Baca EPUB: Arus Balik

56 bagian · 0.2 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Arus Balik
  2. Daftar Isi
  3. Dari Kami untuk Pembaca
  4. Di Bawah Bulan Malam Ini
  5. Abad Keenam Belas Masehi
  6. Tuban
  7. Menjelang Pesta Lomba Seni dan Olahraga
  8. Sayid Habibullah Al-Masawa
  9. Idayu dan Galeng
  10. Adipati Tuban Arya Tumenggung Wilwatikta
  11. Syahbandar Tuban: Rangga Iskak dan Sayid Habibullah Al-Masawa
  12. Wiranggaleng Pergi ke Barat
  13. Esteban dan Rodriguez
  14. Idayu, Kamaratih Tuban
  15. Menyerang Malaka
  16. Timbulnya Kerincuhan
  17. Meningkatnya Kericuhan
  18. Syahbandar, Idayu dan Gelar
  19. Perjalanan Sepucuk Surat Rahasia
  20. Datangnya Meriam Portugis
  21. Balatentara Tuban Turun Tangan
  22. Dan Pertempuran Meletus
  23. Kesepian di Tuban
  24. Pertempuran dan Pertempuran
  25. Keributan di Bandar Tuban
  26. Pertempuran Penentuan
  27. Idayu Jadi Sandera
  28. Demak
  29. Akhir Perang
  30. Pertemuan Kembali
  31. Demak Bergolak
  32. Tuban dalam Suasana Baru
  33. Lahirnya Persekutuan Rahasia
  34. Petani Wiranggaleng
  35. Kembali ke Malaka
  36. Gelar Jadi Sandera
  37. Demak Mulai Bergerak
  38. Kekacauan di Jawa
  39. Lao Sam – Pajajaran – Sunda Kelapa
  40. Blambangan
  41. Panjang – Jayakarta
  42. Yang Lola di Semenanjung
  43. Tuban Jadi Kancah Perang
  44. Dan Portugis pun Memasuki Tuban
  45. Setitik Busa di Samudera Kehidupan
  46. Koma
  47. Tuban Dibebaskan
  48. Arus Balik
  49. Daftar Kata
  50. Catatan tentang Edisi Ini
  51. Tentang Pengarang
  52. Daftar Karya Pramoedya Ananta Toer
  53. Penghargaan
  54. Terima Kasih

Awal abad ke-16 menan­dai titik balik paling getir dalam seja­rah Nusan­tara. Run­tuh­nya Maja­pa­hit mem­buat arus keja­yaan yang dulu meng­a­lir dari Selatan ke Utara kini ber­ba­lik arah—mem­bawa hege­moni baru dari Utara hingga keda­tangan meriam armada Por­tu­gis di bawah Alfonso d’Albu­qu­er­que.

Dari desa per­ba­ta­san Awis Kram­bil hingga pang­gung keku­a­saan Kadi­pa­ten Tuban dan Demak, sepa­sang anak desa, Galeng dan Idayu, men­jadi saksi hidup bagai­mana intrik istana, kepi­cikan pengu­asa daratan, dan peng­khi­a­natan para petu­a­lang pela­buhan per­la­han-lahan meneng­ge­lam­kan kedau­latan bahari Nusan­tara. Sebuah maha­karya seja­rah dari Pra­mo­edya Ananta Toer ten­tang awal mula keka­lahan sebuah bangsa.


Edisi Seabad · 1925–2025

Pramoedya Ananta Toer

Arus Balik

Sebuah epos pasca kejayaan Nusantara di abad 16

KOLEKSI PRIBADI

MUHAMMAD REZA MAGISTRA

Lund, 2026


Pra­mo­edya Ananta Toer, Arus Balik.

Edisi Seabad 1925–2025, edisi digi­tal tidak resmi yang disu­sun peng­ge­mar. Edisi ini tidak ber­hu­bungan dengan pener­bit atau­pun ahli waris Pra­mo­edya Ananta Toer.

Teks diset ulang dari salinan teks digi­tal Arus Balik yang ber­e­dar di inter­net (ber­tanda dewi-kz), lalu diber­sih­kan dari salah baca mesin dan dise­su­ai­kan dengan EYD Edisi V. Terbit per­tama: Hasta Mitra, Jakarta, 1995.

Hak cipta karya © Pra­mo­edya Ananta Toer dan ahli waris­nya. Edisi digi­tal ini disu­sun untuk koleksi pri­badi dan per­i­ng­atan sera­tus tahun Pra­mo­edya Ananta Toer, tidak untuk diper­ju­al­be­li­kan.

Sampul, tata letak, dan catatan penyun­ting: Muham­mad Reza Magis­tra. Ilus­trasi jong diolah dari gravir Situs Civitatis Bantam et Navium Insulae Iavae delineatio (ber­tanda HG excud.). Diset dengan New­s­re­a­der.

KOLEKSI PRI­BADI MUHAM­MAD REZA MAGIS­TRA · LUND, 2026



Dari Kami untuk Pembaca

Pra­mo­edya Ananta Toer lahir di Blora pada 6 Feb­ru­ari 1925 dan wafat di Jakarta pada 30 April 2006. Edisi ini kami susun untuk melan­jut­kan per­i­ng­atan sera­tus tahun­nya, sete­lah Arok Dedes dan Perempuan.

Arus Balik terbit per­tama kali lewat Hasta Mitra pada 1995. Ceri­ta­nya ber­lang­sung di Tuban pada awal abad keenam belas, ketika Maja­pa­hit sudah runtuh, Demak mulai naik, dan kapal-kapal Por­tu­gis masuk ke per­a­iran Nusan­tara. Pram meng­i­kut­i­nya lewat Galeng dan Idayu, dua anak desa dari Awis Kram­bil.

Edisi ini tidak resmi. Kami tidak bekerja sama dengan pener­bit atau­pun ahli waris Pram, dan buku ini tidak untuk dijual. Tek­s­nya kami ambil dari salinan digi­tal yang ber­e­dar, kami ber­sih­kan dari salah baca mesin, dan kami sesu­ai­kan dengan ejaan seka­rang. Kata-kata khas Pram seperti matari, bentar, dan Peranggi kami biar­kan. Pen­je­las­an­nya ada di bagian akhir buku.

Kalau Anda punya buku­nya, baca­lah yang asli. Kalau belum, semoga edisi ini mem­buat Anda ingin men­ca­ri­nya.

Lund, Oktober 2026

Muhammad Reza Magistra dan kawan-kawan


Di Bawah Bulan Malam Ini

Tiada seti­tik pun awan di langit.

Dan bulan telah terbit ber­sa­maan dengan teng­ge­lam­nya matari.

Dengan cepat ia naik dari kaki langit, mengu­ni­ngi segala dan semua yang ter­sen­tuh caha­ya­nya. Juga hutan, juga laut, juga hewan dan manu­sia.

Langit jernih, bersih dan terang.

Di atas bumi Jawa lain lagi kea­da­an­nya: geli­sah, resah, seakan-akan manu­sia tak mem­bu­tuh­kan keten­te­raman lagi.


Bab 1

Abad Keenam Belas Masehi

Bahkan juga laut Jawa di bawah bulan pur­nama sidhi itu geli­sah. Ombak-ombak besar ber­gu­lung-gulung meman­jang ter­pu­tus, meng­gu­nung, melan­dai, meng­e­ja­jari pesi­sir pulau Jawa. Setiap puncak ombak dan riak, bahkan juga busa­nya yang ber­te­baran seperti ser­akan muti­ara – semua – diku­ni­ngi oleh cahaya bulan.

Angin meniup tenang. Ombak-ombak makin meng­gila.

Sebuah kapal peronda pantai melun­cur dengan kece­patan tinggi dalam cuaca angin damai itu. Badan­nya yang pan­jang lang­sing, dengan haluan dan buritan merun­cing, timbul-teng­ge­lam di antara ombak-ombak pur­nama yang meng­gila. Layar kemudi di haluan meng­ge­lem­bung mem­bi­kin lunas mener­jang serong gunung-gunung air itu – serong ke barat laut. Barisan dayung pada din­ding kapal ber­ka­yuh ber­i­rama seperti kaki-kaki pada ular naga. Layar­nya yang ter­buat dari pili­nan kapas dan benang sutra, meng­ki­lat seperti emas, kuning dan menyi­lau­kan. Pada puncak tiang utama, di bawah len­tera, ber­ki­bar ben­dera pan­jang merah dan putih – ben­dera kadi­pa­ten Tuban. Di bawah­nya lagi, duduk di atas tali-temali, seperti titik kelam, adalah juru tinjau.

Tepat di bawah layar utama ber­diri nakhoda yang seben­tar-seben­tar menin­jau pada juru tinjau di atas. Di sam­ping­nya ber­diri Pat­ra­ga­ding, ber­to­lak ping­gang.

“Tetap tak ada yang menge­jar, Tuanku!” seru juru tinjau.

“Kita akan sela­mat sampai di tempat,” bisik nakhoda pada Pat­ra­ga­ding sambil menyem­bah dada. “Tak ada yang menge­jar kita.”

Pat­ra­ga­ding meng­ang­kat kain dan dii­kat­kan­nya pada ping­gang sehingga selu­ar­nya dari sutera itu menge­r­jap-nge­r­jap ter­kena cahaya bulan. Keris­nya ter­tu­tup oleh kain­nya – suatu gaya pem­be­sar yang kehi­langan kesa­baran.

“Sila­kan meng­aso. Seben­tar lagi Tuban akan nampak.”

“Lihat yang baik, barang­kali ada iring-iringan perom­pak.”

“Tak pernah ada perom­pak berani men­de­kati kapal sahaya.”

“Lihat yang baik,” gertak Pat­ra­ga­ding. Tangan­nya mem­be­tul­kan kain penu­tup dada­nya.

“Ahoo! Bagai­mana dengan depan dan sam­ping?”

“Tiada sesu­atu. Tuanku,” nakhoda itu mene­rus­kan laporan juru tinjau sambil menyem­bah dada. “Seba­ik­nya Tuanku meng­aso sebe­lum men­da­rat tengah malam ini.”

Pat­ra­ga­ding mele­pas kain lagi sehingga seluar sutra­nya ter­tu­tup kem­bali. Ia ting­gal­kan tiang utama dan ber­ja­lan mondar-mandir di gela­dak, kemu­dian pergi ke haluan, meme­riksa sen­diri sen­jata cet­bang. Seben­tar. Ia men­je­nguk ke bawah, meman­dangi lunas yang mener­jang ombak. Juga tak lama. Dengan tinju ia memu­kul-mukul din­ding kapal, kemu­dian ber­ja­lan lagi mondar-mandir tanpa tujuan. Akhir­nya ia menu­runi tangga gela­dak dan hilang dari peman­dangan.

“Ahoi! Turun!” perin­tah nakhoda pada juru tinjau.

Begitu kaki­nya sampai ke gela­dak, juru tinjau itu meng­em­bus­kan napas besar.

“Mati semua awak kapal kalau orang darat ikut campur begini,” sambut nakhoda.

“Ya, begi­tu­lah bila Tuanku maji­kan ada di kapal.”

“Pada putra Gusti Adi­pati tak ada nakhoda berani mem­ban­tah, biar­pun putra ke dua ratus empat puluh satu!”

“Uh, bulan pun ter­se­nyum meli­hat kita, Tuanku.”

“Lebih gam­pang menum­pas perom­pak.”

‘Tengah malam ini tugas kepa­rat ini akan sele­sai.”

“Boleh jadi ada perin­tah kem­bali.”

“Dewa Batara!” sebut nakhoda. “Itu ber­arti akan ter­ka­par dite­lan hiu.”

“Ts-te-ts.”

“Coba lihat juru mudi, apakah dia masih ada di tempat.”

“Tapi sahaya juru tinjau, Tuanku.”

“Apa lagi yang hendak kau tinjau? Angin?”

Jurut­in­jau pergi. Nakhoda itu naik ke atas tiang utama, hanya agar tidak berada di dekat Pat­ra­ga­ding, putra ke dua ratus empat puluh satu.

Juga di bawah bulan pur­nama sidhi itu pula, di sebuah botakan hutan seekor anjing hutan mere­nungi langit. Leher­nya meman­jang, kemu­dian menun­duk pelan sambil menge­lu­ar­kan suara teng­go­r­okan, pelahan. Kaki depan­nya ber­diri, kaki bela­kang­nya ber­sim­puh. Kepala itu diang­kat lagi. Mata­nya sema­kin sayu. Dari mulut­nya keluar suara keras, mem­ba­ung, melo­long. Kepa­la­nya ter­ang­kat-angkat, kuping­nya ber­diri dan bun­tut­nya ber­ki­bas-kibas pelahan ke kiri dan kanan. Ia memang­gil bulan dan yang dipang­gil­nya tak mau datang. Yang datang justru ber­pu­luh-puluh yang lain, jantan betina dan anak-anak­nya. Semua itu meman­dang ke atas, memang­gil-mang­gil sang bulan, mera­ung, melo­long, mem­ba­ung.

Hutan yang senyap itu beru­bah jadi hiruk. Sua­ra­nya mela­yang, meng­am­bang dalam cahaya bulan men­ca­pai desa per­ba­ta­san kadi­pa­ten Tuban: Awis Kram­bil. Menu­suk lebih dalam ke tengah-tengah desa, mema­suki balai-desa.

“Dengar anjing-anjing mem­ba­ung!” orang tua itu menu­ding ke arah atap. Alis­nya yang putih ter­ang­kat. Badan­nya tetap tenang duduk di atas tikar meng­ha­dapi para pen­de­ng­ar­nya.

“Tak pernah anjing hutan mem­ba­ung seperti itu.”

Sunyi-senyap di ruangan balai-desa. Semua meman­jang­kan leher men­de­ng­ar­kan baung ratusan anjing di tengah hutan. Ratusan sumbu damar­sewu yang menyala di sepan­jang dan sepu­tar rumah umum itu ber­go­yang-goyang ter­kena angin silir.

“Apakah gerangan yang akan ter­jadi, Rama?” kepala desa yang duduk agak di bela­kang orang tua itu ber­ta­nya.

“Bulan pur­nama begini. Semua indah. Hanya anjing-anjing pada mena­ngis. Bulan itu takkan menang­gapi mereka. Sejak dahulu pun tidak. Tapi bulan penuh, menua dan hilang. Bulan pur­nama seka­rang, tapi bukan pur­nama untuk kalian. Untuk kita. Kita sedang teng­ge­lam.”

“Kita belum pernah teng­ge­lam, Rama,” protes seo­rang gadis di tengah-tengah hadirin.

“Kau belum pernah teng­ge­lam, gadis. Kau pun belum pernah terbit. Kita – kita pernah terbit, dan seka­rang sedang teng­ge­lam. Lihat, seba­gai bayi aku dila­hir­kan di sini. Kalian semua belum lagi lahir. Hutan dan alang-alang masih ber­ja­bat-jabatan. Sawah belum ada. Hanya huma, gadis. Dulu desa ini dina­mai Sumber Raja…” Tiba-tiba sua­ra­nya ter­ang­kat naik, meleng­king. “Kalian biar­kan desa ini dihina oleh orang kota, dan kalian sen­diri setuju dengan nama Awis Kram­bil.” Ia ter­tawa sengit.

“Bukan begitu Rama Guru,” bantah kepala desa gopoh-gapah dan mene­bar­kan pan­dang minta sokongan hadirin. “Nama itu dibe­ri­kan seba­gai ucapan ikut pri­ha­tin ter­ha­dap sul­it­nya kelapa di sini. Lama-lama jadi sebutan resmi di Tuban. Kami hanya meng­i­kuti, Rama.”

“Apa saja kalian ker­ja­kan dalam tujuh tahun ini maka sebuah desa bisa keku­rangan kelapa?” orang tua itu tak meno­leh pada kepala desa. “Apakah di man­dala kalian sudah tak pernah dia­jar­kan ten­tang kelapa dan ten­tang desa, bahwa kese­jah­te­raan desa nampak dari puncak-puncak pohon kela­p­a­nya?”

Para hadirin ber­henti mengu­nyah sirih men­de­ngar per­se­li­sihan sudah dimu­lai itu. “Deng­ar­kan kata-kata Rama Clu­r­ing ini,” orang tua itu mene­rus­kan dengan tubuh tetap tidak ber­ge­rak dalam sila­nya. “Desa yang keku­rangan kelapa…. adalah karena ada apa-apa kecu­ali kelapa di dalam kepala-kepala desa­nya. Ingat-ingat itu! Ada apa-apa kecu­ali kelapa.”

“Apakah apa-apa dalam kepa­laku. Rama Guru?” tanya kepala desa ter­siksa.

“Bukan­kah kau tahu juga dari orang tuamu, desa ini dahulu men­cu­kupi buat semua? Memang lain. Dahulu pen­du­duk desa masih punya harga diri. Nama­nya tetap Sumber Raja seba­gai­mana dibe­ri­kan oleh lelu­hur para pen­diri. Seka­rang, bukan karena kelapa itu tidak tumbuh, cipta kalian yang mero­sot sampai ke tela­pak kaki. Maka kelapa pun tak kun­jung ber­biak, ting­gal hanya pening­galan nenek-moyang.”

Tak ada yang menyang­gah. Dengan lunak ia mulai ber­ce­rita ten­tang kelapa di desa-desa lain yang lebih tandus.

Para hadirin, tua dan muda, laki dan perem­puan, gadis dan per­jaka mem­per­ha­ti­kan tubuh pem­bi­cara yang pendek-kecil, ber­kain dan ber­ka­lung kain batik pula, ber­des­tar putih, ber­jang­gut dan ber­mi­sai putih, seperti kepala Anoman dalam Rama­yana.

Mereka men­de­ng­ar­kan dengan diam-diam sambil mengu­nyah sirih. Tak seo­rang pun mener­ta­wa­kan kepu­tih­an­nya. Mereka meng­hor­mati orang tua yang ter­ke­nal seba­gai pemuja Ken Arok1 Sri Rang­gah Rajasa Sang Amur­wab­humi, ber­li­dah pedang dan ber­lu­dah api itu.

“Dengar, barang­kali anjing-anjing itu akan mem­ba­ung sepan­jang malam.”

Kem­bali orang men­de­ng­ar­kan baung yang sayup-sayup dari tengah hutan.

“Nenek-moyang kalian tidak sebe­bal kalian seka­rang,” tiba-tiba orang tua itu mene­tak kejam.

“Aku dan kami mung­kin memang bebal,” sese­o­rang di tengah-tengah hadirin mem­ban­tah. ‘Tapi para dewa, Rama Guru, pada kami tak dibe­ri­kan tanah yang cukup baik untuk kelapa.”

“Puah!” seru Rama Clu­r­ing. “Sewaktu kecilku takkan ada orang menya­lah­kan para dewa. Tak ada peng­hu­jatan sema­cam itu. Man­dala masih ber­wi­bawa dan guru-guru dihor­mati, maka bocah yang belum ter­pang­gil oleh Sang Buddha pun tahu, bumi ini dibe­ri­kan oleh Hyang Tung­gal pada manu­sia dalam kea­daan sebaik-baik­nya. Tak ada seo­rang pun meng­hi­na­kan kea­da­an­nya, karena manu­sia dicip­ta­kan dalam kea­daan sem­purna. Lupa­kah kau pada ajaran, hewan takkan meng­u­bah apa­lagi alam­nya? Tetapi manu­sia tanpa cipta mero­sot, terus mero­sot sampai ke tela­pak­nya sen­diri, merang­kak, melata, sampai jadi hewan yang tak meng­u­bah sesu­atu pun. Untuk mem­pu­nyai ekor pun manu­sia demi­kian tidak ber­daya.”

Seben­tar ia diam. Tubuh­nya tetap tak ber­ge­rak. Dagu­nya ter­ta­rik ke depan seperti sedang menunggu tan­tangan. Yang ditunggu tiada kun­jung datang. Dan ia mene­rus­kan, meng­u­langi ajaran Buddha dan Syiwa ten­tang manu­sia dan keba­jik­an­nya seba­gai makh­luk dewa, ten­tang alam dan kemung­kinan-kemung­kin­an­nya. Kemu­dian menu­tup dengan nada tinggi mele­dak: “Guru-gurumu takkan lupa menyam­pai­kan: yang buruk datang pada manu­sia yang salah meng­gu­na­kan nalar, sehingga nalar yang buruk memang­gil kebu­r­ukan untuk dir­i­nya. Semua kalian me-lewat­kan masa kanak-kanak dan remaja di bawah petun­juk dan ajaran Sang Guru. Padaku ada wewe­nang mena­mai kalian bebal.”

“Kata-kata itu menya­kit­kan hati, Rama,” sese­o­rang nenek mem­pro­tes.

“Ber­ba­ha­gi­a­lah kau yang bisa ber­sa­kit hati, per­tanda masih ada hati, dan ada cinta di dalam­nya. Tapi macam cinta apa kau kan­dung dalam hatimu? Cinta pada kebe­balan adalah juga kebe­balan. Nah, seka­rang coba ikuti kata-kataku: telah kalian ubah nama ini dari Sumber Raja jadi Awis Kram­bil, hanya karena desa ini tak mampu mem­ba­yar upeti kelapa untuk pasukan gajah Tuban. Upeti demi upeti. Apa sudah kalian terima dari Sang Adi­pati? Siapa di antara anak-anak desa ini men­da­pat kesem­patan mera­jai lautan seperti di zaman Maja­pa­hit dulu? Menyak­si­kan dunia besar? Dihor­mati dan dise­gani di mana-mana? Di Tuma­sik2, di Beng­gal, Nga­besi, Mala­gasi3, sampai di Tan­jung Selatan Wulungga sana? Tak per­nah­kah orang tua kalian ber­ce­rita sema­cam itu maka hatimu jadi sa-kit karena kebe­balan sen­diri?”

Rama Clu­r­ing ber­henti bicara. Kem­bali baung ber­a­turan anjing meng­isi sua­sana.

“Tak ada seo­rang pun di antara pemuda desa ini pernah meng­in­jak­kan kaki di bumi Atas Angin4. Di sana pun dahulu kalian akan dengar game­lan kalian sen­diri. Orang sana juga meng­ge­mari cerita-cerita Panji dari Jeng­gala seperti kalian. Mereka juga men­cin­tai Panji Semi­rang, juga seperti kalian di desa ini. Sang Adi­pati tidak mem­be­ri­kan kesem­patan pada kalian. Tapi kalian terus juga mem­ba­yar upeti, barang jadi dan barang gubal. Tak seo­rang di antara kalian menyak­si­kan jauh-jauh di sebe­rang sana bagai­mana Dewa Ruci dan Arjuna Wiwaha dide­ng­ar­kan orang.”

Orang tua itu mulai ber­ce­rita ten­tang negeri-negeri jauh yang pernah dikun­jung­i­nya. Ia ber­ce­rita ten­tang kebe­saran-kebe­saran Maja­pa­hit. Para pen­de­ng­ar­nya mulai ter­buai. Dan ia menyen­tak­kan mereka dengan lidah parang­nya: “Ha! Mengan­tuk kalian ter­a­yun oleh kee­nakan-kee­nakan masa-la lu. Kalian, orang-orang yang telah kehi­langan harga diri dan tak punya cipta. Segala kee­nakan dan kebang­gaan itu bukan hak kalian. Bahkan mem­bi­ak­kan pohon kelapa pun kalian tak mampu!”

Malam itu dingin. Semua menge­na­kan kain menu­tup dada, laki dan perem­puan. Namun ada juga pera­wan-pera­wan yang mem­bi­ar­kan buah dada­nya ter­buka, diper­main-main­kan sinar damar sewu dan angin silir yang mengen­tal­kan darah.

“Dulu, waktu Sang Adi­pati masih muda, jadi pem­be­sar ber­ku­asa di Wil­wa­tikta5, tak ada sesu­atu yang ber­harga telah diper­se­m­bah­kan­nya pada Maja­pa­hit. Di tangan­nya juga Maja­pa­hit padam sinar­nya. Seka­rang dalam usia tuanya, apakah yang bisa diper­bu­at­nya? Untuk desa ping­giran ini pun tidak sesu­atu! Kalian ini kawula Sang Adi­pati atau­kah budak­nya yang ditang­kap di medan perang?”

“Kawula!” sese­o­rang mem­be­ri­kan jawaban.

“Meng­apa raja kalian tak ber­buat sesu­atu untuk kalian?”

“Rama!” seo­rang lagi ber­seru tegang,

“Rama telah….”

“Rama!” tegur kepala desa di bela­kang­nya. Mata­nya ber­be­liak menyem­bur­kan api kema­rahan. “Itu pem­be­ron­takan!” ia menu­duh. “Paling tidak meng­ha­sut pem­bang­kangan. Tidak lain dari Rama sen­diri yang lebih meng­erti aturan dar­ma­raja.”

Orang tua itu meno­leh ke bela­kang dan ter­tawa.

“Benar, pem­be­ron­takan, hasutan,” dua-tiga orang mulai ber­seru-seru. Para hadirin mulai geli­sah, ber­se­li­sih satu dengan yang lain. Sua­sana tak ter­ken­dali. Orang tua itu sen­diri tetap tenang ber­sila di atas tikar­nya.

“Kata­kan itu di Tuban!” sese­o­rang mera­ung.

Orang tua itu meng­ang­kat telun­juk­nya, dan semua ter­diam. “Kalau aku tidak bicara di Tuban, semua tahu sebab­nya kecu­ali bina­tang dan tumbuh-tum­buhan, semua, juga Hyang Widhi, juga para dewa: sekali diu­cap­kan, kebe­naran melun­cur turun dari keting­gian, men­ja­lar ke mana-mana, ber­kem­bang biak dalam hati manu­sia waras, karena kebe­naran selalu datang dari Hyang Widhi sen­diri. Juga kata-kataku akan sampai ke Tuban, ke bandar-bandar sebe­rang….”

Juga di bawah bulan pur­nama itu bera­tus-ratus sampan mem­bawa pen­du­duk dewasa pesi­sir sedang menyi­siri selu­ruh pantai Jepara, menyi­siri Teluk Awur, pulau Kelor dan pulau Pan­jang.

Empat ratus sampan telah men­da­rat di pulau Pan­jang, mem­bawa pedang dan tombak mene­liti setiap sudut dan lap­angan. Seo­rang pra­ju­rit ber­tom­bak mera­ung: “Semua pen­du­duk nela­yan pulau Pan­jang supaya meng­ha­dap!”

Di tempat-tempat lain suara itu dite­rus­kan, sam­bung menyam­but ber­kait-kaitan. Dan tak ada seo­rang nela­yan pun datang meng­ha­dap. Tak ada yang tahu ke mana mereka mela­ri­kan diri.

Dalam sebuah rumpun bakau yang lebat orang mene­mu­kan sebuah arca Ganesya yang belum lagi sele­sai. Empat buah besi pahat dan dua peno­hok ter­ge­le­tak pada alas kaki arca. Rom­bongan pen­du­duk pesiar Jepara itu ter­ke­sima oleh peman­dangan itu.

Seo­rang pra­ju­rit ber­pe­dang meng­har­dik: “Meng­apa ragu-ragu menang­kap?” ia lari meng­ham­piri.

Ia sen­diri ter­ke­jut meli­hat arca belum jadi itu.

Seo­rang pra­ju­rit lain datang, meme­kik: “Meng­aku sudah Islam. Meng­apa pada batu takut? Ayoh, guling­kan. Cebur­kan ke laut.”

Tapi pen­du­duk pesi­sir Jepara dan pra­ju­rit per­tama itu ragu-ragu. Pra­ju­rit ke dua itu men­de­kati arca itu dan melu­dah­i­nya.

“Lihat, dia diam saja aku ludahi,” kemu­dian ia meng­go­yang-goyang kepala gajah yang belum jadi itu, “lihat­lah, dia sama sekali tak ada keku­atan untuk mela­wan. Ayoh, guling­kan!” perin­tah­nya kemu­dian.

Pra­ju­rit per­tama itu nampak malu dalam cahaya bulan. Dengan lang­kah goyah ia men­de­kati Ganesya belum sele­sai itu dan dengan takut-takut menyen­tuh bela­lainya dengan tulun­juk­nya. Dan bela­lai Ganesya itu tidak hangat, juga tidak mem­buk­ti­kan diri punya sakti.

“Ludahi dia!” perin­tah pra­ju­rit kedua.

Pra­ju­rit per­tama melengos. Ia tak berani.

“Barang­si­apa masih meng­aku Islam, ayoh bantu aku guling­kan batu ini!” pekik pra­ju­rit kedua.

Hanya sepu­luh orang maju. Mereka men­do­r­ong kepala arca itu sampai ter­gu­ling ke tanah. Pra­ju­rit kedua ber­so­rak, peng­i­kut­nya juga ber­so­rak.

“Guling-guling­kan sampai ke teluk!”

Makin lama makin banyak orang yang ikut serta. Tak lama kemu­dian ter­de­ngar batu itu ter­ce­bur ke laut dan hilang dari pan­dangan bulan dan manu­sia.

Di Tegal­sambi, di pesi­sir selatan Jepara, pen­du­duk kota yang dike­rah­kan hanya mene­mu­kan sebuah gubuk. Di depan­nya ber­diri tung­gul kayu setinggi sepu­luh depa. Pada pun­cak­nya ter­pa­hat sebuah arca yang telah rusak, pecah-pecah kepa­la­nya ter­kena panas dan hujan. Tak dapat dike­nali lagi arca apa. Di dalam gubuk itu sen­diri hanya dapat dite­mu­kan sebuah tem­pa­yan kecil berisi abu jena­zah, ter­le­tak di atas para-para. Pada sebuah din­ding ter­gan­tung papan kayu nangka dengan lukisan seo­rang wanita cantik dengan dua jari tangan mem­be­lai dagu­nya sen­diri dan dengan tangan kiri meme­gangi per­ge­langan tangan kanan.

Seo­rang pra­ju­rit meng­han­cur­kan tem­pa­yan itu dengan pung­gung pedang­nya sehingga abu itu buyar ber­ham­buran. Dengan mata pedang­nya ia han­cur­kan lukisan itu ber­ke­ping-keping, kemu­dian menye­pak­nya beran­takan. Sebuah kotak kayu tempat alat-lukis yang dida­pat­kan di atas para-para dilem­par­kan keluar gubuk. Alat-alat yang telah ber­ja­mur itu ber­ge­le­ta­kan dalam cahaya bulan, diam, tidak ber­ge­rak lagi.

Di Jepara sen­diri, di muara kali Wiso serom­bongan pem­be­sar sedang turun dari sebuah kapal Tuban yang kena sergap. Begitu turun ke darat seo­rang di anta­ra­nya mene­ngok ke bela­kang pada tiang utama kapal. Seo­rang pem­bawa payung ber­lari-lari men­de­kati dan mema­yung­i­nya. Payung kuning dari sutera itu meng­ki­lat ber­main-main dengan cahaya bulan. Tapi orang itu tidak meng­in­dah­kan. Ia ber­gu­mam: “Lebih bagus dengan ben­dera kita.”

“Semua ikut meman­dangi ben­dera putih yang ber­ki­bar malas dalam angin silir lemah itu. Gambar kupu-tarung di tengah-tengah­nya keli­hatan hanya seba­gai setum­pukan garis sam­bung-putus. Juga ben­dera itu dari sutera.

“Kupu-tarung lebih bagus dari­pada merah-putih,” sese­o­rang mem­be­ri­kan tang­gapan.

“Selu­ruh merah-putih maja­pa­hi­tan itu akan tumpas dari muka bumi.”

‘Tentu.”

Dengan sen­di­r­i­nya rom­bongan itu meng­a­lih­kan pan­dang pada sang bulan. Nampak sema­kin besar dan sema­kin kuning….

Juga di bawah bulan pur­nama itu bebe­rapa puluh anak-anak, laki dan perem­puan, sedang ber­nya­nyi ber­sama di tanah lapang Wil­wa­tikta, bekas ibu kota Maja­pa­hit. Mereka sedang menyam­pai­kan puji-pujian kepada sang bulan sebe­lum memu­lai dengan per­ma­inan malam. Mereka ber­gan­de­ngan satu dengan yang lain, meru­pa­kan ling­karan. Di tengah-tengah­nya ber­diri seo­rang anak yang memim­pin per­ma­inan.

Malam pur­nama ini jumlah mereka sema­kin sedi­kit. Setiap minggu ada saja yang mening­gal­kan Wil­wa­tikta untuk selama-lama­nya, pindah ke Gresik atau kota-kota bandar lain­nya.

Juga di bawah bulan pur­nama itu di tanah lapang di ibu kota kera­jaan Blam­bangan ribuan bocah sedang ber­nya­nyi ber­sama seperti di Wil­wa­tikta. Hanya bukan seo­rang nenek memim­pin mereka, tapi seo­rang pedanda pria sete­ngah baya. Pera­wan dan per­jaka, bera­tus-ratus me-ling­kari bocah-bocah yang sedang menyam­pai­kan puji-bulan. Antara seben­tar semua ber­te­puk-tepuk dan ber­so­rak-sorai. Selu­ruh dunia seakan dalam kea­daan tenang dan damai, seakan tak ada lagi sete­tes darah meme­rahi medan perang.

Juga selu­ruh Daha­na­pura, ibu kota kera­jaan Blam­bangan, meng­elu-elukan bulan yang meme­rangi langit tanpa noda itu, karena cuaca sein­dah itu men­jan­ji­kan kemak­muran dan per­da­maian. Pasu­r­uan, kedu­dukan Daha­na­pura, sema­kin lama sema­kin besar sete­lah Sri Baginda Rana­wi­jaya Gir­in­d­ra­war­d­hana, raja Blam­bangan mem­ba­ris­kan pasuk­an­nya mema­suki Maja­pa­hit yang telah runtuh, untuk mem­buk­ti­kan pada dunia, bahwa tak ada keku­atan lain berhak men­ja­mah bekas kera­jaan Maja­pa­hit dan ibu kota­nya selama darah Sri Baginda Kre­ta­ra­jasa, yang seka­rang masih ber­diri di Blam­bangan. Tiga tahun sete­lah men­du­duki Wil­wa­tikta, 1489 M., pasuk­an­nya dita­rik kem­bali ke Blam­bangan. untuk meng­a­lih­kan per­ha­tian orang dari Maja­pa­hit ke Blam­bangan. Ia ber­ha­sil dan Pasu­r­uan men­jadi bandar besar. Kalau ada yang masih dir­us­uh­kan oleh Sri Baginda Rana­wi­jaya Gir­in­dra war­d­hana dan Patih Udara, hanya karena bandar Maja­pa­hit, Gresik, tak dapat dipin­dah­kan­nya ke Pasu­r­uan.

Namun orang tak mene­tes­kan darah di wila­yah Blam­bangan karena perang. Aman, damai dan kemak­muran melim­pah.

Di balai-desa Awis Kram­bil antara Rama Clu­r­ing dan para hadirin kete­gangan sema­kin men­jadi-jadi. Hal itu tidak pernah ter­jadi dengan guru pem­bi­cara lain yang pernah datang ke desa ini.

“Betul!” orang meme­kik di tengah-tengah hadirin, “tidak lain dari Rama Guru sen­diri yang lebih tahu ten­tang dar­ma­raja. Dari Tuban datang peng­a­yoman. Peng­a­yoman itu yang mem­buat Rama tidak tahu, setiap jeng­kal tanah yang kita pacul adalah milik Gusti Adi­pati, dir­am­pas dengan parang dan tombak dari tangan musuh-musuh­nya dan dibe­nar­kan oleh para dewa. Keri­ngat kita, kita tetes­kan di atas­nya dan panen pun jadi. Itulah harga dari semua upeti kita. Peng­a­yoman, Rama, sehingga tak ada musuh datang menyerbu kami. Anak-anak dapat ber­main-main damai setiap hari. Hujan jatuh mem­bawa kesu­buran. Dan keri­ngat jatuh mem­bawa kese­jah­te­raan.”

Rama Clu­r­ing tak pernah memo­tong kata-kata orang. Ia men­de­ng­ar­kan tanpa meng­ge­rak­kan badan. Kemu­dian: “Indah sekali kata-kata itu. Aku dapat lihat, kau tidak pernah ikut mene­tes­kan keri­ngat, tidak pernah ikut men­cang­kul. Petani tidak seperti itu kata-kata­nya. Putra ke berapa ratus kau dari Sang Adi­pati? Coba sini, per­li­hat­kan mukamu.”

Pem­bi­cara itu tidak menam­pak­kan muka­nya.

“Sayang kau tak berani muncul. Kau, orang muda, sama halnya dengan perem­puan pema­las yang merasa lebih berun­tung jadi selir atau gundik di bandar-bandar dari­pada men­dam­pingi seo­rang suami di sawah dan ladang. Ber­ba­ha­gi­a­lah suami-istri yang sama-sama bekerja, maka haknya pun sama di hadapan para dewa dan manu­sia.

Rama Clu­r­ing ber­ko­mat-kamit dan meng­o­cok mata. Kemu­dian ia tegak­kan dada, nampak mena­rik napas pan­jang, meng­him­pun keku­atan dari selu­ruh alam ke dalam paru-paru untuk disa­lur­kan ke dalam sikap­nya.

“Dari mana datang­nya peng­a­yoman kalau bukan dari upeti?” sese­o­rang ber­ta­nya ragu-ragu.

“Dari mana?” Rama Clu­r­ing men­ja­wab. “Kalau upeti tak muncul, bukan peng­a­yoman yang datang, tapi balat­en­tara Tuban akan menum­pas dan meng­han­cur­kan kalian dan desa kalian. Kalau perang datang, tak seo­rang pun di antara kalian men­da­pat peng­a­yoman. Balat­en­tara Tuban tidak. Seba­lik­nya kali­an­lah yang diwa­jib­kan meng­a­yomi dia!” ia ter­tawa menunggu tan­tangan.

Di sebe­lah ping­gir di antara para hadirin, gadis Idayu menyi­kut pacar­nya, Galeng, ber­bi­sik: “Jadi, apa maunya?”

“Deng­ar­kan saja,” kata Galeng.

Pacar­nya men­cu­bit sengit, tapi pemuda itu tak peduli.

“Deng­ar­kan kalian semua pung­gawa desa yang hidup dari keri­ngat orang lain, yang hidup dari penyi­si­han upeti. Kalian, apa­lagi kalian, sama sekali tak bisa ber­buat apa-apa kalau perang datang. Mang­a­yomi diri sen­diri pun tak bisa, apa­lagi meng­a­yomi rak­yatmu. Di waktu damai kalian ber­so­rak-sorai ten­tang peng­a­yoman demi sang sisa upeti. Kalau kalian sudah seperti itu, bagai­mana pula macam rajamu?”

Kete­gangan seka­li­gus beru­bah jadi keta­kutan.

“Apa kalian takuti? Akan datang masa­nya kalian akan lebih, lebih keta­kutan. Bukan karena kata-kataku. Mari aku ceri­tai: zaman ini adalah zaman keme­ro­sotan. Raja-raja kecil ber­mun­culan pada ber­diri sen­diri, karena raja­di­r­aja tiada. Keka­cauan dan perang akan mem­buru kalian silih-ber­ganti. Lelaki akan pada mati di medan perang. Perem­puan akan dija­rah-rayah dan kanak-kanak akan ter­lan­tar. Kalian takkan ditum­pas karena kata-kataku. Keme­ro­sotan zaman dan keme­ro­sotan kalian sen­diri yang akan menum­pas kalian selama kalian tak mampu mena­han keme­ro­sotan besar ini.”

Ia diam.

Para pen­de­ngar ter­diam. Mereka telah ter­bi­asa ter­pe­nga­ruh oleh ramalan orang tua-tua peng­em­bara yang telah jauh lang­kah. Kakek-kakek mereka telah lama mera­mal­kan akan datang­nya perang yang tiada kan habis-habis­nya bila dewa-dewa telah ber­ganti dan bila ber­ba­gai bangsa dengan ber­ba­gai warna kulit telah mulai ber­da­tangan men­ja­mah bumi Jawa.

“Rama Guru,” seo­rang wanita dengan suara men­dayu-dayu memo­hon, “bila keka­cauan dan perang akan mem­buru-buru kami silih ber­ganti, bukan­kah akan sia-sia semua yang sudah kami ker­ja­kan dan usa­ha­kan?”

“Jelas. Apa­lagi upeti-upeti ke Tuban itu. Sama sekali tanpa guna. Seka­rang deng­ar­kan: di zaman Maja­pa­hit tak ada perang yang tidak sele­sai, tak ada keka­cauan tak dia­tasi,” ia mulai meng­u­bah nada sua­ra­nya men­jadi lunak dan ramah. “Di masa itu semua orang boleh mem­bi­kin bata. Setiap orang boleh men­di­r­i­kan candi kelu­arga, tempat menyim­pan abu para men­di­ang. Setiap orang boleh bel­a­jar menge­cor besi dan men­ce­tak­nya. Tidak seperti seka­rang. Menempa besi dan baja pun tidak diper­ke­nan­kan, kecu­ali atas perin­tah. Dahulu pera­wan-pera­wan pada mene­nun sutra. Di mana-mana nampak pakaian gemer­lapan ber­main dengan sinar matari. Seka­rang ulat sutra pun tumpas. Orang hanya mene­nun kapas. Ulat sutra yang ting­gal hanya dite­nun untuk layar perahu dan kapal besar dan untuk pengan­tin. Saluran yang dulu dibi­kin di mana-mana seka­rang sudah pada men­dang­kal. Kapal besar tak lagi dapat masuk ke peda­laman. Tak lagi riam dan sang­k­rah diber­sih­kan oleh pasukan-pasukan laut. Tak lagi sungai-sungai dipe­li­hara. Di zaman Maja­pa­hit para pung­gawa dise­bar­kan ke selu­ruh negeri bukan untuk memata-matai kawula. Mereka bicara dengan bocah-bocah. Bila anak-anak itu tak dapat men­ja­wab per­ta­nyaan mereka, baik kepala desa maupun bapa-bapa man­dala kena teguran. Dengan demi­kian setiap bocah dapat mem­baca dan menu­lis, tahu akan dewa-dewa dan hafal akan banyak lontar.”

“Berapa umurmu. Rama Guru, maka tahu banyak ten­tang zaman keja­yaan Maja­pa­hit?” seo­rang gadis ber­ta­nya. “Dua ratus?”

Rama Clu­r­ing men­de­ham dan mem­ber­sih­kan kerong­kongan.

“Tak ada orang hidup sampai dua ratus. Lebih bebe­rapa puluh tahun dari sera­tus. Menu­rut per­hi­tungan surya.”

“Meng­apa menu­rut per­hi­tungan surya?” seo­rang lain ber­ta­nya.

“Di bandar-bandar ada orang yang mulai meng­gu­na­kan per­hi­tungan rem­bu­lan – orang-orang gila itu. Mereka mem­pu­nyai dewa lain dari kita. Mereka hidup hanya dari ber­da­gang, tidak meng­in­jak­kan kaki di sawah atau­pun ladang. Mereka hanya hidup dari pantai dan dari laut. Mereka tak memer­lu­kan gunung. Mereka tak memer­lu­kan surya. Mereka hanya memer­lu­kan harta dan keka­yaan.”

“Mereka penyem­bah rem­bu­lan. Rama Guru?”

“Aku belum lagi tahu. Barang­kali. Mereka itu yang mem­bi­kin para bupati dan adi­pati pesi­sir hanya meng­i­ngat pada harta-keka­yaan, lupa pada Baginda Kaisar di Maja­pa­hit. Mereka penga­ruhi bupati dan adi­pati pesi­sir supaya tak mem­bi­kin kapal-kapal lagi. Mereka menyuap dengan emas, tem­bi­kar, sutra, kain khasa, per­ma­dani…. Mereka petu­a­lang-petu­a­lang dari Atas Angin. Di pesi­sir Atas Angin sana mereka sama saja ting­kah­nya. Per­hi­tungan rem­bu­lan men­ja­lar seperti wabah. Keme­ro­sotan zaman, zaman gila. Orang mulai tak dapat memi­lih apa yang baik untuk dir­i­nya. Tak heran, di mana man­dala tidak ber­daya, orang tua tak tahu sesu­atu kecu­ali kese­nangan sen­diri…. Yang paling tidak hormat pada para dewa juga yang paling mula jadi korban wabah dari Atas Angin ini. Bahkan tulisan kita, tulisan kita yang sem­purna san­dang dan suku­nya…. boleh jadi…. sudah mulai muncul tulisan yang sama sekali tidak ber­bu­nyi…”

“Adakah Rama Clu­r­ing pernah lihat tulisan itu?” Orang tua pendek kecil itu tiba-tiba meng­ang­kat telun­juk. “Dengar!” perin­tah­nya.

Semua ter­diam. Baung dan salak dan lolong anjing, ratusan di tengah hutan, kem­bali meng­ge­lom­bang.

‘Tak pernah bina­tang itu mem­ba­ung selama itu, sera­mai itu. Boleh jadi akan datang banjir – banjir air, banjir ben­cana, mala­pe­taka yang mem­bi­kin semua lebih mero­sot ter­se­dot lumpur.”

Ia meno­leh kepada kepala desa. Ber­ta­nya: “Dar­ma­raja? Peng­a­yoman? Apakah yang sudah diper­buat oleh Sang Adi­pati Tuban Tumeng­gung Wil­wa­tikta waktu para bupati pesi­sir mulai mem­bang­kang mem­per­se­m­bah­kan upeti? Bukan­kah Sang Adi­pati itu rajamu seka­rang? Bukan­kah seba­gai Tumeng­gung Wil­wa­tikta, pengu­asa ter­tinggi atas kea­manan dan kese­jah­te­raan ibu kota Maja­pa­hit, Wil­wa­tikta, justru ia ber­ga­bung dengan yang lain-lain, mem­bang­kang mem­per­se­m­bah­kan upeti, malah tetap mengu­kuhi wila­yah keku­a­saan yang dida­pat­nya dari dar­ma­raja, mem­ben­tang dari Tuban sampai Jepara – sebuah kadi­pa­ten dengan tidak kurang dari lima buah bandar?”

‘Tak pernah ada yang meng­gu­gat seo­rang raja!” bantah kepala desa, “karena hanya dengan karu­nia Hyang Widhi saja sese­o­rang bisa ber­takhta! Bukan­kah Rama Guru dengan demi­kian meng­hu­jat Hyang Widhi?”

“Uah! Seperti kau tidak menge­nal anak tani ber­nama Ken Arok. Ditum­bang­kan­nya akuwu dan raja, dan sen­diri marak jadi raja, meme­rin­tah­kan men­ja­wa­kan kitab-kitab suci, meme­rin­tah­kan dilak­sa­nakan­nya gaya baru dalam bangu­nan-bangu­nan suci.”

“Maka juga Ken Arok Raja­sa­na­gara ditum­bang­kan.”

“Ditum­bang­kan. Tapi darah­nya telah bangun­kan kekai­saran Maja­pa­hit yang tiada tara.”

“Dan Maja­pa­hit pun tum­bang.”

“Tum­bang­nya gajah yang mening­gal­kan gading. Hyang Widhi tidak pernah salah memi­lih wakil­nya di atas bumi. Hanya kaki yang kuat, bahu yang kukuh, mampu memi­kul pilihan Hyang Widhi.”

“Nega­ra­ker­ta­gama6 dan Para­ra­ton tak bilang begitu.”

“Dan apa kata­nya ten­tang Adi­pati pem­bang­kang yang ber­se­kutu dengan peda­gang-peda­gang Atas Angin yang ber­dewa lain?”

“Waktu itu belum ada Sang Adi­pati.”

“Maka akulah yang menga­ta­kan, demi Hyang Widhi, karena tugasku hanya menga­ta­kan ten­tang kebe­naran. Tuli­kah kau? Tiada kau dengar baung, lolong dan gong-gong anjing-anjing hutan itu? Tak tahu­kah kau itu pesta untuk hari depanku yang bakal cepat tiba, lebih cepat dari­pada yang kau sangka?”

Untuk meng­hin­dari per­teng­karan kepala desa ter­diam. Mata­nya ber­pen­dar-pendar dari wajah ke wajah di antara hadirin. Ia meminta peng­er­tian, ban­tuan dan sim­pati. Hadirin sen­diri sedang ter­ceng­kam. Mereka tahu Rama Clu­r­ing sedang meng­gu­gat Sang Adi­pati, manu­sia per­tama yang berani laku­kan itu. Dan kete­gangan mena­rik otot-otot muka mereka sehingga seperti ter­buat dari­pada kayu jati. Dan kese­raman mewar­nai wajah-wajah itu oleh ber­pu­luh mata sumbu damar-sewu yang selalu ber­a­yun tak pernah tenang dan meng­ge­le­tar­kan semua bayang-bayang.

Di luar, di langit, bulan pur­nama ber­takhta tanpa tan­dingan dalam kebe­ningan. Ia hanya ter­se­nyum meli­hat ratusan anjing yapg meng­gong­gong­i­nya dalam kebo­takan hutan.

‘Tak lain dari Hyang Widhi juga yang meng­gu­ling­kan raja-raja­nya sen­diri yang kaki dan bahu­nya lemah, tak mampu memi­kul kebe­saran-Nya, tak mampu menyum­am­b­rah­kan dengan jari-jari­nya yang kaku – karena jari-jari itu hanya pandai meng­am­bil untuk dir­i­nya sen­diri dan tidak bisa mem­be­ri­kan sesu­atu untuk kawu­la­nya.”

“Kata-kata itu tidak ter­da­pat dalam lontar, Rama Guru,” seo­rang di antara hadirin angkat bicara.

“Apa kau akan bilang kalau aku mem­bu­buh­kan­nya pada lontar? Ambil­kan lontar, besi peng­gu­rit dan jelaga, biar yang ter­pan­dai di antara kalian menu­lis­kan­nya.”

“Belum perlu, Rama Guru,” kepala desa itu mene­gah.

“Memang belum perlu,” pem­bi­cara itu mene­rus­kan. “Rama, kami nampak memang kurang harga diri, kurang kehor­matan, mung­kin juga memang bebal. Tapi kami hidup dalam kese­jah­te­raan, kea­manan dan per­da­maian. Seba­lik­nya, Rama Guru, kata-kata Rama sen­diri yang menem­pat­kan kami semua dalam bahaya kemus­nahan. Rama, tidak lain dari Rama!”

Rama Clu­r­ing men­de­ngus mere­meh­kan. Sua­ra­nya enteng meng­am­bang di udara malam yang hangat itu.

“Untuk men­ca­pai desa ini, balat­en­tara Tuban paling tidak mem­bu­tuh­kan satu-dua hari. Kalian tidak akan ditum­pas. Setiap saat setiap orang di antara kalian yang tidak dungu bisa ting­gal­kan desa ini, menye­be­rang per­ba­ta­san, memo­hon per­lin­dungan Sang Bupati Bojo­ne­gara.

Aku tidak men­je­ru­mus­kan kalian. Lembah kebi­na­saan itu kalian galang sen­diri di atas kedu­nguan. Masih juga kau tidak meng­erti, kepala desa? Pen­du­duk desa ini terus-mene­rus mem­ba­yar upeti dan memi­kul­nya sen­diri ke Tuban Kota. Masih belum meng­erti? Tak ada kea­dilan meng­i­kat antara sang Adi­pati dengan kawu­la­nya di sini. Kalau ikatan kea­dilan tidak ada, yang ada hanya ikat­an­nya saja, ikatan per­bu­dakan. Kalian semua ini bukan kawula, tapi budak! Budak Tuban, budak Sang Adi­pati sama dengan musuh-musuh­nya yang telah ditak­luk­kan­nya. Ditak­luk­kan tanpa perang!”

“Baik­lah kami ini budak tanpa dika­lah­kan dengan perang. Kata­kan pada kami. Rama Guru, bagai­mana agar kami tidak jadi budak?”

“Rama Clu­r­ing yang bijak­sana,” seo­rang lain lagi menye­ron­dol, “bukan­kah Rama Guru lebih dari tahu, setiap saat datang penga­wal per­ba­ta­san ber­kuda?”

“Dia juga perlu men­de­ng­ar­kan kata-kataku ini.”

“Tidak­kah Rama Guru akan diba­wa­nya ke Tuban dan dia­dili?”

“Bukan per­tama ter­jadi kebe­naran dia­dili. Bukan­kah man­dala kalian pernah meng­a­jar­kan: kebe­naran tak dapat dia­dili, karena dialah peng­a­dilan ter­tinggi di bawah Hyang Widhi. Kalian tahu kelan­jut­an­nya: Barang­si­apa meng­a­dili kebe­naran, dia memang­gil Sang Hyang Kala, dia akan dilu­pa­kan orang kecu­ali kedu­ngu­an­nya.”

Ia ter­se­nyum dan meng­ang­guk-angguk.

“Juga Sang Adi­pati Tuban Arya Teja Tumeng­gung Wil­wa­tikta tidak bebas dari keten­tuan Maha Dewa. Sang Hyang Widhi meres­tui barang­si­apa punya kebe­naran dalam hati­nya. Jangan kha­wa­tir. Kepala desa! Kurang tepat jawab­anku, kira­nya? Keta­kutan selalu jadi bagian mereka yang tak berani men­di­r­i­kan kea­dilan. Keja­hatan selalu jadi bagian mereka yang meng­ing­kari kebe­naran maka melang­gar kea­dilan. Dua-duanya busuk, dua-duanya sumber keo­naran di atas bumi ini…,” dan ia terus­kan wejang­an­nya ten­tang kebe­naran dan kea­dilan dan kedu­duk­an­nya di tengah-tengah kehi­dupan manu­sia dan para dewa.

Kapal peronda pantai dengan layar­nya yang ber­ki­lat-kilat itu menye­ber­a­ngi malam dan menye­ber­a­ngi Laut Jawa dengan cepat. Dari keja­uhan nampak seperti naga laut yang tak keli­hatan bun­tut­nya. Puluhan pen­da­yung yang sei­rama mem­be­lah per­mu­kaan memer­cik­kan air dan sem­bur­an­nya menari dengan cahaya bulan. Layar kemudi yang meng­gem­bung di atas haluan, bahkan lebih depan dari haluan itu sen­diri, meleng­kung seperti busur yang sedang dita­rik.

Waktu lampu menara bandar Tuban mulai hilang-muncul di atas kepala ombak ter­de­ngar pekikan aba-aba. Tak lama kemu­dian menyu­sul ledakan di bela­kang layar kemudi. Peluru cet­bang melun­cur ke udara dengan buntut api yang kuning merah mening­gal­kan asap yang segera lenyap.

Bebe­rapa bagian dari detik, dan peluru itu mele­dak di langit. Api menyem­bu­rat melon­tar­kan bunga api yang mem­buat lon­jakan ke atas, kemu­dian ke bawah, ke tia­daan. Ledakan itu menye­bab­kan per­mu­kaan laut gemer­lapan bebe­rapa detik, kemu­dian kem­bali jadi manis ber­main-main dengan cahaya bulan kem­bali. Ledakan di langit yang seben­tar tadi menan­dingi bulan kini lenyap tanpa bekas.

Kapal itu terus melaju. Layar-layar mulai ditu­run­kan. Dengan cepat mem­be­lok ke kanan, ber­ge­rak hanya dengan keku­atan dayung. Juga layar kemudi tidak nampak lagi. Lunas itu mener­jang alun dan ombak pada sudut lebih besar dari­pada semula. Dan semua alun dan ombak terus juga ber­ke­jar-keja­ran, bere­but dulu untuk meng­han­tam pesi­sir utara pulau Jawa.

Rama Clu­r­ing segera meng­am­bil cawan tanah yang dile­tak­kan oleh anak gadis Kepala desa. Ia angkat tinggi, mem­per­li­hat­kan pada semua hadirin, ia hendak memi­num­nya. Ia baru habis men­ce­ri­ta­kan ten­tang ke-besaran Maja­pa­hit dengan ang­katan laut­nya, dengan ilmu dan ketram­pilan mem­bi­kin kapal-kapal samudra, dengan wila­yah keku­a­sa­an­nya.

“Seka­rang aku hendak teguk lagi tuak desa ini. Sebe­lum­nya, deng­ar­kan: jangan ban­ding­kan Maja­pa­hit dengan Tuban ini. Kalian sen­diri yang menga­ta­kan: hanya sem­bi­lan hari dibu­tuh­kan untuk meng­e­dari selu­ruh wila­yah Tuban – itu pun hasil peng­khi­a­nat­an­nya ter­ha­dap Maja­pa­hit. Pahami per­gan­tian zaman, biar kalian tidak didera oleh perang. Ting­gal­kan kebe­balan. Deng­ar­kan kebi­jak­sa­naan. Kalau perang sudah pecah, tak selem­bar daun dapat kalian jadi­kan peng­a­yoman. Ingat kata-kataku: Kalau keme­ro­sotan ini tak dapat dice­gah, takkan lama lagi, dan perang akan pecah di mana-mana. Dari desa dan kota petani-petani akan digi­ring, mati untuk raja-raja kecil yang tak pernah ber­buat apa-apa untuk kalian.”

Ia ren­dah­kan cawan, mena­ruh­nya pada bibir dan mene­guk­nya sekali habis.

“Dewa Batara!” sebut­nya keras, ber­pa­ling cepat pada kepala desa, kemu­dian menu­ding­nya: “Lihat­lah ini tam­pang kepala desamu, takut pada kebe­naran, pada kea­dilan, agar dia tetap jadi kepala desa, dia telah racun aku!” Cepat ia tarik muka­nya dan ber­seru pada para hadirin: “Dia telah racun aku! Dan kalian kenal siapa aku, hanya seo­rang pem­bi­cara yang meng­ga­ung­kan kebe­naran milik Maha Dewa.”

Cawan itu diban­ting­nya pecah di hadap­an­nya. Dengan kedua boleh tangan ia mene­kan perut­nya. Bibir­nya ia gigit. Muka­nya pucat.

“Rama!” sese­o­rang ber­te­riak dan lari ke depan hendak meno­long­nya.

Rama Clu­r­ing bang­kit ber­diri dengan susah-payah. Kepala desa meno­long­nya dari bela­kang, ber­seru lan­tang: “Tak ada seo­rang pun mera­cun Rama. Kami semua meng­hor­mati Rama.”

“Dengar si mulut palsu ini! Deng­ar­kan, kalian, semua pen­du­duk Awis Kram­bil!”

Ia lepas­kan diri dari pegangan kepala desa, melom­pat keluar dari balai desa.

Setiap guru-pem­bi­cara punya gaya dan cara sen­diri dalam usaha mem­pe­nga­ruhi dan menge­ta­hui sampai di mana penga­ruh­nya bekerja. Sete­ngah hadirin meng­ang­gap ting­kah­nya juga bagian dari gaya dan cara. Mereka masih ter­paku pada tem­pat­nya ber­sila.

Yang meng­ang­gap benar-benar Rama Clu­r­ing ter­kena racun cepat-cepat bang­kit dan lari mem­buru. Tak pernah ter­jadi seo­rang guru-pem­bi­cara meng­a­lami peng­a­n­i­a­yaan di desa mana pun.

Orang tua itu terus juga ber­ja­lan sambil mene­kan perut­nya dengan kedua belah tangan. Ia tak meno­leh. Ia meno­lak tun­tunan orang.

Galeng dan Idayu ikut lari mem­buru. Tanpa meng­in­dah­kan protes Rama Clu­r­ing mereka berdua menun­jang­nya pada bahu dan ping­gang­nya. Diam-diam mereka ber­tiga ber­ja­lan cepat. Di bela­kang mereka se-rom­bongan orang ber­seru-seru memo­hon ampun­nya sambil ber­lari-lari kecil. Galeng dan Idayu mera­sai gigi­lan pada tubuh tua itu.

Idayu mele­pas kain dada dari bahu dan menye­li­mut­kan pada dada Rama sete­lah menyem­bah meminta ampun. Dan Rama tidak meno­lak.

Tiba-tiba guru ber­henti, mem­bung­kuk dan muntah.

“Rama! Rama!” bisik Galeng.

“Beri aku minyak kelapa!” pinta Rama Clu­r­ing. Ia muntah lagi. “Cepat!”

“Memang ter­kena racun!” di bela­kang orang mem­beri komen­tar.

Galeng menyem­bah­nya, cepat­nya meng­ang­kat­nya dan mem­ba­wa­nya ke rumah Idayu, mem­ba­ring­kan­nya di atas ambin bambu. Idayu lari ke dapur, kem­bali lagi dan menu­ang­kan minyak kelapa ke mulut orang tua itu.

Guru-pem­bi­cara itu meliuk-liuk geli­sah pada ping­gang­nya.

Ruangan sempit rumah Idayu segera jadi penuh. Orang duduk ber­de­sak-desak di lantai untuk menya­ta­kan pri­ha­tin. Dan setiap orang menyem­bah sambil meng­u­cap­kan per­mo­honan ampun.

“Diam! Diam semua. Rama sedang sakit,” Galeng mem­per­i­ng­at­kan. Ia tekan-tekan perut orang tua itu agar muntah.

“Air kelapa muda, kelapa hijau,” seru sese­o­rang.

Tak ada pohon kelapa hijau di selu­ruh Awis Kram­bil.

Idayu pergi keluar rumah dan datang lagi mem­bawa cawan tanah besar, meng­u­aki pung­gung orang banyak. Dalam cawan itu bukan air kelapa hijau, tapi air kelapa biasa. Ditu­ang­kan selu­r­uh­nya ke mulut sang guru.

Menge­ta­hui bukan kelapa hijau, Rama ber­gu­mam: “Semua air adalah air kehi­dupan. Mati aku, Dewa Batara.” Mata­nya ter­buka dan disa­pu­kan pan­dang­nya pada mereka yang duduk ber­de­sak di atas lantai. “Pulang, pulang kalian semua.”

“Mereka men­cin­tai dan meng­hor­mati Rama. Ampuni mereka yang jahil,” bisik Idayu.

“Ter­lam­bat, gadis.”

“Mereka masih haus akan kata-katamu.”

“Tak ada guna cinta dan hormat,” Rama meliuk-liuk dan meri­ngis kesa­kitan. “Kalau kata-kataku bisa hidup dalam hati mereka, cukup sudah.” Ia muntah.

Air kelapa campur minyak keluar dari mulut ber­ja­lur­kan dengan benang darah hidup.

Idayu menyeka mulut, leher dan bahu­nya yang basah dengan selem­bar kain.

“Batara!” sahut Idayu. “Meng­apa jadi begini, Rama?”

Galeng meng­ham­piri orang banyak, ber­gu­mam meng­an­cam: “Kalau tidak suka pada kata-kata­nya, meng­apa tak meng­u­sir­nya saja? Atau mem­be­ri­nya kecu­bung? Meng­apa mesti dira­cun?”

“Rama Guru juga salah,” sese­o­rang mem­ban­tah.

“Diam kau!” ben­tak­nya.

“Bagai­mana bisa diam? Dia telah mem­ba­ha­ya­kan kita semua: balat­en­tara Tuban itu….”

“Siapa kiramu yang mera­cun?” sese­o­rang ber­ta­nya.

“Siapa lagi?”

“Mera­cun seo­rang guru…. hanya orang kepa­rat mela­ku­kan­nya. Gan­darwa pun lebih baik.”

Rama muntah lagi. War­na­nya merah selu­r­uh­nya. Minyak dan air kelapa tidak mempan. Orang ber­la­rian men­cari lagi di rumah-rumah. Waktu telah dida­pat­kan Rama Clu­r­ing telah ter­golek ping­san.

“Ter­lalu, ter­lalu,” orang menye­sali.

Dan pelita di tengah-tengah ruangan itu, ber­diri di atas jagang bambu ber­kaki, ber­a­yun-ayun cepat. Baung anjing dari botakan hutan telah ber­ku­rang, kemu­dian padam sama sekali.

“Rama, Rama,” pang­gil Idayu, “jangan kutuki kami, jangan sum­pahi kami, jangan tulah kami, demi Hyang Widhi, demi desa Rama sen­diri, demi kese­jah­te­raan kami semua, ya Rama, Rama…”

Begitu kapal peronda pantai itu mera­pat pada der­maga bandar Tuban kota, bulan sudah mulai meng­ge­ser ke titik ter­tinggi dan kini mulai agak con­dong.

Seo­rang dengan menun­tun kuda meng­ham­piri kapal. Pat­ra­ga­ding melom­pat turun. Penun­tun kuda itu ber­sim­puh kemu­dian menyem­bah.

“Dir­ga­hayu,” kata­nya sambil menu­run­kan sem­bah­nya.

Pat­ra­ga­ding melom­pat ke pung­gung kuda, ber­pacu, menem­puh jalanan yang dite­rangi bulan pur­nama. Bebe­rapa bentar hanya dan sampai ia di hadapan pra­ju­rit-pra­ju­rit penga­wal yang mena­han­nya. Ia tak jadi mema­suki halaman rumah itu, turun, ber­seru: “Buta­kah kalian tak me-lihat siapa aku?”

“Tuanku Pat­ra­ga­ding Jepara. Ampuni kami.”

Pat­ra­ga­ding melom­pat lagi ke atas kuda­nya, mema­suki halaman luas ter­tu­tup rumput pendek dengan ping­giran dita­nami bunga-bungaan. Sampai di pen­dopo sese­o­rang ber­la­rian datang pada­nya dan menyem­bah, kemu­dian meng­am­bil-alih kuda tung­gang­an­nya. Seo­rang pra­ju­rit lain datang, ber­sim­puh dan menyem­bah: “Menunggu titah, Tuanku.”

“Bangun­kan Sang Patih, seka­rang juga.”

Pat­ra­ga­ding ber­diri ber­to­lak ping­gang tanpa mem­pe­du­li­kan pra­ju­rit yang dipe­rin­tah­nya lari men­jauh dari­nya, mela­lui sam­ping gedung besar itu dan hilang dari peman­dangan.

Pen­dopo yang gelap itu kini dite­rangi dengan damar­sewu pada tengah-tengah­nya. Mata-mata sumbu itu menyala ber­ki­bar-kibar dalam barisan seperti pra­ju­rit baris. Pat­ra­ga­ding segera meng­ha­dap ke pen­dopo, ber­sim­puh di atas lantai tanah. Kumis­nya yang tebal ber­ki­lat-kilat, juga cam­bang dan jeng­got. Jelas benar telah dimi­nyaki dengan minyak katel!7 Kain batik­nya ter­be­ber di seling­karan kaki. Kalung dan gelang emas­nya ber­ki­lat-kilat. Ia menun­duk dalam.

“Anak­anda Pat­ra­ga­ding!” Sang Patih mema­suki pen­dopo. Ia ber­pa­kaian kain batik, ber­des­tar batik dan ber­ke­ru­dung kain batik pula pada dada­nya.

Pat­ra­ga­ding meng­ang­kat sembah. Kemu­dian mem­be­tul­kan letak keris­nya.

Sang Patih ber­henti di tengah-tengah pen­dopo, dekat pada damar­sewu, mene­gur “Dingin-dingin begini anak­anda datang. Pasti ada sesu­atu kelu­ar­bi­a­saan. Men­de­kat sini, anak­anda.”

Dan Pat­ra­ga­ding ber­ja­lan men­de­kat dengan lutut­nya sambil meng­ang­kat sembah, mere­bah­kan diri pada kaki Sang Patih.

“Ampuni patik, mem­ba­ngun­kan Paduka pada malam buta begini Kabar duka, Paduka. Balat­en­tara Demak di bawah Adi­pati Kudus8 mema­suki Jepara tanpa diduga-duga, menya­lahi aturan perang.”

“Allah Dewa Batara!” sahut Sang Patih. “Itu bukan aturan raja-raja! Itu aturan bran­dal!”

“Balat­en­tara Tuban tak sempat dike­rah­kan, Paduka.”

“Bagai­mana Bupati Jepara?”

“Tewas enggan menye­rah Paduka,” Pat­ra­ga­ding meng­ang­kat sembah. “Sisa balat­en­tara Tuban mundur ke timur kota. Jepara penuh dengan balat­en­tara Demak. Lebih dari tiga ribu orang.”

“Dari mana Demak dapat mengum­pul­kan bran­dal seba­nyak itu?”

“Patik tidak tahu, Paduka.”

“Apa saja kau ker­ja­kan sampai tidak tahu? Bukan­kah Demak dukuh tidak ber­arti selama ini?”

“Inilah patik menye­rah­kan hidup dan mati patik.”

Sang Patih ber­te­puk tangan tiga kali. Satu regu pra­ju­rit ber­la­rian datang, ber­sen­jata tombak dan peri­sai.



Bab 2

Tuban

“Tahan dia ini, Pat­ra­ga­ding, putra Sang Adi­pati. Ayah­an­da­nya sen­diri yang akan menen­tu­kan hidup dan mati­nya.” Pat­ra­ga­ding digi­ring keluar pen­dopo. Begitu turun ke tanah ia meman­dangi bulan, memu­kul dada­nya, ber­gu­mam: “Apakah masih patut aku mem­bawa mukaku sen­diri?”

“Jalan ke kiri, Paduka!” perin­tah kepala regu, dan ber­ba­ris­lah mereka mening­gal­kan halaman kepa­ti­han.

Sang Patih masih tegak ber­diri di tem­pat­nya. Ia meng­ga­lang pelahan, kemu­dian ber­ba­lik dan masuk ke dalam rumah.

Paling tidak telah seribu tahun perahu dan kapal-kapal ber­la­buh di bandar Tuban Kota. Dari barat, timur dan utara. Dari timur orang mem­bong­kar rempah-rempah dari kepu­lauan yang bela­kangan ini mulai dise­but ber­nama Mame­luk1 dan cen­dana dari Nusa Teng­gara. Dari Tuban sen­diri orang memung­gah beras, minyak kelapa, gula garam, minyak tanah dan minyak-minyak nabati lain­nya, kulit bina­tang hutan.

Dari laut bandar Tuban Kota nampak seperti sepo­tong balok, pepo­honan dan taman-taman. Bila lumut hijau hilang dan muncul coklat baru, itulah kam­pung-kam­pung nela­yan. Hijau lagi, coklat lagi, dan itulah bandar Pasukan Laut dan galangan kapal. Hijau lagi, coklat lagi, dan itulah bandar alam lain­nya yang dimi­l­iki negeri Tuban.

Di atas balok coklat ber­mu­lut ber­diri barisan per­bu­kitan tebal, kuning, di sana-sini agak hijau. Itulah per­bu­kitan kapur ber­nama Ken­deng.

Dan di atas per­bu­kitan adalah langit para dewa.

Bandar Tuban adalah bikinan alam yang pemu­rah, disem­pur­na­kan oleh tangan manu­sia selama paling tidak seribu tahun. Laut­nya dalam dan der­ma­ga­nya kokoh, indah, juga bikinan alam, sepo­tong jalur karang yang men­jo­rok ke laut. Peda­gang-peda­gang Atas Angin mena­mai bandar ini Per­mata Bumi Selatan.

Dan bila orang men­da­rat dari pela­yaran, entah dari jauh entah­lah dekat, ia akan ber­henti di satu tempat bebe­rapa puluh lang­kah dari der­maga. Ia akan meng­ang­kat sembah – di hadap­an­nya ber­diri Sela Baginda, sebuah tugu batu ber­pa­hat dengan pra­sa­sti pening­galan Sri Air­langga. Bila ia mene­rus­kan lang­kah­nya, semua saja jalanan besar yang dila­lu­i­nya, jalanan eko­nomi seka­li­gus mil­iter. Ia akan selalu ber­pa­pasan dengan pri­bumi yang ber­ja­lan tenang tanpa gegas, seka­li­pun di bawah matari terik.

Kalau orang datang untuk per­tama kali, segera ia akan ter­pi­kat meli­hat lalu lalang. Orang tak henti-hen­ti­nya meng­ang­kuti barang dari dan ke bandar, dengan piku­lan atau gero­bak beroda bulat dari potongan batang kayu. Kereta sangat sedi­kit, apa­lagi yang beruji kayu. Lebih banyak lagi gero­bak beruji. Gero­bak beroda kayu utuh ber­a­sal dari peda­laman, yang beruji dari kota sen­diri. Pena­rik­nya adalah sapi atau kerbau. Seo­rang pen­da­tang boleh jadi akan ber­ta­nya, meng­apa tak dita­rik oleh kuda? Dan dengan senang hati orang akan mene­rang­kan: tak diper­ke­nan­kan meng­gu­na­kan kuda atau diri sen­diri untuk pena­rik gero­bak

Kalau pen­da­tang itu ber­ta­nya: meng­apa ter­lalu sedi­kit kereta di sini? Ia akan men­da­pat jawaban: memang, tuan jum­lah­nya taklah lebih dari dua puluh – semua milik para pem­be­sar negeri dan praja, dan milik para pang­lima Pasukan Penga­wal, Pasukan Kaki, Pasukan Gajah dan Pasukan Laut.

Bila kereta ber­kuda empat sema­cam itu lewat, lalu lintas ber­henti, menyi­bak­kan diri untuk mem­beri peng­hor­matan. Dari jauh telah ter­de­ngar gerin­cing giring-giring­nya dari kuningan ber­ki­lat-kilat dan nampak umbul-umbul ber­a­neka warna, ben­dera jabatan dan kesa­tuan. Kuda-kuda pena­rik itu pun dihias dengan gombak dan limbai aneka warna. Abah-abah­nya ber­ki­lat-kilat dengan hiasan dari tem­baga, kuningan, perunggu dan perak, kadang juga dari emas. Juga orang-orang asing diwa­jib­kan ber­henti bila kereta lewat, pen­du­duk ber­lu­tut menyem­bah. Dan bila kereta Sang Adi­pati sen­diri yang lewat, juga pen­du­duk asing harus menyem­bah dengan cara­nya masing-masing.

Lalu lalang di bandar ber­a­neka ragam. Orang-orang asing, Arab, Beng­gala, Parsi, bangsa-bangsa Nusan­tara, Tiong­hoa, ber­gaya dengan pakaian negeri masing-masing. Pri­bumi sen­diri juga ber­a­neka. Pria beram­but pendek, bahkan gundul tak ber­des­tar atau ber­ko­piah, adalah mereka yang telah menang­gal­kan agama lelu­hur. Mereka tidak ber­kain batik, tetapi ber­kain tenun geng­gang atau polos tanpa belahan, tak menge­na­kan wiron atau dodot. Pria beram­but pan­jang ber­des­tar batik per­tanda masih mengu­kuhi Buddha atau Shiwa atau Wisynu, dan hampir selalu ber­kain batik atau wulung. Dan bila rambut pan­jang mereka ter­gu­lung dalam destar, itulah per­tanda mereka peda­gang peda­laman yang ber­u­rusan dengan peda­gang-peda­gang ber­a­gama Islam.

Orang takkan meli­hat adanya suami-istri ber­ja­lan-jalan ber­sama di siang hari. Namun wanita nampak di mana-mana, bekerja di bawah capil bambu anyaman, di pela­taran rumah, di ping­gir jalan, di pasar kota dan bandar sen­diri. Mereka mela­ku­kan segala macam peker­jaan yang juga diker­ja­kan oleh pria. Dan mereka bekerja sambil ber­den­dang. Juga mereka ber­kain batik seperti kaum pria. Lima tahun yang lalu sidang para peda­gang Islam telah meng­ha­dap Tuanku Peng­hulu Negeri, memo­hon agar para wanita menu­tup buah dada­nya. Sejak itu semua wanita yang keluar dari rumah diha­rus­kan menge­na­kan kemban. Maka seka­rang mereka tak ber­te­lan­jang dada lagi seperti halnya dengan kaum pria Pri­bumi.

Anak-anak kecil ber­main-main dalam rom­bongan besar di setiap lap­angan ter­buka, meng­isi udara pagi dan sore dengan ceri­cau, tawa dan sorak-sorai­nya. Lima tahun yang lalu jarang ter­jadi yang demi­kian. Sete­lah sidang para peda­gang Islam, pri­bumi dan asing meng­ha­dap Tuanku Peng­hulu Negeri agar mem­ba­tasi peng­ha­jaran kafir pada kanak-kanak, asrama-asrama mulai diting­gal­kan oleh mereka, dan mulai mereka ber­gen­ta­yangan tanpa peng­gem­bala.

Ke mana pun mata dite­bar­kan, kea­daan aman, damai, sejah­tera. Tetapi semua itu semu belaka.

Sejak zaman-zaman yang tidak dapat dii­ngat lagi Tuban ter­lalu sering dihem­ba­lang ben­cana perang dan keru­suhan. Namun bumi­nya tak juga jenuh ter­si­ram darah putra dan put­ri­nya, juga darah musuh-musuh­nya yang datang menyerbu.

Dua kali negeri ini dilanda perang besar. Per­tama oleh balat­en­tara Kublai Khan, cicit Jengis Khan yang ber­takhta di Khan Baliq2. Seperti air bah pra­ju­rit-pra­ju­rit Tar-tar men­da­rat dari laut, menyapu Tuban yang sama sekali tak mampu ber­ta­han ter­ha­dap sen­jata api. Negeri ini ter­in­jak-injak balat­en­tara yang ber­se­patu itu, dan mening­gal­kan­nya lagi untuk mene­rus­kan penyer­bu­an­nya ke Singa­sari. Orang bilang ini ter­jadi pada 1292 Masehi.

Perang besar kedua dan ter­nyata kelak bukan yang ter­a­khir ter­jadi pada awal abad XIV Masehi. Bupati yang meme­rin­tah Tuban waktu itu adalah Adi­pati Rang­gal­awe3, salah seo­rang pen­diri Maja­pa­hit. Per­ten­tang­an­nya ten­tang kebi­jak­sa­naan praja dengan Sri Baginda Kar­ta­ra­jasa, raja per­tama Maja­pa­hit, menye­bab­kan balat­en­tara Maja­pa­hit datang menyerbu. Selu­ruh kota dihan­cur­kan. Tak sebuah rumah ting­gal ber­diri, rata dengan tanah, ter­ma­suk bangu­nan-bangu­nan suci dan galangan kapal. Adi­pati Rang­gal­awe sen­diri gugur. Dan kota, yang diba­ngun pada awal abad ketu­juh Masehi itu binasa.

Sete­lah perang besar kedua sele­sai, yang ter­ting­gal sete­ngah utuh hanya Sela Baginda, didi­r­i­kan pada awal abad ke XI Masehi.

Baginda Sri Kar­ta­ra­jasa meng­ang­kat seo­rang bupati baru. Dua puluh tahun lama­nya pem­ba­ngu­nan kem­bali kota Tuban dilak­sa­nakan. Dan Sri Baginda mem­be­bani guber­nur baru itu dengan tang­gungan pasukan Gajah, yang men­jadi inti keku­atan darat balat­en­tara Maja­pa­hit. Pena­ta­ran dan galangan kapal dipu­l­ih­kan, diper­be­sar, sampai men­jadi peng­ha­sil kapal perang dan niaga ter­be­sar di selu­ruh Jawa, selu­ruh Nusan­tara, selu­ruh dunia per­a­daban.

Seka­rang tidak demi­kian lagi.

Pada awal abad XVI seka­rang keku­atan pemer­satu kekai­saran Maja­pa­hit telah patah. Para guber­nur pesi­sir telah memung­gungi Maja­pa­hit sehingga runtuh dan ber­diri sen­diri-sen­diri, jadi raja-raja kecil, tanpa ada yang berani meng­ang­kat diri jadi Kaisar. Juga bupati Tuban Sang Adi­pati Arya Teja Tumeng­gung Wil­wa­tikta. Orang tua-tua hanya dengan ber­bi­sik-bisik berani mem­bi­ca­ra­kan dengan sesama tua, tak lain dari Sang Adi­pati juga yang mem­pr­a­kar­sai dan memim­pin per­se­ku­tuan raha­sia ini. Maja­pa­hit jatuh.

Seka­rang makin lama makin sedi­kit kapal-kapal Jawa ber­la­yar ke utara, ke Atas Angin, ke Campa atau­pun ke Tiong­kok. Arus kapal dari selatan sema­kin tipis. Seba­lik­nya arus dari utara sema­kin deras, mem­bawa barang-barang baru, piki­ran-piki­ran baru, agama baru. Juga ke Tuban.

Guber­nur Tuban, Sang Adi­pati Arya Teja Tumeng­gung Wil­wa­tikta, ber­te­kad mem­per­ta­han­kan keda­maian itu, kea­manan, keten­te­raman dan kese­jah­te­raan seka­rang dengan mengem­bang­kan per­da­gangan antar­pu­lau. Ia menyo­kong diper­be­sar­nya armada dagang ke Maluku. Dagang! Dagang saja. Ia tak ber­mi­nat melu­as­kan keku­atan ke laut. Ia tak meng­hen­daki Tuban jadi kekai­saran benua seperti Maja­pa­hit dengan ter­lalu banyak urusan. Dalam usia tua ia hanya ingin ber­te­nang-tenang. Ang­katan Laut tidak diper­lu­kan­nya, seka­dar cukup jadi peng­ha­lau bajak dan perom­pak, serta melin­dungi pantai dari gang­guan mereka. Di bawah peme­rin­tahan dan kebi­jak­sa­na­an­nya bandar Tuban ber­kem­bang men­de­sak bandar Gresik, men­jadi pusat penum­pukan rempah-rempah dari Mame­luk dan Nusa Teng­gara.

Hampir setiap bulan Sang Adi­pati datang ber­kuda ke pela­buhan. Di depan­nya ber­de­rap pasukan penga­wal ber­kuda, ber­tom­bak, ber­pe­ri­sai, dengan pedang ter­gan­tung pada ping­gang. Jumbai dan pita­me­rah meng­hi­asi tombak mereka. Di bela­kang­nya ber­de­rap pasukan penga­wal lagi.

Geme­rin­cing “giring-giring mereka serta kepulan debu menye­bab­kan orang dari jauh-jauh telah ber­sim­puh di tanah dan meng­ang­kat sembah kepala.

Bandar Tuban Kota adalah buah hati Sang Adi­pati. Ia merasa puas dengan peker­jaan Syah­ban­dar Tuban: Ishak Ind­ra­jit.

Karena sema­kin tua ia sema­kin meng­u­ta­ma­kan per­ni­a­gaan oleh para bupati tetangga, ia diang­gap telah kehi­langan kek­sat­ri­a­an­nya. Pada­hal, kata salah seo­rang di antara mereka, kalau dia mau, dengan pasukan gajah­nya yang ber­a­bad jadi peri­sai Maja­pa­hit, dengan keka­ya­an­nya yang datang dari laut, sebe­nar­nya ia mampu menak­luk­kan tetangga-tetang­ga­nya dan sen­diri marak jadi kaisar.

Dira­sani begitu ia hanya ter­tawa.

Sekali waktu Sang Adi­pati mem­per­se­m­bah­kan ada seo­rang bupati lain yang meng­e­jek­nya dengan nama Rangga Demang, Rangga dike­rat dari nama Rang­gal­awe yang per­kasa dan Demang adalah pang­kat rendah dalam kepung­ga­waan praja, ia men­ja­wab tak peduli: Orang juga boleh menye­but seperti itu.

Maka para bupati tetangga sema­kin yakin, Sang Adi­pati memang bukan lagi seo­rang ksat­ria, telah mero­sot jadi sudra.

Ia sen­diri tak pernah merasa ter­hina dengan segala julukan dan ejekan. Pen­di­r­ian dan sikap­nya tetap: per­ni­a­gaan antar­pu­lau harus terus dan makin ber­kem­bang. Bandar harus makin banyak dising­gahi kapal-kapal Atas Angin, Nusan­tara dan Tiong­kok. Per­ta­hanan negeri Tuban sen­diri diang­gap­nya mudah. Dengan Pasukan Gajah Tuban yang masy­hur ia per­caya akan dapat memu­kul mundur setiap dan semua penyerbu. Ia telah letak­kan dasar jaringan peng­a­wasan daerah-daerah per­ba­ta­san, dilak­sa­nakan oleh satuan-satuan ber­kuda yang terus-mene­rus ber­ge­rak.

Apalah arti Pasukan Gajah, bupati-bupati yang meng­iri akan kese­jah­te­raan dan keka­yaan Tuban suka mera­sani, hanya jadi beban kawula. Sekali ada yang menyerbu, jatuh­lah negeri ini jadi jarahan.

Tak juga ada yang berani menyerbu. Mereka tetap segan ter­ha­dap Pasukan Gajah. Dan semua orang tahu, seekor gajah sama ampuh­nya dengan dua ratus pra­ju­rit kaki yang tang­guh. Sedang bina­tang itu tak kenal kecut apa­lagi khi­a­nat.

Ia telah ber­ha­sil men­cip­ta­kan cara untuk meng­i­kat kese­ti­aan desa-desa per­ba­ta­san dengan jalan meng­am­bil hati pen­du­duk: bunga-bunga ter­can­tik dise­lir dengan gelar Nyi Ayu, dan mengir­im­kan ketu­run­an­nya kem­bali ke desa seba­gai pung­gawa dengan gelar Raden Bam­bang dan men­jadi pujaan desa. Dengan demi­kian Sang Adi­pati telah menye­bar­kan ratusan dari anak­nya di selu­ruh negeri.

Untuk pem­bi­a­yaan praja, desa-desa dike­na­kan upeti seper­se­pu­luh dari setiap dan semua macam peng­ha­silan dengan tam­ba­han khusus: jatah untuk umpan gajah serta pem­bu­atan dan peme­li­ha­raan jalanan umum. Segala yang ber­hu­bungan dengan bandar dan wila­yah­nya dibi­a­yai dengan peng­ha­silan bandar. Dan Ishak Ind­ra­jit yang mengu­rus semua itu. Patih Tuban ber­tin­dak seba­gai peng­a­was ter­tinggi dan peng­a­tur ter­tinggi semua peker­jaan.

Sang Adi­pati sudah puas dengan semua itu. Ia tak ingin ter­jadi suatu per­u­ba­han. Semua kawula mem­pu­nyai peng­hi­dupan yang layak. Semua lelaki dapat meng­hias dir­i­nya dengan keris dengan pamor dan rangka seba­gus-bagus­nya. Dan nam­pak­nya semua akan abadi seperti itu sampai ia mati dan juga sete­lah ia mati, untuk selama-lama­nya.

Walau ia mem­bi­ar­kan run­tuh­nya Maja­pa­hit, malah ikut meng­am­bil pra­karsa ter­ja­di­nya per­se­ku­tuan untuk itu, tak urung ia juga yang suka mene­bah dada seba­gai pewa­ris kekai­saran benua yang sudah runtuh itu. Ia per­gu­na­kan ben­dera Maja­pa­hit untuk negeri dan kapal-kapal­nya, merah-putih, hanya lebih pan­jang dari­pada yang lama.

Tuban tidak hanya pang­lima tetap. Menu­rut tra­disi Maja­pa­hit pula hanya di waktu perang seo­rang adi­pati atau men­teri ditun­juk meme­gang jabatan itu. Sete­lah Maja­pa­hit jatuh dan Tuban jadi negeri bebas, kebi­a­saan tak ber­pang­lima dite­rus­kan. Kea­manan Tuban Kota dila­ku­kan oleh Pasukan Penga­wal yang tidak banyak jum­lah­nya. Kese­la­matan praja dijaga oleh Pasukan Kuda, Gajah dan Kaki. Kea­manan pantai dipe­gang oleh Pasukan Laut, yang juga tidak banyak, sedang kea­manan desa-desa dila­ku­kan oleh pagar desa yang ter­diri atas pemuda-pemuda pilihan.

Untuk meng­am­bil hati rakyat di pesi­sir yang makin banyak yang meme­luk Islam, ia telah perin­tah­kan ber­di­r­i­nya sebuah mesjid di wila­yah pela­buhan. Dalam waktu pendek bangu­nan itu telah men­jadi suatu per­kam­pungan Islam dari orang-orang Melayu, Aceh, Bugis, Gujarat, Parsi dan Arab.

Sang Adi­pati tak pernah punya kekha­wa­tiran akan tim­bul­nya per­ten­tangan karena agama. Sejak pur­ba­kala pen­du­duk Tuban tak punya pra­sangka kea­ga­maan. Orang ber­pin­dah agama karena kesu­l­itan dalam peng­hi­dupan, merasa dewa sem­ba­han­nya tidak meng­gub­ris­nya maka dica­ri­nya dewa sem­ba­han lain.

Sang Adi­pati juga meng­i­zin­kan ber­di­r­i­nya sebuah kelen­teng batu yang jadi pusat per­kam­pungan pen­du­duk Tiong­hoa, Peci­nan. Kelen­teng yang lama telah diang­gap ter­lalu kecil. Yang baru didi­r­i­kan di sebe­lah barat pela­buhan.

Kea­manan, keda­maian, keten­te­raman dan kese­jah­te­raan yang didam­ba­kan dan diper­ta­han­kan dengan segala macam kebi­jak­sa­naan kini mulai ter­an­cam dari sebe­lah barat: Demak mulai ber­ge­rak dan meram­pas Jepara, daerah keku­a­saan Tuban….

Tenang dan damai kea­daan Tuban Kota. Geli­sah hati Sang Adi­pati yang telah lanjut usia itu.

Sore itu ia datang ber­kuda di pela­buhan. Sang Patih meng­iring­kan di bela­kang­nya. Para penga­wal di depan sana telah ber­henti di pasiran pantai. Seba­gian meng­ha­dap ke laut biru-kuning yang geli­sah. Seba­gian meng­ha­dap pada Sang Adi­pati yang sedang turun dari kuda dengan kaki sebe­lah di atas tanah, kaki lain di atas pung­gung seo­rang penga­wal yang menung­ging.

Sang Patih juga turun, lang­sung dari kuda, kemu­dian segera ber­jong­kok dan menyem­bah.

Syah­ban­dar Tuban, Ishak Ind­ra­jit, lari menu­runi kesyah­ban­daran. Jubah putih­nya ber­ki­bar-kibar. Sor­ban­nya nampak ter­lalu besar dan berat ber­teng­ger pada kepa­la­nya yang kecil, lebat ditum­buhi cam­bang, kumis dan jeng­got yang mulai jadi kelabu. Sampai barang tujuh lang­kah dari Sang Adi­pati ia ber­diri dan meng­ang­kat sembah kepala.

“Mereka bukan saja telah men­du­duki Jepara… Bagai­mana, Kakang Patih?”

“Ampun, Gusti,” Sang Patih meng­ang­kat sembah, “juga telah men­di­r­i­kan galangan-galangan kapal besar.”

“Bran­dal-bran­dal itu meng­impi hendak mengu­a­sai laut.”

“Ampun, Gusti, sete­lah Adi­pati Kudus Pange­ran Sab­rang Lor mengu­a­sai wila­yah ter­ba­rat Gusti, seka­rang dari ayah­an­da­nya dibe­nar­kan meng­gu­na­kan gelar Adi­pati Unus. Konon kabar­nya Unus adalah nama dewa baru pengu­asa lautan.”

“Anak baru kema­rin, belum lepas dari ingus sen­diri.”

“Patik, Gusti. Gusti tidak ber­ke­nan memu­kul­nya dengan perang. Kalau dibi­ar­kan, Demak akan terus men­de­sak ke timur.”

“Dewa lama dan Allah baru tidak bakal mem­be­nar­kan.”

“Allah Dewa Batara, sekali Gusti titah­kan, tidak hanya Jepara, Demak sen­diri dapat ditum­pas dalam tiga hari Gusti. Mereka belum punya Pasukan Kuda, tidak punya Pasukan Gajah. Per­wira-per­wi­ra­nya, orang-orang Tiong­hoa itu, tidak akan mampu mena­han balat­en­tara kita.”:

“Demak sudah men­di­r­i­kan galangan-galangan kapal besar di Jepara.”

“Patik, Gusti. Tuban pun harus segera meng­im­bangi.”

“Bangun­kan, Kakang Patih. Bukan untuk perang, hanya untuk meng­im­bangi.”

“Patik, Gusti.”

Sang Adi­pati masih juga ber­diri. Kaki­nya yang sebe­lah dita­rik­nya dan pung­gung penga­wal­nya, dan ia menin­jau ke laut yang dise­bari perahu nela­yan yang baru berang­kat pulang.

Pada der­maga ter­tam­bat tiga buah kapal asing. Di keja­uhan sana nampak sebuah kapal peronda pantai yang sedang bela­yar ke arah ba rat. Semua layar­nya meng­ge­lem­bung seperti busur. Namun semua itu tak mena­rik per­ha­tian Sang Adi­pati. Hati­nya tetap geli­sah.

Ia tarik pan­dang­nya dari laut dan dile­kat­kan seben­tar pada destar Sang Patih yang dihi­asi dengan per­mata. Tangan­nya yang ber­ge­lang emas tiga susun menu­ding pada pasir. Ber­kata pelan: “Makin lama makin sedi­kit kapal Atas Angin sing­gah.”

Sang Patih, jauh lebih muda, anak paman Sang Adi­pati, meng­ang­kat sembah: “Kea­daan di lautan Atas Angin sana sudah beru­bah, Gusti,” kemu­dian dengan jari­nya meng­ga­ris-garis di atas pasir mem­buat gambar, “kapal-kapal asing yang selama ini tidak pernah dike­nal seka­rang mulai ber­da­tangan dari Ujung Selatan Wulungga – tan­jung yang tak pernah dile­wati nenek-moyang, Gusti.”

Sang Adi­pati menge­rut­kan kening. Alis­nya, kumis, jeng­got dan cam­bang­nya yang putih mem­bi­kin wajah tuanya yang penuh kerut-mirut itu nampak sema­kin pucat. Mata­nya kini ter­sang­kut pada pipa celana Sang Patih yang hitam kelam dengan ujung-ujung pipa dihi­asi sula­man benang sutra kuning.

“Ampun, Gusti sese­m­ba­han patik. Mereka, Gusti, menyu­suri pantai Wulungga, mema­suki jalan laut kapal-kapal Atas Angin. Kapal-kapal mereka, kata orang, tidak lebih besar dari kapal-kapal Maja­pa­hit, agak lebih besar dari kapal-kapal Atas Angin dan Tuban, tetapi layar­nya jauh lebih banyak dan lebih besar. Jalan­nya laju seperti cucut, dapat mem­be­lok cepat sambil miring, dengan lam­bung mene­pis per­mu­kaan laut seperti camar.”

“Betapa indah, seba­gai cerita, Kakang Patih,” Sang Adi­pati mem­be­ra­ni­kan.

“Layar-layar­nya, Gusti, digam­bari dengan salib rak­sasa.”

“Salib?”

“Ampun, Gusti, hanya dua buah garis ber­si­lang. Orang bilang, garis yang datar melam­bang­kan kera­jaan manu­sia, garis dari atas ke bawah, kata orang, melam­bang­kan karu­nia dewa di atas pada kera­ja­an­nya.”

“Apa beda­nya dengan swas­tika Buddha?”

“Kalau dibu­ang sir­ip­nya tentu dia akan sama, Gusti.” Sang Patih mem­bi­kin salib di atas pasir. “Sebab itu besar, besar sekali, merah menyala, dapat dili­hat sepe­man­dangan dari atas gajah dan dari atas menara. Layar-layar putih sangat besar, dari ufuk nampak seperti kuntum melati.”

“Kapal-kapal siapa yang muncul dari Ujung Selatan Wulungga yang ker­a­mat itu, Kakang Patih?”

‘Itulah kapal-kapal Peranggi4, Gusti sese­m­ba­han patik,” jawab­nya sambil meng­ang­kat sembah, menun­duk lagi dan mene­rus­kan gur­i­san­nya di atas pasir, mem­buat gambar kira-kira dari kapal-kapal baru itu.

“Tentu mereka bajak yang mena­kut­kan,” Sang Adi­pati meman­cing-man­cing pen­da­pat.

“Kalau hanya seka­dar bajak, Gusti, mereka bisa dihin­dari bahkan bisa dila­wan. Mereka tak bisa dihin­dari. Bukan saja karena kela­ju­an­nya, karena layar­nya yang ber­la­pis-lapis, dapat mekar meng­ge­lem­bung seperti melati, sebe­sar tiga kali gajah, dapat mengem­pis seperti kan­tong kosong, dapat cepat digu­lung…, ya Gusti….”

“Mak­sudmu meri­am­nya?”

“Benar, Gusti, meri­am­nya, sen­ja­t­a­nya itu, dapat memun­tah­kan api dan….”

“Adakah Patih sedang meng­u­langi dong­eng kanak-kanak itu.”

“Ampun, Gusti. Dong­engan kanak-kanak itu seka­rang sudah jadi kenya­taan.”

“Kenya­taan!” Sang Adi­pati ter­pe­kik. “Memun­tah­kan api! Apakah Kakang Patih ber­mak­sud menga­ta­kan ada bangsa lain di atas bumi ini punya cet­bang Maja­pa­hit? Ada di negeri Atas Angin sana? Kakang Patih tidak hendak men­do­ng­eng lagi?”

“Ampun, Gusti sese­m­ba­han patik. Ada bangsa jauh di Atas Angin sana punya sema­cam cet­bang Maja­pa­hit. Lebih dah­syat, Gusti.”

“Lebih dah­syat!” Sang Adi­pati ber­seru menye­pe­le­kan, ter­tawa kosong. Ber­gu­mam: “Ada yang lebih dah­syat dari cet­bang Maja­pa­hit,” ia menu­ding pada langit tanpa meng­ang­kat kepala. “Dari mana pula dong­engan mena­rik itu ber­a­sal, kira­nya?”

Deburan ombak ter­de­ngar nyata. Tak ada manu­sia ber­ge­rak dalam sepe­nge­li­hatan pengu­asa Tuban itu. Jauh-jauh di darat nampak orang ber­sim­puh di atas tanah dengan kepala menun­duk ke bumi. Dan di laut kapal dan perahu yang ter­tam­bat ber­a­yun-ayun dengan layar ter­gu­lung dan tiang-tiang­nya menu­ding langit.

”Terus­kan, Kakang Patih.”

“Ampun, beribu ampun, Gusti. Dong­engan patik yang indah ini datang meng­ha­dap Gusti untuk jadi bahan periksa, Gusti. Kapal-kapal Atas Angin pada gentar. Orang bilang banyak di anta­ra­nya telah mereka kirim­kan ke dasar lautan. Semua peda­gang meng­im­pi­kan dan mem­buru keun­tungan, Gusti, maka benua dan lautan ditem­puh. Menge­ta­hui, dengan mun­cul­nya kapal-kapal Peranggi, bukan keun­tungan yang teraih, tapi maut belaka, maka mereka lebih suka ting­gal tidur di tengah-tengah keme­wahan di rumah masing-masing di bandar sen­diri.”

“Maka makin ber­ku­rang kapal-kapal Atas Angin datang?”

“Demi­kian adanya, Gusti sese­m­ba­han patik.”

Sang Adi­pati ter­ce­nung seben­tar. Ia menun­duk dan ber­pi­kir. Lambat-lambat kedua belah tangan­nya ter­ta­rik ke atas dan ber­to­lak ping­gang Seben­tar dia ber­pa­ling dan mene­bar­kan pan­dang pada laut, kemu­dian pada langit. Ber­ta­nya pelan: “Bagai­mana bisa ada sen­jata lebih dah­syat dari cet­bang?”

“Beribu ampun, Gusti, cet­bang mereka bukan seka­dar dapat menyem­bur­kan api dan mele­dak, juga memun­tah­kan bola-bola besi sebe­sar, sebe­sar, kata orang, sebe­sar buah kelapa”

“Sebe­sar buah kelapa! Ter­ku­pas atau tidak?”

“Gusti Adi­pati ber­o­lok-olok. Apakah beda­nya buah kelapa itu ter­ku­pas atau tidak? Besi sebe­sar tinju pun akan dapat remuk­kan setiap kapal, Gusti.”

Adi­pati Tuban Arya Teja Tumeng­gung Wil­wa­tikta ter­diam. Juga des­tar­nya yang pan­jang-pan­jang itu seben­tar meng­ge­le­par ter­tiup angin. Intan, bai­duri dan zamrud yang meng­hi­asi bagian depan destar gemer­lapan ber­main-main dengan sinar surya. Ber­ta­nya seakan tak acuh: “Bangsa apa kata kakang tadi?”

“Peranggi, Gusti. Orang bilang, ada bangsa lain, juga sama hebat­nya, Ispa­nya nama­nya, Gusti. Kapal-kapal Atas Angin pada keta­kutan, Gusti, biar­pun hanya meli­hat dari keja­uhan. Mereka sudah ber­la­rian cari sela­mat, ber­ling­satan tung­gang-lang­gang cari hidup. Sedang kapal Peranggi itu, Gusti, tak pernah bela­yar sen­di­r­ian, selalu dalam rom­bongan, paling tidak dua atau tiga buah. Kapal-kapal Atas Angin itu, milik peda­gang-peda­gang itu, tak pernah dalam rom­bongan. Karena per­sa­ingan satu dengan yang lain, baik di laut maupun di darat.”

“Dalam rom­bongan seperti armada Maja­pa­hit?”

“Benar, Gusti.”

“Apa lagi ceri­tamu, Kakang Patih?”

“Mereka lain dari orang-orang Arab, Parsi atau Beng­gala, lain dari semua bangsa yang pernah datang di Tuban. Mereka itu putih seperti kapas, seperti awan, seperti kapur, seperti bawang putih….”

“Barang­kali sebangsa hantu laut?”

“Gusti ber­o­lok-olok. Mohon apalah kira­nya tidak ber­o­lok-olok, Gusti. Kea­daan dunia sung­guh-sung­guh sudah beru­bah. Gusti. Mereka punya negeri dan raja­nya sen­diri.” Sang Patih menu­run­kan nada sua­ra­nya dan mene­rus­kan pelahan ber­cam­pur dengan tiupan angin…

“Aku tak dengar, Kakang Patih, lebih keras.”

“Ampun, Gusti. Dari dulu orang tua-tua sudah men­do­ng­eng ten­tang bangsa kulit putih, seperti dong­eng ten­tang peri dan gan­darwa, seperti dong­engan orang Islam ten­tang jin, iblis dan setan, seperti dong­engan ten­tang dede­mit para lelu­hur. Seka­rang ter­nyata bangsa manu­sia ber­ku­lit putih sesung­guh­nya ada.”

Ia turun­kan lagi nada sua­ra­nya sehingga hampir ber­gu­mam.

“Siapa tahu, Gusti….”

“Lebih keras!”

“Ampun, Gusti, siapa tahu, barang­kali pada suatu kali jin dan iblis dan setan orang-orang Islam juga punya negeri sen­diri kapal dan cet­bang.”

Sang Adi­pati mem­per­ba­iki letak keris, kemu­dian dilam­bai­nya Syah­ban­dar agar men­de­kat. Yang dilam­bai­nya ber­ge­rak, tetap ber­diri dan meng­ang­kat sembah kepala.

“Apa penge­ta­hu­anmu ten­tang bangsa ber­ku­lit putih?”

“Bangsa kafir itu, Gusti, bangsa ber­ku­lit putih, tapi hati­nya, rohnya, nya­wa­nya, hitam, Gusti, hitam seperti jelaga periuk. Mereka tidak meng­a­gung­kan Allah Yang Maha Besar. Mereka penyem­bah patung. Sedang­kan orang Jawa pun bukan penyem­bah patung, kecu­ali peme­luk Buddha. Mereka penyem­bah patung, Gusti.”

“Kafir atau tidak apa salah­nya? Penyem­bah patung atau tidak apa bur­uk­nya? Roh, nyawa atau hati­nya hitam atau putih atau kelabu atau­pun ungu seperti bunga kecu­bung, apa peduli? Allah Maha Besar telah mem­be­ri­kan pada manu­sia ber­ba­gai macam warna. Selama mereka datang mem­bawa kese­jah­te­raan untuk bandar Tuban… siapa saja baik.”

“Auzu­bil­lah min zalik!” seru Syah­ban­dar.

“Apa per­se­m­ba­hanmu, Tuan Syah­ban­dar?”

“Diam­puni oleh Allah apalah kira­nya… Baik Peranggi, Gusti, maupun Ispa­nya, memu­suhi semua bangsa, memu­suhi semua orang Islam, dan Yahudi, dan Buddha, dan Hindu, semua bangsa manu­sia. Mereka mau mera­jai segala-gala­nya. Tuhan akan meng­e­nyah­kan mereka dari muka bumi.”

“Kapan Tuhan meng­e­nyah­kan mereka?”

“Semua bangsa, Gusti,” sembah Ishak Ind­ra­jit terus dalam Melayu, “dengan bim­bingan Allah. Kalau semua bangsa tidak mau, mere­ka­lah yang bakal meng­ha­lau kita semua….”

“Di mana nege­ri­nya? Jauh atau dekat? Maka akan dapat meng­e­nyah­kan semua bangsa dari muka bumi?”

“Jauh, Gusti, lebih jauh dari Parsi, Arabia atau­pun Turki. Nege­ri­nya ada di atas Atas Angin.”

“Kalau dong­engan itu benar, pasti kapal­nya banyak, kuat dan hebat, tentu mereka bangsa yang pandai dan gagah-berani. Mereka telah lewati Ujung Selatan Wulungga yang tak pernah dila­lui oleh nenek-moyang,” puji Sang Adi­pati pada bangsa yang belum dike­nal itu.

“Mereka dibe­ra­ni­kan oleh iblis, dipim­pin oleh setan, Gusti Adi­pati Tuban,” susul Syah­ban­dar pada Sang Adi­pati tak senang.

Sang Adi­pati tak mem­per­ha­ti­kan. Pan­dang­nya dite­bar­kan ke laut yang masih juga dise­bari perahu-perahu nela­yan. Angin yang meni­upi dada­nya mem­bi­kin bulu dada yang putih itu ber­om­bak. Tak dira­sa­i­nya seekor lalat hing­gap pada dagu­nya. Ia sedang bekerja keras memang­gil kapal-kapal Peranggi dan Ispa­nya dalam angan-angan.

“Bangsa-bangsa Atas Angin takut pada mereka,” tiba-tiba ia ber­pa­ling pada Syah­ban­dar.

“Tuan Syah­ban­dar, bagai­mana bisa orang-orang Islam takut pada kafir?”

“Sen­jata dari iblis!” Sang Adi­pati meng­u­langi.

“Sihir nama­nya, Gusti.”

“Sihir!” Sang Adi­pati meng­u­langi, mele­ceh­kan. “Kalau begitu orang Islam pasti punya mantra-mantra penang­kal.”

Syah­ban­dar ter­diam, menun­duk lebih dalam, tak mene­mu­kan kata-kata jawaban. Tubuh­nya yang tinggi jang­kung nampak meriut kecil.

“Ampun, Gusti sese­m­ba­han patik,” sela Sang Patih sambil menyem­bah, “adapun sen­jata itu sama sekali bukan sihir, justru cet­bang yang lebih ampuh. Kapal-kapal tak bisa lari dari tuding­an­nya. Sen­jata itu dapat meneng­ge­lam­kan kapal yang sebe­sar-besar­nya dari jarak sepe­man­dangan.”

“Jadi sung­guh-sung­guh mereka memu­suhi semua kapal?”

“Benar, Gusti, dan ter­u­tama kapal-kapal ber­ben­dera bulan dan bin­tang, semua kapal Islam, juga kapal-kapal bukan Islam dari Beng­gala, semua.”

“Apa yang mereka cari, orang-orang… apa pula nama­nya tadi?”

“Peranggi, Gusti,” sembah Sang Patih. “Semua, Gusti, semua yang mereka cari, ter­u­tama rempah-rempah.”

Tiba-tiba Sang Adi­pati ter­tawa senang dan ber­gu­mam pada angin men­de­sau: “Ha! Rempah-rempah! Seperti kapal-kapal lain, seperti yang sele­bih­nya. Rempah-rempah. Hai!”

“Beribu ampun, Gusti,” Sang Patih mene­rus­kan, “para nakhoda bilang mereka mulai keli­hatan di Mala­gasi, mema­suki Teluk Parsi dan meng­a­muk tiada ter­la­wan. Kapal-kapal armada gabungan dari bebe­rapa negeri diba­bat lenyap dite­lan laut… Seka­rang mereka bukan hanya sudah mulai keli­hatan di Beng­gala dan Langka, juga sudah men­du­duki Goa5. Ya, Gusti, bila sen­jata mereka ber­den­tum, langit seperti belah dan hati yang men­de­ng­ar­nya jadi ciut. Burung-burung lumpuh sayap dan ber­ja­tuhan mati. Bola-bola besi sebe­sar kelapa ber­se­m­buran, men­de­sis di udara. Tum­pas­lah kapal yang ter­kena.”

Sang Adi­pati ter­se­nyum. Ber­seru pelahan: “Ya-ya-ya, pas­ti­lah mereka memang bangsa-bangsa unggul. Tuan Syah­ban­dar, meriam bukan nama sen­jata itu?”

“Ampun, Gusti, diku­tuk oleh Allah apalah kira­nya mereka itu. Gusti, Mereka namai sen­jata itu dengan nama Dewi Ibunda Nabi Isa, Mariam, Gusti. Bukan mereka sen­diri yang mena­ma­inya, memang. Kata orang sebe­lum mereka men­den­tum­kan sen­ja­t­a­nya, bera­mai-ramai mereka meme­kik­kan nama Ibunda Nabi Isa alai­his­sa­laam. Api pun menyem­bu­rat dari mon­cong sen­ja­t­a­nya dan bola besi itu mele­sit ke udara seperti peluru cet­bang, hampir-hampir tak dapat ditang­kap oleh mata. Kemu­dian sen­jata itu dina­mai Meriam.”

Sang Adi­pati mulai bosan men­de­ngar kete­rangan ber­tele. Ia ber­ge­rak dari tem­pat­nya, melang­kah menuju pada kuda­nya. Semua pra­ju­rit penga­wal menyem­bah dan bering­sut men­ja­uh­kan diri. Pra­ju­rit penga­wal peme­gang kuda itu pun meng­ang­kat sembah, menye­rah­kan ken­dali pada­nya, menyem­bah lagi. ber­su­jud ke tanah, kemu­dian menung­ging untuk jadi anak tangga.

Tanpa mem­per­ha­ti­kan yang lain-lain Sang Adi­pati naik ke atas pung­gung orang dengan sebe­lah kaki, dan dengan kaki lain melom­pat ke atas pung­gung kuda.

Sang Patih juga naik ke atas kuda­nya, ber­ge­rak meng­iring­kan Sang Adi­pati. Syah­ban­dar ter­ting­gal di tem­pat­nya….

Kapal unggul sen­jata unggul bangsa unggul kulit putih, rempah-rempah, salib… semua men­jadi masa­lah ganda yang ber­ju­bal dalam kepala Sang Adi­pati. Ia mem­bu­tuh­kan waktu untuk memi­kir­kan semua itu.

Bangsa-bangsa men­jadi kaya karena ber­da­gang rempah-rempah. Mung­kin satu bangsa bisa men­jadi unggul karena men­cari rempah-rempah? Uh, per­ta­nyaan lucu. Orang takkan mati tanpa dia. Bangsa-bangsa men­ca­ri­nya karena memang sudah unggul Mung­kin­kah suatu bangsa bisa jadi unggul hanya karena punya sen­jata unggul? Hhhh, per­ta­nyaan bodoh. Bangsa unggul saja bisa mem­bi­kin dan meng­gu­na­kan sen­jata unggul. Ada suatu lem­baga yang mem­bi­kin mereka jadi unggul, maka segala yang dita­nga­n­i­nya juga jadi unggul: kapal dan sen­jata. Mereka pergi ke mana-mana untuk menga­lah­kan dan menak­luk­kan. Hanya yang dapat mena­han dan menga­lah­kan mereka lebih unggul. Salib itukah mung­kin lam­bang lem­ba­ga­nya? Seka­rang ini siapa yang tahu? Barang siapa bisa men­ja­wab, dialah si pem­bo­hong itu. Orang harus menge­nal lebih dulu bangsa-bangsa dari negeri ter­jauh ini, bangsa-bangsa dari atas Atas Angin, bangsa-bangsa yang telah menak­luk­kan Ujung Selatan Wulungga yang belum pernah ditem­bus kapal-kapal Maja­pa­hit. Tapi mereka mem­bu­tuh­kan rempah-rempah! Mereka bangsa manu­sia biasa. Mereka juga bisa diken­da­li­kan mela­lui kebu­tuh­an­nya. Tuban punya rempah-rempah! Mereka akan datang kemari. Dan mela­lui kebu­tuh­an­nya mereka akan aku ken­da­li­kan!

Tanpa mereka semua keta­hui, sesu­atu telah beru­bah di dunia yang tak dike­nal di utara, jauh di barat laut sana. Sen­jata baru, meriam itu, sesung­guh­nya sama nenek-moyang­nya dengan cet­bang Maja­pa­hit. Tahun tolak­nya dari Tiong­kok pun sama: 1292 Masehi. Ber­sama dengan balat­en­tara Kublai Khan yang mela­ku­kan expe­disi peng­hu­kuman di Singa­sari, nenek-moyang cet­bang Maja­pa­hit dibawa serta di sam­ping kuda perang dari Mongo­lia dan Korea.6 Maja­pa­hit semasa Maha­pa­tih Gajah Mada telah mengem­bang­kan sen­jata api ini jadi cet­bang.7 Lawan-lawan Maja­pa­hit pada mula­nya mena­mai sen­jata ini “sihir api petir”, karena dari bawah ia meman­car­kan api dan di udara atau pada sasaran dia mele­dak. Dengan cet­bang, dalam hanya dua puluh tahun Maja­pa­hit Gajah Mada ber­ha­sil dapat mem­per­sa­tu­kan Nusan­tara men­jadi kekai­saran Malasya, kekai­saran Asia Teng­gara. Sete­lah itu cet­bang tidak ber­kem­bang lagi.

Pada tahun 1292 itu juga prin­sip.sen­jata-api ber­to­lak dari Tiong­kok, dibawa oleh Marco Polo dan diper­ke­nal­kan di Eropa. Orang mener­ta­wa­kan dan meng­e­jek­nya, juga sete­lah mati­nya. Makin banyak­nya orang Eropa ber­kun­jung ke Tiong­kok menye­bab­kan orang lebih meng­erti dan mulai men­coba-coba mem­bi­kin sen­diri. Per­kem­bangan selan­jut­nya mela­hir­kan musket. Deng­an­nya Por­tu­gis dan Spa­nyol meng­u­sir pen­ja­jahan Arab di negeri mereka, seme­nan­jung Iberia. Musket dibi­kin dalam bentuk rak­sasa men­jadi meriam. Deng­an­nya mereka mem­per­sen­ja­tai kapal-kapal, meng­a­rungi samudra tanpa gang­guan. Seperti halnya dengan Maja­pa­hit, dengan kapal dan sen­ja­t­a­nya mereka mulai mengu­a­sai jalan laut dan musuh-musuh­nya, menak­luk­kan dan men­ja­jah negeri.

Cet­bang dan kapal unggul Maja­pa­hit pada suatu kali telah meng­han­cur­kan dir­i­nya sen­diri dalam Perang Pare­greg. Juga Spa­nyol dan Por­tu­gis akan musnah kare­na­nya seki­ra­nya Takhta Suci tidak segera turun tangan mele­ra­i­kan dua negeri ini dengan Jus Pat­ro­na­tus8 atau Pad­ro­ado, yang mem­be­lah dunia non-Kris­ten jadi dua bagian, seba­gian untuk Por­tu­gis dan yang lain untuk Spa­nyol. Dan mulai­lah kapal-kapal mereka tanpa ragu-ragu men­je­la­jahi dunia dengan salib seba­gai panji-pan­ji­nya, menak­luk­kan dan mengu­a­sai bangsa dan negeri-negeri yang diang­gap­nya dalam belah dunia bagi­an­nya….

Dalam per­ja­lanan Sang Adi­pati memer­lu­kan mene­ngok ke bela­kang. Dibe­ri­nya Sang Patih isya­rat agar men­de­kat Sua­ra­nya sayup-sayup di antara geme­rin­cing giring-giring dan derap kuda, ter­de­ngar ragu-ragu: “Kakang Patih, bukan­kah telah Kakang keta­hui sen­diri bagai­mana telah kami peta­ruh­kan hari depan pada keja­yaan Islam? Bukan­kah banyak di antara putra-putra kami telah meng­gu­na­kan nama Islam yang dibe­ri­kan oleh guru-guru­nya? Kami biar­kan putra kami Raden Said9 men­da­lami agama Atas Angin ini, dan seka­rang jadi pemuka Islam yang dihor­mati, hidup seba­gai pan­dita dan per­tapa, ber­pa­kaian seperti orang tidak ber bangsa. Berapa sudah di antara putra-putra kami, kami senga­jakan meng­a­bdi pada raja Islam Demak, karena per­caya Islam­lah yang jaya kelak. Apa seka­rang? Kapal-kapal Islam takut pada kafir-kafir Peranggi dan Ispa­nya….”

“Patik, Gusti,” Sang Patih menun­duk dan meng­ang­kat sembah.

“Bagai­mana kira-kira jadi­nya semua ini nanti?”

“Allah Dewa Batara!” sebut Sang Patih tak bisa men­ja­wab.

“Kakang Patih, bagai­mana warta putra mah­kota Demak sete­lah meram­pas Jepara, wila­yah kami?”

“Belum banyak yang dapat diper­se­m­bah­kan. Gusti.” “Kera­jaan peda­laman. Tanah­nya lebih tandus dari Tuban. Tak punya laut. Seka­rang mem­bu­tuh­kan bandar sen­diri. Adakah kota Sema­rang sudah meno­lak memung­gah barang-barang­nya maka ia mem­be­ran­dali wila­yah kami? Apakah Demak sudah ber­ce­keok dengan Sema­rang?”

“Rupa-rupa­nya perlu diki­rim­kan telik, Gusti.”

Sang Adi­pati tidak menang­gapi, mene­rus­kan dengan suara lebih keras: “Apakah ada duga­anmu putra mah­kota Demak meram­pas wila­yah kami, Jepara, untuk mem­ba­ngun sebuah Ang­katan Laut?”

“Demi­kian konon war­ta­nya, ya Gusti. Sudah sejak lama, sejak kecil Adi­pati Unus, putra mah­kota Demak, diti­mang-timang oleh Ibun­da­nya jadi Lak­sa­m­ana, mera­jai kepu­lauan dan lautan. Gusti.”

Sang Adi­pati tak mene­rus­kan per­ta­nya­an­nya. Sang Patih melam­bat­kan kuda­nya sehingga kem­bali ter­ce­cer di bela­kang.

Sesam­pai­nya di alun-alun tiba-tiba Sang Adi­pati mene­ngok lagi ke bela­kang, ber­ta­nya waktu meng­hen­ti­kan kuda­nya: “Apakah putra mah­kota Demak, Adi­pati Unus, sudah meme­rin­tah­kan pem­bi­kinan kapal perang?”

“Baru pen­di­r­ian galangan-galangan, Gusti,” sembah Sang Patih.

“Boleh jadi sudah ter­jadi per­pe­cahan antara Sema­rang dan Demak, seki­ra­nya tak ada lagi tenaga Cina mem­bantu di Jepara. Kakang Patih, kete­rangan itu harus dida­pat­kan.”

“Patik, Gusti.”

“Dan lebih ber­hati-hati ter­ha­dap Lao Sam. Setiap ada sesu­atu yang men­cu­r­i­ga­kan, han­cur­kan saja bandar itu.”

“Patik Gusti. Lao Sam nam­pak­nya tetap tenang, tidak mem­ben­tuk keku­atan seperti Sema­rang. Jarak­nya pun sangat dekat dengan Tuban. Dalam tiga hari pasukan Gusti Adi­pati sudah dapat men­ca­pai­nya mele­wati pesi­sir. Han­cur­lah dia! Yang agak men­cu­r­i­ga­kan justru Jepara, Gusti. Konon putra mah­kota Demak, Adi­pati Unus, mulai men­da­tang­kan pandai cor dari Pasu­r­uan.”

“Pandai-pandai itu ten­tu­nya Hindu.”

“Tidak bisa lain, Gusti.”

“Jadi Islam bisa kerja sama dengan Hindu?”

“Nam­pak­nya demi­kian. Nam­pak­nya pula sedang ada per­si­apan mem­bi­kin cet­bang di sana.”

“Kalau itu benar, raja Islam itu sedang punya per­si­apan mem­bi­kin yang ber­ba­haya. Segera kirim­kan telik.”

“Patik, Gusti sese­m­ba­han.”

“Apakah menu­rut duga­anmu Unus berani menge­lu­ari Peranggi dan Ispa­nya?”

“Kuda-kuda itu ber­henti. Juga para penga­wal di depan dan bela­kang.

“Konon kabar­nya, Gusti, putra mah­kota itu telah ber­sum­pah akan mem­ben­tengi Islam di belah bumi sini, bumi selatan.”

Sang Adi­pati meng­ang­guk-angguk. Kuda­nya dige­rak­kan lagi dan ber­ja­lan mele­wati gapura.

“Bran­dal-bran­dal itu hendak ber­main jadi satria.”

Para penga­wal ger­bang pada ber­sim­puh dan meng­ang­kat sembah. Tombak dan peri­sai mereka ber­ge­le­ta­kan damai di atas bumi. Sang Adi­pati tak mem­per­ha­ti­kan, lang­sung ber­ken­dara menuju ke pen­dopo.

Seo­rang penga­wal mene­rima kuda dan seo­rang lain menye­di­a­kan pung­gung untuk jadi anak tangga. Ia turun tapi tak lang­sung masuk ke dalam.

Sang Patih meng­erti masih diper­lu­kan. Sete­lah turun dari kuda ia datang meng­ha­dap dan lang­sung men­da­pat teguran: “Banyak nian yang tak Kakang per­se­m­bah­kan selama ini.”

“Ampun, Gusti. Patik telah per­se­m­bah­kan semua, ya Gusti. Nam­pak­nya Gusti kurang meng­ka­ru­ni­a­kan per­ha­tian. Ampun, Gusti, ten­tu­lah karena banyak hal lain sedang jadi piki­ran Gusti.”

“Tentu Kakang Patih benar. Apakah menu­rut dugaan Kakang, Unus dapat menga­lah­kan mereka? Tanpa meriam dan hanya dengan cet­bang bikinan pandai cor Blam­bangan?”

“Ya, Gusti, bagai­mana patik harus per­se­m­bah­kan? Waktu patik masih kecil, nenek patik pernah ber­ce­rita ten­tang kapal-kapal Maja­pa­hit, dan menu­rut kata­nya pula Maha­pa­tih Gajah Mada pernah ber­se­m­bah pada Sri Baginda Kaisar Hayam Wuruk: hanya kapal-kapal yang bisa mela­lui Ujung Selatan Wulungga ter­ti­tah­kan untuk mengu­a­sai buana, Peranggi dan Ispa­nya bukan hanya mela­lui, mereka telah datang dari balik Ujung Selatan.”

“Nyata Maja­pa­hit tak pernah ber­ha­sil mela­lu­i­nya.”

“Tidak pernah, Gusti. Ujung Selatan selama ini selalu diang­gap jadi batas dunia. Tak ada daratan dan lautan lagi di seba­lik­nya, jatuh curam lang­sung ke neraka.”

“Dan kapal-kapal mereka telah mele­wat­i­nya. Datang lang­sung dari neraka itu! Kapal-kapal Unus barang­kali masih dalam angan-angan, jauh dari ujian Ujung Selatan Wulungga.”

Sang Adi­pati ber­ba­lik mening­gal­kan Sang Patih dan masuk ke dalam kadi­pa­ten.

Sang Patih, juga semua yang ter­ting­gal, meng­ang­kat sembah. Ia meng­am­bil kuda­nya dari tangan seo­rang pra­ju­rit penga­wal dan keluar mening­gal­kan kadi­pa­ten. Belum lagi sampai ke kepa­ti­han, seo­rang penung­gang kuda telah menyu­sul­nya. Sang Adi­pati sedang menung­gu­nya di dalam kadi­pa­ten. Ia ber­ba­lik menuju ke kadi­pa­ten.

Ia dapati Sang Adi­pati sedang duduk ber­pi­kir dengan wajah mene­kuri lantai. Dan duduk­lah ia di bawah meng­ang­kat sembah.

“Mereka sudah lewati Ujung Selatan Wulungga, Kakang Patih. Tentu mereka telah kalah­kan kapal-kapal Parsi, Mesir, Turki, Arabia, Beng­gali dan Langka. Mereka akan kalah­kan juga kapal-kapal Aceh, dan Melayu, Jawa dan Tuban sen­diri.”

“Gusti.”

“Meng­apa musti menga­lah­kan, Kakang Patih? Bukan­kah kapal-kapal asing datang kemari bukan untuk menga­lah­kan kita? Tak pernah yang demi­kian ter­jadi sejak nenek-moyang, kecu­ali orang-orang Tar-tar yang dibi­na­sa­kan itu.”

“Nam­pak­nya Peranggi dan Ispa­nya lain dari­pada yang lain, Gusti. Mereka bukan seka­dar men­cari dagangan dan rempah-rempah. Mereka datang ke mana-mana untuk men­cari negeri asal rempah-rempah. Mereka hendak meram­pas semua untuk dir­i­nya sen­diri.”

“Kera­ku­san tiada tara. Meng­apa tidak mau ber­bagi?”

“Konon war­ta­nya, Gusti, mereka tadi­nya bangsa miskin. Seka­rang baru keluar dari kemis­kinan, baru meli­hat dunia, mulai mera­bai dan meram­pasi semua barang apa yang baru dili­hat­nya, apa saja yang indah, yang mahal, seperti si lapar meli­hat sajian, ya Gusti.”

Sang Adi­pati ter­se­nyum.

“Si lapar meli­hat sajian. Per­ban­dingan yang indah. Ya barang­kali benar begitu. Dan mereka akan datang ke sini juga akhir-akhir kelak­nya. Semoga mereka telah kenyang dalam per­ja­lanan.”

“Kera­ku­san tidak menge­nal kenyang, Gusti.”

“Kakang Patih benar. Kadang-kadang memang memu­sing­kan untuk mema­hami hal-hal baru. Kapal unggul, kela­paran unggul. Seba­lik­nya, Kakang Patih, mereka yang justru memi­l­iki negeri yang meng­ha­sil­kan rempah-rempah, sepan­jang seja­rah­nya selalu hidup dalam kemis­kinan dan per­bu­dakan. Mereka yang datang men­cari rempah-rempah yang jaya dan kaya. Bagai­mana harus mema­hami ini, Kakang?”

”Itulah suratan tangan bangsa-bangsa. Gusti, hanya para pen­dita bijak­sana dapat mene­rang­kan.”

“Seka­rang rempah-rempah juga yang memang­gil kera­ku­san yang tak mau ber­bagi. Kera­ku­san yang mau ber­ku­asa dan memi­l­iki untuk diri sen­diri semata, mem­bu­nuh dan meneng­ge­lam­kan. Mereka makin men­de­kati Tuban. Rasa-rasa­nya telah dapat kami dengar bunyi meri­am­nya, meme­kak­kan dan melum­puh­kan burung-burung di cak­ra­wala.” Sua­ra­nya men­jadi pelahan men­de­kati bisikan: “Tapi Adi­pati Tuban tidak gentar, Kakang. Hanya awas-awas pada yang di barat sana: Sema­rang, Demak, Jepara, Lao Sam.”

Seben­tar ia ber­henti bicara, ter­se­nyum menim­bang-nim­bang, mata­nya ber­ki­lau, wajah­nya ber­seri: “Ya, pada­su­atu kali mereka, manu­sia ber­ku­lit putih lucu itu, seperti bawang, anak bangsa unggul itu, akan datang kemari. Kapal-kapal mereka akan ter­i­kat pada patok der­maga Tuban.” Seka­rang ia ter­tawa, sema­kin riang, “untuk Tuban, Kakang Patih, mereka tidak akan men­da­tang­kan kebi­na­saan atau kehan­curan….”

“Allah Dewa Batara mem­bim­bing Gusti Adi­pati Sese­m­ba­han.” “… mereka akan datang mem­bawa keka­yaan, kemak­muran melim­pah, emas, perak, tem­baga, sutra, intan, per­mata, akan ber­ja­tuhan, ber­ham­buran di Tuban, dari kapal-kapal mereka. Sudah kude­ngar mereka ber­so­rak-sorai. Bukan sorak keme­nangan, bukan sorak-sorai minta beli lebih banyak! Rempah-rempah! Rempah-rempah! Kerah­kan semua armada niaga, Kakang Patih. Semua. Ke Mamu­luk. Angkut semua yang ada. Ke Tuban. Itu perin­tah kami.”

Sang Adi­pati masuk ke per­a­duan dan memu­sat­kan selu­ruh piki­ran­nya untuk men­da­pat­kan keun­tungan dari per­u­ba­han baru tanpa harus mengu­rangi keun­tungan yang bisa dida­pat­kan dari kapal-kapal Islam, Nusan­tara dan Tiong­kok.

Pada waktu ia teng­ge­lam dalam piki­ran­nya, jauh, jauh dari Tuban, keja­dian-keja­dian besar telah datang silih-ber­ganti, baik di negeri Por­tu­gis maupun Ispa­nya. Pada 1492 Kris­to­fo­rus Colombo telah menye­ber­a­ngi samudra Atlan­tik, mene­mu­kan benua baru Ame­rika. Tak lama kemu­dian Ispa­nya dan Por­tu­gis mera­jai benua baru itu.

Enam tahun kemu­dian, pada 1498 pelaut Por­tu­gis Vasco da Gama mulai men­je­la­jah dunia Timur, dengan panji-panji Jus Pat­ro­na­tus yang dike­lu­ar­kan oleh Takhta Suci pada 4 Mei 1493. Kapal­nya mema­suki Mala­bar dan Goa dan ikut serta pula keku­a­sa­an­nya.

Jalan laut kapal-kapal Islam mulai ter­de­kat. Pang­kalan-pang­kalan diam­bil-alih dengan meriam….



Bab 3

Menjelang Pesta Lomba Seni dan Olahraga

Dulu di Wil­wa­tikta, ibu kota Maja­pa­hit, ter­da­pat dua istana. Sebuah istana Kaisar, yang lain istana Sang Dhar­mad­h­yaksa, peng­hulu agung ummat Buddha. Seka­rang di Tuban Kota ter­da­pat dua gedung utama. Sebuah adalah kadi­pa­ten, yang lain gedung peng­hulu negeri ummat Islam Tuban.

Seka­rang gedung kayu besar megah itu tidak lagi diting­gali oleh Sang Peng­hulu, kosong. Tetapi bebe­rapa hari bela­kangan selu­ruh pela­tar­an­nya dike­li­lingi pagar papan kayu tinggi. Dari jalanan hanya nampak atap­nya yang dari sirap jati, kelabu kehi­taman. Mela­lui pagar setinggi tiga depa itu orang tak dapat menin­jau ke dalam.

Peng­hu­ni­nya, Peng­hulu Negeri ber­a­sal dari sebe­rang, telah dipe­cat oleh Sang Patih atas perin­tah Sang Adi­pati. Dahulu ia diang­kat untuk mengu­rusi soal-soal agama pen­du­duk dan meng­a­jar­kan Islam pada anak-anak pem­be­sar. Ia juga diang­kat untuk jadi guru putra-putra Sang Adi­pati. Tetapi ia menyia-nyi­a­kan agama-agama lain yang masih dipe­luk oleh pen­du­duk negeri Tuban. Seka­rang gedung utama kedua itu ter­ting­gal kosong.

Sete­lah pela­taran dipa­gari tinggi orang justru pada datang dalam bon­do­ngan dan meng­ge­rom­bol, men­coba dapat meng­in­tip ke balik din­ding pagar. Berita telah pecah ke selu­ruh kota: Bida­dari Awis Kram­bil, I dayu, juara tari dua kali ber­tu­rut, telah datang ke Tuban Kota untuk meng­gon­dol keju­a­raan ketiga kali­nya.

Desas-desus meniup sejadi-jadi­nya: dia datang untuk takkan balik ke desa­nya lagi – seba­gai bunga per­ba­ta­san pasti dia akan dise­lir oleh Sang Adi­pati. Sebe­lum bida­dari itu jadi milik pri­badi Sang Adi­pati orang memer­lu­kan datang untuk mem­be­la­inya dengan pan­dang­nya. Bebe­rapa pemuda telah ber­mimpi akan mela­ri­kan­nya. Seba­gai selir dia takkan dapat dipuja atau dika­gumi lagi.

Tapi rom­bongan seni dan olah­raga dari Awis Kram­bil belum lagi tiba.

Desas-desus telah datang men­da­hu­lui, memer­cik ke selu­ruh kota seperti keba­karan pada padang ila­lang. Dan tak lain dari kepala desa Awis Kram­bil sen­diri yang meren­ca­na­kan dan meni­tip­kan­nya. Rom­bongan yang belum datang itu tak tahu-menahu. Hanya mereka yang melak­sa­nakan perin­tah­nya tahu benar duduk-per­ka­ra­nya: Wejangan ter­a­khir Rama Clu­r­ing telah mem­bawa desa Awis Kram­bil ke tepi kebi­na­saan. Dengan kepu­tusan sen­diri ia telah mera­cuni guru-pem­bi­cara itu. Dan pada up-acara pem­ba­karan jena­sah­nya, dibi­a­yai oleh selu­ruh desa, terang-terangan ia menye­sali wejangan men­di­ang. Seo­rang penga­wal per­ba­ta­san ber­kuda ikut menyak­si­kan. Ia meng­a­kui di depan umum, ia sen­diri yang telah mera­cun­nya untuk meng­hin­dari murka Sang Adi­pati. Sete­lah itu ia datang pada Idayu dan Galeng, mem­ba­tal­kan ren­cana per­ka­winan mereka, menang­guh­kan sampai seha­bis Lomba Seni dan Olah­raga. Mereka berdua telah mera­wat Rama Clu­r­ing sampai mati­nya. Mereka harus digi­ring ke Tuban Kota, biar Sang Adi­pati segera dapat men­ja­tuh­kan hukum­an­nya.

Ia tahu pasti segala sesu­atu ten­tang Awis Kram­bil telah sampai pada Sang Patih dan Sang Adi­pati. Dan desas-desus itu perlu untuk meng­i­ng­at­kan mereka pada Awis Kram­bil, pada Rama Clu­r­ing, Galeng dan Idayu, dan: tin­dak­an­nya yang bijak­sana.

Rom­bongan Awis Kram­bil telah nampak dari keja­uhan. Gen­dang­nya ber­talu-talu menyam­pai­kan berita. Umbul-umbul­nya jelas turun-naikdi udara meng­un­dang semua untuk senang mene­rima keda­tangan­nya.

Seru­ling­nya meleng­king. Penyam­but sepan­jang jalan ber­so­rak-sorai gegap-gem­pita.

“Dir­ga­hayu, Awis Kram­bil! Dir­ga­hayu Idayu!”

Bocah-bocah pada ber­la­rian menyong­song dengan tangan melam­bai-lambai. Tubuh mereka, telan­jang atau sete­ngah telan­jang, meng­ki­lat coklat kehi­taman seperti kayu sawo muda. Debuan jalanan menge­pul tak kenal ampun. Dan umbul-umbul di keja­uhan sema­kin cepat naik-turun.

Orang-orang kota yang menyam­but pada ger­bang ping­giran Kota ikut ber­so­rak. Laki, perem­puan, kakek, nenek, kanak-kanak. Bocah-bocah ter­bang ber­la­rian untuk menya­ta­kan kegem­bi­raan atas keda­tangan juara negeri, keka­sih semua dewa. Pria-pria tak ber­baju dengan keris ter­se­lit pada ping­gang, destar ter­i­kat long­gar, per­tanda menem­puh per­ja­lanan jauh. Wanita-wanita dalam rom­bongan juga tidak ber­baju, tidak ber­kem­ben, ber­topi caping. Pemuda-pemuda penyam­but segera menge­pung rom­bongan, untuk lebih dahulu mem­be­la­i­kan pan­dang pada Idayu, menga­gumi kecan­ti­kan, kein­dahan tubuh dan buah dada­nya.

Begitu sampai ke ger­bang per­ba­ta­san Kota, semua bunyi-bunyian meriuh gila. Seo­rang pung­gawa kadi­pa­ten, dada­nya ter­hi­asi selem­pang selen­dang sutra, sedang des­tar­nya disun­tingi bunga kena­nga, maju ke tengah jalan meng­hen­ti­kan rom­bongan. Semua melam­bai­kan tangan ber­so­rak-sorai, kecu­ali pemuda-pemuda yang sedang mene­lan tubuh bida­dari Awis Kram­bil, mera­bai tubuh­nya dengan pan­dang rakus.

Penyam­but resmi itu meng­ang­kat tangan tanpa melam­bai­kan­nya. Semua bunyi-bunyian padam. Sorak-sorai beku. Dengan suara ber­wi­bawa ia angkat bicara: “Dir­ga­hayu Awis Kram­bil!”

“Dir­ga­ha­yu­u­u­u­uuu,” semua, pen­da­tang dan penon­ton, mele­dak seren­tak.

“Tahu­kah kalian aturan masuk ke Kota?” tanya penyam­but resmi itu, seka­rang ber­to­lak ping­gang.

“Belum! Belum!” jawab rom­bongan seperti pada tahun yang lalu, juga seperti tahun-tahun yang sebe­lum­nya.

Penyam­but resmi melam­bai­kan tangan kanan, menu­run semua diam men­de­ng­ar­kan: “Buka kuping, deng­ar­kan tajam-tajam. Atas titah Sang Patih, barang­si­apa dari peda­laman mema­suki Kota harus mem­per­ha­ti­kan aturan ini: semua wanita, kecu­ali anak-anak di bawah umur, harus menu­tup dada­nya. Paling sedi­kit dengan kemban.”

Dan seperti pada tahun-tahun sebe­lum­nya juga seka­rang pemuda-pemuda ber­so­rak meng­e­jek: “Ho-ho-ho, Gusti Ben­doro Peng­hulu yang mem­buat aturan sudah dipe­cat!”

Begitu sorak ejekan padam, penyam­but resmi meni­ru­kan: “Tetap ber­laku! Ho-ho-ho!” ejekan sema­kin gemu­ruh.

“Nah, wanita-wanita Awis Kram­bil. Kalian sudah dengar per­a­turan ini. Ambil kemban dan pakai­lah!” Upa­cara sele­sai. Pemuda-pemuda meng­ha­langi mereka pema­kaian kemban, seakan-akan itu pun sudah jadi bagian dari upa­cara, sete­lah kelu­ar­nya larangan. Semua wanita pen­da­tang mela­ku­kan gerakan-gerakan mem­ban­tah kehen­dak para pemuda. Maka ter­j­a­dilah tarian untuk mere­but dan mem­per­ta­han­kan kemban. Kanak-kanak ber­so­rak dan ber­jing­k­rak dan game­lan mulai dita­buh riuh. Dan orang-orang tua pada mene­kur menge­nang­kan masa muda­nya.

“Jangan biar­kan Sang Surya malu meli­hat kalian. Cepat, karena selu­ruh Kota sudah menunggu.”

Maka gerak-gerik pera­wan yang hendak ber­kem­ban dan pemuda-pemuda yang meng­ha­langi beru­bah jadi tarian yang sesung­guh­nya. Game­lan sema­kin riuh dan tarian sema­kin indah.

Rom­bongan Awis Kram­bil sema­kin tebal dan pan­jang. Jalanan penuh-sesak. Bahkan kereta pem­be­sar menga­lah tanpa menun­tut simpuh dan sembah. Gero­bak pada mela­ri­kan diri sebe­lum ter­se­ret dalam kepa­datan manu­sia.

Sepan­jang jalan seruan dir­ga­hayu ber­de­rai ber­sam­but-sam­butan. Sampai di depan bekas gedung Peng­hulu Negeri yang ter­pa­gari papan kayu tinggi, iring-iringan ber­henti. Pintu pagar ter­buka lebar. Seo­rang penyam­but ber­diri di tengah-tengah pintu. Ia ber­kain. Karena tubuh­nya tinggi, kain itu tak men­ca­pai mata kaki. Dada­nya telan­jang. Ia tak menge­na­kan selen­dang sutra yang menye­lim­pangi dada. Di tangan­nya ia mem­bawa pedang ter­hu­nus. Di kiri dan kanan­nya ber­diri penga­wal ber­tom­bak dan ber­pe­ri­sai.

“Dari mana semua ini, maka mem­bi­kin onar di Kota?”

“Kami,” jawab kepala desa yang melom­pat ke depan, “dari desa per­ba­ta­san Awis Kram­bil.”

“Apa keper­lu­anmu, pelan­cang?” gertak penyam­but sambil meng­a­mang­kan pedang­nya.

Dua orang penga­wal­nya maju, mema­sang kuda-kuda dengan tom­bak­nya.

“Datang ke kota untuk mere­but keju­a­raan. Beri­kan­lah pintu pada rom­bongan ter­baik selu­ruh negeri ini,” jawab kepala desa.

“Ahai! Datang untuk mere­but keju­a­raan. Tidak semu­dah itu orang desa!”

“Beri­lah kami kesem­patan!”

“Baik, masuk­kan semua rom­bong­anmu, dan pergi nyah kau dari sini.”

Dan dengan demi­kian rom­bongan Awis Kram­bil masuk, kecu­ali bukan peserta. Penon­ton ber­so­rak-sorai, ber­ga­lau memang­gil-mang­gil Idayu.

Dan pintu pagar ter­tu­tup rapat.

Dua hari rom­bongan peserta Awis Kram­bil telah dias­ra­ma­kan. Pria menem­pati bangu­nan sebe­lah kanan, wanita sebe­lah kiri. Semua wakil desa-desa telah datang. Latihan pun sudah dimu­lai

Di bandar sau­da­gar-sau­da­gar, asing dan Pri­bumi meng­a­da­kan taruhan satu sepu­luh: datang-tidak­nya Sang Adi­pati ke asrama untuk mengun­jungi Idayu. Datang ber­arti bida­dari Awis Kram­bil akan ter­am­bil jadi selir. Taruhan itu sampai men­ca­pai selu­ruh muatan kapal, malahan kapal­nya sen­diri. Sua­sana hangat mem­bu­bung di atas bumi dan kepala manu­sia Tuban Kota.

Pung­gawa-pung­gawa desa Awis Kram­bil sema­kin giat meniup-niup­kan desas-desus. Dan hanya tiga orang saja seka­rang tak tahu ten­tang itu: Idayu sen­diri, Galeng dan Sang Adi­pati

Pengu­asa Tuban itu masih juga sibuk menata piki­ran meng­ha­dapi kemung­kinan datang­nya Por­tu­gis dan Spa­nyol. Juga Idayu tak kurang sibuk­nya: ber­la­tih dan mela­ku­kan peker­jaan untuk kepen­tingan ber­sama: mema­sak dan mem­ber­sih­kan asrama. Galeng pun sibuk mela­tih otot-otot­nya.

Mereka turun ke kota dan mema­suki asrama dengan hati berat. Per­si­apan per­ka­winan mereka kem­bali harus disim­pan di dalam lum­bung. Seo­rang demi seo­rang dari pung­gawa desa itu men­da­tangi mereka, memaksa dengan segala macam alasan. Mereka tetap meno­lak, mereka hendak melang­sung­kan per­ka­winan. Kemu­dian tak lain dari kepala desa sen­diri yang datang. ‘Desa kita telah dice­mar­kan oleh men­di­ang Rama Clu­r­ing’, kata­nya. ‘Kehor­mat­an­nya harus dipu­l­ih­kan, dan’, kepala desa itu menu­ding Galeng, ‘kau ber­tang­gung­ja­wab juga dalam pen­ce­maran itu!’ Galeng mem­ban­tah dan pung­gawa itu tetap menu­ding­nya, meng­an­cam akan menye­rah­kan­nya pada penga­wal per­ba­ta­san.

Tahu­lah ia: otot-otot yang per­kasa sama sekali tanpa daya meng­ha­dapi keku­a­saan kepala desa. Ia menye­rah tanpa rela hati­nya. Sebe­lum pergi kepala desa masih meng­an­cam: ‘Kau harus meng­gon­dol keme­nangan itu di Tuban Kota nanti. Kem­ba­li­kan kehor­matan Awis Kram­bil! Ia hanya bisa men­de­ham mene­rima pak­saan kepala desa, dan ia harus meng­gon­dol keme­nangan.

Galeng sedang menimba sumur asrama waktu dide­ng­ar­nya teguran sese­o­rang: Ia mene­ngok. Orang itu ter­nyata penan­tang­nya dari desa lain, dike­nal ber­nama Boris. Nama leng­kap­nya Boris­rawa, seo­rang peng­e­jek yang tajam menya­yat kata-kata­nya.

Galeng mele­tak­kan timba dan meng­ham­pir­i­nya. Dalam segala ukuran Boris kalah dari­pa­da­nya, namun sema­ng­at­nya untuk menang meman­car kemi­lau pada mata­nya.

“Kang Galeng,” kata­nya lagi. “Kau datang lagi ke Tuban Kota tahun ini.”

“Kau juga, Boris.”

Boris mil­irik tajam, bibir­nya ter­ta­rik kejang meng­e­jek: “Kau datang untuk menang? Atau untuk kehi­langan Idayu?”

Darah Galeng ter­si­rap. Seka­rang jelas pada­nya arti sin­diran-sin­diran selama dalam per­ja­lanan dan memun­cak dalam asrama ini.

Dua masa­lah­nya belum lagi ter­pe­cah­kan: menang dan lepas dari hukuman Sang Adi­pati. Seka­rang gelom­bang sin­diran ten­tang kehi­langan Idayu. Siapa bakal mampu meram­pas keka­sih dari­pa­da­nya kalau bukan pung­gawa? Ia masih dapat meng­i­ngat keben­cian Rama Clu­r­ing ter­ha­dap para pung­gawa – keben­cian yang bukan tanpa alasan. Dan pesan kepala desa dan ang­gota-ang­gota maje­lis­nya untuk turun lagi ke gelang­gang per­lom­baan. Ia masih dapat meng­i­ngat waktu Idayu meno­lak, dan rapat desa dia­da­kan dengan ter­buru-buru. Ia pun masih dapat meng­i­ngat penu­tupan per­lom­baan tahun lalu: semua gadis per­ba­ta­san dipe­rin­tah­kan menari di pen­dopo kadi­pa­ten. Tak ada pen­du­duk desa diper­ke­nan­kan hadir. Dan kemu­dian desas-desus ini mata Sang Adi­pati tak lepas-lepas dari gadis­nya, Idayu.

“Idayu, Kang – rupa­nya kau sudah rela­kan dia,” tetak­nya.

Galeng men­coba ter­se­nyum. Sum­bang. Satu dugaan telah men­do­r­ong­nya ke pojok: bukan salah seo­rang dari para pung­gawa itu, tapi Sang Adi­pati sen­diri bakal meram­pas keka­sih­nya.

“Betapa indah­nya kehi­dupan di desa sen­diri, ya Kang?”

Boris masih juga men­coba mem­ba­kar dan meng­a­n­i­aya hati­nya.

“Ya,” jawab­nya hambar.

Sebe­lum keper­gian ter­a­khir ke Tuban ia selalu merasa bangga meli­hat pan­dang pria yang mem­be­ra­hi­kan keka­sih­nya, pan­dang wanita yang menga­gumi dan men­cem­bu­rui. Seo­rang pun takkan bakal mampu meram­pas keka­sih­nya selama otot-otot dan kece­kat­an­nya masih dapat dian­dal­kan­nya. Seka­rang ia ter­sa­dar. kaum pung­gawa, ter­u­tama Sang Adi­pati sen­diri bukan seka­dar gum­palan otot per­kasa dan kece­katan meng­gu­na­kan­nya. Jauh lebih dari itu: keku­a­saan atas hidup dan mati.

“Meng­apa kau diam saja, kang? Marah barang­kali?” Begitu dili­hat­nya Galeng men­ja­tuh­kan pan­dang ke tanah basah ber­ba­tuan segera ia mene­rus­kan: “Tak ada guna marah Kang, per­cuma. Barang­kali hanya aku yang berani menya­ta­kan ini terang-terangan padamu. Seki­ra­nya kau marah, itu pun ber­al­asan. Aku memang penan­tangmu. Hadapi aku nanti di gelang­gang. Jangan di sumur sini.”

Di luar dugaan Boris, Galeng ter­se­nyum. Gigi­nya kemu­dian muncul, nampak dan gemer­lapan putih.

“Gigimu masih putih, Kang. Apa akan tetap kau biar­kan putih seperti itu?”

“Gigimu pun masih putih, Boris. Kapan kau hitam­kan?”

“Bagiku tidak soal.” Tiba-tiba ia mene­tak lagi: “Aku tidak meng­ha­rap­kan pera­wan atau jan­da­nya Idayu, Kang. Kalau dia lepas dari tanganmu, apa gigimu akan tetap putih juga?”

Galeng mening­gal­kan sumur dengan kesa­kitan dalam hati­nya. Sekali ini kema­rahan memang mem­bun­cah. Dan ia tak ingin ter­jadi per­ke­la­hian. Apa lagi ia tahu Boris sengaja hendak meng­gang­gu­nya. Ia tak jadi menimba, masuk ke dalam asrama, hendak ber­da­mai dengan hati sen­diri. Tapi kem­bali ancaman kepala desa mema­suki ing­at­an­nya. Kalau dia libat­kan diriku pada Rama Clu­r­ing, tentu juga Idayu. Dia dan maje­lis­nya telah giring kami ke Tuban Kota, ke hadapan Sang Adi­pati sen­diri.

Setiap orang tahu akibat gugatan ter­ha­dap pung­gawa, ter­ha­dap Sang Adi­pati, ter­ha­dap seo­rang raja. Hukuman. Mati. Tak ada tawaran lain. Tapi Rama Clu­r­ing tidak keliru, dia .benar, mereka tak pernah ber­buat sesu­atu untuk kawula; segala ting­kah laku mereka tak boleh disa­lah­kan, seka­li­pun hanya dengan kata-kata. Aku dan Idayu akan ditin­dak. Tidak seka­rang, pas­ti­lah nanti seha­bis per­lom­baan. Ia pun tahu betul: ada aturan yang mem­be­bas­kan setiap peserta per­lom­baan yang dias­ra­ma­kan dari segala tun­tutan.

Maka aku dan Idayu harus menang. Harus! Keme­nangan saja yang barang­kali dapat mele­pas­kan kami berdua dari hukuman. Bebas! Bebas! Mung­kin aku bisa bebas, tapi Idayu? Mung­kin­kah dia bisa balik ke Awis Kram­bil ber­sama deng­anku? Betapa bakal sunyi hidup ini tanpa Idayu, tanpa dia, tanpa tawa tanpa can­da­nya. Dan apa pula arti duka-cita seo­rang anak desa seperti kami bagi seo­rang Adi­pati yang ber­ku­asa atas hidup dan mati….?

Idayu sedang masak waktu men­de­ngar berita itu: “Galeng bingung! Galeng bim­bang! Dia akan kalah di gelang­gang nanti. Dia akan kehi­langan dua: keju­a­raan dan Idayu. Kalau dia menang, dia akan kehi­langan satu: Idayu saja, kau saja. Dia tetap akan kehi­langan.”

‘Teka-teki yang buruk,” Idayu menang­gapi dan belum begitu menye­dari duduk-per­kara.

“Bukan teka-teki. Kau sen­diri lebih tahu dari aku.”

“Apa mak­sudmu sesung­guh­nya?” ia ting­gal­kan periuk dan men­de­kati teman masak­nya.

“Mak­sudku, Idayu. Di desamu sana, semua orang meli­hat betapa indah dan ber­si­nar kul­itmu, agung kalau sudah menari, memi­kat, tinggi semam­pai seperti puncak gunung kapur. Di sini orang meli­hat kau hanya pada wajahmu. Tidak kurang ter­ta­rik.” Teman masak itu men­de­kat­kan bibir pada kuping Idayu: “Kau akan ting­gal di keput­rian, Idayu.”

Idayu mem­be­liak. Cen­tong pada tangan­nya luruh ke tanah. Wajah teman­nya tak nampak oleh­nya. Seba­gai gan­ti­nya muncul kepala desa yang ber­ku­mis jarang dan kata-kata­nya yang lembut, manis dan mem­bu­juk: ‘Keca­kapan dan kecan­ti­kanmu, Idayu, akan mem­bantu kau men­ca­pai segala yang jadi impi­anmu. Dan semua orang meni­la­inya seba­gai cantik dan tanpa tan­dingan dalam menari. Juga semua orang tahu harga kecan­ti­kan dalam per­ca­turan keku­a­saan, di desa atau­pun kota.

“Ya, Idayu, peme­nang tung­gal akhir-akhir­nya Gusti Adi­pati juga. Tidak lain dari kau sen­diri yang lebih meng­erti. Sampai seka­rang kabar­nya Awis Kram­bil belum juga men­da­pat tam­ba­han Raden Bam­bang, belum ada lagi Nyi Ayu….”

Idayu mena­rik ke dua-dua leng­an­nya jadi siku-siku, menge­jang jari-jari­nya pada pipi, men­ceng­ke­ram udara kosong. Mata­nya ber­pen­daran pada langit-langit dapur, hitam dise­la­puti jelaga tipis.

Teman­nya memu­ngut cen­tong dan men­cu­ci­nya dalam jam­bang air, kemu­dian mem­be­tul­kan letak kayu bakar. “Tak ada pilihan lain bagimu, Idayu,” kata­nya lagi sambil mele­wat­i­nya.

Dalam mata batin Idayu kini ter­pam­pang dir­i­nya sen­diri, Ia meng­erti betul kata-kata teman­nya itu. Dan ia diam. Satu doa kese­jah­te­raan mem­bu­bung dari dalam hati­nya, men­cari para dewa yang masih punya per­se­di­aan kemu­r­ahan….

Asrama itu sen­diri ter­le­tak di ten­tang alun-alun, tak sebe­rapa jauh dari gedung kadi­pa­ten.

Di luar asrama orang-orang terus juga meng­ge­rom­bol dengan harapan pintu pagar sekali-sekali dibuka dan dapat­lah pan­dang dilem­par­kan ke dalam.

Hari sema­kin gelap. Beduk mesjid Kota dan mesjid pela­buhan telah ber­talu-talu. Di sela desau dan deru ombak yang men­de­sak daratan ter­de­ngar azan bilal.

Di depan asrama orang sema­kin banyak datang. Hampir pada setiap kepala mereka hidup satu gam­baran: Idayu yang sedang menari pada per­lom­baan tahun yang lalu. Lebih dari itu: sedang ter­se­nyum pada si pemi­lik hati masing-masing, senyum seo­rang bida­dari pujaan. Idayu! Idayu! Hati mereka ber­seru-seru, ber­bi­sik-bisik, meng­gong­gong dan melo­long seperti anjing di musim kawin. Dan setiap orang di anta­ra­nya punya harapan: seo­rang dewa pemu­rah akan meng­ka­ru­ni­a­kan gadis per­ba­ta­san itu pada dir­i­nya.

Dan malam itu sete­lah meng­i­kuti pel­a­jaran tata krama kera­jaan bagai­mana harus ber­laku di hadapan para pung­gawa, ter­u­tama Sang Adi­pati sen­diri, semua calon petan­ding menuju ke bang­sal keti­duran masing-masing. Kele­lahan ber­la­tih dan bekerja mem­bi­kin mereka ter­lalu rindu pada bantal.

Idayu masuk ke bang­sal wanita. Damar­sewu pendek mene­rangi semua pojo­kan. Tanpa bicara ia rebah­kan tubuh­nya di antara kawan-kawan­nya wanita. Dan ia masih dapat menang­kap sin­diran dari sana-sini.

“Siapa seminggu kemu­dian akan mema­suki keput­rian?” dan tawa ter­ki­kik-kikik menyu­sul ber­pan­tulan dari bibir ke bibir.

Idayu diam saja dan hanya dapat berdoa. Ia rasa­kan duka-cita yang sedang mener­jang keka­sih­nya. Dan keka­sih yang dempal kuat itu muncul dalam pera­sa­an­nya seperti seo­rang bayi seminggu yang mem­bu­tuh­kan pera­wat­an­nya. Dan ia tak dapat mem­be­ri­kan­nya.

Tanpa disa­dar­i­nya mata­nya telah mele­pas muti­ara-muti­ara, ber­ki­lauan ter­timpa sinar damar­sewu. Segala kein­dahan masa kema­rin serasa akan bubar-buyar dari angan-angan keka­sih­nya. Yang ter­ting­gal akan hanya sam­pah­nya yang ber­ham­buran tak menentu.

Seo­rang demi seo­rang telah mulai ter­ti­dur. Akhir­nya tenang. Deburan laut ter­de­ngar sema­kin nyata dan sema­kin nyata. Kadang ber­lomba dengan desah angin yang mero­bosi sirap.

Sampai dengan kema­rin ia masih ter­bi­asa mem­ba­yang­kan sebuah pondok bambu ber­a­tap ila­lang, ber­diri seder­hana di ping­gir hutan. Galeng sen­diri yang meng­u­sul­kan pen­di­r­ian pondok itu. Dan mereka berdua akan mem­buka hutan di ping­giran desa itu, dan mem­buka huma seluas-luas­nya untuk gogo dan pala­wija. ‘Ayam tak perlu banyak/ keka­sih­nya menya­rani, ‘kecu­ali kalau hutan itu sudah ter­buka luas. Tiga ekor induk dan seekor jago sudah cukup untuk per­mu­laan. Dan sepa­sang anjing yang cerdas. Kelak atap ila­lang akan kuganti dengan injuk. Sudah aku keta­hui ada daerah enau. Aku sudah temu­kan daerah enau, Dayu! Kita akan bikin gula dan tuak seba­nyak-banyak­nya!

Ia simpan gam­baran itu seba­gai suatu yang ter­lalu mahal seka­rang ini.

Kemu­dian Sang Adi­pati muncul dalam mata batin­nya, ber­to­lak ping­gang, semua ram­but­nya telah putih, tegap, gagah, dan Galeng diha­lau dari hadap­an­nya. Keka­sih­nya itu merang­kak pergi ber­sama dengan impian dan kesa­kitan sen­diri. Dir­i­nya sen­diri tidak dapat ber­buat apa-apa. Sudah ter­lalu banyak cerita ten­tang raja yang meng­hen­daki pera­wan cantik dan meni­kam keka­sih pera­wan dengan tangan dan keris sen­diri. Ah, Galeng, Kang Galeng! Bahkan keka­sih­nya itu tak berani mene­ngok untuk meman­dangi buat ter­a­khir kali.

Tiba-tiba ia ter­se­dan pelan, sangat pelan. Apa pula arti air mata bagi Sang Adi­pati? Sedang nyawa orang pun mil­ik­nya? Ia tahu, di tangan Sang Adi­pati tak ada orang boleh menyen­tuh dir­i­nya, Galeng tidak, orang tuanya sen­diri pun tidak. Ia meng­ge­ra­gap bangun. Seo­rang bocah lelaki, beru­mur empat belasan, men­da­dak telah ber­diri di hadap­an­nya dan menyen­tuh dir­i­nya. Telun­juk­nya, yang ber­cin­cin emas, ter­pa­sang pada bibir – ia mem­beri isya­rat agar tak ada sesu­atu bunyi. Ia pan­dangi anak itu dari balik sela­pu­tan air mata. Masih dili­hat­nya bocah itu ber­pa­kaian ning­rat. Gelang emas meng­hi­asi lengan. Des­tar­nya saja menyang­kal kening­ra­t­an­nya, karena ujung-ujung peng­i­kat­nya ter­kanji kaku. Ikat ping­gang­nya dari kulit, lebar, ber­ki­lauan dengan hiasan perak.

Dengan sikap raha­sia si bocah menye­rah­kan seca­rik lontar.

Dan sebe­lum Idayu sempat ber­ta­nya ia telah keluar dari bang­sal wanita.

Gadis Awis Kram­bil itu melang­kah ke sebuah damar­sewu dan mem­ba­ca­nya: “Idayu, keka­sih si Kakang. Jangan kaget karena datang­nya lontar ini. Di luar sana malam, Idayu, tetapi dalam hatiku kekha­wa­tiran yang mera­ja­lela. Kalau nanti, Idayu, keka­sih si Kakang, menang atau kalah dalam per­tan­dingan, tahu-tahu Gusti Adi­pati meng­hen­daki dirimu…. Idayu, pujaan si Kakang, bagai­mana akan jadi­nya?”

Pera­wan per­ba­ta­san itu meng­hela napas pan­jang. Lontar itu dici­um­nya, kemu­dian ia gulung kecil, ia tekuk. Ia lepas­kan subang kiri dari kuping dan mem­buka cepuk­nya. Gulungan kecil lontar itu dima­suk­kan ke dalam­nya subang itu dike­na­kan­nya kem­bali. Ia merang­kak ke ambin dan turun lagi meng­am­bil kan­tong tipis dari anyaman bambu. Dari dalam­nya ia kelu­ar­kan selem­bar lontar dan sepo­tong besi meng­gu­rit. Dengan peng­gu­rit itu ia mulai menu­lis. Sete­lah sele­sai dise­ka­nya dengan jelaga pelita dan muncul tulis­an­nya.

Si bocah menongol­kan kepala di pintu. Idayu menye­rah­kan lontar balasan.

Damar­sewu tetap menyala. Menu­rut aturan asrama, lampu harus tetap menyala dari surya teng­ge­lam sampai terbit….

Gerom­bolan orang di luar asrama sudah lama bubar dengan menye­mai­kan harapan untuk hari esok.

Dalam bang­sal pria, si bocah Pada menye­rah­kan lontar balasan pada Galeng. Juara gulat tahun lalu itu tanpa sabar­nya segera mem­ba­ca­nya.

“Kakang Galeng, kakang si adik. Memang semua orang sudah bicara. Semua orang sudah tahu, Kang. Apa kau dan aku bisa per­buat, Kang? Gusti Adi­pati tak dapat kita hadapi. Semoga yang ini tidak akan ter­jadi. Kelak kau akan ter­pi­lih jadi kepala desa, Kang, kepala desa Awis Kram­bil. Aku akan jadi si embok lurah, ya Kang? Jangan pikir­kan yang lain-lain kecu­ali per­tan­dingan. Jangan malu­kan aku dengan keka­lahan. Hyang Widhi menga­bul­kan, Kang.”

Galeng menyo­r­ong lontar itu pada api damar­sewu, ter­ba­kar, jadi abu. Ia pan­dangi Pada yang masih ber­diri di sam­ping­nya. Juara gulat itu meng­ang­guk, dan bocah itu pergi meng­hin­dar, mene­rus­kan kewa­ji­b­an­nya meronda ke seke­li­ling asrama.

Bocah itu lebih suka berada di bang­sal wanita. Ke sana pula ia pergi. Baru dua tiga lang­kah ia masuk ter­de­ngar canang ber­talu tiada hen­ti­nya. Ia ber­henti dan men­de­ng­ar­kan. Kemu­dian ter­jadi yang didu­ga­nya: keri­butan terbit di dalam bang­sal itu. Cepat-cepat ia masuk ke ruangan tidur. Para peng­huni telah ter­ba­ngun semua, ber­ta­nya satu pada yang lain: bunyi canang tak pernah masuk dalam acara.

Pada ber­diri tegak. Mata ter­a­rah pada Idayu yang juga ber­diri ber­ta­nya-tanya. Ia angkat lengan, mem­beri isya­rat agar semua tenang kem­bali. Leng­an­nya yang ber­ge­lang emas diang­kat­nya sema­kin tinggi untuk mema­mer­kan per­hi­as­an­nya.

“Para mbo­kayu calon juara!” kata­nya lan­tang tanpa ragu-ragu, seperti pem­be­sar ber­peng­a­laman, “jangan kaget jangan ter­ke­jut, jangan gaduh, jangan ribut. Canang itu memang belum ada pada tahun yang lalu. Apa­lagi di malam hari seperti ini. Aturan baru, para mbo­kayu calon juara! Arti­nya, para mbo­kayu calon juara, pada malam ini keli­hatan datang­nya kapal asing akan mema­suki pela­buhan.”

“Meng­apa dipu­kul terus seperti pang­gilan perang?” sese­o­rang ber­ta­nya.

‘Tidak ada perang. Tidak ada keru­suhan. Per­tama-tama seba­gai pem­be­ri­ta­huan pada para peda­gang pela­buhan supaya siap-siap dengan barang dagang­an­nya. Kedua untuk mem­ba­ngun­kan para pekerja pela­buhan. Dan yang ter­pen­ting, para mbo­kayu calon juara: warta itu ter­tuju pada kadi­pa­ten, bukan pada asrama ini!”

‘Taluan canang itu lebih mirip dengan pang­gilan perang.” sese­o­rang mem­ban­tah.

”Kalau betul ada kapal asing datang, ten­tu­lah kapal Demak.”

“Demak?”

“Demak menyerbu dari laut?”

“Tidak. Per­ca­ya­lah pada Pada ini. Tidur­lah lagi semua mbo­kayu calon juara.”

Gadis-gadis itu ter­lam­pau mudah diya­kin­kan dengan gerak gelang dan cincin Pada. Mereka kem­bali merang­kak ke ambin­nya masing-masing dan mene­rus­kan tidur­nya. Idayu justru men­de­kati Pada.

“Tidur, mbo­kayu. Kau begitu pucat. Bebe­rapa hari lagi per­tan­dingan dimu­lai,” tegur Pada seba­gai peja­bat.

“Jangan kata­kan pada siapa pun ten­tang lontar tadi,” bisik gadis per­ba­ta­san itu tanpa meng­in­dah­kan teguran.

“Apakah ada nampak olehmu Pada ini tak dapat diper­caya?” si bocah ber­bi­sik kem­bali.

“Per­cin­taan memang dila­rang di sini mbo­kayu.”

“Bukan­nya aku tidak per­caya. Kalau sampai ter­de­ngar ke sana….” Idayu menu­ding ke arah kadi­pa­ten, “apa bakal?”

“Apa bakal jadi­nya?” ia men­ci­bir,

“Mbo­kayu celaka, Kang Galeng celaka. Aku lebih celaka lagi. Ten­tang yang sama itu bukan­kah Mbo­kayu sen­diri yang ting­gal pilih? Kang Galeng sen­diri bisa apa? Memi­lih seo­rang di antara dua tidak­lah sulit. Bukan­kah semua orang sudah tahu soal Mbo­kayu dan Kang Galeng, dan soal Mbo­kayu dengan yang sana?”

“Kalau bicara sema­umu sen­diri, Pada. Tak ada ter­niat dalam hatimu untuk mem­bantu aku dan Kakang?”

Untuk per­tama kali dalam asrama gadis itu meli­hat mata si bocah, yang bebe­rapa tahun lebih muda dari­pa­da­nya itu, menyala-nyala mem­be­ra­hi­kan­nya.

‘Tak ada orang bisa mem­bantu,” bisik­nya ber­wi­bawa. “Hanya Mbo­kayu sen­diri yang bisa menen­tu­kan, dan semua akan sele­sai. Bukan­kah Mbo­kayu seo­rang wanita di negeri sen­diri?”

“Kau benar, Pada,” ia menga­lah sete­lah meng­he­rani kebi­jak­sa­na­an­nya. “Akhir-akhir­nya aku bukan satu-satu­nya yang pernah meng­ha­dapi soal seperti ini. Si Mira dulu lebih suka menyo­bek perut­nya. Si Dama lari ke negeri Atas Angin dengan Parta. Tapi memang tidak semu­dah itu, Pada. Kau harus mem­bantu.”

“Kalau kau sudah memu­tus­kan, tentu mudah untuk mem­bantu.”

”Sudah, tidur­lah, Mbo­kayu calon juara. Makin banyak melang­gar aturan makin tidak baik,” dan ia pergi. Si lan­cang mulut itu ke luar dari ruang tidur.

Pagi itu di ruangan latihan gulat tak ada seo­rang pun ber­la­tih. Para calon petan­ding dan peng­a­was­nya pada duduk-duduk di atas tikar meng­ha­dapi sebuah meja rendah pan­jang yang belum lagi berisi sarapan. Mereka sedang memi­kir­kan sesu­atu. Tubuh mereka yang dipe­nuhi oleh gum­palan otot kuat sejak leher sampai betis seakan bong­kahan batu-batuan gunung yang ter­hem­pas di ping­gir jalan.

“Kongso Dalbi1!” sese­o­rang menye­but nama dengan diem­bus­kan.

“Kongso – seperti nama orang sebe­lah barat sana. Barang­kali dia punya darah Jawa dari sebe­lah sana.”

Galeng diam-diam men­de­ng­ar­kan untuk menge­ta­hui duduk per­kara.

“Dia bukan Jawa. Juga bukan turunan Jawa. Keling pun tidak. Kata orang kul­it­nya putih, ram­but­nya sama hitam­nya dengan kita. Badan­nya tidak lebih dempal, tidak lebih tinggi, juga tidak lebih besar dari­pada kita.”

“Jadi siapa Kongso Dalbi?” akhir­nya Galeng ber­ta­nya juga.

“Dasar tolol per­ba­ta­san, kau, juara tahun lalu. Apa guna ototmu kalau tak pernah dengar nama Kongso Dalbi? Dasar tolol per­ba­ta­san! Hanya Idayu saja tahu, itu pun bakal tak kau keta­hui juga. Untuk selama-lama­nya.”

“Husy!” peng­a­was men­di­am­kan. “Kau, Galeng wajib tahun­ama itu. Memang tidak patut tidak menge­ta­hu­i­nya. Kongso Dalbi… orang Peranggi. Peranggi pun kau tidak tahu barang­kali?”

Galeng meng­ge­leng dan Boris mener­ta­wa­kan­nya.

“Peranggi,” peng­a­was meng­u­langi. “Ayoh, kalian, siapa tahu ten­tang negeri Peranggi? Ayoh kata­kan siapa yang tahu.”

Tak ada yang men­ja­wab. Boris pun tidak “Di mana negeri Peranggi, Peng­a­was?”

“Aku tak sega­gah tidak sedem­pal kalian. Rasa­nya sudah sepa­tut­nya kalau aku pun tidak tahu.”

“Jadi apa sedang kita bica­ra­kan ini? Petai hampa? Ya, Boris? Petai hampa?” Galeng ber­ta­nya.

“Tidak,” jawab Boris gagah, “keta­hu­i­lah, calon bekas juara, bah­wa­sa­nya ada negeri di Atas Angin yang telah jatuh di tangan Peranggi. Sebuah negeri bandar. Goa nama­nya. Bandar itu seka­rang diper­gu­na­kan jadi pang­kalan kapal-kapal­nya. Tak ada yang bisa menga­lah­kan kapai-kapai mereka. Bagai­mana bisa kalau mereka sudah bubar sebe­lum men­coba? Tapi kau jangan coba-coba, Kang Galeng. Di darat mung­kin orang-orang Peranggi akan jadi pisang goreng di tanganmu, kau remah-remah, kau ban­ting. Di laut. Kang, kau hanya agar-agar belaka di tangan mereka.”

“Betul, Galeng,” peng­a­was mem­be­nar­kan. “Hanya agar-agar. Kau tak bakal bisa men­de­kat. Hanya men­de­kat! Tangan mereka ter­lalu pan­jang. Mereka bisa lem­par­kan bola-bola besi berapi padamu, sebe­sar sukun! Coba, sebe­sar sukun! Dan kau, Boris, per­ha­ti­kan mulutmu. Anak per-bata­san juga punya kehor­matan dan harga diri. Jangan suka meng­e­jek tidak sepa­tut­nya.”

“Biar, peng­a­was, dari­pada kalah untuk kedua kali­nya di gelang­gang ada baik­nya dia diberi keme­nangan di luar gelang­gang,” Galeng mele­pas­kan anak panah­nya. “Biar dia bebas meng­ge­tar­kan bibir­nya sebe­lum leher­nya patah.”

“Husy,” cegah peng­a­was. “Kau pun sama saja, Galeng, uh. Kalian datang kemari untuk jadi petan­ding atau pem­bu­nuh? PUH! Kalian pulang ke desa masing-masing untuk mem­bawa keha­ruman, bukan berita kenge­rian. Jangan kalian lupa.”

“Betul, peng­a­was, betul sekali. Dan Kang Galeng,” kata Boris, “akan pulang, mung­kin juga dengan mem­bawa keha­ruman, mung­kin juga tidak. Yang jelas dia akan pulang leng­gang-kang­kung tak lagi ber­gan­de­ngan dengan seperti datang­nya. Per­caya saja­lah. Seba­gai­mana surya terbit pada hari ini….”

Tiba-tiba per­ca­kapan mereka ter­pu­tus oleh bunyi canang ber­talu. Tak lama kemu­dian canang kadi­pa­ten menya­h­uti ber­talu pula. Dan apa pun yang sedang ter­jadi, menu­rut per­a­turan, yang ber­la­tih tak diper­ke­nan­kan ber­henti sebe­lum sarapan pagi datang.

Peng­a­was, yang menge­ta­hui pemuda-pemuda tani dan pekerja tak punya keku­atan sebe­lum sarapan, meng­am­bil kebi­jak­sa­naan untuk meng­o­b­rol sambil menunggu. Dan justru karena canang yang ramai ber­sa­hut-sahutan peng­a­was tak jadi mene­rus­kan ceri­ta­nya, bahwa kapal-kapal Peranggi sudah mulai keli­hatan ber­ke­li­aran mele­wati Sing­hala2 Dwipa.

Dari luar ruangan ter­de­ngar suara Pada ber­seru-seru seperti seo­rang pem­be­sar “Para Mbo­kayu dan Kakang calon juara – sesuai dengan aturan, tahun ini – deng­ar­kan baik-baik. Canang dari pela­buhan ber­arti: nakhoda dengan atau tanpa sau­da­gar dari kapal sema­lam sudah ber­la­buh. Seka­rang sudah siap meng­ha­dap Gusti Adi­pati Tuban. Canang kadi­pa­ten yang menya­h­uti menan­da­kan: Gusti Adi­pati siap diha­dap. Jangan gaduh, jangan geli­sah. Tidak ada apa-apa. Hanya barang siapa ingin meng­in­tip untuk meli­hat iring-iringan peng­ha­dap – kalau bisa meng­in­tip – tapi jangan rusak­kan pagar – jangan lewat­kan kesem­patan!”

“Barang­kali Kongso Dalbi!” Peng­a­was menya­rani.

Mereka ber­lom­patan bere­but dulu mening­gal­kan ruangan latihan, lari ke luar gedung. Seperti dengan sen­di­r­i­nya baik gadis maupun per­jaka meng­isi pela­taran depan dan bingung men­cari lubang pada pagar. Mereka tak men­da­pat­kan­nya. Mereka lari ke sana kemari men­cari tum­pukan batu atau kayu. Yang men­da­pat­kan tangga ber­seri-seri dengan keung­gul­an­nya dan mene­bah dada dengan keme­nang­an­nya.

Mele­wati pagar kayu tinggi itu orang meli­hat alun-alun yang leng­ang seperti biasa pada siang atau pagi hari. Jalan-jalan raya pun senyap. Sebuah iring-iringan kecil menuju ke kadi­pa­ten. Bebe­rapa orang yang sedang lewat tidak ber­sim­puh meng­hor­mati iring-iringan, tetapi ber­henti menon­ton.

Paling depan dalam iring-iringan itu ber­ja­lan Syah­ban­dar Tuban Ishak Ind­ra­jit, yang lebih biasa dise­but Rangga Ishak. Tubuh­nya yang jang­kung itu ber­ju­bah dan ber­so­r­ban putih. Sedi­kit di bela­kang­nya ber­ja­lan seo­rang nakhoda ber­bangsa Arab, ber­ju­bah dan ber­so­r­ban coklat muda. Pada per­ge­lang­an­nya meling­kar akar bahar besar. Ia ber­te­rom­pah seperti halnya dengan Syah­ban­dar. Lang­kah­nya tenang sambil mem­be­lai-belai jeng­got yang sangat tebal lebat dan kepa­la­nya selalu menun­duk seakan sedang meng­hi­tung setiap batu yang dile­wat­i­nya. Di bela­kang­nya menyu­sul para pemi­kul. Barang-barang yang dipi­kul selalu jadi per­gun­jingan. Orang men­da­pat kesem­patan menak­sir-naksir berapa dan apa macam yang bakal diper­se­m­bah­kan. Dan orang ber­ta­ruh.

Canang kadi­pa­ten ber­talu satu-satu, per­tanda iring-iringan mele­wati gapura kadi­pa­ten. Dan para peng­in­tip mening­gal­kan tempat masing-masing dan ber­la­rian kem­bali ke dalam asrama untuk men­da­pat­kan sarapan.

Pada siang hari berita ten­tang keda­tangan tamu itu meniup cepat. Benar ia seo­rang sau­da­gar Arab, bukan nakhoda dan hanya bisa ber­ba­hasa Arab, Syah­ban­dar yang jadi pener­je­mah. Per­se­m­ba­han­nya berupa per­ma­dani terin­dah dari Bagdad dan Ash­kha­bad untuk per­a­duan Gusti Adi­pati Tuban dan untuk keput­rian. Kemu­dian: batu-batu per­mata dari Arabia, Birma dan Sing­hala Dwipa, kain khasaa dari Beng­gala, sutra Tiong­kok, madu Arabia yang tiada tan­dingan, tem­bi­kar, kertas, kasut sula­man putri-putri Mesir dan Alqur’an. Lebih dari itu orang tak tahu.

Tamu itu agak aneh, kata warta yang datang meniup. Ia telah memo­hon diper­ke­nan­kan mem­per­se­m­bah­kan sesu­atu tanpa diha­diri atau dide­ngar oleh siapa pun. Juga tidak diper­lu­kan pener­je­mah.

“Jadi dia bisa Melayu!” sese­o­rang mem­beri komen­tar.

“Mung­kin juga pintar Jawa,” yang lain menam­bahi.

Per­so­alan baru itu tidak mena­rik orang.

Di dalam ruangan latihan Galeng ber­diri di dekat sebuah meja rendah pan­jang yang kini telah dita­ruhi cobek-cobek tanah berisi telur dan buah-buahan, penganan serta cawan minuman dan madu lebah. Para calon petan­ding pada mem­per­ha­ti­kan gelang dan cincin emas Pada: Bocah yang punya gaya pem­be­sar itu cekatan dalam meng­a­tur letak makanan dan minuman: Hanya Galeng mem­per­ha­ti­kan air muka­nya.

“Madu dan telur memang cukup, Pada,” tegur juara gulat dari Awis Kram­bil itu. ‘Tuak tidak. Tuak, Pada. Barang­kali kau sen­diri yang meng­ha­bis­kan­nya.”

“Ya, tuak! Tuak!” yang lain-lain mem­be­nar­kan.

“Tuak dila­rang di sini!” Pada meme­kik sengit dan keras, ber­diri tegak menan­tang mata setiap orang: Ia tahu tak ada di antara pegu­lat-pegu­lat itu berani mele­tak­kan tangan pada seo­rang peja­bat: Dan ia seo­rang peja­bat ter­per­caya dari Sang Adi­pati. “Semes­ti­nya Kakang semua ini sudah senang dengan pela­yan­anku. Bukan­kah ada juga tuak kuma­suk­kan untuk para Kakang? Apa tak juga men­cu­kupi layan­anku? Tuak dila­rang, kataku.”

“Dulu tak begitu banyak larangan,” Galeng mem­pro­tes.

“Memang. Kang Galeng tidak keliru: Dulu, dulu – seka­rang, seka­rang. Daging babi pun seka­rang sudah tak boleh dihi­dang­kan di sini. Di asrama sini, juga daging anjing.”

“Nam­pak­nya di Kota ini hanya larangan saja yang ada,” Galeng meng­an­cam.

“Belum lagi semua aku kata­kan. Nanti sore akan dires­mi­kan larangan baru: orang tak boleh lagi mema­hat batu. Nanti sore.” Dan sua­ra­nya mening­kat keras. “Kalau tidak per­caya, deng­ar­kan sen­diri nanti di alun-alun. Juga itu belum semua. Semua batu ber­u­kir di dalam kota harus dikum­pul­kan di alun-alun – besok sampai lusa, sebe­lum per­lom­baan dimu­lai. Akan dibu­ang ke laut!”

“Apa salah­nya batu-batu itu?

“Salah­nya, karena mereka ber­u­kir!” jawab Pada ketus. “Kata orang, Gusti Adi­pati Tuban merasa segan ter­ha­dap put­ra­nya, Raden Said, yang sudah jadi pan­dita besar Islam, jadi guru pem­bi­cara di mana-mana, jadi Ulama, kata orang. Dan batu ber­u­kir dalam per­a­turan Islam, kata­nya, barang-barang jahat.”

Mereka tak menye­dari, Boris dengan diam-diam men­de­ng­ar­kan dan men­de­kati mereka: Mata­nya menyala-nyala berang. Tiba-tiba dita­rik­nya meja rendah pan­jang itu dan dite­kuk-lipat­nya dengan kedua belah tangan sampai gemer­tak patah. Cawan-cawan dan cobek beserta isinya jatuh pecah ber­ham­buran di lantai. Dengan mata mem­be­la­lak ia lem­paran meja remuk itu pada din­ding.

Orang ter­ke­si­mak. Boris jadi pusat per­ha­tian. Pegu­lat penan­tang itu ber­diri di tengah-tengah ruangan. Selu­ruh otot­nya di dada, perut, ping­gul dan pung­gung ber­mun­culan tegang seakan ber­siap hendak ber­ta­rung. Kedua belah tangan­nya kini ter­ang­kat sampai bahu, juga penuh ber­gum­palan otot. Lutut­nya dita­rik­nya jadi siku-siku, siap hendak mener­kam siapa saja yang datang. Tak ada orang datang menye­rang. Yang ada justru sesu­atu yang tak nampak: keku­a­saan Sang Adi­pati. Keku­a­saan mutlak seo­rang raja yang tak dapat dita­war tak dapat dike­teng, utuh bulat tiada retak tiada rekah.

“Meng­apa marah, Boris?” Pada men­coba mere­da­kan.

Kete­gangan pada wajah dan otot Boris lambat-lambat jadi kendur. Suatu kemu­rungan meng­gan­ti­kan­nya. Ia menun­duk dalam. Tanpa meman­dang pada siapa pun keluar kata-kata sendu: “Mema­hat batu dila­rang. Lantas harus kerja apa aku?”

“Itu baru warta, Boris,” kata Pada lunak.

“Sejak kecil,” Boris meng­adu dengan suara tetap sendu, “bapakku meng­a­jari aku mema­hat. Kelu­arga kami hidup dari pahatan, turun-temu­run. Meng­apa orang tak boleh mema­hat lagi? Meng­apa? Apa jahat­nya batu-batu ber­u­kir itu?”

Galeng tak mem­per­ha­ti­kan kata-kata itu. Ia ter­he­ran-heran meli­hat keku­atan penan­tang­nya. Tahun yang lalu ia belum sekuat itu. Sung­guh lawan ber­tan­ding yang bisa mema­tah­kan leher­nya.

Boris ber­ja­lan mondar-mandir dalam berang­nya.

“Teduh! Teduh!” kata Galeng meng­hi­bur. “Pada belum lagi sele­sai dengan war­ta­nya. Terus­kan, Pada.”

“Bagai­mana wajah dunia tanpa gapura?” Boris meng­aum. “Dewa-dewa pun akan enggan turun ke bumi. Han­cur­kan­lah gapura kah­yangan, dan para dewa akan pindah ke tempat lain” Ia tutup muka­nya dengan kedua belah tangan seperti sedang memang­gil-mang­gil keku­atan dari luar dir­i­nya. Sua­ra­nya keluar lagi, seperti tangis bayi, tanpa daya: “Pindah entah ke mana para dewa itu. Cela­ka­lah manu­sia bila para dewa tak mau tahu lagi. Apakah Gusti Adi­pati sudah ber­te­kad mela­wan para dewa?”

Lambat-laun Galeng meng­erti, pema­hat penan­tang­nya sama halnya dengan dir­i­nya: sedang meng­ha­dapi keku­a­saan yang tak dapat dila­wan. Dir­i­nya dan Boris tak ubah­nya seperti bayi tanpa daya. Ia jadi iba ter­ha­dap­nya, juga ter­ha­dap diri sen­diri. Ia rasai kesa­maan nasib. Ia dekati Boris, dan: ‘Teduh, Boris. Terus­kan, Pada, yang jelas.”

“Begi­tu­lah kata warta,” Pada mene­rus­kan dengan hati-hati mata­nya ter­tuju pada Boris. “Semua bangu­nan batu di atas wila­yah Kota, gapura, arca, pagoda, kuil, candi, akan dibong­kar. Setiap batu ber­u­kir telah dija­tuhi hukum buang ke laut! Ting­gal hanya peng­u­mum­an­nya.”

“Biadab! Disam­bar petirlah dia!” Boris mera­ung, seakan batu-batu itu bagian dari dir­i­nya sen­diri. “Dia hendak cekik semua pema­hat dan semua dewa di kah­yangan. Diku­tuk dia oleh Batara Kala!” Tiba-tiba sua­ra­nya turun meng­hiba-hiba: “Apa lagi arti­nya peng­a­b­dian? Biadab! Aku pergi! Jangan dicari. Tak perlu dicari!” Mera­ung: “Bia­da­a­a­aab!”

Ia lari keluar ruangan, lang­sung menuju ke pela­taran depan. Diang­kat­nya tangga dan deng­an­nya melang­kahi pagar papan kayu.

Dari balik pagar orang ber­seru-seru: “Lari dari asrama! Lari!”

“Siapa? Siapa? Pegu­lat, ya, pegu­lat?”

“Bori­i­i­i­iis! Mau ke mana kau? Kem­bali!”

Seben­tar kemu­dian seruan-seruan ter­de­ngar meng­ge­lom­bang dan ber­gu­mul jadi satu, tak dapat ditang­kap mak­sud­nya. Suatu per­tanda orang sudah mulai meng­ge­rom­bol lagi di depan asrama.

Mereka yang ter­ting­gal masih juga ter­ma­ngu-mangu.

Gadis-gadis mulai menyerbu ke dalam ruangan latihan gulat.

“Gila men­da­dak!” jawab Peng­a­was. “Biar saja dia pergi.” Seperti telah ada per­se­tu­juan bathin. “Pergi. Itu lebih baik.”

Galeng melem­par­kan pan­dang pada tangga. Ia juga ingin bebas, lari seperti Boris. Dan itu tidak mung­kin. Hati­nya ter­paut pada Idayu….

Kea­daan tenang sampai malam turun pelahan-lahan langit dan menye­le­bungi bumi.

Mela­lui pintu pagar sam­ping, dengan iringan bebe­rapa orang penga­wal ber­tom­bak tanpa peri­sai, Sang Adi­pati mema­suki asrama. Ia ber­ja­lan lang­sung menuju ke bang­sal wanita.

Damar­sewu yang meman­car di setiap pojo­kan tidak meng­a­cuh­kan keda­tangan­nya. Para calon petan­ding pada ber­golek-golek di atas ambin sambil meng­o­b­rol. Meli­hat Sang Adi­pati masuk semua melom­pat turun, ber­sim­puh di lantai dan meng­ang­kat sembah.

‘Idayu! Mana Idayu!” pang­gil Sang Adi­pati. “Mana Idayu Awis Kram­bil?”

Alis, kumis, jeng­got dan cam­bang­nya yang putih menyala ter­timpa sinar damar­sewu.

“Idayu, keka­sih Tuban! Men­de­kat sini, kau, Gadis!”

Seso­sok tubuh merang­kak bering­sut-ingsut meng­ham­piri kaki Sang Adi­pati. Tubuh­nya meng­gi­gil seperti kucing habis ter­ce­bur dalam com­beran. Dengan tangan meng­gi­gil ia meng­ang­kat sembah untuk ke sekian kali, kemu­dian ber­su­jud men­cium kaki Sang Adi­pati seba­gai­mana di-ajar­kan oleh tata krama.

“Bawalah keha­ruman dari Tuban, semua kalian! Kau juga, Idayu, keka­sih Tuban. Jangan menge­ce­wa­kan. Tidur­lah kalian pada waktu yang sudah diten­tu­kan. Bebe­rapa hari lagi kau dan kalian akan ber­tan­ding. Dan kau, Idayu, kau ber­te­kad jadi juara lagi tahun ini? Juara tiga kali ber­tu­rut?”

“Inilah patik, Gusti Adi­pati Tuban,” jawab­nya geme­tar.

“Rupa­nya sudah cukup dewasa kau seka­rang. Belum lagi cukup­kah jadi juara dua kali ber­tu­rut?”

“Ampun, Gusti Adi­pati Tuban. Patik seka­dar men­ja­lan­kan putusan rapat desa,” sua­ra­nya masih juga geme­tar.

“Kalau sudah jadi putusan rapat desa, tak dapat­lah orang meno­lak­nya?”

“Ampun, Gusti Adi­pati Tuban, sese­m­ba­han patik. Patik takkan sang­gup hidup di luar desa patik, Gusti. lagi pula apalah bur­uk­nya men­ja­lan­kan kepu­tusan rapat desa, Gusti?”

Sang Adi­pati ter­tawa senang.

“Kata-katamu sudah seperti orang kota. Gadis. Bagus. Bukan­kah Tuban Kota lebih baik dari­pada desamu? Pasti lambat-laun kau akan lebih suka ting­gal di sini.”

Menu­rut tata krama yang dia­jar­kan, apa pun yang telah diti­tah­kan oleh Sang Adi­pati, orang tak boleh mem­ban­tah. Orang hanya mengi­ya­kan sambil meng­ang­kat sembah. Men­da­pat teguran saja dari seo­rang raja sama halnya dengan mene­rima karu­nia dari para dewa.

Idayu ber­gu­lat dengan kata hati­nya sen­diri. Bumi yang ditun­duk­i­nya men­jadi pengap. Tak dike­ta­hu­i­nya kaki pengu­asa sudah tak ada di hadap­an­nya.

Sang Adi­pati telah mening­gal­kan asrama dan mema­suki kege­lapan malam.

Mela­lui jalan bela­kang Sang Adi­pati menuju ke sebuah taman di bela­kang kadi­pa­ten yang ter­le­tak di ten­tang kan­dang gajah pri­badi Duduk ia di sana seo­rang diri dalam keru­munan nyamuk.

Para penga­wal ber­tu­gur di keja­uhan

Dan inilah waktu untuk menyen­diri bagi­nya.

Waktu seperti ini diper­gu­na­kan­nya untuk meng­i­ngat-ingat Juga untuk meran­cang-ran­cang. Juga seka­rang ini.

Nama sau­da­gar Arab yang memo­hon meng­ha­dap sen­diri itu tak juga dapat dii­ng­at­nya. Ia men­coba dan men­coba. Tanpa hasil. Nama itu ter­lalu sulit, ter­lalu pan­jang. Di antara deretan nama itu ia pun tak tahu, mana gelar mana tidak. Bahasa Mela­yunya lancar, indah dan paut. Alqur’anul Karim yang patik per­se­m­bah­kan, ya Gusti, adalah dari Mufti Besar Hay­de­ra­bad, dengan harapan sudi apalah kira­nya Gusti Adi­pati Tuban dalam ber­pe­gangan pada kitab suci ini serta memi­kir­kan ummat Islam di Atas Angin sana. Tuban dimasy­hur­kan di Atas Angin seba­gai kera­jaan ter­kuat di Jawa sete­lah Maja­pa­hit. Raja-raja Islam mem­pu­nyai harapan besar Gusti Adi­pati Tuban melim­pah­kan kesu­dian yang tiada kering­nya. Ya, Gusti, armada Peranggi tak henti-hen­ti­nya ber­u­saha mengu­a­sai dan menak­luk­kan kera­jaan-kera­jaan seke­per­ca­yaan sepan-jang pantai. Bila keku­atan mereka tak diben­dung ber­sama-sama, ya Allah, pas­ti­lah Allah jua yang akan meng­hu­kum semua kita, karena tak ber­buat sesu­atu ter­ha­dap ang­kara si kafir. Bila mereka tidak diben­dung, ya Gusti Adi­pati Tuban, entah kapan, jalan-jalan pela­yaran akan diku­a­sai semua oleh­nya. Mereka takkan ber­henti seka­li­pun sudah mengu­a­sai semua bandar. Bila mereka sampai ke Jawa, mati­lah sudah semua pela­yaran, mati­lah per­da­gangan, mati­lah bandar-bandar. Yang ting­gal hanya Peranggi dengan ang­kar­a­nya. Selu­ruh ummat Islam bisa kehi­langan per­lin­dungan, keka­firan akan menang. Mereka akan menum­pas ajaran Rasul­ul­lah s.a.w.

Sang Adi­pati masih ingat setiap kata dari per­se­m­ba­han itu. Juga barang-barang per­se­m­ba­han yang ber­a­sal dari empat orang raja Atas Angin, semu­a­nya Islam.

Dari per­se­m­ba­han itu ia mena­rik dua hal, per­tama Tuban diakui juga seba­gai kera­jaan ter­kuat di Jawa, dan kedua ia diang­gap seba­gai raja Islam. Ia ter­se­nyum dalam kege­lapan dan meng­ang­guk-angguk senang. Mereka tidak tahu, satu wila­yah Tuban telah dir­am­pas oleh kera­jaan Islam, Demak. Dan aku tidak meng­erti, bagai­mana banyak aturan aku titah­kan untuk mem­buat penye­su­aian dengan Demak. Ia sema­kin teng­ge­lam dalam piki­ran­nya.

Jauh, jauh di sana, mereka sudah meng­a­kui keis­lam­anku. Dan kare­na­nya mereka menun­tut, ber­da­sar­kan keis­lam­anku, agar aku ikut memi­kir­kan dan ber­sum­bang tangan. Ya-ya, Islam telah banyak mengun-tung­kan kami selama ini. Tapi apakah itu sudah cukup banyak untuk mem­per­ta­ruh­kan Tuban dalam suatu pepe­rangan?

Ia meng­ge­leng lemah.

Perang tidak meng­un­tung­kan. Tidak meng­un­tung­kan! Demak masih harus die­mong untuk tidak jadi binal. Jepara jatuh, tapi dalam hidupku, aku ber­sum­pah, bukan saja Jepara akan kem­bali di tangan, juga selu­ruh Demak. Tidak dengan perang. Rempah-rempah dari Tuban takkan mema­suki Jepara dan Sema­rang! Dan apa yang ter­jadi di Atas Angin sana, bukan urusan Tuban untuk men­cam­puri.

Kemu­dian ia mulai pikir­kan untuk kese­kian kali­nya kea­daan baru yang meng­ge­lom­bang di Atas Angin.

Kea­daan baru harus diha­dapi dengan per­si­apan baru. Bandar tetap jadi inti per­so­alan. Peranggi dan Ispa­nya pasti akan datang. Syah­ban­dar harus seo­rang yang pandai mela­yan­i­nya. Ishak Ind­ra­jit alias Rangga Iskak tak pandai ber­ba­hasa Peranggi dan Ispa­nya. Dia harus diganti. Bangsa dan kapal unggul yang digen­tari harus dila­yani oleh seo­rang yang bijak­sana dan tahu segala. Jelas itu bukan Rangga Iskak.

Dalam kege­lapan itu ter­de­ngar ia men­de­ngus ter­tawa, ter­i­ngat pada per­se­m­ba­han Sang Patih, ‘Ber­ga­bung dengan negeri-negeri lain, Gusti, dengan semua kera­jaan Islam, ber­sama-sama meng­han­cur­kan Peranggi dan Ispa­nya. Menu­rut patik, ampun­i­lah patik, ya Gusti Adi­pati sesem-bahan patik, itulah satu-satu­nya jalan menye­la­mat­kan Tuban. Dan Sang Adi­pati ber­ta­nya, ‘Juga dengan Demak?’ Sang Patih men­ja­wab, ‘Semen­tara Demak harus dilu­pa­kan, Gusti, Peranggi dan Ispa­nya lebih ber­ba­haya, lebih mema­ti­kan’

Sang Adi­pati senang men­de­ng­ar­kan setiap piki­ran, meng­ang­guk dan ter­se­nyum seakan-akan menya­ta­kan terima kasih. Tapi dengan diam-diam ia lebih suka men­cari jalan sen­diri. Dengan demi­kian bagi­nya ber­di­kari men­jadi sema­cam olah­raja.

Seba­lik­nya setiap laporan ia deng­ar­kan sung­guh-sung­guh tanpa senyum tanpa tawa, tanpa terima kasih. Dari semu­a­nya paling banyak ia ambil sepa­ruh seba­gai kebe­naran. Tak ada pung­gawa yang tulus sepe­nuh­nya, ia ber­pen­di­r­ian. Seba­gian dari ketu­lusan mereka hanya bea untuk kese­la­matan diri dan kepung­ga­wa­an­nya. Malahan laporan dari para pung­gawa yang ber­a­sal dari rakyat keba­nyakan hampir tak pernah ia gubris. Menu­rut pen­da­pat­nya, orang men­jadi ber­bangsa karena justru punya kehor­matan, dan rakyat keba­nyakan itu bukan saja tidak punya, juga tak tahu kebe­naran.

Syah­ban­dar harus diganti, apa pun bia­ya­nya. Dan itulah kepu­tus­an­nya malam ini.

Pada waktu Sang Adi­pati sedang mengu­kuh­kan kebi­jak­sa­na­an­nya dalam kege­lapan taman, lain lagi yang ter­jadi pada diri Syah­ban­dar Tuban, Ishak Ind­ra­jit alias Rangga Iskak

Ia sedang geli­sah di kesyah­ban­daran.

Hari ini ia telah dijeng­kel­kan oleh tamu yang seo­rang itu. Sau­da­gar Arab! Kecu­ali yang ber­hu­bungan dengan agama ia seo­rang pem­benci Arab. Setiap orang Arab meng­i­ng­at­kan­nya pada abang­nya yang telah jatuh seba­gai Syah­ban­dar Malaka, ter­paksa mer­an­tau dan mati dalam peran­tauan. Keja­tuh­an­nya dise­bab­kan oleh keli­cikan seo­rang Arab.

Dan seka­rang Abud, sau­da­gar Arab itu, harus ia layani kebu­tuh­an­nya selama ting­gal di Tuban. Baru saja datang, dan ia sudah menim­bul­kan kecu­r­i­gaan: mohon meng­ha­dap sen­diri tanpa pener­je­mah, tanpa saksi. Ter­nyata ia bukan tidak bisa ber­ba­hasa Melayu!

Tadi ia telah pang­gil Yakub agar datang meng­ha­dap pada­nya. Dan seka­rang ia sudah ber­diri di pintu, mem­bung­kuk dan ber­u­luk salam: “Assa­lamu alai­kum, ya Tuan Syah­ban­dar!”

Ia ber­gu­mam men­ja­wabi dan melam­bai­kan tangan menyu­ruh masuk. Ia tak pernah menyi­la­kan­nya duduk. Kursi adalah benda kebe­saran, juga di Tuban Kota, ter­u­tama di kesyah­ban­daran. Ia meng­ang­guk meme­rin-tahkan Yakub men­de­kat. Kemu­dian: “Apa yang bisa kau kata­kan, Yakub?” tanya­nya tajam dalam Melayu.

Yakub ber­per­a­wakan kecil, beru­mur sekira dua puluh dela­pan menu­rut per­hi­tungan bulan, tak ber­ku­mis, tak ber­jeng­got, licin seperti muka belut. Ia ter­tawa. Dan tawanya selalu menge­sani meng­en­teng­kan segala per­kara, dan: kurang ajar.

“Tuan Syah­ban­dar sen­diri semes­ti­nya sudah tahu.” jawab­nya dalam Melayu juga. “Sang Adi­pati sudah meme­rin­tah­kan penying­ki­ran pening­galan Hindu. Memang orang bilang, put­ra­nya sen­diri meme­san itu, Tuan, Raden Said, seka­rang sudah menge­na­kan gelar aneh Ki Aji Kali­jaga. Orang Jawa memang sulit Tuan Syah­ban­dar, maksud meng­gu­na­kan gelar ber­ba­hasa Arab, tapi lidah Jawa­nya memang lidah kafir ter­ku­tuk: Bukan­kah kali itu yang dimak­sud­kan­nya Kholik?” ‘

Rangga Iskak ber­ta­nya tajam: “Bukan­kah kau tahu bukan itu yang kuta­nya­kan?”

“Yang tadi itulah, Tuan. Ada kea­nehan dalam pesanan itu: Klen­teng dan Peci­nan tidak boleh diganggu!”

Seka­rang Syah­ban­dar yang ter­tawa. Dengan kedua belah tangan ia mene­puk-nepuk dada­nya sen­diri, ber­pu­tar mem­ba­lik­kan badan dan mene­rus­kan tawanya.

Ter­kena sinar tiga batang lilin yang menyala pada kandil keli­hatan Yakub ter­he­ran-heran.

“Tuan mener­ta­wa­kan Yakub?” tanya­nya menu­duh.

“Apa yang lucu padamu?”

Rangga Iskak ter­tawa di antara tawanya. “Tak pernah kau nampak seto­lol seka­rang.”

“Laporan Yakub salah?”

‘Tidak. Tak pernah aku menya­lah­kan kete­rang­anmu. Apa lagi yang dapat kau kata­kan seka­rang?”

Yakub mem­per­ba­iki sikap­nya. Dita­rik-tarik­nya ujung-ujung baju­nya yang kombor putih. Ujung hidung­nya yang man­cung ber­ca­haya ber­ge­muk meman­tul­kan sinar lilin. Nam­pak­nya ia sedang mengu­a­sai sua­sana dan ber­si­kap resmi.

“Ada sesu­atu yang lebih pen­ting,” bisik­nya sambil men­de­kat­kan mulut­nya pada kuping Rangga Iskak. Tapi seka­li­pun ia sudah ber­si­tin­jak dengan kaki dan men­do­ng­ak­kan muka, jarak antara mulut­nya dan kuping Syah­ban­dar masih ter­paut sejeng­kal.

Rangga Iskak mene­leng­kan kepala ke atas, seperti seekor ayam sedang meli­rik pada elang di langit.

“Ada sesu­atu yang lebih pen­ting, Tuan Syah­ban­dar. Sung­guh mati. Kete­rangan pen­ting patut dihar­gai satu dinar. Sedi­nar saja, Tuan Syah­ban­dar,” ia men­ja­uh­kan kepala dari tuan rumah untuk dapat mena­tap nya dengan pan­dang menun­tut “Apa kau kira aku nenekmu sen­diri, pem­bi­kin dinar? Apa kau kira satu dinar sedi­kit? Empat kali bela­yar belum tentu kau mem­per­o­leh­nya. Kalau kete­rangan itu ten­tang pem­bi­ca­raan sau­da­gar Abud dengan Sang Adi­pati, apa boleh buat. Seka­rang juga kuke­lu­ar­kan.”

“Sayang tidak, Tuan, tapi ini lebih pen­ting dari segala-gala­nya.”

“Jangan coba-coba bohongi aku, kau, penipu. Abud, sau­da­gar Arab itu, sama sekali tidak mem­bawa atau meng­am­bil barang dagangan. Pasti dia bukan sau­da­gar, dan kare­na­nya lebih pen­ting dari segala-gala­nya.”

“Tidak, Tuan Syah­ban­dar. Yang belum kuka­ta­kan ini justru yang ter­pen­ting. Satu dinar.”

Syah­ban­dar nampak ragu: Pan­dang­nya dite­bar­kan­nya ke selu­ruh ruangan. Selama ini kete­rangan Yakub selalu benar. Dan biar bagai­man­a­pun sedi­nar ter­lalu mahal. Ia tatap mata pewa­rung tuak dan ciu-arak itu, dan ia muak pada sikap­nya yang kurang-ajar dan menan­tang. Ini sudah peme­rasan, pikir­nya bukan lagi minta upah. Kalau dibi­ar­kan, dia akan men­jadi-jadi.

“Satu dinar tidak­lah banyak untuk kete­rangan pen­ting,” Yakub mera­juk. “Bukan­kah aku tak perlu menunggu begini lama?”

Per­ta­hanan Rangga Iskak patah. Dengan berat hati ia kelu­ar­kan mata uang emas dari pundi-pun­di­nya. Dilem­par­kan­nya pada orang muda yang men­ji­jik­kan itu sambil menyum­pah.

Yakub menang­kap­nya, meng­u­ji­nya di bawah lampu, ter­se­nyum, dan mema­suk­kan­nya dalam pundi-pun­di­nya sen­diri, meng­i­kat­nya dan mema­suk­kan­nya ke dalam ikat ping­gang di balik baju kom­bor­nya, mem­per­ba­iki letak baju itu dan mene­bah ping­gang.

“Kalau Tuan lebih sayang pada dinar yang satu ini, mung­kin tahu-tahu Tuan sudah kehi­langan jabatan Tuan.”

“Husy!” bentak Rangga Iskak ter­sing­gung. “Kata­kan”

“Baik, Tuan, deng­ar­kan sung­guh-sung­guh,” dengan bisik­nya Yakub meminta per­ha­tian sambil men­coba men­cari kuping tuan rumah dengan mulut­nya. “Pada sore hari ini juga, Tuan, Sang Adi­pati telah mengir­im­kan utusan ke Tran­tang. Aku sudah tahu sesung­guh­nya isi perin­tah itu: mulai besok harus sudah diper­si­ap­kan pem­bi­kinan dela­pan belas cet­bang baru.”

“Itu beri­tamu yang ter­pen­ting?”

“Betul, Tuan. Perang akan ter­jadi. Per­wira-per­wira telah men­da­pat perin­tah untuk ber­siap-siap. Peme­rik­saan atas anak buah sudah dimu­lai sejak jatuh­nya perin­tah.”

“Dalam berapa lama cet­bang harus sele­sai?”

“Tidak jelas.”

Syah­ban­dar meng­a­wasi bibir Yakub. Tapi bibir itu sudah tak ber­ge­rak lagi, seakan setiap kata yang keluar dari­pa­da­nya telah diper­hi­tung­kan har­ga­nya. Meng­erti Yakub takkan bicara lagi ia menga­lah. Ber­ta­nya: “Adakah Sang Adi­pati sudah ber­kun­jung ke asrama wanita?”

“Ada, Tuan, baru seben­tar tadi.”

Ia sorong Yakub. Orang itu keluar dan hilang ke dalam kege­lapan. Rangga Iskak ber­ke­cap-kecap menye­sali dinar­nya yang ber­pin­dah tangan. Dengan kecewa ia kunci pintu dari dalam, kemu­dian duduk ter­me­nung di atas bangku bantal kulit onta dan tak henti-hen­ti­nya ber­gu­mam: “Penipu yang ter­tipu itu telah jual dagang­an­nya padaku. Tuhan akan kutuki kau, Yakub! Apa yang kau dapat­kan dari dinar itu jadilah tuba dalam tubuhmu.”

Dengan lemas ia masih juga ber­ke­cap-kecap menye­sal sete­lah menge­ta­hui Sang Adi­pati ber­kun­jung ke rumah asrama wanita. Ia punya pedo­man: Apa­bila Sang Adi­pati masih mem­pu­nyai per­ha­tian pada wanita baru, sesu­atu yang ber­sung­guh-sung­guh tidak akan mung­kin keluar dari piki­ran­nya.

Cet­bang-cet­bang itu pas­ti­lah bukan sesu­atu yang dir­a­ha­si­a­kan, pikir­nya. Sengaja dibuat demi­kian rupa agar semua orang tahu, ter­u­tama sau­da­gar Arab si Abud kepa­rat itu diha­rap­kan­nya ter­bawa ke Atas Angin….

Piki­ran iblis! Laknat! Piki­ran licik! Tapi aku tak bisa kau tipu. Rangga Demang! Yakub bisa, tapi aku tidak. Adi­pati Tuban, Ishak Ind­ra­jit ini tak bisa kau tipu! Kau boleh ber­la­gak cerdik, tapi hanya Pri­bumi kawu­lamu yang bisa per­caya! Ha, dengan cet­bang-cet­bangmu itu seka­li­gus kau hendak meng­ger­tak Demak. Tapi siapa pun tahu kau lebih suka ber­da­gang dari­pada ber­pe­rang. Tua bangka tak tahu diri! Seka­rang aku baru meng­erti meng­apa si Boris itu lari dari asrama. Siapa tak kenal Boris pema­hat ter­ke­nal itu? Pening­galan Hindu harus dising­kir­kan. Si pema­hat jadilah seperti Syah­ban­dar kehi­langan bandar. Ya-ya, dia lari seba­gai protes. Tapi kau jangan anggap dapat mudah untuk kela­bui aku, Rangga Demang! Pesan Raden Said alias Ki Aji Kali­jaga itu pasti juga tidak ada. Kau hanya meng­hen­daki dibe­nar­kan keis­lam­anmu. Kau tetap kafir. Tapi kau memang cerdik seperti selama ini. Run­tuh­nya Maja­pa­hit juga karena kecer­dik­anmu!

Tiba-tiba ia ter­diam. Dan meng­apa kelen­teng dan Peci­nan tak boleh dir­u­sak? Tulisan cina itu juga sama dengan Hindu, meng­apa tak boleh dir­u­sak? Ia ber­diri untuk meng­am­bil kitab catat­an­nya. Tak jadi, dan duduk kem­bali. Ia meng­ang­guk-angguk meng­erti.

Peci­nan Tuban Kota ber­se­tia pada Lao Sam, yang oleh pen­du­duk; dise­but Lasem. Lasem ber­se­tia pada Sampo Toa-lang, yang oleh pen­du­duk dise­but Sema­rang. Dan Sema­rang yang men­di­r­i­kan kera­jaan Demak untuk men­jadi ben­teng­nya ter­ha­dap Tuban.

Kau benar-benar cerdik, Rangga Demang! Anak-anakmu pada meng­a­bdi pada Demak. Waktu Demak meram­pas Jepara untuk ber­ko­kok pada dunia dia tidak takut pada Tuban, semua anakmu yang di Demak diam.

Dan karena semua itu aku kehi­langan satu dinar! Kepa­rat si Yakub!

Malam itu Rangga Iskak lebih banyak meng­gi­liri istri-istri­nya di kamar-kamar bela­kang. Namun sete­lah itu ia tetap sulit memi­cing­kan mata. Dinar yang satu itu juga yang ter­ba­yang-bayang, meng­ge­lin­cir tanpa guna. Sete­lah sem­bah­yang subuh baru ia men­da­pat kete­nangan sedi­kit. Ia telah berdoa memo­hon rezeki yang ber­lim­pahan

Kete­nangan itu tiada lama umur­nya. Bebe­rapa bentar kemu­dian sau­da­gar Abud muncul untuk minta diri.

“Bagai­man sikap Tuan Syah­ban­dar kalau musuh Islam, Peranggi dan Ispa­nya, menye­rang Tuban?” tanya­nya dalam Arab.

“Mana mung­kin, ya Abud?”

“Bagai­mana tidak mung­kin? Goa jatuh. Dan Mala­bar. Mereka terus men­de­sak ke timur. Sedang kita bicara begini Sing­hala pun sudah jatuh,” Abud mene­rus­kan dalam rem­bang fajar di depan pintu gedung. ‘Tuban ter­lalu jauh, ya Abud,” jawab­nya tak acuh.

“Beng­gala pun jauh dari Peranggi.”

“Aku hanya Syah­ban­dar, bukan raja.”

“Setiap Syah­ban­dar yang cerdik bisa lebih dari raja,” kata­nya menya­rani. “Demi Allah, Tuan Syah­ban­dar mampu mem­pe­nga­ruhi Sang Adi­pati untuk sudi ber­ga­bung dengan kera­jaan-kera­jaan lain, kera­jaan Islam, mela­wan mereka. Allah mem­ber­kahi Tuan”

Pem­bi­ca­raan pendek itu sele­sai dengan keper­gian Abud ke jurusan pela­buhan.

“Arab, jih!” Rangga Iskak melu­dah ke tanah. “Setiap gerak, setiap omongan, setiap… semua menu­tupi tangan­nya yang merogo pundi-pundi orang.”

Pan­dang­nya ter­te­bar ke mana-mana, menem­busi hali­mun tipis pagi hari. Matari pun mulai terbit. Samar-samar nampak oleh­nya kedai tuak dan ciu-arak Yakub yang masih tutup.

“Dia sedang menik­mati dinarku, iblis kepa­rat itu. Ter­ku­tuk bapak­nya, ter­ku­tuk Pri­bumi ibunya.”

Kemu­dian ia ber­ja­lan menuju ke menara pela­buhan dan naik. Dili­hat­nya pen­jaga-pen­jaga menara dua orang itu sedang tidur nye­nyak. Dite­bar­kan pan­dang­nya pada kapal-kapal yang sedang ber­la­buh. Dan ia lihat Yakub sedang turun dari kapal si Abud.

“Si kepa­rat itu tentu sudah men­da­pat dinar lagi. Awas, kau, bede­bah!”

Tak dapat ia mena­han ama­rah­nya. Dipung­gung­i­nya pela­buhan. Diang­kat­nya kaki kanan­nya. Terom­pah­nya yang tua itu mem­bi­kin ia ragu-ragu. Cepat ia alah­kan kera­gu­an­nya. Kaki itu turun cepat menum­buk perut pen­jaga menara ber­ganti-ganti.

“Kafir!” maki­nya dan turun lagi.



Bab 4

Sayid Habibullah Al-Masawa

Armada Por­tu­gis itu ber­la­buh jauh, jauh, ter­lalu jauh dari der­maga. Matari pagi sedang meng­u­sir hali­mun yang masih melem­ba­yung di selu­ruh Malaka. Layar kapal-kapal dan perahu Pri­bumi masih dalam kea­daan ter­gu­lung.

Tiang-tiang­nya menu­ding langit yang tebal karena hali­mun. Dan matari sen­diri baru bebe­rapa dera­jad dari per­mu­kaan bumi. Sinar-sur­am­nya yang ber­pan­tulan pada per­mu­kaan laut ber­pen­dar-pendar lesu.

Jauh di bandar Malaka sana perahu-perahu dan kapal-kapal itu masih pada tidur, ber­a­yun-ayun malas dibuai ombak. Hanya perahu-perahu nela­yan kecil-kecil nampak hidup. Dan kalau pan­dang diang­kat naik ke darat, mata akan menam­pak atap-atap injuk, ila­lang dan sirap dari bedeng-bedeng pela­buhan. Jalanan-jalanan nampak meru­pa­kan garis tipis kuning. Hanya bebe­rapa orang keli­hatan mondar-mandir. Semua pria.

Lubang-lubang bulat pada lam­bung kapal-kapal Por­tu­gis mulai ter­buka. Mon­cong-mon­cong meriam mulai ber­mun­culan dari seba­lik­nya, Ter­de­ngar kemu­dian yang banyak dice­ri­ta­kan orang: pekik ber­sama Mariam. Meriam – meriam ber­ge­le­garan. Api ber­se­m­buran dari mon­cong-mon­cong­nya. Peluru besi beter­bangan, mem­ben­tuk keru­cut udara dengan bola-bola besi seba­gai mata­nya. Semua menuju ke bandar Malaka.

Atap injuk, ila­lang dan sirap di bandar Malaka sana mulai ter­ba­kar. Api men­ja­lar, ber­dansa dengan angin yang mulai datang ber­tiup. Asap hitam ber­ke­pulan seperti cen­da­wan rak­sasa, dengan berat­nya naik pelahan ke atas, mem­bi­kin kelam udara yang kelabu.

Kete­nangan pagi itu lenyap dalam den­tuman meriam, api, asap dan kebal­auan. Perang Salib dari bebe­rapa abad yang lalu kini ter­sa­sar­kan pada kesul­tanan Malaka.

Perahu-perahu nela­yan yang sedang pulang ke pang­kalan ber­ham­buran lari tak jadi menuju ke bandar. Perahu dan kapal lain yang ter­ti­dur hangat dalam belaian matari pagi, nye­nyak dalam ayunan ombak, mulai meng­ge­ra­gap, mena­ik­kan layar masing-masing, ber­ham­buran men­coba mela­ri­kan diri dan kese­la­matan.

Bola-bola besi dari kapal Por­tu­gis tak mem­bi­ar­kan mereka lolos. Dalam hanya bebe­rapa bentar perahu dan kapal kayu itu pun pada pecah atau menung­ging, hilang dari penge­li­hatan, dite­lan laut.

Kapal-kapal dari armada kebang­gaan Malaka masih juga belum ber­ge­rak, seakan masih ter­buai dalam mimpi indah. Tak kurang dari sebe­las jum­lah­nya. Konon kabar­nya seba­gian besar dari kesa­tuan ini dulu biasa dipim­pin oleh Lak­sa­m­ana Hang Tuah. Dan tak lebih dari tiga puluh bentar, armada kebang­gaan itu pun selu­r­uh­nya teng­ge­lam ke dasar laut.

Keba­karan sedang men­jadi-jadi di darat sana.

Dari laut nampak jalanan-jalanan pasir kuning pela­buhan mulai hidup dengan orang-orang yang ber­la­rian kebi­ngungan. Di antara mereka nampak juga wanita yang mena­rik-narik atau meng­gen­dong anak. Mereka lari mening­gal­kan daerah pela­buhan. Seba­risan pra­ju­rit ber­tom­bak muncul di der­maga, ber­henti pada akhir jalanan yang ter­pu­tus oleh laut, meng­acu-ngacu sen­ja­t­a­nya ke arah armada Por­tu­gis.

Sepu­cuk laras meriam ditu­ju­kan pada mereka. Aba-aba, den­tuman. Sebuah bola besi mem­ben­tuk keru­cut udara, ter­bang menyam­bari barisan pra­ju­rit ber­tom­bak itu. Mereka bubar ber­lom­patan dan ber­la­rian, hilang dari peman­dangan. Yang ter­sisa hanya bang­kai-bang­kai dan tom­bak­nya, tulang dan ser­pihan daging.

Tak ada lagi barisan muncul. Bandar telah jadi lautan api. Meriam-meriam ber­henti meng­gong­gong. Kapal-kapal Por­tu­gis mulai menu­run­kan sekoci. Ser­dadu-ser­da­du­nya pada turun. Dan seperti iring-iringan semut sekoci-sekoci itu menuju ke bandar.

Kini balat­en­tara Malaka mulai meng­isi semua jalanan bandar. Tombak dan pedang mereka gemer­lapan ter­timpa matari yang telah ber­ha­sil meng­u­sir hali­mun. Di antara letusan musket dari sekoci ter­de­ngar sorak-sorai mereka. Kem­bali meriam-meriam ber­den­tuman. Peluru beter­bangan dan menyam­bari mereka, tak meng­gub­ris tak meng­hor­mati tombak dan pedang dan sorak-sorai. Juga tem­bakan musket meng­gebu-gebu, meng­ha­lau, mem­bu­nuh, menum­pas. Jalanan kuning di bandar sana makin kelam disi­r­ami darah dan dise­bari ser­pihan daging dan tulang para pra­ju­rit yang tiada dapat ber­buat sesu­atu. Yang ter­sisa mela­ri­kan diri. Lenyap di balik lidah api dan cen­da­wan asap.

