawa-tawa girang. Seba­gian diam-diam kasihan meli­hat Ahyat.

Di tempat duduk­nya, Mini menu­tup mata­nya dengan sapu tangan. Kemu­dian kepa­la­nya dile­tak­kan di meja bang­ku­nya. Di antara keri­u­han itu samar-samar ter­de­ngar ia ter­se­dan-sedan. Dan kawan-kawan yang ada di dekat­nya ter­de­ngar ber­ca­kap-cakap: “Meng­ap­a­lah Ahyat jadi nekat?”

“Dan pak guru jadi benci pada­nya?”

Tapi Mini tak mau men­de­ng­ar­kan per­ca­kapan itu. Ia ribut mera­sa­kan sesu­atu yang sedang meng­a­muk dalam dada­nya. Guru-guru dari kelas lain­nya yang datang meli­hat, ter­diam meng­a­wasi peris­tiwa itu. Mereka men­da­pat masa­lah baru dalam pen­di­dikan. Dan bu guru — guru nyanyi — meman­dang kawan-kawan­nya seo­rang demi seo­rang minta per­tim­bangan. Tapi per­tim­bangan itu tak diper­o­leh­nya. Kemu­dian ia meng­ham­piri Ahyat dan ber­diri seperti tong­gak.

“Ahyat, engkau tak boleh ber­si­ke­ras,” kata­nya keibu-ibuan.

Ahyat meng­ge­leng-geleng­kan kepala dan leher­nya tegang oleh kema­rahan. “Biar,” kata­nya nekat. “Aku tidak bisa. Aku: tidak bisa. Aku tidak mau diper­la­ku­kan begini.”

Dan guru ilmu hayat yang mena­nga­n­i­nya ter­tawa meng­e­jek.

“Suruh dia ber­diri di bela­kang papan tulis sampai arak-arakan sele­sai,” kata­nya kasar dan meng­gi­git.

Lemah lembut bu guru ber­kata meng­hi­bur: “Engkau harus berani, Ahyat! Engkau harus berani ber­sa­bar hati. Engkau menyu­kai Ave Maria bukan? Bukan­kah dalam lagu itu ter­kan­dung kebe­ra­nian ber­sa­bar hati, dan dengan diam-diam men­ca­pai-capai sesu­atu yang tinggi? Ber­si­te­gang ini bukan kebe­ra­nian. Ini tin­dakan orang habis akal. Bukan?”

“Sekali lagi Ahyat meng­ge­leng­kan leher­nya yang tegang.

“Tidak,” kata­nya mem­batu.

“Ber­diri di bela­kang papan tulis, setan kecil!” teriak pak guru meme­rin­tah dan dipe­lo­tot­i­nya Ahyat tajam-tajam.

“Tidak,” suara yang pasti dan mem­batu.

“Apa? Tidak?”

Tak men­ja­wab.

“Harus aku memak­samu?”

Tak men­ja­wab.

“Baik,” kata pak guru mengan­dung ancaman. “Engkau akan men­da­pat angka jelek untuk kela­ku­anmu.”

“Aku tak perlu ang­kamu.”

“Apa pedu­l­iku? Aku tak perlu dianak-tiri­kan di sini.”

“Adakah kami meng­a­nak-tiri­kan engkau di sini?”

“Meng­apa mereka menyin­dir-nyin­dir aku dan memang­gil-mang­gil aku anak peng­khi­a­nat?” Ahyat ber­kata kacau.

“Karena engkau memang anak peng­khi­a­nat. Bukan­kah begitu?” kata pak guru mene­kan­kan. Dan dalam sua­ra­nya terasa suatu keme­nangan.

Kini kema­rahan Ahyat sam­pai­lah di pun­cak­nya. Dita­rik­nya botol tinta dari bangku tulis­nya dan dilem­par­kan­nya ke muka pak guru.

Muka pak guru yang merah oleh kema­rah­an­nya sen­diri, tiba-tiba saja jadi biru oleh tinta. Dan tinta itu mene­tes-netes pula di selu­ruh baju dan cela­na­nya.

Sunyi-senyap ruang itu. Dari luar kelas masuk keri­u­han anak-anak yang sedang ber­ba­ris menuju ke alun-alun. Pak guru tak ber­kata apa-apa dan dise­ka­nya mata­nya dengan sapu­ta­ngan. Dan sapu­ta­ngan itu turut jadi biru kena tinta. Kemu­dian pelahan-lahan ia keluar dari ruang dan hilang dari peman­dangan.

Ahyat ting­gal ber­diri di tem­pat­nya dan diten­tang­nya selu­ruh benda yang ada di kelas itu. Kawan-kawan­nya telah habis pergi arak-arakan ke alun-alun. Dan Mini tak ada nampak oleh­nya. Bu guru yang masih juga ada di dekat­nya dan juga kena per­cikan tinta ber­kata menye­sali: “Ahyat,” kata­nya lembut, “aku tidak menyangka engkau akan ber­buat seperti itu.” — Tapi Ahyat tak peduli lagi pada kelem­butan siapa pun juga. Diten­tang­nya bu guru dengan pan­dang nekat, ber­kata kasar: “Aku tak peduli lagi. Aku tadi bilang juga, meng­apa aku dia­nak­ti­ri­kan? Aku tak mau dianak-tiri­kan. Aku tidak mau.”

“Tapi engkau harus memi­kir­kan akibat segala per­bu­at­anmu itu.”

“Aku tahu. Aku tahu.”

“Apa yang akan ter­jadi dengan dirimu?”

“Pen­jara kanak-kanak,” kata Ahyat hampa.

“Ya —aku tahu juga. Engkau mesti masuk ke pen­jara kanak-kanak, Ahyat. Itulah yang sangat kuse­sal­kan. Kita tak bisa mema­in­kan Ave Maria ber­sama-sama. Dan seka­li­pun bapakmu tak suka men­de­ng­ar­kan lagu itu, kita bisa. mema­in­kan­nya di rumahku, atau di rumah Mini, bukan?”

“Apalah guna­nya seka­rang? Bapak mela­rang aku menyim­pan biola di rumah. Dan tiap saat timbul kei­ng­in­anku mema­in­kan biola — tak boleh aku mema­in­kan­nya. Dan biola yang baru kute­rima itu telah mem­bang­kit­kan kema­rahan bapak. Benda yang sangat kuka­sihi telah dihan­cur­kan­nya, dengan begitu saja. Biar! Biar! Aku tak peduli lagi pada pen­jara kanak-kanak.”

Bu guru meman­dang Ahyat dengan diam-diam. Ada ia mera­sai sesu­atu per­gu­latan dalam diri mur­id­nya — murid yang dicin­ta­i­nya karena jarang di antara kawan-kawan­nya men­cin­ta­i­nya.

Mini muncul di pintu dan men­de­kati mereka.

“Mini, engkau tak turut pergi arak-arakan?”

Mini hanya menun­duk. Kemu­dian ia meman­dang Ahyat. Dan Ahyat meman­dang­nya. Dan dalam pan­dang­nya itu meman­car kasih­nya — seperti bia­sa­nya.

“Meng­apa engkau tak turut pergi?” bu guru ber­ta­nya lagi.

“Tidak, bu.” Sekali lagi ia meman­dang Ahyat. “Lebih baik aku tak pergi.”

“Tidak­kah engkau merugi tak turut pergi?”

“Tidak, bu.” Dan sekali lagi ia meman­dang Ahyat.

“Dengan sen­di­r­i­nya Ahyat tak bisa pergi, Mini,” bu guru ber­kata. “Aku kira dia harus ting­gal di pen­jara kanak-kanak.”

“Meng­apa dia harus masuk ke pen­jara, bu?” Mini ber­ta­nya dengan suara sete­ngah mena­ngis. “Bukan­kah Ahyat yang dimu­suhi mereka?”

“Ya, Mini, tapi dia telah melem­par­kan botol tinta ke muka guru­nya.”

“Dan mereka? Apa tidak dihu­kum mereka yang memu­suh­i­nya?”

Bu guru ter­diam memi­kir. Nampak ia meng­ge­leng. Kemu­dian ia ber­kata pelahan-lahan, sung­guh-sung­guh dan hati-hati:

“Ya, Mini, mereka itu sesung­guh­nya tak boleh memu­suhi Ahyat. Ahyat tak mem­pu­nyai kesal­ahan apa-apa. Dia tidak boleh dimu­suhi. Begi­tu­lah harus­nya. Kalau ada kesal­ahan itu, bapak­nya­lah yang salah. Tapi kesal­ahan bisa dima­af­kan, bukan? Tiap kesal­ahan bisa dima­af­kan. Tapi Ahyat tak ber­sa­lah sama sekali. Kesal­ah­an­nya ialah, ia telah melem­par muka guru­nya dengan botol tinta.”

Ahyat ber­diam diri men­de­ngar per­ca­kapan itu. Kemu­dian dengan diam-diam pula ia duduk di bangku. Dan Mini mene­rus­kan: “Boleh­kah aku turut masuk ke pen­jara, ibu?”

“Tentu saja tidak, Mini. Orang tuamu takkan meng­i­zin­kan dan dir­ek­tur pen­jara pun takkan meng­i­zin­kan. Tapi engkau boleh mengun­jungi Ahyat di hari-hari yang telah diten­tu­kan. Aku pun akan datang mengun­jung­i­nya kelak.” Ia meman­dang Ahyat. Ber­kata lagi, “bukan begitu, Ahyat?”

Ahyat meng­ang­guk.

“Di dalam pen­jara pun ada dise­di­a­kan biola dan piano, Ahyat. Dan engkau boleh memu­as­kan hatimu mema­in­kan Ave Maria di sana.”

Baru Ahyat ber­kata pelahan-lahan: “Kalau begitu, biar­lah aku ting­gal di sana saja. Tak ada kepu­asan untukku dari­pada mema­in­kan Ave Maria dengan biola, di malam hari, dan sen­di­r­ian pula dan mulutku ber­den­dang pelan — pelahan sekali.” Ia diam.

Bu guru diam. Dan Mini pun diam.

Arak-arakan itu dilang­sung­kan menu­rut ren­cana semula.

Semua murid dari seko­lahan kota minyak4 yang kecil itu turut arak-arakan belaka. Semua berair muka ber­seri-seri berang­kat” ke alun-alun. Sekali lagi meriam ber­den­tum. Hanya seo­rang murid saja keting­galan: Ahyat. Dan hanya seo­rang murid saja tak suka pada arak-arakan itu: Mini. Seben­tar tadi Ahyat diang­kat oleh mobil hijau tanah — mobil polisi — ke pen­jara kanak-kanak. Bu guru ikut pergi dalam mobil itu — meng­an­tar­kan. Dan Mini juga.

“Ibu, sam­pai­kan pada ibu dan bapak, aku tidak menye­sal atas per­bu­at­anku tadi. Aku hanya menye­sal kalau ini mem­buat kese­dihan ibu. Lain tidak. Kata­kan pada mereka, di pen­jara aku bisa mela­gu­kan Ave Maria dengan biola sesuka hatiku.”

“Engkau harus jadi orang baik, Ahyat. Pesanmu akan kusam­pai­kan.”

Mini meme­gangi lengan baju bu guru sambil mena­ngis. Kemu­dian di antara tangis­nya ia ber­kata putus-putus: “Ahyat — aku akan datang mengun­jungi engkau.”

Pintu pen­jara kanak-kanak ter­tu­tup kini. Dua tetes air mata meni­tik di mata Ahyat.

“He — cepat meng­ha­dap dir­ek­tur!” teriak orang di sam­ping­nya.

Bingung Ahyat segera meng­ha­pus mata. Mem­ba­lik­kan badan. Kemu­dian masuk ke kantor tuan dir­ek­tur pen­jara kanak-kanak.

Penjara Bukit Duri, iv-1949

Jakarta, vii-1950



Cerita pendek

Yang Sudah Hilang

Dari Cerita dari Blora (1952). Teks dari cetak ulang Hasta Mitra, 2002.

Kali Lusi melingkari separuh bagian kota Blora yang sebe­lah selatan. Di musim kering dasar­nya yang dia­lasi batu-keri­kil-lumpur dan pasir men­co­ngak-congak seperti men­je­nguk langit. Air hanya bebe­rapa desi­me­ter saja Tapi bila musim hujan datang, air yang kehi­jau-hijauan itu jadi kuning tebal mengan­dung lumpur. Tinggi air hingga dua puluh meter. Kadang-kadang sampai lebih. Dan air yang meng­a­lir damai jadi gila ber­pu­sing-pusing. Dise­ret­i­nya rumpun-rumpun bambu di tepi-tepi kali seperti anak kecil men­ca­buti rumput. : Digu­gu­r­i­nya tebing-tebing dan dise­ret­nya bebe­rapa bidang ladang pen­du­duk. Lusi1! Dia merom­bak tebing-tebing­nya. . Dan di dalam hidup ini, kadang-kadang aliran yang deras menye­ret tubuh dan nasib manu­sia. Dan dengan tak seta­hunya ia kehi­langan bebe­rapa bagian dari hidup itu sen­diri …

Dari depan rumah kami nampak pucuk rumpun-rumpun bambu yang hijau hitam. Bila angin meniup mereka ber­su­ling-suling meliuk-liuk yang selalu menim­bul­kan pera­saan takut dalam hatiku di waktu kecil. Segera aku lari ke pang­kuan bunda dan mena­ngis. Dan masih ter­de­ngar-dengar hingga kini bunda ber­ta­nya: “Meng­apa mena­ngis?”

Dan tangan­nya yang tak lembut lagi seperti semasa gadis­nya meng­u­sap-usap pipiku yang kurus. Dan suara kanak-kanakku— yang masih cedal-cedal itu men­ja­wab di antara sedu-sedan: “Ibu … bambu itu mena­ngis.”

Dan bunda meng­am­bil daku dan dile­tak­kan di pang­ku­an­nya. Ber­kata ia mem­be­ra­ni­kan: “Dia tidak mena­ngis. Tidak. Dia sedang ber­nya­nyi.”

Kemu­dian bunda menya­nyi­kan lagu daerah. Dan sua­ra­nya yang lembut-lunak itu men­dayu-dayu dan meni­dur­kan keta­kut­anku. Kube­lai-belai ram­but­nya yang kacau ditiup angin, kuper­main-main­kan kuping­nya yang dihi­asi dengan markis ber­lian itu. Kemu­dian, kemu­dian ter­de­ngar sua­ra­nya yang manis dalam pera­sa­anku: “Engkau mengan­tuk. Mari kuti­dur­kan”.

Dan kubuka mataku besar-besar agar dapat terus menik­mati nya­nyian bunda. Tapi aku tak kuasa mem­buka tapuk mataku lagi…

Tapi semua itu sudah hilang kini. Semua itu telah lenyap seperti tebing dan rumpun-rumpun bambu yang dise­reti oleh air pasang kali Lusi. Dan aku tak kuasa mena­han arus besar itu. Terasa benar olehku betapa mudah­nya manu­sia dilem­par­kan oleh gelom­bang waktu dari tempat ke tempat, dari pera­saan ke pera­saan.

Suatu kali, aku masih ingat waktu itu — aku ber­mimpi menemu uang satu sen. Dan waktu aku mem­bu­ka­kan mata, tanganku ter­geng­gam rapat agar uang yang kutemu tidak hilang. Segera aku bangun dan men­da­pat­kan bunda. Ber­seru riang: “Ibu, ibu, aku menemu uang sesen”.

Dan aku lihat juga bunda ter­se­nyum turut ber­gem­bira hati. Mem­per­li­hat­kan kegem­bi­ra­an­nya, ia ber­ta­nya: “Di mana engkau mene­mu­nya? Mana uang­nya?”

Kua­cung­kan geng­gaman tanganku pada­nya. Teri­akku senang: “Ini! ini!”

Kemu­dian geng­gaman itu kuurai. Tapi tangan itu kosong saja. Dan bunda menyu­sul­kan sua­ra­nya yang manis itu: “Mana?”

Aku ter­te­gun oleh kaget dan kecewa karena uang yang kutemu dalam impian tak ada dalam geng­gaman. Dan aku mena­ngis oleh keke­ce­waan. Dan ter­de­ngar olehku bunda ter­tawa. Kemu­dian mem­bu­juk-bujuk: “Engkau baru bangun tadi. Engkau ber­mimpi tadi. Jangan mena­ngis.”

Tapi keke­ce­waan itu masih juga meng­gu­lung-gulung dalam dadaku. Dan aku mene­rus­kan tangisku. Bunda meng­u­sap air mataku dengan ujung keba­ya­nya. “Diam. Diam,” kata­nya lagi.

Dike­lu­ar­kan­nya uang sete­ngah sen dari lipa­tan amben­nya dan diu­lu­r­kan­nya padaku. Dan aku diam sambil mem­per­main-main­kan uang sete­ngah sen dengan masih ada sete­ngah dari keke­ce­waan itu di dalam dada.

“Sudah sore seka­rang,” kata bunda, “sana mandi. Minta mandi nyi2 Kin.”

Dan aku pun ber­diri dari pang­kuan ibu. Tapi aku tak juga pergi untuk diman­di­kan. Aku lihat paras bunda jadi keruh. Kemu­dian ter­de­ngar sua­ra­nya yang tak lunak lagi dan mengan­dung kepas­tian: “Pergi.”

Kepas­ti­an­nya itu mem­buat aku bangun dan ber­ja­lan lambat-lambat men­cari nyi Kin di dapur. Dari bela­kangku ter­de­ngar suara yang mem­per­i­ng­at­kan: “Cepat! Sudah sore seka­rang.”

Kepas­ti­an­nya itu pula yang mem­buat aku tak berani mena­ngis. Pelahan aku pergi men­da­pat­kan nyi Kin di dapur minta mandi.

Hingga kini aku masih bisa mem­ba­yang­kan nyi Kin. Ia adalah perem­puan di antara banyak perem­puan di dunia ini yang kawin dengan seo­rang lelaki yang tak dike­nal­nya sebe­lum­nya. Dari per­ka­winan itu ia men­da­pat raja­singa3. Penya­kit raja­singa itu mem­buat laki-bini itu ber­ce­rai men­cari jalan hidup­nya masing-masing. Raja­singa itu pula yang telah meram­pas sebuah dari dua buah biji mata­nya. Meru­sak­kan kecan­ti­kan­nya sama sekali. Dan selain itu: meme­cah­kan bola deng­kul­nya. Sebe­lah kaki­nya harus dise­ret­nya bila ia ber­ja­lan. Di siang hari ia tak ada kesem­patan untuk menye­sali nasib­nya. Kehi­dupan sehari-hari menyita se-: bagian besar per­ha­ti­an­nya. Hanya bila malam telah sampai, dan keca­pean badan itu pun tak kuasa meni­dur­kan dir­i­nya, ada juga ia menye­sali kecan­ti­kan­nya yang hilang.

Dan di kala nyi Kin itu jadi bujang kami, mata­nya telah hilang dan kaki­nya yang sebe­lah telah dise­ret­nya bila ia ber­ja­lan. Ia sen­diri tidak ber­a­nak. Ya, sebe­lum ia sempat ber­a­nak, raja­singa telah pula makan per­a­nak­an­nya. Itu pula sebab­nya ia selalu, menya­yangi kami. Dan kesa­yang­an­nya itu masih terasa di mana pun jua aku ter­ke­nang pada­nya. Nyi Kin yang cantik dulu telah jadi kurban oleh kecan­ti­kan­nya sen­diri. Kadang-kadang dibe­lai-bela­inya pipiku seperti ia sedang mem­be­lai-belai anak­nya sen­diri. Dan masih ter­i­ngat-ingat olehku waktu meng­gen­dong daku ia menyem­bu­nyi­kan muka­nya di balik selen­dang. Tiba-tiba selen­dang itu dita­rik­nya cepat-cepat. Ter­de­ngar: “Bba.”

Ber­u­lang-ulang ia ber­buat seperti itu. Dan bukan main senangku diper­buat seperti itu. Aku ter­tawa-tawa senang. Ia pun ter­tawa-tawa senang. Tapi tiba-tiba selen­dang yang menu­tup muka­nya itu tak dita­rik­nya. Kur­eng­gut­kan selen­dang itu. Dan aku lihat paras yang manis tadi kehi­langan keman­is­an­nya. Aku lihat mata­nya merah. Kemu­dian pipiku dile­kat­kan pada pipi­nya lama-lama: ia rindu pada anak-anak­nya yang belum pernah dila­hir­kan­nya di dunia ini.

Seba­gian dari uang upah nyi Kin disim­pan­nya. Dan hampir sepa­ruh­nya diper­gu­na­kan­nya untuk mem­beli makanan. Dan makanan itu ialah untukku. Di kemu­dian hari tahu­lah aku, bahwa ia mene­rima upah dela­pan puluh sen dari bunda tiap bulan­nya. Seperti juga bunda, nyi Kin pun suka men­do­ng­engi aku.

Hanya beda­nya bunda sela­ma­nya men­do­ng­eng­kan cerita-cerita pah­la­wan perang yang ber­main di negeri-negeri Asia Dekat, sedang nyi Kin sela­ma­nya men­do­ng­eng ten­tang kehi­dupan bina­tang-bina­tang pur­ba­kala yang bicara dan bisa mem­ba­ngun kera­jaan di dalam hutan.

Aku tak ingat betul, adakah semua itu dido­ng­eng­kan­nya padaku waktu aku beru­mur empat-lima tahun atau bebe­rapa tahun kemu­dian. Sering ia mene­rang­kan dalam dong­eng­nya betapa suci­nya orang-orang dahulu sehingga mereka itu meng­erti bahasa bina­tang. Tapi orang seka­rang keba­nyakan dosa, kata­nya. Orang seka­rang sering men­ce­la­ka­kan sesama manu­sia, kata­nya. Itulah sebab­nya orang seka­rang tak bisa meng­erti bahasa bina­tang. Pernah juga ia ber­ce­rita ten­tang peng­a­lam­an­nya waktu masih kecil — lebih tua bebe­rapa tahun dari­pada aku pada waktu itu. Cerita itu selalu kuminta diu­langi lagi dan diu­langi lagi. Dan ia tak pernah meno­lak. Dan aku men­de­ng­ar­kan­nya dengan kehe­ranan dan keka­guman.

Begini cerita yang menga­gum­kan itu: Waktu itu ia masih kecil. Bupati yang meme­rin­tah kabu­pa­ten Blora ialah ndoro kan­jeng Said. Suatu kali kota kami meng­a­lami musim hujan dobel. Kali Lusi meluap melam­paui tepi­nya. Kota kami yang aman dan damai dige­nangi air banjir yang mengan­dung lumpur. Dan karena alun-alun kota kami ter­le­tak pada salah sebuah pucuk pegu­nungan, gumpal tanah ini akhir­nya meru­pa­kan pulau di antara laut air yang luas. Pen­du­duk daerah kami digi­ring oleh air ke alun-alun. Mereka mem­bawa anak, kerbau, sapi dan diri sen­diri. Dan barang­si­apa tak cepat-cepat pergi akan digu­lung oleh air dan dibawa ke mua­ra­nya. Hujan terus jua jatuh dengan lebat­nya. Rumah ndoro bupati penuh sesak oleh manu­sia. Kemu­dian dia lihat ndoro bupati ke luar dari rumah­nya mem­bawa sebi­lah cemeti. Dipe­cut­nya air yang men­ji­lati tepi alun-alun sambil meman­t­rai. Dan pelahan-lahan tapi pasti air pun mulai surut dan kem­bali masuk di kali Lusi.

Aku masih ingat betul hingga kini, begi­tu­lah ceri­ta­nya. Ada dua puluh lima kali cerita itu diu­lang-ulang­nya, dan aku men­de­ng­ar­kan dengan per­ha­tian penuh. Dan ia ber­ce­rita juga ten­tang tangis­nya bayi yang kehu­janan. Ia ber­ce­rita juga ten­tang kega­gahan bupati yang mem­bawa cemeti, dan betapa tak­luk­nya rakyat pada­nya. Betapa rapi­nya orang ber­jong­kok waktu ndoro kan­jeng pergi ke luar rumah­nya untuk melin­dungi rak­yat­nya dari serangan banjir. Dong­eng itu mem­buat aku kagum pada kan­jeng bupati. Tapi kala aku dila­hir­kan ia sudah diku­bur­kan orang. Namun keha­ruman ndoro kan­jeng Said itu tetap dalam kenang-kenangan pen­du­duk kota kami yang kecil itu.

Cerita nyi Kin yang tak kurang-kurang mena­rik­nya ialah ten­tang mahluk-mahluk dewa atau sete­ngah jin yang ber­ke­li­aran di malam dan di siang hari di kala manu­sia kosong dari segala per­ha­tian. Nyi Kin bisa ber­ce­rita bagus ten­tang awan yang ber­a­rak — ia men­ce­ri­ta­kan sebuah petikan dari Rama­yana — dan di balik awan itu pula Das­am­uka4 yang men­curi putri ber­ke­lahi mela­wan Jatayu yang meng­ha­lang-halangi pen­cu­r­ian itu. Bia­sa­nya ia ber­ce­rita sambil meman­dangi awan itu. Dan sering pula ia ber­ce­rita ten­tang pah­la­wan-pah­la­wan dalam Maha­b­ha­rata. Seder­hana dan indah segala apa yang dice­ri­ta­kan­nya itu. Dan aku meng­erti juga sedi­kit-sedi­kit ten­tang ceri­ta­nya itu. Dan piki­ranku menga­gumi betapa hebat­nya orang-orang di zaman purba itu — tak ubah­nya aku waktu itu dengan orang seka­rang yang kehi­langan masa­nya sen­diri menga­gumi masa-masa yang telah silam.

Dan bila. di malam hari aku tak bisa tidur, mena­ngis mem­babi buta, bunda mene­puk-nepuk pahaku, bia­sa­nya ia meng­u­cap­kan kata-kata yang bagus. Dan kadang-kadang juga bunda menya­nyi­kan lagu daerah, lagu Belanda dan Arab. Tapi sua­ra­nya yang indah tak sela­ma­nya indah untuk pera­sa­anku — apa pula bila pera­saan itu sedang berisi keke­salan hati. Ya, anak kecil pun ada mera­sai keke­salan hati.

Saat-saat yang pen­ting sela­ma­nya susah bisa dihi­lang­kan begitu saja dari ing­atan. Juga dari ing­atan kanak-kanak. Dan ing­atan itu akan tetap ting­gal dalam kepa­la­nya sampai tuanya.

Aku masih ingat, waktu itu aku mena­ngis terus. Karena rumah kami masih jauh dari aliran lis­trik, bila malam datang murung­lah sua­sana rumah kami. Bunda mem­bawa aku ke luar rumah. Embun itu mem­buat badanku dingin dan lelah. Dan dingin embun itu pula yang telah menyi­ram keke­salan hatiku. Rupa-rupa­nya aku kege­rahan tadi. Dan di pela­taran itu bunda men­cium daku dan ber­bi­sik dalam bahasa yang lunak dan lembut: “Sayangku, meng­apa engkau mena­ngis saja? Tak tahu­kah engkau ibumu sudah lelah oleh bekerja sepagi? Tidur­lah, sayang. Besok akan terbit hari baru, dengan langit baru, dengan matari baru, dengan hawa baru. Dan engkau boleh ber­main-main seke­nyang hatimu, sayang.”

Suara itu sung­guh lunak untuk pera­sa­anku waktu itu. Kurang­kul bunda, dan kuki­rim­kan sedan-sedanku ke dalam dada­nya. Dan bunda men­de­kap­kan dada­nya pada mukaku. Dan ada kude­ngar detak-detik di dalam dada­nya. Kemu­dian aku dengar bunda menya­nyi. Aku tak beron­tak lagi. Dingin embun di malam hari itu menye­dap­kan bunyi nya­nyian bunda. Kemu­dian aku tak ingat lagi sam­bung­an­nya. Dan di kala aku mem­bu­ka­kan mata, mata­hari telah tinggi: hari baru yang dijan­ji­kan oleh bunda. Hari baru dengan langit baru, dengan hawa baru dan dengan nya­nyian baru pula.

Tetapi semua itu sudah hilang kini. Hilang dari rabaan panca-indera untuk abadi ber­sing­ga­sana dalam kenang-kenangan.

Aku masih ingat, waktu itu nyi Kin jatuh sakit. Ya, jatuh sakit. Dan dia pergi tanpa mem­be­ri­ta­hu­kan kebe­rang­kat­an­nya padaku. Aku cari dia ke mana-mana. Tapi dia tak dapat kutemu. Dan aku mena­ngis ber­pan­jang-pan­jang. Ada dua jam aku mena­ngis. Bunda meng­hi­bur aku dengan pisang susu. Tapi aku tak kuasa menge­rem tangisku. Ada terasa suatu keko­songan besar dalam hatiku. Dan bunda bilang dan bilang: “Nyi Kin pulang, sayang. Nyi Kin sakit. Kalau nyi Kin sakit engkau tak boleh dekat-dekat deng­an­nya. Nanti engkau turut sakit juga.”

Tapi kata rayu itu tak kuasa meng­isi keko­songan dalam hatiku. Aku mena­ngis terus. Hanya keca­pean jua yang meni­dur­kan badanku. Waktu aku bangun lagi, keko­songan itu terasa terus. Dan aku mena­ngis terus. Air mata mele­leh seperti mata nyi Kin yang tak ada bizinya lagi itu, selalu menge­lu­ar­kan air dan dise­ka­nya dengan ujung selen­dang. Tapi keko­songan itu akhir­nya ber­ku­rang dengan kian jauh waktu pergi. Per­ha­tian-per­ha­tian baru masuk ke dalam jiwa. Hanya kadang-kadang saja nyi Kin ter­ke­nang, dan aku ber­kata pada bunda: “Meng­apa nyi Kin belum datang juga, bu?”

“Dia masih sakit.”

Waktu itu aku belum lagi tahu, rumah nyi Kin tak jauh dari rumah kami — hanya antara tujuh bubungan atap. Namun aku puas juga men­de­ngar sahutan itu. Di kemu­dian hari dari mulut bunda sen­diri aku men­de­ngar meng­apa nyi Kin mening­gal­kan rumah kami: dia men­curi bumbu dapur, dan bunda tak meng­i­zin­kan ter­jadi hal seperti itu di rumah­nya.

Nyi KIN diganti oleh perem­puan yang agak muda. Waktu itu aku sudah punya adik yang beru­mur seta­hun. Biasa aku bangun jam lima pagi waktu itu. Sebab­nya ialah, bunda tidur dengan adik kecilku dan aku tidur dengan babu itu. Dan babu itu harus bangun jam lima pagi untuk meng­go­r­eng­kan nasi buat anak-anak angkat orang tuaku yang akan berang­kat ke seko­lah. Berdua saja kami meng­ha­dapi tungku sambil meng­go­r­eng nasi. Dan tiap ada kerak nasi goreng yang cukup kering, kuminta dari ‘bujang dan kuma­kan. Aku tak ingat lagi siapa nama babu itu. Tapi, seperti nyi Kin ia pun kasih padaku. Ia anak seo­rang petani, bekas bini seo­rang petani pula. Oleh gagal­nya panen mereka ber­ce­rai men­cari jalan hidup masing-masing.

Masih tebal dalam ing­at­anku apa yang kua­lami pada umurku yang ketiga atau keem­pat dengan babu baru itu. Tiap pagi kami ber­du­a­lah yang paling dahulu bangun. Seperti bia­sa­nya aku minta kerak nasi goreng dan kuge­ru­miti sambil ber­di­ang di depan api.

Dapur kami ber­diri lepas dari rumah untuk tempat ting­gal. Bangun atap­nya tak ubah­nya dengan lem­baran seng yang dili­pat sedi­kit dan dile­tak­kan di atas rangka dapur. Bangun atap yang demi­kian dise­but bekuk lulang yang ber­arti lipat kulit. Pada dua ujung atap, dili­hat dari dalam dapur, menga­nga dua lubang yang ber­ben­tuk segi­tiga. Di salah satu-lubang ini banyak kul­i­hat kea­ja­iban-kea­ja­iban waktu kecilku itu.

Pada jam lima pagi itu alam di luar nampak hitam dari dalam dapur. Lebih hitam lagi karena kami meng­ha­dapi api tungku sen­diri. Di lubang atap yang ber­ben­tuk segi­tiga itu nampak olehku sebuah kepala besar men­je­nguk-jenguk. Lubang itu punya garis tinggi dua meter. Aku lihat jang­gut dan alis dan kumis­nya putih dan selu­ruh muka­nya hitam — lebih hitam dari alam di luar. Aku pan­dangi muka besar itu dengan diam-diam sambil meng­ge­ru­miti kerak nasi goreng. Pada suatu kali kutun­juk kepala itu. Ber­kata pada babu: “Lihat! Lihat! Kepala yang besar itu men­je­nguk kita lagi.”

Seba­gai bia­sa­nya babu itu meng­ang­kat kepa­la­nya meman­dang lubang atap itu dan seba­gai bia­sa­nya ia hanya ter­tawa dan bilang dengan suara dingin: “Aku tak meli­hat apa-apa. Apa yang kau lihat seka­rang?”

“Kepala — kepala yang besar sekali.”

“Aku tidak lihat. Bagai­mana rupa­nya?”

“Hitam. Aku lihat hitam.”

“Engkau bohong. Aku tak meli­hat apa-apa”.

Dan bia­sa­nya juga aku tak men­de­sak-desak­nya untuk per­caya. Per­ca­kapan seperti itu bia­sa­nya terus saja mati. Babu men­cuci piring, dan aku mem­ba­lik-balik nasi goreng itu. Kadang-kadang, bila kerak tak juga jadi, kute­kan nasi itu pada peng­go­r­engan dengan sodet hingga ber­bu­nyi. Indah benar suara itu dalam pen­de­ng­ar­anku. Dan bau nasi yang ter­te­kan men­jadi kerak itu mem­bu­bung menye­dap­kan pen­ci­uman.

Pernah juga aku ber­ce­rita ten­tang apa yang sudah kul­i­hat itu pada bunda. Bunda tak mau men­de­ng­ar­kan dengan sung­guh-sung­guh. Kadang-kadang seba­lik­nya malah. Ia mere­ngut. Dipan­dang­nya aku dengan mata­nya yang marah: “Siapa yang ber­ce­rita padamu ten­tang setan-setan itu?”

Dan waktu itulah aku kenal akan per­ka­taan setan. Ber­ta­nya:

“Jadi itukah setan?”

“Siapa yang ber­ce­rita padamu seperti itu?”

“Aku lihat sen­diri, bu”.

“Engkau tak boleh mem­bo­hong. Siapa yang meng­a­jari engkau mem­bo­hong? Nyi Kin? Babu baru? Siapa?”

“Aku lihat sen­diri, bu”.

Kemu­dian babu dita­nyai oleh bunda. Dan babu itu bilang: “Setiap pagi dia meli­hat setan itu. Dia ber­ce­rita juga padaku. Tapi kalau aku sen­diri yang meman­dangi lubang atap itu, aku tak meli­hat apa-apa.”

“Engkau tidak boleh mem­bo­hongi dia”, kata bunda akhir­nya.

“Tidak, ndoro, aku tidak pernah mem­bo­hongi dia”.

“Awas, engkau jangan mena­kut-nakuti dia”.

“Tidak pernah, ndoro. Tidak pernah”.

Dan sejak itu aku tak pernah lagi men­ce­ri­ta­kan apa yang kul­i­hat di lubang atap itu pada ibu dan juga tidak pada siapa pun juga. Tapi pada suatu kali ter­jadi sesu­atu yang lebih hebat dari­pada apa yang pernah kul­i­hat itu.

Begini ceri­ta­nya: Pada suatu pagi waktu meng­ha­dapi dapur aku lihat kem­bali kepala yang men­je­nguk-jenguk itu. Aku diam-diam saja meman­dangi kepala itu. Tapi tiba-tiba kepala itu hilang dan seekor monyet yang sebe­sar aku sen­diri melom­pat dari lubang itu. Segera saja bina­tang itu mem­buru-buru babu. Dan babu lari ber­pu­tar-putar dalam dapur meng­e­dari tungku. Aku lihat keta­kutan pada paras babu. Tapi ia tak men­je­rit atau minta tolong. Ia lari dan lari saja. Dan aku pun tak meng­erti meng­apa ia tak men­je­rit minta tolong. Seben­tar-seben­tar bina­tang itu ber­ge­seran dengan badanku. Tapi ia tak meng­ganggu daku. Bina­tang itu hanya hendak menang­kap babu itu. Kedua mahluk itu lari, lari ber­pu­tar — memu­tari tungku yang ber­ja­jar-jajar.

Yang satu mau menang­kap dan yang lain mau ditang­kap. Tapi kemu­dian kul­i­hat monyet itu hilang begitu saja. Aku tak tahu ke mana per­gi­nya. Aku lihat babu itu ber­jong­kok keca­pean dan kain­nya basah oleh air ken­cing.

Waktu bunda telah bangun, babu itu ber­kata pada­nya: “Ndoro, hari ini sahaya minta keluar”.

“Meng­apa? Tak senang­kah hatimu di sini?”

“Sebe­tul­nya senang juga, ndoro, tapi…”, ia tidak mene­rus­kan.

Ibu pun tak men­de­sak-desak­kan kema­u­an­nya. Dan hari itu juga babu itu mening­gal­kan rumah kami. Aku sen­diri tak berani menga­ta­kan pada bunda apa yang telah ter­jadi sepagi atas diri babu baru itu. Jadi keper­gian babu itu tak mening­gal­kan kesan apa-apa pada kami seru­mah. Bebe­rapa tahun kemu­dian baru­lah keja­dian sepagi itu kuce­ri­ta­kan pada bunda, dan bunda bilang: “Itu monyet tetangga yang lepas di waktu subuh”.

Dan sesung­guh­nya tetangga di bela­kang rumah kami mem­pu­nyai seekor monyet. Tapi itu bebe­rapa tahun kemu­dian sesu­dah ter­jadi peris­tiwa itu. Tapi kepala yang besar dengan alis-jang­gut-kumis yang putih dan monyet besar itu kini telah hilang — hilang seperti tebing-tebing dan rumpun bambu yang dise­reti oleh ban­jir­nya kali Lusi.

Ayah guru di seko­lahan par­ti­ke­lir. Bila pagi hari ayah hendak berang­kat ke seko­lah dan aku meli­hat ini, segera aku minta ikut. Dan seperti bia­sa­nya ayah meno­lak per­min­ta­anku. Aku mena­ngis. Dan ibu dan ayah ber­kata ber­ma­nis-manis padaku: “Nanti kalau sudah besar engkau boleh ber­se­ko­lah”.

“Betul, bu, ya? Ya, pak, ya?”

“Tentu. Engkau akan seko­lah sampai di seko­lah tinggi, di Sur­a­baya, di Betawi atau di Eropa.”

Dan bila hatiku telah reda kem­bali ayah men­cium kedua pipiku. Kemu­dian ia ber­ja­lan dengan aman­nya. Tapi kadang-kadang aku lari meng­i­kut­i­nya, dan bunda lari ke jalan menang­kap daku. Dan aku mena­ngis lagi. Tapi bila bunda ber­kata — mela­rang — dengan kepas­tian aku tak berani mem­ban­tah­nya.

Aku masih ingat betul bila ayah tak ada di rumah. Kaleng cat yang diberi poros dan ber­tali oleh bunda kuta­rik-tarik ke mana aku pergi. Tapi semua itu pun telah hilang tak ubah­nya dengan tebing dan rumpun bambu yang dise­reti oleh banjir kali Lusi.

Bia­sa­nya ayah datang dari seko­lahan dengan ter­tawa riang. Dipang­gil­nya dulu namaku dan adikku yang beru­mur seta­hun itu. Baru sete­lah men­ci­umi kami ia duduk dengan bunda meng­ha­dapi meja makan. Dan aku ber­diri di sam­ping bunda, turut makan pula. Bunda menyu­api daku dalam makan­nya. Dan sete­lah mene­rima suapan aku ber­lari-lari ke sana kemari hingga nasi di mulut habis ter­ku­nyah dan ketelan sekali.

“Enak? Enak?” bia­sa­nya ayah ber­ta­nya padaku.

Dan bia­sa­nya juga aku ter­tawa sambil men­ja­wab: “Enak.”

Makan ayah ter­lam­pau sedi­kit. Bia­sa­nya ia makan sete­ngah piring saja. Jarang sekali ia makan ber­tam­bah. Dan sebe­lum ayah mening­gal­kan meja makan aku sudah mengan­tuk oleh keke­nyangan. Baru kalau ayah bilang: “Ah, engkau sudah mengan­tuk. Sana tidur”. Baru­lah aku tahu, bahwa aku sebe­nar­nya sudah mengan­tuk dan ingin tidur. Bunda mem­bawa daku ke ran­jang. Dite­puk-tepuk­nya pahaku hingga ter­ti­dur. Dan dalam pan­dangku yang kabur-kabur oleh mengan­tuk itu nampak sele­retan gigi­nya yang rampak kecil-kecil mem­biji men­ti­mun. Dan mata­nya yang agak sipit ber­si­nar-sinar penuh dengan kasih-sayang. Tapi semua itu pun hilang ter­se­ret-seret. Yang ting­gal hanya kenangan indah dalam kepala.

Bunda wanita yang saleh. Dalam kea­daan tak mengan­dung ia mesti ber­se­m­bah­yang dalam muke­nanya yang putih bersih. Hanya muka­nya dan jari-jari­nya saja nampak bila ia ber­se­m­bah­yang. Kadang-kadang tangan­nya meme­gangi tasbih. Sela­ma­nya aku tak berani men­de­kat­i­nya bila ia dalam kea­daan seperti itu. Kutunggu ia dari luar kamar hingga ia habis ber­se­m­bah­yang.

“Untuk apa orang ber­se­m­bah­yang, ibu?” pernah aku ber­ta­nya.

YANG SUDAH HILANG Da 13

“Supaya men­da­pat rahmat dari Tuhan”, kata­nya. “Nanti kalau engkau sudah besar engkau akan meng­erti sen­diri apa guna­nya. Engkau seka­rang masih kecil. Lebih baik engkau ber­main-main saja”.

Dan aku tak pernah ber­ta­nya-tanya lagi ten­tang hal itu.

Bila malam telah sampai, dan ayah belum juga pulang ke rumah, sering aku ter­ba­ngun oleh suara ibu yang sedang mengaji. Seperti juga halnya dengan suara nya­nyi­an­nya, suara menga­ji­nya pun bagus. Dan bila ayah tak pulang juga sampai di pagi hari, bunda terus juga mengaji. Sekali aku pernah ter­ba­ngun dan pergi men­de­kat­i­nya. Ber­ta­nya: “Sudah begini malam ibu masih mengaji saja?”

Ibu meng­am­bil daku dan didu­duk­kan di pang­ku­an­nya. Tapi ia tak ber­kata apa-apa. Aku dici­um­nya. Dan masih terasa-rasa olehku betapa hangat nafas­nya waktu hidung­nya mele­kat pada pipiku.

“Meng­apa ibu mengaji terus?” tanyaku lagi.

“Supaya ayahmu selalu sela­mat. Supaya ayahmu dija­uh­kan dari per­bu­atan mak­siat. Engkau tak tidur lagi?”

“Meng­apa bapak belum datang juga?”

Dan bunda men­ja­wab per­ta­nyaan itu dengan cium yang dite­kan­kan keras-keras pada pipiku. Tapi ia tak ber­kata apa-apa.

“Di mana bapak, bu?” tanyaku lagi.

“Bapak sedang bekerja”.

“Sudah begini malam?” tanyaku lagi.

“Ya, bapak banyak bekerja”.

“Kapan bapak datang, bu?”

“Kalau engkau bangun tidur, bapak nanti pulang. Ayo tidur lagi, anakku”.

Dan diba­wa­nya aku ke ran­jang. Seben­tar ter­de­ngar bun­da­me­nina-bobok­kan. Waktu aku ter­ba­ngun lagi, bunda masih ter­de­ngar mengaji. Ingin aku mena­nya­kan adakah ayah sudah datang atau belum. Tetapi aku tak kuasa bangun. Aku ter­ti­dur lagi. Dan aku mimpi ten­tang ayah dan bunda dan adikku yang beru­mur seta­hun.

Pagi hari waktu aku bangun kupang­gil bunda dan ber­seru: “Mana bapak, ibu?”

“Bapak sudah pergi meng­a­jar”.

“Sudah datang­kah bapak tadi?”

“Sudah. Sebe­lum berang­kat bapak mene­ngok engkau dulu. Dici­um­nya engkau dan kemu­dian bapak pergi meng­a­jar lagi”.

“Meng­apa bapak tak senang ting­gal di rumah dan main-main dengan aku, ibu?”

“Bapak harus men­cari uang untuk kita semua, untuk mem­beli bajumu, untuk makan kita dan adik”.

Dan aku tak ber­ta­nya lagi. Siang hari waktu ayah pulang dari seko­lahan segera aku datang pada­nya. Ber­ta­nya: “Meng­apa bapak sema­lam tak pulang juga? Aku bangun malam-malam, tapi bapak belum datang juga.”

Ayah hanya ter­tawa. Bunda tunduk saja di kursi.

“Ibu sema­lam mengaji terus, pak”.

Seka­li­gus ter­tawa ayah lenyap.

“Meng­apa bapak tak suka ting­gal di rumah dan ber­main-main deng­anku?”

Kem­bali ayah ter­tawa. Ia tak mau men­ja­wab. Kemu­dian kami meng­ha­dapi meja makan. Dalam makan itu aku ber­ta­nya pada­nya: “Boleh aku pergi malam, bapak?”

Ter­de­ngar ayah ter­tawa lagi. “Engkau masih kecil, anakku. Kalau engkau sudah besar engkau tak perlu turut siapa-siapa. Engkau boleh pergi ke mana-mana sesuka hatimu”.

Dan aku melon­jak-lonjak kegi­rangan oleh janji itu.

“Boleh aku sen­di­r­ian pergi ke rumah nenek, pak?”

“Tentu saja boleh. Tapi seka­rang belum boleh. Engkau masih kecil”.

“Sudah, jangan banyak ber­ta­nya-tanya”, ibu mela­rang. “Ayah sudah capek dan mau tidur. Dan engkau harus tidur juga”.

Dan semua itu pun telah habis ter­se­ret dan takkan mung­kin datang kem­bali.

MasiH TERANG dalam ing­at­anku hingga kini betapa pada suatu hari aku keta­kutan men­de­kati bunda. Pagi itu hari Minggu. Anak-anak angkat orang tuaku — yang sebe­tul­nya bukan anak angkat benar, hanya anak-anak yang dise­rah­kan kepada orang tuaku — pergi melan­cong ke tempat pelan­congan para pemuda kota kecil kami, Blora. Rumah kami sunyi saja. Yang ting­gal hanya bunda, adikku kecil dan babu. Ayah tak ada di rumah waktu itu. Aku sedang kesu­nyian dan kucari bunda, kuda­pati dia sedang ber­ba­ring di sam­ping adikku kecil di ran­jang. Adikku sedang tidur waktu itu. Dan bunda mere­nungi langit-langit kelambu.

“Ibu! Ibu!” aku ber­seru.

Ibu tak menya­h­uti, juga tak ber­ge­rak dari tem­pat­nya. Dengan susah payah aku naik ke atas ran­jang. Dan kul­i­hat mata bunda merah, seben­tar-seben­tar diha­pus­nya dengan seli­mut adikku kecil. Aku ter­diam. Lama. Ter­diam oleh keta­kutan. “Meng­apa mena­ngis, bu?” aku ber­ta­nya. Baru bunda meman­dang aku. Dira­ih­nya aku dan diti­dur­kan di sam­ping­nya.

“Meng­apa, bu?” aku ber­ta­nya lagi.

“Tidak apa-apa, anakku”.

Waktu itu juga aku ingat suatu kali yang indah — per­ja­lanan dengan kereta api ke Rem­bang — meli­hat laut yang tak kun­jung diam, selalu ber­de­buran dengan ombak­nya yang buru-mem­buru ke pantai itu. Ber­ta­nya lagi aku: “Kapan kita pergi naik kereta api lagi, bu? Ke Rem­bang? Dan lihat laut yang biru itu?”

Ayah dan ibu bunda ber­tem­pat ting­gal di Rem­bang. Men­de­ngar per­ka­taan Rem­bang itu bunda jadi ter­se­dan-sedan. Aku tak tahu meng­apa. Ber­ta­nya: “Meng­apa ibu mena­ngis?”

Ia bangun, dan dici­um­nya aku ber­u­lang-ulang. Ada terasa olehku air mata­nya men­di­ngini pipiku. Kemu­dian bunda ber­kata pelahan-lahan: “Nanti kita akan mening­gal­kan Blora, anakku sayang, dan ting­gal di Rem­bang untuk selama-lama­nya”.

“Meng­apa untuk selama-lama­nya, ibu?”

“Bukan­kah engkau senang meli­hat laut, anakku sayang?”

“Senang sekali, bu. Tentu aku senang ting­gal lama-lama di laut. Kapan kita pergi, bu?” tanyaku gem­bira.

Tapi oleh kegem­bi­ra­anku itu bunda tambah mena­ngis. Kemu­dian ber­kata: “Seben­tar lagi”, kata­nya.

“Nanti, bu?”

“Tak tahu­lah aku. Tak tahu­lah aku. Tapi senang­kah engkau ting­gal di Rem­bang, anakku sayang?” Dan bunda meng­ha­pus air mata­nya.

“Tentu, bu. Dan bapak turut juga, bukan?”

Bunda ter­ke­jut men­de­ngar itu. Aku lihat benar pada bola mata­nya yang ber­henti, tak ber­ge­rak-gerak dan melem­par­kan pan­dang­an­nya padaku. Aku tak tahu meng­apa. Tapi pan­dang­nya itu tiba-tiba menim­bul­kan keta­kutan dalam hatiku. Tiba-tiba saja aku men­je­rit ken­cang-ken­cang. Dan segera bunda men­cium aku lagi dan ber­kata lunak: “Jangan mena­ngis, sayang”.

Tapi sebe­lum tangisku harus kunik­mati, adikku kecil men­je­rit — ter­ke­jut oleh tangisku itu. Bunda ber­kata lagi: “Bapak juga turut pergi dan meli­hat laut”. Ia diam dan menyu­sui adikku kecil. Mene­rus­kan. “Meng­apa engkau mena­ngis?”

“Aku tak mau pergi ke Rem­bang. Aku senang di sini dengan ibu dan bapak. Mana bapak, bu?”

“Bapak pergi. Bekerja”.

Dan aku meng­u­langi per­ta­nyaan yang pernah kuka­ta­kan pada­nya: “Meng­apa bapak tak suka ting­gal di rumah dan ber­main-main deng­anku bu?”

“Bapak banyak peker­ja­an­nya”.

“Bekerja terus sajakah bapak, bu?”

“Ya,” kata­nya. Dan dalam menye­but per­ka­taan itu ada terasa sesu­atu dalam hatiku. Tapi aku tak tahu benar apa sesu­atu itu.

Aku ber­henti mena­ngis sama sekali. Ber­ta­nya lagi: “Meng­apa ibu tadi mena­ngis?”

Ibu tak men­ja­wab. Hanya ber­ta­nya dengan suara menye­rah: “Engkau sudah makan?”

“Sudah. Nanti kalau bapak makan aku turut makan lagi. Aku senang makan ber­sama-sama ibu dan bapak. Tapi alang­kah lama­nya — dan bapak belum datang-datang juga. Nanti malam barang­kali bapak datang. Datang, bu?”

“Barang­kali. Barang­kali saja datang”.

“Bapak tadi malam ada di rumah, bu?” tanyaku lagi.

“Ya. Bapak tadi malam ada di rumah. Tapi engkau sudah tidur. Engkau tidak tahu. Tapi bapak datang di ran­jangmu dan men­cium engkau empat kali”.

Aku ter­tawa senang.

“Ibu mengaji juga sema­lam, bu?” Dan dalam ber­ta­nya itu antara ingat dan tiada aku men­de­ngar ibu mengaji sema­lam.

“Tidak. Ibu sema­lam merenda. Dan engkau sudah tidur. Bapak mem­baca buku. Dan anak-anak lain­nya sudah tidur. Tidur­lah engkau seka­rang.”

“Kalau bapak datang, bangun­kan aku, ya, bu, ya?”

“He-e.”

Kemu­dian aku ber­diam-diam saja dan tak ber­ta­nya-tanya lagi. Aku lihat bunda habis menyu­sui. Kemu­dian ia ter­len­tang diam-diam saja mere­nungi sotoh kelambu. Tapi aku tak ber­kata apa-apa. Ada juga kul­i­hat mata­nya meme­rah. Tapi aku tak ber­kata-kata lagi. Kemu­dian aku pun ter­ti­dur­lah.

Waktu aku bangun, bunda masih ada di sam­pingku — ber­diam diri meman­dangi langit-langit kelambu. Tapi mata­nya tak merah lagi seperti waktu hendak tidur tadi. Sebe­lum aku ber­ge­rak dari tem­patku, segera saja aku ber­ta­nya: “Bapak sudah datang, bu?”

Aku lihat bunda ter­ke­jut. Dimi­ring­kan badan­nya dan dipan­dang­nya aku. “Belum, sayang. Lama betul engkau tidur tadi. Badanmu sehat. Sana turun. Minta mandi pada babu, ya?”

Tapi kei­ng­in­anku untuk ber­temu dengan ayah tak dapat dita­han-tahan lagi. Dan aku pun mem­ban­tah bunda. Ber­kata sete­ngah mere­ngek: “Bapak. Bapak. Mana bapak, buuu?”

“Nanti bapak datang, sayang.” Kemu­dian sua­ra­nya mengan­dung kepas­tian seperti bia­sa­nya. “Sana minta mandi sama babu.”

Kali itu aku tak peduli pada kepas­tian yang ter­kan­dung dalam ucap­an­nya: “Bapak bekerja,” kata bunda masih juga berisi kepas­tian. “Mandi!”

Aku tak meng­in­dah­kan suara bunda. Tiba-tiba kepas­tian bunda hilang. Dici­um­i­nya aku dengan sayang­nya. Ditu­run­kan­nya aku dari ran­jang. Dile­tak­kan­nya aku di lantai. Kemu­dian ber­kata penuh kasih sayang sambil men­ci­umi daku: “Nanti bapak datang. Man­di­lah dulu, anakku. Kalau engkau sudah mandi, bapak akan senang ber­main-main dan men­cium engkau. Man­di­lah seka­rang. Hari sudah sore. Nanti kalau bapak datang, engkau kupang­gil. Lekas­lah mandi. Seka­rang.”

Dan kasih sayang yang ter­kan­dung dalam ucap­an­nya itu menun­duk­kan pem­be­ron­tak­anku. Lambat-lambat aku pergi men­da­pat­kan babu dan minta mandi.

Seha­bis mandi, ayah tak juga datang. Aku mulai mena­ngis. Kuto­lak segala janji dan makanan yang disu­guh­kan di depan hidungku. Malam itu ayah tak juga datang. Dan aku mena­ngis terus tak habis-habis­nya. Tak ada terasa keca­pean dalam men­je­rit-jerit itu. Malam itu bunda mem­bawa daku ke luar rumah. Tapi dingin hawa malam itu tak ber­pe­nga­ruh apa-apa ter­ha­dap keko­songan yang ber­sa­rang dalam hatiku. Aku tahu juga bunda jadi kesal oleh tangisku. Kasih sayang­nya yang dicu­r­ah­kan­nya padaku tak ter­ma­kan oleh hatiku. Aku tahu juga bunda men­jadi jeng­kel kare­na­nya. Malam telah larut. Bebe­rapa kali — di antara tangisku — ter­de­ngar bunda menye­but dan minta ampun pada Yang Maha­ku­asa. Tapi aku mena­ngis terus sambil menye­but-nyebut bapak. Alam di luar waktu itu gelap. Bunda tak pernah - mena­kut-nakuti aku. Bila aku mena­ngis selalu ia mem­per­li­hat­kan dalam ucap­an­nya selu­ruh kasih sayang­nya.

Kemu­dian ter­de­ngar olehku bunda memang­gil salah seo­rang anak ang­kat­nya: “Dipo! Dipo!” Dan waktu yang dipang­gil­nya datang, bunda ber­kata lagi: “Cari bapak.”

“Tapi di mana bapak?” tanya­nya

“Cari, kataku. Aku tidak tahu di mana. Tapi engkau harus men­ca­ri­nya sampai dapat. Suruh dia pulang. Bilang­kan anak­nya sedang motah5.”

Kemu­dian dengan meng­gen­dong daku bunda masuk ke - dalam rumah. Dan aku mengen­dur­kan tangisku. Tapi kala ayah tak datang juga, aku men­je­rit-jerit lagi. Aku masih ingat betul. Waktu itu jam tiga malam. Aku tahu ini waktu bunda mem­bawa daku ke ruangan depan. Diba­wa­nya lampu din­ding, dite­rang­i­nya jam din­ding yang dipa­sang di ruang depan. Ber­kata pahit: “Sudah jam tiga malam.”

Kemu­dian bunda pergi ke ruang bela­kang kem­bali sambil mem­bawa lampu din­ding. “Bapak! Bapak!” teri­akku selalu. “Seben­tar lagi bapak datang, sayang, tidur­lah. Tidur­lah.”

Tapi ayah tak datang-datang juga. Dan aku mena­ngis terus, kadang-kadang pelahan-lahan, kadang-kadang men­je­rit-jerit. Kemu­dian ayah datang juga dii­ring­kan oleh Dipo.

“Bapak,” aku ber­te­riak.

Bunda meng­ham­piri ayah. Ia tak ber­kata apa-apa. Dise­rah­kan­nya aku pada­nya kemu­dian dengan diam-diam juga bunda pergi ke tempat tidur­nya.

“Bapak!” pang­gilku lagi.

Ayah men­de­kap­kan daku pada badan­nya. Dan pelahan-lahan tapi pasti tangisku mengen­dur. Kemu­dian hilang. Ting­gal sedu-sedan meng­isi dada. Pelahan-lahan, sambil meng­gen­dong daku, ayah ber­kata: “Anakku sayang. Sayang. Jangan mena­ngis lagi. Bapak sudah datang seka­rang, ya? Tidur­lah, tidur, sayangku. Hari sudah malam seka­rang.”

Lambat-lambat tapi pasti sedu-sedanku pun ber­ku­rang dan akhir­nya lenyap dalam malam. Ayah pergi ke tempat tidur bunda sambil meng­gen­dong aku. Dan aku dengar bunda sedang mena­ngis. Dise­m­bu­nyi­kan muka­nya di dalam bantal. Aku lihat ayah meng­u­sap-usap rambut ibu. Tapi bunda tetap mena­ngis saja. Ayah tak ber­kata apa-apa pada bunda. Dan bunda pun tak ber­kata apa-apa pada ayah. Antara kami ber­tiga hanya ada sedu-sedan ibu yang meng­go­yang-goyang­kan hati kami. Kemu­dian, dengan diam-diam juga, ayah ke luar dari kamar. Diba­wa­nya aku ke luar rumah, di dalam malam yang sejuk dan hitam.

“Meng­apa engkau mena­ngis saja?” ia ber­ta­nya.

“Bapak tak datang-datang saja,” kataku sete­ngah mena­ngis. “Ibu bilang nanti malam bapak datang, tapi bapak tak datang juga.”

“Tapi bapak seka­rang sudah datang, bukan?” kata­nya penuh sayang. “Nah, tidur­lah seka­rang. Tidur­lah.”

Aku dengar ayah menya­nyi pelahan-lahan. Kemu­dian aku tak ingat lagi apa yang ter­jadi. Hanya waktu aku bangun dari tidurku, ayah masih tidur di sam­pingku. Kemu­dian aku pun ter­ti­dur lagi.

Pagi itu hari masih libur. Ayah tak masuk kerja. Waktu aku bangun hari sudah siang. Kuda­pati ayah dan bunda sedang duduk-duduk di ruang depan. Sete­lah diman­di­kan oleh babu itulah aku pergi men­da­pat­kan mereka. Ber­seru: “Bapak, engkau tak pergi lagi, bukan?”

Aku lihat bunda meman­dangi ayah. Ayah ter­tawa meman­dangi daku. Kata­nya: “Tidak, hari ini bapak tak pergi kerja. Engkau jangan mena­ngis lagi, ya?”

“Bapak-bapak, kema­rin ibu juga mena­ngis.”

Aku lihat ayah meman­dangi bunda. Tapi bunda tak ber­kata apa-apa. Dan ayah pun tak ber­kata apa-apa. Aku ber­seru riang seperti tak ter­jadi apa-apa di seke­li­lingku: “Ibu bilang mau pergi ke Rem­bang.” . — Sekali lagi ayah meman­dang bunda. Tapi tak ber­kata apa-apa.

“Dan aku dibawa. Juga adik. Dan kami akan meli­hat laut. Bapak turut, bukan? Bukan? Bapak ikut juga, bukan?”

Sekali lagi kul­i­hat ayah meman­dangi bunda. Kemu­dian ber­kata padaku: “Tentu saja bapak ikut. Kapan kita pergi?”

Kuha­dap­kan mukaku pada bunda. Dengan suara kanak-kanakku aku ber­ta­nya: “Kapan kita berang­kat ke Rem­bang, bu?”

Aku lihat bunda ber­diam diri saja. Ia tak men­ja­wab. Dan aku lihat mata yang agak sipit itu jadi merah. Kemu­dian — kemu­dian mata­nya ber­kaca-kaca. Dan waktu air mata­nya akan jatuh, cepat-cepat dise­ka­nya dengan ujung keba­ya­nya. Meli­hat itu segera saja aku ber­te­riak, men­je­rit dan mena­ngis. Dan di kala bunda bangun dari tempat tidur­nya. Dan pergi mening­gal­kan kami, aku kian men­je­rit. Aku lari dan meme­gangi kain­nya. Ber­seru: “Meng­apa ibu mena­ngis, bu?”

Bunda meng­am­bil aku, dia­yun­kan, kemu­dian digen­dong­nya. Tapi ia tak ber­kata apa-apa. Sampai di tempat tidur dise­m­bu­nyi­kan muka­nya di dadaku. Dan ayah tak datang ke tempat tidur itu.

Ya, keja­dian itu masih terang dalam ing­at­anku. Dan seperti yang lain-lain juga semu­a­nya itu telah hilang — seperti tebing dan rumpun bambu yang dise­reti oleh banjir kali Lusi. Sung­guh meng­he­ran­kan hatiku. Meng­apa semua yang ter­jadi itu tidak tetap ter­jadi. Tiap-tiap per­u­ba­han yang selalu ber­pin­dah-pindah itu, kadang-kadang tak dapat atau tak sampai dalam peng­a­matan manu­sia, meng­um­bang-ambing­kan begini banyak manu­sia di dunia ini.

Di TiAP-TiAP leba­ran ayah mem­beli mercon sege­ro­bak. Aku dan adikku kecil dan bunda dan anak-anak angkat orang tua kami men­da­pat baju baru dan uang dari ayah. Mercon diba­kari dan pecah­an­nya ber­se­baran di pela­taran. Anak-anak para tetangga datang meru­bungi mercon yang akan dile­dak­kan. Dan bukan main gem­bi­raku di hari-hari leba­ran seperti itu. Namun semua itu tak pernah menim­bul­kan seri gem­bira pada air muka bunda. Aku lihat bunda selalu murung. Dan aku lihat ayah sering mening­gal­kan rumah. Lama kela­maan aku telah biasa dengan per­ce­raian dengan ayah dan tak perlu motah lagi. Dan ayah pun jadi tak perlu dipang­gil pulang lagi. Sampai besar aku tak tahu ke mana ayah selalu pergi di waktu-waktu tak meng­a­jar itu. Bunda pun tak pernah mena­nya­kan dari mana. Bunda ber­diam diri saja bila ayah pergi, juga tak mene­gur bila ayah datang. Bia­sa­nya ayah pergi di kala bunda ada di ruang bela­kang, di dapur atau di ladang. Dan bila aku meli­hat ayah mening­gal­kan rumah, aku pun ber­diam diri saja dan tak ber­ta­nya-tanya lagi. Sekali-sekali pernah juga aku ber­ta­nya:

“Mau pergi ke mana, pak?”

“Kerja,” kata­nya pendek.

Dan pernah juga aku ber­kata lebih dari itu: “Boleh­kah aku ikut?”

Dan dengan ring­kas dan cepat-cepat, sambil ber­ja­lan, tanpa mene­ngok-nengok lagi, ayah men­ja­wab per­min­ta­anku itu:

“Tidak boleh. Nanti kalau besar engkau boleh pergi sen­diri. Main-main saja­lah dengan mas-masmu.”

Dan aku sudah merasa puas dengan jawab­an­nya itu.

Di waktu leba­ran itu bunda meman­dangi anak-anak yang mele­dak­kan mercon di kur­si­nya di ruang depan. Ia tak ber­kata apa-apa, hingga pada suatu ketika ia bilang padaku, yakni waktu aku men­de­kat­i­nya: “Mercon itu tak boleh diper­gu­na­kan di waktu leba­ran. Itu dila­rang oleh agama,” kata­nya. “Mercon adalah alat-alat upa­cara orang Tiong­hoa dan sama sekali bukan ter­ma­suk dalam alat-alat upa­cara orang yang ber­a­gama Islam.”

Tapi tiap leba­ran ayah terus saja mem­beli sege­ro­bak mercon, hingga pada suatu kali seo­rang anak ang­kat­nya men­da­pat kece­la­kaan, dan ayah tak pernah mem­beli mercon lagi.

Kemu­dian menyu­sul­lah peris­tiwa besar. Ayah bunda, kakekku, yang ting­gal di Rem­bang mening­gal dunia sesu­dah naik haji dua kali. Segera saja ayah menyewa mobil dan ber­sama-sama kami pergi. Aku tak ingat betul apa yang ter­jadi dalam peris­tiwa itu. Hanya waktu bunda sudah sampai di Blora kem­bali, dia jadi layu, seperti orang yang kehi­langan besar — kehi­langan tempat pela­ri­an­nya di dunia ini. Ibu bunda di Rem­bang adalah ibu tiri. Dan dalam seminggu sete­lah mela­wat itu bunda selalu mena­ngis.

“Mati adalah kewa­ji­ban tiap manu­sia,” pernah kude­ngar ayah meng­hi­bur.

Tapi bunda tak mau men­de­ng­ar­kan nasi­hat itu. Aku lihat bunda selalu mena­ngis. Kalau waktu itu aku bisa menga­ta­kan, pas­ti­lah kuka­ta­kan, bahwa sesung­guh­nya bunda sedang kehi­langan tempat ber­lin­dung­nya yang kadang-kadang diha­rap­kan­nya di kala ia mem­bu­tuh­kan tempat pela­rian. Di kemu­dian hari ada juga aku pernah mera­sai suatu kehi­langan dalam hidupku — kehi­langan sesu­atu yang takkan mung­kin dida­pat peng­gan­ti­nya. Dan aku kira tiap orang pun pernah atau pada suatu kali akan meng­a­lami kehi­langan seperti itu.

Seminggu telah lewat. Dan bila saat itu aku dapat men­cu­r­ah­kan isi hatiku, pas­ti­lah akan kuka­ta­kan, bahwa bunda nampak menye­rah pada waktu sesu­dah itu. Dan seka­li­pun ia meli­hat ayah pergi di waktu malam di depan­nya, ia tak ber­kata sepa­tah pun jua, seakan-akan tak ter­jadi sesu­atu di ling­kung­an­nya sen­diri. Dan semua itu mem­buat bunda lebih-lebih lagi men­de­kati kami anak-anak­nya. Kami jadi pela­ri­an­nya.

Di saat-saat yang sunyi, bukan kesu­nyian dunia, tapi kesu­nyian hati, diba­wa­nya kami ber­ja­lan-jalan satu sampai satu sete­ngah kilo­me­ter, dan dido­ng­engi kami ten­tang sesu­atu yang ter­kan­dung dalam bagian-bagian alam yang telan­jang. Bunda ber­ce­rita ten­tang burung, ten­tang air kali Lusi waktu kami menye­ber­a­ngi jem­bat­an­nya, ten­tang sawah dan padi, ten­tang hama padi yang sering meru­sak­kan panen dan harapan petani, ten­tang angin dan men­dung, mata­hari dan bin­tang, dan ter­u­tama sekali ten­tang peng­hi­dupan rakyat jelata. Penge­ta­huan kanak-kanak jadi ber­tam­bah kare­na­nya.

Bila sore telah sampai, diba­wa­nya kami duduk-duduk di bangku pela­taran. Dan bunda ber­ce­rita ten­tang tumbuh-tum­buhan, ten­tang rumpun-rumpun bambu yang meliuk-liuk ditiup angin, ten­tang buah-buahan, ten­tang kapal, kereta api, mobil dan sepeda. Bunda pandai ber­ce­rita. Kadang-kadang bunda ber­ce­rita ten­tang kota-kota yang pernah dili­hat­nya, ten­tang sau­dara-sau­da­ra­nya dan kelu­ar­ga­nya dulu, ten­tang pel­a­jaran di seko­lahan, ten­tang guru-guru­nya. Dan tidak lupa pada kami yang kecil-kecil bunda ber­ce­rita ten­tang poli­tik pen­ja­jahan Belanda. Hingga kini aku masih ingat betapa bunda ber­ce­rita padaku, betapa orang-orang yang ber­ju­ang dalam gerakan poli­tik itu dibu­angi dan dipen­ja­ra­kan. Dan masih ter­i­ngat olehku bunda ber­ce­rita ten­tang Ki Hajar Dewan­toro6, yang dibu­ang ke negeri Belanda.

Dan seperti yang lain-lain juga, semua itu pun telah ter­se­ret-seret dan lenyap dari jang­kauan pan­ca­in­dra kami.

Ibu bunda diam di ping­gir kota kami, Blora, sete­lah kawin dengan pen­du­duk di situ. Kadang-kadang nenek datang ke tempat kami mem­ba­wa­kan buah-buahan. Peng­ha­silan nenek ialah men­jual sayur-sayuran. Pagi-pagi ia bangun dan men­ce­gat petani yang mem­bawa sayur-mayur­nya yang mau diba­wa­nya ke pasar. Ia mem­beli dagang­an­nya dari mereka dan men­ju­al­nya ke rumah-rumah para pri­yayi, atau kuka­ta­kan yang menye­but dir­i­nya pri­yayi. Kakek yang diam di ping­gir kota men­cari peng­ha­sil­an­nya dengan ber­ju­alan sate ayam di pasar. Kakek sen­diri jarang datang selain untuk keper­luan memin­jam uang. Tadi­nya kakek ber­tani juga, tapi panen­nya selalu gagal.

Orang-orang pen­du­duk kota kecil kami mem­pu­nyai keper­ca­yaan yang aneh. Dan ini kuke­ta­hui waktu aku sudah dewasa. Orang akan keja­tuhan sial — sial untuk seumur hidup­nya — bila telah menu­run­kan manu­sia yang dise­but umum tidak sah. Demi­kian juga halnya dengan kakek. Tapi ten­tang hal itu aku tak tahu betul.

Kadang-kadang aku lihat bunda ber­pa­ras kesal bila bapak tiri­nya datang. Dan pernah suatu kali ia ber­kata padaku dengan jalan tak lang­sung: “Engkau tak boleh men­ja­lani jalan mak­siat,” kata­nya. “Lihat­lah kakekmu itu. Begi­tu­lah aki­bat­nya. Segala usa­ha­nya gagal. Segala doa dan harap­an­nya tak sampai ke tem­pat­nya.”

Tapi peng­er­tian kanak-kanakku tak sampai pada apa yang dimak­sud­kan oleh­nya. Dan sekali itu juga aku pernah ber­ta­nya: “Meng­apa kakek, bu?”

“Kalau engkau sudah besar engkau. akan tahu sen­diri meng­apa.”

Dan aku tak ber­ta­nya-tanya lagi.

Bunda biasa men­cang­kul di ladang. Dan di waktu-waktu seperti itu, kalau aku tak sedang ber­main-main, pasti ikut deng­an­nya. Dalam waktu-waktu seperti itu biasa melun­cur dari mulut bunda dong­eng-dong­eng yang semua berisi pen­di­dikan — pen­di­dikan agar anak­nya men­cin­tai alam, men­cin­tai sesu­atu peker­jaan yang ter­tentu, dan bekerja dengan sung­guh-sung­guh. Peng­er­tian kanak-kanakku tak dapat menang­kap apa yang dimak­sud­kan­nya. Tahunan kemu­di­an­lah aku baru meng­erti apa yang dimak­sud­kan­nya.

“Orang hidup dari keri­ng­at­nya sen­diri, anakku. Kalau engkau sudah dewasa, engkau pun akan demi­kian pula. Dan segala barang yang kau terima tidak dari hasil peker­ja­anmu sen­diri itu tidak sah. Ya, seka­li­pun barang itu barang pem­be­rian orang der­ma­wan padamu.”

Dan seperti yang lain juga, semua itu hilang sudah. Hilang untuk takkan kem­bali lagi — hilang untuk abadi mene­tap dalam ing­atan dan kenangan. Kali Lusi meng­a­lami banjir dan surut­nya, meng­a­lami naik dan turun­nya. Demi­ki­an­lah juga halnya dengan segala yang telah ter­jadi dalam hidup semasa kanak-kanak itu.

“Dan engkau boleh ber­buat seke­hen­dak hatimu dengan barang-barang yang kau­per­o­leh — juga hidup dan badanmu sen­diri. Semua saja, semua saja yang kau­per­o­leh dengan sah,” pernah sekali ayah ber­kata.

Suara itu hanya ter­de­ngar bebe­rapa detik saja dalam hidup. Getaran suara yang seben­tar saja ber­de­ngung, takkan ter­u­lang lagi. Tapi seperti juga halnya dengan kali Lusi, yang abadi meng­ga­risi kota Blora, dan seperti kali itu juga, suara yang ter­sim­pan meng­ga­risi kenangan dan ing­atan itu meng­a­lir juga — meng­a­lir ke mua­ra­nya, ke lautan yang tak ber­tepi. Dan tak seo­rang pun tahu kapan laut itu akan kering dan ber­henti ber­tepi.

Hilang.

Semua itu sudah hilang dari jang­kauan pan­ca­in­dra.

Jakarta, vii-1950



Cerita pendek

Kemudian Lahirlah Dia

Dari Cerita dari Blora (1952). Teks dari cetak ulang Hasta Mitra, 2002.

Selain saudara-saudara angkat, di rumah kami pun banyak anak-anak lelaki menum­pang. Mereka semua masih ber­se­ko­lah. Seo­rang di antara sau­dara-ang­katku ber­nama Hurip. Ia telah tamat seko­lah mene­ngah guber­men di ibu­kota propinsi, Sema­rang. Anak-anak yang telah dewasa sering ber­kum­pul ber­canda-canda. Tapi banyak di antara per­ca­kapan mereka tak dapat kupah­ami. Juga tak dapat kumeng­erti apa yang dika­ta­kan kak Hurip pada suatu kali: “Kita memer­lu­kan dina­mik. Masya­ra­kat kita ter­lam­pau beku. Sekali-sekali ki punya kebe­ra­nian mele­pas­kan cita-cita jadi pega­wai negeri”

Aku selalu ingin tahu apa saja yang seki­ra­nya mung­kin dapat kuke­ta­hui. Karena itu aku tak pernah dapat menya­lah­kan diriku bila sering mem­bong­kar-bong­kar lemari buku atau meja tulis ayah. Yang tak dapat kufami dari apa yang kude­ngar selalu kuta­nya­kan pada ibu. Dan ucapan kak Hurip itu pun kuta­nya­kan pada­nya. Ramah ibu men­ja­wab: “Nanti kalau engkau sudah besar akan meng­erti sen­diri apa arti­nya.”

Dan ucapan kak Hurip itu meng­ganggu terus dalam benakku. Kawan-kawan seba­yaku pun tak meng­erti apa arti­nya. Malah bujang kami yang umur­nya tujuh kali umurku pun tak meng­erti.

Kak Hurip sangat ter­pan­dang di per­ga­ulan rumah kami karena telah lulus Mulo1. Ibu pun meng­hor­mat­i­nya. Tak heran bila ia jadi pusat per­ha­tian dan semua kata­nya dide­ng­ar­kan orang. Dalam tiap per­ca­kapan ia jadi tuan yang ber­dau­lat. Ibu bilang, kak Hurip sudah masuk partai poli­tik. Bukan main kagetku men­de­ngar dia campur tangan dalam poli­tik. Menu­rut penger­saja yang ber­hu­bungan dengan polisi.

“Tidak marah­kah bapak karena dia masuk polisi?” tanyaku.

Ibu ter­se­nyum manis men­de­ngar per­ta­nya­anku itu. Kemu­dian dengan kata-kata seder­hana men­je­las­kan apa arti­nya poli­tik: “Mereka yang masuk partai poli­tik adalah musuh polisi.”

Dan aku meng­erti sedi­kit. Segera kuka­bar­kan pada kawan-kawan seba­yaku arti poli­tik, dan mereka menyam­but kete­rang­anku dengan ter­tawa tak per­caya. Juga bujang kami tak per­caya. Dan dengan tak sadar terasa olehku, bahwa diriku diling­kungi oleh din­ding tebal yang tak bisa ditem­bus.

Kemu­dian datang­lah sore itu — sore sesu­dah mandi dan semua kakak-angkat belum mulai main catur, bel­a­jar atau meng­gam­bar. Mereka duduk di tikar meling­kungi meja rendah — meja bel­a­jar kami — dan per­ca­kapan yang serius ter­j­a­dilah. Aku duduk di bela­kang kak Hurip, dan dia bilang dengan suara ber­se­ma­ngat: “Kehi­dupan pega­wai sung­guh mem­bo­san­kan. Mereka berang­kat kerja pada jam ter­tentu, ting­gal di kantor untuk sekian jam, pulang di jamnya yang ter­tentu pula, main-main dengan bini­nya — dan anak baru pun lahir­lah ke dunia ini. Dan kehi­dupan seperti itu ber­ja­lan terus dari tahun ke tahun. Sung­guh mem­bo­san­kan. Dalam kepala mereka meru­yak harapan kuda pedati akan setekam rumput, setang­kuk air dan isti­ra­hat seje­nak. Penge­lam­unan yang indah akan datang­nya kena­ikan gaji. Kemu­dian di sela-sela­nya melon­jak-lonjak cum­buan anjing: pujian dari tuan kepala dan sedi­kit nyala di lubuk harapan untuk kena­ikan pang­kat. Kemu­dian lagi keta­kutan kelinci: gertak tuan sep2 dan kehi­langan kursi kantor.”

Anak-anak yang lain men­de­ng­ar­kan dengan per­ha­tian sung­guh-sung­guh. Aku pun mem­per­ha­ti­kan betul-betul, tapi tak dapat meng­i­kuti semu­a­nya. Satu peng­er­tian yang ting­gal dalam ing­at­anku ialah, kalau orang main-main dengan bini­nya anak baru pun lahir­lah.

Dan kak Hurip mene­rus­kan ceri­ta­nya: kehi­dupan pega­wai ter­lam­pau mem­bo­san­kan. Tak ada selingan, kata­nya. Pada­hal selingan hidup menyu­bur­kan daya cipta. Dan bila bulan lalu dengan sela­mat para pega­wai mem­bawa gaji pulang dengan air muka riang — sedi­kit keme­rah-merahan. Per­te­ngahan sampai akhir bulan mereka pengap-pengap keku­rangan belanja. Dan dalam kepa­la­nya menari-nari­lah lem­baran-lem­baran bon, surat hutang dan surat gadai. Dan mereka yang tak bosan sung­guh-sung­guh pega­wai dari dera­jat yang tinggi karat. Kehi­dupan yang tak beru­bah-ubah. Anak yang kian mem­ba­nyak juga …

Tahun-tahun sebe­lum perang dunia kedua ter­ba­yang. Dan aku sung­guh-sung­guh tak meng­erti apa yang dimak­sud­kan oleh kak Hurip. Tapi aku ber­diam diri saja men­de­ng­ar­kan.

Sesu­dah makan sore kuta­nya­kan pada ibu ten­tang betul tidak­nya per­ma­inan dengan bini yang meng­a­ki­bat­kan lahir­nya anak baru. Ibu tak men­ja­wab per­ta­nya­anku. Dengan tiada beru­bah paras ia menyu­ruh aku pergi bel­a­jar dan juga menyu­ruh aku memang­gil kak Hurip. Waktu dili­hat­nya aku masih juga meng­ha­rap­kan jawaban, ia ber­kata tegas: “Bel­a­jar! Jangan tang­guh­kan pel­a­jar­anmu. Pel­a­jaran takkan ada habis-habis­nya sampai engkau besar. Per­gi­lah.”

Dan aku meng­u­langi per­ta­nya­anku lagi. Bunda marah. Aku tak pernah meli­hat ibu ber­bim­bang-bim­bang. Sampai dalam hal-hal yang kecil pun ia selalu mem­per­li­hat­kan kete­gas­an­nya. Dan kete­gasan inilah yang telah begitu ber­jasa dalam mengen­da­li­kan rumah-tangga. Aku pun per­gi­lah. Dan seben­tar kemu­dian ter­de­ngar ia memang­gil kak Hurip. Sejak waktu itu kakak ang­katku ber­hati-hati dalam per­ca­kap­an­nya bila aku ada di dekat­nya. Ini kuke­ta­hui waktu ia sedang ber­ca­kap-cakap meriah dengan anak-anak lain, tiba-tiba ia mem­be­lok­kan per­ca­kap­an­nya yang ber­sung­guh-sung­guh men­jadi ber­canda-canda waktu aku datang men­de­kati.

Kehidupan sederhana di kota kecil kami tiba-tiba beru­bah. Walau­pun kehi­dupan itu tak kuke­ta­hui betul tapi ada kura­sai. Dari pen­de­ng­aran-pen­de­ng­aran yang sampai ke kupingku tahu­lah aku, ada ter­da­pat kegun­cangan di golongan pri­yayi. Juga di kalangan kaum peda­gang. Juga di kalangan kaum petani dan kaum tukang. Dan pada suatu kali ada ter­tang­kap olehku kata-kata ten­tang India, ten­tang swa­desi3, ten­tang Jepang, ten­tang keba­ngu­nan Asia dari mulut kak Hurip. Selain itu ia bicara ber­ko­bar-kobar seperti bapak sedang ber­pi­dato: “Sudah jadi tra­disi sejak adanya raja di tanah-air ini kaum pri­yayi meru­pa­kan golongan ber­dau­lat — kedau­latan yang bukan pada tem­pat­nya. Mereka merasa punya hak, seka­li­pun hak itu tak ada yang meng­a­kui dan men­sah­kan selain golongan itu sen­diri, mene­rima sebutan ndoro dari mereka yang bukan ter­ma­suk golong­an­nya. Mereka lebih banyak keli­hatan tenang dari­pada geli­sah. Kete­nangan karena mereka tak banyak memi­kir­kan kea­daan seling­kung­an­nya. Per­ha­ti­an­nya hanya per­nan­tian akan datang­nya kena­ikan pang­kat, kebe­saran, gaji. Kadang-kadang mimpi bagus itu ter­ben­tur pada keta­kutan yang tak ber­al­asan: peme­ca­tan, sem­protan tuan sep dan turun gaji. Tapi seka­rang, kita sudah ber­ge­rak. Bila pri­yayi tak suka ber­ge­rak, mereka akan ter­ce­cer.”

Seba­gai bia­sa­nya aku tak meng­erti betul apa yang dimak­sud­kan oleh semua ucap­an­nya.

Di WAKTU-WAKTU itu nampak juga olehku akan adanya kegu­gupan yang meraba kehi­dupan kota kecil kami. Orang-orang dewasa men­di­r­i­kan per­kum­pulan sepak­bola. Dalam waktu yang seben­tar tak kurang dari tiga per­kum­pulan didi­r­i­kan di tiap kam­pung. Di kalangan anak-anak pun per­kum­pulan sepak­bola tumbuh seperti cen­da­wan. Di kalangan pri­yayi timbul per­kum­pulan-per­kum­pulan kese­nian: ketop­rak, wayang purwa, tari-menari Jawa atau beksan, menya­nyi dan game­lan. Di kalangan anak-anak muda: san­di­wara dan orkes. Ayah men­jadi pelin­dung bebe­rapa per­kum­pulan kese­nian, olah­raga dan sosial. Dan kabar yang kude­ngar dari ibu, bunda pun jadi pelin­dung per­kum­pulan wanita.

Banyak di antara orang-orang kam­pung kami jadi polisi. Dan dari mereka datang berita, guber­men menam­bah keku­atan poli­si­nya. Tapi ini tak meng­ha­langi datang­nya bon­do­ngan-bon­do­ngan pen­du­duk waktu men­de­ngar, insi­nyur Sukarno datang ber­pi­dato di kota kecil kami. Juga tak meng­ha­langi ber­ke­ru­mun­nya beribu-ribu orang datang minta air obat dari dok­to­r­an­dus Sos­ro­kar­tono4 waktu mela­wat ke sana. Dan hampir tiap kepala kelu­arga pulang mem­bawa sete­ngah botol air tawar dengan girang­nya, seakan-akan selu­ruh kese­la­mat­an­nya ter­ja­min oleh air itu.

Pagi-pagi benar selalu nampak puluhan orang ber­lari-lari dalam barisan. Dan tiap minggu hampir selalu ter­de­ngar ada per­tan­dingan sepak­bola. Sering­kali nampak anak-anak ber­ba­ris dan menya­nyi­kan:

Di Timur mata­hari mulai ber­caya Bangun dan ber­diri kita semua …

Ayah menyu­ruh kami semua masuk kepan­duan. Dan waktu dia­da­kan api unggun ada kul­i­hat seba­risan orang-orang tua disum­pah seba­gai ang­gota kehor­matan Kepan­duan Bangsa Indo­ne­sia5. Dan di antara mereka itu ter­da­pat juga ayah dalam uni­form pandu. Kepan­duan lipat empat banyak­nya. Dan kemu­dian timbul dua kepan­duan lagi, yang satu ber­al­iran agama dan yang lain mem­per­gu­na­kan bahasa Belanda seba­gai peng­an­tar.

Pelahan-lahan tapi pasti keben­cian pada Belanda timbul. Dan keben­cian ini akhir­nya merata. Dan suatu kali dengan senyum manis ayah ber­kata pada ibu: “Jangan dikira orang barat akan tetap lebih tinggi dari­pada orang timur.”

Ibu menik­mati lezat­nya kata-kata itu. Dan waktu kuper­ha­ti­kan benar-benar, nyata bahwa perut bunda telah berisi. Aku masih ingat ucapan ayah yang dika­ta­kan­nya waktu aku beru­mur tujuh tahun. Di kala itu juga ibu sedang meme­gangi buku. Sepu­luh atau sebe­las tahun kemu­dian kuke­ta­hui, buku ter­se­but adalah buku poli­tik per­e­ko­no­mian ten­tang per­go­lakan kapas. Ya, kapas yang jadi rebutan dunia per­da­gangan dan jadi warna poli­tik waktu itu.

Dengan pan­dang manis ibu meli­hat daku, ber­kata sete­lah meman­dang ayah: “Uang tidak saja datang dari kantor. Engkau mau jadi apa kelak, anakku?”

“Petani,” jawabku riang.

“Petani?” ayah ber­ta­nya. Dan aku bilang ya. Ibu mene­rus­kan: “Kalau engkau betul-betul ingin jadi petani engkau tak boleh malas seperti seka­rang.” Kemu­dian ia ber­ce­rita ten­tang ranca-ranca6 di Ame­rika Seri­kat, Aus­trali dan kepu­lauan Hawaii.

Ucap­an­nya yang seder­hana menim­bul­kan sema­ng­atku untuk men­cang­kuli bidang tanah kecil yang dise­di­a­kan untukku. Kadang-kadang bunda mem­bantu men­cang­kul­kan. Dan sekali waktu kami sedang mena­nam ubi jalar bunda ber­kata penuh peng­ha­rapan: “Buah jerih-payah sen­diri lebih nikmat rasa­nya, anakku,” kata­nya. “Lihat­lah! Keri­ng­atmu mulai ber­ti­tik. Itu akan baik untuk jalan darah dan kese­hat­anmu.”

Malah bunda ber­ce­rita juga bahwa kelak pega­wai-pega­wai tinggi yang meme­rin­tah selu­ruh Indo­ne­sia bukan Belanda lagi, tapi bangsa sen­diri. Kemu­dian: “Engkau masih kecil seka­rang. Nanti, kalau kau sudah lepas dari satu seko­lahan lagi dan suka mem­baca buku-buku tebal seperti bapak, engkau akan banyak menge­ta­hui, anakku — dan ubi yang kau tanam itu kelak akan berumbi. Juga peker­jaan orang-orang seka­rang yang meng­hen­daki peme­rin­tahan bangsa sen­diri. Tapi engkau belum lagi meng­erti. Engkau tahu kesi­bukan ayah seka­rang?”

“Bapak jarang di rumah,” kataku menyi­sipi.

“Ya, ayahmu jarang di rumah. Ayah sedang mena­nam ubi untukmu kelak — puluhan tahun yang akan datang — ubi yang takkan habis-habis­nya kau makan.”

“Ubi. yang takkan habis-habis­nya?” tanyaku.

“Ya, ubi. Mak­sudku ubi bukan yang kau makan seka­rang. Mak­sudku ubi yang hanya dapat dima­kan kalau engkau sudah besar. Mak­sudku kea­daan yang lebih baik dari ini. Lebih baik untukmu nanti dari­pada untukmu seka­rang. Juga untuk kawan-kawanmu.”

Aku ber­henti men­cang­kul dan meman­dangi lama-lama. Meli­hat cang­kulku tak ber­a­yun, bunda pun ber­henti dan mem­ba­las pan­dangku.

“Engkau belum meng­erti,” kata­nya menye­sali diri sen­diri. “Kelak engkau akan meng­erti tanpa dice­ri­tai.”

Per­ka­taan-per­ka­ta­an­nya itu tak dapat ter­lu­pa­kan olehku hingga kini. Juga kegu­gupan yang meraba kehi­dupan kota kecil

Kak Hurip tak nampak sering meng­o­b­rol lagi. Ia diwa­jib­kan oleh ayah meng­a­jar di seko­lah yang dike­pa­lai ayah: sebuah seko­lahan par­ti­ke­lir yang didi­r­i­kan sem­bi­lan tahun sebe­lum aku lahir ke dunia. Sete­lah pulang dari meng­a­jar ia tidur. Dan di sore hari ia meme­riksa peker­jaan murid-mur­id­nya, sedang di malam hari ia bel­a­jar. Ia tak punya banyak waktu lagi untuk meng­o­b­rol atau main catur atau­pun main biola.

Sekali — aku masih ingat — pada suatu sore meng­ha­dapi seminggu liburan sau­dara-sau­dara ang­katku meng­ge­rom­bol meling­kungi meja bel­a­jar. Aku pun ada di sana dan seba­gai bia­sa­nya di bela­kang kak Hurip. Dengan suara diken­da­li­kan ia ber­kata penuh kepas­tian: “Pajak yang dipu­ngut guber­men telah mele­mah­kan kita semua. Ada-ada saja yang dike­nai pajak. Dan kita semua menang­gung ber­sama-sama oleh adanya pajak itu. Kita diha­rus­kan mem­ba­yar pajak pada tiap meter kain yang kita beli, juga waktu melang­kah­kan kaki di jalan aspal.”

Aku bisa menang­kap apa yang dika­ta­kan­nya itu. Dalam kepala aku ber­kha­yal ten­tang senang­nya hidup orang-orang bila pajak diti­a­da­kan. Dan kak Hurip mene­rus­kan: “Belanda datang kemari bukan untuk meng­ang­kat engkau semua jadi pega­wai tinggi. Mereka datang untuk minta uang dari kita — uang yang dina­ma­inya pajak. Dan bila kita tak mau mem­ba­yar, barang-barang kita dir­am­pas, dan bila tak ada barang boleh dir­am­pas, kita harus men­ja­lani kerja paksa di pen­jara. Sung­guh bijak­sana kaum Samin7 itu. Mereka tak mau mem­ba­yar pajak untuk selama-lama­nya.”

Sua­ra­nya selalu mengan­dung kesung­guh-sung­guhan. Dan ini yang mem­buat anak-anak lain per­caya pada tiap kata yang diu­cap­kan­nya.

Per­u­ba­han yang kul­i­hat kian nyata lagi, waktu orang-orang menyu­kai lurik, yakni kain tenunan dusun yang kasar dan lekas luntur itu. Juga para pri­yayi menge­na­kan­nya. Seka­li­pun aku bukan anak har­ta­wan, tapi lurik tak pernah mem­bang­kit­kan kei­ng­in­anku. Cuci­lah dua-tiga kali dan war­na­nya tak menentu lagi. Tapi kul­i­hat ayah ber­pi­ama dan ber­baju lurik pula. Dan pada suatu hari yang baik kami semua men­da­pat baju lurik sese­tel seo­rang. Aku tambah tak meng­erti. Bila suatu kali kak Hurip dalam kepungan anak-anak ber­kata, bahwa: “Orang di India mema­kai lurik juga, dan kain-kain dari luar negeri diba­kar di tanah lapang,” dengan sen­di­r­i­nya saja keluar dari mulutku: “Alang­kah sayang. Kalau dibe­ri­kan padaku, maulah aku.”

Ter­tawa ber­ba­reng mem­buat aku ter­diam. Di kala itu insaf­lah aku bahwa aku belum masuk hitungan, dl dan apa yang patut kuker­ja­kan hanya men­de­ng­ar­kan dan bukan mem­per­de­ng­ar­kan suara. Seka­rang kak Hurip meng­ang­kat aku di pang­ku­an­nya dan bilang: “Pema­kaian lurik buatan sen­diri dan pem­ba­karan pakaian dari luar negeri itu swa­desi nama­nya. Guna­nya supaya bangsa sen­diri bisa bekerja, dan bila mereka bekerja, mereka men­da­pat rezeki. Kalau yang kau pakai pakaian buatan orang asing, orang asing itulah yang bekerja mem­bu­at­nya, dan dialah yang men­da­pat rezeki.”

Aku meng­ang­guk tak meng­erti. Per­ca­kapan yang sama sekali tak dapat kui­kuti pun tak dapat kupah­ami ter­jadi sampai jauh tengah malam. Aku ter­ti­dur di tikar dan dibi­ar­kan saja sampai pagi hari waktu dingin udara meng­gi­git kulit.

Sung­guh, di waktu-waktu itu lurik menam­bahi harga manu­sia yang mema­kai­nya. Tak heran bila suatu kali bunda bilang pada seo­rang perem­puan tua yang datang dari kam­pung: “Buat­kan aku dua belas potong sarung lurik yang warna dan corak­nya baik untuk anak-anak.”

Aku meng­erti, sarung itu adalah untuk kami semua. Bunda sen­diri tak pesan kain pan­jang lurik karena ia tak senang mema­kai­nya.

Tukang tenun itu ber­kata riang: “Banyak sekali orang meme­san lurik seka­rang.”

“Seka­rang zaman swa­desi, mbok,” ibu mene­rang­kan.

“Ya, per­ka­taan itu sering diu­cap­kan oleh orang-orang dusun kami,” tukang tenun itu men­ce­ri­ta­kan. “Zaman swa­desi kata orang. Semua tetang­gaku mene­nun siang-malam seperti waktu aku masih kanak-kanak. Dan orang-orang mulai mena­nam kapas di peka­rang­an­nya masing-masing. Malah tetang­gaku tukang sandal — sandal dari ban mobil tua — laku amat dagang­an­nya. Hampir tiap minggu datang orang kope­rasi meme­san sekian pasang atau sekian kodi. Bur­uh­nya banyak seka­rang. Tadi­nya dia kerja sen­di­r­ian. Dan waktu ini sudah lima belas bur­uh­nya.”

Ibu ter­tawa senang men­de­ngar kabar itu. Dan aku masih jua tak meng­erti apa alas­an­nya ibu jadi senang men­de­ng­ar­nya. Di kala tukang tenun pergi bunda ber­kata pada dir­i­nya sen­diri dengan pan­dang ditu­ju­kan padaku. “Swa­desi meng­hi­dup­kan kera­jinan orang-orang dusun. Kalau ini bisa hidup sampai sekian puluh tahun, pak Kromo…” ia menun­juk ke arah selatan, ke rumah pak Kromo pem­buat barang-barang dari bambu, “pasti dia akan hidup senang, tak seng­sara seperti seka­rang. Anak­nya banyak. Dela­pan orang. Dan harga bakul cuma sego­bang. Satu bakul tak habis diker­ja­kan sete­ngah hari oleh satu orang.” Seka­li­pun sudah banyak kude­ngar ten­tang swa­desi, namun masih jua tak tahu benar aku apa pen­ting­nya. Dan aku pun tak merasa punya kebu­tuhan untuk men­da­pat kete­rangan ten­tang­nya.

Sementara itu kan­dungan bunda kian mem­be­sar jua. Oleh menu­a­nya kan­dungan ia jarang bekerja. Sepe­rang­kat alat-alat tenun yang dibe­li­nya dari dusun disim­pan­nya di gudang. Tiga bulan yang lalu alat-alat itu dibe­li­nya dan dida­tang­kan oleh­nya tukang tenun untuk meng­a­jar­i­nya. Tujuh hari sete­lah bel­a­jar ia mene­nun sen­diri. Tapi ia tak tahan mene­nun lebih dari tiga jam. Perut dan selu­ruh badan­nya ter­gun­cang-gun­cang, kata­nya. Kini ia sering duduk di teri­tis pen­dopo meng­ha­dap ke alam lepas sambil mem­ba­cai buku asing tebal atau tipis. Dan ayah kian jarang nampak di rumah. Mena­nam ubi hari depan, kata bunda selalu. Dan bila ayah datang tidak jarang tiga-empat orang ikut deng­an­nya. Kemu­dian per­ca­kapan ten­tang segala hal yang tak sempat kupah­ami ter­jadi di seling-seling ter­tawa ter­ba­hak atau bisik kesung­guh-sung­guhan. Di sela-sela per­ca­kapan yang meriah itu tak jarang ter­de­ngar olehku kata-kata: swa­desi, kope­rasi, bank rakyat, per­gu­r­uan, bacaan rakyat dan kegi­atan pri­bumi. Aku senang menge­ta­hui apa saja yang boleh kuke­ta­hui. Karena itu aku tak dapat menya­lah­kan diriku bila ikut-ikut men­de­ng­ar­kan per­ca­kapan para tamu itu dari sudut ruang tengah. Ini per­bu­atan yang tak ter­puji untuk kanak-kanak di daerah kami. Tapi ayah tak pernah mela­rang. Malah waktu suatu kali seo­rang tamu menun­juk padaku dan ber­kata sete­ngah ditu­ju­kan pada ayah sete­ngah padaku: “Dia nanti mene­rus­kan peker­jaan yang kini sudah kau mulai.”

Aku sering men­de­ng­ar­kan per­ca­kapan mereka: dido­r­ong oleh kei­ng­inan men­da­pat kata yang manis itu. Ayah tak menyam­but ucapan itu, hanya ter­se­nyum dan kumis­nya yang tebal ter­ta­rik lem­pang oleh bibir.

Sela­ma­nya tamu-tamu itu ber­pa­kaian lurik, dengan sandal ban mobil atau telan­jang kaki. Pada paras mereka meman­car-mancar kema­uan dan sema­ngat besar oleh baju-lurik itu.

Lama-kela­maan tamu yang datang ke rumah kami kian mem­ba­nyak. Para tetangga yang kuke­nal seba­gai buta huruf datang untuk bicara dengan ayah. Dan lagi orang-orang yang sama sekali tak kuke­nal, juga pung­gawa-pung­gawa desa dari dusun-dusun yang jauh datang untuk ber­temu. Kemu­dian banyak pula orang-orang tua datang dan mereka itu bukan­lah buta huruf — minta kesem­patan untuk turut meng­i­kuti kursus poli­tik, eko­nomi dan penge­ta­huan umum. Juga banyak murid-murid yang baru lepas seko­lah rakyat — baik guber­men maupun par­ti­ke­lir — untuk mema­suki kursus guru dan per­tu­kangan. Semua kakak-ang­katku mengu­rus semua ini. Ayah meng­a­wasi pen­daf­taran dari kur­si­nya dengan air muka penuh keme­nangan.

Bebe­rapa minggu kemu­dian rumah kami tambah isi: dua dup­li­ka­tor, sepeti besar kertas dan lima mesin-tulis. Tiba-tiba saja rumah kami meru­pa­kan kantor. Semua mesin-tulis ber­de­tak-detak, dan dup­li­ka­tor ber­pu­tar men­ce­tak pel­a­jaran.

Di daftar pene­ri­maan murid dapat kubaca: tiga ratus murid baru untuk pem­be­ran­tasan buta huruf. Empat puluh untuk calon guru. Tiga puluh untuk per­tu­kangan. Lima puluh untuk penge­ta­huan umum. Lima belas masuk taman kanak-kanak dan dua puluh untuk kursus bahasa Ing­gris. Kursus bahasa Belanda hanya sebe­las orang, yakni para guru seko­lah guber­men.

“Kita mulai seka­rang,” sekali ayah bilang pada kak Hurip.

Dan sejak itu nampak olehku ayah men­jadi pusat per­ha­tian orang-orang di kota kecil kami. Selalu nampak ia sibuk bekerja, atau lama sekali tak pulang. Tum­pukan buku tulis yang harus dipe­rik­sa­nya kian lama kian banyak. Kadang-kadang kakak-kakak-ang­katku mem­bantu meme­riksa. Dan keli­hatan juga olehku bunda senang dengan kea­daan baru itu. Wanita pun banyak datang ke rumah kami dan ber­ta­nya-tanya pada bunda ten­tang ini dan itu. Dan sela­ma­nya bunda melu­lus­kan per­min­taan mereka untuk jadi pelin­dung per­kum­pulan wanita yang banyak didi­r­i­kan. Ada kala­nya ia meng­ha­diri rapat seka­li­pun kan­dungan sangat meng­gang­gu­nya.

Semen­tara itu, bila ayah sedang di rumah, sering lewat polisi dengan mata menye­li­dik ke rumah kami dari atas sepe­da­nya. Tapi mereka tak ber­buat lebih jauh dari­pada men­jir­at­kan pan­dang. Aku tak meng­erti apa maksud polisi-polisi itu ber­buat seperti itu. Dan waktu kuta­nya­kan pada bunda meng­apa, ia ber­kata mene­rang­kan: “Mereka suka bila ayahmu tak ber­buat apa-apa.”

“Bukan­kah kerja bapak hanya meng­a­jar orang?”

“Mereka tak suka bila banyak di antara bangsa kita yang meng­erti dan dapat baca-tulis.”

Bunda tak mau mene­rus­kan kete­rang­an­nya seka­li­pun aku ber­ta­nya terus. Dan aku diha­rus­kan ber­se­nang hati menunggu bebe­rapa tahun lagi untuk meng­erti dengan sen­di­r­i­nya.

Per­u­ba­han besar-besaran ter­jadi dalam kelu­arga kami. Kesi­bukan selalu meng­isi waktu-waktu yang bia­sa­nya kosong dan lesu. Dan kalau aku sedang mela­yap ke jalan-jalan kota, kadang-kadang kute­mui orang ber­kata pada kawan­nya sambil menun­juk daku. “Ini dia anak­nya.”

Malah pernah di antara orang-orang seperti itu meng­a­jak aku ber­ca­kap-cakap ten­tang ayah, dan kadang-kadang juga mem­beri aku uang. Dan aku merasa ber­se­nang hati. Dengan sen­di­r­i­nya saja terbit dalam piki­ranku: ayahku orang pen­ting di kota kami.

Hampir-hampir men­jadi kebi­a­saan sete­lah pulang meng­a­jar ayah makan ber­sama bunda. Di waktu seperti itu juga pada suatu kali kul­i­hat wajah ayah suram dan dingin. Sedang menye­di­a­kan makanan untukku waktu itu, kemu­dian ter­de­ngar olehku: “Engkau ter­lam­pau banyak bekerja. Tak enak badan­kah, kau?” ibu ber­ta­nya.

Ayah jawab tidak.

“Lebih baik engkau ambil isti­ra­hat barang seminggu.”

“Bukan karena peker­jaan. Ini — sebe­tul­nya kita harus jadi tuan rumah dulu, baru kita boleh ber­buat seke­hen­dak hati. Tentu saja ber­buat yang mem­beri faedah pada masya­ra­kat.”

“Bica­ramu tak punya pem­bu­kaan dan buntut,” bunda menu­duh.

“Surat sudah datang.”

“Meng­apa bica­ramu begitu kacau?”

“Surat dari guber­men.”

“Meng­apa surat?”

“Surat ancaman. Atau boleh­lah kau sebut surat per­i­ng­atan. Aku harus mema­ti­kan semua kegi­at­anku.”

Tajam-tajam bunda meng­a­mat-amati ayah. Di saat itu pula­lah aku pergi. Selalu saja aku ber­has­rat menga­bar­kan apa saja yang kuke­ta­hui. Dan keja­dian itu kuka­ta­kan pada kak Hurip. Tapi beri­taku tak disam­but­nya dengan kehe­ranan. Aku lihat paras­nya lesu seperti air muka ayah. Ia pun tak menyam­but kabar itu dengan semes­ti­nya. Kecewa aku duduk diam-diam di ambin dapur menan­ti­kan ayah dan bunda habis makan. Dan di waktu itu juga ter­ba­yang wajah ayah yang dingin dan muram itu.

“Engkau tak makan dengan bapak?” babu ber­ta­nya.

Aku meng­ge­leng.

“Meng­apa tidak?”

“Bapak tak boleh kerja,” kataku meng­adu sete­ngah menga­bar­kan.

“Siapa berani mela­rang ayahmu? Tak ada orang berani mela­rang ayahmu. Orang-orang bilang, sampai ndoro wedono pun takut pada ayahmu.”

Ucapan itu kupi­kir­kan benar-benar — kuha­fal­kan untuk dapat kuka­ta­kan pada orang lain. Tapi wajah ayah yang suram dingin meng­ha­pus piki­ran itu. Ber­si­ce­pat aku pergi pada kakak ang­katku yang beru­mur lima belas dan masih duduk di kelas lima. Kuce­ri­ta­kan pada­nya apa yang kude­ngar dari ayah dan bunda.

“Ya,” sela­nya. “Waktu bapak sedang meng­a­jar pem­buka ilmu kene­ga­raan di kelas kami datang lima orang polisi dan mantre poli­si­nya sekali.”

“Meng­apa aku tak lihat?” tanyaku ingin.

“Kelasmu sudah pulang.”

Dan aku meng­erti seka­rang. Ia mene­rus­kan ceri­ta­nya: “Semua buku karangan bapak yang dice­tak di Sema­rang — buku pem­be­ran­tasan buta huruf kelas satu dan dua — disita. Tak kurang dari tujuh ribu buah. Sung­guh sayang. Bapak begitu payah menge­r­ja­kan­nya. Dan men­ce­tak­nya pun minta ongkos yang bukan sedi­kit. Untuk tiga jam kami tak men­da­pat pel­a­jaran apa-apa. Kemu­dian semua guru dikum­pul­kan. Dan kami semua menunggu di. kelas masing-masing. Waktu itu pula­lah kami lihat polisi-polisi meng­ang­kuti buku-buku itu. Dan hari itu juga kawat-kawat lis­trik di seko­lahan dica­buti. Seka­rang orang tak dapat bel­a­jar malam lagi.”

Akhir­nya ceri­ta­nya itu tak pen­ting benar untukku. Cuma wajah ayah yang suram dingin mem­ba­yang­kan ben­cana hebat bakal datang.

Waktu aku datang kem­bali di meja makan, ayah dan bunda telah sele­sai. Ter­de­ngar olehku: “Dan bagai­mana nasib bank rakyat yang kau modali lima ribu rupiah itu?” ibu ber­ta­nya. Ayah hanya meng­ge­leng. Dan dalam geleng­an­nya itu ter­se­m­bu­nyi ben­cana lebih besar yang akan meng­an­cam. “Akhir­nya kita-kita juga yang harus menye­le­sai­kan hutang untuk modal itu.”

Lambat-lambat ayah ber­kata dengan kata-kata yang lepas-lepas: “Kewa­ji­ban kita hanya ber­u­saha. Tapi bila kea­daan lain dari yang kita harap­kan, itu bukan­lah urusan kita lagi.”

“Yah,” kata bunda seperti keluhan ter­pa­gas. Kemu­dian dengan suara mem­bo­hongi kese­dihan diri: “Namun aku per­caya, tanam­a­nmu takkan kering disapu terik matari. Aku selalu berdoa untuk kese­la­mat­anmu dan kelan­caran peker­ja­anmu. Tapi kalau yang buruk jua yang datang — sesung­guh­nya memang bukan urusan kita lagi.”

Sejak itu tak banyak lagi orang datang ke rumah kami. Juga anak-anak seko­lah yang bia­sa­nya ber­main-main tak datang. Dengan demi­kian rumah kami meru­pa­kan sebuah pulau ter­pen­cil. Ibu lebih pen­diam lagi dari bia­sa­nya. Sering kul­i­hat kak Hurip duduk ter­me­nung-menung meme­gang buku. Tapi buku itu tak diba­ca­nya. Dan bila ia insaf akan kea­da­an­nya, mata­nya dir­un­tuh­kan kem­bali pada jajaran-jajaran huruf. Tapi ia tak mem­baca. Ia menge­luh pan­jang, kemu­dian bangun dan pergi mening­gal­kan rumah. Sampai aku pergi tidur bia­sa­nya ia belum juga datang.

Di seko­lahan, murid kian lama kian mengu­rang. Seo­rang kawan yang bapak­nya jadi pega­wai negeri bilang padaku: “Pega­wai guber­men bila punya anak ber­se­ko­lah di seko­lahan par­ti­ke­lir takkan mene­rima tun­jangan lagi.”

Tambah lama murid tambah sedi­kit. Seko­lah rakyat tempat kami ber­se­ko­lah dan ber­mu­rid hampir-hampir empat ratus orang kini ting­gal dela­pan puluh-empat lagi. Gedung seko­lahan kami tak menyi­nar­kan seri dan kea­gungan lagi seperti tadi­nya. Suram dan muram.

Dan waktu suatu kali aku men­de­kati bunda yang sedang ber­ba­ring ter­de­ngar olehku ia menge­luh seo­rang diri: “Kasihan, mereka akan dile­pas dari peker­jaan dan jabat­an­nya bila berani terus jadi ang­gota per­kum­pulan.” Dan aku lihat air mata mele­lehi pipi­nya. Air mata itu mem­buat aku bisu dan segera mela­ri­kan diri.

Suatu malam aku ter­ba­ngun. Suara dari kamar sebe­lah kamarku tempat kak Hurip ting­gal, ter­de­ngar mem­batu dan kejam: “Mereka men­ce­kik urat nadi kita. Aku tak tahan lagi ting­gal di kota kecil yang ter­lam­pau banyak penya­kit­nya ini.”

Aku tahu suara itu ke luar dari mulut kak Hurip. Lagu sua­ra­nya mener­bit­kan sang­ka­anku bahwa ia sedang mele­tus­kan kema­rah­an­nya. Tapi aku tak meng­erti meng­apa ia marah. Dan pada kee­sokan hari­nya ia meng­ha­dap ayah dan minta izin untuk pergi meng­em­bara. Sejak itu ia tak pernah mem­beri kabar ten­tang kese­hat­an­nya, di mana tempat ting­gal­nya dan juga tak menyu­rati adakah ia bekerja atau mene­rus­kan pel­a­jaran.

Sering bunda mena­si­hati daku agar men­con­toh kak Hurip dalam kera­jin­an­nya mem­baca — sampai-sampai di kakus ia tak keting­galan dengan buku­nya. Dan sejak ia mening­gal­kan kami, ia selalu dise­but-sebut dengan rasa sayang yang jujur dan tak diton­jol-ton­jol­kan. Tapi kini ia tak pernah mengir­im­kan kabar ada di mana.

Seperti juga halnya dengan di masa-masa yang sibuk dulu, kini ayah lebih sering tak datang ke rumah. Kadang-kadang hingga tiga-hari-tiga-malam ia tak nampak. Di seko­lahan pun tidak. Bila ia ada di rumah tak lagi ia mem­baca buku atau meme­riksa peker­jaan murid-mur­id­nya, juga tak nampak lagi ia jalan-jalan di kebun atau meng­a­jak kami ber­ja­lan-jalan di waktu subuh. Jarang ia ter­se­nyum. Malah bicara — bila tak perlu betul — jarang sekali. Dan bunda lebih sering ber­ba­ringan di ran­jang dari­pada pergi ke dapur atau meli­hat-lihat tanaman di kebun. Per­u­ba­han yang cepat dan maha­be­sar itu tak luput dari per­ha­ti­anku. Dan aku pikir — piki­ranku yang kecil pula: ada sesu­atu yang ter­jadi di luar keku­a­saan ayah dan bunda.

Sete­lah pela­taran seko­lahan kami dibe­lu­kari rumput, kege­lapan dan kesu­ram-dinginan lenyap dari paras ayah. Ia mulai masuk meng­a­jar dengan ter­a­tur. Tapi di malam hari sering ia tak pulang. Dan pada suatu malam waktu ayah tak ada di rumah, bunda ber­kata padaku: “Sudah ter­lam­pau banyak kita mem­beri kee­nakan pada bangsa asing di sini. Tapi apa yang harus kita terima dari­nya hanya keseng­sa­raan dan tipuan, keke­ra­san dan ancaman, kepal­suan dan tin­dasan,” kata­nya parau seperti orang meng­an­cam.

Kucoba dengan piki­ran kanak-kanakku untuk meng­er­ti­kan ucapan itu. Tapi sia-sia. Aku tak meng­erti. Dua kali kucoba meng­er­ti­kan­nya. Sia-sia jua. Dan aku tak berani mena­nya­kan. Lagu suara ibu itu — aku takut menge­nang­kan­nya. Aku diam. Dan bunda tak peduli pada kedi­am­anku.

“Aku harap,” ia ber­kata lagi. Tapi sekali ini bukan dengan lagu meng­an­cam, parau dan gelap. Sua­ra­nya lunak penuh harapan dan anjuran, “bel­a­jar­lah engkau baik-baik, anakku. Kak Hurip pandai, tapi ia belum kuasa meng­a­tasi kea­daan ini. Ia ter­paksa mela­ri­kan diri untuk melu­pa­kan keke­ce­wa­an­nya. Ayahmu pun pandai, tapi juga belum kuasa. Karena itu, anakku, engkau harus lebih pandai dari­pada mereka semua. Kalau engkau bisa lebih pandai dari mereka — jauh lebih pandai — takkan gagal­lah usaha dan peker­ja­anmu.”

Aku tak meng­erti benar apa maksud ucap­an­nya itu. Tapi kelu­na­kan sua­ra­nya itu mem­buat aku ter­haru dan tak tahu apa yang harus kuu­cap­kan. Bunda merang­kul daku dan men­cium leherku. Dan ada kura­sai hangat air mata­nya. Aku masih jua tak meng­erti.

Waktu badai itu telah reda, ber­su­a­ra­lah aku: “Bapak tak boleh bekerja lagi. Tapi meng­apa dia sering pergi juga?”

“Pel­a­jaran murid-mur­id­nya tak boleh ter­ce­cer, anakku.”

“Tapi kawat-kawat lis­trik sudah dica­but dan malam hari bapak masih jua tak datang. Bekerja juakah bapak?”

“Ayahmu sangat kecewa. Engkau takkan meng­erti apa mak­sudku. Engkau masih kanak-kanak dan tak pernah mera­sai keke­ce­waan orang dewasa. Ayahmu kecewa, dan dia mem­bu­tuh­kan hiburan.”

Jawaban itu mem­ba­tal­kan mak­sudku untuk ber­ta­nya lebih pan­jang lagi. Bukan saja karena aku tak meng­erti, pun karena irama sua­ra­nya mengan­dung sesu­atu yang menge­ri­kan dalam pera­sa­anku.

Di masa kanak-kanakku, sering aku pergi mela­yap ke selu­ruh dae­rahku. Mula-mula yang kukun­jungi ialah pasar seha­bis jualan ber­henti dan tukang sapu belum memu­lai peker­ja­an­nya. Di sana kukum­pul­kan cap-cap benang bola. Dan kertas-kertas itu kukum­pul­kan dalam kotak geretan. Banyak di antara kawan-kawanku punya ratusan, bahkan ribuan. Dan barang­si­apa mem­pu­nyai lebih banyak dari­pada yang lain, dia akan merasa lebih kaya — tak ubah­nya dengan orang-orang dewasa dalam masya­ra­kat dengan uang­nya. Dalam per­ca­kapan, pengum­pulan cap-cap benang bola men­da­pat tempat isti­mewa. Dan orang segan mem­ban­tah jika ada yang mem­bual, karena dalam hati meng­ha­rap­kan sekian lembar dari milik si pem­bual.

Di waktu mela­yap itu tak jarang kul­i­hat ayah sedang main judi di pen­dopo rumah orang lain, kadang-kadang rumah orang Tiong­hoa. Dan aku lewat di depan rumah itu pura-pura tak tahu. Dengan demi­kian tahu­lah aku apa yang dimak­sud­kan bunda dengan hiburan itu. Namun aku tak pernah men­co­cok­kan peng­er­ti­anku itu pada­nya.

Dalam mela­yap itu kadang­kala ter­de­ngar olehku orang mem­per­ca­kap­kan ayah yang mem­be­lok­kan kegi­at­an­nya dalam ber­ba­gai lap­angan gerakan ke dalam kegi­atan ber­judi. Tapi sela­ma­nya aku diam saja men­de­ngar itu. Hati kanak-kanakku sudah dapat mera­sai suatu kehi­naan dalam ucapan judi itu. Ajaran etik dari bunda sangat kuat penga­ruh­nya atas kehi­dupan kanak-kanakku. Namun semua ini tak pernah kuce­ri­ta­kan pada bunda, hingga pada suatu hari: “Barang­kali ada engkau meli­hat ayahmu?” tanya bunda.

Sore hari waktu itu. Dari seko­lahan ayah tak lang­sung pulang. Semua ini kuke­ta­hui. Dan segera aku men­ja­wab: “Aku lihat ayah ada di…”

“Cari­lah. Kata­kan pada­nya, ibu minta supaya dia pulang.”

Kuda­pati ayah sedang meng­ha­dapi kartu. Di kala dili­hat­nya aku datang, air muka­nya nampak keruh. Tapi, seka­li­pun begitu, kala kuka­ta­kan pada­nya ibu memang­gil­nya pulang, ia bilang: “Seben­tar lagi aku pulang.”

Bebe­rapa detik sesu­dah aku sampai di rumah ayah pun datang.

Bunda tak banyak bicara. Ayah pun tak banyak bicara. Malam itu kul­i­hat ayah mem­baca sebuah buku bahasa Belanda. Aku tak tahu ten­tang apa. Dan waktu aku pergi tidur ter­de­ngar olehku bunda ber­kata dalam kamar­nya pada ayah: “Aku kira sudah cukup lama engkau meng­hi­bur keke­ce­wa­anmu itu.”

Aku tak ada men­de­ngar ayah men­ja­wabi. Dan aku pun ter­ti­dur­lah. Dua-hari-dua-malam kea­daan ber­ja­lan aman. Ayah tak .- pergi. Seha­bis seko­lahan bubar ayah pulang seperti bia­sa­nya. Tapi waktu dua-hari-dua-malam itu ber­lalu nampak ayah jadi geli­sah. Dan pada suatu jam yang tak ter­duga-duga ia pergi lagi. Bunda tak ber­kata apa-apa meli­hat keper­gi­an­nya itu. Dan bila kebe­tulan ayah datang dari seko­lahan sebe­lum berang­kat pula untuk ber­judi, bunda pun tak mela­rang­nya pergi. Sampai pada suatu hari: “Sudah empat hari ayahmu belum juga pulang,” kata bunda di ran­jang.

Aku lihat kemu­rungan sedang menye­rang air muka­nya. Dan aku bilang ya.

“Ambil­lah potlot dan kertas,” kata bunda lagi.

Bunda menu­lis surat. Aku lihat susah benar ia meng­isi kertas itu dengan kata-kata yang dike­hen­dak­i­nya. Hanya seben­tar ia menu­lis. Surat kecil itu dise­rah­kan­nya padaku dengan tiada ber­kata apa-apa, kemu­dian ia ber­ba­ring lagi di ran­jang.

“Untuk ayah, ibu?” aku ber­ta­nya bim­bang.

Lama ibu tak men­ja­wab. Dan aku meman­da­ng­i­nya dengan hati bingung. Akhir­nya kul­i­hat juga bunda meng­ang­guk. Dan aku pergi. Dalam sepo­tong hari itu ayah kucari. Tak juga kuda­pat. Tempat-tempat yang bia­sa­nya diper­gu­na­kan untuk main judi kosong saja. Dan setiap aku datang ke rumah yang bia­sa­nya jadi tempat judi segera saja aku men­da­pat sam­butan: “Ayahmu tak ada di sini.”

“Barang­kali tuan tahu di mana dia berada?”

“Barang­kali di rumah tuan Anu-anu.”

Dan aku pergi ke rumah tuan Anu-anu. Tak juga ada. Empat-lima jam aku ber­ja­lan meng­e­dari kota. Tak ber­ha­sil. Dan aku tak berani pulang meng­i­ngat air muka bunda seben­tar tadi. Putus asa kudu­duk­kan badanku di bawah pohon asam ping­gir jalan. Kenangan yang sedih-sedih timbul teng­ge­lam dalam benak kanak-kanakku. Sedih! Dan aku tak tahu meng­apa kese­dihan yang kuke­nang-kenang­kan. Penyi­taan buku-buku karangan ayah oleh polisi, kope­rasi dan bank yang gagal, murid yang meni­pis, dup­li­ka­tor yang tak pernah dipu­tar lagi, mesin-tulis yang tak ber­de­ta­kan seperti bia­sa­nya, lap­angan seko­lah yang dir­u­yaki rerum­putan — dan sebuah warung kope­rasi pusat yang ter­le­tak di sudut kota — tempat yang sering kukun­jungi ber­sama ayah dulu — itu pun harus ditu­tup pintu din­ding­nya. Itu pun ter­ba­yang dalam benakku. Kemu­dian kebun per­co­baan ayah yang mem­ben­tang di depan rumah — kebun yang harus dijual untuk pem­ba­yar hutang modal di bank — yang kini kepu­nyaan peme­rin­tah guber­men. Itu pun ter­ba­yang. Tiba-tiba wajah ayah ber­main dalam ing­at­anku: kumis­nya dan jeng­got­nya yang jarang dicu­kur di hari-hari bela­kangan ini. Ya, aku lihat ayah nampak lebih tua dari­pada bia­sa­nya oleh kumis dan jeng­got­nya. Tiba-tiba suatu pera­saan yang aku tak meng­erti tapi menya­yu­kan menye­rang diriku. Badanku kusan­dar­kan pada batang asam. Kuraba kan­tong cela­naku. Kuke­lu­ar­kan surat kecil bunda. Aku takut mem­ba­ca­nya. Tapi kei­ng­in­anku menge­ta­hui apa saja yang mung­kin dapat kuke­ta­hui mem­ba­tal­kan keta­kut­anku. Dan kubaca surat itu:

Adakah engkau tak pernah memi­kir­kan mahluk yang sedang kukan­dung­kan ini? Hor­mat­i­lah dia dengan tir­a­katmu pada Yang Maha­ku­asa, agar kelak dia jadi manu­sia yang ber­budi dan cerdas. Pulang­lah.

Seki­ra­nya engkau tak sudi pulang sete­lah mene­rima surat ini, doakan saja aku mati dengan mem­bawa anakmu yang belum kulah­ir­kan ini ke liang kubur.

Tak ada tang­gal. Juga tak ada tan­da­tangan menu­tup surat itu. Namun kata-kata yang ter­tu­lis itu sudah cukup kuat untuk meng­u­cur­kan air mataku. Segera surat itu kukem­ba­li­kan ke dalam kan­tong celana. Dan semua saja yang seben­tar tadi ter­ba­yang, kini kem­bali melela megah. Wajah-wajah yang ber­seri murung dan harapan yang jauh dari darat, laut dan udara — juga jauh dari diri manu­sia, juga jauh dari diri sen­diri.

Surat itu memaksa aku bang­kit untuk segera ber­u­saha kem­bali men­cari ayah. Akhir­nya kuda­pati juga dia sedang main judi di beranda-bela­kang rumah orang Tiong­hoa. Seperti bia­sa­nya bila dipang­gil pulang, ia nampak tak senang hati. Tapi surat itu dite­ri­ma­nya juga. Seben­tar diba­ca­nya. Kemu­dian: “Seben­tar lagi aku pulang,” run­tunan kata-kata yang selalu mele­gakan dadaku.

Betul-betul ayah datang tak lama sesu­dah aku tiba. Ia tak segera men­da­pat­kan bunda, tapi hanya mem­per­de­ng­ar­kan sua­ra­nya dalam per­ca­kapan dengan anak-anak. Ada terasa olehku sua­ra­nya memang dike­ras­kan agar ter­de­ngar oleh bunda. Kemu­dian aku tak tahu lagi apa yang ter­jadi antara orang tuaku. Tapi mulai saat itu ayah tak pergi-pergi lagi untuk ber­judi. Di rumah sering ia mem­bantu kami bel­a­jar. Seminggu pun lalu­lah.

Kemu­dian datang tiga orang tamu. Meng­o­b­rol sepu­luh-lima belas menit. Aku menge­lu­ar­kan hidangan untuk mereka. Dan waktu aku sudah kem­bali dari ruang-depan, ayah men­da­pat­kan bunda di dalam kamar. Ter­de­ngar lambat-lambat olehku: “Ini rumah tempat semua anakku selain yang per­tama kulah­ir­kan. Aku tak rela rumah ini diper­gu­na­kan untuk tempat judi. Engkau harus ingat pada anak-anakmu.”

Aku masih ingat betul: hari itu baru jam dua siang. Dan ayah beserta tamu-tamu­nya berang­kat ke rumah kami yang satu­nya lagi yang ter­le­tak empat ratus meter di sebe­lah utara yang kami diami. Baru sekali itu bunda tak sudi mene­rima tamu ayah. Dan apa yang meng­he­ran­kan hatiku, sete­lah ayah dan para tamu­nya pergi, segera ia bangun dari tempat tidur­nya. dipang­gil­nya anak ang­kat­nya yang tertua dan disu­r­uh­nya mem­beli roti tawar enam potong.

Gesit bunda seo­rang diri pergi ke dapur: mema­sak poding roti.

Babu dila­rang mem­ban­tu­nya. Dima­suk­kan keju manis banyak-banyak agar poding itu lezat sekali cita rasa­nya. Men­je­lang senja empat di antara kakak-ang­katku dan aku sen­diri meng­an­tar­kan makanan itu ke tempat judi. Aku lihat ayah sangat ter­ke­jut meli­hat antaran makanan seba­nyak itu. Air muka­nya beru­bah. Tapi dengan suara girang ber­seru: “Aduh! Poding, alang­kah enak.”

Dan tamu-tamu­nya ter­tawa riang, seka­li­pun kartu lebih pen­ting dari­pada makanan. Mereka mele­pas­kan mata dari kartu pada penganan untuk meng­hor­mati tuan rumah dan ber­seru senang lebih ditu­ju­kan untuk meng­hor­mat dari­pada sebe­nar­nya: “Alang­kah enak.”

Kami pulang dengan tiada ber­kata sepa­tah pun jua dalam ber­ja­lan itu.

Suatu waktu yang tak kusangka-sangka, tukang tenun dari dusun datang ke tempat kami untuk mene­mui bunda. Aku pun turut mene­mui.

“Lurik susah laku­nya seka­rang,” kata orang itu. “Tadi­nya banyak orang pesan. Seka­rang tak ada. Malah yang sudah jadi tak ada yang mau beli selain orang-orang kam­pung yang tak ber­u­ang. Tidak­kah nyonya pesan lurik lagi?”

Lemah-lembut ibu bilang tidak karena lurik sudah banyak di lemari. Orang itu menge­luh. Mene­rus­kan ceri­ta­nya: “Per­u­sa­haan sandal tetang­gaku sudah mati sama sekali. Dia mening­gal­kan dusun dan meng­uli di kota. Dan bur­uh­nya tak keru­an­lah peng­hi­dup­an­nya — tak beda­nya dengan kelu­ar­gaku.”

“Ya, zaman swa­desi sudah lalu, mbok,” Ibu mene­rang­kan dengan suara gelap merongga. Dan waktu meng­u­cap­kan itu mata­nya ber­kaca-kaca. Dulu senang ia ber­ca­kap-cakap dengan orang-orang yang datang dari dusun. Tapi seka­rang tidak.

Lesu tukang tenun itu pergi menye­ber­a­ngi kali kem­bali ke dusun­nya.

Swa­desi jarang sekali diper­ca­kap­kan orang. Jauh ber­beda dengan dahulu. Dan orang-orang kam­pung kami banyak menye­sal turut mena­bung­kan uang­nya di kope­rasi-kope­rasi: hilang per­cuma. Demam swa­desi memu­dar dan padam. Kete­nangan kem­bali menye­li­muti kota kecil kami. Para pega­wai tak lagi mema­in­kan san­di­wara kebe­saran bangsa dalam kepa­la­nya. Kem­bali mereka memak­sa­kan diri mema­suki kebi­a­sa­an­nya: berang­kat kerja, ting­gal di kantor untuk sekian jam, pulang, main-main dengan bini­nya, tidur, bangun lagi — kemu­dian ber­u­lang­lah hari yang kema­rin.

Dan di kam­pung-kam­pung orang melu­pa­kan swa­desi dengan ber­judi. Judi! Judi! Sampai anak-anak kecil yang baru bisa men­cari peng­ha­silan dua-lima sen sehari kena demam judi. Per­sa­bungan ayam pun men­da­pat nyawa dan hidup subur. Kabar dari kam­pung-kam­pung menya­ta­kan bahwa guber­men meng­a­da­kan lima puluh lowongan untuk calon polisi dan anak-anak muda bere­but mema­suki lowongan itu. Kabar-kabar lain ten­tang kian banyak­nya orang yang ditang­kap karena per­ju­dian, per­sa­bungan ayam, pen­cu­r­ian dan pem­bu­nuhan, sering datang mengun­jungi kuping kami.

Di waktu-waktu seperti itulah kedua dup­li­ka­tor dan semua mesin-tulis yang ada di rumah kami dima­suk­kan ke dalam peti-peti. Atas per­ta­nya­anku bunda ber­kata: “Barang-barang itu harus dikem­ba­li­kan pada toko­nya karena ayahmu tak sang­gup lagi mene­rus­kan pem­ba­yaran.”

Dan bebe­rapa hari kemu­dian rumah kami keda­tangan bebe­rapa orang yang meng­ang­kuti per­ka­kas rumah-tangga. Baru aku hendak ber­ta­nya pada bunda mau dibawa ke mana barang-barang itu, bunda telah meng­ge­leng­kan kepala. Aku tak mene­rus­kan mak­sudku. Namun di kemu­dian hari tahu jualah aku, barang-barang itu disita oleh seo­rang yang meng­hu­tang­kan uang pada ayah. Ayah tidak ada di rumah waktu orang-orang itu meng­ang­kati pera­bot rumah-tangga itu. Malam hari­nya bunda memang­gil kami. Seo­rang disu­r­uh­nya men­cari ayah. Seo­rang lagi disu­r­uh­nya memang­gil bidan. Dan aku men­da­pat tugas mema­sak air dengan babu. Dua jam kemu­dian semua orang yang disu­ruh telah kem­bali. Hanya seo­rang yang tak ber­ha­sil, yakni yang men­cari ayah. Tapi adikku yang ke empat lahir juga dengan sela­mat: lelaki! Anak itu men­je­rit — dengan jeritan suara yang sehat.

Kee­sokan hari­nya waktu mata­hari sudah menyi­nari bumi, aku datang ke kamar bunda untuk meli­hat adikku yang baru dan untuk men­ci­um­nya — mahluk yang untuk selama-lama­nya akan jadi sau­da­raku sekan­dung. Bunda menyong­song keda­tanganku dengan senyum­nya. Dan adikku sedang tidur nye­nyak. Segala pen­de­ri­taan lenyap dari paras bunda. Di saat itu juga ayah datang dan lang­sung saja menuju ke dalam kamar bunda, ber­seru lambat: “Lelaki! Dia akan lebih besar dari­pada bapak dan ibunya.”

Dan ter­de­ngar olehku bunda menya­h­uti dengan suara merongga, tak ber­te­naga dan dipak­sa­kan keluar, penuh kebang­gaan: “Dia takkan men­da­pat apa-apa dari kau. Juga tidak dari tempat dan zaman­nya. Dia akan tumbuh sen­diri.”

Aku pergi.

Dan bersamaan dengan lahir­nya adikku yang ke empat, swa­desi mena­rik nafas­nya yang peng­ha­bisan, takkan lagi men­da­rat di bibir peju­ang­nya yang telah dihan­cur­kan­nya. Juga kope­rasi dan pem­be­ran­tasan buta huruf. Dan per­ju­dian serta per­sa­bungan ayam dan pen­cu­r­ian, pem­be­galan dan pem­bu­nuhan ber­ba­ris menyerbu di tepi-tepi daerah kami. Kadang-kadang meng­gu­ris tengah-tengah­nya. Pasukan polisi diper­ba­nyak lagi dengan bebe­rapa puluh orang.

Akhir­nya: Semua kem­bali ber­ja­lan seperti tadi­nya. Tenang dan damai kota kecil kami Blora. Dan yang ter­ke­mu­dian sekali: lahir­lah zaman senja yang meng­a­yun­kan dan kadang-kadang menge­juti, terus mera­suk ke dalam kepe­katan malam.

Tapi matari akan terbit lagi di ufuk timur.

Jakarta, viii-1950



Cerita pendek

Yang Menyewakan Diri

Dari Cerita dari Blora (1952). Teks dari cetak ulang Hasta Mitra, 2002.

Empat tahun umurku. Itu kalau aku boleh percaya pada ing­at­anku. Dan kelu­arga itu pun sudah kuke­nal lama: kakek dan nenek Leman, Leman, Siah, Nya­mi­din dan Sidin.

Bila aku datang ke rumah mereka pada jam sem­bi­lan pagi, mereka masih ada di rumah. Belum lagi memu­lai peker­ja­an­nya. Dan aku meng­ga­lai-galai pada kaki kek Leman. Ia meng­erti, dibe­ri­nya aku sisa kopi­nya. Dan aku ter­tawa. Dan ia ter­tawa. Dan nenek Leman ter­tawa. Dan bila aku ber­ta­nya: “Mana, Siah, kek?” jawab­nya sudah tentu “masih tidur”.

“Tapi aku sudah bangun.”

Sela­ma­nya ia ter­tawa men­de­ngar kebang­ga­anku pada diri sen­diri.

“Siah anak malas,” suara yang sering ter­de­ngar untuk tak melu­kai kebang­gaan diriku.

“Leman, nek?”

“Ke kali — mandi”

“Nya­mi­din, kek?”

“Belum pulang. Sema­lam jaga di gardu. Kau sudah lihat gan du di dekat kuburan? Di sana dia tidur.”

“Belum bangun?”

“Barang­kali belum bangun. Capek meronda sema­lam.”

Kadang-kadang aku pun mene­rima ubi atau sing­kong rebus. Kalau sesu­atu yang menye­nang­kan tak dapat kuha­rap­kan lagi, aku ber­lari-larian pulang. Ber­ce­rita pada bunda ten­tang penga- ’ laman seben­tar tadi. Hampir dapat dipas­ti­kan bunda segera meng­ang­kat telun­juk di depan hidung. Mata­nya yang agak sipit ter­paku pada parasku. Menyu­a­ra­kan kata-kata:“Ibu sudah sering bilang. Kau tak boleh pergi ke sana. Kau ganggu mereka yang sedang kerja.”

“Mereka tidak bekerja.”

“Karena kau datang ke sana mereka tak kerja.”

“Tapi Siah masih tidur. Yang lain-lain masih tidur juga.

“Karena itu kau tak boleh datang ke sana,” telun­juk­nya turun dan jatuh di pang­kuan. Sua­ra­nya yang berisi kete­guhan itu melu­nak: “Malas itu penya­kit, seperti penya­kit mata. Dia bisa menu­lar. Kalau engkau sering ke sana, engkau ketu­laran kema­las­an­nya.”