Tahun 1511 Masehi. Alfonso d’Albu­qu­er­que-Kongso Dalbi-menyerbu dan men­du­duki Malaka.

Dengan ter­go­poh-gopoh Sultan Mahmud Syah, ketu­runan Para­mesy­wara itu, meme­rin­tah­kan penge­rahan pasukan gajah. Bina­tang-bina­tang rak­sasa itu dida­pat­kan telah ber­ge­lim­pangan ter­ma­kan racun. Balat­en­tara Malaka tanpa per­lin­dungan gajah tak ter­bantu oleh armada, dalam waktu pendek diha­lau oleh peluru musket Por­tu­gis. Perang darat ter­jadi seperti tiupan angin lalu. Mereka mela­wan mati-matian.

Tapi sen­ja­t­a­nya ter­lalu pendek. Musket dan meriam tetap lebih unggul. Semua harus mundur, ter­paksa mundur, harus, ter­paksa. Yang ter­ting­gal hanya daging yang telah ter­pi­sah dari tulang.

Sultan Mahmud Syah mela­ri­kan diri ke Johor, Bintan, Kampar. Kera­jaan beru­mur seabad lebih bebe­rapa belas tahun itu jatuh. Dan bandar kunci Asia ini kini berada di tangan Por­tu­gis.

Dalam keri­butan dan keka­cauan ber­hi­dung beng­kung mera­ja­wali sebuah kapal kecil bercat hitam masih juga nampak aman ter­a­yun-ayun di pela­buhan. Tanpa ter­gesa-gesa layar-layar­nya dipa­sang dan ber­kem­bang lesu, kemu­dian ber­la­yar menuju ke tengah-tengah armada Por­tu­gis. Ben­de­ra­nya ber­ki­bar-kibar geli­sah pita hijau pan­jang ber­jela-jela.

Kapal kecil hitam itu terus juga men­de­kat. Semua gerak-gerik­nya tak ter­le­pas dari tero­pong d’Albu­qu­er­que. Terus men­de­kat dan nampak sedang meng­u­cap­kan sela­mat datang.Sesam­pai­nya di dekat kapal ben­dera pita hijau ditu­run­kan, ting­gal ben­dera hitam ber­si­rip kuning itu ber­ki­bar sen­di­r­ian. Kapal itu tidak ber­henti. Dengan tenang seakan tidak ter­jadi sesu­atu apa ia terus mele­wati armada Por­tu­gis. Di bawah tiang uta­ma­nya ber­diri seo­rang lelaki tinggi, agak bong­kok, ber­hi­dung beng­kung mera­ja­wali, ber­ju­bah geng­gang, mem­bawa tong­kat hitam ber­hulu gading.Kopi­ah­nya tarbus merah. Kumis, jeng­got dan cam­bang-bauk­nya meng­ki­lat hitam seperti jelaga ter­su­lam oleh bebe­rapa lembar uban.

Por­tu­gis tak sedi­kit pun meng­gang­gu­nya. Kapal kecil itu pun hanya mem­bawa seo­rang penum­pang saja. Orang itu terus juga ber­diri di bawah tiang utama. Mata­nya besar bulat-bulat, tajam dan geli­sah. Pan­dang­nya selalu ber­te­baran ke mana-mana seperti sedang men­cari sesu­atu di atas per­mu­kaan laut.

Nakhoda datang meng­ham­pir­i­nya, men­cium jubah­nya. Ber­kata dalam Melayu: “ Alham­dul­il­lah, ya Tuan Sayid Mahmud Al-Badawi. Berkah Tuan­lah maka kapal sahaya ini sela­mat.”

“Kafir-kafir itu takkan berani meng­ganggu aku,” jawab penum­pang itu angkuh. “Tuhan takkan mem­bi­ar­kan ter­lan­tar ummat-Nya yang ber­i­man.”

“Hanya dengan pita hijau!” seru nakhoda.

“Ya, hanya dengan pita hijau,” penum­pang itu mem­be­nar­kan.

“Bagai­mana sahaya harus mem­ba­las budi, ya Tuan Syah­ban­dar Malaka?” nakhoda ber­ta­nya meng­hiba. Meli­hat penum­pang­nya tak men­ja­wab, ia mene­rus­kan: “Seki­ra­nya Tuan seka­rang ini meme­rin­tah­kan sahaya menuju Tuban, tia­da­lah sahaya akan meno­lak, biar­pun upah tiada ditam­bah.”

‘Tak ada padaku niat hendak ke Tuban.”

“Bukan­kah dengan datang­nya Peranggi Tuan kehi­langan jabatan seba­gai Syah­ban­dar dan seba­gai pena­si­hat Baginda Sultan?”

“Tetap. Antar­kan aku ke Pasai.”

“Sahaya, Tuan. Tujuan tetap. Ke Pasai.” Nakhoda itu ber­henti bicara, menunggu penum­pang­nya menga­ta­kan sesu­atu. Meli­hat Sayid Mahmud Al-Badaiwi tak juga bicara, dilem­par­kan pan­dang­nya pada layar yang meng­ge­le­tar, ber­te­riak meme­rin­tah­kan mem­per­ba­iki kedu­dukan siku, kemu­dian: “Sete­lah keja­dian meng­a­get­kan ini, Tuan, ada baik­nya Tuan ber­te­duh-teduh di Tuban Di sana sedang ada pesta tahunan dari bangsa kafir itu. Biar­pun kafir, cukup menye­nang­kan juga, Tuan Syah­ban­dar.”

“Dilak­nat­lah kira­nya kafir-kafir itu,” sumpah penum­pang itu bersun gut-sun gut.

“Ampun, Tuan, kemudi tetap di arah­kan ke Pasai.” “Bukan begitu, Tuan, yang kafir bisa jadi tidak kafir lagi. Yang tidak kafir pun bisa beru­bah jadi kafir, bukan?”

‘Tak pernah ada orang men­coba meng­gu­rui aku,” penum­pang itu ber­su­ngut-sungut.

“Ampun, Tuan, kemudi tetap dia­rah­kan ke Pasai.” Penum­pang itu masih juga mera­bai per­mu­kaan laut dengan pan­dang­nya. Nakhoda men­coba meng­i­kuti arah penge­li­hat­an­nya dan tak mene­mu­kan sesu­atu yang luar biasa. Dan kapal kecil hitam itu terus juga ber­la­yar menye­ber­a­ngi Selat menuju Pasai.

“Cat hitam ini takkan sahaya ubah lagi, Tuan. Warna kese­la­matan,” nakhoda bicara lagi. “Boleh­kah kira­nya sahaya ber­ce­rita, Tuan?”

Penum­pang tak ramah itu tak meng­a­cuh­kan­nya. Dan nakhoda itu meng­go­sok-gosok kedua belah tela­pak tangan, ter­se­nyum manis dan memu­lai: “Bukan cerita, Tuan Syah­ban­dar Malaka, tapi warta. Warta sesung­guh­nya sung­guh-sung­guh­nya warta. Warta yang mung­kin khusus untuk Tuan saja.”

Penum­pang itu meno­leh pada­nya tetapi tak ber­ta­nya sesu­atu.

“Tentu Tuan meli­hat juga kapal Jawa yang teng­ge­lam seben­tar tadi. Lam­bung­nya pecah-belah seperti kepi­ting ter­in­jak. Semoga Tuhan mela­p­ang­kan jalan mereka di alam arwah’ Sema­lam, Tuan, sete­lah Tuan mening­gal­kan kapal sahaya, sahaya sudah bicara dengan nakho­da­nya, seo­rang anak muda, uh, anak semuda itu telah dile­pas jadi nakhoda. Dia akan bela­yar ke Sing­hala Dwipa, kata­nya. Sahaya tak tanya­kan muat­an­nya. Mung­kin dupa dan setanggi untuk kafir-kafir Atas Angin sana. Tapi memang ada muatan pen­ting diba­wa­nya. Dan itulah warta khusus untuk Tuan. Lagi pula sahaya tidak melang­gar ama­nat­nya, karena kita sudah berada di atas Malaka.”

Penum­pang itu nampak bosan dan jemu men­de­ng­ar­kan kicau­an­nya. Namun ia tetap tak ber­an­jak dari tem­pat­nya ber­diri. Dan mata­nya tetap menyi­siri per­mu­kaan laut.

”Bukan suatu kebe­tulan,” nakhoda mene­rus­kan seba­gai balas-jasa. “Kapal itu dari Tuban. Dan warta itu, Tuan, muatan yang lain, itu, adalah wara-wara untuk dise­bar­kan di negeri-negeri di atas Malaka. Kata­nya: Adi­pati Tuban Tumeng­gung Wil­wa­tikta men­cari Syah­ban­dar baru yang….”

Keang­kuhan, kecem­be­r­u­tan dan kese­raman penum­pang itu mengu­rang dan mengu­rang. Ia meno­leh lagi pada nakhoda. Meli­hat nakhoda itu ber­seri-seri, ia meng­ang­guk. “Begi­tu­lah war­ta­nya.”

“Mati­kah Syah­ban­dar Tuban?”

“Sayang, itu tak ter­mak­tub dalam warta. Pen­dek­nya Adi­pati Tuban men­cari Syah­ban­dar baru. Syarat-sya­rat­nya… apalah arti­nya itu? Semua sudah ada pada Tuan: bisa menu­lis, mem­baca, dan ber­ba­hasa Arab dengan baik, dan Tuan sen­diri ketu­runan Sayid-sayid Arab yang mulia….”

“Kalau itu saja syarat-sya­rat­nya, ribuan orang bisa jadi Syah­ban­dar.”

“Masih ada, Tuan, itu pun sudah ada pada Tuan: pandai ber­ba­hasa Melayu. Jangan ter­ta­wa­kan dulu, Tuan. Inilah syarat gila menu­rut pera­saan sahaya yang bodoh ini: Harus juga lancar ber­ba­hasa Peranggi dan Ispa­nya dan menu­lis serta mem­ba­ca­nya.”

Penum­pang tung­gal itu mene­gak­kan bong­kok­nya, meng­ang­kat tong­kat, dan dengan tiga batang jari meng­ga­ruk rambut di bawah tarbus. Mata­nya ber­si­nar-sinar. Satu piki­ran sedang mem­ber­sit mene­rangi wajah­nya.

“Di Jawa sana orang harus bisa ber­ba­hasa Jawa,” penum­pang itu mem­bong­kok seperti semula. “Kata nakhoda Jawa itu, bahasa jawa tidak perlu.” Sayid Mahmud Al-Badaiwi, yang kema­rin masih Syah­ban­dar Malaka sesung­guh­nya bemama Tholib Sung­kar Az-Zubaid. Nama baru­nya itu diper­gu­na­kan sejak jadi Syah­ban­dar Malaka. Nakhoda dan semua orang Malaka tak pernah menge­ta­hui. “Jadi ke Tuban tujuan kita, Tuan?”

“Tidak. Pasai.”

“Jadi tetap ke Pasai,” dengan demi­kian kapal tetap ke tujuan semula. Sesam­pai­nya di Pasai, Tholib Sung­kar Az-Zubaid alias Sa yid Mahmud Al-Badaiwi menyewa kapal Aceh yang ber­tu­juan Banten dan ia mem­ba­yar khusus untuk pela­yaran ini.

Pada waktu kapal yang ditum­pang­i­nya mancal dari Banten menuju ke Tuban piki­ran­nya tidak dise­saki lagi oleh ing­atan pada api yang men­jo­lak-jolak mem­ba­kar bekas ban­dar­nya, peluru-peluru yang beter­bangan mere­bah­kan barang siapa dan barang apa diter­jang­nya, orang yang beling­satan menye­la­mat­kan nya­wa­nya, dan balat­en­tara Malaka yang sama sekali tiada ber­daya….

Umbul-umbul ber­ki­ba­ran di seke­li­li­rig alun-alun Tuban, tinggi dan ber­warna-warni. Pada pesta tahun ini gapura-gapura batu tidak dipa­sang. Orang dapat masuk dan mening­gal­kan alun-alun tanpa mela­lui pan­dangan kala dan makara gapura. Dan orang tidak mera­sa­kan kehi­langan ini.

Pen­du­duk Tuban memang keran­jingan seni dan olah­raga. Larangan mema­hat batu dan perin­tah mem­bu­angi pening­galan Hindu seakan telah mereka lupa­kan untuk semen­tara ada pesta. Bahkan para pema­hat sen­diri menang­guh­kan keke­ce­wa­an­nya demi sang pesta.

Orang pada ber­pa­kaian bagus-bagus. Para peda­gang Pri­bumi kaya meng­hi­asi destar dengan per­mata serta menye­lit­kan keris ber­hulu emas ber­u­kir pada ten­tang perut. Bebe­rapa orang tidak menge­na­kan kain batik, tapi sarong ber­ko­tak-kotak seperti peda­gang sebe­rang.

Para wanita menge­na­kan penu­tup dada dan selen­dang seba­gai penu­tup bahu. Istri-istri peda­gang kaya keli­hatan dari selen­dang sutra­nya.

Santre-santre yang kadang ber­sa­rong putih, beram­but pendek atau gundul dan ber­ko­piah putih, turun ber­bon­dong-bon­dong­dari per­gu­r­u­an­nya masing-masing. Mereka pun takkan mele­wat­kan pesta lomba tahunan kafir yang tra­di­si­o­nal itu. Di pela­buhan kapal-kapal Pri­bumi dihi­asi dengan aneka-warna ben­dera dan umbai-umbai.

Di setiap per­em­patan jalan yang menuju ke alun-alun bunga-bungaan dika­rang jadi ling­karan besar. Buah-buahan dan telur ber­warna mem­ben­tuk ling­karan sari bunga di dalam­nya. Sedang tepat di tengah-tengah ber­diri sebuah pedu­paan tanah dengan asap harum menge­pul menyer­baki udara. Anak-anak kecil ber­lari-larian riang dengan penganan di tangan. Semua menge­na­kan pakaian dan destar baru. Dan rom­bongan-rom­bongan dari desa-desa tak henti-hen­ti­nya mema­suki kota.

Pem­bu­kaan pesta telah dia­wali dengan pawai para peserta lomba. Umbul-umbul mem­pel­o­pori barisan desa masing-masing. Di bela­kang­nya menyu­sul perang­kat-perang­kat game­lan untuk baris: gong, gen­dang, suling dan kenong. Semua game­lan dita­buh mela­gu­kan nyanyi puji-pujian kepada Hyang Widhi, tanpa suara manu­sia, tanpa tari.

Dahulu pawai selalu mula pada Sela Baginda di pela­buhan. Sete­lah tugu pra­sa­sti Air­langga dir­o­boh­kan dan juga dice­bur­kan ke laut, umpak­nya saja kini jadi tempat mem­bu­bar­kan diri.

Pawai ber­ge­rak pelahan-lahan mening­gal­kan asrama. Di antara dupa-setanggi pada setiap awalan barisan, nama Idayu ber­gema-gema dalam hati para penon­ton. Dan nama itu sema­kin semer­bak dengan sema­kin men­de­kati pem­bu­kaan. Kun­jungan Sang Adi­pati ke bang­sal wanita di dalam asrama telah meya­kin­kan semua orang: gadis per­ba­ta­san yang mena­wan hati Tuban itu pasti keluar seba­gai juara lagi. Takkan ada yang berani meni­a­da­kan isya­rat dari Sang Adi­pati.

Orang harus meng­erti tanpa ber­ta­nya.

Hari-hari meng­in­tip di depan asrama tanpa hasil mem­bi­kin orang seperti dicu­r­ah­kan mema­dati kiri-kanan pawai di mana Idayu berada. Anak-anak kecil yang ter­de­sak orang-orang dewasa, kalah tinggi dan kalah kuat, hanya bisa ber­lari-larian sambil ber­so­rak-sorak tidak menentu. Pria dewasa mem­be­la­i­kan pan­dang berahi. Wanita mene­liti apa-apa yang dapat dicela atau dipuji pada Idayu.

Semua peserta wanita ber­ka­lung rang­kaian melati. Peserta pria masing-masing mem­bawa setang­kai deda­unan beringin. Dan antara seben­tar tang­kai itu dilam­bai­kan-lam­bai­kan ke langit, meng­i­kuti jatuh­nya gong.

Tidak seperti satu atau dua tahun sebe­lum­nya kini Idayu gugup tak menentu. Ia bingung di mana harus sang­kut­kan pan­dang­nya. Ke mana pun mata­nya dia­rah­kan, ter­ta­tap juga oleh­nya pan­dang yang mem­be­ra­hi­kan, mera­juk, merayu, meng­a­jak, menga­gumi, atau hanya seka­dar hendak meli­hat­nya. Peluh telah mem­ba­sahi tubuh­nya. Ia rasai pada matari men­di­dih dalam dir­i­nya, karena di desa sen­diri ia tidak biasa ber­kem­ban. Antara seben­tar ia meng­hela napas dalam-dalam untuk menga­lah­kan kegu­gup­an­nya sen­diri.

Pawai terus ber­ge­rak pelahan. Setiap gong ber­bu­nyi seakan di atas kepala pawai tumbuh semak pohon beringin. Dan beringin itu hilang kem­bali dengan cepat seperti ter­te­lan rekah bumi.

Di depan kadi­pa­ten barisan pan­jang ber­henti. Pohon beringin melam­bai-lambai tinggi di atas kepala mereka. Kemu­dian sunyi-senyap. Juga para penon­ton ter­diam, tak ber­ge­rak di tem­pat­nya masing-masing. Kenong ber­talu. Tiba-tiba mem­bu­bung nya­nyian ber­sama dari semua gadis peserta, disah­uti oleh nya­nyian ber­sama semua pria peserta. Ber­sa­hut-sahutan seperti seribu pasang burung cocak­rawa, dalam ting­kahan game­lan baris. Sunyi-senyap.

Canang kadi­pa­ten ber­talu-talu. Semua peserta ber­sim­puh di tanah. Canang kadi­pa­ten ber­talu-talu lagi. Sebuah tandu kee­masan muncul dari kadi­pa­ten. Di atas­nya duduk Sang Adi­pati meng­ha­dapi sebuah jam­bang besar dari kuningan. Semua peserta meng­ang­kat sembah. Tandu ber­ja­lan lambat-lambat dengan gerak kaki sei­rama dari para peng­u­sung­nya, dan nampak seperti menari. Di bela­kang­nya, para pem­be­sar negeri ber­ba­ris, juga melang­kah lambat-lambat sei­rama. Juga seperti menari.

Tandu Sang Adi­pati meng­ham­piri ujung barisan yang satu, ber­ge­rak lambat-lambat sampai ke ujung yang lain sambil memer­cik­kan air bunga pada kepala para peserta.

Sele­sai itu canang kadi­pa­ten kem­bali ber­talu-talu. Sang Adi­pati dengan semua pengiring­nya ber­ja­lan kaki kem­bali masuk ke kadi­pa­ten.

Para peserta menu­run­kan sem­bah­nya, kemu­dian lambat-lambat meng­ang­kat sembah lagi tiga kali ber­tu­rut meng­i­kuti tabuhan canang.

Sele­sai itu pecah sorak-sorai gegap-gem­pita dari penon­ton. Barisan ber­diri, ber­ge­rak lambat-lambat menge­li­lingi alun-alun. Setiap sampai di depan kadi­pa­ten lagi mereka meng­ang­kat sembah sei­rama dengan paluan canang kadi­pa­ten. Kemu­dian mereka menuju ke Sela Baginda.

Dan inilah saat yang dita­kuti oleh Idayu. Ia jera ter­ha­dap orang banyak, ter­ha­dap penga­gum-penga­gum­nya. Di dalam barisan ia masih ter­lin­dungi oleh aturan. Tanpa barisan, dengan semua mata ter­tuju pada­nya? Begitu pawai bubar segera ia lari men­da­pat­kan Galeng, ber­lin­dung di balik bahu­nya yang bidang. Teman-teman sedesa melin­dung­i­nya rapat-rapat. Lenyap ia dari peman­dangan penon­ton.

“Idayu! Idayu!” orang ber­seru men­cari-cari, kecewa, jeng­kel, mem­bu­juk, merayu, “di mana kau, Idayu? Di mana?”

Gadis dan per­jaka Awis Kram­bil men­jadi gum­palan pelin­dung bida­dari per­ba­ta­san itu ter­ha­dap gang­guan. Rom­bongan ketat itu mena­han semua ser­buan, sedang umbul-umbul desa ber­ja­lan men­da­hu­lui.

Sampai di alun-alun gum­palan ketat Awis Kram­bil lang­sung menuju ke bang­sal penari. Dan di sini kea­daan telah aman. Aturan tidak mem­be­nar­kan orang meng­ham­piri bang­sal kecu­ali hanya untuk menon­ton per­tun­jukan. Dan per­lom­baan tari tak pernah dia­da­kan di pagi atau siang hari.

Pesta lomba dibuka dengan sodor ber­kuda dan ujungan dan lomba ban­teng dan gulat. Sodor ber­kuda dii­kuti hanya oleh para pra­ju­rit per­jaka. Sorak-sorai gegap-gem­pita tak putus-putus­nya meng­iringi sudah sejak per­tand ingan belum dimu­lai. Mula-mula lap­angan yang ter­se­dia seakan disapu oleh seba­risan pra­ju­rit mena­buh gen­dang dengan ber­lari dalam barisan. Di bela­kang­nya meng­i­kuti barisan dari Pasukan Kuda. Setiap penung­gang menu­run-naik­kan ben­dera merah dan kuning dan ungu dan hijau. Petan­ding ber­ba­ris di bela­kang­nya dengan gerakan kuda yang menge­d­rap, pelan seakan tidak akan bering­sut dari tempat. Bila barisan gen­dang dan Pasukan Kuda telah mening­gal­kan lap­angan, para petan­ding memacu kuda menge­li­lingi lap­angan. Kemu­dian dua petan­ding diting­gal­kan untuk menga­wali per­lom­baan.

Mereka ber­ha­dap-hadapan jauh pada tepi-tepi yang ber­ten­tangan. Dua barisan pra­ju­rit dari Pasukan Kaki masuk ke dalam lap­angan dan mem­per­se­m­bah­kan kayu sodor pada mereka. Kemu­dian mereka lari mening­gal­kan lap­angan.

Canang ber­talu. Kedua petan­ding mele­sit maju ke tengah-tengah lap­angan dii­ringi oleh sorak-sorai. Kayu-kayu sodor tera­cu­kan di atas kepala kuda. Dan bila sorak-sorai tiba-tiba ber­henti kea­daan sunyi-senyap, per­tanda sese­o­rang telah ter­ja­tuh dan dinya­ta­kan kalah. Tak jarang per­tan­dingan harus diu­lang-ulang karena tak ada yang segera ter­al­ah­kan.

Kata orang tua-tua per­ma­inan ini ber­a­sal dari Atas Angin, diper­ke­nal­kan oleh pen­da­tang-pen­da­tang Beng­gala sekira seribu tahun yang lalu, menu­rut per­hi­tungan surya. Per­ma­inan ujungan lain lagi corak­nya. Penon­ton sama sekali tidak ber­so­rak. Ya, seka­li­pun sedang men­ja­goi desa­nya sen­diri. Mereka meng­i­kuti per­tan­dingan dengan diam-diam. Di atas pang­gung tampil dua orang petan­ding. Canang ber­talu. Mereka menyem­bah pada penon­ton, ber­pu­tar-putar di pang­gung mem­per­li­hat­kan tubuh mereka yang ber­ca­wat, mema­mer­kan lengan dan paha dan dada dan pung­gung dan kepala, dan meng­ang­kat kaki mema­mer­kan tulang-kering­nya. Mereka keli­hatan pengap seperti habis dipu­kuli. Kulit mereka seperti ter­kena lepra, mem­beng­kak merah dengan pori-pori kulit melo­tot keluar. Tak bisa lain, karena ber­minggu sebe­lum ber­tan­ding kulit mereka digo­sok dengan luma­tan daun tapak liman untuk mema­ti­kan pera­saan kulit.

Seha­bis pameran mereka mening­gal­kan pang­gung di bawah taluan canang. Ting­gal dua orang petan­ding yang akan ber­ke­lahi. Masing-masing ber­sen­ja­ta­kan sebi­lah rotan yang sama ukur­an­nya. Menu­rut aturan setiap petan­ding mem­pu­nyai kebe­basan memu­kul dan memi­lih sasaran. Maka bilah-bilah rotan ber­a­yun dan meng­gebu, mem­ba­bat dan mener­jang bagian tubuh mana saja: hidung, dagu, dada, kaki, kepala. Sasaran yang men­ja­tuh­kan adalah batok kepala dan tulang kering. Untuk melin­dungi kedua-duanya melom­pat ketang­kasan melom­pat dan ber­ke­lit men­jadi syarat mutlak, sedang keu­letan kulit, daging dan tulang dan syaraf jadi peta­ruh menen­tu­kan. Bila ter­nyata tak ada yang kalah atau menang, tak ada yang jatuh ter­gu­ling, mereka mela­ku­kan undian dengan sut di bawah peng­a­was. Si peme­nang sut boleh memu­kul tulang kering lawan­nya sampai sepu­luh kali. Bila ia tidak roboh, ia boleh mem­be­ri­kan pukulan balasan.

Tak ada yang ber­so­rak-sorai, hanya meri­ngis-ringis, menge­r­nyit-nge­r­nyit, menge­luh, meng­a­duh, menge­jap-nge­jap­kan mata seperti seke­lom­pok monyet kehi­langan akal pada setiap pukulan yang jatuh. Jan­tung terasa seperti dice­kam, dir­e­mas-remas men­jadi ciut. Bila salah seo­rang roboh dan ter­paksa digo­tong keluar, orang pun tak juga ber­so­rak. Hanya menge­luh dan meng­a­duh atau meng­em­bus­kan napas pan­jang.

Kalau pukulan tulang kering tidak mero­boh­kan, sut dia­da­kan lagi. Dan sekali ini batok kepala yang dipu­kul ber­gan­tian. Tiga kali. Bia­sa­nya orang tak dapat mena­han lebih dari dua kali dan roboh ter­jeng­kang di gela­dak pang­gung. Lomba ban­teng lain lagi ceri­ta­nya. Pada per­tan­dingan ini kanak-kanak dila­rang menon­ton. Peserta hanya dari kalangan pra­ju­rit per­jaka. Juga tidak setiap tahun dia­da­kan. Harus ada per­mo­honan dari para pra­ju­rit sen­diri, yang ingin melom­pat jadi per­wira Penga­wal. Lomba khusus ini, bila ada, selalu diper­ge­lar­kan pada sore hari tanpa disa­ingi oleh lomba-lomba lain.

Dalam medan yang dipa­gari balok-balok kayu, seekor ban­teng lapar dile­pas­kan. Orang pun ber­so­rak-sorak. Bina­tang lapar itu jadi marah dan bingung, ber­ja­lan mondar-mandir, kadang ber­la­rian kecil mengi­tari medan. Kadang ber­henti seje­nak untuk meme­lo­toti penon­ton.

Sera­tus gen­dang dipu­kul orang. Dan seo­rang pra­ju­rit penan­tang naik­lah ke atas pagar balok. Ia melom­pat ke atas leher bina­tang lawan­nya dan ber­u­saha, dengan kedua belah tangan ber­pe­gangan pada tanduk, mem­ban­ting­nya. Belum tentu sang penan­tang ber­ha­sil. Tak jarang orang keha­bisan napas dan tenaga dan ter­lom­pat ke udara menyem­bur­kan darah dan isi perut.

Ber­kali-kali ter­jadi seo­rang penan­tang lari dan lari mem­bi­ar­kan diri diburu sampai lawan­nya keha­bisan tenaga. Baru kemu­dian ia meng­gu­guh mata lawan­nya sampai bola­nya ter­lom­pat keluar dari rongga. Dengan gugu­han pada mata yang lain ban­teng buta itu kehi­langan daya. Ia dinya­ta­kan menang, hanya bukan dengan nilai ter­tinggi. Menu­rut aturan, keme­nangan yang sem­purna adalah bila penan­tang dapat mere­muk­kan kepala lawan­nya dengan pukulan tangan. Dan orang pun ber­so­rak-sorai men­deru. Mereka menyerbu ke gelang­gang, meng­go­tong si peme­nang, meng­a­rak­nya ke kadi­pa­ten. Para peng­go­tong itu adalah gadis-gadis Tuban. Maka juga para penon­ton keba­nyakan gadis. Pada umum­nya penan­tang ban­teng punya maksud Iain dari­pada hanya ingin melom­pat jadi per­wira Penga­wal. Bia­sa­nya ia orang putus-asa karena kega­galan cinta. Dalam gotongan dan arakan para gadis Sang Adi­pati akan menyam­but­nya pada anak tangga kadi­pa­ten. Di sana ia ditu­run­kan, men­da­pat pang­kat dan nama dan gelar keten­ta­raan yang men­jadi haknya. Tanda-tanda pang­kat pun dike­na­kan pada badan­nya: gelang dan keris, dan kalung. Begitu ia men­da­pat peng­ang­kat­an­nya ia dapat memi­lih pasangan hidup­nya dan men­jadi kesu­kaan pada hari itu. Dan masya­ra­kat Tuban yang meng­a­gung­kan kepah­la­wanan ikut serta mera­ya­kan kegem­bi­raan mereka berdua.

Lomba gulat adalah umum. Selalu dia­da­kan pada pagi hari. Pra­ju­rit tidak diper­ke­nan­kan serta. Penon­ton dari desa-desa ber­so­rak-sorai untuk jago­nya masing-masing. Dua orang peja­bat pang­gung tak henti-hen­ti­nya memer­cik­kan air pada para petan­ding sehingga lantai pang­gung jadi basah, kotor dan licin – kea­daan yang mem­bi­kin petan­ding lebih mena­rik. Para petan­ding hanya menge­na­kan cawat. Tidak boleh ber­des­tar. rambut harus disang­gul untuk tidak meng­ha­langi peman­dangan.

Pada tahun yang lalu Galeng telah meme­nang­kan keju­a­raan. Tahun ini dengan atau tanpa Boris, ia ber­te­kad meme­nang­kan keju­a­raan ber­tu­rut. Ia harus hadapi lima belas orang penan­tang. Tak tahu ia bagai­mana harus menga­lah­kan orang sebar­i­yak itu. Dan sudah men­jadi kebi­a­saan bagi juara gulat men­da­pat banyak tan­tangan. Makin banyak penan­tang makin banyak kemung­kinan seo­rang juara dite­len­tang­kan di atas lantai pang­gung.

Dalam per­tan­dingan awal Galeng ber­ke­lahi seperti orang keran­jingan. Ia lebih banyak ber­tem­pur menak­luk­kan keta­kutan dan keke­cilan hati sen­diri dan cem­buru sen­diri. Sang Adi­pati harus tahu: si Galeng bukan per­jaka yang mudah mele­pas­kan Idayu apa pun yang ter­jadi, Idayu hanya untuk diri dan keba­ha­gi­a­an­nya.

Dua-tiga orang penan­tang telah diban­ting­nya dan nyaris mati. Per­tan­dingan dihen­ti­kan untuk semen­tara. Para petu­gas ragu-ragu atas sikap juara dari Awis Kram­bil. Ia lebih banyak tampil seba­gai pem­bu­nuh dari­pada olah­ra­ga­wan. Dan ia akan ber­ke­lahi terus seperti itu bila idaman hidup dir­eng­gut­kan orang dari­pa­da­nya. Tak peduli orang itu Sang Adi­pati atau pung­gawa praja.

Dengan titah Sang Adi­pati per­tan­dingan gulat dite­rus­kan. Ia ber­ke­lahi terus, meng­a­muk­nya orang yang ter­po­jok­kan. Kun­jungan pengu­asa Tuban pada keka­sih­nya di asrama telah mem­bi­kin­nya kalap. Ia akan tun­juk­kan pada raja­nya, ia juga bisa ber­ke­lahi, dan mela­wan siapa saja: ia akan beri­kan nya­wa­nya untuk bukti cin­ta­nya pada Idayu mela­wan penan­tang gulat atau­pun penan­tang tombak-tombak para penga­wal.

Pada awal per­lom­baan menari Idayu dipan­cari sema­ngat tinggi. Dua tahun ber­tu­rut-turut ia telah meme­nang­kan keju­a­raan per­tama. Tahun ini ia ber­te­kad untuk meme­nang­kan lagi. Bukan karena kun­jungan Sang Adi­pati yang jadi isya­rat pada para peni­lai. Ia harus menang karena keju­a­raan tiga kali ber­tu­rut mem­be­ri­nya sesu­atu ren­cana kemung­kinan: ia punya ren­cana. Dalam setiap per­tan­dingan Galeng memer­lu­kan hadir. Bukan karena hendak menon­ton, hanya hendak mema­tah­kan batang leher orang, siapa saja, yang berani ber­ting­kah ter­ha­dap Idayu. Tak ada suatu gerak ter­le­pas dari per­ha­ti­an­nya.

Per­lom­baan telah ber­ja­lan bebe­rapa hari. Setiap pulang dari menari Idayu lang­sung pergi ke tempat keka­sih­nya untuk mengu­rut­nya. Ia tak peduli pada larangan yang ber­laku. Para pung­gawa tak sampai hati mela­rang­nya, menge­ta­hui, itulah hari-hari ter­a­khir dua orang keka­sih itu dapat ber­kum­pul untuk kemu­di­an­ber­pi­sahn buat selama-lama­nya….

Pagi hari waktu itu. Per­tan­dingan olah­raga sedang seru-seru­nya ber­ja­lan.

Syah­ban­dar Rangga Iskak sedang sibuk di pela­buhan men­ca­tati nama orang dan kapal pela­rian yang ber­bon­do­ngan datang dari Malaka dan telah dito­lak di bandar-bandar lain di Suma­tra dan Jawa. Di Tuban mereka ber­mak­sud memo­hon per­lin­dungan pada Sang Adi­pati Tuban Arya Teja Tumeng­gung Wil­wa­tikta. Jatuh­nya Malaka ke tangan Kongso Dalbi telah jadi penge­ta­huan umum.

Di antara para pen­da­tang ter­da­pat bekas Syah­ban­dar Malaka Sayid Mahmud Al-Badaiwi alias Tholib Sung­kar Az-Zubaid.

Seki­las Rangga lskak menge­ta­hui, pen­da­tang itu seo­rang Arab – Arab yang diben­ci­nya. Ia ber­be­nah dalam hati, menying­kir­kan pera­saan pri­badi dan mela­yan­i­nya sebaik mung­kin.

Ia per­si­la­kan pen­da­tang jang­kung agak bong­kok, ber­hi­dung beng­kung mera­ja­wali itu, untuk menyam­pai­kan halnya. Dan nah­koda kapal yang ditum­pang­i­nya tidak ikut men­da­rat. Ia agak heran, tetapi tidak mena­nya­kan. Kapal itu akan ber­la­yar terus menuju Gresik.

“Tuan Syah­ban­dar Tuban,” bekas Syah­ban­dar Malaka memu­lai dalam Arab. “Ber­kah­lah untuk Tuan buat hari ini. Aku pen­da­tang baru, jur­a­gan kapal itu. Kapalku akan terus berang­kat dan akan men­jem­put aku kelak. Uang labuh untuk sehari akulah yang mem­ba­yar­nya. Namaku Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa dari Mala­gas!, ber­mak­sud meng­ha­dap Sang Adi­pati Tuban.”

“Ber­kah­lah Tuan untuk hari ini. Maksud Tuan akan ter­pe­nuhi.”

Pada para pekerja ia perin­tah­kan untuk meng­ang­kuti barang-barang per­se­m­ba­han. Ia perin­tah­kan canang menara dipu­kul untuk per­tanda akan adanya peng­ha­dapan.

Canang kadi­pa­ten men­ja­wab.

Iring-iringan peng­ha­dap berang­kat, ter­ma­suk bekas Syah­ban­dar Malaka, Tholib Sung­kar Az-Zubaid alias Sayid Mahmud Al-Badaiwi dan seka­rang ber­nama Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa dari Mala­gasi. Di bela­kang mereka menyu­sul para pemi­kul per­se­m­ba­han.

Di alun-alun mereka meli­hat orang ber­je­jal-jejal menon­ton per­tan­dingan. Umbul-umbul ber­ki­ba­ran tinggi di mana-mana. Dan karangan-karangan bunga di per­em­patan jalan. Mereka dengar sorak-sorai tak henti-hen­ti­nya. Di negeri ini orang ber­suka-suka, negeri yang mereka ting­gal­kan sedang ter­landa Por­tu­gis.

Pen­da­tang yang mena­ma­kan diri Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa mem­per­ha­ti­kan semua dengan kuping dan mata­nya.

“Tuban sedang mera­ya­kan pesta tahunan,” Rangga lskak alias Ishak Ind­ra­jit mene­rang­kan dalam Melayu. Ia tak mene­rus­kan, mem­bisu, tak mem­beri kesem­patan pada para pen­da­tang untuk ber­ta­nya. Orang Arab yang seo­rang itu meru­suh­kan hati­nya.

Mereka ber­henti di depan pen­dopo. Dua orang peja­bat datang dan menyam­pai­kan tata-tertib. Mereka mele­pas semua alas kaki, sen­jata tajam dan tumpul kecu­ali keris. Maka alas kaki pun ber­ba­ris ber­ja­jar, dan tong­kat dan bawaan pri­badi. Mereka diper­si­la­kan masuk ke pen­dopo dengan kaki telan­jang, duduk ber­de­ret-deret di hadapan kursi gading kedu­dukan Sang Adi­pati.

Kursi itu sen­diri ber­diri di atas lantai khusus yang diting­gi­kan. Sebuah bangku rendah ber­la­pis bantal ber­diri di bawah­nya. Itulah tempat Sang Adi­pati mele­tak­kan kaki­nya. Menu­rut per­a­turan peng­ha­dapan secara Tuban, orang-orang asing bukan Nusan­tara tidak diwa­jib­kan duduk dan menyem­bah. Bangku atau kursi duduk tidak pernah dise­di­a­kan. Mereka harus ber­diri dan barang siapa tidak duduk harus meng­am­bil tempat di ping­gir.

Biti-biti per­wara keluar men­du­duki tem­pat­nya di bawah kiri dan kanan takhta Sang Adi­pati. Pada tangan­nya mereka mem­bawa nampan kuningan tempat sirih dan jam­bang kuningan tempat ludah. Menyu­sul kemu­dian ben­tara kiri dan kanan, yang meng­am­bil tempat di kiri dan kanan bela­kang takhta. Mereka semua ber­sen­jata tombak dan peri­sai. Baru kemu­dian datang Sang Adi­pati dalam iringan Sang Patih dan para pem­be­sar lain. Di bela­kang­nya lagi menyu­sul para penga­wal.

Para peng­ha­dap yang duduk menyem­bah ber­sama-sama. Mereka yang ber­diri di ping­gir menyam­pai­kan hormat dengan cara­nya masing-masing. Orang-orang Beng­gala, ter­ma­suk Syah­ban­dar Tuban, ber­diri sambil meng­ang­kat sembah dada. Sang Patih dan para pem­be­sar yang duduk ber­sila jauh di sam­ping kiri dan kanan Sang Adi­pati, juga meng­ang­kat sembah.

Upa­cara peng­ha­dapan sele­sai. Syah­ban­dar Tuban mem­ba­ca­kan daftar para peng­ha­dap, nama, asal, peker­jaan dan per­mo­hon­an­nya. Kemu­dian seo­rang demi seo­rang maju meng­ha­dap lebih dekat dan meng­ha­tur­kan per­se­m­ba­han­nya sambil memuji-muji barang­nya. Sete­lah per­se­m­ba­han menyu­sul per­mo­honan dengan mulut sen­diri.

Sang Adi­pati duduk men­de­ng­ar­kan, tanpa bicara, meng­ang­guk dan ter­se­nyum, atau meng­ge­leng dan ter­se­nyum.

Semua peng­ha­dap tahu belaka, satria Jawa tidak ber­baju dalam peker­jaan resmi, dan mereka meng­hor­mati kebi­a­saan ini.

Bekas Syah­ban­dar Malaka ter­can­tum dalam daftar ter­a­khir. Waktu sampai pada gilir­an­nya ia bicara dalam Melayu: “Patik datang dari Mala­gasi, ya Gusti Adi­pati Tuban yang ter­masy­hur penga­sih di sepan­jang pantai Atas Angin. Orang memang­gil patik Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa. Kata sil­si­lah kelu­arga, patik adalah ketu­runan ke empat puluh dari Nabi Besar Muham­mad s.a.w.”

Rangga Iskak mengem­yit­kan dahi. Gigi­nya ber­ke­rut. Ia tak per­caya. Pra­sangka mulai ber­bi­sik-bisik dalam hati­nya: Itulah dia penipu yang kau tunggu-tunggu!

“Patik hanya­lah sau­da­gar rempah-rempah yang bela­yar dari bandar ke bandar. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat dito­lak, Tuhan belum­lah mem­ber­kahi, ya Gusti Adi­pati Tuban. Sesam­pai di Malaka, Peranggi sedang meng­ga­gahi bandar. Semua isi kapal patik dir­am­pas dan kapal patik diba­kar. Alham­dul­il­lah Tuhan masih ingat pada hamba-Nya ini. Segala puji untuk Yang Maha Penga­sih dan Maha Penya­yang.”

Bekas Syah­ban­dar Malaka itu masih juga tak mem­per­se­m­bah­kan sesu­atu barang.

Si penipu itu! pikir Rangga Iskak. Dia sedang mema­in­kan lidah­nya.

“Lari­lah patik ke Beng­kulu. Dengan kapal patik yang ada di Jambi patik bela­yar kemari untuk memo­hon per­lin­dungan Gusti Adi­pati Tuban. Adapun harta benda patik selu­r­uh­nya telah habis untuk mem­ba­yar keru­gian di Malaka. Ampun, Gusti, bila patik tidak mampu mem­per­se­m­bah­kan barang sesu­atu yang mahal-mahal.”

Nampak Sang Adi­pati mulai kehi­langan kesa­bar­an­nya. Ia meng­uap, dan ditu­tup­nya mulut­nya dengan tinju. Gelang-gelang emas pada tangan­nya, ber­u­kir dan ber­ta­tah­kan intan per­mata, ber­ki­lauan. Namun ia tidak mem­beri isya­rat men­ce­gah peng­ha­dap itu mene­rus­kan kata-kata­nya.

“Adapun harta-benda yang ter­sisa pada patik hanya­lah keca­kapan ber­ba­hasa Arab, karena itulah bahasa nenek-moyang patik, ber­ba­hasa Melayu, karena itulah peng­hi­dupan patik seba­gai sau­da­gar rempah-rempah. Yang ter­sisa pada sahaya juga bahasa Ispa­nya, Gusti Adi­pati Tuban…”

Para peng­ha­dap meng­ang­kat pan­dang men­de­ngar Sang Adi­pati men­de­ham dan meman­jang­kan leher meng­a­wasi pem­bi­cara fasih itu dengan per­ha­tian.

“… karena di negeri Ispa­nya patik dila­hir­kan, di sebuah negeri yang indah ber­nama Anda­lu­sia1, ya Gusti Adi­pati,” bekas Syah­ban­dar Malaka mene­rus­kan, “dan juga karena itu patik ber­da­rah Ispa­nya pula. Kemu­dian bahasa Peranggi, ya Gusti Adi­pati Tuban, karena itulah bahasa yang patik pel­a­jari sejak kecil.”

Rangga Iskak merasa seakan lantai yang diin­jak­nya ter­bang. Orang jang­kung agak bong­kok, ber­hi­dung beng­kung mera­ja­wali itu tak lain dari orang Moro yang hendak menum­bang­kan kedu­duk­an­nya seba­gai Syah­ban­dar Tuban. Dunia dili­hat­nya ber­a­yun-ayun. Tangan­nya di balik jubah meng­ga­pai-gapai tanpa tujuan. Dan dalam pan­dang­an­nya yang ber­go­yang ia tak lihat Sang Adi­pati mene­gur Moro kepa­rat itu, pada­hal pem­bual itu mulai ramai dengan tangan mem­be­ri­kan tekanan pada kata-kata­nya. Kalau dia Pri­bumi, pikir­nya, dia akan men­da­pat hukuman dera.

“Ya, Gusti Adi­pati Tuban yang mulia, dilin­dungi oleh Allah, kira­nya Gusti Adi­pati. Sedang patik hina-dina lagi mela­rat begini, ya Gusti yang ter­so­hor bijak­sana dan pemu­rah di sepan­jang pantai Atas Angin, lim­pah­kan kira­nya pada patik suatu per­lin­dungan, karena hanya Allah jua Maha Menge­ta­hui, bahwa per­lin­dungan Gusti Adi­pati adalah berkah dari­pada-Nya juga.”

Tanpa diduga-duga Sang Adi­pati melam­bai­kan tangan dan ber­kata dalam Jawa. Segera Rangga Iskak mener­je­mah­kan dalam Melayu.

”Per­mo­honan Tuan kami terima, tuan Sayid. Tuan Syah­ban­dar Tuban akan mengu­rusmu seba­gai tamu pri­badi kami….”

Rangga lskak hampir-hampir tak dapat mene­rus­kan ter­je­mah­an­nya. Ia mem­be­la­lak menge­ta­hui, tamu yang meng­aku diri Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa telah ber­ke­nan di hati Sang Adi­pati. Celaka, pikir­nya, sekali seo­rang Moro men­da­pat seti­tik tempat, orang harus was­pada. Semua akan beru­bah, bumi tempat ber­pi­jak akan goyah.

“Apa­lagi yang masih akan diper­se­m­bah­kan?” tanya Sang Adi­pati. Peng­ha­dap itu meng­ang­kat kedua belah tangan sehingga bong­kok­nya ber­a­yun, mene­rus­kan: “Ampun, Gusti, per­ke­nan­kan­lah kira­nya patik mem­per­se­m­bah­kan sesu­atu yang lang­sung berupa karu­nia dari Allah. Memang nam­pak­nya tiada seper­ti­nya, namun tak ter­ki­ra­kan ber­kah­nya.”

Ia kelu­ar­kan sebuah pundi-pundi dari balik jubah­nya yang geng­gang. Semua orang ber­u­saha untuk meli­hat apa per­se­m­ba­han si cere­wet. Per­mata! tak bisa lain, orang men­duga.

“Berat tak sebe­rapa, Gusti,” bekas Syah­ban­dar Malaka itu men­je­pit pundi-pundi dengan ibu jari dan telun­juk. “Enteng tak ter­kira.”

Semua peng­ha­dap men­jadi tegang. Mereka kha­wa­tir Sang Adi­pati men­jadi murka dan mem­ba­tal­kan semua per­lin­dungan yang telah dika­ru­ni­a­kan. Dan memang Sang Adi­pati nampak ter­sing­gung, tapi masih mena­han diri. Rangga lskak geli­sah.

“Selaksa kali lebih ber­harga dari­pada in tan, muti­ara, zamrud atau delima, karena memang karu­nia Allah sen­diri!”

Dan para peng­ha­dap sam­pai­lah pada titik ter­tinggi kekha­wa­tiran­nya meli­hat Sang Adi­pati bicara untuk ketiga kali, hanya pada seo­rang peng­ha­dap: “Apakah itu, Tuan Sayid ketu­runan Nabi?”

‘Tidak lain dari benih baru, ya Gusti, dari sebe­rang dan sebe­rang­nya sebe­rang pulau Jawa ini. Benih beras besar ya Gusti. Sepu­luh kali lebih besar dari­pada beras biasa. Bila disan­tap sewaktu muda, ya Gusti, hanya ditunu di atas bara, geme­ra­tak bunyi­nya, tapi rasa­nya takkan kalah dengan emping ketan ber­cam­pur kelapa dan gula. Mena­nam­nya tak memer­lu­kan air, malah harus dita­nam pada peng­ha­bisan musim hujan. Di mana saja dapat tumbuh, di gunung, di pantai, huma, sawah kering, ladang. Dia tak memi­lih tanah, asal tak ter­ge­nangi air.”

Tholib Sung­kar Az-Zubaid alias Sayid Mahmud Al-Badaiwi alias Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa mena­ruh sejum­put benih kuning dari dalam pundi-pundi dan dile­tak­kan di atas tela­pak tangan kiri.

“Orang-orang dungu di Ispa­nya dan Peranggi menge­nai ini beras Turki, ya Gusti. Orang-orang Turki memang suka menipu, Gusti. Tidak benar ini beras Turki. Yang benar Zha­gung nama­nya, Gusti. Dalam jangka waktu lima kali musim panas, selu­ruh negeri Tuban akan makan beras besar ini, Gusti, insya Allah.”

Ia melang­kah maju sete­lah mengem­ba­li­kan benih dari tela­pak tangan ke dalam pundi-pundi dan mem­per­se­m­bah­kan kepada pengu­asa Tuban.

Orang ter­he­ran-heran meli­hat Sang Adi­pati ter­se­nyum ber­seri mene­ri­ma­nya.

“Telah kami terima per­se­m­ba­hanmu, Tuan Sayid. Segala yang ber­a­sal dari Tuhan adalah berkah/’ kemu­dian mene­ngok pada Sang Patih yang duduk di bawah. “Kem­bang­kan beras besar ini, Kakang Patih. apa­lagi seka­rang sedang musim kering.”

Sang Patih menyem­bah raja­nya, kemu­dian mene­rima pundi-pundi itu dan mele­tak­kan di hadap­an­nya.

“Dan Tuan Sayid, apa nama negeri asal beras besar ini?”

“Negeri itu, Gusti Adi­pati Tuban yang mulia – orang mulai mena­ma­inya Ame­rika.”

“Di mana itu?”

“Di balik bumi manu­sia ini, Gusti”

“Di balik bumi?” Sang Adi­pati ber­seru ber­o­lok, “tentu mereka di sana hidup seperti cicak dengan badan ter­gan­tung pada kaki?”

“Tidak, Gusti, mereka sama dengan kita, demi­kian cerita pelaut-pelaut yang pernah ke sana. Hanya kul­it­nya merah.”

“Merah?”

“Merah, Gusti, seperti batu bata.”

Rangga Iskak menge­rut­kan gigi dan mengem­yit­kan dahL Kege­ram­an­nya men­jadi-jadi. Dia mulai menyem­bur­kan bisa, gumam­nya dalam Mala­yalam. Dan kalau tidak kuat-kuat ia menge­kang sudah akan ter­se­m­bur tuduh­an­nya seba­gai ‘penipu’. Ia meng­ge­ra­gap waktu tiba-tiba Sang Adi­pati ber­kata: “Tuan Syah­ban­dar, apakah yang Tuan keta­hui ten­tang bangsa kulit merah?”

“Tidak pernah dise­but dalam kitab apa pun, Gusti Adi­pati Tuban. Kulit hitam, putih, coklat, kuning, semua ada, Gusti. Merah tak pernah ada, apa­lagi seperti batu bata. Tak pernah ter­se­but ada manu­sia makh­luk Allah hidup dengan badan ter­gan­tung pada tangan atau kaki.”

Pen­da­tang itu mene­ngok ke ping­giran, pada Rangga Iskak, dan ter­se­nyum ramah sambil meng­ang­guk.

“Ten­tang itu pan­jang ceri­ta­nya, ya Gusti. Sem­bi­lan tahun yang lalu Sri Baginda dan Ratu Ispa­nya, Phil­lipo dan Isa­bella, telah mem­be­ri­kan pang­estu pada pelaut-pelaut Ame­rigo dan Colombo untuk men­cari negeri asal rempah-rempah. Mereka bela­yar lurus ke jurusan barat…” dan ber­ce­rita bekas Syah­ban­dar Malaka ten­tang pela­yaran besar dan pene­mu­an­nya, dan bahwa dunia ter­nyata bukan­lah seperti tampah tetapi bulat seperti buah kelapa, bahwa di mana ada daratan di sana ada manu­sia, semua ber­diri pada kaki­nya, tak ada yang ber­gan­tung pada tangan atau kaki. Orang men­de­ng­ar­kan dong­engan baru yang tak masuk di akal itu. Mereka ter­ta­rik sampai-sampai lupa untuk menge­ta­hui dari mana Tholib Sung­kar Az-Zubaid alias Sayid Mahmud Al-Badaiwi alias Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa men­da­pat­kan beras besar yang bukan beras Turki.

Dalam pada itu Sang Adi­pati sen­diri sedang menge­nang­kan kem­bali cerita Sang Patih, bahwa Mpu Nala pernah men­duga dunia ini memang tidak seperti tampah tapi bulat seperti buah maja. Dan seka­rang kapal-kapal orang putih telah mampu muncul dari balik Ujung Selatan Wulungga yang selama ini diang­gap seba­gai batas akhir dari dunia, dan barang siapa mele­wat­i­nya akan ter­ce­bur ke keda­laman tanpa batas. Mereka justru muncul dari situ. Mereka telah bela­yar sampai ke balik dunia dan men­da­pat­kan beras besar.

Ia ber­pa­ling pada Syah­ban­dar Tuban. Rangga Iskak sedang merah-padam keunguan. Mema­hami akan adanya sikap per­mu­suhan ter­ha­dap peng­ha­dap itu ia perin­tah­kan Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa kem­bali ke tem­pat­nya di ping­gir pen­dopo.

“Pati­reja!” perin­tah­nya pada men­teri-dalam, “tem­pat­kan tuan Sayid sebaik-baik­nya di gandok bela­kang kadi­pa­ten.”

Bebe­rapa jam sete­lah peng­ha­dapan sele­sai pecah­lah berita ke selu­ruh Tuban Kota: Sang Adi­pati telah diha­dap oleh seo­rang tamu asing, seo­rang Arab bemama Sayid Alma­sawa yang ditem­pat­kan di gandok bela­kang kadi­pa­ten. Berita besar, karena itulah untuk per­tama kali seo­rang asing dite­rima di dalam kadi­pa­ten. Ten­tang beras besar orang tak mem­be­ri­ta­kan. Dan seka­rang Tuban memi­l­iki dong­engan baru ten­tang bangsa manu­sia ber­ku­lit merah yang hidup di balik bumi, ber­ja­lan ter­gan­tung pada tangan dan dengan kaki melam­bai-lambai di udara.

Tholib Sung­kar Az-Zui­baid alias Sayid Mahmud Al-Badaiwi alias Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa merasa puas dengan semua jerih-payah­nya. Ia merasa telah ber­ke­nan di hati Sang Adi­pati. Seben­tar lagi ben­dera Tuban akan diku­a­sa­i­nya. Syah­ban­dar yang seka­rang harus menying­kir! Harus!

Pulang dari kadi­pa­ten Rangga Iskak lang­sung menuju ke pela­buhan untuk mene­mui nakhoda kapal Sayid. Ter­nyata kapal itu telah berang­kat ke Gresik. Dengan jeng­kel ia pulang sambil menyum­pah-nyum­pah dan mengu­tuk semua orang Arab di atas bumi ini kecu­ali mereka yang ter­se­but dalam Alki­tab dan Tarikh.

Dengan cepat­nya ter­jadi per­sa­ha­batan antara Sayid dengan Pada. Mereka berdua fasih ber­ba­hasa Melayu. Pada pandai mela­yani orang-orang besar dan Sayid pandai meng­am­bil hati orang.

Pada­lah yang meng­an­tar­kan tamu itu meng­ha­dap Sang Patih. Ia duduk di bela­kang­nya.

Sang Patih duduk di atas kursi kayu diha­dap oleh empat orang yang baru datang dari Bonang – murid-murid Ki Aji Bonang2 – dan diang­gap tahu ber­ba­hasa Arab.

Bekas Syah­ban­dar Malaka itu duduk di antara mereka ber­em­pat. Dan ujian dia­da­kan.

Tamu Sang Adi­pati ter­tawa geli dalam hati menge­ta­hui sedang meng­ha­dapi ujian bahasa Arab. Sera­tus orang peng­uji masih takkan dapat meng­a­tasi bahasa Arab­kuf sum­bar­nya dalam hati. Mereka paling-paling tahu bahasa ibunya sen­diri, sedi­kit Melayu dan sedi­kit Arab! Tulisan latin mereka takkan bisa. Ayoh, ujilah aku, tan­tang­nya.

Salah seo­rang di antara empat peng­uji menyo­dor­kan pada­nya setum­pukan lontar ber­tu­lisan Jawa.

“Tuan Sayid bisa mem­baca ini?” tanya­nya.

Ia ambil seikat lontar, meng­a­mat-amati, meng­ge­leng meli­hat huruf-huruf yang men­ju­lur ber­ling­kar-ling­kar itu. “Tulisan kafir,” gumam­nya.

“Jadi Tuan Sayid dapat mem­ba­ca­nya?”

Ia meng­ge­leng. Seak­sara pun tak ter­baca oleh­nya.

“Baik, kalau begitu biar kami baca­kan, ukara demi ukara. Ini tulisan Jawa, tetapi ber­ba­hasa Melayu. Tulis oleh Tuan ter­je­mah­an­nya dalam bahasa Peranggi. Tuan sen­diri punya kertas dan kalam.”

Dan dengan demi­kian ujian dimu­lai.

Dari setum­pukan lontar Iain Tholib Sung­kar Az-Zubaid alias Sayid Mahmud Al-Badaiwi alias Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa mener­je­mah­kan ukara demi ukara yang diba­ca­kan itu ke dalam bahasa Ispa­nya dan Peranggi. Tulisan-tulisan ter­je­mahan itu disim­pan oleh Sang Patih.

Pada hari ber­i­kut­nya dengan dian­tar­kan juga oleh Pada ia meng­ha­dapi ujian yang mema­kan waktu lama. Ia tak pernah menyangka akan meng­ha­dapi ujian peng­a­laman gila itu. Para peng­uji mem­be­ri­kan kem­bali ter­je­mahan Peranggi pada­nya, kemu­dian menun­juk pada baris-baris ter­tentu dan bekas Syah­ban­dar Malaka diminta untuk meli­san­kan­nya dalam Melayu.

Peluh mulai mem­ba­sahi tubuh­nya. Ia meng­a­kui ter­je­mahan Peranggi itu ditu­lis­nya dengan gega­bah. Kali­mat-kali­mat dan kali­mat itu ber­mun­culan di hadapan mata­nya seperti barisan mara. Ia menye­sal telah mela­ku­kan­nya dengan gega­bah dan meng­ang­gap sepele. Ber­kali-kali para peng­uji meli­hat tak ada keco­cokan antara ter­je­mahan Melayu orang ujian itu dengan teks Melayu dalam tulisan Jawa di atas lontar. Peng­a­lam­an­nya yang sama dia­lam­i­nya sewaktu meme­la­yu­kan Ispa­nya tulis­an­nya sen­diri. Banyak seli­sih­nya dengan teks Melayu di atas lontar.

“Gusti Patih Tuban,” salah seo­rang peng­uji mela­por­kan. “Memang Arab­nya tidak mera­gu­kan, Peranggi dan Ispa­nya-nya nampak agak sem­ba­rangan, Gusti.”

“Banyak­kah keli­ru­nya?” tanya Sang Patih.

‘Tidak Gusti, hanya sem­ba­rangan.”

Untuk per­tama kali dalam hidup­nya Tholib Sung­kar Az-Zubaid alias Sayid Mahmud Al-Badaiwi alias Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa kehi­langan kata-kata dan ber­mandi keri­ngat seba­nyak itu.

Hari yang dinanti-nan­ti­kan tiba juga: hari penu­tupan per­tan­dingan. Sejak pagi hari dengan mem­bawa bekal makan orang telah datang ber­bon­dong ke alun-alun. Bunyi game­lan tak henti-hen­ti­nya ber­lagu.

Orang ber­da­tangan bukan seka­dar hendak menyak­si­kan per­tan­dingan. Pada hari penu­tupan Sang Adi­pati akan datang dalam iringan besar para pem­be­sar negeri dan para penga­wal.Semua dalam pakaian ber­warna-warni. Mereka akan ber­ba­ris datang ke alun-alun mengun­jungi semua gelang­gang. Para peni­lai akan ber­ba­ris di bela­kang para penga­wal dengan kaki dan tangan ber­hi­as­kan giring-giring serta kain dan destar ber­wamn kee­masan cemer­lang. Dan setiap orang di antara mereka akan mem­bawa umbul-umbul kecil ber­a­neka warna.Di bela­kang­nya lagi akan menyu­sul barisan peng­a­was per­tan­dingan, semua mena­buh gen­de­rang kecil.

Dan begitu Sang Adi­pati dan rom­bongan datang orang pun ber­sim­puh di tanah dan meng­ang­kat sembah. Begitu rom­bongan lewat orang pun ber­diri dan ber­so­rak gegap-gem­pita.

Rom­bongan itu lewat tanpa mene­ngok tanpa men­ja­wab sembah. Orang ber­de­sak-desak meng­i­kuti rom­bongan, sema­kin lama sema­kin tebal dan pan­jang. Sekali ini bukan seka­dar karena kebi­a­saan: orang ingin menyak­si­kan dengan mata kepala sen­diri bagai­mana kerja mata Sang Adi­pati bila ber­ha­dapan dengan Idayu.

Di dalam rom­bongan pem­be­sar ter­da­pat Tholib Sung­kar Az-Zubaid, di Tuban Kota mulai dike­nal seba­gai Sayid Alu­sawa. Ia tetap ber­tar­bus merah dengan jumbai kee­masan jatuh ke bela­kang, ber­ju­bah geng­gang, agak bong­kok, ber­jeng­got, ber­mi­sai, ber­cam­bang-bauk, jang­kung dan mem­bawa tong­kat hitam ber­hulu gading. Hidung beng­kung­nya men­jadi sasaran setiap mata.

“Itulah Tuan Ulas­awa!” sese­o­rang ber­bi­sik pada teman­nya.

Seo­rang lain ter­tawa kehe­ranan, mem­beri komen­tar: “Betapa pan­jang dan beng­kung hidung itu. Kalau diberi ber­bun­tut pan­jang, pasti akan lebih men­de­kati kadal.”

“Puh!”, yang lain lagi men­de­ngus, “Gusti kita memang kran­jingan orang asing – dan semua saja tidak beres.”

Apa pun komen­tar orang yang pasti sudah dapat dike­ta­hui: itulah tamu ter­hor­mat yang telah ber­ke­nan di hati Sang Adi­pati.

Dan dalam hati mereka, yang memang sudah tidak senang pada orang asing yang men­da­pat jabatan tinggi, timbul per­ta­nyaan: jabatan tinggi apa yang akan dite­ri­ma­nya? Pada umum­nya orang mene­bak: peng­hulu negeri. Dan tebakan itu saja sudah cukup men­jeng­kel­kan, meng­i­ngat peng­hulu sebe­lum­nya telah banyak mengu­rangi kese­nangan mereka dengan ber­ba­gai aturan yang masih juga ber­laku sampai seka­rang Aturan baru, aturan baru, selalu mengu­rangi kebe­basan. Dan pen­du­duk negeri dan kota Tuban ter­ke­nal pen­cinta kebe­basan.

Tak jauh dari Tholib Sung­kar ber­ja­lan Syah­ban­dar Tuban, juga ber­ju­bah, hanya ber­warna putih, ber­ko­piah, tidak ber­so­r­ban, ber­se­len­dang leher putih. Hanya dia yang ber­ja­lan menun­duk Tak ada nampak sinar kegem­bi­raan pada wajah dan mata­nya, di tengah-tengah pesta yang mem­be­lu­dag itu.

Damar­sewu dan cempor menyala di mana-mana, men­coba meng­u­sir semua bayang-bayang benda dan manu­sia. Namun semua lampu itu tak kuasa meng­u­sir bayang-bayang dalam piki­ran Rangga lskak.Ia telah men­da­pat fira­sat Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa tidak lain dari Syah­ban­dar Malaka yang dahulu men­ja­tuh­kan abang­nya, dan seka­rang datang ke Tuban untuk men­ja­tuh­kan pula seba­gai Syah­ban­dar. Tidak salah lagi, kata hati­nya, dialah iblis laknat itu. Dan piki­ran­nya kini bekerja keras men­cari jalan untuk menying­kir­kan orang Moro itu dari Tuban sebe­lum Sang Adi­pati meng­am­bil sesu­atu kepu­tusan yang akan meru­gi­kan dir­i­nya.Si pem­bual, penipu, pen­dusta, meng­aku ketu­runan Nabi itu harus punah!

Begitu rom­bongan mema­suki ruangan tari, ia sudah mem­pu­nyai ren­cana. Game­lan mem­bu­bung­kan lagi sam­butan. Idayu muncul di atas pang­gung mena­ri­kan tarian peng­hor­matan. Kepa­la­nya ber­mah­ko­takan bunga-bungaan sedang pakaian tari­nya yang serba ketat mem­per­a­ga­kan resam-tubuh­nya semam­pai berisi. Pada bibir­nya ter­sun­ting senyum keme­nangan. Mata­nya meman­car penuh keya­kinan dan keba­ha­gi­aan. Waktu meng­ang­kat sembah gerak leher­nya ber­a­yun seakan sedang menye­rah­kan pipi­nya untuk dicium oleh penon­ton di depan, sebe­lah kiri dan kanan. Dan Rangga Iskak tak meli­hat semua itu.

Orang ber­so­rak-sorai gegap-gem­pita. Sang Adi­pati meng­ang­guk-angguk menye­tu­jui.

“Itulah Idayu, Tuan Sayid,” Sang Adi­pati ber­kata dalam Melayu, “keka­sih Tuban, bunga selu­ruh Tuban. Tiada tan­dingan dalam tari dan kecan­ti­kan dan kelu­we­san. Juara tiga kali ber­tu­rut.”

“Patik,Gusti.” Mata Tholib Sung­kar Az-Zubaid menyala-nyala, ia angkat tong­kat­nya turun-naik, menga­gumi tarian Idayu.

“Dahulu gadis seperti itu akan mene­rus­kan per­tan­dingan ke Wil­wa­tikta, ibu kota Maja­pa­hit.”

Tholib Sung­kar Az-Zubaid men­can­tol­kan tong­kat pada lengan kanan. mene­gak­kan bong­kok­nya dan ber­te­puk-tepuk: “Haibat!” seru­nya. Tanpa tan­dingan. Banyak negeri telah patik lihat, ya Gusti. Yang ini memang tiada tara! Nama­nya pun indah: I-da-yu. Dan betapa cantik! Aduhai betapa cantik, kau, Idayu!” gumam­nya. “Allah telah men­cip­ta­kan kau sesuai dengan kehen­dak­nya.”

Mata Sang Adi­pati ber­si­nar-sinar hampir tiada ber­ke­dip. Orang pun lupa mem­per­ha­ti­kan mata yang sepa­sang itu. Semua ter­ta­rik pada Idayu. Tetap hanya Rangga Iskak antara seben­tar meli­rik pada Tholib Sung­kar Az-Zubaid.

“Aduh, Aduh, Aduh, Gusti!” gumam bekas Syah­ban­dar Malaka itu seperti kesa­kitan.

“Apa, Tuan Sayid?” tanya Sang Adi­pati seperti pada seo­rang saha­bat lama.

“Serba indah, Gusti, serba cantik, serba meng­i­kat. Kalau di Ispa­nya sana, Gusti,” ia ber­te­puk ber­se­ma­ngat, “tidak salah lagi, pasti akan jadi hiasan istana Esko­r­ial.”

“Apa?”

“Hiasan istana raja Ispa­nya, Gusti.”

“Hiasan istana raja….” Sang Adi­pati ber­bi­sik meng­u­langi sambil ter­se­nyum. Kemu­dian agak keras, “sayang hanya anak desa.”

“Tuhan men­cip­ta­kan makh­luk-Nya tanpa per­be­daan, Gusti, baik desa maupun kota milik Allah juga.”

Rom­bongan pem­be­sar kem­bali ke kadi­pa­ten sebe­lum tarian Idayu sele­sai…. Rangga Iskak tidak kem­bali ke alun-alun. Ia ber­ja­lan ber­ge­gas menuju ke pela­buhan. Kaki­nya melang­kah cepat-cepat. Antar seben­tar ia mene­ngok ke kiri dan ke kanan. Sampai di depan warung tuak dan ciu-arak ia ber­henti. Pin­tu­nya ter­kunci dari dalam. Langit gelap. Ia menge­tuk dan menge­tuk. Tak lama kemu­dian pintu itu ter­buka. Tak ada lampu menyala di dalam. “Kaukah itu, Yakub?”

“Tidak salah, Tuan, Yakub ada di sini menunggu Tuan. Tuan tidak masuk?”

Syah­ban­dar Tuban itu masuk ke dalam, duduk pada salah sebuah bangku sete­lah meng­ge­ra­ya­ng­i­nya dengan hati-hati.

Dalam kege­lapan tak ada nampak wajah dua-duanya. Seakan mereka bicara dalam keko­songan alam sebe­lum matari dan bulan dicip­ta­kan. Hanya bisik-bisik pelahan, seperti guru di keja­uhan, tanpa nada: “Sang Adi­pati ini lain dari putra-put­ra­nya, Yakub. Raden Sayid itu sepe­nuh hati meng­a­b­di­kan diri pada Islam, Sang Adi­pati ini, hanya per­da­gangan dan keun­tungan saja yang dia urusi. Dasar Rangga Demang….”

“Tapi Sang Adi­pati jelas ber­pi­hak pada Islam, Tuan,” Yakub mem­ban­tah.

“Dari mana piki­ranmu itu?”

“Uah, tuan Syah­ban­dar Tuban, bukan­kah sudah aku sam­pai­kan, Sang Adi­pati sudah ber­siap-siap dengan cet­bang?”

“Benar, ber­siap-siap ber­pe­rang ter­ha­dap Demak.”

Yakub ber­diam.

“Lantas di mana Islam­nya, Yakub?”

“Banyak yang bilang tidak begitu. Sang Adi­pati tak pernah mem­per­li­hat­kan kegu­sa­ran Jepara diam­bil oleh Demak, Tuan Syah­ban­dar. Jepara dir­e­la­kan, karena Demak Islam yang meng­am­bil. Orang bilang Tuban ber­siap-siap ter­ha­dap Peranggi.”

“Bodoh, kau, Yakub. Mari aku bilangi. Tak kau lihat tadi Sayid palsu Habi­bul­lah Alma­sawa sudah mulai meng­iring­kan Sang Adi­pati?”

“Semua orang sudah meli­hat, Tuan.”

“Tan­da­nya dia akan gan­ti­kan aku jadi Syah­ban­dar Tuban.”

“Tidak mung­kin, Tuan.”

“Untuk mela­yani kapal-kapal Peranggi dan Ispa­nya. Dia tahu dua-dua bahasa itu. Sang Patih sudah meng­u­ji­nya, dan dia diang­gap lulus. Maka tak mung­kin Sang Adi­pati punya sikap ter­ha­dap Peranggi atau Ispa­nya. Dia sen­diri kafir! Dan akan mati seba­gai kafir! Dia muna­fik, kafir yang muna­fik. Pada sau­da­gar-sau­da­gar Islam ia per­li­hat­kan diri seo­rang Islam demi emas dan perak, dan sutra dan tem­bi­kar, dan per­se­m­ba­han. Berapa perem­pu­an­nya? Tak ada orang bisa meng­hi­tung.” Bisik­an­nya sema­kin mengan­dung amarah, “Coba, orang-orang lain dipe­rin­tah­kan­nya ber­se­m­bah­yang untuk­nya, yang Buddha, yang Wisynu, yang Syiwa. Juga mandi junub, Yakub, dia tak laku­kan sen­diri, orang lain harus mewa­kil­i­nya.”

“Kalau begitu Tuan, memang kurang ajar Sang Adi­pati itu. Tapi bagai­man­a­pun, Tuan, Sayid itu takkan mung­kin dapat meng­gan­ti­kan Tuan.”

“Meng­apa tidak.”

“Aku bilang, pen­da­tang itu tak mung­kin dapat jadi Syah­ban­dar Tuban, biar pun Sang Adi­pati meng­hen­daki. Tuan akan tetap di tempat. Jangan lupa, Tuan, Yakub, masih segar-bugar, seka­rang ter­se­rah saja pada Tuan bagai­mana jalan dan cara­nya.”

Dalam kege­lapan itu bisikan mereka makin pelan, sema­kin mesra seakan dua saha­bat karib, yang baru ber­temu sete­lah ber­pi­sah sepu­luh tahun. Dan suatu ren­cana ter­tim­pa­lah pada malam itu juga: Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa dising­kir­kan dari Tuban, hidup atau mati. Ren­cana akan dija­lan­kan sece­pat-cepat­nya dan sete­liti-teli­ti­nya. Men­je­lang subuh ren­cana sudah sele­sai sepe­nuh­nya. Dan waktu Syah­ban­dar akan pulang ter­de­ngar suara Yakub yang agak keras: “Nanti dulu, Tuan. Belum lagi Tuan per­hi­tung­kan biaya untuk si Yakub miskin dan teman-teman­nya.”

“Iblis!” bentak Rangga lskak. “Kau selalu menun­tut biaya. Berapa kau kehen­daki?”

“Lima dinar, Tuan.”

“Husy. Dengan lima dinar aku bisa beli kepa­lamu sampai kepala nenekmu sen­diri.”

“Uah, uah,” kemu­dian Yakub ter­tawa senang, “hanya lima dinar harga jabatan Tuan? Ting­gal pilih, Tuan. Yakub sih, seka­dar tenaga murah.”

Rangga Iskak ber­henti ber­ja­lan. Ragu-ragu ia ber­ta­nya: “Dalam waktu berapa hari semua sele­sai?”

“Dua minggu, Tuan. Begitu dia keluar dari kadi­pa­ten, jadilah seba­gai­mana Tuan kehen­daki.”

“Baik. Terima ini satu dinar panjar,” dan ia pun pergi tanpa meno­leh lagi.

Yakub ter­tawa, masuk kem­bali ke dalam warung dan men­de­ngus: “Si buaya itu sudah menye­di­a­kan dinar dalam pundi-pun­di­nya. Kalau menge­nai emas, emas yang harus keluar, dia pikun seperti hampir-hampir mati tua. Kalau emas harus masuk, dia lebih dari seo­rang periba. Dasar buaya darat!”

Tholib Sung­kar Az-Zubaid alias Sayid Mahmud Al-Badaiwi alias Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa masih men­deng­kur di gandok bela­kang kadi­pa­ten….



Bab 5

Idayu dan Galeng

Pagi hari.

Semua orang datang ke alun-alun mem­bawa bekal makan.

Pela­buhan sunyi. Jalan-jalan senyap. Semua ber­ke­pen­tingan menyak­si­kan dan men­de­ng­ar­kan sen­diri kepu­tusan Sang Adi­pati di hadapan para petan­ding.

Alun-alun lebih ramai dari­pada kema­rin atau kema­rin dulu. Bang­sal-bang­sal per­tun­jukan telah ter­bong­kar. Dan orang duduk ber­ban­jar-banjar di atas tanah, tak peduli rakyat biasa sau­da­gar atau­pun orang asing.

Pen­du­duk Tuban punya keper­ca­yaan: meriah-tidak­nya penu­tupan pesta akan jadi petun­juk makmur-tidak­nya Tuban pada tahun men­da­tang. Orang ber­ke­pen­tingan hadir. Sakit ringan dilu­pa­kan. Yang sakit berat digo­tong dengan tandu ber­a­tap kain batik. Sese­o­rang men­ca­ri­kan bunga-bungaan yang telah luruh dari tubuh para penari dan dio­bat­kan pada­nya seba­gai param atau minuman. Tarian adalah kein­dahan gerak yang dia­jar­kan oleh dewa kepada manu­sia. Dan bunga yang ter­hias pada tubuh penari adalah wadah tempat para dewa menu­run­kan ber­kah­nya.

Barisan kuda telah tiga kali meng­e­dari alun-alun. Para peserta per­tan­dingan telah duduk di dalam pen­dopo kadi­pa­ten. Canang ber­talu satu-satu. Kea­daan men­jadi sunyi-senyap. Hanya kadang-kadang, di sana-sini, ter­de­ngar tangis bayi. Desau angin dan deburan laut tak digub­ris orang. Semua yang duduk di atas rum­putan memu­sat­kan pen­de­ng­aran pada suara-suara yang akan datang nanti dari dalam kadi­pa­ten. Dan mata mereka antara seben­tar meng­a­wasi gerak-gerak para peja­bat yang ber­diri di mana-mana, ber­pa­kaian serba kuning, juga selen­dang dan des­tar­nya. Dari keja­uhan nampak seperti cuwi­lan kunyit sedang di jemur. Itulah para peseru yang akan menye­ru­kan per­ca­kapan yang ter­jadi di pen­dopo nanti.

Di dalam pen­dopo sen­diri Sang Adi­pati telah duduk di atas takhta gan­ding­an­nya. Semua pem­be­sar pri­bumi duduk ber­sila di kanan dan kiri bela­kang takhta. Lain dari kebi­a­saan, Tholib Sung­kar Az-Zubaid men­da­pat kursi kayu. Tem­pat­nya adalah di ping­gir kanan, hingga lskak tak men­da­pat kursi. Ia ber­diri di tem­pat­nya yang biasa di ping­gir kiri, dan dengan demi­kian men­da­pat kebe­basan menyem­bur­kan pan­dang keben­cian pada orang Moro itu.

Tidak salah lagi, pikir Syah­ban­dar Tuban, semang­kin hari tangan­nya sema­kin men­de­kati ban­darku juga. Dengan dia Sang Adi­pati takkan bakal mela­ku­kan per­la­wanan ter­ha­dap Peranggi dan Ispa­nya. Hanya sege­raman dan kejeng­kelan ber­kip­rah dalam hati­nya sejak orang Arab itu men­da­rat di Tuban. Seka­rang dia men­da­pat­kan bangku pula! Alamat Sang Adi­pati telah jatuh ke dalam geng­gam­an­nya. Kepa­rat! Laknat!

Dan para pung­gawa pun sudah yakin seka­rang: Sayid itu akan segera jadi peja­bat tinggi dan pen­ting. Seben­tar nanti mung­kin akan diu­mum­kan.

Seo­rang pung­gawa, yang mewa­kili dewan peni­lai, dengan lisan telah mem­per­se­m­bah­kan nama para juara yang diba­ca­nya dari lontar. Dengan suara lan­tang para peseru mene­rus­kan bacaan itu ke jurusan alun-alun. Para peseru di alun-alun mene­rus­kan lagi ke tempat-tempat yang lebih jauh. Setiap sesu­atu sele­sai diu­mum­kan sorak-sorai ber­de­raian meng­e­gongi.

Galeng ter­se­but seba­gai juara gulat untuk tahun ini, dengan per­i­ng­atan, ia harus ber­main lebih patut. Sorak yang meng­i­kuti ter­de­ngar ragu-ragu. Selu­ruh penon­ton dari Awis Kram­bil mem­bisu. Seakan semua itu seba­gai ucapan ikut ber­du­ka­cita pada juara gulat dua kali ber­tu­rut yang bakal kehi­langan keka­sih­nya. Bahkan per­i­ng­atan itu pun ter­de­ngar seba­gai pen­da­hu­luan ben­cana atas dir­i­nya.

Nama para juara telah sele­sai dise­but­kan. Orang masih juga tak dengar nama Idayu. Selu­ruh hadirin sunyi mem­bisu dalam kecu­cukan dan kete­gangan. Idayu! meng­apa dia? Meng­apa tak dise­but? Apa sedang ter­jadi? Tapi akhir­nya nama itu dise­but­kan juga: “Juara tiga kali ber­tu­rut untuk tari, Idayu, dari desa per­ba­ta­san Awis Kram­bil!” Para peseru mene­rus­kan ke selu­ruh alun-alun. Sorak sorai gegap-gem­pita, ber­de­rai-derai seperti gelom­bang semudra, ber­gu­lung seperti hendak mem­be­nam bumi.

“Sete­lah dua puluh tahun ini, muncul, seka­rang juara tiga kali ber­tu­rut! Dua puluh tahun! Ingat-ingat. Dan nama­nya: Idayu. Desa­nya Awis Kram­bil! Tenang. Sang Adi­pati Tuban ber­ke­nan ber­ti­tah….” Sunyi-senyap.

Di dalam pen­dopo, Syah­ban­dar Tuban tak henti-hen­ti­nya meli­rik pada Tholib Sung­kar Az-Zubaid. Orang itu sedang duduk tenang menik­mati kegem­bi­raan yang ber­lang­sung di depan mata­nya sambil men­ci­cipi kehor­matan yang sema­kin mening­kat juga: men­da­pat kursi kayu satu-satu­nya! Nam­pak­nya ia tak peduli orang senang atau tidak ter­ha­dap dir­i­nya, asal Sang Adi­pati ber­ke­nan, dan semua sudah be res. Apa peduli yang lain-lain?

”]uara tiga kali ber­tu­rut” Sang Adi­pati memu­lai dengan suara pelahan, kata demi kata. “I-da-yu!” ia menye­but nama itu dengan pera­saan mere­sap seakan sedang men­ci­cipi madu.

Kata-kata­nya, dengan gaya dan nada sama, ber­ku­man­dang mela­lui para peseru ke selu­ruh alun-alun.

“Keta­hu­i­lah, juara kesa­yangan selu­ruh Tuban. Tak pernah ada kecu­ali kau: satu per­pa­duan antara kein­dahan tubuh, kecan­ti­kan wajah, kea­gungan tari. Hanya kau! Selu­ruh Tuban ber­ba­ha­gia dapat menyak­si­kan dalam hidup­nya seo­rang dewi tiada tan­dingan.”

Dan kata-kata pengu­asa Tuban itu lebih men­de­kati rayuan dari­pada amanat. Juga sampai sejauh itu Sang Adi­pati tak juga menye­but-nyebut kebe­saran nama Tuhan, atau Allah, atau Maha Dewa atau Maha Budha atau Sang Hyang Widhi. Ia sengaja hendak meneng­gang semua agama rak­yat­nya. Ia hadapi mereka semua seba­gai kawula atau tamu, bukan seba­gai peme­luk sesu­atu agama.

“Sang Adi­pati Tuban,” ia mene­rus­kan, “dan selu­ruh negeri Tuban. Idayu, memuja kau. Kami dapat meng­erti meng­apa mereka semua meng­hen­daki agar kau selalu dapat dika­gumi dan dipuja di ibu kota ini”

Sang Adi­pati ber­henti bicara, mem­be­ri­kan kesem­patan pada para peseru untuk mela­ku­kan kewa­ji­b­an­nya. Orang ber­so­rak ragu, kemu­dian meng­ge­lim­bang sejadi-jadi­nya, kemu­dian ragu-ragu lagi. Sorak itu pan­jang pan­jang sekali, sehingga canang kadi­pa­ten dipu­kul tiga-tiga untuk mem­beri per­i­ng­atan. Lambat-lambat sorak itu mereda.

Sang Adi­pati ter­se­nyum puas-puas dan meng­erti: ia men­da­pat sokongan rak­yat­nya wajah­nya ber­seri-seri. Ia pan­dangi Idayu di tempat duduk­nya dan sedang meng­ang­kat sembah. Gadis per­ba­ta­san itu selalu tunduk mene­kuri lantai.

“Kau dengar sen­diri bagai­mana mereka menye­tu­jui,” Sang Adi­pati mene­rus­kan. “Pas­ti­lah kau sen­diri juga setuju.”

Idayu tetap mene­kuri lantai.

“Orang tua-tua meng­erti, Idayu, dan kami, Adi­pati Tuban juga menge­ta­hui, ada aturan khusus bagi juara tiga kali ber­tu­rut. Idayu! Meng­apa kau meng­gi­gil?”

Kata-kata Sang Adi­pati, juga turun-naik­nya nada, ber­pen­dar-pendar ke alun-alun mela­lui para peseru. Seben­tar sorak-sorai mele­dak, kemu­dian men­da­dak padam. Sunyi-senyap.

“Deng­ar­kan baik-baik. Usa­ha­kan jangan meng­gi­gil. Siapa pun meng­erti keba­ha­gi­a­anmu, Idayu. Keba­ha­gi­aan yang ter­lalu amat sangat, yang bisa kau dapat­kan hanya di bumi Tuban ini. Ber­ba­ha­gi­a­lah orang tua yang pernah mela­hir­kan kau. Ber­ba­ha­gi­a­lah anak-anak yang bakal jadi ketu­run­anmu. Deng­ar­kan baik-baik, kau. Idayu, juara tiga kali ber­tu­rut, kau men­da­pat­kan….”

Juga Galeng meng­gi­gil. Ia rasai peda­laman dir­i­nya meng­ge­le­tar, karena cem­buru, karena geram, karena keti­a­daan daya meng­ha­dapi pengu­asa mutlak negeri Tuban, karena tak sudi kehi­langan amarah-sen­diri. Ia rasai kata-kata manis Sang Adi­pati seba­gai rayuan dan seba­gai pemula kehan­curan keba­ha­gi­aan dan impi­an­nya. Itukah arti keku­a­saan Sang Adi­pati yang diejek dan diter­ta­wa­kan oleh Rama Clu­r­ing? Dengan keku­atan batin luar biasa ia tindas semua pera­sa­an­nya. Dan sete­lah semua ter­tin­das, dengan malu-malu muncul keta­kutan: keta­kutan pada hukuman yang dian­cam­kan oleh kepala desa. Apakah yang harus dita­kuti oleh seo­rang yang akan kehi­langan harapan? Ia ter­ta­wa­kan dir­i­nya sen­diri. Segala macam hukuman takkan ber­arti. Kalau soal­nya hanya mati, berapa kali saja ia telah hadapi maut pang­gung gulat! Keta­kut­an­nya hilang. Yang muncul seka­rang kekha­wa­tiran: jangan-jangan Idayu sen­diri setuju dan dengan suka­rela mene­rima tangan Sang Adi­pati.

Keri­ngat dingin mulai ber­ma­nik-manik pada teng­kuk­nya.

Sorak-sorai telah padam. Sang Adi­pati mene­rus­kan: “Per­tama, deng­ar­kan baik-baik, Idayu dan semua kawula Tuban. Per­tama, hak mene­rima dan menge­na­kan cindai penari yang tak pernah dike­na­kan penari siapa pun selama dua puluh tahun ini….”

Sorak-sorai. Galeng meng­ang­kat pan­dang mene­tak wajah Sang Adi­pati.

“… Dan per­hi­asan serta pakaian pri­badi, per­hi­asan serta pakaian penari, selu­r­uh­nya dari emas dan kain pilihan… per­mata….” Sorak-sorai!

“Teri­ma­lah sen­diri karu­nia Adi­pati Tuban ini, kau, pujaan Tuban! Maju, jangan ragu-ragu, jangan gentar… Ayoh!”

Galeng bukan hanya meng­ang­kat pan­dang ia meng­ang­kat kepala untuk meli­hat keka­sih­nya di depan sana mene­rima karu­nia lang­sung dari penan­tang­nya, pengu­asa Tuban. Ah, Tuban dan hati pujaan itu! Kem­bali. Cem­buru menyam­bar hati dan mem­bu­ta­kan pan­dang. Ia angkat kedua belah tangan dan ditu­tup­kan pada mata­nya. Ia tak mau meli­hat itu. Idayu! Jangan sentuh tangan ber­ka­ru­nia itu. Jangan biar­kan kul­itmu ter­kena oleh­nya, Idayu. Napas­nya pengap. Cepat tangan kanan­nya meng­ge­ra­yang pada ping­gang­nya. Tak ada keris di situ. Dan ia lihat Idayu merang­kak maju dan bering­sut sambil seben­tar-seben­tar meng­ang­kat sembah.

Di alun-alun para hadirin tak lagi dapat tenang pada tem­pat­nya. Mereka tak puas hanya men­de­ngar. Seki­ra­nya tak ada aturan tak boleh lebih tinggi dari kepala Sang Adi­pati, mereka sudah ber­la­rian men­cari pohon dan naik ke atas­nya.

“Dengan keju­a­ra­anmu, dengan kecan­ti­kan, dengan segala kelu­we­san dan daya tarik yang ada padamu, kami ada ren­cana untukmu.”

Sunyi-senyap.

Tiba-tiba para peseru mene­rus­kan ke alun-alun: “Yang ter­hor­mat tamu Gusti Adi­pati Tuban, ber­nama Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa dari negeri Anda­lu­sia ber­ke­nan ber­se­m­bah.”

“Ya, Gusti jadi­kan­lah bunga itu hiasan kadi­pa­ten!”

Sunyi-senyap. Tak ada sorak. Tiba-tiba menyu­sul dengung yang tak dapat dipa­hami dari selu­ruh alun-alun.

“Biar dia ting­gal jadi penari untuk selu­ruh Tuban!” sese­o­rang meme­kik.

Dan suara pekikan itu dapat makian dari para peseru.

“Titah Gusti Adi­pati selan­jut­nya,” peseru mene­rus­kan, “hak kedua bagi juara tiga kali ber­tu­rut, deng­ar­kan, Idayu, hak bagi penari ter­baik di selu­ruh negeri,” sunyi-senyap, “hak kehor­matan yang tak diper­o­leh oleh siapa pun: hak meng­a­ju­kan per­mo­honan apa saja yang sesuai dengan kepa­tuhan yang ber­laku.”

Sorak-sorai ber­gu­lung-gulung.

Rangga Iskak tak mampu meng­i­kuti selu­ruh jalan­nya peris­tiwa. Mung­kin inilah untuk per­tama kali dalam jabat­an­nya selama sekian belas tahun ia tidak dapat menyi­mak dengan baik. Meli­hat orang Moro itu masih juga duduk dengan senang­nya, bahkan berani-berani mem­per­se­m­bah­kan saran yang sangat mema­lu­kan seba­gai orang yang meng­aku ketu­runan Nabi, saran ter­ha­dap seo­rang pengu­asa kafir, kukuh dan sema­kin kukuh pen­da­pat­nya: dengan menying­kir­kan­nya dari bumi yang sedang diis­lam­kan ini aku akan men­da­pat pahala besar. Untukmu, Moro, hanya kema­tian saja yang ter­baik. Segala yang telah ter­hina di sini tak boleh susut, tak boleh ber­ku­rang, apa lagi rusak. Awas, kau, Moro!

Di tempat duduk­nya, di bela­kang Idayu. Galeng merasa seperti men­du­duki bara. Bebe­rapa peserta dari Awis Kram­bil bering­sut men­de­kat­i­nya.

“Aku ikut memo­hon untuk keba­ha­gi­a­anmu, Kang Galeng” teman di sam­ping­nya ber­bi­sik dan dipe­gang­nya lengan juara gulat itu.

Galeng mem­ba­las hiburan dengan mele­tak­kan tangan pada lengan orang itu. Ber­bi­sik mem­ba­las: “Hidup atau mati, takkan dapat aku lupa­kan keba­ik­anmu.”

Dan Idayu masih juga belum kem­bali ke tem­pat­nya. Ia masih duduk menun­duk di bawah kaki Sang Adi­pati. Semua mata, kecu­ali Rangga Iskak, ter­tuju pada­nya.

Dari atas kur­si­nya Tholib Sung­kar Az-Zubaid meman­dangi gadis itu dengan mata menyala-nyala mene­lan selu­ruh keha­dir­an­nya. Mata itu besar bulat, hitam-lekam diwi­ba­wai oleh alis dan bulu mata tebal serta rongga mata yang dalam dan gelap. Dan mata yang menyala-nyala itu meman­car­kan kepo­ngahan, gila hormat tanpa batas, rakus, ber­nafsu, tanpa kesa­baran dan tidak meneng­gang, dan lebih dari­pada itu licik: yang ada hanya aku, semua untuk aku.

Hening, tenang. Hanya napas manu­sia ter­de­ngar. Kemu­dian: “Meng­apa kau mena­ngis, Idayu?” para peseru mene­rus­kan. “Betapa besar keba­ha­gi­aan yang sedang ber­bu­nga dalam hatimu. Adi­pati Tuban ber­sa­bar menunggu per­mo­hon­anmu. Kami ber­sa­bar. Kering­kan air matamu, puas­kan tangismu, juara, karena keba­ha­gi­aan yang lebih besar lagi sedang menung­gumu. Juga semua kawula Tuban ikut ber­sa­bar. Juga mereka yang sedang digang­gang terik matari di alun-alun sana, Idayu!”

Galeng memu­sat­kan pan­dang pada Sang Adi­pati, penan­tang tiada ter­la­wan itu, dan meli­hat pada pung­gung Idayu yang ter­se­ngal-sengal. Kalau Idayu menye­rah­kan dir­i­nya, ia akan lompat, mema­tah­kan leher­nya, dan merang­sang Sang Adi­pati untuk mene­rima ujung-ujung tombak yang menunggu. Idayu takkan menye­rah­kan dir­i­nya, ia yakin­kan dir­i­nya, dia juga tahu harga diri dan kehor­matan. “Kau berdua akan jadi sepa­sang mer­pati,” Rama Clu­r­ing meres­tui sebe­lum mening­gal­nya. “Semoga ketu­runan kalian akan ber­cipta dan men­cipta, mampu mengem­ba­li­kan kebe­saran dan keja­yaan yang telah hilang.” Rama Clu­r­ing lebih ber­harga dari pada keku­a­saan mutlak yang kini diha­dap­i­nya.

Para pung­gawa ter­se­nyum-senyum dalam hati, juga para pem­be­sar, menge­ta­hui betapa ramah dan manis Sang Adi­pati seka­rang dan sekali I ini. Betapa pemu­rah dengan kata dan senyum orang tua yang sudah serba putih itu.

”Sudah siap­kah kau, Idayu?” Sang Adi­pati ber­ta­nya lemah-lembut. “Men­de­kat sini, orang cantik meng­apa men­jauh lagi? Apakah perlu Adi­pati Tuban menye­ka­kan air matamu?!”

Peseru-peseru mene­rus­kan. Dan kehe­ningan kem­bali menyu­sul. “Ayoh per­se­m­bah­kan per­mo­honan.”

“Ampun! Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik,” akhir­nya keluar juga kata-kata Idayu yang meng­gi­gil ter­sen­dat-sendat. Para peseru mene­rus­kan dengan ter­bata-bata. “Apa yang patik akan per­se­m­bah­kan,… seba­gai per­mo­honan….”

Galeng menge­pal­kan tin­ju­nya. Kem­bali tubuh­nya meng­gi­gil. Otot-otot yang kukuh ter­nyata tak kuasa mena­han gelom­bang pera­saan yang memu­kul meng­gebu-gebu. Meng­apa lama betul Idayu menye­le­sai­kan kata-kata­nya?

“Harapan patik… semoga per­mo­honan patik… yang tiada seper­ti­nya takkan meng­gu­sar­kan Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik.” Kata-kata Idayu ter­se­kat macat.

Rangga lskak sekali lagi meli­rik pada musuh­nya. Ia telah serah­kan cepuk tem­bi­kar itu pada Yakub. Ter­se­rah pada dia bagai­mana akan meng­gu­na­kan­nya, apakah mela­lui kulit, mulut atau usussi dur­haka itu. Ter­se­rah. Racun cam­puran bisa ular, yang biasa dibawa ke mana-mana oleh petu­a­lang-petu­a­lang Beng­gala dan selalu jadi kegen­taran peran­tau-peran­tau lain, seka­rang datang wak­tu­nya untuk dicoba keam­puh­an­nya. Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa akan hanya seben­tar ter­ke­jut, kemu­dian selu­ruh jaringan sya­raf­nya akan lumpuh, tanpa sakit, dan… tiada lagi masa­lah Syah­ban­dar lama atau baru, karena ia tetap dan akan tetap jadi Syah­ban­dar Tuban. Tetapi di mana Yakub? Meng­apa ia tak juga nampak dan mela­por? Bagai­mana ia akan men­ja­lan­kan tugas­nya?

Hampir pada banjar ter­a­khir di alun-alun sese­o­rang peseru mene­rus­kan: “Ayoh, Idayu…!”

Seka­rang Idayu ber­da­tang sembah: “Ampun­i­lah patik, ya Gusti sese­m­ba­han patik. Bukan maksud patik hendak meng­gu­sar­kan Gusti. Per­mo­honan patik yang tidak seper­ti­nya adalah…”

“Betapa susah ber­ha­dapan dengan Gusti Adi­pati” sese­o­rang menye­le­tuk.

“Diam!” bentak seo­rang peseru.

“Nah, aku terus­kan per­se­m­ba­han Idayu. Deng­ar­kan… adalah… adalah… Gusti Adi­pati Tuban sen­diri.. adalah… Kakang Galeng… Juara gulat!”

Seka­rang Gusti Adi­pati Tuban ber­ta­nya: “Kami tidak meng­erti, Idayu. Apa mak­sudmu!?”

Tetapi para hadirin di selu­ruh alun-alun meng­erti belaka. Sorak-sorai mele­dak sejadi-jadi­nya. Hadirin di alun-alun lupa daratan, lupa pada semua aturan. Mereka ber­lom­patan, ber­jing­k­rak, kegi­rangan. Para peseru tak mampu mema­dam­kan keri­u­han. Juga yang sakit di atas tandu-tandu memer­lu­kan ter­se­nyum dan ber­syu­kur pada Hyang Widhi. Mereka dapat menang­kap maksud Idayu. Ah, pera­wan mulia itu! Dan rakyat Tuban sejak dahulu juga memuja cinta yang ber­pri­badi, dise­mer­baki kese­ti­aan dan keta­ba­han meng­ha­dapi hidup dan mati. Mereka ber­so­rak untuk keme­nangan cinta. Udara meng­ge­le­tar seakan tiada kan habis-habis­nya. Canang per­i­ng­atan ber­talu tanpa hasil.

Di dalam pen­dopo sen­diri orang meli­hat wajah Sang Adi­pati tiba-tiba merah padam. Sua­ra­nya agak sengit: “Apa mak­sudmu? Kata­kan yang jelas!”

Galeng tak mampu lagi men­de­ng­ar­kan. Tanpa disa­dar­a­i­nya air mata haruan telah mele­leh jatuh sete­lah menye­ber­a­ngi pipi­nya, mem­ba­sahi lengan teman yang meng­hi­bur­nya.

Teman itu meli­hat pada air mata itu dan dengan diam-diam menge­cup­nya dengan bibir seba­gai berkah dari Hyang Kama­jaya1, untuk men­da­pat­kan keku­atan cinta sema­cam itu juga. Kemu­dian ia belai-belai pung­gung Galeng.

“Patik memo­hon, ya Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik,’ men­da­dak suara Idayu men­jadi keras, kuat dan tabah sete­lah dibe­ra­ni­kan oleh sorak-sorai, “semoga Gusti Adi­pati Tuban ber­ke­nan, Gusti Adi­pati Tuban sen­diri, meres­tui patik dan Kakang Galeng seba­gai istri dan suami.”

Idayu telah mem­per­se­m­bah­kan kei­ng­in­an­nya seba­gai hak yang telah dika­ru­ni­a­kan pada­nya. Dan Sang Adi­pati sema­kin mema­hami per­se­m­ba­han itu. Kedua belah kaki­nya yang tidak ber­ge­rak selama ini dilem­pang­kan kejang. Mata­nya mem­be­liak. Tangan kanan­nya ber­a­yun, kemu­dian men­ceng­kam hulu keris. Dada­nya ter­e­ngah-engah.

Sua­sana pen­dopo tegang. Para peseru bung­kam.

Mati kau, Idayu! Mati kau di ujung keris, pikir orang. Dan para pung­gawa dan pem­be­sar meng­ang­kat kepala untuk menga­gumi pera­wan desa yang gagah berani itu. Tholib Sung­kar Az-Zibaid men­ja­tuh­kan tinju pada tela­pak tangan kiri, meri­ngis.

Di alun-alun sua­sana kem­bali mem­bun­cah riuh-rendah.

Tangan Sang Adi­pati ter­henti pada hulu keris itu. Nampak ia sedang ber­gu­lat mengu­a­sai diri. Ceng­kaman pada hulu sen­jata itu ter­u­rai dan tangan­nya jatuh lesu di sam­ping badan. Ia men­coba ter­se­nyum sambil mem­per­ba­iki letak kaki.

Gelom­bang sorak-sorai: masih mem­be­lu­dag meman­dangi gunung mele­tus. Canang per­i­ng­atan yang makin ber­talu teng­ge­lam dalam lautan sorak-sorai: I-da-yu, I-da-yu, I-da-yu-I-da-yu! Bebe­rapa orang nampak seperti kese­tanan, meng­ang­kat naik pacar­nya tinggi-tinggi, lupa, tak ada orang lebih tinggi dari kepala Sang Adi­pati.

Banyak di antara wanita meng­ha­pus air mata, ter­se­dan-sedan ter­haru, mene­mu­kan sese­o­rang yang mewa­kil­i­nya seba­gai makh­luk pilihan para dewa.

Di tengah-tengah keri­u­han itu seo­rang nenek menu­tup mata, menun­duk sampai-sampai ke tanah. Memo­hon: “Ber­ba­ha­gi­a­lah kau, wanita pilihan. Kah­yangan ter­bu­ka­lah bagi cinta setia. Kau pilih petani desa dari­pada adi­pati ber­ku­asa. Ya dewa batara: Betapa ber­ba­ha­gia ada zaman sein­dah ini.”

Men­da­dak keri­u­han reda. Sua­sana baru mengu­a­sai kea­daan. Orang duduk kem­bali di tempat masing-masing dengan tertib. Pada suatu jarak sese­o­rang ber­diri, tak peduli pada larangan, sua­ra­nya lan­tang menya­nyi­kan nyanyi pujaan untuk kebe­saran Dewa Kama­jaya dan Dewa Kama­ra­tih. Setiap orang ikut menya­nyi, tak peduli apa agama mereka: Syiwa. Buddha. Wisynu. Islam. Kesyah­duan mengu­a­sai bumi, langit dan manu­sia Tuban.

Di pen­dopo Sang Adi­pati ber­mandi keri­ngat. Men­de­ngar mazmur meng­ge­lora di alun-alun, dan meng­i­kuti tra­disi lama, ia pun ber­diri, turun dari takhta dan ber­lu­tut di hadapan Idayu. Dan waktu mazmur sele­sai ia angkat kedua belah tangan ke atas sambil ber­diri. Semua mata ber­temu pada tangan ber­ku­asa itu.

Orang telah bayang­kan Idayu mati di ujung keris, men­je­lem­pah ber­mandi darah, karena demi­kian memang adat raja-raja Jawa. Dalam bayangan orang, Galeng akan maju bering­sut ber­su­jud pada kaki Sang Adi­pati untuk juga mene­rima tikaman keris. Pada ping­gang­nya. Jan­tung orang ber­de­baran ken­cang.

Ter­nyata lain lagi yang ter­jadi: “Restu untukmu, Idayu, wanita utama Awis Kram­bil dan Tuban. Selu­ruh Tuban bangga padamu. Deng­ar­lah orang mela­gu­kan nya­nyian puja untukku…, Deng­ar­kan orang ber­so­rak-sorai untukmu….” kata-kata Sang Adi­pati ter­se­kat pada teng­go­r­okan.

Orang meli­hat pengu­asa itu mene­lan ludah, sekali, dua kali – suatu pan­tangan bagi orang yang sedang diha­dap.

Kem­bali nyanyi puja untuk cinta meng­gema menya­rati langit Tuban. Dalam kea­daan seperti itu Sang Adi­pati mene­rus­kan, tanpa duduk di atas takhta: “Idayu, keka­sih Tuban, hari ini akan kami kawin­kan kau dengan Galeng.”

Sorak-sorai gila di alun-alun.

“Galeng! Maju kau, juara gulat yang ber­ba­ha­gia!” Galeng maju dengan was­pada, ber­ja­lan merang­kak seperti katak, menyem­bah bebe­rapa kail Kemu­dian duduk di sam­ping keka­sih­nya.

“Benar­kah ini yang ber­nama Galeng, Idayu? Pria yang engkau cintai?”

“Benar, Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik.”

“Lihat dulu baik-baik, jangan keliru.”

“Benar, Gusti, tidak keliru.”

“Tidak­kah kau akan menye­sal, Idayu?”

“Demi Hyang Widhi, tidak, Gusti Adi­pati sese­m­ba­han patik”

“Kata­kan ‘demi Allah’”, Tholib Sung­kar Az-Zubaid ber­seru dari tem­pat­nya.

“Demi Allah, ya Gusti.”

“Kau yang bemama Galeng dari Awis Kram­bil?”

“Inilah patik, Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik.”

“Jadi kaukah keka­sih Idayu?”

“Demi­kian adanya, Gusti.”

Kem­bali Sang Adi­pati meng­ang­kat lengan: “Deng­ar­kan dan saka­kan semua kawula Tuban. Pada hari ini, dengan keku­a­saan kami, di kawin­kan juara tari Idayu dengan juara gulat Galeng, dua-duanya dari desa Awis Kram­bil.”

Sorak-sorai ber­syu­kur mem­bu­bung ke ang­kasa.

“Kami restui per­ka­winan kalian. Anak-anak ber­ba­ha­gia akan men­jadi ketu­runan kalian….”

“Auzu­bil­lah!” ter­lom­pat kata dari mulut Rangga Iskak. Kaget pada seru­an­nya sen­diri ia mene­rus­kan dalam hati: ”Dasar kafir turunan kafir. Masa sema­cam itu menga­win­kan orang? Tidak sah! Meng­aku Islam pula. Muna­fik. Kufur.”

‘Tidak sah!” gumam Tholib Sung­kar Az-Zubaid dalam bahasa Arab. Sang Adi­pati hendak ber­main-main dengan hak dan hukum. Ya, ya, memang cerdik dia, Idayu dengan begitu takkan jadi hak bagi si pegu­lat itu. Dia akan tetap milik semua pen­du­duk Tuban. Mung­kin kau sen­diri yang akan meram­pas­nya kelak, Adi­pati. Dan kau juara gulat yang sebo­doh ban­teng. Hanya badanmu saja yang besar. Otakmu cuma sebe­sar biji kurma kering.

“Kakang Patih, per­se­m­bah­kan sesu­atu pada kami.”

Dari bawah kursi, Sang Patih Tuban meng­ang­kat sembah. Kemu­dian dengan suara pelahan: “Ampun, Gusti Adi­pati sese­m­ba­han patik, ada pun segala yang telah Gusti gan­jar­kan benar belaka adanya. Kawula Tuban sangat memuja cinta yang murni, ya Gusti. Dan bukan tanpa bahaya Idayu memi­lih sua­mi­nya.”

Dari alun-alun sorak-sorai menyerbu ke dalam pen­dopo, mem­be­nar­kan Sang Patih. Kemu­dian hening.

“Juga bukan tanpa bahaya bagi Galeng. Ia pun telah menun­juk­kan kejan­ta­nan, Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik. Ia telah maju atas pang­gilan keka­sih­nya. Kalau bukan karena pemu­rah Gusti, bukan keka­sih ia dapat­kan, tapi ujung keris.”

“Kau benar, Kakang Patih.”

“Ampun, Gusti, adapun akan gadis ini, tidak lain dari pen­jel­maan Sang Hyang Dewi Kama­ra­tih, dan per­jaka ini pen­jel­maan Sang Hyang Kama­jaya. Ber­ba­ha­gi­a­lah pengan­tin baru yang agung, dires­tui oleh semua keba­jikan. Ter­ku­tuk­lah siapa saja yang meng­ganggu per­cin­taan mereka.”

Seba­gian ter­be­sar peng­an­tar sum­bangan, pria dan wanita, tua dan muda, meno­lak disu­ruh pulang. Mereka ber­mak­sud menyum­bang­kan tenaga juga. Maka jadilah da pur rak­sasa pada malam itu juga. Menyu­sul kemu­dian datang bon­do­ngan gero­bak meng­an­tar­kan kayu bakar dan minyak-minyakan. Dan api pun menyala dalam ber­pu­luh tungku.

Di dalam rumah-rumah Tuban Kota orang tua-tua memer­lu­kan menya­nyi­kan kem­bali mazmur Kama­ra­tih-Kama­jaya, meng­a­jak anak-anak gadis mereka ikut serta menya­nyi­kan, seakan-akan syair itu adalah pera­saan mereka sen­diri.

“Nah, Nak. begitu seyog­ya­nya jadi wanita. Jadilah wanita utama seperti Idayu. Untuk cin­ta­nya dia berani hadapi segala, ter­ma­suk orang yang paling ber­ku­asa di bumi Tuban. Keta­hu­i­lah, tanpa cinta hidup adalah sunyi, karena raga telah mati dan dunia ting­gal jadi padang pasir. Bukan­kah itu kata-kata dalam mazmur sen­diri.

Malam itu Idayu dan Galeng men­da­pat tempat sen­diri-sen­diri, dua-duanya adalah tempat yang jauh lebih patut bagi dua orang anak desa per­ba­ta­san.

Idayu diling­kari oleh wanita-wanita tua, mewe­jang­i­nya dengan seribu satu nasi­hat, meman­di­kan­nya, dalam jam­bang air bunga, memo­tongi bagian-bagian run­cing dari gigi­nya, kemu­dian mema­ra­mi­nya untuk men­da­pat­kan kulit yang lunak dan ber­seri pada kee­sokan hari­nya.

Ia ikuti segala harapan yang ditum­pah­kan pada dir­i­nya. Ia ber­ba­ha­gia karena dapat mem­ba­ha­gian keka­sih­nya.

Sele­sai ber­pa­ram, seo­rang nenek menya­nyi­kan untuk­nya lagu-lagu tua, yang ia sudah banyak tak tahu arti­nya, kemu­dian nenek itu mene­rang­kan arti­nya dan mem­be­ri­kan taf­siran. Ia men­de­ng­ar­kan lebih khid­mat dari pada upa­cara-upa­cara yang pernah disak­si­kan­nya. Ia tahu segala macam upa­cara ini akan segera sele­sai, dan seba­gai istri dari sua­mi­nya ia akan kem­bali ke desa mem­bawa keha­ruman dan kebe­saran.

Lain halnya dengan Galeng. Seka­li­pun ia diling­kari pria-pria tua, mewe­jang­i­nya dengan seribu satu nasi­hat, memi­jiti selu­ruh tubuh­nya agar otot-otot­nya kendor kem­bali, ing­at­an­nya tak juga mau lepas dari Rama Clu­r­ing dan segala akibat yang mung­kin timbul. Ancaman kepala desa itu mem­bu­at­nya terus-mene­rus tegang dalam kewas­pa­daan. Dan ia men­duga, apa yang diper­buat oleh Sang Adi­pati seka­rang ini hanya satu mus­li­hat untuk memus­nah­kan­nya dari muka bumi.

Ia tak deng­ar­kan wejangan-wejangan ;tu. Ia tak rasa­kan tangan yang meng­en­dor­kan otot-otot­nya. Tiga orang melu­lu­r­nya ber­ba­reng. Seo­rang pada bagian bahu, yang lain pada bagian ping­gang. Yang ketiga pada bagian kaki. Dan nasi­hat mereka tak putus-putus­nya ber­sa­hut-sahutan seperti burung ber­ki­cau.

Galeng ber­u­saha keras meng­i­ngat-ingat kem­bali….

Orang tua ber­tu­buh kecil, pedok, karus semua sudah serba putih karena tuanya dengan cepat mengu­tip Nega­ra­ker­ta­gama dan Para­ra­ton. Menye­but­kan kera­jaan-kera­jaan, negeri-negeri dan kota-kota sebe­rang yang ber­lin­dung di bawah keku­a­saan Maja­pa­hit. Bahwa di mana ten­tara laut Maja­pa­hit men­da­rat, di sana pula orang ber­ke­ru­mun hendak men­de­ng­ar­kan berita dari Bumi Selatan, juga hendak men­de­ng­ar­kan cerita-ber­ang­kai Panji dan Can­dra­ki­rana.

“Selama kalian tak mampu meli­hat dunia, selama itu kalian telah diper­la­ku­kan oleh Tuban bukan seba­gai kawula, tetapi seba­gai musuh yang telah dika­lah­kan dalam perang. Upeti! Upeti! Upeti saja yang dike­ta­hui Tuban dari kalian. Barang bakal dan barang jadi…!”

“Jangan dita­han kaki ini, Galeng biar aku tekuk,” salah seo­rang pemi­jit mene­gur.

Dan Galeng meng­en­dor­kan otot-otot kaki­nya.

”Bagian ini sangat tegang, Galeng, ter­lalu lelah.”

Kem­bali ia menge­nang­kan men­di­ang Rama Clu­r­ing: Orang setua itu, tak punya sesu­atu pun kee­u­ali diri, kebe­naran dan keper­ca­yaan, meng­a­jar­kan kebe­naran di mana-mana, dan juga di mana-mana menim­bul­kan keka­guman orang, peng­i­kut, juga keta­kutan bagi mereka yang tak mem­bu­tuh­kan kebe­naran….

“Telen­tang, kau, Galeng!”

Juara gulat itu telen­tang. Otot-otot dan dada dan leher seka­rang men­da­pat giliran.

“Tahu-tahu kau jadi pengan­tin kera­jaan, Leng. Dasar nasib sabut dilem­par ke kali tetap meng­a­pung.”

“Karu­nia Hyang Widhi muncul di mana-mana,” ia men­ja­wabi.

Semua otot­nya telah jadi kendor. Param itu menu­suk. Ia merasa nyaman dan segar. Ia ter­lena, ter­le­lap, ber­la­yar di alam mimpi…

Azan subuh dari menara mesjid Kota dan pela­buhan belum lagi lama padam. Dari mana-mana ter­de­ngar game­lan mulai ber­talu, men­de­sak deburan laut, mem­ba­ngun­kan mereka yang masih tidur. Orang ber­ge­gas mandi dan menge­na­kan kem­bali pakaian ter­baik. Ber­e­e­pat-eepat orang sele­sai­kan sarapan, mem­ber­sih­kan rumah dan mem­buka semua pintu lebar-leban kemu­r­ahan Kama­ra­tih dan Kama­jaya yang sedang turun dari Tuban hen­dak­nya juga mema­suki rumah dan hati mereka. Kemu­dian mereka mem­ber­sih­kan halaman dan mena­bur­kan bunga-bungaan dan beras kuning pada pintu rumah dan ger­bang.

Matari dengan cepat mening­gal­kan per­mu­kaan laut. Kapal-kapal dan perahu muncul dalam hiasan ber­ba­gai warna umbai-umbai. Sua­sana peta­ruhan digan­ti­kan oleh pesta. Sela Baginda tahu-tahu telah dipa­gari dengan janur kuning dan rang­kaian bunga-bungaan, Umpak tugu Air­langga itu hampir semua ter­tu­tup oleh­nya.

Pada pagi itu juga dari mulut ke mulut orang di pela­buhan ber­ce­rita: subuh tadi Sang Adi­pati memer­lu­kan datang ke kamar pengan­tin yang sudah penuh-sesak dengan orang tua-tua. Pada mereka ia ber­kata: “Hari ini Soma. Untuk menge­nang­kan hari pesta besar ini, Soma kami ubah jadi Senin.” Kata berita itu pula: Sang Adi­pati keli­hatan pucat, mung­kin malam-malam tidak beradu. Dengan tangan sen­diri ia telah tabur­kan daun bunga pada kepala dua orang pengan­tin desa itu.

Bunyi game­lan sema­kin riuh – dari mana-mana. Dalam rom­bongan orang ber­ge­rak menuju ke kadi­pa­ten. Paling depan adalah game­lan mereka, dengan atau tanpa penari, untuk menyam­but kelu­ar­nya pengan­tin dan juga untuk meng­iring­kan­nya. Dengan kadi­pa­ten telah penuh-sesak dengan manu­sia dan kegi­at­an­nya. Sebuah bonang telah riang sekali karena ter­lalu tua dan ter­lalu ber­se­ma­ngat orang memu­kul­nya.

Hidangan melim­pah-ruah datang. Men­da­dak game­lan dan sorak-sorai yang meng­ha­rap agar pengan­tin segera turun, ber­henti. Suara suling ter­a­khir meleng­kung kemu­dian padam. Hidangan pagi yang­ha­ngat meng­uap-uap itu mem­bi­kin orang lupa bahwa besok masih ada hari lain. Semua yang ter­hi­dang ter­san­tap. Dan minum air gula-santan pagi itu ter­cam­pur dengan pandan-wangi menya­ta­kan, bahwa mereka sung­guh-sung­guh sedang ber­pesta. Untuk daerah Tuban, pandan-wangi selalu dida­tang­kan dari kabu­pa­ten lain, maka meru­pa­kan barang mewah. Kolak dengan harum kayu-manis. Gulai ayam, kam­bing dan satai, lemper dan pisang goreng. Dan begitu perut kenyang orang hampir-hampir lupa mereka datang untuk meng­iring­kan pengan­tin. Orang tak mem­per­ha­ti­kan: tak ada ikan laut dihi­dang­kan. Matari mulai ber­si­nar gemi­l­ang.

Tandu pengan­tin nampak mening­gal­kan kadi­pa­ten, mema­suki pela­taran depan. Seben­tar semua tangan melam­bai-lambai menyam­but. Seo­rang pen­deta Buddha mem­bu­nyi­kan giring-giring emas. Dan seo­rang bocah memer­cik-mer­cik­kan air dari jam­bang kuningan yang dipi­kul oleh empat orang dewasa. Air itu meni­ti­kan jalanan itu. Akan ditem­puh pengan­tin.

Tiba-tiba hening sunyi. Ter­de­ngar gumam mantra-mantra dari pen­deta itu. Begitu giring-giring ber­henti ber­bu­nyi, seo­rang-orang tua, meme­kik meme­cah kehe­ningan: “Sam­butl” Giring-giring. Ber­bu­nyi lagi. Ber­henti. “Sambut!” pekik orang tua itu. Giring-giring. Pekikan. Giring-giring. Pekikan Gumam Pen­deta Buddha. Pekikan. Susul-menyu­sul kemu­dian ber­gu­lung jadi nyanyi ber­sama dalam mazmur cinta, semua mem­bu­bung sy ahdu di langit pagi. Juga kanak-kanak pada mene­kur ikut menya­nyi. Ah, sudah lama nya­nyian puja itu tak pernah ter­de­ngar. Men­da­dak semua orang kini ter­i­ngat lagi. Kemu­dian semua tangan ter­ang­kat ke langit seakan hendak mene­rima jabatan dari Kama­jaya dan Kama­ra­tih yang akan turun ke bumi. Juga pengan­tin di atas tan­du­nya, Juga para penandu. Dan begitu nyanyi puja ber­henti, tandu mulai ber­ja­lan pelan menuju ke gapura.

Sang Adi­pati keli­hatan ber­diri di pen­dopo. Para pem­be­sar di bela­kang­nya. Ia memang keli­hatan pucat. Dan tandu ber­ja­lan pelahan turun ke jalanan alun-alun. Tandu itu sen­diri ter­buat dari­pada kayu ber­u­kir. Atap dan din­ding­nya ter­buat dari­pada sutra kuning tipis ter­pi­lih dan ber­li­pat-lipat. Di sana-sini dise­lang-seling dengan sutra biru laut dan merah dan coklat. Tali-tali dari rang­kaian melati ber­jum­lah kena­nga meru­pa­kan garis-garis busur ter­gan­tung dari tiang ke tiang. Dan tandu itu ber­ge­rak di antara kepala semua manu­sia.

Begitu nyanyi puja ter­a­khir sele­sai, game­lan mulai riuh ber­bu­nyi. Orang ber­so­rak ber­sam­but-sam­butan. Dua orang penari ber­pa­kaian dewa Kama­jaya dan dewi Kama­ra­tih men­jadi pem­buka barisan. Ber­sama dengan penari-penari lain mereka mema­in­kan riwa­yat Galeng dan Idayu di sepan­jang jalan arak-arakan.

Sejoli pengan­tin itu duduk dalam sikap resmi. Mereka tak ter­tawa tak ter­se­nyum, seperti sepa­sang arca batu. Seben­tar jalan.

Idayu menge­na­kan kem­bang kee­masan ber­ki­lat-kilat. Per­hi­asan dari emas dan per­mata meman­car gemer­lapan pada kepala, kuping, leher, tangan, dada dan perut. Galeng ber­te­lan­jang dada. Destar-wulung­nya dije­lu­juri rantai emas dan perak. Pada dada­nya ter­gan­tung kalung emas. Pula dengan mainan bunga tera­tai perak dengan benang sari dari emas. Keris­nya ber­sa­rung dan ber­hulu kayu sawo ber­ta­tah­kan intan bai­duri.

Memang mereka tak ubah­nya dengan pengan­tin kera­jaan.

Begitu tandu telah mening­gal­kan alun-alun dan mulai meng­hin­dari kota tata-tertib barisan tak dapat lagi diper­ta­han­kan. Gadis-gadis dan pemuda-pemuda ber­se­sa­kan untuk dapat meng­ham­piri pengan­tin. Tandu nampak antara seben­tar ter­do­r­ong ke kiri dan ke kanan, oleng seperti perahu tanpa kemudi. Dan sepa­sang pengan­tin itu tetap agung duduk di tem­pat­nya.

Kota telah dike­li­lingi. Kirit arak-arakan menuju ke Sela Baginda di pela­buhan. Gadis-gadis mulai sema­kin men­de­sak untuk meng­ham­piri Idayu. Mereka tak dapat mena­han godaan untuk men­je­ngah Sang Kama­ra­tih untuk men­da­pat­kan ber­kah­nya. Dari sam­ping lain para per­jaka bere­but dahulu untuk menyen­tuh Galeng.

Para penga­wal, serom­bongan kakek-kakek, tak mampu lagi men­jaga. Mereka hanya dapat ber­te­riak-teriak mela­rang. Sua­ra­nya lenyap dalam gelom­bang game­lan dan deru angin darat. Yang dila­rang pun tidak peduli.

Turun­nya Kama­jaya dan Kama­ra­tih di atas bumi Tuban mung­kin tak bakal ter­jadi lagi dalam dua ratus tahun men­da­tang. Kesem­patan sekali ini takkan mereka biar­kan ber­lalu tanpa men­da­pat­kan berkah dan kenangan. Kulit pengan­tin yang sedang dili­puti kasih para dewa harus disi­n­tuh.

Meng­erti akan kei­ng­inan mereka, Idayu dan Galeng menga­lah. Diu­lu­r­kan tangan mereka keluar tandu. Ser­buan para pera­wan dan per­jaka sema­kin men­jadi-jadi. Yang tak ber­ha­sil men­da­pat sen­tuhan mulai menye­rang bunga-bungaan peng­hias. Dalam waktu seke­jap bunga-bungaan lenyap dari peng­li­hatan mata.

Pera­wan dan per­jaka terus men­de­sak. Makin padat dan makin padat. Para penga­wal sema­kin jauh ter­si­sih. Orang mulai menye­rang din­ding dan atap tandu.

Dalam waktu pendek tandu sudah men­jadi gundul dan pengan­tin pun ter­buka selu­r­uh­nya ter­ha­dap surya dan angin.

Sorak-sorai makin gegap-gem­pita. Dan game­lan terus juga ber­talu. Dan para penari terus juga ber­leng­gang-leng­gok sepa­sang jalan.

Arak-arakan hampir men­de­kati Sela Baginda. Para pera­wan dan per­jaka mulai menyerbu ber­u­saha meng­am­bil-alih tugas memi­kul tandu. Mereka adalah yang tak dapat menyen­tuh dan tak men­da­pat bunga, tak men­da­pat ser­pihan sutra. Per­gu­latan ter­jadi. Tandu ber­a­yun-ayun di udara seperti biduk ter­kena ter­jang angin beli­ung.

Dari mana-mana ter­de­ngar orang meme­kik mela­rang. Gemu­ruh suara manu­sia dan taluan game­lan, kega­lauan antara gerak dan bunyi dan debu yang menge­pul ke udara, meneng­ge­lam semua makna kata-kata. Dan tandu sema­kin ter­gun­cang-gun­cang.

Idayu lupa pada sikap res­mi­nya. Tangan­nya ber­pe­gangan erat-erat pada tiang tandu. Galeng ber­u­saha mem­per­ta­han­kan kese­l­m­bang­an­nya dengan kedua belah tangan men­ce­kam tempat duduk. Mata­nya ber­pen­daran heran ber­ta­nya-tanya.

Sebuah pekikan tinggi meleng­king keluar dari mulut seo­rang nenek penga­wal Idayu: “Dewa Batara! Jangan biar­kan jatuh tandu itu’.”

Dan justru pada waktu itu tandu mulai miring, kemu­dian hilang dari peman­dangan ber­sama dengan dua sejoli pengan­tin di atas­nya. Arak-arakan ber­henti seke­tika. Game­lan bung­kam. Tari-tarian mati. Deburan laut pun mem­beku. Surya seakan hilang dari per­e­daran, kehi­langan terik­nya.

Nenek peme­kik ter­de­ngar mena­ngis ter­sedu-sedu, kemu­dian mera­ung: “Ampun, Dewa Batara, ampun!”

Pada wajah orang-orang nampak keta­kutan dan kekha­wa­tiran. Mereka ber­pan­dang-pan­dangan bingung. Suara sedu-sedan dan memo­hon ampun pada Hyang Widhi mulai meng­ge­lom­bang.

Satu ling­karan orang kaget telah ber­diri menge­li­lingi pengan­tin yang ter­ja­tuh dari atas tandu.

Kete­gangan dan keke­jangan.

Di hadapan mata batin orang meng­a­wang kutukan para dewa, karena mem­bi­ar­kan pengan­tin keka­sih Kama­jaya dan Kama­ra­tih ter­gu­ling dari kedu­duk­an­nya.

Sua­sana pesta beru­bah jadi mena­kut­kan. Dari mana-mana mem­bu­bung dengung mantra-mantra.

Dalam keru­munan orang Idayu ber­diri dari tanah, Galeng melom­pat bangun. Kedua-duanya diam tidak bicara. Ber­sama-sama mereka meman­dang langit dan menyem­bah. Seling­karan orang keta­kutan itu tak menyam­but tangan yang diu­lu­r­kan dari keja­uhan itu. Baru sete­lah keta­huan dua orang pengan­tin itu tak meng­a­lami cedera, dan syukur ganti ber­gema. Seo­rang mulai tahu apa harus diker­ja­kan: mem­be­tul­kan tandu agar pengan­tin naik lagi. Galeng dan Idayu meno­lak.

Pengan­tin itu ber­gan­de­ngan. Tanpa bicara mereka mene­rus­kan per­ja­lanan. Kera­maian mem­bun­cah lagi. Tapi para pengiring tepat di bela­kang pengan­tin diam mem­bisu. Pengan­tin meno­lak ditun­jang.

Di Sela Baginda pengan­tin disam­but dengan per­cikan air bunga pada kaki mereka. Serom­bongan orang tua-tua mem­bawa mereka mengi­tari batu itu sampai tiga kali, kemu­dian menyi­la­kan meng­am­bil bunga-bungaan penu­tup bekas pra­sa­sti Air­langga. Bunga-bungaan itu mereka bawa ke tepi laut dan mereka berdua tabur­kan sedi­kit demi sedi­kit ke per­mu­kaan air.

Kea­daan sunyi-senyap. Barisan yang telah meman­jang pada tepian meng­a­wasi setiap bunga yang jatuh ke laut, seperti sedang mene­ro­pong hari depan sen­diri.

Bunga-bungaan itu mulai ber­a­pungan, naik-turun ber­sama ombak, ber­ge­rak pelahan, makin lama makin men­ja­uhi pantai.

Masih tetap diam-diam semua mata meng­i­kuti jalan­nya bunga-bungaan. Dan yang mereka awasi tak ada yang bakal kem­bali ke darat. Makin lama makin men­jauh… jauh, mela­lui tubuh-tubuh perahu dan kapal… men­jauh,… jauh … jauh….



Bab 6

Adipati Tuban Arya Tumenggung Wilwatikta

Orang bilang: Sang Adi­pati Tuban bukan ketu­runan orang keba­nyakan. Semua orang per­caya: ia lang­sung ber­a­sal dari darah wangsa Maja­pa­hit. Dan tak ada orang yang mera­gu­kan. Sang Adi­pati sen­diri bangga pada darah yang meng­a­lir di dalam tubuh­nya. Juga ia merasa aman karena darah itu sen­diri telah menye­bab­kan ia tak punya penan­tang seba­gai pengu­asa atas negeri Tuban.

Pada 1292 Raden Wijaya ber­ha­sil men­di­r­i­kan Maja­pa­hit. Kawan-kawan seper­ju­ang­an­nya, hampir semua ber­a­sal dari rakyat keba­nyakan, diang­kat­nya jadi guber­nur yang ber­ku­asa di kabu­pa­ten-kabu­pa­ten pen­ting di Jawa Timur. Ia marak jadi raja per­tama Maja­pa­hit dengan nama Kar­ta­ra­jasa.

Sang Adi­pati tahu, Sri Baginda Kar­ta­ra­jasa lebih banyak mem­be­ri­kan keku­a­saan pada saha­bat-saha­bat seper­ju­angan yang telah sangat ber­jasa pada­nya. Kaum ning­rat kelu­arga Sri Baginda justru sangat diba­tasi keku­a­sa­an­nya. Baginda meng­ang­gap orang-orang ning­rat telah men­jadi lemah karena keme­wahan dan peng­hor­matan dan san­jungan yang ber­le­bihan.

Tetapi, peja­bat-peja­bat dari orang keba­nyakan ini, demi­kian pen­da­pat Sri Baginda pen­diri wangsa Maja­pa­hit biar­pun sudah diang­kat jadi guber­nur, tetap­lah tak punya jang­kauan pan­dang yang jauh. Ke mana pun mereka tebar­kan pan­dang­nya, yang nampak hanya dusun­nya semula. Kese­ti­aan memang bisa diha­rap­kan dari mereka, tetapi kebe­saran hanya bisa datang dari seo­rang raja yang bijak­sana.

Juga Sang Adi­pati Tuban tahu dari guru praja: sejak masih ber­nama Raden Wijaya pun Sri Baginda Kar­ta­ra­jasa telah diji­wai oleh cita-cita besar Sri Baginda Kar­ta­ne­gara dari Singa­sari untuk mem­per­sa­tu­kan selu­ruh Nusan­tara. Ia sen­diri pernah ber­tu­gas memim­pin eks­pe­disi mil­iter ke negara-negara Melayu. Juga pernah ikut memim­pin gerakan mem­per­sa­tu­kan Madura, Bali, Sunda, Suka­dana, Pahang dan ikut mem­ba­ngun­kan per­se­ku­tuan mil­iter dengan Campa. Sete­lah men­jadi raja Maja­pa­hit per­tama, Sri Baginda ber­cita-cita hendak mem­ba­ngun­kan kekai­saran dengan ban­tuan guber­nur-guber­nur­nya yang setia.

Dari guru praja Adi­pati Tuban tahu: Sri Baginda Kar­ta­ra­jasa mem­pu­nyai dua jalan untuk mem­per­sa­tu­kan Nusan­tara. Per­tama jalan kecil karena kecil­lah kemung­kin­an­nya, yakni mela­lui jalan laut ke Tiong­kok – dan kekai­saran Tiong­kok ter­lalu kukuh dan ter­lalu kuat untuk dipe­nga­ruhi dan ditem­bus oleh Maja­pa­hit. Yang kedua adalah jalan besar, karena besar­lah kemung­kin­an­nya, yakni mela­lui jalan laut mele­wati Selat Seme­nan­jung ke Atas Angin, ke Beng­gala dan ke negeri-negeri yang tak ter­ba­tas jumlah kera­jaan dan kebang­sa­an­nya. Untuk dapat mengu­a­sai jalan besar, Selat Seme­nan­jung harus diku­a­sai. Dan untuk kepen­tingan itu pula Sri Baginda Kar­ta­ra­jasa menga­wini putri Melayu ber­ge­lar Dara Petak1 arti­nya Gadis Putih. Seo­rang putra yang lahir dari per­ka­winan ini, Kala Gemit, diang­kat jadi putra mah­kota untuk men­ja­min kese­ti­aan Melayu pada Maja­pa­hit dan dengan demi­kian menye­la­mat­kan Selat Seme­nan­jung.

Para guber­nur bekas teman-teman seper­ju­angan Sri Baginda tidak mau meng­erti ten­tang kebi­jak­sa­naan ini. Biar­pun per­mai­suri Gayatri tidak mela­hir­kan seo­rang putra, hanya putri, tidak ada salah­nya ia diang­kat jadi putri mah­kota. Bukan­kah putri itu, Dewi Tri­bu­wana, cucu Sri Baginda Sri Ker­ta­ne­gara, yang lebih berhak? Bukan­kah Tri­bu­wana sen­diri sudah melam­bang­kan ber­sa­tu­nya tiga benua: Nusan­tara, Atas Angin dan Wulungga? Mereka tidak rela kalau Maja­pa­hit, hasil jerih-payah mereka, harus jatuh ke tangan ketu­runan Melayu, hanya untuk dapat mem­per­ta­han­kan Selat Seme­nan­jung.

Per­ce­ke­okan dan per­teng­karan ter­jadi. Tidak makin reda, tapi sema­ngat men­jadi-jadi.

Guber­nur-guber­nur ber­a­sal dari orang keba­nyakan itu, kata guru praja pada Sang Adi­pati semasa masih kanak-kanak, tidak meng­erti sesu­atu yang besar, yang diper­ta­ruh­kan dalam peng­ang­katan Kala Gemit jadi putra mah­kota. Memang pan­dangan mereka hanya seluas desa­nya sen­diri. Guber­nur Tuban, Rang­gal­awe, yang paling keras menen­tang, ditin­dak dengan eks­pe­disi mil­iter oleh Sri Baginda. Ia mela­wan dengan gagah-berani, tetapi sia-sia.

Peng­ganti Rang­gal­awe itulah moyang Sang Adi­pati.

Sang Adi­pati Tuban Arya Teja, karena kebi­jak­sa­naan dan kecer­dik­an­nya, dalam usia sangat muda telah diang­kat jadi Patih Maja­pa­hit, waktu itu Maja­pa­hit telah lemah seha­bis perang-sau­dara Pereg-reg, dan Sri Baginda Bra­wi­jaya lebih lama lagi, raga dan jiwa­nya, Sang Patih Maja­pa­hit Arya Teja tak meli­hat adanya jalan ter­buka untuk mem­ba­ngun­kan kem­bali Maja­pa­hit Raya. Ia patah sema­ngat, per­ha­ti­an­nya kemu­dian ia tum­pah­kan pada wila­yah­nya sen­diri ber­da­sar­kan dar­ma­raja, yakni negeri Tuban. Tetapi Tuban tak bisa men­jadi besar dan ber­di­kari selama Maja­pa­hit yang sakit-sakitan itu masih ada. Ia mulai ber­se­kong­kol dengan peda­gang-peda­gang Islam. Ialah yang mem­be­ri­kan izin pada Syekh Mau­lana Malik Ibra­him2 untuk mem­be­ri­kan per­kam­pungan dan peng­a­jaran Islam di pela­buhan utara Maja­pa­hit, Gresik. Ialah yang mem­ben­tuk per­se­ku­tuan dengan guber­nur-guber­nur pela­buhan untuk sema­kin menge­rat­kan hubungan dengan sau­dara-sau­dara Islam sambil sedi­kit demi sedi­kit menung­gangi Maja­pa­hit.

Maja­pa­hit telah lama runtuh. Tetapi Adi­pati Tuban tak mampu mele­pas­kan diri dari bentuk tata praja Maja­pa­hit. Ia pun bagi-bagi­kan jabatan-jabatan pen­ting pada orang-orang keba­nyakan yang telah ber­jasa, sangat ber­jasa. Hanya Sang Patih, sau­dara sepupu anak seo­rang paman tuanya, yang ber­a­sal dari darah raja-raja. Semua kepala pasukan Tuban adalah orang-orang keba­nyakan. Tak seo­rang pun di antara mere ka punya gelar, kecu­ali gelar keten­ta­raan.

Dan seka­rang, bahwa ia meng­ang­kat Idayu dan Galeng pada kehor­matan sede­mi­kian tinggi, adalah juga karena tra­disi Maja­pa­hit. Ia merasa bangga dan puas telah dapat laku­kan itu, seka­li­pun ia tak sepe­nuh­nya rela di dalam hati.

Seba­gai­mana halnya dengan lelu­hur­nya, ia tak pernah-meng­gu­na­kan tahyul seba­gai pegangan. Ia dasar­kan tin­dakan-tin­dak­an­nya praja pada per­hi­tungan ten­tang kemung­kinan yang lebih baik. Maka begitu orang ber­so­rak-sorai di alun-alun dan mem­be­nar­kan Idayu, seke­tika itu juga ia harus dapat meng­u­bah piki­ran­nya: mele­pas­kan impian sen­diri ten­tang tubuh jelita dari gadis per­ba­ta­san ber­nama Idayu dan serta-merta ber­pi­hak pada sorak-sorai itu.

Dan ia tahu, peris­tiwa Idayu-Galeng tak boleh ber­henti sampai di situ saja. Mereka dapat diper­gu­na­kan untuk meme­li­hara kese­ti­aan kawula Tuban kepa­da­nya. Maka Galeng harus juga men­da­pat jabatan yang patut.

Sete­lah upa­cara per­ka­winan agung sele­sai sering ia duduk ter­me­nung seo­rang diri di taman kesa­yangan di tempat gajah pri­badi. Dalam kesi­bukan resmi ia dapat kehe­batan bera­hi­nya pada tubuh Idayu. Tetapi sete­lah kem­bali hidup seba­gai pri­badi, berahi itu tetap menyala, menyam­bar dan mem­ba­kar dalam dada tuanya. Keku­a­sa­an­nya yang tanpa batas ter­nyata tak dapat mem­ban­tu­nya.

Seo­rang diri di taman seperti ini jiwa­nya penuh-sesak dengan bayangan penari jelita itu. Gerak-gerak yang begitu meng­i­kat, pan­dang mata yang sayup-sayup meng­un­dang… betapa… betapa… tidak, ia meya­kin­kan diri sete­lah ter­i­ngat pada ajaran kep­ra­jaan dari nenek sen­diri dan juga nenek Sang Patih: tak ada raja kehi­langan kera­jaan selama ia tidak kehi­langan kehor­matan. Maka untuk ke sekian kali ia kebas­kan bera­hi­nya.

Selama Idayu, seo­rang wanita, apakah beda­nya dengan wanita lain? Tapi pri­badi seperti itu! Di mana bisa dida­pat­kan lagi?

Dan dia­lah­kan piki­ran­nya seka­rang pada Galeng. Di mana harus ditem­pat­kan juara gulat kepa­rat yang hanya tahu gulat dan berani itu? Stt, stt, jangan remeh­kan kemam­puan sese­o­rang. Apakah arti­nya Mpu Nala dan Gajah Mada seba­gai sese­o­rang? Namun wajah dunia telah beru­bah karena mereka berdua, anak-anak desa itu: Seme­nan­jung jatuh ke tangan Maja­pa­hit. Selat diku­a­sai, Jalan besar ter­buka, Maja­pa­hit jaya.

Seka­rang Malaka jatuh ke tangan Peranggi. Selat dengan sen­di­r­i­nya, seben­tar lagi mung­kin Pasai runtuh pula dan Selat akan jadi milik mutlak Peranggi. Dia bukan hanya hendak mengu­a­sai dunia, juga Nusan­tara. Tak ada yang mampu mela­wan dia. Tuban pun tidak. Tetapi selama Tuban di dalam tanganku, kita akan memi­l­iki harga apa pun juga.

Sang Adi­pati ter­ba­ngun dari peme­nung­an­nya meli­hat seso­sok tubuh merang­kak men­de­kati sambil menyem­bah: “Ya, Galeng, pengan­tin baru yang ber­ba­ha­gia, adakah sesu­atu hendak kau per­se­m­bah­kan?”

Ia ter­tawa meli­hat pegu­lat itu dengan susah-payah men­coba menyu­sun kata.

“A, per­se­m­ba­han saja dengan caramu sen­diri, nak desa!”

“Ampun, Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik. Adapun patik meng­ha­dap tidak seper­ti­nya ini ialah memo­hon per­ke­nan dari Gusti Adi­pati Tuban…”

Keri­ngat dingin sudah mem­ba­sahi selu­ruh tubuh pegu­lat itu. Sete­lah per­ka­win­an­nya dan diha­rus­kan ting­gal di dalam kadi­pa­ten, ia kehi­langan niat untuk ber­buat sesu­atu ter­ha­dap Sang Adi­pati. Seba­gian dari kecu­r­i­ga­an­nya telah hilang. Idayu telah jadi istri­nya. Kege­li­sah­an­nya seka­rang adalah kege­li­sahan seo­rang kawula yang menunggu datang­nya hukuman. Pasti Sang Adi­pati telah menge­ta­hui segala-gala­nya ten­tang dir­i­nya. Sedang larangan bagi­nya untuk mela­ku­kan sesu­atu kerja menye­bab­kan kege­li­sah­an­nya sema­kin men­jadi-jadi.

“Kurang cukup­kah yang telah lewat dan yang sudah ada…?”

“Lebih dari cukup, Gusti, patik hanya­lah petani biasa. Patik dan istri sudah rindu pada desa patik, Gusti.”

“Bukan­kah kami Adi­pati Tuban dan kau kawu­la­nya? Bukan­kah kau meng­a­bdi pada adi­pa­timu?”

Juara gulat itu tak mampu mene­rus­kan kata-kata­nya. Badan­nya sudah kuyup.

“Kau, Galeng, kem­bali ke tem­patmu. Jangan ting­gal­kan pengan­tinmu. Kau tidak kem­bali ke desamu.”

Juara itu telah meng­ge­le­sot di tanah. Bebe­rapa kali ia meng­ang­kat sembah. Ia belum lagi mampu meng­ang­kat badan untuk pergi. Otot-otot­nya seperti lumpuh.

Dan Sang Adi­pati mem­per­ha­ti­kan bahu bidang di bawah­nya itu – bahu pegu­lat yang kukuh seperti baja. Dunia pun akan bisa dipi­kul­nya, bidik­nya puas dalam hati. Dia tak tahu apa sedang menung­gu­nya. Anak desa.

Pra­ju­rit-pra­ju­rit yang telah dipe­rin­tah­kan mem­ber­sih­kan gedung bekas asrama telah menye­le­sai­kan tugas­nya. Sang Adi­pati sen­diri yang telah meme­rin­tah mereka. Dan sete­lah itu mereka harus memin­dah­kan semua barang pri­badi Rangga Iskak ke bekas asrama ter­se­but. Sang Adi­pati meng­ang­gap semua peker­jaan itu sudah sele­sai dengan sepa­tut­nya. “Ya, Galeng, pergi, kau!” perin­tah Sang Adi­pati.

Anak desa itu menyem­bah, menge­sot jauh dan menyem­bah lagi, kemu­dian hilang dari peng­li­hatan Sang Adi­pati.

Ia tahu Syah­ban­dar Tuban sedang men­coba meng­ha­dap untuk mem­pro­tes. Ia sengaja takkan mela­yani. Ia bang­kit, ber­ja­lan lambat-lambat menik­mati cuaca, menuju ke kan­dang gajah. Sebe­lum sampai ia lihat peme­li­hara bina­tang itu sedang meng­gu­na­kan cis untuk meme­rin­tah si gajah agar duduk pada kaki bela­kang. Dan ia lihat peme­li­hara itu kemu­dian duduk di sam­ping bina­tang­nya, menyem­bah pada Sang Adi­pati. Gajah itu sen­diri meng­ang­kat bela­lai.

Sang Adi­pati ter­tawa ter­hi­bur.

Tidak lebih dari lima hari kemu­dian, di taman di ten­tang kan­dang gajah ini juga datang meng­ha­dap seo­rang utusan raha­sia dari Sultan Mahmud Syah yang sedang menying­kir ke pem­bu­angan. Ia mem­per­se­m­bah­kan sepu­cuk ber­ba­hasa dan ber­tu­lisan Jawa.

Sultan menga­bar­kan, Malaka telah jatuh ke tangan Peranggi seba­gai akibat peng­khi­a­natan Syah­ban­dar Malaka ber­ke­bang­saan Arab ber­nama Sayid Mahmud Al-Badaiwi. Dite­rang­kan orang itu ber­ba­dan kurus tiggi agak bong­kok, sete­ngah umur, ber­ku­mis, ber­jeng­got dan ber­ca­bang-bauk yang telah ber­su­lam uban dan ber­hi­dung beng­kok raja­wali.

Sultan Malaka meng­a­kui, ia telah keliru meng­ang­kat orang ter­se­but, hanya karena ter­bu­juk oleh kefa­sihan ter­se­but dan kepan­dai­an­nya meng­am­bil hati orang. Men­je­lang jatuh­nya Malaka ia malah men­da­pat keper­ca­yaan keluar-masuk istana, dan hampir-hampir diang­kat men­jadi wazir.

Sultan ber­seru pada Sang Adi­pati seba­gai sada­rah-seda­ging, seasal-ketu­runan Maja­pa­hit, supaya ber­hati-hati ter­ha­dap orang ter­se­but seki­ra­nya ia berada di Tuban, karena orang itu telah mening­gal­kan Malaka di bawah per­lin­dungan Peranggi.

Sang Adi­pati meng­erti maksud surat itu. Orang yang dimak­sud­kan tidak lain dari Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa. Ia tak ter­ke­jut. Beru­bah pun air muka­nya tidak.

Pengu­asa Tuban itu duduk di atas bangku batu yang lebih tinggi dari­pada duta raha­sia Sultan Mahmud Syah. Dan sete­lah mem­ba­ca­nya surat kertas itu dili­pat­nya baik-baik dan dengan tangan itu juga menu­ding pada sang duta ber­kata dalam Melayu: “Kami telah baca baik-baik surat ini, Tuan Duta. Terima kasih ke hadapan Sri Sultan Mahmud Syah. Di Tuban tak ada seo­rang Arab ber­nama Sayid Mahmud Al-Badaiwi. Kela­hiran mana dia, Tuan Duta?”

“Dia selalu ber­bangga seba­gai orang Moro kela­hiran Ispa­nya, nege­ri­nya Anda­lu­sia, Gusti.”

“Kela­hiran Ispa­nya? Tentu dia pandai Ispa­nya?”

“Barang­tentu, Gusti.”

“Apa dia barang­kali juga ber­ba­hasa Peranggi?”

“Jelas seperti matari, Gusti, karena dia dapat juga mela­yani kapal Peranggi sebe­lum mereka menyerbu.”

“Meng­apa Tuan Duta meng­an­dai­kan dia di sini?”

“Wara-wara Gusti Adi­pati Tuban di atas Malaka telah dide­ngar oleh setiap pelaut. Peker­jaan Syah­ban­dar Tuban yang baru sangat cocok untuk Sayid Mahmud Al-Badaiwi, Gusti. Dia akan datang kemari.”

“Apakah menu­rut per­ki­raan Tuan Duta dia akan meng­u­bah nama­nya seki­ra­nya mema­suki Tuban?”

“Apakah Tuan Duta di sam­ping tugas khusus ini juga ber­tu­gas men­je­jak bekas Syah­ban­dar Malaka?”

“Barang tentu, Gusti. Patik telah sing­gah di Pasai, Jambi, Riauw, Banten, Cir­e­bon, Jepara sambil menuju Tuban. Memang ada petun­juk-petun­juk ke mana peng­khi­a­nat itu pergi. Seme­nan­jung telah beru­bah sangar bagi nya­wa­nya. Dan ter­nyata, Gusti, benar belaka, Sayid Mahmud Al-Badaiwi sudah ada di Tuban sini, jadi abdi Gusti Adi­pati Tuban, bahkan telah Gusti angkat jadi Syah­ban­dar Tuban.”

“Maksud Tuan Duta, Sayid Mahmud Al-Badaiwi itu tidak lain dari Syah­ban­dar Tuban seka­rang? Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa?”

“Betul, Gusti, Syah­ban­dar Tuban yang baru itulah bekas Syah­ban­dar Malaka.”

“Dan sete­lah Tuan Duta menge­ta­hui dia ada di sini, adakah sesu­atu yang Sri Sultan kehen­daki dari kami?”

“Kalau seki­ra­nya ber­ke­nan di hati Gusti Adi­pati Tuban… ampun, Gusti, bukan buatan ter­ke­jut patik meli­hat­nya di bandar Gusti… dia tak menge­nal patik tapi patik menge­nal dia… dalam hati patik mem­ber­sit­lah satu doa yang tulus-ikhlas, dija­uh­kan oleh Allah kira­nya Sang Adi­pati Tuban dan nege­ri­nya dari peng­khi­a­nat ini. Dan betapa ber­syu­kur patik apa­bila nya­wa­nya dise­rah­kan kepada patik,” Duta raha­sia itu ter­diam.

Nampak jelas ia sedang berdoa untuk ter­ka­bul­nya harapan.

Sang Adi­pati mem­bu­ang pan­dang ke arah kan­dang gajah. Per­so­alan Malaka adalah per­so­alan masa silam walau baru kema­rin dulu ben­cana itu ter­jadi. Semua yang sudah lewat telah ber­ba­ris masuk ke alam lampau. Yang kema­rin dulu Sultan, seka­rang buangan. Yang seka­rang Adi­pati masih tetap Adi­pati. Ia pan­dangi duta itu tajam-tajam. Ada dili­hat­nya rang­sang dendam ber­go­lak dalam dada orang di hadap­an­nya itu.

Matari hampir teng­ge­lam. Per­ca­kapan raha­sia itu ter­henti. Seba­gai peng­isi kema­ca­tan duta raha­sia itu mem­per­se­m­bah­kan sebi­lah keris ber­sa­rung emas ber­tu­lisan Arab dan ber­bulu emas ber­ta­tah­kan zamrud. ”Per­ke­nan­kan­lah patik mem­per­se­m­bah­kan keris pusaka kera­jaan Malaka ini, Gusti, seba­gai harapan dapat ter­ja­di­nya per­se­ku­tuan antara Tuban dengan Sri Sultan, untuk tidak menying­gahi Malaka selama diku­a­sai Peranggi.”

“Telah kami terima tanda per­se­ku­tuan ini. Dan jadilah penge­ta­huan Tuan Duta, bahwa nya wa Syah­ban­dar Tuban Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa ada di tangan kami, dan sung­guh sayang kami belum bisa menye­rah­kan pada Tuan Duta. Belum ada tanda-tanda, apa­lagi bukti, dia mela­ku­kan peng­khi­a­natan ter­ha­dap kami. Sampai di mana per­se­ku­tuan-per­se­ku­tuan telah Tuan Duta usa­ha­kan?”

“Ampun, Gusti, Adi­pati, ten­tang itu pas­ti­kah bukan patik yang harus mem­per­se­m­bah­kan.”

Duta itu meng­un­dur­kan diri tepat pada waktu matari teng­ge­lam sama sekali.

Nyamuk mulai ber­ke­li­aran di taman. Namun Sang Adi­pati masih juga belum bang­kit dari bangku batu.

Betapa bodoh mengu­rusi yang telah masuk masa silam, pikir­nya.

Ia lam­bai­kan tangan pada seo­rang penga­wal dan meni­tah­kan agar Galeng datang meng­ha­dap. Dan waktu pegu­lat itu telah duduk ber­se­m­bah di hadap­an­nya segera ia memu­lai: “Galeng, apa yang kau keta­hui dari kebe­saran masa silam?”

Ia telah men­duga anak desa itu akan sangat ter­ke­jut. Dan ia dengar juara gulat itu mera­ung dengan suara ter­te­kan: “Ampun, gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik.”

Galeng tak dapat mene­rus­kan kata-kata­nya. Dalam menun­duk ia meng­he­rani dir­i­nya sen­diri, dan meng­apa daya-per­la­wan­an­nya men­jadi layu sete­lah mem­per­is­tri Idayu, dan meng­apa dir­i­nya begitu takut pada hukuman. “Ayoh, per­se­m­bah­kan. Mukamu ter­lin­dungi kege­lapan malam, dan kami pun tak perlu tahu,” kata Sang Adi­pati, seka­li­pun ia punya dugaan, anak desa itu sedang kacau-balau. Menge­ta­hui Galeng tak juga ber­da­tang sembah, ia men­de­sak: “Cepat, Galeng. Kami tahu, kau telah banyak men­de­ngar ten­tang kebe­saran masa silam. Kau! Tidak lain dari kau dan Idayu yang telah mengu­rus Rama Clu­r­ing sampai mati­nya bebe­rapa waktu yang lalu. Kakek-kakek gila kebe­saran masa silam itu. Per­se­m­bah­kan!”

“Ampun, Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik.” suara juara gulat itu geme­tar.

“Kau takut, Galeng. Juara gulat yang takut ber­se­m­bah!” Tak ada jawaban dari seso­sok tubuh di hadap­an­nya. Sua­ra­nya men­jadi agak lunak. “Dulu guru-guru pem­bi­cara seperti Rama Clu­r­ing banyak ber­ke­li­aran dan mem­bual di kota-kota. Clu­r­ing itu mung­kin sisa dari gerom­bolan mereka yang ter­a­khir. Banyak di antara mereka dibu­nuh oleh bupati-bupati pesi­sir yang bodoh itu. Seka­rang secara berani bicara hanya di desa-desa yang jauh, ter­pen­cil. Adi­pati Tuban tidak gentar pada buatan seribu guru-pem­bi­cara seperti itu. Maka kau tak perlu takut.”

“Ampun, Gusti, kata Rama Clu­r­ing, hen­dak­nya orang memang­gil kem­bali keja­uhan dan kebe­saran masa silam pada gua­garba hari depan?”

“Dari selu­ruh bualan Clu­r­ing hanya itu saja yang ter­i­ngat olehmu?”

Juara gulat itu tak dapat meng­i­ngat. Sebong­kah batu seakan ber­sa­rang dalam kepa­la­nya.

“Baik, hanya itu yang ter­i­ngat olehmu. Keta­hu­i­lah, bagai­man­a­pun kau memang­gil-mang­gil pada gua­garba hari depan, tanpa restu seo­rang raja, tak ada sesu­atu bisa ter­jadi. Kau per­caya pada kata-kata Rama Clu­r­ing?”

Kepala Galeng sema­kin men­de­kati tanah.

“Kami tahu, kau per­caya. Kalau tidak, mana mung­kin kau… Sering kau datang ke balai-desa men­de­ng­ar­kan pem­bi­cara-pem­bi­cara mem­bual?”

“Ampun, Gusti, memang demi­kian halnya.”

“Tentu saja. Kalau tidak, mana mung­kin kau selalu datang? Seka­rang deng­ar­kan perin­tahku, hai kau, juara gulat?”

“Patik ada di sini, Gusti!”

“Kami meng­hen­daki tena­gamu. Kau orang kuat, badanmu dili­puri otot-otot kukuh. Kami meng­hen­daki piki­ranmu, karena kau anak ter­pel­a­jar, ingin banyak menge­ta­hui, karena itu sering men­de­ng­ar­kan guru ber­bi­cara. Kami meng­hen­daki kese­ti­a­anmu, karena kau tak dapat ber­buat sesu­atu tanpa restu seo­rang raja. Kami meng­hen­daki jiwamu, karena tak ada kebe­saran datang tanpa peta­ruh jiwa. Galeng, kem­ba­li­kan keja­yaan dan kebe­saran Maja­pa­hit untuk Tuban, untuk nege­rimu, ini untuk Adi­pati sese­m­bahmu. Berang­kat kau seka­rang juga, kau ber­sama istrimu. Ting­gal­kan kadi­pa­ten. Ting­gal kau berdua di gandok kesyah­ban­daran yang sebe­lah kiri, gandok Islam. Dengan ototmu yang kuat lin­dungi jiwa Syah­ban­dar baru. Dengan otakmu yang penuh berisi bualan pem­bi­cara-pem­bi­cara itu, seli­diki segala raha­sia Syah­ban­dar dan sam­pai­kan pada Sang Patih. Bel­a­jar baik-baik bahasa Melayu. Jadilah pem­bantu utama Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa. Berang­kat!”

Sete­lah juara gulat itu pergi Sang Adi­pati bang­kit dan ber­jaian tenang-tenang masuk ke kadi­pa­ten.

Seminggu kemu­dian di taman itu juga Sang Adi­pati mene­rima seo­rang duta dari Jepara. Sore juga waktu itu. Ber­beda hainya dengan duta dari Malaka, duta yang seka­rang ini ia ajak ber­ja­lan-jalan ke kan­dang kuda. Ia belai-belai suri kuda kesa­yang­an­nya, sedang sang duta ber­diri di bela­kang­nya.

“Ya, Gusti, patik adalah utusan pri­badi Gusti Kan­jeng Adi­pati Unus dari Jepara. Nama patik Aji Usup, Gusti.”

‘Terus­kan, Aji Usup yang ter­hor­mat.”

“Salam baha­gia dari Gusti Kan­jeng Jepara, dan pesan….” Sang Adi­pati ber­ba­lik. Wajah­nya merah padam mena­han kema­rahan. Mata­nya mem­be­la­lak: “Pesan? Pesan untuk Adi­pati Tuban? Atau­kah maksud Tuan ancaman?”

“Ampun, Gusti Adi­pati Tuban. Peris­tiwa Jepara itu memang jadi duri dalam daging Tuban. Untuk itu patik datang meng­ha­dap untuk mem­per­se­m­bah­kan alasan dari tin­dakan Demak, Gusti.”

“Alasan? Apakah masih perlu ada alasan? Mema­suki dan meram­pas tanda per­nya­taan perang, tanpa mem­buka gelang­gang per­ke­la­hian? Hanya karena ingin punya bandar sen­diri! Alasan dari seo­rang yang tidak tahu batas. Apakah Tuban pernah men­ja­mah Demak dengan kuda atau gajah­nya? Atau dengan kaki­nya? Atau itukah alas­an­nya, memang­gil kaki dan kuda dan gajah Tuban?”

“Ampun, Gusti, Demak tahu benar akan keku­atan per­kasa dari Tuban.”

Sang Adi­pati mulai ber­jaian agak cepat dan Aji Usup meng­i­kuti dari bela­kang.

“Kami dapat injak­kan kaki gajah kami sampai selu­ruh Demak rata dengan tanah.”

“Demak sesung­guh­nya tahu benar akan itu, Gusti Adi­pati Tuban, ampuni patik.”

“Meng­apa per­bu­atan tidak satria, tanpa per­nya­taan perang, dila­ku­kan seperti bukan seo­rang raja yang meme­rin­tah Demak?” Sang Adi­pati memi­lin-milin kumis putih­nya. “Bukan­kah kami bisa perin­tah­kan tumpas tuan Duta, seba­gai duta seo­rang raja yang ber­laku bukan seba­gai raja?”

“Inilah nyawa patik, Gusti, bila Gusti per­lu­kan untuk ditum­pas, patik per­se­m­bah­kan dengan rela.”

“Sung­guh berani mati, kau, Tuan Duta.”

“Karena memang ada yang lebih pen­ting dari­pada hati mati, Gusti, meng­ang­kut selu­ruh nasib Jawa Dwipa.”

“Apakah karena memi­kir­kan nasib selu­ruh Jawa, maka Demak merasa dibe­nar­kan mema­suki Jepara?”

“Sesung­guh­nya tiada jauh dari sang­kaan Gusti Adi­pati Tuban. Ampun, Gusti.”

“Allah Dewa Bat­hara! Apakah rajamu mengira dia sen­diri tahu ten­tang nasib Jawa?”

“Jauh dari itu, ya Gusti Adi­pati Tuban yang mulia,” susul Duta Jepara itu dengan cepat-cepat. “Utusan-utusan Demak ke sebe­rang dan Atas Angin, Gusti….”

“Siapa utusan-utusan itu? Bukan­kah utusan juga dari Sampo Toa­lang?” Sang Adi­pati memo­tong. “Adakah Sampo Toa-lang meng­hen­daki agar Loa Sam kami han­cur­kan dalam sepu­luh bentar? Deng­ar­kah, kau Aji Usup, Duta Jepara. Semua orang pra­ja­wan tahu, Sampo Toa-lang atau Sema­rang diba­ngun oleh orang-orang Tiong­kok itu untuk menan­dingi Jepara. Jepara tidak jatuh kare­na­nya. Ban­dar­nya tetap jaya. Kemu­dian Lao Sam atau Lasem didi­r­i­kan­nya untuk menya­ingi bandar Tuban. Apakah Adi­pati Tuban ber­buat sesu­atu ter­ha­dap Lao Sam? Bandar asing kecil itu kami biar­kan ber­diri, bahkan kami izin­kan. Tuban takkan jadi pudar kare­na­nya. Bukan­kah kera­jaan Demak didi­r­i­kan untuk mem­ben­tengi Sema­rang dari Tuban? Seka­rang Demak seba­gai kera­jaan ben­teng sudah mulai menye­rang. Sang Adi­pati Tuban masih dapat mengen­da­li­kan diri, hai kau, Aji Usup Duta Jepara.”

“Patik, Gusti.”

“Seka­rang utusan Sema­rang-Demak ke sebe­rang dan Atas Angin kau jadi­kan dalih penyer­buan tak tahu keso­panan itu.”

“Patik, Gusti.”

“Jepara dan Sema­rang takkan dapat rempah-rempah lagi. Setiap kapal Sema­rang dan Jepara yang bela­yar ke sebe­lah timur pasti kami han­cur­kan.”

“Yang demi­kian telah ter­jadi, Gusti.”

“Dan akan ter­jadi sete­rus­nya selama kami masih hidup.”

“Patik, Gusti.”

“Sampai Sema­rang-Demak mengem­ba­li­kan Jepara pada kami dengan hormat dan patut.”

“Patik, Gusti.”

Sang Adi­pati ber­ja­lan menuju ke taman di ten­tang kan­dang kuda dan Aji Usup meng­i­kuti. Ia duduk pada bangku batu dan duta itu ber­jong­kok di tanah. Ia tuding kan­dang gajah dan mene­tak tajam: “Sudah kami per­tim­bang­kan, per­cuma gajah-gajah itu dike­rah­kan. Sema­rang-Demak akan punah tanpa rempah-rempah kami.”

“Pasti, Gusti.”

Agak lama Sang Adi­pati tidak bicara. Ia telah sem­bur­kan segala kema­rah­an­nya dan kini men­jadi agak tenang. Kemu­dian: “Apa Tuan Duta hendak per­se­m­bah­kan?”

“Bahwa utusan Demak ke sebe­rang dan Atas Angin telah mem­bawa kete­rangan-kete­rangan pen­ting Peranggi akan mengu­a­sai Jawa, Gusti Adi­pati Tuban yang mulia. Itulah yang menye­bab­kan Demak secara ter­buru-buru mema­suki Jepara. Peranggi tidak boleh mema­suki tengah-tengah pulau Jawa ini, Gusti. Sekali masuk, selu­ruh Jawa akan diku­a­sa­i­nya. Itulah sebab­nya Demak mema­suki Jepara dengan sangat ter­buru-buru.”

“Jauh manakah Tuban dari­pada negeri Peranggi, maka tak ada utusan datang padaku? Dan kau, Duta Jepara, datang jauh sete­lah adi­pa­timu mema­suki wila­yah kami? Betapa lama waktu sudah ber­lalu, tak ada yang datang memo­hon ampun. Dan seka­rang kau datang, bukan­kah untuk itu?”

“Patik datang meng­ha­dap memang untuk urusan yang agak lain, Gusti, ampun­i­lah patik.”

“Tepat seba­gai­mana kami duga. Per­se­m­bah­kan!”

“Ampun, Gusti, utusan Demak, dari sebe­rang dan Atas Angin yang datang dalam bulan ini, Gusti, mem­per­se­m­bah­kan pada Gusti Kan­jeng Sultan Demak, sesung­guh­nya Tuban telah meng­a­da­kan per­si­apan per­sen­ja­taan untuk meng­ha­dapi Peranggi, dan bahwa jatuh­nya Malaka ke tangan Peranggi telah men­jadi piki­ran Gusti Adi­pati yang men­da­lam. Seti­dak-tidak­nya karena Tuban sebuah bandar yang paling banyak ber­sang­kutan dengan Malaka.”

“Betul, Aji Usup. Duta Jepara yang ter­hor­mat.”

“Gusti Kan­jeng Sultan Demak telah yakin adanya per­si­apan ini, dan bahwa per­si­apan itu tidak ditu­ju­kan pada Jepara.”

Sang Adi­pati ter­se­nyum puas.

“Juga tidak akan ditu­ju­kan pada Jepara.”

“Untuk Jepara, Demak dan Sema­rang akan waktu lain, Aji Usup. Lihat­lah betapa pongah Sul­tanmu. Mengir­im­kan seo­rang duta yang ber­ke­du­dukan hanya seba­gai duta putra mah­kota, bukan duta­nya sen­diri! Apakah yang seperti itu pernah dila­ku­kan oleh Adi­pati Tuban?”

“Tidak, Gusti Adi­pati Tuban.”

“Apakah Tuban pernah meng­ha­langi pem­ba­ngu­nan Glagah Wangi? Atau pernah meng­am­bil salah sebuah dusun Demak?”

“Tidak, Gusti Adi­pati Tuban.”

“Apakah kurang ber­harga Adi­pati Tuban diban­ding­kan dengan Sultan Demak maka hanya duta Adi­pati Jepara yang diki­rim­kan pada Kami?”

”Tidak, Gusti. Soal­nya hanya karena Gusti Kan­jeng Adi­pati Unus yang mengu­rusi soal-soal manca-praja, maka patik diki­rim­kan dari Jepara kemari.”

“Piki­ran Demak sung­guh ber­be­lit-belit biar pun mudah dapat dimeng­erti. Seba­gai kera­jaan pun sudah ber­be­lit. Coba, kera­jaan ben­teng yang didi­r­i­kan oleh Sampo Toa-lang untuk meng­ha­dapi Tuban, sebuah kera­jaan bayang-bayang yang didi­r­i­kan oleh pen­da­tang Tiong­hoa. Sung­guh ber­be­lit.”

“Ampun, Gusti, Demak adalah kera­jaan Islam, itulah kete­rangan satu-satu­nya dan tiada lain, Gusti.”

“Ya, kete­rangan satu-satu­nya seba­gai negara, tapi bukan seba­gai praja. Seba­gai praja sangat ber­be­lit karena dia meng­a­bdi pada Sema­rang, dia tidak meng­a­bdi pada Islam. Negeri Syiwa-Buddha juga tidak meng­a­bdi pada Syiwa-Buddha.”

“Patik, gusti.”

“Dan bagai­man­akah rupa­nya negeri yang meng­a­bdi pada sesu­atu agama? Kami tidak pernah tahu. Maja­pa­hit yang jaya sepan­jang seja­rah­nya juga tidak.”

“Ampun, Gusti, patik tidak ada wewe­nang untuk ber­se­li­sih. Barang tentu Gusti Adi­pati benar.”

“Ya, dan Demak selu­r­uh­nya keliru.”

“Ampun, Gusti Adi­pati benar.”

“Baik, apa hendak kau per­se­m­bah­kan lagi, Tuan Duta?”

“Masih tetap soal Peranggi, Gusti. Seki­ra­nya Gusti Adi­pati ada kecen­de­rungan untuk melu­pa­kan per­se­li­sihan-per­se­li­sihan kecil dengan Demak… seki­ra­nya Gusti Adi­pati ada ter­niat untuk melan­car­kan perang peng­u­siran ter­ha­dap Peranggi dari Malaka… Itulah Gusti, yang dipi­kul­kan di atas pundak patik dari Sultan Demak mela­lui Gusti Kan­jeng Adi­pati Jepara.”

“Per­se­m­bah­kan, Tuan duta.”

“Maka Tuban dan Jepara-Demak bisa ber­ga­bung dalam satu armada besar, Gusti.”

“Kau tak pernah bicara ten­tang Sema­rang. apakah kau memang pura-pura bukan kawula Sema­rang?”

“Ampun, Gusti, patik memi­kul pada bahu patik untuk jangan sampai meng­gu­sar­kan hati Gusti Adi­pati Tuban.”

“Tanpa kau pun Demak telah meng­gu­sar­kan kami.”

“Ampun, Gusti, patik hanya memi­kul perin­tah soal Peranggi.”

“Per­se­m­bah­kan!”

“Semua keku­atan laut dari Tuban dan Jepara dan Banten, dan Jamto’ dan Riauw dan Aceh akan sang­gup meng­u­sir Peranggi, Gusti, kalau or lak­sa­nakan. Seki­ra­nya Gusti Adi­pati ber­ke­nan menyer­tai.”

Sang Adi­pati ter­diam dan sang Duta tidak memu­lai lagi, menunggu jawaban.

Matari sema­kin con­dong men­de­kati tepi bumi waktu pengu­asa Tuban itu ber­kata: “Datang kau sebu­lan lagi, barang­kali kami ada jawaban.”

“Dilim­pahi oleh Allah hen­dak­nya Gusti Adi­pati Tuban dengan ramah dan kebi­jak­sa­naan seda­lam-dalam­nya dan usia pan­jang sehat dan sejah­tera….”

Begitu duta Jepara pergi, Sang Adi­pati tak dapat mengen­da­li­kan kemu­a­kan­nya atas lawan-lawan­nya di barat sana. Ia takkan mem­bi­ar­kan siapa pun ber­jing­k­rak di atas kepa­la­nya dan mele­ceh­kan Tuban. Tetapi perang ia tidak meng­hen­daki. Perang sau­dara Pere­grek itu selalu jadi momok selama hidup­nya sejak ia men­jadi Tumeng­gung Wil­wa­tikta di Maha­pa­hit selama lima tahun sampai seka­rang ini, nyaris empat puluh tahun yang lalu. Ia tak menyu­kai perang dengan siapa pun. Juga tidak dengan Peranggi. Dan seka­rang dari utara, timur, barat dan selatan, Pra­ja­wan-pra­ja­wan pada mem­per­gun­jing­kan jatuh­nya Malaka. Memang sejak dahulu pun Selat jadi urat nadi kemak­muran dunia, hanya karena dile­wati rempah-rempah Nusan­tara. Tetapi meng­apa orang begitu dungu mem­ba­tasi kemak­mur­an­nya pada rempah-rempah dan Selat semata, seakan tak ada risiko lain di atas dunia ini? Seka­rang pula Peranggi datang justru hendak meng­ang­kangi ke dua-duanya ogah ber­bagi dengan yang lain-lain seperti semula? Seka­rang. Demak pun ikut dengan per­gun­jingan, dan dengan per­gun­jingan celaka itu hendak melu­pa­kan kami pada tin­dakan mereka yang tidak satria. Puh! Demak yang tandus-miskin hendak keluar seba­gai penan­tang Peranggi! Negeri-negeri pada ber­ja­tuhan di tangan Peranggi, ini, kera­jaan miskin yang baru kema­rin akan men­coba-coba, ter­ha­dap tetangga sen­diri dan ter­ha­dap Peranggi seka­li­gus!

Sang Adi­pati men­coba mem­ba­yang­kan Adi­pati Jepara yang muda dan ber­se­ma­ngat itu. Angan-angan­nya, pikir­nya, lebih besar dari akal­nya. Memang semua nampak indah bagi orang yang masih muda dan meng­ang­gap diri kuat tak ter­ka­lah­kan. Barang­kali dia sen­diri yang hendak naik ke Malaka. Baik, datang­i­lah Malaka, Unus! Hanya dia yang ber­u­saha men­de­kati hasil. Kalau kau dapat takkan lebih baik dari Peranggi sen­diri. Semua boleh gagahi Malaka. Tuban takkan binasa kare­na­nya!

Ia melang­kah pelan-pelan mengaji piki­ran­nya sen­diri. Dalam kege­lapan para penga­wal pun ber­ge­rak meng­i­kut­i­nya dari keja­uhan. Ia mema­suki daerah peru­mahan. Tiba-tiba, seperti tidak dimak­sud­kan­nya semula, ia ber­henti di depan pintu yang dite­rangi dengan sebuah lampu gan­tung ber­sumbu lima.

Pintu itu ter­buat dari papan jati berat ber­u­kir dalam, meng­gam­bar­kan bebe­rapa orang wanita sedang ber­ceng­ke­rama di bawah seba­tang pohon jeruk macam di sebuah taman larangan.

Guber­nur Tuban itu mena­rik seutas tali yang men­ju­lur di atas daun pintu dan ber­u­jung jumbai ber­warna-warni. Segera kemu­dian pintu ber­ke­rait ter­buka. Sebi­dang pela­taran dalam yang di sana-sini disi­nari lampu ber­sumbu satu ter­pam­pang di hadap­an­nya.

Seo­rang wanita sete­ngah baya ber­tu­buh kekar ber­sim­puh di tanah menyam­but dengan sembah. Kepa­la­nya mene­kur.

Inilah keput­rian atau harem Sang Adi­pati.

“Bagai­mana kalian, Nyi Gede Kati?”

“Karu­nia dan kemu­r­ahan Gusti Adi­pati kuminta tanpa henti, Gusti,” sembah wanita itu.

Sang Adi­pati lang­sung ber­jaian ke serambi, kemu­dian masuk ke dalam salah sebuah bilik selir kesa­yangan: Nyi Ayu Sekar Pin­jung.

Selir-selir lain yang waktu itu kebe­tulan berada di pela­taran atau serambi masih tetap ber­sim­puh di tanah pada tempat masing-masing. Sete­lah pengu­asa itu hilang dalam bilik selir kesa­yangan mereka ber­ge­gas masuk ke bilik masing-masing. Yang ter­ting­gal di luar hanya Nyi Gede Kati.

Perem­puan itu ber­diri ber­jaga dengan sebi­lah tong­kat pan­jang karena itulah tugas­nya seba­gai pengu­rus harem dan seba­gai pen­jaga seka­li­gus. Ia beru­mur lebih-kurang empat puluh dan tampak masih muda, seakan baru kema­rin mening­gal­kan umur­nya yang ke tiga puluh. Muka­nya bundar dan selalu nampak segar, Mata­nya agak sipit. Pan­dang mata­nya tenang tetapi nampak tajam menem­bus segala apa yang dili­hat­nya. Lebih dari itu ia seo­rang pesi­lat tang­guh. Pada pung­gung­nya selalu ter­se­lit sen­jata tajam dan pada sang­gul­nya selalu melin­tang sebi­lah cun­drik kecil-pan­jang seba­gai tusuk kondai. Ram­but­nya ter­sang­gul, ber­beda dari para selir yang diha­rus­kan ber­u­rai. Juga ber­beda dari para selir Nyi Gede Kati ber­gigi hitam arang, sedang para selir diha­rus­kan tetap ber­gigi putih seperti seo­rang penari. Bila ia ter­tawa gigi hitam­nya ber­ki­lau meng­ki­lat, nampak keras seperti baja sepuh. Dan hanya Nyi Gede Kati sen­diri barang­kali tahu berapa banyak biji jahawe yang telah ia habis­kan untuk kepen­tingan itu.

Tenang sua­sana harem itu. Deburan laut hampir-hampir tak kede­ngaran dari sini. Dan bunyi game­lan di pen­dopo pun hanya sayup-sayup.

Di dalam bilik Sang Adi­pati duduk di atas sampai ter­ti­duran sedang pan­dang­an­nya dia­rah­kan ke bawah pada Nyi Ayu Sekar Pin­jung yang sedang menyeka kaki pengu­asa itu dengan selem­bar kain basah.

Tangan Sang Adi­pati melam­bai, mena­rik dagu selir kesa­yangan untuk meman­dangi wajah­nya. Dan wanita itu ber­kata dengan kenes­nya,

“Aduh, Gusti sese­m­ba­han patik, betapa lama patik menunggu selama ini.”

Sang Adi­pati meng­ang­guk dan ter­se­nyum. Di bagian bumi yang sepo­tong ini saja ia dapat mele­pas senyum dan tawa seba­nyak ia kehen­daki. Namun di sini juga ia paling was­pada. Setiap kata yang ter­tang­kap oleh pen­de­ng­ar­an­nya ia tim­bang-tim­bang sindir dan sir­at­nya. Dari ketu­runan ke ketu­runan, dari pengu­asa yang satu pada pengu­asa yang lain meng­gan­ti­kan, sampai pada dir­i­nya, aba­dilah per­i­ng­atan itu: was­pa­da­lah kau, raja, begitu kau injak bendul keput­rian, di dalam­nya musuh dan lawan, pen­ji­lat dan pera­cun, peng­khi­a­nat dan pera­kus, sedang sibuk mema­sang jebak. Dan pusat jebakan selalu selir kesa­yangan. “Awas­lah jangan ter­lena, karena lena adalah binasa.”

“Meng­apa kau merasa lama menunggu, Nyi Ayu?” ia meman­cing. “Ah, ya, barang tentu ada ter­sim­pan sesu­atu dalam hatimu. Adakah kira­nya cincin kau ing­in­kan? Atau kalung? Atau­kah dinar emas? Atau dirham?”

“Ampun, Gusti, bukan emas dan bukan perang, ya Gusti sese­m­ba­han, kalau patik diper­ke­nan­kan ber­se­m­bah….”

Sang Adi­pati mena­rik selir kesa­yangan ke atas dan didu­duk­kan di sam­ping­nya. Dan selir itu meng­i­kuti tarikan sambil meliak-liuk genit.

“Per­se­m­ba­han, Nyi Ayu Sekar Pin­jung, barang tentu sangat pen­ting.”

“Ampun, Gusti, adapun yang hendak patik per­se­m­bah­kan, ya Gusti, Gusti sese­m­ba­han, bukan­lah seper­ti­nya, hanya pera­saan takut dan was-was, Gusti.”

Sambil mem­be­lai-belai rambut selir­nya Sang Adi­pati ber­ta­nya sete­ngah tawa tapi dengan kewas­pa­daan sema­kin tinggi: “Apakah kira­nya yang kau takut­kan dan was-waskan?”

“Ampun, Gusti, orang bilang, ya sese­m­ba­han patik, ada bangsa ber­ku­lit putih ber­nama Peranggi. Kata orang, tiada tan­dingan di sean­tara jagad raya ini.”

“Kata orang, Nyi Ayu, terus­kan.”

“Maka kata orang itu pula, Gusti, selu­ruh dunia mem­be­ri­nya julukan lelan­a­nging jagad, jan­tan­nya dunia, ya Gusti. Negeri dida­tangi takluk. Benua dipang­gil­nya datang. Kapal ditu­ding­nya teng­ge­lam, ya Gusti.”

Sang Adi­pati ter­tawa senang dan dide­kap­nya kepala wanita itu. Ber­ta­nya: “Meng­apa takut pada dong­engan?”

“Kami semua takut dan was-was,” selir itu menyem­bu­nyi­kan muka dengan manja pada dada Sang Adi­pati. Kemu­dian mene­rus­kan dengan sura yang tidak keluar dari hati-kecil­nya: “Kata orang, ya Gusti, seben­tar lagi Peranggi itu akan menak­luk­kan juga Tuban.”

Sang Adi­pati ter­lom­pat seperti ter­se­ngat kala­jeng­king. Ia tolak Nyi Ayu Sekar Pin­jung sehingga jatuh ter­te­len­tang di atas ambin. Kemu­dian ia ber­diri tegak lurus, ber­to­lak ping­gang. Wajah­nya merah dan ber­ki­lauan ter­kena sinar lampu. Mata­nya tajam meng­a­wasi selir kesa­yangan.

Menge­ta­hui per­u­ba­han sikap men­da­dak itu. Nyi Ayu Sekar Pin­jung ter­ga­gap-gagap bangun meme­ro­sot­kan diri ke lantai. Dengan man­ja­nya ia rang­kul kedua belah kaki lelaki itu dan mem­per­de­ng­ar­kan sedu-sedu­nya: “Ampun­i­lah patik, ya Gusti.”

“Dari siapa cerita itu, Pin­jung?” tanya Adi­pati itu pelahan tapi tajam. Kedua belah tangan­nya masih juga ber­to­lak ping­gang.

Hanya sedu-sedan yang men­ja­wab.

“Jadi kau tak ber­mak­sud mem­per­se­m­bah­kan siapa orang­nya?”

Hanya sedu-sedan. Dan tubuh wanita itu geme­tar.

Sang Adi­pati mem­bong­kok, meraba-raba muka selir kesa­yangan. Tangan itu kemu­dian ber­henti pada kuping. Dalam waktu pendek subang-subang selir itu telah ber­pin­dah di atas tangan­nya. Dan wanita itu seperti dengan sen­di­r­i­nya hendak mem­per­ta­han­kan subang­nya. Ter­lam­bat. Kemu­dian ia cegah sen­diri usa­ha­nya.

Nampak Sang Adi­pati sedang ber­u­saha menin­das kema­rah­an­nya. Seka­li­gus ia meng­erti ada keku­atan yang sedang bekerja untuk menye­bar­kan keta­kutan. Benar­kah tangan-tangan Peranggi sudah mulai mema­suki sudut kadi­pa­ten? Ini? pikir­nya. Sudah mulai menye­bar­kan kegen­taran pada selu­ruh isi kadi­pa­ten?

Dengan gerakan yang mener­je­mah­kan kema­rahan ia cabut cepuk-cepuk subang itu. Duga­an­nya tidak keliru. Dari dalam keluar segu­lungan kertas, ber­tu­lisan dan ber­ba­hasa Jawa. Ia men­de­kati lampu dan mem­ba­ca­nya. Isinya hanya seba­ris, menya­ta­kan telah mengir­im­kan selem­bar sutra dela­pan depa, tanpa menye­but nama sese­o­rang.

Isi tulisan itu tak banyak mena­rik per­ha­ti­an­nya. Tetapi kertas? Surat di atas kertas! Hanya orang asing menu­lis di atas kertas. Kem­bali ia periksa surat itu… dengan tinta, sedang Pri­bumi dengan jelaga.

Ada tangan asing ber­ge­ra­yangan di dalam haremku, ia memu­tus­kan dalam hati­nya. Seje­nak ia duduk ber­pi­kir. Tak men­da­pat jawaban. Seka­rang ber­ta­nya: “Dari siapa surat ini?”

“Ampun, Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik,” suara Nyi Sekar Pin­jung geme­tar. “Bukan patik hendak menyem­bu­nyi­kan sesu­atu dari keku­a­saan Gusti sese­m­ba­han, memang­lah patik tidak tahu siapa pengir­im­nya. Ampun, beribu ampun, Gusti.”

“Dari mana kau terima surat dan sutra?”

“Nyi Gede Kati, Gusti.”

Sang Adi­pati ber­ge­gas mening­gal­kan bilik harem.

Bebe­rapa hari sete­lah itu ia duduk di serambi bela­kang kadi­pa­ten sambil menon­ton adu jago yang dilak­sa­nakan oleh para kawula. Per­ha­ti­an­nya tak dapat dipu­sat­kan­nya pada pera­gaan itu. Piki­ran­nya masih juga sibuk dengan isi lontar yang sepagi diper­se­m­bah­kan oleh Sang Patih kepa­da­nya. Lontar itu dite­mu­kan oleh Galeng dalam peng­ge­ra­yang­an­nya di dalam kamar Syah­ban­dar baru Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa, menga­bar­kan telah mene­rima dari Tuan, gelang, kalung, cincin emas ber­ma­ta­kan zamrud dan muti­ara, dan ber­se­dia laku­kan pada yang tuan perin­tah­kan.

Menu­rut Sang Patih. Galeng telah periksa selu­ruh kamar Syah­ban­dar dan ia telah meli­hat banyak botol dan benda-benda yang ia tak tahu nama dan guna­nya: kitab-kitab dengan tulisan yang ia tak kenal dan tak bisa baca, logam-logam kecil, lontar-lontar halus dan lebar dan lunak dengan gambar garis-garis beng­kok, yang ia pun tak tahu arti­nya, setum­puk kertas, dan lain-lain yang ia pun tak tahu nama dan guna­nya.

Dasar anak desa! Tetapi itu hanya per­mu­laan, gumam Sang Adi­pati.

Kemu­dian diam­bil­nya selem­bar daun sirih dari nampan kuningan, meng­o­lesi­nya dengan kapur, mena­ruh sepo­tong kecil gambir di atas­nya. Meng­gu­lung dan mema­mah­nya. Kelak akan dia keta­hui semu­a­nya, pikir­nya lagi.

Ia ber­u­saha meng­hin­dari kemung­kinan Sang Patih men­cam­puri urusan rumah tangga kadi­pa­ten. Ia tak meng­hen­daki ber­ku­rang­nya kewi­ba­wa­an­nya seba­gai Adi­pati. Ia akan sele­sai­kan sen­diri urusan dalam kadi­pa­ten. Bahkan mantre-dalam Pati­reja pun tak diti­tah­kan­nya untuk mela­ku­kan peker­jaan itu.

Dan surat itu jelas dari seo­rang wanita. Ya, dari seo­rang wanita kepada Syah­ban­dar Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa. Tetapi tiada dise­but­kan ten­tang­su­tra. Mung­kin­kah barang per­hi­asan itu dite­rima oleh Nyi Gede Kati? Dan apa jasa Nyi Gede pada Syah­ban­dar? Siapa pula peng­an­tar dan peng­hu­bung surat? Ha, barang­kali Nyi Gede ber­tin­dak seba­gai peng­hu­bung dengan para selir. Tangan-tangan sudah mulai ber­ge­ra­yangan di dalam kadi­pa­ten. Kami sen­diri harus dapat temu­kan peng­hu­bung itu.

“Pang­gil Nyi Gede Kati,” ia ber­seru, kemu­dian mem­per­ha­ti­kan per­ta­rungan ayam di depan­nya. Wanita pengu­rus harem itu ber­sim­puh di bawah serambi dan meng­ang­kat sembah.

Dan Sang Adi­pati sengaja mene­rus­kan per­ha­ti­an­nya pada pera­gaan bina­tang-bina­tang itu. Baru sete­lah salah seekor mati ter­tem­busi taji baja Pada teng­kuk­nya ia meng­hela napas dan meng­em­bus­kan­nya keras-keras,

“Men­de­kat!” perin­tah­nya keras-keras.

Nyi Gede Kati bering­sut men­daki anak-anak tangga serambi bela­kang meng­ang­kat sembah lagi. Atas lambai tangan Sang Adi­pati ia bering­sut maju terus lebih men­de­kat. Sang Adi­pati melam­bai­kan tangan lagi sehingga ia sudah hampir pada kaki­nya.

“Nyi Gede’ ia ber­bi­sik, siapa yang pernah menyu­rati kau dari luar?”

Tiba-tiba tubuh wanita di bawah­nya itu meng­gi­gil.

“Ampun Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik,” seben­tar sua­ra­nya juga meng­gi­gil, kemu­dian merata kem­bali, “memang benar patik pernah….”

“Tidak­kah kau dengar kami tiada ber­ke­ras-keras ber­sa­bar?”

“Ampun, Gusti,” Nyi Gede menu­run­kan sua­ra­nya sehingga men­de­kati bisikan, “memang benar patik pernah mene­rima surat dari luar, tetapi patik tak tahu dari siapa. Surat ter­se­but sudah ada saja dalam kamar patik, tanpa patik keta­hui siapa pem­ba­wa­nya.”

“Kami tahu kau seo­rang yang jujur, Nyi Gede. Bagai­mana mung­kin, kau yang ber­tu­gas mengu­rusi keput­rian justru tidak tahu apa yang ter­jadi di bilikmu sen­diri?”

“Ampun, Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik. Hukum­lah, patik, karena itulah kebe­naran yang sesung­guh­nya. Hidup-mati patik adalah milik Gusti Adi­pati!”

“Mana surat itu?”

“Ampun, Gusti Adi­pati, patik takut maka patik bakar.”

“Surat apa, Nyi Gede, lontar atau­kah kertas?”

“Lon… lon… lon… kertas barang­kali, Gusti, patik tak tahu nama­nya. Bukan lontar.”

“Bukan­kah bukan hanya surat saja telah kau terima? Adakah real Peranggi pernah kau terima juga?”

“Ada, Gusti real emas, Patik mohon ampun, karena tiada menge­ta­hui adakah itu real Peranggi atau bukan.”

“Real Peranggi, dua,” Sang Adi­pati men­de­ngus meng­hi­na­kan, “dan gelang, bukan?”

“Demi­ki­an­lah, Gusti, dan gelang.”

“Dan kalung, dan cincin emas, semua ber­mata zamrud dan muti­ara. Bukan?”

“Ampun, Gusti, semua benar. Per­ke­nan­kan­lah patik mem­per­se­m­bah­kan semua itu ke bawah duli Gusti sese­m­ba­han.”

“Ambil­lah semua untukmu sen­diri. Barang-barang itu diki­rim­kan untukmu. Kami tahu kau pengu­rus keput­rian yang jujur. Pergi!”

Ia per­ha­ti­kan wanita pengu­rus harem itu bering­sut-ingsut mundur, menyem­bah dan menyem­bah, kemu­dian ber­ja­lan menuju ke tempat peker­ja­an­nya semula. Ia per­caya perem­puan itu benar-benar tak tahu siapa pengir­im­nya, tak tahu siapa penyam­pai­nya.

Waktu ia meno­leh nampak oleh­nya Pada sedang ber­ja­lan di keja­uhan memi­kul kotak sampah menuju keluar daerah peru­mahan. Darah­nya ter­si­rap. Sesu­atu menyam­bar pada pusat pera­sa­an­nya: cem­buru. Dia! Ya, dia, Pada itu, yang dapat ber­ge­rak lelu­asa di dalam kadi­pa­ten. Dia rupa-rupa­nya kutu busuk keput­rian. Dia!

Ia ikuti Pada dengan pan­dang­nya. Ia kaji ting­kah-laku bocah yang bebas gaya dan gerak-gerik­nya itu. Sekali-dua ia pernah meli­hat ia ber­ca­kap-cakap dengan wanita dewasa dengan begitu bebas­nya, seakan sudah lama ber­peng­a­laman dengan mereka. Ya. Si bocah itu!

Jan­tung­nya ber­de­baran. Adakah duga­anku benar? Dan bocah itu men­ja­mah hak-hakku yang paling ter­se­m­bu­nyi? Mung­kin! Dan dia dapat ber­gaul bebas dengan siapa saja. Tak pernah punya pera­saan gentar. Bahkan hampir dapat dika­ta­kan kurang ajar. Dia ber­ba­hasa Melayu dengan lancar dan baik. Dia ber­tu­gas mela­yani Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa. Tidak salah: dialah peng­hu­bung Syah­ban­dar dengan keput­rian. Dia semes­ti­nya kutu busuk harem.

Pera­saan cem­buru telah mena­rik­nya dengan kasar dari tempat duduk­nya. Seo­rang diri tanpa penga­wal ia ber­ja­lan ke bela­kang meme­rik­sai pagar kayu tinggi, yang meling­kari keput­rian, untuk men­da­pat­kan bekas-bekas pan­ja­tan.

Tak dite­mu­i­nya bekas itu pada kayu yang ber­warna coklat yang selalu diber­sih­kan itu. Tentu ia meng­gu­na­kan alat-alat yang seka­rang ini belum dapat dike­ta­hui.

Ia tak terus­kan penye­li­dik­an­nya dan kem­bali duduk di serambi bela­kang. Ia cegah dir­i­nya untuk ber­buat sesu­atu pem­ba­lasan dendam yang bisa dike­ta­hui oleh selu­ruh kawula. Dan ia harus tahu duduk per­kara sebe­nar­nya.

Pada nampak lagi memi­kul kotak sampah yang sudah kosong. Sang Adi­pati mem­per­ha­ti­kan si bocah yang geli­sah dengan mata ber­pen­daran ke mana-mana itu. Ia lam­bai­kan tangan pada­nya. Dan bocah itu pura-pura tidak tahu.

Manakah ada kucing dengan senang hati meng­ha­dap pada si macan? Pikir­nya jeng­kel dan mem­bi­ar­kan Pada meng­hi­lang.

Cem­buru tak dapat ia atasi hanya dengan ber­pi­kir dan ber­pi­kir. Bocah-bocah semuda itu telah gera­yangi keput­ri­anku!

Keba­karan ter­jadi di dalam dada­nya. Tangan­nya melam­bai menyam­bar nampan kuningan tempat pera­ci­kan sirih dan diban­ting­nya meng­ge­lin­tang di lantai.



Bab 7

Syahbandar Tuban: Rangga Iskak dan Sayid Habibullah Al-Masawa

Pada waktu tidak dinas seperti seka­rang ini ia selalu ber­sa­rong, ber­baju dan ber­ko­piah putih dari tenunan Beng­gala – semua kain kaliko kasar. Tamu itu telah turun ke jalan raya dan ia ber­ja­lan kem­bali hendak mema­suki gedung kesyah­ban­daran. Per­ca­kapan dengan tamu sangat mena­rik: masuk­nya Islam ke Nusan­tara bukan suatu kebe­tulan. Juga bukan suatu kebe­tulan meng­apa pengu­asa-pengu­asa di Perlak, Pasai dan Malaka yang mula-mula masuk Islam: mereka mem­bu­tuh­kan ajaran, per­lin­dungan, keper­ca­yaan lain dari segala yang serba Maja­pa­hit….

Gedung kesyah­ban­daran yang ter­pam­pang di hadap­an­nya nampak masih, terin­dah di selu­ruh negeri Tuban. Lebih indah dari kadi­pa­ten, istana Sang Adi­pati. Gedung itu adalah yang kedua yang ter­buat dari­pada batu. Yang per­tama adalah kelen­teng Tiong­hoa. Kedua-duanya ber­diri di wila­yah pela­buhan. Rumah sele­bih­nya di selu­ruh negeri Tuban ter­buat dari kayu atau bambu, ber­a­tap sirap, injuk atau ila­lang. Yang ter­mis­kin ber­din­ding daun nipah atau kelapa.

Selalu bila ia sedang memin­tasi jalanan halaman depan rumah, ia tak pernah mele­wat­kan nikmat kein­dahan bunga-bungaan aneka warna di atas per­ma­dani rumput hijau ini. Dua tahun lalu seo­rang anak kapal dari Mala­bar, ter­dam­par di Tuban, telah mem­ba­ngun­nya meniru taman raja-raja Beng­gala, dan jadilah yang terin­dah di selu­ruh negeri. Di sore hari orang suka ber­diri di luar pagar untuk menik­mati dan menga­gumi. Ia bangga pada taman­nya.

Sampai di depan pintu para pela­yan sewaan telah ber­ba­ris menyong­song­nya. “Semua sudah dira­pikan, Tuan Syah­ban­dar,” kata Yakub, maji­kan para pela­yan itu dalam Melayu.

“Kalian boleh pergi,” jawab­nya sambil melam­bai­kan tangan dan mem­be­ri­kan sesu­atu di tangan Yakub. Tanpa meno­leh ia masuk ke dalam.

Dan bila ia menik­mati keba­gusan gedung­nya, tak pernah ia habis heran akan kebo­dohan Pri­bumi yang meng­ang­gap rumah batu seba­gai sebuah canai, yang nanya Daik untuk menyim­pan abu jena­sah.

Ruang tamu yang luas itu juga susunan awak kapal dari Mala­bar. Pera­bot: kursi-kursi ber­u­kir, dua bangku bantal kulit onta. Per­ma­dam ter­ge­lar di atas lantai batu dihi­asi dengan lemari besar dari kayu ber­u­kir ara­bes­qus meru­pa­kan din­ding pem­ba­tas antara ruang tamu dan ruang kerja, diatur menu­rut gaya ruang kerja sau­da­gar-sau­da­gar Parsi.

Per­ca­kapan dengan Abdul­ga­fur memang mena­rik, dan itu ter­jadi sebe­lum jatuh­nya Malaka. Bebe­rapa hari kemu­dian sete­lah Malaka jatuh dan ia men­de­ng­ar­nya, buru-buru ia buka lemari besar itu dan menge­lu­ar­kan sebuah kitab tebal, catatan sam­bungan dari catatan salinan abang­nya dari ayah­nya, dan ayah­nya mene­rus­kan dari kakek­nya yang besar Mirsa Hisyam Syu’bah, Syah­ban­dar Malaka, yang pernah meng­is­lam­kan Bhre Para­mesy­wara.

Catatan-catatan kakek­nya ten­tang Malaka hampir-hampir hafal oleh­nya di luar kepala. Kakek­nya, Mirsa Hisyam Syu’bah, telah men­da­pat­kan pela­rian dari Maja­pa­hit itu, yang ter­nyata suami kaisar wanita Maja­pa­hit, Suhita. Ia adalah Bhre Para­mesy­wara. Per­te­muan itu ter­jadi di Tuma­sik, bandar Maja­pa­hit yang besar, meng­hu­bung­kan Nusan­tara dengan Atas Angin dan Tiong­kok. Kakek­nya segera ber­sa­ha­bat dengan pela­rian agung itu.

Dalam catatan itu dite­rang­kan juga, bahwa Bhre Para­mesy­wara ter­li­bat dalam kom­p­lotan untuk meng­gu­ling­kan istri­nya sen­diri dan ber­ke­i­ng­inan untuk jadi kaisar Maja­pa­hit. Dari mata-mata­nya ia menge­ta­hui, bahwa kaisar Suhita telah meme­rin­tah­kan penang­kapan atas dir­i­nya. Lari­lah ia ke Tuma­sik. Tetapi kom­p­lotan itu dite­rus­kan­nya. Perang sau­dara Pare­grek mele­tus pada tahun 1401 sampai 1405 Masehi antara Maja­pa­hit dengan Blam­bangan, antara Kaisar wanita Suhita dengan Bhre Wira­bumi. Perang laut dan perang darat mem­be­lu­dag. Cet­bang yang menu­rut aturan perang Maja­pa­hit hanya diper­gu­na­kan di laut diper­gu­na­kan juga di darat oleh dua belah pihak. Armada dua belah pihak ber­teng­ge­laman di per­a­iran Bali, Lombok dan Nusa Teng­gara. Luma­jang, ibu kota Blam­bangan, jatuh. Maja­pa­hit jatuh miskin, kehi­langan keku­atan laut­nya. Bahkan anak dari Bapak Ang­katan laut Maja­pa­hit, Mpu Nala ke 2, teng­ge­lam dalam perang laut di ten­tang Singa­raja.

Di Tuma­sik ter­jadi per­se­ku­tuan, antara Mirsa Hisyam Syu’bah dengan Bhre Para­mesy­wara. Mereka ber­se­pa­kat men­di­r­i­kan bandar sen­diri di atas Tuma­sik, dan dengan demi­kian merun­tuh­kan bandar besar itu, untuk men­ja­tuh­kan Maja­pa­hit dari utara. Perang sau­dara menye­bab­kan Bhre Para­mesy­wara dan Mirsa ber­ha­sil mem­buka bandar Malaka pada 1402 Masehi, marak jadi raja, dan men­ja­tuh­kan arti Tuma­sik seba­gai bandar antar-benua. Dengan ber­di­r­i­nya Malaka ber­arti han­cur­nya Maja­pa­hit dari sebe­lah utara. Mirsa Hisyam Syu’bah diang­kat seba­gai pena­si­hat dan Syah­ban­dar seka­li­gus. Kakak­nya ini yang meng­an­jur­kan pada­nya untuk lebih ber­se­kutu dengan peda­gang-peda­gang Islam, dan untuk itu harus sen­diri masuk Islam. Kakek­nya ini juga yang meng­is­lam­kan­nya, dan sejak itu Bhre Para­mesy­wara meng­u­bah nama­nya jadi Mau­lana Ishak, dan seba­gai raja Islam ber­ge­lar Megat Iskan­dar­syah.

Rangga Iskak hafal benar bagian itu. Seka­rang Malaka jatuh sete­lah 109 tahun ber­diri dari kesul­tanan. Ia tahu arti keja­tuh­an­nya di tangan Peranggi. Semua bandar besar dan kecil di Jawa ter­an­cam. Ter­an­cam pula peng­hi­dup­an­nya. Tetapi keda­tangan orang yang meng­aku dir­i­nya Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa lebih ber­ba­haya lagi dari­pada jatuh­nya Malaka. Dari resam tubuh dan muka­nya ia seka­li­gus men­duga, ia tidak lain dari Syah­ban­dar Malaka, yang telah men­ja­tuh­kan abang­nya. Kela­ku­an­nya dalam kadi­pa­ten Tuban seperti kela­ku­an­nya di kesul­tanan Malaka sejauh ia dengar dari Zakad, sau­da­gar Gujarat itu: ting­kah dan lagak­nya seperti raja muda Malaka.

Ia sudah ber­kali-kali mem­per­i­ng­at­kan Sang Patih akan bahaya yang mung­kin timbul karena orang Moro itu. Sang Patih tak dapat ber­buat sesu­atu. Di waktu bela­kangan sete­lah jatuh­nya Malaka Sang Adi­pati suka meng­am­bil tin­dakan sen­diri tanpa sepe­nge­ta­hu­an­nya, dan tak mem­be­ri­ta­kan sesu­atu pada­nya. Ia sen­diri pusing dengan banyak­nya perin­tah yang datang susul-menyu­sul. Bahkan perin­tah peng­ga­langan kapal-kapal baru dan pem­bo­rongan selu­ruh rempah-rempah Maluku, kalau perlu dengan keku­atan sen­jata, telah mem­bi­kin Sang Patih keha­bisan tenaga. Maka segala per­se­m­ba­han Syah­ban­dar Tuban tak mampu mena­rik per­ha­ti­an­nya.

Kemu­dian datang hari yang menu­tup segala kege­li­sah­an­nya. Sese­o­rang mem­per­si­la­kan­nya pulang dari pela­buhan. Kesyah­ban­daran telah penuh dengan pra­ju­rit yang menge­lu­ar­kan semua pera­bot rumah tang­ga­nya, mena­ik­kan­nya ke atas gero­bak-gero­bak dan mem­ba­wa­nya entah ke mana. Ia lari men­da­pat­kan pera­tus yang memim­pin pasukan itu.

“Tuan Syah­ban­dar harus pindah pada hari ini juga,” jawab­nya pendek. “Atas perin­tah Sang Adi­pati.”

Pera­tus itu tak dapat dia­jak­nya bicara lagi.

Dida­pat­i­nya keem­pat-empat istri­nya sedang meng­ge­rom­bol di dapur. Mereka semua tak tahu apa harus diper­buat.

“Baik. Benahi barang-barang kalian,” perin­tah­nya pada mereka.

“Kita tak tahu apa sedang ter­jadi.”

Ia lari dan meng­ha­dap Sang Patih. Juga yang diha­dap tidak meng­erti.

“Titah Sang Adi­pati tak bisa diha­langi,” jawab Sang Patih.

“Tapi gedung itu adalah gedung patik!”

“Gedung Tuan?”

“Patik yang mem­ba­ngun­kan­nya.”

“Semua atas biaya bandar Tuban.” jawab Sang Patih.

“Tapi peren­ca­naan….”

“Sampai batu ter­a­khir, kawula Tuban yang meng­am­bil­kan, Tuan Syah­ban­dar. Gen­teng ter­a­khir yang dida­tang­kan dari Tiong­kok itu pun bandar Tuban yang mem­bi­a­yai. Takkan ada barang Tuan yang bakal ter­am­bil per­cuma.”

Syah­ban­dar Tuban masih men­coba mem­pro­tes.

“Kalau Tuan tidak mema­tuhi titah Sang Adi­pati, Tuan boleh ting­gal­kan Tuban seka­rang juga.”

Syah­ban­dar mohon diri dan pulang ke kesyah­ban­daran. Dengan kema­rahan luar biasa ia iring­kan gero­bak-gero­bak itu meng­ang­kuti barang­nya menuju ke bedeng asrama peserta per­tan­dingan yang baru lalu. Ia kalah. Istri-istri­nya segera mem­ber­sih-ber­sih­kan gedung. Ia sen­diri minta pada pera­tus agar pagar kayu tinggi yang menge­li­lingi gedung dapat diam­bil juga. Dan pera­tus itu sama sekali tak mem­be­ri­nya jawaban.

Ia tahu dengan kosong­nya kesyah­ban­daran, Sayid Habi­bul­lah Ala­ma­sawa akan mema­suk­i­nya dan meng­gan­ti­nya jadi Syah­ban­dar Tuban. Ingat akan itu tak bisa lain kema­rah­an­nya ter­tuju pada Yakub si pewa­rung tuak dan tiu-arak. Dia telah mem­bo­hong­i­nya uang­nya yang satu dinar. Dan ia tak pernah menam­pak­kan diri dalam seminggu ter­a­khir ini. Anak kepa­rat itu.

Biar­pun gedung besar itu hampir-hampir kosong dari pera­botan, Tholib Sung­kar Az-Zubaid alias Sayid Mahmud Al-Badaiwi alias Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa sudah merasa puas dengan jabatan baru­nya seba­gai Syah­ban­dar baru Tuban. Selu­ruh keku­a­saan atas bandar, bea keluar-masuk. pajak pasar pela­buhan, semua jatuh ke tangan­nya.

Dengan keper­gian Rangga Iskak gedung kesyah­ban­daran itu kini nampak ramah. Pintu depan­nya kini selalu ter­buka dan mele­la­kan keham­paan di dalam gedung. Namun ia tak merasa hina atau miskin kare­na­nya. Taman indah di depan rumah itu saja telah meni­pa­kan keka­yaan warisan yang tiada ter­tan­dingi di selu­ruh Tuban.

Ia isi keko­songan rumah di waktu malam dengan mem­ba­cai buku-buku cerita dari Por­tu­gis dan Spa­nyol, atau mem­ba­cai kitab-kitab Arab pening­galan kebu­da­yaan Junani Purba-Arab di Cor­doya. Setiap ia ter­tum­buk pada kaum Sep­hardi, kaum Jahudi, Spa­nyol-Por­tu­gis, ia tak terus­kan baca­an­nya dan ber­pin­dah pada buku lain­nya.

Hanya saja ia merasa sunyi dalam gedung besar ini di waktu malam, karena semua pem­bantu harus pulang di malam hari sesuai dengan keten­tuan.

Kea­daan men­da­dak beru­bah: pengan­tin baru Galeng-Idayu datang ke kesyah­ban­daran untuk ting­gal ber­sama deng­an­nya. Mereka menem­pati sebuah kamar di gandok kiri kesyah­ban­daran, pavil­yun untuk tamu-tamu Islam.

Ia sambut keda­tangan mereka, menun­juk­kan tempat ting­gal mereka. Ia lihat sejoli itu ragu-ragu mema­suki kamar­nya yang baru. Ia dengar mereka bicara satu-sama-lain dalam Jawa, dan ia tidak meng­erti. Dan ia lihat Idayu jauh lebih cantik di dekat mata dari­pada dari keja­uhan. Kul­it­nya yang lang­sat kecok­la­tan meman­car­kan seri ramah dan meng­un­dang, halus dan lembut. Dan di balik kulit itu ter­se­m­bu­nyi otot-otot padat seo­rang gadis petani yang biasa kerja.

Sete­lah menun­juk­kan tempat mereka ia pergi kem­bali ke gedung utama.

Idayu menge­toki din­ding, kemu­dian ter­pa­ku­kan pada tanah, hanya mata­nya meli­hat ke mana-mana.

“Meng­apa, Dayu?”

“Batu, Kang, semua batu,” bisik­nya, takut ter­de­ngar oleh orang lain, “seperti candi. Dingin. Menge­ri­kan.”

Galeng meni­ru­nya menge­tuki semua din­ding.

“Semua batu, Dayu,” ia jatuh ter­du­duk di ambin, juga mata­nya meng­em­bara ke selu­ruh batu yang dingin itu, putih dan bisu.

“Kotak batu sema­cam ini, Kang, hanya baik untuk….”

Syah­ban­dar baru masuk tanpa ber­u­luk salam. Ber­ta­nya dalam melayu: “Apa katamu, Idayu?”

Idayu melom­pat men­de­kati sua­mi­nya dan ber­lin­dung di balik gum­palan otot yang kuat itu.

“Apa kata istrimu?” tanya­nya pada juara gulat itu.

“Pergi kau ke dapur, Dayu” perin­tah Galeng pada istri­nya.

Di dapur wanita itu mene­mu­kan seo­rang pem­bantu. Dilu­pa­kan­nya pra­sang­ka­nya ter­ha­dap tempat ting­gal­nya yang baru dan segera kemu­dian mulai bekerja seba­gai ibu rumah tangga seba­gai­mana biasa ia laku­kan di Awis Kram­bil.

Tholib Sung­kar Az-Zubaid merasa kecewa meli­hat wanita pujaan Tuban itu pergi meng­hin­dar­i­nya. Ia per­li­hat­kan kera­mahan dengan mem­bantu Galeng meng­a­tur barang-barang­nya – semua sum­bangan dari pen­du­duk Tuban Kota.

Orang jang­kung agak bong­kok, ber­hi­dung beng­kung, muka penuh dengan kumis, jeng­got, cam­bang-bauk dan alis itu, tak henti-hen­ti­nya bicara dalam Melayu. Galeng tak meng­erti, kecu­ali bebe­rapa patah kata. Dan syah­ban­dar baru itu ter­tawa-tawa senang meli­hat Galeng tidak meng­erti dan meng­a­was­i­nya dengan was­pada. Ia ham­piri jago gulat muda ber­tu­buh per­kasa itu dan mene­puk-nepuk pada leng­an­nya. Ber­kata: “Aku undang kalian. Datang­lah nanti malam ke tem­patku.”

Juara gulat itu meng­ge­leng tak meng­erti. Syah­ban­dar meng­u­langi kata-kata­nya dan mem­ban­tu­nya dengan gerak-gerak tangan yang ramai. Juara itu meng­ang­guk meng­erti. Tholib Sung­kar Az-Zubaid meng­ang­guk-angguk senang, kemu­dian pergi.

Kamar tamu gedung utama kesyah­ban­daran itu kini diisi hanya dengan bangku-bangku kayu dan meja seder­hana. Mereka ber­tiga duduk menge­pung meja.

Tholib Sung­kar Az-Zubaid tak henti-hen­ti­nya bicara. Suami-istri, pengan­tin baru itu, duduk diam-diam, kikuk, dan untuk per­tama kali ber­gaul dengan orang asing. Galeng terus-mene­rus meng­a­wasi Syah­ban­dar, mem­per­ha­ti­kan gerak-gerik dan men­de­ng­ar­kan setiap patah kata yang diu­cap­kan­nya. Idayu seba­lik­nya terus-mene­rus menun­duk.

“Berkah pengan­tin baru! Berkah untuk kalian berdua!” tuan rumah mem­buka per­ca­kapan, “maaf­kan aku ter­lam­bat men­jamu kalian. Uah…,” alis Syah­ban­dar baru itu ter­ang­kat naik, kemu­dian cepat turun lagi, “… pengan­tin masy­hur. Wani­ta­nya penari ulung, cantik-jelita tiada tan­dingan di selu­ruh Tuban Kota dan Tuban negeri. Pri­a­nya gagah-per­kasa, tiada cecat barang secu­wil,” kata­nya cepat pula.

Dengan bahasa Jawa seba­gai­mana dia­jar­kan di per­gu­r­uan dan asrama Galeng ber­kata: “Sahaya tidak meng­erti, Tuan Syah­ban­dar.”

“Jangan bicara Jawa,” tuan rumah mela­rang, “ayoh, mulai seka­rang per­gu­na­kan Melayu,” seka­rang ia ucap­kan sepa­tah sepa­tah. “Melayu! Bukan­kah kau seka­rang pem­bantu-uta­maku?”

Juara gulat itu meng­ang­guk mengi­a­kan. “Melayu! Melayu! Mulai bicara Melayu!” Dan bila Idayu men­curi pan­dang dari bawah kening­nya pada Syah­ban­dar, ia tak dapat sem­bu­nyi­kan kehe­ran­an­nya meli­hat hidung sepan­jang itu dan beng­kung dan tipis. Seakan muka itu dia­da­kan hanya untuk dapat diteng­geri oleh hidung rak­sasa. Kalau dia diberi ber­sa­yap. pikir­nya selin­tas sambil ter­se­nyum, sung­guh, orang akan menyang­ka­nya seekor nuri ajaib. Dan mata­nya yang bulat besar di bawah alis tebal itu seakan mentah-mentah dipin­dah­kan dari muka area lem­pung yang sering dibuat oleh bocah-bocah peng­gem­bala bila meng­gam­bar­kan dede­mit atau gan­daran.

Galeng, yang juga ter­pe­sona oleh hidung beng­kung itu, lain lagi piki­ran­nya. Yang ter­ba­yang oleh­nya adalah seo­rang rak­sasa. Dan ting­kah-laku Syah­ban­dar di depan­nya itu, suara dan gerak-gerik­nya, adalah tepat selu­r­uh­nya seba­gai­mana digam­bar­kan oleh nenek-moyang­nya dengan rak­sasa di dalam wayang. Hanya rak­sasa yang seo­rang ini kurus, sedi­kit bong­kok, mung­kin dikan­dung­kan dan dila­hir­kan di musim pacek­lik.

Tanpa meng­in­dah­kan adakah tamu-tamu­nya meng­erti atau tidak, Tholib Sung­kar Az-Zubaid mene­rus­kan kata demi kata: ”Aku akan jamu kalian dengan jani­uan haibat. Pasti kalian belum pernah mera­sa­kan. Ambil air panas men­di­dih dan cawan-cawan dan peng­a­duk, kau, Idayu, dan gula,” dan tangan­nya ber­ge­rak-gerak meng­gam­bar­kan apa-apa yang dipin­ta­nya.

Ia sen­diri kemu­dian masuk ke dalam kamar dan tak lama kemu­dian keluar lagi mem­bawa sesu­atu di tangan­nya.

Begitu Idayu datang mem­bawa barang-barang yang dipin­ta­nya, ia mene­rus­kan: “Jamuan haibat,” ia meng­u­langi sambil mema­suk­kan tepung hitam dan gula di dalam cawan-cawan itu. “Nah!” ia meng­go­sok-gosok tangan kemu­dian ber­te­puk, “seka­rang tuangi cawan-cawan itu dengan air panas, Idayu! Hati-hati, jangan sampai tumpah.”

Ia mulai meng­a­duk­nya, cawan demi cawan.

Galeng mem­per­ha­ti­kan mata Syah­ban­dar yang antara seben­tar meng­i­ng­at­kan­nya pada istri­nya. Dan muka Syah­ban­dar itu men­da­dak meng­i­ng­at­kan­nya pada muka hewan yang baru keluar dari lubang arang, karena muka itu dihi­tami oleh rambut.

“Inilah minuman raja-raja jauh di atas Atas Angin sana. Ingat-ingat, nama minuman ini: kahwa! jangan lupa. Ayoh, Galeng, Idayu! minum!”

Seke­jap mata Tholib Sung­kar Az-Zubaid mene­lan wajah Idayu yang sedang meli­hat pada­nya.

“Kahwa, Idayu!” sua­ra­nya meren­dah lunak dan memi­kat. “Hanya raja dan ratu Ispa­nya mampu dua kali memi­num­nya dalam sehari. Raja dan ratu Peranggi tiga kali. Semua mem­be­li­nya dari peda­gang Arab. Dan peda­gang-peda­gang itu men­jadi kaya-raya karena tepung hitam ini. Raja Peranggi tiga kali sehari. Ingat-ingat itu. Betapa hebat Peranggi itu. Tak ada yang bisa tahu. Dia datang hanya untuk menang, di negeri mana pun. Jangan main-main dengan Peranggi. Ingat-ingat itu, jangan main-main. Ayoh minum!”

Di dalam kamar ting­gal­nya yang baru Galeng meng­ham­piri pelita satu sumbu dan mem­ber­sih­kan­nya dari kerak. Nyala itu mem­be­sar.

Idayu ber­ti­duran di ambin kayu. Karena penga­ruh kopi kedua-duanya tak bisa tidur sampai lewat tengah malam.

“Minuman setan!” dengus juara gulat itu. Ia rasai jan­tung­nya ber­de­baran ken­cang.

“Tak perlu kita minum lagi, Kang.”

Galeng hendak menyum­pah. Tak jadi. Ada ter­de­ngar oleh­nya suara yang men­cu­r­i­ga­kan. Ia melom­pat keluar kamar. Dalam kege­lapan ia masih dapat meli­hat bayangan sese­o­rang mela­ri­kan diri. Ia lalu mem­bu­ru­nya. Bayangan itu hilang entah ke mana. Ia kehi­langan arah.

Dike­li­ling­i­nya selu­ruh kesyah­ban­daran. Tiada sesu­atu ia temu­kan. Ia periksa gandok kanan, juga kiri. Sunyi-senyap tiada sesu­atu. Ia pulang kem­bali. Duduk diam-diam di serambi kamar. Juga tiada sesu­atu pun ter­jadi.

Waktu masuk ke dalam dida­pat­i­nya Idayu telah ter­ti­dur dalam keda­maian.

Dalam bebe­rapa hari men­ja­bat pem­bantu-utama Syah­ban­dar dengan gelar jabatan Wira, ia segera dike­nal pen­du­duk Tuban Kota seba­gai Wira Galeng. Tetapi lama-kela­maan tumbuh sisipan dengan antara nama jabatan dan nama sen­diri dan dipang­gil­lah ia Wirang­gal­eng, Syah­ban­dar­muda.

Baik di pela­buhan atau di jalanan ia men­da­pat peng­hor­matan dari semua orang. Bukan seka­dar karena ia seo­rang pung­gawa lebih lagi seba­gai seo­rang yang popu­ler, seo­rang juara gulat dan suami Idayu: pujaan Tuban.

Dan bila orang lewat di depan kesyah­ban­daran, orang memer­lu­kan mene­ngok untuk dapat meli­hat tuan Syah­ban­dar-muda atau istri­nya.

Per­u­ba­han dari petani desa per­ba­ta­san men­jadi pung­gawa di ibu kota negeri memang mem­bi­ngung­kan dan mem­bi­kin ia jadi kikuk. Ia sen­diri belli in tahu sete­pat­nya apa saja harus ia ker­ja­kan. Peng­hor­matan orang yang ber­le­bih-lebihan mem­bi­kin ia sering ragu-ragu, sedang keku­a­liran akan jatuh­nya hukuman tiba-tiba dari Sang Adi­pati selalu mem­bi­kin ia ter­lalu hati-hati. Sedang bayangan yang mela­ri­kan diri di malam per­tama itu tak juga pernah hilang dari kewas­pa­da­an­nya.