Aku tak pernah men­de­ngar nasi­hat seperti itu. Dan kem­bali aku pergi ke sana bila mata­hari di sepeng­galan langit. Aku ceri­ta­kan ucapan ibu ten­tang kema­lasan yang bisa menu­lar itu. Dan kek Leman ber­kata tenang dan jujur: “Aku orang malas. Kalau aku rajin, apa aku ker­ja­kan?” ia ter­tawa pelahan mela­lui hidung. “Aku tak punya sawah. Tak punya ladang. Pacul pun tak punya. Aku hanya punya golok. Saban hari kuasah.” Mata­nya dilem­par­kan­nya pada batu-asahan yang men­ce­kung dalam di tengah-tengah, bersih dan hampir-hampir meng­ki­lat. “Kalau ada orang pang­gil aku untuk meng­gan­ti­nya meronda, aku dapat dua sete­ngah sen. Kalau aku tak punya golok seta­jam itu, aku takkan dipang­gil orang untuk meng­gan­ti­kan­nya.”

Sua­ra­nya berisi musik sayu. Aku suka men­de­ng­ar­kan­nya.

“Kata­kan lagi,” pin­taku.

Kek Leman hampir tak pernah mem­ban­tah per­min­ta­anku. Diu­lang-ulangi kata-kata­nya itu pelahan-lahan. Seka­li­pun peng­er­ti­anku atas deretan ucap­an­nya tak begitu leng­kap, dapat aku meng­ha­fal­kan­nya. Di rumah, bila ibu tak ada, tak jarang kata-kata orang tua itu kuu­lang-ulang seo­rang diri. Musik sayu ter­bawa juga seka­li­pun kuu­cap­kan mela­lui mulutku.

Dan suatu kali waktu bunda bilang padaku: “Tiap pema­las doyan makan,” dan lagi, “watak yang menyu­sah­kan orang. banyak,” sejak itu kata-kata kek Leman tak pernah kuu­lang-ulang lagi. Aku tak tahu meng­apa. Namun ada terasa suatu tan­tangan dalam ucapan bunda, seperti ditu­ju­kan padaku dan pada kek Leman.

Kemu­dian lama aku tak pergi ke rumah kelu­arga Leman, sampai suatu kali datang kem­bali aku ke sana. Ber­ta­nya: “Mana Siah?”

Kek Leman menun­duk­kan muka­nya. Nek Leman men­de­ham pelan. Dua-duanya tak men­ja­wab. Dan tiap aku datang selalu kuta­nya­kan. Tapi suatu waktu ada kek Leman bilang: “Siah per gi — pergi ke Palem­bang.”

“Jauh Palem­bang, kek?”

“Jauh. Di sebe­rang. Naik kapal kalau pergi ke sana.”

“Untuk apa pergi ke sana, nek?”

“Cari uang. Nanti kalau pulang ia akan mem­bawa real emas,” nenek Leman men­ja­wab. Ter­gam­bar pada air muka­nya ejekan pada dir­i­nya sen­diri.

“Seka­rang zaman lebih susah,” kakek ber­ce­rita dengan tiada dipinta. “Banyak pri­yayi kehi­langan pang­kat”

Kata-kata itu kuha­fal­kan satu-satu, untuk dapat kuka­bar­kan pada bunda atau ayah. Geli­sah benar aku sebe­lum berita itu dapat kusam­pai­kan. Dan di sore hari waktu ayah duduk-duduk di bangku kebun segera aku men­de­kat. Nyaris saja berita itu kuka­bar­kan, tapi lebih dulu keluar dari mulut­nya: “Dulu kau minta dise­ko­lah­kan. Seka­rang tak minta lagi?” Dan aku melon­jak-lonjak kegi­rangan.

“Tentu aku minta lagi seka­rang,” teri­akku. “Kapan aku dise­ko­lah­kan, bapak?”

“Besok.”

Berita baru itu.melu­pa­kan aku pada berita kuper­o­leh dari kakek Leman. Kee­sokan hari­nya mulai­lah hari per­tama aku jadi murid — pada umurku yang keem­pat itu. Kini kura­sai, betapa rumah seko­lah itu betul-betul meram­pas kopi yang harus kute­rima dari kakek Leman. Selain di hari-hari libur atau minggu, tak ada kesem­patan padaku guna meng­em­bara di pagi hari. Di seko­lahan banyak kawan baru kuper­o­leh, kabar-kabar baru dari selu­ruh kota, dan peman­dangan yang tiap hari ber­ganti.

Kalau aku pulang seko­lah kadang-kadang kakek Leman menunggu aku di depan rumah­nya dan dibe­ri­nya aku layang-layang yang baru dibu­at­nya. Tapi heran, tak pernah aku bisa mener­bang­kan layang-layang barang seben­tar pun. Tidak seperti anak-anak lain. Akhir-akhir­nya layang-layang pem­be­rian itu jadi sasaran kema­rah­anku belaka — kur­o­bek dan kupa­tah-patah­kan.

Aku kira tak kurang dari sete­ngah tahun lama­nya aku tak pernah pergi ke rumah kakek Leman. Hingga datang­lah waktu itu: hari libur pan­jang. Liburan itu mem­ba­tal­kan larangan bunda buatku untuk ber­main-main sepuas.hati.

Suatu hari di waktu liburan, waktu aku sedang ber­main-main dengan kawan-kawan di tengah jalan, ber­henti sebuah dokar di depan rumah kakek Leman. Dengan tiada dipe­rin­tah semua anak yang ber­main-main menyerbu ke dalam rumah kakek Leman untuk men­cari kabar baru dan barang­kali juga penganan.

Dan aku lihat Siah duduk di bale di sam­ping seo­rang lelaki sete­ngah tua yang ber­baju hitam. Ia menun­duk saja. Siah ter­se­nyum meli­hat aku, bang­kit dari bale dan men­de­kati.

“Sudah lama tidak ber­temu. Kangen aku.” Ia ter­tawa.

Aku lihat ia mema­kai dua gigi emas. Peniti keba­ya­nya ter­buat dari realan emas tujuh buah yang disam­bung-sam­bung dengan rantai emas.

“Sudah kaya engkau seka­rang?” aku ber­ta­nya.

Dari per­ta­nyaan itu aku men­da­pat jawaban sebuah cium yang jujur.

“Boleh aku men­da­pat satu real itu?” tanyaku.

Ia meng­ge­leng lembut. Dengan sua­ra­nya yang merayu ia bilang: “Kalau engkau sudah besar, engkau bisa dapat sen­diri.” Habis ber­kata dibe­ri­nya aku penganan oleh-oleh­nya.

Di kursi kakek Leman ber­ca­kap sopan dengan lelaki yang juga ber­gigi emas seperti Siah. Heran aku kakek bisa seso­pan itu. Nenek Leman ribut di dapur men­je­rang air.

Dan sejak keda­tangan Siah, sering lagi aku datang ke rumah­nya. Ceri­ta­nya ten­tang gajah, ten­tang macan, ten­tang murah-uang dan murah-emas mena­rik per­ha­ti­anku. Dia­jar­i­nya aku meni­ru­kan suara-suara bina­tang buas. Di rumah kuce­ri­ta­kan kem­bali berita-berita yang ter­pu­ngut oleh otakku. Juga di seko­lah kusi­ar­kan semua kabar itu. Dan sete­lah cerita habis dibe­ri­ta­kan, lega pula rasa­nya di dalam hati.

Sete­lah hari libur habis, keda­tanganku ke sana ialah sete­lah bubaran seko­lah. Lebih sering kuda­pati Siah masih tidur di siang hari itu dari­pada jaga. Hingga pada suatu kali nampak olehku lelaki yang ber­gigi emas itu tak ada lagi di rumah kek Leman.

“Di mana dia, kek?” tanyaku.

“Pergi,” jawab­nya tak senang.

“Ke mana?”

“Tak tahu­lah.”

“Siah?”

“Belum lagi pulang:

“Turut sama dia?” tanyaku ingin. )

Ia meng­ge­leng­kan kepala. Berat geleng­an­nya itu.

“Takkan kem­bali lagi dia, kek?”

Nenek Leman muncul dari dapur dan men­ja­wab­kan: “Aku doakan dia takkan kem­bali lagi. Biar mampus di laut.”

“Laut mana, nek?”

“Laut di sebe­rang,” jawab­nya gusar.

Dan aku ber­pi­kir, barang­kali Siah berang­kat ke Palem­bang lagi. Tapi ini tak kuta­nya­kan. Aku lihat air muka kedua orang tua itu ber­mu­rung-murung.

“Sudah lama aku tak meli­hat Leman. Di mana dia, kek?”

Kakek Leman menge­luh pan­jang.

Ia men­do­ng­eng sayu: “Banyak pri­yayi kehi­langan pang­kat­nya seka­rang. Mereka tak bisa memang­gil Leman lagi untuk disu­r­uh­nya mem­be­tul­kan pagar atau kakus. Kalau dia meng­gan­ti­kan orang jaga, aku tak men­da­pat upah. Seka­rang aku sudah tua. Jadi giliran meng­am­bil upah jaga itu dise­rah­kan padaku. Dia pergi men­cari uang di tempat lain.”

“Di mana, kek?”

“Cimahi — men­daf­tar jadi ser­dadu.”

“Kalau dia pulang mesti ber­pa­kaian hijau, bukan kek?”

“Aku kira, dia takkan pulang lagi. Aku pikir, dia takkan ingat pada kakek dan nenek lagi. Aku kira…”

“Dulu memang banyak ser­dadu tak pulang lagi,” sela nenek. “Span­dri pen­siun itu bilang, perang Aceh1 sudah habis. Peker­jaan ser­dadu seka­rang tak ada, cuma bel­a­jar baris dan menem­bak-nembak.”

Dan aku ingat pada barisan pel­pu­lisi2 yang tiap Rebo dan Sabtu menuju ke tempat latihan menem­bak di sebe­rang kali. Gagah mereka. Badan besar-besar dan kera­bin­nya men­co­ngak-congak di atas pung­gung.

“Nya­mi­din, kek?”

“Seka­rang sawah diker­ja­kan yang punya sen­diri. Susah uang seka­rang. Jadi dia pergi entah ke mana. Tak ada orang yang mem­bu­at­kan mainan kayu untukmu lagi,” kata­nya.

“Tidak senang dia di sini?”

“Kalau orang ada uang, di mana-mana pun akan merasa senang. Lain lagi kalau tak punya, dan uang itu susah pula dicari.” Ia batuk-batuk entah karena apa. “Lebih baik jangan tanya-tanya lagi,” kata­nya kemu­dian. Kepa­la­nya tunduk — tunduk — terus tunduk sampai ke meja. Ram­but­nya yang keabu-abuan campur-aduk antara hitam dan putih meneng­ge­lam­kan muka­nya. Aku pergi. Dan ia tak tahu.

Tentu saja semua itu kuce­ri­ta­kan pada bunda dan ayah. Walau­pun mereka betul-betul mem­per­ha­ti­kan tetapi pura-pura tak men­de­ng­ar­kan. Aku tak tahu meng­apa. Namun semua itu tak menye­nang­kan hatiku.

“Sudah mandi?” tanya ayah memu­tus­kan selu­ruh beri­taku.

Per­ta­nyaan itu cukup untuk memaksa aku pergi ke kamar mandi. Selama mandi kul­i­hat-lihat tembok din­ding. Tiba-tiba aku ber­pi­kir: “Kamar mandi ini jauh lebih bagus dari­pada rumah kek Leman.”

Seha­bis mandi kuta­nya­kan pada ayah: “Meng­apa kamar mandi kita jauh lebih baik dari­pada rumah kek Leman?”

Ayah nampak ber­pi­kir sung­guh-sung­guh. Tapi waktu men­ja­wab, jawab­an­nya hanya sepan­tun ter­tawa sum­bang. Dan aku tak meng­erti. Aku lihat tiba-tiba bunda ber­pi­kir sung­guh-sung­guh. Dan aku ber­ta­nya pada­nya: “Meng­apa kamar mandi kita lebih bagus, bu?”

Aku lihat masih juga ia menge­rut­kan kening­nya. Dan waktu kerut-mirut itu lenyap, ia meman­dang daku dan ber­kata:“Sudah bisa mem­baca engkau seka­rang?” per­ta­nyaan yang ter­a­mat aku benci.

Aku ber­diam diri kebi­ngungan. Ibu bangun dari tempat duduk­nya, meng­am­bil tanganku, dan digan­deng­nya aku ke pen­dopo. Bel­a­jar! Dan seben­tar kemu­dian kupingku merah-merah karena tangan­nya. Sete­lah air mataku kering ter­de­ngar larang­an­nya: “Seka­rang engkau tak boleh pergi ke sana lagi. Kalau pergi juga …, ancaman yang baru sekali itu kude­ngar, “hati-hati, aku hajar engkau dengan tang­kai sapu.”

Dan sejak itu tak lagi aku datang ke sana.

Waktu yang seta­hun lewat­lah. Tetapi aku masih juga duduk di kelas satu. Tumbuh badanku hampir sama dengan tum­buh­nya kecer­das­anku: lambat. Di tiap per­ma­inan aku masih diang­gap pupuk-bawang — hanya ikut-ikutan dan belum men­da­pat hak penuh. Dan di suatu waktu aku turut dengan anak-anak ber­main sem­bu­nyi. Kami ber­se­m­bu­nyi di bela­kang rumah kakek Leman. Dengan tiada ter­duga-duga ter­de­ngar olehku suara seo­rang lelaki yang belum pernah aku men­de­ng­ar­nya: “Mau tidak?” tanya suara lelaki itu mengan­dung desakan.

“Tidak berani, ndoro. Betul kami miskin, tapi kami orang baik-baik.”

“Lima rupiah?”

“Tidak berani, ndoro.”

“Enam rupiah.”

“Tujuh,” kata orang itu pula, “aku lihat golokmu begitu tajam. Sekali tebas habis­lah peker­ja­anmu.”

“Tujuh sete­ngah,” dan desakan itu ter­de­ngar terus, “sepu­luh rupi­ah­lah. Aku tak berani lebih tinggi lagi.”

Suara-suara itu tak kuper­ha­ti­kan benar. Waktu kami merang­kak keluar dari sem­bu­nyian, kul­i­hat seo­rang pri­yayi keluar dari rumah kakek Leman. Ia ber­kain batik bagus, ber­se­lop meng­ki­lat, ber­b­lang­kon Solo dan ber­baju tutup dengan kan­cing perak. Itu pun tak mena­rik per­ha­ti­anku. Dua-tiga hari kemu­dian ada juga orang itu kul­i­hat. Namun per­ha­tian itu tak juga timbul.

Kemu­dian sam­pai­lah malam itu — malam yang tak dapat kulu­pa­kan. Ayah dan bunda duduk-duduk di pela­taran dengan aku dan adik. Sinar bulan meman­car-mancar terang. Tapi dengan tiba-tiba saja, bulan ter­sa­put oleh men­dung tebal: gelap. Guntur mulai men­de­rum. Kadang sayup kadang keras. Dan kilat menge­jap-ngejap. Kami masuk ke dalam rumah untuk makan malam. Dan di luar, ken­to­ngan sambut-menyam­but dari sudut ke sudut.

“Ken­to­ngan mana yang memu­lai tadi?” ibu ber­ta­nya.

“Kelu­r­ahan kam­pung sini.”

Kami diam men­de­ng­ar­kan.

“Titir3 — raja­pati4,” ayah bilang. Ia bangun dari kur­si­nya. “Jangan keluar. Baik aku pergi seben­tar.”

Ibu keli­hatan gugup. Tapi aku tak meng­erti apa yang telah ter­jadi. Ber­u­lang­kali aku ber­ta­nya pada­nya, tapi bunda tak juga men­ja­wab. Mata­nya men­ja­lang kian kemari, meng­em­bara dari sudut yang gelap ke sudut lain. Lampu minyak di tengah-tengah meja menyala damai. Adik sudah sejak jam tujuh tadi tidur.

Seper­em­pat jam kemu­dian ayah kem­bali. Air muka­nya kusut.

“Apa yang ter­jadi?” Ibu menye­rang­nya dengan per­ta­nyaan.

“Ah, kakek Leman,” jawab ayah sambil duduk di kur­si­nya. “Untung martil yang diper­gu­na­kan­nya. Yang dihan­tam­nya masih bisa lari ke kelu­r­ahan.”

“Apa betul kakek Leman si tua itu?” Ayah meng­ang­guk.

“Dia­pa­kan orang ia seka­rang?”

“Dipu­kuli. Tapi untung ia tak mem­per­gu­na­kan golok­nya.”

“Meng­apa pakai martil?” ibu ber­ta­nya.

“Waktu dipe­riksa dia bilang. Golok, ndoro, cuma golokku yang mem­beri aku peng­ha­silan selama ini. Aku tak boleh mem­per­gu­na­kan­nya untuk ber­buat dur­haka. Jadi kuper­gu­na­kan martil.”

“Ada apa, bapak?” aku ber­ta­nya. Tapi ayah tak mem­per­ha­ti­kan.

“Aku tak per­caya si tua begitu jahat,” bunda bilang.

“Semua itu mung­kin. Tidak sela­ma­nya orang waras ing­atan”

Dengan diam-diam kami makan. Tetapi hal kakek Leman tak juga hapus-hapus dari per­ha­ti­anku. Dan malam itu selu­ruh kota dili­puti sua­sana yang geli­sah yang mem­ber­sit dari hati tiap-tiap pen­du­duk­nya.

Pagi hari­nya kabar ten­tang raja­pati sema­lam mele­bar ke mana-mana. Sejak itu kakek Leman tak lagi nampak di rumah­nya.

Orang bilang ia dikunci di dalam pen­jara. Tiap pagi kutunggu-tunggu, kalau-kalau ia seperti pesa­kitan lain meng­ang­kuti tong-tong kakus dari pen­jara ke kali. Ia tak nampak. Dan aku pun berang­kat ke seko­lah dengan kenang-kenangan pada­nya.

Tiga bulan kemu­dian meniup-niup berita: kakek Leman dija­tuhi hukuman tujuh bulan dan harus men­ja­lani kerja paksa di Malang. Di rumah ayah bilang pada bunda: “Betul juga duga­anmu. Bukan dia yang jahat. Ia men­da­pat sepu­luh rupiah untuk per­bu­at­an­nya itu dari sese­o­rang.”

Kucoba ber­ce­rita pada mereka ten­tang desakan pri­yayi yang datang ke rumah kek Leman. Tapi mereka tak mem­per­ha­ti­kan dong­engku. Aku ter­paksa ber­diam diri dengan cerita yang meng­a­muk dalam hati — cerita yang harus kuce­ri­ta­kan pada siapa saja untuk mela­p­ang­kan dada.

Berita, bahwa kakek Leman men­coba mem­bu­nuh orang, betul-betul meng­gun­cang­kan pen­da­patku ter­ha­dap­nya. Kenang-kenang­anku pada­nya tak jarang mem­buat aku takut di malam . Sebe­lum kakek itu pulang kem­bali ke rumah­nya ter­jadi pula sesu­atu yang meng­a­get­kan hatiku.

Sore itu kami main balo di tengah jalan. Dari jauh nampak seso­sok tubuh yang ber­ja­lan payah, ter­bung­kus dalam pakaian serba hitam. Tapi tubuh ber­ja­lan itu tak kuasa menga­lah­kan kea­syikan per­ma­inan kami. Karena itu bukan main ter­ke­jutku waktu tiba-tiba saja ia ber­diri di depanku. Sosok tubuh tadi! Di dekatan nampak ia mesum, mem­bung­kuk, tegak­nya dibantu oleh sebi­lah tong­kat. Mulut­nya ter­se­nyum padaku. “Sudah lupa engkau padaku?”

Nampak olehku gigi-emas­nya. Siah! Ing­atan itu meng­hu­bung­kan kenang­anku pada kakek Leman. Aku keta­kutan, men­je­rit dan lari pulang. Tiga-empat kali aku mene­ngok ke bela­kang, dan nampak olehku tubuh Siah masih ber­diri mem­bong­kok meman­dangi daku.

Tak kuce­ri­ta­kan pada siapa pun juga peng­a­lam­anku sore itu, walau­pun ingin benar aku hendak menyi­ar­kan ke mana-mana. Malam itu aku tak sang­gup bel­a­jar. Tarikan bunda pada kupingku, juga cubit­an­nya seka­li­pun, tak kuasa mem­bantu mena­rik per­ha­ti­anku pada pel­a­jaran.

“Meng­apa engkau ber­tam­bah goblok!” teriak bunda kesal.

Kemu­dian aku dita­rik­nya ke kamar mandi, dicuci kakiku, digen­dong dan dilem­par­kan ke tempat tidur. Sua­ra­nya mera­yu­se­ka­rang: “Meng­apa engkau begitu bodoh?”

Tapi bayangan Siah dan kenangan pada kakek Leman lebih mengu­a­sai diriku dari­pada keta­kutan pada cubitan dan tarikan pada kuping bunda. Waktu kul­i­hat bunda mene­kur sedih, baru aku mem­be­ra­ni­kan diri ber­kata: “Aku keta­kutan, bu.”

“Pada apa?”

“Siah datang, meng­a­jak aku ber­bi­cara. Aku takut dimar­til kakek Leman.”

Ibu meng­u­sap-usap kening dan ram­butku. Ber­kata lunak: “Tidak apa-apa. Tidur­lah.”

“Aku takut.”

“Tidur deng­anku?”

Aku meng­ang­guk. Dan malam itu aku tidur aman dalam rang­kul­an­nya.

Di pagi hari­nya ter­de­ngar juga olehku, bahwa realan emas Siah telah habis tandas. Emas­nya ting­gal yang mele­kat pada gigi­nya. Sekali kul­i­hat ia pergi ke kali untuk mandi, dan jalan­nya tak seperti dahulu lagi. Di antara kedua kaki­nya seakan-akan ada bantal besar yang tak keli­hatan. Di mana pun jua ia keli­hatan selalu ber­pa­kaian hitam itu jua yang mele­kat pada tubuh­nya.

“Meng­apa Sidin tak pernah datang ke rumah orang tuanya, bu?” tanyaku pada bunda waktu kabar ten­tang Siah meniup ke sana kemari.

“Sidin anak rajin. Ia sudah bisa beli rumah seka­rang. Tentu saja ia tak mau ber­su­sah-payah untuk orang-orang malas. Ibu pun tak suka bekerja untuk orang malas. Dan kalau engkau malas, ibu juga tak mau mema­sak­kan makanmu.”

Ucapan itu cukup kuat untuk mem­bi­su­kan mulutku.

Waktu yang pan­jang ber­de­ret-deret lenyap dari sehari ke sehari. Kini nek Leman sering nampak keluar rumah. Tiap orang tahu, ia meng­em­bara ke rumah tetangga-tetang­ga­nya di waktu saat makan tiba. Siah jarang nampak selain waktu hendak mandi ke kali.

Sekali waktu aku turut makan siang, bunda bilang pada ayah: “Tadi nek Leman kemari.”

“Kau beri nasi­hat?” tanya ayah.

“Ya.”

“Apalah har­ga­nya nasi­hat untuk dia. Beri uang atau nasi dan suruh pergi lagi ia. Tidak ada seo­rang pun yang bisa menyem­buh­kan kema­las­an­nya.”

Aku tak berani menyum­bang­kan sua­raku.

Waktu yang tujuh bulan itu akhir­nya habis­lah.

Kakek Leman kem­bali ke rumah. Ia tak pernah keluar dari rumah. Tiap hari ia bekerja keras mem­buat keran­jang dan barang-barang lain dari sabut. Ia tak ber­gaul dengan orang-orang lain lagi. Bila ia diun­dang sela­matan ia datang, tidak meng­o­b­rol sedi­kit pun. Bila sela­matan habis, ia pun pulang dengan diam-diam.

Sekali seminggu ia mem­bawa barang buat­an­nya ke pasar. Nenek Leman tak pernah meng­em­bara lagi di waktu saat makan sampai.

Sekali-sekali aku lihat kek Leman meng­a­nyam di luar rumah. Meli­hat aku ia pun tak mau mene­gur dan terus menye­le­sai­kan peker­ja­an­nya. Dan bila ia kem­bali mere­nungi peker­jaan, nampak tak selem­bar pun rambut yang ting­gal hitam — putih semata.

Jakarta, ix-1951



Bagian Ketiga

Bara Pendudukan Jepang dan Revolusi Fisik (1942–1949)

Dia yang Menyerah

Larasati

Mencari Anak Hilang


Cerita

Dia yang Menyerah

Dari Cerita dari Blora (1952). Teks dari cetak ulang Hasta Mitra, 2002.

Jepang tak melupakan kampung-kampung yang sering dilu­pa­kan oleh ilmu bumi. Dan karena kam­pung kami ter­le­tak di kota kecil yang meru­pa­kan suatu terusan yang meng­hu­bung­kan pantai Rem­bang-Lasem dengan daerah peda­laman yang pen­ting, maka pasukan Jepang pun menu­suk kota kami — kam­pung kami yang damai itu.

Aku masih ingat betul.

Waktu itu Jepang datang mem­bawa dua truk ser­dadu ber­sen­jata leng­kap. Di bela­kang­nya meng­iringi empat truk berisi mayat yang disu­sun tum­pang-tindih. Di atas mayat-mayat itu dige­lar­kan tenda truk. Tak rapi meng­ge­lar­nya hingga mayat-mayat dengan mulut­nya yang kejang itu menga­nga-nga-nga menan­tang langit. Tapi bukan itu yang pen­ting. Inilah yang pen­ting: Jepang datang. Para pega­wai kebi­ngungan seperti ayam meng­ha­dapi seka­rat­nya. Kota kami yang kecil, yang miskin, penuh dengan penipu dan orang baik hati itu, jadi goyah.

Tiap hari rakyat mem­ba­las­kan den­dam­nya pada undang-undang peme­rin­tahan Hindia-Belanda marhum. Peng­ge­do­ran terang-terangan meng­isi minggu per­tama pen­da­ratan bala ten­tara Jepang. Kota kami keban­jiran manu­sia yang ber­du­yun-duyun dari tepi-tepi hutan dan kaki-kaki pegu­nungan untuk menyak­si­kan ajal­nya seja­rah kebe­saran Belanda di tanah air. Dan di sam­ping itu mereka bera­mai-ramai meng­ge­dori toko-toko, kantor dan rumah seko­lah.

Suatu run­tunan detik sewaktu orang tak mau meng­erti lagi apa guna­nya ada peme­rin­tah dan peme­rin­tahan di atas bumi ini.

Tapi akhir­nya keko­songan peme­rin­tahan itu diisi oleh peme­rin­tahan mil­iter. Bulatan-bulatan merah ter­gam­bar di tiap surat plakat. Hukuman mati dan berat jadi peng­gada yang teram­ang-amang di depan tiap kese­la­matan di tiap detik. Peng­ge­do­ran mati. Kem­bali kota jadi tenang dan aman seperti seabad yang lalu — sebe­lum per­da­gangan modern memo­rak-poran­da­kan kehi­dupan. Toko — pusat pem­ba­gian dalam peng­er­tian per­da­gangan bebas — habis dige­dori. Per­da­gangan mati­lah seka­rang. Pem­bo­rosan barang gedo­ran seben­tar saja mem­ban­jiri pasar. Dan tiga minggu kemu­dian — semua barang itu lenyap habis dari per­e­daran. Kota kecil kami mulai gun­cang dan geli­sah sela­yak ikan dilem­par­kan ke darat. Per­da­gangan meng­ha­dapi ajal­nya.

Kemu­dian, keka­cauan lahir dan batin timbul ber­su­sun-tindih. Dan seo­rang demi seo­rang mulai mati oleh kese­dihan dan kela­paran. Dan di waktu itulah ibunya mening­gal.

Tapi waktu itu Sri masih kecil. Jadi dia hanya mena­ngis sedi­kit. Kemu­dian tangis itu hilang dengan sen­di­r­i­nya. Dan kesu­l­itan rumah-tangga belum jua terasa oleh­nya. Kala itu Sri beru­mur sebe­las tahun. Mei 1942. Dan dia baru duduk di seko­lah dasar kelas lima — seko­lah rakyat par­ti­ke­lir1.

“Karena Jepang betul-betul ber­u­saha mem­bu­nuh Belanda dan seko­lah-seko­lah par­ti­ke­lir yang ber­da­sar­kan kebang­saan, seko­lah­an­nya itu pun akhir­nya merana dan kemu­dian mati dengan sen­di­r­i­nya: ditu­tup! Berat hati­nya begitu besar untuk mening­gal­kan bangku rumah seko­lah yang sudah sekian lama ber­diri — lama sebe­lum ia dila­hir­kan! Juga tempat semua kakak­nya mem­per­o­leh ijazah. Karena pera­saan yang halus, dita­ngis­i­nya juga tempat bel­a­jar yang gugur di masa pen­du­dukan itu. Tapi air mata seo­rang gadis kecil tak ada Nippon.

Dia pindah ke seko­lah ialah mencab har­ga­nya buat bala ten­tara Dai peme­rin­tah. Pel­a­jar­an­nya setiap hari uti rumput dan mema­sak­kan nasi buat para romusa2 yang seminggu atau tiga lagi akan harus mati.

Dan selama itu kakak­nya­lah yang menye­leng­ga­ra­kan rumah tangga. Kakak­nya itu beru­mur dua tahun lebih tua dari­pada Sri. Sete­ngah tahun yang lalu dia tamat dari seko­lah rakyat kebang­saan yang telah mati merana itu.

Sebu­lan sesu­dah ibunya mening­gal, kedua kakak Sri yang lelaki lagi mer­an­tau. Dengan demi­kian yang ada di rumah ting­gal­lah ayah­nya, kakak­nya Perem­puan, adik perem­puan yang ber­nama Diah, dan tiga anak lelaki ber­nama Husni, Hutomo dan Kari­adi. Dan mereka hidup seba­gai seba­tang pohon kering di tengah-tengah hutan yang keha­bisan air.

Pendaratan balatentara Dai Nippon mem­buat lapisan muda jadi dina­mis. Mereka menga­gumi Jepang. Dan Jepang telah merun­tuh­kan selu­ruh kebe­saran dunia kulit putih di daratan Asia dan pulau-pulau­nya. Ter­u­tama ini sangat terasa oleh kalangan para murid dan mereka yang baru saja mening­gal­kan bangku seko­lah. Ber­ba­gai kursus timbul. Mula-mula: kursus bahasa sen­diri. Dan di masa seperti itulah Is tik. Ijazah seko­lah dasar dan hidup kelu­arga. Dia harus meng­un­dur­kan diri dari bangku seko­lah.

Mula-mula ia beron­tak juga karena dua bulan lagi dia boleh mening­gal­kan seko­lah dasar peme­rin­tah dengan ijazah dengan angka dan kata-kata yang baik. Tetapi anak yang beru­mur dua belas tahun itu tak berani mela­wan kehen­dak kakak­nya yang dua tahun lebih tua dari­pa­da­nya.

Hampir setiap sore sete­lah Is pulang bekerja, Sri mera­juk: “Mbak, coba­lah engkau ber­henti kerja untuk dua bulan, biar aku mene­rus­kan seko­lah dulu. Dua bulan saja. Kalau aku sudah tamat, engkau bekerja lagi.”

Dan seba­gai bia­sa­nya Is meng­ge­leng­kan kepala tanpa ber­kata sepa­tah pun jua — terus makan, kemu­dian tidur seperti juga adat pega­wai-pega­wai lain­nya. Dan seperti biasa juga, Sri merasa dia­ba­ikan oleh kakak­nya. Dan mata­nya yang besar jadi ber­ki­lau-kilau merah. Dia lari ke pojok rumah dan meng­u­cur­kan air mata sepuas-puas­nya. Dia merasa jadi mahluk yang sia-sia dan disia-siakan. Dan apa­bila dia jadi ter­ke­nang pada ibunya — pada orang tempat dia meng­a­dukan untung — ibunya yang baru mening­gal itu, tambah deras­lah air mata­nya.

Pada bapak­nya dia tak berani meng­a­dukan apa-apa. Antara bapak dan anak sudah sejak mula­nya ter­da­pat pen­ce­raian yang jauh. Bapak ter­lam­pau banyak bekerja untuk keba­ikan masya­ra­kat. Dengan demi­kian rumah-tangga sen­diri kocar-kacir. Dan antara anak dan bapak kemu­dian mem­ben­tang jarak yang jauh — bebe­rapa puluh mil.

Bila adik-adik­nya datang ber­ta­nya meng­apa mena­ngis — dia men­ja­wab sambil meng­u­sap air mata, jawaban yang hampir tak ter­de­ngar: “Kea­daan sudah begini beru­bah.

Atau segera ia mem­buka-buka isi lemari untuk menik­mati kenang-kenangan pening­galan men­di­ang ibunya di lemari itu: surat gadai dua belas lembar yang tak ter­te­bus dan jadi tak ber­harga oleh penyer­buan bala ten­tara Dai Nippon3. Barang-barang emas di pega­daian sudah digon­dol oleh ten­tara Belanda sebe­lum mereka mela­ri­kan diri ke Aus­trali. Dan surat-surat gadai itu mem­buat tangis­nya kian meng­a­muk. Kertas-kertas itu memaksa hati­nya ber­te­riak-teriak: “Ibu juga men­de­rita! Dia men­de­rita!”

Dan yang ter­ting­gal di dalam lemari hanya sepa­sang markis dan dua pasang anting-anting, spe­sial tak diga­dai­kan oleh ibunya agar anak-anak­nya ada ber­e­mas sedi­kit.

Kota kecil kami punya dalil­nya yang klasik: emas mem­buat wanita jadi ber­harga. Dan dalil itu selalu melon­jak dan merang­kak-rang­kak di kalangan kaum wanita. Juga dalam kepala pera­wan-pera­wan kecil yang belum balig. Maka pening­galan yang tak ber­harga itu dibagi untuk ketiga anak perem­puan itu.

Is men­da­pat markis dan kalung yang sudah sejak kecil dipa­kai­nya. Sri men­da­pat anting-anting emas dua puluh dua karat dan sebe­rat empat gram, dan Diah demi­kian pula.

Selain emas, kain untuk wanita kota kecil kami men­jadi baro­me­ter harga diri pula. Tapi kain dan kebaya ibunya yang banyak itu telah hilang begitu saja waktu para pela­wat datang di kala ibunya itu mening­gal dunia. Dan ketiga pera­wan kecil itu tak keba­gian seba­gai­mana mes­ti­nya. Tetapi mereka tidak menge­luh. Orang-orang tua di kota kecil kami selalu merasa berhak untuk dihor­mati orang yang lebih muda. Juga merasa berhak men­da­pat bagian yang ter­baik, bagian yang ter­be­sar dan yang paling mena­rik. Mereka yang merasa dir­i­nya lebih muda, tak punya hak penuh untuk mem­ban­tah — melang­gar kesu­si­laan, kata golongan tua-tua.

Kalau kakak Sri telah bangun dari tempat-tidur, biasa hati­nya masih menyim­pan kejeng­kelan-kejeng­kelan yang dipu­ng­ut­nya dari per­ca­kapan dengan adik­nya. Diham­pir­i­nya Sri dan ber­kata menu­suk: “Mena­ngis? Meng­apa mena­ngis?”

Sekali Sri mem­be­ra­ni­kan diri men­coba mem­bela kepen­ting­an­nya: “Mbak, kurang dua bulan lagi aku lulus. Aku harap engkau mau ke luar dari peker­jaan dulu. Untuk dua bulan saja. Engkau yang menye­leng­ga­ra­kan rumah-tangga meng­ganti daku. Dan biar­lah aku ber­se­ko­lah lagi. Kalau aku sudah tamat, engkau boleh bekerja lagi dan aku yang mengu­rus rumah-tangga kem­bali. Mau bukan, engkau, mbak?”

Is mem­be­re­ngut. Ber­kata lagi menu­suk: “Engkau adikku — dan engkau harus menga­lah.”

Dan insaf­lah Sri pada isti­a­dat kam­pung kami. Ia pun menga­lah. Is boleh bekerja terus untuk bisa mengu­a­sai gaji tiga puluh rupiah sebu­lan. Dan Sri harus menye­rah — harus mem­bi­ar­kan mati cita­nya untuk dapat mem­per­o­leh ijazah seko­lah dasar.

Kali ini Sri menye­rah untuk per­tama kali dalam hidup­nya. Dengan selu­ruh kesa­daran dan kere­laan ia menye­rah. Dan gadis kecil itu meng­ha­rus­kan dir­i­nya jadi kurban yang jatuh untuk mengu­rus kepen­tingan bapak­nya, kakak­nya dan keem­pat adik­nya. Ia hanya bisa menge­luh pelahan — keluhan yang kosong: “Alang­kah baik kalau ibu masih ada. Tapi kea­daan sudah jauh beru­bah. Dan kita semua sudah beru­bah pula kare­na­nya.”

Tidak jarang ia berdoa seha­bis menge­luh: “Moga-moga mereka dapat men­ca­pai yang mereka cita­kan.”

Dan dir­i­nya sen­diri — kian lama ia kian ter­ta­nam pada tempat dan kewa­ji­ban yang ter­tentu dalam rumah-tangga. Dan tak ada ruang lagi untuk ber­ge­ser tempat.

Kadang-kadang, bila ter­i­ngat ia bisa mem­per­o­leh yang lebih baik dari­pada yang sudah dida­pat­nya seka­rang, ia mena­ngis. Mena­ngis lagi dan mena­ngis. Tangisan yang tidak lagi pergi kepada penye­salan. Tidak — ia mena­ngis hanya untuk mena­ngis belaka. Ia mena­ngis bukan untuk dir­i­nya yang jatuh jadi kurban per­ju­angan rumah-tangga. Dan kea­daan memang sudah jauh beru­bah. Tak ada tempat lagi untuk meng­adu. Pabila kea­daan itu dia­duk­an­nya pada adik-adik­nya, ia takut kalau-kalau ter­jadi per­ten­tangan kelu­arga satu-sama-lain. Kalau berani, maulah rasa­nya ia meng­a­dukan pada bapak­nya. Tapi orang itu sama saja dengan momok bagi­nya. Bapak­nya hanya mengu­rus peker­jaan sehari-hari dan kepen­tingan masya­ra­kat. Kepen­tingan kelu­arga sama sekali tak ber­arti untuk­nya.

Ia pun tak berani meng­adu pada bapak­nya, meng­apa uang belanja dite­ri­ma­kan pada Is dan bukan pada­nya yang menye­leng­ga­ra­kan rumah-tangga. Ya, ia tak berani meng­adu. Mau, tapi tak ada kebe­ra­nian. Dan seki­ra­nya dico­ba­nya juga, barang­kali ia men­da­pat salah pula: ia lebih muda dari­pada Is. Bukan­kah Is dua tahun lebih tua dari­pa­da­nya? Tapi piki­ran kanak-kanak­nya telah dapat meraba kebe­saran uang belanja untuk orang yang menye­leng­ga­ra­kan rumah-tangga. Semua itu mem­buat dia jadi pen­diam dan pena­ngis.

Seba­gai seo­rang yang ber­da­rah panas, haus akan per­ba­ikan masya­ra­kat, benci pada pen­ja­jahan Belanda dan belum sadar akan keja­hatan pen­ja­jahan Jepang, bapak mereka ter­lam­pau ber­sim­pati pada pen­ja­jah baru yang ber­panji-panji kemak­muran ber­sama itu. Siang-malam ia mem­pel­a­jari bahasa Jepang hingga jadi juara kedua di kere­si­de­nan.

Sebe­lum Jepang menyerbu, ia pun sudah mem­pel­a­jar­i­nya dari kursus tulisan yang dise­leng­ga­ra­kan oleh seko­lah Ksat­rian4 Ban­dung. Tapi pel­a­jaran itu tak dapat terus oleh panas­nya poli­tik di masa itu — panas poli­tik yang terasa di seling­kupan dunia.

Orang tua itu pun berangan-angan ingin punya anak yang besar seperti pah­la­wan-pah­la­wan Dai Nippon. Dengan demi­kian tiap jam sete­ngah lima pagi anak-anak harus sudah bangun: taiso dan kaki­ashi5.

Karena Is sudah beru­mur empat belas tahun, sudah sam­pai­lah saat­nya untuk meng­hias diri. Dan karena sema­ngat bapak­nya itu men­da­tang­kan ber­pu­luh-puluh buku bahasa Jepang, maka semua itu mem­buat uang belanja ber­tam­bah tipis. Dan Sri yang sejak beru­mur dua belas tahun harus ber­tang­gung-jawab atas makan­nya tujuh orang, kian jadi kurus, pen­diam dan pena­ngis.

Tiap hari ia men­da­pat belanja dari kakak­nya. Dan dengan pene­tapan besar­nya belanja, Is bisa tahu berapa rupiah uang boleh diper­gu­na­kan­nya untuk diri sen­diri.

Dan kea­daan kian lama kian buruk. Bahan makanan kian susah dida­pat. Bahan pakaian hanya ada dalam angan-angan belaka. Dan untuk orang jujur serta tak ber­mo­dal, uang pun susah. Beras ber­ganti jagung. Jagung ber­ganti gaplek. Dan akhir­nya gaplek ber­pin­dah ke ubi jalar — daun­nya! Semua itu bisa dia­tasi bila orang mau jadi jahat seben­tar saja. Tetapi kelu­arga Sri turun-temu­run takut pada keja­hatan. Jadi dengan keju­juran yang tak kenal kom­promi mereka men­ja­lani keseng­sa­ra­an­nya.

Untuk bapak­nya dan juga untuk Is, semua itu tak begitu terasa. Mereka punya uang belanja sen­diri di kan­tong masing-masing. Dan mereka bisa duduk-duduk di bangku warung bila saja mau.

Sri dan adik-adik­nya harus bisa mene­lan apa saja yang bisa dite­lan dan meng­hi­lang­kan lapar barang seben­tar. Tapi akhir­nya habis juga daging Sri dan keem­pat adik­nya. Ting­gal kepala mereka jua yang masih gemuk — seperti gerun­dang kering.

Semua kea­daan buruk yang menimpa diri anak gadis kecil belum balig itu mem­buat piki­ran­nya jauh lebih tajam dari­pada seha­rus­nya. Pera­sa­an­nya pun jadi run­cing, halus dan ter­a­sah. Dan selain itu semua: jiwa­nya telah kejang­kitan pera­saan menye­rah. Ya, anak seke­cil itu telah tahu apa arti­nya menye­rah. Dan ada terasa oleh­nya suatu kete­gangan batin dalam penye­rah­an­nya itu. Kemu­dian dipan­dang­nya segala kea­daan yang ber­main di depan mata­nya dengan sikap tinggi hati dan mener­ta­wa­kan. Dan bila kakak­nya ber­ke­luh-kesah keha­bisan uang, dia ter­se­nyum lembut dan ber­kata meren­dah­kan diri: “Apa arti semua ini, mbak? Tak ada arti­nya-sama sekali. Ang­gap­lah diri ini seba­gai sedang ber­tir­a­kat saja.”

“Apa? Engkau mau meng­gu­rui aku?”

Dan tang­kisan itu selalu mem­buat dia insaf, ia cuma seo­rang adik saja. Dan ia ber­diam sambil meng­ge­li­mang­kan senyum yang dise­m­bu­nyi­kan di ujung hati.

Suatu kebi­a­saan di kota kecil kami — juga di antara kelu­arga orang-orang kecil di tempat kami: apa­bila per­ten­tangan ter­jadi antara kakak dan adik, adik harus menga­lah. Umur men­jadi modal per­kasa dalam per­ga­ulan. Dan orang-orang yang lebih tua mem­per­gu­na­kan kesem­patan ini sebaik-baik­nya. Dan dalam kea­daan seperti itu lekas-lekas Sri pergi dari dekat kakak­nya. Untuk meng­hi­bur diri, ia pergi ke kamar adik-adik­nya. Pakaian-pakaian mereka yang robek dija­hi­ti­nya dengan benang serat nanas. Dan bila pakaian itu dilu­bangi tikus, dica­ri­kan­nya tam­balan. Kalau tam­balan tak ada, diso­bek­nya rok sen­diri bagian bawah. Dan dengan pengu­r­ba­nan yang kecil itu ia merasa ber­ba­ha­gia. Ia merasa jadi seo­rang ibu yang cinta pada anak-anak­nya. “Walau­pun zaman ini diper­un­tuk­kan dunia buat Jepang, anak seko­lah tetap harus ber­pa­kaian bersih,” kata pera­sa­an­nya. Ia meng­erti pera­sa­an­nya itu. Tapi ia tak dapat meng­u­cap­kan­nya. Ia tak punya bahasa untuk itu.

Waktu ber­ja­lan dengan lam­bat­nya seba­gai­mana bia­sa­nya di hari-hari yang tak menye­nang­kan.

Seringkali rumah tak ber­le­laki dewasa. Jepang meng­hen­daki manu­sia yang dina­mis — dina­mik yang diper­lu­kan untuk keme­nangan Dai Nippon dalam pepe­rang­an­nya. Dan bapak­nya orang dina­mis. Seben­tar-seben­tar satu-satu­nya orang lelaki dewasa itu dide­ta­sir ke kota-kota kere­si­de­nan lain­nya. Kadang-kadang lama ia tak pulang. Tak jarang ia pergi ber­kon­fe­rensi ke Jawa Timur atau Barat. Dan dalam kea­daan seperti itu, bila malam datang dan pelita menya­la­kan minyak tanah masakan kam­pung — minyak-tanah gelap — dan kesu­nyian, keja­hatan serta kema­tian ber­pat­roli merang­kak-rang­kak di luar rumah, isi rumah yang belum dewasa semua itu ber­kum­pul jadi satu di ruang tengah dan tidur ber­ja­jar-jajar di tikar yang sudah robek-robek.

Juga tak jarang salah seo­rang dari mereka mena­ngis oleh kesu­nyian dan keta­kutan dan ing­atan pada ibu mereka yang telah tak ada lagi. Dan bila seo­rang saja mulai mena­ngis, yang lain-lain pun turut menyum­bang­kan sedu-sedan­nya. Rumah mereka ter­pen­cil di pojok kota dan ter­pi­sah dari para tetangga.

Tetapi, lama-kela­maan mereka tak takut lagi pada malam. Mereka tak gentar lagi pada kege­lapan dan kesu­nyian. Dan ahir­nya kesu­nyian serta kege­lapan dan malam itu sen­diri jadi kawan mereka yang tak pernah meng­khi­a­nati. Ing­atan pada men­di­ang ibu mereka akhir­nya men­jadi sesu­atu yang meru­pa­kan peng­hor­matan dari­pada rindu dan kese­dihan. Cuma kela­paran mera­ja­lela, di tiap saat, di tiap pojok usus dalam perut. Namun mereka telah memi­l­iki kebe­saran: mener­ta­wa­kan perut masing-masing bila sedang ber­ke­ru­yuk minta isi. Kadang-kadang sambil ber­kata meng­e­jek: “Tir­a­kat, perut — tir­a­kat!”

Ter­tawa yang meriah pun menyu­sul.

Apa yang agak meng­un­tung­kan dari kelu­arga-kelu­arga lain ialah, kelu­arga Sri punya kebun lebar. Tidak seperti tanah kami di Blora yang ter­lam­pau kurus untuk dita­nami. Dan kebun itulah yang mereka usa­ha­kan bera­mai-ramai. Ini mem­buat kakak-ber­a­dik itu men­jadi jeng­kel pada tanam-tanaman mereka. Dan buah atau umbi yang mereka harap­kan hanya meng­ha­sil­kan keke­ce­waan, mereka mem­bo­hongi keke­ce­waan itu dengan memu­as­kan diri mema­neni daun-daun­nya.

Suatu kali yang tak dapat mereka lupa­kan seumur hidup, mereka bong­kar kakus kelu­arga. Isinya mereka per­gu­na­kan untuk jadi pupuk. Bukan main ter­tawa para tetangga men­de­ngar kabar pemu­pu­kan dengan kotoran manu­sia itu. Tetapi kelu­arga Sri telah pandai penu­tup kuping. Aki­bat­nya: tanaman mereka hidup subur, hijau, cepat besar, dan buah serta umbi­nya meng­gair­ah­kan hati dan perut.

Kemu­dian — para tetangga datang seo­rang demi seo­rang hanya untuk meminta. Tapi kelu­arga Sri tak sedi­kit pun merasa ter­sing­gung oleh ting­kah laku mereka. Justru sifat penga­sih itu diwa­risi­nya dari bapak dan ibu mereka. Dan mereka merasa ber­ba­ha­gia bila bisa mene­rus­kan sifat-sifat warisan itu. Namun semen­tara itu, per­ka­kas makan dan dapur dan pakaian sebuah demi sebuah turut mem­bantu meng­gem­bung­kan perut. Lema­ri­nya yang tadi­nya padat, ber­ku­rang waktu ibu mereka mening­gal, kini merongga hitam dan menya­yu­kan. Dan untuk wanita — Sri, Is dan Diah ter­u­tama — lemari kosong telah cukup untuk meni­tik­kan air mata mereka.

Sudah sekian lama kedua kakak yang lelaki tak juga ada kabar­nya. Kadang mereka meng­i­ngat-ingat sedi­kit. Tapi tak ada seo­rang berani menga­ta­kan ada di mana mereka berdua seka­rang. Malah waktu sekali datang tamu dari jauh dan mena­nya­kan, mereka tak berani ber­kata sedi­kit pun jua. Dari seo­rang nenek yang menye­but dir­i­nya telah kenyang garam dunia, mereka dipaksa untuk mengen­da­li­kan mulut.

“Dalam zaman kacau seperti ini, jangan engkau meng­um­bar mulutmu tak ber­ken­dali. Maut seka­rang amat murah — di mana-mana dan di waktu apa pun jua. Hati-hati, anak-anak,” kata nenek tetangga itu.

Dan mereka mena­ati nasi­hat itu.

Kemu­dian, pada suatu kali yang tak ter­sangka-sangka, datang­lah surat mereka: “Seka­rang kami ada di suatu tempat di Birma. Engkau, semua, baik-baik saja, bukan? Kadang-kadang kami. ingat pada kalian semu­a­nya. Tapi kami pikir, ing­atan kami itu lebih baik dihi­lang­kan. Kami selalu yakin engkau semua sela­mat selalu.”

Dan pada mereka ada terasa kesa­yuan yang tak ter­ka­ta­kan dalam surat itu. Ber­ganti-ganti mereka mem­ba­ca­nya. Tapi yang terasa hanya kesa­yuan itu jua. Akhir­nya: “Alang­kah jauh,” suara menge­luh. Dan sedi­kit air meng­aca di mata.

Keenam anak itu mem­ba­lasi surat itu. Alamat kakak-kakak mereka ditu­lis dengan huruf cetak terang dan tak mung­kin salah lagi. Kemu­dian mereka menunggu surat balasan dari negeri jauh itu. Tak datang. Mereka geli­sah. Tak datang. Kecu­r­i­gaan ter­ha­dap nasib kedua kakak itu pelan-pelan mulai merang­kak men­ce­kik hati. Sebu­lan! — balasan pun tak datang. Akhir­nya mereka lupa bahwa sedang menunggu surat. Dan kem­bali hari ber­sam­bung hari.

Satu peris­tiwa lagi. Dengan tiada disangka-sangka datang kiriman dari kelu­r­ahan: dua karung beras, sepu­luh meter bahan pakaian kasar, uang dua ratus rupiah. Mereka tak meng­erti seluk-beluk kiriman itu. Mereka tak meng­erti meng­apa harus mene­rima barang dan uang seba­nyak itu. Ada juga Sri yang waktu itu sen­di­r­ian di rumah ber­ta­nya pada pem­bawa kiriman, siapa yang mem­beri. Tapi pem­ba­wa­nya hanya meng­ga­ruk kepala dan bilang: “Sayang, aku sen­diri tak tahu.”

“Barang­kali salah alamat,” Sri ber­bi­sik.

Diba­ca­nya kertas yang lekat pada karung beras dan amplop yang mem­bung­kus uang itu. Tidak salah: kepada yang ter­hor­mat kelu­arga Sumo. Sumo adalah bapak­nya.

“Barang­kali salah sangka,” kata Is sete­lah pulang kerja.

Dan segera ia pergi ke kewe­da­nan. Jawaban yang dida­pat­nya ialah: “Kedua kakakmu gugur seba­gai sakura di medan perang Birma.”

Ia pulang ke rumah mem­bawa tangis­nya yang ber­ke­lik-kelik. Dan tangis itu dengan tiada sengaja telah kuasa memang­gil para tetangga. Beras pun ditu­ang dari karung. Dan para tetangga sekali ini menge­cap nasi seke­nyang-kenyang dapat. Dalam hati mereka merasa ber­te­ri­ma­ka­sih atas kema­tian kedua kakak itu. Di sam­ping terima kasih ada juga harapan sedi­kit: “Moga-moga ada pemuda dari kam­pung kami satu atau dua lagi yang masuk Heiho6 gugur seba­gai sakura.”

Bebe­rapa hari kemu­dian nama kedua kakak itu ter­siar di harian-harian. Juga ter­tu­lis betapa garang mereka menang­kis per­la­wanan musuh dari segala sasaran. Dan kebang­gaan meman­car sedi­kit.

Bapak mereka jadi pen­diam oleh gugur­nya kedua anak­nya itu. Sering keli­hatan ia duduk ter­me­nung-menung seperti menim­bang-nim­bang sesu­atu yang tak dapat ditim­bang oleh manu­sia. Lambat-lambat keli­hatan kemun­dur­an­nya dalam mem­bantu peme­rin­tahan mil­iter bala ten­tara Dai Nippon. Tak lagi meme­san buku-buku Jepang. Juga tidak lagi segiat dahulu ke sana kemari meng­ha­diri kon­fe­rensi. Tak lagi ia ber­te­leku men­da­lami buku-buku­nya dan. mene­lan kanji dalam kepala. Dan hanya dengan lambat saja ia mulai meli­hat keku­rangan-keku­rangan dalam rumah tang­ga­nya. Mulai­lah ia mem­bantu anak-anak­nya mengu­rus ladang dan men­ca­ri­kan kayu bakar.

Bapak mulai jarang mening­gal­kan rumah. Pada paras­nya ter­baca isi hati­nya: perek per­se­tan dengan kon­fe­rensi! Dan oleh ini selu­ruh isi rumah merasa syukur karena merasa punya bapak kem­bali. Mereka merasa lebih aman bila malam datang, dan kege­lapan mulai menye­li­muti bumi dan segala keja­hatan dan maut ber­ke­li­aran di luar rumah. Ia mulai men­de­kati anak-anak­nya. Ia mulai mengu­rus mereka. Kadang-kadang ter­de­ngar ia menya­nyi untuk mem­beri sema­ngat baru pada kelu­ar­ga­nya yang telah lesu oleh pen­du­dukan bala ten­tara Dai Nippon itu. Namun, dalam tiap pem­bi­ca­raan dengan para tetangga kadang-kadang masih ter­se­lip per­nya­taan kebang­ga­an­nya karena kedua anak­nya lelaki gugur seba­gai bunga sakura — gugur seba­gai pra­ju­rit yang mem­per­ta­han­kan cita-cita kemak­muran Asia Timur Raya7. Atau dengan kata-kata­nya sen­diri: “Suatu per­mu­laan yang baik untuk modal bila kita mulai bangun jadi bangsa mer­deka.”

Zaman dan dunia tak meman­jakan Dai Nippon dengan bala ten­ta­ra­nya. Seba­gai negara dan bala ten­tara lain-lain­nya yang jaya, akhir­nya ia meng­a­lami kerun­tuhan juga. Dan keka­lahan yang dide­ri­ta­nya takkan bisa diper­ba­ik­i­nya lagi. Dai Nippon dipaksa untuk memu­lai seja­rah baru. Dai Nippon menye­rah. Tak ada tempat lagi untuk para dewa dan dewi di Indo­ne­sia dan orang ber­so­rak riang.

Per­u­ba­han datang! Per­u­ba­han datang!

Sudah jadi watak manu­sia selalu merin­du­kan per­u­ba­han bila ia ada dalam kea­daan yang menye­sak­kan. Per­u­ba­han! Seka­li­pun apa yang ada di balik per­u­ba­han itu baru meru­pa­kan kabut tak ber­angka dan tak ber­tepi yang meng­a­wang antara bumi dan langit.

Berita kemerdekaan mele­dak — ber­de­ngung ke tiap pen­juru kota kami yang kecil. Dan dengung itu ber­gema-gema hingga men­ji­lati tepi-tepi hutan dan pegu­nungan. Orang-orang datang ber­du­yun-duyun ke kota untuk meli­hat-lihat barang­kali juga boleh meram­poki toko-toko, rumah seko­lah dan kantor. Tetapi pemuda-pemuda telah ber­ga­bung dalam barisan. Dan mereka merasa tak sang­gup mela­wan pen­ja­gaan barisan itu. Namun mereka telah berhak ber­se­nang hati mem­bawa kabar baru untuk dusun dan kam­pung­nya masing-masing: raja kita seka­rang adalah raja Jawa — raja yang ber­pici.

Di lang­gar-lang­gar dia­da­kan sem­bah­yang mem­ber­kahi negara baru. Dan kiai-kiai ber­khot­bah dengan kema­uan mulut­nya sen­diri-sen­diri. Ayat-ayat dicari-cari untuk men­co­cok­kan kea­daan dengan agama. Dan seperti biasa, akhir­nya meniup angin ajaib dari mulut mereka: orang Indo­ne­sia memang ter­ma­suk bangsa luar­bi­asa di dunia ini — gagah per­wira. Dan agama Islam adalah agama yang paling sem­purna di selu­ruh jagat. Orang pun meng­a­mini dengan patuh­nya.

Seba­gai kelu­arga-kelu­arga yang lain juga, kelu­arga Sri jadi hidup kem­bali oleh kemer­de­kaan itu sete­lah sekian lama suram oleh pen­du­dukan bala ten­tara Dai Nippon. Harap­an­lah yang meni­up­kan ceria pada kelu­arga-kelu­arga di kota kecil, di kam­pung kami. Dan rata-rata orang Indo­ne­sia sudah senang­lah hati­nya bila mem­pu­nyai harapan. Seka­li­pun ia kosong berisi kabut.

Kemer­de­kaan negara datang dengan megah­nya — seperti — keda­tangan pah­la­wan yang menang dalam cerita purba. Tapi lama-kela­maan ia menye­li­nap dengan diam-diam ke dalam belu­kar kesu­karan hidup. Menye­li­nap dengan tiada terasa. Orang tak lagi tahu mana yang senang: di dunia pen­ja­jahan atau di alam kemer­de­kaan. Hanya sego­longan manu­sia yang beri­de­o­logi dan penang­guk ikan melom­pat-lompat ber­se­ma­ngat menyem­bur­kan isi dada masing-masing.

Dan kelu­arga Sri, yang selalu mene­lan ajaran-ajaran ten­tang kebang­saan dari seko­lahan dan per­ga­ulan rumah, turut menyam­but keda­tangan kemer­de­kaan itu dengan senang hati sampai dasar-dasar­nya. Juga hutan kesu­karan hidup itu diha­dapi dan dima­suk­i­nya dengan riang.

Bapak dari keenam anak itu segera masuk jadi ang­gota Komite Nasi­o­nal8. Dan seka­li­pun kelu­arga itu sudah jadi kocar-kacir oleh pen­du­dukan bala ten­tara Dai Nippon, hidup itu nampak nyata dan ber­si­nar-sinar — menyi­nari kelu­arga-kelu­arga yang suram di seke­li­ling rumah mereka.

Barang­kali memang sudah jadi hukum: mereka yang kuat jiwa­nya selalu ter­pan­dang oleh jiwa-jiwa lemah di seke­li­ling­nya. Ya, seakan-akan jiwa-jiwa lemah itu sengaja datang untuk melin­dung­kan diri. Dengan demi­kian kelu­arga itu seka­li­gus ter­pan­dang di kam­pung kami. Dan tiap orang pas­ti­lah bisa mem­ba­yang­kan betapa kea­daan orang atau kelu­arga yang ter­pan­dang di ling­kung­an­nya — seka­li­pun kea­daan kemak­mur­an­nya tak begitu menye­nang­kan.

Hari-hari mer­deka itu ber­ja­lan juga — seperti mata­hari yang tiada jemu-jemu­nya menyi­nari alam. Per­ha­tian pen­du­duk — seka­li­pun dia cinta pada kemer­de­kaan — tia­da­lah bisa ter­i­kat pada satu hal saja. Kesu­l­itan hidup oleh adanya blo­kade Belanda sung­guh men­ce­kik orang — ter­u­tama men­ce­kik mereka yang tak bisa dan tak berani ber­buat jahat. Dan dengan tiada ditu­lis di buku undang-undang mana pun jua, dengan sen­di­r­i­nya saja orang merasa: di waktu seperti ini keja­hatan men­jadi hak tiap orang. Tapi mereka tak pernah mem­per­ca­kap­kan­nya.

Dan isi rumah kelu­arga Sri kian lama kian meni­pis juga.

Di kala itu pula, pemuda-pemuda kami yang sudah keha­bisan harapan, buru-buru masuk ke dalam keten­ta­raan — seka­li­pun apa yang dina­ma­kan ten­tara itu tiada lain dari laskar revo­lusi yang miskin sen­jata. Dan ini mem­per­kuat barisan pen­cipta harapan baru. Mereka mening­gal­kan tanah­nya yang kurus, sambil mene­lani keka­yaan negara, butir nasi. Itu pun tak ada yang bisa menya­lah­kan. Orang sela­ma­nya cen­de­rung pada tin­dakan yang eko­no­mis.

Ds

Di jalan-jalan selalu mondar-mandir pemuda-pemuda bukan mil­iter yang kemi­l­iter-mil­it­e­ran. Bila mereka tiada ber­sen­jata api — dan sen­jata api ini sedi­kit sekali ter­da­pat di kam­pung kami, karena Jepang tak pernah mem­buat tangsi mil­iter di Blora — apa saja dise­lit­kan di ping­gang mereka: pisau, golok, cambuk dari kawat baja. Sema­ngat mem­bu­nuh telah disi­r­am­kan di dalam ladang benak mereka oleh pidato-pidato salah. Kemu­dian datang aki­bat­nya: sen­jata jadi kapi­tal untuk jual tam­pang di tiap — kesem­patan. Di waktu seperti itu gelum­bang gila-poli­tik meng­a­muk pula. Tiap orang rasa-rasa­nya tak bisa hidup bila tak ber­po­li­tik, tak ber­de­bat ten­tang poli­tik. Ya, seakan-akan mereka bisa hidup dengan tiada beras lagi. Guru-guru yang selama itu hidup netral, pun kejang­kitan penya­kit gila-poli­tik — dan sebo­leh-boleh mem­pe­nga­ruhi murid-mur­id­nya dengan poli­tik yang dia­nut­nya. Masing-masing ber­ju­ang men­cari ang­gota baru buat partai. Dan seko­lahan adalah medan per­ju­angan yang empuk sekali. Poli­tik! Poli­tik tak ubah­nya dengan beras di zaman Jepang. Kursus-kur­sus­nya pun tim­bul­lah. Dan mereka yang baru saja men­da­pat peng­er­tian ten­tang kapi­tal­isme-sosi­a­lisme-komun­isme bere­butan mem­beri cera­mah di warung-warung, ping­gir-ping­gir jalan dan di gedung-gedung yang meng­ga­rang dalam benak masing-masing.

Dan Pesindo9, pemuda sosi­a­lis Indo­ne­sia, pun tum­buh­lah di tanah kam­pung kami yang kering mengan­dung kapur itu.

Is telah menge­nal masya­ra­kat yang dima­suk­i­nya. Ia telah men­da­pat per­ga­ulan yang jauh lebih luas dari­pada yang dida­pat­nya dengan semua adik-kakak-orang tuanya. Ia sudah men­du­duki tempat yang pasti dalam masya­ra­kat itu: seba­gai wanita, seba­gai juru ketik kantor peme­rin­tahan, seba­gai pri­badi bebas. Kemu­dian, ia pun masuk Pesindo.

Bila ia pulang ke rumah, banyak yang dapat dice­ri­ta­kan pada adik-adik­nya ten­tang harapan di hari depan bila negara ber­co­rak sosi­a­lis­tis. Ia telah jadi manu­sia baru seka­rang, dengan penge­ta­huan baru, dengan dong­eng baru, dengan pan­dangan baru, dengan sikap baru, dengan per­ha­tian baru — keba­ruan yang dapat dipu­ngut dan dikum­pul­kan­nya dari per­ga­ulan. Dan semua itu ber­ja­lan dengan aman­nya di antara kesu­karan hidup sehari-hari. Kemu­dian kea­daan segera beru­bah.

Karena bapak dan Is jarang di rumah, ia hanya diisi oleh Sri, Diah, Husni, Hutomo dan Kari­adi. Diah selalu bel­a­jar. Ia sudah meng­in­jak dewasa seka­rang dan meng­erti apa arti­nya hari depan buat sese­o­rang.

Di tempat kami, buku-buku yang ber­guna untuk meng­gam­pang­kan pel­a­jaran hampir-hampir tak bisa dida­pat. Anak-anak murid hanya diajar mela­lui diktat. Dan untuk menya­lin diktat ini seko­lahan dan mur­id­nya mengur­bankan sete­ngah dari jam-jam pel­a­jar­an­nya.

Di antara anak-anak seko­lah telah meniup kabar angin, bahwa bila mereka pindah ke daerah pen­du­dukan seperti Sema­rang atau Jakarta atau Sur­a­baya, mereka akan ditu­run­kan satu kelas ke bawah. Ini mem­buat Diah tak mau lepas dari diktat-dik­tat­nya di sam­ping mem­bantu kakak­nya menye­leng­ga­ra­kan rumah tangga. Waktu baru yang juga tak begitu menye­nang­kan itu ber­ja­lan saja dengan tiada terasa.

Sri telah beru­mur dela­pan belas seka­rang. Dan umur adik-adik­nya ber­tam­bah tujuh tahun sejak ibu mereka mening­gal dunia. Diah dan Husni sudah men­du­duki bangku seko­lah mene­ngah. Hutomo di bangku seko­lah dasar yang ter­tinggi, sedang Kari­adi di kelas tiga.

Ketiga anak lelaki itu — Hutomo, Husni dan Kari­adi — masih - jauh dari soal-soal hidup­nya sen­diri. Mereka belum lagi ter­ta­rik pada pel­a­jaran yang dia­jar­kan pada mereka di seko­lah dan juga di rumah. Kegi­laan mereka dalam ber­main-main, ter­u­tama main bola, kadang-kadang men­de­sak jam-jam bel­a­jar di rumah. Dan inilah yang sangat menye­dih­kan hati Sri. Juga hati semua kakak-kakak mereka.

Kadang-kadang Sri mem­per­i­ng­at­kan mereka: “Bel­a­jar, dik! Bel­a­jar! Jadi apa nanti kalau tak mau bel­a­jar?”

Dan per­i­ng­atan seperti itu biasa mereka sambut dengan tan­tangan lelaki: “Apa? Bel­a­jar? Engkau menyu­ruh bel­a­jar? Engkau tak mem­ba­yar uang seko­lahku. Bukan engkau — bapak yang mem­ba­yar.”

Tetapi Sri sen­diri mem­pu­nyai hasrat besar untuk bel­a­jar. Tiap malam dipin­jam­nya buku-buku Diah, dan ia minta pel­a­jaran dari adik­nya itu. Ia sudah dekat pada soal-soal hidup­nya sen­diri. Dan ia kha­wa­tir ten­tang apa yang ter­jadi atas nasib adik-adik­nya kelak bila mereka tak juga mau bel­a­jar. Inilah yang men­do­r­ong hati­nya mem­per­i­ng­at­kan mereka akan hari depan masing-masing. Kekha­wa­tiran itu begitu memun­cak. Dan pada suatu kali diam­bil­nya sapu dan dipu­kul­kan pada mereka sambil ber­seru: “Apa akan jadi­nya engkau semua ini kalau tak mau bel­a­jar juga?”

Tetapi kesu­karan hidup dan tang­gung­ja­wab atas kelu­arga yang menyita seba­gian dari musim kem­bang kanak-kanak­nya sejak ia beru­mur dua belas tahun itu, mem­buat Sri ter­ganggu per­tum­buhan tubuh­nya. Badan­nya kecil dan sering ter­se­rang oleh penya­kit.

Waktu ia men­da­pat serangan, dan pem­ba­lasan men­da­dak datang dari ketiga adik­nya, ia tak bisa mem­per­ta­han­kan diri untuk mela­wan. Segera ia lari ke pojok kamar dan mem­ban­ting­kan diri. Ia mau sen­di­r­ian. Ia mau mera­sa­kan puingan yang meng­gila di dalam dada. Ia mau memu­as­kan suatu keger­sangan yang tak punya nama dalam bahasa-bahasa manu­sia di dunia ini. Dan untuk wanita yang kehi­langan dir­i­nya, tak tahu kea­da­an­nya lagi — bukan barang baru bila ia meni­tik­kan sedi­kit air.

Semua itu tak dapat ia adukan pada siapa pun. Dan dalam mena­ngis, ia mem­bela kebe­nar­an­nya. Namun anak-anak itu mem­buka-buka juga buku mereka tiap pelita dinya­la­kan — kewa­ji­ban batin seba­gai murid yang untuk mereka lebih dekat pada syarat dari­pada kesa­daran akan kewa­ji­ban itu sen­diri. Biasa mereka bel­a­jar sampai sete­ngah atau satu jam. Kele­tihan oleh ber­main-main menun­tut mereka untuk segera ber­is­ti­ra­hat. Dan tidur­lah mereka.

Bila malam telah sunyi, dan ting­gal Diah saja masih bel­a­jar di kursi tua bejat-bejat, kelu­ar­lah Sri dari pojok kamar dan mene­mani adik­nya itu. Ia pun turut bel­a­jar dan minta diberi pene­rangan hal-hal yang kurang dipa­ham­i­nya.

“Biar­lah aku jadi mur­idmu, Diah.”

Dan Diah mem­ban­tu­nya dengan segala senang hati. Ia ada mera­sai besar­nya pengu­r­ba­nan kakak­nya — untuk kepen­ting­an­nya, kepen­tingan adik-adik­nya, bapak, dan selu­ruh kelu­arga. Dan ucapan kakak­nya itu mem­buat ia ter­haru, meme­rah­kan mata kadang-kadang. Kemu­dian malam ber­ja­lan dengan diam-diam seperti tak ada yang meng­ha­rap­kan di dunia ini. Dan di saat-saat seperti itu, Is sering tak pulang ke rumah. Tak jarang ia tidur di asrama ber­sama kawan-kawan­nya seke­per­ca­yaan — mereka yang jatuh cinta pada isme yang baru dike­nal­nya. Per­ha­ti­an­nya pada dunia besar mulai ter­buka. Hati­nya selalu riang. Dan badan yang mena­ungi dir­i­nya sang­gup mem­be­ri­nya makan. Kawan lelaki pun banyak. Dan semua itu mem­buat ber­tam­bah meri­ah­nya sema­ngat hidup di masa muda. Men­da­dak saja badan­nya tumbuh begitu baik — gemuk dan sehat. Cekung-cekung di selu­ruh tubuh warisan pen­du­dukan Jepang lenyap. Muka­nya merah ber­seri. Mulut­nya selalu menya­nyi­kan Inter­na­si­o­nale10. Ia jadi pemudi revo­lu­si­o­ner — menu­rut isti­lah golong­an­nya. Dan ia merasa mem­pu­nyai hak untuk menge­cap sese­o­rang kolot atau maju, penga­cau atau pem­ba­ngun, patut dile­nyap­kan atau baik dipa­kai seba­gai alat. Sesung­guh­nya ia ia beru­bah jadi manu­sia lain dari­pada dahulu.

Zaman repub­lik itu mem­buat bapak mereka jadi dina­mis sekali. Jarang ia ting­gal di rumah. Dengan sema­ngat pemuda diben­tuk­nya ber­ba­gai badan untuk mem­be­ran­tas buta huruf, badan pem­bantu kelu­arga pra­ju­rit, badan penam­pung orang cacat yang dipu­lang­kan dari medan perang Sema­rang. Kemu­dian badan-badan seperti itu tumbuh segar: badan penyo­kong pra­ju­rit di garis depan, badan peng­hi­bur pah­la­wan, kursus poli­tik, bahasa Ing­gris dan Indo­ne­sia. Ya, kota kami yang kecil itu mulai geli­sah seperti kota besar dengan pel­ba­gai mesin dan per­da­gang­an­nya.

Tetapi kea­daan segera beru­bah lagi. Badai meng­a­muk dari jurusan timur. Dan tak ada seo­rang pun dari pen­du­duk kota kecil kami yang pernah meraba-raba, bahwa badai itu begitu cepat datang dan menyapu apa saja yang dapat disa­pu­nya.

Kursus-kursus yang tumbuh seperti jela­tang di ujung musim hujan habis dica­but­nya — dica­but untuk mem­bi­ar­kan mereka mati kering ter­gang­gang panas matari.

Waktu itu mata­hari telah bebe­rapa jam mening­gal­kan ufuk. Jalan-jalan yang bia­sa­nya berisi banyak pra­ju­rit ber­ke­li­aran kini sepi. Orang belum sampai menya­dari hal itu. Pasar ber­ja­lan aman seperti di hari-hari bia­sa­nya. Kemu­dian ter­de­ngar teriak ngeri: “Merah datang!”

Dengung pasar mengen­dur sedi­kit.

“Merah datang!” teriak sekali lagi. Kemu­dian teri­akan itu diu­langi oleh bebe­rapa kerong­kongan. Dengung pasar mati.

“Merah datang!” teriak ber­ba­reng.

Sunyi senyap.

Kemu­dian seperti dison­tak­kan orang ber­te­riak-teriak ber­ba­reng. Ter­lam­pau ribut. Seka­li­gus lalu­lin­tas mati. Seperti kehi­langan jiwa­nya orang-orang ber­henti dan mene­ngok ke kiri dan ke kanan. Tak ada nampak pasukan Merah11. Tetapi pasar sudah kacau. Orang di dalam­nya bere­butan keluar cari jalan lepas — menye­la­mat­kan diri. Dan tiap kepala mem­ba­yang­kan pasukan Merah seperti yang diba­ca­nya dari surat kabar atau dide­ngar dari per­ca­kapan sete­ngah ber­canda.

Dan sebe­lum orang sempat menyim­pan dir­i­nya di tempat-tempat yang aman, pasukan Merah telah men­du­duki kota kami yang kecil itu. Satu jam. Dua jam. Tiga. Kea­daan tetap tenang. Hari baru pun menyu­sul­lah.

Sejak pasukan Merah datang, bapak mereka tak pernah mening­gal­kan rumah. Ia, menan­ti­kan apa saja yang akan ter­jadi. Biasa ia datang terus tidur. Tapi kini tidak. Ia keli­hatan geli­sah. Telah lima kali ter­de­ngar ia ber­seru: “Sege­las air, Sri, Diah, Riadi!”

Sudah berapa kali ia ke luar ke beranda dan ber­ja­lan mondar-mandir dengan gerak gugup, dengan kedua tangan ter­si­lang di bela­kang badan. Muka­nya ber­om­bak-ombak oleh kerut-mirut. Banyak yang ia pikir­kan.

Memang sudah jadi adat dalam rumah-tangga itu, bila si bapak ada di rumah, anak-anak meng­ge­rom­bol di ruang bela­kang atau mela­yap di kebun. Dan sekali ini mereka sedang meng­ge­rom­bol di ruang bela­kang, ribut ber­ce­rita ten­tang keda­tangan pasukan Merah.

Tiba-tiba Hutomo ber­seru: “Besok kita mengi­bar­kan ben­dera Merah!”

Oleh seruan itu, bapak­nya yang sedang mondar-mandir di ruang depan ber­henti. Seben­tar ia men­de­ngar seruan itu dengan hati-hati. Tiba-tiba ia mem­ba­lik­kan badan dan buru-buru pergi ke ruang bela­kang. Di saat itu jualah anak-anak meli­hat muka bapak­nya yang nampak kurus dan pucat dan kendur.

“Tidak ada seo­rang pun di antara anak-anakku yang boleh mengi­bar­kan ben­dera Merah. Dan engkau semua pun tak boleh ber­ka­lung seta­ngan Merah. Tidak ada guna­nya kita meme­rah­kan ban­teng untuk menan­duk dada kita.”

Mereka tak meng­erti apa yang dimak­sud­kan bapak­nya. Tapi mereka ter­diam. Semua tunduk mene­kuri lantai. Dan mata bapak mereka tajam-tajam meman­dangi anak­nya seo­rang demi­se­o­rang. Mene­rus­kan: “Di sini ada peme­rin­tah yang sah. Dan barang­si­apa mem­bu­ang ben­dera Merah Putih dan mengi­bar­kan ben­dera Merah adalah pem­be­ron­tak. Engkau dari mana, Tomo?”

Keta­kutan Hutomo men­ja­wab dengan tiada meman­dang bapak­nya: “Dari alun-alun, pak.”

“Hmmmm. Meli­hat anak-anak Merah yang ber­pita janur kuning dan ber­ge­lang janur kuning di leng­an­nya itu?”

“Ya, pak.”

Seke­tika itu juga bapak mereka ter­hu­yung-huyung ke sudut ruang-bela­kang. Sri dan Diah meno­long­nya. Bapak tak jadi rebah ke lantai. Nafas­nya mem­be­rat ter­i­sak-isak. Dan sete­lah didu­duk­kan di ambin, nampak air mata­nya mele­leh. Oleh air mata itu semua anak­nya turut mena­ngis.

Bapak mereka ber­bi­sik: “Di sini ada peme­rin­tah yang sah, anak-anakku.”

Ia diam lagi. Disu­sun­nya nafas­nya baik-baik. Kemu­dian: “Engkau tak boleh turut beron­tak dengan mereka. Engkau tak boleh jadi saksi pem­be­ron­takan mereka. Dahulu engkau semua telah ber­janji setia pada repub­lik. Walau­pun janji itu tak ter­tu­lis dalam surat dan juga tak kau ucap­kan, tapi ada dalam hatimu masing-masing. Engkau pun pernah turut mengi­bar­kan dwi­warna. Meng­erti semua? Meng­erti? Bukan?”

Tak ada yang men­ja­wab.

“Bukan?”

Tak ada yang men­ja­wab.

Sepa­sang air mata menyu­sul ber­li­nang di sudut mata bapak mereka. Buru-buru Diah menge­lu­ar­kan sua­ra­nya: “Ya, bapak.”

“Engkau tak perlu mem­bo­hongi aku. Bilang tidak atau ya — presis seperti yang ada dalam hatimu masing-masing.”

“Ya, pak,” Sri menyum­bang­kan sua­ra­nya.

Mereka ber­diam-diam seka­rang. Kecu­r­i­gaan orang tua itu menye­li­dik dari hati ke hati. Mata­nya merah dan liar. Dan anak-anak kecil itu — mereka telah dewasa untuk kecu­r­i­gaan yang tak dapat diken­da­li­kan lagi.

Tiba-tiba saja: “Mana Is?” orang tua itu ber­ta­nya.

Diam.

“Mana dia?,” sekali lagi.

Pelahan-lahan Hutomo meng­ang­kat kepa­la­nya. Seki­las meman­dang bapak­nya. Kemu­dian mem­per­de­ng­ar­kan sua­ra­nya dengan lagu bim­bang: “Di markas Pesindo.”

“Di markas Pesindo? Betul? Betul? Allah-allah. Pasti dia sudah jadi Merah pula. Anakku! Anakku!”

Kem­bali bapak mereka kehi­langan tena­ga­nya. Dan anak-anak­nya meni­dur­kan­nya di ambin. Di atas segala kebi­ngungan Sri ber­seru pada Hutomo: “Pang­gil kakakmu.”

Hutomo lari ke luar dan hilang­lah dari peman­dangan. Sekali ini ia jadi anak penu­rut. Dengan men­da­dak saja badan bapak mereka jadi panas. Diah lari ke kamar mandi meng­am­bil air dingin. Dengan air dingin itu ia men­coba meno­long ayah­nya. Kening tua itu dikom­pres­nya, juga muka dan kuduk.

Pak Sumo tak sadar­kan dir­i­nya.

Tenang di ruang bela­kang itu — kete­nangan yang hanya berisi kegu­gupan. Seper­em­pat jam kemu­dian ter­de­ngar ia meng­i­gau: “Moga-moga tak ada seo­rang pun dari anak-anakku kehi­langan jalan. Ya, kita semua men­de­rita. Jepang, Repub­lik, keka­cauan karena kosong­nya kepala. Beron­tak! Meng­apa beron­tak menam­bahi keka­cauan? He, si Is sudah jadi Merah. Aku baru tahu. Sudah datang­kah polisi Merah?”

“Polisi Merah?” Sri ber­ta­nya kem­bali. Mata pak Sumo ber­pu­tar-putar dan ber­henti pada sudut lubang pintu.

“Polisi Merah tak ada di sini, bapak,” ia mene­rus­kan. Kemu­dian ber­kata pada Kari­adi, “Ambil seli­mut ayah.”

Dan sekali ini Kari­adi pun jadi penu­rut. Segera saja ia pergi meng­am­bil­kan seli­mut. Dan lekas-lekas barang itu dite­bar­kan di atas tubuh ayah­nya.

Sri, Diah dan Husni meru­bung. Masing-masing mele­leh­kan air mata. Kari­adi ber­diri agak men­jauh. Dili­hat­nya segala yang ter­jadi di depan­nya dengan mata tidak meng­erti. Dan mata­nya’ sen­diri tetap kering. Ia tak berani ber­ca­kap dan mem­buat ribut seperti biasa.

“Bapak,” rintih Sri. Tapi pak Sumo mene­rus­kan igau­an­nya sen­diri.

“Husni! Pergi ke rumah sakit. Pang­gil­kan dokter!” perin­tah Sri.

Bapak mereka terus meng­i­gau dan meng­i­gau. Ten­tang poli­tik. Ten­tang mil­iter. Ten­tang teror. Ten­tang han­cur­nya kemak­muran rakyat: isi dada kepala orang-orang di daerah yang belum didu­duki Belanda pada waktu itu. Ten­tang kehan­curan indi­vidu. Ten­tang segala-gala­nya. Anak-anak yang masih ting­gal di ling­kung­an­nya men­de­ng­ar­kan segala igauan itu sambil meng­om­p­res. Lama kela­maan igauan itu mengen­dur, tak ber­te­naga, lambat-lambat akhir­nya tak ter­de­ngar lagi. Pak Sumo ter­ti­dur.

“Di mana kakakmu seka­rang?”

Hutomo yang baru datang men­ja­wab gugup: “Dia tak ada di markas. Markas Pesindo telah mengi­bar­kan ben­dera Merah.”

“Aku tak mena­nya­kan ben­dera Merah. Mana mbak 1s?”

“Tidak ada di markas.”

“Tidak ada? Di mana?” tanya Sri dengan suara menge­ras oleh gugup. Tapi kemu­dian ia ingat pada bapak­nya yang sakit, dan mengen­dur­kan sua­ra­nya. “Tak ber­ta­nya engkau pada pen­jaga markas?”

“Orang yang kuta­nyai bilang … bilang … bilang … bilang mbak Is diki­rim ke luar kota untuk ber­la­tih naik kuda.”

“Siapa yang mengirim?” 1

“Merah.”

Tenang di ruang bela­kang itu.

Mata Sri melo­tot. Kegu­gupan dan kese­dihan seka­li­gus hilang beru­bah jadi pera­saan lain: kema­rahan yang ber­ko­bar-kobar. Ia marah pada Is — adat kelu­arga dan keke­lu­ar­gaan yang menim­bul­kan­nya. Keri­ng­at­nya mele­leh-leleh di jidat. Ter­de­ngar ia menge­luh pelahan. Tiba-tiba kegu­gup­an­nya datang kem­bali.

“Kasihan bapak,” bisik­nya sangat pelahan sambil menun­duk­kan kepala. Lambat-lambat ia pergi ke ruang bela­kang menung­gui bapak­nya lagi. Diah sedang sibuk meng­om­p­res dan meng­om­p­res.

“Bapak tidur,” kata Diah. “Syukur kalau bapak bisa tidur.”

Kedua gadis itu menun­duk dengan tak semau sen­diri. Tapi mereka tak juga meng­erti meng­apa bapak­nya begitu kaget men­de­ngar berita Is di markas Pesindo. Mereka tidak meng­erti. Tidak meng­erti. Tidak habis-habis meng­erti.

Kari­adi men­de­kati dan ber­ta­nya dengan suara kanak-kanak­nya: “Meng­apa bapak, mbak?”

“Diam, kau! Jangan tanya apa-apa,” larang Sri dengan suara pelan.

Dan Kari­adi per­gi­lah ke luar. Seben­tar kemu­dian ter­de­ngar ia ber­nya­nyi-nyanyi memang­gil kawan-kawan­nya untuk ber­main bola. Atau tidak ber­main bola, tapi ke alun-alun meli­hat pasukan Merah sedang ber­ba­ris.

Kedua gadis itu duduk di lantai. Mata­nya meng­a­wasi bapak­nya yang tidur di atas ambin kayu jati keras tiada ber­alas. Dan di luar, matari telah mulai bering­sut-ingsut con­dong ke barat. Kabut sore mulai turun meng­em­bara seperti ber­kaki di atas bumi, dan tiap benda yang disa­pu­ti­nya kabur-kabur tiada nyata. Dan siang hari yang terang-ben­de­rang dan panas tadi telah beru­bah jadi senja yang suram.

“Husni belum juga datang,” bisik Sri lagi. Diah tak menyam­but. Dan lelaki kecil di sam­ping­nya pun tidak.

“Lebih baik engkau mema­sang pelita,” Sri ber­kata lagi.

Diah pergi. Kemu­dian, hati-hati Sri meraba kaki bapak­nya. Ber­bi­sik: “Sudah mulai men­di­ngin.”

Ia duduk lagi di lantai. Dan malam pun datang dengan diam-diam. Di luar sunyi senyap. Bapak mereka tetap tidur. Tapi pada air muka­nya nampak keta­kutan, keke­salan dan kege­li­sahan. Sinar putus asa menari-nari menyela. Namun Sri tidak maklum akan semua itu. Ia masih ter­lam­pau muda untuk meng­erti. Yang dike­ta­hu­i­nya hanya: bapak­nya dengan men­da­dak saja jatuh sakit.

Pelita telah ter­pa­sang. Dan nyala yang samar serta geli­sah menya­yu­kan peman­dangan. Pojok-pojok rumah masih tetap gelap. Dan ceri­cip mar­ga­satwa menyerbu masuk ke dalam rumah dari ladang di sam­ping rumah.

Kemu­dian datang­lah Husni. Nafas­nya kepa­yahan oleh ber­lari-larian. Ber­kata ia ber­bi­sik: “Pak dokter dise­ret oleh Merah. Aku lihat sen­diri tadi. Rumah­nya dike­pung dan ia dita­rik-tarik pada baju­nya. Sunyi di keli­ling rumah dokter itu. Cuma aku sen­diri yang tahu. Dan aku tak berani masuk ke peka­rang­an­nya.”

Sri menge­luh dengan tiba-tiba. Hanya keluhan saja. Husni mene­rus­kan ceri­ta­nya dengan bisikan gugup: “Aku dipe­gang oleh ser­dadu Merah. “Mau apa, kau!’ ger­tak­nya. Kataku, “Bapakku jatuh sakit. Aku men­cari pak dokter.” Dan ser­dadu itu mene­rus­kan, “Bapakmu nasi­o­na­lis?” Dan aku bilang, aku tak tahu. “Jangan pura-pura, jangan pura-pura,’ kata­nya lagi. Bukan main takutku ditu­duh pura-pura. Sen­jata mereka masih baru, meng­ki­lat dan hitam.”

“Apa kata­nya lagi?” tanya Diah.

“Kata­nya lagi, “Kalau bapakmu nasi­o­na­lis seperti dokter itu, tak perlu dia dio­bati. Besok atau lusa, aku sen­diri yang akan datang meng­o­bati. Dengan ini!” kata­nya, dan diper­li­hat­kan­nya padaku sen­ja­t­a­nya yang masih baru itu. Aku keta­kutan.”

“Ya, ampun,” Sri menye­but.

“Nasi­o­na­lis­kah bapak?” Husni ber­ta­nya.

Tak ada yang men­ja­wab.

“Tapi mereka tak tahu rumah kami, bukan mbak?” Husni meng­hi­bur diri.

“Jangan bilang pada siapa pun ten­tang bapak — apa nasi­o­na­lis apa tidak,” Sri mela­rang. Dan tiba-tiba seperti orang kaget, “Betul-betul­kah dia bilang begitu?”

Husni meng­ang­guk. Anak-anak itu pun ber­pan­dang-pan­dangan satu sama lain. Paras mereka pucat. Dan kepu­ca­tan itu men­jadi kebiru-biruan oleh sinar pelita yang murung. Kedua gadis itu meng­gi­gil sedi­kit. “Bapak!” Sri ber­bi­sik, dan dici­um­nya kaki bapak­nya pelahan-lahan.

Husni duduk di sam­ping Diah — tak tahu apa yang harus diper­buat dan dika­ta­kan­nya lagi. Dan meli­hat bapak­nya yang ter­ba­ring seperti telah mati, juga meli­hat per­bu­atan Sri, Diah tak dapat mena­han air mata­nya lagi. Per­la­han ia ber­bi­sik pada Husni: “Bapak ter­lalu banyak bekerja untuk engkau semua. Dan engkau menyia-nyi­a­kan jasa beliau. Engkau tak mau bel­a­jar baik-baik.”

Tiba-tiba saja suara Husni jadi besar dan parau. Men­ja­wab: “Aku ber­sa­lah, mbak. Ya, aku ber­sa­lah.”

Kemu­dian ter­de­ngar ia mena­ngis ter­i­sak-isak. Di saat itu jualah Kari­adi masuk. Mulut­nya ter­buka — siap akan ber­te­riak menga­bar­kan sesu­atu yang sudah dili­hat­nya seben­tar tadi. Tapi kala dili­hat­nya bapak­nya masih ter­bu­jur di ambin seperti telah lama mati, dan ketiga kakak­nya sedang mena­ngis, pelahan-lahan mulut­nya ter­tu­tup. Lambat-lambat ia men­de­kati mereka dengan lang­kah bim­bang dan goyah. Terus saja ia duduk di lantai dengan mata meman­dang ke sana kemari.

Dan malam kian men­de­sak dengan mem­bawa kemu­rung­an­nya. Nafas bapak mereka sam­bung-menyam­bung dengan ter­a­tur. Dan tak ada keta­kutan yang begitu besar mengu­a­sai diri kedua gadis itu selain: apa jadi­nya kelak kalau bapak mening­gal­kan dunia ini. Tetapi orang tak bisa memi­lih nasib­nya masing-masing. Dan pintu depan yang telah ter­kunci dike­tuk orang. Mula-mula pelahan. Waktu tak ada jawaban dari dalam, ketukan itu dike­ras­kan.

Diah pergi ke ruang depan. Dan dari luar ter­de­ngar per­ca­kapan bebe­rapa orang lelaki. Di ruang bela­kang itu pun ada ter­tang­kap sepatu yang ber­ge­seran di lantai — sepatu bot!

“Pak Sumo ada di rumah?” ter­de­ngar suara lelaki ber­ta­nya.

“Ada. Sedang sakit,” anak-anak di ruang bela­kang dengar Diah men­ja­wabi.

Per­ha­tian Kari­adi, Husni, Hutomo ter­tuju pada suara-suara di luar itu. Sri men­coba menu­li­kan pen­de­ng­ar­an­nya dengan menye­li­muti bapak­nya. Kemu­dian menyu­sul lang­kah sepatu — banyak. Gadis itu tak kuasa menu­li­kan pen­de­ng­aran lagi. Ia pun turut men­de­ng­ar­kan. Ada sepu­luh pasang sepatu. Dan waktu gerom­bolan itu masuk ke ruang bela­kang, lalu saja ter­de­ngar suara oleh Sri dalam kepa­la­nya: “Polisi Merah.”

Dan ia ber­tam­bah gugup. Apa­lagi waktu seo­rang dari gerom­bolan itu datang pada­nya, ber­kata tak acuh: “Jangan takut. Kami takkan meng­ganggu sau­dara-sau­dara di sini.”

“Meng­apa datang begini malam?” Sri ber­ta­nya. Tapi sua­ra­nya ter­lalu lemah hingga tak ter­de­ngar oleh siapa pun selain dir­i­nya sen­diri.

Seo­rang lain lagi ke luar dari gerom­bolan itu dan menuju ke ambin — mem­ba­ngun­kan bapak­nya. Sri mena­han­nya: “Bapak sedang sakit,” ia meman­dang orang itu. Dan nyata oleh­nya, bahwa orang itu tak lain dari tetang­ga­nya lelaki.

“Engkau?” tanya­nya.

“Ya, aku. Engkau semua tak perlu kha­wa­tir.”

“Engkau tahu bapak sedang sakit,” Diah mene­ngahi. “Meng­apa engkau bangun­kan? Jangan ganggu dia.”

“Tapi peme­rin­tah meng­hen­daki demi­kian.”

Dan tetangga lelaki itu mene­rus­kan niat­nya. Bapak­nya bangun. Lambat sekali ia mem­bu­ka­kan mata­nya. Kemu­dian duduk sambil meng­o­cok mata­nya. Dan mata itu merah hitam nampak dalam caya pelita suram. Waktu dili­hat­nya banyak orang meling­kung­i­nya, seka­li­gus menyem­bur dari mulut­nya: “Polisi Merah?”

Tapi tak ada seo­rang pun di antara gerom­bolan orang itu men­ja­wab. Cuma tetangga lelaki itu ber­kata lang­sung: “Pak Sumo dipang­gil oleh bapak bupati.”

Tiba-tiba sema­ngat Pak Sumo kem­bali bang­kit. Tanda-tanda penya­kit­nya hilang seka­li­gus. Lambat-lambat ia ber­diri dan men­de­kati Tuki­jan. Dipan­dang­nya tetangga lelaki itu lama-lama. Kemu­dian: “Pak bupati? Sudah mening­gal­kan kota dia?”

Tuki­jan meng­ang­guk.

Tanpa meli­hat anak-anak­nya lagi, pak Sumo berang­kat meng­i­kuti gerom­bolan itu. Dan tetangga lelaki itu seben­tar meman­dang Sri, ber­kata lemah lembut meng­am­bil hati: “Aku sen­diri tak tahu apa yang hendak mereka per­buat.”

“Bukan­kah engkau koman­dan polisi Repub­lik?” Gerom­bolan itu mulai ber­ja­lan mela­lui pintu ke ruang depan. “Ya, kema­rin pagi. Tapi…”

“Engkau meng­khi­a­nati tetang­gamu yang tak pernah meng­khi­a­nati engkau.”

Husni mera­ung: “Bapak! Bapak! Jangan pergi. Mereka bukan polisi Repub­lik.”

Tetapi bapak mereka terus ber­ja­lan. Tidak peduli.

Seo­rang dari gerom­bolan kem­bali masuk ke ruang-bela­kang. Mena­rik Tuki­jan pada lengan keme­ja­nya. Kedu­a­nya menyu­sul gerom­bolan yang telah berang­kat. Hilang­lah mereka.

“Moga-moga mereka bukan polisi Merah. Moga-moga mereka tetap polisi Repub­lik,” doa Sri dengan penuh kece­masan — doa yang lebih dekat pada peng­hi­buran diri sen­diri dari­pada harapan. Dan malam pun kian mera­suk seperti malam-malam bia­sa­nya.

Keadaan sudah jauh beru­bah sete­lah seminggu lama­nya pak Sumo ditang­kap.

Tiap hari Saki­din — tukang gero­bak yang punya gero­bak sen­diri dan sapi sen­diri, dan men­da­pat lima belas rupiah tiap ang­kutan — memu­kul canang dan mene­ri­ak­kan perin­tah-perin­tah pasukan Merah yang harus dita­ati dan diker­ja­kan oleh pen­du­duk. Dan hari itu ia memu­kul canang lagi. Ber­te­riak ber­u­lang-ulang:

“Semua ang­gota Partai Nasi­o­nal Indo­ne­sia — semua ang­gota Masyumi12 — semua ang­gota Hiz­bul­lah13 — semua ang­gota Nah­da­tul Ulama — semua ang­gota dewan per­wa­kilan rakyat daerah, kabu­pa­ten, kere­si­de­nan dan propinsi yang bukan Merah — semua dari mereka itu — semua harus men­daf­tar­kan diri di markas besar bala ten­tara Merah.”

Lama suara itu mati. Kemu­dian menyu­sul teri­akan sam­bung­an­nya:

“Dan barang­si­apa tak mem­pe­du­li­kan pem­be­ri­ta­huan ini akan dihu­kum berat. Para pen­de­ngar yang ter­hor­mat — mereka akan dihu­kum berat bila tak mau men­daf­tar­kan diri…”

Ter­de­ngar ia ter­tawa-tawa senang. Muka­nya merah oleh kegi­rangan men­da­pat tugas dari gerom­bolan yang menang perang. Dan ia pun riang karena ber­ha­sil dapat mena­kut-nakuti orang banyak.

Sri belari-larian ke pela­taran. Ber­ta­nya: “Apa arti­nya hukuman berat, pak?”

“Arti­nya, anak manis? Ayam-ayam selalu kau hukum berat bila engkau mau enak makan.” Dan Sri menun­duk­kan kepala. Kem­bali dua titik air mata mele­leh.

“Jadi meng­erti juga engkau.”

Ada juga di antara para tetangga yang sudah jadi Merah dengan men­da­dak saja. Ber­ta­nya dia: “Bapak­nya kema­rin ditang­kap. Akan dia­pa­kan dia itu?”

“Merah tak banyak rewel seperti Belanda dan Sukarno,” jawab Saki­din menang. “Merah hanya punya dua per­be­daan: Merah dan tak Merah. Merah adalah manu­sia. Karena itu punya kea­dilan pem­ba­gian rezeki. Yang tak Merah bukan manu­sia. Mereka hanya ayam. Dan setiap waktu mereka boleh diper­gu­na­kan untuk pesta-pesta di markas.” Dan tetangga yang jadi Merah men­da­dak itu ter­tawa-tawa senang.

Ter­hu­yung-huyung Sri masuk ke dalam rumah. Dan Saki­din terus ber­ja­lan memu­kuli canang dan ber­te­riak -teriak. Juga manu­sia dan ayam dise­but-sebut­nya terus mene­rus. Akhir­nya suara dan bunyi canang­nya kian lemah masuk ke dalam rumah itu. Mati.

Diah ber­ta­nya: “Engkau mena­ngis lagi, mbak? Bukan­kah engkau sen­diri sudah bilang, bapak memang betul dipang­gil bapak bupati?”

“Ya, tukang canang Merah tadi mem­bi­sik­kan padaku, bapak memang dipang­gil oleh bapak bupati. Sema­lam Juga bapak pergi ber­sama beliau dengan jeep ke Pati.”

“Dan meng­apa engkau mena­ngis juga, mbak?” Diah ber­ta­nya.

“Bukan­kah engkau tahu juga, Diah? Mbak Is belum juga datang. Engkau maklum pula, dia masuk ke dalam barisan kuda Merah. Dan engkau lihat sen­diri, besok atau lusa pasti ada perang di sini. Perang besar, Diah. Dan mbak Is — o, apakah yang akan ter­jadi atas dir­i­nya nanti?”

“Ya, mbak, aku meng­erti. Dan bapak bilang, kita masih punya peme­rin­tah yang sah. Jadi bapak masih setia pada Repub­lik mbak?” Sri tak men­ja­wab. Ia men­de­ras­kan tangis­nya.

“O, perang,” Diah menge­luh. “Perang yang mem­buat per­pe­cahan.” Ia diam lagi. “Kalau mbak Is datang, mbak, apa yang harus kita kata­kan pada­nya ten­tang bapak?”

“Jangan kata­kan apa-apa pada­nya. Biar aku sen­diri yang ber­ce­rita,” jawab Sri di sela-sela sedu-sedan­nya.

Dan di kala itu pula­lah Sar­mini — tetangga perem­puan dan kakak Tuki­jan — masuk ke dalam rumah. Meli­hat Sri sedang mena­ngis, ia ter­te­gun seben­tar, kemu­dian ber­ja­lan pula men­de­kati. Ber­kata: “Selama bapakmu tidak ada, neng, biar­lah aku mene­mani engkau semua.”

Dan dengan tiada dipinta, ia telah ting­gal ber­sama-sama dengan anak-anak itu. Peker­ja­an­nya tiap hari ialah men­curi barang-barang yang masih dapat diju­al­nya. Ini dike­ta­hui juga oleh anak-anak. Tetapi mereka pura-pura tidak tahu. Dan pada suatu kali Sri bilang pada adik-adik­nya ber­bi­sik-bisik: “Jangan bilang apa-apa ten­tang bapak di depan Sar­mini. Dia akan meng­a­ki­bat­kan ben­cana baru buat kita semua.” Dan mereka maklum semua.

Dalam masa yang kacau itu tak ada sebuah seko­lah pun di buka. Dengan demi­kian semua adik Sri ting­gal di rumah. Dan sejak bapak mereka ditang­kap oleh polisi Merah, Husni, Hutomo dan Kari­adi jadi rajin bel­a­jar.

Dan pada suatu kali yang tidak pen­ting, ber­kata Sar­mini pada Sri: “Ya, neng, si Tuki­jan harus men­ja­lan­kan perin­tah Merah. Kalau tidak, dia sen­diri yang dibu­nuh.”

“Pena­kut. Peng­khi­a­nat!” Diah ber­te­riak. Tapi Sri tidak ber­kata apa-apa.

Seminggu sesudah pen­du­dukan pasukan Merah, datang­lah Is dari luar kota. Ia menung­gangi kuda Sumba, ber­ce­lana kuda coklat, ber­se­patu lars hitam sampai di bawah lutut dan ber­pacu besi, ber­ke­meja putih dari lena dan pada kepa­la­nya ter­i­kat kain merah yang ber­ki­bar-kibar bila kena angin.

Hutomo dan Kari­adi menyam­but dengan pera­saan kagum. Dan ber­seru senang: “Mbak Is datang ber­kuda.”

Husni melom­pat ke luar rumah. Dan di saat itu Is men­can­cang kuda­nya pada batang pisang. Dibi­ar­kan­nya mulut bina­tang itu meng­ge­ru­miti batang­nya. Diah dan Sri ber­ja­lan pelahan-lahan ber­i­ring, menyam­but kakak­nya Is dengan senyum. Dan kepa­hi­tan yang ter­se­m­bu­nyi dalam senyum itu mereka cabar­kan dalam kata-kata: “Sela­mat, mbak?”

“Sela­mat. Sela­mat. Terima kasih,” suara yang gagah, ber­dau­lat dan kelaki-lakian.

Kemu­dian Is ter­tawa riang berisi keme­nangan hidup. Ber­sama-sama mereka masuk ke dalam rumah dan duduk-duduk di bale kayu jati di ruang bela­kang. Ter­de­ngar Is ber­ce­rita: “Kema­juan rakyat jembel tidak dapat dita­han. Merah mesti menang. Merah mesti mengu­a­sai selu­ruh dunia. Kapi­tal­isme harus hancur — juga hamba-ham­ba­nya. Aku pun peju­ang Merah. Engkau semua harus turut meng­han­cur­kan budak-budak impe­ri­a­lisme uang Ame­rika. Dan bila engkau semua tak sang­gup turut ber­ju­ang, engkau semua turut jadi peng­khi­a­nat rakyat. Bur­ju­isme sudah ter­ce­kik, seka­rat, mampus, kela­bakan, di sini. Nasi­o­na­lis-nasi­o­na­lis pici­san harus dibasmi. Lenyap­kan nasi­o­nal­isme! Lenyap­kan sifat katak dalam tem­pu­rung. Kita mem­ba­ngun negara dunia.”

Ia meng­a­tur nafas­nya. Ter­ga­gap-gagap ia bangun dari tempat duduk­nya, dengan suara ber­se­ma­ngat menya­nyi­kan Inter­na­si­o­nale. Kemu­dian: “Meng­apa engkau tak mem­ba­rengi?”

“Tak bisa aku,” Sri ber­kata.

“Barengi aku, engkau bisa sen­diri nanti.” Ia menya­nyi lagi. “Meng­apa tak ada yang mau mem­ba­rengi?”

Tak ada yang men­ja­wab. Kecewa ia duduk kem­bali di bale. ” Ber­ta­nya: “Aku belum lihat bapak.” Pan­dang­nya jadi menan­tang. “Mana bapak?”

Mata Sri jadi ber­kaca-kaca dan men­ja­wab dengan suara tenang: “Bapak turut dengan pasukan Merah menyerbu ke Pati.”

Dan Is ter­tawa senang. Ber­te­riak girang: “Nasi­o­nal­isme harus dibong­kar sampai ke kutu-kutu­nya sekali. Untung­lah bapak sudah insaf. Engkau tahu? Pasukan Merah sudah men­di­r­i­kan peja­ga­lan di sini — di Blora ini. Pen­ja­ga­lan orang. Itu yang paling pen­ting untuk tin­dakan per­tama. Ada engkau pernah dengar ten­tang ayam?”

“Ya, ada,” jawab Sri.

“Kalau begitu ada engkau meng­erti sedi­kit. Ayam-ayam yang cuma bisa ber­kais untuk perut­nya sen­diri itu harus segera dimus­nah­kan. Kita hanya mem­bu­tuh­kan manu­sia yang sadar, bekerja untuk kemak­muran dan kepen­tingan ber­sama. Mereka yang cuma tahu kepen­tingan diri sen­diri tak kami butuh­kan. Mereka hanya meng­ha­bis­kan keka­yaan bumi kita. Sama sekali tidak ber­guna.”

“Engkau seka­rang jadi apa, mbak?” Diah ber­ta­nya.

“Ang­gota pasukan ordo­nans ber­kuda.”

“Alang­kah hebat!” Husni ber­seru.

“Tentu. Dalam negara Merah, hak lelaki dan perem­puan sama. Itu harus engkau keta­hui dan ingat benar-benar. Dan engkau Husni, Hutomo dan Kari­adi, bila tak giat, har­gamu lebih rendah dari­pada harga wanita yang paling rendah. Engkau harus jadi Merah juga.” Ia tak menunggu sam­butan. Mene­rus­kan dengan sema­ngat berapi-api dan pasti: “dan kalau pasukan TNI berani datang kemari, aku pun punya hak untuk menem­bak mereka.”

“Jadi engkau lawan Merah Putih seka­rang?” Kari­adi ber­ta­nya kagum.

“Merah Putih hanya bisa ber­te­riak dan men­cium kaki Ame­rika — ya, seperti dahulu, perem­puan harus menyem­bah kaki laki­nya — ya, seperti dahulu anak harus menyem­bah kaki orang tua atau nenek­nya.”

Men­de­ngar itu Sri tak bisa lagi mena­han tangis­nya. Ber­kata ter­i­sak-isak: “Bukan­kah kita menyem­bah orang-tua tanda meng­hor­mati?”

“Engkau sisa feodal. Untuk apa itu air mata? Seha­rus­nya engkau menge­ram dalam ping­i­tan. Huh! Cuma bang­sa­wan-bang­sa­wan feodal saja yang mem­buat per­be­daan harga antara tua dan muda, antara perem­puan dan lelaki. Dan tahu engkau apa peker­jaan bang­sa­wan-bang­sa­wan feodal itu? Ber­judi, hutang, meram­pasi perem­puan kam­pung dan perem­puan orang lain, meng­a­jar­kan tata susila yang kosong, meram­pasi keka­yaan rakyat. Dan yang lain-lain lagi yang sema­cam dengan itu. Tapi semua bang­sa­wan sudah habis seka­rang. Yang ada kini hanya: buruh, tani dan pra­ju­rit — pasukan Merah.”

Adik-adik­nya diam saja men­de­ng­ar­kan ajaran itu.

Kala itu Sar­mini tak ada. Dan anak-anak pun tak kha­wa­tir per­ca­kapan kakak­nya ter­de­ngar orang lain. Kemu­dian ter­de­ngar Kari­adi ber­seru: “Kalau begitu aku turut dengan kau.”

“Tena­gamu masih ter­lam­pau lemah untuk mem­bantu kami, . Adi! Kalau Husni boleh. Dia sudah beru­mur empat belas dan sudah di seko­lah mene­ngah pula.”

Pelahan-lahan dan dis­o­pan-sopan­kan Husni ber­kata: “Terima kasih, mbak! Banyak yang kul­i­hat di hari-hari bela­kang ini. Lebih baik ting­gal di rumah.”

“Jadi engkau tak mau mem­bantu pasukan Merah?” ia ber­te­riak.

“Terima kasih, mbak! Aku masih kecil.”

“Cih! Pena­kut. Lelaki banci. Orang Merah tak kenal takut. Tiap orang Merah adalah pelin­dung rakyat. Camkan! Betapa mul­i­a­nya jadi pelin­dung rakyat.”

Husni tak ber­kata apa-apa lagi.

“Apa yang sudah banyak kau lihat?” tiba-tiba Is men­de­sak.

“Tidak apa-apa.”

“Harus kau kata­kan. Kalau tidak, aku cambuk mulutmu dengan cambuk kuda ini.”

“Dan pen­ja­ga­lan orang itu?” Diah mene­ngahi.

“Itu hanya untuk ayam-ayam yang cuma dapat ber­kais, makan untuk diri sen­diri — bukan untuk para pelin­dung rakyat.”

“Bukan­kah mereka itu rakyat juga?” Diah men­de­sak.

“Mereka bukan rakyat. Mereka pun bukan manu­sia lagi. Mereka bukan apa-apa. Mereka tak ber­guna buat kepen­tingan ber­sama,” jawab Is ber­ko­bar-kobar mengan­dung kepas­tian.

“Bukan­kah mereka itu punya pera­saan sakit juga?”

“Mereka tak punya pera­saan sakit sedi­kit puri. Kalau mereka punya pera­saan sakit, mereka pasti turut dengan pasukan Merah. Mereka pasti jadi pelin­dung rakyat.”

“Meng­apa Dimin kema­rin ditang­kap dan ditem­bak di alun-alun?” Husni turut menge­pung Is — dengan suara pelahan-lahan dan hati-hati.

“Dimin? Dimin dalang itu?” Is diam seben­tar. Kemu­dian mene­rus­kan: “Wayang tak ada guna­nya untuk orang Merah. Dalang hanya menyita waktu kerja saja. Dan waktu bekerja yang pen­ting untuk pro­duksi hilang per­cuma — hanya untuk men­de­ng­ar­kan ocehan yang tak keruan ke mana per­gi­nya. Dia pun ter­ma­suk dalam golongan ayam.”

“Dan kiai Nur­se­wan, meng­apa dia dise­ret dan dibu­nuh di alun-alun juga?” Sri ber­ta­nya. “Dia orang baik-baik.”

“O, dia ter­ma­suk golongan ayam. Dia hanya penye­bar candu. Oleh ajaran-ajar­an­nya itu rakyat jadi lemah. Dan bila rakyat lemah, ayam-ayam nasi­o­na­lis itu bisa menye­rah­kan mereka pada buaya Ame­rika.” Mata­nya melo­tot meng­a­wasi adik­nya seo­rang demi seo­rang. “Jadi bapak sudah…”

“Aku per­caya mereka punya pera­saan sakit juga seperti engkau,” kata Diah terus men­de­sak.

“Tidak”.

“Bukan­kah mereka ber­te­riak kesa­kitan bila dipu­kuli?”

“Tidak. Mereka tidak kesa­kitan. Kaleng pun ber­te­riak-teriak bila dipu­kuli, tapi kesa­kitan? Tidak.”

Diah tak bisa men­de­sak lagi. Ia ter­diam. Dan hati­nya men­dong­kol. Dan Is meman­dangi adik­nya seo­rang demi seo­rang. Pada mata­nya meman­car keme­nangan. Sri tak dapat ber­kata apa-apa — ia keha­bisan bahasa. Hanya ada per­gu­mulan ter­jadi dalam hati­nya.

Kemu­dian: “Jadi bapak sudah turut dengan pasukan Merah menyerbu ke Pati?” Ia meman­dang Sri.

Oleh pan­dang itu Sri melem­par­kan mata­nya pada Diah. Dan oleh lem­paran pan­dang Sri, Diah meman­dang Is. Seben­tar, kemu­dian menun­duk meman­dangi kaki telan­jang­nya yang sedang menari-nari­kan jari jempol. Ber­kata sopan: “Ya, segera sete­lah pasukan Merah men­du­duki kota ini.”

“Kalau begitu aku tak perlu meng­in­saf­kan beliau.”

“Tidak­kah pasukan Merah datang kemari dan meng­am­bil bapak yang sedang sakit? Dan Tuki­jan koman­dan­nya,” tanya Hutomo sambil meman­dang Diah.

Tapi Diah tak men­ja­wab. Ia meman­dang Sri. Dan seka­rang Sri menun­duk­kan kepala. Pada mata­nya ter­ge­nang air.

Kari­adi menyu­sul­kan sua­ra­nya: “Dan bapak mena­nya­kan engkau, mbak Is. Dan mas Hutomo menga­ta­kan engkau ada di markas Pesindo. Kemu­dian bapak menye­but-nyebut — “O Allah­al­lah’ kemu­dian beliau jatuh sakit.”

Mereka seperti paku yang tegak pada seba­tang kayu. Hanya mata liar pan­dang-meman­dang. Dan dengan tiada mereka kehen­daki kecu­r­i­gaan mema­in­kan peran dengan semau-maunya. Is mere­nungi jen­dela yang ter­buka di depan­nya. Lambat ia meng­ge­leng­kan kepala, ram­but­nya yang ter­u­rai ber­ge­pa­ran. Pelahan seta­ngan merah yang meling­kari kepala dile­pas­nya.

Ter­de­ngar Kari­adi ber­ta­nya: “Untuk apa seta­ngan merah itu?”

“Tanda, bahwa yang mema­kai­nya orang Merah.”

“Meng­apa merah?”

“Meng­apa merah? Merah! Darah! Api! Daging! Perang dan pem­ba­karan.”

“Dan darah dalang Dimin dan Kiai Nur­se­wan juga merah,” Sri ber­kata pelahan tapi meng­gi­git. “Mung­kin darahku juga merah. Juga darah Diah dan juga darah bapak, Husni, Hutomo dan Kari­adi.”

Ada juga terasa sin­diran itu oleh Is. Ia ter­diam. Meng­a­lih­kan arah per­ca­kapan: “Betul­kah bapak dibawa pasukan Merah?”

“Betul. Ya, betul,” Sri ber­kata.

Diam. Tenang. Kete­nangan yang meng­iris-ngiris. Kemu­dian ter­de­ngar lagi Is ber­ta­nya: “Dan apa lagi kata­nya?”

“Bahwa kita punya peme­rin­tah yang sah. Dan bahwa tak seo­rang pun di antara anak-anak bapak yang boleh mengi­bar­kan ben­dera Merah…”

Ia melem­par pan­dang­nya ke jen­dela. Keri­ngat mem­ba­sahi jidat­nya. Dan keri­ngat itu dibi­ar­kan­nya meni­tik-nitik. “… bilang juga, barang­si­apa mem­bu­ang ben­dera Merah Putih dan mengi­bar­kan ben­dera Merah adalah pem­be­ron­tak…”

Is melang­kah ke jen­dela. Ter­de­ngar nyata ia meng­hem­bus­kan nafas pan­jang. Dan semua mata adik-adik­nya meng­i­kuti gerak Is. Tiba-tiba Diah ber­kata: “Tolong­lah … mer­de­ka­kan bapak. Engkau dari pasukan Merah.”

Ia mem­ba­lik­kan badan dan melang­kah kem­bali ke tengah adik-adik­nya. Laras­nya dike­tuk-ketuk­kan pada lantai dengan irama yang gugup. Ia tak ber­kata apa-apa. Kemu­dian ber­ge­gas ia ber­ja­lan ke luar rumah. Semua adik­nya meng­i­kuti dari bela­kang. Ia meng­ham­piri kuda­nya. Dile­pas tali­nya. Dengan tiada ber­kata apa-apa pula dan dengan tidak meno­leh ia melom­pat ke atas bina­tang itu. Lari! Lari! Lari! Ken­cang. Debu menge­pul di bela­kang kaki kuda. Ia hilang dari peman­dangan. “Bisa­kah dia diha­rap­kan per­to­long­an­nya, mbak?” Diah ber­ta­nya pada Sri. Hanya air mata yang men­ja­wab.

“Bisa­kah itu?” ulangan. “Tidak. Ia tak bisa ber­buat apa-apa. Dan ia pun takkan ber­buat apa-apa.” Seka­li­gus Sri lari ber­se­m­bu­nyi ke pojok kamar­nya. Dicu­r­ah­kan air-mata­nya banyak-banyak. Dan waktu hati­nya bisa ber­kata: “Menye­rah­lah diri, menye­rah­lah,” ia men­da­pat kesa­bar­an­nya kem­bali. Diha­pus­nya air mata­nya. Kemu­dian ia pergi ke kali meng­am­bil air minum. Dari jauh ter­de­ngar tukang-canang mene­ri­ak­kan per­a­turan-per­a­turan baru — gung! gung! gung!

Kabar meniup-niup sampai di ujung-ujung kam­pung — seka­rang Saki­din tukang-canang men­jadi galak seperti singa kela­paran. Ke mana saja ia pergi ada ter­san­dang peng­gada karet di ping­gang. Dan tiap orang yang diang­gap­nya nasi­o­na­lis dise­ret­nya ke jalan raya, dipu­kuli pada muka dengan peng­ga­da­nya hingga minta ampun. Dan ia ter­a­mat gem­bira bila ada orang minta ampun pada­nya. Ia merasa sebe­sar koman­dan-koman­dan resi­men. Dan kalau orang telah minta ampun, dise­rah­kan­nya pada polisi Merah untuk dibawa ke peja­ga­lan — di alun-alun. Kabar yang meniup-niup itu dalam waktu seben­tar bukan lagi meru­pa­kan kabar. Orang dapat mem­buk­ti­kan­nya sen­diri. Tapi kabar yang men­de­sas-desus dan dika­ta­kan orang dengan bisikan lemah meng­i­kuti di bela­kang­nya: Peja­ga­lan orang yang baru sedang diker­ja­kan. Belum sele­sai. Dan orang tak tahu ada di mana.

Kabar lain pun meniup-niup: mereka yang men­di­ami gedung-gedung bagus diu­siri. Pega­wai-pega­wai peme­rin­tah yang keli­hatan ber­si­kap anti Merah dise­reti untuk dija­di­kan ton­tonan zaman perang. Kabar-kabar itu mem­buat pen­du­duk kota kecil kami yang jauh dari peng­er­tian poli­tik mengu­rung dalam rumah masing-masing. Dan yang punya peng­er­tian segera meng­ga­bung­kan diri dengan Merah atau mela­ri­kan diri ke tempat-tempat yang ter­pen­cil.

Mereka yang ter­se­ret oleh arus Merah memen­cak-mencak seperti seri­gala dapat mangsa. Dan kabar yang paling baru datang­lah: seo­rang ang­gota dewan daerah ditang­kap dan disu­ruh memi­lih: hukuman seumur hidup atau mati. Dan ang­gota dewan itu memi­lih mati. Ia ditem­bak di alun-alun. Dan dir­i­nya yang banyak menge­ram­kan banyak ren­cana itu kini telah kosong dari segala pera­saan dan piki­ran.

Penang­guk-penang­guk keun­tungan ber­ke­li­aran men­cari kurban — men­cari muka. Ide­o­logi boleh dise­pak. Tapi semasa waktu mem­beri keun­tungan mereka mema­sang tang­guk­nya. Memang sudah jadi adat dunia: kese­nangan adalah pem­bi­usan yang ber­ba­haya.

Dan di saat-saat kabar dan desas-desus ber­sim­pang-siur, datang­lah Is ke rumah. Diam-diam saja ia mema­suki rumah tempat ia dahulu dila­hir­kan, dan di mana ia dibe­sar­kan. Dengan diam-diam pula diu­lu­r­kan sepa­sang gelang emas, kalung dan anting-anting emas kepada Sri.

“Apa ini, mbak?” Tapi Is tak men­ja­wab.

“Untuk apa ini, mbak?”

“Per­gu­na­kan­lah untuk belanja. Aku tak butuh barang-barang emas.” :- :

“Engkau sen­di­r­i­kah yang punya?” Sri ber­ta­nya lagi.

“Engkau tak perlu ber­ta­nya. Per­gu­na­kan saja.”

“Dan engkau?”

“Aku?” ia diam seben­tar. Kemu­dian dengan suara yang kehi­langan sema­ngat: “Pasukan peme­rin­tah terus men­de­sak. Dan aku tak tahu apa yang akan ter­jadi kelak. Tapi aku yakin, aku ber­ju­ang untuk kese­la­matan rakyat.”

Sete­lah itu ia pergi ke luar, naik ke atas kuda­nya dan ber­pacu ken­cang. Hilang dari peman­dangan mata. Sri meman­dang Diah. Di kala itu hanya dua orang saja yang ting­gal di rumah. Adik-adik kedua gadis itu sedang pergi ke seta­siun meli­hat dan menga- ’ gumi pasukan Merah baru yang sedang turun.

“Lebih baik kita tanam saja barang-barang ini,” Diah mem­be­ri­kan usul. Dan usul itu tidak diban­tah. Barang-barang itu pun dita­nam­lah. Diam-diam, dengan mene­ngok ke kiri ke kanan. Tak ada yang meng­in­tip. Dan hilang per­hi­asan-per­hi­asan itu dari jang­kauan pan­ca­in­dra.

Baru kedu­a­nya habis mena­nam datang pula Is ber­sama rom­bong­an­nya. Kepala pasukan ordo­nans ber­kuda yang ber­pa­ras cantik, hitam manis beram­but pendek ter­ge­rai-gerai itu segera saja menun­juk Sri. Ber­ta­nya: “Nama?”

“Sri,” jawab­nya hormat. Dan ia tak tahu meng­apa ia hormat pada­nya.

“Umur?”

“Dela­pan belas.”

“Begitu kurus dan kecil.” Ia meman­dang Is, “Betul?”

Ia meng­ang­guk.

“Dia harus masuk ke dalam pasukan kami,” koman­dan rom­bongan ber­kuda itu ber­kata sambil meman­dang Is lagi. Kemu­dian pan­dang­nya dia­lih­nya pada Diah. Ber­kata, “Engkau?” Diah tak men­ja­wab.

“He — berapa umurmu?” ulang­nya.

“Enam belas.”

“Engkau harus juga masuk pasukan. Hei — kalau dita­nyai, engkau harus men­ja­wab semes­ti­nya.”

Kem­bali koman­dan pasukan ber­kuda itu meman­dang Is. Dan Is ter­me­nung saja memi­kir. Tiba-tiba ter­de­ngar suara Sri: “Engkau tak perlu meme­rin­tah aku. Kalau aku suka, dengan tiada kau perin­tah aku akan masuk ke dalam pasuk­anmu.”

Dan gadis yang beru­mur dua puluh dua — koman­dan pasukan itu — melo­tot­kan mata. Ber­kata garang: “Itu bukan jawaban Merah. Itu jawaban bur­juis. Di negara Merah, hidup dan mati rakyat ada di tangan peme­rin­tah. Aku memer­lu­kan ang­gota banyak lagi. Dan engkau…”, ia menun­juk Sri dan Diah, “harus masuk pasukan. Meng­erti?”

Sri dan Diah ber­pan­dang-pan­dangan. Tapi mereka meng­hin­dari mata Is. Pada kakak­nya mereka takkan meng­ha­rap­kan sesu­atu yang meng­un­tung­kan. Ter­de­ngar Is ber­kata: “Kedua adikku itu mengu­rus rumah-tangga di sini. Kedu­a­nya men­ca­ri­kan makan untuk ketiga adik-adik­nya.”

Dan koman­dan itu ber­kata gam­pang: “Kalau begitu salah seo­rang di antara yang dua harus masuk.” Ia tak menan­ti­kan jawaban. Dengan sikap­nya yang gagah ia ke luar dari rumah dan para pengiring­nya turut pula pergi. Is masih ting­gal di ruang bela­kang.

“Aku nasi­o­na­lis,” teriak Sri. “Bukan karena bapak nasi­o­na­lis. Tidak. Aku kira aku nasi­o­na­lis. Aku tak tahu meng­apa. Hanya mau mem­bi­lang­kan padamu saja.”

“Aku pun nasi­o­na­lis,” teriak Diah meng­im­bangi. “Aku tak butuh Merah. Tidak! Aku cinta pada bapakku. Aku takkan mengi­bar­kan ben­dera Merah untuk selama-lama­nya. Aku masih ingat pesan bapak waktu jatuh sakit.”

Is mem­ba­lik­kan badan memung­gungi kedua adik­nya. Meng­ge­rutu: “Aku harap, lebih baik engkau men­cin­tai kese­la­matan. Dan bila engkau semua mau mengur­bankan kese­la­matan itu, aku takut takkan ada sesu­atu keba­ikan yang kita per­o­leh. Aku sudah tahu, bahwa sikap yang mem­babi-buta itu ter­lam­pau sering hanya mem­buat celaka saja.”

Sri dan Diah ber­pan­dang-pan­dangan. Diah ber­bi­sik: “Kalau toh untuk kese­la­matan kita semua, biar­lah aku yang mengur­bankan diri turut dengan mereka.”

Kem­bali Sri — yang belum juga lulus kelas enam seko­lah rakyat itu — mele­leh­kan air-mata. Ia ber­bi­sik kem­bali: “Engkau lebih pandai dari aku, Diah. Sayang aku pada kepan­dai­anmu itu. Dia akan jauh lebih ber­guna untuk adik-adikmu. Lebih baik engkau ting­gal saja di sini. Urus mereka. Dan biar­lah aku yang pergi, ya? Biar­lah aku yang pergi. Engkau ting­gal, ya?”

Dan untuk ke sekian kali­nya Sri menye­rah­kan dir­i­nya untuk kese­la­matan kelu­arga dan adik-adik­nya.

“Apa pikirmu seka­rang?” tanya Is sambil mem­ba­lik­kan badan kem­bali.

“Bah. Polisi Merah telah mem­bawa bapak,” dengus Diah, “dan engkau…” telun­juk­nya menun­juk Is, “… engkau mem­bantu peker­jaan polisi Merah yang sudah menye­ret bapak dalam kea­daan sakit. Dan seka­rang? Seka­rang engkau men­jual adikmu kepada Merah. Engkau men­jual adikmu dan dirimu sen­diri.”

Muka Is jadi merah oleh kema­rahan sen­diri. Dike­pal­kan­nya tin­ju­nya dan ber­kata garang: “Kita harus bisa meng­a­tasi kepen­tingan diri sen­diri untuk kepen­tingan ber­sama.” Ia melo­tot pada Diah. Kemu­dian menyem­bur­kan ucap­an­nya lagi: “Tubuh orang satu takkan ber­arti apa-apa untuk sekian juta manu­sia. Dan lagi, barang­si­apa tidak tahu kepen­tingan umum — itulah dia ayam­nya.”

Dan Diah insaf akan bahaya yang ter­kan­dung dalam per­ka­taan ayam itu. Selu­ruh kota pun sudah insaf, apa­bila per­ka­taan itu diu­cap­kan oleh mulut orang Merah, orang yang men­de­ng­ar­kan­nya harus ber­diam diri kalau tak meng­hen­daki ben­cana. Is meli­hat juga per­u­ba­han air muka Diah. Kepa­la­nya diang­guk-ang­guk­kan dan ber­kata pahit: “Ya, engkau mesti meng­erti. Masa­nya Sukarno sudah habis. Mulai seka­rang engkau harus meng­in­safi kea­daan baru ini. Kita ber­sau­dara. Ya, kita ke luar dari satu rahim. Tapi itu cuma kebe­tulan saja yang mem­buat kita jadi sau­dara. Dan aku tak meng­har­gai ikatan yang adanya hanya karena soal kebe­tulan.” Ia ber­na­fas cepat-cepat. “Aku hanya meng­har­gai ikatan yang ter­jadi karena kepen­tingan ber­sama, per­ju­angan ber­sama — dan dengan per­hi­tungan yang meng­un­tung­kan seba­gian ter­be­sar manu­sia.”

“Sudah­lah, mbak!” Sri mene­ngahi per­ban­tahan antara kakak dan adik­nya itu. “Engkau banyak meng­i­kuti kursus poli­tik. Karena itu engkau banyak menge­ta­hui. Dan Diah hanya kelu­aran seko­lah mene­ngah yang belum tahu apa-apa selain buku-buku pel­a­jar­an­nya. Aku hanya dari kelas enam seko­lah dasar. Biar­lah aku saja yang meng­ga­bung­kan diri pada pasuk­anmu. Biar­lah Diah saja yang ting­gal di rumah mengu­rus adik-adik­nya.”

Dan per­ka­taan Sri itu sung­guh-sung­guh telah dapat meng­ha­bis­kan per­teng­karan itu. Di saat itulah koman­dan pasukan ordo­nans ber­kuda itu masuk kem­bali ke dalam rumah. Ber­kata mem­bantu: “Nah, kita berang­kat seka­rang.”

Ia meman­dang Sri dan ber­kata meme­rin­tah: “Dan engkau juga. Engkau yang pergi, bukan?”

“Seben­tar mbak Is, aku mau meng­am­bil pakaian dulu.”

“Pakaian?” koman­dan itu ber­seru. “Pasukan Merah tak ter­i­kat pada pakaian. Kita berang­kat seka­rang.”

Dengan semau sen­diri air-mata kem­bali ber­main di ujung mata Sri. Cepat dirang­kul­nya Diah. Kedu­a­nya ber­cium-ciuman — bukan karena mereka punya adat ber­ci­uman, tapi karena hati dan hati, tubuh dan tubuh mau mem­per­sa­tu­kan diri barang seje­nak.

Dalam pada itu koman­dan pasukan kuda itu ter­tawa ter­ba­hak-bahak. Ber­kata meng­hina: “Bur­juis! Bur­juis kecil! Bur­juis gagal!” ia ter­tawa lagi. “Seben­tar lagi engkau akan jadi gadis Merah yang murni. Engkau akan men­da­pat kepan­daian mele­nyap­kan air-mata. Dan itu sangat ber­guna untukmu — untuk selama-lama­nya.”

Is mena­rik Sri, dan dibawa adik­nya itu ke luar rumah. Semua ang­gota pasukan kuda ke luar belaka. Diah meng­an­tar­kan hingga di pintu pagar. Dii­ring­kan pasukan yang berang­kat itu dengan pan­dang­nya. Dan tam­pak­lah oleh Diah, Sri seben­tar-seben­tar mene­ngok ke bela­kang dari atas kuda Is. Dan di depan­nya, duduk­lah Is meme­gangi ken­dali. Kemu­dian debu tebal men­jadi tabir yang menu­tup hilang rom­bongan itu. Dan waktu mereka hilang sama sekali, cepat-cepat Diah lari masuk rumah. Ter­se­nak-senak­lah sua­ra­nya di antara sedu-sedan: “Lalu apa yang harus kuper­buat seka­rang?”

Ia mena­ngis sepuas hati. Kemu­dian ber­bi­sik seo­rang diri: “Dan bagai­mana aku harus men­ca­ri­kan makan adik-adikku?”

Ia mene­rus­kan tangis­nya. Hari itu sedang panas-panas­nya. Sete­lah bel­a­jar sedi­kit, adik-adik­nya berang­kat pula ber­main-main di tanah lapang. Dan kini mereka belum lagi kem­bali pulang. Kepa­la­nya penuh oleh ber­ba­gai per­ta­nyaan: nasib kakak­nya, nasib bapak­nya, nasib adik-adik­nya, dan diri sen­diri, dan makan tiap hari­nya. Tapi kea­daan punya per­a­tur­an­nya sen­diri. Dan manu­sia punya jalan­nya masing-masing.

Bukan barang raha­sia lagi: penang­kapan dan pem­bu­nuhan ber­ja­lan tiap hari. Dan kabar-kabar itu ber­pu­ing-puing tiap ada kesem­patan orang mem­per­gu­na­kan pen­de­ng­ar­an­nya. Orang-orang desa jarang datang ke pasar — takut pada hukuman mati. Pasar jadi sepi. Dan kese­pian ini mem­buat kea­daan jadi sema­kin buruk. Dokter Repub­lik telah diganti oleh dokter Merah. Dan dokter yang digan­ti­kan­nya telah ter­bang ke alam jauh. Tapi semu­a­nya tidak pen­ting benar. Ada yang lebih pen­ting dari segala-gala­nya: kese­la­matan diri sen­diri. Mau rasa­nya orang meng­ga­dai­kan selu­ruh harta benda — dan barang­kali juga diri sen­diri . — bila saja orang tahu dengan pasti, bahwa kese­la­matan diri sen­diri ter­ja­min. Ter­ja­min dalam arti yang sung­guh dan sebe­nar-benar­nya. Tetapi ter­lam­pau banyak orang yang lupa bahwa tiap orang hidup dengan tiada jaminan siapa pun juga sejak dila­hir­kan oleh ibunya.

Pemuda-pemuda Pesindo dengan seka­li­gus telah jadi Merah. Pemudi-pemu­di­nya demi­kian pula. Pula seba­gian dari ang­gota ang­katan perang Repub­lik yang telah jemu pada kea­daan diri dan kea­daan keli­ling­nya. Dan bagi mereka yang bukan Merah, rasa dunia ini telah mulai ter­ba­kar. Tiap hari ang­gota-ang­gota pasukan Merah ber­ge­lan­dangan di kam­pung-kam­pung: untuk memaksa pen­du­duk jadi menge­luh: ran­taiku dir­am­pas, kainku pening­galan zaman aman disita. Penya­kit pen­da­ratan Jepang timbul ke per­mu­kaan kem­bali. Dan orang yang merasa dir­i­nya kaya, diganggu oleh harta ben­da­nya sen­diri.

Dan di antara segala keri­butan yang menye­sak­kan pen­de­ng­aran dan pera­saan dan piki­ran itu, Diah mem­ban­ting tulang untuk kepen­tingan adik-adik­nya. Ia pun menye­rah — tak ubah­nya dengan Sri. Dia ber­ju­ang. Tapi per­ju­angan yang tak mem­beri kesem­patan sesu­atu pada­nya. Ia ber­ju­ang dalam penye­rah­an­nya. Pen­ca­ha­ri­an­nya tiap hari ialah mengum­pul­kan daun pisang di kebun. Dan daun inilah yang diju­al­nya kepada pem­buat tempe. Kadang-kadang ia ber­ta­nya dalam hati: “Apa akan jadi­nya pohon-pohon pisang itu, bila daun­nya habis diki­kis tiap hari?”

Dan dalam hati ia ada mera­sai ben­cana yang ditim­pa­kan­nya pada tumbuh-tum­buhan itu. Tapi ia dan adik-adik­nya harus terus dan terus meng­am­bili daun itu. Kalau tidak, Sar­mini dan pen­curi-pen­curi lain­nya akan meng­ha­bis­kan­nya. Jadi dikur­bank­an­nya juga pohon-pohon itu untuk hidup merana dan tiada ber­buah. Suatu keja­hatan! pikir Diah. Tapi jalan lain belum nampak oleh­nya. Dan untuk peng­ganti nasi, dica­but­i­nya pohon-pohon sing­kong yang umbi­nya masih meru­pa­kan akar merah.

“Tir­a­kat, perut, tir­a­kat,” kadang-kadang adik-adik­nya meng­u­langi per­ka­taan kakak­nya Sri.

Dan bila seo­rang saja mulai mener­ta­wa­kan keseng­sa­raan diri sen­diri, ter­tawa ter­ba­hak-bahak ber­ba­reng menyu­sul­lah. Dan dalam pada itu mereka sadar, bahwa mereka menye­rah — menye­rah dengan selu­ruh adanya. Mereka menye­rah pada kea­daan. Mereka menye­rah pada per­a­turan dunia. Dan untuk mereka, penye­rahan itu bukan suatu keja­hatan. Suatu kemes­tian yang lebih cen­de­rung pada usaha melin­dungi kelang­sungan hidup masing-masing.

Waktu tidak pernah mati. Dunia tidak pernah mati. Dan hari pun tak pernah mati. Waktu dan tempat hanya ruang belaka untuk diisi oleh ber­juta macam per­u­ba­han. Per­u­ba­han-per­u­ba­han baru datang dengan megah­nya. Yang lama mem­beri tempat pada yang baru dila­hir­kan. Dan seba­gai­mana orang tak menyangka, bahwa Merah akan masuk, pen­du­duk pun takkan menyangka, bahwa per­u­ba­han baru akan datang. Dan datang dengan segera.