Idayu tak kurang-kurang geli­sah. Rumah batu itu sen­diri telah meram­pas keda­maian hati­nya. Tak ada orang yang hidup di dalam rumah batu kecu­ali tuan Syah­ban­dar. Seka­rang keha­rusan menge­na­kan kemban mem­bi­kin tubuh­nya serasa teru­pam dalam tungku. Belum lagi angin pantai yang tak henti-hen­ti­nya dan deburan ombak yang meme­ning­kan. Ia merin­du­kan kehi­dupan bebas-mer­deka di desa. Di kota ia merasa ter­je­rat-jerat oleh ter­lalu banyak aturan. Dan ia segan menyam­pai­kan pera­saan hati­nya pada sua­mi­nya, yang toh takkan dapat ber­buat sesu­atu.

Biar belum men­da­pat­kan kete­nangan dalam peng­hi­dup­an­nya yang baru Galeng dapat meng­i­kuti dengan cermat adanya per­u­ba­han pen­ting dalam kehi­dupan di ibu kota. Per­ge­seran jabatan sedang ter­jadi di mana-mana. Dan semua itu, menu­rut peni­lai­an­nya, adalah untuk memu­dah­kan tuan Syah­ban­dar baru men­ja­lan­kan kewa­ji­b­an­nya.

Juga Galeng tahu, bekas Syah­ban­dar Tuban, Rangga Iskak, telah pindah ke bekas asrama dan tak juga men­da­pat­kan jabatan negeri yang patut. Orang men­duga ia akan diang­kat jadi peng­hulu negeri, tetapi Sang Adi­pati tak juga melan­tik­nya. Dan telah dike­ta­hui oleh selu­ruh Tuban Kota, Rangga Iskak tidak suka pada peker­jaan baru apa pun. Dan peker­jaan yang ter­baru adalah meng­a­jar anak-anak pem­be­sar mem­baca Alqur’an bahasa dan tulisan Arab.

Dua tiga kali Wirang­gal­eng pernah ber­pa­pasan dengan Rangga Iskak sedang ber­ja­lan-jalan dengan tong­kat diayun-ayun­kan seakan sedang menunggu datang­nya kepala untuk dapat dikem­plang­nya. Dan orang itu tak pernah menam­pak­kan diri di wila­yah pela­buhan.

Wirang­gal­eng mem­be­nar­kan bisik-desus orang bekas Syah­ban­dar itu tak pernah keli­hatan tenang bila sedang ber­ja­lan-jalan. Mata­nya selalu geli­sah men­cari-cari sese­o­rang yang tak pernah dida­pat­kan­nya. Dan memang ia selalu men­cari-cari Yakub. Tetapi pewa­rung itu selalu men­ja­uh­kan diri tak ingin meli­hat­nya.

Di sam­ping peker­ja­an­nya seba­gai pem­bantu-utama Syah­ban­dar juara gulat itu harus pula meng­a­wasi galangan-galangan kapal di bandar Glon­dong, sebuah pela­buhan lain lagi di negeri Tuban. Dan untuk itu ia men­da­pat seekor kuda jantan, muda ber­warna putih kelabu.

Sete­lah barang tiga minggu bekerja ia men­de­ngar berita: Rangga Iskak telah meng­a­ju­kan per­mo­honan ber­henti dari jabat­an­nya yang tidak menentu seba­gai peng­a­jar agama. Kemu­dian ter­de­ngar juga berita, ia telah meng­ha­dap Sang Adi­pati dan memo­hon ganti keru­gian untuk jabat­an­nya dan untuk gedung kesyah­ban­daran yang diting­gal­kan­nya. Sang Adi­pati, kata orang, tak senang pada kece­re­wet­an­nya.

Berita yang dide­ng­ar­nya kemu­dian: bebe­rapa hari ber­tu­rut-turut Sang Adi­pati telah pergi ber­buru. Per­tanda ada soal-soal pelik sedang meng­ganggu piki­ran­nya. Malah pernah ia dengan tak sengaja telah men­de­ngar sese­o­rang ber­kata pada teman­nya: ten­tu­lah untuk melu­pa­kan Idayu.

Kemu­dian ter­jadi per­u­ba­han sua­sana di kesyah­ban­daran: Siang itu Tholib Sung­kar Az-Zubaid dipang­gil meng­ha­dap oleh Sang Adi­pati. Pada sore hari­nya ia datang dengan wajah muram. Di bela­kang­nya, sekira sepu­luh depa, meng­i­kuti seo­rang wanita sambil mengu­nyah sirih. Di bela­kang wanita itu seo­rang lelaki memi­kul bebe­rapa bung­kusan meng­i­kuti.

Suami istri itu tak menge­nal pen­da­tang wanita itu. Oleh Tholib Sung­kar Az-Zubaid ia ditem­pat­kan di dalam gedung utama. Sete­lah itu Syah­ban­dar pergi lagi dengan muka cem­be­rut. Dan pemi­kul itu pun pergi lagi dengan tangan hampa.

Mung­kin karena kese­pian di dalam gedung utama wanita itu keluar dari kamar, masuk ke dapur. Dan di sana ia ber­temu dengan Idayu yang sedang menyi­ap­kan makan malam.

“Kaukah itu, Idayu?” tegur­nya dengan lagu dan bahasa kadi­pa­ten.

“Inilah saya: Ibu, sedang masak. Sia­pa­kah Ibu?”

“Aku sudah tahu kau ting­gal di sini, Nak. Senang­kah kau jadi istri Syah­ban­dar-muda?” ia ter­se­nyum ramah dan nampak kilau gigi­nya yang hitam kelam. Pan­dang­nya mem­be­lai Idayu dengan per­sa­ha­batan.

“Apakah senang­nya ting­gal di sini, Ibu? Saya lebih suka ting­gal di desa sen­diri. Ada apa di sini? Hanya desau angin dan deburan laut,” ia bicara sambil terus bekerja.

“Mari kita masak ber­sama-sama,” kata­nya lagi tanpa meng­in­dah­kan protes mulai ikut bekerja. “Makan seperti ini juga­kah tuan Syah­ban­dar?”

“Bukan begitu, Ibu. Sahaya hanya bisa masak begini rupa. Ibu ini siapa….?

“Aku, Nak? Aku istri tuan Syah­ban­dar.”

“Oh-ah, Di mana Ibu dulu ting­gal?”

“Di dalam kadi­pa­ten, Idayu. Kau tak pernah meli­hat aku waktu ting­gal di sana. Tapi aku sudah pernah meli­hat kau.”

Hari per­tama yang dimu­lai dengan keak­raban dan per­sa­ha­batan itu dilan­jut­kan dengan saling mem­per­ca­yai dan jadilah mereka berdua lak­sana ibu dan anak sen­diri.

Istri Syah­ban­dar Tuban itu tak lain dari­pada Nyi Gede Kati, bekas pengu­rus keput­rian Kadi­pa­ten.

Dari wanita itu Idayu menge­ta­hui, ia pernah dipang­gil meng­ha­dap oleh Sang Adi­pati di serambi bela­kang Yang per­tama kali ten­tang surat, yang kedua… ia duduk ber­sim­puh, kemu­dian datang meng­ha­dap juga tuan Syah­ban­dar.

Tholib Sung­kar Az-Zubaid ber­diri di bela­kang Nyi Gede.

“Tuan Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa,!” Sang Adi­pati ber­kata, “inilah Nyi Gede Kati, pengu­rus keput­rian, wanita Tuban per­tama-tama yang Tuan kenal.”

Ter­de­ngar dari bela­kang Nyi Gede, Sayid Habib Alma­sawa men­ja­wab gopoh-gapah: “Ampun, Gusti, patik belum pernah menge­nal­nya, meli­hat­nya pun belum!”

“Kalau begitu,” kata Sang Adi­pati lagi, “lihat­lah baik-baik. Mung­kin sudah agak lupa!”

Ter­de­ngar oleh­nya Syah­ban­dar baru Tuban itu mem­ban­tah.

“Ampun, Gusti, betul, demi Rasul, tiada pernah patik meli­hat perem­puan ini.”

“Baik,” kata Sang Adi­pati, “dan kau, Nyi Gede, telah kau serah­kan hidup dan matimu pada kami. Maka deng­ar­kan, Tuan Syah­ban­dar Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa, ambil­lah perem­puan ini dengan baik-baik seba­gai istri Tuan yang baik-baik pula, untuk mela­yani Tuan dalam hidup Tuan di Tuban. Dan kau, Nyi Gede, kemasi semua barangmu dan ikuti sua­mimu. Ting­gal­lah kau ber­sama deng­an­nya di gedung kesyah­ban­daran. Adi­pati Tuban meni­tah­kan. Lak­sa­nakan pada hari ini juga dan berang­kat­lah kalian seba­gai suami istri.”

Keda­tangan Nyi Gede di gedung kesyah­ban­daran mengu­rangi kerin­duan Idayu pada orang tua dan Awis Kram­bil. Apa lagi sikap wanita itu ter­ha­dap Galeng adalah juga seperti ter­ha­dap anak sen­diri, dan juara gulat itu pun segera menya­ya­ng­i­nya. Seba­lik­nya Syah­ban­dar selalu ber­su­ngut-sungut dalam bahasa apa orang tak tahu. Dalam ber­ba­gai bahasa yang dike­nal­nya sebe­nar­nya ia hanya meng­u­lang kali­mat: Meng­apa perem­puan ber­gigi hitam dibe­ri­kan padaku, bukan yang satu itu? Dan bukan itu saja, Syah­ban­dar itu kini jadi agak pen­diam dan sering ber­me­nung. Ada satu masa­lah pelik sedang meng­gan­jal dalam otak­nya seperti batu keri­kil ber­gigi: Meng­apa Nyi Gede Kati diha­di­ah­kan pada­nya seba­gai istri yang harus dika­win­i­nya di mesjid? Apakah benar wanita itu Nyi Gede Kati? Ia tak pernah meli­hat­nya sebe­lum­nya.

Apakah Sang Adi­pati tahu ten­tang diri dan per­bu­at­an­nya meng­hu­bungi harem­nya? Tak ada seo­rang pun di selu­ruh Tuban dapat dia­jak­nya bicara. Kalau toh ada, itu justru hanya Nyi Gede sen­diri.

Sete­lah Syah­ban­dar mene­mu­kan jalan segera ditem­puh­nya.

Dalam bilik waktu itu. Hari telah larut malam. Dua buah lilin menyala mene­rangi ruangan. Ia bangun­kan Nyi Gede.

Di luar kamar tidur Galeng sedang meng­in­tip mereka. Pelnn, hati-hati, “adakah kau benar Nyi Gede Kati pengu­rus keput­rian?”

“Inilah sahaya, Tuan Syah­ban­dar,” jawab Nyi Gede juga dalam Melayu.

“Kalau begitu sia­pa­kah selir kesa­yangan Sang Adi­pati?” ia meng­uji.

“Siapa? Tidak tahu­lah sahaya seka­rang ini. Tadi­nya sebe­lum…. tadi­nya Nyi Ayu Sekar Pin­jung.”

“Meng­apa tadi­nya?”

“Ya, Tuan, apalah guna menge­ta­hui soal keput­rian?”

“Bukan­kah aku sua­mimu? dan engkau harus men­ja­wab!”

“Ya, Tuan, Sekar Pin­jung ter­kena salah. Dia telah mene­rima surat dari luar, dari orang yang sahaya tidak tahu.”

“Jadi dike­lu­ar­kan dari keput­rian?” Syah Syah­ban­dar mem­be­ri­kan uji­an­nya.

“Tidak, Tuan. Dia tetap di dalam keput­rian, tetap men­da­pat apa yang jadi haknya. Hanya untuk seumur hidup dia takkan lagi dikun­jungi oleh Sang Adi­pati. Juga takkan dapat keluar dari keput­rian, seba­gai hukuman.”

“Semoga Allah menu­run­kan dalam hati dia yang ter­a­ni­aya tanpa dosa kesa­baran yang tak ter­hingga,” Syah­ban­dar berdoa. Kemu­dian: “Kata­kan­lah: Amien”.

“Amien, Tuan.”

“Amien saja, tanpa kau sebut-sebut tuan, karena amien itu untuk Allah, bukan untuk tuan Syah­ban­dar.”

“Amien.”

Tholib Sung­kar Az-Zubaid masih belum dapat diya­kin­kan.

“Nyi Gede Kati, per­li­hat­kan­lah seka­rang padaku barang-barang ber­harga yang jadi mil­ikmu. Ingin aku meli­hat bagai­mana dan macam apa per­hi­asan perem­puan Jawa,” kata­nya dengan suara lebih keras dari semula.

Dengan luwes­nya Nyi Gede Kati mem­per­a­ga­kan tubuh­nya yang berisi dan dengan gerak tangan indah menu­ding pada per­hi­asan yang dike­na­kan pada tubuh­nya: subang cepuk besar yang menye­bab­kan lubang pada godoh men­jadi besar dan godoh itu sen­diri turun pan­jang ke bawah, gelang, kalung, cincin dan cun­drik lang­sing ber­sa­rung emas ber­u­kir.

Tholib Sung­kar Az-Zubaid alias Sayid Mahmud Al-Badaiwi, alias Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa meng­a­wasi dan mem­per­ha­ti­kan benda-benda itu sebuah demi sebuah.

“Bagus, bagus sekali,” ia meng­ang­guk memuji, “tak kalah garap­an­nya dari pandai emas di negeri mana pun,” ia ber­henti dan meng­e­lus dada. “Tentu bukan hanya ini mil­ikmu;”

“Tentu, Tuan, masih ada pada sahaya. Biar sahaya ambil­kan.”

Tak lama kemu­dian ter­ja­jar barang-barang ber­harga milik pri­badi Nyi Gede Kati. Di anta­ra­nya seutas kalung seben­tuk cincin dan gelang ber­ta­tah­kan zamrud dan muti­ara. Jelas bukan bikinan dan tidak ber­mo­tit Jawa. Dan dua buah real emas Por­tu­gis.

Mata Syah­ban­dar ber­si­nar-sinar. Ia tegak­kan bong­kok­nya dan ber­te­puk tangan, kemu­dian meng­ge­ser­kan tarbus ke bela­kang. Dide­kat­i­nya barang yang ber­ja­jar di atas keti­duran. dan: “Gelang, cincin dari kalung ini jelas sepe­rang­kat. Semua dibi­kin oleh pandai yang sama, diper­ma­tai dengan kese­ra­sian hijau putih. Hanya putri-putri negeri Tiong­kok meng­gu­na­kan kese­ra­sian ini.”

“Hadiah para selir dan karu­nia Sang Adi­pati sen­diri.” Nyi Gede mene­rang­kan dengan nada bangga. “Yang mena­rik hati, Tuan, itu adalah hadiah dari seo­rang tuan yang sahaya tidak kenal.” Ia meli­rik pada sua­mi­nya.

“Bagai­mana duduk per­ka­ra­nya maka kau tak menge­nal­nya?”

” Ya, Tuan, tahu-tahu sudah ada di bawah pintu sahaya beserta sepu­cuk surat. Sahaya tak pernah tahu dari siapa.”

“Adakah kau balas surat itu?”

“Kami orang Jawa sela­ma­nya mem­ba­las surat, senang atau tidak pada isinya, karena demi­kian dia­jar­kan pada kami di per­gu­r­uan kami.”

Tholib Sung­kar Az-Zubaid ter­tawa senang dan lega. Kemu­dian: “Bagai­mana kau mem­ba­las surat pada pengirim tak dike­nal itu, Nyi Gede?”

“Sahaya letak­kan di bawah pintu itu juga surat balasan sahaya Tuan, setiap malam, sampai datang masa­nya surat itu tiada.”

Sekali lagi Syah­ban­dar ter­tawa, lebih keras, men­de­ring menem­busi udara malam, keluar rumah.

“Kalau begitu kau tahu benar ada orang tak dike­nal suka masuk ke dalam keput­rian. Siapa dia kira­nya, Nyi Gede?”

“Dia datang pada waktu sahaya ter­lena, Tuan. Sahaya tiada ber­ke­mam­puan ber­jaga sepan­jang hidup.”

Seka­rang sesu­atu mem­ber­sit di dalam piki­ran Tholib Sung­kar Az-Zubaid: ia telah temu­kan kunci harem, Ia ter­se­nyum puas. Dan per­hi­asan-per­hi­asan ber­ta­tah­kan zamrut dan muti­ara yang telah berada di tangan­nya itu belum juga dile­tak­kan­nya, diti­mang­nya seje­nak, kemu­dian: “Kau istriku, bukan, Nyi Gede? Istriku yang sah.”

“Sahaya, Tuan.”

“Kuka­wini kau di mesjid.”

“Sahaya, Tuan.”

“Gusar­kah kira­nya kau bila barang-barang yang kuka­gumi ini dan juga dua real Peranggi ini aku simpan sen­diri agar sela­mat dan aman?”

“Sila­kan, Tuan, kalau itu yang jadi kehen­dak Tuan. Ambil barang sahaya, bahkan badan sahaya sen­diri ini, adalah milik Tuan Syah­ban­dar Tuban.”

Sekali lagi Tholib Sung­kar Az-Zubaid ter­tawa puas. Sambil mema­suk­kan barang-barang ter­se­but ke dalam saku-dalam jubah­nya ia ber­ta­nya ber­main-main dan men­cu­bit pipi istri­nya: “Semua jadi mil­ikku. Tapi milik siapa jiwamu?”

“Gusti Adi­pati, Tuan.”

“Husy, jangan sekali lagi bilang begitu. Jiwa hanya milik Allah.”

Nyi Gede tak men­ja­wab. Ia tidak meng­ge­leng, tidak pula meng­ang­guk.

“Dengar, Nyi Gede, mulai besok buang­lah kebi­a­saan meng­gi­ma­kan jahawe. Aku lebih suka meli­hat gigimu putih dari­pada hitam, seperti gigi iblis, seperti gigi perem­puan kafir per­begu Beng­gala.”

“Baik, Tuan.”

Tholib Sung­kar Az-Zubaid mening­gal­kan kamar untuk menyem­bu­nyi­kan benda-benda yang bisa jadi bukti ter­ha­dap per­bu­at­an­nya. Per­gi­lah ia dan turun­lah Wirang­gal­eng dari tempat peng­in­tai­an­nya. Syah­ban­dar muda itu duduk dalam kege­lapan di bawah seba­tang pohon menunggu kalau-kalau Syah­ban­dar Tuban keluar dari rumah. Duga­an­nya tidak keliru.

Sosok tubuh jang­kung sedi­kit beng­kok ber­ju­bah gelap itu keluar dari rumah dengan meng­a­yun-ayun­kan tong­kat. Ia meng­i­kut­i­nya dari sesu­atu jarak. Yang dii­kuti ter­nyata menuju ke warung Yakub, menge­tuk pintu dan mema­suki ruangan warung yang dite­rangi dengan sebuah pelita minyak kelapa dari satu sumbu.

Ia deng­ar­kan mereka ber­ca­kap dalam bahasa asing yang ia tidak meng­erti. Dalam sinar taram-tema­ram ia lihat Tholib Sung­kar Az-Zubaid menye­rah­kan barang-barang per­hi­asan pada Yakub. Kemu­dian ter­de­ngar mereka bicara dalam Melayu: “Ya Allah, Tuan Syah­ban­dar, Tuan selalu dilin­dungi Tuhan. Memang tak pernah ada arak baik di sini, tapi demi Allah, ada barang seca­wan yang agak tepat untuk Tuan.”

“Selama bukan tuak Pri­bumi, insya Allah agak tepat kira­nya untukku. Kelu­ar­kan, Yakub!”

Yakub menge­lu­ar­kan sebuah cawan tem­bi­kar dan segera Syah­ban­dar mene­guk­nya habis dan meng­u­cap syukur.

“Tuan nampak sangat gem­bira hari ini. Alham­dul­il­lah Tuan mem­per­ca­yai si Yakub ini untuk menyim­pan­nya, Tuan. Per­ca­ya­lah, di Tuban ini tak ada maling seperti di bandar-bandar lain, tak ada peram­pok Kalau ada keru­suhan sela­ma­nya soal asmara. Darah pen­du­duk Tuban sudah panas, dipa­nas­kan lagi oleh tuak setiap hari. Biar begitu tidak mudah meng­ge­le­gak selama tidak menying­gung asmara. Memang tidak baik tuak buat orang Atas Angin. Lagi arak­nya, Tuan?”

“Cukup, Yakub.”

“Har­ga­nya memang bukan harga tuak, Tuan, tepat harga arak Di mana pun yang lebih baik lebih mahal har­ga­nya, dan baik atau tidak akhir-akhir­nya hanya asal selera. Tak peduli di Tuban atau di tempat lain.”

Dari tem­pat­nya Wirang­gal­eng meli­hat Syah­ban­dar meng­a­wasi Yakub, barang­kali untuk mema­hami apa yang diki­as­kan oleh pewa­rung itu. Ia meli­hat Yakub menun­duk sambil mene­rus­kan kata­nya “Betul, juga di sini, Tuan, bayaran yang baik untuk jasa yang baik tepat seperti di mana pun, di Lisboa atau Madrid.”

Syah­ban­dar itu nampak tak begitu ber­se­nang hati. Ia balik­kan badan, mung­kin untuk menyem­bu­nyi­kan per­u­ba­han pada wajah­nya. dan ber­ba­lik kem­bali sudah dengan senyum pada bibir.

”Rupa-rupa­nya kau, Yakub, seperti aku juga, petu­gas Sang Adi­pati,” ia ber­kata men­coba-coba.

“Ohoi!” Yakub ber­seru pelan. “Ter­ke­jut benar nam­pak­nya Tuan. Mana bisa Yakub seperti Tuan Syah­ban­dar? Biar pun hanya per­a­nakan Arab dengan Beng­gala, Tuan, belum perlu rasa­nya si Yakub ini meng­a­bdi pada seo­rang raja kecil Pri­bumi. Kami memang agak lain dari Tuan rupa­nya. Di mana ada keun­tungan di sana Tuan ada. Begitu, bukan, Tuan Syah­ban­dar?” ia ter­tawa menye­li­dik.

“Allah melin­dungi aku dari per­bu­atan meng­hina. Karena, di mana pun langit ter­ben­tang, di mana pun bumi ter­ham­par, di sana­lah kebe­sar­an­nya dicip­ta­kan untuk selu­ruh umat­nya.”

Yakub ter­tawa-tawa sambil meng­u­sap-usap jang­gut dan Tholib Sung­kar mene­rus­kan pan­dang pada­nya.

“Allah mem­ber­kahi orang yang tak mudah marah. Bukan­kah sabar juga bagian iman, Tuan Syah­ban­dar? Tuan Sayid?”

“Aku bayar belan­jaku, dan tak ada alasan untuk marah,” ia lihat Yakub mene­rus­kan pan­dang pada­nya.

“Tuan agak­nya salah tang­kap,” Yakub mem­be­tul­kan. “Tak ada yang tidak per­caya pada semua kata Tuan. Tuan selalu bayar belanja Tuan. Dan, Tuan Sayid, kapan pun Tuan akan bayar belanja Tuan yang jauh lebih mahal untuk jasa Yakub yang lebih baik dan lebih besar. Per­ca­ya­lah, Tuan Syah­ban­dar.”

“Manakah di Tuban yang kecil ini ada jasa yang baik apa lagi besar?”

“Pada Yakub, tuan Sayid, jasa selalu ter­se­dia, besar dan baik, kecil dan besar, setiap saat, tak peduli siang atau malam, pagi atau sore.”

“Tak ada per­bu­atan tanpa dipi­kir­kan lebih dulu, Yakub. Tuban men­cip­ta­kan makh­luk­nya bukan untuk jadi gila. Assa­la­mu­a­lai­kum,” dan dengan kata itu ia pun pergi mening­gal­kan warung.

Wirang­gal­eng meng­i­kut­i­nya pulang ke kesyah­ban­daran. Ia lihat Tholib Sung­kar Az-Zubaid ber­ja­lan lang­sung menuju ke gandok kiri, mena­iki serambi, kemu­dian men­de­ngar-deng­ar­kan pada pintu kamar, men­coba meng­in­tip dari sana dan sini. Karena tak meli­hat sesu­atu pun di dalam kamar itu ia pergi lagi masuk ke dalam gedung utama dari pintu tengah.

Tahu lah Wirang­gal­eng seka­rang, tidak lain dari tuan Syah­ban­dar yang jadi bayangan selama ini. Dan kelu­ar­ga­nya­lah sasar­an­nya.


Bab 8

Wiranggaleng Pergi ke Barat

Idayu meng­an­tar­kan­nya ke pela­buhan dan ikut masuk ke dalam kapal dagang ber­ben­dera Tuban.

Suami-istri itu was-was meng­ha­dapi per­pi­sahan mereka. Bahkan juga pada merasa tak senang dengan keper­gi­an­nya. Der­maga dise­saki oleh orang-orang yang hendak meli­hat Idayu meng­an­tar­kan sua­mi­nya. Mereka ber­diri diam-diam menunggu penari ulung keka­sih Tuban dan para desa itu keluar lagi dari kapal untuk dapat melam­bai­kan pan­dang pada­nya.

“Kalau diper­ke­nan­kan, Kang, aku ber­se­dia ikut, ke mana pun, Kang.”

“Kapal akan segera berang­kat, Dayu.”

“Aku kha­wa­tir, Kang.”

“Kau sen­diri harus bel­a­jar dapat lin­dungi kese­la­matan sen­diri. Tentu kau akan selalu ingat pada Rama Clu­r­ing”

Idayu meng­gan­deng tangan sua­mi­nya dan turun kem­bali ke der­maga.

“Apa pun yang ter­jadi, Idayu, hadapi semua dengan tabah.”

“Aku kha­wa­tir, Kang,” bisik­nya. “Aku pulang ke desa saja.”

“Bukan­kah kau harus menari di pen­dopo kadi­pa­ten? Dan perin­tah itu sewaktu-waktu bisa datang dari Gusti Adi­pati sen­diri?”

“Kang, aku kha­wa­tir,” Idayu ber­bi­sik dan meman­dangi sua­mi­nya dengan mata sayu. “Aku takut, Kang. Di desa aku tak pernah takut seperti ini.”

“Kalau diper­ke­nan­kan, kami sedia ikut men­jaga, Wira,” sese­o­rang di antara para per­u­bung meng­u­sul­kan.

“Betapa mulia hati kalian, terima kasih. Sayang, kalian sen­diri tahu, tak dibe­nar­kan mema­suki pela­taran kesyah­ban­daran.”

Nah­koda datang mewar­ta­kan pada Wirang­gal­eng layar akan segera dipa­sang dan kapal akan berang­kat.

Wirang­gal­eng meng­u­sap-usap rambut istri­nya.

“Allah ber­sama deng­anmu, Wirang­gal­eng!” seru Tholib Sung­kar Az-Zubaid.

“Sejah­tera, sejah­tera untukmu, Galeng, dan istrimu,” keru­munan orang itu mening­gal­kan der­maga, makin kecil dan makin….

Layar turun dan segera meng­ge­lem­bung. Kapal mandal, makin lama makin jauh mening­gal­kan der­maga, makin kecil dan makin kecil. Dan keru­munan orang itu meng­an­tar­kan Idayu sampai ke kesyah­ban­daran….

Wirang­gal­eng dan Pada meman­dangi semua yang ber­ge­rak di der­maga sampai iring-iringan itu hilang dari peman­dangan. Akhir­nya semua pun lenyap dite­lan kele­lu­a­saan alam.

Ter­de­ngar Pada menge­luh. Wirang­gal­eng sambil ber­pe­gangan pada seutas tali layar, ber­san­daran pada din­ding lem­bung, meng­a­was­i­nya: “Apa yang kau keluh­kan?”

“Jangan­kan manu­sia seperti aku ini, Kang, kuda pun kadang-kadang menge­luh juga.”

“Apa yang dike­luh­kan kuda?”.

“Kita akan ke mana, Kang?”

“Apa yang dike­luh­kan kuda? Kau belum lagi men­ja­wab. Kalau kau sen­diri, Pada. Aku tahu apa yang kau keluh­kan.”

“Kita ke Banten, Kang? Betapa jauh dan lama.”

“Itukah yang kau keluh­kan? Jauh dari kadi­pa­ten? Jauh dari keput­rian? Dari para selir?”

“Kang!” Pada ter­pe­kik ter­ke­jut.

Wirang­gal­eng pura-pura tak meng­erti dan men­ja­tuh­kan pan­dang pada per­mu­kaan laut, pada pantai pulau Jawa yang putih ber­ja­batan dengan kege­lapan hitam dan per­bu­kitan dan gunung-gemu­n­ung. Juga hati­nya sen­diri penuh was-was, kekha­wa­tiran dan kecu­r­i­gaan.

Ia tahu benar Tholib Sung­kar Az-Zubaid adalah kucing hitam di waktu malam dan burung merak di siang hari. Dalam hati-kecil­nya bayangan Sang Adi­pati, yang jelas mem­be­ra­ni­kan istri­nya, antara seben­tar meng­a­wang dan meng­an­cam hendak mero­bek-robek hati­nya. dan seka­rang aku harus pergi dari Tuban. Apakah yang bakal ter­jadi?

Untuk ke sekian kali­nya ia hibur dan ten­te­ram­kan hati­nya dengan menye­rah­kan segala-gala­nya pada Idayu sen­diri.

Ia telah ting­gal­kan pada istri­nya sebi­lah cun­drik dan pesan, “Bela­lah dirimu kalau ada niatmu untuk mem­bela diri!” Dan pada Nyi Gede Kati ia meng­ha­rap agar dia sudi ikut men­jaga kese­la­matan Idayu.

Sete­lah berada di atas kapal ia menye­sal telah ber­pe­san pada seo­rang bekas pengu­rus harem. Bekas pengu­rus harem! Tahu­kah orang seperti itu ten­tang cinta, kasih dan kese­ti­aan? Bekas pengu­rus harem! Harem!

“Kang!” Pada meng­u­langi tegur­an­nya.

“Meng­apa kau ter­ke­jut, Pada?”

“Ampun: Kang, jangan­lah hubung-hubung­kan aku dengan keput­rian dan para selir. Aku tak tahu apa-apa ten­tang mereka,” Pada mem­bela diri, meng­hiba-hiba.

”Takut benar kau nam­pak­nya, Pada.”

Dan kapal terus ber­la­yar.

“Bagai­mana aku tak takut, Kang Nyi Gede Kati telah diusir dari keput­rian. Nyi Ayu Sekar Pin­jung ke…”

“Dari mana kau tahu mereka kena hukuman? Dan siapa mereka itu?”

“Semua orang mem­bi­ca­ra­kan, Nyi Gede pengu­rus. Nyi Ayu selir. Siapa pula dalam kadi­pa­ten tidak tahu?”

“Jadi sudah berapa kali kau panjat pagar kayu keput­rian dan masuk ke dalam­nya, Pada?”

“Kang!” Pada ter­pe­kik lagi untuk kese­kian kali­nya.

“Ter­ke­jut lagi kau nam­pak­nya, Pada.”

“Ah, Kang Galeng, Kang Galeng,” bisik­nya meng­hiba-hiba. “Untuk apa aku pergi ke sana? Dan bagai­mana bisa aku ke sana?”

Wirang­gal­eng mena­tap Pada sambil meng­ge­leng.

“Paling tidak,” Syah­ban­dar-muda itu mene­puk bahu­nya bebe­rapa kali, “dua kali dalam seminggu kau pasti masuk ke sana ”

“Kang Galeng, kakangku sen­diri… tega kau ber­kata begitu.” kara­nya gugup dan megap-megap.

“… Kau lem­par­kan tali ber­jang­kar ke atas pagar kayu tinggi itu, dan kau meman­jat masuk.”

“Kang, aduh, Kang. Itu ber­arti kau mem­bu­nuh aku, Kang.”

“Husy. Kau pura-pura tak menge­ta­hui sesu­atu apa ten­tang dirimu sen­diri.”

“Kang!” Pada ter­pe­kik lagi.

“Husy. Goba selir yang mana saja sudah kau hubungi?”

“Kau menyiksa aku, Kang meng­a­n­i­aya.”

“Ayoh, kata­kan pada kakang mu ini. Bukan­kah aku kakangmu?”

“Kang tega, kau, Kang” suara Pada telah meng­ham­piri sebuah tangs dari seo­rang bocah yang tak ber­daya.

“Ayoh, ceri­tai aku, Pada. Sekali saja. Dengan selir mana saja kau telah lewat­kan malam-malam yang sunyi di dalam keput­rian?”

Pada telah sampai pada puncak keke­cutan, tak mampu bicara.

Sewaktu Wirang­gal­eng mele­cuti anak itu dengan per­ta­nyaan. ter­ba­yang oleh­nya istri­nya, Idayu. Seki­ra­nya Idayu dulu ter­paksa jadi peng­huni harem, men­jadi selir seba­gai yang lain-lain, mung­kin­kah anak ini juga yang akan datang pada­nya, di malam sepi, dan mele­tak­kan tangan pada tubuh keka­sih­nya? Darah­nya ter­si­rap dan dengan sen­di­r­i­nya tangan­nya mela­yang men­ce­kam per­ge­langan Pada.

Anak itu mera­ung kesa­kitan. Syah­ban­dar muda ter­paksa mete­pas­kan kem­bali.

Dengan pan­dang ber­ta­nya Pada mena­tap juara gulat Itu, kemu­dian meme­riksa per­ge­lang­an­nya. Bibir­nya cem­be­rut.

“Di asrama dulu kau menge­na­kan gelang, kalung dan cincin emas, Pada. Seperti pem­be­sar. Mana barang-barang itu seka­rang?”

“Kau siksa aku begini macam, Kang.”

“Kau tidak men­ja­wab. Dan kau tak mau men­ja­wab. Selir mana yang telah beri kau semua itu?”

“Kang, tega kau…”

“Di mana barang-barang itu seka­rang, Pada?”

Pada ter­diam. Pan­dang­nya dilem­par­kan­nya ke per­mu­kaan laut.

“Bocah beru­mur lima belas!” Wirang­gal­eng melu­dah ke gela­dak.

“Kata orang, gan­darwa beru­mur dua ratus tahun baru mulai dewasa. Kau, Pada… empat belas, lima belas! Kepa­rat! Empat belas, lima belas sudah jadi buaya.”

“Jangan ucap­kan itu, Kang.” Pada memo­hon.

Dua orang itu kini ter­diam. Lama. Seakan-akan telah ter­jadi per­mu­suhan bat in antara mereka.

Wirang­gal­eng mele­pas­kan pan­dang ke sebe­lah selatan, pada pantai pulau Jawa yang nampak samar-samar di keja­uhan. Dan Pada mulai agak meng­erti meng­apa ia berada di atas kapal dagang ini.

Juara gulat itu mem­ban­ding-ban­ding­kan dir­i­nya dengan Pada. Waktu beru­mur empat atau lima belas ia masih tak meng­erti sesu­atu kecu­ali bekerjn di sawah atau ladang atau mengu­rus ternak: babi, sapi, ayam dan anjing.

“Semua tak ada yang kau jawab, Pada. Seka­rang yang lain. Barang­kali kau mau men­ja­wab: sudah berapa kali kau menu­lis surat untuk Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa Syah­ban­dar Tuban?”

“Menu­lis surat?” bocah itu ber­seru ter­he­ran-heran.

“Buaya! Kau memang pandai ber­pura-pura. Pada, aku tahu surat-surat itu tulis­anmu. Apa kau kira dunia ini bisa kau bodohi begitu gam­pang?” ia buang pan­dang­nya ke tempat lain dan mene­rus­kan, pelan-pelan. “Orang tak mung­kin bisa ber­bo­hong terus-mene­rus. Pada suatu kali orang harus meng­a­kui kebe­naran.”

Pada ter­diam tak mem­buka mulut. Ia hin­dari pan­dang juara gulat yang meng­an­cam itu.

“Sekali ini kau harus men­ja­wab, Pada.” Syah­ban­dar muda itu memaksa. “Berapa kali kau tulis­kan surat untuk Syah­ban­dar?”

“Kang Galeng, bukan­kah tak lain dari Kakang sen­diri yang tahu, semua! Kewa­ji­b­anku telah kula­ku­kan dengan baik? Apakah yang Pada tak laku­kan buat kepen­ting­anmu dan Mbok Ayu Idayu? Seka­li­pun harus melang­gar aturan yang ada?”

Wirang­gal­eng mem­ba­tal­kan niat­nya untuk menya­kiti bocah itu. Ingat akan jasa Pada menye­bab­kan ia merasa segan mela­ku­kan.

“Sang Adi­pati juga memuji keca­kap­anmu. Kalau kau anak tertib mung­kin bisa kau jadi peng­gawa di kemu­dian hari. Aku dan Idayu takkan melu­pa­kan jasa-jasamu. Yang aku ingin tahu dari kau seka­rang, Pada, apakah yang telah kau laku­kan di luar kewa­ji­b­anmu yang meru­gi­kan Sang Adi­pati?”

Ia lihat Pada men­jadi pucat dan bibir­nya geme­tar. Anak itu mulai meng­erti benar meng­apa ia dibawa ke kapal ini: untuk men­ja­lani peme­rik­saan dan hukuman. Dan Wirang­gal­eng yang ia hadapi kini bukan­lah seo­rang kakang yang lunak, lemah-lembut dan pelin­dung. Ia adalah peme­riksa dan peng­hu­kum­nya seka­li­gus. Ia mene­kur tak berani meng­ang­kat muka.

“Kau tak men­ja­wab, Pada,” ia lem­par­kan pan­dang jauh-jauh. “Jawab­lah. Aku tak perlu meli­hat mukamu. Aku hanya ing­in­kan jawab­anmu. Dija­uh­kan Kakang hen­dak­nya dari­pada per­bu­atan salah ter­ha­dapmu, Pada. Jawab­lah.” Ia menunggu dan menunggu. Jawaban itu tak kun­jung datang. “Bukan­kah masih kau akui aku kakangmu?”

“Ya, Kang.”

“Jawab­lah. Ter­se­rah bagai­mana men­ja­wab­nya.”

Pada tak juga mau men­ja­wab.

Tanpa meng­u­bah kedu­dukan pan­dang­nya tangan Wirang­gal­eng men­ce­kam rambut Pada yang jatuh ter­u­rai dari bawah des­tar­nya. Ia tahu ceng­kaman itu lunak tak menya­kiti.

“Baik, kau tak mau men­ja­wab. Seka­rang Pada,” kata­nya tanpa meli­hat kepa­da­nya, “meng­apa kau suka mema­suki keput­rian?” Juga tak ber­ja­wab. “Meng­apa kau menu­lis surat di atas kertas untuk Nyi Gede Kati dan Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa?” Tak ber­ja­wab. “Baik­lah kau tak mau men­ja­wab lagi. Tahu­kah kau, jiwamu ada di tanganku seka­rang ini, dan hidup-matimu akulah yang menen­tu­kan?”

Tak ter­duga oleh Wirang­gal­eng si bocah Pada men­ja­wab ter­ta­han: “Seka­rang aku tahu meng­apa aku men­da­pat perin­tah untuk meng­i­kuti kau. Kang. Kang Galeng, keta­hu­i­lah, aku takkan jawab semua per­ta­nya­anmu. Aku tak mampu, Kang. Ampun­i­lah, aku. Hanya, Kang, kalau aku kau bunuh juga seka­rang ini, sam­pai­kan sem­bahku pada Mbo­kayu Idayu, Kang. Tak ada sebuah dapat kusam­pai­kan pada siapa pun, karena tak ada orang tua dan sanak padaku.”

“Meng­apa pada Idayu?”

“Karena selu­ruh Tuban memu­ja­nya, juga aku, Kang. Maukah kau?”

“Kata­kan sesu­atu padaku, Pada.”

“Tak ada sesu­atu yang dapat aku kata­kan, Kang. Men­ja­wab atau tidak, perin­tahmu adalah mem­bu­nuh aku. Semua sudah kuka­ta­kan dan jawab.”

“Ayoh, kata­kan, kata­kan sesu­atu.”

Anak itu justru mem­bisu.

Suatu per­go­lakan telah ter­jadi di dalam hati juara gulat itu. Batin­nya menu­duh kau men­cem­bu­rui bocah kecil ini, Galeng. Kau sen­diri ada kei­ng­inan untuk mele­nyap­kan­nya dari muka bumi karena perin­tah cem­buru hatimu sen­diri. Kau punya kepen­tingan pri­badi dalam urusan ini! Tapi di hadap­anmu ada Gusti Adi­pati. Dan kau takkan mampu mela­wan­nya. Di sam­ping itu ada juga tuan Syah­ban­dar Tuban, kucing di waktu malam dan merak di siang hari itu. Kau pun boleh jadi tak dapat ber­buat apa-apa ter­ha­dap­nya. Hanya ter­ha­dap Pada, si bocah tanpa daya ini, kau berani ber­buat, hanya karena cem­buru yang tidak ter­bukti. Bagai­mana kau ini, Galeng? Peng­i­kut rama Clu­r­ing? Kau bingung! Kau tak tahu di mana tem­patmu.

Syah­ban­dar muda itu malu punya pera­saan cem­buru ter­ha­dap si bocah itu. Idayu sen­diri lebih tidak ber­daya! Kini hati­nya jadi sendu. Apa yang dia bisa per­buat meng­ha­dapi orang-orang ber­ku­asa seperti Sang Adi­pati dan Syah­ban­dar Tuban? Dia yang ter­ting­gal di daerah larangan, di kesyah­ban­daran itu, dalam satu sarang dengan Nyi Gede Kati, bekas pengu­rus harem, yang sudah sela­yak­nya akan mem­bantu sua­mi­nya menun­duk­kan Idayu. Meng­apa bocah ini harus jadi sasaran keka­cau­anku?

Juara gulat dan Pada ber­diam diri dengan piki­ran masing-masing. Bebe­rapa kali orang ber­ja­lan mondar-mandir mele­wati mereka. Dan mereka tetap tak bicara sesu­atu.

Matari makin lama makin con­dong. Angin laut yang ber­tiup dari bela­kang menye­bab­kan rambut mereka ter­ge­rai di bawah destar, sedang puputan pada layar menye­bab­kan antara seben­tar ter­de­ngar gele­par.

“Kalau kau tega juga mem­bu­nuh aku, Kang” tiba-tiba Pada ber­kata seperti pada diri sen­diri.

“Meng­apa kau punya piki­ran aku akan mem­bu­nuhmu?”

“Sia­pa­kah yang tidak dibu­nuh oleh Sang Adi­pati, bila orang diang­gap meru­gi­kan­nya?”

“Sia­pa­kah aku ini maka harus mem­bu­nuh kau?”

“Aku sudah banyak tahu, Kang. Kaulah yang akan mem­bu­nuh aku atas perin­tah Gusti Adi­pati.”

“Kalau saja kau mau ceri­tai aku ten­tang keput­rian dan diri Sayid…”

“Kalau aku harus dibu­nuh karena surat dan keput­rian; sama saja, Kang, aku pun harus dibu­nuh karena yang itu juga, hanya surat itu untuk Kang Galeng dan Mbo­kayu Idayu.”

“Bukan­kah telah kuka­ta­kan kami berdua ber­te­ri­ma­ka­sih?” Dan sema­kin heran ia meng­apa si bocah itu begitu tabah meng­ha­dapi bahaya maut yang sudah dekat pada leher­nya. Pasti ia punya per­hi­tungan: melom­pat ke laut dan bere­nang. Pasti! Ber­ta­nya ia lembut dan sopan: “Tia­da­kah kau takut pada hiu, Pada?”

Ia lihat Pada ter­se­nyum seakan meng­erti mak­sud­nya.

“Kata orang,” Pada mulai seperti hendak men­do­ng­eng, “barang­si­apa takut pada hiu, dia takkan menyin­tuh laut. Barang­si­apa menen­tang laut, dia takkan dapat­kan hiu.”

Kem­bali mereka ber­diam diri.

Waktu sese­o­rang mem­be­ri­ta­kan, makan sudah siap, baik Wirang­gal­eng maupun Pada mulai juga tidak ber­an­jak dari tempat. Dan matari dengan lam­bat­nya ma km men­de­kati ufuk barat. Sem­bu­rat merah mulai mem­ba­kar kaki langit.

“Kau diam saja, Kang. Hari men­de­kati malam.”

Ter­de­ngar sese­o­rang menye­ru­kan azan di bawah gela­dak dan ia mem­per­ha­ti­kan. Lagu­nya begitu asing dan kata-kata­nya ia tak kenal. Sete­lah seruan sele­sai ia merang­kul Pada dengan mesra.

“Jadi segala yang orang keta­hui ten­tang kau ter­nyata benar. Pada. Kau tak mau bicara, baik­lah. Dan kalau kau melom­pat ke laut. aku takkan meng­ha­langi. Kalau kau melom­pat dan bere­nang ke sana, cukup­kah kira­nya napasmu, Pada?”

“Jangan pikir­kan napasku, Kang Aku meng­erti kau harus bunuh aku. Aku akan bere­nang dan takkan kem­bali ke Tuban Demi Batara Kala. Per­ca­ya­lah.”

“Pada, adikku, maaf­kan aku. Sem­bahmu pada mbo­ka­yumu nanti aku sam­pai­kan. Kalau kau melom­pat, aku akan mene­ngok ke sana, ke laut lepas. Melom­pat­lah. Cepat, melom­pat!”

Tetapi Pada tiada ber­ce­pat melom­pat. Ia ber­sim­puh di atas gela­dak itu, menyem­bah Wirang­gal­eng men­cium kaki­nya, ber­diri lagi dan dengan lambat naik ke atas din­ding lam­bung.

“Aku pergi, Kang.”

Kemu­dian menyu­sul bunyi benda jatuh ke laut.

“Mati!” teriak Wirang­gal­eng sekuat-kuat­nya. “Mau kau, Pada! Mati!”

Orang ber­la­rian naik ke gela­dak dan ber­ta­nya-tanya.

Juara gulat itu ber­to­lak ping­gang meng­ha­dapi mereka dan dengan nada resmi meng­u­mum­kan: “Telah kubu­nuh atas titah Gusti Adi­pati Tuban Arya Teja Tumeng­gimg Wil­wa­tikta, seo­rang pen­dur­haka bemama Pada. Kubu­nuh dan kulem­par­kan dia ke laut.”

Tanpa meng­gub­ris tang­gapan dan per­ta­nyaan ia ber­ja­lan menu­runi tangga gela­dak untuk men­da­pat­kan makan­nya.

Dari mereka yang tak suka pada Demak, sin­diran datang tanpa henti. Di anta­ra­nya yang tajam menu­suk: “Men­di­r­i­kan kera­jaan memang mudah. Cari­lah tempat yang sepi di peda­laman. Kalau musuh datang dari laut jangan dir­i­kan di tepi pantai. Kalau takut musuh menyerbu dari gunung, jangan dir­i­kan di tepi pantai. Kalau kha­wa­tir musuh datang dari lembah, jangan dir­i­kan di tepi pantai. Kalau was-was musuh datang dari langit, jangan dir­i­kan di tepi pantai!”

Lama kela­maan sin­diran men­ca­pai pun­cak­nya dalam bentuk yang sema­kin jelas: Di peda­laman saja, saha­bat, di peda­laman, karena Peranggi bakal datang!

Sin­diran itu dinya­nyi­kan orang di mana-mana, juga di tengah-tengah Demak sen­diri.

Putra mah­kota Demak, Adi­pati Kudus Pange­ran Sab­rang Lor, tak dapat meneng­gang semua itu. Pada setiap kesem­patan ia memer­lu­kan menang­kis: “Mereka bilang, Peranggi lelan­a­nging jagad, mengu­a­sai segala yang dili­hat­nya. Mereka, Peranggi, belum lagi meli­hat Demak. Suruh dia meli­hat Demak, dan dia akan meli­hat kubur­an­nya sen­diri.”

Putra mah­kota juga yang pada suatu kali meng­ha­dap ayah­an­da­nya. Sultan Syah Sri Alam Akbar Al-Fattah, memo­hon satu kesa­tuan balat­en­tara pilihan. Dengan modal itu ia menyerbu Jepara men­du­duki dan mengu­a­sa­i­nya. Kini Demak punya bandar sen­diri. Putra mah­kota diang­kat jadi Adi­pati Demak dengan gelar Adi­pati Unus. Dan Unus dimasy­hur­kan seba­gai nama seo­rang nabi pengu­asa laut. Ia pun diang­kat oleh ayah­an­da­nya jadi men­teri urusan manca negara. Itulah jawaban Demak ter­ha­dap sin­diran takut pada Peranggi.

Tetapi orang masih tetap tidak per­caya pada sesum­bar putra mah­kota. Sin­diran terus juga datang.

Por­tu­gis men­du­duki Malaka.

Seka­rang sin­diran lain lagi bunyi­nya: “Lihat, Peranggi sudah men­du­duki Malaka. Demak men­du­duki Jepara. Mereka hanya akan ber­pan­dang-pan­dangan dari bandar masing-masing, sampai kedua-duanya bosan dan tak ber­pan­dang-pan­dangan lagi.”

Adi­pati Unus Jepara pada suatu kesem­patan di hadapan para pung­gawa, yang ditu­gas­kan mem­ba­ngun galangan-galangan besar, ber­kata: “Keta­hu­i­lah, bila kelak Peranggi tidak datang ke Jepara untuk menan­tang Demak, maka dari Jepara akan datang Demak ke Malaka menen­tang Peranggi.”

Sin­diran-sin­diran padam sete­lah jelas Adi­pati Unus Jepara tidak ting­gal ber­sum­bar-sumbar. Galangan-galangan kapal diper­ba­nyak dan diper­be­sar. Kapal perang dan niaga diba­ngun­kan. Dida­tang­kan­nya penge­cor-penge­cor dari Blam­bangan. Dan ia tidak peduli pandai-pandai itu ber­a­gama Hindu. Ditem­pat­kan mereka di desa Bareng untuk mem­bi­kin cet­bang yang diren­ca­na­kan­nya sen­diri, khusus untuk meng­ha­dapi Peranggi.

Perin­tah-perin­tah­nya sangat keras. Semua peker­jaan harus sele­sai pada wak­tu­nya.. Per­mun­cul­an­nya mener­bit­kan kegen­taran pada para pekerja. Kayu keras dida­tang­kan dari Kali­man­tan untuk lunas­dan Hang kapal. Dan waktu pandai-pandai di Bareng diang­gap­nya kurang cepat bekerja, mereka dipin­dah­kan ber­sama beng­kel­nya ke ping­giran bandar jepara.

Dengan demi­kian Jepara diha­dap­kan­nya ke Malaka.

Galeng men­da­rat di bandar Yuana – bandar milik Tuban yang ter­le­tak di wila­yah paling barat, sete­lah Jepara jatuh ke tangan Demak

Bandar Jepara sedang giat-giat­nya bekerja waktu ia datang. Ia ber­ja­lan lambat-lambat, meli­hat-lihat peman­dangan di kiri, kanan dan depan­nya Sengaja ia per­li­hat­kan diri seba­gai orang baru yang tidak tahu sesu­atu apa. Tak ada seo­rang pun dike­nal­nya.

Duduk­lah ia di bawah seba­tang pohon kenari. Semua orang nampak sibuk. Tak ada orang ber­leng­gang-kang­kung dengan tangan kosong. Di sana orang sedang meng­go­tong atau memi­kul balok dan papan. Di sini orang sedang menum­puk kayu. Dari mana-mana datang bunyi orang mem­be­lah, memo­hon atau ber­seru-seru mem­beri perin­tah, Dalam bedeng-bedeng tanpa din­ding orang sedang meleng­kung­kan papan yang dipa­tok-patok dengan kayu pada tanah dan memang­gang leng­kungan dengan api. Dan kapal-kapal besar yang sedang diga­lang adalah lak­sana kerangka ikan rak­sasa yang sedang dir­u­bung semut. Gero­bak-gero­bak beroda kayu untuk mondar-mandir meng­ang­kuti pasir, batu dan kayu. Di tempat yang paling jauh orang sedang mem­ba­dari batu karang untuk dibi­kin kapur.

Semua serba ber­beda dengan di bandar Tuban, juga dengan di bandar galangan Glen­dong.

Mereka akan segera menge­nali aku seba­gai pen­da­tang baru, pikir juara gulat itu. Ia bang­kit ber­diri waktu sese­o­rang memang­gil­nya sambil melam­bai­kan tangan. Pakai­an­nya sama juga dengan orang Tuban.

“Hai, kau! Tidak bekerja?”

Seka­li­gus ia dapat menang­kap, akhir suku kata yang di tem­pat­nya dise­but­kan jadi a miring, di sini jadi o miring.

Belum lagi ia sempat men­ja­wab orang itu sudah mene­rus­kan: “Ha, pen­da­tang baru. Kebe­tulan. Apa bisa kau ker­ja­kan? Menu­kang? Besar betul badanmu.”

“Hanya memi­kul,” jawab juara gulat itu meni­ru­kan lidah Jepara.

“Baik,… Man ikuti aku. Kami keku­rangan pemi­kul”

Dengan demi­kian mulai­lah Wirang­gal­eng bekerja seba­gai pemi­kul balok, mondar-mandir dari penum­pukan ke galangan. Men­je­lang matari teng­ge­lam orang mem­ba­wa­nya ke bedeng tidur di daerah pela­buhan itu juga. Sete­lah makan malam orang pun mere­bah­kan diri ber­ja­jar-jajar seperti di asrama di Tuban dulu, hanya ambin di sini tidak dari kayu, selu­r­uh­nya dari bambu dan pelu­puh. Dan kepin­ding menye­rang dari segala pen­juru.

Kele­lahan menye­bab­kan orang segera ter­ti­dur. Namun tidak semua menye­rah­kan diri pada mimpi. Tak kurang orang sengaja menunda kantuk sesuai dengan pesan orang tua-tua untuk bel­a­jar sesu­atu dari orang Iain, men­de­ng­ar­kan wejangan, berita, untuk mening­kat­kan penge­ta­huan.

Pada malam per­tama juara gulat itu meng­gol­ek­kan tubuh­nya yang besar di sam­ping-menyam­ping orang-orang yang belum dike­nal­nya. Ia tahan­kan bau yang keluar dari pakaian mereka. Dan ia tak men­coba mem­buka mulut. Ia ber­u­saha men­de­ng­ar­kan segala apa yang dapat dide­ng­ar­nya.

Dari kege­lapan bebe­rapa depa dari tem­pat­nya ia dengar seo­rang pekerja ber­kata pada teman-teman­nya.

“Kera­jaan itu, Islam atau tidak Islam, diku­a­sai oleh raja yang menen­tu­kan aturan praja. Aturan itu tak banyak beda­nya pada semua kera­jaan, ada hukuman dan ada karu­nia. Kalian hanya harus mema­tuhi dan men­ja­lan­kan, dan semua akan ber­ja­lan beres. Kalian pasti sela­mat tak kurang suatu apa.”

“Apakah kau pernah hidup di dalam istana?”

“Tidak.”

“Tahu­kah kau, banyak juga orang yang sudah men­ja­lan­kan dan mema­tuhi aturan dengan sepa­tut­nya namun dibu­nuh juga oleh raja?”

“Mesti ada sebab­nya, ada kesal­ah­an­nya. Misal­nya karena cem­buru kalau-kalau orang itu akan meng­gu­ling­kan­nya.”

“Betul, itu memang ada,” orang lain mem­be­nar­kan.

“Boleh jadi raja itu meng­hen­daki istri atau anak­nya yang cantik.”

Jan­tung Wirang­gal­eng ber­de­bar-debar. Idayu muncul dalam peng­li­hatan batin­nya. Tapi segera kemu­dian lenyap oleh kata-kata orang ter­se­but.

“Itu nama­nya raja lalim. Dalam kera­jaan Islam tak ada raja lalim, semua adil.”

“Baik­lah tak ada raja Islam yang lalim. Seki­ra­nya raja Islam itu lalim, siapa yang meng­hu­kum­nya? Atau­kah tidak akan dihu­kum seperti halnya dengan raja-raja Syiwa atau Buddha atau Wisynu?”

Juara gulat itu tak mampu lagi meng­i­kuti per­de­batan. Piki­ran­nya sibuk mengu­rus kekha­wa­tiran­nya sen­diri.

Bebe­rapa minggu kemu­dian tahu­lah ia, pekerja yang suka mem­be­ri­kan cera­mah itu tak lain dari seo­rang musa­fir Demak, seo­rang di antara para pemasy­hur Demak dan Sultan Sri Alam Akbar Al-Fattah. Ia mena­ma­kan diri Hayat­ul­lah. Orang yang sudah menge­nal­nya sejak kecil memang­gil­nya Ang­goro, bukan Ang­gara, karena dila­hir­kan pada hari Ang­gara. Pada suatu malam Hayat­ul­lah mene­rang­kan pada teman-teman­nya, ada banyak putra Adi­pati Tuban yang telah meng­i­kat kese­ti­an­nya pada Demak, dan tak lama lagi Tuban pasti men­jadi daerah Demak.

“Betapa hebat­nya kera­jaan Islam per­tama-tama ini,” ia mene­rus­kan dalam kege­lapan bang­sal tidur. “Belum sebe­rapa umum­nya, tapi lebih baik dari­pada semua kera­jaan yang pernah ada. Dahulu seo­rang raja dapat ber­se­lir tanpa batas, dan selir-selir celaka itu tak punya hak sesu­atu….”

Dari ujung ambin sese­o­rang mem­ben­tak “Tutup mulutmu. Kalau kau tak tahu ten­tang istana, jangan mem­bual.”

Dalam kege­lapan itu Wirang­gal­eng mem­ba­yang­kan Hayat­ul­lah ter­du­duk dari rndan men­cari-cari penyang­kal­nya, karena tak lama kemu­dian ter­de­ngar musa­fir Demak itu mena­nya.

“Siapa itu? Adakah kau sen­diri isi istana? Kalau isi istana meng­apa ting­gal dalam bang­sal gelap ini? Atau kira-kira kau seo­rang pange­ran ter­sa­sar?”

“Tidur kau!” bentak suara orang tak dike­nal itu. “Sudah malam, dan besok pagi masih harus bekerja. Kalau tak tahu ten­tang istana, seba­ik­nya kau ber­ta­nya padaku. Semua selir raja punya hak, per­tama gelar untuk anak-anak­nya, hak kep­ra­jaan, kedua tanah yang harus diga­rap oleh orang desa, ketiga peng­a­kuan atas anak-anak­nya seba­gai anak sah raja. Itu seka­dar­nya saja ten­tang selir. Sudah, jangan beri­sik.”

Ter­nyata Hayat­ul­lah tak mau diam. Dengan berapi-api ia ganti menyang­kal: “Itu katamu. Siapa yang men­ja­min hak-hak itu dilak­sa­nakan?”

“Goblok kau! Men­teri-dalam mengu­rus semua itu.”

“Siapa men­ja­min Men­teri-dalam mela­ku­kan kewa­ji­b­an­nya?”

“Yang men­ja­min Hayat­ul­lah alias Ang­goro tentu,” penyang­kal itu ber­seru jeng­kel, kemu­dian sengaja mem­per­de­ng­ar­kan kuap­nya.

“Jangan mem­per­main-main­kan aturan, kau,” Hayat­ul­lah mem­per­i­ng­at­kan. “Kalau jaminan aturan mesti ber­laku tidak ada, tak usah orang bicara ten­tang aturan. Beda dalam kera­jaan Islam. Jangan pura-pura tidur, kau. Deng­ar­kan biar kau tahu sedi­kit ten­tang Demak, karena bagai­man­a­pun kalian seka­rang ini tak lain dari kawula Demak.”

Per­ten­tangan itu menye­bab­kan orang-orang diam men­de­ng­ar­kan.

“Raja Islam hanya boleh ber­is­tri empat, dan semua mereka punya hak yang diatur di dalam Alki­tab. Dahulu aturan-aturan ditu­lis dalam sera­tus lembar lontar yang bemama Niti­sas­tra.”

Sese­o­rang ter­de­ngar ter­tawa ber­ba­hak meng­e­jek.

“Hayat­ul­lah! Tahu apa kau ten­tang Niti­sas­tra? Mema­suki man­dala pun kau tak pernah. Mem­baca Jawa pun kau tak tahu….”

“Ada ratusan kali sera­tus lembar lontar aturan yang harus dipa­tuhi oleh raja Islam dan kawu­la­nya,” Hayat­ul­lah mene­rus­kan tanpa meng­gub­ris penyang­kal­nya.

“Aturan bukan hanya ada dalam Niti­sas­tra,” seo­rang lain menyang­kal dalam kege­lapan yang sama. “Ada banyak aturan dalam lontar yang kau tak tahu. Per­lu­kah aku sebut­kan satu-per-satu?”

“Biar pun lontar-lontar itu dua puluh kali sera­tus kali dua ratus… berapa saja kau sebut­kan, sama saja,” Hayat­ul­lah mene­rus­kan, “tak dapat diban­ding­kan dengan Alqur’an atau Alki­tab atau Alfur­kon, karena kitab ini ber­a­sal dari Allah mela­lui rasul­nya. Lontar itu hanya ber­a­sal dari para raja dan para empu, para pujangga.”

Untuk ke sekian kali­nya Wirang­gal­eng telah ter­ti­dur sebe­lum cera­mah sele­sai.

Di siang hari sewaktu bekerja ia men­coba mem­per­ha­ti­kan Hayat­ul­lah. Tubuh­nya kecil rapuh, otot-otot­nya pendak dan tipis, tetapi ia bekerja tanpa henti-henti. Seakan sedang menge­r­ja­kan sawah dan ladang sen­diri. Mata­nya tidak tenang, piki­ran­nya seperti selalu mela­yang ke mana-mana. Pada waktu isti­ra­hat siang selalu ia pergi menyen­diri mem­bawa lodong bambu berisi air tawar, mem­ba­suh tangan, muka, dahi rambut dan kaki, meng­ge­lar tikar di bawah seba­tang pohon, kemu­dian ber­se­m­bah­yang. Di malam hari ia muncul di bang­sal tidur bila orang sudah pada ber­golek di tikar masing-masing dan ia lang­sung ber­ce­rita atau mem­buka per­so­alan seperti dila­ku­kan oleh para guru-pem­bi­cara di desa-desa. Beda­nya, para guru-pem­bi­cara di desa-desa bicara pada mereka yang mem­pu­nyai per­ha­tian, musa­fir Demak ini bicara terus tak peduli ada yang dengar atau tidak.

“Sia­pa­kah putra-putra Tuban di Demak?” Galeng mem­be­ra­ni­kan diri ber­ta­nya.

“Lidahmu seperti lidah Tuban,” tegur Hayat­ul­lah.

‘Tidak.”

“Dari Lao Sam barang­kali?”

“Dua-duanya tidak,” jawab juara gulat itu.

“Memang tidak ada urus­anku dengan asalmu. Putra-putra Tuban yang ter­ke­muka di Demak ialah Raden Kusnan, Pung­gawa-dalam. Yang lain Raden Said, ang­gota Majlis Kera­jaan. Orang memang­gil­nya juga Ki Aji, Kali­jaga, dan lebih suka dipang­gil demi­kian. Dibu­ang­nya Raden lelu­hur sen­diri dari Maja­pa­hit dulu, digan­ti­nya dengan Ki Aji, gelar pem­be­rian orang yang men­cin­ta­i­nya.”

“Meng­apa dibu­ang gelar dari lelu­hur­nya?”

“Gelar kafir itu tak mengan­dung sesu­atu arti di dalam­nya. Dalam Islam, hanya per­bu­atan orang yang dini­lai oleh sesama dan oleh Allah. Per­bu­atan atau amal Ki Aji Kali­jaga luar biasa agung­nya. Deng­ar­kan ceri­ta­nya, karena barang­kali di Tuban sen­diri tak pernah kau dengar.”

Di Tuban sen­diri memang tak pernah ter­de­ngar.

“Beliau telah ting­gal­kan Tuban dan meng­em­bara ke mana-mana untuk memasy­hur­kan Islam. Beliau keluar-masuk desa-desa. Beliau tidak bicara di balai-balai desa seperti para guru-pem­b­kara yang tak tahu apa-apa ten­tang wahyu Allah itu. Beliau lebih suka memi­lih tempt di bawah-bawah pohon rin­dang, meng­a­jak anak-anak ber­main-main dan ber­ce­ri­ta­lah beliau ten­tang kisah para nabi dan muk­ji­zat­nya. Lama-kela­maan ibu-ibu mereka ikut men­de­ng­ar­kan. Kemu­dian juga para bapak.”

“Apa kisah para nabi itu? Apakah sama dengan kisah para dewa?”

“Cet, cet, jangan sama­kan nabi dengan dewa, karena nabi memang bukan dewa. Nabi sung­guh-sung­guh pernah ada, pernah hidup di atas bumi dan di antara manu­sia, mene­rima wahyu lang­sung atau tidak lang­sung dari Allah. Dewa-dewa tak pernah hidup di atas bumi dan selalu ngawur.”

“Siapa bilang para dewa tidak ada?”

“Kalau pernah ada, mana ketu­run­an­nya? Hadap­kan padaku seo­rang saja di antara.” Mereka yang tidak setuju dan jeng­kel mulai ber­so­rak-sorak meng­e­jek. Wirang­gal­eng diam mem­per­ha­ti­kan seba­gai­mana biasa pada waktu ia di balai-desa men­de­ng­ar­kan seo­rang guru-pem­bi­cara. Waktu ejekan telah reda, ter­de­ngar lagi suara Hayat­ul­lah yang tak meng­a­cuh­kan gang­guan.

“Begi­tu­lah pada suatu kali Raden Said sampai ke sebuah desa. Mereka adalah orang-orang kafir penyem­bah Sang Kali”

“Apa kafir itu?”

“Mereka yang tidak per­caya dan tidak tahu ajaran para nabi. Ingat-ingat, kafir nama­nya. Jadi setiap penyem­bah ber­hala, yang nampak atau tidak, ter­ma­suk Sang Kali, kafir nama­nya.”

“Ngawur, kau, Hayat­ul­lah, tak ada orang menyem­bah Sang Kali Orang hanya menyem­bah Sang Maha Buddha” Galeng mem­ban­tah karena ter­sing­gung. “Kalau kau bilang Sang Maha Buddha tak pernah ada, lebih baik pecah­kan saja kepa­lamu sen­diri.”

Tetapi Hayat­ul­lah tak peduli dan mene­rus­kan. “Anak-anak itu pada datang, ibu-ibunya, bapak-bapak­nya. Kemu­dian juga tetua desa. Per­ten­tangan pen­da­pat ter­jadi, per­de­batan, sehari, seminggu, dua bulan. Tak ada di antara tetua desa dapat menga­lah­kan beliau. Begi­tu­lah akhir­nya mereka dapat ditau­bat­kan.”

“Apa arti­nya ditau­bat­kan?”

“Diya­kin­kan akan kebe­naran Islam, dan mem­bawa mereka masuk Islam. Mereka mening­gal­kan Sang Kali. Mereka menyem­bah Allah dan men­de­ng­ar­kan perin­tah dan mening­gal­kan larangan-Nya.” Ia diam seben­tar. “Kau sudah tidur?” dan waktu ia masih men­de­ngar jawaban, ia mene­rus­kan, “sejak itu beliau dipang­gil Ki Aji Kali­jaga, Ki Aji, yang men­jaga agar Sang Kali takkan kem­bali untuk selama-lama­nya. Dan seka­rang Ki Aji duduk dalam majlis kera­jaan Demak. Tidak sem­ba­rang orang bisa. Raja Maja­pa­hit pun takkan bakal mampu laku­kan peker­jaan itu, karena peker­ja­an­nya adalah menu­run­kan ajaran nabi di dalam kep­ra­jaan. Memang hanya empat kali dalam sebu­lan sidang­nya, tetapi menen­tu­kan. Enam hari dalam seminggu Ki Aji Kali­jaga mene­rus­kan peker­ja­an­nya yang dalam, memasy­hur­kan Islam dan Demak di desa-desa.”

Wirang­gal­eng telah ter­ti­dur.

Dalam peker­jaan sehari-hari ia menge­ta­hui, pem­bi­kinan kapal-kapal perang dan niaga itu ber­ja­lan sangat cepat, tidak seperti di Glon­dong. Sebuah kapal ter­be­sar, yang akan diper­gu­na­kan jadi kapal ben­dera akan dapat meng­ang­kut lima ratus pra­ju­rit laut dengan empat belas cet­bang besar pada haluan dan lam­bung. Badan kapal itu akan dilepa dengan tujuh lapis adonan kapur dengan minyak kelapa. Peluru Peranggi diper­ki­ra­kan takkan dapat menem­bus­i­nya.

Orang tak banyak mem­bi­ca­ra­kan kapal yang mereka sedang bikin sen­diri. Di dalam bang­sal tidur apa­lagi. Justru soal-soal lain yang orang per­ca­kap­kan.

Pada malam-malam selan­jut­nya Hayat­ul­lah tak muncul. Bebe­rapa orang, meng­ang­gap itu suatu kebe­run­tungan, karena si peng­ganggu tidur mem­bi­ar­kan mereka mele­pas­kan lelah dengan damai. Seba­lik­nya bebe­rapa orang yang sudah ter­bi­asa men­de­ng­ar­kan para pem­bi­cara di desa-desa menya­ta­kan, tak ada bur­uk­nya orang menge­ta­hui hal-hal baru yang ter­jadi di atas dunia manu­sia ini.

Lama-kela­maan keta­huan juga Hayat­ul­lah tak seo­rang diri meng­hi­lang di malam hari. Bebe­rapa orang ter­nyata meng­i­kut­i­nya. Di siang hari seka­rang ia nampak tidak seo­rang diri ber­se­m­bah­yang. Ia telah mem­pu­nyai peng­i­kut, dari dua jadi enam, dari enam jadi dela­pan. Ter­he­ran-heran orang waktu kemu­dian menge­ta­hui, tak lain dari Sang Adi­pati Unus Jepara sen­diri yang meme­rin­tah­kan pem­ba­ngu­nan rumah sem­bah­yang di tempat Hayat­ul­lah biasa ber­se­m­bah­yang.

Dan sejak itu mereka tak lagi ber­se­m­bah­yang di tempat ter­buka, ter­lin­dung dari hujan dan angin dan panas.

Pada suatu tengah malam Hayat­ul­lah muncul lagi. Tetapi ia bukan pem­bi­cara cere­wet yang dulu. Ia sudah jadi orang lain. Tak seo­rang pun berani meng­e­jek atau menyor­a­ki­nya walau­pun tidak setuju. Kata-kata­nya mulai dide­ng­ar­kan oleh semua orang dengan sung­guh-sung­guh – suka atau tidak suka.

“Bukan­kah pem­bi­kinan rumah sem­bah­yang itu, tempat orang menyem­bah Hyang baru itu, mengu­rangi kela­juan pem­bi­kinan kapal?” sekali waktu sese­o­rang ber­ta­nya dalam kege­lapan.

“Meng­apa tidak tidur saja di rumah sem­bah­yang?” seo­rang lain lagi ber­ta­nya.

“Bagai­mana kau dapat menga­ta­kan pem­bi­kinan rumah itu menyen­dat­kan pem­bi­kinan kapal? Kapal dan Islam akan bela­yar ber­sama-sama, tidak tunggu-menunggu. Apakah arti kera­jaan Islam kalau Islam tak ber­kem­bang di antara kawu­la­nya? Tidak seperti Hindu dan Buddha, orang-orang desa harus bangun­kan sen­diri asrama, man­dala dan per­gu­r­uan sen­diri. Sedang kapal-kapal itu guna­nya untuk menum­pas Peranggi yang jelas-jelas, memu­suhi Islam. Peranggi tak boleh mema­suki Nusan­tara, apa­lagi Jawa, karena cepat atau lambat semua pen­du­duk­nya akan masuk Islam.”

“Mana mung­kin. Apakah semua kami harus masuk Islam?”

“Tak ada yang memaksa kalian masuk Islam. Adakah aku memaksa kalian masuk Islam dan ber­tau­bat? Adakah pem­bi­cara di desa-desa memaksa kalian mem­per­ca­yai dan meng­i­kut­i­nya?Tetapi karena aturan Islam adalah yang ter­baik, dia akan menga­lah­kan yang kurang baik dan yang tidak baik. Ada pun aku tidak ting­gal di rumah sem­bah­yang, walau sudah ber­din­ding dan ber­pintu, tung­gu­lah, lain waktu kalian akan tahu lebih baik.”

Hayat­ul­lah mene­rus­kan kata-kata­nya ten­tang aga­ma­nya.

Wirang­gal­eng tak men­de­ng­ar­kan lagi walau­pun belum tidur. Ia telah temu­kan yang dica­ri­nya: Adi­pati Unus Jepara mem­per­si­ap­kan armada untuk menye­rang Malaka, untuk melin­dungi Islam, bukan untuk memang­gil keja­yaan dan kebe­saran masa silam pada gua­garba hari depan. Unus akan mem­ba­ngun­kan keja­yaan dan kebe­saran ter­sen­diri, bukan kebe­saran dan keja­yaan Maja­pa­hit. Ia tak dapat bayang­kan kebe­saran dan keja­yaan macam apa itu, dan ia merasa tak ikut jadi bagian dari pada­nya.

Pada kee­sokan hari­nya ia ting­gal­kan peker­ja­an­nya dan pindah ke beng­kel pandai. Cet­bang-cet­bang buatan pandai Bareng itu ter­nyata lebih besar dari­pada buatan Tuban. Empat orang takkan kuat memi­kul­nya, sedang bilik-ledak­nya meng­ge­lem­bung sebe­sar buah kelapa. Ia tak dapat bayang­kan sebe­rapa besar peluru yang akan dilem­par­kan dari bilik ledak sebe­sar itu. Ia sen­diri belum pernah meli­hat peluru cet­bang.

Dua bulan kemu­dian ia ting­gal­kan juga peker­jaan baru­nya.

Seo­rang diri ia ber­ja­lan kaki mema­suki Demak. Tetapi tak ada sesu­atu yang pen­ting dida­pat­kan­nya. Ia sak­si­kan penyem­pur­naan pem­ba­ngu­nan mesjid raya, pem­ba­ngu­nan jaian-jalan raya yang melin­tasi desa-desa dan tanah-tanah pera­wan menuju ke Sema­rang. Ia pernah meli­hat Raden Kusnan dari keja­uhan. Ia pernah meli­hat Ki Aji Kali­jaga sedang mema­suki mesjid. Orang yang ter­so­hor itu ber­pa­kaian seperti baga­wan, ber­kain baik tanpa wiru, ber­des­tar batik dan ber­ke­ro­bong kain batik untuk penu­tup badan-atas­nya. Kaki­nya tak ber­alas sedang destar nampak begitu long­gar di kepa­la­nya dengan ikatan ber­gaya khusus. Ujung-ujung destar itu jatuh lung­lai pan­jang-pan­jang pada bahu­nya. Dan di bawah destar tak nampak ada rambut.

Ber­beda dengan di Jepara, di Demak di mana-mana orang bicara ten­tang armada yang sedang diper­si­ap­kan dan ten­tang sekutu Demak yang akan ber­ga­bung dalam armada kesa­tuan, semua kera­jaan Islam ter­ma­suk Tuban.

Kete­rangan itu bagi­nya telah berisi segala-gala­nya, walau­pun ia belum meng­erti betul duduk-per­ka­ra­nya. Kalau Demak satu-satu­nya kera­jaan Islam di Jawa, meng­apa Tuban dan Banten juga diang­gap seba­gai kera­jaan Islam? Ia anggap itu bukan masa­lah­nya. Yang jelas: Demak punya sekutu, armada gabungan akan diben­tuk, semua akan menye­rang Malaka.

Sete­lah lebih enam bulan mening­gal­kan Tuban ia merasa telah cukup men­ja­lan­kan tugas­nya untuk menge­ta­hui segala sesu­atu ten­tang per­si­apan Adi­pati Unus Jepara. Ia ber­mak­sud pulang. Di ting­gal­kan­nya Demak dan berang­kat kem­bali ke Jepara.

Sesam­pai­nya di bandar Jepara ia meli­hat serom­bongan orang menge­jar-ngejar dua orang ber­ku­lit putih ber­pa­kaian aneh. Yang seo­rang beram­but pirang, yang lain beram­but hitam. Kedua-duanya lari dengan gesit menye­la­mat­kan diri dari mata pedang dan mata tombak. Orang ber­so­rak-sorak menge­jar­nya.

Mereka berdua melom­pat ke dalam perahu besar, men­da­yung cepat ke tengah laut. Seben­tar kemu­dian layar­nya ber­kem­bang dan dengan laju­nya melun­cur ke arah timur lak­sana burung camar.

Para pem­buru pun ber­lom­patan ke dalam perahu dan menge­jar. Yang dike­jar makin lama makin jauh tiada ter­ca­pai, lebih unggul dari perahu-perahu para penge­jar. Maka penge­jaran tak dite­rus­kan.

Di bandar orang-orang pada duduk menyem­bah sese­o­rang yang ber­diri ber­to­lak-ping­gang dika­wal oleh bebe­rapa belas orang pra­ju­rit ber­pe­dang. Orang itu kemu­dian menu­ding-nuding ke arah lari­nya dua orang kulit putih ter­se­but dan mera­ung dalam bahasa Jawa lang­gam setem­pat: “Bodoh! Bagai­mana bisa mereka dibi­ar­kan ber­ke­li­aran di sini? Jawab, kau, Syah­ban­dar.”

“Ampun, Gusti, adapun pela­buhan Jepara ini tiada aturan meno­lak orang dari mana pun juga datang­nya.”

“Apa katamu?”

“Selama orang tidak meng­a­ju­kan per­mo­honan untuk mene­tap atau untuk ting­gal semen­tara di sini, Syah­ban­dar saja yang ber­we­nang meng­i­zin­kan atau meno­lak,” Syah­ban­dar Jepara mene­rang­kan. “Atau orang tidak mele­wati daerah bandar. Boleh saja.”

“Benar, meng­apa kau biar­kan mereka? Meng­apa kau izin­kan mereka?”

“Meng­apa, Gusti? Karena Jepara bandar bebas.”

“Apa kau kira ini bandar nenek-moyangmu sen­diri? Ini pela­buhan Demak, bukan pela­buhan siapa saja.”

“Ini pela­buhan bebas, Gusti,” Syah­ban­dar mem­bang­kang. “Keten­tuan itu belum pernah diubah oleh Gusti Kan­jeng Sultan atau­pun oleh Gusti Kan­jeng Adi­pati.”

Orang yang ber­diri ber­to­lak ping­gang itu ter­diam seje­nak. Tiba-tiba ia mele­dak lagi: “Baik. Kau ber­we­nang ter­ha­dap pela­buhan ini. Tetapi meng­apa mereka kau biar­kan ber­ge­lan­dangan mema­suki galangan-galangan dan beng­kel?”

“Belum pernah ada larangan.”

“Tidak­kah kau bisa ber­pi­kir. Itu tak boleh untuk mereka, pen­da­tang-pen­da­tang? ber­ku­lit putih itu?”

“Jepara pela­buhan bebas, Gusti.”

“Kau memang sudah tua. Tidak­kah kau ada kecu­r­i­gaan ter­ha­dap Peranggi? Mata-mata dari Malaka, atau ditu­run­kan dari kapal Peranggi?”

“Memang mereka Peranggi, Gusti, dan Jepara masih tetap pela­buhan bebas.”

“Kami akan per­se­m­bah­kan pada Gusti Jepara. Apa kebang­sa­anmu, Syah­ban­dar?”

“Koja, Gusti. Islam agama sahaya.”

Wirang­gal­eng duduk di bawah seba­tang pohon kenari dan meng­a­wasi keja­dian itu dengan diam-diam. Peranggi ter­nyata sudah mema­suki Jepara, pikir­nya, Jepara belum lagi men­je­nguk Malaka. Sung­guh berani orang-orang kulit putih itu hanya berdua mema­suki negeri orang yang memu­suh­i­nya.

“Sela­mat untukmu, Syah­ban­dar bukan Pri­bumi. Apa saja mereka per­buat di sini?” Syah­ban­dar tak dapat men­ja­wab. Orang lain yang men­ja­wab­kan: “Hanya meli­hat-lihat sambil ter­tawa-tawa, Gusti.”

“Mener­ta­wa­kan siapa?”

“Ampun, Gusti,” orang itu mene­rus­kan, “tak ada yang meng­erti baha­sa­nya.”

Wirang­gal­eng menang­guh­kan kepul­ang­an­nya. Keda­tangan dua orang kulit putih itu tentu saja sesu­atu keja­dian besar. Ia harus menge­ta­hui kelan­jut­an­nya.

Kelan­jut­an­nya adalah: Syah­ban­dar Jepara ditu­run­kan dari jabat­an­nya. Anak-lela­ki­nya yang meng­gan­ti­kan.

Men­de­ngar itu juara gulat itu ter­tawa pada dir­i­nya sen­diri. Sama saja, dari Koja yang satu pada Koja yang lain. Mau tak mau ia ter­i­ngat pada Moro Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa. Satu demi satu per­bu­at­an­nya yang ia pernah keta­hui ber­ba­ris di hadapan mata ing­at­an­nya. Apakah Syah­ban­dar Jepara ber­beda dari Syah­ban­dar Tuban? Apakah mereka lebih baik dari Rangga Iskak, per­a­nakan Beng­gala itu? Di Tuban orang tidak suka pada Rangga Iskak atau­pun Sayid Habi­bul­lah Ala­ma­sawa. Syah­ban­dar Jepara, lama atau baru, barang­kali sama saja. Ia pun meng­he­rani meng­apa Adi­pati Tuban dan Jepara masih juga meng­gu­na­kan orang asing.

Sebe­lum berang­kat ke Tuban ia memer­lu­kan minta diri pada orang-orang yang pernah dike­nal­nya. Ia pun datang ke galangan dan beng­kel. Hayat­ul­lah tak dijum­pa­i­nya. Ia temu­kan orang itu pada senja hari di rumah sem­bah­yang. Bebe­rapa orang murid meme­nuhi ruangan dalam. Orang itu nampak sedang meng­a­jar dengan sebuah kitab ter­buka di hadap­an­nya. Bebe­rapa orang murid meng­i­kuti segala kata yang diu­cap­kan­nya, kata-kata aneh yang ia tak tahu arti­nya.

Lama ia duduk di luar men­de­ng­ar­kan. Ia men­coba-coba meni­ru­kan, tetapi tak bisa. Ia deng­ar­kan Hayat­ul­lah mem­ba­ca­kan taf­sir­nya dalam bahasa Melayu, kemu­dian ter­je­mah­an­nya dalam bahasa Melayu, kemu­dian ter­je­mah­an­nya dalam bahasa Jawa: “Dengan nama Allah yang Maha Penga­sih dan Maha Penya­yang. Kata­kan: Ber­lin­dung aku pada…,” kata-kata selan­jut­nya Wirang­gal­eng tak meng­erti, “dari bahasa makh­luk yang dicip­ta­kan-Nya. Dan dari bahaya kege­lapan malam bila telah datang. Dan dari bahaya…. Dan dari bahaya orang dengki, bila ia merasa dengki….”

Kali­mat-kali­mat itu tak punya kesa­maan dengan acuan sastra Jawa. Ia tak dapat meng­i­kuti. Ia tetap tak meng­erti. Dan Hayat­ul­lah alias Ang­goro masih juga terus meng­a­jar.

Ia tak jadi minta diri. Diting­gal­kan­nya tempat duduk­nya, ber­ja­lan pelan menuju ke laut….


Bab 9

Esteban dan Rodriguez

Dua orang sepupu itu sudah ber­se­pa­kat untuk mela­ri­kan diri.

Mereka sudah bosan pada dinas­nya. Mereka ber­mak­sud hendak mewu­jud­kan impian lama: meng­em­ba­rai Nusan­tara seba­gai orang bebas, meli­hat negeri-negeri kafir dan pen­du­duk­nya yang masih per­begu.

Dua orang itu adalah pemuda-pemuda Por­tu­gis ketu­runan Spa­nyol, Este­ban del Mar dan Rodri­guez Dez. Dua-duanya kano­nir, penem­bak meriam pada kapal Peranggi.

Berita keme­nangan-keme­nangan Por­tu­gis di selu­ruh per­mu­kaan bumi, pene­muan negeri-negeri baru jauh-jauh di sebe­rang lautan yang tak ter­duga, keka­yaan yang datang ber­lim­pahan, telah memang­gil pemuda-pemuda Por­tu­gis, mening­gal­kan desa­nya masing-masing untuk meng­ga­bung­kan diri dengan armada-armada yang akan berang­kat bela­yar mene­rus­kan Perang Salib di sebe­rang lautan.

Juga Este­ban del Mar dan Rodri­guez Dez. Mereka tak mampu meno­lak godaan kebe­saran dan keme­nangan dan harta-henda dan kemas­y­hu­ran ini. Mereka ting­gal­kan juga ladang mereka dipe­ri­u­a­ran kota Lisboa dan men­daf­tar­kan diri. Dan mereka tak perlu kem­bali ke ladang seperti yang lain-lain. Mereka dite­rima sete­lah menyo­dor­kan uang sogokan.

Mulai­lah kedu­a­nya bekerja seba­gai awak kapal kemu­dian mening­kat jadi kano­nir, menga rungi samudra, menak­luk­kan negeri-negeri, meneg­ge­lam­kan kapal sau­da­gar-sau­da­gar asing beserta isinya ke dasar laut. Tak ada di antara kapal-kapal dari ber­ba­gai negeri itu mampu mela­wan. Dengan meriam segala yang nampak di laut dan di pesi­sir bisa dihem­bus­nya dari per­mu­kaan bumi.

Mereka pun ikut serta dalam perang laut di Teluk Parsi mela­wan armada gabungan negeri-negeri Islam yang dipim­pin oleh lak­sa­m­ana Mesir itu, dan menang dengan mudah. Sejak itu tak ada per­la­wanan lagi ter­ha­dap Por­tu­gis.

Por­tu­gis pengu­asa dunia! Dan mereka berdua bangga men­jadi putra bangsa yang besar, dita­kuti selu­ruh dunia itu.

Ia senang meli­hat kapal-kapal asing yang buyar ber­la­rian bila meli­hat salib rak­sasa yang ter­gam­bar pada layar. Mereka itu lak­sana tikus meli­hat kucing. Tangan mereka sen­diri yang meneng­ge­lam­kan. Mereka dapat rasai setiap peluru yang lepas, kena atau tidak. Setiap peluru yang mene­mui sasaran mem­be­ri­kan ketukan pada hati mereka, seakan mem­be­ri­ta­hu­kan: pelu­r­umu kena.

Tetapi kebe­saran dan kebang­gaan, kepah­la­wanan dan peng­em­ba­raan sema­cam itu, kehi­dupan tanpa per­u­ba­han, lama kela­maan mem­bo­san­kan mereka juga. Keje­muan setiap hari di tengah laut merin­du­kan mereka pada sesu­atu yang Iain. Selingan yang menye­nang­kan hanya seben­tar saja ter­jadi: semen­tara kapal men­da­rat. Mereka dapat meli­hat-lihat negeri yang ditak­luk­kan, menam­pil­kan diri seba­gai peme­nang tanpa lawan, men­da­pat­kan segala yang mereka kehen­daki. Sele­bih­nya hanya laut dan laut saja di keli­ling mereka, dan kapal-kapal musuh yang mela­ri­kan diri, dan langit, dan bin­tang-bin­tang di malam hari, dan badai di hari-hari sial. Mereka tak dapat­kan apa yang mereka rin­du­kan bela­kangan ini: kebe­basan dan kese­nangan yang tak ter­ba­tas.

Akhir-akhir hidup yang sesung­guh­nya adalah di daratan, mereka memu­tus­kan. Di laut tak ada yang mereka dapat kutip kecu­ali bila dia­da­kan pen­ce­gatan dan peram­pasan kapal. Tapi di darat! Segala-gala­nya ada di sana. Dada selalu dapat meng­ge­lem­bung dengan kebang­gaan seba­gai putra Por­tu­gis yang jaya, bangsa peme­nang, kawula raja peme­nang, awak kapal peme­nang, di atas daratan tak­luk­kan! Pri­bumi pada menying­kir bila peme­nang lewat. Orang meng­ang­guk mengi­a­kan dan menyi­la­kan bila peme­nang menu­ding­kan telun­juk pada sesu­atu dan setiap barang. Dan setiap kali meng­in­jak bumi kafir, ber­ge­mala­kan nama Jesus dalam hati: daratan ini akan segera dite­rangi oleh ajaran Isa Alma­sih.

Kebang­gaan seperti itu akhir­nya tak memu­as­kan juga. Dada pun jenuh dengan kebe­saran. Mereka meng­hen­daki lebih dari itu: kebe­basan, kese­nangan tanpa batas. Di darat pun kebe­basan seperti itu tak pernah mereka kenyam seba­gai awak kapal. Mereka ingin menyak­si­kan selu­ruh Nusan­tara, yang begitu disan­jung dalam cerita, kadang juga dalam nya­nyian. Mereka tak puas hanya meli­hat dan men­ja­mah pantai-pan­tai­nya yang diger­ma­ngi nyiur. Mereka ingin juga men­de­ng­ar­kan musik­nya, yang kata orang tegap dan men­ja­mah dan melun­curi laut dan gen­dang dan gong­nya yang ber­bu­nyi tandas sampai meng­a­duk dasar hati.

Ter­ta­rik oleh cerita yang menye­bar ke mana-mana sejak orang tua-tua dulu, yang mung­kin men­de­ng­ar­nya dari orang-orang Moro atau Sep­hari, mereka berdua mem­buat per­se­pa­katan untuk menge­la­nai Nusan­tara. Untuk itu jalan­nya hanya satu: mela­ri­kan diri dan punya perahu sen­diri.

Imam kapal, Mario Fase­tti, orang Italia itu, tak bosan-bosan meng­u­langi pesan dalam khot­bah-khot­bah­nya, ‘Jangan masuki daerah kafir tanpa perin­tah, karena kalian akan mem­ba­wa­kan kabar duka, bukan suka. Tak ada terang Allah di setiap jeng­kal tanah kafir.’ Pesan itu malah diu­langi bebe­rapa kali dalam sekali khot­bah, sete­lah keta­huan ada awak kapal yang mela­ri­kan diri, dan tak kem­bali pada kesa­tuan, atau kem­bali seba­gai tang­kapan.

Tetapi awak kapal yang lari itu dan tak ter­tang­kap lagi, mereka tak bakal muncul, ber­ta­hun-tahun, dan kem­bali ke tanah air, ber­pin­dah ke kota lain, mem­bawa harta-benda dan cerita-cerita indah, benar dan bohong juga nya­nyian baru, yang menye­bab­kan mereka jadi ter­so­hor.

Memang benar seba­gian ter­be­sar pela­rian itu hilang untuk selama-lama­nya dan dilu­pa­kan orang. Itu semua orang tahu. Dan itu pun sudah jadi bea kebe­basan. Maka Este­ban del Mar dan Rogri­guez Dez tak ambil peduli. Semua memang ada risi­ko­nya. Mereka ingin juga jadi kaya dan ter­so­hor seka­li­gus.

Sete­lah Por­tu­gis di bawah Alfonso d’Albu­qu­er­que mengu­a­sai Malaka dan ting­gal bebe­rapa bulan di sana untuk mela­ku­kan pena­taan kem­bali kehi­dupan baru di bawah sang salib, mereka berdua giat mem­pel­a­jari bahasa Melayu dari pen­du­duk Tanpa bahasa itu mereka takkan mung­kin dapat ber­diri sen­diri.

Pada seo­rang Pri­bumi mereka meme­san agar dibu­at­kan sebuah perahu layar yang ram­ping menu­rut petun­juk mereka sen­diri. Sete­lah jadi, perahu layar kecil itu mereka sem­bu­nyi­kan di sebuah ceruk bebe­rapa belas kilo­me­ter di selatan bandar, di bawah pen­ja­gaan si pem­bi­kin­nya.

Sedi­kit demi sedi­kit ditim­bun­nya barang keper­lu­an­nya di dalam perahu itu: terigu, keju, men­tega, arak – semua diper­o­leh­nya dari gudang per­be­kalan di bandar Malaka.

Men­je­lang Dese­m­ber 1512, waktu Por­tu­gis menyi­ap­kan armada untuk menuju ke Maluku, mereka berdua mela­ri­kan diri. Mereka ber­ha­sil meng­gon­dol musket dengan mesiu, tero­pong, peta dan alat tuhs-menu­lis.

Tak sulit mereka men­da­pat­kan­nya. Dan itu pun secara kebe­tulan pula. Waktu itu bebe­rapa orang ser­dadu yang sedang ber­di­nas jaga sedang ber­pesta-pora meng­ha­bis­kan arak curian. Mereka berdua menyer­ta­i­nya ber­da­sar­kan undangan gelap dengan hanya lam­baian tangan. Dan mereka per­gu­na­kan kesem­patan ini.

Meli­hat yang lain-lain sudah pada meng­ge­lo­yor tanpa daya dalam kema­bo­kan, Este­ban dan Rodri­guez masuk ke dalam kantor dan meng­go­dol apa saja yang dapat diam­bil.

Mereka lari ke selatan, turun ke atas perahu layar­nya, mengem­bang­kan layar dan berang­kat. Belum pernah mereka merasa begitu riang seperti kali ini. Matari pagi mulai menyi­nari pesi­sir pulau Suma­tra yang kelam oleh hijau tua rimba belan­tara. Perahu-perahu nela­yan dan kapal-kapal dagang bela­yar damai.

Dari penge­ta­huan sejak di negeri sen­diri mereka sudah tahu: di dunia ini tak ada bangsa kafir yang memi­l­iki sen­jata ampuh kecu­ali Por­tu­gis, musket dan meriam dengan gaya ledak tinggi. Musket ada pada mereka. Dan mereka tak perlu merasa kha­wa­tir ter­ha­dap bajak laut. Pedang dan tombak para pem­ba­jak pasti akan ter­nyata meleng­kung ber­ha­dapan dengan musket. Mereka ber­hati besar. Tak akan ada yang meng­ha­langi pela­yaran mereka.

Mereka tahu juga: kapal dagang Pri­bumi tak pernah beru­bah jadi kapal bajak. Dan kapal-kapal perang Pri­bumi, yang segera nampak dari keja­uhan karena lubang-lubang pen­da­yung pada sepan­jang lam­bung kapal, juga tidak ber­ba­haya selama tidak diganggu ter­le­bih dahulu. Mereka ber­ba­haya karena cet­bang­nya, tapi tak pernah menem­bak tanpa alasan. Pen­dek­nya tak bakal ada sesu­atu yang meng­ha­langi pela­yaran mereka.

Mereka ber­gan­tian tidur, menge­mudi dan masak.

Mereka menying­gahi bandar-bandar kecil, sepan­jang pantai Suma­tra untuk men­da­pat­kan kelapa dan daging dan air minum dan sayur-mayur dan buah-buahan. Di mana pun tak ada yang meng­ganggu. Walau seke­cil-kecil­nya bandar kebe­basan ber­ni­aga ter­ja­min. Setiap orang boleh men­da­rat dan ber­jual beli dengan bebas. Dan bandar-bandar itu selalu ber­sa­ing satu dengan yang lain untuk men­jadi per­sing­gahan rempah-rempah.

Di setiap bandar segera dua orang petu­a­lang itu men­jadi keru­munan orang banyak. Kulit mereka, wajah mereka dan bahasa mereka yang aneh, segera mena­rik per­ha­tian. Dan mereka senang men­jadi ton­tonan. Dan setiap bandar yang dising­gah­i­nya selalu tidak sama dengan yang di Spa­nyol atau Por­tu­gis atau Italia. Tak pernah mereka meng­a­lami peng­a­n­i­a­yaan. Seba­lik­nya keka­saran justru akan datang dari sebang­sa­nya sen­diri. Teman-teman mereka pada suatu kali bisa beru­bah jadi pem­buru-pem­buru yang akan menang­kap­nya untuk men­da­pat­kan uang tebusan. Atau bisa juga datang dari pihak orang-orang Spa­nyol yang mung­kin akan men­ju­al­nya pada bajak-bajak laut Maroko atau Tuni­sia.

Mereka telah menying­gahi bandar Ban ten, Sunda Kelapa, Cimanuk Tegal, Peka­longan, Sema­rang dan akhir­nya ber­la­buh di bandar Jepara.

Bandar ini tidak begitu besar, buruk, tapi lain dari­pada yang lain, pikir mereka. Di sini bukan saja ada keis­ti­me­waan dan kekhu­susan, malah kelu­ar­bi­a­saan. Galangan-galangan besar ber­diri megah mem­bi­kin kapal-kapal, sama besar­nya dengan kapal nege­ri­nya sen­diri, Por­tu­gis. Bahkan sebuah di anta­ra­nya lebih besar. Kapal perang! Jelas nampak dari lubang-lubang lam­bung tempat meng­a­yuh. Layar-layar kuning dari sutra ter­be­ber di tanah dan sedang dija­hit. Agak lama mereka awasi kapal ter­be­sar yang sedang dilepa dengan adonan dengan minyak kelapa itu. Ingin mereka naik ke atas dan meli­hat-lihat susun­an­nya. Isya­rat dari banyak tangan menye­bab­kan mereka menying­kir meng­hin­dar.

Dan yang mereka herani, hampir-hampir tak ada per­da­gangan di sini. Yang ada hanya pekerja-pekerja yang sibuk dan ber­ge­gas-gegas seakan besok takkan ada hari baru lagi.

Juga di bandar Jepara tak ada yang meng­ganggu mereka.

Bunyi logam yang di tempat menye­bab­kan mereka ter­goda untuk menyak­si­kan bagai­mana Pri­bumi mem­bi­kin pera­bot. Mereka mema­suki beng­kel pem­bu­atan cet­bang. Mereka men­coba ber­ta­nya apa saja yang sedang mereka buat. Pandai-pandai Blam­bangan ter­nyata tak meng­erti Melayu. Mereka mem­bisu, bahkan melam­bai­kan tangan menyu­ruh pergi

Este­ban dan Rodri­guez pergi, tetapi datang lagi untuk meng­he­rani benda yang sedang dibuat itu. Rodri­guez mene­bak, itulah meriam Pri­bumi. Dan Este­ban ter­tawa ter­ba­hak meli­hat pada laras­nya yang tipis ber­ge­lang-gelang dan kamar-ledak­nya yang segede buah kelapa.

“Meriam boneka yang baik hanya untuk melon­tar­kan gombal!” seru Rodri­guez.

Ter­tawa mereka tak dapat dita­han. Dan itulah yang menye­bab­kan bebe­rapa orang Pri­bumi merasa ter­sing­gung. Tetapi karena bandar Jepara juga bandar bebas, di mana setiap orang dapat bebas ber­ge­rak, asing atau Pri­bumi, tak ada orang dapat diper­sa­lah­kan hanya karena ter­tawa.

Tetapi orang-orang Pri­bumi, yang ter­nyata peja­bat-pqabat pen­ting itu. mem­per­se­m­bah­kan datang­nya dua orang kulit putih itu pada seo­rang pung­gawa. Kebe­tulan Adi­pati Unus Jepara sedang meng­ha­dap ayah­an­da­nya. Hanya pung­gawa itu saja peja­bat ter­tinggi di Jepara.

Maka ter­j­a­dilah seba­gai­mana dili­hat oleh Wirang­gal­eng.

Este­ban dan Rodri­guez Deez mela­ri­kan diri dalam keja­ran para pra­ju­rit. Hanya karena ting­gi­nya kewas­pa­daan menye­bab­kan mereka bisa sela­mat men­ca­pai pera­hu­nya dan mene­rus­kan pela­yaran ke tunur.

Malam itu mereka berada di tengah laut. Sebe­lum salah seo­rang tidur ber­sama-sama mereka meng­u­cap­kan puji syukur atas kese­la­mat­an­nya. Mereka ber­se­m­bah­yang dan berdoa dan berdoa.

Dengan sinar lilin mereka meli­hat pada peta, yang disa­lin dan sebuah kapal Parsi yang mereka rampas kemu­dian mereka teng­ge­lam­kan. Dan awak kapal itu kemu­dian mereka jual di Mesir.

Dan pada suatu pagi ber­men­dung masuk­lah perahu layar lang­sung itu ke bandar Lao Sam. Pela­buhan itu kecil dan mungil dilin­dungi oleh bukit-bukit ter­se­la­puti men­dung, namun keli­hatan ramah dan mem­ben­tangi bandar dari badai.

Dan betapa ter­ke­jut mereka menge­ta­hui pen­du­duk bandar itu bukan Pri­bumi. Semua orang Tiong­hoa, ber­mata sipit dan ber­kun­cir. Satu-dua Pri­bumi nampak ber­ja­lan mondar-mandir tiada bekerja.

Aturan di bandar ini lain, keras, dan memang bukan bandar bebas. Setiap perahu pen­da­tang dipe­riksa sebe­lum orang­nya men­da­rat. Peng­a­laman baru ini tak menye­nang­kan mereka. Selama bela­yar menyu­suri sepan­jang Suma­tra dan Jawa tak pernah orang mem­per­la­ku­kan demi­kian. Begitu perahu mereka ter­pan­cang pada patok der­maga atau cero­cok takkan ada orang datang men­je­nguk untuk meng­in­tip muatan. Orang mem­bi­ar­kan mereka men­da­rat, peda­gang-peda­gang bere­butan untuk men­jual atau mem­beli barang. Orang pun takkan meng­ha­lang­i­nya bila mereka lang­sung pergi ke pasar pela­buhan. Di Lao Sam lain yang ter­jadi.

Tiga orang Tiong­hoa, ber­ce­lana dan ber­baju serba putih, dengan topi di atas kun­cir­nya, juga ber­warna putih. Mereka semua ber­sen­jata peng­gada kayu ber­ben­tuk blim­bingan.

Este­ban tak meng­erti bahasa mereka. Rodri­guez juga tidak. Pada mula­nya mereka berdua disu­ruh men­da­rat. Salah seo­rang di antara mereka berdua meno­lak untuk disu­ruh men­da­rat. Salah seo­rang di antara yang tiga memang­gil teman-teman­nya. Dalam waktu pendek der­maga itu telah penuh dengan orang. Semua mem­per­li­hat­kan sikap yang meng­an­cam.

Untuk menye­la­mat­kan perahu dan muatan agar tidak diteng­ge­lam­kan mereka naik ke der­maga, meng­i­kuti tiga orang itu.

Mereka dibawa masuk ke dalam sebuah rumah besar ber­lan­tai batu gunung dan dipe­rin­tah­kan menunggu. Tiga orang itu masih tetap men­ja­ga­nya, seakan mereka orang tang­kapan.

Este­ban dan Rodri­guez men­da­pat tempat duduk pada sebuah bangku pan­jang. Pen­jaga-pen­jaga itu ber­diri.

Dua jam kemu­dian mereka dipe­rin­tah­kan masuk lebih ke dalam lagi, di sebuah ruangan dengan pera­bot kayu. Tidak kurang dari tujuh orang telah duduk atau ber­diri menunggu mereka dengan sikap seram, lebih seram lagi karena mata mereka beru­bah, seperti ter­buat dari­pada kayu. Mereka ber­pa­kaian warna-warni, dan semua mem­bawa kipas pada tangan­nya, seka­li­pun tidak diper­gu­na­kan. Mereka menge­na­kan pakaian seperti jubah, semua dari sutra, dengan lengan tangan lebar.

Seo­rang yang gemuk, ber­ku­mis dan ber­jeng­got pan­jang tipis ter­gan­tung, mena­nya­i­nya dalam Melayu.

Este­ban tak dapat menang­kap baha­sa­nya. Rodri­guez juga tak meng­erti. Kata itu diu­cap­kan begitu aneh pada pera­saan mereka. Rodri­guez Dez mena­tap Este­ban dengan pan­dang ber­ta­nya. Este­ban meng­ge­leng. Ber­sama-sama mereka meman­dangi orang gemuk di hadapan itu, dan orang itu meng­ang­kat alis. Este­ban tidak dapat mena­han tawanya men­de­ngar orang gemuk itu bicara lagi. Dan orang gemuk itu ter­se­nyum sambil meng­ang­guk-angguk. Para peng­a­pit­nya mulai bicara. Dua orang Por­tu­gis itu sema­kin tidak meng­erti.

Orang gemuk itu seka­rang bicara pada para peng­a­pit­nya. Suara mereka ramai, tetapi badan mereka seakan-akan ter­buat dari kayu selu­r­uh­nya, nampak sangat sulit untuk dige­rak­kan.

Este­ban merasa seperti sedang menon­ton suatu per­tun­jukan aneh, Tawanya mele­dak tak ter­ken­da­li­kan. Rodri­guez juga merasa diun­dang untuk ter­tawa.

Per­ca­kapan ter­paksa dihen­ti­kan.

Dari dalam rumah muncul seo­rang Tiong­hoa lain, wajah­nya tanpa kumis dan tanpa jeng­got. Ia tidak menge­na­kan jubah tetapi ber­ce­lana dan ber­baju long­gar, tanpa topi, kaki­nya ber­ka­sut. Pakai­an­nya dari sutra dan nampak tera­wat baik. Ia ber­ja­lan lang­sung men­da­pat­kan yang gemuk dan mem­beri hormat. Suatu pem­bi­ca­raan telah ter­jadi. Orang baru itu bicara tenang. Si gemuk meng­ang­guk-angguk

Orang baru yang lang­sing itu ber­pa­ling pada Este­ban dan Rodri­guez, meng­a­wasi mereka tajam-tajam, dan ter­j­a­dilah yang sama sekali mereka tak duga: “Kalian orang Por­tu­gis memang pongah!” tuduh­nya dalam bahasa Por­tu­gis. Este­ban dan Rodri­guez tak dapat menyem­bu­nyi­kan kejut­nya.

“Kau bisa Por­tu­gis?” Rodri­guez Dez ber­ta­nya.

“Demi kese­la­matan kalian sen­diri, lepas­kan kepo­ngahan itu,” kata­nya tanpa per­u­ba­han nada, datar, tanpa tekanan. “jangan kalian lupa, tak ada seo­rang pun suka pada Por­tu­gis di sini.”

Mata­nya yang sipit menu­suk mereka seakan hendak mera­bai piki­ran yang ter­se­m­bu­nyi dalam kepala mereka.

Este­ban men­coba mem­per­li­hat­kan keung­gulan bang­sa­nya dengan tawa kecil mere­meh­kan.

“Baik. Ter­se­rah pada kalian bagai­mana hendak ber­si­kap. Aku hanya mem­per­i­ng­at­kan. Itu pun kalau orang Por­tu­gis meng­erti arti­nya nasi­hat.”

“Kau pener­je­mah?” Este­ban ber­ta­nya.

“Peme­riksa kalian.”

“Peme­riksa!” Rodri­guez ter­tawa meng­e­jek. “Apa yang hendak kau periksa? Kami bukan tang­kapan kalian.”

“Aku yang meme­rik­sai kalian, bukan­nya kau yang meme­riksa aku Itu pun kalau kalian meng­erti bahasa Por­tu­gis yang benar.”

“Kaulah yang pongah, bukan kami,” bantah Este­ban

“Kami orang bebas!” gumam Rodri­guez. ‘Tak ada alasan meme­riksa kami Kami meno­lak. Tak ada orang Por­tu­gis dipe­riksa di bandar asing.”

“Diam!” bentak peme­riksa itu. “Aku dengar kalian tidak meng­erti Melayu.”

“Siapa bilang kami tak meng­erti Melayu? Orang itu,” Rodri­guez menu­ding pada si gemuk, “yang tak keruan Mela­yunya.”

Sese­o­rang memu­kul tangan­nya yang menu­ding dengan kasar. Rodri­guez merah-padam karena merasa ter­hina. Tak pernah ada orang dari bangsa lain berani ber­buat seperti itu ter­ha­dap orang Por­tu­gis. Ia ber­ja­lan meng­ham­piri meja si gendut hendak mem­pro­tes.

Peme­riksa itu menang­kap tangan­nya dan menye­ret­nya ke lem­pat­nya kem­bali. Rodri­guez meronta. Tetapi sikut­nya terasa hendak patah dalam kem­pitan peme­riksa itu. Makin meronta makin dekat per­bu­kuan sikut­nya pada kere­mu­kan. Ia meri­ngis tanpa bisa meng­erti.

“Orang Por­tu­gis juga perlu bel­a­jar sopan di negeri orang,” kata peme­riksa itu, dan menyo­r­ong Rodri­guez. “Ingat-ingat, namaku Liem Mo Han.”

Este­ban meng­a­wasi Liem Mo Han dengan pan­dang mem­pel­a­jari cara orang itu dapat mengem­pit saha­bat­nya sehingga tak ber­daya. Ia tak men­coba mem­be­la­nya.

“Baik­lah kute­rang­kan pada kalian, orang-orang Por­tu­gis. Kalau kalian ber­si­kap begini terus, aku, Liem Mo Han, akan laku­kan segala sesu­atu yang telah kalian laku­kan ter­ha­dap diriku selama tiga tahun.”

Este­ban diam-diam men­de­ng­ar­kan dan mem­per­ha­ti­kan ting­kah laku dan bahasa Por­tu­gis Liem Mo Han yang cukup baik.

Rodri­guez sudah ber­diri lagi di tempat sambil meri­ngis kesa­kitan, kemu­dian ber­ta­nya men­coba ramah: “Bagai­mana kau bisa ber­ba­hasa Por­tu­gis sebaik itu?”

“Itu bisa dice­ri­ta­kan nanti. Jadi nama kalian Este­ban del Mar dan Rodri­guez Dez. Siapa yang Rodri­guez?”

Kepala Rodri­guez yang beram­but pirang itu meng­ang­guk.

“Baik. Peker­ja­anmu? Tentu bukan sau­da­gar bukan nakhoda.”

Dua orang Por­tu­gis itu ber­pan­dang-pan­dangan.

“Baik­lah kalian tak perlu meng­aku. Di perahu kalian telah dida­pat­kan musket. Jadi kalian ini pela­rian dari kapal Por­tu­gis. Jangan pura-pura bodoh, aku tahu per­a­turan dalam kapal Por­tu­gis. Hati-hati­lah, kalian, jangan sampai mem­buat onar di sini. Kepala kami yang ter­hor­mat, Tuan Gong Eng Cu, masih ber­hati luas, masih dapat meneng­gang kela­kuan kalian. Maka deng­ar­kan: musket kalian dan mesi­u­nya kami tahan untuk disim­pan.”

Liem Mo Han bicara seperti tiada kan habis-habis­nya, tidak mem­be­ri­kan kesem­patan pada Este­ban atau­pun Rodri­guez untuk menyela.

“Jadi kalian berdua tidak mem­pu­nyai sesu­atu peker­jaan,” kemu­dian ia memu­tus­kan. “Hanya punya musket, dan dengan sen­jata itu mem­ba­jak perahu-perahu kecil di tengah laut.”

“Tidak benar!” bantah Este­ban.

“Tidak ada bukti kami berdua pernah mem­ba­jak,” bantah Rodri­guez.

“Memang tidak ada bukti dalam perahu kalian. Boleh jadi yang tak kalian butuh­kan telah kalian buang ke laut, yang kalian butuh­kan telah kalian telan.”

“Bukan kebi­a­saan dan bukan watak Por­tu­gis untuk mem­ba­jak,” susul Este­ban dengan nada ter­sing­gung.

“Memang dengan satu-dua orang Por­tu­gis tidak pernah mem­ba­jak. Tetapi dengan satu kapal, apa­lagi satu armada, setiap Por­tu­gis adalah bajak.”

“Itu soal taf­siran!” bantah Este­ban. “Kami tidak mem­ba­jak, kami ber­pe­rang.”

“Itu soal taf­siran!” tuduh Liem Mo Han. “Setiap kapal dan armada Por­tu­gis tidak ber­pe­rang, tapi mem­ba­jak. Dan setiap orang Por­tu­gis yang jatuh ke tangan kami adalah juga bajak. Bukan­kah di negeri kalian juga ada hukuman ter­ha­dap bajak?”

“Ber­pe­rang dan mem­ba­jak tidak sama,” bantah Rodri­guez.

“Ya, tidak sama,” Este­ban mem­be­nar­kan, “ber­pe­rang punya tujuan lebih jauh, lebih mulia, mem­ba­jak untuk dir­i­nya sen­diri.”

‘Tujuan itu urusan kalian sen­diri. Bagi mereka yang ter­kena aniaya per­bu­atan kalian tetap meng­ang­gap kalian bajak belaka. Kalian harus laku­kan hukuman seba­gai bajak. Lao Sam berada dalam wila­yah keku­a­saan Tuban. Hukuman atas bajak menu­rut keten­tuan Tuban adalah kerja paksa, entah sampai berapa tahun sesuai dengan keten­tuan, untuk kemu­dian men­ja­lani hukuman mati. Kami bisa serah­kan kalian pada Gusti Adi­pati Tuban.”

Dua orang petu­a­langan itu men­jadi lemas. Mereka ter­diam.

Gong Eng Cu bicara dalam Tiong­hoa pada Liem Mo Han. Yang bela­kangan meng­ang­guk-angguk dan nam­pak­nya hanya mengi­a­kan.

“Kepala kami,” Liem Mo Han mene­rus­kan, “menga­ta­kan, keli­hat­an­nya kalian masih muda dan segar. Keka­saran nam­pak­nya sudah jadi watak bangsa kalian. Kami bisa juga jual kalian pada Malaka. pada bangsa kalian sen­diri. Dan karena kalian keli­hatan kuat dan segar, bisa juga kami jual pada orang-orang Arab. Atau bisa kami pakai sen­diri untuk mem­ba­jak sawah.”

Liem Mo Han diam. Gong Eng Cu dan peng­a­pit juga diam. Semua meng­a­wasi dua orang Por­tu­gis yang nam­pak­nya kehi­langan diri itu.

“Kalau kami jual kalian pada Malaka, kalian akan segera naik ke tiang gan­tungan, dan kami men­da­pat uang tebusan. Kalau kami serah­kan kalian pada Gusti Adi­pati Tuban, kalian akan laku­kan kerja paksa sebe­lum naik ke tiang gan­tungan. Tapi kami tak men­da­pat sesu­atu keun­tungan. Kalau kami jual kalian pada orang-orang Arab, kami akan men­da­pat­kan keun­tungan lebih banyak, dan kalian harus beker­ja­paksa sampai mati tua.” Ia diam lagi untuk dapat meli­hat han­cur­nya kebang­gaan kebang­saan dua orang itu.

“Nah, pilih­lah salah satu di anta­ra­nya.”

Este­ban del Mar dan Rodri­guez Dez seje­nak ber­pan­dang-pan­dangan dan berun­ding dengan mata­nya.

“Tidak ada jalan untuk mela­ri­kan diri,” Liem Mo Han mem­per­i­ng­at­kan.

“Jadi mana yang dipi­lih, kalian, bajak laut celaka?”

“Kami bukan bajak laut,” Rodri­guez mem­bela diri.

“Kela­kuan semua pelaut tak lain dari bajak.”

Este­ban ber­pi­kir keras.

“Kau, Este­ban, yang lebih tua, bicara, kau!” meli­hat orang itu masih juga ber­pi­kir keras ia mene­rus­kan, “barang­kali Liem Mo Han ini kau anggap kurang ber­harga. Baik, sila­kan bicara sen­diri pada kepa­laku, Tuan Gong Eng Cu. Hanya, pakai­lah sedi­kit keso­panan. Kami tidak hargai kepo­ngahan dan kebang­gaan kalian. Bagi kami kalian tak lebih hanya bajak laut.”

Este­ban melang­kah maju men­de­kati Gong Eng Cu, mem­bung­kuk mem­beri hormat dan mem­bela diri: “Tuan Gong Eng Cu, benar kami bukan bajak laut. Kami memang pela­rian dari kapal Por­tu­gis di Malaka. Dalam per­ja­lanan sampai kemari tak pernah seka­li­pun kami mela­ku­kan keja­hatan di laut. Kami hanya ingin pesiar meli­hat negeri-negeri Nusan­tara.”

Sete­lah Liem Mo Han ter­je­mah­kan, Gong Eng Cu ber­kata mela­lui ter­je­mahan: “Kalian tidak seka­dar hanya meli­hat negeri-negeri. Ada dida­pat­kan sen­jata, mesiu, peta, kompas, tero­pong dan buku-buku dalam perahu kalian.”

“Tak pernah ada larangan mem­bawa barang-barang itu, bahkan semua kapal Por­tu­gis dileng­kapi dengan semua itu.”

“Kalian jangan per­main-main­kan kami. Pela­rian biasa tidak akan mem­bawa semua itu, kalau tidak karena tidak sempat tentu sulit untuk bisa men­da­pat­kan­nya. Kalian mem­pu­nyai cukup per­se­di­aan bahan makanan. Nam­pak­nya kalian ini mata-mata Por­tu­gis.”

“Mata-mata?” Este­ban ber­seru kaget.

Rodri­guez ter­be­liak.

“Apakah kalian ingin men­coba jadi mata-mata Sang Adi­pati Jepara? Nah, kau, Rodri­guez, meng­apa tak ikuti jejak temanmu meng­ha­dap Tuan Gong Eng Cu dengan baik-baik?”

Rodri­guez maju dan mem­beri hormat. Ia ber­diri di sam­ping teman­nya. Ber­kata: “Sesung­guh­nya kami memang mela­ri­kan diri dari Malaka.”

“Aku per­caya,” jawab Gong Eng Cu. “Kalau kalian meng­aku bukan bajak laut, bukan mata-mata, meng­apa tak juga menyam­pai­kan kami apa ren­cana Por­tu­gis sete­lah mere­but Malaka? Apakah kalian yang sudah bodoh, atau­kah memang mau mem­bo­dohi?”

“Tuan Gong Eng Cu, Por­tu­gis sedang menunggu datang­nya tam­ba­han keku­atan di Malaka. Mereka akan terus ber­la­yar ke Maluku.”

“Ke Maluku? Begitu cepat?” Gong Eng Cu ter­pe­kik dengan mata mem­be­liak mena­tap Liem Mo Han. Kemu­dian ia bicara dengan pener­je­mah itu dan Liem Mo Han tidak mem­por­tu­gis­kan.

Este­ban dan Rodri­guez ber­pan­dang-pan­dangan dan berun­ding dengan mata­nya.

Liem Mo Han meng­ham­piri mereka, menu­suk mereka dengan pan­dang­nya, mene­tak: “Pem­bo­hong!”

“Semua awak kapal tahu,” seka­rang Este­ban meng­am­bil-alih.

‘Tadi­nya dimak­sud­kan akan mem­be­rang­kat­kan empat buah kapal. Tam­ba­han keku­atan yang ditunggu belum juga datang Kalau dalam bulan Dese­m­ber… Tuan Liem Mo Han meng­erti arti­nya Dese­m­ber?”

Liem Mo Han meng­ang­guk. “Kalau dalam bulan Dese­m­ber tam­ba­han keku­atan itu tak juga datang, Por­tu­gis akan berang­kat dengan jumlah kapal dan keku­atan orang yang ada saja.”

“Pem­bo­hong!” bentak Liem Mo Han.

“Kami tentu akan jadi pem­bo­hong kalau Malaka mem­ba­tal­l­can niat­nya,” sam­bung Este­ban.

“Kalau kau bukan pem­bo­hong, jalan laut mana yang akan ditem­puh?”

“Menyu­suri Suma­tra dan Jawa.”

“Meng­apa?”

“Karena hanya pelaut-pelaut Jawa yang tahu jalan ke Maluku. Kami semua tahu, kapal-kapal Jawa selalu meneng­ge­lam­kan kapal bukan-Jawa di per­a­iran Maluku. Tak ada yang berani mema­suki, bangsa apa pun, juga bangsa Tiong­hoa tidak.”

Gong Eng Cu meng­ang­guk-angguk men­de­ng­ar­kan ter­je­mahan Liem Mo Han.

“Jadi Por­tu­gis tahu dia akan ber­ha­dapan dengan kapal-kapal Jawa di Maluku?”

“Por­tu­gis berang­kat untuk ber­pe­rang,” kem­bali Este­ban men­da­pat­kan kebang­gaan nasi­o­nal­nya. “Dan kami tak pernah kalah.”

“Apa yang kau bisa per­buat dengan keang­kuh­anmu?”

“Aku bicara soal kenya­ta­an­nya. Belum pernah kami dika­lah­kan baik di laut maupun di darat.”

“Deng­ar­kan kalian, orang-orang Por­tu­gis. Kalau kalian ter­nyata pem­bo­hong, bukan kami yang salah. Kalian pernah tang­kap aku, kalian bikin aku jadi budak di dapur kapal kalian. Kalian telah bawa aku ke negeri kalian, meng­a­rak aku keli­ling Lisboa jadi ton­tonan. Orang mena­riki kun­cirku. Rasa-rasa­nya mau copot kulit kepa­laku. Tiga tahun kalian telah siksa aku. Kalian jual aku pada orang Italia. Mereka men­jual aku pada orang Moro. Kapal Moro mem­bawa aku ke Beng­gala. Kalian hadap­i­lah aku seba­gai orang yang pernah kalian aniaya. Tiga tahun! Kalian jangan ber­la­gak peme­nang di sini.”

“Kami tak pernah tahu ten­tang itu.”

“Seka­rang kalian tahu, dan kalian hanya bagian dari mereka sele­bih­nya. Kalian memang sela­mat di bandar-bandar Suma­tra dan Jawa. Di Lao Sam ini tidak. Kalian tahanan kami.”

Mereka berdua tak berani mem­ban­tah.

“Meng­apa diam saja?” Gong Eng Cu men­de­sak.

“Kami ber­mak­sud hanya hendak meli­hat-lihat negeri.”

“Kalian mata-mata!” tuduh Gong Eng Cu. “Por­tu­gis sudah mela­ku­kan keja­hatan di mana-mana, dan ber­sum­bar hendak mem­bawa bangsa-bangsa sele­bih­nya pada per­a­daban. Kalian pela­rian atau mata-mata sama saja. Sejak saat ini kalian tidak diper­ke­nan­kan men­de­kati pantai. Begitu orang meli­hat kalian melang­gar keten­tuan, jiwa kalian jadi tebusan. Dan kalau ter­nyata Peranggi datang ke Jawa mem­bi­kin keo­naran seperti di Malaka….”

Gong Eng Cu yang gendut itu tak mene­rus­kan kata-kata­nya. Ia meng­ang­guk sambil meme­jam­kan mata.

“Biar pun begitu kami punya per­a­turan, tidak hanya Por­tu­gis, dan kami pun bisa jalan­kan aturan kami. Kami lihat kalian punya perahu sen­diri. Dari siapa kalian meram­pas­nya?”

“Kami pesan dari Pri­bumi Malaka.” sambar Rodri­guez.

“Mem­beli, meme­san atau­pun meram­pas sama saja. Kalau Por­tu­gis suka meram­pas atau meme­san?”

“Juga kami tidak men­cu­r­i­nya,” tambah Roodri­guez.

“Memang Por­tu­gis tidak pernah men­curi, hanya meram­pas dan meng­ga­gahi, kebi­a­daban yang tiada tara. Baik, tak ada guna­nya bicara soal perahu dan isinya. Deng­ar­kan, kepala kami, Tuan Gong Eng Cu, ingin meli­hat apakah kalian mata-mata atau bukan. Kami akan mem­bu­tuh­kan waktu untuk dapat kalian yakin­kan. Nah, apa keah­lian kalian?”

Este­ban dan Rodri­guez ber­pan­dang-pan­dangan dan berun­ding dengan mata­nya.

“Mem­buat arak,” Rodri­guez men­ja­wab. “Kalau ada buah anggur. Arak ter­baik yang pernah dike­nal orang.”

“Kalau kau pandai mem­buat arak ter­baik, kau takkan gen­ta­yangan kemari,” Liem Mo Han mele­ceh­kan.

“Tidak bohong. Kami bisa bikin sen­diri, arak merah dan putih dan kuning, mung­kin lebih baik dari bikinan negeri-negeri lain,” Este­ban mem­per­kuat.

”Takkan ada yang lebih pandai dari bangsa kami,” jawab Liem Mo Han.

“Boleh jadi,” sam­bung Este­ban. “Kami juga bisa menu­kang.”

Liem Mo Han ter­se­nyum. Peng­a­pit-peng­a­pit Gong Eng Cu ter­tawa waktu men­de­ngar ter­je­mahan Liem.

“Menu­kang adalah keah­lian bagus,” kata Liem Mo Han, “dan aku kira takkan ada tukang lebih baik dari­pada bang­saku. Coba, per­li­hat­kan tangan kalian padaku?” dan pener­je­mah itu mem­per­ha­ti­kan otot-otot lengan dan tela­pak tangan dua orang Por­tu­gis itu kemu­dian meng­ge­leng-geleng mele­ceh­kan.”

“Memang kami tak pernah menu­kang dalam bebe­rapa tahun bela­kangan ini,” Este­ban mem­bela diri.

“Per­nah­kah kalian menu­kang mem­bi­kin kapal?”

“Perahu kami itu aku sen­diri yang meren­ca­na­kan, laju seperti hiu,” Rodri­guez mene­rang­kan dengan ber­se­ma­ngat

“Betul, orang-orang bilang memang perahu luar biasa. Pernah kalian mem­bi­kin kapal?”

Sekali lagi Este­ban dan Rodri­guez ber­pan­dang-pan­dang berun­ding dengan mata.

“Pernah,” Este­ban meng­ang­guk mengi­a­kan..

“Tentu saja. Mem­buat kapal? Uh, sudah selu­sin!”

“Kapal apa? Kapal samudra? Kapal Por­tu­gis?”

“Tentu kapal samudra, kapal Por­tu­gis.” Rodri­guez meya­kin­kan Liem Mo Han.

“Aku tak per­caya kalian bisa mem­bi­kin kapal,” Liem Mo Han men­coba mema­tah­kan sema­ngat mereka. “Kalian ter­lalu muda untuk bisa bikin kapal, ter­lalu tidak tekun, ter­lalu pem­bual. Orang yang bisa bikin kapal tidak begitu ting­kah­nya. Juga tidak akan ber­tu­a­lang. Dia akan tetap ting­gal di galangan nege­ri­nya sen­diri. Kalian hanya pem­bual”

“Betul, kami ber­peng­a­laman,” Rodri­guez meya­kin­kan lagi.

“Takkan ada yang bisa per­caya kecu­ali kalian sen­diri,” Liem Mo Han ter­ba­tuk-batuk. “Barang­kali kalian pernah hanya menon­ton orang mem­bi­kin kapal besar.”

“Di sepan­jang pantai negeri Por­tu­gis orang mem­bi­kin kapal samudra. Setiap bocah pernah meli­hat,” kata Este­ban.

Gong Eng Cu melam­bai­kan tangan menyu­ruh dua orang itu men­jauh dari­pa­da­nya. Kemu­dian ia berun­dingan dengan para peng­a­pit­nya. Semua mereka ikut bicara. Orang gendut itu kemu­dian mem­beri perin­tah pada Liem Mo Han.

“Kalian hanya penipu. Kalian masih berun­tung kepala kami tidak seke­jam dan tidak biadab seperti bangsa Por­tu­gis. Kepala kami. Tuang Gong Eng Cu. meme­rin­tah­kan pada kalian untuk ting­gal di Lao Sam sampai kalian dini­lai. Kalau pada suatu kali ada kapal Por­tu­gis datang kemari untuk men­cari kalian… kalian sen­diri yang lebih tahu apa bakal ter­jadi.”

“Kami akan mene­rus­kan pela­yaran kami meli­hat-lihat Nusan­tara,” bantah Este­ban.

Tetapi Liem Mo Han tak peduli dan mene­rus­kan: “Kalian akan ditem­pat­kan di sebuah rumah. Hanya dengan penga­walan boleh keluar dan situ.”

“Kami belum lagi men­da­rat di Lao Sam sini. Kalian yang memaksa kami men­da­rat,” bantah Este­ban.

“Dan kami hanya hendak belanja,” sambut Rodri­guez.

“Walau­pun kalian tidak bisa diper­caya seperti halnya dengan orang Por­tu­gis sele­bih­nya. kepala kami telah mem­be­ri­kan kemu­r­ahan pada kalian untuk bekerja di galangan kami. Kalian hanya meli­hat-lihat bagai­mana kapal kami dibi­kin dan mem­be­ri­kan pen­da­pat dan nasi­hat seka­dar­nya.”

Kem­bali dua orang itu berun­ding dengan mata­nya.

“Ya, berun­ding­lah kalian. Sebe­lum kepala kami meng­am­bil sesu­atu kepu­tusan,” Liem Mo Han mem­be­ra­ni­kan mereka.

Di luar hujan jatuh ber­de­rai, lebat dan ber­a­ngin.

“Ya, kau bisa laku­kan itu,” kata Rodri­guez pada teman­nya, “dan aku bisa mem­ban­tumu. Teri­ma­lah.”

Tapi Este­ban masih juga menim­bang-nim­bang.

“Asal kalian meng­erti, tak ada di antara kami bisa mem­per­ra­yai kalian.”

“Apa guna­nya nasi­hat orang yang tidak diper­caya?” tanya Este­ban.

“Kami yang menen­tu­kan. Bukan kau,” Liem Mo Han mele­ceh­kan dengan bibir­nya. “Hanya karena sikap pemu­rah kepa­laku. Mes­ti­nya kalian cukup dibi­na­sa­kan saja.” Ia menunggu jawaban. Dan yang ditung­gu­nya belum juga datang. “Tidak per­cuma aku tiga tahun jadi budak kapal, kapalmu, kapal Por­tu­gis. Setiap hari men­de­ngar ajaran yang muluk-muluk dengan per­bu­atan yang rendah. Itulah kalian orang Por­tu­gis. Ayo, jawab­lah kalau kalian sang­gup!”

“Ya, kami sang­gup,” jawab Este­ban.

“Betapa cepat kepu­tusan itu,” Gong Eng Cu mem­be­ri­kan komen­tar.

“Makin keli­hatan petu­a­langan kalian,” kata Liem Mo Han. ”Tapi awas. Tujuh orang yang ter­sisa dari kapal kami telah kalian per­bu­dak selama tiga tahun. Lima di antara kami akhir­nya kalian bunuh, kalian buang ke laut. Seka­rang kalian hanya berdua. Kalian masih ber­hu­tang jiwa pada kami. Begitu kalian….”

”Kami tak tahu begitu menye­dih­kan peng­a­lam­anmu.” Este­ban menang­gapi.

“Menye­dih­kan. memang. Semua yang datang dari Por­tu­gis selalu menye­dih­kan, dan itulah kabar gem­bira untuk kalian.”

Este­ban yang merasa ter­sing­gung mem­ba­las “Kelak. kalau kapal samudra kalian jadi, kalian bisa mem­ba­las dendam, mem­ba­jak salah sebuah kapal Por­tu­gis yang per­tama-tama kalian temui, menang­kap semua awak kapal­nya dan men­ju­al­nya pada siapa saja.”

“Kami bukan bajak, juga bukan ketu­runan bajak. Kami ketu­runan awak armada Ceng He yang besar….”

Apa yang dika­ta­kan Liem Mo Han tidak keliru. Sete­lah armada Ceng He tak bisa balik ke Tiong­kok. Armada ini kemu­dian ber­diri sen­diri, mela­ku­kan per­da­gangan sen­diri dengan Malaka dan mem­buka pang­kalan-pang­kalan di Jawa. Dalam keku­a­saan Tuban mereka men­da­pat per­lin­dungan dan izin ber­pang­kalan di Lao Sam. Pang­kalan pokok mereka dir­i­kan di Sam Toa-lang.

Dari dua pang­kalan itu juga mereka laku­kan per­da­gangan dengan Atas Angin sampai-sampai mema­suki Laut Merah.

Untuk mem­bi­kin awak armada ini tidak lenyap dite­lan oleh Pri­bumi, baik karena per­ka­winan maupun karena kecil­nya jumlah mereka. mereka men­di­r­i­kan sebuah orga­ni­sasi penga­wal yang harus mem­per­ta­han­kan lem­baga per­a­daban dan kebu­da­yaan negeri lelu­hur­nya, bemama Nan Lung atau Naga Selatan.

Liem Mo Han adalah seo­rang pemuka Nan Lung, yang dihor­mati oleh masya­ra­kat Tiong­hoa sepan­jang pantai utara pulau Jawa. Di sam­ping Por­tu­gis ia pun mengu­a­sai Jawa. Oleh Nan Lung dan masya­ra­kat Tiong­hoa ia diang­kat jadi peng­hu­bung antara Lao Sam dengan Toa-lang, juga diang­kat jadi duta masya­ra­kat Tiong­hoa dengan kera­jaan Demak

Meli­hat Liem Mo Han tetap tak meng­har­gai mereka. Este­ban dan Rodri­guez kem­bali meng­am­bil sikap ber­hati-hati.

“Mem­ba­jak adalah peng­hi­naan untuk awak armada Ceng He yang besar, juga untuk ketu­run­an­nya,” Liem Mo Han mem­per­i­ng­at­kan. “Kalau bukan karena kehen­dak kepala kami… lain lagi yang akan ter­jadi dengan kepala kalian. Hati-hati.”

Gong Eng Cu tiba-tiba bicara lagi sambil melam­bai­kan tangan dan Liem Mo Han mener­je­mah­kan: “Tempat kalian telah diten­tu­kan. Semua keper­luan sehari-hari kalian akan dipe­nuhi.”

“Kami akan beri­kan nasi­hat-nasi­hat kami pada kalian,” jawab Este­ban, “tapi kem­ba­li­kan barang-barang kami.”

“Kalau kapal kami jadi dengan baik, jangan­kan barang-barangmu sera­tus kali benda-benda ber­harga akan kalian dapat­kan dari kami” kata Gong Eng Cu. “Jangan banyak bicara. Kalian seba­gai orang Por­tu­gis telah men­da­pat kemu­r­ahan ter­lalu banyak.”

Orang-orang yang meng­gi­ring­nya dari pantai seka­rang meng­ham­piri mereka. Dengan isya­rat mereka meme­rin­tah­kan­nya ber­ja­lan keluar dari rumah besar itu. Mereka digi­ring di jalanan sempit, ber­pa­sir dan ber­debu kuning, ke jurusan selatan, ditem­pat­kan di sebuah kamar rumah batu dan terus-mene­rus dika­wal.

Waktu pintu ter­pa­lang dari luar kamar mereka masih ber­diri ber­pan­dang-pan­dangan. Tak ada sepa­tah kata keluar dari mulut mereka. Kemu­dian dengan seren­tak mereka ber­lu­tut dan mem­bi­kin salib dengan jari­nya.

Gong Eng Cu mem­pu­nyai ren­cana khusus ter­ha­dap mereka berdua. Pelaut-pelaut ketu­runan awak armada Ceng He sudah banyak yang ditang­kap dan dibi­na­sa­kan oleh armada Por­tu­gis. Dan mereka tak pernah dapat mem­ba­las. Armada mereka yang pada mula­nya armada mil­iter, kini hanya armada dagang belaka. Dengan Este­ban del Mar dan Rodri­guez Dez boleh jadi ia dapat mem­be­ri­kan sedi­kit tekanan pada Por­tu­gis.

Ia hendak pamer­kan dua orang tang­kapan itu pada umum. Setiap hari mereka dipe­ker­ja­kan di galangan kapal di Dasun. Berita ten­tang mereka harus sampai ke Malaka.

Gong Eng Cu sen­diri bukan ketu­runan awak armada Ceng He. Ia adalah ketu­runan ke enam seo­rang pen­da­tang di Tuban. Ia adalah kepala masya­ra­kat Tiong­hoa di Lao Sam. Tetapi ia bukan ang­gota Nan Lung. Ia tidak mem­pu­nyai sesu­atu urusan dengan keku­a­saan raja-raja setem­pat.

Sete­lah menye­le­sai­kan urus­an­nya di Lao Sam, dengan sebuah perahu layar milik Este­ban dan Rodri­guez ia kem­bali ke Tuban.


Bab 10

Idayu, Kamaratih Tuban

Kum­bang-kum­bang itu ber­pu­tar-putar meng­i­gal dalam ting­kahan game­lan yang ria, seakan tak ada sesu­atu pun yang meng­an­cam kehi­dupan ini. Pakaian mereka gemer­lapan menge­r­jap-nge­r­jap ber­ki­lauan ungu dan me rah dan kuning dan hijau be rma in-main dengan sinar lampu-lampu yang menyala dari semua pen­juru. Warna-warna yang meng­i­kat pan­dang dan gerak-gerik yang memu­kau pera­saan.

Seakan lang­sung dari langit mela­wan serom­bongan kum­bang jantan, dan buyar­lah seke­lom­pok betina yang ber­ba­ha­gia meng­i­gal-ngigal dalam keda­maian itu. Mereka kemu­dian ber­ki­tar-kitar, ber­ke­lom­pok dan pecah. Seke­lom­pok lagi dan pecah, ber­ke­lom­pok lagi dan pecah lagi, akhir­nya jadi pasangan-pasangan asyik-masyuk yang ber­ko­bar-kobar. Sepa­sang demi sepa­sang ter­bang meng­hi­lang dibawa oleh impian untuk mere­guk hidup sampai ke dasar cawan.

Yang ter­ting­gal hanya sepa­sang saja, ber­pu­tar meng­i­gal ber­cum­buan. dan game­lan mulai men­deru, memun­tah­kan gelora dan gairah mahluk untuk menung­gal­kan dua men­jadi satu, dan satu untuk mem­ba­nyak dan mem­biak meng­isi selu­ruh buana dengan titik-titik kasih­nya.

Men­da­dak game­lan jatuh meng­hiba-hiba dan pasangan kum­bang itu keha­bisan cumbu, keke­ri­ngan rayu.

Seekor kum­bang jantan lain datang seakan dari alam lain, lebih besar, lebih gesit, lebih per­kasa. Dice­rai-berai­kan­nya pasangan itu. Game­lan meng­en­dap-endap ragu dan kum­bang betina itu merana meli­hat sang keka­sih ter­cam­pak. Ber­de­gup-degup game­lan mening­kahi si betina yang lari ter­bang ber­pu­tar-putar dalam keja­ran jantan per­kasa.

Betina itu meng­en­dap, hing­gap ber­se­m­bu­nyi di balik sekun­tum bunga. Si jantan per­kasa ter­bang meng­hi­lang kehi­langan arah. Ting­gal si betina sepi sen­diri, mera­tapi sepo­tong dari sayap keka­sih yang sudah com­pang-cam­ping, ter­sang-sang pada selem­bar daun bunga.

Dan kum­bang betina yang ter­ting­gal sepi sen­diri itu adalah Idayu. Kama­ra­tih Tuban.

Di tempat yang keting­gian, di atas kursi kayu cen­dana ber­u­kir, duduk Sang Adi­pati. Pan­dang­nya gelap menem­busi ruang dan waktu. Pemu­satan selu­ruh birah­i­nya mem­bi­su­kan selu­ruh bunyi dan meng­hi­lang­kan semua gerak. Yang ter­tang­kap oleh batin­nya hanya tubuh yang meman­car­kan daya tarik tiada ter­la­wan­kan itu: Idayu! Idayu!

Bila pemu­sat­a­ri­nya ter­pu­tus oleh kenya­taan, ia seo­rang adi­pati, seo­rang pengu­asa di antara para kawula, ken­dor­lah semua kete­gangan. Ia meng­hela napas dan menyan­dar­kan pung­gung pada kursi, dir­e­mas-remas­nya jari-jari­nya sambil mene­bar­kan pan­dang pada semua orang yang duduk meling­kari kalangan di atas lantai di hadap­an­nya sama dan men­de­sis­kan keluh kesa­kitan.

Sebe­lum Idayu turun menari di kalangan, satu barisan gadis para pem­be­sar telah menari ber­sama mem­per­a­ga­kan kein­dahan tubuh dan kelu­we­san gerak dan kecan­ti­kan wajah. Tapi Sang Adi­pati kehi­langan gairah untuk memi­lih salah seo­rang di anta­ra­nya.

Idayu! Idayu! Hanya Idayu! Meng­apa anak desa per­ba­ta­san ini mampu menak­luk­kan aku? Sekali-dua ia meng­em­bus­kan napas keluh dan ratap yang diteng­ge­lam­kan oleh bunyi game­lan. Seakan aku bukan se-orang tua, tapi seo­rang per­jaka belasan tahun!

Di bela­kang Sang Adi­pati, ber­diri di ping­giran, adalah Tholib Sung­kar Az-Zubaid, ber­ju­bah geng­gang, ber­tar­bus merah. Mata­nya menyala-nyala penuh nafsu berahi, men­ja­mah dan mene­lan tubuh yang sedang ber­leng­gang-leng­gok menari itu. Ia tak ter­bi­asa men­de­ng­ar­kan game­lan, tak ter­bi­asa meli­hat tarian Jawa. Namun semua itu terasa jadi satu kepa­duan yang indah pekat, suatu kein­dahan yang mem­ber­sit dari peda­laman jiwa manu­sia, tak pernah ia dapat­kan pada tarian Spa­nyol dan Por­tu­gis.

Idayu nampak seakan ter­bang, meng­ge­leng-geleng­kan kepala dan mengi­pas-ngi­pas­kan sampur pada muka­nya, seperti kum­bang betina sesung­guh­nya yang sedang kehi­langan akal dan ber­pu­tus asa.

Ah, tubuh yang lang­sing berisi dan gerak-gerik yang memang­gil-mang­gil untuk ber­cumbu itu. Kerjap mata dan gele­tar jari-jari yang meng­un­dang ber­ceng­ke­rama dan ber­cinta itu….

Tangan Tholib Sung­kar Az-Zubaid menge­pal-ngepal, seakan selu­ruh tubuh yang indah itu telah berada dalam geng­gam­an­nya. Bahkan kulit penari di hadap­an­nya itu pun utuh ber­si­nar-sinar dalam kemu­da­an­nya!

Dalam mera­tapi sayap keka­sih­nya yang com­pang-cam­ping, mata kum­bang itu ter­a­yun­kan ke atas, pada langit, menunggu datang­nya keka­sih baru. Dan Tholib Sung­kar Az-Zubaid merasa dalam harap­an­nya, keka­sih baru itu tidak lain dari dir­i­nya.

Di tempat duduk­nya, di sam­ping Sang Adi­pati, agak di bela­kang dan di atas tikar di lantai, Sang Patih hampir-hampir tak ber­ge­rak, takut kalau-kalau kehi­langan mata rantai kein­dahan yang ber­taut-tautan antara bunyi game­lan dan gerak si penari. Serasi yang padu itu mem­ba­wa­nya ter­a­yun-ayun ke dalam pukauan alam mistik yang tak ter­taf­sir­kan. Lenyap ter­de­sak segala kesu­l­itan dan kepa­yah­an­nya mengu­rus pem­bo­rongan rempah-rempah dari Maluku dan peng­a­turan kapal-kapal dan awak­nya.

Tiba-tiba kum­bang yang ter­ting­gal sepi sen­diri itu menge­pak­kan sayap dengan kejang, jatuh di bumi dan meng­ge­le­par. Game­lan men­da­dak ber­henti. Idayu menata diri, ber­sim­puh dan menyem­bah Sang Adi­pati, hilang meng­un­dur­kan diri dari kalangan.

Dari-sana sini ter­de­ngar ter­ba­tuk-batuk dan men­de­ham.

Per­tun­jukan sele­sai.

Sang Adi­pati mening­gal­kan pen­dopo dan lang­sung masuk ke per­a­duan. Dike­bas­kan­nya semua gam­baran dan bayangan ten­tang Idayu. Sebuah pintu raha­sia telah mem­ba­wa­nya ke sebuah ruangan sempit. Dinya­la­kan­nya sebuah pelita gan­tung dan dengan itu mem­buka sebuah pintu lagi. Ruangan sempit itu menu­run dua-tiga depa ke dalam tanah, dan makin lama makin dalam. Ia sedang mema­suki ruangan raha­sia.

Hanya seo­rang dalam satu gene­rasi menge­ta­hui adanya ruangan raha­sia ini. Peng­ganti Sang Rang­gal­awe yang mem­ba­ngun­kan­nya. Jalan yang ber­sam­bung dengan rongga bawah tanah ini meman­jang hampir dua ribu depa, dan diker­ja­kan oleh bajak-bajak yang telah ter­tang­kap. Peng­ganti Sang Rang­gal­awe tak sudi meng­u­langi nasib adi­pati yang digan­ti­kan­nya – ter­tum­pas punah oleh eks­pe­disi hukuman Maja­pa­hit. Maka dibi­kin­nya tero­wongan pan­jang ini untuk mela­ri­kan diri dari kepungan. Sete­lah bajak-bajak ini menye­le­sai­kan peker­ja­an­nya, mereka di-sekap dalam salah sebuah ruangan dan dibu­nuh dengan asap bele­rang. Ruangan itu tak pernah dibuka lagi.

Ujung ter­a­khir dari rongga ini adalah sebuah bukit rendah yang di-rim­buni oleh semak-belu­kar dalam hutan larangan.

Setiap Adi­pati Tuban digan­ti­kan oleh anak­nya, ia men­da­pat petun­juk mema­suki rongga ini dan men­da­pat kewa­ji­ban untuk setiap bulan meme­riksa dan mem­per­ba­iki dengan tangan­nya sen­diri pada bagian-bagian yang rusak.

Balok dan papan kayu jati tua meru­pa­kan din­ding yang meno­lak gugur­nya tanah. Tak ada tanda-tanda kayu itu mela­puk selama lebih dari dua ratus tahun ini. Udara yang basah pengap pun tak kuasa meru­sak­kan­nya: Seben­tar Sang Adi­pati ber­pe­gangan pada salah sebuah balok. Dengan tangan lain ia menan­ting pelita gan­tung.

Gambar Idayu kem­bali mengun­jungi piki­ran­nya, dan diba­wa­nya masuk ke dalam salah sebuah rongga. Ia masih tak rela sebe­lum mati tidak menyen­tuh hasil Awis Kram­bil yang terin­dah itu. Tetapi Idayu telah jadi milik sese­o­rang, telah disak­si­kan oleh selu­ruh pen­du­duk Tuban Kota. Ia tidak boleh mele­tak­kan tangan di tengah-tengah­nya. Ia harus mati tanpa men­ja­mah­nya. Ya, biar pun ia telah kirim­kan Wirang­gal­eng jauh ke barat. Tidak, ia tak boleh laku­kan itu.

Dari sebuah lemari batu ber­la­pis kayu di dalam­nya ia kelu­ar­kan selem­bar kulit yang telah ber­cen­da­wan. Dise­ka­nya lapisan putih cen­da­wan dengan pang­kal lengan dan muncul sebuah peta laut pening­galan Maja­pa­hit, yang telah lebih seabad tak pernah diper­ba­iki. Peta itu sudah hampir hancur. Bahkan kulit itu sen­diri sudah mulai melu­mut di sana sini.

Tak lama ia mem­pel­a­jar­i­nya. Dikem­ba­li­kan barang itu di tem­pat­nya semula dan ber­siap-siap hendak mela­ku­kan peng­a­wasan ter­ha­dap din­ding dan penyangga. Udara yang lembab dan men­ce­kik itu mem­ba­tal­kan niat­nya. Memang ia tak pernah ber­ja­lan sampai ke ujung sana. Dahulu pernah ia tutup dengan papan di dekat ujung, karena ia takut kalau-kalau ular mema­suki dan men­ja­di­kan sarang­nya.

Sambil ber­ja­lan balik ke bilik per­a­duan gambar peta dan gam­baran Idayu silih-ber­ganti meng­isi piki­ran­nya. Setiap kali ia hendak melu­kis­kan tempat-tempat di mana Peranggi berada untuk men­da­pat­kan kesim­pulan gerak mana lagi yang akan diam­bil­nya, gam­baran Idayu juga yang muncul.

Sesam­pai­nya dalam per­a­duan ia tidak juga mengan­tuk. Ia keluar dan menuju ke keput­rian.

Sepu­lang­nya dari pen­dopo kadi­pa­ten Sang Patih mem­buat satu garis pada sebi­lah papan di mana ter­tu­lis nama Wirang­gal­eng dengan huruf Jawa. Pada papan-papan yang lain ter­can­tum nama petu­gas laut dan darat yang ber­tu­gas di luar negeri. Dan cor­etan pada papan juara gulat itu sema­kin banyak juga, namun belum juga utusan itu pulang dari Jepara.

Tholib Sung­kar Az-Zubaid ber­ja­lan cepat-cepat pulang. Lang­kah­nya pan­jang-pan­jang dan jubah­nya diang­kat­nya tinggi-tinggi seakan sedang ber­ja­lan di atas bece­kan.

Dida­pat­i­nya Nyi Gede Kati telah nye­nyak dalam tidur­nya. Seki­las ia pan­dangi mulut wanita yang ternga-nga, mele­la­kan gigi­nya yang mulai kurang hitam. Ia meng­ang­guk-angguk mem­be­nar­kan. Dalam kotak-sir­ih­nya seka­rang tak pernah ter­da­pat jahawe.

Ia nya­la­kan seba­tang lilin baru dan ber­ja­lan menuju ke dapur. Di atas sebuah meja kayu kasar di ruangan dapur ter­da­pat sebuah nampan, di atas­nya ber­diri gendi berisi air dan sesi­sir pisang susu. Ia kelu­ar­kan sebuah bung­kusan dari saku di balik jubah. Ditu­ang­nya sedi­kit serbuk ke dalam gendi itu, diusap-usap­nya gendi itu sambil ter­se­nyum dan meng­ang­guk.

Suatu suara yang men­cu­r­i­ga­kan ter­de­ngar dari keja­uhan. Buru-buru lilin ia padam­kan. Ia ting­gal­kan dapur dengan tangan meng­ge­ra­yang.

Tak lebih dari sete­ngah jam kemu­dian muncul Idayu mem­bawa pelita gan­tung ke ruangan dapur. Diam­bil­nya nampan berisi gendi dan sesi­sir pisang susu dan ber­siap-siap hendak pergi lagi. Ia mulai melang­kah balik. Ter­henti. Sesu­atu telah menyen­tuh kaki­nya. Ia letak­kan kem­bali nampan dan menyu­luhi lantai. Seba­tang lilin ter­golek di bawah. Ia pungut benda itu, mem­per­ha­ti­kan­nya seben­tar dan mele­tak­kan­nya di atas meja. Kemu­dian ia mening­gal­kan ruangan dapur. Betapa keras desau an gin dan deburan laut malam ini.

Ia selalu ber­u­saha untuk tidak men­de­ngar. Justru kare­na­nya ter­de­ngar lebih keras dan meng­ge­li­sah­kan piki­ran­nya. Seki­ra­nya sua­mi­nya ada di rumah, seka­li­pun tidak selalu di dekat­nya, ia tak­l­can sesu­nyi itu, sewas-was ini, dan seke­ras itu deburan laut dan desau an gin ter­de­ngar.

Sesam­pai­nya di dalam kamar­nya sen­diri ia letak­kan nampan di atas meja, juga pelita itu. Kemu­dian sambil ber­diri ia mem­buat sembah meng-ucap­kan syukur pada Hyang Widhi karena tarian telah ia laku­kan dengan baik tanpa kesal­ahan. Ia tak tahu cip­taan siapa tarian itu. Ia tidak suka mena­ri­kan­nya. Isinya tak mem­pu­nyai sang­kut-paut dengan kebe­saran alam dan para dewa. Ia merasa rusuh seka­rang ini sete­lah mena­ri­kan­nya.

Ia lepas cun­drik dari sang­gul dan jatuh­lah ram­but­nya ter­u­rai menu­tupi selu­ruh bahu­nya yang ter­tu­tup kain bahu itu.

Ia telah melang­kah hendak keluar untuk meng­go­sok gigi­nya dengan tepung arang. Tak jadi. Ia merasa lapar dan menang­guh­kan niat­nya. Dipi­lih­nya sebuah pisang ter­baik.

Seekor kecuak ter­nyata ber­teng­ger tanpa curiga pada ujung buah itu, meng­a­tasi­nya dengan kumis pan­jang­nya ber­a­yun-ayun seperti sedang mene­gur bagai­mana tari­anmu sema­lam ini?

Dengan cun­drik­nya Idayu mene­pak bina­tang ramah itu sampai jatuh ke lantai dengan kumis dan bebe­rapa di antara kaki­nya ter­peng­gal.

Dan angin meniup ken­cang di luar, ber­su­ling-suling di sela-sela gen­teng. Api pelita itu agak ber­go­yang. Idayu meli­hat ke atas. Tak ada sesu­atu yang nampak kecu­ali langit-langit dari jajaran papan.

Dengan diam-diam ia kupas pisang dan mema­kan­nya kemu­dian mena­ruh kul­it­nya di atas nampan di atas meja. Sete­lah itu ia pun minum dari gendi.

Seka­rang ia ber­ge­rak hendak keluar untuk meng­go­sok gigi. Sete­lah itu, sebe­lum tidur, ia akan mem­ba­ca­kan man­tera untuk kese­la­matan sua­mi­nya. Tiba-tiba dira­sa­i­nya kepa­la­nya men­jadi berat. Keku­atan dengan cepat seakan ter­se­dot keluar dari tubuh­nya. Peng­li­hat­an­nya mulai ber­a­yun dan suram. Dengan lang­kah goyah ia ber­ja­lan menuju ke ambin. Ia rasai kepa­la­nya mene­kan berat pada tubuh­nya. Ia lim­bung. Cepat-cepat dira­ih­nya ambin agar tidak ter­ja­tuh. Kaki­nya dira­sa­i­nya tak kurang berat­nya. Dan lidah­nya terasa tebal dan kaku, meno­lak untuk ber­ge­rak atau dige­rak­kan.

Dengan tangan satu ia telah ber­pe­gangan pada ambin. Ia masih sempat men­de­ngar cun­drik­nya jatuh di lantai. Ia ingat pada pintu yang belum dipa­sak, dan ia tahu harus mema­sak­nya dulu. Ia tahu bagai­mana pegang­an­nya pada tepi ambin lepas tanpa sema­u­nya sen­diri. Ia merasa tubuh­nya jatuh di lantai dan pera­sa­an­nya ber­a­yun-ayun di awang-awang. Ia heran dan gugup, tetapi tak dapat ber­buat sesu­atu. Tubuh­nya serasa bukan tubuh­nya sen­diri. Dan ia ter­ka­par di lantai. Selu­ruh kesa­daran ter­se­dot keluar dari badan. Yang ter­sisa hanya suatu kesu­r­a­man.

Pada waktu itulah masuk Tholib Sung­kar Az-Zubaid ke dalam kamar. Ia telah tidak ber­ju­bah lagj, tetapi ber­sa­rong dan ber­baju kalong. Tarbus pun tiada pada kepala dan tong­kat tiada di tangan. Ditu­tup­nya pintu dan dipa­sak­nya dari dalam. Diam­bil­nya pelita gan­tung dari atas meja dan disi­nar­i­nya wajah Idayu yang ter­ka­par di lantai, ter­ti­dur. Diusap-usap­nya pipi wanita itu. Pelita kemu­dian dija­tuh­kan­nya. Diang­kat­nya tubuh wanita itu dengan hati-hati dan dengan hati-hati pula digo­lek­kan­nya di atas ambin….

Kee­sok­an­nya matari telah tinggi di langit sete­lah dengan susah-payah mene­ro­bosi dasar laut Pintu kamar gandok kiri itu masih juga belum ter­buka. Di gandok kanan para nakhoda dan sau­da­gar telah mening­gal­kan tem­pat­nya masing-masing untuk pergi ke kota atau mancal ber­pe­siar. EM dapur kesyah­ban­daran Nyi Gede Kati sudah sibuk mema­sak.

Idayu belum juga muncul.

Waktu menara pela­buhan mengir­im­kan taluan canang ke semua mata angin, Idayu baru mem­bu­ka­kan mata. Tubuh­nya belum juga ber­ge­rak. Ia ter­ba­ngun dari suatu impian aneh. Dan ia mulai meng­i­ngat-ingat impian itu. Ia meng­ge­leng tak mem­per­ca­yai. Mata­nya diko­cok­nya. Mene­ngok ke arah pintu. Ia ragu-ragu, ter­sen­tak duduk. Dili­hat­nya pasak pintu tidak ter­pa­sang. Juga tidak ber­diri di tem­pat­nya. Siapa gerangan telah memin­dah­kan dari tem­pat­nya yang biasa?

Ia ter­ke­jut waktu piki­ran­nya men­duga-duga barang­kali ada orang masuk ke kamar­nya atau­kah Galeng sudah pulang?

Ia hendak melom­pat turun. Tapi tubuh­nya dira­sa­i­nya sangat lemah. Pelan-pelan ia turun dari ambin. Kaki­nya ter­sen­tuh pada cun­drik yang ter­ge­le­tak di kolong. Dipu­ng­ut­nya sen­jata tajam itu dan dima­suk­kan ke dalam sarong­nya yang juga ter­ge­le­tak di lantai.

Ing­at­an­nya dike­rah­kan untuk meraih waktu sema­lam sebe­lum tidur.

Ia yakin sema­lam belum lagi naik ke atas ambin.

Mata­nya ter­be­liak men­da­dak. Di tepian langit-langit dili­hat­nya serom­bongan semut ber­pa­wai meng­go­tong kaki kecuak. Pelita gan­tung itu masih menyala tetapi tidak di tempat yang semes­ti­nya. Dan ia masih dapat meng­i­ngat dalam impian: sese­o­rang meng­ang­kat­nya ke atas ambin dan hem­busan napas­nya meniup pada muka­nya. Sayup-sayup ia dengar suara yang dike­nal­nya itu mera­yu­kan kata-kata cumbu pada kuping­nya.

Ia meme­kik, tetapi tak ada suara keluar dari mulut­nya.

Keka­cauan merang­sang piki­ran­nya. Ia melom­pat ke ambin. Seli­mut­nya masih ter­li­pat rapi di atas bantal. Tapi bantal itu sen­diri tidak berada di tempat. Ia ter­ma­ngu-mangu. Apakah benar impin itu? Tuan Syah­ban­dar Tuban Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa?

Ia ter­ke­jut, ter­sa­dar sedang dalam kea­daan telan­jang bulat. Tak mung­kin! teri­ak­nya dengan suara meng­gi­gil dalam hati. Pas­ti­lah mung­kin sema­lam telah kule­pas.

Ia periksa tubuh­nya, dan dira­sa­i­nya ada bekas-bekas dari impian sema­lam.

Ia ter­du­duk lemas. Ber­sim­puh ia dan mene­lung­kup pada tepian ambin dan ter­hi­sak-hisak: “Dewa Batara! Impian apakah yang kau beri­kan padaku ini?”

Men­dung ber­gu­lung ber­pu­sing-pusing dalam hati­nya.

“Meng­apa kau jadi begini, Nak?” Nyi Gede Kati meno­long­nya ber­diri. “Kau sakit?”

Ia ber­diri sambil memu­ngut kain­nya yang ter­ka­par di lantai dan menge­na­kan­nya. Dengan lang­kah lung­lai ia pergi ke tempat mandi.

Sehari itu ia tak makan. Juga tak bicara. Dan sejak hari itu ia nampak murung. Tetapi impian itu mem­bu­ru­nya terus. Ia meng­gi­gil, menye­but, mena­ngis, memo­hon, mem­baca man­tera….

Tiga hari kemu­dian, tengah malam, ia meng­ha­dap pada Hyang Widhi, memo­hon: “Kalau impian itu benar, duh Gusti, apalah guna­nya hidup yang kau beri­kan padaku ini? Ambil­lah dia kem­bali, Gusti.”

Dan Hyang Widhi tidak men­ca­but hidup yang dibe­ri­kan kepa­da­nya.

Pada hari yang ke sem­bi­lan ia ulangi meng­ha­dap. Juga Hyang Widhi tidak men­ca­but­nya. Dan impian itu bukan sekali saja ter­jadi. Setiap Sang Adi­pati memang­gil­nya untuk menari, hampir selalu impian ter­ku­tuk itu datang meleng­kapi. Dan tak ada seo­rang pun yang dapat dia­jak­nya bicara ten­tang itu.

Pernah ia men­duga: di dalam kamar ting­gal ini barang­kali ada juga gan­darwa ter­ku­tuk. Ia telah tabur­kan tepung garam pada pojo­kan-pojo­kan dan telah ia pasang sesaji, ia pun telah bakar dupa dan setanggi. Tanpa hasil. Tetap juga Syah­ban­dar Tuban Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa datang ber­kun­jung di dalam impi­an­nya, dan mem­bu­juk, dan merayu, dan meme­luk­nya, tin­dakan demi tin­dakan sampai selu­ruh per­cin­taan sele­sai. Ia masih saja dapat rasai sen­tuhan jeng­got, kumis dan cam­bang-bauk­nya.

Dalam alam jaga pasti aku akan mela­wan, pikir­nya. Meng­apa dalam alam impian tak dapat?

Ia pun ucap­kan mantra-mantra peno­lak gan­darwa seba­gai­mana pernah dipel­a­jari dan diha­fal­nya. Juga tanpa daya.

Pernah juga ia ber­pi­kir: mung­kin semua ini peker­jaan Tuan Syah­ban­dar yang mem­pu­nyai daya sihir unggul. Dan piki­ran itu saja sudah mem­bi­kin ia ber­gi­dik, merasa diri tak ada kemam­puan mela­wan­nya kecu­ali ber­san­dar pada per­lin­dungan Hyang Widhi.

Pernah juga ia ber­te­kad untuk mening­gal­kan kesyah­ban­daran dan pulang ke desa. Tetapi sang Adi­pati tidak pernah meng­i­zin­kan­nya dan ia tak berani mem­per­se­m­bah­kan alasan.

Rupa­nya belum lagi cukup ter­siksa batin­nya selama ini: ia rasai tubuh­nya sen­diri mulai beru­bah. Ia mengan­dung. Sekali lagi dibe­ra­ni­kan­nya hati­nya meng­ha­dap Sang Adi­pati. Dan ini ter­jadi pada suatu sore di beranda bela­kang. Ia duduk ber­sim­puh di lantai. Sang Adi­pati di ambin kayu ber­u­kir.

“Kau pucat dan kurus, Idayu, Kama­ra­tih Tuban. Ada apa gerangan, pujaan Tuban?”

”Ampun, Gusti sese­m­ba­han patik, justru itulah sebab­nya patik datang meng­ha­dap. Lim­pah­kan kira­nya ampun Gusti Adi­pati pada patik, karena patik ber­ha­langan untuk menari dalam bebe­rapa bulan ini.”

”Ah-ya, Idayu, agak­nya kami meng­erti. Barang­kali kau mengan­dung.”

“Demi­ki­an­lah adanya, Gusti sese­m­ba­han patik.”

“Ber­ba­ha­gi­a­lah kau. Kata orang tua-tua, anak-anak ber­ba­ha­gia akan dila­hir­kan dari per­cin­taan yang sejati. Ber­ba­ha­gi­a­lah anakmu itu kelak, Kama­ra­tih Tuban.”

Dalam duduk mene­kuri lantai ia ter­i­ngat pada sua­mi­nya yang belum juga pulang. Dan ia ingat pada pesan­nya untuk mem­bela diri. Ia ber­se­dia mem­bela diri dan ter­nyata dalam impian tidak punya kemam­puan. “Adakah lagi yang hendak kau per­se­m­bah­kan?”

“Ampun, Gusti, bila diper­ke­nan­kan, patik memo­hon diper­ke­nan­kan pulang ke desa Gusti.”

Sang Adi­pati ter­tawa ramah dan tulus.

‘Tidak senang­kah kau jadi istri pung­gawa maka minta pulang ke desa?” Ia bang­kit men­de­kati penari kena­maan itu. Waktu tangan­nya telah sampai pada kepala Idayu dan hendak mem­be­lai ram­but­nya, segera ia mena­rik­nya kem­bali.

“Jangan,” larang­nya sete­lah duduk kem­bali di ambin. “Sua­mimu belum juga pulang. Kalau kau per­lu­kan sese­o­rang untuk mem­bantu atau mene­man­imu di rumah….”

Pada waktu itu men­teri-dalam Kadi­pa­ten datang ber­se­m­bah, bahwa segala telah diper­si­ap­kan untuk Idayu.

“Dengar, Idayu, selu­ruh Tuban dan kami sen­diri sangat meng­har­gai segala yang telah kau per­tun­juk­kan di hadapan kawula Tuban dan kami selama ini. Kau seka­rang mengan­dung. Lama takkan menari. Biar pun begitu kami tak ber­ke­nan mem­bi­ar­kan kau pulang ke desa. Inilah hiburan untukmu, maju­lah Idayu, dan teri­ma­lah.” Idayu menge­sot maju dan mene­rima bung­kusan dari tangan Sang Adi­pati.

“Dan sejak hari ini. Idayu, kami ber­ke­nan meng­ang­kat kau dengan gelar Nyi Gede,” kemu­dian pada men­teri-dalam, “hen­dak­nya dimasy­hur­kan anu­ge­rah gelar ini pada sore hari ini juga,” dan kem­bali pada Idayu, “pulang­lah kau, Nyi Gede, sejah­tera untukmu!”

Sese­o­rang wanita muda meng­an­tar­kan­nya pulang. Dan sejak itu ia men­jadi pem­bantu dan teman seka­mar­nya.

Anu­ge­rah gelar itu dibe­nar­kan oleh selu­ruh Tuban. Dan berita tidak resmi tidak kurang mena­rik­nya: Kama­ra­tih Tuban mulai mengan­dung. Para wanita tua mulai sibuk menunggu keda­tangan sang bayi hasil per­cin­taan ber­pri­badi sema­cam itu yang kelak akan jadi cer­lang-cemer­lang dengan kasih para dewa, akan men­jadi kebang­gaan selu­ruh negeri di kemu­dian hari.

Orang tua-tua pun pada ber­bon­dong-bon­dong menge­ru­muni pintu ger­bang kesyah­ban­daran. Dan Paman Marta, tukang kebon itu, mene­rus­kan pesan dan sum­bangan kepada Idayu.

Seba­lik­nya Idayu sema­kin ber­ke­cil hati. Sema­kin hari ia sema­kin kurus dan merana. Wajah­nya pucat kehi­jauan sehingga pem­bu­luh darah­nya seakan hendak keluar dari balik kul­it­nya.

Ia jarang keluar rumah, lebih banyak meng­ge­le­tak di ambin, dengan tem­po­long menunggu di bawah­nya untuk setiap waktu mene­rima segala apa yang dimun­tah­kan­nya dari mulut­nya. Dan pem­ban­tu­nya dengan sabar memi­jiti teng­kuk dan pung­gung­nya tanpa meng­u­cap­kan sesu­atu kata.

Dan bila malam telah larut dan wanita muda dari kadi­pa­ten itu telah ter­le­lap di pojo­kan, mulai teri­akan-teri­akan itu mera­ung dalam sanu­ba­ri­nya: Anak sia­pa­kah kau yang berada di bawah jan­tungku ini? Anak Kang Galeng. Bukan, dia anak tuan dalam impian itu. Bukan, dia anak Kang Galeng.

Telah bera­tus, mung­kin beribu kali ia men­coba meya­kin­kan diri sen­diri: ”Kau anak Kang Galeng, Nak, anak Kang Galeng, tidak bisa lain.” Sambil mem­be­lai perut­nya yang sema­kin besar juga. “Tak ada gan­darwa atau dru­biksa bisa bun­ting­kan manu­sia. Nak, kau dengar aku? Kau anak Kang Galeng.”

Namun tetap ada suara lain meleng­king dengan nada tinggi meman­car dari peda­laman hati. Dan suara itu meng­a­tasi yang lain-lain: Itu anak tuan Sayid, tuan Syah­ban­dar. Jangan coba-coba bohongi diri sen­diri. Anak Sayid! Sayid yang sakti man­t­ra­guna, Idayu! Tetap tak ada seo­rang pun dapat dia­jak­nya bicara. Maka ia pun mem­bisu ten­tang­nya.

Nyi Gede Kati pernah mene­gur­nya: “Banyak wanita tak bosan-bosan­nya memo­hon untuk dika­ru­niai anak. Kau, Idayu, meng­apa murung seperti tak rela men­da­pat­kan karu­nia?”

Ia sema­kin kurus juga dan keten­te­raman batin­nya tak juga pulih. Kadang-kadang ia rasai tangan-tangan maut meng­ge­ra­yangi kaki­nya. Dan dike­ras­kan hati­nya dengan mantra buatan sen­diri: Tidak, ya Batara, jangan biar­kan aku mati sebe­lum ber­temu dengan sua­miku. Hidupi aku, ya Batara, dan beri­kan pada kami impian dulu dan selalu kami pohon­kan dulu kepada-Mu.

Tak pernah ia merasa sede­kat seka­rang dengan Hyang Widhi. Batas antara hidup dan mati itu kini sung­guh-sung­guh telah kehi­langan kese­raman dan kesung­guhan. Dan: Ya, Batara, biar­lah Kang Galeng tahu lebih dahulu anak ini anak­nya atau bukan. Bila tidak, biar­lah dia puas­kan keris­nya pada dadaku seba­gai­mana telah jadi haknya, karena hidup tanpa kasih-sayang tiada kan ada guna­nya..

Tengah hari kala itu. Ter­de­ngar Paman Marta ber­seru-seru riang: ‘Tuan Syah­ban­dar-muda datang, Nyi Gede!”

Idayu mera­sai adanya keku­atan segar tiba-tiba mera­suki selu­ruh otot dan hati­nya. Ia melom­pat dari ambin, lupa pada kan­dung­an­nya, ber­ja­lan cepat ke bela­kang, mandi, kem­bali lagi ke kamar dan ber­so­lek secan­tik mung­kin. Dise­nyum-senyum­kan­nya bibir yang pasi itu pada cermin perunggu. Disi­sir­nya ram­but­nya cepat-cepat, dimi­nyak­inya dan disi­sir­i­nya lagi. Diam­bil­nya pakaian ter­baik tenunan sen­diri. Kemu­dian dengan ter­buru-buru meng­go­sok gigi dengan tepung arang.

Kang Galeng datang, hati­nya ia paksa menya­nyi keras untuk menin­das leng­king yang selalu menu­duh pada tiap kesem­patan itu.

Duduk­lah ia kini di bangku serambi kamar, menunggu sua­mi­nya mema­suki pela­taran depan. Taman bunga di depan kesyah­ban­daran itu kehi­langan kein­dah­an­nya. Warna-warni bunga-bungaan tiada ber­arti lagi bagi­nya. Dan yang ditim­g­gu­nya belum juga kun­jung muncul.

“Benar, Nyi Gede,” jawab Paman Marta. “Sahaya sen­diri sudah meli­hat­nya. Biar sahaya tengok lagi di bandar.”

Lelaki itu ber­ge­gas mening­gal­kan pela­taran kesyah­ban­daran dan turun ke jalan besar. Muka­nya ber­seri-seri ber­ba­ha­gia telah men­da­pat per­ta­nyaan dari Dewi Cinta yang sedang merana itu. Tak lama kemu­dian ia muncul lagi dan ber­diri mene­kur di hadapan Idayu; “Orang bilang, Nyi Gede, Ban­dara Syah­ban­dar-muda lang­sung naik ke kota.”

Nyi Gede Kati datang dan mene­gur­nya: “Kau keli­hatan ber­da­rah, Idayu. Meng­apa tak kau kena­kan per­hi­as­anmu? Kau belum tahu bagai­mana rindu sua­mimu ter­ha­dapmu?”

“Boleh­kah sahaya pergi, Nyi Gede?” Paman Marta minta diri.

Idayu meng­ang­guk dan tukang kebun itu pergi untuk mene­rus­kan peker­ja­an­nya.

“Sejak kecil kami ber­gaul tanpa per­hi­asan, Nyi Gede.”

“Seba­ik­nya kau kena­kan, Nak.”

“Meng­apa dia tak lang­sung pulang?” Idayu ber­ta­nya dengan nada protes.

“Dia pergi bukan untuk ber­pe­siar, Nak. Dia harus meng­ha­dap dulu. Itu kewa­ji­b­an­nya.”

Idayu masuk ke dalam kamar. Memang ada niat untuk menge­na­kan per­hi­asan dan ber­ganti dengan pakaian karu­nia Sang Adi­pati, salah satu dari sekian banyak karu­nia yang telah dite­ri­ma­nya sete­lah keper­gian sua­mi­nya. Suatu keku­atan men­ce­gah­nya. Dan ia tetap dalam pakaian tenunan sen­diri.

Sebe­lum matari teng­ge­lam suami yang dir­in­du­kan itu nampak mema­suki pela­taran depan. Idayu ber­diri menyam­but­nya di beranda. Kedua belah tangan­nya telah merasa hangat untuk segera dapat meraih seperti dulu sebe­lum lelaki itu jadi sua­mi­nya, dan mem­bi­sik­kan kata-kata cumbu.

Darah­nya men­da­dak men­di­dih dan semua kerin­du­an­nya buyar.

Tholib Sung­kar Az-Zubaid lari-lari kecil menu­runi tangga kesyah­ban­daran dan memang­gil sua­mi­nya yang sedang ber­ja­lan menuju pada­nya.

Galeng ber­henti, balik kanan jalan dan mem­bung­kuk pada Syah­ban­dar, maji­kan­nya.

Syah­ban­dar Tuban meng­ang­guk sambil ter­tawa. Ia tegak­kan bong­kok, melam­bai kemu­dian ber­te­puk-tepuk: “Wira, Ah, Wira!”

Dan Wirang­gal­eng meng­iring­kan­nya masuk ke gedung utama.

“Semua orang memi­l­ik­i­nya, kecu­ali aku,” Idayu mem­pro­tes.

“Mari ke gedung utama, Idayu,” Nyi Gede Kati meng­a­jak.

Untuk petama kali ia bicara sengit pada wanita itu: “Tempat sua­miku ada di sini, Ibu. Kalau dia tak mau pulang, biar­lah tak muncul lagi.”

“Cem­buru kau, Idayu?”

Idayu ter­se­dan-sedan ter­ce­kik oleh keke­ce­wa­an­nya, ter­se­dan-sedan untuk ke sekian kali­nya selama ini. Sia-sia Nyi Gede Kati meng­hi­bur­nya.

“Biar aku suruh pulang dia,” kata­nya, kemu­dian melang­kah cepat-cepat ke gedung utama. Idayu masuk ke dalam kamar, mere­bah­kan diri ke ambin. Ia menye­sal telah meng­a­sari Nyi Gede Kati yang selama itu begitu baik ter­ha­dap­nya. Tak lama kemu­dian dike­ta­hu­i­nya sua­mi­nya masuk. Ter­de­ngar oleh­nya sua­ra­nya.

“Dewiku! Dewiku! Kakangmu datang.”

Semua pen­de­ri­ta­an­nya ia rasai luluh cair. Tetapi ia pura-pura tak dengar. Maka ia rasai tangan-tangan kuat sua­mi­nya meng­ang­kat tubuh­nya dari ambin, men­de­kap­kan pada dada­nya yang bidang. Ia mena­ngis untuk ke sekian kali­nya, tapi yang seka­rang bukan tangis derita – tangis baha­gia tanpa ukuran.

“Kau kurus, Idayu, Kau ter­lalu banyak menari.”

“Ah, kau, Kang Galeng, berapa bulan aku harus tunggu kau. Semes­ti­nya kau sudah merasa, bukan hanya aku seo­rang yang merin­du­kan, juga Kang, juga anak yang sudah meng­in­tip di bawah jan­tung ini.”

“Mengan­dung! Kau mengan­dung, Idayu?” ia letak­kan kem­bali istri­nya ke atas ambin. Ia buka kain Idayu. Ia ciumi anak yang ber­se­m­bu­nyi di balik kulit perut. Dan sua­ra­nya men­de­sis gugup: “Aih, anakku! Anakku! Tiada aku sangka!” ia kagumi istri­nya. “Mereka memuji-muji kau belaka, Idayu, mereka semua memo­hon untuk kese­jah­te­raan dan kese­la­mat­anmu. Dan anak ini juga. Mereka bilang, kau sedang mengan­dung. Dan mereka bilang, kau sudah men­da­pat karu­nia gelar….”

Dan malam datang dengan cepat­nya.

Dunia men­jadi tenang. Hanya desau dan deburan ombak mening­kahi sua­sana. Seben­tar burung tuwuk melin­tasi malam, menye­bar­kan seru­an­nya yang keras dan tung­gal itu. Idayu ter­golek di ambin. Mata­nya ter­pe­jam menik­mati keda­maian dan keba­ha­gi­aan di sam­ping sua­mi­nya yang sedang ter­golek juga.

Juara gulat itu sedang meng­a­wasi sotoh dengan pan­dang menem­busi masa silam dan masa yang baru saja dile­wat­i­nya. Oleh Sang Patih ia dipuji-puji seba­gai seo­rang pung­gawa ber­ba­kat dan pasti akan men­da­pat­kan tugas-tugas yang lebih ber­arti. Semua peker­ja­an­nya diang­gap ber­ha­sil. Ia sen­diri tidak tahu di mana dan bagai­mana hasil peker­ja­an­nya itu. Sang Patih telah mem­ba­wa­nya meng­ha­dap Sang Adi­pati. Pengu­asa itu meni­tah­kan pada Sang Patih untuk meng­un­dur­kan diri, kemu­dian sen­diri ber­kata pada­nya: ‘Tidak salah pilih­anku, kau, Wirang­gal­eng, kau, anak desa…. cepat atau lambat kaulah orang yang akan memang­gil kem­bali keja­yaan dan kebe­saran masa silam untuk Tuban. Mung­kin kau sen­diri belum meng­erti di mana pen­ting­nya hasil peker­ja­anmu sekali ini. Kelak kau akan meng­erti juga. Kau tahu apa yang seha­rus­nya kau keta­hui. Itulah raha­sia keku­at­anmu. Kau ada kemam­puan, hanya barang­kali belum pernah ter­lalu rindu padamu. Dan perlu kau keta­hui, selama ini ia sering menari di sini.’

Ia ber­be­sar hati karena semua pujian itu. Pujian dari Sang Patih dan Sang Adi­pati sen­diri! Orang-orang yang begitu ber­ku­asa! Dan ia ber­janji pada diri sen­diri untuk menye­di­a­kan waktu guna mema­hami di mana hasil peker­ja­an­nya di Jepara dan Demak selama ini.

“Kau tak juga ber­ce­rita, Kang,” tegur istri­nya.

“Ter­lam­pau lama kuting­gal­kan kau, Idayu. Tak bisa lain.”

“Seka­rang kau sudah begini dekat, Kang, dan kau belum juga men­ce­ri­ta­kan sesu­atu.”

“Aku rindu, Idayu. Kau rindu juga?” dan Idayu tak men­ja­wab. “Meng­apa kau diam saja? Marah?”

“Aku selalu keta­kutan, Kang.”

“Aku tahu apa yang kau takut­kan,” Wirang­gal­eng mem­ba­yang­kan Sang Adi­pati dan Syah­ban­dar Tuban. “Tetapi aku tahu juga kau akan mem­bela diri dan pandai mela­ku­kan itu.”

Idayu merang­kul­nya. Sua­ra­nya geme­tar: “Di tanganku ada cun­drik, Kang,” ia mengu­at­kan rang­kul­an­nya. “Tangan ini tiada kuasa, layu-lesu tanpa daya. Karena, Kang, dia datang dalam impian.”

“Dan kata orang tua-tua,” Wirang­gal­eng mene­rus­kan, ”jangan ber­buat dosa, seka­li­pun dalam impian’ Kau masih ingat itu, Idayu?”

“Dia justru datang dalam impian, Kang, dan tak ada cun­drik di tanganku.”

“Kau sedang ber­ce­ri­cau, Idayu! Bica­ramu begini aneh,” dan digo­yang-goyang­kan­nya tubuh istri­nya. “Apa mak­sudmu?”

Ber­ce­ri­ta­lah Idayu ten­tang peng­a­laman mimpi yang ber­u­lang ter­jadi hampir pada setiap ia pulang dari menari. Dan Wirang­gal­eng men­de­ng­ar­kan cermat-cermat seba­gai­mana biasa ia deng­ar­kan setiap kata dari keka­sih­nya.

Penu­tup cerita adalah per­ta­nyaan: “Bagai­mana, Kang, seki­ra­nya impian itu benar?”

“Impian ting­gal­lah impian.”

“Dan anak di bawah jan­tung ini. Kang, kan bukan anakmu?”

“Husy. Orang bun­ting memang suka meng­ada-ada.”

“Maka, Kang, maka akan kau hunus keris, kelak. bila si anak lahir, dan akan kau tikam keka­sihmu ini. Kau akan tarik sebi­lah pedang dan kau cin­cang si bayi yang ter­ti­dur di sam­ping bang­kai ibunya. Kemu­dian kau akan lari, lari, lari entah ke mana, mem­bawa dendam dan kesa­kitan di dalam hati. Tetapi tak ada tempat di mana kau akan pernah sampai. karena ing­at­anmu selahi akan kem­bali pada keka­sih yang lelah kau­hatra dengan keris sen­diri….”

“Kau sema­kin aneh, Idayu. Diam, diam­lah. Impian ting­gal impian, kenya­taan tetap kenya­taan. Tidur­lah. Atau harus­kah kunya­nyi­kan lagi kau ini seperti dahulu di ladang?”

Idayu ter­diam tak bicara lagi. Kem­bali ia mengu­kuh­kan: rang­kul­an­nya pada dada sua­mi­nya. Dan dada yang bidang itu melin­dung­i­nya dari kege­li­sahan dan keta­kutan.

Dan Wirang­gal­eng mem­bi­ar­kan­nya. Angan Syah­ban­dar-muda itu kini sibuk meng­ga­lang gam­baran hari depan yang penuh dengan kebe­saran, keja­yaan dan keme­gahan. Semua dimu­lai dengan cipta, kata Rama during. Semua itu tak bakal ada tanpa cita. Dan puji-pujian seben­tar tadi mung­kin per­tanda ada daya cipta di dalam jiwa­nya. Apakah cipta? Guru-guru­nya dulu belum pernah ada yang meng­a­jar­kan. Ia tak tahu. Ia ber­u­saha meya­kin­kan diri, ia meng­erti apa yang dike­hen­daki Sang Adi­pati dan Sang Patih atas dir­i­nya: kepa­tuhan pada perin­tah dan men­ja­lan­kan dengan sebaik-baik­nya tanpa meng­in­dah­kan soal-soal sele­bih­nya. Dan inilah rupa-rupa jalan untuk memang­gil kem­bali kebe­saran dan keja­yaan masa silam. Bukan­kah tidak lain dari Sang Adi­pati sen­diri yang menga­ta­kan: tak ada kebe­saran dan keja­yaan dapat dipang­gil pada gua­garba hari depan tanpa restu seo­rang raja? Benar. Semua benar. Dan ter­pam­pang di hadap­an­nya kini hari depan yang gilang-gemi­l­ang itu: Tuban yang tiada tara, dengan Ang­katan Laut­nya yang men­je­la­jahi semua samudra dan mengu­a­sai pulau-pulau…. Semua akan ter­jadi karena jasa-nya, jasa Wirang­gal­eng. Demak dan Jepara tidak bakal bisa menan­dingi Tuban. Mereka di barat sana tak tahu apa makna memang­gil kem­bali kebe­saran dan keja­yaan Maja­pa­hit pada gua­garba hari depan. Mereka tak tahu!

Dalam sua­sana hati yang naik sema­ngat itu ia meng­u­cap­kan terima kasih pada men­di­ang Rama Clu­r­ing dan semua guru-pem­bi­ca­raan yang pernah dide­ng­ar­nya.

Seakan meng­erti apa yang sedang meng­ge­le­gak dalam hati sua­mi­nya, Idayu ber­bi­sik lembut: “Nam­pak­nya desa kita makin lama makin jauh dari lang­kahmu, Kang. Rasa-rasa­nya kita takkan sampai-sampai juga ke sana.”

“Sampai,” bisik juara gulat itu.

“Gubuk kita tak juga kan ber­diri di ping­gir hutan itu, Kang. Ayam jantan yang seekor itu terasa bisu tiada kan ber­ke­ru­yuk untuk selama-lama­nya. Dan anjing-anjing kita takkan bisa jadi cerdik, juga untuk selama-lama­nya.”

“Bisa.”

“Atap ila­lang itu tak juga kau ganti dengan injuk. Kau tak juga ber­mak­sud ke hutan menya­dap enau dan mem­bawa pulang injuk­nya yang hi tarn kelam pilihan itu.”

Wirang­gal­eng ter­tawa dan dita­rik­nya kuping is trinya: “Makin tua kau makin cere­wet.”

Dan Idayu tetap meme­luk sua­mi­nya, mene­kan­kan kuping pada dada­nya agar tak men­de­ngar desau angin dan deburan laut.

Meli­hat istri­nya telah tidur dalam keda­maian dan kenye­nya­kan, ia mem­bi­ar­kan angan­nya lepas bebas tanpa batas.

Apa kata Rama Clu­r­ing? ‘Aku bicara tidak ten­tang kema­tian, tetapi ten­tang kehi­dupan yang ber­cipta dan men­cipta. Aku tak bicara ten­tang kema­tian, karena tanpa dibi­ca­ra­kan pun dia akan datang tepat pada wak­tu­nya’. Meng­apa Idayu lebih suka bicara ten­tang kema­tian? Tidak betul. Keliru! Yang benar adalah hidup, kehi­dupan dan gelora­nya, dipim­pin oleh cipta dan dime­ri­ah­kan oleh kerya men­cipta.

Pagi-pagi benar Idayu sudah memu­lai dengan kata-kata­nya yang aneh. Ia tuding­kan dagu­nya ke arah jen­dela rumah utama. Sua­mi­nya meng­i­kuti arah tuding­an­nya, dan dili­hat­nya pada jen­dela itu seba­gian dari muka Syah­ban­dar Tuban.

“Kau lihat sen­diri seka­rang bagai­mana dia selalu meng­in­tip ke sini disi­ang hari. Kadang-kadang bebe­rapa kali. Dan dia datang kemari dalam impian di waktu malam.”

“Diam, Idayu. Kau ter­ganggu karena kan­dung­anmu.”

Wirang­gal­eng dapat menang­kap kilat pada mata Thotib Sung­kai Az-Zubaid. Ia ter­ce­nung. Barang­kali keluhan dan cerita istri­nya bukan tidak punya dasar.

Namun ia tetap tidak menang­gapi.


Bab 11

Menyerang Malaka

Duta Tuban yang meng­ha­dap Sultan Demak telah kem­bali dengan mem­bawa serta Raden Kusnan, salah seo­rang putra Sang Adi­pati.

Bebe­rapa minggu sete­lah itu pasukan laut Tuban naik ke atas kapal-kapal perang yang telah ber­la­buh ber­ja­jar pada der­maga, sebuah jalur karang yang men­jo­rok ke laut. Lima ratus pra­ju­rit laut akan berang­kat mening­gal­kan Tuban. Dan gen­de­rang ramai ber­talu diting­kah oleh bunyi kenong.

Pra­ju­rit-pra­ju­rit itu telah men­ja­lani latihan ulangan selama tiga bulan.

Dari selu­ruh negeri orang datang untuk meng­un­tap­kan para pra­ju­rit yang hendak berang­kat ber­la­yar. Juga untuk menga­gumi kapal-kapal baru yang habis ditu­run­kan dari galangan. Dan memang tak pernah selama keku­a­saan Adi­pati Tuban Arya Teja Tumeng­gung Wil­wa­tikta ter­jadi pem­be­rang­katan pasukan laut seba­nyak seka­rang.

Tahun 1513 Masehi.

Gugusan pasukan laut Tuban akan dipim­pin oleh Raden Kusnan. Wirang­gal­eng dengan resmi telah diang­kat jadi pem­bantu-uta­ma­nya. Sang Adi­pati sen­diri yang melan­tik bebe­rapa hari yang lalu. Dan tujuan gugusan ini: Jepara. Tujuan yang banyak menim­bul­kan teka-teki, karena nam­pak­nya Sang Adi­pati mengir­im­kan mereka tidak dengan tujuan mere­but kem­bali bandar ter­ba­rat milik Tuban itu.

Sebe­lum layar-layar dikem­bang­kan Sang Adi­pati men­ja­tuh­kan titah kepada put­ra­nya: “Kau, Raden Kusnan, kami per­ca­ya­kan gugusan pasukan laut Tuban ini. Berang­kat kau sampai ke Jepara. Jangan tidak, ber­ga­bung kau dengan armada Jepara. Kau sen­diri lebih tahu ten­tang apa yang harus kau per­buat. Sete­lah ber­ga­bung kau berada di bawah perin­tah Gusti Adi­pati Unus Jepara, yang akan ber­tin­dak seba­gai lak­sa­m­ana. Ker­ja­kan kewa­ji­b­anmu dengan baik. Semoga sejah­tera selalu kau, kapal-kapalmu dan anak-buahmu.”

Layar-layar pun meng­ge­lem­bung dan lima buah kapal perang itu berang­kat. Semua diper­sen­ja­tai dengan cet­bang bikinan Tran­tang. Jurusan: barat. Angin cukup baik. Pen­da­yung-pen­da­yung pem­bantu untuk mem­per­laju pela­yaran tidak diper­gu­na­kan.

Dari kapal dan dari darat sorak-sorai ber­gema ber­sam­but-sam­butan. Makin jauh kapal-kapal dari darat sorak-sorai ber­ganti dengan lam­baian umbul-umbul dan selen­dang dan tangan.

Makin jauh lagi, umbul-umbul dan selen­dang digan­ti­kan oleh doa. Makin jauh dan makin jauh. Dan gugusan itu ber­pi­sahan dengan alam dan manu­sia Tuban.

Para pra­ju­rit dan awak kapal ber­seri-seri. Seka­rang­lah baru mereka menem­puh jarak jauh. Pen­do­ng­eng mulai mem­buka cerita dan mem­ben­tuk ling­karan pen­de­ngar di atas gela­dak Dalam ling­karan yang lebih kecil orang mulai meren­tang­kan pen­da­pat­nya ten tang sesu­atu hal ter­tentu.

Pada hari per­tama itu Wirang­gal­eng lebih ban yak ber­ja­lan mondar-mandir di gela­dak untuk menye­su­ai­kan diri dengan kehi­dup­an­nya yang baru. Juga ia sedang menim­bang-nim­bang diri apakah bakal mabuk laut atau tidak. Sudah dua kali ia naik kapal, dan selalu merasa tidak enak badan. Seba­gai pem­bantu utama kepala gugusan ia akan jatuh harga bila sampai mabuk laut. Dan dengan terus ber­ja­lan mondar-mandir begini ia harap akan men­da­pat­kan daya-tahan yang men­cu­kupi

Tetapi peng­hor­matan yang ber­le­bihan itu mem­bi­kin ia men­jadi kikuk. Ia merasa risi men­da­pat per­ha­tian orang. Dan ia tahu ia lebih diper­ha­ti­kan dari­pada Raden Kusnan. Memang sudah men­jadi kebi­a­saan pen­du­duk Tuban lebih mem­per­ha­ti­kan peja­bat yang ber­a­sal dari orang keba­nyakan. Anak ning­rat, apa­lagi putra Sang Adi­pati, bukan­lah suatu kelu­ar­bi­a­saan bila men­du­duki jabatan pen ting. Tetapi anak desa, hanya karena keist ime waan saja bisa mening­kat ke atas.

Ya, Ia merasa cang­gung. Namun ia tahu, ia hams ber­u­saha mening­gal­kan kesan, tak ada maksud pada­nya untuk meniru-niru ting­kah pem­be­sar ning­rat. Ia jawab pan­dang mata bawah­an­nya dengan senyum ramah. Ia dekati mereka dan deng­ar­kan kata-kata mereka dengan per-hatian. Ia tanyai mereka yang nampak murung. Ia ajak bicara mereka yang nampak ter­me­nung-menung menge­nang­kan yang ter­ting­gal di rumah. Ia ber­u­saha men­jadi saha­bat untuk semua mereka, seo­rang saha­bat yang mem­per­ha­ti­kan.

Pan­dang kagum yang ter­tuju pada­nya menye­hab­kan ia merasa malu pada dir­i­nya sen­diri. Ia menya­dari, diri belum layak memi­kul tugas setinggi itu. Sudah sejak men­ja­bat jadi Syah­ban­dar-muda selalu saja orang menyu­guh­kan pan­dang kagum seperti itu. Dan seba­gai Syah­ban­dar-muda ia pun masih belum meng­erti benar apa ia harus ker­ja­kan. Dan seba­gai peng­a­was galangan kapal di Glon­dong ia lebih banyak mondar-mandir dari­pada mela­ku­kan peng­a­wasan. Apa pula yang harus ia awasi? Ia tak tahu sesu­atu ten­tang pem­bi­kinan kapal! Dan seka­rang ia jadi pemim­pin-muda gugusan pasukan laut! Bere­nang pun ia tak bisa.

Dari penung­guan pada jatuh­nya hukuman jadi peng­impi kebe­saran untuk Tuban meru­pa­kan riwa­yat per­go­lakan jiwa yang pan­jang dalam waktu yang sangat pendek. Dua-duanya terus juga jalin-men­ja­lin, pilin-ber­pi­lin dalam hati­nya. Ia selalu berada dalam kea­daan was-was dan was­pada.

Ia mulai men­da­pat keten­te­ram­an­nya waktu matari sudah teng­ge­lam dan malam mulai datang meme­luk alam. Ufuk barat di kaki langit Sana ting­gal sem­birat merah dan per­mu­kaan laut meng­an­tar­kan pan­tul­an­nya pada layar-layar dan tiang-tiang­nya, pada semua orang yang mondar-mandir di gela­dak. Dan langit di timur dijam­bu­i­nya. Ia sen­diri ter­i­ngat pada rumah yang diting­gal­kan­nya, pada Idayu, pada Gelar, si anak itu.

Ia ber­ja­lan lambat-lambat ke haluan. Seo­rang pra­ju­rit yang sedang men­cang­kung pada lam­bung kapal ter­de­ngar oleh­nya ber­kata pada teman­nya: “Seki­ra­nya Gusti Adi­pati tidak ber­putra, pas­ti­lah Syah­ban­dar­muda Wirang­gal­eng yang memim­pin gugusan kita ini.”

Uh, san­jungan, san­jungan belaka, pikir juara gulat itu. Semua peja­bat ber­a­sal dari desa rupa­nya selalu disan­jung-san­jung. Dan setiap san­jungan I dira­sa­i­nya mele­kat-liat meng­ang­gap pera­sa­an­nya dan kebe­bas­an­nya ber­ge­rak. Setiap san­jungan selalu dii­kuti per­ta­nyaan pada diri sen­diri: Tidak­kah lang­kahku selan­jut­nya takkan menim­bul­kan keke­ce­waan dalam hati mereka? Mau-tak-mau ia ter­paksa lebih ber­hati-hati men­jaga setiap lang­kah­nya. Karena: peja­bat dari desa setiap waktu bisa ter­ban­ting ke tanah.

Pada malam per­tama itu ia men­da­pat tugas mela­ku­kan peng­a­wasan keli­ling, di gela­dak atas dan tengah dan bawah, di lam­bung, haluan dan buritan. Sengaja ia lepas tanda pang­kat dan jabatan dan ber­pa­kaian seba­gai pra­ju­rit biasa.

Di buritan ia dapat­kan bebe­rapa orang sedang duduk mere­nung dan ia men­de­kat. Mereka tak menge­nal­nya.

Di antara desauan angin dan gele­par layar dide­ng­ar­nya salah seo­rang di anta­ra­nya menye­but-nyebut nama­nya. Ia menun­duk menyem­bu­nyi­kan muka dan men­de­ng­ar­kan dengan diam-diam.

“Ingat kalian pada pesta per­ka­win­an­nya dulu? Orang bilang, aku tidak lihat sen­diri, kedua orang mem­pe­lai itu ter­ja­tuh dari tandu pengan­tin. Coba, mem­pe­lai ter­ja­tuh dari tan­du­nya! Mana pernah ada?”

“Ya, orang-orang pada ter­ke­jut kehi­langan sema­ngat, takut pada murka para dewa. Aku juga. Tak ada yang mem­bantu mereka. Wirang­gal­eng dan Idayu merang­kak bangun dari tanah. Mereka ber­diri sen­diri, ber­ja­lan dengan pri­ha­tin ke arah Sela Baginda.”

“Rupa-rupa­nya itulah alamat buruk yang sedang menimpa diri mereka berdua. Kasihan. Betapa men­de­rita Wirang­gal­eng. Siapa pun tahu di balik senyum dan kera­mah­an­nya: batin yang ter­a­ni­aya di bawah tim­bunan batu.”

“Betul, siapa pun tahu,” yang lain mene­rus­kan. “Orang bilang tak mung­kin Idayu mau dengan suka­rela. Bahkan Sang Adi­pati pun dito­lak­nya dengan menen­tang maut. Dia sung­guh-sung­guh men­rin­tai juara gulat itu. Maka, mana mung­kin Idayu bisa mene­rima burung aneh dari Espa­nya itu?”

“Siapa tahu Guti Adi­pati sen­diri yang memak­sa­nya untuk mene­rima dia, gan­darwa Ulas­awa itu?”

“Memang Syah­ban­dar kepa­rat itu ter­lalu diman­jakan oleh Sang Adi­pati,” seo­rang lain meng­ga­rami. “Manu­sia ter­ku­tuk!”

“Kalau Nyi Gede Idayu berani menan­tang maut meno­lak Gush Adi­pati, tak mung­kin dia mau mene­rima Sayid Ulas­awa, seka­li­pun atas pak­saan Gusti Adi­pati. Dia akan tetap memi­lih maut. Lagi pula apa sesung­guh­nya kepen­tingan Gusti Adi­pati? Ia sen­diri mem­be­ra­hi­kan­nya.”

“Lagi pula meng­apa Gusti Adi­pati tak juga mang­kat? Sudah setua itu. Makin lama makin habis­lah gadis-gadis cantik kita.”

Orang-orang itu ter­diam. Masing-masing meman­tul­kan pera­sa­an­nya masing-masing, iba pada Wirang­gal­eng dan istri­nya, tak puas pada raja­nya sen­diri, dan jeng­kel ter­ha­dap Syah­ban­dar Tuban.

“Kabar­nya Syah­ban­dar-muda itu jarang pulang,” sese­o­rang memu­lai lagi.

“Dapat dipa­hami. Coba, bagai­mana pera­saan hati­nya – lelah, pulang ke rumah, dan lagi-lagi meli­hat bayi yang itu-itu juga. Jelas-jelas seperti Sayid Ulas­awa.”

“Meng­apa tak dibu­nuh­nya saja Syah­ban­dar kepa­rat itu?”

“Tak perlu dia sen­diri. Siapa pun ber­se­dia mela­ku­kan itu. Cela­ka­nya dia dilin­dungi oleh Sang Adi­pati. Kalau tidak, sudah lama dia lumat di bawah pedang anak-anak Tuban. Orang sema­cam itu tidak patut ter­kena keris. Pedang pun mung­kin ter­lalu mulia. Seba­ik­nya hanya parang dapur.”

“Wirang­gal­eng sen­diri yang sepa­tut­nya mela­ku­kan­nya.”

“Justru dia yang mela­rang anak-anak Tuban mela­ku­kan­nya kalau ia sen­diri tidak mung­kin. Dia bilang, ‘jangan’. Anak-anak Tuban ber­ta­nya, ‘meng­apa jangan? itu ber­ten­tangan dengan adat Tuban’. Aku sen­diri ikut waktu itu, jadi tahu sesung­guh­nya duduk per­ka­ra­nya. Ia bilang, ‘Sang Adi­pati meni­tah­kan, jiwa Syah­ban­dar Tuban harus dijaga, dia dibu­tuh­kan oleh Tuban’”.

“Jadi cerita itu bukan omong kosong?”

“Tidak, aku sen­diri menyak­si­kan.”

“Ah.”

“Coba, Kama­ra­tih Tuban diper­la­ku­kan seperti itu. Siapa tidak meluap? Orang asing pula. Dengan cara yang kurang ajar pula.”

“Kata orang begini ceri­ta­nya. Cerita itu ber­a­sal dari kesyah­ban­daran. kata­nya ber­a­sal dari Nyi Gede Kati. Idayu tidak dipaksa oleh Gusti Adi­pati untuk mela­yani Say id Ulasa wa. Kata­nya Syah­ban­dar kepa­rat itu meng­gu­na­kan obat bius setiap Idayu habis menari dari kadi­pa­ten.”

Wirang­gal­eng ber­diri dari duduk­nya, pergi meng­hin­dar ber­ce­pat-cepat. Ia masih sempat dengar orang ber­seru pelan: “Celaka! Bukan­kah itu Wirang­gal­eng sen­diri?”

Dan seka­rang pemim­pin-muda gugusan itu ber­diri seo­rang diri di haluan. Ber­diam diri ia men­cang­kung meli­hat lunas kapal menyi­bak ombak dan jutaan pasir cahaya menyem­bu­rat di seki­tar lunas. Sekian ia ter­i­ngat pada cerita Rama Clu­r­ing ten­tang lunas kapal-kapal Maja­pa­hit.

Dan kapal­nya terus melin­das dan mener­jang ombak dan kem­bali jutaan pasir cahaya ber­se­m­buran. Ia merasa seolah setiap deburan ombak yang meng­han­tam lam­bung kanan seba­gai degupan jan­tung­nya sen­diri. Lama kela­maan per­ha­ti­an­nya pada ting­kah sang ombak sema­kin tumpul. Angan­nya meng­em­bara melin­tasi malam mengun­jungi masa yang baru silam. Berapa lama sudah silam? Tidak lebih dari sete­ngah tahun yang lampau….

Ia rasa­kan betapa lama Idayu pergi teti­rah ke Awis Kram­bil dengan Nyi Gede Kati. Sang Adi­pati telah melu­lus­kan per­mo­honan agar istri­nya mela­hir­kan di desa. Juga Sang Adi­pati sen­diri yang meni­tah­kan serom­bongan orang untuk menandu pujaan Tuban yang akan mela­hir­kan itu. Tak boleh ada satu cedera pun menimpa diri penari ulung ini titah­nya. Tak boleh kul­it­nya lecet barang seu­jung jari pun. Hukuman berat akan menimpa kepala si pelang­gar.’

Dan berang­kat iring-iringan itu mening­gal­kan Tuban.

Lama benar rasa­nya, dan mereka belum juga kem­bali. Ia sen­diri tak mung­kin ber­kun­jung ke desa.

Kemu­dian datang­lah sore itu. Ia sedang duduk seo­rang diri di dalam kamar. Ia lihat Idayu ber­ja­lan meng­en­dap-endap men­de­kati serambi. Perut­nya telah kempes. Jelas ia sudah mela­hir­kan. Tubuh­nya ram­ping kurus, dan dada­nya gem­bung berisi. Ia melom­pat untuk meng­elu-elukan.

Dan ia ter­ke­jut meli­hat istri­nya ber­ka­lung melati tiga ling­kar: tanda seo­rang istri yang menye­rah­kan nyawa pada suami untuk dibu­nuh.

Idayu nampak ragu-ragu mema­suki kamar. Ia pura-pura tak meli­hat kalung melati itu.

“Meng­apa kau, Idayu? Kau begitu pucat!”

Ia lihat Idayu meman­dang­nya begitu sayu. Waktu dito­long­nya wanita itu naik ke rumah, dira­sa­i­nya gigi­lan pada badan istri­nya.

Begitu sampai di ambang pintu ia tarik putus kalung melati itu dan ia lem­par­kan ke pela­taran.

“Kau sakit.”

“Tidakl” jawab Idayu tegas tetapi meng­gi­gil.

“Mana anakku?”

Idayu mena­tap mata sua­mi­nya, tapi ia tak men­ja­wab.

Wirang­gal­eng merasa mau meme­kik­kan tanya: mati­kah anakku? Ia digi­la­kan oleh kekha­wa­tiran.

“Anakmu belum lahir, Kang.”

“Kau sudah mela­hir­kan, Idayu.”

“Ya, Kang. Yang lahir bukan anakmu, hanya anakku,” jawab Idayu dengan suara dita­bah-tabah­kan, namun masih juga ter­de­ngar gigi­lan di dalam­nya.

“Jangan aneh-aneh,” dan dito­long­nya istri­nya masuk ke dalam kamar. “Kau lelah dari per­ja­lanan sejauh itu, pucat Mana anakmu?”

“Anakku, Kang, bukan anakmu, masih di bela­kang digen­dong Nyi Gede Kati.”

“Ber­is­ti­ra­hat­lah kau, tidur­lah,” perin­tah­nya dan siap lari untuk men­jem­put anak­nya.

Idayu men­ce­gah, meme­gangi tangan dan ber­kata ter­bata-bata: “Jangan, jangan jemput anak yang bukan anakmu itu,” tegah­nya, “deng­ar­kan dulu kata-kataku.”

Ia duduk dan dengan isya­rat memaksa istri­nya duduk pula.

Wajah Idayu yang pucat itu keli­hatan memo­hon amat sangat dan ber­sung­guh-sung­guh.

“Ing­at­kah kau dulu, Kang, waktu kuce­ri­ta­kan padamu ten­tang impi­anku… dan anganku, dan cun­drikku yang tiada ber­daya? Dalam impian. Dia datang dalam impian… Tuan Syah­ban­dar Sayid Habi­bul­lah At masawa, Kang.”

Ia meng­ang­kat pan­dang mena­tap sua­mi­nya yang masih juga ter­he­ran-heran.

“Kau diam saja, Kang. Kepala anakku itu sama dengan kepala Tuan Syah­ban­dar, tipis gepeng, hidung juga beng­kung. Tak ada kesa­maan deng­anmu, Kang. Ampuni aku, Kang, Kang, Kang—”

Ia ter­diam dan ter­e­ngah-engah. Diam­bil­nya cun­drik dari balik kemban. Ia pegang tang­kai sen­jata itu. Dengan sekali kebas sarong­nya ter­lom­pat entah ke mana. Cepat ia alih­kan tangan­nya dan kini mata sen­jata itu yang dipe­gang­nya. Tang­kai­nya ia ulu­r­kan pada sua­mi­nya. Kata-kata­nya kini men­jadi lemah, meng­gi­gil lebih keras hampir-hampir tak nyata: “Dengan cun­drikku sen­diri ini, Kang, cun­drik pem­be­ri­anmu, bunuh­lah istrimu yang tidak setia ini. Dia telah mene­rima seo­rang lelaki lain dalam impi­an­nya.”

“Dayu!” pekik Wirang­gal­eng.

“… hanya pesanku, Kang, jangan bunuh bayi itu. Serah­kan dia pada bapak­nya, Tuan Sayid. Aku sudah bilang begitu juga pada Nyi Gede Kali. Sudah, Kang… ampun­i­lah aku… istrimu yang tidak setia…”

“Meng­apa kau ini, Dayu?”

Tangan Idayu yang geme­tar itu masih meme­gangi mata cun­drik dan tang­kai­nya masih juga diu­lu­r­kan pada sua­mi­nya.

“Habis sudah kata-kataku, Kang. Ah, Kang Galeng….”

Meng­erti bahwa istri­nya meng­hen­daki agar ia mem­bu­nuh­nya, dengan cepat ia kisar­kan ujung cun­drik waktu Idayu menub­ruk­kan sen­jata itu pada dir­i­nya sen­diri. Ia lem­par­kan keris kecil itu dan dirang­kul­nya istri­nya.

“Idayu, Idayu, adik si Kakang.”

“Apa guna kau tang­guh­kan, Kang? Kalau kau meng­erti betul duduk-per­ka­ra­nya, yang ini juga yang akan ter­jadi,” suara Idayu tak lagi meng­gi­gil. “Telah kukum­pul­kan selu­ruh kebe­ra­ni­anku dan keta­ba­hanku untuk meng­ha­dapi saat ini. Kau menang­guh­kan, Kang, kau, Kang?” sua­ra­nya meren­dah dan kata-kata­nya sema­kin cepat dan tidak jelas.

“Tidur. Tidur. Kau lelah, Idayu.”

‘Tidak!”

“Betapa men­de­rita kau karena impian itu,” ia angkat istri­nya dan diti­dur­kan di atas ambin. Tarik­lah napas pan­jang-pan­jang seba­gai­mana dia­jar­kan dulu di desa kalau hati sedang tidak tenang.”

Keli­bat bayang-bayang menye­bab­kan Wirang­gal­eng mene­ngok ke arah pintu. Dili­hat­nya di serambi Nyi Gede Kati meng­en­dap-endap men­de­kati pintu kamar. Pada tangan­nya ter­gen­dong bayi dalam bung­kusan.

“Itukah anak­nya? Bawa masuk sini, Ibu.”

“Jangan, Wira, jangan bunuh anak ini.”

“Meng­apa mesti kubu­nuh? Masuk­lah,” ia ber­ja­lan keluar.

Nyi Gede Kati nampak was­pada.

“Jangan, Wira, bayi ini seka­rang anakku. Aku datang untuk meng­an­tar­kan­nya untuk meli­hat ibunya.”

“Meng­apa hanya meli­hat?”

“… meli­hat ibunya untuk peng­ha­bisan kali.”

“Meng­apa hanya untuk peng­ha­bisan kali?”

“Barang­kali susunya masih sempat dii­sap­nya.”

“Wiral” sese­o­rang ber­te­riak.

Wirang­gal­eng ter­ba­ngun dari kenang­an­nya. Ia ber­ja­lan melin­tasi gela­dak ke jurusan datang­nya suara. Raden Kusnan telah ber­diri di hadap­an­nya dengan ber­to­lak-ping­gang.

“Tahu­kah orang-orang ini ke mana tujuan kita?”

“Malaka, Gusti,” jawab­nya sambil menyem­bah.

“Bede­bah! Dari mana mereka tahu?”

“Selu­ruh Jawa rasa-rasa­nya sudah tahu semua, Gusti.”

“Selu­ruh Jawa! Jadi selu­ruh Jawa sedang menyak­si­kan bagai­mana kita akan ber­pe­rang. Kau tahu apa arti­nya itu, Wira?”

“Patik, Gusti.”

“Pernah kau ber­pe­rang, Wira?”

“Belum, Gusti.”

“Apa­lagi perang laut.”

“Apa­lagi perang laut, Gusti.”

“Kita akan sama-sama meng­a­lami, Wira, kami dan kau.”

Dari kata-kata­nya itu Wirang­gal­eng tahu, Raden Kusnan pun belum pernah ber­peng­a­laman perang, apa lagi perang laut. Tetapi ia tak menang­gapi.

Gugusan Tuban terus ber­la­yar tanpa sesu­atu halangan.

Pada suatu senja sam­pai­lah gugusan itu di bandar Jepara. Semua pra­ju­rit ber­de­ret di atas gela­dak kapal masing-masing untuk meli­hat Jepara yang bebe­rapa tahun bela­kangan ini tak pernah mereka sing­gahi lagi. Orang ter­diam ter­longok-longok. Semes­ti­nya mereka datang ke man untuk menyerbu dan meng­am­bil kem­bali untuk jadi milik Tuban.

Tetapi pela­buhan itu kosong. Hanya perahu-perahu nela­yan sedang mening­gal­kan pantai yang dang­kal itu dan bebe­rapa kapal dagang ber­la­buh di muara kali Wiso.

Dengan dian­tar­kan oleh pem­bantu-uta­ma­nya Raden Kusnan men­da­rat dan ber­ja­lan ter­gesa-gesa ke kadi­pa­ten Jepara. Di sana tak ada mereka jumpai Adi­pati Unus Jepara. Yang ada justru abang Raden Kusnan sen­diri: Ki Aji Kali­jaga.

Wirang­gal­eng meli­hat bagai­mana Ki Aji menge­lu­ar­kan tangan kanan dari balik kain batik penu­tup dada. Dan ter­de­ngar sua­ra­nya, tenang, terang, kata demi kata: “Buyung! Meng­apa Tuban lima hari ter­lam­bat datang?”

Dalam sim­puh­nya Raden Kusnan men­ja­wab: “Ampun, Kakanda Aji, pun yang menen­tu­kan kebe­rang­katan bukan­lah patik Tidak lain dari ayah­anda sen­diri Gusti Adi­pati Tuban.”

Ki Aji mema­suk­kan kem­bali tangan­nya ke balik kain­nya.

“Itu tidak patut,” kata­nya pelahan. “Biar­pun seo­rang ayah, seo­rang adi­pati, orang tak patut mem­bi­kin malu anak­nya.”

“Apakah yang patik harus per­buat seka­rang, Kakanda?”

“Susul Lak­sa­m­ana Adi­pati Unus Jepara. Ayahmu telah mema­lu­kan kita semua. Kau jangan bikin malu kakan­damu.”

Ki Aji Kali­jaga mem­ba­lik­kan badan dan ber­ja­lan tenang masuk ke dalam kadi­pa­ten.

Raden Kusnan dan Wirang­gal­eng kem­bali ber­ge­gas ke kapal. Dengan muka pucat ia perin­tah­kan mem­beri isya­rat pada semua kapal untuk meng­ang­kat sauh dan mengem­bang­kan layar. Ia perin­tah­kan menge­rah­kan semua dayung.

“Wira!” teri­ak­nya memang­gil pem­bantu-uta­ma­nya dengan nada berang.

Dalam kamar­nya yang sempit juara gulat itu meli­hat wajah Raden Kusnan telah kehi­langan kepu­ca­t­an­nya, kini merah-hitam diba­kar oleh kema­rahan.

“Aku per­ca­ya­kan padamu, tak boleh ada orang tahu ten­tang keter­lam­batan Tuban yang dise­ngaja ini. Lima hari! Ter­lam­bat lima hari!”

“Mereka semua sudah tahu, Gusti.”

“Bede­bah! Bagai­mana mereka bisa tahu?”

“Mereka tak meli­hat armada Jepara.”

“Mereka harus per­caya, armada Jepara ada dekat di depan kita. Meng­erti?”

“Mereka pelaut-pelaut yang meng­erti ten­tang laut dan kapal, Gusti.”

“Aku tak per­caya mereka tahu.”

“Ya, Gusti, meng­apa Gusti ber­kata demi­kian? Bukan­kah semua mereka kawula Gusti sen­diri? Bukan­kah mereka bukan gerom­bolan kam­bing bodoh yang tidak tahu apa-apa, Gusti, tapi kawula Gusti sen­diri?

Raden Kusnan ber­ja­lan ber­pu­tar-putar di dalam ruangan kamar­nya yang sempit. Ber­kali-kali tinju kanan­nya dipu­kul­kan­nya pada tela­pak tangan kir­i­nya.

“Mema­lu­kan,” gumam­nya. “Di mana harus kuse­m­bu­nyi­kan mukaku ini?”

“Perang akan meng­ha­pus­kan­nya, Gusti.”

“Ya-ya, perang,” ia ber­henti ber­pu­tar-putar.

Wirang­gal­eng pergi ke gela­dak dan men­coba bera­mah-tamah dengan para pra­ju­rit dan awak kapal. Mereka semua ber­ta­nya meng­apa Tuban ter­lam­bat. Dan mereka semua tahu belaka akan keter­lam­batan itu seka­li­pun tak tahu tepat berapa hari.

Ia hanya dapat men­ja­wab: “Hanya ada satu jalan dapat ditem­puh. Laju, lebih laju.”

Sese­o­rang menye­le­tuk: “Kita belum lagi mem­bi­kin per­hi­tungan dengan Jepara, Wira. Belum. Mes­ti­nya kita men­da­rat, dan.,..”

“Husy!”

Ia buru-buru lari mening­gal­kan gela­dak, turun ke bawah dan meli­hat pelak­sa­naan pen­da­yungan. Pra­ju­rit-pra­ju­rit itu men­da­yung sete­ngah mati ber­gan­tian dalam ruangan bawah yang panas dan lembab, berbau keri­ngat dari badan mereka sen­diri. Laju, lebih laju adalah perin­tah. Tetapi pela­yaran meman­tai itu bukan peker­jaan mudah untuk kapal-perang yang ber­ba­dan berat dan kaku itu. Apa lagi angin kebe­tulan reda. Dan dayung dua sap itu ber­ka­yuh seperti gila untuk menge­jar keting­galan.

Waktu angin ber­tiup dengan baik, pen­da­yung-pen­da­yung tetap dike­rah­kan. Per­mu­kaan laut terasa berat dilun­curi. Angin tetap terasa kurang, sangat kurang.

Dalam bebe­rapa hari menge­jar armada Jepara tak juga nampak di hadapan mereka. Kele­lu­a­saan laut itu sepi, sepi sampai jauh-jauh di ufuk barat sana.

Gugusan Tuban terus bela­yar, tak ada petun­juk, tak tahu di bandar mana harus sing­gah. Bahan makanan dan air mulai susut, dan mereka tak tahu di bandar mana boleh men­da­pat­kan. Gugusan itu ber­la­yar siang dan malam dan terus menge­jar yang tiada ter­ke­jar. Sekali waktu ter­paksa sing­gah di sebuah bandar kecil ter­nyata tak ada diting­gal­kan petun­juk untuk mereka, dan gugusan ter­paksa mene­rus­kan per­ja­lanan dengan per­se­di­aan bahan makanan yang sema­kin tipis.

Dalam kea­daan ter­paksa gugusan Tuban mema­suki bandar Banten. Selu­ruh pra­ju­rit dan awak kapal lelah dan cepat men­jadi beng­keng. Per­ke­la­hian sering ter­jadi karena soal-soal kecil. Dan Raden Kusnan ber­ku­rung diri terus dalam bilik­nya.

Syah­ban­dar Banten, seo­rang Koja, mem­bawa Raden Kusnan dan pem­bantu-uta­ma­nya pergi ke kesyah­ban­daran yang ter­buat juga dari batu, tetapi tidak sebe­sar dan sein­dah kesyah­ban­daran Tuban. Mereka dijamu dan men­da­pat kete­rangan, Lak­sa­m­ana Adi­pati Unus Jepara telah mening­gal­kan pesan untuk gugusan Tuban. Dan pesan itu akan disam­pai­kan sen­diri oleh seo­rang per­wira armada yang untuk keper­luan itu memang diting­gal­kan di Banten.

Syah­ban­dar Banten menyi­la­kan mereka ber­is­ti­ra­hat. Ia sen­diri akan men­jem­put per­wira armada Jepara. Dan tengah malam ia datang lagi beserta orang yang dica­ri­nya.

“Anak sangat ter­lam­bat,” tegur Aji Usup.

“Sahaya telah kerah­kan pen­da­yung, Pamanda,” jawab Raden Kusnan.

“Armada seperti itu tak dapat kau susul dengan pen­da­yung.”

“Ampun, Pamanda, memang sahaya yang ter­lam­bat sejak semula.”

Aji Usup meme­rin­tah­kan pada Syah­ban­dar Banten untuk memung­gah per­be­kalan ke atas kapal-kapal Tuban. Dan begitu tuan rumah itu pergi pem­bi­ca­raan dite­rus­kan.

Wirang­gal­eng duduk di suatu jarak men­de­ng­ar­kan dengan diam-diam.

Pem­bi­ca­raan itu ber­lang­sung cukup lama. Pen­da­yungan dari Jepara ke Banten dini­lai oleh Aji Usup seba­gai keliru, meru­gi­kan per­si­apan perang. Gugusan Tuban ber­la­yar bukan untuk mem­buru bajak atau meronda pantai. Juga ia menya­lah­kan kebi­jak­sa­naan Raden Kusnan, yang menye­bab­kan gugusan harus ber­la­buh di Banten untuk bebe­rapa hari: pra­ju­rit dan awak kapal harus memu­lih­kan keku­at­an­nya.

“Sahaya memang tidak punya peng­a­laman laut, Pamanda,” Raden Kusnan meminta maaf.

“Barang­kali kau pernah dengar pen­da­yungan terus-mene­rus kapal-kapal Maja­pa­hit. Kau keliru. Kapal-kapal Maja­pa­hit ringan, biar­pun lebih besar. Pen­da­yung­nya bukan pra­ju­rit atau awak kapal, tapi bajak laut yang men­ja­lani hukuman sampai mati.”

“Kami dari gugusan Tuban akan sema­kin ter­ting­gal tanpa men­coba menyu­sul. Dengan penang­guhan lagi di Banten….”

“Kami men­da­pat titah dari Gusti Kan­jeng Lak­sa­m­ana untuk men­jadi tetua gugusan Tuban. Jangan hen­dak­nya jadi keke­ce­wa­a­runu, Raden Kusnan.”

Raden Kusnan pucat tak dapat menga­ta­kan sesu­atu. Wirang­gal­eng men­de­ham, tapi Aji Usup tak meng­gub­ris­nya. Seka­rang ia baru menye­dari duduk-per­kara: Sang Adi­pati Tuban telah dengan sengaja mem­per­lam­bat kebe­rang­katan untuk tidak menyer­tai perang di Malaka. Seba­lik­nya Jepara kini telah meram­pas gugusan Tuban, kapal dan anak buah­nya dan pra­ju­r­it­nya, ter­ma­suk dir­i­nya. Ia harus sela­mat­kan gugusan Tuban.

Kee­sokan hari­nya pem­bi­ca­raan dite­rus­kan di kapal.

Raden Kusnan dan Wirang­gal­eng untuk kedua kali­nya harus mene­lan kema­rahan Adi­pati Unus Jepara mela­lui mulut Aji Usup.

“Insya Allah,” kata Aji Usup kemu­dian, “kita masih akan dapat menyu­sul Kan­jeng Gusti Lak­sa­m­ana di Riau atau Tuma­sik.”

Sete­lah itu ia mene­rang­kan, armada Jepara telah dipe­cah jadi dua. Gugusan-I menyu­suri pantai barat Suma­tra, memu­tari Aceh untuk ke-mudian ber­ga­bung dengan gugusan pasukan laut Aceh, yang akan mela­ku­kan pen­da­ratan dan penye­rangan lang­sung dari sebe­lah utara Malaka. Gugusan-I telah berang­kat dan hanya sing­gah sehari di Banten. Gugusan-II, yang lebih kecil, dipim­pin sen­diri oleh Lak­sa­m­ana Unus, ber­tu­gas menyu­suri pantai sebe­lah timur Suma­tra dan ber­ga­bung dengan gugusan pasukan laut Jambi-Riau.

Di Riau Gugusan-II akan ber­is­ti­ra­hat sambil menunggu gugusan Tuban dan Banten yang ter­diri atas pela­rian dari Malaka yang meng­gu­na­kan kapal-kapal dagang yang telah diubah untuk keper­luan perang, dan akan mela­ku­kan pen­da­ratan dan penye­rangan dari selatan Malaka.

Aji Usup kemu­dian mela­ku­kan peme­rik­saan di semua kapal Tuban. Para pra­ju­rit dan awak kapal nampak sudah sangat lelah. Banyak di anta­ra­nya telah jatuh sakit dan ditun­m­kan di Banten.

Pem­bi­ca­raan yang kemu­dian dite­rus­kan mem­buat Wirang­gal­eng meng­erti, bahwa armada Jepara menunggu Tuban di Banten selama dela­pan hari. Tetapi semua itu tak mena­rik per­ha­ti­an­nya lagi Dalam hati kecil­nya ia merasa, Demak-Jepara dengan sengaja hendak menye­dot keku­atan Tuban dengan ber­ba­gai cara. Tidak-bisa-tidak pada suatu kali Demak akan memu­kul dan menal­duk­kan Tuban. Tuban seba­lik­nya, mem­bi­ar­kan dir­i­nya meng­u­lur-ulur waktu untuk mem­per­li­hat­kan diri untuk dapat memu­kul Demak dengan jalan lain dan cara lain Ia pernah men­de­ngar. Sang Adi­pati tidak menyu­kai perang Maka boleh jadi ia meng­ga­bung­kan diri dengan armada Demak-Jepara hanya suatu dalih untuk men­je­ru­mus­kan musuh­nya dalam peng­ham­buran keku­atan di Jepara, dan dengan demi­kian takkan dapat menya­ingi bandar Tuban seba­gai bandar rempah-rempah. Bandar Jepara harus tetap pudar.

Dan waktu pra­ju­rit dan awak kapal ber­so­rak-sorai menyam­but peng­u­muman, bahwa Gugusan Tuban akan mene­rus­kan pela­yaran untuk ber­ga­bung dengan armada Jepara, ia tidak ikut ber­so­rak. Ia ter­diam. Ia men­jadi curiga dan sema­kin was­pada. Ia ingin meng­i­kuti gerak-gerik Aji Usup selan­jut­nya. Sedang keper­ca­ya­an­nya pada Raden Kusnan men­jadi hilang. Pemim­pin Gugusan Tuban itu tidak semes­ti­nya meng­ja­kan saja perin­tah Aji Usup.

Ia catat semua yang diang­gap keli­cikan Demak-Jepara dan juga Tuban sen­diri dalam hati­nya. Ia ber­janji akan dapat meme­cah­kan teka-teki yang ruwet ini

Gugusan Tuban berang­kat ke barat laut bebe­rapa hari kemu­dian. Kapal-kapal dagang para pela­rian Malaka yang diubah jadi kapal perang itu ber­jum­lah tiga. Semua dari ukuran kecil. Ia men­da­pat kete­rangan, Gu-gusan-II akan menam­pung juga kapal-kapal kecil sema­cam ini, milik para pela­rian dari Tuma­sik, yang merasa tak ada kea­manan lagi sete­lah Malaka jatuh.

Di Riau ter­nyata Gugusan-II telah berang­kat lebih ke utara. Di sini mereka mene­rima kema­rahan lagi dari Lak­sa­m­ana karena keter­lam­bat­an­nya. Raden Kusnan telah kehi­langan sema­ngat harus mene­lan kema­rahan tiga kali ber­tu­rut. Aji Usup ber­u­saha meng­hi­bur­nya, tetapi ter­nyata sema­ng­at­nya telah patah. Pim­pinan gugusan Tuban diam­bil­nya sama sekali, dan dengan sen­di­r­i­nya Wirang­gal­eng naik meng­gan­ti­kan­nya, juga atas perin­tah Aji Usup.

Kena­ik­an­nya mem­be­ri­kan suatu keku­a­saan untuk mela­ku­kan tin­dakan yang memu­tus­kan, bila Demak-Jepara ber­mak­sud untuk meru­gi­kan Tuban. Ia akan lem­par­kan Aji Usup dan Raden Kusnan ke laut bila ia meli­hat kecu­rangan akan dila­ku­kan atas Tuban. Dan ia akan mela­ku­kan­nya tanpa ragu-ragu. Ia tahu bagai­mana Pat­ra­ga­ding telah naik ke tiang gan­tungan di bela­kang kadi­pa­ten, maka put­ra­nya yang seo­rang lagi mung­kin juga akan dir­e­la­kan oleh ayah­nya.

Ia perin­tah­kan agar dayung sama sekali tidak diper­gu­na­kan. Pra­ju­rit dan awak kapal­nya harus tetap dalam kea­daan segar meng­ha­dapi segala kemung­kinan.

Gugusan Tuban ber­la­yar hanya dengan keku­atan angin. Dan jauh di bela­kang sana, seperti titik-titik menyu­sul gugusan pela­rian Malaka di Banten.

Bukan­nya empat hari, tetapi lima sete­ngah hari Adi­pati Unus telah menunggu gugusan Tuban di Riau sambil mem­beri kesem­patan pada Gugusan-I untuk mene­rima peng­ga­bungan gugusan Aceh. Sete­lah ter­nyata Tuban tak juga nampak, diang­gap­nya sekutu itu telah melang­gar janji dan ia hapus dari per­hi­tungan perang.

Semen tara itu gugusan Aceh dengan kapal-kapal­nya telah ber­ga­bung dengan Gugusan-I, dipim­pin oleh seo­rang per­wira Aceh, Kan­tom­mana. Mereka lang­sung berang­kat seba­gai­mana diper­hi­tung­kan oleh Unus. Antara pra­ju­rit-pra­ju­rit Jepara-Demak dan Aceh ter­da­pat kela­inan pakaian yang menyo­lok. Jepara-Demak meng­gu­na­kan celana dan baju putih dan destar putih. Tanda pang­kat mereka ada pada kela­inan ikat-ping­gang. Pra­ju­rit-pra­ju­rit Aceh ber­ce­lana dan ber­baju hitam, ber­des­tar hitam. Per­wira-per­wi­ra­nya ber­i­kat-ping­gang selen­dang merah. Des­tar­nya yang ter­ta­rik naik menu­ding langit kadang-kadang dihi­asi dengan per­mata. Sen­jata kedua-duanya tidak ber­beda: tombak, pedang, peri­sai. Karena mereka meng­ha­rap­kan perang lap­angan, mereka tidak meng­gu­na­kan panah. Pada para per­wira ter­da­pat sen­jata-sen­jata jabatan.

Gugusan-II ber­la­yar lambat-lambat menuju ke sasaran. Layar tak dikem­bang­kan penuh sambil menunggu tanda-tanda yang dibe­ri­kan oleh Gugusan-I. Por­tu­gis takkan diberi kesem­patan untuk mening­gal­kan Malaka dari laut. Mereka harus dibi­na­sa­kan di darat seba­gai hukuman, atau dipaksa lari ke peda­laman dan mati di hutan-hutan sebe­lah timur.

Lak­sa­m­ana Adi­pati Unus telah mem­per­hi­tung­kan: waktu penye­rangan akan dila­ku­kan tepat pada saat Malaka kosong dari armada Por­tu­gis. Maka bila musuh telah ditum­pas di daratan, dan laut dijaga dari armada musuh yang mung­kin datang, semua akan dapat men­da­rat di Malaka. Sete­lah itu musuh boleh mela­ku­kan serangan balasan dan men­da­rat­kan pasukan. Perang darat harus memu­tus­kan keme­nangan.

Bandar Malaka telah nampak sayup-sayup di hadapan Gugusan-II. Tak nampak ada satu kapal Por­tu­gis pun. Nam­pak­nya Gugusan-I ter­lam­bat mem­be­ri­kan isya­rat. Tapi tidak, peluru-peluru cet­bang dari­pa­da­nya mulai beter­bangan di udara dan mele­dak meru­pa­kan bunga api dan gum­palan asap. Warna merah mem­be­lah langit: juga di sebe­lah utara sana tak ada nampak kapal Por­tu­gis. Gugusan-D men­ja­wab dengan tem­bakan ke udara pula: juga di sebe­lah selatan tak ada nampak kapal Por­tu­gis.

Sayup-sayup oleh Gugusan-II keli­hatan pra­ju­rit-pra­ju­rit Aceh-Demak-Jepara, hitam dan putih mulai men­da­rat, kemu­dian kapal-kapal­nya ber­ge­rak menyu­suri pantai utara Malaka dan mem­bas­mi­nya dengan tem­bakan-tem­bakan cet­bang. Den­tum­an­nya meng­ge­lora disam­but oleh sorak-sorai Gugusan-II.

Serangan darat sudah dimu­lai. Pra­ju­rit-pra­ju­rit dari Gugusan-II ber-lom­patan dan ber­jing­k­rak di gela­dak Dan tak lama kemu­dian mereka meli­hat api dan asap mulai mem­bu­bung ke udara.

Tetapi Por­tu­gis bukan­lah pena­kut. Dari peng­a­laman perang­nya di ber­ba­gai benua mereka meng­erti benar bagai­mana harus meng­ha­dapi serangan pasukan Pri­bumi, sehingga sejum­lah kecil orang harus bisa meng­ha­lau mereka semua, mem­ben­dung, mem­bu­bar­kan dan meng­han­cur­kan. Mereka meng­hin­dari perang lap­angan meng­ha­dapi lawan yang lebih besar jum­lah­nya, seba­lik­nya meng­gu­na­kan peng­ger­takan-peng­ger­takan dengan peluru dan gele­gar menam serta penyer­gapan, dan melum­puh­kan lawan­nya dengan tem­bakan-tem­bakan musket. Dari peng­a­lam­an­nya di Asia Bawah mereka men­da­pat­kan. ter­nyata musuh­nya lebih takut pada ledakan dari pada peluru atau­pun maut.

Dan meriam-meriam mereka mulai ter­de­ngar ber­ge­le­garan, dengan atau tanpa bola-bola besi. Barang sete­ngah jam kemu­dian tem­bakan-tem­bakan musket mulai ter­de­ngar. Tetapi keba­karan di Malaka itu men­ja­lar-jalar juga, terus dan terus ke selatan, menuju ke pusat kota.

Gugusan-II makin meng­ham­piri bandar.

Gugusan-I telah ber­henti meng­ham­bur­kan peluru cet­bang dari kapal dan mulai menu­run­kan pra­ju­rit yang ter­sisa. Nam­pak­nya tak ada seo­rang pra­ju­rit pun sudi keting­galan menik­mati keme­nangan atas Por­tu­gis. Kapal-kapal mereka ter­sauh kosong.

Lak­sa­m­ana Adi­pati Unus meme­rin­tah mem­be­ri­kan tem­bakan per­i­ng­atan ter­ha­dap Gugusan-I, tetapi tidak digub­ris. Kapal-kapal mereka tetap ter­ting­gal kosong ter­can­cang pada jang­kar masing-masing.

Gugusan-II makin men­de­kati Malaka. Cet­bang-cet­bang­nya mulai dia­rah­kan ke bandar. Peluru-peluru api itu mele­dak menyam­bari bangu­nan-bangu­nan dan pepo­honan dan rumah-rumah. Keba­karan seka­rang ter­jadi di sebe­lah selatan kota Malaka. Angin dari selatan meniup api itu ke utara dan keba­karan sema­kin men­jadi-jadi.

Dari kapal-kapal­nya Gugusan-II dapat meli­hat meriam-meriam Por­tu­gis mulai ramai dia­rah­kan pada kapal-kapal­nya. Tetapi cet­bang menyapu sarang-sarang mereka. Musuh di darat itu nampak ber­la­rian, ber­lin­dung di balik-balik pepo­honan yang masih utuh.

Seka­rang peluru-peluru besi Por­tu­gis mulai beter­bangan men­cari sasaran. Tetapi hujan petir cet­bang meng­ha­langi mereka menem­bak dengan baik.

Makin dekat dengan bandar makin nyata ter­de­ngar sorak-sorai pra­ju­rit gabungan dari Gugusan-I, yang dengan kece­patan luar biasa men­de­sak ke selatan.

Karena kebi­ngungan mela­yani serangan dari darat dan laut meriam-meriam Por­tu­gis mulai ber­ja­tuhan sepu­cuk demi sepu­cuk.

Sebuah peluru Por­tu­gis masih sempat mela­yang dengan garis lang­sung yang indah menub­ruk din­ding sebuah kapal Jepara. Peluru itu hilang ke dalam perut kapal. Sebuah lubang per­segi pan­jang ber­ge­rigi menga­nga pada din­ding itu. Seben­tar kemu­dian selem­bar papan baru telah nampak ditam­bal­kan dari dalam.

Dan sorak-riuh meng­i­kuti.

Sebu­tir peluru besi lain­nya telah mema­gas man­cung haluan kapal ben­dera yang ditum­pangi oleh Lak­sa­m­ana. Ia sen­diri sedang ber­diri di haluan di antara dua pucuk cet­bang bikinan Bareng. Dua-duanya sedang menem­bak satu-satu.

“Deng­ar­kan!” kata­nya sambil meng­ang­kat tangan tinggi-tinggi. “Tem­bakan mereka sema­kin tipis. Gen­car­kan tem­bakan kalian!”

Perin­tah itu disam­pai­kan mela­lui isya­rat pada kapal-kapal lain.

“Per­ha­ti­kan laras, jangan sampai ter­lam­bat meng­ganti!”

Baru saja perin­tah sele­sai dibe­ri­kan, dari sebuah kapal di sayap kanan disam­pai­kan laporan, dua pucuk laras telah pecah ambyar.

Unus mene­rus­kan perin­tah­nya: “Hari ini si kafir harus angkat kaki dari bumi Malaka. Hari ini! Insya Allah. Kalau Peranggi telah ter­u­sir, mulai seka­rang selu­ruh laut bagian selatan, selu­ruh per­a­iran Nusan­tara, akan kem­bali jadi milik kita ber­sama lagi.”

Ia mene­ngok pada per­wira pem­bantu yang ber­diri di bela­kang­nya: “Lihat peluru Peranggi itu. Dipap­ras­nya man­cung kapal kita, sehingga layar kemudi kita lumpuh. Tapi insya Allah, mereka akan mene­rima pap­ra­san sera­tus kali dari kita. Habis­kan pelu­r­umu, Peranggi! Habis­kan!” ia ter­tawa senang.

“Tem­bak­an­nya sema­kin ber­ku­rang juga, Gusti.”

“Ya, dan kalau Peranggi tidak ter­u­sir pada kesem­patan ini, boleh jadi lain lagi yang akan ter­jadi.”

“Tak ada nampak armada Peranggi, Gusti.”

“Alham­dul­il­lah.”

“Betapa indah­nya hari ini, Gusti.”

“Syukur kepada Allah s.w.t. Kalau mereka ting­gal ber­ku­asa di Malaka, tidak lama lagi, dan pela­buhan-pela­buhan kita akan jadi per­kam­pungan nela­yan belaka. Laut kita akan jadi rawa. Sawah akan jadi sarang nyamuk dan ladang kita jadi tim­bunan batu. Meng­erti?”

“Patik, Gusti.” Seo­rang per­wira yang agak jauh memuji-muji: “Per­hi­tungan Kan­jeng Gusti Adi­pati tepat. Malaka jatuh dalam sehari,” ia mengunci kata-kata­nya dengan sembah.

“Ada kalian dengar? Mereka sudah ber­henti menem­bak. Malaka telah jatuh di tangan Gugusan-I. Alham­dul­il­lah. Ya Allah, ya Robbi, apa yang belum Kau ridloi di utara sana telah ter­jadi di selatan sini: Peranggi kalah. Biar begitu, lepas­kan tanda-tanda per­i­ng­atan kapal-kapal itu tidak ter­ting­gal kosong.”

Tem­bakan-tem­bakan per­i­ng­atan segera dile­pas­kan. Tetapi Gugusan I sudah lupa daratan dengan keme­nangan.

“Men­da­rat­kah kita, Gusti?”

“Tidak mung­kin! Kete­le­doran Gugusan-I menye­bab­kan kita harus tetap ber­jaga di sini. Turun­kan perahu. Hubungi Kan­tom­mana – kapal-kapal­nya harus segera diisi, seka­rang juga.”

Sebuah sampan ditu­run­kan dan orang ber­ce­pat-cepat meng­a­yuh ke arah bandar.

“Sebe­lum pen­ja­gaan laut di utara sana dapat ber­tu­gas, sayap kanan Gugusan-II supaya maju sampai mele­wati kapal-kapal Gugusan-I. Was­pada ke sebe­lah utara!”

Isya­rat-isya­rat dike­lu­ar­kan dari kapal ben­dera dan sayap kanan Gugusan-II mulai ber­ge­rak maju.

“Malam ini kita men­jaga laut, lebih was­pada, di semua kapal seyo­gi­a­nya dia­da­kan sem­bah­yang syukur.”

“Patik, Gusti. Seben­tar lagi magrib. Besok, insya Allah, akan terbit hari baru tanpa ada halangan atau rin­tangan.”

“Insya Allah, kelam­batan dan kete­le­doran dalam sehari ini semoga ter­te­bus oleh kege­mi­l­angan hari esok: pen­da­ratan, per­ku­buan, pem­bu­r­uan ter­ha­dap Peranggi….”

Malam pun jatuh.

Langit di atas Malaka merah-hitam oleh api dan asap.

Dari atas kapal-kapal Gugusan-II nampak pra­ju­rit-pra­ju­rit gabungan Aceh-Demak-Jepara mondar-mandir men­ja­lan­kan perin­tah. Antara seben­tar sorak-sorai dari daratan masih ter­de­ngar. Dan dalam malam itu juga tukang-tukang kayu sibuk mem­be­tul­kan keru­sakan pada tubuh kapal.

Sampan utusan tiba dan mem­bawa surat dari per­wira Kan­tom­mana, bahwa tugas sudah sele­sai, dan sedang menyi­ap­kan untuk pen­da­ratan Sang Lak­sa­m­ana untuk besok hari. Sampan diki­rim­kan kem­bali, meme­rin­tah­kan agar kapal-kapal Gugusan-II tetap diper­leng­kapi dengan keku­atan.

Di atas gela­dak semua kapal Gugusan-II sem­bah­yang magrib dilan­jut­kan dengan sem­bah­yang syukur, dii­mani dan dikho­tibi oleh Adi­pati Unus sen­diri. Kemu­dian dilan­jut­kan dengan sem­bah­yang isya!

Sampan utusan datang kem­bali, mem­bawa berita bahwa pra­ju­rit-pra­ju­rit yang mela­ku­kan penge­jaran belum lagi dapat dihim­pun. Mereka masih ter­se­bar di hutan-hutan, dan bahwa perin­tah itu akan segera dilak­sa­nakan.

Surya meman­car cerah di pagi hari. Langit biru muda dan bening. Kapal-kapal dari Gugusan-II tetap men­jaga per­a­iran Malaka. Gugusan-I tetap kosong dari pen­ja­gaan. Tem­bakan Por­tu­gis di daratan sudah tak ter­de­ngar lagi. Mereka telah ter­be­nam dalam arus pra­ju­rit gabungan. Penge­jaran dila­ku­kan atas sisa-sisa musuh yang ter­be­sar di mana-mana. Gugusan-II tetap tak dapat men­da­rat.

Dan bila Gugusan-II men­da­rat, dan puluh ribu pra­ju­rit gabungan akan ber­pesta di atas keka­lahan Por­tu­gis, tanpa gugusan Tuban dan Banten.

Sebuah perahu layar kecil meng­ham­piri kapal ben­dera dan mem­per­se­m­bah­kan pada Lak­sa­m­ana Unus, bahwa Malaka sudah siap untuk dida­rati.

Unus men­jadi berang men­de­ngar per­se­m­ba­han itu. Ia men­da­pat keya­kinan, Gugusan-I memang tidak mema­tuhi ren­cana semula. Ia perin­tah­kan perahu itu kem­bali tanpa jawaban.

Tepat pada waktu perahu itu sampai ke bandar, dari sebe­lah utara sayap kanan Gugusan-II mele­pas­kan tem­bakan per­i­ng­atan: dari sebe­lah utara nampak sayup-sayup iring-iringan armada Por­tu­gis. Layar-layar­nya yang tinggi ber­gam­bar salib itu kem­bung sepe­nuh­nya. Kapal-kapal itu melun­cur cepat ke selatan.

“Peranggi!” orang meme­kik dari atas tiang utama.

Seperti dengan sen­di­r­i­nya cet­bang-cet­bang Gugusan-II ber­ge­rak laras-laras­nya, semua ter­tuju ke arah datang­nya armada musuh.

Pada sayap kanan Gugusan-II yang telah ada di sebe­lah atas Malaka

Unus meme­rin­tah­kan agar ber­la­wan sambil meng­un­dur­kan diri ber­ga­bung dengan induk Gugusan. Pada daratan dii­sya­rat­kan pada Gugusan-I yang lengah, bahwa Por­tu­gis sedang men­da­tangi, dan men­de­sak agar kapal-kapal­nya diisi kem­bali.

Meng­i­kuti tra­disi Maja­pa­hit, cet­bang hanya diper­gu­na­kan di atas laut dan sekali-sekali tidak diper­ke­nan­kan di darat. Kapal­pe­rang dan cet­bang meru­pa­kan kesa­tuan. Dengan kapal-kapal dari Gugusan-I yang kosong cet­bang-cet­bang­nya pun men­jadi bung­kam.

Sua­sana keme­nangan yang riang-gem­bira beru­bah jadi kewas­pa­daan dan kesi­a­gaan yang tegang. Orang men­du­duki tem­pat­nya masing-masing meng­ha­dapi perang laut.

Armada Por­tu­gis ter­nyata lebih maju dari­pada yang diper­ki­ra­kan. Baru saja pra­ju­rit-pra­ju­rit dari Gugusan-I turun ke biduk-biduk untuk menuju kapal­nya masing-masing, guruh meriam Por­tu­gis sudah mulai kede­ngaran. Kemu­dian disu­sul oleh tem­bakan balasan dari cet­bang-cet­bang sayap kanan Gugusan-II yang menga­wal Gugusan-I. Armada Por­tu­gis itu maju terus sambil menem­bak – lima buah kapal, yang dari keja­uhan seakan ter­buat dari baja putih. Peluru-peluru besi­nya beter­bangan nampak dari Gugusan-II. Orang dapat meli­hat dari setiap kapal Por­tu­gis dapat dile­pas­kan sepu­luh peluru seka­li­gus dari bebe­rapa tempat.

Per­tem­puran laut antara armada Por­tu­gis dengan sayap kanan Gugusan-II nampak dari keja­uhan seperti per­ke­la­hian antara dua rom­bongan ka tak rak­sasa dengan lidah-lidah api yang pan­jang menyam­bar-nyam­bar. Dan kapal-kapal Gugusan-I masih ter­ti­dur dalam keda­maian diayun-ayun­kan oleh ombak pagi, seakan tidak peduli pada kehan­curan yang men­da­tangi.

Orang meli­hat bagai­mana kapal-kapal sayap kanan Gugusan-II dir­e­jam oleh peluru logam dan hanya dapat mem­ba­las dengan ledakan peluru cet­bang. Dan kapal-kapal Por­tu­gis maju terus, ter­lalu yakin pada keku­atan meri­am­nya, pada kekuk­u­han kulit kapal­nya, pada kela­juan dan pada keper­ka­saan layar­nya.

Sebuah kapal Por­tu­gis nampak ter­ba­kar layar-layar­nya ter­kena sem­bu­rat api ledakan cet­bang. Orang juga meli­hat sebuah kapal sayap kanan tum­bang tiang layar­nya dan din­ding­nya ter­bong­kar, kemu­dian dengan ragu-ragu menye­lam ke dasar laut. Kapal-kapal lain­nya menge­rah­kan dayung meng­hin­dari deras­nya hujan peluru. Tetapi peluru logam itu lebih cepat dari kela­juan angin, apa­lagi kela­juan kapal. Sukun-sukun besi itu meng­hun­jam buritan, haluan, lam­bung, din­ding kiri dan kanan. Semua yang ter­kena ter­jang dadal tak dapat ber­ta­han.

Lak­sa­m­ana meme­rin­tah­kan meng­ha­dang musuh dengan tembok tem­bakan cet­bang. Ia telah sak­si­kan kehe­batan meriam Por­tu­gis dengan mata kepala sen­diri, dan meng­a­kui keung­gul­an­nya. Ia lihat sen­diri juga bagai­mana sayap kanan­nya tumpas di depan sana tanpa bisa mem­bela diri.

Dan Por­tu­gis maju terus seperti tak ter­jadi apa-apa atas dir­i­nya.

Sayap kanan Gugusan-II teng­ge­lam sebuah demi sebuah, hilang ke dasar laut.

Por­tu­gis mulai menem­baki kapal-kapal Gugusan-I yang kosong dari pra­ju­rit, kosong dari penga­walan. Sampan-sampan pra­ju­rit bubar tak berani mene­rus­kan mema­suki kapal­nya. Gele­gar meriam Por­tu­gis dan ledakan cet­bang Gugusan-II sambar-menyam­bar tak putus-putus­nya. Sebuah demi sebuah dari Gugusan-I menyu­sul menye­lam ke dasar laut dengan gaya dan cara­nya sen­diri-sen­diri.

Dan armada Por­tu­gis terus saja maju. Sebuah kapal­nya yang ter­ba­kar layar­nya ter­ting­gal di bela­kang.

Unus meme­rin­tah­kan semua dayung diper­si­ap­kan. Kening­nya ber­ke­rut meli­hat Gugusan-I tak sempat mele­pas­kan satu tem­bakan cet­bang pun, biasa tanpa pernah mela­wan.

Dan armada Por­tu­gis sema­kin men­de­kat, sema­kin jelas dan sema­kin besar. Kapal-kapal­nya anggun dan agung. Walau­pun kela­ju­an­nya tinggi nampak tidak ter­buru-buru. Dan kapal-kapal itu ter­nyata memang tidak lebih besar dari­pada kapal ben­dera Demak-Jepara.

Tak ada ter­de­ngar sorak. Hati orang telah men­jadi kecil meli­hat tum­pas­nya sayap kanan Gugusan-II.

Cet­bang Gugusan-II mulai menyem­bur­kan tembok api dan ledakan, tembok peng­ha­dang. Tetapi dalam pada itu setiap kapal datang mela­por­kan, bahwa sema­kin banyak lagi cet­bang yang mele­dak di tempat, melu­kai dan mem­bu­nuh penem­bak-penem­bak­nya. Sedang kapal-kapal Por­tu­gis tetap tak dapat dica­pai oleh cet­bang.

Lak­sa­m­ana Adi­pati Unus seben­tar menun­duk, meng­erti ia telah ter­ke­coh oleh pandai-pandai Hindu dari Blam­bangan. Sesal tiada ber­guna. Meriam-meriam Por­tu­gis tak mem­be­ri­kan pada­nya kesem­patan ber­pi­kir lebih lama. Peluru-pelu­ru­nya tak meng­in­dah­kan tembok api dan ledakan cet­bang.

Gugusan-II kini mulai ter­kena hajar. Bebe­rapa bagian dalam seben­tar saja, dan setiap gem a gele­gar di keja­uhan sana disu­sul oleh datang­nya bola-bola besi lawan yang menem­busi din­ding kapal tanpa bisa dita­han.

“Ya Allah, ban­tu­lah ummat-Mu ini,” Adi­pati Unus meng­ang­kat tangan ke atas.

Ia ber­diri di bela­kang dua pucuk cet­bang yang tak henti-hen­ti­nya menem­bak. Barang­kali ia menye­sal juga telah menang­guh­kan pen­da­ratan yang kema­rin.

“Perin­tah Gusti Kan­jeng Adi­pati ditunggu,” seo­rang per­wira menye­dar­kan­nya.

Ia mene­ngok ke sam­ping kiri dan kanan. Ia meli­hat bebe­rapa buah kapal­nya telah pada mulai miring, hancur pada lam­bung, menung­ging karena pecah haluan.

Dan cet­bang-cet­bang tetap tak dapat men­ca­pai mereka….

“Ya Allah, ben­cana tak dapat die­lak­kan. Perin­tah­kan pada semua kapal untuk mening­gal­kan per­a­iran Malaka!”

Kapal-kapal mulai ber­ge­rak dengan tenaga pen­da­yung.

“Cet­bang tak mampu, Gusti.”

“Kami sudah lihat sen­diri. Mereka memang lebih unggul. Apa pun yang ter­jadi, kita sudah menan­tang mereka, sudah mela­wan dan men­da­tangi.”

Juga kapal ben­dera mulai ber­pu­tar dengan tenaga pen­da­yung.

“Bagai­mana raha­sia cet­bang-cet­bang kita kalah ter­ha­dap meriam? Apa obat dan bagai­mana ramu­an­nya kiramu?”

“Warta-warta itu ter­nyata tidak bohong, Gusti. Sen­jata mereka lebih unggul.”

“Ya, per­si­apan kita kurang sem­purna.”

Pada waktu kapal-kapal dari Gugusan-II memu­tar haluan, armada Por­tu­gis sema­kin meng­gen­car­kan serangan karena men­da­pat­kan titik tembak lebih besar. Bebe­rapa kapal lagi telah buyar din­ding­nya dan miring kemu­dian teng­ge­lam pelahan-lahan. Sebuah kapal mele­dak pada gudang­sen­da­wa­nya. Api menyem­bu­rat ke langit dan kapal itu sen­diri ambyar ber­ke­ping-keping.

Armada Por­tu­gis sema­kin men­de­kat juga.

Kapal ben­dera itu terasa meng­ge­tar. Satu di antara tiang-tiang­nya roboh ke sam­ping dengan suara seperti ledakan petir. Layar­nya jatuh ke atas air seperti sayap dayung patah. Dua orang ber­mandi darah ter­tin­dih di bawah­nya, pipih seperti lontar. Sebuah peluru lagi menyam­bar siku haluan, dan man­cung yang sema­lam dibe­tul­kan kini ter­bong­kar lagi. Sebu­tir peluru logam lagi meng­han­tam ulang man­cung itu, menem­bus dan dengan leng­kungan masuk ke dalam laras cet­bang, meng­han­tam bilik ledak, mele­tus, dan ser­pihan besi beter­bangan.

Lak­sa­m­ana Adi­pati Unus meng­ge­le­tak di gela­dak ber­mandi darah. Ser­pihan besi telah meng­hu­jani tubuh­nya.

Dan dengan demi­kian armada gabungan Aceh-Jambi-Riau-Demak-Jepara dengan keku­atan dua puluh ribu orang itu binasa dengan keka­lahan….

Tuma­sik telah di depan mata.

“Seme­nan­jung!” sese­o­rang ber­te­riak dari tiang utama.

Aji Usup keluar dari bilik ber­sama Raden Kusnan. Di bela­kang­nya meng­i­kuti Wirang­gal­eng. Seme­nan­jung nampak sema­kin nyata.

Dan armada yang dike­jar itu belum juga nampak.

Tuma­sik, bekas pang­kalan Maja­pa­hit di masa-masa yang lalu, sepi. Orang sudah pada meng­ungsi dari situ.

‘Tidak sing­gah, lang­sung ke Malaka.”

Gugusan Tuban-Banten ber­la­yar dengan semua layar kem­bang.

Sete­lah sete­ngah hari ber­la­yar nampak oleh gugusan itu dua buah kapal menuju mereka. Di bela­kang­nya meng­iring­kan tiga buah kapal kecil. Semua ber­ge­rak lambat, dan hampir sepe­nuh­nya meng­gu­na­kan tenaga pen­da­yung.

Wirang­gal­eng naik ke atas tiang utama, meng­ham­piri juru-tinjau.

“Barang­kali kapal ben­dera Jepara,” kata juru-tinjau.

Wirang­gal­eng tak menang­gapi. Memang kapal ben­dera Jepara. Ia turun cepat-cepat dan menyam­pai­kan­nya pada Aji Usup.

“Gus­tiku! Gus­tiku!” sebut Aji Usup kesa­kitan. Ia lari ke haluan, ber­te­riak pada laut, pada angin, pada kaki langit, dan kapal ben­dera yang som­p­lak: “Gus­tiku, Gus­tiku! Ya Allah, Gus­tiku! Hanya kau yang meng­erti bagai­mana mem­per­sa­tu­kan armada, hanya kau tahu cara meng­u­sir Peranggi. Gus­tiku! Gus­tiku!”

Raden Kusnan ber­lu­tut di gela­dak dan menyem­bah ke jurusan kapal sem­p­lak itu, mera­tap meng­hiba-hiba: “Gus­tiku! hukum­lah patik. Patik­lah yang ber­sa­lah tak dapat meme­nuhi janji.”

Kapal ben­dera yang besar lagi putih dile­pas dengan adonan kapur dan minyak kelapa tujuh lapis itu dari jauh nampak seperti mer­pati com­pang-cam­ping dalam kepu­tih­an­nya. Di bebe­rapa tempat lapisan adonan telah gompal dan buyar dengan din­ding tubuh menga­nga. Ben­dera Jepara, putih dengan gambar kupu-tarung, tidak nampak – telah ter­ba­bat oleh peluru Por­tu­gis.

Aji Usup meme­rin­tah­kan agar disi­ap­kan sebuah biduk.

Semua pra­ju­rit Tuban dan Banten di atas kapal masing-masing ber­lu­tut dan menyem­bah kapal ben­dera. dan mereka semua menyak­si­kan Aji Usup, Raden Kusnan dan Wirang­gal­eng turun ke biduk menuju ke kapal ben­dera, naik ke atas­nya, dan dii­ring­kan oleh bebe­rapa orang meng­hi­lang ke dalam­nya.

Mereka mema­suki kamar Lak­sa­m­ana.

Sua­sana ber­ka­bung itu mem­pe­nga­ruhi setiap orang. Semua kepala menun­duk. Juga pen­da­tang yang tiga orang itu.

Di dalam kamar Lak­sa­m­ana bebe­rapa orang duduk di atas gela­dak meng­ha­dap pada ambin kayu. Di atas ambin nampak seong­gokan tubuh, selu­r­uh­nya diba­lut. Dan di sana-sini balut itu ditem­busi darah.

Hanya mata, lubang hidung dan mulut­nya saja yang nampak.

“Gusti, Gusti!” ratap Aji Usup.

Bibir seong­gokan tubuh di atas ambin itu ber­ge­rak lambat dan mata­nya ter­tuju pada Aji Usup: “Masih juga ter­lam­bat kau, Aji Usup?”

“Inilah patik, Gusti, hukum­lah patik!”

“Ter­lam­bat, Aji Usup, semua sudah tanpa guna.”

“Raden Kusnan dari gugusan Tuban datang meng­ha­dap, Gusti,” sembah Raden Kusnan, “hukum­lah patik, bunuh­lah patik, Gusti. Tak patut lagi patik meng­a­bdi pada Gusti. Gusti! Gusti!”

“Kem­bali ke kapalmu, Kusnan, Bel­a­jar­lah mene­pati janji.”

“Ampun, Gusti Kan­jeng,” Kusnan hendak bicara lagi, tetapi sese­o­rang telah men­do­r­ong­nya keluar.

Wirang­gal­eng meng­an­tar­kan Kusnan kem­bali ke biduk Aji Usup ting­gal di kapal ben­dera yang som­p­lak. Sepan­jang peng­a­yu­han ke kapal sen­diri Raden Kusnan tak henti-hen­ti­nya mena­ngis. Dan juara gulat itu telah memu­tus­kan dalam hati­nya takkan menye­rah­kan kem­bali gugus­an­nya pada Raden Kusnan. Penye­rahan ber­arti keku­atan Tuban ini jatuh ke tangan Demak-Jepara. Ia akan per­ta­han­kan kepe­mim­pin­an­nya. Dan ia takkan ragu-ragu meng­am­bil tin­dakan ter­ha­dap bekas pim­pin­an­nya itu.

Begitu mereka sampai di kapal sen­diri, mereka meng­ang­kat sembah lagi pada kapal ben­dera. Raden Kusnan lang­sung masuk ke bilik­nya dan tak keluar lagi. Wirang­gal­eng meme­rin­tah­kan pada selu­ruh gugusan untuk meng­iring­kan Gugusan-II, juga meme­rin­tah­kan mela­ku­kan upa­cara ber­ka­bung.

“Sam­pai­kan juga pada kapal-kapal Banten supaya kem­bali!” pen­n­tah­nya. ‘Tak ada di antara mereka boleh mene­rus­kan pela­yaran.”

Di Riau, kapal-kapal Riau-Jambi yang masih sela­mat memi­sah­kan diri dan meng­u­cap­kan sela­mat jalan pada kapal ben­dera dengan kiba­ran ben­dera-ben­dera alamat: sela­mat jalan pada armada yang pulang mem­bawa keka­lahan. Dan kapal ben­dera itu tidak sing­gah Dengan sangat pelan kebe­ratan tubuh sen­diri ia maju mem­bawa luka-luka­nya. Di bela­kang meng­iring­kan semua kapal.

Di Banten baru iring-iringan itu sing­gah untuk memung­gah per­be­kalan, kemu­dian mene­rus­kan pela­yaran ke Jepara. Kapal-kapal Banten yang kecil itu terus meng­iring­kan.

Wirang­gal­eng sempat meli­hat bagai­mana orang ber­du­yun-duyun di bandar Banten untuk meli­hat sisa armada yang som­p­lak com­pang-cam­ping itu. Semua mereka ber­diri diam-diam. Barang­kali, pikir­nya, yang nampak oleh mereka bukan sisa armada, tetapi kega­gahan Peranggi.

Tidak bisa lain, ia sen­diri pun menga­gumi kega­gahan Peranggi, juga tidak ter­ka­lah­kan oleh Jepara. Ia men­coba men­cari sebab keka­lahan ar mada gabungan. Di bandar Banten ia banyak men­de­ngar per­ca­kapan dari per­wira-per­wira Demak-Jepara. Ada yang mengu­tuk pandai-pandai Blam­bangan. Ada yang menya­lah­kan Kan­tom­mana yang tak melak­sa­nakan perin­tah. Ada yang menga­ta­kan, Aceh punya maksud sen­diri hendak meng­ga­gahi Malaka buat dir­i­nya sen­diri. Ada yang menya­lah­kan Tuban yang jelas-jelas telah meng­khi­a­nati janji. Dalam pela­yaran menuju Jepara ia kaji semua alasan yang dide­ng­ar­nya dan mem­be­nar­kan semua. Tetapi juga mem­be­nar­kan: Adi­pati Unus satu-satu­nya orang yang berani ber­u­saha mem­per­sa­tu­kan keku­atan pela­wan Por­tu­gis, dan berani melak­sa­nakan penye­rangan. Keka­lahan yang ter­jadi bukan keka­lahan perang, tetapi kega­galan dalam meng­a­tur keku­atan sen­diri. Kemu­dian ia menyim­pul­kan: armada gabung­arf itu semes­ti­nya tidak kalah. Ia meng­ang­guk-angguk meng­erti.

Bandar Jepara penuh sesak dengan orang-orang yang datang menyam­but. Semua pekerja galangan kapal ber­ke­ru­mun untuk meli­hat kesu­dahan dari kapal-kapal bikin­an­nya sen­diri. Meli­hat lam­bung dan haluan kapal ben­dera som­p­lak dan tiang-tiang­nya yang ter­pang­kas mereka sen­diri, juga kapal ben­dera itu tidak tahan ter­ha­dap peluru Por­tu­gis. Panser dari adonan kapur dan minyak kelapa tidak mem­pu­nyai makna ter­ha­dap sukun besi, bahkan sema­kin mem­be­rati kapal.

Juga di sini kehe­batan Por­tu­gis lebih ter­ba­yang dari­pada keka­lahan sen­diri.

Ibunda Sang Adi­pati Jepara, Ratu Aisah, per­mai­suri Sultan Demak, juga datang meng­elu-elukan.

Raden Kusnan dengan ter­buru-buru dii­ring­kan oleh Wirang­gal­eng turun ke biduk untuk menyer­tai Lak­sa­m­ana men­da­rat.

Dari kapal ben­dera yang som­p­lak com­pang-cam­ping ditu­run­kan sebuah tandu dengan Sang Adi­pati Unus ter­i­kat di atas­nya. Raden Kusnan dan Wirang­gal­eng men­de­kati tandu untuk men­da­pat kesem­patan memi­kul­nya sampai ke darat. Tapi mereka ter­si­sih­kan oleh para pem­be­sar negeri.

Tandu itu dile­tak­kan di tanah di hadapan Ratu Aisah. Semua orang ber­sim­puh dan menyem­bah.

“Pulang, kau, put­raku, Adi­pati Unus?” tanya Ratu. “Inilah putra Ibunda, datang mem­bawa luka dan keka­lahan. Ampuni putra Ibunda ini – menyem­bah dan men­cium kaki Ibunda pun put­randa tak mampu.”

Wanita tua itu meng­ham­piri put­ra­nya dan menem­bus­kan pan­dang pada mata yang ter­se­m­bul dari balik balutan.

“Kau ter­luka, put­raku, tapi tidak kalah. Kafir-kafir itu seka­rang tahu.

Put­raku kesa­yangan. Adi­pati Unus Jepara, telah pernah men­da­tangi mereka, dan akan men­da­tangi lagi kelak.”

Tanpa diduga-duga oleh siapa pun wanita tua itu meng­ang­kat tangan dan melam­bai­kan selen­dang. Semua mata ter­tuju pada­nya. Ter­de­ngar suara lan­tang­nya yang ber­e­am­pur dengan desau angin dan deburan laut: “Per­ha­ti­kan, semua kawula! Jepara sudah pernah men­da­tangi Peranggi di Malaka. Kapal-kapal Jepara sudah pernah menye­rang mereka, sedang negeri-negeri lain ber­ja­tuhan satu demi satu tanpa daya. Per­ha­ti­kan! Jepara telah men­da­tangi dan menye­rang mereka!”

“Per­ha­ti­kan semua itu, selu­ruh kawula!” Adi­pati Unus mem­per­kuat dengan suara lemah. Kemu­dian keluar kata-kata­nya yang takkan dilu­pa­kan oleh seja­rah: “Adi­pati Unus Jepara ter­luka, pulang tidak mem­bawa keme­nangan, tapi tidak mem­bawa keka­lahan. Jepara sudah ber­tem­pur mela­wan lelan­a­nging jagad. Kapal ben­dera telah dilu­kai oleh meriam Peranggi. Pasang kapal ini di laut sana, tam­bat­kan pada sauh jauh dari Pulau Pan­jang, biar selu­ruh dunia tahu: dia telah pernah ber­ha­dapan dengan Peranggi dalam perang laut di per­a­iran Malaka. Sauh­kan di sana sampai umur tua meneng­ge­lam­kan­nya sen­diri. Lain kali kita akan datangi Malaka lagi. Lain kali!”

Tandu diang­kat lagi. Raden Kusnan dan Wirang­gal­eng telah tak dapat mere­but kesem­patan untuk memi­kul. Mereka berdua ber­ja­lan di bela­kang­nya. Iring-iringan ber­ge­rak menuju ke kadi­pa­ten. Dan di pela­tar­an­nya, di atas tanah, orang menun­duk menya­ta­kan bela sung­kawa.

Tiga hari Wirang­gal­eng ting­gal di Jepara seba­gai Pung­gawa Tuban. Bekas teman-teman­nya sekerja dulu tak habis-habis menga­gum­i­nya. Hanya Hayat­ul­lah selalu meng­hin­dar­i­nya. Pada suatu kesem­patan ia dapat menang­kap bahu­nya. Orang itu men­coba menge­bas­kan diri sambil ber­su­ngut-sungut: “Kafir! Peng­khi­a­nat dari Tuban! Kafir!”

Ia ter­paksa mele­pas­kan­nya dan mem­bi­ar­kan pergi sambil melu­dah jijik ke tanah. Meng­er­ti­lah ia, umum di Jepara telah meng­ang­gap­nya seba­gai peng­khi­a­nat. Dan ia harus terima semua itu tanpa bisa mem­bela diri. Ia tang­gung semua peng­khi­a­natan itu seba­gai wakil Tuban.

Ia men­coba mene­mui Raden Kusnan untuk minta diri. Hanya dengan susah-payah ia dapat mene­mu­kan­nya, untuk men­da­pat­kan peng­hi­naan baru pula: “Nyah­lah semua ten­tang Tuban dan dari Tuban!”

Hati­nya ter­luka.

Pada hari ke empat ia ber­ha­sil dapat meng­ha­dap Ratu Aisah. Wanita tua itu mene­ri­ma­nya di taman kadi­pa­ten: “Kau, Wirang­gal­eng dari Tuban, kem­bali kau pada Gusti Adi­pati Tuban dengan salam kami. Jangan kau patah hati. Kega­galan di Malaka bukan akhir, hanya suatu per­mu­laan yang belum sele­sai. Pulang­lah, Nak, dengan damai. Allah mem­ber­ka­h­imu.”

Kata-kata wanita tua itu meng­hi­bur hati­nya. Dengan lang­kah tegap ia turun ke pela­buhan dan hendak segera meme­rin­tah­kan mancal.

Jamal Konong, pemim­pin gugusan Banten, meng­ha­dang­nya di der­maga: “Tuanku Wirang­gal­eng, kepala gugusan Tuban,” kata­nya sambil menyem­bah dada, “raja Paja­jaran tidak mem­be­ri­kan izin pada kami untuk men­da­rat di Banten untuk selama-lama­nya. Kami hendak menya­ta­kan ber­ga­bung dengan Jepara, tetapi tak ada pung­gawa yang dapat diajak bicara. Semua sibuk dengan Tuanku Lak­sa­m­ana. Tuanku, per­ke­nan­kan­lah kami meng­ga­bung pada Tuanku.”

“Dua ratus anak buahmu, apakah masih leng­kap?”

“Utuh, Tuanku.”

“Baik. Mari mancal.”

Gugusan gabungan Tuban-Banten mening­gal­kan Jepara menuju ke Tuban.

Sang Adi­pati menyam­but keda­tangan pasukan laut­nya di bandar, Ia ter­se­nyum dan meng­ang­guk-angguk meli­hat semua dalam keadan utuh dan sela­mat.

Waktu Wirang­gal­eng mem­per­se­m­bah­kan akan kapal-kapal pela­rian Malaka di Banten yang meng­ga­bung ia ter­tawa pelahan. Ang­guk­an­nya sema­kin kuat.

Ia sama sekali tak pernah mena­nya­kan Raden Kusnan.


Bab 12

Timbulnya Kerincuhan

Wirang­gal­eng meng­ang­kat bocah yang sedang ber­main-main seo­rang diri itu dari tanah. Anak itu telan­jang bulat dan kotor seperti bocah-bocah di desa.

Anak itu ter­tawa dan mulai bicara dengan kata-kata kurang jelas. Hidung­nya yang beng­kung penuh dengan ingus. Juga mata­nya yang bulat dilin­dungi alis tebal ikut ter­tawa.

Ia ayun­kan Gelar ke atas kepa­la­nya, dan anak itu men­je­rit riang. Ia sen­diri pun jadi gem­bira kare­na­nya.

“Mana emakmu?” tanya­nya walau­pun tahu Idayu sedang di dapur.

Anak itu semen­tara ini melu­pa­kan­nya pada han­cur­nya armada gabungan. Armada sebe­sar itu! sein­dah itu! sekuat itu! Seki­ra­nya Peranggi sampai mem­buru… pasti ia tidak akan ber­main-main dengan Gelar, anak istri­nya ini. Peranggi tidak mem­buru. Mereka mem­be­lok ke kiri, meng­hu­jani daratan dengan sukun besi. Di bawah lin­dungan tem­bakan meriam mereka meng­ha­lau dua belas ribu pra­ju­rit gabungan Aceh-Demak-Jepara untuk dapat mela­ku­kan pen­da­ratan di bandar Malaka. Dari kenya­taan itu ia men­jadi meng­erti: sela­mat­nya pang­kalan bagi Peranggi lebih pen­ting dari­pada meng­han­cur­kan sisa keku­atan musuh­nya. Pang­kalan! Pang­kalan! Peranggi mem­bu­tuh­kan pang­kalan!

Ia turun­kan Gelar ke tanah, menge­ta­hui Paman Marta datang pada­nya, lang­sung ber­sim­puh dan menyem­bah.

Dengan masih meng­gan­deng tangan Gelar ia men­de­ngus: “Husy. Bangun kau! Tidak­kah kau lihat aku hanya seo­rang anak desa?”

“Sahaya, paduka Wira.”

“Husy.” tapi Paman Marta tetap ber­sim­puh. Ber­ta­nya: “Sahaya dengar Jepara kalah, paduka Wira.”

“Bangun kau! Jangan aku kau bikin malu.”

Tukang kebun itu bangun, ber­diri dan badan­nya dibong­kok­kan, kedua belah tangan­nya mengapur­an­cang.

“Jangan per­la­ku­kan aku seba­gai ning­rat, kau, bodoh. Ya, Jepara kalah. Mau apa lagi?”

“Hebat benar­kah Peranggi, paduka Wira?”

“Apa itu paduka?”

“Hebat benar­kah Peranggi, ben­dara Wira?

“Apa itu ben­dara? Ya, Peranggi memang hebat.”

“Baru saja sahaya dengar, paduka Wira….”

“Husy. Apa yang kau dengar?”

“Sete­lah Peranggi menga­lah­kan Adi­pati Unus, mereka tidak mem­bu­ru­nya. Benar­kah begitu, Wira?” juru gulat itu meng­ang­guk. “Tadi, baru saja tadi, sahaya dengar Peranggi sete­lah itu meng­a­muk, Wira. Seka­rang kata­nya Pasai mereka serbu dan mereka rampas. Benar­kah demi­kian, Wira?”

Kening Wirang­gal­eng menge­r­nyit. Tanpa bicara ia serah­kan Gelar pada Paman Marta. Ia lang­sung mema­suki gedung utama untuk men­cari Syah­ban­dar Tuban. Yang dica­ri­nya tiada. Ia ber­ge­gas turun ke jalan raya, menuju ke bandar. Juga di sana Syah­ban­dar tak dida­pat­kan­nya. Justru pada waktu itu Tholib Sung­kar Az-Zubaid baru pulang dan masuk ke dalam gedung­nya.

Ia datang lagi ke Syah­ban­daran dan mene­mui Paman Marta sedang meng­gen­dong Gelar yang sedang mena­ngis.

‘Tuan Syah­ban­dar sudah ada di dalam, Wira,” kata­nya sambil menun­juk dengan ibu jari­nya ke arah gedung.

Wirang­gal­eng melom­pat masuk ke dalam.

“Alham­dul­il­lah, akhir­nya kau datang juga, Wira,” sambut Syah­ban­dar Tuban. Ia tetap ber­diri di tempat, di bela­kang meja tulis.

“Sejah­te­ralah, Tuan. Benar­kah Pasai telah jatuh ke tangan Peranggi sete­lah Jepara kalah?”

Tholib Sung­kar Az-Zubaid meng­ge­leng-geleng dan ber­ke­cap-kecap tanpa mene­gak­kan bong­kok­nya: “Rang­muda! Rang­muda!” sebut­nya. “Berapa kali sudah kuka­ta­kan, Peranggi juga akhir­nya menak­luk­kan selu­ruh dunia. Lupa kau sudah? Pasai jatuh, Wira. Benar. Selat sama sekali sudah diku­a­sai mereka seka­rang ini. Kau men­da­tangi mereka dan kalah. Aku ikut-ikut ber­duka-cita, rang­muda! Apa boleh buat, akal dibe­ri­kan oleh Allah kepada kita untuk diper­gu­na­kan. Ter­se­rah bagai­mana manu­sia meng­gu­na­kan­nya dan dapat atau tidak mereka meng­gu­na­kan­nya.” Kata-kata­nya mem­ban­jir seakan tak bakal ber­henti. “Sekali orang menge­nal karu­nia ini dan dapat meng­gu­na­kan­nya dengan baik, dia akan men­cip­ta­kan hukum­nya sen­diri. Hanya yang dapat meng­gu­na­kan dengan baik itu saja tahu hukum­nya. Kasihan kau, Wira.”

Wirang­gal­eng pergi tanpa minta diri. Keka­lahan itu masih mem­be­rati dir­i­nya, kini pan­dangan rendah dari Syah­ban­dar mem­ba­kar hati­nya. Pada suatu ketika kelak, tan­tang­nya dalam hati. Jawa dan dunia akan men­de­ngar Peranggi akan dapat dipa­tah­kan, dan Wirang­gal­eng akan ikut serta mela­ku­kan­nya!

Syah­ban­dar Tuban meng­i­kut­i­nya dengan pan­dang­nya sambil meng­ge­leng dan ber­ke­cap-kecap kasihan.

Begitu Syah­ban­dar muda turun ke tanah dan dida­pat­i­nya Paman Marta telah menung­gu­nya mem­bawa Gelar yang meronta-ronta dalam gen­do­ngan.

Dengan diam-diam ia ambil bocah itu dan digen­dong­nya sen­diri.

Gelar ter­diam. Anak itu telah lelah mena­ngis dan meronta. Mata­nya sayu, kemu­dian jatuh ter­ti­dur dengan kadang masih ter­i­sak. Ia masuk ke dalam kamar dan dile­tak­kan si bocah di atas ambin.

Hati­nya masih ter­ba­kar oleh berita ten­tang jatuh­nya Pasai, ten­tang sam­butan mele­ceh­kan dan cara Syah­ban­dar Tuban itu menyam­pai­kan­nya! Ia duduk tepe­kur. Kemu­dian ia pan­dangi Gelar. Makin lama wajah itu makin menye­ru­pai Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa: bentuk kepala yang tipis, rambut yang mulai menge­ri­ting, mata yang bulat, dan ter­u­tama hidung yang beng­kung. Hidung beng­kung! Sayid Ulas­awa kecil! Untuk kese­kian kali­nya ia men­dakwa bocah yang tiada tahu sesu­atu itu.

Dan kesa­maan itu memang tak mung­kin ia dapat lupa­kan. Juga peris­tiwa kala si bocah itu untuk per­tama kali mema­suki kamar ini…

Nyi Gede Kati mengira Idayu telah mati di ujung cun­drik. Ia tidak tahu penari itu ter­ti­dur cepat tak ter­duga karena kele­lahan dari kete­gangan lama, tak ingat sesu­atu apa lagi, seperti tak sadar­kan diri.

Bekas pengu­rus harem itu masuk sambil melin­dungi si bayi dengan tangan, ber­siap-siap menang­kis setiap serangan dari Wirang­gal­eng.

“Biar anak ini meli­hat ibunya untuk peng­ha­bisan kali, Wira,” kata­nya.

Dan bayi itu mulai mena­ngis. Dan Nyi Gede Kati men­di­am­kan­nya dengan men­de­sis­kan bibir­nya.

“Meng­apa untuk peng­ha­bisan kali, Ibu? Idayu sedang tidur nye­nyak. Lebih baik jerang­kan air untuk mem­ba­suh­nya. Dia lelah dan tak begitu sehat. Mari, biar aku gen­dong bayi itu.”

“Jangan!” Nyi Gede meno­lak kontak dan dari mata­nya nampak ia ber­jaga-jasa. “Jangan bunuh dia, Wira. Idayu ber­pe­san, ‘Jangan biar­kan dia dibu­nuh oleh Kang Galeng’. Dia tak tahu apa-apa, Wira. Dia anakku seka­rang.”

Ia biar­kan wanita itu ber­ja­lan meng­en­dap-endap was­pada men­de­kati Idayu, yang ter­golek di ambin. Ter­de­ngar ratap­an­nya, pelahan dan meng­hiba-hiba: “Idayu, pujaan selu­ruh Tuban, Kama­ra­tih Tuban, betapa celaka hidupmu, Nak.”

“Dia tidak celaka, dia ber­ba­ha­gia,” juara gulat mem­be­tul­kan.

‘Telah kau kum­pul­kan selu­ruh kebe­ra­ni­anmu untuk meng­ha­dapi hari ini,” ratapan itu dite­rus­kan­nya, “untuk mene­rima ujung cun­drik dari suami yang dika­sihi dan dicin­tai.”

“Tak pernah ada cun­drik pernah menge­na­i­nya,” bantah Galeng.

“Per­gi­lah sudah seo­rang istri setia, penari tanpa duanya, seo­rang wanita utama, dika­gumi semua orang. Idayu, ah, Idayu!”

“Jangan ganggu dia, Ibu, dia sedang tidur,” tegah­nya.

“Kau bukan wanita per­tama men­de­rita sema­cam ini, Idayu. Manakah darahmu, biar kucium seba­gai peng­hor­matan dari semua yang men­cin­ta­imu?”

“Tak ada darah keluar dari tubuh­nya,” sekali lagi ia mem­ban­tah, namun tak dapat men­ce­gah Nyi Gede mene­rus­kan ratap­an­nya.

Dengan satu tangan Nyi Gede meraba-raba tubuh Idayu, dan ia tak men­da­pat­kan sete­tes darah pun. Ia mem­be­liak pada­nya, menu­duh­nya dengan suara keras: “Keji kau, Wira! Keji! Tak kau beri sedi­kit pun kehor­matan pada Kama­ra­tih Tuban! Tak kau antar­kan dia dengan ujung cun­drik­nya sen­diri. Kau cekik dia seperti anak babi.”

“Dia tidur. Meng­apa mesti kuce­kik dia?”

Wanita itu melan­jut­kan raba­an­nya dengan satu tangan pada leher Idayu. Ia dekat­kan mata­nya pada leher itu dan baru dike­ta­hu­i­nya wanita ter­golek itu masih ber­na­pas dan leher itu pun tidak cedera.

“Dia masih hidup. Kau tak­bu­nuh dia, Wira?”

“Meng­apa aku mesti bunuh dia? Sedi­a­kan air hangat buat pem­ba­sah­nya. Sini! Biar kul­i­hat anakku.”

Nyi Gede Kati lari keluar kamar menye­la­mat­kan si bayi dalam gen­do­ngan. Dan ia tidak meng­ha­lang­i­nya.

Duduk­lah ia menung­gui istri­nya, mere­nung­kan betapa banyak aniaya dalam kehi­dupan ibu kota. Ia renung­kan pula cerita Idayu ten­tang impi­an­nya yang ter­nyata keja­dian sesung­guh­nya. Bayi itu bukan anakku. Orang-orang telah mem­bi­ca­ra­kan­nya: Idayu ter­kena bius setiap habis pulang dari menari di kadi­pa­ten. Mereka tahu, mereka mem­bi­ca­ra­kan­nya. Meng­apa hanya aku yang tidak mau per­caya? Dan lelaki manakah yang bisa mem­buk­ti­kan seo­rang bayi itu anak­nya atau tidak?

Untuk kese­kian kali­nya keba­karan ter­jadi dalam hati­nya. Ia pan­dangi Idayu yang lelap-nye­nyak men­de­kati ping­san. Dia tak ber­sa­lah. Dia telah ber­se­dia mene­rima ujung cun­drik­nya sen­diri. Dia telah tub­ruk­kan diri pada sen­jata itu asal­kan tang­kai sudah ter­geng­gam oleh tanganku. Kalau sen­jata itu tak kulem­par­kan, mung­kin dia telah tewas. Meng­apa yang men­de­rita harus mene­rima hukuman? Meng­apa bukan si penye­bab pen­de­ri­taan?

Ia melang­kah tetap ke arah jagang sen­jata: tombak-tombak dan pedang. Ia telah rasai ujung sen­jata itu menyin­tuh jan­tung Syah­ban­dar Tuban. Sampai di pintu ter­de­ngar oleh­nya titah Sang Adi­pati untuk men­jaga kese­la­matan Syah­ban­dar, untuk melin­dungi jiwa­nya.

“Ter­ku­tuk!” sum­pah­nya. “Bede­bah itu tak boleh aku punah­kan.”

Ia san­dar­kan tombak pada din­ding. Ia mem­pro­tes Hyang Widhi, meng­apa janji kese­ti­aan pada Sang Adi­pati harus mem­ba­tal­kan pele­pasan dendam ter­ha­dap musuh-pri­ba­dinyua? Otot-otot­nya men­jadi tegang untuk dapat menam­pung titah para dewa. Dan titah itu tak datang dan tak bakal datang pada­nya. Ia rasa­kan tangan­nya telah mema­tah-matah­kan ang­gota badan Syah­ban­dar Tuban. Tetapi kemu­dian meleng­king suara Rama Clu­r­ing yang meng­ha­rap­kan dir­i­nya dapat memang­gil kebe­saran dan keja­yaan pada gua­garba hari depan. Dan suara Sang Adi­pati yang mem­per­i­ng­at­kan: tak dapat kebe­saran dan keja­yaan itu ter­pang­gil tanpa restu seo­rang raja.

Tapi apakah aku bukan anak Tuban men­di­am­kan saja Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa? Sia­pa­kah yang bisa salah­kan aku kalau aku patah­kan batang leher­nya? Atau aku kelu­ar­kan hati dari dada­nya dan aku remas di depan orang banyak, seperti dila­ku­kan oleh orang-orang sebe­lum aku meng­u­man­dang­kan suara dendam purba: takkan kubi­ar­kan lang­kahku ter­henti di tengah jalan; lihat, telah kur­e­mas hati peng­ha­lang jalanan ini!

Kedua belah tangan­nya meng­gi­gil dan keri­ngat keba­karan mem­ba­sahi tubuh­nya. Ia bang­kit dan dengan tangan telan­jang menuju ke gedung utama.

Belum lagi ia memi­l­iki jen­jang, seo­rang penung­gang kuda dari kepa­ti­han telah memang­gil­nya. Tugas pen­ting telah memer­lu­kan tena­ga­nya….

Tidak lebih dari sebu­lan sete­lah keda­tangan­nya dan Malaka baru dike­ta­hu­i­nya: tidak benar Peranggi telah menak­luk­kan Pasai. Benar ada bebe­rapa buah di antara kapal-kapal­nya datang ke sana, tetapi hanya men­cari lada dan kapur barus dengan paksa. Suatu keri­butan telah ter­jadi dii­kuti dengan per­ke­la­hian kecil di darat. Kemu­dian kapal-kapal itu balik kem­bali ke Malaka tanpa hasil.

Bukan itu saja. Juga pulau Sabang dida­rati. Seke­lom­pok bajak, yang pada waktu itu sedang ter­per­goki, telah mela­ku­kan per­la­wanan dan disapu dari muka bumi. Dua minggu Por­tu­gis men­du­duki Sabang, kemu­dian pergi lagi ke Malaka.

Orang mem­be­ri­ta­hu­kan juga, kapal-kapal Por­tu­gis mulai keli­hatan di per­a­iran Sula­wesi Selatan dan Kali­man­tan Selatan, kemu­dian juga di per­a­iran Jawa sen­diri.

Seruan Sultan Mahmud Syah dalam pem­bu­angan untuk mem­boi­kot bandar Malaka nampak seakan masuk dalam hati para raja Nusan­tara. Tetapi pem­boi­kotan sesung­guh­nya bukan karena seruan itu. Para raja Nusan­tara memang gentar pada Por­tu­gis dan takut ber­la­buh di Malaka.

Sultan Mahmud Syah sen­diri tidak pernah jadi raja yang popu­ler.

Selama keja­yaan Malaka sikap­nya ter­ha­dap para raja sele­bih­nya angkuh dan tak sudi meng­gub­ris kepen­tingan ber­sama antar-mereka. Ia meng­ang­gap semua mereka mem­bu­tuh­kan Malaka, dan Malaka tak mem­bu­tuh­k­kan mereka.

Pem­boi­kotan semu yang ber­ja­lan dengan sen­di­r­i­nya telah mem­bi­kin Pasai jadi bandar peng­ganti Malaka. Maka bandar yang telah kehi­langan seri­nya dalam waktu satu abad bela­kangan kem­bali jadi ber­si­nar-sinar. Maka orang pun mulai men­duga-duga, jangan-jangan Por­tu­gis kelak akan meram­pas juga bandar ini untuk menye­la­mat­kan Malaka, dan ter­u­tama untuk meng­ga­gahi Selat, urat nadi kemak­muran dunia. Malahan ada yang telah berani mera­mal­kan: Kalau Peranggi belum juga mela­ku­kan­nya adalah karena masih disi­buki oleh per­kara-per­kara lain.

Pada waktu itu Por­tu­gis memang sedang sibuk mema­suki per­a­iran Maluku dan Nusa Teng­gara, men­ce­rai-berai­kan armada-armada dagang Tuban dan Blam­bangan, mem­bu­nuhi dan mem­bi­na­sa­kan peda­gang-peda­gang pem­bo­rong rempah-rempah dari Jawa, yang selama ini meme­gang mono­poli atas Maluku.

Pela­yaran dan per­da­gangan antara Maluku dan Tuban mero­sot. Bandar Tuban men­jadi leng­ang. Pasar pela­buhan sunyi. Bang­sal-bang­sal pela­buhan kosong. Hanya ombak laut dan angin juga yang tetap sibuk dan riuh sen­diri.

Dan di selu­ruh negeri Tuban, tak lain dari Sang Adi­pati Tuban Arya Teja Tumeng­gung Wil­wa­tikta seo­rang yang tak habis-habis menye­sali per­bu­at­an­nya sen­diri. Seki­ra­nya Tuban mem­bantu Jepara dengan seju­jur hati, mung­kin Malaka telah jatuh dan Maluku tetap dalam mono­poli pem­bo­rong dan peda­gang Tuban dan Gresik atau Blam­bangan. Maka bandar Tuban takkan seleng­ang seka­rang ini.

Sesal tiada guna: jatuh­nya Malaka melam­bang­kan jatuh­nya pela­yaran dan per­da­gangan bebas selu­ruh Nusan­tara. Nasi telah men­jadi bubur.

Kapal-kapal Tuban hampir-hampir tak berani lagi ber­la­yar ke Maluku. Seperti dige­bah oleh badai mereka ber­ta­buran ke jurusan barat men­cari lada di Banten, Suma­tra Selatan, dan meng­ang­kut­nya ke Pasai.

Kapal-kapal Atas Angin seperti dito­lak oleh taufan hampir-hampir tak berani muncul lagi di Tuban.

Dan hanya peda­gang-peda­gang Tiong­hoa tetap tenang di pang­kalan dengan kapal-kapal masing-masing. Mereka tak perlu menying­gahi Malaka. Tanpa rempah-rempah per­da­gang­an­nya dengan Tiong­kok ber­ja­lan terus: kayu-kayuan, getah-getahan, deda­unan, dari laut dan darat…. Kesu­l­it­an­nya tetap bajak yang ber­pang­kalan di Tuma­sik dan ber­te­baran di Laut Tiong­kok Selatan. Namun tak ada yang mem­per­ha­ti­kan mereka dalam kete­nang­an­nya.

Kepri­ha­tinan Sang Adi­pati tak habis sampai di situ saja. Keja­hatan mulai ber­mun­culan di sana-sini: peram­pokan, peng­a­n­i­a­yaan, pen­cu­r­ian dan pem­bu­nuhan. Keru­suhan meram­bat dari bandar ke kota, dari kota ke peda­laman.

Galangan-galangan ber­henti bekerja. Pekerja-pekerja galangan tak dapat lagi meng­ha­rap­kan upah.

Golongan peda­gang besar yang semua ter­diri dari Pri­bumi Muslim dengan cepat memin­dah­kan kapal-kapal­nya ke bandar-bandar di sebe­lah barat. Bila mereka toh mene­tap di Tuban Kota, mereka ber­pin­dah kegi­atan dari eks­por­tir men­jadi peda­gang kebu­tuhan peda­laman: ikan asin, trasi, garam. Mereka tidak ikut teng­ge­lam dalam keme­ro­sotan besar ini. Dan dengan gagal­nya penye­rangan atas Malaka mereka mulai meng­am­bil sikap mem­benci, memu­suhi, dan menen­tang Sang Adi­pati Tuban.

Pen­du­duk yang masih mengu­kuhi keper­ca­yaan lama menga­gumi kepin­taran mereka dan dengan diam-diam meng­hor­mati dewa mereka. Tetapi ada juga sego­longan kecil yang merasa jeng­kel ter­ha­dap keja­yaan mereka. Peng­go­longan-peng­go­longan mulai ter­jadi di antara pen­du­duk Tuban: yang mem­benci Sang Adi­pati dan yang mem­benci keja­yaan golongan Islam. Per­ten­tangan-per­ten­tangan lunak kadang ter­jadi. Lama-kela­maan yang lunak men­jadi keras, yang kadang men­jadi sering, dan mulut jadi gontok, dari gontok jadi ben­trokan antar-golongan.

Sang Adi­pati Tuban dapat meli­hat, keu­letan para peda­gang Islam akhir-kelak­nya yang akan men­ja­min, Islam juga yang bakal meng­gan­ti­kan agama lama. Peme­luk-peme­luk­nya punya kege­si­tan, punya keper­ca­yaan pada usa­ha­nya sen­diri, ter­le­pas dari karu­ni­a­nya, punya pra­karsa dalam banyak hal. Mereka tetap dapat hidup jaya tanpa per­da­gangan antar-pulau dan tanpa meng­ga­rap tanah, tanpa memi­kul. Ia sema­kin meng­erti meng­apa banyak di antara putra-put­ra­nya dari selir, sete­lah sekian lama meng­a­bdi pada Demak terus ber­se­tia pada raja Islam di barat itu. Ia meli­hat kenya­taan yang meng­ge­li­sah­kan itu: hanya keku­atan yang diji­wai oleh agama baru itu saja mampu jadi penan­tang dan peng­gem­pur Peranggi, seka­li­pun kalah. Tapi kelak?

Dewa-dewa lama akan digan­ti­kan oleh dewa-dewa baru. Selu­r­uh­nya! Tak pernah nenek-moyang­nya ber­ce­rita ten­tang keja­dian ini. Per­gan­tian dewa-dewa! Dan dewa-dewa itu tak pernah ber­an­jak dari tem­pat­nya, tapi si manu­sia sen­diri yang ber­tub­ru­kan untuk jadi penyem­bah­nya yang ter­baik, dewa pilihan. Ia benar­kan putra-put­ra­nya, dan siapa saja yang menyem­bah dewa baru ini.

Tetapi kesim­pulan itu tidak mengu­rangi kekha­wa­tiran­nya akan marab­a­haya yang lebih keras: Por­tu­gis. Belum lagi raja lautan itu meng­in­jak­kan kaki di bumi Tuban, wajah Tuban sudah beru­bah, dari ramai men­jadi leng­ang, kese­jah­te­raan mulai runyam, laut pun sudah mulai jadi sepi.

Mereka yang paling ter­je­pit dalam sua­sana sempit itu tak lain dari pra­ju­rit-pra­ju­rit dari gugusan Banten, para pela­rian dari Malaka. Mereka ditam­pung dalam asrama di luar kota. Kapal-kapal­nya dike­rah­kan oleh Sang Patih untuk mela­ku­kan peng­ang­kutan besar-besaran rempah-rempah dari Maluku dan tiga-tiga­nya telah dir­am­pas oleh Por­tu­gis di Selat Banda. Mereka tak bisa hidup hanya dengan makan dan minum.

Dan pada suatu hari, selu­ruh asrama itu kosong. isinya hilang-lenyap tanpa bekas.

Per­wira-per­wira penga­wal yang dike­rah­kan untuk mela­ku­kan penye­li­dikan hanya bisa men­duga, bahasa mereka telah ter­ha­sut oleh Rangga Iskak, bekas Syah­ban­dar Tuban.

Dari per­se­m­ba­han-per­se­m­ba­han Sang Patih, Sang Adi­pati menge­ta­hui dengan pasti, bekas Syah­ban­dar itu telah meng­gu­na­kan kege­li­sahan umum untuk men­ca­pai mak­sud­nya sen­diri. Orang Melayu ketu­runan Beng­gala itu ia nilai seba­gai banyak ting­kah dan keter­la­luan: ia memo­hon, menge­luh, mem­pro­tes, menun­tut ganti keru­gian. Telah ia perin­tah­kan agar bekas Syah­ban­dar itu mening­gal­kan Tuban Kota dan ditem­pat­kan­nya di peda­laman, men­da­pat keku­a­saan atas lima desa. Nam­pak­nya ia belum juga puas. Rangga Iskak masih juga meng­a­ju­kan banyak per­mo­honan. Telah dii­zin­kan­nya untuk men­di­r­i­kan per­gu­r­uan untuk mengem­bang­kan agama baru itu. Masih juga ia memo­hon tam­ba­han desa.

Dalam dua tahun meme­gang lima desa itu telah menye­bab­kan desa-desa ter­se­but men­da­pat kema­juan luar biasa. Ia menge­lu­ar­kan aturan-aturan yang tak pernah dike­nal selama itu, yang menye­bab­kan pen­du­duk desa bekerja dua kali lipat dari­pada bia­sa­nya. Peru­mahan didi­r­i­kan lebih banyak. Saluran-saluran diba­ngun sehingga memung­kin­kan per­lu­asan sawah. Huma dibuka tanpa batas. Panen yang ber­lim­pahan menye­bab­kan desa-desa yang miskin itu men­jadi kaya dan sejah­tera. Pen­du­duk­nya men­jadi patuh pada­nya.

Dengan kepa­tuhan pen­du­duk pada­nya bekas Syah­ban­dar itu mulai mem­per­li­hat­kan sikap yang memu­suhi Tuban.

Dengan hati pri­ha­tin ia meli­hat, bahwa bekas pung­gawa itu mengi­bar­kan panji-panji Islam untuk memu­suh­i­nya. Ia tidak bisa mene­rima ini. Ialah yang mem­be­nar­kan orang-orang Islam itu men­da­pat per­lin­dungan dari Sri Baginda Bhre Wijaya Pur­wa­wi­sesa. Ialah pula yang mem­pel­o­pori per­se­ku­tuan kerja sama dengan peda­gang-peda­gang Islam dari Atas Angin, meng­a­ki­bat­kan pem­bang­kangan bupati-bupati pesi­sir ter­ha­dap Maja­pa­hit dan meng­a­ki­bat­kan kerun­tuhan kera­jaan Buddha Tan­tra­yana itu. Ialah pula yang mem­be­nar­kan putra-put­ra­nya masuk Islam dan ber­pi­hak pada Islam. Seka­rang dengan panji-panji Islam pula seo­rang bekas pung­gawa, bekas Syah­ban­dar­nya, telah meng­am­bil sikap memu­suh­i­nya.

Agama baru, pikir­nya, keper­ca­yaan baru, dewa baru, keku­a­saan baru, penga­ruh baru, meriam, Peranggi… semua itu dira­sa­i­nya sedang meng­a­cuh­kan ujung tombak ter­tuju pada dir­i­nya.

Per­se­m­ba­han ter­a­khir mem­be­nar­kan duga­an­nya: selu­ruh pra­ju­rit pela­rian Malaka itu meng­ga­bung­kan diri dengan Rangga Iskak di desa Rajeg.

Sudah ber­kali-kali ia memang­gil putra-put­ra­nya di Demak untuk dimin­ta­i­nya nasi­hat, dan untuk jadi juru pen­da­mai ter­ha­dap pem­bang­kang baru ini. Tak seo­rang pun di antara mereka datang meng­ha­dap. Pem­bang­kang Islam hanya bisa dir­e­da­kan oleh orang Islam pula, pikir­nya. Dan seka­rang ia meng­ha­dapi pem­bang­kangan dari putra-put­ra­nya sen­diri. Men­ja­wab pun mereka tidak. Ia sudah sedi­a­kan alasan secu­kup­nya, meng­apa gugusan Tuban ter­lam­bat datang. Dan mereka tetap tidak muncul.

Bebe­rapa kali ia ter­goda untuk mengir­im­kan Wirang­gal­eng ke Demak karena bagai­man­a­pun putra-putra itu harus diya­kin­kan. Setiap ia ingat, kepen­tingan Idayu juga harus diper­ha­ti­kan, ia selalu mem­ba­tal­kan­nya. Ia harus mem­be­ri­kan kesem­patan lebih banyak pada penari tanpa tan­dingan itu untuk menik­mati hidup. Ah. Dia adalah per­mata Tuban yang harus dimu­l­i­a­kan. Desas-desus kegu­sa­ran­nya. Ia harus mene­lan kegu­sa­ran­nya: Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa adalah satu-satu kunci bagi­nya untuk men­da­pat­kan per­da­maian dari Peranggi dan Espa­nya. Maka bebe­rapa ia ulangi per­i­ng­at­an­nya pada Wirang­gal­eng untuk tidak mele­tak­kan tangan pada Syah­ban­dar Tuban itu, biar apa pun kata orang ten­tang dir­i­nya.

Dan satu hal yang sela­ma­nya ia men­jadi ragu-ragu: perang. Juga ter­ha­dap Rangga Iskak tak akan diki­rim­kan balat­en­tara. Setiap ter­jadi perang dalam negeri di Tuban akan memang­gil Demak untuk menye­rang. Boleh jadi Demak tidak akan dapat diken­da­li­kan lagi oleh Sema­rang. Kalau dia tumbuh men­jadi kuat, mung­kin Sema­rang akan dipung­gung­i­nya, dan per­jan­jian dengan Ceng He dulu, bahwa orang-orang Tiong­hoa yang men­da­pat per­lin­dungan di Lao Sam, tentu harus ia bina­sa­kan bila Sema­rang tak bisa mengen­da­li­kan Demak. Tapi tanda-tanda itu belum memun­cul­kan diri lebih jelas. Memang peram­pasan Jepara suatu per­mu­laan, tetapi keka­lah­an­nya di Malaka juga menyu­rut­kan keper­ca­yaan orang pada Demak. Hukuman itu sudah setim­pal dengan keja­hat­an­nya.

Tapi Sang Adi­pati tak pernah berani meng­a­kui dir­i­nya seba­gai pena­kut. Ia rumus­kan pena­kut­nya seba­gai keben­cian ter­ha­dap perang – dan perang meru­gi­kan.

Dan dalam men­ja­lan­kan tugas untuk meng­a­wasi Syah­ban­dar Tuban, pada suatu kali teg’adi ini: Bulan sedang mene­rangi alam. Tengah malam.

Syah­ban­dar, yang dii­kut­i­nya dari keja­uhan, ber­ja­lan seo­rang diri di bandar yang sepi itu. Ia ber­ju­bah geng­gang. Tong­kat­nya ter­o­bat-abit seba­gai­mana biasa bila sedang ber­ja­lan seo­rang diri dalam kese­pian.

Hanya desau angin dan deburan ombak yang ter­de­ngar. Bahkan wanita-wanita pela­cur pun tiada. Mereka telah mening­gal­kan daerah pela­buhan yang tak lagi meng­hi­dupi ini.

Tholib Sung­kar Az-Zubaid lang­sung menuju ke der­maga. Antara seben­tar ia mene­ngok ke segala jurusan. Kemu­dian ia ber­henti.

Dan Wirang­gal­eng yang ber­ja­lan agak jauh di bela­kang­nya melom­pat ke tepi jalan, ber­lin­dung di balik seba­tang pohon asam.

Dari laut sebuah biduk gemuk dika­yuh orang empat. Hilang-timbul di balik puncak ombak, kemu­dian ter­a­yun naik di puncak air dalam kege­mi­l­angan bulan. Biduk itu menuju ke bandar. Dan orang kulit putih men­da­rat. Dua orang yang di biduk meng­a­cu­kan sen­jata api ke darat. Bebe­rapa kali Syah­ban­dar-muda meng­go­sok mata­nya, takut salah penge­li­hatan. Tapi peman­dangan itu tidak menipu mata­nya. Ia dapat mem­be­da­kan pakaian dua orang pen­da­rat itu dari­pada kul­it­nya, juga mem­be­da­kan­nya dari kulit Syah­ban­dar. Dan jauh, jauh di tengah laut sana, sayup-sayup nampak oleh­nya bayangan sebuah kapal Por­tu­gis dengan layar-layar ter­gu­lung.

Ia lihat dua orang pen­da­rat itu bicara dengan Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa. Seben­tar saja. Pen­da­rat-pen­da­rat itu kemu­dian turun lagi ke biduk dan meng­a­yuh ke tengah laut lagi, menuju ke kapal.

Wirang­gal­eng meng­i­ngat-ingat, barang­kali ia tak dengar taluan canang dari menara pela­buhan. Sei­ng­at­nya canang itu tidak pernah dipu­kul pada waktu-waktu bela­kangan ini Meng­apa pen­jaga menara itu lalai? Dan meng­apa pen­da­rat-pen­da­rat itu segera balik lagi? Ada apakah semua ini? Apakah hubungan Syah­ban­dar dengan mereka? Dan adakah Sayid nanti mem­per­se­m­bah­kan peris­tiwa ini pada Sang Patih?

Sambil men­duga-duga ia tunggu Syah­ban­dar mele­wati tempat per­se­m­bu­nyi­an­nya. Dan ia dapat menang­kap gumam­nya, tapi tak meng­erti mak­sud­nya, ter­lalu pelahan, mung­kin dalam bahasa asing pula, dan desau dan seru laut itu ter­lalu keras.

Sete­lah orang itu lewat dan menuju ke Syah­ban­daran ia ber­ja­lan cepat-cepat menuju ke menara pela­buhan dan naik ke atas.

Dida­pat­i­nya dua orang penunggu menara telah tidur nye­nyak. Suatu gelom­bang kema­rahan menye­bab­kan ia meman­dangi mereka. Dan mereka tak juga bangun.

Boleh jadi ter­kena bius juga, pikir­nya. Dan dipe­rik­sa­nya per­se­di­aan makan dan minum mereka. Ia baui, ia per­ha­ti­kan di bawah cahaya bulan yang kurang terang itu. Tak ada bau yang men­cu­r­i­ga­kan. Ia gagapi pundi-pundi dan saku mereka. Juga tak ada sesu­atu yang men­cu­r­i­ga­kan.

Ia turun lagi. Dengan meng­en­dap-endap ia masuk ke dalam gedung utama dan meng­in­tip kamar kerja Syah­ban­dar.

Orang itu sedang duduk pada meja menu­lis surat. Di hadap­an­nya ter­buka selem­bar surat yang seben­tar-seben­tar diba­ca­nya sebe­lum mene­rus­kan tulis­an­nya. Tar­bus­nya ter­ge­le­tak di atas meja, dan war­na­nya belum juga beru­bah, masih tetap bagus seperti pada hari per­tama ia meng­in­jak­kan kaki di bumi Tuban.

Biar pun aku ambil surat itu, pikir­nya, tak bakal ada yang bisa mem­ba­ca­nya. Biar­lah. Dan ia pun pergi pulang.

Begitu ia ter­ba­ngun dari tidur­nya, segera ia pergi kem­bali ke pela­buhan dan naik ke atas menara. Dua orang pen­jaga itu masih juga ter­ge­le­tak dalam tidur­nya. Ia tunggu sampai mereka ter­jaga. Matari sudah lama terbit. Perahu-perahu nela­yan nampak tiada berang­kat sema­lam. Bayang-bayang kapal Por­tu­gis sudah tiada. Matari makin meninggi juga. Dan kala sinar­nya mulai jatuh pada kepala mereka, mereka mulai ber­ge­rak-gerak, meng­ge­liat, dan mem­bu­ka­kan mata dengan malas.

Ia per­ha­ti­kan mereka. Dan ia lihat tapuk mata mereka masih ter­gan­tung berat. Mereka duduk malas di gela­dak dengan mata belum sepe­nuh­nya ter­buka.

Ia men­de­ham. Mereka meng­ge­ra­gap dan baru menye­dari adanya sepa­sang kaki di hadapan mereka. Diang­kat pan­dang mereka ke atas dan ter­tum­buk pada mata Wirang­gal­eng yang tajam meng­an­cam dan wajah­nya ter­buka.

Ber­ba­reng mereka men­ja­tuh­kan diri di gela­dak dan memo­hon ampun.

“Kepa­rat kalian!” sumpah Wirang­gal­eng berang dan menyo­r­ong kepala mereka dengan kaki­nya. “Apakah kalian kira karena tak ada kapal datang kalian boleh tidur sampai begini siang?”

“Ampun, Wira. Tiada sahaya berdua sengaja ter­ti­dur sampai begini siang. Wira sela­ma­nya dapati salah seo­rang di antara kami sedang ber­jaga. Ampun, Wira, ampun, ampun.”

‘Tak ada ampun lagi bagi kalian.”

Mereka men­coba men­cium kaki Wirang­gal­eng, tetapi Syah­ban­dar­muda itu menen­dang­nya dengan gerakan kaki lemah.

“Bukan­kah Wira sen­diri tak pernah dapati kami ter­ti­dur ber­ba­reng seperti ini?”

“Justru karena kete­le­doran kalian, tuan Syah­ban­dar telah hilang entah ke mana. Mung­kin dicu­lik peram­pok….”

“Ampun, Wira. Kewa­ji­ban kami bukan­lah men­jaga kese­la­matan tuan Syah­ban­dar. Hanya di sini…”

Ke dua orang itu masih ber­su­jud di atas gela­dak untuk men­da­pat peng­am­punan. Dan Syah­ban­dar-muda tak juga mem­be­ri­kan.

“Ya, tugas kalian memang menin­jau kapal. Dan kalian lalai. Di mana kalian lihat tuan Syah­ban­dar untuk peng­ha­bisan kali?”

“Kema­rin sore masih ada di atas menara ini, Wira….”

“Kema­rin sore,” desak Syah­ban­dar-muda.

“Betul. Masih ada di sini, Wira.”

”Apa diper­bu­at­nya di sini?”

“Hanya ber­ce­rita ten­tang Ispa­nya, Wira.”

“Bangun kalian! Itu saja ceri­ta­nya?”

“Betul, Wira. Ten­tang pera­wan-pera­wan Ispa­nya, Wira. Kata­nya hidung­nya man­cung dan kul­it­nya putih seperti bawang, seperti pualam. Apa pualam itu, Wira?”

“Siapa yang tahu apa pualam itu? Meng­apa tak kalian tanya­kan pada­nya sen­diri?”

“Kata­nya lebih cantik dari bida­dari orang Jawa. Alis­nya hitam tebal dan mata­nya teng­gali. Gigi­nya putih lak­sana muti­ara. Tidak ada yang hitam seperti gigi perem­puan Jawa dan Beng­gala per­begu. Tak ada bida­dari ber­gigi hitam, kata­nya. Hanya iblis perem­puan ber­hi­tam-hitam. Buh, hitam! kata­nya. Ia ter­tawa, mener­ta­wa­kan orang yang senang ber­gigi-hitam.”

“Senang benar kalian deng­ar­kan cerita ten­tang pera­wan Ispa­nya.”

“Dipe­rin­tah­kan­nya pada kami untuk mem­ba­yang-bayang­kan, Wira. Dan ping­gul­nya! kata­nya tuan Syah­ban­dar, jangan sampai salah mem­ba­yang­kan. Rambut mereka, kata­nya lagi, hitam-kelam kebiru-biruan bila ter­timpa sinar matari. Dan kege­ni­tan­nya, Wira, kata­nya, kalau dipu­tar­nya ping­gul­nya, dan gaun­nya mengem­bang seperti cen­da­wan, dita­dah­kan muka­nya pada langit bila dipuji kecan­ti­kan­nya… tak dapat orang melu­pa­kan­nya seumur hidup, kata­nya. Benar­kah itu, Wira?”

“Tidak­kah tuan Syah­ban­dar menyu­ruh kalian mela­ku­kan sesu­atu. Coba ingat-ingat.”

“Hanya mem­ba­yang-bayang­kan, Wira. Begini kata­nya, Wira: Lihat ke laut lepas sana, kalian pen­jaga menara celaka, pada suatu kali akan datang kapal-kapal Ispa­nya ke Tuban mem­bawa pera­wan-pera­wan tiada tan­dingan itu, lebih cantik dari bida­dari Jawa. Ayoh, lihat ke laut lepas sana!…. Kami menin­jau ke keja­uhan dan tak ada kapal nampak. Tuan Syah­ban­dar ter­tawa di bela­kang kami.”

“Meng­apa ter­tawa?”

“Mana kami tahu, Wira. Memang tak ada kapal. Dia perin­tah­kan juga kami mem­ba­yang-bayang­kan kapal-kapal itu. Lebih megah dari kapal Peranggi, kata­nya, penuh dengan pera­wan-pera­wan Ispa­nya yang cantik. Apakah kalian tak meng­hen­daki barang seo­rang? tanya­nya sambil terus ter­tawa di bela­kang kami.”

“Apa kemu­dian?”

“Kami kira dia sedang mabok tuak. Sete­lah itu dia turun dan pergi entah ke mana.”

“Kemu­dian kalian makan,” Wirang­gal­eng men­dakwa. ‘Tidak, Wira. Kami asyik mem­bi­ca­ra­kan bida­dari Ispa­nya.”

“Kemu­dian kalian minum.”

“Tidak, Wira. Kami ber­ti­kaian pen­da­pat.”

“Jadi kalian tak makan sema­lam-malaman itu?”

“Tidak, Wira. Hanya minum.”

“Ter­lalu banyak tuak,” Wirang­gal­eng men­dakwa lagi.“Tidak, Wira, tak pernah kami lang­gar larangan itu di sini. Kami hanya minum dari gendi, kemu­dian, entah bagai­mana…”

“Makan­lah kalian. Ten­tu­nya kalian lapar.” Meli­hat dua orang itu ragu-ragu, ia men­de­sak lagi, “ayoh, makan dulu sebe­lum aku bawa kalian meng­ha­dap Sang Patih.”

“Ampun, Wira,” mereka men­coba lagi untuk men­cium kaki­nya.

“Makan, kataku!” perin­tah­nya Dan sete­lah mereka makan makanan yang sete­ngah basi itu, ia meme­rin­tah lagi, “minum segera sebe­lum kita berang­kat, karena Sang Patih sedang di luar kota.”

Mereka minum dalam kege­li­sahan dan keta­kutan. Tiada antara lama keli­hatan tapuk mereka ter­gan­tung lagi, berat seperti hendak beng­kak.

“Wira, ampun, Wira, ampun,” mereka ber­gu­mam berat, kemu­dian meng­ge­le­sot tidur di gela­dak.

Ia men­coba mem­ba­ngun­kan mereka. Tak ber­ha­sil. Ia tuang­kan sisa air pada kepala mereka. Pun sia-sia.

Bisik-desus itu ter­nyata tidak keliru, pikir­nya. Dan obat bius itu sung­guh-sung­guh cepat dan kuat beker­ja­nya. Ia meng­hela napas dan meng­u­cap syukur pada Hyang Widhi. Betapa jadi­nya kalau Idayu dulu kubu­nuh? Dia telah ter­a­ni­aya oleh orang lain, dan aku pun menam­bahi peng­a­n­i­a­yaan itu, dan meng­a­n­i­aya yang tak ber­sa­lah. Idayu! Idayu! Memang Syah­ban­dar itu patut aku bina­sa­kan. Kesem­patan itu akan tiba jua, Sayid. Hati-hati, kau!

Ia ber­ge­gas menu­runi tangga menara. Di tengah-tengah ia ber­henti. Jauh nun di tengah laut sana muncul layar salib dari sebuah kapal Por­tu­gis. Ia naik lagi ke atas. Diko­cok­nya mata­nya. Benar­kah itu Peranggi dan bukan kapal Ispa­nya, yang Syah­ban­dar menyu­ruh pen­jaga menara itu mem­ba­yang-bayang­kan?

Layar ber­sa­lib itu mengem­bang pada bebe­rapa bagian dan sedang menuju ke bandar. Pasti kapal sema­lam. Dan sepagi ini sudah siap ber­la­buh. Canang menara ia pukul ber­talu-talu. Pen­jaga-pen­jaga itu tetap nye­nyak dalam tidur­nya. Ia memu­kul terus sambil meli­hat-lihat ke bawah. Dan benar seba­gai­mana ia harap­kan: Syah­ban­dar turun dari gedung utama, ber­ja­lan tenang-tenang dalam pakaian kebe­saran dan dengan tong­kat ter­gan­tung pada lengan menuju ke der­maga.

Ia ber­henti memu­kul meli­hat Syah­ban­dar menin­jau ke atas menara sambil meng­gan­tung­kan tong­kat pada bahu, tapi kemu­dian ber­ja­lan terus.

Bandar yang senyap tiba-tiba men­jadi ramai. Wanita-wanita ber­lari-larian mem­bawa barang dagang­an­nya menyerbu ke pasar pela­buhan, bere­butan untuk men­da­pat­kan tempat ter­baik. Menyu­sul kemu­dian peda­gang-peda­gang pria memi­kul buah kelapa, ayam atau menun­tun kam­bing atau babi, barang-barang ukiran, buah dan sayur-mayur.

Waktu canang kadi­pa­ten telah menyam­but, ia turun dan segera meng­iring­kan Syah­ban­dar. Mata­nya ter­pan­cang pada teng­kuk ata­s­an­nya. Kalau teng­kuk itu kuceng­ke­ram, dan jari-jariku menu­suk ke dalam daging­nya, dia akan meronta untuk kemu­dian mati ter­ka­par seka­rang juga. Dia akan mati dan tar­bus­nya akan ter­gu­ling-guling, dan: hukuman mati akan dija­tuh­kan pada diriku. Pada siapa Idayu kemu­dian pergi? Dia akan tetap jadi anak ibunya. Syah­ban­dar dan aku men­da­pat maut yang sama, sedang noda itu tetap tiada kan ter­ha­pus.

Ia belum punya kesang­gupan menye­le­sai­kan per­so­al­an­nya.

Untuk per­tama kali Wirang­gal­eng ikut dalam iring-iringan orang asing meng­ha­dap Sang Adi­pati. Untuk per­tama kali ini pula ia meli­hat orang kulit putih dari dekat. Muka mereka keme­rah-merahan seperti jambu bol, lang­kah­nya pan­jang-pan­jang dan tegap, bebas bicara seo­rang dengan yang lain, sehingga ia tak tahu pasti mana kepala dan mana bawahan. Mereka tak mela­ku­kan sembah-menyem­bah. Selu­ruh badan dari leher sampai muka dari per­ge­langan tangan sampai jari-jari ter­buka. Semua ter­tu­tup dan keri­ngat nampak mem­ba­sahi pung­gung mereka. Seben­tar-seben­tar mereka menyeka keri­ngat leher dengan sepo­tong kain, kemu­dian mema­suk­kan­nya ke dalam saku baju. Dan bila mereka bicara satu pada yang lain nam­pak­nya tak meng­in­dah­kan orang sele­bih­nya.

Ber­ja­lan paling depan adalah Mar­ti­ni­que Lamaya. Di bela­kang­nya lagi enam orang per­wira kapal. Di bela­kang­nya lagi Syah­ban­dar Tuban. Paling bela­kang adalah dir­i­nya.

Bia­sa­nya Syah­ban­dar ber­ja­lan di kepala iring-iringan. Mung­kin per­a­turan sudah beru­bah tanpa dibe­ri­ta­hu­kan pada­nya. Bia­sa­nya pula Syah­ban­dar ber­tin­dak seba­gai tuan rumah. Meng­apa seka­rang seba­gai pengiring? Dan apakah yang mereka per­ca­kap­kan sema­lam dengan Syah­ban­dar? Apa pula isi surat itu?

Dengan ragu-ragu ia mulai menyim­pul­kan: memang ada hubungan raha­sia antara Syah­ban­dar dengan Peranggi. Kalau tidak meng­apa kapal ber­la­buh sete­lah sema­lam mengir­im­kan peng­hu­bung dan tidak sema­lam itu juga? Dan siapa yang begitu hina menye­di­a­kan diri jadi perin­tis hubungan ini?

Waktu iring-iringan mela­lui gapura, ia menye­dari, kala makara gapura telah tiada. Ger­bang itu sen­diri selu­r­uh­nya telah ber­ganti dengan balok-balok kayu tiada ber­u­kir. Seki­las ia ter­i­ngat pada Boris­rawa, pema­hat dan peng­u­kir ter­so­hor itu. Memang sudah tak ada peker­jaan lagi bagi­nya. Dia harus pergi mening­gal­kan Tuban Kota. Tak bisa lain. Mung­kin­kah karena keben­ci­an­nya pada Sang Adi­pati ia menye­di­a­kan diri jadi perin­tis hubungan mereka?

Piki­ran itu pun ia tak dapat sele­sai­kan.

Di peng­ha­dapan hanya Wirang­gal­eng duduk di keja­uhan.

Orang-orang asing itu semua ber­diri dan ber­to­lak ping­gang dengan sepatu tetap dike­na­kan. Syah­ban­dar Tuban mele­pas terom­pah­nya di atas anak tangga pen­dopo. Dan seka­rang ia ber­diri di ping­giran, di tempat yang biasa ditem­pati Rangga Iskak. Ia keli­hatan lebih bong­kok dan sekali ini nampak kehi­langan wibawa.

Syah­ban­dar-muda merasa ter­sing­gung oleh sikap tamu-tamu kulit putih itu. Dan mereka malah tidak mem­bawa sesu­atu per­se­m­ba­han.

Tholib Sung­kar Az-Zubaid mem­per­se­m­bah­kan pada Sang Adi­pati dalam Melayu, bahwa ini adalah untuk per­tama kali Peranggi men­da­rat di Tuban, maka mereka belum menge­nal adat-kebi­a­saan ban­dar­nya dan adat-kebi­a­saan meng­ha­dap. Dengan lancar dan hampir-hampir menun­duk ia memo­hon ampun dari Sang Adi­pati untuk pen­da­tang-pen­da­tang baru itu.

Ter­tu­tup peman­dang­an­nya oleh kaki para tamu Wirang­gal­eng tak dapat meli­hat per­u­ba­han-per­u­ba­han pada wajah gus­ti­nya. Ter­de­ngar oleh­nya orang-orang Por­tu­gis mulai bicara, keras, berat, dalam seakan sua­ra­nya lang­sung keluar dari dada. Mereka bicara pendek-pendek. Dan Tholib Sung­kar Az-Zubaid mener­je­mah­kan: “Bukan maksud kami untuk ber­la­buh di Tuban. Kami sedang menuju ke Pasu­r­uan atau Pana­ru­kan, tetapi sesat di jalan. Nam­pak­nya tujuan kami masih jauh. Maka kami meng­u­cap­kan banyak-banyak terima kasih men­da­pat per­lin­dungan di bandar Gusti Adi­pati. Ber­hu­bung salah jalan ini, Gusti, menye­bab­kan per­hi­tungan kami juga salah. Ten­tang ini akan kami per­se­m­bah­kan nanti…”

“Gusti Adi­pati Tuban, kami datang ke mana, ke Pasu­r­uan atau Pana­ru­kan, atau bandar-bandar lain di Jawa, bukan­lah untuk urusan keku­a­saan. Siapa pun di dunia ini telah menge­nal Peranggi, karena dunia ada di tangan kami. Hanya pojo­kan-pojo­kan gelap berada dalam keku­a­saan lain….”

“Ter­je­mah­kan yang betul!” tegur Sang Adi­pati gusar.

“Memang tidak sedap untuk dide­ngar, Gusti,” tambah Sang Patih “juga ber­le­bih-lebihan pan­jang­nya.”

“Patik telah ter­je­mah­kan dengan betul, Gusti.”

Mar­ti­ni­que Lamaya bicara lagi dan Syah­ban­dar mene­rus­kan: “Kami datang dan mem­bu­tuh­kan beras, sayur-mayur, gula, sapi, babi dan air. Satu real emas yang akan kami bayar­kan. Mas Peranggi.”

“Tuan Syah­ban­dar,” tegur Sang Patih, “bukan­kah untuk urusan kapal maka Tuan diang­kat jadi Syah­ban­dar? Bagai­mana soal begini diper­se­m­bah­kan pada Gusti Adi­pati Tuban?”

Seki­las Wirang­gal­eng dapat meli­hat wajah Sang Adi­pati dari sela-sela kaki para tamu. Muka­nya merah-padam karena ter­sing­gung. Seben­tar saja:

Syah­ban­dar tak mene­rus­kan ter­je­mah­an­nya. Juga Mar­ti­ni­que Lamaya diam. Pen­dopo seje­nak sunyi-senyap.

Ia mera­sai ada sesu­atu yang tidak beres. Dalam kese­nyapan itu ter­de­ngar pengiring Lamaya bicara pelan pada ata­s­an­nya. Sebuah per­ca­kapan ter­jadi antara mereka. Dan Sang Adi­pati ber­kata dalam Jawa pada Sang Patih: “Bagai­mana pen­da­patmu, Kakang Patih?”

“Biar­lah mereka mene­rus­kan bica­ra­nya, Gusti. Memang mereka belum atau memang tidak tahu adat. Rupa-rupa­nya mereka belum pernah bel­a­jar meng­hor­mati sesa­ma­nya,” sembah Sang Patih.

“Ampun, Gusti Adi­pati Tuban,” Syah­ban­dar mene­rus­kan. “Adapun peker­jaan patik memang mengu­rusi semua yang ber­hu­bungan dengan kapal dan bandar.”

“Maka layani tamu-tamu itu dengan baik dan penuhi kebu­tuh­an­nya.”

Adi­pati Tuban mening­gal­kan tempat. Dan orang-orang Por­tu­gis kem­bali ke pela­buhan.

Hari itu Mar­ti­ni­que Lamaya dan semua pengiring­nya meng­i­nap di gandok kanan kesyah­ban­daran. Wirang­gal­eng ditu­gas­kan oleh Syah­ban­dar untuk mela­yani.

Belum lagi sele­sai ia dengan peker­ja­an­nya di jalanan orang-orang perem­puan ber­la­rian mening­gal­kan pasar bandar sambil ber­seru-seru dan meme­kik-mekik keta­kutan. Ia ting­gal­kan peker­ja­an­nya dan lari men­da­pat­kan mereka.

“Mereka meng­a­muk, Wira! mereka, orang-orang Peranggi itu!”

Ia lari ke bandar. Dili­hat­nya suatu per­ke­la­hian telah ter­jadi antara serom­bongan peda­gang pela­buhan dengan awak kapal Por­tu­gis. Bebe­rapa orang Por­tu­gis lagi sedang meman­dangi barang dagangan pen­du­duk. Ayam-ayam pada beter­bangan dan kam­bing pada ber­la­rian lepas.

“Wira! Syah­ban­dar-muda!” dua orang ber­la­rian meng­ham­piri. “Mereka meram­pas, meng­a­muk dan melu­kai.”

Dalam Melayu Wirang­gal­eng ber­seru-seru: “Peranggi, hen­ti­kan!”

Begitu sele­sai ber­seru-seru ia telah berada dalam kepungan bebe­rapa belas orang Por­tu­gis.

“Syah­ban­dar-muda bicara di ban­dar­nya’ ia ber­seru dengan nada mem­per­i­ng­at­kan. “Hen­ti­kan per­bu­atan kalian. Kem­ba­li­kan barang-barang yang kalian rampas!”

Orang-orang Por­tu­gis itu meng­e­jek dan mener­ta­wa­kan­nya. Kepungan makin mera­pat dan mereka mem­per­li­hat­kan sikap hendak menye­rang.

“Kem­bali kalian ke kapal kalian. Syah­ban­dar-muda, Wirang­gal­eng, sudah bicara. Kem­bali! Kem­bali!”

Seo­rang Por­tu­gis telah mela­yang­kan tangan pada muka­nya. Ia tang­kap tangan ito dan dipa­tah­kan­nya per­bu­kuan leng­an­nya. Satu pekik kesa­kitan meleng­king. Ber­ba­reng dengan itu penye­rangan umum dimu­lai. Seo­rang lagi ter­tang­kap oleh tangan besi­nya, ia pelin­tir, mera­ung seperti macan ter­kena tombak. Ia melom­pat sambil memu­kul dan menen­dang, menge­bas dan mena­rik. Orang-orang Por­tu­gis pun tiada kalah gesit­nya. Penge­ro­yokan itu ber­ja­lan hanya bebe­rapa detik. Kemu­dian ia sempat menang­kap sese­o­rang pada teng­kuk­nya dan ia tukik­kan, kemu­dian ia angkat tinggi, diban­ting­kan­nya di atas teman-teman­nya sen­diri.

Tubuh­nya yang ber­gum­pal dengan otot-otot ter­la­tih itu nampak mengem­bang seperti sebuah pesa­wat dari baja. Ia rasai pukulan dan ten­dangan meng­hu­jani pung­gung­nya. Bebe­rapa kali kepa­la­nya meng­ge­leng karena ter­kena teta­kan dari sam­ping kiri dan kanan. Ia biar­kan pukulan dan ten­dangan. Ia hanya hendak mere­muk­kan seo­rang lagi yang dapat ditang­kap­nya.

Satu sam­ba­ran telah men­ceng­kam lengan sese­o­rang dan orang itu dita­rik­nya dan dihan­tam­kan lutut­nya pada kema­lu­an­nya. Seka­li­gus orang yang ping­san itu ia pegangi kedua belah kaki­nya dan ia putar­kan jadi baling-baling untuk mem­bu­bar­kan kepungan.

Meli­hat para penge­pung mundur ia lepas­kan kor­ban­nya, jauh mela­yang dan ber­ge­de­bug jatuh di pasiran bandar. Kawan-kawan­nya meru­bung­nya.

“Kem­bali! Kem­bali ke kapal!” raung Wirang­gal­eng. Tangan­nya menu­ding pada kapal Por­tu­gis yang sedang ber­la­buh.

Mereka meng­ang­kat teman­nya yang tak bangun lagi itu. Dua orang yang patah lengan ber­ja­lan meri­ngis-ringis meng­i­kuti dari bela­kang. Mereka naik ke atas kapal­nya. Dan kea­daan aman kem­bali. Lebu yang ber­ke­pulan lambat-lambat mulai lenyap dibawa angin lalu.

Malam belum lagi turun dan Tuban telah men­de­ngar segala peris­tiwa yang telah ter­jadi di pela­buhan. Bahkan lebih dari itu. Di mana-mana orang menya­ta­kan pera­saan tidak puas ter­ha­dap Sang Adi­pati dan Sang Patih yang telah begitu sabar meneng­gang Mar­ti­ni­que Lamaya dan teman-teman­nya. Meng­apa mereka tak diusir saja? Bukan­kah bumi ini bumi Tuban dan bukan bumi Peranggi? Belum lagi mereka menak­luk­kan Tuban dan ting­kah­nya sudah tidak ter­ta­han­kan. Betapa akan jadi­nya kalau… kalau…. Keben­cian orang pada Syah­ban­dar Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa memun­cak tidak­lah seperti pada hari ini. Dan orang pun sema­kin heran meng­apa saja? Dan meng­apa Sang Adi­pati tidak juga meng­i­zin­kan dia menya­rong­kan keris­nya pada tubuh orang ter­benci itu?

Dan suara-suara itu ditu­tup oleh kesim­pulan: Syah­ban­dar-muda­lah orang per­tama-tama yang telah men­ce­de­rai orang-orang Peranggi. Wirang­gal­eng! Tidak lain dari Wirang­gal­eng! Dan di Tuban­lah mereka dice­de­rai! Di Tuban!

Lain lagi yang ter­jadi di kesyah­ban­daran. Pem­be­sar-pem­be­sar kapal Por­tu­gis itu nam­pak­nya tak tahu-menahu atau memang tidak ingin tahu ten­tang peris­tiwa di bandar. Salah seo­rang di anta­ra­nya ingin men­coba tuak.

Dan per­gi­lah Syah­ban­dar-muda ke warung Yakub, yang sudah penuh dike­ru­muni lang­ganan, hendak minum dan hendak men­de­ng­ar­kan berita yang lebih baru.

Ia disam­but dengan ber­se­ma­ngat oleh mereka. Per­ta­nyaan jatuh ber­tubi-tubi. Dan ia mene­rang­kan segala sesu­atu yang ia keta­hui. Mereka menyeng­gaki dengan: “Kau benar, Wira, kau benar.”

Seo­rang nakhoda Pri­bumi, yang duduk di pojo­kan, ber­diri dan meng­ham­piri. Ber­kata: “Kalau orang ber­pi­kir semua akan jadi baik lagi seperti dulu karena ber­baik dengan Peranggi, kita keliru, Wira, kita keliru. Keter­lam­batan Tuban ke Malaka tak dapat diam­puni. Orang-orang Islam benar: tak dapat diam­puni. Mereka mengu­tuk! Kalau semua ter­gan­tung pada kau, Wira, rupa-rupa­nya semua akan jadi beres.”

Seo­rang nakhoda Pri­bumi lain­nya menam­bahi: “Bukan adat Peranggi men­jadi baik kalau diba­iki. Dibi­ar­kan dia mera­ja­lela, diba­iki dia jadi kurang-ajar. Dihan­tam­lah dia baru manda, bukan Wira?”

“Tak bia­sa­nya dua orang nakhoda ber­temu di satu warung,” tegur Wirang­gal­eng.

“Kapal kami pada ber­kan­dang di Lao Sam, Wira. Tak ada peker­jaan.”

“Memang Gusti Kan­jeng Adi­pati Unus Jepara benar. Malaka harus dir­e­but. Tanpa pang­kalan di Malaka Peranggi akan sudah lemah sampai kemari,” nakhoda per­tama itu mene­rus­kan. Sua­ra­nya ber­ko­bar-kobar.

“Ya-ya, dan pela­yaran dan per­da­gangan harus kem­bali bebas seperti dulu, Wira. Sayang Gusti Kan­jeng Adi­pati Unus kalah walau­pun benar. Dan kau juga ikut kalah, Wira. Kita semua ikut kalah, kecu­ali Gusti Adi­pati Tuban, barang­kali. Itu pun tidak. Buk­ti­nya tak ada sesu­atu tin­dakan ter­ha­dap keku­rang­a­jaran tamu-tamu itu. Berani ber­ta­ruh, pem­bi­kin keru­suhan di bandar tak bakal ditin­dak oleh Gusti Adi­pati.”

‘Tapi hari ini kau yang menang, Wira.”

“Kalau tidak dice­gah oleh aturan, kita semua sudah bina­sa­kan mereka, Wira,” nakhoda itu ber­kata lagi.” Lihat, mereka sudah melang­gar adat bandar bebas, sampai seka­rang Sang Adi­pati tetap belum ber­tin­dak. Takut, Wira. Anak, Wira, di negeri mana pun takut men­jadi bapa dari keza­liman, ibu dari kese­we­nang-wenangan.”

“Bel­a­jar dari sau­da­gar-sau­da­gar Islam, Wira, bel­a­jar dari orang-orang Islam,” sese­o­rang menam­bahi dengan gemas. “Kalau tidak, cela­ka­lah kita semua.”

“Kalau kita menga­lah dan terus-mene­rus kalah begini, kapal-kapal kita akan terus nong­k­rong tanpa muatan, teng­ge­lam dalam kebo­sanan,” nakhoda itu mene­rus­kan.

“Aku kira orang-orang Islam juga sudah ber­laku tidak baik ter­ha­dap kita,” seo­rang nakhoda Pri­bumi bukan Islam mene­ngahi. “Apakah bukan orang Islam yang meram­pas Jepara? Apakah bukan orang Islam yang seka­rang mem­bi­kin gaduh di peda­laman?”

Wirang­gal­eng tahu, kalau per­ca­kapan ini dite­rus­kan, orang akan ber­teng­kar soal agama. Dan seka­rang Peranggi datang mem­bawa agama lain pula dan dengan pera­ngai­nya sen­diri pula. Apakah Adi­pati Tuban lebih baik dari semua orang dengan aga­ma­nya masing-masing? Dia pun tidak lebih baik. Pat­ra­ga­ding dan Pada telah dija­tuhi hukuman mati tanpa jelas per­ka­ra­nya.

“Han­cur­kan kapal Peranggi itu,” tiba-tiba sese­o­rang mem­ba­kar-bakar gemas.

“Husy,” cegah Syah­ban­dar-muda. “Itu melang­gar ama­na­gappa. Bagai­mana jadi­nya kalau kapalmu sen­diri dihan­cur­kan di bandar asing? Dihan­cur­kan tanpa sebab perang seperti ting­kah Peranggi? Kalian sen­diri tak suka. Dan di Tuban tidak ada perang.”

“Pem­be­sar-pem­be­sar kapal di kesyah­ban­daran itu patut digu­lung.”

“Lebih dari patut.”

“Mereka sen­diri yang mulai melan­car­kan perang.” “Harus dija­wab, Wira. Lihat, pem­be­sar-pem­be­sar­nya pura-pura tidak tahu.”

Pem­bi­ca­raan. Mata­nya kelap-kelip seperti lampu menara bandar di waktu hujan, ditu­ju­kan pada setiap orang yang angkat bicara.

“Husy, husy. Mana tuak­nya, Yakub?”

Ia mene­rima enam lodong bambu tuak dan memi­kul­nya sen­diri ke jurusan kesyah­ban­daran.

Belum lagi sampai di tempat, ter­de­ngar lagi oleh­nya hiruk-pikuk di jurusan bandar. Ia ber­henti, menyan­dar­kan lodong-lodong pada pintu ger­bang kesyah­ban­daran. Dica­but­nya piku­lan­nya dan lari ke arah keri­butan. Juga para pelaut ber­la­rian mening­gal­kan warung Yakub menuju ke sana.

Di bandar nampak hanya bebe­rapa orang. Tiga orang Por­tu­gis sedang memu­kuli dua orang yang ter­be­lenggu tangan­nya sambil ber­te­riak-teriak minta tolong. Teri­akan lain adalah dari salah seo­rang Por­tu­gis dalam Melayu: “Ayoh, tam­bahi dengan lima babi!”

Dari pakai­an­nya nampak, dua orang yang sedang dia­ni­aya itu orang-orang Mus­li­min.

Malam itu bulan sudah ber­ca­haya. Dan nampak orang-orang yang dipu­kuli itu sudah ber­lu­muran darah.

Darah Wirang­gal­eng ter­si­rap. Ia tegah mereka. Dan justru kare­na­nya pen­tung mereka ber­pin­dah sasaran pada­nya.

“Lima babi!” Por­tu­gis yang lain ikut ber­te­riak menun­tut.

Seben­tar ter­de­ngar piku­lan Syah­ban­dar-muda menang­kisi pukulan. Kemu­dian meng­ge­le­tar pekik­an­nya: “Ini yang kau pinta!” piku­lan­nya ber­pu­tar meng­han­tam teng­kuk salah seo­rang Por­tu­gis yang paling jang­kung. Dita­rik­nya piku­lan itu dan dito­joh­kan pada yang lain. Ia melom­pat dan menye­ram­pang kaki yang ketiga. Mereka ter­ge­le­tak ber­ka­paran.

“Biar kami habisi!” teriak pelaut-pelaut yang pada ber­da­tangan.

“Jangan,” cegah­nya dan kepada dua orang ter­a­ni­aya, “meng­apa kalian dipu­kuli?”

“Kami telah antar­kan sapi ke kapal mereka. Lima ekor. Mereka tidak mau terima. Kata­nya sapi-sapi itu ter­lalu kurus. Mereka minta tambah babi lima. Bukan sedi­kit. Lima. Kami orang Islam, tidak ber­da­gang babi.”

“Kalian berdua peda­gang­nya?”

“Benar, Wira.”

“Dan memang kurus sapi-sapi kalian?”

“Bukan kurus, Wira, hanya kurus-kering dan ceking, cacingan hampir mati.”

“Dasar rakus!” Syah­ban­dar-muda melu­dah ke tanah.

Tiga orang Por­tu­gis itu digo­tong oleh pelaut-pelaut itu ke der­maga, sedang dua orang peda­gang sapi yang rakus dira­wat di warung Yakub.

Wirang­gal­eng kem­bali ke syah­ban­daran.

Pada lengah malam baru ia dapat mening­gal­kan tugas­nya.

Dahulu peker­jaan demi­kian selalu dila­ku­kan oleh upahan: Yakub dan anak-buah­nya. Seka­rang ia ambil-alih sen­diri untuk dapat mem­per­ha­ti­kan Tholib Sung­kar Az-Zubaid dengan kegi­at­an­nya. Dan pada kesem­patan ini baru ia meli­hat Syah­ban­dar itu ter­lalu begitu meren­dah­kan diri, hilang sikap besar yang selama ini selalu diper­tun­juk­kan­nya. Ia tak banyak bicara dan lebih banyak meng­ang­guk-angguk. Hanya bila dita­nyai ia mem­buka mulut.

Hampir-hampir Syah­ban­dar-muda mena­rik kesim­pulan: ada hubungan antara atasan dan bawahan di antara mereka dengan Syah­ban­dar. Tetapi ia belum berani mene­rus­kan.

Baru saja ia masuk ke dalam kamar, datang pula Idayu dari dapur. Dan Gelar telah ter­ti­dur di pung­gung­nya.

“Betapa rewel­nya tamu-tamu yang seka­rang ini,” juara gulat itu meng­adu pada istri­nya. “Orang Peranggi per­tama-tama, biasa diman­jakan di mana-mana. Di sini pun mereka meng­ang­gap kita sudah tak­lu­kan­nya. Kurang-ajar!”

Idayu tak menang­gapi. Ia pin­dah­kan Gelar dari pung­gung ke atas ambin. Sambil meng­uap ia ber­kata: “Sudah malam, Kang.”

“Sudah malam? Hampir pagi. Seben­tar lagi ayam akan ber­ke­ru­yuk,” ia duduk dan men­coba ber­pi­kir tanpa ban­tuan pen­da­pat orang lain ten­tang keda­tangan Por­tu­gis yang men­cu­r­i­ga­kan itu.

Idayu telah ter­ti­dur di sam­ping Gelar.

Tak mung­kin kapal ini sing­gah karena ter­sa­sar. Sebe­lum ber­la­buh mereka telah meng­a­da­kan hubungan dengan Sayid Habi­bul­lah. Juga tak mung­kin datang untuk menye­rang, karena hanya dengan satu kapal. Lagi pula Jawa tidak ter­le­tak pada jalan Malaka-Maluku. Benar­kah tujuan mereka Pasu­r­uan dan Pana­ru­kan? dua-duanya pela­buhan kera­jaan Blam­bangan yang bukan Islam itu? Tetapi dari per­be­kalan yang dibu­tuh­kan­nya, jelas bukan jarak ter­lalu jauh yang akan ditem­puh. Mung­kin benar mereka akan ke Blam­bangan. Tapi untuk apa? Dan untuk apa pula sing­gah di Tuban? Ada apa di Pana­ru­kan dan Pasu­r­uan sana?

Ia ber­pi­kir dan ber­pi­kir.

Kokok ayam per­tama mulai ter­de­ngar. Ia minum dari gendi dan duduk lagi pada tepian ambin.

Boleh jadi mereka sedang mela­ku­kan pela­yaran pen­ja­ja­gan. Mereka sedang meng­in­tip-intip Jepara dari keja­uhan. Mereka men­cari-cari berita ten­tang kegi­atan Adi­pati Unus dari bandar-bandar ter­de­kat. Dan bila mereka sudah mela­ku­kan pen­ja­ja­gan, pasti mereka akan menyerbu pada suatu kali orang tak mem­per­ki­ra­kan. Kalau Jawa kalah, Peranggi akan ber­ku­asa mutlak atas rempah-rempah Maluku tanpa saingan. Semua jalan ke Maluku dan Malaka telah jadi mil­ik­nya.

Tapi Tuban akan ber­ta­han. Boleh jadi bukan mereka yang akan da tang ke Tuban, Tuban­lah yang akan datang pada mereka di Malaka. San Adi­pati harus meng­erti. Kesal­ahan yang lewat harus dibe­tul­kan. Adi­pati Unus ter­nyata benar, walau­pun gagal. Sang Adi­pati yang salah. Orang-orang Islam sema­kin mem­per­li­hat­kan per­mu­suhan ter­ha­dap Sang Adi­pati. Dan kalau Sang Adi­pati tak cepat-cepat meng­u­bah sikap­nya, boleh jadi Tuban akan sema­kin merana, mung­kin sampai mati.

Gelar ter­ba­ngun mena­ngis minta minum.


Bab 13

Meningkatnya Kericuhan

Kuda itu ber­ja­lan pelan-pelan mema­suki Peci­nan. Bulu­nya putih ber­be­lang hitam di sana-sini. Lang­kah­nya ber­i­rama. Kaki-nya yang pancal hitam ber­ja­tuhan seperti menari di atas jalanan batu, dari keja­uhan nampak seperti serang­kaian tong­kat putih ber­da­sar hitam sedang men­de­ram­kan gen­de­rang. Dan di atas­nya duduk Wirang­gal­eng menge­na­kan seluar pan­jang dari kaliko. Bagian atas seluar ter­tu­tup dengan kain batik yang dipa­sang miring dan ber­si­bak pada belahan tengah­nya.

Pada ping­gang­nya ter­be­lit sabuk kulit ber­su­lam benang perak di mana ter­se­lit sebi­lah keris ber­sa­rong perak ber­hulu kayu hitam. Hulu itu sen­diri ber­u­kir kepala katak, dili­bati tali sutra yang ber­u­jung­kan serang­kaian pendek batu mirah.

Dada­nya ter­tu­tup oleh kutang ber­le­ngan pendek seperti baju anta­ke­suma, dan pada dada­nya ter­gan­tung kalung ber­ban­dul per­hi­asan perak ukiran ber­gam­bar pohon kehi­dupan diapit oleh lima buah roda, seperti bandul yang biasa dike­na­kan oleh pange­ran-pange­ran Maja­pa­hit. Selu­ruh Tuban menge­ta­hui, biar­pun per­hi­asan itu hanya ter­buat dari perak namun per­tanda karu­nia ter­tinggi dari Sang Adi­pati untuk seo­rang peja­bat dari desa. Dan bentuk bandul itu menye­ru­pai ikan, seba­gai lam­bang pung­gawa yang punya hubungan peker­jaan dengan laut. Per­hi­asan itu ber­u­kir timbul, sedang batu mirah sebe­sar kemiri dike­li­lingi kali­maya kecil-kecil putih keruh meng­ki­lat meru­pa­kan mata dari ikan perak itu.

Pada leng­an­nya ter­hias dua lembar gelang baja ber­sa­lut kulit di dalam­nya seba­gai tanda pung­gawa mene­ngah.

Dua orang ber­kuda meng­i­kuti di bela­kang, ber­sen­ja­ta­kan tombak dan peri­sai. Pedang ter­gan­tung pada ping­gang masing-masing.

Di sepan­jang jalan tak henti-hen­ti­nya Syah­ban­dar-muda mem­ba­las hormat orang lalu-lalang dengan sembah dada.

“Tuan Syah­ban­dar-muda!” sese­o­rang memang­gil­nya dalam Melayu. “Ber­henti dulu, Wira.”

Ia meng­hen­ti­kan kuda­nya mene­ngok ke arah datang­nya suara. Dili­hat­nya seo­rang Tiong­hoa ber­kun­cir tanpa topi sedang siap hendak meng­ham­pir­i­nya sambil menu­tup pintu ger­bang rumah. Ia ber­ce­lana dan ber­baju kain katun dan ber­buah baju kain pula.

Wirang­gal­eng turun dari kuda­nya. Sudah bebe­rapa kali ia meli­hat orang ini, tetapi tak pernah tahu nama dan tak tahu rumah­nya. Ia ber­diri tegak di sam­ping kuda­nya menunggu orang ilu mene­rus­kan kata-kata­nya.

Dan orang itu mem­be­ri­kan hormat dengan cara­nya sen­diri, ter­se­nyum ramah. Juga mata­nya yang sipit ikut ter­se­nyum.

“Ada pada sahaya sepu­cuk surat untuk Tuan Syah­ban­dar-muda,” kata­nya sambil menye­rah­kan. “Kalau Wira ber­ke­nan barang seben­tar di warung Yakub….”

Wirang­gal­eng mem­per­ha­ti­kan orang yang fasih Melayu itu dan seka­li­gus men­duga, orang itu seo­rang peda­gang yang sudah lama ting­gal di Malaka dan sudah ber­peng­a­laman di bandar-bandar Nusan­tara.

“Ada sesu­atu yang sahaya hendak sam­pai­kan.”

Rupa-rupa­nya orang itu merasa sedang dikaji oleh mata pung­gawa itu. Ia per­ta­han­kan senyum pada bibir dan mata­nya. Dengan tangan­nya ia mem­beri isya­rat meng­a­jak­nya seba­gai­mana ia kehen­daki, asal tidak di rumah­nya sen­diri. Maka senyum­nya tetap terum­bar minta per­ha­tian khusus.

Syah­ban­dar-muda menya­pu­kan pan­dang pada kun­cir­nya, hitam agak keme­rahan. Dan ia terima surat itu dengan diam-diam dengan mata tetap mem­per­ha­ti­kan­nya.

“Tuan akan tahu ten­tu­nya dari siapa surat itu.”

“Dari siapa?” tanya Wirang­gal­eng.

“Dari Moham­mad Firman.”

“Tak ada aku kenal orang Islam ber­nama begitu.”

“Sahaya hanya seka­dar menyam­pai­kan.”

“Islam baru atau lama?”

“Tak ada Islam lama, Wira, semua baru.”

“Di mana ting­gal­nya?”

“Tidak menentu, Tuan Syah­ban­dar-muda. Dia seo­rang musya­fir Demak, meng­em­bara ke mana-mana.”

“Apa itu musya­fir Demak?”

“Sema­cam peker­jaan, Wira.”

Dan ter­i­ngat oleh­nya akan Ang­goro alias Hayat­ul­lah di Jepara dulu. Ia meng­ang­guk. Surat itu belum juga diba­ca­nya. Ia lebih ter­ta­rik pada pengir­im­nya – seo­rang Islam baru dan musa­fir Demak. Ber­ta­nya: “Di mana kau ber­temu deng­an­nya?”

“Dulu, Wira, di Lao Sam. Dia pernah ting­gal ber­sama sahaya. Sudah sahaya anggap seba­gai anak sen­diri. Arti­nya, sebe­lum dia masuk Islam,” dan ia tetap tak mem­per­li­hat­kan tanda-tanda menyi­la­kan masuk ke rumah­nya. Malah ia men­cari tempat teduh di bawah seba­tang pohon asam.

“Apakah balasan diha­rap­kan dengan segera?”

“Tidak, Wira, tidak.” Kemu­dian ia ber­kata dengan nada lain, “Maaf­kan, tidak sahaya antar­kan surat ini ke kesyah­ban­daran. Susah bisa masuk ke sana.”

“Ya,” dan Wirang­gal­eng mulai mem­ba­ca­nya.

Dua orang pengiring­nya masih tetap duduk di atas kuda, mem­per­ha­ti­kan. Tombak mereka ter­pang­gul pada bahu masing-masing. Tiba-tiba mereka meli­hat per­u­ba­han pada wajah Wirang­gal­eng dan mema­ju­kan bina­tang mereka bebe­rapa lang­kah serta menyi­ap­kan tombak.

Juara-gulat itu memang sedang ter­te­gun meli­hat leng­kung-leng­kung huruf pada tulisan Jawa itu serta pasangan yang selalu kebe­saran. Ia menge­nal tulisan itu – sama dengan yang pernah diper­li­hat­kan pada­nya oleh Sang Adi­pati. Surat itu telah diam­bil oleh pengu­asa Tuban itu dari cepuk subang Nyi Ayu Sekar Pin­jung, dahulu selir kesa­yangan.

Ia angkat pan­dang­nya pada dua orang pengiring­nya, melam­bai­kan tangan dengan surat kertas pada tangan­nya, dan per­gi­lah mereka men­da­hu­lui ke pela­buhan.

“Pengirim ini ber­nama Moham­mad Firman?”

“Benar, Wira.”

“Sebe­lum masuk Islam apakah nama­nya? Bukan­kah Pada?”

“Benar, Tuan Syah­ban­dar-muda.”

Berdua mereka ber­ja­lan ke warung Yakub. Wirang­gal­eng sambil menun­tun kuda. Mereka diam-diam tak bicara. Warung itu meng­ha­dap ke suatu ceruk di mana ber­la­buh perahu-perahu nela­yan. Dan bila pan­dang mata orang telah mele­wati deretan perahu-perahu kecil itu, laut pun ter­ben­tang luas tanpa batas sampai ke kaki langit

Sambil duduk di atas bangku meng­ha­dapi cawan-cawan arak juara gulat itu mulai mem­baca lagi:

“Dari Moham­mad Firman kepada Syah­ban­dar-muda Tuban, Wirang­gal­eng. Keta­hu­i­lah, Kang Galeng, kakangku sen­diri, dalam kea­daan sehat telah aku ting­gal­kan Lao Sam. Ingin hati datang menyem­bahmu, ingin hati mene­ngok Mbo­kayu Idayu. Bagai­mana mung­kin? Tuban telah mem­bu­nuh aku dan melem­par­kan aku ke laut. Tuban itu juga yang tetap meng­i­ng­in­kan nya­waku, seki­ra­nya dike­ta­hui aku masih hidup. Pasti engkau meng­erti, Kang Galeng, kakangku sen­diri, betapa besar harap­anku diper­ke­nan­kan meng­gen­dong dan memo­mong keme­na­kanku. Betapa akan mena­rik keme­na­kan itu. Ayah­nya seo­rang pegu­lat gagah-berani tanpa tan­dingan. Ibunya seo­rang penari rupa­wan, impian dan pujaan setiap pria….”

Wirang­gal­eng ber­henti mem­baca. Ia merasa seakan dise­ngat lebah. Sin­dir­an­kah ini ter­ha­dap kema­lang­an­nya, kema­langan suami-istri? Atau dia tidak tahu? Ia pan­dangi orang Tiong­hoa yang duduk di sam­pingya dan masih juga ter­se­nyum dengan bibir dan mata­nya.

Meli­hat sedang dita­tap ia meng­ang­guk seakan mem­be­nar­kan baca­an­nya. Dan per­bu­atan itu meng­hi­lang­kan kecu­r­i­gaan Galeng. Ia mene­rus­kan baca­an­nya:

“Adikmu yang nakal ini tiada kan melu­pa­kan kakang­nya, kakang­nya sen­diri, yang telah beri­kan hidup­nya kem­bali. Biar­pun adik ini senakal setan­nya Tuhan Allah, Kang, dan biar­pun kakang­nya bukan atau belum sea­gama deng­an­nya, dia tetap kakang­nya yang harus diba­las budi­nya.

Mung­kin juga suatu balas budi padamu, Kang, kalau dalam surat ini aku dapat mena­war­kan padamu seo­rang yang dapat mem­ban­tumu dalam peker­jaan yang engkau tak bisa laku­kan. Semua orang pesi­sir tahu apa yang dibu­tuh­kan Tuban. Bica­ra­lah sen­diri dengan ayah-pung­utku ini, orang yang bukan sea­gama deng­anku, dan tia­da­lah kau bakal menye­sali aku lagi.”

Semen­tara itu orang Tiong­hoa itu telah meng­a­tur cawan-cawan arak di atas meja di depan mereka. Ia menyo­dor­kan sebuah cawan sambil ber­bi­sik: “Sahaya ber­se­dia mem­bantu Tuan Syah­ban­dar-muda,” ia masih juga ter­se­nyum. “Liem Mo Han nama sahaya,” sua­ra­nya jelas walau­pun warung itu ramai dengan gelak-tawa dan obro­lan para pemi­num.

Yakub mem­per­ha­ti­kan kedu­a­nya dengan selin­tas.

Menye­dari akan pan­dang mata pewa­rung itu Liem Mo Han meng­a­jak­nya minum, untuk kemu­dian keluar deng­an­nya ber­ja­lan-jalan di sepan­jang der­maga. Senyum­nya yang mena­rik dan men­cu­r­i­ga­kan seka­li­gus, untuk ke sekian kali­nya memaksa ia mene­rima ajak­an­nya.

Dan mereka ber­ja­lan ber­i­ringan dii­kuti oleh pan­dang mata semua yang ter­ting­gal.

Bebe­rapa buah jung Tiong­kok sedang ber­la­buh di sana. Kedua orang itu tidak mena­ruh per­ha­tian dan terus juga ber­ja­lan.

“Memang sahaya sedia mem­bantu,” Liem Mo Han meng­u­langi kata-kata­nya dalam surat itu, seka­rang dalam Jawa halus. “Moham­mad Firman telah mem­bi­ca­ra­kan kemung­kinan ini dengan sahaya, lama dan ber­kali-kali. Sahaya yakin, tenaga sahaya memang Tuan per­lu­kan, Wira.”

Wirang­gal­eng masih jua belum meng­erti mak­sud­nya dan diam men­de­ng­ar­kan.

“Moham­mad Firman dan sahaya tahu, ada satu kesu­l­itan pada Tuan yang Tuan tidak bisa atasi, yaitu basa Peranggi. Kalau hanya Syah­ban­dar Tuban Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa saja yang bisa, tak adalah orang yang dapat meng­a­wasi peker­ja­an­nya. Sahaya bisa bahasa itu, Tuan. Tiga tahun lama­nya sahaya ber­gaul dengan orang-orang Peranggi.”

“Babah dan Pada sung­guh tidak keliru.”

“Kalau ada surat-surat Peranggi, sahaya akan baca­kan untuk Wira.”

“Sayang, seki­ra­nya Babah datang lebih dulu,” Syah­ban­dar-muda itu ber­ke­cap-kecap menye­sali.

“Sahaya datang sete­lah dapat menga­lah­kan keragu-raguan. Adakah kira­nya surat-surat yang harus sahaya baca­kan?”

“Nanti pada wak­tu­nya, Babah.”

“Di sam­ping itu, Tuan Syah­ban­dar-muda, masih ada satu per­kara lagi. Sahaya sedang mem­buru dua orang Peranggi, Este­ban dan Rodri­guez nama­nya. Mereka lari dari Lao Sam melalu jalan darat. Mereka lari kemari. Entah di mana mereka ber­se­m­bu­nyi tadi­nya sahaya tidak tahu. Baru sete­lah kapal Peranggi itu berang­kat, nampak mereka oleh sahaya ada di gubuk pela­curan di daerah pela­buhan.

“Tak ada larangan selama mereka tidak mening­gal­kan pela­buhan atau mema­suki kota atau peda­laman.”

“Benar, Tuan Syah­ban­dar-muda. Tetapi Peranggi adalah Peranggi, di mana-mana keja­hat­an­nya sama saja, dan hanya keja­hatan itu juga yang bisa diper­bu­at­nya.”

“Bukan­kah mereka itu yang dulu dike­jar-kejar di Jepara?”

‘Tidak keliru, Wira, itulah mereka.”

“Mata-mata.”

“Sahaya belum dapat memas­ti­kan. Nam­pak­nya memang demi­kian.”

“Aku sudah lihat orang-orang itu di bandar Jepara. Bagai­mana Babah bisa tahu mereka ada di sini?”

“Lama sahaya mem­buru mereka. Tahu­kah, Tuan, mereka adalah kano­nir, penem­bak meriam Peranggi? Penem­bak meriam!”

“Penem­bak meriam!”

“Dan seka­rang mereka ber­se­m­bu­nyi di bawah per­lin­dungan Tuan Sayid sen­diri? Hampir-hampir satu atap dengan Wira?”

“Ha?” seru Wirang­gal­eng, ia men­coba menem­busi mata Liem Mo Han untuk dapat mem­baca peda­lam­an­nya.

“Bukan­kah Tuan saha­bat Moham­mad Firman?” Wirang­gal­eng meng­ang­guk mem­be­nar­kan. “Moham­mad Firman adalah anak-pungut sahaya. Patut­kah sahaya menga­ta­kan yang tidak benar pada Tuan?”

Wirang­gal­eng mele­tak­kan kedua belah tangan­nya yang kukuh itu pada bahu Liem Mo Han. Dan orang meya­kin­kan­nya dengan senyum pada bibir dan mata­nya.

“Mereka tidak melang­gar keten­tuan, Peranggi-peranggi itu. Syah­ban­dar Tuban pun tidak,” kata Sang Patih. “Tak ada alasan untuk mela­rang atau ber­tin­dak. Men­cu­r­i­ga­kan? Ya. Siapa tidak men­cu­r­i­gai Peranggi? Awas-awas­lah selalu, tak boleh ada satu keja­dian di daerah bandar yang menya­lahi keten­tuan.”

“Mereka mela­ku­kan keja­hatan di mana-mana, Gusti.”

“Di sini tidak atau belum. Babah boleh mem­ban­tumu, bukan untuk dapat menang­kap orang-orang Peranggi itu, tapi untuk meng­a­wasi mereka. Dan jangan kau sampai lena, boleh jadi orang itu bekerja untuk Sema­rang. Selama soal­nya Sema­rang, per­sang­kut­an­nya sela­ma­nya Demak. Jangan kau sampai lupa. Berun­tung­lah Demak sudah mem­bo­ros­kan hampir selu­ruh tena­ga­nya di Malaka.”

“Mereka ting­gal di kesyah­ban­daran, Gusti,” Wirang­gal­eng memo­tong.

“Lebih baik lagi, dan memang sudah jadi hak orang asing di sini. Seli­diki dulu benar-tidak­nya.”

“Mereka pela­rian dari kapal Peranggi, Gusti, penem­bak-penem­bak meriam.”

“Penem­bak meriam! Kalau itu benar justru sema­kin mena­rik, Wira. Cet­bang kita tak bisa tan­dingi meriam mereka. Dan kalau benar mereka pela­rian, dan penem­bak meriam pula, Gusti Adi­pati tentu akan mena­ruh per­ha­tian. Meriam, Wira, bukan cet­bang. Meriam adalah meriam, dan kita belum bisa bikin. Kau mung­kin sudah pernah meli­hat­nya di Malaka atau di kapal Peranggi kema­rin. Aku belum. Meriam, Wira! Sete­lah keka­lahan Pati Unus di Malaka, semua tahu: meriam saja kunci keme­nangan. Tuban akan bikin ini jadi peker­jaan, Wira. Siapa tahu mereka bisa mem­bi­kin untuk Tuban? Biar­kan mereka ting­gal di kesyah­ban­daran. Pergi!”

Sete­lah mene­rima Sang Patih dan sete­lah ber­ceng­ke­rama di taman kesa­yangan, Sang Adi­pati Tuban masuk ke dalam harem.

Pintu-pintu telah ter­tu­tup pada malam ber­a­ngin itu. Pada pengu­rus baru ia ber­bi­sik mem­per­i­ng­at­kan: “Jangan sampai ter­u­lang lagi peris­tiwa Nyi Ayu Sekar Pin­jung. Dan jangan kau ulangi per­bu­atan Nyi Gede Kati. Hukuman yang akan dija­tuh­kan kemu­dian akan lebih berat.”

Ia diam men­de­ngar-deng­ar­kan.

Dan memang ada dide­ng­ar­nya suara-suara bebe­rapa orang selir sedang bicara-bicara dalam salah sebuah bilik yang ter­kunci dari dalam.

“Siapa itu?” bisik­nya ber­ta­nya.

“Ampun, Gusti Adi­pati sese­m­ba­han patik, tiada lain dari kawula Gusti Nyi Ayu Ruti dan Nyi Ayu Utami.”

“Nyi Gede Dalu­darmi, bia­sakah mereka ber­kunci pintu sebe­lum wak­tu­nya?”

“Tidak, Gusti, patik tidak tahu meng­apa seka­rang begitu.”

Sang Adi­pati mening­gal­kan Dalu­darmi ber­sim­puh di tanah dan pelan-pelan men­de­kati pintu untuk men­de­ng­ar­kan.

“… siapa tidak tahu tidak kha­wa­tir? Sapi-sapi kita bisa punah. Panen kita bisa musnah,” pengu­asa Tuban itu men­de­ngar.

“Apa belum juga ada yang mem­per­se­m­bah­kan?” suara yang lain.

“Keru­suhan sudah meru­yak ke mana-mana,” suara yang ketiga.

“Kata­nya pagar desa sudah tak mampu. Nam­pak­nya Ki Aji Beng­gala sudah tak mengir­im­kan ke Tuban. Bagai­mana desamu?”

“Belum sampai ke per­ba­ta­san desa kami,” jawab yang ke empat.

“Tapi siapa tahu? Barang­kali mereka sudah sampai juga ke sana seka­rang?”

“Kalau Gusti Adi­pati belum meng­ge­rak­kan balat­en­tara, tentu belum ada yang mem­per­se­m­bah­kan,” suara per­tama menyim­pul­kan.

Sang Adi­pati kem­bali men­de­kati Nyi Gede Dalu­darmi yang masih juga ber­sim­puh di tanah.

“Berapa umurmu, Dalu­darmi?” bisik­nya ber­ta­nya.

“Tiga puluh lima, Gusti, menu­rut per­hi­tungan surya.”

“Apakah kau Islam?”

“Patik, Gusti.”

“Meng­apa menu­rut per­hi­tungan bulan?”

“Patik tak tahu meng­hi­tung­nya, Gusti.”

“Gila, bulan diper­gu­na­kan seba­gai hitungan. Dalu­darmi! Hidup di tengah-tengah selir begini, tidak­kah kau ingin juga jadi selir?”

“Semua Gusti Adi­pati sese­m­ba­han patik yang menen­tu­kan, Gusti.”

“Tiga puluh lima tahun masih muda, Dalu­darmi,” bisik Sang Adi­pati. “Dan kau belum pernah ber­a­nak.” Sang Adi­pati mulai mera­bai tubuh pengu­rus harem itu. “Kau masih lebih kukuh dari si Kati.” Ia seje­nak tak bicara. Kemu­dian, “Coba, mana mukamu?” dan ia pan­dangi wanita itu dalam kege­lapan malam.

Ia tak terus­kan dengan mem­bi­kin cinta.

“Bagai­mana Sekar Pin­jung seka­rang?”

“Ampun, Gusti, sepan­jang penge­ta­huan patik, ia jarang keluar dari kamar, sering keda­patan mena­ngis dan pucat. Patik pohon­kan ampun untuk­nya, Gusti, wanita semuda itu, belum pan­jang pikir, belum lagi dela­pan belas.”

Sang Adi­pati ber­diri ter­ma­ngu-mangu Dita­rik­nya Dalu­darmi ber­diri dan dici­um­nya pada pipi­nya, kemu­dian diting­gal­kan ber­diri. ber­ja­lan mele­wati bilik-bilik selir dan mele­wati kamar ter­kunci di mana bebe­rapa selir masih sibuk mem­bi­ca­ra­kan Ki Aji Beng­gala. Ia lang­sung menuju ke bilik paling ujung. Pintu itu ter­buka dan ia pun masuk ke dalam.

Dua jam kemu­dian ia keluar lagi dan menuju ke bilik ujung yang lain, Ia men­de­ham pelan di depan pintu, tetapi tiada ber­ja­wab. Ia men­de­hani sekali lagi. Juga tak ber­ja­wab.

Nyi Gede Dalu­darmi ber­ja­lan meng­ham­piri Sang Adi­pati, ber­jong­kok di bawah dan menyem­bah, kemu­dian memang­gil-mang­gil pelan pada pintu: “Nyi Ayu, Nyi Ayu Sekar Pin­jung! Nyi Ayu!”

“Nyi Gede­kah itu?” ter­de­ngar suara sayu men­ja­wab dari dalam.

“Nyi?”

“Buka­lah pintu, rang manis,” kata Dalu­darmi lemah.

Pintu itu ter­buka ragu-ragu, hanya ter­ki­rai sedi­kit. Dan Sang Adi­pati masuk ke dalam.

Sekar Pin­jung, yang tidak sem­purna pakai­an­nya dan rias­nya, lang­sung men­ja­tuh­kan diri pada kaki pengu­a­sa­nya, ter­se­dan-sedan tanpa bisa bicara. Pintu ditu­tup oleh Dalu­darmi dari luar.

Lelaki tua itu ber­diam diri ragu-ragu. Ada sesu­atu yang ber­go­lak di dalam hati­nya.

Sete­lah men­de­ngar pem­bi­ca­raan para selir dari balik pintu, ia meng­erti, ada kepala-kepala desa yang tak berani mem­per­se­m­bah­kan kea­daan di desa­nya pada ata­s­an­nya, maka diper­gu­na­kan selir-selir. Mereka selalu men­da­pat kiriman dari desa, dan tidak jarang juga pesan untuk dite­rus­kan pada Sang Adi­pati. Demi­kian mereka dapat mele­wati ata­s­an­nya dengan gaya dan cara yang khusus. Memang per­bu­atan kepala desa sema­cam itu tak dapat dika­ta­kan melang­gar aturan. Tak ada suapan atau­pun sogokan men­jadi dasar per­bu­at­an­nya. Dan sela­ma­nya cara itu dida­sar­kan atas kepen­tingan desa­nya sen­diri.

Seka­rang ia tahu adanya Ki Aji Beng­gala.

Mung­kin per­ca­kapan itu tidak selu­r­uh­nya benar, namun ada sesu­atu yang ter­jadi di desa-desa peda­laman.

Sekar Pin­jung ini lain lagi. Ia mem­per­se­m­bah­kan sesu­atu ber­da­sar­kan suapan. Benar atau pal­su­kah per­se­m­ba­han­nya? Tidak selu­r­uh­nya benar, juga tidak selu­r­uh­nya salah. Kepala desa­nya telah mem­per­se­m­bah­kan upeti dua kali lipat. Hampir selama dua tahun ini! Tetapi ia masih juga belum meng­gub­ris­nya. Dan seka­rang ia baru mulai ber­pi­kir ten­tang kebe­naran atau kepal­suan per­se­m­ba­han Sekar Pin­jung

Pan­dang­nya jatuh ke bawah pada tubuh gading yang men­cium kaki­nya. Kemu­dian tangan gading itu meme­luk kaki­nya, seperti seekor cacing yang menunggu diin­jak. Hukuman pada Sekar Pin­jung dira­sa­i­nya ter­lalu berat. Apa­lagi seka­rang sudah jelas siapa sumber keta­kutan ter­ha­dap Peranggi. Ditam­bah lagi dengan penge­ta­huan, Peranggi hanya­lah manu­sia biasa yang juga mem­bu­tuh­kan makan dan minum, hanya kul­it­nya saja putih dan bahasa dan adat­nya lain.

Hukuman itu telah lebih dari dua tahun dija­lani oleh Sekar Pin­jung, selir kesa­yangan. Dan seo­rang satria tidak men­ca­but kem­bali kata-kata­nya.

Wanita ber­ku­lit gading itu tak meng­in­dah­kan kea­daan dir­i­nya. tak dira­sa­i­nya lagi dingin malam yang menyerbu kul­it­nya yang tiada ter­tu­tup Dingin hati Sang Adi­pati lebih mem­be­ku­kan.

Ia lihat pung­gung wanita itu ter­se­ngal-sengal kecil karena sedu-sedan per­mo­honan ampun, nampak oleh­nya begitu hina dan tidak ber­arti. Hanya seo­rang satria bisa mem­bi­kin­nya jadi ber­arti kem­bali pikir­nya. Barang­kali aku telah ber­buat kurang adil ter­ha­dap­nya. Lelu­hur meng­a­jar­kan agar ber­hati-hati ter­ha­dap isi keput­rian, sarang hasutan dan fitnah. Betul. Sarang dengki dan kelo­baan. Betul. Tempat raja-raja tum­bang karena goso­kan. Betul. Tempat si kerdil mema­sang perang­kap untuk menang­kap bulan. Betul. Sarang labah-labah yang tak kenal malu. Benar perem­puan hina ini hanya mem­per­i­ng­at­kan. Hanya mem­per­i­ng­at­kan. Dan aku sudah ber­buat kurang adil ter­ha­dap­nya. Bukan­kah kea­dilan semes­ti­nya mampu men­ca­but kata-kata satria yang keliru?

Sebe­lum Sang Adi­pati dapat memu­tus­kan per­go­lakan di dalam dir­i­nya telah keluar kata-kata dari mulut­nya, pelahan dan ber­bi­sik: “Telah dica­but hukuman bagimu, Sekar Pin­jung. Ber­diri!”

Wanita muda itu ber­diri geme­tar. Selu­ruh pakai­an­nya luruh ke lantai. Muka­nya pucat. Ram­but­nya kacau. Kepa­la­nya masih juga ter­ang­guk-angguk kecil karena sedu-sedan­nya. Tetap ia tiada dapat ber­kata sepa­tah pun.

Sang Adi­pati meraih dua belah tangan­nya. Dide­kap­kan dia pada dir­i­nya, kemu­dian dipang­ku­nya.

Seka­rang baru­lah ter­de­ngar wanita itu mena­ngis ter­am­puni. Dan luluh­lah sudah amarah Sang Adi­pati, luluh pula duka-cita sang selir, cair ke dalam arus berahi.

“Dalu­darmi!” pang­gil Sang Adi­pati dari dalam bilik.

Wanita pengu­rus harem itu masuk ke dalam, mem­bawa nampan berisi cawan-cawan tem­bi­kar. Pan­dang­nya ter­tuju pada lantai, untuk tidak meli­hat peman­dangan di hadap­an­nya. Ia ber­jong­kok di bawah kaki Sang Adi­pati.

Pengu­asa Tuban itu meng­am­bil cawan jamu dan memi­num­nya habis

Dalu­darmi mundur bering­sut-ingsut keluar dari kamar.

“Jangan keluar! Ting­gal kau di sini. Letak­kan nampan itu di meja.”

Tengah hari pada kee­sokan hari­nya ter­jadi kesi­bukan dalam tubuh pasukan kuda. Puluhan pra­ju­rit telah mening­gal­kan Tuban Kota menuiu ke ber­ba­gai jurusan negeri. Yang demi­kian hampir-hampir tak penuh ter­jadi selama ini.

Segera orang-orang meng­hu­bung-hubung­kan gerakan ten­tara dengan ter­ja­di­nya kerin­cu­han di peda­laman, yang selama ini dibiar ber­la­rut jadi desas-desus umum.

Bebe­rapa hari sete­lah kebe­rang­katan kesa­tuan-kesa­tuan kecil pasukan kuda, pen­dopo kepa­ti­han penuh-sesak dengan kepala-kepala desa, para wedana, demang dan kuwu selu­ruh negeri. Yang tak hadir hanya wakil dari desa-desa di bawah keku­a­saan Rangga Iskak. Mereka semua duduk ber­sila di atas lantai.

Tanpa sesu­atu upa­cara Sang Patih memu­lai: “Betapa sangat menye­sal kami menge­ta­hui, kalian diam-diam tiada mem­per­se­m­bah­kan sesu­atu yang sedang ter­jadi di desa-desa kalian. Keta­hu­i­lah, Gusti Adi­pati Tuban sangat murka men­de­ngar adanya huru-hara tidak dari per­se­m­ba­han kalian. Gusti Adi­pati Tuban men­de­ngar, bahwa pagar desa kalian sudah kewa­lahan meng­ha­dapi para peru­suh. Jawab seka­rang juga. Benar-tidak?”

“Ampun, Gusti Patih,” seo­rang kuwu meng­ang­kat sembah. “Adanya huru-hara itu memang betul, karena ter­ja­di­nya di daerah keku­a­saan patik. Ada pun patik belum juga mem­per­se­m­bah­kan adalah karena patik masih ber­u­saha, belum lagi putus-asa.”

“Per­nah­kah kalian menang ter­ha­dap mereka?”

“Ampun, Gusti, belum pernah, tapi kalah pun belum.”

“Jangan per­se­m­bah­kan teka-teki.”

“Begi­tu­lah adanya, Gusti, kalau mereka datang, pagar desa lari. Kalau pagar desa datang, mereka yang lari.”

“Apa kalian sedang main petak?”

Sunyi selu­ruh pen­dopo. Wajah Sang Patih merah menyala-nyala. Sua­sana tegang. Semua peng­ha­dap menun­duk.

“Meng­apa mem­bisu? Hilang­kah sudah lidah kalian?”

“Ampun, Gusti, di tempat patik agak lain kea­da­an­nya. Telah patik per­se­m­bah­kan ini ke hadapan Gusti Patih, bahwa pagar desa patik selalu masuk ke dalam jebakan dan satu kali pun tidak pernah men­je­bak.”

“Apa mak­sudmu dengan jebak-men­je­bak?”

“Maksud patik, Gusti, rajak­aya desa hilang kalau tidak dijaga dan ting­gal utuh kalau dijaga.”

“Bicara yang jelas. Kami tidak meng­erti mak­sudmu.”

“Ampun, Gusti. Kalau pagar desa yang men­jaga rajak­aya itu menge­jar mereka, hilang­lah yang tidak ter­jaga itu.”

“Hei, ban­tu­lah dia bicara, kami tidak meng­erti.”

“Ampun, patik pun tidak meng­erti, Gusti. Hei, kepala desa, ber­se­m­bah kau yang benar dan patut.”

“Apakah mak­sudmu peram­pok rajak­aya itu hidup di dalam desamu sen­diri?”

“Kira-kira begitu, Gusti, tetapi patik tidak berani mem­per­se­m­bah­kan dengan pasti.”

“Hei, yang ber­sang­kutan, kau sudah dengar sen­diri per­se­m­ba­han bawah­anmu. Per­ha­ti­kan warga dari desa-desa kalian. Nah, dengar eka­lian yang meng­ha­dap pada hari ini! Kami takkan meng­u­langi un-tuk kedua kali­nya,” Sang Patih mene­bar­kan pan­dang ke selu­ruh peng­ha­dap. Mene­rus­kan, “Kami beri waktu untuk kalian satu bulan penuh untuk meng­a­tasi keru­suhan. Atur­lah antara kalian sen­diri bagai­mana men­da­tang­kan ban­tuan pagar desa dari desa-desa lain yang aman. Kalau gagal, tahu kalian aki­bat­nya?”

“Tahu, Gusti.”

“Ya, tahu. Biar begitu kami sam­pai­kan juga: Kalau kalian gagal, balat­en­tara Tuban akan ber­ge­rak meng­am­bil-alih tugas pagar desa. Meng­erti kalian arti­nya?”

“Meng­erti, Gusti.”

“Ya, meng­erti. Biar begitu kami sam­pai­kan juga: kalau balat­en­tara ber­ge­rak, men­j­a­dilah tang­gungan pada desa-desa yang dida­tangi bala-ten­ta­ra­nya. Cukup sebu­lan itu?”

“Lebih dari cukup, Gusti,” mereka men­ja­wab ber­ba­reng.

Kemu­dian Sang Patih meng­en­dor­kan kete­gangan dengan cerita: Ki Aji Beng­gala dahulu adalah pung­gawa Gusti Adi­pati Tuban men­ja­bat Syah­ban­dar Tuban Kota. Nama sebut­an­nya adalah Rangga Iskak. Nama kela­hir­an­nya adalah Iskak Ind­ra­jit.

Semua peng­ha­dap gelak ter­tawa men­de­ngar nama rak­sasa dalam Rama­yana itu, nama yang tidak popu­ler bagi negeri Tuban. Juga Sang Patih ikut ter­tawa menyer­tai. Dan kete­gangan lenyap.

Cerita pun dite­rus­kan: Iskak Ind­ra­jit adalah cucu dari Syah­ban­dar Malaka, seo­rang Beng­gala Mala­bar. Dari kakek­nya Rangga Iskak merasa dir­i­nya orang Beng­gala, maka mena­mai diri Ki Aji Beng­gala. Ayah­nya, yang beru­mur pendek, ber­is­tri­kan seo­rang Mala­bar pula. Tetapi bekas Syah­ban­dar itu dila­hir­kan oleh seo­rang ibu Melayu, dan dari ibunya ia men­da­pat nama Ind­ra­jit.

Sekali lagi peng­ha­dap gelak ter­tawa.

Ibunya memang bijak­sana mena­ma­inya demi­kian. Rupa-rupa­nya ia telah men­da­pat fira­sat, anak yang dikan­dung­nya nanti akan jadi seo­rang rak­sasa dengan gigi taring. Sesung­guh­nya, Rangga Iskak mem­pu­nyai gigi taring yang agak men­co­lok.

“Tetapi kea­daan sudah beru­bah,” Sang Patih mene­rus­kan. “Jabat­an­nya seba­gai Syah­ban­dar tak dapat diper­ta­han­kan. Ia harus diganti. Tetapi ia tidak rela diganti, ia merasa bandar Tuban adalah mil­ik­nya pri­badi. Segala apa pun yang dika­ru­ni­a­kan Gusti Adi­pati dung gapnya kurang dan makin kurang. Memang dasar rak­sasa ber­g­ygi tanng Karu­nia lima buah desa sudah sela­yak­nya ia merasa jadi seo­rang bupati Tetapi tidak, dengan desa itu ia sema­kin ber­ting­kah. Ia anggap desa-desa itu dida­pat­nya dari ber­pe­rang, dan seka­rang diper­gu­na­kan­nya jadi modal untuk mela­wan….

Seperti kebi­a­saan baru di sebe­lah timur dan barat negeri Tuban seka­rang ini, kalau seo­rang ning­rat, apa­lagi bukan ning­rat telah mena­ma­kan diri Ki Aji dan men­da­pat­kan, banyak peng­i­kut, dia merasa sudah seting­kat dengan seo­rang adi­pati, bela­gak seba­gai raja tanpa pene­gasan hak. Seakan-akan kedu­dukan raja bukan lagi urusan para dewa, seakan-akan sudah boleh ditem­pati oleh setiap orang. Ajaran lelu­hur mulai dilu­pa­kan, sedang­kan ajaran baru belum ada isinya. Itulah kebi­a­saan baru seka­rang ini dari bebe­rapa orang yang bakal bikin celaka semua orang di selu­ruh pulau Jawa.”

Sua­ra­nya mening­kat dan jadi ber­ko­bar-kobar, sarat dan gemas: “Kalian harus ingat, Ind­ra­jit alias Ki Aji Beng­gala bukan ber­da­rah ning­rat, jangan­kan ber­da­rah Maja­pa­hit, ber­da­rah bupati pun dia tidak. Malahan orang Jawa dia pun tidak. Dia per­a­nakan Keling biasa, yang kebe­tulan pandai ber­ba­gai bahasa. Memang banyak kepan­dai­an­nya, ter­lalu banyak. Hanya dia punya satu kebo­dohan, satu saja: dia tidak meng­erti bagai­mana ber­te­ri­ma­ka­sih. Deng­ar­kan: tum­pas­lah dia sebe­lum men­jadi-jadi. Jangan ragu-ragu. Kalian sen­diri, seba­gai­mana dia­jar­kan oleh lelu­hur, tentu takkan per­caya pada orang yang tidak tahu ber­te­ri­ma­ka­sih, karena dia sesung­guh­nya tidak tahu ten­tang karu­nia para dewa. Nah, pergi kalian.”

Dengan meng­ha­dap­nya para pung­gawa orang men­da­pat gam­baran sebe­nar­nya ten­tang gen­ting­nya kea­daan peda­laman. Hampir-hampir dapat dipas­ti­kan: balat­en­tara Tuban akan ber­ge­rak dalam sebu­lan men­da­tang.

Di Tuban Kota sen­diri telah dira­sai adanya per­u­ba­han itu. Per­tu­karan barang dengan peda­laman mero­sot sejadi-jadi­nya. Pasar Kota sema­kin sunyi. Orang-orang kota banyak yang mening­gal­kan kam­pung-halaman dan pindah ke peda­laman. Per­da­gangan antar-pela­buhan, apa­lagi antar-pulau, beku.

Dan di bandar sen­diri, kecu­ali peme­li­ha­raan dan pem­ber­sihan, hampir tak ada peker­jaan lagi….

Wirang­gal­eng tak pernah lagi keli­hatan seo­rang diri dalam men­ja­lan­kan tugas­nya. Ia pun men­da­pat tugas baru: men­jaga kea­manan bandar Kota dan Glon­dong.

Peker­ja­an­nya sema­kin banyak, penge­ta­hu­an­nya sema­kin banyak, dan per­sa­ha­bat­an­nya lebih-lebih lagi.

Hubung­an­nya dengan Liem Mo Han mem­ba­wa­nya pada suatu penge­ta­huan, bahwa benar Por­tu­gis dan kapal­nya telah bela­yar ke Pana­ru­kan, dan bahwa raja Blam­bangan, Gir­in­dra War­d­hana bukan hanya tidak meno­lak­nya, bahkan meni­tah­kan Patih Udara untuk men­jem­put Mar­ti­ni­que Lamaya di pela­buhan dengan segala kebe­saran. Dan sete­lah kapal itu mancal lagi dapat dike­ta­hui ada barang sepu­luh orang Por­tu­gis meng­an­tar­kan kapal itu berang­kat. Mereka ting­gal di Blam­bangan.

Liem Mo Han pula yang mem­be­ri­ta­kan pada­nya: di antara sepu­luh orang Por­tu­gis itu ada yang masuk lebih ke dalam daratan Blam­bangan dan mem­ba­ngun­kan sebuah rumah. Boleh jadi, kata Liem Mo Han selan­jut­nya, dengan ban­tuan kera­jaan Hindu itu orang-orang Peranggi akan ber­hu­bungan dengan peru­suh-peru­suh di peda­laman negeri Tuban dan dengan per­se­ku­tuan itu akan meng­an­cam Tuban dari laut dan darat.

“Wira, hanya keku­atan Islam yang menen­tang Peranggi. Semua kera­jaan Hindu serba seba­lik­nya. Mereka merasa terus-mene­rus ter­de­sak oleh Islam, meng­am­bil sikap ber­ta­han ter­ha­dap arus agama baru itu. Maka begitu Peranggi datang mereka segera meng­u­lu­r­kan tangan penyam­butan. Mereka justru meng­ha­rap­kan per­lin­dungan dari musuh selu­ruh dunia itu.”

Lama ia renung­kan kebe­naran kata-kata Liem Mo Han. Per­ban­dingan ia tak punya. dari renung­an­nya ia menge­ta­hui adanya tiga keku­atan pokok: Hindu, Islam dan Por­tu­gis. Baik Hindu maupun Islam, dua-duanya menari karena adanya Por­tu­gis.

“Ya, Peranggi tetap pokok,” ia memu­tus­kan.

Dan seka­rang, ber­da­sar­kan renungan itu, ia menge­ta­hui: Tuban berada di antara Hindu dan Islam, tidak punya sikap yang pasti ter­ha­dap Peranggi.

“Tuban harus menen­tang Peranggi, tanpa men­jadi Islam, juga tidak karena Hindu.”

Ia tak per­se­m­bah­kan hasil renung­an­nya pada Sang Patih. Namun kata-kata Liem Mo Han ten­tang tiga keku­atan itu men­j­a­dilah dasar pan­dangan resmi praja Tuban dalam mema­hami dunia yang sedang beru­bah.

Tetapi saha­bat­nya itu tak pernah bicara ten­tang Tiong­kok, tidak ten­tang jung-jung­nya, tidak ten­tang per­da­gang­an­nya, tidak ten­tang musuh-musuh­nya, bahkan ten­tang kepen­du­duk­an­nya di Jawa ia pun tidak pernah mem­buka mulut. Dan Wirang­gal­eng merasa tak ada kebu­tuhan untuk menge­ta­hui.

Telah bebe­rapa kali ia meng­un­dang­nya untuk meng­ha­dap Sang Patih. Liem Mo Han selalu meno­lak. Dan dalih­nya ter­a­khir adalah: “Hanya kera­jaan yang sudah sepe­nuh­nya Islam mau mela­wan Peranggi. Maka yang sete­ngah Islam cuma akan sete­ngah mela­wan. Biar­lah sahaya mem­bantu dari jauh saja, Wira.”

Peno­lakan itu ber­gema dalam hati Syah­ban­dar-muda. Aku belum pernah jadi Islam. Aku tak kenal dewa-dewa­nya. Tapi aku pernah mela­wan Peranggi, biar pun sudah kalah sebe­lum ber­ta­rung. Dan aku akan tetap mela­wan. Ia merasa ter­sing­gung karena Liem Mo Han meng­ang­gap Tuban sete­ngah Islam. Seper­em­pat pun belum! Tapi aku akan mela­wan Peranggi. Hanya kesem­patan saja belum aku per­o­leh.

Liem Mo Han tetap tidak mau bicara ten­tang pri­ba­di­nya. Ia selalu bicara ten­tang praja.

Setiap ia men­da­pat kesem­patan dan ber­temu dengan saha­bat­nya, selalu saja ada soal baru yang jadi tam­ba­han penge­ta­hu­an­nya. Dan datang­nya penge­ta­huan itu tidak binal men­jom­pak-jompak seba­gai­mana dite­ri­ma­nya dari Rama during, tapi tenang-tenang, seakan tidak ter­jadi sesu­atu, dan masuk­lah dalam hati­nya.

Suatu peris­tiwa telah menye­bab­kan mereka berdua ber­pi­sah. Dan keja­dian itu datang begitu men­da­dak.

Pagi waktu itu.

Dengan dua orang pengiring­nya ia pulang dari meme­riksa selu­ruh bandar. Baru saja ia turun dari kuda telah ter­de­ngar: “Wira! Wira!” Tholib Sung­kar Az-Zubaid memang­gil­nya.

Sudah lama rasa­nya ia telah hin­dari Syah­ban­dar yang diben­ci­nya. Seba­lik­nya yang ter­benci nam­pak­nya merasa juga sedang dihin­dari. Dan seka­rang ia meng­ha­dapi per­ma­inan hindar-meng­hin­dar ini.

Ia naik ke gedung utama dan dida­pat­i­nya Syah­ban­dar sedang minum kopi di kamar-ker­ja­nya.

“Sela­mat untukmu, Wira,” ia ber­diri. Wajah­nya ber­seri-seri dan nampak seakan bong­kok­nya sudah hilang sama sekali.

“Tuan Syah­ban­dar, inilah sahaya,” jawab Wirang­gal­eng.

Dan setiap kali ia meli­hat bong­kok itu hilang dari pung­gung orang Moro itu – telah sering ia per­ha­ti­kan – pasti sedang ter­jadi galangan keja­hatan di dalam hati­nya.

“Aku baru ingat, Wira, bukan­kah kau anak peda­laman?” tanya­nya dan menyi­la­kan duduk. “Nah, semes­ti­nya kau tahu di mana desa Rajeg”

Ia men­jadi was­pada. Setiap orang tahu, Rajeg adalah sebuah desa peda­laman tempat pemu­satan keku­atan Ki Aji Beng­gala.

“Yang sedang banyak diper­ca­kap­kan orang itu?”

“Apa yang mereka per­ca­kap­kan?” mata Tholib kelap-kelip menye­li­dik.

Dan waktu nampak oleh­nya Wirang­gal­eng ter­se­nyum meng­o­lok-olok ia jadi ragu-ragu. Ia tak mene­rus­kan kata-kata­nya. Dengan meng­am­bil nada lain ia ber­gu­mam: “Orang-orang bodoh itu. Mana mung­kin Rangga Iskak mem­be­ron­tak? Dengan takzim, tawa­kal dan sabar ia terima semua titah Gusti Adi­pati.” Nada sua­ra­nya mening­kat lagi, “Begini, Wira, kau juga tahu Rangga Iskak ada di Rajeg. Aku menge­ta­hui dari Gusti Patih. Wira, baru saja keta­huan ada barang kesyah­ban­daran, barang pen­ting, yang ter­bawa oleh­nya. Mung­kin dia lupa dan tak meng­i­ng­at­nya lagi. Dan itu bisa mem­bi­kin bahaya ter­ha­dap bandar. Barang itu harus di kem­ba­li­kan pada Syah­ban­dar.”

“Rupa­nya pen­ting benar barang itu, Tuan Syah­ban­dar,” Wirang­gal­eng menyem­bu­nyi­kan kehe­ran­an­nya.

“Bagai­mana bisa dika­ta­kan tidak pen­ting? Cap tera untuk emas, perak dan tem­baga! Syah­ban­dar harus men­da­pat­kan barang ter­se­but sebe­lum ber­la­rut. Ben­tuk­nya memang sama dengan yang sudah kita pakai seka­rang, hanya tak ada tulisan Arab tam­ba­han di dalam­nya.”

Wirang­gal­eng sibuk menerka maksud orang Moro ini, tetapi belum dapat.

“Kau tak per­ha­ti­kan aku, Wira.”

“Terus­kan Tuan Syah­ban­dar.”

“Aku akan siap­kan surat buat dia, dan coba­lah nanti sam­pai­kan pada­nya dengan lisan: Syah­ban­dar Tuban Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa dalam kea­daan sela­mat. Cukup itu saja. Aku senang punya pem­bantu seperti kau. Berani, pandai, cekatan, kuat. Hanya orang seperti kau mampu sele­sai­kan peker­jaan ini.”

Ter­ba­yang oleh Syah­ban­dar-muda itu akan adanya hubungan antara keru­suhan di peda­laman dengan Syah­ban­dar ini, dan antara Syah­ban­dar dengan Peranggi.

Aku harus buk­ti­kan! Aku harus dapat menyam­pai­kan ini pada Sang Patih: orang satu ini memang peng­khi­a­nat yang tak patut men­da­pat­kan per­lin­dungan dari Sang Adi­pati, tidak boleh lebih lama lagi. Dia sepa­tut­nya die­nyah­kan dari bumi Tuban.

Sebe­lum berang­kat ke Rajeg ia telah temui saha­bat­nya Liem Mo Han dan ber­pe­san agar mem­bu­ang waktu untuk terus meng­a­wasi dua orang Peranggi yang men­da­pat per­lin­dungan resmi dari Syah­ban­dar dan per­lin­dungan tidak resmi dari praja itu.

Dari Sang Patih ia men­da­pat empat orang pra­ju­rit dari pasukan kaki seba­gai penga­wal dan teman seper­ja­lanan, dan perin­tah untuk menge­ta­hui sebaik dan sebe­nar-benar­nya ten­tang desa Rajeg, keku­a­saan dan penga­ruh Ki Aji Beng­gala, desa-desa seki­tar, berapa banyak sesung­guh­nya desa yang mulai dan sudah berada dalam penga­ruh­nya, hubungan yang men­ta­ut­kan Rangga Iskak dengan Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa yang ber­mu­suhan pada lahir­nya itu, dan apa saja yang telah diper­buat dan diren­ca­na­kan oleh peru­suh.

“Ker­ja­kan tugasmu dengan baik,” pesan Sang Patih. “Peranggi sema­kin men­de­kati kita. Peda­laman ber­go­lak. Peda­gang-peda­gang Islam mening­gal­kan Tuban Kota, pindah ke kota-kota bandar di barat. Sedang peda­gang-peda­gang Islam yang kecil-menge­cil masuk ke peda­laman ”

“Patik akan ker­ja­kan sebaik-baik­nya, Gusti.”

“Benar kata Syah­ban­dar. Nam­pak­nya hanya kau yang bisa laku­kan tugas ini,” kata­nya lagi seakan meng­u­langi Sayid Habi­bul­lah. “Kau tahu apa arti­nya semua ini.”

“Belum, Gusti.”

“Arti­nya, memang Tuban dian­cam oleh keru­sakan dari luar dan dari dalam. Kau rela Tuban, nege­rimu, Gus­timu, kebe­saran Tuban. rusak?”

“Dewa Batara! Sama sekali tidak, Gusti.”

“Berang­kat­lah dengan sejah­tera.”

Dan ia pun berang­kat.

Ia berang­kat dengan mem­bawa peng­er­tian: surat dan cap itu hanya seka­dar dalih untuk meng­hu­bungi Ki Aji Beng­gala. Sang Patih boleh jadi hanya ter­se­nyum dalam hati. Sedang surat yang telah dibong­kar oleh Sang Patih lebih men­cu­r­i­ga­kan lagi: hanya seba­ris tulisan Arab. Itu pun pendek sekali. Jelas hanya isya­rat belaka. Dia sung­guh cerdik, pikir­nya. Dipi­lih­nya aku untuk mela­ku­kan peker­jaan ini. Dan dia tak memo­hon izin dari Sang Patih. Dia ber­buat dengan pilihan dan kema­uan sen­diri. Tak bisa lain, karena dia pun punya kepen­tingan dengan kema­ti­anku pri­badi. Hendak dica­pai­nya dua maksud dengan satu jalan: meng­hu­bungi peru­suh dan seka­li­gus menying­kir­kan aku. Ki Aji Beng­gala jelas akan mem­bu­nuh aku.

Ia benar­kan kata orang tua-tua: kesal­ahan orang-orang pandai ialah meng­ang­gap yang Iain bodoh, dan kesal­ahan orang-orang bodoh ialah meng­ang­gap orang-orang lain pandai. Sayid Habi­bul­lah Az-Zubaid juga meng­ang­gap diriku bodoh. Aku tidak buta, aku selalu dapat menang­kap matamu yang menyala-nyala bila ter­pan­dang olehmu Idayu. Bukan­kah Nyi Gede Kati sen­diri tak segan-segan mem­bi­ca­ra­kan ini dengan istri­nya, dan istri­nya deng­an­nya?

Liem Mo Han pernah mem­per­i­ng­at­kan: Tuan Syah­ban­dar Tuban sung­guh-sung­guh dibenci oleh setiap dan semua orang, sampai jauh-jauh di Jepara dan Lao Sam. Dia mere­meh­kan para sau­da­gar Islam dan Tiong­hoa, seba­gai­mana ia laku­kan di Malaka dulu. Dialah peng­khi­a­nat Malaka. Tak urung ia akan jadi peng­khi­a­nat Tuban juga. Ting­kah-laku­nya men­ji­jik­kan, seperti dia sen­diri Sang Adi­pati. Di Malaka dulu dia ber­ting­kah seba­gai raja muda.

“Seba­lik­nya, Wira,” ia mene­rus­kan, “Wira dan istri meru­pa­kan pasangan yang dicin­tai dan dihor­mati. Tak ada satu keba­ha­gi­aan yang lebih besar dari­pada dicin­tai dan dihor­matri semua orang. Itu adalah modal yang mem­bi­kin orang dapat men­ca­pai segala-gala­nya. Sahaya harap Wira meng­erti per­ban­dingan ini.”

Dan ia meng­ang­gap dir­i­nya meng­erti: Syah­ban­dar Tuban meng­ha­lau­nya dengan memin­jam tangan Rangga Iskak alias Ishak Ind­ra­jit alias Ki Aji Beng­gala, kemu­dian ia akan meng­ha­dap Sang Adi­pati dan memo­hon agar Idayu dika­ru­ni­a­kan kepa­da­nya, maka bukan saja ia akan memi­l­iki apa yang dibe­ra­hi­kan­nya selama ini, juga akan dapat mere­da­kan keben­cian orang ter­ha­dap dir­i­nya. Mela­lui Idayu seba­gai milik pri­badi ia akan lebih dapat mem­pe­nga­ruhi Sang Adi­pati.

Tetapi meng­apa Syah­ban­dar Tuban itu begitu dingin ter­ha­dap Gelar, anak­nya sen­diri? Meng­apa? Mung­kin­kah ada seo­rang yang acuh-tak-acuh ter­ha­dap anak sen­diri? Ah, meng­apa tidak mung­kin? ban­tah­nya sen­diri. Setiap ning­rat yang punya harem adalah juga orang yang tak acuh ter­ha­dap anak sen­diri, hanya tahu nafsu-nafsu pri­badi, mem­buru dan memu­as­kan­nya. Meng­apa kau heran? Kasihan kau, Gelar. Seperti seekor anak burung… ia ter­i­ngat pada kata-kata Rama Clu­r­ing ten­tang burung-burung.

Dengan bekal itu di dalam hati ia ber­ja­lan kaki seba­gai petani mema­suki peda­laman.

Makin men­de­kati desa Rajeg, desa-desa yang dila­lu­i­nya nampak suram. Pada mata pen­du­duk­nya nampak ter­pan­car keta­kutan dan kege­li­sahan. Per­ta­nyaan-per­ta­nyaan pada mereka dija­wab seper­lu­nya tanpa kera­mahan dan tiada di antara mereka meng­un­dang sing­gah, apa­lagi makan dan meng­i­nap.

Hutan, padang ila­lang, padang rumput pendek, sawah dan ladang dila­lu­i­nya, dan pada suatu hari sam­pai­lah ia di tepi sebuah rimba-belan­tara. Teman-teman­nya, juga ber­pa­kaian tani, ber­ja­lan agak jauh di bela­kang­nya.

Gubuk pang­gung di depan­nya sana masih seperti dulu juga. Nam­pak­nya tiang bambu dan atap ila­lang itu belum juga rusak. Gubuk itu agak besar; khusus didi­r­i­kan jauh dari desa mana pun untuk tempat ber­te­duh dan meng­i­nap para pemi­kul upeti atau musa­fir. Ia sen­diri pernah meng­i­nap di situ ber­sama tiga orang teman­nya untuk dapat men­de­ng­ar­kan seo­rang guru-pem­bi­cara dari sebe­rang, yang meng­a­jar­kan, bahwa tidak ada sesu­atu yang lebih tinggi, lebih ber­ku­asa, maha kuasa, kecu­ali Allah, dan bahwa semua makh­luk gaib takluk pada­nya. Orang itu bicara dalam Jawa yang begitu aneh­nya sehingga pen­de­ngar-pen­de­ngar lebih banyak ter­tawa dan orang tak meng­erti betul mak­sud­nya. Orang-orang mem­beri komen­tar: guru itu mem­ba­wa­kan soal-soal baru yang aneh, itu sebab­nya baha­sa­nya juga aneh.

Ia memer­lu­kan sing­gah dan naik ke atas pang­gung. Di keja­uhan dili­hat­nya empat orang teman­nya ber­ja­lan aman meng­i­kut­i­nya. Belum lagi ia rebah­kan diri dide­ng­ar­nya suara-suara pelahan di bawah. Ia turun untuk meli­hat apa yang sedang ter­jadi. Empat orang ber­baju dan ber­sa­rong putih dan ber­ko­piah putih telah menge­pung­nya dengan meng­a­cung­kan tombak. Seki­las ia lihat sen­jata-sen­jata mereka tidak seje­nis dengan yang biasa diper­gu­na­kan oleh para pra­ju­rit – tombak-tombak ber­buru.

Seo­rang di antara para penge­pung itu sudah tua. Yang tiga lain­nya masih bocah dan kira-kira saja abang-ber­a­dik. Yang termuda sekira dua belas tahun.

Wirang­gal­eng meli­rik untuk dapat meli­hat rambut mereka. Pendek, hampir-hampir dan juga mung­kin gundul

Kalau bukan dalam kea­daan gen­ting mung­kin ia takkan dapat mengen­da­li­kan tawanya: orang ber­pa­kaian serba putih – seperti bangau.

“Hei, kau!” tegur yang tertua, “tidak ber­baju tidak ber­ko­piah, biadab! Beram­but pan­jang seperti kuda betina! Sebut­kan namamu sebe­lum nya­wamu mela­yang ke neraka.”

“Betapa galak,” pikir Wirang­gal­eng. sebe­lum kena tegur lagi ia ber­kata sopan dan pelan, dengan senyum damai pada bibir: “Ampun, Bapa, ter­sa­sar.”

“Tak pernah ada orang ter­sa­sar kemari. Siapa kau!”

“Galeng, Bapa.”

Orang itu ter­tawa mele­ceh­kan. dan mata Wirang­gal­eng tetap was­pada. Pada bibir­nya senyum itu masih juga meng­hias.

“Galeng? Siapa tidak kenal Galeng? Biar pun kau juara gulat tiga-lima kali ber­tu­rut, tak ada guna. Kau datang dari kota untuk memata-matai. Kau, kafir sialan, kafir laknat!”

“Apa yang dimata-matai, Bapa? Nanti dulu, siapa yang aku hadapi ini?”

“Kurang ajar, belum men­ja­wab sudah ganti ber­ta­nya. Siapa hendak kau mata-matai?”

“Tidak ada, Bapa. aku datang untuk meng­ha­dap Ki Aji Beng­gala. Lain tidak.”

“Penipu! Ki Aji tak menunggu siapa pun di antara orang beram­but pan­jang. Apa­lagi kau datang dari kota! Begun­dal Adi­pati Tuban.”

“Meng­apa Sang Adi­pati, Bapa, nam­pak­nya Bapak memu­suh­i­nya?”

“Puh, Adi­pati, satria tidak tahu mene­pati janji. Apakah orang kota tidak tahu peng­khi­a­natan Tuban ter­ha­dap Jepara? Ter­ha­dap Aceh, Riau, jambi dan Banten? Malaka tidak jatuh, keme­la­ratan mera­ja­lela di Tuban! Kapal-kapal tak lagi berani bela­yar. Begun­dal peng­khi­a­nat!”

Meng­er­ti­lah Wirang­gal­eng, benar Ki Aji Beng­gala telah meng­gu­na­kan keme­ro­sotan Tuban untuk mena­ik­kan dir­i­nya sen­diri. Ber­kata pura-pura tak tahu sesu­atu: “Benar, Bapa, aku tak tahu apa-apa ten­tang semua itu Aku men­cari-cari Ki Aji Beng­gala – tak tahu tem­pat­nya, – mem­bawa surat untuk beliau – surat ber­basa dan ber­tu­lisan Arab.”

“Pem­bo­hong! Adi­pa­timu tak perlu tulisan dan basa Arab – muna­fik itu.”

“Aku tak tahu arti­nya itu, Bapa. Sesung­guh­nya surat itu bukan dari Gusti Adi­pati – dari Tuan Syah­ban­dar Tuban, dari Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa, seo­rang Arab tulen.”

“Ki Aji tidak menunggu surat dari kota, kataku. Apa lagi dari Syah­ban­dar kepa­rat itu.”

“Meng­apa kepa­rat, Bapa?”

“Meng­apa? Dengan mulutmu yang kotor, najis, kau ber­ta­nya meng­apa? Coba, bukan­kah dia juga yang meng­aku Arab tulen dan ketu­runan Nabi besar seka­li­gus?” ia melu­dah ke tanah. “Dia hanya budak kafir Peranggi. Jangan pura-pura tidak tahu, rang­kota! Semua rang­desa di sini tahu duduk per­ka­ra­nya. Kau ini, bukan­kah budak dari budak kafir Peranggi? Kau, si rambut pan­jang?”

Wirang­gal­eng ber­u­saha terus bicara dengan harapan penga­wal-penga­wal­nya akan tiba pada wak­tu­nya. semen­tara itu ia menga­gumi penge­ta­huan rang­desa ten­tang seluk-beluk praja yang sudah sejauh itu. Tentu penge­ta­huan itu dise­bar­kan oleh Ki Aji untuk mem­be­nar­kan dir­i­nya sen­diri.

“Budak dari budak kafir Peranggi,” ia ber­gu­mam.

“Sung­guh aku tidak tahu barang sesu­atu. siapa bisa salah­kan orang yang tidak tahu?”

Sete­lah ter­tawa mele­ceh­kan orang itu meng­e­jek: “Memang zaman seka­rang rang­kota lebih dungu, lebih tak tahu diri, lebih tak tahu dari rang­desa. Dungu atau tidak, apa beda­nya? Tak urung kau mati juga di sini. Mati tanpa tempat yang dijan­ji­kan.”

“Aku sema­kin tidak meng­erti, Bapa.”

“Apa tahumu? Rang­desa tahu, biar kau ber­pa­kaian tani, sesung­guh­nya kau bukan. Kau memang tidak tahu rang­desa seka­rang, yang sudah tahu segala-gala­nya. Huh, mati tanpa tempat yang dijan­ji­kan.”

“Bagai­mana tempat yang sudah dijan­ji­kan itu, Bapa?”

“Nasib kafir sudah diten­tu­kan. Waktu hidup diburu-buru nafsu dan keja­hilan, waktu mati diburu-buru api neraka. Itu yang patut kau dengar sebe­lum mati.”

Dan Wirang­gal­eng harus bicara terus.

“Bapa, Bapa bilang aku budak dari budak Peranggi. Tak tahu­kah, Bapa, rang­desa Galeng ini pernah menye­rang Peranggi di Malaka?

“Bohong! Penipu! Tak ada Ki Aji pernah kata­kan itu.”

“Maka aku yang menga­ta­kan.”

“Kare­na­nya makin jelas kebo­hong­anmu.”

Wirang­gal­eng kini dapat men­ja­jagi betapa penga­ruh Rangga Iskak telah mulai men­da­lam. Ia harus ber­hati-hati.

“Bagai­mana, Paman?” salah seo­rang di antara tiga bocah itu bet­tarn a di bela­kang­nya. “Masih juga dia dibi­ar­kan begini?”

“Nanti dulu, jangan keliru,” tegah juara gulat itu sambil mene­ngok seki­las ke bela­kang. “Lihat dulu surat yang aku bawa ini. Tulisan dan bahasa Arab tulen.”

“Jih!” orang yang tertua melu­dahi tangan Syah­ban­dar muda yang meng­u­lu­r­kan surat. “Semua yang keluar dari pokal kafir hanya­lah najis”.

“Hweeee!” ter­de­ngar ben­takan ber­ba­reng di bela­kang mereka.

Orang-orang ber­tom­bak itu kaget dan meno­leh ke bela­kang dari tangan mereka dengan ban­tuan penga­wal-penga­wal­nya. Tanpa peng­a­laman meng­gu­na­kan sen­jata menye­bab­kan mereka segera tering­kus tanpa daya. Pan­jang tombak mereka men­jadi peng­ha­lang utama untuk mem­bela diri.

“Jangan sentuh aku, kafir!” pekik orang tertua tak ber­daya itu. Mata­nya menyala-nyala menyem­bur­kan keben­cian, keji­jikan dan penye­salan.

Bocah-bocah yang juga ter­i­kat itu kini ber­pan­dang-pan­dangan satu sama lain dengan keta­kutan.

“Disen­tuh pun Bapa tidak suka, sedang aku hendak Bapa tombak,” gumam Syah­ban­dar-muda. “Per­da­maian yang sung­guh tidak jujur, Bapa.”

“Mata-mata! Telik!” pekik orang itu seperti gila. Sua­ra­nya meng­ga­ung di tepian rimba. “Allah mengu­tuk kau, dunia dan akhi­rat!”

“Siapa yang mengu­tuk aku, Bapa atau Allah? Atau­kah Bapa sama dengan Allah?” balas Syah­ban­dar-muda. “Sudah, Bapa diam saja. Pin­jami aku anak yang ter­ke­cil ini. Dan Bapa sen­diri, pin­jami aku pakaian itu, biar pun ter­lalu sempit. Dan kalian,” ia perin­tah­kan pada para penga­wal­nya. “bawa sisa­nya ke dalam rimba, ter­i­kat! Tunggu sampai aku datang. Sini, Buyung,” perin­tah­nya pada tawan­an­nya yang ter­ke­cil, “biar aku lepas tali-peng­i­katmu, dan mari aku dian­tar­kan. Jangan menya­sar­kan, karena paman dan sau­dara-sau­da­ramu bisa binasa. Lagi­pula takkan dapat kau lari dari tanganku.”

Ia ber­ja­lan dengan pakaian putih serba keke­cilan ber­sama si buyung. tujuan: desa Rajeg, pusat keku­atan Ki Aji Beng­gala. Ia ber­u­luk salam dengan tangan­nya pada orang-orang yang dipa­pasi­nya di jalanan seba­gai­mana adat baru itu dia­jar­kan. Ia tarik senyum pada pasang-pasang mata yang nampak heran meman­da­ng­i­nya: seo­rang ber­ba­dan besar, ber­pa­kaian serba putih dan serba sempit dengan rambut kafir pan­jang ter­u­rai, lang­kah­nya mantap tanpa ragu-ragu, dan meng­iring­kan seo­rang bocah.

Di sawah dan ladang orang memer­lu­kan ber­henti bekerja untuk da-pat meli­hat peman­dangan aneh itu.

Dan si buyung tak ber­u­saha mener­bit­kan kesu­l­itan.

Bebe­rapa desa telah dile­wati. Kemu­dian sam­pai­lah mereka di Rajeg.

Wirang­gal­eng heran meli­hat wajah-wajah yang sudah dike­nal­nya dan sudah menge­nal­nya. Mereka adalah pen­du­duk Tuban Kota yang bia­sa­nya bela­yar atau ber­da­gang. Dan mereka tidak mene­gur­nya, hanya menya­pu­kan pan­dang pada­nya, bahkan mem­ba­las senyum dan salam­nya pun tidak.

Orang-orang yang sedang ber­ca­kap-cakap di ping­gir jalan juga memer­lu­kan ber­henti bicara, meming­gir, mem­be­ri­nya jalan, dan meng­a­was­i­nya dengan mata ber­ta­nya-tanya. Dan Wirang­gal­eng menya­dari betapa sulit kea­da­an­nya.

Sam­pai­lah kedu­a­nya kini di depan sebuah rumah kayu ber­ben­tuk joglo. Pen­do­po­nya juga sebuah rumah joglo ber­a­tap sirap. Tiang-tiang guru ter­buat dari­pada balok-balok kayu bulat ber­jum­lah empat, tanpa ukiran. Lan­tai­nya ter­buat dari­pada tanah liat dike­ras­kan ber­cam­pur pasir. Di tengah-tengah­nya ter­ge­lar tikar lampit dengan sebuah meja rendah di atas­nya.

Tak ada orang ter­da­pat di seki­tar rumah itu.

Ia ber­diri saja dan tak ada nampak kehi­dupan di pen­dopo yang kosong melom­pong itu. Ia heran meng­apa tak ada pen­ja­gaan di rumah dan seki­tar­nya. Waktu ia angkat pan­dang­nya untuk meli­hat susunan kasau, nampak oleh­nya sepo­tong kulit kam­bing ter­pa­ku­kan pada blan­dar depan. Dan pada kulit itu ter­tu­lis tulisan Arab. Barang­kali itu mantra pen­jaga dan peka­rangan, pikir­nya.

Pela­taran depan dan sam­ping-menyam­ping ter­buka luas tiada ter­ta­nami, nam­pak­nya memang sengaja akan dibuat men jadi taman. Dan jauh di bela­kang, mela­lui atap rumah, nampak tajuk pohon-pohon nyiur dari ber­ba­gai umur, terus-mene­rus ber­go­yang geli­sah.

“Nuwun… hasa­lamu halai­ko­o­oom!” sebut­nya.

Si buyung pergi ke bela­kang mela­lui sam­ping rumah.

Cukup lama ia menunggu. Baru muncul yang diha­rap-harap­kan­nya: Ki Aji Beng­gala. Ia ber­pa­kaian serba putih tenunan desa. Dan ia tak menyi­la­kan­nya naik. Dengan lang­kah ragu ia men­de­kati Wirang­gal­eng. ber­henti di depan­nya, mena­tap­nya dengan pan­dang ke bawah. Kedua belah tangan­nya ber­to­lak ping­gang, dan mata itu menyala-nyala gusar: “Wirang­gal­eng!” raung­nya.

“Sahaya, Ki Aji,” ia ber­sim­puh di tanah dan menyem­bah. Dan ia tak meng­erti meng­apa tuan rumah itu mesti mera­ung.

“Ber­pa­kaian putih beram­but pan­jang, datang untuk serah­kan nyawa.”

“Sahaya, Ki Aji.”

“Syah­ban­dar-muda, juara gulat….”

“Sahaya, Ki Aji.”

Dari suara-suara di bela­kang­nya Wirang­gal­eng tahu, bebe­rapa orang sudah ber­diri dengan tombak untuk sewaktu-waktu akan men­jo­joh pung­gung­nya.

“Kau sudah ring­kus pen­jaga-pen­jaga per­ba­ta­san, Ki Aji tak mene­rima apa pun dari siapa pun, apa­lagi hanya orang seba­gai kau?”

“Sahaya, Ki Aji,” dan seki­las dalam tun­duk­nya ia dapat menang­kap sosok tubuh seo­rang wanita gemuk sedang meng­ham­piri Rangga Iskak dari bela­kang. Dialah peno­longku, pin­ta­nya dalam hati. “Sahaya meng­ha­dap hanya seba­gai utusan. Tidak lebih dan tidak kurang.”

“Utusan siapa? Hhh! Kafir-kufur yang ter­kan­tuk-kantuk menunggu datang­nya iblis-iblis Peranggi ter­ku­tuk pula itu?” ia diam dan meno­lak ke bela­kang.

Wirang­gal­eng meng­ang­kat pan­dang dan meli­hat waktu itu menyem­bah pada Rangga Iskak sambil tetap ber­diri, bicara lan­tang dalam bahasa yang ia tak meng­erti. Dan ia lihat Rangga Iskak alias Ki Aji Beng­gala meng­a­wasi wanita itu tajam-tajam, kepa­la­nya meng­ge­leng atau meng­ang­guk. Kemu­dian ia melam­bai­kan tangan menyu­ruh wanita itu pergi. Tetapi yang disu­r­uh­nya manda saja.

“Ya,” kata Ki Aji tiba-tiba lunak pada Wirang­gal­eng, “hanya orang pem­be­rani seperti kau bisa dan berani datang kemari,” ia meng­ang­guk-angguk.

“Sahaya datang bukan seba­gai utusan Gusti Adi­pati, Ki Aji, tetapi Tuan Syah­ban­dar Habi­bul­lah Alma­sawa.”

“Anjing Ispa­nya itu! Begun­dal Peranggi! Bekas Syah­ban­dar Malaka kepa­rat! Ter­lalu lambat orang menge­ta­hu­i­nya.”

Wanita di depan­nya itu menyem­bah Ki Aji dari bela­kang, kemu­dian mene­puk bahu­nya. Kem­bali suara Ki Aji men­jadi lunak.

“Muna­fik kepa­rat!” maki­nya pelan. “Tak ada ampun lagi bagi iblis laknat itu. Datang di Goa, diju­al­nya Goa pada Peranggi. Datang di Mala­bar, diju­al­nya Mala­bar pada Peranggi. Betapa ter­lam­bat orang menge­ta­hui. Datang ke Malaka begitu juga. Datang di Tuban… apa­lagi yang sedang diper­bu­at­nya seka­rang? Dan adi­pa­timu, si goblok yang cuma tahu selir-selir­nya itu, tak tahu ujung dan pang­kal kea­daan….”

“Sahaya hanya seo­rang utusan, Ki Aji Beng­gala.”

Lagi-lagi wanita itu bicara ber­bi­sik pada Ki Aji. Dan kesem­patan itu diper­gu­na­kan­nya untuk menge­lu­ar­kan surat dari Sayid Habi­bul­lah. Ia laku­kan itu dengan sengaja untuk dili­hat oleh Ki Aji. Tetapi orang di depan­nya itu tak meng­gub­ris­nya.

“Per­ke­nan­kan sahaya mem­per­se­m­bah­kan surat ini,” ia ter­paksa menga­ta­kan. Ki Aji meli­hat surat itu dengan ragu-ragu. Wanita di bela­kang­nya nampak mem­be­ri­kan isya­rat dan ber­bi­sik lagi untuk mem­be­ra­ni­kan agar mene­ri­ma­nya.

“.Ya,” gumam­nya kemu­dian, “Nabi pun ber­ki­rim surat pada umat kafir Romawi dan kaisar kafir yang lain. Betul juga kau, Kha­i­dar.” Sua­ra­nya seka­rang meninggi, “Sini surat itu.”

Wirang­gal­eng meman­jang­kan badan dan menyam­pai­kan.

“Bede­bah!” raung Ki Aji. “Ini bukan surat. Ini hanya alasan. Alasan agar kau dapat datang kemari dan memata-matai dae­rahku. Ter­ku­tuk! Laknat! Begun­dal Peranggi kepa­rat! ia remas-remas surat kertas itu dan melem­par­kan­nya pada muka utusan itu. “Jangan kalian kira Peranggi bisa raba bumi ini dengan kete­rang­anmu. Apa lagi Tuban, Tuban yang mau untung­nya saja dari Islam, tapi tak kerja sesu­atu pun untuk­nya.”

“Sahaya hanya seo­rang utusan, Ki Aji,” sembah utusan itu. Dan ia telah menyi­ap­kan diri untuk lari bila kea­daan sema­kin gen­ting.

Wanita itu bicara lagi. Ki Aji Beng­gala men­de­ng­ar­kan, kemu­dian mem­be­ri­kan isya­rat pada Wirang­gal­eng agar menye­rah­kan kem­bali surat ter­e­mas yang telah ter­ka­par di tanah itu. Begitu telah dite­ri­ma­nya, wanita itu meng­am­bil dari tangan­nya dan mem­ba­ca­nya, ter­se­nyum, meng­ang­guk dan meman­dangi Ki Aji sambil ber­ge­leng-geleng. Kata assa­la­mu­a­lai­kum ber­kali-kali keluar dari mulut wanita itu.

Ki Aji Beng­gala kem­bali mena­tap Wirang­gal­eng.

“Surat,” kata­nya meng­ge­rutu, “hanya berisi assa­lamu alai­kum. Lebih tidak,” keke­ra­san yang hampir mele­dak lagi tiba-tiba mereda dari wajah­nya. “Wajib­lah bagimu,” kata­nya lebih pada diri sen­diri, “mem­ba­las­nya. Ya, wajib, di mana pun dan kapan pun dan dari siapa pun datang­nya.”

Ia diam dan nampak ber­pi­kir. Kemu­dian ter­se­nyum dan mem­per­ha­ti­kan si peng­ha­dap di depan­nya tanpa ber­ke­dip.

“Baik,” kata­nya. “Bede­bah Moro itu ber­ha­sil. Dia telah menyam­pai­kan salam damai, begun­dal Peranggi itu.”

“Sahaya hanya seo­rang utusan, Ki Aji. Seka­rang sahaya sedang menunggu balasan untuk sahaya bawa pulang.”

“Kau sedang menye­la­mat­kan teng­kukmu sen­diri rupa­nya, Galeng. Kau memang pandai, licik.”

“Sahaya hanya seo­rang utusan, apalah yang sahaya bisa per­buat selain men­ja­lan­kan perin­tah?”

“Baik. Kau boleh miliki teng­kukmu sen­diri. Aku akan balas surat ini.” ia mere­ngut. “Tunggu kau di situ. Jangan ting­gal­kan tem­patmu. Tombak akan mera­jang kau. Jangan sen­tuh­kan jari-jari najismu pada tangga dan haram jika menge­na­i­nya.”

Ia masuk. Wanita itu masih ber­diri meman­dangi utusan itu tapi tiada ber­kata sesu­atu pun.

Dan lama ia harus menunggu.

Terik matari telah meme­ras keri­ngat dari tubuh­nya. Di sam­ping menyam­ping­nya mulai ber­da­tangan bocah-bocah menon­ton­nya. Ia tetap mene­kuri tanah.

Ki Aji Beng­gala keluar lagi mem­bawa kertas surat.

“Hei, kau, Wirang­gal­eng, sam­pai­kan oleh mulutmu sen­diri pada tuanmu begun­dal Peranggi itu, aku, Ki Aji Beng­gala, Rangga Iskak, Ishak Ind­ra­jit, telah mene­rima surat­nya. Sam­pai­kan: dia harus lak­sa­nakan apa yang aku perin­tah­kan seba­gai­mana ter­mak­tub dalam surat ini. Dia akan tahu apa bakal menimpa dir­i­nya kalau tidak.”

“Sahaya, Ki Aji.”

“Jangan coba-coba meng­a­n­i­aya pen­jaga per­ba­ta­san.”

“Sahaya, Ki Aji.”

“Lepas­kan mereka, kem­ba­li­kan baju mereka.”

“Sahaya, Ki Aji.”

“Pergi!” ben­tak­nya keras. “Ting­gal­kan bumi ini dan jangan balik kalau tak bosan hidup.”

Wirang­gal­eng meng­ang­kat sembah. Sete­lah Ki Aji pergi dalam iringan Kha­i­dar baru ia bang­kit ber­diri, balik kanan jalan, dan… penga­wal-penga­wal ber­baju serba putih itu mena­rik mata tombak mereka dari tubuh­nya dan mem­bi­ar­kan­nya pergi.

“Hasa­lamu alai­ko­o­oom!” ia men­da­hu­lui ber­u­luk salam.

Tak seo­rang pun mem­ba­las­nya. Ber­la­pis-lapis mata tombak meme­nuhi jalanan yang dile­wat­i­nya. Ia terus juga ber­u­luk salam tanpa jawaban.

Mereka mem­bi­ar­kan­nya lewat tanpa gang­guan.


Bab 14

Syahbandar, Idayu dan Gelar

Ia ter­ke­jut. Dili­hat­nya Syah­ban­dar tiba-tiba saja sudah ada di depan­nya. Tong­kat­nya ter­gan­tung pada bahu dan tangan­nya ber­te­puk-tepuk riang. Bong­kok­nya keli­hatan sema­kin men­jadi-jadi dan mata­nya menyala-nyala mener­kam.

“Sela­mat bagimu, Idayu!” kata­nya lunak, memi­kat dan mem­bu­juk seka­li­gus.

Cepat cepat Idayu mene­pis­kan Gelar pada dada, begitu keras sehingga anak itu ter­pe­kik ter­ke­jut dan pengap.

Meli­hat Idayu ter­ke­jut, Tholib Sung­kar ter­tawa meng­hi­bur dengan gerak tangan ramai. Kemu­dian: “Masa begitu saja ter­ke­jut, Idayu!”

Dengan takut ber­cam­pur was­pada wanita itu dengan merang­kul anak­nya men­de­pis pada tiang pintu.

“Meng­apa kau begitu aneh, Idayu?”

“Apa Tuan kehen­daki di sini?” tanya­nya megap-megap. “Biar sahaya pergi ke dapur, mema­sak ber­sama Nyi Gede.”

“Buat apa, Cantik? Guna apa? Nyi Gede masih tidur.”

“Biar­lah sahaya ikut mem­ber­sih­kan taman dengan Paman Marta.”

“Buat apa, Idayu? Bukan peker­ja­anmu mem­ber­sih­kan taman. Lagi pula Paman Marta sedang mengu­rus mayat anak­nya.”

“Kalau begitu, jangan masuki rumah sahaya ini”

“Idayu, Per­mata Tuban, pujaan setiap pria. Betapa murung kau diting­gal­kan suami. Tia­da­kah kau suka ber­se­nang dalam kese­pian yang begini men­ce­kik? Idayu!” Ia ber­te­puk-tepuk dan mene­gak­kan bong­kok­nya.

“Ampuni sahaya, Tuan Sayid. Jangan dekati sahaya, dan jangan masuki rumah sahaya.”

Syah­ban­dar itu ter­tawa senang dan maju selang­kah.

“Apa lagi yang kau tunggu-tunggu, Per­mata?”

“Suami sahaya, Tuan Sayid. Tidak lain dari suami sahaya.”

“Apa kau harap­kan dari sua­mimu?”

“Tiada sesu­atu, kecu­ali kasih dan sayang­nya.”

“Kasihan. Kasih-sayang saja dia tak mampu beri­kan pada tubuh yang semo­lek ini….”

“Kalau dia tidak mampu, tentu doanya saja pun mema­dai, Tuan ” jawab Idayu mulai berani sete­lah ter­be­bas dari kejut.

Gelar dalam pelukan meronta minta kem­bali bebas. Kepa­la­nya meng­ge­leng-geleng dan kaki dan tangan­nya ber­ge­rak binal.

“Meng­apa tak kau lepas­kan anak itu? Biar dia ber­main-main sen­diri seperti bia­sa­nya.”

“Biar­lah dia temani ibunya dalam meng­ha­dapi ayah­nya.”

“Meng­ha­dapi ayah­nya? Meng­apa mesti diha­dapi? Lagi pula dia belum lagi pulang.”

“Ayah tidak pergi, bukan, Gelar? Ayahmu tidak pergi, bukan? Dia sedang di depanmu seka­rang. Itulah macam ayahmu. Dia sedang merayu ibumu.”

“Ayahmu sedang ke peda­laman, Gelar.”

“Ingat-ingat keja­dian ini, Gelar, selama hidupmu.”

Gelar ber­henti meronta, meman­dangi Syah­ban­dar dengan mata ter-heran-heran.

“Mak!” seru­nya kemu­dian.

“Ya. Itulah ayahmu, Nak, kenali dia baik-baik dari dekat.”

Idayu mema­sang Gelar demi­kian rupa sehingga si bocah itu ber­ha­dap-hadapan dengan Syah­ban­dar. Anak itu seba­gai besi berani mena­rik mata lelaki itu. Dua pasang mata itu ber­ta­tapan, yang satu bocah, yang lain sete­ngah baya.

“Ya, Gelar,” Idayu mene­rus­kan, “itu ayahmu sen­diri. Kenali dia, tam­pang­nya, watak­nya, ting­kah-laku­nya….”

Muka Tholib Sung­kar Az-Zubaid merah-padam. Ditu­run­kan tong­kat dari bahu dan dihen­tak­kan di lantai. Waktu ia mem­per­de­ng­ar­kan sua­ra­nya, tak ada perem­puan ber­kata begitu. “Coba, kalau benar, bagai­mana hukum­nya maka dia anakku?”

“Kau dengar sen­diri sua­ra­nya, Gelar. Memang tidak menya­nyi lagi bunyi­nya seperti tadi. Itulah sua­ra­nya yang asli.”

“Jangan ber­ce­ri­cau seperti nuri!” sam­bar­nya beng­keng.

“Deng­ar­kan kata-kata­nya. Begi­tu­lah macam ayahmu, Gelar. Syukur kau hidup sehari-harian seru­mah deng­an­nya. Makin hari kau akan makin kenal….”

“Jangan terus­kan, Idayu,” Syah­ban­dar seka­rang mera­juk.

“… Dan tahu­lah kau siapa dia. Kau akan sema­kin jijik.”

“Idayu, kau ajari anak itu kurang ajar.”

“Dengar, kau, Gelar, dia tak mau diku­rang­a­jari.”

“Idayu diam!”

“Dia belum bisa bicara, Tuan Sayid, biar­lah dia memin­jam dulu kata-kata ibunya’

“Jadi kau ajari dia kurang ajar ter­ha­dapku.”

“Inilah anak Tuan, Tuan Sayid. Bukan­kah Tuan tahu seja­rah kela­hir­an­nya?”

“Bagai­mana seja­rah kela­hir­an­nya? Aku tak tahu. Jangan sebut sekali lagi dia anakku. Tuan Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa tak pernah ber­a­nak-kan dia!” mata­nya mem­be­liak mem­per­i­ng­at­kan.

“Tak ada yang dengar, Tuan, hanya sahaya, Tuan dan anak Tuan sen­diri.”

“Aku tak ber­a­nak­kan dia!” Tholib Sung­kar hampir mem­ben­tak.

“Itu, itulah ayahmu, Gelar, kasihan kau, ayahmu untuk di dunia dan untuk di kemu­dian hari.”

Seakan meng­erti maksud ibunya bocah itu tetap mena­tap Syah­ban­dar seperti lelaki sete­ngah baya itu baru sekali ini dili­hat­nya. Tetapi meli­hat wajah orang itu beru­bah jadi galak, ia men­je­rit keta­kutan.

Idayu kem­bali men­de­kap­nya pada dada. Dengan suara seperti mera­tap ia mene­rus­kan: “Nasibmu, Nak, punya ayah tiada meng­a­kui. Tapi kau harus akui dia. Dasar sudah nasibmu, punya ayah sema­cam itu kela­ku­an­nya….”

“Idayu!”

“… Takut pada ayah sen­diri, seperti takut pada gan­darwa.”

“Sudah, hen­ti­kan igau­anmu. Jangan ulangi. Mari ber­baik, Idayu,” kata­nya lagi mem­bu­juk. “Deng­ar­kan dulu aku, jangan diten­tang juga. Kau ini, Idayu, belum lagi menge­nal dunia.”

“Kau, Nak, anak seo­rang Syah­ban­dar yang menge­nal dunia. Nasibmu, betapa buruk. Meng­gen­dong saja dia tak mau. Nasib.”

“Diam­lah, Idayu. Apa kataku tadi? Kau belum lagi menge­nal dunia.”

“Apalah guna­nya dunia sahaya kenal, kalau hanya seperti yang Tuan lihat?”

“Hai­yaaa.”

Mereka masih juga ber­diri ber­ha­dap-hadapan di depan pintu kamar di serambi. Mereka ber­ha­dap-hadapan, masing-masing ber­u­saha tunduk-menun­duk­kan tanpa keke­ra­san.

“Itulah, Idayu, itulah, justru karena tak kenal dunia, kau anggap semua sudah men­cu­kupi.”

“Hidup sahaya telah men­cu­kupi, Tuan Sayid, dengan kasih-sayang suami sahaya, si Galeng anak desa yang bodoh itu.”

“Husy. Deng­ar­kan dulu aku. Kau biar­kan sua­mimu yang seo­rang itu selalu mening­gal­kan kau. Kau belum lagi… jangan sela dulu aku, kau belum lagi tahu negeri-negeri orang lain.”

“Apalah guna­nya?”

Tholib Sung­kar Az-Zubaid ter­tawa ramah. Ia tegak­kan bong­kok­nya dan menyang­kut­kan tong­kat kem­bali ke atas bahu, kemu­dian ber­te­puk-tepuk: “Kalau di negeri lain sana, Idayu, pas­ti­lah kau akan jadi ratu.”

“Huh!” Idayu ber­pa­ling mele­ceh­kan.

“… Tidak jadi istri seo­rang Galeng yang selalu pergi, mem­bi­ar­kan kau merana dalam menunggu.”

“Sahaya perem­puan Tuban, Tuan Sayid, yang ber­ba­ha­gia menunggu suami pulang.”

“Jangan kau jadi bodoh seperti perem­puan Tuban lain. Cer­dik­lah sedi­kit,” ia maju sete­ngah lang­kah.

“Dalam menunggu suami pulang sahaya ber­ba­ha­gia.”

“Mak, turun, Mak,” pinta Gelar.

“Jangan, Nak, temani dulu emakmu.”

Gelar meronta lagi minta turun dan Idayu mem­bi­ar­kan­nya turun. Dan bocah itu lari girang ke pela­taran memang­gil-mang­gil Nyi Gede Kati. Ia lang­sung menuju ke dapur.

Tholib Sung­kar ber­seri-seri dan maju lagi seper­em­pat lang­kah: “Jangan bohongi aku. Tak ada orang ber­ba­ha­gia karena menunggu. Tak ada keseng­sa­raan lebih men­ce­kik dari­pada menunggu. Malah, Idayu, kau tak tahu pula apa yang diker­ja­kan sua­mimu. Apa­lagi seka­rang.” Meli­hat penari itu men­de­ng­ar­kan ia sema­kin berani, “Peker­ja­an­nya berat. Bukan hanya berat, ber­ba­haya. Setiap waktu bisa mati. Apa­lagi seka­rang ini. Mung­kin ia takkan kem­bali lagi untuk selama-lama­nya….”

“Apalah yang sahaya herani bila suami mati?”

“Jadi kau meng­ha­rap­kan dia mati?”

“Apakah hebat­nya kema­tian, Tuan Sayid? Tia­da­kah pernah ter­de­ngar oleh Tuan betapa di peda­laman sana wanita melom­pat ke dalam api untuk dapat meng­i­kuti suami yang men­da­hu­lui mati? Tidak­kah pernah Tuan dengar? Di Tuban Kota memang sudah tidak keja­dian lagi. Per­gi­lah ke peda­laman.”

“Jangan, Idayu. Semua orang tahu. Tapi jangan laku­kan. Betapa bodoh orang mem­bi­ar­kan kecan­ti­kan dan kemo­lekan seperti ini punah dima­kan api,” larangan sambil men­de­kat lagi.

“Jangan lebih dekat, Tuan Sayid, dan jangan coba-coba masuki rumahku,” Idayu mem­per­i­ng­at­kan. “Sahaya sedang jaga, tidak mimpi dalam tidur.”

“Apakah kebe­rat­anmu selama tempat ini jadi bagian dari kesyah­ban­daran? Dan isinya pun dalam keku­a­sa­anku?”

“Sahaya bilang: jangan.”

“Layani aku, Idayu, lupa­kan sua­mimu.”

Syah­ban­dar melang­kah mener­jang hadangan Idayu sambil mena­rik wanita itu masuk ke dalam kamar.

Idayu meronta mele­pas­kan diri. Tak ter­de­ngar oleh­nya Gelar memang­gil-mang­gil dari sesu­atu jarak.

Syah­ban­dar ber­u­saha menang­kap­nya lagi. “Bodoh!” gumam Syah­ban­dar.

“Kurang hormat apakah perem­puan bodoh ini?” kata Idayu cepat-cepat dan ter­e­ngah-engah. “Tuan Sayid, keluar dari sini!” dengan cun­drik telan­jang di tangan wanita itu meng­an­cam. Syah­ban­dar itu ter­ke­jut dan undur keluar dari kamar. Naluri bela­diri menye­bab­kan dengan sen­di­r­i­nya ia meng­ang­kat tong­kat dan meng­a­mang­kan, meng­an­cam: “Di mana pun begitu mesti bisa ditun­duk­kan,” ia ter­tawa mele­ceh­kan, “apa lagi, kau, Idayu. Sampai di mana keku­at­anmu? Kalau kupu­kul kau, keris-kecilmu takkan ber­daya, kecan­ti­kanmu akan rusak untuk selama-lama­nya. Takkan lagi yang bakal menga­gumi kau.

“Pukul­lah, Tuan.”

Tetapi lelaki itu mene­rus­kan geru­tu­nya tanpa meng­ha­rap­kan jawaban: “Apa yang kau andal­kan? Wirang­gal­eng? Kese­ti­a­an­nya padamu? Hah! Mung­kin dia seka­rang sudah ter­ka­par dima­kan cacing tanah, ting­gal tulang-tulang beran­takan ter­ma­kan anjing.”

“Memang itulah yang Tuan kehen­daki.”

“… Dan bila dia toh balik lagi kemari, deng­ar­kan kau, perem­puan bodoh, bila dia toh balik, segar dan sela­mat… kau, tidak lain dari kau yang bakal celaka. Keris­nya akan tem­busi dadamu. Akan dimi­num­nya darahmu seperti dia minum tuak. Dibu­ang­nya mayatmu tanpa upa­cara.”

“Jadi apa sesung­guh­nya yang Tuan Sayid harap­kan dari sahaya?” Idayu ber­ta­nya bodoh.

“Sing­kir­kan cun­drik itu. Buang jauh-jauh di pela­taran sana! Bagai­mana kau tak tahu apa yang ku kehen­daki?”

“Kalau soal­nya cuma itu, Tuan Sayid, betapa seder­hana kei­ng­inan Tuan.”

“Masih juga kau ber­ce­ri­cau!”

“Mari sahaya ceri­tai, Tuan,” Idayu ber­ma­nis-manis. “Barang­kali Tuan mau men­de­ng­ar­kan.”

Tholib Sung­kar meng­en­dor­kan pegang­an­nya pada tong­kat­nya. Mata­nya tetap was­pada mem­per­ha­ti­kan tangan Idayu yang masih juga meng­a­mang­kan sen­ja­t­a­nya.

“Apa ceri­tamu, Idayu?”

“Cerita sahaya, Tuan, betapa seder­hana memi­lih bagai­mana cara ber­la­wan atau mati.”

“Kau tetap mela­wan aku, Idayu?”

“Sahaya sedang mela­wan, Tuan.”

“Keris Wira akan menem­busi dadamu!”

“Apalah salah­nya. Tapi sebe­lum itu dari mulut Tuan sen­diri ingin sahaya dengar, dengan mata sahaya sen­diri ingin meli­hat, Tuan sudi meng­a­kui Gelar seba­gai anak Tuan sen­diri, karena memang dia anak Tuan.”