Hari itu masih pagi benar. Lalu­lin­tas mati. Beribu-ribu pasukan Merah yang datang dari jurusan timur dan selatan mema­dati jalan-jalan kota kami yang sempit itu — dengan tiba-tiba saja. Warna merah ber­ki­bar-kibar di tiap kepala mereka. Juga gelang dan kalung janur kuning tanda pasukan yang sedang menyerbu dengan selu­ruh keper­ca­yaan akan datang­nya keme­nangan di. pihak­nya. Para peng­i­kut Merah ber­so­rak gegap-gem­pita menyam­but induk pasukan yang datang itu. Dan dengan tiada mereka keta­hui sen­diri, jen­de­ral besar mereka ada pula di tengah-tengah pasukan yang sedang datang itu.

Anak-anak kecil ber­te­riak-teriak kegi­rangan meli­hat begitu banyak manu­sia dengan warna-war­ni­nya. Dan ada juga seba­gian kecil dari mereka yang malah mela­ri­kan diri, menyem­bu­nyi­kan badan di bawah-bawah kolong ambin atau di balik-balik pintu. Mereka adalah anak-anak yang bapak atau sau­da­ra­nya telah dise­ret kema­rin, kema­rin dulu atau bebe­rapa hari yang telah lalu. Dan sekali saja orang dise­ret oleh pasukan Merah, orang tak berani meng­ha­rap­kan kapan dia dikem­ba­li­kan ke rumah­nya lagi. Mung­kin baru pulang bila kea­daan sudah damai, atau mung­kin juga takkan kem­bali untuk selama-lama­nya. Di masa kacau, kepas­tian sama mahal­nya dengan emas di masa damai.

Sorak yang gemu­ruh itu tak mem­bang­kit­kan reaksi apa-apa di kalangan pasukan yang sedang datang itu. Muka mereka kuyu-kuyu seperti banyak hal yang wajib mereka pikir­kan. Kadang-kadang di tengah-tengah barisan yang bersaf-saf dua belas-dua belas itu ter­da­pat usungan. Dan di atas usungan itu: mait atau orang yang meng­e­rang kesa­kitan.

Sen­jata yang ada pada mereka hampir selu­r­uh­nya: baru — sen­jata yang sepan­jang penge­ta­huan pen­du­duk kota kecil itu belum pernah dimi­l­iki oleh ang­katan perang peme­rin­tah. Dari mana sen­jata-sen­jata yang masih baru dan meng­ki­lat-kilat itu, tak ada seo­rang pun berani mena­nya­kan. Memi­kir­kan pun barang­kali tidak berani. Lang­sung saja barisan itu men­du­duki gedung-gedung yang bagus, meng­u­siri isinya — hidup atau tak hidup — dan segera saja tiap tubuh di antara mereka mere­bah­kan diri di lantai dingin.

Seba­gian dari pen­du­duk yang datang untuk meli­hat atau meng­elu-elu, bubar­lah dengan ribut­nya ke tempat masing-masing. Kabar keda­tangan itu mele­bar ke mana-mana meng­isi waktu-waktu yang kosong. Kea­daan kem­bali meng­ge­li­sah­kan.

Tiba-tiba kabar meng­a­muk dari kuping ke kuping: pasukan Merah ter­pu­kul mundur dari medan perang Cepu, tiga puluh kilo­me­ter di teng­gara Blora. Men­de­rita keka­lahan hebat, kabar itu punya tam­ba­han. Dan pasukan-pasukan Merah di tempat-tempat lain seki­tar­nya telah dihan­cur­kan oleh Sili­wa­ngi14. Sili­wa­ngi! Tiba-tiba hati pen­du­duk ber­so­rak men­de­ngar nama itu. Bukan nama asing. Nama yang sudah sering dide­ngar mereka. Sili­wa­ngi! Sili­wa­ngi! Dan orang ingin meli­hat pasukan Sili­wa­ngi dari dekat.

Di saat-saat seperti itu, Diah dan adik­nya men­de­ng­ar­kan kabar yang ber­pin­dah-pindah itu dengan hati-hati. Diah telah mela­rang adik-adik­nya untuk menyiar-nyi­ar­kan kabar. Kabar bisa mem­bu­nuh orang setiap waktu, kata Diah selalu. Dan nasi­hat itu mengem­ba­li­kan ing­atan adik-adik­nya pada bapak­nya yang belum juga kem­bali. Dan mereka itu pun ingat pada Sri yang juga belum kem­bali. Ingat pada kiai Nur­se­wan. Pada pega­wai-pega­wai peme­rin­tahan Repub­lik yang dise­reti tiap hari. Dan mahluk-mahluk yang belum dewasa itu ada juga mem­per­hi­tung­kan laba-rugi antara menyi­ar­kan kabar dan kese­la­matan diri sen­diri. Dan ini mem­buat Diah merasa ber­te­ri­ma­ka­sih.

Sore hari itu, pasukan Merah yang ter­pu­kul mundur oleh Sili­wa­ngi ber­ge­rak dari semua asra­m­a­nya: men­cari mangsa! Tiap rumah dima­suki. Peng­ge­le­dahan ber­u­lang! Peng­ge­le­dahan selalu dan selalu ber­u­lang dalam tahun-tahun pepe­rangan itu. Tiap benda yang ter­buat dari emas dan perak disita. Kemu­dian: kam­bing, sapi, dan ayam, dan buah-buahan yang sedang mema­sak di pohon-pohon­nya. Semua diang­kuti ke markas untuk peng­isi perut yang lapar. Semen­tara itu mereka pun sibuk mena­nami kawan-kawan yang sudah tak ber­na­fas lagi — kawan-kawan yang jiwa­nya telah habis dima­kan peluru Sili­wa­ngi. Pen­du­duk yang tahunya hanya takut pada peluru dan sen­jata tajam mela­ri­kan diri ke ping­gir-ping­gir sungai dan di bawah-bawah rumpun bambu rimbun yang disang­ka­nya akan dapat mele­nyap­kan diri dari mata mereka yang dita­kut­i­nya.

Juga Diah dan adik-adik­nya menyem­bu­nyi­kan diri. Mereka mem­bawa tikar dan meng­hi­lang di bawah rumpun bambu yang ber­duri-duri. Kala itu ber­ba­gai macam doa ter­de­ngar. Dan tiap orang ingat pada maut, pada daging keraman pera­saan, pada sakit, pada harta benda yang sedi­kit, dan: Tuhan. Dari jauh ter­de­ngar pintu-pintu rumah dige­dor-gedor dan dibong­kari.

Mereka yang merasa diri ulama, segera men­cari per­lin­dungan di sawah-sawah. Sawah dan ladang tak diper­ha­ti­kan oleh pasukan Merah. Di bidang-bidang tanah seperti itu takkan ada ter­sim­pan emas dan perak. Dan para pega­wai peme­rin­tah Repub­lik yang selama pen­du­dukan Merah ber­ha­sil menyem­bu­nyi­kan diri di dalam rumah masing-masing, kali ini ter­paksa mela­ri­kan diri mela­lui pintu bela­kang ke tebing-tebing kali atau — bila kesem­patan lari tak ada dan rumah telah ter­ku­rung — menyim­pan dir­i­nya di loteng di bawah atap.

Dalam tiap per­se­m­bu­nyian, orang-orang dewasa sibuk menyum­bat mulut anak-anak kecil. Mereka tak boleh ber­su­ara. Mulut mereka yang nyinyir tak boleh jadi peng­khi­a­nat kese­la­matan masing-masing — tak boleh jadi penun­juk jalan untuk pasukan Merah di tempat mereka sedang menyem­bu­nyi­kan diri. Tapi anak-anak itu ber­te­riak-teriak juga. Dan tiap kesem­patan men­je­rit diper­gu­na­kan­nya baik-baik — seken­cang-ken­cang­nya di bela­kang tapak tangan mereka yang mela­rang­nya. Ya, anak-anak yang belum tahu dunia itu, dan yang dike­ta­hu­i­nya baru keta­kut­an­nya sen­diri. Kanak-kanak yang agak meng­erti meni­a­rap­kan badan seperti bang­kai kadal. Ber­ge­rak pun takut. Kadang-kadang ter­de­ngar gigi mereka meng­ge­le­tuk di antara tem­bakan kera­ben yang ter­de­ngar satu-satu antara seben­tar. Namun, di kala itu tak ada yang berani satu mulut atau otak menyum­pahi Merah. Dan juga tak ada yang berani meng­ha­rap­kan keda­tangan Sili­wa­ngi. Sung­guh: antara maut dan Tuhan tak ada satu nama pun yang tepat, tak ada satu nama pun diper­lu­kan. Mereka semua takut. Dan keta­kutan mema­ti­kan segala-gala­nya yang ada dalam otak dan hati mereka.

Kadang-kadang ada juga ter­de­ngar derap kuda lari. Dan segala bunyi itu mem­buat Diah dan adik-adik­nya ter­ke­nang pada Sri, pada Is, pada bapak­nya, dan pada mereka yang telah dise­ret oleh pasukan Merah. Ter­u­tama pada Kasi­bun yang seperti bebe­rapa orang lain­nya dia­dili oleh hakim Merah dan men­da­pat tawaran: hukuman mati atau seumur hidup. Dan Kasi­bun men­ja­wab: barang­kali mati lebih baik untuk diriku. Dan men­je­lem­pah­lah ia di alun-alun di bawah pohon beringin jadi bang­kai. Dan anak-anak­nya tak berani mena­ngisi. Barang­kali mereka tahu juga, mena­ngisi mati­nya peng­khi­a­nat pasukan Merah ber­arti jadi peng­khi­a­nat Merah dan memang­gil peluru untuk menem­busi kepala dan dada sen­diri. Dan Kasi­bun sudah begitu tua, dengan gigi ting­gal bebe­rapa biji. Ia pen­cinta Repub­lik dan Pre­si­den­nya, seka­li­pun ia tak tahu apa guna­nya cinta pada kedu­a­nya. Dan kecin­taan itu mem­bu­at­nya jadi fana­tik. Tiap-tiap kali ia mem­be­sar-besar­kan hati kawan-kawan­nya dengan per­ka­taan: sesu­atu kea­daan tak bisa diba­ngun di atas peram­pokan. Dan keku­a­saan Merah yang dida­pat­nya seka­rang adalah hasil peram­pokan semata. Meng­apa mereka tak meng­am­bil keku­a­saan dari tangan Belanda? Atau Jepang? Meng­apa justru dari tangan Repub­lik? Dan oleh mulut­nya yang tak mau diken­da­li­kan lagi itu, orang tua itu mem­per­o­leh gan­jaran: peluru!

Pasukan Merah yang ter­pu­kul mundur dari medan per­tem­puran Cepu dan seki­tar­nya tak perlu men­cari harta benda di ping­gir-ping­gir kali, sawah atau ladang. Mereka cukup keluar masuk rumah saja. Dengan demi­kian, waktu matari teng­ge­lam di balik tebing kali, pen­du­duk pulang kem­bali ke rumah masing-masing. Ber­pu­luh cerita meniup ke mana-mana: kehi­langan! kehi­langan! Dan mereka yang harta ben­da­nya telah habis tandas oleh pen­du­dukan Jepang, Repub­lik, dan Merah itu men­cu­r­ah­kan kese­dih­an­nya dalam hati saja. Seki­ra­nya disu­a­ra­kan, tak ada kuping mau men­de­ng­ar­kan. Kemu­dian dengan diam-diam mereka men­cari kea­dilan dari hati­nya sen­diri — dari seja­rah hidup masing-masing.

Dan, tak seo­rang pun di antara yang dewasa berani mena­ngis. Mata-mata Merah ter­lam­pau banyak. Mereka yang dengan tiba-tiba jadi peng­khi­a­nat dan yang peker­ja­an­nya men­ci­de­rai nasib kawan-kawan­nya sen­diri itu ter­ma­suk golongan yang juga sudah habis tandas harta ben­da­nya. Tapi mereka ada meli­hat kesem­patan baik untuk mem­per­ba­iki nasib dan mem­ba­ngun­kan keper­ca­yaan pada hari depan.

Malam buta menyu­sul — dengan dalil­nya sen­diri.

Dan di waktu hitam kelam itu kadang-kadang pun ter­da­pat ser­dadu Merah yang masih ber­ke­li­aran. Tak jarang ter­de­ngar pintu dige­dor-gedor dan suara yang parau dan beku minta dibu­ka­kan pintu. Para tetangga di seling­kungan kelu­arga yang men­da­pat gedo­ran pintu tak ada yang berani memun­cul­kan diri untuk mem­be­ri­kan per­to­longan. Mereka hanya bisa berdoa untuk kese­la­matan kelu­arga masing-masing. Beduk lang­gar tak kuasa ber­dansa-dansa dalam sua­sana senyap itu. Sejak Merah datang, beduk-beduk itu turut keta­kutan dan meng­hi­lang di kolong-kolong. Sudah bebe­rapa Jumat mesjid pun sunyi. Tiada orang berani ber­bon­dong-bon­dong ke sana. Kitab-kitab agama dise­m­bu­nyi­kan dari pan­dangan mata Merah. Para santre banyak yang mele­pas pici dan sarung­nya. ai KEMU­DIAN MENYU­SUL peris­tiwa baru lagi. Waktu itu pagi juga. Di sebe­rang kali Lusi, dekat jem­batan, meng­a­muk tem­bakan kera­ben dan mit­ra­liur. Kem­bali orang-orang jadi kebi­ngungan: Dari rumah Diah yang dekat dengan kali itu bunyi-bunyian yang menge­ri­kan itu ter­de­ngar nyata-nyata. Di kala itu banyak nampak pra­ju­rit menye­ber­a­ngi kali dengan tiada mela­lui jem­batan sambil ber­te­riak-teriak: “Tenang! Tenang! Sili­wa­ngi datang!”

Tiba-tiba saja orang ber­so­rak lega: “Hore! Sili­wa­ngi datang,” dengan suara yang lang­sung ke luar dari hati Tiang. “Sili­wa­ngi datang! Sela­mat datang. Sela­mat datang. Sili­wa­ngi!” Dan pasukan-pasukan yang datang terus juga menem­bak-nembak ke udara. Bon­do­ngan ledakan dekat jem­batan tambah meng­he­bat. Orang-orang yang merasa dir­i­nya tak ber­dosa pada Repub­lik segera saja ke luar dari rumah masing-masing menyong­song pasukan nega­ra­nya yang baru tiba. Sorakan riuh segera mereka sum­bang­kan di antara den­tuman bedil dan ren­tetan mit­ra­liur. Sua­sana tiba-tiba jadi hidup, ber­ge­rak, ber­jiwa.

“Merah.tidak mem­ba­las,” tiba-tiba ter­de­ngar leng­kingan menan­tang.

“Mana berani Merah mem­ba­las.”

Kemu­dian sorak meng­e­jek menyu­sul, meng­gu­lung sua­sana pagi. “Merah lari — sudah lari. Merah sudah lari. Hore!!”

Dan kesa­tuan Sili­wa­ngi pun turun ke daerah kota. Tiap muka jadi ber­seri-seri. Pra­ju­rit-pra­ju­rit itu cepat ber­ge­rak merang­kak-rang­kak maju menu­suk ke pusat kota.

Tiba-tiba dari rumah tetangga Diah ter­de­ngar seo­rang nenek ber­te­riak kuat-kuat: “Jangan sem­bu­nyi di sini.

Per­ha­tian orang seling­kungan rumah Diah ter­ta­rik pada teri­akan itu. Sete­lah orang ber­lari-lari ke rumah nenek itu, ter­de­ngar lagi: “Jangan sem­bu­nyi di sini. Nanti kami seru­mah disangka Merah.” Dan sebe­lum orang-orang itu sampai di rumah yang ditu­ju­nya, orang telah meli­hat Saki­din — tukang canang Merah — ber­lari-larian gila. Kemu­dian dengan tubuh­nya yang dila­ri­kan­nya itu hilang ia di ladang Diah. Ada juga pera­wan itu meli­hat ini. Tetapi ia diam saja. Dan para tetangga ber­so­rak riuh seperti sudah jadi kawanan orang gila: “Sem­bu­nyi di rumah Diah dia!”

Dan pem­bu­r­uan pun menyu­sul­lah. Di saat itu juga datang seregu pra­ju­rit dari Sili­wa­ngi. Ber­ta­nya mereka: “Apa? Ada apa?”

“Merah ber­se­m­bu­nyi di tempat itu!”

“Merah?”

“Ya, Merah. Tapi yang punya rumah bukan Merah.”

Dan regu itu pun turut pula mem­buru. Bera­tus-ratus orang mem­ban­jiri ladang Diah. Dan pohon-pohon sing­kong patah-patah dan rebah-rebah oleh ter­jangan kaki dan tangan orang. Tapi orang tak peduli pada bolak sing­kong. Dan orang pun tak peduli pada hati Diah yang menye­sali kea­daan itu. Orang terus mem­buru. Orang hanya peduli pada Saki­din tukang canang Merah. Dalam buruan itu Saki­din menum­buk-numbuk pada pagar ber­duri. Sekali ini ter­pe­gang. Tetapi keku­atan orang nekat itu sang­gup melem­par­kan lima orang yang meme­gang­i­nya. Dan ia lari terus. Lari terus. Lari terus. Dengan tiada tujuan. Dengan tiada bim­bingan maksud. Ia lari karena nekat. Kehi­langan segala-gala­nya yang ada dalam jiwa­nya. Dan mulut­nya yang kering mengapur ber­te­riak-teriak sejadi-jadi­nya: “Ampun, Sili­wa­ngi! Ampun, Sili­wa­ngi!”

Tapi orang tak sempat mengum­pul­kan peng­am­punan lagi di dalam dada­nya. Dan Saki­din tetap ber­lari-larian dan melom­pat-lompat. Akhir­nya pra­ju­rit-pra­ju­rit yang keba­nyakan peluru mele­pas­kan tem­bakan. Dan untuk meng­hin­dar­kan peluru yang dile­pas­kan pada­nya, Saki­din meng­gu­lung-gulung­kan badan­nya. Pohon-pohon sing­kong lebih rusak dan patah-patah lagi. Tapi tak ada seo­rang pun yang peduli.

Akhir­nya Saki­din kena juga pada perut­nya dan habis­lah gerak­nya. Mulut­nya ber­busa. Dan seba­gian dari busa telah menge- .’ ring dan meng­e­rak di sudut-sudut mulut­nya. Nafas­nya mem­beng­kos-beng­kos. Dan di anta­ra­nya ter­de­ngar suara lemah kepa­yahan: “Ampun. Ampu­uun. Biar­kan aku hidup. Biar­kan aku hidup. Ampun.”

“Nah! Minta hidup pula. Berapa banyak orang mati karena engkau, monyet!” orang mene­ri­ak­kan caci­an­nya.

Sete­ngah dari gerom­bolan itu ber­so­rak riang. Dan tiap mata dari mereka ter­tuju pada Saki­din tukang canang yang tak ber­daya lagi.

Mata kurban itu tak kuasa lagi menen­tang mereka yang mem­ben­ci­nya. Pelu­puk­nya ditu­run­kan. Dada­nya turun naik oleh nafas berat.

“Seret dia!” seo­rang meng­u­sul­kan.

Kepala Saki­din jatuh ke pun­dak­nya. Tapi ia tak ber­kata apa-apa. Kemu­dian orang bere­butan men­da­pat­kan kaki­nya. Ia mulai dise­ret. Tidak, ia tidak bicara lagi. Mata­nya ter­ka­tup reng­gang-reng­gang seka­rang. Darah mele­leh terus dari balik baju dan mele­bar ke dada, ke sam­ping, juga ke cela­na­nya. Ia dise­ret terus ke luar dari ladang menuju ke jalan batu. Semen­tara tak ada yang bicara.

Tiba-tiba seo­rang ber­te­riak his­tris: “Hore, mampus kau seka­rang. Setan Merah Saki­din kena sudah.”

“Hore, tukang canang Merah sudah kena,” suara anak kecil meleng­king.

“Hore, hore!”

Dari pojok rumah­nya, Diah meman­dangi segala keja­dian itu dengan diam-diam. Husni, Hutomo dan Kari­adi ber­lari-larian meng­i­kuti iring-iringan itu. Dan gadis itu tak ber­ge­rak-gerak seperti telah mema­tung. Cuma dalam benak­nya meng­a­muk ber­ba­gai kenangan, kei­ng­inan, hasrat dan rasa rindu pada sesu­atu yang lebih baik dari semua itu. Tiba-tiba ia lari ke dapur. Dicu­r­ah­kan air mata­nya. Ia ter­ke­nang pada sau­dara-sau­da­ra­nya yang sudah begitu lama belum juga kem­bali. Cepat-cepat diha­pus­nya air mata yang mem­ba­sah itu. Diam­bil­nya abu dapur di piring tanah dan diba­wa­nya sebuah cang­kul tua. Ber­lari-larian ia pergi ke tempat Saki­din tadi men­da­pat tem­bakan pada perut­nya. Ia ber­jong­kok. Mulut­nya meng­u­cap­kan bebe­rapa doa. Dita­bur­kan abu dapur itu di atas darah di tanah yang mulai men­cok­lat hitam. Kemu­dian ditim­bun­nya dengan tanah. Pacul­nya ber­a­yun-ayun lesu. Air muka­nya nampak lesu — presis orang yang sedang menim­bun lahat sau­dara yang dika­sih­i­nya. Sete­lah peker­ja­an­nya habis, ia berdoa lagi, kemu­dian pulang mem­bawa pacul­nya. Ber­bi­sik pada diri sen­diri: “Semua orang yang mati harus men­da­pat peng­hor­matan seba­gai manu­sia.” Tapi air mata tak juga kering-kering dari mata­nya — meng­a­lir terus dari sum­ber­nya yang subur. Tiba-tiba ter­de­ngar ber­ba­gai letusan: gedung-gedung yang sedang diter­bang­kan ke udara oleh pasukan Merah. Asap hitam tebal mera­yau-rayau di langit, diwar­nai oleh api yang merah men­ji­lat-jilat. Semua itu nampak oleh Diah dari jen­dela.

Tiba-tiba ter­de­ngar orang ber­te­riak ngilu: “Pen­jara diba­kar Merah!” mn lo.

Dan teriak seo­rang lelaki itu disu­sul oleh pekik perem­puan muda: “Ah, ah, — bagai­mana? Lakiku masih ada di pen­jara itu.” Mati kedua suara itu.

Diah melom­pat. Keluar dari rumah. Men­da­dak saja datang ing­atan pada­nya: bapak­nya! Barang­kali orang tuanya ada di dalam pen­jara itu. Ia lari. Lari. Lari dan lari. Terus lari ke arah utara — ke pen­jara. Ramai-ramai ber­sama dengan mereka yang punya kelu­arga yang dipen­ja­ra­kan Merah. Para lelaki lari cepat. Orang-orang perem­puan ter­hu­yung-huyung dengan kain dike­a­tas­kan dan rambut kocar-kacir di pung­gung. Dan Diah yang tak pernah ber­la­tih lari, seben­tar-bentar ber­henti untuk mena­rik nafas. Di jalan ia ber­temu dengan seregu pra­ju­rit yang sedang mengu­rung seo­rang pemuda yang ber­pa­kaian rom­pang-ram­ping. Pada kepa­la­nya masih ter­i­kat­kan kain merah. . “Merah? Merah?” tanya pra­ju­rit-pra­ju­rit itu. “He — meng­apa kalian ber­lari-larian?” seo­rang pra­ju­rit lain­nya lagi. : : : “Pen­jara diba­kar Merah. Sau­dara kami ada di sana.” . “Merah? Merah, kau?” : “Hantam saja orang-orang Merah itu. Kering­kan daging­nya!” Pemuda yang kurus itu ber­diam diri saja sedang sibuk memi­kir­kan jawaban yang hendak dibe­ri­kan­nya. “Merah?” desak para pra­ju­rit. Dan pemuda itu hanya-menun­duk­kan kepala. Seo­rang pra­ju­rit memu­kul kaki pemuda itu hingga ia jatuh ter­te­lung­kup di tanah. Tanya lagi seo­rang: “Merah? Ya?” Pemuda itu men­ja­wab pelahan. Tak ter­de­ngar oleh kuping jawab­an­nya. Ia masih juga ter­te­lung­kup di tanah. Kaki­nya tak ber­se­patu. Ia men­coba untuk bangun. Kemu­dian: “Ya,” jawab­nya seka­rang.

Ia merang­kak. Dan sebe­lum kedua kaki­nya sempat ber­diri ia telah kena tembak pada kepa­la­nya. Terus rebah ter­sung­kur. Tak ber­su­ara lagi. Hanya kaki dan tangan­nya ber­ge­rak ber­kem­bang ke sam­ping-menyam­ping. Kemu­dian kaki dan tangan itu dipe­gangi pra­ju­rit-pra­ju­rit itu, dise­ret — dilem­par­kan ke dalam truk. Truk men­deru. Hilang. Diah mena­ngis lagi. Kem­bali ia ingat pada segala-gala­nya yang tak menye­nang­kan.

Ter­se­dan-sedan ia. Ditim­bun­nya darah kurban itu dengan pasir ping­giran jalan. Ia lari lagi. Lari dan lari. Dada­nya yang sedang menum­buh itu kem­bang kempis. Dan orang-orang lain pun lari dan lari: nenek, kakek, anak kecil — semua mau meng­am­bil kelu­ar­ga­nya yang ada di dalam pen­jara. Dan tidak satu atau dua orang saja jatuh ter­gu­ling keha­bisan nafas, banyak! Tapi Diah lari terus.

Dari jauh telah nampak: pen­jara ter­ba­kar bagian bela­kang dan dalam­nya. Orang-orang yang datang ke seling­kungan gedung batu itu kian banyak — mera­tus, meribu. Diah pun sampai. Dari sel-sel yang masih ter­kunci di dalam orang meme­kik-mekik minta tolong dengan suara parau. Pintu depan ter­kunci — pintu yang satu-satu­nya. Di tiap pojok di atas pagar nampak ser­dadu-ser­dadu ribut mem­beri perin­tah. Dan pra­ju­rit-pra­ju­rit lain­nya naik ke tangga yang tinggi-tinggi untuk melom­pati pagar dan meno­long mereka yang masih ter­ting­gal hidup di dalam. Seben­tar-seben­tar dari tangga-tangga itu pula ditu­run-turun­kan orang-orang yang masih utuh tubuh­nya. Segera ia jatuh ke tanah untuk diku­curi dengan air mata oleh sanak-fami­l­inya. Harapan! Sesung­guh­nya harapan besar yang ter­pe­nuhi meng­a­ki­bat­kan hilang­nya pegangan.

Lama-kela­maan kian banyak juga orang-orang yang ter­to­long dengan sanak-fami­l­inya meng­ge­rom­bol-gerom­bol di ping­gir-ping­gir jalan atau di bawah-bawah pohon. Dan di kanan pen­jara, tangsi polisi telah merah kuning dima­kan api — tak ter­to­long lagi.

Dari jauh Diah telah meme­kik gila: “Bapaak — bapaak — 000, bapa­aak!”

Tapi tak ada seo­rang pun yang peduli. Semua sibuk dengan kekha­wa­tiran dan keseng­sa­raan sen­diri. Bera­tus-ratus orang meman­dangi pra­ju­rit-pra­ju­rit yang meng­ang­kuti kurban-kurban dari dalam pen­jara dengan mata batu. Tak ubah­nya dengan mata kucing kela­paran. Diah kian men­de­kat. Bila satu lagi kurban ditu­run­kan dari pagar tembok, orang ber­lari-larian datang meru­bung. Bila bukan sanak­nya segera orang-orang pergi men­jauh pula menunggu datang­nya kurban yang ditu­run­kan lagi. Diah kian men­de­kat. Ia telah ber­mandi keri­ngat — oleh lari dan oleh panas­nya api tangsi polisi dan oleh banyak­nya orang di seke­li­ling­nya dan oleh panas api pen­jara. Sampai di gerom­bolan orang yang kebi­ngungan ia rebah keha­bisan tenaga.

Teri­ak­nya yang lemah ter­de­ngar sayup di sela geme­ra­tak api, pekik-jerit kurban-kurban yang belum ter­to­long dan tangis dan ratap orang yang menunggu di luar pen­jara. Sekali lagi ia ber­te­riak, nyaris saja ter­de­ngar: “Bapak … bapaak … bapaak…”

Kemu­dian ia diam menyu­sun nafas. Ber­diri. Rebah pula. Di san­dar­kan badan­nya pada batang pohon. Ber­is­ti­ra­hat. Ber­diri lagi. Di sam­ping­nya, seo­rang kakek mondar-mandir dengan kedua tangan ter­si­lang di bela­kang badan. Ia pun kebi­ngungan.

“Anakku! Anakku! Dan sudah begitu tinggi — maha­siswa Gajah­mada15.”

Seben­tar-seben­tar ia ber­henti menge­jut, meman­dangi lidah api yang men­ji­lat-jilat, meng­u­langi kata-kata­nya, dan ber­ja­lan pula mondar-mandir dengan kedua tangan­nya ter­si­lang di bela­kang badan.

Diah mengum­pul­kan selu­ruh tenaga. Ber­te­riak kuat: “Bapa­aak — bapak­kuuu — Diah di sini. Anakmu di sini,”

Ia diam lagi. Ia tak meli­hat bebe­rapa mata meman­dang­nya. Bibir­nya telah kering dan putih. Sete­lah ter­ja­tuh sekali ia segera bangun pula cepat-cepat. Lari ke bawah run­tuhan tembok. Men­de­kati tangga. Di situ pun orang ber­je­jal menan­ti­kan fami­l­inya dike­lu­ar­kan dari dalam pen­jara. Semen­tara itu pintu pen­jara dipe­cah ber­sama-sama dari luar. Dan di bela­kang pen­jara, orang melem­par-lem­par­kan pasir, air, batang pisang. Dan pasir yang dilem­par-lem­par­kan itu mela­yang-layang seperti men­dung kena tiupan api yang meng­a­muk dah­syat.

Satu kurban lagi dike­lu­ar­kan dari pen­jara dan ditu­run­kan mela­lui tangga. Dua-tiga — orang yang sudah remuk-remuk, tak ter­ke­nali lagi oleh siapa pun juga. Dan antara seben­tar ter­de­ngar: “Bukan! Bukan! Bukan dia,” seperti dengung doa dari surau. Atau tiba-tiba ada seo­rang rebah di tanah dan meme­luk tubuh yang remuk-remuk.

Seo­rang lagi dike­lu­ar­kan: ting­gal sepo­tong badan. Kemu­dian sepo­tong kaki kanan ditu­run­kan. Diah men­je­rit: “Bapakku! Bapakku!”

Dan sepo­tong kaki itu cacat. Mung­kin pada waktu kecil­nya, kaki itu kena patek. Dan Diah kenal: kaki itu adalah kaki pak Sumo, — bapak Diah dan sau­dara-sau­da­ra­nya. Ber­te­riak lagi: “O, bapak! Bapakku!”

Dan dirang­kul­nya sepo­tong kaki itu dan dici­um­i­nya pada empu jari­nya. Ia lari mem­bawa kaki itu. Tapi seo­rang pra­ju­rit mena­han­nya. Ber­kata: “Jangan bawa kaki itu. Biar kami cari­kan badan­nya dulu. He, jangan bawa lari.”

Diah ber­henti. Ia bim­bang. Pelahan-lahan ia jalan balik ke tempat tangga ber­diri. Dikem­ba­li­kan sepo­tong kaki yang ber­lu­muran darah itu di tem­pat­nya semula — di bawah tangga. Sebe­lum dile­tak­kan­nya dengan hati-hati, dici­um­i­nya empu jari yang kotor dan ber­da­rah-darah itu ber­kali-kali, kemu­dian ia lari seperti orang gila menuju ke pintu pen­jara yang habis dipe­cah­kan bera­mai-ramai.

Orang tak sabar lagi menunggu di depan pintu itu dan ber­je­jal-jejal masuk ke dalam. Riuh orang memang­gil-mang­gil adik, bapak, anak, sau­dara — macam-macam. Dan Diah turut pula menyerbu ke dalam. Tiap-tiap sel yang telah dibong­kar dima­suk­i­nya. Tapi sel-sel itu pasti sudah kosong. Kadang-kadang. ter­tum­pah darah meme­rahi lan­tai­nya.

Kemu­dian orang bere­but dahulu lari ke bang­sal pan­jang. Dan nyala api di bagian bela­kang pen­jara mem­ba­kar badan mereka. Tiap kali asap meniup dan mela­yah ke bawah orang batuk ter­ce­kik-cekik. Dan di dalam bang­sal itu ber­pu­luh-puluh orang meng­e­rang-erang kesa­kitan. Ada juga yang telah lama mati, potongan-potongan tubuh orang.

Dan Diah ber­te­riak kelu: “Bapakku! Bapakku! Diah di sini. Di mana engkau?”

Tapi sua­ra­nya dite­lan oleh suara-suara lain yang juga sedang dite­riak-teri­ak­kan. Tiba-tiba ter­de­ngar pekik tinggi: “Sumur ini penuh dengan bang­kai!”

Dan mereka yang tak mene­mu­kan yang sedang dica­ri­nya di dalam pen­jara, ber­lari-larian meru­bung sumur dan men­je­nguk ke dalam­nya. Dan di dalam­nya meng­am­bang bang­kai-bang­kai manu­sia. Airnya telah jadi merah. Air selalu ber­ge­rak-gerak — di dalam­nya masih ada manu­si­a­nya yang hidup.

Pra­ju­rit-pra­ju­rit Sili­wa­ngi mondar-mandir. Sete­ngah sibuk mem­bong­kari sel-sel dengan martil besi besar. Dan Diah ber­lari-larian men­cari bapak­nya dari sel ke sel. Ia terus juga ber­te­riak-teriak. Tapi tak seo­rang pun men­ja­wab teri­ak­an­nya.

Dari sel-sel yang masih ter­kunci kadang-kadang ter­de­ngar. orang meng­a­duh, meng­e­rang atau­pun bung­kem saja, karena yang men­di­am­i­nya telah ditem­bak dari luar.

Tiba-tiba asap tebal meniup ke bawah, ber­sama pasir yang di lempar-lem­par­kan dan panas api menyem­bur ke tengah-tengah pen­jara. Seo­rang pra­ju­rit, mena­rik Diah dan melem­par­kan­nya ke luar pen­jara. Api kian men­jadi-jadi. Orang di luar mena­ngis dan mena­ngis. Dan tiada kurang yang datang hanya untuk menon­ton mereka yang mena­ngis dan kebi­ngungan. Dan di antara pekik-tangis itu ada ter­de­ngar raung: “Ini mata-mata Merah.”

Ter­hu­yung-huyung Diah men­ja­uh­kan diri dari pintu pen­jara. Ia pun ada meli­hat pra­ju­rit ber­lari-larian menang­kap orang yang ditu­duh mata-mata Merah itu. Ia pun meli­hat orang itu ditang­kap bera­mai-ramai. Kemu­dian kedua belah tangan­nya diikat. Dir­e­bah­kan ke tanah, akhir­nya ditem­bak pada kepa­la­nya. Benak­nya mele­leh putih. Segera ia menu­tup mata­nya, meng­hin­dari peman­dangan itu. Dan di waktu tangan­nya ditu­run­kan dari mata, ia tak meli­hat kurban itu lagi — telah hilang dari peman­dangan. Cuma kuping­nya yang men­de­ngar dengung truk yang menya­ta­kan, bahwa kurban telah dibawa ken­da­raan itu.

Tembok din­ding pen­jara bagian bela­kang roboh. Dah­syat bunyi­nya. Dan ber­sa­maan dengan itu per­cikan api memen­cak-mencak dengan riang­nya di udara. Panas api ter­tiup ke sebe­lah depan dan orang-orang mundur men­jauh. Kemu­dian din­ding-din­ding lain­nya pun turut roboh.

Seo­rang pra­ju­rit ber­te­riak: “Besok saja datang lagi kalau mau men­cari sau­dara!”

Mula-mula orang bim­bang pada seruan itu. Dan waktu seo­rang letnan ber­seru: “Ya, besok saja datang lagi!”

Baru­lah orang-orang bubar, pulang mem­bawa tangis­nya masing-masing, atau kabar baru untuk kelu­ar­ga­nya.

Diah lari ke tempat tangga ber­diri untuk meng­am­bil kaki bapak­nya. Tetapi tangga itu tak ada lagi sudah. Dan kaki yang dica­ri­nya pun tak nampak oleh­nya. Ia mera­ung kesal. Tapi ia turut juga dengan bon­do­ngan orang itu pulang ke rumah.

Di rumah dida­pat­i­nya adik-adik­nya duduk-duduk di pen­dopo menan­ti­kan keda­tangan­nya. Ia tak peduli. Segera ia lari ke kamar dan men­cu­r­ah­kan air-mata seba­nyak-banyak­nya. Mata­nya jadi beng­kak kare­na­nya. Ia tak peduli. Ia ingin mena­ngis — dan seba­nyak-banyak­nya. Tak ada seo­rang pun di antara adik-adik­nya berani mena­nya­kan sebab­nya. Ia sen­diri pun tak berani menyam­pai­kan peris­tiwa yang baru disak­si­kan­nya seben­tar tadi.

Senja datang.

Dan perut belum juga diisi. Tapi tak seo­rang pun di antara adik-adik­nya mem­ban­tah kea­daan itu. Masing-masing ber­diam diri menge­nang­kan selu­ruh keja­dian yang boleh dan mau dike­nang­kan. Juga keja­dian yang baru tadi mereka sak­si­kan: pem­bu­nuhan — pem­ba­lasan. Dan orang ber­ganti-ganti mati.

Keadaan lama digan­ti­kan oleh kea­daan baru — baru dalam bentuk. Isi tetap lama — tetap yang dulu-dulu juga: kesu­l­itan hidup yang mem­be­lu­kar.

Pasukan-pasukan Merah telah digi­ring oleh pasukan Sili­wa­ngi ke arah barat. Dan pem­bantu-pem­ban­tu­nya disapu bersih dari tempat kami. Namun orang-orang yang hanya ikut-ikutan ter­se­ret pada Merah karena ancaman sen­jata boleh meman­jang­kan umur sampai maut sen­diri dan bukan algojo Merah memeng­gal jiwa­nya.

Seo­rang demi seo­rang yang ter­se­ret turut dengan Merah kem­bali ke tempat kedi­a­m­an­nya masing-masing — hampir semua pemuda atau pemudi. Dan bila mereka telah duduk di kursi dalam rumah­nya yang dulu, segera menge­nang-nge­nang buruk baik­nya ikut-ikutan dalam pem­bu­nuhan ter­a­tur. Dan untuk mengem­ba­li­kan diri dalam per­ga­ulan, mereka segera datang ber­temu ke tempat para tetang­ga­nya dan menyem­bur­kan keta­kutan — presis seperti ser­dadu-ser­dadu Korea waktu Jepang kalah.

“Kalau aku meno­lak kehen­dak mereka, mati­lah aku. Aku bukan Merah. Merah yang memaksa aku.”

Dan keta­kutan itu tak pernah pen­ting buat para pen­de­ng­ar­nya. Hanya pen­ting untuk kese­la­matan sen­diri. Dan bia­sa­nya orang men­ja­wab dengan: “Ya. Ya, memang begitu.”

Maka sele­sai­lah kete­gangan antara mereka.

Mereka yang punya famili yang turut ter­se­ret oleh pak­saan Merah tapi belum kem­bali, menanti-nan­ti­kan keda­tangan famili itu dengan ber­ba­gai macam kekha­wa­tiran. Sung­guh! Keda­tangan pasukan Merah mem­buat pen­du­duk daerah kami pandai memaki sekeji-keji­nya, dan berdoa sampai sepan­jang-pan­jang­nya. Di antara mereka yang menunggu keda­tangan fami­l­inya yang turut ter­se­ret oleh pak­saan Merah ter­ma­suk Diah beserta adik: adik­nya. Tapi Sri tiada juga datang. Dan itu mem­buat mereka selalu diburu-buru oleh kekha­wa­tiran. Kini mereka baru dapat meng­in­safi telah banyak ber­hu­tang budi pada Sri, kakak mereka. Sri telah mengur­bankan dir­i­nya untuk keber­e­san rumah tangga. Sri telah menye­rah­kan dir­i­nya untuk meng­un­dur­kan diri dari seko­lah­an­nya. Ya, mereka ada mera­sai kebe­saran pengu­r­ba­nan kakak­nya itu. Ada juga mereka meng­ha­rap­kan keda­tangan Is. Tapi ada sesu­atu yang mela­rang harapan itu timbul dalam jiwa. Barang­kali karena Is dengan suka­rela telah meng­ga­bung­kan diri dengan pasukan yang telah mem­bu­nuh ayah­nya. Ya, barang­kali karena itu. Tapi mereka tak menge­ta­hui betul tidak­nya pera­saan itu.

Rumah-rumah seko­lah sudah lama tak dibuka. Baru waktu peme­rin­tahan sipil ber­diri kem­bali, seko­lah-seko­lah mulai mem­buka pin­tu­nya. Murid-murid meng­u­langi pel­a­jaran yang dua tiga bulan yang lalu sudah dipel­a­jar­i­nya. Husni, Hutomo dan Kari­adi kem­bali pula ke bangku seko­lah. Tapi bebe­rapa kawan mereka tak muncul di kelas seperti dahulu — dan untuk selama-lama­nya. Kini Diah tak punya kesem­patan untuk ber­se­ko­lah lagi. Apa yang kadang-kadang meng­ha­ru­kan hati­nya ialah, ketiga adik­nya mulai senang bel­a­jar dan menu­rut­kan nasi­hat-nasi­hat­nya. Barang­kali karena mereka insaf, bahwa yang men­cari rezeki hanya dia — Diah kakak mereka yang perem­puan itu.

Tiap hari Diah men­cari pakaian-pakaian rom­beng dari lorong ke lorong. Barang-barang itu diju­al­nya kem­bali di mana saja ia dapat mene­mui pem­beli. Dari pen­ju­alan inilah ia men­cari peng­ha­silan. Kadang-kadang ia pun men­da­pat dagangan lawon tenunan kam­pung. Dan ia masih juga tak dapat meng­erti meng­apa ia tiba-tiba saja bisa ber­da­gang. Keri­angan mulai timbul lagi dalam kelu­arga itu. Dan sinar hidup menyala pula — seperti dahulu waktu ibu mereka masih sehat dan segar bugar.

Kehi­dupan sehari-hari mulai ber­ja­lan tenang di atas relnya. Demi­kian pula halnya dengan kea­daan para tetangga. Pasar telah dibuka. Para peda­gang kem­bali men­du­duki bidang-bidang kosong di pasar itu. Keem­pat kakak-ber­a­dik itu tak pernah lagi ber­ca­kap-cakap ten­tang bapak, ten­tang mbak Is dan mbak Sri. Mereka takut pada kenangan sen­diri. Mereka pun takut pada keke­jaman-keke­jaman yang pernah meng­isi pan­ca­in­dra dan benak masing-masing.

Tapi keadaan segera beru­bah pula. Dan seperti biasa, orang tak menyangka akan datang per­u­ba­han baru ter­se­but. Seka­rang bukan Jepang, juga bukan Merah, juga bukan Sili­wa­ngi. Seka­rang Belan­da­lah yang menyerbu tempat kami yang kecil itu. Seba­gai­mana Jepang men­du­duki tempat kami dengan tiada per­la­wanan, juga Merah dan juga Sili­wa­ngi, Belanda pun masuk dengan tiada per­la­wanan. Hanya waktu mereka berada lima kilo­me­ter di utara kota, pra­ju­rit-pra­ju­rit Repub­lik men­coba mena­han kela­ju­an­nya. Tapi sen­jata TNI ter­ba­tas sekali buat ber­pe­rang — per­sen­ja­taan yang tak mung­kin dapat diper­gu­na­kan guna meng­a­da­kan per­la­wanan lama. Dan Belanda mene­rus­kan tusuk­an­nya ke kota kecil kami itu.

Ada juga ter­da­pat per­be­daan kecil antara penu­sukan Merah dan penu­sukan Belanda. Pada yang per­tama, tak seka­li­pun ter­de­ngar tem­bakan. Tapi kala Belanda, kota kecil kami dira­mai­kan oleh ledakan-ledakan bumi hangus — presis dengan kala Jepang menu­suk kota kami, dan Belan­da­lah yang mele­dak­kan tanki-tanki minyak di seki­tar kota kami.

Peng­hi­dupan sehari-hari dan seko­lah-seko­lah yang mulai dibuka dan ber­ja­lan dengan baik ter­ganggu pula. Pasar mati. Kem­bali orang jadi kebi­ngungan. Jem­batan kali Lusi diter­bang­kan ke udara ber­sa­maan dengan mun­dur­nya TNI ke arah selatan dan barat. Dan rangka besi­nya yang tak turut. ter­bang meng­ge­le­pak di tengah-tengah kali. Selan­jut­nya Belanda tak bisa mene­rus­kan per­ja­lanan ke selatan melam­paui jem­batan rusak itu — satu kilo­me­ter dari alun-alun Blora. Seka­li­pun dicoba melam­pau­i­nya, usa­ha­nya sia-sia belaka. Dalam kea­daan di mana perang gerilya dimu­lai dengan sengit­nya, tiap mulut harus makan saban hari­nya. Bila orang tak meng­hen­daki mati cepat-cepat ia harus meng­um­pani mulut­nya baik-baik. Dengan demi­kian Diah tiap hari pergi ke daerah gerilya untuk men­cari bahan makanan. Pagi-pagi benar ia berang­kat. Di kala itulah pasukan Belanda belum lagi banyak yang ber­ge­lan­dangan di jalan-jalan. Dari daerah pen­du­dukan ia mem­bawa bahan pakaian. Dan dari per­da­gangan sema­cam itu ia dan adik-adik­nya bisa men­da­pat makan. Karena seko­lah-seko­lah belum juga dibuka oleh peme­rin­tah pen­du­dukan, adik-adik­nya mem­ban­tu­nya men­cari rezeki.

“Tiap hari ter­de­ngar ledakan dah­syat dari bom tarik. Ten­tara Belanda tak bisa mening­gal­kan Blora. Bila ada satu truk saja mau men­coba ke luar daerah kami, ken­da­raan itu akan ter­bang ke udara kena bom tarik. Pra­ju­rit-pra­ju­rit Repub­lik yang menge­pung kota kami tak punya sen­jata selain segu­dang bom tarik yang dise­m­bu­nyi­kan di dalam hutan jati.

Suatu kali ter­jadi pem­ber­sihan. Kun­duran — suatu tempat lebih kurang empat puluh kilo­me­ter di barat Blora mulai mengir­im­kan pasukan-pasuk­an­nya yang ber­ge­rak men­de­sak bala ten­tara Belanda. Tempat itu belum lagi pernah diin­jak oleh sepatu ten­tara Belanda. Dan ber­kali-kali pasukan yang diki­rim­kan ke sana ter­pu­kul mundur. Di sana juga peme­rin­tahan Repub­lik ber­diri, dengan resi­den dan guber­nur­nya sekali. Dan akibat pem­ber­sihan itu, kam­pung-kam­pung di sepan­jang garis demar­kasi diber­sih­kan ter­le­bih dahulu.

Karena deretan rumah di mana rumah kelu­arga Diah ber­diri ter­ma­suk daerah tepi, tempat itu pun tak luput dari peng­ge­le­dahan. Orang-orang kem­bali ke luar dari rumah dan menyem­bu­nyi­kan diri di bawah-bawah rumpun bambu. Kem­bali mata pen­du­duk daerah kami kuyu mem­batu seperti mata kucing kela­paran. Ibu-ibu menyum­bat mulut anak-anak­nya.

Dan di kala seperti itu pula­lah orang meli­hat sosok tubuh kurus kering menyu­ruk-nyuruk di antara rumpun-rumpun bambu men­de­kati mereka yang sedang ber­se­m­bu­nyi. Mata­nya cekung teng­ge­lam ke dalam rong­ga­nya. Barang­kali sudah dua hari ia tidak makan. Ia ber­ce­lana, masih ber­se­patu seka­li­pun peot-peot, dan selu­ruh pakai­an­nya koyak-koyak. Kian dekat orang itu, kian nyata oleh mata orang-orang, bahwa sosok tubuh itu tiada lain adalah sisa pasukan Merah yang masih sela­mat. Ter­de­ngar orang menye­but: “Merah datang.”

Diah meman­jang­kan leher dari tempat per­se­m­bu­nyi­an­nya. Dan tak salah lagi mata­nya: Sri datang. Ia lupa pada bahaya pem­ber­sihan yang sedang meng­a­muk di dekat rumpun-rumpun bambu itu. Ia tak peduli. Segera dirang­kul­nya kakak­nya itu. Tapi Sri meme­kik lemah kesa­kitan: “Jangan sing­gung tangan-kananku.”

“Meng­apa, mbak? Meng­apa?”

“Patah, Diah. Jatuh dari kuda…”

Adik-adik­nya datang meru­bung. Dan orang-orang yang sedang ber­se­m­bu­nyi itu jadi keta­kutan oleh ke lima sau­dara yang sedang ber­kum­pul-kumpul ber­diri itu. Tem­bakan beren­tetan tak jauh dari tempat itu. Seren­tak kakak-ber­a­dik itu mere­bah­kan diri. Dan kea­daan yang menye­sak­kan itu ter­sapu oleh kege­lapan malam seka­rang. Ter­de­ngar truk-truk dan tank-tank men­de­rai-derai dan ber­de­rum pergi. Dan kem­bali orang pulang ke rumah masing-masing. Seperti biasa, lantas saja orang meni­up­kan berita basi: aku kehi­langan ini … aku kehi­langan itu..Namun masing-masing telah merasa senang karena sela­mat tak ter­tem­bak oleh sena­pan Belanda.

Malam itu adik-adik­nya meru­bung. Semua mata mem­per­ha­ti­kan tangan Sri yang beng­kak.

“Meng­apa tanganmu patah, mbak?” tanya Diah sambil mem­be­bat tangan itu.

“Meng­apa? Jatuh dari kuda. Pasukan kami diburu-buru oleh Sili­wa­ngi. Kudaku kena tembak. Dan aku ter­pen­tal jatuh ke jurang. Untung­lah jurang itu rimbun dise­li­muti semak. Kalau tidak, barang­kali sudah pecah­lah kepa­laku ter­ben­tur batu hitam yang ter­se­bar jadi lan­dasan kali di dasar jurang itu.”

“Dan mbak Is?” Hutomo ber­ta­nya.

“Mbak Is terus lari meng­ga­bung­kan diri dengan induk pasukan Merah.”

“Ke mana per­gi­nya?”

“Aku tak tahu. Tapi orang-orang ber­kata, Merah celah mene­mui ajal­nya di dekat Sema­rang. Tapi aku tak tahu betul. Mana bapak?”

Keem­pat adik­nya ber­diam diri dan menun­duk­kan kepala ke bawah. Sri men­jadi curiga oleh sikap itu. Dia­was­i­nya adik­nya seo­rang demi seo­rang. Ber­ta­nya lagi: “Mana bapak?”

Dan pelahan-lahan Diah men­ja­wab. dengan suara geme­tar: “Bapak telah mening­gal­kan kita.”

Sri tak ber­kata apa-apa. Air-mata­nya mele­leh. Ia sangat perasa. Sedu-sedan­nya tak bisa dita­han­nya lagi. Dan oleh sedu-sedan itu adik-adik­nya turut ter­sedu-sedu juga. Mereka ber­sama-sama mera­tapi bapak­nya. Dan dengan tiada dita­nya Diah ber­ce­rita: “Bapak masih ada di dalam pen­jara waktu gedung itu diba­kar Merah.”

Sri mena­rik sedan yang sangat keras. Akhir­nya tangis­nya mele­dak.

“Dan sebe­lum mening­gal­kan pen­jara, Merah telah mem­bu­nuhi orang-orang tahan­an­nya. Bapak kucari juga di sana. Tapi yang kuda­pati hanya kaki­nya.”

Ia ber­henti bicara — turut mena­ngis.

Sri tak dapat mena­han tangis­nya. Ia tak lagi bisa mengen­da­li­kan pera­sa­an­nya lagi. Ia mera­ung. Dan adik-adik­nya meng­i­kuti sua­sana yang men­ce­kik itu. Tangis ber­ba­reng itu kian lama kian jadi pelahan. Otot-otot leher mereka jadi linu oleh lama­nya mena­ngis — tangis yang keluar dari kesa­daran derita yang sesung­guh­nya. Tangis yang tidak meng­hen­daki saksi. Tangis yang meru­pa­kan suatu kemes­tian. Tangis yang men­jadi saksi akan adanya sesu­atu yang makan jiwa. Dan malam ber­ja­lan terus dengan tenang seperti bia­sa­nya.

Kemu­dian ter­de­ngar Sri yang telah keha­bisan air-mata dan haru: “Sejak aku masuk jadi pra­ju­rit Merah,” mata adik-adik­nya ter­tuju pada­nya, dan mata itu masih merah — “banyak yang aku lihat. Lebih banyak dari­pada yang kude­ngar dari selu­ruh dong­eng ibu, ten­tang pepe­rangan dan kega­nasan orang-orang biadab.”

Dari luar rumah datang deru angin meng­go­yang­kan puncak-puncak pepo­honan. Sri ter­ke­jut. Men­de­ng­ar­kan seben­tar. Kemu­dian mene­rus­kan: “Masih juga aku ter­ke­jut bila ada bunyi yang dah­syat,” ia ter­diam oleh sedu tung­gal yang datang meng­ha­lang. “Tak ada orang menyangka, bahwa Sili­wa­ngi bisa ber­ge­rak begitu cepat. Dengan tiba-tiba saja kami dike­juti oleh mereka. Kami mela­ri­kan diri. Lari! Lari! Dan lari terus dengan tiada ren­cana. Dengan tiada tujuan. Waktu itu baru aku tahu apa arti­nya takut. Dan aku pun turut lari … lari … terus lari. Untung benar mereka tak punya pasukan pem­buru. Mereka tak punya barisan ber­kuda. Mereka hanya meng­ha­lau kami dengan beron­do­ngan mit­ra­liur. Dan kami lari terus. Dua-tiga kilo­me­ter aku telah ber­pacu dengan peluru. Tapi akhir­nya kudaku kena juga — tepat pada paru-paru­nya. Aku ter­pen­tal jatuh …

Ia diam dan meng­ha­pus mata­nya yang sudah kering. Mene­rus­kan: “Aku tak meng­erti meng­apa begini banyak keseng­sa­raan dilem­par­kan pada kelu­arga kami,” seperti ia sedang bicara dengan orang yang tak keli­hatan. “Di malam hari aku baru sadar dari ping­san. Aku merang­kak-rang­kak mening­gal­kan jurang itu. Pada waktu aku sampai di atas, hari baru telah terbit.

Tempat itu ialah Sulang — tiga puluh tiga kilo­me­ter dari sini. Itu kalau per­ki­ra­anku tidak salah.

“Tetapi keseng­sa­raan belum habis sampai di situ saja. Sulang masih ada dalam geng­gaman pasukan Merah. Dan di kala itu orang-orang Masyumi dengan ban­tuan rakyat dan Hiz­bul­lah sedang meng­a­da­kan peng­ge­rop­yokan umum ter­ha­dap Merah. Pra­ju­rit dan pega­wai Merah mereka tang­kapi. Baru saja aku ke luar dari jurang itu sudah ter­de­ngar saja orang ber­te­riak: “He! Ada Merah satu lagi.’

“Dan waktu itu baru ter­i­ngat olehku, bahwa aku masih ber­i­kat-kepala merah dan pada lengan dan leherku masih meling­kar janur kuning yang telah jadi coklat.”

Tiba-tiba Sri ter­diam dan mena­ngis lagi. Dan adik-adik­nya meng­i­kuti tangis­nya dengan sedan ber­a­yun-ayun.

“Aku ditang­kap, adik-adikku. Aku ditang­kap dan dia­ni­aya. Engkau tahu arti­nya, bukan?”

Dan selain Kari­adi, semua menun­duk meli­hat lantai. Ya, mereka tahu arti­nya seng­sara, ditang­kap dan dia­ni­aya. Mereka meng­erti hingga di inti­nya.

“Mereka tak peduli aku lelaki atau perem­puan. Kemu­dian kami orang-orang Merah ramai-ramai dilem­par­kan di rumah seko­lah. Dan gedung itu dike­pung oleh bera­tus — barang­kali juga beribu — pen­du­duk. Mereka menyin­dir-nyin­dir dan meng­a­mang-amang­kan pedang, ling­gis, golok dan tom­bak­nya. Waktu itu aku ber­pi­kir begini: Kalau aku mati di sini, adik-adikku di Blora akan menan­ti­kan keda­tanganku sampai mereka bosan sen­diri. Mati­lah aku seka­rang.” Ia menge­luh lega seka­rang. “Tetapi — aku masih diper­bo­leh­kan hidup di dunia ini. Dengan secara men­da­dak dan tak ter­sangka-sangka satu batal­yon Merah yang tadi­nya ter­je­pit oleh sayap-sayap pasukan Sili­wa­ngi dapat melo­los­kan diri dan lari ke arah pantai utara. Mereka menyerbu Sulang. Orang-orang yang menge­pung rumah seko­lah tempat kami dita­wan, lari — bubar beran­takan. Kami bebas kem­bali. Di kala itu pula­lah aku men­da­pat kesem­patan untuk mela­ri­kan diri. Aku menye­li­nap di antara orang banyak dan seo­rang diri masuk ke dalam hutan jati. Berapa minggu ter­se­sat-sesat di dalam hutan aku tak tahu. Aku pun tak mem­pe­du­li­kan­nya.

“Di malam hari saja­lah aku berani ke kam­pung untuk ber­ta­nya pada pen­du­duk­nya ter­ma­suk dis­trik mana kam­pung­nya itu. Dan yang kuma­kan di dalam hutan hanya­lah daun-daunan muda, minum air kali banyak-banyak dan ber­ja­lan terus — ber­ja­lan terus. Kadang-kadang aku ter­lam­pau ter­ke­jut bila ada kijang lari melin­tasi jalanku. Dan piki­ranku mem­ba­yang­kan kece­la­kaan baru oleh lin­tasan bina­tang itu. Tapi aku ber­ja­lan terus. Kadang-kadang aku rebah sen­diri karena keca­pean. Tak jarang demam yang kude­rita karena patah­nya tanganku meng­ha­langi aku untuk mene­rus­kan per­ja­lanan. Tapi aku per­caya, aku mesti ber­temu dengan adik-adikku sebe­lum maut men­jem­put jiwaku…” ia ter­se­dan-sedan.

Adik-adik­nya pun turut ter­se­dan-sedan. Kemu­dian anak-anak yang tiada ber­pe­lin­dung itu ber­diam-diam — mereka mele­nyap­kan haru masing-masing dari dalam dada.

“Akhir­nya, sampai jualah aku kemari.”

“Sete­lah begitu banyak melam­paui pen­de­ri­taan,” susul Diah

“Selu­ruh pen­du­duk men­de­rita, adikku,” Sri meng­gem­bi­rai. “Dalam peng­em­ba­raan di dalam hutan itu ada juga aku ber­pi­kir-pikir ten­tang pen­de­ri­taan. Dan aku ber­pen­da­pat, bahwa pen­de­ri­taan adalah isi dari keang­kar­aan. Keang­kar­aan adalah ruang yang menye­di­a­kan tempat buat pen­de­ri­taan itu. Aku masih ingat pel­a­jaran di seko­lah, bahwa benda itu ada karena meng­am­bil ruang. Tapi aku kira, itu tidak benar.”

Sua­sana malam kini terasa. Angin dingin mene­ro­bosi kelang­kan-kelang­kan di atas jen­dela mengun­jungi mereka…

“Aku kira, mbak lebih baik ber­is­ti­ra­hat dahulu,” Diah ber­kata.

“Ya, kea­da­anku belum lagi baik.” Ia ter­se­nyum. “Kea­da­anku? Tidak. Kea­daan kita sesau­dara. Coba­lah ingat: Penyer­buan Jepang. Penyer­buan Merah. Penyer­buan Sili­wa­ngi. Dan seka­rang ditam­bah satu lagi: Penyer­buan Belanda.”

“Sudah­lah, mbak, engkau tidur saja seka­rang, agar tanganmu yang patah tak banyak ber­ge­rak-gerak. Besok datang saja ke rumah sakit mil­iter Belanda. Mereka takkan tahu siapa engkau.”

Dan Sri menu­rut­kan nasi­hat adik­nya. Dir­e­bah­kan dir­i­nya di kursi besar. Kemu­dian ter­ti­dur­lah ia. Dan adik-adik­nya ikut pula ter­ti­dur di sam­ping-menyam­ping­nya di tikar di atas lantai.

MALAM ITU Sar­mini tak tidur di rumah kakak-ber­a­dik itu. Itu pun tak jadi sesalan mereka. Desas-desus sampai juga di kuping mereka, bahwa Sar­mini sedang men­cari akal untuk bisa meng­u­sir keem­pat kakak-ber­a­dik itu dan mengu­a­sai rumah dan peka­rangan mereka. Dan selama bebe­rapa bulan turut makan dengan kelu­arga kanak-kanak itu peker­ja­an­nya hanya men­curi barang apa saja yang bisa diju­al­nya.

Suatu kali ia ber­ce­rita, bahwa Tuki­jan — adik­nya — telah jadi koman­dan seksi pasukan gerilya di luar kota. Dan perem­puan itu bilang juga, bahwa barang­si­apa berani ker­ja­sama dengan Belanda akan dibu­nuh dan rumah­nya diba­kar.

Waktu keem­pat kakak-ber­a­dik itu sedang duduk-duduk di bale kayu jati di ruang bela­kang, pintu depan dige­dor-gedor orang. Sekali ini Husni yang mem­bu­ka­kan. Dan muncul diam­bang: Sucipto — kakak mereka yang dika­bar­kan mati di medan perang Birma semasa pen­du­dukan Jepang.

Keem­pat kakak-ber­a­dik itu tak lupa pada paras­nya. Tapi Sucipto sudah jauh beru­bah. Badan­nya yang dahulu kecil tinggi kini tegap besar dan mata­nya merah. Meli­hat mata yang merah itu anak itu tak maju men­de­kat. Dengan tiada disi­la­kan Sucipto terus saja masuk ke dalam. Di depan adik-adik­nya ia ber­kata:

“Aku baru dide­ta­sir di Blora. Baru tadi sore aku sampai.” Ia meman­dang adik­nya seo­rang demi seo­rang. Ber­ta­nya: “Meng­apa diam saja semu­a­nya?” Ia ber­ja­lan men­de­kati mereka. Tetapi anak-anak mundur selang­kah.

Kemu­dian dide­kat­i­nya Sri — adik­nya yang paling besar waktu itu. Ber­ta­nya lagi: “Meng­apa engkau semua diam saja?” Dan waktu tak ada seo­rang pun yang men­ja­wab ia mene­rus­kan, “bagai­mana kea­daan di sini?”

“Baik.”

“Meng­apa tanganmu, Sri?”

“Patah.”

“Besok kubawa ke rumah sakit. Tapi — meng­apa patah?”

“Jatuh dari kuda.”

“Jadi engkau turut dengan barisan penga­cau yang bisa­nya cuma mem­bu­nuh dan meram­pok itu?”

Sri diam seka­rang. Dan Sucipto pun tak men­de­sak­nya.

“Mana bapak?”

“Dibu­nuh Merah.”

Seje­nak pemuda yang ber­u­ni­form ten­tara kera­jaan itu ber­diam diri. Mata­nya yang merah ber­ki­lau-kilau, ter­haru. Ter­de­ngar ia memaki dengan suara ter­en­dam di dalam mulut. Mene­rus­kan: “Mana Is?”

“Turut dengan pasukan Merah. Barang­kali ter­tang­kap oleh Sili­wa­ngi.”

Pemuda itu meng­ge­leng-geleng­kan kepala. “Aku tak meng­erti meng­apa jadi begini.” Dise­ret­nya sebuah kursi dan ia pun duduk­lah di situ. Mene­rus­kan: “Masmu Suradi gugur di medan perang Birma. Perang di sini tak ada sekuku perang di Birma. Tapi aku sela­mat. Aku ter­ta­wan oleh ten­tara Ing­gris. Kemu­dian aku masuk ten­tara Belanda.

“Kalau engkau ang­gota ten­tara Belanda, lebih baik engkau ting­gal­kan saja rumah ini.”

“Apa? Aku ting­gal­kan? Aku datang bukan untuk meng­am­bil bagian waris­anku. Aku datang dengan maksud baik — hendak mene­ngok adik-adikku. Apakah keja­hat­anku ter­ha­dap engkau semua?”

“Kalau engkau tahu,” Diah ber­kata pelahan, “betapa kea­daan yang sudah begini beru­bah ..

“Meng­apa? Aku tahu benar kea­daan sudah jauh beru­bah. Aku tahu, lemari-lemari kaca kosong semua di rumah ini kul­i­hat.”

“Bukan. Bukan itu mak­sudku. Mak­sudku jika ada yang tahu rumah ini punya hubungan dengan ten­tara kera­jaan, dia akan lenyap dari muka bumi jadi ung­gu­kan arang.”

“Diba­kar?”

“Diba­kar.”

“Siapa yang mem­ba­kar?”

“Siapa lagi?”

Sucipto ter­ke­jut men­de­ngar per­i­ng­atan itu. Ber­kata: “Tapi engkau takkan mem­buka mulut, bukan?” pada Diah dan kemu­dian juga pada semua adik­nya.

“Kalau begitu engkau tak kenal per­u­ba­han di sini,” Diah menang­kis desakan Sucipto. “Engkau tak lagi tahu bahwa mulut di sini tak punya peker­jaan lagi selain untuk makan dan menge­luh. Engkau tidak tahu, bahwa saat ini adalah saat di mana mata meng­in­tip dan mem­bu­nuhi orang tiap saat.”

Sucipto meman­dang dengan mata ber­ta­nya.

“Mobilmu yang ber­henti di depan rumah itu…” Sri mene­rus­kan. “Apakah arti­nya itu? Semua orang akan tahu: ada ten­tara Belanda meng­a­da­kan hubungan dengan kami.” Ia diam seben­tar. Mene­rus­kan dengan suara ber­bi­sik. “Lebih baik engkau pergi.”

Tiba-tiba timbul per­u­ba­han dalam sikap Sucipto. Kema­rahan yang hebat ber­ki­lat-kilat di mata­nya yang merah itu.

“Jadi, inikah pene­ri­maan yang harus kuper­o­leh? Aku kira engkau semua akan merasa ber­te­ri­ma­ka­sih karena aku ter­le­pas dari bahaya maut — begitu jauh, di Birma. Tapi ini tidak. Engkau meng­u­sir aku dengan semau hatimu sen­diri. Engkau lebih takut pada peram­pok dari­pada ten­tara kera­jaan. Engkau harus ingat — peram­pok tak pernah punya tank rak­sasa. Tapi kami — ten­tara kera­jaan punya. Meng­apa engkau takut?”

Tak ada yang men­ja­wab. Kari­adi — anak yang paling kecil — seperti yang lain-lain juga, meng­a­wasi ser­dadu kera­jaan itu dengan diam-diam. Ia keta­kutan.

“Meng­apa diam saja semu­a­nya? Tak suka­kah engkau semua aku ada di sini? Ha … ?”

Semua ter­ke­jut. Ledakan ban mobil mena­rik mata mereka ke arah pintu depan. Dan pada daun pintu yang ter­buka sedi­kit itu, cahaya api naik-turun dengan gila­nya. Sri jadi pusat. Ber­kata lesu: “Kalau rumah ini diba­kar, eng­kau­lah yang ber­dosa. Eng­kau­lah yang mene­ra­kai adik-adikmu. Eng­kau­lah yang …

“Yang apa!” ben tak Sucipto garang.

“Engkau yang meram­pas tempat ting­gal adik-adikmu.”

“Lihat­lah, mobilmu sudah diba­kar orang.” Diah ber­kata.

Kega­rangan Sucipto tiba-tiba lenyap dan kem­bali ia mem­per­o­leh kepri­ba­di­an­nya. Ia melom­pat, lari ke pintu, mener­jang cahaya api yang ber­dansa-dansa di daun pintu. Seben­tar ter­de­ngar letusan pistol bebe­rapa kali. Cahaya api yang ber­main di pintu kian terang dan kini melon­jak-lonjak kegi­rangan. Dan belum juga anak-anak itu ber­ge­rak dari tempat duduk­nya.

“Seka­rang sama­lah nasib kita dengan kelu­arga Singo,” Diah ber­bi­sik. Pada air muka­nya mem­ba­yang keta­kutan.

“Ya, seka­rang datang­lah sam­bungan pen­de­ri­taan untuk kita,” Sri menyam­but.

“Mari kita ke luar, mbak,” Kari­adi meng­a­jak.

Seka­rang tiap mata meman­dang wajah Kari­adi yang lesu. “Ya, barang­kali lebih baik kita semua ke luar rumah.”

Dan kemu­dian datang juga saat yang meng­a­khiri segala keta­kutan, kekha­wa­tiran dan kece­masan itu. Din­ding-din­ding rumah dilem­par-lem­pari orang dengan benda-benda yang ringan. Seben­tar menyu­sul gas bensin yang meng­em­bara di ruang udara malam hari itu. Sam­bung­an­nya: hanya bebe­rapa detik kemu­dian — rumah itu telah hilang dalam seli­mutan api.

Dan Cipto tak juga kem­bali.

Dan per­to­longan pun tak ada datang.

Dan di kala mereka bisa melo­los­kan diri mela­lui pintu depan, nampak oleh mereka, truk Sucipto masih menyala, dan rang­ka­nya merah menyala seperti bara di dapur.

Mereka pergi menyu­ruk-nyuruk ke ladang — men­ja­uhi api. Sampai di pojok kebun, di balik-balik rumpun leng­kuas mereka ber­henti. Kari­adi menyem­bu­nyi­kan mata­nya pada dada Diah. Husni meman­dangi api dengan mata ber­kaca-kaca. “Moga-moga mereka tak tahu kita ada di sini,” Diah mendoa.

Angin malam yang keras men­ja­wabi doa itu. Dan api kian men­ji­lat-jilat langit.

Hutomo mem­per­main-main­kan kepa­la­nya seperti orang yang hendak meng­a­jar lawan­nya. Diah mena­ngis tapi tak ter­de­ngar. Hanya air-mata­nya ber­ti­tik-titik dan seben­tar-seben­tar gemer­lapan bila kena cahaya api yang sedang mene­lan rumah­nya.

Sri diam saja. Ia tak ber­ge­rak-gerak dari per­se­m­bu­nyi­an­nya. Hanya mata­nya meng­em­bara dari sudut ke sudut.

“Dan itu warisan yang ter­a­khir untuk kita,” Diah ber­bi­sik antara sedu dan sedan­nya.

“Ya, itulah pening­galan yang satu-satu­nya.”

Bisik-bisik itu tiba-tiba mati. Ada mereka dengar lang­kah kaki seregu manu­sia melom­pati pagar — lari ke jurusan kali. Api kian lama kian besar. Bunyi bambu mele­tus ter­de­ngar antara seben­tar. Tapi tak ada seo­rang pun datang meno­long. Mereka hanya men­je­nguk dari jen­dela saja sambil meng­u­cap­kan bisikan: “Untung­lah bahwa kita tak punya hubungan dengan Belanda,” ucapan yang selalu ter­de­ngar oleh kuping dan oleh hati dan oleh saling-meng­erti. Tak seo­rang pun datang meno­long mema­dam­kan keba­karan. Tiap orang lebih cinta pada kese­la­mat­an­nya masing-masing. Lama-kela­maan nyala yang men­ji­lati langit kian turun, kian turun. Bunyi keba­karan itu pun turut ber­ku­rang. Akhir­nya sunyi senyap di seke­li­ling ke empat mahluk itu. Ter­de­ngar pelahan: “Mbak, buku-buku habis ter­ba­kar,” suara Kari­adi.

Tak ber­ja­wab.

“Mbak? Bagai­mana, mbak? Seka­rang pakaian kita ting­gal sepa­sang ini saja­lah,” suara Husni. Tak ber­ja­wab. Ter­de­ngar Hutomo ter­sedu-sedan.

“Meng­apa mena­ngis Hutomo?” suara Diah.

Tak ber­ja­wab.

“Alang­kah baik bila ibu masih ada, dan bapak juga,” desis Husni. Tak ada sam­butan.

Asap hitam menya­put seba­gian dari langit biru kelam. Sekali-sekali angin datang meniup tapi tak disa­dari oleh ke lima anak yang sedang ber­se­m­bu­nyi di rumpun leng­kuas itu.

“Lebih baik kita ting­gal­kan tempat ini,” bisik Diah. “Ah, salah sangka telah menye­bab­kan kita dimu­suhi pasukan gerilya…”

“Dan barang­kali juga oleh tetangga sen­diri,” Sri menyam­bung dengan suara patah-patah. Tak ber­ja­wab.

Kemu­dian ter­de­ngar derak-derik tiang meng-arang yang meng­u­rai diri. Antara seben­tar rumpun leng­kuas ber­de­sik-desik.

Dan: “Biar­lah. Dari peng­a­laman-peng­a­laman yang pahit ini, aku men­da­pat pel­a­jaran — kita semua bisa meng­a­tasi semua ini bila bisa meng­hi­lang­kan diri sen­diri. Ang­gap­lah diri sen­diri tak ada, dan segala keseng­sa­raan pun jadi tak ada,” suara Sri.

Tak ber­ja­wab. Dan api kian men­de­kati bara­nya. Kari­adi jatuh ter­ti­dur dengan kepala di atas pang­kuan Diah. Kini tak ada seo­rang pun di antara ke lima anak itu dapat ber­se­lera untuk ber­ca­kap atau ber­kata. Keba­karan hampir-hampir tak menim­bul­kan bunyi lagi. Kadang-kadang saja detak-detik tiang meng­u­rai diri meng­a­get­kan hati. Tapi jarang sekali — dan tambah lama tambah jarang. Akhir­nya rumah itu meru­pa­kan tim­bunan bara belaka.

Tiba-tiba ter­de­ngar suara kelu: “Ah,…” Itu saja.

Dan hari baru pun datang­lah. Ke lima anak itu bangun dan ber­ja­lan. Ber­ja­lan lambat dengan tiada tahu akan ber­henti atau duduk di mana.

Para pemuda dan pemudi daerah kami yang kecil, yang tak punya lap­angan peker­jaan yang luas, yang tanah per­ta­ni­an­nya kurus, yang tak pen­ting dalam ilmu bumi dan per­ju­angan kebu­da­yaan itu, kini meng­ha­dapi kea­daan yang tak pernah ter­jadi “sebe­lum­nya. Seba­gian besar dari pemuda-pemuda itu mening­gal­kan dae­rah­nya untuk tak kem­bali lagi, karena Blora jarang mem­beri harapan akan kehi­dupan yang baik bagi pen­du­duk­nya. Seba­gian lagi mening­gal­kan kam­pung-halaman dan meng­ga­bung­kan diri dengan pasukan gerilya di hutan-hutan: jati. Seba­gian lagi turut ter­se­ret oleh arus Merah dan ikut mem­bu­nuh atau dibu­nuh. Seba­gian lagi turut Repub­lik dan mati oleh sen­jata Merah dan Belanda. Seba­gian lagi kehi­langan ing­atan atau seba­gian dari paru-paru­nya karena keta­kutan atau kehi­langan harta benda yang dicin­ta­i­nya. Dan kemu­dian seba­gian para pemuda yang ting­gal meng­ga­bung­kan diri dengan ten­tara Belanda. Blora yang tak pen­ting itu kini sunyi. Tapi barang-barang luar-negeri mem­ban­jir­i­nya. Tiap hari Belanda menang­kapi orang untuk dija­di­kan tawanan, pega­wai atau dija­di­kan bang­kai — presis seperti yang diper­buat oleh Jepang, oleh Merah dan oleh Sili­wa­ngi atau oleh Repub­lik tadi­nya.

Kini per­da­gangan antara daerah gerilya dan kota ber­ja­lan ramai. Run­tuhan-run­tuhan rumah ramai dike­ru­bungi oleh pen­du­duk untuk dihan­cur­kan sama sekali: meram­poki tegel dan batu bata. Kehi­dupan sehari-hari mulai kem­bali seperti dulu — sebe­lum ada per­tum­pahan darah, semasa kata perang hanya diper­gu­na­kan dalam kamus dan dong­eng. Dan kini, selain per­da­gangan dan kehi­dupan sehari-hari, ada pula yang takkan kem­bali lagi: tubuh-tubuh yang telah mati, kein­dahan budi yang telah dica­cat­kan dendam …

Waktu peme­rin­tahan dikem­ba­li­kan pada bangsa sen­diri, dan Belanda angkat kaki, orang telah lelah dengan peng­a­laman perang dan ledakan-ledakan granat serta ledakan-ledakan di hati sen­diri. Seben­tar orang-orang yang menari-nari riang untuk mene­rima pang­kat-pang­kat besar ber­seru-seru mem­be­sar­kan sema­ngat pen­du­duk. Tapi tak lama. Kemu­dian semua ber­ja­lan aman seperti biasa. Dan masing-masing ber­ha­dapan dengan diri sen­diri dan mem­buat per­hi­tungan dengan diri sen­diri pula.

Sete­lah peme­rin­tahan sen­diri ber­diri dengan garang­nya di atas awang-awang kota kami yang tak pen­ting itu, rumah Sri kakak- . ber­a­dik masih tetap gubuk. Seka­li­pun kata pem­ba­ngu­nan hampir tiap hari meng­a­muk dalam pen­de­ng­aran, mereka tak jua memu­lai pem­ba­ngu­n­an­nya. Mereka tak punya tenaga dan modal untuk mem­ba­ngun apa pun dengan sisa-sisa hidup­nya. Dan pada suatu kali, digali oleh Sri barang-barang emas pem­be­rian Is. Barang-barang itu dise­rah­kan­nya pada peme­rin­tah. Dan pega­wai yang mene­ri­ma­nya memuji-muji keju­jur­an­nya. Tapi seca­bik pun ia tak mene­rima tanda pene­ri­maan. Tapi ia pun tak mem­ban­tah hal itu.

Pra­mo­edya Ananta Toer: Cerita dari Blora

Sering Sri ber­kata pada adik-adik­nya dan hati­nya sen­diri yang sedang mem­be­ron­tak: “Biar­lah semua itu ter­jadi. Biar­lah. Kita harus bisa meng­hi­lang­kan diri kita sen­diri. Kita anggap saja diri kita ini tak ada. Dan semua akan ber­ja­lan dengan lancar.”

Dan sering juga Diah menyam­bungi dengan suara men­de­rita: “Biar­lah bajingan-bajingan tetap jadi bajingan. Biar­lah yang baik tetap baik. Kita ber­lima menye­rah pada kea­daan. Ya, kita menye­rah. Dan tiada guna­nya lagi kita mem­be­ron­tak.”

Waktu ten­tara Belanda mena­rik diri, banyak juga di antara pemuda dan pemudi ikut meng­ungsi dengan mereka. Tapi ke lima kakak-ber­a­dik itu tak mau ikut-campur dengan segala-gala­nya. Dan walau­pun Sri telah sembuh, ia tak pernah datang ke alun-alun untuk meng­ha­diri rapat rak­sasa.

Jakarta, VI-1950



Roman

Larasati

Cerita bersambung di Bintang Timur, 1960; dibukukan Hasta Mitra, 2000. Teks dari edisi Lentera Dipantara.

Setelah mendapat tempat di pojok, kapten itu men­de­kat­kan bibir­nya pada kuping­nya, ber­bi­sik per­la­han penuh pera­saan, “Aku memang banyak ber­sa­lah, Ara.” Ia tak begitu yakin akan sua­ra­nya.

Mulut­nya kian dide­kat­kan dan sua­ra­nya dike­ras­kan, “Tapi kau pun bukan ter­ke­cu­ali. Kau juga banyak ber­sa­lah padaku.”

Lara­sati mem­bu­ang pan­dang keluar jen­dela wagon. Orang masih ber­de­sak-desak hendak masuk ke dalam dan mengu­a­sai tempat yang enak di tengah-tengah kepa­datan aneka ragam manu­sia itu. Keri­ngat mene­tes sete­lah meng­gu­ris bedak pada peli­pis­nya. Sepagi itu!

Ia tak ingin men­de­ng­ar­kan kata-kata opsir itu lebih lama. Ia sudah kebal ter­ha­dap rayuan, kebal ter­ha­dap kata-kata per­pi­sahan, yang keras, yang lunak, yang meng­hiba-hiba. Tapi sung­guh, pria gagah yang seo­rang ini saja yang pernah mena­wan hati­nya begitu lama. Waktu ia ber­pa­ling ke dalam wagon lagi, hampir-hampir pipi­nya yang montok. seperti pauh dila­yang ber­sing­gungan dengan bibir peng­an­tar­nya.

“Kau hendak melu­pa­kan semu­a­nya, Ara?” opsir itu menu­duh.

Lara­sati ter­se­nyum sambil menun­duk.

“Sampai-sampai menen­tang mataku kau tak mau lagi, Ara!” Opsir itu mena­rik seta­ngan katun hijau tipis dari kan­tong dan menyeka teng­kuk dan leher­nya.

“Kau takkan lupa­kan aku, bukan?” Ia masuk­kan kem­bali seta­ngan­nya ke dalam kan­tong. “Kau kem­bali lagi kepa­daku, bukan?”

“Seti­dak-tidak­nya, aku takkan lupa­kan kau.”

Wajah opsir itu ber­seri-seri. Dike­lu­ar­kan­nya sebuah sampul kuning dari saku keme­ja­nya dan dise­rah­kan­nya pada Lara­sati, “Ini akan ber­guna sampai di per­ba­ta­san. Mung­kin juga sampai di Jakarta. Kalau kau sudah di sana, ingat-ingat, Ara, jangan lupa pada Yogya1 lagi, kirim­lah surat dulu,” dan tanpa menunggu jawaban ia mene­ro­bos para penum­pang yang desak-men­de­sak, siksa-menyiksa satu sama lain, untuk kemu­dian menongol di bawah jen­dela.

“Kau lebih cantik dari yang sudah-sudah, Ara.”

Lara­sati ter­se­nyum dan disen­tuh­nya pipi opsir itu dengan sambil lalu. Tapi dalam bayang­an­nya ter­ben­tang hari depan yang gilang-gemi­l­ang di daerah pen­du­dukan Nica. Ia akan terjun kem­bali di gelang­gang film. Dan selu­ruh rakyat, dari Sabang sampai Merauke, akan ber­tem­pik-sorak untuk­nya. Selu­ruh pria bero­tak dan ber­jan­tung dari Merauke sampai ke Sabang akan memu­ja­nya, akan bere­butan memi­l­iki tubuh­nya. Kem­bali ia ter­se­nyum. Tapi ia ber­janji dalam hati­nya, tidak bakal aku main untuk pro­pa­ganda Belanda, untuk maksud-maksud yang memu­suhi Revo­lusi. Aku akan main film yang ikut meng­gem­pur pen­ja­jahan.

“Sukses, Ara!”

“Sela­mat!”

Peluit kon­dek­tur ikut menyam­but. Lambat-lambat kereta mulai mening­gal­kan stas­iun Yogya. Bebe­rapa lampu jalanan yang belum dipa­dam­kan, nampak muram kelap-kelip seperti harapan yang tidak menentu. Tama­sya per­ja­lanan mulai susul-menyu­sul silih ber­ganti. Di jalan-jalan, di sawah, di ladang, di kebun mulai nampak pra­ju­rit-pra­ju­rit Revo­lusi ber­baju mil­iter yang tidak sera­gam, beram­but gon­d­rong dan nampak seperti tidak pernah mandi seumur hidup­nya.

Kalau surat dari Kapten Oding itu beres, pikir­nya, nanti sore aku sudah di Cikam­pek, besok di Jakarta, Jakarta! Oi, Jakarta! Akan ter­bukti nanti apakah aku, seba­gai bin­tang film juga sang­gup ber­ju­ang dengan seniku atau tidak.

Kereta men­de­ngus-dengus payah. Antara seben­tar gum­palan asap hitam mela­yah rendah mene­ro­bosi jen­dela, mena­bur­kan abu batu-arang dekil dan jahil. Ia ber­diri men­coba menu­tup kaca jen­dela. Ah, rewel benar jen­dela ini. Dia tak mau diung­kit. Seo­rang pemuda di sam­ping­nya ber­diri meno­long­nya, dengan mata tetap meng­a­was­i­nya. Sete­lah jen­dela kaca ter­tu­tup, pemuda itu ter­se­nyum memu­lai. Lara­sati meng­ang­guk ber­te­ri­ma­ka­sih.

Ia senang meli­hat berahi yang ter­pan­car pada sepa­sang mata muda itu. Biar dia paling sedi­kit tujuh tahun lebih muda dari aku—dia toh masih menga­gumi dan meng­i­ng­ini aku.

“Tidak main lagi?” tiba-tiba pemuda itu ber­ta­nya.

“Di zaman seperti ini,” jawab­nya, “orang tak sempat mem­buat film.”

“Cuma di pang­gung saja selama ini?”

“Cuma di pang­gung.”

Dan pemuda itu keha­bisan peluru, ter­me­nung-menung di bang­ku­nya, nampak ber­pi­kir keras men­cari alasan untuk dapat meng­u­lur per­ca­kapan. Tak ber­ha­sil, Lara­sati mem­per­ha­ti­kan­nya seje­nak, menik­mati kemu­daan anak itu, mem­bu­ang pan­dang keluar jen­dela, menge­luh dalam hati­nya: Tiga tahun lagi aku sudah tiga puluh! Cepat­nya umur manu­sia ini! Tiga tahun lagi! Lima tahun lagi! Dan semua orang akan tahu aku sudah nenek-nenek! Ia ketuk-ketuk­kan telun­juk­nya pada deng­kul dengan gugup­nya. Lima tahun lagi! Lima tahun lagi tidak­lah lama! Dan sesu­dah itu? Sesu­dah itu masuk arsip! Arsip! Ya, Allah, lam­bat­kan kira­nya hidupku ini.

Nampak kedua belah tangan­nya ber­ge­rak-gerak gugup. Lima tahun! Lima tahun! Besok atau lusa yang lima tahun itu pun akan sele­sai. Lima tahun! Ia ter­ti­dur.

Ia ter­ba­ngun waktu kereta ber­henti. Manu­sia kian padat men­je­jali wagon. Sekali lagi ia lem­par­kan pan­dang ke luar jen­dela. Baju hijau! Barang ke mana mata meman­dang, rambut gon­d­rong, mata yang garang, ting­kah-laku yang sigap. Kapan dunia dulu datang kem­bali? Dunia yang kaya akan warna? Dunia tanpa peluru? Dunia yang hanya berisi sukses, tepuk tangan, rayuan, dan per­jan­jian-per­jan­jian malam yang menye­nang­kan? Dan pagi dengan rahmat matari, pulang ke rumah sen­diri di mana ibu masuk ke kamar dan memi­jit selu­ruh tubuh. Dan sambil tiduran ia serah­kan lem­baran ratusan kepada ibu. Dan ia meng­im­pi­kan kese­nangan dan kein­dahan untuk besok malam? Dan tauke-tauke datang mena­war­kan peranan yang meng­gair­ah­kan. Ia dipan­tul-pan­tul­kan kem­bali di atas layar perak, seperti dewi, idaman setiap pria, benar-benar bersih tanpa noda, seperti bunga tera­tai di kebun raya Bogor?

“Nona nampak bingung, mero­kok?” pemuda itu menyo­dor­kan seba­tang rokok.

Ia ter­se­nyum meno­lak. Nona, dia bilang. Berapa saja pria seperti kau yang sudah kuba­lik­kan kepa­la­nya? Nona, kata­nya. Dan kalau nyonya, nyonya siapa pula? Ia meng­ge­leng.

“Tidak, tidak. Terima kasih,” Lara­sati men­ja­wab tak peduli.

“Pergi ke mana?”

“Cikam­pek.”

“Main di sana?”

“Ya,”

“Aku juga ke Cikam­pek. Mana rom­bong­an­nya?”

Lara­sati kecut ber­de­bar-debar. Siapa pemuda ini? Penye­li­dik? Ia pura-rupa tak dengar.

“Mana rom­bong­an­nya?” pemuda itu ber­ta­nya lagi.

“Sudah berang­kat dulu,” pemuda itu nampak curiga.

Per­ca­kapan mati. Setiap penum­pang teng­ge­lam dalam piki­ran­nya masing-masing. Pemuda itu ber­pa­ling pada­nya dengan mata meng­impi. Lara­sati sen­diri ber­pa­ling pada dir­i­nya sen­diri. Dan kereta ber­ja­lan terus.

Lara­sati ingin tidur lagi melu­pa­kan masa dan dunia yang kini tengah dipu­tus­kan­nya dari dir­i­nya. Tak dapat! Peng­a­laman semasa Revo­lusi ini, dengan opsir-opsir Revo­lusi, benar-benar tidak mem­be­ri­nya keka­yaan barang seribu rupiah pun! Seti­dak-tidak­nya opsir-opsir Jepang masih dapat mem­be­ri­nya duit. Saburo Sakai, itu Letnan Kolo­nel Ang­katan Laut Jepang, saha­bat bekas per­dana men­teri dan memim­pin suatu partai Sosi­a­lis itu yang giat menen­tang kola­bo­rasi dengan Jepang! Apa saja yang tak dite­ri­ma­nya dari dia: dari karung beras sampai gelang zamrud buatan Tiong­kok dan cincin delima buatan Birma! Dan Sji­mizu: dari kimono sutra kom­p­let dengan bakiak dan kipas­nya sampai pada raha­sia penyer­buan Jepang ke Aus­tra­lia! Ah, itu ser­dadu manja kalau menang perang sekali saja! Keme­nang­anku lebih dari pada­nya. Aku pernah mengu­a­sai dia hanya karena aku tidak seperti perem­puan-perem­puan lain—aku tidak pernah ber­a­nak. Mung­kin ada satu keme­nangan lain padaku: kele­bihan yang dikur­ni­a­kan Tuhan. Kele­bihan dari­pada yang lain-lain: kewa­ni­taan sejati. Dan opsir-opsir Revo­lusi itu… Sar­tono, Sar­d­jono, Hassan Basri, Gultom… ia ter­se­nyum tak nyata— begitu muda, belum begitu ber­peng­a­laman, lebih banyak peten­tang-peten-teng mau men­da­pat­kan hati­nya, tubuh­nya!

Ia ber­ge­leng-geleng menu­rut irama kereta. Matari dengan cepat men­daki langit. Dan harap­an­nya sen­diri men­daki ke cak­ra­wala, jatuh ke luar mela­yah dan mera­yap ter­bang melam­bung kem­bali: Jakarta! Oi, Jakarta! Aku boleh seo­rang pela­cur! Aku boleh seo­rang sampah masya­ra­kat! Aku seo­rang bin­tang film gagal! Tapi ber­a­dat! Tidak. Aku juga punya tanah air. Aku, Lara­sati, bin­tang Ara. Sedang sebutan Miss pun aku tak pernah pakai. Ara! Cukup Ara. Meng­apa mesti dengan Miss? Sebutan itu akan mem­buat aku ber­ku­lit putih. Apakah sebutan itu cuma tan­tangan kaum pria, kalau aku milik siapa saja?

Dan seperti ada per­sam­bungan piki­ran, pemuda di depan­nya itu ter­ba­ngun, meng­o­cok mata, mata yang meminta maaf, ber­ta­nya ingin, “Meng­apa tak ada Miss di depan nama nona?”

Lara­sati meng­ge­leng. Kalau besok sampai di pos Belanda per­tama, Bekasi, kem­bali orang-orang asing dari benua di sebe­rang dua atau tiga samudra akan menye­but­nya Miss kem­bali, seperti dulu—sebe­lum si Jepang datang seba­gai peme­nang dan pergi seba­gai kalahan. Dan ia yakin, begitu men­da­rat di bumi pen­ja­jahan Belanda, paling sedi­kit seo­rang letnan akan menyam­but tangan­nya—letnan ber­mata abu-abu mung­kin—dan meng­an­tar­kan­nya, paling sedi­kit: dengan jeep. Seperti dulu per­tama kali ia ber­temu dengan Nis­ji­zumi di Har­moni. Miss, Miss Ara, bukan? Aha, Miss Ara. Sudah lama aku cari-cari. Kata­nya di Sur­a­baya. Aku cari di Sur­a­baya. Kata­nya di Sema­rang, aku cari di Sema­rang.

Seka­rang cuma di sini. Ia tem­busi mata-sipit Nis­ji­zumi. Dan ia dapat peranan dalam film pro­pa­ganda Jepang, “Mari kita ke laut.” Dan ia dapat uang. Ia dapat nyewa rumah di kam­pung dengan ibunya. Dan ia pun men­da­pat­kan juga seba­gian dari tubuh­nya si Jepang. Nanti juga—di bumi pen­ja­jahan. Bekasi yang bakal menen­tu­kan! Bekasi! Tapi biar bagai­man­a­pun, aku tidak akan ber­khi­a­nat. Aku juga punya tanah air. Jelek-jelek tanah airku sen­diri, bumi dan manu­sia yang meng­hi­dupi aku selama ini. Cuma bina­tang ikut Belanda.

Dan mil­iter-mil­iter itu—ia ingat nasib Nis­ji­zumi pada per­mu­laan Revo­lusi. Doakan aku sela­mat, Ara. Mung­kin aku mati di tengah jalan. Sebe­lum mati aku mesti pergi buat ber­temu anak-ang­katku. Ia pergi mem­bawa seber­kas doku­men raha­sia. Dan ia tak pernah kem­bali pada­nya lagi. Nya­wa­nya, rohnya, jiwa­nya, daging­nya, tulang­nya, bahkan bulu­nya, dica­cah orang di Sawah Besar. Men­da­dak ia tidak per­caya pemuda di hadap­an­nya seo­rang preman di masa Revo­lusi Agung ini. Ber­ta­nya men­de­sak, “Meng­apa tidak masuk mil­iter? Semua pemuda jadi pra­ju­rit.”

“Aku juga mil­iter, nona, dalam tugas penye­li­dikan!”

Benar juga duga­anku, pikir­nya. Menye­li­diki apa anak muda ini? Ia ter­se­nyum kem­bali. Tiba-tiba ia kaget karena satu piki­ran, jangan jangan anak ini memata-matai­nya. Ia meng­gi­gil sedi­kit. Tapi aku tidak punya kesal­ahan. Dengan gugup dica­ri­nya surat kete­rangan dari Kapten Oding. Masih aman di dalam tas tangan. Asal saja tidak keta­huan kepal­su­an­nya di Cikam­pek nanti. Piki­ran, bahwa mung­kin anak itu memata-matai­nya, mem­buat ia ter­paksa ramah kepa­da­nya.

Per­ca­kapan yang meriah ter­jadi. Akhir­nya sam­pai­lah ia ber­ce­rita ten­tang kari­er­nya, ten­tang kemas­y­hu­r­an­nya, ten­tang kebang­ga­an­nya. Kemu­dian ten­tang orang tuanya, seo­rang mandor per­ke­bunan di suatu tempat di Deli—per­ke­bunan tem­ba­kau yang meng­ha­sil­kan kulit cerutu ter­baik di selu­ruh dunia. Ia ceri­ta­kan bagai­mana kehi­dupan per­ke­bunan seperti yang dike­ta­hu­i­nya. Dan keseng­sa­raan yang menimpa kuli-kuli kon­trak yang ditipu men­tala-men­tala atau dicu­lik dari kam­pung­nya masing-masing di Jawa. Ia dila­hir­kan di tengah-tengah per­ke­bunan tem­ba­kau ini, dan dibe­sar­kan sampai beru­mur sepu­luh. Waktu bapak­nya mening­gal, ia dan ibunya pulang ke Jawa. Ia tak tahu apa saja peng­ha­silan ibunya waktu itu. Sepu­cuk surat dari Tuan Emp­loye yang disam­pai­kan­nya pada seo­rang Ing­gris di Jakarta, meng­u­bah kehi­dupan kelu­ar­ga­nya. Ibunya diam­bil oleh orang Ing­gris itu jadi pengu­rus rumah-tangga. Dan di tengah-tengah kelu­arga ini ia dibe­sar­kan dan ber­ke­sem­patan men­da­pat peng­a­jaran dan…

Kereta ber­henti. Matari telah rendah di barat Cikam­pek. Pemuda itu meno­long­nya menu­run­kan koper-koper kecil dari karton. Seben­tar ter­de­ngar bebe­rapa kali letusan kera­bin. Hati­nya meng­gi­gil. Di Yogya tidak seperti ini. Seki­ra­nya pemuda penye­li­dik ini mela­por­kan kebo­hong­anku— meng­apa aku tadi bilang mau main di Cikam­pek dan rom­bongan sudah jalan dulu—seki­ra­nya keta­huan aku bohong— mil­iter akan curiga. Sebuah teri­akan dan ledakan kera­bin ter­de­ngar lagi. Jangan-jangan besok atau lusa sen­jata itu dile­dak­kan untukku, dan teri­akan itu dije­rit­kan untuk kema­ti­anku. Ia coba mem­be­ra­ni­kan hati­nya. Seti­dak-tidak­nya di Pur­wa­karta sana, hanya bebe­rapa kilo­me­ter dari sini, dike­ta­hu­i­nya ting­gal seo­rang sutra­dara yang bisa menye­la­mat­kan jiwa­nya kalau ada apa-apa, Oom Asmara! Hati­nya berani sedi­kit. Moga-moga Oom Asmara seo­rang peja­bat pen­ting di keten­ta­raan seka­rang.

Ter­nyata tidak ada peme­rik­saan apa-apa.

Tukang dokar mem­ba­wa­nya ke peng­i­napan di desa Pucung—sebuah bangu­nan kayu, ber­din­ding kayu dan bambu. Ia rebah­kan diri di atas bale kayu, ber­ka­sur dekil tanpa seprei. Mendoa per­la­han-per­la­han: “Sela­mat aku, ya Tuhan. Aku tidak­lah seja­hat seperti Kau sang­ka­kan. Kau telah beri aku tubuh molek ini, dan jadi hakku untuk mem­per­gu­na­kan­nya. Ya, Allah lewat­kan aku dengan sela­mat dari demar­kasi2. Hin­dar­kan aku dari kecu­r­i­gaan.”

Tiba-tiba kamar­nya dike­tuk orang dengan per­la­han dari luar. Ia kaget, ter­pe­ran­jat bangun. Moga-moga pela­yan meng­an­tar­kan kopi. Ia duduk mem­per­ha­ti­kan. Ketukan itu ber­u­lang ter­de­ngar men­de­sak, memaksa. Hati­nya men­jadi kecil, jan­tung­nya ber­de­baran dengan darah tebal. Ia mem­per­ha­ti­kan suara-suara lain. Sunyi. Tiba-tiba dide­ng­ar­nya suara yang meme­rin­tah, “Buka!”

Ia buka pintu. Dan: seo­rang per­wira piket berada di hadap­an­nya.

Kem­bali ia merasa kecut. Per­wira piket itu meng­ang­guk sedi­kit pada­nya—sedi­kit saja. Ia merasa seperti tak layak men­da­pat ang­gukan lebih banyak. Tubuh­nya lang­sing, lebih banyak dapat dika­ta­kan kurus. Beru­mur tidak lebih dari 22 tahun, biar­pun wajah­nya menam­pak­kan suatu kesung­guh-sung­guhan yang menye­ram­kan. Dan wajah itu pucat. Sejak dulu ia curiga pada wajah-wajah pucat: tanda-tanda pera­saan yang tak ter­ken­da­li­kan, nafsu besar, tidak segan-segan mela­ku­kan keke­jaman untuk men­ca­pai mak­sud­nya.

Cam­bang, kumis, jeng­got yang dico­ba­nya dibi­ar­kan rimbun, untuk mem­beri kesan revo­lu­si­o­ner, tumbuh begitu jarang, dan dua garis meng­gu­rat di bawah mata­nya. Sepu­cuk kolt ter­se­lit telan­jang pada sabuk kuda­nya yang telah tua, dan pedang samu­rai bin­tara-bawahan, begitu pan­jang, buruk, dan cang­gung, meng­ge­ser ubin kadang-kadang. Seti­dak-tidak­nya di Yogya orang tak begitu keli­hatan seram.

Dan matari pelan-pelan mulai teng­ge­lam.

Lampu lis­trik di ruangan tengah dari 10 watt menyala begitu muram. Juga lampu dalam kamar­nya tidak lebih terang.

Tanpa disi­la­kan per­wira suban­sirei itu masuk ke dalam kamar­nya. Tanpa bicara ia menun­juk pada koper. Ter­buru-buru Lara­sati mem­bu­ka­nya. Ia men­coba senyum. Dalam bayang­an­nya nampak Oom Asmara di Pur­wa­karta. Dan ia meng­ha­rap si Oom suka meno­long­nya bila kesu­sahan menimpa dir­i­nya. Sebe­lum ia dapat senyum, per­wira piket telah duduk di atas kasur ran­jang yang begitu dekil. Lara­sati men­coba mem­bo­hongi keta­kut­an­nya dengan merayu, tetapi keta­kutan lebih ber­ku­asa atas selu­ruh keha­dir­an­nya. Cikam­pek ini, ter­ke­nal di Yogya seba­gai tempat seram, di mana pra­ju­rit muda begitu garang dan ber­hati dingin. Ia lebih suka ber­ha­dapan dengan rak­sasa mem­bawa belati telan­jang di tangan, asal wajah­nya merah segar, tidak pucat. Seti­dak-tidak­nya si merah segar akan dapat diba­lik­kan kepa­la­nya dalam satu atau dua sekon.

“Sila­kan pak,” ia memu­lai. “Tidak ada apa-apa di dalam­nya. Hanya sedi­kit pakaian. Sila­kan periksa.”

Per­wira piket itu men­ja­rah wajah­nya dengan pan­dang­nya. Lara­sati meng­gi­gil tak ken­tara. Dicu­r­i­nya pan­dang pada kolt telan­jang. Tapi opsir muda itu nampak tak ada niat untuk mem­per­gu­na­kan sen­ja­t­a­nya.

“Tidak dipe­riksa, pak?” piket itu tak mem­per­ha­ti­kan koper­nya.

“Surat kete­rangan,” perin­tah­nya.

Ia merasa lega sedi­kit. Seti­dak-tidak­nya sua­ra­nya tak mengan­dung keke­jaman. Buru-buru ia ambil surat kete­rangan dari tas tangan­nya. Opsir itu mene­ri­ma­nya, hanya mena­tap wajah­nya tajam-tajam. Waktu ia dapat menang­kap kobaran berahi pada mata si wajah pucat itu, ia mulai dapat mengu­a­sai dir­i­nya. Ia tak ber­beda dengan laki-laki lain­nya. Lara­sati men­coba mem­bu­juk.

“Minum, pak?”

Per­wira itu meng­ang­guk tanpa meme­riksa surat­nya. Dan Lara­sati tidak berung­kit dari tem­pat­nya ber­diri. Memang­gil. Pela­yan disu­r­uh­nya bawa­kan dua gelas kopi. Kemu­dian duduk di atas salah sebuah dari kursi kayu duren di dalam kamar peng­i­napan itu. Waktu pela­yan masuk mem­bawa kopi, yang begitu cepat layan­an­nya, segera bin­tang film itu menu­tup dan mengunci pintu dari dalam. Aku harus sela­mat­kan diriku apa pun juga cara­nya. Mung­kin aku datang kemari dicu­r­i­gai akan meng­han­cur­kan moril para per­wira. Dan sesung­guh­nya, baru sekali itu Lara­sati menya­dari ber­buat suatu kehi­naan: mengunci pria, seo­rang per­wira sedang ber­tu­gas, hanya berdua dengan dir­i­nya sen­diri. Tapi ia tidak peduli.

Per­wira muda belia itu meraba kol­t­nya.

“Dari mana?” tanya­nya dingin, tanpa tekanan ber­ta­nya.

“Ada dalam kete­rangan, pak.”

“Dari mana, aku ber­ta­nya.”

“Yogya.”

“Huh, Yogya.”

“Pernah ke Yogya, pak?”

Ia tak men­ja­wab. Kem­bali sema­ngat Lara­sati turun, dan ia merasa gagal dalam per­co­ba­an­nya untuk mem­bu­juk.

“Mau apa ke Cikam­pek,” tanya­nya tanpa tekanan.

Ia men­jadi gugup. Ia ter­i­ngat pada pemuda penye­li­dik dalam pakaian preman tadi. Ia tahu, ia telah ber­kata tidak benar kepa­da­nya. Mung­kin ini bun­tut­nya. Ia menun­duk. Waktu kem­bali meng­ang­kat mata, per­wira ber­wa­jah pucat itu masih men­ja­rah dengan pan­dang­an­nya.

Tiba-tiba peng­i­napan men­jadi ramai. Ter­de­ngar bebe­rapa lang­kah sepatu bot ber­de­ra­pan. Sese­o­rang ber­seru riang: “Mana Ara! Ara! Mana Ara!”

Ter­de­ngar mereka ber­henti di depan pintu kamar Lara­sati. “Hai, bung pela­yan, mana tamumu bin­tang film Ara?”

Ter­de­ngar lang­kah kaki telan­jang pela­yan ber­la­rian meng­ham­piri. Ter­de­ngar bisik-bisik tidak nyata. Kemu­dian lang­kah-lang­kah sepatu bot ter­de­ngar ber­hati-hati pergi men­jauh, lenyap dalam malam kota kecil Cikam­pek.

Per­wira piket itu mena­rik nafas dalam. Lara­sati ter­ke­jut. Begitu keras hem­busan nafas itu. Baru keli­hatan per­wira itu ter­se­nyum. Dan meman­dang­nya dengan ramah—ramah­nya seo­rang pria pada wanita yang dike­hen­dak­i­nya— Lara­sati mem­ba­las senyum­nya. Kini bin­tang film itu meng­erti: keda­tangan­nya di Cikam­pek telah men­jadi berita yang dike­ta­hui setiap orang. Dan piket di hadap­an­nya ini—ia merasa geli seka­rang—dia pasti lebih tahu dari­pada yang lain-lain itu. Dia tahu, yang di hadap­an­nya tidak lain dari­pada Ara, bin­tang film Indo­ne­sia ter­ke­muka. Keta­kutan, kece­masan, dan keke­cut­an­nya seka­li­gus lenyap. Ia ambil kopi, duduk di sebe­lah tamu­nya di atas kasur dekil. Anak kecil ini, pikir­nya, dia mau coba-coba jadi buaya, tapi peng­a­laman dia tidak punya!

Seka­rang ia dapat mene­ro­pong tamu­nya agak jelas. Opsir itu mene­rima kopi­nya. Nampak oleh­nya tangan­nya geme­tar. Peng­a­laman buaya per­tama kali, barang­kali, pikir­nya.

“Apa maksud keda­tangan­nya ke Cikam­pek,” ia ber­ta­nya.

“Terus ke Jakarta, pak. Baca­lah surat kete­rangan itu,” ia makin mera­pat.

Baru opsir itu mem­baca surat kete­rang­an­nya.

“Kapten Oding? Kenal?”

Lara­sati meng­ang­guk.

“Suami? Adik? Kakak?”

“Cuma kenalan,” Lara­sati ber­diri di hadap­an­nya, mema­mer­kan kein­dahan tubuh­nya, ter­se­nyum memu­tar badan, meng­ha­dapi tamu­nya kem­bali, meng­u­lu­r­kan tangan meng­a­jak ber­ke­nalan, “Ara, Lara­sati.”

Ia sambut tangan opsir piket itu, terasa panas dan geme­tar. Orang semuda itu, tanpa peng­a­laman macam ini, tidak mena­rik.

Dan dibi­ar­kan­nya tamu­nya menga­gumi tubuh­nya, sedang ia meng­ganti kain dan keba­ya­nya dengan house coat.

Juga sekali ini—jerit hati bin­tang film itu—keme­nangan ada padaku.

Kalau ia anak kecil maulah ia melon­jak-lonjak. Tiba-tiba ia men­jadi kecut, meng­i­ngat kebo­hong­an­nya pada pemuda penye­li­dik itu. Kem­bali hati kecil­nya meriut. Besok atau lusa mung­kin aku kalah. Dan atas dasar piki­ran ini ia ber­u­saha keras-keras ber­baik-baik dengan pria tanpa peng­a­laman buaya ini.

Yah, kagum­i­lah tubuhku ini, ia ber­seru dalam hati.

Dan sebe­nar­nya saja­lah, per­wira itu mene­lan tubuh­nya dengan pan­dang­nya yang nampak begitu pucat.

Ia tahu opsir muda itu mene­lan tubuh­nya mentah-mentah. Tiba-tiba ter­de­ngar sua­ra­nya, “Apa yang kau makan sehari-hari?”

Lara­sati ter­te­gun, tetapi tidak mene­ngok. Sece­pat kilat piki­ran­nya mene­bak, mung­kin piket itu men­cari-cari kete­rangan ten­tang mewah tidak­nya kehi­dup­an­nya. Dan keme­wahan tidak lain dari hasil peng­khi­a­natan.

Men­ja­wab, “Biasa, seperti seperti bapak: nasi, sayur, dan lauk-pauk.”

“Meng­apa bisa begitu cantik?”

Kurang ajar! pikir Lara­sati. Rupa-rupa­nya dia belum juga ber­ki­sar dari maksud keda­tangan­nya. Segera menyam­bung, “Sudi makan ber­sama aku?”

Baru ia meman­dangi per­wira muda itu. Dan yang dipan­dang­nya nampak bim­bang seben­tar. Pada wajah­nya ter­si­rat pera­saan malu yang tak dapat dise­m­bu­nyi­kan­nya. Per­ga­ulan Lara­sati yang luas seka­li­gus mem­be­ri­nya peng­er­tian: opsir piket yang sedang dinas itu, dan yang kini sedang mengu­a­sai selu­ruh kota mil­iter Cikam­pek, sedang bapet—tidak punya! Dengan cekatan ia pang­gil pela­yan. Dari balik pintu ia meme­rin­tah­kan mem­be­li­kan nasi rames untuk dua orang.

“Engkau seo­rang pemu­rah,” baru opsir piket itu mau memuji keba­jik­an­nya.

“Cuma itu yang dapat aku per­buat. Nya­waku toh tidak bakal ber­harga bagi Revo­lusi.”

Men­de­ngar itu mata opsir itu berapi-api. Men­de­sak, “Jadi kau tetap repub­li­kein3. Tidak pernah punya niat masuk NICA4?”

Lara­sati ter­se­nyum. Kem­bali ia duduk di sam­ping per­wira tamu­nya. “Apa keun­tung­anku? Dengan bang­saku sen­diri aku merasa lebih ter­ja­min. Belanda tidak nonton aku di film. Dan seki­ra­nya mau masuk Nica, bukan main goblok aku ini kalau menga­bar­kan pada orang lain.”

Dengan panas dan agak meng­gi­gil opsir muda itu mele­tak­kan kedua belah tangan­nya pada bahu Lara­sati, men­ja­ra­kan pan­dang tajam pada­nya dan ber­bi­sik, “Aku per­caya padamu. Karena itu aku datang padamu. Aku dalam kesu­l­itan. Aku mem­bu­tuh­kan per­to­long­anmu. Engkau seni­man yang ikut dalam Revo­lusi ini,” dan segera kemu­dian tamu yang ber­wa­jah pucat itu ber­ce­rita: ia seo­rang kepala seksi, meng­o­man­dani lebih dari 60 orang pra­ju­rit. Tugas sek­si­nya ter­u­tama sekali mem­be­ri­kan pene­rangan kepada pen­du­duk di daerah per­ba­ta­san, hampir-hampir ter­le­pas dari infan­tre. Ini mem­buat sek­si­nya men­jadi anak tiri resi­men­nya yang selu­r­uh­nya ter­diri atas infan­tre. Hampir selu­ruh kesu­l­itan harus dipe­cah­kan oleh sek­si­nya sen­diri. Satu regu diki­rim­kan­nya ke Cepu untuk tukar rokok dari Cir­e­bon dengan minyak tanah. Minyak tanah dibu­tuh­kan pen­du­duk per­ba­ta­san. Dan sek­si­nya mem­be­ri­kan minyak tanah pada mereka sete­lah diberi pene­rangan ten­tang situ­asi poli­tik. Tapi regu itu ditang­kap oleh mantre polisi eko­nomi Cepu dan barang-barang bar­ter­nya disita. Aju­dan­nya dengan ban­tuan seo­rang wanita kenalan, diki­rim­kan­nya ke Jakarta untuk cari walkie-talkie. Itu pun lenyap tak ada kabar beri­ta­nya. “Tolong aku cari­kan kete­rangan ten­tang aju­danku dan pem­ban­tu­nya.” Ia tulis alamat-alamat di seca­rik kertas dan dise­rah­kan pada Lara­sati. Dalam ia bicara, berahi lenyap dari mata­nya yang berat, dan kini wajah­nya digam­bari suatu per­mo­honan yang amat sangat. Wajah­nya seka­rang mem­beri kesan pada Lara­sati seperti seo­rang anak yatim-piatu yang meminta kea­dilan dan sim­pati. “Meng­apa per­be­kalan mesti cari sen­diri?” tiba-tiba Ara ber­ta­nya. “Selu­ruh kedu­dukan yang enak diam­bil orang-orang tua. Mereka hanya pandai kor­upsi. Ren­cana-ren­ca­naku kandas di laci-laci. Tapi kau tahu sen­diri—itu semua di Yogya lebih banyak kukira. Ang­katan tua itu sung­guh-sung­guh bobrok!” Ia bang­kit ber­diri, mena­tap Ara dengan bera­hi­nya, dan mene­rus­kan dengan suara menye­sal: “Setiap repub­li­kein mes­ti­nya repub­li­kein sejati. Satu kesal­ahan bisa mem­buat dia jadi khi­a­nat tanpa maunya sen­diri. Kapan kau berang­kat ke Jakarta?”

“Besok.”

“Aku urus­kan surat­nya. Besok, di markas.”

“Terima kasih. Boleh aku cium bapak?”

Opsir itu meng­ge­leng­kan kepa­la­nya untuk mene­rima cium. Dan Ara men­cium pada bibir­nya.

“Meng­apa bapak tak kata­kan nama?”

“Kau sudah keta­hui kesa­tu­anku. Apa per­lu­nya kau keta­hui namaku? Dari anak buahku yang di Jakarta kau akan tahu. Aku ingin tahu, dia menye­be­rang ke pihak Nica atau dia ditang­kap. Dengar, aku per­caya padamu. Aku ingin banyak-banyak bicara deng­anmu, tapi aku sedang ber­di­nas. Seka­rang banyak anasir yang bukan-bukan masuk kemari. Tapi aku memang per­caya padamu. Kau seni­wati. Jelek-jelek aku seni­man juga. Kalau Revo­lusi menang, kau akan dengar namaku seba­gai seni­man, seba­gai penga­rang. Aku banyak dengar ten­tangmu. Kau bisa ber­ju­ang lebih baik dengan senimu… Kau memang hebat.”

Dan sekali mem­buka mulut, opsir itu tak dapat mengen­da­li­kan has­rat­nya untuk ber­ca­kap antar­se­ni­man.

Waktu pela­yan datang mem­bawa nasi rames, Ara mem­buka pintu. Tamu itu makan dengan lahap­nya. Lara­sati cen­de­rung untuk men­duga, opsir, kau belum makan dalam dua hari ini. Dengan cekatan dan baik hati­nya, seperti biasa, ia selip­kan uang lem­baran lima ratus ke dalam saku tamu­nya, tanpa yang akhir ini menge­ta­hu­i­nya. Tidak, aku bukan menyo­gok. Aku tak meng­ha­rap­kan sesu­atu pun dari­nya selain… ia tetap jadi peju­ang yang baik, seo­rang pria yang per­wira, seo­rang repub­li­kein yang setia…

Di setum­puk bumi Revo­lusi inilah baru Lara­sati mene­mu­kan kere­laan dalam kea­daan yang utuh. Sampai-sampai nama­nya pun opsir piket itu tak mau menye­but­kan. Ia tak ingin dike­nal. Mung­kin dia memang seni­man, pikir­nya. Cuma kebe­tulan sedang ber­baju mil­iter.

“Nam­pak­nya bapak ter­lalu banyak pen­de­ri­taan.” Lara­sati mem­be­ri­kan sim­pa­ti­nya dengan tulus.

“Siapa sebe­nar­nya yang tidak men­de­rita?”

“Berapa umur bapak?”

“Tebak­lah!”

“Dua puluh dela­pan!”

Ia ter­tawa.

“Dua puluh satu!” opsir itu mem­per­ba­iki.

Dia ter­lalu banyak pen­de­ri­taan. Lara­sati memu­tus­kan, tapi semu­a­nya dite­ri­ma­nya dengan rela.

Ia merasa ber­ba­ha­gia dengan kesa­dar­an­nya seba­gai repub­li­kein. Ia cium sekali lagi waktu per­wira itu minta diri kem­bali ke tugas­nya.

“Kalau bapak suka,” kata­nya kemu­dian, “bapak boleh meng­o­b­rol sampai besok.”

Opsir itu mem­bung­kuk terima kasih, kemu­dian ber­kata, “Aku tahu kau orang jujur. Tapi aku sedang dinas, bagai­man­a­pun juga ing­inku untuk meng­o­b­rol lebih pan­jang. Kalau ada sesu­atu yang ter­jadi, suruh pela­yan peng­i­napan lapor padaku. Aku mesti pergi seka­rang.”

“Sayang, sece­pat itu.”

“Sayang sekali. Aku pun ingin lihat kau main di sini. Tapi aku tahu itu tidak mung­kin. Meng­apa pulang ke Jakarta?”

“Kelu­ar­gaku ting­gal seo­rang. Ibuku. Tidak baik kuse­rah­kan dia pada nasib­nya sen­diri. Begitu lama sudah—lebih seta­hun.”

Opsir itu mem­bung­kuk sekali lagi dan pergi.

Lara­sati segera menu­tup pintu. Mere­bah­kan dir­i­nya yang molek di atas kasur dekil. Ia merasa sangat, sangat ber­ba­ha­gia.

Malam yang hitam turun ke bumi.

“Tuhan,” Lara­sati berdoa, “di mana pun juga Kau selalu sela­mat­kan aku, Kau mudah­kan per­ja­lan­anku. Kau gam­pang­kan hidupku. Terima kasih ya, Tuhanku.”

Ia ber­mimpi ten­tang hal-hal yang menye­nang­kan.

Ia tak rasai kutu busuk menye­rang dari segala pen­juru.

Kereta api ke Jakarta melaju cepat. Sepan­jang jalan yang dila­lu­i­nya nampak sawah meng­hi­jau kuning: ia sedang melin­tasi daerah gudang beras Jawa Barat Utara. Di setiap halte, setiap stas­iun sepan­jang per­ja­lanan, penuh pra­ju­rit rakyat, pra­ju­rit Revo­lusi ber­baju kuning dan hijau, ber­sen­jata karaben Jepang dan ber-Enfi­eld Ing­gris. Di jalan raya yang kadang-kadang seja­jar dengan rel sering ia lihat truk-truk mil­iter Sekutu5 dan jeep dari daerah Ban­dung. Di daerah sini, pikir­nya, ber­beda dengan di daerah Ban­dung. Di sini mereka lebih suka pada sen­jata yang lang­sing.

Ia tak men­da­pat kesu­l­itan waktu mening­gal­kan Cikam­pek. Opsir piket kenalan baru­nya, telah mengu­rus­kan sega­la­nya—sampai-sampai pada sebuah tempat duduk yang enak.

“Kalau Revo­lusi menang,” pesan­nya, “mung­kin kita akan ber­jumpa di Jakarta, sama-sama seba­gai seni­man,” cuma itu kata­nya. Dan kereta berang­kat.

“Revo­lusi pasti menang!” Ara men­je­rit men­ja­wab.

Mata piket itu nampak ber­ta­nya-tanya menye­li­diki: Apa akan kau ker­ja­kan?

Dan segera ia men­je­rit untuk kedua kali­nya.

“Aku juga ber­ju­ang dengan caraku sen­diri.”

Waktu kereta telah berang­kat itulah ia ber­pi­kir orang seperti aku, bagai­man­a­pun buruk nama­nya, dia tidak mung­kin bakal ber­khi­a­nat. Ber­khi­a­nat pada Revo­lusi ini ber­arti juga ber­khi­a­nat pada diri sen­diri, pada publik yang mem­ba­yar­nya.

Seo­rang ber­u­sia tua di sam­ping­nya memu­lai per­ca­kapan deng­an­nya, “Kalau sampai di Jakarta—nona ke Jakarta, bukan?—jangan lupa­kan pemuda-pemuda ini. Mereka sedang mela­hir­kan seja­rah. Tak ada guna meng­ham­bat­nya. Lebih baik mem­bantu mereka.”

Lara­sati yang merasa dike­cil­kan oleh kata-kata orang tua itu, menu­kas, “Meng­apa bapak sen­diri tidak?”

Orang tua itu tak men­ja­wab. Ia diam saja. Justru karena itu Lara­sati makin merasa panas. Ia sen­diri telah main­kan cerita-cerita per­ju­angan dan hiburan di tempat-tempat yang sama sekali tidak pen­ting di masa damai, biar­pun tidak ada di peta bumi tempat dia ber­main! Tidak ada penga­gum, tidak ada pemuja, tidak ada hono­r­a­rium barang sepeser—cuma makan nasi keras dan ikan asin, dan tran­s­por di atas truk yang ber­de­sak mem­ban­ting-ban­ting! Kadang-kadang tepuk tangan pun tidak —karena pen­du­duk dusun belum biasa ber­te­puk-tangan, lebih biasa mene­rima segala diam-diam dengan hati­nya. Kadang-kadang memang terasa oleh­nya bahwa hero­isme dan pat­ri­ot­isme wanita di zaman Revo­lusi ini ter­le­tak pada kepa­lang-merahan saja! Tapi ia takkan mening­gal­kan keju­ru­an­nya. Ia cintai keju­ru­an­nya. Dan ia yakin, mela­lui keju­ru­an­nya ia pun dapat ber­bakti pada Revo­lusi. Ia merasa dir­i­nya peju­ang, ber­ju­ang dengan cara­nya sen­diri. Kereta terus melaju ke front. Ger­bong-ger­bong penuh sesak dengan pen­ca­tut beras dan pemuda-pemuda peju­ang. Tak ada seo­rang pun di antara mereka yang beru­mur. Semu­a­nya kanak-kanak, semua pemuda, jauh lebih muda dari tubuh­nya sen­diri.

Dua halte sebe­lum stas­iun front, waktu kereta ber­henti, orang tua itu turun. Untuk menya­ta­kan ama­rah­nya, Lara­sati melo­tot­kan mata­nya. Tetapi—seka­li­gus ama­rah­nya lenyap. Orang tua itu hanya ber­kaki sebe­lah. Dua orang pemuda ber­u­ni­form, kedua-duanya ber­pang­kat kapten mema­pah orang tua itu. Lara­sati tak sempat meminta maaf atas keke­li­ru­an­nya. Waktu turun dari ger­bong, orang tua cacat itu disam­but oleh satu seksi barisan kehor­matan. Ia tak pernah kenal siapa orang tua itu. Dengan tong­kat­nya orang tua itu mem­beri perin­tah. Kemu­dian masuk ke dalam sedan, hilang dari peman­dangan.

Sebe­lum Lara­sati ingat siapa si tua itu, kereta telah ber­henti di stas­iun front. Semua pra­ju­rit turun. Baju-baju hijau lenyap dari wagon, kereta men­jadi long­gar. Seksi penyam­but si tua telah lenyap dari ing­at­an­nya. Juga kapten pengiring­nya. Dalam hati ia menga­gumi si tua yang tak keta­huan nama, peker­jaan, dan pang­kat­nya. Mung­kin seo­rang men­teri. Mung­kin seo­rang Ins­pek­tur Jen­de­ral dalam pakaian preman. Seca­cat itu, tapi dia masih ber­ju­ang! Mes­ti­nya per­ju­ang­anku lebih dari dia. Aku tak cacat. Lebih—mesti! Lebih—mesti!

Tiba-tiba ter­de­ngar pekikan ber­u­lang-ulang. “Ara! Hidup Ara! Mer­deka!”

Dari suatu jarak nampak seo­rang sersan sedang mem­bawa pasukan ber­sen­jata, sete­ngah­nya ter­diri atas bambu run­cing. Ia melam­bai­kan tangan pada­nya. Bebe­rapa orang meman­dang si sersan. Dan sersan itu menun­juk-nunjuk kepa­da­nya sambil ber­jing­k­rak dan mem­bawa pasuk­an­nya lari meng­ham­pir­i­nya. Orang-orang meng­a­rah­kan pan­dang pada tudingan si sersan, kepa­da­nya. Seben­tar kemu­dian stas­iun kecil di front itu gegap-gem­pita dengan sorak-sorai, “Ara! Hidup Ara! Mer­deka!”

“Mau ke Jakarta Ara? Ing­at­lah kami!”

“Cium Ara!”

“Husy, yang sopan!”

“Jangan lupa­kan kami, Ara

Dan seka­rang Ara lebih men­cang­kung­kan tubuh­nya keluar jen­dela, melam­bai­kan tangan dan ber­te­riak keras dengan suara rendah agak kelaki-lakian, “Ara takkan lupa­kan peju­ang-peju­ang­nya! Mer­deka! Hidup Revo­lusi! Mer­deka!”

“Mer­deka!”

Orang ber­lari-larian men­de­kat­i­nya. Dan jen­de­la­nya kini

Pp? seperti sebu­tir gula dalam rubungan semut hijau. Juga orang-orang preman ikut meru­bung—hanya saja dari suatu jarak. Sese­o­rang melem­par­kan selen­dang merah kepa­da­nya. Ara tak ber­jaga akan ini. Ia kaget waktu selen­dang itu menu­tup muka­nya. Dan sorak-sorai menyu­sul.

“Buat dike­nang, Ara—di sini­lah pemuda-pemuda front meng­ha­rap­kan kese­ti­a­anmu! Meng­ha­rap­kan per­tun­juk­anmu! Sela­mat jalan, Ara!”

Waktu selen­dang merah itu ia sing­kir­kan dari wajah­nya, nampak oleh­nya anak-anak muda yang nanti, besok, atau lusa mung­kin tewas, tanpa menge­nal kese­nangan-kese­nangan yang banyak dike­nyam­nya selama ini. Dua butir air mata meni­tik pada wajah­nya. Seka­rang aku bukan pemain san­di­wara, ia ter­se­dan-sedan dalam renung­an­nya—seka­rang aku seba­gian dari mereka.

Peluit men­je­rit.

“Hidup Ara! Ara kita yang setia! Ara kita yang cantik jelita! Ara kita yang agung. Mer­deka!”

Ia melam­bai-lam­bai­kan tangan melem­par­kan selen­dang merah­nya sen­diri, entah kepada siapa. Dan dalam satu detik selen­dang itu telah hancur jadi buah rebutan. Kereta ber­ge­rak. Mening­gal­kan para pemuda front, mene­ro­bos garis per­ta­hanan Jakarta Timur, yang melin­tang dari Cilin­cing sampai Ciba­rusa. Lok tua itu ter­e­ngah-engah.

“Salvo buat Ara yang setia!” sese­o­rang meme­kik.

Ratusan peluru mele­tus meme­kak­kan teli­nga.

Ara ter­hem­pas di tem­pat­nya. Tidak, tidak patut mereka dikhi­a­nati—mereka yang tidak meng­ha­rap­kan apa-apa bagi jiwa­nya yang besok atau lusa dibe­ri­kan kepada maut. Ya, Allah, apa sebe­nar­nya yang sudah aku beri­kan pada kemer­de­kaan ini? Mereka sedang mela­hir­kan seja­rah. Apa aku lahir­kan? Anak pun tidak.

Untuk per­tama kali ini Ara mena­ngis begitu lama, seo­rang diri. Ia mena­ngisi jiwa-jiwa muda yang begitu rela, yang begitu tanpa dosa. Dan, kata­nya dalam hati, aku adalah pen­jel­maan dari dosa ini sen­diri.

Sepan­jang jalan kereta yang dile­wat­i­nya ber­te­baran pra­ju­rit muda dalam kea­daan ber­jaga-jaga. Tambah dekat pada garis demar­kasi, tambah banyak yang berada dalam kea­daan siap-siap. Pada suatu belokan dili­hat­nya seo­rang pra­ju­rit kanak-kanak men­daki tiang tele­graf DKA dan menyam­bung kawat tele­pon lap­angan. Kaki­nya telan­jang tiada ber­se­patu, keri­ngat mem­ba­sahi muka­nya. Waktu meli­hat kereta meng­ham­piri ia ber­henti kerja, melam­bai-lambai tangan kemu­dian lenyap dari peman­dangan. Kem­bali Ara meng­u­cur­kan air mata sedih meng­i­ngat: kalau saja aku pernah ber­a­nak, mung­kin setua dia. Mung­kin dialah yang menyam­bung kawat tadi.

Juga di daerah tidak ber­tuan ini sawah tetap kaya dengan padi­nya. Di sana nampak sebuah regu merah melam­bai­kan tangan pada kereta api. Agak jauh di depan­nya di balik semak-semak nampak satu regu sena­pan mesin ber­pen­di­ngin air, dan jauh di depan­nya lagi ber­te­baran pra­ju­rit-pra­ju­rit yang sedang duduk-duduk mero­kok dan ber­canda girang—bebe­rapa orang mem­baca.

Kereta kini melam­bat jalan­nya. Ia seka air mata­nya. Daerah yang dile­wat­i­nya kini tiada ber­ma­nu­sia. Kam­pung-kam­pung yang tadi­nya ramai, kini telah mati tiada ber­nyawa. Peka­rangan-peka­rangan rumah dili­lit semak-semak dan rerum­putan liar yang meninggi. Gen­teng-gen­teng rumah per­kam­pungan nampak kocar-kacir, suatu tanda, pada suatu kali pernah bumi di sini digun­cang­kan oleh peluru meriam. Din­ding-din­ding yang dobol dengan dobo­lan­nya cerai-berai ke mana-mana. Akhir­nya kereta lebih per­la­han lagi. Sete­lah menye­ber­a­ngi kali Bekasi, kemu­dian ber­henti di stas­iun. Di bawah jem­batan kali nampak bebe­rapa orang ser­dadu Nica inlan­der6 men­cuci pakaian dalam kea­daan sete­ngah telan­jang. Dan di suatu keru­munan di depan stas­iun nampak mulut-mulut meriam men­co­ngak tiada dibe­ra­ngus. Seka­li­gus Lara­sati meng­erti: sen­jata-sen­jata itu habis diper­gu­na­kan untuk meng­hu­jani pemuda-pemuda peju­ang dengan maut, yang seben­tar tadi diting­gal­kan­nya. Ia ter­i­ngat pada si anak kecil penyam­bung kawat. Seki­ra­nya ia anakku—kem­bali ia jadi sen­ti­men­tal. Air mata­nya meni­tik lagi. Ser­dadu-ser­dadu Nica ber­lari-larian meng­ham­piri kereta. Seba­gian besar inlan­der. Bebe­rapa orang Belanda ber­pang­kat opsir dan bin­tara menin­jau setiap ger­bong sambil Seo­rang ber­te­riak-teriak: “Turun, ayoh, semua turun!” kemu­dian memu­kul-mukul­kan ceme­ti­nya pada badan ger­bong. Dan sampai di sini, Lara­sati ber­pi­kir, mulai kita jadi bina­tang di atas bumi kela­hiran sen­diri. Ia turun­kan koper kecil­nya—semua harta-benda yang dimi­l­ik­i­nya selama Revo­lusi ini. Ia per­ba­iki gincu, menyi­siri rambut. Ia per­ha­ti­kan orang-orang yang jadi pucat dan ber­ge­gas mening­gal­kan tem­pat­nya untuk lebih dahulu meme­nuhi perin­tah ser­dadu pen­ja­jah. Lambat-lambat ter­de­ngar desah lok hitam di kepala for­masi. Ditin­jau­nya langit tanah airnya yang biru dan bebe­rapa gumpal awan mela­yang digu­ris-guris oleh bebe­rapa lembar daun duren dan ram­butan. Sebuah kapal capung mela­yang rendah sehingga nampak pilot­nya melam­bai­kan peci­nya: benar-benar dia habis jadi peng­hu­bung antara pasukan arti­leri dengan musuh yang hendak dihan­cur­kan­nya. Benar-benar meriam-meriam itu telah membom anak-anak yang baru tadi nampak begitu riang ber­temu deng­anku, pikir­nya. Apa pula nasib si pem­beri selen­dang merah tadi? Wajah­nya ber­ke­rut. Lambat-lambat bang­kit. Dan ber­sama dengan yang lain-lain mening­gal­kan wagon.

Orang ber­diri dalam barisan. Pria dengan pria. Wanita dengan wanita. Beras tukang-tukang catut diob­rak-abrik. Koper-koper yang kehi­langan kunci dibong­kar dengan paksa. Sese­o­rang ter­de­ngar ber­te­riak his­tris, “Di mana yang pelo­por? Kowe?”

Bebe­rapa orang opsir meme­rin­tah para penum­pang dengan ujung pis­tol­nya. Dan dengan ujung pistol itu pula meme­rin­tah orang-orang lelaki untuk angkat tangan tinggi-tinggi. Maka ser­dadu-ser­dadu Nica mulai meng­ge­ra­ung selu­ruh tubuh. Tampak sese­o­rang mem­ben­tak garang, “Itu surat apa!”

“Peta, tuan.”

“Peta apa! Main-main, hah?”

“Buat cari rumah emak yang sudah pindah, tuan.”

“Di mana? Dekat tangsi kom­peni?”

“Jauh tuan, jauh dari tangsi,” dengan suara keta­kutan.

“Kalau di tempat Soe­karno senang, meng­apa mesti kemari?” sese­o­rang ber­te­riak angkuh.

Lara­sati mena­han ama­rah­nya. Ia ter­i­ngat pada kanak-kanak yang ber­ju­ang mem­per­ta­han­kan kemer­de­kaan tanah airnya seben­tar tadi. Dan di bawah kaki­nya seka­rang: daerah pen­du­dukan Belanda, didu­duki sesu­dah mem­bu­nuh anak-anak tanpa dosa itu. Pem­bu­nuh-pem­bu­nuh yang men­jual tanah air untuk dapat seka­dar makan dan pakaian. Seakan pemuda-pemuda peju­angku tak butuh makan dan pakaian! Ia kepal­kan tin­ju­nya. Dir­e­mas-remas­nya selen­dang merah pem­be­rian pra­ju­rit front yang tak dike­nal­nya. Kalau aku lelaki aku bakar selu­ruh per­kam­pungan arti­leri ini. Dan untuk per­tama kali dalam hidup­nya ia menye­sali kela­hir­an­nya sen­diri seba­gai wanita. Kalau aku lelaki—aku bisa ber­buat banyak. Daerah ini bisa kalah ber­kali-kali. Tapi Revo­lusi tak bakal menye­rah! Pada wak­tu­nya, mulut-mulut besar ini akan diba­bat oleh Revo­lusi. Semua!

Tak sebiji pun bakal ting­gal. Meriam-meriam itu tidak akan diha­dap­kan pada kanak-kanak yang lebih cinta pada kemer­de­kaan dari­pada maut, tapi bakal diha­dap­kan pada tuan­nya sen­diri: petu­a­lang-petu­a­lang dari sebe­rang samudra di ujung utara dunia manu­sia ini. Semoga sela­mat­lah kanak-kanak peju­ang kemer­de­kaan ini—semua mereka. Sela­mat hen­dak­nya Revo­lusi. Mereka juga butuh makan dan pakaian. Tapi mereka lebih mem­bu­tuh­kan kehi­dupan yang lebih baik.

Tanpa disa­dar­i­nya barisan wanita itu maju seta­pak demi seta­pak mem­bawa bawaan masing-masing yang telah dige­le­dah dan diob­rak-abrik—menuju ke dalam kemah hijau tiada ber­jen­dela. Nam­pak­nya kemah itu diba­ngun­kan khusus untuk peme­rik­saan.

Wanita-wanita itu masuk empat-empat ke dalam­nya, dengan wajah pucat. Sese­o­rang nenek keli­hatan meng­gi­gil sambil men­jum­put tem­ba­kau dari mulut­nya. Dan tem­ba­kau itu pun ikut meng­gi­gil.

Waktu Lara­sati sampai di depan tenda, seo­rang inlan­der men­do­r­ong wanita di bela­kang­nya. Dengan demi­kian ia masuk seo­rang diri. Untuk mem­be­ra­ni­kan dir­i­nya ia remas-remas selen­dang merah pem­be­rian pemuda peju­ang seben­tar tadi. Di hadap­an­nya duduk seo­rang sersan inlan­der ber­ku­lit lebih hitam dari­pa­da­nya sen­diri, meng­ki­lat, ber­mandi keri­ngat.

Di tangan­nya ter­gan­tung-gan­tung cambuk karet. Pintu kemah jatuh ter­tu­tup. Lampu senter yang ter­gan­tung di atas palang bambu menyala. Pistol sersan itu meng­ki­lat, lebih hitam dari semes­ti­nya.

“Buka baju!” perin­tah sersan hitam meng­ki­lat itu.

“Buat apa?” Lara­sati mem­be­ron­tak.

“Buat apa? Buka semua! Cepat! Anjing-anjing Soe­karno suka ber­la­gak goblok.”

Garang benar keli­hat­an­nya, pikir Lara­sati. Dia cuma pem­bu­nuh bayaran. Meli­hat aku seba­gai anjing. Mung­kin mata­nya bukan mata orang, mata anjing, maka manu­sia keli­hat­an­nya seba­gai anjing, itulah dia tuan­nya. Kalau cuma cari makan dan pakaian, meng­apa jadi pem­bu­nuh dan peng­hina orang? Kan aku juga cari makan dan pakaian? Orang-orang macam dia ini mung­kin lebih bodoh dari­pada kerbau.

Paling tidak kerbau tidak mem­bu­nuh sesa­ma­nya.

Waktu meli­hat Ara tak meng­i­kuti perin­tah­nya, ia bang­kit. Mata­nya berapi-api. Dita­rik­nya kain kur­ban­nya. Tangan Ara menang­kis. Selen­dang merah­nya jatuh.

“Bina­tang!” Ara meme­kik.

Orang-orang di luar kemah men­jadi gempar. Baik ser­dadu yang ber­di­nas maupun para penum­pang dari peda­laman— semua meng­a­rah­kan pan­dang pada kemah. Ter­de­ngar sekali lagi Lara­sati mera­dang karang, “Ayoh, sentuh kalau berani. Aku garuk mukamu yang jelek sampai dadal!!”

Tiba-tiba seo­rang ser­dadu inlan­der ter­tawa senang. Yang lain-lain ikut ter­tawa. Iring-iringan orang keta­kutan itu tiba-tiba dapat mena­rik nafas lega. Kete­gangan lenyap.

Lara­sati keluar dari kemah dengan muka mera-padam. Tapi waktu ia ingat pada selen­dang merah yang ter­ja­tuh, ia masuk lagi untuk memu­ngut­nya. Mata­nya ber­kaca-kaca. Sete­lah meng­ga­bung­kan diri dengan yang lain-lain ia meng­ge­rutu. “Sang­ka­nya kalau sudah punya pistol, lantas boleh sem­ba­rangi setiap orang. Kurang ajar!”

Sese­o­rang ber­pa­kaian preman ber­lari-larian dari kantor stas­iun meng­ham­pir­i­nya. Dan sebe­lum ia menya­dari ini, ter­de­ngar orang itu ber­seru-seru girang: “Ara! Ara!”

Lara­sati menyeka muka­nya dengan selen­dang tengik itu. Mena­jam­kan pan­dang pada pen­da­tang. Tapi ia pura-pura tak peduli. Dia juga peng­khi­a­nat, bisik hati­nya. Ia kenal dia: Mar­d­jo­han—di zaman Jepang seo­rang anno­un­cer. Seben­tar lagi bakal banjir pro­pa­ganda dari mulut­nya yang jorok itu, ia mem­per­i­ng­at­kan dir­i­nya sen­diri. Kalau didi­am­kan, dia akan ber­te­kuk lutut. Tapi mera­ja­lela kalau dila­yani. Siapa orang film yang tak kenal dia?

Mar­d­jo­han meng­u­lu­r­kan tangan dan dengan yang lain mene­puk bahu­nya. Dia sudah dapat kedu­dukan dalam barisan pem­bu­nuh dan peram­pok ini pikir­nya.

“Tidak ingat aku?” Mar­d­jo­han ber­ta­nya.

“O, kau,” Lara­sati men­ja­wab tak acuh.

“Kau tadi yang ber­te­riak?” tanya­nya sambil ter­tawa. “Buat apa begitu keras?”

“Buat tuanmu.”

Wajah Mar­d­jo­han tampak merah-padam. Tapi dengan cepat ia dapat menin­das pera­sa­an­nya dan meng­u­cap: “Ah, kau repub­li­kein kira­nya. Tapi itu tak meng­apa. Kami sudah cari-cari ala­matmu. Kita bisa bikin film banyak dengan kau.”

“Kau sudah bikin film?”

“Aku seka­rang pro­du­ser, sutra­dara—segala-gala­nya.” Waktu dia cerita kebe­sar­an­nya Lara­sati tak ter­ta­rik.

Segera Mar­d­jo­han meng­u­bah pokok, “Nanti aku per­ke­nal­kan kau dengan tuan kolo­nel Surjo Sen­tono. Dia yang kasih petun­juk bagai­mana men­do­ku­men­kan peng­ungsi-peng­ungsi yang tidak tahan di peda­laman ke daerah pen­du­dukan kera­jaan. Mereka ber­ba­ha­gia di bawah lin­dungan arti­leri. Kolo­nel tulen dari kenil. Opsir arti­leri paling cakap di selu­ruh Asia. Ayoh, aku bawa­kan kopermu. Mari kuper­ke­nal­kan deng­an­nya.”

“Kau gila.”

“Lebih baik kau pikir­kan kese­la­mat­anmu.” Mar­d­jo­han mulai meng­an­cam. “Lihat, semua orang meng­a­wasi kau. Juga tuan kolo­nel—itu, di stas­iun sana dia bawa tong­kat.”

Lara­sati menya­dari benar­nya ancaman itu. Ia menun­duk. Lambat-lambat ia ikuti lang­kah Mar­d­jo­han—meng­ha­dap tuan kolo­nel.

Ini dia, pikir Lara­sati, kepala pem­bu­nuh, pen­jual tanah air, penyem­be­lih kawan seper­ma­inan anak-anak­nya sen­diri.

“Ara, bukan?” kolo­nel inlan­der itu men­da­hu­lui. Dan Lara­sati meng­ang­guk.

“Buat apa teriak begitu keras? Kan semua tahu siapa kau?”

Kem­bali amarah meluap di dalam dada Ara. Ia remas lagi selen­dang merah tengik itu, dan dengan kasar menye­ka­nya pada dahi­nya, “Benar. Semua orang tahu siapa aku. Semua. Juga tuan kolo­nel!”

“Kehor­matan mana lagi yang mesti kau per­ta­han­kan?”

Kem­bali air mata mem­ba­sahi mata­nya yang baru seben­tar tadi kering. Tetapi Lara­sati tahu, ter­ha­dap peng­khi­a­nat-peng­khi­a­nat ini tak perlu menga­lah, ia pun tak akan pernah. Dan per­la­han-lahan ia men­ja­wab, “Memang aku hanya seo­rang pela­cur, tuan kolo­nel. Tapi aku masih berhak mem­pu­nyai kehor­matan. Karena, aku tidak pernah men­jual warisan nenek moyang pada orang asing.”

Ia lihat kolo­nel itu men­jadi pucat. Ia ayun­kan tong­kat­nya untuk memu­kul, tetapi tidak jadi. Semen­tara itu Lara­sati telah nekat, mene­rus­kan, “Apa yang bagiku kehor­matan mung­kin tidak bagi tuan kolo­nel.”

“Main san­di­wara?” kolo­nel inlan­der itu batuk-batuk kecil, tapi kemu­dian sua­ra­nya ber­nada ancaman, “Ah, tidak. Seo­rang repub­li­kein tidak bisa ber­main san­di­wara dengan tepat.”

“Ah, tuan kolo­nel, pela­cur hina ini ter­lalu bodoh untuk menge­ta­hui. Ia hanya tahu satu-satu­nya kehor­matan yang masih dimi­l­ik­i­nya, seperti anjing yang kadang-kadang rela mem­bela kehor­matan anjing­nya.”

“Tak ada arti­nya kema­rah­anmu, Ara.”

“Memang tuan kolo­nel­lah yang lebih berhak marah.”

“Jadi kau meng­erti. Kau sung­guh pintar ngo­mong. Tapi baik­lah kita lupa­kan semua ini.”

Lara­sati seke­li­batan dapat menang­kap wajah pucat Mar­d­jo­han yang ber­diri di bela­kang tuan­nya.

“Kema­rah­anku memang tak ber­arti. Tapi peris­tiwa peng­hi­naan demi peng­hi­naan ini takkan mau kulu­pa­kan.”

“Baik­lah. Barang­kali lebih tepat kalau aku yang meminta maaf. Maaf­kan­lah. Seka­rang, mari,” kolo­nel inlan­der itu mene­puk bahu Ara dan meng­a­jak­nya ber­ja­lan.

“Djohan, taruh barang­nya ke mobil.”

Lara­sati dibawa ke bawah rim­bunan ram­butan dan duren. Di situ­lah meriam-meriam yang men­co­ngak ke cak­ra­wala tadi, kini telah runduk, dan mon­cong­nya telah ber­se­lu­bung kertas kanvas.

“Aku meng­erti apa yang kau mak­sud­kan dengan kehor­matan. Kau repub­li­kein. Tapi lihat,” dan ia menu­ding­kan tong­kat-koman­do­nya pada barisan howit­zer yang ber­de­ret bersaf-saf —empat puluh dela­pan buah.

Lok men­je­rit. For­masi kereta api mulai ber­ge­rak, pelan-pelan, men­de­ngus-dengus kemu­dian tak ter­ken­dali, melenguh-lenguh, akhir­nya hilang di keja­uhan.

“Mar­d­jo­han sudah tele­pon Basis Koman­dan. Mereka akan antar­kan kau sesuai dengan mar­ta­bat dan kehen­dak mu: bin­tang film Indo­ne­sia nomor wahid!” Ia pukul-pukul­kan tong­kat­nya pada paha­nya sen­diri. Mene­rus­kan, “Lupa­kan yang di sebe­rang sana,” sambil menun­juk­kan tong­kat­nya ke arah Cikam­pek.

“Kau bisa hitung sen­diri berapa banyak­nya. Ini baru satu tempat. Di sebe­rang sana,” kem­bali ia menu­ding, dengan tong­kat­nya, “hanya ada dua pucuk.” Ia ter­tawa meng­hi­na­kan.

“Tinggi-ren­dah­nya nilai repub­li­kein akan diuji oleh bate­rai ini. Besok atau lusa kalau tong­kat ini kua­yun­kan ke atas, semua meriam ini akan ber­bu­nyi ber­ba­reng untuk empat-lima jam. Kami tak perlu lihat anak-anak nakal itu lagi. Mereka akan pergi kemari menyem­bah kakiku minta hidup.”

Ter­ba­yang oleh Lara­sati anak-anak peju­ang ber­ge­lim­pangan tewas. Dan orang di depan­nya ini pem­bu­nuh­nya. Mau rasa­nya ia menu­suk­nya dengan pisau sampai perut gen­dut­nya kecar-kecir. Tapi ia tak berani. Lagi pula ia tak punya pisau.

“Lupa­kan, lupa­kan yang di sebe­rang kali Bekasi sana. Kau seni­man. Seni­man mesti netral kalau ada seng­keta poli­tik atau mil­iter. Seni sela­ma­nya untuk seni.”

Ser­dadu-ser­dadu arti­leri itu yang tampak seba­gian kecil saja, dipe­rin­tah sen­di­r­ian oleh orang kulit putih. Hampir selu­ruh di antara mereka meng­a­wasi rom­bongan yang baru datang. Setiap orang di antara mereka yang dile­wati kolo­nel Surjo Sen­tono dan Lara­sati mem­beri salut. Bebe­rapa orang ser­dadu pura-pura meng­go­sok-gosok laras meriam. Bebe­rapa orang lagi ber­jong­kok sambil ber­bi­sik-bisik. Sebuah tenda sete­ngah ter­buka mem­per­li­hat­kan di dalam­nya peti-peti peluru meriam. Dan di ujung lap­angan arti­leri, di bawah sebuah pohon besar, ter­tum­puk kertus-kertus kosong yang habis diper­gu­na­kan menem­bak. Seekor kuda mering­kik dari jarak dekat. Waktu Lara­sati mene­bar­kan pan­dang ke tempat datang­nya ring­ki­kan, dili­hat­nya bebe­rapa ekor kuda kurus sedang dican­cang pada tong­gak-tong­gak di bawah rin­dangan pohon ram­butan. Lap­angan arti­leri itu tiba-tiba saja men­jadi sunyi-senyap. Seke­li­batan Lara­sati men­curi pan­dang pada profil kolo­nel inlan­der. Dili­hat­nya, walau tak dapat menyem­bu­nyi­kan usi­a­nya yang sudah agak lanjut, tubuh kolo­nel itu masih penuh dan belum lagi diga­risi oleh tanda-tanda tua. Ram­but­nya memu­tih pada peli­pis di bawah petnya, sedang gerak-gerik­nya agak lamban.

“Dunia modern ini,” kolo­nel itu memu­lai, “diba­ngun­kan di atas pucuk meriam. Kau dengar, Ara?”

“Aku dengar, tuan kolo­nel!”

“Bagus. Barang­si­apa tidak cukup punya meriam, seka­rang atau besok, besok lusa atau lusa­nya lagi, dia harus menye­rah­kan diri pada yang punya lebih banyak. Kau pernah mem­pel­a­jari seja­rah, Ara? Ah, tentu saja tidak.”

“Belum dan tidak, tuan kolo­nel!”

“Apa­lagi seja­rah perang. Kau meng­erti seka­rang, meng­apa kau ber­pi­hak pada yang di sebe­rang sana? Karena kau tak pernah mem­pel­a­jari seja­rah. Juga semua mereka yang ikut dari sebe­rang sana karena bodoh­nya. Karena tidak tahu seja­rah. Masih ingat Jepang?” Ia ter­tawa. “Kebe­ra­nian saja tidak cukup. Apa nasib­nya kemu­dian? Bina­tang-bina­tang itu menye­rah tanpa syarat. Menye­rah begitu hina, sedang pasuk­an­nya masih begitu banyak.”

“Memang. Malah mereka menye­rah hanya pada pemuda yang cuma punya bambu!”

“Husy! Kau tak tahu apa-apa, Ara. Jepang itu pura-pura ber­tem­pur dengan pemuda. Mereka serah­kan sen­jata pada pemuda-pemuda itu, biar ten­tara Sekutu kalang-kabut tapi dia enak-enak menye­rah di tangsi-tangsi.”

“Ber­tem­pur, tuan kolo­nel. Ber­tem­pur benar-benar.”

Kolo­nel inlan­der itu ber­henti ber­ja­lan. Juga Lara­sati ber­henti ber­ja­lan. Opsir tinggi Nica itu melo­tot­kan mata pada­nya. Dengan suara berang, keras, dan tinggi ia meme­kik, “Kau tidak tahu poli­tik! Otakmu yang seder­hana itu sudah diaduk poli­tik!”

“Tapi aku pernah lihat sen­diri, tuan kolo­nel. Mung­kin mataku salah lihat.”

“Aku juga pernah lihat sen­diri. Pernah lihat sen­diri, maka bagai­mana kau bisa bohongi aku.”

“Jepang-jepang itu menye­rah, dilu­cuti, sesu­dah per­tem­puran. Di anta­ra­nya tewas. Di anta­ra­nya juga dibu­nuh.”

“Aku juga tahu bagai­mana orang sebe­rang sana ber­bo­hong,” seru kolo­nel itu dalam usa­ha­nya untuk mengen­da­li­kan ama­rah­nya.

Ara merasa ter­sing­gung. Apa guna­nya ber­bo­hong di dunia ini? Kalau yang benar harus dina­mai bohong, di mana tempat kebo­hongan kemu­dian di dalam hidup manu­sia ini? Dan dengan suara mengan­dung kejeng­kelan ia menyam­bar, “Lantas apa untungku mem­bo­hongi tuan kolo­nel? Apakah aku lantas dapat duit? Dapat pang­kat? Kedu­dukan? Atau seba­gian dari meriam itu.”

“Husy. Kau meng­erti mak­sudku.”

“Tidak, tuan kolo­nel.”

“Tidak? Ara, pen­jara tidak cocok bagimu.”

“Entah­lah, tuan kolo­nel. Belum pernah aku alami.”

“Mau coba?”

Lara­sati ber­de­bar-debar. Tak ada guna bicara ten­tang pokok sema­cam ini. Aku datang ke bumi pen­ja­jahan bukan untuk masuk pen­jara. Aku datang untuk kem­bali mema­suki dunia film. Ia takut. Pen­jara ber­arti kema­tian.

“Belum lagi sore. Kau boleh lihat pen­jara kalau suka. Suka?”

Bin­tang film itu mene­bar­kan pan­dang pada laras-laras meriam yang hijau kelabu. Kem­bali ia ter­i­ngat pada pemuda-pemuda yang baru seben­tar tadi diting­gal­kan­nya. Mung­kin di antara mereka telah ada yang ter­ge­le­tak mati, atau kutung, inva­lid selama-lama­nya, anak-anak yang tidak meminta uang, pang­kat, atau jaminan hidup itu. Di sam­ping­nya seka­rang: pem­bu­nuh mereka—hanya untuk dapat duit dan pang­kat. Dia kira, cuma dia saja butuh makan butuh kese­nangan. Cuma dia saja ingin anak­nya maju dan men­da­pat kedu­dukan yang ter­ja­min dalam masya­ra­kat. Ia men­jadi begitu jijik, benci, dan muak pada kolo­nel itu.

Ia tak men­ja­wab.

“Meng­apa diam saja? Jadi kau ingin lihat pen­jara. Baik.” Kemu­dian ia ber­te­riak, “Djohan, Mar­d­jo­han!”

Dan Mar­d­jo­han ter­bi­rit-birit meng­ha­dap Surjo Sen­tono.

“Bawa bin­tang film ter­ke­muka ini menon­ton pen­jara.”

“Menon­ton pen­jara? Untuk berapa lama?”

“Husy! Per­gu­na­kan mobil dan sopirku. Aku menyu­sul.”

“Surat izin­nya, tuan kolo­nel.”

“Antar­kan dia, aku bilang!”

“Pen­jara mana, tuan kolo­nel?”

“Husy, kau tahu di mana monyet-monyet itu diku­rung, pergi!”

“Tapi bagai­mana ren­cana sho­o­ting, tuan kolo­nel?”

“Besok masih ada hari. Ayoh!”

Ia ulu­r­kan tangan pada Lara­sati. Dan Ara men­ja­bat­nya—tangan pem­bu­nuh saha­bat-saha­bat­nya sen­diri, pem­bu­nuh saha­bat seper­ma­inan anak-anak­nya sen­diri. Ia ber­ja­lan dalam iringan Mar­d­jo­han. Ia tak mene­ngok. Ia tak mau untuk kedua kali­nya meli­hat laras-laras meriam yang telah mem­bu­nuh kanak-kanak di sebe­rang kali sana. Dan mobil lari ken­cang mela­lui jalan sempit yang kini meru­pa­kan jalan mil­iter.

Sersan yang menyu­piri mobil pun ser­dadu inlan­der. Seben­tar-seben­tar ia batuk-batuk seakan-akan hendak ikut campur dengan segala per­so­al­an­nya. Sedang kedua penum­pang itu ber­diam-diam, seperti orang ber­mu­suhan.

Tiba-tiba Mar­d­jo­han memu­lai, “Engkau berun­tung, Ara.”

“Apa untungku? Di sebe­rang kali Bekasi itu aku menge­nal banyak kanak-kanak yang mung­kin seka­rang telah tewas karena meriam tuanmu. Apa untungku?”

“Sttt.” Mar­d­jo­han ber­bi­sik.

“Gerom­bolan bina­tang!” Lara­sati ber­seru sete­ngah meme­kik.

“Besok atau lusa kau insaf, kau masih berun­tung. Aku maaf­kan kau, Ara.”

“Bina­tang!” Lara­sati meng­u­langi.

Kem­bali sopir itu batuk-batuk.

“Hati-hati dengan mulutmu, Ara.”

“Apa guna­nya? Di sini hati-hati dan tidak sama saja hasil­nya.”

“Hati-hati.” Mar­d­jo­han meng­u­langi. “Aku juga bisa han­cur­kan kau.”

“Ayoh, han­cur­kan­lah.”

Mobil melaju ke arah kota.

Tak ter­ki­ra­kan kecut dan kecil hati Lara­sati. Rupa-rupa­nya di bumi jajahan ini setiap orang hidup atas dasar hancur-meng­han­cur­kan. Dan siapa tidak dihan­cur­kan di bumi pen­ja­jahan ini? Tak pernah sebe­lum­nya piki­ran­nya men­jadi seje­las seka­rang. Siapa yang tidak dihan­cur­kan? Siapa? Dan akhir­nya, “Kalau kau sudah han­cur­kan aku, lantas apa untungmu? Kalau kau tidak han­cur­kan aku, apa rugimu?”

Mobil melam­bat­kan jalan­nya untuk mem­beri jalan pada sebuah truk mil­iter dari empat sete­ngah ton, yang ter­e­ngah-engah mem­bawa muatan batangan-batangan besi. Udara mulai mengan­dung kadar air lebih berat. Panas mera­ja­lela di dalam mobil besar dan megah itu. Tetapi Lara­sati men­coba tidak dipe­nga­ruhi oleh kea­daan-kea­daan di luar dir­i­nya.

Ber­ta­nya men­de­sak: “Apa untungmu?”

Mobil ber­ja­lan per­la­han-lahan. Mar­d­jo­han mere­nung-renung. Kemu­dian, “Di dunia ini, Ara, hanya sedi­kit saja orang yang pen­ting.”

Lara­sati ter­tawa mem­be­ra­ni­kan hati­nya sen­diri. Ber­kata: “Tahu aku seka­rang. Kira­nya kau ingin jadi orang pen­ting!”

Tetapi semen­tara itu bin­tang film itu telah men­da­pat peng­er­tian ten­tang bangun dari bumi pen­ja­jahan: hancur-meng­han­cur­kan! Sedang mereka yang tidak dihan­cur­kan, mereka yang tidak meng­han­cur­kan, adalah yang jadi lan­dasan hidup bina­tang ini.

“Tak ada guna dibi­ca­ra­kan terus, Ara.” Mar­d­jo­han memu­tus­kan. Ia geser­kan duduk­nya. Men­de­kat. Kian men­de­kat. Bera­patan. “Kita bisa jadi sekutu yang baik! Kau dan aku.”

“Sekutu apa?”

“Segala-gala­nya.”

“Meng­han­cur­kan atau dihan­cur­kan?”

“Aku bilang, kita tutup pokok tak menye­nang­kan ini,” ia ambil tangan Lara­sati dan dici­um­nya. Dan bin­tang film itu ter­tawa dalam hati­nya. Kadal ini tak begitu cerdik, pikir Lara­sati, anak yang baru kema­rin jadi anno­un­cer, seka­rang mau mera­jai selu­ruh dunia film, cuma karena semua tenaga telah menying­kir ke peda­laman. Ya Allah, lucu juga kadang-kadang bumi pen­ja­jahan ini. Ia pan­dangi betapa tangan­nya dicium oleh kadal itu. Ia merasa geli bagai­mana seri­gala uang dan kedu­dukan itu mera­yap-rayap begitu hina dan lata.

“Kau tak ber­su­ami, bukan?” Mar­d­jo­han mene­rus­kan.

“Itu tidak pen­ting.”

“Jadi setuju kau ber­se­kutu?”

“Sekutu macam apa kau ini?” bin­tang film itu yakin, tanpa ban­tuan siapa pun Mar­d­jo­han takkan bakal jadi apa-apa.

“Kau orang berani, Ara,” seka­rang ia rang­kul­kan tangan­nya pada bahu Ara.

Dan Lara­sati tidak mem­ban­tah. Bumi pen­ja­jahan ini mem­buat aku kian detik kian ber­pi­kir. Tak pernah demi­kian sebe­lum­nya. Tak pernah ia mene­ro­pong dir­i­nya sen­diri. Kini ia dapat­kan gam­baran ten­tang dir­i­nya sen­diri agak jelas, kadang samar: meno­lak selu­ruh bentuk. pen­ja­jahan apa pun. Ia tak mem­bu­tuh­kan kehan­curan orang lain dan dir­i­nya sen­diri. Ia ing­in­kan suatu kehi­dupan damai, di mana ia dapat mem­bak­ti­kan selu­ruh hidup­nya dengan keca­kapan satu-satu­nya yang dimi­l­ik­i­nya: main film. Bagai­man­a­pun juga kotor­nya namaku aku akan tetap dapat ber­guna. Kotor? Tiba-tiba ia mem­be­ron­tak ter­ha­dap dir­i­nya sen­diri. Biar aku kotor, per­ju­angan tidak aku kotori. Revo­lusi pun tidak! Negara pun tidak! Rakyat apa lagi! Yang aku kotori hanya diriku sen­diri. Bukan orang lain. Orang lain takkan rugi kare­na­nya.

“Kau mela­mun, Ara.” Mar­d­jo­han mene­gur.

Dan bin­tang film itu tak men­ja­wab.

Piki­ran­nya ber­ki­sar pada per­ja­lanan hidup­nya sen­diri di masa-masa yang sudah—per­ja­lanan hidup penuh dengan piki­ran gelan­dangan, penge­lam­unan tiada ber­sa­saran lama sekali, ting­kah-laku yang tidak keruan. Ia sen­diri heran meng­apa kini ia menem­puh pemi­ki­ran dan per­bu­atan lain. Tidak seperti dulu. Ia tidak pernah bel­a­jar, tidak pernah mem­pel­a­jari sesu­atu pun. Meng­apa aku seka­rang dapat meng­erti semua ini? Ia ber­ta­nya dalam hati. Siapa yang gurui? Siapa si guru ini? Siapa?

“Kalau tidak ada keka­cauan ini,” Mar­d­jo­han mene­rus­kan, “aku masih tetap anno­un­cer, Ara. Aku sutra­dara pada keka­cauan ini. Kau namai ini Revo­lusi, bukan?”

“Revo­lusi,” Ara men­ja­wab. Dan sesung­guh­nya, ia dapat­kan jawaban atas per­ta­nya­an­nya sen­diri: Revo­lu­si­lah guru­nya selama ini. Hanya sang Revo­lusi yang agung ini. Dan kem­bali ing­at­an­nya mela­yang pada para har­ta­wan, para cen­de­ki­a­wan yang pernah begitu sin­ting menge­li­lingi dan mengu­ber-uber dir­i­nya. Mereka jadi har­ta­wan dan cen­de­ki­a­wan karena per­gu­latan dan per­ju­angan yang lama. Aku hanya dari Revo­lusi ini. Revo­lusi meling­kupi peng­a­laman puluhan abad. Revo­lusi meling­kupi buku ribuan jilid. “Revo­lusi,” ia menye­but.

“Meng­apa, Ara?”

“Dia sumber.”

“Benar. Dia sumber. Besok atau lusa, hanya kita­lah yang akan ten­tu­kan dunia film. Kita punya sumber. Kita kuasai sumber. Setuju, Ara?”

“Aku tidak menen­tu­kan apa-apa.”

“Kalau begitu aku yang menen­tu­kan.”

“Kau hanya seti­tik busa.”

“Mak­sudmu?”

“Hanya Revo­lusi yang menen­tu­kan.”

“Seti­dak-tidak­nya kedu­duk­anku seka­rang sudah diten­tu­kan.”

Anjing! teriak bin­tang film itu dalam hati­nya, dia tidak pernah bisa ber­pi­kir tanpa bawa dir­i­nya sen­diri. Dir­i­nya sen­diri yang korup itu! Korup! Itu pena­maan yang tepat. Ia ingat pada ucapan per­wira piket kema­rin: Hanya ang­katan tua yang korup dan meng­a­jak korup! Ang­katan muda mem­buat Revo­lusi. Dan orang tua cacat itu ber­kata: pemuda itu sedang mela­hir­kan seja­rah. Ah, ah, pemuda piket itu adalah Revo­lusi itu sen­diri.

“Boleh aku cium kau, Ara?” dan ia men­ci­um­nya.

Hari ini aku dicium seekor anjing gila. Dia mau per­gu­na­kan aku jadi batu ancak. Dia mau bangun­kan dir­i­nya di atas diriku. Di atas diri semua orang yang mau jadi batu ancak­nya. Sia-sianya dunia ini kalau untuk mening­kat­kan satu orang yang lain mesti diin­jak. Ya Allah, benar-benar­kah ini duni­aku? Dunia manu­sia! Manu­sia makh­luk ter­tinggi ini? Dunia Tuhan yang dia­gung­kan karena kesem­pur­naan pen­cip­taan- Nya? Inikah dunia cip­taan Allah? Bukan­kah ini dunia cip­ta­an­Nya tetapi bandit meman­fa­at­kan­nya?

“Lebih baik jangan ganggu aku, Djohan.”

“Aku tidak meng­ganggu, Ara. Aku ber­buat hanya seba­gai sekutu.”

Lara­sati men­jadi jeng­kel. Apakah yang ada dalam hati dan otak orang sema­cam Mar­d­jo­han ini? Mung­kin hanya duit dan makan enak, seperti sebuah lemari yang mau menyim­pan segala barang tapi tiada sesu­atu yang lebih ber­harga dari itu.

Dan pepo­honan sepan­jang jalan itu masih sesu­bur waktu ia masih kecil ber­ken­dara dalam mobil bera­mai-ramai dengan orang Ing­gris yang memu­ngut­nya. Rumput tumbuh tanpa peng­a­wasan di lereng-lereng selokan, dan di sana-sini di ping­giran jalan terong­gok tum­pukan batu karang. Semua itu men­jadi bagian dari hidup­nya sen­diri. Cuma orang yang di sam­ping­nya ini tidak: Mar­d­jo­han.

Ia tatap wajah Mar­d­jo­han. Hati­nya men­de­sis murka: Anjing! Dia cuma anjing! Dan ama­rah­nya luluh sen­diri meli­hat ia menun­duk dan tangan­nya yang sedang merang­kul bahu­nya ter­ku­lai pada lan­dasan jok mobil.

“Kapan kau han­cur­kan aku, Djohan? Aku toh tak ber­arti apa-apa? Biar besok atau lusa kau jadi orang pen­ting. Tapi ber­se­kutu deng­anmu, sayang sekali, Djohan, tidak mung­kin.”

“Kau takkan dapat lap­angan di film.”

“Bumi Revo­lusi masih luas. Bumi jajahan ter­lam­pau sempit. Semua orang pen­ting di bumi pen­ja­jahan ini tidak bakal lebih dari kau! Juga kolo­nelmu sen­diri lebih hina dari kau yang paling tinggi kedu­duk­an­nya.”

“Kau tidak seperti dulu, Ara.”

“Tentu saja tidak. Apa guna­nya Revo­lusi kalau tidak bisa meng­u­bah aku?”

“Kau singa garang.”

“Di bumi pen­ja­jahan ini.”

“Kau bakal mati kela­paran.”

“Tidak, selama Revo­lusi meng­ge­lora.”

“Kau mata-mata Repub­lik.”

“Seti­dak-tidak­nya bukan anjing orang asing.” Mar­d­jo­han diam dan bin­tang film itu kehi­langan kekang. Ia diam. Kem­bali Ara mem­per­ha­ti­kan lalu-lintas—lebih sunyi dari­pada di masa pen­du­dukan Jepang. Pakaian karung telah lenyap dari peman­dangan. Beri-beri basah tidak nampak lagi. Tentu bukan karena Belanda, pikir Ara. Apa yang pernah dibe­ri­kan Belanda kepada rakyat? Mereka datang ke sini bukan untuk mem­beri, tapi untuk meminta! Rakyat men­da­pat apa yang dica­ri­nya sen­diri—sejak dulu si Belanda-lah yang malahan men­da­pat seba­gian besar dari nasi yang dicari oleh rakyat. Apa yang dibe­ri­kan Belanda kepada rakyat?

Orang-orang dalam lalu-lintas itu nampak lebih segar. Bukan karena Belanda. Tidak! Semua itu karena rakyat seka­rang lebih berani dari­pada dulu. Ia merasa sangat puas dengan piki­ran­nya. Ia heran bagai­mana Revo­lusi meng­a­jar­nya ber­pi­kir demi­kian. Ia pun heran meng­apa seka­rang ia punya kebe­ra­nian meng­ha­dapi orang sema­cam Mar­d­jo­han, seka­dar yang cuma bisa men­ce­de­rai setiap orang itu.

Kedua orang itu duduk diam-diam seperti sedang ber­mu­suhan. Tanpa men­da­pat per­ha­tian. Mar­d­jo­han men­ja­uhi sedi­kit dari Lara­sati. Lebih men­jauh lagi. Akhir­nya melem­par­kan pan­dang ke luar jen­de­la­nya sen­diri. Lara­sati tetap seekor betina garang, tak dapat ditun­duk­kan­nya.

Lara­sati mene­rus­kan renung­an­nya: meng­apa dunia ini begini penuh iga manu­sia busuk? Hanya karena mau hidup lebih sejah­tera dari­pada yang lain? Apakah kese­jah­te­raan hidup sama dengan kebu­sukan buat orang lain? Alang­kah sia-sia pen­di­dikan orang tua kalau demi­kian. Alang­kah sia-sia pen­di­dikan agama. Alang­kah sia-sia guru dan seko­lah-seko­lah. Lara­sati melem­par pan­dang ke luar, kemu­dian melem­par­kan kepala pada ujung jok, mene­nga­dah, mena­rik nafas dalam, meng­hem­bus­kan­nya, dan seka­li­gus ia diserbu oleh keka­cauan piki­ran. Seki­las nampak sua­mi­nya yang per­tama-tama: Asman—itu bin­tang pang­gung yang mela­mar­nya, dite­ri­ma­nya, dan jadi sua­mi­nya. Dia juga orang yang lemah lembut, tetapi bila soal­nya menge­nai kese­jah­te­raan hidup­nya, ia juga beru­bah jadi singa jantan garang. Dua tiga kali Asman ter­li­bat dalam per­teng­karan sengit—yang keem­pat kali­nya adalah dengan dir­i­nya. Kedu­a­nya ber­mak­sud untuk pindah ke film, mening­gal­kan pang­gung. Tauke mena­war­kan hono­r­a­rium lebih tinggi kepa­da­nya dari­pada sua­mi­nya. Dan Asman merasa tak ber­se­nang hati.

“Kau tak bisa hor­mati sua­mimu, Ara.”

Pada waktu itulah ia mulai meng­erti sedi­kit ten­tang kehor­matan: dia sama nila­inya dengan uang.

“Tapi soal­nya bukan kehor­matan,” Ara menang­kis.

“Apa soal­nya kalau bukan uang?”

Asman tiba-tiba men­jadi manu­sia lain—lenyap kele­mah­lem­but­an­nya selama ini. Dan Ara tak dapat men­ja­wab. Ia merasa pada pihak benar, tapi tak dapat menga­ta­kan. Sejak itu hubungan suami-istri itu retak, reng­gang, dan putus. Dan sejak itu pula ia prak­tik­kan taf­siran, bahwa kehor­matan ber­arti uang. Ia jadi seri­gala uang untuk men­da­pat­kan kehor­matan. Dan seka­rang, ia ber­temu dengan suatu bentuk murni dari­pada taf­siran yang selama ini dia­nut­nya. Tetapi heran: ia merasa jijik. Men­ji­jik­kan. Taf­sir­anku meru­pa­kan peng­hi­naan.

Ia mena­rik nafas dalam.

“Meng­apa kau?” Mar­d­jo­han ber­ta­nya. “Kau datang kemari karena kecewa di peda­laman, bukan? Kau pergi ke daerah pen­du­dukan buat cari duit. Tak patut kau ber­si­kap begitu garang.”

“Jangan pedu­li­kan aku. Pedu­li­kan dirimu sen­diri. Kau cuma ber­pi­kir ten­tang dirimu sen­diri, bukan?”

“Tidak benar, Ara. Aku punya usul yang baik. Usul sudah kua­ju­kan. Mudah sekali bagimu untuk memu­tus­kan.”

Lara­sati ter­tawa meng­hi­na­kan. Kemu­dian ber­ta­nya:

“Kau tak punya usul lebih baik?”

“Yang lebih baik ber­arti lebih buruk bagiku, Ara.”

“Usul­kan yang lebih buruk biar kau men­da­pat­kan lebih baik, Djohan,” Lara­sati ter­tawa per­la­han, meli­hat kebi­ngungan kawan­nya.

“Bica­ra­lah dengan misal, biar lebih jelas bagiku.”

“Misal­nya jadi mata-mata untuk Nefis7.”

Mar­d­jo­han ber­kata, “Terima kasih.”

“Aku cuma berani usul­kan yang sedang saja, ker­ja­sama deng­anku, Ara. Jadi sekutu.”

“Kau bisa ker­ja­sama dengan dirimu sen­diri.”

Mar­d­jo­han mena­rik nafas keluh. Tetapi sebe­lum ia dapat piki­ran baik untuk menun­duk­kan singa betina garang itu, keka­cauan dalam batin­nya menye­bab­kan ia tak dapat tidak men­coba meminta per­ha­tian Lara­sati ten­tang dir­i­nya sen­diri.

“Dulu kau tidak seperti seka­rang. Aku kira kau masih seperti dulu. Sung­guh keting­galan aku ini.”

Bodoh­nya! pikir Lara­sati. Dia kira ribuan pemuda yang tewas itu tak bicara apa-apa padaku. Tak ada nama lebih tepat bagi­nya, juga bagi semua orang seperti dia dari­pada bina­tang. Berapa juta raung kesa­kitan telah dipe­kik­kan. Berapa puluh liter air mata diku­cur­kan. Tapi orang seperti dia cuma dapat ber­pi­kir kalau dir­i­nya sen­diri diikut-ser­ta­kan. Dia tidak bakal meng­erti.

“Apakah Revo­lusi itu benar-benar begitu hebat sampai dapat meng­u­bah kau, Ara?”

“Kau takkan meng­erti, Djohan. Hanya nanti kau akan meng­erti. Nanti, kalau sudah ter­lam­bat. Kalau orang sudah kehi­langan keku­a­saan untuk mem­beri ampun.”

“Jadi kau kira aku tak meng­erti apa-apa!”

“Kau meng­erti apa?”

Lara­sati

Mar­d­jo­han ter­diam. Ia gosok tangan­nya untuk mem­be­ra­ni­kan diri menga­ta­kan sesu­atu, tetapi ia tidak berani. Akhir­nya meng­an­cam, “Aku akan lapor­kan semua pada tuan kolo­nel.”

“Bagus.”

“Biar­pun tuan kolo­nel tidak seke­ras dulu—seta­hun lalu.”

“Bagus.”

“Tidak akan bagus, Ara. Kau akan dapat­kan seba­lik­nya dari yang akan kau harap­kan.”

“Bagus.”

“Apanya yang bagus?”

“Karena aku tidak bakal meng­ha­rap­kan sesu­atu pun dari orang-orang sema­cam kau.”

“Aku bisa cekik kau di sini, Ara. Biar mampus.”

“Aku juga bisa lawan kau.”

Mar­d­jo­han ter­diam.

Mar­d­jo­han mem­bu­tuh­kan seo­rang par­t­ner—par­t­ner yang ter­ke­nal di antara artis film, yang bakal dapat mening­kat­kan nama­nya men­ju­lang di dunia film. Dan siapa yang lebih ter­ke­nal dari Ara! Ara meng­erti ini. Ia tidak sudi mem­ba­wa­nya ke ting­kat yang lebih tinggi. Dan Mar­d­jo­han hanya ber­diri sen­diri.

Ia ber­u­saha harus menga­lah­kan pera­saan-pera­sa­an­nya sen­diri untuk menye­la­mat­kan kei­ng­in­an­nya. Putus asa dan harapan silih ber­ganti mere­but gelang­gang. Akhir­nya hanya keluhan yang ter­de­ngar dari mulut­nya, “Orang Timur seperti kita, Ara, ter­i­kat pada hutang-budi.”

“Benar.”

“Aku banyak ber­hu­tang-budi pada tuan kolo­nel. Dia peno­long dari maut, dari kela­paran. Di masa-masa yang lalu. Kau tak pernah ber­hu­tang-budi, Ara?”

“Tentu. Pada tanah air, hanya pada bang­saku. Pada per­se­o­rangan tidak?”

Per­ca­kapan mati lagi. Mar­d­jo­han mem­per­gu­na­kan kedi­a­man itu untuk men­cu­r­ah­kan beban hati­nya: “Ara, kau tahu sen­diri.”

Ia—Mar­d­jo­han—memu­lai di zaman Jepang yang hampir-hampir tewas karena kela­paran. Tetapi anak kolo­nel itu —waktu itu masih mayor besar, Maria Mag­da­lena Sen­tono mem­ban­tu­nya dengan banyak per­to­longan. Seba­gai balas budi, ia men­jadi peng­hu­bung gelap antara si nona dengan ayah­nya, yang waktu itu ting­gal dalam tawanan Jepang. Dan ini ber­ja­lan tahun demi tahun. Si nona men­da­pat peker­jaan di Tjuo Sangi-in. Dan kemu­dian jadi ste­no­graf di sana.

Berapa banyak jam ia per­gu­na­kan ber­ca­kap-cakap dengan Maria—di malam hening, sunyi, gelap—mem­bi­ca­ra­kan nasib tuan kolo­nel. Maria sering ber­ce­rita: ayah­nya seo­rang yang keras. Sedang bebe­rapa orang yang kenal dengan ayah ini pernah ber­ce­rita pada­nya: opsir ter­ke­muka kok tidak meng­erti bagai­mana meng­in­dah­kan pera­saan karena ter­lalu banyak hidup di alam ser­dadu, meme­rin­tah dan dipe­rin­tah. Waktu Jepang akan men­da­rat dari seo­rang bin­tara ia naik jadi mayor besar, dise­rahi tugas berat. Untuk mem­beri kesem­patan pada pasukan kulit putih untuk mela­ri­kan diri ke Aus­tra­lia, “Dan, Ara, nona Maria Mag­da­lena Sen­tono sen­diri tumbuh begitu kurus. Seba­gai pera­wan yang men­de­kati usia dua puluh tiga ia tidak mena­rik sama sekali. Dia mewa­kili zaman pen­du­dukan Jepang itu sen­diri. Dia tumbuh lampai, tanpa dada sedi­kit pun. Hanya ping­gul­nya menan­da­kan dia telah dewasa. Lain tidak. Hidung­nya man­cung. Mata­nya cekung men­da­lam. Ram­but­nya tipis. Tetapi kei­baan pada­nya, pada kelu­ar­ga­nya, pada ayah­nya, lama-kela­maan menye­bab­kan aku jatuh cinta pada­nya. Dengan sepe­nuh hatiku. Heiho-heiho yang men­jaga kamp itu banyak aku kenal. Mereka banyak mem­beri per­to­longan.”

“Mes­ti­nya kau jatuh cinta pada Heiho-heiho itu,” Ara mene­ngahi.

Tetapi Mar­d­jo­han tak men­de­ngar. Ia telah teng­ge­lam dalam pera­sa­an­nya. Ia men­jadi perasa. Dunia luar ter­tu­tup mati seka­rang. Dan mene­rus­kan: Pada suatu kali datang selem­bar surat kecil dari kamp kepada nona Maria. Malam itu si nona ber­ce­rita pada­nya: Djohan, Sekutu kian men­de­sak. Dua atau tiga bulan lagi kea­daan akan beru­bah. Mar­d­jo­han tak meng­erti apa bakal ter­jadi kemu­dian. Tapi ia pun tahu, si nona takkan menge­ta­hui lebih banyak dari ceri­ta­nya sen­diri. Namun dengan diam-diam ia meng­ha­rap­kan dua hal: si nona seba­gai istri, dan tuan kolo­nel seba­gai pem­beri kedu­dukan baik kelak kalau sudah keluar tawanan.

Tiba-tiba Jepang menye­rah. Tiba-tiba cerita Maria men­jadi benar sesung­guh­nya. Dan Revo­lusi pun pecah.

“Ara, kau masih ingat waktu ter­jadi ribut-ribut seta­hun yang lalu? Kau masih di Jakarta waktu itu.”

Lara­sati men­de­ham dan mene­lan hasil deham­an­nya.

“Kau tak mau deng­ar­kan aku, Ara.” Mar­d­jo­han menu­duh. “Itu tidak adil. Selama ini hampir sela­ma­nya kau di daerah sana. Aku tidak.”

“Meng­apa minta kea­dilan dari aku?”

“Bagai­man­a­pun aku tak setuju adanya Revo­lusi.” Sekali lagi Lara­sati men­de­ham.

“Kau begitu yakin pada keme­nangan Revo­lusi. Aku lebih per­caya pada keme­nangan meriam.”

Seben­tar kedu­a­nya ter­li­bat per­de­batan. Dan sopir mobil dengan cermat men­de­ng­ar­kan semua. Tanpa mereka sadari sopir meme­lan­kan ken­da­ra­an­nya sampai tidak lebih dari 30 km sejam.

“Kau tak mau meng­in­dah­kan alasan per­se­o­rangan, akhir­nya Mar­d­jo­han menu­duh. “Dengar, Ara. Apa yang dice­ri­ta­kan, lalu tiga bulan sete­lah itu ter­jadi per­u­ba­han besar. Mak­sudku bukan menye­rah­nya Jepang pada Sekutu dan tim­bul­nya keru­suhan-keru­suhan. Tentu saja tidak, semua itu ter­jadi, karena memang tidak pen­ting bagiku. Per­u­ba­han besar itu-ini: karena keru­suhan ini kelu­arga itu pecah-belah.”

Dan sebe­lum Mar­d­jo­han menye­le­sai­kan kata-kata­nya, Lara­sati telah mene­ngahi, “Kau masih tetap seperti dulu. Kau tak dapat ber­pi­kir tanpa bawa-bawa dirimu sen­diri.”

“Jadi kau kira per­se­o­rangan tidak pen­ting?” Mar­d­jo­han meno­lak.

“Tidak, selama dia hanya sema­cam kau. Dengar! Kalau setiap orang seperti kau, Revo­lusi tidak bakal ada.”

“Revo­lusi bukan tidak bakal ada, Ara, tetapi tidak ada!”

“Peng­khi­a­nat.”

“Cabul tua!”

Kem­bali mereka ber­diam-diam penuh per­mu­suhan.

“Sopir! Turun­kan aku di sini!” akhir­nya Lara­sati meme­rin­tah­kan.

“Tugasku mem­bawa kau ke pen­jara,” bantah Mar­d­jo­han.

Dan mobil ber­ja­lan terus. Per­la­han-lahan. Waktu ken­da­raan itu mem­be­lok, Mar­d­jo­han yang sedang teng­ge­lam dalam piki­ran­nya sen­diri ter­lem­par ke tempat Ara.

Ia tak mem­per­ba­iki kedu­duk­an­nya. Ia pan­dangi Ara dengan gemas dan marah­nya.

Akhir­nya mele­tup: “Perem­puan apa kau ini?”

“Jangan hadapi aku seba­gai perem­puan macam apa pun, hadapi per­so­al­an­nya.”

Mar­d­jo­han mere­mas-remas kedua belah tangan­nya untuk men­da­pat­kan keku­atan. Tiba-tiba hati ber­ki­sar begitu sen­ti­men­tal, mene­rus­kan kata-kata­nya: Waktu Revo­lusi pecah segera mayor besar Surjo Sen­tono dibe­bas­kan oleh Sekutu dari kamp Jepang, meng­ga­bung­kan diri dengan Nica. Maria Mag­da­lena Sen­tono lari, meng­ga­bung­kan diri dengan korps maha­siswa—mela­ku­kan per­la­wanan ter­ha­dap Nica. Dua manu­sia dari satu darah kedua-duanya men­jadi harap­an­nya pecah-belah, ber­ha­dap-hadapan seba­gai musuh. Ayah dan anak. Sang ibu ting­gal mena­ngis.

“Aku lepas­kan cin­taku pada Maria. Aku ber­pi­hak pada ayah­nya.”

“Kau cerdik!” tiba-tiba Ara menu­duh.

“Cerdik.”

“Sete­lah kau dapat kedu­dukan dari ayah­nya kau bakal dapat wanita mana pun juga kau suka, selain si nona, selain aku. Dan besok atau lusa kalau ber­pi­hak pada Revo­lusi, bukan karena kau telah sadar, tapi karena mau ikut men­da­pat­kan keme­nangan.”

“Soal­nya balas-budi, Ara. Hutang-budi memang berat. Coba rasa­kan betapa pen­de­ri­taan yang ditang­gung si ayah karena si anak.”

Lara­sati ter­tawa dalam hati­nya. Kanak-kanak di sebe­rang sana mati karena dia, dia sen­diri remuk-redam karena satu orang anak­nya. Gila…

“Mari ber­se­kutu, Ara kita bakal jadi sekutu tepat.” Dan mobil telah ber­henti persis di depan pintu kayu berat sebuah pen­jara. Seo­rang kopral Knil mem­buka pintu berat itu, mem­beri salut, mem­buka pintu mobil dan menyi­la­kan para penum­pang­nya masuk.

“Kau bakal banyak bel­a­jar dari gedung ini, Ara. Bukan dari Revo­lusi.”

Matari telah mele­wati sedi­kit dari titik pun­cak­nya.

Keri­kil peka­rangan depan pen­jara ber­de­rai-derai. Bebe­rapa orang ber­henti ber­ja­lan dan menon­ton­nya dari luar pagar kawat duri peka­rangan depan pen­jara, menon­ton wanita cantik molek mema­suki pen­jara dalam iringan preman. Tiba-tiba saja Ara merasa lapar.

Ruang beranda, di balik pintu besar, seo­rang kapten Indo menyam­but­nya dengan sangat sopan, menyi­la­kan tamu-tamu­nya duduk di kantor pen­jara. Mereka ber­ke­nalan, dan Ara meman­dang selu­ruh din­ding kantor dengan khusyuk­nya. Sebuah lukisan meng­gam­bar­kan sepo­tong lengan kuat sedang hendak melun­cur­kan bola kayu, sedang di bawah­nya ter­tu­lis dalam bahasa Belanda “De Vrij­bu­i­ters”. Sebuah kulit biawak. ter­pam­pang pada din­ding lain, sedang di bawah­nya diberi kete­rangan dalam bahasa Belanda pula “Hasil pat­roli di Cilin­cing”.

Di atas meja koman­dan pen­jara ter­da­pat penin­dih kertas, sebuah kertus peluru mortir yang telah mele­tus hanya pada satu sisi. Dengan bahasa Belanda pula ditem­pel­kan sela­jur kertas meling­kar kertus peluru itu: “Macam­nya peluru extre­mis”.

Dengan bahasa Belanda yang melun­cur tanpa rem, kapten Belanda Indo itu mela­por­kan, barusan ia terima tele­pon dari basis komando, bahwa nona Lara­sati akan meli­hat pen­jara. Kini ia dengan senang hati ingin meng­an­tar­kan dan melak­sa­nakan apa pun yang dike­hen­daki oleh nona Lara­sati, asal­kan tidak meminta kebe­basan salah seo­rang dari para tawanan.

Seo­rang span­dri menyu­guh­kan coklat susu. Dan sete­lah minum semua, mereka berang­kat mening­gal­kan gedung kantor, menye­ber­a­ngi peka­rangan dalam yang ter­la­pis batu keri­kil, mele­wati pintu besi kom­p­leks pen­jara. Dan tiba-tiba saja mereka sudah masuk ke dalam gedung pen­jara yang sesung­guh­nya: sel-sel yang ber­ha­dap-hadapan dengan hanya dipi­sah­kan oleh gang meman­jang, kemu­dian mem­be­lok di ujung.

Lara­sati merasa geli­sah dan tak senang mema­suki gedung yang tak pernah diba­yang­kan dalam selu­ruh hidup­nya ini. Pintu-pintu nampak tebal dan berat sedang din­ding-din­ding tembok itu nampak begitu kukuh. Pura-pura tak meng­erti sesu­atu pun ia ber­ta­nya, “Meng­apa mereka dita­wan?”

Kapten koman­dan itu ter­se­nyum sopan, kemu­dian ter­tawa mering­kik. Men­ja­wab, “Hanya dipi­sah­kan dari kegi­at­an­nya, nona.”

“Jadi, apa kegi­at­an­nya?”

“Jangan pura-pura bodoh, Ara,” bisik Mar­d­jo­han dari bela­kang.

Lara­sati merasa sangat tak ber­se­nang hati. Ia mene­ngok ke sam­ping pada kapten itu. Rupa-rupa­nya si koman­dan pen­jara men­de­ngar juga bisikan itu, dan ter­se­nyum sopan sambil meng­ang­guk tak ken­tara dua kali. Mereka ber­henti di depan sebuah pintu tebal seka­rang—pintu salah sebuah dari sel-sel yang ber­de­ret-deret sepan­jang gang dalam gedung itu. Tanpa diduga oleh Lara­sati, kapten itu dengan sangat kasar mem­buka jen­dela yang ter­pa­sang pada pintu di hadap­an­nya. Waktu ter­buka tampak pintu tebal dari kayu dirang­kapi oleh jera­jak besi. Dan di balik­nya ber­diri seo­rang tahanan dalam sikap mil­iter, yang ber­gu­mam pelan.

“Yang keras!” perin­tah kapten koman­dan.

“Sarkam! Ada di selnya!” seru seo­rang tahanan dari dalam.

Kapten koman­dan itu mena­tap Lara­sati sambil ter­se­nyum. Kemu­dian ia mem­buka jen­dela pada pintu yang lain. Dari dalam sel itu ter­de­ngar suara wanita, “Tur­i­nah. Ada di selnya!”

“Perem­puan?” Lara­sati ber­ta­nya.

Kem­bali kapten komando itu mena­tap Lara­sati dan ter­se­nyum, meng­ang­guk sopan, kemu­dian menyi­la­kan Lara­sati dengan tangan­nya untuk meli­hat­nya sen­diri. Dan Lara­sati men­je­nguk ke dalam. Wanita itu ber­wa­jah pucat. Muka­nya lebar, pendek, ber­baju dan ber­ce­lana mil­iter. Waktu meli­hat Lara­sati nampak ia sangat ter­ke­jut, tapi segera menun­duk. Juga Lara­sati sen­diri ter­ke­jut. Ia pernah meli­hat wajah itu, di Yogya, belum bebe­rapa bulan ber­se­lang. Mung­kin salah seo­rang peminta oto­graf. Ia pun menun­duk dan dengan sopan pelan-pelan menu­tup jen­dela pada pintu selnya.

Demi­ki­an­lah kapten koman­dan itu mem­buka dan menu­tup kem­bali jen­dela-jen­dela pada pintu sel-sel kiri-kanan gang itu satu-per­satu. Akhir­nya sam­pai­lah ia di pojo­kan di mana gang itu mem­be­lok. Kem­bali kapten itu mem­buka jen­dela sebuah pintu. Tapi tiada seo­rang pun yang menya­hut mem­beri laporan. Kapten itu hilang kesa­bar­an­nya. Dengan kasar­nya ia ten­dang pintu sel itu. Muka­nya merah. Meng­ger­tak: “Muncul, kau, bina­tang!”

Tiada sesu­atu yang menyam­but.

“Buka pintu!” perin­tah kapten itu pada sersan dan kopral yang meng­iringi.

Ter­nyata sel itu merem­bang gelap-gelapan. Sersan itu mena­han Lara­sati di luar sel. Tetapi dari luar bin­tang film itu meli­hat din­ding di dalam itu penuh dengan corat-coret coklat: darah kepin­ding. Tak dapat ia mena­han hati untuk tahu apa sesung­guh­nya yang ter­jadi di dalam sel itu. Ia dorong sersan itu ke sam­ping dan masuk ke dalam.

“Ara!” seru Mar­d­jo­han meme­rah.

Waktu sampai di dalam dira­sa­i­nya udara sel itu dingin dan lembab. Sebuah bale beton yang tidak cukup pan­jang meman­jang pada din­ding. Seo­rang kurus kering sema­cam papan ter­ge­le­tak di atas­nya. Di sam­ping kepa­la­nya ter­le­tak kaleng men­tega berisi air, dan di atas­nya meng­am­bang kotoran teng­go­r­okan ber­cam­pur darah. Orang di atas bale itu tak ber­ge­rak. Mata­nya sete­ngah men­de­lik. Dada­nya yang tipis turun-naik sewaktu ber­na­fas dengan susah­nya. Dan suara per­la­han menge­ri­kan keluar dari teng­go­r­okan, tiap kali ia mena­rik dan meng­hem­bus­kan nafas. Kapten koman­dan itu ber­diri ter­ma­ngu, tak tahu apa mesti diker­ja­kan. Akhir­nya tanpa mene­ngok ke bela­kang memang­gil, “Sersan!” Sete­lah orang yang dipang­gil masuk, ber­ta­nya tanpa mene­ngok, “Kenapa orang ini?”

“Baru kema­rin pulang kemari, kapten, dari peme­rik­saan Nefis.”

“Sudah lama sakit begini?”

“Sudah, kapten.”

“Meng­apa aku tak pernah tahu?”

Sersan itu tak men­ja­wab. “Pang­gil dokter.”

Dan sersan itu meng­hi­lang. Bin­tang film itu meng­ham­piri tawanan itu. Meraba kaki­nya: panas di atas 41 dera­jat. Orang ini akan segera mati, pikir Lara­sati. Mati, ber­ha­dapan dengan pem­bu­nuh­nya sen­diri.

Ada yang mem­bu­nuh. Ada yang dibu­nuh. Ada per­a­turan. Ada undang-undang. Ada pem­be­sar, polisi, dan mil­iter.

Hanya satu yang tidak ada: kea­dilan. Lara­sati ingin meng­hi­bur orang sakit itu. Orang ini telah jatuh di medan per­ju­angan—dia tidak bakal menyak­si­kan keme­nangan. Mung­kin ber­a­nak, mung­kin ber­is­tri. Mung­kin juga tidak sama sekali. Namun ia ber­ju­ang. Dan dalam sakit­nya ini, sete­ngah sadar pula barang­kali, bahkan dalam mim­pi­nya mung­kin ia tetap ber­ju­ang, tetap mela­wan.

“Nama­nya siapa?” tanya Ara.

“Sampai nama­nya pun tidak pen­ting, nona,” jawab kapten itu sambil ter­se­nyum.

Diam seje­nak. Si sakit itu meng­ge­rak-gerak­kan tangan­nya.

“Dia minta minum,” kata Lara­sati

“Tak ada yang mau beri minum pada­nya?” ia mena­tap kapten koman­dan itu. Tetapi yang dita­tap­nya hanya ter­se­nyum sopan: “Aku yang koman­dan di sini, nona.”

“Perin­tah­kan kalau begitu.” Lara­sati lupa ia hanya seo­rang tamu.

Ia beron­tak. Tanpa pikir pan­jang ia menye­rang, “Kalau tuan koman­dan­nya, perin­tah­kan beri minum.”

“Sayang aku bukan bawah­anmu, nona.”

Merah padam muka Lara­sati. Seo­rang koman­dan yang tak tahu kea­daan tawan­an­nya—hanya pada jarak bebe­rapa puluh meter dari kan­tor­nya sen­diri! Ter­lalu! Ini bukan tempat men­ja­uh­kan orang dari kegi­at­an­nya. Pem­bu­nuh dengan cara baru.

“Mari terus­kan penin­jauan,” ajak kapten itu.

“Aku mau tahu ten­tang si sakit ini dulu.”

Wajah kapten itu beru­bah. Lara­sati tak peduli. Ia ham­piri kepala si sakit. Orang itu meng­ang­kat tangan dan menu­tup muka­nya, kemu­dian batuk-batuk lemah dan lama. Waktu itulah Lara­sati tak dapat mengen­da­li­kan kejut hati­nya meli­hat lekukan dalam coklat meling­kari per­ge­langan tangan si sakit. Dan waktu dili­hat­nya tangan si sakit yang sebe­lah lagi, ter­nyata per­ge­langan itu pun diling­kari lekukan dalam coklat. Dia habis digan­tung pada tangan yang dipu­lir ke ” bela­kang. Dia habis digan­tung lama. Hampir-hampir Lara­sati ber­te­riak karena kaget­nya, “Habis dia­pa­kan kau, bung!” Mar­d­jo­han datang meng­ham­piri dan ber­bi­sik: “Itu pun bisa menimpa dirimu, Ara.”

“Husy,” sen tak Lara­sati. “Aku meng­ha­dapi manu­sia, bukan hewan. Kalau kau sen­diri begini juga aku akan tolong, Djohan.” Si sakit itu ber­henti batuk. N ampak ia meng­ang­guk lemah pada Lara­sati, dan wajah­nya beru­bah begitu lunak menang­gung saya­tan hati yang ter­haru. Kapten dan Mar­d­jo­han meng­a­wasi Lara­sati, dan si sakit itu meng­ang­kat leng­an­nya. Pada lengan itu ter­tu­lis dengan tatu­ase biru: Ketut Suratna. Peman­dangan Lara­sati ber­ku­nang-kunang, hampir ping­san. Itu dia yang di hadap­an­nya seka­rang: ajudan Opsir piket yang hilang tak tentu rim­ba­nya. Ia bera­ni­kan hati mela­wan kele­mahan, “Punya kelu­arga?” Si sakit meng­ge­leng lemah—sangat lemah—hampir-hampir tak nampak. Lara­sati meng­u­sap rambut Ketut Suratna. Dan kepala itu seperti habis dice­lup dalam air panas. Dia tidak ber­ke­lu­arga. Dia tidak ber­a­nak, tidak ber­bini. Kalau per­ju­ang­an­nya menang, mung­kin dia telah tewas, dan keme­nang­an­nya itu tidak dinik­mati apa pun di antara kelu­ar­ga­nya sen­diri, tetapi buat orang-orang lain. Tapi sudah pasti buat orang-orang seperti Mar­d­jo­han dan kolo­nel Surjo Sen­tono juga. Ia tak dapat mena­han haruan yang ber­ko­bar dalam hati menge­nang­kan semua ini.

Si sakit itu nam­pak­nya pun tak dapat mena­han haru dalam hati­nya. Ia men­coba memi­ring­kan badan meng­ha­dapi Lara­sati, mung­kin untuk meng­u­cap­kan terima kasih atas keba­ik­an­nya. Nafas­nya ter­henti seje­nak. Ia hendak mena­rik nafas lagi, ter­ta­han. Mulut­nya megap-megap. Mata­nya sete­ngah men­de­lik. Mulut­nya ter­buka dan ter­tu­tup sedang­kan dada­nya meng­ge­lem­bung seakan hendak muntah. Jakun­nya turun-naik.

Lara­sati mem­be­la­kangi si sakit. Ia tak tahan meli­hat. Ia tutup muka­nya dengan tangan­nya. Mar­d­jo­han ter­se­nyum, ber­bi­sik hampir-hampir tak ter­de­ngar oleh­nya, “Mari kita lihat yang lain.”

Lara­sati memu­tar badan­nya dengan kasar dan kem­bali meng­ha­dapi si sakit. Sepan­tun sua­ra­nya yang seakan tidak keluar dari teng­go­r­okan manu­sia, suara yang meng­a­jak sese­o­rang muntah, ter­de­ngar menya­yat hati. Dan si sakit itu mering­kas­kan kedua bahu­nya. Mulut­nya ternga-nga. Dan buih kental keluar dari mulut itu, kemu­dian darah kental dalam lem­pengan menyem­bur, jatuh ber­ce­ceran di atas dada si sakit, melun­cur jatuh di bale beton, kemu­dian di lantai.

Lara­sati ping­san.

Ia tak tahu apa yang ter­jadi kemu­dian.

Bau klonyo yang per­tama-tama ter­cium oleh­nya, seperti dari jauh, sangat jauh. Waktu ia mem­buka mata­nya, per­tama-tama yang nampak oleh­nya adalah tuan kolo­nel Surjo Sen­tono dan seo­rang kolo­nel Belanda. Senyum kolo­nel inlan­der itu mengirai puas. Sua­ra­nya lemah-lembut ber­ta­nya:

“Mung­kin kau dakwa kami kejam, Ara,” ia ter­se­nyum lagi. “Dua tiga tahun lagi kau bakal tahu hasil­nya. Kau akan ber­te­ri­ma­ka­sih atas tin­dakan kami.”

Lara­sati tak meng­erti. Piki­ran­nya mati. Bau klonyo itu menye­gar­kan kepa­la­nya yang pening. Kolo­nel Belanda itu bicara dalam bahasa Indo­ne­sia tangsi, “Maaf, nona. Kita ter­lam­bat datang.” Lara­sati tak men­ja­wab.

“Cukup?” ia ber­ta­nya lagi. Tetapi bin­tang film itu tak meng­erti semua suara yang ditu­ju­kan­nya.

“Kau mau terus pulang, Ara?” tanya kolo­nel Surjo Sen­tono.

Lara­sati men­coba bangun dari bangku pan­jang kayu jati tebal itu. Tetapi kaki­nya terasa lemas. Ta men­coba ingat apa yang telah ter­jadi. Mula-mula ia ter­i­ngat pada darah lem­pengan hitam merah, kemu­dian pada sebuah wajah. Akhir­nya ter­i­ng­at­lah ia pada si sakit: Ketut Suratna. Gelom­bang amarah men­ja­lari selu­ruh saraf-saraf­nya. Ia bangun menyen tak, ber­diri, menen­tang mata kolo­nel Surjo, kemu­dian pada tong­kat-koman­dan­nya, kem­bali pada mata­nya, tetapi hanya mata­nya sen­diri yang ber­kaca-kaca. Ia ter­du­duk.

“Bagai­mana ren­cana film kita, Ara?” kolo­nel Surjo Sen­tono ber­ta­nya.

“Ah, nona lelah benar,” sambut kolo­nel Belanda itu. “Lebih baik isti­ra­hat dulu, bukan?” ia duduk di sam­ping Ara. “Sersan, ambil­kan ora­nyek­rus.”

Mar­d­jo­han nampak ber­diri di pojok kantor sambil kadang-kadang meng­ha­pus keri­ngat dengan seta­ngan indah. Pada bibir­nya selalu nampak senyum, yang sengaja diki­rim­kan­nya pada Lara­sati.

“Rupa-rupa­nya nona habis meli­hat peman­dangan tidak mena­rik,” kolo­nel itu mene­rus­kan. “Tapi, ah, biar aku per­ke­nal­kan diri, kolo­nel Drest, koman­dan basis komando Bata­via.” Ia ter­se­nyum lagi seakan sedang meng­ha­dapi per­so­alan menye­nang­kan dan mem­beri harapan menye­nang­kan.

“Sudah lama kita harap­kan nona. Apa saja yang tidak bisa kita per­buat? Bukan begitu, kolo­nel?” ia mene­ngok pada kolo­nel inlan­der itu, kemu­dian mene­rus­kan. “Ren­cana tuan kolo­nel ini sung­guh hebat. Film doku­men­tasi peng­ung­sian dari peda­laman! Nona datang. Ren­cana diubah. Film doku­men­tasi diganti jadi film cerita. Bin­tang film cerita! Bin­tang film Ara pri­ma­don­a­nya. En, Djohan sudah dapat ins­pi­rasi sete­lah nona Ara datang?”

“Kom­p­let, tuan kolo­nel. Seja­rah Ara sen­diri, akan dima­in­kan. Dia setuju.”

“Bagus. Bagai­mana garis ceri­ta­nya?”

Mula-mula Ara pun extre­mis. Kemu­dian sadar dia ber­sa­lah. Lantas kem­bali ke jalan benar. Latar bela­kang­nya peng­ung­sian. Dulu peng­ung­sian jadi pokok, seka­rang jadi latar bela­kang.

“Bagus! Bagus sekali

Pp kolo­nel Drest menyam­bung sambil ter­tawa ramah. “En, bagai­mana pen­da­pat kolo­nel Surjo San­tono?” Kolo­nel arti­leri itu meng­ge­leng.

“Meng­apa?”

“Apa peranan arti­leri kemu­dian?” Kolo­nel inlan­der itu mem­pro­tes.

Mar­d­jo­han ter­tawa sopan dari pojo­kan­nya.

“Jadi apa jawabmu, Djohan?” Drest ber­ta­nya.

“Tetap, tuan kolo­nel. Semua dimu­lai dan dia­khiri di bawah lin­dungan laras meriam tuan kolo­nel Surjo Sen­tono— maaf, tuan kolo­nel Surjo Sen­tono.”

Waktu ora­nyek­rus datang, semua minum. Hanya Lara­sati tidak. Namun Surjo Sen­tono nampak masih juga belum puas. Tetapi ia tidak mem­pro­tes lagi.

“Apa pen­da­patmu, Ara?” tanya­nya kemu­dian.

“Aku mau pulang.” Lara­sati bang­kit mening­gal­kan kamar pen­jara.

Sampai di luar gedung kantor, di peka­rangan depan yang ter­ku­rung pagar duri, ia lari ter­hu­yung-huyung menuju mobil yang mem­ba­wa­nya ke tempat ini tadi. Para petu­gas itu buru-buru meng­i­kut­i­nya dari bela­kang. Mereka ber­henti di dekat mobil. Kedua kolo­nel itu ber­pan­dang-pan­dangan. Paling akhir Mar­d­jo­han ber­ja­lan per­la­han. Ia mem­per­si­ap­kan jawaban atas per­ta­nyaan-per­ta­nyaan yang bakal meng­hu­jani kepa­la­nya. Wajah­nya ber­ke­rut-kerut. Nadi pada kening­nya ber­ga­lur menon­jol. Suatu kesal­ahan kecil—dan peng­hi­dup­an­nya bisa runtuh sama sekali.

Lang­sung pada sopir Lara­sati meme­rin­tah kasar, “Turun­kan koperku!”

Sopir itu ber­siap-siap hendak menu­run­kan. Kolo­nel Drest men­ce­gah­nya sambil ber­kata, “Maaf, kalau kita telah menying­gung pera­saan nona. Kita memang belum biasa ber­gaul dengan bin­tang film—bin­tang film ter­ke­muka,” ia mem­bung­kuk dengan hor­mat­nya.

“Sersan,” kolo­nel Surjo Sen­tono meme­rin­tah, “bawa nona pulang ke rumah­nya. Mar­d­jo­han antar­kan!”

Lara­sati meman­dangi peja­bat-peja­bat itu dengan tak senang hati­nya. Kemu­dian dengan bim­bang masuk ke dalam mobil: ia duduk di bangku bela­kang. Mere­bah­kan kepa­la­nya pada ujung jok dan tak mem­pe­du­li­kan keli­ling­nya. Kolo­nel Drest dengan sopan menu­tup pintu mobil. Semen­tara itu Surjo Sen­tono meng­ha­dapi Mar­d­jo­han dan mulai dengan penye­rang­an­nya.

“Apa arti semua katamu, Djohan?”

Tapi Mar­d­jo­han sudah siap-siap dengan jawab­an­nya:

“Jangan lupa tuan kolo­nel, dia seni­man—hidup hanya di alam pera­saan.”

“Mung­kin kita tak dapat per­gu­na­kan dia,” Drest ber­bi­sik.

“Serah­kan padaku, biar aku ker­ja­kan sen­diri,” Mar­d­jo­han menyang­gup­kan.

“Ter­lam­pau perasa,” Surjo Sen­tono meni­lai Lara­sati.

“Begi­tu­lah seni­man. Tapi, kalau pera­sa­an­nya dapat ditun­duk­kan, orang­nya hanya mem­bun­tut di bela­kang,” Mar­d­jo­han meng­hi­bur mereka.

“Djohan, apa mak­sudmu kita orang mil­iter tak tahu pera­saan?”

“Bukan tuan kolo­nel…”

Semen­tara itu kolo­nel Drest yang tak senang pada semua per­ca­kapan itu pergi men­de­kati sopir yang telah duduk di tem­pat­nya. Sedang Mar­d­jo­han yang hendak meng­hin­dari kolo­nel inlan­der men­de­kat Ara, ber­bi­sik, “Lebih baik aku antar­kan, Ara.”

“Sersan! Boleh berang­kat!” kolo­nel Drest meme­rin­tah. Mobil men­deru dengan cepat mening­gal­kan peka­rangan depan pen­jara. Dari jauh masih nampak orang banyak menon­ton wanita ayu keluar dari pen­jara. Mobil mem­be­lok mening­gal­kan pintu pagar kawat, mema­suki lalu-lintas siang. Maka lenyap­lah gedung yang menge­ri­kan Ara. Kemu­dian sopir meme­lan­kan ken­da­ra­an­nya. Meng­a­wasi Lara­sati yang menyem­bu­nyi­kan muka dalam tangan­nya dari kaca meng­in­tip. Ia batuk-batuk mem­per­ke­nal­kan diri. Kemu­dian memu­lai, “Memang begini sehari-hari, nona, di daerah pen­du­dukan ini.”

Lara­sati men­ja­uh­kan muka­nya pada pang­kuan. Dalam sehari kema­rin ia hidup dalam sua­sana keta­kutan yang baru sekali ini dia­lam­i­nya: begitu pan­jang, serasa tiada kan habis-habis­nya. Dan sehari ini, walau­pun merang­kak begitu lambat, penuh kenge­rian, keben­cian, kebu­asan, kebi­na­tangan. Kalau aku tak memi­l­iki tubuh indah dan wajah cantik mung­kin aku jadi seba­gian dari mereka yang dibu­nuh pelan-pelan dalam pen­jara itu. Atau justru karena kedua-duanya aku jadi begini? Ia meng­ge­leng lemah. Mung­kin ini akan terus dia­lami diriku sampai hilang kein­dahan dan kecan­ti­kanku. Dalam kele­tihan antara sadar dan tak sadar, ber­ba­gai kenangan masa-masa lalu melin­tas di mata yang dipe­jam­kan­nya. Walau­pun masih muda, bagi Ara seja­rah penuh dengan rang­kaian peng­a­laman dah­syat. Satu hari yang tak akan ter­lu­pa­kan seumur hidup­nya, dia ingat betul ter­jadi sejak tubuh­nya mekar mening­kat dewasa. Empat belas! Ia ingat betul, tepat pada hari ulang-tahun­nya yang ke empat belas. Ter­ba­yang-bayang kem­bali ia ting­gal­kan kamar­nya, menye­li­nap di hari gelap. Jam sebe­las malam waktu itu. Ia pergi keluar rumah dii­ring­kan oleh lolong anjing herder, lalu keluar gang. Sebuah sedan hitam menung­gu­nya di bawah pohon jalanan. Seo­rang keluar dari mobil itu. Sampai waktu itu, Ara tak tahu benar siapa sesung­guh­nya nama Oom Didong yang baru keluar dari mobil sedan itu. Baru lama kemu­dian dike­ta­hu­i­nya, Oom Didong adalah seo­rang adik peju­ang nasi­o­nal dan ang­gota Vol­k­s­raad yang sangat ter­ke­muka. Per­a­wakan orang­nya sedang tapi tegap. Kul­it­nya kuning gading dan hidung­nya sangat man­cung. Mata­nya agak kecok­lat-cok­la­tan. Begitu indah pria itu—Oom Didong, seperti seo­rang pange­ran dari gedongan kuno. Dialah yang mula-mula mem­ba­wa­nya, mem­bu­juk­nya, dan menun­tun­nya ke pang­gung “opera” pecahan rom­bongan Miss Ribut. Malam itu debut­nya gilang-gemi­l­ang: ia keluar dengan per­tun­jukan tari-nyanyi “Es Lilin”. Sorak-sorai gegap-gem­pita. Ah, ah, di mana gaun malam debut itu seka­rang? Di mana?

Habis per­tun­jukan, Oom Didong mem­ba­wa­nya ke dalam sebuah rumah. Ia tak tahu di mana. Malam itu ia tidur ber­sama deng­an­nya—dengan pria gagah dan mem­pe­sona— dua puluh lima tahun lebih tua dari­pada dir­i­nya. Mana Oom Didong seka­rang! Dan pria itu mem­buat baju gaun­nya ber­ber­cak-bercak diti­tiki tetesan-tetesan darah. Darah­nya sen­diri yang mem­buat ia untuk selama-lama­nya kehi­langan masa-pera­wan­nya. Tetapi ia merasa baha­gia. Malam itu bagi­nya meru­pa­kan malam yang bagi anak-anak seba­ya­nya masih meru­pa­kan impian. Malam itu pula untuk per­tama kali­nya ia minum bir sampai mabuk. Dan pada subuh hari ia dian­tar­kan pulang oleh Oom Didong, pulang. Gaun­nya masih agak lembab basah sesu­dah tadi malam sebe­lum tidur dia men­coba kucek-kucek dengan air kran di was­ta­fel titik-titik merah yang jelas mele­kat di gaun­nya.

Malam-malam dah­syat itu masih ber­ja­lan terus sampai akhir­nya keta­huan ibunya…

Men­da­dak Ara ter­ba­ngun ter­ke­jut seakan peris­tiwa itu baru saja dia alami.

Mobil mem­be­lok akhir­nya ber­henti. “Bukan di sini rumahku,” Lara­sati mem­ban­tah.

“Kita makan dulu, nona.”

Lara­sati tak meng­erti meng­apa sekali ini ia kehi­langan kepan­dai­an­nya dan menu­rut­kan saja kema­uan sopir itu. Kedu­a­nya mema­suki rumah makan Tiong­hoa. Mereka duduk di pojok sunyi. Dan sopir itu memu­lai, “Semu­a­nya bina­tang, nona, semu­a­nya. Juga aku.”

Lara­sati mena­tap wajah sersan Nica di hadap­an­nya itu.

Dia masih muda. Hidung pesek ber­teng­ger di wajah­nya. Ia tak meng­erti maksud si sopir. Ia tetap mena­tap­nya.

“Nona baru kenal daerah bina­tang ini. Juga aku.”

“Meng­apa kau bawa aku kemari?”

“Ingin tahu ten­tang peda­laman, nona.”

Lara­sati men­de­ngus. Ia merasa sedang dise­li­diki. Tetapi menyam­but juga, “Kau lebih tahu dari aku,”

“Nona curiga karena pakai­anku, karena peker­ja­anku. Aku baru seminggu turun dari Papua, dari Sorong. Tidak tahu ten­tang semua ini.”

“Per­gi­lah sen­diri ke sebe­rang.”

“Sebe­rang mana, nona.”

“Sebe­rang kali Bekasi. Kau akan tahu sen­diri.”

“Itulah nona, aku men­cari hubungan. Aku yakin nona bisa meng­hu­bung­kan. Kalau tidak sia-sia saja bakal­nya. Aku mau lari­kan mobil itu, dan bebe­rapa kawan ikut serta nanti,”

Men­da­dak saja Lara­sati begitu per­caya pada orang itu. Pera­sa­an­nya kem­bali mem­bim­bing­nya. Mung­kin ia sudah lelah ber­cu­r­iga-curiga. Tiba-tiba sopir itu menu­ding ke suatu tempat. Sebuah sedan ber­henti di bela­kang ken­da­raan yang habis mereka tum­pangi.

“Mar­d­jo­han,” sopir itu ber­bi­sik dan tanpa meng­in­dah­kan pen­da­pat Ara, ia tarik tangan penum­pang­nya itu lari masuk ke dalam dapur. Mem­ba­yar belanja lari keluar dari sam­ping, lari ke depan masuk ke dalam mobil, meng­hi­dup­kan mesin, lari ken­cang-ken­cang. Lari—tanpa tujuan.

“Bina­tang itu meng­in­tip!” sopir itu meng­ge­ram.

“Kau bukan Nica?” Lara­sati ber­ta­nya.

Anak muda itu meng­ge­leng.

Mobil ber­henti di ping­gir jalan besar. Kedu­a­nya turun.

Masuk ke dalam kam­pung. Gang kam­pung telah sangat rusak. Aspal­nya pada bebe­rapa bagian telah gundul. Pada bebe­rapa bagian lagi pela­pisan batu­nya telah men­jadi lubang di mana meng­en­dap lumpur hitam. Kiri-kanan gang mem­bu­jur got yang mem­bu­bung­kan gas sampah dan kotoran manu­sia. Seben­tar-seben­tar sopir itu menu­tup hidung­nya sambil meman­dangi Lara­sati dari sam­ping. Akhir­nya tak dapat lagi mena­han hati ber­ta­nya, “Memang begini buruk kam­pung, nona!”

“Rata-rata kam­pung di Jakarta memang begini.”

“Di Kema­yo­ran agak bersih.”

“Tentu di sana ting­gal peja­bat-peja­bat Nica.”

Ia ter­diam.

Seo­rang tua kurus pucat ber­diri di bawah tiang lis­trik. Ia ber­sa­rung sampai pada bahu­nya. Ber­topi haji, ber­tong­kat coklat dari kayu meling­kar-ling­kar.

“Tahu rumah Las­mid­jah, kek?”

Orang itu menun­juk. Tetapi seke­li­batan Lara­sati meli­hat mata tua kakek itu men­curi pan­dang pada sersan sopir Nica itu. Kemu­dian meng­ge­leng tak peduli.

Kedu­a­nya ber­ja­lan terus. Ara mene­ngok ke bela­kang. Kakek itu meng­a­was­i­nya dengan mata berapi-api. Tanpa meman­dang pada sersan Nica di sam­ping­nya Lara­sati ber­bi­sik: “Kau dicu­r­i­gai, kem­bali saja kau ke jalan besar.”

Sopir itu tak mem­ban­tah dan balik ke jalan besar.

Sete­lah Lara­sati sampai di tikungan baru ia ber­ta­nya pada seo­rang lagi—seo­rang nenek yang sedang menyi­siri ram­but­nya yang masih hitam. Kain­nya ber­tam­bal-tambal sehingga nampak begitu tebal dan susah diper­gu­na­kan ber­ge­rak. Nenek itu menun­juk pada sebuah gubuk petak di depan­nya. Jan­tung Lara­sati meriut kecil. Itukah rumah ibuku? Ibuku yang kuke­nang selama ini? Ibu yang selalu meng­am­puni kesal­ahan dan dosaku sampai aku jadi bin­tang film kena­maan? Ia mene­ngok ke bela­kang meng­u­cap­kan terima kasih pada nenek itu. Naik ke atas tangga got dan sampai di beranda ber­lan­tai tanah, ber­a­tap rumbia. Di sini ibuku ting­gal. Semes­ti­nya dia hidup senang deng­anku. Semes­ti­nya dia tak perlu bekerja lagi. Aku yang harus kerja untuk­nya—aku anak satu-satu­nya.

Di atas jen­dela beranda ter­pa­sang gam­bar­nya yang telah kumal dan dekil —tanpa kaca pigura: Bin­tang Ara sedang di atas pang­gung, sedang menya­nyi, menge­na­kan rok dan meli­rik pada salah seo­rang penon­ton. Penon­ton itu tak ada dalam gambar, tapi Ara masih ingat siapa orang­nya. Ia meli­rik di bawah payung sutera. Payung itu ber­warna jingga. Tapi gambar itu hanya hitam. Sebuah kipas menu­tup bagian bawah dari muka­nya, dan waktu itu ia sedang ber­bi­sik. Tapi bisik itu tidak ter­bawa dalam gambar itu. Ia masih ingat pada bisik­an­nya di balik kipas itu: Jangan lupa pada jan­jimu seben­tar nanti. Ah, si Tan itu! Pemuda Tiong­hoa itu sangat sopan, pemu­rah. Ia bangga punya kawan seperti dia, begitu pen­diam dan pemalu, tetapi bila ting­gal berdua saja deng­an­nya, di sesu­atu tempat yang kedua-duanya telah setuju, pemuda itu jadi sangat ganas. Lara­sati jadi singa betina yang juga ganas.

Lara­sati ter­se­nyum meman­dangi gambar kumal, dekil itu. Seti­dak-tidak­nya ibu bangga punya anak seba­gai aku. Kemu­dian ia ber­ja­lan meng­ham­piri pintu depan. Tapi ter­kunci pada dua lembar kawat. Ia meng­in­tip dari sela-sela pintu anyaman bambu. Yang nampak di dalam hanya kehi­taman. Ibuku ting­gal di sarang. Ini bukan rumah. Di negeri matari ini, bahkan sinar matari dia tidak keba­gian! Ia ter­pe­ran­jak jauh di atas kursi rotan dobol. Ia bayang­kan tubuh tua itu ibunya. Mung­kin sudah bong­kok sete­lah seta­hun diting­gal­kan. Mung­kin mata­nya sudah rabun. Dan pen­de­ng­ar­an­nya telah ber­ku­rang. Ibu! Apa guna­nya kau punya anak. Ah, ibu. Sedang kemak­muran di waktu-waktu lalu yang kube­ri­kan padamu pun hanya hasil mak­siat belaka. Dan hidup masih begini riuh dan sulit. Apa­lagi buat orang setua kau, ibu.

Nenek itu ter­ta­tih-tatih bangun dari duduk­nya di tepi got. Ia datang meng­ham­piri. Duduk di kursi rotan di depan Ara, yang lebih bejat lagi, sambil ber­pe­gangan pada tepi meja kayu duren. Mata tuanya meng­a­was­i­nya. Tapi Lara­sati pura-pura tak tahu. Ia ber­ta­nya dengan suara tuanya: “Cari siapa, sih? Las­mid­jah?”

“Benar, nek.”

“Nanti sore jam enam baru datang dia.”

“Dari mana, nek?”

“Kerja.”

Tentu, tak bisa lalai. Dia, mesti kerja. Dia tahu sudah, ibunya cuma bisa jadi babu—paling tinggi! Babu siapa? Babu Belanda?—dia akan tewas dibu­nuh pemuda. Tidak, tentu bukan babu Belanda. Babu orang Indo­ne­sia pun tidak mung­kin. Tak bakal mampu orang Indo­ne­sia punya babu dalam kea­daan begitu sulit beras.

“Bagai­mana, nek, di sini? Keli­hat­an­nya sepi begini.” Nenek itu tak hir­au­kan per­ta­nyaan. Malah dialah yang ber­ta­nya kagum, “Apanya Las­mid­jah sih? Anak­nya?”

“Benar, nek.”

“Benar juga kalau begitu Las­mid­jah, ya? Kok anak­nya begini cakap?”

“Kan ibuku juga cakap, nek?”

Nenek itu ter­tawa girang. Kem­bali ia tak pedu­li­kan per­ta­nyaan Ara. Ia kagumi wanita muda di depan­nya itu.

Akhir­nya ber­ta­nya, “Siapa nama­nya sih?”

“Ara, nek, Ara.”

“Ara. Benar juga kata Las­mid­jah. Kata­nya bin­tang film, ya?”

“Benar, nek.”

“Apa sih bin­tang film? Anak wayang?”

“Benar, nek.”

“O…o jadi kalau begitu tak punya laki, ya?” Seki­lat-kilat menyam­bar hati Lara­sati. Orang tua itu tak tahu bagai­mana pucat wajah­nya. Tetapi sebe­lum ia bisa men­ja­wab, lelaki tua yang dita­nya tadi mena­iki tangga got dan masuk ke beranda. Mata­nya liar seperti tadi. Seben­tar meng­a­wasi Lara­sati, seben­tar pada koper yang diba­wa­nya. Sebe­lum Lara­sati dapat menang­kap maksud keda­tangan­nya dili­hat­nya tong­kat ber­ling­kar itu ber­a­yun-ayun. Dan sebe­lum ia dapat meli­hat benar tong­kat itu, benda itu sen­diri telah ter­ang­kat. Dan ujung­nya geme­tar. Ia awasi ujung itu—kian men­de­kat, akhir­nya ber­henti ber­teng­ger pada dada­nya, pada sela-sela buah dada­nya. Ia kaget. Apa dia juga mau merayu dengan umur­nya setua itu?

Ia angkat pan­dang­nya. Ia tatap mata lelaki tua itu. Mata tua itu menyala-nyala melo­tot meng­a­wasi dir­i­nya. Ia men­coba bangun. Tapi ujung tong­kat itu dite­kan­kan kuat-kuat pada dada­nya. Setiap usaha hendak bang­kit menye­bab­kan kursi dobol itu ber­a­yun meng­an­cam­nya jatuh ter­ba­lik.

Mata menyala-nyala itu mem­bu­nuh mati sema­ng­at­nya. “Mo, mau dia­pa­kan anak itu, Mo?” tanya nenek itu.

“Diam, kau!” gertak kakek itu dengan suara ganas.

“Dia baru datang, kan?”

“Pergi!” perin­tah kakek. “Tahu? Ini dia Nica perem­puan.”

“Bukan. Anak Las­mid­jah dia, Mo.”

“Diam kau! Dia datang sama ser­dadu Nica. Mau bakar kam­pung kita.”

Lara­sati mulai meng­erti kesal­ah­an­nya. Tetapi sudah ter­lam­bat. Ia men­cari akal. Dengan suara pelan-pelan seperti tiada takut ia mulai mene­rang­kan:

“Aku baru turun dari peda­laman.”

“Nica!”

“Bukan Nica. Pra­ju­rit kita dalam pakaian Nica tadi. Menya­mar.”

“Buk­ti­nya!”

“Dia datang lagi nanti. Tanyai sen­diri.”

Ujung tong­kat itu ter­tan­cap pada dada­nya seka­rang. Mata tua itu tetap melo­tot pada­nya. Mereka akan bunuh aku, pikir Lara­sati.

“Dia anak Las­mid­jah,” bantah nenek. “Lihat gam­bar­nya, itu,” kata­nya lagi sambil menun­juk pada gambar kumal dekil di atas jen­dela.

“Diam kau, kalau tidak, aku gebrak mulutmu pakai tong­kat.” Kem­bali kakek itu melo­tot pada­nya, “Mana buk­ti­nya dari peda­laman.”

Lara­sati ber­siap hendak menge­lu­ar­kan karcis kereta dari dalam tangan­nya.

“Ada karcis kereta,” ia bilang.

“Aku tak butuh karcis kereta. Apa buk­ti­nya kau bukan Nica?”

Dia cuma ingin bunuh aku, pikir Lara­sati. Dia haus darah. Dan ia ter­diam.

Kakek itu ter­tawa meng­he­ran­kan. Kemu­dian menon­jok pada muka Lara­sati, meng­e­jek, “Lihat itu, seka­rang dia diam. Dia diam. Dia Nica!”

Lara­sati ber­ju­ang keras untuk men­da­pat­kan akal. Tak men­da­pat­kan sesu­atu jalan pun. Akhir­nya ber­kata meng­hiba dengan nada menye­rah kalah, “Kalau mau bunuh aku, bunuh­lah. Tapi aku bukan Nica.”

“Nek! Bong­kar itu koper.”

Koper yang tak ter­kunci itu dibuka oleh nenek. Dua lembar kain batik, empat lembar kebaya, dua lembar house-coat, bebe­rapa lembar gaun, bebe­rapa pakaian dalam yang sete­ngah dekil kuning.

“Dalam tasnya itu!”

Nenek menge­lu­ar­kan seta­ngan merah dekil, seba­tang sisir, gincu dan seko­tak bedak murah. Kemu­dian empat lembar Ori dari lima ratusan.”

“Uang apa itu? Uang Merah”? Jepang?” gertak kakek.

“Ori,” Lara­sati menyu­sul­kan sua­ra­nya dengan hati-hati.

Mata tua melo­tot itu kini pindah dari Lara­sati pada lem­baran Ori. Tiba-tiba ia ber­ta­nya sambil meng­ge­dor­kan tong­kat­nya. “Uang apa itu—Ori?”

Seka­li­gus Lara­sati dapat menang­kap arti per­ta­nyaan itu. Ori belum lagi banyak dike­nal di daerah pen­du­dukan. Memang baru dua hari dike­lu­ar­kan oleh Peme­rin­tah Agung di Yogya. Dan kea­daan ini yang diper­gu­na­kan­nya untuk menye­la­mat­kan diri.

“Ori—Oeang Repo­eb­lik Indo­ne­sia. Baru bebe­rapa hari

“ “Uang Merah” atau “uang Nica” - uang yang dike­lu­ar­kan keku­a­saan Hindia-Belanda semasa itu untuk meng­ha­dapi “ORI”, Oeang Repo­eb­lik Indo­ne­sia. keluar. Peng­ganti uang Jepang. Uang Jepang tak laku lagi. Sera­tus Jepang untuk satu Ori.”

Tong­kat itu jatuh ke lantai tanah, lengan kakek geme­tar meram­pas lem­baran-lem­baran itu dari tangan nenek. Dibe­la­inya lem­baran-lem­baran uang itu dengan gugup. Mata tuanya kehi­langan pelo­tot­an­nya. Kini ber­kaca-kaca sayu. Ia ciumi uang itu, teng­ge­lam dalam gelom­bang pera­saan ber­le­bih-lebihan. Sela­pisan ingus keluar dari hidung­nya yang juga telah tua dan bebe­rapa sela­pu­tan mere­kat lem­baran uang itu. Ia lupa pada Lara­sati, pada nenek, pada segala-gala­nya.

Dengan suara meng­gi­gil ia ber­gu­mam seperti berdoa pada Tuhan: “Uang jaya! Jaya! Sera­tus Jepang, satu Repub­lik, uang jaya.”

Sekali, dua, tiga, kakek itu men­ci­umi, “Kau gila, Mo,” nenek mene­ngahi.

“Gila?” kem­bali kakek itu meme­lo­tot­kan mata­nya. “Gila, kau bodoh. Kau tidak meng­erti. Kalau beras dibeli dua puluh uang Jepang satu liter. Dengan ini cuma dua picis. Kau meng­erti?”

Seka­rang per­ha­tian nenek timbul. Ia ambil selem­bar dari tangan kakek.

Kakek itu meng­a­wasi Lara­sati. Ber­ta­nya sopan, “Benar anak Las­mid­jah?” dan Lara­sati meng­ang­guk.

“Benar, tidak mung­kin kau Nica. Di sini belum ada uang sema­cam ini. Apa nama­nya tadi? Ori?” kem­bali Lara­sati meng­ang­guk. “Jadi berapa semua uang ini?” kakek ber­ta­nya.

“Dua ribu Ori, dua puluh ribu Jepang.”

“Masya­al­lah,” sebut nenek. “Kau bisa beli empat rumah.”

“Dari mana uang seba­nyak ini?” kakek ber­ta­nya.

Kem­bali Lara­sati men­jadi kalang-kabut. Seka­rang baru ter­pi­kir oleh­nya dari mana kapten Oding punya uang seba­nyak itu? Ia men­jadi bingung. Tidak mung­kin gaji­nya seba­gai opsir. Pasti ini uang tidak halal. Buru-buru ia men­ja­wab: “Dari hono­r­a­rium, kek.”

“Apa itu hono­r­a­rium? Belanda?”

“Upah main stam­bul, kek”

“Banyak amat?”

“Di depan para pem­be­sar Repub­lik, kek, para men­teri.”

“Kau banyak kenal orang-orang besar kita?”

Lara­sati meng­ang­guk. Dan ber­de­ret di depan mata­nya para men­teri yang dike­nal­nya. Pre­si­den dan Wakil Pre­si­den, para per­wira Ten­tara Repub­lik, bupati-bupati, resi­den-resi­den. Siapa yang dia tidak kenal? Dan siapa yang tidak kenal dia sen­diri? Selain kakek dan nenek di depan­nya ini? Ia menya­dari kea­daan ini: ia berada di pihak yang menang. Tetapi kesal­ahan akan mem­buat ia dalam bahaya kem­bali.

Ia ber­diri dari kur­si­nya. Pura-pura meng­a­wasi selu­ruh beranda. Kemu­dian mem­per­ha­ti­kan gambar kumal dekil di atas jen­dela, menu­run­kan­nya dan meng­a­mat-ama­t­i­nya. Meng­ge­leng-geleng puas. Kemu­dian mem­per­ha­ti­kan kakek dan nenek yang sedang meni­mang-nimang uang… uang sen­diri: Ori—uang tanpa bahasa Belanda, menga­lah­kan uang Jepang dan Merah. Waktu ingat kem­bali dari mana asal­nya uang itu ia men­jadi ragu-ragu. Hati-hati dipa­sang­nya kem­bali gambar itu di atas jen­dela beranda. Itu uang haram, mesti kukem­ba­li­kan. Dan ia rin­du­kan suatu kesem­patan untuk mengem­ba­li­k­an­nya pada Markas Besar Ten­tara Repub­lik Indo­ne­sia di Yogya. Oding tidak berhak memi­l­ik­i­nya. Apa pun dir­i­nya. Per­la­han-lahan ia beres­kan kem­bali koper­nya. Mengais-ngais dalam tas tangan. Menge­lu­ar­kan selen­dang merah dekil menye­ka­kan­nya pada teng­kuk­nya. Kemu­dian selen­dang itu dici­um­nya. Mung­kin si pem­beri ini telah tewas. Dihi­rup­nya bau tengik mem­ba­ha­gi­a­kan itu. Revo­lusi—dia adalah guru. Dia adalah pen­de­ri­taan. Tetapi dia pun harapan. Jangan khi­a­nati Revo­lusi! Kem­bali ia pan­dangi kedua orang tua itu, yang mung­kin bebe­rapa tahun lagi tewas digu­lung maut. Namun mereka pun mele­tak­kan harap­an­nya pada Revo­lusi. Betapa mereka menga­gumi lem­baran uang— per­wu­ju­dan Revo­lusi itu.

“Kau lelah,” tiba-tiba nenek itu mem­per­i­ng­at­kan.

Lara­sati meng­ang­guk. Ia tidak lelah karena per­ja­lanan. Ia lelah karena turun naik­nya pera­saan dalam dua hari ini.

“Reba­han saja di baleku.”

“Terima kasih.”

“Jam enam nanti Las­mid­jah baru pulang.”

“Jauh ker­ja­nya?”

Tiba-tiba kakek itu men­jadi ramah. Sambil menye­rah­kan uang­nya kem­bali ia menun­juk dengan tong­kat­nya ke arah jalan besar dan dengan ramah pula ber­kata, “Tentu tadi sudah kau lewati. Itu di rumah baru, rumah Arab.”

Ibuku jadi babu Arab! Alham­dul­il­lah. Biar­pun karena kesal­ah­anku.

“Biar aku cari sen­diri seka­rang,” kata Lara­sati.

“Mari aku antar­kan,” kata kakek itu.

“Tak usah­lah, terima kasih.”

Nenek itu menye­rah­kan uang­nya kem­bali pada­nya. Ia ting­gal­kan koper. Hanya mem­bawa tas tangan, menu­runi jen­jang got dan dengan gaya jalan sudah menuju ke jalan raya.

Kedua orang tua itu meng­a­was­i­nya. Si nenek ber­ge­leng-geleng, menge­luh dalam, “Bukan main Las­mid­jah. Punya anak begitu cantik. Begitu molek. Berani!”

Kakek meng­ang­guk:

Dan hilang­lah Lara­sati dari peman­dangan kedu­a­nya. Ia ber­ja­lan menun­duk menuju ke jalan raya. Hati­nya tak henti-hen­ti­nya meng­u­cap­kan syukur, karena hampir semua orang yang dite­mu­i­nya di masa segen­ting itu tidak menyu­sah­kan per­ja­lan­an­nya untuk ber­temu dengan ibunya.

Betapa berun­tung­nya jadi bin­tang film ter­ke­nal! Lawan dan kawan sama-sama menge­nal, sama-sama mem­bu­tuh­kan. Karena itu pula dengan serta-merta ia dapat mema­af­kan keka­saran kakek. Dia sangat cinta pada Repub­lik, Revo­lusi— dia men­cin­tai kam­pung halaman­nya, biar­pun busuk-busuk mem­bu­bung­kan gas lumpur dan kotor­an­nya sen­diri. Kasar karena cinta kadang-kadang juga salah. Dia mau ikut menye­la­mat­kan Revo­lusi dengan cara yang dia kenal. Lara­sati meng­e­lus-elus dada­nya yang masih merasa ngilu habis kena tong­kat. Mung­kin akan ber­buat lebih kasar bila aku di…

“Nona!” sese­o­rang mene­gur.

Ara meng­ang­kat pan­dang. Sersan sopir itu ber­diri di dekat mobil­nya. Ara meng­ham­piri, mem­beri isya­rat agar segera pergi. Orang itu tidak meng­erti.

“Pergi!” Ara meng­u­langi. “Mereka curiga! Salah-salah kau bisa ter­bu­nuh. Coba datang malam nanti. Pakai pakaian preman! Rumahku dekat peng­kolan gang. Jangan bicara, pergi. Ayoh pergi lekas!”

“Aku kha­wa­tir kalau-kalau nona…”

“Aku segar-bugar. Pergi! Juga aku dalam bahaya!” dan dengan gaya seakan tidak ter­jadi sesu­atu apa pun Lara­sati mene­rus­kan per­ja­lan­an­nya.

Ea) Da di

Sersan sopir itu masih hendak men­coba bicara, tetapi Ara tiada meng­in­dah­kan­nya. Ia jalan terus. Waktu men­de­ngar deru mobil­nya, tambah lama tambah pelan dan akhir­nya lenyap dari pen­de­ng­aran, baru ia per­ha­ti­kan keli­ling­nya. Rumah Arab itu dengan segera saja dite­mu­kan­nya.

Ruang dalam rumah baru itu luas, penuh ber­i­sikan kursi dan din­ding-din­ding­nya di sana-sini dihi­asi per­ma­dani kecil-kecil dari nilai murah, gambar-gambar peman­dangan padang pasir dan gedung-gedung dari negeri lelu­hur. Ber­beda dari kebi­a­saan rumah-rumah Arab lain­nya, pagar peka­rangan depan ter­buka. Garasi mobil­nya ter­buka, tiada mobil di dalam­nya selain kaleng-kaleng minyak motor dan sebuah ban tua. Dari ruang bela­kang ter­de­ngar tawa bebe­rapa orang lelaki, ia mema­suki sarang kelu­arga Alay­d­rus.

“Sepada!”

Suara ter­tawa ber­henti. Sese­o­rang lelaki tinggi hitam beram­but meng­om­bak dengan mata kekun­ing-kuningan dan men­jo­rok di rongga mata, muncul di lubang jen­dela. Orang itu ter­ke­jut. Ber­gu­mam, “Ara!”

“Ibuku kerja di sini. Aku mau ber­temu.”

“Ara, bukan?” dan Lara­sati meng­ang­guk.

“Ibumu siapa?”

“Las­mid­jah.”

“Las­mid­jah? Ibumu itu?” kemu­dian orang itu nampak ter­pe­sona dengan mata hampir-hampir tiada menge­dip. Bebe­rapa orang pemuda Arab lain­nya keluar dan ikut menga­gumi bin­tang film Ara. Seka­li­gus tawa lenyap—sunyi. Curiga-curiga mata mereka yang sete­ngah melo­tot ber­ki­lauan seperti bin­tang di balik men­dung tipis. Lambat-lambat pan­dang mereka mem­be­lai-belai selu­ruh tubuh Ara dari atas ke bawah, dari bawah ke atas ber­henti pada dada­nya, kemu­dian naik ke rambut, turun lagi, pulang balik seperti jarum men­ja­hit. Akhir­nya pemuda Arab yang per­tama mene­ngok ke bela­kang sambil ber­seru. “Bu! Babu!”

Seo­rang wanita tua belum lagi beru­ban muncul. “Bu!” Lara­sati ber­seru pelan.

Orang tua itu ter­buru-buru mem­buka pintu depan, menu­runi jen­jang rumah dan menub­ruk Ara. “Ara keba­nge­tan kau. Tidak ada kabar tidak ada cerita.”

Kasih sayang ibunya yang tidak pernah putus ini menye­bab­kan Lara­sati terus merasa ter­siksa bila jauh dari­nya— biar hanya buat sehari pun! Dan ia telah ting­gal­kan orang tua itu lebih dari seta­hun. “Mari pulang, bu. Bilang dulu sama tuan. Aku tunggu di ping­gir jalan.”

Dan perem­puan itu kem­bali masuk ke dalam. Lara­sati mem­ba­lik diri ke ping­gir jalan. Ia tahu pemuda-pemuda Arab itu masih juga ber­diri kelap-kelip pada jen­dela.

Ara mem­be­la­kangi mereka. Mereka juga kenal aku. Ke mana aku mesti sem­bu­nyi­kan muka kalau ada apa-apa? Bebe­rapa ser­dadu inlan­der yang sedang pat­roli jalan kaki ber­henti di depan­nya, men­coba-coba meng­gangu. Anjing-anjing itu baik selama bisa diam­bil man­fa­at­nya, salah-salah dia meng­gi­git dalam kea­daan gila. Ia awasi ting­kah laku mereka. Akhir­nya inlan­der-inlan­der itu menying­kir mem­bawa keka­lahan moril.

“Meng­apa tak bilang kalau mau pulang?”

Ibunya mena­rik pada bahu­nya. Kedu­a­nya ber­ja­lan ber­gan­de­ngan—seperti dua puluh tahun yang lalu, seperti sepu­luh tahun yang lalu—seperti seka­rang. Ara tak men­ja­wab. Kalau dia tahu bagai­mana peng­a­lam­an­nya selama ini… tidak, dia tak perlu tahu. Aku masih cukup kuat untuk menang­gung­kan semua ini, juga menang­gung semua yang masih bakal datang. Dia sen­diri sudah cukup men­de­rita buat menye­la­mat­kan aku.

“Rumahku tak layak buatmu, Ara.”

Kem­bali Ara tak men­ja­wab. Ia sudah tahu. Tapi ia pun lebih tahu ribuan pemuda ting­gal di alam ter­buka hanya ber­sen­ja­ta­kan bambu run­cing mem­ben­dung datang­nya ser­buan pasukan baja musuh. Apa yang boleh dike­luh­kan lagi? Dan per­ba­ikan apa diper­o­leh dari keluh?

Kakek dan nenek masih duduk di kursi menunggu keda­tangan­nya.

“Idjah! Anakmu bawa duit dua puluh ribu!” teriak nenek itu.

Las­mid­jah meman­dangi anak­nya. Dan Ara meng­ge­leng.

“Aku lihat sen­diri,” nenek mene­rus­kan.

“Itu uang negara, bukan uangku.”

Nenek itu ter­diam. Semua meng­a­wasi Lara­sati. Senyap seben­tar dalam ting­kahan puputan angin. Nenek itu ber­ke­cap-kecap. “Dia bisa beli empat rumah seka­li­gus!”

“Rumah ini sudah cukup baik,” susul Ara. “Kalau kita menang perang, semua kita dapat rumah baik. Tapi seka­rang negara lebih butuh uang dari­pada kita semua.”

“Kau punya uang merah?” kakek men­de­sak. Ara meng­ge­leng. “Uang Jepang?” Ara meng­ge­leng. “Kau bukan ber­mak­sud ker­ja­sama Belanda?” Ara meng­ge­leng. “Tidak? Jadi makan apa nanti?”

Tiba-tiba Lara­sati men­jadi bingung. Per­ta­nyaan itu tak. pernah dipi­kir­kan­nya sebe­lum­nya. Apa kau mesti minta makan dari ibu yang sudah sete­ngah kela­paran? Apa mung­kin? Ia geleng­kan kepa­la­nya yang indah. Mata­nya runtuh di atas ujung selop­nya.

Tidak. Ini bukan kesu­l­itan yang per­tama-tama. Ini kesu­l­itan biasa. Tidak, aku bilang. Aku tidak akan serah­kan diri pada lelaki siapa saja. Itu biar­lah dilu­pa­kan oleh masa lampau. Sedang dulu pun ia tidak pernah serah­kan diri tanpa suka hati­nya sen­diri. Ia pan­dangi kakek, ia pan­dangi nenek, ia pan­dangi ibunya, ia pan­dangi dir­i­nya sen­diri. Tidak, aku akan ber­diri seba­gai satu-satu­nya Ara di tengah-tengah Revo­lusi.

“Biar aku meng­aso dulu,” Ara ber­gu­mam. Dan sebe­lum masuk ke dalam ia pan­dangi kakek, meminta.

“Beri aku petun­juk, kek.”

Dan kakek itu ber­gu­mam kata-kata tidak jelas. Ketiga orang tua itu ber­pan­dang-pan­dangan satu sama lain.

“Apa pikirmu Idjah?”

Juga Las­mid­jah masuk ke dalam.

Malam itu lampu minyak tanah tanpa sem­prong kelap-kelip di beranda. Sebuah menyala di dalam. Lara­sati dalam house-coat ber­ba­ring di bale ibunya. Antara seben­tar kepi­ding menye­rang leng­an­nya, di mana kul­it­nya telan­jang tiada ter­lin­dung. Dari jauh ter­de­ngar suara tembak-menem­bak gencar, dengan kera­bin, dengan sen­jata oto­ma­tik ringan. Ia meren­ca­na­kan hari esok kini, tapi tak ada sesu­atu pun gam­baran datang ke dalam kepa­la­nya.

Ibunya tak ada. Cari beras! Itu Ara tahu. Ia telah mela­rang­nya. Tapi orang tua itu tak sampai hati meli­hat anak­nya lapar. Bagai­man­a­pun Lara­sati tak dapat men­ce­gah orang tua itu hendak mem­be­bas­kan diri dari pera­saan wajib ter­ha­dap dir­i­nya.

Dan dalam tas-tangan­nya ter­ge­le­tak mata uang dua ribu Ori—sama dengan dua puluh ribu uang Jepang.

Tak pernah sebe­lum itu ia merasa jiwa­nya bolong-bolong dan com­pang-cam­ping—pera­saan seo­rang peju­ang bila keha­bisan gagasan-gagasan.

Ia meng­ha­rap­kan keda­tangan sese­o­rang seka­rang. Kapten Oding pasti dapat meno­long­nya. Tetapi sete­lah ia mera­gu­kan keju­jur­an­nya, ia tak mau menge­nang­kan opsir gagah itu kem­bali. Seka­rang ia ingin bicara ten­tang segala hal. Ia benci pada keko­songan ini.

Hari telah mulai gelap seka­rang. Tadi ia mandi dalam tempat mandi ter­buka yang ditu­tup hanya oleh tiga lembar kajang. Airnya memang jernih, tetapi lubang­nya telah ter­tu­tup oleh lumut tebal dan ber­ba­gai bina­tang kecil menari-nari di anta­ra­nya.

Bunyi per­tem­puran di keja­uhan telah padam. Sayup-sayup ter­de­ngar tong-tong bambu.

Kemu­dian disam­but oleh yang lain, akhir­nya meng­ge­lum­bang bunyi tong-tong dari segala pen­juru. Ia tak kenal lagi Jakarta yang seka­rang. Ia men­de­ng­ar­kan—hati-hati. Tiba-tiba di kam­pung­nya sen­diri meriuh bunyi tiang lis­trik dipu­kuli. Suatu suara tegar keras meme­rin­tah, “Padam­kan lampu! Padam­kan!”

Lara­sati melom­pat, meniup lampu, lari ke depan dan meniup lampu beranda. Kemu­dian masuk lagi. Duduk di bale dalam kege­lapan. Suara itu ter­de­ngar lagi. Tapi kurang keras. Apa yang ter­jadi? Di Yogya tidak pernah begini. Kem­bali ia keluar. Malam telah gelap. Tapi langit masih merem­bang biru hitam dan bin­tang-bin­tang ber­mun­culan pudar.

Ter­de­ngar suara truk dekat di jalan besar. Agak lebih jauh lagi menyu­sul bunyi ren­tetan sen­jata oto­ma­tik ringan. Lara­sati meng­ham­piri jen­jang got, ber­pe­gangan pada pagar bambu. Puluhan pasang sepatu berat lari ber­de­rap mema­suki gang. Ter­de­ngar ledakan granat. Sunyi-senyap. Akhir­nya menyu­sul tem­bakan pistol. Derap sepatu ter­de­ngar lagi. Kini suara-suara meng­ham­piri Lara­sati yang ber­diri di balik pagar. Ter­de­ngar sese­o­rang ter­e­ngah-engah ber­bi­cara dengan yang lain:

“Sela­mat semua, kan?”

“Kurang lima.”

“Mes­ti­nya truk tadi diba­kar saja. Apa kau pikir mereka tahu tempat kita?”

Dan puluhan pasang sepatu itu ber­de­rap mele­wat­i­nya. Akhir­nya padam sete­lah peng­kolan gang yang lain. Sunyi sepi. Tiada bunyi. Tiada cahaya. Cuma ada satu suara yang kini ter­de­ngar. Dan suara itu suara hati­nya sen­diri: juga di sini, pemuda ber­ju­ang. Sekutu—Belanda, Ing­gris, setiap hari men­da­pat keme­nangan selang­kah demi selang­kah. Tapi pemuda tetap mela­wan. Mereka ber­tem­pur. Mereka tukar­kan bambu run­cing­nya dengan sen­jata api di per­tem­puran-per­tem­puran. Sore-sore begini orang meng­aso seha­bis kerja berat.

“Lampu boleh nyala!”

Ia masuk ke dalam menya­la­kan lampu. Sumbu itu ter­ba­kar cepat dan menye­bar­kan cahaya ke seke­li­ling­nya. Tiba-tiba bulu teng­kuk­nya mere­mang. Ada dide­ng­ar­nya gumam per­la­han di bela­kang­nya. Ia bera­ni­kan diri mene­ngok ke bela­kang. Ter­pe­ran­jat ibunya duduk di bale dengan mata ter­tu­tup bantal. Sepa­tah dua masih ter­gu­mam dari mulut­nya. Lara­sati meng­ham­piri.

“Meng­apa, bu?”

Orang tua itu mele­pas bantal men­coba ter­se­nyum. Tapi nyata mata­nya tidak ikut ter­se­nyum. Dan bin­tang film itu meng­erti.

“Sudah­lah, Bu, jangan jawab. Aku sudah meng­erti. Kau tak ber­ha­sil.”

“Kau sela­ma­nya meng­erti, Ara.”

“Mari tidur. Melu­pa­kan semu­a­nya.”

“Tidur? Hhh. Tidur, kata­nya. Di sini tak ada orang tidur, Ara. Kau dengar derap sepatu tadi? Seben­tar lagi mereka ting­gal­kan kam­pung kita. Jam tiga malam datang lagi. Jam lima pergi lagi. Kau dengar per­tem­puran tadi. Seben­tar lagi lebih hebat. Dekat-dekat jam tiga pagi pun­cak­nya. Di sini orang tidak tidur. Mereka bilang jangan tidur! Dan kalau ada yang ter­luka, kita kakek-kakek dan nenek-nenek mera­wat. Kalau ada yang gugur, kita kakek-kakek dan nenek-nenek ini mengu­bur­nya. Di peka­rangan rumah-rumah kita ini juga.”

“Jadi kita hidup di antara peju­ang-peju­ang yang hidup dan yang sudah tewas. Memang tidak layak tidur.”

“Kalau tidur, mereka bilang nanti Nica tahu-tahu bakar kam­pung ini, semua bakal celaka.”

“Ara tidak pernah meli­hat ada pemuda di sini. Baru tiga orang tua Ara temui.”

“Siang mereka kerja biasa. Malam pergi perang. Ssstt. Dengar ada orang datang.”

“Slekum!” pelan-pelan.

Seka­li­gus Ara tahu sersan sopir itulah yang datang. Ia ber­siap hendak keluar, menyi­la­kan tamu­nya. Tapi ibunya meme­gangi lengan pendek house-coat­nya. Mem­per­i­ng­at­kan: “Bukan orang sini. Orang sini tak pakai slekum.”

Ara men­coba mele­pas­kan diri. Tetapi ibunya kem­bali menang­kap­nya dan mem­per­i­ng­at­kan, “Awas bisa celaka kita semua, Ara. Awas kalau pemuda curiga.”

“Aku tahu, bu. Tapi dia sudah sela­mat­kan aku. Kuce­ri­tai nanti.”

“Slekum!”

“Ara!” seru ibunya dengan bisikan keta­kutan.

Tetapi Ara telah keluar menyam­but tamu­nya. Ia tak salah sersan sopir itu datang dalam pakaian preman. Ia mem­beri hormat dengan meng­ang­kat tangan. Dan tanpa disi­la­kan telah meng­am­bil tempat duduk. Segera memu­lai, “Tentu kau tahu, nona, kini tak bisa ting­gal lama. Beri­lah alamat itu.”

“Kau benar-benar?”

“Apa nona pikir aku orang Belanda? Atau Ing­gris? Atau Ame­rika? Sedang orang India mem­bantu Indo­ne­sia?”

“Tentu kau orang Indo­ne­sia sejati. Tapi alamat saja tidak cukup. Aku akan beri kau alamat, dan surat. Kau bisa datang ke jalan Cila­cap. Mereka akan kirim­kan kau ke peda­laman dengan sela­mat.”

“Kalau lewat kantor Jalan Cila­cap, aku sen­diri sudah tahu. Tapi aku bukan hendak masuk ke sana tanpa bukti apa-apa. Aku mau masuk seba­gai peju­ang.”

“Aku tak meng­erti. Kan kau sen­diri peju­ang?”

Mata sersan sopir itu nampak gugup dan meli­hat ke sana kemari. Seben­tar-seben­tar ia intip jarum jam tangan dari balik jake­t­nya. Ia meng­ge­ser. Mena­tap Ara dengan tiada sabar­nya. Kemu­dian mene­rang­kan, “Aku mau masuk ke sana dengan bukti per­ju­angan. Aku mau lari­kan mobil, bebe­rapa pucuk sen­jata, ban-ban mobil dan lima atau enam kawan.”

Mata Lara­sati ber­ki­lau-kilau meng­a­was­i­nya. Ia meng­ang­guk-angguk setuju dan seka­li­gus juga menga­gum­i­nya. “Kau sung­guh berani. Bagai­mana kau akan ker­ja­kan?”

Kem­bali sersan sopir itu nampak gugup. Seka­rang ia angkat tangan­nya ke atas meja dan meng­a­wasi jam tangan­nya dekat-dekat. Gugup mene­rus­kan, “Wak­tuku hampir habis. Tulis­lah surat itu. Cara­nya aku sudah pel­a­jari. Juga jalan-jalan yang mesti kutem­puh. Tulis­lah surat itu cepat! Kalau tidak aku bisa dicu­r­i­gai.”

Lara­sati bang­kit. Tiba-tiba duduk kem­bali. Dan dengan piki­ran ber­ta­nya, “Kau punya kertas?” sersan sopir itu meng­ge­leng, “aku juga tidak punya. Besok saja lebih baik.”

Sersan itu meng­ge­leng kasar menya­ta­kan keke­ce­wa­an­nya. Dengan kasar pula ia bang­kit ber­diri. Mena­rik tangan Ara dan ber­kata cepat-cepat, “Baik­lah. Besok aku datang lagi. Sedi­a­kan jangan sampai ada kali­mat yang salah susun. Kesal­ah­anmu mung­kin mem­buat aku binasa. Mer­deka!”

Ia dorong kursi reot itu dengan kasar. Dan dengan ter­buru-buru mening­gal­kan beranda, mema­suki kege­lapan, menu­runi jen­jang got.

Tiba-tiba: “Nyerah!” suara keras meme­cah kege­lapan.

Sersan sopir itu mundur men­daki jen­jang. Tetapi sebe­lum ia sempat ber­ta­han, seo­rang kanak-kanak belasan tahun melom­pat­i­nya. Ia ter­ja­tuh. Bebe­rapa orang pemuda muncul dari kege­lapan. Dalam seke­jap ia telah diring­kus dengan tangan ter­i­kat ke bela­kang.

Lara­sati ber­diri kejang di tem­pat­nya.

Bebe­rapa orang pemuda ber­pa­kaian preman dengan cepat menye­ret­nya ke beranda. Seo­rang anak muda, lebih cocok dise­but kanak-kanak usia tujuh belasan, yang nampak jadi pemim­pin mereka, men­do­r­ong sersan sopir itu ke din­ding beranda di bawah gambar kumal dekil Lara­sati. Bahu­nya dido­r­ong demi­kian rupa sampai menem­pel pada daun-daun jen­dela yang ter­tu­tup. Karena tak kena cahaya lampu minyak tanah, muka­nya yang cekung-cekung kela­paran itu, nampak men­jadi kebiru-biruan. Sete­lah meng­a­mang­kan tin­ju­nya pada muka sersan itu—tinju yang kurus kering menu­lang-nulang— baru ter­de­ngar sua­ra­nya yang serak meng­ger­tak: “Siapa kau!”

Sersan itu men­coba mena­tap muka pemim­pin itu yang telah men­do­r­ong dagu­nya, sehingga pan­dang­an­nya mene­nga­dah pada bagian bawah atap rumbia beranda. Pemuda-pemuda lain menga­wal­nya dengan mata ganas.

“Siapa kau!” dan sebe­lum ada jawaban, pemim­pin itu telah meng­ger­tak anak buah­nya. “Meng­apa tak kalian gele­dah?” dan waktu dili­hat­nya anak buah­nya mulai meng­ge­le­dah tubuh sersan itu, ger­takan ketiga yang juga serak, ter­de­ngar kem­bali, “Ayo, siapa kau?!”

“Mar­ta­bat!”

“Dari mana!”

Orang itu tak dapat men­ja­wab.

“Mana surat dari lurah Repub­lik!” Orang itu tak dapat men­ja­wab.

“Mata-mata?” Pun tak dapat men­ja­wab.

“Jadi dia mata-mata.”

Lara­sati tak tahu apa ia mesti ker­ja­kan. Ia masih ter­pu­kau. Dan mata­nya kemu­dian mem­be­la­lak, waktu salah seo­rang pemuda di antara mereka menge­lu­ar­kan sepu­cuk revol­ver dari balik jaket sersan itu dan dengan diam-diam mele­tak­kan­nya di atas meja, di dalam bayangan pantat lampu.

Dari dalam rumah ter­de­ngar suara menye­but-nyebut.

“Kau siapa!” seka­rang pemim­pin itu meng­a­rah­kan ger­tak­an­nya pada Lara­sati.

“Dia anakku. Anakku Lara­sati!” tiba-tiba ter­de­ngar jawaban dari dalam rumah dan segera kemu­dian muncul Las­mid­jah dengan rambut kusut masai dan ter­henti di ambang pintu.

“Anakmu, mak? Tapi kawan dia ini Nica.” Pemim­pin itu menun­juk pada sersan sopir. “Lihat sen­diri. Kete­rangan dari lurah Repub­lik tidak punya. Lihat tuh, revol­ver­nya.”

“Masih baru!” Ia ambil revol­ver itu dan ia periksa kokang­nya, ia cium-cium baunya, ia periksa paruh kokang, kemu­dian memu­tus­kan. “Belum lagi dipa­kai. Salah-salah kita sen­diri jadi kurban per­tama. Cuhh!” Ia melu­dah ke lantai.

“Aku baru turun dari peda­laman. Dari Yogya.” Lara­sati men­ja­wab tenang-tenang. Waktu dili­hat­nya sersan sopir itu meman­dang­nya dengan mata yang meminta per­to­longan, segera ia mene­rus­kan. “Sedang dia baru turun dari Sorong, Papua. Dipaksa masuk Nica. Deng­ar­kan dulu. Aku tahu kalian peju­ang. Tapi mes­ti­nya peju­ang pun tahu keso­panan.”

Pemim­pin itu men­de­lik, dan meng­a­wasi Ara dari dekat.

Tapi tak bicara apa-apa. “Biar aku bicara sen­diri,” sersan sopir itu mene­ngahi. Cepat mata pemim­pin itu ber­a­lih pada si pem­bi­cara. “Jangan gusar. Yang dika­ta­kan nona itu memang benar. Aku datang pada­nya untuk minta tolong.”

“Mana bisa? Dia baru datang dari Yogya. Kau dari Sorong. Mana bisa kenal?”

“Dia sopir kolo­nel Surjo Sen­tono!” Lara­sati mene­ngahi. “Surjo Sen­tono!” teriak sese­o­rang di antara pemuda itu. Sebe­lum anak-anak itu men­da­pat kesem­patan untuk menge­ru­buti sersan itu, segera Lara­sati menyam­bung, “Benar, pemuda peju­ang juga patut men­de­ng­ar­kan. Aku sen­diri pun peju­ang,” anak-anak itu pun siap untuk menyang­kal, tetapi Lara­sati tahu cara mengu­a­sai sua­sana. Buru-buru ia mene­rus­kan, “Aku kenal dia waktu sepagi ditang­kap di Bekasi, oleh kolo­nel Surjo Sen­tono sen­diri. Dia bawa aku ke pen­jara atas perin­tah­nya. Tapi dia dan kolo­nel Drest mem­be­bas­kan aku kem­bali. Aku dipaksa main film untuk pro­pa­ganda Nica. Aku tak mau. Dia,” ia menun­juk pada sersan sopir, “lari­kan aku dengan mobil kolo­nel Surjo sampai depan gang. Ada kakek dan nenek yang sudah tahu. Dia datang kemari minta surat dari aku, mau masuk ke peda­laman.”

“Meng­apa mesti kau yang bicara? Bukan dia sen­diri,” sese­o­rang memo­tong.

“Meng­apa aku? Tidak semua orang pandai bicara. Aku datang kemari juga mem­bawa tugas.”

Orang mulai ber­hati-hati kini meng­ha­dapi Lara­sati. Mereka hampir-hampir lupa pada sersan sopir yang masih ter­i­kat tangan­nya.

“Tugas apa, mana tan­da­nya?”

“Tanda? Apa tan­da­nya kalau kau sen­diri peju­ang untuk Repub­lik? Kau juga tidak punya tanda apa-apa, jangan gega­bah.”

“Apa tugasmu?” pemim­pin itu ber­ta­nya dengan suara kurang galak. “Tugasku sudah sele­sai. Secara kebe­tulan diberi tugas. Secara kebe­tulan aku sele­sai­kan waktu di pen­jara itu juga. Aku sudah temu­kan orang yang harus kucari. Kakek dan nenek sudah tahu siapa aku. Kau masih curiga juga? Pang­gil­lah mereka.”

“Mereka baru rawat Tukid­jan”

“Siapa Tukid­jan? Meng­apa?”

“Kawan seper­ju­angan. Tewas, kena peluru,” pemim­pin itu menya­hut segera. “Aku lebih suka mengu­bur sepu­luh orang yang aku kenal, dari­pada kehi­langan seo­rang dari anak buahku.”

“Seka­li­pun yang sepu­luh yang tak kau kenal itu peju­ang juga?”

Pemim­pin itu ter­diam. Seki­las Lara­sati dapat meng­erti. Pasukan peju­ang ini tak punya hubungan dengan kesa­tuan yang lebih besar, ber­ge­rak dengan ini­si­a­tif sen­diri. Dan pasukan demi­kian sangat ber­ba­haya, kalau orang kurang hati-hati meng­ha­dap­i­nya.

“Tak begitu ber­guna kalian meme­riksa kami, seka­li­pun aku puji sikap hati-hati kalian. Dan aku nya­ta­kan bela­sung­kawa karena gugur­nya seo­rang di antara pasuk­anmu.”

Pemim­pin dan pasuk­an­nya itu kini tak begitu tegang. Mereka mulai ragu-ragu akan tin­dak­an­nya. Mereka biasa ber­tin­dak. Orang perem­puan di hadap­an­nya itu begitu berani menen­tang, dan mem­be­ri­kan kete­rangan-kete­rangan, bahkan jawaban-jawaban yang tak pernah mereka jumpai selama ini. Pemim­pin itu meng­a­wasi anak buah­nya seo­rang demi seo­rang. Tetapi semua bung­kam. Akhir­nya diam­bil revol­ver dari atas meja dan dise­lit­kan pada sabuk­nya.

“Aku tak tahu apa kalian penipu atau tidak. Kami akan coba per­caya. Tapi apa jaminan?” akhir­nya pemim­pin itu ber­ta­nya.

“Jaminan!” Ara menu­kas. “Aku tidak punya apa-apa, mung­kin dia,” ia menun­juk sopir itu dengan dagu­nya. Men­da­dak sersan sopir itu ber­su­ara, “Apa yang diminta?”

Semu­a­nya ter­diam seka­rang. Lara­sati meman­dangi kawan baru­nya itu dengan mata ber­ki­lau-kilau kagum: pemuda itu tak juga kehi­langan kepa­la­nya dalam kea­daan segen­ting itu. Tiba-tiba bin­tang film itu men­da­pat piki­ran, yang segera juga dilan­car­kan­nya, “Aku, kami berdua ini, juga peju­ang. Kami berdua juga dapat ber­ju­ang seperti kalian. Per­ju­angan kami saja jamin­an­nya.”

“Kau!” pemim­pin itu menu­ding Ara. “Bin­tang film, kan? Apa bisa diper­buat bin­tang film dalam per­tem­puran?”

“Dram!” Lara­sati mem­ben­tak marah. “Tahu apa kau ten­tang per­ju­angan bin­tang film? Sedang para pemim­pin bisa hargai per­ju­ang­anku, meng­apa kau tidak? Apa kau lebih besar dari mereka? Lepas­kan ikatan dia. Kalau hanya ber­tem­pur, ayoh. Aku juga bisa ber­tem­pur di bawah komando yang baik. Kapan kau mau ber­tem­pur? Seka­rang?”

Pemim­pin itu meli­hat pada jam tangan Mar­ta­bat.

“Sete­ngah jam lagi.”

“Baik, dia juga ikut ber­tem­pur.”

Ara kem­bali menun­juk Mar­ta­bat dengan dagu­nya. “Dengan syarat kalian mesti antar­kan dia pulang. Dia bakal banyak ber­guna bagi per­ju­angan.”

Pemuda itu meng­ang­guk mengi­ya­kan.

Pasukan pemuda itu diam-diam meng­a­wasi kedua orang itu, tak tahu apa yang mesti diper­buat. Meli­hat itu Ara segera menyerbu untuk mengu­a­sai sua­sana: “Malam ini kami ikut ber­tem­pur. Meng­apa diam semua?”

“Ara!” seru ibunya.

“Apa yang dita­kuti, bu? Kita semua hidup terus-mene­rus dalam keta­kutan. Apa kalian bia­sa­nya keta­kutan? Tidak ada. Kalau Revo­lusi menang, tidak seo­rang pun perlu takut lagi. Mari berang­kat!”

“Ayoh!”

Dan seperti sela­ma­nya dalam per­ju­angan, mereka ber­siap-siap terus, selalu ber­siap-siap. Ber­siap untuk menye­rang dan dise­rang, ber­siap untuk mer­deka sera­tus persen.

Tiba-tiba Lara­sati ter­te­gun. “Meng­apa?” pemim­pin pasukan ber­ta­nya. “Pin­jami aku celana pan­jang!”

“Semua hampir saja mele­dak ter­tawa. Tetapi meli­hat wajah Ara yang ber­sung­guh-sung­guh, mereka ter­paksa ber­sung­guh-sung­guh pula. “Apa jawabmu?” Lara­sati men­de­sak. “Cuma yang ada pada badan kami inilah pakaian kami. Dengan rok pan­jangmu itu per­tem­puran tidak akan dipe­nga­ruhi. Mari kita pergi.”

“Ke mana?” tanya Lara­sati sambil menak­sir-naksir adakah pakai­an­nya itu cocok untuk diper­gu­na­kan ber­tem­pur. “Kami telah banyak kehi­langan anak buah, karena tidak lagi menye­rang secara ter­a­tur. Kita akan cegat pat­roli-pat­roli. Cuma itu.” Pemim­pin itu kini mena­tap Mar­ta­bat. “Bagai­mana kau?” tanya­nya kemu­dian. “Aku akan ikut ber­tem­pur dengan kalian. Itu kalian sudah dengar dan tahu. Beri­kan revol­ver itu padaku.”

“Buat apa? Kita tak ber­tem­pur dengan revol­ver. Tidak pernah.”

“Beri aku sen­jata yang lain.”

“Kau dan wanita ini…,” ia tak mene­rus­kan, “Ayoh!”

“Angkat house-coatmu tinggi-tinggi, Ara” Las­mid­jah ber­pe­san.

Mereka mema­suki kege­lapan malam. Dari suatu jarak ter­de­ngar tiang lis­trik dipu­kuli pelan dan ber­i­rama.

“Ada pat­roli men­de­kati kam­pung kita,” ter­de­ngar suara dalam kege­lapan.

“Bukan mangsa kita,” sese­o­rang menyam­but. Sese­o­rang men­de­ham, kemu­dian menya­ta­kan penda- 94 maree—mara ia patnya. “Kalau kita serang pat­roli di kam­pung lain, kam­pung orang itu yang diba­kar. Suatu kali pasukan kam­pung lain akan serang pat­roli di sini dan kam­pung kita diba­kar. Sama saja akhir­nya. Lebih baik serang saja pat­roli itu.”

Tak ada yang menya­hut.

“Pat­roli itu tidak lebih dari tiga ratus meter dari tempat kita seka­rang.”

Lara­sati ber­de­bar-debar. Pemim­pin itu mena­ruh­nya ber­ja­jar dengan Mar­ta­bat dan ia sen­diri meng­iring­kan dari bela­kang, dengan revol­ver di tangan kiri. Ara meng­gan­deng kawan­nya dengan tangan meng­gi­gil. Dan tangan kawan itu hangat. Tangan kir­i­nya meng­ang­kat house-coat­nya. Apa aku dapat ker­ja­kan dalam per­tem­puran? Sen­jata aku tidak punya, silet pun tidak. Batu pun tidak.

Selu­ruh kam­pung telah dite­lan kege­lapan.

Sese­o­rang ber­lari-larian seperti kucing dari mulut gang menuju pasukan itu.

“Mereka meng­ham­piri kita.” Bisik­nya ter­e­ngah-engah. “Mereka sudah keli­hatan. Bukan totok, inlan­der semua.”

“Kalian lima orang di sana, bukan?” ter­de­ngar suara pemim­pin itu. “Pergi dahu­lui. Ting­gal di ujung jalan sana, sebe­lah kiri, aku sen­diri di sebe­lah kanan. Jangan serang pat­roli itu. Kalian hanya serang bala ban­tuan yang datang. Ngerti?” Mereka akan bawa bala ban­tuan dengan truk. Jangan granat truk itu pada mesin­nya. Jangan di tengah-tengah gela­dak­nya. Persis antara kabin dan gela­dak. Ngerti! Ini mangsa bagus. Bagus sekali. Jangan sampai salah lempar. Serang truk yang di tengah-tengah yang per­tama dan kedua biar­kan lolos. Ngerti? Ayoh cepat. Dului mereka!” Anak yang tak nampak tam­pang­nya itu lari. Ber­tam­bah jauh lari­nya, ber­tam­bah ber­de­gup jan­tung Lara­sati.

“Karim! Kau dan regumu berang­kat. Serang mereka di jarak antara mulut gang dengan tempat regu Sulai­man tadi. Kau masih ingat tem­pat­nya. Suroso dengan tiga granat seka­li­gus. Satu di tengah-tengah mereka. Dua di ping­gir­nya. Atur yang baik-baik. Salah-salah bisa konyol. Ayoh cepat berang­kat.”

Yang dipe­rin­tah­kan segera lari ber­sama regu­nya. Kini ting­gal hanya tiga orang: Pemim­pin, Lara­sati, dan Mar­ta­bat. Sesam­pai­nya di mulut gang, ter­de­ngar pemim­pin itu ber­bi­sik-bisik: “Jangan buat aku curiga. Sedi­kit saja kecu­r­i­gaan, kepala kalian pecah. Jangan tengok ke bela­kang. Mar­ta­bat! Kau dapat bagian dua granat. Kau ser­dadu, bukan? Kau tahu cara­nya?” Tanpa mene­ngok Mar­ta­bat mene­rima granat itu. “Tidak peduli lagi aku. Mung­kin kam­pung ini diba­kar! Bebe­rapa menit lagi. Hah! … Benar, biar­lah. Kalau kelak kita men­da­pat keme­nangan mutlak, kita akan bangun­kan kem­bali. Bukan, Mar­ta­bat?”

“Benar. Lagi pula apa guna­nya per­ta­hanan kam­pung buruk berbau busuk ini. Biar mereka bakar. Kita akan bangun­kan gedung-gedung.”

Ketiga-tiga­nya meng­en­dap-endap meng­ham­piri mulut gang. Lampu senter mereka mulai nampak ber­te­bar-tebar mene­ro­bosi tempat-tempat gelap.

“Kurang ajar. Bia­sa­nya tak bawa lampu senter. Ayoh masuk di bawah jem­batan got. Tabat! Kalau mereka lihat kita, jangan ragu-ragu beri­kan ubimu…”

Mereka merang­kak masuk ke bawah jem­batan got yang pan­jang­nya hanya dua meter. Lara­sati dengar jelas-jelas nafas kedua pemuda itu ber­sa­hut-sahutan. Pan­jang-pan­jang. Dan ia sen­diri pun nafas­nya tak kalah pan­jang-pan­jang. Gas got Dua… n yang ber­cam­pur dengan gas kotoran manu­sia itu mem­bum­bung tebal, men­ce­kik nafas. Keri­ngat-keri­ngat dingin mem­ba­sahi pung­gung Ara. Apa aku ker­ja­kan kalau per­tem­puran ter­jadi? Men­je­rit? Apa guna­nya jerit? Suara takkan takut­kan mereka. Jan­tung­nya terus ber­de­gup ken­cang. Ia rasai betapa dada­nya serasa hendak pecah. Tambah meng­ham­piri sorotan lampu senter, tambah ia rasai betapa daging pan­tat­nya mulai ber­ge­rak-gerak tiada ter­ken­dali. Akhir­nya pantat itu ber­bu­nyi seperti orang ber­te­puk tangan.