“Tiada aku ber­a­nak­kan dia!” lelaki itu mem­ben­tak.

“Keluar!” pekik Idayu. “Takkan ada orang datang meno­long aku, pun tak ada orang bakal meno­long Tuan. Keluar! Sahaya tak meng­u­langi kata-kata sahaya.”

Idayu melang­kah dan lelaki itu dengan sen­di­r­i­nya ber­si­aga dengan tong­kat­nya.

Tholib Sung­kar tak juga ber­an­jak dari tem­pat­nya.

Idayu melom­pat maju sambil menye­rang dengan cun­drik­nya. Syah­ban­dar melom­pat ke sam­ping, meng­e­lak. Wanita itu meni­kam dari sam­ping. Syah­ban­dar melom­pat lagi dan meng­a­yun­kan pukulan pada tangan lawan­nya yang ber­cun­drik. Idayu mena­rik tangan dan ber­pu­tar meni­kam pung­gung. Lelaki itu melom­pat ke depan dan lari mening­gal­kan kamar, mening­gal­kan serambi. Lengan baju­nya sobek dan darah meme­rahi seki­tar sobe­kan.

Pang­gilan Gelar sema­kin ter­de­ngar men­de­kat. Idayu keluar ke serambi, meli­hat ke sana-sini men­cari-cari anak­nya. Tak ada dili­hat­nya lelaki bong­kok itu. Yang muncul adalah Gelar yang masih juga memang­gil-mang­gil. Ia masuk­kan kem­bali sen­jata itu ke dalam sarung dan ia selit-kan pada sang­gul. Kemu­dian ia ber­jong­kok menyam­but anak­nya.

Dengan sekali reng­gut Gelar telah berada dalam gen­do­ngan, dalam pelukan. Ia men­ci­um­i­nya ber­kali-kali.

“Nasibmu, Nak, nasibmu. Seo­rang ayah pun tiada meng­a­ku­imu.”

Gelar meme­luk leher ibunya.

“Sayang kau pada emak?”

Gelar mengen­cang­kan peluk­an­nya.


Bab 15

Perjalanan Sepucuk Surat Rahasia

Dili­hat­nya Sang Patih sedang diha­dap oleh Syah­ban­dar lang­sung, ia ber­ja­lan mela­lui sam­ping kepa­ti­han ke bela­kang. Ada ter­de­ngar oleh­nya sepo­tong kata-kata Syah­ban­dar dalam Melayu: “… tak ada hak patik untuk meng­u­sir­nya….”

Ia ber­henti dan ter­de­ngar suara Sang Patih: “Siapa bilang kami meng­u­sir atau meme­rin­tah­kan meng­u­sir? Patih Tuban meng­un­dang mereka kemari. Kami tahu mereka penem­bak meriam. Maka itu kami meng­un­dang mereka.”

Wirang­gal­eng mene­rus­kan jalan­nya dan masuk ke dapur kepa­ti­han untuk meng­hi­lang­kan lapar dan dahaga. Begitu Syah­ban­dar pergi ia datang meng­ha­dap. Sang Patih duduk di atas bangku kayu sedang mengi­pas-kipas badan. Meli­hat Syah­ban­dar-muda datang ia ter­se­nyum senang dan menyi­la­kan­nya duduk.

“Kau nampak agak kurus, Wira. Pasti ter­lalu berat per­ja­lan­anmu.” Dan belum lagi peng­ha­dap itu ber­se­m­bah ia telah mene­rus­kan, “Pasti kau lihat tadi Syah­ban­dar habis meng­ha­dap. Diper­gu­na­kan­nya segala alasan untuk meng­ha­langi orang-orang Peranggi petu­a­lang itu datang meng­ha­dap kemari. Apa boleh buat. Gusti Adi­pati ber­ke­nan mem­be­ri­kan per­lin­dungan, dengan dugaan mereka mau meng­a­jar mem­bi­kin meriam. Telah kami per­se­m­bah­kan petu­a­langan mereka di Lao Sam. Sia-sia, Wira. Jangan­kan Peranggi mau mem­bagi ilmu­nya, orang Tiong­hoa di sini saja segan meng­a­jar mem­bi­kin kertas. Kata­nya kau sudah pernah meli­hat orang-orang Peranggi itu. Bagai­mana pen­da­patmu? Ah-ya, nanti dulu, mereka toh masih berada di bawah per­lin­dungan Syah­ban­dar. Bagai­mana keper­gi­anmu?”

Dan Wirang­gal­eng ber­se­m­bah.

“Jadi sudah jelas Rangga Iskak memang hendak ber­ting­kah. Dia telah bikin kawula Tuban mem­bang­kang dan mela­wan. Mana surat itu?”

Meli­hat surat itu ber­tu­lisan Arab ia hanya meng­ang­guk.

“Kami tahu kau masih lelah dan rindu pula pada kelu­ar­gamu. Apa boleh buat, Wira, peker­jaan ini harus kau sele­sai­kan sen­diri. Pergi kau ke Bonang dan pang­gil meng­ha­dap Mashud ber­sama deng­anmu.”

Dengan seekor kuda kepa­ti­han ia berang­kat ke Bonang dan kee­sok­an­nya meng­ha­dap lagi ber­sama Mashud.

“Bapa Mashud,” kata Sang Patih, “kami perin­tah­kan padamu mem­baca surat Arab ini baris demi baris dan ter­je­mah­kan baris demi baris pula.”

Mashud mem­baca baris demi baris dan mener­je­mah­kan: “Sela­mat bagimu,” seba­ris lagi, “Dilim­pah­kan oleh Allah kira­nya padamu taufik dan hida­yat­nya,” seba­ris lagi, “Dija­uh­kan Tuan kira­nya dari jila­tan api neraka,” selan­jut­nya, “Kecu­ali bila kau laku­kan hal-hal yang diwa­jib­kan kepa­damu untuk mengem­bang­kan dan menyam­pai­kan, melin­dungi mem­per­ta­han­kan dan meng­a­mal­kan,” seba­ris lagi, “Maka itu ker­ja­kan apa yang kami sebut­kan di bawah ini….”

Mashud tiba-tiba ter­diam. Muka­nya pucat. Tangan dan bibir­nya meng­ge­le­tar. Mata­nya liar ke mana-mana seperti keran­jingan.

“Meng­apa, Bapa Mashud?”

Orang kurus tinggi ber­so­r­ban tebal itu mene­lan ludah dan mene­rus­kan. Tetapi kata-kata­nya sudah tak jelas lagi arti­nya.

Sang Patih meme­rin­tah­kan­nya ber­henti dan menyu­r­uh­nya pergi, dan ia pergi masih dalam kea­daan pucat dan gugup. Seo­rang per­wira meng­ha­dap­kan pada Sang Patih guru dari­pada Mashud. Ia seo­rang Campa yang sudah lama ting­gal di Malaka, ber­nama Jamhur Tenga, barang­kali seumur hidup selalu meng­gu­na­kan jubah coklat dan sorban coklat pula.

Dengan tenang dan per­caya diri ia mulai mener­je­mah­kan, baris demi baris. Sampai pada baris yang memu­cat­kan Mashud ia men­jadi gugup dan menub­ruk-nubruk, sedang ter­je­mah­an­nya ber­beda jauh dari Mashud. Sang Patih meng­ang­guk dan meme­rin­tah­kan­nya pergi.

Seo­rang per­wira lain meng­ha­dap­kan seo­rang Melayu pela­rian dari Malaka, telah keha­bisan modal dan kehi­langan kapal. Ia telah diam­bil sewaktu sedang ber­siap-siap hendak pindah ke peda­laman. Ia tak ber­ju­bah tak ber­so­r­ban, tetapi ber­pa­kaian Pri­bumi Tuban. Ia meng­ha­dap dalam kea­daan sete­ngah mati keta­kutan. Ia ber­nama Kamang Sani.

Ter­je­mah­an­nya mulai baris yang memu­cat­kan itu tiada kesa­maan baik dengan Mashud atau­pun Jamhur Tenga.

Sang Patih meme­rin­tah­kan­nya pergi.

“Jadi kau sen­diri tahu, Wira, ada raha­sia ter­kan­dung di dalam­nya. Raha­sia ini meng­i­kat Rangga Iskak dengan para pener­je­mah pada satu pihak dan Rangga Iskak dengan Syah­ban­dar Tuban pada lain pihak. Di sebe­lah sana lagi ada Peranggi. Di sam­ping­nya ada peru­suh yang menen­tang Tuban ”

Sang Patih memu­tar­kan tinju dalam geng­gaman tangan yang lain.

“Aneh, Rangga Iskak ber­mu­suhan dengan Syah­ban­dar, juga ber­mu­suhan dengan Peranggi, juga ber­mu­suhan dengan Tuban. Syah­ban­dar ber­mu­suhan dengan Rangga Iskak dan kami men­cu­r­i­ga­i­nya ber­sa­ha­bat dengan Peranggi.”

“Barang tentu surat gawat, Gusti.”

“Pergi kau seka­rang juga ke Gresik. Cari­kan ter­je­mahan yang benar. Jangan kau tunda-tunda tugasmu.”

Dan dengan demi­kian men­da­rat­lah Wirang­gal­eng di bandar Gresik.

Bandar itu tidak sein­dah Tuban, namun masih lebih ramai, juga pasar dan per­da­gang­an­nya. Di masa-masa yang lalu peran­an­nya jauh lebih pen­ting dari­pada Tuban, dan sampai seka­rang pun masih bandar ter­be­sar di Jawa. Sebe­lum Por­tu­gis men­du­duki Malaka dan Maluku, seba­gian ter­be­sar rempah-rempah Maluku datang kemari, dari sini ber­pe­cahan ke selu­ruh bandar di Jawa dan dunia.

Tiga ratus tahun sete­lah men­jadi bandar tanpa tuan, mulai abad ke sepu­luh Masehi, pela­buhan ini diper­gu­na­kan oleh Sri Baginda Teguh Dar-mawangsa men­jadi pang­kalan ang­katan laut kera­jaan Daha. Pada per­te­ngahan abad ke sebe­las Masehi men­da­pat pra­sa­sti peng­har­gaan dari Sri Baginda Erlangga seba­gai­mana halnya dengan Tuban dan bukan saja men­jadi pang­kalan Ang­katan laut, juga pela­buhan dagang antara Jawa dan Bali, Nusa Teng­gara, Maluku dan Sula­wesi. Dari Gresik ini pula seba­gian ang­katan laut Maja­pa­hit muncul untuk men­ca­pai daratan Asia dan Afrika.

Dan seperti halnya dengan Sema­rang dan Lao Sam, juga Gresik pada mula­nya diba­ngun men­jadi bandar oleh pen­da­tang-pen­da­tang dari Tiong­kok. Sete­lah jatuh­nya Maja­pa­hit pada 1478 Masehi, Gresik berada dalam kea­daan tanpa tuan lagi. Tetapi per­da­gangan ber­ja­lan terus seakan-akan jatuh­nya keku­a­saan poli­tik itu tiada mem­pu­nyai sesu­atu penga­ruh ter­ha­dap pela­yaran dan per­da­gangan, seba­gai­mana sebe­lum diku­a­sai oleh Sri Baginda Teguh Dar­ma­wangsa.

Satu keku­a­saan yang kemu­dian timbul lagi adalah justru karena ingin mengu­a­sai bandar dan keun­tung­an­nya ini. Bebe­rapa orang yang meng­aku ketu­runan Bre Wijaya Purwa wisesa ber­ten­tangan dan ber­pe­rang satu-sama-lain sampai akhir­nya balat­en­tara Giri Daha­na­pura turun dari Blam-bangan mela­ku­kan pameran mil­iter mema­suki wila­yah inti Maja­pa­hit, mem­bung­kam keku­atan-keku­atan kecil yang ber­ta­rung mem­per­e­but­kan Gresik. Raja Blam­bangan Hindu, Rana­wi­jaya Gir­in­dra War­d­hana sejak tahun 1485 mengu­a­sai Gresik seba­gai bawahan Giri Daha­na­pura atau Blam­bangan.

Gresik yang ber­pin­dah-pindah tangan itu tetap ber­kem­bang tanpa keru­sakan. Usaha Rana­wi­jaya untuk memin­dah­kan Gresik ke bandar-ban­dar­nya sen­diri, Pana­ru­kan dan Pasu­r­uhan, tidak pernah ber­ha­sil. Pameran mil­iter yang ter­lalu mahal itu akhir­nya dita­rik kem­bali dengan Gresik dalam kea­daan utuh.

Kea­daan memang agak leng­ang waktu Wirang­gal­eng men­da­rat. Namun jauh lebih sibuk dari­pada Tuban. Orang-orang beram­but pan­jang di sini jauh lebih sedi­kit, dapat dika­ta­kan ting­gal satu-dua. Orang yang menge­na­kan baju juga jauh lebih banyak, menan­da­kan golongan satria tidak lagi begitu ber­ku­asa, dan kehi­dupan lebih banyak diku­a­sai oleh kaum peda­gang Islam. Pen­du­duk sudah banyak menge­na­kan terom­pah seperti para pen­dita di peda­laman, ter­buat dari­pada kulit kayu, pele­pah atau kulit kam­bing mentah.

Dan Wirang­gal­eng ter­he­ran-heran meli­hat betapa sedi­kit orang yang ber­kain batik. Orang lebih banyak menge­na­kan pakaian polos putih, wulung atau geng­gang, semua tenunan desa. Orang-orang ber­tom­bak dan ber­pe­dang sama sekali tidak keli­hatan di pela­buhan, seakan-akan golongan satria memang sudah tak punya sesu­atu keku­a­saan.

Sete­lah men­da­pat izin masuk segera ia men­cari-cari kete­rangan. Tapi pan­dang mata yang ter­tuju pada­nya seperti mem­per­ha­ti­kan seekor bina­tang aneh yang ter­le­pas dari kan­dang. Di suatu tempat yang ter­lin­dung ia ter­paksa meng­ge­lung rambut dan menu­tup­i­nya sama sekali dengan destar. Dibe­li­nya selem­bar sarong dan dika­lung­kan­nya ter­gan­tung di ten­tang dada seperti kebi­a­saan orang setem­pat. Baru ia merasa dapat ber­ge­rak agak lelu­asa.

Ter­nyata tidak semu­dah itu ia dapat mengu­a­sa­kan agar tidak men­jadi per­ha­tian umum. Rambut sepan­jang itu, bagai­man­a­pun ia sem­bu­nyi­kan ter­nyata tetap mena­rik orang. Tiga hari lama­nya ia ber­pi­kir untuk men­da­pat jalan keluar. Maka ia pun ber­pu­asa memo­hon ampun dari para dewa dan para lelu­hur, pada Hyang Widhi, dan dimin­ta­nya seo­rang untuk men­cu­kur ram­but­nya.

Itu pun ter­nyata tak semu­dah duga­an­nya untuk melak­sa­nakan. Tak ada orang ber­se­dia memo­tong rambut pan­jang seo­rang kafir, karena ada orang dan tempat ter­tentu untuk itu. Kalau tidak para lelu­hur akan gusar, kata­nya, baik yang dipang­kas atau­pun yang memang­kas bisa ter­kena kutuk. Dan tempat pemang­ka­san adalah pesan­tren. Kemu­dian ia keta­hui pesan­tren adalah tempat para santre, dan santre sen­diri tidak lain dari ucapan guru agama dari sebe­rang untuk can­trek. Ki Aji, yang arti­nya yang ter­hor­mat, di sini pun telah mulai beru­bah bunyi­nya jadi Kiai oleh guru-guru agama dari sebe­rang itu pula.

Ia pergi ke sebuah pesan­tren, yang ter­nyata adalah sebuah asrama pen­di­dikan. Dan untuk keper­luan itu ia sudah laku­kan satu keke­li­ruan.

Semes­ti­nya ia tidak datang seo­rang diri seba­gai seo­rang yang beram­but pan­jang. Harus dian­tar­kan oleh sanak-kelu­arga yang menya­ta­kan kere­laan akan pemo­tongan rambut itu. Bila sanak-kelu­arga meno­lak, baru orang boleh mem­bawa teman-teman­nya seba­gai saksi. Di sam­ping itu masih ada lagi sya­rat­nya: seekor ayam jantan putih, beras tujuh tem­pu­rung dan tiga depa bahan pakaian putih.

Justru tanpa syarat dan peng­an­tar pada suatu hari ia datang ke sebuah pesan­tren ter­de­kat pada bandar Gresik.

Ia dite­rima oleh seo­rang bocah yang kontan meno­lak meng­ha­dap­kan­nya pada seo­rang pemang­kas. Anak itu meng­a­was­i­nya dengan curiga, bahkan men­ja­wab per­ta­nyaan dan per­min­ta­an­nya pun segan.

Ia memaksa diri men­de­kati salah sebuah dari peru­mahan yang ada dan mene­mui orang lain. Lelaki dewasa ber­ka­lung sarong itu mene­gur­nya: “Hei, rambut pan­jang, apa keper­lu­anmu?”

“Sahaya ber­mak­sud men­cu­kur­kan rambut,” jawab­nya meren­dah.

“Manakah sak­simu yang mem­beri kere­laan dan men­de­ngar kau meng­u­cap­kan kali­mah sya­h­a­dad? Mana pula syarat untuk hajad?”

Ia tidak meng­erti kata-kata aneh itu dan minta dite­rang­kan.

“Tiada sahaya ber­saksi, tiada pula ber­sya­rat.”

“Tentu kau datang dari jauh untuk men­de­ng­ar­kan pang­gilan ini. Mari aku potong ram­butmu.”

Dan rambut itu pun dipo­tong sambil Wirang­gal­eng meni­ru­kan kata-kata aneh yang digu­mam­kan oleh si pemang­kas. Peker­jaan itu sen­diri tak lama karena memang tidak dila­ku­kan secara sebaik-baik­nya, hanya seka­dar memen­dek­kan sejari dari kulit kepala.

“Apa lagi yang kau kehen­daki?” tanya­nya lagi. “Rambut itu boleh kau buang ke kali.”

Buru-buru Wirang­gal­eng mengum­pul­kan potongan rambut dan disim­pan­nya di dalam sarong. Ia akan mena­nam­nya kelak dengan upa­cara di sesu­atu tempat yang patut untuk itu dengan memo­hon ampun dari para lelu­hur, para dewa dan Hyang Widhi.

“Kalau tak ada yang kau kehen­daki lagi, kau boleh pergi. Aku pun masih banyak peker­jaan. Siapa namamu?”

“Itung.”

“Nah, Itung, kau seka­rang sudah hampir sepe­nuh­nya Islam, per­gu­na­kan seka­rang nama Islam, Salasa. Bisa meng­ha­fal­nya? Salasa, karena kau datang kemari pada hari ke tiga.”

“Salasa.”

“Pulang­lah dengan sela­mat.”

“Boleh­kah kira­nya sahaya…,” ia tak tahu bagai­mana menye­but orang itu, “diper­ke­nan­kan bel­a­jar agama baru di sini?”

“Baha­samu baik, tentu kau sudah pernah meng­i­kuti pen­di­dikan.

Tentu saja kau boleh bel­a­jar di sini’ orang itu ter­tawa ramah, meng­ang­guk dan meman­da­ng­i­nya dengan kasihan. “Setiap orang yang sudah beram­but pendek boleh bel­a­jar di sini, ting­gal di sini, makan dan kerja di sini, selama dia suka dan ber­ke­la­kuan baik.”

“Kalau sudah tidak suka lagi?”

“Ya, boleh pergi setiap waktu, minta diri secara baik-baik seba­gai­mana datang­nya. Benar-benar kau mau bel­a­jar? Jadi santre?”

Wirang­gal­eng meng­ang­guk mengi­a­kan.

“Kalau begitu mari aku antar­kan kau ke tem­patmu.”

Seperti seekor kam­bing yang ter­tun­tun Syah­ban­dar-muda itu meng­i­kut­i­nya masuk ke sebuah pondok. Di dalam­nya disu­sun ambin-ambin seperti dalam asrama di peda­laman. Tapi tak ada seo­rang pun nampak di dalam.

“Kau boleh ambil tempat kosong itu, Salasa.”

Wirang­gal­eng tidak pergi ke tempat yang ditun­juk. Ia ber­diri saja, malah menge­lu­ar­kan surat Rangga Iskak dan ber­kata: “Surat inilah sebe­nar­nya yang mem­bawa sahaya kemari. Sahaya per­caya ini ajimat luar biasa, tetapi sahaya tak tahu tuah apa ter­kan­dung di dalam­nya. Tolong­lah jawa­kan tulisan ini pada sahaya.” Orang itu mene­rima surat itu dan meng­a­was­i­nya dengan ter­he­ran-heran.

“Ini surat baru, di atas kertas, bukan lontar. Dari mana kau dapat?”

“Jauh, jauh dari sini.”

“Aku sen­diri tak bisa men­ja­wa­kan. Mari aku antar­kan pada Bapa Kiai.”

Sekali lagi ia meng­i­kuti orang itu seperti seekor kam­bing dalam tun­tunan. Dan masuk­lah mereka ke dalam sebuah ruangan yang ber­ge­la­dak pelu­puh. Orang yang dise­but Bapa Kiai itu duduk meng­ha­dapi meja lipat, sedang di atas­nya ter­buka sebuah kitab lebar. Tak ada orang lain menyer­ta­i­nya.

Meli­hat ada orang masuk ia ber­henti menya­nyi­kan baca­an­nya dan menu­tup kitab­nya, mene­gur dalam Melayu: “Allah mem­ber­ka­h­imu dengan kese­la­matan, anakku. Ada keper­luan apa maka kau datang meng­ha­dap?”

Peng­an­tar itu men­ja­wa­kan, dan dalam Melayu men­ja­wab­kan Wirang­gal­eng sambil meng­u­lu­r­kan surat tulisan Arab.

Juara gulat itu duduk di atas gela­dak pelu­puh mem­per­ha­ti­kan wajah Bapa Kiai. Betul juga duga­an­nya, kira-kira sampai pada baris yang menge­jut­kan Bapa Kiai nampak tegang, ber­diri, men­de­kat­i­nya dan ber­ta­nya ter­bata-bata: “Dari mana kau per­o­leh surat ajimat ini?” dan peng­an­tar men­ja­wa­kan.

“Nun di ping­gir jalan di desa sahaya.”

“Di mana desamu?”

“Jauh, jauh dari sini, kira-kira tujuh hari per­ja­lanan, mung­kin lebih.”

“Nama, nama desamu.”

“Kuda, Bapa Kiai, Kuda Kon­dang.”

“Kabu­pa­ten mana itu anakku?”

“Boja­ne­gara, Bapa Kiai.”

“Sedang ada apa di desamu?”

“Tak ada apa-apa, Bapa, hanya panen.”

“Atau di dekat-dekat desamu?”

“Juga tak ada apa-apa, Bapa.”

“Tidak mung­kin, pasti ada ter­jadi sesu­atu.”

“Apakah kira­nya isi ajimat itu, Bapa Kiai?”

Bapak Kiai yang nam­pak­nya masih muda itu meng­a­wasi Wirang­gal­eng, menak­sir-naksir badan­nya yang besar. Sua­ra­nya beru­bah men­cu­r­i­gai: “Kau belum patut menge­ta­hui, Nak,” jawab­nya curiga. “Biar aku simpan surat ini, ter­lalu amat ber­ba­haya disim­pan oleh orang seperti kau.”

“Itu sahaya punya, Bapa Kiai.”

“Bukan­kah sudah aku kata­kan? Ini tidak tepat kau simpan, apa­lagi kau miliki. Kau bisa ter­kena tulah.”

Meli­hat Ki Aji kem­bali pada meja-lipat­nya hendak mema­suk­kan surat itu ke dalam kitab, ia melom­pat. Ditang­kap­nya tangan itu dan dir­am­pas­nya kem­bali surat itu. Bapa Kiai meme­kik. Wirang­gal­eng meng­u­guh mulut­nya. Peng­an­tar itu lari keta­kutan sambil meme­kik-mekik minta tolong. Dan seka­rang giliran Wirang­gal­eng untuk juga mela­ri­kan diri. Tanpa meno­leh lagi ia lang­sung mening­gal­kan tempat itu. Para santre lain­nya sedang bekerja di sawah atau ladang. Dan tak ada di antara mereka yang ber­tom­bak atau ber­pe­dang. Mereka takkan dapat meng­ha­lang-halang­i­nya.

Sete­lah jauh ia ber­te­duh di bawah seba­tang pohon menge­nang­kan kega­gal­an­nya. Ia takkan menem­puh jalan yang sama. Ia akan men­cari pesan­tren lain, satu dengan lain tidak sela­ma­nya ber­sa­ha­bat. Per­mu­suhan sering timbul di antara mereka, dan kadang ber­a­ki­bat ben­trokan, malahan perang kecil.

Ia merasa aman. Ia ber­ja­lan pelan-pelan sete­lah men­da­pat­kan napas­nya kem­bali. Dira­sa­i­nya kepa­la­nya begitu ringan seakan ikat kepa­la­nya mele­kat pada teng­ko­rak­nya. Ingat bahwa ram­but­nya telah ter­po­tong ia merasa menye­sal. Dira­sa­i­nya suatu kesa­daran meng­hen­ti­kan selu­ruh peker­jaan otot­nya. Ia men­cari tempat ber­te­duh lagi di tepi jalan dan men­coba meng­i­kuti gerak kesa­dar­an­nya.

Benar­kah aku seka­rang sudah Islam? Muslim? Ber­nama Salasa?

Ia tenang­kan piki­ran dan pera­saan. Ia resap­kan kem­bali kesan-kesan yang baru dia­lam­i­nya. Aku masih tetap seperti kema­rin, hanya kepa­laku saja terasa ringan tak beram­but.

Tapi kau telah ucap­kan mantra orang Islam itu, satu peng­a­kuan, satu kesak­sian kau sudah Islam, Muslim seperti yang lain.

Tidak, aku masih tetap seperti kema­rin.

Tunggu, coba­lah rasa­kan per­be­da­an­nya, jangan kesa­ma­an­nya.

Tidak beda. Beda! Tidak. Beda!

Ram­butmu telah pendek dan kau telah gele­tar­kan mela­lui lidah dan bibirmu sen­diri, dengan kema­uan sen­diri siapa dewa dan pemim­pinmu yang baru.

Tidak, aku masih tetap seperti kema­rin.

Kau bohong! Tak ada yang memaksa kau memo­tong rambut dan meng­u­cap­kan mantra itu. Semua atas kema­u­anmu sen­diri. Kau, tak lain dari kau sen­diri, dengan sepe­nge­ta­hu­anmu sen­diri, dengan lidah dan sua­ramu sen­diri.

Diam kau! Tidak­kah kau tahu, aku sedang men­cari ter­je­mahan? Gerak lidah itu telah padam, suara itu telah beku dan ram­butku bakal tumbuh lagi, dua minggu dan dia akan mulai pan­jang.

Diam kau! Tidak­kah kau dapat jujur ter­ha­dap diri sen­diri? Kau sudah Islam. Kau harus akui kebe­naran ini.

Pusing karena per­ti­kaian di dalam diri sen­diri ia melom­pat ber­diri dan mene­rus­kan per­ja­lanan. Lang­kah­nya makin lama makin cepat. Piki­ran­nya dia­lih­kan pada soal-soal lain. Apakah aku harus laku­kan keke­ra­san di pesan­tren baru nanti? Apakah aku harus mening­gal­kan keben­cian orang ter­ha­dap diriku? Ter­i­ngat ia pada Liem Mo Han: Wira, Tuan adalah orang ber­ba­ha­gia, karena dicin­tai dan dihor­mati orang banyak. Dan di Gresik sini? Tak ada orang men­cin­tai dan meng­hor­mati aku. Tidak ber­ba­ha­gi­a­kah aku?

Ia merasa-rasa­kan. Dan ia tetap masih merasa ber­ba­ha­gia.

Keba­ha­gi­a­anmu tak lain dari pesa­ngon cinta dan hormat orang di Tuban sana, seakan Liem Mo Han mene­rus­kan kata-kata­nya.

Kemu­dian Rama Clu­r­ing muncul di depan mata batin­nya, meng­a­cu­kan jari pada­nya dan ber­kata: aku tak mem­bu­tuh­kan cinta dan hormat kalian; selama kata-kataku hidup dalam hatimu, itu sudah cukup bagiku.

Dia tidak mem­bu­tuh­kan­nya, seakan Liem Mo Han ber­seru, karena dia tidak hidup dalam zaman­nya sen­diri atau zaman orang lain; dia tidak ber-zaman, dia hanya suara.

Ia melang­kah cepat. Pan­dang­nya dite­bar­kan­nya ke mana-mana untuk menge­bas­kan segala yang ber­ting­kah dalam dir­i­nya.

Pada hari itu juga ia dapat­kan pesan­tren baru, yang sama saja dengan sebe­lum­nya. Hanya lebih kecil. Ia lalui hari-hari per­tama dengan menge­r­ja­kan sawah dipagi dan sore hari dan bel­a­jar mem­baca disore hari.

Diken­da­li­kan lidah­nya untuk tidak mena­nya­kan sesu­atu. Seba­lik­nya ia tajam­kan penge­li­hatan dan pen­de­ng­aran. Ia per­ha­ti­kan gala­nya.

Ia dapat menge­ta­hui adanya seo­rang santre yang diang­gap ter­pan­dai dan telah lebih sepu­luh tahun bel­a­jar. Orang itu yang dipi­lih­nya untuk mem­ban­tu­nya men­da­pat­kan ter­je­mahan. Dan ia takkan men­de­kati Kiai.

Genap seminggu kemu­dian ia sudah mulai mera­mahi Danu, santre ter­pan­dai itu. Juga Danu yang ber­ce­rita pada­nya, Gresik bisa hidup terus tanpa raja, tanpa bupati. Makin tak ada mereka makin baik. Di zaman Maja­pa­hit, tak ada pung­gawa men­cam­puri pesan­tren, ia ber­ce­rita. Sri Baginda Bhre Wijaya Pur­wa­wi­sesa malah mem­be­ri­kan tanah pada kiai-kiai yang tidak dike­na­kan pajak atau kerja negeri – sama halnya yang dida­pat oleh asrama-asrama Buddha.

Dan waktu raja Giri Daha­na­pura, Sri Rana­wi­jaya Gir­in­dra Wardha-na mema­suki Gresik, ceri­ta­nya lagi, dipang­gil­nya meng­ha­dap semua sau­da­gar dan nakhoda, dan diti­tah­kan­nya semua memin­dah­kan harta dan per­da­gang­an­nya ke Pana­ru­kan atau Pasu­r­uan.

“Lihat, bagai­mana hebat­nya Gresik,” ia mene­rus­kan. “Para sau­da­gar dan nakhoda menge­ta­hui, tanpa Giri Daha­na­pura, Gresik akan tetap hidup. Mereka ber­se­m­bah, Giri Daha­na­pura dapat dipin­dah­kan ke Gresik, tetapi Gresik tak bisa dipin­dah­kan ke mana pun!”

Danu adalah seo­rang pat­riot Gresik.

Wirang­gal­eng tak sempat mem­bi­kin per­ban­dingan dengan bandar Tuban. Ia sibuk men­cari-cari kesem­patan untuk bisa berdua saja dengan Danu.

Hari yang ditunggu-tung­gu­nya tiba juga.

Sore itu mereka telah mandi di saluran air sawah. Enam belas orang jum­lah­nya, ter­ma­suk dir­i­nya. Semua sedang ber­siap-siap pulang, pada ber­diri di pema­tang menunggu yang belum sele­sai ber­pa­kaian. Pacul-pacul kayu ber­mata baja itu pada ber­diri ber­de­ret di atas lum­pu­ran sawah yang habis digaru. Di atas sana langit sedang ber­men­dung. Sekali-dua ter­de­ngar sayup guruh meng­ge­rutu seperti dari perut bumi.

Ia ham­piri Danu, mena­war­kan jasa­nya.

“Biar aku cuci paculmu, Kang Danu!” dan tanpa menunggu jawaban ia mema­suk­kan­nya ke dalam saluran dan men­cu­ci­nya dengan setekam rumput.

“Kalau aku sudah tamat nanti,” kata­nya menam­bahi sambil menye­rah­kan pacul Danu, “aku akan masuk ke daerah kafir Blam­bangan, men­di­r­i­kan pesan­tren sen­diri.”

“Kau!” Danu ter­tawa geli, “belum lagi dua minggu bel­a­jar! Tidak semu­dah itu,” dan dengan gaya keguru-guruan mene­rus­kan. “Abangku sudah seta­hun di Daha­na­pura. Apa hasil­nya? Buh! Tak ada. Apa keku­rangan dia? Semua sudah habis dipel­a­jar­i­nya. Seka­rang dia mau ting­gal­kan Blam­bangan hendak ber­u­saha di Nusa Teng­gara.”

“Di sana dia tentu akan ber­ha­sil, Insya Allah.”

“Tuhan akan menun­juk­kan pada­nya jalan yang terang.”

“Aku ingin mema­suki Daha­na­pura, Kang.”

“Di sana kau akan jadi kafir lagi. Bel­a­jar saja baik-baik.”

“Tentu, Kang Danu. Aku akan bel­a­jar baik-baik. Bagai­man­a­pun Blam­bangan sangat mena­rik. Kera­jaan seke­cil itu! Seben­tar lagi tentu tum­bang, Kang, biar pun punya bandar dan ang­katan laut.”

“Buh!” Danu mele­ceh­kan, “penye­baran agama bukan­lah perang,” ia mene­rus­kan, “maju­nya tidak seperti ten­tara ber­ba­ris, dia tidak menam­bah jalan darat atau laut, tetapi hati manu­sia! hati yang harus diram­bah­nya. Ada kau menge­ta­hui sesu­atu ten­tang Blam­bangan Daha­na­pura?”

“Kata­nya Peranggi sudah masuk ke sana. Kang, ada yang mem­buka per­gu­r­uan, kata orang, menye­bar­kan agama sen­diri. Itu kata orang, Kang.”

“Ya, semua orang di sini pernah dengar. Kata abangku, bebe­rapa waktu yang lalu,” Danu mulai ber­ja­lan di atas pema­tang menuju ke desa dan Wirang­gal­eng meng­i­kut­i­nya dari bela­kang.

“Di mana abangmu seka­rang, Kang Danu?”

“Masuk ke Daa­ha­na­pura lagi. Kata dia, raja di Blam­bangan, Sri Rana-wijaya, tidak menyu­kai orang Islam, dia lebih suka pada Peranggi. Tak pernah dika­ru­ni­a­kan tanah pada pesan­tren, tapi orang Peranggi dikaru-niai­nya. Malah patih­nya, Patih Udara, sudah mengir­im­kan utusan pada Kongso Dalbi di Malaka…. Tahu siapa Kongso Dalbi?” ia mene­ngok dan menyak­si­kan gelengan Wirang­gal­eng. “Raja Peranggi di Malaka. Utusan itu, kata abangku, telah mem­per­se­m­bah­kan pada Kongso Dalbi sebuah giring-giring emas, lam­bang keja­yaan Hindu di Blam­bangan, beras dua kapal, satu ukiran kayu cen­dana ber­bing­kai emas. Kebe­tulan abangku kenal dengan peng­u­kir­nya.”

“Apa yang diukir pada kayu itu, Kang?”

“Satu adegan dari Rama­yana, Les­mana dan Sinta di dalam hutan.”

“Peng­u­kir­nya, Kang?”

“Peng­u­kir asal Tuban, Boris­rawa.”

Wirang­gal­eng meng­ang­guk di bela­kang Danu. Dia sudah di sana, pikir­nya. Tetapi yang keluar dari mulut­nya: “Tak­luk­kah Daha­na­pura pada Malaka, Kang?”

“Tidak. Rana­wi­jaya takut kalau-kalau bupati pesi­sir utara ber­se­kutu menum­bang­kan kera­ja­an­nya yang ter­pen­cil sema­kin ter­de­sak oleh melu­as­nya Islam. Maka dia surati Kongso Dalbi memo­hon per­sa­ha­bat­an­nya, dan memo­hon ban­tuan sepu­luh pucuk meriam untuk mena­han arus keku­a­saan Islam; dengan peluru dan penem­bak­nya.”

“Apa meriam itu, Kang?”

“Sen­jata Peranggi. Yang dilem­par­kan bukan mercon udara seperti cet-bang, tapi besi sebe­sar kepalan.”

Enam belas santre lain­nya mulai meng­i­kuti kedu­a­nya dari bela­kang, memang­gul pacul masing-masing.

“Apakah Peranggi suka mem­be­ri­kan meriam?”

“Pada lawan Islam? Boleh jadi,” jawab Danu ragu-ragu. “Karena itu, jangan sepe­le­kan kera­jaan kecil. Keku­at­an­nya bisa besar dan ampuh.”

“Jadi kafir Daha­na­pura Blam­bangan sudah ber­se­kutu dengan kafir Peranggi?”

“Kira-kira. Kan kau sen­diri yang mem­be­ri­ta­kan tadi, Peranggi sudah ada di sana? Per­se­m­ba­han Patih Udara itu nam­pak­nya ber­ba­las juga. Buh! Kapal-kapal Peranggi sudah mulai keli­hatan juga di Gresik, menuju ke Pasu­r­uan dan Pana­ru­kan.”

Mereka semua telah mening­gal­kan tang­gul saluran dan berada di jalanan desa. Garu dan luku diting­gal­kan mereka ber­ge­le­ta­kan di atas lum­pu­ran sawah. Matari di sebe­lah barat menyala merah di celah-celah men­dung seperti telur angsa ajaib. Dan dengan segala usaha Wirang­gal­eng men­coba mena­rik Danu dengan per­ta­nyaan-per­ta­nyaan agar berada di buntut iring-iringan. Ia ber­ta­nya terus sambil mem­per­lam­bat jalan. Dan usa­ha­nya ber­ha­sil. Santre-santre lain ingin segera pulang. Mereka tak mem­per­ha­ti­kan kata-kata Danu yang meng­gu­rui. Dan begitu jarak mereka telah nampak jauh, Wirang­gal­eng mem­buka mak­sud­nya: “Tolong­lah aku, Kang Danu. Ada padaku sebuah ajimat, tapi aku tak tahu tuah di dalam­nya,” ia kelu­ar­kan bung­kusan kecil dari tali ikat ping­gang kain, sete­lah mele­tak­kan pacul di tanah, dan ber­henti.

Danu pun ber­henti dan mem­per­ha­ti­kan­nya mem­buka bung­kusan kecil yang ter­nyata segu­lungan kertas itu.

“Inilah ajimat itu, Kang, jawa­kan­lah padaku, tolong­lah.”

Dengan baik hati­nya Danu mem­buka kertas itu dan mulai mem­baca.

“Ini bukan ajimat,” kata­nya sete­lah mem­baca seba­ris-dua. “Ini surat biasa. Masya­al­lah! Dari mana kau dapat surat ini? Wah, wah. Baru saja kita bicara ten­tang meriam, di sini sudah dise­but-sebut soal meriam. Minta diki­rimi paling tidak dua pucuk meriam Peranggi, kalau tidak….”

“Kalau tidak, apa Kang?”

“Uh-uh, dari mana kau dapat surat ini?” tanya Danu men­de­sak dan ber­sung­guh-sung­guh.

“Jangan jalan dulu, Kang, ber­henti di sini saja, biar aku ceri­tai kau.”

Mereka berdua ber­diri di tengah-tengah jalanan desa yang sunyi itu. Wirang­gal­eng mem­per­ha­ti­kan dengan pan­dang selin­tas, bahwa santre ter­pan­dai itu masih tetap meng­a­was­i­nya, sedang santre-santre lain telah hilang di tikungan jalan. Lambat-lambat ia mulai ber­ce­rita; dan ia meng­u­langi ceri­ta­nya di pesan­tren per­tama, hanya ditam­bah lebih banyak.

“Seka­rang kau terus­kan mem­ba­ca­nya, Kang, kau belum sele­sai.”

Dan Danu sudah mele­pas­kan sikap keguru-gur­u­an­nya. Ia geng­gam surat itu seakan takut ter­le­pas dari tangan. Dengan suara rendah ia ber­kata: “Kau tidak berhak meme­gang surat ini. Akan kuse­rah­kan pada Bapa Kiai. Entah apa akan diper­bu­at­nya nanti dengan ini. Barang­kali juga ter­je­mah­anku tidak benar.”

“Jangan, Kang, jangan.”

“Siapa sebe­nar­nya kau ini? Kau datang kemari bukan hendak bel­a­jar. Keta­huan dari kata-katamu yang ber­la­gak bodoh. Ayoh, kata­kan. Kalau tidak, surat ini benar-benar akan kusam­pai­kan pada Bapa Kiai, kemu­dian pada Gusti Bupati, yang tentu akan memang­gil Bapa Kiai lagi. Meng­aku saja. Kau mata-mata, telik!”

“Jangan, Kang, jangan,” tegah Wirang­gal­eng dengan suara keta­kutan.

“Kalau begitu kata­kan siapa kau sebe­nar­nya.”

Tangan Wirang­gal­eng cepat mela­yang, menang­kap teng­kuk Danu dan dite­kuk­nya seperti ia meli­pat segu­lungan kain. Ter­de­ngar bunyi ber­de­tak dan tulang teng­kuk itu patah. Lidah Danu menye­lir keluar sedi­kit mene­tes­kan air liur. Surat di tangan korban itu ter­le­pas dan jatuh ke tanah.

Surat itu segera ia bung­kus dalam tali kain ping­gang. Ia lem­par­kan kor­ban­nya ke atas lum­pu­ran sawah. Ia lem­par­kan pula dua buah pacul yang ber­diri di jalanan itu lebih jauh lagi.

“Ampuni aku, Kang Danu. ampuni aku, ya, Dewa Batara.”

Ia tak pulang ke desa pesan­tren, justru seba­lik­nya….

Ia tak menem­puh jalan laut.

Sete­lah dapat menang­kap makna isi surat ia lang­sung meng­am­bil jalan darat pulang ke Tuban. Sepan­jang per­ja­lanan ia menye­sali keke­ra­san-keke­ra­san yang dila­ku­kan­nya. Dan ia ber­ta­nya-tanya dalam hati: sia­pa­kah yang harus ber­tang­gung­ja­wab atas keke­ra­san-keke­ra­san ini? Aku yang men­ja­lani atau­kah dia yang menu­gas­kan aku? Aku tak punya urusan apa-apa dengan mereka. Aku bukan pem­bu­nuh, juga bukan peng­a­n­i­aya. Aku hanya seo­rang bocah desa yang tidak diper­ke­nan­kan jadi petani.

Untuk per­tama kali ia menye­dari, dir­i­nya telah jadi bagian dari keku­a­saan Sang Adi­pati Tuban dan kelang­sungan hidup praja Tuban.

Inikah cara meng­am­bil kem­bali kebe­saran dan keja­yaan masa silam pada gua­garba hari depan? Untuk Tuban? Inikah?

Barang­kali. Barang­kali aku tidak keliru. Barang­kali pun aku salah.

Dan ia tanam potongan rambut yang selama ini ia simpan dalam sa-rong­nya di bawah seba­tang pohon baru di ping­gir hutan.

Ia tem­busi hutan-belan­tara itu mela­lui jalan seta­pak, jalan desa dan jalan besar negeri. Lang­kah­nya seperti lari. Tubuh­nya yang berat itu dira­sa­i­nya meng­ganggu gerakan kaki dan tangan. Namun jalan­nya tetap seperti lari.

Sang Patih mene­rima keda­tangan­nya dengan girang. Seren­tak ia men­de­ngar, Ki Aji Beng­gala minta meriam Peranggi pada Syah­ban­dar Tuban dengan ancaman, lenyap kegi­rang­an­nya. Air muka­nya ber­ke­rut, kening­nya ter­ang­kat naik, menge­ta­hui bahaya yang sedang datang men­de­kati Tuban.

“Ya,” kata­nya sete­lah agak lama ber­diam diri, “beri­kan surat ini pada yang berhak.”

Wirang­gal­eng ber­ja­lan cepat menuju ke Syah­ban­daran. Seki­las ia lihat Idayu ber­ja­lan dari dapur menuju ke kamar, dan ia lihat juga istri­nya meli­hat pada­nya. Ia naik ke gedung utama dan men­da­pat­kan Syah­ban­dar Tuban sedang duduk mem­baca kitab.

“Hasa­lamu alai­ko­oom!” seru­nya.

Tholib Sung­kar Az-Zubaid melom­pat ter­ke­jut. Meli­hat Wirang­gal­eng mula-mula ia ter­diam. Mata­nya was­pada dan mene­lan ludah. Awan dengan lambat ber­a­rak mening­gal­kan wajah­nya. Ia ter­se­nyum dan mem­ba­las: “Wa alai­kum sala­aam. Rupa-rupa­nya sudah jadi Islam, Wira. Ah, ya, benar sekali!” ia ber­te­puk-tepuk tanpa mene­gak­kan bong­kok­nya. “Siapa men­duga kau sudah beram­but pendek begini. Kau keli­hatan lebih hitam, tapi lebih ber­seri dan lebih bersih dan lebih ber­ba­ha­gia.”

“Alham­dul­il­lah, tuan Syah­ban­dar.”

“Siapa yang men­tau­bat­kan kau? Rangga Iskak?”

“Tidak salah, Tuan Syah­ban­dar.”

“Tak pernah kau nampak begitu peri­ang seperti seka­rang. Berkah taubat, Wira. Berkah taubat. Tak bisa lain. Bukan main. Apa kata Rangga Iskak?”

“Bukan hanya kata, Tuan Syah­ban­dar, malahan surat balasan.”

“Surat balasan! Nanti dulu, ceri­ta­kan bagai­mana per­ja­lan­anmu.”

Dan Wirang­gal­eng mem­bi­kin-bikin cerita sen­diri, bahwa per­ja­lanan sangat menye­nang­kan, bahwa tak ada sesu­atu aral melin­tang. Dan Syah­ban­dar Tuban menyam­but­nya dengan ter­tawa-tawa senang.

“Mana surat balasan itu?” tanya­nya tak acuh. “Mana. mana?”

Syah­ban­dar-muda itu mem­per­ha­ti­kan dengan sak­sama ting­kah-laku maji­kan­nya, untuk dapat mem­be­da­kan antara kepura-puraan dari kesung­guhan.

“Sayang sekali sudah agak rusak, Tuan, ter­lalu sering sahaya geng­gam, kha­wa­tir kalau-kalau hilang.”

Syah­ban­dar mene­rima dengan mata meli­rik tajam pada­nya. Tapi pada bibir­nya tetap ter­ta­rik senyum men­ce­mo­oh­kan. Tiba-tiba senyum itu hilang dan men­jadi ber­sung­guh-sung­guh.

Ia sudah sampai pada kali­mat yang meng­gu­gup­kan itu, pikir juara gulat itu. Dan wajah orang di hadap­an­nya itu nampak beru­bah-ubah. Kemu­dian Syah­ban­dar itu ber­henti mem­baca, menye­li­diki ke arah surat, juga menye­li­diki wajah­nya.

“Wira’ pang­gil­nya dengan menu­suk­kan pan­dang pada mata­nya: “Apakah dia tidak bicara sesu­atu ten­tang cap?”

“Tidak, tuan Syah­ban­dar.”

“Memang orang kepa­rat,” kata­nya dan kem­bali mem­pel­a­jari kea­daan surat itu.

“Betul kau sudah ber­temu sen­diri dengan Rangga Iskak?”

“Demi Allah, Tuan.”

“Begini, Wira, aku lihat bebe­rapa tangan sudah pernah meme­gang­nya, dan bebe­rapa pasang mata telah meli­hat dan mem­ba­ca­nya. Bagai­mana kete­rang­anmu, Wira?”

“Demi Allah, Tuan Syah­ban­dar.”

Syah­ban­dar Tuban meng­a­was­i­nya. Pegu­lat itu merasa dir­i­nya dir­a­gu­kan.

“Kalau begitu lama pergi,” Tholib Sung­kar Az-Zubaid mene­rus­kan penye­li­dik­an­nya.

“Sahaya memer­lu­kan bel­a­jar sebe­lum pulang. Apalah salah­nya, Tuan Syah­ban­dar, seka­dar untuk per­be­kalan pulang.”

“Siapa saja pernah mem­baca ini?”

“Tak ada. Hanya Ki Aji Beng­gala Rangga Iskak yang bisa menu­lis dan mem­baca Arab.”

“Kau bohong!” tuduh­nya.

“Demi Allah, kata sahaya. Memang Ki Aji bilang sudah keha­bisan kertas, maka ia menu­lis di atas kertas bekas.”

Tholib Sung­kar Az-Zubaid ber­diri dan ber­ja­lan mondar-mandir. Bong­kok­nya nampak sema­kin men­jadi-jadi, kemu­dian ber­henti dan meng­am­bil tong­kat yang ter­gan­tung pada pung­gung kursi, ber­ja­lan mondar-mandir lagi, dan tiba-tiba ber­henti di hadapan Wirang­gal­eng.

“Kau begitu lama pergi. Aku tak yakin tak ada orang mem­baca surat ini.”

“Tak apalah kalau tuan Syah­ban­dar tak mem­per­ca­yai sahaya lagi.”

“Orang bilang, pernah meli­hat kau di Tuban antara kebe­rang­kat­anmu dan keda­tanganmu seka­rang.”

“Kalau Tuan lebih mem­per­ca­yai dia, perin­tah­kan pada­nya meng­ha­dap Ki Aji Beng­gala, jangan sahaya.”

“Nam­pak­nya kau sudah mulai hendak ber­se­li­sih deng­anku.”

“Bukan­kah sahaya tak bisa memaksa Tuan Syah­ban­dar per­caya pada sahaya? Ter­se­rah saja pada Tuan sen­diri hendak per­caya atau tidak. Sahaya pun tidak mem­bu­tuh­kan keper­ca­yaan Tuan. Sung­guh.”

Tholib Sung­kar kem­bali duduk dan meng­ge­rak-gerak­kan tang­kai tong­kat dari gading itu. Dan gerakan gading ber­u­kir itu selalu mem­bi­kin orang ter­ta­rik pada per­sam­bung­an­nya dengan kayu hitam, yang seakan dua kuntum bunga ter­tang­kup jadi satu.

Menge­ta­hui piki­ran pem­bantu-uta­ma­nya mulai ter­lena, dengan nada mem­bu­juk ia ber­ta­nya: “Lama­kah sudah surat ini kau simpan?”

“Segera sete­lah sahaya mene­ri­ma­nya.”

“Aku per­caya padamu, Wira,” ia diam lagi.

Dan Wirang­gal­eng tahu, ia tak per­caya.

“Aku senang kau telah masuk Islam, Wira.”

“Salasa nama sahaya, Tuan.”

“Salasa! Nama yang sangat bagus. Arti­nya ke tiga, Wira, tepat. Satu arti­nya baik. Dua ber­arti lebih baik. Tapi tiga arti­nya sem­purna,” ia ter­tawa dibuat-buat. “Baik­lah, lain kali kita bica­ra­kan lagi soal surat ini. Kau setuju, bukan, Salasa?

“Tentu saja, Tuan Syah­ban­dar.”

“Seka­rang kita bicara soal lain, Wira Salasa. Seka­rang kau sudah masuk Islam. Tetapi istrimu masih kafir. Kau harus per­ha­ti­kan itu, Wira. Tak ada orang kafir yang baik. Kalau seo­rang kafir itu pem­bo­hong, menipu sua­mi­nya, itu sudah sela­yak­nya, karena dia kafir, tak tahu ajaran. Kau jauh lebih mulia dari­pada kafir mana pion, Salasa, apa­lagi dari istrimu, kau pun lebih mulia dari Sang Adi­pati atau­pun Sang Patih. Meng­erti kau?”

“Belum, Tuan Syah­ban­dar.”

“Di hadapan Allah kau lebih mulia dari­pada semua mereka.”

“Di hadapan Allah, Tuan Syah­ban­dar. Di hadapan mereka sen­diri bagai­mana, Tuan?”

“Tentu saja tetap seperti biasa.”

Wirang­gal­eng mena­han tawanya. Ia menun­duk dalam.

“Dan ten­tang istrimu itu, Wira Salasa, karena kau sudah ber­tau­bat, kau harus bisa ter­tib­kan dia sebaik-baik­nya. Jangan lagi kau biar­kan dia seba­gai biasa bila kau sedang pergi….”

Ia diam dan menunggu tang­gapan pem­bantu-uta­ma­nya.

“Dia hanya menari di pen­dopo kadi­pa­ten, tuan, itu sahaya tahu.”

“Tentu penge­ta­hu­anmu kurang sem­purna, Wira?”

“Bagai­mana menyem­pur­na­kan­nya, Tuan Syah­ban­dar?”

“Menari di pen­dopo, Wira,… Sang Adi­pati. Ah, bagai­mana harus aku kata­kan. Tentu kau meng­erti.”

Wirang­gal­eng menun­duk dalam.

“Meng­apa kau diam saja?”

“Baik, Tuan Syah­ban­dar.”

“Syu­kur­lah kalau kau meng­erti.”

“Bagai­mana bia­sa­nya ia per­buat kalau sahaya pergi Tuan?”

“Ah, Wira Salasa, kasihan kau. Apakah kau tak pernah dengar suara orang? Semua sudah ber­ce­rita. Wira, betapa hina­nya lelaki seperti kau dipung­gungi istri sen­diri…. Pulang­lah, Tuhan mem­be­rimu petun­juk dan kese­la­matan dan semoga kukuh imanmu. Tak ada kafir yang baik di hadapan Allah.”

Dengan kepala masih mene­kur juara gulat itu pulang, melang­kah pelan-pelan seakan kepa­la­nya men­jadi beban bagi tubuh­nya sen­diri.

Idayu tak menyam­but­nya di serambi. Ia menunggu keda­tangan­nya di dalam kamar. Gelar tidak nampak. Ia nampak pri­ha­tin duduk di atas ambin sambil mengu­nyah sirih. Sebuah bantal ter­le­tak di atas pang­ku­an­nya. Dan mata­nya sayu seperti belum lagi tidur selama tiga malam. Di atas bantal itu ter­ge­le­tak sebi­lah cun­drik pan­jang.

“Meng­apa kau diam saja, Idayu?”

Hanya dengan mata­nya yang sayu ia pan­dangi sua­mi­nya.

“Meng­apa kau pangku cun­drik itu di atas ban­talmu?”

Idayu menun­duk.

“Sakit­kah kau?”

Ia meng­ge­leng.

“Seperti tidak senang kau menyam­but keda­tanganku?”

“Siapa tahu, Kang, kau sudah beru­bah, Dan kau memang nampak sudah beru­bah dengan ram­butmu yang pendek.”

Lelaki itu mele­tak­kan kedua belah tangan­nya pada bahu istri­nya.

“Beru­bah­kah aku, Dayu?”

“Kau beru­bah, Kang. Kau sudah masuk Islam nam­pak­nya. Tentu harus­lah aku ber­siap-siap dengan per­u­ba­hanmu, per­u­ba­han sikapmu,” suara Idayu sema­kin pelahan dan sayu. “Aku masih juga ragu apakah aku boleh men­da­hu­lui kata atau tidak. Siapa tahu, Kang, kau sudah tak suka men­de­ng­ar­kan aku lagi, sua­raku, diriku….”

“Meng­apa kau bicara begitu?” dan duduk­lah ia di sam­ping istri­nya. Diam­bil­nya cun­drik dari atas bantal.

“Inilah aku, Kang, ber­di­ri­lah kau, tidak baik mem­bawa cun­drik sambil duduk begitu.”

“Sela­ma­nya kau jadi kurus kalau aku ting­gal, Dayu. Apa yang sudah ter­jadi?”

“Aku tetap saja, Kang. Kaulah yang banyak ber­ja­lan, banyak meli­hat dan banyak men­de­ngar. Kata orang tua-tua: ber­ja­lan banyak meli­hat, curiga banyak men­de­ngar.”

“Untuk apa cun­drik ini ikut menyam­but keda­tanganku?”

“Ber­di­ri­lah di hadap­anku, Kang. Atau aku yang ber­diri di hadap­anmu?”

“Baru bebe­rapa minggu, Dayu, kau sudah begini kurus.”

“Untuk memo­hon pada para dewa buat kese­la­mat­anmu. Kang.”

“Kau masih suka dipang­gil menari?”

“Masih, Kang.”

“Dan mimpi lagi seperti dulu?”

“Tidak, Kang.”

“Apakah Syah­ban­dar masih suka meng­in­tip seperti itu?”

Idayu meng­ang­kat kepala dan meli­hat seba­gian dari muka Syah­ban­dar ter­lin­dung pada tiang jen­dela. Ia meng­ang­guk.

“Apakah kau masih suka dengar bica­ra­nya, Kang?”

“Dia maji­kanku, Dayu, tapi kau adalah istriku.”

Galeng mem­per­main-main­kan cun­drik kecil.

“Mana sarong­nya ini, Dayu?”

“Sarong yang mana?”

Wirang­gal­eng meng­ang­kat pan­dang ke arah jen­dela gedung utama dan muka Syah­ban­dar Tuban sudah tiada.

“Sarong yang lama. Aku akan ber­u­saha tidak akan ting­gal­kan kau ter­lalu lama, Idayu.”

“Jangan pikir­kan ten­tang diriku. Aku sehat, jiwa dan ragaku.”

“Ceri­tai aku ten­tang Gusti Adi­pati.”

“Tak ada yang aku bisa ceri­ta­kan, kecu­ali ia suka menon­ton kalau aku menari. Kemu­dian wanita kadi­pa­ten itu meng­an­tar­kan aku pulang dan mene­mani aku di sini.”

“Ceri­tai aku ten­tang Tuan Syah­ban­dar.”

“Kau sen­diri bisa ber­ce­rita banyak ten­tang dir­i­nya. Biar aku ambil­kan sarong cun­drik itu, Kang,” ia ber­diri tetapi ragu-ragu. Men­de­kati sua­mi­nya, ber­ta­nya, “Apakah benar kau mem­bu­tuh­kan sarong yang lama? Tidak­kah kau meng­hen­daki yang baru?”

Wirang­gal­eng ber­diri. Cun­drik itu dile­tak­kan­nya kem­bali di atas bantal. Ia peluk istri­nya. Ia men­ci­um­i­nya. Idayu meme­luk­nya dan air-mata mem­ba­sahi muka­nya.


Bab 16

Datangnya Meriam Portugis

Pesta laut itu tidak seme­riah bia­sa­nya.

Pada sore hari gadis-gadis menari menge­li­lingi Sela Baginda yang ting­gal umpak­nya seba­gai pem­bu­kaan pesta. Langit terus mene­rus ber­men­dung dan seben­tar-seben­tar turun geri­mis kecil.

Lomba perahu belum lagi sele­sai. Bila lomba usai dan bunga-bungaan dan ketu­pat telah dite­bar­kan ke laut orang pun akan naik ke darat untuk meng­i­kuti pesta api.

Tetapi pesta itu kini telah diti­a­da­kan. Dahulu dalam pesta ini tulang-belu­lang atau mayat-mayat diba­kar ber­sama-sama di empat pen­juru kota, bila memang banyak yang harus diba­kar. Bila abunya telah diam­bil, janda-janda pun menyu­sul masuk ke dalam api unggun sampai lumat jadi abu pula.

Pesta api sudah tiada. Orang-orang Islam telah ber­u­saha mela­wan adat kejam dan menge­ri­kan ini sambil memasy­hur­kan aga­ma­nya. Golongan wanita ter­u­tama yang menyam­but per­la­wanan kaum Mus­li­min itu. Mula-mula dengan diam-diam mereka ber­sim­pati pada agama baru itu dan mem­be­nar­kan, bahwa adat itu memang kejam dan menge­ri­kan. Maka juga golongan wanita yang paling mula dalam pem­bi­su­an­nya mene­rima Islam tanpa sepe­nge­ta­huan sua­mi­nya. Mene­rima Islam pada ting­kat per­tama ber­arti bagi mereka dibe­nar­kan meng­hin­dari api maut. Dan sekali kaum wanita mene­ri­ma­nya, penga­ruh­nya menen­tu­kan di dalam kehi­dupan rumah tangga dan anak-anak­nya. Dalam hanya satu gene­rasi pem­ba­karan janda mulai susut keras dan kemu­dian hilang seperti ter­tiup angin badai.

Seba­gai aki­bat­nya Tuban mulai meng­ha­dapi masa­lah janda hidup dan ting­gal hidup. Tak ada yang mau menga­wini mereka. Mereka diang­gap wanita pem­bawa sial bagi men­di­ang suami dan kelu­arga. Bahkan untuk mem­be­ri­kan atap untuk melin­dung­kan kepala mereka dari hujan dan panas orang tidak sudi, takut ter­ja­lari kesi­a­lan. Maka meng­em­ba­ra­lah mereka ber­ge­lan­dangan di kam­pung-kam­pung para peran­tau untuk men­da­pat­kan seka­dar makan, suami baru atau seka­dar kasih dan keka­sihan. Bila nasib baik mereka memang bisa men­da­pat­kan dir­i­nya seba­gai istri atau gundik. Yang tidak berun­tung terus ber­ge­lan­dangan di pela­buhan seba­gai pela­cur untuk awak kapal. Dan di daerah pela­buhan juga janda-janda yang kurang berun­tung men­di­r­i­kan gubuk-gubuk-nya dari daun kelapa.

Walau­pun pada umum­nya pen­du­duk negeri Tuban ber­a­gama Buddha, tetapi penga­ruh Hindu dan adat-isti­a­dat­nya masih men­da­rah-daging. Per­gan­tian raja karena perang atau­pun tidak meng­a­ki­bat­kan banyak kala ter­jadi per­gan­tian agama: Syiwa, Wisynu, Brahma dan Buddha, bagai­mana saja raja­nya. Dengan demi­kian pen­du­duk negeri tidak mem­pu­nyai kesem­patan cukup lama untuk meng­a­nut salah satu agama dengan men­da­lam. Suatu hal yang menye­bab­kan pem­ba­karan janda tetap umum di mana-mana di negeri Tuban. Dan wanita yang men­ce­bur­kan diri ke dalam api meng­i­kuti men­di­ang suami men­da­pat nilai seba­gai wanita seti­a­wan dan ter­puji.

Dengan ber­pe­nga­ruh­nya Islam ter­ha­dap mereka – seka­li­pun baru ter­ba­tas pada peng­hin­daran dari sang api – makin lama makin banyak pela­cur ber­gen­ta­yangan. Kapal adalah sumber peng­hi­dupan mereka yang pokok. Ken­da­raan laut itu memun­tah­kan untuk mereka awak kapal yang haus wanita. Dan peng­hi­dupan baru itu mem­bi­kin mereka ber-ting­kah-laku sesuai dengan kehen­dak sang hidup. Peja­bat-peja­bat bandar tak jarang meng­a­lami kesu­l­itan karena mereka, dan tidak bisa ber­buat apa-apa. Bandar Tuban adalah bandar bebas, juga untuk mereka, Pri­bumi maupun asing, pene­tap atau­pun pen­da­tang.

Dan kini kele­ngahan bandar telah meng­an­cam peng­hi­dupan mereka. Peng­hi­dupan sulit diha­rap­kan datang dari laut. Mereka ter­ha­lau makin ke darat, mening­gal­kan daerah bandar, meng­em­bara ke mana-mana untuk men­da­pat seka­dar makan.

Dengan adanya pesta air, mereka datang lagi men­du­duki gubuk-gubuk­nya kem­bali. Juga mereka ber­ke­pen­tingan untuk ikut meme­ri­ah­kan­nya, karena itu meng­i­ng­at­kan mereka pada masa kanak-kanak sewaktu mereka bukan sego­longan orang yang diku­cil­kan. Dan ber­hu­bung tiada kapal datang ber­la­buh, mereka beru­bah jadi serom­bongan pene­kad. Setiap nampak oleh mereka orang asing, segera mereka kepung, mereka tarik-tarik ke suatu tempat, dan meram­pas barang apa yang ada pada diri mang­sa­nya. Demi­ki­an­lah pada pesta air ini Liem Mo Han men­jadi korban mereka….

Malam itu men­dung menu­tup semua bin­tang di cak­ra­wala. Kilat antara seben­tar menge­r­jap kejam, seperti mata ben­cana sedang meng­in­tip dunia.

Liem Mo Han datang ke pela­buhan untuk men­cari Wirang­gal­eng.

Tahu yang dica­ri­nya sedang menunggu istri­nya menari tung­gal di depan umum. Tetapi ia tak dapat mene­mu­kan­nya. Maka ia ber­ja­lan-jalan sambil menunggu sele­sai­nya per­tun­jukan.

Serom­bongan janda gelan­dangan telah menyer­gap­nya. Ia meronta dan mela­wan, tapi sia-sia. Ia tahu mereka adalah wanita-wanita lemah, dan ia tahu, tak mung­kin ia harus meng­gu­na­kan keke­ra­san. Adalah mema­lu­kan keme­nang­an­nya ter­ha­dap mereka. Maka ia mem­bi­ar­kan dir­i­nya masuk dalam ser­gapan, Ia ikuti arus yang menye­ret­nya. Lebih baik begini dari­pada jadi ter­ta­waan selu­ruh negeri, pikir­nya.

Kun­cir­nya yang pan­jang telah diceng­ke­ram oleh tak kurang dari enam tangan. Juga dua belah tangan­nya. Juga baju­nya. Ia sudah tak ingat lagi di mana topi hitam­nya yang kecil itu ter­ja­tuh.

Tapi ia tak menyangka dalam waktu seke­jap segala apa yang ada pada tubuh­nya mereka lolosi. Dan ter­ting­gal ia di lap­angan, telan­jang bulat seperti seo­rang bayi baru keluar dari rahim ibunya.

Dalam kea­daan seperti itu ia dile­pas­kan.

Dan lari­lah Liem Mo Han dalam malam gelap ber­men­dung itu, telan­jang bulat, men­cari per­lin­dungan. Mula-mula ia menuju ke warung Yakub. Ter­nyata pin­tu­nya ter­tu­tup dan ter­kunci dari dalam. Ia lari ke syah­ban­daran, tanpa meng­in­dah­kan larangan untuk mema­suki daerah itu tanpa seizin Syah­ban­dar. Dan ber­se­m­bu­nyi ia di sesu­atu tempat sambil menunggu keda­tangan Wirang­gal­eng.

Ia masih sempat menim­bang-nim­bang tempat mana sebaik-baik­nya untuk meng­hin­dari pan­dangan orang: di gandok sebe­lah kanan yang sehari-hari keli­hatan lebih tenang dan leng­ang.

Begitu ia men­de­kam mema­nas­kan badan ter­ha­dap serangan angin, nyamuk mulai menye­rang­nya tanpa ampun. Dan kepa­la­nya terasa panas seakan teng­ko­rak­nya sudah menga­nga sete­lah seba­nyak itu tangan yang men­ja­hili kun­cir­nya.

Dengan pakaian sewa­jar­nya ia sudah bebe­rapa kali mela­ku­kan peng­in­taian di sini. Tanpa pakaian ia merasa kikuk dan ber­sa­lah ter­ha­dap sega­la­nya. Maka ia taksir-taksir kege­lapan mana yang kira­nya cukup untuk jadi pakai­an­nya. Ia ber­diri dan meng­u­langi peng­in­ti­pan­nya. Dan seka­rang ia baru tahu dengan jelas di mana orang-orang yang selama ini dibu­ru­nya: Este­ban del Mar dan Rodri­guez Dez. Ter­nyata mereka berada dalam sebuah ruang gudang yang pin­tu­nya ter­pa­sak dari luar.

Dari suatu celah ia dapat meli­hat rantai besar meng­i­kat kaki mereka pada sebuah tiang. Dan mereka duduk dan bicara lepas-lepas: “Anjing Moro itu mau jual kita pada Malaka.”

“Bagai­mana kita bisa teran­tai begini?” Este­ban meng­ge­rutu gusar dengan menye­sali diri. “Bukan untuk dibe­gi­ni­kan kita ber­ke­lana. Kema­rin kita masih bebas. Bodoh. Meng­apa tidak was­pada ter­ha­dap anjing busuk itu?”

“Kau masih ingat kata-kata­nya? Seperti sudah jadi kaisar saja. ‘Mulai hari ini jangan Tuan-tuan pergi ke mana-mana’, kata­nya, seperti Tuban ini sudah jadi mil­ik­nya pri­badi.”

Este­ban men­de­ngus jeng­kel. Kemu­dian: “Seperti sudah setinggi langit keku­a­sa­an­nya. ‘Tuan-tuan aman dalam per­lin­dung­anku’, kata­nya. Dan kita aman dalam peran­taian seperti ini. ‘Tuan-tuan takkan jatuh ke tangan Sang Adi­pati, karena mati­lah Tuan-tuan di tangan­nya.’ Uih, bangun-bangun sudah teran­tai begini.”

“Barang­kali Sang Adi­pati memang meng­hen­daki jiwa kita?”

“Psss. Dia bukan sekutu Demak,” Este­ban barang­kali sudah mene­rang­kan untuk ke sekian kali­nya. “Ah, tunggu, benar, dia toh sekutu Jepara. Tapi kita tak ada sesu­atu urusan.”

Liem Mo Han men­de­ngar sesu­atu dari bela­kang­nya. Ia lari meng­hin­dar. Ter­de­ngar oleh­nya suara teguran: “Siapa?” dalam Melayu.

Ia lari ber­pu­tar ke bela­kang Syah­ban­daran dan menuju ke gandok kiri.

Justru pada waktu Wirang­gal­eng ber­sama istri­nya sedang melin­tasi jalanan taman untuk masuk ke dalam rumah.

“Kaukah itu, Wira Salasa?”

“Sahaya, Tuan Syah­ban­dar.”

“Dengan istrimu, Wira?”

“Sahaya, tuan Syah­ban­dar.”

“Tak ada kau lihat orang ber­ja­lan di sini?”

“Tidak. Sahaya justru baru datang.”

Per­ca­kapan itu sele­sai. Wirang­gal­eng ber­sama istri­nya masuk ke dalam rumah­nya. Orang telan­jang bulat itu menge­tuk-ngetuk lemah dan memang­gil-mang­gil pelan: “Wira, Wira, keluar seben­tar, sahaya ada di sini. Liem Mo Han di sini, Wira.”

Juara gulat itu menge­nal sua­ra­nya, ia segera keluar. Dan ter­tawa ia ter­ba­hak men­de­ngar cerita peng­a­laman kece­la­kaan saha­bat­nya. Ia masuk lagi untuk meng­am­bil­kan pesa­lin.

“Mari aku antar­kan keluar dari sini,” Wirang­gal­eng mena­war­kan jasa­nya.

“Tidak, Wira, mari ikuti aku ke gandok sana. Ada sesu­atu yang perlu Tuan sak­si­kan sen­diri. Selama ini Tuan masih juga belum per­caya.”

Mereka berdua ber­ja­lan meng­en­dap-endap kege­lapan. Hujan mulai jatuh dengan deras­nya, dan satu-satu­nya bahaya adalah kilat. Mereka sampai di tempat tujuan dan hujan men­da­dak ber­henti. Mereka meng­in­tip ber­gan­tian. Tholib Sung­kar Az-Zubaid ber­diri di hadapan dua orang Por­tu­gis yang masih juga duduk-duduk tak peduli seperti tadi. Pada tangan Syah­ban­dar ter­da­pat selem­bar nampan dengan cerek tem­bi­kar di atas­nya. Syah­ban­dar-muda tak meng­erti Por­tu­gis. Ia serah­kan celah pada teman­nya. Dan ia men­ja­ga­nya.

Liem Mo Han meli­hat Este­ban del Mar dan Rodri­guez Dez mulai ber­diri dan ber­ja­lan meng­ham­piri Syah­ban­dar sampai pada batas rantai meng­i­zin­kan. Nyala lilin di dalam tidak begitu terang.

Ia tak dapat mem­per­ha­ti­kan roman mereka dengan jelas. Tetapi suara mereka jelas ter­de­ngar oleh­nya. Mereka sedang memaki-maki.

“Penge­cut, penipu!” suara Rodri­guez. “Kau rantai kami dalam tidur. Hanya bede­bah Moro saja bisa ber­buat begini. Sop­hari yang hina itu pun takkan sepe­nge­cut ini.”

“Hei, Moro, apa salah kami ter­ha­dap kau? Anjing? Bukan­kah kami tamumu, yang makan garammu?” suara Este­ban, agak lunak.

“Sabar, Tuan-tuan. Bukan­kah Tuan-tuan haus sete­lah begitu lama tidur? Di luar sana pesta air baru saja sele­sai. Kalau tidak dibe­gi­ni­kan Tuan-tuan akan meng­gu­na­kan kebe­basan untuk men­ce­la­ka­kan aku. Maaf­kan­lah,” Syah­ban­dar mem­buka pida­to­nya.

“Lepas­kan rantai ini,” Rodri­guez mera­ung.

“Jangan keras-keras,” Syah­ban­dar mem­per­i­ng­at­kan. “Biar pun hujan lebat, lebih baik pelan-pelan saja, maksud Tuan-tuan ter­ca­pai juga mak­sudku.”

“Bina­tang!” suara Rodri­guez. “Aku bisa mera­ung sekuat paru-paruku.”

“Sabar. Suara Tuan sen­diri yang bakal memang­gil maut Tuan. Deng­ar­kan. Kalau tak kuran­tai dan Tuan-tuan pergi dari sini seba­gai tamuku, mati­lah Tuan-tuan diter­kam balat­en­tara Tuban. Nasibku sen­diri? Takkan jauh dari Tuan-tuan – celaka. Buat kese­la­matan Tuan-tuan sen­diri dan juga aku ter­paksa aku per­buat ini. Per­ca­ya­lah.”

“Bede­bah! Siapa bisa per­caya pada mulutmu? Hanya si goblok saja mau deng­ar­kan kafir Moro. Lepas­kan,” Rodri­guez meng­an­cam. “Awas, jangan sampai aku marah.”

“Ah, Tuan-tuan boleh marah sesuka Tuan. Tak semu­dah yang kalian sangka untuk ber­buat sesu­atu ter­ha­dapku. Syah­ban­dar dilin­dungi kuat oleh Sang Adi­pati selama kalian tidak lepas,” jawab Syah­ban­dar sete­lah mena­ruh cerek tem­bi­kar di atas lantai, kemu­dian diam­bil­nya tong­kat dari bahu dan meng­a­mang-amang­kan. “Tidak­kah kalian bisa sopan barang sedi­kit? Sudah lenyap­kah keso­panan yang lelu­hur ajar­kan pada bang­samu?”

Rodri­guez men­ja­wab dengan sem­buran ludah pada muka Tholib Sung­kar Az-Zubaid. Yang bela­kangan ini menyeka muka dengan lengan jubah­nya, kemu­dian melu­dah sen­diri ke lantai.

“Baik­lah kalau kalian tak mau ber­so­pan-sopan,” dengan ujung tong­kat­nya ia mulai menye­rang sehingga Rodri­guez mundur-mundur dan rantai pada kaki­nya men­jadi kendor geme­rin­cing.

“Sudah, sudah, hen­ti­kan itu,” Este­ban menya­bar­kan Syah­ban­dar.

“Seka­rang begini, Tuan Syah­ban­dar. Kau ini hanya bajingan tengik. Kami akui, kami pun bajingan petu­a­lang belaka. Kau dan kami sama saja. Bukan­kah kita bisa kerja sama?”

“Baik, aku deng­ar­kan usulmu.”

“Sebe­nar­nya kau ini begun­dal raja Pri­bumi atau begun­dal d’Albu­qu­er­que? Kalau kau hanya begun­dal raja Pri­bumi, Sang Adi­pati itu, kata­kan saja apa dia mau, dan kami akan lak­sa­nakan. Kami akan bebas, dan akan tetap beker­ja­sama deng­anmu.”

“Indah sekali. Terus­kan.”

“Baik. Seba­lik­nya kalau kau begun­dal d’Albu­qu­er­que, kami lebih suka mati di sini ber­sama deng­anmu.”

“Bagus. Andai­kan aku begun­dal Sang Adi­pati, bagai­mana usulmu sete­pat­nya,” ia ter­ba­tuk-batuk. “Nah, kau lihat bagai­mana aku mem­beri contoh ber­so­pan-sopan.”

“Ya, memang cukup sopan untuk seo­rang begun­dal.”

“Bagus. Sopan­lah, sabar­lah. Aku tahu orang tua, guru dan padri-padrimu meng­a­jar­kan dan meng­an­jur­kan begitu. Ayoh, mulai. Aku deng­ar­kan kata demi kata.”

Rodri­guez telah siap dengan makian baru. Este­ban men­ce­gah­nya.

Dan tiga orang itu ber­diri ber­ha­dap-hadapan ber­main san­di­wara.

“Jangan kalian kira aku bel­a­jar Por­tu­gis untuk deng­ar­kan maki-maki-annya. Aku yakin lebih banyak buku Por­tu­gis aku baca dari­pada kalian. Terus­kan, Este­ban.”

Tapi Este­ban masih sibuk menya­bar­kan teman­nya.

“Kau benar, Este­ban. Kau nam­pak­nya lebih tua dan lebih punya peng­er­tian. Hanya kalian agak salah terka, aku bukan bajingan. Juga bukan bajingan petu­a­langan seperti kalian.”

“Baik­lah, seti­dak-tidak­nya begun­dal. Tuan Syah­ban­dar masih mau deng­ar­kan aku, tidak?”

“Ayoh, mulai­lah.”

“Kalau rajamu itu meng­hen­daki ban­tuan kami, kita ber­tiga bisa bikin per­se­ku­tuan. Apalah bisa­nya orang Pri­bumi? Kami berdua bisa usa­ha­kan kau naik jadi raja, dan kami berdua pem­ban­tumu yang paling setia.”

“Mereka bukan boneka, Tuan-tuan. Mereka punya alat peme­rin­tahan dan keku­a­saan seperti kera­jaan mana pun di Eropa.”

“Semua itu bisa dia­kali, Tuan Syah­ban­dar. Dan Tuan sen­diri punya banyak akal dalam per­se­di­aan.”

“Usulmu ter­nyata lebih bodoh dari­pada orang Pri­bumi. Impian di siang bolong. Deng­ar­kan seka­rang. Sang Adi­pati Tuban menge­ta­hui, entah dari setan mana, kalian ini ahli meriam. Ia meng­hen­daki kalian meng­a­jar­kan mem­bi­kin meriam….”

Rodri­guez ter­tawa ter­ba­hak.

“Meng­apa tidak dari kema­rin bicara? Aku sang­gup, apa lagi Este­ban. Tang­gung beres. Lepas­kan rantai ini.”

“Sabar, nanti dulu. Kalau aku menyang­gu­pi­nya, mati­lah aku di sini,” Tholib Sung­kar Az-Zubaid mene­rus­kan pida­to­nya. “Kalian hanya penem­bak meriam. Lebih tidak. Apa penge­ta­huan kalian ten­tang penge­coran logam? Kalau kalian punya keah­lian lebih dari menem­bak, menem­baki kapal-kapal yang tak ber­daya, itulah justru petu­a­langan dan kebo­hongan kalian.”

“Kafir!” maki Rodri­guez.

“Jadi aku punya ren­cana lain, agar kalian sela­mat dan aku pun tak kurang suatu apa.”

“Tak kurang suatu apa buat Moro ber­arti keru­gian buat semua orang,” gertak Rodri­guez.

“Ter­se­rah­lah pada peni­laian kalian. Meng­apa kalian aku rantai? Aku meng­erti darah Por­tu­gis. Kalau kalian orang Ispa­nya, barang­kali lebih dari­pada rantai. Mung­kin kalian aku paku­kan pada tiang ini.”

“Jadi dia mau jual kita pada d’Albu­qu­er­que, Este­ban.”

“Kira-kira. Jangan lupa, dia orang Moro.”

“Tidak. Kalian bocah-bocah Por­tu­gis. Aku tahu kalian mem­bu­tuh­kan pang­kalan-pang­kalan di Jawa untuk mengu­a­sai laut dan darat Nusan­tara sebe­lah selatan – ter­u­tama laut,” Syah­ban­dar Tuban mene­rus­kan. “Biar­lah kalian men­da­pat­kan kem­bali kesem­patan meng­a­bdi pada raja dan negeri kalian.”

“Tak ada urusan,” bentak Rodri­guez.

“Kalau itu bukan urusan kalian lagi, tak ada arti­nya aku bawa­kan cerek ini,” dengan tong­kat­nya Tholib Sung­kar menu­ding pada cerek di atas lantai, “tak perlu kuan­tar­kan kemari, biar kalian mampus keha­usan.”

“Diam kau, Rodri­guez. Biar aku yang bicara. Nah, terus­kan Tuan Syah­ban­dar Tuban. Kami yang men­de­ng­ar­kan seka­rang.”

“Nah, bel­a­jar agak bijak­sana. Keta­hu­i­lah, Tuan-tuan, kapal-kapal Jawa masih juga mene­ro­bos ke Maluku. Kapal-kapal kalian ter­lalu sedi­kit untuk dapat meng­a­wasi per­a­iran seluas ini. Pang­kalan baru masih dibu­tuh­kan. Lebih banyak lebih baik. Nah, itulah, Tuan-tuan yang ter­hor­mat, untuk kepen­tingan negeri Tuan-tuan sen­diri, untuk kepen­tingan padroa-do, kami masuk­kan Tuan-tuan ke dalam ren­cana kedua ini. Kalian akan merasa puas di kemu­dian hari dan akan ber­te­ri­ma­ka­sih pada orang Moro tulen yang Tuan-tuan benci ini.”

“Dia memang hendak jual kita pada Malaka!” Rodri­guez mem­per­i­ng­at­kan. “Hati-hati, Este­ban.”

“Tidak, demi Allah. Lagi pula d’Albu­qu­er­que sudah tak ada di Malaka. Dan kalau Tuan-tuan meng­hen­daki acara ketiga, itu lebih mudah. Tuan-tuan celaka, aku sela­mat dan dapat tam­ba­han real.”

“Tuan Syah­ban­dar,” Este­ban menyela. “Ing­at­kah kau bagai­mana Moro diusir dari nege­riku oleh orang tua kami?”

“Aku kela­hiran Ispa­nya.”

“Bagus. Jadi kau meng­erti. Sejak itu tak ada orang Spa­nyol atau Por­tu­gis, bahkan bayi dalam kan­dungan pun, bisa per­caya pada mulut Moro,” Este­ban menam­bahi.

“Bagus. Biar begitu, orang Moro juga yang men­jamu Tuan-tuan selama ini. Garam orang Moro yang kalian makan. Arak orang Moro yang kalian minum. Seka­rang,” Tholib Sung­kar menyo­r­ong cerek arak dengan ujung tong­kat ke dekat mereka, “orang Moro juga yang mela­yani Tuan-tuan dengan arak ini. Pasti kalian tidak akan meno­lak­nya. Minum­lah.”

“Meng­apa kau sorong dengan tong­kat? Kurang ajar! Ter­lalu mahal­kah tanganmu?” Este­ban mem­pro­tes.

“Dija­uh­kan oleh Allah kira­nya aku dari tangan kalian.”

Rodri­guez meng­hen­tak-hentak lantai dan rantai tegang kem­bali karena ia men­coba menyam­bar Tholib Sung­kar Az-Zubaid.

“Batang leher­nya memang berhak untuk dipa­tah­kan,” gumam Rodri­guez gemas. Ia tak ber­ha­sil menyam­bar Syah­ban­dar.

“Ya, kata­kan semau kalian. Nyawa kalian toh tetap di tanganku.”

Este­ban pun kehi­langan kesa­bar­an­nya. Tholib Sung­kar pura-pura hendak pergi. Ia ter­paksa memang­gil­nya kem­bali. Dan Syah­ban­dar kem­bali ber­ba­lik dengan tang­kai tong­kat hendak mena­rik cerek.

“Kalau kalian tak suka pada pela­yanan orang Moro busuk ini, baik­lah cerek ini kubawa pulang,” kata­nya meng­an­cam. Rodri­guez menang­kap cerek yang hendak dita­rik itu dan mene­guk puas-puas. Baru kemu­dian diso­r­ong­kan pada Este­ban yang juga segera memi­num isinya. Sete­lah kosong dilem­par­kan­nya cerek itu pada muka Syah­ban­dar.

Tholib Sung­kar tak sempat meng­e­lak. Benda itu ber­den­tam menub­ruk peli­pis­nya dan jatuh meng­ge­ron­tang di lantai. Tak pecah.

“Begi­tu­lah orang Por­tu­gis menya­ta­kan teri­ma­ka­sih­nya,” ia meng­ge­rutu sambil menyeka luka­nya. “Tapi kalian memang ter­lalu ber­harga untuk dibu­nuh di sini.”

“Ayoh, dekat-dekat sini kau!” tiba-tiba Este­ban meluap. “Biar kugi­git putus teng­go­r­ok­anmu, biar aku kunyah-kunyah jakunmu! Ayoh, dekat sini.”

“Kalau Tuan-tuan memang ber­niat mau meng­a­jar Pri­bumi bikin meriam, seben­tar lagi aku lepas. Sayang Tuan-tuan takkan dapat mem­bi­kin­nya untuk sisa hidup kalian. Jadi sela­mat ber­mimpi, Tuan-tuan, mem­bi­kin meriam, pulang ke Lisboa!”

Tanpa diduga-duga Tholib Sung­kar Az-Zubaid meng­han­tam­kan tong­kat­nya pada Rodri­guez.

“Ampun, ampun,” gumam Rodri­guez dengan suara sema­kin lemah tak nyata, kemu­dian ter­gu­ling, ter­ti­dur.

“Kau pun men­da­pat bagi­anmu,” tong­kat­nya meng­han­tami pung­gung Este­ban.

Orang Por­tu­gis yang dihan­tami itu nampak seperti orang yang keha­bisan kema­uan. Kedua belah tangan­nya ter­gan­tung lung­lai, mulut menga­nga. Tak lama kemu­dian ia ter­sung­kur dan juga jatuh ter­ti­dur.

Syah­ban­dar menyo­r­ong-nyo­r­ong­kan kepala mereka dengan terom­pah­nya, ber­gu­mam tak nyata, keluar dari ruangan dan mema­sak pintu dari luar.

Ia sama sekali tak tahu ada dua orang yang sedang meng­in­tai­nya. Ia ber­ja­lan cepat-cepat dalam malam gelap ber­men­dung dan tanah basah di bawah­nya mele­wati gedung utama, lang­sung ke pintu gandok Wirang­gal­eng dan men­de­ngar-deng­ar­kan. Kemu­dian ia pergi mening­gal­kan kesyah­ban­daran.

Bulan tua itu meng­in­tip dari celah men­dung.

Tholib Sung­kar Az-Zubaid masih juga tak tahu sedang dii­kuti oleh dua orang. Seben­tar saja ia mema­suki warung yang pin­tu­nya ter­nyata tak ter­kunci itu. Ia keluar lagi dii­kuti oleh bebe­rapa orang. Sampai di kesyah­ban­daran ia menu­ding ke arah gandok kanan, kemu­dian masuk ke dalam dan ter­buru-buru keluar lagi, meng­i­kuti sege­rom­bolan orang itu ke gandok kanan.

Mereka semua masuk ke tempat Este­ban dan Rodri­guez teran­tai, dan keluar lagi meng­go­tong mereka berdua. Sampai di gedung utama Syah­ban­dar mem­be­ri­kan sesu­atu pada Yakub dan orang itu meme­rik­sa­nya, lang­sung mema­suk­kan ke dalam saku­nya.

Syah­ban­dar masuk ke rumah dan tak keluar lagi.

Wirang­gal­eng dan Liem Mo Han meng­i­kuti peng­go­tongan sampai pada suatu jarak. Mereka berdua naik ke atas menara pela­buhan. Dua orang pen­jaga itu ter­nyata sedang tidur nye­nyak. Per­se­di­aan makan malam mereka belum lagi ter­sing­gung.

Waktu bulan mem­per­li­hat­kan selu­ruh wajah tuanya dari bolongan men­dung, jauh sekali, nampak kelap-kelip lampu tiang agung sebuah kapal di tengah laut. Sebuah perahu dayung besar sedang melun­cur menuju ke kapal ter­se­but. Di atas­nya adalah gerom­bolan Yakub mem­bawa Este­ban del Mar dan Rodri­guez Dez.

“Jelek benar nasib­nya,” kata Liem Mo Han. “Kalau mereka mem­buka mata­nya, mereka sudah ber­ha­dapan dengan peng­a­dilan kapal. Enam kali aku sudah pernah lihat. Tangan mereka ter­i­kat ke bela­kang. Seo­rang imam kapal akan mem­ba­ca­kan sesu­atu sambil ber­ja­lan meng­i­kuti mereka menuju ke tiang gan­tungan, tiang layar utama. Di sana mereka akan ter­ge­ong-geong mati. Mayat­nya dibu­ang ke laut untuk hiu.”

“Hanya Sang Adi­pati saja tidak per­caya Syah­ban­dar­nya hanya orang­nya Peranggi,” kata Wirang­gal­eng.

“Sang Adi­pati meng­erti benar, Wira. Dia tidak kurang cer­dik­nya dari­pada siapa pun. Sampai jauh-jauh di barat sana orang meng­a­kui kecer­dik­an­nya. Ia ber­u­saha untuk tidak akan meng­gu­na­kan keke­ra­san dalam men­ca­pai semua mak­sud­nya. Ada itu ter­ca­tat dalam buku besar kami. Juga seka­rang ini, Wira. Ia tahu apa yang ia kehen­daki. Selama Syah­ban­dar itu masih bisa diper­gu­na­kan­nya untuk kese­la­matan dir­i­nya dan Tuban, dia akan tetap dilin­dungi dan men­da­pat­kan hak-haknya.”

“Dan nam­pak­nya Peranggi akan men­coba mem­bi­kin pang­kalan di Jawa.”

“Dia akan terus­kan bikin pang­kalan-pang­kalan yang bisa menge­pung Maluku dari semua jurusan. Mereka punya kepen­tingan untuk memu­tus­kan hubungan antara Jawa dengan Maluku. Lihat, Wira, beda­nya dengan kami bangsa Tiong­hoa. Per­jan­jian antara Ceng He dan Sang Adi­pati menye­but­kan, kami tidak akan mema­suki wila­yah Maluku. Kami tak pernah melang­gar per­jan­jian itu. Peranggi lain lagi, Wira. Maka itu Gusti Kan­jeng Adi­pati Unus selu­r­uh­nya benar, musuh per­tama adalah Peranggi, mereka harus diha­lau dari per­a­iran Nusan­tara.”

Wirang­gal­eng men­de­ng­ar­kan dengan diam-diam. Penge­ta­huan sema­cam itu takkan dapat diper­o­leh­nya dari para pung­gawa, hanya bisa dari orang asing dan para nakhoda.

Perahu dayung besar itu sema­kin lama sema­kin hilang ke dalam kege­lapan malam ber­men­dung. Hilang pula ombak dan puncak-puncak-nya. Hanya lampu kapal di keja­uhan sana masih keli­hatan samar. Dan waktu hujan turun lagi dengan lebat­nya, nya­la­nya pun hilang-lenyap seakan keluar dari ruang kehi­dupan.

Este­ban ter­ba­ngun dan men­coba duduk. Selalu ia gagal dan roboh kem­bali. Ia mulai meng­i­ngat-ingat. Tapi piki­ran­nya beku. Ia ber­u­saha keras untuk menge­nang­kan peris­tiwa ter­a­khir sebe­lum ter­ti­dur. Tak mampu. Ia ber­u­saha lagi untuk duduk. Kemu­dian dira­sa­i­nya tangan dan kaki­nya ter­i­kat erat-erat. Ia menya­dari ada sesu­atu yang tidak beres. Tapi ing­at­an­nya meno­lak disu­r­uh­nya bekerja.

Dira­sa­i­nya pung­gung­nya memar dan kepa­la­nya ber­de­nyut-denyut berat. Dunia di hadap­an­nya seperti dili­puti awan tipis. Ia tajam­kan penge­li­hat­an­nya. Juga tak ber­ha­sil. Kemu­dian ia tutup kem­bali mata­nya dan meno­pang­kan kepala di atas lutut.

Sebuah bun­daran cahaya dan beku mulai ter­tang­kap oleh penge­li­hat­an­nya, samar dan tidak meya­kin­kan. Bun­daran cahaya itu makin lama makin terang, makin terang. Dan dike­ta­hu­i­nya itu tak lain dari­pada sebuah pat­ris­porta kapal. Pat­ris­porta kapal! Kapal apa? Di mana? Dan meng­apa sampai bisa datang kemari? Seka­rang ing­at­an­nya mulai ber­ja­lan tanpa dipe­rin­tah­nya. Kapal! Di kapal! Ia tebar­kan pan­dang ke seke­li­ling­nya. Kapal apa? Kapal Siapa? Pan­dang­nya yang samar itu ter­tum­puk pada ambin kayu di sam­ping­nya. Ambin kayu, ia meng­i­ngat-ingat. Ia hendak mera­ba­i­nya, apakah itu ambin kayu benar. Dan tangan­nya berat diang­kat, tali peng­i­kat itu sema­kin mem­per­be­rat. Di sebe­lah sana ber­diri sebuah meja. Dan daun meja itu ter­gan­tung dengan dua helai rantai besi pada din­ding.

Kemu­dian ia menye­dari adanya Rodri­guez yang tidur miring tak jauh dari sebe­lah­nya. Juga tangan dan kaki­nya ter­i­kat tali. Kedua belah leng­an­nya ter­buka men­de­pai udara. Kepa­la­nya miring dan air liur mene­tes dari sudut mulu­r­nya. Dengan sen­di­r­i­nya Este­ban menyeka sudut mulut sen­diri dengan bahu.

Ter­i­ngat sedang ada di dalam kapal, sekali lagi ia ter­ke­jut. Mulai ia ber­pi­kir keras: di kapal! Tentu kapal Por­tu­gis!

“Maut,” bisik­nya, dan diba­ngun­kan­nya teman­nya.

“Aha!” sese­o­rang ber­seru dari bela­kang­nya.

Kontan ia ber­pa­ling ke bela­kang. Pada daun pintu yang ter­ki­rai seo­rang per­wira sedang meng­in­tip­nya.

Este­ban men­coba ber­diri untuk meng­hor­mat. Ia jatuh ter­du­duk kem­bali dan peman­dang­an­nya ber­pu­tar. Dari mulu­r­nya keluar ucapan sela­mat, pelan dan ragu-ragu – ia tidak tahu waktu.

“Puas ber­pe­tu­a­lang, he?” ejek per­wira itu.

Ia tak tahu bagai­mana harus men­ja­wab.

“Akhir­nya pulang kem­bali ke gela­dak lama juga?”

Jan­tung Este­ban mulai ber­de­baran ken­cang. Ia men­coba untuk ber­diri lagi. Tapi per­wira itu telah hilang. Pintu ter­tu­tup kem­bali. Kesa­dar­an­nya mulai pulih. Ia ber­u­saha mem­ba­ngun­kan teman­nya.

Rodri­guez hanya meng­ge­liat malas, kemu­dian mene­rus­kan tidur­nya sambil menyeka mulut.

“Bangun, bangun kau,” ia goyang-goyang­kan teman­nya dengan tangan­nya yang ter­i­kat. Meli­hat Rodri­guez tak juga bangun ia mem­bi­sik­kan pada teli­nga­nya, “Bangun kau, anjing, kita sudah ter­kunci dalam kamar kapal. Di dalam kamar per­wira! Bangun, anjing!”

Ia sorong-sorong teman­nya. Rodri­guez meng­ge­liat lagi kemu­dian men­coba mem­buka tapuk mata­nya yang berat. Dan mata itu ter­tu­tup kem­bali.

“Anjing ter­ku­tuk!” maki­nya, “menik­mati tidur, tak tahu kau, seben­tar lagi kau akan tidur untuk selama-lama­nya.” Meli­hat teman­nya tak juga mau bangun ia per­gu­na­kan sikut untuk menya­kit­i­nya.

Rodri­guez bangun dengan malas­nya. Dan ia meng­u­langi peng­a­laman Este­ban. Ia buka mata­nya dengan tapuk berat. “Memang kita masih mabuk,” kata Este­ban. “Seben­tar lagi kau tahu sen­diri apa sedang menunggu kita.”

Rodri­guez telah menu­tup mata­nya kem­bali. Dengan dua tin­ju­nya yang ter­i­kat Este­ban memu­kul pipi­nya, dan teman­nya jatuh di gela­dak sambil meng­ge­ram. Este­ban meng­gu­na­kan sikut­nya lagi dan Rodri­guez bangun menyen­tak. Dari bawah tapuk mata­nya yang berat bola mata­nya meng­in­tip.

“Hhhh?” tanya­nya.

“Seka­rang ini bangun kau! Seben­tar lagi kau dapat cukup waktu untuk tidur.”

Dan ia usa­ha­kan agar teman­nya men­jadi sadar untuk dapat menyer­ta­i­nya dalam keta­kutan. Ia tahu tidak meng­ha­dapi orang Moro atau Pri­bumi, tapi bang­sa­nya sen­diri.

Dengan sikutan dan ton­jo­kan Rodri­guez men­jadi sadar. Sadar juga ia akan tali yang meng­i­kat kaki dan tangan­nya. Ia siap hendak memaki.

“Sttt,” cegah Este­ban. “Jangan gaduh. Kita sedang di kapal Por­tu­gis.”

Kesa­daran mem­bi­kin Rodri­guez ter­ke­jut, kemu­dian pucat. Pintu ter­buka lagi dan per­wira yang tadi masuk ke dalam mem­bawa sebi­lah tong­kat: “Anak maut!” kata­nya meng­gi­git pahit. Ia pan­dangi Rodri­guez yang ber­ju­ang hendak ber­diri meng­hor­mat­i­nya. Ia melang­kah pada­nya dan menen­dang dengan sepa­tu­nya pada lam­bung­nya. Rodri­guez ber­pi­lin, meliuk kesa­kitan dan jatuh.

“Habis suka datang duka, he? Akhir­nya di gela­dak yang lama juga. Apa sudah lupa mem­beri hormat?

Sekali lagi Rodri­guez ber­ju­ang untuk dapat bangun. Este­ban ting­gal duduk di tempat.

“Bagai­mana? Sudah siap meng­hor­mat, kalian, anak-anak maut ter­ku­tuk?” Rodri­guez ber­diri dan Este­ban ber­diri pula dengan ber­pe­gangan pada din­ding.

Per­wira itu nam­pak­nya asyik dan senang meli­hat mereka berdua. Ia mena­han tawanya sehingga darah men­jom­pak pada muka­nya.

“Kalau semua pemuda Por­tu­gis sema­cam kalian ini, apa jadi­nya dengan Sri Baginda, Sri Ratu dan negeri kalian? Bagai­mana dengan tugas suci kalian? Ha? Memang hanya tali gan­tungan yang ter­baik. Ya, meng­hor­mat!”

Mereka berdua mem­beri hormat. Tapi per­wira itu tidak mem­ba­las, meng­a­wasi mereka dari ujung rambut sampai ke tumit: “Mana sepatu kalian?”

“Sudah lama hancur, Tuan,” jawab Este­ban. “Pakaian apa kalian kena­kan itu? Meram­pas kepu­nyaan kafir per­begu?”

Tak ada yang men­ja­wab. Per­wira itu maju ke hadapan mereka dan meninju muka Este­ban. Ia meng­ge­le­par jatuh miring di gela­dak.

“Bangun!” perin­tah­nya.

Sebe­lum ia dapat bangun, Rodri­guez men­da­pat giliran. Ia jatuh ter­te­len­tang dan men­je­rit kesa­kitan menin­dih tangan sen­diri.

“Apa kataku? Bangun!”

Dengan susah-payah mereka ber­u­saha bangun dalam peng­a­wasan kejam per­wira itu.

“Seka­wanan burung gereja yang malang. Sudah siap maju ke peng­a­dilan kapal? Meng­apa diam saja? Sudah tak punya lidah? Sudah kau gadai­kan lidah itu pada kafir per­begu? Sambar gele­dek, kalian. Heh baru dengar, dengar saja, peng­a­dilan kapal, sudah seperti tikus jatuh ke dalam kuah. Jawab.”

“Siap meng­ha­dap ke peng­a­dilan kapal, Tuan.”

“Bagus. Begi­tu­lah pemuda Por­tu­gis meng­ha­dapi maut­nya.” Per­wira itu mena­rik sebuah kursi, mena­rik buku dari laci meja dan mulai meme­riksa petu­a­langan mereka. Peme­rik­saan dan pen­ca­tatan itu ber­lang­sung lebih dari tiga jam. Kemu­dian: “Jadi kalian sudah banyak tahu ten­tang daerah pesi­sir Jawa utara. Coba pikir, seki­ra­nya kalian dulu dengan perin­tah,” ia ter­tawa meng­e­jek, “Sri Baginda dan Sri Ratu pasti akan ber­ke­nan mene­rima kalian. Musik istana akan menyam­but kalian. Kebang­sa­wa­nan kalian, seki­ra­nya ada darah biru pada kalian, akan dipu­l­ih­kan. Kalau tidak boleh jadi kalian akan men­da­pat­nya. Siapa tahu mung­kin diang­kat jadi lak­sa­m­ana… Barisan kehor­matan ber­kuda akan meng­elu-elukan kalian dan meng­an­tar­kan kalian dalam kereta jem­putan dari istana. Apa seka­rang? Aku pun muak meli­hat kalian. Meng­apa geme­tar? Belum lagi cukup meram­pok nasi Pri­bumi?”

Men­de­ngar nasi dua orang tang­kapan itu seki­las ter­i­ngat belum lagi makan selama ini, dan merasa lapar mem­be­lit di dalam usus. Tiba-tiba mereka merasa dir­i­nya sangat lemah untuk dapat mem­per­ta­han­kan kese­im­bang­an­nya.

“Jawab!”

“Dua hari satu malam kami belum lagi makan,” jawab Este­ban del Mar.

“Kasihan hiu-hiu itu. Tentu kau ter­lalu kurus untuk mereka. Kasihan, bukan?” meli­hat mereka tak juga men­ja­wab, ia meng­ger­tak: “Kasihan, bukan?”

“Ya, Tuan, kasihan sekali,” jawab Rodri­guez.

“Meng­apa dengan sekali?”

“Karena mung­kin mereka seminggu belum makan.”

“Bagus. Jadi apa yang kau tunggu seka­rang?” teri­ak­nya pada Rodri­guez, kemu­dian men­da­dak menu­ding Este­ban:

“Tiang gan­tungan, Tuan.”

“Bagus. Tiang gan­tungan. Indah, bukan, tiang itu?” men­da­dak ia alih­kan tudingan pada Rodri­guez: “Indah, Tuan.”

“Tanpa sekali?”

“Kalau Tuan mem­bu­tuh­kan yang sekali….”

Tinju mela­yang dan untuk yang kese­kian kali­nya Rodri­guez jatuh. Tapi per­wira itu menyam­bar­nya dengan per­ta­nyaan: “Tanpa sekali, tanyaku.”

“Tanpa sekali, Tuan,” jawab Rodri­guez sambil ber­diri.

“Bagus. Tanpa sekali. Kau simpan di mana sekali itu seka­rang?” ia tunggu Rodri­guez kukuh dalam tegak­nya. “Kau simpan di mana?”

Rodri­guez bingung untuk men­ja­wab­nya.

“Di mana?” pekik per­wira itu.

“Sudah ter­te­lan, Tuan.”

“Ter­te­lan? Jadi dalam perut?” dan dipu­kul­nya perut Rodri­guez.

Dan sekali ini Rodri­guez Dez tak bangun lagi. Ia ping­san.

“Kau bagai­mana, kau, bagai­mana bagus­nya tiang gan­tungan?”

“Seperti seo­rang penari, Tuan.”

“Penari? Coba terang­kan meng­apa seperti penari.”

“Lang­sing, Tuan, cantik, cantik tanpa sekali, Tuan. Kalau lelaki dia gagah, Tuan.”

“Juga tanpa sekali, Tuan.”

“Kira-kira tanpa, Tuan.”

“Anak maut! Meng­apa tanpa?”

“Karena Tuan belum meng­hen­dak­i­nya.”

Ia ter­tawa senang, ber­ja­lan men­de­kati pintu dan men­je­nguk keluar. Memang­gil-mang­gil: “Kelasi. He, kelasi!” ia kem­bali ke tem­pat­nya dan duduk.

Kelasi yang dipang­gil masuk, mem­beri hormat dan ber­diri di tempat.

“Lepas­kan tali pada kaki mereka, anak-anak maut ini biar ber­ja­lan sen­diri ke tiang-gan­tung­an­nya.”

Kelasi itu menge­lu­ar­kan sebi­lah belati dan memu­tus­kan. Rodri­guez masih nye­nyak dalam ping­san­nya.

“Kelasi, kau ting­gal di sini. Tunggu sampai yang satu itu bangun lagi,” dan pada Este­ban, “meng­erti kau? Dengan kaki sen­diri ber­ja­lan ke tiang gan­tungan.”

“Indah, Tuan, dengan kaki sen­diri ber­ja­lan ke tiang gan­tungan.”

“Dan kalau kau sudah mati, jadi iblis gen­ta­yangan, apakah kau akan mem­ba­las dendam padaku?”

“Tidak, Tuan.”

“Meng­apa tidak, kau, calon iblis?”

“Karena Tuan men­ja­lan­kan tugas untuk Sri Baginda, Sri Ratu dan negeri Por­tu­gis.”

“Bagus. Kelasi! bangun­kah orang itu. Tadi dia ping­san seka­rang ia pura-pura.”

Dan Rodri­guez bangun ter­buru-buru.

“Nah itulah ting­kah pemuda Por­tu­gis yang tidak patut. Hei, kelasi. Coba lihat baik-baik pemuda-pemuda gan­teng ini. Dan coba kata­kan padaku, bagai­mana kalau mereka seben­tar nanti mulai mena­iki ancak gan­tungan.”

“Lebih cepat dari seka­rang, Tuan.”

“Lantas?”

“Kaki­nya mung­kin geme­tar. Kalau ter­lalu amat sangat geme­tar­nya sese­o­rang harus mem­ban­tu­nya.”

“Cuma itu saja?”

‘Tentu saja tidak, Tuan. Masih ada, cela­na­nya sudah jadi basah dan busuk. Bibir­nya tak ber­da­rah dan seben­tar-seben­tar mene­lan ludah, kerong­kong­an­nya kering.”

“Tahu betul kau, kelasi. Apakah kau sen­diri pernah meng­gan­tung o-rang.”

“Peker­jaan tam­ba­han, Tuan.”

“Pantas. Deng­ar­kan itu, anak-anak maut! Terus­kan, kelasi.”

“Berun­tung­lah yang leher­nya lemah, Tuan. Kalau ancak dile­pas, dia akan mudah patah dan seka­li­gus mati. Cela­ka­lah yang leher­nya kuat.”

“Orang tak ter­bu­nuhi lagi kalau ancak jatuh?”

“Ya, hanya bunyi sekali napas ter­se­kat, kadang dii­kuti bunyi kecil ‘klik’ dari per­sam­bungan tulang leher yang patah. Sete­lah itu hanya lidah men­je­lir seperti anjing, Tuan, seba­gai per­tanda: saat itu….”

“Ya-ya, aku meng­erti, saat itu dia jadi iblis.”

“Mereka bia­sa­nya lupa meng­u­cap­kan terima kasih pada apa pun dan siapa pun. Kalau tali sudah meng­a­lungi leher, dan kaki mulai meliuk, orang bia­sa­nya sudah ping­san, Tuan. Betapa takut­nya orang pada maut.”

“Dan kau sen­diri, kelasi, kapan kau ber­niat untuk digan­tung orang?”

“Selama ber­se­tia pada Por­tu­gis, Tuan, Sri Baginda, Sri Ratu dan negeri… Tuhan takkan mem­bi­ar­kan diri ini mati di tiang gan­tungan, dengan lidah men­je­lir seperti anjing kepa­nasan.”

“Bukan seperti, mereka memang anjing. Terus­kan, kelasi!”

“Dengan ejekan, sum­pahan dan makian orang, tentu dari juru gan­tung juga, Tuan, mereka menu­run­kan­nya dari tali seba­gai bang­kai sial, dan dengan sorak orang melem­par­kan­nya ke laut. Selan­jut­nya…”

“Bagus. Pan­dangi sekali lagi anak-anak maut ini sebe­lum ber­ja­lan ke peng­a­dilan. Tentu kau sudah tak kenal. Hampir lima tahun meng­hi­lang.”

“Empat tahun,” Este­ban mem­be­tul­kan.

“Nafsu hidupmu masih menyala, Este­ban!” tegur per­wira itu. “Apa yang masih kau harap­kan dari sepeng­gal hidup ini?”

‘Tiang gan­tungan yang indah itu, Tuan.”

“Apakah kau juru gan­tung hari ini, kelasi?”

“Boleh jadi, Tuan, belum ada perin­tah.”

“Bagus. Kau sudah mem­be­ri­kan cerita yang indah pada anak-anak maut ini. Bisa­kah kau ber­ce­rita sete­lah mereka nanti gen­ta­yangan seba­gai iblis?”

Kelasi itu mem­buat gerak salib dan per­wira itu ter­diam, kemu­dian: “Cukup, pergi kau.”

Kelasi itu mem­beri hormat dan pergi. Per­wira itu meng­a­was­i­nya sampai hilang di balik pintu.

“Deng­ar­kan, kalian: Sri Baginda dan Sri Ratu sung­guh menye­sal dengan masih adanya pemuda-pemuda Por­tu­gis yang berang­kat ke tiang gan­tungan. Apa boleh buat, tanpa kepa­tuhan yang jadi sendi kebe­saran Por­tu­gis dan Salib, negeri akan jatuh. Kalian tahu betul itu. Kalian telah deng­ar­kan waktu kata-kata itu diba­ca­kan dalam upa­cara kalian mema­suki ang­katan laut. Bukan­kah kalian mening­gal­kan negeri dan kelu­arga tak lain hanya dan hanya untuk kebe­saran Por­tu­gis dan Salib?”

“Demi­ki­an­lah pada mula­nya, Tuan,” sambar Rodri­guez.

“Pada mula­nya, ya. Dan pada akhir­nya tali gan­tungan juga.”

Rodri­guez ter­diam lagi, nam­pak­nya menye­sal telah menyam­bar. Este­ban mem­per­ha­ti­kan tangan per­wira itu. Nam­pak­nya piki­ran­nya beku.

“Jangan kalian kira Sri Baginda dan Sri Ratu tak punya peng­am­punan. Ada, ya, selama peng­a­b­dian pada­nya dan pada Salib tetap dijun­jung tinggi-”

“Kami sang­gup meng­a­bdi lebih baik!” Rodri­guez men­de­sis.

“Diam, kau, calon iblis. Aku tak ber­ta­nya.”

“Ya, Tuan.”

“Nah, apa mak­sudmu ber­mu­lut lan­cang itu?”

“Meng­a­bdi lebih baik, Tuan, lebih baik dan lebih, lebih baik.”

“Bukan­kah itu sudah ter­lam­bat?”

“Kami masih hidup, Tuan,” seka­rang Este­ban mem­per­kuat.

Air muka per­wira itu keli­hatan kehi­langan keke­ra­san­nya. Secu­wil senyum manis men­ce­rahi bibir­nya. Mata­nya meman­car­kan cahaya ramah. Dan ter­de­ngar sua­ra­nya yang ramah pula, memi­kat dan mena­war­kan: “Ya, tentu, lebih dan lebih baik lagi. Dan sudah aku pikir baik-baik, ten­tu­nya kalian masih sang­gup mela­yani meriam sete­lah ber­pe­tu­a­langan selama empat tahun bela­kangan ini. Belum lupa, kan?”

“Meriam itu rasa­nya masih hangat dalam geng­gaman, Tuan,” sambar Rodri­guez.

“Dan meng­apa temanmu mem­bisu saja, Rodri­guez?”

“Lebih dari mela­yani meriam kami pun sang­gup, Tuan.”

“Nah, begitu pemuda Por­tu­gis,” per­wira itu ter­tawa, mem­per­ha­ti­kan wajah dua orang tang­kapan itu dan mata­nya ber­seri-seri meng­e­jek.

“Nafsu hidup kalian memang besar.” Ia kelu­ar­kan sepu­cuk surat dari kan­tong. “Kalian sudah pandai ber­ba­hasa Melayu dan Jawa. Bagus. Dan ten­tu­nya kalian kenal juga siapa itu Tholib Sung­kar Az-Zubaid.”

‘Tidak, Tuan,” jawab Este­ban del Mar men­coba mera­mahi per­wira itu.

“Dasar goblok. Mes­ti­nya kau Pri­bumi Jawa atau Malaka, bukan Por­tu­gis. “Siapa yang menang­kap kalian kalau bukan Tholib Sung­kar Az-Zubaid? Syah­ban­dar Malaka?”

“Bukan, Tuan, Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa, Syah­ban­dar Tuban,” Este­ban men­da­pat­kan sema­ng­at­nya pri­badi.

“Seri­gala pun lebih cerdik dari­pada kalian.”

“Ya, Tuan.”

“Deng­ar­kan: Tholib Sung­kar Az-Zubaid, bekas Syah­ban­dar Malaka, apakah nama­nya Tholib Sung­kar atau­kah Sayid Mahmud atau­kah Sayid Habi­bul­lah, telah meminta padaku untuk kese­la­matan nyawa kalian. Dengar?”

“Ya, Tuan,” mereka men­ja­wab ber­ba­reng.

“Dia minta hen­dak­nya kalian tidak dise­rah­kan pada tali tiang gan­tungan. Nyawa kalian diper­lu­kan oleh­nya. Dari­pada kalian jadi makanan hiu, pin­ta­nya, baik­lah kalian diberi hidup seba­gai­mana dike­hen­daki oleh­nya. Kalian barang­kali seka­rang lebih meng­erti: Tholib Sung­kar itu penye­la­mat nyawa kalian. Tapi entah­lah bagai­mana kalian nanti men­ja­wab di depan peng­a­dilan kapal.”

“Kami akan men­ja­wab sebaik-baik­nya, demi Sri Baginda dan Sri Ratu, demi Por­tu­gis, demi Salib,” Este­ban mewa­kili.

Dan per­wira itu tidak meng­gub­ris.

“Mari aku bawa kalian ke peng­a­dilan.”

Per­wira itu ber­ja­lan keluar dari bilik kapal. Este­ban dan Rodri­guez meng­i­kuti dengan kedua belah tangan ter­i­kat ke bela­kang.

Mereka mela­lui lorong yang dapat dike­nal dalam setiap kapal Por­tu­gis. Pan­dang mata sepan­jang jalan tidak men­jadi per­tim­bangan mereka. Nyawa lebih pen­ting dari­pada pan­dang orang.

Tetapi mereka tidak dibawa ke dek. Di sana bia­sa­nya peng­a­dilan dia­da­kan, disak­si­kan oleh awak kapal. Mereka terus juga meng­i­kuti per­wira itu menu­runi tangga sampai ke dasar kapal, dan sam­pai­lah mereka di sebuah ruangan gelap. Per­wira itu memer­lu­kan mem­bawa len­tera gan­tung.

Mereka ber­diri di tengah-tengah barang-barang rusak atau sete­ngah rusak dan meriam-meriam dengan atau tanpa roda.

“Pada mula­nya,” per­wira itu memu­lai lagi, “dua pucuk ini akan kuki­rim­kan ke Pasu­r­uan.” Men­da­dak ia ter­tawa dengan muka ter­te­nga­dah pada langit-langit. “Kafir-kafir dungu itu mengira, dengan meriam orang bisa jadi sega­gah Por­tu­gis. Tidak jadi barang-barang ini kuki­rim­kan ke Blam­bangan. Aku ada piki­ran lain. Kalian berdua, Este­ban dan Rodri­guez, sang­gup­kah kalian mela­yani dua pucuk meriam ini?”

‘Tapi ini barang rusak, Tuan,” Rodri­guez menyam­bar. Tinju itu meng­han­tam mulut Rodri­guez dan ia meliuk. Darah keluar dari mulut­nya. Ia melu­dah­kan darah dan gigi.

“Kami bisa betul­kan, Tuan,” Este­ban mem­per­ba­iki.

“Betul. Itu jawaban gaya Por­tu­gis. Kalian bisa betul­kan sen­diri. Memang meriam rusak semua ini. Kalian justru harus ber­te­ri­ma­ka­sih dengan adanya barang-barang ini. Kalau­lah tidak karena ini, tali gan­tungan yang akan kalian temui.”

“Ya, Tuan,” Este­ban men­ja­wab sangat sopan. “Kami pun ber­se­dia dan rela diki­rim­kan ke Blam­bangan.”

“Ke mana diki­rim­kan, aku yang menen­tu­kan.”

“Ya, Tuan,” Este­ban men­ja­wab lebih sangat sopan lagi.

“Kalau ada kese­di­aan dan kese­ti­aan mela­yani sen­jata ini…. Pikir cepat, jangan gega­bah. Kalian ter­i­kat, hidup atau mati pada sen­jata ini.”

Dan Este­ban dan Rodri­guez justru tak dapat ber­pi­kir.

“Bagai­mana?”

“Kami berdua ada kese­di­aan dan kese­ti­aan itu, Tuan,” jawab Este­ban.

“Betul? Sudah dipi­kir­kan dengan baik dan cepat seba­gai pemuda Por­tu­gis?”

“Betul, Tuan.”

Per­wira itu ter­tawa mele­ceh­kan. Kemu­dian: “Memang, tali lebih berat dari­pada meriam. Hanya sekali ini kesem­patan dibe­ri­kan, kesem­patan hidup, kesem­patan mem­per­ba­iki diri. Tidak benar? Tali gan­tungan juga yang kalian parani.”

“Ke mana pun kami diki­rim­kan, kami akan setia pada­nya sampai mati,” Este­ban hampir-hampir meng­u­langi sum­pah­nya seba­gai kano­nir.

Per­wira itu mem­beri isya­rat. Ia ber­ja­lan lebih dahulu dan dua orang tang­kapan yang ter­i­kat itu meng­i­kut­i­nya dari bela­kang seperti dua ekor anjing. Di gela­dak itu memang tak ada per­si­apan peng­a­dilan kapal juga tak nampak ada per­si­apan peng­gan­tungan. Seba­lik­nya ada serom­bongan orang bukan Por­tu­gis sedang ber­diri meng­ge­rom­bol dan ter­se­nyum-senyum meman­dangi mereka.

“Ya!” seru per­wira itu pada mereka, kemu­dian dalam Melayu, “bawa mereka turun!”

Dengan ban­tuan bebe­rapa orang Este­ban dan Rodri­guez ditu­run­kan mela­lui tangga tali ke sebuah perahu dayung besar. Mereka masih tetap ter­i­kat dengan tangan ke bela­kang.

Hari telah malam dan men­dung tebal meng­a­pung di udara.

Lampu-lampu dari atas kapal mem­bi­kin mereka dapat meli­hat, di dalam perahu itu sudah menanti bebe­rapa orang ber­pa­kaian Pri­bumi. Tetapi dari raut muka­nya mereka nam­pak­nya per­a­nakan Arab atau Beng­gal. Di tengah-tengah perahu besar itu ber­diri dua buah meriam beroda dan peluru-peluru besi.

Dengan muatan ini bisa jadi perahu ini pecah dan teng­ge­lam, pikir Este­ban. Dan dengan tangan ter­i­kat begini… maut masih belum dapat dihin­dari. Orang mulai men­da­yung. Perahu mulai ber­ge­rak, makin lama makin men­ja­uhi kapal Por­tu­gis, menuju ke arah titik nyala nun jauh di sebe­rang sana, kecil, hampir-hampir tak nampak.

Para pen­da­yung itu tak ada yang bicara.

Este­ban men­coba menem­busi kege­lapan dengan mata­nya yang sudah kehi­langan kea­was­an­nya karena lapar dan tegang selama ini. Namun ia masih dapat meli­hat bebe­rapa biduk Por­tu­gis meng­i­kuti dari bela­kang.

Mereka ber­da­yung ber­i­ringan. Semua menuju ke titik nyala. Dan geri­mis kecil mulai turun, mem­bi­kin Este­ban dan Rodri­guez merasa kedi­nginan.

“Makan!” tiba-tiba Rodri­guez mera­ung.

Sese­o­rang men­je­jal­kan sesu­atu pada mulut­nya dengan diam-diam. Dan Rodri­guez tidak merasa ter­hina, juga tidak menyem­bur­kan jeja­lan itu. Ia mulai mengu­nyah dengan gigi­nya yang kurang dan mene­lan­nya dengan lahap.

Este­ban duduk mere­nung-renung. Sese­o­rang mema­suk­kan penganan ke dalam mulut­nya. Ia tem­busi kege­lapan untuk menang­kap muka orang itu. Dan ia menge­nal­nya: Yakub, pewa­rung arak dan tuak. Ia merasa agak lega dan aman. Dan penganan itu pun tidak terasa jahat. Ia mengu­nyah dan mene­lan­nya.

“Lagi!” teriak Rodri­guez dalam Melayu. “Dan minum, bede­bah!” Ia men­da­pat­kan apa yang dipin­ta­nya dan ter­diam.

Juga Este­ban men­da­pat tam­ba­han dan minum sampai kenyang dan merasa tena­ga­nya agak pulih. Ter­u­tama karena minum manis itu.

“Lepas­kan tali ini,” raung Rodri­guez meme­rin­tah. “Ayoh, bede­bah! Lepas­kan!”

Ia lihat Yakub ber­diri, men­de­kati Rodri­guez dan meninju mulut­nya. Tak ada yang meli­hat gigi­nya rontok lagi atau tidak. Ia tak mem­buka mulut lagi. Iring-iringan biduk dan perahu dayung itu melun­cur terus ke arah titik nyala di keja­uhan, mene­ro­bosi kege­lapan malam dan hujan geri­mis. Waktu kilat menge­r­jap, nampak pantai masih sangat jauh, dan sebuah kapal penga­wal pantai sedang menuju ke arah barat.

“Moga-moga kapal kafir itu tak meli­hat kita,” doa Yakub.

“Mereka akan men­duga kita nela­yan.”

Dan mereka semua menunggu menge­r­jap­nya kilat lagi. Mereka akan balik kanan jalan kem­bali ke kapal Por­tu­gis bila diburu. Tetapi kapal peronda itu tidak mele­pas­kan eet­bang, Semua menunggu-nunggu. Dayung ber­henti ber­ge­rak, dan perahu dan biduk ter­a­yun-ayun di atas laut tanpa ber­ge­rak maju.

Waktu kilat ber­ke­jap lagi bentuk kapal peronda itu sema­kin kecil dengan layar­nya meng­ge­lem­bung penuh. Yakub mem­beri perin­tah untuk maju lagi, dan maju­lah semua iring-iringan, tetapi ke arah cahaya yang timbul-teng­ge­lam di kepala ombak. Lurus ke barat daya.

Iring-iringan itu mema­suki hutan bakau-bakau yang agak rapat. Para penum­pang dan pen­da­yung turun dan men­do­r­ong perahu besar yang kaku dan berat itu. Di bela­kang mereka orang-orang Por­tu­gis memaki-maki dalam baha­sa­nya sen­diri.

Sese­o­rang menya­la­kan obor dan mene­bangi ran­ting dan batang yang meng­ha­langi.

Pantai itu sen­diri ter­le­tak pada suatu keting­gian. Sebuah api unggun yang geli­sah mene­bar­kan sinar ke laut lepas, tetapi hutan bakau-bakau itu tak ter­tem­busi oleh­nya. Mereka ber­ju­ang untuk dapat men­ca­pai keting­gian itu. Nyamuk men­de­ngung dan menye­rang setiap titik kulit yang ter­buka.

Hanya Este­ban dan Rodri­guez ting­gal di atas perahu itu. Dan tak ada seo­rang pun yang meng­gu­gat mereka. Nyamuk makin ber­da­tangan, seperti awan tipis menan­dingi asap yang keluar dari obor. Dan orang-orang Por­tu­gis itu tak juga ber­henti menyum­pah-nyum­pah.

Men­je­lang pagi baru mereka dapat men­ca­pai pantai. Para penunggu api sedang ber­ha­ngat-hangat dan meng­o­b­rol ramai. Men­de­ngar keci­bak air mereka bang­kit ber­ba­reng, men­coba menem­busi kege­lapan dan ber­ta­nya: “Yakub?”

“Ya, Yakub di sini,” ia men­je­nguk ke perahu dan meme­rin­tah­kan Este­ban dan Rodri­guez turun.

Orang mulai sibuk menu­run­kan meriam dan peluru. Juga orang-orang Por­tu­gis yang bebe­rapa belas itu menu­run­kan barang-barang dari biduk­nya masing-masing: peluru, onde­r­dil meriam dan per­leng­kapan sen­diri.

Este­ban dan Rodri­guez meng­hin­dar­kan muka­nya dari sebang­sa­nya sen­diri. Dan mereka pun tak ber­niat untuk mene­gur. Lang­sung mereka men­de­kati api unggun, duduk, kemu­dian mere­bah­kan diri di rum­putan yang kering. Dan mereka tak juga dile­pas­kan dari tali peng­i­kat­nya.

Tak ada orang meng­ganggu mereka mere­bah­kan diri. Mereka sudah sangat mengan­tuk, lapar dan haus. Dalam kea­daan pura-pura tidur mereka meli­hat orang-orang sebang­sa­nya men­di­r­i­kan kemahan, mem­ba­ngun­kan sen­diri api unggun, meng­ha­ng­ati makanan kemu­dian makan, tanpa datang pada mereka berdua untuk mena­wari sesu­atu.

Untuk per­tama kali dalam hidup­nya Este­ban merasa disi­sih­kan dari bang­sa­nya sen­diri. Bahkan makanan sebangsa sen­diri, yang selama ini tak pernah dima­kan­nya, juga ter­sing­kir­kan dari­pa­da­nya. Ia merasa nelangsa. Dan ia tak tahu pula hendak dia­pa­kan dir­i­nya dibawa ke hutan di tepi laut ini, tetap ter­i­kat dan dijaga oleh sebangsa sen­diri.

“Seti­dak-tidak­nya,” bisik Rodri­guez, “sampai detik ini kita masih hidup. Sambar gledek mereka.”

Este­ban menu­tup mata­nya dengan melin­dung­kan muka­nya pada rum­putan. Seperti Rodri­guez ia pun tidur teng­ku­rap dengan kedua belah tangan di atas. Dan waktu tungau menye­rang kema­luan mereka, mereka menyum­pah-nyum­pah, lupa akan kea­daan.

Sebang­sa­nya hanya meli­hat­kan mereka bingung tak dapat meng­gu­na­kan tangan untuk meng­ga­ruk. Dalam serangan gatal-panas paha mereka dike­rah­kan. Sia-sia. Mereka gigit pundak, tapi tak sampai. Mereka melom­pat-lompat. Tapi tungau-tungau celaka itu sema­kin masuk ke dalam kulit.

“Tolong, Tuan Yakub,” pinta Este­ban, “ada bina­tang masuk ke celana.”

“Tidak mati kau karena bina­tang celaka itu. Dia sen­diri yang bakal mati. Tidur.”

Rodri­guez menyum­pah. Ia tak berani mena­tap pada Yakub yang menyala-nyala marah.

Dua orang Por­tu­gis dengan musket meronda ke keli­ling. Waktu berada di dekat mereka minta tolong. Dan mereka jalan terus tanpa meng­gub­ris.

Anak buah Yakub seo­rang demi seo­rang jatuh ter­ti­dur. Juga orang-orang Por­tu­gis.

Yang ting­gal jaga hanya Rodri­guez dan Este­ban, deru angin, dan deburan ombak, dan nyala api.

Bahkan dua pucuk meriam itu pun nampak ter­ti­dur.


Bab 17

Balatentara Tuban Turun Tangan

Tak ada tawa dalam peng­ha­dapan ter­a­khir itu. Semua pung­gawa yang desa­nya ber­sang­kutan dengan keku­a­saan Rangga Iskak telah mem­per­se­m­bah­kan pagar desa mereka tak sang­gup lagi meng­ha­dapi peru­suh-peru­suh Ki Aji Beng­gala. Pen­ja­rahan ter­ha­dap desa-desa sema­kin banyak ter­jadi. Hilang­nya ternak besar menyu­l­it­kan orang meng­ga­rap tanah, dan dengan demi­kian jatah upeti ter­an­cam takkan ter­pe­nuhi pada panen men­da­tang.

Waktu selama sebu­lan yang dibe­ri­kan­nya oleh Sang Patih telah ter­lam­pau sia-sia.

Lebih dari itu dari bebe­rapa tempat orang mulai menye­but Rangga Iskak bukan lagi Ki Aji Beng­gala, tetapi sudah jadi Kiai Beng­gala, dan ter­a­khir malah beru­bah lagi jadi Sunan Rajeg.

“Ya,” Sang Patih memu­tus­kan. “Kalian telah menya­ta­kan tidak sang­gup. Kami terima kenya­taan ini. Tak ada jalan lain dari­pada mengir­im­kan balat­en­tara ke peda­laman. Dan semua itu jadilah tang­gungan desa-desa kalian seba­gai­mana telah jadi aturan. Jangan kalian menge­luh karena harus makan lebih sedi­kit dan bekerja lebih banyak.”

Regu-regu pra­ju­rit dari sepu­luh orang, masing-masing di bawah seo­rang per­pu­luh, mulai dibe­rang­kat­kan ke sem­bi­lan desa ter­an­cam dengan perin­tah untuk men­de­sak para peru­suh sampai mereka masuk kem­bali ke desa Rangga Iskak dan memu­kul mereka di kan­dang sen­diri.

Mereka berang­kat sete­lah men­da­pat restu Sang Patih, berang­kat men­je­lang fajar ber­sama dengan kepala desa, wedana dan kuwu ber­sang­kutan. Tak banyak orang yang menyak­si­kan kebe­rang­katan ini. Gong, canang dan gen­dang sama sekali tidak ber­bu­nyi.

Sete­lah hilang­nya kesa­tuan kecil pasukan kuda, ia menge­ta­hui betapa gen­ting­nya peda­laman. Agar kawula tidak men­jadi lebih geli­sah, ia harus sele­sai­kan per­go­lakan ini dengan diam-diam. Setiap keri­butan akan mena­rik bupati-bupati tetangga dan Peranggi di laut sana untuk ikut serta ber­pesta pora.

Maka juga tak banyak orang yang tahu: sem­bi­lan regu yang diki­rim­kan ke sem­bi­lan desa itu ter­nyata takkan pernah lagi ke pang­kalan. Semua hilang tanpa bekas.

Dan berita tum­pas­nya regu-regu itu tidak datang dalam bentuk per­se­m­ba­han resmi. Ia datang dari pusat Tuban Kota.

Seo­rang pen­jual ber­ta­nya pada lang­ganan meng­apa belan­ja­nya begitu sedi­kit seka­rang. Jawab­an­nya: tiga orang anak­nya belum juga kem­bali selama ini, tak keta­huan ke mana per­gi­nya. Mereka adalah pra­ju­rit kaki Tuban. Seo­rang pen­jual lain menam­bahi, kira-kira mereka ter­ta­wan atau ter­tum­pas oleh anak buah Kiai Beng­gala. Seo­rang peda­gang dari peda­laman menam­bahi, bahwa orang sudah mulai mening­gal­kan desa­nya untuk meng­ungsi. Per­ca­kapan itu men­ja­lar, sema­kin lama sema­kin leng­kap dengan bahan baru, kenya­taan baru, dan sam­pai­lah pada Sang Patih.

Sang Patih telah meme­rin­tah­kan satu kesa­tuan ber­kuda untuk meng­hu­bungi regu-regu ter­se­but. Mereka pun tak ber­ha­sil. Mereka tak pernah kem­bali. Bahkan pung­gawa ber­sang­kutan pun telah tumpas atau mela­ri­kan diri.

Sete­lah peng­ha­dapan ter­a­khir dengan ter­buru-buru ia meng­ha­dap Sang Adi­pati. Ini ter­jadi di serambi bela­kang.

“Ambil tin­dakan seper­lu­nya saja,” kata Sang Adi­pati acuh tak acuh.

Sang Patih men­coba meya­kin­kan gus­ti­nya, betapa telah men­ja­lar Kiai Beng­gala.

“Jangan gega­bah,” Sang Adi­pati men­ja­wab. “Tidak kami benar­kan selu­ruh negeri Tuban men­jadi keruh. Di mana keke­ruhan ber­ku­asa dan orang tak dapat meli­hat lagi, mata ter­tu­tup lumpur, takkan ada yang tahu bakal datang di hadapan.”

Ia masih men­coba meya­kin­kan gus­ti­nya.

“Orang itu bukan turunan satria, tidak pernah ber­o­leh kep­ra­ju­r­i­tan. Jangan mem­be­sar-besar­kan.”

“Tetapi bawah­an­nya, Gusti Adi­pati sese­m­ba­han patik, barang tentu ter­diri dari pra­ju­rit-pra­ju­rit tang­guh. Kalau tidak, tidak mung­kin…”, ia tak berani mem­per­se­m­bah­kan hilang­nya satu kesa­tuan kecil pasukan kuda dan sem­bi­lan regu pra­ju­rit kaki. “Ular ber­bisa itu, Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik, biar pun kecil, mung­kin masih telur, pada suatu kali akan jadi besar juga bila tidak segera ditum­pas.”

“Apa yang kakang Patih ing­in­kan?”

Dan Sang Patih memo­hon agar diper­ke­nan­kan mengir­im­kan kesa­tuan yang kuat, tidak ter­lalu besar, seyo­gi­a­nya pasukan kuda, di bawah pim­pinan per­wira yang paling cakap.

“Keru­suhan seyo­gi­a­nya ditum­pas dengan cepat, Gusti, cepat, yang dapat ber­ge­rak segera dan setiap waktu.”

Dan Sang Adi­pati murka. Dengan suara pelahan ter­tin­dih amarah, dengan mata menyala, ia ber­kata cepat: “Jangan ter­jadi sesu­atu yang mena­rik per­ha­tian orang. Ambil tin­dakan seka­dar­nya, biar pun hasil­nya hanya seka­dar meng­ha­langi per­tum­buhan mereka. Tin­dakan yang seolah tidak ter­jadi sesu­atu. Bisa apa petani-petani itu? Pergi!”

Sang Patih pulang mem­bawa kejeng­kelan – kejeng­kelan semata. Dan bukan sekali ini saja ia jeng­kel ter­ha­dap gus­ti­nya, kejeng­kelan yang selalu menge­nang­kan­nya pada cerita orang tua-tua: tidak lain dari Sang Adi­pati juga yang karena sikap­nya itu yang meng­am­b­ruk­kan Maja­pa­hit sampai ke dasar­nya.

Tanpa sepe­nge­ta­huan Sang Adi­pati ia meng­am­bil kebi­jak­sa­naan sen­diri. Ia pang­gil seo­rang per­wira penga­wal yang ter­ke­nal cakap dan patuh, Mahmud Barjah, seo­rang Islam, muda, gesit dan cerdas. Ia perin­tah­kan per­wira itu untuk memim­pin dua ratus orang pra­ju­rit kaki untuk memim­pin penum­pasan ter­ha­dap peru­suh Rangga Iskak alias Iskak Ind­ra­jit alias Kiai Beng­gala, alias Sunan Rajeg.

“Sahaya akan segera berang­kat, Gusti,” sembah Mahmud Barjah. “Hanya izin­kan sahaya mem­per­se­m­bah­kan sedi­kit piki­ran, karena sahaya orang Islam sedang Sunan Rajeg pun Islam.”

Ia mem­per­se­m­bah­kan untuk diper­ke­nan­kan memi­lih sen­diri pera­tus dan pra­ju­rit yang akan diba­wa­nya. Dan ia diper­ke­nan­kan. Ia bekerja sen­diri memi­lih orang-orang­nya.

Dengan demi­kian pada suatu subuh berang­kat­lah Mahmud Barjah, juga tanpa gong, canang atau gen­dang, untuk menum­pas para peru­suh di peda­laman.

Ia naik seekor kuda, cambuk parang ter­se­lit di ping­gang, cambuk kuda di tangan, tanpa pedang dan tanpa tombak. Di bela­kang­nya meng­i­kuti dua ratus orang pra­ju­rit pilihan….

Belum lagi Mahmud Barjah dan pasuk­an­nya mening­gal­kan batas kota, Sang Patih telah duduk ber­sim­puh di depan pintu keput­rian menunggu kelu­ar­nya Sang Adi­pati.

Begitu pintu ter­buka ia men­ja­tuh­kan muka ke tanah sambil menyem­bah, mem­per­se­m­bah­kan, kea­daan sema­kin gawat. Kalau tidak ada tin­dakan tegas, keper­ca­yaan orang pada bandar Tuban akan ter­an­cam oleh keme­ro­sotan dan per­da­gangan yang sepi akan men­jadi mati sama sekali. Dan untuk ke sekian kali­nya ia mem­per­se­m­bah­kan, bahwa keru­suhan di peda­laman mem­pu­nyai per­sang­kutan erat dengan bandar. Bila Rangga Iskak dikem­ba­li­kan pada kedu­dukan semula seba­gai Syah­ban­dar dan Sayid Habi­bul­lah bila­mana dipin­dah­kan ke Rajeg, keru­suhan dapat dipa­dam­kan tanpa campur tangan balat­en­tara.

Sang Patih yang sudah sampai pada puncak kegu­gupan itu dalam tun­duk­nya ke tanah tidak dapat meli­hat Sang Adi­pati yang sedang meng­gan­deng selir baru dan di bela­kang­nya meng­i­kuti Nyi Gede Dalu­darmi.

Sang Adi­pati ber­pa­ling pada sang selir, men­de­ng­us­kan tawa pendek dan ber­kata: “Tak dike­ta­hu­i­nya hari masih sepagi ini, tak dike­ta­hu­i­nya ada tempat yang lebih baik dari­pada depan pintu keput­rian.” Ia angkat telun­juk menu­ding Sang Patih dan mem­ben­tak: “Ker­ja­kan apa yang telah ter­ti­tah­kan. Kami yang menen­tu­kan.”

Sang Patih meng­ang­kat pan­dang. Tak pernah gus­ti­nya segu­sar seka­rang ini. Juga tak pernah ia merasa ter­hina seperti seka­rang, ter­hina seba­gai pri­badi dan seba­gai patih di hadapan seo­rang selir dan seo­rang pengu­rus keput­rian. Suatu kesa­kitan men­ce­kik hati­nya. Ia meng­ang­kat sembah dan mem­per­ha­ti­kan gus­ti­nya lewat sambil terus meng­gan­deng selir baru dalam iringan Nyi Gede Dalu­darmi.

Waktu kaki itu sudah tak nampak lagi oleh­nya, ia meng­ang­kat sembah lagi, kemu­dian ber­ja­lan ter­buru-buru pulang ke kepa­ti­han mem­bawa kesa­kitan dalam hati­nya.

Betapa mung­kin gus­tiku ber­buat demi­kian ter­ha­dapku? Ter­ha­dap seo­a­rang patih dan sau­dara sepupu sen­diri?

Memang ia mema­hami alasan Sang Adi­pati: bila balat­en­tara Tuban ber­ge­rak ke peda­laman, bukan hanya para bupati tetangga, ter­u­tama Demak bisa menyerbu dengan lelu­asa. Memang sudah lama bandar Tuban yang indah itu jadi sumber cem­buru mereka. Dan hanya karena kuat­nya pasukan gajah dan kuda cem­buru mereka sampai seka­rang tidak ter­ce­tus­kan dalam penyer­buan. Memang bupati-bupati tetangga adalah pengu­asa loba tanpa keku­a­saan per­se­ku­tuan. Tetapi Demak adalah keku­atan yang lebih ber­ba­haya, dia adalah kera­jaan baru dengan darah baru, dengan cara baru dan dengan pan­dangan baru. Dan memang Sang Adi­pati punya hak men­cem­bu­rui dir­i­nya seba­gai patih.

Barang­kali gus­tiku punya piki­ran, aku mem­pu­nyai per­se­ku­tuan dengan mereka untuk meram­pas Tuban buat diriku sen­diri. Memang, memang. Tetapi menya­kiti hati patih­nya sen­diri, pem­bantu-uta­ma­nya dengan seka­sar dan sehina ini?

Ia tak dapat mene­rima.

Sudah berapa kali saja ia mem­per­se­m­bah­kan, Syah­ban­dar Tuban Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa tak lain dari mata rantai keku­a­saan Peranggi di lautan, maka harus dising­kir­kan. Selama itu Sang Adi­pati hanya men­de­ng­ar­kan tanpa tang­gapan. Seka­rang ledakan itu telah ter­jadi, per­tanda tak sesu­atu dalih untuk menying­kir­kan­nya.

Ia tahu, bagi Sang Adi­pati yang ter­pen­ting adalah bandar-bandar adalah kebe­saran. Ia tak begitu memen­ting­kan kawula tani yang jadi san­daran negeri Tuban. Ia ter­lalu mem­per­ca­ya­kan segala pada pasukan gajah seba­gai keku­atan Tuban. Boleh jadi Sang Adi­pati menyangka, dengan satu dua hari gerakan pasukan gajah, para peru­suh akan dapat ditum­pas. Gus­ti­nya tak pernah mau men­de­ng­ar­kan, peru­suh ini bukan seka­dar kegi­atan Rangga Iskak yang mele­pas­kan den­dam­nya pada Sang Adi­pati, tapi sudah meru­pa­kan pem­be­ron­takan dari per­u­ba­han sikap. Dan bila mereka dibi­ar­kan dengan kegi­at­an­nya, bukan hanya petani seba­gai san­daran negeri Tuban sudah ter­ja­mah, juga keku­atan Tuban pasukan gajah itu – akan kewa­lahan, kebe­saran Tuban – bandar itu – akan jatuh tanpa daya, dan selu­ruh negeri Tuban akan lenyap dari per­e­daran, beru­bah jadi ladang dan semak belu­kar.

Ia menye­sali Sang Adi­pati yang selalu ber­ku­kuh: hanya dengan jasa-jasa­nya Syah­ban­dar itu saja Peranggi dan Ispa­nya akan datang seba­gai saha­bat – seperti dila­ku­kan oleh Giri Daha­na­pura Blam­bangan? Ter­lalu banyak yang diper­ta­ruh­kan untuk kese­la­matan Sayid Habi­bul­lah. Bahkan per­se­m­ba­han ten­tang per­min­taan meriam Kiai Beng­gala pada Syah­ban­dar diang­gap­nya ringan.

‘Apakah yang bisa diper­buat oleh peru­suh itu dengan meriam?’ kata­nya. ‘Omong kosong saja. Satu kera­jaan yang kuat di Nusan­tara ini tak ada yang mem­pu­nyai, apa pula hanya peru­suh dari peda­laman, jauh dari laut, jauh dari Peranggi dan Ispa­nya. Apakah Kakang Patih tak mampu ber­pi­kir sejauh itu? Memang kapal-kapal Islam pada kabur ber­la­rian ter­ha­dap­nya, negeri-negeri jatuh ke dalam tangan­nya Peranggi dan Ispa­nya memang tidak bisa dita­han – mereka sedang naik pada zaman jaya­nya.’

Dan ia tahu gus­ti­nya telah kena terkam ajaran Syah­ban­dar: dekat­i­lah yang jaya, maka orang pun akan ikut jaya.

Dan itulah pan­dangan gus­ti­nya seka­rang, seakan orang di luar yang jaya, orang tak dapat mem­ba­ngun­kan keja­yaan sen­diri.

Pada puncak kejeng­kel­an­nya ia meng­u­langi pan­dang­an­nya yang lama yang mem­bi­kin Sang Adi­pati cem­buru: Aku dapat ambil selu­ruh keku­a­saan atas negeri Tuban. Aku dapat perin­tah­kan selu­ruh balat­en­tara Tuban. Kau bisa celaka Arya Teja, seba­gai­mana kau men­ce­la­ka­kan Maja­pa­hit. Tapi lihat, sampai seka­rang pun tak ada ter­niat dalam hatiku untuk mem­bi­kin kau menung­ging di bawah kakiku.

Ber­kali-kali ia ter­goda untuk menge­rah­kan selu­ruh pasukan gajah, kuda dan kaki dan penga­wal untuk mela­ku­kan gerakan pem­bas­mian cepat gaya garuda menyam­bar elang. Tapi selalu ia dice­gah oleh piki­ran, bahwa hukuman pas­ti­lah yang sedang diga­lang­nya bila per­hi­tungan mele­set. Dan hukuman mati itu bisa dice­gah hanya dengan mela­lui satu jalan: mene­rus­kan gerakan garuda menyam­bar elang juga ter­ha­dap gus­ti­nya sen­diri, dan diri sen­diri meng­gan­ti­kan. Dan ia ber­sum­pah untuk meng­a­bdi pada gus­ti­nya sampai mati.

Maka yang ter­ting­gal dalam hati­nya adalah sakit hati yang itu juga.

Sejak peris­tiwa di depan pintu keput­rian ia kehi­langan gairah. Yang ber­ku­asa atas dir­i­nya adalah kejeng­kelan dan keti­dak­pe­du­l­ian.

Pukulan per­tama itu belum lagi sembuh. Pukulan kedua datang menyu­sul, dan tidak ter­duga-duga.

Dari per­se­m­ba­han para peng­hu­bung dida­pat kete­rangan: Pasukan Mahmud Barjah ter­nyata juga hilang tanpa bekas. Dua ratus pra­ju­rit, dua pera­tus dan seo­rang per­wira penga­wal.

Pukulan kedua itu hanya mem­bi­kin sema­kin parah kelum­puhan batin­nya. Ia ter­be­nam dalam keta­ka­cuhan. Ia merasa sudah ter­be­bas dari tang­gung­ja­wab seba­gai patih, seba­gai sau­dara sepupu dan seba­gai kawula. Ia tak punya sesu­atu tang­gung­ja­wab lagi. Ia tak mau memi­kir­kan­nya.

Hampir seminggu lama­nya orang-orang itu ber­kam­pung di tepi laut di sebe­lah timur Tuban. Dari daratan mereka ter­lin­dung oleh hutan belan­tara. Dari laut oleh hutan bakau-bakau. Tipis sekali kemung­kinan bisa dike­ta­hui oleh kapal-kapal peronda pantai.

Este­ban dan Rodri­guez hampir mati kebo­sanan dike­ru­but nyamuk dan tungau tanpa dapat sedi­kit pun kesem­patan mem­bela diri. Tangan mereka tetap ter­i­kat ke bela­kang.

Dan peron­daan itu ter­jadi pada subuh hari waktu datang rom­bongan perahu-perahu dayung dari sebe­lah barat. Tak kurang dari dela­pan puluh orang telah men­da­rat. Orang-orang Por­tu­gis segera mem­bong­kari per­ke­mahan mereka, meng­ang­kut­i­nya ke biduk masing-masing dan berang­kat entah ke mana.

Waktu biduk-biduk mereka nampak dari balik hutan-hutan bakau, Este­ban mulai menyum­pah dan Rodri­guez mera­ung seperti orang gila: “Tak sepa­tah kata pun mereka ting­gal­kan untuk kita, seri­gala-seri­gala itu. Anak-anak maut makanan hiu.”

Belum lagi Este­ban sempat memu­as­kan kejeng­kel­an­nya, Yakub telah datang dan meme­rin­tah­kan dengan kasar, semua orang dan semua barang harus segera berang­kat. Ia tak bilang berang­kat ke mana. Semua orang ter­ke­cu­ali dua orang Por­tu­gis itu mulai sibuk.

Este­ban dan Rodri­guez men­duga, semua akan berang­kat ke Blam­bangan. Mereka tak dapat bayang­kan di mana tempat itu. Orang pun tak bakal mem­be­ri­ta­hu­kan.

Dengan petun­juk Este­ban orang mulai mem­bong­kari meriam dari roda-roda­nya, kemu­dian semua dipi­kul. Juga peti-peti obat dan peluru besi.

Iring-iringan pan­jang lebih dari sera­tus dua puluh orang itu ter-bung­kuk-bung­kuk mene­ro­bosi hutan belan­tara, makin masuk ke peda­laman. Tiga orang ber­ja­lan di depan dengan parang ter­hu­nus seba­gai pem­buka jalan.

Sete­lah tiga hari per­ja­lanan mereka baru sampai di sebuah jalan seta­pak di dalam hutan. Dan mereka ber­ja­lan terus meng­hin­dari jalan negeri dan jalan desa. Tiga hari lagi ber­ja­lan, dan sam­pai­lah mereka di sebuah desa yang diku­a­sai oleh Sunan Rajeg.

Pen­du­duk desa itu ber­so­rak-sorai menyam­but mereka, meng­ga­bung­kan diri dan meng­ganti memi­kul bera­mai-ramai sampai ke desa selan­jut­nya. Dan mereka meng­he­rani orang-orang kulit putih yang ter­i­kat tangan­nya di bela­kang badan, ter­u­tama yang beram­but pirang dan ompong gigi depan­nya. Mereka meng­he­rani meriam, dan roda meriam, dan peti-peti dan logam-logam bulat sebe­sar tinju.

Di desa-desa lain sama saja yang ter­jadi. Iring-iringan peng­ga­bung sema­kin lama sema­kin besar, tua-muda, laki perem­puan. Nam­pak­nya tak ada seo­rang pun ingin mele­wat­kan kea­nehan sekali ini.

Pada hari peng­ang­kutan ter­a­khir mereka sampai di depan rumah joglo Sunan Rajeg.

Rangga Iskak dan Kha­i­dar, istri­nya dari Mala­bar itu, ber­diri di bendul pen­dopo menyam­but mereka. Ia menge­na­kan pakaian kebe­saran jubah putih tenunan Atas Angin yang selama ini tak pernah dike­na­kan­nya, sorban putih ber­su­lam benang kuning. Kha­i­dar menge­na­kan sari dari sutra biru. Wajah mereka ber­seri-seri, senyum lebar ter­sung­ging pada bibir dan mata ber­ki­lau-kilau.

Orang-orang pun pada duduk ber­sila di tanah. Di sam­ping-menyam-ping mereka regu-regu ber­tom­bak duduk dengan sen­ja­t­a­nya menu­ding ke langit. Pen­da­tang-pen­da­tang itu meng­ang­kat sembah. Juga Yakub, yang duduk di kepala barisan peng­ang­kut. Dan dengan pan­dang men­curi-curi mereka menyu­ruh Este­ban dan Rodri­guez duduk di tanah pula dan menyem­bah.

Tapi dua orang Por­tu­gis itu tetap ber­diri dengan tangan ter­i­kat ke bela­kang.

Dan Rangga Iskak Sunan Rajeg, yang meli­hat dua orang kulit putih itu tetap ber­diri, sama sekali tak nampak ter­sing­gung. Ia malah meng­ang­guk-angguk pada mereka. Ia turun dari pen­dopo untuk dapat men­ja­mah laras meriam. Kha­i­dar meng­i­kuti dan juga men­ja­mah, malah meng­in­tip pada mulut meriam, kemu­dian mem­ber­sih­kan tangan dengan kulit kaki­nya. Mereka berdua naik lagi ke bendul pen­dopo.

“Kese­la­matan untuk Tuan Sunan Rajeg,” seru Yakub meng­a­ca­rai serah terima meriam dan penem­bak­nya.

“Kese­la­matan untuk kalian semua.”

“Sahaja datang meng­an­tar­kan kiriman: dua pucuk meriam, obat dan pelu­ru­nya, dan dua orang Peranggi penem­bak­nya,” kata­nya dalam Melayu. “Hei, kalian, Este­ban dan Rodri­guez, hor­mat­i­lah Tuan Sunan Rajeg.”

“Meriam dan per­leng­kap­an­nya. Alham­dul­il­lah,” sambut Sunan Rajeg sambil meng­ang­guk-angguk puas.

“Alham­dul­il­lah!” dengung semua peng­i­kut­nya, sua­ra­nya ber­ku­man­dang ke selu­ruh Rajeg.

Dua orang ber­tom­bak telah menyo­r­ong-nyo­r­ong ke hadapan Kiai Beng­gala. Dan mereka maju dan tetap ber­diri di hadapan bekas Syah­ban­dar Tuban, enggan mem­beri hormat. Mata mereka menyala dengan keji­jikan dari kemu­a­kan.

“Kasih hormat, kasih tabik, kafir-kafir kepa­rat!” teriak Yakub di tem­pat­nya dalatri Melayu.

Meli­hat dua orang itu tak men­de­ng­ar­kan perin­tah­nya ia ber­diri sambil menyem­bah Sunan Rajeg, men­de­kati dua orang itu dan mem­ba­gi­kan spdo­kan tinju pada ping­gang mereka.

“Hormat! Hor­mati kan­jeng Sunan Rajeg,” orang-orang ber­seru-seru mem­per­i­ng­at­kan dalam Jawa.

“Tiada kalian dengar itu?” Sunan Rajeg mem­per­kuat perin­tah mereka dalam Melayu.

Tak sabar meli­hat ting­kat Este­ban dan Rodri­guez bebe­rapa orang lagi bangun dari duduk­nya sambil menyem­bah Rangga Iskak dan mene­kan bahu mereka sehingga ber­lu­tut di tanah. Kepala mereka pun dite­kan pula ke bawah sampai men­cium debu.

“Betapa ang­kuh­nya kafir-kafir Peranggi ini,” kata Sunan Rajeg. “Angkuh dan sung­guh berani mati. Hei, kafir! Ber­ta­hun-tahun kalian telah tem­baki kapal-kapal dan bandar-bandar Islam. Atau kalian kira di sini pun kalian jaya tanpa per­lin­dung­anku? Hei, hati-hati, jangan kalian sampai tak dengar kata-kataku. Setiap patah dari Sunan Rajeg adalah hukum. Mulai hari ini, Insya Allah, hidup atau mati kalian berada dalam tanganku.”

Men­de­ngar itu Rodri­guez dan Este­ban ber­diri mem­pro­tes. “Tak pernah kami kenal siapa Tuan,” kata Este­ban, “kami berdua maka tak mung­kin ber­sa­lah pada Tuan,” dalam Melayu yang cukup jelas. “Meng­apa kami diper­la­ku­kan begini?”

“Dari apa Tuan kehen­daki dan kami, orang-orang yang Tuan tak pernah kenal ini?” tambah Rodri­guez.

“Kesal­ahan kalian?” Sunan Rajeg kini mena­rik air muka ber­sung­guh-sung­guh. ”Bukan hanya padaku,” ia menu­ding dir­i­nya sen­diri, kemu- dian tangan itu ber­kem­bang menun­juk pada semua orang di hadap­an­nya, “pada selu­ruh ummat Islam. Dungu! Tak meng­erti kalian apa kataku?” ia mem­ben­tak. “Meng­apa diam saja?” Sua­ra­nya kini men­de­kati gerutu: “Nyawa semut pun lebih ber­harga dari­pada kalian! Hei, semua peng­i­kutku, jaga­lah jangan sampai dua kafir laknat ini lepas tanpa sei­zinku.”

Satu suara ber­sama ber­ga­lau mem­bu­bung dari para hadirin di depan­nya.

“Masih hendak ingin tanya­kan apa kesal­ahan kalian? Siapa tidak tahu dosa-dosa kafir Peranggi? Perom­pak, bajak, pem­bu­nuh, peram­pas harta, nyawa dan negeri!”

Orang memaksa mereka berdua untuk kem­bali duduk dan mene­kur­kan kepala mereka ke tanah.

Sunan Rajeg kem­bali men­da­pat­kan kera­mah­an­nya. Ia meng­ang­guk-angguk mem­be­nar­kan.

“Kiriman paling mem­ber­kahi,” tiba-tiba ia ter­tawa pelahan dan mene­ngok pada Kha­i­dar, dan wanita itu meng­ang­guk-angguk menye­tu­jui.

“Alham­dul­il­lah!” orang-orang meng­u­langi dengan suara meng­ge­lora.

“Allah telah kirim­kan meriam, per­leng­kapan dan penem­bak­nya kepa­daku untuk kuper­gu­na­kan seba­gai­mana kehen­dak­nya,” kata­nya dalam Jawa. Kemu­dian dalam Melayu. “Hei, kafir-kafir tak tahu diun­tung. Dulu, ber­ta­hun-tahun kalian tuju­kan meriam kalian pada kami, ummat Islam. Demi Allah, demi keku­a­saan yang ada pada tanganku, mulai saat ini kalian harus tuju­kan meriam-meriam itu pada kafir, kafir Jawa, kafir Peranggi, kafir apa saja. Jawab kalau kalian ber­se­dia.”

“Tidak mung­kin menem­bak dengan dua tangan ter­i­kat,” bantah Rodri­guez beng­keng.

“Hanya pem­bang­kang bisa bicara seperti itu. Hei, ompong, per­nah­kah aku kata­kan pada kalian harus menem­bak dengan tangan ter­be­lenggu?”

“Lepas­kan ikatan ini, biar kami bisa men­ja­wab seba­gai manu­sia yang punya juga kehor­matan seba­gai manu­sia.” seru Este­ban lan­tang.

Sunan Rajeg ter­tawa senang sampai bahu­nya ter­gun­cang.

“Bukan di dunia ini orang bisa per­caya ada kafir Peranggi punya kehor­matan, tapi hanya karena kalian ber­se­dia meng­a­kui keku­a­sa­anku, meng­a­kui kemu­r­ah­anku, dan ber­se­dia men­ja­lan­kan perin­tahku. Demi Allah!”

“Demi Allah!” para peng­i­kat men­de­ngung meng­u­langi.

“Aku dapat meli­hat pada mata kalian, hai kafir Peranggi, kalian tidak rela takluk, tidak rela mene­rima dan meng­a­kui keku­a­saan yang dibe­ri­ta­kan oleh Allah padaku.”

“Kami bukan kafir!” bantah Rodri­guez, muka­nya merah-padam karena marah.

“Bukan kafir?” pekik Sunan Rajeg. “Baik, kurung mereka selama seminggu dengan tangan tetap ter­i­kat dan makan sekali sehari, pisang sete­ngah matang. Belum lagi sele­sai kuning­an­nya mereka akan sudah ter-kaing-kaing minta ampun. Kurung!”

Dan diku­rung­lah mereka.

Penem­bak-penem­bak meriam yang ber­ba­dan kukuh itu kini sudah kurus kering kele­lahan, kejeng­kelan dan kela­paran.

Belum lagi sele­sai yang seminggu, mereka telah memo­hon agar diper­ke­nan­kan meng­ha­dap Sunan Rajeg. Jadi diba­walah mereka meng­ha­dap ke depan pen­dopo.

Mereka telah meli­hat meriam-meriam itu masih ber­diri di tempat semula, juga peluru, juga keleng­kapan, juga peti-peti obat. Hanya tak ada penon­ton, tak ada orang-orang ber­tom­bak, tak ada para peng­i­kut.

“Sudah patah­kah kebang­gaan diri kalian?” Sunan Rajeg men­da­hu­lui dari bendul pen­dopo.

“Kami ber­se­dia mela­yani meriam itu, Tuan,” kata Este­ban.

“Meng­apa baru seka­rang men­ja­wab?”

“Kami berdua harus memi­kir­kan ter­le­bih dahulu. Tuan boleh gusar sebe­lum­nya, jangan kemu­dian. Maka kami pikir­kan masak-masak untuk dapat memu­tus­kan.”

“Tak ada alasan padaku untuk per­caya. Biar pun begitu terus­kan per­se­m­ba­hanmu.”

“Memang kami tak ada niat meminta keper­ca­yaan dari Tuan. Tapi lihat­lah, Tuan, kami diha­rap­kan mela­yani meriam-meriam itu. Baik­lah, kami terima. Tapi tahu­kah, Tuan, kalau barang-barang itu sudah rusak dan dising­kir­kan, tak digu­na­kan lagi selama ini?”

“Rusak?” Sunan Rajeg meme­kik. Kemu­dian meng­ge­rutu. “Bede­bah itu hendak menipu aku. Si bede­bah!”

“Kalau ter­jadi kema­cetan…,” Rodri­guez menam­bahi.

Kiai Beng­gala alias Sunan Rajeg mene­bar­kan pan­dang pada meriam-meriam yang ber­diri telan­jang bulat di tempat semula. Ia nampak ragu-ragu. Men­da­dak air muka­nya ber­seri kem­bali.

“Tidak apa,” kata­nya, “meriam adalah meriam. Yang pen­ting adalah kalian, orang-orang yang mela­yani. Barang-barang itu, huh, semua bikinan manu­sia, bisa dibe­tul­kan atau dihan­cur­kan oleh manu­sia pula. Pandai-pandai besi Tuban yang ikut deng­anku bisa mem­per­ba­iki segala barang apa dari logam.”

“Dan obat yang dibi­ar­kan saja di udara ter­buka, dan sudah sekian lama, boleh jadi kurang kuat lagi ledak­an­nya.”

“Bagai­mana dengan belenggu kami?” Rodri­guez men­de­sak.

“Kalian kafir, selalu menun­tut tanpa pikir. Kalian kute­rima dalam kea­daan ter­be­lenggu. Padaku kalian menun­tut bebas.”

Tiba-tiba dari bebe­rapa pen­juru ter­de­ngar orang ber­seru-seru ramai. Kemu­dian disu­sul dengan suara orang ber­la­rian.

Sunan Rajeg memang­gil seo­rang peng­an­tar tang­kapan itu dan menyu­ruh pergi men­cari kete­rangan. Sebe­lum sur­uhan itu datang muncul bebe­rapa orang ber­tom­bak, ber­lu­tut di bawah kaki Rangga Iskak dan minta ampun. Kemu­dian: “Ampun Kan­jeng Sunan, Yakub melo­los­kan diri. Semua seka­rang dike­rah­kan untuk menang­kap­nya.”

“Pergi! Bawa kemari ular kepala dua itu, hidup atau mati!” Dan ter­tuju pada dua orang Por­tu­gis itu, “Juga kalian akan meng­a­lami nasib yang sama bila berani-berani melo­los­kan diri dari keku­a­sa­anku. Berun­tung dia bila kem­bali seba­gai bang­kai. Kem­bali hidup di hadap­anku – kalian akan lihat bagai­mana ular kepala dua akan kehi­langan sisik­nya selem­bar demi selem­bar sebe­lum kehi­langan kepa­la­nya yang dua.”

Este­ban dan Rodri­guez ter­diam menunggu Sunan Rajeg ter­le­pas dari kema­rah­an­nya ter­ha­dap Yakub.

“Ya, bagai­mana per­se­m­ba­han kalian?”

“Kami menyang­gupi, Tuan, untuk men­ja­lan­kan perin­tah Tuan.” jawab Rodri­guez cepat-cepat, meli­hat Sunan Rajeg sudah mulai agak ramah.

“Jadi kalian sudah ber­se­dia mela­yani meriam?”

“Ya, tuan.” Este­ban mem­per­kuat.

“Baik. Itu baik sekali. Setuju menem­baki musuh-musuhku, semua kafir, ter­ma­suk kafir Peranggi.”

Este­ban ter­diam dan Rodri­guez menyam­bar: “Kami sang­gup, Tuan.”

“Meng­apa kau diam saja?” tanya pada Este­ban.

“Semua yang dia ucap­kan, kami menye­tu­jui, kami berdua,” jawab­nya.

“Baik. Apa lagi?”

“Kami berdua ber­se­dia juga mela­tih ten­tara Tuan ber­pe­rang cara Eropa, secara Peranggi.”

Sunan Rejeg alias Kiai Beng­gala alias Rangga Iskak alias Iskak Ind­ra­jit meng­ang­guk lambat, ber­ta­nya sambil mem­per­li­hat­kan senyum: “Meng­apa tidak kema­rin-kema­rin kalian per­se­m­bah­kan? Aku senang men­de­ngar itu. Tapi kalian tahu diri, orang tak boleh per­caya begitu saja pada kafir, apa­lagi kafir Peranggi seperti kalian – sudah ber­ge­li­mang dengan banyak dosa.”

“Kami memang Peranggi, tapi bukan kafir.” Rodri­guez mem­ban­tah. “Kami Kris­ten.”

Sekali lagi Sunan Rajeg ter­tawa menang, dan ter­ta­wanya ter­de­ngar tajam menyiksa kedua orang Peranggi tang­kapan itu.

“Memang tidak suka dina­mai kafir? Bukan­kah kalian mena­mai kami juga kafir?”

Este­ban dan Rodri­guez seakan sudah setuju dalam batin untuk tidak men­ja­wab.

“Meng­apa diam? Bukan­kah kami kafir untuk kalian dan kalian kafir untuk kami?”

Dan dua orang itu mem­bisu. Mereka tahu per­ta­nyaan itu mengan­dung ancaman maut.

“Baik. apa lagi yang kalian sedia laku­kan?” Sunan Rajeg men­de­sak terus.

Sete­lah agak lama ber­diam diri Este­ban ber­kata ragu: “Semua yang Tuan ing­in­kan.”

“Itulah jawaban yang kutunggu. Itu men­de­ng­ar­kan keku­a­saan yang dibe­nar­kan oleh Allah. Karena tiada sesu­atu bakal men­jadi tanpa kere­la­an­nya’ ia turun dari bendul pen­dopo dan ber­diri di atas tanah. “Seba­ik­nya, dengan men­de­ng­ar­kan keku­a­saan yang dibe­nar­kan ini, kalian pun berhak men­da­pat­kan apa yang kalian butuh­kan. Tapi ingat, aku tak mem­pu­nyai kafir.”

Sekali ini Rodri­guez dan Este­ban lama ter­diam, mere­nung, ber­pi­kir, berun­ding antara mereka dengan batin­nya, dan meng­er­ti­lah mereka apa yang dike­hen­daki oleh Sunan Rajeg.

“Apakah Tuan meng­hen­daki kami masuk Islam?” Este­ban ber­ta­nya ragu-ragu.

Sunan Rajeg tak men­ja­wab. Hanya sinar mata­nya ber­ki­lau-kilau sema­kin ramah. Ia pan­dangi tenang-tenang dua orang tang­kapan itu, ter­se­nyum manis, dan keluar kata-kata dari mulut­nya yang tak kurang manis­nya: “Mana bisa aku meng­hen­daki kalian ber­tau­bat masuk Islam? Kalian sen­diri yang menen­tu­kan, bukan aku dan bukan siapa pun. Jangan ter­buru-buru, pikir­kan masak-masak, karena kalian sen­diri yang bakal men­ja­lani kewa­ji­b­an­nya, bukan orang lain.”

“Kami ber­se­dia,” Rodri­guez menyam­bar.

“Orang tidak menga­ta­kan ber­se­dia masuk Islam,” Sunan Rajeg memo­tong, “orang ber­tau­bat dengan suka sen­diri, kere­laan sen­diri dan suka sen­diri.”

“Kami akan ber­tau­bat, Kan­jeng Sunan,” Rodri­guez mem­be­tul­kan kata-kata­nya, dan ia meng­ang­kat sembah.

Sunan Rajeg menin­jau ke keja­uhan, ber­te­puk-tepuk memang­gil. Dalam waktu pendek depan pen­dopo telah penuh dengan orang. Semua mereka duduk di atas tanah dalam terik matari menunggu kata-kata­nya: “Deng­ar­kan kalian, bahwa pada hari ini,” ia memu­lai dalam Jawa. “Orang Peranggi yang ompong ini…” tiba-tiba dalam Melayu, “siapa namamu, ompong?”

“Rodri­guez, Kan­jeng Sunan.”

“… Bahwa pada hari ini Rois akan ber­tau­bat masuk Islam. Syukur Alham­dul­il­lah.”

“Syukur Alham­dul­il­lah,” orang-orang meng­u­langi dengan suara meng­ge­lora.

“Dan kau, siapa pula namamu?”

“Este­ban, Kan­jeng Sunan.”

“Ya, Manan. Dan kau, Manan, bagai­mana deng­anmu?”

“Sama saja. Kan­jeng Sunan.”

Sunan Rajeg lupa sudah, bahwa Yakub benar-benar telah lolos dan tak dapat dite­mu­kan lagi….

Rasa­nya belum lagi sele­sai pen­du­duk Rajeg menyam­but peng-Islaman Este­ban dan Rodri­guez, dan siang itu juga ter­de­ngar sorak-sorai riuh dari keja­uhan. Sorak-sorai itu sema­kin lama sema­kin dekat, kemu­dian nampak serom­bongan orang desa meng­an­tar­kan seo­rang penung­gang kuda yang masih muda, gagah, tampan, ber­ku­lit kehi­taman, tapi tidak lebih hitam dari­pada Sunan Rajeg. Orang itu ber­pa­kaian per­wira balat­en­tara Tuban, per­wira penga­wal.

Sunan Rajeg dan Kha­i­dar men­jem­put di bendul pen­dopo. Wajah mereka ber­seri penuh suka­cita dan syukur.

“Assa­lamu alai­kum!” per­wira itu memu­lai sambil turun dari kuda­nya. Ia ber­ja­lan meng­ham­piri Sunan Rajeg. “Paman!” dan diu­lu­r­kan tangan­nya sete­lah mem­buat sembah dada.

Sunan Rajeg mene­rima tangan itu, dan itulah untuk per­tama kali pen­du­duk meli­hat orang ber­sa­laman.

“Bibi!” tegur­nya pada Kha­i­dar, dan mem­be­ri­kan sembah dada pula.

Kha­i­dar mem­ba­las dengan sembah dada pula.

“Naik, naik, Nak, mari, sudah lama kutunggu-tunggu,” kata Sunan Rajeg dan ber­ja­lan ia ke dalam dii­ring­kan oleh istri dan tamu­nya.

Kha­i­dar tak ikut mene­mui tamu. Ia ber­ja­lan lang­sung masuk ke dalam rumah dan hilang di balik pintu.

Tuan rumah dan tamu­nya duduk di atas per­ma­dani tua di tengah-tengah pen­dopo. Dengan tangan­nya Sunan Rajeg meng­ha­lau orang-orang yang masih meng­ge­rom­bol di depan pen­dopo. Mereka bubar sete­lah menyem­bah.

“Akhir­nya kau bisa lolos juga,” kem­bali Sunan Rajeg mem­buka per­so­alan. Mata­nya ber­si­nar-sinar menga­gumi tamu­nya. “Betapa lama sudah kami menunggu di sini,” ia memu­lai dengan meng­gu­na­kan Melayu.

“Ya, Paman, sung­guh-sung­guh kemu­r­ahan Allah telah menga­ru­niai sahaya dengan kesem­patan sein­dah ini.”

“Ceri­ta­kan, ceri­ta­kan,” desak tuan rumah ber­ko­bar-kobar.

Per­wira itu ter­tawa ter­ba­hak-bahak dengan menu­tup mulut­nya.

Bahu­nya ter­gun­cang begitu tinggi. Dada­nya yang telan­jang dihi­asi dengan bulu lebat dan hitam itu mem­bung­kuk dan leng­an­nya yang ber­hi­as­kan gelang baja itu ter­ta­rik jadi siku-siku.

“Tak baik ter­tawa ber­le­bih-lebihan, Nak,” Sunan Rajeg mem­per­i­ng­at­kan.

Dan per­i­ng­atan itu mem­buat per­wira itu reda dari tawanya.

“Ceri­ta­nya begini, Paman, Sang Patih telah perin­tah­kan sahaya untuk menin­das Paman,” ia tak dapat mena­han tawanya lagi. Dan gaya tawanya meng­goda Sunan Rajeg untuk ikut tawa.

“Terus­kan, terus­kan.”

“Karena ber­nafsu untuk menin­das Paman dengan ter­buru-buru dia kirim­kan pasukan yang lebih besar dari­pada yang diper­ke­nan­kan oleh Gusti Adi­pati. Dua ratus pra­ju­rit!”

“Dua ratus!” seru Sunan Rajeg. “Terus­kan, Nak.”

“Sahaya per­se­m­bah­kan yang dua ratus ini pada Paman, di sam­ping diri sahaya sen­diri.”

Sunan Rajeg merang­kul­nya: “Nak, Nak, keme­na­kan yang setia. Tidak per­cuma ibumu mela­hir­kan kau. Dilim­pah­i­lah kira­nya kau ini dengan karu­nia.”

“Dua ratus pra­ju­rit yang sahaya pilih sen­diri, Paman.”

“Kau pilih sen­diri!”

“Semua pra­ju­rit Tuban asli, gagah berani. Anak-anak laut pela­wan ombak penak­luk pulau!”

“Tuhan mem­ber­kahi, Nak. Di mana mereka seka­rang?”

“Masih di per­ba­ta­san, Paman. Menunggu izin masuk dari Kan­jeng Sunan Rajeg.”

“Betapa tahu adat, kau ini, Nak.”

“Sahaya adalah seo­rang per­wira, Paman.”

“Betul juga, tak per­cuma kau jadi per­wira. Bawa mereka masuk, Mahmud. Tiada kafir di antara mereka, bukan?”

“Pilihan ter­pe­rinci, Paman. Nah, biar sahaya pergi men­jem­put mereka. Dua ratus, Paman. Tidak sedi­kit. Sedi­a­kan tempat dan makan­nya?”

“Mudah, Mahmud. Ah-ah, pang­li­maku datang, pang­li­maku! Jemput mereka segera biar kul­i­hat wajah mereka seo­rang demi seo­rang,” ia bang­kit untuk mem­beri isya­rat pada Mahmud Barjah agar segera pergi.

Mahmud Barjah pergi, melom­pat ke atas kuda­nya dan per­pacu hilang di balik debu menge­pul.

Ken­to­ngan dan beduk dita­buh ber­talu-talu memang­gil orang untuk men­de­ng­ar­kan perin­tah Sunan Rajeg. Dan orang pun mening­gal­kan sawah dan ladang, rumah dan peka­rangan, meme­nuhi pela­taran depan pen­dopo Sunan Rajeg. Dan orang ber­so­rak-sorak men­de­ngar dari mulut­nya: dua ratus pra­ju­rit Tuban pilihan telah ber­ga­bung dengan mereka.

“Mereka akan hidup ber­sama dan dengan kalian, beban sama dipi­kul, suka sama-sama dike­nyam, duka sama-sama dide­ri­ta­kan. Sam­but­lah mereka dengan pesta dan syukur!”

Men­je­lang subuh pasukan Mahmud Barjah baru tiba. Mereka sempat menik­mati hidangan dan ber­suka. Kele­lahan yang amat sangat memaksa mereka men­cari tempat seter­lin­dung mung­kin untuk dapat tidur senye­nyak mung­kin.

Pesta ter­paksa ditunda sampai mereka bangun.

Mahmud Barjah sen­diri men­da­pat tempat di dalam rumah Sunan Rajeg.

Lain lagi yang ter­jadi di gedung utama kesyah­ban­daran.

Dalam bebe­rapa hari bela­kangan ini Syah­ban­dar Tuban sangat gem­bira. Segala apa yang diu­sa­ha­kan­nya nampak ber­ha­sil. Dan menu­rut ilmu angka, hasil yang lebih besar nam­pak­nya sedang menunggu di hadap­an­nya. Ting­gal bebe­rapa lang­kah lagi, dan selu­ruh Tuban akan menari-nari menu­rut tarikan tangan­nya. Balat­en­tara Tuban akan ter­so­bek-sobek dari dalam. Keka­cauan dan kebal­auan akan mem­bi­kin orang lebih sibuk dengan usus­nya sen­diri.

Pasukan gajah yang dita­kuti itu akan buyar tanpa daya. Apalah arti­nya pasukan gajah tanpa lin­dungan pasukan kaki? Dan apalah arti­nya pasukan kaki tanpa petani mem­ba­yar jatah upeti? Pasukan kuda? Apalah arti­nya pasukan kuda tanpa ada petani mem­per­se­m­bah­kan upeti rumput? Pasukan laut? Apalah arti­nya pasukan laut bila darat­nya kocar-kacir?

Ya, balat­en­tara Tuban akan ter­so­bek-sobek dari dalam.

Dan bila keku­atan dan kewi­ba­waan Tuban ring­sek, para pem­be­sar akan bere­butan mer­a­yah keka­yaan negeri sebe­lum negeri itu sen­diri, negeri yang diu­rus­nya, ambruk ber­ke­ping-keping.

Tuban harus jadi bang­kai yang mem­bu­suk dari dalam. Dia harus mati dengan keku­atan sen­diri. Maka bandar Tuban, ban­dar­nya, akan men­jadi pang­kalan Peranggi. Dan dari sini Peranggi akan dapat meng­a­wasi per­a­iran bumi selatan. Jasa-jasa­nya akan diba­yar ber­ganda di Malaka atau Lisboa. Atau diki­rim­kan kepa­da­nya di rumah­nya di Anda­lu­sia, Ispa­nya.

Ting­gal bebe­rapa lang­kah lagi. Mung­kin ting­gal tiga tahun lagi. Itu pun paling lama. Dan satu kehi­dupan senang, tenang dan aman akan dinik­mati untuk sisa hidup selan­jut­nya.

Betapa senang meli­hat segala apa yang dipe­gang jadi. Diri akan ting­gal duduk-duduk mem­ba­cai cerita-cerita Arab semasa keku­a­saan Mua­wiah di seme­nan­jung Iberia, menga­gumi orang-orang besar dalam­ber­ba­gai bidang keil­muan: per­bin­tangan, peng­o­batan, kedok­teran, kimia, fil­sa­fat, tauhid, mate­ma­tika. Dan ia akan meng­u­langi tafsir atas Platon dari Al Kindi, Al Farabi, Ibn Sina…

Jatuh­nya Tuban nam­pak­nya jauh lebih mudah dari­pada Malaka, tanpa pukulan perang ber­arti dari luar. Tak bisa lain, Malaka bandar yang sedang kem­bang-kem­bang­nya, Tuban sedang dalam kea­daan runtuh.

Pagi itu cang­kir tem­bi­kar sudah berisi dengan air kahwa menge­pul. Antara seben­tar ia men­ci­cip, dan setiap cicipan diem­bus­kan­nya napas berat, ditu­ju­kan di gandok sana. Uh, manu­sia-manu­sia tanpa harga itu. Cong­kak­nya seperti merak, kau Idayu! Apalah arti­nya kau! Ia tindas kega­gal­an­nya. Lima puluh orang seba­gus kau, lebih bagus dari­pada kau, bisa kuda­pat­kan seka­li­gus di Ispa­nya sana. Huh! Dan kalau Tuban runtuh seperti pedati masuk jurang, kaulah yang paling dulu akan mera­yap pada kakiku minta peng­hi­dupan. Maka kem­bali piki­ran­nya ia susun untuk dapat meng­ge­ra­yang­kan tangan buat ke sekian kali­nya ke dalam keput­rian. Ia sudah dengar Sang Adi­pati men­da­pat selir kesa­yangan baru, seo­rang gadis Tiong­hoa per­se­m­ba­han pen­du­duk Lao Sam, Nyi Ayu Campa nama-harem­nya.

Dari per­ca­kapan dengan Paman Marta ia menge­ta­hui, orang Tua-tua Tuban sudah mulai mem­bi­ca­ra­kan tanda-tanda keja­tuhan Tuban, sama dengan tanda-tanda keja­tuhan Maja­pa­hit, yakni apa­bila seo­rang raja mulai menye­lir gadis Tiong­hoa. Bukan­kah Bre Wijaya Pur­na­wi­sesa jatuh sete­lah menye­lir Ratna Subanci anak sau­da­gar Gresik, Tan Go Hwat, yang lebih ter­ke­nal dengan sebutan Babah Ba tong itu?

Meli­hat Nyi Gede Kati sedang datang mem­bawa nampan berisi penganan segera ia mene­gur: “Ai, Nyi Gede’

Wanita itu mele­tak­kan nampan di atas meja dan ber­siap-siap hendak pergi lagi. Sua­mi­nya men­ce­gah­nya, maka ia ting­gal ber­diri di hadap­an­nya.

“Ada kau dengar ten­tang Nyi Ayu Campa, Nyi Gede?”

“Tidak, Tuan, tiada pernah sahaya dengar nama itu.”

“Orang-orang sudah mem­bi­ca­ra­kan­nya, Nyi Gede. Orang bilang dia adalah titisan Ratna Subanci. Siapa dia, Kati?”

“Ratna Subanci semua orang tahu, Tuan, Nyi Ayu Campa sahaya tidak tahu.”

“Ah, kau, Kati, Kati, apakah kau sudah mulai menyem­bu­nyi­kan sesu­atu dari­pa­daku?”

“Tidak, Tuan, demi Allah.”

“Baik, demi Allah. Seka­rang sudah seminggu ber­lalu, Kati. Bagai­mana jawab­anmu seka­rang?”

“Bukan­kah sahaya telah men­ja­wab, Tuan Sayid?”

“Belum, belum kau jawab seba­gai­mana aku kehen­daki.”

“Sahaya telah men­ja­wab, Tuan, sahaya tiada lagi akan meng­hu­bungi keput­rian. Sekali salah sahaya ini ber­sa­lah. Tidak untuk kedua kali­nya.”

“Itu salah benar, Kati, Nyi Gede. Hubungan lama jangan dilu­pa­kan. Hubungan harus dipe­li­hara. Apa berat­nya tidak melu­pa­kan hubungan lama? Tidak ada berat­nya. Hanya ber­u­saha datang dan bicara-bicara. Kalau tak bisa banyak, sedi­kit pun jadi. Bukan­kah begitu?”

“Betul, Tuan Sayid, sahaya tidak ber­se­dia.”

“Kau lupa, Kati, apa yang kuka­ta­kan ini bukan per­min­taan, tapi perin­tah.”

“Betul, Tuan, perin­tah.”

“Kau kupe­ris­tri atas perin­tah Sang Adi­pati. Seo­rang istri tidak patut meno­lak perin­tah suami. Orang harus mela­ku­kan­nya. Bukan, Kati?”

“Benar, Tuan, tapi meng­hu­bungi keput­rian sahaya tidak sedia.”

“Kau mem­bang­kang, Kati,” kata Syah­ban­dar itu tak ber­se­nang hati dan nada­nya tinggi memaksa.

“Sahaya telah ber­janji untuk tidak ber­sa­lah untuk kedua kali­nya pada Gusti Adi­pati. Sahaya akan tetap di Tuban, Tuan, sampai mati. Tuan setiap waktu dapat mening­gal­kan tempat ini entah ke mana-mana.”

“Akan kubawa ke mana pun aku pergi kau, Kati. Jangan kha­wa­tir,” Tholib Sung­kar meng­hi­bur istri­nya dan dir­i­nya sen­diri.

“Tidak, Tuan, ini adalah negeri sahaya.”

“Tapi kau istriku!” Syah­ban­dar mene­kan.

“Sahaya istri Tuan Sayid.”

“Laku­kan perin­tah sua­mimu,” perin­tah­nya keras. “Hubungi keput­rian, kataku,” mata­nya melo­tot.

“Sahaya telah dan akan laku­kan perin­tah Tuan, suami sahaya, kecu­ali khi­a­nat untuk kedua kali­nya.”

“Apakah aku bilang kau harus ber­khi­a­nat? Kau hanya ber­u­saha ke keput­rian dan ber­temu dengan kenalan-kenalan lama,” Tholib Sung­kar menu­run­kan kem­bali nada sua­ra­nya.

“Itulah sudah semua jawaban sahaya. Di sam­ping itu besok sahaya akan pergi ke desa Awis Kram­bil, meng­an­tar­kan Idayu untuk mela­hir­kan.”

“Bina­tang,” desis Syah­ban­dar Tuban dan ber­diri dari tempat duduk­nya. Ia ber­diri di hadapan istri­nya.

“Moga-moga Tuan, anak­nya yang kedua ini,” kata­nya tenang, “tidak lagi seperti Tuan.”

“Kurang ajar kau!” maki­nya dan diceng­kam­nya rambut Nyi Gede Kati dengan tangan kiri, digu­lung­nya sampai hampir lepas kulit kepala dari teng­ko­rak. Dengan telun­juk kanan ia menu­ding-nuding wanita yang meri­ngis kesa­kitan itu seperti hendak meno­tok biji mata­nya.

“Lepas­kan sahaya, Tuan,” pohon Nyi Gede.

Tam­paran ber­tubi datang pada pipi wanita itu dan ceng­kaman pada rambut tak juga dile­pas­kan­nya. “Ampun, Tuan, lepas­kan sahaya.”

Syah­ban­dar itu meng­hen­tak­kan ceng­kam­an­nya ke bela­kang. Wanita itu jatuh ter­ba­lik ke lantai. Sua­mi­nya nampak sudah kalap dalam menun­duk­kan istri­nya. Seka­rang dita­rik­nya tong­kat dari atas meja, dia­yun­kan ke atas untuk dilan­das­kan pada tubuh Nyi Gede.

Meli­hat ayunan tong­kat yang meng­an­cam, bekas pengu­rus harem itu meng­i­sar­kan badan sambil mengait sebe­lah kaki Tholib Sung­kar. Kemu­dian ia ber­gu­ling ber­pu­tar.

Syah­ban­dar yang jang­kung itu kehi­langan kese­im­bangan dan ter­je­rem­bab ke lantai. Tong­kat­nya ber­de­tak ter­pe­lan­ting. Tar­bus­nya ber­gu­ling-guling dengan segala kehor­matan, kemu­dian ber­henti men­da­rat pada kaki meja. Dan belum ia men­da­pat­kan kese­im­bang­an­nya dan kesa­daran apa yang sesung­guh­nya ter­jadi atas dir­i­nya, istri­nya telah melom­pat dan mem­bi­kin­nya jadi ter­te­lung­kup. Ke dua belah tangan­nya ter­pu­lir ke bela­kang dan wanita itu telah duduk di atas teng­kuk­nya.

“Akan sahaya patah­kan tangan lan­cang ini, Tuan.”

Dan Tholib Sung­kar Az-Zubaid meng­e­rang kesa­kitan. Tak ada kesem­patan lagi bagi­nya untuk mem­per­ha­ti­kan tar­bus­nya yang ter­hor­mat. Tak dii­ng­at­nya lagi sang tong­kat yang angker, yang telah sempat meno­hok iganya sen­diri sebe­lum ter­pen­tal.

“Jangan, Nyi Gede, jangan.”

“Dan kalau tangan ini sudah patah, Tuan, kepala Tuan yang mulia ini akan sahaya remuk­kan dengan tong­kat Tuan sen­diri.”

Kaki Tholib Sung­kar meronta-ronta, tapi tak ber­daya menye­la­mat­kan selu­ruh tubuh­nya. Kepa­la­nya mene­leng ke sam­ping, pipih pada lantai dan mulut­nya ter­buka meng­u­cur­kan liur. Di bawah tin­di­han tubuh montok Nyi Gede kepala yang pipih itu nampak jadi lebih tipis, seperti ter­buat dari ketan hitam.

“Lepas­kan aku,” rin­tih­nya.

“Min­ta­lah ampun, Tuan.”

Dan lelaki itu pan­tang meminta ampun. Nyi Gede Kati menam­bahi pul­ir­an­nya pada tangan sua­mi­nya. Dan lelaki itu meng­a­duh, meng­e­rang dan merin­tih.

“Ya-ya, ampun, Nyi Gede.”

Wanita itu mele­pas­kan pul­ir­an­nya, dan tangan lelaki itu jatuh ter­ku­lai di sam­ping. Ia ting­gal­kan juga teng­kuk sua­mi­nya, ber­diri, kemu­dian dengan tangan sen­diri meno­long meng­ang­kat kepala Syah­ban­dar Tuban, menyo­sor-nyo­so­r­kan pada lantai, seperti biasa dila­ku­kan orang ter­ha­dap anak-anak anjing yang nakal.

“Ampun, ampun, ampun, Nyi Gede!” rintih Syah­ban­dar dengan kata-kata yang tak ter­de­ngar jelas.

“Nah, Tuan, inilah ampun’ ia ber­diri lagi dan meno­long sua­mi­nya ber­diri.

Bibir lelaki itu ber­da­rah-darah. Dan wanita itu menye­ka­nya dengan ujung kemban yang dico­pot­nya dari lipa­tan. Tholib Sung­kar menge­bas-nge­bas­kan debu dari pakai­an­nya, meraba-raba pipi dan muka, rambut, dan: “Mana tar­busku? Tarbus mulia buat kepala mulia?”

Nyi Gede Kati mengait topi itu dengan kaki, meng­am­bil­nya dengan tangan kiri dan meneng­ge­lam­kan kepala sua­mi­nya di dalam­nya.

“Apa saja kau laku­kan ini, Kati?” tanya lelaki jang­kung itu sambil mem­per­ba­iki letak tar­bus­nya.

“Hanya satu pel­a­jaran, Tuan, bahwa per­bu­atan Tuan sung­guh tidak patut.”

“Tak ada istri ber­buat begitu pada sua­mi­nya,” pro­tes­nya.

“Memang tak ada, Tuan. Di sini pun, di negeri ini, juga tidak ada. Sung­guh luar biasa, kecu­ali, Tuan, kecu­ali kalau suami itu sudah begitu kurang ajar­nya….”

“Aku…. ?”

“Siapa lagi, Tuan,” Nyi Gede ber­ja­lan bebe­rapa lang­kah dan meng­am­bil tong­kat yang ter­pen­tal. “Maukah Tuan men­de­ng­ar­kan sahaya?” meli­hat lelaki itu meng­ang­guk lesu ia mene­rus­kan: “Di sini, Tuan, petani yang sebo­doh-bodoh­nya tidak­lah akan meng­a­n­i­aya bini­nya kecu­ali kalau dia memang sudah gila. Jangan bicara dulu. Di sini, Tuan, seo­rang istri bukan hanya diang­gap istri, juga seba­gai ibunya sen­diri, dihor­mati dan didu­duk­kan di tempat yang dimu­l­i­a­kan. Hanya orang gila meng­a­n­i­a­ya­nya. Seba­lik­nya seo­rang istri Tuan, meng­ang­gap sua­mi­nya bukan hanya seba­gai suami saja, juga seba­gai guru­nya dan seba­gai dewa­nya seka­li­gus. Tuan orang asing di sini. Sahaya sam­pai­kan ini agar Tuan meng­erti, karena semua itu mung­kin tak ada dalam ajaran Tuan.”

Tholib Sung­kar duduk lagi di kur­si­nya untuk melu­pa­kan cera­mah yang bodoh itu.

“Kau wajib minta ampun pada sua­mimu.”

“Tentu, Tuan,” jawab wanita itu dan mengem­ba­li­kan tong­kat pada pemi­l­ik­nya. “Sahaya minta ampun. Seki­ra­nya ter­u­lang kem­bali peng­a­n­i­a­yaan ter­ha­dap sahaya, jangan­lah tuan ragu-ragu untuk ter­te­lung­kup lagi.”

“Perem­puan haibat! Tak pernah aku temui,” ia meng­ge­leng-geleng pusing.

Nyi Gede Kati pergi ke bela­kang tanpa bicara lagi dan tanpa meng­hor­mat­i­nya.

Syah­ban­dar mem­be­nahi kitab-kitab­nya, bebe­rapa kali menyapu muka dan bibir yang masih juga menge­lu­ar­kan rasa asin, mena­rik-narik hidung­nya yang pipih dan beng­kung mera­ja­wali, kemu­dian menge­nang­kan dengan tenang-tenang peris­tiwa tak menye­nang­kan yang baru lalu. Ia masih juga heran betapa mudah ia bisa ditum­bang­kan seo­rang wanita yang selalu penu­rut itu. Dan ber­janji ia dalam hati untuk selalu ber­hati-hati ter­ha­dap­nya.

Sekali ini tidak ber­ha­sil, malah aku yang celaka, pikir­nya, besok atau lusa toh akan ber­ha­sil. Seribu betina seperti dia, tan­tang­nya, dan seribu kali seribu jantan seperti dia, tak bakal bisa gagal­kan usa­haku. Semua akan leng­kung dan lelah di dalam tanganku. Pri­bumi bodoh ini takkan sang­gup mem­ben­dung keku­atan Por­tu­gis, keku­atan yang sedang jaya.

Tiba-tiba ia merasa sangat malu ter­sipu ter­i­ngat pada keka­lah­an­nya ter­ha­dap Idayu. Di mana harus kusang­kut­kan mukaku kalau dia menyak­si­kan peris­tiwa itu tadi? Tidak­kah Nyi Gede akan menyam­pai­kan gempa bumi ini pada­nya? Kurang ajar! Tak pernah aku semalu ini. Biar, bagai­man­a­pun mereka takkan sang­gup mem­ben­dung keku­atan Por­tu­gis. Dua perem­puan Pri­bumi ini sudah mem­bi­kin aku bong­kar-bang­kir. Tapi tunggu!

Sele­sai sem­bah­yang asar waktu itu. Sunan Rajeg mem­per­ke­nal­kan Mahmud Barjah pada Manan, dulu Este­ban, dan Rois, dulu Rodri­guez.

“Teman-temanmu ini,” kata­nya lagi “Adalah penem­bak-penem­bak meriam. Nanti akan kau lihat sen­jata-sen­jata kita itu.”

“Meriam? seru Mahmud Barjah. “Meriam betul? Meriam Peranggi?”

Sunan Rajeg hanya meng­ang­guk-angguk mem­be­nar­kan.

“Dan kau akan lihat sen­diri bagai­mana mereka mela­tih anak-anak ber­pe­rang cara Eropa, cara Peranggi.”

Mahmud Barjah menge­r­nyit­kan kening.

Menge­ta­hui sinar cem­buru meman­car pada mata Mahmud, Sunan Rajeg buru-buru menam­bah­kan: “Dan per­wira Tuban ini, Mahmud Barjah, adalah pang­li­maku. Memang Manan dan Rois mualaf, mereka berada di bawah perin­tahmu, Mahmud. Dan kau harus meng­erti, Mahmud, perang secara Pri­bumi takkan mung­kin dapat meng­ha­dapi Peranggi. Cara baru harus diper­gu­na­kan, biar­pun asal­nya dari Peranggi.

“Bagai­man­akah kira­nya ber­pe­rang cara Peranggi?” Barjah meng­ang­kat dagu mere­meh­kan. “Belum pernah aku dengar atau lihat.”

“Kau harus lihat mereka ber­la­tih. Hari ini kita tidak bicara ten­tang perang. Hari ini kita ber­pesta. Ayoh, ber­sa­lam-salaman kalian.”

Mereka ber­sa­lam-salaman. Dan segera sete­lah itu Mahmud Barjah pergi dengan alasan hendak meli­hat anak buah­nya.

Sunan Rajeg meng­ge­leng-geleng tak mema­hami cem­buru hati pang­li­manya. Pang­lima Rajeg itu muncul lagi men­je­lang magrib untuk ber­je­maah di mesjid. Ia ber­ga­bung dengan semua makmum sampai isya. Kemu­dian semua orang turun dari mesjid untuk meng­i­kuti Sunan Rajeg menyam­pai­kan wejang­an­nya pada selu­ruh pen­du­duk yang sudah duduk ber­ja­jar-jajar di pela­taran pen­dopo mem­bawa tikar masing-masing.

Malam itu langit ber­men­dung tapi tidak hujan.

Orang duduk diam-diam dengan mata geli­sah dan pan­dang ke mana-mana seperti biasa. Damar­sewu ter­pa­sang di mana-mana dengan apinya yang geli­sah. Sunan Rajeg duduk di atas selem­bar per­ma­dani di dalam pen­dopo. Di bela­kang­nya duduk Mahmud Barjah dan para tetua. Dengan sema­ngat tinggi ia mem­per­ke­nal­kan pang­lima baru, kemu­dian dite­rus­kan dengan wejangan yang biasa itu, selu­r­uh­nya dalam Jawa: “Sudah pernah kuka­ta­kan pada kalian, ada kera­jaan Islam di Jawa ini, Demak. Kata­nya saja kera­jaan Islam. Yang Islam hanya­lah Dewan atau Maje­lis kera­jaan, bebe­rapa Kiai yang diang­gap wali Islam, dige­lari Sunan, dan para pem­be­sar­nya. Kawu­la­nya tidak tahu sesu­atu ten­tang Islam, kafir-kufur jahil. Dan raja­nya? Tidak beda, sama dengan yang sele­bih­nya. Betapa tidak malu­nya mereka mena­ma­inya kera­jaan Islam yang per­tama-tama.”

Ia mem­per­de­ng­ar­kan tawa yang pahit meng­gi­git.

“Siapa yang mena­ma­kan itu? Pasti bukan Sunan Rajeg,” ia mene­rus­kan. “Juga bukan kalian. Tapi: Maje­lis kera­jaan dan musa­fir Demak yang gen­ta­yangan ke mana-mana itu.”

Mahmud Barjah ter­longok-longok tidak meng­erti. Dan karena itu Sunan Rajeg meng­u­langi wejang­an­nya yang pen­du­duk sudah hafal di luar kepala: “Kalian tahu benar siapa musa­fir-musaf­sir Demak itu – ratusan orang yang diki­rim­kan oleh Demak ke semua mata-angin untuk ber­ce­rita sebaik dan sein­dah-indah­nya ten­tang Demak, raja­nya, pem­be­sar-pem­be­sar­nya. Maje­lis kera­jaan dan ang­gota-ang­go­ta­nya,” ia mene­ngok pada Mahmud Barjah.

“Sunan Rajeg dan kalian, peng­i­kut-peng­i­kut­nya,” ia mene­rus­kan, “tidak bisa ditipu begitu mudah. Kera­jaan Islam per­tama-tama di Jawa tidak di Demak, tapi di sini!” dan ditu­ding­nya lantai pen­dopo sedang mata­nya menyala-nyala pada para hadirin di depan­nya.

Hadirin diam tiada ber­su­ara seba­gai biasa bila tidak dita­nyai. Para tetua dan Mahmud Barjah, yang duduk di bela­kang Sunan Rajeg, tiada meng­ang­kat kepala, seakan patung-patung tem­baga pada sebuah candi.

“Peker­jaan musa­fir-musa­fir celaka itu hanya mem­be­daki dan merias muka Sultan Al-Fatah dan mema­jang-majang Demak, karena muka

Sultan itu bopeng dan karena Demak itu busuk. Ingat-ingat kalian, anak-anakku, Islam tidak boleh dis­e­ku­tukan dengan kebo­hongan dan dusta macam apa pun. Maka juga tidak ada hak Demak mena­ma­kan kera­jaan Islam per­tama-tama di Jawa’

Dengan pan­dang menan­tang seakan Demak ada di depan­nya ia angkat telun­juk yang meng­an­cam. Kata-kata­nya curah dari mulut dibe­rani-kan oleh keda­tangan pang­li­manya.

“Hei, kau, Sultan Demak. Dari manakah hakmu meng­ang­kat diri jadi kha­li­fah? Kau orang ayan? Siapa gurumu? Bagai­mana Maje­lismu sampai begitu gega­bah dengan peng­ang­katan begitu? Berani kau dan kalian menya­ma­kan Al-Fattah dengan Ali dan Umar? Apa dasarmu dan dasar kalian?”

Waktu pera­sa­an­nya meluap, penya­kit lama­nya menye­rang. Ia ter­ba­tuk-batuk, badan­nya mem­bung­kuk dan kedua belah bahu­nya ter­se­ngal-sengal tanpa daya.

Mahmud Barjah dan para tetua geli­sah ingin memi­jati bahu dan pung­gung pemim­pin­nya, tetapi tak berani. Para hadirin meman­jang­kan leher untuk dapat meli­hat bagai­mana Sunan Rajeg ber­ta­han ter­ha­dap serangan batuk, apakah dia punya keku­atan gaib untuk menun­duk­kan sang gatal yang meru­yaki teng­go­r­okan dan peda­lam­an­nya. Dan untuk ke sekian kali­nya keku­atan gaib itu tidak menya­ta­kan dir­i­nya.

Sunan Rajeg meng­ga­pai-gapai­kan tangan meminta ban­tuan. Mahmud Barjah men­de­kat dan menang­kap tangan itu. Ia mem­ban­tu­nya ber­diri dan mem­bawa tubuh pemim­pin yang ter­bong­kok-bong­kok karena batuk­nya masuk ke dalam.

Dan hadirin mena­rik napas lagi. Mereka tak juga bubar karena sebe­lum ada teng­ara untuk itu. Waktu dili­hat­nya Mahmud Barjah muncul kem­bali, ter­nyata bukan­lah untuk mem­be­ri­kan perin­tah bubar.

Per­wira muda yang tampan itu duduk di atas per­ma­dani bekas Sunan Rajeg. Ia ber­diri mem­be­la­kangi para tetua. Ia dengar hadirin mulai ber­gu­mam menya­ta­kan kehe­ranan dan kecu­r­i­gaan dan tak senang hati­nya. Tapi ia tidak memak­lumi.

Sete­lah meng­u­cap­kan salam, yang disam­but meng­ge­lora, ia mulai ber­pi­dato ten­tang dir­i­nya sen­diri, ten­tang peng­a­lam­an­nya, ten­tang keti­dak­senang­an­nya ter­ha­dap Sang Adi­pati, ten­tang mak­siat pem­be­sar-pem­be­sar Tuban, ten­tang harem Sang Adi­pati yang penuh dengan wanita bukan muhrim, namun tanpa malu adi­pati itu mena­mai diri Islam, tak pernah ber­se­m­bah­yang pula. Ia sama sekali tidak pernah menye­but Demak.

Dan pida­to­nya makin lama makin mela­rut mem­be­ber­kan pera­saan pri­ba­di­nya. Ia bicara dan bicara, ber­se­ma­ngat berapi-api, kaya dengan ung­kapan, pri­ba­hasa, kebo­hongan dan kha­yalan, ber­tele, meliuk ke sana dan kemari.

Pelita damar­sewu dipa­dam­kan satu per satu. Ia masih terus bicara. Dan teng­ara bubar tak kun­jung datang juga. Damar­sewu padam sama sekali. Ia masih juga bicara. Para tetua di bela­kang­nya sudah pada loyo ter­ba­tuk-batuk. Ia tetap bicara. Hujan jatuh dengan lebat­nya. Hadirin lin­tang-pukang mela­ri­kan diri, bukan dari keba­sahan, tapi dari pem­bi­cara ulung: pang­lima Rajeg Mahmud Barjah.

Pen­dopo itu sudah penuh-sesak dengan para pem­be­sar negeri. Sang Adi­pati telah duduk di atas sing­ga­sana-gadingya. Tholib Sung­kar Az-Zubaid ber­diri seo­rang diri di ping­giran, seja­jar dengan barisan peng­ha­dap yang kedua, para pemim­pin pasukan: Braja, kepala pasukan penga­wal kadi­pa­ten, Ban­teng Wareng, kepala pasukan kuda, Kala Cuwil, kepala pasukan gajah, Rang­kum, kepala pasukan kaki.

Wajah baru dalam barisan pemim­pin pasukan adalah Wirang­gal­eng. Ia telah menge­na­kan gelang baja tiga susun. Ia duduk seba­gai kepala pasukan laut.

Tempat Sang Patih masih juga kosong.

Sang Adi­pati nampai geli­sah tak ber­se­nang hati. Ber­kali-kali dipan­dang­nya tempat yang kosong itu. Dan tetap kosong. Karena tak dapat mena­han kesa­bar­an­nya, keluar suara tuanya yang mele­dak seperti gerutu macan betina: “Di manakah kakang Patih?”

Tiada ber­ja­wab. Semua menun­duk.

“Tuli­kah kalian maka tiada yang ber­se­m­bah?”

Tiada ber­ja­wab. Kege­li­sahan mulai mengu­a­sai selu­ruh peng­ha­dap.

“Tia­da­kah dike­ta­hui kea­daan gawat? Kalian para kuwu dan demang, benar­kah pagar desa kewa­lahan meng­ha­dap peru­suh?”

“Ampun, Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik,” salah seo­rang yang tertua di antara mereka ber­se­m­bah, “demi­ki­an­lah adanya.”

“Dan kesa­tuan kecil pasukan kuda hilang?”

“Ampun, Gusti,” sembah Ban­teng Wareng, “demi­ki­an­lah adanya.”

“Dan sem­bi­lan puluh pra­ju­rit kaki Tuban hilang tanpa bekas?”

“Ampun, Gusti, sese­m­ba­han, demi­ki­an­lah adanya,” sembah Rang­kum.

“Dan dua ratus pasukan kaki Tuban dengan dua orang pera­tus, di bawah pim­pinan per­wira penga­wal Mahmud Barjah juga lenyap tanpa bang­kai?”

“Demi­ki­an­lah adanya,” sembah Rang­kum.

“Dan peru­suh itu men­de­sak terus ke arah Tuban seakan Tuban hanya segum­pal daging tanpa tulang di hadapan seka­wanan anjing. Apakah orang sudah lupa, dua ratus tahun lama­nya Tuban tak pernah diganggu musuh karena balat­en­ta­ra­nya? Apakah Kakang Patih lupa, pasukan-pasukan Tuban tiada mung­kin ter­ka­lah­kan? Dalam dua ratus tahun balat­en­tara Tuban telah ikut mene­gak­kan Maja­pa­hit di banyak daratan dan di banyak pulau, di laut maupun di hutan? Braja! Kata­kan sesu­atu biar orang tahu, apa dan siapa Gus­timu!

“Ampun, Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik. Patik, kepala pasukan penga­wal Gusti Adi­pati tiada rela Tuban dija­mah oleh musuh dari mana pun datang­nya, siapa pun orang­nya, apa pun dalih dan kapan pun makar­nya. Selu­ruh pasukan penga­wal adalah kulit Gusti Adi­pati. Barang siapa menyen­tuh kulit itu, dia akan robek di bawah inja­kan pasukan penga­wal, karena Braja yang akan men­ja­wab.”

“Kese­ti­a­anmu adalah kese­ti­aan lama dari per­wira Maja­pa­hit. Kau, Ban­teng Wareng, ber­se­m­bah.”

“Ampun, Gusti Adi­pati sese­m­ba­han patik, ada pun pasukan kuda Tuban setiap saat siap untuk menye­rang segala yang ber­ge­rak menuju ke Tuban dengan keja­hatan di dalam hati­nya. Malam bisa dija­di­kan siang, siang bisa dija­di­kan malam, seba­gai­mana Gusti Adi­pati titah­kan. Tela­pak kuda­nya akan capai semua jarak dan cambuk-cam­buk­nya akan meng­ge­le­tari udara dan hati musuh dur­jana. Tom­bak­nya akan beter­bangan seperti camar mene­pis puncak-puncak ombak. Musuh akan dipo­rak-poran­da­kan sebe­lum men­ca­pai luar kota Tuban, Ban­teng Wareng adalah dada Gusti Adi­pati.”

“Kau sung­guh mele­gakan dada hati kami, Ban­teng Wareng. Darah ter­si­rap men­de­ngar per­se­m­ba­hanmu, darah Maja­pa­hit, bukan darah kecoak. Ah, Kala Cuwil, kaulah yang ber­se­m­bah.”

“Ampun, Gusti Adi­pati. Pasukan gajah sela­ma­nya jan­tung hati Tuban dan Gusti Adi­pati. Tanpa kesu­dian Gusti, tia­da­lah pasukan gajah. Pasukan gajah men­de­gup­kan darah per­ta­hanan Tuban. Gajah-gajah yang lincah dan berat, tanpa dipo­tong gading­nya, gajah ten­tara sejati, adalah bukit-bukit otot di tangan pawang ten­tara yang ulung. Punah­lah musuh Tuban ter­lin­das oleh kaki­nya, ter­bu­rai ter­ban­ting oleh bela­lai dan ludas ter­ti­kam gading­nya. Bila musuh ingin men­coba, pasukan gajah Gusti Adi­pati akan mem­be­ri­kan pada mereka apa yang mereka kehen­daki. Gusti Adi­pati sese­m­ba­han patik, kese­ti­aan pasukan gajah sepe­nuh­nya berada di dalam tangan Gusti,”

“Kami tak mera­gu­kan, Kala Cuwil. Kau tetap per­wi­raku anda­lan Tuban. Kau Rang­kum. Betapa kau keli­hatan geli­sah. Sudah berapa pra­ju­r­itmu yang hilang?”

“Ampun, Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik. Ada dua ratus sem­bi­lan puluh tidak ter­ma­suk per­wira Mahmud Barjah.”

“Bagai­mana bisa maka kau sampai kehi­langan orang seba­nyak itu? Dan meng­apa kau sen­diri tidak pernah per­se­m­bah­kan?”

“Ampun, Gusti, patik per­se­m­bah­kan jumlah yang hilang ter­se­but kepada Gusti Patih ber­da­sar­kan titah.”

“Apakah kau sudah bikin pasukan kaki Tuban jadi tape yang bisa dike­ping-keping dan dite­lan? Dua ratus sem­bi­lan puluh tanpa bekas tanpa dibang­kai. Hadap­kan sini Kakang Patih, hidup atau mati, sakit atau sehat. Jalan kau, Rang­kum, dan segera.”

Sete­lah menyem­bah Rang­kum ter­go­poh-gopoh meng­un­dur­kan diri.

Peng­ha­dapan itu diku­a­sai oleh sua­sana kete­gangan luar biasa. Jangan­kan senyum, kera­mahan sedi­kit pun tak nampak pada air muka Sang Adi­pati. Bibir yang biasa ter­se­nyum itu keunguan karena murka. Keri­put pada wajah­nya nampak sema­kin dalam.

Men­da­dak Sang Adi­pati mene­ngok pada Syah­ban­dar Tuban: “Tuan Syah­ban­dar Tuban Sayid Habi­bul­lah Al-Masawa,” kata­nya dalam Melayu. “Dalam bulan ini hanya ada tiga kapal Atas Angin masuk. Sebe­lum Tuan men­ja­bat, jauh lebih banyak. Selama Tuan, mero­sot dan mero­sot. Seka­rang ting­gal tiga.”

“Ampun, Gusti Adi­pati Tuban, Allah s.w.t. telah mem­bi­kin lautan dan daratan untuk manu­sia. Manu­sia mem­bi­kin kapal untuk mela­yari lautan dan menying­gahi daratan. Itulah usaha manu­sia, Gusti. Tetapi semua diten­tu­kan oleh hukum, adakah kapal ber­la­yar atau tidak, sing­gah atau tidak. Dan hukum itu hanya ber­a­sal dan milik Tuhan.”

Sang Adi­pati meng­i­sya­rat­kan biti-biti per­wara di bawah­nya, dan wanita-wanita itu mem­per­se­m­bah­kan nampan sirih. Dengan cepat Sang Adi­pati meng­am­bil dan ber­ce­pat-cepat pula mengu­nyah­nya. Seo­rang biti lain dengan gopoh-gapah mem­per­se­m­bah­kan tem­po­long ludah, dan lelaki itu melu­dah ke dalam­nya.

Tak pernah orang meli­hat pengu­asa Tuban itu makan sirih sece­pat itu, tanpa menik­mat­i­nya.

“Tuhan­lah yang telah menen­tu­kan bandar-besar dan makmur dan sejah­tera; yang tidak dising­gahi merana. Lenyap dalam keme­ro­sotan. Allah­lah yang mem­bagi-bagi rezeki di antara ummat­Nya!”

Sekali lagi Sang Adi­pati melu­dah cepat-cepat.

“Seben­tar satu bandar dimak­mur­kan-Nya, seben­tar pula dilu­pa­kan-Nya. Sama sekali bukan­lah peker­jaan seo­rang Syah­ban­dar untuk memang­gil kapal-kapal itu, Gusti.”

“Sampai di mana usa­hamu untuk mengem­ba­li­kan sema­rak bandar Tuban?”

“Ampun, Gusti, keja­yaan juga ber­pin­dah-pindah karena ban­dar­nya. Kera­jaan jatuh dan jaya karena ban­dar­nya. Itu sama sekali bukan usaha manu­sia. Manu­sia tanpa daya, hanya bisa memo­hon pada Tuhan. Kapal bisa ber­pin­dah-pindah, Gusti, tetapi bandar tidak. Tak ada keku­a­saan di bawah kolong langit dapat meme­rin­tah: hei, kau, kapal-kapal dagang, jangan sing­gah di sana, di sini saja. Hanya Nabi Musa a.s. dapat mem­buka jalan laut hanya dengan tong­kat­nya dan menye­la­mat­kan ummat-Nya.”

“Bukan­kah yang kami tanya­kan sampai di mana usa­hamu? Dahulu orang memer­lu­kan datang ke Tuban untuk meli­hat pesta. Pesta laut yang bela­kangan sepi dan susut. Tak ada sebuah pun kapal Atas Angin ber­la­buh.”

“Segala usaha telah patik tempuh, Gusti, akhir­nya Tuhan jua yang menen­tu­kan. Hamba tak mampu memaksa kapal-kapal ber­la­yar dari Maluku ke Malaka sing­gah di Tuban. Bahkan kapal-kapal dagang Tuban sen­diri mulai dila­buh­kan di bandar-bandar lain: Jepara, Banten, Pasai. Ting­gal ben­de­ra­nya saja yang masih Tuban.”

“Diam!” bentak Sang Adi­pati.

Wirang­gal­eng yang duduk seja­jar dengan para kepala pasukan ber­de­bar-debar. Ia belum lagi tahu sepe­nuh­nya ten­tang pasukan laut Tuban, belum meng­erti sampai di mana kese­ti­aan mereka. Ia sibuk menyu­sun kali­mat yang harus dapat mengu­kuh­kan sikap pasukan laut pada Sang Adi­pati.

Justru pada saat itu muncul Sang Patih. Muka­nya pucat dan pakai­an­nya nampak kusut tak tera­wat. Tanda-tanda pang­kat dan jabatan, yang bia­sa­nya rapi di tempat yang sepa­tut­nya, kini kacau, bahkan des­tar­nya pun agak miring, tidak sega­ris dengan batang hidung­nya. Keris­nya agak ter­da­lam ter­se­lit­kan. Dan mata­nya merah seperti tidak tidur selama seminggu atau seperti habis mena­ngis sepan­jang hari.

Ia jatuh­kan diri di hadapan Sang Adi­pati, ber­sim­puh dan menyem­bah, kemu­dian dengan tak acuh menem­pati tem­pat­nya di depan para kepala pasukan dan menun­duk dalam.

“Meng­ap­a­kah kau, Kakang Patih, tiada meng­ha­dap pada wak­tu­nya? Adakah kau sudah bosan pada adi­pa­timu maka demi­kian ting­kahmu?”

Sang Patih menyem­bah tiga kali ber­tu­rut-turut tetapi tak ber­kata sesu­atu dan ter­ja­tuh pada sikap duduk semula.

‘Tiada kami lihat kau sakit. Hanya kau pucat dan matamu merah. Kau masih kuat mem­bawa badan sen­diri. Apakah kurang kami ter­ha­dapmu?”

Sekali lagi Sang Patih meng­ang­kat sembah tiga kali. Ia tetap tak ber­se­m­bah barang sepa­tah.

Sang Adi­pati menge­r­nyit­kan kening dan mem­ben­tak: “Tia­da­kah sesu­atu yang kau rasa­kan patut untuk diper­se­m­bah­kan lagi?”

Pelahan Sang Patih meng­ang­kat kepala dan menyem­bah lagi, tetapi kepala itu tunduk lagi. Bibir­nya ber­ge­rak bebe­rapa kali, namun suara tak keluar dari mulu­r­nya.

“Adakah kami yang tuli, atau­kah kau yang bisu?”

“Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik,” kata Sang Patih parau.

“Apalah lagi yang mesti patik per­se­m­bah­kan? Dalam satu minggu bela­kangan ini semua telah patik per­se­m­bah­kan dan Gusti Adi­pati Tuban, sese­m­ba­han patik tiada ber­ke­nan men­de­ng­ar­kan bahkan patik men­da­pat murka Gusti Adi­pati.”

“Berapa kali­kah harus kami kata­kan, balat­en­tara Tuban tidak boleh dike­rah­kan dan engkau juga yang terus men­de­sak seakan tidak ada piki­ran lain yang boleh ting­gal kecu­ali perang? Peru­suh tak perlu diha­dapi dengan perang. Dan kau Kang Patih, telah kirim­kan dua ratus sem­bi­lan puluh pra­ju­rit untuk hilang tanpa bekas tanpa bang­kai. Bukan­kah demi­kian?”

“Patik, Gusti Adi­pati.”

“Dan kau masih ber­u­saha men­de­sak diki­rim­kan lebih banyak, lebih banyak dan lebih banyak, sampai balat­en­tara Tuban akan ter­ku­ras habis.”

Sang Patih tidak ber­se­m­bah.

“Rang­kum, per­se­m­bah­kan ten­tang pasuk­anmu.”

“Ampun, Gusti Adi­pati, dua ratus sem­bi­lan puluh adalah kehi­langan besar. Tetapi pasukan kaki Tuban belum­lah ber­ge­rak dalam ben­tuk­nya yang semes­ti­nya. Kalau dua ratus sem­bi­lan puluh pra­ju­rit patik hilang, pasti bukan perang, Gusti. Yang demi­kian tidak mung­kin ter­jadi. Ampun­i­lah patik bila akan mem­per­se­m­bah­kan sesu­atu yang men­da­hu­lui-Gusti Patih Tuban. Ialah bahwa hilang­nya pra­ju­rit-pra­ju­rit patik besar kemung­kinan adalah karena peng­khi­a­natan.”

Semua peng­ha­dap meli­hat ke arah Rang­kum.

Semen­tara sunyi-senyap.

“Kakang Patih, adakah benar ter­jadi yang demi­kian? Dan bila benar, bagai­mana jalan­nya peng­khi­a­natan?”

“Ampun, Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik, kira­nya benar per­se­m­ba­han Rang­kum, kepala pasukan kaki. Mahmud Barjah, per­wira per­a­nakan Koja itu, telah ber­ga­bung dengan peru­suh. Kaum peru­suh telah men­da­pat tam­ba­han keku­atan sedang Tuban kehi­langan.”

“Tak pernah dii­ngat orang adalah peng­khi­a­natan ter­jadi dalam tubuh balat­en­tara Tuban. Coba, sia­pa­kah yang pernah dengar adalah pra­ju­rit Tuban ber­khi­a­nat?”

Kese­nyapan menyu­sul lagi.

“Kakang Patih, bukan­kah kau sen­diri yang mela­ku­kan pilihan atas mereka yang harus berang­kat itu?”

“Demi­ki­an­lah adanya, Gusti.”

“Dan tanpa sepe­nge­ta­huan kami?”

“Demi­ki­an­lah adanya, Gusti.”

“Tentu tidak ada sesu­atu maksud untuk mela­wan gus­timu?”

“Sama sekali tidak keliru, Gusti. Maka jatuh­kan­lah hukuman pada patik karena keke­li­ruan ini.”

Sang Adi­pati nampak meng­hela napas pan­jang. Air muka­nya mulai nampak terang seperti biasa. Dita­rik­nya tangan kanan­nya dari atas paha kanan dan diper­gu­na­kan untuk menyangga kepala. Ia titah­kan Sang Patih untuk mene­rus­kan per­se­m­ba­han­nya.

“Kalau per­mo­honan patik untuk menge­rah­kan balat­en­tara agar dapat menum­pas peru­suh sece­pat-cepat­nya, Gusti, Gusti tim­bang seba­gai keke­li­ruan juga, memang hanya hukuman yang patik tunggu, dan tiada sesu­atu yang patut patik per­se­m­bah­kan lagi,” ia meng­ang­kat sembah dan ber­diam diri.

“Kami meng­erti kesu­l­it­anmu, Kakang Patih, dan itulah tang­gung­ja­wab seba­gai Patih Tuban. Kami tahu kese­ti­a­anmu. Tetapi mela­ku­kan sesu­atu yang ber­ten­tangan dengan titah… “, ia tak mene­rus­kan kata-ka-tanya. “Baik, demi­ki­an­lah hatimu. Seka­rang kami per­ke­nan­kan kau menge­lu­ar­kan lima ratus pra­ju­rit, dapat kau ambil dari ber­ba­gai pasukan. Juga kau boleh ambil dari pasukan laut, Wirang­gal­eng, ayoh, per­se­m­bah­kan sesu­atu ten­tang pasuk­anmu.”

Wirang­gal­eng meng­ang­kat sembah. Selama itu ia telah susun kata-kata­nya. Begitu men­da­pat kesem­patan, melun­cur mereka seperti air pada saluran sawah.

“Ampun, Gusti, sesung­guh­nya belum lagi lama patik meme­gang pasukan laut. Bebe­rapa kali kapal-kapal asing tidak dike­nal ber­ke­li­aran jauh di tengah laut, di malam hari, dengan lampu-lampu dipa­dam­kan. Tetapi kilat di musim hujan tak urung dapat mene­rangi dunia. Pen­jaga menara tidak meli­hat, dan kapal-kapal penga­wal pantai nam­pak­nya juga segan mem­per­se­m­bah­kan. Boleh jadi takut meng­ha­dapi Peranggi. Ampun, Gusti, pada waktu itu patik belum meme­gang pasukan laut. Adanya kapal-kapal yang men­cu­r­i­ga­kan itu, Gusti Adi­pati sese­m­ba­han patik, per­tanda akan adanya bahaya dari laut. Dan bahaya dari laut tidak kalah bur­uk­nya dari­pada darat. Jatuh­nya Malaka, Gusti, jadi per­i­ng­atan….”

“Kau betul, Wira, maka kami meno­lak penge­rahan besar-besaran balat­en­tara. Tapi kau pun harus ingat juga, penye­rangan laut Adi­pati Unus Jepara, dengan dua puluh ribu orang atas Malaka, tidak ber­ha­sil. Serangan laut sela­ma­nya tidak mesti ber­ha­sil. Walau demi­kian kalau per­ta­hanan dalam kosong, seperti Malaka dulu, jatuh juga yang dise­rang. Bukan­kah begitu, Tuan Syah­ban­dar Tuban?”

Semua orang mene­ngok ke arah Syah­ban­dar. Orang jang­kung agak bong­kok itu nampak lebih bong­kok. Tangan­nya ter­gan­tung dan jari-jari­nya meng­ga­pai-gapai men­cari kata. Dan waktu kata-kata­nya keluar, ter­de­ngar agak ragu-ragu: “Ampun, Gusti, ten­tang Malaka itu sahaya kurang periksa, malahan tidak pernah men­de­ng­ar­nya.”

“Setiap Syah­ban­dar menge­ta­hui segala sesu­atu ten­tang tepian laut. Aneh bahwa Syah­ban­darku, Syah­ban­dar Tuban bisa tidak menge­ta­hui barang sesu­atu ten­tang Malaka’

Orang masih juga meli­hat pada Syah­ban­dar yang jari-jari­nya ber­ge­rak-gerak, tapi tak ada kata keluar lagi dari mulut­nya.

Sang Adi­pati ter­se­nyum dan mene­rus­kan: “Deng­ar­kan semua peng­ha­dap: Tuban bukan Malaka. Adi­pati Tuban Arya Teja Tumeng­gung Wil­wa­tikta bukan Sultan Mahmud Syah. Malaka jatuh karena usaha manu­sia untuk memi­l­iki bandar itu, sedang pemi­l­ik­nya sen­diri lengah. Gajah-gajah­nya mati ter­ma­kan racun. Habis­lah andal-andal Malaka. Maka itu, ingat-ingat Kala Cuwil, akan gajah-gajahmu.”

“Per­i­ng­atan Gusti Adi­pati jadilah ajimat untuk patik. Tak seekor pun gajah Tuban dapat dide­kati orang, siang dan malam, Gusti, kecu­ali oleh pawang masing-masing, sejak jatuh­nya Malaka.”

Wirang­gal­eng geli­sah di tem­pat­nya karena per­se­m­ba­han­nya belum lagi sele­sai.

“Apa per­se­m­ba­hanmu lagi, Kakang Patih?”

Patih Tuban itu menyem­bah tiga kali tapi tak ber­kata sesu­atu pun.

Sikap­nya itu mem­bi­kin geli­sah para peng­ha­dap. Dan Wirang­gal­eng sen­diri merasa jeng­kel kare­na­nya. Meng­ap­a­kah orang yang ter­ke­nal bijak­sana itu tak ada sema­ngat untuk mem­per­ta­han­kan pen­da­pat­nya dan kebi­jak­sa­na­an­nya? Ia pun merasa tidak puas ter­ha­dap Sang Adi­pati yang terus-mene­rus memo­jok­kan Sang Patih. Apakah jadi­nya kalau dua-duanya hanya bisa ber­main kata-kata, sedang Syah­ban­dar tenang-tenang menempa ren­ca­na­nya? Baik Sang Patih maupun Sang Adi­pati tahu ten­tang ren­ca­na­nya itu. Dan meng­apa tak juga ada sesu­atu tin­dakan diam­bil ter­ha­dap­nya? Dari kenya­taan itu ia mena­rik kesim­pulan Sang Adi­pati masih tetap melin­dung­i­nya.

Ia mem­be­nar­kan per­bu­atan Sang Patih. Tetapi pasukan yang diki­rim­kan­nya tumpas. Pasukan yang lebih besar harus dike­rah­kan untuk mela­ku­kan penum­pasan cepat sebe­lum lebih banyak kapal asing tak dike­nal ber­ke­li­aran. Pra­ju­rit sejum­lah lima ratus orang yang diper­ke­nan­kan memang ter­lalu kecil. Tapi meng­apa Sang Patih tidak mem­per­se­m­bah­kan pen­da­pat­nya? Malah semes­ti­nya meya­kin­kan Sang Adi­pati, bahwa lima ratus orang itu tidak mem­pu­nyai sesu­atu arti dalam meng­ha­dapi Mahmud Barjah dan pasuk­an­nya? Meng­apa dia hanya menyem­bah dan mem­bisu?

“Keta­hu­i­lah, Kakang Patih, apa pun yang ter­jadi, jangan harap­kan balat­en­tara kami diti­tah­kan ber­ge­rak. Jangan coba-coba lagi per­se­m­bah­kan itu. Kami ampuni kau ten­tang hilang­nya dua ratus sem­bi­lan puluh pra­ju­rit kaki. Per­gu­na­kan lima ratus! Wirang­gal­eng, bagai­mana cet­bang-mu?”

“Dalam kea­daan siap dan menunggu titah, Gusti?”

“Jangan ada cet­bang diper­gu­na­kan dalam per­tem­puran darat, karena itulah aturan Maja­pa­hit. Tarik semua yang di darat ke pela­buhan dan yang di pela­buhan ke kapal.”

Wirang­ge­leng hampir saja menyang­kal titah yang diang­gap­nya tidak tepat itu. Tak jadi. Dan sema­kin ter­he­ran-heran ia meng­apa Sang Adi­pati tak juga ingin menge­ta­hui ten­tang kapal asing yang men­cu­r­i­ga­kan itu.

“Bila cet­bang sudah dimu­lai diper­gu­na­kan di darat, keru­sakan akan datang lebih cepat dari keba­ik­an­nya.”

“Patik lak­sa­nakan titah Gusti.”

“Kakang Patih, ada kau deng­ar­kan kami?”

Kem­bali Sang Patih hanya menyem­bah tapi tak ber­kata sesu­atu pun.

“Jadi kau tidak mem­be­nar­kan kami?” suara Sang Adi­pati mele­dak dengan suara parau.

Semua orang di peng­ha­dapan mene­kur dalam. Dan semua per­ha­tian ter­pu­sat pada ledakan-ledakan selan­jut­nya. Kete­gangan mem­be­nam mereka semua dalam kewas­pa­daan yang makin lama makin merun­cing. Sunyi. Dan di sela-sela kewas­pa­daan itu juga masih ter­de­ngar oleh mereka ledakan lain, dari keja­uhan, sayup-sayup, dengan gemanya yang ber­gu­ling-guling seperti guruh yang sedang malas.

Bebe­rapa bentar kemu­dian kewas­pa­daan itu buyar. Satu ledakan lain di bela­kang para peng­ha­dap: bebe­rapa cabang pohon beringin kurung di alun-alun patah dan jatuh gemer­a­sak ke tanah.

Sang Adi­pati ber­diri dan menin­jau ke arah alun-alun, pada pohon beringin kurung. Para peng­ha­dap ter­bu­juk untuk meno­leh ke bela­kang, tapi tak dibe­nar­kan oleh keten­tuan.

Tak ada seo­rang pun bicara.

Tiada antara lama ter­de­ngar den­tuman lagi di keja­uhan untuk ke dua kali­nya. Dan bebe­rapa bentar kemu­dian gapura balok-balok kayu kadi­pa­ten ter­bong­kar dengan bunyi riuh dan rubuh tanpa daya di tanah.

“Meriam!” seru Syah­ban­dar Tuban. “Masya­al­lah, meriam, Gusti, meriam!”

“Meriam!” gumam Sang Adi­pati.

“Meriam Peranggi!” seru Syah­ban­dar.

“Diam!” bentak Wirang­gal­eng pada Tholib Sung­kar Az-Zubaid. “Tak ada canang dari menara pela­buhan.”

“Betul, tidak dari pela­buhan, Gusti,” baru Sang Patih ber­se­m­bah, “meriam Peranggi. Peru­suh sudah punya meriam Peranggi, Gusti. Laut dan darat meng­an­cam.”

“Betul. Laut dan darat meng­an­cam,” Sang Adi­pati meng­u­langi. “Tuban bukan Malaka. Tuban tetap jaya!” ia ber­te­riak: “Tuban tetap jaya. Gusti Adi­pati tetap jaya!” semua peng­ha­dap ber­so­rak menyam­but.

Sebu­tir peluru besi jatuh ber­de­bug antara gapura rebah dan pohon beringin kurung yang som­p­lak. Sebu­tir lagi jatuh antara gapura roboh dengan pen­dopo.

Para peng­ha­dap mulai geli­sah di tempat duduk­nya. Terasa seakan satu butir lagi akan jatuh pada pung­gung mereka masing-masing. Dan orang mulai mem­ba­yang-bayang­kan dalam ingat bagian-bagian dari seben­tar tubuh para peng­ha­dap jadi penyok keja­tuhan. “Per­se­m­bah­kan sesu­atu, Kakang Patih,” kata Sang Adi­pati dengan masih tetap ber­diri dan mata­nya ter­tuju ke luar pen­dopo.

Sang Patih meng­u­langi sem­bah­nya yang tiga kali kemu­dian mem­bisu lagi.

“Kau Wirang­gal­eng, pelan­tang dan pelan­cang, per­se­m­bah­kan sesu­atu.”

“Menu­rut dugaan patik, Gusti, para peru­suh sudah sangat dekat dengan kota Tuban. Per­ke­nan­kan­lah, ya Gusti sese­m­ba­han, per­ke­nan­kan patik memo­hon agar Gusti meni­tah­kan balat­en­tara Tuban ber­ge­rak… tiada kan lama, dan peru­suh itu…”

“Diam, kau, pelan­cang!”

Per­ha­tian para peng­ha­dap beru­bah-ubah dari Sang Adi­pati pada peluru yang mung­kin akan segera jatuh lagi.

Kem­bali peng­ha­dapan itu sunyi-senyap. Dan dalam kese­nyapan itu ter­de­ngar keru­yuk seekor jago, disam­but oleh jago lain dari tempat yang lain pula. Walau­pun tubuh para peng­ha­dap sudah geli­sah, tapi kepala mereka tetap pada leher­nya, tak ada yang ber­ge­rak. Kemu­dian ter­de­ngar derap kuda ber­pacu di jalan depan kadi­pa­ten, melom­pati gapura balok yang roboh, mela­lui penga­wal-penga­wal pen­dopo. Penung­gang­nya ber­pa­kaian serba putih, dan ber­topi putih yang keke­cilan di atas kepa­la­nya yang tak beram­but. Pada tangan­nya ia mem­bawa tombak teram­ang.

Para peng­ha­dap tak berani mene­ngok. Hanya Sang Adi­pati yang meli­hat penung­gang itu men­de­kati.

Pada waktu itu juga muncul rom­bongan penung­gang kuda dari pasukan Tuban yang mem­bu­ru­nya.

“Terima ini!” pekik penung­gang kuda serba putih itu dan melem­par­kan tom­bak­nya ke arah pen­dopo.

Tombak itu mela­yang dan ber­henti menan­cap pada salah sebuah tiang pen­dopo.

Pra­ju­rit-pra­ju­rit penga­wal mulai pada ber­ham­buran mem­buru penung­gang kuda itu tak meng­gub­ris mereka yang ter­ce­cer jauh di bela­kang­nya. Dengan kuda­nya ia melom­pati pagar sam­ping kadi­pa­ten, masuk ke alun-alun, mem­be­lok ke sebe­lah timur dan hilang dari peman­dangan.

Rom­bongan pasukan kuda tak jadi masuk ke kadi­pa­ten dan pem­buru penung­gang kuda itu di alun-alun, kemu­dian pun hilang ke arah timur.

Seo­rang per­wira ber­la­rian datang, mem­per­se­m­bah­kan, bahwa ada serangan meriam dari arah selatan. Sebe­lum ia menyem­bah untuk meng­un­dur­kan diri masuk ke dalam kadi­pa­ten seo­rang dari pasukan penga­wal datang ber­se­m­bah: “Seo­rang peru­suh, Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik, dengan ber­kuda telah mema­suki Tuban Kota, mema­suki kadi­pa­ten dan melem­par­kan tombak ke pen­dopo. Satu regu pasukan kuda sedang mem­bu­ru­nya. Dia akan ter­tang­kap dalam bebe­rapa bentar ini,” ia menyem­bah dan meng­un­dur­kan diri.

“Kakang Patih! Bawa pra­ju­rit yang lima ratus itu. Kau sen­diri yang kami angkat jadi sena­pati. Deng­ar­kan semua: hari ini Kakang Patih kami angkat jadi Sena­pati Tuban. Sela­mat­lah kau, sejah­te­ralah kalian. Kepala-kepala pasukan, ikuti sena­pa­timu. Pergi!”

“Ampun, Gusti Adi­pati…,” Sang Patih men­coba menyela.

Pengu­asa Tuban itu tak dapat lagi mengen­da­li­kan amarah yang telah dico­ba­nya ditin­das­nya selama ini. Dalam kea­daan masih ber­diri dan siap untuk menyem­bur­kan­nya ia ber­ko­mat-kamit. Seo­rang pra­ju­rit penga­wal datang meng­ha­dap, ber­sim­puh dan menyem­bah, kemu­dian dengan ter­buru-buru mem­per­se­m­bah­kan: “Ampun, Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han, telah patik cabut tombak peru­suh dari tiang pen­dopo. Pada­nya diser­ta­kan lontar ini, Gusti,” dan diper­se­m­bah­kan­nya surat ter­tu­lis dalam basa dan huruf Jawa.

“Baca, biar semua dengar,” titah Sang Adi­pati.

Pra­ju­rit itu mem­bawa lontar itu di depan mata­nya, dan mulai mem­ba­ca­nya dengan suara lan­tang sehingga ter­de­ngar ke selu­ruh pen­dopo: “Adi­pati Tuban kafir-kufur Rangga Demang Tumeng­gung Wil­wa­tikta,

“Telah kau dengar sen­diri gele­gar meri­amku yang meng­ge­tar­kan Tuban Kota dan hatimu,”

“Kalau kau belum tuli dan belum buta, meng­er­ti­lah kau, itulah suara Sunan Rajeg, aku, yang mengu­a­sai negeri Tuban selatan.”

“Menying­kir kau sebe­lum aku datang meng­am­bil setiap jeng­kal tanah dari tangan dan hati muna­fik, karena tak akan ada ampun bagimu, dunia maupun akhi­rat.”

“Seki­ra­nya kau tak suka pada surat ini, sak­si­kan bagai­mana pasukan gajah kebang­ga­anmu akan musnah di medan perang.”

“Sunan Rajeg tak mem­bu­tuh­kan jawaban dari mulut atau hati si kafir-kufur tanpa harga.”

Pra­ju­rit itu menyem­bah dan mem­per­se­m­bah­kan lontar-lontar yang habis diba­ca­nya. Sang Adi­pati menen­tang lontar itu sehingga jatuh ter-tabur di lantai. Dan pra­ju­rit itu pun meng­un­dur­kan diri tanpa meng­am­bil­nya.

“Berang­kat kau, Sena­pati Tuban, dengan restu kami. Dengan jumlah yang telah kami ten­tu­kan untukmu.”

Meli­hat Sang Patih masih juga akan mem­per­se­m­bah­kan kebe­rat­an­nya Sang Adi­pati menyam­bar tem­po­long kuningan tempat ludah sirih dari nampan yang diba­yang oleh seo­rang biti per­wara. Benda itu dilem­par­kan­nya dan mela­yang menge­nai muka Sang Patih. Tanpa meli­hat pada siapa pun, dengan dagu ter­ta­rik ke depan ia ting­gal­kan pen­dopo dan hilang dari peman­dangan.

Semua peng­ha­dap menu­run­kan sembah, kemu­dian bubar mening­gal­kan kepala pasukan yang mem­ban­tu­nya mem­ber­sih­kan ludah sirih dari muka, dada dan pakai­an­nya.

Balat­en­tara Tuban mulai ber­ge­rak.


Bab 18

Dan Pertempuran Meletus

Sunan Rajeg tak dapat mena­han kesa­bar­an­nya sete­lah menyak­si­kan sen­diri betapa dua pucuk meriam itu ter­nyata dapat diper­gu­na­kan dengan baik. Ia meli­hat bagai­mana meriam itu yang ditu­ju­kan ke arah bukit itu menyem­bur­kan peluru dengan iringan hali­lin­tar. Peluru-peluru menye­ber­a­ngi langit di atas padang rumput, kemu­dian di keja­uhan nampak suara gerak pada kehi­jauan hutan.

Dengan sema­ngat tinggi ia hadi­ah­kan satu regu dari pra­ju­r­it­nya untuk mela­yani meriam, dan satu regu khusus untuk men­jaga kese­la­matan sen­jata ampuh dan para pela­yan­nya.

Ia pun sudah sak­si­kan sen­diri latihan perang secara Peranggi, yang dia­jar­kan­nya oleh Manan dan Rois, dua orang mualaf Por­tu­gis itu. Dan ia ber­be­sar hati dan yakin, keme­nangan pasti akan jatuh ke tangan­nya.

Pang­lima Rajeg, Mahmud Barjah, belum dapat meng­har­gai cara perang Peranggi, bahkan meli­hat latihan-latihan itu pun ia segan. Dua ratus orang yang berada di bawah keku­a­sa­an­nya tak diper­ke­nan­kan­nya ikut menyer­tai. Ia mem­bi­kin latihan-latihan sen­diri, Sunan Rajeg tak mampu mengen­da­li­kan­nya. Akhir­nya ia tidak memak­sa­nya.

Manan dan Rois sudah ber­u­saha keras menya­bar­kan Sunan Rajeg: balat­en­tara Rajeg belum cukup masak untuk diper­gu­na­kan.Dan Sunan Rajeg sudah meli­hat sen­diri bagai­mana balat­en­tara Tuban dan kemam­pu­an­nya, memas­ti­kan, ten­ta­ra­nya jauh lebih unggul dari­pada Tuban.

“Mereka ini belum pernah diuji oleh perang, Kan­jeng Sunan,” kata Este­ban. “Lain halnya dengan yang lang­sung dipim­pin oleh pang­lima Rajeg.”

Dengan keya­kin­an­nya Sunan Rajeg tak dapat diajak bicara lagi.

Este­ban mem­per­i­ng­at­kan, dalam setiap orang, kesa­baran diper­lu­kan. Perang bukan­lah per­ke­la­hian. Perang adalah untuk meme­nang­kan tujuan. Tetapi Sunan Rajeg mem­ban­tah­nya, seka­rang­lah wak­tu­nya yang sete­pat-tepat­nya untuk memu­kul Tuban: Ia jatuh­kan perin­tah untuk segera menye­rang.

Mahmud Barjah, yang men­da­pat perin­tah, dengan segala dalih juga men­coba menunda pelak­sa­naan perin­tah. Ia meli­hat per­si­apan untuk itu belum lagi meme­nuhi syarat. Ia tidak mem­ban­tah, hanya menunda-nun­da­nya tanpa bicara.

Sunan Rajeg meli­hat ten­ta­ra­nya belum juga ber­ge­rak tidak lagi ber­ta­nya pada Pang­li­manya, juga tidak pada kepala pasukan Melayu – pela­rian dari Malaka itu. Ia turun sen­diri dari rumah jog­lo­nya dan meng­a­da­kan peme­rik­saan.

“Perin­tah harus dija­lan­kan,” perin­tah­nya.

Ber­sama Manan dan Rois dan Jabal, kepala pasukan Melayu, dan Pang­lima Rajeg, Sunan Rajeg ikut serta menyak­si­kan ren­cana penye­rangan.

Mahmud Barjah meng­ga­ris­kan, penye­rangan akan dila­ku­kan seperti biasa dila­ku­kan di Jawa dan di mana-mana: kesa­tuan-kesa­tuan ber­so­rak-sorai menyerbu ke per­ku­buan musuh atau menyerbu ke kota bila tidak dilin­dungi oleh pasukan. Bila musuh ber­se­dia mela­wan dan punya per­si­apan di luar kota, kesa­tuan-kesa­tuan harus juga ber­henti di luar kota, ber­so­rak-sorai menan­tang, mema­nas­kan hati musuh agar keluar ke medan per­tem­puran atas pak­saan sorak-sorai. Maka akan ter­jadi per­ta­rungan penen­tuan per­tama. Semen­tara itu meriam-meriam harus menem­baki barisan bela­kang musuh sewaktu mereka turun ke gelang­gang.

Manan dan Rois menyang­kal cara yang diang­gap­nya kuno itu. Itu bukan perang cara Peranggi, kata­nya, itu hanya adu keku­atan. Tak ada yang tahu apakah yang dika­ta­kan­nya itu benar atau kha­yal­an­nya semata. Dengan adu keku­atan saja, kata­nya selan­jut­nya, Tuban mesti menang, menang jumlah, menang keku­atan dan menang peng­a­laman. Tuban punya balat­an­tara yang kuat, belum lagi pagar desa, belum lagi kawula biasa, sedang Kiai Beng­gala Sunan Rajeg hanya punya pagar desa dan sedi­kit pra­ju­rit. Latihan-latihan belum dapat meng­u­bah sese­o­rang jadi pra­ju­rit. Seo­rang yang dapat melem­par­kan tombak dengan baik, dapat mema­nah dengan baik, dan dapat ber­ba­ris cara Peranggi dengan baik, belum tentu bisa jadi pra­ju­rit yang baik.

Sunan Rajeg tak dapat men­de­ng­ar­kan alasan itu. Mahmud Barjah diam saja men­de­ng­ar­kan kete­rangan Manan alias Este­ban.

Rangga Iskak merasa tak patut mena­rik kem­bali perin­tah­nya.

“Kalau begitu,” kata Este­ban alias Manan. “Selu­ruh ten­tara Kan­jeng Sunan harus dipe­cah-pecah dalam bebe­rapa laskar dan tidak dia­ju­kan seka­li­gus, juga tidak semua harus menuju ke satu medan perang. Satu laskar dengan pim­pinan yang baik, dengan pra­ju­rit yang baik dan dengan cara Peranggi, dengan ban­tuan meriam mung­kin bisa meng­han­cur­kan selu­ruh keku­atan Tuban.”

“Bukan dengan ban­tuan meriam,” bantah Sunan Rajeg, “meriam yang harus dibantu oleh semu­a­nya.”

“Kalau pasukan meriam itu ter­diri atas keku­atan dua ratus pucuk mung­kin bisa ter­jadi,” kata Manan.

Mahmud Barjah yang tidak mem­pu­nyai sesu­atu peng­a­laman dengan meriam masih tetap ber­diam diri: Dan dalam hati ia meng­he­rani cara ber­pi­kir mualaf itu ten­tang perang. Bahkan dalam hati-kecil­nya ia latihan-latihan cara Peranggi itu dapat mem­bi­kin para pra­ju­rit jadi jari-jari pada lengan seo­rang pang­lima. Ia sangat setuju. Tetapi dalam meng­ga­ris­kan soal perang ia tidak setuju, semua harus tunduk pada­nya seba­gai pang­lima dengan pasukan inti. Semua harus mene­rima garis­nya.

Ia mem­ban­tah Manan, ia pun mem­ban­tah Sunan Rajeg.

Per­ti­kaian mulai ter­jadi.

Sunan Rajeg hampir-hampir tak dapat mengen­da­li­kan kesa­bar­an­nya. Mele­pas­kan diri ia pun tidak bisa, karena dir­i­nya sen­diri yang memu­lai. Selama ini perin­tah­nya dan saran-saran­nya selalu dide­ng­ar­kan oleh pengu­asa ter­tinggi Tuban. Seo­rang mualaf dan seo­rang per­wira penga­wal saja seka­rang berani mem­ban­tah­nya. Ia meng­a­lami krisis emosi.

Dan tak ada seo­rang pun di antara dua orang mualaf dan pang­li­manya menge­ta­hui sesu­atu ten­tang krisis emosi. Mereka hanya meli­hat Sunan Rajeg ter­e­ngah-engah, ter­paksa dipa­pah ke tempat tidur­nya. Sebe­lum Kha­i­dar sele­sai meng­u­rap­i­nya dengan jahe pada selu­ruh tubuh­nya, ia masih sempat ber­pe­san agar penye­rangan segera dila­ku­kan.

Seka­rang Manan dan Rois ber­ha­dap-hadapan dengan pang­lima Mahmud Barjah. Pang­lima Rajeg terus-mene­rus ter­de­sak dalam per­ti­kaian pen­da­pat ten­tang perang. Dua orang Peranggi itu tidak dapat ditun­duk­kan­nya. Mereka berdua hanya bicara atas peng­a­laman perang­nya di laut dan darat, di Eropa, di Asia dan Afrika. Mahmud Barjah hanya menge­nal cara perang di Jawa. Akhir­nya ia menga­lah dan itu ber­arti mene­rima peme­cahan balat­en­tara jadi laskar-laskar.

“Kalian tahu, pasuk­anku akan kupim­pin sen­diri. Dan siapa yang memim­pin laskar-laskar itu?”

“Tuan Pang­lima yang menen­tu­kan, bukan kami. Kami hanya mengu­rus soal meriam dan pasukan penga­wal­nya.”

“Apakah meriam juga men­de­ng­ar­kan perin­tahku?”

“Tentu saja, Tuan Pang­lima, hanya garis perang harus dise­le­sai­kan dulu.” Per­ti­kaian dengan demi­kian mereda.

Kesim­pul­an­nya: dalam penye­rangan per­tama tidak diper­gu­na­kan cen­tara perang Jawa. Tuban harus dike­juti sede­mi­kian rupa sehingga tak punya kesem­patan untuk menge­rah­kan balat­en­tara, apa­lagi pagar desa, harus diki­rim­kan surat tan­tangan yang dapat memun­tah­kan kema­rahan, sehingga musuh dengan ter­buru-buru akan lang­sung turun ke medan per­tem­puran tanpa cukup per­si­apan.

“Tak pernah ter­jadi surat tan­tangan diki­rim­kan,” bantah Mahmud Barjah, “perang adalah perang.”

Dan untuk ke sekian kali­nya Pang­lima Rajeg ter­de­sak dalam per­ti­kaian ten­tang makna perang.

Jauh tengah malam semua piki­ran Manan dan Rois tak dapat lagi dihin­dari oleh Pang­lima.

Dan dengan demi­kian ter­j­a­dilah apa yang harus ter­jadi.

Orang-orang ber­henti bekerja menying­kir­kan gapura yang roboh untuk meng­ang­kat sembah pada para pem­be­sar yang sedang mening­gal­kan kadi­pa­ten.

Rom­bongan peng­ha­dap itu ber­ja­lan diam-diam dan lambat-lambat penuh piki­ran. Mereka ber­ja­lan ke tengah-tengah alun-alun untuk dapat mene­rus­kan perun­dingan tanpa dide­ngar oleh yang diang­gap tidak berhak. Mereka men­da­pat­kan sebu­tir peluru besi sebe­sar tinju meng­ge­le­tak tak ber­daya agak jauh dari cabang-cabang yang som­p­lak, melo­tot di atas tanah.

Sang Patih, seka­rang Sena­pati Tuban, yang ber­ja­lan paling depan, ber­henti, meng­am­bil peluru dan meng­a­mat­i­nya seben­tar, kemu­dian menye­rah­kan­nya pada yang lain.

Ber­ja­lan pada buntut rom­bongan adalah Syah­ban­dar Tuban Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa. Lang­sung di bela­kang Sang Patih adalah kepala-kepala pasukan, ter­ma­suk Wirang­gal­eng.

Selama ber­ja­lan kepala pasukan laut itu men­coba mema­hami meng­apa Sang Patih kehi­langan semua kema­u­an­nya dan ragu-ragu mem­per­ta­han­kan pen­di­r­i­an­nya sen­diri. Seka­rang ia hanya men­da­pat lima ratus orang pra­ju­rit dan musuh punya meriam.

“Masih ingat?” tanya Sang Patih pada­nya waktu men­da­pat giliran meme­gang peluru itu.

Wirang­gal­eng menye­rah­kan peluru itu pada Kala Cuwil dan men­ja­wab: “Tidak, Gusti,” dan ia lihat kepu­ca­tan sudah agak ber­ku­rang pada wajah Sena­pati Tuban itu.

“Sama sekali tidak mena­kut­kan seba­gai­mana dido­ng­eng­kan orang,” kata Kala Cuwil mem­be­ri­kan pen­da­pat­nya. “Tapi bagai­mana mereka bisa sudah memi­l­iki meriam?” tanya­nya kemu­dian sambil menye­rah­kan peluru itu pada yang lain.

“Jangan ter­pe­nga­ruh oleh sebu­tir besi,” Patih Tuban merang­kap Sena­pati mulai mem­buka pida­to­nya di bawah pohon beringin kurung. Kemu­dian kata-kata­nya keluar seba­gai air bah dari mulut­nya yang tua, men­de­sis mela­lui gigi­nya yang sudah banyak ompong: “Kea­daan sung­guh sangat sulit. Sang Adi­pati tak ber­ke­nan ber­ki­sar sedi­kit pun dari pen­di­r­i­an­nya. Ini adalah masa ter­gen­ting dalam hidup kita. Juga Sang Adi­pati maklum. Dunia kita sudah mulai beru­bah. Kita harus hadapi per­u­ba­han ini dengan cara-cara yang baru. Kita belum lagi menge­nal sebe­nar-benar­nya per­u­ba­han ini. Sang Adi­pati juga maklum. Maka timbul banyak dugaan, pan­dangan, untuk menen­tu­kan pen­di­r­ian. Sang Adi­pati meng­hen­daki kea­daan tetap seperti yang lama semen­tara meng­ha­dapi yang baru,” ia melang­kah pelahan mengi­tari beringin kurung. “Sang Adi­pati meng­hen­daki dasar-dasar yang lama tidak beru­bah, ragu-ragu ter­ha­dap yang baru, sedang­kan yang baru terus-mene­rus men­de­sak. Yang lama dengan segala keun­tungan dan kea­man­an­nya tidak bisa diper­ta­han­kan sambil mene­rima keun­tungan tam­ba­han dari yang baru, dan itu yang Gusti Adi­pati tidak bisa terima. Kita masih dapat meng­i­ngat betapa Tuban mengir­im­kan gugusan pasukan laut ke Jepara dengan waktu yang sengaja diti­dak­te­pat­kan. Penye­rangan atas Malaka gagal, hancur, kalah. Kita semua men­da­pat­kan malu. Apa pun yang telah diper­buat oleh Demak ter­ha­dap Tuban, Adi­pati Unus Jepara benar. Sang Adi­pati mele­pas­kan gugusan Tuban untuk mem­be­ri­kan pukulan ber­li­pat atas Demak, tetapi Tuban sen­diri yang rugi. Malaka tidak jatuh, Peranggi tetap ber­diri, dan bandar Tuban seperti bandar-bandar lain di selu­ruh Jawa.”

Dan Wirang­gal­eng tak bisa meng­erti meng­apa Sang Patih masih juga ber­pi­dato. Tak nampak tanda-tanda ia hendak ber­tin­dak meng­ha­lau peru­suh. Dengan maksud meng­hen­ti­kan pida­to­nya ia menyam­bar sengit: “Lima ratus pra­ju­rit laut Tuban telah dibe­rang­kat­kan ke Malaka, Gusti Patih, dengan lima buah kapal dan cet­bang-cet­bang Tran­tang. Gugusan Tuban telah siap ber­tem­pur”.

“Kau betul, Wira, bahkan kau sen­diri ikut serta. Apa sudah kau per­buat di Malaka? Tiada sesu­atu, kecu­ali meli­hat apa yang telah ter­jadi dari keja­uhan. Lima hari Tuban ter­lam­bat berang­kat, untuk mem­buk­ti­kan keragu-raguan Sang Adi­pati dalam meng­ha­dapi yang baru ini.”

Wirang­gal­eng sema­kin tak meng­erti meli­hat Sang Patih masih juga ber­pi­dato. Ia mene­lan ludah untuk menya­bar­kan diri.

“Malaka hampir jatuh selu­r­uh­nya, baik dari darat maupun laut. Armada Peranggi datang. Kalau bukan karena keter­lam­batan Tuban, Malaka telah bebe­rapa hari jatuh. Dan yakin­lah, Peranggi takkan mampu tan­dingi ten­tara gabungan seba­nyak itu dan di daratan pula. Penye­rangan tidak pernah sele­sai. Ten­tara gabungan Aceh-Jepara ter­ting­gal di Malaka. Tuban pulang mem­bawa malu dan sesal. Tapi Gusti Adi­pati ber­ha­sil menye­la­mat­kan lima kapal dan lima ratus pra­ju­rit. Malaka tetap diku­a­sai Peranggi. Semua per­hi­tungan Adi­pati mele­set, seka­rang kehi­langan segala-gala­nya. Bahkan put­ra­nya sen­diri, tak mampu men­de­ri­ta­kan malu, ber­sum­pah takkan meng­in­jak­kan kaki di bumi Tuban.”

“Ampun, Gusti Patih dan Sena­pati Tuban,” Wirang­gal­eng menyela. “Kaum peru­suh sudah dekat, Gusti.”

Tetapi Sang Patih tak peduli dan mene­rus­kan: “Ter­nyata baik di Jepara maupun di Demak Raden Kusnan tidak pernah ter­te­mu­kan lagi, meng­hi­lang entah ke mana. Sang Adi­pati masih juga ragu-ragu, tetap hendak meng­i­kuti yang lama sambil men­da­pat­kan keun­tungan dari yang baru. “Lihat itu!” ia menu­ding pada Syah­ban­dar Tuban yang ber­diri men­jauh-jauh di buntut rom­bongan. “Semua orang tahu siapa sesung­guh­nya dia: begun­dal Peranggi.”

“Tidak benar, Gusti Patih dan Sena­pati Tuban,” bantah Tholib Sung­kar Az-Zubaid, “tak pernah Gusti Adi­pati men­dakwa patik seperti itu. Itu hanya fitnah dari seo­rang yang enggan ber­pe­rang meng­ha­lau peru­suh negeri. Maka patik­lah yang disa­lah­kan.”

“Tiada satria enggan ber­pe­rang, Sayid. Tuan meng­hen­daki perang di dalam negeri agar Peranggi masuk dengan ber­leng­gang. Bukan? Mana dua orang Peranggi yang kami minta itu?”

“Tholib Sung­kar Az-Zubaid men­de­kati rom­bongan. Ia gan­tung­kan tong­kat­nya pada lengan dan angkat bicara dengan gerak-gerik tangan ramai, mata ber­si­nar-sinar dan senyum ter­buka mele­ceh­kan: “Ah, Gusti Patih dan Sena­pati Tuban, tak pernah lelu­hur patik mem­be­nar­kan fitnah, apa­lagi karena hukuman sebe­rat-berat­nya dija­tuh­kan pada pem­fit­nah. Demi Allah, bukan­kah telah patik per­se­m­bah­kan mereka telah lari mening­gal­kan Tuban? Mereka bukan Pri­bumi yang takluk di bawah Sang Adi­pati. Mereka telah lari­kan badan mereka sen­diri, bukan badan Pri­bumi kawula Tuban.”

Wirang­gal­eng mere­mas-remas tangan. Ia merasa telah kehi­langan waktu yang sangat ber­harga untuk ber­tin­dak. Dan ia tak dapat ber­tin­dak.

“Bagus,” Sang Patih mene­rus­kan. “Per­lu­kah dii­ng­at­kan padamu, hai, Syah­ban­dar Tuban, tidak lain dari engkau sen­diri yang mela­ri­kan mereka ke kapal Peranggi?”

“Gusti Patih Sena­pati Tuban,” Wirang­gal­eng menyela.

“Per­lu­kah dise­but­kan saksi-saksi? Hei, Syah­ban­dar Tuban, seka­rang kau masih dilin­dungi oleh Gusti Adi­pati Tuban. Tetapi akan tiba masa­nya….”

“Mereka sedang men­de­sak Tuban, Gusti Sena­pati,” sekali lagi Wirang­gal­eng men­coba memu­tus­kan per­ban­tahan dan mengem­ba­li­kan Sang Patih pada tugas­nya seba­gai Sena­pati.

Tetapi Sang Patih lebih sibuk mem­bela kebi­jak­sa­na­an­nya sen­diri: “Yang pen­ting seka­rang ini sama sekali bukan perang. Deng­ar­kan yang baik, Wira, biar kau meng­erti. Tapi menya­dar­kan Gusti Adi­pati dari keke­li­ru­an­nya. Tanpa itu perang, bagai­man­a­pun besar dan hebat­nya, akan sia-sia. Ayoh, Wira, kau sang­gup menye­dar­kan?”

Kepala-kepala pasukan lain nampak juga telah mulai kehi­langan kesa­baran. Mereka meng­a­wasi Wirang­gal­eng yang sedang ber­gu­lat dalam dir­i­nya untuk menye­dar­kan Sang Patih Sena­pati dari kea­syikan mem­bela kebi­jak­sa­naan sen­diri.

“Peru­suh sedang meng­an­cam, Gusti Sena­pati,” sekali lagi kepala pasukan laut itu mem­per­i­ng­at­kan.

“Ancaman itu tidak ber­a­sal dari kaum peru­suh. Deng­ar­kan kalian semua kepala pasukan. Semua keru­suhan ber­a­sal dari keke­li­ruan Gusti Adi­pati sen­diri. Selama Sang Adi­pati tak juga menye­dari dan beru­bah pen­di­r­ian, peru­suh-peru­suh lain akan ber­da­tangan.”

“Seka­rang ini peru­suh sudah menye­rang, Gusti.”

“Wira!” bentak Sang Patih. “Per­nah­kah kau mera­sai peng­hi­naan seba­gai karu­nia peng­a­b­dian yang tulus? Apa yang bisa diha­rap­kan dari orang yang tidak dihar­gai dan dihina?”

“Apakah Gusti Patih lupa telah diti­tah­kan jadi Sena­pati?”

Sang Patih mena­tap Wirang­gal­eng tenang-tenang, men­ci­bir, kemu­dian meng­a­lih­kan tat­an­an­nya pada para kepala pasukan seo­rang demi seo­rang. Dan ia lihat mereka dengan pan­dang­nya mem­be­nar­kan kepala pasukan laut itu.

Juara gulat itu telah ber­te­kad untuk mem­per­i­ng­at­kan Sena­pati akan kewa­ji­b­an­nya.

“Kau, Wira, anak baru kema­rin!”

“Adakah Gusti Patih Sena­pati ragu-ragu, takut, atau­kah sedang mem­bang­kang?”

Rom­bongan peng­ha­dap itu mulai ber­ge­rak meling­kungi Sang Patih Sena­pati untuk melin­dung­i­nya dan men­ja­uh­kan Wirang­gal­eng dari­pa­da­nya. Tapi yang dija­uh­kan men­de­sak terus untuk men­de­kat.

“Deng­ar­kan!” Sang Patih mene­rus­kan dari tengah-tengah ling­karan dan tak acuh ter­ha­dap kea­daan. “Apakah yang harus diper­buat oleh sese­o­rang yang lain yang meng­hi­na­nya seba­gai balas jasa dari semua peng­a­b­di­an­nya semen­tara mem­bi­ar­kan musuh ber­jing­k­rak di atas kepa­la­nya?”

“Musuh tidak ber­jing­k­rak di atas kepala kita, Gusti Sena­pati, dia sedang men­da­tangi hendak mener­kam!” sambar Wirang­gal­eng yang men­jadi galak.

“Ah, pri­yayi baru dari desa! Siapa musuh itu? Kiai Beng­gala Sunan Rajeg atau Peranggi? Atau kedua-duanya? Bukan­kah tidak lain dari kau sen­diri yang tahu tadi. Rangga Iskak telah mele­pas­kan peluru Peranggi? Rangga Iskak adalah Peranggi, dan Peranggi adalah Peranggi. Dan itu Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa adalah kumis-kumis­nya. Mana dia si kumis-kumis Peranggi itu? Biar aku tun­juk­kan pada kalian semua.”

“Per­cuma, Gusti. Yang datang bukan Peranggi, tapi Rangga Iskak. Dia datang dari selatan, bukan dari laut.”

“Aduh, kau pri­yayi baru,” Patih itu ter­tawa meng­hi­na­kan. “Apa arti­nya itu Ishak Ind­ra­jit tanpa Peranggi? Kalau dengan keku­atan kecil ten­tara Tuban ber­ge­rak ke selatan, perang akan ber­lang­sung lama, lama sekali, dan Peranggi akan datang dari utara dengan penuh keku­atan. Itu semua orang tahu kecu­ali si bangau dan si treng­gi­ling. Dan tidak lain dari kau sen­diri yang tahu: Sayid kepa­rat itu peren­ca­na­nya. Peranggi mem­bu­tuh­kan pang­kalan di Jawa. kalau tidak Tuban, bandar lain jadilah. Selama kumis-kumis Peranggi ada di sini, Tuban­lah yang jadi inca­ran!”

Kepala-kepala pasukan tetap mem­bisu, juga tetap melin­dungi mereka.

“Gusti benar. Tak perlu semua itu diu­lang-ulang,” bantah Wirang­gal­eng. “Perin­tah­kan saja apa yang kami harus per­buat seka­rang ini.”

“Dahulu ada seo­rang anak desa seperti kau, Galeng, Gajah Mada nama­nya. Tentu kau sudah tahu. Tapi biar Gajah Mada pun tak bakal tahu, bila Rangga Iskak ter­ku­tuk itu bisa menang atas Tuban, Peranggi takkan mema­suki Tuban. Kalau Tuban dan Kiai Beng­gala Sunan Rajeg terus ber­ke­lahi, Peranggi masuk. Kalau Tuban menang, kita akan hadapi Peranggi dan sunan-sunan yang lain yang akan muncul, dan yang seka­rang ini kita belum tahu.”

Meli­hat Sang Patih mulai ber­main teka-teki tidak menentu dan perin­tah tidak juga dija­tuh­kan, tahu­lah Wirang­gal­eng, Sena­pati Tuban memang tidak mem­pu­nyai niat untuk ber­tin­dak. Di sam­ping Peranggi dan Sunan Rajeg, Sena­pati Tuban sen­diri kini ber­diri di hadap­an­nya seba­gai musuh Tuban. Ia kebas­kan apitan, melom­pat mener­jang ling­karan, men­ca­but keris dan meni­kam Sang Patih pada ping­gang­nya.

Orang-orang itu ter­pe­kik.

Sang Patih ter­hu­yung ke depan dan ter­ta­han oleh keris dengan selu­ruh mata masuk ke dalam tubuh­nya. Dan hulu keris itu masih tetap dipe­gangi oleh kepala pasukan laut Wirang­gal­eng.

“Ampuni patik, Gusti Patih Sena­pati Tuban!” pekik juara gulat itu dengan suara lan­tang.

“Baik. Aku ampuni kau, Galeng. Berang­kat­lah ke medan perang. Kau Gajah Mada baru. Hanya kau dapat kerah­kan selu­ruh balat­en­tara. Aku ampuni kau! Tapi semua akan per­cuma selama raja-raja adalah seperti Gusti Adi­pati, gus­tiku.”

Ia tak menge­dip­kan mata pada orang yang meni­kam­nya. Tubuh­nya mulai meliuk, jatuh ke tanah.

“Aku ampuni, kau.”

Sang Patih Sena­pati Tuban mati di tempat.

Dengan keris ber­lu­muran darah di tangan Wirang­gal­eng memin­dah­kan pan­dang dari mayat itu dan meng­ang­kat mata­nya mena­tap semua kepala pasukan seo­rang demi seo­rang. Mata itu mem­be­liak siaga “Siapa tidak suka? Maju!”

Orang-orang masih ter­ke­jut, ter­paku pada tanah, tak ber­ge­rak. “Kalian sak­si­kan, Wirang­gal­eng telah bunuh Gusti Patih Sena­pati Tuban. Kata­kan, kalian saksi pem­bu­nuhan ini.”

Bebe­rapa orang menye­but ragu-ragu: “Kami saksi, Wirang­gal­eng telah bunuh Sang Patih Sena­pati Tuban.”

“Semua!” ben­tak­nya sambil ber­ke­li­ling memu­tari ling­karan. Mereka menye­but ber­ba­reng. Sua­ra­nya agak keras tetapi masih tetap ragu-ragu.

“Siapa ragu-ragu? Dia menan­tang aku. Sebut­kan sekali lagi, lebih keras, tanpa ragu-ragu.”

Mereka menye­but lagi, dengan suara lebih keras, terang, meng­u­man­dang ke selu­ruh alun-alun.

“Sebut­kan: Tuban dan Gusti Adi­pati harus dise­la­mat­kan.” … Dengan suara meng­ge­lora kepala-kepala pasukan meng­u­langi. “Seka­rang Wilang­gal­eng Sena­pati Tuban, Sena­pati kalian. Sebut­kan lebih keras.”

“Wirang­gal­eng Sena­pati kami!”

“Wirang­gal­eng Sena­pa­tiku!”

Wirang­gal­eng mem­be­tul­kan. “Wirang­gal­eng Sena­pa­tiku!”

Kepala-kepala pasukan meng­u­langi dan meng­u­lang dengan suara keras, akan ter­de­ngar ke selu­ruh alun-alun seki­tar­nya. Kea­daan tidak sunyi seha­bis jatuh­nya peluru-peluru Peranggi. Suara itu ber­ga­ung-gaung bolak-balik dari alun-alun ke peda­lam­an­nya, juga masuk ke bilik-bilik dalam kadi­pa­ten.

“Kepala-kepala pasukan ting­gal di sini,” perin­tah­nya. “Perin­tahku harus dija­lan­kan oleh semua dan akan segera kube­ri­kan. Pergi kalian yang bukan kepala pasukan!”

Yang lain-lain pun pergi dengan ragu-ragu, tak meng­erti adalah harus menyem­bah pada Sena­pati baru atau tidak.

“Tak perlu kalian sembah aku,” kata­nya mem­per­i­ng­at­kan. Mereka pergi ber­ce­pat-cepat.

“Kata­kan seka­rang juga, siapa tidak setuju Wirang­gal­eng Sena­pati Tuban?” Tak ber­ja­wab.

“Tak ada yang tidak setuju?”

“Kami menye­tu­jui,” jawab Kala Cuwil, kepala pasukan gajah.

“Ambil tanda-tanda Sang Patih, kena­kan pada diriku, Sena­pati Tuban!” perin­tah­nya.

Dan keris ber­lu­muran darah itu masih tetap di tangan­nya. Empat orang pemim­pin pasukan itu menge­r­ja­kan perin­tah­nya. Ia mem­per­ha­ti­kan mereka menyem­bah pada mayat itu kemu­dian melo­losi tanda-tanda jabatan dan pang­kat: gelang, baja empat susun, kalung, keris, per­mata pada destar dan ikat ping­gang.

Semua itu dike­na­kan pada diri Sena­pati baru.

“Kau, Braja, tarik semua pasukan penga­wal dan pasang semua di balik semak-semak di seki­tar bandar. Kalau ada kapal Peranggi datang, atau sebang­sa­nya, jangan biar­kan ber­ke­sem­patan menem­bak: Tahan mereka. Ber­laku bijak­sana, jangan sampai ter­jadi ben­trokan. Usa­ha­kan agar kapal-kapal mereka tetap berada dalam jarak tembak cet­bang. Hin­dari setiap kemung­kinan ber­ke­lahi dengan mereka. Bila tak dapat dihin­dar­kan bakar layar-layar­nya dengan tem­bak­anmu. Hati-hati, karena semua kapal perang dan pasukan laut akan dita­rik selu­r­uh­nya dari Tuban, ke suatu tempat yang akan kutun­juk. Lepas­kan semua pakaian dan tanda kep­ra­ju­r­i­tan. Pela­buhan kuse­rah­kan padamu.”

“Gusti!”

“Pang­gil aku Sena­pa­tiku.”

“Sena­pa­tiku,” ulang­nya rikuh.

“Jalan­kan perin­tah itu dan pergi kau.”

“Adakah kadi­pa­ten tidak dika­wal, Sena­pa­tiku?”

“Kosong­kan dari penga­walan.”

Braja pergi untuk men­ja­lan­kan perin­tah.

“Dan kalian, kepala-kepala pasukan yang lain, ikuti aku. Siap­kan selu­ruh pasukan kalian. Kita lang­sung turun ke medan per­tem­puran, kalian dan aku.”

“Sena­pa­tiku!” mereka menya­hut.

“Tidak ada pem­bang­kangan!” perin­tah­nya.

“Sena­pa­tiku, tidak ada pem­bang­kangan.”

“Berang­kat!”

“Sena­pa­tiku, berang­kat!”

Dengan lang­kah cepat mereka mening­gal­kan alun-alun. Mening­gal­kan mayat Sang Patih ter­ka­par sen­di­r­ian di bawah langit ber­men­dung. Mening­gal­kan kota Tuban yang sunyi senyap.

Sayup-sayup ter­de­ngar guruh, tetapi tak ada peluru meriam datang menyam­bar. Tuban Kota sema­kin senyap.

Sete­lah mele­pas­kan ber­tu­rut-turut empat butir peluru peng­a­get, Manan dan Rois meme­rin­tah­kan agar meriam-meriam segera dita­rik kem­bali jauh ke peda­laman.

Regu meriam itu sedang men­do­r­ong-dorong gero­bak obat dan peluru dan meriam mela­lui jalan desa yang lebar diapit oleh deretan pohon turi waktu ter­de­ngar derap kuda datang men­de­kati dari tikungan jalan. Regu penga­wal meriam telah menyi­ap­kan tombak.

Manan meme­rin­tah semua ber­henti dan ber­si­aga. Meriam, obat dan peluru di atas gero­bak dising­kir­kan ke ping­gir jalan, dan semua yang ber­sen­jata telah ber­siap untuk ber­ke­lahi.

Dari tikungan jalan muncul Mahmud Barjah tanpa penga­wal. Ia telah mena­rik cambuk perang, siap hendak menyo­bek siapa pun yang dile­cut­nya dengan tali­nya yang ber­duri-duri baja.” Kalian sudah lari sebe­lum ber­pe­rang!” ejek­nya pada Manan dan Rois. Ia melu­dah ke tanah meng­hi­na­kan.

“Tidak ada Peranggi lari sebe­lum ber­pe­rang!” Jawab Manan. “Pang­lima belum lagi ber­peng­a­laman perang darat dengan meriam.”

“Kalian sudah ting­gal­kan gelang­gang!”

“Meriam, Pang­lima, tidak bisa ber­pe­rang sen­diri atau ber­ga­bung dengan pasukan yang hanya ber­pe­dang dan ber­tom­bak. Musket yang harus melin­dungi. Kalau tidak, dalam seben­tar waktu biar kena serbu pasukan kuda musuh. Dan kita tak punya pasukan kuda.”

Per­ti­kaian itu ter­jadi di sele­reng sebuah bukit kecil yang hanya bebe­rapa meter ting­gi­nya.

Mahmud Barjah masih tetap marah, namun cambuk perang itu dise­lit­kan­nya kem­bali pada ping­gang­nya.

Waktu Manan meme­rin­tah­kan mene­rus­kan per­ja­lanan, Mahmud tak mem­ban­tah.

Laskar tombak ten­tara Sunan Rajeg ber­ba­ris dalam serba putih mele­wati mereka. Tombak yang ter­pang­gul ber­diri pada bahu mereka meng­ger­mang ke atas. Dari keja­uhan nampak seperti ulat putih ber­bulu tombak sedang merang­kaki jalanan.

Regu penga­wal meriam dan regu pela­yan­nya sen­diri diam-diam di kaki bukit kecil itu mem­per­ha­ti­kan tiga orang itu ber­ti­kai dalam Melayu.

Begitu laskar itu lewat Mahmud dari atas kuda­nya mene­tak­kan kata-kata­nya: “Bukan­kah telah dise­tu­jui dan dipu­tus­kan, meriam-meriam harus menem­baki musuh sebe­lum mereka turun ke gelang­gang?”

“Benar sekali, Pang­lima. Tetapi juga menu­rut kepu­tusan ten­tara kita harus mesang­grah menunggu keda­tangan musuh. Pang­lima sen­diri ragu-ragu menen­tu­kan tempat mesang­grah dan meme­rin­tah­kan lang­sung masuk ke Tuban. Kalau meng­i­kuti Pang­lima, meriam-meriam kita bisa jadi takkan menem­baki musuh, seba­lik­nya menem­baki kita sen­diri di tangan mereka.”

“Aku Pang­lima.”

“Benar sekali, tapi yang menge­ta­hui ten­tang meriam adalah kami. Pang­lima bisa meng­hu­kum kami, tapi meriam-meriam ini takkan ber­guna.”

Mahmud Barjah menu­runi bukit kecil itu dan pergi tanpa mening­gal­kan kata. Ia ber­pacu ke jurusan dari mana arah datang­nya laskar, men­cari kesa­tu­an­nya.

Belum lagi ia sampai di tempat, dari sebuah per­ti­gaan jalanan desa dili­hat­nya seo­rang petani penung­gang kuda sedang menunggu di bawah seba­tang pohon sengon di tengah-tengah per­ti­gaan.

Pang­lima Rajeg ber­pacu meng­ham­pir­i­nya. Orang itu turun dari atas kuda­nya. Tom­bak­nya ditan­cap­kan­nya ke tanah dan menunggu keda­tangan Mahmud Barjah.

“Gusti Pang­lima,” ia memu­lai. “Adapun pem­bawa surat tan­tangan telah tewas ber­sama dengan kuda­nya di dekat pasar Tuban Kota. Dia tak dapat meng­hin­dari orang-orang yang ber­la­rian meng­ungsi turun ke laut. Ia ter­su­sul oleh pasukan kuda. Hujan tombak telah mem­bi­kin dia ter­jung­kal ber­sama kuda­nya. Mati, Gusti Pang­lima.”

“Surat itu sudah sampai?”

“Sampai dengan pasti.”

“Baik. Bagai­mana hasil meriam?”

“Peluru-peluru meriam jatuh di alun-alun dan di depan kadi­pa­ten seperti dise­ngaja, Gusti. Waktu itu sudah ter­jadi per­se­li­sihan antara para peng­ha­dap. Pun­cak­nya adalah mati­nya Patih Tuban, sedang mayat­nya dibi­ar­kan ter­ge­le­tak di alun-alun, sampai sahaya berang­kat dan sampai di sini ini.”

“Siapa Sena­pati Tuban?”

“Tidak ber­se­na­pati, Gusti Pang­lima, sejauh sahaya dengar. Belum tahu seka­rang ini.”

“Tidak­kah balat­en­tara Tuban ber­ge­rak?”

“Belum nampak ada tanda-tanda, Gusti.”

“Terus­kan pada Kan­jeng Sunan Rajeg.”

“Gusti.”

Pela­por itu memacu kuda­nya mema­suki jalanan lain.

Mahmud Barjah memacu kuda­nya. Pada suatu ping­giran hutan ia ber­temu dengan laskar yang kese­kian. Ia perin­tah­kan pada pera­tus­nya untuk melon­jak-lon­jak­kan panji-panji.

Panji-panji dilon­jak-lon­jak­kan. Barisan itu mem­per­ce­pat jalan.

“Lebih cepat!” perin­tah­nya lagi.

Panji-panji makin cepat turun-naik. Barisan itu maju sete­ngah lari.

Ia ber­pacu terus, dan setiap laskar yang dipa­pasi­nya men­da­pat perin­tah yang sama. Ia ber­pacu dan ber­pacu dan hilang di balik kepulan debu. Lima laskar Sunan Rajeg telah hampir sampai di per­ba­ta­san Tuban Kota.

Di mana-mana seakan Mahmud Barjah ada. Ia di bela­kang di depan, menge­nal medan di lam­bung, kadang men­da­hu­lui sangat di depan. Ia balik lagi. Dengan isya­rat ia perin­tah­kan semua panji-panji dari semua laskar dige­leng-geleng­kan. Pada saat itu juga pecah sorak-sorai gemu­ruh seperti hendak mem­be­lah langit. Dan debu pun seakan ikut ber­so­rak, menge­pul tanpa hen­ti­nya jadi kabut tipis ke udara kemu­dian jatuh mena­buri bumi.

Seka­rang Mahmud Barjah mengi­tari baris­an­nya. Des­tar­nya yang putih, seperti yang lain-lain, ber­ki­bar-kibar pada ujung­nya. Kaki bina­tang tung­gang­an­nya menari-nari rampak, keli­hatan hampir-hampir tak menyen­tuh tanah.

Laskar paling depan adalah para pema­nah. Dan seo­rang pem­bawa panji berada paling depan di tengah-tengah barisan. Panji-pan­ji­nya ber­warna hitam dengan sirip putih.

Di bela­kang­nya adalah laskar tombak ber­pe­ri­sai. Setiap orang mem­bawa empat batang tombak yang lang­sing. Tang­kai­nya dari kayu coklat tua berat. Juga mata tom­bak­nya lang­sing. Laskar ter­a­khir adalah ber­pe­dang dan ber­pe­ri­sai. Di antara laskar yang satu dengan yang lain ter­da­pat regu gen­dang dan gong. Makin cepat panji dilon­jak­kan, makin men­deru gong dan gen­dang, dan makin cepat lang­kah para pra­ju­rit.

Sorak-sorai, ancaman, ejekan, raungan, ber­padu jadi satu guruh, kadang ter­de­ngar men­ca­kar dan meng­ga­ruk, kadang meng­gong­gong dan melo­long, kadang melenguh dan meng­hiba-hiba.

Tiba-tiba satu barisan tipis pasukan kuda Tuban muncul di depan mereka dengan debu ber­ke­pulan ter­ting­gal di bela­kang. Barisan tipis itu sema­kin lama nampak sema­kin nyata. Ten­tara Sunan Rajeg ber­so­rak dengan sekuat paru-paru mereka. Meli­hat barisan kuda itu tidak meng­ha­dapi mereka dari depan mereka meng­e­jek, memaki, meng­hina dengan kata-kata seko­tor mung­kin.

Pasukan kuda yang tipis itu sema­kin men­ja­uhi laskar panah dan tombak, menying­kir barang tiga ratus depa, men­de­pis-depis ke ping­giran padang, tak meng­hi­r­au­kan ejekan dan cacian.

Dan ten­tara Sunan Rajeg terus juga maju ke jurusan Tuban Kota. Tak meng­gub­ris musuh yang men­de­pis-depis. Panji-pan­ji­nya melon­jak dan meng­ge­leng, meng­ge­leng dan melon­jak.

Barisan kuda yang tipis itu tiba-tiba mening­gal­kan tepian tanah lapang seperti seka­wanan elang menyam­bar barisan pedang sambil ber­so­rak-sorai: “Kam­bing gembel dari gunung: Mau cari apa ke Tuban?” dan meng­ge­le­tar­kan cambuk perang mereka, meng­a­tasi sorak-sorai lawan­nya.

“Kirik Tuban! Anjing Peranggi!” balas lawan­nya. “Ayoh men­de­kat, lebih men­de­kat, biar kube­lah kepala kalian!”

Pasukan kuda kecil itu dipim­pin lang­sung oleh Ban­teng Wareng, ter­diri dari sera­tus orang. Mereka hanya mele­dek-ledek, men­de­kat dan men­jauh pada laskar pedang Sunan Rajeg, meng­ge­le­tar­kan cambuk, men­de­kat dan men­jauh lagi dengan terus-mene­rus memaki, bahkan melu­dahi. Tanah lapang yang sangat luas di luar kota itu men­de­ngung karena caci-maki dan gele­tar cambuk.

Pang­lima Mahmud Barjah ber­te­riak-teriak menge­li­lingi ten­ta­ra­nya, mem­per­i­ng­at­kan dengan suara yang sudah jadi parau: “Jangan layani! Jangan ting­gal­kan barisan. Jangan menye­rang tanpa perin­tah: Lang­sung masuk kota!”

Sua­ra­nya ter­be­nam dalam keri­u­han caci-maki dan sorak-sorai dan gen­dang dan gong, dan gele­tar cambuk perang.

Menge­ta­hui perin­tah­nya tidak lagi kede­ngaran ia ham­piri laskar-laskar dan meme­rin­tah tidak lagi meng­ge­leng­kan panji-panji. Selu­ruh laskar Rajeg diam dan terus mem­per­ce­pat lang­kah­nya untuk dapat mema­suki Tuban sebe­lum matari teng­ge­lam.

Meli­hat musuh­nya tak ter­pe­nga­ruh oleh lede­kan dan cacian. Ban­teng Wareng meme­rin­tah­kan melem­par­kan batu-batu bawaan mereka pada barisan pedang. Dan batu-batu pun beter­bangan ke tengah-tengah barisan pedang. Tak sebuah pun mela­yang sia-sia. Semua menge­nai orang-orang yang ber­ba­ris rapat itu. Pekik kesa­kitan dan marah men­ja­wabi setiap batu. Bebe­rapa orang nampak telah jatuh dan ter­in­jak-injak oleh barisan sen­diri.

Barisan Ban­teng Wareng terus mene­rus meng­ganggu sambil meng­in­tip ke mana-mana untuk men­cari tempat meriam. Tetapi yang dicari-cari tidak nampak. Mereka lepas­kan tugas pokok­nya dan mem­per­he­bat gang­guan. Batu-batuan terus beter­bangan. Pekik kesa­kitan dan geram amarah sema­kin riuh. Gong dan gen­dang dan sorak kem­bali mem­be­lah udara.

Men­dung tipis mena­ungi bumi dan angin kecil memu­puti dunia. Tak ada seo­rang pun di antara mereka yang sedang kejang­kitan sema­ngat perang itu mem­per­ha­ti­kan.

Mahmud Barjah meng­hen­ti­kan lagi sorak-sorai. Sua­ra­nya yang parau ter­de­ngar meme­rin­tah lang­sung masuk ke Tuban Kota.

Barisan kuda yang kecil itu mulai menyam­bar-nyam­bar­kan cambuk perang pada tubuh para pra­ju­rit Rajeg. Setiap cambuk jatuh kulit pun belah dan darah meng­u­cur. Perin­tah-perin­tah Mahmud sudah tidak dide­ng­ar­kan oleh barisan pedang lagi. Dan cambuk itu tak dapat dila­wan dengan peri­sai dan pedang. Juga tak dapat ditang­kap tangan karena tajam­nya gerigi baja. Tangan yang ter­cam­buk akan mele­pas­kan sen­ja­t­a­nya. Kulit dan nadi teri­ris dalam. Muka yang ter­kena ber­si­lang-silang darah. Dan ujung cambuk yang dihan­tam­kan pada mata akan mereng­gut keluar biji dari rong­ga­nya.

Tak tahan men­de­ri­ta­kan gang­guan dari barisan kuda musuh­nya, ping­giran barisan pedang mulai buyar, tak dapat mem­bela diri dan mulai menye­rang.

“Deng­ar­kan gus­timu, dengar Pang­lima Rajeg!” pekik Mahmud Barjah parau, “jangan ting­gal­kan barisan!”

Barisan pedang sema­kin banyak mening­gal­kan las­kar­nya, dige­rak­kan oleh geram mereka mulai menyerbu musuh­nya yang ber­kaki empat, cepat dan gesit itu. Dengan pedang dan peri­sai mereka tak dapat men­ca­pai, laskar pedang itu bubar. Pim­pin­an­nya tak dapat mengen­da­li­kan lagi.

Meli­hat ben­cana sedang men­da­tangi Mahmud Barjah ber­pacu ke depan, meme­rin­tah­kan barisan pema­nah untuk mem­bi­na­sa­kan barisan kuda yang ter­lalu sedi­kit jum­lah­nya.

Meli­hat laskar pema­nah ber­ba­lik ke bela­kang dan mulai mem­buru, Ban­teng Wareng meme­rin­tah­kan untuk memen­car­kan diri dan kem­bali men­de­pis-depis di tepian tanah lapang sambil ber­ge­rak meling­kar, seo­rang-seo­rang, dan lama-kela­maan men­jadi ling­karan besar menge­pung barisan yang telah mem­bu­bar­kan diri.

Para peme­dang sema­kin lama sema­kin jauh satu sama lain. Laskar tombak yang masih utuh itu maju terus ke depan: Pada suatu titik mereka ter­henti untuk meng­hin­dari tub­ru­kan dengan laskar pema­nah yang ber­ba­lik ke bela­kang.

“Manan kepa­rat! Rois laknat!” sumpah Mahmud Barjah. “Senang-senang dia di bela­kang dengan meri­am­nya. Dibe­lah-belah barisan begini rupa. Awas kau!”

Ia sen­diri mulai kehi­langan ken­dali atas ten­ta­ra­nya. Ter­goda oleh laskar panah yang ber­ba­lik dan mem­buru barisan Ban­teng Wareng, juga laskar tombak dengan sen­di­r­i­nya ter­se­ret oleh arus sung­sang. Dalam waktu yang sangat pendek semua ten­tara Mahmud Barjah telah ber­gu­bal jadi satu kebal­auan yang menge­jar barisan kuda Tuban.

Dan itulah justru yang dike­hen­daki Ban­teng Wareng. Ia perin­tah­kan mem­bi­kin gerakan penge­pungan semu, sema­kin lama sema­kin tipis dan mele­bar. Anak panah dan tombak mulai beter­bangan di udara.

Barisan kuda Tuban yang kecil itu sema­kin mele­bar­kan dan mereng­gang­kan kepungan semu­nya. Dan pada gilir­an­nya juga ten­tara Rajeg men­jadi sema­kin mele­bar meng­isi keko­songan medan, seperti air yang ter­cu­rah di atas dataran.

Pada waktu ten­tara Rajeg sudah tak dapat diken­da­li­kan lagi, sema­kin lama sema­kin meme­cah dan memen­car­kan diri men­cari sasaran masing-masing, muncul lima belas ekor gajah dari keja­uhan. Bela­lainya ter­ang­kat naik, meme­kik ber­ba­reng ter­de­ngar seperti seribu seru­nai. Setiap ekor dii­kuti oleh lima belas pema­nah dari pasukan kaki. Di bawah pengen­da­lian pawang-pawang­nya, bina­tang-bina­tang yang meli­hat per­tem­puran itu lari ke depan dengan bela­lai tetap ter­ang­kat dan ber­su­ling. Juga pasukan kaki di bela­kang­nya ikut lari meng­i­kuti.

“Tumpas! Tumpas!” mereka ber­so­rak dan ber­so­rak.

Dan di atas setiap ekor ter­i­kat kotak ben­tengan dari kayu keras, tak ter­tem­busi oleh panah atau­pun tombak. Di situ ter­da­pat enam orang pelem­par tombak dan pema­nah seka­li­gus, mahir dan ter­la­tih. Tubuh dan kepala gajah yang dilin­dungi oleh ber­la­pis-lapis kulit kerbau nampak seperti jubah kebe­saran, melam­bai-lambai, juga tak ter­tem­busi oleh anak panah dan tombak. Pada setiap lang­kah kaki bela­kang bina­tang-bina­tang itu ber­den­cing oleh kre­nyak atau sirah baja yang melin­dungi tumit­nya.

“Ten­tara putih­h­h­h­hhh!” Mahmud Barjah meme­kik. “Gajah! Awas gajah datang!”

“Gajah­hhh!” ter­de­ngar seruan dari mana-mana. Per­ha­tian ten­tara Rajeg ter­pe­cah-pecah antara kuda dan gajah dan dari gajah ke kuda.

Dan bukit-bukit hidup yang menyem­bur­kan anak panah dari atas­nya itu sema­kin men­de­kati juga. Anak panah itu keluar ber­ba­reng seperti petir yang sedang menyam­bar, mele­sit tanpa ampun menem­busi tubuh yang dike­na­i­nya. Gajah-gajah itu terus juga maju mema­suki medan per­tem­puran.

Ten­tara Rajeg kacau-ber­la­rian kehi­langan posisi. Kea­daan itu tak dibi­ar­kan oleh Ban­teng Wareng. Ia perin­tah­kan baris­an­nya menyerbu ke dalam keka­cauan itu.

Dengan suara parau Mahmud Barjah ber­seru-seru dari atas kuda­nya dengan di tangan melam­bai-lam­bai­kan pedang: “Goblok! Otak bina­tang! Mundur. Mun­du­u­u­u­uur! Tero­bos itu kepungan kuda!”

“Ayoh, Mahmud! Jangan hanya teriak-teriak!” tan­tang Ban­teng Wareng. “Per­li­hat­kan mon­congmu yang besar itu.”

Tetapi Mahmud tak dengar tan­tangan itu. Ia sibuk untuk meng­un­dur­kan ten­ta­ra­nya, dengan pung­gung pedang ia han­tami pra­ju­r­it­nya yang tak mau deng­ar­kan perin­tah.

Barisan kuda tak mem­bi­ar­kan mereka mene­ro­bos. Seakan ter­bang kuda-kuda itu menyam­bari para pene­ro­bos, meng­ge­le­tar­kan cambuk perang, menyo­beki daging.

Matari hilang di balik men­dung. Hujan lebat pun meng­an­cam dari langit. Kilat seakan menyor­aki mereka yang sedang ber­bu­nuh-bunuhan.

Dan gajah-gajah maju terus tak mem­pe­du­li­kan barang­si­apa ter­in­jak dan ter­de­sak. Anak panah yang ber­se­m­buran dari pasukan kaki di bela­kang dan bawah­nya mere­bah­kan siapa saja yang ter­ke­nai. Korban-kor-ban jatuh ber­ge­lim­pangan dan darah merah mewar­nai baju putih mereka dan bumi nege­ri­nya sen­diri.

“Trobos kuda sambil meme­kik ken­ca­a­a­ang!” perin­tah Mahmud. Sua­ra­nya sema­kin parau.

Juga di sana-sini pra­ju­rit kuda Tuban meng­ge­lim­pang jatuh untuk kemu­dian dihu­jani dengan tombak dan pedang. Laskar panah Rajeg tak dapat ber­buat sesu­atu pun dalam kega­lauan medang perang.

Kepungan semu kemu­dian bobol. Dan tak bisa lain. Gajah-gajah itu telah mema­suki tengah-tengah medan per­tem­puran, men­de­sak ke segala jurusan. Bela­lainya menyam­bar-nyam­bar seperti naga. Barang siapa ter­tang­kap akan mela­yang ke udara tanpa semau sen­diri untuk kemu­dian jatuh ke bumi dan tak bangun untuk selama-lama­nya. Dan barang siapa keja­tuhan korban kedua akan ring­sek tanpa sempat meng­a­duh. Kaki­nya melang­kah tanpa peduli siapa kena ter­jang, adalah lak­sana empat batang peng­ganda yang meng­ge­rin­cing karena kre­nyak­nya. Barang siapa ter­seng­gol akan ter­ba­lik dan ter­in­jak penyek. Dari bela­kang­nya arus anak panah pasukan kaki Tuban, gelom­bang demi gelom­bang, ber­a­turan, mela­yang seperti jari-jari Batara Kala. Manu­sia dan hewan akan tumpas ter­kena oleh­nya. Anak panah yang meniup dari atas­nya dari tangan-tangan ter­ma­hir adalah lak­sana hem­busan Batara Yama­di­pati. Tak ada bisa melu­put­kan diri.

Seperti air mem­bu­yar dari dataran tinggi ten­tara Rajeg mene­ro­bosi kepungan semu barisan kuda Ban­teng Wareng, mem­bu­yar lari ke segala jurusan.

Dan Ban­teng Wareng meme­rin­tah­kan anak buah­nya untuk meng­un­dur­kan diri ke bela­kang pasukan gajah yang dipim­pin oleh Kala Cuwil. Dengan susah-payah mereka mena­rik diri, melin­dung­kan diri ke bela­kang hewan-hewan rak­sasa, yang pada kulit kerbau peri­sai­nya telah ber­ge­lan­tangan anak panah lawan­nya.

Dili­hat dari bela­kang bekas jalan gajah-gajah itu bumi telah men­jadi merah karena darah dan daging menga­nga. Sedang gajah yang ter­luka meng­a­muk maju terus sambil ber­su­ling, mener­jang, menang­kap, mem­ban­ting, meng­in­jak dan men­ca­ling dengan belai seperti baling-baling ber­pu­tar.

Ten­tara Rajeg ter­de­sak terus dalam kea­daan parah dan kocar-kacir.

Di atas salah seekor gajah, di dalam ben­teng kayu keras, duduk Wirang­gal­eng dan Kala Cuwil. Dengan tanda-tanda pang­kat dan jabatan, tangan kiri Sena­pati Tuban dile­tak­kan di atas pundak Kala Cuwil. Pada tangan kanan­nya ter­geng­gam tombak. Dengan tangan kiri itu juga ia menu­ding ke bawah, pada per­tem­puran yang sedang ber­lang­sung.

Tudingan itu ter­a­rah pada seo­rang penung­gang kuda ber­pa­kaian serba putih di tengah-tengah ten­tara putih yang kacau-balau. Ia lihat pengen­dara kuda itu melam­bai-lam­bai­kan pedang dengan tangan kanan. Pada tangan kir­i­nya ia meme­gangi cambuk perang. Ken­dali sama sekali tak digub­ris­nya.

“Hanya pra­ju­rit penga­wal Tuban bisa begitu,” kata­nya.

“Itulah Mahmud Barjah, Sena­pa­tiku, per­a­nakan Koja.”

“Pantas. Per­ha­ti­kan bagai­mana dia ber­u­saha meng­un­dur­kan ten­ta­ra­nya dalam kese­la­matan.”

Waktu menga­ta­kan itu ia ter­i­ngat pada kata-kata Rama Clu­r­ing sebe­lum mening­gal: ‘Darah ning­rat Jawa sudah kehi­langan keku­at­an­nya. Hati dan kebe­ra­ni­an­nya sudah habis di dalam keput­rian.’

“Pantas,” ia meng­u­langi; “Per­a­nakan Koja.”

“Apanya yang dika­gumi, Sena­pa­tiku?”

“Kalau dia ning­rat Jawa, dia akan lari sela­mat­kan dir­i­nya sen­diri. Seka­rang aku meng­erti meng­apa Malaka dapat jatuh begitu mudah.”

Kala Cuwil mena­tap Sena­pati dari sam­ping, tak meng­erti.

“Lihat!” Wirang­gal­eng ber­seru, “dia telah kehi­langan kepe­mim­pin­an­nya dalam keka­cauan itu. Dia tetap ber­u­saha. Lihat!”

Kala Cuwil nam­pak­nya tak senang men­de­ng­ar­kan puji-pujian untuk musuh dan peng­khi­a­nat itu.

“Sena­pa­tiku, digu­sur ke mana ten­tara peru­suh ini?”

“Sorong terus ke depan sampai matari teng­ge­lam.”

“Sorong terus sampai matari teng­ge­lam,” Kala Cuwil meng­u­lang. “Mereka akan jadi remah-remah.” Ia angkat panji-panji dengan menu­ding ke depan.

Ban­teng Wareng yang meli­hat sena­pa­ti­nya menu­ding ke arah Mahmud Barjah meng­hen­tak­kan ken­dali. Kuda­nya mele­sit seperti bina­tang ber­a­lih menem­busi awan coklat dan putih di depan­nya, lang­sung menuju ke arah Pang­lima Rajeg. Pedang­nya ber­a­yun ke kiri dan kanan. Anak buah­nya pun segera menyu­sul untuk melin­dungi pemim­pin­nya. Porak-poranda pra­ju­rit-pra­ju­rit putih yang sedang kacau itu ter­kena ter­jang pasukan kuda seperti per­mu­kaan sawah ter­kena garu, licin dan rata.

“Ban­teng Wareng!” Sena­pati Tuban ber­te­riak dengan tangan dico­r­ong­kan pada mulut. “Kem­bali! Tarik pasuk­anmu!”

Pemim­pin pasukan kuda itu tidak men­de­ngar.

“Dia akan tang­kap Mahmud, Sena­pa­tiku,” Kala Cuwil men­coba mene­rang­kan. “Musuh sudah kacau dan lelah, jera dan keha­bisan sen­jata.”

“Tepat! Tapi dia tak boleh laku­kan itu.”

“Dia akan mudah ditang­kap,” Kala Cuwil men­coba mene­rang­kan untuk ke sekian kali­nya.

“Tepat! Siapa pun tahu. Tapi dia tak boleh laku­kan itu. Kita harus lihat sampai di mana Mahmud bisa urus anak buah­nya.” Kemu­dian men­je­rit: “Ban­teng Wareng! Kem­bali!”

Seo­rang pra­ju­rit kuda yang ter­ke­be­la­kang mene­rus­kan teri­akan itu, Juga sua­ra­nya teng­ge­lam dalam keri­u­han per­tem­puran….

Dari atas gajah Sena­pati Tuban meli­hat Mahmud menye­dari akan datang­nya pasukan kuda Tuban. Ia keli­hatan ber­te­riak-teriak mem­per­i­ng­at­kan anak buah di seling­kung­an­nya, dan mereka ber­ba­lik meng­ha­dapi Ban­teng Wareng.

“Kala Cuwil! Lari­kan gajah. Dekat­kan pada mereka!”

“Dide­kat­kan pada mereka, Sena­pa­tiku!”

Dan gajah pim­pinan yang sejak tadi ber­ja­lan tenang itu seka­rang meng­ang­kat bela­lai tinggi-tinggi, lari sambil ber­su­ling.

“Biar dia men­da­pat kesem­patan sela­mat­kan dan undur­kan anak buah-nya, kataku. Beri dia kesem­patan ber­tem­pur yang baik. Seka­rang ia hanya tikus dalam perang­kap. Lepas­kan dia!”

Per­ke­la­hian dengan pedang telah ter­jadi antara pem­bela-pem­bela Mahmud Barjah dengan pra­ju­rit-pra­ju­rit kuda. Logam beradu logam ber­den­tangan mema­in­kan lagu maut. Pra­ju­rit-pra­ju­rit Rajeg yang mem­bela pang­li­manya tak dapat ber­ta­han ter­ha­dap desakan kuda. Mereka ter­de­sak sema­kin rapat menge­pung pang­li­manya sen­diri. Ter­ku­rung oleh anak buah sen­diri Mahmud dan kuda­nya tak dapat ber­ge­rak seba­gai­mana harus­nya.

Mahmud meng­ge­le­tar­kan cambuk perang, tapi cambuk itu ter­le­pas dari tangan dan jatuh di sela-sela bahu anak buah­nya, ke tanah. Dan di seke­li­ling­nya adalah mata pedang anak buah sen­diri.

“Ban­teng Wareng, lepas­kan dia!” teriak Wirang­gal­eng.

Dan gajah itu sema­kin men­de­kati juga, mela­lui bekas jalanan pasukan kuda. Di atas­nya Sena­pati Tuban melam­bai-lam­bai­kan tangan. Tetapi pasukan kuda tak meng­erti maksud isya­rat­nya dan terus men­de­sak.

Mahmud Barjah dengan para penga­wal­nya telah berada dalam kepungan pasukan kuda. Makin lama makin rapat. Penga­wal-penga­wal Pang­lima Rajeg ber­ja­tuhan seo­rang demi seo­rang.

“Matari hampir teng­ge­lam, Sena­pa­tiku!”

Matari sudah lama hilang dite­lan men­dung.

“Hen­ti­kan penge­jaran!” perin­tah Sena­pati.

“Penge­jaran dihen­ti­kan, Sena­pa­tiku,” Kala Cuwil meng­ang­kat panji-panji datar dengan dua belah tangan­nya.

Gajah itu ber­henti. Tak ada tanda-tanda matari di barat. Hanya men­dung, per­bu­kitan dan hutan hitam.

Mahmud Barjah ter­ting­gal seo­rang diri dalam kepungan. Semua pedang ter­a­rah pada­nya. Ia menang­kis ke segala pen­juru. Waktu akhir­nya pedang­nya patah ia ber­diri di atas pung­gung kuda.

“Ber­henti!” teriak Wirang­gal­eng dari atas gajah­nya.

Pedang Ban­teng Wareng mela­yang menyam­bar kaki Mahmud.

Dari atas gajah Sena­pati melem­par­kan tombak. Dan tombak itu mela­yang cepat di atas kepala orang dan kuda. Bunyi ber­den­tang menyu­sul. Mata tombak itu mener­jang mata pedang Ban­teng Wareng, patah dua-duanya. Kaki Mahmud tak jadi ter­te­bang tatas.

Semua orang mene­ngok ke arah datang­nya tombak. Dan mereka meli­hat panji-panji ter­pe­gangi datar oleh Kala Cuwil dan Sena­pati melam­bai-lam­bai­kan tangan menyu­ruh semua kem­bali. Baru orang men­de­ngar teri­akan seno­pati mereka: “Lepas­kan dia! Lepas­kan dia dengan damai! Pergi kau, Mahmud! Pergi kau dengan damai!”

Pra­ju­rit-pra­ju­rit kuda menu­run­kan pedang masing-masing. Mahmud duduk kem­bali di atas kuda­nya. Ia jalan­kan ken­da­ra­an­nya dua lang­kah maju. Tangan­nya dilam­bai­kan­nya ke atas, ber­te­riak: “Sela­mat untukmu, Wirang­gal­eng, anak desa yang per­wira! Lain kali ber­jumpa lagi!”

Kuda dipu­tar­nya lambat-lambat, ber­ja­lan melang­kahi bang­kai yang ber­te­baran di tanah, kemu­dian memacu tanpa mene­ngok lagi ke bela­kang, hilang di balik rim­bunan hutan yang dise­la­puti rem­bang senja.

Dua keku­atan yang ber­mu­suhan telah dile­rai oleh malam. Ten­tara Rajeg mena­rik diri ke arah keda­tangan mereka. Ten­tara Tuban ber­henti di tempat dan mesang­grah.

Sena­pati Tuban ber­diri di atas gajah, masih juga melam­bai-lambai tangan. Dan semua mata ter­a­rah pada­nya. Sua­ra­nya keras dan nya­ring, keluar dari paru-paru­nya yang penuh: “Deng­ar­kan semua! Deng­ar­kan, bahwa perang adalah perang. Perang bukan­lah kei­ng­inan untuk mem­bu­nuh sesama, dia adalah ben­trokan dari dua kei­ng­inan. Jangan jadi pem­bu­nuh! Dan kalian pra­ju­rit-pra­ju­rit Tuban yang per­wira dan satria, har­ga­i­lah juga keper­wi­raan dan kesat­ri­aan, seka­li­pun itu ada pada musuhmu. Kalian lihat sen­diri, dalam kea­daan sulit Mahmud Barjah tidak mening­gal­kan gelang­gang. Dia tidak lari sen­di­r­ian dan mem­bi­ar­kan anak buah­nya tumpas. Dia undur­kan anak buah­nya pada kese­la­matan. Dia punya kese­ti­aan pada anak buah­nya.”

“Dia hanya peng­khi­a­nat!” pekik Ban­teng Wareng mem­ban­tah tanpa pikir pan­jang.

“Seba­gai peng­khi­a­nat negeri dan ter­ha­dap Gusti Adi­pati dia akan men­da­pat hukum­an­nya. Seba­gai seti­a­wan anak buah dia harus dihar­gai. Ber­ge­rak! Ber­kam­pung kalian ke pesang­grahan. Matari telah teng­ge­lam. Dan hujan akan turun.”

Selu­ruh pra­ju­rit ber­ba­lik menuju ke pesang­grahan yang telah diba­ngun oleh kesa­tuan-kesa­tuan di bela­kang.

Malam jatuh dengan cepat­nya. Dan pesang­grahan di luar kota itu mem­be­ri­kan mereka per­lin­dungan dari hujan yang mulai meng­an­cam.

Dan sebe­lum mereka mele­pas­kan lelah dalam tidur nye­nyak, suatu bunyi ledakan ter­de­ngar di keja­uhan. Dua butir peluru besi telah ter­bang ber­i­ringan mener­jang langit ber­men­dung mele­wati per­ba­ta­san kota.

Gajah-gajah pun ber­gi­dik dan ber­su­ling pelan. Kuda-kuda mering­kik lemah.

Kemu­dian sunyi senyap.


Bab 19

Kesepian di Tuban

Pela­buhan itu sepi. Hanya kadang saja ter­de­ngar sese­o­rang meno­hok-nohok mem­per­ba­iki sesu­atu. Pasar pela­buhan kosong. Bang­sal-bang­sal pela­buhan yang selalu keda­tangan rempah-rempah baru dari Maluku seka­rang melom­pong dengan pintu semua ter­buka.

Rezeki telah segan datang dari laut. Dari darat pun tiada sesu­atu datang ke tempat ini. Dengan gero­bak tidak, dengan piku­lan pun tidak. Bahkan wanita-wanita gelan­dangan pada mening­gal­kan pondok daun kela­p­a­nya, meng­ungsi entah ke mana: Per­kam­pungan orang-orang Islam di sebe­lah timur sana ter­ting­gal leng­ang. Ting­gal kucing dan ayam­nya tidak dibawa meng­ungsi ke peda­laman masih ber­ke­li­aran tanpa pemi­lik.

Di pantai barang dua puluh atau dua puluh lima perahu ter­can­cang pada patok. Air hujan mulai meng­i­si­nya. Mereka ber­a­yun tidak menentu, hanya menunggu datang­nya hujan deras untuk kemu­dian teng­ge­lam.

Warung Yakub pun sudah lama tutup. Ada ter­de­ngar berita dari sese­o­rang yang telah ber­temu deng­an­nya di Gresik, ia telah mem­buka warung tuak di sana. Berita lain menye­but­kan orang pernah mema­pasi-nya di Pasu­r­uan. Berita ketiga menga­bar­kan ia telah masuk jadi pra­ju­rit pada balat­en­tara Demak. Tak ada berita yang pasti. Yang jelas warung­nya ting­gal tutup.

Kapal peronda pantai Tuban tiada lagi nampak sebuah pun. Semua telah diung­si­kan ke Gresik atas perin­tah Sena­pati Tuban. Kapal-kapal itu takkan dapat mem­bela diri ter­ha­dap serangan Peranggi, per­cuma mondar-mandir sepan­jang pantai untuk menunggu peluru besi. Harus bisa mem­bi­kin meriam sen­diri maka kapal-kapal itu bisa ber­guna kem­bali.

Tholib Sung­kar Az-Zubaid tak mem­pu­nyai kegi­atan harian. Ia keli­hatan lebih kurus dari­pada bia­sa­nya. Jarang ia nampak di rumah. Ia lebih sering keli­hatan di dalam kadi­pa­ten, baik dipang­gil atau tidak oleh Sang Adi­pati. Tak sering lagi orang meli­hat­nya ber­ja­lan meme­rik­sai bagian-bagian pela­buhan yang mem­bu­tuh­kan per­ba­ikan. Dana untuk itu sudah tak ada lagi dalam per­ben­da­ha­raan kesyah­ban­daran. Dan setiap berada di der­maga orang dapat meli­hat ia sedang geli­sah menin­jau ke jurusan timur.

Menara pela­buhan tiada ber­pen­ja­gaan lagi. Ting­gal canang­nya ter­gan­tung tanpa disen­tuh orang lagi. Pemu­kul­nya meng­ge­le­tak di pojo­kan gela­dak.

Kesyah­ban­daran lebih sunyi dari­pada di mana pun. Gandok kiri dan kanan tiada ber­peng­huni. Gedung utama pun kosong. Gedung batu kedua di selu­ruh negeri Tuban itu kehi­langan seri­nya, nampak seperti candi besar yang telah diting­gal­kan oleh peme­luk aga­ma­nya. Syah­ban­dar sen­diri jarang nampak. Dan tiada ter­de­ngar gelak tawa atau tangis Gelar. Ia dibawa oleh Idayu ke Awis Kram­bil. Nyi Gede Kati ikut pula ke sana. Hanya Paman Marta yang setiap hari keli­hatan mengu­rus taman.

Di luar kese­pian ini ter­da­pat kesi­bukan yang tak dapat dipa­hami oleh pen­du­duk. Ratusan lelaki ber­ja­lan kuat dan tegap selalu keli­hatan ber­ja­lan ter­se­bar ke sana kemari tanpa peker­jaan. Karena tiada keris pada ping­gang dan tiada tombak pada tangan, orang yang tak menge­nal­nya men­duga mereka pra­ju­rit-pra­ju­rit yang sedang mele­pas­kan diri dari kesa­tuan. Dan mereka selalu berada di luar daerah pela­buhan.

Orang-orang yang menge­nal salah seo­rang di antara mereka segera tahu, mereka tidak lain dari­pada ang­gota-ang­gota pasukan penga­wal kadi­pa­ten yang tidak ber­pa­kaian pra­ju­rit. Gerak-gerik mena­rik per­ha­tian. Dan orang-orang tak pernah dapat men­da­pat kete­rangan apa sedang mereka ker­ja­kan. Karena di balik semak-semak hutan yang mem­ba­tasi daerah pela­buhan dengan daerah tak ber­peng­huni ditem­pat­kan cet­bang-cet­bang yang semua dia­rah­kan ke laut. Orang hanya men­duga-duga mereka disi­ap­kan untuk menang­gu­langi kemung­kinan masuk­nya Peranggi atau sebang­sa­nya dari laut, semen­tara per­tem­puran sedang ter­jadi di peda­laman.

Per­kam­pungan non-Nusan­tara juga sepi karena sete­lah ter­jadi keru­suhan seba­gian besar pen­du­duk­nya telah mening­gal­kan Tuban bela­yar entah ke mana. Hanya pen­du­duk Peci­nan tidak susut, karena hukum Tuban melin­dungi mereka di waktu perang. Arti­nya, semua pra­ju­rit dari dua belah ten­tara yang ber­mu­suhan tidak diper­ke­nan­kan meng­in­jak daerah itu baik untuk kepen­tingan penye­rangan atau­pun per­ta­hanan. Pen­du­duk biasa pun tidak diper­ke­nan­kan mema­suki di waktu perang, seka­li­pun untuk menye­la­mat­kan diri. Belum jelas benar dari mana asal­nya hak per­lin­dungan yang seakan ber­ja­lan dengan sen­di­r­i­nya ini. Boleh jadi sudah sejak Maja­pa­hit atau lebih tua lagi. Sedang per­jan­jian antara Ceng He dengan Adi­pati Tuban mem­per­ko­koh per­jan­jian itu untuk ganti peng­a­kuan armada Tiong­kok itu. Pada mono­poli Tuban atas sumber rempah-rempah Maluku Peci­nan malah men­da­pat hak ber­ta­han dan hak kepo­li­sian demi kese­la­matan war­ga­nya.

Sunyi pula alun-alun yang bia­sa­nya jadi pusat kera­maian dan daerah pusat praja. Tak ada orang meng­in­jak­kan kaki di sini, apa­lagi kanak-kanak. Kalau orang tua mele­wat­i­nya, ia ber­ja­lan tanpa semau sen­diri. Peris­tiwa pem­bu­nuhan atas diri Sang Patih dide­kat pohon beringin kurung, telah mem­bi­kin tempat ini jadi sangar. Bahkan mereka yang ting­gal di seki­tar situ lebih suka meng­am­bil jalan bela­kang dan mener­jang-ner­jang pela­taran tetangga.

Mayat Sang Patih masih juga ter­ge­le­tak, ber­pin­dah dari tempat semula karena ser­buan anjing. Lalat dan gagak ikut pula menye­rang­nya. Bau busuk dibawa angin ke selu­ruh pen­juru mata-angin. Tak ada orang meme­li­ha­ra­nya. Kelu­arga Sang Patih sen­diri pun tak berani turun tangan.

Di dalam kadi­pa­ten Sang Adi­pati keli­hatan selalu murung dan gusar. Tak ada seo­rang pun pra­ju­rit penga­wal men­jaga kadi­pa­ten. Mesin praja lumpuh sama sekali. Arus bahan makanan ke dalam kadi­pa­ten ter­pu­tus, dan bahaya kela­paran akan segera meng­an­cam bila kea­daan tidak beru­bah.

Sang Adi­pati tak dapat ber­buat sesu­atu apa tanpa penga­wal dan tanpa pung­gawa. Dan para pung­gawa telah dipe­rin­tah­kan keluar dari kadi­pa­ten oleh pasukan penga­wal atas perin­tah Wirang­gal­eng.

Untuk per­tama kali dalam hidup­nya ia baru meng­erti, tanpa kawula yang dengan suka­rela mela­yani dan men­ja­lan­kan perin­tah­nya, ter­nyata ia tidak ber­arti sesu­atu pun. Ang­gapan, bahwa seo­rang raja dimung­kin­kan oleh para dewa, dan oleh para dewa saja, kini ter­nyata meng­ha­dapi ujian. Dan justru karena penge­ta­huan baru itu ia men­jadi murung dan gusar setiap hari, tak tahu apa harus diper­bu­at­nya.

Dari ajaran-ajaran istana lelu­hur ia tahu dan yakin, keku­a­saan seo­rang raja tidak ber­a­sal dari dunia manu­sia, untuk meng­a­tur kawula, untuk meng­a­tur perang dan damai, per­jan­jian dan pem­ba­tal­an­nya. Semu­a­nya ber­a­sal dari Dia yang mem­bi­kin hidup. Maka sudah men­jadi patokan, barang­si­apa melang­gar keten­tuan praja, mem­bang­kang­nya, adalah juga melang­gar dan mem­bang­kang ter­ha­dap Dia. Bagai­mana seka­rang?

Sang Patih jelas telah mem­bang­kang ter­ha­dap dir­i­nya. Dia layak mene­rima hukum­an­nya. Kema­ti­an­nya adalah sudah sepa­tut­nya seba­gai satria – men­da­pat tikaman keris sekali. Dalam hal ini para dewa benar. Dia yang mem­bi­kin hidup telah menga­wal atur­an­Nya sen­diri. Bila dia tidak mati karena Wirang­gal­eng, pasti karena perin­tah­nya. Dan itu pasti ter­jadi. Biar­lah itu jadi per­i­ng­atan pada setiap kawula. Karena itu setiap per­mo­honan untuk meme­li­hara dan mera­wat mayat­nya ia tolak tanpa alasan.

Tetapi Wirang­gal­eng! Apakah yang diper­bu­at­nya? Dia telah mena­rik dan menge­rah­kan semua balat­en­tara Tuban. Ia telah bunuh Sang Patih tanpa perin­tah­nya. Ia telah seret Tuban selu­r­uh­nya dalam perang, mem­beri kelong­garan pada bupati-bupati tetangga untuk datang menyerbu. Ia mem­bi­ar­kan Tuban ter­buka ter­ha­dap Demak! Dia telah kosong­kan kadi­pa­ten dari penga­walan dan pung­gawa. Tanpa kawula, tanpa balat­en­tara, tanpa pung­gawa, tanpa saksi dunia yang menga­gumi, tanpa kebe­saran, ter­u­tama tanpa kawula yang meng­hi­na­kan dan meren­dah­kan diri dengan suka­rela ter­ha­dap­nya, tanpa keke­cilan di seki­tar diri – seo­rang raja tidak mem­pu­nyai sesu­atu arti. Dia sama dengan seo­rang desa tak ber­pen­di­dikan. Bahkan game­lan tiada kein­dah­an­nya lagi. Tarian tiada daya pena­rik lagi bagi mata dan hati. Makanan hilang rasa: Tetapi jan­tung terus juga ber­de­nyut.

Hiburan batin yang ada pada­nya adalah: balas dendam.

Ya, kelak bila semua telah kem­bali dalam geng­gaman tangan, tum­pas­lah mereka yang lan­cang mengu­rangi kebe­saran dan keku­a­saan ini. Tum­pas­lah semua mereka. Ia akan jatuh­kan hukuman yang seke­jam-kejam­nya. Dan untuk meng­isi waktu menunggu datang­nya waktu itu ia lewat­kan hari-hari­nya yang sunyi, murung dan gusar di dalam keput­rian. Maka harem yang meng­i­sap daya keku­atan tuanya itu menyu­sut­kan diri dan pri­ba­di­nya. Dendam dalam hati, keri­aan yang meriah dan kese­nangan badani di luar­nya. Ia sudah tidak meng­i­ngat lagi musuh dari darat atau­pun laut. Negeri dan praja tak punya sesu­atu arti lagi bagi­nya.

Ter­ha­dap kea­manan jiwa­nya pri­badi ia tak pernah punya was-was. Lelu­hur­nya, dari pengu­asa yang satu pada pengu­asa yang lain telah mem­ba­ngun­kan sikap batin satria: hanya ada satu macam maut dengan tiga nilai, tidak kurang dan tidak lebih. Nilai per­tama dan ter­puji adalah maut karena lanjut usia. Nilai kedua yang patut adalah karena kehor­matan seba­gai satria, di medan perang dan di mana saja. Nilai ketiga yang diang­gap­nya hina adalah karena hukuman dan tidak dengan keris. Dan seo­rang satria hanya boleh meng­am­bil dua nilai yang sebe­lum ter­a­khir. Setiap saat ia ber­se­dia mati baik karena usia maupun karena kehor­matan. Ia tak pernah punya kera­guan.

Bila ter­nyata Wirang­gal­eng kelak mela­ku­kan peng­khi­a­natan ter­ha­dap dir­i­nya, ia akan meng­am­bil nilai kedua. Dan peng­khi­a­natan itu bisa datang dari setiap sudut, dan ia selalu was­pada ter­ha­dap setiap kemung­kinan. Ia yakin dir­i­nya sen­diri, ia akan meng­em­bus­kan napas peng­ha­bisan seba­gai satria dengan kehor­matan. Dan apalah salah­nya selama ia tetap satria? Putra-put­ra­nya akan men­de­ngar berita kema­ti­an­nya itu, dan mereka akan meng­erti dan meng­hor­mat­i­nya.

Dan setiap ia ingat pada putra-put­ra­nya, ia menge­bas­kan mereka semua dari piki­ran­nya. Tak ada per­lu­nya meng­i­ngat mereka. Mereka akan diha­dapi oleh zaman­nya, atau zaman itu sen­diri akan mem­bu­nuh-nya bila ia mela­wan­nya, karena zaman adalah tidak lebih dan tidak kurang dari­pada Batara Kala itu sen­diri, tak peduli mereka Islam atau Hindu, atau Buddha atau Peranggi seka­li­pun. Semua sudah men­da­pat tem­pat­nya.

Tetapi yang satu ini: keko­songan dari keku­a­saan. Kese­pian dari kebe­saran. Tak ada orang-orang kecil di seling­kungan yang melak­sa­nakan segala apa yang diri kehen­daki. Semua sudah terasa ingkar ter­ha­dap­nya. Tanpa keku­a­saan dan kebe­saran segala-gala­nya men­jadi beru­bah. Dan semua ber­sum­ber hanya pada seo­rang anak desa yang tak tahu adat. Seo­rang anak desa telah mem­bu­nuh sau­dara sepu­pu­nya, kemu­dian meng­ang­kat diri sen­diri men­jadi Patih Sena­pati Tuban! Sia­pa­kah dewa sem­ba­han­nya maka dia ber­buat tanpa titahku?

Ter­ng­i­ang-ngiang ajaran praja itu: seo­rang raja tidak akan ber­buat sesu­atu ber­da­sar­kan belas kasihan, ia ber­buat hanya demi kese­la­matan praja. Sese­o­rang raja tidak akan ber­buat sesu­atu ber­da­sar­kan terima kasih, ia ber­buat hanya demi kese­la­matan praja. Dan bebe­rapa kali­mat lagi se-bang­sa­nya.

Dan praja seka­rang lumpuh.

Dan praja adalah raja.

Bagai­man­a­pun dan ke mana pun piki­ran­nya ia kerah­kan, datang­nya pada satu nama itu juga: Wirang­gal­eng, seo­rang anak desa tanpa makna yang telah berani mem­bu­nuh seo­rang dari darah Maja­pa­hit, darah ter­tinggi dalam kehi­dupan yang dike­nal­nya. Anak desa lan­cang itu begitu bodoh­nya, dia tidak meng­erti, bahwa setiap orang yang dia­liri darah Maja­pa­hit mem­pu­nyai hak untuk men­jadi raja.

Penge­ta­hu­an­nya ten­tang seja­rah praja, bahwa Maja­pa­hit bisa ber­diri hanya karena ban­tuan orang-orang keba­nyakan, dan orang-orang itu kemu­dian diang­kat oleh Sri Baginda Ker­ta­ra­jasa men­jadi guber­nur terper-caya tak juga mampu mele­nyap­kan den­dam­nya pada Wirang­gal­eng. Ia harus mem­bu­nuh­nya, dengan jalan dan cara apa pun seba­gai­mana o-rang-orang lain telah juga dibu­nuh­nya. Hanya ada kesu­l­itan pelak­sa­naan ter­ha­dap orang yang satu ini: ia dicin­tai dan dihor­mati oleh kawula Tuban. Bagai­mana meng­hu­kum dia kalau semua orang men­cin­tai dan meng­hor­mat­i­nya? Tidak­kah kawula Tuban akan melin­dung­i­nya, dan itu ber­arti menen­tang­nya? Hukuman pada­nya akan ber­arti keben­cian yang ter­tu­ju­kan kepada raja. Dan bagai­mana kalau selu­ruh kawula kare­na­nya ingkar dan mem­bang­kang ter­ha­dap dir­i­nya?

Bila demi­kian maka dewa-dewa tidak lagi mem­be­nar­kan keku­a­sa­an­nya, men­ca­but kem­bali kebe­sar­an­nya. Ter­nyata dewa-dewa juga ber­pi­hak pada manu­sia….

Dan bila piki­ran itu sampai di situ ia men­jadi pusing. Dalam kepu­si­ngan itu satu-satu­nya tempat yang baik hanya harem­nya.

Sang Adi­pati men­de­ngar peris­tiwa di dekat pohon beringin itu dari per­se­m­ba­han Syah­ban­dar Tuban. Nam­pak­nya orang lain tak ada yang berani meng­ha­dap. Per­se­m­ba­han yang cukup teliti itu telah menyo­r­ong Wirang­gal­eng ke pojo­kan seba­gai biang keladi segala keo­naran yang tak patut men­da­pat sedi­kit pun peng­am­punan dari­pa­da­nya.

“Wira, si anak desa itu, Gusti, telah berani melang­gar titah sete­lah dia meng­ang­kat diri jadi Patih Sena­pati Tuban,” Tholib Sung­kar As-Zubaid meng­adu, “bukan hanya meng­ge­rak­kan lima ratus pra­ju­rit. Dia telah perin­tah­kan semua kepala pasukan untuk meng­i­kuti dan men­ja­lan­kan perin­tah­nya. Dialah yang per­tama-tama mengu­a­sa­kan kepala pasukan penga­wal. Dia telah mem­bi­kin-bikin alasan untuk ber­teng­kar dengan Sang Patih dan mem­bu­nuh­nya, mem­bu­nuh ata­s­an­nya, ya Gusti, seperti mem­bu­nuh anak kam­bing.”

Sang Adi­pati hanya meng­a­ju­kan satu per­ta­nyaan: “Bagai­mana bisa kepala-kepala pasukan men­de­ng­ar­kan dia?”

“Takut, Gusti. Setan telah mera­suki dir­i­nya.”

Sang Adi­pati meng­erti, bukan karena takut mereka men­de­ng­ar­kan­nya. Juga bukan karena kera­sukan setan. Memang ada sesu­atu yang hidup dalam jiwa si anak desa itu. Dan semua itu takkan ter­jadi tanpa per­ke­nan dewa-dewa. Dan tidak mung­kin kalau hanya karena kepala-kepala pasukan itu bukan ber­da­rah ning­rat. Seki­ra­nya mereka ber­da­rah ning­rat pun, kalau dewa-dewa telah ber­ke­nan, mereka akan men­de­ng­ar­kan­nya juga.

Yang ter­i­ngat oleh­nya adalah pem­be­ron­takan-pem­be­ron­takan besar yang ber­kali-kali mele­tus dalam masa keja­yaan Maja­pa­hit, hanya karena pem­ba­gian keku­a­saan antara ning­rat dan tidak ning­rat. Ini juga­kah akan jadi akhir kadi­pa­ten Tuban?

Bila piki­ran­nya sampai di situ ia pun men­jadi pusing.

Syah­ban­dar Tuban tak mem­bi­ar­kan kesem­patan ber­lalu tanpa mem­ba­kar-bakar Sang Adi­pati untuk ber­tin­dak ter­ha­dap anak desa itu bila kea­daan sudah reda.

“Tidak bisa dibi­ar­kan anak desa itu meng­ang­kat diri jadi Patih dan Sena­pati seka­li­gus, Gusti, itu adalah menya­lahi darah, menya­lahi takdir, mela­wan keten­tuan kodrat,” dan ia mere­nung­kan makna dari darah, takdir dan kodrat.

Tetapi Sang Adi­pati lebih cen­de­rung untuk meng­i­ngat-ingat akan men­de­sak­nya Gajah Mada, si anak desa itu, ke atas sehingga jadi Maha­pa­tih Maja­pa­hit. Ia ter­i­ngat juga pada anak desa lain, juga men­de­sak naik terus, bukan saja jadi Patih, malah jadi raja. Dan anak desa itu adalah Ken Arok, orang yang darah­nya hidup dalam tubuh raja-raja di Jawa kemu­dian. Tetapi Wirang­gal­eng takkan jadi Patih Tuban, juga takkan jadi raja Tuban, selama Adi­pati Tuban Arya Teja Tumeng­gung Wil­wan­tikta belum lenyap dari muka bumi.

Dan sejak mem­per­se­m­bah­kan peris­tiwa di alun-alun Tholib Sung­kar Az-Zubaid selain ber­ki­tar-kitar di seke­li­ling kadi­pa­ten, tak peduli pada bau mayat yang meng­em­bara ke mana-mana. Ia merasa lebih aman di dekat Sang Adi­pati. Seba­lik­nya keput­rian yang kadang mem­bo­san­kan itu mem­bi­kin Sang Adi­pati merin­du­kan Syah­ban­dar Tuban – satu-satu orang yang kini dapat dia­jak­nya bicara.

Pada kesem­patan-kesem­patan seperti itu Tholib Sung­kar suka men­coba-coba bicara ten­tang jalan­nya per­tem­puran di peda­laman. Tetapi Sang Adi­pati tidak pernah mela­yan­i­nya. Ia per­caya pada balat­en­tara Tuban. Biar pun musuh itu meng­gu­na­kan meriam, balat­an­ta­ra­nya takkan mung­kin dapat dika­lah­kan. Dengan atau tanpa Wirang­gal­eng atau­pun Sang Patih, balat­en­tara Tuban pasti akan menang. Tidak per­cuma selama dua ratus tahun jadi andal-andal Maja­pa­hit.

Bila Syah­ban­dar Tuban mulai bicara ten­tang Wirang­gal­eng makin jelas gam­baran anak desa itu di hadap­an­nya untuk waktu dekat men­da­tang. Anak desa itu akan meng­ha­dap pada­nya dan mem­per­se­m­bah­kan, musuh telah dika­lah­kan. Dia akan meng­ang­gap keme­nangan balat­en­tara Tuban seba­gai keme­nang­an­nya sen­diri. Pada waktu itu dia akan tahu, seki­ra­nya ada seekor anjing dapat diang­kat jadi Sena­pati, balat­en­tara Tuban akan tetap menang. Dia akan meng­ha­dap seperti seekor anak kam­bing yang meng­em­bik-ngem­bik memo­hon penge­sahan. Dan dia akan menunggu datang­nya karu­nia dari tanganku. Kam­bing yang meng­em­bik itu takkan men­da­pat umpan. Sela­ma­nya badut yang tidak lucu dihu­kum oleh penon­ton.

Ia tidak menang­gapi Tholib Sung­kar Az-Zubaid. Per­tem­puran akan segera sele­sai. Semua akan kem­bali seperti sedia kala, atau semua akan tumpas tanpa ia sak­si­kan sen­diri. Seder­hana.

Di dalam rumah-rumah pen­du­duk Tuban yang suram pula orang masih juga tak habis-habis pikir ten­tang per­bu­atan Wirang­gal­eng. Tak ada seo­rang kawula yang mem­pu­nyai pera­saan tidak senang ter­ha­dap Sang Patih. Orang meng­ang­gap­nya bijak­sana. Meng­apa justru anak desa itu yang mem­bu­nuh­nya? Meng­apa Wirang­gal­eng? Anak desa yang justru dicin­tai dan dihor­mati itu?

Dan orang pun ter­ke­nang­lah pada masa ia diarak jadi pengan­tin agung dengan Idayu. Semua orang ikut ber­suka cita ber­sama deng­an­nya. Apakah per­bu­at­an­nya yang meng­gun­cang­kan itu bukan telah dira­mal­kan dalam jatuh­nya tandu pengan­tin? Dan meng­apa seba­gai Sena­pati Tuban ia tidak menge­rah­kan pagar desa dan pen­du­duk? Meng­apa hanya balat­en­tara yang dike­rah­kan­nya?

Dalam rumah-rumah yang suram dalam sua­sana yang suram pula per­ta­nyaan-per­ta­nyaan seperti itu tiada pernah ter­ja­wab. Maka orang­ha­nya bisa menunggu sele­sai­nya per­tem­puran. Seperti halnya dengan setiap orang Tuban, gum­pi­lan-gum­pi­lan seja­rah masa lalu ten­tang seo­rang anak desa yang naik ke atas. Gajah Mada dan Ken Arok.

Tetap tak ada yang dapat mera­mal­kan apa yang bakal ter­jadi. Seti­dak-tidak­nya setiap orang per­caya, per­tem­puran di peda­laman akan segera sele­sai, dan semua akan kem­bali seperti semula.

Yang orang tak habis-habis meng­erti ialah meng­apa Syah­ban­dar Tuban, Sayid Habi­bu­l­iah Alma­sawa, yang dicu­r­i­gai dan tak disu­kai oleh setiap orang itu, justru men­jadi sema­kin dekat pada Sang Adi­pati. Tak ada seo­rang pun berani men­ja­mah kul­it­nya. Dan memang orang tidak tahu apa yang hidup dalam hati Sang Adi­pati.

Dan Idayu? Selu­ruh kota Tuban meng­erti dia sedang teti­rah ke Awis Kram­bil untuk mela­hir­kan. Dan mung­kin juga sudah mela­hir­kan. Mereka semua berdoa dengan diam-diam agar anak yang dila­hir­kan pada waktu seki­tar ter­ja­di­nya pem­bu­nuhan ter­ha­dap Sang Patih tidak akan ter­ja­tuh dalam penga­ruh Sang Banas­pati. Semoga anak itu memang men­jadi per­pa­duan kemu­li­aan antara bapak dan ibunya. Anak cinta itu semes­ti­nya jadi gemi­l­ang, lebih gemi­l­ang dari­pada kedua orang tuanya.

Pada hari-hari itu langit selalu ber­men­dung, diting­kah oleh guruh dan petir. Hutan-hutan yang hijau kelam di keja­uhan nam­pak­nya sedang meng­gi­gil keta­kutan menunggu datang­nya taufan.

Angin tak henti-hen­ti­nya ber­tiup, dan kese­nyapan sema­kin mem­bi­kin hati gundah.

Di malam hari bin­tang yang seke­cil-kecil­nya pun enggan men­je­nguk bumi. Dan laut pun tak jera-jera ber­de­bur, sedang hati pen­du­duk Tuban tawar kehi­langan gairah.

Ting­gal Sang Adi­pati saja per­caya: tak lain dari Syah­ban­dar Tuban, Sayid Habi­bu­l­iah Alma­sawa yang bisa men­da­tang­kan per­sa­ha­batan dan Peranggi dan Ispa­nya.

Ia merasa masih mem­pu­nyai cukup kehor­matan: Ia tidak akan mengir­im­kan utusan seba­gai­mana halnya dengan raja Blam­bangan Giri Daha­na­putra, Gir­in­dra War­d­hana. Tuban tidak perlu meng­a­kui keung­gulan Malaka….


Bab 20

Pertempuran dan Pertempuran

Hujan jatuh tak semena-mena di atas pesang­grahan balat­en­tara Tuban. Malam gelap-pekat. Angin ken­cang antara seben­tar meng­ge­le­par­kan atap-atap dan din­ding daun kelapa setiap gubuk pesang­grahan. Bila kilat menge­r­jap, gubuk-gubuk itu nampak seperti seke­lom­pok anak kucing yang men­de­kam putus asa kehi­langan induk.

Dalam salah sebuah gubuk pesang­grahan ini sebuah pelita minyak kelapa meman­cari wajah dan tubuh bebe­rapa orang yang ber­diri di seke­li­ling­nya. Setiap kali nyala pelita itu ber­ge­rak, wajah mereka yang menge­li­ling­i­nya nampak beru­bah-ubah, seperti bukan wajah manu­sia tetapi makh­luk menye­ram­kan dari alam lain. Tak ada di antara mereka ter­se­nyum atau ter­tawa. Semua memu­sat­kan piki­ran dan kesung­guhan mereka mene­gang­kan sua­sana.

“Yang telah kita hadapi dan han­cur­kan pada hari ini bukan­lah dan belum­lah selu­ruh keku­atan mereka,” kata Kala Cuwil. “Mung­kin baru seba­gian kecil. Malahan di mana dise­m­bu­nyi­kan meriam itu kita belum lagi tahu.”

“Dari bunyi ledak­an­nya jelas dise­m­bu­nyi­kan di arah teng­gara,” sese­o­rang mem­be­ri­kan pen­da­pat­nya.

“Jelas seperti siang. Tapi meriam bisa ber­pin­dah setiap waktu.”

“Dia tetap akan mening­gal­kan bekas.”

“Orang bisa mem­bi­kin supaya tidak ber­be­kas.”

“Mereka takkan mem­pu­nyai cukup waktu untuk itu.”

“Moga-moga.”

“Selama mereka masih menem­bak­kan meri­am­nya, induk pasukan mereka belum lagi ber­ge­rak,” sam­bung Rang­kum, kepala pasukan kaki.

“Dan hanya sedi­kit-sedi­kit tem­bak­an­nya,” Kala Cuwil mene­rus­kan, “barang­kali pelu­ru­nya sangat ter­ba­tas. Mereka takkan bisa bikin sen­diri. Atau, mereka ber­te­kad untuk mela­ku­kan perang lama seperti Pare­greg. Dan bila itu yang mereka kehen­daki dan kita tidak bisa meng­a­tasi, Tuban akan diter­kam bahaya kela­paran. Sedang bandar akan hanya men­jadi beban.”

“Kita akan usa­ha­kan mereka tak punya kemam­puan untuk ber­pe­rang lama,” Ban­teng Wareng mem­per­de­ng­ar­kan sua­ra­nya, “peda­laman kita tidak begitu subur. Daerah Tuban Kota sen­diri tandus. Selama ini hanya kebe­saran bandar yang dia­gung-agung­kan. Kalau peda­laman kacau dan laut pampat, hanya kela­paran yang ada.”

“Semua itu benar kecu­ali satu yang tidak dili­hat: kita inilah kunci’ Wirang­gal­eng menya­rani. “Kalau mereka meng­hen­daki perang pan­jang, kita­lah yang akan mem­bi­kin pendek.”

Ban­teng Wareng meng­ang­kat muka. Suatu pera­saan tak senang ter­pan­car pada wajah­nya. Dengan tenang ia mem­per­de­ng­ar­kan sua­ra­nya: “Dan mereka bisa juga meme­gang kunci atas kita. Menye­sal sekali Mahmud Barjah dile­pas murah.”

Kala Cuwil men­de­ngus mena­han kegu­sa­ran Ban­teng Wareng. Ia memang ter­ke­nal seba­gai juru damai yang tidak pernah ber­pi­hak, maka orang men­de­ng­ar­kan setiap kata­nya: “Ikan besar umpan pun besar.”

“Ikan itu belum lagi keli­hatan,” bantah Ban­teng Wareng, “lagi pula kita tidak sedang mengail, kita sedang ber­pe­rang.”

“Deng­ar­kan, kau, Rang­kum,” Sena­pati Tuban mem­be­lok­kan per­ha­tian mereka, “aku minta sepa­ruh dari pasukan kaki. Berang­kat malam ini juga, kau dan aku. Besok bila mereka bangun, mereka akan tahu telah ter­pu­tus dari induk pasuk­an­nya sen­diri!”

“Tak pernah ada balat­en­tara ber­ge­rak di waktu malam,” bantah Ban­teng Wareng.

“Apakah Sena­pati kalian kira ketu­runan raja? Aturan perang Sena­pati kalian bukan ber­a­sal dari para raja. Apa katamu, Kala Cuwil?”

“Biar­lah kepala pasukan kaki sen­diri yang men­ja­wab.”

“Mereka sudah ter­lalu lelah, Sena­pa­tiku,” jawab Rang­kum. “Besok mereka masih mem­bu­tuh­kan tena­ga­nya sen­diri. Mereka tak ber­kuda, tak ber­ga­jah. Biar­lah mereka meng­aso. Petani-petani peda­laman itu takkan dapat lari jauh. Mereka masih ada di dekat-dekat sini, Sena­pa­tiku.”

Dan Wirang­gal­eng tahu, hanya Sena­pati tidak bijak­sana disang­kal oleh bawah­an­nya. Semua meng­a­was­i­nya seakan mengu­kuh­kan keti­dak­bi­jak­sa­na­an­nya. Dan jatuh hujan di atas atap daun kelapa itu kem­bali ter­de­ngar oleh mereka.

“Sena­pa­tiku belum lagi sele­sai­kan per­bin­cangan ini,” Ban­teng Wareng mem­per­i­ng­at­kan.

“Aku tidak biasa bicara seperti kalian. Yang aku tahu, hari ini kita telah men­da­pat­kan keme­nangan gemi­l­ang.”

“Sena­pati baru sekali ini ber­pe­rang,” ban­tah­nya.

“Dalam seumur hidupku, balat­en­tara Tuban hanya sekali ini turun untuk ber­pe­rang. Peng­a­lam­anmu tidak lebih banyak dari aku,” jawab Sena­pati. Dengan sen­di­r­i­nya tangan­nya ter­ke­pal jadi tinju. Ban­tahan ini dira­sa­i­nya tidak layak sete­lah keme­nangan gemi­l­ang hanya karena dir­i­nya yang meme­rin­tah­kan dimu­la­inya gerakan, Ia telah per­ta­ruh­kan nasib­nya dengan meng­am­bil-alih kese­na­pa­tian.

Ia pan­dangi kepala pasukan itu seo­rang demi seo­rang. Dan ia tak men­da­pat sokongan. Juga Kala Cuwil tak menyo­kong­nya.

“Tak ada yang bilang mereka tak boleh meng­aso. Bukan raja pun harus tidur. Coba­lah pahami maksud Sena­pati,” kata­nya menya­rani. “Kalian memang boleh menyang­gah seo­rang Sena­pati anak desa, tapi perang adalah perang.”

“Kepala pasukan kaki tidak menyang­gah, Sena­pa­tiku. Mereka lelah, hari hujan dan gelap. Harap Sena­pa­tiku bijak­sana.”

“Kala Cuwil!” pang­gil Sena­pati. “Juga kau sen­diri tahu, yang paling lelah adalah pasukan kuda. seka­li­pun tidak dengan kaki­nya sen­diri. Lagi pula hanya seba­gian dari pasukan kaki yang dike­rah­kan pada hari ini. Tak sampai sepa­ruh. Bagai­mana jawaban ini?”

“Rang­kum meno­lak, Sena­pa­tiku, seba­gai­mana pada seba­lik­nya Sena­pa­tiku mele­pas­kan Mahmud Barjah dari kepungan, demi­kian juga Rang­kum mele­pas­kan anak buah­nya untuk ber­is­ti­ra­hat,” jawab Rang­kum tegas.

“Baik. ber­is­ti­ra­hat­lah. Aku kenal daerah ini. Aku tahu pasukan kuda dan gajah tak bisa jalan pada malam seperti ini. Namun sesu­atu harus kita ker­ja­kan pada malam ini. Seka­li­pun kalian meno­lak, aku masih meng­ha­rap­kan ada yang mau berang­kat. Siapa siap berang­kat?”

Tak ber­ja­wab. Sena­pati masih memer­lu­kan meman­dangi kepala-kepala pasukan sekali lagi untuk men­da­pat jawaban. Sia-sia.

“Baik,” kata­nya kemu­dian, “Ban­teng Wareng, sedi­a­kan untukku seekor kuda yang segar.”

“Ke mana Sena­pa­tiku akan pergi, seo­rang diri?”

“Memu­tus­kan mereka dari induk pasuk­an­nya.”

Ban­teng Wareng mena­tap Sena­pati dengan diam-diam. Meli­hat Wirang­gal­eng tetap pada pen­di­r­i­an­nya, lambat-lambat tapi pasti ia men­ja­wab: “Baik. Kalau begitu selu­ruh pasukan kuda akan ber­ge­rak meng­i­kuti Sena­pa­tiku, malam ini juga.”

“Tidak. Seekor saja aku per­lu­kan. Biar aku ber­ja­lan sen­diri, dan biar kalian tahu bagai­mana orang yang tak tahu aturan perang para raja ini ber­ta­rung.”

Seje­nak kepala-kepala pasukan itu ter­diam. Ban­teng Wareng mena­tap Rang­kum, dan yang bela­kangan ini meng­ang­guk.

“Sena­pa­tiku,” jawab Rang­kum, “pasukan kaki akan ber­ge­rak malam ini juga, meng­i­kuti Sena­pa­tiku.”

Malam itu juga, dalam kege­lapan dan hujan, pasukan itu ber­ge­rak ber­gan­de­ngan tangan dan lari maju bila kilat mene­rangi bumi barang seke­jap.

Tanah berum­put di bawah kaki memu­dah­kan per­ja­lanan. Dan mereka ber­ja­lan dan ber­ja­lan. Hujan ber­henti dan curah kem­bali. Mereka terus ber­ja­lan melin­tasi padang rumput ber­batu-batu, kemu­dian mema­suki jalanan desa yang ber­batu-batu pula. Hujan ber­henti lagi dan bin­tang-bin­tang mulai meng­in­tip dari sela-sela men­dung. Bebe­rapa kali ayam liar dan ayam hutan ter­de­ngar ber­ke­ru­yuk. Kemu­dian unggas-ung­ga­san yang lain mulai menya­nyi dari segala pelo­sok, dan matari pun mulai meman­car­kan lem­ba­yung merah dari bawah bumi, jauh di timur sana.

Laskar-laskar Rajeg yang dicari ter­nyata tiada.

“Apa katamu seka­rang. Rang­kum?”

“Sena­pa­tiku benar. Mereka ber­ge­rak di malam hari.”

“Apa arti­nya itu, Rang­kum?”

“Arti­nya, kita sudah binasa, bila mereka menye­rang dengan sepe­nuh keku­atan, Sena­pa­tiku.”

Demi­ki­an­lah maka berita, laskar-laskar musuh ber­ge­rak di malam hari dite­rima dengan ter­ke­jut di pesang­grahan. Pada waktu itu juga gubuk-gubuk dibong­kar dan semua ber­ge­rak menyu­sul Sena­pati.

Gerakan pen­je­ja­kan dia­da­kan. Bekas-bekas mereka pada siang kema­rin telah ter­ha­pus oleh hujan.

Berita, bahwa Tuban ter­pan­cing turun ke gelang­gang tanpa per­si­apan dan tanpa menge­rah­kan pagar desa atau­pun pen­du­duk, mener­bit­kan suka cita Ki Aji. Mereka akan mati kela­paran, kehu­janan dan kedi­nginan.

Sete­lah magrib, di depan pen­dopo, di hadapan para peng­i­kut ia mem­be­ri­kan wejangan pendek sebe­lum isya: “Anak-anakku, kawu­laku, sudah ber­kali-kali aku ajar­kan pada kalian, jangan per­caya pada ning­rat Jawa. Mereka bilang dewa-dewa yang telah pilih mereka jadi ning­rat untuk meme­rin­tah orang desa.”

“Semua orang tua-tua kalian tahu ten­tang cerita per­ten­tangan antara ning­rat dan bukan ning­rat semasa Maja­pa­hit. Di Tuban aku pun sudah banyak dengar ten­tang itu, bahkan juga dari para nakhoda dan sau­da­gar asing yang punya per­ha­tian pada keja­yaan Maja­pa­hit di masa silam. Juga punya per­ha­tian, meng­apa kema­ha­ra­jaan yang besar itu bisa jatuh ber­ke­ping-keping dan tak mampu ber­diri lagi.”

“Tak perlu aku ulangi pada kalian ten­tang Perang Pare­greg. Bukan­kah kalian juga masih ingat soal­nya karena tidak suka­nya kaum ning­rat pada kebi­jak­sa­naan Maha­rani Suhita yang masih juga mau mene­rus­kan mem­be­ri­kan keku­a­saan pada bukan ning­rat? Dan bukan­kah kalian juga masih ingat, bahwa dalam keku­a­saan Maja­pa­hit hampir semua pange­ran itu tidak mampu mela­ku­kan sesu­atu peker­jaan besar? Dan bahwa yang besar-besar hampir selu­r­uh­nya dila­ku­kan oleh orang-orang ketu­runan desa?”

“Lebih sepu­luh tahun aku telah meng­a­bdi pada Adi­pati Tuban seba­gai Syah­ban­dar. Aku sudah jela­jahi bandar-bandar di Jawa, dari Banten sampai Pana­ru­kan. Sama saja di mana-mana: ning­rat Jawa sudah lapuk, hidup hanya di bawah bayang-bayang nenek moyang yang besar.”

Lihat itu raja Ciri Daha­na­pura Blam­bangan, yang mena­ma­kan diri pewa­ris tung­gal Maja­pa­hit. Bukan­kah sudah dike­ta­hui semua orang dia meng­e­mis-ngemis meriam pada Peranggi? Pada Kongso Dalbi di Malaka? Begi­tu­lah ning­rat Jawa. Untuk meng­am­bil hati Peranggi, raja Blam­bangan itu tak malu-malu menga­ru­ni­a­kan sebi­dang tanah dan tenaga kerja pada Peranggi-peranggi di Blam­bangan untuk diga­rap dan untuk men­di­r­i­kan rumah di Pana­ru­kan dan Pasu­r­uan. Dibi­ar­kan mereka men­di­r­i­kan rumah-rumah besar. Tak tahu malu. Apakah Islam datang pada kalian karena meriam? Dan diser­tai orang Arab­nya sekali? Tidak! Tak ada orang Arab menyam­pai­kan ajaran di Jawa ini, di selu­ruh Jawa, di selu­ruh benua kepu­lauan Nusan­tara ini. Orang-orang Arab datang hanya untuk mema­neni jerih-payah orang lain. Islam datang dari kan­dungan hati mereka yang bersih, dan disam­but oleh hati mereka yang bersih pula, ber­kem­bang damai seperti ber­kem­bang­nya bunga jambu. Lain dengan Peranggi dengan Nas­ra­ni­nya. Dia datang dengan tem­bakan meriam, dan dengan Perang­gi­nya sekali. Islam datang tanpa meminta tanah. Mereka datang dan mem­bu­tuh­kan tanah.”

Ia ter­henti bicara, ter­ke­jut, ter­ba­tuk-batuk, meli­rik pada Rois dan Manan, Peranggi mualaf, mem­ber­sih­kan teng­go­r­okan dan mulai lagi: “Manan dan Rois datang bukan seba­gai Peranggi Blam­bangan. Mereka berdua datang untuk jadi bagian dari kita. Untuk jadi sau­dara sen­diri.”

Dari keja­uhan telah ter­de­ngar guruh ber­gu­mam dan geri­mis tipis mulai turun. Kiai Beng­gala Sunan Rajeg tak juga ber­ki­sar dari tempat duduk­nya, mene­rus­kan: “Kalau Tuban telah kita kuasai, kita akan ber­ge­rak ke selatan, meng­u­sir Hindu dan Nas­rani dan Peranggi dari Blam­bangan. Tak ada alasan Tuban bisa menga­lah­kan kita. Adi­pati Tuban sama dengan ning­rat Jawa yang lain, lemah, tak ber­ke­ma­uan. Ingin aman dan senang terus sampai mati, tanpa ber­buat apa-apa dengan meru­gi­kan semua orang. Muna­fik! Lihat saja dia itu. Tak ada maha­raja meme­rin­tah dia. Pasukan gajah­nya kuat, lebih dua ratus tahun jadi peri­sai Maja­pa­hit. Meng­aku Islam. Seka­rang Maja­pa­hit ting­gal segeng­gam tanah yang ber­nama Blam­bangan, jangan harap­kan dia mau dan berani ber­ge­rak ke selatan. Dia malah mau meniru raja Blam­bangan, Gir­in­dra Ward-hana, mau meng­e­mis-ngemis per­sa­ha­batan dari Peranggi, seka­li­pun dengan cara­nya sen­diri. Malah anak-anak­nya sen­diri pada lari mening­gal­kan­nya.

Hujan mulai mele­bat. Dan untuk per­tama kali dalam keku­a­sa­an­nya di Rajeg ia mem­per­si­la­kan para peng­i­kut masuk ke dalam pen­dopo yang tak ber­din­ding itu.

Dan ia ter­paksa mene­rus­kan wejang­an­nya, karena memang belum lagi sampai pada pokok kesu­kaan: Demak.

“Nah,” ia mene­rus­kan sete­lah semua men­da­pat tem­pat­nya, “kalian sudah tahu siapa yang meng­ang­gap dir­i­nya Sultan Islam per­tama-tama di Jawa. Kalian memang­gil­nya Raden Patah, bukan? Tidak, tidak sese­der­hana itu nama­nya. Leng­kap­nya: Sultan Sri Alam Akbar Al-Fattah. Sama sekali bukan nama Jawa. Memang dia bukan orang Jawa. Jangan dengar musa­fir-musa­fir Demak ber­ki­cau, dia ning­rat Jawa, ber­da­rah Maja­pa­hit. Bohong! Semua pemasy­hu­ran ten­tang Demak oleh musa­fir-musa­fir itu bohong belaka. Ning­rat Jawa seka­rang ini takkan punya kemam­puan mem­buat sesu­atu yang baru, apa­lagi men­di­r­i­kan kera­jaan Islam per­tama.

“Aku tahu ada di antara kalian di sini bekas musa­fir Demak, hei, kau bekas musa­fir Demak, benar­kah Sultan Demak orang Jawa?” ia ter­tawa meng­e­jek. “Yang kalian sebut Sultan Demak orang itu sama sekali tidak bisa baca dan tulis Jawa, tak bisa bicara Jawa. Dia hanya bisa bicara sedi­kit Melayu. Anak dusun yang bodoh itu bisa baca dan tulis. Masa seo­rang raja Jawa tidak bisa? Bukan itu saja, kul­it­nya bukan kulit Jawa dan mata­nya bukan mata Jawa. Hei, kau bekas musa­fir Demak, coba­lah jawab: sipit atau tidak­kah Sultan Demak?”

Seo­rang pemuda jang­kung nampak meman­jang­kan badan dan leher dan men­ja­wab: “Sahaya belum pernah meli­hat­nya, Ki Aji.”

“Bahkan musa­fir­nya sen­diri tak pernah meli­hat­nya. Dia memang tak pernah muncul di depan umum. Dan jangan per­caya kalian pada orang selama dia meng­aku diri musa­fir Demak. Mari aku ceri­tai kalian: “Sultan Demak memang tidak pernah muncul di depan umum. Dia takut dili­hat oleh kawu­la­nya sen­diri. Karena itu dia mem­bu­tuh­kan musa­fir untuk menye­bar­kan kebo­hong­an­nya ke selu­ruh Jawa.”

“Jadi siapa gerangan, Kan­jeng Sunan?”

Per­ta­nyaan itu menye­bab­kan orang ter­gu­gah dari kebo­sanan. Ada hal baru yang nam­pak­nya bakal mereka keta­hui: “Itu hanya dalam kitab seo­rang Syah­ban­dar. Selama ada Syah­ban­dar di pela­buhan-pela­buhan di Jawa, orang akan dapat mem­per­o­leh kete­rangan yang benar ten­tang raja-raja Jawa seka­rang ini. Itulah tambo. Kalian harus tahu tambo untuk menge­ta­hu­i­nya duduk per­kara. Waktu kalian belum ada… “, ia memu­lai dengan ceri­ta­nya, “ada ter­se­but dalam kitab para Syah­ban­dar, datang­lah armada dari utara sana, memang bukan untuk menak­luk­kan negeri-negeri seperti Peranggi dan Ispa­nya, bukan untuk menak­luk­kan dan juga bukan untuk mem­ba­jak. Mereka datang untuk mengu­a­sai per­da­gangan rempah-rempah. Mereka datang dengan dalih telah ter­u­sir dari nege­ri­nya dan minta per­lin­dungan pada Maja­pa­hit. Tidak lain dari Sang Adi­pati Tuban yang lebih tahu bagai­mana isi per­jan­jian itu, karena dialah waktu itu ditun­juk oleh Sri Baginda Bhre Wijaya Pur­na­wi­sesa untuk mela­yani mereka. Mereka diper­ke­nan­kan ting­gal di Lao Sam seka­rang dan Sema­rang seka­rang, tetapi mereka tidak boleh mema­suki per­a­iran Maluku. Mereka boleh men­da­pat­kan rempah-rempah hanya dari bandar-bandar di Jawa. Lak­sa­m­ana armada ini kalian tahu nama­nya: Dampo Awang. Orang hanya menge­nal gelar­nya: Ceng He. “Memang mereka tidak seperti Peranggi dan Ispa­nya. Dan mereka ber­da­gang biasa, tidak mampu mengu­a­sai per­da­gangan rempah-rempah selu­r­uh­nya. Mereka mela­lui jalan dagang dan jalan laut seperti halnya dengan kapal-kapal Jawa.”

“Armada itu sangat besar, walau mung­kin takkan sebe­sar armada Maja­pa­hit di masa jaya­nya. Dan karena waktu itu di Jawa tak ada armada besar lagi, armada itu nam­pak­nya memang sangat besar. Orang tua kalian tahu betul ten­tang itu, tetapi ada banyak hal yang mereka tidak pernah tahu.”

“Mereka tidak menye­rang, juga tidak dise­rang. Mereka datang dengan dalih sama di mana-mana: dagang.Mereka datang untuk mengu­a­sai per­da­gangan dengan jalan dagang, tidak menem­bak dengan meriam atau cet-bang, tidak meram­pas bandar orang dan tidak menum­pas raja­nya.”

“Di mana armada itu seka­rang, Kan­jeng Sunan, karena menu­rut cerita kapal Dampo Awang sen­diri teng­ge­lam di pantai Rem­bang.”

“Armada itu sen­diri sudah banyak buyar di banyak bandar!”

Orang ber­de­sakan men­de­kat untuk tidak ter­ganggu oleh tam­pias dan bunyi jatuh air di per­lim­ba­han.

“Mereka memang tidak kem­bali ke negeri sen­diri. Mereka ter­se­kat di sini karena di nege­ri­nya sen­diri ter­jadi per­gan­tian kaisar.

Ber­da­sar­kan per­se­tu­juan dengan Maja­pa­hit, dengan Tumeng­gung Wil­wa­tikta, mereka mem­buka daerah-daerah rawa-rawa Sema­rang seka­rang, mereka bikin jadi bandar per­da­gangan dengan nama Sampo Toa-lang.

“Dulu orang segan sing­gah di sana, tidak sehat, banyak penya­kit. Lama-lama ada juga yang datang dan men­da­pat pela­yanan. Tentu tidak sebaik pela­yanan Tuban sewaktu aku masih jadi Syah­ban­dar.

“Dengan jatuh­nya Maja­pa­hit kelom­pok besar armada musa­fir kha­wa­tir akan ter­ja­di­nya perang antara para guber­nur untuk bere­but jadi raja di antara mereka. Mereka kha­wa­tir per­jan­jian dan Tumeng­gung Wil­wa­tikta itu kehi­langan keku­at­an­nya. Mereka tahu guber­nur yang paling kuat adalah Arya Teja Tumeng­gung Wil­wa­tikta, maka dari timur­lah mereka men­duga akan datang­nya bahaya. Begi­tu­lah mereka ben­tengi pang­kal­an­nya dengan melan­tik sebuah kera­jaan baru dekat sebe­lah timur­nya. Kera­jaan ben­teng Sampo Toa-lang itulah Demak.”

“Bukan Kan­jeng Sunan, bukan begitu babad ber­di­r­i­nya Glagah Wangi Demak,” sese­o­rang mem­ban­tah berapi-api sambil ber­jong­kok mening­gi­kan badan.

“Bukan­kah kau bekas musa­fir Demak, Firman?”

“Betul, Kan­jeng Sunan, bukan begitu. Sung­guh bukan begitu.”

“Memang bukan begitu yang dia­jar­kan padamu untuk jadi musa­fir Demak. Coba, adakah pernah seo­rang raja Jawa menye­bar­kan musa­fir? Itu bukan adat raja-raja Jawa. Raja-raja Jawa bia­sa­nya hanya menyu­ruh pujang­ga­nya untuk mem­bual ten­tang kebe­sar­an­nya, ten­tang kemu­li­aan asal-usul­nya. Bohong kalau dia ketu­runan Maja­pa­hit, anak Retna Su-banci, cucu Babah Ban­tong dari Gresik. Deng­ar­kan baik-baik. Babah Ban-tong memang orang Tiong­hoa Islam. Nama sebe­nar­nya Tan Go Hwat. Bapakku menge­nal dia, karena bebe­rapa kali dia memang pernah ber­la­yar ke Malaka. Benar anak­nya telah dise­lir oleh Sri Baginda Bhre Wijaya, tetapi tidak benar anak­nya itu diha­di­ah­kan pada Arya Damar, Adi­pati Palem­bang dan mela­hir­kan Al-Fattah. Uh, kalian, orang Jawa. Dalam lontar kalian hanya yang itu-itu juga yang disa­lin. Tak ada yang baru. Bahkan tak ada orang Jawa jadi Syah­ban­dar!

“Tidak, Firman, anak gan­teng. Retna Subanci tidak pernah ber­la­yar ke Palem­bang. Dia pernah dibawa oleh ayah­nya ke Malaka semasa masih gadis kecil. Memang dia mengan­dung dan men­da­pat anak dari raja Maja­pa­hit, tapi anak itu kemu­dian mati. Dia sangat men­de­rita di dalam keput­rian, hampir-hampir tak bisa diken­da­li­kan, selalu mere­ngek minta men­je­nguk orang tuanya. Sri Baginda dalam pada itu tidak ter­lalu suka pada­nya. Tanya­lah pada Sang Adi­pati Tuban, ke mana itu Retna Subanci. Boleh jadi hanya dialah yang tahu. Anak Babah Ban­tong itu dika­ru­ni­a­kan oleh Sri Baginda kepada Adi­pati Tuban. Anak yang dila­hir­kan­nya di Tuban itu ber­nama Jaka Seca. Selan­jut­nya kalian tahu sen­diri. Oleh ibunya sebe­lum mening­gal­nya dia dise­rah­kan pada Gouw Eng Cu untuk didi­dik.”

“Selu­ruh Maje­lis Kera­jaan Demak tidak bakal bisa bantah aku, Sultan Demak itu tak lain dari per­a­nakan awak armada Ceng He. Itu ada dalam kitab para Syah­ban­dar, boleh jadi juga dalam kelen­teng-kelen­teng di Tuban dan Lao Sam, boleh jadi juga di Sema­rang sen­diri.”

Seben­tar ter­jadi kega­duhan dan Moham­mad Firman men­ja­wab per­ta­nyaan dari bebe­rapa orang di dekat­nya.

“Apa?” sambar Sunan Rajeg yang menang­kap kega­duhan itu. “Betul Jaka Seca itu kemu­dian jadi Raden Said, seka­rang Sunan Kali­jaga, tahu betul bahasa Cina, maka juga ikut menge­lom­pok di Demak. Demak dan Islam dibi­kin jadi satu – deng­ar­kan itu, karena keku­atan di Jawa sepe­nuh­nya dipe­gang oleh peda­gang-peda­gang orang Islam. Apakah Sultan Demak sesung­guh­nya sudah seting­kat keis­lam­an­nya dengan Sunan Rajeg ini? Hei, kau, bekas musa­fir Demak, per­nah­kah kau men­de­ngar Sultan Demak menye­but­kan barang satu ayat dari kitab suci? Atau orang pernah ber­ce­rita ten­tang itu? Meng­apa kau diam saja? Tak ada urusan. Urus­an­nya hanya kese­la­matan Sema­rang.”

Sikap Sunan Rajeg yang memu­suhi Demak itu sudah sangat dike­ta­hui oleh umum. Moham­mad Firman yang diki­rim­kan ke peda­laman Tuban sama sekali tidak bisa menan­di­ng­i­nya, apa­lagi meya­kin­kan­nya. Ia malah ter­te­lan oleh penga­ruh Sunan Rajeg. Biar pun begitu per­nya­taan bahwa Sultan Demak bukan ber­da­rah Maja­pa­hit dan per­a­nakan awak kapal Dampo Awang sung­guh meng­gun­cang­kan:

Dan meli­hat ter­ja­di­nya kega­duhan Kiai Beng­gala Sunan Rajeg buru-buru melam­bai­kan tangan untuk mene­nang­kan: “Bukan soal ini sebe­nar­nya aku ingin sam­pai­kan. Ialah bahwa ning­rat Jawa sudah begitu lemah­nya, bukan saja armada yang ter­se­kat itu sampai dapat mem­buka bandar dan per­kam­pungan besar, tapi juga tidak ber­daya sesu­atu meli­hat ada seo­rang bukan Jawa telah naik takhta jadi raja Islam per­tama-tama. Mung­kin kalian tidak tahu, Sema­rang­lah-bandar Demak. Apakah kalian tidak malu adalah orang yang tak tahu basa dan tulisan Jawa, tak bisa bicara Jawa men­jadi raja dari orang-orang Jawa?”

Sampai pada puncak sema­ng­at­nya kem­bali ia ter­se­rang oleh batuk, dan sekali ia men­coba sekuat daya untuk ber­ta­han.

“Aku pun bukan orang Jawa, orang Beng­gala, orang Keling. Apakah aku tak bisa bicara dan mem­baca Jawa? Bawa sini semua lon­tarmu, dan aku bisa baca­kan mung­kin lebih baik dari­pada guru-guru kalian. Dan semua isinya omong kosong belaka tanpa bisa dibuk­ti­kan. Maka aku tidak datang pada ning­rat Jawa, tapi pada kaum peda­gang dan petani seperti kalian, orang-orang biasa, orang desa… lain halnya dengan Sultan Demak, men­di­r­i­kan kera­jaan untuk jadi ben­teng Sema­rang. Islam diper­gu­na­kan dalih.”

“Dan lihat di ujung Barat Pulau Jawa sana. Aku kira belum ada di antara kalian pernah ke sana. Aku pernah. Di sana ada sebuah kera­jaan Hindu seperti Giri Daha­na­pura Blam­bangan, Peja­jaran nama­nya. Raja­nya juga lemah seperti Gir­in­dra War­d­hana. Peng­ha­sil­an­nya melim­pah-limpah, tanah­nya subur dan kawu­la­nya rajin dan patuh. Karena raja­nya lemah, keka­yaan tidak jadi berkah bagi orang yang lemah, malah men­jadi sema­kin lemah karena keka­ya­an­nya. Dia pun ber­u­saha men­da­pat­kan per­sa­ha­batan dengan Peranggi. Dia men­cari per­sa­ha­batan dari singa yang lapar.” Bedug masjid Rajeg telah memang­gil-mang­gil untuk ber­se­m­bah­yang isya.

“Begi­tu­lah raja-raja di Jawa, maka semua bakal diku­a­sai oleh Peranggi,” Sunan Rajeg mene­rus­kan, “dan itu tidak boleh. Tidak boleh. Demi Allah!” dan ia mem­beri tekanan pada kata-kata­nya: “Maka aku, orang Beng­gala, meng­a­ju­kan diri untuk melin­dungi Jawa dari tangan najis kafir Peranggi, aku, Sunan Rajeg.”

“Maka itu kita harus mela­wan Tuban. Seka­rang balat­en­tara Tuban sedang ter­pan­cing turun ke gelang­gang. Pasukan gajah­nya akan punah oleh meriam kita, akan ter­ku­bur dalam perang­kap, insya Allah, kita pasti menang.”

Mahmud Barjah dengan mem­bawa den­dam­nya ter­ha­dap Manan dan Rois mena­rik pasuk­an­nya pada malam itu juga. Kalau tidak, bila selu­ruh ten­tara Tuban yang dike­rah­kan, dengan kuda dan gajah­nya sebe­lum ia mem­pu­nyai per­si­apan kedua, pasti dan ter­jadi penum­pasan yang tak dapat die­lak­kan.

Hujan deras yang turun pada malam itu telah diper­hi­tung­kan­nya akan men­jadi pelin­dung­nya. Balat­en­tara Tuban tidak akan menyu­sul. Bila toh dila­ku­kan juga takkan dapat mene­mu­kan.

Dengan diam-diam ia perin­tah­kan melak­sa­nakan ren­cana Manan dan Rois untuk mem­ba­ngun­kan parit-parit pen­je­bakan ter­ha­dap kuda dan gajah musuh. Mereka harus masuk ke dalam pen­je­bakan untuk tumpas.

Semen­tara itu ia perin­tah­kan untuk mem­bi­kin jejak-jejak ke arah yang ber­la­wanan dari jebakan yang sedang diba­ngun. Ia mem­bu­tuh­kan waktu pendek untuk ren­ca­na­nya itu.

Hampir-hampir ia tak per­caya pada telik-telik­nya yang mela­por­kan, ten­tara Tuban telah mela­ku­kan gerakan di malam hari. Ia sebar­kan telik-telik baru untuk meng­uji laporan per­tama. Dan dua-dua laporan itu tidak ber­beda. Memang balat­en­tara Tuban ber­ge­rak juga di malam hari.

Pem­bi­kinan jebakan ter­paksa dila­ku­kan siang-malam, tak meng­in­dah­kan cuaca, dan dengan hasil yang tidak memu­as­kan. Hujan dan air meng­ha­langi peng­ga­lian. Namun petani-petani yang ter­bi­asa ber­gaul dengan tanah dan lumpur meng­gali terus tanpa menge­luh. Bahkan hujan itu meng­he­mat tena­ga­nya diban­ding­kan dengan pem­bo­rosan di waktu panas. Tapi air curah itu tetap meng­ha­langi kema­juan.

Seba­gai­mana halnya dengan Manan dan Rois, ia tidak menye­tu­jui perang yang belum wak­tu­nya ini. Tapi perang telah dimu­lai. Keka­lahan pada hari per­tama ia anggap seba­gai kewa­jaran yang harus dite­rima. Namun ia masih juga belum dapat ber­da­mai dengan keka­lah­an­nya yang per­tama. Ia pun belum dapat ber­da­mai dengan nafsu segera perang dengan gam­pang dari Sunan Rajeg. Dan ia pun menye­sali diri sen­diri tak dapat men­ce­gah semua itu, bahkan dengan diam-diam meng­a­kui, diri sen­diri ingin segera masuk ke Tuban kota seba­gai peme­nang, megah dika­gumi oleh semua pen­du­duk, tak ada seo­rang pun yang bakal meme­rin­tah, malah meme­rin­tah semua orang. Betapa lama ia sudah meng­im­pi­kan datang­nya hari, semua ata­s­an­nya dulu datang pada­nya, ber­lu­tut di bawah kaki­nya dan menyem­bah meng­a­kui keung­gul­an­nya.

Keka­lahan per­tama ini men­ja­uh­kan dari impi­an­nya sen­diri. Ia harus bekerja lebih keras. Sedang Manan dan Rois itu mereka menam­bahi sega­la­nya pula, karena harus ber­bagi pen­da­pat dengan mereka.

Ia takkan datang mela­por pada Sunan Rajeg karena keka­lahan ini. Ia akan ber­ge­rak terus. Dan seka­rang mela­ku­kan gerakan semu untuk menge­la­bui musuh untuk melin­dungi pem­bi­kinan jebakan. Sebe­lum men­da­pat keme­nangan ia tidak akan muncul untuk mela­por.

Anak buah yang mem­bi­kin bekas-bekas kaki pun bekerja siang dan malam tanpa henti. Tak bisa lain: ia mem­bu­tuh­kan paling tidak tiga hari untuk dapat mem­buka per­tem­puran baru.

Jebakan yang dibuat menu­rut ren­cana Manan dan Rois adalah sebuah parit ber­ben­tuk tapal kuda yang ber­mu­lut luas. Pasukan kuda dan gajah musuh harus masuk ke dalam kan­tong tapal kuda ini. Di bela­kang­nya akan dipa­sang pasukan pema­nah yang akan melem­par­kan anak panah api dan biasa Bila kuda dan gajah telah men­jadi kacau keta­kutan karena api, meriam akan ber­aksi sehingga musuh kehi­langan kese­im­bangan. Serangan selan­jur­nya ting­gal pem­ba­batan penye­le­saian, dan akan dila­ku­kan oleh bekas ten­tara Tuban sen­diri.

Ia telah kirim­kan peng­hu­bung untuk menem­pat­kan meriam. Manan dan Rois meng­i­kuti perin­tah­nya. Mereka meng­a­rah­kan regu-regu pela­yan dan penga­wal­nya. Pasukan pema­nah pun telah siap di bela­kang tapal kuda. Ting­gal gerakan peman­cingan ter­ha­dap musuh yang ber­hari-hari men­cari dengan sia-sia, masih harus dir­an­cang dengan sek­sama.

Dan semua kegi­atan itu melu­pa­kan­nya kepada per­ten­tangan dengan Este­ban dan Rodri­guez, juga pada penye­sal­an­nya ter­ha­dap Sunan Rajeg dan diri sen­diri.

Pada suatu hari pasukan kaki Rang­kum meli­hat serom­bongan pra­ju­rit putih melin­tasi jalanan negeri. Dari keja­uhan nampak jumlah mereka begitu sedi­kit.

Pasukan kaki Tuban segera ber­so­rak dan menge­jar. Dan sorakan itu memang­gil pasukan-pasukan lain untuk ber­ga­bung. Arus balat­en­tara Tuban meng­a­lir dari segala pen­juru menuju ke tempat Mahmud Barjah telah menunggu dengan diam-diam.

Laskar Rajeg yang ber­jum­lah kecil itu seakan lari keta­kutan lang­sung masuk ke dalam tapal kuda, melom­pati tim­bunan-tim­bunan tanah, men-ceburi tanah, men­ce­buri parit, menye­berang­i­nya dan keluar dari jebakan, hilang di balik semak-semak.

Seba­gian dari pasukan kaki Rang­kum telah mema­suki jebakan waktu di keja­uhan Wirang­gal­eng dari atas gajah mengir­im­kan peng­hu­bung ber­kuda untuk meng­hen­ti­kan pasukan kaki. Dari keting­gian itu dili­hat­nya Rang­kum sedang mema­suki jebakan rak­sasa. Peng­hu­bung itu men­ca­pai kepala pasukan kaki waktu ia sudah berada di tengah-tengah jebakan.

Dengan ter­bata-bata Rang­kum mem­be­ri­kan perin­tah ber­henti dan menye­bar pada garis henti untuk menunggu serangan.

Ban­teng Wareng menye­bar­kan pasuk­an­nya di luar daerah jebakan untuk mela­ku­kan gerakan penyi­siran.

Mahmud Barjah meli­hat ten­tara Tuban ber­henti di tengah-tengah jebakan meng­erti, musuh telah menya­dari masuk perang­kap dan tidak bisa kem­bali, juga tidak mung­kin maju terus. Dengan hati berat ia jatuh­kan perin­tah untuk meng­hu­jan­i­nya dengan api dan anak-panah.

Ia lihat pra­ju­rit-pra­ju­rit Tuban meng­ang­kat peri­sai seba­gai payung.

Anak panah dan api ber­ja­tuhan seperti hujan, ber­se­m­buran dari balik-balik semak tanpa keli­hatan pema­nah­nya, dan mereka sambil ber­so­rak-sorak meng­gu­gup­kan lawan­nya.

Ban­teng Wareng meng­a­lami kesu­l­itan dalam mela­ku­kan penyi­siran. Daerah luar jebakan itu ditum­buhi dengan semak-semak tela­kan yang rapat dengan batang­nya yang liat. Ia tak maju. Dalam semak-semak sen­diri gelap kege­lapan yang memun­tah­kan anak panah dan api. Ia tak dapat menang­gu­langi serangan. Ia perin­tah­kan pasuk­an­nya mundur dengan mening­gal­kan banyak korban.

Meli­hat kega­galan ini dari atas gajah­nya Wirang­gal­eng meme­rin­tah­kan pasukan gajah meng­gan­ti­kan pasukan kuda.

Gajah-gajah Tuban itu tak lama kemu­dian lari mema­suki semak-semak yang diting­gal­kan oleh Ban­teng Wareng.

Dari atas gajah­nya Sena­pati meli­hat pasukan Rang­kum di dalam jebakan ini ber­u­saha hendak mundur ber­pa­yung peri­sai tanpa bisa mem­ba­las. Dan dari bela­kang jebakan sorak-sorai ten­tara Rajeg sema­kin lama sema­kin ber­se­ma­ngat.

Keru­sakan pada pasukan kaki itu cukup besar, tanpa bisa mem­ba­las, namun ber­ha­sil keluar dari tungku maut. Rang­kum sen­diri men­de­rita luka pada bahu­nya waktu kuda­nya mela­ri­kan diri dari api yang sedang menan­da­tangani, tetapi ter­jung­kal dengan kepala pecah kena peluru meriam. Ia digo­tong keluar gelang­gang oleh anak buah­nya.

Semak-semak yang diter­jang pasukan gajah itu men­jadi rata. Pra­ju­rit-pra­ju­rit Rajeg yang berada di dalam­nya tak dapat melu­kai dan menge­nai bina­tang-bina­tang itu atau­pun penung­gang­nya, ter­ha­lang oleh semak-semak per­se­m­bu­nyian sen­diri, sorak-sorai peng­un­duran diri mereka ter­de­ngar riang penuh keme­nangan.

Meriam tiba-tiba ber­henti menem­baki.

Pasukan gajah terus mela­ku­kan gerakan penyi­siran. Mereka ting­gal ber­ha­dapan dengan semak-semak.

Sena­pati meng­erti ber­hen­ti­nya penem­bakan meriam dise­bab­kan karena sen­jata-sen­jata itu juga ter­paksa diun­dur­kan.

Mahmud Barjah dengan senyum puas meme­rin­tah­kan selu­ruh ten­ta­ra­nya mundur. Ia telah ter­hi­bur karena telah dapat mene­bus keka­lah­an­nya yang per­tama. Tak ada seo­rang pun di antara anak buah­nya tewas atau hilang. Bebe­rapa orang saja ter­kena cedera karena kece­la­kaan. Seka­rang ia men­da­pat­kan kese­im­bang­an­nya lagi. Ia akan tidak malu lagi meng­ha­dap pada Sunan Rajeg. Kalau perlu Manan dan Rois akan diha­lau­nya ke tempat yang tidak ber­arti di mata Sunan.

Dalam per­ja­lanan meng­un­dur­kan diri ia mulai meren­ca­na­kan pem­bi­kinan parit yang tidak leng­kung tapal kuda tapi lurus meng­ha­dang per­ja­lanan musuh. Pos-pos peng­in­taian akan ditem­pat­kan pada puncak pepo­honan ter­tinggi untuk dapat meli­hat gerak-gerik musuh­nya. Ia menya­dari, keting­gian gajah­lah yang menye­bab­kan jebak­an­nya keli­hatan dari keja­uhan. Jebakan baru harus tidak keli­hatan dari keting­gian. Dan ter­u­tama sekali pasukan gajah dan kuda yang harus dihan­cur­kan.

Wirang­gal­eng, sete­lah meli­hat keru­sakan pada pasukan kaki, segera turun dari ken­da­ra­an­nya dan men­da­tangi Rang­kum.

Kepala pasukan itu sedang duduk di atas tandu waktu ia datang.

“Pasuk­anku rusak, Sena­pa­tiku.”

“Benar. Tapi kau tidak kalah. Juga tidak hancur.”

“Tidak, tidak kalah, juga tidak hancur. Masih sang­gup ber­ge­rak terus.”

Rang­kum ter­nyata tidak ber­se­dia untuk diganti. Ia hanya meng­i­ng­in­kan kuda baru.

Dan Sena­pati merasa ber­syu­kur. Ia meng­erti maksud Rang­kum, dia meng­hen­daki tugas pen­de­sakan dan peng­gi­ringan musuh dise­rah­kan pada dir­i­nya. Rang­kum memak­lumi tugas­nya men­de­sak dan meng­gi­ring musuh sampai pada suatu titik di mana mereka tak bisa lagi menye­rang, mela­wan, ber­ta­han atau­pun ber­ge­rak.

Ia nilai per­tem­puran kedua seba­gai keme­nangan, karena ten­tara Rajeg toh ter­de­sak dan ter­gi­ring lebih ke peda­laman.

Per­te­muan itu ter­jadi di pen­dopo antara Sunan Rajeg, Mahmud Barjah, Este­ban dan Rodri­guez.

Pang­lima Rajeg dengan ber­se­ma­ngat mela­por­kan ten­tang jalan­nya per­tem­puran dan bagai­mana keme­nangan diper­o­leh. Bahwa pasukan kaki Tuban rusak, dan tak ada sesu­atu keru­gian pada pihak Rajeg.

Manan dan Rois diam-diam men­de­ng­ar­kan dan tidak mem­be­ri­kan sesu­atu pen­da­pat.

Mahmud Barjah kemu­dian men­jan­ji­kan keme­nangan gemi­l­ang dalam per­tem­puran ketiga. Ia telah mem­pu­nyai ren­cana yang masak.

Sunan Rajeg tak dapat bicara suatu apa, ter­be­nam oleh sema­ngat keme­nangan.

“Kapan per­tem­puran ke tiga seba­ik­nya dia­da­kan, Paman Sunan?” tanya­nya kemu­dian.

“Tentu kau yang lebih menge­ta­hui dari­pada aku. Ber­pe­rang dengan jalan pen­je­bakan rupa­nya sangat baik. Terus­kan saja,” ia ber­pa­ling pada Este­ban dan Rodri­guez, “bagai­mana pen­da­pat kalian, Manan dan Rois?”

“Peng­a­laman kedua ini sung­guh memu­as­kan,” Manan memuji-muji ren­ca­na­nya sen­diri, “jebakan, anak panah dan api. Bila ada ledakan-ledakan lebih banyak lebih baik, gajah takkan berani men­de­kat. Dia takut pada api dan ledakan.”

“Sayang tak cukup obat pele­dak dalam per­se­di­aan,” susul Rois. Tidak­kah Kan­jeng Sunan punya tenaga yang bisa mem­bi­kin­nya? Barang sepu­luh orang?”

Sunan Rajeg men­jan­ji­kan akan mem­be­ri­kan tenaga itu.

Semen­tara bahan pele­dak belum ter­se­dia, per­bin­cangan ber­ki­sar pada pen­ca­rian jalan untuk menum­pas pasukan gajah. Dan Sunan Rajeg meng­ha­rap pada Manan dan Rois yang punya peng­a­laman perang di Afrika dan Asia untuk menya­ta­kan pen­da­pat­nya.

“Memang ada jalan yang mudah,” Rois alias Rodri­guez memu­lai. “Kele­mahan gajah ada pada tumit­nya. Bina­tang yang kaku itu, dengan pan­dang selalu ke depan, karena kuping­nya yang ter­lalu besar, sangat mudah dise­rang dengan cepat dari bela­kang. Sambil lari di bela­kang­nya orang dapat meng­apak tumit­nya, dan dia takkan ber­daya lagi untuk selama-lama­nya. Ia akan meng­ge­lo­sot sampai mati.”

“Betul, Kan­jeng Sunan, itu memang bukan raha­sia. Semua pra­ju­rit yang ber­peng­a­laman di benua hitam tahu akan raha­sia itu. Bisa dija­lan­kan dengan mudah.”

“Anak kecil pun tahu kalau hanya begitu,” ejek Mahmud Barjah, “untuk itu tak perlu ber­peng­a­laman perang di mana-mana. Sebar­kan penung­gang kuda yang mahir, dan sambar tumit itu dengan kapak atau tombak… beres. Lihat, tak ada pasukan kuda pada kita. Lagi pula bukan per­cuma bila setiap ekor gajah Tuban dii­ring­kan oleh paling sedi­kit limapu-luh pra­ju­rit kaki. Mereka bukan hanya menye­rang ke depan. Mereka juga menga­wal tumit gajah­nya.”

“Tetapi Rois betul,” Manan mem­be­nar­kan teman­nya. “Jawab­an­nya memang pasukan kuda. Kalau itu ada pada kita memang mudah. Karena tiada, harus dia­da­kan peng­gan­ti­nya: penyer­gapan men­da­dak dan cepat ter­ha­dap pasukan kaki pengiring sambil meng­han­cur­kan tumit bina­tang itu.”

“Di mana peng­a­laman perang kalian?” Mahmud meng­e­jek. “Apakah kalian tak tahu setiap gajah perang dan di waktu perang semua tumit­nya dilin­dungi dengan zirah baja? Deng­ar­kan, gajah perang Tuban bila ber­ja­lan, zir­ah­nya ber­ge­rin­cing nya­ring pada setiap lang­kah, seperti kopyak ki dalang. Ah-ya, mung­kin di negeri-negeri lain tak demi­kian. Kasihan, betapa seng­sa­ra­nya gajah perang di negeri orang itu.”

Sunan Rajeg ter­tawa men­da­mai­kan.

“Kalian semua betul,” kata­nya. “Serangan cepat men­da­dak mem­bong­kar zirah. Tumit itu pun han­cur­lah.”

“Tidak semua orang-orang bisa mem­bong­kar­nya, apa­lagi dengan cepat dalam serangan men­da­dak,” Mahmud mem­ban­tah.

“Setiap bikinan manu­sia dapat dihan­cur­kan oleh manu­sia. Soal­nya adalah peng­gu­naan waktu sepen­dek-pen­dek­nya. Lihat­lah, Paman Sunan, pem­bong­karan zirah itu sen­diri mema­kan waktu lama di tangan bukan ahli dari­pada pen­da­dak­an­nya. Sebe­lum pem­bong­karan sele­sai, serangan sudah sele­sai. Maka serangan seperti itu bukan saja tidak akan men­da­pat tumit, tidak akan men­da­pat zir­ah­nya, seba­lik­nya bela­lai gajah mem­ban­ting­nya ke bumi”.

“Soal­nya hanya pada cara meng­han­cur­kan tumit itu,” Manan ber­ku­kuh.

Dan untuk ke sekian kali­nya Mahmud tak ber­ha­sil menyu­dut­kan dua orang saing­an­nya itu.

Pem­bi­ca­raan itu ter­pu­tus karena datang­nya seo­rang peng­hu­bung: mem­be­ri­ta­kan: ada bebe­rapa orang penung­gang kuda yang diduga sedang menuju ke jurusan jebakan baru.

“Halangi dan belok­kan per­ha­ti­an­nya,” perin­tah Mahmud Barjah. Dan sete­lah peng­hu­bung itu pergi, ia mene­rus­kan, “Kita harus ber­pa­nen, bukan meng­a­sak. Lupa­kah zirah dan tumit gajah untuk semen­tara ini, Paman Sunan. Per­tem­puran ke tiga sedang di ambang pintu. Kita ber­siap-siap.”

Sunan Rajeg ber­pa­ling pada Manan, ber­kata: “Manan, aku ikut ber­sama dengan meri­ammu.”

Dan mereka pun berang­kat ke medan per­tem­puran.

Meriam-meriam Por­tu­gis itu telah ditem­pat­kan pada sebuah bukit yang dir­im­buni pepo­honan. Tempat itu sejuk. Peti-peti obat ter­tum­puk jauh dari sen­jata-sen­jata itu. Peluru-peluru besi ber­ge­le­ta­kan seperti buah jeruk di bawah roda-roda meriam. Para pela­yan pada ber­diri dengan tam­pang angker di bela­kang sen­ja­t­a­nya. Pan­dang mereka ter­tuju pada suatu titik di keja­uhan di ren­dahan sana. Dan titik itu seben­tar lagi akan jadi sasaran. Para penga­wal meriam ber­si­aga di kaki bukit ber­diri ber­ke­li­ling, seperti bulu di seling­karan mata.

Manan dan Rois sedang sibuk meme­riksa sepu­cuk di antara yang dua.

Dalam bebe­rapa hari ini mereka tidak mela­por­kan yang sepu­cuk sudah tak diper­lu­kan lagi, din­ding kamar ledak­nya telah cuwil, tebal­nya tidak rata lagi. Bila diper­gu­na­kan salah-salah kamar ledak itu yang sen­diri mele­dak.

Meli­hat adanya kejang­galan itu segera Sunan Rajeg mene­gur, meng­apa hanya sepu­cuk saja diper­si­ap­kan?

“Musuh ter­lalu kecil untuk dila­yani dengan dua,” jawab Manan mantap.

Dari atas bukit kecil nampak pasukan kuda Tuban ber­ge­rak pelahan meng­a­pit pasukan gajah.

Sunan Rajeg menu­ding ke jurusan mereka.

“Mereka nampak sudah lelah men­cari-cari,” kata­nya mem­beri per­ha­tian. “Hajar­lah dengan meri­ammu, biar segera tumpas!”

“Tidak boleh ada serangan. Kan­jeng Sunan, sebe­lum mereka berada dalam jarak tembak. Perin­tah pun belum dibe­ri­kan oleh Pang­lima Mahmud.”

“Aku lebih tinggi dari­pada Mahmud.”

Rois ter­tawa.

Dan Sunan Rajeg ter­sing­gung men­de­ngar tawa itu, ber­pa­ling pada­nya dan mem­ben­tak: “Ter­tawa.”

“Kita sudah mengu­a­sai medan Kan­jeng Sunan,” Manan cepat-cepat mene­ngahi. “Tak perlu ter­buru-buru ber­tin­dak. Mereka belum lagi sampai di tempat yang telah kita ten­tu­kan. Lagi pula mereka sama sekali belum tampak lelah. Kalau dalam kea­daan begitu meriam ditem­bak­kan, pasukan kuda mereka akan temu­kan tempat ini.”

“Jadi kalian tak per­caya pada keku­atan balat­en­tara Sunan Rajeg, kalian, Manan dan Rois?” tetak Sunan. Ia menu­ding Rois dengan tong­kat­nya.

Bebe­rapa orang dari penga­wal meriam datang ber­la­rian, lang­sung menge­pung Manan dan Rois meng­a­cu­kan tombak mereka.

“Aku tahu apa aku kehen­daki,” Sunan Rajeg mene­rus­kan ben­tak­an­nya. “Tidak­kah kalian meng­erti Sunan Rajeg harus sak­si­kan mereka, kafir-kafir itu ber­ge­lim­pangan karena meri­am­nya? Manan! meng­apa kau diam saja?”

“Kan­jeng Sunan,” Manan datang men­de­kati Sunan. “Seo­rang pra­ju­rit penem­bak meriam Peranggi ber­sum­pah sehi­dup semati dengan meri­am­nya. Dia tidak boleh menem­bak tanpa per­hi­tungan. Meriam adalah dir­i­nya sen­diri yang kedua. Dia harus sela­mat­kan meri­am­nya bila dalam kea­daan bahaya dan dia….”

“Diam!” bentak Sunan Rajeg, “kalian bukan lagi penem­bak meriam Peranggi. Kalian penem­bak meri­amku.”

Sunan Rajeg ter­paksa meng­hen­ti­kan curah kata­nya. Gelom­bang batuk tiba-tiba menye­rang­nya.

Kea­daan itu diper­gu­na­kan oleh Manan untuk menye­la­mat­kan kea­da­an­nya meno­long Sunan Rajeg meri­ng­an­kan serangan batuk, dan ber­kata lunak: “Kan­jeng Sunan meng­hen­daki keme­nangan kecil tapi akan ber­pa­nen kehan­curan. Kalau itu yang Sunan kehen­daki, baik, kami akan menem­bak!”

Sunan Rajeg menge­bas­kan diri dari tangan Manan. Ber­kata sengit dan meng­gi­git: “Bukan kau yang menen­tu­kan. Hanya Allah.”

Rois hendak mem­bantu teman­nya tetapi telah kena bentak ter­le­bih dahulu. Ia ber­ja­lan mundur-mundur karena dita­rik ke bela­kang oleh para penga­wal meriam.

“Semua Allah yang menen­tu­kan, Kan­jeng Sunan,” Manan masih juga mem­buka mulut. “Semua Kan­jeng Sunan, tetapi yang tahu ber­tang­gung jawab hanya­lah manu­sia.”

“Ajaran kafir. Dari mana datang­nya ajaran tang­gung­ja­wab itu? Nas­rani? Tak ada aku ajar­kan pada kalian. Kalian pela­yan meriam. Atau Sunan Rajeg sen­di­r­i­kah kau ini?”

“Sudah­lah, mari kita menem­bak,” Rois ber­su­ara lagi dari tem­pat­nya, dan ia mulai ber­siap-siap.

Atas isya­rat Sunan para penga­wal meriam lari menu­runi bukit dan mela­ku­kan tugas­nya.

Sunan Rajeg mundur men­jauh sambil menu­tupi dua belah kuping dengan tela­pak tangan. Per­ti­kaian sele­sai dan tenang kem­bali kerin­dangan di bawah pepo­honan itu.

Rois telah mema­suk­kan obat ke dalam kamar ledak. Manan mema­suk­kan peluru dari mon­cong meriam. Kemu­dian laras itu dibe­tul­kan kedu­duk­an­nya, ter­a­rah pada musuh yang ber­ga­jah dan ber­kuda jauh di bawah sana. Dan roda-roda meriam itu mening­gal­kan bekas dalam sete­lah dige­ser, di sebe­lah­nya ter­ben­tuk bukitan tanah kecil di bawah kaki. Sumbu obat mulai diba­kar.

Kiai Beng­gala Sunan Rajeg mundur lima lang­kah lagi dan sema­kin mera­pat­kan tangan pada teli­nga. Kemu­dian semua orang menu­tup teli­nga­nya sen­diri, bukan teli­nga orang lain. Sunan Rajeg meng­ha­dap ke arah musuh untuk meli­hat bagai­mana mereka mene­rima maut dari meri­am­nya.

Api sumbu men­ja­lar cepat masuk ke dalam bilik ledak. Ledakan yang meng­gem­par­kan udara dan hati manu­sia. Meriam itu seakan hendak melom­pat muncul dari bumi ke ang­kasa. Api menyem­bu­rat dari mon­cong meriam melem­par­kan peluru.

Dan dari atas bukit kecil itu nampak peluru ter­lon­tar itu ter­bang cepat mem­be­lah udara menuju ke arah balat­en­tara musuh yang sedang ber­ge­rak

Mereka berada di luar jarak tembak….

Men­de­ngar ledakan meriam dan meli­hat peluru jatuh di hadapan pasukan gajah itu ber­henti seke­tika. Seba­lik­nya pasukan kuda lari ke depan mening­gal­kan gajah mem­ben­tuk barisan corong dan ber­pacu maju ke jurusan sarang meriam untuk menge­pung dan mem­bi­na­sa­kan­nya.

“Mereka sedang menuju kemari, Kan­jeng Sunan!” Manan mem­per­i­ng­at­kan­nya.

“Tem­baki terus!”

‘Tidak mung­kin, ter­lalu tipis untuk ditem­bak.”

“Mereka akan ter­ha­lang oleh parit’ jawab Sunan Rajeg pelahan. “Ayoh tem­baki, tem­baki terus.”

“Penga­wal” raung Rois, “sela­mat­kan Sunan Rajeg!”

Mahmud Barjah datang dengan kuda­nya. Muka­nya merah-padam karena marah. Tangan kir­i­nya meme­gang ken­dali. Tangan kanan meng­a­yun­kan cambuk kuda.

“Bang­sat!” Pekik­nya murka sambil men­cam­buk Manan. Yang dicam­buk melom­pat meng­hin­dar. “Siapa perin­tah­kan menem­bak?”

“Kan­jeng Sunan,” jawab Rois.

“Apakah kalian sudah buta? Mahmud Barjah Pang­lima,” dengan cam­buk­nya Mahmud menyam­bar kepala Rois yang juga melom­pat meng­e­lak.

“Mereka datang kemari!” teriak Manan.

Pang­lima Rajeg itu men­cam­buk peng­gul kuda­nya dan ber­pacu turun untuk memim­pin per­tem­puran. Derap kuda­nya makin ter­de­ngar pelan kemu­dian hilang sama sekali, dite­lan oleh semak.

Dengan dipa­pah Sunan Rajeg menu­runi bukit sambil ber­ko­mat-kamit. Para penga­wal mena­ik­kan­nya ke atas tandu, dan berang­kat mereka kem­bali ke desa.

Sete­lah diurut dengan cermat dan dapat meng­gu­na­kan tangan­nya kem­bali, walau­pun masih lemah, Rang­kum meno­lak tandu. Dengan tangan kanan lemah meme­gangi ken­dali dan tangan kiri mem­bawa cambuk perang ia memim­pin kem­bali pasukan kaki­nya.

Pasuk­an­nya ber­ba­ris dalam for­masi supit udang mele­wati pasukan gajah dan maju ke depan meng­i­kuti jejak pasukan kuda.

Ter­henti karena parit terjal, pasukan kuda yang tipis itu melam­bai pada pasukan kaki di bela­kang­nya untuk mele­bar­kan supit­nya. Mereka ber­ge­rak untuk mene­mu­kan ujung-ujung parit.

Mahmud Barjah tak meng­hen­daki mereka mene­mu­kan ujung-ujung itu. Perin­tah penye­rangan dija­tuh­kan. Tetapi musuh­nya tak mem­per­du­li­kan serangan itu dan terus ber­ge­rak mening­gal­kan jebakan.

Dari balik-balik semak di sebe­rang parit terjal ber­se­m­buran anak panah dan api dan tombak. Orang mulai ber­ge­lim­pangan ter­luka atau mati, ter­in­jak oleh teman-teman sen­diri.

Pra­ju­rit-pra­ju­rit Tuban yang telah ber­ha­sil men­ca­pai ujung-ujung parit segera menye­rang musuh­nya di sebe­rang parit. Per­tem­puran ter­jadi. Meriam Manan dan Rois ber­den­tuman. Pelu­ru­nya ber­ja­tuhan tepat pada tempat yang telah diten­tu­kan, di depan parit. Mereka tak berani menem­baki musuh yang telah menyu­sup dalam semak-semak di bela­kang jebakan.

Dengan sema­ngat hendak mene­bus keru­sakan dalam per­tem­puran kedua, pasukan kaki Tuban sama sekali tak meng­in­dah­kan bahaya meng­an­cam. Mela­lui ujung-ujung parit kiri dan kanan mereka men­cu­rahi bela­kang jebakan, men­de­sak maju terus. Semak-semak itu bosah-basih ter­in­jak dan ter­te­bang. Panah tak bisa diper­gu­na­kan. Tombak meng­am­bil alih.

Pasukan kuda mundur meng­i­kuti pasukan kaki yang meng­a­muk.

Api anak panah dan tombak tak lagi beter­bangan di depan parit jebakan. Di bela­kang pasukan kuda meng­i­kuti pasukan gajah. Dan balat­en­tara Tuban men­de­sak terus. Semak-semak yang ter­in­jak pun ludes rata dengan tanah.

Meli­hat ten­tara Rajeg ter­de­sak Manan segera meme­rin­tah­kan meng­ung­si­kan meriam dan segala per­leng­kapan, obat dan peluru. Regu-regu peng­ang­kut lari naik ke atas dan meng­ung­si­kan per­leng­kapan. Mereka lari ke bawah, melin­tasi dataran, lari sambil mem­bawa beban­nya seperti serom­bongan kucing meng­gon­dol anak­nya sen­diri. Dan pucuk meriam itu menu­runi bukit dengan gam­pang. Manan dan Rois pun lari, sepan­jang jalan sambil memaki-maki dalam baha­sa­nya sen­diri.

Ten­tara Rajeg yang ter­de­sak tak mampu lagi menyu­sun barisan. Mereka mundur atau mela­ri­kan diri ke dalam rum­pu­nan semak yang lebih dalam. Mahmud Barjah tak mampu lagi mengir­im­kan peng­hu­bung. Laskar-las­kar­nya ter­paksa meng­am­bil kebi­jak­sa­naan sen­diri-sen­diri.

Ber­pe­gangan pada peng­a­laman sebe­lum­nya kini Wirang­gal­eng tak mau lagi kehi­langan jejak musuh­nya. Ia meme­rin­tah­kan terus men­de­sak, siang dan malam. Ia tak mau ten­ta­ra­nya men­de­rita lelah hanya untuk men­cari-cari.

Sorak-sorai ten­tara Tuban yang meng­gu­ruh dari dalam semak-semak men­jadi per­tanda Rajeg telah ter­de­sak dan dide­sak.

Sorak-sorai ten­tara Tuban itu ter­de­ngar sema­kin men­de­kat. Manan meme­rin­tah­kan agar regu peng­ang­kut mening­gal­kan medan ter­buka dan masuk ke dalam hutan.

Waktu pasukan Ban­teng Wareng datang, mereka sudah tidak nampak kecu­ali bekas-bekas yang ter­ting­gal.

Pecahan-pecahan ten­tara Rajeg yang ber­se­baran di medan ter­buka segera pula mela­ri­kan diri masuk ke dalam hutan. Mereka mem­bu­angi pakaian putih­nya dan segera hilang di antara kehi­jauan dan kecok­la­tan.

Tandu Kiai Beng­gala Sunan Rajeg ter­gun­cang-gun­cang dibawa lari oleh para pemi­kul­nya. Antara seben­tar ter­de­ngar Sunan ber­seru-seru mem­per­i­ng­at­kan dari atas tan­du­nya.

Dari bawah para pemi­kul juga mem­per­i­ng­at­kan ke atas: “Ampun, Kan­jeng Sunan, mereka sudah dekat’ dan terus lari tak peduli tandu sema­kin ber­gun­cangan.

Waktu derap kuda mulai ter­de­ngar, para pemi­kul memer­lu­kan ber­henti untuk meng­am­bil napas dan mene­ngok ke bela­kang. Mereka tidak keliru dengar pasukan Tuban sedang ber­pacu men­da­tangi sambil meng­ge­le­tar­kan cambuk perang ke udara.

Dengan serta merta mereka turun­kan tandu.

“Lari, Kan­jeng Sunan, lari, lari dengan kaki sen­diri.”

Dan lari­lah mereka, yang menandu dan yang ditandu, dengan kaki sen­diri, masuk ke dalam hutan….

Mata­hari belum lagi teng­ge­lam.

Ban­teng Wareng dan pasuk­an­nya menyi­siri setiap jeng­kal tanah yang ter­buka. Bukan lagi ten­tara Rajeg untuk menan­dingi kela­juan dan kesi­ga­pan mereka.

Pasukan kaki di bawah Rang­kum kemu­dian datang menyu­sul dan mem­buru musuh­nya masuk ke dalam hutan.

Baru kemu­dian nampak pasukan gajah seba­gai bukit-bukit daging yang meng­ge­tar­kan, ber­leng­gang dengan hidung­nya.

Hutan itu sen­diri ter­lam­pau lebat untuk mem­per­te­mu­kan dua ten­tara yang ber­mu­suhan. Di bawah­nya ditum­buhi semak-semak bamban dan com­b­rang. Rotan melata datar di tanah dan men­ju­lur meli­bati pepo­honan tinggi meng­a­tasi ram­bat­an­nya sen­diri ber­gu­mul meli­liti barang apa yang dapat ditang­kap­nya, kemu­dian melam­bai-lam­bai­kan puncak-pun­cak­nya pada langit dengan penuh keme­nangan dan keang­kuhan.

Yang ter­de­ngar di dalam hutan hanya gemer­a­sak kaki mener­jang semak. Sorak-sorai telah padam. Unggas hutan telah dari tadi ter­bang mela­ri­kan diri, lupa pada kicau­an­nya sen­diri…


Bab 21

Keributan di Bandar Tuban

Hari ini warung Yakub nampak ter­buka. Lang­gan­an­nya hanya seo­rang: Tholib Sung­kar Az-Zubaid Syah­ban­dar Tuban. Ia duduk di pojo­kan men­cang­kungi cawan arak. Yakub sen­diri di sebe­rang meja dengan mata tak tenang, ber­diri dengan diam-diam, bukan karena menunggu lang­ganan yang tak kun­jung datang.

“Yakin­kah tuan kita masih sela­mat dan tetap akan sela­mat?” tanya­nya dengan nada keluh tanpa keper­ca­yaan diri.

“Per­ta­nyaan bodoh. Bukan­kah semua orang tahu, Syah­ban­dar Tuban ini selalu berada di kadi­pa­ten?”

“Syu­kur­lah, Tuan. Jadi sepu­lang sahaya kea­daan masih tetap aman buat si Yakub ini?”

“Lebih aman dari­pada di pang­kuan ibumu sen­diri.”

“Sahaya lebih suka ber­la­yar lagi, Tuan. Bagai­man­a­pun sahaya tak merasa aman lagi. Seki­ra­nya sudah, tuan siap­kan surat balasan itu…”

‘Tak ada surat balasan Yakub”.

Yakub duduk sambil meng­em­bus­kan napas keluh. Dan Tholib Sung­kar tak mem­pe­du­li­kan­nya. Mereka duduk diam-diam meng­i­kuti piki­ran masing-masing.

“Ya, memang ter­lalu sepi,” Syah­ban­dar mem­be­nar­kan keluh­an­nya. ‘Tapi kau hidup dari air dan dari darat, dari tuak, arak dan peni­puan.”

“Ah, Tuan Syah­ban­dar Tuban, hanya untuk jasa-jasa tuan si Yakub celaka ini bebe­rapa kali harus melo­los­kan diri dari maut dengan per­to­longan Allah saja.”

“Cukup baik. Tuban takkan melu­pa­kan jasa-jasamu.”

“Bagai­mana jadi­nya bandar ini. Tuan?”

“Seperti kau tak tahu saja. Seben­tar lagi akan ramai kem­bali.”

“Seperti kuburan begini sepi­nya, Tuan. Tak mung­kin hanya Tuan dengan Yakub meng­ha­bis­kan arak ini.”

“Kau belum lagi ber­ce­rita, Yakub.”

“Hanya satu yang sahaya dengar di Blam­bangan sana. Kata­nya Peranggi sudah menak­luk­kan sebuah pulau di Nusa Teng­gara sana”.

“Dia bisa laku­kan apa saja yang dia kehen­daki. Kira-kira karena kapal-kapal Gresik ter­lalu berani mene­ro­bos ke Maluku – peda­gang-peda­gang rakus yang bodoh itu. Kalau Peranggi mem­buka pang­kalan baru di Nusa Teng­gara, tentu untuk meng­ha­dapi mereka yang gega­bah itu. Dan aku kira bukan hanya satu, tapi sudah banyak pulau yang didu­duk­i­nya”.

“O, itu mulai keli­hatan orang ber­da­tangan,” seru Yakub pelahan, tapi dari nada sua­ra­nya tetap ter­de­ngar kege­li­sahan hati­nya.

Tholib Sung­kar mene­ngok ke arah jalan raya. Dili­hat­nya orang-orang itu ber­ja­lan menuju ke bandar tanpa mene­ngok ke arah warung.

“Tak ada yang sing­gah kemari nam­pak­nya.”

“Keli­hatan makin banyak saja yang datang, Tuan. Ada apa gerangan?”

Tetapi Tholib Sung­kar Az-Zubaid sudah men­cang­kungi cawan­nya lagi, ber­kata: “Ada apa? Takkan ada apa-apa. Orang-orang bodoh itu. Tak tahu apa bakal ter­jadi.”

“Hampir sama dengan hewan,” Yakub mem­be­nar­kan.

“Per­be­da­an­nya sudah nampak seba­gai cet­bang dengan meriam. Kau sudah lihat sen­diri meriam itu, kan? Ya begi­tu­lah cet­bang, dan begi­tu­lah meriam,” Syah­ban­dar Tuban meng­ge­ser­kan tong­kat dari tangan untuk ber­te­puk senang. “Raja­nya dungu rak­yat­nya pandir. Satu kitab pun tak pernah ditu­lis. Kera­jaan kecil dungu begini tidak berhak hidup di zaman meriam ini, Yakub.”

“Memang meriam saja yang menen­tu­kan dunia seka­rang ini, Tuan. Dan bangsa-bangsa dari utara sana akan selalu berada di atas mereka kelak, Tuan. Minum, Tuan arak­nya.”

Syah­ban­dar Tuban mene­guk. Yakub kem­bali mem­per­ha­ti­kan orang-orang yang makin banyak juga menuju ke bandar.

“Dan biadab!” Syah­ban­dar menam­bahi. “Arakmu cocok sekali hari ini”.

“Untuk Syah­ban­dar Tuban ter­baik, arak ter­baik. Memang biadab. Tuan 1 Sang Patih, Tuan, orang ke dua, dibu­nuh begitu saja. Mayat­nya dibi­ar­kan meng­ge­le­tak busuk di alun-alun, dir­u­bung lalat, burung, dan dir­o­bek-robek anjing. Dan tiada seo­rang Islam pun meme­li­ha­ra­nya. Dan mereka meng­aku Islam pula, Tuan.”

“Sudah sela­yak­nya… orang-orang jahil, bodoh itu.”

“Tahu­kah Tuan, cet­bang-cet­bang dipa­sang di seke­li­ling bandar, di balik semak-semak?” tiba-tiba Yakub meng­a­lih­kan per­ca­kapan.

“Siapa yang tidak tahu? Uh, apa arti­nya cet­bang?”

“Sahaya kha­wa­tir, Tuan. Kea­daan begini sunyi. Sahaya lihat sen­diri kapal-kapal perang Tuban pada ber­la­buh di Gresik. Orang-orang Gresik pada ber­nafsu untuk menye­wa­nya ke Maluku.”

“Tentu tak ada yang menye­wa­kan.”

“Memang tak ada, Tuan.”

‘Tuban hanya menunggu giliran saja. Yakub. Apa lagi yang kau kua-tirkan?”

“Boleh jadi Demak sana mem­bantu.”

Mula-mula Yakub hendak menun­tut upah untuk kete­rang­an­nya. Tak jadi. Kege­li­sahan sen­diri dan kea­manan yang ter­gan­tung pada jaminan Tholib Sung­kar Az-Zubaid menye­bab­kan ia mengen­da­li­kan diri. Kemu­dian memu­lai dengan ragu-ragu.

“Di Jepara sedang ter­jadi sesu­atu, tuan.”

Syah­ban­dar Tuban itu pura-pura tidak ber­mi­nat, tetapi mata­nya yang bulat itu meli­rik seke­jab di bawah kening­nya.

‘Tentu saja,” sam­but­nya tak peduli untuk men­ce­gah kelu­ar­nya upah. “Masa seo­rang Syah­ban­dar bisa tidak tahu? Lagi pula kau sudah ter­lalu banyak men­da­pat uang dari pundi-pun­diku,” kata­nya lagi pura-pura tidak ter­ta­rik.

“Biar pun sahaya sudah banyak mene­rima dari Tuan. Biar pun Tuan sudah tahu, rasa-rasa­nya…,” akhir­nya Yakub tak dapat mena­han nafsu untuk men­da­pat upah juga, “rasa-rasa­nya Tuan perlu juga menge­lu­ar­kan barang sereal. Tidak. Tidak rugi Tuan. Yakub tak pernah meru­gi­kan orang.”

“Jangan ter­lalu rakus, Yakub,” Syah­ban­dar mena­si­hati, “kata­kan saja apa yang kau keta­hui. Barang­kali tidak cocok dengan yang kuke­ta­hui dengan sebe­nar-benar­nya.”

Suatu keri­butan meng­hen­ti­kan pem­bi­ca­raan. Yakub ber­diri dan gugup. Tholib Sung­kar mene­guk arak.

“Apa itu. Tuan Syah­ban­dar?” mata Yakub men­jadi liar. “Lihat, Tuan,” ia menu­ding ke jalanan. Berdua mereka keluar dari warung dan meli­hat kuncir Liem Mo Han di balik pung­gung, juga ber­ja­lan ke arah bandar.

“Masya­al­la­a­a­aah!” teriak Syah­ban­dar waktu dili­hat­nya sebuah kapal Peranggi telah ber­la­buh dan meng­i­kat­kan tali pada patok der­maga. “Sudah gila penunggu menara itu!” teri­ak­nya dan lari ter­ta­tih-tatih seperti orang gila menuju ke pela­buhan.

Ber­pu­luh-puluh orang tak dike­nal telah padat meme­nuhi der­maga. Dan Syah­ban­dar Tuban tak dapat meli­hat apa yang sedang ter­jadi di antara padatan orang itu dengan kapal. Ia hanya dapat ber­te­riak-teriak di bela­kang padatan untuk minta jalan. Di depan­nya orang ber­te­riak-teriak lebih keras lagi. Ia men­coba meng­uak dan mene­ro­bos. Sia-sia. Dan ia sudah dapat bayang­kan nakhoda dan anak buah kapal itu sedang turun tapi diha­lang-halangi oleh mereka.

Padatan orang itu kemu­dian dike­ta­hu­i­nya ber­sen­ja­ta­kan tong­kat kayu.

Ia meli­hat Liem Mo Han mene­li­sip di antara mereka dan men­jadi bagian dari mereka. Kemu­dian bukan hanya pung­gung dan kun­cir­nya, juga selu­ruh badan­nya hilang di dalam kepa­datan manu­sia itu.

“Ming­gir! Ming­gir!” sayup-sayup ia dengar teriak seo­rang Por­tu­gis dalam Melayu. “Pang­gil­kan Syah­ban­dar. Fran­cisco de Sa perlu dila­yani.”

“Syah­ban­dar tak ada!” teriak yang lain men­ja­wab.

“Syah­ban­dar sudah mampus!” teriak yang lain.

Men­de­ngar itu Tholib Sung­kar Az-Zubaid naik pitam. Dengan tenaga lemah­nya ia meng­uak-nguak lagi di sana dan di sini, juga tanpa hasil. Ia angkat tinggi-tinggi tong­kat­nya dan mene­gak­kan bong­kok ber­ja­lan kian kemari pena­saran, ber­te­riak: “Ada di sini Tuan Syah­ban­dar! Ada di sini!”

Seruan-seruan dari padatan manu­sia itu seperti dise­ngaja meneng­ge­lam­kan teri­ak­an­nya. Ia mulai mena­rik dan men­do­r­ong, menye­ru­dug dan mene­ro­bos. Keku­at­an­nya tak men­cu­kupi.

“Sini Syah­ban­dar, Tuan Syah­ban­dar!” pekik­nya.

Seka­rang ia melon­jak-lonjak seperti burung gereja. Dan tangan­nya melam­bai-lambai. Tong­kat­nya pun ber­ki­bar-kibar. Dan tetap sia-sia.

“Beri jalan!” pekik Fran­cisco de Sa. “Por­tu­gis akan temui Sang Adi­pati.”

“Gusti Adi­pati tak mene­rima siapa pun!” orang ber­te­riak ber­ba­reng dengan ber­ba­gai cara dan nada.

“Kem­bali kalian, Peranggi!”

“Ayoh, kem­bali!”

“Bukan cara Por­tu­gis diper­la­ku­kan begini!” pekik de Sa.

“Tuan Syah­ban­dar ada di siniii-iiiii!” Tholib Sung­kar mera­ung. Ia kem­bali meng­uak dan menyi­bak, menye­ru­dug dan men­do­r­ong. Tetap tanpa hasil. “Buka jalan untuk Tuan Syah­ban­dar!”

Pagar manu­sia di depan­nya tidak meng­gub­ris, bahkan mene­ngok ke bela­kang dan mener­ta­wa­kan­nya bera­mai-ramai.

Seka­rang Syah­ban­dar itu ber­seru-seru dalam Por­tu­gis: “Tuan-tuan, Tuan Syah­ban­dar ada di sini,” sambil meng­ang­kat tong­kat dan melon­jak-lonjak lagi seperti burung gereja.

Fran­cisco de Sa di depan sana naik pitam. Kul­it­nya yang keme­rahan nampak jadi coklat. Cuping hidung­nya kem­bang-kempis.

“Yesus! Bunyi­kan meriam!” perin­tah­nya dalam Melayu.

“Beri jalan!” raung Jesus Laslo, pengiring­nya. “Kalau tidak kami akan buka dengan cara kami sen­diri,” dalam Melayu.

Orang ber­so­rak-sorai mener­ta­wa­kan dan meng­e­jek.

“Jangan ragu-ragu,” perin­tah de Sa dalam Por­tu­gis, “kem­bali dan bu nyikan.”

“Kalian Peranggi!” tuding Liem Mo Han dalam Por­tu­gis, “yang letak kan keku­atan pada meriam semata. Lepas­kan semua pelu­r­umu. Habis­kan semua obatmu!”

“Siapa bicara Por­tu­gis itu?” tanya Fran­cisco de Sa melo­tot. “Kata­kan pada anjing-anjing ini, Por­tu­gis akan menem­bak!”

“Kami bisa menem­bak kalian lebih dulu. Pergi! Ting­gal­kan Tuban!” jawab Liem Mo Han.

Kem­bali orang ber­so­rak-sorai malahan ber­jing­k­rak.

Meli­hat pem­be­sar­nya berada dalam bahaya, awak kapal Por­tu­gis mulai meng­a­lir turun dari kapal mem­bawa segala macam alat yang dapat diam­bil. Mereka tak mem­bawa musket.

Meli­hat awak kapal turun hendak menye­rang padatan manu­sia itu mulai mema­in­kan tong­kat mereka dan meng­u­sir, memaksa dan menyo­r­ong mereka kem­bali ke kapal.

Orang pun mera­ung-raung senang sambil mema­in­kan tong­kat.

Awak kapal yang belum men­da­pat­kan daratan di bawah kaki ber­ce­pat masuk ke dalam kapal di bawah hujan tong­kat. Juga Fran­cisco de Sa dan Jesus Laslo tidak urung ter­paksa masuk ke kapal juga.

Sese­o­rang di antara padatan manu­sia itu mele­pas­kan tali kapal. Orang makin ramai ber­so­rak ber­jing­k­rak melam­bai-lam­bai­kan tong­kat dan tangan, ber­te­riak-teriak.

“Pergi! Ayoh pergi! Kem­bali ke Malaka! Kem­bali ke Peranggi! Ting­gal­kan Tuban!”

“Kapal celaka! Pergi!”

Kapal Por­tu­gis itu mema­sang layar. Tak ada seo­rang pun di antara mereka men­coba menyerbu masuk ke dalam. Dan kapal itu mulai ber­ge­rak men­ja­uhi der­maga. Di der­maga sen­diri orang terus juga mele­dak dan meng­e­jek.

“Fran­cisco de Sa akan datang lagi!” teriak Por­tu­gis itu. “Awas!”

Sete­lah kapal ber­ge­rak ke tengah, seperti dipe­rin­tah­kan oleh tenaga gaib orang-orang di der­maga itu mulai ber­la­rian mening­gal­kan pela­buhan, menub­ruki para peda­gang yang juga ber­la­rian hendak datang ber­ju­alan. Barang-barang mereka ber­pe­lan­tingan kocar-kacir, ayam-ayam bebas ber­ter­bangan dan kam­bing dan babi men­da­pat kesem­patan untuk ikut ber­jing­k­rak dengan maji­kan­nya.

Waktu orang-orang ber­tong­kat sudah lenyap dari pela­buhan, para peda­gang mengum­pul­kan barang dagang­an­nya yang beran­takan. Tak banyak jumlah mereka. Dan selain mene­mu­kan semua barang sen­diri mereka mene­mu­kan juga tuan Syah­ban­dar Sayid Habi­bul­lah Almasa-wa ter­te­lung­kup di lebuan seha­bis ter­in­jak-injak oleh orang banyak.

Sese­o­rang meno­long­nya ber­diri dan mem­ber­sih­kan lebu yang mele­kat pada kulit dan pakai­an­nya.

“Tong­katku!” perin­tah­nya.

Orang mene­mu­kan tong­kat itu tanpa keru­sakan dan menye­rah­kan ke pada­nya. Ia mene­ri­ma­nya dengan mem­be­re­ngut.

“Tar­busku!” perin­tah­nya lagi.

Orang tak meng­erti mak­sud­nya, dan Syah­ban­dar naik pitam.

“Tarbus! Goblok,” waktu dili­hat­nya tarbus itu meng­ge­le­tak penyok di ping­gir jalan, hilang warna merah­nya ber­ganti dengan coklat muda lebu, ia ber­ja­lan ter­seok-seok men­de­kat­i­nya, ber­jong­kok sambil memi­jit! pung­gung dan meng­am­bil­nya, mem­ber­sih­kan­nya dari lebu, kemu­dian men­ci­um­nya.

Peda­gang-peda­gang pada mengu­tuk dan memaki mening­gal­kan daerah bandar.

Ting­gal­lah dia: Syah­ban­dar Tuban Tholib Sung­kar Az-Zubaid alias Sayid Mahmud Al-Badaiwi alias Sayid Habi­bu­l­iah Alma­sawa. Ia ber­diri menge­na­kan tar­bus­nya kem­bali ber­ja­lan ter­pin­cang-pin­cang bertun-jangan pada tong­kat­nya.

Diba­lik semak-semak di luar pela­buhan cet­bang-cet­bang bikinan pandai besi Tran­tang yang ber­ge­lang-gelang itu telah ditu­ju­kan pada kapal Por­tu­gis. Dan lambat-lambat tapi pasti kapal itu mulai sema­kin jauh mening­gal­kan jarak tembak. Dari keja­uhan nampak tinggi, besar, dengan orna­men haluan yang indah lagi gagah.

Dan kalau orang meng­a­lih­kan pan­dang dari kapal itu pada pela­buhan akan nampak oleh­nya seo­rang jang­kung agak bong­kok, sete­ngah baya, ber­tar­bus merah, ber­diri seo­rang diri di der­maga meng­ha­dap ke laut, dan kapal Peranggi yang sedang men­jauh. Dengan tangan kanan ia melam­bai-lam­bai­kan tangan memang­gil kem­bali kapal ter­se­but dan dengan tangan kiri ber­te­le­kan pada tong­kat­nya.

Kapal itu tak mem­per­ha­ti­kan­nya. Dan ia menyum­pah-nyum­pah dalam semua bahasa yang dike­nal­nya, dari yang paling enteng sampai yang paling mesum. Kapal itu tetap tak peduli dan sema­kin men­jauh.

“Di sini Syah­ban­dar! Di sini Tuan Syah­ban­dar!” sua­ra­nya parau meng­hiba-hiba.

Seka­rang imbauan Syah­ban­dar dija­wab oleh kapal. Meriam melem­par­kan peluru-pelu­ru­nya ke bandar. Bon­do­ngan tem­bakan per­tama menye­bab­kan Tholib Sung­kar Az-Zubaid ter­je­rem­bab ke labuhan. Peluru-peluru men­de­sis ke atas kepa­la­nya dan suara gemer­a­sak meng­han­cur­kan atap-atap bangu­nan pasar. Bon­do­ngan tem­bakan kedua memaksa Syah­ban­dar merang­kak-rang­kak sambil menye­ret tong­kat. Peluru-peluru itu mem­po­rak-poran­da­kan gudang-gudang pela­buhan. Ia rebah­kan kem­bali kepa­la­nya ke tanah, mene­ngok ke kiri dan memang­gil-mang­gil Tuban. Muka­nya yang tipis ber­hi­dung pan­jang beng­kung itu meng­ha­dap ke warung Yakub.

Pewa­rung itu tidak keli­hatan.

Bon­do­ngan peluru yang ke tiga mem­bi­kin Tholib ter­pe­lo­sok pada tangan­nya dan ter­gu­ling ia dari rang­ka­kan­nya.

Sebuah di antara peluru-peluru itu masuk ke dalam warung tidak mela­lui pintu, mela­lui din­ding, gemer­a­sak mener­jang papan dan geme­rin­cing mener­jang cawan-cawan arak dan barang-barang dagangan.

Bon­do­ngan tem­bakan ke empat mem­bi­kin Syah­ban­dar itu ber­henti dari rang­ka­kan­nya. Sebuah peluru jatuh di depan kamar kerja kesyah­ban­daran.

Kemu­dian Por­tu­gis meng­hen­ti­kan tem­bak­an­nya.

Dari daerah ping­giran pela­buhan cet­bang-cet­bang mulai menyam­but keden­taman. Peluru-peluru beter­bangan seperti bin­tang-bin­tang ber­a­lih ber­bun­tut api dan ber­ke­pala ledakan, ber­le­tusan di udara atau jatuh ke laut. Tak sebu­tir pun men­ca­pai sasaran.

Syah­ban­dar Tuban nampak tak ber­ge­rak lagi. Ia diam ter­te­lung­kup di atas lebuan. Ia meng­u­cap­kan syukur Alham­dul­il­lah, karena yakin tak ada sepa­sang dan sebe­lah mata pun jadi saksi atas kemu­da­rat­an­nya. Bibir­nya tak henti-hen­ti­nya ber­ko­mat-kamit.

Di daerah ping­giran pela­buhan, Braja ber­to­lak ping­gang meng­a­wasi peluru-pelu­ru­nya yang ber­ter­bangan sia-sia. Dengan sekali gerak ia meng­ung­guli peman­dangan itu. Ia kepal­kan tangan jadi tinju, mem­ba­lik lagi dan meng­a­cu­kan tin­ju­nya pada kapal Por­tu­gis yang makin men­jauh.

Dari bela­kang­nya ia dengar bebe­rapa orang mulai menyum­pahi pandai-pandai Tran­tang. Kemu­dian ia dengar juga yang lain mengu­tuki pandai-pandai peluru.

Waktu ia mene­ngok ke bela­kang dili­hat­nya dua orang sedang teng­ge­lam dalam bisik-bisik. Dan mereka nampak kaget ter­pan­dangi oleh pemim­pin­nya.

“Jangan punya piki­ran buruk ter­ha­dap Sena­pa­tiku,” tegur­nya. “Memang dia orang desa namun dia lebih dari­pada hanya kalian. Tutup mulut kalian.”

Walau demi­kian ia sen­diri merasa ber­ke­cil hati meli­hat cet­bang tak mampu menan­dingi meriam. Dan dengan pera­saan itu pula ia ber­ja­lan ke bawah seba­tang pohon. Ditu­lis­kan­nya sepu­cuk surat di atas lontar, meng­ha­pus­kan­nya dengan jelaga yang ter­sim­pan dalam daun pisang kering dalam ikat ping­gang­nya.

“Cari Sena­pati sampai dapat,” perin­tah­nya pada dua orang yang tadi ber­bi­sik-bisik. “Sam­pai­kan lontar ini. Braja menunggu di tempat. Pergi.”

Sete­lah mene­rima lontar, dua orang melom­pat ke atas kuda­nya, mema­suki kota, kemu­dian ke peda­laman.


Bab 22

Pertempuran Penentuan

Pasukan gajah itu ter­je­bak masuk ke dalam perang­kap. Parit di depan­nya lebur, curam dan berair. Tanah di bawah kaki ter­lalu ber­lum­pur dan licin. Dari semak-semak di sebe­rang parit anak panah api ber­le­pasan seperti bin­tang ber­a­lih. Dan api yang dilem­par­kan itu jauh lebih besar dari­pada sebe­lum­nya. Kini dike­ta­hui ten­tara Rajeg meng­gu­na­kan alat pelem­par api.

Bina­tang-bina­tang rak­sasa itu ber­la­rian gugup tak ter­ken­dali.

Seperti bunyi gunung rubuh dari sebe­rang parit bera­tus-ratus ken­to­ngan bambu dipu­kul ber­ba­reng.

Bina­tang-bina­tang rak­sasa itu bingung.

Dari kubu kayu di atas gajah­nya Kala Cuwil mem­beri isya­rat dengan tombak pim­pinan, meme­rin­tah­kan agar segera mening­gal­kan tempat itu.

Tak ter­de­ngar sorak-sorai balat­en­tara Tuban.

Seba­lik­nya ten­tara Rajeg di balik semak-semak di sebe­rang parit ber­so­rak dan ber­ga­lau dengan ratusan ken­to­ngan sua­ra­nya riuh rendah mem­be­lah langit. Dengan bingung­nya gajah-gajah pasukan yang dita­kuti itu akan mem­bu­nuh pasukan kaki pengiring­nya, meno­lak pasang dan ber­lari-larian liar meru­sak tubuh balat­en­tara sen­diri.

“Mundur! Cepat mundur!” pekik Kala Cuwil sambil menaik-turun­kan tombak dengan kedua belah tangan.

Di sam­ping­nya ber­diri Wirang­gal­eng yang men­coba menem­busi balik semak-semak di sebe­rang parit dengan pan­dang­nya.

“Tak pernah pasukan gajah Tuban ter­u­sir seperti ini. Sena­pa­tiku. Dalam cerita mana pun tak pernah ada. Mema­lu­kan,” gumam Kala Cuwil. “Dan hanya mela­wan orang desa!”

“Husy. Bukan soal mau atau tidak, orang desa atau orang kota. Seben­tar lagi meriam mereka akan menye­rang. Sung­guh bagus gajah-gajah ini pada ber­la­rian.”

Pasukan kaki pengiring gajah dengan ragu-ragu men­ja­uh­kan diri dari bina­tang-bina­tang yang gugup takut itu. Tanah yang licin ber­lum­pur di bawah kaki seben­tar-bentar menye­bab­kan orang jatuh ter­ge­lin­cir. Gajah-gajah itu dapat meng­in­jak mereka.

Bebe­rapa ekor yang agak dapat diken­da­li­kan ber­ge­rak menuju ke ujung-ujung parit untuk sampai pada musuh. Tapi Kala Cuwil dengan tombak pim­pinan men­ce­gah mereka mene­rus­kan niat­nya dan meme­rin­tah mundur sama sekali.

Waktu akhir­nya bina­tang-bina­tang itu dapat diun­dur­kan dengan susah-payah, peluru-peluru meriam ber­ja­tuhan di ujung-ujung parit yang telah diko­song­kan. Peluru-peluru itu kemu­dian juga ber­ja­tuhan tepat di tengah-tengah medan jebakan.

Seekor gajah yang ter­kena pada ping­gul­nya ter­su­ling sambil jatuh ke sam­ping. Seperti ditu­ang­kan pra­ju­rit-pra­ju­rit yang berada di dalam kotak kubu ter­lon­tar ke bumi dan tak bangun lagi. Bina­tang yang ter­kena itu men­coba ber­diri, Ia jatuh lagi.

Dari sebe­rang parit orang ber­so­rak-sorai sema­kin mening­kat. Sorak keme­nangan.

Sebuah peluru telah menyam­bar kotak ben­teng seekor gajah. Kotak itu pecah. Tali­nya putus dan isinya ber­tum­pah ke tanah sebe­lum kotak itu sen­diri jatuh. Bina­tang yang kaget dan tanpa pawang itu lari, lari gila ke mana dia suka tanpa bisa diha­lang-halangi.

Kala Cuwil dengan tombak pim­pinan terus sibuk mem­be­ri­kan perin­tah mundur.

Gajah yang ter­kena peluru itu sambil ber­su­ling-suling marah dan kesa­kitan men­coba lagi ber­diri. Sia-sia. Suling­nya makin lama makin pelahan, kemu­dian ter­henti dan ber­ganti dengan suara ter­hi­sak-hisak. Dari mata­nya mene­tes air mata. Dan makin lama ia makin jauh diting­gal­kan oleh yang lain-lain. Meriam ber­henti menem­baki.

Di luar dugaan, dengan alat-alat yang telah diper­si­ap­kan, ten­tara Rajeg keluar dari semak-semak, menye­ber­a­ngi parit dengan jajaran bambu, mema­suki perang­kap dan mulai menge­jar. Anak panah­nya ber­ham­buran seperti hujan.

Ban­teng Wareng meng­ham­piri gajah Sena­pati seba­gai­mana telah dipe­rin­tah­kan kepa­da­nya.

“Kudamu takut pada api?” tanya Sena­pati Tuban.

‘Takut, Sena­pa­tiku. Tapi nam­pak­nya mereka telah ber­henti ber­main api. Mereka meng­gu­na­kan anak panah biasa.”

“Kelu­ar­kan pasuk­anmu dari per­se­m­bu­nyian. Gajah mundur, kau maju. Tunggu sampai seba­gian ter­be­sar mereka turun menge­jar. Serang mereka dari bela­kang. Mereka mem­bu­tuh­kan waktu untuk melem­par­kan apinya. Gajah akan ber­ba­lik lagi.”

Seperti angin Ban­teng Wareng lari tanpa kesu­l­itan di atas tanah basah ber­lum­pur untuk men­jem­put pasuk­an­nya yang ber­se­m­bu­nyi di dalam hutan.

Waktu selu­ruh pasukan gajah telah mening­gal­kan medan jebakan, kecu­ali yang telah ter­ka­par, dan telah keluar dari jarak tembak meriam, mun­cul­lah pasukan kuda Ban­teng Wareng, lang­sung ber­pacu dalam bentuk supit udang, mem­bi­ar­kan pasukan gajah ber­lalu di tengah-tengah. Mereka mema­suki medan mela­lui ping­giran jebakan, di atas tanah basah, ber­lum­pur dan licin. Tapi untuk kaki kuda sama sekali tiada halangan. Cambuk perang ber­ge­le­ta­ran.

Ten­tara Rajeg yang sedang menye­ber­a­ngi parit di atas titian bambu, segera ber­ba­lik kem­bali lari ke tempat asal sambil mem­per­i­ng­at­kan teman-teman­nya.

Di dalam jebakan ten­tara Rajeg tak dapat mela­ri­kan diri di atas tanah ber­lum­pur itu. Mereka ber­ge­rak lambat seperti kepi­ting. Lumpur yang meng­hi­lang­kan kese­tim­bangan. Orang ber­ja­tuhan ter­pe­le­set dalam jebakan sen­diri dan jadi mangsa pedang dan cambuk perang. Pekik-jerit yang memi­l­ukan meng­gan­ti­kan sorak-sorai.

Dengan kem­ba­li­nya pasukan gajah mema­suki medan jebakan, gerakan penum­pasan dimu­lai. Meriam tak lagi ber­se­m­bu­nyi. Dan hujan lebat jatuh kem­bali.

“Apa boleh buat,” Wirang­gal­eng ber­gu­mam, “penum­pasan ini akan mema­tah­kan keku­atan mereka.”

“Ten­tara Tuban pela­rian belum lagi mereka turun­kan, Sena­pa­tiku,” Kala Cuwil mem­per­i­ng­at­kan.

“Mahmud Barjah takkan sebo­doh itu mele­pas­kan anak buah ter­baik dalam per­tem­puran mur­ahan begini. Dia mem­bu­tuh­kan untuk keme­nangan dan kea­man­an­nya sen­diri. Lihat Kala Cuwil, aku tak suka pada penum­pasan ini tapi apa boleh buat, yang sekali tak bisa dihin­dari lagi. Keka­lahan mereka selama ini, dan kega­galan ber­tubi, dengan penum­pasan ini moga-moga akan mema­tah­kan mereka sama sekali.”

“Tidak patut Sena­pati ber­be­las kasihan.”

“Mereka ini hanya petani-petani seperti aku, Kala Cuwil, yang beru­bah jadi pesu­ruh di tangan Rangga Iskak,” ia mena­rik napas pan­jang. “Boleh jadi ada di antara mereka itu sanak dan kenal­anku sen­diri.”

“Apa boleh buat.”

“Ya, apa boleh buat. Dan sete­lah ini ting­gal pra­ju­rit-pra­ju­rit sejati saja masih akan ber­la­wan.”

Ter­gu­bal pada lumpur dan hujan ten­tara Rajeg ini ter­je­bak dalam jebakan sen­diri. Mereka tak dapat ber­buat sesu­atu pun seba­gai pra­ju­rit dalam perang. Mem­bawa diri sen­diri pun sudah sulit.

Men­je­lang jatuh­nya malam ten­tara Rajeg di dalam jebakan itu ditum­pas oleh pasukan kuda Ban­teng Wareng dan pasukan gajah Kala Cuwil tanpa dapat mela­wan.

Dan malam itu hujan ber­henti.

Langit merah dan bulan pun meng­am­bang dengan manis­nya. Balat­en­tara Tuban telah mesang­grah jauh dari bekas medan perang.

Pada malam seperti itu utusan Braja datang meng­ha­dap Wirang­gal­eng, menyam­pai­kan bebe­rapa lembar lontar. Mereka ber­diri di luar gubuk menunggu dipang­gil masuk.

Duduk di antara kepala-kepala pasukan Sena­pati mem­ba­ca­nya dalam hati. Seben­tar saja. Dipang­gil­nya dan orang utusan itu masuk, dan di hadapan para kepala pasukan ia ber­kata: “Keta­hu­i­lah, dalam soal meriam memang belum ada yang dapat menan­dingi Peranggi. Kita akui kenya­taan itu tanpa harus ber­ke­cil hati, Kita memang hanya punya cet­bang, dan hanya itu yang kita miliki. Jangan kalian punya piki­ran Sena­pati hendak meme­rin­tah­kan kalian ber­pe­rang mela­wan meriam Peranggi. Kita akan mela­wan meriam Peranggi dengan cara-cara yang nanti akan kita cari. Pasukan penga­wal pasukan Braja, aku tugas­kan untuk men­ja­uh­kan Peranggi dari pantai sebe­lum Rangga Iskak kalah, bukan untuk mela­wan meriam mereka. Kalau cara-cara meng­ha­dapi mereka tak juga dapat dite­mu­kan, kelak kita akan hadapi mereka di darat. Balik kau pada Braja, sam­pai­kan kata-kataku ini dan jangan ada seo­rang pun yang ber­ke­cil hati, hanya karena cet­bang tak dapat kalah­kan meriam.”

Sete­lah mereka pergi baru ia tanyai Rang­kum: “Bagai­mana menu­rut per­hi­tung­anmu? Apakah ten­tara Rajeg sudah banyak kehi­langan keku­at­an­nya?”

“Ter­lalu banyak, Sena­pa­tiku.”

“Ting­gal berapa kira­nya keku­at­an­nya?”

“Kira-kira masih cukup untuk ber­tem­pur dua kali.”

“Dua kali!” Sena­pati Tuban meng­u­langi. “Bagai­mana pen­da­patmu Ban­teng Wareng?”

“Meli­hat kuat­nya tekanan yang ditin­das­kan­nya pada kita, kira-kira aku menye­tu­jui pen­da­pat Rang­kum.”

“Apa pun keku­at­an­nya,” Kala Cuwil menam­bahi, “yang ter­sisa sudah tidak akan lebih kuat.”

“Dua kali per­tem­puran lagi”, Sena­pati meng­u­langi kata-kata Rang­kum. “Itu tidak banyak. Menu­rut per­hi­tung­anku mereka masih men­ca­dang­kan satu induk dengan ten­tara Tuban pela­rian seba­gai inti. Seti­dak-tidak­nya kita menye­tu­jui, di hadapan kita masih ada per­tem­puran penen­tuan.”

“Pasukan kaki meng­a­lami banyak keru­sakan hari ini, Sena­pa­tiku.”

“Ya, aku sudah meli­hat. Biar pun demi­kian, Rang­kum, seba­gian pasukan yang hari ini tidak ber­ge­rak, aku perin­tah­kan menyi­siri daerah sebe­rang parit sampai men­je­lang fajar dengan meng­gu­na­kan per­to­longan bulan. Bila besok mata­hari terbit aku harap kalian sudah dapat temu­kan meriam-meriam itu. Pasukan-pasukan tidak ber­is­ti­ra­hat di tengah jalan sebe­lum fajar.”

Dan pasukan kaki itu ber­ge­rak dengan pelan dan diam-diam di atas tanah yang licin ber­lum­pur, di bawah terang bulan dan langit yang cerah.