“Jangan takut. Duduk biar tidak ber­bu­nyi. Kau tidak punya dendam pada mereka, karena itu takut. Kau mesti pikir, bagai­mana orang-orang lain mereka bunuh. Kau harus bunuh mereka,” bisik pemim­pin itu. “Jangan anggap mereka itu manu­sia ber­a­kal. Pan­dang saja seba­gai ayam-ayam yang datang ke dapur. Beri sedi­kit jagung, mau? Dan mereka tewas. Cuma begitu saja. Lebih tidak. Kau takut Tabat?”

“Aku pernah ber­tem­pur.”

“Sua­ramu geme­tar. Kau tidak punya rasa dendam? Kalau orang cintai tanah airnya dia mesti dendam pada musuh tanah airnya. Dia takkan takut. Kau benar-benar mau ber­ju­ang buat tanah airmu?” ia tak mene­rus­kan. Kemu­dian bicara pada diri sen­diri. “Lihat, mereka datang, orang-orang celaka. Hari ini mereka mati—hanya buat sesuap nasi. Bodoh­nya, kalau mereka lapar dan mau makan seka­rang ini, umur­nya tak bakal pan­jang. Awas, bagai­man­a­pun mereka mau bunuh kita. Demi sesuap nasi. Meng­apa kita biar­kan hidup? Mereka mati! Berapa menit lagi. Hah…”

Sepatu bot mereka mulai nya­ring ter­de­ngar. Sorotan lampu senter mulai ber­ja­tuhan di sam­ping menyam­ping jem­batan got. Dari suatu jarak ter­de­ngar per­ca­kapan dengan nada ter­ta­han: “Kalau ada serangan tiba-tiba?”

“Sini daerah aman. Tak pernah ter­jadi apa-apa.”

“Sttt. Jangan ngo­mong ten­tang serangan.”

Mereka ber­ja­lan terus, akhir­nya mele­wati jem­batan. “Seka­rang kita cegat di bagian kanan. Mari berang­kat. Kalian ke depan.”

Mereka keluar dari got dalam kea­daan sete­ngah basah dan jalan melang­kahi sejeng­kal tanah antara bibir got dan pagar. Sampai di per­ti­gaan besar pemim­pin itu meme­rin­tah­kan Mar­ta­bat naik ke atas pohon asam.

“Lepas­kan granat pada truk atau pasukan yang datang. Jangan ragu-ragu. Aku awasi kau dari bawah. Aku akan tembak kau kalau tidak patuh.”

Lara­sati meng­a­wasi Mar­ta­bat meman­jat pohon besar itu dengan susah payah­nya.

Mar­ta­bat telah hilang dite­lan deda­unan pohon asam yang lebat.

“Ayoh!” pemim­pin pemuda itu mena­rik bahu Lara­sati. “Sini bukan tempat nge­lamun. Kau mesti tiduran di ping­gir jalan sana, seperti orang luka parah.”

Lara­sati meng­gi­gil tangan­nya.

“Kau takut?” tanya­nya kemu­dian.

“Aku takut.”

“Apa guna­nya takut? Setiap saat aku sen­diri bisa bunuh kau.” Dan dita­rik­nya tangan wanita itu ke ping­gir jalan, got ber­lum­pur. “Kenapa anak-anak itu tidak juga menye­rang?” ia ber­bi­sik seo­rang diri.

Tetapi semen­tara itu Lara­sati masih sibuk dengan keta­kut­an­nya. Ia tak dengar pemuda itu men­de­kat­kan bibir pada kuping­nya. Ber­ta­nya: “Masih takut?” Dan waktu wanita itu tiada men­ja­wab, ia mene­puk-nepuk bahu­nya.

Dari keja­uhan ter­de­ngar seo­rang bayi mena­ngis ngilu.

“Kau punya anak?”

Per­ta­nyaan itu meng­a­get­kan Lara­sati untuk ke sekian kali­nya. Anak! Sebe­lum Ara sempat men­ja­wab, pemim­pin pemuda itu telah mene­rus­kan: “Ingat, buat dialah kami semua rela mati. Kami semua tidak pernah tidur selama ini—satu demi satu kawan-kawan kami tewas,” tiba-tiba pemuda itu ber­ta­nya lagi, “Kau punya anak?”

“Belum.”

“Kalau kau punya anak kau akan meng­erti lebih banyak apa kataku. Meng­erti? Juga buat anakmu yang belum lahir kami laku­kan per­ju­angan ini.”

Lara­sati ter­se­dan-sedan. Ia ter­i­ngat pada opsir Jepang dulu, dua tahun yang lalu. Waktu itu ia duduk di hadap­an­nya. Belum lagi tengah malam. Jepang itu menge­lu­ar­kan sebu­tir pel dari dom­pet­nya. “Meng­apa?” Ara ber­ta­nya. “Kau bakal ber­ba­ha­gia dengan pel itu.”

“Baha­gia?” Jepang itu menye­ri­ngai kemu­dian mene­rus­kan: “Buat selama-lama­nya kau tidak bakal mela­hir­kan anak.” Ara tak peduli. Tapi meng­apa seka­rang ia selalu rindu pada anak yang belum pernah dila­hir­kan­nya sen­diri? “Meng­apa mena­ngis? Apa kau pikir­kan? Tidak rela berada di sini?”

“Buat anak yang belum kulah­ir­kan itu, kalian sudah ber­ju­ang,” bisik Lara­sati di tengah-tengah sedan­nya. “Buat mereka, bayi itu. Kau baha­gia dengan pel itu?”

“Baha­gia? Kau sen­diri dapat apa?”

“Kami dapat peluru. Besok atau lusa.”

“Tidak bakal menye­sal?”

Ia ter­tawa ter­gu­mam. Tiba-tiba minta per­ha­tian. “Dengar!” Kedua manu­sia itu diam-diam men­de­ng­ar­kan. Angin malam meng­hem­bus puncak pepo­honan di sepan­jang jalan, ber­de­sah, deda­unan ber­de­sau-desau. Langit di atas ber­tam­bah hitam, tapi bin­tang-bin­tang ber­tam­bah kuning. Dari jarak yang ter­lam­pau jauh, sayup-sayup ter­de­ngar letusan-letusan meriam. Dalam bayangan Lara­sati muncul daging-daging muda ditem­busi pecahan mortir dan peluru, dan setiap pemi­lik daging muda ini juga ingin hidup baha­gia dan sejah­tera. Cepat bayangan itu beru­bah memun­cul­kan bayi-bayi, ribuan bayi, tapi tak seo­rang pun di antara semua itu boleh dise­but anak­nya. Ia mena­rik sedu-sedan: bahkan dalam mimpi pun ia tak pernah punya bayi.

Pemuda itu mene­puk kem­bali bahu Lara­sati dan ber­bi­sik hampir-hampir tak ter­de­ngar, “Buat setiap bayi yang sudah, dan yang belum dila­hir­kan, kita semua rela tewas— bayi-bayi yang kita semua sama sekali tidak kenal, tidak pernah lihat, tidak pernah dengar tangis­nya.” Ia diam lagi. Kemu­dian dengan tiada sabar­nya men­de­sis, “Meng­apa lama benar anak-anak itu? Meng­apa tak juga menye­rang?”

Kem­bali sunyi-senyap.

Tiba-tiba ter­de­ngar ledakan keras. Segera menyu­sul ren­tetan sen­jata oto­ma­tik ringan, kera­bin, dan pistol. “Meng­apa cuma satu granat?”

Ledakan granat sekali lagi. Sekali lagi, sekali lagi. Sen­jata oto­ma­tik pada bung­kam, hanya kadang-kadang ter­de­ngar letusan kera­bin.

“Bagus, pele­ton itu sudah musnah. Kau masih takut?”

“Tidak.”

“Kalau hendak takut, takut­lah seka­rang. Tadi cuma per­mu­laan.”

“Tidak, aku tak takut lagi.”

“Karena kita menang? Salah, per­ju­angan sela­ma­nya meng­a­lami menang dan kalah, silih ber­ganti. Kalau kau menang, ber­si­ap­lah untuk kalah, dan kalau kau kalah, terima keka­lahan itu dengan hati besar, dan rebut­lah keme­nangan.”

Kem­bali ter­de­ngar tangis bayi. Seben­tar kemu­dian padam. Nyata mulut bayi itu disum­bat mulut­nya oleh tangan pen­ja­ga­nya.

Sayup-sayup ter­de­ngar lang­kah sepatu berat ber­lari-larian. Tambah lama, tambah dekat. Kem­bali jan­tung Lara­sati ber­de­gupan. Dari keja­uhan dili­hat­nya seo­rang ser­dadu inlan­der lari dengan sen­jata oto­ma­tik ringan di tangan kanan­nya. Lari terus tanpa mene­ngok. Tambah dekat tambah nyata pipi­nya ber­lu­muran darah. Lara­sati menge­ta­hui pemim­pin pemuda itu mem­bi­dik­kan revol­ver­nya ke arah dada pela­rian ter­luka itu, Tiba-tiba timbul iba wanita itu. Begitu ter­luka! Begitu seo­rang diri dalam kepungan maut.

“Jangan, dia sudah ter­luka.”

“Diam. Besok atau lusa dia lukai anak bayi itu. Kasihan pada orang yang mau bunuh kita? Per­ha­ti­kan kanan jalan kau!”

Pela­rian itu kian lama kian meng­ham­piri.

“Aku bunuh kau anjing!” bisik pemim­pin itu. “Aku bunuh!”

Lara­sati kem­bali meng­gi­gil. Kepa­la­nya tak mau mene­ngok ke arah kanan jelas, seperti dipe­rin­tah­kan oleh pemim­pin­nya. Mata­nya ter­paku pada Pipi yang ditem­busi peluru granat dan darah yang meng­u­cur ke atas bahu keme­ja­nya. Dengan sen­di­r­i­nya tangan Lara­sati mena­han lengan pemim­pin itu untuk men­ce­gah penem­bakan. Pemuda itu meng­hen tak tangan Lara­sati. Men­de­ngar itu pela­rian itu segera mem­be­ron­dong­kan peluru ke arah datang­nya bunyi itu. Pemim­pin itu menem­bak dada pela­rian itu. Tetapi pela­rian itu terus lari, lari dengan pang­kal lengan atas ter­so­bek peluru dan darah baru meng­u­cur sejadi-jadi­nya. Sen­jata di tangan­nya jatuh ter­ge­le­tak di tengah jalan. Ia terus lari. Kem­bali pemim­pin itu menem­bak. Tiba-tiba pela­rian itu ber­henti dengan kedua lengan ter­ang­kat sedi­kit, kemu­dian lutut­nya mema­tah, akhir­nya dengan cepat jatuh ber­lu­tut, dan dengan cepat pula pung­gung­nya jatuh ke bela­kang. Ia tak ber­ge­rak-gerak.

“Mampus! Kaya tikus saja mam­pus­nya! Kau lihat!” Tapi hanya sedan ter­de­ngar dari mulut Lara­sati.

“Kau tangis­kan orang sema­cam itu? Ingat pada anak-anak kelak. Jangan pada dia. Dengar, kau memang patut mena­ngis kalau anakmu kelak jadi bina­tang sema­cam dia. Seka­rang tidak ada alasan untuk mena­ngis­i­nya.”

Tapi Lara­sati tambah ber­se­dan-sedan.

“Meng­apa kau? Kau tangisi dia?”

“Tidak.”

“Kau menye­sal ikut ber­tem­pur?”

“Tidak!”

“Kalau begitu, diam. Diam, kataku.”

Dari keja­uhan ter­de­ngar tem­bakan sena­pan mesin. Tambah lama, tambah men­de­kat. Kemu­dian menyu­sul deru truk. “Kau di sini saja!” kemu­dian pemim­pin itu melom­pat keluar dari per­se­m­bu­nyi­an­nya. Meng­ham­piri mayat ser­dadu inlan­der itu, meng­am­bil sen­jata dan peluru yang terang­kum pada sabuk pelu­ru­nya. Ber­diri meli­hat keli­ling­nya sambil ber­siap-siap dengan sen­jata ram­pas­an­nya.

Tem­bakan sena­pan mesin kian lama, kian meng­ham­piri —tem­bakan untuk mena­kut-nakuti. Lara­sati kem­bali meng­gi­gil. Kurang cepat sedi­kit pemim­pin pemuda itu pasti tewas. Tetapi anak itu masih juga ber­diri di sana, menge­lu­ar­kan sebuah benda hitam dari balik baju­nya. Mem­ba­kar dengan korek api sesu­atu pada benda hitam itu, dan mena­ruh­kan benda itu di bawah tubuh mayat itu. Kemu­dian baru ia ber­lari-larian kem­bali ke tempat per­se­m­bu­nyi­an­nya. Tem­bakan sena­pan mesin itu terus gencar dan men­de­kati. Juga dari keja­uhan menyu­sul tem­bakan sena­pan mesin lain.

“Kalau kau takut, takut­lah seka­rang.”

“Apa kau pasang di bawah kurban itu?”

“Granat Jepang.”

Kem­bali Lara­sati ter­se­dan-sedan. “Kau takut benar?”

“Tidak.”

“Lantas apa yang kau tangisi?”

Lara­sati menun­juk pada kurban yang ter­ge­le­tak tak ber­nyawa di tengah jalan.

“Dia?”

“Bayi­nya.”

Pemim­pin pemuda itu ter­diam. Deru truk kian meng­ham­piri ber­sa­maan dengan makin deras­nya tem­bakan sena­pan mesin. Anak muda belasan tahun itu, seperti seo­rang ayah menga­sihi anak­nya, mene­puk bahu Lara­sati.

“Kalau dia ada bayi, bayi­nya aman di rumah­nya.”

“Dia kehi­langan bapak­nya.”

“Juga untuk bayi dia kita ber­ju­ang.”

“Kau bisa menem­bak?” pemuda itu men­de­sak.

“Tidak.”

“Nah, per­gu­na­kan revol­ver ini. Per­gu­na­kan kalau kau ter­ku­rung. Tarik saja pela­tuk­nya, arah­kan ke perut. Kalau kau ter­tang­kap kau juga ditem­bak. Jangan sampai ter­tang­kap!”

Sinar lampu dalam truk musuh itu dengan cepat meng­ham­piri dan telah siap untuk mem­be­lok. Peluru sena­pan mesin diham­bur­kan terus-mene­rus ke tempat-tempat gelap. Pemim­pin pemuda itu mene­kan kepala Lara­sati ke bawah. Truk itu dengan bunyi men­je­rit mem­be­lok dengan ken­cang­nya, kemu­dian tiba-tiba ber­henti di tempat mayat itu ter­ge­le­tak. Sebuah truk musuh lalu datang menyu­sul dengan tem­bakan sena­pan mesin ke atas. Semen­tara itu ser­dadu-ser­dadu dalam gela­dak. truk per­tama yang ber­henti terus-mene­rus menem­bak ke kiri dan ke kanan. Bebe­rapa orang turun dari truk untuk meme­riksa bang­kai itu.

“Meng­apa granat itu tidak juga mele­dak? Meng­apa Tabat tidak mulai menye­rang truk kedua? Goblok!”

Lara­sati jong­kok di dalam lumpur. Kaki­nya tiba-tiba saja men­jadi lemas. Tiba-tiba ter­de­ngar ledakan hebat. Granat Jepang itu akhir­nya mele­dak juga. Api menyem­prot ke atas, dan seben­tar mene­rangi daun asam tempat Mar­ta­bat ber­se­m­bu­nyi. Sekali lagi ter­de­ngar letusan granat.

“Tabat bukan peng­khi­a­nat,” bisik pemim­pin itu. “Kau jangan menem­bak!”

Sece­pat kilat pemuda itu meng­am­bil granat nanas dari balik baju­nya, meng­gi­git caling­nya dan mem­bu­ang­nya dengan gigi­nya. Tanpa meng­in­dah­kan tem­bakan sen­jata oto­ma­tik ke tempat-tempat gelap, ia ber­diri melem­par­kan granat pada lam­bung truk yang segera kemu­dian mele­dak dan ia kemu­dian cepat runtuh ke bawah.

“Jangan takut,” ia ber­gu­mam. Tapi Lara­sati dengar betapa sua­ra­nya geme­tar. Seka­rang ter­de­ngar sepatu berat melom­pat turun dari truk. Pemim­pin itu telah meng­gi­git caling gra­nat­nya yang kedua.

“Bangun. Lihat bagai­mana ting­kah mereka.”

Lara­sati bangun. Ia lihat bagai­mana ser­dadu-ser­dadu itu turun dari pantat truk. Ia dengar ber­ba­gai macam orang kesa­kitan. Ia pan­dangi pemim­pin pemuda itu. Tiba-tiba pemuda itu melem­par­kan gra­nat­nya. Cahaya menyem­bur terang. Dan dili­hat­nya peli­pis pemuda itu luka pan­jang. Dan luka itu meng­u­cur­kan darah.

“Kau kena!” bisik Lara­sati.

“Kena pecahan gra­natku sen­diri. Tapi mereka kena lebih banyak.”

Seki­las Lara­sati meli­hat ser­dadu-ser­dadu yang baru turun dari pantat truk itu sama men­je­lem­pah di jalan raya. Bebe­rapa orang yang masih sela­mat lari menye­la­mat­kan diri. Truk musuh kedua meng­a­lami nasib yang sama. Juga yang masih sela­mat mela­ri­kan diri ke mana-mana.

“Ayoh keluar!” pemim­pin itu meme­rin­tah. Dita­rik­nya tangan Lara­sati. Kedu­a­nya mening­gal­kan tempat per­se­m­bu­nyian. Tabat! Turun cepat! Segera sete­lah sampai di atas ia tem­bak­kan sen­jata oto­ma­tik ram­pasan itu pada pela­rian yang pon­tang-pan­ting tak keten­tuan. Bebe­rapa orang di anta­ra­nya rubuh merang­kak-rang­kak, seba­gian terus mela­ri­kan diri, seba­gian meling­kar di atas jalanan aspal.

“Tabat, cepat mereka akan datang lagi, ia melom­pat meng­ham­piri kurban-kurban itu dan menem­bak­kan sen­ja­t­a­nya yang beren­tetan pada mereka, kemu­dian ber­sama-sama dengan Lara­sati mengum­pul­kan peluru dan sen­jata yang tidak ter­bawa selain dari sena­pan mesin yang beng­kok di atas kabin truk. Juga Mar­ta­bat ikut mengum­pul­kan sen­jata dan peluru yang ter­ce­cer. Kemu­dian mereka lari menuju ke gang. Dari jarak yang tidak jauh ter­jadi ledakan-ledakan granat sen­jata-sen­jata oto­ma­tik. Tapi seperti halnya dengan per­tem­puran tadi. Juga tem­bakan-tem­bakan itu akhir­nya dipa­dam­kan oleh meng­a­muk­nya granat.

“Kawan-kawan kita sedang ber­tem­pur!” bisik pemim­pin itu dalam hati­nya.

“Kita mesti bantu mereka?” Mar­ta­bat ber­ta­nya.

“Mereka ber­peng­a­laman,” dan Lara­sati dengar dengan nyata bagai­mana suara itu ter­de­ngar lemah dan geme­tar. “Ambil bawa­anku ini.”

Mereka sampai di mulut gang. “Tabat, ambil bawaan nona ini juga. Jalan dulu kau.”

Lara­sati menang­kap tangan pemim­pin itu yang diu­lu­r­kan kepa­da­nya. Dipa­pah­nya pemuda itu dan dira­sa­i­nya tubuh itu kian lama kian men­jadi berat. Dengan tangan­nya yang sebe­lah ia seka darah yang mele­leh-leleh pada peli­pis pemuda itu.

“Biar­kan. Biar­kan,” pemuda itu mene­ngok. “Berapa kira­nya musuh yang tewas tadi? Ada dua belas?”

“Aku tak sempat meng­hi­tung.”

Per­tem­puran di jarak sedang itu sudah padam. Dan Lara­sati mendoa dalam hati­nya, hen­dak­nya semua dapat kem­bali dengan sela­mat.

“Tidak. Tidak kurang dari dua belas.” Ia diam seben­tar. Kemu­dian mene­rus­kan, “Kau ingat kataku tadi? Yang menang mesti ber­siap-siap untuk kalah.”

“Aku ingat.”

“Jangan lupa.”

Kini Lara­sati tak dapat mena­han berat tubuh itu yang kian lama bukan saja men­jadi sangat berat tapi juga kian panas dan mem­bara.

“Nona, malam ini aku kalah.”

“Kalah? Kau menang. Kita menang.”

“Malam ini sampai ajalku, nona.”

Bunyi pipa cela­na­nya yang ber­ge­mang lumpur itu kian lama, kian laju meng­i­kuti lang­kah­nya yang sendat-sendat. Akhir­nya ia tak melang­kah lagi. Lara­sati men­coba sekuat daya­nya untuk menye­ret­nya. Pemim­pin itu tak bicara lagi.

“Kau lelah?” Tak ber­ja­wab. Dan ia terus menye­ret­nya.

Sampai di depan rumah ibunya, Mar­ta­bat datang meno­long. Pemim­pin itu, pemuda yang kurus beru­mur belasan tahun itu, dile­tak­kan di atas ambin Las­mid­jah. Lara­sati menyeka peli­pis­nya dan menyu­ruh ibunya meng­am­bil­kan air bersih.

“Bukan di situ,” anak itu ber­kata per­la­han sekali. “Perutku.”

Lara­sati meme­riksa perut­nya. Ia ter­be­la­lak. Darah meng­a­lir dari sana, turun ke pipa cela­na­nya ber­cam­pur dengan lumpur.

“Sung­guh sayang aku kena gra­natku sen­diri. Kau tidak apa-apa nona?”

“Tidak.”

Anak itu mem­buka mata­nya. Mena­tap wajah Lara­sati dalam kere­ma­ngan lampu minyak tanah. Meliuk-liuk mena­han sakit. Kemu­dian ber­kata per­la­han-lahan, “Kau tidak takut bukan?” Lara­sati tak dapat men­ja­wab. Ia tak tahu apa yang mesti diker­ja­kan­nya. “Tak perlu lagi tolong aku.” Sua­ra­nya kian per­la­han. “Kau tidak takut lagi, bukan? Jawab­lah.”

Tak ada sesu­atu apa pun yang dapat dika­ta­kan oleh Lara­sati selain meng­ge­leng. “Tak perlu takut. Kau harus men­den­dam. Kita memer­lu­kan dendam.” Dan ia tak bicara lagi. Nafas­nya pun tak ter­de­ngar lagi.

Seperti hujan disen­tak­kan dari langit, Lara­sati meng­gi­gil, men­je­rit. Anak itu mati. Ia baru menge­nal­nya, namun tiada ter­ni­lai cin­ta­nya pada­nya. Begitu cepat datang­nya cinta itu. Cinta untuk per­tama kali dalam hidup. Bebe­rapa jam yang lalu pemuda itu masih diang­gap­nya seba­gai beng­golan gerom­bolan pem­bu­nuh. Ah, anak semuda itu. Sepu­luh atau sebe­las tahun lebih muda dari diri dan tubuh­nya sen­diri. Kalau umur­nya pan­jang aku rela mela­ku­kan segala perin­tah­nya.

Bebe­rapa orang kakek dan nenek mengu­rus­nya, mem­ba­wa­nya ke Rumah Sakit Umum Pusat di Salemba. Dan waktu anak-anak lain datang, mereka menun­duk­kan kepala berang­kat lagi mema­suki kege­lapan mem­bawa sen­jata-sen­jata ram­pasan.

Lara­sati ter­du­duk kejang di ambin. Air mata mele­leh sejadi-jadi­nya. Tidak, tidak mung­kin Revo­lusi kalah, dengan pemuda-pemuda sema­cam itu, pemuda seke­ras itu. Kalau Revo­lusi kalah, bukan karena mereka kurang ber­ju­ang. Kalau Revo­lusi kalah pasti karena para pengu­a­sa­nya yang ber­khi­a­nat!

Lara­sati seperti orang kehi­langan akal. Pemim­pin pemuda beserta sen­jata-sen­jata itu telah diang­kut pergi. Ke mana? Ia tak tahu pasti. Ia sadar kem­bali waktu Mar­ta­bat datang meng­ham­piri dengan takut-takut ber­ta­nya, “Ke mana aku pergi seka­rang?”

“Kau mesti pergi,” Las­mid­jah mem­per­i­ng­at­kan. “Kam­pung ini dalam bahaya. Susul mereka, seba­gian pergi ke rumah sakit. Mung­kin anak itu ter­to­long.”

“Aku pergi, nona.”

“Tentu kau mesti pergi. Besok kau belum bisa datang kemari.”

Nampak Mar­ta­bat men­jadi ragu-ragu, tapi akhir­nya balik kanan jalan dan lenyap ke dalam kege­lapan.

“Tidur­lah kau, Ara.” Tapi Ara tak dengar. Piki­ran­nya meng­em­bara meng­i­kuti anak muda yang baru dite­mu­i­nya dalam hidup­nya, anak muda yang begitu keras sampai-sampai pada kata-kata­nya, tin­dak­an­nya, cara­nya meng­ha­dapi maut. Mati­kah dia? Mati? Bahkan nama­nya pun ia tak kenal. “Man­di­lah kau, Ara. Pakai­anmu penuh lumpur.” Ara tak dengar. Las­mid­jah bang­kit. Dita­rik­nya anak­nya dibawa ke tempat mandi. “Mati­kah anak itu, bu?”

“Rumah Sakit bia­sa­nya meno­long mereka yang ikut ber­tem­pur, lebih baik dari­pada yang lain-lain.”

“Ke mana yang lain-lain pergi, bu?”

“Bia­sa­nya meng­ungsi. Kapan-kapan mereka akan datang lagi. Seba­gian anak sini juga.” Seha­bis mandi Lara­sati merasa segar sedi­kit. Mereka berdua ber­ti­duran di atas ambin yang kurang dari satu meter lebar­nya. Per­la­han-lahan Las­mid­jah memu­lai: “Benar-benar kau ikut ber­tem­pur tadi?”

“Ya.”

“Kau tidak takut?”

“Takut.”

“Kau tidak mena­ngis?”

“Mena­ngis.” Las­mid­jah ter­ti­dur. Malam terus ber­ja­lan, mele­wati tengah malam lenyap, Manan map digan­ti­kan pagi—tanpa atau dengan per­tem­puran. Juga Lara­sati jatuh ter­ti­dur, betapa pun peng­a­laman ter­a­khir tadi meng­gun­cang­kan hati­nya. Orang-orang yang mati tanpa boleh meminta ampun sedi­kit pun juga, seka­rang ikut serta deng­an­nya di dalam mimpi-mimpi dah­syat.

Tiba-tiba pintu din­ding depan dipu­kul dan diten­dang-ten­dang orang dari luar. Lara­sati mem­buka mata­nya. Ia dengar lang­kah-lang­kah kaki mondar-mandir dengan sepatu-sepatu berat. “Ayoh, bina­tang! Buka pintu!”

“Apa itu, bu?”

“Biasa.”

“Apa?”

“Belanda datang meng­ge­le­dah.” Kedua wanita itu pun bangun, mem­buka pintu. “Keluar! Semua orang keluar! Ayoh cepat. Aku tembak perutmu kalau lambat.”

Dike­ta­hu­i­nya seka­rang, langit telah cerah dan bumi telah mem­per­li­hat­kan per­mu­ka­an­nya. Waktu kedua wanita itu telah berada di gang, ter­nyata sudah banyak kakek-kakek, nenek-nenek, dan kanak-kanak, wanita muda diba­ris­kan di gang itu pula. Bebe­rapa orang ser­dadu Belanda masuk ke dalam rumah dan meng­o­b­rak-abrik segala yang ada di dalam. Lara­sati ingat pada uang negara yang ada dalam tasnya. “Cari apa tuan?” Las­mid­jah ber­te­riak pada ser­dadu-ser­dadu yang ada di dalam rumah.

Seo­rang ser­dadu inlan­der yang mondar-mandir men­jaga barisan nenek, kakek, wanita, dan kanak-kanak itu meng­ham­piri Las­mid­jah dan menem­pe­leng mulut­nya. Lara­sati men­je­rit. Tapi segera Las­mid­jah mena­tap muka anak­nya. Ber­kata, “Meng­apa men­je­rit? Besok atau lusa mung­kin tidak ada kesem­patan lagi menem­pe­leng nenek!”

“Diam anjing!”

Orang yang meng­o­b­rak-abrik per­ka­kas rumah masih juga sibuk, menen­dang-nen­dang kaleng melem­par-lem­par­kan kursi dan menen­dangi lemari yang ter­kunci sampai pecah pin­tu­nya.

Sete­ngah jam kemu­dian pen­du­duk digi­ring dalam kawalan sen­jata api ber­sang­kur ke jalan raya: kekek, nenek, wanita muda, dan kanak-kanak itu. Matari dengan cepat men­daki langit. Keri­ngat mulai mele­leh pada tubuh orang-orang dije­mur itu. Bayi-bayi mulai mena­ngis.

“Mau dia­pa­kan kita ini?” Lara­sati ber­ta­nya pada ibunya.

“Dia­pa­kan? Mereka tak tahu apa mesti diker­ja­kan.”

“Siapa itu buka mulut?”

Tak ada yang men­ja­wab.

Sebuah jeep datang dari arah di mana pemim­pin pemuda sema­lam menem­bak ser­dadu pela­rian. Dengan jeritan yang meng­il­u­kan jeep itu ber­henti di kepala barisan. Maka kelu­ar­lah tiga orang ser­dadu. Seo­rang opsir dan seo­rang yang tinggi besar dalam pakaian aneh, seperti sarung guling. Hanya pada muka­nya sarung guling itu dilu­bangi sehingga orang di dalam­nya dapat meli­hat ke luar, tetapi orang di luar sarung guling itu tak dapat menge­nal­nya.

Opsir Belanda itu bicara dengan bahasa Melayu tangsi, minta dika­ta­kan di mana orang menyim­pan sen­jata, siapa-siapa pemuda yang sering datang ke kam­pung itu. Ia ulang-ulang kata-kata­nya tetapi tiada seo­rang pun men­ja­wab.

“Brani sama kom­peni, ha?” Akhir­nya ia ber­te­riak murka. Lara­sati tak dapat mena­han geli hati­nya meli­hat kema­rahan opsir itu. Men­de­ngar ketawa itu opsir itu datang meng­ham­piri ber­te­riak murka, “Apa kau ter­ta­wa­kan? Badut?”

Lara­sati menu­tup mulut dengan tangan­nya.

Opsir itu melam­bai­kan tangan pada orang tinggi besar ber­pa­kaian sarung guling dan kemu­dian menun­juk pada Lara­sati. Yang dilam­bai meng­ham­piri mena­tap Lara­sati dengan mata menyala-nyala. Lara­sati ter­pa­ku­kan pada tanah. Ia pernah lihat mata yang keruh kekun­ing-kuningan itu. Di mana? Ia tidak ingat. Yang ia tahu mata itu pernah mena­tap­nya dengan berapi-api juga seperti seka­rang ini. Lara­sati men­coba meng­i­ngat tempat-tempat di mana ia pernah kenal mata itu. Tetapi begitu banyak lelaki yang pernah mem­pu­nyai per­ga­ulan intim deng­an­nya. Di mana? Ya, di mana? Ing­at­an­nya ber­henti.

“Bagai­mana?” opsir itu ber­ta­nya pada si tinggi besar ber­baju sarung guling. Orang itu meng­ge­leng.

“Awas!” opsir itu meng­an­cam pada Lara­sati. Kemu­dian pada sarung guling, “Ayoh mulai dari depan!”

Mereka pergi ke ujung depan barisan orang dije­mur itu. Setiap kali mene­liti sese­o­rang, orang dari balik sarung guling itu meng­ge­leng. Pada waktu ia meng­ang­guk sese­o­rang dike­lu­ar­kan dari barisan. Orang itu adalah kakek Mo. Sampai di hadapan Lara­sati, opsir itu ber­ja­lan terus seakan tidak tahu atau tidak mau tahu.

Tetapi mata dari dalam sarung guling itu meng­a­was­i­nya dengan berapi-api. Dingin selu­ruh tubuh bin­tang film itu. Apa yang ada di balik mata yang kekun­ing-kuningan itu? Maut? Siksa? Dendam? Ancaman? Lara­sati menun­duk ngilu.

“Cuma satu saja?” opsir Belanda itu ber­te­riak. “Ayoh ulangi lagi.”

Peme­rik­saan ber­u­lang kem­bali. Seka­rang seo­rang anak lelaki kecil dike­lu­ar­kan dari barisan dan dijaga oleh ser­dadu-ser­dadu ber­sang­kur telan­jang di bawah pohon asam.

De … …

Lara­sati belum pernah ber­temu dengan anak kecil itu. Mata­nya kini dite­bar­kan­nya pada kam­pung ibunya. Dari tem­pat­nya yang nampak hanya gen­teng hitam-hitam yang telah puluhan tahun umur­nya, dan di sana-sini atap rumbia yang meng­ge­le­par-gele­par ter­tiup angin laut. Tiada sebuah pun rumah di kam­pung itu ter­buat dari batu, seka­li­pun tanah airnya sen­diri kaya akan batu dan bahan bata. Tiba-tiba semua mata ter­ta­rik pada opsir itu yang mulai ber­te­riak lagi, “Kalau ter­jadi sekali lagi, kam­pung ini aku bakar semua!”

Tentu saja tak ada yang mem­ban­tah. “Ayoh, bubar!” Barisan orang dije­mur itu bubar, kem­bali ke rumah­nya masing-masing. “Ke mana kakek Mo dan anak itu dibawa, bu?”

“Apa guna dita­nya­kan?”

“Meng­apa tidak.”

“Kedu­a­nya tidak akan kem­bali untuk selama-lama­nya. Jangan tanya lagi.”

“Dari mana ibu tahu?”

“Jangan tanya, aku bilang. Aku sudah meng­a­lami empat kali begini.” Dengan diam-diam mereka masuk ke dalam rumah yang telah porak-poranda. Lara­sati menub­ruk tas-tangan­nya. Jan­tung­nya ber­de­gupan ken­cang. Dan uang itu telah lenyap. “Bina­tang! Anjing! Seri­gala!” ia mena­ngis ter­i­sak-isak. “Apa guna memaki? Mereka memang anjing, mereka bina­tang,” Las­mid­jah mene­rus­kan. “Dulu bisa meng­adu. Dulu ada peng­a­dilan. Dulu ada polisi, kalau duit kita dico­long tetangga kita. Apa seka­rang? Hakim-hakim, jaksa-jaksa yang seka­rang juga nyo­long kita punya. Siapa mesti meng­a­dili kalau hakim dan jak­sa­nya sen­diri pen­curi?”

Sete­lah itu nenek itu tak meng­gub­ris anak­nya. Ia mandi, ber­pa­kaian, dan siap hendak pergi.

“Ke mana, bu?”

“Kerja.”

“Habis begini masih kerja juga?” Las­mid­jah tak meng­in­dah­kan­nya dan siap hendak mening­gal­kan rumah.

“Ibu!”

Las­mid­jah ber­henti.

“Siapa yang ber­ke­ru­dung sarung bantal itu? Ibu kenal?” tapi ibunya sekali lagi pura-pura tak peduli.

“Ya, ibu kenal. Aku pernah lihat mata kuning itu.” Ibunya tetap tak acuh.

Seka­rang Lara­sati meng­a­wasi ibunya dengan hati penuh per­ta­nyaan. Meng­apa Las­mid­jah men­jadi begitu aneh? Meli­hat ibunya hendak ber­ge­gas mening­gal­kan rumah, ia ter­buru-buru meng­ham­piri dan mena­han­nya.

“Ibu tahu siapa dia. Kata­kan siapa.”

Tiba-tiba dengan mata sebak Las­mid­jah merang­kul anak­nya.

“Meng­apa, bu?”

“Kem­ba­li­lah ke peda­laman, Ara.”

“Ibu juga?”

“Aku hanya akan susah­kan kau. Tidak, Ara.”

“Tidak, Ibu.”

“Kau harus ber­ju­ang, Ara. Kau tak boleh meng­i­ngat-ingat aku.”

“Tapi kau ibuku, bukan?”

“Karena kau anakku, aku bilang begitu, Ara.”

Ara mena­tap kuping ibunya yang masih juga merang­kul­nya. Dalam hati ia men­duga-duga. Tetapi segala duga­an­nya sia-sia. Mung­kin ibunya ter­lalu banyak menge­ta­hui.

Tapi meng­apa tak dika­ta­kan­nya kepa­da­nya? Rang­kulan orang itu mem­buat Lara­sati sadar betapa cin­ta­nya ibunya kepa­da­nya.

“Aku tak pernah suruh kau, Ara. Aku tak pernah larang kau, juga aku tak pernah meminta sesu­atu pun darimu. Cuma sekali ini aku minta, kem­ba­li­lah kau ke peda­laman. Kau tak boleh macam yang sudah-sudah. Kau mesti mulai hidup yang benar, yang sung­guh-sung­guh. Jadilah wanita biasa seperti ibumu sen­diri dulu, punya suami yang benar, punya anak yang benar. Cuma itu pin­taku, Ara.”

“Ibu tak suka ikut ke peda­laman. Biar aku mulai di sini.”

“Tidak mung­kin.”

“Karena si mata kuning tadi, bu?”

Las­mid­jah ter­diam. Ia urai­kan rang­kul­an­nya dan dengan tubuh meleng­kung dan lemas ia ting­gal­kan rumah. Sebe­lum menu­runi jen­jang got ia ber­pe­san, “Kalau lapar, min­ta­lah pada tetangga. Mung­kin ada.”

Lara­sati ter­ting­gal seo­rang diri. Tambah ia ber­pi­kir, tambah ia tidak meng­erti.

Ja jatuh ter­ti­dur di atas bale dengan kepala kacau. Sebe­lum sempat ber­mimpi ia ter­sen­tak bangun: ter­i­ngat akan uang dua ribu milik negara. Kem­bali ia periksa tas tangan­nya yang ter­ka­par di atas tanah, kemu­dian di kolong-kolong lemari dan meja. Uang itu memang telah lenyap. Juga semua kain pan­jang yang diba­wa­nya dari Yogya. Uang dan kain yang hilang itu meng­an­tar­kan ing­at­an­nya pada peng­a­laman-peng­a­laman manis sejak mening­gal­kan stas­iun Yogya. Semua orang begitu ramah dan peno­long kepa­da­nya. Tetapi sele­sai­nya daerah Repub­lik ber­arti pula sele­sai­nya orang-orang pera­mah dan peno­long. Dan di bumi pen­du­dukan semu­a­nya saja maling yang bisa baris di tengah jalan di siang bolong.

Yang pera­mah dan peno­long hanya mereka yang masih setia pada Repub­lik. Jangan takut! Jangan takut! Kau harus men­den­dam. Barang­si­apa kurang den­dam­nya akan lebih takut­nya. Barang­si­apa banyak den­dam­nya akan kurang takut­nya. Pemim­pin pemuda itu melela remang-remang dalam ing­at­an­nya. Ia belum lagi sempat meli­hat wajah­nya jelas-jelas. Mung­kin ia takkan ber­temu lagi deng­an­nya untuk selama-lama­nya. Namun ia telah mewa­ris­kan pada­nya pegangan: jangan takut, men­den­dam­lah.

Kini men­da­dak saja ia merasa lapar. Aku mesti ber­buat apa seka­rang? Di rumah ini tidak ada makanan. Tidak ada orang selain aku. Ia turun dari ambin dan keluar, di beranda duduk nenek yang kema­rin. Ia ter­se­nyum menyam­but­nya.

“Mau makan, nak?” ia mulai mene­gur.

“Uang itu hilang, nek.”

“Tentu saja,” jawab­nya dengan ayem­nya. “Tapi kau sudah ikut ber­tem­pur. Idjah tak pesan apa-apa padamu?”

“Tidak.”

“Tidak disu­r­uh­nya kau pergi?”

“Tidak.”

“Mula­nya aku mau bangun­kan kau. Tak sampai hati. Kau begitu lelah. Makan­lah dulu. Sem­brono amat si Idjah itu. Mes­ti­nya kau disu­ruh pergi.”

“Meng­apa aku mesti pergi?”

“Kau dalam bahaya. Kau baru datang dari Yogya. Lantas ada per­tem­puran. Di rumahmu dida­pat­kan Ori kita.”

“Meng­apa aku tidak ditang­kap tadi?”

“Ah kau, nak. Itu justru lebih ber­ba­haya. Per­gi­lah.”

“Jadi si mata kuning itu kenal aku?”

“Semua orang tahu siapa si mata kuning itu… Deng­ar­kan kata kami, nak. Kau mesti pergi. Kau bisa celaka. Kau bisa men­ce­la­ka­kan semua orang di sini. Kau hanya seo­rang perem­puan, tidak punya sen­jata pula. Kau juga tidak mung­kin bisa pimpin nenek dan kakek-kakek ini ber­tem­pur.

“Biar­lah, nek. Aku ting­gal di sini.”

“Kalau kau ditang­kap jangan cela­ka­kan yang lain-lain.”

“Insya­al­lah.”

“Insya­al­lah? Akhir­nya kau sen­diri yang menen­tu­kan. Kau sen­diri harus ber­u­saha. Ingat kakek Mo dan anak itu. Mereka pun tidak akan seret yang lain-lain. Mereka sudah sedia untuk mati. Kami di sini belum kenal kau,”

“Mereka akhir­nya akan kenal aku. Aku sudah seba­gian dari mereka.”

“Mari makan.”

Kedua perem­puan itu ber­tun­tun-tun­tunan menu­runi jen­jang menye­ber­a­ngi gang dan masuk ke dalam rumah depan. Rumah itu nampak lebih bersih. Tetapi tiada seo­rang pun peng­hu­ni­nya selain nenek. Nenek mem­ba­wa­nya lang­sung ke dapur. Mereka makan nasi dengan sambal dan ulam-ulaman.

“Nenek sen­di­r­ian di sini?”

“Ya, kalau siang.” Dan Lara­sati meng­erti cerita selan­jut­nya yang tak diu­cap­kan. Dengan diam-diam kedua orang itu makan. “Tidak lapar? Meng­apa ragu-ragu begitu makan­nya? Makan­lah, masih banyak kesu­l­itan mesti kita tempuh, nak.”

Tiba-tiba mereka ber­henti makan. Nenek mem­ber­sih­kan mulut dengan jari telun­juk­nya. Dari depan ter­de­ngar suara seo­rang lelaki, “Slekum!”

“Bukan orang kita,” bisik nenek.

“Kau sem­bu­nyi jangan ikut keluar. Jangan sampai keli­hatan.” Dan nenek pergi keluar.

Lara­sati tak dapat mem­ben­dung kei­ng­in­an­nya untuk menge­ta­hui siapa si tamu. Meng­en­dap-endap ia ikut pergi keluar dan menyem­bu­nyi­kan diri di balik din­ding beranda. Kam­pung ini sung­guh penuh dengan kenge­rian. Apakah dia ter­ma­suk salah satu dari kenge­rian-kenge­rian itu? Ia cari-cari lubang tempat meng­in­tip. Akhir­nya masuk di balik pintu.

“Num­pang tanya, nek,” orang itu memu­lai.

Lara­sati kaget. Ia pernah dengar suara itu. Di mana? Dari sela daun pintu dengan kusen ia dapat meli­hat ke luar. Tetapi yang nampak hanya bagian bela­kang nenek. Orang itu sen­diri, yang ber­diri di atas tanah depan beranda yang lebih tinggi, hilang ter­tu­tup. Siapa dia? Hanya ram­but­nya yang nampak ter­si­sir rapi dan ber­om­bak.

“Rumah Las­mid­jah di mana?”

“Orang­nya tidak ada, kerja.”

“Anak­nya? Di mana dia?”

“Pergi tadi.”

Jan­tung Lara­sati ber­de­gupan ken­cang.

“Meng­apa pin­tu­nya masih ter­buka?”

“Kapan-kapan aku yang biasa jaga rumah­nya…”

“Suruh anak­nya datang ke rumah, nek.”

“Nanti aku sam­pai­kan kalau dia datang.”

“Terima kasih, nek.”

Nenek ber­siap hendak masuk ke dalam. Degupan jan­tung Lara­sati ber­tam­bah ken­cang. Tamu itu kini nampak jelas melela di hadap­an­nya: tinggi besar, gagah, ber­ce­lana wol ber­ke­meja putih ram­but­nya ber­om­bak hidung­nya man­cung—ter­lalu man­cung, kul­it­nya kehi­tam-hitaman dan— mata­nya kuning. Waktu tamu itu telah pergi. Lara­sati ter­ja­tuh lemas di balik daun pintu.

Nenek itu mene­mu­kan­nya masih di bela­kang daun pintu. Dita­rik­nya tangan bin­tang film itu dengan tenaga nenek­nya, didu­duk­kan­nya pada kursi. Dita­tap­nya dengan sayang­nya dan diusap-usap rambut Lara­sati,

“Jadi kau meng­erti, meng­apa kau mesti pergi dari sini.” Lara­sati meng­ang­guk. “Jadi kau mau pergi?” Bin­tang film itu meng­ge­leng. “Baik­lah. Aku tak mau memaksa. Tapi jangan cela­ka­kan orang lain. Kau meng­erti kalau tetap ting­gal di sini!” Lara­sati mena­tap­nya. Ia meng­ge­leng. “Paling sedi­kit ibumu sen­diri yang kau kur­bankan.”

Seka­li­gus lenyap lemas Lara­sati. Ia bang­kit ber­diri dan mem­be­la­lak.

“Bagai­mana bisa?” seru­nya.

“Kami kenal daerah ini, nak. Kami kenal orang-orang Arab di sana itu.”

“Meng­apa ibu kerja di sana?”

“Cuma dia yang tak punya kera­bat yang dapat menyo­kong­nya. Jangan salah­kan kami. Kami semua hidup dalam kesu­l­itan.”

Kem­bali bin­tang film itu men­jadi lemas dan jatuh ter­du­duk di atas kursi. Ia tak pernah duga-duga sebe­lum­nya. Hidup dalam kea­daan sesu­lit itu. Hidup ini hanya mem­beri aku seo­rang ibu, dan aku tidak sang­gup mem­ba­ha­gi­a­kan­nya. Aku masih muda, bagai­mana pula kalau sudah tua? Apa bakal nasib­nya? Satu-satu­nya yang aku Punya dalam hidup ini. Tidak bakal lama lagi dan aku pun akan setua dia. Apa kemu­dian aku per­buat? Orang lain dapat pen­siun. Apa aku dapat? Seka­li­pun aku juga kerja sete­ngah mati? Tak kenal malam? Dan untuk film sepan­jang satu sete­ngah jam aku mesti kerja dua bulan, hampir-hampir tanpa tidur? Ah, ibuku, ibuku sayang!

“Apa aku mesti ker­ja­kan, nek?”

“Kau sudah ambil putusan?”

“Apa aku mesti datang, nek?”

“Aku lebih suka kau pergi, nak. Aku tak bisa kasih nasi­hat ter­lalu sulit. Aku tak berani.”

“Kalau aku datang, nek, apa akan ter­jadi, nek?” Orang tua itu tak men­ja­wab, hanya masuk ke dalam. Tapi Lara­sati tak peduli mene­rus­kan. “Kalau aku tak datang, nek?”

Sete­lah datang lagi, nenek itu ber­kata, “Sete­lah kau ikut ber­ju­ang, semua orang di sini sayang padamu, nak. Aku tak peduli siapa kau. Kami hanya menge­nal apa yang kau per­buat di sini. Ingin benar aku meno­long kau dan ibumu, tapi tidak mung­kin. Kalau per­to­long­anku salah, mung­kin bukan per­to­longan lagi tapi seba­lik­nya. Orang-orang Arab sana sudah banyak bunuh anak-anak kita.”

“Meng­apa dibi­ar­kan hidup?”

Nenek itu meng­ge­leng-geleng. “Jangan tanya. Anak-anak itu lebih tahu apa yang mesti dan tidak diker­ja­kan.”

Nenek itu kem­bali mem­ber­sih­kan mulut dengan telun­juk­nya. “Tidur­lah di sini. Jangan pulang, biar rumahmu dekat di sebe­rang itu.”

Pada waktu itu pula­lah Lara­sati menya­dari bahaya yang sedang menge­pung dir­i­nya dan sul­it­nya ibunya hidup sehari-harian di dalam sarang pem­bu­nuhan. Masih ter­ba­yang oleh­nya senyum anak Arab yang tinggi besar tadi waktu minta diri. Apa yang ter­se­m­bu­nyi di balik senyum itu? Maut? Peme­rasan? Apa yang hendak dipe­ras­nya dari ibuku? Dari aku?

Atau hendak meme­ras kete­rangan ten­tang pemuda-pemuda kam­pung sini?

“Sudah­lah. Jangan dipi­kir. Kau cuma bisa men­duga-duga apa yang bakal datang. Yang kau duga-duga pasti tidak ter­duga. Kalau mesti ter­jadi sesu­atu, hadapi dengan berani. Kau belum pernah dengar si Ma’in, itu ayah anak yang sema­lam gugur. Dia mati sete­ngah tahun yang lalu, waktu menyerbu tangsi. Dia selalu bilang pada anak-anak itu: “Kalau mati, dengan berani: kalau hidup, hidup dengan berani. Kalau kebe­ra­nian tidak ada—itulah sebab­nya setiap bangsa asing bisa jajah kita.”

“Anak­nya juga berani.”

“Dia paling berani di kam­pung ini. Anak keras. Sayang umur­nya pendek. Tapi yang umur­nya pan­jang, banyak senang, banyak susah, banyak tahu, banyak merasa, meng­apa keba­nyakan malah pena­kut. Huh. Anak semuda itu. Mes­ti­nya dia jen­de­ral. Sewaktu masih hidup bapak­nya selalu meng­un­dang-ngun­dang begitu. Kalau besar jadi jen­de­ral. Jadi jen­de­ral, ya? Jangan lupa.”

“Dia sudah jen­de­ral. Dia sudah perin­tah aku. Dia sudah ber­ke­lahi. Dia ber­tem­pur dengan gagah berani. Dia mati dengan gagah berani. Seki­ra­nya dia,”

“SlEkum!” ter­de­ngar suara dari luar.

Nenek itu keluar.

“O, tuan. Las­mid­jah belum pulang tuan.”

“Bagai­mana anak­nya?”

Lara­sati meng­gi­gil. Selu­ruh badan­nya, lemas dan dingin. Keri­ngat ber­ma­nik-manik pada kening­nya. Di hadap­an­nya ter­ba­yang seo­rang pem­bu­nuh yang selalu ter­se­nyum, dengan mata kuning, kul­it­nya hitam, hidung man­cung, dan rambut ber­om­bak.

“Ah… hh, tidak tahu, tuan. Barang­kali ke pasar.”

“Ke pasar?”

“Mana tahu, tuan.”

Seka­rang ter­de­ngar suara tamu itu ber­nada keras: “Suruh buru-buru datang ke sana. Jangan lupa.”

“Tak tahu, tuan, kapan datang­nya.”

“Kalau jam enam sore belum datang juga, aku kemari lagi.”

“Baik tuan, nanti disam­pai­kan.”

Ia dengar lang­kah sepatu kulit ringan tamu itu melang­kah menge­tak-ngetuk lan­dasan gang. Orang asing itu ikut ber­ku­asa di tanah airku. Dia mau ber­ku­asa atas diri tiap orang —orang yang justru ahli waris nenek moyang sen­diri dari tanah dan air sen­diri ini. Muka­nya telah basah karena keri­ngat dingin.

“Kau takut, Nak?” dise­ka­nya keri­ngat bin­tang film itu dari wajah­nya. Ber­bi­sik mem­pe­nga­ruhi, “Jangan takut.”

Lara­sati meng­hela nafas pan­jang. Kalau soal­nya meng­ha­dapi musuh yang sudah tentu barisan dan sen­ja­t­a­nya, mung­kin ia takkan takut. Seti­dak-tidak­nya sema­lam ia telah ber­peng­a­laman. Apa sesung­guh­nya maksud dia meng­ha­rap­kan keda­tanganku, kalau tidak ingin men­da­pat­kan keun­tungan dari aku?

Berjam-jam kemu­dian Lara­sati duduk mere­nung-renung sampai kepa­la­nya men­jadi pening. Dan tepat pada jam enam sore. Las­mid­jah tak datang. Yang datang pemuda Arab itu juga yang segera meng­ger­tak dengan kasar, “Sudah disam­pai­kan?”

“Mana bisa kalau orang­nya belum datang, tuan lihat saja, pin­tu­nya masih juga seperti sepagi.”

“Bilang, ibunya tidak pulang sebe­lum dia datang,” ia pergi tanpa meminta diri seperti pada per­mu­laan datang.

“Kau sayang pada ibumu, nak?”

Lara­sati meng­ang­guk. “Kalau begitu kau mes­ti­nya datang. Aku hanya bisa berdoa untuk kese­la­mat­anmu,”

“Kalau aku dita­han di sana?”

Nenek itu tak men­ja­wab. Ia hanya meng­ge­leng. Lara­sati bang­kit dan ber­ja­lan per­la­han-lahan pulang ke rumah ibunya, menu­tup pintu, kemu­dian dengan penuh piki­ran ber­ja­lan menuju keluar gang dengan house-coat, satu-satu­nya pakaian yang masih dimi­l­ik­i­nya.

Tak pernah sebe­lum­nya ia ber­leng­gang begitu layu. Ayun tangan­nya begitu berat seperti batu gaib dii­kat­kan pada per­ge­lang­an­nya. Ia tak tahu apakah waktu ini ia harus mena­ngis atau menen­tang atau harus menye­rah. Ah. Itu orang asing yang ber­ku­asa atas hidup dan mati pewa­ris yang sah dari tanah air sen­diri. Apa mung­kin yang demi­kian ter­jadi? Kalau dia Belanda, masih dapat dite­rima. Tapi dia Arab, yang tak tahu-menahu ten­tang poli­tik!—yang dia tahu cuma duit dan datang ke Indo­ne­sia hanya cari duit.

Sampai di tengah-tengah per­ja­lanan ia ber­henti. Ia ragu. Apakah layak Seo­rang wanita datang ke rumah seo­rang asing dalam house-coat? Ia ber­henti ber­pe­gangan pada tiang lis­trik. Mena­rik nafas dalam. Lantas apa mesti aku kena­kan? Pakaian orang lain? Orang lain siapa? Revo­lusi ini tidak mem­beri Sesu­atu pun, dia minta dari setiap orang—segala-gala­nya.

Meng­apa si Arab itu ikut meminta? Dia yang tidak punya sang­kut-paut sedi­kit pun dengan Revo­lusi? Apakah aku dengan suka­rela ber­ja­lan seo­rang diri menuju ke tiang gan­tungan? Men­da­dak ia tenga­dah­kan kepa­la­nya ke langit. Tidak! Tidak mung­kin. Ia lepas­kan pegang­an­nya dari tiang lis­trik. Ia kepal­kan tangan­nya dan digo­coh­nya tiang lis­trik itu sekali. Mem­ba­lik dan ber­ce­pat-cepat pulang ke rumah.

Ini bukan cara­nya. Tidak! Ia masuk ke dalam duduk meman­dang jauh di atas ambin ibunya. Tidak! Bukan begini cara­nya. Ia bang­kit dan mem­be­res-beres­kan barang-barang yang kocar-kacir beran­takan di lantai. Aku tunggu dia. Aku akan hadapi dia. Kalau Mar­ta­bat datang soal­nya akan jadi lebih gam­pang. Itu pun tidak mung­kin. Dia pun punya kesu­l­it­an­nya sen­diri. Semua ini ditim­pa­kan kepa­daku untuk aku sele­sai­kan. Mana kemu­dian diriku kalau orang lain yang menye­le­sai­kan? Datang­lah kau, datang­lah kau, hai Arab! Aku menunggu di sini. Aku tidak akan lari. Ia nya­la­kan lampu dalam dan di beranda. Mandi. Duduk di beranda. Ia merasa segar seka­rang. Ia merasa lebih berani.

Selu­ruh kam­pung ini biar para pemuda datang atau tidak, tidak bakal bisa sele­sai­kan per­so­al­an­nya. Bagi mereka, ibunya dan juga dir­i­nya akan sama saja arti­nya dengan kakek Mo, dan anak kecil yang dita­han itu. Seperti juga pemim­pin pemuda itu, semua rela kawan-kawan­nya tewas Satu demi satu. Malam dengan cepat­nya turun ke bumi. Ibunya tak juga datang. Nenek itu tak salah. Tapi rumah nenek itu gelap seka­rang. Mung­kin ia sedang pergi entah ke mana. Ia merasa ber­ba­ha­gia waktu Mar­ta­bat datang dan seperti kema­rin tanpa disi­la­kan ia ambil kursi dan duduk. Ia kelu­ar­kan kertas dan pensil. Pada bibir­nya ter­sim­pul senyum ramah, sedang mata­nya merah warisan peng­a­laman sema­lam. “Kau tak meng­a­lami kesu­l­itan, kan?” Ara ber­ta­nya. “Tidak, nona.”

“Pang­gil aku Ara, tanpa nona.”

“Aku akan ikut deng­anmu, Ibuku juga.” Mar­ta­bat ter­ke­jut. Ja tatap Lara­sati dengan pan­dang tak meng­erti. “Kau heran? Sini bukan tem­patku.”

“Sini bukan tempat kita, Ara. Tapi kalau kau ikut ada juga kesu­l­it­an­nya. Kami hanya dapat lari­kan satu mobil, mobil kolo­nel sen­diri. Dela­pan orang ikut serta mem­bawa bebe­rapa ribu peluru kera­bin dan kera­bin kurang lebih selu­sin. Jadi…”

“Mak­sudmu tidak ada tempat?”

“Tentu saja tidak. Mak­sudku kami sedang akan laku­kan tero­bosan maut. Itu tidak tepat bagi seo­rang wanita, walau kami ingin mem­bawa.”

Tak ter­ki­ra­kan kecil hati Lara­sati men­de­ngar jawaban itu. Ia belum dima­suk­kan ke dalam kelas peju­ang oleh si Mar­ta­bat ini. Tapi ia men­jaga agar tak mem­ban­tah, tidak melu­kai ren­cana anak muda itu. Mung­kin dia lebih pen­ting bagi Revo­lusi dari­pada aku.

“Lagi pula,” Mar­ta­bat mene­rus­kan, “tidak ada seo­rang pun di antara kami bisa duduk senang di dalam mobil itu. Semua duduk di atas ban truk dan mobil yang kami sero­bot. Kami berang­kat tengah malam nanti. Tulis­lah surat­nya. Jangan dibi­ar­kan ren­cana kami gagal.”

Akhir­nya ting­gal aku sen­di­r­ian ter­pen­cil dari semua peju­ang ini. Dengan menin­das emo­si­nya ia mulai menu­lis Surat untuk si kawan yang waktu itu jadi Opsir piket di Cikam­pek. Ia tulis­kan berita ten­tang aju­dan­nya yang muntah darah di pen­jara dan sayang ia tak sempat mena­nya­kan nama pen­jara itu. Ia ceri­ta­kan peng­a­lam­an­nya sampai ia bisa masuk ke dalam pen­jara. Dan menya­ta­kan tekad­nya tidak menye­rah pada Belanda untuk dija­di­kan alat pro­pa­ganda. Akhir­nya ia meng­ha­rap­kan agar per­wira itu terus juga menu­lis, siapa tahu kelak bisa diter­bit­kan karang­an­nya!

“Cukup?” tanya­nya kemu­dian sambil menyo­dor­kan surat per­ke­nalan itu. “Sengaja aku tak tulis­kan ala­matku. Salamku pada­nya. Bilang­kan aku akan tetap meng­i­ngat dia.”

“Terima kasih, Ara. Kau tak merasa ber­ba­haya di sini? Mana ibumu? Ah, kalau merasa ber­ba­haya kau boleh terima revol­verku seba­gai kenang-kenangan.”

“Tidak, Tabat, Revol­vermu lebih dibu­tuh­kan di peda­laman. Terima kasih.”

Nada suara bin­tang film yang ter­de­ngar mengan­dung sendu dan duka­cita itu terasa memi­l­ukan oleh Mar­ta­bat. Ia tatap bin­tang film itu, ber­ta­nya hati-hati, “Benar-benar aku tak bisa bawa kau, Ara. Maaf­kan aku.”

“Kami akan temu­kan cara dan jalan lain, Tabat, jangan kau pikir­kan.”

“Aku boleh berang­kat, Ara?”

“Sesung­guh­nya aku mem­bu­tuh­kan kawan seka­rang. Tapi aku tak boleh tahan kau. Berang­kat­lah. Sela­mat untukmu. Mer­deka!”

Mar­ta­bat bangun lambat-lambat. Ia tatap Ara dengan mata murung. Ia tak menyam­but salam itu. Ia sen­diri kehi­langan sema­ngat. “Kau mesti bel­a­jar men­ja­wab pekik Mer­deka, Tabat, biar­pun per­la­han.”

“Mer­deka, Ara! Benar-benar kau tak mem­bu­tuh­kan revol­ver?”

“Tidak, Tabat. Benar, tidak. Per­gu­na­kan untuk kau sen­diri, anggap itu tanda-mata dari Ara, seo­rang bin­tang film yang mung­kin baru kau kenal untuk per­tama kali.”

“Terima kasih, Ara. Tak dapat aku menya­ta­kan bagai­mana menye­sal hati tak dapat mem­bawa kau dan ibumu. Aku sangat ber­hu­tang-budi padamu. Jangan bantah. Terima kasih kata-kataku seba­gai tanda-mata dari padaku. Mer­deka!”

“Mer­deka!”

“Teri­ma­lah tanganku.”

Mereka ber­ja­batan tangan, seperti gunung ber­ja­batan dengan samu­dera. Mereka hanya dua gumpal daging kecil, tetapi jiwa­nya lebih besar dari­pada gunung, lebih luas dari laut, karena mereka ikut mela­hir­kan sesu­atu yang nenek moyang­nya dan bangsa-bangsa lain tidak atau belum mela­hir­kan­nya: kemer­de­kaan.

Mar­ta­bat mele­pas­kan tangan itu dengan pera­saan campur aduk. Lara­sati tak kurang-kurang­nya. Ia antar­kan tamu­nya sampai di jen­jang got. Tiba-tiba, “Tabat!”

“Ya.”

Mar­ta­bat ber­henti. Ara terus ber­ja­lan.

“Jangan sampai kau jadi kurban sia-sia di sana. Hati-hati kata-katamu ter­ha­dap para peju­ang di per­ba­ta­san. Pasang ben­dera merah putih kalau sudah mela­lui daerah pen­du­dukan.

“Aku ingat dan akan kuker­ja­kan, Ara.”

“Sudah kau periksa bensin mobilmu? Cukup?”

“Cukup, Ara.”

“Peng­a­laman kita sema­lam takkan kulu­pa­kan seumur hidup, Tabat.”

“Tentu saja.”

“Tabat.”

“Ya?”

“Mung­kin kau dengar juga apa kata pemim­pin sema­lam.”

“Banyak yang kude­ngar. Apa mak­sudmu?”

“Kau harus berani sebaik-baik­nya.”

“Tabat!”

“Yap”

“Berang­kat­lah.” Malam itu langit dili­puti men­dung tebal. Sua­sana sunyi senyap, seperti orang bukan ting­gal di atas bumi manu­sia, tetapi di alam lain, penuh raha­sia, penuh kega­nasan, juga penuh kecin­taan yang lembut, penuh kepe­nge­cutan, juga penuh dengan kepah­la­wanan —semua yang tak pernah nampak dan terasa di waktu-waktu biasa. Malam ini sunyi-senyap sung­guh. Juga hati Lara­sati. Malam ini adalah malam tanpa pria bagi Lara­sati. Tapi ia tidak peduli lagi. Ia ber­te­kad menem­puh jalan baru. Ibunya tak juga datang. Hujan turun dengan roman­tis, tetapi yang mem­buat hati lebih sunyi-senyap. Lara­sati meng­i­ng­in­kan sesu­atu. Ia tak tahu apa ia ing­in­kan. Ia tidur seo­rang diri malam itu. Pagi itu udara cerah cemer­lang. Sinar matari yang jauh di atas lan­dasan gang aspal yang ber­se­la­put lumpur, menyala dengan tajam­nya. Dan uap pagi meruap, mem­bum­bung sedi­kit, kemu­dian meng­hi­lang dite­lan alam besar. Deda­unan yang masih ber­mandi air hujan sema­lam gemer­lapan, nampak lebih hijau dari­pada kema­rin. Rom­bongan burung gela­tik ter­bang cepat menuju ke barat laut. Di daerah yang baru diting­gal­kan­nya panen dengan hasil memu­as­kan—tak peduli pasukan Nica atau KL menyerbu hasil panen itu atau tidak. Angin meniup sejuk, mem­bawa udara dari peda­laman. Seha­bis menimba dan mandi Lara­sati mem­buka pintu depan dan keluar. Suara nenek di sebe­rang menyam­but­nya: “Kau pergi sema­lam?”

“Tidak!”

“Kalau begitu ibumu tak pulang.”

“Memang.”

“Seben­tar aku ke sana.”

Lara­sati merasa ter­hi­bur oleh janji itu. Ia sung­guh tak tahu apa mesti diker­ja­kan. Kalau ada beras, mau ia mema­sak. Jangan­kan beras, daun pun tak ada di rumah ini.

Waktu nenek itu datang kem­bali segera ter­de­ngar puji­an­nya: “Kau memang berani.”

Lara­sati tak tahu apa ia mesti jawab. Ia pun tak tahu di mana kebe­ra­ni­an­nya. Ia tatap mata nenek itu dengan pan­dang ber­ta­nya. Dan ia lihat nenek itu ber­kata sung­guh-sung­guh. Mata­nya ber­si­nar-sinar mengan­dung keka­guman, “Seben­tar lagi dia kemari. Kau masih berani hadapi dia!”

“Aku coba, nek.”

“Biar aku bantu. Biar jelek-jelek aku sudah ber­peng­a­laman. Aku senang kau mela­wan. Sema­lam aku pergi beri­ta­hu­kan ini pada orang-orang. Siap dulu, jangan pergi-pergi, aku ambil­kan sedi­kit sarapan.”

Ia pergi tetapi pemuda Arab itu justru yang datang. “Sela­mat pagi, nona Ara!”

Lara­sati meng­ang­guk tanpa menyi­la­kan.

“Ah, kema­rin kami tunggu-tunggu tidak juga datang.”

Jadi diang­gap apa aku ini? Lara­sati mem­be­ron­tak dalam hati. Wajah­nya menyem­bu­rat merah karena darah yang men­jom­pak ke atas. Dan seke­li­batan ia lihat betapa men­ji­jik­kan senyum orang asing itu. Dan gigi­nya yang putih gemer­lapan waktu mem­buka mulut. Kul­it­nya yang hitam meng­ki­lat meng­i­ng­at­kan ia pada iblis yang tak pernah dili­hat­nya, tetapi yang pernah dima­in­kan oleh Oom Didong di atas pang­gung. Ia men­coba men­je­la­jah keja­hatan yang ter­pen­dam dalam hati pemuda asing itu. Tapi yang ia rasai hanya dia mata duitan, haus keku­a­saan, haus darah, haus kurban baru. Ia tan­tang mata­nya yang kuning.

“Meng­apa kau pan­dangi aku begitu, nona? Aneh?”

“Aku tak ingin diganggu.”

“Tentu itu aku meng­erti. Nona sangat lelah. Mung­kin sema­lam-malaman tidak tidur. Tapi aku datang bukan untuk meng­ganggu, nona.” Dan sua­ra­nya begitu lemah-lembut sampai hampir-hampir Lara­sati tidak per­caya suara sema­cam itu bisa keluar dari mulut bina­tang.

“Meng­apa mesti datang? Aku ingin sen­di­r­ian.”

“Ah, ah, nona. Mana bisa orang hidup sen­di­r­ian?” dan tanpa disi­la­kan ia masuk ke beranda, duduk di atas kursi peot di depan­nya. Seben­tar meman­dangi gambar kumal di atas jen­dela beranda yang tak pernah dibuka, kemu­dian mene­ngok ke sebe­rang, ke rumah nenek, akhir­nya mene­rus­kan, “Nona orang baru di sini, bukan?”

Lara­sati enggan men­ja­wab.

“Kami tia­da­lah jahat, nona. Kami mem­pu­nyai orkes gambus. Tentu nona mau menya­nyi buat orkes kami.”

Selama tamu­nya bicara, Ara meng­a­wasi mata­nya yang kuning. Tamu itu seben­tar-seben­tar menun­duk atau mem­bu­ang muka. Meng­apa mata­nya begitu kuning kalau dia tidak sakit kuning? Kena racun rokok? Waktu ia mene­liti tangan pemuda itu nampak ujung telun­juk dan jari tengah­nya kehi­tam-hitaman ber­cam­pur sedi­kit kuning.

“Aku bukan penya­nyi. Biar­pun menya­nyi juga bukan gambus.”

“Kami juga baru mulai, nona. Tak perlu nona takut. Banyak orang ter­nama dalam orkes kami. Ada tuan Alay­d­rus, tuan tanah Tanah Abang. Ada tuan Husain dari Krukut. Dan aku sen­diri Jusman, nona. Aku memang orang Arab, tapi tak biasa pakai nama suku. Tidak senang, 2eya orang kolot.”

Lara­sati terus meng­a­wasi tamu­nya.

“Yang ber­tem­pur, ber­tem­pur, yang main gambus, main gambus. Kami tak tahu urusan per­tem­puran. Itu urusan Belanda. Kami orang Arab, tidak mau turut campur. Kami takkan men­da­pat keun­tungan apa-apa dari semua itu. N g0mMONng-ngo­mong, meng­apa nona awasi aku saja?”

“Aku pernah lihat mata itu.”

Orang itu ter­tawa ter­ba­hak sampai kepa­la­nya mene­nga­dah dan air ludah ber­se­m­buran. Ter­ta­wanya ber­henti dengan acuh­nya. Seperti pemain gulat, kedua tangan­nya diang­kat, dile­tak­kan di atas meja, meman­dang Lara­sati dari atas dan ber­kata mem­bu­juk, “Tentu. Waktu nona men­cari ibu nona, akulah yang menyam­but nona, bukan?”

“Aku masih ingat itu. Tapi itu yang per­tama kali. Aku pernah lihat untuk yang kedua kali­nya. Kema­rin kalau tak salah.”

Mulut Arab yang masih sete­ngah ter­tawa itu tiba-tiba ter­tu­tup kejang, dan mata­nya sete­ngah melo­tot. Tapi kemu­dian ter­tawa lagi dan ber­kata, “Tidak mung­kin. Nona salah ingat. Tapi Ngo­mong-ngo­mong bagai­mana nona bisa menya­nyi untuk orkes kami bukan?”

Dan nenek sebe­rang datang mem­bawa sarapan. Ia tak mem­pe­du­li­kan tamu Arab itu dan terus saja duduk di satu kursi peot dengan Ara.

“Makan, Ara kau belum makan sejak kema­rin.”

“Ah, nek, kalau aku tahu, tentu aku bawa­kan,” tamu itu kemu­dian menge­lu­ar­kan kotak rokok, menge­lu­ar­kan seba­tang rokok Ame­rika dan mulai meng­hi­sap­nya. “Nona juga mero­kok?”

Lara­sati meng­ge­leng, tapi diam­bil­nya penganan di hadap­an­nya dan mulai makan tanpa mena­wari siapa pun juga.

“Ini, nek,” pemuda Arab itu kini meng­ha­dap­kan mata­nya pada nenek. “Nona ini kami ajak main gambus.”

“Tapi dia bin­tang film, kan, bukan penya­nyi!”

“Ah, nek, bin­tang film bisa segala-gala­nya,” sambil meli­rik­kan mata kuning­nya pada Lara­sati. “Aku juga ikut-ikut main film seka­rang, nek, jadi tahu sedi­kit-sedi­kit.”

Lara­sati ber­henti makan. Kalau begitu dia kenal Mar­d­jo­han. Ini sung­guh-sung­guh ber­ba­haya. Dia tidak boleh tahu aku ada di sini. Kalau tidak, sia-sia saja per­to­longan Mar­ta­bat. Kini ia ingat pesan ibunya yang menyu­r­uh­nya pergi. Di mana ibunya seka­rang? Dia­pa­kan ibunya yang telah tua itu? Hati­nya beron­tak. Dihen­ti­kan penganan yang belum ter­ma­kan selu­r­uh­nya dan ber­kata keras: “Aku takkan ker­ja­sama dengan tuan.”

Pemuda Arab itu ter­ke­jut. Meng­a­wasi Lara­sati dengan mata tiba-tiba menyala-nyala.

“Tapi nona, ibu nona juga di sana. Bagai­mana pikir nona?”

“Kau boleh ambil ibuku kalau suka. Dia boleh tidak pulang untuk selama-lama­nya.”

Pemuda Arab itu kini mena­tap nenek tapi tak ber­kata apa-apa. Akhir­nya ia bang­kit ber­diri, ber­siap hendak pulang, tetapi ber­henti dan ber­pa­ling ke bela­kang, “Tapi ibu nona dalam bahaya.”

“Aku tahu. Aku juga tahu mata siapa yang meman­dangi aku dari balik sarung guling kema­rin dulu.”

Pemuda Arab itu tiba-tiba mene­gak­kan badan, meng­ha­dapi Ara, dengan mata tajam meng­a­wasi. Dengan suara meng­an­cam ia ber­bi­sik, “Jadi kau tahu, bagus.”

“Kau juga tahu siapa aku?”

“Jangan sesali yang akan ter­jadi.”

“Jadi­kan­lah. Kau kuasa.”

“Baik.”

Kemu­dian pemuda Arab itu melang­kah ber­ce­pat-cepat, menge­lo­yor keluar kam­pung…

Hari-hari lewat dengan pelan­nya. Dan serangan lapar kian hari kian mening­kat dan hebat­nya—tak meng­erti Ara, meng­apa orang tua-tua dan kanak-kanak di kam­pung itu dapat mena­han semua itu.

Barisan pemuda tak juga datang. Ia akan gabung­kan diri dengan mereka. Berita dari Mar­ta­bat pun tak kun­jung datang.

Akhir­nya pada suatu hari Ara keluar dari rumah, mengun­jungi kantor Repub­lik, sebuah demi sebuah. Tetapi tak ada satu pun yang mau mene­ri­ma­nya.

“Kami hanya men­da­pat gaji beras seka­dar­nya, itu pun tidak cukup. Tentu lebih tidak cukup kalau ada pega­wai baru.”

Atau, “Sayang sekali. Lowongan tidak ada.”

Dan kadang-kadang jawaban itu ditam­bahi dengan kecu­r­i­gaan.

Bulan demi bulan mele­wat.

Per­u­ba­han demi per­u­ba­han ter­jadi.

Belanda lan­car­kan aksi mil­iter per­tama.

Di mana-mana ter­jadi ben­trokan antara pat­roli Belanda dengan pemuda. Negara boneka muncul satu demi satu, disa­tu­kan oleh Guber­nur Jen­d­ral Belanda dalam kum­pulan BFO, Bije­e­n­komst Fede­raal Over­leg, sebuah musya­warah negara-negara fede­ral. Ten­tara Belanda kian hari kian diper­kuat dengan tenaga baru dari Nede­r­land.

Akhir­nya Belanda menyerbu lebih jauh ke peda­laman.

Ara tak banyak tahu ten­tang per­ki­saran poli­tik. Tak banyak meng­i­kuti dip­lo­masi. Kota-kota jatuh di tangan Belanda. Juga Yogya sen­diri. Dan berita run­tuh­nya Yogya disam­but oleh Ara dengan tangis ter­se­dan-sedan. Dengan air mata yang meng­u­cur sejadi-jadi­nya mem­ba­sahi wajah­nya yang kian men­jadi kurus dan pucat. Tidak, keya­kin­anku tidak bisa digun­cang­kan oleh jatuh­nya Yogya. Revo­lusi tidak pernah kalah. Setiap keka­lahan yang dide­ri­ta­kan­nya tidak lain dari keme­nangan kaum kor­up­tor. Revo­lusi selalu menang. Seki­las nampak dalam bayang­an­nya kapten Oding dan opsir-opsir gagah. Dengan sepatu lars meng­ki­lat —semua serba meng­ki­lat, uni­form dari wol. Kor­up­tor! Kor­up­tor! Sampai-sampai jiwa dan api Revo­lusi dir­e­dup­kan­nya. Apa guna urat leher dite­gang­kan, gembar-gembor di atas mimbar, kalau sejum­lah kecil ten­tara musuh dapat buat mon­cong-mon­cong mereka jadi bung­kam? Tentu, ten­tara musuh pas­ti­lah kecil—mana bisa besar dari sebe­rang laut. Suatu bangsa kerdil mem­pu­nyai ten­tara besar? Mana mung­kin? Mana bisa suatu bangsa besar dika­lah­kan bangsa kecil? Kecu­ali mereka hanya pura-pura Revo­lu­si­o­ner. Pura-pura! Belum apa-apa sudah kibar­kan kain kafan! Mereka belum lagi kela­paran! Mereka belum lagi lecet! Kacuak-kacuak busuk yang cuma pintar pamor­kan belang­nya sen­diri itu! Apa kata­nya dulu? Masing-masing mau pimpin perang gerilya! Dengan sen­jata apa saja: pacul, ling­gis, arit, golok, tombak, bambu run­cing, ayoh, siap­kan semua! Apa seka­rang? Ter­nyata orang lama menye­la­mat­kan dir­i­nya sen­diri-sen­diri di bawah ben­dera kain kuburan! Mayat-mayat yang pandai sorak itu! Lara­sati ber­diri dan ber­ja­lan mondar-mandir. Lapar itu telah men­jadi saha­bat setia. Dan ibunya tak juga pulang lebih seta­hun ini. Biar­lah, dia tak pernah punya keku­a­saan. Ia ber­henti ber­ja­lan. Ter­ba­yang wajah ibunya.

Tiba-tiba tak dapat ia mena­han kesu­nyian seke­li­ling­nya.

Ia ingin ber­temu ibunya, ia ingin sam­pai­kan kejeng­kelan, keke­ce­waan, kese­dihan hati­nya. Ia mau adukan kepa­da­nya, kepada ibu, yang tak pernah ber­ku­asa dan kare­na­nya tak pernah korup, bahwa anak-anak muda yang tak tahu apa-apa dari Setiap saat rela mati itu, jauh lebih ber­harga dari pemim­pin­nya. Pemim­pin? Apa mereka itu berhak dina­ma­kan pemim­pin? Mereka tidak memim­pin! Mereka men­je­ru­mus­kan Revo­lusi. Pim­pinan, apa yang sudah mereka beri­kan? Hanya omong besar mereka sem­bur­kan.

Bah! Dan aku? Apa aku sen­diri tidak ikut ber­sa­lah? Meng­apa aku mesti men­jadi begini konyol ter­sang­kut di kam­pung celaka ini? Aku? Aku juga ter­ku­tuk! Tidak was­pada men­jaga Revo­lusi.

Sekali lagi Ara ter­se­dan-sedan. Dan lapar itu… ah, ya, meng­apa nenek tak pernah antar makanan lagi? Meng­apa barisan pemuda tak muncul lagi?

Tanpa sesu­atu tujuan ia pun menu­tup pintu dan mengun­ci­nya. Ber­ja­lan layu ke jalan besar. Kea­daan masih sunyi senyap, seka­li­pun hari kian lama kian tinggi. Deru truk dari keja­uhan—lebih memu­sing­kan dari­pada bia­sa­nya. Ia jalan, jalan saja. Pohon cemara di sepan­jang jalan itu menya­nyi ngilu ter­tiup angin. Dan tajuk­nya ber­a­yun-ayun sei­rama seperti sepa­sukan tawanan yang telah patah mor­il­nya terima komando dari musuh­nya.

Ia lewati toko-toko dengan pajangan meriah, dengan sang merah putih biru ter­hias di mana-mana. Ia rasai desah nafas orang-orang lalu-lintas yang ber­ja­lan cepat-cepat sambil menun­duk. Ia tak pernah ingat lagi bagai­mana macam pakai­an­nya selama ini. Ia sadar duduk di bangku sebuah taman sewaktu kaki­nya hampir-hampir meno­lak disu­ruh jalan terus. Langit di alam tidak seperti bia­sa­nya lagi, dan awan-awan mela­yang kaku, seperti ter­buat dari papan yang setiap waktu dapat runtuh ke bumi mene­rima kepala siapa saja yang hendak dike­na­i­nya.

“Ara!” sese­o­rang ber­bi­sik di kuping­nya. Dan suara itu… tanpa mene­ngok pun ia dapat keta­hui: suara lelaki. Dan lelaki itu mene­rus­kan. “Masa kau sampai begini, Ara.”

Suara yang mengan­dung sim­pati dan teguran itu mau tak mau mena­rik per­ha­ti­an­nya. Ia tegak­kan duduk­nya. Tiba-tiba merasa malu: mung­kin sekali ini ia duduk mero­sot di tempat umum. Bia­sa­nya ia selalu tun­juk­kan harga dir­i­nya, juga dalam gaya duduk­nya. Ia tatap pria yang duduk di sam­ping­nya. Sepa­sang mata merah menan­tang­nya dengan menyala-nyala. Ara segera merun­tuh­kan pan­dang­nya. Siapa pria ber­mata merah ini? Apakah dia kalong yang tak ber­sa­yap yang tak pernah pejam­kan mata­nya? Siapa dia? Dan sebe­lum piki­ran­nya bekerja meng­i­ngat-ingat, pemuda ber­mata merah itu telah mene­rus­kan, “Cha­i­dir, kau tak pernah dengar nama Cha­i­dir?”

Ara meng­ge­leng. Ia coba meng­i­ngat-ingat siapa orang itu. Apa maksud pemuda kerem­peng ini? Dan sebe­lum piki­ran­nya sempat bekerja, Cha­i­dir lang­sung jelas­kan dir­i­nya.

“Cha­i­dir. Masa tidak kenal? Aku penyair.”

Bulu badan Ara mere­mang. Rupa-rupa­nya anak kecil dekil ber­mata merah ini penyair yang banyak gun­cang­kan pen­da­pat-pen­da­pat di dunia san­di­wara di Yogya. Ha, ia seka­rang ingat. Ia duduk di keja­uhan. Cha­i­dir duduk di sam­ping kepala redaksi maja­lah Arena di depan per­dana men­teri yang juga setinggi Cha­i­dir, hanya gemuk dan tidak dekil, dan juga tidak ber­mata merah.

“San­di­wara?” kata per­dana men­teri, “apa yang bisa diper­buat san­di­wara dalam masa orang tidak mem­bu­tuh­kan seni apa pun juga seka­rang ini?”

Dan Cha­i­dir dengan berapi-api mem­bela seakan-akan san­di­wara itu dir­i­nya sen­diri, “Dalam kea­daan bagai­man­a­pun setiap orang mem­bu­tuh­kan segala-gala­nya. Beri­kan apa yang mereka butuh­kan. Tapi jangan padam­kan api Revo­lusi. Beri­kan minyak pada api itu!”

Dan karena kata-kata­nya ini, san­di­wara ber­kem­bang cepat lak­sana api di tengah-tengah padang rumput kering. Begitu ber­sim­pati ia kepada pemuda kerem­peng ini. Tapi meng­apa seka­rang mata­nya seme­rah itu? Meng­apa tubuh­nya sede­kil itu?

Ara tak dengar lagi apa kata Cha­i­dir selan­jut­nya. Ia tatap pemuda itu kem­bali waktu pemuda itu ber­ta­nya, “Kau ada uang, Ara? Aku lapar.”

Mau rasa­nya Ara meng­u­cur­kan air mata untuk ke sekian kali­nya dalam sehari ini. Api yang juga harus menang­gung kela­paran! Api Revo­lusi ini. Ara meng­ge­leng. Dan baru seka­rang Ara mulai bicara, “Apa guna makan hari ini? Yogya jatuh!”

Cha­i­dir menun­duk­kan kepala.

“Yang jatuh bukan Yogya.”

“Ya.”

“Yang jatuh adalah kera­jaan keang­kuhan, angkuh karena saking bodoh­nya. Cela­ka­nya keang­kuhan itu justru yang selama ini dapat keme­nangan.”

“Kau begitu kurus, Cha­i­dir.”

“Tak apa. Seben­tar lagi aku mati, seba­gai­mana Revo­lusi juga bakal mampus di tangan orang-orang gila hormat, gila tepuk tangan. Gila puji-san­jung itu.” Kata-kata­nya bagai badai menyem­bur dari mulut­nya, “Apa guna per­kem­bangan edan sema­cam itu. Dia paksa aku men­jadi edan kepa­rat juga sema­cam ini. Siapa yang suka edan kalau tidak ter­paksa? Begitu banyak aku coba beri nasi­hat mereka! Dasar kepa­la­nya cuma berisi keri­kil! Bukan begitu cara­nya memim­pin Revo­lusi. Apa kemu­dian? Masa sema­ngat Revo­lusi bisa dip­re­teli seperti pang­gang ayam! Kota demi kota jatuh. Pada setiap serangan musuh masing-masing pada rontok. Apa guna­nya ngo­mong lagi? Revo­lusi ada dalam diri kita. Kita­lah Revo­lusi itu sen­diri. Kea­daan kita kea­daan Revo­lusi. Hidup kita hidup Revo­lusi. Mari cari makan Ara.”

Tanpa sesu­atu kema­uan pasti, Ara meng­i­kuti tarikan kema­uan Cha­i­dir. Kedu­a­nya ber­ja­lan ber­ja­jar, dengan kaki ter­tu­suk-tusuk menge­pul­kan debu, di atas bumi tanah air yang kering, di bawah langit yang putih meng­gi­git mata. Tanpa angin. Dan uap dalam udara begitu mene­kan. Seperti dengan sen­di­r­i­nya saja kedua-dua ter­du­duk di bangku tukang kue pan­cong di ping­gir jalan.

“Kau ada duit?” Ara ber­bi­sik.

“Jadi kau mengira duit masih pen­ting?”

Mereka meng­hi­rup kopi panas yang menye­gar­kan dalam udara panas men­ce­kik itu. Dan sebuah demi sebuah kue dengan ber­se­ma­ngat mele­wati teng­go­r­okan kedu­a­nya, ber­ta­ma­sya dengan senang­nya ke dalam waduk mereka.“Kita jalan lagi, Ara.” Dan Ara meng­ang­guk. “Lima belas kuenya, bung. Kopi empat. Berapa?” Dan cepat Cha­i­dir mene­rus­kan bicara pada Ara. “Tak ada niatmu main di pang­gung lagi?”

Ara meng­a­wasi Cha­i­dir mele­pas kan­cing keme­ja­nya. Dili­hat­nya dada telan­jang basah karena keri­ngat, dan tulang-tulang iganya menge­pak-ngepak seperti sayap elang. “Tentu saja. Tapi apa mung­kin?”

“Mari kita temui Jassir, kri­ti­kus sastra kita. Sesu­dah itu Uzman. Kau sudah lama kenal dia. Mereka sudah punya rom­bongan san­di­wara amatir.”

“Amatir?” Ara ter­tawa ter­ba­hak.

“Ayoh berang­kat.”

“Kau belum bayar belan­jamu!”

Cha­i­dir melem­par­kan keme­ja­nya pada tukang kue pan­cong.

“Nih,” kata­nya.

Dan mereka pun mene­rus­kan per­ja­lanan.

“Di mana rumahmu, Ara?” Cha­i­dir ber­ta­nya.

Ara tak men­ja­wab. Dan mereka sampai di jalan besar, di mana ser­dadu-ser­dadu Belanda ber­so­rak-sorak, di atas truk-truk yang belang-belen­tong mem­be­ri­ta­kan keme­nang­an­nya dengan huruf-huruf putih dan biru. Sayup-sayup Lara­sati terbau hawa badan penyair yang menu­suk hidung sangat tajam­nya itu. Di sebuah per­ti­gaan Ara ber­henti meman­dangi kawan­nya, ber­kata, “Aku ting­gal di daerah ber­ba­haya. Per­gi­lah kau seka­rang. Biar aku jalan sen­diri.”

“Orang-orang sema­cam kita semes­ti­nya ber­satu, Ara.”

“Diku­buran per­sa­tuan lebih kekal, Cha­i­dir. Kita sedang mem­per­ju­ang­kan hidup, bukan mati. Jalan­lah kau. Biar aku tempuh hidupku sen­diri. Kau penyair, kau pasti tahu mak­sudku.”

Penyair itu ber­siap-siap untuk mem­ban­tah, tapi Ara tiada mem­pe­du­li­kan dan jalan sen­diri. Mene­ngok pun ia tidak lagi. Ia ber­ja­lan terus dan ber­ja­lan terus. Sampai di depan sebuah depot, sese­o­rang ber­seru: “Ara! Ara!” ia kenal suara itu. Hanya bina­tang buas bisa ber­seru-seru sema­cam itu. Si Jusman ber­mata kucing. Ia mem­per­ce­pat lang­kah­nya tanpa mene­ngok. Tapi tak lebih dari dua menit kemu­dian Jusman telah ber­diri di sam­ping­nya, dan tanpa upa­cara sesu­atu pun dia telah ceng­kam tangan Ara yang tak mela­wan. Ia heran, meng­apa terasa oleh­nya tenaga per­la­wanan tiba-tiba patah. Ia rasai ceng­kaman itu seperti pen­je­pit kakak­tua pada per­ge­lang­an­nya. Ia rasai suatu arus lis­trik dengan meman­car dari ceng­kaman kakak­tua itu dan merang­sang mema­buk­kan jan­tung­nya. Ia merasa seperti ber­jumpa kapuk yang tak punya kemam­puan apa-apa. Ia ter­hu­yung-huyung. Tapi ia sempat dengar Jusman ber­seru ganas, “Becak!”

Mereka naik becak seka­rang. Ara tak peduli lagi menuju arah ke mana. Dan becak itu dengan aman­nya menuju ke kam­pung­nya sen­diri. Sampai di depan rumah orang Arab itu seperti dengan sen­di­r­i­nya becak mem­be­lok masuk. Dan seperti dengan sen­di­r­i­nya pula ia ber­ja­lan dalam tun­tunan orang Arab itu masuk ke dalam. Sekali lagi ia dengar sua­ra­nya yang ganas, “Idjah, Idjah! Ini bin­tangmu datang.”

Seo­rang wanita tua muncul di hadap­an­nya. Orang itu adalah ibunya—ibunya yang sudah seta­hun ini tak dijum­pa­i­nya. Kedua orang wanita itu ber­ha­dap-hadapan. Kemu­dian: “Kau, Ara. Kau tak dengar kataku. Meng­apa kau kemari?”

Ara mema­ling­kan muka­nya ke arah jen­dela. Dan ceng­kaman tulang-tulang pemuda Arab yang seperti kakak­tua itu tak juga lepas dari per­ge­lang­an­nya. Dan waktu ia meman­dangi ibunya lagi, orang tua itu sudah ada di hadap­an­nya.

Jusman mena­rik­nya hati-hati duduk di kursi pan­jang, duduk di sam­ping­nya. Dengan bibir meng­ham­piri pipi­nya ber­bi­sik:

“Sejak kini kau ting­gal di sini. Kau cintai ibumu, bukan?” Peman­dangan Ara ber­a­yun-ayun. Per­ma­dani-per­ma­dani murah yang ber­gan­tungan di din­ding-din­ding nampak seperti tama­sya hidup. Onta-onta yang ber­ba­ris di padang pasir itu nampak ber­ja­lan per­la­han-lahan, dan menge­pul­kan debu.

Kem­bali ter­cium oleh­nya bau badan Cha­i­dir. Tapi penyair kerdil itu kini beru­bah per­kasa, tinggi, hitam, dan mata­nya kuning.

“Tak ada satu keku­atan dapat meng­ha­langi aku, Ara. Kau kepu­nya­anku seka­rang.” Tiba-tiba ia ber­seru-seru, “Idjah, ambil­kan minuman dingin.”

Dan Ara meli­hat ibunya menye­di­a­kan minum bagi­nya.

Dan ia lihat pemuda itu meng­ang­kat gelas dari meja, dan memi­num­kan ora­nyek­rus pada bibir­nya. Ia mene­guk, sekali, dua, sampai minuman itu tandas ke dasar gelas. Baru Jusman meng­hin­dar­kan­nya dari bibir­nya. Dan mata kuning itu men­ja­rah mata­nya. Pemuda itu mele­tak­kan gelas ke atas meja.

Dengan ceng­kaman kakak­tu­a­nya ia tarik Ara untuk bangun.

“Mari kutun­juk­kan kamarmu.” Mereka ber­ja­lan, masuk ke dalam kamar yang kosong tiada ter­hias sesu­atu pun selain sebuah ran­jang lebar model kuno dan sebuah lemari pakaian ber­pintu cermin.

“Ini kamarmu. Kau ting­gal dan tidur di sini. Meng­apa tak bicara juga? Ini kamarmu. Kau dengar Ara?”

Dan Ara meng­ang­guk. “Dan juga kamarku. Kau dengar Ara?”

Sekali lagi Ara meng­ang­guk. “Tidur­lah, kau letih hari ini. Kau begitu pucat dan kurus. Aku juga lelah hari ini. Dan aku pun tumbuh men­jadi kurus menge­nang­kan kau selama ini. Aku pun akan tidur.”

Ara ter­ba­ngun waktu matari telah lenyap. Mula-mula yang ter­i­ngat oleh­nya ialah Yogya jatuh! Yogya jatuh! Kemu­dian suara ser­dadu di atas truk ber­so­rak-sorai men­deru-deru di kuping­nya. Per­la­han-lahan ia bangun, kau pikir, mana mung­kin Yogya bisa jatuh. Mana mung­kin segam­pang itu? Seperti men­ca­but sebuah gigi dengan tang saja. Yang jatuh bukan Yogya, tapi keang­kuhan karena kebo­dohan sen­diri. Yang jatuh adalah sema­ngat kor­upsi. Barisan truk depan itu biar sama mene­rima per­lin­dungan Sri Ratu, tapi pemuda Indo­ne­sia terus ber­ju­ang, karena dia sen­di­ri­lah Revo­lusi. Juga aku, juga Cha­i­dir.

Ara hendak melom­pat turun. Ia kaget!

Derai gambus ter­de­ngar begitu dekat. Disu­sul dengan nya­nyian dalam bahasa Arab. Ada makh­luk ber­ge­rak di sam­ping­nya. Dengan makin meri­uh­nya musik gambus itu, kepa­la­nya men­da­dak pening dan makin pening, akhir­nya ia jatuh­kan kepa­la­nya di atas bantal kem­bali. Orang di sam­ping­nya itu ber­ge­rak-gerak bangun men­de­ngus-dengus. Dan musik gambus itu kian lama ter­de­ngar kian kehi­langan warna-war­ni­nya dan men­jadi bebe­rapa macam suara yang ter­de­ngar ber­u­lang-ulang tiada henti-hen­ti­nya: Yogya jatuh! Yogya jatuh! Yogya jatuh! Yogya jatuh!

Kem­bali ia tak deng­ar­kan kesa­dar­an­nya lagi. Remang-remang dira­sa­nya lampu kamar menyala. Sese­o­rang yang tinggi hitam ber­diri di hadapan cermin pintu lemari pakaian, menyi­sir rapi-rapi, kemu­dian meng­ham­pir­i­nya. Dan di antara “Yogya jatuh” itu ter­de­ngar sayup-sayup oleh­nya, “Kau ting­gal di sini! Kau ting­gal di sini.”

Remang-remang oleh Ara nampak orang itu keluar dari kamar, dan mengunci pintu kamar dari luar. Tapi mata kuning­nya ter­ting­gal di dalam kamar, terus meng­a­was­i­nya. Lampu kamar itu kini padam. Tapi mata kuning itu terus mene­rangi keli­ling­nya dengan sinar yang aneh, ajaib mem­bius. Remang-remang ia men­de­ngar jen­dela kamar ter­ke­tuk orang. Ia dengar sayup suara ibunya memang­gil-mang­gil per­la­han: “Ara! Ara! Ara-ku!”

Dan suara lemah-lembut yang sepan­jang umur­nya telah lin­dungi hati­nya dari kehan­curan, dan telah tiup­kan keta­ba­han-keta­ba­han di masa-masa hati­nya kecut meng­ha­dapi dunia itu, kini ter­de­ngar seperti suara asing yang ia tidak meng­erti. Otak­nya meno­lak disu­ruh ber­pi­kir, seperti segeng­gam pasir hangat yang merin­du­kan air.

Sekali lagi ia bangun, duduk, dan kem­bali ter­de­ngar suara yang itu-itu juga, tapi kini mera­ung-raung, “Yogya jatuh! Yogya jatuh!”

Ia men­coba ber­pi­kir di mana Yogya itu. Tapi tak mampu. Dan tanpa setahu dan sesa­dar­nya, musik gambus kian larut malam kian men­dayu-dayu. Sedang bunyi biola itu mere­mas-remas jan­tung. Akhir­nya keru­yuk ayam yang per­mu­laan ter­de­ngar. Ia ingin ke kamar kecil. Ia ingin turun, tetapi mata kuning tanpa tubuh itu men­do­r­ong­nya jatuh kem­bali di atas ban­tal­nya. Ia ingin meng­u­bah mata kuning itu men­jadi merah, jadi mata Cha­i­dir. Tapi ia pun tidak ingat lagi siapa itu Cha­i­dir.

Sekali lagi jen­dela kamar­nya di ketuk-ketuk dari luar. Sekali lagi ter­de­ngar suara ibunya. Tetapi kema­uan yang mulai timbul dalam hati­nya kini patah kem­bali. Ia kehi­langan kesa­dar­an­nya lagi.

Dan kesa­daran itu mulai hendak bang­kit lagi, sewaktu dira­sa­nya ada sese­o­rang di sam­ping­nya, dan mele­tak­kan kepa­la­nya yang berbau wangi itu di atas ban­tal­nya juga. Tapi lampu kamar itu… di mana lampu kamar yang tadi menyala? Ia rasai bebe­rapa lembar ujung misai menu­suk muka­nya, dan ter­de­ngar oleh­nya bisikan ber­cam­pur bau abab yang asam dan aneh, men­ca­bar pen­ci­um­an­nya. Ia rasai tangan yang menu­lang-nulang seperti besi yang mengan­dung daya berani itu mela­yang-layang di atas tubuh­nya. Akhir­nya kesa­dar­an­nya padam lagi.

Waktu malam telah ber­ganti pagi, ia masih dalam kea­daan seperti itu.

Dan waktu sinar matari mene­ro­bos kere jen­dela untuk per­tama kali­nya, seperti ada sesu­atu tenaga kesa­dar­an­nya digun­cang­kan. Ia ter­ba­ngun, duduk, memi­kir­kan apa sebe­nar­nya yang telah ter­jadi. Dan kem­bali suara yang satu itu ber­de­ngung-dengung ngilu, “Yogya jatuh! Yogya jatuh!”

Ia kocok mata­nya. Ia hendak melom­pat turun. Tetapi tubuh hitam pan­jang di sam­ping­nya itu kem­bali menang­kap per­ge­lang­an­nya. Ia mela­wan. Mereka ber­gu­mul. Tapi ia kalah. Dan ia ter­lem­par lagi ke atas ran­jang. Kini ia hanya bisa menunggu dan men­de­ri­ta­kan serangan tanpa bisa mem­bela diri.

“Bukan saja Yogya yang jatuh. Juga aku,” bisik­nya pada diri sen­diri.

“Apa lagi mau kau lawan?” pemuda Arab itu meng­e­jek. Ara diam saja.

“Seka­rang tak ada lagi per­mu­suhan,” Jusman mene­rus­kan. “Yang ada seka­rang cuma satu: kepa­tuhan. Barang­si­apa tak sang­gup patuh, dia dihan­cur­kan.”

Ara meng­ga­ruk muka Jusman sekuat ia dapat. Pemuda itu men­de­ngus meng­hi­na­kan. Dengan sabar­nya ia letak­kan ujung kuku­nya pada muka Ara. Kata­nya meng­an­cam: “Kalau kukuku kusu­ruh bekerja, seka­rang juga riwa­yatmu tamat. Akan kuta­mat­kan riwa­yatmu? Ayoh bicara. Ha? Aku garuk?” Mata­nya melo­tot, lebih kuning dari bia­sa­nya.

Ara ter­se­dan-sedan. Ia rasai bagai­mana pahit men­de­ri­ta­kan keka­lahan.

“Jangan. Jangan,” pin­ta­nya, dan ia rasai bagai­mana hina­nya dir­i­nya seka­rang ini.

Demi­ki­an­lah. Kehi­dupan ber­ja­lan terus—disu­kai atau tidak disu­kai. Baik Ara, Jusman, dan siapa pun juga di waktu itu hanya butir-butir pasir yang mem­ben­tuk bumi kehi­dupan.

Telah sebu­lan Ara ting­gal dalam geng­gaman keku­a­saan pemuda Arab itu. Ia tak dapat mera­sa­kan lagi dir­i­nya mati atau hidup. Hanya masih ada satu kei­ng­inan ting­gal: ia ingin men­da­pat­kan hubungan dengan dunia luar. Ia ingin tahu ten­tang nasib Revo­lusi. Tapi tak pernah ada koran masuk ke dalam rumah itu. Tak ada selem­bar buku pun, selain buku catatan kecil yang selalu berada di kan­tong Jusman. Ia tidak pernah ting­gal­kan tempat itu.

Dan waktu sete­lah sebu­lan ia hidup dalam kera­mahan, ia mulai meli­hat, memang ada sesu­atu yang baik pada pemuda itu: Jusman men­cin­ta­i­nya dengan gairah yang selalu meng­ge­lora.

“Seakan kau tak suka aku hidup seba­gai manu­sia biasa,” sekali waktu Ara ber­kata pada Jusman.

“Apa yang kurang? Cinta? Kau dapat­kan selu­r­uh­nya dari aku. Kau seka­rang sudah mulai gemuk. Pakai­anmu sudah cukup. Apa lagi?”

Sudah sejak semula Ara dapat rasa­kan, pemuda itu tidak mem­pu­nyai sesu­atu pera­saan apa pun, bila tidak menge­nai kepen­tingan dir­i­nya sen­diri. Dan sejak semula ia pun dapat rasai, pemuda itu tak punya sesu­atu per­ha­tian ter­ha­dap segala yang ter­jadi di seki­tar­nya ter­ke­cu­ali gam­bar­nya, dan kadang-kadang ia pergi entah ke mana. Ia tak tahu apa peker­jaan pemuda itu. Ia pun tak tahu benar dari mana sumber peng­ha­sil­an­nya. Tetapi ter­ha­dap dir­i­nya, ia laku­kan segala yang dirasa akan menye­bab­kan ia ber­se­nang hati. Kadang-kadang Ara merasa belas ter­ha­dap­nya, namun kemu­a­kan ter­ha­dap­nya tidak pernah surut. Ara men­coba melu­pa­kan per­bu­atan-per­bu­atan pemuda itu yang sangat mem­bu­at­nya merasa mual. Bahkan sikap­nya ter­ha­dap ibunya pun masih nampak sikap seo­rang maji­kan ter­ha­dap bujang­nya!

“Aku ingin tahu apa sesung­guh­nya telah ter­jadi di luar.”

“Tapi kau tidak boleh keluar tanpa izinku.”

“Beli­lah radio.”

Hari itu juga rumah itu dihi­asi dengan sebuah radio yang cukup mahal.

Malam itu, baru­lah ia dapat mera­sa­kan kenik­matan musik sete­lah hampir dua tahun hidup mon­tang-man­ting tiada menentu. Ia suka musik apa saja, tapi ter­u­tama yang meng­an­tar­kan­nya pada kenangan-kenangan zaman senang dulu. Pada Oom Didong, pada Oom Asmara, pada semua kawan sepang­gung. Pada lem­paran-lem­paran uang pada kaki­nya di atas pang­gung. Pada tepuk sorak yang mem­be­lah gedung. Dan semua adalah untuk­nya, untuk­nya sen­diri. Tiba-tiba ia ingat pada Oom Djamal. Ah, Oom Djamal, sesuai benar dia dina­mai Oom “Djamal Gattal.” Lucu­nya orang itu, kesu­ka­an­nya hanya peten­tang-peten-teng mema­mer­kan dir­i­nya yang pendek gemuk. Ah, Oom Djamal Gattal peri­ang itu.

Kenangan-kenangan men­da­dak ber­henti. Warta berita itu kini menye­ret­nya ke zaman Revo­lusi, ke bumi Revo­lusi, bebe­rapa ribu lang­kah saja dari tem­pat­nya duduk seka­rang. Dan berita radio itu dengan lancar melu­kis­kan bagai­mana keku­atan pemuda Indo­ne­sia telah digen­car, diko­yak-koyak, dipa­tah­kan, diser­bit, diso­bek-sobek. Pada akhir­nya warta berita dalam negeri itu men­ce­ri­ta­kan sesu­atu yang pernah ber­sing­gungan dengan hidup­nya: “Penyair Cha­i­dir mening­gal dunia. Tadi siang telah dima­kam­kan dengan upa­cara seder­hana di Karet…”

Cha­i­dir mati. Cha­i­dir? Yogya telah jatuh. Para pengu­asa dan pem­be­sar sudah kibar­kan ben­dera kain kafan, menye­rah­kan diri dalam per­lin­dungan Sri Ratu. Seka­rang Cha­i­dir pula. Dia mening­gal! Dia—R evo­lusi itu sen­diri! Dan aku— aku sen­diri telah patah dua di sini. Aku—Revo­lusi itu sen­diri juga, seperti kata Cha­i­dir. Apa nasib­nya Revo­lusi kemu­dian? Cha­i­dir mati. Cha­i­dir anak kerem­peng ber­mata merah itu.

Tapi Ara tak bicara sepa­tah pun ten­tang­nya.

Waktu Jusman pagi kee­sokan hari­nya pulang, segera ia meng­ham­piri.

“Jus,” tegur­nya manis.

“Kau sudah mulai bicara deng­anku seka­rang, Ara!” Jusman ber­seri-seri ber­ba­ha­gia. Ja tang­kap tangan Ara, ia tarik dan dipe­luk­nya erat-erat.

“Belikan aku semua surat kabar kema­rin dan seka­rang. Juga semua maja­lah. Kau dari mana?”

Jusman hanya ter­se­nyum. Dan kumis­nya ber­a­yun seki­las.

“Mau kau belikan?”

“Nanti sore. Biar aku isti­ra­hat dulu.” Buru-buru ia ganti pakaian, pergi ke kamar mandi, lang­sung masuk ke kamar, dan segera kemu­dian tidur dengan nye­nyak­nya.

Ara meng­ham­pir­i­nya. Dili­hat­nya wajah pemuda itu, dan meng­apa dia begitu beru­bah? Mulut­nya sedi­kit ternga-nga. Mata­nya pun sedi­kit ternga-nga. Dan wajah­nya itu… garis-garis yang samar-samar meng­gu­r­isi wajah itu… ah, ia tak pernah lihat adanya garis-garis itu. Mung­kin dia ter­lalu lelah sema­lam. Mung­kin banyak pemuda yang telah ditang­kap­nya, mung­kin dibu­nuh­nya. Tapi wajah itu! Meng­apa seperti tikus kle­nger? Tiba-tiba Ara merasa jijik meli­hat wajah itu. Balik kanan jalan, meng­ham­piri celana Jusman yang ter­gan­tung pada seba­tang paku. Tidak, dia tidak akan keta­hui: dike­lu­ar­kan­nya buku catatan kecil dari dalam­nya. Kurang ajar! Ara tak dapat mem­ba­ca­nya. Semua ter­tu­lis dalam huruf dan mung­kin juga dalam bahasa Arab. Dengan hati-hati ia kem­ba­li­kan buku kecil itu dan pergi keluar kamar.

Sudah sejak sepagi ia pasang radio, tapi lan­jutan berita ten­tang Cha­i­dir ter­nyata tak ada. Revo­lusi yang mati di atas bumi tanah air, dan bumi tanah air yang sedang dike­pal musuh. Nasib­nya seperti aku. Tapi aku belum lagi mati. Aku baru men­ja­lani lakon. Dan lakon ini, bagai­man­a­pun akan tamat.

Sudah sejak di rumah ini ia ingin menu­lis, ingin menga­rang. Tetapi ia tak mampu. Ia ingin menyu­sun sebuah reper­to­ire san­di­wara yang melu­kis­kan kebe­saran Revo­lusi, dan ia akan tun­juk­kan dir­i­nya sen­diri di tengah-tengah situ­asi revo­lu­si­o­ner, seba­gai tokoh dan juga seba­gai api Revo­lusi itu sen­diri. Ia akan tokoh­kan piki­ran-piki­ran­nya dan pera­saan-pera­sa­an­nya. Ia akan hukum pem­be­sar-pem­be­sar dan pengu­asa-pengu­asa zaman Revo­lusi itu, yang ber­co­kol seperti feodal baru di atas pun­dak­nya tubuh Revo­lusi, dan yang segera ter­bi­rit-birit apa­bila saat­nya datang untuk menen­tu­kan sikap dan meng­am­bil tin­dakan. Ber­kali-kali ia men­coba meran­cang bagan, tetapi selalu gagal. Mung­kin opsir piket dulu itu, yang meng­aku seni­man, dapat tolong aku dalam kea­daan seperti ini. Di mana dia seka­rang? Sudah tewas juga seperti Cha­i­dir? Sudah tewas ber­sama Revo­lusi itu sen­diri?

Ia ter­ba­ngun dari renung­an­nya waktu Jusman bangun, pergi mandi, ber­dan­dan, dan kemu­dian duduk di sam­ping­nya.

“Aku harus pergi seka­rang,” kata­nya.

“Kau belum lagi makan.”

“Aku makan di luar. Makan­lah sen­diri. Aku pergi seka­rang.” Dan tanpa menunggu sesu­atu jawaban ia pun telah keluar rumah.

“Koran dan maja­lah jangan lupa.”

“Ho! dan hilang­lah ia dari peman­dangan. Hari itu ber­lalu dengan lam­bat­nya. Pada jam lima sore Ara men­coba kem­bali men­cari berita ten­tang Cha­i­dir mela­lui radio. Tetapi tiada sesu­atu pun meme­nuhi harapan, selain berita ten­tang ter­tang­kap­nya bebe­rapa orang pemuda di ber­ba­gai tempat gerakan-gerakan pem­ber­sihan dan ben­trokan-ben­trokan ber­sen­jata di sana-sini. Malam datang, tapi Jusman tak juga datang. Pintu-pintu telah mulai dikunci, tetapi Jusman masih juga belum muncul. Pada jam sebe­las malam, ter­de­ngar mobil ber­henti di depan rumah. Sese­o­rang memang­gil-mang­gil dari luar mem­buka pintu. “Siapa!” Ara ber­seru keta­kutan. Las­mid­jah datang meng­ham­pir­i­nya. Demi­kian juga bebe­rapa orang lain dalam rumah itu.

Bo…

“Sersan Mossel,” ter­de­ngar suara seo­rang Belanda dari luar.

“Kami tidak kenal.”

“Buka pintu, ada soal pen­ting.”

“Jusman tidak ada.”

“Kami tahu. Kami datang bawa berita ten­tang Jusman.”

“Di mana dia?”

“Di rumah sakit. Buka­kan pintu.”

Mereka di dalam rumah itu tidak mem­bu­ka­kan pintu. Ter­de­ngar sersan Mossel men­de­ngus-dengus dalam bahasa Belanda, kemu­dian ter­de­ngar juga ia meng­geb­rak-gebrak pintu pagar, ber­te­riak menya­ta­kan tak senang hati­nya, “Buka! Ada kabar jelek. Jusman kena celaka. Dia ditem­bak orang di Gang Tengah.”

Mereka di dalam rumah tetap tidak mem­bu­ka­kan pintu. “Baik. Baik. Kalau begitu, ini, pesan­nya aku lem­par­kan.” Dan meng­ge­de­buk bunyi sesu­atu jatuh di atas lantai beranda.

“Kalau ada keper­luan, datang di Basis Com­mando, yah, ber­temu sersan Mossel. Jangan lupa sersan Mossel!” Seben­tar kemu­dian ter­de­ngar derung jeep, kian lama kian lenyap.

Dan kemu­dian kehi­dupan ber­ja­lan lagi dari semula.

Las­mid­jah mereng­kuh tangan anak­nya, maju ke depan sambil ber­ta­nya, “Jusman? Ditem­bak orang?”

Orang seru­mah yang telah meng­ge­rom­bol itu, kini ber­pan­dang-pan­dangan. Masing-masing ber­ta­nya satu pada yang lain. Tiba-tiba ada seo­rang di anta­ra­nya ber­ta­nya, “Benar-benar? Apa orang jahat?”

Mereka menunggu-nunggu. Tak ada yang men­ja­wab.

Juga tak ada ter­de­ngar suara sesu­atu pun dari luar rumah.

“Mari kita lihat,” Ara meng­u­sul­kan. “Lampu mati­kan dulu.”

ISO

Nana Met ERA pe “Bagai­mana dengan Jusman? Apa kita mesti per­buat?” sese­o­rang ber­ta­nya.

“Mati­kan lampu,” Ara meme­rin­tah­kan. Tak ada yang tahu siapa menge­r­ja­kan perin­tah itu. Tetapi lampu telah padam. Gelap-gulita di dalam. Per­la­han-lahan Ara mem­buka pintu sambil men­de­ngar-deng­ar­kan. Hanya suara burung malam menya­nyi ngilu. Sudah lama tem­bakan tak ter­de­ngar lagi di dalam kota. Ia tarik daun pintu. Dan sinar rem­bang bulan yang baru timbul menyam­but­nya. Di hadap­an­nya ter­ge­le­tak sebuah bung­kusan. Granat? Bom-waktu dari barisan pemuda? Ia men­do­r­ong benda ter­se­but dengan kaki­nya, Bukan barang logam. Ia mem­bung­kuk dan memu­ngut­nya. Orang-orang di bela­kang­nya mundur selang­kah. Ara rasai sesu­atu yang leng­ket mere­kat pada benda ter­se­but. Ia men­cium-cium dan ter­cium bau amis meng­a­wang dari benda ter­se­but. Tiba-tiba ia men­jadi curiga, cepat-cepat masuk ke dalam kem­bali, dan mengunci pintu.

“Lampu!”

Dan seka­li­gus lampu menyala.

Di hadap­an­nya di lantai, ter­ge­le­tak sebung­kus benda yang ber­lu­muran darah. Bung­kus seta­ngan besar ber­lu­muran darah ia urai, dan… segu­lungan koran dan maja­lah ada di dalam­nya. Tiada sesu­atu pun yang patut dicu­r­i­ga­kan. Dan darah itu… Benda itu seka­li­gus mem­be­ri­ta­kan pada Ara, Jusman selalu ingat akan dir­i­nya. Sudah pasti ia meminta pada sese­o­rang untuk menyam­pai­kan pada­nya, apa yang dipe­san­kan­nya pada Jusman. Ia ter­haru dan mata­nya ber­kaca-kaca. Dia cintai aku! Dia begitu jujur padaku. Tapi hatiku bukan buat dia. Hatiku buat sesu­atu yang lain: Revo­lusi.

“Darah Jusman,” sese­o­rang ber­kata.

Mata Ara ber­te­baran dari bung­kus ber­lu­muran darah dan gulungan maja­lah serta koran. Ia ambil selem­bar dari koran-koran ber­ba­hasa Belanda, di halaman depan, ia tidak temu­kan sesu­atu pun yang boleh diang­gap­nya pen­ting.

Di bawah koran Belanda itu ter­ge­lar harian Fajar, yang dike­lu­ar­kan oleh RVD8. Di sebuah pojok ter­da­pat berita kecil “Penyair Cha­i­dir Mening­gal” dan di bawah­nya “Bekas, Per­dana Men­teri … ber­pi­dato pada upa­cara pengu­bur­an­nya.” Juga koran-koran itu ber­ber­cak-bercak kena darah.

Cha­i­dir! Revo­lusi! Dia mena­rik nafas begitu keras. Ia bong­kar selu­ruh maja­lah dan harian. Tangan­nya ber­ber­cak-bercak kena darah pula. Ia pergi ke bawah lampu dan mulai mem­ba­lik-balik semua. Dan, “Ara! Keba­nge­tan kau! Jusman kena celaka. Tanganmu kena darah­nya. Kau enak-enakan baca koran!” tegur ibunya.

Ara mele­tak­kan koran dan maja­lah di atas meja. Ia pan­dangi semua yang ada di dekat­nya seakan minta perin­tah apa yang mesti diper­buat. Tapi tak seo­rang buka mulut. Bahkan ibunya sen­diri tak tahu apa mesti diper­buat.

“Apa kita ker­ja­kan seka­rang?” Ara ber­ta­nya.

“Kau yang paling meng­erti, Ara,” ibunya menyela.

“Kata­kan apa mesti kita per­buat seka­rang.”

“Ber­sih­kan darah itu,” Ara mem­beri perin­tah. “Bukan itu,” sela ibunya sekali lagi.

“Apa kita mesti per­buat—Jusman mak­sudku.”

Dalam hati Ara ter­tawa. Biar dia rasai apa yang selama ini hanya dira­sa­kan pemuda-pemuda peju­ang. Mati dia? Atau oo mi ca cuma luka? Ia tak ingat betul kata orang tadi. Ber­ta­nya, “Bagai­mana Jusman? Parah atau enteng luka­nya?”

Tak ada yang tahu.

“Di rumah sakit mana dia dira­wat?”

Tak ada yang tahu.

“Kalau begitu darah itu saja ber­sih­kan. Biar dia diurus besok. Jusman sudah di tangan dokter,” Ara tak tahu apa mesti dika­ta­kan­nya. Bagai­mana ia harus sem­bu­nyi­kan wajah­nya.

Bahkan ia tak tahu apakah hati­nya girang, sedih, atau polos saja. Dan apakah aku harus menun­juk­kan kese­dih­anku? Dan untuk menu­tupi kebi­ngung­an­nya, ia ber­kata pada ibunya: “Seka darah dari koran-koran itu. Bu, tolong­lah Ara.”

Las­mid­jah meng­a­was­i­nya tak meng­erti. Meng­ge­leng lemah, kemu­dian, “Begitu lama aku diku­rung di sini Ara.”

“Jangan dikira aku tidak meng­erti ibu. Aku tahu. Juga ibu tahu pera­sa­anku. Karena itu tolong sela­mat­kan mukaku. Aku tak tahu bagai­mana harus ber­si­kap.”

“Bodoh­nya kau, Ara, biar bagai­man­a­pun kau benci pada­nya, per­li­hat­kan­lah kese­dih­anmu. Kau mes­ti­nya tanya, kau mes­ti­nya per­li­hat­kan meng­kha­wa­tirkan jiwa Jusman. Bagai­man­a­pun dia lakimu.”

Mereka masih ting­gal berdua. Dan waktu orang-orang lain datang pula, Las­mid­jah segera pergi lagi mem­bawa koran dan maja­lah untuk diseka.

“Kalau sudah, tolong bawa ke sini lagi, bu.” Dan kepada orang-orang lain, “Seo­rang di antara kalian besok pergi ke Basis Com­mando, tanya­kan di mana Jusman dira­wat.”

“Kau sen­di­ri­lah mes­ti­nya, Ara. Kau perem­pu­an­nya.”

“Lan­cang­nya,” Ara memu­tus­kan, “aku tak boleh ting­gal­kan rumah ini tanpa izin­nya.”

“Tapi kaulah perem­pu­an­nya.”

Ara tak dapat menga­ta­kan sesu­atu pun. Ia tak tahu bagai­mana harus ber­si­kap waktu ibunya datang lagi mem­bawa koran dan maja­lah, ia hampir-hampir tak dapat mengen­da­li­kan diri. Buru-buru ia lari ke kamar dan mene­liti segala pener­bitan itu. Aneh­nya, meng­apa aku seka­rang tak dapat main san­di­wara? Aku anak pang­gung ini? Ia tutup muka­nya dengan kedua belah tangan untuk menyem­bu­nyi­kan wajah­nya, untuk mem­per­li­hat­kan pada mereka bahwa ia sedang bingung. Tetapi tambah ia men­coba ber­san­di­wara, ber­tam­bah ia tak dapat mena­han kei­ng­inan-kei­ng­in­an­nya untuk segera mening­gal­kan pang­gung ter­ku­tuk seka­rang ini dan meng­i­kuti peng­a­laman-peng­a­laman Cha­i­dir yang ter­a­khir dalam pener­bitan-pener­bitan itu.

“Biar­lah, tidur semua kalian. Besok saja dipi­kir,” kata Las­mid­jah.

Suara itu seperti wahyu yang turun dari langit, lang­sung mengun­jungi hati Ara. Ia ber­te­ri­ma­ka­sih pada ibunya untuk ke sekian ratus kali­nya.

“Ibu!” ia ber­bi­sik pada orang tua itu.

Berdua mereka menuju ke kamar, dii­kuti dengan curiga oleh pasang-pasang mata lain.

Mereka berdua duduk di atas ran­jang. Las­mid­jah meng­a­wasi anak­nya seperti hendak mema­hat­kan wajah itu untuk diba­wa­nya bekal mati. Per­la­han-lahan hampir ber­bi­sik ia memu­lai: “Meng­apa kau kemari. Ara, aku sudah pesan, kau mesti kem­bali ke peda­laman.”

Dan inilah untuk per­tama kali ibu dan anak itu bisa ber­ha­dap-hadapan seba­gai seo­rang ibu dan seo­rang anak.

“Ibu, kalau bisa ditem­puh jalan itu, tentu sudah kutem- “Meng­apa pergi juga ke sarang ini?”

“Kalau ada jalan kese­la­matan, tentu juga kutem­puh jalan itu ibu.”

“Sayang. Per­ju­ang­anmu jadi sia-sia, Ara.”

Bulu badan Ara mere­mang. Seka­li­gus ia meng­erti, bukan per­ju­ang­an­nya, tapi per­ju­angan ibunya yang telah dir­u­sak­kan­nya. Untuk meng­hi­bur­nya, segera ia pun mem­be­ri­kan hibur­an­nya, “Ibu, kau peju­ang yang gagah berani.”

“Huss, diam.”

“Tapi ibu, setiap peju­ang harus selalu ber­se­dia untuk kalah.”

“Ber­se­dia kalah?”

“Dalam per­ju­angan, bukan­kah keka­lahan harus selalu dite­rima seba­gai saha­bat?”

“Ara, aku tidak meng­erti. Tentu kau lebih tahu dari aku. Tapi aku sung­guh menye­sal kau datang kemari.”

Ara meng­a­wasi ibunya. Sekali lagi ia maklum ibunya merasa per­bu­at­an­nya selama ini dir­u­sak­kan oleh anak­nya sen­diri, anak yang disa­yang­nya, anak yang dija­ga­nya agar jangan sampai rusak hati­nya, ter­tin­das batin­nya. Tak dapat ia mena­han serangan haruan dalam hati­nya. Dan dengan suara sete­ngah mena­ngis ia ber­kata, “Biar­lah kita kalah sekali ini, ibu.”

Ibunya menun­duk. Nampak mata­nya ber­ki­lau-kilau kena cahaya lampu lis­trik.

“Tidur­lah, bu, sudah larut malam seka­rang.”

“Aku tahu aku mesti tidur, Ara. Tapi bagai­mana sikapmu seka­rang?”

“Ibu, biar­lah kita tidak bica­ra­kan lagi soal ini.”

“Tapi kau peju­ang!”

Ara mena­ruh koran-koran dan maja­lah-maja­lah di atas ban­tal­nya. Ia meng­hela nafas pan­jang. Mele­tak­kan tangan di atas bahu ibunya dan kepa­la­nya di atas pang­kal lengan.

“Tapi bagai­mana sikap Jusman sen­diri?”

“Siapa dapat men­duga pemain gambus, ting­gal di daerah pen­du­dukan pula?”

“Kita bica­ra­kan besok saja, ibu.”

“Baru seka­rang kita bisa bicara, Ara. Aku ingin tahu bagai­mana sikapmu seka­rang.”

“Kami belum lagi kawin, ibu.”

“Itu saja jawabmu?”

“Barang­kali.”

“Tapi sudah lama kau hidup dengan dia. Seka­rang dia kena celaka. Kau tak juga punya sikap.”

Ara mera­sai adanya sebong­kah batu tumbuh di dalam kepa­la­nya. Ia tak mampu meng­am­bil sikap. Ia letak­kan kepa­la­nya di atas bantal seka­rang. Wanita tua itu bang­kit dari duduk­nya, ber­ja­lan lambat-lambat keluar dari kamar. Ara meman­da­ng­i­nya seben­tar kemu­dian ber­bi­sik: “Harus bagai­mana aku seka­rang? Bagai­mana?” juga tanpa jawaban.

Sema­lam Ara mene­lan selu­ruh berita ten­tang Cha­i­dir yang termuat dalam harian dan maja­lah tapi ia masih juga belum puas. Revo­lusi yang men­deru-deru yang hidup dan meng­ge­la­gak dalam diri penyair itu, tidak nampak dalam semua pem­be­ri­taan ten­tang­nya. Si per­dana men­teri dalam upa­cara pengu­bur­an­nya itu pun tidak mener­je­mah­kan deru dan gele­gak Revo­lusi ini. Nasib Revo­lusi! Dia tidak dise­but-sebut orang lagi, biar­pun dialah sumber segala-gala­nya ini.

Kepa­la­nya sedi­kit pening. Tapi ia tiada pedu­li­kan. Peris­tiwa penem­bakan Jusman itu sekali pukul telah meng­u­bah kedu­duk­an­nya dalam kelu­arga ini. Ia men­jadi pusat kelu­arga. Posisi itu mem­buat ia men­jadi makin kalang-kabut. Yang lain masih terus ber­tem­pur—pemuda-pemuda itu. Tapi aku kebi­ngungan bagai­mana mesti ambil sikap, bagai­mana mesti meng­a­tur orang-orang ini, biar diri disa­yangi Jusman! Bahkan seribu, dua ribu Jusman tak pernah dibu­tuh­kan oleh Revo­lusi, apa­lagi yang seo­rang ini.

Pagi itu ibunya telah pergi ke Basis Com­mando. Seka­rang belum lagi pulang. Pemain-pemain gambus itu tak pernah datang lagi selama ia ada di rumah ini, ter­ke­cu­ali dengan per­jan­jian, dan ter­ke­cu­ali Jusman menye­di­a­kan diri untuk itu di rumah­nya. Tetapi per­ma­inan gambus itu tak dila­ku­kan lagi di sini.

Siang itu ibunya belum juga datang.

Tepat pada jam satu siang, pemain gambus Achmad datang.

“Nyonya Ara, ada?” tanya­nya tanpa upa­cara atau keso­panan seba­gai­mana bia­sa­nya.

Ara keluar dari kamar dan menyi­la­kan tamu­nya duduk. Pemuda itu menye­ngir tiada menentu. Kemu­dian keluar dari mulut­nya, kata-kata yang kering dan keras seperti batu kersik: “Ingin benar diri ber­temu Jusman. Kukira dia tidak ada seka­rang. Tapi diri boleh ber­temu dengan nyonya Ara, bukan?”

Mata­nya kelap-kelip meman­dangi Ara. Dan Ara menen­tang mata hitam seperti mata kijang itu. Kul­it­nya yang hitam meng­ki­lat, ram­but­nya yang hitam, meng­ki­lat, dan kaku, kumis­nya yang kaku pula—semua mem­be­ri­kan kesan aneh pada Ara. Tiba-tiba Ara menya­dari, pemuda di hadap­an­nya yang bia­sa­nya dekil dan mesum itu, kini nampak bersih bahkan keme­ja­nya hampir-hampir baru.

“Bukan?” pemuda itu ber­ta­nya lagi sambil menun­duk dan menye­ngir.

Ara tak men­ja­wab. Hanya meng­a­wasi rumpun ram­but­nya yang hitam kilau-kemi­lau dan ber­om­bak-ombak.

“Diri kira, Jusman mesti pergi keluar kota dalam sebu­lan ini.”

Ara tetap tak menyam­but, tetapi mata­nya terus meng­a­wasi pemuda yang nampak salah ting­kah itu. Dalam tun­duk­nya, Ara meli­hat pada kan­tong kemeja pemuda itu gum­palan uang Nica. Ara tak tahu berapa, tapi menu­rut tak sir­an­nya tidak kurang dari tiga ribu.

“Diri ada usul,” kata­nya kemu­dian. “Jusman tidak bakal pulang dalam sebu­lan ini. Bagai­mana kalau kita happy-happy ke Ban­dung? Barang­kali untuk seminggu. Barang­kali sebu­lan penuh?”

Waktu pemuda itu meng­ang­kat mata­nya. Ara masih juga meng­a­was­i­nya dan men­coba menem­bus warna hitam pada mata­nya yang kelam kilau-kemi­lau itu. Dan di balik mata itu apakah yang ter­se­m­bu­nyi? Dia tak bisa ber­pi­kir lain kecu­ali happy-happy. Orang-orang sema­cam inilah yang merun­tuh­kan sema­ngat Revo­lusi dengan cepat­nya. Tapi dari mana dia tahu Jusman tidak ada? Dari mana dia tahu Jusman sebu­lan lama­nya bakal tidak pulang?

“Lebih baik kau ber­te­rus terang,” Ara memu­lai.

“Apakah diri kurang ber­te­rus terang?”

“Jadi kau yang menem­bak Jusman?”

Pemuda itu ter­ke­jut. Nampak mata­nya men­jadi liar. Dan nampak pula ia ber­u­saha mengu­a­sai kegu­gup­an­nya. Dengan keras dan kering muncul kata-kata­nya, “Diri tidak pernah bilang menem­bak Jusman.”

“Dari mana kau tahu dia tidak bakal pulang?”

“Tapi diri tidak bicara apa-apa ten­tang penem­bakan itu.”

“Dari mana kau tahu dia tidak pulang dalam sebu­lan ini, tanyaku?”

Pemuda itu ber­diam diri seben­tar. Kemu­dian bang­kit ber­diri dan ber­ja­lan mondar-mandir.

Dengan sua­ra­nya yang kering itu ia mene­rus­kan, “Diri hanya meng­a­jak kau happy-happy ke Ban­dung. Kau mau syukur! Tidak mau juga syukur. Tapi…” ia ber­henti. Ber­diri meng­a­wasi Ara seka­rang, seben­tar kemu­dian menun­duk dan mene­rus­kan, “Hati-hati­lah. Aku tahu sifat Jusman.”

“Mak­sudmu kau meng­an­cam aku?”

“Diri tidak meng­an­cam. Tapi kau mes­ti­nya meng­erti mak­sudku.”

“Per­gi­lah kau, kau juga mem­bu­tuh­kan kese­la­matan.”

Pemuda itu melo­tot meng­a­was­i­nya: “Jadi kau yang meng­an­cam aku?”

“Diri tidak meng­an­cam. Tapi kau semes­ti­nya meng­erti mak­sudku?” Ara meng­u­langi kata-kata pemuda Arab itu.

Sekali lagi pemuda itu melo­tot meng­a­was­i­nya, kemu­dian balik kanan, jalan dan pergi tanpa meminta diri.

Sore itu ibu Ara belum juga datang.

Seo­rang pemuda Arab lain­nya, juga pemain gambus sore itu datang. Lang­sung ber­ce­rita: Jusman ditem­bak oleh pemuda sewaktu turun dari rumah kawan­nya pada sebuah toko per­ka­kas rumah tangga di Gang Tengah. Ia tak tahu benar bagai­mana nasib­nya. Kepa­la­nya kena. Tapi perut­nya tembus.

Orang mengira dia telah mati. Kema­rin jam dela­pan malam peris­tiwa itu ter­jadi.

“Kalian saha­bat­nya, bukan? Meng­apa tidak kalian urus?”

“Kami mengu­rus­nya? Mes­ti­kah kami ditem­bak juga oleh pemuda?”

“Pemuda?” Ara ber­de­bar-debar.

Jadi Revo­lusi belum lagi bang­k­rut sama sekali, seka­li­pun sudah banyak para pem­be­sar dan pengu­asa sudah angkat ben­dera kain mayat! Ia ter­se­nyum. Aku sudah kalah seka­rang, tapi Revo­lusi belum lagi bang­k­rut! Aku sudah kalah tapi besok, mung­kin lusa, mung­kin sebu­lan, mung­kin seta­hun lagi, aku pun bisa menang­kan dia! Debaran jan­tung sekali ini terasa sede­mi­kian tebal darah­nya. Ia ter­haru. Mata­nya ber­kaca-kaca. Indah­nya dunia ini bila pemuda masih tahu per­ju­angan!

“Kau tahu benar?” Ara men­de­sak.

“Siapa lagi? Biar­pun kami hanya men­duga-duga. Siapa lagi? Belanda? Tidak mung­kin. Dan kami dengar gerakan pemuda di sini seka­rang mulai mening­kat lagi.”

“Pem­bu­nuhan sudah ter­jadi di sana-sini. Kau tak tahu, Ara, bagai­mana cemas kami di hari-hari bela­kangan ini.”

“Tapi kalian masih terus main gambus.”

“Main gambus? Sudah empat bulan tidak!”

“Empat bulan? Kalau main di radio?”

“Itu lain lagi, kami dika­wal.”

“Main gambus dika­wal?”

Pemuda Arab itu ter­me­nung seben­tar. Ter­de­ngar ia mene­lan ludah.

“Minum?” Ara mena­war­kan.

“Dengan segala senang hati. Beri­lah aku minum.”

“Ada kau keta­hui sedi­kit ten­tang pemuda itu?”

“Siapa yang tahu, setan-setan laknat itu?”

“Di mana ter­jadi banyak pem­bu­nuhan?”

“Di mana-mana. Kramat, Tanah Abang, ping­giran kota. Malah di Tan­jung Priuk sen­diri, Cilin­cing.”

Ara men­de­ngar dengan hati kian ber­de­baran. Tidak, dia tidak boleh tahu mak­sudku. Dia mesti dibe­lok­kan: “Bagai­mana Jusman?”

“Sepagi dan sesi­ang ini aku sibuk mondar-mandir cari kete­rangan. Datang ke polisi. Polisi bilang, sudah diurus mil­iter. Mereka tidak tahu, disu­ruh ke mil­iter. Mil­iter banyak, mil­iter yang mana? Datang ke MP, mereka bilang mereka memang mengu­rus juga hal-hal seperti itu, tapi kata­nya sudah dita­ngani Basis Com­mando. Jadi aku datang ke sana. Tapi semua mereka malah men­cu­r­i­gai aku. Kowe kelu­ar­ga­nya? Mereka tanya. Cuma kawan saja kataku. Kita orang tidak ada urusan sama kawan-kawan­nya, kata­nya. Jadi buru-buru aku datang kemari buat cari kete­rangan. Kau sen­diri tidak tahu, Ara? Mari ke sana, kau ia…, ia… istri­nya, bukan?” pemuda Arab itu mem­bu­ang muka­nya.

Ara meng­erti. Ia pun mem­bu­ang muka ke arah yang ber­la­inan. Tidak, aku tidak sepe­nge­cut itu meng­ha­dapi kenya­taan. Menyam­bung, “Tidak, aku bukan istri­nya.”

“Seti­dak-tidak­nya kau hidup ber­sama deng­an­nya.”

“Benar.”

“Kau lebih dari hanya seo­rang kawan.”

“Itu tidak benar. Aku tak pernah jadi kawan­nya.”

Pemuda Arab itu meng­a­was­i­nya dengan hati-hati, meng­am­bil sapu­ta­ngan dari kan­tong dan menyeka kening­nya yang telah basah oleh keri­ngat. Waktu minuman datang, tanpa disi­la­kan ia mene­guk­nya habis sampai di dasar­nya.

“Jadi?”

“Hh, jadi apa aku mesti namai? Saha­bat hidup?”

“Tidak tepat!”

“Jadi?”

“Aku hanya­lah tawanan yang dipe­ker­ja­kan.”

“Tawanan!” pemuda itu ber­seru. Seperti orang ter­ke­jut ia bang­kit ber­diri, “Jadi kau orang Repub­lik, mak­sudmu?”

“Kau pernah pulang ke negeri Arab?” Pemuda itu meng­ge­leng. “Kau begitu sia-sia saja bicara ten­tang per­ju­angan. Kau tak pernah mem­bu­tuh­kan per­ju­angan itu.”