Untuk per­tama kali keku­a­sa­an­nya Rangga Iskak mulai merasa hidup di bawah bayang-bayang orang lain: Mahmud Barjah. Selama jadi Syah­ban­dar, sang Adi­pati pun tak pernah dira­sa­i­nya seba­gai ata­s­an­nya, lebih banyak seba­gai sekutu dan saha­bat dalam menge­duk keun­tungan dari laut dan bandar. Mahmud Barjah lain. Ia jelas jawab­an­nya tetapi dengan pasukan yang ada di tangan­nya, ia tumbuh jadi keku­atan yang meng­an­cam keku­a­sa­an­nya. Dan ia tak ber­buat sesu­atu apa ter­ha­dap­nya. Pasukan lebih men­de­ng­ar­kan dia dari­pada dir­i­nya.

Seka­rang Pang­lima Rajeg itu sema­kin mem­bi­kin hati­nya cem­buru. Bebe­rapa kali Mahmud telah meno­lak pang­gil­an­nya. Sudah lama tak muncul di Rajeg. Ia selalu berada di tengah-tengah anak buah­nya yang ber­a­sal dari Tuban.

Rangga Iskak alias Iskak Ind­ra­jid, Kiai Beng­gala Sunan Rajeg merasa kewi­ba­wa­an­nya mulai surut. Penga­ruh­nya ter­ha­dap pen­du­duk, yang telah diba­ngun­kan­nya siang-malam kini dengan sangat mudah tanpa kerja, diam­bil begitu saja oleh Mahmud Barjah.

Pernah ter­pi­kir oleh­nya, untuk memu­lih­kan kewi­ba­wa­an­nya hanya ada satu jalan ter­buka bagi­nya: menying­kir­kan anak muda itu. Tetapi bagai­mana jalan­nya? Pang­lima itu selalu berada di tengah-tengah anak buah­nya. Anak buah­nya dengan dia mem­pu­nyai satu ikatan nasib di hadapan Tuban, tetapi tidak punya ikatan mesra deng­an­nya seba­gai seo­rang Sunan. Mereka lebih dekat pada Pang­li­manya.

Dan dengan gemas ia menya­dari, kini ia men­jadi ter­gan­tung pada­nya tanpa semau hati­nya sen­diri. Balat­en­tara Rajeg pun telah men­jadi jari-jari pada lengan Sunan.

Manan dan Rois, andal-anda­l­a­n­nya selama ini, juga lebih men­de­ng­ar­kan Mahmud.

Dan batuk yang suka menyam­bar-nyam­bar dada­nya itu pun tidak kurang memu­sing­kan.

Bila ia renung­kan segala sesu­atu yang ter­jadi, ter­nyata kurang sesuai, kadang banyak per­ten­tangan dengan segala yang diim­pi­kan­nya selama ini. Dan bila ia renung­kan segala yang diim­pi­kan­nya, kadang ia dike­jut­kan oleh kenya­taan, bahwa sesung­guh­nya maksud untuk meng­ha­lau Adi­pati Tuban seba­gai pele­pasan dendam ter­ha­dap­nya­lah sesung­guh­nya yang men­do­r­ong meng­ang­kat diri jadi Sunan ini. Per­so­alan Peranggi, Hindu Blam­bangan, Hindu Paja­jaran, Islam Demak, yang hendak diti­a­da­kan­nya, hanya­lah pem­be­naran belaka atau mak­sud­nya yang per­tama-tama.

Dan semua bangu­nan impian ini bisa runtuh beran­takan sekali Mahmud Barjah menyen­tuh­nya dengan sebuah saja di antara jari-jari­nya. Bukan hanya kedu­dukan Sunan, juga takhta dan mah­kota Tuban lebih dekat pada tangan Mahmud dari­pada Sunan.

Seka­rang ia sudah mulai memas­ti­kan kalau Pang­lima Rajeg ber­ha­sil menak­luk­kan Tuban, dia tak mung­kin menye­rah­kan takhta dan mah­kota itu pada Sunan. Dia akan marak sen­diri, dan pasti akan lebih busuk dari­pada Adi­pati Tuban sen­diri. Dia hanya orang kecil yang tak pernah menik­mati keku­a­saan besar. Sekali keku­a­saan besar itu ter­geng­gam oleh­nya, segala nafsu-nafsu hewan­nya akan mem­bun­cah tanpa ken­dali.

Dan Rangga Iskak meni­lai dir­i­nya jauh lebih baik dan jauh lebih ber­peng­a­laman, lebih ber­ilmu dari­pada sepu­luh atau lima puluh orang sema­cam Mahmud Barjah. Takhta dan mah­kota Tuban lebih layak jadi mil­ik­nya. Ia tak dapat melu­pa­kan ting­kah laku Pang­lima waktu meng­hu­kum Manan dan Rois, hanya karena mereka berdua telah menem­bak­kan meriam atas perin­tah­nya. Ia masih dapat meng­i­ngat air muka orang muda itu yang mele­ceh­kan perin­tah­nya.

Kea­daan memang ber­kem­bang tidak seba­gai­mana ia kehen­daki.

Kalau yang itu juga yang ter­jadi, ke manakah dan di manakah mukaku akan kuse­m­bu­nyi­kan? Tempat yang masih ter­buka untuk dapat mena­ung­kan diri adalah Demak – satu-satu­nya keku­a­saan Islam yang nyata. Tapi musa­fir-musa­fir Demak itu tentu sudah mela­por­kan pada ata­s­an­nya bagai­mana sikap Sunan Rajeg ter­ha­dap Al-Fattah dan Sema­rang. Maje­lis Kera­jaan Demak kira-kira sudah mem­pu­nyai sikap pasti akan dir­i­nya.

Untuk meng­hi­bur diri sen­diri ia harus mem­pu­nyai patokan baru, titik tolak baru, untuk menyu­sun kem­bali sikap dan per­bu­atan yang akan datang. Dan patokan itu ialah Rangga Iskak Kiai Beng­gala Sunan Rajeg adalah seo­rang pri­badi yang lebih baik, lebih ber­pe­nge­ta­huan dan lebih ber­ilmu dari­pada siapa pun di Jawa ini, maka jatuh­nya takhta dan mah­kota Tuban pada dir­i­nya ber­arti berkah bagi selu­ruh kawula Tuban, untuk keme­nangan Tuban dan agama. Maka semua yang meng­ha­langi sikap dan per­bu­at­an­nya adalah juga musuh yang dika­lah­kan dan untuk dibasmi.

Dan musuh per­tama yang muncul dalam piki­ran­nya justru Mahmud Barjah.

Dari titik tolak itu ia telah ber­te­kad hendak mera­cun Pang­lima dengan racun Beng­gala yang ter­ke­nal dita­kuti di banyak negeri. Ia akan mera­cun­nya dengan hati-hati agar anak buah­nya tidak punya syak ter­ha­dap dir­i­nya. Kalau dia sudah ter­sing­kir­kan, Manan dan Rois akan men­jadi tangan kanan dan kir­i­nya, dan semua akan beres.

Tekad­nya itu ter­gun­cang, ia men­jadi bim­bang. Pada suatu malam tak ter­duga-duga Pang­lima Mahmud Barjah datang meng­ha­dap.

Sunan meng­am­bil sikap yang sangat hati-hati ter­ha­dap orang muda itu. Dan ia ber­janji tidak akan mem­be­ri­nya sesu­atu ban­tuan bila dia mem­bu­tuh­kan. Ia pun ber­janji takkan ber­ta­nya sesu­atu ten­tang jalan­nya perang. Ia harus mene­gak­kan kewi­ba­wa­an­nya. Dengan meng­ang­kat sua­ra­nya yang diang­gap­nya mengan­dung kepe­mim­pinan ia ber­ta­nya lunak: “Anakku, bukan­kah semes­ti­nya Tuban sudah jatuh ke tangan kita seka­rang ini?”

“Betul, Paman Sunan, seki­ra­nya laskar depan kita tidak ter­pan­cing oleh Ban­teng Wareng dalam per­tem­puran per­tama,” jawab Mahmud tenang.

“Bukan­kah ten­tara Tuban yang sebe­nar­nya ter­pan­cing?”

“Betul, Paman, mula-mula mereka, kemu­dian kita.”

Tak bisa tidak pem­bi­ca­raan akhir­nya ber­ki­sar soal jalan­nya perang juga.

“Bukan­kah kau belum lupa, kita harus mema­suki Tuban sebe­lum Peranggi masuk? Itu kau sen­diri yang telah ten­tu­kan. Perang­gi­lah musuh sesung­guh­nya.”

“Tidak keliru, Paman Sunan.”

“Jadi kapan Tuban dapat dima­suki?”,

“Keku­atan inti kita belum lagi ber­ge­rak.”

“Betul anakku, tetapi seka­rang ini kita yang kena serang terus-mene­rus, belum pernah menye­rang. Kapan kau menye­rang?”

Mahmud Barjah tak segera men­ja­wab, dan Sunan Rajeg pun tak men­de­sak­nya. Mereka ber­ha­dap-hadapan seba­gai orang lain, bahkan satu sama lain seakan baru saja menge­nal.

Sunan Rajeg meng­a­wasi wajah orang muda itu, yang pada suatu kesem­patan ter­tentu mau tak mau harus ia sing­kir­kan, dengan jalan apa pun, seha­lus dan seli­cin mung­kin. Orang ini tak akan nik­mati hidup muda­nya demi keme­nangan ajaran. Dia akan jadi korban syahid.

“Belum lagi tahu, Paman Sunan,” jawab Mahmud. “Ten­tara Tuban terus ber­ge­rak tidak menentu. Siang dan malam. Sunan diper­ki­ra­kan tuju­an­nya.”

“Kalau begitu ting­gal­kan mereka gen­ta­yangan men­cari kita di per­da­laman. Kita men­cari jalan lain masuk ke Tuban tanpa sepe­nge­ta­huan mereka. Semua tak ada yang ting­gal.”

Mahmud Barjah meng­ang­kat muka dan dengan ter­he­ran-heran mena­tap Sunan Rajeg. Ia lihat uban paman­nya itu telah sema­kin banyak juga. Ia meng­uji mata orang yang lebih tua dari ayah­nya sen­diri itu adalah yang dika­ta­kan­nya ber­main-main atau ber­sung­guh-sung­guh. Tetapi ia tidak mengi­a­kan.

Seba­lik­nya Sunan Rajeg meli­hat juga orang muda itu sudah nampak kurus, jeng­got dan kumis­nya kering, kotor dan mesum. Pada bibir­nya tak ada lagi senyum yang mele­ceh­kan seperti dulu. Bibir itu kini selalu ter­ta­rik tegang.

Mahmud Barjah tak bicara lagi kecu­ali minta diri, tanpa menga­ta­kan sesu­atu apa yang hendak diper­bu­at­nya.

Sunan Rajeg mem­pu­nyai dugaan ter­ha­dap sikap­nya, per­tama, orang muda itu karena peng­a­laman perang­nya dalam waktu pendek sekali telah men­jadi masak dan sedang menyi­ap­kan dir­i­nya men­jadi gunung berapi yang tak dapat diduga kapan akan mele­tus dan menyem­bur­kan lahar. Ke dua, ada kemung­kinan ia sudah mera­sai akan datang­nya ajal.

Ten­tang Mahmud Barjah ini ia harus menye­di­a­kan waktu khusus untuk memi­kir­kan­nya dengan men­da­lam….

Dengan menyam­pai­kan gagasan men­da­dak di bidang keten­ta­raan pada Mahmud, ia merasa keung­gul­an­nya men­jadi pulih. Mahmud sen­diri tak pernah punya gagasan sema­cam itu. Dan dengan pera­saan unggul yang pulih ini dengan agak senang ia men­du­duki tem­pat­nya di atas per­ma­dani pen­dopo.

Di pela­taran sana orang sudah pada duduk ber­ja­jar-jajar di atas tikar bawaan masing-masing. Sua­ra­nya kem­bali jadi lan­tang penuh keper­ca­yaan diri dan itu ber­arti juga pada per­tim­bangan-per­tim­bangan semula. Ia telah mulai dengan gaya dan cara­nya yang lama. Kemu­dian: “Mana Moham­mad Firman, itu bekas musya­fir Demak? Takkan bosan-bosan aku mem­per­i­ng­at­kan padamu: jangan lagi kau ikut-ikut menye­bar­kan kebo­hongan Demak. Adalah taka­bur meng­ang­gap semua orang bodoh tidak tahu sesu­atu. Setiap orang yang taka­bur tidak meng­gu­na­kan akal yang dibe­ri­kan oleh Allah kepa­da­nya. Ia tidak meng­gu­na­kan akal karena ia tak meng­gu­na­kan pan­ca­in­d­ra­nya sen­diri dengan baik. Lihat­lah, deng­ar­lah dengan baik segala apa di dunia ini, maka orang akan men­da­pat peng­er­tian. Dari peng­er­tian itu orang men­da­pat per­tim­bangan. Kalau tidak, seperti Demak dan musa­fir-musa­fir­nya yang taka­bur, sebe­nar­nya tak mau ten­tang mula dan ten­tang kemu­dian. Itu menya­lahi nikmat yang dika­ru­ni­a­kan Allah kepada kita.”

“Kalian masih ingat waktu armada Dampo Awang benar-benar tak dapat pulang ke nege­ri­nya karena per­gan­tian kaisar, bukan? Allah Maha Besar! Maka kapal-kapal Islam­lah yang kemu­dian ber­da­tangan dengan damai, juga untuk ber­da­gang rempah-rempah. Kalau armada Dampo Awang tidak kehi­langan keku­atan, mung­kin sekali kapal-kapal Islam tak ada kesem­patan untuk datang kemari, dan tahu aki­bat­nya? Ialah – semua pen­du­duk Jawa ini akan masih tetap kafir jahi­liah.”

“Alham­dul­il­lah, yang itu tidak ter­jadi. Kapal-kapal Islam datang tidak untuk menak­luk­kan, tidak untuk meng­ga­gahi per­da­gangan rempah-rempah, tidak meram­pas dan tidak mem­ba­jak. Hanya karena di jalan Allah­lah maka kapal-kapal ini lebih ber­ha­sil dari­pada armada Dampo Awang dengan kesem­patan yang sama. Kemu­dian Peranggi datang. Dia laku­kan segala-gala­nya yang busuk, ter­ma­suk meme­nuhi apa saja dan siapa saja kecu­ali keun­tungan. Semua dia tem­baki kapal Islam, Tiong­hoa dan Pri­bumi Nusan­tara. Kalau semua ken­da­raan laut binasa hanya Peranggi yang mera­jai laut­nya semua hamba Allah ini. Itu tidak boleh, itu menen­tang keten­tuan Allah, maka kita tidak akan mem­bi­ar­kan Peranggi mera­ja­lela. Dia musuh semua bangsa dan semua negeri. Semua sau­da­gar dan nakhoda tahu belaka itu. Dia harus diha­lau. Bumi ini dicip­ta­kan Allah untuk semua bangsa, bukan untuk Peranggi saja. Kunci untuk menga­lah­kan Peranggi ini seder­hana saja: lawan dia. Lawan kapal­nya, lawan orang­nya, lawan ajar­an­nya.”

“Satu negeri yang tidak mela­wan­nya, tidak punya niat untuk itu, seperti Tuban, adalah sama dengan mem­be­nar­kan Peranggi. Mem­be­nar­kan dia ber­arti tidak berada di jalan Allah. Hukum­nya adalah musuh. Dan negeri yang meng­e­mis-ngemis per­sa­ha­bat­an­nya, seka­li­pun hanya dalam hati saja, seperti Adi­pati Tuban, adalah musuh Allah itu sen­diri, karena dia sudah ber­se­kutu dengan iblis.”

“Memang keku­atan Peranggi ada pada meri­am­nya. Kuping kita dengar, mata kita meli­hat, per­tim­bangan kita meng­a­kui. Maka kita memang harus bisa bikin meriam sen­diri. Sebe­lum bikin, kita harus ber­u­saha men­da­pat­kan­nya. Dan kita telah men­da­pat­kan dua pucuk dengan jalan yang dibe­nar­kan oleh Allah.”

“Peranggi juga punya kele­mah­an­nya. Selama dia ber­ge­rak dengan kapal, maka dia pun ter­gan­tung pada bandar. Bagai­mana sikap kera­jaan bandar itu ter­ha­dap­nya seperti Tuban? Dan bukan­kah setiap negeri di Nusan­tara ini kera­jaan bandar? Kecu­ali Demak, dan kare­na­nya menyerbu Jepara untuk jadi kera­jaan bandar seperti yang lain-lain? Karena kera­jaan yang bukan kera­jaan bandar tidak pernah masuk hitungan? Kalau semua kera­jaan ber­si­kap seperti Tuban, selu­ruh Nusan­tara pasti jatuh dalam keku­a­saan Peranggi. Kalian meng­erti?”

Dan semua pen­de­ngar men­ja­wab meng­erti.

“Syukur Alham­dul­il­lah.”.

“Syukur Alham­dul­il­lah,” semua meng­ge­ma­kan. “Maka semua kera­jaan bandar yang tidak mela­wan Peranggi adalah musuh kita,” ia ter­ba­tuk-batuk. Badan­nya meleng­kung, kepa­la­nya dile­tak­kan di atas meja rendah di hadap­an­nya. Dan para tetua tak berani memi­ji­ti­nya. Hanya Mahmud Barjah yang berani laku­kan itu, tetapi ia tak ada.

“Tetapi ingat-ingat, tidak semua yang memu­suhi Peranggi adalah saha­bat kita. Orang-orang Tiong­hoa juga tidak suka pada mereka. Orang-orang Beng­gala per­begu juga tidak suka. Demak yang kata­nya Islam itu juga tidak suka itu. Dan mereka semua bukan saha­bat kita,” ia angkat tangan­nya untuk meya­kin­kan. “Semua itu memang bisa ber­satu mela­wan Peranggi, ter­ma­suk kita – Per­begu, Tiong­hoa dan Islam. Tapi ingat-ingat hanya Rajeg kera­jaan Islam per­tama-tama bila Tuban jatuh.” Ia ter­e­ngah-engah keha­bisan napas.

“Maka itu kalian lantas jadi meng­erti meng­apa Sema­rang dan Demak itu satu. Maka itu juga kalian lantas jadi meng­erti meng­apa kita tidak menyu­kai Demak. Kita lebih maju dari­pada Demak…. karena apa yang kita ker­ja­kan selama ini ada di jalan Tuban, bukan di jalan Dampo Awang.”

“Kan­jeng Sunan”, sese­o­rang menyela, “putra mah­kota Demak, Pange­ran Sab­rang Lor, seka­rang Adi­pati Unus Jepara, telah menye­rang Peranggi di Malaka. Kita sen­diri belum pernah ber­bukti meng­ha­dap­i­nya. Bukan­kah itu per­tanda mereka jauh lebih maju dari­pada kita?” Sunan Rajeg ter­tawa mele­ceh­kan.

“Mari aku ceri­tai kau, hai bekas musa­fir Demak. Bukan­kah kau sudah tahu Sultan Demak Syah Sri Alam Akbar Al-Fattah alias Raden Patah itu bukan orang Jawa? Bukan­kah kau juga tahu, per­mai­su­r­i­nya bukan orang Jawa sesung­guh­nya? – anak perem­puan Kiai Ampel. Apakah belum pernah aku ceri­tai kalian siapa Kiai Ampel?” “Belum, Kan­jeng Sunan”.

“Baik. Kiai Ampel juga tak tahu bahasa Jawa seperti Sultan Demak. Sunan Rajeg ini lebih tahu, telah bicara dalam Jawa pada kalian selama ini. Dia tak tahu. Kiai Ampel itu. Sampai mati­nya dia meng­a­jar dalam Melayu Gresik. Dia orang sebe­rang, orang Campa meng­a­ku­nya, orang Campa yang sudah lama ting­gal di Malaka. Anak perem­pu­an­nya si Aisah, seka­rang per­mai­suri Patah, juga bukan orang Jawa. Nah, meng­apa Unus itu meng­gu­na­kan gelar Jawa Adi­pati dan dise­but Kan­jeng Gusti? Karena, walau­pun Demak meng­aku kera­jaan Islam per­tama-tama di Jawa, belum lagi satu turunan, kera­jaan itu lebih mero­sot lagi jadi kera­jaan Jawa biasa dengan segala gelar dan kep­ra­ja­an­nya.”

“Biar begitu Peranggi telah diha­dap­i­nya, dila­wan­nya.”

“Nanti dulu, kau, Moham­mad Firman yang ber­pe­nge­ta­huan, ceri­taku belum lagi sele­sai. Deng­ar­kan baik-baik. Patah ini mena­ma­kan diri Kha­li­fah per­tama di Jawa. Gelar yang dia per­gu­na­kan gelar Parsi, dan nama ibu kota­nya sama sekali tak berbau Islam: Glagah Wangi, Bin­toro Demak. Bagai­mana bisa begitu? Karena memang tak ada sesu­atu pun yang bisa diper­bu­at­nya di luar tugas uta­ma­nya. Kalian tentu masih ingat tugas utama Demak: melin­dungi Sema­rang dari ser­buan dari timur. Jadi di luar tugas uta­ma­nya semua ter­se­rah pada Maje­lis kera­jaan, para wali, para sunan yang itu pun seka­rang sudah ber­ten­tangan satu sama lain. Salah seo­rang di antara mereka telah mereka bunuh bera­mai-ramai karena per­se­li­sihan bere­but peng­i­kut. Dan Sunan Kali­jaga cucu Babah Ban­tong itu, putra Adi­pati Tuban, kabar­nya sudah meng­hi­lang entah ke mana. Tak ada yang tahu dia ber­se­m­bu­nyi lan­taran apa. Boleh jadi ia tak mampu meng­a­tasi per­pe­cahan.”

“Tidak, anak-anakku, kita jauh, jauh lebih maju dari­pada Demak. Bila kita telah ber­ha­sil men­da­pat­kan Tuban, segera akan kita ubah dengan nama ter­cinta dalam tarikh Nabi: Yat­h­rib. Dan Demak akan kita maju­kan jangan sampai ter­ja­tuh lagi jadi kera­jaan lama yang kafir. Kemu­dian, anak-anakku, Malaka pun insya Allah akan dija­di­kan oleh Allah akan jatuh ke tangan kita. Jadi…”

Belum lagi sele­sai wejangan itu, sese­o­rang datang pada­nya dan ber­bi­sik pada kuping­nya. Sunan Rajeg men­de­ng­ar­kan dengan penuh per­ha­tian, kemu­dian ter­tawa dan bang­kit ber­diri sambil melam­bai­kan tangan menyu­ruh semu­a­nya bubar.

Pen­dopo itu sen­diri ter­ting­gal sepi seka­rang. Ting­gal Sunan Rajeg dan pem­bi­sik­nya. Kemu­dian ter­tawa mening­gal­kan pen­dopo juga, mela­lui sam­ping rumah, menuju ke sesu­atu tempat. Dan mulut Sunan ber­ko­mat-kamit aneh: “Idayu, Idayu! Kau juga, kau!”

Mahmud Barjah telah memu­tus­kan menge­rah­kan selu­ruh ten­tara Rajeg untuk mema­suki Tuban dengan menem­puh jalan-jalan yang belum diku­a­sai balat­en­tara Tuban.

Saran Kiai Beng­gala Sunan Rajeg telah ia pel­a­jari, dan kini ia lak­sa­nakan. Semua kesa­tuan yang ter­be­sar ia tarik, dan ia pusat­kan, dan dengan demi­kian mening­gal­kan musuh­nya gen­ta­yangan men­cari-cari di peda­laman tanpa per­la­wanan.

Dengan menem­busi rimba balat­en­tara Rajeg, ter­ma­suk meri­am­nya, diung­si­kan siang dan malam. Juga mereka yang bukan keku­atan perang meng­i­kuti garis berat dan jauh itu untuk mela­ku­kan ber­ba­gai dinas. Setiap orang mem­bawa per­be­kalan dan alat-alat sen­diri.

Hujan dan dingin tak mereka hir­au­kan.

“Allah ber­sama kita,” Sunan Rajeg meres­tui. “Hanya Allah yang menen­tu­kan. Nasib kita semua berada di tangan-Nya”.

Maksud Barjah tahu benar, belum selu­ruh keku­atan balat­en­tara Tuban telah dike­rah­kan oleh Wirang­gal­eng. Walau demi­kian, dari laporan-laporan para telik ia tahu, Tuban dalam kea­daan kosong. Orang akan dapat ber­leng­gang-kang­kung mema­suk­i­nya, lang­sung masuk ke dalam kadi­pa­ten dan tak perlu keluar lagi.

Ia pun menge­ta­hui pasukan musuh yang ber­sen­ja­ta­kan cet­bang dipu­sat­kan di balik semak-semak di ping­giran pela­buhan. Cet­bang tak dapat diper­gu­na­kan untuk setiap keper­luan, pikir­nya juga tidak bisa diper­gu­na­kan ber­ta­han ter­ha­dap setiap macam serangan. Ia telah temu­kan cara untuk menum­pas­nya.

Ia tahu pula dari per­ki­raan, masih ada keku­atan yang dica­dang­kan oleh Tuban. Hanya di mana cadangan itu ditem­pat­kan itulah yang ia tidak tahu. Juga telik-telik­nya tak tahu. Dari per­ki­raan itu pula ia men­duga, cadangan itu ikut ber­ge­rak di bela­kang setiap gerakan. Ia hanya mengira-ngira kan.

Ia pun tahu per­ki­raan yang tidak tepat dalam perang bisa men­jadi sumber ben­cana. Tetapi menunggu lebih lama adalah kebi­na­saan….

Pagi-pagi benar waktu itu. Mata­hari belum juga mampu mene­ro­bosi men­dung putih itu.

Dua orang sedang men­daki tangga dari selem­bar batang bambu utuh yang disam­bung-sam­bung sampai ke puncak pohon ter­tinggi di ping­gir rimba. Tiga batang bambu pan­jang­nya selu­ruh tangga itu. Batang pohon itu sen­diri lebih dari tiga rang­kulan manu­sia.

Sesam­pai­nya di puncak mereka segera dapat meli­hat peman­dangan luas di bawah­nya: padang rumput, hutan, sawah dan ladang sayup-sayup di keja­uhan, garis-garis putih kehi­jauan yang tak lain dari pada jalan negeri dan jalan desa.

“Ha! itu mereka!” peng­in­tai per­tama ber­seru terang­sang.

“Ber­hari-hari ditunggu…,” yang kedua menam­bahi.

“Ber­minggu!” yang per­tama mem­be­tul­kan.

“Ber­minggu. Ya. Seka­rang baru keli­hatan. Apa? Lihat! Lihat semua per­be­kalan itu. Mereka mau lang­sung masuk ke Tuban. Bahaya! Sedang kita masih sibuk men­cari-cari”.

‘Turun! Cukup! Jangan sampai keting­galan waktu”.

“Nam­pak­nya mereka berang­kat malam,” kata peng­in­tai kedua. Ia ber­ce­pat-cepat menu­runi tangga batang bambu.

“Bagai­man­a­pun kita akan lebih dulu sampai,” jawab­nya sambil juga menu­runi tangga.

“Jangan mere­meh­kan,” peng­in­tai kedua mem­per­i­ng­at­kan, “biar­pun kita ber­kuda”.

Sesam­pai­nya di tanah mereka meng­am­bil kuda masing-masing yang selama itu geli­sah dise­rang nyamuk. Mereka ber­pacu. Di sebuah padang rumput peng­in­tai per­tama ber­pe­san: “Sam­pai­kan laporan ini pada pasukan kuda Maesa Wulung. Terus meng­ha­dap Sena­pati dan seka­lian hor­matku”.

Mereka ber­pi­sahan. Peng­in­tai per­tama ber­pacu lang­sung ke kota. Peng­in­tai ke dua men­cam­buk kuda, mem­be­lok ke kiri, mela­lui jalan seta­pak di tengah-tengah padang ila­lang. Sete­lah padang itu dila­lu­i­nya ia mene­ro­bosi hutan kecil, kemu­dian sampai ke sebuah desa, yang dijaga oleh seo­rang pra­ju­rit. Sese­o­rang telah meng­ganti kuda­nya dengan yang baru. Selama mema­sang abah-abah peng­in­tai kedua itu ber­kata pada seo­rang pra­ju­rit yang datang meng­ham­piri. “Sam­pai­kan pada pasukan kuda Maesa Wulung: Mereka ber­ge­rak untuk lang­sung mema­suki Tuban dari jalan negeri. Setiap orang mem­bawa per­be­kalan kutak­sir untuk tiga hari. Terus­kan, aku akan meng­ha­dap Sena­pati”.

“Berapa keku­atan mereka?”

“Mem­be­lu­dag. Bila tidak diha­langi, mereka akan mema­suki kota pada waktu mata­hari teng­ge­lam”.

Ia melom­pat ke atas kuda­nya dan hilang di antara rim­bunan pepo­honan buah.

Pra­ju­rit yang diting­gal­kan itu menyam­pai­kan­nya pada dua orang pra­ju­rit lain­nya, kemu­dian ber­pacu meng­i­kuti peng­in­tai kedua. Dan kedua orang pra­ju­rit itu ber­pacu pula ke jurusan lain.

Pra­ju­rit peng­in­tai per­tama yang menuju ke kota itu disam­but oleh dua orang pra­ju­rit yang sudah siap dengan kuda­nya. Ia menyam­pai­kan perin­tah pada mereka, kemu­dian keti­ga­nya berang­kat, menem­puh jalan ber­lain-lainan, semua dengan satu tujuan meng­ha­dap kepala pasukan penga­wal, Braja.

Kem­bali peng­in­tai per­tama itu ber­pacu seo­rang diri. Setiap ber­pa­pasan di jalanan ia ber­seru-seru agar meming­gir. Bebe­rapa desa telah dile­wat­i­nya tanpa mene­ngok. Desa-desa hilang ber­ganti dengan hutan tipis yang rimbun dengan semak-semak petai cina.

“Brenti!” sayup-sayup ia dengar pekikan dari hadapan.

Ia tak dapat menem­busi semak-semak petai cina itu dengan mata­nya. Ia depis leng­kip­kan tubuh­nya pada pung­gung kuda. Tangan kir­i­nya meme­luk batang leher kuda dan tangan kanan men­cam­buki bina­tang itu. agar ber­pacu terus, lebih cepat.

“Tombak!” ia dengar lagi pekikan lain.

Ber­sa­maan dengan itu beter­bangan tombak dari hadapan menyam­bar dari kiri jalan. Ia miring­kan badan ke sebe­lah kanan. Juga dari sebe­lah kanan jalan ber­la­yangan tombak. Sebi­lah telah menge­nai ping­gang bina­tang itu, tembus sampai ke dada. Bina­tang itu ter­henti pada suatu jarak. Dengan kedua belah kaki ia ber­diri, mering­kik keras. Kepa­la­nya mene­ngok ke kiri kemu­dian ke kanan, men­coba meli­hat tombak yang ber­sa­rang pada badan­nya. Ia melon­jak sambil men­je­rit.

Tangan peng­in­tai itu jatuh ter­ku­lai dari pelukan, jatuh ke tanah dan tak ber­ge­rak lagi. Kuda itu meli­hat pada tuan­nya yang tak bangun lagi, men­de­kat dan meri­cium-cium muka­nya. Seba­tang tombak lain mela­yang dan menye­rom­pat iganya. Bina­tang itu meme­kik dan mela­ri­kan diri, dengan sebe­lah masih ter­tan­cap pada ping­gul.

Orang-orang yang ber­se­m­bu­nyi di kiri dan di kanan jalan mulai ber­mun­culan. Tak kurang dari dua puluh. Mereka kum­pul­kan kem­bali tombak-tombak yang luput.

“Ber­pacu sece­pat itu pasti mem­bawa berita,” seo­rang di anta­ra­nya mem­be­ri­kan pen­da­pat sambil menem­bus­kan tombak dalam tubuh peng­in­tai dan mema­lui tem­busan itu men­ca­but­nya. “Dalam lodong pelu­puk­nya ada lontar,” kata­nya lagi sem­bari mem­ber­sih­kan tombak ber­da­rah itu dengan daun-daunan.

“Lebih baik lagi,” sam­bung yang lain. “Lisan maupun tulisan tidak akan sampai. Ayuh, balik ke tempat!”

Mayat peng­in­tai per­tama dilem­par­kan ke ping­gir jalan, kemu­dian mereka meng­hi­lang lagi di balik-balik petai cina di kanan dan kiri jalan.

Kedai minuman Yakub pagi itu keda­tangan banyak lang­ganan seperti kema­rin atau kema­rin dulu. Per­tama-tama karena peluru-peluru Por­tu­gis yang telah dikum­pul­kan­nya ia pajang di warung­nya jadi ton­tonan. Ke-dua orang ingin men­de­ngar cerita dari mulut per­tama bagai­mana warung­nya dir­u­sak oleh peluru Por­tu­gis itu. Ketiga, berita-berita yang disi­ar­kan oleh­nya ber­sama Tholib Sung­kar Az-Zubaid ten­tang bakal datang­nya banyak, ter­lalu banyak kapal Peranggi, bukan untuk ber­pe­rang, tapi ber­da­gang.

Sambil mela­yani Yakub ber­ki­cau terus-mene­rus. Penu­tup dari semua tetap sama: betapa hebat­nya meriam Por­tu­gis itu. Juga pada pagi ini.

Dan pagi itu Tholib Sung­kar juga sudah men­du­duki bang­ku­nya, sebuah tempat peng­hor­matan untuk­nya di pojo­kan. Tong­kat­nya ber­diri ter­san­dar pada meja. Ia ber­tin­dak seba­gai juru gong ter­ha­dap semua kicauan Yakub.

Warung rusak itu diper­ba­iki dan sele­sai dalam sehari. Sejak itu seo­rang lang­ganan baru, selalu ber­pa­kaian sebe­rang, ber­ku­mis bapang tanpa jeng­got, selalu meng­am­bil tempat duduk di mana ia dapat meman­dangi jalan raya. Ia tak pernah bicara seakan tidak meng­erti Jawa atau Melayu. Pakai­an­nya men­de­kati gaya Kota­batu, ber­baju dan ber­sa­rung tenunan desa yang dinila. Lang­ganan baru itu tak lain dari­pada Braja.

“Sung­guh ber­ba­haya ber­main-main dengan Peranggi,” Tholib Sung­kar meng­e­gongi. “Kera­jaan-kera­jaan besar ditak­luk­kan­nya. Yang kecil dilin­das­nya. Tak boleh dia dibi­kin marah”.

“Memang begitu.” Yakub mene­rus­kan. Tak ada yang dapat mena­han mereka, Tuan Syah­ban­dar. Lihat saja pelu­ru­nya. Sera­tus meriam bisa gugur­kan gunung yang setinggi-ting­gi­nya. Jangan­kan gajah yang hanya dari daging dan tulang. Sung­guh mena­kut­kan”.

“Seti­dak-tidak­nya, Gusti Tuan Syah­ban­dar,” seo­rang lang­ganan lain di dekat Braja menyela, “di Tuban dia pernah dihina dan diha­lau”.

“Apa? Dihina dan diha­lau?” seru Yakub, “dihina dan diha­lau kata­nya, Tuan Syah­ban­dar. Jangan­lah itu dise­but lagi. Sebutan itu saja sudah gega­bah. Siapa tahu! Dan Peranggi tak akan lupa­kan itu. Sung­guh mati”.

“Peranggi takkan pernah melu­pa­kan sesu­atu,” Tholib Sung­kar meng­e­gongi lagi.

“Dihina dan diha­lau!” lang­ganan itu ber­ku­kuh.

“Dihina dan diha­lau kata­nya Yakub”, Syah­ban­dar itu ber­diri. Diper­ba­ik­i­nya letak tarbus dan dipe­gangi tang­kai tong­kat­nya. ‘Taruh­lah dihina dan diha­lau, taruh­lah itu betul. Itu yang sudah ber­laku. Yang akan datang?” ia men­de­lik pada lang­ganan di sam­ping Braja.

“Yang akan datang?” Braja ikut campur, dalam Melayu – bicara untuk per­tama kali, “dibi­na­sa­kan sama sekali”.

“Puh! Berapa lama Malaka jatuh? Berapa bentar Maluku diku­a­sai? Berapa bentar itu pulau yang ter­be­sar di Nusa Teng­gara? Dan ter­lalu banyak takluk sebe­lum dike­lahi: Banda, Ambon, Ter­nate, Hal­ma­hera, Kei, Tanim­bar….”

Semua mata ter­tuju pada Braja. Dan orang meng­a­was­i­nya baik-baik, dan tahu­lah orang, peda­gang serba wulung nila itu tak lain dari­pada Braja, kepala pasukan penga­wal. Ia nampak meng­ang­guk-angguk tak acuh. Yakub dan Syah­ban­dar ter­pe­ran­jat.

Sua­sana yang tegang itu disu­sut­kan dan dibe­lok­kan oleh datang­nya seo­rang penung­gang kuda. Dengan masih menun­tun kuda­nya ia masuk ke dalam warung, men­da­pat­kan Braja.

Semua mata meng­i­kuti kepala pasukan penga­wal yang sedang men­de­ng­ar­kan bisikan si penung­gang kuda. Kemu­dian kedua-duanya mening­gal­kan warung.

“Bukan­kah itu Braja?” seo­rang lang­ganan ber­bi­sik.

“Bukan!” seo­rang lang­ganan lain yang juga belum dike­nal nama­nya mem­ban­tah. “Bukan Braja. Braja aku kenal, dulu pernah aku jadi pela­yan­nya, lima tahun”.

Kata-kata itu mene­nang­kan Yakub dan Tholib Sung­kar. “Tuh! Orang tak tahu per­so­alan,” lang­ganan yang duduk di dekat Braja tadi meng­u­las, “peda­gang bia­sa­nya lebih tahu dari petani, ini lebih dungu,” ia tatap Tholib Sung­kar untuk mem­beri sim­pati. “Tak pernah ada memang Peranggi dibi­na­sa­kan. Apa­lagi dengan sama sekali”.

“Begi­tu­lah orang­nya, begitu pula nasib­nya,” Tholib Sung­kar mulai hidup kem­bali.

Dan peng­a­gungan ter­ha­dap Por­tu­gis mulai lagi. Orang di dekat Braja tadi juga ikut mera­mai­kan, tak lagi mem­ban­tah. Semua ikut serta mem­be­nar­kan, meng­ga­rami, mem­bu­bui. Syah­ban­dar dan Yakub sema­kin ber­se­ma­ngat. Lang­ganan itu pun minum lebih banyak walau­pun hanya tuak murah bukan arak.

Dan Yakub dan Syah­ban­dar nam­pak­nya kurang cermat mem­per­ha­ti­kan mereka. Mereka adalah pra­ju­rit-pra­ju­rit penga­wal.

Per­ca­kapan itu tiba-tiba ter­henti waktu sese­o­rang ber­diri ter­be­ngong meng­a­wasi jalan raya. Orang-orang itu meli­hat ke jurusan jalan raya. Dan mereka meli­hat peman­dangan ajaib.

Seekor kuda yang ber­lu­muran darah pada iga-iganya, dengan seba­tang tombak ter­tan­cap pada ping­gul dan darah mele­leh dari bawah mata tombak, sedang ber­ja­lan payah ter­pin­cang-pin­cang kesa­kitan entah ke tujuan mana. Tombak itu jelas bukan milik ten­tara Tuban. “Sunan Rajeg sudah men­de­kati kota,” sese­o­rang memas­ti­kan. Semua lang­ganan keluar dari warung untuk dapat mem­per­ha­ti­kan tombak dan bina­tang itu.

“Itu kuda ten­tara Tuban. Lihat tanda pada kuping­nya!” “Ya, memang kuda ten­tara Tuban,” orang mem­be­nar­kan. Per­ca­kapan ter­henti lagi waktu di jalanan mulai keli­hatan rom­bongan petani tanpa barisan mem­bawa pedang dan tombak ten­tara Tuban, juga busur dan peri­sai.

“Itulah ten­tara Rajeg”, bisik Tholib Sung­kar megap-megap. Tak ada yang menang­gapi.

Seben­tar kemu­dian menyu­sul pemi­kul-pemi­kul cet­bang di bela­kang rom­bongan kacau itu.

“Bukan balat­en­tara Tuban”, Tholib Sung­kar meya­kin­kan, “jelas ten­tara Sunan Rajeg. Mereka sedang mema­suki kota.”

“Masya­al­lah, Tuan Syah­ban­dar!” sebut Yakub, “kita tutup kedai dengan lupa mem­ba­yar minuman….”

Segera sete­lah mene­rima laporan, Braja menge­rah­kan pasukan penga­wal. Daerah pela­buhan diko­song­kan­nya, dan dia­rah­kan­nya keku­atan-nya ke luar kota, mela­lui jalan-jalan yang bakal ditem­puh oleh ten­tara Rajeg.

Pasukan penga­wal itu tidak benar ter­diri dari pra­ju­rit-pra­ju­rit pilihan yang diam­bil dari pasukan-pasukan lain karena kebe­ra­nian dan ketang­kasan serta kecer­das­an­nya. Setiap di antara mereka dapat mem­per­gu­na­kan semua macam sen­jata dan penung­gang kuda yang mahir.

Sete­lah pulih dari keke­cilan hati mereka mene­rima balasan dari Wirang­gal­eng, dengan pasuk­an­nya yang kecil ia ber­te­kad untuk meng­han­cur­kan ten­tara Rajeg dengan beron­do­ngan cet­bang sambil menunggu sampai pasukan-pasukan Tuban lain­nya datang mem­bantu.

Tuban yang ker­a­mat tidak boleh dija­mah oleh tangan pemu­suh ia ber­sum­pah.

Sete­lah sampai di luar kota cet­bang-cet­bang dipa­sang, diha­dap­kan ke arah musuh akan datang. Pra­ju­rit-pra­ju­rit sele­bih­nya dipe­rin­tah­kan­nya mem­biak ke kiri dan ke kanan jalan. Bebe­rapa orang peng­in­tai naik ke pohon ter­tinggi dan menin­jau ke selu­ruh medan.

Mahmud Barjah telah meme­rin­tah­kan agar ten­ta­ra­nya tidak ber­so­rak sama sekali, tidak mem­bu­nyi­kan gen­dang dan gong, tidak meng­gu­na­kan umbul-umbul atau­pun panji-panji, sebe­lum ber­ha­sil mema­suki Tuban.

Ia pun telah mem­be­ri­kan perin­tah, begitu mema­suki kota semua pra­ju­r­it­nya harus menye­bar ke sana-sana.

Pasukan inti yang lang­sung di bawah pim­pin­an­nya akan mela­lui jalan belok dan akan mema­suki Tuban mela­lui pesi­sir sebe­lah timur kota, dan akan menye­le­sai­kan segala kesu­l­itan dengan cet­bang.

Maesa Wulung pada mula­nya tidak per­caya, musuh sudah men­da­tangi begitu cepat. Ia per­ki­ra­kan bakal tak ada peker­jaan untuk­nya maka ia ber­la­lai-lalai di daerah aman selama ini. Juga pra­ju­rit-pra­ju­r­it­nya meng­i­kuti sikap pemim­pin­nya.

Waktu ia bang­kit menge­rah­kan pasuk­an­nya, ter­nyata separo­nya tidak keli­hatan batang hidung­nya. Tak tahu ia ke mana mereka pergi. Dan dengan hanya sepa­rah keku­atan ia berang­kat ke medan per­tem­puran.

Waktu keluar dari hutan ter­a­khir, pasukan kuda di bawah­nya meli­hat di sebe­rang padang ila­lang di sana, di depan­nya, barisan musuh yang ter­lalu besar jum­lah­nya. Semua ber­pa­kaian serba putih. Mereka ber­ge­rak diam-diam seperti barisan peng­an­tar mayat. Seumur hidup ia tak pernah meli­hat barisan demi­kian. Dan ia merasa ngeri. Dihen­ti­kan­nya pasukan itu dan dipe­rin­tah­kan­nya ber­lin­dung di balik pepo­honan. Tak tahu ia apa yang harus diper­buat.

Padang ila­lang itu akan mem­bi­kin pasuk­an­nya ter­buka dari serangan panah dan tombak, dan musuh telah men­da­pat posisi lebih dahulu. Untuk mem­ben­tuk for­masi apa pun pasuk­an­nya ter­lalu kecil. Mener­jangi ila­lang ini pun akan mem­bi­kin kuda-kuda cepat lelah, dan dalam mela­ku­kan serangan nyamuk meng­gi­git kuping bina­tang itu.

Ia ragu-ragu.

Seo­rang pra­ju­rit keluar dari balik pepo­honan dan mele­wat­i­nya. Ia tak mene­gur­nya. Dan pra­ju­rit itu lang­sung ber­pacu ke jurusan musuh, dengan mem­bawa tombak. Seo­rang lain menyu­sul, seo­rang lagi, seo­rang lagi.

Maesa Wulung merasa meng­ha­langi jalanan, dan ia pun berang­kat maju.

Pasukan kuda yang kecil itu mulai ber­so­rak-sorak maju dan menye­rang. Dan tombak-tombak ber­la­yangan jatuh di tengah-tengah laskar musuh yang mem­ba­las dengan anak panah. Pasukan kuda itu tak berani men­de­kat-dekat. Medan tak memung­kin­kan. Setiap habis melem­par mereka men­jauh, men­de­kat lagi dan melem­par lagi. Sete­lah lem­paran yang ke empat mereka telah keha­bisan tombak dan meng­un­dur­kan diri untuk men­da­pat­kan yang baru.

Tombak-tombak itu menge­nai sasaran, namun ten­tara musuh­nya tak menge­jar. Mereka ber­ja­lan terus ke arah kota dengan mening­gal­kan korban di jalanan.

Waktu pasukan kaki cadangan datang dalam jumlah yang cukup besar, baru­lah Maesa Wulung men­da­pat­kan kepri­ba­di­an­nya kem­bali. Dengan Danang, pemim­pin pasukan kaki cadangan, dida­pat­kan kese­pa­katan untuk meng­gun­ting putus ten­tara Rajeg dengan meng­gu­na­kan baris lebar.

Maka gabungan pasukan kuda dan kaki mulai menyerbu dengan for­masi lebar, for­masi ombak laut. Tetapi itu pun tak semu­dah itu diker­ja­kan. Pasukan kaki Tuban yang lari menyerbu dengan tela­pak kaki ber­da­rah-darah ter­cu­cuki dengan tunas alang-alang dan teri­ris-iris kaki­nya oleh daun rumput-rumput tajam. Banyak di antara mereka ber­henti untuk mengu­rus tunas alang-alang yang patah dalam tela­pak kaki itu, kemu­dian lari lagi. Dan tak kurang-kurang­nya yang tak dapat, ber­ja­lan lambat ber­pin­cang-pin­cang. Namun mereka ber­so­rak gegap gem­pita.

Ten­tara Rajeg tetap tak ber­su­ara. Anak panah dan tom­bak­nya ber­ter­bangan meng­u­sir para penye­rang. Dan para penye­rang­nya menyerbu terus. Per­ke­la­hian seo­rang lawan seo­rang sudah mulai ter­jadi. Barisan ten­tara Rajeg ter­pu­tus. Yang ter­li­bat dalam per­ke­la­hian mening­gal­kan barisan untuk men­cari medan yang lebih luas, ber­ke­jar-keja­ran, ber­ta­rung. Dan barisan yang putus itu ber­sam­bung dengan laskar di bela­kang­nya, mening­gal­kan mereka yang sedang ber­ke­lahi, mene­rus­kan jalan ke arah Tuban. Demi­kian sete­rus­nya, ter­pu­tus bila terpm&m serangan yang melanda, ber­sam­bung lagi bila serangan mem­bu­yar ke kelu­asan padang rumput dengan mening­gal­kan korban pada ke dua belah pihak.

Antara seben­tar Danang memaki-maki karena Maesa Wulung tak dapat meng­a­tur pasuk­an­nya sehingga tak men­jadi ban­tuan bagi pasukan kaki. Yang dimaki men­jadi gusar, karena dalam balat­en­tara, kedu­dukan pasukan kuda berada di atas pasukan kaki, demi­kian pula dengan per­wira-per­wi­ra­nya yang seting­kat. Pasukan kuda­lah yang lebih berhak meng­a­tur jalan­nya per­tem­puran dalam serangan gabungan.

Keti­dak­se­ra­sian itu semen­tara meng­un­tung­kan ten­tara Rajeg. Walau­pun mereka hanya ber­ta­han agar baris­an­nya dapat terus ber­ja­lan masuk ke kota, namun banyak juga antara musuh­nya yang dapat dir­o­boh­kan.

Wirang­gal­eng mene­rima berita ten­tang gerakan ten­tara Rajeg yang menuju ke kota di tempat lain pada siang hari. Ban­teng Wareng yang nampak sudah kurus itu dipe­rin­tah­kan­nya menge­jar dan menye­rang dari bela­kang sete­lah dapat men­je­jak jalan mereka.

Ia sen­diri meng­ga­bung­kan diri dengan pasukan kuda.

Pasukan kaki di bawah Rang­kum dipe­rin­tah­kan terus menyi­siri daerah lama, dan seba­gian dipe­rin­tah­kan kem­bali mema­suki Tuban ber­sama dengan selu­ruh pasukan gajah.

Duduk di atas pang­gung kuda ia ber­pe­san pada Kala Cuwil: “Lang­sung masuk ke kota. Ker­ja­kan yang dapat diker­ja­kan. Jangan ada yang meng­ha­dap Gusti Adi­pati”.

Dan ia pacu­kan kuda­nya meng­ga­bung­kan diri dengan Ban­teng Wareng yang telah mema­suki hutan.

Jalan yang habis ditem­puh oleh ten­tara Rajeg itu tak lama kemu­dian dapat dite­mu­kan. Jalanan baru yang habis dibi­kin nampak ter­buka, dan lebih lebar sete­lah kena ter­jangan ten­tara Rajeg. Di kiri dan di kanan­nya ber­ka­paran bekas tebangan. Dibawa lumpur telah ber­cam­pur dengan deda­unan dan kayu-kayuan busuk, ran­ting, batang kayu melin­tang, yang hanya bisa dila­lui dari bawah atau atas­nya. Di mana-mana bagian air meng­ge­nang sampai ke paha ber­warna kelabu. Hutan itu mengem­bang­kan bau daun kayu busuk. Potongan ber­duri tak jarang ikut ter­pen­dam dalam lumpur jalanan. Batang-batang rak­sasa yang ter­gu­ling melin­tangi jalanan tak dapat dilom­pati oleh kuda, dan hanya dapat dihin­dari dengan mem­buat jalan belok.

Dan pasukan kuda itu dengan sabar­nya mene­rus­kan per­ja­lanan. Tak ada seo­rang pun sempat bicara karena sul­it­nya medan.

Pada sore hari pasukan kuda itu sampai di jalanan negeri yang ter­buka dan ter­pe­li­hara. Dan kuda-kuda itu pun ter­bang seperti anak panah ke arah tujuan. Mereka harus mesang­grah di udara ter­buka.

Jalanan negeri itu kini telah rusak per­mu­ka­an­nya karena telah jadi bubur. Tetapi untuk pasukan kuda tak ada suatu rin­tangan untuk mela­lu­i­nya. Men­je­lang sore, waktu mata­hari mulai con­dong, buntut pasukan Rajeg telah nampak oleh­nya, ber­ke­lok-kelok meng­a­li­man­tang, putih di atas padang rumput hijau.

Mereka ber­so­rak dan ber­pacu meng­ge­le­tar­kan cambuk perang ke udara. Kuda-kuda itu lari seakan tak meng­in­jak bumi lagi. Mereka mulai menyu­sul dan mele­wati barisan musuh­nya, sambil men­cam­buki ping­giran barisan.

Bila ping­giran mulai kacau dalam usaha untuk dapat mem­per­ta­han­kan diri. pra­ju­rit-pra­ju­rit kuda lain­nya menub­ruk masuk ke tengah-tengah dengan sam­ba­ran pedang. Maka laskar ter­a­khir ten­tara Rajeg adalah lak­sana buntut seekor ulat putih yang dise­rang oleh serom­bongan semut. Ia meliuk-liuk tapi pera­sa­an­nya tidak men­ja­lar ke selu­ruh tubuh­nya. Dan waktu laskar buntut itu men­jadi bubar tor­ob­rak-abrik ter­j­a­dilah per­ke­la­hian dengan medan lebar.

Ban­teng Wareng dan Wirang­gal­eng ber­pacu terus untuk dapat men­ca­pai kepala barisan musuh. Sampai pada per­te­ngahan barisan mereka meli­hat pasukan kuda Tuban di bawah Maesa Wulung dan pasukan kaki di bawah Danang sedang kewa­lahan dan nam­pak­nya sedang digi­ling untuk ditum­pas.

Mereka ber­henti untuk meli­hat jalan­nya per­tem­puran. Sena­pati meli­hat Maesa Wulung keluar dari medan per­tem­puran dan meng­ha­dap pada­nya.

“Hubungan antara pasukan kaki dan kuda tidak cocok!” tegur Ban­teng Wareng, tanpa mem­per­ha­ti­kan bawah­an­nya dan terus meng­a­wasi jalan­nya per­tem­puran.

Tiba-tiba per­ha­ti­an­nya ter­a­lih pada suatu titik. Di sebe­rang daerah per­tem­puran sana serom­bongan pra­ju­rit Rajeg tampak sedang meng­ang­kuti sesu­atu.

“Ya, itulah meri­am­nya!” seru Wirang­gal­eng. “Maesa Wulung, ting­gal­kan gelang­gang. Kerah­kan selu­ruh pasuk­anmu, sergap rom­bongan sana itu!”

Maesa Wulung ber­ba­lik, lang­sung turun ke medan per­tem­puran, dengan cambuk perang meng­ge­le­tar di udara, meme­kik: “Selu­ruh pasukan kuda! Selu­ruh! Ikuti aku!”

Ting­gal­lah pasukan kaki meng­a­muk di tengah-tengah barisan musuh. Justru pada waktu itu sisa pasukan Maesa Wulung datang dan lang­sung masuk ke tengah medan meng­gan­ti­kan yang pergi.

Regu peng­ang­kut dan penga­wal meriam itu sedang menuju ke arah setum­puk tanah kubah keting­gian untuk tempat mema­sang meri­am­nya guna menem­baki Tuban. Meli­hat datang­nya lima belas pra­ju­rit kuda musuh mereka mele­tak­kan beban masing-masing dan melin­dung­kan diri dalam ling­karan pasukan penga­wal.

Manan dan Rois berada di tengah-tengah ling­karan itu.

“Ganggu mereka!” perin­tah Maesa Wulung. “Jangan beri kesem­patan!”

Panah dan tombak mulai beter­bangan. Pasukan kuda itu mele­dek men­jauh dan men­de­kat sambil memaki dan meng­hina dan meng­ge­le­tar­kan cambuk perang. Ujung cambuk itu menyam­bar dan menyo­beki daging dan kulit dan pakaian dan mereng­gut­kan sen­jata dari tangan lawan­nya. Mereka ber­pu­tar-putar dan menari-nari menge­li­lingi musuh­nya.

“Ban­tuan!” pekik Este­ban alias Manan dari tengah-tengah ling­karan.

Tetapi sua­ra­nya teng­ge­lam dalam keri­u­han orang ber­pe­rang tan­ding.

“Ling­kar! Kepung!” perin­tah Maesa Wulung.

“Ling­kar! Kepung! Hore!” sambut anak buah­nya.

“Babat begun­dal Rangga Iskak!”

“Musa­fir asing ber­nafsu jadi raja di Jawa. Roboh­kan!”

“Ling­kar! Kepung! Hore! Hore!”

Kaki kuda menari-nari di atas tanah basah. Ling­karan kepungan makin lama makin menyem­pit.

“Tombak!” perin­tah Maesa Wulung.

“Tombak! Tombak! Tombak!” seru anak buah­nya meng­u­langi.

Pecut perang ber­henti meng­ge­le­tar, ber­sa­rang dalam selipan ping­gang, dan tombak pun mulai dimain-main­kan di udara.

“Lepas!” dan tombak pun bele­pasan dari atas kuda.

Pra­ju­rit-pra­ju­rit dari regu penga­wal dan pela­yan meriam mulai ber­ge­lim­pangan.

Dan ling­karan penge­pungan itu men­jadi sema­kin sempit jua.

Este­ban dan Rodri­guez tak pernah ber­pe­rang tanpa sen­jata api. Kini ber­ha­dapan dengan sen­jata tajam dan cambuk ia men­jadi kecil hati Dan ban­tuan yang dibu­tuh­kan­nya tak juga datang. Dua orang itu ber­siap-siap dengan pedang dan ber­lin­dung di balik peti-peti obat.

Regu peng­ang­kut dan penga­wal meriam itu sema­kin tipis. Tombak dan cambuk Tuban telah menya­rang­kan mereka.

“Pedang!” perin­tah Maesa Wulung.

“Pedang! Pedang!” anak buah­nya menyam­but.

Pedang pun keluar dari sarung, teracu ke udara dan ber­ki­lat-kilat dalam sore ber­men­dung itu. Dan sen­jata itu mulai mem­ba­bat dan menyam­bar, dige­rak­kan oleh tangan-tangan ahli dan ter­la­tih.

Dan regu penga­wal dan peng­ang­kut meriam yang telah dige­tar­kan oleh ter­jang kuda dan cambuk dan tombak dan seka­rang pedang itu men­jadi sema­kin tipis, mulai ber­la­rian men­coba melo­los­kan diri dari kepungan.

Meli­hat bahaya yang sema­kin men­de­sak, Este­ban dan Rodri­guez melom­pat ke atas peti untuk men­da­pat­kan tempat keting­gian. Pedang mereka ber­pu­tar-putar di udara menunggu serangan.

“Lari, ayoh, lari!” Maesa Wulung ber­seru pada musuh­nya.

“Lari, ayoh, lari!” sorak anak buah­nya.

Mereka lari dan tidak dike­jar.

Per­ta­hanan meriam itu sema­kin tipis juga. Semua ting­gal ber­sen­ja­ta­kan pedang.

“Pedang di tangan kiri!” perin­tah Maesa Wulung.

“Kiri! Kiri!” sorak sam­butan anak buah dari atas kuda.

“Cambuk di tangan kanan!”

“Kanan! Kanan!”

Kecu­ali cambuk ber­ge­le­tar meme­rahi kulit yang ter­kena dengan kucuran darah, dan darah pun hancur bila saluran darah ter­pu­tus.

“Ter­jang!”

‘Ter­jang! Ter­jang!” sorak-sorai.

Este­ban dan Rodri­guez kehi­langan akal ber­ha­dapan dengan cambuk yang menyam­bar-nyam­bar ber­ge­la­taran yang meme­kak­kan teli­nga. Selama peng­a­laman perang­nya di Asia dan Afrika tak pernah mereka meng­ha­dapi sema­cam ini. Ia tak tahu bagai­mana harus meng­ha­dapi cambuk.

‘Tombak!” Rodri­guez menya­rani Este­ban. Ia menyam­bar seba­tang tombak dari tangan seo­rang penga­wal­nya yang telah rebah.

Ter­pe­nga­ruh oleh saran itu Este­ban pun mem­bung­kuk meng­am­bil seba­tang. Tapi ujung cambuk ber­ge­rigi baja itu telah menyam­bar muka­nya, bahu dan pung­gung­nya. Darah menu­tupi peman­dang­an­nya. Tombak dan pedang di tangan tiada ber­guna.

Sebuah cambuk yang meng­ge­le­tar telah mereng­gut­kan tombak dari tangan Rodri­guez, menge­lu­pas per­ge­lang­an­nya. Ia ter­pe­kik dan cambuk lain telah hujan pula pada muka­nya.

“Pang­lima! Pang­lima!” Este­ban meme­kik.

“Kepa­rat!” sumpah Rodri­guez.

Kepungan sema­kin rapat. Ting­gal dua orang itu saja kini ber­diri di atas peti, sibuk menyeka muka dari darah.

“Tang­kap hidup-hidup!” teriak Maesa Wulung.

Tub­ru­kan kuda mem­bi­kin Este­ban dan Rodri­guez yang sete­ngah buta ter­tu­tup darah itu jatuh ter­ba­lik dari atas peti ke tanah basah. Sebe­lum sempat ber­diri tangan mereka telah ter­i­kat ke bela­kang.

Mereka dise­ret ke tepi hutan dan diikat pada seba­tang pohon pung­gung-memung­gung, di bawah penga­walan seo­rang pra­ju­rit kuda

Sisa regu penga­wal dan peng­ang­kut meriam telah lenyap dari per­e­daran. Peti-peti obat dan peluru ber­ta­buran, dan meriam yang gagu dan bang­kai-bang­kai penga­wal ber­ser­akan di antara mereka yang ter­ge­le­tak dan ter­ku­lai dalam kea­daan sete­ngah mati

Dan pasukan kuda kecil yang telah ber­ku­rang jum­lah­nya itu balik dan turun lagi ke medan per­tem­puran.

Ten­tara Rajeg tak ber­ke­sem­patan lagi untuk menye­la­mat­kan meriam mereka dan penem­bak-penem­bak­nya. Medan per­tem­puran makin lama makin meluas, karena pasukan kuda Tuban di bawah Ban­teng Wareng sete­lah meng­o­b­rak-abrik buntut barisan musuh­nya kemu­dian ber­pacu ke depan dan mem­bi­kin medan per­tem­puran jadi sema­kin lebar. Mata­hari mulai teng­ge­lam.

Dari keja­uhan mulai ter­de­ngar den­tuman-den­tuman cet­bang. Per­tem­puran di ping­giran kota juga telah dimu­lai. Sorak-sorai ter­de­ngar dari keja­uhan. Hujan tak juga turun. Bahkan bulan muda sudah mulai nampak di langit cerah.


Bab 23

Idayu Jadi Sandera

Bayi itu belum lagi ber­nama. Ayah­nya belum lagi meli­hat dan men­je­nguk­nya. Ia pun belum lagi bisa mene­lung­kup. Baru bel­a­jar miring.

Sete­lah mela­hir­kan­nya Idayu merasa sangat ber­ba­ha­gia. Bayi ini tidak seperti Gelar. Wajah­nya cerah seperti ayah­nya dan hidung­nya seperti ibunya.

Setiap han pen­du­duk desa ada saja yang memer­lu­kan datang untuk men­je­nguk dan untuk ikut mera­wat. Semua di antara mereka tahu belaka: ayah si bayi itulah seka­rang Patih Sena­pati Tuban. Maka kebe­saran pun sudah mulai diper­se­m­bah­kan kepada sang bayi.

Tidak lain dari kepala desa itu juga yang paling gopoh-gopoh mengu­rus kese­jah­te­raan dan kebu­tuhan si ibu dan anak­nya. Dan semua itu disam­but dengan kewas­pa­daan oleh Idayu.

Dan tidak lain dari kepala desa itu juga yang sering mene­bah di hadapan orang-orang lain, kalau bukan­lah karena kebi­jak­sa­na­an­nya mengir­im­kan Idayu dan Galeng ke kota, tak bakal mereka mena­iki kemu­li­aan setinggi itu.

Keba­ha­gi­aan meli­puti hati Idayu. Bayi itu adalah sega­la­nya.

Dan datang­lah satu regu pra­ju­rit, yang dengan sopan­nya mem­be­ri­ta­hu­kan: atas perin­tah Sang Patih Sena­pati Tuban, Idayu dan anak­nya dan Nyi Gede Kati harus dibo­yong dari Awis Kram­bil ke Tuban Kota; anak buah Sunan Rajeg telah ber­se­baran di mana-mana; mereka ber­tiga harus dise­la­mat­kan.

Di bawah kesak­sian selu­ruh desa dan orang tuanya mereka berang­kat mening­gal­kan Awis Kram­bil: Idayu dengan meng­gen­dong si bayi, Nyi Gede Kati yang mem­bawa popok bayi dan meng­gan­deng Gelar. Barang-barang lain diang­kat oleh pra­ju­rit-pra­ju­rit. Mereka ber­ja­lan pelan-pelan.

Baik Idayu maupun Nyi Gede Kati merasa was-was ter­ha­dap pang­gilan ini. Semes­ti­nya Sang Patih Sena­pati Tuban mengirim tandu untuk seo­rang wanita yang baru mela­hir­kan. Tapi mereka tak ber­ta­nya.

Tiga buah desa telah dile­wati. Kepala regu pen­jem­put, yang tak pernah mena­war­kan jasa­nya itu menyu­ruh Nyi Gede Kati melang­sung­kan per­ja­lanan ke Tuban.

“Sen­di­r­ian?”

“Tidak, dengan segala bung­kusan yang kau bawa itu, tapi tanpa anak yang kau tuntun itu”.

“Bagai­mana dengan Nyi Gede Idayu nanti?”

“Begi­tu­lah perin­tah Sena­pati”.

“Biar aku bawa Gelar”.

“Tidak, jalan kau sen­diri”.

Ia tak mene­rus­kan jalan, ber­henti meng­a­wasi Idayu dan Gelar dan si bayi mem­be­lok ke kanan dalam iringan regu pen­jem­put. Ia tetap ber­diri di situ sampai mereka hilang di keja­uhan, baru kemu­dian mene­rus­kan per­ja­lanan seo­rang diri.

Wanita yang baru mela­hir­kan meng­gen­dong bayi, mem­bawa bung­kusan dan meng­gan­deng Gelar itu tidak diper­ke­nan­kan ber­is­ti­ra­hat.

Idayu mulai curiga.

Bayi itu pun tak boleh disu­su­i­nya.

Gelar sudah mulai lelah, tidak boleh ber­is­ti­ra­hat, dan antara seben­tar minta digen­dong. Dan tak ada seo­rang pun di antara regu pen­jem­put itu meng­u­lu­r­kan tangan peno­long­nya.

Tahu­lah ia seka­rang, ia telah jatuh ke tangan musuh sua­mi­nya. Ga-leng takkan mung­kin mem­per­la­ku­kan kelu­ar­ga­nya seperti ini.

Ya, Dewa Batara, pin­ta­nya dalam hati, sela­mat­kan aku dari pen­da­rahan, kuat­kan aku, sela­mat­kan anak-anak ini.

Dan makin lama Gelar makin sering minta digen­dong. Dengan dua gen­do­ngan dan satu bung­kusan ia ber­ja­lan pelan-pelan ke tempat yang ia tidak tahu.

“Ke mana kami akan dibawa?” sekali ia mem­be­ra­ni­kan diri ber­ta­nya.

“Ke mana? Ke suatu tempat di mana Wirang­gal­eng akan datang dan mene­mui mati­nya,” jawaban yang cukup menya­kit­kan dan kurang ajar seka­li­gus. Sete­lah itu ia tak ber­ta­nya lagi.

Men­je­lang tengah malam sete­lah mela­lui banyak desa, baru­lah per­ja­lanan sampai ke tujuan. Ia dan anak-anak­nya dima­suk­kan ke dalam sebuah rumah, tanpa pelita, dan pintu dipa­sak dari luar.

Dengan meng­ge­ra­yang-gera­yang dite­mu­kan­nya ambin tak ber­ti­kar, di situ ia letak­kan anak-anak­nya dan mulai menyu­sui anak­nya sambil memi­jiti kaki Gelar. Ia sudah tak dengar mereka mena­ngis lagi seperti di per­ja­lanan. Kaki­nya sen­diri terasa sesak dan tangan­nya lebih-lebih lagi.

Bangun pada kee­sok­an­nya ia lihat anak-anak­nya masih tidur. Ia duduk dan meman­dangi mereka. Lubang-lubang pada din­ding bambu itu cukup terang. Ia rasai tangan dan kaki­nya masih juga sesak dan pegal.

Sinar pagi yang men­da­dak jatuh dari lubang pintu mem­buat ia meng­ge­ra­yap meng­ha­dapi pintu dan ber­si­aga. Di lubang pintu itu ber­diri Sunan Rajeg alias Kiai Beng­gala alias Rangga Iskak alias Iskak Ind­ra­jit.

Seakan meli­hat maut yang datang meng­an­cam sece­pat kilat ia ambil bayi­nya dan dide­kap­kan­nya pada dada. Dengan pung­gung melin­dungi Gelar yang masih nye­nyak dalam tidur­nya ia hadapi pen­da­tang itu. Tak dira­sa­i­nya lagi baju­nya telah basah diom­poli bayi­nya.

“Ah, ah, si Upik!” tegur Sunan Rajeg dengan senyum meng­gi­git, “lama nian sudah aku tunggu kau. Jangan gugup. Jangan takut. Meng­apa bang­kit ber­diri dan siaga? Kau dan kalian masih lelah. Tidur­kan bayimu. Apa kau kira aku hendak terkam bayi itu atau dirimu? Cukup kira­nya bila kau tahu siapa aku. Siapa aku, hai perem­puan?”

Kata-kata itu agak melu­nak­kan kecu­r­i­gaan Idayu: “Tidak tahu,” jawab­nya pendek.

“Asta­ga­fi­r­ul­lah. tidak tahu! Tak pernah kau meli­hat tuan Syah­ban­dar Tuban?”

‘Tuan Syah­ban­dar Sayid….”

“Sayid Sayid!” lelaki itu mele­ceh­kan. “Dari mana sayid­nya si iblis itu? Ya, tentu dari iblis dan setan laknat juga. Jangan sebut­kan dia seperti itu lagi di hadap­anku, Idayu.”

Sua­ra­nya mem­ba­ngun­kan Gelar. Anak itu ber­diri di atas ambin, ber­te­riak keta­kutan.

Idayu mene­ngok ke bela­kang seje­nak untuk menen­te­ram­kan anak itu dengan mem­be­ri­kan pung­gung­nya.

Gelar meng­erti, menem­pel pada pung­gung itu, meme­luk leher ibunya dan meng­in­tip Sunan Rajeg dari sam­ping leher ibunya. Dan ia tetap ber­diri di atas ambin.

“Meng­apa pada takut padaku? Apakah aku keli­hatan mena­kut­kan?” orang itu ber­ta­nya. “Kau sen­diri juga takut, Idayu. Hei, apakah kau tak pernah dengar nama Sunan Rajeg di desamu Awis Kram­bil? Inilah aku, Idayu”.

Idayu tak menang­gapi kata-kata­nya. Menge­ta­hui itu ia justru mena­jam­kan kewas­pa­daan dan meng­i­kuti gerak-gerik tangan­nya..

Dan bayi itu mulai mena­ngis lapar, tapi ia tak meng­gub­ris­nya, juga tak men­di­am­kan­nya. Mata­nya tetap ter­tuju pada tangan Sunan Rajeg.

“Kau, Upik, siapa tidak tahu kau? Juara tari tiga kali ber­tu­rut pujaan Tuban. Di sini, Idayu, kau bukan pujaan siapa pun. Kau, istri satu-satu­nya Wirang­gal­eng”.

Ia menunggu sam­butan. Idayu tetap mem­bisu.

“Meng­apa diam saja? Masih takut?” meli­hat wanita itu tak juga men­ja­wab seki­las wajah­nya dija­lari oleh darah keme­rahan karena ter­sing­gung. “Tahu kau meng­apa di sini?” ia belai-belai jeng­got untuk menya­lur­kan kema­rah­an­nya.

Jeng­got itu tebal dan keri­ting dengan sula­man uban yang mulai mem­ba­nyak.

Menge­ta­hui Idayu tak juga bicara ia mene­rus­kan dengan gaya pemain pang­gung: “Bukan salahku, kau dida­tang­kan kemari. Sua­mi­mu­lah yang memak­sa­kan kea­daan ini. Sua­mimu Wirang­gal­eng, si anak desa tak tahu di untung itu, meng­ang­kat­kan diri jadi Patih dan Sena­pati Tuban. Bukan karena peng­ang­kat­an­nya itu ia sen­diri menyu­sah­kan aku Idayu, tapi asal­nya! Asal­nya! Karena bukan ning­rat, hanya anak desa, tak pernah bel­a­jar kep­ra­ju­r­i­tan, men­da­dak jadi Sena­pati, tak tahu aturan dan cara-cara perang, maka perang­nya ngawur seram­pangan, tak dapat dite­bak apa maunya. Meng­erti kau?”

Gelar meng­en­dor­kan peluk­an­nya pada leher ibunya. Si bayi meng­ge­ra­yang­kan tangan pada dada Idayu.

Sunan Rajeg tetap meng­a­wasi wanita itu dan mene­rus­kan dengan nada menu­run seakan meng­ha­rap­kan sim­pati yang ikhlas.

“Maaf­kan aku. Bukan mak­sudku menyu­sah­kan kau. Per­caya saja­lah. Kau anak desa, istri tung­gal, sua­mimu akan datang men­jem­put, dan kau dan anak-anakmu akan kule­pas­kan, akan dian­tar­kan secara baik-baik kem­bali ke Tuban. Seki­ra­nya kau dulu memi­lih jadi selir, memang semua tidak akan begini jadi­nya, Idayu”.

Gelar meng­in­tip Sunan Rajeg dari balik teng­kuk ibunya. Baru seka­rang gerak­nya mena­rik dan ia meng­a­lih­kan per­ha­tian pada anak itu.

Sua­ra­nya menaik lagi dengan telun­juk pada Gelar: “Meng­apa anak itu tak ada kesa­ma­an­nya dengan Galeng? Ah, Kau. Idayu pujaan Tuban. Lepas dari Sang Adi­pati jatuh ke dalam ter­kaman si Habi­bul­lah kepa­rat itu”.

Ia diam mem­per­ha­ti­kan Gelar yang seka­rang men­coba menyem­bu­nyi­kan diri lagi di balik tubuh ibunya. Sunan Rajeg ter­tawa meng­gi­git dan meng­e­jek: “Kau layani dua lelaki, Idayu! Tak salah lagi. Hidung­nya sama beng­kuk­nya, mata­nya, ram­but­nya yang agak keri­ting. Hah! Muka­nya sama tipis­nya. Kulit kehi­taman. Sama sekali tak dapat dika­ta­kan coklat. Kehi­taman! Tepat. Ai, si Habib cilik: Kau memang layani dua pria! Yang satu begun­dal Peranggi, yang lain anak dungu begun­dal muna­fik” Tak tahan lagi Idayu men­de­ngar tusukan kata-kata­nya. Ia hanya menun­duk, makin menun­duk. Kedua orang anak­nya harus sela­mat. Maka peng­hi­naan sekeji-keji­nya pun akan dite­ri­ma­nya dengan menun­duk.

“Malu? Pura-pura malu?”

Dengan mena­han kesa­kitan hati pelan-pelan ia angkat kepa­la­nya. Ia pan­dangi Sunan Rajeg, ber­kata lembut, seakan tiada ter­jadi sesu­atu dalam hati­nya: “Sua­miku sen­diri. Sunan, tak pernah meng­e­jek dan meng­gu­gat seperti itu”.

“Karena dia dungu. Sedi­kit saja cerdik… takkan lama kau meng­hi­rup udara. Cukup lama aku ting­gal di Tuban. Aku tahu gela­gak darah pria Tuban. Dan si dungu itu, kalau bukan karena dungunya, dia takkan mung­kin berani meng­ang­kat diri jadi Sena­pati. Seka­rang dia jadi peng-halangku yang satu-satu­nya tak ada duanya di atas bumi selatan ini”.

“Ya, Sunan. Si dungu itu sua­miku. Sena­pati Tuban,” Idayu ber­kata lambat-lambat dan hati-hati untuk tidak mena­kut­kan Gelar, dan bangga ia istri Wirang­gal­eng.

“Dan kau perem­puan tidak setia. Betapa banyak ragam­nya.”

“Hanya sua­miku yang meni­lai diriku”.

“Sua­mi­nya dungu, istri­nya tidak setia. Serasi. Istri tidak setia patut bangga pada sua­mi­nya yang dungu”.

“Kalau yang meni­lai itu Wirang­gal­eng, Sunan,” Idayu ber­kata lebih lunak lagi. “Wirang­gal­eng Sena­pati Tuban, tentu akan lain arti­nya. Selama orang lain yang meni­la­inya, ter­se­rah. Setiap orang memang meni­lai setiap orang”.

“Kau memang bijak­sana, perem­puan!” Sunan Rajeg ter­tawa meng­e­jek, “menye­rah­kan peni­laian pada suami dungu. Kau bijak­sana,” ia ber­ke­cap-kecap senang, “seperti dalam dong­eng, Idayu. Tapi biar­lah, justru karena sua­mimu memuja kau, seperti orang-orang gila lain­nya itu, pasti dia akan datang kemari. Dia musuhku”.

“Ya, Sunan.”

“Tak ada yang menye­but aku Sunan – Kan­jeng Sunan.”

“Ya, Kan­jeng Sunan”.

“Kau masih seperti anak desa yang tak tahu bahasa kadi­pa­ten. Baik­lah. Kau sen­diri memang bukan musuhku. Apa­lagi anak-anakmu. Jangan buang air mata di hadap­anku. Iba hatiku meli­hat istri seo­rang Sena­pati mena­ngisi sua­mi­nya. Sia-sia saja seba­nyak apa pun air mata itu, penari agung. Sayang di sini tari­anmu tiada harga. Hanya tubuh yang harus ber­geol-geol di hadapan bukan muhrim”.

Idayu dapat meng­erti meng­apa ia dihina seperti itu seba­gai istri Sena­pati Tuban. Itu sudah sewa­jar­nya. Tapi hati­nya sakit karena hal yang lain: peng­hi­naan ter­ha­dap tari­an­nya. Guru-guru­nya telah mem­bi­kin ia jadi seo­rang penari ulung, ber­ha­sil meme­nang­kan tiga kali keju­a­raan ber­tu­rut. Selu­ruh Tuban meng­a­kui, meng­apa orang yang satu ini justru meng­hi­na­nya?

Dan kedua belah tangan­nya sudah pegal dari meng­gen­dong kema­rin dan seka­rang ia masih juga tahan­kan sekuat daya agar bayi itu tak jatuh dari dekapan.

“Apa aku bilang? Tak ada air mata ber­harga di hadap­anku. Istri seo­rang musuh bukan­lah musuh, apa­lagi bayi dan bocah­nya. Aku tahu aturan, Idayu, bukan kafir jahi­liah”.

Ia pang­gil bebe­rapa orang yang datang ber­diri di bela­kang­nya. “Lihat, ini Idayu, istri Wirang­gal­eng, istri tung­gal si anak desa dungu dan celaka itu. Ingat-ingat, karena dia hanya anak desa dan tetap anak desa, maka istri cuma satu. Ber­u­lang­kah kuka­ta­kan pada kalian: ning­rat Jawa tak pernah punya kese­ti­aan pada istri dan anak-anak­nya, tapi istri dan istri-istri­nya harus selalu setia mutlak pada­nya. Ning­rat Jawa tak menge­nal kese­ti­aan dan kecin­taan pada apa dan siapa pun, juga tidak pada anak-anak sen­diri. Mereka tak lain dari­pada merak jantan, kesi­buk­an­nya hanya meng­i­gal menga­gumi dir­i­nya sen­diri. Meng­erti?”

“Sahaya, Kan­jeng Sunan.”

“Barang siapa tak kenal kese­ti­aan dan kecin­taan, dikod­rat­kan untuk men­jadi budak dari keha­wa­na­f­suan, dari orang-orang yang lebih kuat dari­pada yang punya hawa nafsu yang lebih besar lagi. Begitu ning­rat Jawa, begitu pula nasib Jawa. Masih ingat kalian pada kata-kataku itu? Kita sudah ber­te­kat untuk meng­u­bah nasib Jawa agar tak jadi seperti itu, tapi sesuai dengan ajaran, larangan dan petun­juk”.

Kemu­dian kata-kata­nya dia­lih­kan lagi pada Idayu: “Bukan­kah sudah aku kata­kan padamu? Jangan mena­ngis. Sua­mimu akan ter­pang­gil kemari karena kese­ti­a­an­nya padamu. Apa kebe­rat­an­nya seka­rang, Idayu?”

“Apakah yang akan kuka­ta­kan? Sudah sejak semula aku hanya ditipu untuk datang kemari”.

“Tidak. Kau bukan ditipu untuk datang kemari. Jangan salah. Ini hanya mus­li­hat perang.”

“Kalau itu hanya urusan perang, apa guna­nya aku dita­nyai?”

“Diam!” bentak Sunan Rajeg. “Kau tak juga mau meng­erti siapa yang kau hadapi”.

Idayu menun­duk, menge­ta­hui tak ada guna­nya bicara.

“Meng­apa diam? Siapa yang kau hadapi” Idayu tetap mem­bisu. “Siapa?!” ben­tak­nya lagi.

Dan Idayu tak juga mem­buka mulut. Sua­ra­nya kemu­dian meren­dah jadi gerutu. “Betapa banyak orang yang kuto­lak per­mo­hon­an­nya untuk meng­ha­dap? Semes­ti­nya kau bangga aku ajak bicara”. Dan sua­ra­nya menaik lagi. “Siapa sedang kau hadapi seka­rang?”

“Sunan Rajeg.”

“Kan­jeng Sunan Rajeg,” Rangga Iskak mem­be­tul­kan.

“Kan­jeng Sunan Rajeg.”

“Betul. Siapa lagi?”

“Musuh sua­miku seperti kata-katamu sen­diri”.

“Diam kau, perem­puan per­begu! Tak ada guna­nya keang­kuhan itu di hadap­anku”.

“Ampun­i­lah aku bila itu suatu keang­kuhan.”

“Ya, itulah keang­kuhan.”

“Guru-guru meng­a­jar­kan pada kami sikap tahu harga diri dan kehor­matan diri”.

“Di mana harga dan kehor­mat­anmu? Ter­lalu banyak disan­jung orang, ya? Maka di hadapan Sunan Rajeg juga minta disan­jung? Apa modalmu untuk angkuh di hadap­anku? Tari­anmu tak ada har­ga­nya di sini. Juga tidak untukku. Game­lan tak punya bunyi di sini, bisu, hanya barang-barang kafir tiada harga. Tak pernah ter­se­but dalam ajaran. Som­bong, akui, ya? bicara ten­tang kehor­matan dan harga diri. Apa arti­nya anak Habi­bul­lah kepa­rat itu? Semua sudah ter­jadi dan ter­bukti. Semes­ti­nya aku suruh bunuh anak haram itu di wila­yah keku­a­sa­anku. Bahkan per­ka­win­anmu pun tidak sah. Tapi tidak aku anggap kalian anak-be-ranak seba­gai tamuku. Tak layak kau ber­si­kap angkuh seperti itu. Kalian anak-ber­a­nak berhak makan garamku. Semua orang di sini tahu aturan, tahu sur­uhan dan larangan. Pen­jaga-pen­jaga di sini akan men­jaga kese­la­matan dan kea­man­anmu sampai sua­mimu datang men­jem­put. Apa kurang­nya aku seba­gai tuan rumah maka kau seang­kuh itu? Di sini takkan ada seo­rang pun dihu­kum tanpa dosa atau tanpa peme­rik­saan yang betul dan peng­a­dilan yang adil”.

“Kalau harga diri dan kehor­matan diri di hadapan Kan­jeng Sunan Rajeg ber­arti keang­kuhan, memang tak perlu lagi aku bicara”.

“Jih! Dasar kafir turunan kafir!”

Ia ting­gal­kan rumah itu ber­sama pengiring-pengiring­nya dan pintu kem­bali dipa­sak dari luar.

Sete­lah mereka pergi Idayu baru sadar, di atas ambin telah ter­se­dia nasi dan lauk pauk secu­kup­nya dan gendi minum dan pasu kayu berisi air.

“Tidak ada apa-apa, Nak,” kata­nya pada Gelar dan disu­su­i­nya anak­nya yang kecil. ”Makan­lah. Apakah emak harus layani?” ia mela­yani Gelar sambil menyu­sui.

Ia mem­pu­nyai alasan untuk takut. Dan ia tak per­li­hat­kan kepada anak­nya. Ia tak ingin keper­ca­yaan anak­nya pada dir­i­nya seba­gai pelin­dung ter­gun­cang. Mereka justru memer­lu­kan per­lin­dung­an­nya pada saat seperti ini.

Tidak lebih dari seminggu kemu­dian ter­de­ngar bunyi ken­to­ngan dan bedug ber­talu-talu mene­ro­bos celah din­ding-din­ding bambu masuk ke dalam rumah itu.

Idayu duduk di atas ambin men­de­ng­ar­kan. Si bayi ber­ki­cau di tengah-tengah ambin dengan Gelar sedang men­cium-cium kaki­nya yang kecil. Ia sedang meng­u­cap­kan syukur pada para dewa telah ter­lin­dungi dari pen­da­rahan.

“Apa yang ramai itu, Mak?” Gelar ber­ta­nya.

Idayu mulai mem­per­ha­ti­kan keri­u­han itu.

Tak lama kemu­dian ter­de­ngar lang­kah orang ber­la­rian di depan rumah, makin lama makin banyak.

“Siapa pada lari itu, Mak?”

Suara orang ber­la­rian itu ber­henti.

“Tak ada apa-apa, Gelar. Main­lah lagi dengan adikmu”.

Seka­rang ter­de­ngar lagi bon­do­ngan orang ber­ja­lan ber­ge­gas, juga ter­de­ngar suara kanak-kanak, juga bayi yang mena­ngis dibawa lari. Dari suara mereka ter­diri dari ber­ba­gai kela­min dan umur. Suara-suara itu kemu­dian ber­ku­rang. Kemu­dian ter­de­ngar suara seo­rang nenek yang tak dapat lari, hanya melang­kah lambat-lambat: “Cepat, Yung, jangan ter­lam­bat.”

“Ya, lebih cepat, kalau tidak, binasa kau,” suara seo­rang lelaki dewasa yang mele­wat­i­nya.

Ter­ta­rik oleh suara-suara itu Idayu mening­gal­kan ambin, men­de­kati din­ding depan dan men­coba meng­in­tip.Dari lubang dili­hat­nya orang ber­du­yun-duyun mem­bawa harta ben­da­nya yang ter­bung­kus dalam kain tenun atau kain batik coklat atau biru ber­bu­nga-bunga, dan bayi-bayi pada digen­dong dan bocah-bocah pada dita­rik-tarik dalam gan­de­ngan.

Seo­rang wanita muda dili­hat­nya menyi­sih dari rom­bongan dan ber­henti di depan pintu. Ter­de­ngar oleh­nya ia ber­ta­nya pada udara kosong di hadap­an­nya: “Meng­apa mesti ber­lari-lari begini? Gusti Adi­pati raja kita, tak mung­kin kawu­la­nya dibu­nuh tanpa dosa”.

Nam­pak­nya ia tak men­da­pat jawaban atas per­ta­nya­an­nya sen­diri, kemu­dian meng­ga­bung­kan diri dengan yang lain-lain, juga lari.

Ken­to­ngan dan bedug telah ber­henti ber­talu.

Seka­rang nam­pak­nya oleh­nya seo­rang tua ber­ja­lan ter­e­ngah-engah mela­lui depan rumah, menge­luh seo­rang diri: “Meng­apa mesti ikut lari? Apa dosaku?” ia ber­henti lagi untuk men­da­pat­kan napas­nya kem­bali, kemu­dian mene­rus­kan jalan dengan pelan-pelan.

Seo­rang bocah men­je­rit-jerit memang­gil ibunya tanpa men­da­pat jawaban. Dan bocah itu lari terus.

Seo­rang ibu yang nam­pak­nya habis mela­hir­kan ber­ja­lan ter­lalu lambat seperti keong. Bayi­nya ia gen­dong pada dada­nya tanpa dengan selen­dang. Mata­nya tidak meli­hat pada jalanan, hanya pada anak dalam gen­do­ngan, dan dari mulut­nya keluar keluh dan umpa­tan, kemu­dian: “Nasibmu, Nak, nasibmu. Bapakmu tewas entah di mana. Lahirmu tak ditung­gu­i­nya. Ter­ku­tuk mereka yang bikin gara-gara ini. Ter­ku­tuk seka­rang dan kemu­dian”.

Ia tak kuat mene­rus­kan jalan­nya, ber­be­lok ke kiri dan ber­henti di depan pintu, lambat-lambat duduk ber­san­dar pada daun pintu.

Idayu tak dapat meli­hat­nya lagi.

“Ada apa, Mak?” tiba-tiba Gelar ber­ta­nya dari bela­kang. Ibu muda yang nam­pak­nya baru mela­hir­kan itu kini mem­per­de­ng­ar­kan sua­ra­nya lagi: “Ada orang­kah di situ? Meng­apa pintu dipa­sak dari luar?”

Idayu menu­tup mulut Gelar dengan tangan­nya. Dan ter­de­ngar lagi suara ibu muda itu: “Izin­kan aku masuk. Tolong­lah aku!”

Idayu tak men­ja­wab, malah mem­beri isya­rat pada anak­nya agar tak ber­su­ara.

“Ah, keter­la­luan!” sebut ibu muda itu dari luar. “Zaman seka­rang orang sudah tak mampu meno­long yang lain. Sia­pa­kah di dalam situ? Tolong­lah aku. Aku sakit. Belum seminggu aku mela­hir­kan”. Ter­de­ngar orang itu meng­e­rang.

“Ah, dipa­sak mati dari luar begini”. Kemu­dian kata-kata­nya jadi sing­kat-sing­kat, ter­ke­jut. “Ya Allah, ya Dewa Batara, pen­da­rahan! Mati aku, Nak, kalau begini. Siapa mesti rawat kau nanti?” ia mena­ngis ter-hisak-hisak. Idayu mena­rik Gelar, diba­wa­nya naik lagi ke ambin. Tak disa­dar­i­nya air mata­nya mene­tes untuk ibu muda yang kapi­ran itu. Dengan diam-diam dita­rik­nya bayi­nya dan disu­su­i­nya. Tidak­kah nasib ibu muda itu akan menimpa diri dan anak-anak­nya ini? Tangan­nya yang lain kini meng­ga­pai Gelar dan merang­kul­nya, kemu­dian men­ci­um­nya. “Emak mena­ngis, Mak,” bisik Gelar, dan ia seka air mata ibunya. Masih juga dapat dide­ngar perem­puan di luar itu men­coba mem­buka pasak. Ter­su­sul kemu­dian oleh suara seo­rang lelaki yang ber­seru-seru dari sesu­atu jarak: “Jangan ganggu pintu itu!”

Keri­butan makin lama makin susut. Juga tak ter­de­ngar ibu muda itu men­coba mem­buka pasak. Mung­kin telah pergi menying­kir dari depan pintu itu. Dan waktu si bayi dan Gelar telah ter­ti­dur, ia turun lagi dari ambin dan meng­in­tip. Kea­daan telah leng­ang. Tak seo­rang pun nampak. Balik lagi ke ambin ia ciumi Gelar, satu-satu­nya orang selama hari-hari bela­kang ini dapat dia­jak­nya bicara. Anak itu ter­ba­ngun, kemu­dian juga adik­nya.

“Ada apa, Mak?”

‘Tak ada apa-apa. Gelar. Barang­kali saja bapakmu akan datang”.

“Bapak, Mak?”

“Bapakmu, ya. Barang­kali mem­bawa balat­en­tara yang sangat banyak”.

Gelar turun dari ambin dan lari ke din­ding untuk meng­in­tip. Bayi itu mena­ngis, dan Idayu menyu­su­i­nya lagi. “Kem­bali, Gelar, sini saja dengan emak”.

Ter­de­ngar suara bebe­rapa orang lelaki. Gelar lari dari din­ding dan men­de­kati emak­nya. Suara mereka sema­kin men­de­kati pintu.

“Siapa itu, Mak?”

“Stt,” Idayu mena­rik muka­nya dari pintu. “Ya Dewa Batara”, bisik­nya berdoa, “datang­lah kau, Kang, sela­mat­kan anak-anak ini”.

Pasak pintu ter­de­ngar diang­kat orang dari luar. Dan pintu itu ter­buka.

Idayu tetap tak meli­hat ke arah pintu. Hanya Gelar meng­a­wasi pen­da­tang-pen­da­tang baru ber­pa­kaian serba putih, ber­tom­bak dan ber­pe­dang.

“Mari,” kata salah seo­rang di anta­ra­nya, “mari kami antar­kan Mbok-ayu ke tempat lain”.

Idayu turun dari ambin. Bayi itu digen­dong­nya, dan Gelar digan­deng­nya.

“Mari, Mak, kita pergi,” dan tak dite­rus­kan­nya menga­ta­kan: pergi untuk selama-lama­nya.

Seki­las ia meli­hat lelaki yang bicara itu muda, tinggi semam­pai, ber­ku­mis tanpa jeng­got, dan gan­teng, kul­it­nya ber­mi­nyak. Ia menun­duk dan melang­kah mening­gal­kan rumah.

Inilah hari ter­a­khir, pikir­nya, dan ber­kata pada Gelar: “Lihatah semu­a­nya, Nak, lihat baik-baik, pepo­honan, rumah-rumah, langit di atas, sana orang-orang, dan jangan lupa lihat dulu ibumu ini,” ia ber­jong­kok untuk dapat dili­hat oleh anak­nya.

“Meng­apa harus dili­hat semua, Mak”.

“Biar kau akan selalu ingat di kemu­dian hari, Gelar”.

“Ke sebe­lah sini, Mbo­kayu”, orang muda itu ber­kata lagi.

Dengan Gelar dalam gen­do­ngan dan si bayi dalam gen­do­ngan ia mem­be­lok. Orang-orang lelaki ber­pe­dang dan ber­tom­bak di bela­kang­nya meng­i­kuti dengan diam-diam.

Suara pemuda itu mem­bang­kit­kan kenang-kenangan yang indah, jauh, samar, dalam ing­atan Idayu. Sia­pa­kah yang pernah memang­gil­nya Mbo­kayu dengan suara seperti itu? Sein­dah dan mengan­dung pera­saan seperti itu? Jan­tung­nya ber­den­taman. Dan tetap ia tak dapat meng­i­ngat. Lagi pula apalah guna­nya meng­i­ngat-ingat sesu­atu dalam sisa hidup yang ter­lalu pendek ini? Mereka telah datang untuk meng­ha­bisi istri dan anak musuh­nya.


Bab 24

Demak

Tahun 1518 Masehi

Sesu­atu telah ter­jadi di Demak – Demak yang dicem­bu­rui oleh Kiai Beng­gala Sunan Rajeg. Ribuan orang ber­du­yun-duyun di depan istana, kemu­dian ber­ge­rak ke mesjid agung Bin­toro. Mereka sedang ber­ka­bung dengan wafat­nya Sultan Demak: Sultan Syah Sri Alam Akbar al-Fattah atau Raden Patah, Kha­li­fah per­tama-tama di Jawa.

Tak ada orang ber­su­ara dalam keru­munan besar itu. Semua ber­pa­kaian serba putih. Seba­gian dari mereka mema­suki mesjid agung, seba­gian besar tiada bisa masuk dan ber­diri di pela­taran depan.

Dengung Allahu Akbar ber­kali-kali mem­bun­tingi udara, mem­bu­bung berat baik dari dalam maupun di luar mesjid. Gerak dan suara mereka ber­i­rama dalam ber­tak­bir ber­se­m­bah­yang mayat. Tidak lama. Dan keru­munan orang di depan mesjid mulai ber­ge­rak ber­diri jalan pada jena­sah yang akan dian­tar­kan ke tem­pat­nya yang ter­a­khir.

Keru­munan besar orang itu beru­bah, mem­ben­tuk diri jadi barisan pan­jang dan ter­a­tur. Paling depan adalah barisan penga­wal kera­jaan Demak. Dan seperti pra­ju­rit kera­jaan Jawa pada umum­nya mereka ber­te­lan­jang dada. Hanya pada kesem­patan ini pada dada mereka ter­hi­asi pita putih yang ter­gan­tung pada leher. Juga ujung paksi dari tombak mereka ter­hi­asi dengan pita putih pula.

Di sam­ping-menyam­ping jena­sah ber­ja­lan bebe­rapa orang ang­gota Maje­lis Kera­jaan, para wali yang ber­ge­lar Sunan, tak lebih dari empat orang. Dan Sunan Kali­jaga, yang selalu ber­des­tar, ber­kain dan ber­ke­ro­dong kain batik, tiada nampak.

Di bela­kang­nya lagi adalah para ulama yang kebe­tulan sedang berada di Demak.

Menyu­sul kemu­dian para pung­gawa dan rakyat biasa. Di tengah-tengah barisan para pung­gawa ter­da­pat sebuah tandu ber­tanda putih. Di atas­nya sebuah bola kayu kuning kee­masan. Di dalam­nya ter­da­pat putra mah­kota Demak: Adi­pati Unus Jepara.

Di sam­ping-menyam­ping tandu adalah para kelu­arga Sultan, kecu­a­li­wa­nita, karena tak ada seo­rang pun wanita di dalam selu­ruh iring-iringan pan­jang ini.

Barisan itu ber­ja­lan lambat-lambat mening­gal­kan pela­taran mesjid. Waktu buntut barisan telah hilang dari peman­dangan alun-alun yang luas itu ter­ting­gal sunyi dan sepi.

Selu­ruh Demak berada dalam sua­sana ber­ka­bung.

Dela­pan minggu kemu­dian seki­tar alun-alun men­jadi ramai kem­bali. Tidak tampak adanya sua­sana ber­ka­bung. Gong dan canang ber­talu-talu riuh-rendah menye­ru­kan kegem­bi­raan. Sepa­sukan pra­ju­rit penga­wal ber­tom­bak ber­ba­ris keluar dari istana. Rakyat yang berada di alun-alun ber­so­rak-sorai menyam­but. Mereka meng­ang­kat tangan dan selen­dang dan keru­dung.

Di bela­kang pasukan penga­wal nampak lagi tandu ber­tenda putih dengan bola kayu kee­masan di atas­nya, diapit oleh pra­ju­rit-pra­ju­rit penga­wal ber­pe­dang ter­hu­nus. Di bela­kang­nya pasukan penga­wal lagi. Kemu­dian barisan dan barisan dan barisan. Semua menuju ke mesjid agung Bin­toro.

Alun-alun sema­kin lama sema­kin ramai. Orang ber­da­tangan tiada henti-hen­ti­nya. Dan di mana-mana dipa­sang umbul-umbul ber­warna-warni dan ber­warna ganda.

Begitu akhir barisan mema­dat di halaman mesjid, peluru cet­bang ber­le­dakan di udara. Kemu­dian tenang, dan tiada antara lama kemu­dian mem­bu­bung ucapan syukur di udara: Alham­dul­il­lah ber­kali-kali. Gong dan canang sema­kin riuh.

Adi­pati Unus Jepara telah dino­bat­kan jadi Sultan Demak.

Tandu mening­gal­kan mesjid dan mema­suki istana. Dengan ban­tuan dua orang Sultan Demak kedua didu­duk­kan di atas sing­ga­sana – ia tak mampu lagi tegak­kan badan tanpa ban­tuan. Ser­pihan-ser­pihan laras cet­bang yang belum dapat dica­but dari tubuh­nya telah mem­bu­at­nya jadi cacad untuk sela­ma­nya.

Pada hari ia naik takhta dija­tuh­kan­nya titah memang­gil kem­bali semua musa­fir Demak. Mereka yang kebe­tulan sedang berada di ibu kota harus diper­si­ap­kan untuk mene­rima amanat sebe­lum mereka menuju ke daerah peker­jaan masing-masing, dengan mem­bawa cerita ten­tang Demak yang lama dengan sul­tan­nya yang baru, dan – kebi­jak­sa­naan baru.

Amanat itu kemu­dian ter­nyata dia­da­kan di balair­ung peng­ha­dapan. Isinya: Sultan Demak kedua ber­seru pada selu­ruh pen­du­duk di lawa untuk mela­wan Peranggi seba­gai musuh yang takkan dapat diajak Iyr baik. Sultan Demak ber­seru pada raja-raja di Jawa dan di selu­ruh Nusan­tara untuk ber­se­kutu dalam pem­bi­a­yaan dan usaha guna mem­ba­ngun­kan armada gabungan yang per­kasa.

Sultan Demak kedua ber­seru agar para raja menen­tang setiap keku­a­saan yang men­coba ber­sa­ha­bat dengan Peranggi dan agar mereka pun diang­gap seba­gai sekutu musuh dan harus dihan­cur­kan juga….

Tiada ter­kira ter­ke­jut orang menge­ta­hui, sampai Sultan baru itu dina­ik­kan lagi ke atas tandu, tak juga keluar titah yang ber­sang­kut-pautan dengan agama. Orang masih tetap menunggu tanpa mem­be­ri­kan ulasan.

Maka para musa­fir mulai­lah ber­se­baran menuju ke selu­ruh pelo­sok Jawa. Bebe­rapa belas orang mancal dari Jepara menuju ke sebe­rang: Jambi, Aceh, Seme­nan­jung, sepan­jang pesi­sir Kali­man­tan, Nusa Teng­gara dan Maluku.

Di Sula­wesi Selatan, Nusa Teng­gara dan Suma­tera, seruan itu mem­bang­kit­kan harapan baru akan ter­ja­di­nya per­ba­ikan pela­yaran dan per­da­gangan sehingga kem­bali seperti sebe­lum jatuh­nya Malaka ke tangan Por­tu­gis. Dan seruan itu ter­de­ngar begitu jantan, sehingga orang tak pernah meng­i­ngat lagi, bahwa Sultan Demak baru adalah seo­rang yang telah cacad, bahkan untuk tegak ber­diri harus dengan ban­tuan, dan tidak mung­kin lagi tampil jadi lak­sa­m­ana.

Bupati-bupati pesi­sir pulau Jawa yang lola tanpa keku­a­saan pusat pada memer­lu­kan datang meng­ha­dap menya­ta­kan kese­di­a­an­nya. Di antara mereka ada yang menyang­gupi balat­en­tara. Bebe­rapa yang lain menya­ta­kan berada di bawah per­lin­dungan Demak tanpa dipu­kul dengan perang.

Satu-satu­nya penan­tang Por­tu­gis telah marak jadi raja! Keku­a­saan mutlak telah ada di tangan­nya. Tak bisa lain, orang harus men­de­ng­ar­kan setiap kata­nya. Ia memang pernah dika­lah­kan Por­tu­gis, dan ia pun meng­a­kui keka­lah­an­nya, namun takluk ia tak pernah.

Titah yang kemu­dian menyu­sul lebih meng­gun­cang­kan: segala dana dan daya di dalam kera­jaan Demak, tanpa kecu­ali, harus dike­rah­kan untuk mem­ba­ngun armada. Pela­buhan Jepara diti­tah­kan jadi pusat galangan kapal yang paling sibuk dan paling besar di selu­ruh belahan bumi selatan.

Akhir dari titah itu adalah per­nya­taan, bahwa ia telah men­da­pat fira­sat takkan meme­rangi segala apa yang akan diper­si­ap­kan­nya, namun sisa keku­at­an­nya sepe­nuh­nya akan dibak­ti­kan­nya untuk kepen­tingan ini. Dan bahwa tak ada orang akan merasa aman di belahan bumi selatan ini, selama Peranggi masih ber­co­kol di sini.

Kera­jaan Hindu Giri Daha­na­pura Blam­bangan dan Paja­jaran mem­baui datang­nya bahaya ini. Dengan serta merta mereka ber­u­saha lebih giat untuk men­da­pat­kan per­sa­ha­batan dari Por­tu­gis di Malaka. Seba­lik­nya titah ke dua itu juga menim­bul­kan pera­saan kurang puas pada Maje­lis Kera­jaan. Meng­apa di dalam­nya tidak dising­gung-sing­gung ten­tang kepen­tingan agama dan peng­lu­as­an­nya?

Dalam suatu peng­ha­dapan khusus mereka men­da­pat­kan jawaban yang tidak kurang keras­nya: “Bagai­mana bisa hal ini diper­se­m­bah­kan? Bukan­kah sudah jelas Peranggi meng­an­cam apa yang telah Bapa-bapa Sunan yang ter­hor­mat sebar­kan di pulau Jawa ini? Dapat­kah hasil penye­baran diper­ta­han­kan, dapat­kah per­tum­buh­an­nya disu­bur­kan, selama Peranggi masih meng­an­cam?”

Jawaban itu menye­bab­kan Maje­lis Kera­jaan ragu-ragu ter­ha­dap kekha­li­fa­han Sultan baru. Per­ti­kaian baru ter­jadi dalam tubuh Maje­lis yang meng­an­cam ter­ja­di­nya per­pe­cahan baru. Dan per­ti­kaian itu memang tak pernah ter­se­le­sai­kan. Seo­rang ang­gota, seba­gai protes, telah mening­gal­kan Maje­lis Demak untuk selama-lama­nya, meng­u­ta­ma­kan per­gu­r­u­an­nya, dan meno­lak mem­bi­ca­ra­kan kebi­jak­sa­naan Sultan Demak baru sampai mening­gal­kan.

Titah Sultan yang ke dua itu ber­gema juga di Aceh, mela­lui bandar Pasai. Dari Pasai sampai pada Por­tu­gis di Malaka.

Peng­a­laman telah meng­a­jar­kan pada Por­tu­gis, belum lagi Adi­pati Unus punya kera­jaan telah berani jadi penan­tang­nya yang cukup ber­ba­haya, bahkan nyaris meng­u­sir mereka dari Malaka. Seki­ra­nya dahulu Malaka jatuh, mereka sudah akan men­jadi lemah dalam pela­yaran antara Goa dengan Maluku. Maka Demak ter­lalu ber­ba­haya. Ia tidak meng­gub­ris pen­de­katan Paja­jaran dan Blam­bangan. Dipe­rin­tah­kan­nya kapal-kapal­nya men­jauh dari pesi­sir Jawa. Pela­yaran ke Maluku dan Nusa Teng­gara harus lebih men­de­kati Kali­man­tan dan Sula­wesi. Sedang Blam­bangan dan Paja­jaran diper­gu­na­kan­nya seba­gai sumber kete­rangan ten­tang kegi­atan Demak.

Akibat titah ke dua. Laut Jawa ter­be­bas dari kapal-kapal Por­tu­gis. Pela­yaran Pri­bumi mulai ramai kem­bali, seka­li­pun masih ragu-ragu mema­suki per­a­iran Maluku dan Nusa Teng­gara. Bebe­rapa orang peda­gang telah mela­ku­kan per­co­baan pela­yaran ke Maluku dalam bentuk armada dagang gabungan dengan mengi­bar­kan ben­dera kupu-tarung Jepara. Mereka ber­ha­sil men­da­pat­kan rempah-rempah. Armada dagang gabungan lain-lain­nya pada meniru. Per­da­gangan dengan Maluku dan Nusa Teng­gara mulai hidup kem­bali. Arus­nya meman­tai pulau Jawa, dan ter­ga­bung dengan lada dari Suma­tra Selatan arus itu makin mem­be­sar, meman­tai Suma­tra sebe­lah barat dan menuju ke Teluk Bayur.

Seperti ditiup dari langit Teluk Bayur men­jadi bandar ramai, meng­hu­bung­kan Atas Angin dengan Nusan­tara. Arus yang menuju ke Pasai mulai meng­en­dor.

Bandar-bandar di Jawa Utara mulai hidup kem­bali, ber­na­pas legap­e­nuh peng­ha­rapan. Dan para pelaut seperti dige­rak­kan oleh per­se­tu­juan gaib meng­a­kui. Unus ber­li­dah api. Baru kata-kata­nya, dan kea­daan laut sudah mulai beru­bah, apa pula nanti tin­dak­an­nya!

Jepara tiba-tiba beru­bah jadi kota indus­tri yang giat. Tenaga ahli dari selu­ruh Jawa ter­hi­sap ke sini. Kota­nya melam­bung men­jadi besar dalam hanya bebe­rapa tahun. Pasar-pasar diper­be­sar dan ditam­bah jum­lah­nya. Dan para musa­fir sema­kin giat meng­a­gung­kan Demak dan raja­nya. Tetapi Demak sen­diri juga ter­hi­sap oleh Jepara. Sejak Sultan Demak baru ini, hubungan mesra antara Demak dengan Sema­rang mulai retak. Demak ber­diri seba­gai kera­jaan bebas.

Hanya Tuban belum juga bangun dari kemu­r­am­an­nya. Keru­suhan di dalam negeri menye­bab­kan para sau­da­gar enggan menying­gahi. Tak ada sesu­atu bisa diper­o­leh dengan mudah dan murah di Tuban.

Bahkan para insi­nyur dan tukang kapal mening­gal­kan nege­ri­nya men­cari peng­hi­dupan di Jepara.

Armada dagang Tuban sen­diri enggan kem­bali ke pang­kalan asal. Hanya ben­de­ra­nya, merah putih pan­jang, masih dapat dili­hat, di semua bandar, kecu­ali di Tuban sen­diri.


Bab 25

Akhir Perang

Dengan pedang tera­wang di atas kepala Wirang­gal­eng dan Ban­teng Wareng terjun ke tengah-tengah medan per­tem­puran. Dan seperti pedang kem­bang sen­jata-sen­jata itu menyam­bar ke kiri dan ke kanan, bawah dan atas.

Dalam pada itu dua-duanya tak henti-hen­ti­nya ber­seru: “Pulang! Ayoh pulang kalian! Pulang ke desa! Pulang! Buang sen­jata! Pulang! Jangan bikin bini kalian jadi janda, anak jadi lola! Pulang! Pulang! ke desa!”

“Yang tak mau pulang kena tebang! kena tebang!”

Mata­hari hampir teng­ge­lam. Tiba-tiba ter­de­ngar suara parau mem­beri balasan: “Jangan kena dibo­dohi. Serang terus!” dan itulah suara Mahmud Barjah.

Dengan sepa­sukan kaki ia sedang ber­ge­rak hendak meram­pas kem­bali meriam dan mem­be­bas­kan Este­ban dan Rodri­guez.

“Buru dia!” perin­tah Sena­pati sambil mem­be­bas­kan diri dari para penye­rang­nya dan lang­sung mem­buru Mahmud.

“Jangan deng­ar­kan begun­dal kafir Peranggi!” teriak Mahmud meng­hina.

“Budak Koja, kam­bing Rangga Iskak!” teriak Ban­teng Wareng. “Sena­pa­tiku, serah­kan padaku. Jangan lari kau peng­khi­a­nat. Inilah hari­mau”.

Mahmud duduk di atas kuda­nya. Ia cabut pedang begitu meli­hat yang men­da­tangi juga ber­pe­dang.

Laskar kaki yang dipim­pin­nya untuk meng­am­bil kem­bali meriam ia ting­gal­kan untuk menyam­but musuh­nya. Ia mene­ngok ke bela­kang mem­beri perin­tah: ‘Terus­kan tanpa aku. Sak­si­kan bagai­mana begun­dal-begun­dal kafir Peranggi ini tumpas di tangan Mahmud Barjah,” ia ber­pacu men­da­tangi pem­buru-pem­bu­ru­nya.

“Per­cuma, Mahmud!” teriak Ban­teng Wareng. “Lebih baik kau lari seperti yang lain. Atau serah­kan lehermu.”

Bebe­rapa pra­ju­rit ber­kuda Tuban menyu­sul untuk menye­la­mat­kan Sena­pati dan Ban­teng Wareng dari kepungan laskar kaki Rajeg. Dengan cambuk meng­ge­le­tar di udara mereka mener­jang dan mem­bu­bar­kan­nya. Seba­gian lari ber­pacu menge­jar mereka yang hendak menye­la­mat­kan meriam dan penem­bak­nya.

“Ter­lalu hina mela­yani peng­khi­a­nat, Sena­pa­tiku!” pekik pra­ju­rit-pra­ju­rit kuda itu.

“Dan pedang ter­lalu mulia untuk leher­nya.”

“Biar kami cam­buki saja, Sena­pa­tiku!”

Laskar putih itu masih jadi peng­ha­lang Mahmud untuk dapat ber­temu dengan Sena­pati atau Ban­teng Wareng.

‘Tuban sudah jatuh!” pekik Pang­lima Rajeg mem­be­ra­ni­kan ten­ta­ra­nya. “Kalian ting­gal masuk. Semua jadi milik kalian, wanita dan harta Jangan tunggu! Serang terus!”

“Pem­bo­hong!” bentak Ban­teng Wareng dan diter­jang­nya lapisan pra­ju­rit Rajeg dengan kuda­nya sampai porak-poranda. Ia melam­bai­kan tangan ke bela­kang. “Cam­buki peng­khi­a­nat ini sampai rom­pang-ram-ping. Bukan satria yang kita hadapi, hanya peng­khi­a­nat kepa­rat”.

Wirang­gal­eng ber­henti, tak terus men­da­pat­kan Mahmud, ber­ba­lik memung­gungi.

Mahmud men­jadi marah merasa dihina oleh Sena­pati Tuban karena tak dila­yani. Ia meme­kik dengan suara parau: “Jangan lari, anak desa! Kem­bali sini! Rasa­kan pedang Pang­lima Rajeg, Mahmud Barjah”.

Ia hen­tak­kan kuda, mening­gal­kan lapisan las­kar­nya sen­diri dan mulai mem­buru. Yang diburu menyu­sup ke tengah-tengah per­tem­puran dan mene­rus­kan seru­an­nya.

“Mati di mana-mana, kiri, kanan, depan, bela­kang. Buang sen­jata! Lari! Pulang! Urus­a­nak-bini kalian! Apa arti Mahmud Barjah anak Koja? Sak­si­kan bagai­mana dia ter­ba­lik dari kuda­nya kena cambuk Tuban jadi babi yang merang­kak-rang­kak”.

Sena­pati mela­ri­kan kuda­nya, ber­pu­tar-putar, untuk mem­bi­kin Mahmud Barjah kalap.

“Hanya mereka bagian iblis. Sini, Galeng, jangan lari, biar kupap­ras mon­congmu. Jangan lari, Galeng!”

Mahmud men­coba mene­ro­bos medan per­tem­puran untuk dapat men­ca­pai Sena­pati Tuban. Pedang­nya ber­den­tingan menyam­bar, mene­tak dan menang­kis pra­ju­rit-pra­ju­rit kaki Tuban. Kemu­dian dike­ta­hu­i­nya ia telah ter­pan­cing dan ter­ke­pung oleh lima orang pra­ju­rit kuda Tuban.

Lima pedang menye­rang­nya ber­ba­reng. Mata­nya yang tajam itu gemer­lapan dalam senja yang muram itu, menger­ling, mem­be­la­lak, menyi­pit, menang­kap segala gerak yang hendak mem­be­lah kepala dan badan­nya, menang­kisi semua serangan. Namun masih sempat ia menger­ling Sena­pati dan ber­te­riak parau: “Jangan lari, Galeng, anak desa! Tani busuk jadi sena­pati! Sena­pati dagelan! Mari dekat sini, biar aku lecuti. Pedangku merasa hina men­ja­mah jagatmu”.

Wirang­gal­eng tetap men­ce­mo­oh­kan­nya dengan menyam­bar-nyam­bar­kan pedang­nya pada musuh di seke­li­ling dan tak juga henti-hen­ti­nya ber­seru: “Maut bagi yang tak mau lari! Sela­mat bagi yang pulang ke desa!”

“Jangan lari di balik pung­gung anak-buah, Galeng!” Mahmud meme­kik lagi tak dapat mena­han marah dan keke­sal­an­nya.

Dengan sekali lom­patan yang menak­jub­kan kuda Mahmud keluar dari kepungan dan mem­buru Sena­pati di tengah-tengah per­tem­puran. Ia sarong­kan pedang dan mena­rik cambuk perang dari ping­gang.

Tiga orang pra­ju­rit kuda Tuban mem­bu­ru­nya dengan cambuk perang pula dan men­cam­buki dari bela­kang. Pung­gung dada dan tangan Mahmud telah ber­mandi darah dan sobe­kan-sobe­kan pada kul­it­nya menga­nga dari robekan baju­nya yang ber­be­lang-belang merah.

“Penge­cut! Penge­cut!” teriak Mahmud Barjah murka, terus mem­buru Sena­pati tanpa meng­in­dah­kan para penye­rang di bela­kang­nya.

Tak tahan ter­ha­dap lecutan dari bela­kang tanpa mene­ngok ia mele­cut ke bela­kang. Ujung cam­buk­nya men­ca­but sebiji bola mata pem­bu­ru­nya. Tanpa dili­hat­nya penung­gang kuda itu ter­jung­kal di tanah.

Cambuk dari bela­kang­nya sema­kin ber­tubi dengan sorakan: “Nasib peng­khi­a­nat tak pernah baik!”

Dua ujung cambuk yang jatuh ber­ba­reng dari bela­kang menge­nai muka­nya, telah meng­iris hidung dan meng­han­cur­kan mata­nya. Ia ter­ja­tuh juga dari kuda oleh tarikan cambuk musuh-musuh­nya yang mem­be­lit dan meng­iris leher.

Dengan muka ter­tu­tup darah dan telah buta ia mera­ungi: “Galeng, sele­sai­kan aku dengan pedangmu! Jangan kau hina­kan aku begini. Aku pun seo­rang pra­ju­rit”.

Ia merang­kak-rang­kak ber­diri. Sebi­lah tombak telah menyam­bar dada­nya. Ia ter­ja­tuh lagi sambil dengan dua tangan meme­gangi mata tombak yang menyem­bul dari rusuk, kemu­dian ia tak bangun Lagi untuk selama-lama­nya di dekat sebong­kah batu, ter­in­jak-injak oleh kaki kuda dan pra­ju­rit kedua belah pihak yang sedang ber­ke­lahi.

“Mahmud Barjah mampus!” sese­o­rang meme­kik.

“Pang­lima Rajeg tewas!” seo­rang lain men­je­rit.

Selu­ruh ten­tara Tuban yang ber­tem­pur di seki­tar ber­so­rak. Dan seperti men­da­pat perin­tah gaib semua pra­ju­rit Rajeg ber­henti menye­rang, juga ber­henti ber­so­rak, seakan lidah ter­ca­but dari mulut mereka.

“Nasib peng­khi­a­nat tak pernah baik!” seo­rang meme­kik.

“Ayoh pulang! Pulang seka­rang!” Sena­pati tak bosan-bosan­nya ber­seru. “Pang­lima kalian telah tewas. Buang sen­jata! Pulang!”

Menyak­si­kan sen­diri betapa pang­li­manya tewas, ten­tara Rajeg mem­bu­ang sen­jata mereka, buyar tanpa kekang tanpa ken­dali. Tanda-tanda kehan­curan keku­atan Sunan Rajeg telah men­je­nguk di ambang pintu. Hanya seba­gian kecil meng­a­muk kehi­langan akal dan pegangan. Seba­gian besar telah mulai mela­ri­kan diri tanpa sen­jata.

Panji-panji Mahmud Barjah, panji-panji Pang­lima, telah lama tidak nampak. Pem­ba­wa­nya telah kena lang­gar seekor kuda, lari masuk ke dalam hutan tanpa meng­i­ngat bawa­an­nya lagi.

“Ber­henti menye­rang!” perin­tah Sena­pati. “Beri kesem­patan pada sau­dara-sau­da­ramu. Biar mereka pulang ke desa masing-masing. Ber­kum­pul kalian!”

Dan balat­en­tara Tuban ber­henti menye­rang. Mereka ber­ge­rak untuk ber­kum­pul sambil meli­hat ten­tara Rajeg mena­rik dan mem­bu­bar­kan diri masuk ke dalam hutan.

“Balik ke Tuban!” Sena­pati men­ja­tuh­kan perin­tah.

Dimu­lai dari para pra­ju­rit di dekat-dekat Sena­pati, kemu­dian juga meram­bat jauh-jauh, balat­en­tara Tuban mulai balik kanan jalan dan ber­ge­rak ke arah kota.

Buntut barisan yang pulang itu masih kede­ngaran ber­seru-seru: “Buang sen­jata! Pulang!”

Dalam selingan sorak-sorai riang keme­nangan.

Tas­u­kan penga­wal Tuban telah menyi­ap­kan cet­bang-cet­bang pada sebuah tikungan jalan, sesu­atu keting­gian yang meng­a­wasi jalan lurus ke depan­nya. Begitu panji dan umbul-umbul ten­tara Rajeg yang serba putih nampak di senja hari, cet­bang-cet­bang mele­pas­kan peluru men­da­tar pada mereka. Hujan ledakan jatuh dalam tubuh barisan depan-suatu hal yang sama sekali tak pernah mereka per­hi­tung­kan.

Mahmud telah meren­ca­na­kan, pasukan inti ten­tara Rajeg akan mema­suki Tuban dari sebe­lah pesi­sir timur tanpa per­la­wanan dan terus menyer­gap cet­bang di tepi-tepi pantai. Seka­rang peluru yang dile­pas­kan dari jarak enam sampai dela­pan ratus depa itu sama sekali tak dapat ditang­kis atau­pun diba­las. Peluru-pelu­ru­nya mele­dak di atas barisan, di tengah-tengah, kiri dan kanan, menyem­bur­kan pecahan kul­it­nya, api bele­rang dan sen­dawa, dan keri­kil berapi dan udara panas mem­ba­kar. Orang pun jatuh ber­ge­lim­pangan.

Barisan depan itu beran­takan lari kocar-kacir ke segala pen­juru. Mereka tak mampu mene­rus­kan baris­an­nya. Panji dan umbul-umbul meng­ge­le­tak tak ber­daya di tanah. Tanpa angin mereka kehi­langan kebe­saran dan daya. Dengan angin pun mereka ting­gal seso­bek kain ber­warna.

Tetapi Braja pun tidak tahu, inti ten­tara Rajeg sudah mulai mema­suki Tuban dari pesi­sir sebe­lah timur. Mereka menyapu selu­ruh pesi­sir timur tanpa ber­so­rak dan merun­duki sarang-sarang cet­bang di seki­tar daerah pela­buhan.

Yang dir­un­duk ter­nyata tiada.

Mereka ber­ha­dapan dengan pecahan-pecahan pasukan penga­wal yang diting­gal­kan. Per­tem­puran antara dua keku­atan yang ter­la­tih ini ber­ja­lan dengan kegi­gihan dari ke dua belah pihak. Dahulu mereka sama-sama bagian balat­en­tara Tuban. Kini ber­ke­lahi saling mener­kam. Sebuah pecahan kecil telah dilin­das tanpa bisa menye­rang dan hanya bisa mem­per­ta­han­kan diri. Hanya seo­rang dapat lolos, lari meng­hin­dari ter­kaman maut untuk dapat men­ca­pai pemim­pin­nya: Braja.

“Pecah barisan!” Braja meme­rin­tah. “Kecu­ali cet­bang, pela­yan dan penga­wal, semua balik ke kota!”

Dan pada pasukan cet­bang yang diting­gal­kan ia meme­rin­tah­kan terus menem­baki musuh sambil terus maju, sampai peluru habis.

Ia pun melom­pat ke atas kuda­nya dan ber­pacu ke jurusan kota mem­bawa pasukan penga­wal.

Perin­tah penye­rangan segera dila­ku­kan dari pung­gung ten­tara Rajeg. Per­tem­puran sengit di waktu senja itu mele­tus di sepan­jang pantai kota Tuban, dila­tar bela­kangi oleh bunyi ledakan peluru-peluru cet­bang di luar kota, disak­si­kan oleh langit yang sedang diting­gal­kan oleh mata­hari.

Malam jatuh.

Per­ke­la­hian dalam kege­lapan ber­lang­sung tanpa kenal ampun.

Tiba-tiba ter­de­ngar sorak-sorai dari sebe­lah barat. Tak lama kemu­dian sorak-sorai itu dise­lingi oleh suling gajah-gajah yang kem­bali mema­suki kota.

Inti ten­tara Rajeg dengan tiba-tiba pula meng­hen­ti­kan serangan. Mereka meng­en­dap menye­li­nap menge­ta­hui keda­tangan pasukan gajah. Suatu keka­ge­tan telah meng­u­bah sama sekali pan­dangan mereka ten­tang jalan­nya per­tem­puran bukan ten­tara Rajeg yang mema­suki kota Tuban tanpa per­la­wanan, tetapi pasukan gajah Tuban sen­diri.

Menge­ta­hui per­hi­tungan mereka ter­nyata mele­set dan segala usaha akan jadi sia-sia, mereka pun meng­un­dur­kan diri di bawah lin­dungan kege­lapan malam.

Dengan demi­kian sele­sai­lah perang dalam negeri yang minta ter­lalu banyak korban itu.

Semua pra­ju­rit Tuban yang tiada gugur atau ter­luka selu­r­uh­nya kem­bali mema­suki kota dengan ber­so­rak-sorai. Pen­du­duk pun ber­du­yun-duyun keluar dari per­se­m­bu­nyian dan peng­ung­sian untuk menyong­song meng­elu-elukan.

Para nela­yan yang lari dan darat dengan perahu-pera­hu­nya, malam itu juga memer­lu­kan kembal» ke pantai. Kota Tuban seakan-akan ber­pesta pora.

Orang pun ber­so­rak meme­kik­kan nama Wirang­gal­eng dan para pemim­pin pasukan balat­en­tara Tuban.

Ke sekian hari­nya inti pasukan Rajeg kem­bali melan­car­kan serangan. Braja meng­ha­dapi mereka dengan ban­tuan pasukan kuda. Per­tem­puran yang ber­da­rah dan tak kenal menye­rah itu ber­henti pada tengah hari dengan tum­pas­nya selu­ruh sisa pasukan Rajeg tanpa seo­rang pun ber­te­kuk lutut.

Sebuah krang­keng besi telah dipa­sang di der­maga pela­buhan atas perin­tah Sena­pati.

Bebe­rapa hari kemu­dian Este­ban dan Rodri­guez dima­suk­kan ke dalam­nya untuk disak­si­kan oleh dunia selu­ruh negeri bagai­mana Tuban meng­hi­na­kan Por­tu­gis. Lima belas hari lama­nya setiap orang boleh menon­ton dan meng­hi­na­kan dua orang itu tanpa boleh menyiksa atau melu­kai.

Dari bandar-bandar tetangga dan kam­pung-kam­pung nela­yan setiap hari datang kapal dan perahu yang men­da­rat­kan penon­ton. Pela­buhan men­jadi ramai dan pasar bandar hidup kem­bali. Namun per­da­gangan antar-pulau belum juga pulih.

Saban hari Este­ban dan Rodri­guez ber­mandi peluh sen­diri dan ludah penon­ton.

Dengan keter­bi­a­saan meli­hat dan meng­hi­na­kan Peranggi, lama-kela­maan keta­kutan orang pada mereka meruap ter­bang. Juga Peranggi bisa ditang­kap dan dihi­na­kan.

Belum lagi lima belas hari dua orang Por­tu­gis itu jadi ton­tonan Wirang­gal­eng telah meme­rin­tah­kan pada Braja, men­cari sampai dapat dan menang­kap mereka yang dahulu telah menye­le­weng­kan ter­je­mahan surat Rangga Iskak alias Iskak Ind­ra­jid alias Kiai Beng­gala alias Sunan Rajeg.

Mereka dida­pat­kan dan ditang­kap tanpa kesu­l­itan.

Dalam sidang pemim­pin-pemim­pin pasukan, mereka dija­tuhi hukuman mati dengan jalan mem­ban­dul mereka dengan batu dan melem­par­kan ke laut.

Dan kadi­pa­ten tidak ber­pe­nga­wal. Wirang­gal­eng telah men­ja­tuh­kan perin­tah pada Braja untuk tidak mema­suki kadi­pa­ten tanpa sei­zin­nya. Hanya pung­gawa yang diper­ke­nan­kan bekerja lagi. Ia meng­ang­gap peker­jaan belum sele­sai selama Rangga Iskak belum ter­tang­kap, hidup atau mati.

Orang pun mulai ber­ta­nya-tanya meng­apa kebe­saran Sang Adi­pati belum juga dipu­l­ih­kan, meng­apa selu­ruh keku­a­saan atas Tuban dapat ber­pin­dah ke tangan si anak desa juara gulat ber­nama Galeng. Dahulu hanya Sang Adi­pati yang mem­pu­nyai duga sangka Wirang­gal­eng lah yang meng­hen­daki jabatan patih seperti halnya dengan Gajah Mada. Seka­rang orang men­duga anak desa bukan meng­hen­daki itu, boleh jadi ia hendak meng­ang­kat diri jadi Adi­pati sen­diri, men­jadi raja, seperti Ken Arok.

Setiap orang punya duga-sang­ka­nya, duga sangka belaka. Mereka tak berani mem­per­gun­jing­kan­nya.

Wirang­gal­eng belum juga nampak pulang ke kesyah­ban­daran.

Nyi Gede Kati setiap hari mem­ber­sih­kan kamar gandok kanan itu. Dan tidak lain dari dialah yang sangat meng­ha­rap­kan keda­tangan­nya untuk dapat menyam­pai­kan berita ten­tang Idayu dan anak-anak­nya.

Dan ber­beda dari semua orang, Syah­ban­dar Tuban­lah seka­rang satu satu­nya orang yang paling takut pada anak desa itu. Piki­ran­nya ter­pu­sat pada dua hal: siapa sesu­nguh­nya yang ber­ku­asa seka­rang ini, Sang Adi­pati atau Sang Sena­pati? Bila yang per­tama yang ber­ku­asa, ia masih punya per­lin­dungan dan Sang Sena­pati takkan mele­tak­kan tangan pada kul­it­nya. Bila yang kedua yang ber­ku­asa, tak ada jalan lain bagi­nya dari­pada harus mela­ri­kan diri. Ke mana? Dan bagai­mana? Maka dise­sal­i­nya sen­diri karena tak menye­di­a­kan per­si­apan sebe­lum­nya. Lari mela­lui laut tidak mung­kin. Pasukan penga­wal men­ja­ga­nya dengan ketat. Pasukan laut pun telah dipang­gil pulang dari Gresik. Lari ke darat juga tidak mung­kin. Pasukan kaki mema­gari Tuban. Tenaga dan kebe­ra­ni­an­nya pun tidak cukup untuk itu.

Dengan hati-hati ia mele­tak­kan harapan pada kemung­kinan per­tama. Buk­ti­nya, Sena­pati belum juga meng­am­bil tin­dakan ter­ha­dap dir­i­nya. Dan selama Sang Adi­pati yang ber­ku­asa, anak desa itu harus menem­puh jalan-jalan yang layak untuk dapat mem­bi­na­sa­kan­nya dengan per­ke­nan Sang Adi­pati. Bahkan dua orang Por­tu­gis itu juga tidak dibu­nuh, adalah per­tanda juga Sang Sena­pati tak berani mela­ku­kan­nya.

Ten­tang hukuman atas para pener­je­mah yang tidak jujur, ia dan semua orang pun tak tahu duduk per­ka­ra­nya. Ia sudah men­coba memi­kir­kan­nya. Tak mampu. Kemu­dian ia meng­ang­gap karena mereka itu ter­li­bat dalam keru­suhan. Dan ia sudah puas dengan ang­gap­an­nya.

Tetapi dua orang Peranggi itu kini yang meng­ganggu keten­te­ram­an­nya. Ia men­duga mereka akan dipe­ras kete­rang­an­nya sampai meng­a­kui segala-gala­nya yang menyang­kut soal meriam. Dari mana meriam itu? Boleh jadi tak ada yang dapat mem­buk­ti­kan dari mana.

Tetapi mereka menge­nal Yakub, dan pewa­rung itu jelas telah mem­ba­wa­nya ke peda­laman, menye­rah­kan­nya pada Rangga Iskak.

Tidak, Yakub akan mem­bisu sampai mati selama ia berada di Tuban. Kese­la­mat­an­nya sen­diri ikut dalam per­ta­ruhan. Hanya bila dua orang itu menye­but-nyebut nama Yakub, baru­lah kemu­dian nama­nya akan dike­de­pan­kan pula.

Tak bisa tidak hanya dua orang Peranggi itu yang bisa men­ce­la­ka­kan­nya. Sama saja siapa yang ber­ku­asa, Sang Adi­pati atau­kah Sang Sena­pati, bila nama­nya ter­se­but dalam per­so­alan meriam, jiwa juga tebus­an­nya. Ia menye­sali Por­tu­gis celaka yang semu­dah itu dapat ditang­kap – punya meriam dan punya peng­a­laman perang begitu banyak!

Dan ia menge­nal peng­a­dilan Pri­bumi – tak banyak mem­bu­tuh­kan bukti, lebih men­da­sar­kan pada hukum piki­ran dan suara orang banyak, tidak jarang dida­sar­kan pada harapan belaka hen­dak­nya Sang Adi­pati men­jadi senang. Ia memang makin bisa ber­si­lat lidah dan batal­kan semua dak­waan, tapi piki­ran Pri­bumi tidak akan meng­gub­ris­nya. Mereka punya cara ber­pi­kir kafir dalam mengu­rus kea­dilan. Ia harus men­cari jalan kese­la­matan….

Dan pada suatu pagi di antara pagi-pagi yang murung dan mena­kut­kan, sedang ia duduk di kursi sambil ber­pi­kir-pikir, datang Nyi Gede Kati mem­ba­wa­kan kabar. Justru pada waktu itu ia sedang meng­he­rani, bagai­mana mung­kin dua orang Por­tu­gis itu dapat ditang­kap begitu mudah oleh pra­ju­rit-pra­ju­rit yang tak punya peng­a­laman perang di mana-mana. Dan ter­tang­kap dalam kea­daan hidup!

“Meng­apa Tuan keli­hatan murung, pucat dan kurus? Tak ikut ber­gem­bira Tuan nam­pak­nya dengan keme­nangan Tuban”.

“Aku sedang men­cari jalan bagai­mana bisa meng­ha­dap Gusti Adi­pati”.

“Tuan biasa meng­ha­dap ke sana”.

“Seka­rang tak bisa. Kati. Para pung­gawa itu pun menga­ta­kan Gusti selalu ber­kunci diri. Juga kadi­pa­ten tak boleh dima­suki oleh siapa pun kecu­ali para pung­gawa”.

“Bukan­kah Tuan juga Pung­gawa?”

“Ya, tapi bukan pung­gawa kadi­pa­ten”.

“Bagai­mana mung­kin Tuan tak diper­ke­nan­kan meng­ha­dap?”

“Mana aku tahu, Kati. Coba­lah tolong aku, Kati, kau saja datang ke sana memo­hon­kan per­ke­nan untukku buat meng­ha­dap”.

“Bagai­mana Tuan ini? Bukan­kah Tuan sen­diri tahu kadi­pa­ten ter­tu­tup bagi siapa pun, apa­lagi sahaya?”

“Baik­lah,” kata­nya menga­lah dan meng­hi­rup kopi. “Kalau begitu pergi kau ke mana saja men­cari warta. Ke mana saja”. Ia tahu, Nyi Gede Kati meno­lak dan takkan pergi ke mana pun. Kalau demi­kian ia sudah senang perem­puan itu mening­gal­kan­nya seo­rang diri untuk mene­rus­kan piki­ran­nya.”

Dengan berani ia memu­tus­kan Este­ban dan Rodri­guez harus diha­bisi sebe­lum dia­da­kan peng­a­dilan. Dan peng­a­dilan itu pasti akan dibe­sar-besar­kan untuk meng­e­jek dan meng­hina Por­tu­gis. Mereka berdua harus aku habisi dengan tanganku sen­diri, jalan lain tak ada. Kalau tidak mereka akan meng­ha­bisi dua-duanya, kemu­dian juga aku.

Ia bang­kit dari tem­pat­nya. Masuk ke dalam kamar dan mengun­ci­nya dari dalam. Dari sebuah peti yang ter­le­tak di pojo­kan ia kelu­ar­kan sebuah botol tem­bi­kar berisi cairan kehi­taman. Dibu­ka­nya kayu hitam pada ujung tong­kat­nya. Sebi­lah pisau pan­jang sempit kehi­taman muncul di depan mata­nya. Cepat-cepat ia masuk­kan pisau itu ke dalam cairan di dalam botol dan dita­rik­nya mata pisau itu ke atas dan mem­bi­ar­kan cairan itu mene­tes balik ke dalam botol.

Ia ber­ko­mat-kamit. Sua­ra­nya ter­gu­mam tak jelas. Walau demi­kian nampak ia mele­tak­kan selu­ruh keper­ca­ya­an­nya pada keam­puhan pisau tong­kat­nya. Kemu­dian ia mela­tih diri dengan gerakan-gerakan tikam untuk ber­ba­gai jarak. Leng­an­nya yang tipis dan sen­ja­t­a­nya yang kurus ber­ge­rak begitu cepat seperti ular kobra yang sedang menyam­bar-nyam­bar. Rupa-rupa­nya ia telah ter­la­tih meng­gu­na­kan sen­jata khusus ini.

Sete­lah keri­ngat mulai mem­ba­sahi tubuh ia ber­henti, mema­sang kem­bali sarong kayu dan jadilah kem­bali bentuk tong­kat yang semula. Ia seka muka dengan baju, mening­gal­kan kamar dan keluar dari rumah.

Ia hendak lewat­kan hari itu dengan ber­ja­lan-jalan di pela­buhan, di der­maga, untuk meli­hat-lihat kea­daan, dan ter­u­tama untuk dapat ber­ha­dapan mata dengan orang-orang Por­tu­gis celaka itu.

Ia ber­ja­lan pelan-pelan untuk meli­hat sampai di mana pen­ja­gaan pasukan penga­wal. Dan ia meli­hat mereka sudah mem­per­ca­ya­kan kese­la­matan Este­ban dan Rodri­guez pada aturan yang telah diten­tu­kan dan pada kuat­nya krang­keng besi.

Akhir­nya ia naik ke menara pela­buhan yang kini telah kem­bali dijaga oleh dua orang baru. Ia men­coba meng­o­b­rol seben­tar, kemu­dian meme­riksa selu­ruh medan bandar dengan cermat, menak­sir orang-orang yang lalu-lalang, dan akhir­nya ia men­da­pat kepu­tusan dapat melak­sa­nakan ren­ca­na­nya.

Dari menara itu juga ia dapat meli­hat warung Yakub yang ter­kunci sejak balat­en­tara Tuban masuk kem­bali ke kota. Ke mana saja buaya darat itu pergi selama ini? Adakah pera­sa­an­nya begitu tajam­nya maka dia tahu bahaya sedang meng­an­cam leher­nya?

Tiba-tiba ia cem­buru pada kemu­daan pewa­rung itu yang mem­pu­nyai kege­si­tan dan ketang­kasan seperti itu. Ya-ya, mung­kin aku telah meng­in­jak tua.

Semen­tara Ini menara itu mem­be­ri­nya keda­maian. Pen­jaga menara itu terus men­coba untuk meng­o­b­rol Mereka selalu meng­am­bil perang yang baru saja ber­lalu seba­gai pokok untuk kemu­dian menyan­jung nyan­jung Wirang­gal­eng. Anak desa itu jelas men­jadi bin­tang tuban yang tidak dapat dir­a­gu­kan lagi. Ia deng­ar­kan obro­lan bagai­mana Sena­pati meman­cing man­cing Mahmud Barjah untuk dapat ter­ja­uh­kan dari ten­ta­ra­nya, dan untuk dapat dile­cuti dengan cambuk seba­gai peng­hi­a­nat.

“Seo­rang peng­hi­a­natt tak layak men­da­pat­kan pedang, apa­lagi keris, Clam­buk memang sepa­tut­nya, cocok untuk seekor kera yang busuk”, kata seo­rang di anta­ra­nya.

Tholib Sung­kar Al Zobaid hanya meng­jing­guk angguk mengi­a­kan dan ikut memuji-muji Syah­ban­dar-muda itu,

Siang itu ia tidur di menara pela­buhan Itu, dan dua orang pen­jaga itu tak meng­gang­gu­nya.

Pada sore hari ia bangun dan menu­runi tangga menara, lang­sung pulang. Dan jan­tung­nya terasa ber­henti ber­de­nyut waktu dili­hat­nya Nyi Gede Kati sedang bicara dengan Wirang­gal­eng di jalanan antara gedung utama dongan gandok kanan. Sena­pati itu menun­duk tak meli­hat ke ke sana kecu­ali ke seki­tar kaki­nya nen­diri. Dan istri­nya sedang bicara ber­sung­guh-sung­guh. Mereka berdua tak meli­hat­nya,

Buru-buru ia masuk ke dalam rumah, ke kamar, kemu­dian pura-pura tidur. Tong­kat ber­hulu gading itu ter­ge­le­tak di sam­ping­nya.

Dan betapa lega hati­nya men­de­ngar lang­kah-lang­kah kaki lelaki mena­kut­kan itu di atas jalanan keri­kil itu mening­gal­kan kesyah­ban­daran. Ia pun jatuh ter­ti­dur.

Makan malam itu ia hadapi dengan muka masam dan suram. Sehari itu ia hanya minum kahwa.

Nyi Gede Kati, menge­ta­hui kege­li­sahan sua­mi­nya pada hari-hari bela­kangan, tak lagi ber­ta­nya pada­nya meng­apa ia tak suka makan. Juga ia tidak per­ha­ti­kan sua­mi­nya hanya mengu­nyah-ngu­nyah sesu­atu dan mene­lan­nya, kemu­dian bang­kit dan duduk-duduk di kamar tamu. Ia sen­diri, tanpa bicara sesu­atu pun kemu­dian masuk ke dalam kamar dan tak keluar lagi.

Malam itu gelap luar biasa. Men­dung tebal menu­tup langit Guruh tiada ter­de­ngar sama sekali dan ker­ja­pan kilat apa­lagi. Cuaca seperti itulah yang dike­hen­daki oleh Syah­ban­dar Tuban.

Lewat tengah malam. seo­rang diri ia ber­ja­lan ter­bong­kok-bong­kok seperti kakek-kakek menuju ke der­maga pela­buhan. Kepa­la­nya meno­leh ke mana-mana walau­pun ia telah ken­da­li­kan agar mata saja yang meli­rik kese­gala jurusan yang mung­kin. Tetapi kege­lapan malam yang mem­bi­sik­kan pada­nya takkan semu­dah itu orang dapat menyak­si­kan dir­i­nya sering meno­leh,

Dari pan­ca­in­d­ra­nya ia menge­ta­hui tak ada seo­rang pun yang menyak­si­kan keha­dir­an­nya, Tetapi dari pera­sa­an­nya ia tahu, ada bebe­apa orang pra­ju­rit penga­wal yang mela­ku­kan peron­daan di der­maga dan dengan pedo­man pera­sa­an­nya itu juga ia menyem­bu­nyi­kan diri diba­lik pohon asam menunggu mereka pergi. Ter­nyata pera­sa­an­nya lebih tajam dari­pada pan­ca­in­d­ra­nya. Waktu hujan turun ia dengar empat orang lari mening­gal­kan der­maga.

Dengan hati-hati ia menuju der­maga dengan mem­per­gu­na­kan tong­kat untuk mera­bai tepi jalan dan der­maga. laut yang Hangat dalam itu bisa mene­lan­nya. Ia tak bina bere­nang dan tidak pyr­ruih mela­ku­kan­nya dalam hidup­nya.

Semam­pai­nya di tempat yang dituju, sambil ber­pe­gangan pada jeriji krang­keng ia memang­gil-mang­gil dalam Por­tu­gis: “Sini kalian, Nak, Este­ban, Rodri­guez! Ke sini kalian. Masih tidur? Bangun­lah, tuan Syah­ban­dar ada di sini”.

Ia dengar suara ber­ge­rak di dalam krang­keng itu, tak nyata, ber­cam­pur dengan bunyi deburan ombak dan pukul­an­nya pada karang der­maga. Dan jan­tung­nya pun ber­de­buran menan­dingi langit laut di seki­tar­nya.

“Dekat-dekat­lah sini, Nak. Mari kita bong­kar krang­keng ini ber­sama-sama”.

“Benar­kah itu Tuan Syah­ban­dar?” sese­o­rang ber­ta­nya dalam Por­tu­gis. Sua­ra­nya lemah dan lebih tak menentu karena tiupan angin malam yang dingin.

“Tentu saja benar. Tuan Syah­ban­dar ada di sini. Telah aku sedi­a­kan perahu layar untuk kalian. Sini­lah men­de­kat. Tak dapat aku mem­buka kunci ini seo­rang diri saja”.

“Dilin­dungi Tuhan hen­dak­nya Tuan ini”.

“Jangan keras-keras bicara, Nak”, ia mem­per­i­ng­at­kan sambil mem­buka sarang pisau tong­kat. “Kebe­tulan hujan sudah reda, kilat pun tiada. Ini, ini sam­bungan pintu”.

“Kami sedang kena demam tinggi, Tuan”.

“Ya-ya, aku tahu kalian ter­luka. Semua akan baik kem­bali di tengah laut nanti”.

“Apa guna­nya lari, Tuan, badan sakit begini, demam, penge­li­hatan rusak”, suara itu sema­kin men­de­kat dan getaran pada jeriji krang­keng itu mem­be­ri­ta­kan pada Tholib Sung­kar mereka sedang meram­bat ber­ja­lan dengan susah-payah untuk dapat men­de­kati.

Syah­ban­dar itu mulai merasa tangan­nya diraba-raba oleh tangan Este­ban atau Rodri­guez yang panas karena demam.

“Kasihan kau, Nak, sakit demam begini,” dan dengan cepat ia tikam-kan pisau tong­kat­nya pada tubuh yang ber­diri di hadap­an­nya.

Suatu pekikan lemah mem­beku dite­lan deburan ombak memu­kul pada karang der­maga, menyu­sul bunyi badan­nya yang jatuh.

Yang seo­rang lagi mera­ung-raung keta­kutan dan ber­pu­tar-putar di dalam krang­keng untuk meng­hin­dari maut yang mema­tuk-matuk dari sela-sela jeriji krang­keng.

“Pem­bu­nuh! Tolong! Tolong!” pekik­nya dalam Melayu.

Gugup karena jeritan dan takut kalau-kalau dike­ta­hui orang, dengan lebih cepat lagi Syah­ban­dar ber­pu­tar menge­li­lingi krang­keng dengan terus meni­kam-nikam­kan sen­ja­t­a­nya dalam kege­lapan itu ke dalam kege­lapan itu ke dalam krang­keng. Hanya udara kosong yang dise­rang­nya.

Ia diam seben­tar menunggu jeritan sekali lagi untuk men­duga sasaran. Jeritan itu tak ter­u­lang lagi. Ia laku­kan peni­ka­man-peni­ka­man lagi. Napas­nya mulai ter­e­ngah-engah. Rasa-rasa­nya ia akan jadi gila tak juga men­da­pat­kan daging untuk ujung pisau­nya. Di mana dia? Dalam krang­keng besi per­segi kecil ini tak mung­kin dia mele­pas­kan diri.

Dari keja­uhan ter­de­ngar guruh, meng­ge­rutu seperti kucing marah. Hujan mulai turun lagi. Iblis! Mana tubuh Por­tu­gis yang satu lagi? Dia tak boleh lepas. Sepan­caran kilat mele­sit di langit seperti sebi­lah tombak api ter­lem­par. Tiba-tiba dunia men­jadi terang. Dan nampak Este­ban sedang meng­ge­lan­tung dengan kaki dan tangan pada bagian atas krang­keng.

“Ha! Kau di situ, Iblis!” bisik Syah­ban­dar dan meni­kam­kan pisau pan­jang itu pada pung­gung kor­ban­nya.

Dunia kem­bali jadi kelam pekat. Satu raungan seperti keluar dari teng­go­r­okan macan betina marah meng­ga­ruk udara diba­rengi dengan bunyi tubuh­nya yang jatuh meng­ge­le­tak.

Hujan men­jadi lebat kem­bali. Kilat mulai sambar-menyam­bar.

Syah­ban­dar kem­bali ke gedung utama, basah kuyup tapi dengan pera­saan lega.

Tak dike­ta­hu­i­nya sepa­sang mata menyak­si­kan dari sebuah biduk yang sedang ter­tam­bat pada der­maga….

Di dalam pelukan rimba-belan­tara yang dihuni oleh bina­tang-bina­tang buas itu ter­da­pat sebuah bukit kecil. Di dalam tubuh bukit ter­da­pat sebuah gua. Ribuan kele­la­war ber­sa­rang di dalam­nya. Ratusan ular dari ber­ba­gai jenis hidup makmur dari anak-anak burung atau telu­r­nya. Dan tanah pada dasar rongga pekat dan tebal oleh tum­pukan kotoran burung. Orang mena­mai gua ini: Gowong.

Seka­rang gua ini sepi dari burung dan ular, bahkan juga dari serangga. Pem­ba­karan bele­rang dalam jumlah besar telah meng­u­sir dan mem­bu­nuh semua makh­luk hidup di dalam­nya. Dasar­nya tak lagi lumpur kotoran burung, karena semua telah dising­kir­kan dan dilam­bari dengan balok-balok kayu per­segi. Rongga itu sen­diri telah dibagi dalam bilik-bilik dari papan kayu.

Sisa bau bele­rang telah diusir dengan pem­ba­karan setanggi yang terus-mene­rus.

Di depan gua itu men­ju­lur sebuah jalan seta­pak yang sema­kin lama sema­kin lebar karena setiap hari dile­wati oleh bebe­rapa belas orang yang meng­ang­kuti peti-peti dan barang-barang lain untuk ditim­bun di dalam­nya. Jalan seta­pak yang sema­kin lebar itu belum lagi lama dibi­kin orang. Belum lagi lima belas hari.

Kini gua itu telah siap untuk diting­gali.

Tetapi bila orang masuk ke dalam­nya, ia takkan meli­hat satu peti pun, karena semua itu ter­sim­pan dalam rongga di bawah gela­dak balok kayu. Maka peda­laman gua yang ber­bi­lik-bilik itu nam­pak­nya tidak ber­pe­ra­bot.

Yang per­tama-tama mening­gali gua ini adalah Idayu dan dua orang anak­nya. Bebe­rapa orang ber­tom­bak dan ber­pe­dang telah menga­wal mereka mema­suki hutan-belan­tara itu dan mem­ba­wa­nya kemari, kemu­dian mengun­ci­nya di dalam salah sebuah bilik kayu yang gelap berbau sisa bele­rang, apak-asam kotoran burung dan setanggi.

Pada hari ber­i­kut­nya masuk empat orang wanita, istri-istri Kiai Beng­gala Sunan Rajeg. Kha­i­dar nampak ada di antara mereka. Dan tak ada mereka mem­bawa anak, karena dari suami ber­sama mereka tiada pernah mela­hir­kan. Mereka menem­pati kamar besar ber­sama-sama. Juga pintu kamar mereka dipa­sak dari luar, seperti halnya dengan bilik Idayu.

Bebe­rapa belas pekerja ber­pa­kaian serba putih itu masih meng­ang­kuti bebe­rapa peti lagi dan bebe­rapa bung­kusan.

Dan sete­lah semua peng­ang­kutan sele­sai baru nampak Sunan Rajeg dii­ring­kan oleh seo­rang muda tinggi semam­pai, ber­ku­mis dan tanpa jeng­got, yang memi­kul bung­kusan-bung­kusan berat dengan empat batang tombak seba­gai piku­lan.

Pemuda itu juga yang menga­wal Idayu anak-ber­a­nak waktu menuju ke Gowong ini.

Waktu Sunan Rajeg mema­suki Gowong, pemuda jang­kung itu tak takut. Ia pergi menge­li­lingi kaki bukit kecil itu dan ber­henti di bawah seba­tang pohon rak­sasa. Ia per­ha­ti­kan pohon yang baru dili­hat­nya seumur hidup itu. Dan itulah pohon pelaka.

Ia per­ha­ti­kan tamba-tambi atau tun­jang­an­nya, rendah, tipis dan pan­jang, kemu­dian duduk di atas salah satu di anta­ra­nya. Bung­kusan-bung­kusan bawa­an­nya ia jajar di atas tanah.

Dengan kaki­nya ia mulai mem­ber­sih­kan tempat itu dari lur­u­han daun kering dan ran­ting-ran­ting busuk, dan mulai ia dengan parang mem­bi­kin tungku dari cabang-cabang kayu.

Sese­o­rang datang pada­nya mem­ba­wa­kan dan-dang dan kuali tem­baga dan air di dalam lodong-lodong bambu. Seo­rang lagi mem­ba­wa­kan kayu bakar dan sebuah kran­jang rotan berisi daging rusa,

”Kan­jeng Sunan meme­rin­tah­kan masak besar hari ini. Bumbu dise­di­a­kan ber­lim­pah-limpah. Tak pernah ter­jadi selama ini”, si jang­kung meng­u­mum­kan.

“Untuk berapa orang kau masak?” “Cukup untuk tiga puluh”.

“Tentu bukan untuk kita. Mung­kin akan datang banyak tamu nanti”,

“Tamu siapa akan datang kemari?” si jang­kung menu­kas,

“Makan besar buat kita semua yang ada di sini”,

“Untuk per­tama kali. Akhir­nya,” orang itu ber­ke­cap-kecap, “Bahkan masuk ke pen­dopo saja baru bebe­rapa minggu bela­kangan ini kita diper­bo­leh­kan”

Tiga orang itu mulai sibuk menya­la­kan api dan mema­sang bebe­rapa dan-dang di atan­nya, serta dua belanga dari tem­baga pula. “Asal tak hujan saja”, si Jang­kung mem­per­i­ng­at­kan. Semua meman­dang ke langit yang suram ter­tu­tup men­dung tipis. “Sudah, tolong caruk­kan kelapa, biar lebih cepat”. Ber­tiga mereka men­ca­ruk kelapa sampai meng­ha­sil­kan satu kran­jang. Dan sete­lah dipe­ras jadi santan si Jang­kung bicara lagi: “Sudah, sana. sele­sai­kan peker­jaan kalian, biar aku masak sen­diri”.

“Meng­apa kita pergi kemari, Firman?” seo­rang ber­ta­nya.

“Mana aku tahu?”

“Orang bilang tidak lain dari kau yang menun­juk­kan tempat ini”. Tetapi Moham­mad Firman enggan ter­li­bat dalam pem­bi­ca­raan. Ia hanya menge­rut­kan kening, dan dua orang pem­ban­tu­nya itu pun pergi meng­hin­dar. Si Jang­kung ber­ku­mis itu mem­per­ha­ti­kan mereka pergi, meng­hi­lang di dalam hutan.

Mema­tuhi aturan yang dibe­ri­kan oleh Sunan Rajeg, orang tak dibe­nar­kan berada di dapur di waktu juru masak sedang bekerja. Selama masih ada orang lain, juru masak harus meng­u­sir­nya dan tidak diper­ke­nan­kan mema­sak sebe­lum menge­ta­hui betul, tak ada orang lain lagi di dekat­nya. Juru masak harus tahu, tak ada orang mengu­rangi atau menam­bahi bahan makanan yang telah ter­se­dia.

Sete­lah ting­gal seo­rang diri baru ia mulai ber­siap-siap dengan gulai Api yang menyala besar itu memaksa ia mem­buka baju, dan muncul barisan iga pada dada­nya. Dan dada itu meng­ki­lat kekun­m­gan karena warna kul­it­nya dan karena api yang keme­rahan.

Walau masak seo­rang diri untuk orang seba­nyak itu nampak ia tak gugup atau mem­be­re­ngut. Dan mema­sak memang sudah pdt kesu­ka­an­nya. Ia mere­bus daging, mena­nak, men­je­rang, menum­buk bumbu, mengi­pasi badan dengan baju, mene­tap­kan besar api, menim­bang dan mendua beras, men­ci­cip dan meng­gu­lai.

Dan hanya ia seo­rang diri yang tahu apa yang hidup dalam hati­nya sen­diri waktu itu; ia men­cu­r­i­gai perin­tah Sunan Rajeg yang sema­kin lama sema­kin aneh.

Ia seo­rang bekas musa­fir Demak tadi­nya mema­suki Tuban untuk mem­bawa Kiai Beng­gala ber­pi­hak pada Demak, karena Demak meni­la­inya seba­gai seo­rang yang ber­ilmu dan ter­lalu banyak tahu tan­tang Jawa dan Nusan­tara. Ia pun men­da­pat tugas untuk mem­ber­sih­kan peda­laman Tuban dari guru guru pem­bi­cara kafir yang meng­em­bara dari desa ke desa, Ia ter­pi­lih untuk tugas ini karena dila­hir­kan dan dibe­sar­kan di sini,

Sebe­lum berang­kat seo­rang guru menyam­pai­kan pada­nya dise­buah pojo­o­kan mesjid agung, bahwa agama Buddha dan Syiwa telah kehi­langan keku­at­an­nya, kerun­tuhan telah di ambang pintu, maka pem­bi­ca­raan guru-guru sudah tidak punya pegangan lagi pada agama mereka dari lebih banyak mele­pas pera­saan dan piki­ran pri­ba­di­nya. Mereka meng­a­wur acak-acakan sema­u­nya sen­diri. Itu sangat baik untuk punah­nya Syiwa dan Buddha sen­diri. Maka seka­rang­lah waktu itu datang untuk mengem­bang­kan Islam, karena mereka sudah tidak diper­lu­kan lagi.

Maka kem­ba­li­lah ia ke negeri Tuban untuk mela­ku­kan tugas itu sebaik-baik­nya, dengan jalan dan cara apa pun.

Dan ter­nyata ia tak mampu mengen­da­li­kan Sunan Rajeg, yang jauh lebih ber­peng­a­laman dari­pa­da­nya, lebih ber­ilmu dan ber­pe­nga­ruh, Ia tak ber­ha­sil mem­ba­wa­nya ber­pi­hak pada Demak. Lagi pula sunan Rajeg ter­nyata mem­pu­nyai impian untuk sen­diri marak jadi sultan dan kha­li­fah seka­li­gus.

Seka­rang balat­en­tara Rajeg telah ter­pu­kul dari semua medan per­tem­puran. Sunan Rajeg harus lari menye­la­mat­kan diri. Dalam keka­lahan ini ia dapat meli­hat watak Rangga Iskak yang sebe­nar­nya tak sedi­kit pun ber­niat dalam hati­nya untuk menye­la­mat­kan peng­i­kut­nya, hanya diri sen­diri, kelu­arga dan harta ben­da­nya. Ia tak habis-habis meng­he­rani bagai­mana seo­rang pemim­pin yang ber­pe­nga­ruh begitu besar, ber­ilmu dan ber­pe­nge­ta­huan, guru yang sangat dide­ng­ar­kan, bisa ber­ting­kah laku seperti itu. Dalam keda­maian dan keme­nangan ia sudah dapat menge­nali kera­ku­san­nya. Dalam keka­lahan penga­ruh, ilmu dan penge­ta­huan hanya­lah untuk dir­i­nya sen­diri dan mil­ik­nya. Orang yang rakus akan harta benda dan keku­a­saan di dunia dan rakus akan tempat di surga di kemu­dian hari itu, dalam keka­lahan ini mem­per­li­hat­kan diri seba­gai pri­badi yang tak dapat ia hargai.

Sunan Rajeg itu tahu-tahu sudah ada di hadap­an­nya. Tangan­nya ber­si­lang pada dada dan pada tangan kanan ter­gan­tung tasbih. Mulu­r­nya komat-kamit tanpa henti sedang batuk antara seben­tar menye­rang dada­nya yang tipis. Bela­kangan ini ia keli­hatan tua, kurus dan bong­kok. Rongga mata dan pipi­nya nampak lebih cekung dari­pada bia­sa­nya. Uban pun sema­kin banyak menye­lu­supi ram­but­nya yang hitam-lekam.

Meli­hat kege­si­tan Moham­mad Firman dalam mema­sak ia ter­tawa menyapa. Lambat-lambat ia masuk­kan tasbih ke dalam saku baju, mem­be­lai-belai jang­gut dengan tangan kiri dan ber­kata lambat-lambat: “Sudah aku ajar­kan padamu mema­sak nasi secara Kabul. Ter­nyata kalian suka, bukan? Seka­rang orang sudah mulai meng­gu­na­kan nasi kabuli untuk ber­ha­jat. Firman, sudah kau cicipi gulai itu? Baik. Seka­rang cam­pur­kan serbuk mi sampai rata ke dalam­nya dan tenang­kan agak lama sete­lah men­di­dih sekali lagi”. Pada juru masak ia serah­kan sebuah cepuk kecil dari anyaman bambu.

“Kau sen­diri yang menu­ang­kan, Firman. Dengan serbuk ini gulai akan jadi gulai Mala­bari. Kalian akan rasa­kan nanti untuk per­tama kali dalam hidup kalian. Gulai Mala­bari! Ada juga yang mena­ma­inya kare, tapi lain dari yang dari Mala­bar ini. Tapi awas, jangan kau cicipi, bila dici­cip ia bisa beru­bah jadi racun!”

‘Jadi racun. Kan­jeng Sunan? ”

“Jadi racun Bukan main-main. Bumbu bukan sem­ba­rang bumbu, bumbu bikinan lelu­hur,sudah ratusan tahun, yang menye­bab­kan bocah-bocah bisa ber­hi­dung man­cung dan orang dewasa jadi pan­jang umur. Bumbu ini bagi­lah men­jadi dua, setiap bagian untuk satu belanga gulai itu”.

Sunan Rajeg ber­ja­lan mening­gal­kan tempat itu untuk meli­hat-lihat seki­tar tungku, kemu­dian balik lagi pada Firman: “Sebe­lum semua dihi­dang­kan, Firman, ingat-ingat, semua pun­tung kayu dan arang, juga tung­ku­nya seka­li­gus, harus dita­nam sampai tak nampak mata. Iblis pun tak boleh menge­ta­hui. Itulah aneh­nya syarat-syarat untuk bumbu itu”.

Dan ia pun pergi, yakin semua peng­i­kut­nya mema­tuhi semua kata­nya, yakin setiap kata­nya adalah hukum.

Tetapi juru masak seo­rang ini bukan saja telah ter­di­dik menge­bas­kan tahyul dan omong kosong seba­gai musa­fir pilihan, ia pun sema­kin men­cu­r­i­gai Sunan Rajeg yang sema­kin aneh. Ia tak dapat mem­per­ca­yai adanya hubungan antara bumbu dengan hidung yang dapat man­cung atau­pun dengan umur pan­jang. Dan apakah guna­nya hidung seman­cung dan seti­pis itu kalau toh rapuh dalam setiap tub­ru­kan? Dan umur itu, bukan­kah dia bukan urusan manu­sia? Dan tidak lain dari Sunan Rajeg sen­diri yang sering meng­a­jar­kan? Dan apa sebab bekas-bekas harus dita­nam, sedang­kan iblis akan tetap dapat menge­ta­hui?

Adapun kecu­r­i­gaan dan kehe­ran­an­nya harum dan sedap bau gulai itu memang luar biasa dan mena­rik liur untuk ber­te­tesan sema­u­nya sen­diri. Baunya meng­a­wang berat dan buyar ke mana-mana pen­juru dalam udara tak ber­a­ngin itu.

Bebe­rapa kali ia meli­hat sosok tubuh meng­in­tip dari keja­uhan ter­ta­rik oleh sang harum sedap. Dan ia pura-pura tak tahu. Namun mata­nya jadi mene­ro­bosi balik-balik deda­unan.

Ia sen­diri ingin men­ci­cipi Dan mana bisa seo­rang juru masak tak boleh men­ci­cip?

Menge­ta­hui di balik deda­unan hutan tak lagi ada mata meng­in­tip, ia sambar sepo­tong daging gulai dari belanga, ber­ce­pat-cepat meng­hin­dar ke balik palaka, duduk di atas tambi. Daging itu ter­lalu lama dima­sak, sangat panas dan gamoh, hampir lumat, jatuh di antara kedua belah kaki­nya.

Firman menye­but. Ia menya­dari per­bu­at­an­nya tidak dir­id­hoi maka tak meng­am­bil sepo­tong lagi. Dili­hat­nya bebe­rapa peng­in­tip muncul lagi dari balik deda­unan hutan ter­pang­gil oleh harum sang gulai.

Ia pergi ke tungku dan mema­dam­kan api. Tanakan dan makanan ia turun­kan di atas tanah, kemu­dian dengan pacul kayu kecil ber­mata baja ia meng­gali lubang, mema­suk­kan bekas-bekas tungku dan pun­tung-pun­tung ke dalam­nya. Hilang semua itu dari pan­dangan mata.

Nasi ia masuk­kan ke dalam bakul besar. Gulai tetap dalam belanga, demi­kian juga halnya dengan air minum. Tanah bekas ia masak ia sapu dengan seikat ran­ting hidup, dan hilang­lah bekas­nya, seka­li­pun masih nampak meng­uap.

Seka­rang ting­gal mele­pas­kan lelah barang seben­tar. Kem­bali ia pergi men­de­kati pohon palaka dan duduk pada tam­bi­nya. Ter­i­ngat pada nasib daging yang ter­ja­tuh, ia bang­kit lagi untuk meng­am­bil pacul. Ia harus mena­nam­nya sekali. Mata­nya gera­yangan men­ca­ri­nya, dan daging itu tiada! Tak jauh dari tempat itu meng­ge­le­tak seekor biawak pohon yang baru saja mati.

Bumbu itu bera­cun, pikir­nya, kalau bukan biawak itu ten­tu­lah aku yang mati. Bina­tang itu ia angkat pada teng­kuk­nya dan ia cium-cium mulut­nya. Benar. Mulut­nya berbau kare. Sunan Rajeg telah ber­mak­sud menum­pas sisa peng­i­kut­nya yang paling setia untuk menye­la­mat­kan harta-ben­da­nya. Gila!

Keke­ce­wa­an­nya ter­ha­dap pemim­pin­nya itu kini men­ca­pai pun­cak­nya dan beru­bah jadi kemu­a­kan dan keben­cian. Orang itu lebih biadab dari pada orang yang dibu­suk-busuk­kan­nya selama ini, tidak lebih baik dari­pada Sang Adi­pati atau­pun kafir, kufur, muna­fik mana pun. Dialah orang yang tak tahu ber­te­rima kasih kepada Tuhan dan semua ummat.

Ia masuk ke dalam gua dan meli­hat ruang tengah telah dige­lari dengan daun pisang hutan. Dan itu ber­arti ia sudah boleh mema­suk­kan hidangan. Menu­rut aturan yang baru dite­ri­ma­nya, dalam tata-tertib Gowong, yang per­tama-tama dila­yani adalah istri-istri Sunan dan Sunan sen­diri, kemu­dian para peng­i­kut, dan paling akhir san­dera Idayu dan anak-anak­nya.

Ber­ja­lan mele­wati ruang tengah sete­lah kem­bali dari mem­bawa ca-dong untuk istri-istri Sunan, ia dapati Rangga Iskak telah duduk ber­sama peng­i­kut-peng­i­kut­nya yang ter­se­tia itu menge­pung hidangan.

“Firman”, tegur Sunan Rajeg, “sekali ini kau pun ber­sama-sama kita semua menik­mati rezeki dari Allah ini. Ayoh, sini, jangan ragu. Satu kehor­matan bagi kalian makan ber­sama-sama dengan Sunan Rajeg”.

Juru­ma­sak itu ikut duduk menge­pung hidangan. Tak lain dari Sunan sen­diri yang meng­u­cap­kan doa. Hidangan dibong­kar dan dibagi-bagi-kan oleh si jang­kung. Orang pun mulai menyan­tap dengan lahap.

“Ayoh, habis­kan. Mau meli­hat bagai­mana kalian makan gulai mala­bari. Juru­ma­sak, yang bela­kang jangan dihi­dangi dulu. Sekali ini mereka akan makan bela­kangan. Ayoh, semua, jangan enggan”.

Dalam keri­ku­han­nya orang makan sema­kin lahap, lupa mem­per­ha­ti­kan yang lain-lain. Firman meng­ang­kat daun pisang­nya tinggi-tinggi, mem­per­li­hat­kan sedang makan dengan rakus. Mata­nya jeli mem­per­ha­ti­kan Sunan Rajeg, yang tak juga men­ja­mah makan­an­nya, dan terus juga bicara. Keli­hatan ia seperti orang pemu­rah yang ikhlas.

Harum kare itu memang tak ter­ta­han­kan. Makanan Firman pun ter­ke­nal tanpa tan­dingan. Keri­ku­han sama sekali hilang ter­gan­ti­kan dengan kera­ku­san makan.

Juru­ma­sak itu mem­per­ha­ti­kan teman-teman­nya sambil terus pura-pura makan dengan daun pisang ter­ang­kat tinggi. Ia menunggu apa yang akan ter­jadi. Dan memang sedang akan ter­jadi sesu­atu.

Tak antara lama ia lihat bebe­rapa orang ter­henti makan dengan menge­jut, ber­diri, ber­ja­lan ter­hu­yung-huyung men­de­kati Sunan, ber­henti, kaki­nya goyah, mulu­r­nya menga­nga tanpa bisa menge­lu­ar­kan suara, kemu­dian jatuh seperti karung kosong di lantai.

Yang lain-lain pun ber­henti makan, mena­rik-narik jakun atau memu­tar-mutar­kan kepala, ber­diri untuk kemu­dian jatuh di lantai juga dan tak ber­ge­rak lagi.

Firman men­duga, kerong­kongan dan lidah dan bibir mereka mula-mula jadi kelu dan kaku sehingga jadi mutlak gagu, seperti kena kecu­bung, mung­kin juga usus dan kemu­dian melum­puh­kan bagian-bagian lain yang pen­ting. Mata mereka nam­pak­nya juga men­jadi buta sebe­lum mati.

Sunan Rajeg masih duduk di tem­pat­nya meng­a­wasi semua keja­dian dengan kening ber­ke­rut-kerut. Seka­rang mata­nya dia­rah­kan­nya pada Firman yang masih juga belum meng­ge­le­tak.

Tak ada jalan lain bagi si jang­kung dari­pada mesti meng­i­kuti contoh teman-teman­nya. Ia ber­diri dengan mulut ternga-nga, meraba-raba, dan jatuh dengan kepala miring dan mata ter­tu­tup lengan, meng­in­tip Sunan Rajeg.

Ia lihat Rangga Iskak bangun dari tempat duduk. Air muka­nya suram dan ber­ke­rut-kerut. Ia dekati salah seo­rang korban dan ber­bi­sik pada­nya: “Ya Allah, ter­j­a­dilah apa yang kau izin­kan untuk ter­jadi. Kau telah benar­kan semua ini ter­jadi atas per­se­tu­juan-Mu. Tanpa kehen­dak-Mu, semua ini takkan mung­kin ber­laku”.

Ia ber­ja­lan mene­liti wajah seo­rang demi seo­rang. Sampai pada Firman ia ber­henti lama dan agak ragu-ragu, meraba-raba jan­tung­nya yang masih juga ber­de­nyut dan paru-paru­nya yang masih juga kem­bang-kempis. Ia meng­ang­guk-angguk dan ber­kata pada­nya: “Tidak aku beri­kan kesa­kitan padamu, Firman. Semua jalan menuju ke akhi­rat. Kau hanya lebih cepat. Ampun­i­lah aku”.

Per­caya, bahwa juru masak itu akan segera mati pula, ia mening­gal­kan­nya, ber­diri di tengah-tengah ruangan, bim­bang, sekali lagi mene­bar­kan pan­dang pada korban-kor­ban­nya. Ia melang­kah ke jurusan bilik Tak jadi. Ia ragu-ragu. Dibe­lai-bela­inya jeng­got­nya, tiba-tiba ter­tawa riang ter­ba­hak dan ber­pi­dato: “Dahulu, tidak, masih kema­rin kalian deng­ar­kan ajaran-ajar­anku untuk bekal dunia dan akhi­rat. Anak-anakku, seka­rang kalian tidur nye­nyak seperti bocah-bocah, anak Adam yang damai. Untuk kese­la­matan pemim­pin kalian, untuk Sunan Rajeg, semua ini telah ter­jadi atas kehen­dak-Nya. jangan menye­sal. Pada akhir­nya akhi­rat akan lebih baik, lebih menentu, dari­pada dunia.”

Seperti orang kehi­langan akal tiba-tiba ia ter­henti, meno­leh ke mana-mana dan meme­kiki: “Kha­i­dar! Kha­i­dar! Bawa semua sau­da­rimu kemari. Kita ada kerja!” ia meng­hi­tung dengan telun­juk jumlah kor­ban­nya. Sem­bi­lan belas. “Kha­i­dar! Cepat! Apa kau tunggu-tunggu di dalam?”

“Kha­i­dar sudah mati, Kan­jeng Sunan!” jawab juru masak dengan suara bisik.

“Asta­ga­fi­r­ul­lah!” sahut pemim­pin itu. Mata­nya ter­be­liak men­cari-cari mayat yang dapat bicara itu. “Suara apa kude­ngar ini? Kha­i­dar! Ayoh, sini, keluar”.

Juru­ma­sak meng­u­langi jawab­an­nya. Dan Sunan Rajeg mulai curiga. Ia dekati bang­kai itu seo­rang demi seo­rang sambil meng­go­yang-goyang­kan kepala mereka.

“Mati!” kata­nya setiap habis meme­riksa.

Seka­rang sam­pai­lah ia pada Firman. Tangan­nya men­ce­kam rambut juru masak dan mena­tap wajah­nya. Si jang­kung mera­ung tinggi dan melom­pat ber­diri. Sunan Rajeg ter­ba­lik sang­king kaget­nya.

“Ya, akulah iblis!” raung Firman, kemu­dian tawanya ber­ga­ung-gaung ber­pen­da­nan dalam rongga gua itu. “Jangan kau kira aku biar­kan kau dapat ter­le­pas dari tanganku”, ancam­nya dengan suara dada yang dalam.

Sunan Rajeg geme­tar tak mampu mem­per­ta­han­kan tegak badan­nya sen­diri. Sua­ra­nya sangat pelan memang­gil-mang­gil Kha­i­dar, minta tolong. Tangan­nya ber­ge­ra­yangan untuk men­cari tempat ber­san­dar. Kemu­dian mulu­r­nya ber­ko­mat-kamit meng­u­cap­kan doa peng­u­sir roh jahat. Dalam kea­daan seperti itu ia tak sempat ter­ba­tuk-batuk.

“Pergi! Pergi kau, iblis peng­ganggu”, pekik­nya sete­lah sele­sai doanya. “Pergi kau ke alammu sen­diri”.

“Telah kau bunuh aku, Sunan Rajeg, doa-doamu tidak mempan ter­ha­dapku. Ya-ya-ya, apa dosaku maka kau bunuh?”

“Kem­ba­li­lah tenang, ber­se­rah diri ke alam Baka, Firman! Deng­ar­kan Firman”, kem­bali Sunan men­co­bai memi­da­toi dan nampak ia mena­bah-nabah­kan diri.

Juru­ma­sak memu­ngut segum­pak daging kare, dici­um­nya seben­tar, kemu­dian diu­lu­r­kan pada pemim­pin­nya. Sua­ra­nya meng­ge­le­dek: “Makan ini, pem­bu­nuh! Makan, kataku!”

“Tidak, aku tak suka kare”.

“Harum bau dan lezat rasa­nya, bikin hidung jadi man­cung dan umur jadi pan­jang. Meng­apa tak suka lagi pada kare? Lebih muda jadi pesek?” ia sema­kin maju men­de­kati.

“Makan, ayoh, gulai Mala­bari, Sunan”.

Rangga Iskak meno­lak dengan tangan geme­tar.

“Dija­uh­kan aku dari makanan itu,” sebut­nya.

‘Tak mau kare? Atau lebih suka pisau dapur?” juru masak menge­lu­ar­kan pisau dari ping­gang­nya.

“Jangan, jangan. Kau boleh ambil satu dari peti-petiku dan per­gi­lah demi Tuban. Jangan ganggu aku. Ambil satu peti dan per­gi­lah dengan damai,” kata pemim­pin Rajeg itu sete­lah menge­ta­hui, juru masak itu tidak mati. “Kha­i­dar! Kha­i­dar!”

“Juga Kha­i­dar sudah mati kau bunuh!”

“Bohong. Tak pernah Sunan Rajeg mem­bu­nuh orang. Kau, dengan tanganmu sen­diri yang mem­bu­nuh mereka”, kata­nya sambil menu­ding korban-kor­ban­nya yang ber­ge­lim­pangan.

“Kau pem­bu­nuh!” tuding Firman. “Ning­rat Jawa takkan laku­kan keke­jian sema­cam ini”.

“Pergi! Pergi!” pin­ta­nya gugup.

“Bawa satu peti”.

“Hanya satu?” Firman meng­ger­tak, “sete­lah pem­bu­nuhan keji ini?”

“Dua. Ya, dualah”.

“Dua peti takkan dapat kuha­bis­kan seumur hidup”.

“Sampai dengan cucumu takkan habis, Firman, dinar dan real, emas dan perak, intan, zamrud, delima, mirah, kecu­bung, kali­maya, batu-batuan mulia yang tak pernah kau lihat seumur hidup… ah, kau bisa jadi maha­raja dengan dua peti itu. Kain-kain, khasa, sutra, kaliko, per­ma­dani buatan Liba­non dan Ash­kha­bad….”

“Bahkan kema­tian istrimu pun kau tak ratapi”.

“Siapa tidak?”

“Sete­lah kau mem­bu­nuh­nya?”

“Bukan aku. Kau!” tuduh Sunan Rajeg.

“Ayoh, makan daging kare ini”.

“Tiga peti!”

“Lebih baik kau susul istri-istrimu…’

‘Tiga peti. Tak dibe­nar­kan oleh Tuhan mem­bu­nuh dir­i­nya sen­diri dan mem­be­lan­jakan harta tiada sepa­tut­nya”.

“Kau tak perlu mem­bu­nuh dirimu sen­diri. Sini, biar aku yang menge­r­ja­kan. Sini! Si… ni”.

Di dalam bilik kayu itu udara lembab, berat dan men­ce­kik. Mereka harus mem­bi­a­sakan diri untuk dapat ting­gal di situ. Gelar dan adik­nya nam­pak­nya mera­sai bayang-bayang keta­kutan pada ibunya. Mereka tidak mem­pro­tes apa pun yang ter­jadi. Maka kete­nangan mengu­a­sai bilik itu.

Men­de­ngar ribut-ribut di luar bilik, Idayu melom­pat ke pintu yang takkan mung­kin dibong­kar­nya dari dalam itu. Dan ia hanya dapat menang­kap suara-suara ribut, jelas sedang mem­per­e­but­kan sesu­atu. Dalam kege­lapan bilik Gelar pun ber­ge­gas ke pintu men­de­kati ibunya.

Kata-kata keras di luar itu ber­ham­buran menem­busi din­ding kayu dan lubang-lubang­nya.

Mereka tak dapat meli­hat sesu­atu.

“Berapa ratus, berapa ribu saja orang mati karena kau! Kau sen­diri takut mati! Ayoh, makan sen­diri racunmu ini. Apa kau lebih memi­lih pisau dapur?”

“Jangan, ambil­lah tiga peti itu”.

“Kau pun orang asing pem­bi­kin onar. Orang asing lain jadi Sultan ka u meng­iri, men­dengki. Kau sen­diri mau meng­ga­gahi semua, menipu, menga­cau, memu­tar balik­kan, meng­adu domba, mau jadi raja paling ber­ku­asa, dengan keri­ngat dan darah dan nyawa orang lain!”

“Tiga peti cukup, Firman, demi Allah”.

“Tak ada sesu­atu yang baik dapat dipu­ngut dari kau!” suara ben­takan

“Hidung man­cung, gan­teng, banyak ilmu, pandai mewe­jang, hafal semua firman Allah… hanya iblis laknat belaka. Rasa­kan ini!”

Cepat-cepat Idayu meng­ang­kat Gelar dan mereka pura-pura tidur nye­nyak.

Jan­tung ibu itu ber­de­bar-debar ken­cang men­de­ngar lang­kah kaki di atas lantai balok-balok kayu yang sema­kin men­de­kat. Dan balok-balok yang ter­in­jak itu ber­ge­sekan satu dengan yang lain. Dan lang­kah itu kian men­de­kat juga.

Ia dekap Gelar erat-erat, dan anak itu menyem­bu­nyi­kan muka­nya pada dada ibunya dalam kege­lapan.

Lang­kah kaki itu ber­henti di depan pintu bilik.

“Dewa Batara!” bisik Idayu hampir tak ter­de­ngar.

“Mak”.

Ter­de­ngar pasak pintu dibuka dari luar bilik. Segum­pal cahaya rem-bang masuk ke dalam.

“Keluar!” ter­de­ngar oleh Idayu dan Gelar suara yang meme­rin­tah pelahan dan lembut. Mereka pura-pura tidur.

“Tidur­kah kau, Mbo­kayu?”

Ter­si­rap darah Idayu. Ia pernah dengar suara itu – sua­sana yang sama sekali tidak jahat. Ya-ya suara pemuda penga­wal yang mem­ba­wa­nya kemari. Meng­apa sua­ra­nya selalu selu­nak itu?

Orang itu tak masuk ke dalam bilik, tetap ber­diri di ambang pintu dan meng­u­langi perin­tah­nya dengan sua­ra­nya yang lunak itu juga, dan manis, dan memi­kat.

Idayu tak dapat mem­per­ta­han­kan pura-pur­a­nya lebih lama. Ia turun dari ambin. Gelar tak sudi mele­pas­kan rang­kul­an­nya dan men­je­rit. Ia gen­dong anak itu dan meng­ham­piri penga­wal muda jang­kung ber­ku­mis tanpa jeng­got itu. Ber­ta­nya: “Akan dibu­nuh­kah kami?” ia tak dengar si bayi sudah mulai mena­ngis pula.

“Ah, Mbo­kayu, mana bisa orang akan bunuh pujaan Tuban?” Seperti ter­si­hir oleh sua­ra­nya ia masuk lagi dan meng­am­bil bayi­nya. Gen­dong meleng­ket pada pung­gung­nya.

“Mari ting­gal­kan tempat ini. Mari aku antar­kan ke Tuban. Kang Galeng sudah lama menunggu”.

Sia­pa­kah orang ini? Tapi ia tak berani ber­ta­nya.

“Mari aku bantu. Biar kugen­dong keme­na­kan tertua ini”. Gelar meronta dan mera­ung. Dan ia tak memaksa.

“Biar si bayi saja kugen­dong”, kata­nya meng­u­lu­r­kan tangan. Idayu meman­da­ng­i­nya dengan curiga. Mata­nya liar tak mem­per­ca­yai. Dan bayi itu tak dise­rah­kan­nya.

“Ah, Mbo­kayu sen­diri. Kau lupa padaku. Akulah Pada”.


Bab 26

Pertemuan Kembali

Regu kuda itu kecil saja jum­lah­nya, tak lebih dari dua puluh o-rang. Juga tidak dipim­pin oleh Ban­teng Wareng. Oleh Maesa Wulung pun tidak. Wirang­gal­eng sen­diri yang mem­ba­wa­nya. Mereka ber­ge­rak bukan untuk ber­tem­pur. Mereka sedang ber­u­saha men­cari Idayu dan anak-anak­nya.

Selu­ruh Tuban gempar men­de­ngar berita Idayu, penari pujaan itu, dicu­lik oleh gerom­bolan Sunan Rajeg. Tak ada orang bisa mema­af­kan bila dia sampai ter­kena cedera. Bahkan desas-desus ten­tang per­la­kuan Syah­ban­dar Tuban ter­ha­dap­nya, bila tidak karena per­lin­dungan Sang Adi­pati, telah lama dapat mem­bu­nuh Tholib Sung­kar itu secara kejam. Apa­lagi kini: dicu­lik oleh musuh Tuban. Takkan ada ampun.

Semua berdoa dan ber­ha­rap agar penari itu dise­la­mat­kan. Para pemim­pin pasukan telah men­de­sak Sena­pati agar menge­rah­kan balat­en­tara untuk men­ca­ri­nya sampai dapat, hidup atau mati. Lima puluh tahun lama­nya, belum tentu ada penari seperti itu lagi.

Jadi tak lain dari Sena­pati Tuban sen­diri yang berang­kat dengan dua puluh orang pasukan kuda. Seki­ra­nya tidak berang­kat dengan diam-diam tak kurang-kurang­nya orang yang ber­se­dia ber­ga­bung dalam barisan pen­cari.

Dengan demi­kian pen­ca­rian dimu­lai. Tujuan lang­sung desa Rajeg, yang selama ini memang belum lagi dija­mah oleh balat­en­tara.

Setiap mema­suki desa peda­laman regu kuda itu ber­ken­dara pelan-pelan mem­per­ha­ti­kan kehi­dupan yang sedang mulai hendak pulih kem­bali. Orang telah mulai meng­ga­rap sawah dan ladang. Keda­maian yang dulu keli­hatan sedang mem­biak kem­bali. Dan bila malam datang game­lan pun mulai men­dayu-dayu lagi. Per­jaka dan pera­wan menari dan menya­nyi lagi. Di tempat-tempat ter­tentu orang bel­a­jar mem­baca Al-qufan tanpa gang­guan. Di tempat lain lagi orang men­de­ng­ar­kan guru pem­bi­cara yang semua saja meng­um­pat dan mengu­tuk Sunan Rajeg.

Per­gu­r­uan-per­gu­r­uan Buddha sema­kin susut. Dan dengan adanya penga­jian-penga­jian anak-anak men­da­pat dalih untuk tidak mengun­jungi dua-duanya. Penga­ruh Buddha dan Syiwa sema­kin susut. Tak bisa lain, ber­a­bad-abad lama­nya agama raja adalah agama kawula, dan Sang Adi­pati dimasy­hur­kan oleh kawu­la­nya telah meme­luk Islam.

Di satu dua desa regu kuda itu menge­ta­hui juga adanya bebe­rapa orang lelaki mela­ri­kan diri meli­hat mereka datang. Dan Sang Sena­pati meme­rin­tah­kan pada anak buah untuk mem­bi­ar­kan mereka lari. Dan pada desa demi­kian diting­gal­kan­nya pesan, pasukan kuda datang bukan untuk meng­a­duk desa. karena Sena­pati Tuban adalah juga anak desa, besok atau lusa toh akan kem­bali hidup di desa, men­jadi petani seperti yang lain-lain.

Bila yang dida­tangi reda dari keta­kut­an­nya, regu kuda itu menam­bahi: “Jangan takut Kami tak memu­suhi kalian. Memang ada yang kami cari: Sunan Rajeg. Kata­kan ke mana dia ber­se­m­bu­nyi. Dia yang ber­dosa, bukan seo­rang pun di antara kalian.

Kata-kata sema­cam itu mele­nyap­kan kege­li­sahan dan keta­kutan. Namun tak juga dida­pat­kan kete­rangan di mana Sunan Rajeg ber­se­m­bu­nyi.

Sampai di desa Rajeg, regu kuda itu hanya mene­mui kesu­nyian. Desa itu sama sekali telah diting­gal­kan. Tak ada tanda-tanda orang ting­gal. Hanya kucing kela­paran gen­ta­yangan men­cari mangsa dan ayam-ayam beter­bangan tinggi di pepo­honan meli­hat keda­tangan regu kuda.

Regu itu menye­bar ke selu­ruh desa dengan masih menung­gang kuda Sena­pati mema­suki pen­dopo rumah joglo Sunan Rajeg, ber­henti di tengah-tengah, kemu­dian masuk ke dalam rumah dengan pedang telan­jang di tangan.

Semua pintu ting­gal ter­buka. Pera­bot rumah masih utuh, tetapi semua barang ber­harga tiada nampak.

Meli­hat semua itu ia mena­rik kesim­pulan, bekas Syah­ban­dar Tuban itu mem­pu­nyai cukup per­si­apan untuk mela­ri­kan diri, dan mela­ri­kan diri dengan semua harta ben­da­nya. Maka in takkan dapat pergi jauh. juga di rumah itu Idayu tak dite­mu­kan.

Wirang­gal­eng meme­rin­tah­kan meme­riksa setiap rumah. Di setiap rumah yang dima­suki pintu dida­pat­kan ter­buka dan barang-barang kocar-kacir beran­takan di lantai, per­tanda diting­gal­kan dengan ter­buru-buru.

Tak seo­rang pun dite­mu­kan. Apa­lagi Idayu dan anak-anak­nya. Ia perin­tah­kan meme­riksa daerah seki­tar. Kuburan orang Islam pun dipe­riksa. Bekas galian dise­li­diki. Di dekat kuburan itu mereka men­da­pat­kan mayat seo­rang wanita yang telah rusak dan sisa seo­rang bayi di dekat­nya.

Wirang­gal­eng memer­lu­kan mene­li­ti­nya, dan ia meng­am­bil kesim­pulan: bukan istri, juga bukan anak­nya.

Mayat-mayat itu kemu­dian ditim­bun dengan tanah dan diting­gal­kan.

Regu itu ber­ge­rak terus ke desa-desa selan­jur­nya. Dan Sena­pati menam­bahi pesan­nya: “Pen­du­duk desa Rajeg supaya kem­bali ke desa­nya, meng­am­bil semua harta benda yang masih ter­ting­gal, tetapi jangan lagi ting­gal di situ. Ting­gal­kan Rajeg, mene­tap­lah di desa lain. Jangan lagi desa sial itu diting­gali, biar kem­bali men­jadi hutan”.

Sema­kin mening­gal­kan Rajeg sema­kin ber­te­tesan kete­rangan yang bisa dida­pat ten­tang arah per­gi­nya Sunan Rajeg. Regu itu mulai dapat men­je­jak tempat Rangga Iskak yang ter­a­khir.

Pada suatu hari sam­pai­lah mereka di jalan seta­pak yang mele­bar itu, sampai leba­ran itu ber­a­khir, dan di sana­lah Gowong, per­se­m­bu­nyian bekas Syah­ban­dar Tuban itu.

Dari keja­uhan mereka telah dapat meli­hat bukit kecil tujuan. Per­si­apan untuk per­ke­la­hian telah diatur. Kuda dija­lan­kan pelan-pelan sambil mena­jam­kan mata pada atas pepo­honan dan puncak bukit.

Juga di sini tak nampak ada kehi­dupan manu­sia.

Yakin dekat dengan tujuan, bau bang­kai sema­kin merang­sang dan sema­kin memu­ak­kan. Dan sampai di depan pintu gua kea­daan tetap sunyi. Tetapi bau bang­kai men­jadi-jadi.

Seo­rang ang­gota regu melem­par­kan batu ke dalam gua. Tak ter­ja­wab. Seba­lik­nya ribuan lalat mubal beter­bangan ke luar masuk gua.

“Tak ada orang di dalam. Masuk!”

Mereka menyerbu masuk dengan kuda. Kege­lapan, bau busuk dan ribuan lalat itu juga yang menyam­but mereka. Dan pada waktu itu juga tahu mereka sedang berada di hadapan bang­kai-bang­kai yang ber­ka­paran. Sisa bau bele­rang menye­bab­kan bina­tang buas tidak menyerbu kemari.

Meli­hat bang­kai-bang­kai itu Wirang­gal­eng melom­pat turun dari kuda. Ia periksa mayat-mayat yang sudah rusak itu seo­rang demi seo­rang. Dan lalat tak henti-hen­ti­nya men­de­ngung di tempat itu. Tak ada tanda-tanda wanita di antara mereka.

Juga semua pra­ju­rit ikut meme­riksa.

“Dayu! Idayu!” teriak Wirang­gal­eng memang­gil-mang­gil.

Hanya gema yang men­ja­wabi kem­bali.

“Seo­rang mati diti­kam keris, Sena­pa­tiku!” seo­rang mela­por­kan.

Mereka meme­riksa yang mati ter­ke­ris.

“Periksa selu­ruh gua!” pekik Sena­pati. “Inilah si kepa­rat Rangga Iskak. Hem. Kaulah ini gerangan? Hanya begini saja akhirmu?”

Ia per­ha­ti­kan letak bang­kai yang satu itu dan ang­gota badan serta luka-luka tikaman yang telah menge­lu­ar­kan bela­tung itu.

Mati ter­bu­nuh atau bunuh diri?

Ia cabut pisau yang masih ter­tan­cap, dipe­rik­sa­nya, dan menge­ta­hui: pisau dapur.

Rangga Iskak dibu­nuh oleh perem­puan, pikir­nya, dan dipe­rin­tah­nya seo­rang untuk meme­riksa apakah di dalam atau di luar gua ter­da­pat sebuah dapur.

Mung­kin­kah Idayu yang mem­bu­nuh­nya? Dan ia ber­te­riak memang­gil-mang­gil lagi. Juga hanya gaung yang men­ja­wabi.

Pra­ju­rit-pra­ju­rit yang meme­riksa lebih ke dalam mene­mu­kan empat bang­kai perem­puan. Segera ia mela­por­kan. Sena­pati ber­ge­gas masuk mem­bawa obor dari ran­ting-ran­ting kayu dan serangga beter­bangan menub­ru­ki­nya.

Ia periksa bang­kai-bang­kai yang rusak itu seo­rang demi seo­rang, dan ia ragu tak dapat memas­ti­kan. Hanya hati­nya yang hilang: itu bukan orang yang kau cari.

“Per­ba­nyak obor!” perin­tah­nya. Tapi hati­nya lebih keras mera­ung: Kau tak boleh aku temu­kan dalam kea­daan begini, dan tak boleh di sini.

Dan api dari batang-batang bambu tua lapuk menyi­nari selu­ruh rongga ber­la­pis papan itu.

Dalam bilik yang lain orang mene­mu­kan selem­bar popok bayi. Sena­pati itu sen­diri masuk ke dalam dan meme­riksa popok itu, Satu raungan keluar dari mulu­r­nya, seperti suara orang gila: “Anakku, tak bisa lain, pasti anakku!”

“Nyi Gede Idayu!” yang lain-lain mulai ber­la­rian keluar dan memang­gil-mang­gil ke seki­tar.

Suara ramai dan keras itu ber­gema-gema di dalam rongga, juga di dalam rimba.

Pra­ju­rit itu pergi untuk men­da­pat­kan dapur.

Yang lain-lain terus menge­li­lingi seki­tar bukit sambil ber­seru-seru dari atas kuda­nya. Tetapi hanya gaung yang men­ja­wabi. Mereka hanya men­da­pati tim­bunan kotoran burung pada sebuah lekukan tanah. Dalam pem­bong­karan tak dida­pat­kan bekas kehi­dupan, tak ada mayat, tak ada tulang, tak ada pakaian. Kemu­dian dida­pat­kan galian baru, ter­tim­bun tanah yang agak baru. Waktu dibong­kar ter­nyata bekas-bekas dapur. Dalam waktu dekat dida­pat­kan tanah ter­ba­kar bekas tempat tungku.

Wirang­gal­eng itu menye­li­diki seki­tar bekas tungku, pada cabang-cabang kayu di dekat-dekat­nya untuk men­da­pat­kan bekas sesaji: kapur, sirih, beras kuning, pinang. Seti­dak-tidak­nya kapur itu tidak akan ter­ganggu oleh bina­tang atau­pun cuaca. Dan ia tidak men­da­pat­kan­nya. Bukan seo­rang perem­puan yang masak di sini, ia memu­tus­kan, seo­rang lelaki. Bukan Idayu yang mem­bu­nuh Rangga Iskak, tapi seo­rang juru-masak lelaki.

Mereka mene­mu­kan sumber air yang meng­a­lir jernih. Di sana mereka mem­ber­sih­kan diri.

“Bakar gua itu!” perin­tah­nya.

Orang pun meng­ang­kuti kayu dan ran­ting, men­je­jal­nya di tempat mayat-mayat ber­ge­lim­pangan. Daun-daun kering ditim­bun­kan dan kemu­dian diba­kar.

“Kem­bali!” perin­tah Sena­pati.

Regu itu mening­gal­kan bukit dan gua Gowong. Hasil­nya dua: selem­bar popok dan kenya­taan Rangga Iskak telah mati, diti­kam dengan pisau dapur dan tidak jelas siapa meni­kam­nya.

Api di dalam gua itu dengan cepat mem­bu­bung. Rongga itu ter­se­kat oleh asap dan api, kini ting­gal bara­nya masih juga menga­nga

Dan popok itu mem­beri fira­sat pada Sena­pati, bahwa anak­nya belum mati, juga istri­nya.

Gelar duduk di atas bahu Pada alias Moham­mad Firman dan tangan­nya ber­pe­gangan pada kepala. Idayu meng­gen­dong bayi.

Mereka ber­ja­lan di antara pepo­honan rak­sasa dalam rimba belan­tara itu. Idayu mem­bawa tombak sebi­lah dan pada ping­gang­nya ter­gan­tung pedang yang ter­lalu pan­jang untuk­nya. Gelar mem­bawa empat bilah tombak. Juga pada ping­gang­nya ter­gan­tung pedang.

“Betapa jadi­nya anak-anak ini, Pada, kalau kau tak datang meno­long?” bisik Idayu dalam usa­ha­nya untuk menya­ta­kan teri­ma­ka­sih­nya.

Rimba itu ter­lalu lebat. Sinar matari tak mampu menem­busi. Dengan tombak di tangan dua orang itu selalu was­pada. Mata mereka antara seben­tar meli­hat ke atas untuk dapat meng­hin­dari ular yang sedang menunggu mangsa. Dan memang ular itu juga musuh yang paling ber­ba­haya. Baunya yang langau memang segera dapat dike­nal, tetapi tanpa mata awas boleh jadi orang tak mem­per­ha­ti­kan baunya lagi.

Pan­dang mata Pada ber­te­baran ke mana-mana, dengan tombak setiap waktu siap untuk dilem­par­kan. Namun pen­de­ng­ar­an­nya tetap ter­tuju pada apa saja yang diu­cap­kan oleh wanita pujaan itu.

“Dan betapa jadi­nya”, ia men­ja­wab lambat-lambat, “kalau Kang Galeng jalan­kan apa yang dipe­rin­tah­kan pada­nya? Kau pun tak bakal mene­mui aku lagi, Mbo­kayu”.

“Betapa ber­liku-liku hidup ini”, desis Idayu.

“Ya, Mbo­kayu, ber­liku-liku memang, dan tak ada orang tahu bagai­mana bakal jadi­nya nanti. Yang jelas semua saja menuju ke arah kema­tian, mema­suki akhi­rat”.

“Apa guna­nya bicara ten­tang kema­tian? Yang baru lewat pun sudah seperti itu. Dan yang seka­rang: rimba belan­tara seperti ini”.

“Bukan­kah ada Pada di sam­pingmu? Adakah dia kurang jantan, Mbo­kayu?”

“Sunan Rajeg dalam kea­daan sen­di­r­ian seperti itu Pada, tak bisa keluar dari rimba ini?”

“Tidak akan ter­lalu lama. Meng­i­nap bebe­rapa malam lagi, sebi­dang bulak rumput, kemu­dian desa per­tama”.

“Dua malam lagi?”

“Insya Allah, dua malam lagi”.

Dan mereka terus ber­ja­lan dalam rem­bang rimba. Rasa-rasa takkan ada hari baru bakal tiba: kerem­bangan dan kege­lapan abadi. Pohon-pohon rak­sasa ber­de­sak-desakan mem­per­e­but­kan setiap ikat sinar matari dari langit, tak sudi ber­bagi dengan yang di bawah­nya. Dan di bawah­nya itu justru melata dengan mera­nya­h­nya pepo­honan petai­cina dan kayu baru, mlinjo dan pepo­honan buas, juga ber­de­sak-desakan, mem­per­e­but­kan sisa sinar matari yang mung­kin jatuh ter­ce­cer dari langit.

Antara seben­tar mereka mema­pasi jalur-jalur bekas jalan babi hutan. Rotan, cacing dan manau, meli­puti pepo­honan dan cabang-cabang­nya yang kering ber­bulu duri pan­jang, run­cing dan tajam, meng­an­cam di mana-mana. Segala jenis monyet tiada ter­da­pat di bagian rimba ini, walau kaya akan buah-buahan hutan. Musa­fir di dalam­nya tiada kan mati kela­paran. Bila haus orang ting­gal mene­bang batang rotan muda dan menam­pung kucuran dan tetesan airnya yang ber­buih dengan mulut. Umbi-umbian ting­gal memi­lih mana yang disu­kai. Hanya kacang-kacangan yang tiada. Ter­ha­dap bina­tang buas pada banyak ber­peng­a­laman sudah selama meng­em­bara seba­gai musa­fir Demak. Ia tahu cara meng­hin­dari atau mela­wan.

Hanya gang­guan nyamuk dan lintah darah sung­guh tak ter­ta­han­kan. Sedang udara hujan yang lembab dari kadar tinggi mem­bi­kin kan­tung jadi gang­guan tam­ba­han.

“Berapa anakmu seka­rang. Pada?”

“Seo­rang pun belum”.

“Kau belum lagi kawin?”

“Nan­ti­lah kalau sudah temu­kan seo­rang seperti Mbo­kayu”.

“Ah, kau “.

Kem­bali mereka ter­diam dan ber­ja­lan terus sambil meng­u­siri nyamuk dengan bahu atau gelengan atau ged­ru­gan kaki. Kadang mereka mem­bi­ar­kan sampai lama lintah jatuh sen­diri dari tubuh sete­lah kenyang meng­hi­sap. Dan dengung serangga di pepo­honan terasa menum­pul­kan pan­ca­in­dra.

“Apa menu­rut duga­anmu anak buah Sunan Rajeg tak kelu­yuran di sini?”

“Tidak. Semua telah dike­rah­kan ke medan perang”

Gelar telah ter­ti­dur duduk di atas bahu Pada dan mem­bung­kuki kepala ken­da­ra­an­nya. Ditu­run­kan ia dari atas bahu dan digen­dong­nya. Tangan Pada yang kanan tetap siaga dengan tom­bak­nya.

“Ceri­tai aku sejak kau ting­gal­kan Tuban”.

“Begi­tu­lah”. Pada lang­sung memu­lai, “Kang Galeng mem­bawa aku naik ke kapal dagang atas perin­tah Sang Adi­pati. Itu kau sudah tahu, Mbo­kayu. Kang Galeng tidak bunuh aku. Dibe­ri­kan­nya kem­bali nya­waku, dibe­ri­nya aku kesem­patan melom­pat ke laut. Aku melom­pat dan bere­nang ke pesi­sir. Kuje­la­jahi pesi­sir itu. Ter­nyata pela­yaran itu belum lagi jauh dari Tuban. Aku tiba di Lao Sam, sebuah bandar Tiong­hoa yang tenang. Pen­du­duk­nya hanya sedi­kit dan hampir semua Tiong­hoa ber­kun­cir. Seo­rang telah memu­ngut aku jadi anak-ang­kat­nya, Mbo­kayu, karena dili­hat­nya aku masih kanak-kanak dan tiada cela­nya”.

“Dan kanak-kanak yang ter­lalu nakal”.

“Ya, ter­lalu nakal. Mbo­kayu. Juga karena dike­ta­hu­i­nya aku banyak tahu ten­tang peda­laman gedung kadi­pa­ten Tuban. Di rumah­nya itu aku bel­a­jar masak, karena dia tidak ber­is­tri, lagi pula jarang ting­gal di rumah. Kau tak deng­ar­kan aku, Mbo­kayu?”

“Aku sedang ber­pi­kir Pada, seki­ra­nya dulu aku dise­lir oleh Sang Adi­pati… kau. Pada, tega juga kau….”

“Ah, Mbo­kayu… semua itu ceri­tera lama. Dan siapa tidak meng­im­pi­kan seo­rang Idayu dalam hidup­nya? Seka­li­pun dia masih kanak-kanak?”

“Huh!”

“Aku terus­kan ceri­taku?” menge­ta­hui Idayu tak men­ja­wab ia pun mene­rus­kan untuk melu­pa­kan impian masa lalu. Dan meli­hat Idayu nampak tak acuh, ia mem­be­ri­kan per­ha­tian. “Kau sudah bosan men­de­ng­ar­kan”.

“Terus­kan saja ceri­tamu”.

“Kau saja­lah yang ber­ce­rita”.

“Sudah habis ceri­taku, Pada”.

“Baik­lah. Bebe­rapa kali dia bawa aku ke jurusan barat: Juana, Jepara, Demak, dan juga Sema­rang. Sema­rang hampir sama dengan Lao Sam. Pen­du­duk­nya Tiong­hoa ber­ku­cir melulu, tapi kota­nya jauh lebih besar, lebih banyak pen­du­duk­nya dan rumah-rumah­nya lebih besar dan bagus, walau pela­buh­an­nya tidak baik. Tuban jauh lebih bagus. Bapak-ang­kat­nya menyu­ruh aku bel­a­jar di Demak. Dibe­ri­nya aku sangu dan selem­bar surat ber­tu­lisan Tiong­hoa yang harus aku antar­kan pada sese­o­rang di Demak sana. Jadi ting­gal­lah aku di rumah orang yang kuberi surat itu. Ber­sama dengan banyak pemuda lain di rumah­nya aku bel­a­jar agama Islam, macam-macam­lah, kau tak kan meng­erti, juga babad-babad yang tidak sama dengan yang biasa kita keta­hui sejak kecil, riwa­yat para wali, babad Demak. Kemu­dian kami pindah bel­a­jar di mesjid agung Bin­toro. Sete­lah itu kami diki­rim­kan ke mana-mana dan aku ditun­juk untuk kem­bali ke Tuban, peda­laman Tuban mak­sudku. Pada mula­nya aku ber­pang­kalan di Bonang. Pada Sunan Bonang­lah aku mela­por­kan semua kegi­atan Sunan Rajeg… sudah bosan, Mbo­kayu?”

“Tidak. Ayoh terus­kan”.

“Aku yakin kau bisa ter­ta­rik men­de­ngar peker­ja­anku”.

‘Terus­kan saja. Pada”.

Dan mereka terus ber­ja­lan. Lelaki itu tahu Idayu tak ter­ta­rik pada ceri­ta­nya maka ia ber­henti tak mene­rus­kan.

“Meng­apa kau ter­diam? Jangan bikin aku mengan­tuk”.

“Baik­lah. Sunan Bonang tidak setuju pada Sunan Rajeg. Ia anggap dia ter­lalu gega­bah, lebih banyak meng­han­cur­kan per­a­daban Jawa dari­pada menye­bar­kan agama Islam. Kata Sunan Bonang, orang tak bisa mem­bi­kin per­a­daban yang sama sekali baru dalam sepu­luh tahun. Ia meng­a­kui Sunan Rajeg pandai bicara, pandai mena­rik hati, pandai meya­kin­kan, tapi ia ter­lalu gega­bah dan tak punya kesa­baran. Lebih dari itu: dia rakus keku­a­saan. Bila tidak, dia akan diajak masuk men­jadi ang­gota Maje­lis Kera­jaan Demak. Mbo­kayu, akulah sesung­guh­nya yang ditu­gas­kan untuk men­de­kat­kan dia dengan Demak”.

“Ter­nyata kau orang pen­ting Demak, Pada”.

‘Tidak, hanya musa­fir. Apalah arti­nya seo­rang Pada?”

“Meng­apa kau ceri­ta­kan semua itu? Bukan­kah itu peker­jaan raha­sia?”

“Ya, Mbo­kayu, raha­sia. Seka­rang tidak lagi. Sunan Rajeg telah mati, dan tidak lain dari aku sen­diri yang mem­bu­nuh­nya. Penge­ta­hu­an­nya ter­lalu banyak ten­tang kera­jaan-kera­jaan di Jawa dan sebe­rang dan Atas Angin sana. Sayang cem­bu­ru­nya sangat besar ter­ha­dap Demak. Seba­lik­nya kera­ku­san­nya mem­bi­kin semua kele­bih­an­nya men­jadi rusak. Pelit­nya luar biasa, ber­la­wanan dengan semua ajaran. Peker­jaan gagal. Hanya ber­ha­sil jadi juru masak­nya. Iblis masih mau mem­beri pada sese­o­rang untuk maksud dan kepen­tingan sen­diri. Sunan Rajeg tak mau kehi­langan sesu­atu pun dari mil­ik­nya. Sesuap nasi pun ia tak pernah beri­kan pada sese­o­rang. Semua petani mem­ba­yar upeti tinggi pada­nya, lebih tinggi dari­pada desa-desa lain kepada Tuban. Benih yang dida­pat­kan dari dia harus diganti dengan empat kali lipat seha­bis panen. Sekali mem­beri makan enak, dia ber­mak­sud mem­bu­nuh mereka – orang-orang yang justru paling setia pada­nya”.

“Meng­apa orang pada meng­i­kut­i­nya tahu dia begitu?”

“Itulah keke­li­ruan ajaran lama barang­kali keru­mun­i­lah orang ber­ilmu, ikuti dia, sela­mat­kan dia dan jalani petun­juk dan ajar­an­nya. Kau sen­diri tahu ajaran itu, Mbo­kayu. Anak desa segu­nung-gunung­nya hafal nya­nyian itu. Di Demak pun ajaran itu dinya­nyi­kan oleh semua orang”.

“Lantas siapa yang harus dii­kuti menu­rut aga­mamu yang baru itu. Pada?”

“Allah yang punya langit dan bumi ini, punya selu­ruh alam semesta, dengan sur­uhan dan larang­an­nya, yang diwah­yu­kan pada para nabi dan Nabi Besar Moham­mad, di bawah­nya lagi adalah Kha­li­fah, yaitu Sultan Al-Fattah, raja Demak. Kha­li­fah meng­a­tur semua orang Islam di tanah Jawa. Maka sekali dalam hidup­nya seo­rang Islam di Jawa harus datang ke Demak, ber­se­m­bah­yang di mesjid agung dan mem­be­sar­kan nama Sultan”.

“Makin banyak kata-katamu yang aku tak meng­erti”.

“Lama kela­maan kau akan meng­erti juga, Mbo­kayu”.

“Cerita saja ten­tang hal lain, jangan yang sulit seperti itu”.

“Cela­ka­lah orang Islam Jawa yang tak mema­tuhi Kha­li­fah­nya, dunia dan akhi­rat”.

“Yang lain, Pada”.

“Sunan Rajeg, biar pun Islam, karena menen­tang­nya, dia celaka juga”.

“Dan kau yang mem­bu­nuh­nya. Pada. Apakah itu juga perin­tah dan Demak?”

“Sudah lama semes­ti­nya aku ker­ja­kan. Dia ter­lalu kuat dan ter­jaga. Dia ter­lalu meru­gi­kan Demak dan penye­baran agama Islam. Kalau cara-cara­nya itu dite­rus­kan juga, raja-raja Jawa akan bang­kit mela­wan Islam, apa­lagi yang jauh dari pesi­sir. Guruku bilang: orang Jawa tidak mau kehi­langan per­a­dab­an­nya, hanya mubal­ligh bodoh seperti Rangga Iskak yang berani meng­a­wur sejauh itu, penga­ruh­nya pada suatu saat memang bisa besar, ter­lalu besar, tapi tidak bisa mene­tap, seben­tar kemu­dian akan lebih kem­bali ke dalam alam jahi­liah.”

“Betapa banyak kata-katamu yang sulit”.

“Bukan­kah Mbo­kayu juga sudah Islam?”

Dan Idayu men­de­ngus ter­tawa.

“Kata orang, Mbo­kayu, Kang Galeng juga sudah masuk Islam. Bukan­kah itu benar?”

“Pantas kau men­da­pat keper­ca­yaan dari Sultan Demak. Kau pun pandai bicara, Pada. Tidak seperti Kang Galeng. Dia hanya pintar gulat”.

“Dia telah ber­ha­sil han­cur­kan keku­atan Rangga Iskak. Aku harus mem­bantu menye­le­sai­kan sedi­kit. Mbo­kayu, tidak benar­kah Kang Galeng sudah masuk Islam?”

“Apakah arti­nya Islam-tidak­nya kami berdua bagimu? Kami hanya orang-orang biasa, hanya ingin jadi petani biasa. Kang Galeng tidak i-ngin jadi apa-apa seperti kau, maka tak perlu bagi kami masuk Islam

“Ah, Mbo­kayu”.

“Dia tak butuh keku­a­saan, baik dari manu­sia, dari para dewa atau­pun dari Allahmu, maka dia tidak ingin mem­bu­nuh atau dibu­nuh oleh siapa pun”.

“Mbo­kayu!” Pada mene­gah.

“Meng­apa? Jangan gusar. Itulah kami berdua, sikap dan hidup kami. Kami hanya manu­sia biasa, dan hanya ingin jadi manu­sia biasa….”

“Mbo­kayu!”

“Lihat, rakus keku­a­saan menye­bab­kan Rangga Iskak ingin meng­gan­ti­kan Sang Adi­pati. Kera­ku­san itu juga menye­bab­kan Demak mem­bu­nuh Rangga Iskak mela­lui tanganmu….”

“Mbo­kayu!”

“… Takut kehi­langan keku­a­saan menye­bab­kan balat­en­tara Tuban meme­rangi Rangga Iskak dan Kang Galeng dipaksa jadi Sena­pati Tuban. Kera­ku­san menye­bab­kan mati­nya begitu banyak orang. Tidak, Pada, kami hanya mau dan ingin jadi manu­sia biasa”.

“Ah, Mbo­kayu, Mbo­kayu, kau belum meng­erti duduk-per­kara,” Pada menyela.

“Itulah duduk-per­ka­ra­nya”.

“Siapa yang meng­a­jar­i­nya begitu, Mbo­kayu?”

“Sejak kecil aku ting­gal di kota, Pada, di dalam gedung kadi­pa­ten, maka tak pernah deng­ar­kan ajaran begitu banyak dari para guru peng­em­bara di desa-desa”.

“Masih banyak­kah guru-pem­bi­cara meng­em­ba­rai desa-desa?”

“Bela­kangan ini ber­ku­rang memang”.

“Guruku bilang, mereka itu seperti hidup di zaman Daud dan Musa… siapa di anta­ra­nya yang paling Mbo­kayu puja?”

“Rama Clu­r­ing. Sua­ra­nya lan­tang penuh kebe­ra­nian dan kebe­saran”.

‘Tentu dia sudah mati”.

“Ya. Sebe­lum kami berdua berang­kat ke Tuban”.

“Sia­pa­kah kira­nya yang ber­ha­sil mem­bu­nuh­nya?”

“Dia tidak mati ter­bu­nuh. Sia­pa­kah yang akan mem­bu­nuh orang sebi­jak­sana itu, penuh kebe­naran, tidak rakus akan sesu­atu, kecu­ali meng­i­ng­in­kan kesa­baran dan keja­yaan di kemu­dian hari untuk sesama orang?” Mereka ber­henti.

Gelar bangun dari tidur­nya. Mereka memu­nguti buah jambu yang telah diron­tok­kan oleh kele­la­war, dan mereka telah mema­kan­nya sampai perut merasa agak isi kemu­dian ber­ja­lan lagi. Tanpa ada yang menga­ta­kan, mereka tahu tak boleh makan buah sampai kenyang.

Gelar ber­ja­lan kaki lagi. tetapi kele­lahan kema­rin yang belum juga habis menye­bab­kan ia segera juga minta duduk di atas bahu, dan di sana ia menya­nyi-nyanyi.

“Meng­apa Rama Curing harus dibu­nuh?” men­da­dak Idayu ber­ta­nya. Meli­hat Pada tak men­ja­wab ia ber­ta­nya lagi. “Demak­kah yang meng­hen­daki? Dan kau yang harus ker­ja­kan?”

Pada tak mene­ngahi.

“Sete­lah men­de­ng­ar­kan ceri­tamu, Pada, ter­paksa aku mem­ba­yang­kan Demak, di sana tentu takkan ada guru-pem­bi­cara. Semua sudah atau akan mati ter­bu­nuh”.

“Tidak, itu tidak benar. Di mana-mana ada, di kota, di desa. Bukan­kah aku sen­diri juga seo­rang guru-pem­bi­cara? Cuma di Demak nama­nya musa­fir Demak”.

“Tentu, aku per­caya. Rasa-rasa­nya akan tetap lain dari­pada di desa-desa di luar Demak. Dari ceri­tamu tadi sekali lagi aku ter­paksa mem­ba­yang­kan, Pada,, guru-pem­bi­cara alias musa­fir Demak itu bicara untuk men­da­pat peng­i­kut atau mere­but peng­i­kut orang lain. Guru-pem­bi­cara kami tidak men­cari peng­i­kut, maaf, mereka hanya menya­ta­kan pera­saan dan piki­ran­nya. Mereka tak punya apa-apa kecu­ali piki­ran dan pen­da­pat dan pera­sa­an­nya. Mereka tidak meng­i­ng­in­kan keku­a­saan seperti kau. Bukan­kah kau jadi musa­fir Demak karena keben­ci­anmu ter­ha­dap Sang Adi­pati? Dan Sang Adi­pati hendak mem­bu­nuhmu karena kau meru­gi­kan­nya lebih dahulu?” Ia memer­lu­kan mene­ngok ke bela­kang meli­hat pada Pada, dan lelaki itu tak mem­ban­tah. “Kata orang, dahulu kala mereka itu adalah guru-guru Buddha. Maka­nya pun dida­pat­kan­nya dari para penga­gum­nya, juga pakaian dan pemon­do­kan. Tak ada raja atau siapa pun menyu­ruh atau mem­be­ri­nya per­lin­dungan”.

“Ter­nyata kau pun pandai bicara, Mbo­kayu”.

“Kau tak marah padaku sete­lah meno­long kami?”

“Apa harus dima­rah­kan?

“Karena ter­nyata kita ber­la­inan?”

“Bagai­man­a­pun kebe­naran akan menang, Mbo­kayu. Untuk sampai pada kebe­naran itu ada jalan-jalan ter­tentu yang harus ditem­puh. Lihat­lah, kalau ada seribu guru pem­bi­cara di desa-desa seperti itu, maka ada seribu macam pen­da­pat, dan kebe­naran itu sen­diri akan sema­kin jauh, sema­kin jauh, sampai takkan ada kebe­naran sama sekali”.

“Di desa-desa, Pada, kau pun tahu sen­diri, orang sudah ter­bi­asa memi­lih satu di antara kebe­naran-kebe­naran yang paling cocok untuk dir­i­nya. Tak ada orang yang marah karena itu, apa­lagi mem­bu­nuh­nya. Apakah kata-kataku keliru?”

“Ah, Mbo­kayu, selama kebe­naran ber­a­sal dari manu­sia, dia mera­gu­kan, karena hanya Allah pemi­lik kebe­naran, yang Maha Besar”.

“Aku pernah dengar ten­tang Allahmu. Aku belum menge­nal. Orang-tua kami tak menge­nal­nya sama sekali, karena men­de­ng­ar­nya pun belum. Betapa ber­do­sa­nya kami kalau harus meng­ang­gap mereka tidak menge­nal kebe­naran, hanya karena tak tahu Allahmu”.

Idayu merasa, ia sudah sampai pada titik di mana per­ti­kaian akan ber­mula, maka ia tak mene­rus­kan kata-kata­nya. Bila Pada men­jadi marah, kea­daan diri dan anak-anak­nya mung­kin akan sangat menye­dih­kan. Juga Pada sengaja tak mene­rus­kan bica­ra­nya. Hanya Gelar ter­tawa-tawa dan menya­nyi di atas bahu Pada.