Berita-berita dari radio kian lama kian banyak menga­bar­kan ten­tang ben­trokan-ben­trokan ber­sen­jata. Mula-mula di dekat Yogya, kemu­dian di sebe­lah barat­nya. Dan makin lama makin banyak ter­jadi ke arah barat. Bila tempat-tempat ben­trokan ter­se­but ditan­dai, dan diberi ber­ga­ris, akan nampak suatu garis yang terus-mene­rus menuju ke arah barat dari Yogya menuju ke Jakarta. Ara meng­a­na­li­sis ben­trokan-ben­trokan itu dengan cara seba­gai­mana pernah dide­ng­ar­nya dari obro­lan bebe­rapa opsir. Dulu di peda­laman.

Berita-berita lain yang menga­bar­kan serangan Belanda ter­ha­dap suatu tempat di dekat Pur­wo­kerto dengan menge­rah­kan ang­katan uda­ra­nya, menim­bul­kan per­ki­raan pada Ara, bahwa gerakan ke barat ini bukan­lah suatu kebe­tulan, tetapi memang telah diren­ca­na­kan.

Dan datang­lah hari itu: Jusman pulang, dian­tar­kan oleh sebuah mobil mil­iter. Seo­rang opsir Belanda meng­an­tar­kan­nya masuk sampai ke dalam rumah, duduk di atas kursi. Dengan kaki sebe­lah dito­pang­kan pada kaki yang lain, opsir Belanda itu menunggu Jusman keluar dari kamar lagi.

Waktu itu Ara sedang berada di kamar. Ia sedang mere­nung, ke luar jen­dela. Segera Jusman meng­ham­piri dan M1 an ae dengan kasar dita­rik­nya tangan Ara, dipe­luk dan dici­um­nya. Tak pernah Ara meng­a­lami per­la­kuan yang seka­sar dan juga segairah itu. “Kau pulang?” Jusman mereng­gang­kan peluk­an­nya dan meman­dangi Ara tenang-tenang. Pada mata­nya menyala nafsu berahi yang tiada ter­ken­da­li­kan. Dan Ara meli­hat suatu galur pan­jang bekas luka pada pipi dan peli­pis Jusman. Dan bekas luka itu ber­warna merah muda. “Kau tak pernah tengok aku di rumah sakit,” Jusman segera menye­rang. “Kau sen­diri tak pernah izin­kan aku keluar dari rumah ini.” Opsir Belanda yang menunggu di ruang tengah men­de­ham.

“Ada tamu?” Ara ber­ta­nya. Jusman meng­ang­guk. “Layani tamumu.”

Waktu Jusman telah keluar dari kamar, Ara rasai betapa kini jan­tung­nya ber­de­baran. Sikap pemuda itu telah jauh ber­la­inan dari­pada dahulu. Begitu kasar dia seka­rang.

“Barang­kali seka­rang sudah tak ada yang perlu kuker­ja­kan untuk tuan,” ia dengar Jusman memu­lai.

Ter­de­ngar Belanda itu ter­tawa.

“Masih banyak,” kata­nya. “Memang benar kea­daan makin susah, tuan masih sangat dibu­tuh­kan,” opsir itu ter­de­ngar ter­tawa lagi. “Basis Coman­dant tidak akan lupa­kan pengu­r­ba­nan tuan. Barang­kali ada per­min­taan sesu­atu?”

Ara tak dengar kelan­jutan per­ca­kapan itu selain derung mobil yang seben­tar kemu­dian ter­de­ngar, dan Jusman dengan wajah merah ter­gapah-gapah masuk ke dalam kamar kem­bali. Per­u­ba­han pada wajah Arab itu menim­bul­kan ngeri dalam hati Ara. Ada sesu­atu yang ter­jadi. Ada sesu­atu. Dan mata hitam yang menyem­bur­kan nafsu berahi tiada ter­ken­da­li­kan ter­cam­pur suatu sinar yang ia tidak pahami, mem­buat dir­i­nya meng­ke­rut men­jadi kecil.

Jusman melang­kah per­la­han-lahan, per­kasa, meng­ham­pir­i­nya. Sekali lagi ia tang­kap per­ge­langan Ara. Tapi ia tak bicara apa-apa. Mata­nya melo­tot hampir-hampir dilon­cat­kan dari rong­ga­nya. Kini ceng­k­ra­man kakak­tua itu terasa hendak mem­be­nam ke darah daging per­ge­lang­an­nya.

Ara men­coba memi­kir­kan jalan untuk mem­bela diri, apa­bila ter­jadi sesu­atu. Dan ia tak berani menen­tang mata hitam yang berapi-api itu. Apa yang dike­hen­daki Jusman seka­rang ini? Tentu yang biasa! Tapi meng­apa mata­nya begitu aneh?

“Apa jawabmu,” tiba-tiba Jusman ber­bi­sik dengan sua­ra­nya sede­mi­kian man­tap­nya seperti gele­dek.

Ara tak meng­erti mak­sud­nya. Ceng­kaman kakak­tua pada per­ge­langan tangan­nya itu kini benar-benar tak ter­tang­gung­kan nye­ri­nya.

“Apa jawabmu!”

“Kau belum lagi ber­ta­nya,” Ara men­ja­wab dengan suara lambat, per­la­han keta­kutan.

“Orang seperti aku tak dapat kau bohongi. Siapa saja boleh aku per­la­ku­kan sesuka hatiku. Ingat-ingat kata-kataku.”

Barang­kali dia sudah gila, pikir Ara. Mung­kin otak­nya sudah ter­ganggu kena sing­gung peluru. Piki­ran itu menye­bab­kan ia ber­u­saha untuk lebih was­pada ter­ha­dap setiap kemung­kinan. Aku tidak boleh takut. Keta­kutan tidak akan meno­long diriku.

“Aku tidak meng­erti!” kata­nya kemu­dian.

“Tidak meng­erti! Apa bukan pura-pura tidak meng­erti?”

“Coba kata­kan apa mak­sudmu.”

“Kau tak pernah tengok aku.”

“Kau tak pernah izin­kan aku keluar dari rumah.”

“Aku sudah dengar. Mes­ti­nya kau meng­erti bagai­mana rin­duku padamu.”

“Hanya karena itu?”

“Hanya karena itu? Aku tahu kau tak pedu­li­kan aku. Kalau tidak, pasti kau datang.”

Mata pemuda itu kian menyala. Tapi seka­rang sua­ra­nya tidak seya­kin tadi­nya. “Bukan karena tanpa izinku kau tak mau tengok aku.” Dan tiba-tiba sua­ra­nya kini meng­an­cam lagi. “Siapa kau masuk­kan ke dalam rumah ini?”

“Masuk­kan?” Dan sebe­lum Ara sempat mema­hami sesung­guh­nya apa maksud pemuda itu, amarah telah men­jom­pak dalam hati­nya. Ia lupa pada keke­cutan hati­nya. Ia lupa bahwa setiap saat dir­i­nya berada dalam bahaya. Tangan­nya yang bebas telah mela­yang menam­par mulut pemuda itu. Tapi Jusman kini dengan ganas mena­rik­nya lebih dekat pada tubuh­nya. Dan ceng­kaman kakak­tua per­ge­langan tangan itu kem­bali menya­kiti daging­nya.

“Kau sudah masuk­kan Achmad ke dalam kamar ini.”

Seka­rang Ara tahu per­u­ba­han sikap Jusman. Ia meng­erti pemuda itu cem­buru. Dan ia tahu benar cara mere­da­kan hati yang cem­buru. Ia ter­se­nyum, mem­bu­ang muka, menyeka bibir­nya dengan pung­gung leng­an­nya yang masih bebas, ia lenyap­kan kete­gangan tubuh­nya.

“Jadi kau cuma ter­se­nyum?”

“Seki­ra­nya benar, apakah hakmu mene­gur? Apakah aku Da Ea ini? Istrimu?” Ceng­kaman kakak­tua itu mengen­dur, akhir­nya lepas sama sekali. “Tapi kau jangan lupa ini rumahku.”

“Kalau ini rumahmu meng­apa aku sampai sekian lama­nya di sini. Tanpa semau hatiku sen­diri? Kau kuasa memang.”

“Arti­nya kau masuk­kan Achmad ke dalam kamarku?” Ara meng­ge­leng. “Buk­ti­kan kalau tidak.”

“Buk­ti­kan kalau ya. Kau sen­diri yang masuk­kan orang dalam kamarmu ini, aku!”

“Wan Jusman, wan, wan…,” ter­de­ngar suara Las­mid­jah dari luar kamar. Dan ter­de­ngar juga ia menge­tuk-ngetuk pintu. Dengan kasar­nya Jusman memung­gungi Ara melang­kah ke arah pintu dan mem­bu­ka­nya. “Ada apa?” tanya­nya kasar. “Kami baru tahu Wan Jusman pulang.” Per­ha­tian itu mere­da­kan amarah Jusman. “Terima kasih Idjah, kau sudah urus aku. Apa anakmu juga kau jaga?”

“Las­mid­jah ini cuma ibunya, wan, bukan anjing­nya.” Seka­li­gus Jusman meng­erti Las­mid­jah ber­pi­hak pada anak­nya. Men­da­dak ia mena­rik kesim­pulan, bahwa Ara tidak­lah ber­buat seba­gai­mana ia dengar dari bebe­rapa berita. Tidak mung­kin Ara ber­buat demi­kian di bawah mata ibunya sen­diri. Ia men­coba ter­se­nyum, mem­bung­kuk sedi­kit, “Terima kasih, Idjah. Biar­lah aku isti­ra­hat seben­tar,” kemu­dian dikun­ci­nya kamar dari dalam. Ia ham­piri Ara. Dan sekali lagi ia men­coba ter­se­nyum. “Lupa­kan,” kata­nya, “begitu kese­pian aku di rumah sakit.” Ara meng­a­wasi mata pemuda itu untuk ber­jaga-jaga. Tetapi kega­nasan dendam itu kini telah lenyap dari wajah­nya.

Yang dike­ta­hu­i­nya seka­rang adalah kobaran nafsu berahi yang tiada ter­ken­da­li­kan—meluap lebih keras. Ia lihat kumis itu kini menge­pak-ngepak dan sesu­atu yang manis keluar dari mulut­nya, “Kadang-kadang salah paham itu baik dan sangat manis.”

“Antara aku dan kau tidak ada salah paham. Tapi kesal­ahan benar-benar. Kau telah rampas kemer­de­ka­anku. Kau telah tawan aku.”

“Apa salah­nya? Aku selalu rin­du­kan kau. Aku tak mau sia-sia menang­gung rindu.”

“Apamu aku ini?”

“Kau?” pemuda itu ter­tawa per­la­han. Tapi mata itu kian ber­ko­bar-kobar menya­la­kan nafsu bera­hi­nya. Ia tang­kap tubuh Ara dan dilem­par­kan ke ran­jang.

“Apamu aku ini?” Ara men­de­sak terus. “Kau?”

Dan pemuda itu tak mampu mene­rus­kan jawab­an­nya.

Ia hanya men­ja­wab dengan per­bu­atan.

Sore itu Ara duduk di sebuah bangku, menunggu giliran nomor­nya. Sudah bebe­rapa bulan ia men­jadi pasien spe­si­a­lis penya­kit dalam. Pen­da­rahan-pen­da­rahan yang serius ber­u­lang kali datang menye­rang, segera sete­lah bebe­rapa minggu Jusman keluar dari rumah sakit. Ia merasa seperti segum­pal lilin hangat di tangan Jusman dan boleh diper­la­ku­kan seke­hen­dak pemuda Arab itu. Juga dalam kea­daan pen­da­rahan-pen­da­rahan ini. Ia tak dapat mela­wan. Kadang-kadang ia begitu benci pada diri sen­diri. Malah pernah ia memi­kir­kan untuk meng­ha­bisi hidup­nya dari­pada men­jadi orang yang bukan dir­i­nya sen­diri.

Dan bila sore seperti ini ia duduk di bangku dengan mera­sa­kan keba­sahan dan rasa sakit dalam per­a­nakan. Ia pan­dangi lalu-lintas yang mondar-mandir dengan pera­saan mual.

Tapi sore ini ada dira­sa­i­nya angin baru datang meniup. Sewaktu sedang asyik ia mere­nungi lalu-lintas, dili­hat­nya sese­o­rang meng­ham­piri pen­dopo dokter tempat ia menunggu, lang­sung menuju kepa­da­nya. Mene­gur, “Ara?”

Lara­sati meng­ang­guk tanpa sema­ngat. Sema­ngat hidup­nya memang sedang padam waktu itu.

“Kami sedang menyi­ap­kan sebuah film.”

“Ten­tu­nya film RVD.”

“Benar sekali. Mari ikut main. Ada tam­ba­han ekstra dari wali-negara Suma­tra Timur.”

“Mau ikut?”

“Main­lah.”

“Kau sakit?”

Ara meng­ang­guk layu.

“Kami bisa usa­ha­kan tang­gung ong­kos­nya kalau kau suka.”

Ara meng­go­yang­kan kepala. Dan dengan tangan­nya mem­be­ri­kan isya­rat supaya orang itu pergi. Biar­lah keka­lahan ini sampai di sini saja. Lebih dari itu sudah tidak bisa lagi.

Tapi, meng­apa orang begitu mudah­nya mau mem­bantu Belanda, di masa pemuda-pemuda masih melan­jut­kan Revo­lusi? Ia ter­ke­jut. Seo­rang pasien lain men­de­kat­i­nya dan menyen­tuh bahu­nya.

“Teri­ma­lah. Sudah begitu lama kami tak pernah meli­hat nyonya di layar perak.”

Ingin Ara waktu itu mele­tak­kan kepa­la­nya di atas meja dan tidur di sana untuk mena­han lelah dan sakit­nya. Dengan mata redup ia tengok wanita di sam­ping­nya. Rupa-rupa­nya, pikir­nya, mereka telah sekong­kol. Dia bukan wanita sakit.

Dia sehat. Tiba-tiba ia ber­ta­nya, “Nomor berapa kartu nyonya?”

Wanita itu agak kaget, tapi segera ter­se­nyum dan ber­kata: “Hanya meng­an­tar­kan kawan: tetangga.” Ia pun ter­se­nyum. “Aku ber­mak­sud baik. Terima saja­lah ajakan itu. Nyonya bakal dapat dua kali hono­r­a­rium. Lagi pula Repub­lik sudah ber­se­dia ker­ja­sama dengan Belanda. Seben­tar lagi pemim­pin-pemim­pin, yang dita­wan di Prapat akan dikem­ba­li­kan ke Yogya.

Ara ter­lon­jak bangun. Pemim­pin? Masa pemim­pin bisa diam­bil dan dita­ruh kem­bali seperti bidak-bidak di atas papan catur? Tanpa dike­ta­hu­i­nya darah menyem­bur dari pang­ku­an­nya, men­ja­lar-jalar di lantai, mera­yap meling­kar-ling­kar. Ia ter­du­duk kem­bali. Peman­dang­an­nya ber­ku­nang-kunang akhir­nya ping­san.

Ia sadar waktu telah ter­bu­jur di sebuah rumah sakit. Jusman sudah duduk di sam­ping ran­jang, dan mata kelam­nya tak lepas-lepas meng­a­was­i­nya.

“Bagai­mana pera­sa­anmu, Ara? Baik?” tanya­nya ber­ma­nis-manis.

Dengan layunya Ara menu­tup mata­nya kem­bali dan mena­rik nafas dalam-dalam. Ia rasai per­ta­nyaan itu seba­gai per­min­taan maaf. Dan waktu ia buka mata­nya kem­bali ia lihat Jusman masih juga meng­a­was­i­nya.

“Senang-senang­kan hatimu, biar lekas sembuh,”

Sembuh? Selama Jusman terus-mene­rus menem­pel pada batang hidup­nya, ia tidak mung­kin sembuh dan pen­da­rahan-pen­da­rahan ini akan makin hebat. Tiba-tiba ia menya­dari semua kea­da­an­nya: alang­kah busuk­nya, kalau aku mati karena pen­da­rahan dan pen­da­rahan yang dise­bab­kan pemuda Arab, peng­khi­a­nat Revo­lusi ini… betapa konyol­nya! Ah, konyol­nya!

“Kau ingin apa, Ara?”

Tak pernah sebe­lum­nya Ara mera­sai suatu irisan dalam hati­nya seperti seka­rang ini. Per­ta­nyaan pemuda itu meng­il­u­kan. Ta rasai seakan ia dita­wari untuk meng­hi­rup darah pemuda yang ber­le­leran, darah pemuda yang dise­m­bur­kan oleh peluru musuh­nya. Ia meng­ge­leng. Jusman meng­am­bil tangan­nya dan meng­e­lus-elus sayang. Dan Ara meng­e­jek dalam hati­nya: dia akan tetap sayangi aku selama aku masih ber­guna bagi­nya.

Ia meng­ge­leng. Sudah­lah, sele­sai­lah saja sampai di sini. Ia mena­rik nafas sedan. Ia ingin men­da­pat­kan keku­atan sera­tus kali lebih besar dari­pada seka­rang untuk meng­ha­dapi semu­a­nya ini. Seki­ra­nya Revo­lusi dapat menang dengan gam­pang! Tentu ia tak perlu meng­ha­dapi lawan-lawan yang tidak perlu seba­gai­mana yang banyak diha­dap­i­nya selama ini. Tapi Revo­lusi seta­pak demi seta­pak ber­ka­pit­u­lasi…

“Pulang­lah, kau…” Ia ingin ting­gal seo­rang diri.

Dan dengan demi­kian lebih dari satu sete­ngah bulan ia ter­golek di ran­jang rumah sakit. Tapi ia merasa lebih tenang dari­pada sebe­lum­nya. Di sini tak ada orang meng­gang­gu­nya. Dengan tenang ia memi­kir­kan bagai­mana dapat menyu­sun diri kem­bali agar dapat dite­rima masya­ra­kat sete­lah sembuh Berita ten­tang kom­promi antara Revo­lusi dan kontra-Revo­lusi yang akan mela­hir­kan negara Indo­ne­sia Seri­kat, menye­ret­nya dari situ­a­si­nya yang buruk ke situ­asi yang mem­beri harapan. Dan pada suatu kali waktu Jusman datang ber­kun­jung, ia ber­ta­nya: “Kau tak punya ren­cana apa-apa?”

Jusman dengan curiga meng­a­wasi.

“Pan­dangmu begitu aneh, Jus.”

Tapi Ara dapat men­duga, bahwa Jusman sedang tak merasa senang dan aman dengan makin mening­kat­nya berita-berita akhir-akhir ini. Ara segera mem­be­lok­kan per­ha­tian, “Bagai­mana kau sen­diri?” Jusman ter­se­nyum.

“Siapa yang urus kau seka­rang?”

“Ibumu.” Ia diam seben­tar, kemu­dian mene­rus­kan.

“Lekas­lah sembuh. Tentu kau bisa urus aku lebih baik.” Ia diam lagi seben­tar. “Dengar Ara, kata dokter bebe­rapa hari lagi kau sudah boleh pulang.”

Ara ter­ke­jut, tetapi ia tutupi gejo­lak pera­sa­an­nya.

“Aku sudah bicara-bicara dengan ibumu ten­tang sesu­atu hal yang pen­ting bagi kita berdua. Tapi aku tak bisa meng­am­bil sesu­atu faedah dari pem­bi­ca­raan itu.” Ia diam lagi seke­tika. Pan­dang­nya meraba-raba hati Ara. “Aku sudah pikir-pikir, Ara,” ia diam lagi.

Ara telah dapat men­duga, bahwa per­ki­raan poli­tik telah mem­buat pemuda Arab itu men­jadi panik. Dan seka­rang ia hendak per­gu­na­kan dir­i­nya untuk menye­la­mat­kan­nya.

“Bia­sa­nya bica­ramu lancar,” Ara mem­be­ra­ni­kan.

“Ya, Ara, aku ada usul, bagai­mana kalau kita nikah saja dari­pada begini terus?”

Ara menu­tup mata­nya.

“Aku kira,” Jusman mene­rus­kan tapi segera ter­ta­han. “Aku kira, kau girang men­de­ngar ajak­anku, Ara.”

Ara meng­hela nafas dalam. “Jadi kau tak setuju, Ara?”

Dan Ara tetap menu­tup mata. Dalam kea­daan seperti itu ia men­ja­wab, “Biar­lah aku sembuh sama sekali dahulu. Kemu­dian, biar­lah aku isti­ra­hat bebe­rapa minggu. Sesu­dah itu biar­lah aku jawab ajak­anmu.”

“Lama­nya, Ara.”

“Kau masih dapat hidup dela­pan puluh tahun lagi, Jus.” Seka­rang Jusman yang meng­hela nafas keluh. “Kau menge­luh, Jus. Meng­apa?”

Tapi Jusman tidak men­ja­wab.

“Tak ada kabar buruk, bukan?” Ara ber­ta­nya lagi.

“Ara,” akhir­nya Jusman mem­buka suara. “Sua­sana kian lama kian men­jadi buruk.”

Kem­bali Ara menu­tup mata­nya untuk tak dapat dibaca per­u­ba­han air muka­nya oleh pemuda di hadap­an­nya itu. Kalau musuh Revo­lusi ber­kata sua­sana men­jadi buruk… Ara ter­se­nyum dalam hati­nya. Itulah tanda: keme­nangan ada pada Revo­lusi. Tak banyak berita yang dite­rima Ara di rumah sakit. Tetapi kabar buruk Jusman, dan itu pun sedi­kit sudah cukup bagi Ara untuk mema­hami kea­daan.

“Ara, kawan-kawan sudah anjur­kan aku cepat menying­kir ke Singa­pura atau Malaya. Tapi kalau kau suka kawin deng­anku, aku rasa sama sekali tidak perlu pergi dari sini.”

“Siapa yang meng­an­cam kau? Meng­apa mesti sampai menying­kir?”

Jusman tak men­ja­wab.

Waktu dokter datang mem­be­ri­ta­hu­kan kepada Jusman, bahwa seka­rang Ara sudah boleh diam­bil sem­ba­rang waktu ter­ke­cu­ali hari itu sampai lusa, segera Jusman meng­u­cap­kan teri­ma­ka­sih­nya pada dokter itu.

“Tapi,” kata dokter itu selan­jut­nya, “kalau tuan ingin supaya nyonya sehat-sehat saja, jangan­lah campur deng­an­nya selama tiga bulan ini.”

Jusman ter­lom­pat dari tem­pat­nya duduk. Tapi segera dokter itu mene­rus­kan: “Bukan perin­tah, tuan, hanya anjuran. Ten­tu­lah tuan meng­erti, apa­lagi nyonya…” dan tanpa menunggu jawaban ia pun pergi.

Ara mena­tap Jusman. Jusman meng­ge­leng lemah dan mem­ba­las pan­dang Ara dengan pan­dang yang lembut penuh kasih sayang.

“Inilah putusan hakim bagiku, Ara. Apa pun pen­da­pat orang ten­tang dirimu, aku sayangi dan cintai kau, Ara, dengan sepe­nuh hati. Justru karena itu, yah, apa boleh buat. Aku harap­kan kau sela­mat dan pan­jang umur. Rupa-rupa­nya aku memang harus menying­kir. Aku akan menying­kir ke Singa­pura. Moga-moga saja ada umur seka­dar­nya yang memung­kin­kan kita kelak ber­temu kem­bali, Ara.” HARI-HARI bela­kangan ini ber­ja­lan dengan cepat. Ara dan ibunya telah ting­gal­kan rumah Jusman, Jusman sen­diri telah cau entah ke mana. Ia tidak tahu. Seo­rang opsir Belanda mem­ba­wa­nya dengan sedan hijau. Hampir-hampir kedu­a­nya tidak sempat ber­kata atau ber­pe­san. Pada wajah Jusman nampak kebi­ngungan dan keta­kutan. Dan sebe­lum pemuda itu hilang entah ke mana, kelu­arga Jusman datang men­de­sak Ara dan ibunya keluar dari rumah.

Ara kem­bali ting­gal dalam pon­dok­nya yang dulu. Kam­pung itu kini telah mulai banyak diting­gali orang. Kera­mahan yang dulu telah mem­pe­nga­ruhi dir­i­nya, kini tiada lagi. Orang men­jadi tidak peduli lagi satu sama lain.

Sema­ngat Revo­lusi kian lama akan pudar di kam­pung-kam­pung. Per­undi ngan-perun­dingan di negeri Belanda tidak menim­bul­kan sesu­atu pera­saan agung di dalam hati mereka. Kon­fe­rensi Meja Bundar! Di sana-sini ter­de­ngar ejekan: Itulah kalau orang cuma pura-pura jadi revo­lu­si­o­ner! Ban­teng-ban­teng sudah kehi­langan tan­duk­nya, jadi ban­teng dung­kul: sudah kehi­langan otak­nya! Singa tua ompong pun tak dapat dika­lah­kan­nya! Ha? Mana bisa Revo­lusi kalah, kalau jiwa revo­lu­si­o­ner sen­diri tidak patah? Orang lain lagi mem­bela: ini hanya taktik bukan stra­tegi! Ah-ah, mana bisa orang selalu ambil taktik kom­promi dengan musuh­nya, sampai akhir­nya dir­i­nya sen­diri tidak ada?! Yang ada ting­gal kom­pro­mi­nya?!

Tapi pen­da­pat-pen­da­pat, kritik-kritik, dan pem­be­laan-pem­be­laan itu, semua saja mela­yang di langit hijau. Mereka bukan­lah orang-orang ber­ku­asa, bukan pem­be­sar, bukan pengu­asa. Mereka hanya rakyat biasa, yang mer­deka ber­pen­da­pat, tapi tak mer­deka meng­a­tur diri. Dan dengan demi­kian KMB9 ditan­da­tangani. Dan dengan demi­kian, keku­a­saan Repub­lik dipu­l­ih­kan…

Dan pada suatu hari men­de­ngung-dengung berita aneh: “Ten­tara Nasi­o­nal Indo­ne­sia akan masuk ke Jakarta!”

Tiba-tiba orang lupa pada seli­sih-seli­sih dan per­ten­tangan-per­ten­tangan pen­da­pat. Revo­lusi menang! Belanda bakal angkat pantat pulang ke negeri lelu­hur! Di mana-mana timbul sua­sana pesta. Seperti disu­lap, kewas­pa­daan dan kekha­wa­tiran, keta­kutan dan keke­cutan hilang dari tiap dada. Mer­deka! Mer­deka! Dan kem­bali orang men­je­rit­kan lagu-lagu per­ju­angan tanpa ragu-ragu lagi. Dan kem­bali anak-anak seko­lah menya­nyi­kan hari depan yang gilang-gemi­l­ang, seba­gai dir­i­nya sen­diri! Tum­pas­lah per­bu­dakan! Punah­lah pen­ja­jahan!

Maka datang­lah hari itu, di mana yang kela­paran lupa pada kela­par­an­nya. Pen­co­pet lupa pada keah­li­an­nya! Maling-maling lupa pada kewa­ji­b­an­nya! Orang ber­du­yun-duyun mem­ban­jiri Mer­deka Utara, menyam­but Pre­si­den Soe­karno dari Yog­ya­karta, meng­gan­ti­kan Guber­nur Jen­de­ral Hindia Belanda seba­gai Pre­si­den Semen­tara Negara Repub­lik Indo­ne­sia Seri­kat? Orang tidak peduli Seri­kat atau Kesa­tuan. Pokok­nya pen­ja­jahan Belanda telah dia­khiri.

Ara adalah seo­rang di antara sekian ratus ribu hadirin. Seka­rang tak lagi ter­de­ngar lagu Wil­hel­mus10 yang manis mem­be­lai-belai syahdu itu, tetapi Indo­ne­sia Raya yang men­deru-deru, meng­ge­le­gak, dan meng­ga­pai-gapai. Pele­ton-pele­ton TNI ber­baju baru men­de­rap-derap di jalan besar dengan CPM11-nya yang jang­kung-jang­kung lampai. Semua itu milik semua orang! Juga TNI-nya, juga CPM-nya, juga Istana-nya, juga Pre­si­den-nya, segala yang berada di atas bumi tanah tumpah darah. Tak ada orang merasa jauh lebih kaya dari­pada yang pernah dira­sai dalam hidup­nya masing-masing.

Langit di atas demi­kian biru. Dan sema­ngat di dada begitu panas.

Waktu upa­cara sele­sai, Ara pulang, ber­ja­lan lambat-lambat. Orang di sam­ping menyam­ping­nya, di bela­kang dan depan­nya, ber­ge­gas-gegas ter­tawa-tawa. Aku tak ingin pulang seka­rang ini, pikir­nya. Ia terus ber­ja­lan lambat-lambat. Apa akan ter­jadi sesu­dah ini? Aku mesti apa? Aku harus ke mana? Apakah aku tidak berhak menik­mati, ikut menik­mati hasil Revo­lusi? Ia ingin minum sege­las air jeruk dingin. Hawa dan sua­sana terasa demi­kian panas. Tapi depot-depot tiada buka.

Lalu-lintas kian lama kian men­jadi tipis. Dalam eta­lase-eta­lase ter­pam­pang hiasan-hiasan yang meng­u­cap­kan sela­mat datang pada kepala negara. Ke mana kaki ini mem­bawa diriku? Ara mulai ber­ta­nya pada dir­i­nya. Sebuah jeep hampir-hampir menye­rem­pet­nya dan ber­henti tepat di depan hidung­nya. Sekali ini Ara tidak marah. Jeep itu kepu­nyaan Ten­tara dan Ten­tara adalah juga kepu­nya­an­nya. Tak ada alasan untuk marah. Pra­ju­rit-pra­ju­rit itu berhak ber­pesta sete­lah hidup mela­rat begitu lama.

Ara meng­hin­dari jeep yang ber­henti di hadap­an­nya, menying­kir, untuk mene­rus­kan per­ja­lanan. Sewaktu ia sampai di sam­ping ken­da­raan sebe­lah kiri, sese­o­rang yang tinggi lampai melom­pat turun men­ceng­kam per­ge­lang­an­nya. Ara ter­ke­jut. Jusman? Tapi kumis­nya bukan kumis Jusman.

“Ara!” per­wira itu ber­te­riak keras.

Ara mena­tap wajah di depan­nya itu. Keka­ge­tan­nya cair, meruap cepat.

“Oding!” juga Ara hampir-hampir ber­te­riak.

Mereka ber­pe­luk di ping­gir jalan. Tak ada alasan untuk tidak menya­ta­kan kegi­rangan masing-masing.

“Ayoh masuk ke dalam!”

Dan dengan demi­kian jeep pun men­de­rung menuju ke arah yang Ara tidak tahu. Sam­pai­lah mereka di sebuah gedung, nyata bekas tempat ting­gal Belanda. Mereka duduk, dan Oding mulai dengan serang­an­nya: “Seka­rang kita hidup ber­sama-sama lagi. Kau tentu tidak ada kebe­ratan apa-apa. Sudah ber­temu dengan ibumu?”

Ara meng­ang­guk. “Di mana kalian ting­gal?”

Ara hanya men­ja­wab dengan pan­dang mata­nya.

“Baik-baik, nanti malam kuam­bil. Kalian ting­gal di sini ber­sama-sama deng­anku. Kita kawin Ara!”

Ara tetap mena­tap­nya.

“Kau ada kebe­ratan?”

Ara meng­ge­leng­kan kepala. Dan waktu ia menun­duk dili­hat­nya bebe­rapa titik air mata mem­ba­sahi kain­nya. Oding meng­ham­piri, menge­lu­ar­kan seta­ngan mil­iter hijau dan menyeka mata­nya.

“Kita sudah menang­kan Revo­lusi ini,” Oding mene­rus­kan. “Air mata tak kita butuh­kan lagi. Kita akan nik­mati hasil keme­nangan ini. Ia kelu­ar­kan kaleng rokok Player Navy Cut. Ia sodor­kan pada Ara. “Mero­kok­lah.”

“Kau tahu aku tak mero­kok.”

“Kita harus nik­mati keme­nangan Revo­lusi. Ayoh ambil, kita mero­kok.”

Dengan tangan ragu-ragu Ara mena­rik seba­tang dari kaleng mena­ruh­nya di bibir. Oding menya­la­kan geretan.

“Isap! Isap yang baik!”

Ara ter­ba­tuk-batuk. Dan waktu hendak mem­bu­ang­nya, Oding men­ce­gah­nya.

“Kita nik­mati hasil Revo­lusi. Itu hak kita, Ara.”

“Tapi aku tak biasa mero­kok.”

“Kau harus bia­sakan. Segala dan semua ini sudah jadi milik kita. Kau tak pernah ikut Belanda, bukan?” Ara meng­ge­leng.

Seperti anak kecil yang baru mene­rima hadiah ulang­ta­hun, Oding mena­rik Ara bang­kit dari kursi, menun­tun­nya masuk ke dalam rumah. Ber­gaya girang mem­per­ke­nal­kan: “Lihat. Radio! Dua belas lampu Phi­lips!” ia menye­tel­nya. Lagu-lagu mars per­ju­angan men­de­ngung. Ara meng­ger­mang. Alang­kah men­du­nia… Dari Barat sampai ke Timur—Ber­ja­jar pulau-pulau.

“Ara, apa yang kau ragu­kan lagi? Ini kepu­nyaan kita.” Ara dita­rik­nya masuk ke dalam kamar.

“Ran­jang seperti ini kita tak pernah punya. Hanya keme­nangan Revo­lusi, keme­nangan kita yang mampu mem­be­ri­kan ran­jang sema­cam ini. Bukan, Ara? Dan malam ini, semua ini mulai kita nik­mati ber­sama-sama. Juga dengan Ibu. Bagai­mana pen­da­patmu, Ara?”

Ara ter­haru. Ia tak dapat bicara apa-apa. Ia hanya pan­dangi Oding. Dan Oding men­ci­um­nya.

“Indah­nya dunia ini kalau kita menang. Bukan, Ara?”

Ara meng­ang­guk.

Dan malam itu kelu­arga Ara pindah ke gedung ini.

Sampai tengah malam mereka belum juga tidur, masing-masing men­ce­ri­ta­kan peng­a­laman yang pahit. Waktu radio menyi­ar­kan musik dansa, Oding ter­lon­jak dari sofa­nya.

“Berapa tahun sudah kita tak nik­mati musik ini, hampir sepu­luh tahun.” Ia teguk gelas bir yang peng­ha­bisan. Ia melom­pat bangun. Mena­rik lengan Ara. “Ayoh dansa, Ara.”

Dalam menik­mati keba­ha­gi­a­an­nya hari ini, Ara melom­pat bangun, merang­kul Oding dan ber­a­yun-ayun­lah sepa­sang mer­pati malam itu meng­iringi Wals Wina. Malam di luar men­jadi gelap pekat. Ibu mena­rik diri ke kamar­nya.

“Senang­nya kalau orang menang.”

Ara men­ja­wab­nya dengan ciuman pada bibir­nya.

Guruh ter­de­ngar sayup-sayup di sela-sela musik. Seper­se­pu­luh dari satu sekon musik itu ter­henti, dan angin yang keras ter­de­ngar meniup men­deru.

“Hujan,” Ara ber­bi­sik.

“Biar segala-gala­nya ter­jadi seka­rang. Kita adalah peme­nang. Kita­lah yang meng­haki semua-muanya.”

Dan hujan turun seperti dilem­par­kan.



Cerita pendek

Mencari Anak Hilang

Dari Pertjikan Revolusi, cetakan kedua (1957). Disalin dari buku cetakan lama dan dialihkan ke ejaan sekarang.

Kurang lebih pada jam lima pagi, Amilah1 telah mening­gal­kan rumah. Di tangan kanan­nya ia men­jin­jing kebaya Sala­mah, anak­nya. Kebaya itu dicu­r­i­nya seben­tar tadi. Kini ia ada di jalan raya. Dan ber­ge­gas-gegas ia ber­ja­lan menuju Jakarta Kota. Tapi jalan­nya tak sece­pat waktu ia masih muda, sewaktu ia men­da­pat julukan Selen­dang Mayang bunga tangsi2.

Lihat! Bibir­nya terus jua ber­ge­rak-gerak, seperti Arab min­de­ring men­cari penga­ruh di kalangan orang dusun dengan doanya. Tapi Amilah tidak­lah mendoa. Ia meng­ge­rutu. Kadang-kadang men­caci juga seo­rang diri. Dan kadang­kala juga ter­se­nyum senang. Kadang-kadang menge­lu­ar­kan suara meng­hiba-hiba — seo­rang diri pula.

“Barang­kali dia memang mau mem­per­main-main­kan aku,” geru­tu­nya seka­rang. “Barang­kali Aman, anakku, sudah lama ada di tang­si­nya. Mesti dia mau meng­a­geti aku yang sudah tua ini. Kurang ajar. Sung­guh kurang ajar!” Ia ter­se­nyum senang. Dan lang­kah­nya diper­ce­pat. Tapi kaki­nya sudah berat seka­rang, sebe­rat timah. Tiba-tiba muka­nya beru­bah jadi keruh. Dan mulut­nya ber­ge­rak pula. “Bajingan!” maki­nya pelan. “Kalau dia mem­bo­hongi aku? Bagai­mana kalau aku dibo­hong­i­nya? Tahu? Amilah ini. Tahu Amilah? Kenali Amilah dulu. Amilah yang diju­luki Selen­dang Mayang di tiap tangsi.”

Ia ber­ja­lan terus.

Hari masih pagi betul. Tapi sim­pang siur ken­da­raan sudah mulai mera­mai. Ia lebih lagi mem­per­ce­pat jalan­nya. Tapi lang­kah­nya masih berat dan lambat saja seba­gai tadi. Ia sudah tua. Dan ia tak ber­u­ang. Kebaya Sala­mah belum lagi ter­jual. Hanya Aman — Saaman, anak sulung­nya — yang pen­ting untuk­nya, yang selalu meme­nuhi otak­nya. Dan meng­isi otak­nya selama tiga bulan ini. Saaman hilang. Dan ia tak tahu di mana adanya. Piki­ran­nya yang tua itu tak bisa meng­erti meng­apa Aman — anak­nya sen­diri itu — harus ditang­kap oleh M.P.3 dan tak juga pulang mem­bawa uang seba­gai­mana bia­sa­nya.

“Dia mesti sudah ada di sana,” bisik­nya lagi. “Aman,” pang­gil­nya penuh kasih seperti betul-betul Saaman ada di depan­nya. “Kita jual saja baju ini, ya?” Seben­tar ia meman­dang kebaya Sala­mah. “Ini kau juga yang beli dan yang selama ini dipa­kai Amah. Dan nanti kita pergi ke Senen, ya? Kita beli bawang merah, cabe rawit dan cuka. Ter­lalu gila engkau pada asinan, bukan? Bukan begitu, Aman —” Tiba-tiba ia melom­pat.

Raung klak­son mobil meng­a­get­kan­nya. Bubar beran­takan san­di­wara dalam kepa­la­nya. Dan Saaman pun hilang­lah dalam bayang­an­nya. Dengan pan­dang kejam-ganas dii­kut­i­nya mobil yang lari di depan­nya itu. Kem­bali ia memaki keji.

“Buaya! Bang­sat!” maki­nya pelan.

Dan waktu mobil itu hilang di tikungan, paras­nya digu­lung oleh kemu­rungan. Muka itu kian lama kian gelap. Tapi hari kian lama kian terang. Kedua pipi­nya cekung. Dan kerinyut kul­it­nya kian mera­pat oleh kema­rah­an­nya. Ia ber­ja­lan juga. Tapi bukan tenaga tuanya yang meng­ge­rak­kan: sema­ng­at­nya, penge­lam­un­an­nya, harap­an­nya. Kaki­nya ber­ja­lan seperti otomat, dengan lang­kah berat dan lemah seperti tadi.

Ia bicara lagi seka­rang. Sua­ra­nya keji menyum­pahi. “Bajingan! Dia mesti mem­bo­hongi. Sersan dia. Dia datang ke rumah dan cuma mem­bawa pesan saja. Pesan saja. Lain tidak. Bajingan! Buaya tangsi juga dia! ’Bu, aku mem­ba­wa­kan pesan dari sau­dara Aman,’ kata­nya. Pesan saja. Orang­nya tak datang. Saaman tidak datang. Uang pun tidak.”

Kemu­dian ia meng­an­cam. “Sung­guh mati,” kata­nya, “hati-hati, kau! Kalau engkau mem­bo­hongi aku, pasti kupe­cah­kan kepa­lamu. Kenali ini. Ini Amilah Selen­dang Mayang. Ini Selen­dang Mayang yang sudah mem­buat gila banyak pemuda. Lihat! Seben­tar lagi engkau kupaksa jong­kok menyem­bah kakiku! Aku tahu sipat lelaki. Engkau bang­sat! Engkau buaya! Meng­erti?”

Kemu­dian muka­nya beru­bah lagi. Ter­ki­lat pada pan­dang­nya — kirut-mirut pada kul­it­nya! Ia insaf — ia sudah tua kini. Kemu­dian ia menge­luh mengiba-iba — “Oh, anakku. Aman, anakku. Di mana engkau? Sudah lama kucari, kau. Di mana kau?”

Kega­rang­an­nya lenyap dan kem­bali mata­nya kabur oleh kemu­rungan. Dan sepa­sang betis­nya yang tipis itu melang­kah-lang­kah jua. Ia bukan wanita muda yang gagah seba­gai dulu. Ia sudah tua dan tegak badan­nya sudah seperti tanda tanya sonder titik.

Sam­pai­lah ia kini di jalan raya. Kota. Rel kereta api. Rel kereta lis­trik. Aspal — jalan raya. Mobil — ban besar, hitam, coklat, putih, segala warna, bera­tus-ratus. Derum dan dengung. Di atas — di ang­kasa — pem­buru peng­ang­kut, pembom, kapal capung. Dan di sepan­jang jalan: beng­kel-beng­kel besar dengan mesin­nya yang men­deru-deru. Toko ber­ba­gai macam. Istana guber­nur. Ratusan polisi. Ratusan mil­iter yang kurang peker­jaan. Juga M.P. yang menang­kap anak­nya. Dan juga pen­jara, tempat tahanan dan tawanan disu­ruh bel­a­jar dan mengaji undang-undang dan hukum. Gedung bio­skop yang mena­dah uang kele­bihan dan uang hutang pen­du­duk. Gedung-gedung bank yang menan­tang lalu-lintas. Dan di antara segala bentuk dan warna dan gerak dan bunyi itu ter­da­pat­lah dia: Amilah perem­puan tua, Amilah yang men­cari anak­nya yang ditang­kap M.P. tiga bulan yang lalu. Aman, Saaman, harta ben­da­nya yang satu-satu­nya di dunia ini.

Mata­hari telah melela bebe­rapa dera­jat di atas muka bumi. Dan seben­tar ber­hen­ti­lah ia di sudut pasar Glodok. Mata­nya jalang meli­hat ke keli­ling. Barang dagangan. Pan­dang­nya penuh oleh barang yang dibu­tuh­kan­nya. Tapi ia tak ber­u­ang. Baju si Sala­mah belum lagi ia jual. Dan seki­ra­nya kebaya itu sudah ter­jual, ia pun takkan mem­beli barang kelon­tong. Ia mau memu­as­kan hati Saaman anak­nya yang hilang dengan asinan — seba­nyak-banyak­nya. Tak ada uang lain untuk barang lain. Tiba-tiba hati­nya jadi sakit — ter­lalu sakit. Sakit hati pada segala-gala­nya — juga pada trem kota yang lalu di depan­nya. Ia tak boleh naik di trem itu — ia tak ber­u­ang.

Tak seo­rang pun yang diper­ha­ti­kan­nya. Dan ia pun tak diper­ha­ti­kan orang. Kota dengan kege­li­sah­an­nya yang biasa. Kota yang tak kenal manu­sia dan kema­nu­si­aan. Kota hanya menge­nal urusan.

Ia ber­ja­lan lagi. Pendek-pendek lang­kah­nya. Kini ia ber­ja­lan menepi jajaran teri­tis toko-toko Tiong­hoa. Seben­tar-seben­tar ia menge­cil­kan diri bila trem kota liwat. Kemu­dian sam­pai­lah ia di tempat yang ditu­ju­nya: tangsi mil­iter ping­gir Cili­wung — tangsi yang dise­but sersan Kasdan sepagi buta. Ia ber­henti. Sudah dua jam ia ber­ja­lan. Dan keri­ng­at­nya hanya dua titik saja di kening.

Pintu tangsi itu, kayu silang min­tang yang dibe­liti kawat ber­duri, ber­diri di depan­nya. Seo­rang pra­ju­rit jaga ber­diri gagah di kan­dang monyet­nya. Apa? Ia tak peduli pada jaga. Saaman lebih dari segala-gala­nya di dunia ini. Dan ia pun masuk­lah. Tapi jaga itu tak mem­bi­ar­kan kewa­ji­b­an­nya dilang­gar orang.

“He — nenek!” seru­nya.

Amilah ber­henti di depan jaga dan menen­tang dengan pan­dang­nya, kemu­dian ia ber­bi­sik pelan, “Aman! Saaman, anakku, mesti di sini.” Ia ber­ja­lan terus.

Kini turun­lah jaga itu dari kan­dang monyet­nya. Dengan tangan mem­bawa Lee Enfi­eld4 ia meng­a­dang Amilah.

“Tak boleh masuk,” kata­nya garang.

“Meng­apa? Sersan Kasdan bilang, aku harus datang kemari. Aku mau men­cari Aman anakku.”

“Itu aku tak peduli. Jangan masuk.”

“Sersan Kasdan bilang, dia ada di sini.”

“Aku bilang — jangan masuk.” Kemu­dian ia ber­bi­sik ramah. “Nek, di dalam sedang ada kon­tro­lan. Hati-hati. Mayor besar sedang mengon­trol,” kata jaga itu tak kehi­langan kesa­bar­an­nya. “Kalau nenek masuk juga, aku yang kena getok nanti. Meng­erti, nek?”

Tapi Amilah tak pernah memi­kir­kan kepen­tingan orang lain. Mulut­nya ber­ke­cu­mik lagi. Kemu­dian ter­de­ngar sua­ra­nya. “Tapi —” kata­nya.

“Tidak ada tapi,” potong jaga itu. “Dengar, nek, sema­lam, waktu appel, keta­huan ada dela­pan belas orang lari. Ya, mela­ri­kan diri — mem­bawa sen­jata pula dan satu truk,” kata jaga itu menga­bar­kan berita pen­ting. Tapi Amilah tak tahu di mana pen­ting­nya.

“Tapi Aman tidak lari,” kata­nya tak ber­tu­juan.

“Itu belum lagi dike­ta­hui, seka­rang baru dia­da­kan apel-nama.”

Tiba-tiba Amilah ingat pada masa ia masih jadi perem­puan tangsi dan kopral Paijan masih jadi laki­nya. Ber­kata ia tegas-tegas. “Tapi kopral Paijan selalu hadir diapel-nama.”

“Kopral Paijan?” jaga itu ber­ta­nya. “Di tangsi ini tak ada kopral yang ber­nama Paijan.”

Nampak Amilah kaget. Ia ingat seka­rang — kopral Paijan sudah hilang di jaman siap. Mele­dak­lah kema­rah­an­nya seka­rang. “Aku mau masuk,” seru­nya.

“Tidak boleh.”

“Mau ber­temu sersan Kasdan. Dan Aman, anakku.” Mulai­lah jaga itu kehi­langan kesa­bar­an­nya. “Pergi!” ben­tak­nya.

Amilah mundur keta­kutan. Diam-diam ia duduk di ping­gir jalan dekat pagar kawat tangsi. Ter­lalu sakit hati­nya. Kem­bali ia digu­lung oleh pera­sa­an­nya sen­diri. Ia mau mem­ba­las dendam. Ia mau meng­a­dukan keka­saran jaga itu pada letnan Gede­r­ge­der. Oh, ia tak bisa menye­but nama itu dengan betul. Dan dengan sen­di­r­i­nya ing­at­an­nya mulai­lah mela­yang ke masa yang lalu.

“Hallo, Selen­dang Mayang manis,” kata letnan Gede­r­ge­der.

Dan sebe­lum ia men­ja­wab, ia sudah dicium. Dan dalam seumur hidup­nya tak ada ciuman yang begitu menye­nang­kan dari­pada ciuman letnan kulit putih itu.

Amilah kaget lagi. Ia ingat dir­i­nya. Ia kini bukan Selen­dang Mayang bunga tangsi yang dulu. Kini ia Amilah tua. Letnan Gede­r­ge­der pun sudah tak ada lagi. Mung­kin juga dia sudah dima­kan samu­rai Jepang.

Seben­tar dipan­dang­nya langit silau di atas. Kemu­dian ia menge­luh. Ya, ia ingat dir­i­nya seka­rang: perem­puan tua yang tak ada fae­dah­nya untuk kese­nangan dunia. Ber­ganti-ganti ber­ma­cam-macam kenangan yang indah ber­a­rak di ing­at­an­nya — ing­atan yang kabur. Ing­at­an­nya pun turut tua kini.

Jaga itu meng­a­wasi Amilah dari kan­dang monyet­nya. “Ya, tunggu di situ,” kata­nya. “Kalau kon­tro­lan sudah sele­sai — dan apel-nama juga — engkau boleh masuk.”

Amilah tak men­de­ngar. Tak peduli pan­dang­nya mere­nungi lalu lintas di depan­nya. Tapi tiada sesu­atu yang ter­tam­pak oleh mata­nya. Yang keli­hatan hanya­lah gam­baran kenangan dulu. Kini ia ter­ke­nang pada Benni — pemuda satu-satu­nya yang benar-benar dicin­ta­i­nya. Tapi pemuda itu telah han­cur­lah oleh tombak Aceh5. Lihat, mulut perem­puan tua itu kem­bali ber­ke­cu­mik. Tapi yang dise­but­nya bukan nama Benni, tapi Aman yang dica­ri­nya.

“Aku sudah tua seka­rang,” geru­tu­nya kemu­dian. “Takkan datang keka­sih baru. Benni sudah lama dibu­nuh orang Aceh. Dan letnan Gede­r­ge­der dibu­nuh Jepang.”

Bisik­nya kian lama kian melem­bek dan jadi getaran bibir saja. Detik lalu dan datang dan pergi pula. Sete­ngah jam ia duduk demi­kian. Jam dela­pan kini. Mata­hari kota Jakarta mulai mem­per­li­hat­kan kega­rang­an­nya. Amilah ber­diri mau men­cari teduhan. Ia sudah ter­lupa pada mak­sud­nya, lupa pada Aman dan sersan Kasdan yang menyu­r­uh­nya datang ke tangsi. Duduk­lah ia di teri­tis kantor menge­nang-nge­nang. Dan yang ter­ke­nang seka­rang ialah tangsi-tangsi yang pernah didi­am­i­nya. Akhir­nya mele­la­lah kenang­an­nya yang terin­dah.

Ia ber­diri di depan cermin besar — di tangsi Makasar. Dari cermin itu tampak oleh­nya Benni, pemuda Menado yang belum ber­pang­kat, hanya ser­dadu kelas dua.

Dan ia pura-pura tidak tahu. Ia pura-pura menun­duk dan mem­per­ba­iki peniti keba­ya­nya. Tapi mata pemuda yang agak sipit itu — itulah yang mem­buat ia ter­gila-gila pada­nya. Saat yang ajaib pun datang­lah. Ber­si­tin­jak Benni men­de­kat­i­nya. Ia terus jua dengan pura-pur­a­nya. Akhir­nya Benni men­cium leher­nya. Ia melon­cat. Sekali ini ia sung­guh-sung­guh ter­ke­jut — bukan pura-pura lagi. Dari cermin itu ia meli­hat muka­nya meme­rah jambu. Dan dalam hati­nya ada sesu­atu yang hidup dan menyala. Ia tak tahu apa. Tapi kea­ja­iban itu ada di dalam. Dan ia men­candu pada sesu­atu itu.

Genit ia meme­luk pemuda itu — sekali-kali­nya yang ia pernah ber­buat. Dan pemuda itu mem­ba­las rang­kul­an­nya. Dan Saaman pun lahir­lah.

Perem­puan tua itu ter­se­nyum-senyum sen­di­r­ian. Muka­nya ber­seri-seri senang.

“Benni, meng­apa engkau tak datang kema­rin?” kata­nya seo­rang diri. Tapi tiba-tiba ia kaget. Jalang ia meli­hat keli­ling­nya. “Bang­sat!” maki­nya, “Bajingan! Buaya tangsi! Aku sudah tua seka­rang. Benni sudah mati dibu­nuh orang Aceh.”

Jaga itu turun­lah dari kan­dang monyet­nya dan men­de­kati pagar. “Siapa?” tanya­nya.

Waktu itu Amilah sudah kehi­langan ing­at­an­nya lagi.

“Benni,” jawab­nya.

“Benni? Aku kenal Benni. Dia dide­ta­sir6 di Suka­bumi seka­rang.”

Per­ha­tian Amilah ter­ta­rik oleh per­ka­taan jaga itu. Ber­ta­nya ia sete­ngah mohon. “Benar? Benni yang mata­nya agak sipit?”

“Benni yang kuke­nal mata­nya besar — orang Sunda.”

Amilah men­da­pat­kan ing­at­an­nya kem­bali. Dan ber­diam diri­lah ia. Seka­rang ia ter­i­ngat pada Aman. Ia menge­luh. Cepat ing­at­an­nya pindah lagi pada cermin besar yang menyak­si­kan per­cin­ta­an­nya dengan Benni.

“Aku lupa di mana cermin besar itu seka­rang,” kata­nya seo­rang diri.

Men­de­ngar itu jaga itu ter­se­nyum kasihan. Dan waktu peng­gan­ti­nya datang segera ia pergi dan tak meno­leh-noleh lagi.

“Cermin besar!” sam­bung­nya. Sua­ra­nya mele­dak. “Anjing! Ingat aku seka­rang — diram­pok Jepang.”

“Ada apa, nek?” tanya jaga baru.

Amilah ber­diri, ber­ja­lan dan meng­ham­piri jaga baru. Kemu­dian ber­diri saja di depan pintu pagar kawat. Dan jaga baru itu ter­se­nyum meli­hat tegak­nya yang seperti tanda tanya sonder titik. Amilah ber­diam diri seke­jap — ber­pi­kir dan ber­pi­kir. Akhir­nya nam­pak­lah kegu­gupan pada air muka­nya dan ber­seru.

“Aman — Saaman, anakku!”

“Saaman? Meng­apa dia?” tanya jaga baru.

“Dia ada di sini. Sersan Kasdan bilang, dia ada di sini.” Ia diam lagi meng­i­ngat-ingat. “Bukan, bukan begitu kata­nya. Sersan Kasdan bilang, aku harus datang kemari. Di tangsi ini, kata­nya. Dulu aku pernah ting­gal di tangsi ini juga.”

Dan jaga itu tak meng­erti apa yang dimak­sud­kan Amilah tua. “Lantas — mau apa seka­rang?” tanya­nya.

“Meng­am­bil Aman — Saaman, anakku.”

“Nama Aman tak ada di sini. Saaman juga tidak ada,” kata jaga sete­ngah meng­goda.

Amilah mem­be­re­ngut. Alis­nya ber­sam­bung. Seka­rang menyem­bur­lah kema­rah­an­nya. “Bang­sat! Buaya tangsi! Engkau juga mau mem­per­main-main­kan aku?”

Seka­rang jaga turut marah. Garang ia mem­ben­tak. “Anjing tua — ming­gat, kowé!”

Oleh ben­takan itu Amilah ber­tam­bah maju. Ia telah mema­suki pintu. Gugup jaga itu turun dari kan­dang monyet­nya dan mena­han Amilah. Dan mata­nya liar ber­pin­dah-pindah dari Amilah ke tangsi. Dan Amilah tak peduli lagi.

“Aku mau masuk,” pekik Amilah. “Aku mau masuk.”

“Tidak boleh.”

“Aku mau ambil Aman — Saaman, anakku sen­diri. Aku mau ber­temu dengan sersan Kasdan.”

“Di sini tak ada Saaman,” bentak jaga. “Sersan Kasdan juga tidak ada.”

“Mesti ada,” Amilah ber­si­ke­ras. “Mesti ada dia di sini.”

“Mana surat pas?”

“Kan Jepang sudah kalah? Per­lu­kah surat pas?”

“He — jangan banyak mulut.” Dan jaga itu melo­tot­kan mata­nya. Tangan­nya yang menun­juk-nunjuk kini meng­u­sap keri­ngat yang menye­rang mata­nya.

Dan Amilah meniru menyeka keri­ng­at­nya. Tapi keri­ngat itu taklah seba­nyak keri­ng­at­nya waktu ia dici­umi letnan Gede­r­ge­der — cuma tiga titik.

“Tak ada pas, tak boleh masuk,” kata jaga.

“Tak boleh? Berani kubi­lang­kan letnan Gede­r­ge­der?”

“Sama over­ste7 aku tak takut. Biar letnan bes­kuit, biar letnan keju, biar kapten roti, aku tak takut.” Kemu­dian tangan­nya menu­ding.

“Pergi!” ben­tak­nya.

Tapi Amilah tak takut sama sekali. Ia ber­tam­bah maju. Ia ber­tam­bah men­de­sak, seka­li­pun ia sudah lupa pada mak­sud­nya semula. Dan jaga itu kini mem­per­gu­na­kan bayo­net­nya.

“Ayo, masuk terus, kalau berani,” ia meng­an­cam “Sung­guh mati — aku tembak jidatmu kalau berani masuk.”

Baru­lah Amilah sadar lagi akan dir­i­nya. Ia meng­i­kuti dor­ongan lemah dari bayo­net yang ter­pa­sang pada perut­nya. Kecewa ia keluar dari pintu dan duduk lagi di teri­tis. Kacau balau kenang­an­nya seka­rang — ter­lalu ruwet. Sebe­lum ia tahu apa yang ada di kepa­la­nya, baju Sala­mah telah dike­ru­dung­kan di kepa­la­nya.

Lebih kurang jam sem­bi­lan pagi seka­rang. Mobil mayor besar yang mengon­trol barisan dan mene­rima apel-nama daru­rat telah pergi mela­lui pintu. Amilah meman­jang­kan leher, men­je­nguk dalam­nya mobil.

“Bukan Benni,” bisik­nya. “Bukan letnan Gede­r­ge­der. Bukan sersan Kasdan. Bukan kopral Paijan, lakiku. Bukan Aman — Anakku.”

Ia menun­duk lagi. Kemu­dian mulai­lah tangsi jadi ramai. Apel-nama telah sele­sai. Ia dengar jaga ber­ca­kap-cakap dengan orang lain.

“Siapa tadi?”

“Perem­puan. Nenek sin­ting yang memaksa mau masuk. Cari anak­nya, kata­nya — Aman.”

Men­de­ngar nama Aman, Amilah mene­ngok pada jaga. Dan dili­hat­nya orang yang menye­but dir­i­nya sersan Kasdan. Dan dili­hat­nya juga sersan itu menuju pada­nya. Ia bangun.

“Tuan sersan,” seru­nya nya­ring. “Mana Aman — Saaman anakku?”

“Aman? Aman tak ada di sini,” kata sersan itu dan dia­jak­nya Amilah ber­ja­lan.

“Tuan bilang,” kata Amilah kecewa dari bela­kang sersan itu. “Tuan bilang Aman boleh diam­bil di tangsi sini. Tuan sen­diri bilang tadi pagi buta. Tuan tadi pagi buta datang ke rumahku, bukan? Dan tuan bilang, Aman boleh diam­bil.”

Tenang sersan yang menye­but dir­i­nya Kasdan itu mero­kok. Kemu­dian ber­seru. “Ai,” kata­nya. “Tahu­lah aku. Ibu ini satu-satu­nya perem­puan yang tak punya kesa­baran. Coba, ibu, aku pernah di London. Aku pernah di Ame­rika, dan Ustrali, dan Spa­nyol. Tapi perem­puan yang begini tak sabaran, baru kali inilah kute­mui.”

“Sabar? Bang­sat, kau. Engkau juga menyu­ruh aku ber­sa­bar-sabar. Semua orang bilang, ’sabar, sabar, sabar!’”

Orang yang menye­but dir­i­nya sersan Kasdan itu ter­se­nyum. Ia masih tetap tuan dalam menun­duk­kan pera­sa­an­nya.

“Aku bilang,” kata­nya kemu­dian, “sudara Aman boleh diam­bil, tapi pada jam dua siang. Bukan­kah begitu yang kuka­ta­kan tadi pagi?” Ia diam menanti jawaban. Tapi Amilah tak mem­be­ri­kan jawab­an­nya. Ia meman­dang arlo­ji­nya. “Seka­rang baru jam sem­bi­lan lewat lima. Tadi pagi ibu bilang meng­erti. Apa seka­rang?” Tajam-tajam diten­tang­nya Amilah yang kini ber­ja­lan di sam­ping­nya. “Dan aku bilang juga — jangan ibu sen­diri yang datang men­jem­put sudara Aman. Tapi — tapi — Amah, Sala­mah. Apa­lagi Amah belum lagi ber­su­ami, jadi tak banyak ker­ja­nya di rumah. Dan aku bilang juga, kalau ibu turut campur juga dalam per­kara ini, takkan baik jadi­nya. Ibu tak bisa mena­han mulut. Dan ibu gam­pang sekali menyiar-nyi­ar­kan hal ini. Sedang ini adalah hal yang sangat ber­ba­haya. Kalau keta­huan M.P. kita semua turut ter­se­ret. Tahu, ibu? Tahu ibu? Dan aku bilang juga, kalau ibu turut campur juga dalam per­kara ini, tak mau lagi aku meno­long. Biar­lah tak kute­rus­kan usa­haku. Dan sudara Aman sen­diri bilang begitu.”

Amilah tak meng­erti pada per­ka­taan yang begitu banyak. Gugup ia ber­su­ara. “Tapi Aman — Saaman, anakku sen­diri.”

“Tak ada yang bisa mem­ban­tah. Memang sudara Aman anak ibu.”

“Dan aku emak­nya sen­diri.”

“Ya, dan ibu emak­nya sen­diri.”

“Ya.”

“Meng­apa dia tak boleh kuam­bil? Meng­apa?” kata Amilah sayu.

“Aku tak pernah bilang tidak boleh, ibu — tapi suruh Amah meng­am­bil­nya. Dan jangan ibu.”

“Aku masih kuat, tuan sersan. Aku masih sang­gup meng­ang­kat beras sepu­luh kilo. Tuan tak perlu meno­long aku. Tun­juk­kan saja di mana dia. Nanti kuam­bil sen­diri,” kata Amilah cepat-cepat dan ber­se­ma­ngat. Orang yang menye­but dir­i­nya sersan Kasdan itu diam menan­ti­kan Amilah men­da­pat kere­da­an­nya kem­bali. Dan sete­lah perem­puan tua itu habis bicara baru ia ber­kata. “Baik,” kata­nya, “baik sekali. Kalau begitu tak kulan­jut­kan per­to­long­anku. Seka­rang ibu pulang saja ke rumah. Dan aku mau jalan-jalan ke Tan­jung.”

Amilah kaget men­de­ngar ancaman itu. Tun­duk­lah ia seka­rang. Lama ia ber­diam diri. Dan sersan itu begitu juga. Dan Amilah tunduk mene­kur menye­rah, presis seperti opsir Belanda mene­kur diger­tak ser­dadu Jepang yang pernah dili­hat­nya sekali dulu. Sekali ini ia menye­rah. Tak berani ia meng­ang­kat kepala. Trem kota liwat. Tak juga ia berani meng­ang­kat kepala.

“Bagai­mana, ibu?” tanya sersan itu ber­ma­nis-manis.

“Aman — Saaman, anakku sen­diri. Kem­ba­li­kan dia padaku.”

“Aku kem­ba­li­kan dia pada ibu. Tapi Amah — Sala­mah suruh meng­am­bil­nya. Bukan ibu. Dan aku bilang — jam dua siang nanti. Jam dua tepat.” Ia menu­ding ke arah kota bawah. “Seka­rang ibu pulang. Amah kunan­ti­kan di seta­siun trem yang peng­ha­bisan. Di sini.”

Kedu­a­nya sam­pai­lah di seta­siun trem yang peng­ha­bisan.

“Kalau tidak,” kata sersan itu lagi. “Ingat, aku tak peduli lagi. Ini uang. Nanti kalau ada trem ke Jati­ne­gara ibu pulang saja.”

Diam-diam Amilah mene­rima uang sering­git.

“Seka­rang belum lagi jam dua. Dan aku belum lagi tidur.”

Sete­lah ber­kata ia mem­per­ce­pat jalan­nya menuju ke Pasar Ikan. Amilah menge­luh sen­di­r­ian. “Aku bilang,” bisik­nya seo­rang diri, “dia mesti menipu aku. Itu buaya tangsi!” Dan kem­bali ia ber­mu­ram durja. “Anakku — Aman — Saaman, anakku. Meng­apa engkau tak boleh pulang? Meng­apa tak boleh kuam­bil? Engkau anakku sen­diri. Meng­apa tak ada orang yang mau menun­juk­kan tem­patmu?”

Ia ter­se­dan-sedan dengan suara tuanya. Tapi mata­nya tetap kering. Tak sete­tes pun air mata jatuh. Ia tetap Amilah yang dulu juga — keras seba­gai batu.

Seo­rang anak laki-laki yang nampak sakitan dan rupa-rupa­nya belum boleh masuk seko­lah, men­de­kat­i­nya. Di tangan­nya ia mem­bawa botol obat. Muka­nya pucat dan gerak­nya lesu.

“Ibu, meng­apa mena­ngis?” tanya­nya sayang.

Amilah menyeka mata­nya. “Anakku,” kata Amilah sete­ngah meng­adu.

“Meng­apa ibu?”

“Anakku hilang — sudah tiga bulan.”

“Hilang? Di mana hilang­nya ibu?”

“Ditang­kap M.P. Sampai seka­rang belum pulang,” kata Amilah minta-minta hati.

“Ditang­kap M.P.? O. Bapakku juga ditang­kap M.P., ibu. Dan dia pun belum pulang juga sampai seka­rang,” kata anak itu. “Dan aku sudah lama sakit. Tapi bapak belum pulang juga. Ibu bilang, bapak tak boleh pulang.”

Tapi Amilah tak peduli pada lain kete­rangan. “Sudah lama dia ditang­kap?” tanya­nya.

Anak itu meng­ang­guk. “Hampir tiga tahun ini,” kata­nya lesu.

“Tiga tahun?” Kemu­dian Amilah meme­kik. “Tiga tahun? Bang­sat!” Kepa­la­nya dia­cu­kan pada anak kecil itu.

Dan anak itu pun jadi keta­kutan dan lari­lah cepat-cepat.

“Tikus tangsi!” geru­tu­nya. “Dia juga mau mem­bo­hongi aku. Penipu! Buaya! Kadal! Tikus! Celeng! Babi Cina.”

Kasar dita­rik­nya baju Sala­mah dari kepa­la­nya. Kemu­dian ia naik ke trem yang baru tiba dan mau balik ke kota bawah. Di Senen ia turun dan men­jual baju itu — baju kebaya Sala­mah satu-satu­nya yang masih ting­gal. Enam rupiah. Kemu­dian ia mem­beli bawang merah dan cabe rawit. Ter­a­mat sakit hati­nya karena ia tak punya botol cuka. Sampai di rumah, barang-barang itu dise­m­bu­nyi­kan­nya di bawah bale agar tak keta­huan oleh anak-anak­nya yang lain. Kemu­dian disu­r­uh­nya gadis Sala­mah ke kota.

Dan di kala gadis Sala­mah menuju ke seta­siun trem peng­ha­bisan — jam dua belas liwat sedi­kit — palu telah ter­ke­tuk di peng­a­dilan. Hukuman mati dija­tuh­kan pada Saaman bin Paijan.

Dengan muka pucat dan bibir kering pemuda itu mening­gal­kan gedung peng­a­dilan dii­ring­kan oleh M.P. Kedua tangan­nya ter­be­lenggu rantai besi. Dalam mobil kurung ia diang­kut ke pen­jara yang sudah dua kali dila­lui kaki tua emak­nya.



Bagian Keempat

Jalanan Ibu Kota dan Harga Diri (1950-an)

Midah Si Manis Bergigi Emas

Berita dari Kebayoran

Tanpa Kemudian

Makhluk di Belakang Rumah


Roman

Midah Si Manis Bergigi Emas

Terbit pertama 1954. Teks dari edisi Lentera Dipantara.

Bagian Pertama

Kalau mereka kelak pulang ke Ciba­tok1, semua kawan-kawan­nya yang dahulu begitu pena­kut tak berani mer­an­tau ke Jakarta. Pasti akan datang ber­je­jal di rumah dan menga­gumi mereka. Apa­lagi! Kerja di Jakarta. Kumpul-kumpul uang, dan akhir­nya ter­beli juga rumah di Ciba­tok. Bukan rumah bambu seperti kawan-kawan­nya punya. Kayu, sete­ngah tembok! Itu belum lagi. Cita-cita­nya yang ter­be­sar sudah ter­ka­bul pula, dan seka­rang kawan-kawan­nya akan menye­but Haji Abdul. Ah, hidup ini alang­kah manis kalau cita demi cita teram­pas di tangan kiri dan kebe­saran diku­a­sai di tangan kanan.

Itu pun belum selu­r­uh­nya. Midah begitu manis dan montok dan tujuh atau dela­pan tahun lagi dia akan mengu­a­sai selu­ruh hati-muda di seluas daerah Ciba­tok. Dan ia ting­gal pilih saja siapa pemuda yang bakal­nya bisa jadi haji, bisa mengaji begitu meng­ha­ru­kan seperti Syeh Ali Mubar­rak, yang dike­nal­nya di Kairo.

Kairo! Siapa pula di antara kawan-kawan­nya yang pena­kut itu pernah dengar nama itu. Itu pun belum lagi habis. Masih ada kebe­saran yang tidak ter­la­wan­kan: bisa ber­ce­rita sambil ber­bi­sik ten­tang Umi Kalsum2—itu biduan Mesir yang mena­wan hati pen­du­duk di kam­pung-kam­pung Jakarta.

Dan Haji Abdul tidak­lah merugi tiap hari meng­u­cap­kan syukur kepada Tuhan­nya yang telah begitu murah ter­ha­dap­nya—mem­be­ri­nya segala kese­nangan dan kenik­matan yang sejak kecil didam­ba­kan­nya. Dan ia yakin, apa­bila selu­ruh umat sei­ba­dah dir­i­nya, tidak lama lagi—dan dunia benar-benar akan beru­bah men­jadi surga.

Tiap hari ia bawa tubuh­nya yang mulai meng­ge­muk itu pergi ke toko kul­it­nya. Dan di sepan­jang jalan ia pan­dangi lalu lintas yang begitu geli­sah, begitu pon­tang-pan­ting dalam keter­banan nasib manu­sia—ia meng­ge­leng-geleng­kan kepala sambil ber­ja­lan kaki, mendoa dengan seju­jur hati­nya.

“Sudi kira­nya Tuhan meng­am­puni kemur­ta­dan mereka. Beri­lah mereka bim­bingan, dan cair­kan panas­nya hawa nafsu mereka. Tidak­kah engkau lepas­kan mereka dari sik­saan tung­gang lang­gang tiap hari di jalan-jalan besar yang begitu ramai?”

Dan dengan sikap­nya yang tenang, ia ang­guk­kan kepala kepada bur­uh­nya yang telah sedia menunggu di depan toko kul­it­nya. Ia per­la­ku­kan semua mereka dengan lemah lembut dan ia beri mereka upah yang patut. Dalam hal ini semua ting­kah laku­nya ikut meng­gan­tung­kan jalan­nya per­u­sa­ha­an­nya. Ia tak perlu takut meng­ha­dapi per­sa­ingan dari pihak peng­u­saha asing maupun sebang­sa­nya. Ia tetap per­caya kepada kemu­r­ahan Tuhan­nya dalam usaha yang baik dan jujur.

Sore hari ia pulang kem­bali ke rumah di antara anak­nya si Midah dan bini­nya. Sudah dapat diten­tu­kan ia duduk di kursi goyang sambil men­de­ng­ar­kan piring hitam yang mem­ba­wa­kan suara Umi Kalsum kepa­da­nya. Juga sudah dapat diten­tu­kan Midah duduk di pang­ku­an­nya, dan ia meng­e­lus-elus pipi­nya yang montok sambil meres­tui sela­mat dalam hati­nya.

Keya­kin­an­nya kepada Tuhan­nya telah menye­di­a­kan jalan-jalan yang tegas dan menuju ke arah yang pasti bagi Haji Abdul. Kete­gasan, kepas­tian, ditam­bah dengan keya­kinan pada keba­ikan menye­bab­kan ada sesu­atu keku­atan pada­nya yang sang­gup menun­duk­kan daerah seling­kung­an­nya. Dan karena kei­man­an­nya juga ia tak pernah men­cu­r­i­gai siapa pun. Ia bahkan tidak mau—seka­li­pun hanya dalam otak belaka—ber­pi­kir jahat kepada orang lain. Jiwa­nya tidak pernah ter­siksa oleh keku­sutan dan keko­toran piki­ran­nya. Hati­nya selalu aman.

Kei­ng­in­an­nya untuk mem­pu­nyai anak lagi, selalu ditin­das­nya. Apa­bila Tuhan telah menak­di­r­kan, demi­kian selalu ia ber­pen­da­pat, pada suatu kali yang baik dia akan datang ke rumah kami untuk men­jadi anak kami.

Hingga Midah beru­mur sem­bi­lan tahun, anak baru itu tak juga datang. Dan sewaktu umur Midah ber­tam­bah seta­hun lagi, anak baru itu tak juga datang. Mulai saat itu kebim­bangan mera­yap dalam hati­nya. Bahkan sekali ia pernah meng­u­cap­kan kata-kata:

“Biar­lah semua aku kur­bankan, asal­kan men­da­pat anak lagi—ter­u­tama lelaki.”

Dan seha­bis meng­u­cap­kan kata-kata itu ia menye­but lagi bebe­rapa kali. Ia kaget. Ia merasa dir­i­nya murtad dan ingkar janji ter­ha­dap kehen­dak Tuhan­nya. Ia ber­pu­asa. Ia ber­se­de­kah. Tetapi kata-kata itu ter­le­pas dan takdir Tuhan­nya itu meru­pa­kan dua keku­atan yang ber­pe­rang dalam sanu­ba­ri­nya. Ia menye­sal terus. Ber­kali-kali sem­bah­yang­nya gagal dan ter­paksa ia ulangi dari per­mu­laan, apa­bila seperti kilat kata-kata ter­le­pas itu menyam­but hati­nya. Dan ia meng­gi­gil takut pada murka Tuhan­nya. Ia merasa sudah mene­rima seba­gian ter­be­sar dam­ba­an­nya dari Tuhan. Dan kini ia syukur sepe­nuh hati­nya. Bebe­rapa malam ia tidak bisa tidur, dan untuk mem­bo­hongi tun­tutan kei­man­an­nya dari kemung­kinan murka Tuhan­nya, ia terus-mene­rus ber­zi­kir. Kadang-kadang hingga mata­hari yang kema­rin telah datang lagi di ufuk timur.

Pada suatu hari istri­nya datang kepa­da­nya dan ber­bi­sik: “Tuhan telah menga­bul­kan per­min­ta­anmu. Aku mengan­dung.”

Sede­kah besar-besaran dia­da­kan. Dan waktu bang Sarean siap hendak meng­u­mum­kan hajat Haji Abdul, yang akhir ini belum juga berani menam­bah­kan kepada bang Sarean, bahwa sede­kah itu pun dimak­sud­kan untuk meng­u­cap­kan syukur bukan saja karena kehen­dak­nya ter­ka­bul tetapi juga karena Tuhan telah meng­am­puni kemung­ki­ra­n­nya.

Kem­bali Haji Abdul mem­per­o­leh keper­ca­yaan dir­i­nya, seka­li­pun belum lagi sera­tus persen. Kan­dungan istri­nya menye­bab­kan ia mem­per­buat sesu­atu yang sangat dile­bih-lebih­kan tidak lain dari­pada imbangan pada kego­ya­han hati kecil­nya. Tapi walau bagai­mana juga, kete­guhan yang dahulu-dahulu telah hilang dari jiwa­nya. Kini ia men­jadi makh­luk, yang setiap sadar merasa celaka, diganggu oleh penye­salan yang tidak habis-habis­nya.

Waktu anak kedua lahir, sekali lagi dia­da­kan pesta besar yang menyita banyak sekali dana per­se­di­aan uang­nya. Tamu datang dari mana-mana. Bahkan kawan-kawan­nya seper­ma­inan di Ciba­tok ia undangi belaka. Selu­ruh biaya per­ja­lanan ditang­gung. Ke sana kemari ia mem­per­li­hat­kan ter­ta­wanya, cerutu dan makanan yang paling mahal ber­e­dar. Lampu meng­hi­asi selu­ruh sudut peka­rang­an­nya, dan malam dibuat men­jadi siang. Ia sambut semu­a­nya dengan senyum ber­dau­lat.

Tetapi waktu pesta telah habis, kege­li­sah­an­nya kem­bali meng­a­muk. Sesal­an­nya karena ucapan yang meng­ing­kari takdir Tuhan­nya meng­in­tip tiap saat ia miliki kesa­daran budi­nya. Akhir­nya anak kedua men­jadi sasaran kege­li­sah­an­nya. Ia lebih­kan segala-gala­nya dari­pada yang ia pernah sedi­a­kan untuk Midah.

Belum seta­hun kemu­dian Haji Abdul men­da­pat anak kembar lelaki. Seta­hun kemu­di­an­nya lagi ia mem­per­o­leh anak perem­puan. Terus mene­rus.



Bagian Kedua

Kelahiran si adik bukan saja meng­gun­cang­kan iman bapak! Juga hati Midah gun­cang kare­na­nya. Tak cukup kata-kata pada­nya untuk meng­u­cap­kan itu. Hanya dalam hati­nya timbul pera­saan yang tidak enak. Sejak kela­hiran si adik, ia tidak men­da­pat­kan per­ha­tian dari bapak. Juga tidak dari emak. Ber­ba­gai lagak dan lagu ia per­li­hat­kan, tapi semua luput.

Seminggu kemu­dian ia demam. Bapak hanya datang seben­tar mem­ba­wa­kan kue. Dan emak masih ter­bu­jur saja di ran­jang di dekat si adik. Midah harus memu­lai yang baru memu­lai tanpa diman­jakan, tanpa duduk di pang­kuan bapak men­de­ng­ar­kan Umi Kalsum. Tanpa segala-gala­nya. Ia ter­le­pas seo­rang diri. Ia hendak kem­bali ke sua­sana manis yang ber­ta­hun-tahun dihi­rup­nya. Tapi sua­sana itu bukan mil­ik­nya lagi-milik adik­nya.

Waktu ia sembuh dari sakit­nya, dengan pipi kempot dan kaki geme­tar melang­kah, ia meli­hat si adik di sisi emak. Emak ter­tawa kepa­da­nya. Tapi mata Midah ter­buka lebar kosong dari segala kesan. Dan bibir­nya tidak ter­buka. Cuma dalam hati­nya terasa: itu dia meram­pas segala-gala­nya yang men­jadi mil­ikku. Ia masih juga men­coba memi­kat per­ha­tian emak. Tetapi tak ia per­o­leh apa yang ia harap­kan. Bapak pun tak sang­gup ia pikat lagi. Seha­bis pulang kerja segera ia meng­gen­dong adik. Tidak men­de­ng­ar­kan Kalsum lagi, tetapi mondar-mandir di kamar emak sambil menya­nyi.

Kebi­a­saan telah menye­bab­kan Midah sering memu­tar gra­mo­fon sen­diri. Kebi­a­saan ini menye­bab­kan ia tidak dapat menik­mati seni suara Mesir itu. Haji Abdul tak tahu bahasa Arab, dan Midah apa­lagi. Seka­li­pun yang akhir ini sudah tujuh tahun bel­a­jar mengaji pada usta­zah Mari­a­mah, belum lagi sang­gup ia ter­je­mah­kan satu kali­mat Arab yang seder­hana pun.

Seha­bis mengaji, atau apa­bila suara Kalsum tak mena­rik hati­nya lagi, ia tak senang lagi ting­gal di rumah. Ia tak men­da­pat sesu­atu lagi dari emak dan bapak­nya—sesu­atu yang dahulu indah dan nikmat. Ia men­cari yang indah dan nikmat itu di luar rumah­nya.

Demi­ki­an­lah kesu­ka­an­nya pada lagu Mesir pada suatu hari mene­mui per­u­ba­han­nya. Dalam peng­em­ba­ra­an­nya di seki­tar Kam­pung Duri1—di mana ia ting­gal sejak dila­hir­kan—ia temui satu rom­bongan peng­a­men kron­cong2, kare­na­nya tidak heran men­de­ngar lagu yang ber­la­inan dengan yang datang dari Mesir itu. Namun sekali ini mem­per­ha­ti­kan dan menik­mat­i­nya —dengan kata-kata yang ia meng­erti—akhir­nya ia ter­ta­wan oleh­nya. Begitu lang­sung sampai ke hati­nya. Begitu tepat mener­je­mah­kan pera­saan dan kema­u­an­nya. Dan ia jatuh cinta pada­nya.

Hingga ber­kilo-kilo jauh­nya ia ikuti rom­bongan peng­a­men itu. Bahkan dia sen­diri, banyak lagi pemuda dan pemudi kecil ber­buat seperti dir­i­nya. Dan dengan diam-diam mereka ini mene­guk habis selu­ruh rang­kaian suara yang keluar dari rom­bongan peng­a­men itu. Bahkan canda sin­diran ang­gota-ang­gota rom­bongan satu sama lain seakan mem­beri silaan yang lepas dari segala kesu­l­itan: hidup yang hanya diper­gu­na­kan untuk meng­a­bdi pada kesu­kaan: kesu­kaan menya­nyi, kesu­kaan mem­bagi kesu­kaan dengan para pen­de­ng­ar­nya.

Tidak disa­dari betul oleh Midah betapa kehi­dupan rom­bongan ini. Midah belum lagi dir­u­sak­kan oleh kehi­dupan . Dan hidup­nya masih bersih belum diko­tori oleh masa­lah-masa­lah dan kesu­l­itan-kesu­l­itan. Dan kehi­dupan rom­bongan peng­a­men ter­le­pas dari kesu­l­itan-kesu­l­itan dan masa­lah-masa­lah seperti diri Midah. Mereka merasa penuh apa­bila telah dapat men­cip­ta­kan rang­kaian suara yang memi­kat hati.

Mereka tidak menge­luh men­da­pat derma sedi­kit. Adanya kesa­maan itu mung­kin yang menye­bab­kan Midah telah merasa ber­satu dengan mereka. Dan per­ga­ulan yang begitu bebas antara satu-sama-lain mem­bang­kit­kan pera­saan-pera­saan baru di hati Midah. Di rumah ia selalu berada dalam keman­isan-keman­isan antara orang tua dan anak, dan bukan antara sesama. Sedang ia meng­hen­daki yang akhir.

Midah tidak ada niat untuk mela­wan ikatan rom­bongan peng­a­men. Ia terus meng­i­kuti, dari Kam­pung Duri hingga Glodok dan dari Glodok ke Pasar Baru. Waktu mata­hari telah teng­ge­lam, baru ia merasa takut pada orang tuanya. Sese­gera ia melom­pat ke atas trem dan pulang ke rumah.

Emak dan bapak tidak marah oleh keter­lam­bat­an­nya.

Bahkan bapak tak ber­ta­nya sama sekali ke mana saja ia pergi sehari-harian itu. Dan kee­sokan hari­nya Midah men­coba men­cari rom­bongan itu, tetapi tidak dida­pat­nya. Di Glodok dibe­li­nya piringan-piringan hitam lagu-lagu kron­cong dan diba­wa­nya pulang. Waktu ia memu­tar Jali-jali, emak tidak mene­gur. Bahkan babu dan jongos kegi­rangan dan meru­bungi gra­mo­fon itu. Satu demi satu dari piringan hitam­nya ia putar. Dan tiap kali lagu kron­cong mem­bum­bung dari pesa­wat itu terasa kem­bali sua­sana mereka yang begitu manis, begitu lang­sung, begitu khas dari rom­bongan peng­a­men. Dikala orang lain telah merasa bosan, ia masih ting­gal seo­rang diri, meni­ru­kan lagu-lagu itu. Apa­bila benar bahwa tiap orang dila­hir­kan ke dunia dengan hadiah bakat, Midah ter­nyata mem­pu­nyai bakat juga. Dan bakat­nya adalah menya­nyi. Empat piringan ia beli dan sehari itu ia telah hafal dela­pan buah lagu dengan tidak menya­lahi irama.

Sedang ia asyik ber­nya­nyi meng­i­kuti gra­mo­fon, tiba-tiba bapak pulang dari toko. Men­de­ngar Moresko3 mela­yang-layang di rumah­nya, jauh-jauh bapak sudah ber­te­riak dengan suara kejam:

“Haram! Haram! Siapa memu­tar lagu itu di rumah?”

Dan waktu dili­hat­nya Midah masih asyik meng­iringi lagu itu, ia tampar gadis itu pada pipi­nya. Midah ter­ja­tuh di lantai. Keka­ge­tan lebih terasa pada­nya dari­pada kesa­kitan. Ia pan­dangi bapak­nya yang ber­mata merah di depan­nya, kemu­dian dengan keta­kutan ia bangun. Ia mena­ngis per­la­han. Dan waktu dili­hat mata bapak­nya masih men­de­li­ki­nya, ia men­je­rit keta­kutan.

“Siapa meng­a­jari engkau menya­nyi lagu haram ini?” Tangan­nya telah mela­yang untuk sekali lagi men­da­rat di kepala Midah.

Midah tak men­ja­wab. Ia lari men­cari per­lin­dungan pada emak­nya. Bapak mem­bu­ru­nya ke kamar emak dan ber­te­riak:

“Siapa yang meng­a­jar? Jawab! Kalau tidak, aku ban­ting kau di lantai.”

Emak tidak melin­dungi Midah, hanya meman­dangi dua orang itu dengan mata kosong dari segala kesan. Akhir­nya gadis itu men­cari jalan dari pintu lain dan mela­ri­kan diri ke dapur men­cari per­lin­dungan pada babu. Tapi bapak belum lagi reda dari ama­rah­nya. Ia buru Midah. Tapi babu mem­beri per­lin­dungan anak itu satu per­lin­dungan yang kuat.

“Kau yang meng­a­jari?” teri­ak­nya pada babu.

“Tidak bang Haji. Dia sen­diri.”

“Haram! Haram! Pasti ada yang meng­a­jari.”

Tidak ada orang yang bisa men­ja­wab tuduhan bang Haji. Dan karena ama­rah­nya tidak dapat dita­han­nya lagi, semua orang yang bekerja di dapur diu­sir­nya hari itu juga.

Peris­tiwa itu ditu­tup oleh kegun­cangan baru yang ter­jadi dalam sanu­bari, harap­an­nya dan keya­kin­an­nya akan kebe­sar­an­nya. Bayangan sam­butan kawan-kawan­nya kelak bila mereka pulang ke Ciba­tok ikut ter­gun­cang. Malam itu seha­bis ber­se­m­bah­yang ia terus mene­rus ber­zi­kir hingga subuh tiba dan ia ber­se­m­bah­yang isya. Sebe­lum pergi bekerja dipe­san­nya bini­nya agar men­jaga Midah.

Peris­tiwa itu, buat Midah, telah meng­gun­cang­kan ang­gap­an­nya selama ini ter­ha­dap ayah dan emak­nya. Ia menyak­si­kan betapa amarah bapak telah menye­bab­kan piringan-piringan yang begitu ia cintai, baru kema­rin pula dibeli dan men­jadi mil­ik­nya, pecah belah tak ter­to­long lagi. Sekali hentak ia telah men­jadi gadis kecil liar. Bebe­rapa hari itu ia mengu­rung diri di dalam kamar­nya. Ia malu pada emak­nya. Ia malu pada tetang­ga­nya. Ia malu pada segala-sega­la­nya.

Dan juga yang lebih hebat dari­pada itu: ia takut pada bapak. Bapak yang bebe­rapa tahun yang lalu masih mem­be­lai-belai pipi­nya di kursi goyang sambil men­de­ng­ar­kan Umi Kalsum.

Ber­tam­bah banyak adik gadis Midah, ber­tam­bah jauh dia ter­ce­rai dari kedua orang tuanya. Kadang-kadang ia dengar ia dila­mar. Kemu­dian sete­lah ter­be­tik berita peno­lakan lamaran, ia tak dengar apa-apa ten­tang dir­i­nya mela­lui pen­da­pat orang lain. Suatu malam emak datang ke kamar­nya dan ber­ce­rita dengan irama rendah tenang.

“Midah, seka­rang engkau sudah besar. Seben­tar lagi kawin. Jangan kira engkau tidak cantik. Sudah banyak bapakmu mene­rima lamaran. Tapi bapakmu hanya mau mene­rima lamaran kalau ada Haji dari Ciba­tok yang menge­r­ja­kan­nya.”

Tentu saja cerita seperti itu tidak patut dija­wab bagi seo­rang seperti Midah yang telah men­jadi liar oleh pera­saan malu dan takut.

“Seka­rang haji yang diha­rap­kan itu datang mela­mar pada bapakmu. Ia punya sawah banyak, kerbau ber­pu­luh-puluh, iba­dat­nya kuat. Ah, engkau akan men­da­pat suami yang baik, yang takut pada Tuhan.”

Demi­kian pada suatu hari yang men­dung, Midah dika­win­kan dengan haji Terbus dari Ciba­tok—seo­rang yang ber­per­a­wakan gagah, tegap, ber­ku­mis lebat, dan lang­kah­nya yang tidak pernah berisi kebim­bangan, menan­da­kan ia seo­rang lelaki yang mahir dalam meme­rin­tah, dan biasa hidup dalam keka­yaan.

Di tangan lelaki ini Midah tak ubah­nya dengan sejum­put tem­ba­kau. Ia bisa dipi­lin pendek dipi­lin pan­jang, dipi­lin dalam ber­ba­gai bentuk. Di daerah, di mana dahulu bapak­nya dila­hir­kan, ia merasa seba­gai seba­tang tung­gul ter­pan­cang di tengah-tengah padang. Apa­lagi sete­lah dike­ta­hu­i­nya bahwa Haji Tebus bukan bujang dan bukan muda. Ini dike­ta­hu­i­nya waktu ia mengan­dung tiga bulan.

Waktu ia tidak sang­gup lagi menang­gung sega­la­nya, dengan diam-diam ia kem­bali ke Jakarta. Tetapi tak berani ia terus lang­sung ke rumah orang tuanya. Mula-mula sekali ditu­ju­nya adalah rumah babu yang pernah mem­be­ri­nya per­lin­dungan ter­ha­dap pukulan bapak­nya.

“Meng­apa engkau tak lang­sung pulang ke rumah orang tuamu?” Riah—bekas babu­nya itu—ber­ta­nya.

“Takut.” Ia men­ja­wab.

Riah sejak dahulu kasih kepa­da­nya. Dipan­da­ng­i­nya Midah lama-lama dengan rasa kasihan meman­car-mancar pada mata­nya.

“Sega­nas-ganas macan, dia takkan mema­kan anak­nya sen­diri. Mari aku antar­kan.”

“Aku takut”

“Engkau begitu kurus dan hijau. Engkau mengan­dung?”

Midah meng­ang­guk.

“Apa pen­da­patmu kalau aku sen­di­r­ian datang ke rumah orang tuamu?”

Dan Midah tak dapat memi­lih mana yang harus dise­tu­ju­i­nya.

“Baik­lah. Seben­tar aku pergi ke sana. Midah, tidur-tidur­an­lah engkau di bale.”

Dan sete­lah menye­di­a­kan kopi, Riah pergi ke rumah orang tua Midah.

Sebe­lum­nya sudah tahu­lah Riah bahwa bang Haji takkan mung­kin bisa mene­ri­ma­nya dengan baik, apa­lagi ber­te­ri­ma­ka­sih. Ia tahu kega­rangan orang itu di hari-hari bela­kangan. Per­da­gang­an­nya yang mundur, anak­nya yang ber­tam­bah banyak juga, hutang­nya yang mulai mening­kat- semua itu menye­bab­kan orang itu seakan pisau cukur yang kehi­langan sarung­nya dan tiap waktu bisa melu­kai orang.

Mula-mula Riah disam­but dengan sikap tidak peduli. Kemu­dian mulai­lah perem­puan itu mem­per­ke­nal­kan maksud-mak­sud­nya:

“Bang Haji, anak bang Haji—si Midah—seka­rang ada di Jakarta.”

“Kurang ajar! Meng­apa tidak terus pergi ke rumah orang tuanya?”

“Takut.”

“Takut? Meng­apa takut?”

“Karena seo­rang diri.”

“Ming­gat dari laki­nya?”

Riah tidak men­ja­wab. Dan pem­bi­su­an­nya adalah peng­i­a­an­nya atas per­ta­nyaan itu.

“Anak Haji Abdul tidak bakal lari dari rumah laki­nya. Anak Haji Abdul didi­dik baik. Engkau yang jadi biang keladi kalau ter­jadi seperti ini.”

“Baik­lah, aku sam­pai­kan kepa­da­nya apa yang bang Haji kata­kan kepa­daku.”

“Di mana dia seka­rang?”

“Ada di Jakarta.”

“Di rumahmu?”

“Tidak. Di Jakarta.”

“Awas! Engkau yang bakal ditang­kap polisi kalau ada apa-apa. Suruh dia kemari, biar dia kenal siapa bapak­nya.”

Riah segera pulang. Dida­pat­i­nya Midah sedang menyapu. Ia tak tahu apa yang harus dika­ta­kan­nya. Ber­u­lang-ulang Midah ber­ta­nya kepa­da­nya bagai­mana pen­da­pat bapak­nya.

Waktu dili­hat­nya perem­puan itu ber­diam diri terus, tahu­lah ia bahwa kea­da­an­nya telah tentu. Namun semen­tara itu ancaman bang Haji Abdul tidak­lah menim­bul­kan kegen­taran dalam hati­nya. Ia patah hati karena keper­ca­ya­an­nya pada keba­ikan dir­e­muk­kan oleh orang lain.

“Baik­lah, kalau begitu aku men­coba men­cari kerja,” kata Midah malam itu.

“Seperti aku tak pernah bun­ting, Midah,” bantah Riah. “Baru saja engkau bangun dari jong­kok matamu ber­ku­nang-kunang. Kalau tak ada benda tempat engkau ber­pe­gangan engkau rubuh di tanah. Dan kalau engkau muntah—ah, aku kira segera tuanmu akan meng­u­sir.”

“Tapi mesti kucoba.”

“Apa yang engkau bisa?”

Midah kaget. Ia memi­kir dan men­coba meng­erti sesung­guh­nya yang bisa ia ker­ja­kan.

“Jadi babu aku bisa,” akhir­nya dengan suara rendah ia men­ja­wab.

“Itu tidak baik bagi dirimu. Engkau cantik, lagi­pula tidak bisa dipe­rin­tah orang. Engkau gam­pang ter­sing­gung dan tidak cekatan.”

Mereka tidak men­da­pat­kan kata sepa­kat. Akhir­nya Riah ber­ce­rita:

“Ber­ta­hun-tahun aku mem­bu­jang pada bapakmu. Begitu baik tadi­nya. Aku masih ingat bagai­mana engkau diman­jakan. Bagai­mana ia ber­bangga kian-kemari, engkau adalah anak yang paling sem­purna di antara semua anak-anak yang ada. Ia bangga karena tidak ada anak lain yang begitu diman­jakan seperti engkau.”

Midah men­de­ng­ar­kan. Ia men­coba men­cari dir­i­nya sen­diri dalam cerita itu. Yang dite­mu­i­nya hanya­lah masa manis yang telah habis dir­e­guk­nya—dahulu. Antara seben­tar Riah ber­ce­rita ten­tang keka­yaan orang tuanya—juga keka­yaan itu juga yang kian lama kian susut. Tapi itu tidak mena­rik per­ha­tian Midah. Ia telah biasa hidup dalam keme­wahan baik di tempat orang tuanya sen­diri maupun di tempat sua­mi­nya, dan kini keka­yaan dan keme­wahan itu bukan barang yang mena­rik hati­nya.

Akhir­nya cerita itu sampai pada babak lain:

“Dan seka­rang anak manis yang dahulu diman­jakan begitu rupa men­jadi—” ia pan­dangi Midah, tetapi Midah ter­se­nyum meng­hi­bur­nya—“aku tak tahu apa harus kuna­mai kea­da­anmu seka­rang ini!”

Akhir­nya cerita itu sampai pada babak lain:

“Baik? Begini baik?”

“Seti­dak-tidak­nya ada keka­yaan yang ter­bawa olehku.”

“Engkau? Mem­bawa keka­yaan?”

“Ya, dalam kan­dung­anku.”

“Midah! Midah! Lebih baik kuat­kan hatimu, dan mari aku antar­kan kepada orang tuamu. Itu jalan yang paling gam­pang dan sela­mat. Engkau takkan mung­kin hidup di tem­patku ini, engkau yang biasa hidup gam­pang.”

Orang seba­gai Riah yang tak ada lain modal­nya dari­pada keju­jur­an­nya sen­diri, selalu men­coba ber­buat baik untuk orang lain, tidak bisa meng­erti apa­bila Midah akan meng­am­bil jalan yang lebih susah untuk peng­hi­dup­an­nya sen­diri dan bakal anak­nya.

“Riah, jangan engkau kha­wa­tir-aku tidak akan mem­be­rat­kan tang­gung­anmu. Untuk bebe­rapa hari ini biar­lah aku coba-coba men­cari peker­jaan.”

“Kalau ketemu orang tuamu?”

“Emak tidak pernah keluar rumah kalau tidak pergi ke per­al­atan. Dan bapak selalu ada di toko­nya.”

“Matamu ber­si­nar-sinar. Engkau punya jalan sen­diri nam­pak­nya.”

Dan Midah ter­ke­nang pada rom­bongan kron­cong. Kini tarikan untuk mema­suki kehi­dupan tanpa kesu­l­itan itu makin terasa. Kehi­dupan yang hanya meng­a­bdi kepada kenik­matan, kegi­rangan, dan keri­aan diting­kah kron­cong.

“Seti­dak-tidak­nya orang yang kenal padamu akan ber­ta­nya pada orang tuamu.”

Sinar di mata Midah seka­li­gus padam. Tapi tarikan itu masih begitu terasa.

“Jadi, apa nasi­hatmu, Riah?”

“Sesung­guh­nya, apa yang akan engkau ker­ja­kan?”

Tapi Midah tidak berani mem­per­ke­nal­kan niat­nya. Ia tahu dengan pasti, bahwa juga Riah akan men­ce­mo­oh­kan pilih­an­nya. Karena itu ia bera­ni­kan diri.

“Meng­apa tidak engkau jawab? Ah, Midah, aku takut─takut sekali kalau engkau sampai ter­ge­lin­cir di dalam kehi­naan.”

“Kehi­naan? Men­jual diriku?”

“Ya.”

Midah ter­se­nyum. Gigi­nya putih gemer­lapan.

“Ah-ah, itulah yang aku takuti. Dengan senyummu itu run­tuh­lah iman lelaki yang meli­hatmu.”

Midah menyeka senyum­nya dengan tangan. Dan ia meng­ge­leng­kan kepala.

“Itu tidak akan ter­jadi atas diriku.”

“Kalau begitu, apa yang hendak kau ker­ja­kan?”

“Besok atau barang­kali lusa, atau barang­kali juga engkau takkan menge­ta­hui apa yang hendak kuker­ja­kan.”

“Midah, orang tuamu adalah orang-orang yang mena­ati perin­tah Tuhan. Dan aku harap engkau takkan men­ja­uhi jalan mereka.”

Sekali lagi Midah ter­se­nyum. Dan hati­nya pun ter­se­nyum meng­ha­dapi hari besok, harap­an­nya pun ter­se­nyum. Dan kal­bu­nya ber­bi­sik pada­nya:

“Untuk anak ini─biar dia pilih sen­diri kelak apa dike­hen­dak­i­nya.”

Ia masih ingat betapa sakit hati­nya ter­ha­dap ayah­nya atas tin­dak­an­nya dahulu: piring-piringan hitam kron­cong yang dicin­ta­i­nya dita­rik dengan kasar­nya kemu­dian diban­ting­kan ke lantai: pecah belah.

“Dan untuk engkau,” kata­nya kepada makh­luk yang ber­sang­gar di bawah jan­tung­nya, “segala-gala­nya ter­se­dia untuk memi­lih sen­diri yang kau kehen­daki.”

Dengan kepu­tusan itu hilang lenyap selu­ruh kese­dih­an­nya, pera­sa­an­nya akan kego­ya­han nasib­nya, keta­kutan dan keli­ar­an­nya. Ia sen­diri kini telah memi­lih yang diang­gap­nya sebaik-baik­nya untuk dir­i­nya sen­diri. Rerak kebim­bang­an­nya. Dan ia merasa di depan­nya telah ter­se­dia jalan yang akan dila­lu­i­nya.



Bagian Ketiga

Dengan semua uang yang diba­wa­nya dari rumah sua­mi­nya, dengan meng­a­tasi kemu­a­lan perut dan pening kepa­la­nya, sejak pagi ia telah minta diri dengan Riah. Ber­u­lang-ulang ia meng­u­cap­kan teri­ma­ka­sih­nya atas per­to­longan perem­puan yang hanya per­caya kepada keba­ikan itu. Dan Riah ber­u­lang-ulang pula ber­pe­san bila ter­jadi halangan hen­dak­nya segera datang kepa­da­nya.

Mula-mula ia jalan kaki. Bila capek ia meng­aso atau naik trem. Mata­nya men­ja­lang meman­dangi keli­ling­nya. Tetapi yang dica­ri­nya belum tersua jua. Tidak banyak yang dipinta oleh hati­nya, juga tidak banyak ren­cana yang teren­tang dalam kepa­la­nya. Hanya satu: hen­dak­nya hari ini ia dapat mene­mui rom­bongan kron­cong, atau rom­bongan lain yang sejiwa dengan itu.

Glodok, Pasar Baru, Jati­ne­gara, Senen, Sawah Besar, Tanah Abang, Priok. Berjam-jam ia mondar-mandir. Tetapi rom­bongan yang sesuai dengan hati­nya belum juga dite­mu­i­nya. Lebih dari empat kali ia minum es di ping­gir jalan. Hari sema­kin habis dima­kan kegi­at­an­nya. Tetapi yang dica­ri­nya masih juga belum tersua.

Waktu malam tiba, ia mulai ragu. Ia tak ingin sece­pat itu kem­bali ke rumah Riah. Ia malu. Ia merasa belum lagi men­coba segala-gala­nya. Akhir­nya ia mem­be­ra­ni­kan diri masuk ke dalam hotel kecil.

Ia banyak men­de­ngar cerita ten­tang keme­suman di hotel-hotel. Karena itu tidak henti-hen­ti­nya ia mendoa. Tiap kali ia dengar lang­kah kaki di depan pin­tu­nya ia men­ce­pat­kan doanya. Dan waktu tak ter­ta­han­kan lagi kan­tuk­nya, ia tepuk perut­nya lambat-lambat, ber­bi­sik:

“Dihin­dar­kan­lah engkau hen­dak­nya dari segala ben­cana.” Ia ulang-ulangi bisik­an­nya itu untuk mem­per­o­leh keya­kinan lebih banyak. Akhir­nya ia jatuh ter­ti­dur. Pagi-pagi benar ia telah bangun dan segera lari ke kamar mandi untuk mem­bu­ang mun­tah­nya. Dan sete­lah ber­pa­kaian, terasa oleh­nya betapa pegal semua ang­gota tubuh­nya. Kem­bali ia usap perut­nya, ber­bi­sik:

“Kita seka­rang ber­ja­lan lagi, Nak. Engkau adalah makh­luk yang mem­ba­wa­kan keja­yaan bagi orang tua. Engkau mem­ba­wa­kan kese­la­matan, rezeki, dan keba­ha­gi­aan.”

Baru­lah ia mulai dengan usa­ha­nya.

Di Senen ia temui rom­bongan kron­cong yang agak besar. Ia mulai meng­i­kuti. Ia men­coba-coba hendak mene­gur dan menya­ta­kan kei­ng­in­an­nya, tetapi kebe­ra­ni­an­nya tidak cukup untuk itu. Ia hanya meng­i­kuti dari bela­kang ke mana pun rom­bongan itu ber­ge­rak. Kadang-kadang ia lihat salah seo­rang di antara mereka mema­suki res­to­ran dan meng­u­lu­r­kan peci­nya meminta sede­kah. Mula-mula jijik meli­hat per­bu­atan itu. Tapi akhir­nya ia menya­dari kesom­bongan yang tidak lagi ber­laku dalam kea­da­an­nya seperti seka­rang. Sekali ia lihat betapa rom­bongan itu diusir dengan ganas­nya oleh seo­rang yang sedang makan besar di res­to­ran. Ia sangat ter­ke­jut dan takut.

“Begitu dihi­na­kan!” teriak hati­nya. Sedang mereka tidak­lah meng­e­mis. Mereka mem­bagi keri­ang­an­nya kepada pen­de­ng­ar­nya dan minta per­ha­tian dari si pen­de­ngar dengan seka­dar peng­har­gaan.

Kemu­dian ia meng­erti, bahwa tidak semua orang sudi beri­ang dengan rom­bongan orang asing yang tidak dike­nal­nya.

Peng­er­tian itu mem­buat ia mema­af­kan. Dan ia ingat dir­i­nya sen­diri. Mung­kin aku pun sering menying­gung pera­saan orang karena tak adanya peng­er­tian padaku. Ia mulai meng­i­ngat-ingat. Akhir­nya yang mula-mula ter­i­ngat adalah bapak­nya sen­diri yang untuk selama-lama­nya takkan dilu­pa­kan­nya: tin­dakan yang satu itu! tin­dakan yang meram­pas kese­nangan dari­pa­da­nya. Dan apa yang diper­bu­at­nya sen­diri hingga menying­gung pera­saan orang lain lain tak dapat ia menge­nang­kan­nya kem­bali. Ber­kali-kali ia men­coba, tetapi tidak bisa. Kemu­dian ia meng­hi­bur dir­i­nya dengan ucapan yang biasa itu: kekhi­lafan sudah sifat­nya manu­sia. Dan dengan itu sele­sai­lah pemi­ki­ran­nya. Kem­bali per­ha­ti­an­nya ter­tuju pada rom­bongan kron­cong yang ada di depan­nya.

Ah itu musik! Itu lagu! Itu kein­dahan! Itu kebe­basan, keri­angan, keba­ha­gi­aan─ter­ku­rung dalam ketum­pu­lan manu­sia yang ter­gi­las nafsu-naf­su­nya.

“Barang­kali cuma aku dapat meng­har­gai. Barang­kali aku cuma dapat mera­sa­kan­nya. Aku dan anakku.” Kem­bali ia pegang perut­nya. Midah ingin jadi musik itu sen­diri, yang mem­bu­bung dan mela­yang ke arah tiada ter­a­r­ti­kan.

Tetapi tambah siang hari, tambah jauh rom­bongan itu meng­hin­dari tempat-tempat ramai. Ia tak meng­erti alasan-alasan untuk itu. Namun ia tetap meng­i­kuti. Dan waktu sampai di tempat sepi, mereka ber­henti. Ia tak berani men­de­kat. Ia ber­diri di keja­uhan sambil mene­liti apa yang hendak mereka per­buat.

“Hitung, Min,” perin­tah seo­rang yang menge­pa­lai mereka.

Seo­rang pemuda kurus menge­lu­ar­kan kan­tong dari saku­nya. Uang ditu­ang­kan di atas tanah. Mereka meru­bung. Dan uang pun dihi­tung ber­sama-sama.

Seo­rang perem­puan sete­ngah tua ber­gigi emas meng­an­jur­kan:

“Seka­rang kita makan di warung sana,” tangan­nya menun­juk ke suatu arah.

Orang-orang bangun sete­lah men­da­pat bagi­an­nya masing-masing. Dan waktu rom­bongan berang­kat lagi ke arah yang ditu­ding oleh perem­puan itu, Min masih ting­gal ber­diri di tem­pat­nya sambil meman­dangi Midah. Kedua-duanya ber­pan­dang-pan­dangan. Tapi Min kemu­dian ber­ja­lan lagi meng­i­kuti rom­bong­an­nya.

Midah men­coba ter­se­nyum oleh pan­dangan itu. Tetapi pikat­an­nya belum lagi ber­ha­sil. Dan dalam hati­nya ia ber­janji akan mem­per­ba­iki usa­ha­nya. Kem­bali ia meng­u­sap perut dan ber­bi­sik penuh keper­ca­yaan:

“Tidak, Nak. Engkau tidak akan emak rusak­kan. Tidak, raja, tidak.”

Dengan keper­ca­yaan diri ia melang­kah lambat-lambat meng­i­kuti rom­bongan itu. Di warung tempat mereka makan, ia segera masuk dan meme­san makan. Ia lihat mata pemuda Min, yang juga kurus seperti tubuh­nya itu, tak lepas-lepas meman­da­ng­i­nya. Sekali ia ter­se­nyum, dan senyum itu disam­but oleh Min dengan wajah merah mem­bera. Tetapi pemuda itu tak juga men­de­kat­i­nya untuk mem­buka per­ca­kapan. Akhir­nya kedu­a­nya ber­pan­dang-pan­dangan begitu lama, sehingga pemuda Min lupa pada makanan yang ada di depan­nya.

Tiba-tiba pecah ketawa girang. Ter­de­ngar seo­rang:

Burung pipit hinggap di kawat

Hinggap di kawat di atas rumput.

Perem­puan ber­gigi emas pun mene­rus­kan dengan suara genit­nya:

Kalau hati telah terpikat

Ke mana lagi kalau tak ikut.

Ter­tawa pecah kem­bali. Seba­gian mata meman­dang pada Min seba­gian pada Midah. Kedua-duanya mem­bera. Min malu karena tahu ada wanita jatuh cinta pada­nya. Dan Midah malu karena diper­o­lok­kan orang di depan umum. Tapi ia ber­pen­da­pat, inilah jalan satu-satu­nya yang ramah yang mem­be­ri­nya kesem­patan untuk men­jadi seba­gian dari mereka. Ia tak merasa adanya sakit hati oleh olokan itu. Ia rasai kebe­basan pantun yang segera mengena di pera­sa­an­nya. Tangan­nya diang­kat­nya dari meja dan ditu­run­kan di atas perut­nya. Pada anak di bawah jan­tung itu ia men­cari keku­atan dan kei­manan.

“Jawab, Min, jawab!” tukang gen­dang meng­an­jur­kan.

Min ber­gu­lat mela­wan kemalu-malu­an­nya. Wajah­nya yang mem­bera-bera, tetapi ia mulai ber­diri dan men­cari kata-kata. Kemu­dian:

Surabaya ada di Wetan, Pasar Turi nama pasarnya.

Mana ada hati yang tahan, kalau si dia gini manisnya.

Waktu ter­tawa pecah kem­bali sudah ber­kali-kali Midah men­cari keku­atan pada anak­nya.

“Seka­rang saat­nya,” pikir­nya. Dan sete­lah ter­se­nyum meman­dangi rom­bongan itu seo­rang demi seo­rang ia pun menya­nyi­lah dalam pantun jawaban:

Petir Cibatok menyambar tiang, tiang besi di tengah bolong.

Pikir-pikir habis dipikir, memang diri dimabuk kroncong.

Dalam menya­nyi itu ia merasa dir­i­nya telah ada di depan kha­la­yak. Ia telah merasa diri jadi sri pang­gung. Orang men­de­ng­ar­nya dengan penuh kecu­cukan. Kefa­sih­an­nya dalam ber­pan­tun mem­bang­kit­kan kehe­ranan mereka. Waktu pemim­pin rom­bongan datang meng­ham­pir­i­nya, nampak seri cem­buru meman­car di wajah Min dan perem­puan ber­gigi emas.

“Kalau kacang jatuh di lumpur,” seo­rang mulai ber­den­dang.

“Diam dulu,” perin­tah kepala rom­bongan. Dan pada Midah ia ber­ta­nya:

“Pernah ikut main kron­cong sesin­diran?”

Midah meng­ge­leng.

“Bagai­mana bisa ber­sin­diran?”

Midah meng­u­sap-usap perut­nya. Men­ja­wab sejadi-jadi­nya:

“Begitu saja.”

“Sua­ramu begitu bagus.” Sete­lah menun­juk perem­puan sete­ngah tua ber­gigi emas, ia mene­rus­kan: “Dia sudah tua, tidak mena­rik pen­de­ngar lagi. Sua­ra­nya pun tak seba­gus engkau.”

“Apa? Habis manis sepah dibu­ang!” teriak wanita ber­gigi emas itu.

“Nanti dulu, Nini. Biar aku bicara sama orang ini.”

“Kalau engkau ambil dia dalam rom­bongan, seka­rang juga aku pergi.”

“Sabar, Nini. Kalau engkau begitu cem­bu­r­uan, aku takut engkau jatuh jadi peng­e­mis di Pasar Senen.”

“Biola itu aku punya,” bantah Nini. “Sonder biola, kalian boleh mere­ngek-rengek minta hujan!”

“Jangan deng­ar­kan dia,” orang itu mena­si­hati Midah. “Mau engkau ikut rom­bongan?”

Midah meng­ang­guk, dan dalam hati­nya ia ber­syu­kur kepada Tuhan­nya─Tuhan bapak­nya juga.

“Kapan mau mulai ikut?”

“Seka­rang juga.”

“Bang­sat! Kau kira apa aku ini?” teriak wanita itu. “Cuma satu perem­puan boleh ikut dalam rom­bongan. Tidak boleh lebih.”

“Nini! Di sini aku kepa­la­nya. Bukan engkau!”

“Sini bio­laku!” teriak Nini. Dan sete­lah men­da­pat barang­nya ia pergi mening­gal­kan rom­bongan. Sua­sana yang ter­pe­cah belah timbul dalam rom­bongan itu.

“Dan dia belum lagi bisa main biola,” keluh Min dan mene­rus­kan makan­nya.

Yang ting­gal tak mem­buka mulut­nya.

Akhir­nya kepala itu ber­bi­sik sete­ngah menge­luh:

“Kalau lusa dia kela­paran, dia akan cari kita lagi. Kan kalian setuju kalau ada yang baik sua­ra­nya?”

Yang lain-lain meng­ang­guk. Hanya Min meng­ang­guk lebih dalam.

“Babi-babi itu tidak meng­erti musik. Baru kalau ada yang manis dia meng­erti. Bagai­mana pen­da­patmu semua?”

“Setuju,” suara ber­ba­reng yang lesu.

“Aku tahu kalian kehi­langan sedi­kit dari sema­ngat kalian karena keper­gian Nini. Tapi yakin­lah, lusa dia akan men­cari kita.”

“Tapi apa kata kelu­ar­ga­nya?” tanya sese­o­rang.

“Ya, bagai­mana pen­da­pat kelu­ar­gamu nanti,” tanya kepala itu.

“Tidak punya kelu­arga.”

“Tapi pakai­anmu begitu baik. Engkau masih ber­cin­cin emas. Tasmu dari kulit baik dan tidak begitu jelek.”

“Aku sen­diri punya.”

“Kalau ada yang meng­a­dukan kami pada polisi?”

“Meng­apa?”

“Mela­ri­kan orang.”

“Biar­lah aku sen­diri yang cerita pada itu polisi.”

Diam-diam mereka mene­rus­kan makan lagi. Tiba-tiba:

“Aku? Ah.” Midah tidak bisa mene­rus­kan. Seka­li­gus ter­ba­yang segala-gala­nya, dan ter­u­tama yang tidak menye­nang­kan, dalam sanu­ba­ri­nya. Tak pernah kega­rangan dan keke­ra­san bapak­nya nampak begitu jelas pada waktu itu. Dan ketak­pe­du­l­ian emak­nya melela mem­babi buta. Kemu­dian kelu­na­kan sikap­nya sen­diri ter­ha­dap si anak yang ada di bawah jan­tung­nya kini. Ber­bagi kenangan yang tak sedap datang seka­li­gus. Riah pun muncul dalam ing­at­an­nya. Dan segala pesan­nya kem­bali mem­per­i­ng­at­kan dir­i­nya agar jangan sampai ter­ge­lin­cir.

“Ah. Meng­apa malu menye­but nama?” Seo­rang tukang gitar yang ber­mata satu men­coba meno­long kebi­ngungan Midah. “Lihat­lah aku seba­gai contoh. Mataku cuma sebe­lah, dan di rom­bongan ini aku dise­but Mak Pecak. Dan itu,” tangan­nya menun­juk pada pemuda yang dise­but Min, “di sini dia dise­but Mimin Kurus. Perem­puan yang pergi itu Gobang Bolong. Apa­lagi. Si tukang gen­dang yang ada di sam­pingmu itu Dul Gen­dang. Habis per­kara. Dan karena engkau begini manis—memang cocok pantun Min tadi. Engkau memang manis. Jadi kami sebut saja Si Manis.”

Seha­bis makan mereka meng­o­b­rol ten­tang ber­ba­gai hal. Tetapi sela­ma­nya per­ca­kapan tidak pernah meman­jang ber­tele-tele seperti bia­sa­nya. Obro­lan-obro­lan terus-mene­rus dipu­tus­kan oleh per­ha­tian mereka kepada Si manis.

Midah tahu ia men­jadi pusat per­ha­tian. Dalam kesa­dar­an­nya ia ber­niat hendak mem­per­gu­na­kan kesem­patan yang sebaik-baik­nya untuk mere­but tempat dalam rom­bongan. Ia sebar­kan senyum manis­nya. Dan dengan mene­lan segala pera­saan malu­nya ia men­coba ikut meng­o­b­rol ten­tang ber­ba­gai hal.

Tiba-tiba Rois, kepala rom­bongan, mem­per­ha­ti­kan­nya lagi, ber­ta­nya:

“Lagu apa saja engkau bisa?”

“Jali-jali, Kicir-kicir, Moresko, Tele­moyo, Roda Dunia…”

“Itu sudah cukup banyak.”

“Benga­wan Solo1?” tanya Min men­coba-coba mema­tah­kan cem­buru hati­nya.

“Kan tiap orang bisa menya­nyi­kan­nya?”

“Ya, semua bisa menya­nyi­kan­nya.”

“Sudah engkau pikir­kan betul-betul hendak ikut rom­bongan kami?” tanya Rois.

“Tentu saja sudah. Sudah ber­ta­hun-tahun.”

“Jadi sudah kau per­tim­bang­kan bagai­mana kita ini begitu hina di mata orang?”

“Ya, sudah kuper­tim­bang­kan.”

“Apa engkau harap­kan keun­tungan ikut dengan rom­bongan ini?”

Simanis tidak bisa men­ja­wab.

“Engkau mela­ri­kan diri dari rumah?”

Sekali lagi Simanis tidak dapat men­ja­wab.

“Apa­lagi guna­nya ber­ta­nya ten­tang dir­i­nya?” Min menyu­a­ra­kan pen­da­pat­nya. “Lebih baik seka­rang juga kita berang­kat.”

Mereka berang­kat. Kini Simanis men­da­pat kesem­patan ber­nya­nyi di depan umum. Dengan peci Mimin Kurus ia mema­suki res­to­ran-res­to­ran, melem­par­kan senyum ke kiri dan ke kanan. Bukan tidak jarang ia men­da­pat usapan mesra pada pipi­nya. Bahkan sekali ia dita­rik oleh seo­rang untuk ikut duduk seben­tar mene­man­i­nya makan. Ia tidak mem­ban­tah, dan musik ber­ja­lan terus. Waktu ia ber­nya­nyi untuk seo­rang itu ia men­da­pat lem­baran-lem­baran kertas yang tidak sedi­kit. Ada timbul hidup dalam jiwa Midah. Ada terbit sua­sana hati yang baru, yang belum pernah dia­lam­i­nya selama ini─kebe­basan tanpa ikatan apa pun jua dalam peng­a­b­dian pada kron­cong. Juga ikatan susila seje­nak yang begitu ber­pe­nga­ruh dalam kelu­arga orang, yang mena­mai dir­i­nya baik-baik, lenyap men­da­dak. Bagai­man­a­pun juga ia ber­ge­rak, betapa pun jua ia ber­ting­kah, yang ada hanya kebe­basan, kegair­ahan yang tak ter­a­r­ti­kan.

Demi­kian rom­bongan itu meng­em­bara dari res­to­ran ke res­to­ran. Dan hari itu habis pula dima­kan kegi­atan manu­sia. Seka­rang datang­lah kesu­l­itan bagi Simanis dengan kese­der­ha­naan hati­nya. Satu per­ta­nyaan telah mem­buat pera­sa­an­nya tung­gang lang­gang tak menentu:

“Di mana engkau tidur malam ini?” Mimin ber­ta­nya.

“Dan engkau?” Simanis ber­ta­nya.

“Kami tidur dalam rom­bongan, men­cari peng­i­napan murah. Kami sudah punya peng­i­napan sen­diri—di Jati­ne­gara. Engkau?”

Simanis meng­hi­tung-hitung uang yang ada pada­nya. Untuk meng­i­nap di hotel terus-mene­rus sudah pasti dalam bebe­rapa bulan ini ia akan ambruk seba­gai orang yang miskin. Dan sebe­lum habis meng­hi­tung-hitung telah menye­rang lagi satu per­si­laan:

“Tidur saja dengan kami.”

“Masih ada satu kamar untukku?”

“Sela­ma­nya kami tidur di satu kamar.”

Kem­bali tangan Midah meraba perut­nya dan meminta keku­atan dari anak­nya. Ter­ba­yang dalam kepa­la­nya segala yang akan diper­bu­at­nya oleh bapak dan ibunya apa­bila selu­ruh diri dan jiwa­nya ia serah­kan kepada kehi­dupan rom­bongan ini. Bapak akan ber­te­riak dan menyum­pah-nyum­pah dan ber­zi­kir ber­ma­lam-malam memo­hon kepada Tuhan agar ia segera ditum­pas habis dari­pada mema­lu­kan dir­i­nya. Dan emak akan mena­ngis bebe­rapa menit lama­nya, kemu­dian menye­but tiada habis-habis­nya dan tidak keluar-keluar dari kamar, akhir­nya lupa lagi akan segala-gala­nya yang ter­jadi.

“Ya, engkau tidur dengan kami, dengan aku,” Mimin Kurus mengu­at­kan ucapan kei­ng­in­an­nya. “Tak pernah aku meli­hat perem­puan semanis engkau ini.”

“Engkau begitu muda─masih kanak-kanak.”

“Tiap orang dalam rom­bongan kami sudah dewasa, Simanis!”

“Engkau juga harus meng­ang­gap aku demi­kian.”

Tiba-tiba Haji Terbus datang ke dalam ing­at­an­nya. Begitu per­kasa. Begitu ber­dau­lat, dan perut­nya yang menon­jol ke depan itu begitu menan­tang berisi daya. Seka­rang dide­kat­nya meng­em­bik-ngem­bik kuda kacang ingin meng­gan­ti­kan ben­teng liar.

Ia ter­se­nyum seo­rang diri.

“Mari kita tidur berdua,” Mimin Kurus meng­a­ca­rai.

Dan malam itu untuk per­tama kali Simanis tidur di sam­ping lelaki yang tidak diikat oleh per­a­turan agam. Kadang-kadang ia merasa kha­wa­tir akan akibat selan­jut­nya dari per­bu­at­an­nya itu. Tetapi kem­bali ia meminta keku­atan pada makh­luk belum dila­hir­kan yang ada dalam perut­nya. Kadang-kadang ia ter­i­ngat pada Riah. Ah, orang-orang miskin itu miskin pula. Kepa­la­nya, juga hati­nya, juga peng­er­ti­an­nya. Sedi­kit kesu­l­itan telah diang­gap­nya keba­ikan, dan mereka gam­pang per­caya.

Seka­rang ia ber­pi­kir apa jadi­nya dunia ini apa­bila tidak ada orang miskin, dan semu­a­nya orang kaya: pen­du­duk dunia berisi orang yang juga kaya kecu­r­i­gaan dan kegi­atan mem­per­e­but­kan keun­tungan. Ah, dalam tiga hari dunia demi­kian akan kem­bali mem­pu­nyai orang-orang miskin lagi, dan kem­ba­li­lah semu­a­nya pada kea­daan yang seber­mula.

Seka­rang ia ber­pi­kir, adakah dir­i­nya kini miskin atau kaya. Tiba-tiba ter­ge­li­mang senyum pada bibir­nya yang meng­gair­ah­kan lelaki itu. Sesung­guh­nya peng­er­tian miskin itu telah hilang lenyap sete­lah ia mening­gal­kan sua­mi­nya. Kemis­kinan baru ada sete­lah ada per­ban­dingan dengan keli­ling, kemis­kinan hanya diten­tu­kan oleh kebu­tuhan. Dan anakku ini, anak yang tidak akan kuno­dai dengan kesal­ahan susila ini, dia tidak akan miskin, karena ia tidak lari pada kebu­tuhan, tetapi kebu­tuhan yang lari kepa­da­nya. Dia tidak akan kaya, karena keka­yaan dila­hir­kan oleh kemis­kinan keli­ling, dan dia tidak akan memis­kin­kan keli­ling­nya. Dia akan jadi seba­gai aku, jadi penya­nyi yang meng­a­jak semua orang ikut girang, ikut merasa apa yang dira­sa­kan juga oleh orang lain─pera­saan yang murni.

Ia ter­ti­dur.

Siapa yang tidak akan mere­nung-renung dalam mema­suki dunia baru yang tidak dike­nal­nya sebe­lum­nya? Dan Midah bukan­lah orang yang luar biasa. Ia yang selalu hidup di antara keka­yaan, baik orang tuanya sen­diri maupun sua­mi­nya─keka­yaan─yang begitu biasa dengan kegam­pangan hidup─keka­yaan itu pula yang mener­bit­kan piki­ran-piki­ran baru pada­nya. Dan ia tidak menye­sal mening­gal­kan keka­yaan itu. Dalam ter­le­lap itu ia ber­temu seben­tar dengan anak­nya sen­diri yang belum ia lahir­kan. Ia ber­ca­kap seben­tar dan kemu­dian ter­sen­tak bangun.

“Jangan ganggu aku,” kata­nya ber­bi­sik.

Dari pojok-pojok kamar yang gelap, ter­de­ngar ter­tawa senang. Dan ia men­jadi jaga benar. Ia ingat kea­da­an­nya seka­rang.

“Meng­apa takut padaku?” Suara lelaki di sam­ping­nya. “Aku sudah dewasa seperti yang lain-lain.”

“Berapa umurmu?”

Dari pojok-pojok ter­de­ngar ter­tawa senang.

“Tujuh belas.”

“Engkau masih kam­bing kacang.”

Ter­tawa dari pojok-pojok men­deru-deru. Juga Midah ikut ter­tawa dalam hati­nya. Tetapi tidak­lah lama karena dari pojok-pojok itu lahir ber­ba­gai macam ucapan yang mem­be­rang­sang­kan hati si kam­bing kacang.

“Ah, si kurus masih diang­gap kacang!”

“Kurus! Kalau kalah ming­gir saja, aku bisa meng­gan­ti­kan!”

Ter­tawa meng­isi udara kamar gelap itu.

Mulai Midah merasa takut. Ia lin­dungi perut­nya dari segala kemung­kinan. Tidak! Makh­luk kecil di dalam ini tidak boleh dino­dai. Ia merasa air asam telah naik di leher dan telan kem­bali sehingga panas dan getir rasa teng­go­r­ok­an­nya.

Tetapi gang­guan di teng­go­r­ok­an­nya dan perut itu terasa benar seba­gai­mana bia­sa­nya. Per­ha­ti­an­nya hanya ter­tuju pada kese­la­mat­an­nya. Kalau saja Nini tidak mening­gal­kan rom­bongan…

Mimin Kurus men­jadi panas oleh suara-suara itu dan tubuh­nya diter­kam­nya mentah-mentah. Kini ia meng­ha­dapi kenya­taan seba­gai wanita dalam keru­munan pria gelap kamar. Kini ia ber­ha­dapan dengan tenaga gila yang dibuat darah yang sedang men­di­dih.

Ia mela­wan, tetapi per­cuma. Akhir­nya ber­bi­sik lemah:

“Jangan ganggu aku. Aku sedang mengan­dung.”

Tetapi Mimin tidak peduli. Tubuh­nya telah ter­gun­cang-gun­cang oleh ter­kaman itu.

“Jangan ganggu aku!” Simanis menge­ras­kan cegah­an­nya.

“Aku sedang mengan­dung.”

Keri­u­han dalam kamar lenyap. Tetapi Mimin tetap meng­a­muk. Ia dengar orang melang­kah dan lampu lis­trik dinya­la­kan. Ber­sama dengan itu lenyap­lah kee­da­nan Mimin. Ia ter­ja­tuh di sam­ping­nya. Tak ada suara mema­nas­kan lagi. Kepala rom­bongan men­de­kat­i­nya dan ber­ta­nya:

“Begi­ni­lah kehi­dupan kami, Manis. Dan sela­ma­nya begini.”

Semua mata meman­dang pada Midah. Hanya Mimin Kurus tak berani mem­per­li­hat­kan tam­pang dan ter­e­ngah-engah di tem­pat­nya. Sua­sana canda lalu men­jadi kesung­guh-sung­guhan. Midah hanya menun­duk sambil meme­gang perut­nya.

“Tetapi, aku sudah bilang aku bun­ting.”

“Karena itu aku datang meno­longmu.” Kepala rom­bongan itu duduk di dekat­nya. “Jangan takut. Aku juga punya anak. Dan tiap lelaki yang tidak meng­hor­mati makh­luk yang masih dikan­dung­kan tidak patut lebih lama hidup di atas dunia ini.”

“Meng­apa kehi­dupan kalian mesti begini?”

“Bagai­mana aku tahu, sela­ma­nya memang begini. Sejak kecil aku hidup dalam rom­bongan seperti ini.”

“Kan masih ada cara lain yang lebih baik?”

“Tentu saja, tetapi yang lebih baik tidak­lah ikut dalam rom­bongan peng­ge­lan­dang demi­kian. Kalau engkau meng­hen­daki cara kehi­dupan yang baik, tentu saja rom­bongan ini bukan tem­patmu, Manis, tetapi engkau harus kem­bali ke rumah sua­mimu, atau orang-orang yang engkau cintai. Meng­erti engkau, Manis?”

Midah meng­ang­guk.

“Tapi aku sedang bun­ting,” kata­nya lagi.

“Karena itu tidur­lah di dekatku, dan tidak seo­rang pun akan berani meng­ganggu.”

“Tetapi engkau juga satu bagian dari mereka.”

“Manis, dalam rom­bongan seperti ini sela­ma­nya ada yang mesti diper­caya. Dan orang itu adalah kepa­la­nya. Kalau tidak dapat diper­caya, dia sudah lama diusir dari rom­bongan.”

“Jadi?”

“Tidur­lah ber­sama aku, dan engkau akan sela­mat.” Kepala rom­bongan itu mere­nung-renung seben­tar. Kemu­dian per­la­han-lahan ber­ce­rita.

Waktu ia masih muda ada pera­wan yang jatuh cinta kepa­da­nya dan meng­i­kut­i­nya ke mana pun juga ia pergi meng­a­men. Dan pera­wan itu akhir­nya dibun­ti­ng­i­nya. Karena anak itu masih di bawah umur, suatu kali per­kara itu mem­pu­nyai akibat yang pan­jang. Ia ditang­kap polisi. Tetapi orang tua anak itu meng­hen­daki ia kawin dengan anak­nya. Jadi ia ter­le­pas dari hukuman dan kawin. Sete­lah anak itu lahir─seo­rang lelaki yang memi­kat hati barang siapa yang meman­dang­nya─mer­tu­aku men­ja­tuh­kan perin­tah: ia harus ber­ce­rai. Dan ber­ce­rai­lah mereka. Istri­nya ting­gal di rumah orang tuanya sedang ia sen­diri mene­rus­kan kehi­dup­an­nya seba­gai peng­em­bara yang selalu diganggu oleh ing­atan dan pera­saan kangen pada anak-anak­nya sen­diri.

“Kalian tahu Simanis sedang mengan­dung,” akhir­nya sua­ra­nya ditu­ju­kan kepada anak buah­nya. “Barang siapa meng­ganggu Simanis ber­arti meng­ganggu anak­nya. Dan barang siapa berani ber­buat demi­kian, aku patah­kan batang leher­nya.”

Akhir­nya kepala rom­bongan itu ber­ta­nya pada­nya.

“Siapa lelaki yang mem­bun­tingi eng aku?”

“Sua­miku.”

“Sua­mimu! Meng­apa dia engkau ting­gal­kan? Kem­ba­li­lah kepa­da­nya.”

Midah tidak dapat mene­rus­kan ceri­ta­nya.

“Rumah baik-baik adalah tempat yang paling aman buat wanita, bukan kehi­dupan rom­bongan peng­a­men seperti ini. Mau engkau aku antar­kan pulang?”

Midah meng­ge­leng. Kemu­dian:

“Biar­lah aku bawa hidupku sen­diri.”

“Engkau akan menye­sal.”

“Biar­lah kucoba dahulu.”

Kepala rom­bongan kini men­da­dak men­jadi takut. Ia ingat peng­a­lam­an­nya dengan polisi dahulu. Tetapi tidak ber­kata apa-apa. Ia padam­kan lampu. Midah tidur deng­an­nya. Malam kem­bali aman. Midah terus-mene­rus memo­hon kepada Tuhan­nya agar selalu sela­mat, agar anak yang dikan­dung­nya tidak diganggu oleh siapa pun juga. Dan waktu tengah malam telah lama lewat dan kepala rom­bongan itu jatuh ter­ti­dur sambil merang­kul­nya ia masih tetap mendoa, dan terus mendoa sehingga akhir­nya pun jatuh ter­ti­dur pula.

Dalam tidur­nya pun ia merasa aman dalam rang­kulan lelaki yang asing bagi­nya itu─lelaki yang keha­ng­atan hati­nya terasa oleh­nya. Piki­ran-piki­ran ten­tang dosa hilang dari piki­ran­nya. Bahkan juga dalam mimpi ia tidak merasa ber­dosa dalam kea­daan seperti itu. Antara lelaki dan wanita kadang-kadang tiada sesu­atu yang meng­gun­cang­kan iman, dan tidak tiap lelaki ber­ba­haya bagi kese­la­matan, kesu­si­laan dan anak yang tidur nye­nyak dalam kan­dung­an­nya.

Pagi-pagi waktu ia ter­ba­ngun, ter­ge­lin­cir saja ucapan syukur dari hati dan bibir­nya.

“Engkau memang dapat diper­caya,” ia menyi­nar­kan pan­dang pada kepala rom­bongan.

Lelaki itu hanya meng­ang­guk.



Bagian Keempat

Mereka bergerak dari jalan ke jalan, dari res­to­ran ke res­to­ran. Dan pada suatu kali Nini tua ber­gigi emas kem­bali meng­ga­bung­kan diri. Hal itu meng­gi­rang­kan hati Midah, karena seti­dak-tidak­nya ada wanita yang menya­lur­kan hawa nafsu rom­bongan itu.

Kan­dung­an­nya kian lama kian besar juga. Tetapi uang peng­ha­sil­an­nya sen­diri telah ter­kum­pul­kan dan ter­sim­pan rapi-rapi. Suatu kali ia bisa ber­sa­lin mela­hir­kan di rumah sakit dengan tidak kha­wa­tir atau­pun menyu­sah­kan siapa pun juga. Di malam hari dikala ang­gota-ang­gota gerom­bolan meng­em­bara men­cari saluran hawa naf­su­nya, atau sedang ber­gu­lat mesra dengan Nini atau sedang ber­judi di bawah lampu lis­trik yang redup itu, ia berdoa di pojok-pojok kamar, moga-moga Tuhan menga­ru­ni­ai­nya seo­rang anak yang sem­purna, yang tidak cacat baik jas­mani maupun roha­ni­nya.

Sering ia berangan-angan apa yang hendak diper­bu­at­nya di bulan-bulan seha­bis mela­hir­kan itu. ia tahu tak mung­kin ia ikut ber­ge­rak dengan rom­bongan. Dan ini ber­arti ia takkan mem­per­o­leh peng­ha­silan lagi. Ia men­jadi takut. Dan apa­bila keta­kutan itu tak bisa dila­wan­nya dengan alasan apa pun juga, ia menya­nyi─bukan­lah menya­nyi untuk orang banyak, tetapi menya­nyi­kan kea­daan dir­i­nya sen­diri dengan tiada mem­per­hi­tung­kan upah yang bakal dite­rima. Dan sering ia ber­nya­nyi demi­kian dengan tiada disa­dar­i­nya mela­tih menya­nyi ber­sung­guh-sung­guh.

“Nya­nyi­anmu begitu baik dan sua­ramu begitu bagus,” suatu kali kepala rom­bongan mem­be­ri­nya per­ha­tian. “Sebe­nar­nya engkau bisa juga menya­nyi di radio.”

“Aku bisa menya­nyi di radio,” kata­nya pada diri sen­diri. Dan sejak itu pun ia ber­cita-cita menya­nyi di depan corong.

“Banyak­kah nafkah yang bisa dite­rima kalau menya­nyi di radio?”

Kepala rom­bongan itu meng­ge­leng­kan kepa­la­nya.

“Tetapi keun­tung­an­nya banyak sekali,” akhir­nya lelaki itu mene­rus­kan. “Di sana engkau bisa ter­ke­nal, dan rom­bong­anmu tiap kali men­da­pat pang­gilan dari orang-orang yang ber­pesta. Di situ­lah baru engkau terima uang banyak.”

Selan­jut­nya Midah tak punya per­ha­tian lagi.

Per­ha­tian Midah lebih-lebih con­dong kepada makh­luk kecil yang akan men­jadi anak­nya─men­jadi anak­nya untuk selama-lama­nya.

Tambah lama keku­at­an­nya tambah habis. Ia tak sang­gup lagi ikut meng­em­bara, ia tak sang­gup lagi meng­ge­tar­kan pita sua­ra­nya selama dela­pan jam sehari. Ter­pak­sa­lah ia pada suatu hari ber­kata kepada kepala rom­bongan:

“Kan­dung­anku ber­tam­bah tua. Tena­gaku tambah habis. Izin­kan­lah aku tidak bekerja sehingga mela­hir­kan.”

“Aku meng­erti juga, Manis. Tetapi engkau harus pula ingat, tiada bekerja engkau pun tiada mene­rima nafkah.”

Berita itu meng­gun­cang­kan hati Midah. Ia tidak menyangka akan ter­jadi yang demi­kian. Namun ia lebih memi­hak kepada anak­nya, karena itu disam­pai­kan­nya juga:

“Biar­lah.”

“Tapi toh aku usa­ha­kan agar engkau tetap mene­rima nafkah seka­li­pun tidak mung­kin seba­nyak yang biasa engkau terima.”

Malam itu dia­da­kan perun­dingan. Mimin Kurus, yang dihem­ba­lang oleh keke­ce­wa­an­nya dahulu dan lambat laun menyim­pan dendam dalam hati, tidak akan menye­tu­jui pengu­rangan naf­kah­nya sen­diri demi dia yang tidak bekerja. Juga Nini, yang meman­dang Simanis seba­gai saing­an­nya, ber­pi­hak kepa­da­nya.

Dua orang lagi, yang juga meng­a­lami kega­galan dalam per­co­ba­an­nya untuk mem­per­gu­na­kan jenis Midah, ber­pi­hak belaka pada Nini dan Mimin. Dan kepala rom­bongan yang selalu meng­i­ngat pen­ting­nya keu­tuhan rom­bong­an­nya, meng­am­bil putusan yang tidak meng­un­tung­kan Midah. Dan Midah meng­i­kuti jalan­nya per­se­tu­juan itu dengan harapan hen­dak­nya orang meng­erti kea­da­an­nya. Tetapi orang tak mau meng­erti.

Waktu kamar telah dige­lap­kan, dan hanya ia sen­diri ting­gal jaga di sam­ping kepala rom­bongan, ia ter­i­ngat segala-gala­nya yang telah ter­jadi. Juga ia ingat pada Riah. Seki­las ingin ia mengun­jungi perem­puan miskin yang baik hati itu, tetapi niat itu dite­lan ber­sama ludah­nya. Ia merasa ter­pen­cil. Ia raba perut­nya dan ia merasa lebih kaya dari semua orang di atas dunia ini. Ia ingat pada kedua orang tuanya yang tidak pernah ia dengar kabar beri­ta­nya lagi. Ia pun ingat pada sua­mi­nya yang men­jadi raja di kam­pung­nya. Akhir­nya baru­lah ia ingat pada dir­i­nya dan kea­da­an­nya. Kaki­nya ber­de­nyut-denyut, teng­go­r­ok­an­nya kering dan nafas­nya ter­e­ngah-engah. Sudah lama ia mem­bu­tuh­kan dua atau tiga bantal karena anak yang ada di bawah jan­tung­nya kini kian lama kian menyem­pit­kan rongga per­na­fa­san­nya. Tambah malam hari tambah berat selu­ruh ang­gota tubuh­nya diper­gu­na­kan untuk ber­ge­rak. Ia tak tahu lagi apakah di dalam kege­lapan itu ia mena­ngis atau tidak.

Yang ia keta­hui:

Ia tetap berdoa dan memo­hon agar anak­nya kelak dapat ber­buat seke­hen­dak hati­nya tanpa halangan dari siapa pun yang tidak menye­tu­jui. Dan agar anak­nya hidup ber­ba­ha­gia ter­le­pas dari tin­dasan orang lain.

“Anakku harus jadi manu­sia bebas! Bebas dan lebih bebas dari­pada aku sen­diri.”

Ia dengar keruh di sam­ping-menyam­ping. Tangan kepala rom­bongan yang merang­kul dada­nya terasa hangat. Per­la­han ia cium tangan itu, tapi orang­nya tidak merasa, bahkan tidak ber­ge­rak dalam tidur­nya.

Waktu pagi-pagi bangun ia merasa sangat lelah. Sejak hari itu ia tidak ikut bekerja dan men­coba meng­he­mat sim­pan­an­nya seda­pat mung­kin. Ia kurangi makan­nya. Kemu­dian dike­ta­hu­i­nya bahwa empat hari kemu­dian kedua kaki­nya men­jadi beng­kak. Keta­kutan pada kema­tian menye­bab­kan ia men­jadi kebi­ngungan. Dan untuk men­da­pat­kan nasi­hat tak ada orang demi­kian di dekat­nya. Baru­lah hati­nya merasa lega, apa­bila malam datang pula dan rom­bongan itu pulang ke peng­i­napan.

Waktu sakit per­tama menye­rang perut­nya, buru-buru ia pergi ke rumah sakit. Tetapi alang­kah kaget­nya waktu dike­ta­hu­i­nya, bahwa tidak segam­pang yang dikira-kira­kan­nya untuk dapat mela­hir­kan di situ. Dengan mena­han sakit perut­nya ia jawab segala per­ta­nyaan. Ber­kali-kali ia bilang, bahwa ia sang­gup mem­ba­yar biaya pera­watan mela­hir­kan, tetapi segala usa­ha­nya tidak ber­ha­sil.

“Kami tidak terima orang. Semua tempat sudah dipe­san.”

“Di mana aku harus mela­hir­kan?”

“Pulang saja. Kan ada dukun kam­pung di sana?”

“Kami juga bisa kirim bidan.”

Midah mena­ngis­lah seka­rang. Ia tak bisa kem­bali lagi. Ia tak kuat pulang ke peng­i­napan lagi. Perut­nya ter­lam­pau sakit. Dan orang yang mela­yani itu kemu­dian mela­yani orang lain. Ia rebah­kan tubuh­nya di lantai.

“Pulang buruan!” seru orang yang mela­yani tadi.

Dalam hati­nya Midah masih sempat mendoa, bukan untuk kese­la­matan dir­i­nya, tetapi untuk kese­la­matan anak-anak­nya yang hampir datan. Kemu­dian ia tak kuasa ber­ge­rak lagi. Waktu ada dira­sa­i­nya kain­nya mulai basah ia jatuh tak sadar­kan diri…

Waktu ia bangun kem­bali ter­nyata ia telah ter­bu­jur di atas ran­jang. Di sam­ping-menyam­ping­nya ter­len­tang wanita-wanita yang hendak mela­hir­kan seperti dir­i­nya sen­diri. Suara orang kesa­kitan dan sebutan pada segala-gala­nya mem­bum­bung ke udara, bahkan ada pula antara seben­tar ter­de­ngar tangis yang meng­hiba-hiba.

Seo­rang bidan ber­diri di dekat­nya. Ia meman­da­ng­i­nya lama-lama. Kemu­dian:

“Siapa nama?”

“Midah—kalau boleh beri­lah aku minum.”

“Di mana ting­gal?”

“Di Peng­i­napan.”

“Suami?”

“Ah, beri­lah aku minum.”

Midah tak kuasa men­ja­wab. Sakit perut­nya mulai meng­a­duk kem­bali.

“Aku di sini kerja, bukan main-main.”

“Midah namaku. Hanya itu saja. Yang lain-lain aku tak tahu.”

“O, meng­er­ti­lah aku. Meng­erti benar.”

“Beri­lah aku minum.”

Dan Midah men­da­pat minum air dingin. Kemu­dian datang bidan lain lagi, meman­da­ng­i­nya lama-lama, kemu­dian:

“Memang manis. Patut tak tak tahu laki­nya.”

Midah tidak menyam­but. Sakit dalam perut­nya ber­lomba dengan teriak anak-anak yang baru datang mengun­jungi dunia. Ada ia rasa perut­nya pecah dan anak­nya akan datang. Ia ber­zi­kir. Dalam zikir ia minta ampun pada Tuhan­nya, pada kedua orang tuanya, juga pada sua­mi­nya. Dalam hati­nya ia terus-mene­rus ber­seru bahwa ia tidak pernah ber­dosa. Dan waktu anak itu tak dapat ia tahan lagi, ia pun ber­te­riak sekuat tena­ga­nya:

“Nona, anakku… anakku…”

“Kenapa anakmu?” sambut seo­rang bidan sambil ter­se­nyum meng­e­jek.

“Anakku datang.” Ber­te­riak: “Anak… ku, da… tang…”

Dan dengan ber­sa­maan dengan akhir teri­akan itu datang­lah anak itu di bawah­nya. Ia meng­u­cap­kan syukur. Ia mela­hir­kan tanpa per­to­longan siapa pun jua. Dan baru­lah datang bidan meng­am­bil anak itu sete­lah menye­le­sai­kan pusar. Anak itu diam­bil oleh bidan dan diman­di­kan. Ia dengar anak­nya mena­ngis, begitu sehat, begitu keras. Air mata­nya kem­bali meng­a­lir.

“Anakku,” bisik­nya. Seakan tak per­caya bahwa ia pun mem­pu­nyai anak, ia ber­bi­sik lagi: “Anakku, dia anakku.”

Ia ter­lam­pau capek dan lemah. Dimi­num­nya kopi panas sete­guk-kopi yang dise­di­a­kan di sam­ping­nya, kemu­dian ia jatuh ter­ti­dur dengan senyum yang lebih meman­is­kan bibit­nya.

Waktu ia bangun lagi ter­nyata oleh­nya, bahwa ruangan di mana ia tidur banyak ter­da­pat kaum ibu yang baru saja mela­hir­kan. Pada paras mereka ter­gam­bar­kan pera­saan-pera­saan yang tidak sama. Dan di antara mereka semua itu. Midah­lah yang menya­dari keun­tung­an­nya.

Tiba-tiba ia ter­i­ngat pada anak­nya. Ia tegak­kan kepala sambil dengan tangan­nya meraba-raba sam­ping­nya, tetapi anak itu tak ada di dekat­nya. Dikum­pul­kan­nya tenaga untuk memang­gil bidan, tetapi suara yang keluar dari kerong­kongan tidak seba­nyak yang ia harap­kan. Kekha­wa­tiran meng­a­muk dalam dada­nya. Kini anak itu meru­pa­kan satu-satu pegangan bagi­nya. Karena anak itulah ia sang­gup mening­gal­kan segala gala­nya yang ia selama itu telah biasa.

Mata­nya jalang ber­ke­li­aran. Akhir­nya ber­ta­nya ia pada perem­puan tetang­ga­nya:

“Di mana anakku, nyonya?”

“Di kamar bayi.”

“Anak nyonya?”

“Di sana juga tentu.”

Hati­nya agak lega. Dita­rik­nya nafas dalam-dalam. Dan kala ing­at­an­nya sampai pada mereka yang mene­ta­ki­nya dengan ber­ba­gai per­ta­nyaan hati­nya kem­bali men­jadi muram.

Ia ingin ber­is­ti­ra­hat. Dan bila mereka meng­hen­daki ongkos-ongkos yang diper­lu­kan segera ia dapat mem­be­ri­kan. Ia tak ingin men­da­pat per­ta­nyaan sepa­tah pun jua.

Tetapi seo­rang bidan datang kepa­da­nya dan meng­u­langi teta­kan­nya.

“Kami harus tahu suami empok1. Bukan hendak menyiksa empok, tapi semua harus ditu­lis dalam daftar.”

“Aku tak sudi menye­but nama sua­miku lagi.”

“O, jadi empok ber­ce­rai?”

Midah meng­ang­guk.

“Tetapi kami tetap ingin menge­ta­hu­i­nya.”

“Aku takkan menga­ta­kan­nya.”

“Jadi harus anak empok diang­gap anak haram?”

Merah padam muka Midah. Ia takkan sang­gup men­de­ngar per­ka­taan itu diu­langi lagi.

“Meng­apa marah?” tanya bidan itu. “Empok bisa menu­lis?”

Dengan mata ber­kaca-kaca. Midah meng­ang­guk­kan kepa­la­nya sedi­kit.

“O, jadi bukan buta huruf!”

“Bisa bicara asing?”

Midah meng­ang­guk lagi.

“Jadi nyonya ter­pel­a­jar? Ah, kalau begitu nama sua­mi­nya nyonya tulis­kan saja.”

“Tak perlu dika­ta­kan. Itu lebih aman, bukan?”

“Tapi.” Midah meno­lak potlot dan kertas yang diso­dor­kan kepa­da­nya.

“Kalau seka­rang tidak suka, baik nanti kuu­langi lagi.”

“Di mana tempat ting­gal sebe­nar­nya?”

“Tidak punya.”

“Tidak punya? Mana bisa nyonya tiap hari meng­em­bara?”

“Ya, tiap hari aku meng­em­bara.”

Bidan itu meman­da­ng­i­nya lama-lama. Ter­tawa tidak per­caya, kemu­dian mene­rus­kan:

“Ini tidak bisa jadi, nyonya. Nyonya harus sebut­kan di mana nyonya ting­gal.”

“Jangan aku dita­nyai lagi. Kata­kan saja berapa aku harus bayar sampai sembuh.”

Bidan itu pun pergi dengan paras muram.

Dan siang itu ibu-ibu yang baru mela­hir­kan itu men­da­pat nasi dengan sayur kang­kung.

Dari sana-sini ter­de­ngar keluhan. Dan waktu Midah meli­hat tida ulat mati dalam kang­kung­nya, ia letak­kan kem­bali makanan itu di meja­nya. Perut­nya terasa lebar oleh sebab banyak­nya tenaga yang ia kelu­ar­kan sehari itu.Tak pernah ter­ba­yang sebe­lum­nya bahwa begi­ni­lah kea­daan rumah sakit ber­sa­lin.

Ia tutup kem­bali mata­nya dan menge­nang-nge­nang segala-gala­nya. Kemu­dian ia ter­ti­dur lagi.

Di malam hari sebuah tangan mem­ba­ngun­kan­nya. Dan di sam­ping­nya mena­ngis dan meronta-ronta seo­rang bayi.

“Anakku,” bisik­nya.

“Sudah wak­tu­nya diberi minum, nyonya.”

Midah mem­buka dada­nya, dan waktu dada itu hendak dibe­ri­kan kepada bayi itu ia ber­te­riak ter­ke­jut:

“Ini bukan anakku!”

“Bukan?”

“Mana anakku? Mana anakku?”

“Itulah anak nyonya.”

“Tak mung­kin anakku begitu sipit! Ini anak Tiong­hoa.” “Anak Tiong­hoa?” seru perem­puan itu.

Seben­tar ter­jadi keri­butan di bang­sal itu. Dan waktu di sebuah pojok ada ter­de­ngar seruan kaget:

“Ini bukan anakku.”

Sele­sai­lah keri­butan itu dengan kepu­asan di pihak-pihak yang ber­ke­pen­tingan.

Tetapi untuk Midah sen­diri semua belum sele­sai.

Malam itu juga seo­rang datang kepa­da­nya dan men­de­sak­nya untuk menge­ta­hui nama sua­mi­nya dan di mana ting­gal­nya.

“Bukan­kah nyonya tidak suka anak ini men­jadi anak haram?”

Dan Midah meraba kening merah anak­nya dan ber­bi­sik:

“Biar­lah mereka mena­mai engkau anak haram. Nama apa yang engkau pinta, yang?”

“Bukan mak­sudku meng­hina anak itu dan nyonya sen­diri.”

Jangan coba mena­nya­i­nya lagi. Midah ingin berada di sam­ping anak­nya terus-mene­rus. Tetapi ia tidak mem­ban­tah bila anak itu diam­bil dari sam­ping­nya dan dile­tak­kan di kamar bayi. Dalam waktu-waktu hati­nya merasa sunyi, ia ingin menya­nyi­kan kesu­nyian hati­nya. Tetapi itu tidak­lah pernah diper­bu­at­nya. Dan ia hanya menya­nyi dalam batin­nya.

“Nyonya, tempat ini akan diper­gu­na­kan orang lain,” suatu hari seo­rang bidan ber­kata kepa­da­nya.

“Aku mesti pergi dari sini?”

“Ya.”

“Tapi aku belum lagi sehat.”

“Kami keku­rangan tempat, nyonya.”

Midah bang­kit. Mata­nya ber­ku­nang-kunang. Ia ber­diri, tetapi kaki­nya geme­tar.

“Kuat­kah aku meng­gen­dong anakku?” bisik­nya.

“Nyonya tak perlu meng­gen­dong. Di luar banyak baca, nyonya.”

“Mana anakku?”

Dengan kaki geme­tar Midah meng­i­kuti bidan itu pergi ke kamar bayi. Ia ter­se­nyum meli­hat anak­nya yang merah sehat.

“Biar­lah aku bayar biaya pera­watan dulu,” kata­nya kemu­dian. “Maukah Nona meng­an­tar­kan aku ke tempat pem­ba­yaran?”

Ia dian­tar­kan ke kantor, dan paras-paras masam men­ri­manya dengan dingin. Ia diha­rus­kan mem­ba­yar sera­tus dua puluh lima rupiah. Ia ambil uang sim­pan­an­nya dari balik kutang­nya dan kem­ba­li­lah ia ke kamar bayi. Dan alang­kan ter­ke­jut­nya ia waktu meli­hat anak­nya dite­lan­jangi bulat bulat.

“Meng­apa anakku dite­lan­jangi? Kan bisa masuk angin?”

“Po dan pakaian bayi ini kepu­nyaan rumah sakit, nyonya.”

Tak tahan lagi. Midah meli­hat anak itu. Sambil ber­cu­curan air mata di bawah­nya makh­luk yang baru bebe­rapa hari datang itu keluar dari rumah sakit. Dipang­gil­nya sebuah beca. Dan dalam ber­ja­lan ditu­tup­nya anak itu dengan seba­gian dari baju­nya. Tak henti-hen­ti­nya ia ciumi anak­nya itu-anak sen­diri.

Sepan­jang jalan tak henti-hen­ti­nya air mata meng­u­cur dari mata­nya. Dan tak henti-hen­ti­nya anak kecil itu mena­ngis kedi­nginan kena angin.



Bagian Kelima

Midah tak tahu benar ke mana seha­rus­nya ia pergi. Ia tahu rom­bongan peng­a­men keron­cong itu akan ber­si­kap lain ter­ha­dap­nya sete­lah ia harus meme­li­hara seo­rang bayi yang tidak ber­guna apa apa bagi mereka. Di atas beca itu ia ter­i­ngat kem­bali pada kedua orang tuanya, pada Riah, pada sua­mi­nya. Dalam kebi­ngung­an­nya, ia hanya dapat mena­ngis.

“Ke mana?” tukang beca ber­ta­nya.

Per­ta­nyaan itu menam­bah kebi­ngung­an­nya.

“Meng­apa mena­ngis terus.”

Akhir­nya Midah minta dian­tar­kan kem­bali ke peng­i­nap­an­nya yang dahulu. Dan sampai di sana ia disam­but oleh pintu ter­kunci. Malam hari waktu rom­bongan pulang, baru ia dapat masuk. Ia disam­but dengan bibir-bibir yang dibe­re­ng­ut­kan.

“Mana bisa kita tidur di sam­ping orok ini.” Nini mele­pas­kan pera­sa­an­nya.

“Lebih baik dia pergi dari rom­bongan.” Mimin menyam­bung. “Dengan orok itu dia takkan bisa kerja apa-apa.”

“Aku bisa kerja sambil meng­gen­dong anak ini,” bantah Midah.

“Omong kosong,” seru yang lain. “Yang kede­ngaran bukan nya­nyi­anmu, tapi tangis si orok jaha­nam itu!”

“Jaha­nam? Engkau jaha­nam anakku?”

Akhir­nya kepala rom­bongan mene­ngahi:

“Biar­lah kita kawin saja. Manis. Engkau ting­gal di rumah mera­wat anak ini, dan bila aku pulang makan sudah sedia.”

“Tidak mung­kin! Tidak mung­kin!”

“Aku belum begitu tua.”

“Tidak mung­kin!”

“Meng­apa tidak mung­kin, Manis?” Nama sebutan Midah diu­cap­kan kepala rom­bongan itu dengan pera­saan kasih dan berahi seka­li­gus.

“Aku masih punya laki. Dan anak ini punya bapa yang sah.”

“Apa salah­nya? Engkau bisa minta cerai.”

Ah, Midah tak berani lagi muncul pada suami atau orang tuanya untuk minta dice­rai­kan. Ia hanya dapat mena­ngis dalam kebi­ngung­an­nya.

“Baik­lah. Engkau tidak berani minta cerai,” kepala rom­bongan mene­rus­kan. “Kita bisa kawin dengan wali hakim1.”

Itu pun hanya menam­bahi kebi­ngung­an­nya. Dan air mata­nya men­de­ras. Tin­dakan-tin­dakan yang menu­rut saluran-saluran sah itu mena­kut­kan hati­nya. Ia takut kehi­langan kebe­bas­an­nya yang hanya bisa diper­o­leh­nya dengan meng­hin­dari jalan-jalan yang sah itu.

Anak­nya men­je­rit.

“Dia sudah mulai!” teriak Nini. “Mes­ti­kah kita tidur di sam­ping anjing kesa­kitan ini?”

“Anakku bukan anjing, bang­sat!” Midah mene­ri­ak­kan kesa­kitan hati­nya.

“Kalau bukan anjing sing­kir­kan dia dari sini.”

Kepala rom­bongan itu melom­pat ke depan Nini, dan ditam­par­nya mulut perem­puan itu.

Meng­ge­rutu:

“Engkau bisa ber­ting­kah lebih sopan lagi.”

Nini mena­ngis.

“Kami meng­i­nap di sini. Kami bukan datang men­de­ng­ar­kan orang ber­ke­lahi!” seru bebe­rapa orang di depan pintu.

Bahkan orang-orang di sam­ping menyam­pingi peng­i­napan memer­lu­kan datang untuk menyak­si­kan jalan­nya per­tan­dingan mulut. Kemu­dian muncul pula seo­rang polisi lalu lintas.

Penuh sesak rumah itu oleh penon­ton-penon­ton prodeo.

“Jangan bikin ribut, ya?” polisi lalu lintas mem­per­i­ng­at­kan. “Nanti kupang­gil­kan polisi. Ayo, pulang semua orang-orang luaran ini.”

Dengan susah payah saja polisi lalu lintas itu dapat meng­u­sir mereka. Pintu depan peng­i­napan ter­paksa dikunci. Dan akhir­nya ia minta pen­je­lasan. Kepala rom­bong­an­lah yang mem­be­ri­kan pen­je­lasan.

Akhir­nya polisi itu meman­dangi Simanis yang ter­se­dan-sedan dan menun­duk dalam tangis­nya. Meng­u­sul­kan:

“Biar­lah dia ikut menya­nyi sambil meng­gen­dong anak­nya,” kata­nya. “Baik ada yang menya­nyi atau tidak, atau teriak anak kecil, orang-orang itu toh tidak men­de­ng­ar­kan kalian. Mereka tak meng­har­gai musik kalian sama sekali.”

“Tidak bisa! Tidak bisa!” teriak kepala rom­bongan yang ter­sing­gung kehor­mat­an­nya.

“Ah, sau­dara, aku sen­diri tukang musik juga.”

“Tuan?”

“Tentu saja.”

“Di radio?”

“Kadang-kadang di radio juga.”

“Bawalah aku ke radio.” Nini meng­u­sul­kan.

Polisi lalu lintas itu ter­tawa.

“Sua­raku bagus juga.” Nini men­de­sak.

“Kami sudah punya penya­nyi.”

“Jadi serap juga boleh,” desak Nini terus.

“Diam­lah. Aku sedang dinas seka­rang. Dan jangan bikin ribut lagi. Aku harap rom­bongan kalian tidak pecah karena dia,” dan ia meman­dang Simanis. “Teri­ma­lah dia dalam rom­bong­anmu. Dia juga butuh hidup, dan anak kecil itu juga butuh hidup.”

“Beri­lah kami jalan agar bisa main di radio,” kepala rom­bongan itu meng­u­sul­kan.

“Baik­lah, baik­lah. Lain kali aku datang kemari. Kul­i­hat dulu bagai­mana kalian main.”

“Setuju?”

“Ah, alat-alat kami tidak leng­kap,” kepala rom­bongan menge­luh.

“Bukan soal alat, tapi soal kebi­saan kalian. Setuju?”

“Setuju, tentu kami setuju,” seru Nini.

“Baik­lah. Seka­rang aku pergi. Lain kali aku datang kemari.” Dan sebe­lum pergi diang­kat­nya dagu Simanis. Ia ter­te­gun meli­hat keman­isan wanita itu. Ia meman­da­ng­i­nya lama-lama.

“Ah, tuan polisi ini nanti bisa kena bujuk­nya,” Nini meng­e­jek.

“Jangan mena­ngis—siapa namamu?”

“Pang­gil dia Simanis, tuan polisi!” sambut kepala rom­bongan. “Ia tak pernah mem­bi­lang­kan nama­nya yang sesung­guh­nya.”

“Simanis. Ya, sesung­guh­nya engkau memang manis.”

Midah menun­duk­kan kepa­la­nya lagi.

“Jangan takut. Besok aku datang kemari lagi untuk meli­hat.”

“Kalau hanya datang untuk dia, tuan tidak perlu datang,” teriak Nini.

“Diam!” gertak kepala rom­bongan. “Tuan bisa datang kemari tiap waktu. Tapi kami ada di sini kalau sudah malam.”

“Baik­lah. Baik­lah. Harap dia jangan banyak diganggu. Dia baru mela­hir­kan dan seba­ik­nya men­da­pat pera­watan yang baik. Tetapi seba­gian dari kalian memu­suh­i­nya. Itu aku tidak setuju.”

Kemu­dian ia pergi. Di pintu ia mene­ngok lagi meli­hat Simanis, kemu­dian terus pergi. Dan campur tangan­nya menye­bab­kan Midah men­da­pat tempat lagi dalam rom­bongan itu.

Dan sejak itu pula ia ikut menya­nyi lagi. Iris-irisan men­da­lam di hati­nya menye­bab­kan nya­nyi­an­nya begitu meng­iris bagi yang men­de­ng­ar­kan­nya. Dan nya­nyian-nya­nyian gem­bira mela­hir­kan suara yang sinis. Dan tem­pat­nya di rom­bongan lebih banyak meru­pa­kan bisul dalam tubuh.

Kepala rom­bongan sekali-dua kali meng­u­langi lamar­an­nya. Tetapi Simanis tetap meno­lak. Kega­galan per­ka­win­an­nya meru­pa­kan sebab utama meng­apa ia men­ji­jiki jenis lelaki, dan meng­apa ia tidak punya per­ha­tian lagi untuk men­jadi istri orang. Seba­lik­nya sikap yang keluar dari alasan-alasan itu men­jeng­kel­kan kepala rom­bongan—dan dari jeng­kel akhir­nya beru­bah men­jadi benci.

Midah sadar akan kecan­ti­kan­nya. Midah menge­ta­hui, bagai­mana lelaki-lelaki itu tiada ubah­nya dengan kuping dombak lem­bek­nya bila men­cari saluran naf­su­nya pada wanita. Dan waktu menye­la­mat­kan tem­pat­nya di rom­bongan, harapan kepala rom­bongan itu diba­ngun­kan­nya kem­bali. Tapi kepala rom­bongan yang sudah banyak makan garam itu tidak bisa dibo­hongi.

Tiap kali bila rom­bongan itu makan di sebuah warung kecil, Midah tidak­lah men­da­pat teguran. Ia makan seo­rang diri di tempat yang seakan-akan sudah dia­sing­kan bagi­nya.

Di sana pula ia kem­bali menyu­sui anak­nya. Dan di waktu-waktu kerja, kala anak­nya mena­ngis, ia ber­henti seben­tar untuk menyu­sui, sedang rom­bongan itu ber­ja­lan terus seakan-akan tidak ter­jadi apa-apa.

Kele­mahan hati kadang-kadang meng­a­jak­nya kem­bali kepada orang tuanya, atau ke rumah Riah. Tetapi kebe­ra­nian untuk itu tidak ada pada­nya.

Kemu­dian datang­lah hari yang mem­per­he­bat penang­gung­an­nya:

Pada suatu hari waktu ia ter­ting­gal oleh rom­bongan dan sedang menyu­sui anak­nya di sebuah gang kecil—dengan men­da­dak saja Riah telah ada di depan­nya. Tak dapat ia menyem­bu­nyi­kan keka­ge­tan­nya.

“Midah, anakku!”

Suara itu mem­beri belaian yang manis di hati­nya yang diper­ke­ras oleh kea­da­an­nya selama itu. Meni­tik air mata­nya.

“Anakku! Anakku! Di mana engkau ting­gal seka­rang?”

Midah menu­tup dada­nya dan ber­diri.

“Di mana saja aku ting­gal, Riah. Engkau mau ke pasar?”

“Dan anakmu itu! Alang­kah sehat. Engkau bawa-bawa ke mana-mana juga dia.”

“Ya.”

“Mari pulang. Mari aku antar­kan pulang ke rumah orang tuamu.”

“Biar­lah aku hidup begini.”

“Kalau begitu pulang­lah ke rumahku.”

“Biar­lah.”

“Mau ke mana lagi engkau ini?”

“Mene­rus­kan per­ja­lanan.”

Riah meme­gangi lengan baju­nya.

“Jangan halangi aku. Biar­lah aku pergi.”

Seti­dak-tidak­nya ia merasa aman dalam gen­do­ngan emak­nya.

Ia pun ber­ja­lan­lah. Tapi Riah meng­i­kut­i­nya.

“Jangan aku dii­kuti. Lain kali aku datang ke rumahmu.”

Ia per­ce­pat mem­buru rom­bongan.

Riah meng­i­kuti per­la­han-lahan dari bela­kang. Dan ia lihat betapa anak maji­kan­nya, yang dahulu diman­jakan itu, menya­nyi di depan res­to­ran. Ia lihat betapa perem­puan itu, mem­per­main-main­kan bibir­nya mem­buat senyum pemi­kat. Dan ia lihat juga betapa orang-orang di res­to­ran yang meman­da­ng­i­nya menyi­nar­kan pan­dang­an­nya yang jijik.

Tapi Midah menya­nyi terus. Selama ada anak dalam kan­dung­an­nya, seti­dak-tidak­nya ia menya­nyi untuk dir­i­nya sen­diri untuk hati­nya sen­diri, dan untuk anak­nya.

Dengan diam-diam Riah kem­bali pulang. Midah tak menge­ta­hui, seka­li­pun dalam menya­nyi mata­nya jalang men­cari-cari kalau-kalau Riah meng­i­kut­i­nya dan kala ia yakin mena­t­a­nya, kem­bali mata itu men­jadi tenang seba­gai biasa. Kete­nangan untuk semen­tara waktu. Ia yakin perem­puan itu akan ber­ce­rita ke kiri dan ke kanan ten­tang dir­i­nya. Ia tahu pula itu akan diker­ja­kan­nya bukan untuk maksud-maksud jahat, bahkan seba­lik­nya. Bahkan, Midah telah dapat mem­ba­yang­kan, bahwa Riah segera akan datang ke rumah orang tuanya dan ber­ce­rita pan­jang ten­tang dir­i­nya.

Sejak per­te­muan itu, Jakarta mulai terasa tidak aman bagi­nya. Dan kea­da­an­nya tidak ter­tang­gung­kan lagi. Kini ia sering tak ikut bekerja dengan rom­bongan untuk meng­hin­dar­kan diri dari orang tuanya, dari Riah dan dari semua orang yang disu­ruh orang tuanya untuk men­ca­ri­nya.

Suatu kali, untuk meng­im­bangi keku­a­saan Nini, per­gi­lah ia ke tukang gigi dan mema­sang­kan sebuah gigi emas pada gigi taring­nya. Dan keja­dian itu disam­but dengan ejekan yang lebih hebat oleh Nini. Midah meng­ha­rap­kan keda­tangan polisi lalu lintas dahulu, tetapi ia tak lagi muncul.

“Dia ikut-ikut ber­gigi emas!” teriak Nini dengan sengit­nya.

Penge­ta­huan bahwa kepala rom­bongan tak lagi melin­dung­i­nya lagi, menye­bab­kan perem­puan itu kian berani ter­ha­dap­nya.

“Apa alat kau di rom­bongan ini! Apa! Cuma itu anak anjing, yang cuma menyu­sah­kan kita semua.”

Peng­hi­naan ter­ha­dap anak­nya yang tidak ber­dosa menye­bab­kan Midah bang­kit ama­rah­nya.

Untuk anak­nya ia berani ber­buat segala-gala­nya bahkan yang tidak mung­kin pun.

“Jangan kau hina lagi anakku.”

Dan selu­ruh rom­bongan ter­tawa.

“Aku bisa tusuk perutmu.”

“Ker­ja­kan seka­rang juga kalau berani!”

Sebuah tem­pe­leng mela­yang pada pipi Midah. Ia ter­ja­tuh di sam­ping anak­nya.

“Tiru-tiru pakai gigi emas. Tidak laku gigimu itu!” teriak Nini.

“Meng­apa dia juga tidak diusir?” tanya orang-orang lain pada kepala rom­bongan.

“Aku punya biola, Mimin punya gen­dang, semua orang di rom­bongan punya alat­nya sen­diri-sen­diri. Punya apa kau? Betina begini mesti diusir.”

“Manis,” kata kepala rom­bongan itu akhir­nya. “Dengan gigi emasmu itu engkau ber­tam­bah manis. Sayang tak mau jadi biniku. Jadi…”

“Baik­lah. Baik­lah. Aku meng­erti,” kata Midah akhir­nya.

Dan sambil mem­bawa anak dan bun­talan po serta pakai­an­nya ia ting­gal­kan peng­i­napan itu.

Ia sen­diri tak tahu ke mana harus pergi. Tapi ia harus pergi. Dan ia pun per­gi­lah.



Bagian Keenam

Berita tentang Midah itu meng­gun­cang­kan kelu­arga Haji Abdul. Antara seben­tar ter­de­ngar haji itu menye­but dan menge­luh-ngeluh;

“Tuhan. Tidak habis-habis­nya cobaan yang Kau­tim­pa­kan kepa­daku.”

Dan istri­nya yang tidak pernah mem­be­ri­kan suara dalam ber­ba­gai urusan antara seben­tar mem­per­de­ng­ar­kan sebutan-sebutan yang tak keten­tuan mak­sud­nya.

“Anakku yang paling manis! Anakku yang keras hati! Sampai begitu engkau.”

Anak-anak lain antara seben­tar kena bentak bapak­nya. Kemu­dian mereka men­da­pat perin­tah untuk men­cari kakak­nya. Haji Abdul sen­diri memer­lu­kan ikut campur tangan dalam men­cari anak­nya. Ia terus ber­ja­lan kaki dari kam­pung ke kam­pung, dari jalan ke jalan. Ia bukan­lah orang mampu lagi seba­gai­mana dahulu. Untuk beca atau trem apa pula taksi tak ada lagi uang ter­se­dia untuk itu. Mula-mula ia pergi ke tempat di mana Riah ber­temu dengan anak­nya. Tetapi tempat itu kosong saja. Ia teliti tiap-tiap gerom­bolan peng­a­men kron­cong. Begitu banyak gerom­bolan kron­cong. Tetapi anak­nya sen­diri tak dida­pat­kan­nya di sana.

Per­u­sa­ha­an­nya dibi­ar­kan­nya ter­lan­tar. Tiap hari ker­ja­nya hanya men­cari anak­nya.

Orang yang dahulu selalu merasa puas akan dir­i­nya, akan keja­yaan dan kebe­naran dir­i­nya ini kini meng­a­lami ketum­bangan segala: per­u­sa­haan, iman, hari depan, dan kebe­saran yang hendak dipa­mer­kan­nya di kam­pung asal­nya—Ciba­tok.

Dahulu ia yakin, bahwa semua anak­nya takluk dan takzim pada­nya, selalu siap men­jun­jung nama­nya ter­u­tama dimasa-masa gen­ting. Tapi kini:

“Midah! Midah! Ampun­i­lah aku karena telah meng­e­jami engkau. Tapi itu aku pun ber­mak­sud baik. Apakah layak kau balas aku dengan ikut mem­per­ce­pat kehan­cur­anku? Jadi peng­a­men kron­cong? Jadi doger1. Anakku! Anakku!”

Hampir-hampir Haji Abdul tak mampu ber­se­m­bah­yang lagi. Segala per­co­ba­an­nya sela­ma­nya gagal, karena piki­ran­nya terus meng­em­bara men­cari anak­nya.

“Walau bagai­mana juga, akhir-akhir­nya dia anakku sen­diri. Walau doger—walau lebih buruk dari itu, dia harus kubawa pulang dan kuper­ba­iki.”

Dan pagi-pagi benar ia telah turun jen­jang memu­lai peker­jaan baru­nya men­cari anak­nya sen­diri, anak yang diang­gap­nya ter­sa­sar.

Segala orang yang layak dita­nya­i­nya, diminta kete­rang­an­nya. Ter­u­tama di res­to­ran-res­to­ran. Dan pada suatu kali ia men­da­pat kete­rangan sedi­kit dari tukang res­to­ran:

“Bagai­mana orang­nya, pak Haji?”

“Muka­nya bulat. Wajah­nya manis.”

“Ada tahi lalat di kuping­nya?”

“Ya! Itu dia.”

“Selalu meng­gen­dong anak?”

“Meng­gen­dong anak?” Haji Abdul hampir ber­te­riak ter­ke­jut.

“Meng­gen­dong anak?”

“Yang kul­i­hat, dia selalu mem­bawa anak.”

“Berapa umur­nya anak itu?”

“Kurang lebih tiga bulan.”

“Tiga bulan!” Haji Abdul mulai meng­hi­tung-hitung waktu sejak anak­nya mela­ri­kan diri dari sua­mi­nya. Kemu­dian meng­ge­leng-geleng. “Ya Tuhanku, dan dari mulut orang lain aku dengar aku telah Kau­beri seo­rang cucu.”

“Cucu? Dia anak pak Haji?”

“Dia anakku.”

“Tapi bapak kan seo­rang haji? Seo­rang saleh? Seo­rang ber­i­ba­dah?”

“Biar bina­tang seka­li­pun kalau dia anakku, dia tetap anakku—”

“Aku lihat dia sehat, hanya sete­lah meng­gen­dong anak nampak kurus. Tapi anak­nya merah, sehat, wala­fiat.”

“Ten­tu­nya dia tuan usir kalau datang kemari.”

“Sekali dua memang aku usir.”

“Anakku! Dari res­to­ran ke res­to­ran. Diusir di sini diusir ke sana! Anakku!”

Semua itu telah melam­paui batas, ter­lam­pau berat untuk jan­tung Haji Abdul yang dihem­ba­lang kega­galan dari kiri dari kanan. Ia ter­ja­tuh di meja dan tidak ber­ge­rak-gerak. Dan apa­bila ia bangun kem­bali ia telah ter­bu­jur di ran­jang rumah sakit.

“Aku cari anakku─si Midah,” kata-kata yang mula-mula sekali keluar dari mulut­nya. Ia hendak bangun, tapi tena­ga­nya telah habis. Seo­rang pera­wat mena­han­nya.

“Tuan tidak boleh ber­ge­rak,” kata­nya.

“Tapi aku harus pergi.”

“Tuan sakit.”

“Aku sehat. Aku mau cari anakku.”

“Deng­ar­lah, tuan sakit. Tuan tidak boleh ber­ge­rak.”

“Aku tidak sakit.”

“Lihat­lah ini,” pera­wat itu mem­per­li­hat­kan grafik panas dan detik darah. Detikan darah lebih dari sera­tus tiga puluh dan panas lebih dari empat puluh satu.

“Aku tidak sakit. Aku tidak meng­erti itu,” dan ia jatuh tak sadar­kan diri lagi.

“Dan aku sudah punya cucu. Baru aku keta­hui!” iga­unya waktu ia agak sadar.

Kom­pre­san es mele­leh-leleh di pipi dan kening­nya. Tangan kaki­nya diikat dan hanya kepa­la­nya yang dapat ber­ge­leng-geleng.

“Ini sua­mi­nya, nyonya?” tanya pera­wat itu waktu istri Haji Abdul masuk.

“Meng­apa dia diikat? Apa salah dia?”

“Suami nyonya tak boleh ber­ge­rak. Dia sakit keras.”

“Tidak mung­kin! Dia tak pernah sakit. Waktu berang­kat dari rumah dia begitu sehat dan kuat.”

“Tapi seka­rang sakit.”

“Sakit apa dia?”

“Jan­tung.”

“Tidak mung­kin. Biar­lah aku bawa pulang dia.”

“Tidak mung­kin! Dia tak boleh mening­gal­kan rumah sakit ini.”

“Sampai kapan? Ah, tuan dokter, cuma dia yang bisa cari uang untuk kami.”

“Lama sekali dia harus ting­gal di sini. Mung­kin seta­hun.”

“Tapi dia sedang men­cari anak­nya.”

“Ke mana anak­nya?”

“Lari. Sudah lebih dari empat bulan.”

“Suruh saja polisi men­ca­ri­nya.”

“Cucuku! Perem­puan atau lelaki engkau?” Haji Abdul meng­i­gau lagi.

“Cucu? Aku punya cucu?” seru istri Abdul. Tapi orang sakit yang dita­nya­i­nya tidak men­ja­wab.

“Nyonya lihat, dia sakit. Di meng­i­gau tapi tak men­de­ngar suara nyonya.”

“Riah! Riah!” Dan Riah masuk ke dalam kamar itu. “Ada engkau lihat Midah punya anak?”

“Ya, nyonya.”

“Meng­apa tidak dice­ri­ta­kan pada kami?”

Riah tidak men­ja­wab.

“Seba­ik­nya jangan rebut-ribut di sini.”

Tapi istri Abdul yang begitu kebi­ngungan itu kehi­langan sifat­nya yang biasa, yang tidak pernah ikut campur dalam segala per­kara dan tidak pernah menyum­bang­kan suara. Kini ia bang­kit jadi wanita yang beron­tak waktu diha­dap­kan kepada kenya­taan-kenya­taan yang meru­pa­kan batas keku­rang­a­jaran nasib.

“Aku mesti tunggu dia.”

“Nyonya tidak akan kuat menunggu.”

“Aku mesti tunggu dia.”

“Nyonya tidak kuat menung­gu­nya sampai seminggu.”

“Seminggu?”

“Barang­kali sebu­lan.”

“Kalau begitu kubawa pulang dia.”

“Dia tak boleh ber­ge­rak.”

“Dia sua­miku.”

“Kalau ada ter­jadi apa-apa, nyonya akan lebih susah lagi. Di sini dia akan diurus sebaik-baik mung­kin. Lebih baik nyonya pergi ke kantor polisi.”

“Untuk apa?”

“Untuk apa? Minta men­ca­ri­kan anak nyonya. Seti­dak-tidak­nya ada kemung­kinan nyonya dapat menye­la­mat­kan kedua-duanya dan bukan seba­lik­nya: kehi­langan kedua-duanya.”

“Ah, Midah! Sampai hati engkau menyu­sah­kan orang tuamu.”

“Ya, lebih baik nyonya pergi ke kantor polisi.”

Baru­lah perem­puan itu menga­lah. Dengan bim­bang hati ia mening­gal­kan kamar itu dalam iringan Riah. Mereka ber­ja­lan tanpa ber­ca­kap. Dan Haji Abdul mene­rus­kan igau­an­nya: ten­tang Riah, ten­tang anak-anak­nya, ten­tang Midah, ten­tang menan­tu­nya yang selama ini menye­mai­kan dendam dalam hati­nya, ten­tang cucu­nya, ten­tang kemun­duran per­u­sa­ha­an­nya. Kadang-kadang ter­tawa, menge­luh. Akhir­nya jatuh ping­san kem­bali.

Hanya karena mem­per­ca­ya­kan nasib kepada takdir ia dapat menum­pas pera­saan celaka dan seng­sara. Tujuh hari kemu­dian ia telah diper­bo­leh­kan duduk. Dan waktu istri­nya datang mene­ngok cuma satu per­min­ta­an­nya.

“Bawa tas­bihku kemari.”

Dan sejak itu Haji Abdul nampak menu­tup mata, dengan bibir terus-mene­rus ber­ke­cu­mik dan tangan meng­hi­tung buah tasbih. Dalam kea­daan demi­kian itu lebih suka ia men­jadi buta hingga tak meli­hat apa pun juga. Ia menye­rah­kan segala-gala­nya kepada kebi­jak­sa­naan Tuhan­nya. Apa­bila ia mulai dise­rang kegu­gupan kala ter­ke­nang akan anak­nya yang mela­ri­kan diri, buru-buru ia kuat­kan doanya, dan hitungan pada tasbih men­jadi lebih cepat, dan lambat-laun gerak itu men­jadi ber­i­rama kem­bali seba­gai­mana bia­sa­nya. Akhir­nya semua orang yang biasa dalam ruang itu menge­ta­hui kea­daan Haji Abdul dari cepat tidak­nya jari-jari itu men­do­r­ong-dorong buah tasbih.

Ber­hari-hari dalam mistik itu mem­buat ia tak men­de­ngar apa pun juga yang dika­ta­kan orang kepa­da­nya. Bahkan sekali waktu istri­nya datang mene­ngok, ia pun tak menya­dari keha­diran itu. Dan sekali waktu, kala istri­nya mene­ngok menga­bar­kan bahwa ia telah minta per­to­longan dari polisi, nama Midah yang diu­cap­kan oleh istri­nya itu masuk dalam kuping Haji Abdul ke dalam otak dan men­jadi seba­gian dari alam tas­auf­nya. Ia ber­henti berdoa, dan dari mulut­nya keluar bisikan.

“Dia akan sela­mat. Bapak­nya men­do­a­kan, dan Tuhan menga­bul­kan. Tidak ada di antara anak-anakku runtuh dalam kehi­naan.”

Istri­nya ber­gi­rang hati meli­hat ucap­an­nya men­da­pat sam­butan. Ia ber­ta­nya lagi, tapi Haji Abdul kem­bali teng­ge­lam dalam tas­auf­nya. Wanita itu telah menyangka sua­mi­nya beru­bah ing­atan. Tetapi ia tak pernah menyam­pai­kan sang­ka­an­nya itu kepada siapa pun juga. Dalam kea­daan seperti itu tidak ada satu orang pun bisa meno­long­nya. Yang kuasa meno­long hanya satu keku­atan gaib. Dan keku­atan gaib itu adalah rahmat dari Tuhan­nya. Dalam kea­daan kurang makan dan kurang tidur wanita itu terus berdoa dan tiap sampai wak­tu­nya ia ber­se­m­bah­yang. Bukan untuk dir­i­nya! Tapi untuk kese­la­matan suami dan Midah, dan semua anak-anak­nya.

Sebu­lan kemu­dian Haji Abdul boleh mening­gal­kan rumah sakit. Ia men­da­pat kete­rangan dari dokter, bahwa ia mem­pu­nyai penya­kit jan­tung. Ia tak boleh bekerja kasar dan sebaik-baik­nya ting­gal duduk-duduk dan ber­ja­lan-jalan sedi­kit sampai kuat benar, mung­kin dalam seta­hun mung­kin dalam dua tahun ia harus ber­buat begitu terus-mene­rus.

Dan apa­bila ada apa-apa ia boleh datang kem­bali.

Haji Abdul meng­u­cap­kan terima kasih dengan amat sopan­nya-sesu­atu yang baru ter­jadi atas dir­i­nya. Dalam papa­han pera­wat­nya ia naik mobil rumah sakit dan dian­tar­kan pulang.

Ang­gap­an­nya bahwa dir­i­nya­lah orang yang paling suci di dunia ini dan paling dika­sihi Tuhan, dan paling baik serta paling ber­i­ba­dah, kini hilang sama sekali. Ia merasa men­jadi kecil dalam hubungan segala-gala­nya. Pan­dangan hidup dan duni­a­nya beru­bah hingga sera­tus dela­pan puluh dera­jat.

Sejak Midah mela­ri­kan diri, menan­tu­nya tak pernah datang menga­bar­kan hal itu kepa­da­nya. Dan dendam itu dile­nyap­kan­nya dalam keta­wa­kal­an­nya pada keku­a­saan Tuhan­nya. Ah, tanpa keta­wa­kalan ini dir­i­nya sebe­nar­nya sudah lama hancur.

Ia pun tak meng­ha­rap­kan lagi adakah anak­nya akan kem­bali kepa­da­nya atau tidak. Per­u­sa­haan kul­it­nya dite­rus­kan­nya dengan sikap fatal. Keku­a­sa­an­nya mem­bu­al­kan segala kebe­sar­an­nya lenyap. Bur­uh­nya yang ting­gal seo­rang itu bekerja sen­diri, sedang toko­nya ia hanya duduk dan mela­yani pem­beli atau peme­san. Nafsu untuk menge­r­ja­kan segala usaha untuk mem­per­be­sar per­u­sa­ha­an­nya ini telah lenyap. Hanya tenaga damai yang yang kemis­tik-mis­ti­kan ada dalam dada­nya. Dan itu sudah cukup untuk­nya.

“Bila aku mati,” pikir­nya, “biar­lah aku mati kapan juga Engkau hen­dak­kan. Tak ada lagi di dunia ini yang aku sesal­kan dan ing­in­kan.”

Per­u­ba­han itu tidak mem­buat jalan per­u­sa­ha­an­nya lebih baik lagi. Tambah lama tambah mundur. Dan akhir­nya tak kuat lagi ia mem­ba­yar bur­uh­nya. Tak mau ia men­cari usaha bagai­mana ia harus mem­per­ba­iki keu­angan rumah tang­ga­nya yang juga ikut mem­bu­ruk itu. Kasih­nya pada sua­mi­nya yang men­de­rita menye­bab­kan istri­nya dengan tidak seta­hunya men­cari peker­jaan jahit-men­ja­hit di luar rumah.

Haji Abdul tidak pernah ber­pi­kir dari mana saja kelu­ar­ga­nya bisa makan tiap hari.

Juga ia tak pernah ber­ta­nya kepada istri­nya, apakah ada uang untuk makan besok.

Seba­lik­nya Haji Abdul, istri­nya beru­bah men­jadi wanita giat yang meno­long kelu­arga dalam masa kehan­curan kian lama kian meng­ham­piri. Tak bosan-bosan­nya ia datang ke kantor polisi untuk mena­nya­kan bagai­mana hasil mereka dalam men­cari anak­nya.

“Tunggu! Tunggu! Kalau dapat mesti kami kabari!”

Kali­mat yang ber­u­lang-ulang itu tidak mema­tah­kan harap­an­nya.

Dengan rela­nya Riah kadang-kadang datang mem­bantu menye­leng­ga­ra­kan dapur. Ia pun dengan diam-diam ikut berdoa dan apa­bila harus pergi ke kota atau ke Jati­ne­gara tidak lupa ia mem­per­gu­na­kan mata­nya men­cari maji­kan­nya.

Tetapi semua usaha sia-sia, karena Midah telah menge­ta­hui apa yang akan ter­jadi akan dir­i­nya sete­lah per­te­muan itu. Ia men­cari daerah lain di mana ia dengan bebas dapat menya­nyi: untuk dir­i­nya sen­diri, untuk anak­nya. Orang-orang lain cuma ia harap­kan sede­kah­nya.



Bagian Ketujuh

Daerah Simanis bukanlah di jan­tung kota di mana banyak ter­da­pat res­to­ran. Ia memi­lih daerah Jati­ne­gara yang aman untuk kese­la­mat­an­nya. Dan di sini tidak banyak ter­da­pat res­to­ran. Ia menya­nyi di depot-depot. Ia per­gu­na­kan senyum pemi­kat sebaik-baik­nya. Kadang-kadang ia menya­nyi dari rumah ke rumah dan lebih banyak diusir dari­pada mene­rima rezeki.

Tapi walau apa pun jua yang ter­jadi, dengan anak­nya sen­diri dalam gen­do­ngan itu, ia merasa lebih kaya dari­pada siapa pun juga. Sua­ra­nya yang sinis hilang, dan ia pun tidak lagi menya­nyi untuk hati sen­diri dan anak­nya. Yang ter­su­a­ra­kan oleh hati­nya kini adalah lagu yang ber­na­fas­kan kebe­basan dan kebe­run­tungan.

Dan pada suatu hari waktu ia sedang menya­nyi di depot, depot orang Tiong­hoa, seo­rang mem­be­ri­nya tepuk tangan. Ia malu. Selama ini baru sekali inilah ia mene­rima tepuk tangan. Dari depot kemu­dian muncul polisi lalu lintas yang telah dike­nal­nya.

“Sua­ramu bagus, Manis. Mari makan ber­sama aku.”

Perut yang lapar menye­bab­kan ia mene­rima tawaran itu.

“Anakmu tetap sehat aku lihat. Syu­kur­lah. Meng­apa sen­di­r­ian? Diusir juga dari rom­bongan? Ya, ten­tu­lah diusir. Tapi itu tidak meng­apa. Apa kabar ten­tang dirimu? Baik? Hai, meng­apa belum juga buka suara? Malu?”

Polisi itu tidak meng­hi­r­au­kan pan­dangan orang-orang lain.

“Tidak­kah malu makan di dekatku?”

“Malu? Meng­apa malu?”

Kera­mah­an­nya itu mele­nyap­kan kemalu-maluan Midah ter­ha­dap­nya.

Juga ter­ha­dap orang-orang lain yang menon­ton mereka makan.

“Kopi? Mau kopi? Taoke, kasih kopi dua gelas.”

“Tadi­nya kami masih punya harapan dila­tih dan kemu­dian dibawa ke radio. Tapi yang ditunggu tak pernah muncul.”

“Haha. Kron­cong jalanan itu tidak ber­harga apa-apa. Cuma meri­buti kuping.”

“Kan sua­raku bagus?”

“Sua­ramu memang bagus, penuh penye­rahan pada seni suara.”

“Bisa aku menya­nyi di radio?”

“Aku tadi dengar sua­ramu. Memang baik. Tapi, di mana engkau ting­gal?”

“Di mana-mana saja.”

Polisi itu ter­tawa senang. Kemu­dian mene­rus­kan ucap­an­nya:

“Aku meng­erti mak­sudmu. Tidak, Manis, aku takkan datang ke tem­patmu untuk meng­ganggu engkau. Aku juga sudah dengar dari kawan-kawanmu bagai­mana sebe­nar­nya kela­ku­anmu.”

“Buruk bukan?”

“Buruk bagi yang benci kepa­damu. Ya, tentu.”

“Dan tuan benci juga kepa­daku, bukan?”

“Benci? Engkau manis dan sua­ramu baik.”

“Aku tak meng­erti dengan semua mak­sudmu.”

“Tung­gu­lah aku nanti jam lima di depan stas­iun Jati­ne­gara. Mau?”

“Untuk apa?”

“Seka­rang aku masih dinas. Nanti sore kubawa engkau. Engkau harus dila­tih menya­nyi dahulu.”

“Sua­ramu baik, dan engkau bisa menya­nyi di radio.”

“Kita menya­nyi di radio, yang,” Midah ber­bi­sik pada anak­nya.

“Yang? Meng­apa dipang­gil yang? Siapa nama­nya?”

Bukan main kaget Midah. Ter­i­ngat oleh­nya, bahwa ia belum lagi mena­mai anak­nya, dan bahwa ia belum lagi menye­de­kah­i­nya.

“Sekali waktu aku namai dia. Tetapi bagai­mana menye­de­kah­i­nya?”

“Sede­kahi di rumahku. Aku cuma punya satu kamar, tapi aku kira cukup baik kalau kuun­dang kawan-kawanku sepe­ker­jaan. Setuju?”

“Begitu baik pada orang yang tidak dike­nal?”

“Apa yang tidak dike­nal? Walau kecil-kecilan, kita berdua adalah seni­man. Dan tiap seni­man adalah kawan satu sama lain.”

“Apa seni­man?”

Polisi lalu lintas itu mene­rang­kan. Dan Midah meng­erti.

“Jadi, engkau mau menunggu aku jam lima sore di stas­iun, bukan?”

“Insya Allah. Tapi aku tak mau diganggu.”

“Apa aku punya tam­pang buaya?”

Kehi­dupan bebas selama ini menye­bab­kan wanita ini beru­bah men­jadi seo­rang yang bebas dalam per­ca­kapan, seka­li­pun ber­pe­gangan pada norma-norma kesu­si­laan yang diba­wa­nya dari rumah. Hati­nya lega mene­mui seo­rang bebas pula seba­gai polisi lalu lintas yang ada di dekat­nya itu.

“Kalau saja engkau lelaki, engkau akan kubawa pulang dan tidur ber­sama-sama dengan aku. Tapi kalau engkau suka, mau juga aku cari­kan kamar untukmu. Mau?”

Midah meng­ang­guk.

“Seti­dak-tidak­nya, anakmu tidak sela­ma­nya kena angin.”

“Cukup peng­ha­sil­anmu dengan menya­nyi sepan­jang jalan itu.”

Dan Midah ter­i­ngat pada pria-pria yang mem­be­ri­nya uang yang kadang-kadang melam­paui batas royal­nya, dengan senyum di bibir kemu­dian dengan ajakan yang diu­cap­kan­nya amat per­la­han dan berisi pera­saan. Dan sela­ma­nya Midah mene­rima uang itu dengan segera untuk pergi dengan segera pula. Ia ter­i­ngat pada sopir taksi yang selalu men­ce­gat­nya di per­em­patan jalan di sebuah tempat di Jati­ne­gara. Tapi dalam kea­da­an­nya seperti itu Midah tidak­lah memaki atau meng­u­cap­kan kata-kata yang kurang sopan, tapi ia ter­se­nyum. Dan sekali waktu sopir itu meng­a­jak­nya ber­ma­lam di suatu tempat dan dengan sopan­nya ia men­ja­wab: “Sayang aku bukan perem­puan jalang, cuma nasibku seperti ini.” Dan sete­lah itu ia mene­rus­kan peker­ja­an­nya. Sekali ia ingat bagai­mana anak­nya jatuh sakit karena masuk angin, dan dengan bera­ni­nya ia pergi ke tempat dokter kanak-kanak, dan kemu­dian mem­beli obat di apotek. Di waktu itu segala keta­kut­an­nya pada barang siapa yang menge­nal­nya hilang lenyap.

“Baik­lah. Itu tak kuta­nya­kan lagi,” kata polisi itu kemu­dian. “Seka­rang aku harus pergi ber­di­nas lagi. Sampai nanti, ya?”

Sete­lah mem­ba­yar ia melom­pat di atas sepe­da­nya dan Midah mene­rus­kan per­ja­lanan yang tiada ber­tu­juan. Hari itu telah cukup ia mem­per­o­leh peng­ha­silan untuk makan dua hari.

Hampir-hampir Midah tak menge­nali polisi lalu lintas itu dalam pakaian preman. Dengan becak ia dibawa ke seki­tar daerah Mat­ra­man, di mana sebuah kamar telah dise­di­a­kan untuk­nya. Sekali lihat ia telah dapat menen­tu­kan, bahwa kamar ini akan mem­be­ri­nya tempat teduh dan keda­maian. Ia letak­kan anak­nya di ambin kayu yang dia­lasi tikar, dan kemu­dian berdua mereka duduk di kursi yang telah ter­se­dia.

“Aku harap engkau tak men­jual murah sua­ramu,” kata polisi itu.

“Apa harus aku sebut kau?”

“Ahmad. Dan siapa namamu sebe­nar­nya?”

“Pang­gil seba­gai­mana biasa engkau memang­gil aku.”

“Baik­lah. Itu raha­si­amu sen­diri. Senang engkau di sini?”

“Terima kasih untukmu. Apa harus kami makan kalau tak boleh men­jual suara?”

“Mula-mula, engkau harus kula­tih menya­nyi yang baik. Engkau harus bisa baca not balok. Engkau mau bel­a­jar, bukan? Masih mau bel­a­jar, bukan?”

Mereka ber­ha­dap-hadapan. Kedu­a­nya ber­pan­dang-pan­dangan. Kini masa­nya datang bagi Midah untuk jatuh cinta. Kalau hati­nya tidak ber­ge­rak, biar­lah hatiku sen­diri yang gun­cang. Akhir-akhir­nya aku sudah punya anak dan dia masih bujangan.

Nyonya rumah masuk mem­ba­wa­kan minuman.

“Aku harap nyonya senang ting­gal di sini. Aku per­caya nyonya orang baik-baik yang akan ikut meme­li­hara keso­panan rumah tang­gaku.”

“He, ibu, apa ibu pikir ten­tang dia?”

Perem­puan itu meng­ha­dapi polisi lalu lintas dalam pakaian preman itu dan mene­rus­kan dengan suara tuanya yang hati-hati:

“Semua sudah beru­bah, nak. Tidak seperti dulu.”

“Kan ibu tahu juga dia bakal istriku?”

Midah meman­dang pemuda itu, dan seben­tar saja pemuda itu mem­ba­las pan­dang­an­nya.

“O, kalau dari tadi atau sebe­lum­nya sudah men­ce­ri­ta­kan­nya, itu lain lagi.”

Dengan mem­bawa baki ia mening­gal­kan kamar itu.

Dan waktu pemuda itu mene­ngok pada­nya, ia telah ber­cu­curan air mata. Midah sangat ber­ba­ha­gia di masa hidup­nya ter­ku­rung oleh keke­ra­san. Dan ia tidak mung­kin menyam­pai­kan pera­sa­an­nya itu untuk meng­a­jak orang lain mera­sa­i­nya.

“Kak Ahmad?”

“Ya?”

“Benar­kah yang kau kata­kan itu?”

Ahmad ter­tawa girang. Dari mulut­nya ter­de­ngar:

“Tentu saja tidak.”

Kali­mat yang diu­cap­kan dengan riang itu meng­gu­gur­kan pera­sa­an­nya yang mulai ber­semi di dalam dada.

“Meng­apa mena­ngis?”

Dan Midah ter­se­dan-sedan. Dirang­kul­nya anak­nya. Tak ada orang yang dengan seju­jur hati­nya men­cin­tai daku. Dan waktu aku men­cin­tai, cinta itu hanya disam­but dengan ucapan ber­main-main. Air mata­nya mem­ba­sahi muka anak­nya.

“Begitu mudah­nya engkau mena­ngis.” Ahmad mem­per­i­ng­at­kan. “Tapi biar­lah, seo­rang seni­man ter­lam­pau lembut pera­sa­an­nya. Minum­lah kopimu.”

Midah tak juga bang­kit dari kursi. Dan Ahmad mem­ba­wa­kan cang­kir itu kepa­da­nya.

Ia teguk minum hangat itu dan merasa badan­nya agak nyaman dan hati­nya agak kuat.

Tapi ia tak berani meman­dang pemuda itu lagi.

“Ter­hi­na­kah engkau karena aku begini kasar?”

Dalam merang­kul anak­nya, Midah mem­ba­yang­kan merang­kul Ahmad. Begitu lurus hati dia, begitu terus terang. Tak ada aku lihat kepal­suan ter­kan­dung dalam tiap gerak-gerik­nya. Tapi dia tidak boleh aku cintai. Dia tak boleh jadi sua­miku. Engkau! Engkau anakku! Engkau yang menye­bab­kan! Tapi biar­lah, aku kur­bankan segala-gala­nya untukmu. Biar­lah hatiku gun­cang sen­di­r­ian. Dan biar­lah gunung dalam hati­nya tetap agung tidak ter­ganggu oleh apa pun juga. Dan dengan demi­kian mulai­lah Midah ber­ke­nalan dengan pera­saan cinta. Pera­saan sakit dan pahit. Tapi walau bagai­man­a­pun jua kesa­kitan dan kepa­hi­tan itu ia kasihi dan ia ber­janji akan tetap menyim­pan­nya untuk selama-lama­nya: sakit dan pahit untuk selama-lama­nya.

“Seka­rang sudah malam, Manis. Biar­lah aku pulang.”

Midah belum juga kuasa, belum juga berani, meng­ha­dap­i­nya.

“Jangan marah padaku, Manis. Aku takkan meng­gang­gumu. Biar­lah, engkau tak perlu meng­an­tar­kan aku sampai ke pintu.” Suara Ahmad men­jadi rendah dan serak. “Aku harap tak ter­sing­gung hatimu oleh ting­kahku yang kasar ini.”

Ia ter­diam ber­diri di pintu. Ia ingin menge­ta­hui jawaban wanita itu. Tapi Midah tidak ber­kata apa-apa. Ia kem­bali ke dalam dan ber­kata sopan:

“Engkau makan di sini nanti dengan ibu yang punya rumah.”

Dan waktu Midah tak juga men­ja­wab, ia ber­ta­nya:

“Engkau butuh uang?”

Baru­lah Midah meng­ge­leng­kan kepa­la­nya.

“Anakmu tidur seka­rang. Kalau engkau lelah, tidur­lah saja.”

Midah menye­li­muti anak­nya dengan selen­dang.

“Meng­apa engkau mena­ngis terus? Meng­apa tidak bicara sedi­kit pun juga? Marah padaku barang­kali? Marah karena apa?” Tangan­nya dile­tak­kan­nya di bahu wanita itu.

Tak tahan lagi Midah. Hati­nya terasa pecah. Apakah aku tak boleh ber­bagi pera­saan? Dan meng­apa tidak? Air mata­nya terus men­de­ras. Ia tak kuat mena­han kesa­kitan dan kepa­hi­tan di dalam dada­nya, dan dile­tak­kan tangan­nya di atas tangan pemuda itu.

“Tapi engkau tahu, Manis, takkan mung­kin aku jadi—Ya, tahu­lah aku seka­rang, engkau cin—Tapi itu tidak boleh. Kita berdua adalah orang dari lain-lain sifat, asal, dan daerah.”

Tangan Midah dita­rik­nya kem­bali. Hanya terasa oleh­nya ucapan pemuda yang ter­a­khir itu meru­pa­kan hinaan bagi­nya, hinaan untuk mem­ben­tengi diri pemuda di sam­ping­nya.

Ia kum­pul­kan tena­ga­nya untuk meng­ga­gal­kan hinaan dan ben­teng itu. Tetapi yang keluar hanya kata-kata lesu:

“Aku bukan orang hina, dan aku tak pernah men­ja­lani kehi­naan.”

“Aku girang men­de­ngar itu. Seti­dak-tidak­nya engkau kelak takkan menyu­sah­kan daku. Aku takkan diter­ta­wa­kan orang karena meno­long engkau.”

Kem­bali Midah merang­kul anak­nya.

“Apa akan kau­na­mai anakmu itu?”

Dan untuk melan­jut­kan usaha meng­ga­gal­kan hinaan dan ben­teng itu, Midah ber­kata agak kehi­langan kele­su­an­nya:

“Kalau saja bapak­nya ada di sini—itu tidak­lah akan susah.”

“Di mana bapak­nya?”

“Di suatu tempat yang aku keta­hui.”

“Meng­apa dia tak kau kabari, atau engkau pergi ke tem­pat­nya?”

“Apa pun peng­hi­dupan akan kutem­puh asal­kan tidak lagi ber­temu deng­an­nya.”

“Dan orang tuamu?”

“Aku takut karena mening­gal­kan sua­miku.”

“Ha! Meng­erti aku seka­rang. Meng­erti aku seka­rang,” polisi itu men­jadi girang kem­bali. “Bagai­mana kalau kuan­tar­kan kau ke rumah orang tuamu?”

“Aku suka ting­gal di sini,” jawab Midah. Tapi ia tahu, ia suka terus ada di dekat pemuda itu, tapi tak berani menga­ta­kan­nya.

“Aku kenal bapakmu.”

“Apa salah­nya kalau engkau kenal dia?”

“Haji Abdul. Aku tahu seka­rang.”

Midah menyem­bu­nyi­kan keka­ge­tan­nya dalam rang­kulan pada anak­nya.

“Sudah lama polisi men­cari-cari engkau.”

“Polisi?”

“Tentu saja polisi.”

“Aku tak pernah mela­ku­kan keja­hatan!”

“Tapi orang tuamu meminta per­to­longan polisi.”

“Engkau mau tang­kap aku?”

“Aku bisa adukan engkau dan kemu­dian engkau ditang­kap. Tapi kalau engkau tak suka kem­bali pada orang tuamu, tentu saja engkau takkan kua­dukan.”

“Kapan kau mulai beri aku pel­a­jaran nyanyi dan mem­baca not balok?”

“Besok. Besok aku datang lagi. Meng­apa kau ting­gal­kan sua­mimu?”

“Pulang­lah seka­rang, aku lelah.”

Ahmad mem­per­ba­iki letak pakai­an­nya. Men­cu­bit pipi anak itu dengan hati-hati­nya, meng­ang­guk pada Midah, kemu­dian lenyap dari kamar.

Segera Midah mengunci pintu dari dalam. Segera meru­buh­kan diri di ambin dan mene­rus­kan tangis­nya. Kehi­dupan keras dan kejam selama itu ia hadapi dengan kebe­ra­nian, karena ada modal­nya untuk berani. Karena ada modal untuk meng­ha­dap­i­nya: keya­kinan, bahwa ia bisa juga hidup dari tangan­nya sen­diri. Tapi dalam kepa­hi­tan dan kesa­kitan cinta ini, sia­pa­kah yang punya modal untuk meng­ha­dap­i­nya? Siapa yang mem­pu­nyai keku­atan untuk meng­han­cur­kan­nya?

Waktu pintu dike­tok dan dari luar ter­de­ngar ajakan makan, ia mene­rus­kan tangis­nya—mena­ngisi sesu­atu yang ia tidak meng­erti. Tapi kesa­kitan dan kepa­hi­tan itu terus mem­ban­jir­kan air mata­nya. Dan malam itu adalah malam pan­jang yang berisi satu tubuh satu jiwa: Ahmad dengan sikap­nya yang lurus dan ting­kah laku­nya yang bebas. Ia rang­kum itu untuk takkan dile­pas-lepas­kan­nya untuk selama-lama­nya.


Bagian Kedelapan

Hampir tiap hari Ahmad datang untuk meng­a­jar menya­nyi. Dan wanita ini merasa aman di dekat pemuda itu. Cinta yang ter­pen­dam dalam dada­nya mem­per­lu­nak keke­ra­san kehi­dup­an­nya selama itu. Kadang-kadang ia telah meng­u­bah dir­i­nya seka­li­gus, dalam ber­ba­gai hal. Tiap hari ia meng­ha­rap­kan—seka­li­pun harapan kosong, tapi harapan itu ada—suatu kali ia men­jadi istri Ahmad: suami-istri penya­nyi, pemu­sik.

Kema­rin anak­nya dise­la­mati dan dina­mai Rod­jali. Semua kawan-kawan pemu­sik Ahmad datang. Waktu itulah ia ber­ke­nalan dengan mereka. Dan waktu itu pula­lah ia mem­pu­nyai kawan yang tidak ter­pi­sah-pisah­kan oleh kesa­daran bahwa dir­i­nya wanita dan mereka pria.

Ia senang men­de­ngar ter­tawa mereka. Ia senang menye­di­a­kan minum untuk mereka. Dan ia senang anak­nya kini mem­pu­nyai nama. Si anak itu dipang­gil Djali, dan tak ada seo­rang pun di antara tamu­nya mem­ban­tah pem­be­rian nama pang­gilan itu.

Hanya Ahmad yang tidak mem­per­de­ng­ar­kan pen­da­pat­nya. Kini ia jadi pen­diam. Gerak-gerik­nya kaku seperti orang bangun sakit. Dan mata­nya cekung.

Waktu para tamu telah pulang, Ahmad ting­gal di kamar tamu ber­sama Midah. Djali ada di pang­kuan ibunya mem­per­main-main­kan kuping.

“Engkau sakit, kak?”

“Ya, aku sakit.”

“Meng­apa tidak pergi ke dokter?”

“Penya­kitku sama dengan yang kau deri­ta­kan.”

Midah ter­diam. Ia meng­erti maksud pemuda itu.

“Aku boleh men­cin­tai engkau, bukan, Midah? Ah, aku tak berani lagi menye­but engkau Manis, karena— Meng­apa engkau diam saja? Bukan­kah engkau cinta juga kepa­daku? Ya, aku tahu, yang kau kata­kan dahulu tidak­lah per­cuma. Dan aku meng­erti meng­apa engkau dahulu mena­ngis. Aku pun kesa­kitan.”

“Tidak­lah lebih baik kita bicara ten­tang hal-hal lain.”

Kedu­a­nya tidak­lah bicara apa-apa. Masing-masing mera­sa­kan kesa­kitan di dalam dada.

Kemu­dian Midah menya­nyi dan Ahmad pun menya­nyi.

Aku menyesal kau menangis

Aku menyesal kau merana

Tapi apa hendak dikata

Katalah jadi peristiwa

Katalah jadi pertemuan

Katalah jadi perpisahan

Tapi musik lebih berharga

Bersama gendang dan biola

Kedua-duanya tak ber­ca­kap-cakap lagi. Kemu­dian nyonya rumah datang mene­mani, dan sua­sana men­dung diga­gal­kan:

“Engkau nampak beru­bah, nak. Bia­sa­nya begitu gem­bira. Seka­rang begitu layu.”

“Sakit, bu.”

“Kalau begitu nya­nyi­lah lagi.”

Mereka berdua meng­u­langi nya­nyi­an­nya.

“Sayang tak ada gen­dang di sini,” nyonya rumah menye­sali. “Gen­dangku dipin­jam tetangga untuk main gambus. Men­di­ang sua­miku dahulu mem­pu­nyai har­mo­nium. Tiap malam seha­bis kerja dima­in­kan­nya. Waktu mening­gal tidak ada yang mema­in­kan­nya lagi. Karena itu kujual.”

“Ya, bu, aku masih ingat waktu pegang gen­dang dulu.”

Kemu­dian per­ca­kapan mati sama sekali. Sayup-sayup ter­de­ngar radio tetangga menya­nyi­kan lagu rakyat popu­ler.

“Kapan kalian kawin?”

“Itulah, bu. Kami belum men­da­pat rumah.”

“Kawin­lah dan ting­gal di sini.”

Per­ca­kapan mati lagi. Waktu nyonya rumah meli­hat men­dung menyapu wajah kedua orang muda itu, nampak ter­ke­jut.

“Meng­apa kalian ber­diam-diam saja? Ah, barang­kali aku hanya meng­ganggu.” Dan tanpa menunggu jawaban ia pun per­gi­lah.

“Kita sudah tahu riwa­yat masing-masing,” akhir­nya Midah memu­lai. “Aku tahu kita tak mung­kin kawin.”

“Ya.”

“Aku adalah milik diriku dan anakku. Engkau milik orang tuamu.”

“Ya.”

“Engkau bisa saja menye­rah­kan kesu­l­it­anmu pada mereka. Dan pada diriku sen­diri.”

“Ya.”

“Kita tak bisa kawin.”

“Ya, aku tahu.”

“Karena itu tak perlu dibi­ca­ra­kan lagi.”

“Aku tak punya apa-apa, Midah. Kawanku banyak, kawan orang tuaku banyak. Aku tak berani jadi buah bibir mereka.”

“Aku tahu kesu­l­it­anmu. Lebih baik bicara ten­tang lain-lain hal.”

“Ten­tang apa, Midah?”

“Kapan aku mulai menya­nyi?”

“Besok.”

“Lebih baik kita ulangi latihan kita.”

Dan mereka pun menya­nyi ber­sama. Ahmad mem­be­ri­kan irama dengan pipa rokok ke atas meja. Dan di luar malam telah mera­suk. Ber­u­lang kedu­a­nya menya­nyi. Nyonya rumah tak mem­per­de­ng­ar­kan bunyi atau suara lagi.

“Tidur­kan­lah si Djali, Midah.”

Midah bang­kit dan mem­bawa anak­nya masuk ke dalam kamar.

Ahmad ting­gal di kamar tamu.

Nampak ia sedang ber­ju­ang mela­wan piki­ran­nya sen­diri. Djali men­je­rit. Ter­de­ngar Midah:

“Tidur, Djali, tidur. Semua orang sudah tidur.” Kemu­dian ia menya­nyi.

Ahmad meng­ge­leng-geleng­kan kepala. Kemu­dian ia bang­kit. Mata­nya yang redup menyala.

“Sudah tidur?”

“Lebih baik engkau di luar saja. Aku pun hendak keluar.”

Tetapi Ahmad telah meng­ham­pir­i­nya. Ia rang­kul wanita itu dan dici­um­i­nya.

“Kita takkan jadi suami-istri, kak. Lebih baik engkau keluar.”

“Midah, Manis. Engkau tahu bagai­mana hancur hatiku.”

“Lawan­lah. Lawan­lah.”

“Aku tidak kuasa mela­wan, Manis. Tidak bisa!”

“Engkau harus kuat! Mari keluar.”

Tapi Ahmad tak mau keluar.

“Lain kali ada waktu yang banyak untukmu, dan lain kali ada waktu yang lebih banyak meme­nuhi kebu­tuh­anmu.”

“Engkau begini ber­a­dab, Midah.”

“Walau aku hidup di jalanan, kak, aku bukan­lah orang jalanan. Itu engkau keta­hui.”

“Jangan­lah kau sebab­kan aku jadi wanita seperti itu.”

“Midah, Manis, Midah—” Ahmad sambil men­ci­umi. Lebih dari itu ia tak bisa.

“Aku tahu apa engkau mak­sud­kan. Karena itu mari­lah keluar.”

“Manisku! Midahku—” sambil terus men­ci­umi.

“Kak, sia­pa­kah yang tidak baha­gia dengan seo­rang yang dicin­ta­i­nya. Tapi engkau harus ingat pada diriku, anakku.”

“Midahku! Midahku!”

“Aku adalah seo­rang ibu, dan engkau tak pernah merasa men­jadi ayah.”

“Biar­lah aku ber­sama engkau, Manis. Izin­kan­lah.”

“Aku beri­kan segala-gala­nya yang mung­kin. Tapi jangan­lah aku kau­no­dai. Kalau aku kem­bali….”

“Jangan­lah banyak bicara, Midah. Biar­lah kita…..”

“Kalau aku kem­bali kepada orang tuaku….”

Sebuah ciuman yang mesra meng­ha­langi ucap­an­nya. Kemu­dian:

“Biar­lah aku masih suci seba­gai­mana aku pergi.”

Tapi Ahmad tak dapat mena­han berang­sang hawa naf­su­nya lagi. Midah mena­ngis. Apa­lagi yang dapat diper­bu­at­nya selain mena­ngis!

“Aku tidak rela! Aku tidak rela! Walau bagai­man­a­pun jua cin­taku padamu,” bisik­nya.

Kemu­dian ia teng­ge­lam.

Ahmad teng­ge­lam.

Malam teng­ge­lam.

“Begini cantik engkau Midah. Begini manis. Tak ada satu cacat pun meru­sak­kan kul­itmu.”

Midah hanya mem­per­de­ng­ar­kan keluhan.

“Midahku! Midahku!”

“Aku tahu, engkau hendak meng­han­cur­kan aku. Dan engkau sampai hati. Han­cur­kan­lah aku.”

“Jangan aku ter­lam­pau kau siksa, Midah.”

“Engkau ter­lam­pau memi­kir­kan dirimu sen­diri.”

Kemu­dian tak ter­de­ngar per­ca­kapan lagi. Mereka lebih larut teng­ge­lam. Waktu sayup-sayup ter­de­ngar lon­ceng, baru­lah ter­de­ngar bisikan lagi:

“Besok saja aku pulang.”

“Ya besok! Besok saja. Engkau pulang dan mem­bawa pulang cin­tamu pula. Aku tahu itu. Engkau takkan balik kem­bali mem­bawa cinta. Engkau akan datang hanya seba­gai tamu…. seba­gai tamu—mung­kin juga seba­gai tamu yang hanya mena­gih hutang. Sampai hati engkau.”

“Diam­lah, Midah, diam­lah.”

“Aku kira engkau akan menye­sal—dan untuk selama-lama­nya.”

“Tidak. Aku tidak menye­sal.”

“Tidak? Ya, mung­kin aku yang menye­sal.”

“Meng­apa?”

“Meng­apa? Per­bu­atan ini meng­han­cur­kan cin­tamu. Dan aku ber­ba­ha­gia dengan cin­tamu.”

“Baik­lah, aku tidur, Midah.”

“Tidur­lah. Besok engkau bukan orang yang men­cin­tai aku lagi.”

“Besok?”

“Barang­kali seka­rang engkau bukan Ahmad yang tadi.”

“Biar­lah aku tidur.”

Kemu­dian tak ter­de­ngar mereka ber­bi­sik atau­pun ber­ge­rak. Lama. Bebe­rapa jam. Kemu­dian Djali mena­ngis. Ketiga-tiga­nya bangun. Mulai pula berang­sang nafsu meng­a­muk dalam dada Ahmad. Dan mulai lagi kedua orang itu jatuh teng­ge­lam. Dan anak kecil itu terus mena­ngis, men­je­rit, kaki dan tangan meng­hen­tak-hentak.

“Tahu kan apa arti­nya?”

“Apa?”

“Djali mena­ngis!”

“Tidak.”

“Dia menyak­si­kan bagai­mana untuk per­tama kali karena cin­ta­nya ibunya rela dino­dai. Dan yang meno­dai adalah engkau.”

Ayam pun ber­ke­ru­yuk.

“Sudah pagi seka­rang.”

“Sudah pagi seka­rang, engkau mau pulang? Pulang­lah.”

Dan sete­lah Ahmad menge­na­kan pakai­an­nya, Ahmad pulang. Kele­su­an­nya hilang. Ia kem­bali jadi pemuda yang peri­ang dahulu. Dan waktu ia telah hilang dari kamar, Midah mene­rus­kan menyu­sui anak­nya. Kem­bali air mata mele­leh-leleh mela­lui pipi jatuh ke bantal.

“Apakah cuma ini yang engkau beri­kan kepa­daku?” bisik­nya. Ia ter­se­dan-sedan. “Dan bila demi­kian, apa lagi­kah yang bisa diper­buat oleh sua­miku atas diriku?”

Ia tahu orang tuanya tak perlu meng­a­lami apa yang baru saja dia­lam­i­nya. Karena mereka punya rumah yang tetap, dan mereka men­cin­tai rumah­nya. Ber­beda denga Midah, anak mereka, yang tidak mem­pu­nyai rumah tetap dan juga tidak men­cin­tai yang tak dimi­l­ik­i­nya.

Hingga ayam ber­henti ber­ke­ru­yuk ia tak meme­jam­kan mata­nya lagi. Piki­ran­nya meng­em­bara ke mana-mana, ter­u­tama mem­ba­yang-bayang­kan kemung­kinan per­hu­bungan dengan Ahmad seka­li­pun ia tahu takkan ada per­hu­bungan apa-apa deng­an­nya. Dengan per­bu­at­an­nya sema­lam, segala-gala­nya yang pahit dan sakit tetapi mem­ba­ha­gi­a­kan itu telah punah.

Waktu pintu dike­tok nyonya rumah, ia baru bang­kit. Kemu­dian mena­ngis lagi. Dan sete­lah menyeka mata, ia pun pergi ke kamar mandi.

Dan benar­lah duga­an­nya. Sejak itu Ahmad bukan saja mela­tih­nya menya­nyi, tetapi juga ber­tin­dak seba­gai tamu yang terus-mene­rus mena­gih.


Bagian Kesembilan

Dari kiri dari kanan nyonya Haji Abdul mem­per­o­leh kabar bahwa seka­rang anak­nya menya­nyi di radio. Ia men­coba menu­tupi kuping­nya dari berita itu. Tapi kete­rangan Riah bahwa Midah menya­nyi di depan-depan res­to­ran mau tak mau mem­buat ia jadi bim­bang.

“Kalau saja men­jadi penya­nyi seperti Umi Kalsum—itu lain per­kara.”

Sekali waktu tetang­ga­nya ber­lari-larian mene­mu­i­nya. Kemu­dian:

“Ayolah kalau tidak per­caya. Ayolah.” Dan dita­rik­nya perem­puan itu diajak ikut men­de­ng­ar­kan radio.

Dan kedua perem­puan itu men­de­ng­ar­kan.

“Engkau dengar? Itu adalah suara anakmu. Aku tak bim­bang. Aku pernah dengar anakmu menya­nyi nya­nyian itu. Deng­ar­kan.”

Nyonya Abdul men­de­ng­ar­kan. Dan ter­ba­yang di mata­nya pera­wan manis dan cantik yang bebe­rapa tahun yang lalu masih ber­gaun pendek dan ber­ke­ru­dung putih. Anak itu adalah anak­nya. Dan anak itu kini menya­nyi­kan lagu yang kini dide­ng­ar­nya.

“Akhir­nya orkes Irama Bakti akan meng­a­khiri per­ma­in­an­nya dengan suara Simanis Ber­gigi Emas dalam lagu Jali-jali!” kata radio.

“Ya, anakmu memang manis.”

“Tapi dia tak ber­gigi mas.”

Nyonya Abdul pulang kem­bali ke rumah­nya. Tiba-tiba timbul kei­ng­in­an­nya untuk mem­buk­ti­kan sen­diri. Buru-buru ia ber­pa­kaian. Dan dengan beca ia menuju ke studio.

Malam waktu itu. Ia tak berani masuk ke studio. Ia hanya menunggu di gapura, menunggu, dan menunggu. Tapi di antara mereka yang mening­gal­kan gedung itu tak ada yang dijum­pa­i­nya Midah. Akhir­nya ia pulang kem­bali ke rumah, dan ber­sa­maan dengan itu hilang pula harap­an­nya untuk dapat ber­temu dengan anak­nya.

Pada suatu hari tetang­ga­nya datang pula untuk meng­a­jak­nya men­de­ng­ar­kan suara Simanis ber­gigi emas. Lambat laun ia yakin akan kebe­naran tetang­ga­nya.

“Kalau engkau mau,” kata­nya, “anakku bisa meng­an­tar­kan engkau ke gedung radio.”

Dan dengan demi­kian nyonya Abdul pergi dian­tar­kan anak tetang­ga­nya.

Nyonya Abdul telah dapat mem­ba­yang­kan apa yang akan ter­jadi bila ber­temu dengan anak­nya. Midah akan meng­ha­dap­i­nya dengan ben­teng kecu­r­i­gaan. Dan ia dengan kego­ya­han pera­saan yang ter­gun­cang-gun­cang antara dua ujung: keben­cian pada peker­jaan anak­nya dan cinta ibu ter­ha­dap sese­o­rang yang dahulu pernah dila­hir­kan­nya dengan kesa­kitan dan menum­pah­kan seba­gian dari darah­nya. Sebe­nar­nya ia takut pada per­te­muan itu. Tapi suara yang memang­gil-mang­gil dari hati kecil­nya mena­rik-narik­nya untuk ber­buat. Ber­buat! Ber­buat! Orang akan tetap geli­sah bila tidak ber­buat.

“Seha­rus­nya aku pergi sen­di­r­ian,” pikir­nya. “Anak ini akan men­jadi saksi per­te­muan kami. Ah, moga-moga anakku sela­mat. Moga-moga ia tidak ber­noda. Tuhan, kem­ba­li­kan anakku padaku dalam kea­daan seperti waktu ia mening­gal­kan rumah kami. Suci dan manis, cantik dan baik budi.”

“Ibu meng­gi­gil,” kata anak itu.

“Dingin, nak.”

Anak itu menu­tup­kan pada tubuh­nya selen­dang­nya sen­diri. Dan ia meno­lak.

“Baru jam sete­ngah enam seka­rang, bu. Ibu sakit?”

“Malaria.”

“Aku juga pernah malaria. Pulang saja kita?”

“Biar-biar. Kita pergi terus.”

“Bukan­kah ibu harus mene­lan pil dahulu?”

“Nanti saja. Nanti saja. Nanti, ya nanti.”

Nyonya Abdul tak ingin ber­bi­cara. Ia ter­lam­pau sibuk dengan angan-angan­nya sen­diri.

Di per­te­ngahan jalan baru ia ingat bahwa jam enam sua­mi­nya nanti datang. Dia akan marah. Dan ia takut hati sua­mi­nya ter­ganggu. Mung­kin mem­bang­kit­kan sakit jan­tung­nya kem­bali. Ia ingin kem­bali untuk kese­la­matan sua­mi­nya. Tapi ia pun ingin terus untuk kese­la­matan anak­nya. Tak ada di antara kedu­a­nya ia pilih dan beca terus melun­cur. Seper­em­pat jam kemu­dian sam­pai­lah mereka di gedung studio.

Nyonya Abdul geme­tar. Dan anak itu mema­pah­nya. Mereka mena­iki jen­jang menuju ke kantor.

“Nyonya, rom­bongan Irama Bakti baru saja pulang. Naik pikap.”

Gigi­lan nyonya tak dapat dita­han lagi. Dan tanpa disi­lang­kan ia telah duduk saja di atas kursi.

“Sakit, nyonya?” Dan nyonya hanya meng­ge­leng.

“Nyonya Abdul men­cari anak­nya, tuan.”

“Dalam rom­bongan Irama Bakti?”

“Ya.”

“Tuan, anakku Midah—anakku—dia ikut menya­nyi?”

“Midah?”

“Siapa sebe­nar­nya Simanis Ber­gigi Emas?”

“Biduan Simanis? Aku tidak tahu. Di buku nama­nya begitu juga.”

“Tidak! Tidak! Dia anakku! Aku kenal dari sua­ra­nya. Aku kenal sua­ra­nya sejak dia kulah­ir­kan—” Ben­dungan nyonya Abdul telah pecah. Ucapan-ucapan emo­si­nya ber­ham­buran dalam kantor studio. Akhir­nya: “Minum, beri aku minum.”

Sege­las air dingin dite­guk­nya habis. Ia ber­na­pas lega dan mem­per­o­leh ken­da­li­nya kem­bali.

“Haji Terbus itu memang bang­sat,” kem­bali ia kehi­langan ken­dali. “Anakku juga begitu cantik, begitu manis—tidak mung­kin! Kalau dia tak kejami, tidak mung­kin dia lari. Tidak mung­kin dia jadi penya­nyi.”

“Nyonya sakit, tuan, bawa pulang saja buru-buru.”

Anak itu tak mela­deni. Ber­kata:

“Aku pun kenal suara itu. Suara Midah. Aku kenal Midah.”

“Aku tak meng­erti maksud kalian.”

“Beri­lah kami ala­mat­nya. Dia adalah ibunya. Sudah lama ter­pi­sah, tuan.”

“O, kalau cuma ala­mat­nya, tentu saja aku dapat beri­kan.” Dan ia pun menye­rah­kan seso­bek kertas berisi alamat.

“Mari, bu, mari kita pergi,” dan dipa­pah­nya perem­puan itu. “Ke mana ibu mau seka­rang? Pulang? Ke Mat­ra­man?”

Napas besar-besar men­de­sak-desak di hidung orang tua itu.

“Aku mau ber­temu dengan anakku. Antar­kan aku, nak.”

Pega­wai itu meman­dangi perem­puan itu dari jen­dela kaca kan­tor­nya. Dan mata­nya tetap meman­dangi hingga kedua-duanya hilang ke dalam beca.

Malam mulai meng­gan­ti­kan siang. Tanah lapang gambir telah dise­lu­bungi rem­bang dan lampu jalanan telah menyala, ber­ba­ris seperti ser­dadu mem­bawa obor.

“Mereka mau menipu.”

“Siapa mereka, bu?”

Nyonya Haji sen­diri tak tahu siapa mereka itu. Waktu ia dapat mengu­a­sai dir­i­nya kem­bali ter­de­ngar ia menye­but bebe­rapa kali, kemu­dian tenang. Dan beca terus melun­cur dengan aman­nya ke arah Mat­ra­man.

Selama itu tidak disa­dar­i­nya betul rasa cinta-ibu-ter­ha­dap-anak. Tetapi waktu menu­rut ang­gap­an­nya ada bahaya keba­tinan akan menimpa anak­nya, cinta itu melon­jak keluar dari per­se­m­bu­nyi­an­nya. Antara seben­tar ia menyu­ruh cepat­kan ken­da­raan yang ditum­pang­i­nya. Dan kala sampai di Mat­ra­man, baru­lah mereka ber­pu­tar-putar men­cari alamat. Dari gang ke gang nampak kegu­gupan nyonya Haji tampil kem­bali pada air muka­nya dan dengan kegi­gi­lan yang ter­ta­han­kan di dalam hati, ia terus-mene­rus mendoa agar ber­temu dengan Midah, dengan cucu­nya yang ia belum pernah meli­hat­nya.

“Sini ting­gal seo­rang penya­nyi?”

“Ya, tuan.”

Gigi­lan dalam hati nyonya Abdul tak ter­ta­han lagi bagi jan­tung­nya. Ia hanya ber­pe­gangan di tiang pintu. Kaki­nya pun agak meng­gi­gil, dan ia mem­bu­tuh­kan kursi. Kepa­la­nya tak ubah­nya dengan lalu lintas Senen seha­bis waktu kantor.

“Midah?”

“Ya, tuan. Sete­ngah orang orang memang­gil­nya Midah. Sete­ngah lagi Simanis.”

“Ada dia di rumah?”

“Belum pulang, tuan.”

“Boleh aku masuk, nyonya?” nyonya Abdul ber­ta­nya.

Mereka masuk. Segera ibu menyem­bur­kan segala per­ta­nyaan mung­kin dan tidak mung­kin. Kemu­dian:

Nyonya rumah menge­lu­ar­kan seo­rang anak kecil yang kurus dan nampak tak ter­pe­li­hara.

“Masya Allah! Inikah cucuku? Alang­kah kurus.”

“Ya, nyonya, Midah terus-mene­rus sibuk dengan musik­nya. Tapi anak ini tidak sakit. Dia sehat, nyonya.”

“Sehat? Ah, cucuku. Begini kurus engkau!” Dan dici­um­i­nya anak kecil itu. Djali men­je­rit-jerit.

“Alang­kah amis baumu. Alang­kah amis. Barang­kali tidak pernah diman­di­kan.”

Nyonya rumah tak menya­ta­kan pen­da­pat­nya.

“Meng­apa anakku ting­gal di sini?”

“Meng­apa ting­gal di sini? Kema­u­an­nya sen­diri.”

“Meng­apa begini hari dia belum datang?”

“Meng­apa? Dia penya­nyi. Hari ini nyanyi di rumah Tiong­hoa kawin.”

“Nyanyi di rumah Tiong­hoa kawin! Midah! Anakku!”

“Nyonya, aku sen­diri suka menya­nyi. Dulu! Aku kira tak ada jelek­nya orang menya­nyi untuk men­cari peng­ha­silan.”

“Aku bawa pulang anak ini.”

“Nyonya akan bawa pulang? Apa kataku nanti ter­ha­dap dia?”

“Bilang nenek­nya yang ambil.”

“Jangan, nyonya. Jangan.”

“Aku berhak meng­am­bil­nya. Aku kawin­kan dia dengan Haji Terbus. Ini anak Haji Terbus dan dia. Aku berhak meng­am­bil­nya.”

“Apa kataku kalau dita­nya?”

“Suruh dia datang ke rumah orang tuanya. Di sana akan dia dapati anak­nya.”

Sebe­lum nyonya rumah sempat menya­ta­kan pen­da­pat­nya lebih lanjut, nyonya Abdul telah mem­bawa keluar anak kecil itu dan Djali terus men­je­rit-jerit. Dengan tiada tawar-mena­war ditum­pang­i­nya beca yang mula-mula dida­pat­i­nya, dan dengan demi­kian mereka pun menyeb­rangi malam menuju ke rumah­nya. Dalam hati­nya ia merasa ber­syu­kur. Djali ini bisa jadi peng­ganti Midah. Seka­li­pun Midah mau meng­am­bil anak­nya, seka­li­pun perem­puan itu tak mau pulang ke rumah­nya lagi, seti­dak-tidak­nya ia dapat mene­bus segala kesal­ah­an­nya dengan mem­per­la­ku­kan anak itu sebaik mung­kin.

Tiba-tiba ia ter­ke­jut. Ada kein­sya­fan menye­li­nap ke dalam peng­er­ti­an­nya, ke dalam kesa­dar­an­nya: usa­ha­nya men­cari Midah tidak lain dari­pada usaha mem­per­ba­iki kesal­ah­an­nya ter­ha­dap anak­nya sen­diri.

“Anak yang begitu cantik, begitu manis, begitu ber­budi,” bisik­nya. “Abdul merasa ber­sa­lah karena gila pujian. Aku ber­sa­lah karena tidak pernah mem­pe­du­li­kan­nya. Tapi seka­rang semua bisa diper­ba­iki kem­bali.”

Hati­nya men­jadi lega. Selu­ruh keru­wet­an­nya hilang. Djali terus-mene­rus men­je­rit kedi­nginan di malam gelap itu. Dan jeritan itu mengem­ba­li­kan kenangan-kenangan nyonya Abdul waktu untuk per­tama kali­nya ia mem­pu­nyai anak. Dan anak itu adalah Midah. Pera­saan syukur kepada Tuhan­nya karena telah diberi kese­la­matan waktu mela­hir­kan, kini datang kem­bali. Dici­um­i­nya anak itu sambil meng­e­lus-elus kepa­la­nya yang kecil.

“Raja, raja, manisku, alang­kah amis baumu. Diam-diam jangan mena­ngis. Nanti kubu­at­kan kau bubur haper­mot1 dengan susu.”

Karena capek mena­ngis, akhir­nya Djali diam dengan sen­di­r­i­nya. Kemu­dian ter­ti­dur dalam pang­kuan nenek­nya. Tapi nyonya Abdul terus men­ci­um­i­nya. Di waktu itu ia ter­lupa sama sekali pada sua­mi­nya yang sudah lama menung­gu­nya. Ia ter­lam­pau sibuk dengan kegi­rang­an­nya. Ia ter­lam­pau ber­se­ma­ngat dengan maksud-mak­sud­nya hendak mene­bus segala dosa-dosa­nya kepada anak­nya, ia tidak ingat sama sekali, bahwa di sam­ping­nya duduk anak tetang­ga­nya. Lalu lintas di seke­li­ling­nya, bahkan gedung-gedung yang megah meng­a­piti jalan raya yang dila­lu­i­nya, hilang tidak Nampak sedi­kit pun juga. Yang ada hanya kegi­rang­an­nya, cucu­nya, dan sema­ng­at­nya.

Ia ter­ke­jut waktu dari sam­ping­nya ter­de­ngar suara:

“Bu, kita telah sampai.”

“Ya, kita telah sampai,” bisik­nya pada cucu­nya. Diper­ba­ik­i­nya rang­kul­an­nya dan kemu­dian ia turun, tanpa meli­hat beca yang diting­gal­kan­nya. Lang­sung ia masuk ke dalam rumah. Men­je­rit:

“Cucuku! Lihat cucuku.”

Seka­li­gus selu­ruh isi rumah datang meru­bung. Ber­ba­gai seruan keluar dari ber­ba­gai mulut.

“Mana bapakmu?” nyonya Abdul ber­ta­nya kepada anak-anak­nya.

“Di khal­wat.”

Belum juga habis sem­bah­yang! Tidak disam­but­nya cucu­nya yang semanis ini. Akhir­nya dengan tiada meminta izin ter­le­bih dahulu ia pun sampai masuk ke dalam khal­wat.

“Lihat dulu, ini cucumu! Cucumu!”

Haji Abdul ter­ke­jut dari ziki­r­nya. Ia meno­leh ke bela­kang.

“Cucumu!”

Hampir-hampir lelaki itu melom­pat. Tapi segera ia dapat mengen­da­li­kan diri. Dile­tak­kan tas­bih­nya di atas per­ma­dani. Lambat-lambat ia bang­kit dan meng­ham­piri anak kecil yang dise­but cucu­nya. Ia amat-amati makh­luk kecil itu. Djali men­je­rit keta­kutan meli­hat kirut-mirut wajah kakek­nya.

“Diam-diam, kakek tidak meng­gang­gumu.” Dan die­lus­nya pipi cucu­nya. Senyum manis ter­sung­ging pada bibir­nya—senyum untuk per­tama kali selama ini.

“Manis seperti ibunya,” nyonya meya­kin­kan.

Haji Abdul meng­ang­guk. Kemu­dian:

“Mana ibunya?”

“Ah, anak ini ter­lam­pau sering diting­gal­kan ibunya. Tidak ter­u­rus. Coba cium baunya. Tapi dia manis. Lihat­lah, bagai­mana kurus dia. Barang­kali seminggu tidak dite­teki.”

“Mana ibunya?”

“Sayang manisku sayang, jangan takut sama nenek. Kakek juga tidak jahat.”

“Mana ibunya?”

“Aku rang­kul terus di beca tadi. Kedi­nginan rupa­nya. Barang­kali dia tak pernah diajak keluar.”

“Mana ibunya?”

Nyonya sekali ini ter­paksa men­de­ng­ar­kan per­ta­nyaan sua­mi­nya. Masih juga dico­ba­nya meng­hin­dari per­ta­nyaan dengan ber­ta­nya kem­bali:

“Ibunya? Meng­apa mena­nya­kan ibunya?”

“Mana ibunya?”

“Aku belum ber­temu. Aku ambil dari rumah­nya—dari pon­do­kan­nya.”

Haji Abdul mena­rik napas keluh. Ia pung­gungi istri dan cucu­nya, kemu­dian pergi lagi ke tem­pat­nya semula, meng­am­bil tasbih dan mene­rus­kan ziki­r­nya.

Nyonya meman­dangi ting­kah sua­mi­nya dengan diam-diam. Pada paras­nya nampak keke­cutan. Tapi ia tak bilang apa-apa. Diting­gal­kan­nya khal­wat sete­lah menu­tup pintu dengan hati-hati.

“Dinah, buat­kan bubur haper­mot dengan susu.”

“Haper­mot kita tak punya, ibu. Susu juga kita tak punya.”

“Beli di toko.”

“Begini malam semua toko juga sudah tutup.”

“Beli! Biar mahal tak apa,” dan dike­lu­ar­kan­nya uang dari saku­nya.

Dengan wajah tak ber­se­nang hati anak yang disu­r­uh­nya per­gi­lah. Nyonya segera mema­sak air, mem­ba­suh cucu­nya dengan air hangat kemu­dian meng­ganti baju Djali dengan baju yang ter­sim­pan di dalam lemari.

Dan sejak itu hanya dua per­ha­tian nyonya Abdul: peker­ja­an­nya sen­diri dan cucu­nya. Yang lain-lain ia tak peduli.



Bagian Kesepuluh

Taman Chairil Anwar itu sudah gelap. Tetapi buat Midah ada bagian yang terang-ben­de­rang. Dan di dalam caha­ya­nya itu ada makh­luk ter­golek dan pada wajah­nya ter­ta­rik garis-garis kego­ya­han. Mulut­nya kejang seperti telah ter­lam­pau capai mena­ngis. Makh­luk itu adalah anak­nya: Rod­jali! Tapi ia kini tidak ter­ta­rik pada cahaya dalam kege­lapan itu. Ia hanya ter­ta­rik pada nasib­nya sen­diri.

Diceng­ke­ram­nya baju lelaki yang ada di sam­ping­nya. Ber­bi­sik:

“Aku tahu. Eng­kau­lah satu-satu­nya harta benda orang tuamu.”

“Kita pulang saja, Manis. Aku lelah, aku ingin tidur.”

“Walau bagai­man­a­pun juga, Ahmad, engkau harus deng­ar­kan aku sekali ini. Aku minta wak­tumu seben­tar saja.”

“Kata­kan. Kata­kan. Aku begini cape seka­rang.”

“Ada makh­luk aku simpan di bawah jan­tungku seka­rang. Dan makh­luk ini adalah anakmu.”

“Anakku?”

“Ahmad! Meng­apa engkau ter­ke­jut? Bukan­kah ini akibat sewa­jar­nya dari per­bu­at­anmu atas diriku?”

Lelaki itu tidak ber­kata apa-apa lagi. Nyata sekali ia ter­ke­jut. Ia men­jadi bapak?

Ia? Anak muda yang riang gem­bira dan tidak pernah ter­seng­gol masa­lah yang dalam. Tidak mung­kin! Tidak mung­kin ada anak yang akan meng­a­kui dir­i­nya seba­gai anakku! Selama ini fit­nahan. Midah ingin dipe­ris­tri.

Tiba-tiba mele­dak dari mulut­nya:

“Tidak mung­kin!”

“Eng­kau­lah satu-satu­nya orang yang kucin­tai.”

“Tidak mung­kin aku mem­per­is­tri engkau.”

“Bukan itu mak­sudku. Untuk cinta ini segala-gala­nya kube­ri­kan kepa­damu. Juga diriku.”

“Apa kau­pinta dari­pa­daku seka­rang?”

“Apa yang kupinta? Akui ini anakmu. Beri aku surat sah, bahwa ini anakmu. Aku dengan keja­dian ini akan ber­tang­gung jawab. Tetapi akui ini anakmu.”

“Engkau mau jebak aku.”

“Men­je­bak? Ini hanya akibat per­bu­at­anmu.”

“Tidak! Engkau mau jebak aku. Engkau mau paksa aku kawini kau.”

“Ah, meng­apa engkau tidak meng­erti mak­sudku? Aku tahu engkau orang baik-baik, engkau anak dari kelu­arga baik-baik. Itu tidak kusing­gung-sing­gung. Yang kupinta hanya­lah, akui anak ini anakmu. Kelak, nanti kalau engkau sudah tua, mung­kin dia akan ber­ta­nya kepa­daku siapa bapak­nya. Dan dengan tiada ragu aku akan dapat kata­kan, eng­kau­lah bapak­nya.”

“Engkau mau jebak aku.”

“Apa guna­nya men­je­bak engkau? Apakah keun­tung­anku? Peng­a­kuan itu hanya untuk anak itu sen­diri.”

“Untuk kau sen­diri?”

“Untukku, aku sang­gup derita segala-gala­nya karena cin­taku kepa­damu.”

“Penipu!”

“Meng­apa baru seka­rang kau ucap­kan. Meng­apa tidak dahulu?”

“Penipu!”

“Apakah jahat­nya menipu untuk kepen­tingan anakmu sen­diri?”

“Aku tidak punya anak! Tidak!”

Cahaya di mana ada makh­luk ter­golek men­jadi terang. Midah dengan makh­luk itu men­je­rit-jerit memang­gil­nya. Ia ingin segera pergi. Tapi ia harus sele­sai­kan urus­an­nya dulu.

“Sebe­lum anak ini lahir, bapak­nya sudah tak meng­a­kui. Apakah jadi­nya anak ini kelak?”

“Jangan kau coba agar aku meng­a­kui ini lagi.”

“Anak siapa ini?”

“Anak siapa? Bukan­kah ada banyak lelaki lain di ran­jangmu?”

“Ya, Tuhan!” Midah menye­but. Kemu­dian ia tak bisa mene­rus­kan. Dada­nya sesak. Ceng­ke­ram­an­nya pada baju lelaki itu dile­pas­kan­nya. Dan akhir­nya:

“Kalau betul tuduh­anmu itu, seti­dak-tidak­nya karena cin­taku kepa­damu semua itu ter­jadi.”

“Omong kosong. Kau mau tipu aku.”

Lama Midah tak bisa ber­kata apa-apa. Kem­bali air mata­nya yang lama ber­cu­curan.

Akhir­nya lambat-lambat ia kelu­ar­kan suara dari mulut­nya:

“Aku tidak kebe­ratan apa­bila engkau tak mau meng­a­kui anakmu sen­diri. Aku pun tidak kebe­ratan kau tuduh ber­cam­pur dengan lelaki-lelaki lain. Baik­lah semua ini aku ambil untuk diriku sen­diri. Dan engkau, kak, engkau boleh ter­pan­dang seba­gai orang baik-baik untuk selama-lama­nya. Biar­lah segala yang kotor aku ambil seba­gai tang­gung jawabku sen­diri.”

Ahmad pun ter­diam oleh ucapan itu.

“Seti­dak-tidak­nya aku meng­erti, bukan engkau tidak mau meng­a­kui anakmu sen­diri. Bukan­nya engkau mem­bim­bang­kan cin­taku kepa­damu. Tapi aku kini menge­ta­hui bahwa seo­rang yang kucin­tai itu adalah penge­cut yang tidak punya kebe­ra­nian sedi­kit pun juga. Itu pun aku tak menye­sal, karena tak ada guna­nya lagi. Biar­lah semua itu. Hanya satu yang tidak akan ter­lupa olehmu: anak ini adalah anakmu.”

Ia bang­kit dan lambat-lambat ber­ja­lan ke arah jalan besar. Dipang­gil­nya beca, dan dengan tiada mena­war segera ia beri perin­tah untuk menuju ke Mat­ra­man. Sepan­jang jalan ia dengar pekikan Rod­jali. Air mata­nya telah kering. Dan akhir­nya orang sadar, bahwa seka­li­pun pen­de­ri­taan itu ditam­bah lima dera­jat lagi, jiwa­nya akan tetap kuat meng­ha­dapi. Sebab kalau tidak, orang tak lagi ber­pi­kir, orang dengan sen­di­r­i­nya telah ber­ja­lan dan ber­buat tanpa sepe­nge­ta­hu­an­nya: ia telah gila.

Di pintu rumah ia disam­but nyonya rumah dengan ucapan gopah-gapah:

“Ah, Midah Manis—anakmu diam­bil ….”

Midah tak kesem­patan untuk men­de­ngar ucapan itu.

Ia ter­lam­pau sibuk dengan diri dan kepen­ting­an­nya sen­diri. Waktu ia mema­suki kamar­nya anak­nya tidak ada.

Ia ter­he­nyak. Ia lihat jen­dela yang masih ter­buka. Kemu­dian:

“Djali! Djali! Dja­liku! Djali, ibu! Di mana?”

“Ah, Manis, anakku—” nyonya rumah meng­u­langi ucap­an­nya di lubang pintu. “Deng­ar­kan dulu ibumu ini. Anakmu diam­bil oleh ibumu.”

“Ibuku!” Ia ter­he­nyak ter­du­duk di ran­jang­nya.

“Apa yang sebe­nar­nya telah ter­jadi antara engkau dengan ibumu?”

Dan sete­lah men­de­ngar cerita per­ja­lanan hidup Midah, nyonya rumah menyu­a­ra­kan lagi:

“Anakku, apa untung­nya ber­etak-retak dengan orang tua sen­diri. Per­gi­lah pada­nya, Manis.”

“Ibu, aku tidak berani.”

“Mari aku antar­kan.”

“Aku tak bisa lupa tam­paran ayahku. Tapi bukan tam­paran pada pipiku yang kura­sa­kan, tetapi tam­paran yang menge­nai hatiku.”

“Tidak bisa anakku. Engkau harus maaf­kan mereka. Kalau engkau tahu bagai­mana seo­rang tua harus mem­ban­ting tulang men­cari peng­ha­silan, engkau akan meng­erti bagai­mana keruh hati­nya bila tak dapat dite­rima apa yang sudah meminta banyak dari tena­ga­nya. Orang tua ingin kem­bali ke rumah­nya yang damai, di mana ia ber­is­ti­ra­hat dengan senang. Peker­jaan sehari mele­lah­kan. Dan kalau di rumah ter­jadi yang tidak menye­nang­kan, tidak meng­hi­bur­nya, dia gam­pang marah. Maaf­kan mereka.”

“Tentu saja aku maaf­kan.”

“Kalau begitu ayolah aku antar­kan.”

“Aku takut.”

“Biar­lah kupang­gil Ahmad, biar kau dian­tar­kan­nya.”

“Jangan, bu. Biar­lah dia tidak akan ter­ganggu lagi…”

“Apa? Apa pula yang ter­jadi antara kau dan dia?”

Pecah selu­ruh per­ta­hanan Midah. Ia ceri­ta­kan segala yang ter­jadi.

“Anakku! Anakku! Alang­kah pan­jang jalan pen­de­ri­ta­anmu.”

“Dan itu belum ber­a­khir.”

“Apakah mung­kin Ahmad ber­buat sema­cam itu atas dirimu! Dia harus kawini kau! Harus! Kalau tidak mau, aku yang akan repot­kan pada polisi. Dia sen­diri polisi. Dia akan banyak men­da­pat susah. Dan engkau, meng­apa engkau begitu bodoh menye­rah­kan dirimu pada­nya?”

“Aku cinta pada­nya.”

“Kau telah pernah kawin. Engkau telah punya anak. Tidak mung­kin itu karena cinta. Kalau engkau tahu, Midah, bagai­mana rasa hatiku. Engkau telah nodai kehor­matan rumah tang­gaku…”

“Apakah bisa mela­wan cinta?”

“Cinta? Dan apakah akhir­nya cinta itu?”

Midah kebi­ngungan. Dari segala sudut datang topan. Anak­nya, cin­ta­nya, keta­kut­an­nya ter­ha­dap orang tuanya, dan cinta yang melu­kai kehor­matan rumah tangga nyonya rumah.

“Apa akhir­nya?”

“Tidak tahu aku! Tidak tahu aku!” Midah meng­ge­leng­kan kepa­la­nya, karena hanya itu yang kuasa ia per­buat.

“Rumahku jadi rumah cabul!”

“Tuhan, ampuni aku.”

“Dan engkau cabul­nya!”

“Tuhan, bim­bing aku!”

“Tahu aku seka­rang meng­apa engkau takut sama orang tua sen­diri!”

Tambah lama suara nyonya rumah tambah mening­kat. Para tetamu kiri dan kanan mulai datang menon­ton seo­rang demi seo­rang. Sema­ngat nyonya rumah tambah men­deru dalam hasrat melab­rak.

Midah tidak tahu lagi apa yang harus dipi­kir­kan. Ber­pa­sang-pasang mata yang meman­dang­nya seperti hendak mengo­rek isi dada­nya. Cahaya terang yang menyala-nyala di taman tadi kini berada di mana pun juga mata­nya dite­bar­kan. Dan seruan Djali yang men­dayu-dayu tak dapat dito­lak­nya dengan keku­atan apa pun juga,

“Kalau engkau tak kawini Ahmad,” seru nyonya rumah sekali lagi, “seka­rang juga kau mesti angkat pantat dari sini.”

Dengan tiada men­ja­wab ia lang­sung menuju pintu, meng­uak penon­ton­nya ke kiri dan ke kanan, kemu­dian mele­nyap ke dalam malam gelap gulita. Juga waktu itu air mata­nya sudah tak sang­gup meng­a­lir lagi. Kelen­jar­nya telah keca­paian. Tapi serangan terus men­de­rum-derum di atas kepa­la­nya. Piki­ran­nya timbul teng­ge­lam dalam bayang-bayang Djali, Ahmad, Terbus, dir­i­nya sen­diri kemu­dian bayang-bayang itu digan­ti­kan oleh peng­er­tian-peng­er­tian yang dibenci dan disu­ka­i­nya: cinta, dendam, keta­kutan, kekha­wa­tiran. Dan beca terus melun­cur tak tentu arah­nya. Kebal­auan itu ber­henti seje­nak waktu ter­de­ngar suara dari bela­kang.

“Ke mana, nyonya?”

Baru ia meme­rin­tah­kan tukang beca menuju ke rumah orang tuanya. Sayup-sayup ia dengar jam sebe­las yang dipu­kul ber­sam­but-sam­butan. Dan lalu lintas kota telah lama mengen­dur.

Lama ia ber­henti di depan rumah, di mana pernah sekali ia dila­hir­kan oleh ibunya.

Sebe­lum ia menge­tuk pintu banyak masa lalu yang dike­nang­nya. Apa­lagi! Rumah adalah rumah masa lalu, apa­bila untuk bebe­rapa waktu ia ting­gal­kan. Rumah adalah kenang-kenangan itu sen­diri baik seba­gai isi atau­pun tempat. Mereka akan labrak aku. Mereka akan sindir aku. Bapak akan tem­pe­leng aku entah bebe­rapa kali dan ibu meman­dang aku tanpa ada kesan ter­baca pada wajah­nya. Ia dengar Djali men­je­rit. Segera tangan­nya meraih kenop pintu. Tetapi lemas tangan itu ter­ku­lai kem­bali. Sekali lagi ter­de­ngar jerit. Apakah yang akan menyam­bung kepa­hi­tan ini lagi, Djali? Dja­liku? Anakku sen­diri! Ia tegak ke bela­kang. Nampak bayangan pagar dalam rem­bang cahaya bin­tang. Ia lihat pela­taran sempit di mana dahulu ia pernah ber­main-main dan memang­gil pen­jaja lewat. Sekali lagi ter­de­ngar jeritan dari dalam. Anakku! Anakku! Ia belum juga berani menge­tuk pintu. Potongan-potongan hidup yang ter­eng­gut oleh waktu dan com­pang-cam­ping ber­se­baran ke mana-mana datang kem­bali ber­du­yun-duyun dalam kepa­la­nya.

“Tuhan, beri aku keku­atan.”

“Ya, aku beri engkau keku­atan, masuk­lah,” ia dengar suara sayup-sayup dari hati­nya sen­diri.

Tetapi ia belum berani.

“Tuhan, beri­lah aku keku­atan.”

“Mereka orang tuamu sen­diri,” ter­de­ngar lagi suara sayup-sayup. “Tiap orang tua akan meng­am­puni keja­hatan anak­nya, asal saja dia pandai menya­ta­kan alasan yang sebe­nar­nya. Tiap orang tua akan men­cuci anak­nya hingga bersih sete­lah anak itu ter­ja­tuh dalam selokan lumpur.”

Djali men­je­rit lagi.

“Rajaku! Manisku! Sayangku!” Ia dengar ibunya. Dan suara itu meng­gem­pur segala keri­sauan, keta­kutan, dan segala-gala­nya yang mene­kan kepri­ba­di­an­nya. Sebe­lum ia sempat ber­pi­kir tangan­nya telah men­ce­kam kenop pintu dan digun­cang-gun­cang­kan.

“Midah?” Suara dari dalam dan berat.

“Ya, pak. Midah di sini.”

Pintu ter­buka. Dan tahu-tahu ia telah masuk ke dalam ruang depan yang rem­bang-rem­bang.

Ruang depan yang telah beribu-ribu kali dilin­tas­i­nya dulu!

“Alang­kah lama­nya engkau.”

Ada terasa kasih sayang dalam suara itu. Tiba-tiba kem­bali jiwa­nya yang mem­batu itu cair ter­timpa sinar belas kasihan itu. Ia kem­bali merasa seba­gai dahulu-dahulu waktu mening­gal­kan rumah untuk per­tama kali dengan tak ada dosa ter­sim­pan dalam dir­i­nya. Ia kem­bali merasa seba­gai kanak-kanak yang merasa berhak atas orang tua, atas kasih-sayang dan belas kasihan. Air mata­nya cair kem­bali, dan kelen­jar­nya bekerja. Sekali ini bukan air mata yang keluar karena kepa­hi­tan, tapi yang keluar dari hati ter­buka seo­rang anak yang datang kem­bali ke pera­saan kanak-kanak­nya yang indah di masa dahulu. Ia cium tangan bapak­nya.

Dan lelaki itu meng­u­sap rambut anak­nya.

“Ampuni segala kesal­ah­anku, bapak.”

Suara Haji Abdul kian men­jadi dalam. Lambat-lambat ter­de­ngar: “Seo­rang tua telah meng­am­puni anak­nya seka­li­pun dia belum men­ja­lani kesal­ahan, Midah.”

“Kalau saja aku dahulu telah men­de­ngar itu…”

“Temu­i­lah ibumu.”

Midah pergi sambil menyeka mata­nya.

“Ibu!”

“Ah, Midah, begitu lama aku cari-cari engkau.” Dan ucapan itu dise­le­sai­kan dengan rang­kulan, seakan perem­puan tua itu hendak mengem­ba­li­kan tubuh itu men­jadi bibit dalam tubuh­nya kem­bali. Oleh kare­na­nya ter­ba­yang masa pengan­tin dahulu, dahulu! Ia ingat waktu tubuh itu dila­hir­kan dan diman­jakan. Selain itu tak ter­i­ngat apa-apa.

“Ambil­lah anakmu,” kata­nya kemu­dian. “Mena­ngis saja dari tadi.”

Midah meng­am­bil anak­nya. Seka­li­gus Djali ter­diam. Ia men­da­pat dada emak­nya kem­bali.

Kedua orang tuanya menying­kir di ruang depan. Mereka berun­ding dengan hati masing-masing, juga ber­ta­nya dalam batin masing-masing, meng­apa cucu mereka begitu kurus, begitu tak ter­pe­li­hara, apa saja diker­ja­kan Midah selama itu.

Tapi kedu­a­nya tak berani meng­u­cap­kan­nya mela­lui mulut. Dan perun­dingan antara hati dan hati itu ditu­tup dengan janji: mereka tak akan ber­ta­nya-tanya ten­tang hal anak­nya selama itu. Mereka akan diam saja sampai Midah datang dan menye­rah­kan peng­a­ku­an­nya seperti bia­sa­nya di hari leba­ran dia menye­rah­kan hidup­nya kem­bali kepada orang tuanya untuk disu­ci­kan.

Anak-anak lain telah tidur di tempat masing-masing. Mereka tidak menyak­si­kan keda­tangan kakak mereka yang selama itu mem­buat seja­rah­nya sen­diri, dengan diri sen­diri dan tang­gung jawab sen­diri.

Di waktu menyu­sukan anak­nya ter­ba­yang-bayang wajah Ahmad di piki­ran­nya. Tapi ia sedia meng­am­puni kepe­nge­cutan pemuda itu untuk memi­kul tang­gung jawab­nya. Dan di bawah jan­tung­nya gat­ra­nya itu men­de­tik­kan darah­nya lebih lambat dari bia­sa­nya. Apa kataku pada mereka ten­tang anak ini? Dahulu kan­dung­an­nya men­jadi tempat ia minta keku­atan. Kini kan­dungan baru ini tak menim­bul­kan keya­kinan di hati­nya. Tapi pada anak kedua ini akan sedi­a­kan cin­ta­nya lebih dari­pada yang dise­di­a­kan untuk bapak­nya.

Piki­ran-piki­ran dalam kepa­la­nya ber­a­nak-anak, ber­cucu, dan ber­piut. Tak terasa lagi oleh­nya bahwa Djali telah ter­golek tidur dan tak meng­i­sap dada­nya lagi.

“Apa kau­pi­kir­kan Midah?”

Midah bang­kit, dan tampak oleh­nya ibu dan bapak­nya ber­diri di pintu.

“Engkau ada di bawah atap rumahmu sen­diri.”

Midah meng­ham­piri mereka dengan tiada berani meman­dang wajah mereka.

“Ibu,” kata­nya. “Bapak,” sam­bung­nya.

“Kata­kan­lah apa yang engkau mau kata­kan.”

“Tak ada guna­nya bicara ten­tang kesal­ahan, Midah,” bisik bapak­nya. “Itu sudah banyak aku pikir­kan. Kita bukan pemi­lik-pemi­lik hal-hal yang lalu, tapi hal yang akan datang.”

Piki­ran Midah kem­bali dita­rik oleh anak di bawah jan­tung­nya. Apa akan kata mereka ten­tang anak ini? Seo­rang haji yang begitu salah punya anak jadah. Apa akan kataku?

“Kata­kan, anakku, Kata­kan.”

Tapi Midah tak punya cukup kebe­ra­nian untuk menga­ta­kan. Ah, meng­apa cinta mela­hir­kan anak yang diku­tuki dan yang bukan mela­hir­kan anak yang sah, yang diakui oleh semua orang? Apakah pera­saan bapak dan ibu bila pada suatu kali anak ini lahir dengan jeritan sehat! Mereka akan tutup kuping­nya. Mereka akan memo­hon kese­la­matan pada Tuhan untuk diriku, dan maut untuk bayiku.

Haji Abdul meng­e­lus kepala anak­nya untuk mem­be­ri­kan.

“Bapak,” Midah men­coba sekali lagi. “Aku men­cin­tai seo­rang lelaki.”

“Apa salah­nya, Midah?”

“Meng­apa diam?”

“Aku meng­erti, Midah,” Haji Abdul mem­be­ra­ni­kan, “di mana belas kasihan dan kasih sayang jauh dari sese­o­rang, dia akan kepa­hi­tan, dan dalam kepa­hi­tan dica­ri­nya gula yang disang­ka­nya keba­ha­gi­aan. Tapi gula itu adalah bung­kus dari racun yang lebih pahit.”

“Ya, bapak. Bapak dan ibu sang­gup meng­am­puni—”

“Anakku, Midah, jangan bicara ten­tang ampun.”

“Tapi ketika aku mema­suki pintu rumah ini, telah aku bawa dosa baru.”

“Dosa?”

“Dosa untuk pan­dangan orang lain. Hanya untuk aku tidak.”

“Anakmu yang ada di depanmu ini—mengan­dung.”

“Mengan­dung? Dengan siapa?”

“Pak,” nyonya Abdul ber­kata, “per­gi­lah engkau kem­bali ke kamarmu.”

Tapi Haji Abdul tak mau pergi, ber­kata:

“Dengan menye­rah­kan segala-gala­nya kepada Tuhan, aku cukup kuat untuk meng­ha­dapi apa pun juga.”

“Ah, pak. Biar­lah aku bicara sen­di­r­ian dengan anakmu.”

“Tidak!” Haji meng­ge­leng. “Dahulu aku takut penya­kit karena itu aku jatuh jadi kur­ban­nya. Seka­rang tidak. Aku tidak ta-ta-takut penya­kit. Aku hanya takut pada Tuhan yang maha­be­sar. Kata­kan anakku, kata­kan semu­a­nya pada bapakmu.”

Gen­de­rang perang ber­den­taman di hati Midah. Segala per­ju­ang­an­nya, cinta, keku­atan, dan kele­mahan meng­ha­dapi hidup dan hawa naf­su­nya sen­diri ia ceri­ta­kan, ber­de­ret ber­ba­ris mema­suki sanu­bari kedua orang tuanya.

“Biar­lah kita terima semu­a­nya seba­gai­mana adanya,” nyonya Abdul menga­ta­kan.

“Anakku, buatku sen­diri itu bukan­lah dosa seki­ra­nya engkau cinta benar-benar kepa­da­nya. Tapi agama ada hukum, dan hukum itu menya­lah­kan per­bu­at­anmu.”

“Bila aku ber­sa­lah, hukum­lah aku. Tapi aku sang­gup mele­pas­kan cin­taku kepa­da­nya. Dan anak yang kukan­dung­kan ini adalah anak yang dir­ah­mati cinta.”

“Engkau mesti kawin deng­an­nya,” ibunya meya­kin­kan pen­da­pat­nya.

“Aku tidak akan kawin deng­an­nya. Dia hanya satu-satu­nya milik orang tuanya. Dan aku tak akan ajak dia ter­ce­mar.”

“Tapi engkau lebih suka mem­bawa kita ter­ce­mar,” ibu melon­tar­kan panas hati­nya.

“Tidur, Midah. Besok Tuhan hen­dak­nya mem­beri engkau cahaya terang dalam hatimu,” Haji Abdul ber­kata. Dan sete­lah itu dita­rik­nya istri­nya keluar dari kamar.


Bagian Kesebelas

Mempunyai pendirian sendiri adalah ber­ha­dapan dengan pen­da­pat umum. Ber­tam­bah kuat pen­di­r­ian seo­rang, ber­tam­bah banyak ia memang­gil penen­tang.

Dan Midah ter­pan­cang kuat di atas bumi dan pen­di­r­i­an­nya. Wanita ini akhir­nya men­jadi peme­luk keper­ca­yaan cinta yang fana­tik. Ah, meng­apa tidak kalau cinta itu men­jadi satu-satu­nya harapan bagi­nya— harapan akan ber­kah­nya keda­maian jiwa!

Sejak ia kem­bali ke rumah orang tuanya, telah begitu sering pen­di­r­i­an­nya miring.

Hampir-hampir ia tak sang­gup ber­ha­dapan dengan para tetang­ga­nya yang datang mene­ngok.

Mereka semua musuh! Musuh keper­ca­ya­an­nya. Musuh pen­di­r­i­an­nya! Musuh keda­maian jiwa yang dengan susah payah ia pupuk.

Ia dapat mengira-ngira apa saja yang diper­ca­kap­kan mereka atas dir­i­nya. Ia pun sudah bisa mengira-ngir­a­kan bahwa mereka, karena sifat ber­ku­a­sa­nya, akan mem­buat dir­i­nya men­jadi aduan yang bisa dibuat kue seke­hen­dak hati mereka. Tidak meng­he­ran­kan kalau ia lebih suka menyem­bu­nyi­kan dir­i­nya di dalam kamar.

Ber­bu­lan-bulan kemu­dian sete­lah diang­gap­nya semu­a­nya telah men­jadi reda, baru ia mem­per­li­hat­kan dir­i­nya. Itu pun tidak lama. Perut­nya yang ber­tam­bah besar memaksa dir­i­nya mengu­rung dalam kamar kem­bali. Tapi semua orang sudah tahu. Dan tiap ada pasang mata meman­dang perut­nya, jiwa­nya mela­yang jauh dan keper­ca­ya­an­nya merang­kul cin­ta­nya erat-erat agar tidak ter­bong­kar segala-gala­nya yang ia kasihi.

Rod­jali seakan-akan lenyap dari per­ha­ti­an­nya. Lagi­pula anak itu serasa telah mele­kat pada nenek­nya. Haji Abdul, yang tiada ber­beda dengan per­tapa, kehi­langan keku­atan untuk meng­in­jak­kan kaki di atas dunia dan mema­suki sang­kut-paut segala, kini hanya meman­dang segala-gala­nya dari jauh dengan peng­er­tian-peng­er­tian mutlak yang silang siur dalam cin­ta­nya. Kadang-kadang apa­bila ia dengar sin­diran atas kela­kuan anak sulung­nya dengan meng­am­bil per­ban­dingan dengan kesal­eh­an­nya, segera keluar dari mulut­nya:

“Ah, sau­dara, manu­sia ini kenal satu sama lain, tapi tidak dengan dir­i­nya sen­diri. Kalau aku men­coba menge­nal diriku, tentu saja per­bu­at­anku akan lain dengan seki­ra­nya engkau yang hendak men­coba. Memang tidak ada hasil­nya untuk kemak­muran kita hendak menge­nal diri, karena dia takkan meng­ha­sil­kan keka­yaan. Tapi per­co­baan orang-orang lain dan kadang-kadang menya­lahi kesu­kaan orang banyak, namun dia telah men­coba yang orang lain tidak berani men­co­ba­nya.”

Lambat laun Haji Abdul diang­gap ker­a­mat oleh keli­ling­nya. Sekali dua kali datang orang meminta berkah. Dan keikh­las­an­nya ia ber­kahi orang itu dalam usaha atau dalam men­ca­pai cita-cita. Akhir­nya nama­nya demi­kian popu­ler dan di depan gelar haji­nya orang tam­bahi dengan kiai dukun.

Hormat keli­ling kepada bapak­nya, mem­buat Midah tak ter­ta­han­kan lagi meng­i­ngat kan­dung­an­nya. Ah, cucu­nya yang kedua ini akan meru­sak­kan segala-gala­nya. Dan itu tidak boleh. Bapak juga mem­pu­nyai hak untuk memi­l­iki keda­maian hati ─bukan aku saja. Juga ibu berhak memi­l­ik­i­nya. Alang­kah daif dan sera­kahku kalau semua hendak kur­am­pas untuk diriku dan kan­dung­anku belaka.

Midah ingat pada semua orang yang mene­ngok­nya. Dengan kejap dan pan­dangan mata mereka terasa oleh­nya meng­hu­kum perut­nya, kan­dung­an­nya, cin­ta­nya. Dan itu tetap tak ter­ta­han­kan oleh­nya. Keku­atan keper­ca­ya­an­nya kepada cinta bukan­lah keku­atan untuk mela­wan pen­da­pat umum. Dan pada suatu hari ia man­di­kan anak­nya – si Djali, ia beri pakaian paling baik. Dan sete­lah ia sen­diri mer­a­pikan dir­i­nya, diba­wa­nya sebuah bung­kusan dan Djali ke─ tetapi belum lagi ia mening­gal­kan rumah, ibunya telah mene­gur:

“Ke mana lagi?”

Midah menya­ta­kan kan­dungan hati­nya. Ia tak boleh meng­ganggu keda­maian orang tuanya karena hal-hal yang tak dise­tu­jui orang banyak ada pada­nya.

“Midah, apa­lagi yang hendak kau per­buat ini?”

“Aku hendak pergi, bu. Biar­lah bapak dan ibu hidup tenang di sini. Tambah lama aku tambah yakin, bahwa aku tidak­lah sebaik orang tuaku.”

“Dan apakah hasil­nya keya­kinan itu untuk dirimu sen­diri?”

“Bahwa tidak sepa­tut­nya aku meru­sak­kan nama baik orang tuaku sen­diri.”

“Ah, Midah.”

“Ya, ibu.”

“Tung­gu­lah orang tuamu. Kalau bapakmu pulang dari peker­ja­an­nya bica­ra­lah deng­an­nya.”

“Kalau aku bicara dengan bapak, aku takut aku harus tarik kem­bali niatku.”

“Engkau tak pernah pikir­kan bagai­mana si Djali begitu ter­lan­tar. Bukan­kah lebih baik ada yang meme­li­ha­ra­nya? Dan nenek­nya sedia meme­li­hara dia.”

“Ibu, ibu dan bapak telah meng­am­puni segala dosa dan kesal­ah­anku. Izin­kan­lah aku pergi, seperti dahulu aku pergi mening­gal­kan rumah ini. Jangan­lah tahan aku, karena aku tahu benar apa yang akan aku per­buat.”

“Apakah engkau akan siksa hati bapakmu dengan nya­nyi­anmu mela­lui radio?”

“Menya­nyi bukan kesal­ahan, ibu. Juga bukan dosa.”

“Midah! Tung­gu­lah bapakmu.”

“Sam­pai­kan saja pada bapak semua yang telah men­jadi niatku, ibu.”

“Jangan, Midah. Jangan pergi.”

“Anakmu mesti pergi, ibu.”

“Paling sedi­kit, si Djali tak boleh engkau bawa.”

“Bukan­kah dia anakku, ibu?”

“Anak itu akan mati ter­lan­tar, bila kau bawa dia ke mana-mana yang tak ada tujuan ter­tentu itu. Bukan­kah di sini ada rumah, Midah? Ah, kalau saja kami sekaya dahulu pasti engkau kami buat­kan rumah, agar tak perlu lagi engkau ber­na­ung di bawah atap orang.”

“Apa pula ibu kata­kan itu? Izin­kan­lah aku pergi. Hanya itu satu-satu­nya per­min­ta­anku seba­gai anak, ibu.”

“Aku tak izin­kan, Midah. Dan aku kira bapakmu pun tak meng­i­zin­kan.”

Midah duduk di kursi memangku anak­nya. Bawa­an­nya dile­tak­kan di lantai. Ibunya ber­diri meng­ha­dapi dia dengan kekha­wa­tiran orang tua atas kego­ya­han hari depan anak­nya—anak yang baru kem­bali men­jadi mil­ik­nya.

“Ibu, pada suatu kali aku akan mela­hir­kan anak tiada bapak. Apa­bila anak itu turun ke atas dunia, dan dia men­je­rit—apakah akan rasa ibu, apakah akan kata bapak dan apakah akan cerita orang-orang lain. Aku sen­diri tidak berani mengira-ngir­a­kan, dan bakal­nya aku cinta pada anak ini. Aku kira aku bakal lebih cinta pada­nya dari­pada kepada Djali. Dia adalah anak yang akan dila­hir­kan dengan cinta ibunya dan dia dia­da­kan oleh cinta orang tuanya.”

“Akan aku terima dia seba­gai cucu-cucuku yang lain. Apakah itu belum cukup kujan­ji­kan, Midah?”

“Ibu, sebe­lum anak ini lahir, tidak­lah susah untuk ber­janji demi­kian. Tapi sekali dia lahir, sepan­jang hidup­nya dia akan mengo­tori hati ibu dan bapak. Dan itu aku tak suka.”

“Midah! Apa pula kau­ka­ta­kan itu?”

“Semu­a­nya belum ter­jadi, ibu. Tapi sekali ter­jadi, ibu akan rasa bagai­mana pahit ber­cu­cukan anak seperti yang kukan­dung seka­rang.”

“Midah, bukan­kah telah kuta­nya­kan padamu, siapa nama lelaki itu, biar aku datang kepada orang tuanya dan menga­win­kan kalian?”

“Jangan, jangan pergi, anakku. Rumah ini akan mem­beri engkau keda­maian.”

“Bukan rumah, ibu, tapi anak!” Tangan Midah meraba perut­nya, dan keku­at­an­nya tak diper­o­leh­nya. Djali mena­ngis di pang­kuan. Ia lapar.

“Lihat, anakmu lapar.”

Dan sebe­lum Midah sempat mem­ban­tah, tangan ibunya telah meng­am­bil cucu dan diba­wa­nya masuk ke dalam. Midah ter­diam dengan meng­a­wasi jalan di depan rumah.

Angin beli­ung meng­a­muk di dalam batin­nya. Aku harus pergi! Dan anak itu tak boleh kuting­gal­kan. Tentu saja tidak boleh. Tapi bila kubawa, dia akan ter­lan­tar seperti kata ibu. Benar! Itu memang benar! Di tangan­nya anak itu lebih sela­mat dari­pada di tanganku. Seti­dak-tidak­nya dia anak sah, walau­pun lahir beserta keben­ci­anku pada Terbus—dia akan men­da­pat rawatan yang baik dari nenek­nya, dari kakek­nya, dari paman­nya, dan dari bibi­nya. Tapi ini!! Dia harus kuse­la­mat­kan! Harus! Dia tak boleh dihina orang, seka­li­pun dunia akan mena­ma­inya anak haram. Dia anakku yang ada karena cinta, karena kere­laan, karena aku butuh dicin­tai orang, seka­li­pun akhir­nya hanya aku sen­diri yang men­cin­tai orang yang sebe­nar­nya tidak cinta padaku. Tapi semua ini lebih baik dari­pada hidup dengan hati kosong dan keras diba­tu­kan oleh segala-gala­nya.

Rod­jali akan sela­mat di tangan nenek dan kakek­nya. Dia takkan meng­ha­dapi musuh.

Dia takkan meng­ha­dapi hukuman semua orang yang kenal riwa­yat­nya. Dia lahir seba­gai warga norma dan kesu­si­laan per­ga­ulan.

Lambat-lambat ia bang­kit. Hati­nya men­do­a­kan kese­la­matan abadi untuk anak­nya yang sedang disu­api nenek­nya. Kaki­nya dengan bim­bang melang­kah ke gapura pagar, kemu­dian ia mene­ngok ke arah rumah orang tuanya dan ber­henti lagi. Lama ia ber­henti.

Ada ia dengar suara Djali men­je­rit, dan ia ber­ja­lan kem­bali masuk ke dalam, mene­mui anak­nya.

Apakah akan sampai hati aku ting­gal­kan dia tanpa men­ci­um­nya?

Ia ham­piri anak­nya. Ia cium pipi dan ubun-ubun­nya. Anak itu kini telah men­jadi gemuk, kedua pipi­nya merah men­jingga. Ia ter­tawa dan minta digen­dong. Ia letak­kan barang bawa­an­nya dan meng­gen­dong­nya. Nyonya Abdul meman­dangi anak­nya. Ia tidak meng­erti ting­kah laku anak­nya. Ia mau ber­ta­nya tapi nampak oleh­nya Midah begitu hilang, begitu lenyap dalam piki­ran­nya sen­diri. Ia kini dapat mera­sai apa yang ter­jadi dalam jiwa anak­nya. Kini ia pun meng­erti betapa Midah men­coba menye­la­mat­kan kelu­arga orang tuanya dari buah per­ca­kapan orang-orang seke­li­ling. Kein­sya­fan itu mela­hir­kan sebi­lah pisau yang meng­gu­rat hati­nya. Dan ia ter­diam. Kini ia pun teng­ge­lam dalam piki­ran­nya sen­diri. Kadang-kadang peng­er­tian orang ten­tang sesu­atu sela­yak air keras mema­kan batin­nya sen­diri—sedi­kit demi sedi­kit.

Juga peng­er­tian itu mema­kan batin nyonya. Begitu sakit terasa di dalam dada.

Tetapi ia tak ber­kata apa-apa.

“Djali,” Midah ber­bi­sik, “ibu mau pergi. Engkau ting­gal di sini dengan nenek.”

Anak itu ter­tawa.

“Barang­kali ibu datang lagi mene­ngok. Barang­kali juga tidak, Djali.”

“Midah, tak bisa­kah engkau menang­guh­kan niatmu?”

“Semu­a­nya sudah kupi­kir­kan baik-baik, ibu.”

Nyonya tak bisa mene­rus­kan.

“Aku tahu ibu kini meng­erti mak­sudku.”

“Ya, aku meng­erti. Tapi seba­ik­nya aku tidak meng­erti. Dan kalau engkau tidak dapat dice­gah lagi, bukan­kah engkau sering datang mene­ngok anakmu?”

“Ibu, aku tahu—keda­tanganku kemari sela­ma­nya akan meru­pa­kan tikaman yang melu­kai bapak dan ibu dan pen­di­dikan yang dite­rima oleh adik-adik, bahkan juga anakku sen­diri.”

“Jadi, tidak­kah engkau akan datang kemari lagi?”

“Ibu, walau­pun bukan­lah mak­sudku meno­dai nama kelu­arga kita, tetapi apa boleh buat—semua itu telah kuker­ja­kan. Aku sen­diri tidak menye­sal telah menge­r­ja­kan semua itu. Dan itu malah yang pasti dise­sal­kan oleh ibu dan bapak.”

“Apa mak­sudmu, Midah?”

“Biar­lah aku pergi seka­rang. Ibu, sam­pai­kan kepada bapak, bahwa bukan mak­sudku melu­kai hati­nya.”

“Midah!”

Midah mele­tak­kan Rod­jali dalam pang­kuan nenek­nya.

“Midah!”

Perem­puan muda itu lambat-lambat dengan gerak bim­bang mulai men­jauh mening­gal­kan ibu dan anak­nya sen­diri. Sampai di teri­tis rumah, ia mene­ngok ke bela­kang, ber­kata dengan suara hampir tak kede­ngaran.

“Hanya doa ibu aku harap­kan. Hanya restu bapak aku ing­in­kan.”

Ia pun meman­dang kem­bali ke tuju­an­nya: jalan raya di depan­nya. Dengan kepala tunduk seperti meman­dangi perut­nya yang bun­ting, ia ber­ja­lan lambat-lambat. Seakan ada ter­de­ngar suara memang­gil-mang­gil­nya.

“Midah! Midah!”

Ia tak mene­ngok lagi dan terus ber­ja­lan.

Ada seakan ter­de­ngar tetangga sam­ping-menyam­ping menya­pa­nya:

“Mau ke mana, Midah?”

Ia pun tak mene­ngok dan terus ber­ja­lan.

Dengan lang­kah goyah tapi ke arah tujuan yang pasti ia ber­ja­lan. Sampai di halte trem, ia ber­henti, ber­cam­pur dengan orang banyak. Dan waktu datang trem yang dike­hen­dak­i­nya, ia naik, duduk di pojok, dengan mata tak meman­dang apa pun jua.

Yang ter­pan­dang oleh­nya hanya satu: setum­puk sinar yang tampak oleh orang lain. Dan ber­man­di­kan sinar itu ber­diri seso­sok tubuh. Dan tubuh itu adalah kepu­nyaan Ahmad. Ia ter­se­nyum. Dan trem terus ber­ja­lan…


Bagian Kedua Belas

Bertambah jauh Midah mela­lui jalan hidup­nya, terasa oleh­nya ber­tam­bah tidak ber­arti kepa­hi­tan yang ber­u­lang-ulang menimpa dir­i­nya. Dengan anak kedua di tangan kanan ia men­coba, dan terus men­coba, untuk menya­nyi bagi dir­i­nya, bagi anak­nya yang kedua dan bagi Rod­jali, dan bagi semua orang yang sudi, dan bagi semua orang yang men­de­ng­ar­nya. Hanya di waktu ia menya­nyi itu ia merasa dir­i­nya ber­jasa.

Sete­lah bebe­rapa bulan lama­nya nama Simanis Ber­gigi Emas tak pernah ter­de­ngar di per­al­atan-per­al­atan atau radio, kini nama itu meng­ge­lum­bang dari pen­juru ke pen­juru.

Midah dalam sepo­tong hidup­nya yang seka­rang, telah banyak ber­temu lelaki—per­te­muan antara segala-gala­nya. Ia tidak mem­per­so­al­kan cinta atau tidak, karena cin­ta­nya pada Ahmad meng­i­kut­i­nya barang ke mana ia pergi dan meru­pa­kan satu-satu­nya harta benda yang meng­isi keko­songan jiwa­nya. Ber­temu dengan begitu banyak lelaki, hati­nya tawar. Sekali ia hidup untuk bebe­rapa bulan di villa per­is­ti­ra­ha­tan dengan har­ta­wan Indo­ne­sia, Tiong­hoa, Arab, dan bangsa apa­lagi yang tidak.

Kesu­si­laan dan keter­tiban per­a­daban antara baik dan buruk yang diba­wa­nya dari rumah­nya, kini tidak mem­bang­kit­kan piki­ran lagi pada­nya. Dan tambah hebat rasa kangen­nya pada Djali, tambah sering pula ia coba untuk ber­temu dengan lelaki yang sonder cinta, dapat men­de­sir­kan darah­nya.

Kepo­pu­le­ran nama­nya ber­kuda dengan kepo­pu­le­ran­nya dalam per­ga­ulan dengan lelaki.

Sete­lah studio radio men­jadi gelang­gang­nya yang biasa, ia meram­bahi jalan baru ke gelang­gangan film. Keman­is­an­nya mem­bang­kit­kan keka­guman ratusan ribu orang. Dan nama­nya dibi­sik­kan seba­gai ucapan cita dari banyak pemuda dan pemudi.

Tetapi:

Selain bapak dan ibu dan dir­i­nya, tak ada seo­rang pun di dunia pernah men­coba menge­ta­hui apa sesung­guh­nya yang ter­jadi dan telah ter­jadi dalam jiwa­nya.

Seja­rah Midah—Simanis Ber­gigi Emas—mulai­lah dari sini seba­gai penya­nyi.

Seja­rah Midah—Simanis Ber­gigi Emas—telah lenyap, seba­gai wanita.


Cerita pendek

Berita dari Kebayoran

Dari Cerita dari Jakarta (1957). Teks dari cetak ulang Hasta Mitra, 2002.

Sekali ini — seperti biasanya bila jam malam telah sampai — ia ter­ke­nang kem­bali pada Keba­yo­ran1. Ter­lalu besar daya pena­rik daerah itu untuk­nya. Ia ingin ber­temu kem­bali dengan laki­nya, Saleh, dengan adik­nya, Kha­ti­jah, dengan emak­nya, — semua yang dike­nal­nya dahulu sejak kecil, dan yang juga dike­nal­nya terus dalam hati­nya. Tapi antara dia dan Keba­yo­ran dan orang-orang yang dika­sih­i­nya itu tak lagi ada jem­batan yang ter­se­dia. Jem­batan yang satu-satu­nya itu sudah lama hancur. Dihan­cur­kan oleh keta­kut­an­nya. Dan ia tetap ter­can­cang di taman From­berg2. Ter­can­cang oleh suatu kemus­tian.

Mula-mula ia dan golong­an­nya punya daerah di depan istana presis. Tapi lampu-lampu terang dipa­sang orang di sepan­jang jalan yang meretas—retas kege­lapan taman depan istana itu. Dan lampu-lampu itulah yang meng­u­sir­nya dengan golong­an­nya ke sebe­lah kanan lagi: tak lebih dari dua ratus lima puluh meter. Tak lebih dua ratus lima meter dari pagar istana.

Sekali waktu ada desas-desus bahwa orang-orang sego­longan akan dige­rop­yok oleh polisi. Desas-desus itu mem­buat From­ber­g­park seben­tar men­jadi leng­ang. Dia dan orang-orang sego­long­an­nya men­cari daerah lain. Tetapi sete­lah desas-desus itu tak ter­de­ngar lagi mereka kem­bali ke tempat itu.

Seka­rang kota telah keha­bisan kesi­buk­an­nya. Mengan­tuk ia men­du­duk­kan pan­tat­nya di bangku beton taman itu. Sekali ini ia tak dapat mele­pas­kan kenang-kenang­an­nya: “Keba­yo­ran! Jangan ingat-ingat dia, jangan ingat-ingat dia, ia mena­si­hati hati­nya sen­diri.”

Dan kemu­dian ia pun ber­pi­kir ten­tang hari besok.

Taman depan istana untuk­nya, tak ubah­nya dengan Arabia untuk orang Islam atau Pales­tina untuk orang Kris­ten. Bila Arabia dan Pales­tina dipin­dah­kan, dunia akan meng­ha­dapi kegun­cangan. Tapi kepin­dahan dae­rah­nya tak meng­gun­cang­kan siapa pun jua selain dir­i­nya sen­diri dan golong­an­nya. Mem­pro­tes pada yang ber­wa­jib dia tak ber­ku­asa, karena nama­nya tak ter­daf­tar di buku besar, dan menu­rut catatan resmi dia belum dila­hir­kan — belum pernah ada di atas.tanah Jakarta. Dia dan golong­an­nya tetap­lah ting­gal jadi bayang-bayang malam yang tak ber­te­naga. Dan kalau Paris menya­nyi­kan chan­son­nya: Cin­taku takut cahaya sang surya, Jakarta merin­tih­kan kisah malam­nya: reze­kiku ter­an­cam sinar sang lis­trik.

Kemu­dian:

Ia menge­luh: ia, si Aminah. Jiwa­nya lesu — ya, jiwa­nya, seki­ra­nya memang ada jiwa di dalam tubuh­nya. Badan­nya kepa­yahan. Dengan malas­nya kebaya dan kain­nya yang bagus ditang­gal­kan­nya. Dike­na­kan pakaian yang bia­sa­nya diper­gu­na­kan sete­lah jam malam3 sampai: yang buruk! Kemu­dian badan­nya digo­lek­kan di bangku. Dingin! Tapi ia sudah biasa.

Seben­tar ia meng­ang­kat kepala. Lampu pagar istana masih menyala dengan megah­nya. Dan gelap serta dingin malam mem­buat ia merasa ter­pen­cil. Di seke­li­ling­nya tak ter­da­pat lelaki lagi yang bia­sa­nya meng­u­sir kesu­nyi­an­nya. Mereka telah pulang ke rumah atau istri­nya masing-masing. Namun kini ia sudah dapat meng­an­tongi dua belas sete­ngah rupiah. Lima lelaki telah mem­bu­tuh­kan keha­ng­atan jasad­nya tadi. Lelaki yang diamok hormon yang men­cari jalan lepas! Dan ia — dir­i­nya yang seba­tang itu — meru­pa­kan padang tandus yang mena­dah hujan — itu hormon!

Diman belum datang. Ia tak tahu di mana. Diman tukang grobak ham­inta. Dialah yang dulu mem­ba­wa­nya ke Jakarta untuk cari nasib baru! Sesu­dah jam malam sampai dan ia ter­golek di bangku beton, biasa Diman datang dan tidur di sam­ping­nya. Ya, di sam­ping­nya, sebe­lum turun dari atas­nya presis. Dan ia tik pernah berani mem­ban­tah. Ia merasa agak aman di dekat Diman. Ia merasa tak diganggu oleh kenang­an­nya.

Seben­tar ia masih meran­cang hari besok: ke Pasar Tanah Abang beli nanas muda. Dulu ia selalu beli nanas masak untuk meno­lak beban hidup: makh­luk baru! Kini per­a­nak­an­nya tak sang­gup lagi mela­ku­kan kewa­ji­b­an­nya. Penya­kit hebat pernah menu­suk dan menyer­bit-nyer­bit­nya. Dan seka­rang ia hanya mem­bu­tuh­kan nanas muda. Selama itu buah itulah yang meno­lak penya­kit yang sekali dulu pernah menye­rang­nya.

Ter­ti­dur­lah ia seka­rang. Wajah mene­nga­dah lang­sung ke tempit di mana surga mem­ben­tang. Bin­tang-bin­tang ber­sa­ing dengan lampu jalan, dengan lampu peng­hias beranda balai per­te­muan kota praja dan res­to­ran Yen Pin, juga dengan lampu peng­luas pagar istana.

Waktu ia masih kecil ia pernah punya kei­ng­inan menik­mati sinar lis­trik dalam kamar­nya. Tapi kei­ng­inan itu tak pernah ter­pe­nuhi hingga seka­rang. Sampai seka­rang — kala ia tak mem­bu­tuh­kan seikat sinar pun dari segala cahaya buatan manu­sia.

Tak acuh ia ter­ba­ngun dan mem­bi­ar­kan dingin malam meriba mata kaki­nya. Kemu­dian dingin itu naik ke atas lagi: betis. Naik lagi: paha. Naik lagi: hampir ke perut. Dalam meng­impi ia pun tahu, saat demi­kian adalah saat Diman datang. Dalam tidur pun ia tahu lan­jut­an­nya, benda berat yang hangat mene­kan seku­jur tubuh. Tapi ia tak acuh. Diam saja, dengan mata ter­pe­jam. tubuh tidak ber­ge­rak. Ia sudah demi­kian lelah, tidak ber­te­naga lagi. Gerak­nya hanya untuk lelaki yang berani mem­ba­yar­nya. Paling tinggi: sering­git! Lebih dari itu adalah keluar bia­saan, kemu­r­ahan. Dengan tak acuh pula ia dengar di sela mim­pi­nya tubuh berat itu meng­ge­le­pak jatuh di sam­ping­nya disu­sul oleh keluh dan nafas ter­e­ngah-engah. Kemu­dian malam melan­jut­kan tugas­nya: kosong dari segala pera­saan.

Deru-deram-dering lalu lintas tak kuasa mem­ba­ngun­kan­nya. Tubuh­nya meng­hen­daki lebih banyak isti­ra­hat dari­pada yang ia sang­gup sedi­a­kan. Mulut­nya masih ter­buka, dan pelu­puk mata­nya ter­gan­tung berat. Sega­ris iler menge­ring di pipi. Ram­but­nya kacau dan seka­li­pun dalam tidur nye­nyak nafas­nya pendek sengal-sengal. Hanya cahaya mata­hari yang mulai meng­gi­git kulit mem­buat ia men­je­nguk dunia dari jen­dela mata­nya. Diman sudah tak ada di sam­ping­nya lagi — berang­kat kerja. Dengan malas­nya ia meng­o­cok kedua belah mata­nya. Dan selu­ruh adanya di kala itu meru­pa­kan pot­ret­nya sen­diri. Potret yang mem­ba­yang­kan lukisan seja­rah sejak ia dari tiada hingga men­jadi ada sampai ter­len­tang di bangku beton taman From­berg:- Potret yang mem­ba­yang­kan apa yang akan ter­jadi atas dir­i­nya sejak kini hingga ia kem­bali ke tiada.

Diba­wa­nya berkas pakai­an­nya yang sema­lam diba­wa­nya meng­e­dar­kan daging­nya, menye­ber­a­ngi jalan istana, turun ke kali Besar — mandi. Di jalan dipa­pasi­nya ber­ba­gai macam orang dengan tam­pang­nya masing-masing. Ia tak kenal lagi berapa puluh di antara mereka yang telah menik­mati tubuh­nya. Dan mereka pun tak kenal pada­nya. Apa peduli? Ia tak butuh orang­nya. Ia hanya butuh uang­nya. Mereka pun tak butuh pada­nya. Mereka hanya butuh daging­nya, dan itu pun ada masa ter­tentu pula dan tidak di sepan­jang masa.

Air kali yang kuning itu sela­ma­nya menye­gar­kan tubuh­nya barang sedi­kit. Dan tena­ga­nya merang­kak kem­bali mema­suki tiap urat nadi­nya. Dike­lu­ar­kan sisir­nya dan dira­pikan ram­but­nya.

Waktu ia sedang ber­is­ti­ra­hat dan duduk di tepian kali, dili­hat­nya di keja­uhan dekat per­sim­pangan jalan kereta api seso­sok tubuh manu­sia di antara puluhan bahkan ratusan sosok yang lain — sosok tubuh yang sangat dike­nal­nya. Dan tubuh itu telah sekian lama merayu-rayu mem­buru-buru dalam benak­nya: Kha­ti­jah!

Ia masih ingat pada pakaian yang mele­kat pada tubuh itu — pakai­an­nya sen­diri yang dahulu dika­sih­kan­nya kepa­da­nya. Seka­rang kebaya itu telah kehi­langan warna asli­nya. Ia turun kem­bali ke dalam air dan menge­cil­kan badan. Meng­apa takut? Meng­apa takut? Ia bicara dengan hati­nya. Dia adikku! Adikku sen­diri! Adikku yang dulu juga. Dan ber­ge­gas ia naik ke darat kem­bali dan segera ber­pa­kaian. Seka­rang ia men­daki tebing kali Besar ter­se­but — men­ce­gat si Kha­ti­jah di peli­pir, di bawah pohon jalanan. Di depan­nya radio dari repa­rasi radio men­de­ngung-dengung. Bukan duni­a­nya! Ia tak dapat mem­per­ha­ti­kan musik dansa itu. Mobil men­deru-deram di jalanan depan­nya. Bukan duni­a­nya! Pega­wai-pega­wai masuk kantor dengan pakai­an­nya y ing ter­a­tur rapi. Bukan duni­a­nya! Hanya Kha­ti­jah seba­gian dari duni­a­nya.

Kha­ti­jah sudah besar seka­rang. Dada­nya sudah berisi. Ya, keli­hatan dari per­ma­inan cahaya pada tubuh­nya. Kha­ti­jah sudah dewasa. Dan dada­nya telah berisi. Kese­dihan menye­rang­nya tiba-tiba. Kul­it­nya sen­diri telah ter­lam­pau long­gar untuk tubuh­nya. Dan ia tak punya jalan kem­bali ke duni­a­nya sen­diri. Kam­pung­nya kini seakan telah pindah ke surga — Keba­yo­ran itu! Dan kelu­ar­ga­nya yang dahulu ikut pula pindah ke surga.

Dia­mat­i­nya tubuh adik­nya yang kian lama kian men­de­kat itu. Aku dahulu semon­tok itu juga. Tapi lebih cantik. Lebih gesit. Dan juga lebih banyak orang yang mem­be­ra­hi­kan daku. Aku tang­gung lebih banyak — jauh lebih banyak dari­pada dia. Ah, Kha­ti­jah tak dapat masak, dan aku paling pandai. Tapi apa guna­nya semua itu. Begi­ni­lah aku seka­rang, dan dia masih boleh memi­lih. Aku telah memi­lih — dan pilih­anku salah.

Jarak antara Aminah dan Kha­ti­jah tambah dekat. Jan­tung­nya ber­de­baran ken­cang. Luar biasa ken­cang­nya. Sudah ter­lam­pau sering ia mena­si­hati diri sen­diri: “Jangan deng­ar­kan berita dari Keba­yo­ran! Dia akan mem­buat hatimu hancur.” Tapi nasi­hat itu ini remuk digi­ling-giling kenangan lama. Kenangan pada kam-ung dan kelu­arga yang telah pindah ke surga. Seja­rah hidup­nya kepi­ngin lurus. Kini beng­kok-beng­kok. Dan dia ingin melu­rus kem­bali.

“Tijah!” seru­nya pada gadis remaja itu.

Dan gadis yang dipang­gil­nya, gadis yang ber­pa­kaian lusuh tua itu mem­per­ha­ti­kan­nya. Kha­ti­jah tidak kenal. Ia tak menge­nal lagi sau­da­ra­nya yang selama itu telah reot diba­kar angin malam, diba­kar oleh kenang-kenang­an­nya, dir­e­muk­kan oleh hati­nya. Muka­nya tipis cekung, pantat sempit, mata kabur kepu­tih-putihan dan kulit seakan ber­ja­mur. Kha­ti­jah hendak segera berang­kat lagi. Tapi:

“Kha­ti­jah! Engkau tak kenal lagi?” suara yang men­cu­r­i­gai diri sen­diri.

Kha­ti­jah ber­pi­kir. Kaget seben­tar. Keta­kutan, keji­jikan, keke­ce­waan menari-nari di mata­nya.

“Minah! Aminah! Engkau ini, kak?” suara gem­bira yang segera ber­pin­dah jadi benci. Mata­nya melun­cur dari rambut mela­lui pakaian tua busuk rom­beng itu. Kini kecu­r­i­gaan ter­kan­dung dalam pan­dang­nya. “Sudah lama kami tak dengar kabarmu.” Kemu­dian mele­tup suara kejam: “Engkau meng­e­mis, Minah?”

“Aku …?”

Selama ini Aminah tak tahu lagi mana yang lebih baik, meng­e­mis atau jadi bayang-bayang malam seperti yang ter­paksa ia ker­ja­kan ber­bu­lan-bulan lama­nya.

“Engkau pele­sir ke Jakarta, Tijah?” tiba-tiba.

“Belanja, Minah,” bangga mema­mer­kan.“Beli baju. Beli sutera merah satu baju. Beli kain dua. Beli gincu.”

“Engkau mau kawin,” suara yang mela­yang-layang mau men­da­rat.

“Aku mau kawin, Minah. Sete­ngah bulan lagi,” teriak keme­nangan.

“Senang­lah hidupmu,” sesalan yang men­de­kati iri hati.

“Men­ding dari­pada dulu, Minah. Tapi baru seka­rang aku merasa senang. Beli sutera merah, kain dan gincu. Kak Saleh yang mem­beri uang.”

“Saleh? Meng­apa aku tak dibe­ri­nya juga? Aku? Bini­nya?”

“Salahmu sen­diri meng­apa lari!” memu­tus­kan.

Aminah menge­luh. Tapi keluh­an­nya tak ter­de­ngar oleh kuping manu­sia — juga tidak oleh kuping­nya sen­diri. Meng­a­du­lah ia dengan lagu minta sim­pati:

“Siapa kuat, Tijah? Siapa kuat? Kak Saleh sudah kubi­langi, jangan jual rumah dan ladang itu. Itu sumber peng­hi­dupan kita. api dia bilang, keka­yaan kita itu harus kita serah­kan pada peme­rin­tah, Minah, kalau kita tak mau men­da­pat kesu­sahan dari­pa­da­nya. Dan rumah serta peka­rangan itu diju­al­lah. Tiga ribu! Tapi sejak itu kita tak dapat mem­buat tuak dan gula lagi. Aku tak dapat jual rujak buah atap. Tak punya panen sing­kong dan cabe. Dan kita tak dapat beli ladang orang lain karena tak ada yang jual…”

“Aku mau ke Pasar Baru,” Tijah men­de­sak.

Aminah merasa ter­tu­suk. Kem­bali minta sim­pati:

“Nan­ti­lah. Nanti dulu.”

Seka­rang keta­kutan meman­car pada mata Kha­ti­jah. Tapi ia tak mela­wan. Dan Aminah mene­rus­kan ceri­ta­nya:

“Kemu­dian tak ada peng­ha­silan apa-apa, Tijah. Dan kak Saleh tik betah ting­gal di pondok orang. Aku sen­diri juga tidak. Siapa betah ting­gal di pondok orang kalau tadi­nya pernah ting­gal di rumah sen­diri? Kak Saleh kemu­dian kena candu dadu, main dadu tiap hari. Uang habis. Hutang ter­lam­pau banyak. Aku sen­diri tak punya modal. Saleh juga tidak. Jadi aku ikut sama Diman ke Jakarta cari nasib baru.”

“Salahmu sen­diri meng­apa lari.”

“Saleh masih main dadu, Tijah?” meng­hin­dari.

“Jualan sate. Dan aku yang masak sambal.”

“Kalau begitu engkau mau kawin sama dia.”

Kha­ti­jah merun­tuh­kan pan­dang ke tanah. Aminah merun­tuh­kan pan­dang ke tanah. Seben­tar-seben­tar ada orang lalu dan ber­henti turut men­de­ng­ar­kan, kemu­dian jalan lagi. Kedua pe- “mpuan itu takut pada kebe­naran dan kenya­taan masing-masing Akhir­nya:

“Kalau begitu engkau mau kawin dengan dia,” ulangan. “Salahmu sen­diri meng­apa lari,” juga ulangan.

“Diman seka­rang kerja jadi tukang gero­bak ham­inta. Rumah kami di bawah-bawah pohon di tengah taman.” Ia meng­a­rah­kan mata ke jurusan taman From­berg.

Aduan itu tak mem­bang­kit­kan pera­saan apa-apa pada Kha­ti­jah. Tidak men­ter­je­mah­kan kehi­dupan Aminah. Tak ber­arti apa-apa.

“Kalau hujan kami kehu­janan,” Aminah mene­rus­kan. Kha­ti­jah tetap kosong rasa. Ia ingin ber­si­ce­pat pergi meng­hin­dari Aminah. Ingin ber­si­ce­pat ke Pasar Baru beli sutera merah, kain dan gincu.

“Kadang-kadang aku masuk angin. Kadang-kadang demam. Dan Diman kerja. Aku tak tahu di mana ker­ja­nya. Dan tak ada orang yang bisa kusu­ruh memang­gil­nya. Jadi aku ting­gal ter­golek saja di bawah pohon taman,” suara yang benar-benar ingin men­da­rat di sasar­an­nya.

“Engkau tak ingin pulang ke Keba­yo­ran?” men­coba-coba. Seka­rang pintu kei­ng­inan Aminah ter­buka. Segera menyam­but:

“Ingin! Ingin sekali.”

Kha­ti­jah meng­i­sap nafas pendek, keras dan menye­sak di dada. Meli­hat Kha­ti­jah hendak meng­hin­dar­i­nya segera ia men­coba-coba kem­bali:

“Tapi siapa mau terima? Peka­rangan kami yang dahulu seka­rang sudah kepu­nyaan peme­rin­tah. Waktu aku pergi, sebuah gedung seko­lah didi­r­i­kan di sana. Dan seka­rang engkau mau kawin sama Saleh, Saleh mau kawin sama engkau.”

“Salahmu sen­diri.”

“Emak marah padaku, Tijah?”

“Engkau disum­pahi.”

“Disum­pahi!” Aminah meng­ha­fal­kan kata itu.

“Disum­pahi supaya mati dir­u­bung lalat.”

Sepa­sang air bening meng­in­tip di sudut-sudut mata Aminah.

“Dan kalau engkau berani pulang, engkau mau dipu­kul­i­nya ngan alu.”

Aminah ingat pada alu yang biasa diper­gu­na­kan­nya untuk menum­buk jagung waktu ia masih bini Saleh. Sampai kuning ujung-ujung alu itu. Dan tepung jagung itu dibu­bur­nya, diju­al­nya di ping­gir jalan. Remuk kepa­laku kena alu itu, pikir­nya. Kem­bali sepa­sang air meng­in­tip, keluar, kemu­dian ter­gu­ling jatuh ke keba­ya­nya yang kumal. Dada­nya merongga. Merongga minta isi. Dan isi itu tak dida­pat­nya dari mulut Kha­ti­jah. Sung­guh, ia merasa tak punya jalan kem­bali. Dan Keba­yo­ran meru­pa­kan sesu­atu yang lebih indah dari­pada surga yang pernah dide­ng­ar­nya dari berita orang-orang. Sesu­atu menye­bab­kan ia ber­pe­gangan pada pohon jalanan. Mata­nya mere­nung ke kali Besar di bawah­nya. Kha­ti­jah tak dapat mena­han hati lagi. Ia berang­kat.

“Aku bukan hendak minta uangmu,Tijah,” kata­nya.

Tetapi Kha­ti­jah ber­ja­lan terus.

“Ambil­lah kak Saleh, Tijah, aku bukan hendak meram­pas Saleh dari tanganmu.”

Dan Kha­ti­jah terus ber­ja­lan.

Seben­tar timbul hasrat pada Aminah untuk mena­han adik­nya. Tapi tak keluar sepa­tah lagi dari mulut­nya. Dan mena­han dengan tenaga ia tak mampu. Tambah lama Kha­ti­jah ber­tam­bah jauh. Ia hanya dapat meng­i­kuti dengan kei­ng­in­an­nya, dengan pan­dang­nya, dengan iri hati­nya, dengan segala-gala­nya yang masih ada pada­nya selain tubuh­nya.

Kha­ti­jah telah hilang seka­rang — lenyap di balik pintu kereta pi. Hampir-hampir ia meme­kik memang­gil­nya kem­bali. Tapi kehen­dak­nya tak men­da­pat ban­tuan dari urat saraf­nya.

Pelahan ia berang­kat ke tempat, yang selama ini mem­be­ri­nya daerah untuk hidup­nya: taman From­berg! — tak lebih dari dua 1 itu lima puluh lima meter dari pagar istana. Badan­nya dihem­pas­kan di bangku taman. Seka­rang ia ter­se­dan-sedan sen­di­r­ian. Dan sinar mata­hari yang mem­ba­kar rambut dan jangat dibi­ar­kan­nya. Dada­nya kian terasa merongga, dan kian terasa mem­bu­tuh­kan isi. Ia ingat Saleh laki­nya — Saleh­nya sen­diri. Saleh yang sampai seka­rang masih laki­nya. Saleh yang kesa­sar, tetapi waktu kem­bali ke jalan benar tidak men­jem­put­nya, tetapi men­jem­put adik­nya yang masih pera­wan. Ber­tam­bah ia pikir­kan ber­tam­bah asing si Saleh bagi­nya — jadi orang yang tak boleh dike­nal­nya lagi. Dan emak­nya mau memu­kul­nya dengan alu. Semua telah men­jadi asing, tambah asing — ada, tapi tak ada dalam harap­an­nya.

Hari itu ia tak jadi berang­kat ke Pasar Tanah Abang untuk beli nanas muda. Piki­ran dan sesalan dan renungan mem­buat ja sangat lelah.

Lalu lintas di seke­li­ling­nya yang meru­bung taman itu ber­ja­lan seperti biasa. Ia pun kehi­langan selera untuk makan mi di Tanah Abang. Trem lis­trik telah ber­kali-kali lewat. Ia kehi­langan niat untuk menum­pang. Parak siang Diman baru turun dari kerja, dan kemu­dian:

“Meng­apa matamu merah, Minah?”

Kini ia merasa, Diman tak sang­gup melin­dungi keta­kutan dan keko­songan yang kini menyala dalam dada­nya. Dan tak ada satu benda dan satu jiwa pun sang­gup melin­dung­i­nya. Rumput tanah di bawah kaki­nya mem­ben­tang hijau. Di sana-sini gundul. Langit melem­ba­yang biru. Kadang-kadang angin meniup lunak Tapi segala benda yang menge­li­ling­i­nya, juga dir­i­nya sen­diri telah kosong dari segala pera­saan. Hampa! Dan tak jua ada isi mau datang. Seperti batu dengan batu.

“Engkau mena­ngis, Minah? Engkau menye­sal. Aku memang ber­sa­lah padamu, Minah. Tapi engkau pun ber­sa­lah meng­apa mau kuajak. Kita berdua ber­sa­lah.”

Suara lelaki itu pun kosong. Kosong — keko­songan yang mem­buat gila. Dan keko­songan itu dengan tiada disa­dar­i­nya sebe­nar­nya telah ada sejak ia mening­gal­kan kehi­dupan kelu­arga dan meng­em­bara ber­sama pemuda yang ada di dekat­nya itu. Ia mulai menya­dari keko­songan itu tat­kala Diman telah kehi­langan api ter­ha­dap dir­i­nya.

Sekali lagi ia men­coba mena­si­hati dir­i­nya agar jangan menge­nang­kan berita dari Keba­yo­ran itu. Tetapi ia ingin tahu. Ia kepi­ngin dengar kabar ten­tang bekas peka­rang­an­nya yang hingga kini masih tetap ia cintai, ten­tang Saleh, ten­tang emak­nya, dan ten­tang sua­sana ramah seperti dahulu dengan mereka semua. Tapi s muanya itu kini telah pindah ke surga.

Di telen­tang­kan tubuh­nya di bawah pohon di rerum­putan. Kem­bali ia meru­pa­kan potret dari selu­ruh adanya.

Lalu lintas kota ber­ge­rak terus. Ber­ge­rak terus. Nanti malam akan datang dan muncul kem­bali lelaki ber­du­yun-duyun di tunan From­berg men­cari perem­puan seperti dir­i­nya — mem­bu­tuh­kan keha­ng­atan tubuh­nya. Di dunia bebas mereka tak mau kenal pada­nya. Di dunia kelam mereka men­ca­ri­nya.

Aminah ingin kem­bali ke Keba­yo­ran. Ia tak berani. Ia takut pada Saleh, pada alu, pada sum­pahan emak­nya, pada emak­nya sen­diri, juga pada Kha­ti­jah. Dan sampai kapan waktu seperti itu ber­a­khir dan beru­bah, ia tak ada kesang­gupan untuk menge­ta­hu­i­nya. Meng­a­ng­a­n­kan pun tak sang­gup.

Beberapa hari kemu­dian ter­de­ngar pada kuping­nya bisikan Diman di sam­ping­nya dalam pekat malam mengan­dung men­dung:

“Tadi aku ber­temu Saleh. Dia bilang, bulan depan akan buka res­to­ran di kota baru. Bini­nya sudah bun­ting,” kata­nya.

Aminah mem­be­la­lak­kan mata meng­a­tasi kan­tuk­nya. Dan keko­songan dalam dada­nya kini meng­ger­sang­kan selu­ruh jiwa­nya. “Kalau saja engkau dahulu tak mem­bawa aku kemari…”

“Kita tak dapat meng­u­langi hari yang sudah lewat, Mina.” Dan seka­rang tiba-tiba saja Aminah kepi­ngin punya anak. “Alang­kah baik­nya kalau aku punya anak,” ia menge­luh. “Besok aku jadi mandor, Minah!”

Seben­tar saja mata Aminah ber­si­nar. Kemu­dian sinar itu mati dalam kege­lapan.

“Tak suka­kah hatimu?”

“Kalau engkau jadi mandor…”

“Kita sewa pondok kecil dan hidup secara orang baik-baik,” Diman mem­pe­nga­ruhi. “Dan barang­kali juga kita bisa dapat anak.”

“Kalau engkau jadi mandor, engkau dapat pondok kecil, dan engkau kawin dengan perem­puan baik-baik.”

Ucapan Aminah mem­be­ri­kan ilham pada Diman, dan ia tak mene­rus­kan jan­ji­nya. Kedua makh­luk itu ber­diam diri. Raung mobil pema­dam keba­karan mem­buat per­ha­tian mereka ter­ta­rik. Kemu­dian hilang pula bentuk dan bunyi mobil ter­se­but.

“Kalau perem­puan mela­cur­kan dir­i­nya, dia jahat dan tak diberi kesem­patan untuk jadi baik kem­bali. Tapi kalau lelaki mela­cur­kan diri, tak ada yang menen­tang, dan dia masih juga bebas, dia boleh ber­bangga dengan kela­cur­an­nya, juga di depan umum,” Aminah ber­bi­sik lebih pada malam yang bisu dari­pada Diman.

Dan kedua makh­luk tak ber­a­tap itu, tak punya Tuhan yang pemu­rah seperti Tuhan orang yang kaya, tak punya negara dan tak punya kebang­saan itu — kedu­a­nya tidur ber­pe­lukan untuk mem­ba­tal­kan dingin malam — untuk mem­ba­tal­kan kego­ya­han hari esok yang meng­an­cam dalam kepala.

Seka­rang angin meniup ganas. Di langit kilat ber­ke­japan dah­syat. Tapi guntur sudah ter­lam­pau biasa buat mereka — tak sang­gup mem­ba­ngun­kan. Dan kala hujan turun dengan deras­nya, kedu­a­nya melom­pat dan mela­ri­kan diri ke gubuk pompa bensin kosong. Di sana kedu­a­nya mene­rus­kan tidur­nya di antara perem­puan-perem­puan golongan Aminah dan lelaki-lelaki golongan Diman. Tem­pias meng­a­muk mela­lui jen­dela-jen­dela yang telah pecah belah kaca­nya. Dan dari jen­dela itu nampak dua di antara ber­pu­luh-puluh bola lampu yang meng­hi­asi pagar istana.

Sejak malam itu Diman tak pernah datang lagi.

Ah, Aminah sudah tahu apa yang akan ter­jadi atas per­hu­bung­an­nya dengan Diman. Bukan­kah ucapan Diman yang ter­a­khir itu begitu ringan dan mela­yang tidak ber­pi­jak di atas bumi, ter­cu­r­ah­kan tidak dari dasar hati yang rela.

Seka­rang ia seo­rang diri meng­em­bara jadi bayang-bayang malam. Kian lama tubuh­nya kian lemah. Batuk­nya kian dalam dan ia tak sang­gup ber­diri tegak lagi. Pung­gung­nya telah mem­bong­kok. Wajah­nya selalu pucat. Untuk mele­nyap­kan pucat itu diper­gu­na­kan­nya bedak tebal-tebal dan sela­pis rouge dan bibir­nya yang biru muda dime­rah­i­nya dengan lip­stik yang semu­a­nya im dibe­li­nya dari Tanah Abang.

Tam­pang­nya mena­kut­kan dir­i­nya sen­diri. Dan waktu masa merang­kak bebe­rapa bulan lagi, tiap lelaki yang datang kepa­da­nya bicara dahulu lama-lama. Ia tahu sebab­nya: mereka hendak menim­bang-nim­bang tam­pang­nya. Bahkan sekali seo­rang pemuda ber­te­riak kepa­da­nya: “sayang aku tak bawa sapu­ta­ngan buat menu­tupi tam­pangmu. Kalau bawa mau juga­lah.”

Ia insaf bahwa syarat-syarat kewa­ni­taan kian lama kian habis ting­gal dari dir­i­nya. Segala bedak, rouge dan lip­stik tidak lagi meno­long. Bahkan klonyo pun tidak. Dan waktu selama dua malam tak ada orang yang hendak mene­gur­nya, karena waktu tu bulan meman­car terang dengan sinar kuning­nya. Akhir­nya dii­kut­i­nya juga contoh kawan-kawan­nya dalam meng­a­tasi kei­daan yang gen­ting itu dengan mena­war­kan selu­ruh kehor­mat­an­nya:

“Baik­lah, bung, dengan mulutku juga boleh.”

Ia tahu bahwa empat orang di antara kawan­nya tidak kem­bali lagi ke taman sete­lah mela­ku­kan per­bu­atan itu. Ia tak tahu alamat mereka, kare­na­nya tak menge­ta­hui betul adakah mereka mati oleh per­bu­atan demi­kian atau …

Dan sejak itu ia bekerja dengan mulut­nya, dengan lidah­nya dan dengan sedi­kit dari gigi­nya. Mula-mula ia tak tahu harus dia­pa­kan getah yang ter­hi­sap dan leng­ket di lidah itu. Sekali dua 1a ludah­kan keluar, tetapi akhir-akhir­nya ia telan masuk mela­lui kerong­kongan ke dalam perut.

Sejak itu ia merasa bahwa apa yang dina­mai kehor­matan tidak ida sama sekali di dalam tubuh­nya yang telah hancur itu. Cita-cita­nya untuk melu­rus­kan jalan­nya sen­diri kini telah padam. Ah, sal saja ada orang bisa mem­be­ri­nya barang sering­git sehari ia sang­gup menge­r­ja­kan segala-gala­nya yang seban­ding dengan tenaga dan kebi­a­sa­an­nya.

Tetapi lambat laun yang datang pada­nya ber­tam­bah sedi­kit, dan akhir­nya tidak ada sama sekali. Tam­pang­nya yang melidi, dan muka­nya yang cekung-cekung, ram­but­nya yang rontok dan kul­it­nya yang kian long­gar mem­buat orang tak bisa mem­be­da­kan mana Aminah dan mana monyet.

kak PADA SUATU hari yang cer­lang-cemer­lang ia tak kuasa bangun lagi dari bang­ku­nya. Ia ter­lalu lapar. Kerong­kongan dan perut­nya terasa ter­ba­kar. Sehari-harian ia ter­golek dalam gang­gangan mata­hari. Dari mulut­nya terus-mene­rus keluar air. Kadang-kadang ia pun ter­ba­tuk lemah dan nanah mele­leh dari antara lidah dan langit-langit­nya. Pita-pita sua­ra­nya telah rantas dan tak ada suara bisa keluar lagi dari teng­go­r­ok­an­nya.

Kadang-kadang ada orang lewat. Ia men­coba memang­gil­nya dan minta per­to­longan dengan meng­ge­rak-gerak­kan salah sebuah dari jari­nya tetapi orang itu ber­ja­lan terus. Mung­kin ia tak tahu, dan mung­kin juga tidak peduli.

Di malam hari semua orang menying­kir dari tubuh itu, dengan mem­bawa pera­saan ngeri pulang ke rumah.

Dan kee­sokan hari­nya, waktu mata­hari mulai meman­car kem­bali, Aminah telah berada di per­ba­ta­san antara dua dunia. Mata­nya masih dapat menang­kap peman­dangan di keli­ling­nya tetapi jiwa­nya tidak lagi.

Waktu ada seo­rang lelaki datang kepa­da­nya dan meme­rik­sa­nya seben­tar, lelaki itu pun kemu­dian meng­ge­leng-geleng­kan kepa­la­nya. Mata Aminah dapat menang­kap sosok tubuh itu. Dan pada penge­li­hat­an­nya orang itu adalah Saleh yang datang hendak men­jem­put­nya. Seka­li­pun pita-pita sua­ra­nya telah rantas, namun, ada juga ia kata­kan pada­nya:

“Kak, ampuni segala dosaku. Ampun­i­lah aku. Bawalah aku pulang.”

Dan bibir orang itu seakan-akan ber­kata kepa­da­nya:

“Tunggu seben­tar Minah. Biar aku ambil kereta untuk meng­ang­kutmu.”

“Per­gi­lah. Tapi jangan ter­lam­pau lama. Aku haus.” Orang itu pun per­gi­lah. Aminah meme­jam­kan mata sambil menunggu. Tusukan mata­hari tak terasa lagi oleh­nya. Lama sekali Saleh belum juga datang. Tetapi ia kini bisa mema­af­kan. Akhir­nya Saleh datang kem­bali mem­bawa bebe­rapa orang. “Itukah lang­gan­anmu yang selalu makan di res­to­ranmu?” Ia ber­ta­nya.

Saleh meng­ang­guk.

“Apa? Diman jadi pem­ban­tumu seka­rang?”

Orang-orang ber­s­hort putih itu meng­ang­kat­nya ke bran­cart. Dan tubuh Aminah ber­a­yun-ayun sedi­kit. Kemu­dian ia dima­suk­kan ke dalam mobil krip.

“Saleh, bagus amat kereta ini.”

“Ini keret­aku sen­diri, Minah, dari keun­tungan res­to­ran.”

“Meng­apa ada alu di dalam kereta ini?”

“Ini pem­be­rian emak untukmu. Kapan engkau mau menum­buk jagung lagi?”

“Apakah di atas itu lampu lis­trik untukku?”

Tiba-tiba Saleh beru­bah men­jadi bapak­nya. Dan ia memu­lai Lagi:

“Bapak tidak pergi ke sawah?”

“Panen sudah sele­sai, dan hujan belum turun. Kalau hujan turun sekali, tanah baru diba­lik. Kemu­dian dibi­ar­kan ter­timpa mata­hari. Kalau ada hujan kedua baru diba­lik lagi. Dan panen bakal­nya bagus.”

“Engkau mau apa?”

“Mesin jahit tentu.” Aminah ter­tawa.

Tiba-tiba selu­ruh din­ding ber­mu­lut dan memonyong­kan bibir­nya masing-masing kepa­da­nya dan ber­seru-seru dengan kasar­nya: ”

“Monyet lepas! Mau ke mana, kau? Engkau cuma mengo­tori kein­dahan taman ini.”

Panas hati Aminah bukan main men­de­ng­ar­nya dan ia ber­seru-seru:

“Diman, Diman, mereka sama kurang ajar kepa­daku. Diman! Diman! Mana kau? Mana?”

Tapi Diman tak juga muncul. Keta­kutan dan kepa­nasan hati meng­a­muk dengan dah­syat­nya. Tubuh Aminah bero­leng-oleng. Mata­nya men­de­lik. Ia ber­u­saha untuk mem­per­gu­na­kan mata­nya untuk meli­hat. Dan tenaga yang mena­rik bola mata itu ke atas bukan main kuat­nya. Tapi Aminah tetap ber­u­saha. Akhir­nya ia bisa mem­per­gu­na­kan mata­nya kem­bali. Di depan­nya ter­ben­tang rawa dengan air hitam. Ping­gir­nya dile­bati lalang. Tetapi kereta yang ditum­pang­i­nya ber­ja­lan laju dan tenang. Kadang-kadang udara beru­bah-ubah warna: biru, kelabu, merah, hijau — segala warna. Kadang-kadang di langit ter­jadi pepe­rangan dah­syat antara ber­ba­gai sen­jata.

Tiba-tiba segala-gala­nya lenyap.

Dari jauh ia dengar imbauan suara emak­nya:

“Aminah! Aminah! Saleh akan kawin dengan adikmu. Engkau tak datang menyak­si­kan?”

Kem­bali Aminah mera­sai sakit hati. Ia mau rang­sang emak­nya. Tetapi tiba-tiba di depan­nya ter­ge­lar peka­rang­an­nya yang ia cintai: dengan pohon-pohon aren sepan­jang pagar. Sebuah rumah kayu ber­lan­tai tanah ber­diri tenang di atas tengah-tengah peka­rangan. Itulah rumah­nya di mana ia dan Saleh hidup damai. Kemu­dian peman­dangan yang menye­dap­kan itu lenyap. Bul­do­zer dan trak­tor datang seba­gai rak­sasa-rak­sasa yang hendak mener­kam­nya. Dan puluhan truk yang men­de­rum-derum mem­bawa kayu dan batu bata dan pasir dan semen seperti sepa­sukan kerbau liar yang hendak meng­in­jak-injak­nya.

Aminah men­je­rit.

Per­u­ba­han tambah lama tambah sering. Gambar demi gambar menyu­sul. Akhir­nya tenang lagi. Aminah meli­hat Saleh turun dari kereta, kemu­dian Diman, kemu­dian Kha­ti­jah, emak­nya, bapak­nya, tetangga-tetang­ga­nya. Ia men­je­rit memang­gil mereka seo­rang demi seo­rang. Tetapi mereka ber­seru mem­ba­las:

“Kami mau ke kota. Engkau mau ke Keba­yo­ran, bukan?” Dan kereta ber­ja­lan terus, lancar dan tenang. Seka­rang ia seo­rang diri. Kereta ber­ja­lan terus — terus — terus — terus. Dan ia tetap seo­rang diri.

Kereta ber­ja­lan terus — dan tidak akan ber­henti di mana tempat pun juga …

Jakarta, i-1950



Cerita pendek

Tanpa Kemudian

Dari Cerita dari Jakarta (1957). Teks dari cetak ulang Hasta Mitra, 2002.

Padanya aku tak kenal betul. Per­mun­cul­an­nya memang amat meng­gi­ur­kan — seo­rang pera­wan remaja, ber­tu­buh tinggi lang­sing, ber­ku­lit lang­sat men­de­kati putih, hidung bangir, bibir kecil yang penuh, dan gaya jalan yang meleng­gok-leng­gak ringan. Pada pan­dangan per­tama ini mataku memang ter­ta­rik kepa­da­nya. Dan tia­da­lah salah: seakan ia dicip­ta­kan di atas dunia ini untuk menim­bul­kan berahi pria. Bibir­nya yang penuh seakan khusus dicip­ta­kan untuk dicium lama-lama. Ting­kah laku­nya yang kege­nit-geni­tan meng­ge­tar­kan sendi-sendi iman.

Dan aku tak tahu nama­nya.

Kata orang: bila per­ha­tian ada, ada pula jalan untuk menge­ta­hui. Demi­ki­an­lah, maka pada suatu kali ter­ku­tip berita sedi­kit olehku ten­tang­nya. Nama: Nana. Peker­jaan? Tentu saja peker­jaan harus dise­but­kan pula. Bukan­kah ia pagi-pagi berang­kat di atas sepe­da­nya yang tak berban mati itu, dan tiga empat hari baru pulang ke rumah untuk kemu­dian berang­kat lagi di waktu pagi-pagi benar? Nah: peker­jaan: pela­yan Con­cor­dia! Itu pusat hiburan para opsir Jepang.

Nama dan peker­jaan hanya suatu ancang-ancang untuk men­da­pat­kan berita yang lebih banyak. Tiap kesem­patan kuper­gu­na­kan untuk menge­ta­hui benar ten­tang makh­luk yang dika­ru­niai begitu banyak kema­uan untuk meng­ge­tar­kan kebe­ra­hian. Anti­pati ter­ha­dap peker­ja­an­nya tia­da­lah men­jadi halangan. Karena: yang seperti dia hanya seo­rang saja di atas bumi­nya Tuhan, dan Tuhan hanya men­cip­ta­kan seo­rang saja yang seperti dia.

Berita selan­jut­nya mudah­lah sudah untuk dikira-kira­kan: hampir tiap hari Nana dise­ret oleh opsir-opsir Jepang ke kamar kolong Con­cor­dia.

Di masa seka­rang memang sudah banyak yang tak kenal nama Con­cor­dia — gedung yang kini men­jadi tempat wakil-wakil rakyat ber­kum­pul dan ber­si­dang.

Sering, apa­bila aku pergi ke Balai Pus­taka untuk mem­beli buku, ter­de­ngar dari kolong yang di sana-sini diberi ber­je­ra­jak besi itu, ter­tawa ria, kadang-kadang pekik keta­kutan atau dera yang meng­ge­le­tar dari ujung rotan mentah. Tawa, pekik itu adalah keluar dari bibir yang penuh dan meng­gair­ah­kan dari­pada pera­wan-pera­wan muda seperti Nana. Dan Nana sen­diri ada di situ.

Orang bilang: Nana tak perlu didera dengan rotan. Lihat saja badan­nya yang tetap montok. Lihat saja kul­it­nya yang tak pernah lecet semili per­segi pun!

Orang lain lagi bilang: “Nana sih, tak perlu keta­kutan.”

“Ya, ia telah sedi­a­kan dir­i­nya dengan senang hati untuk dunia kese­nangan.”

Ia beru­mur tujuh belas tahun waktu itu. Tiga tahun lebih muda dari­pada umurku. Tujuh belas tahun lama­nya ia telah mem­per­si­ap­kan diri untuk mene­rima saluran bagi kege­ni­tan­nya. Tujuh belas tahun adalah masa yang amat pan­jang bagi detik-detik baha­gia yang bukan main pen­dek­nya.

Entah sudah berapa kali saja aku menya­yang­kan tubuh yang dibak­ti­kan kepada bala ten­tara Dai Nippon itu, tetapi karena tiap pri­badi hidup dengan dalil-dalil­nya sen­diri untuk dapat meng­um­pani sang hidup yang tiada puas-puas­nya itu, tia­da­lah ber­fa­e­dah rasa sayangku itu. Namun dalam masa-masa seng­gang tiri­kan­nya kepa­daku untuk menge­nang­kan dir­i­nya begitu kuat dan tiada ter­ben­dung. Sedang desas-desus ten­tang­nya dengan diam-diam kusim­pan di dalam hati. Dan pada suatu kali meni­up­lah berita yang benar-benar menu­suk pera­sa­anku: Nana kini telah men­jadi tinggi, gemuk dan lebih montok, dipi­ara oleh opsir Jepang daerah Men­teng1. Masa pen­du­dukan Jepang dengan kela­par­an­nya tidak­lah meru­pa­kan suatu masa yang baik bagi desas­de­sus fit­nahan, hampir sela­ma­nya benar, karena bagi orang-orang kela­paran hidup men­jadi ber­sung­guh-sung­guh. Seba­gai seo­rang kanak-kanak seperti aku, yang jiwa­nya ter­buka bagi segala kei­ng­inan tia­da­lah dapat aku mele­nyap­kan buah-buah kei­ng­inan dengan begitu saja. Bahkan kei­ng­inan-kei­ng­inan yang terasa muba­zir dan gila masih punya tenaga pen­do­r­ong untuk meng­ge­rak­kan tekad dan tubuh. Demi­ki­an­lah dengan perut yang sete­ngah lapar dan tubuh yang lesu pada hampir tiap sore aku ber­ke­li­aran di daerah Men­teng untuk dapat meman­dang wajah­nya yang telah sekian lama aku dam­ba­kan. Segala ang­gapan dosa yang dilem­par­kan oleh umum di atas kepa­la­nya, dapat­lah diam­puni oleh jiwaku yang masih muda. Segala kesal­ah­an­nya tidak ter­ma­suk ke dalam per­hi­tung­anku, dan segala gerak-gerik­nya yang barang­kali juga ditu­ju­kan kepa­daku, terasa seba­gai isya­rat dari alam sem­purna, dari alam cipta, meru­pa­kan rahmat yang setinggi-ting­gi­nya.

Dan pada suatu siang kuda­pati ala­mat­nya.

Ia sedang duduk minum sege­las susu coklat di serambi sebuah gedung kelabu yang indah. Waktu meli­hat aku, ia meng­ang­guk. Dan jam­bul­nya ikut pula meng­ang­guk. Dengan tiada kuduga-duga ia bang­kit dari duduk­nya dan dia­jak­nya aku mampir seben­tar. Aku lihat leher­nya ber­ka­lung rantai emas dengan mainan yang gemer­lapan dengan intan dan ber­lian. Kuping­nya dihi­asi sepa­sang markis yang rampai ber­ma­ta­kan ber­lian pula. Apakah ber­lian dan intan itu hanya imi­tasi, pada waktu itu bukan­lah men­jadi masa­lah sama sekali. Kuping­nya bagiku lebih pen­ting dari­pada markis, dan leher­nya lebih pen­ting dari­pada kalung beserta main­an­nya.

Di waktu itu hilang lenyap­lah segala rasa takutku ter­ha­dap segala macam Jepang yang ada di atas bumi ini. Dengan tenang aku naik ke rumah­nya, dan kemu­dian mem­bun­tut­i­nya masuk ke dalam. Pera­bot rumah­nya ter­diri atas barang-barang berat yang disu­sun dengan sem­brono. Di segala tempat nampak kaca-kaca cermin yang besar, sebuah fau­te­uil besar, tebal dan dekil meng­ga­gahi sepo­tong ruangan tengah beserta sebuah meja ber­daun kaca kris­tal. Di tiap meja ter­da­pat asbak yang berisi abu dan pun­tung, bahkan juga kapas bekas pengo­rek kuping. Pintu kamar-kamar ter­buka sem­ba­rangan, dan dari ruang tengah itu nampak ber­ba­gai macam pakaian ber­ge­lan­tungan serta kelambu yang tak ter­pe­li­hara, sepe­rai yang masih ter­a­duk-aduk.

Di luar duga­anku ia adalah begitu ramah, tidak seperti waktu kita masih ting­gal segang. Kemas­aman air muka­nya hilang tiada ber­be­kas. Rouge dan gincu yang meme­rahi pipi serta bibir­nya mem­buat ia nampak riang. Ia duduk sambil meng­ang­kat kaki sebe­lah, sehingga sepatu san­dal­nya yang tali-tumit­nya diin­jak, ter­gan­tung-gan­tung layu.

Sete­lah menye­di­a­kan bagiku minuman, mulai­lah ia mem­per­ke­nal­kan kepa­daku benda-benda yang dalam waktu yang seben­tar itu dapat diku­a­sa­i­nya: pakaian sele­mari penuh (di antara jutaan orang yang keku­rangan pakaian, bahkan ber­kain goni dan kajang), barang emas-emasan.

“Dan lihat itu, radio besar. Sayang seka­rang nggak ada siaran,” kata­nya sambil menyapu-nyapu dataran peti radio.

Sete­lah itu pan­dang­nya dite­bar­kan ke keli­ling. Tiba-tiba:

“Pecah belah dari kris­tal. Kata tuan Ozima buatan Osaka.”

“Kau senang di sini, bukan?” tanyaku. Dan justru di waktu itulah aku insyaf, bahwa kami sebe­nar­nya belum lagi ber­ke­nalan.

“Nggak perlu ber­ke­nalan kan? Kita sudah lama ber­ke­nalan. Kita tahu nama masing-masing Aku senang di sini? Ya, memang senang, tapi…”

Ia tuju­kan pan­dang­nya pada pintu yang ter­buka dan meng­a­rah ke ruang bela­kang. Seki­las keli­hatan babu-babu yang ter­tawa-tawa his­te­ris. Dan aku meng­erti.

“Mau makan?” mata­nya ber­ki­lau-kilau.

Waktu aku meng­ang­guk malu, nampak ia ber­tam­bah girang.

“Di sini tak perlu takut. Seti­dak-tidak­nya waktu ini. Dia sedang pergi. Pergi ke Sur­a­baya.”

Malam itu aku diba­wai oleh­nya sekan­tong beras, seka­leng minyak samin dan seekor ikan emas yang belum juga mau mati. Dan kubawa berkat itu mela­lui peng­em­bara-peng­em­bara kela­paran yang ber­ja­lan dengan lang­kah satu-satu di sepan­jang jalan. Jakarta di masa pen­du­dukan Jepang.

Sejak itu aku sering meng­em­ba­rai Men­teng. Bukan hanya untuk meman­dangi wajah­nya — dan siapa tahu men­da­pat harapan yang lebih besar dari­pada yang pernah kuha­rap­kan selama ini — tetapi juga karena zaman kela­paran ini telah demi­kian mem­be­ra­ni­kan hatiku dengan tak semena-mena­nya. Tetapi tiap aku sampai di depan rumah­nya tak pernah aku meli­hat ia duduk seo­rang diri di beranda seperti dahulu.

Sekali dua kul­i­hat ia hanya melin­tas saja di beranda itu dalam kimono merah ber­bu­nga-bunga putih, ungu dan kuning serta ber­se­patu sendal yang diin­jak tali­nya. Dari keja­uhan, dan dalam waktu selin­tas, ia nampak lebih cantik dan meng­gair­ah­kan. Selalu dan selalu kuda­pati di beranda itu opsir-opsir Jepang yang duduk dengan lars kuning ter­ang­kat ke atas tangan-tangan fau­te­uil. Bukan opsir yang itu-itu juga, tetapi ber­ganti-ganti.

Kadang aku lihat Nana duduk di pang­kuan salah seo­rang di antara mereka serta men­cu­biti pipi atau mem­be­lai misai opsir dari negeri mata­hari terbit itu. Arti­nya: jarak antara aku dan dia kian hari kian jauh, harap­anku kian detik kian surut dan memu­dar. Namun segala per­bu­at­an­nya sung­guh-sung­guh aku maaf­kan. Bahkan rasa­nya aku masih dapat terima ia di dalam hatiku bila ia telah ber­ja­uhan dengan opsir-opsir­nya.

Tiba-tiba Revo­lusi pecah dengan tiada ter­duga-duga sebe­lum­nya …

Aku pun masuk ten­tara. Kenang-kenangan serta peng­a­laman-peng­a­laman di zaman Jepang dengan seka­li­gus padam, ter­de­sak oleh kesi­bukan-kesi­bukan baru yang mem­be­ri­kan keba­ha­gi­aan bagi pemuda-pemuda miskin, pemuda-pemuda pen­cinta, kela­paran, kesa­kitan dan pena­kut. Revo­lusi telah mem­buat tubuh-tubuh muda ini men­jadi pusat segala kegi­atan. Kini orang hanya ingat pada bala ten­tara Ing­gris dan Nica. Orang lebih mem­be­ra­hi­kan sen­jata dari­pada apa pun jua yang mung­kin. Orang mem­be­ra­hi­kan pakaian ber­warna hijau ser­dadu dari­pada segala pakaian yang mung­kin. Orang ter­se­ret mentah-mentah pada segala yang berbau kemi­l­it­e­ran. Aku tidak­lah ber­beda dengan pemuda-pemuda ini.

Pada suatu hari seha­bis pulang dengan pasukan dari garis depan, kem­ba­li­lah aku men­di­ami kamarku di sebuah rumah Jawatan Kereta api, di Cikam­pek2, di pang­kalan.

Pang­kalan ini adalah sebuah kota kecil yang tiap musim diku­tuki oleh keku­rangan air. Kota ini ter­jadi karena men­jadi stas­iun per­sim­pangan dari­pada lin-lin pen­ting, karena itu hanya pega­wai-pega­wai Jawatan Kereta apilah yang mem­per­o­leh yang baik-baik saja di sini. Juga lei­ding hanya meng­a­lir ke gedung-gedung dinas Kereta api ini. Dan tidak sela­ma­nya peng­huni gedung itu rela memin­jam­kan kamar mandi kepada pra­ju­rit-pra­ju­rit yang ting­gal di beranda mereka. Pra­ju­rit-pra­ju­rit yang ting­gal di beranda? Tentu, karena di sini tak pernah ada tangsi, baik polisi atau­pun mil­iter, dan di masa Revo­lusi kota ini harus menam­pung tidak kurang dari sepu­luh ribu orang pra­ju­rit. Di tiap rumah ter­da­pat pra­ju­rit men­dom­p­leng. Ini belum ter­hi­tung para peng­ungsi dan pen­ca­tut beras dari Jakarta. Air men­jadi lebih sedi­kit lagi. Tiap sumur men­jadi pusat kegi­atan di pagi hari — sejak subuh hingga tengah malam. Bunyi katrol men­je­rit tiada henti-hen­ti­nya.

Pada salah sebuah kesem­patan mandi di sore hari, dengan tiada kuduga-duga kul­i­hat seo­rang wanita lang­sing menjin-jing ember terbus berisi cucian sedang menunggu gilir­an­nya. Dan wanita itu tiada lain dari­pada Nana.

“Kau di sini?” segera aku ber­ta­nya.

Nampak ia kaget meli­hat aku. Kemu­dian aku lihat ia men­jadi gugup — keta­kutan. Tetapi akhir­nya ia meng­ang­guk dan men­coba ter­se­nyum manis. Ia tetap tak men­ja­wab.

“Sudah lama?” kem­bali aku ber­ta­nya — men­coba ramah. Ia mengais-ngais dengan kaki yang telan­jang, kemu­dian mele­tak­kan ember­nya di tanah, seben­tar saja men­curi pan­dang kepa­daku dan ber­kata hampir-hampir ber­bi­sik:

“Baru seminggu,” jawab­nya.

Telah sete­ngah bulan ini aku ting­gal di Cikam­pek. Tiap berita yang seke­cil-kecil­nya pun segera meniup dari mulut ke mulut. Tetapi ten­tang dia aku tak pernah dengar. Apa­lagi orang seperti dia tak pernah dike­nal oleh tem­patku ini. Ini tidak mung­kin! Tidak mung­kin! pikirku. Namun aku ber­ta­nya juga: “Men­cari beras?”

“Meng­ungsi,” jawab­nya, tidak lebih keras dari­pada sua­ra­nya yang tadi.

“Meng­ungsi?”

Rupa-rupa­nya ia tak senang dita­nyai. Jadi kuam­bil anduk dan pakaian kotor dan ter­su­ruk-suruk kem­bali ke beranda sebuah gedung Jawatan Kereta api yang jadi tempat ting­galku ber­sama tujuh orang pra­ju­rit lain.

Kem­bali aku ber­temu deng­an­nya waktu ia pulang ke rumah­nya dan mele­wati beranda tempat ting­galku.

“Pulang?” tanyaku.

Ia meng­ang­guk, kemu­dian menun­duk­kan kepala.

“Tak mampir?”

Ia meng­ang­kat kepala, ter­se­nyum sedi­kit, kemu­dian meng­ge­leng.

“Di mana ting­gal?” tanyaku lagi.

Dengan bulu mata­nya yang tebal pan­jang dan mulut dimonyong­kan ia menun­juk arah sebuah rumah di bela­kang rumah sam­ping tempat ting­galku. Menun­duk lagi.

Dekat saja, pikirku. Dan dengan sen­di­r­i­nya saja ter­lin­tas dalam otakku untuk ber­kun­jung ke rumah­nya. Seti­dak-tidak­nya ia pernah mem­beri aku bekal makan di masa kela­paran dulu. Ia patut dikun­jungi.

Sore itu aku pergi ke markas untuk mengu­rus sesu­atu peker­jaan. Berita yang panas meniup dari kiri-kanan: seo­rang garong ter­tang­kap waktu sedang meng­ung­si­kan hasil garong­an­nya dari Jakarta ke peda­laman. Dia telah diha­jar habis-habisan, diku­rung di markas polisi mil­iter.

“Apa yang diga­rong­nya?” tanyaku.

“Nona,” jawab sese­o­rang.

Dan aku tak heran. Peng­ga­rongan nona-nona manis sudah sering ter­jadi di Lemah Abang, Ciba­rusa, Wadas, Teluk Jambe dan seba­gai­nya. Hanya satu hal yang selalu timbul seba­gai reaksi atas keja­dian sema­cam itu: muak! Kemu­a­kan masya­ra­kat yang sedang ber­ju­ang meng­ha­dapi bala ten­tara musuh yang lebih kuat.

Seperti biasa berita sema­cam itu menye­bab­kan orang ber­ta­nya:

“Si nona manis, nggak?”

Dan alang­kah ter­ke­jutku sekali ini waktu men­de­ngar: nona itu tiada lain dari­pada Nana. Seo­rang polisi mil­iter yang sedang berada di markas resi­men ber­ce­rita dengan tangan kiri dan kanan seben­tar melam­bai-lambai bahwa ber­sama dengan kereta lambat garong itu datang ke Cikam­pek. Tak ada laporan apa-apa dari Jakarta. Mak­sud­nya bukan­lah hendak ke Cikam­pek, tetapi ke Pur­wa­karta. Tetapi sampai Cikam­pek si nona turun dan mela­por­kan pada koman­dan jaga stas­iun, bahwa dir­i­nya telah diga­rong oleh seo­rang. Dan seo­rang itu sedang duduk menan­ti­nya di dalam ger­bong.

Di saat itu juga si garong ditang­kap dan diha­jar. Ia tak diberi kesem­patan untuk mem­bela diri. Dalam pukulan dan ten­dangan mata­nya tetap tenang meng­a­wasi Nana. Orang macam begini mesti dipi­cis! Orang ber­te­riak-teriak. Yang lain-lain menye­rah­kan jiwa dan raga­nya buat per­ju­angan — dia senang-senang meng­ga­rong perem­puan!

Polisi mil­iter itu mela­yang-layang­kan tangan dan tin­ju­nya. Ia ikut campur dalam memu­kul, mene­tak dan menen­dang­nya. Wajah­nya riang dija­lari darah pat­riot yang sedang mener­jang golongan anti-revo­lusi. Bulu-hidung­nya meng­ge­le­tar seakan-akan ikut menyiksa si garong dengan tusuk­an­nya.

Waktu koman­dan resi­men lewat ia ter­henti bicara, kemu­dian men­da­pat perin­tah untuk memang­gil koman­dan­nya.

“Nana!” bisikku. “Bekas Jepang! Kini diga­rong pula dir­i­nya.” Dan sambil ber­pi­kir-pikir aku pun pulang ke beran­daku. Kucoba hendak meng­hi­dup­kan api bera­hiku yang dahulu, tetapi rupa-rupa­nya ia tak mau ber­ko­bar lagi. Orang seperti Nana patut dika­sih­ani. Di masa kela­paran ia telah pilih jadi gundik Jepang, di masa Revo­lusi ia tak punya hak pilih, bahkan dir­am­pas dir­i­nya.

Waktu hampir sampai ke beran­daku, aku tak jadi masuk, tetapi lang­sung menuju ke rumah Nana. Ia keluar dari kamar. Kuu­cap­kan sela­mat kepa­da­nya karena telah ter­le­pas dari keku­a­saan si garong dur­haka.

Aku lihat tak ada kegem­bi­raan ter­gam­bar pada wajah­nya. Ia nampak kusut dan men­coba menye­le­sai­kan piki­ran dan mem­bu­lat­kan kebe­ra­nian. Ia menun­duk dalam. Meman­dang aku seben­tar. Menun­duk lagi. Kemu­dian duduk di kursi di hadap­anku. Tetapi semua itu tak kuper­ha­ti­kan benar.

Waktu datang serom­bongan polisi mil­iter ke rumah­nya, segera aku pun menunta diri.

Ia tak seri­ang dahulu. Ia telah men­jadi layu.

Dan di hari-hari selan­jut­nya, sete­lah kuke­ta­hui bahwa tiap malam salah seo­rang pra­ju­rit yang berada di bawah koman­doku sering datang ke rumah­nya dan ber­niat hendak menga­win­i­nya, aku tak pernah lagi datang ke rumah­nya …

Beberapa bulan kemu­dian ia ting­gal­kan Cikam­pek tanpa ber­p­a­mitan kepa­daku. Juga pra­ju­rit yang ber­niat hendak menga­win­i­nya yang meluap-luap kini padam dengan men­da­dak. Ia men­jadi pen­diam. Bahkan pada suatu kali ia minta diberi tugas di sebuah pos yang baru dibuka. Jadi kuki­rim­lah dia ke sana dengan mem­bawa sebuah kera­bin, yang telah lama dimi­l­ik­i­nya sebe­lum men­jadi pra­ju­rit. Ia berang­kat seo­rang diri di pos pem­be­ri­taan yang ter­pen­cil itu. Sehari-dua datang juga beri­ta­nya mela­lui pos ten­tara dan tele­pon. Tetapi pada hari ketiga tak ter­de­ngar apa-apa lagi ten­tang­nya. Demi­ki­an­lah, sehingga lima belas hari lama­nya. Waktu kami mem­buat peng­u­sutan, ter­nyata pra­ju­rit itu mening­gal­kan posnya dengan mem­bawa kera­bin ke pang­kalan pem­bantu untuk meng­am­bil ransum. Tetapi di sebuah warung yang ter­pen­cil ia diser­gap oleh bebe­rapa orang. Kera­bin­nya dir­am­pas dan ia sen­diri dibu­nuh. Dengan demi­kian tia­da­lah akan keluar cerita dari mulut­nya ten­tang Nana.

Lama-kela­maan dapat­lah kutang­kap sebuah berita, bahwa garong yang men­cu­lik Nana ber­nama Khalil. Tambah lama berita ten­tang­nya yang kukum­pul­kan ber­tam­bah banyak juga. Misal­nya, bahwa ia sejak kecil ting­gal di Jakarta. Bahwa ia ting­gal di sebuah gang di Kema­yo­ran3. Bahwa peker­ja­an­nya ber­da­gang apa saja yang dimung­kin­kan oleh masa pen­du­dukan Jepang. Bahwa baru sekali ini dalam selu­ruh hidup­nya masuk ke peda­laman. Dan berita itu mem­buat aku ter­ke­nang pada salah seo­rang tetang­gaku segang yang senama dengan dia. Karena tiada dapat mena­han hati maka pada suatu kali datang­lah aku ke markas polisi mil­iter untuk men­je­nguk garong yang dibenci oleh selu­ruh pen­du­duk pang­kalan. Waktu aku masuk ke dalam selnya, mula-mula sekali yang nampak olehku adalah tahi lalat pada puncak hidung. Tahi lalat itu adalah kepu­nyaan tetang­gaku Khalil. Wajah­nya aku tiada menge­nal lagi karena telah teng­ge­lam di dalam beng­kak dan bekas-bekas bakaran rokok.

“Khalil!” aku ber­bi­sik.

Ia angkat kepa­la­nya dan menen­tang mataku. Benar, mata itu adalah mata tetang­gaku sen­diri, seka­li­pun telah men jadi sepa­sang garis lidi. Meli­hat aku, dengan men­da­dak mata­nya berapi-api berisi dendam kesu­mat. Dan dendam kesu­mat itu juga dia­rah­kan­nya kepa­daku — kawan­nya sen­diri.

Ia tak mem­buka mulut­nya. Mung­kin karena bibir­nya telah kaku dan lidah­nya kelu. Luka bekas cacar pada leher­nya dan sebuah tahi lalat kecil pada pipi­nya, mem­bawa aku pada kenangan masa pen­du­dukan Jepang dengan kesu­l­itan-kesu­l­itan dan kesu­kaan kecil-kecil yang telah kami alami ber­sama-sama. Apakah mung­kin Khalil seo­rang garong? Apakah Revo­lusi telah meng­u­bah pemuda yang sopan-santun, baik dalam laku maupun dalam ber­pi­kir ini, men­jadi seo­rang pen­cu­lik wanita?

Seka­li­gus kurun­tuh­kan pan­dangku, dan ia pun merun­tuh­kan pan­dang­nya. Ter­de­ngar sua­ra­nya yang layu:

“Aku kira, tidak ada satu hal pun yang pernah kula­ku­kan, yang melang­gar larangan agama. Tapi itu tak apalah. Kau pra­ju­rit, dan kau harus ber­pi­hak pada kawan-kawanmu. Seka­li­pun kau kenal aku, seka­li­pun kau hendak meno­long aku, kau lebih baik meno­long jiwamu sen­diri. Lagi pula kau memang tak bisa meno­long aku sedi­kit jua pun. Kau akan tewas bila ber­u­saha meno­long aku.”

Dengan isya­rat tangan­nya ia minta diberi minum.

Dan aku ambil­kan ia sege­las teh pahit.

“Besok aku ditem­bak mati,” kata­nya. “Tapi itu tak meng­apa. Untung kau datang. Aku tetap berada dalam kei­manan kepada Tuhan dan agama. Matiku ini akan lebih baik bila saja dia dapat ber­ba­ha­gia karena itu.”

“Dia?” tanyaku dalam hati. “Nana?” Tapi aku hanya men­de­ng­ar­kan sua­ra­nya yang layu, sayup-sayup, seperti dari keja­uhan diu­cap­kan­nya, dan: mengan­dung dendam kesu­mat.

“Aku besok ditem­bak mati,” ulang­nya.”“Tetapi aku tidak akan mati! Aku akan tetap hidup di dalam hati mereka yang telah mem­fit­nah aku.”

“Kau kena fitnah?” tanyaku.

“Ah, biar­lah soal ini takkan pernah dike­ta­hui orang. Hanya saja, kalau Revo­lusi ini kelak sele­sai, dan kau sempat datang di kam­pung kita di Jakarta, sam­pai­kan­lah kabar diriku kepada orang tuaku. Aku merasa berun­tung ada seo­rang yang kuke­nal datang mengun­jungi aku, walau­pun tidak dapat dan tidak ber­mak­sud dan tidak mampu meno­long aku.”

Ia tak terus­kan ucap­an­nya. Dengan isya­rat disu­r­uh­nya aku pergi. Ia hendak ting­gal seo­rang diri, mem­per­si­ap­kan diri untuk mati pada besok hari.

Aku pun pergi keluar dari selnya, ter­su­ruk-suruk gontai. Kepa­laku penuh dengan ribuan hal yang panas, pedih dan ruwet. Ber­ba­gai mata meng­a­wasi aku dengan cur­i­ga­nya. Tetapi aku tidak peduli. Aku ceri­ta­kan kepada koman­dan polisi mil­iter ten­tang diri si Khalil, bahwa aku kenal pada­nya. Bahwa dia seo­rang yang ter­ke­nal taat pada agama dan tidak mung­kin mela­ku­kan peng­ga­rongan. Tetapi dia hanya men­ja­wab:

“Yang meng­a­dukan lebih tahu dari­pada kau!”

“Aku pun kenal siapa yang meng­a­dukan itu,” kataku.

Tetapi per­ca­kapan itu tak dapat ber­lang­sung lebih lama. Dan per­ca­kapan itu tak kuasa mem­be­ri­nya alasan untuk meng­u­bah kepu­tus­an­nya. (Waktu itu belum ada peng­a­dilan ten­tara!)

Pada suatu pagi yang cerah, waktu aku dengan pasuk­anku berada di atas sebuah gela­dak truk untuk berang­kat ke garis depan, nampak olehku iring-iringan tawanan digi­ring di tempat di mana mereka akan men­ja­lani hukuman mati. Mula-mula adalah tawanan yang ber­si­fat peng­khi­a­natan mil­iter: seo­rang leveran­sir bahan makanan mentah kepada Nica dengan dua orang pem­ban­tu­nya, dan di bela­kang keti­ga­nya nampak sebuah iring-iringan kecil pula. Tubuh­nya tinggi dan ram­but­nya gon­d­rong tiada ter­u­rus. Kedua belah tangan­nya ter­i­kat ke bela­kang. Ujung tali yang satu naik mela­lui pung­gung ke atas dan mati pada teng­kuk sete­lah meling­kari leher. Jadi pabila tangan di bela­kang tak diang­kat ke atas, maka jalan nafas­nya akan ter­se­kat, seperti orang yang meng­gan­tung diri. Ujung tali yang lain men­ju­lur ke bela­kang dan mati dengan seo­rang pra­ju­rit yang menyan­dang sepu­cuk kera­bin. Di bela­kang pra­ju­rit itu meng­iring pula tiga empat orang pra­ju­rit.

“Itu dia!” seru seo­rang di antara kami. “Khalil!”

Sese­o­rang ter­tawa di sam­pingku. “Seka­rang hari seka­rat­nya.”

Aku pan­dangi Khalil. Mula-mula yang kuke­nali adalah tahi lalat di puncak hidung­nya. Hampir-hampir aku ber­te­riak kesa­kitan meli­hat tama­sya itu. Wajah­nya tak kuke­nali sama sekali, karena wajah yang kema­rin mem­beng­kak begitu hebat­nya, kini beng­kakan itu telah men­jadi dua kali lipat, sehingga kepa­la­nya meru­pa­kan sebuah buyung kecil ter­ba­lik. Mata­nya yang kema­rin meru­pa­kan sepa­sang lidi pendek, kini hilang dite­lan beng­kakan yang kebiru-biruan mengan­dung air, sedang di sana-sini ter­co­r­eng bekas-bekas bakaran api rokok. Bekas-bekas luka cacar pada leher­nya lenyap, dan tahi lalat kecil di pipi­nya pun telah hilang ter­ba­kar. Namun ia ber­ja­lan tegap seakan mem­beri kesan pada manu­sia Revo­lusi di seke­li­ling­nya: “Inilah aku, yang sang­gup men­de­ri­ta­kan apa pun jua yang kalian per­buat atas diriku.”

“Tidak mung­kin! Tidak mung­kin!” teriak hatiku. “Ia seo­rang berani, karena ia punya kebe­naran yang terus diku­ku­hi­nya hingga mati­nya nanti.”

Seo­rang di antara kami melom­pat dari gela­dak, ber­lari-larian men­da­pat­kan Khalil, dan orang yang tiada ber­daya itu dipu­kul­nya pada dada­nya. Ber­te­riak:

“Rasai ni! Garong!”

Khalil ter­bung­kuk dalam, ter­hu­yung-huyung ke bela­kang. Pra­ju­rit di bela­kang­nya mena­da­hi­nya dengan deng­kul, sehingga Khalil meliuk ke sam­ping dan roboh di atas tanah basah. Orang-orang ter­tawa girang, tetapi banyak juga yang menu­tup mata­nya, bahkan juga menu­tup dengan tangan!

“Itu tidak layak!” seo­rang ber­seru-seru.

Tetapi pra­ju­rit itu hanya ter­se­nyum malu.

Kemu­dian iring-iringan tawanan ber­ja­lan terus, mem­be­lok ke sebuah gang becek. Semua orang tahu ke mana tuju­an­nya: sebuah rim­bunan bambu di ping­gir telaga. Di sana Khalil akan mene­mui ajal­nya. Dia harus mau mati dengan tiga peluru, sete­lah sekian banyak sik­saan yang dide­ri­ta­kan­nya.

Waktu truk kami lari di atas jalanan yang telah gundul kehi­langan aspal, dan nya­nyian ber­sama telah mati di teng­go­r­okan masing-masing, tiba-tiba kami semua men­jadi ter­diam. Debu menge­pul-ngepul ke atas dan kemu­dian meng­hu­jani gela­dak kamu semen­tara truk terus lari ke garis depan. Sawah yang meng­hi­jau ber­ke­jar-keja­ran dengan ladang-ladang dan gubuk buruk serta rumah-rumah bambu yang baru didi­r­i­kan. Ing­at­anku terus meng­em­bara ke masa-masa lalu, ke dunia di mana salah seo­rang pen­du­kung­nya adalah kawanku segang yang ber­nama Khalil. Tiba-tiba ter­de­ngar-dengar olehku suara ia mengaji di malam hari, waktu malam begitu dalam­nya, dan tidur manu­sia begitu asyik­nya. Sua­ra­nya meng­im­bak-imbak menem­busi embun dan hali­mun pagi, meng­em­bara men­cari Tuhan.

Dan barang­kali semua di antara kami pun sedang menge­nang-nge­nang­kan Khalil dengan nasib­nya.

Pra­ju­rit yang habis memu­kul­nya menyem­bu­nyi­kan tangan yang diper­gu­na­kan­nya memu­kul tadi ke dalam kan­tong cela­na­nya. Bebe­rapa pasang mata meman­dang­nya. Dan ia mene­kur ke lantai.

Tiba-tiba seo­rang ber­te­riak:

“Tiap penga­cau harus dibasmi! Tiap peng­khi­a­nat harus dibuat menung­ging! Tapi, apakah benar si Khalil ber­sa­lah?”

Tak ada yang men­ja­wab. Dan truk melaju terus, mene­ro­bosi kepulan debu dan jarak yang terasa tiada habis-habis­nya. Barang­kali tiap orang men­coba hendak men­ja­wab per­ta­nyaan itu. Aku sen­diri tiada mem­per­o­leh jawaban yang kuha­rap­kan.

Waktu truk ber­henti kami menuju ke tugas masing-masing.

Beberapa hari kemu­dian garis depan kami yang baru saja dia­ju­kan dengan jarak 4 km dipu­kul oleh musuh. Kami meng­a­lami keka­lahan. Barisan depan lari kocar-kacir menuju ke garis kedua. Di sana­lah kami ber­kum­pul. Malam itu datang bala ban­tuan. Juga sebuah kesa­tuan polisi mil­iter datang untuk mem­ber­sih­kan daerah dari kacauan mata-mata musuh. Bebe­rapa orang wanita dan lelaki tewas dite­bang leher­nya karena didakwa men­jadi mata-mata ini, namun tanpa mela­lui suatu penyik­saan yang lama.

Pada suatu malam sese­o­rang yang baru dida­tang­kan dari pang­kalan tidur di sam­pingku. Aku belum kenal betul kepa­da­nya. Ia seo­rang pen­diam dan lebih banyak mere­nung-renung, sehingga tak dapat aku mena­han hatiku untuk mena­nya­kan kepa­da­nya apa sesung­guh­nya yang selalu dir­e­nung­kan­nya.

Ia ter­se­nyum pahit. Kemu­dian men­ja­wab:

“Aku algojo, pak.”

Dan bulu romaku men­da­dak ber­diri kaku seperti paru­tan. Di sam­pingku tidur seo­rang algojo. Tetapi kube­ra­ni­kan hatiku dan ber­ta­nya terus:

“Senang jadi algojo?”

Sekali lagi ia ter­se­nyum pahit.

“Senang? Ya. Darah yang meman­cur itu … Ia tak terus­kan ucap­an­nya.

“Jadi apa yang selalu kau renung-renung­kan?”

“Hari-hari dan saat-saat ter­a­khir orang-orang celaka itu. Aku banyak mere­nung­kan maut. Meng­apa dalam meng­ha­dapi maut­nya banyak orang jadi penge­cut! Banyak orang jadi banci? Pada­hal sebe­lum­nya dia ter­ke­nal garang dan galak. Ada pula yang mem­fit­nah kawan-kawan­nya sen­diri agar dapat dise­ret­nya ke lembah maut. Ada pula yang…”

“Bagai­mana leveran­sir Nica dulu meng­ha­dapi maut­nya? Kau kan yang menge­r­ja­kan?”

Ia ber­ge­rak memung­gungi aku. Pelahan-lahan tanpa sema­ngat ia ber­ce­rita:

“Ya.Aku tahu dia orang som­bong waktu masih bebas. Dengan sarung pele­kat ter­sam­pir di bahu ia masuk ke kam­pung keluar kam­pung men­cari bahan mentah. Kalau orang lain berani mena­war sering­git, ia mena­war hampir dua kali lipat. Begitu bayang­anku. Akhir­nya semua bahan mentah jatuh ke tangan­nya. Dari mana dapat uang seba­nyak itu! Dari mana? Meng­apa ia lebih suka ber­gaul dengan Nica dan mere­meh­kan kita? Itulah kesom­bong­an­nya. Dan waktu mata­nya diikat dengan seta­ngan, ia men­ja­tuh­kan diri. “Ampun pak, ampun pak. Beri aku hidup. Aku hanya ber­da­gang buat mem­beri makan anak biniku. Lain tidak. Dan waktu aba-aba untuk menem­bak­nya mulai dibe­ri­kan, ia men­ja­tuh­kan diri ber­gu­ling-guling di tanah seperti anak kecil minta permen dari emak­nya yang amat miskin. Aku ini emak­nya, seo­rang emak yang miskin akan ampun.”

Ia men­de­ham dalam.

“Aku lihat darah meman­car dari nadi yang ter­pu­tus kena peluru. Begitu indah menyem­bur! Begitu keras mele­sit. Tidak lama. Kemu­dian pele­si­tan darah itu menu­run, kemu­dian hanya keluar ber­ang­sur-angsur. Itulah kein­dah­an­nya.”

“Tidak dengan samu­rai?”

“Bagi orang seperti aku ini, samu­rai lebih banyak mem­beri kese­nangan dan kein­dahan tetapi kenangan pada kata-kata­nya ter­a­khir juga lebih menye­ram­kan. Dan hampir sela­ma­nya ter­bawa dalam mimpi. Begi­tu­lah hari dan kata ter­a­khir leveran­sir Nica. Kedua pem­ban­tu­nya hanya ber­diam diri, dan mene­rima ajal­nya dengan diam-diam. Lain halnya dengan Khalil celaka itu!”

Dengan men­da­dak ia meng­u­bah letak tidur­nya. Kini meng­ha­dapi aku. Kemu­dian bang­kit dan duduk. Tangan­nya ter­ke­pal men­jadi tinju dan dia­m­ang-amang­kan­nya entah kepada siapa.

“Khalil ter­ku­tuk! “Tem­bak­lah aku, kata­nya. “Aku tidak akan mati. Aku akan tetap hidup di dalam hati kalian. Bajingan itu! Sete­lah disiksa begitu lama­nya masih punya kebe­ra­nian buka mulut sema­cam itu. Dan kata-kata itu mem­buru-buru aku terus hingga kini. Semua orang menem­bak kepa­la­nya sehingga men­jadi buyar. Waktu ia kami perin­tah­kan untuk meng­gali kubur­an­nya sen­diri, ia laku­kan ini dengan cermat. Ia laku­kan sambil mem­baca talkin — itu bajingan!”

“Malam itu kepa­laku mem­ba­yang­kan hari dan kata-kata ter­a­khir Khalil. Hingga dalam mimpi masih ter­de­ngar-dengar sua­ra­nya: Aku akan tetap hidup di dalam hati kalian. Aku hidup di dalam kalian!”

Beberapa tahun kemu­dian nama Nana tak pernah ter­lin­tas di dalam ing­at­anku. Juga Khalil tidak. Bahkan kenangan pada garong yang saleh itu telah aku bunuh di dalam jiwaku dengan makin banyak­nya orang yang ber­laku kurang ajar meng­khi­a­nati per­ju­angan. Tiada pernah aku sangka-sang­ka­kan bahwa pada suatu kali Nana dan Khalil meng­ganggu pula ing­at­anku. Sedang Khalil yang telah lama lenyap dite­lan bumi itu hidup dengan segar­nya di dalam piki­ranku, sehingga mau tak mau ter­ke­nang-kenang­lah olehku akan kata-kata­nya:

“Aku tidak akan mati! Aku akan tetap hidup di dalam hati kalian.”

Ceri­ta­nya adalah demi­kian:

Pada salah suatu hari dari masa aku dita­wan, koman­dan pen­jara mem­per­bo­leh­kan para tawanan mene­rima tamu di dalam pen­jara. Sejak waktu itu di tiap hari Minggu ber­bon­dong-bon­dong wanita, tua dan muda, mengun­jungi pen­jara kami (lelaki tidak diper­ke­nan­kan).Ya, pada salah suatu hari yang tiada kusangka-sang­ka­kan itu Nana datang ber­sama seo­rang teman­nya. Ia menge­na­kan gaun sutera taft kuning dengan leher long­gar, serta tepi bawah yang men­jang­kau bawah lutut. Pipi­nya dibe­ri­nya rouge agak tebal dan bibir­nya digincu merah muda. Alis­nya dicu­kur dan diganti dengan sipat. Kulit muka­nya nampak amat lunak dan mem­be­ledu. Ia nampak cantik, lebih dari­pada dahulu. Tubuh­nya kehi­langan kemon­to­kan­nya dan men­jadi lang­sing, sedang gerak-gerik­nya kaku dan ter­go­poh-gopoh. Juga ia datang untuk meng­hi­bur para tawanan.

Aku ikuti ia dengan mataku. Rupa-rupa­nya tia­da­lah ia mem­pu­nyai kawan seo­rang pun di dalam pen­jara itu. Waktu dili­hat­nya tak ada seo­rang pun di antara para tawanan yang mene­gur­nya, ia serah­kan bung­kusan yang diba­wa­nya kepada salah seo­rang temanku. Aku lihat kawanku, yang tak ber­sa­nak di Jakarta itu, meng­u­cap­kan terima kasih. Dan sejak waktu itulah ia mem­pu­nyai kenalan.

Karena ia masih juga nampak geli­sah, maka ia pun kude­kati. Kul­i­hat ia ter­lom­pat karena kaget­nya meli­hat aku. Wajah­nya yang pucat men­jadi lebih pucat lagi. Tanganku kuu­lu­r­kan kepa­da­nya. Ia terima uluran tanganku dengan tangan yang meng­ge­tar.

“Kau sakit, Nana?”

Ia meng­ge­leng.

Ber­kali-kali kucoba agar ia mem­buka mulut­nya. Tetapi mulut, yang kini nampak lebih lebar dari­pada dahulu itu, tetap mem­bisu.

Bebe­rapa jam pun lewat­lah, dan masa ber­kun­jung habis. Aku lihat ia ber­ja­lan gontai menuju ke pintu pagar besi. Temanku meng­an­tar­kan­nya.

Pada hari Minggu sesu­dah itu ia datang lagi. Ia datang tiap hari Minggu, hari ber­kun­jung.

Kemu­dian datang­lah masa kemer­de­kaan. Kami sepen­jara ber­pen­caran di ber­ba­gai tempat. Hanya kadang-kadang ber­temu secara kebe­tulan. Namun ter­be­t­ik­lah berita olehku: Nana telah kawin dengan temanku sepen­jara dahulu. Sejak itu aku mulai banyak men­de­ngar ten­tang­nya. Ia tak ting­gal segang lagi di kam­pungku, di Kema­yo­ran. Sete­lah mening­gal­kan Cikam­pek, ia pindah ke kam­pung lain.

Per­tama-tama yang kude­ngar ialah: mereka hidup ber­ba­ha­gia dan sedang meram­pas cita-cita­nya untuk dibuat men­jadi kenya­taan. Berita kedua: Mereka sering cekcok, dan sua­mi­nya selalu meng­hi­lang seha­bis cekcok itu. Berita ketiga: Nana telah mela­hir­kan seo­rang anak lelaki. Berita keem­pat:Nana sering ber­te­riak-teriak seperti orang gila. Dan bila ia berhal demi­kian, segala peker­jaan harus dila­ku­kan oleh sua­mi­nya. Berita kelima: Sua­mi­nya dipe­cat dari jabatan karena ter­lam­pau sering tak masuk kerja. Kemu­dian ia bekerja pada kantor dagang. Berita keenam: suami istri itu telah dapat mem­beli sebuah rumah seder­hana di sebuah kam­pung yang tak jauh dari kam­pungku. Berita ketu­juh: Kini Nana sering kehi­langan ing­atan dan memen­cak-mencak seperti orang gila. Sete­lah agak lama ber­laku demi­kian, ia pun roboh tak sadar­kan diri. Bila ia mulai siuman, bisikan ter­de­ngar lemah dari mulut­nya: “Khalil, ampun­i­lah aku. Ya, Khalil.” Bila tak segera dibe­lok­kan per­ha­ti­an­nya kepada hal-hal biasa, segera ia mera­ung-raung kem­bali seperti singa betina yang sedang marah kehi­langan anak. Ia mena­ngis ter­se­dan-sedan seperti nenek-nenek ter­ting­gal seo­rang diri dari atas dunia ini.

Berita-berita itu ber­laku dalam masa tiga tahun.

Dan aku tetap tidak meng­erti per­so­al­an­nya. Dan aku tidak ada kei­ng­inan untuk menge­ta­hui dan meng­erti.

Tetapi pada suatu hari sewaktu aku ber­kun­jung ke rumah orang tua Khalil, ber­temu aku dengan ayah­nya. Ia masih tetap ber­ku­piah haji yang putih dan ber­se­len­dang kuning. Ia nampak tak lebih muda dari­pada dahulu. Tubuh­nya lebih gemuk. Per­ka­kas rumah tangga jauh lebih banyak dari­pada dahulu, bahkan di pojok ruang tengah ber­diri sebuah radio salon dari model yang ter­a­khir.

Sete­lah duduk di kursi, tiba-tiba aku ter­i­ngat pada pesan Khalil untuk ber­ta­nya pada orang tuanya. Maka dengan mela­lui ber­ba­gai macam alasan aku pun ber­ta­nya­lah kepa­da­nya.

Dengan suara tenang orang tua itu ber­ce­rita:

Segera sete­lah pro­kla­masi diu­mum­kan, Khalil, yang telah lama men­cin­tai Nana, mela­mar Nana. Lamaran dite­rima. Orang tua itu sen­diri tiada yakin akan keber­e­san rumah tangga kedu­a­nya di kemu­dian hari. Meng­apa? Karena Khalil adalah seo­rang pemuda yang ber­sung­guh-sung­guh. Nana seba­lik­nya, ia seo­rang yang meng­ang­gap enteng segala-gala­nya. Bahkan juga telah meng­ang­gap enteng harga dir­i­nya sen­diri. Orang tua itu tak setuju anak­nya mene­rima seo­rang wanita bekas Jepang — ber­ma­cam-macam Jepang pula. Tetapi Khalil dapat mema­af­kan selu­ruh keku­rangan dan noda-noda wanita yang dicin­ta­i­nya. Maka kawin­lah kedu­a­nya.

“Tetapi, nak,” kata orang tua itu, “bebe­rapa minggu kemu­dian — hanya bebe­rapa minggu — sudah ter­de­ngar tuduhan-tuduhan yang mema­lu­kan atas diri anakku. Anakku Khalil yang suci itu. Apa kata­nya, nak? Kata­nya, dia menga­wini Nana hanya hendak meng­in­car harta benda Nana. Masya­al­lah, harta benda haram dari Jepang-Jepang son­to­loyo itu. Son-to-lo-yo! Paling pol barang-barang­nya semua hanya ber­harga dua puluh ribu harga seka­rang, nak. Anakku ditu­duh meng­in­car barang-barang yang cuma seharga sebe­gitu! Coba pikir. Mema­lu­kan.”

Ia melu­dah di lantai.

Ia melu­dah di lantai dengan tekanan urat-urat leher.

“Mema­lu­kan!” deng­us­nya jijik. “Perem­puan dur­haka. Waktu anak­nya lahir, nak, anak­nya yang per­tama, anak itu dise­rah­kan kepada kami. Dan mata­nya sipit pula! Lima bulan kawin, lahir­lah si anak sipit. Ya Rasul, ampuni aku ini. Tidak, nak, anak itu tidak kusia-siakan. Dia kute­rima dengan syukur. Seti­dak-tidak­nya ter­baui juga dia oleh darah Khalil. Khalil sen­diri belum pernah lihat anak sipit itu. Dia tak pernah kem­bali.”

“Di mana Khalil sebe­nar­nya, Pak?” tanyaku.

“Sampai di manakah penge­ta­hu­anku, nak? Waktu Ing­gris mulai meng­a­muk, perem­puan dur­haka itu meng­a­jak Khalil meng­ungsi ke peda­laman. Sesu­dah itu tak pernah kem­bali lagi dia. Nana kem­bali seo­rang diri. Sete­lah menye­rah­kan si sipit, dia tak pernah muncul kemari lagi. Aku sen­diri pun tak ingin meli­hat­nya. Dan Khalil itu, aku sen­diri tak tahu masih hidup atau mati, atau hanya segan pulang karena hendak melu­pa­kan Nana dur­haka. Dia sung­guh-sung­guh cinta kepa­da­nya. Hanya itu kesal­ah­an­nya, bila dia pernah ber­sa­lah.”

“Kasihan!” kataku dalam hati. “Dia belum lagi tahu anak­nya dir­e­jang dan dibu­nuh karena fit­nahan wanita yang dicin­ta­i­nya: Nana.”

Seka­li­gus aku merasa ber­dosa kepada Khalil, karena aku pun pernah men­dak­wa­nya seba­gai garong yang sesung­guh­nya. Pernah pula aku tulis sebuah cerita busuk ten­tang­nya. Untuk menya­ta­kan kekhi­lafan dan kesal­ah­anku itulah kutu­lis cerita ini, seka­li­pun ia telah lama mati dan tak dapat mema­af­kan kekhi­lafan dan kesal­ah­anku.

Dengan hati berat penuh piki­ran aku ting­gal­kan rumah orang tua Khalil tanpa menga­bar­kan keja­dian ngeri yang telah menimpa diri anak­nya.

Dan Nana sen­diri?

Dengan sua­mi­nya ia mem­per­o­leh bebe­rapa orang anak lagi. Tiap seminggu paling sedi­kit dua kali ia kehi­langan ing­at­an­nya. Tetapi bukan­kah sejak kecil ia telah per­si­ap­kan dir­i­nya untuk menya­lur­kan nafsu bera­hi­nya ke arah kini? Tanpa kemu­dian.

Khalil benar-benar hidup terus di dalam hatiku kini.

Jakarta, ii-1956



Cerita pendek

Makhluk di Belakang Rumah

Dari Cerita dari Jakarta (1957). Teks dari cetak ulang Hasta Mitra, 2002.

Dari ram kawat beranda rumahku terlihat sebuah sumur. Tidak lebih dari lima meter jarak­nya dari­pada ram kawat beran­daku. Heran sumur berada di depan rumah, dan hanya ber­an­tara lima meter. Sebe­nar­nya bukan­nya dia berada di depan rumahku karena dise­ngaja demi­kian. Soal­nya ialah karena rumahku ter­le­tak di bokong deretan rumah petak. (Rumahku juga petak!). Dari balik ram kawat inilah aku sak­si­kan adanya kehi­dupan aneh — kehi­dupan makh­luk di bela­kang rumah.

Dan makh­luk ini adalah para babu.

Kalau babu kelu­arga Tiong­hoa lama-kela­maan ber­wa­jah bersih dan meng­a­rah-arah pada air muka Tiong­hoa, kalau babu kelu­arga Eropa tumbuh men­jadi hati-hati dan sopan, lain pula halnya dengan babu para pri­yayi1 Jakarta. Bebe­rapa bulan sete­lah mereka diim­port dari daerah memang ia men­jadi bersih, nan1pak seperti orang kota benar-benar, dan bebe­rapa waktu sete­lah itu kem­bali men­jadi dekil! Bukan karena para babu ini pasti jorok, tetapi karena jur­a­gan bia­sa­nya tak meman­jakan­nya lagi dan segala peker­jaan yang mung­kin roboh­lah di atas kepa­la­nya: mema­sak (ini pasti), men­cuci (dari celana kolor tuan sampai pada popok dan kemeja), mem­be­res­kan rumah, men­cuci piring, meman­di­kan dan men­ce­boki jur­a­gan-jur­a­gan kecil yang tak boleh dika­sari — dan sebe­lum disa­dar­i­nya, bahwa ia belum lagi mandi sore, hari telah malam.

Satu hari lagi kesem­patan untuk men­jadi dekil.

Dan bila ada kesem­patan ter­lu­ang untuk men­cuci celana dalam sen­diri, seben­tar kemu­dian ber­jela-jela­lah pada kawat jemu­ran presis di depan rumahku: celana-celana dekil dengan tan­jung­nya yang kekun­ing-kuningan. Kadang nampak demi­kian mem­bu­suk, dan rasa-rasa­nya subur­lah bila ditum­buhi kacang tanah barang empat biji, atau jagung atau­pun kede­lai. Bukan saja karena amo­ni­ak­nya, tetapi juga karena kain itu sen­diri seakan sudah men­jadi humus!

Kalau kau mem­baca tulisan ini, barang­kali kau menyangka aku sedang melan­car­kan suatu peng­hi­naan. Bukan demi­kian mak­sudku. Ini adalah suatu fakta yang ber­te­baran dengan nya­ta­nya di depan rumahku, di ling­kung­anku, dan barang­kali juga di ling­kung­anmu sen­diri, seka­li­pun tak boleh diang­gap seba­gai kebe­naran yang ber­diri sen­diri.

Coba­lah kau lihat si Dua itu! Kau sen­diri belum kenal dia. Mung­kin kau juga akan merasa jijik ber­ke­nalan. Tetapi dia telah men­jadi seba­gian dari­pada duni­aku. Nama­nya yang sebe­nar­nya orang tak tahu benar seka­rang. Sebab­nya gam­pang dike­ta­hui. Ia tak dapat meng­hi­tung lebih dari tujuh. Yang benar-benar dike­nal­nya adalah bilangan dua. Nah, itulah sebab­nya nama­nya beru­bah men­jadi si Dua. Kini ia beru­mur tiga belas tahun. Sejak beru­mur enam tahun ia telah memu­lai hidup­nya di bela­kang rumah di depan rumahku. Selama seta­hun aku ting­gal di rumah ini, kul­i­hat sela­ma­nya ia kena­kan gaun yang satu-satu­nya — bekas kain Peka­longan sang jur­a­gan. Rahmat kerja paling sedi­kit dua belas jam sehari adalah ini: hingga kini bilangan tiga belas meru­pa­kan suatu teka-teki yang tak ter­pe­cah­kan bagi­nya. Tiga belas diam­bil lima meru­pa­kan suatu neraka yang leng­kap dengan penyiksa dan apinya yang abadi.

Sebe­lum aku pindah dari rumahku ini, aku masih sempat menyak­si­kan betapa dalam tiga malam ber­tu­rut-turut ja mena­ngis di sumur. Pelahan, dita­han, dengan suara kanak-kanak­nya yang masih murni. Kukira tadi­nya ia habis disem­prot oleh sang jur­a­gan, tetapi ter­nyata ia rindu pada orang tuanya. Jalan satu-satu­nya hanya mena­ngis, karena ia tahu ia tak dapat pergi mening­gal­kan kewa­ji­b­an­nya. Ia buruh per­cuma. Ia tak ber­gaji. Ia hanya dapat makan sekali sehari. Dan malam dapat juga kalau ada sisa-sisa ter­ting­gal dari jur­a­gan. Itu si Dua.

Aku tak pernah menga­ta­kan, bahwa semua babu pri­yayi demi­kian nasib­nya. Seti­dak-tidak­nya di petak yang sana lagi, babu­nya yang masih kanak-kanak di seko­lah­kan tiap sore. Ia pun tak men­da­pat gaji selain uang jalan seta­len sehari. Tetapi babu kecil ini lama-kela­maan men­jadi pera­wan yang montok, ter­lam­pau suka mem­baca, yang tanpa disa­dar­i­nya sen­diri lambat-laun diang­gap oleh nyonya seba­gai calon saing­an­nya sen­diri. Dan sebe­lum pera­wan montok ini mena­mat­kan seko­lah rakyat ia telah ter­u­sir pergi.

Tentu saja tiap orang mem­pu­nyai alasan sen­diri-sen­diri untuk melin­dungi keu­tuhan ling­kung­an­nya — ling­kungan hidup­nya, mak­sudku — seka­li­pun ling­kungan ini belum tentu menye­nang­kan, belum tentu ber­man­faat benar bagi­nya. Karena itu aku pun tak ada mem­pu­nyai hak untuk meng­gu­gat. Tetapi pada dasar­nya aku adalah seo­rang peng­gu­gat. Karena itu kea­daan sema­cam itu aku gugat pula. Tapi barang­kali alasan jur­a­gan itu memang benar: tinggi ren­dah­nya seko­lah takkan men­jadi jaminan sosial apa-apa di kemu­dian hari.

Barang­kali patut pula kuce­ri­ta­kan, bahwa rumahku ter­go­long pada petak yang ter­diri atas dua puluh tiga pintu — dua puluh tiga kelu­arga! Dapat dika­ta­kan semua petak mem­pu­nyai babu­nya masing-masing. Dan para pri­yayi dari udik ini tak jarang datang ke kota ini sete­lah lebih dahulu men­jadi babu atau jongos Di daerah petak ini! Untuk meng­a­bdi! Seja­lan dengan ajaran para pri­yayi tua zaman bahe­ula. Beren­dah—rendah akan luhur akhir­nya. Juga pri­yayi udik yang datang ke Jakarta ini dahulu meng­a­bdi. Peng­a­b­di­an­nya memang mem­ba­wa­nya ke harkat yang lebih tinggi: jadi pri­yayi di kota. Tetapi kadang-kadang mereka lupa pada peng­a­b­di­an­nya dulu. Karena itu sering ter­de­ngar teri­akan his­te­ris di dae­rahku ini:

“Sekali lagi, gua set­rika perut luh!”

Dan ini adalah teri­akan yang dise­bab­kan si babu mem­bawa seli­sih sepi­cis dari pasar, pakaian kurang cepat dise­te­rika, pada­hal tuan akan segera pergi, sepeda tuan masih juga ber­lum­pur-lumpur (petak kami adalah petak liar yang jalan-jalan­nya tak ber­as­pal). Hanya kadang-kadang saja, bila becek, dita­buri dengan tahi ger­gaji jur­a­gan kecil belum dice­boki, dan kesal­ahan-kesal­ahan kecil lain­nya. Sebe­nar­nya saja ter­tawa juga aku dalam hati men­de­ngar teri­akan-teri­akan his­te­ris itu. Tetapi waktu kuke­ta­hui, jeritan itu disu­a­ra­kan demi­kian keras dan dengan air muka ber­sung­guh-sung­guh, yakin­lah aku bahwa seo­rang babu pri­yayi telah diacu dalam moral yang khas: moral babu pri­yayi. Barang­kali tak ada yang meng­erti apa itu moral babu pri­yayi. Dan aku rasa,aku sen­diri pun tidak. Hanya gam­baran moral itu mem­ba­yang tak tegas, seperti rem­bang tubuh ayam di senja hari waktu men­dung meng­ang­kangi bumi.

Teri­akan sema­cam itu menye­bab­kan si babu hampir sela­ma­nya ter­de­sak ke pojok dapur. Dan selalu sama saja jawab­an­nya:

“Beli es, nya!”

“Beli es! Kalo pake duit nenek moyang lu sen­diri sih…”

Kemu­dian babu di sana lagi — babu maji­kan yang baru menga­wini pera­wan dari kam­pung halaman sen­diri. Dan pera­wan inilah yang mem­bawa babu itu. Nyonya pengan­tin tiap pagi duduk di bawah pohon ceri sehingga sua­mi­nya pulang dari kantor, dan dengan ulet­nya mem­beri kesan pada semua orang yang lewat di depan­nya, bahwa ia tak biasa kerja di kam­pung­nya: pri­yayi tulen. Tak biasa kerja! Dalam masa kerja dipinta dari dan oleh tiap orang! Moral pri­yayi lagi! Tentu saja bukan mak­sudku mem­buat penya­mara­taan. Tetapi aku sung­guh-sung­guh kenal kehi­dupan golongan pri­yayi sebe­lum perang. Dan para pri­yayi Jakarta waktu ini hendak mene­rus­kan moral­nya yang keting­galan zaman. Dengan lebih banyak warna dan irama tentu, sesuai dengan kemo­de­r­nan.

Dan pri­yayi manakah yang belum keting­galan zaman?

Para petani yang cerdik telah dapat mengu­a­sai hasil panen dan mem­per­be­sar keka­ya­an­nya. Kaum peda­gang telah mem­per­ko­koh kedu­duk­an­nya dan men­jadi raja di tiap kota. Kaum buruh telah meng­kon­so­li­dasi diri. Hanya kaum pri­yayi jua keting­galan. Dengan ideal-ber­ma­las­nya yang tak lapuk ditimpa hujan dan panas itu! Kemu­dian semua orang tahu apa aki­bat­nya: para babu dan jongos yang keti­ban pulung.

Sebe­nar­nya ter­lam­pau jauh kicau­anku ten­tang hal-hal yang tidak ber­hu­bungan lang­sung dengan makh­luk-makh­luk di bela­kang rumah ini.

Di dalam golongan kami, golongan pen­du­duk petak, ada juga suatu type kea­daan yang amat meng­gi­ur­kan untuk tidak dice­ri­ta­kan. Bukan­nya aku hendak mem­buka raha­sia orang! Antara manu­sia, bahkan juga antara aku dengan kau, dan keli­ling kita ini, sebe­nar­nya tidak ada raha­sia apa-apa. Jadi begini, di dalam golongan kami, golongan pen­du­duk petak, ada seo­rang babu pula. Bawaan dari udik tentu. Ang­gota kelu­arga jur­a­gan ini banyak. Dan menu­rut nasi­hat sang dukun, supaya sela­mat dunia akhi­rat, murah rezeki turun-temu­run, harus dila­ku­kan ber­ba­gai syarat. Syarat ini selain yang secara tak ber­te­rus-terang meng­un­tung­kan sang dukun sen­diri, juga: bila jur­a­gan masak, tak boleh lebih dari dua liter. Dan karena ang­gota kelu­arga itu begitu banyak, babu itu juga yang harus masak tiga kali sehari. Aku tahu, babu itu benar-benar tak meng­erti per­so­alan jur­a­gan­nya. Barang­kali karena ini hanya kesim­pulan yang kuta­rik sen­diri sewaktu kul­i­hat jur­a­gan dengan sem­bu­nyi-sem­bu­nyi mena­nam tumbal di depan rumah­nya, dan menyem­bu­nyi­kan sebuah lagi di atas lang­kan pintu depan, di atas lang­kan pintu bela­kang — pintu dapur.

Kemu­dian, bila pada suatu malam tetang­gaku ter­se­rang penya­kit perut dan harus mela­ri­kan diri ke kakus umum, akan nampak sumur oleh­nya, sumur kami, masih terang-ben­de­rang dite­rangi sebuah lampu din­ding, babu ini dengan menun­duk dalam men­cuci pakaian yang serasa tiada sele­sai-sele­sai­nya. Sampai jam sebe­las, dua belas, satu, dua, kadang-kadang pun tiga. Sete­lah jam tiga, dunia daerah kami baru­lah sunyi senyap. Nanti jam lima pagi, jadi dua jam kemu­dian, mulai­lah makh­luk-makh­luk bela­kang rumah ini muncul kem­bali di sumur: mandi, men­cuci, sehingga jam sem­bi­lan.

Kak APAKAH ARTI­NYA Revo­lusi, yang telah banyak meminta kurban beribu-—ribu ang­gota kelu­arga babu ini, bagi kepen­tingan hidup mereka sen­diri? Sekali-sekali ter­lin­tas masa­lah ini dalam kepa­laku. Dan aku tak bisa men­ja­wab. Bukan karena aku memang bukan seo­rang ahli negara atau poli­ti­kus, tetapi yang ter­u­tama sekali karena per­so­alan itu amat pelik­nya dan bagi seo­rang ahli negara malah per­so­alan yang ter­lam­pau remeh­nya. Seo­rang kawan pernah menge­mu­ka­kan saran: mari kita masuk agama Buddha. Dengan demi­kian kita punya kesem­patan untuk hidup tiga empat kali. Dan dalam hidup tiga empat kali ini kita pasti dapat menyak­si­kan apa fae­dah­nya puluhan orang telah diang­kat men­jadi men­teri pen­di­dikan, peng­a­jaran dan kebu­da­yaan.

Tentu saja saran itu suatu kela­kar yang amat sinis dan sia-sia, tetapi kalau meli­hat gela­gat sema­cam ini memang ada benar­nya juga.

Sekali lagi aku ter­sa­sar di lap­angan agama dan kemen­te­rian, pada­hal mak­sudku hendak ber­ce­rita ten­tang makh­luk di bela­kang di bela­kang rumah. Baik­lah aku terus­kan.

Babu yang kuce­ri­ta­kan. tadi lama-kela­maan kehi­langan nafsu makan. Bila sedang lapar, nasi belum lagi masak, nasi sudah habis atau peker­jaan masih menum­puk, atau salah seo­rang jur­a­gan­nya men­do­r­ong-dorong agar lebih cepat bekerja. Jadi nafsu makan kabur­lah ke langit hijau. Demi­kian sete­rus­nya. Dan bila pada malam hari ada kesem­patan ter­lu­ang untuk makan, tubuh sudah ter­lam­pau letih sehingga usus-usus serta waduk besar dan waduk kecil kehi­langan daya kon­traksi yang semes­ti­nya. Jadi ia tidur sebe­lum makan. Jadi ia bekerja lagi sebe­lum makan. Lama-kela­maan, walau­pun ia belum lagi mati, suatu keret­akan telah ter­jadi antara badan dan jiwa­nya. Sung­guh aneh kede­ngaran. Walau demi­kian ada jua benar­nya, walau cuma sedi­kit. Begini: jiwa­nya meng­em­bara ke mana-mana sewaktu tubuh­nya men­cuci, ber­ja­lan, atau makan, atau tidur. Dapat dipas­ti­kan tiap minggu sekali ia kena ben­cana: ter­pe­le­set di sumur, paku ter­be­nam dalam kaki­nya, ter­se­te­rika lengan, ter­ba­lik menum­buk bangku, bahkan sekali waktu sedang duduk ber­is­ti­ra­hat di sebuah kursi rotan yang telah peot, ia keja­tuhan sepeda, kursi men­ja­tuhi deretan piring, dan sete­lah itu ia keja­tuhan pulung di atas kepa­la­nya dari jur­a­gan.

Mau tak mau ben­cana ini meng­i­ng­at­kan aku pada pel­a­jaran guruku waktu masih duduk di seko­lah rakyat: tubuh dan jiwa harus diper­sa­tu­kan! Piki­ran harus ber­a­rah. Kalau tidak, roh piki­ran yang tak ber­a­rah ini akan meng­em­bara, kemu­dian ber­sa­rang di tempat-tempat ter­tentu. Dan roh ini mena­rik tubuhmu, ter­j­a­dilah per­ben­turan. Itulah ben­cana.

Tentu saja itu suatu teori lain lagi ten­tang ben­cana.

Lama-kela­maan tubuh babu ini men­jadi gemuk benar. Aku mengira beri-beri, tetapi karena aku tak pernah didi­dik untuk men­jadi tabib,tak patut­lah aku lan­car­kan pengir­aan sema­cam itu.

Pada suatu hari ia ter­ja­tuh tanpa sebab, yakni seha­bis men­cuci empat jam di sumur. Kemu­dian ia men­de­lik. Men­de­lik saja. Ini ter­jadi pada waktu men­je­lang magrib. Baru di malam hari ia merin­tih. Dan pada kee­sokan hari­nya ia pun dipu­lang­kan ke udik. Seti­dak-tidak­nya peman­dangan yang menye­sak­kan itu ber­ku­rang­lah dengan sebuah.

Bukan mak­sudku mene­kan­kan, bahwa kehi­dupan babu sela­ma­nya menye­sak­kan hati. Bebe­rapa di antara mereka sung­guh-sung­guh telah ber­se­nang hati dengan nasib­nya. Dengan ter­tawa dan senyum yang selalu meng­hias bibir, dengan kesung­guhan hati mem­bela maji­kan dari tiap omongan orang. Untuk pem­be­la­an­nya ini ia tak mene­rima upah tam­ba­han tentu. Kena­ikan upah juga tidak. Salah seo­rang di antara mereka telah meng­hamba dela­pan tahun lama­nya. Kena­ikan upah hanya sekali ter­jadi: tiga ring­git. Semen­tara itu masa yang dela­pan tahun itu melun­cur tanpa ber­ke­san: ia telah men­jadi pera­wan tua. Tambah lama tambah tua. Tanpa men­da­pat kasih dan sayang seo­rang per­jaka idaman. Impian bukan saja tidak men­jadi kenya­taan, bahkan ia mere­dup hilang.

Ngo­mong-ngo­mong ten­tang impian yang mung­kin ini, meng­i­ng­at­kan aku pada babu di daerah kami, yang kini telah pindah kerja di pabrik. Ia seo­rang pera­wan dari udik. Kul­it­nya bersih, dengan warna yang banyak mener­bit­kan iri hati para jur­a­gan. Ia mem­pu­nyai gaun sutera indah yang amat cocok dengan warna kul­it­nya. Di tiap waktu yang diang­gap­nya pen­ting, kem­bali gaun itu dike­na­kan­nya. Dari gerak-gerik­nya nyata-nyata ia mem­pu­nyai impian yang mung­kin itu. Tiap dike­na­kan gaun­nya yang indah itu dijin­jing­nya maja­lah-maja­lah film atau hiburan lain­nya. Aku tak tahu apakah maja­lah itu dibeli atau dipin­jam­nya. Yang nyata, dari jauh ia mem­beri kesan seo­rang ter­pel­a­jar. Tetapi bila ia sudah dekat pada kita, dan nampak oleh kita pelom­pong mulut­nya, hilang lenyap kesan ter­pel­a­jar­nya dan bering­sut-ingsut kem­bali pada kesan babu­nya. Tentu saja ini bukan peng­hi­naan. Ini hanya­lah per­te­muan antara impian dan kenya­taan di dalam satu wajah dan di dalam satu gaya. Dan justru karena impi­an­nya itulah pada suatu hari ia ting­gal­kan keba­bu­an­nya dan men­jadi buruh pabrik. Bebe­rapa bulan kemu­dian, pada suatu sore yang nyaman, kul­i­hat ia ber­ja­lan-jalan dengan seo­rang pemuda yang memi­l­iki sepeda Rale­igh2 baru, dengan per­snel­ling dan berko, dengan gon­cengan diper­nik­kel.

Dan si Dua?

Waktu jur­a­gan meng­hun­jam kepa­la­nya dengan kutukan yang ber­tubi-tubi dan jur­a­gan-jur­a­gan kecil menen­dang dan men­cu­bit­i­nya, ia mena­ngis ter­se­dan-sedan di pojok petak, meng­ha­dap ke din­ding. Tiga jam lama­nya! Pada malam hari ia tak nampak di situ lagi. Ia telah lari. Meng­em­bara! Anak yang belum pernah mening­gal­kan rumah petak ini, jangan­kan seja­rak 2 kilo­me­ter! Karena selama itu ia hanya hidup di sumur, di bela­kang rumah.

Sehari dua hari jur­a­gan masih merasa sebal ter­ha­dap si Dua. Tapi lama-kela­maan ia mulai cemas juga dan dica­ri­nya si Dua.

Bebe­rapa hari kemu­dian seo­rang tetangga mene­mu­kan­nya duduk tafa­kur di pojok jem­batan dan dia­jak­nya pulang. Hanya satu jawab­an­nya:

“Biar gua ditub­ruk kereta api!”

Dan berita ngeri yang diba­wa­nya itu menye­bab­kan jur­a­gan men­jadi kalang-kabut untuk kedua kali­nya, dan diba­walah anak itu pulang. Dengan janji tentu: Besok akan dikem­ba­li­kan pada orang tuanya. Di udik! Pagi-pagi benar pada kee­sokan hari­nya, si Dua tak tampak lagi — mung­kin untuk selama-lama­nya.

Ten­tang makh­luk-makh­luk di bela­kang rumah ini, ter­lam­pau banyak yang dapat dice­ri­ta­kan, tetapi hampir sela­ma­nya ber­nada mineur. Dan justru karena sumur itu tak dapat dipin­dah­kan dari depan rumahku, tiap hari peman­dangan mataku ter­tum­buk pada wajah-wajah mereka ini, tiap hari, waktu kerja, waktu mela­mun, waktu mene­rima tamu, pen­dek­nya: tiap duduk di depan. Lama-kela­maan tum­buh­lah dalam piki­ranku, bahwa moral babu pri­yayi ini ter­ma­suk juga dalam kesu­si­laan timur, keso­panan timur, seperti yang sering dipro­pa­gan­da­kan oleh kaum seni­man dan poli­tisi. Cuma saja sering amat dilu­pa­kan, bahwa kesu­si­laan timur, keso­panan timur ini, tiada lain dari­pada suatu hal kecil yang dibe­sar-besar­kan. Dan soal yang kecil itu adalah keso­panan dan kesu­si­laan pri­yayi.



Catatan tentang Edisi Ini

Buku ini disu­sun dari tujuh sumber. Cerita Calon Arang, Larasati, dan Midah Si Manis Bergigi Emas ber­a­sal dari edisi Len­tera Dipan­tara. Gadis Pantai ber­a­sal dari edisi Hasta Mitra. Tujuh cerita dari Cerita dari Blora ber­a­sal dari cetak ulang keem­pat Hasta Mitra (2002), dan tiga cerita dari Cerita dari Jakarta dari cetak ulang­nya yang per­tama (2002). Mencari Anak Hilang kami salin dari buku Pertjikan Revolusi cetakan kedua (1957), bab kede­la­pan, yang masih mema­kai ejaan lama.

Seba­gian sumber hanya ter­se­dia seba­gai pin­daian halaman. Pin­daian itu kami baca dengan mesin, lalu kami periksa dan betul­kan salah baca­nya: huruf yang ter­tu­kar, kata yang ter­ga­bung atau ter­po­tong, tanda hubung pada kata ulang, dan baris yang ber­pin­dah tempat. Teks yang sudah berupa salinan digi­tal juga kami periksa, karena banyak mengan­dung salah ketik.

Salinan digi­tal Midah yang kami pakai kehi­langan semua tanda petik dalam per­ca­kapan. Tanda petik itu kami pul­ih­kan satu per satu menu­rut alur per­ca­kapan. Di bebe­rapa tempat mung­kin ada yang tidak persis sama dengan cetakan asli­nya.

Ejaan selu­ruh teks kami sera­gam­kan dengan Ejaan yang Disem­pur­na­kan edisi kelima. Untuk Mencari Anak Hilang ini ber­arti meng­ganti tj, dj, j, nj, sj, ch, oe men­jadi c, j, y, ny, sy, kh, u, memi­sah­kan kata depan di dan ke, dan menu­lis­kan kata ulang secara penuh. Untuk teks lain kami meng­ganti bentuk seperti sedar, robah, faham, fikir, kuatir, mashur, samasekali, airmata, orangtua, dan prosen men­jadi sadar, ubah, paham, pikir, khawatir, masyhur, sama sekali, air mata, orang tua, dan persen. Susunan kali­mat tidak kami sentuh. Kata-kata Jawa dan Betawi dalam per­ca­kapan, seperti gua, lu, kagak, pigi, sonder, dan godperdom, kami biar­kan. Nama orang kami tulis seperti dalam sum­ber­nya.

Dalam Mencari Anak Hilang ada bebe­rapa salah cetak yang kami betul­kan: anak men­jadi anaknya pada halaman per­tama, tiga itik men­jadi tiga titik, mengeri men­jadi mengerti, dan tiga ta-tahun men­jadi tiga tahun.

Catatan kaki yang tidak dia­wali tulisan Catatan penyunting ber­a­sal dari edisi sumber. Catatan penyun­ting adalah tam­ba­han kami untuk mem­bantu pem­baca hari ini. Kesal­ahan yang masih ter­sisa adalah tang­gungan kami.


Daftar Kata

ambin balai-balai; tempat tidur dari bambu atau kayu

bale balai-balai

beca becak

Bendoro (Jawa) sebutan untuk bangsawan atau majikan; tuan

bujang pembantu rumah tangga

dokar kereta beroda dua yang ditarik kuda

doger penari ronggeng jalanan; dalam Midah dipakai sebagai cemooh

empok (Betawi) panggilan untuk perempuan yang lebih tua

gendeng (Jawa) sinting, gila

inlander (Belanda) pribumi; sebutan merendahkan pada masa kolonial

kanca (Jawa) kawan

kroncong keroncong

laki suami

marsose pasukan khusus tentara kolonial Hindia Belanda (marechaussee)

nduk (Jawa) panggilan sayang untuk anak perempuan

ndoro (Jawa) tuan, majikan

ori Oeang Republik Indonesia, uang yang dikeluarkan Republik sejak 1946

pamanda paman (bentuk hormat)

priyayi golongan bangsawan dan pegawai pemerintahan di Jawa

republikein (Belanda) pendukung Republik

sahaya saya, hamba (bentuk hormat)

sonder (Belanda zonder) tanpa

swadesi gerakan memakai barang buatan sendiri, dari kata India swadeshi

tangsi asrama tentara

teritis bagian atap yang menjorok ke luar dinding; emper

trem kereta listrik dalam kota

uang Merah uang yang dikeluarkan NICA, saingan ori

wedana kepala distrik, di bawah bupati


Tentang Pengarang

Pra­mo­edya Ananta Toer (1925–2006) adalah rak­sasa sastra Indo­ne­sia yang kar­ya­nya lahir dari per­gu­latan seja­rah yang keras. Keluar-masuk pen­jara di masa Kolo­nial Belanda, Orde Lama, hingga peng­a­singan Pulau Buru pada masa Orde Baru tidak mem­buat nya­li­nya surut. Ia men­ja­di­kan sastra seba­gai monu­men per­la­wanan ter­ha­dap tirani. Diter­je­mah­kan ke lebih dari 40 bahasa dan ber­kali-kali dino­mi­na­si­kan untuk Nobel Sastra, Pram adalah bukti nyata bahwa kebe­naran tidak pernah bisa dipen­ja­ra­kan.


Daftar Karya Pramoedya Ananta Toer

  • Tulisan-tulisan semasa di SD, satu di anta­ra­nya pernah dita­war­kan pada pener­bit Tan Koen Swie, Kediri, dito­lak. Semua hilang.
  • Sepoeloeh Kepala Nica (1946), hilang di tangan pener­bit Balingka, Pasar Baru, Jakarta, 1947.
  • Kranji–Bekasi Jatuh (1947), frag­men dari Di Tepi Kali Bekasi.
  • Perburuan (1950). Peme­nang sayem­bara Balai Pus­taka, Jakarta, 1949.
  • Keluarga Gerilya (1950).
  • Subuh (1951), kum­pulan 3 cerpen.
  • Percikan Revolusi (1951), kum­pulan cerpen.
  • Mereka yang Dilumpuhkan I & II (1951).
  • Bukan Pasarmalam (1951).
  • Di Tepi Kali Bekasi (1951), sisa naskah yang dir­am­pas Mari­nir Belanda pada 22 Juli 1947.
  • Dia yang Menyerah (1951), kemu­dian dice­tak-ulang dalam kum­pulan cerpen.
  • Cerita dari Blora (1952), peme­nang karya sastra ter­baik dari Badan Musya­warah Kebu­da­yaan Nasi­o­nal, Jakarta (1953).
  • Gulat di Jakarta (1953).
  • Midah Si Manis Bergigi Emas (1954).
  • Korupsi (1954).
  • Cerita Calon Arang (1957).
  • Sekali Peristiwa di Banten Selatan (1958).
  • Panggil Aku Kartini Saja I & II (1963); III & IV diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Kumpulan Karya Kartini, yang pernah diu­mum­kan di ber­ba­gai media; diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Wanita Sebelum Kartini, diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Gadis Pantai (1962–65) dalam bentuk cerita ber­sam­bung, bagian per­tama tri­logi ten­tang kelu­arga penu­lis; terbit seba­gai buku, 1987, dila­rang Jaksa Agung. Jilid II dan III diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Sejarah Bahasa Indonesia. Satu Percobaan (1964); diba­kar Ang­katan Darat pada 13 Okto­ber 1965.
  • Mari Mengarang (1955), tak jelas nasib­nya di tangan pener­bit di Jalan Kramat Raya, Jakarta.
  • Cerita dari Jakarta (1957).
  • Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (1963).
  • Lentera (1965), kum­pulan tulisan yang pernah diu­mum­kan oleh Lentera. Tak jelas nasib­nya di tangan pener­bit di Jalan Pece­nongan, Jakarta.

Semua kar­ya­nya dila­rang oleh Kemen­te­rian PPK/PDK, 1966.

  • Bumi Manusia (1980), bagian per­tama tet­ra­logi Buru. Dila­rang Jaksa Agung, 1981.
  • Anak Semua Bangsa (1981), bagian kedua tet­ra­logi Buru. Dila­rang Jaksa Agung, 1981.
  • Sikap dan Peran Intelektual di Dunia Ketiga (1981).
  • Tempo Doeloe (1982), anto­logi sastra pra-Indo­ne­sia.
  • Jejak Langkah (1985), bagian ketiga tet­ra­logi Buru. Dila­rang Jaksa Agung, 1985.
  • Hikayat Siti Mariah, (ed.) Haji Mukti (1987). Dila­rang Jaksa Agung, 1987.
  • Rumah Kaca, bagian keem­pat tet­ra­logi Buru, 1988. Dila­rang Jaksa Agung, 1988.
  • Sang Pemula (1985). Dila­rang Jaksa Agung, 1985.
  • Memoar Oei Tjoe Tat, (ed.) Oei Tjoe Tat, 1995. Dila­rang Jaksa Agung, 1995.
  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I, 1995. Dila­rang Jaksa Agung, 1995.
  • Arus Balik, 1995.
  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II, 1997.
  • Arok Dedes, 1999.
  • Mangir, 2000.
  • Larasati (Ara), 2000.

Penghargaan

1988 Freedom to Write Award dari PEN American Center, Amerika Serikat.

1989 Anugerah dari The Fund for Free Expression, New York, Amerika Serikat.

1995 Wertheim Award, “for his meritorious services to the struggle for emancipation of the Indonesian people”, dari The Wertheim Foundation, Leiden, Belanda.

1995 Ramon Magsaysay Award, “for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognition of his illuminating with brilliant stories the historical awakening, and modern experience of the Indonesian people”, dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina.

1996 Partai Rakyat Demokratik Award, “hormat bagi Pejuang dan Demokrat Sejati” dari Partai Rakyat Demokratik.

1996 UNESCO Madanjeet Singh Prize, “in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence”, dari UNESCO, Paris, Prancis.

1999 Doctor of Humane Letters, “in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom”, dari University of Michigan, Madison, Amerika Serikat.

1999 Chancellor’s Distinguished Honor Award, “for his outstanding literary archievements and for his contributions to etnic tolerance and global understanding”, dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat.

1999 Chevalier de l’Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication République Française, Paris, Prancis.

2000 New York Foundation for the Arts Award, New York, Amerika Serikat.

2000 Fukuoka Cultural Grand Prize, Jepang.


Terima Kasih

Buku ini diker­ja­kan oleh seo­rang pem­baca, bukan oleh pener­bit. Karena itu ia banyak ber­u­tang.

Kepada kelu­arga dan ahli waris Pra­mo­edya Ananta Toer, yang men­jaga karya-kar­ya­nya tetap hidup. Edisi ini tidak resmi dan tidak untuk dijual. Kami mem­bu­at­nya seba­gai tanda hormat pada sera­tus tahun Pram.

Kepada Hasta Mitra, Joe­soef Isak, dan Hasyim Rac­h­man, yang mener­bit­kan buku-buku Pram ketika mener­bit­kan­nya ber­arti ber­ha­dapan dengan larangan, dan kepada Len­tera Dipan­tara yang mene­rus­kan kerja itu.

Kepada para penya­lin dan pemin­dai yang tak kami kenal nama­nya, yang lebih dulu meng­u­bah buku-buku lama ini men­jadi berkas digi­tal, sehingga cerita-cerita yang sudah lama tak dice­tak masih bisa dibaca.

Kepada kawan-kawan yang memot­ret halaman Pertjikan Revolusi yang hilang dan ikut mem­baca ulang hasil salinan.

Dan kepada Pram, yang menu­lis­kan hidup perem­puan-perem­puan ini apa adanya.