Malam itu mereka meng­i­nap di dalam rimba. Ran­ting-ran­ting dan deda­unan kering mereka kum­pul­kan untuk alas tidur. Kayu bakar dise­di­a­kan ber­tum­puk dan api unggun dinya­la­kan. Kelem­ba­ban pada ran­ting dan deda­unan itu mem­bu­bung­kan asap tebal dan kelabu.

“Kadang-kadang,” kata Pada, “datang macan atau ular atau babi hutan menga­gumi api. Jangan kha­wa­tir. Mereka tak akan mener­kam atau meng­ganggu. Mata­nya meman­car­kan gemer­lap ter­kena sinar api. Tak menge­lu­ar­kan suara apa pun. Bila sudah puas meman­da­ng­i­nya mereka pergi lagi seperti habis menon­ton tari­anmu, Mbo­kayu.”

Dari balik-balik lur­u­han daun jati basah mereka mengum­pul­kan sejum­lah besar kepom­pong jati. Mereka mem­ba­kari bina­tang kecil-kecil coklat itu dan mema­kan­nya dengan senang.

Kee­sokan hari­nya mereka ber­ja­lan lagi, dan meng­i­nap lagi, dan ber­ja­lan lagi. Dan kini rimba belan­tara telah dila­lui.

Sebuah padang ila­lang mem­ben­tang di hadapan mereka. Dari keja­uhan telah nampak bagian-bagian yang telah ter­ba­kar. Dan di suatu tempat bekas bakaran, di mana tumbuh ila­lang muda, seka­wanan rusa nampak sedang merum­put.

“Padang alang-alang”. Pada memu­lai, “yang paling mena­kut­kan. Apa­lagi kalau ber­se­lang-seling dengan semak-semak. Macan. Mbo­kayu, sarang macan. Mata­nya meng­in­tip di mana-mana”.

“Sudah banyak bekas bakaran kul­i­hat”.

“Ya, syukur alham­dul­il­lah. Nam­pak­nya Mbo­kayu belum juga lupa pada nya­nyian ten­tang padang alang-alang itu. Mak­lum­lah penari. ‘Bakar­lah alang-alang, petani’ bukan­kah begitu?”

“Tum­buh­lah yang muda,” Idayu mene­rus­kan. “Ribuan rusa ber­da­tangan merum­put….”

“Lupa­kan ladang dan sawahmu”, Pada menyam­bung.

“Macan mener­kam­nya sehari seekor. Sela­mat­lah per­ja­lan­anmu” Mereka ingat sajak nya­nyian itu. Namun mereka tetap kha­wa­tir dan masih juga ber­diri ragu-ragu tak juga mening­gal­kan hutan.

“Sebe­lum tentu si macan ber­ha­sil menang­kap seekor dan si petani sudah lewat melin­tasi”, Pada ber­kata pelahan pada padang alang-alang di depan­nya.

“Apa guna cerita seperti itu? Pada, kau sudah pergi ke mana-mana. Per­nah­kah kau dengar cerita ten­tang suatu bangsa yang suka makan orang?”

“Pernah. Itulah bangsa jahil, bangsa bodoh, tak tahu ajaran”.

Dengan mata dite­bar­kan ke mana-mana mereka mulai menye­ber­a­ngi padang alang-alang tinggi, meng­i­kuti jalan seta­pak yang hampir hilang.

“Meng­he­ran­kan,” Idayu mene­rus­kan untuk melu­pa­kan kekha­wa­tiran­nya. “Orang makan orang. Bagai­mana bisa? Sewaktu mema­kan­nya tidak­kah ter­ba­yang orang tua atau anak­nya sen­diri? Atau tidak­kah dia ber­pi­kir, pada suatu kali akan dima­kan juga oleh yang lain?”

“Bodoh, kataku, jahil. Piki­ran­nya tak pan­jang. Itu sebab­nya kalau ajaran belum sampai pada mereka”.

Mereka ber­ja­lan terus sambil melu­pa­kan keta­kutan sen­diri.

“Barang­kali itu lebih baik”. Sam­bung Idayu.

“Apa baik­nya kebo­dohan, keja­hilan?” Pada meno­lak.

“Mereka makan-mema­kan karena lapar, kiraku. Ajaran datang, barang­kali mela­lui kau, mereka hanya bunuh-mem­bu­nuh, tidak sampai makan-mema­kan, dan bukan karena lapar. Mung­kin salah karena ajaran yang kau bawa”.

Pada tak menang­gapi. Idayu tahu, ia ter­sing­gung.

“Kau marah, Pada? di desa-desa takkan ada orang marah karena ucapan seperti itu. Maaf­kan kalau kau tak ber­se­nang hati. Tak apa, Pada.”

“Kau meman­cing-man­cing, Mbo­kayu”, Pada menu­duh.

“Tidak. Aku ber­ta­nya meng­apa orang bisa makan sesa­ma­nya. Kau lantas mem­bawa soal ajaran. Jangan hubung­kan”.

“Kita sedang menye­ber­a­ngi padang yang meng­ge­tar­kan ini”.

“Maka kita bicara saja, Pada, biar tak gentar”.

Semen­tara mereka ber­ja­lan tanpa bicara. Gelar di atas bahu nam­pak­nya juga mera­sai kegen­taran mereka.

“Aku pikir, Pada, benar­kah barang­kali menu­rut pen­da­patmu? Mereka itu ingin makan daging, tapi per­bu­r­uan sulit dida­pat, sedang orang lebih mudah ditang­kap. Hanya dengan kata-kata manis, janji dan bujukan, atau ger­takan, tanpa tenaga, daging bisa datang sen­diri dengan jinak­nya untuk disan­tap. Bagai­mana pen­da­patmu. Pada?”

Dan Pada tak men­ja­wab.

Mereka terus ber­ja­lan dengan pan­dang dite­bar­kan ke mana-mana. Gelar ber­so­rak-sorak di atas bahu Pada meli­hat seka­wanan rusa yang merum­put damai di keja­uhan. Anak-anak rusa ber­lom­pat-lom­patan riang. Waktu angin ber­tiup dan menyam­pai­kan suara manu­sia dan baunya, bina­tang-bina­tang itu ter­henti dari kesi­buk­an­nya. Semua meman­jang­kan leher dan mene­gang­kan kuping. Mon­cong hitam­nya mereka angkat tinggi. Sete­lah menge­ta­hui, hanya serom­bongan manu­sia ber­ja­lan lewat, mereka merum­put kem­bali dan anak-anak­nya ber­lom­pat-lom­patan lagi.

“Kalau sudah dile­wati padang ini, kita akan sampai ke sebuah hutan muda, kemu­dian padang rumput pendek, dan sam­pai­lah di desa per­tama. Lantas kau mau ke mana, Mbo­kayu? Ke kanan ber­arti ke Tuban, ke kiri ke Awis Kram­bil”.

“Ke kiri. Pada, Awis Kram­bil.”

“Dan Kang Galeng nanti?”

“Kalau dia masih memer­lu­kan anak dan bini­nya, tentu dia akan men­cari kami di desa,” ia betul­kan bayi­nya dan dalam gen­do­ngan dan menyu­su­i­nya “Tak dapat aku ting­gal lebih lama di kota. Semua serba menye­sak­kan”.

“Kasihan Kang Galeng”.

“Biar­lah dia kem­bali saja ke desa”.

“Sena­pati Tuban kem­bali ke desa? Mau jadi apa? Jangan main-main, Mbo­kayu. Apa kau suruh dia men­cang­kul dan mem­ba­jak?”

Mereka ber­ja­lan dan ber­ja­lan.

“Dia tidak meng­i­ng­in­kan keku­a­saan atas harta dan manu­sia. Dia akan kem­bali ke desa.”

“Kalau tidak? Kalau dia memang dengan semau sen­diri jadi Sena­pati untuk dapat ber­ku­asa?”

Idayu mem­per­ce­pat jalan­nya.

“Kalau dia tidak mau pulang ke desa? Tidak mem­bu­tuh­kan Mbo­kayu lagi?”

Idayu menyu­sui anak­nya sambil mem­per­ce­pat jalan­nya.


Bab 27

Demak Bergolak

Pela­yaran di laut Jawa pulih kem­bali seperti sedia kala. Hanya kapal-kapal Atas Angin masih juga tak banyak keli­hatan.Kapal-kapal Pri­bumi men­da­pat kesi­bukan luar biasa meng­ang­kuti barang dagangan untuk dibawa ke bandar Banten, untuk memu­dah­kan sau­da­gar-sau­da­gar Atas Angin men­da­pat­kan dagangan.

Maka Banten pun jadilah bandar ter­be­sar dan tera­mai di Jawa, menga­lah­kan Gresik, apa­lagi Tuban. Dan untuk semen­tara pengu­asa-pengu­asa bandar di Jawa tidak men­cem­bu­rui, meng­i­ngat bandar itu kepu­nyaan saha­bat Por­tu­gis, kera­jaan Hindu Paja­jaran. Hanya Demak yang tak ber­se­nang hati. Tetapi sau­da­gar-sau­da­gar Pri­bumi yang sudah lama ter­jauh dari keun­tungan dengan serta-merta ber­da­tangan untuk ber­da­gang. Juga kapal-kapal Islam dari Atas Angin.

Para sau­da­gar mengira, kea­daan yang nis­biah baik akan tetap baik untuk selama-lama­nya: rezeki dari laut tidak sesen­dat selama ini dan cuaca damai meng­ha­ng­ati selu­ruh Jawa.

Orang tak biasa lagi ten­tang perang.

Di Jepara pem­ba­ngu­nan kem­bali, armada Demak sedang giat dila­ku­kan, seolah-olah kebe­saran di Jawa sebe­lah timur akan dipin­dah­kan ke sebe­lah tengah.

Tahun 1521 Masehi.

Men­da­dak suatu per­u­ba­han yang cepat telah meng­u­bah segala-gala­nya.

Por­tu­gis sudah sepu­luh tahun mengu­a­sai Malaka.

Dan pada suatu hari yang sudah diduga orang, Sultan Demak kedua, yang sema­kin keras juga sakit­nya karena ser­pihan laras cet­bang di dalam tubuh­nya, wafat.

Satu-satu­nya penan­tang Por­tu­gis telah wafat. Armada besar yang sedang diga­lang akan jatuh ke tangan orang lain. Siapa orang lain itu? Dan adakah akan diper­gu­na­kan untuk mene­rus­kan cita-cita Unus? Tak ada orang yang bisa men­duga ten­tang teka-teki ini. Juru­ra­mal mulai sibuk dengan per­hi­tungan dan ramal­an­nya.

Siapa Sultan Demak ke tiga? Karena Unus tiada ber­ke­tu­runan?

Raja-raja Nusan­tara ikut ber­ka­bung, ter­u­tama para sau­da­gar dan pemi­lik kapal. Per­ha­tian selu­ruh Jawa, sepan­jang pesi­sir selatan Suma­tra, Kali­man­tan dan Sula­wesi, ter­tuju ke Jawa, ke Demak.

Lain lagi yang ter­jadi di Malaka. Berita wafat­nya Unus disam­but dengan sorak ber­de­rai. Di darat dan laut anggur pun dibagi melim­pah-limpah untuk mera­ya­kan kema­ti­an­nya. Armada Por­tu­gis akan dapat men­je­la­jahi semua per­a­iran Nusan­tara tanpa kekha­wa­tiran. Mereka tidak peduli siapa bakal meng­ganti Sang Penan­tang, karena hanya ada seo­rang penan­tang selama ini, dan ia sudah mati, dan penan­tang lain tak bakal dila­hir­kan. Ancaman dari selatan sudah padam.

Untuk semen­tara tak ada berita ten­tang peng­gan­ti­nya. Maje­lis Kera­jaan meng­am­bil-alih keku­a­saan untuk semen­tara. Keko­songan Demak untuk waktu yang diang­gap ter­lalu lama itu menye­bab­kan orang digoda untuk mem­bi­kin duga-dugaan: Adakah kera­jaan yang belum lagi beru­mur sete­ngah abad ini akan pecah-pecah jadi dusun kem­bali? Siapa yang ber­ti­kai dan dengan siapa maka belum juga ada peno­batan baru? Maje­lis Kera­jaan lawan kelu­arga raja? Atau­kah kelu­arga raja dengan kelu­arga raja?

Kete­gangan meram­bati selu­ruh Demak tanpa kepas­tian. Dari peng­a­laman ber­a­bad orang tahu benar, kea­daan tidak menentu demi­kian bia­sa­nya dii­kuti dengan keru­suhan dan keru­suhan mela­hir­kan perang. Dibe­ra­ni­kan oleh keko­songan ini juru tafsir dan ramal sampai-sampai berani men­ja­jakan piki­ran­nya di pasar dan di sepan­jang jalan dan di alun-alun dan surau dan di mesjid agung sen­diri, tanpa kegen­taran. Praja Demak hampir-hampir lumpuh.

Taf­siran dan ramalan kemu­dian padam: Sultan Demak ke tiga telah dino­bat­kan dan telah naik ke takhta kera­jaan. Orang agak kecewa dengan kenya­taan itu, namun itulah kenya­ta­an­nya: Treng­gono, adik Unus.

Sekali lagi Por­tu­gis ber­pesta-pora men­de­ngar Treng­gono naik takhta. Mereka tahu betul Sultan baru itu tak punya per­ha­tian ter­ha­dap per­da­gangan, per­ka­palan, per­ban­daran, apa­lagi ter­ha­dap Malaka. Ren­cana baru pun ditempa. Apa lagi? Di per­a­iran bagian belah bumi selatan ini takkan ada halangan lagi selama Unus tak ada. Segera mereka menyerbu Pasai.

Dan Pasai pun jatuh. Banda Aceh kehi­langan ban­dar­nya yang sedang kem­bali ber­kem­bang.

Por­tu­gis ber­pesta lagi di Malaka, juga di Pasai, menge­ta­hui, bahwa Treng­gono dapat naik ke atas takhta hanya dengan mela­lui bang­kai abang­kan­dung­nya sen­diri, Pange­ran Seda Lepen. Abang­nya itu yang akan dino­bat­kan oleh Maje­lis Kera­jaan, tetapi Sunan Kali­jaga men­ja­goi Treng-gono. Maka Por­tu­gis menim­bang Sultan baru ini seba­gai seo­rang yang rakus keku­a­saan. Ter­ha­dap pri­badi demi­kian mereka sama sekali tidak mena­ruh gentar.

Juga mereka ber­pesta menge­ta­hui, pemim­pin perang balat­en­tara Banda Aceh, Fat­hil­lah dengan keka­lah­an­nya di Pasai telah mening­gal­kan nege­ri­nya. Orang tak tahu pasti ke mana per­gi­nya. Dan Por­tu­gis lebih tidak peduli lagi.

Anggur die­dar­kan, ber­tong-tong ditum­pah­kan untuk mem­ba­sahi teng­go­r­okan Peranggi yang haus dan tidak haus, anggur ter­baik dari Oran dan Alja­zair.

Sete­lah Pasai jatuh pela­yaran dan per­da­gangan di laut Jawa kem­bali ter­gun­cang. Pasai men­ja­tuh­kan juga pasar lada. Por­tu­gis dengan Pasai-nya tidak peduli. Mereka ter­tawa. Dengan jatuh­nya lada mereka akan ter­paksa datang ke Pasai atau lang­sung ke Malaka.

Selu­ruh keku­a­saan atas Selat Seme­nan­jung telah jatuh selu­r­uh­nya ke tangan Por­tu­gis. Tak satu kapal Pri­bumi, Atas Angin atau Tiong­hoa bisa mela­lu­i­nya tanpa meng­a­kui per­na­ungan meriam-meri­am­nya.

Dan kalau lada tak mau datang ke Pasai atau Malaka? Cam­pang. Por­tu­gis akan men­da­tangi sumber-sum­ber­nya. Dan sumber utama lada adalah: Paja­jaran dengan ibu kota­nya Pakuan, dengan bandar-ban­dar­nya Banten, Sunda Kelapa dan Cimanuk.

Bila Paja­jaran jatuh kelak di tangan Por­tu­gis, lada takkan lagi meng­a­lir ke Campa, Tiong­kok atau Jepun. Semua akan diban­jir­kan ke Eropa. Apakah sul­it­nya menun­duk­kan Paja­jaran yang sen­diri sudah merasa mem­bu­tuh­kan per­lin­dungan Por­tu­gis, ter­an­cam oleh keti­dak seti­aan kawu­la­nya sen­diri di sepan­jang pesi­sir utara, ter­u­tama pela­rian dari Malaka, Tuma­sik dan Pasai karena kela­inan agama? Paja­jaran harus menye­rah tanpa perang! Por­tu­gis akan mem­be­ri­nya “per­lin­dungan”. Kuasai bandar Banten dan Sunda Kelapa, maka bukan hanya lada lebih banyak meng­a­lir ke Eropa tanpa henti-hen­ti­nya, juga keku­a­saan Por­tu­gis di Malaka akan sema­kin kukuh dan kera­jaan-kera­jaan bandar di Jawa dan Suma­tra akan sema­kin lemah.

Barang-barang dagangan lain, beras, minyak-minyakan, gula dan garam, dan kayu manis dan kapur barus, untuk kepen­tingan Asia dan Nusan­tara sen­diri, pun akan jatuh ke tangan­nya dengan harga lebih murah tanpa saingan. Selan­jut­nya per­a­iran Suma­tra dan Jawa yang sangat ramai itu pun akan dapat diku­a­sa­i­nya.

Por­tu­gis dalam usa­ha­nya untuk melak­sa­nakan ren­ca­na­nya memu­tus­kan untuk meng­hu­bungi kem­bali “saha­bat lama” Paja­jaran dan minta izin untuk men­di­r­i­kan “kantor dagang” di Sunda Kelapa. Dengan adanya “kantor dagang” Paja­jaran tak perlu memi­l­iki meriam sen­diri, karena “kantor” akan melin­dung­i­nya dari serangan kera­jaan-kera­jaan lain.

Utusan diki­rim­kan meng­ha­dap Prabu Sedah, raja Paja­jaran. Konon jumlah peng­ha­dap cukup banyak ter­ma­suk bebe­rapa orang padri Nas­rani yang mohon per­ke­nan untuk ting­gal di Pakuan untuk menye­bar­kan aga­ma­nya.

Tak ter­ki­ra­kan gem­bira hati Sri Baginda Prabu Sedah. Semua yang disa­ran­kan dan dipo­hon oleh para peng­ha­dap dilu­lus­kan. Para padri bukan saja boleh ting­gal di Pakuan, bahkan diper­ke­nan­kan mewar­ta­kan ajar­an­nya, dan dengan demi­kian Islam tidak lagi meru­pa­kan satu-satu­nya agama baru di dalam wila­yah keku­a­sa­an­nya.

Pesta besar-besaran dia­da­kan dengan penge­rahan penya­nyi dan penari ter­baik di selu­ruh negeri.

Dan dengan upa­cara khid­mat pihak Por­tu­gis dan Paja­jaran menyak­si­kan dua orang pema­hat dari dua belah pihak mulai mema­hat lam­bang per­se­tu­juan dan per­sa­ha­batan pada sepo­tong batu pan­jang ber­ben­tuk peng­gada.

Demi­ki­an­lah Por­tu­gis kem­bali ke Malaka mem­bawa keme­nangan dip­lo­masi gilang-gemi­l­ang tanpa perang dan mening­gal­kan bebe­rapa orang padri di Pakuan….

Dalam waktu pendek berita itu ter­se­bar ke selu­ruh Nusan­tara. Paja­jaran sen­diri mem­pu­nyai kepen­tingan menye­bar­kan­nya dengan maksud mengen­da­li­kan nafsu lawan-lawan­nya untuk menyerbu nege­ri­nya. Dan per­sa­ha­batan dengan Peranggi adalah juga suatu kebe­saran bagi­nya.

Jatuh­nya Pasai segera ter­de­sak oleh per­jan­jian per­sa­ha­batan Por­tu­gis-Paja­jaran.

Satu-satu­nya kera­jaan yang mem­buka mata lebar-lebar ter­ha­dap per­kem­bangan baru ini adalah pra­ja­wan-pra­ja­wan Demak.

Dan di luar istana orang lebih banyak meri­but­kan dan mem­bi­ca­ra­kan­nya di mesjid, surau, jalanan dan di mana saja. Lama-kela­maan suara itu ber­kem­bang dan memun­cak men­jadi per­ti­kaian-per­ti­kaian.

Mula-mula per­ti­kaian ber­ki­sar pada kela­kuan Treng­gono yang begitu sampai hati mem­bu­nuh abang­nya sen­diri, kemu­dian diper­kuat oleh sikap­nya yang polos ter­ha­dap peris­tiwa Pakuan. Meng­apa Sultan tak juga menya­ta­kan sikap menen­tang usaha Por­tu­gis yang sudah mulai ge-rayangan ke Jawa? Sikap itu sema­kin ditunggu sema­kin tak datang. Para musa­fir yang sudah tak dapat mena­han hati lagi telah ber­mu­sya­warah dan mem­ben­tuk utusan untuk meng­ha­dap Sultan. Mereka dito­lak dengan alasan: apa yang ter­jadi di Paja­jaran tak punya sang­kut paut dengan Demak dan musa­fir.

Jawaban itu menge­ce­wa­kan para musa­fir. Bila demi­kian, mereka meng­ang­gap, sudah tak ada per­lu­nya lagi para musa­fir meng­a­gung­kan Demak, karena kea­gung­an­nya memang sudah tak ada lagi. Apa guna­nya armada besar pening­galan Unus, yang telah dua tahun disi­ap­kan kalau bukan untuk meng­u­sir Por­tu­gis dan dengan demi­kian ter­ja­min dan melin­dungi Demak seba­gai negeri Islam per­tama-tama di Jawa? Masuk­nya Peranggi ke Jawa ber­arti ancaman lang­sung ter­ha­dap Islam. Kalau Treng­gono tetap tak punya sikap, jelas dia tak punya sesu­atu urusan dengan Islam.

Sego­longan kecil para musa­fir meno­lak alasan itu dengan dalih, tugas utama para musa­fir adalah menye­bar­kan Islam yang telah dir­in­tis oleh para sunan. Peker­ja­an­nya tak ber­sang­kut-paut dengan kepen­tingan kera­jaan. Tetapi kera­ja­an­lah yang melin­dungi peker­jaan itu. Kemung­kinan dan kele­lu­a­saan, karena adanya per­lin­dungan, menye­bab­kan para musa­fir ber­ke­wa­ji­ban mem­per­te­duh per­lin­dungan dengan jalan meng­a­gung­kan Demak.

Golongan besar musa­fir menu­duh, bila demi­kian mereka stidah sepe­nuh­nya pung­gawa pera­jaan, bukan musa­fir, bukan pem­bantu mubal­ligh itu sen­diri, dan mem­per­se­ku­tukan agama dengan keku­a­saan, dan keku­a­saan itu justru telah kehi­langan kekha­li­fa­han­nya yang murni.

Per­ti­kaian kemu­dian dicam­puri oleh kera­jaan. Golongan besar dipang­gil meng­ha­dap. Mereka meno­lak dan mela­ri­kan diri. Golongan kecil yang taat, kehi­langan kewi­ba­wa­an­nya. Tepat seba­gai­mana ditu­duh­kan oleh golongan besar, mereka kemu­dian men­jadi pung­gawa kera­jaan belaka.

Sejak itu Demak tak punya musa­fir lagi.

Mereka yang pada waktu itu sedang ber­tu­gas di peda­laman negeri lain atau di sebe­rang, memu­tus­kan hubungan dengan Demak dan men­jadi mubal­ligh bebas.

Per­ti­kaian pun tak kurang sengit­nya di dalam kelu­arga Sultan sen­diri. Dan ini men­ja­lar juga pada pen­du­duk biasa.

Tak dapat menang­gung­kan semua per­ti­kaian yang tiada henti-hen­ti­nya dan meng­an­cam per­pe­cahan dalam kera­jaan Demak sen­diri. Treng­gono meng­am­bil tin­dakan untuk men­ja­wab semua itu: peker­jaan per­si­apan armada besar itu dihen­ti­kan sama sekali. Dana dan daya kera­jaan Demak dita­rik dari pantai dan dipu­sat­kan di peda­laman.

Akibat tin­dakan itu tak ter­ki­ra­kan besar­nya, dan pada umum­nya meru­gi­kan Demak. Insi­nyur dan tukang-tukang kem­bali ke negeri masing-masing dengan berita yang mem­bu­suk-busuk­kan Treng­gono,ditam­pil­kan seba­gai raja yang bodoh dan meng­khi­a­nati amanat almar­hum abang dan ayah­nya. Bupati-bupati bekas di peda­laman meng­e­jek kem­bali Demak seba­gai kera­jaan yang masuk ke peda­laman karena takut pada armada Por­tu­gis, lebih suka ber­ku­bang dalam lumpur tanah tandur peda­laman dari­pada meng­ha­dapi lawan pokok­nya. Bupati-bupati pesi­sir, yang selama ini menyum­bang iuran tahunan untuk pem­ba­ngu­nan armada, menyum­pah-nyum­pah karena merasa ter­tipu oleh Treng­gono. Bupati-bupati pesi­sir lain­nya yang menya­ta­kan ber­lin­dung di bawah Demak tanpa pukulan perang, meno­lak per­lin­dungan dan menya­ta­kan ber­diri sen­diri kem­bali dalam kebe­bas­an­nya.

Treng­gono naik pitam oleh per­kem­bangan baru ini.

Pada suatu pagi, sebe­lum matari sempat terbit, sebuah tandu diu­sung mening­gal­kan Demak. Bebe­rapa puluh orang meng­i­kut­i­nya ber­ja­lan kaki di bela­kang­nya, di bela­kang­nya lagi bebe­rapa puluh lagi orang pemi­kul. Mereka ber­ja­lan ber­i­ringan dengan diam-diam seakan takut mem­ba­ngun­kan yang masih tidur.

Di atas tandu adalah Gusti Ratu Aisah, biasa dise­but Nga­isah per­mai­suri Sultan Syah Sri Alam Akbar Al-Fattah almar­hum. Ia adalah ibunda Adi­pati Unus dan Treng­gono. Dan iring-iringan yang mem­bisu itu menuju ke Jepara.

Orang segera meng­erti: per­ti­kaian antara Sultan dan ibunya ter­tum­buk pada jalan buntu. Gusti Ratu Aisah harus menying­kir karena tak mau tahu lagi ten­tang Demak. Bahwa Jepara jadi tujuan adalah karena itulah tempat put­ra­nya ter­cinta Unus almar­hum. Bahwa Gusti Ratu ber­pi­hak pada sikap dan pen­di­r­ian Unus, bahwa, bahwa, bahwa….

Orang pun segera meng­erti: boyongan agung itu tak lain arti­nya dari­pada, bahwa Treng­gono tak ada niat untuk menye­rang Por­tu­gis, baik di Malaka, Pasai atau mana pun, baik di darat atau lautan.

Dan per­ta­nyaan yang tetap ting­gal tak ter­ja­wab: untuk apakah armada besar yang diper­si­ap­kan itu? Apakah akan dibi­ar­kan teng­ge­lam karena tak tera­wat?

Belum lagi bayangan agung ter­lu­pa­kan, datang pula berita besar: Maje­lis kera­jaan bubar. Kebe­naran berita itu masih banyak disang­si­kan, karena seo­rang Sultan di Demak takkan dapat ber­buat sesu­atu pun tanpa Maje­lis.

Berita itu disu­sul oleh desas-desus, Sultan tak suka ber­mu­sya­warah, tak mau men­de­ng­ar­kan Maje­lis, ia telah ter­ja­tuh jadi raja Pri­bumi jahi­liah, kafir.

Seba­lik­nya penyo­kong Treng­gono pun tidak sedi­kit. Pasukan kuda Demak, pasukan kebang­gaan, sepe­nuh­nya menyo­kong­nya. Pasukan itu sen­diri belum lagi lama didi­r­i­kan, karena sebe­lum­nya hampir-hampir tak ter­da­pat kuda di Demak. Sultan Al-Fattah yang mem­ba­ngun­kan­nya dengan jalan men­da­tang­kan bibit dari Atas Angin dengan ban­tuan Sema­rang dan sau­da­gar-sau­da­gar Islam Atas Angin.

Per­ti­kaian belum lagi reda, datang berita besar lagi. Paja­jaran meng­a­da­kan pesta agung….

21 Agus­tus 1522

Serom­bongan besar orang Por­tu­gis telah men­da­rat di bandar Sunda Kelapa. Di antara mereka ter­da­pat duta­nya: Hen­ri­que Leme. Ia datang untuk menge­sah­kan per­jan­jian Por­tu­gis-Paja­jaran.

Dalam iringan pasukan penga­wal ber­musket dan ber­pe­dang dan seba­risan pemu­sik, mereka telah dielu-elukan oleh Pange­ran Sunda Kelapa seba­gai guber­nur dan wakil Prabu Sedah.

Dengan upa­cara penyam­butan besar mereka dii­ring­kan ber­is­ti­ra­hat di pesang­grahan Sang Pange­ran. Dan pada kee­sokan hari­nya dengan iringan pesta besar seba­gian dari para tamu memu­diki kali Cili­wung menuju ke Pakuan, meng­ha­dap Sri Baginda.

Di Pakuan pesta kehor­matan besar menyam­but mereka.

Hen­ri­que Leme mem­per­se­m­bah­kan terima kasih atas per­lin­dungan dan karu­nia berupa tanah dan rumah dan tenaga pekerja kepada para padri-padri Por­tu­gis di Pakuan sehingga mereka dapat ber­ge­rak dengan lelu­asa dan telah mulai mem­buka rumah penam­pungan untuk janda dan yatim-piatu.

Acara khusus telah dise­di­a­kan oleh para tamu untuk men­de­ng­ar­kan musik Por­tu­gis di mana Prabu Sedah dan per­mai­suri dan kelu­arga raja ber­ke­nan ikut menyak­si­kan. Dan itulah untuk per­tama kali Pakuan men­de­ngar musik dari Eropa.

Mereka turun balik ke Sunda Kelapa dii­ring­kan oleh Pange­ran Sunda Kelapa.

Di bandar Sunda Kelapa sen­diri telah didi­r­i­kan sebuah umpak batu hitam ber­ben­tuk keru­cut ter­po­tong. Di atas­nya didi­r­i­kan batu per­jan­jian Por­tu­gis-Paja­jaran, pahatan ber­sama antara dua belah pihak.

Hen­ri­que Leme dengan regu musik yang sangat seder­hana dan penga­wal ber­ba­ris di satu pihak dan Pange­ran Sunda Kelapa dengan para penga­wal di lain pihak. Mereka saling menyam­pai­kan pesan dengan ter­je­mahan Melayu.

Dengan demi­kian per­jan­jian Por­tu­gis-Paja­jaran telah men­jadi kenya­taan.

Pihak Por­tu­gis men­da­pat sebi­dang tanah dan ber­ke­nan untuk men­di­r­i­kan “kantor dagang”. Pihak Paja­jaran men­da­pat­kaan jaminan ban­tuan mil­iter bila men­da­pat serangan dari luar.

Pesan-meme­san sele­sai.

Ratusan gadis beter­bangan seperti bunga-bungaan di atas kolam rak­sasa yang ditiup oleh angin puyuh. Mereka ber­ta­buran di seke­li­ling para tamu, kemu­dian ber­ta­buran lagi dan ber­la­rian mengi­tari tugu, menari sambil menya­nyi dan mene­bar­kan bunga-bungaan, dengan latar bela­kang laut, kapal-kapal Pri­bumi dan Peranggi, perahu-perahu nela­yan. Latar bela­kang sebe­lah selatan adalah kehi­jauan deda­unan dan di sana-sini tajuk, rum­pu­nan bakau-bakau meng­in­tip dari balik bibir rawa-rawa. Di atas adalah langit yang cerah, biru dengan awan ber­a­rak putih-putih, kemu­dian di bawah­nya pegu­nungan yang tiada habis-habis­nya.

Sele­sai upa­cara di mana seo­rang pen­deta Hindu men­tah­bis­kan tugu, pihak Por­tu­gis segera mema­in­kan musik yang meng­ge­lora….

Itulah berita yang kem­bali meng­gun­cang­kan Demak.

Per­ti­kaian yang belum lagi reda mere­bak kem­bali. Orang pada menunggu-nunggu sikap Treng­gono, sikap yang agak jantan. Orang sudah mulai ber­bi­sik: apakah dia hanya berani mem­bu­nuh sau­dara kan­dung sen­diri, dan tetap tidak berani ter­ha­dap Peranggi? Bukan­kah per­bu­atan Por­tu­gis di Pakuan dan Sunda Kelapa tak lain dari tan­tangan ter­ha­dap Islam, dan kare­na­nya ter­ha­dap kha­li­fah Demak? Dan apa pula guna­nya armada besar yang telah makan biaya begitu banyak?

Ter­nyata orang perlu begitu lama harus menunggu.

Dari atas sing­ga­sa­na­nya Sultan Treng­gono ber­sabda: “Kita, manu­sia, hidup dan mati di atas tanah yang dika­ru­ni­a­kan oleh Allah s.w.t. kepada kita. Maka tanah karu­nia ini harus kita bela, berapa pun har­ga­nya. Selama tanah ini di dalam geng­gaman, tak ada suatu bahaya pun bakal meng­an­cam, kita akan mem­be­la­nya, karena modal per­tama adalah tanah. Tanpa tanah orang tak bisa ber­buat sesu­atu.”

Belum lagi orang habis ter­he­ran-heran meng­apa Sultan bicara ten­tang tanah, bukan ten­tang agama dan Peranggi seba­gai musuh­nya, bukan ten­tang kekhi­lafan yang ditan­tang, dan meng­apa hanya tanah, tanah belaka seka­li­pun ia karu­nia Allah, orang sema­kin ter­he­ran-heran karena ada ter­de­ngar suara wanita, dan wanita itu sudah tua, sua­ra­nya sayup-sayup datang dari Jepara. Wanita tua itu adalah Gusti Ratu Aisah: “Bukan hanya tanah, selu­ruh alam dise­rah­kan oleh Allah pada manu­sia. Kalau orang tak tahu arti­nya alam, inilah dia: semua – semua saja kecu­ali Allah sen­diri. Tanah ini, Jawa ini, kecil, laut­nya besar. Barang siapa kehi­langan air, dia kehi­langan tanah, barang siapa kehi­langan laut dia kehi­langan darat. Jangan lupa, Unus yang menga­ta­kan itu”.

Per­ti­kaian itu kemu­dian ber­pu­sat dalam kelu­arga raja sen­diri, diwa­kili oleh Treng­gono di satu pihak dan Gusti Ratu Aisah di lain pihak.

Selu­ruh Jawa tunduk men­de­ng­ar­kan. Setiap kata dari kedua orang itu jadi renungan dan bahan pem­bi­ca­raan, men­jadi bahan pemi­ki­ran pra-jawan di mana-mana – air dan tanah, laut dan darat.

Sete­lah ter­de­ngar suara ibunya Treng­gono diam, tidak mem­ba­las Dalam mem­bisu ia per­be­sar pasukan darat­nya, ter­u­tama pasukan kuda, dengan biaya yang semes­ti­nya untuk menye­le­sai­kan armada agung. Tanpa menya­ta­kan pada siapa pun, tak menunggu pen­da­pat Maje­lis Kera­jaan yang sema­kin men­jadi lemah, ia hendak mem­buk­ti­kan, bahwa ibunya keliru. Bahwa tanpa laut pun Demak akan jadi besar dan jaya.

Tetapi dari Jepara ibun­da­nya­lah yang mem­buka suara lebih dulu: “Keta­hu­i­lah, hanya dengan armada saja orang dapat meng­ha­lau Peranggi, musuh­nya, dengan pasukan darat orang cuma akan meme­rangi sau­dara-sau­da­ra­nya sen­diri, bukan musuh­nya”.

Suara wanita tua itu ber­pen­dar-pendar di darat maupun laut. Tiba-tiba para bupati mer­deka men­jadi sadar, bahaya dari Demak sedang di ambang pintu: Demak akan melu­as­kan daerah keku­a­sa­an­nya dengan pukulan perang. Dan perang akan segera ber­ke­c­a­muk. Di luar Demak wanita tua itu terus-mene­rus ditunggu-tunggu kata-kata­nya selan­jur­nya. Ia dide­ngar, diper­ha­ti­kan dan dihor­mati. Juga di Demak sen­diri.

Tapi apakah yang dila­ku­kan wanita yang telah kehi­langan kewi­ba­waan ter­ha­dap Sultan, put­ra­nya?

Dengan diam­nya Ratu Aisah, ber­bon­dong-bon­dong utusan meng­ha­dap ke Jepara mem­bawa per­se­m­ba­han, seka­dar hanya untuk men­da­pat­kan kata-kata­nya yang kuat bijak­sana dan petun­juk ten­tang apa yang bakal ter­jadi.

Dan wanita tua itu justru mem­bisu.

Di desa-desa ping­giran negeri Demak, pen­du­duk mulai pada meng­ungsi untuk mela­ri­kan diri dari wajib perang. Seba­lik­nya, ter­bu­juk oleh janji jarahan dan ram­pasan ter­ha­dap hak milik kafir, pemuda-pemuda desa mening­gal­kan kam­pung halaman menuju ke ibu kota untuk meng­ga­bung­kan diri jadi pra­ju­rit tetap pasukan darat Demak. Bahkan yang punya kuda sen­diri lang­sung meng­ga­bung­kan diri ber­sama kuda­nya pada pasukan kuda.

Orang mena­rik kesim­pulan dari per­kem­bangan ter­a­khir: antara anak dan ibu takkan ada per­da­maian lagi. Dan per­ta­nyaan kemu­dian yang timbul: Adakah Sultan akan meng­am­bil tin­dakan ter­ha­dap ibunya sen­diri seba­gai­mana ia telah mela­ku­kan­nya ter­ha­dap abang-kan­dung­nya. Pange­ran Seda Lepen?

Orang menunggu dan menunggu dengan pera­saan pri­ha­tin ter­ha­dap kese­la­matan wanita tua itu.

Sultan Treng­gono tak meng­am­bil sesu­atu tin­dakan ter­ha­dap ibunya. Ia makin kran­jingan mem­ba­ngun pasukan darat­nya. Hampir setiap hari orang dapat meli­hat ia berada di tengah-tengah pasukan kuda kebang­ga­an­nya, baik dalam latihan, sodor, maupun ketang­kasan ber­pacu sambil mema­in­kan pedang meng­ha­jar boneka yang digan­tung­kan pada sepo­tong kayu. Ia sen­diri ikut dalam latihan-latihan ini.

Dan dalam salah satu kesem­patan sema­cam ini pernah ia ber­kata secara ter­buka: “Tak ada yang lebih ampuh dari­pada pasukan kuda. Lihat, kawula kami semua!”

Dan para per­wira pasukan kuda pada ber­da­tangan dan meru­bung­nya, semua di atas kuda masing-masing.

“Pada suatu kali, kaki kuda Demak akan menge­pul­kan debu di selu­ruh bumi Jawa. Bila debu­nya jatuh kem­bali ke bumi, ingat-ingat para kawula, akan kalian lihat, takkan ada satu tapak kaki orang Peranggi pun nampak. Juga tapak-tapak­nya di Blam­bangan dan Paja­jaran akan musnah lenyap ter­tu­tup oleh debu kuda kalian.”

“Bera­pa­lah kuat­nya Blam­bangan dan Paja­jaran? Mereka tak punya pasukan kuda. Dan tanpa kuda, kedua-duanya hanya tum­pukan bang­kai. Siapa tidak per­caya? Barang­si­apa tidak per­caya, jangan ter­buru mati, sak­si­kan Treng­gono dengan sum­pah­nya ini….”

Seka­li­gus orang meng­erti ucapan itu ditu­ju­kan pada ibun­da­nya sen­diri. Tapi para bupati lebih meng­erti, kebe­basan mereka sedang dalam ancaman.

Di rumah-rumah orang keba­nyakan orang pada mem­bi­ca­ra­kan. Orang tua-tua pada meng­e­lus dada – bagai­mana bisa seo­rang anak, seka­li­pun raja, bisa ber­kata begitu kasar ter­ha­dap ibunya, mela­lui orang-orang lain? Tak suka­kah Sultan meli­hat ibunya yang tua dan ter­hor­mat itu mening­gal dalam keda­maian? Tidak­kah ia bisa mem­bisu tanpa menga­ta­kan sesu­atu?

Ratu Aisah tidak men­ja­wab put­ra­nya pada ketika men­de­ng­ar­nya. Tetapi pada kesem­patan lain, di tengah-tengah pasar bandar Jepara, ia ber­kata: “Tidak per­cuma wanita ditak­dir­kan mela­hir­kan anak. Tapi memang banyak yang merasa per­cuma mem­pu­nyai ibu”.

Di tengah-tengah pasukan kuda yang habis ber­la­tih Treng­gono memang­gil per­wira-per­wi­ra­nya dan ber­kata keras: ‘Tidak per­cuma seo­rang anak punya ayah. Almar­hum Sultan Al-Fattah pun tak per­cuma menye­bar­kan ratusan musa­fir, ke timur, barat, utara dan selatan. Setiap musa­fir men­da­tang­kan doa sera­tus hati yang rela untuk keja­yaan Demak. Siapa yang belum pernah dengar nama Demak di pulau Jawa ini? Dia tuli! Selu­ruh tanpa kecu­ali”.

Dalam suatu pelan­tikan pasukan kuda baru ia menga­ta­kan: “Sung­guh bodoh piki­ran lama yang hendak men­de­pai Jawa dengan kapal. Lang­kahi dia dengan kudamu! Sekali lang­kah Blam­bangan pecah. Balik, dan melang­kah tiga kali. Paja­jaran belah”.

Wanita tua itu tak men­ja­wab. Dan orang mulai lebih mem­per­ha­ti­kan Sultan Treng­gono yang sua­ra­nya makin keras melan­tang. Treng­gono punya keku­atan ber­sen­jata, Aisah hanya punya kebi­jak­sa­naan.

Walau demi­kian orang tetap ber­ta­nya-tanya, meng­apa suara-suara itu tak dide­ngung­kan dari atas takhta dan hanya di lap­angan? Adakah dengan demi­kian nila­inya bukan kep­ra­jaan? Bukan sabda seo­rang Sultan? Hanya ucapan pri­badi semata?

Treng­gono tidak men­ja­wab teka-teki itu dengan kata-kata, tetapi dengan per­bu­atan: Maje­lis kera­jaan tak dide­ng­ar­kan­nya lagi. Ia meng­i­kuti kema­u­an­nya sen­diri. Bahkan kata orang: Maje­lis yang harus men­de­ng­ar­kan dia.

Sua­ra­nya sema­kin gencar. “Tak ada yang lebih sia-sia dari­pada keke­cilan, keker­dilan. Raja kecil dengan kera­jaan kecil, apalah arti­nya dili­hat oleh burung-burung dari langit dan oleh ular di darat? Burung segan hing­gap dan ular pun segan mela­tai untuk tempat ber­ceng­ke­rama pun kera­jaan itu tidak aman. Bukan­kah kalian tahu juga: rawa kecil hanya meng­ha­sil­kan ikan kecil? Tapi raja besar dan kuat mengu­a­sai tanah untuk mere­but laut. Bila tanah telah diku­a­sa­i­nya, musuh takkan meni­kam dari bela­kang, apa­lagi dari depan. Demak bukan Malaka, bukan Pasai. Pada suatu kali Juana akan jadi ibu kota, menen­tang dan menen­tang setiap kapal Peranggi. Kawu­la­nya akan masy­hur di mana-mana. Bikin semua orang tahu, siapa Sultan Treng­gono: darat akan diku­a­sai, laut akan dir­a­jai, karena… Gusti Ratu Aisah tidak sia-sia mela­hir­kan­nya….”

Ucapan yang lan­tang itu dide­ng­ar­kan oleh para pengiring dalam suatu per­bu­r­uan hari­mau di peda­laman Demak.

Penge­pungan itu sema­kin rapat. Ratusan kawula ber­so­rak-sorak meng­gi­ring dengan bambu run­cing, menge­lu­ar­kan dari rumpun bambu.

Seekor hari­mau betina yang sedang mem­bawa anak­nya meng­a­muk di tengah-tengah kepungan ratusan orang ber­tom­bak bambu run­cing.

Treng­gono ber­diri pada sang­gurdi dan ber­ko­kok: “Sak­si­kan bagai­mana macan Peranggi akan ter­gu­ling di bawah tombak Treng­gono, Sultan Demak”.

Ia lem­par­kan tom­bak­nya, mela­yang indah ke jurusan jan­tung per­bu­r­uan. Tetapi bina­tang itu tak mene­rus­kan jalan­nya dan mata tombak itu menan­cap pada leher. Sang hari­mau men­jon­dil, meng­aum dalam kege­raman. Tak peduli pada bera­tus tombak yang menge­pung­nya ia melom­pat dan mener­kam, dan meng­gi­git, dan menyo­bek dan meng­ga­ruk. Bebe­rapa orang menge­pung rebah ber­mandi darah dan kepungan rantas.

Bina­tang itu menye­rang kem­bali dari bela­kang untuk menye­la­mat­kan anak­nya. Dida­pat­i­nya anak­nya telah tewas ter­tem­busi tombak: Ia angkat anak­nya dengan gigitan pada teng­kuk, sekali lagi menye­rang kepungan dan hilang ke dalam hutan bambu dengan tombak-tombak pada badan­nya sen­diri dan anak­nya yang telah mati.

“Bagai­man­a­pun ia akan mati oleh tombak Treng­gono Demak. Serah­kan bina­tang itu pada kami.”

Orang meli­hat wajah Treng­gono pucat. Ia balik­kan kuda­nya dan tanpa bicara lagi lang­sung pulang menuju ke ibu kota. Dan orang meng­ang­gap keja­dian itu seba­gai per­lam­bang keku­a­saan Treng­gono yang akan datang, dan nasib Demak yang takkan dapat diing­kari: kandas di tengah jalan, takkan menye­le­sai­kan garapan.

Sete­lah per­bu­r­uan itu agak lama Sultan tak bicara. Dan karena Ratu Aisah sudah lama pun tidak bicara lagi, seakan sudah mem­bisu untuk selama-lama­nya, orang meng­ang­gap per­ti­kaian sudah sele­sai.

Ter­nyata tidak demi­kian.

Pada suatu penu­tupan lomba sodor, seo­rang pem­be­sar telah menye­bab­kan Treng­gono bicara lagi.

Sembah pem­be­sar itu: “Sudah­kah Gusti Kan­jeng Sultan per­tim­bang­kan nasib Sunan Rajeg yang ditum­pas hanya oleh seo­rang anak desa ber­nama Wirang­gal­eng?”

Seje­nak Treng­gono ter­ma­ngu-mangu untuk men­ja­wab. Ia tarik-tarik dagu­nya, kemu­dian men­ja­wab lan­tang: “Bukan­kah itu sama halnya dengan Kuti ditum­pas oleh Gajah Mada di zaman jahi­liah dulu? Ingat-ingat kesal­ahan Kiai Beng­gala itu: dia tidak ber­buat sesu­atu pun untuk keja­ya­an­nya sen­diri. Semua orang lain yang harus bekerja dan mati untuk dia. Ajaran diper­gu­na­kan­nya seba­gai modal, dan ia hanya memu­ngut bunga dari modal yang dibe­ri­kan oleh Allah kepa­da­nya. Tuban mengu­tuk­nya. Ilmu dan penga­ruh­nya sangat, sangat tinggi di tengah-tengah padang semak belu­kar. Maka bila bukan petir yang menyam­bar­nya, hanya seekor oret mema­tah­kan batang­nya. Wal­ha­sil dia roboh juga. Itulah nasib semua pengu­asa yang dalam segala hal, kecu­ali cebok dan berak ter­gan­tung pada jasa orang lain. Ingat-ingat semua itu, karena Sultan Treng­gono tidak akan pernah demi­kian”.

Ratu Aisah tetap mem­bisu.

Wanita tua itu mem­pu­nyai kesi­bukan sen­diri. Sete­lah wafat­nya putra ter­cinta orang sering meli­hat­nya ditandu ke Man­tingan dari Jepara.

Pem­ba­ngu­nan itu sen­diri dila­ku­kan oleh tukang bukan Tiong­hoa ber­kun­cir yang dida­tang­kan dari Sema­rang, bahkan juga tata bangun dise­rah­kan pada mereka. Tukang-tukang Pri­bumi oleh Unus dipe­rin­tah­kan bel­a­jar bagai­mana mem­bi­kin batu dan mem­ba­ngun rumah dari batu. Maka mesjid itu akan jadi bangu­nan batu yang ke tiga di selu­ruh Jepara. Dan ke tiga-tiga­nya diba­ngun oleh tukang-tukang dari Sema­rang. Bangu­nan ke dua adalah gedung batu ber­lan­tai rendah di Welahan. Pada mula­nya masya­ra­kat Tiong­hoa akan mem­per­se­m­bah­kan­nya pada Sultan Unus untuk dija­di­kan pesang­grahan. Dengan wafat­nya mereka mem­ba­tal­kan niat itu.

Mesjid Man­tingan didi­r­i­kan dengan lantai tinggi ditu­tup dengan ubin bikinan Tiong­kok, dan demi­kian juga undak-unda­kan­nya. Semua dida­tang­kan dari Makao. Bangun atap ter­ma­suk hubungan adalah gaya Tiong­kok. Din­ding luar dan dalam dihi­asi dengan piring tem­bi­kar ber­gam­bar biru sedang din­ding sebe­lah tempat iman dan khatib dihi­asi dengan relief-relief per­segi ber­gam­bar mar­ga­satwa dan penari-penari yang dipa­hat pada batu cadas kuning tua.

Peng­a­was peker­jaan baik di Welahan maupun Man­tingan tak lain dari­pada Babah Liem Mo Han.

Pada suatu hari dalam per­te­muan antara Ratu Aisah dengan Liem Mo Han, di dalam mesjid yang hampir sele­sai itu, ter­jadi suatu per­ca­kapan yang kem­bali mem­ba­ngun­kan pada lain orang pada per­ti­kaian antara ibu dan anak.

“Seo­rang raja di Jawa yang kuat dalam pen­di­r­ian dan ter­hor­mat dalam tin­dakan adalah yang seperti almar­hum Unus. Sayang Allah belum meng­i­zin­kan, cedera badan meng­ha­langi ren­ca­na­nya. Siapa lagi seka­rang penan­tang Peranggi? Babah menge­nal sen­diri put­raku almar­hum. Sen­diri naik ke Malaka dan memim­pin per­tem­puran. Dia gagal, tapi pen­de­ng­ar­nya tidak pernah gagal, tapi pan­dang­an­nya tidak pernah kalah, tidak pernah gagal. Barang­si­apa raja tidak pernah kalah, tidak pernah gagal. Barang­si­apa raja tidak ber­pan­dangan seperti dia, dia sudah kalah sebe­lum meng­ha­dapi Peranggi itu sen­diri. Peranggi bisa diha­lau dan dika­lah­kan, kata put­raku almar­hum, dengan per­se­ku­tuan semua raja di Jawa, Suma­tra, Melayu, Sula­wesi dan Kali­man­tan dan Nusa Teng­gara dan Maluku sen­diri, dan Tiong­hoa. Tin­dakan yang seba­lik­nya akan ber­a­ki­bat panen yang seba­lik­nya”.

Liem Mo Han tidak menyela, hanya men­de­ng­ar­kan dengan menun­duk. Dan ia tahu tak boleh men­cam­puri piki­ran Gusti Ratu. Lagi pula ia meng­ang­gap wanita tua itu sedang mele­pas­kan piki­ran­nya sen­diri tak meng­hen­daki tang­gapan. Kata-kata­nya sampai juga ke Demak.

Kem­bali orang ter­gu­gah oleh per­ti­kaian lama antara ibu dan anak. Dan berita itu sampai juga ke Pasai dan Malaka.

Por­tu­gis mena­rik kesim­pulan: Treng­gono terang bukan Unus. Armada Unus dalam per­si­apan mereka anggap memang sudah teng­ge­lam sebe­lum ditu­run­kan ke laut. Dan Por­tu­gis memu­tus­kan untuk mema­dam­kan penga­ruh Ratu Aisah.

Maka ter­j­a­dilah apa yang mereka kehen­daki.

Pagi itu matari belum lagi setinggi pohon pisang. Bangku kayu jati ter­u­kir dalam itu tidak lagi kosong seperti bia­sa­nya. Ratu Aisah duduk di atas­nya. Telun­juk­nya yang tua menu­tas surat ber­tu­lisan Arab dan ber­ba­hasa Jawa. Di bawah­nya duduk seo­rang perem­puan Melayu.

Dengan suara tuanya yang masih juga lan­tang ia ber­kata dalam Melayu: “Bagai­man­akah, perem­puan Melayu, istri seo­rang Peranggi Malaka, Siba­rani itu seber­a­ngi laut jauh, datang pada kami, hanya untuk menyam­pai­kan surat Peranggi yang sehina ini isinya? Tidak, perem­puan Melayu, tak patut kami balas surat ini. Pulang­lah kau kem­bali. Sam­pai­kan pada Perang­gimu, entah di Malaka, entah­lah di Pasai, entah di mana lagi tak ada per­se­li­sihan antara kami dengan Gusti Kan­jeng Sultan dapat mengu­a­sai selu­ruh Jawa. Gusti Kan­jeng Sultan tak mem­bu­tuh­kan meriam Peranggi. Bahkan seki­ra­nya Aisah ini pula, kami sen­diri akan datang meng­gam­bar Malaka”.

Tidak ter­ce­ri­ta­kan lagi bagai­mana kisah perem­puan Melayu itu. Apakah ia balik ke nege­ri­nya atau tidak, pun tiada yang tahu. Ada berita ten­tang peng­ha­dapan itu pecah sejadi-jadi­nya ke selu­ruh dan semua bandar di Nusan­tara.

Di Jawa sen­diri para bupati merasa lega dari kete­gangan mela­wan Treng­gono. Walau demi­kian mereka tetap ber­si­aga meng­ha­dapi segala kemung­kinan. Per­be­daan antara Unus dan Treng­gono ter­lalu besar. Dan berapa beda­nya dua orang dari satu orang tua dan satu pen­di­dikan itu. Seki­ra­nya Unus masih hidup dan ber­seru para bupati untuk mela­ku­kan serangan gabungan ke Malaka, mereka akan ber­ga­bung tanpa ragu-ragu. Tetapi Treng­gono meng­an­cam mereka dengan perang per­lu­asan keku­a­saan yang takkan menyatu aki­bat­nya.

Walau­pun utus­an­nya pada Ratu Aisah tak mem­bu­ah­kan sesu­atu hasil, Por­tu­gis di Malaka untuk semen­tara waktu ber­pe­gangan pada kata-kata wanita tua itu tak ada per­ti­kaian men­da­lam antara Treng­gono dengan ibunya; wanita itu bukan telah berani bicara atas nama Sultan meno­lak tawaran meriam.

Tolakan sedang ber­mus­li­hat dengan gembar-gem­bor­nya, pura-pura hendak mengu­a­sai Jawa dan menu­tup ter­ha­dap Peranggi. Pada dasar­nya ia sama dengan abang­nya: Mala­ka­lah justru yang akan dibi­kin­nya jadi bulan-bulanan.

Maka dipu­tus­kan­lah: belum masa­nya untuk melak­sa­nakan pem­bu­kaan “kantor dagang” di Jawa, di Sunda Kelapa pun belum walau tem­pat­nya jauh dari Demak. Penga­ruh Unus masih tetap kuat.

Ren­cana Sunda Kelapa harus ditang­guh­kan.

Keda­tangan wanita Melayu meng­a­dap Ratu Aisah dan berita ten­tang peno­lakan tawaran meriam itu benar-benar menge­jut­kan Treng­gono. Ia sama sekali tidak men­duga wanita tua itu bisa ber­kata yang begitu indah, menye­la­mat­kan nama­nya dari keca­man umum. Tetapi ia pun men­jadi murka karena perem­puan itu berani begitu lan­cang bicara atas nama­nya.

Para pem­be­sar telah men­coba-coba menge­ta­hui tang­gap­an­nya atas ucapan Ratu Aisah. Dan ia merasa harus mengen­da­li­kan diri. Bagai­man­a­pun suara itu ber­a­sal dari seo­rang ibu, dan bagai­man­a­pun kedu­duk­an­nya sen­diri adalah seo­rang anak.

Ucapan, bahwa tak ada per­ti­kaian antara ibu dan anak, akan diper­gu­na­kan­nya sebaik-baik­nya. Ia harus bel­a­jar meng­am­bil man­faat dan setiap hal yang meng­un­tung­kan.

Maka pada suatu hari yang tak ter­duga-duga, dalam iringan pasukan kuda. Sultan Treng­gono berang­kat ke Jepara untuk ber­su­jud pada Gusti Ratu Aisah. Orang harus meng­erti, tak ada apa-apa antara ibu dan anak, tak ada per­ti­kaian, tak ada per­se­li­sihan, hanya ada keda­maian dan per­da­maian.

Pasukan kuda itu ber­ba­ris dengan segala kebe­saran dan keme­wahan. Mereka semua ber­sen­jata tombak tung­gal dengan umbai-umbai ber­warna-warni pada per­sam­bungan antara paksi dengan tang­kai. Dada mereka yang ter­tu­tup baju kutang putih. Dan pedang pendek meng­hi­asi setiap ping­gang. Juga kepala kuda dihi­asi dengan warna-warni bunga-bungaan sedang abah-abah dengan kuningan dan perunggu. Umbul-umbul kecil ber­ki­bar-kibar di tengah-tengah, di depan Sultan.

Tak pernah Demak, apa­lagi Jepara, menyak­si­kan pasukan kuda ber­ba­ris sepan­jang dan sein­dah itu. Dan mereka berang­kat tanpa sepe­nge­ta­huan Maje­lis Kera­jaan.

Di Jepara seba­gian besar pasukan ber­pa­wai ke seke­li­ling kota – suatu pameran keku­atan darat yang tak pernah sebe­lum­nya dalam seja­rah Jepara.

Seba­gian kecil pasukan meng­iring­kan Sultan untuk men­da­pat Gusti Ratu Aisah.

Treng­gono disam­but oleh ibunya di pen­dopo. Pasukan kuda yang meng­iring­kan ber­ba­ris menge­li­lingi rumah itu seakan sedang menge­pung­nya.

Ratu Aisah duduk di atas bangku kayu ber­u­kir. Di lantai duduk para inang, sedang Treng­gono duduk di atas kursi di hadap­an­nya – lebih tinggi, karena dialah Sultan.

Ratu Aisah menge­na­kan kain batik, kemben wulung dan selen­dang batik. Pada kepa­la­nya seperti biasa, meng­hias keru­dung batik pula. Sultan menge­na­kan jubah sutra kuning dan ber­so­r­jan kuning pula. Sorban itu ber­hi­asan rantai emas dengan intan ber­ta­buran pada jumbai balik di atas kening – juga ber­nama kuning. Ratu Aisah ber­te­lan­jang kaki. Sultan menge­na­kan terom­pah kulit.

Per­te­muan ini adalah suatu keja­dian yang akan menen­tu­kan nasib Jawa dan Nusan­tara di waktu dekat men­da­tang dan jauh di kemu­dian hari – per­te­muan antara ibu dan anak, per­ben­turan antara dua pan­dangan dan pen­da­pat.

Ratu Aisah memu­tar-mutar­kan tang­kai bunga kuning dengan jari-jari tuanya. Bunga itu ber­main-main di atas pang­ku­an­nya, bolak-balik seperti roda kereta Dengan senyum pada bibir yang dihi­asi merah sirih dan dengan suara lemah ia ber­kata: “Sembah dan sujud put­randa Baginda Sultan adalah lak­sana siraman air sejuk di hati bunda dalam terik berapa tahun. Alham­dul­il­lah Baginda Sultan tiada malu mene­ngok si tua-renta ini. Maklum Baginda Sultan adalah putra Sultan dan Kha­li­fah, sedang si tua-renta ini hanya anak seo­rang guru agama di pesi­sir.”

“Ah. ibunda Ratu. seakan kata-kata itu telah ibunda pilih agar tak ter­u­lang lagi yang telah ibunda Ratu ucap­kan pada kakanda Unus almar­hum. Apakah kasih ibunda Ratu pada almar­hum harus mengu­rangi kasih pada sahaya?”

“Jangan men­ja­di­kan kecil hati Baginda Sultan. Seo­rang ibu menga­sihi semua put­ra­nya”, jawab Ratu Aisah, dan tangan­nya masih terus juga memu­tar-mutar tang­kai bunga itu.

“Ada terasa di hati besar­nya kasih tiada sama, ibunda Ratu.”

“Apa hendak dikata. Kadang ada seo­rang putra yang lebih memes­rai seo­rang ibu, kadang seo­rang ibu lebih dimes­rai, kadang seo­rang putra lebih dimes­rai karena apa yang telah diper­se­m­bah­kan­nya pada ibunya.”

“Beri­lah sahaya waktu dan kesem­patan, Ibunda Ratu, untuk men­da­pat­kan kemes­raan yang meres­tui itu,” kata Treng­gono dan ditu­ding­nya pasukan kuda yang ber­ba­ris di luar. “Pasukan kuda, Ibunda Ratu, kebang­gaan Treng­gono dan Demak”.

“Syu­kur­lah ada pasukan kuda pening­galan ayah­anda almar­hum dan dikem­bang­kan oleh kakanda Baginda Sultan Unus almar­hum: Sung­guh patut jadi kebang­gaan”.

“Baru di tangan Treng­gono men­da­pat­kan ben­tuk­nya”.

“Syu­kur­lah. Allah telah menga­bul­kan”.

“Ibunda Ratu, Kakanda Unus almar­hum telah mem­per­se­m­bah­kan per­tem­puran Malaka ke bawah kaki Ibunda Ratu. Treng­gono akan per­se­m­bah­kan selu­ruh Jawa ke bawah duli kaki Ibunda. Tidak akan lama lagi, ibunda Ratu, dan selu­ruh Jawa akan sujud padamu. Insya Allah. Kalau tangan seo­rang raja Demak mulai meng­geng­gam tanah, tak sebu­tir pun pasir akan lolos dari jari-jari­nya.”

“Butir-butir pasir pesi­sir itu bukan­lah gum­palan tanah lem­pung pegu­nungan, Put­randa Baginda Sultan. Put­randa Sultan tidak dila­hir­kan di pantai seperti ibunda ini, tapi di atas gum­palan tanah lem­pung pegu­nungan. Ibunda dila­hir­kan di pesi­sir Gresik maka tahu ten­tang pasir.”

Treng­gono tak meng­in­dah­kan dan mene­rus­kan: “Tak sebu­tir pasir pun akan lolos. Sebu­tir pun Peranggi takkan mem­per­o­leh­nya.”

“Pasir telah ter­geng­gam di tangan Peranggi di sebe­lah utara sana.”

“Yang di utara takkan ber­arti tanpa selatan.”

“Mung­kin­kah Put­randa Baginda Sultan? Mung­kin­kah tangan itu dapat menge­pal meng­geng­gam kalau darah kehi­dupan tak ada di dalam­nya?”

“Tangan Treng­gono bukan tangan bang­kai!” Treng­gono memo­tong gusar.

“… karena nadi darah kehi­dupan meng­a­lir adalah selat Seme­nan­jung di utara sana?”

“Sultan Treng­gono tak pernah menga­ta­kan nadi darah kehi­dupan ada di selat, karena Demak­lah jan­tung kehi­dupan”.

“Apalah arti­nya jan­tung tanpa darah kehi­dupan? Dan dapat­kah jari-jari meng­geng­gam menge­pal tanpa darah?”

“Karena tanah dapat digeng­gam, dan air tidak”.

“Kalau orang meno­lak air, pasir takkan dida­pat­nya, darah pun hanya seka­dar untuk ber­tumpu agar tak teng­ge­lam. Bukan­kah laut lebih luas dan lepas dari pada darat?”

Sekali lagi Treng­gono tak meng­in­dah­kan. Ia kepal­kan tangan jadi tinju dan diusap-usap­nya di hadapan ibunya.

“Betapa indah tangan yang sudah ter­ke­pal jadi tinju”.

“Put­randa Baginda Sultan, bayi lahir dengan menge­pal­kan tinju, o-rang mati mere­gang­kan jari-jari. Dia takkan menge­pal lagi. Tapi bayi itu tidak menge­pal tanah. Dia menge­pal hari depan. Apakah juga indah kalau kepalan itu diha­dap­kan pada seo­rang wanita, dan wanita itu ibun­da­nya sen­diri, dan tak ada hari depan di dalam­nya?”

“Ampun, Ibunda. Dija­uh­kan put­randa ini hen­dak­nya dari meng­ha­dap­kan pada Ibun­da­nya sen­diri. Tapi tinju ini memang diha­dap­kan, insya Allah, dikod­rat­kan, insya Allah, ditak­dir­kan, insya Allah, untuk menge­pal pulau Jawa, Ibunda Ratu, dan tidak lain dari restu Ibunda Ratu jua sahaya pohon.”

“Deng­ar­kan kata-kata seo­rang ibu, biar­pun put­ra­nya telah raja,” kata Ratu Aisah ter­buru-buru, kha­wa­tir Sultan akan segera pergi karena marah, “tak ada indah­nya sebuah kepalan, sebuah tinju, kalau mata tidak meli­hat. Mata yang jeli lebih indah, put­randa Baginda Sultan, karena tiada mata, jangan­kan satu, satu laksa tinju pun takkan dapat mere­bah­kan batang jarak, mereka tak tahu tem­pat­nya, tak tahu sasar­an­nya. Dia pun takkan menge­pal, apa­lagi meninju. Dia hanya akan gera­yangan.”

Orang meli­hat Treng­gono men­jadi gugup. Sudah bebe­rapa bentar ibunya ber­henti bicara. Ia masih juga belum mene­mu­kan kata. Sunyi-senyap di selu­ruh pen­dopo. Dan Ratu Aisah tetap memu­tar-mutar tang­kai bunga.

“Ibunda Ratu”, ter­de­ngar Treng­gono bicara dengan nada rendah, “biar­lah mata yang jeli itu meli­hat sebaik-baik­nya, dan biar­lah tangan itu menge­pal dan meninju sebaik-baik­nya, pula.”

Treng­gono ber­pa­ling ke bela­kang pada para pem­be­sar­nya. Seo­rang pun tak mem­ban­tu­nya bicara. Dan Ratu Aisah meng­a­wasi put­ra­nya dari tempat duduk­nya.

“Ibunda Ratu,” kata­nya lagi. “Jari-jari put­randa akan men­ceng­kam ke arah matari terbit dan ke arah matari teng­ge­lam, agar surya tetap meman­car di atas kepala, di atas bumi Demak. Kakanda Unus almar­hum… Peranggi tidak dika­lah­kan, tangan­nya kosong, jari-jari­nya ter­buru mereng­gang. Tak ada air dan tak ada tanah pernah digeng­gam­nya.”

“Dan pada waktu itu Kakan­damu Unus almar­hum pulang mem­bawa keka­lahan. Peranggi belum lagi sekuat seka­rang. Maka diba­ngun­kan­nya armada per­kasa, dan keka­lahan dan cedera diba­wa­nya pulang ke Jepara. Seka­rang Peranggi lebih kuat,” kata Ratu Aisah tanpa bahasa kias lagi, “selat mutlak di tangan dia, menu­tup hari depan Jawa dan Nusan­tara. Kecu­ali bagi dia yang berani, tabah, dan ber­mata jeli, dapat jadi penan­tang­nya. Jawa dan Nusan­tara tanpa selat, apalah arti­nya? Mata jeli pun tidak ber­guna bila tinju memu­kul sau­dara-sau­da­ra­nya sen­diri bukan musuh­nya”.

“Ibunda Ratu….”

“Deng­ar­kan Kakan­damu almar­hum: ‘Barang­si­apa ber­pen­da­pat mengu­a­sai Jawa lebih pen­ting dari­pada meng­han­cur­kan Peranggi dia akan diku­tuk oleh anak-cucu, karena sudah tahu sebe­lum­nya, pen­da­pat­nya itu telah menye­rah­kan si anak-cucu untuk jadi ter­kaman Peranggi sudah sejak dalam kan­dungan ibunya.”

“Peranggi akan diha­dapi di darat.”

“Hampir setiap bocah menga­ta­kan begitu”.

“Maka darat harus diku­a­sai”, sekali lagi Treng­gono mene­ngok ke bela­kang. “Kalian! Per­se­m­bah­kan sampai di mana kesang­gupan kalian”.

“Kepala dan hati patik seka­lian sudah patik per­ta­ruh­kan untuk mem­per­se­m­bah­kan selu­ruh Jawa ke bawah duli Kan­jeng Gusti Sultan”, sese­o­rang mem­per­se­m­bah­kan.

“Begitu Unus wafat”. Ratu Aisah mene­rus­kan tanpa mem­pe­du­li­kan kata per­se­m­ba­han pem­be­sar pasukan kuda Demak. “Pasai segera dir­e­but­nya. Seka­rang Peranggi sudah men­coba-coba di Sunda Kelapa dan Blam­bangan. Apa bakal ter­jadi lusa?”

“Lusa Sunda Kelapa dalam geng­gaman Treng­gono, Ibunda Ratu. Jangan kha­wa­tir. Sultan Demak men­jan­ji­kan: Peranggi takkan meng­u­sik pulau Jawa selama dia masih hidup”.

Ratu Aisah bang­kit dari bang­ku­nya, men­de­kati Treng­gono menye­rah­kan tangan­nya untuk dicium.

Sua­sana hening tanpa per­ben­turan itu, menam­pil­kan mereka seperti seo­rang ibu muda dengan seo­rang anak bayi­nya. Wanita tua itu meme­gangi kedua belah pipi Sultan dan mena­tap wajah Sultan dengan mata sayu, dan mata itu ber­kaca-kaca.

Treng­gono tak berani menen­tang mata itu dan menun­duk. Rasa-rasa­nya per­ti­kaian telah punah, tak ada lagi jarak antara ibu dan anak.

Per­ca­kapan ter­buka dan ter­de­ngar setiap orang yang hadir kini beru­bah jadi bisikan, dimu­lai oleh Ratu Aisah: “Put­randa Baginda Sultan, was­pa­da­lah ter­ha­dap racun. Biar seti­tik rak­sasa pun bisa binasa, jari tak dapat ber­ge­rak lagi apa pula tangan. Dan setiap piki­ran yang keliru adalah racun, bisa mem­bu­nuh setiap raja. Barang siapa tak was­pada, dia bisa tewas sepu­luh kali sebe­lum mati. Dan racun itu sela­ma­nya ber­sum­ber pada piki­ran sen­diri.”

Treng­gono mele­pas kedua belah tangan ibunya dari muka­nya Muka­nya masih tetap menun­duk.

“Ibunda Ratu,” bisik­nya kem­bali, “mata yang jeli dikod­rat­kan untuk meli­hat, dan apa guna jari-jari dan tangan kuat kalau bukan untuk meng­geng­gam? Mata yang jeli dan tangan yang kuat dike­ta­hui hanya piki­ran yang jernih.”

‘Tak taulah aku kapan Allah akan memang­gil diri. Rasa-rasa­nya tidak akan lama. Sebe­lum pang­gilan datang, Treng­gono, anakku, hapus­kan darah abangmu yang kau kucur­kan di bumi Allah ini. Tanpa ampun-Nya takkan ada sesu­atu dari peker­ja­anmu men­da­pat berkah. Per­se­m­bah­kan suatu keba­ha­gi­aan semua orang dan para almar­hum dan pada Tuhanmu sen­diri: satu perang peng­u­siran atas Peranggi dari Malaka, Pasai dan Nusan­tara. Armada rak­sasa Unus jangan­lah dibi­ar­kan teng­ge­lam sebe­lum menem­puh perang. Masuki seme­nan­jung, jangan kece­wa­kan setiap dan semua orang.”

Waktu Aisah meno­lak­kan bahu Sultan supaya pergi, orang meli­hat mata wanita tua itu sema­kin ber­kaca-kaca. Bunga di tangan­nya jatuh di lantai tanpa disa­dar­i­nya.


Bab 28

Tuban dalam Suasana Baru

Selu­ruh Tuban kem­bali dalam kete­nangan dan keda­maian – kota dan peda­laman. Sang Patih Tuban men­di­ang telah digan­ti­kan oleh Kala Cuwil, pemim­pin pasukan gajah. Nama baru­nya: Wira­bumi. Pang­gil­an­nya yang leng­kap: Gusti Patih Tuban Kala Cuwil Sang Wira­bumi. Dan seba­gai patih ia masih tetap memim­pin pasukan gajah, maka Kala Cuwil tak juga ter­ha­pus dalam sebutan.

Pasar kota dan pasar bandar ramai kem­bali seperti sedia kala. Lalu lintas laut, kecu­ali dengan Atas Angin, pulih kem­bali.

Sang Adi­pati telah men­ja­tuh­kan titah: kapal-kapal Tuban men­da­pat per­ke­nan untuk ber­la­buh dan ber­da­gang di Malaka atau­pun Pasai.

Tapi peng­ha­silan bandar tetap saja tak dapat lagi menu­tup keme­ro­sotan besar.

Semua peng­a­turan praja dila­lu­kan oleh Kala Cuwil. Sang Adi­pati sen­diri telah kehi­langan per­ha­ti­an­nya ter­ha­dap segala-gala­nya. Ia tak pernah lagi meme­riksa bandar atau ber­buru, bahkan tak pernah lagi keluar dari kadi­pa­ten. Ber­ceng­ke­rama di taman kesa­yangan di ten­tang kan­dang gajah pri­badi pun tak lagi. Bebe­rapa kali pesta tahunan seni dan olah raga dan pesta laut ber­lalu tanpa per­ha­ti­an­nya.

Dan di kadi­pa­ten sen­diri Idayu tak pernah muncul lagi dari tari­an­nya.

Sejak padam­nya pem­be­ron­takan Rangga Iskak Sang Adi­pati tak pernah sehat, telah kehi­langan semua kege­si­tan dan kese­gar­an­nya. Ia nampak sudah sangat tua. Sema­ngat dan daya­nya hilang. Jalan­nya telah ter­ta­tih-tatih dan sudah tidak bisa tegak lagi.

Rangga Iskak telah nyata tewas, keku­at­an­nya telah tumpas. Semes­ti­nya sudah tak ada lagi sesu­atu yang meru­suhi piki­ran­nya. Tapi tidak, piki­ran lain selalu datang meng­gang­gu­nya: penye­salan karena sau­dara sepu­pu­nya yang muda itu Patih Tuban yang ter­bu­nuh secara tidak layak tanpa per­la­wanan oleh seo­rang anak desa ber­nama Wirang­gal­eng. Juga penye­sal­an­nya telah mem­bo­hongi Adi­pati Unus men­di­ang tak pernah dapat dibo­hong­i­nya dengan alasan, bahwa Unus ini juga yang telah meram­pas Jepara dari tangan­nya. Penye­salan lain yang juga meru­suhi piki­ran­nya: ia tak dapat meng­am­bil sesu­atu tin­dakan seba­gai­mana ia sen­diri kehen­daki ter­ha­dap Wirang­gal­eng. Semes­ti­nya anak itu tidak dika­ru­niai dengan sesu­atu jabatan, tak perlu ditam­pil­kan hanya untuk mena­ik­kan nama Idayu. Semes­ti­nya dia segera ditum­pas sete­lah adanya per­se­m­ba­han ten­tang “per­se­kong­kol­an­nya” dengan Rama Clu­r­ing men­di­ang. Dan cem­bu­ru­nya masih juga dapat dira­sa­i­nya karena anak itu ter­nyata dihor­mati, dicin­tai dan dide­ng­ar­kan oleh kawula Tuban. Malah pemim­pin-pemim­pin pasukan seperti orang kehi­langan akal men­de­ng­ar­kan dan mema­tu­hi­nya. Anak desa yang lan­cang itu….

Seba­gai seo­rang pengu­asa mutlak tanpa seo­rang pun dapat meng­ha­langi kehen­dak­nya, ia sung­guh merasa malu tak dapat ber­buat seba­gai­mana ia ing­in­kan ter­ha­dap anak desa kepa­rat yang meng­ang­kat diri jadi Patih Sena­pati Tuban itu. Masih sering ter­ba­yang-bayang dalam ing­at­an­nya peris­tiwa yang satu itu. Waktu itu hari peng­ha­dapan per­tama sete­lah padam­nya keru­suhan Rangga Iskak. Balair­ung itu pun sudah lama kosong tanpa peng­ha­dap. Kadi­pa­ten sunyi bahkan mulai ter­an­cam bahaya kela­paran. Balat­en­tara Tuban telah dita­rik kem­bali ke Tuban Kota oleh Wirang­gal­eng. Namun pen­dopo itu tetap tiada ber­peng­ha­dap.

Pada hari itu, ya pada hari itu, tiba-tiba semua beru­bah. Pasukan penga­wal mulai men­du­duki tempat-tem­pat­nya yang semula. Gapura kadi­pa­ten telah ber­diri kem­bali dan rupa-rupa­nya telah ditu­kangi orang pada malam hari. Bahan makanan masuk lagi ke dalam gudang per­be­kalan kadi­pa­ten. Dan: Pung­gawa-pung­gawa praja, para pem­be­sar dan kepala-kepala pasukan, juga Wirang­gal­eng, datang ber­sim­puh meng­ha­dap.

Seo­rang pung­gawa telah datang meng­ha­dap pada­nya, mem­per­se­m­bah­kan datang­nya para peng­ha­dap.

Jan­tung tuanya ber­de­bar-debar. Pada pung­gawa itu ber­ta­nya adakah anak desa itu datang meng­ha­dap juga. Dan pung­gawa itu mem­per­se­m­bah­kan ada. Ia rasai keku­atan baru ber­go­lak di dalam tubuh­nya. Ia harus tumpas anak desa yang lan­cang itu. Harus! Tak boleh ada selem­bar rumput pun di dalam praja kadi­pa­ten Tuban, yang bisa meng­ha­langi ketu­run­an­nya sen­diri untuk meng­gan­ti­kan dir­i­nya seba­gai adi­pati.

Ia perin­tah­kan juru rias mela­ku­kan peker­ja­an­nya, dan kem­ba­li­lah ia jadi Sang Adi­pati yang dulu juga, hanya telah beru­bah jadi kakek dengan rambut selu­r­uh­nya telah putih dan jalan tak tegak lagi.

Sese­o­rang harus mem­ban­tu­nya naik ke atas sing­ga­sana gading itu. ia sudah tak kuat meng­ang­kat kaki­nya setinggi itu.

Tanpa meli­hat pun ia tahu para peng­ha­dap ter­ke­jut meli­hat per­u­ba­han pada dir­i­nya itu. Bahkan jari-jari­nya pun kini terus meng­ge­le­tar tanpa sema­u­nya sen­diri. Mata­nya redup kehi­langan sinar hidup. Pipi cekung kempot dan ter­gan­tung.

Begitu duduk di atas sing­ga­sana, ia tak mena­nyai patih­nya, karena dia sudah tiada. Juga ia tidak mena­nyai seo­rang ter­tentu. Lang­sung ia ber­ta­nya pada siapa saja. pada siapa saja, pada semua.

“Bagai­mana keru­sakan yang dide­rita oleh kawula kami di peda­laman?”

Dan semua peng­ha­dap meli­hat pada Wirang­gal­eng, Sang Patih Sena­pati Tuban.

Dengan hati berat Wirang­gal­eng, Patih Sena­pati tanpa peng­ang­katan itu, mem­per­se­m­bah­kan, keru­sakan tidak­lah sebe­sar yang diha­rap­kan oleh Sunan Rajeg, kemu­dian mene­rus­kan dengan sangat hati-hati: “Sunan Rajeg telah keda­patan tewas dalam gua Gowong beserta peng­i­kut-peng­i­kut­nya ter­a­khir. Gusti Adi­pati Tuban sem­ba­han patik.”

“Siapa mem­per­se­m­bah­kan itu?”

“Patik, Gusti, Syah­ban­dar-muda, kepala pasukan laut, si Wirang­gal­eng”.

“Adakah kau sudah jadi patih maka jadi orang per­tama yang mem­per­se­m­bah­kan?”

“Telah hamba bunuh Patih Tuban karena keragu-ragu­an­nya.”

“Maka itu kau anggap dirimu Patih Tuban?”

“Ampun. Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik,” Kala Cuwil mene­ngahi. “Adapun Sang Patih Sena­pati Tuban Wirang­gal­eng telah tumpas keru­suhan besar itu, Gusti. Ampun­i­lah dia karena tiada tahunya ten­tang adat praja maka telah menye­but­kan nama kotor si peru­suh itu di hadapan duli Gusti Adi­pati. Ampun, Gusti, memang besar keragu-ragu­an­lah yang telah mene­was­kan Gusti Patih almar­hum. Dan itulah sesung­guh­nya bea untuk keme­nangan Tuban. Maka itu sudah sepa­tut­nya Sang Patih Sena­pati Tuban Wirang­gal­eng diku­kuh­kan oleh Gusti Adi­pati akan jabat­an­nya itu”.

“Ampun. Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik, tidak lain dari Sena­pati Wirang­gal­eng yang mera­jang-rajang balat­en­tara peru­suh yang ter­lam­pau kuat itu sampai ber­ke­ping-keping, Gusti, tak ber­daya dan binasa, musnah”. Ban­teng Wareng menam­bah­kan.

“Adakah kalian mengira. Adi­pati Tuban ber­sing­ga­sana pada hari ini untuk men­de­ng­ar­kan puji-pujian untuk si pelan­cang”, sua­ra­nya lambat dan pelahan. geme­tar namun tegap.

Sua­sana peng­ha­dapan untuk ke sekian kali­nya men­jadi tegang. Seo­rang yang telah memim­pin mereka ke arah keme­nangan sedang meng­ha­dapi kerun­tuhan di hadapan pengu­asa mutlak yang tak pernah dapat dita­war kepu­tus­an­nya itu. Semua mata ter­tuju pada anak desa, yang masih juga duduk mene­kur tak tahu apa harus diper­bu­at­nya.

“Sia­pa­kah orang­nya yang menem­pat­kan dia di tempat ter­hor­mat itu?”

Wirang­gal­eng menyem­bah, kemu­dian bering­sut-ingsut duduk dengan para kepala pasukan.

Dan semua men­jadi geli­sah mem­per­ha­ti­kan Sang Sena­pati tanpa peng­ang­katan itu duduk menun­duk di sam­ping rang­kum.

“Sia­pa­kah orang­nya yang men­da­pat­kan dia pada barisan kepala pasukan?” Sang Adi­pati mene­tak lagi dengan suara lambat, per­la­han geme­tar namun tegap dan dingin.

“Ampun, Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik”, kata Kala Cuwill “adapun Wirang­gal­eng telah menem­pati tem­pat­nya sen­diri seba­gai kepala pasukan laut”.

“Adakah patut seo­rang pelan­cang men­da­pat kehor­matan sema­cam itu?”

Sekali lagi anak desa itu meng­ang­kat sembah dan bering­sut ke barisan di bela­kang­nya lagi, barisan pem­be­sar praja. Tak ada di antara kepala pasukan berani ber­se­m­bah.

Sua­sana yang tegang dan meng­ge­li­sah­kan terasa begitu lama dan tak bakal habis.

Tiba-tiba ter­de­ngar sese­o­rang bicara dalam Melayu, dan semua mata ter­a­rah kepa­da­nya.

“Tiada patut di mana pun dalam kadi­pa­ten ini, ya Gusti Adi­pati Tuban yang bijak­sana. Yang ber­dosa tidak mung­kin ber­jasa, yang ber­jasa tidak mung­kin ber­dosa, kata pantun nasi­hat”.

“Kau benar, Tuan Syah­ban­dar Tuban”.

Dan Wirang­gal­eng meng­ang­kat sembah lagi, bering­sut ingsut jauh dan lama mening­gal­kan pen­dopo, duduk di pela­taran.

“Maju­lah kau. Kala Cuwil, di hadapan kami, karena kaulah Patih Tuban Kala Cuwil Sang Wira­bumi. Dan per­ha­ti­kan semua titah kami laku­kan semua urusan Tuban dan pra­ja­nya. Jangan sampai ada pelan­cang men­da­pat kesem­patan bagai­kan dur­jana temu­kan mangsa. Dengan kau tiada kan ada ancaman ter­ha­dap Tuban”.

Kala Cuwil bering­sut maju sambil menyem­bah.

“Sengaja kami biar­kan jena­sah Sang Patih mele­kang di alun-alun seba­gai hukuman bagi si pem­bang­kang. Berun­tung­lah dia karena kelu­ar­ga­nya tiada ikut ter­tum­pas. Dan apakah hukuman yang patut bagi si pelan­cang?”

Sang Adi­pati menunggu sokongan dari semua peng­ha­dap. Ber­kali-kali ia tebar­kan pan­dang ke selu­ruh peng­ha­dapan. Dan ia lihat setiap kepala menun­duk. Tak ada sembah ter­ang­kat, Ia tahu tak men­da­pat­kan sokongan. Kemu­dian ia ber­pa­ling pada Kala Cuwil Sang Wira­bumi dan minta pen­da­pat­nya.

“Ampun, Gusti, tak ada pelan­cang di antara kawula Sang Adi­pati sembah Kala Cuwil.

”Tia­da­kah kau sen­diri dengar titah kami: apa hukuman yang patut bagi pelan­cang? Deng­ar­kan semua: bagai­mana pem­bang­kang harus jalani hukum­an­nya?”

“Ampun, Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik. Sang Patih Tuban almar­hum”, Kala Cuwil ber­se­m­bah dengan gugup, “telah men­ja­lani hukum­an­nya seba­gai pem­bang­kang, tewas di ujung keris. Patik seba­gai Patih Tuban Sang Wira­bumi tidak akan sang­gup melak­sa­nakan dan men­ja­tuh­kan hukuman yang diti­tah­kan ter­ha­dap sena­pa­ti­nya, kecu­ali bila Sena­pati menen­tu­kah sen­diri hukum­an­nya dengan suka­rela”.

“Apa hukuman yang patut untuk­nya?”

Kala Cuwil ber­pa­ling ke bela­kang dan ber­seru: “Patih Tuban Kala Cuwil Sang Wira­bumi ber­ta­nya padamu. Sena­pa­tiku, Wirang­gal­eng, apakah hukuman yang patut untukmu?”

Dari tem­pat­nya di pela­taran pen­dopo Wirang­gal­eng men­ja­wab dengan suara lan­tang: “Tidak ada yang patut. Hanya, bila Wirang­gal­eng ini akan dihu­kum juga”, seru­nya, “per­ke­nan­kan dia mena­nam mayat Sang Patih almar­hum dengan sebaik-baik­nya dulu”.

“Usir dia dari Tuban!” bisik Sang Adi­pati geme­tar.

“Dir­e­jam sampai mati, Gusti Adi­pati yang bijak­sana”, Tholib Sung­kar Az-Zubaid ber­se­m­bah, “seo­rang pelan­cang adalah juga peng­khi­a­nat”.

Sang Adi­pati melam­bai­kan tangan pada Kala Cuwil Sang Wira­bumi, dan meme­rin­tah­kan pada­nya untuk meno­long turun dari sing­ga­sana. Dan orang pun ter­he­ran-heran meli­hat Syah­ban­dar Tuban mening­gal­kan tem­pat­nya dan ikut masuk ke dalam kadi­pa­ten.

Kala Cuwil kem­bali ke pen­dopo, meng­ha­dapi pada peng­ha­dap dan meme­rin­tah­kan mereka bubar. Mereka mem­bu­bar­kan diri dan menge­ru­muni Wirang­gal­eng. Semua mena­war­kan tenaga untuk mem­bantu mera­wat sisa-sisa jena­sah Sang Patih Tuban.

Ia meno­lak.

“Biar aku ker­ja­kan sen­diri. Tak lain dari aku yang lebih menge­ta­hui betapa aku meng­hor­mat­i­nya sampai ke dasar hatiku. Kata-kata­nya yang ter­a­khir jadilah perin­tah­nya ter­a­khir untukku: anak desa akan kem­bali ke desa. Aku akan kem­bali”.

“Kami akan antar­kan”.

“Apakah yang dapat kami sum­bang­kan?”

“Sena­pa­tiku! Sena­pa­tiku!”

“Terima kasih, semua. Beri aku seekor kuda yang baik dengan abah-abah­nya yang baik pula”.

Sete­lah melak­sa­nakan pem­ba­karan sisa-sisa jena­sah dengan saksi para pem­be­sar praja, para kepala pasukan dan semua yang men­cin­ta­i­nya, ia dekati Patih Tuban Kala Cuwil Sang Wira­bumi, yang sedang meme­gangi ken­dali kuda.

“Sepe­ning­galku, Kala Cuwil”, ia ber­pe­san pada saha­bat­nya “awas­lah pada Demak. Guruku, Rama Clu­r­ing, sudah lebih dahulu mem­per­i­ng­at­kan”.

“Pang­li­maku!” Kala Cuwil tak mampu mene­rus­kan.

Wirang­gal­eng melom­pat ke atas kuda­nya.

“Sena­pa­tiku, mari kami antar”.

“Jangan”.

“Sena­pa­tiku tak mem­bawa sesu­atu pun, pedang tidak, tombak pun tidak.”

Orang meng­u­lu­r­kan cambuk perang. Ia tak mene­ri­ma­nya.

“Anak desa pulang ke desa. Dia tak memer­lu­kan sen­jata”.

Kala Cuwil merang­kul kaki Sena­pati, dan ber­bi­sik: “Tak mung­kin Tuban tanpa Sena­pa­tiku”.

Wirang­gal­eng men­cam­buk kuda­nya dan hilang di balik debu jalanan di keja­uhan.

Peris­tiwa peng­u­siran itu selalu meru­suh­kan hati Sang Adi­pati. Betapa ingin ia menum­pas sama sekali orang itu – seo­rang anak desa yang lang­sung meng­ha­bisi jiwa seo­rang ning­rat ketu­runan maha Maja­pa­hit. Dia berani meng­ang­kat diri jadi Sang Patih Sena­pati Tuban. Bila dibi­a­ri­kan semua aturan akan rusak binasa. Dan peng­u­siran adalah hukuman ter­ke­ras yang ia bisa laku­kan. Tak bisa lebih. Semua kepala pasukan beron­tak ter­ha­dap dir­i­nya.

Beban lain yang mem­be­rati hati Sang Adi­pati adalah hilang­nya pafit putra yang meng­a­bdi pada Demak. Mene­ngok ke Tuban mereka tiadak lagi, apa­lagi meng­ha­dap. Beri­ta­nya pun tiada pernah sampai lagi. Dan ia sen­diri sudah merasa tua. Sia­pa­kah Adi­pati Tuban sete­lah dir­i­nya? Sia­pa­kah dia, yang berhak men­da­pat­kan gelar Adi­pati? Ia tak mampu bayang­kan. Keme­na­kan-keme­na­kan­nya ditim­bang­nya ter­lalu lemah, bukan pri­badi yang bakal mampu jadi pengu­asa Tuban yang berat dipi­kul berat pula dizin­jing. Dan ia tak rela Tuban jatuh ke tangan salah seo­rang dari kepala-kepala pasukan yang semua bukan ber­da­rah ning­rat. Apa­lagi Wirang­gal­eng, si lan­cang. Dan justru yang akhir ini orang yang paling akhir dapat meng­geng­gam Tuban. Tidak, ia tak rela.

Hari-hari­nya yang sunyi ia lewat­kan di dalam harem. Atau ia rebah­kan diri di per­a­duan dan memang­gil Tholib Sung­kar Az-Zubaid untuk men­do­ng­eng­kan kisah seribu satu malam atau berita ber­ang­kai dari cerita Amir Hamzah, yang lang­sung dili­san­kan­nya ke dalam Melayu. Atau ia minta dice­ri­tai ten­tang negeri-negeri jauh di atas Atas Angin.

Dan Syah­ban­dar Tuban seo­rang yang pandai ber­ce­rita. Gerak tangan­nya yang mem­pe­so­na­kan dan turun naik bong­kok­nya mem­beri hidup pada ceri­ta­nya. Pada bagian-bagian tegang ia melam­bai-lam­bai­kan tangan dan ber­te­puk-tepuk dan menye­but-nyebut, seakan ia sen­di­ri­lah saksi hidup atas ceri­ta­nya. Dan bila cerita itu sampai pada bagian asyik-masuk, ia ber­ke­cap-kecap dan mere­mas-remas tangan, dan bila sampai pada anti­kli­maks, seakan-akan ia melo­long mera­tapi.

Ia sen­diri memang suka ber­ce­rita, dan mung­kin ter­lalu lama hidup di alam tro­u­ba­dour dusun-dusun di Ispa­nya, Zanggi dan bukan Zanggi.

Sekali ia pernah ber­ce­rita ten­tang negeri kela­hir­an­nya, Ispa­nya, ten­tang bang­sa­nya yang peri­ang dan penari dan ten­tang seja­rah negeri itu, dan ten­tang penyer­buan pasukan Arab dan ten­tang Al Tarik yang menyerbu dengan kuda­nya, dengan kuda­nya pula mema­suki rumah-rumah dan istana. Dan ia ber­ce­rita ten­tang pem­ba­ngu­nan mesjid dan istana-istana di Ispa­nya, terin­dah yang pernah dili­hat­nya dalam hidup­nya. Ia takkan mele­wat­kan cerita ten­tang gadis-gadis Zanggi per­begu yang menari seperti kese­tanan, dan ten­tang pera­mal-pera­mal Zanggi, dan ten­tang jatuh­nya keku­a­saan Mua­wi­yah di Iberia.

Sekali ia pernah ber­ce­rita ten­tang bangun­nya armada Peranggi dan Ispa­nya. Dan ia tetap tak pernah ber­ce­rita ten­tang dir­i­nya sen­diri.

Apa­bila ia minta diri, ia tiada men­da­pat sesu­atu jawaban dari Sang Adi­pati, karena pen­de­ngar-tung­gal­nya telah ber­ke­ruh dalam tidur­nya.

Sekali peris­tiwa waktu ia minta diri ter­de­ngar oleh­nya Sang Adi­pati merin­tih dan menge­luh. Ia men­de­kat dan mena­nya­kan apa yang dide­ri­ta­nya.

“Ah, Tuan Sayid”, jawab­nya, “seki­ra­nya diri masih muda… dengan keku­atan utuh dan badan penuh….”

“Gusti Adi­pati masih muda, belum tua”.

“Mem­bawa diri sen­diri pun sudah tak mampu, Tuan Sayid. Betapa indah­nya hidup muda….”

Dan dengan demi­kian Syah­ban­dar Tuban jadi peng­ha­dap tetap dalam kadi­pa­ten.

Orang men­duga, orang Moro itu akan men­da­pat­kan keku­a­saan yang lebih besar lagi dari Sang Adi­pati. Ter­nyata dugaan itu keliru. Pengu­asa Tuban itu tetap mem­ba­tasi wewe­nang Tholib Sung­kar Az-Zubaid. Apa­lagi sete­lah Kala Cuwil Wira­bumi tampil men­jadi patih.

Dari sehari ke sehari, dari tahun ke tahun kea­daan Sang Adi­pati tidak men­jadi lebih baik, juga tidak lebih buruk. Ia tak pernah mela­lai­kan ramuan-ramuan yang diper­se­m­bah­kan kepa­da­nya. Dan Tholib Sung­kar Az-Zubaid terus juga meng­ha­dap untuk ber­ce­rita. Dan sete­lah cerita yang dike­ta­hu­i­nya habis, mulai­lah ia men­do­ng­eng ten­tang khayal yang tumbuh sen­diri dalam kepa­la­nya. Dan waktu daya kha­yal­nya akhir­nya kering juga, seba­gai air bah meng­a­lir­lah segala kebo­hong­an­nya.

Syah­ban­dar itu sudah tak tahu lagi mana yang benar. Sang Adi­pati yang mem­bu­tuh­kan ceri­ta­nya atau dir­i­nya sen­diri yang ta. Ia mem­bu­tuh­kan waktu sampai Por­tu­gis celaka yang tak juga muncul dengan arma­da­nya datang ke Tuban, dan baru­lah ia merasa aman.

Di pem­ba­ringan juga Sang Adi­pati mene­rima utusan atau duta-duta kabu­pa­ten atau kera­jaan lain, dengan atau tidak diser­tai oleh sang Patih. Peng­ha­dapan hanya seben­tar saja diha­dir­i­nya seba­gai syarat, kemu­dian Sang Patih Tuban Kala Cuwil Sang Wira­bumi diti­tah­kan mene­rus­kan segala urusan.

Sang waktu dira­sa­i­nya ter­lalu lama ber­e­dar. Hari-hari menunggu datang­nya Sang Maut, dan ia akan menyam­but­nya dengan senang hati dan pera­saan terima kasih. Yang ditunggu tak kun­jung tiba. Dan yang datong justru yang lain lagi: seo­rang utusan dari Jepara.

Orang itu adalah Aji Usup yang dahulu pernah dite­ri­ma­nya di taman kesa­yangan di ten­tang kan­dang gajah pri­badi.

“Gusti Adi­pati Tuban yang mulia”, ia ber­se­m­bah. “Demak dan Jepara ikut ber­pri­ha­tin dengan gering Gusti. Itulah sebab­nya patik datang: meng­ha­dap, menyam­pai­kan salam dan hormat dan doa segera sehat kem­bali dengan karu­nia Allah dari Gusti Ratu Aisah, serta dibe­nar­kan oleh Gusti Kan­jeng sultan Treng­gono”.

Sang Adi­pati melam­bai­kan tangan meni­tah­kan semua orang keluar dari bilik per­a­duan kecu­ali Sang Duta. Juga Kala Cuwil pergi sete­lah meng­ang­kat sembah.

Aji Usup mem­per­se­m­bah­kan beribu terima kasih dan syukur dengan hati dan bibir­nya mem­per­o­leh kesem­patan untuk meng­ha­dap tanpa diser­tai oleh siapa pun.

“Tuan Duta, per­se­m­ba­han apa yang Tuan bawa di dalam hati. Dekat dekat­lah sini, agar kami dapat men­de­ng­ar­kan Tuan dengan terang”

Aji Usup men­de­kat sambil mem­bawa tem­po­long ludah, mem­per­se­m­bah­kan dan Sang Adi­pati mem­bu­ang ludah sirih ke dalam­nya kemu­dian ber­ba­ring lagi.

“Dalam kea­daan Gusti gering begini, patik merasa tidak patut menyam­pai­kan sesu­atu yang pen­ting, Gusti”.

“Gering begini kami tetap masih Adi­pati Tuban, Tuan Duta. Kesem­pitan kesem­pitan dari hati Tuan”.

“Ampun, Gusti Adi­pati, seba­gai duta, patik ingin men­da­pat amanat dari Gusti, adalah kira­nya Gusti Adi­pati Tuban ber­ke­nan sudi sekali lagi mela­yang­kan minat pada suatu per­se­ku­tuan mem­ben­tuk armada gabungan untuk meng­gem­pur Malaka, meng­ha­lau Peranggi?”

Men­de­ngar itu Adi­pati Tuban men­coba duduk di pem­ba­ringan dan Aji Usup mem­ban­tu­nya.

“Ulangi lagi per­se­m­ba­han Tuan Duta”.

Dan Aji Usup meng­u­langi kata-kata­nya: Sang Adi­pati kini meng­gan­tung­kan kaki keluar dari pem­ba­ringan, meng­ang­guk-angguk dan pada mata tuanya yang mem­bu­ram itu meman­car sinar hidup.

Aji Usup buru-buru menyo­r­ong­kan bangku kaki dengan bantal kaki di atas­nya. Nam­pak­nya Sang Adi­pati sangat ber­ke­nan meli­hat pada keba­ikan duta itu.

Lama Adi­pati Tuban tidak men­ja­wab. Ia kerah­kan piki­ran tuanya untuk kem­bali bekerja mengu­rus praja. Dengan pan­dang ter­tuju ke arah pintu tanpa sesu­atu pun dili­hat­nya, ia kenang­kan kem­bali kebe­rang­katan gugusan Tuban ke Malaka untuk meneng­gang lak­sa­m­ana Adi­pati Unus dan seka­li­gus untuk mem­ba­las­kan den­dam­nya dengan kebo­hongan melang­gar janji. Kemu­dian ia menye­sal untuk selama-lama­nya. Sesal kemu­dian memang tak ber­guna. Seka­rang duta ini pula mena­war­kan per­se­ku­tuan mem­ben­tuk armada gabungan lagi. Ia mena­war­kan jalan untuk dapat mem­be­bas­kan dari sesalan di hari tua. Hari-hari­nya telah dapat dihi­tung, dan kesem­patan ini mung­kin takkan datang lagi sampai mati­nya. Dan ia tak begitu rela mati dengan banyak sesalan. Kini ia akan men­da­pat kesem­patan bagai­mana sesal­an­nya bisa ter­te­bus, boleh jadi ia sempat pula menyak­si­kan gugusan Tuban pulang ke pang­kalan dengan keme­nangan. Dan nama­nya takkan jatuh di mata kawula Tuban. Dengan cepat ia dapat temu­kan cara mem­be­rang­kat­kan gugusan itu sehingga tidak akan meru­sak­kan nama­nya di mata Ispa­nya atau­pun Peranggi. Ia meng­a­kui masih meng­im­pi­kan datang­nya per­sa­ha­batan dari dua bangsa itu. Hanya seka­rang, seka­rang ini, dengan kesem­patan ini, ia tidak akan meno­mer-satu­kan lagi. Ia mulai meno­mor-dua­kan­nya. Ispa­nya dan Peranggi toh tak juga datang mem­bawa per­sa­ha­batan.

“Keta­hu­i­lah, Tuan Duta Aji Usup yang ter­hor­mat”, kata­nya lunak, “telah lama kami pikir­kan kemung­kinan itu”.

Dan Aji Usup segera mem­per­se­m­bah­kan teri­ma­ka­sih­nya.

‘Tuban, Tuan Duta, sudah lama ber­se­dia untuk meng­gu­na­kan kesem­patan itu”.

“Ya, Gusti Adi­pati Tuban yang mulia, keser­taan gugusan Tuban insya Allah akan men­ja­min keme­nangan, Gusti, semoga Allah s.w.t. merah-mati Gusti dengan kese­hatan, kenik­matan dan pan­jang usia”.

“Hanya kami tak mampu menye­di­a­kan kapal”.

Aji Usup menyem­bu­nyi­kan keke­ce­wa­an­nya. Tapi Sang Adi­pati dapat menang­kap per­u­ba­han pada air muka­nya.

“Ber­da­sar­kan peng­a­laman yang lalu, Tuan Duta yang ter­hor­mat, kamu merasa malu mengir­im­kan kapal-kapal kami yang tak­da­pat tiba wak­tu­nya, tak mampu menge­jar keter­lam­batan. Dapat­kah Tuan mema­hami kele­mahan kami?”

“Besar­lah sudah kemu­r­ahan Gusti Adi­pati Tuban. Bera­pa­kah kira­nya besar­nya pasukan yang Gusti rela­kan untuk armada gab­tungan itu, Gusti?”

“Lima ratus, tidak kurang seo­rang pun, Tuan Duta, tepat seperti dahulu. Hanya kami memang merasa malu meng­gu­na­kan kapal-kapal kami sen­diri yang sudah tua, jauh ter­ting­gal dari kapal-kapal bikinan Jepara”. Dan Aji Usup masih juga belum dapat bayang­kan bagai­mana harus men­da­pat­kan kapal untuk meng­ang­kut lima ratus orang dengan per­sen­ja­taan dan per­be­kalan. Ia ter­ma­ngu-mangu.

“Kapal perang Tuban cukup baik, Gusti Adi­pati, seba­gai­mana pernah patik sak­si­kan, malahan patik pernah mem­bawa sen­diri gugu­a­san dari Banten sampai di atas Tuma­sik”,

“Tidak, Tuan Duta, kami sudah cukup men­da­pat malu dengan kapal-kapal itu, sedang yang baru kami belum lagi bikin. Kea­daan laut tidak begitu mem­be­ra­ni­kan kami mem­bi­kin yang baru. Jangan­lah ber­ke­cil hati karena pra­ju­rit laut Tuban adalah sesung­guh-sung­guh pra­ju­rit”.

“Besar­lah kemu­r­ahan Gusti Adi­pati. Tuban akan melim­pahi Gusti dengan berkah, yang insya Allah tiada kan putus-putus­nya. Ampun Gusti, apa­bila Gusti ber­ke­nan boleh­kah patik menge­ta­hui siapa gerangan calon Pang­lima gugusan Tuban?”

“Tentu, dengan pang­li­manya sekali, pang­lima tanpa tan­dingan tuan Duta – Wi-rang-ga-leng, Sena­pati Tuban”.

Aji Usup meng­ang­kat sembah tiga kali untuk menya­ta­kan teri­ma­ka­sih­nya. Hilang semua keragu-ragu­an­nya. Wirang­gal­eng jadi lebih ber­harga dari­pada lima buah kapal perang Tuban. “Dia pun kepala pasukan laut Tuban, Tuan Duta”. Hampir-hampir duta itu tak dengar kata-kata Sang Adi­pati yang ter­a­khir. Ia sedang menge­nang­kan men­da­pat Liem Mo Han – Wirang­gal­eng, itulah pim­pinan perang tanpa tan­dingan untuk melak­sa­nakan ren­cana Per­se­ku­tuan. Ia pernah menya­ta­kan lebih suka men­da­pat orang itu dengan atau tanpa pasukan, bahkan tanpa kapal sebuah pun. Duta itu memo­hon diri dengan ber­suka cita! Malam itu Sang Adi­pati tidur nye­nyak tanpa cerita Tholib Sung­kar Az-Zubaid, Syah­ban­dar Tuban.


Bab 29

Lahirnya Persekutuan Rahasia

Sebe­lum Aji Usup meng­ha­dap Adi­pati Tuban sebe­nar­nya telah ter­jadi sesu­atu yang pen­ting baik di Jepara maupun Demak. Dan keja­dian itu adalah demi­kian: Memang tiada seo­rang pernah men­duga, Sultan Treng­gono sudi ber­su­jud pada kaki Ratu Aisah, bahkan men­cium kaki tua itu tiga kali ber­tu­rut-turut. Ia masih tetap ber­su­jud waktu Ratu Aisah telah pergi mening­gal­kan­nya.

Sultan mene­gak­kan badan dan agak lama masih juga diam ber­lu­tut. Waktu ia ber­diri orang meli­hat mata­nya merah. Tanpa bicara dan hanya dengan menu­ding dengan cambuk kuda ia menuju ke luar rumah dii­ring­kan oleh semua pem­be­sar pasukan kuda.

Sampai di pela­taran Sultan masih memer­lu­kan meng­ha­dap pada rumah itu dan sekali lagi meng­ang­kat sembah dalam tegak ber­diri. Kemu­dian ia mena­iki kuda­nya.

Dan pasukan kuda itu pulang ke Demak mening­gal­kan kepulan debu tanah Jepara di bela­kang­nya.

Tak ada yang tahu apa sesung­guh­nya telah dibi­sik­kan oleh ibu dan anak yang nam­pak­nya begitu mesra itu. Per­da­maian, orang men­duga. Kalau per­da­maian itu tak lain arti­nya dari­pada ter­jadi kom­promi antara dua pan­dangan dan dua pen­da­pat. Bagai­mana bentuk kom­promi itu? Orang pun tak tahu. Dan orang men­duga-duga, armada Demak akan jadi menye­rang Malaka sedang pasukan darat yang ter­ting­gal akan men­ce­kam selu­ruh pulau Jawa, dari Blam­bangan sampai Paja­jaran. Kom­promi kira-kira, orang men­duga, adalah pedang ber­mata dua: Demak akan menye­rang Malaka seka­li­gus mengu­a­sai Jawa.

Dugaan-dugaan itu ter­ban­tah sen­diri oleh kera­guan bahwa Demak takkan mung­kin menge­lu­ar­kan biaya seba­nyak itu.

Tetapi di luar Demak, kecu­ali Tuban yang masih dalam kea­daan lelah seha­bis perang dalam negeri, ada kom­promi atau tidak antara Sultan dengan Ratu Aisah. Demak tetap diang­gap seba­gai kepun­dan yang setiap waktu akan melanda selu­ruh Jawa. Mereka mene­gang­kan kesi­a­gaan dan mela­tih balat­en­ta­ra­nya masing-masing. Selu­ruh Jawa, kecu­ali Tuban, siap dengan per­si­apan perang. Bebe­rapa orang bupati – apa­lagi mereka yang punya ikatan darah atau per­ka­winan – sudah pada mem­bi­kin per­se­ku­tuan mil­iter untuk menang­gu­langi mun­tah­nya kepun­day. Dengan adanya per­si­apan-per­si­apan itu orang menak­sir Tuban seba­gai negeri yang paling lemah, akan men­jadi mangsa per­tama dari Treng­gana.

Para bupati pesi­sir sudah pada menge­lu­ar­kan larangan kapal­nya untuk menying­gahi Jepara. Aki­bat­nya Jepara ter­kena boikot dari Jawa sen­diri.

Di Malaka, ber­bu­lan-bulan lama­nya para pem­be­sar Por­tu­gis men­coba mene­mu­kan apa sesung­guh­nya diu­cap­kan dalam babak ter­a­khir muan antara Sultan dan Ratu. Mereka ber­pen­da­pat, ber­la­inan umum­nya di Jawa, bila ibu dan anak itu ber­da­mai dalam kese­pa­katan ber­arti ber­sa­tu­nya dua pen­da­pat: per­se­ku­tuan antara raja-raja Nusan­tara seperti diim­pi­kan oleh Unus ada kemung­kinan bisa ter­lak­sana, dan bila demi­kian halnya nasib belah bumi bagian selatan ini sudah dapat dira­mal­kan.

Por­tu­gis akan ter­u­sir dari Malaka, Pasai, maluku dan selu­ruh per­a­iran nya. Per­da­gangan rempah-rempah sampai Goa selu­r­uh­nya akan jatuh ke tangan Pri­bumi atau sau­da­gar Atas Angin. Per­da­gangan dan jalan laut antara Jawa dan Malaka boleh jadi akan jatuh selu­r­uh­nya ke tangan Pri­bumi.

Ber­da­sar­kan pen­da­pat itu mereka meng­am­bil tin­dakan mem­ba­tasi lagi pela­yar­an­nya ke Maluku, tidak lagi mema­suki per­a­iran Jawa, dan dipu­sat­kan keku­at­an­nya pada garis Pasai-Malaka, mem­ben­tuk ben­tengan laut yang tak bakal kena ter­jang.

Di Demak sen­diri berita-berita ten­tang per­ti­kaian antara Sultan dan Ratu men­jadi padam.

Apakah benar Treng­gono akan melak­sa­nakan perang dengan pedang ber­mata dua? Meng­apa Sultan tiba-tiba nampak tak begitu peduli pada pasukan kuda dan pasukan kaki? Seba­lik­nya, meng­apa Jepara seka­rang jadi sibuk lagi dan peng­ga­langan kapal-kapal perang digi­at­kan kem­bali seakan armada itu sudah akan ter­ang­kat­kan dalam sete­ngah tahun men­da­tang? Bila benar demi­kian, bukan itu ber­arti keme­nangan mutlak bagi Ratu Aisah? Seba­lik­nya juga ber­arti keka­lahan bagi Treng­gono? sedang bila Ratu yang menang meng­ap­a­kah belum juga nampak ada usaha ke arah per­se­ku­tuan dengan raja-raja Nusan­tara.

Maka orang pun dengan cucuk­nya menunggu-nunggu apakah amanat Sultan Demak.

Dan benar, Sultan menge­lu­ar­kan amanat, yang ber­seru pada para raja dan bupati di Jawa dan Nusan­tara untuk ber­sa­ha­bat dengan Demak dan untuk ber­se­kutu mela­wan Peranggi.

Tetapi para pengu­asa di Jawa tak ada yang menang­gapi seruan itu. Mereka pada umum­nya meng­ang­gap seruan itu seba­gai suara khi­a­nat dari neraka. Pen­da­pat umum di kalangan pra­ja­wan di Jawa adalah: dengan armada gabungan yang akan diben­tuk Demak akan dapat mengu­rangi peng­gu­naan keku­at­an­nya sen­diri, mem­per­ba­nyak keku­atan darat yang diting­gal­kan­nya dan akan mener­kam tetangga-tetang­ga­nya sen­diri dari pung­gung mereka. Khi­a­nat! Khi­a­nat! Bukan saja mereka tidak meng­gub­ris­nya, bahkan mem­per­un­cing kewas­pa­da­an­nya.

Hanya Adi­pati Tuban tidak menang­gapi semua itu. Ia sibuk dengan per­so­alan pri­ba­di­nya sambil menunggu datang­nya Sang Maut. Ia sama sekali tidak tahu. Patih Tuban Kala Cuwil Sang Wira­bumi telah mem­bi­kin per­si­apan-per­si­apan di per­ba­ta­san untuk meng­ga­sak mem­be­lu­dak­nya pasukan darat Demak. Ia tahu Demak pada suatu kali akan menye­rang. Maka ia pasang pasukan kaki dari pen­du­duk sebe­lah barat Tuban yang dike­na­kan wajib mil­iter. Ia sama sekali tak gentar ter­ha­dap Demak, yang dini­la­inya tak punya keku­atan gajah. Ia tak tahu, bahwa Demak meng­ang­gap enteng pasukan gajah Tuban, yang takkan mung­kin menem­puh jarak jauh untuk mem­per­ta­han­kan per­ba­ta­san. Tapi Kala Cuwil juga yakin dari bukti-bukti dalam seja­rah, bahwa pasukan kuda yang sekuat-kuat­nya tak pernah bisa meng­han­cur­kan pasukan gajah. Demak tak punya dasar untuk menen­tang Tuban. Hanya raja gila atau nekad berani ber­buat demi­kian. Apa­lagi peda­laman Tuban sudah mulai pulih kem­bali dan bandar pun mulai sedi­kit hidup.

Sang Adi­pati yang hanya sibuk dengan per­so­al­an­nya sen­diri merasa sangat aman dalam pen­ja­gaan Kala Cuwil. Wirang­gal­eng merasa telah diu­sir­nya tanpa ampun ke desa­nya kem­bali. Jauh dari para kepala pasukan ia takkan ber­daya sedi­kit pun. Dia sudah pergi dan para kepala pasukan tak dapat ber­buat apa-apa. Dia pun takkan ber­buat apa-apa. Dia pun tak bisa ber­buat apa-apa di peda­laman sana. Dia akan kem­bali jadi petani biasa tambah tanpa sesu­atu keku­a­saan dan penga­ruh. Tetapi ia ter­i­ngat pada Gajah Mada dan Ken Arok kadang timbul per­nya­taan dalam hati­nya: siapa dapat mera­mal­kan apa akan diper­buat, oleh seo­rang anak desa dungu dan pelan­cang justru karena dungunya? Dan ia serah­kan semua per­so­alan pada Kala Cuwil juga. Patih yang bijak­sana itu akan tahu apa harus diper­bu­at­nya. Biar demi­kian sesal­an­nya, bahwa anak desa pelan­cang itu justru dicin­tai dan dihor­mati para kawula suka menye­sak­kan dada­nya. Dan ia meng­a­kui tak berani menying­kir­kan dari muka bumi.

Maka seka­rang ini, seki­ra­nya Demak datang pada­nya minta tenaga untuk keper­luan apa pun, untuk meng­gem­pur Malaka, Blam­bangan atau­pun Paja­jaran, ia akan serah­kan anak desa itu agar tumpas di negeri orang. Baru­lah duri ini akan hilang dari hari-hari­nya yang ter­a­khir.

Kala Cuwil mem­per­se­m­bah­kan amanat seruan Sultan Treng­gono dalam kamar per­a­duan. Seruan itu adalah lak­sana lam­baian tangan dari surga. Ia titah­kan Sang Patih untuk menunggu datang­nya utusan resmi. Tuban tak perlu men­ja­wab. Hanya utusan yang bisa jadi bukti adalah Demak meng­hor­mati Tuban atau tidak. Bila dia datang, ia akan mengia kan dengan baik. Tapi seki­ra­nya Demak memu­kul Tuban secara khi­a­nat ia pun sudah sedi­a­kan jawab­an­nya: Wirang­gal­eng akan diang­kat­nya secara resmi seba­gai Sena­pati Tuban.

Di Demak sen­diri, tak lain dari Treng­gono yang puas meli­hat reda nya desas-desus dan per­ti­kaian anak di antara kawu­la­nya. Seka­rang yang harus menang­gal­kan ang­gapan, bahwa ia seo­rang anak yiang mursal ter­ha­dap ibu. Reda, reda di Demak. Seka­rang ia ting­gal menunggu kun­jungan balasan dari Gusti Ibunda Ratu. Bila itu ter­jadi, insya Attain semua pen­da­pat akan menyo­kong­nya, di Jawa maupun di luar­nya. Keme­nangan mutlak akan jatuh ke tangan­nya.

Di Jepara Ratu Aisah mene­rus­kan kesi­buk­an­nya dengan masjid Man­tingan. Bangu­nan itu masih juga belum dibuka. Ia akan mem­bu­ka­nya nanti seba­gai per­i­ng­atan berang­kat­nya armada gabungan menye­rang Malaka, mung­kin juga Pasai, seba­gai kenang-kenangan.

Pada salah satu kun­jung­an­nya pada mesjid yang belum dibuka itu ia dapat­kan Liem Mo Han sudah ber­diri menung­gu­nya.

Wanita tua itu menyu­kai tem­bi­kar, apa­lagi yang tipis seperti kain dengan gambar biru yang nampak bukan ber­a­sal dari dunia. Seba­lik-nya Babah Liem suka ber­ce­rita ten­tang­nya, bagai­mana mem­bu­at­nya, apa bahan-bahan­nya, dan warna cat tem­bi­kar mana yang mengan­dung racun.

Juga sekali ini: “Sahaya sudah banyak men­je­la­jah negeri orang lain Gusti, juga negeri Peranggi sen­diri. Belum ada bangsa lain selain lelu­hur sahaya yang bisa bikin tem­bi­kar sema­cam ini, yang mem­bi­kin tem­bi­kar ini lebih indah dan ber­harga. Tem­bi­kar-tem­bi­kar ini, Gusti, dibi­kin menu­rut kesu­kaan Gusti Ratu, bukan hal dibi­kin dan dipa­sang. Maka jadilah semua ini lam­bang, bahwa semua orang Tiong­hoa di semua Bandar di Jawa menyo­kong Gusti Ratu, sama seperti kami menyo­kong Gusti Kan­jeng Sultan Al-Fattah dan Gusti Kan­jeng Unus almar­hum”.

Ratu Aisah senang men­de­ngar kete­rangan itu. Mata tuanya ber­si­nar sinar. Bagai­man­a­pun nama-nama itu begitu dekat dengan hati­nya, Ia men­cin­tai sua­mi­nya almar­hum dan put­ra­nya almar­hum.

“Kira­nya tak ada yang salah dalam kata-kata per­se­m­ba­han sahaya Gusti Ratu. Semua ada teren­tang dalam kha­s­a­nah Kelen­teng Sam Po Khong di Sema­rang. Tulisan tidak beru­bah, Gusti, biar­pun kata lisan bisa ber­ganti dan ber­beda-beda. Juga kami menyo­kong peng­ha­lauan atas Peranggi dari belah bumi bagian selatan ini”.

Mereka masuk ke dalam bangu­nan, mene­liti relief itu satu per satu untuk ke sekian kali. Kemu­dian mereka ber­henti pada sebuah relief yang meng­gam­bar­kan seo­rang wanita yang sedang menari. Kem­bali Liem Mo Han mem­per­se­m­bah­kan kete­rangan.

“Ini, Gusti Ratu, yang baru dipa­sang adalah gambar seo­rang penari dari Man­tingan ini juga, yang per­tama-tama taubat dan men­jadi Islam. Di negeri lelu­hur sahaya. Gusti, wanita juga suka menari seperti di sini: Kadang-kadang juga tampil seba­gai pang­lima perang”.

Men­de­ngar kata-kata ter­a­khir itu Ratu Aisah tak jadi bicara ten­tang gambar penari itu.

“Pernah kami ber­ang­sur-angsur, Babah,” bisik­nya, “ah,” ter­e­ngah-engah, seka­rang ia ter­tawa, “ber­ang­sur-angsur seki­ra­nya jadi pria. Tidak, bukan kami hendak menya­lahi keten­tuan Allah s.w.t. hanya berangan-angan… seki­ra­nya kami pria, ada praja di tangan….”

“Dengan kewi­ba­waan Gusti Ratu, tanpa Gusti sen­diri”. Liem Mo Han meng­ga­rami, “Kan­jeng Gusti Unus almar­hum sudah melak­sa­nakan”.

“Kau betul Babah”.

“Kan­jeng Gusti Itu sudah mem­per­si­ap­kan armada besar dulu, sudah menye­rang Malaka. Sebe­lum wafat diper­si­ap­kan­nya lagi, lebih besar. Bukan­kah hanya dengan kewi­ba­waan Gusti Ratu armada itu bisa ber­ge­rak, ber­la­yar, dan mem­bawa tugas yang megah dan agung? Menye­le­sai­kan yang belum ter­se­le­sai­kan oleh Kan­jeng Gusti Unus Bukan­kah armada itu tidak akan diubah jadi armada nela­yan, Gusti? Sampai punya piki­ran begitu macam?”

“Ampun. Gusti, jangan men­jadi kegu­sa­ran Gusti, karena sayang sekali bila demi­kian nanti akan jadi­nya”.

“Armada itu adalah amanat, wasiat, untuk diki­rim­kan ke Malaka, Babah”.

Seo­rang calon penunggu mesjid men­de­ng­ar­kan semua pem­bi­ca­raan itu. Mela­lui dialah berita ten­tang per­ca­kapan itu ter­se­bar ke selu­ruh negeri, mem­bang­kit­kan kegu­sa­ran pada pasukan kuda dan pasukan kaki Demak.

Tidak lebih dari lima belas hari kemu­dian seo­rang yang tidak dike­nal telah meng­ha­dap pada Ratu Aisah, mem­per­se­m­bah­kan: Demak berada dalam kea­daan geli­sah. Setiap saat Sultan Treng­gono bisa jatuh karena pem­bang­kangan. Bahwa sumber kege­li­sahan adalah Gusti Ratu Aisah sen­diri yang pernah menya­ta­kan Demak akan menyerbu Malaka, menya­lahi per­se­tu­juan Sultan dan Ratu dalam per­te­muan ter­a­khir.

Tak lain dari Ratu Aisah sen­diri yang menge­ta­hui. Treng­gono seo­rang ber­hati keras, tak ragu-ragu mem­bu­nuh abang sen­diri untuk dapat melak­sa­nakan impi­an­nya. Ia bukan seo­rang yang lincah, tidak bisa ber­be­lit-belit. Maka peng­ha­dap itu tidak mung­kin utusan Treng­gono yang seder­hana piki­ran­nya itu. Ia men­duga orang itu utusan dari pasuk­att kuda Demak. Dan bila demi­kian halnya Treng­gono yang kurang cerdik itu ter­je­bak dalam taman pasukan kuda kebang­ga­an­nya sen­diri. Sultan berada dalam bahaya. Memang!

Ia memu­tus­kan untuk mem­buat kung-kungan balasan.

Liem Mo Han meng­am­bil tempat di dekat rana ber­u­kir. Ratu duduk sambil mengu­nyah sirih. Tak ada biti-biti atau inang di sam­ping­nya.

Atas per­ta­nya­an­nya Babah Liem mene­rang­kan: “Kami semua menyo­kong Gusti Ratu. Bagai­mana bisa lain dari­pada itu Gusti?, peranggi adalah juga musuh kami ber­sama. Mereka meng­ganggu pela­yaran per­da­gangan kami se-Maluku dan per­a­ir­an­nya. Banyak kapal kami diteng­ge­lam­kan dengan atau tanpa pem­ba­jakan sebe­lum­nya. Itu belum lagi semua. Seka­rang mereka mem­buka pang­kalan di Sula­wesi utara. Per­a­iran mulai dari situ terus ke utara juga hendak dir­a­ja­i­nya. Per­a­iran Tiong­kok Selatan sen­diri pun sudah mulai dige­ra­yangi. Dua bangsa celaka, Gusti, Peranggi dan Ispa­nya, harus diha­dapi ber­sama-sama”.

“Ya, diha­dapi ber­sama seperti pen­da­pat Unus almar­hum”. Tetapi bukan itu yang diha­rap­kan oleh Ratu Aisah. Yang dike­hen­dak­i­nya adalah bagai­mana ia harus hadapi Sultan dalam kemung­kinan pem­bang­kangan pasukan kuda. Dan ia tidak berani terang-terangan menga­ta­kan.

“Dalam usaha peng­ha­lauan Peranggi, Gusti, tak ada orang lain yang mampu melak­sa­nakan kecu­ali orang yang ber­nama Wirang­ga­i­leng. Telah dia tumpas peru­suh Kiai Beng­gala di Tuban dalam hanya bebe­rapa minggu. Dia pun telah jalan­kan ber­ba­gai tugas dengan baik. Tapi seka­rang dia sedang diusir dari praja Tuban”.

Dan ber­a­lih­lah pem­bi­ca­raan pada Wirang­gal­eng.

“Apakah benar pen­de­ng­ar­anku, Babah, dia hanya anak desa? Jangan­kan memim­pin per­tem­puran laut, ber­la­yar pun tak pernah”.

Dan Liem Mo Han jadi ber­ko­bar-kobar: ‘Tidak benar, Gusti. Orang yang ber­nama Wirang­gal­eng pernah ikut gugusan Tuban, ke Malaka meng­i­kuti armada Jepara, Gusti.”

“Di bawah Raden Kusnan?”

“Tidak keliru, Gusti. Kalau sahaya tak salah, orang itu pernah memi­kul tandu almar­hum Gusti Kan­jeng Unus waktu men­da­rat di Jepara dari kapal ben­dera. Dialah yang memim­pin pulang gugusan Tuban dari Jepara. Diang­kat­nya anak desa itu jadi kepala pasukan laut Tuban. Sete­lah jadi Patih Sena­pati Tuban dan menga­lah­kan Kiai Beng­gala dia di usir dari praja”.

“Apa kesal­ah­an­nya, Babah?”

“Kesal­ah­an­nya adalah karena dia hanya anak desa”.

“Ya-ya, aku meng­erti. Babah. Kau sangat meng­har­gai anak itu. Mung­kin­kah dia berani meng­ha­dapi Peranggi di laut?”

“Dia pernah perin­tah­kan pasukan penga­wal Tuban meng­u­sir kapal Peranggi. Sahaya sen­diri ikut menyak­si­kan. Gusti, kapal itu dipim­pin oleh Peranggi berang­sangan ber­nama Fran­cisco de Sa. Peranggi menem­baki Tuban dengan meriam….”

“Peris­tiwa itukah yang kau mak­sud­kan?”

“Ya, Gusti, peris­tiwa yang meng­gem­par­kan semua bandar di Jawa itu. Gusti. Tuban mem­ba­las dengan enteng. Bukan karena Tuban dapat meneng­ge­lam­kan kapal Peranggi itu yang sahaya nilai, tetapi kepan­daian Wirang­gal­eng dalam meng­a­tur dan meng­gu­na­kan balat­en­tara yang ada pada­nya bisa meng­ha­dapi Peranggi, di laut, di darat, di mana pun”.

“Jadi dia mung­kin berani hadapi Peranggi di laut?”

“Bukan­kah tak perlu benar Peranggi diha­dapi di laut, Gusti? Mereka harus diusir dari darat. Tepat seperti ren­cana almar­hum Gusti Kan­jeng Unus, men­da­rat di utara Malaka, dan dari sana ber­ge­rak ke selatan, lang­sung menye­rang sarang Peranggi.” Suara Liem Mo Han kehi­langan kobar­nya dan men­jadi rendah ber­ang­guh-angguh. “Kalau Gusti Ratu menye­rah­kan tugas pada sahaya untuk mem­bu­juk Gusti Adi­pati Tuban untuk ikut ber­ga­bung, sahaya sang­gup, Gusti”.

“Jangan, Babah. Itu bukan urus­anmu. Beri­kan saja padaku Wirang­gal­eng”.

Per­ca­kapan itu tidak men­ca­pai maksud seba­gai­mana diha­rap­kan oleh Ratu Aisah. Ia harus meme­cah­kan sen­diri bagai­mana seba­ik­nya meng­ha­dapi Sultan. Di bawah tekanan pasukan kuda yang meno­lak perang laut, ditam­bah dengan keke­ra­san hati sultan sen­diri sejak kecil bila meng­i­ng­in­kan sesu­atu pasti Treng­gono akan mene­rus­kan niat­nya mengu­a­sai selu­ruh Jawa. Ia harus datang ber­lem­but-lembut seba­gai seo­rang ibu kepada anak, bukan seba­gai Ratu Aisah ter­ha­dap Sultan. Ia akan ber­u­saha mem­bu­juk­nya untuk melak­sa­nakan penye­rangan ke Malaka.

Waktu tan­du­nya mema­suki per­ba­ta­san kota Demak, satu regu pasukan kuda men­jem­put­nya. Men­de­kati istana, satu rom­bongan gen­dang meng­elu-elukan ber­sama dengan seba­risan pem­be­sar. Di alun-alun barisan-barisan ber­kuda, mung­kin ter­be­sar yang pernah di lihat di Jawa selama ini, menyam­but keda­tangan­nya. Dan barisan-barisan itu kemu­dian ber­ge­rak meng­iring­kan­nya.

Meli­hat sam­butan yang ber­le­bih-lebihan itu Ratu Aisah meng­erti, semua telah diatur menu­rut kehen­dak pasukan kuda, akan dipaksa untuk bicara secara resmi dalam balair­ung peng­ha­dapan. Sultan Treng­gono menyam­but­nya dari atas sing­ga­sana, turun dan mem­bim­bing­nya duduk di atas sing­ga­sana per­mai­suri.

Wanita tua itu meng­e­lak­kan semua basa-basi istana, ia mem­bisu ten­tang praja. Ia justru menya­ta­kan datang ke Demak hendak menen­tui cucu-cucu­nya, dan turun­lah ia dari sing­ga­sana per­mai­suri.

Peng­ha­dapan bubar dengan keke­ce­waan.

Treng­gono meng­i­kuti Ratu Aisah dari bela­kang. Dan wanita tua itu lang­sung menuju ke taman dalam. Juru taman telah menying­kir dan disa­na­lah ia hadapi Sultan seba­gai seo­rang anak.

“Treng­gono, anakku.” kata­nya lembut. “Aku tahu sejak kecil kau kepala batu. Kepala batu memang tidak apa-apa kalau masih kanak kanak. Kau bukan kanak-kanak lagi. Kau seo­rang Sultan. Maje­lis sudah tak kau deng­ar­kan lagi. Ibumu sen­diri pun tidak. Kau ber­tang­gung jawab atas kema­tian abangmu. Baik­lah kalau itu sudah jadi kehen­dakmu. Tetapi yang kude­ngar bela­kangan ini kau ter­te­kan oleh kehen­dak pasukan kuda, yang kau sen­diri telah per­be­sar, kau timang-timang dan kau anak emas­kan secara menyo­lok, ber­le­bih-lebihan”.

“Tidak benar, bunda. Sahaya memang kepala batu. Tapi tidak benar pasukan kuda bisa mene­kan sahaya, apa­lagi mene­lan. Takkan sahaya lupa­kan ajaran kep­ra­ju­r­i­tan, seka­li­pun ber­a­sal dari zaman jahi­liah, bahwa tanpa perang pasukan yang besar akan jadi penya­kit praja.”

“Jadi kau akan segera mem­buat perang?”

Treng­gono tidak men­ja­wab.

“Baik­lah kau tak men­ja­wab. Jadi kau akan segera menye­rang, itu hak seo­rang raja. Namun jangan lupa pesanku: Malaka.”

Ratu Aisah pulang kem­bali ke Jepara tanpa peng­hor­matan pasukan kuda. Ia mem­bawa janji Sultan, bahwa ia akan mengir­im­kan armada ke Malaka dalam jumlah tidak seba­gai­mana diren­ca­na­kan oleh Unus.

Ia pun mem­bawa oleh-oleh: seo­rang cucu perem­puan, anak Treng­gono’.

Tetapi yang ter­pen­ting diba­wa­nya adalah keke­ce­waan: keku­atan yang dijan­ji­kan untuk menye­rang Malaka ter­lalu kecil. Jadi Sultan akan tetap menye­rang sau­dara-sau­da­ra­nya, tetang­ga­nya untuk dapat mengu­a­sai Jawa.

Tak ada jalan lain dalam mene­rus­kan cita-cita put­randa ter­cinta Unus dari­pada sekutu-sekutu perang. Treng­gono nyata sudah tak dapat di harap­kan. Dengan hendak mengu­a­sai Jawa ia justru meru­sak per­se­ku­tuan untuk menye­rang Malaka. Ia akan tetap men­coba dan ber­u­saha, Bila takkan dida­pat­kan­nya sekutu Jawa, akan dico­ba­nya di luar Jawa; Suma­tra, Sula­wesi, Kali­man­tan. Dan kalau semua toh itu gagal juga, ia masih ada cucu perem­puan. Ia akan men­di­dik­nya jadi pelak­sana cita-cita Unus.

Demi­kian ia mema­suki Jepara mem­bawa keke­ce­waan di satu pihak dan harapan di lain pihak. Dan di Jepara yang dite­mu­i­nya adalah kesu­nyian. Per­si­apan armada telah ber­henti, sepi lagi seperti keha­bisan angin. Namun ia tetap tidak putus asa, justru makin meluap.

Dengan ban­tuan Liem Mo Han ter­j­a­dilah per­se­ku­tuan raha­sia dengan Aji Usup, seo­rang peng­i­kut Adi­pati Unus yang setia.

Aji Usup adalah keper­ca­yaan almar­hum put­ra­nya. Ia mem­pu­nyai penga­ruh besar di kalangan praja dan golongan agama. Bebe­rapa tahun sebe­lum penyer­buan Unus ke Jepara ia telah menu­na­ikan rukun Islam ke lima dan telah men­je­la­jah ke negeri Arab. Ia juga pena­si­hat Unus ten­tang per­so­alan manca praja.

Liem Mo Han seo­rang pemuka seri­kat raha­sia Nan Lung, Naga Selatan, yang meng­i­kat para ketu­runan awak armada Ceng He, juga seo­rang peng­hu­bung Sema­rang dengan raja-raja di Jawa.

Ratu Aisah adalah seo­rang tokoh yang sangat dihor­mati dan dide­ng­ar­kan di selu­ruh negeri Demak dan Jepara.

Dan per­se­ku­tuan ini ber­mak­sud hendak mene­rus­kan usaha pem­be­basan Malaka pada satu pihak dan pada pihak lain hendak meng­ga­gal­kan ren­cana Treng­gono untuk menin­das bupati dan raja-raja mer­deka dalam usa­ha­nya untuk mengu­a­sai Jawa.

Jalan yang ditem­puh oleh per­se­ku­tuan raha­sia adalah menyi­ar­kan ten­tang keja­hatan keku­a­saan Por­tu­gis dan akibat bur­uk­nya ter­ha­dap Nusan­tara selu­r­uh­nya, jahat­nya ren­cana Treng­gono yang hendak meme­rangi sau­dara-sau­da­ra­nya sen­diri.

Penyi­a­ran itu dila­ku­kan mela­lui nakhoda dan awak kapal yang akan berang­kat mening­gal­kan bandar Jepara dan Lao Sam.

Dengan penga­ruh yang ada pada­nya Aji Usup meni­up­kan sema­ngat baru pada pasukan laut Demak yang ber­ke­du­dukan di Jepara dan lebih suka dise­but pasukan laut Jepara. Ia telah ber­ha­sil mem­bi­kin pasukan laut itu meng­am­bil sikap bila Treng­gono tetap meng­a­nak-tiri­kan mereka, mereka akan bikin Jepara memi­sah­kan diri dari Demak, dan mem­bi­kin Demak jadi segum­pal tanah lem­pung tandus tidak ber­arti.

Pasukan laut Jepara telah meru­pa­kan satu kebu­latan.

Bila Treng­gono mulai menin­das bupati-bupati mer­deka, mereka pun akan mulai memi­sah­kan diri dari Demak.

Bebe­rapa kali Liem Mo Han mem­per­i­ng­at­kan Aji Usup agar tidak meng­u­langi kekan­da­san armada Dampo Awang yang tidak bisa kem­bali pulang ke pang­kalan. Karena itu pemi­sahan harus dila­ku­kan tidak pada waktu Treng­gono mulai menye­rang tetangga-tetang­ga­nya, tetapi pada waktu ia men­jadi kewa­lahan. Dalam kea­daan demi­ki­an­lah kemung­kinan pemi­sahan diri dan mele­pas armada ke Malaka takkan mene­mui rin­tangan..

Sete­lah per­se­ku­tuan raha­sia men­da­pat kata sepa­kat dalam semua pokok, Aji Usup mening­gal­kan Jepara dan meng­hu­bungi para bupati mer­deka di Jawa, Suma­tra dan Sula­wesi Selatan.

Dan ia kem­bali dengan sema­ngat rendah. Pada umum­nya para bupati mer­deka dan raja-raja, yang dihu­bung­i­nya, meno­lak. Mereka tak menyu­kai kepo­ngahan Treng­gono. Dan mereka meni­lai sultan baru itu kepala batu, dungu, diban­ding­kan dengan abang­nya, dan kegi­atan yang ter­po­kok hanya meng­han­cur­kan segala yang telah diba­ngun oleh abang­nya. Dan Aji Usup mewa­kili siapa? Bukan­kah Jepara pang­kalan pasukan laut Demak?

Walau demi­kian Aji Usup, yang selalu meng­gu­na­kan nama Treng­gono dan Ratu Aisah, telah mene­rima kesang­gupan dari dua orang raja: Bugis dan Aceh. Pada waktu yang akan diten­tu­kan pasukan-pasukan Bugis akan menunggu armada Jepara tiba di Aceh. Sekutu lain Demak, Jambi, dengan menye­sal menya­ta­kan takkan dapat ikut serta.

Per­se­ku­tuan raha­sia itu meng­ang­gap, kesang­gupan Aceh Bugis telah mema­dai untuk ting­kat per­mu­laan. Dan Aji Usup akan meng­hu­bungi sekutu lama di Jawa: Tuban.

Per­se­ku­tuan juga telah sepa­kat untuk menam­pil­kan Wirang­gal­eng seba­gai pim­pinan pasukan-pasukan gabungan dari Jawa.

Mereka ting­gal menunggu Treng­gono menyer­bui tetang­ga­nya dan kewa­lahan.

Treng­gono kemu­dian menge­ta­hui juga sikap pasukan laut di Jepara. Takut pada per­pe­cahan menye­bab­kan ia men­jadi ragu-ragu. Tetapi pasukan kuda terus mene­rus men­de­sak untuk segera menye­rang, Ia tahu dir­i­nya mulai tidak ber­daya, ter­je­pit di antara dua keku­atan, yang dua-duanya sedang ber­se­ma­ngat perang. Tanpa pasukan laut dan tanpa armada, Peranggi sudah lama akan mem­ba­las­kan den­dam­nya ter­ha­dap Demak. Ia tak boleh meli­hat Jepara dengan sebe­lah mata. Sedang pasukan kuda yang ter­lalu kuat adalah bahaya yang lebih run­cing bila sema­ngat perang­nya tidak disa­lur­kan.

Dalam keragu-ragu­an­nya ia ter­paksa menge­lu­ar­kan perin­tah mela­ku­kan penyer­buan semua ter­ha­dap tetangga-tetang­ga­nya, yang sebe­lum­nya dia­wali dengan pem­be­ri­ta­huan, pasukan-pasukan Demak datang bukan­lah untuk ber­pe­rang, hanya meng­a­wasi per­ba­ta­san dari keru­suhan para pen­ja­hat. Tetapi per­tem­puran sesung­guh­nya ter­jadi juga di sana-sini. Dan ia ter­paksa lagi untuk ke dua kali­nya mena­rik kem­bali pasukan-pasuk­an­nya. Ia kha­wa­tir ter­jadi peng­khi­a­natan dari pasukan lama.

Dalam keragu-raguan tidak menentu ini datang sepu­cuk surat dari Mekah pada­nya, menya­ta­kan ber­se­dia mem­bantu Sultan, baik dalam penyi­a­ran agama Islam maupun dalam usaha perang.

Surat yang ter­tu­lis dalam Arab ber­ba­hasa Melayu itu ber­a­sal dari Fat­hil­lah, bekas pemim­pin perang di Pasai mela­wan Por­tu­gis. Ia dimasy­hur­kan di seki­tar Selat seba­gai cucu Bhre Para­mesy­wara, pen­diri Malaka. Dan ia belum lagi tahu, yang disu­ra­ti­nya. Unus, telah wafat.

Dengan sebuah kapal Arab yang kem­bali mela­lui sebe­lah barat Suma­tra, balasan Treng­gono dibawa. Fat­hil­lah datang.

Ia seo­rang yang ber­tu­buh tinggi, lang­sing dan berisi, ber­hi­dung man­cung, ber­ku­lit lang­sat, ber­a­lis tebal dan ber­bulu mata pan­jang, ber­ku­mis bapang. Pan­dang mata­nya dalam seakan semua yang dili­hat­nya hendak dima­suk­kan ke dalam rong­ga­nya. Dan ia ber­ju­bah putih dan ber­so­r­ban putih tanpa per­hi­asan.

Sekali pan­dang Treng­gono telah ber­ke­nan hati­nya pada pemim­pin perang Pasai itu. Dalam pem­bi­ca­raan khusus, Treng­gono tak segan-segan menyam­pai­kan kesu­l­itan-kesu­l­it­an­nya meng­ha­dapi per­pe­cahan dalam keku­at­an­nya sen­diri dan tekanan dari mereka, juga kesu­l­it­an­nya dengan ibunda Ratu Aisah.

Treng­gono memang bukan Fat­hil­lah. Treng­gono meng­hen­daki keku­a­saan tak ter­ba­tas atas selu­ruh Jawa. Fat­hil­lah meng­im­pi­kan penye­baran Islam ke selu­ruh Jawa dan pem­ba­lasan dendam ter­ha­dap Por­tu­gis. Ia masih tak dapat melu­pa­kan keka­lah­an­nya di Pasai. Dan di Demak ia meli­hat ada cukup syarat untuk dapat melak­sa­nakan semua impi­an­nya.

“Nam­pak­nya tidak begitu sulit, Baginda Sultan,” ia mulai men­je­las­kan piki­ran­nya, “per­ten­tangan dengan pasukan laut atau­pun kuda dapat dia­tasi. Demak akan tetap utuh. Kedua belah akan dan puas dan ibunda Baginda pun akan meres­tui. Patik ber­peng­a­laman perang di darat, dan patik pun pelaut. Apa­bila Baginda Sultan ada keper­ca­yaan pada patik biar­lah semua itu patik urus”.

Treng­gono menum­pah­kan keper­ca­yaan pada­nya. Pada suatu siang yang cerah dengan ber­ken­dara kuda dan dii­ring­kan oleh bebe­rapa belas pra­ju­rit kuda Fat­hil­lah mening­gal­kan Demak masuk ke Jepara.

Dipe­rik­sa­nya armada dalam per­si­apan itu, kapal demi kapal. Dan pada malam hari ia meng­ha­dap Ratu Aisah, dan menyam­pai­kan dalam Melayu, bahwa Demak telah siap mengir­im­kan selu­ruh armada ke Malaka.

“Kapan hari besar itu akan ter­jadi, Pang­lima?”

“Setiap waktu, Gusti Ratu”.

Fat­hil­lah mem­per­ha­ti­kan segala gerak-gerik dan per­u­ba­han air muka pada wajah wanita tua itu. Ia dapat menang­kap kilauan mata Ratu Aisah dan meng­ang­gap tugas­nya ber­ha­sil; pasukan laut akan kem­bali dapat diken­da­li­kan.

Kee­sokan hari­nya ia mengun­jungi Aji Usup. Per­ca­kapan dila­ku­kan, dalam Arab sehingga para saksi tak ada yang meng­erti. Hanya semua orang meli­hat, bahwa kedua orang itu nam­pak­nya sama-sama puas.

Kete­gangan antara Demak dan Jepara nam­pak­nya akan reda.

Tak lebih dari sebu­lan sete­lah kun­jungan Fat­hil­lah, Demak mera­ya­kan pesta besar. Oleh Sultan, Fat­hil­lah dika­win­kan dengan adik­nya perem­puan.

Juga Ratu Aisah datang meng­ha­diri. Hanya bebe­rapa hari ia di samar kemu­dian pulang lagi ke Jepara. Demak dira­sa­i­nya ter­lalu panas.

Dan apa pun yang ter­jadi, apakah itu per­u­ba­han atau­kah janji janji Fat­hil­lah yang mewa­kili Sultan, kepu­tusan-kepu­tusan per­se­ku­tuan raha­sia tetap, mereka akan terus men­ja­lan­kan­nya. Mereka ber­tiga menyim­pul­kan; tidak per­caya pada Demak dengan Pang­lima baru­nya, yang dengan begitu gam­pang bisa men­da­pat­kan keper­ca­yaan dari Sultan.

Mereka ber­tiga menyim­pul­kan: tidak bisa orang asing pen­da­tang baru itu pandai mela­yani dan mem­be­nar­kan semua kei­ng­inan pri­badi Sultan dan pasti untuk dapat melak­sa­nakan kei­ng­inan-kei­ng­inan sen­diri.

Dan betapa ter­ke­jut per­se­ku­tuan raha­sia itu meli­hat pada suatu hari pasukan kaki Demak yang cukup besar ditem­pat­kan di luar kota Jepara.

“Fat­hil­lah telah menge­ta­hui ren­cana kita”, Aji Usup ber­pen­da­pat “Mereka datang untuk meng­ha­langi pasukan laut Jepara ber­tin­dak.”

Dan ia ber­pen­da­pat pula, hanya karena adanya Ratu Aisah di antara mereka dalam per­se­ku­tuan, Sultan tidak meng­am­bil sesu­atu tin­dakan. Juga Ratu, juga Liem Mo Han ber­pen­da­pat demi­kian pula. Hanya mereka berdua tak sampai hati menya­ta­kan satu kepada yang lain.

Dalam per­te­muan ter­a­khir dipu­sat­kan untuk men­da­pat­kan kete­rangan, kapan Demak akan meng­ge­rak­kan armada kecil yang dijan­ji­kan oleh Treng­gono. Begitu armada akan ber­ge­rak mereka sudah harus men­da­pat­kan Wirang­gal­eng untuk jadi pim­pinan dan lansung menuju ke Malaka.

Untuk kepen­tingan itu Aji Usup harus pergi ke Tuban meng­ha­dap Sang Adi­pati. Dan Liem Mo Han harus kem­bali ke Lao Sam demi kese­la­mat­an­nya.

Aji Usup berang­kat dengan kapal yang sama dengan Liem Mo Han

Dan ting­galah Ratu Aisah seo­rang diri di Jepara dengan piki­ran tuanya, disi­buki oleh menan­tu­nya Sang Pang­lima Demak, pen­da­tang baru dari Mekah, putra Pasai, menantu Bhre Para­mesy­wara: Fat­hil­lah.


Bab 30

Petani Wiranggaleng

Sudah bebe­rapa lama Wirang­gal­eng hidup di desa per­ba­ta­san Awis Kram­bil, men­jadi petani seperti pen­du­duk sele­bih­nya. Ia telah dapat melak­sa­nakan impian-muda­nya – impi­an­nya ber­sama Idayu. Mereka telah men­di­r­i­kan pondok ber­a­tap injuk ber­din­ding pelu­puh. Dan pondok itu ber­diri tinggi di atas tiang.

Di waktu seng­gang­nya Pada ikut mem­bantu semua peker­jaan: mene­bang dan meng­ang­kuti bambu dan pemu­kul­nya jadi pelu­puh, mem­buka huma, meng­gali saluran, meng­ang­kuti panen. Hanya ia tak pernah mem­bantu meng­ga­rap tanah. Untuk itu ia tak punya kesa­baran atau­pun kese­nangan.

Pada telah mem­buka penga­jian di desa itu pula. Per­sa­ha­bat­an­nya dengan Wirang­gal­eng menye­bab­kan ia men­da­pat keper­ca­yaan dari pen­du­duk desa. Dengan ber­mo­dal­kan kata-kata “Wirang­gal­eng­lah yang meno­long jiwaku” dan dibantu oleh kata-kata Idayu “Moham­mad Firman alias Pada yang meno­long jiwaku dan anak-anak Wirang­gal­eng” ia muncul seba­gai orang ter­pan­dang di desa Awis Kram­bil. Lelu­hur Awis Kram­bil telah meng­a­jar­kan: seo­rang yang telah meno­long jiwa orang baik-baik seyog­ya­nya diba­las keba­ik­an­nya selama hidup­nya oleh semua orang baik-baik sedesa.

Dan Wirang­gal­eng sen­diri tak punya per­ha­tian ter­ha­dap kegi­atan sehari-hari Firman. Juga ia tidak meng­an­jur­kan pada anak-anak desa untuk bel­a­jar pada­nya. Idayu juga tidak pernah meng­an­jur­kan.

Tetapi peng­a­laman Pada yang banyak, peng­em­ba­ra­an­nya yang cukup luas, per­ga­ul­an­nya dengan banyak orang, dan bakat­nya dalam ber­ce­ri­tera, telah mena­rik anak-anak kepa­da­nya. Gubuk­nya selalu berisi dengan kanak-kanak. Dan gubuk itu dida­pat­kan­nya seba­gai pem­be­rian desa dengan ladang yang cukup luas di bela­kang­nya. Tetapi ia tak pernah ter­ta­rik untuk meng­ga­rap tanah maka ia pun tidak pernah jadi petani.

Sete­lah banyak kanak-kanak ber­kum­pul di seke­li­ling­nya ia mulai men­do­ng­eng, kemu­dian mem­per­ke­nal­kan nabi-nabi yang pernah dipel­a­jar­i­nya di Demak. Tetapi segera selu­ruh desa ter­gun­cang waktt ia mulai mema­suk­kan aturan yang memi­sah­kan anak-anak lelaki dari perem­puan. Orang tua-tua memer­lu­kan datang untuk ber­ta­nya: apa salah­nya anak-anak perem­puan itu? Meng­apa mereka dibe­da­kan hanya karena mereka perem­puan? Dan ia men­ja­wab, ia seo­rang bujangan maka tak baik punya murid perem­puan. Akibat jawaban itu tidak sedi­kit orang-orang desa yang tak punya pra­sangka kea­ga­maan itu, men­de­sak­nya agar ia menga­wini salah seo­rang gadis Awis Kram­bil. Ia tak pernah men­ja­wab dengan jelas, hanya ber­da­lih-dalih.

Kemu­dian desa dibi­kin ter­he­ran-heran meng­apa penga­ji­an­nya tidak meng­a­jar­kan baca tulis Jawa, dan bagai­mana jadi­nya kalau anak-anak itu nanti besar dan tidak menge­ta­hui sesu­atu ten­tang ajaran lelu­hur sen­diri? Ia men­ja­wab, ten­tang itu anak-anak itu nanti bisa bel­a­jar sen­diri dari guru-guru lama dan dari orang-tuanya.

Kesu­l­itan yang ke sekian mulai diha­dapi oleh Pada. Huruf Arab yang dia­jar­kan­nya ter­lalu sulit untuk bisa diper­gu­na­kan untuk diu­cap­kan. Dan murid-murid itu mulai ber­gu­gu­ran seo­rang demi seo­rang; Ia sedang meng­ha­dapi kega­galan.

Dan Wirang­gal­eng atau­pun Idayu tidak menyo­kong­nya, Bahkan Gelar tidak pernah datang ke pon­dok­nya. Ia meng­erti kebe­ratan mereka: peng­a­laman mereka berdua dengan Kiai Beng­gala telah cukup tidak menye­nang­kan dan akan kenang-kenangan buruk sepan­jang masa; Maka juga ia tak pernah meminta sokongan itu. Ia harus dapat tegak­kan dir­i­nya sen­diri.

Satu-satu­nya jalan untuk meng­a­tasi kega­galan adalah kesa­baran. Dimu­la­inya menu­lis tem­bang dalam bahasa dan tulisan Arab ten­tang kisah Rasul­ul­lah. Mur­id­nya yang ting­gal sedi­kit telah meram­bat­kan tem­bang; itu ke selu­ruh desa Awis Kram­bil, dan merasa ber­ba­ha­gia dengn suk­se­s­nya. Ia dapat deng­ar­kan tulis­an­nya itu dinya­nyi­kan di atas pung­gung kerbau di padang rumput, atau di malam sepi waktu bulan tiada terbit di rumah-rumah yang ter­se­bar luas dalam kege­lapan.

Namun mur­id­nya tidak juga ber­tam­bah.

Dan Wirang­gal­eng atau­pun Idayu tak pernah datang mene­ngok gubuk­nya.

Kesu­l­itan baru datang menan­tang­nya waktu ia mulai meng­a­mat­kan ten­tang larangan-larangan: makanan dan minuman. Kem­bali orang tua-tua datang kepa­da­nya dan mena­nya­kan apa sebab­nya babi dan bina­tang ber­ta­ring lain­nya tak boleh dima­kan, dan meng­apa tuak tak boleh dimi­num. Ia men­je­las­kan, bahwa masih ter­lalu banyak makanan dan minuman kecu­ali yang dila­rang. Orang tua-tua itu tidak bisa meng­erti dan tidak bisa mem­bi­ar­kan ajaran ten­tang larangan itu. Dan Pada harus menga­ta­kan atau ia harus keluar dari desa Awis Kram­bil. Ia menga­ta­kan: boleh makan dan dimi­num, asal tidak banyak, sedi­kit saja cukup. Itu pun tak bisa dite­rima oleh desa. Malah orang mulai men­cu­r­i­ga­i­nya hendak men­di­r­i­kan keku­a­saan baru seperti Sunan Rajeg dengan mula-mula mem­bi­kin per­a­turan.

Hanya per­sa­ha­batan dengan Wirang­gal­eng dan Idayu mem­bi­kin ia tidak ter­u­sir.

Sua­sana mereda, tapi mur­id­nya kian sedi­kit, ting­gal barang tiga orang. Tiba-tiba gun­cangan muncul kem­bali waktu meng­ha­dapi pesta panen besar. Pada meng­a­jar­kan, cacing tanah tidak boleh dima­kan. Ten­tangan dari orang tua-tua, bahkan selu­ruh desa, tak dapat diken­da­li­kan lagi. Ber­a­bad-abad lama­nya cacing tanah jadi makanan pesta yang tak pernah diting­gal­kan. Sete­lah dipu­rut cacing itu dir­en­dam dalam air enau selama sehari, kemu­dian setiap orang mema­kan­nya.

Pada ter­paksa mena­rik ajar­an­nya. Dan ia men­jadi orang yang tidak popu­ler di Awis Kram­bil. Ia harus lebih ber­sa­bar lagi. Dalam kesu­l­itan yang amat sangat itu ia datang pada saha­bat­nya untuk minta per­lin­dungan.

Waktu itu Wirang­gal­eng sedang di hutan untuk menya­dap enau. Ia tak berani naik ke rumah dan menyu­sul saha­bat­nya masuk ke dalam hutan.

Dan setiap Pada datang ke gubuk di ping­gir hutan, dan Wirang­gal­eng tak ada, dan ia terus menyu­sul ke ladang, huma atau hutan, Idayu dapat meli­hat sinar aneh pada mata orang muda jang­kung ber­ku­mis dan tidak ber­jeng­got itu.

Sinar mata itu sama dengan yang ter­pan­car waktu ia diam­bil dari rumah tahanan untuk dibawa ke gua per­se­m­bu­nyian, sama dengan waktu mereka ber­em­pat menye­ber­a­ngi padang alang-alang yang meng­gen­tar­kan itu, mele­wati hutan muda dan kemu­dian menye­ber­a­ngi padang rumput pendek… desa per­tama, desa kedua, ketiga dan sampai ke jalan negeri.

Ia masih dapat meng­i­ngat waktu mereka ber­henti di per­ti­gaan itu. Pada mena­tap mata­nya dengan sinar yang aneh itu pula. “Jadi Mbo­kayu tak mem­be­lok ke kanan? ke Tuban?”

“Tidak, Pada”.

“Ke kiri? Awis Kram­bil?”

Ia lihat sinar mata itu tiba-tiba jadi beku dan kepa­la­nya menun­duk.

“Dan kau sen­diri hendak ke mana, Pada?” ia ber­ta­nya.

“Biar aku antar­kan sampai Awis Kram­bil”, jawab­nya kemu­dian. “Itu-pun kalau Mbo­kayu tidak merasa ter­ganggu.”

“Tentu lebih baik begitu. Tentu takkan ada yang men­cu­r­i­gai kau seba­gai pela­rian peng­i­kut Sunan Rajeg, kecu­ali kalau kau ber­ganti pakaian. Buang itu yang serba putih”.

Ia ikuti orang muda itu minta diri barang seben­tar dan pergi meng­hi­lang dengan parang telan­jang di tangan kanan. Ia menunggu di gaan. Memang agak lama. Kemu­dian ia datang lagi mem­bawa sir pisang susu matang dan pakai­an­nya yang serba putih telah men­jadi coklat dilu­muri getah pisang.

“Begini baik, bukan, Mbo­kayu?”

“Cukup baik”.

Mereka mulai mem­be­lok ke kiri ke jurusan Awis Kram­bil.

Waktu ia mene­ngok ke sam­ping ia lihat Pada sedang meng­a­was­i­nya, kemu­dian dengan gugup menyem­bu­nyi­kan pan­dang­an­nya pada pepo­honan di keja­uhan. Juga sinar mata­nya aneh, sinar mata seo­rang yang gan­d­rung kas­ma­ran.

“Kau tak pernah ceri­ta­kan di mana rumahmu, Pada”.

“Aku adalah seekor burung, Mbo­kayu, di mana pun ber­teng­ger di sana­lah rumahku.”

Suara lelaki itu ter­de­ngar gem­bira ter­cam­pur tawa, dan Idayu tak tahan men­de­ng­ar­nya. Ia mera­sai di dalam­nya ter­de­ngar gaung dari hati yang merasa, putus-asa. Mung­kin orang muda ini menye­bab­kan ia takut pada Pada, ber­ja­lan lebih cepat dari bia­sa­nya dan ragu-ragu untuk memu­lai per­ca­kapan.

Ia ber­ja­lan tanpa meno­leh ke bela­kang. Dari suara Gelar yang duduk pada teng­kuk ia dapat men­duga berapa depa Pada ber­ja­lan di bela­kang­nya.

Pagi dan siang sudah lama lewat. Hari telah senja. Sawah dan ladang; tepi desa Awis Kram­bil telah senyap diting­gal­kan oleh semua orang. Hujan pun jatuh rintik-rintik. Pintu-pintu rumah desa telah tutup untuk meno­lak angin dan dingin. Dari atap-atap keluar asap pen­di­angan ternak atau dapur.

Ia dengan bayi dalam gen­do­ngan ber­henti di depan gapura rumah orang tuanya. Dan ia ragu-ragu untuk masuk. Seekor kuda coklat dengan becak-becak putih ter­can­cang di sam­ping rumah di dekat pesa­jian rumah tangga, yang ter­buat dari tum­pukan batu merah. Abah-abah dan sang­gurdi kuda itu masih ter­pa­sang.

“Ya, Mbo­kayu, memang kuda Tuban”. Pada mem­per­i­ng­at­kan. “Sang­gur­di­nya tak dapat dike­la­bui, kuningan pipih-lebar. Juga hiasan kepala itu. Kau ragu-ragu, Mbo­kayu”.

Ia memang ragu-ragu untuk masuk.

Dan orang muda itu men­de­kat­i­nya dengan Gelar masih juga duduk pada teng­kuk­nya. Seka­rang ia merasa tak senang di dekat Pada. Ia kalah­kan keragu-ragu­an­nya dan mele­wati gapura dengan si bayi dalam gen­do­ngan, mening­gal­kan Pada di bela­kang­nya.

Kuda itu masih ber­ke­ri­ngat dan napas­nya masih geli­sah. Ia ber­henti lagi, ragu-ragu untuk terus. Ia ter­paksa menunggu Pada, dan ber­ja­lan di bela­kang­nya untuk men­da­pat­kan per­lin­dungan.

Tali abah-abah tempat peng­i­kat tombak-tombak lempar tidak ter­sim­pul. Mung­kin penung­gang kuda itu mem­bawa tombak-tombak-nya ke dalam rumah.

Mereka tak lang­sung mema­suki pintu, tapi ber­ja­lan dari sam­ping rumah. Seben­tar mereka ber­henti untuk men­de­ngar-deng­ar­kan. Dan tak ada ter­de­ngar sesu­atu pun dari dalam.

Juga pintu sam­ping itu tak ter­kunci, Idayu masuk. Kosong tiada suara. Tak dite­mu­i­nya seo­rang pun. Di manakah orang tua dan adik-adik­nya? Dan siapa penung­gang kuda itu? Dan di mana dia?

Ia masuk ke dapur, dan api sedang menyala riang di dalam tungku. Belanga di atas­nya ia buka – gulai bebek. Ia buka dan-dang di sebe­lah­nya: nasi yang belum lagi masak, dalam jumlah yang lebih banyak dari biasa. Dalam belanga di atas tanah dengan penu­tup ter­tin­dih batu telah ter­se­dia daging babi pang­gang yang telah disa­yat-sayat. Tapi di mana orang-orang rumah? Dan meng­apa anjing-anjing pun tiada?

Ia keluar untuk menin­jau rumah-rumah tetangga yang jauh-jauh letak­nya. Sayup-sayup ter­de­ngar orang ter­tawa-tawa ramai – dan suara itu dibawa oleh angin sore yang dingin itu. Ia melang­kah ke arah kan­dang sapi. Bina­tang-bina­tang itu sedang ber­sim­puh di tanah di dekat pedi­angan sambil mema­mah-biak.

“Mung­kin semua orang sedang ber­kum­pul di sana,” kata­nya pada diri sen­diri.

Ia suruh Pada dan Gelar ber­is­ti­ra­hat di ambin ruang depan, di mana dulu Rama Clu­r­ing ia rawat. Pada dengan Gelar yang tidur dalam gen­do­ngan masuk ke ruang depan. Sebe­lum pergi sinar mata itu dira­sa­i­nya sema­kin aneh. Dan untuk per­tama kali ia ber­de­bar-debar meli­hat pan­caran mata itu.

Si bayi ia tidur­kan di atas ambin dapur dan ia mene­rus­kan masak. Belum lagi masakan sele­sai ter­de­ngar ramai-ramai di depan rumah. Ia lari ke depan, mem­buka pintu depan dan keluar. Gelar dan Pada ter­ba­ngun.

“Anak desa Awis Kram­bil jadi Sena­pati Tuban!” bocah-bocah ber­seru meng­elu-elukan, “Tidak pernah kalah. Terus mene­rus menang!”

“Ya-ya, kagumi dia, bocah-bocah! Kagumi, biar kalian jadi orang besar juga kelak. Kagumi!”

Di hadapan Idayu satu rom­bongan besar orang sedang mele­wati gapura, bocah-bocah dan orang dewasa, laki dan perem­puan. Rom­bongan itu meng­iring­kan seo­rang ber­tu­buh dempal per­kasa. Dan Idayu tidak keliru. Itulah sua­mi­nya: Wirang­gal­eng. Ia lari menyam­but­nya. Tanpa bicara ia menub­ruk, merang­kul­nya dan mena­ngis ter­se­dan-sedan.

“Dayu, aku tahu kau sela­mat”.

Sua­mi­nya menge­lu­ar­kan popok dari ikat ping­gang­nya dan dise­ka­kan­nya pada wajah istri­nya, kemu­dian mema­pah­nya masuk ke rumah. Ia merasa aman di dekat juara gulat ini.

“Deng­ar­kan, pen­du­duk Awis Kram­bil Galeng Sena­pati Tuban, kem­bali ke desa­nya. Seka­rang dia telah ber­temu dengan istri­nya. Dan khusus pada Idayu, “Mana Anakku?”

Mereka mema­suki rumah disam­but oleh Pada yang ber­diri seperti orang kehi­langan akal. Ia meli­hat lelaki muda itu seperti ter­pe­sona oleh keha­diran Wirang­gal­eng. Mata­nya tidak lagi meman­car­kan sinar aneh.

Ia lari masuk ke dapur, meng­am­bil bayi yang tidur nye­nyak di atas ambin depan dan menye­rah­kan­nya pada bapak­nya dengan hangat “Inilah anakmu, belum lagi ber­nama”, dan ia seret Gelar dan dibe­ri­kan­nya pada Galeng, “dan ini Gelar anakku”.

Sena­pati Tuban dalam pem­bu­angan itu mene­rima bayi itu men­ci­um­nya. Pada wajah­nya meman­car keba­ha­gi­aan, kepu­asan, syukur dan terima kasih, kemu­dian menye­rah­kan­nya kem­bali pada ibunya. Kini ia angkat Gelar dan ber­seru: “Kau, Gelar, kau sudah bisa menya­nyi?”

“Dia terus menya­nyi di atas teng­kuk Pada, Kang”

Air muka Wirang­gal­eng beru­bah. Tanpa meng­in­dah­kan jawaban bocah itu ia turun­kan ke tanah. Mata­nya men­cari-cari orang di antara orang seba­nyak itu. Air muka­nya men­jadi keras.

“Pada, di mana kau?” seru Idayu, dan ia sen­diri men­jadi kha­wa­tir meli­hat per­u­ba­han air muka sua­mi­nya.

“Inilah aku”, jawab Pada dan mene­ro­bos­kan diri meng­ha­dap pada Sena­pati. “Inilah aku, Kang, adikmu sen­diri”. Ia men­ja­tuh­kan diri, ber­su­jud dan men­cium kaki Wirang­gal­eng.

“Dia, Kang, Moham­mad Firman alias Pada yang meno­long jiwaku dan anak-anak Wirang­gal­eng”.

Tak ada seo­rang pun yang mem­buka mulut. Sunyi-senyap dalam ruang depan yang sempit oleh manu­sia seba­nyak itu. Dan semua mata ter­tuju pada Sena­pati Tuban dan orang yang ber­su­jud di hadap­an­nya.

Tiba-tiba Gelar merang­kul leher Pada, ber­ta­nya: “Meng­apa tak bangun-bangun, Paman?”

“Ya, bangun, kau, Pada”.

Dan Pada bangun, ber­diri. Muka­nya pucat seperti habis bangun dari sakit demam sebu­lan.

“Nanti akan kuce­ri­ta­kan di depan semua orang ini bagai­mana ia sela­mat­kan kami, Kang.”

“Aku datang untuk menyu­sul kau, Idayu”.

‘Tidak. Aku tak perlu kau susul. Aku takkan kem­bali ke Tuban”.

‘Tidak. Aku pun takkan kem­bali lagi ke Tuban, Idayu. Aku kem­bali jadi si anak desa yang dahulu.”

“Kang!” seru Idayu tak per­caya.

“Kita akan mem­buka huma, Idayu, men­di­r­i­kan gubuk di ping­gir hutan, di tepian desa”.

“Kang!”

Pada mena­rik diri dan ber­diri diam-diam di pojo­kan mem­per­ha­ti­kan semua keja­dian itu.

Berita ten­tang wafat­nya Adi­pati Unus dan digan­ti­kan oleh Treng­gono telah mem­per­ku­kuh niat­nya untuk tidak kem­bali ke Demak. Apa­lagi sete­lah ia tahu Sultan baru itu tidak mem­per­ha­ti­kan dan tidak mem­bu­tuh­kan jasa para musa­fir. Bahkan ke Bonang pun ia tak pernah lagi, apa­lagi menyam­pai­kan laporan.

Tetapi alasan ter­u­tama adalah Idayu. Wanita itu mem­bi­kin ia tak mampu mening­gal­kan Awis Kram­bil. Bahkan hanya nama­nya pun telah menye­bab­kan ia merasa ter­geng­gam tanpa daya. Dan ia men­de­ng­ar­kan suara hati­nya – mene­tap di Awis Kram­bil.

Ia telah men­jadi seo­rang Ki Aji kecil. Orang sudah mulai memang­gil­nya Kiai. Dan ia tidak mem­ban­tah.

Dalam per­ca­kapan dengan Wirang­gal­eng dan Idayu dengan diam-diam ia ter­pe­nga­ruh oleh pan­dangan yang tidak meng­i­ng­in­kan sesu­atu keku­a­saan atas orang lain pun tidak meng­i­ng­in­kan harta-benda orang lain.

Ia tahu bebe­rapa ucapan Idayu pada­nya dalam per­ja­lanan dulu ada yang tidak cocok dengan…. Ia tak pernah mem­bang­kit-bang­kit­nya kem­bali. Tapi ia pun tahu betapa perem­puan itu ber­pe­nga­ruh ter­ha­dap sua­mi­nya. Dan mereka berdua begitu cinta-men­cin­tai seakan dunia luar tidak mereka per­lu­kan lagi. Mereka memi­sah­kan diri dari desa dan tidak pernah turun ke balai desa. Hanya karena besar­nya kepri­ba­dian mereka orang-orang justru datang pada mereka.

Akhir­nya ia pun ber­niat hendak hidup seder­hana seperti itu, mem­bu­ang segala impian ten­tang kebe­saran dan kehor­matan. Ia lepas­kan sama sekali hubung­an­nya dengan Demak, bahkan juga dalam piki­ran­nya. Ia ber­te­kat hendak hidup seba­gai manu­sia seder­hana seperti mereka, men­jadi bagian dari kehi­dupan tanpa menen­tu­kan kehi­dupan. Ia bel­a­jar meya­kin­kan dir­i­nya sen­diri: ia ber­ba­ha­gia dengan hidup begini.

Ia pun meng­a­kui dalam hati­nya: seo­rang saja sebe­nar­nya yang telah meng­u­bah jurusan yang semula hendak ditem­puh­nya, dan meng­u­bah – gaya dan cara hidup­nya. Orang itu adalah Idayu. Apa pun yang diper­bu­at­nya seakan ada benang gaib yang meng­ge­rak­kan tubuh dan piki­ran­nya. Dan benang itu secara gaib diken­da­li­kan oleh Idayu. Ia menya­dari ia men­cin­tai wanita itu dengan tulus hati. Idayu! istri saha­bat­nya! ia yang lebih tua dari­pa­da­nya! ibu dari dua orang anak! istri orang yang telah mengem­ba­li­kan jiwa­nya dari tangan Adi­pati Tuban!. Bila kasa­dar­an­nya bekerja, ia merasa meng­khi­a­nati saha­bat­nya dengan diam-diam Dan ia pun sadar: bukan mau dir­i­nya sen­diri ia men­cin­tai Idayu.

Kemu­dian datang­lah berita itu: balat­en­tara Demak telah mem­b­lu­dag. Treng­gono akan menye­rang ke timur dan barat.

Men­de­ngar itu ia lupa pada penga­ji­an­nya, lupa pada per­so­alan per­so­alan pri­badi. Dan segera ia lari menuju ke gubuk saha­bat­nya di ping­gir desa. Watak lama dari peker­jaan lama telah mengem­ba­li­k­an­nya jadi Moham­mad Firman yang lama.

Ia dapat­kan Wirang­gal­eng sedang mengu­l­iti rusa betina yang ter­pe­rang­kap dalam ran­jau­nya. Tangan­nya ber­lu­muran darah. Bina­tang celaka itu ter­golek di atas gelaran daun pisang, telan­jang tanpa kulit. Dari dalam kan­dung­an­nya ia kelu­ar­kan bayi rusa yang belum cukup tua. dile­tak­kan bina­tang kecil belum ber­ku­lit dan ber­mata ter­lalu besar itu di atas tela­pak tangan.

Pada ber­jong­kok di hadap­an­nya.

“Suka kau?” tanya­nya pada­nya.

Pada ber­gi­dik.

Dan Galeng mema­kan­nya mentah-mentah sampai habis. Darah ber­lu­muran pada mulut­nya.

“Seperti Treng­gono makan pulau Jawa,” kata Pada.

Wirang­gal­eng tak mem­per­ha­ti­kan sir­atan kata Pada. Ia mene­rus­kan peker­ja­an­nya, memo­tong-motong daging bina­tang celaka itu dan men­ja­jar-jajar­nya di atas daun pisang.

“Kang Galeng, tak kau deng­ar­kan aku?”

“Seperti Treng­gono makan pulau Jawa, katamu. Meng­apa, Pada apa mak­sudmu?”

“Meng­apa? Masa kau seo­rang sena­pati tak punya per­ha­tian?

“Apa yang perlu dihe­rani? Dan apa yang perlu diper­ha­ti­kan? Sebe­lum Treng­gono naik takhta, orang sudah pernah mera­mal­kan hati-hati­lah kalian ter­ha­dap Demak”.

“Jadi bagai­mana kau ini kalau Tuban dise­rang?”

Wirang­gal­eng mene­rus­kan peker­jaan tanpa mem­per­ha­ti­kan­nya.

“Kau diam saja. Kang?”

“Aku hanya orang desa, petani. Pada, jangan macam-macam per­ta­nya­anmu”.

“Tidak benar. Dengan diam-diam kau telah memi­kir­kan­nya”.

“Lantas apa kau harap­kan dari­pa­daku? Per­ta­han­kan Tuban? Serang Demak? Atau per­ta­han­kan tanah ini? Huma dan ladang ini, gubuk ijuk ini?” ia menu­ding pada gubuk­nya.

“Kalau hanya begini di mana pun aku bisa dir­i­kan lagi Di mana pun aku bisa dapat­kan tanah, mung­kin lebih baik dari ini. Kaulah yang semes­ti­nya ber­ce­rita, Pada, bukan aku. Kau orang Demak.”

“Aku anak Tuban, Kang, dila­hir­kan dan dibe­sar­kan di Tuban, seperti kau juga.”

Wirang­gal­eng ber­henti bekerja dan menan­cap­kan pisau sayat­nya pada daging paha bina­tang itu.

“Itulah per­so­al­anmu. Pada. Kau orang Tuban dan peng­a­b­di­anmu pada Demak. Bukan per­so­al­anku.”

“Aku ber­sung­guh-sung­guh, Kang. Rela­kah kau Tuban diter­jang Demak?”

“Aku ber­sung­guh-sung­guh. Kang. Lupa­kah kau pada cerita-ceri­tamu sen­diri ten­tang Peranggi dan Ispa­nya? Ten­tang meriam mereka? Meng­apa kau bunuh Sang Patih Tuban dan kau mera­tap­i­nya untuk sisa hidupmu untuk dapat meng­han­cur­kan Kiai Beng­gala? Tak mung­kin kau tak punya per­ha­tian dan pemi­ki­ran.”

”Treng­gono bukan Kiai Beng­gala!”

“Bukan.”

‘Treng­gono sama dengan Kiai Beng­gala.”

“Memang sama.”

“Lantas apa lagi?”

“Hanya keru­sakan saja aki­bat­nya, Kang. Dua-duanya akan mele­mah­kan Jawa dan memu­dah­kan masuk­nya Peranggi. Bukan­kah itu ceri­tamu sen­diri? Seka­rang Treng­gono mem­buka medan, dan kau enak-enak ber­tani dan men­je­baki rusa dan celeng”.

“Sudah ada orang lain yang mengu­rus, Pada.”

‘Tak ada yang sebaik kau.”

Wirang­gal­eng men­ca­but pisau dan mene­rus­kan peker­ja­an­nya.

Pada meram­pas pisau itu dan menan­cap­kan­nya pada batang pisang. “Aku sung­guh-sung­guh, Kang.”

“Mulai kapan kau dapat jabatan untuk mengu­rus soal perang?”

“Aku hanya ingin tahu piki­ran dan pen­da­patmu.”

“Meng­apa kau yang jadi sibuk? Bukan urus­anmu.”

Gelar datang mem­bawa kran­jang. Tubuh­nya bong­sor. Hampir setinggi ayah­nya, sehat, kukuh dan kuat.

“Bilang pada makmu, seba­gian besar daging supaya diden­deng. Dan paha ini saja digan­tung di dapur.”

“Ha!” seru Pada. “Kau sudah ber­siap-siap dengan makanan kering. Jadi kau hendak berang­kat juga kira­nya.”

“Berang­kat ke mana? Coba­lah lihat rusa ini, Pada. Pulau Jawa sudah seperti dia, ter­ku­l­iti, ter­ke­ping-keping. Bang­kai utuh pun sudah tiada, sudah jadi den­deng dan saya­tan yang siap untuk dima­sak dan dite­lan oleh pela­hap.”

“Jadi kau memang sudah memi­kir­kan­nya, Kang.”

“Sudah lama aku memi­kir­kan­nya, dan tak ada guna­nya untuk memi­kir­kan­nya lagi.”

“Kau putus asa, Kang.”

“Aku tak meng­ha­rap­kan sesu­atu. Dulu aku masih punya harapan dulu, sewaktu Gusti Unus belum wafat. Dan hanya seo­rang saja, duanya. Sete­lah wafat­nya semua nakhoda, peda­gang dan orang po...... kira­nya tahu: seperti bang­kai rusa ter­ke­ping-keping itulah nasib Jawa.”

“Kau putus asa. Kang. Kau, yang sen­diri pernah urung­kan datang­nya si pela­hap.”

Wirang­gal­eng ber­diri dan ter­tawa. Pisau-sayat itu ia cabut dari batang, pisang, meng­a­sah kering pada batu asahan, kemu­dian ber­jong­kok dan mene­rus­kan peker­ja­an­nya. Ketika itu ia ter­i­ngat pula kata-kata Rama Clu­r­ing dalam ajar­an­nya ter­a­khir di balai-desa Awis Kram­bil: Meng­apa kalian ter­diam? Kera­jaan besar telah runtuh, kera­jaan-kera­jaan kecil tumbuh di mana-mana. Seperti panu. Seka­rang sudah ada kera­jaan raja Demak. Dewa-dewa­nya bukan dewa kalian. Dewa-dewa­nya tidak menge­nal kalian, dan tidak menge­nal dewa-dewa kalian. Hei, kalian yang lebih suka jadi bebal, kelak kalau Demak mulai menye­rang kalian, mem­buru-buru dewa-dewa kalian, meng­han­cur­kan man­dala dan candi-candi kalian, lelu­hur kalian pun tak aman lagi ting­gal di alam kah­yangan kalian sen­diri didera men­daran dan mere­gang­kan nyawa, tak sempat dir­u­wat oleh anak-cucu sen­diri. Pada waktu itu aku telah lebih dahulu mati. Dan kalian takkan sempat lagi menye­sal, takkan sempat lagi bilang padaku: Benar kata-katamu, Rama.

Seka­rang ramalan itu mem­per­li­hat­kan tanda-tanda akan men­jadi kenya­taan.

Baru ia men­ja­wab, pelahan, dengan gaya Rama Clu­r­ing: “Waktu itu masih dimung­kin­kan. Seka­rang lain, Pada. Sekali seo­rang raja ber­nafsu mengu­a­sai Jawa, perang akan terus mene­rus ber­ko­bar, takkan henti hen­ti­nya. Sampai si rakus itu mati tua, kalau dia sela­mat dari sekian banyak medan perang, cita-cita­nya takkan ter­lak­sana. Dan begitu si rakus mati, tak­lu­kan­nya akan bang­kit lagi mela­wan, mung­kin meng­an­ti­kan si rakus itu sen­diri. Dan sete­rus­nya, Pada, tak ada habis-habis­nya. Sua­ra­nya jadi sayu dan murung, “Waktu itu sudah lewat, waktu orang dapat mem­per­sa­tu­kan Nusan­tara. Nusan­tara, Pada, bukan hanya Jawa. Dalam hanya empat puluh, barang­kali juga cuma tiga puluh atau dua puluh tahun orang dapat mem­per­sa­tu­kan Nusan­tara. Sampai jam­bul­nya beru­ban Treng­gono takkan dapat mengu­a­sai Jawa. Ia tak punya syarat untuk itu.”

Pada senang men­de­ngar juara gulat ini bicara, karena ia bicara dengan selu­ruh keha­dir­an­nya, dengan hati dan dengan otot-otot­nya.

“Kau bicara ten­tang syarat, Kang.”

“Tentu, semua ada sya­rat­nya. Barang­kali di Demak kau tak pernah pel­a­jari itu. Coba deng­ar­kan kata-kata Rama Clu­r­ing, yang kau men­da­pat perin­tah untuk mem­bu­nuh­nya itu: ‘Jawa bisa diper­sa­tu­kan hanya dalam kesa­tuan Nusan­tara. Kesa­tuan Nusan­tara bisa diga­lang hanya oleh jiwa besar, ber­pan­dangan luas, meli­puti luas­nya Nusan­tara dengan darat dan laut­nya. Orang itu adalah Gajah Mada.’ Kita tak bica­ra­kan Treng­gono lagi. Pada.”

“Kau bicara ten­tang syarat, Kang. Aku hanya ber­ta­nya, bagai­mana kalau Treng­gono menye­rang Tuban?”

“Kami akan meng­ungsi dengan orang-orang sedesa. Buka daerah baru. Gelar!” pekik Galeng, “tiada kau jamu pamanmu ini?”

Gelar yang mema­suki umur­nya yang ke lima belas itu datang ber­la­rian.

“Meng­apa tidak, Bapak? Aku pun sedang mem­bantu masak,” ia ter­tawa pada Pada kemu­dian lari meng­hi­lang.

Wirang­gal­eng pergi ke sumur untuk men­cuci tangan dan kaki, dan Pada meng­i­kut­i­nya dari bela­kang.

“Pada!” tiba-tiba Galeng mene­ngok pada­nya. “Meng­apa kau tak juga kawin? Kami berdua hidup ber­ba­ha­gia. Aku lihat sudah ter­lalu lama kau men­cin­tai istriku.”

“Kang!” Pada ter­pe­kik, dan pekik­an­nya sama seperti yang disu­a­ra­k­an­nya di atas kapal dagang dulu.

“Matamu tak dapat bohongi aku, Pada.”

“Kang,” Pada menye­but lemah.

“Kau ter­lalu muda bagi­nya. Lagi pula dia bukan Islam. Dia men­cin­tai anak-anak­nya. Bahkan aku sen­diri tak men­da­pat bagian dari cin­ta­nya. Lebih baik kau ting­gal­kan Awis Kram­bil, Pada. Per­gi­lah kau ke kota. Cari­lah kabar yang betul di sana sambil cari-cari calon istri. Bukan salahku, Pada, kalau di selu­ruh Tuban hanya ada seo­rang Idayu. Juga bukan salahku meng­apa aku tak juga mati.”

“Ya, Kang, aku akan ke kota, Kang.”

“Kau sudah dilu­pa­kan oleh Sang Adi­pati. Cari­lah Liem Mo Han. Dia lebih banyak tahu dari hanya berita desas-desus.”

Sete­lah makan Pada minta diri. Ia ber­ja­lan lambat-lambat tanpa meno­leh.

Idayu, Wirang­gal­eng, Gelar dan Kum­bang meng­an­tar­kan sampai batas sawah. Kemu­dian suami-istri itu meng­i­kut­i­nya dengan pan­dang, sampai ia hilang di balik semak-semak petai cina. Gelar lari pulang,dan balik lagi mem­bawa kuda, melom­pat ke atas­nya.

“Biar aku antar­kan dia sampai ke desa ke dua!” kata­nya pada Wirang­gal­eng, dan tanpa menunggu jawaban ia memacu kuda­nya.

Ting­gal­lah suami-istri itu dan anak­nya yang bungsu.

“Mari naik,” Idayu meng­a­jak.

“Dia men­cin­tai kau, Idayu,” bisik sua­mi­nya.

“Kasihan. Begitu muda,” jawab Idayu dan mem­bu­ang muka.

“Sia­pa­kah lagi yang jatuh cinta padamu?”

Idayu naik ke atas tangga rumah, tak sudi mene­rus­kan per­ca­kapan seperti itu. Dan sua­mi­nya meng­i­kut­i­nya cepat-cepat dari bela­kang.

“Jadi kau sudah tahu?” tanya­nya.

“Dia takkan pergi ke kota. Dia masih takut pada hukum­an­nya. Mung­kin ke Lao Sam”.

“Makin jauh dari sini makin baik untuk­nya sen­diri.”

“Kum­bang! Ayoh naik!” seru Idayu. “Jangan jauh-jauh pergi. Abang mu tak ada. Macan-macan itu selalu meng­hin­dari jebakan.”

“Sudah kuka­ta­kan pada­nya, sayang hanya ada satu Idayu,” sua­mi­nya mene­rus­kan.

“Apa kau bica­ra­kan ini?” Idayu mem­pro­tes.

Tapi Wirang­gal­eng mena­rik­nya dan diba­wa­nya ia ke beranda gubuk yang meng­ha­dap ke jalan. Di keja­uhan, kepala kuda dan Gelar dan Pada masih keli­hatan di atas tajuk semak-semak petai cina.

“Macan itu tak mau mema­suki jebakan. Babi­nya bodoh dan macan­nya malas. Begi­tu­lah jadi­nya,” kata Idayu pada Kum­bang. Pondok itu ber­diri tinggi di atas tiang kayu nangka kuning, tetapi sele­bih­nya ter­buat dari­pada bambu. Dapur­nya pun berada di atas. Dan dari atas pula pan­dangan nampak sampai jauh-jauh di seki­tar rumah, sampai ke batas hutan dan sawah dan ladang. Duduk di lantai beranda begini Gateng merasa seperti di atas pang­gung gajah.

Dan kini para penung­gang kuda mulai timbul dan teng­ge­lam di balik semak-semak. Mereka masih juga meng­i­kuti dengan pan­dangan sampai mereka hilang sama sekali.

“Kau tahu apa yang dibawa Pada?”

“Mana aku tahu?”

‘Tiada sesu­atu, kecu­ali pemu­ja­an­nya kepa­damu.”

Idayu melengos kemu­dian masuk ke dalam bilik, Wirang­gal­eng mena­rik Kum­bang dan memang­ku­nya. Pan­dang­nya masih juga pada mereka yang lenyap di balik-balik semak, Ia ber­bi­sik pada Kum­bang: “Kenal­kah kau siapa Idayu?”

“Emak, Bapak.”

“Apa lagi?”

“Penari tanpa tan­dingan, Bapak.”

“Apa lagi?”

“Mak! Mak!” Kum­bang ber­seru memang­gil-mang­gil. “Apa lagi, Mak?”

“Husy! jangan minta ban­tuan makmu. Deng­ar­kan: jangan sampai lupa; orang ter­can­tik di selu­ruh negeri Tuban, Kum­bang, di selu­ruh jagad raya.”

Dan Kum­bang ter­tawa-tawa senang, kemu­dian melon­cat dari pang­kuan bapak­nya untuk meng­adu pada emak­nya. Tak lama kemu­dian ter­de­ngar dari dalam bilik suara Idayu: “Husy, jangan deng­ar­kan bapakmu.”

Dan Wirang­gal­eng duduk seo­rang diri di beranda menunggu keda­tangan Gelar. Semen­tara itu ia mulai memi­kir­kan kemung­kinan benar-tidak­nya berita Pada. Tidak! Treng­gono tidak boleh memu­lai perang tanpa akhir ini, kalau berita itu benar. Seo­rang Sultan harus lebih bijak­sana. Mung­kin dia memang bukan orang bukan bijak­sana. Kalau tidak dia takkan mem­bu­nuh abang sen­diri untuk jadi raja. Atau harus­kah dia mem­bu­nuh sau­dara sekan­dung justru untuk dapat mele­pas­kan nafsu tanpa ken­dali? Takkan ada orang lagi seperti Unus. Dengan alasan Islam ia per­sa­tu­kan raja-raja untuk meng­gem­pur Peranggi, dan kalah. Treng­gono tak bisa meng­gu­na­kan Islam jadi alasan. Hanya ada satu kera­jaan Islam di Jawa. Ia tak bisa cari sekutu. Kalau benar ia hendak kuasai Jawa, ia akan keha­bisan napas dan darah. Kalau betul – ia hanya kera­ku­san belaka – ingin lebih banyak tanah, lebih banyak orang yang takut takluk, men­de­ng­ar­kan dan men­ja­lan­kan perin­tah­nya. Sekali seo­rang raja memu­lai…. Tak pernah Jawa diper­sa­tu­kan tanpa per­sa­tuan selu­ruh Nusan­tara, kata Rama Clu­r­ing. Itu adalah keten­tuan Maha Dewa, Hyang Widhi, kata Rama pula.

Dari keja­uhan nampak kepala Gelar timbul teng­ge­lam dari atas tajuk semak-semak. Makin lama makin men­de­kat, kemu­dian muncul selu­ruh badan­nya dan kuda tung­gang­an­nya di ujung jalan sana.

Dia lebih pandai menung­gang kuda dari­pada aku, anak semuda ini. Tanpa guru.

Selang tiga bulan kemu­dian Pada datang. Lang­sung ia temui. Wirang­gal­eng di hutan sedang menu­run­kan air enau dari pohon. Kemu­dian ia meno­long­nya memi­kul­kan lodong-lodong bambu ke rumah.

Ber­sama-sama mereka mema­sak­nya agak jauh dari pondok, meng­gu­na­kan kuali tanah besar.

Pada waktu mema­sak itu bekas musa­fir Demak itu mulai ber­ce­rita ten­tang usaha Aji Usup meng­hu­bungi para raja di sebe­rang untuk duduk dalam armada gabungan memu­kul Malaka.

Wirang­gal­eng men­de­ng­ar­kan dengan diam-diam. Ia gem­bira tapi tidak menun­juk­kan pada tamu­nya.

Liem Mo Han telah men­ce­ri­ta­kan segala-gala­nya untuk dite­rus­kan pada saha­bat­nya itu kecu­ali satu hal: per­ti­kaian antara Ratu Aisah dan Sultan Treng­gono. Dalam hati ia meng­u­cap­kan syukur telah ada kese­pa­katan bulat di Demak untuk mengir­im­kan armada rak­sasa, lebih besar dari­pada bebe­rapa belas tahun yang lalu. Aceh juga akan menyum­bang­kan pasukan di sam­ping sen­diri akan ber­u­saha meng­u­sir Peranggi dari Pasai.

“Dan, Kang Galeng, sekali ini pasukan Bugis-Makasar yang gagah berani itu akan ikut serta juga. Mereka akan berang­kat lebih dahulu dan menunggu di Aceh. Aku lihat kau ber­si­nar-sinar, Kang.”

Gelar dan Kum­bang ber­la­rian men­da­pat­kan Pada.

“Paman keli­hatan kurus!” tegur Gelar.

“Dan kau nampak sema­kin gagah, Gelar. Hai, Kum­bang, sudah­kah ada makanan buat paman kurus yang kela­paran ini?”

“Tunggu!” sambut Kum­bang, dan ia lari men­daki tangga Ter­de­ngar ia ber­seru-seru pada emak­nya.

Idayu muncul di beranda pondok dan mene­gur keras-keras: “Pada Kaukah itu?”

“Akulah ini, Mbo­kayu. Kalau masak hati-hati,” Pada mem­per­i­ng­at­kan.

“Tentu, babi takkan ter­cam­pur dalam makan­anmu.”

“Gelar, kayu bakar itu sudah cukup kering, bawa ke bawah rumah” Wirang­gal­eng meme­rin­tah­kan anak­nya.

“Selu­ruh keku­atan akan dida­rat­kan. Perang laut akan dihin­dari”

“Tak bisa lain. Memang harus begitu,” Sena­pati Tuban itu meng­ang­guk dan mata­nya ber­si­nar-sinar, lupa bahwa ia hanya­lah seo­rang petani di sebuah desa per­ba­ta­san. Dan diu­la­ng­i­nya kata-kata yang disu­ka­i­nya itu, “Benar kata Rama Clu­r­ing, Jawa bisa diper­se­ku­tukan hanya dalam kesa­tuan Nusan­tara. Betapa aulia dia. Tapi benar­kah Treng­gono pewa­ris cita-cita Unus? Mung­kin­kah itu? Bukan­kah berita ter­da­hulu ia hendak mengu­a­sai selu­ruh Jawa? Apakah bukan kau yang salah dengar?”

“Itu cerita Babah Liem. Kau sen­diri menge­nal siapa dia. Kau ragu-ragu ter­ha­dap­nya?”

“Apa pun kera­gu­anku, Pada, peng­ha­lauan Peranggi dan Malaka adalah kunci, kunci segala.”

“Bayang­kan, Kang Galeng, ber­pu­luh-puluh kapal dan Jepara ber­ga­bung dengan kapal dari mana-mana, mem­be­lu­dag di atas laut. Sia­pa­kah takkan ber­be­sar hati jadi lak­sa­m­an­a­nya?” Pada diam.

Lelaki yang sedang meng­a­duk air enau men­di­dih di depan­nya itu ter­me­nung-menung.

“Dan barang­kali juga Tuban ikut serta di dalam­nya,” sam­bung­nya. Ia lihat Wirang­gal­eng meng­ge­leng tak ken­tara. “Kapal Jepara takkan kurang dari tujuh puluh!” “Baik, itu baik. Gelar, mari aku bantu. Terus­kan meng­a­duk, Pada”. Diting­gal­kan­nya Pada meng­a­duk bubur gula. Ia sen­diri meng­ang­kati kayu bakar mem­bantu anak­nya. Tak lama kemu­dian ia ber­seru-seru ke atas: “Jangan ter­lam­bat, Dayu. Sudah siap-belum kelapa paru­tan?”

Idayu turun dari rumah mem­bawa kelapa paru­tan di atas daun pisang, meng­ham­piri Pada, melem­par­kan kelapa itu ke dalam bubur gula. Dari tem­pat­nya Wirang­gal­eng dapat menang­kap pan­dang Pada yang mem­be­lai wajah dan tubuh istri­nya. Tiba-tiba hati­nya dili­puti oleh pera­saan duka mera­sa­kan kepa­hi­tan hidup saha­bat­nya. Cepat-cepat piki­ran­nya ia alih­kan pada Treng­gono jauh di sebe­lah barat sana.

Dalam hati-kecil­nya ia masih belum yakin Sultan Demak dapat ber­ba­lik pikir begitu cepat. Raja itu orang yang tidak mampu meme­gang, tidak mung­kin bisa ber­mu­fa­kat dengan orang lain. Kalau tidak dia takkan sampai mem­bu­nuh abang­nya sen­diri. Tak mudah orang dapat mening­gal­kan kera­ku­san. Bila toh benar Treng­gono hendak mengir­im­kan armada besar ke Malaka, barang tentu telah ter­jadi sesu­atu. Dan apakah sesu­atu itu? Adakah muncul orang ter­tentu yang begitu ber­pe­nga­ruh ter­ha­dap Sultan?

Sele­sai meng­ang­kuti kayu ia kem­bali meng­ham­piri Pada. Dan Idayu sedang mem­ba­ris­kan cetakan gula dari potongan-potongan ruas bambu.

“Apakah Liem Mo Han pernah meng­ha­dap Sultan?”

“Itu aku tak tahu.”

“Sudah, ting­gal­kan cetakan itu, biar kute­rus­kan.” Idayu pergi dan naik ke atas rumah.

“Barang­kali sudah ter­jadi sesu­atu yang baru di Demak?”

“Memang ada, Kang Galeng, datang­nya Fat­hil­lah, seka­rang ipar Sultan.”

“Aku kenal nama itu. Terus­kan, Pada.”

“Kabar­nya ia telah diang­kat jadi Pang­lima Demak. Selu­ruh pasukan darat kecu­ali pasukan kuda berada di tangan­nya, juga selu­ruh armada Demak.”

Dan ber­ce­ri­ta­lah Pada ten­tang segala yang dike­ta­hu­i­nya sambil tak mele­pas­kan per­ha­tian pada air muka Sena­pati Tuban akhir­nya: “Hm tam­pak­nya kau tak per­caya pada keam­puhan Fata­hil­lah. Kang, dia orang dari Pasai.”

“Ya, aku tahu. Dia pernah dika­lah­kan Peranggi di Pasai, Dia telah ting­gal­kan nege­ri­nya, makin jauh dari Peranggi. Mung­kin sema­kin jauh begitu dia akan sema­kin berani. Mung­kin­kah sete­lah sema­kin jauh begitu dia akan berani men­da­tangi Malaka? Aku ragu, Pada.”

“Tujuh puluh kapal, Kang Galeng, paling tidak dapat memuat sepu­luh ribu pra­ju­rit”

“Demak takkan punya keku­atan seba­nyak itu. Kau meng­impi. Padas”.

“Siapa dapat meli­hat dalam­nya telur, Kang Galeng. Dan itu belum lagi yang bakal ber­ga­bung. Dengan armada sema­cam itu ayam pun berani menyerbu Malaka.”

Wirang­gal­eng tetap ter­ma­ngu-mangu. Piki­ran­nya bekerja seakan ia kem­bali jadi Sena­pati Tuban. Tujuh puluh kapal besar, ditam­bah dengan yang bakal ber­ga­bung! Laut. Meriam. Armada Peranggi semua tiba-tiba jadi masa­lah­nya pri­badi. Dan kapal-kapal itu dira­sa­kan seperti kulit tubuh­nya sen­diri, dan layar seba­gai paru-paru­nya sen­diri. Dan piki­ran itu selalu men­jon­dil bila nama Treng­gono masuk ke dalam­nya. Mung­kin­kah telah ter­jadi per­u­ba­han pada Sultan? Tetapi pemi­pin pasukan kuda Demak tetap di tangan­nya….

Pada mulai menu­ang bubur gula ke dalam cetakan. Busa bubur itu telah surut ter­kena kelapa paru­tan dan kini mulai mengen­tal.

“Ada yang belum dika­ta­kan padamu, Kang. Jangan kau ter­ke­jut. Putra-putra Seme­nan­jung sen­diri juga akan ikut ber­ga­bung. Dan, dan, ada juga armada kecil Tiong­kok yang akan datang dari utara. Perang telah juga meng­ganggu per­a­iran Tiong­kok, sela­mat Kang.”

Wirang­gal­eng men­de­ng­ar­kan dengan hati-hati dan tetap dengan keragu-raguan pada pasukan Kuda Demak.

Waktu makan ber­sama Sena­pati Tuban itu telah teng­ge­lam dalam piki­ran­nya. Ia belum dapat mem­per­ca­yai selu­r­uh­nya. Ia lebih banyak men­cu­r­ah­kan per­ha­ti­an­nya pada Treng­gono, karena dialah kunci Nusan­tara seka­rang. Tak ada sesu­atu yang baik yang dapat diha­rap­kan keluar dari per­bu­atan seo­rang pem­bu­nuh sau­dara. Idayu mem­per­ha­ti­kan raut muka dua orang lelaki itu ber­ganti-ganti. Dan ia men­coba meng­a­lih­kan sua­sana dengan bicara soal makanan dan per­bu­r­uan dan per­la­dangan. Tak ber­ha­sil.

Sete­lah sele­sai makan, kecu­ali Pada, semua minum tuwak.

Dan orang lelaki itu kemu­dian mena­rik diri dan ber­ti­duran di gela­dak serambi. Dan waktu matari mulai con­dong ke barat Sena­pati Tuban mem­ba­ngun­kan tamu­nya, mem­be­ri­ta­hu­kan sudah tiba waktu bagi­nya untuk ber­se­m­bah­yang.

“Dan akan terus turun ke sawah. Pada, Gelar! Kau yang mem­bawa sapi!”

“Aku ikut,” kata Pada.

“Kau belum lagi ber­se­m­bah­yang.”

“Nanti di sawah sana.”

Dan mereka pun turun, berang­kat ke sawah. Yang ter­ting­gal di rumah hanya Idayu dan Kum­bang.

Sawah itu ber­sam­bungan dengan sawah desa. Dari air buangan itu ia meng­ge­nangi sawah­nya sen­diri. Dan tidak dapat dika­ta­kan luas, kurang dari satu bahu dan dita­nami sekali saja dalam seta­hun untuk meng­ha­sil­kan beras selama seta­hun penuh, bahkan ber­le­bihan. Di musim kering ia ber­la­dang dan sawah ia ting­gal­kan jadi padang rumput.

Pada dan Gelar meng­garu ber­gan­tian. Wirang­gal­eng meng­han­cur­kan bong­kahan tanah di pojo­kan petak sawah yang tak ter­kena garu. Dan bong­kah-bong­kah tanah yang ter­kena mata garu itu pecah dan larut jadi lumpur. Anjing tanah dan kela­bang dan jeng­ke­rik ber­a­pungan, bere­nang men­cari daratan kering di tang­gul-tang­gul, menye­la­mat­kan diri dari kebi­na­saan. Gelar men­cam­buki bina­tang-bina­tang itu sambil menya­nyi menyeng­gaki Pada di atas luku yang sedang men­den­dang­kan kisah para nabi.

Di sawah desa tiada seo­rang pun nampak bekerja, karena memang belum wak­tu­nya.

Dalam men­cang­kul seo­rang diri di pojo­kan petak piki­ran Wirang­gal­eng tetap ter­cen­cang pada Treng­gono. Muka dan selu­ruh badan­nya ber­ge­li­mang lumpur. Orang takkan menge­nal­nya lagi. Antara seben­tar ia cuci muka­nya dengan air lumpur yang agak bening, tapi tak lama kemu­dian lumpur menu­tup muka­nya lagi.

“Orang yang tak pernah men­cang­kul tanah­nya sen­diri itu yang justru paling banyak ting­kah mengu­rus­nya,” pikir­nya kemu­dian. “Kalau Treng­gono pernah men­cang­kul begini, mung­kin tak ada piki­ran pada­nya untuk mer­a­yah tanah orang lain.”

Dan pada waktu itu datang seo­rang penung­gang kuda, ber­seru-seru lan­tang: “Sena­pa­tiku! Sena­pa­tiku!”

Wirang­gal­eng men­caup air yang nampak agak bening, menyeka muka­nya, dan dari balik peman­dangan yang agak kabur dili­hat­nya seo­rang pra­ju­rit penga­wal Tuban dan meng­ham­piri.

“Sini!” balas Wirang­gal­eng. Dengan masih mem­bawa cang­kul ia naik ke atas pema­tang.

Pra­ju­rit itu melom­pat turun dari kuda, lari men­da­pat­kan­nya, ber­su­jud dan menyem­bah.

“Bangun!” bentak Sena­pati Tuban. “Apa arti­nya semua ini?”

“Sahaya menga­wal Gusti Patih Tuban Sang Wira­bumi, datang untuk mengun­jungi Sena­pa­tiku. Gajah­nya masih agak jauh di bela­kang”

’Dengan gajah. Dia datang seba­gai Patih Tuban,’ pikir Wirang­gal­eng,

“Urus kudamu.”

Kemu­dian ia men­ce­bur­kan diri ke dalam saluran sawah, mandi di dalam air kuning itu, meng­go­sok badan dengan celana yang habis dicu­ci­nya.

“Tani begini, pra­ju­rit, tak pernah ber­ku­lit bersih.”

“Sena­pa­tiku, sahaya pun anak petani.”

“Dan kau lebih suka jadi pra­ju­rit penga­wal dari­pada tani, bukan?”

“Sahaya, Sena­pa­tiku.”

“Jangan pang­gil aku Sena­pati, aku si petani kotor,” kata­nya sambil menge­na­kan cela­na­nya yang basah dan melom­pat naik ke atas tang­guk

“Masa Sena­pa­tiku lupa pada bidai kep­ra­ju­r­i­tan: Selama musuh ada, belum ada atau sudah dika­lah­kan, Sena­pati tetap Sena­pati? Mari­lah Sena­pa­tiku, datang menyong­song Gusti Patih Kala Cuwil Sang Wira­bumi”

“Berang­kat kau dulu, Pra­ju­rit! Aku tak menyong­song siapa pun.”

“Ampun, Sena­pa­tiku, bukan maksud sahaya….”

“Berang­kat!” perin­tah­nya.

Pra­ju­rit itu meng­ang­kat sembah, menun­tun kuda­nya dan pergi ke arah datang­nya.

“Ada sesu­atu yang sedang ter­jadi di Tuban, Kang,” Pada menu­kas “Tuban mem­bu­tuh­kan seo­rang Wirang­gal­eng.”

“Husy!”

“Dan sekali ini aku pasti akan ikut deng­anmu. Tidak untuk kau suruh melom­pat ke laut.”

Gelar meng­i­kuti per­ca­kapan itu tanpa meng­erti duduk per­kara.

“Lebih baik kau pergi seka­rang, Kang. Kami berdua akan sele­sai­kan petak ini.”

“Pergi dengan seluar basah begini?”

“Betul juga.”

Dari keja­uhan ter­de­ngar sorak orang-orang desa.

“Itulah barang­kali Gusti Patih Tuban,” Gelar naik ke tang­gul dan men­de­ngar-deng­ar­kan.

“Hari ini kita bekerja sampai di sini Paman, mari mandi.” Wirang­gal­eng pergi mening­gal­kan mereka berdua.

Sete­lah keluar dari hutan muda dari keja­uhan nampak oleh­nya gajah ken­da­raan Sang Patih diapit oleh pra­ju­rit-pra­ju­rit ber­kuda ber­sen­ja­ta­kan tombak. Kala Cuwil ber­diri di atas ben­tengan kayu mene­rima sembah pen­du­duk desa, tangan kiri ber­to­lak ping­gang, tangan kanan men­ja­wabi sembah dengan lam­baian tidak ken­tara. Des­tar­nya gemer­lapan karena intan-intan yang meng­hi­asi­nya sedang ber­cum­buan dengan sinar matari senja.

Dan di bela­kang­nya orang-orang desa segera ber­diri dari sujud dan sembah dan kemu­dian ber­so­rak riuh.

Ia ber­henti seje­nak untuk meli­hat Kala Cuwil dengan kebe­sar­an­nya, meng­ge­leng-geleng, ter­se­nyum, kemu­dian lang­sung menuju ke pon­dok­nya. Dili­hat­nya Idayu dan Kum­bang telah turun dari rumah untuk menyam­but, dan ia meng­ga­bung­kan diri dengan anak dan istri­nya.

Di hadapan mereka mem­ben­tang pan­jang jalanan yang dibi­kin oleh desa sampai ke depan pondok. Dan gajah itu telah mema­suki jalanan baru itu. Pasukan penga­wal kadi­pa­ten itu menge­d­rap kuda­nya sei­ringan dengan gajah yang ber­ja­lan lambat. Di bela­kang­nya semua pen­du­duk desa meng­iring­kan.

Makin lama gajah itu makin dekat, makin men­de­kati pondok. Penga­wal yang di depan mele­pas­kan diri dari barisan dan seperti mela­yang meng­ham­piri pondok, ber­henti di hadapan Wirang­gal­eng dan meng­ang­kat tombak mereka. Seo­rang di anta­ra­nya ber­seru: “Sena­pa­tiku! Patih Tuban Kala Cuwil Sang Wira­bumi ber­ke­nan datang untuk ber­kun­jung.”

“Wirang­gal­eng sudah menunggu,” jawab Sena­pati.

Pra­ju­rit-pra­ju­rit itu seren­tak menu­run­kan tom­bak­nya dan kem­bali meng­ga­bung­kan diri pada baris­an­nya.

Gajah itu sema­kin dekat, makin dekat. Dua puluh depa dari pondok bina­tang dalam apitan barisan itu ber­henti.

Kala Cuwil ber­diri dalam ben­tengan, meng­ang­kat tangan kanan dan ber­seru: “Sena­pa­tiku! Patih Tuban Kala Cuwil Sang Wira­bumi datang ber­kun­jung.”

“Masuk­lah, Sang Wira­bumi!”

Gajah itu ber­lu­tut, kemu­dian men­de­kam. Kala Cuwil turun dan meng­ang­kat sembah dada pada Sena­pati. Dan Wirang­gal­eng tidak mem­ba­las­nya. Idayu ber­lu­tut menyem­bah­nya dan Kum­bang ber­sim­puh, menyem­bah pula.

Jalanan itu telah penuh dengan semua pen­du­duk desa, juga dari desa-desa lain. Kepala dan tetua desa keluar dari rak­yat­nya, meng­ham­piri Sang Patih, ber­su­jud dan men­cium kaki ber­gan­tian.

Kala Cuwil dan Wirang­gal­eng serta kelu­arga naik ke rumah. Dari ben­tengan kayu di atas gajah orang menu­run­kan kran­jang-kran­jang garam dan ikan asin dan trasi dan mema­suk­kan­nya ke pondok Idayu. Pen­du­duk desa masih pada duduk di jalanan menunggu perin­tah dari Sang Patih Tuban.

“Kau datang seba­gai Patih Tuban dengan segala kebe­saran, Kala Cuwil,” Wirang­gal­eng memu­lai.

“Tetap seba­gai teman, Sena­pa­tiku.”

“Kau harus meng­i­nap. Seben­tar lagi malam.”

“Ya, kami semua harus meng­i­nap.”

“Kepala desa nanti akan meng­a­tur sega­la­nya.”

“Bagai­mana kese­hatan Sena­pa­tiku dan kelu­arga?”

“Sama­lah dengan Sang Patih Tuban.”

‘ah’

“Nam­pak­nya kau sudah sangat ber­ku­asa, Kala Cuwil.”

“Keris Sena­pa­tiku yang bikin aku jadi patih ini.”

Wirang­gal­eng merasa ter­sing­gung men­de­ngar jawaban itu. Ia tidak men­duga tamu­nya sudah begitu beru­bah dan mabok keku­a­saan, sehingga kema­tian Sang Patih lama diang­gap­nya seba­gai pen­du­kung atas keku­a­sa­an­nya.

Kala Cuwil mem­per­ha­ti­kan pakaian tuan rumah yang kuning ter­cam­pur lumpur. Kemu­dian ter­de­ngar sua­ra­nya yang di ucap­kan dengan gaya pem­be­sar ter­ha­dap bawahan: “Mana Gelar, anak Sena­pa­tiku?”!’

“Uah, anak desa, masih di sawah. Senja ini baru akan pulang”

Dan Kala Cuwil belum juga menga­ta­kan apa maksud keda­tangan­nya, Wirang­gal­eng mem­per­ha­ti­kan air muka tamu­nya dengan was­pada. Patih Tuban itu men­de­kat­i­nya, mem­bi­sik­kan sesu­atu, kemu­dian ter­tawa ter­ba­hak. Tetapi tuan rumah tidak menyer­ta­i­nya ter­tawa.

“Aku bisa bayang­kan,” Sena­pati meng­ang­guk-angguk, “betapa suli mela­yani orang tua yang sema­kin bawel dan ber­ting­kah. Lihat, akan kau biar­kan kawu­lamu, pen­du­duk desa ini ber­sim­puh meng­hor­mati begitu rupa?”

“Tiada kul­i­hat mereka.”

“Kau hanya meli­hat ke atas. Kala Cuwil,” ia turun, menyu­ruh pen­du­duk pulang, menyi­ap­kan san­tapan malam dan peng­i­napan untuk tamu agung. Ia mem­be­ri­kan petun­juk khusus pada kepala desa.

Waktu ia naik kem­bali Sang Patih sedang bicara dengan Idayu ter­de­ngar oleh­nya buntut kata-kata Idayu: “Si Kum­bang belum cukup dia keloni. Gusti.”

Wirang­gal­eng meng­hen­ti­kan lang­kah­nya. Ia lihat Idayu dengan ter­buru-buru seperti orang marah, mena­rik Kum­bang, meme­luk­nya kemu­dian diba­wa­nya masuk ke dalam bilik. Ia masih sempat meli­hat Kala Cuwil mem­ba­lik­kan badan untuk menunggu keda­tang­a­an­nya. Kemu­dian dari dalam bilik ter­de­ngar oleh­nya suara istri­nya; “Nasibmu, Nak, nasibmu.”

Wirang­gal­eng meng­a­wasi Sang Patih dengan mata curiga “Bukan mak­sudku, juga bukan kehen­dakku. Sena­pa­tiku. Sang Adi­pati memang­gil kem­bali Sang Sena­pati. Sena­pati telah diang­kat jadi pim­pinan gugusan Tuban untuk ke Malaka. Lima ratus orang ada Sena­pa­tiku, seperti bebe­rapa belas tahun yang lalu.”

Wirang­gal­eng ter­du­duk di ambin. Ia ter­pu­kau. pada sesu­atu yang justru tidak dili­hat­nya. Tangan­nya men­de­kam paha kemu­dian beru­bah jadi tinju.

“Sena­pa­tiku! Aku datang seba­gai Patih Tuban Sang Wira­bumi.”

Wirang­gal­eng tak men­ja­wab. Bibir­nya ter­ta­rik lem­pang dan meng­em­bus­kan napas desis.

“Bukan­kah Sena­pa­tiku masih kawula Tuban?”

Wirang­gal­eng mena­rik kedua belah leng­an­nya jadi siku-siku dan menom­pang­kan tinju pada kedua belah paha­nya. Duduk­nya tegak, gigi­nya ber­ke­rut. Dari dalam bilik dia dengar suara istri­nya, tak jelas.

“Sena­pa­tiku belum juga men­ja­wab.”

Tuan rumah bang­kit ber­diri, melang­kah cepat-cepat masuk ke dalam bilik, dan tamu itu men­de­ngar suatu per­ca­kapan pelahan antara suami dan istri. Agak lama. Kemu­dian, tanpa didu­ga­nya, ter­de­ngar suara Idayu kesal: “Semua yang ber­ba­haya dan berat dibe­ri­kan kepa­damu. Bakal men­da­pat apa anak-anak ini nan­ti­nya?”


Bab 31

Kembali ke Malaka

Memang ber­beda dengan peris­tiwa tahun 1275 Masehi.

Dahulu itu bandar Tuban penuh dengan umbul-umbul dan sorak-sorai yang ber­ku­man­dang seperti guruh. Pen­deta-pen­deta Buddha dengan jubah kuning meng­ge­me­rin­cing­kan giring-giring naik-turun ke kapal-kapal, tiga puluh buah banyak­nya, untuk mem­be­ri­kan restu. Sri Baginda Kar­ta­ne­gara, raja Singo­sari sen­diri meng­an­tar­kan berang­kat­nya armada yang dipim­pin oleh Raden Wijaya dan seo­rang admi­ral yang kelak ter­ke­nal dengan nama Mahesa Anab­rang. Baginda ber­sabda: Eks­pe­disi mil­iter ini harus ber­ha­sil, harus, demi Maha Buddha. Kalau tidak, Jawa akan remuk dilin­das keku­atan Jeng­his Khan.

Dan berang­kat­lah armada itu untuk mema­suki daerah-daerah yang diper­ki­ra­kan bisa jadi pang­kalan armada kera­jaan langit Jeng­his Khan! Sekali arma­da­nya ber­ha­sil menu­suk ke selatan, memun­tah­kan balat­en­ta­ra­nya yang ter­masy­hur penung­gang kuda dan lebih masy­hur juga akan kega­nas­an­nya, maka Jawa dan Nusan­tara takkan bangun lagi. Maka Sri Baginda Kar­ta­ne­gara telah meme­rin­tah­kan: per­sa­tu­kan Nusan­tara. Setiap pulau harus jadi ben­teng ter­ha­dap serangan dari utara: Dan dengan demi­kian armada Singo­sari muncul dengan segala kebe­saran negeri-negeri Melayu.

Dua ratus tiga puluh tiga tahun kemu­dian, pada 1523 Masehi, berang­kat pula sebuah armada eks­pe­disi mil­iter. Tidak ke daerah Melayu, tetapi ke Malaka. Tidak dengan umbul-umbul dan upa­cara, tanpa pen­deta-pen­deta Buddha mem­bawa giring-giring, tidak dengan tiga puluh kapal perang tetapi dengan tiga puluh buah jung! Tidak dian­tar­kan­kan Sang Adi­pati Tuban, hanya oleh Patih Sang Wira­bumi. Tidak ada sorak sorai. Semua yang meng­an­tar­kan, semua pen­du­duk kota menon­ton dengan diam-diam, dan curiga. Bahkan Sang Adi­pati meno­lak menye­rah­kan dua pucuk meriam. Juga dalam dada mereka yang meng­an­tar­kan tanpa sorak telah ter­ja­lari pera­saan umum: mereka pergi untuk tidak kan kem­bali. Mereka balat­en­tara dari gugusan Tuban itu.

“Baik,” kata Wirang­gal­eng pada Kala Cuwil yang ber­diri di der­maga. “Kami akan berang­kat seba­gai hukuman.”

“Patih Tuban tidak meng­hu­kum siapa pun, Sena­pa­tiku. Semua atas perin­tah lang­sung Sang Adi­pati.”

“Ingat-ingat ini: Wirang­gal­eng takkan kem­bali ke negeri ini sebe­lum Sang Adi­pati mati.”

“Sena­pa­tiku, Kala Cuwil tak bisa ber­buat apa-apa.”

“Ada! Kata­kan padaku, jung-jung siapa semua ini?”

“Jung-jung para peda­gang Tiong­hoa, Sena­pa­tiku, dita­rik dari mana-mana bandar oleh Liem Mo Han. Sena­pa­tiku nanti akan ber­temu deng­an­nya di Lao Sam. Sang Adi­pati tak sudi menye­rah­kan kapal barang sebuah pun.”

“Lima ratus orang dise­rah­kan untuk jadi per­bu­r­uan kapal Peranggi! Kami diha­rap­kan jadi makanan hiu. Tak dapat ber­ta­han sedi­kit pun ter­ha­dap Peranggi. Baik, kami jalani hukuman mati ini.”

“Kala Cuwil tak dapat ber­buat apa-apa.”

Wirang­gal­eng tak meng­gub­ris ulangan itu. Dengan geram ia mema­suki jung­nya dii­ring­kan oleh Pada. Sunyi-senyap di dalam jung itu: ia jatuh­kan perin­tah berang­kat. Dan jung-jung itu mulai ber­to­lak. Tiada orang bicara.

Pra­ju­rit laut yang dibe­rang­kat­kan ber­ta­nya-tanya dalam hati: Apa kesal­ahan maka Sang Adi­pati ber­laku demi­kian ter­ha­dap kawula sen­diri, dan siapa sesung­guh­nya yang meng­a­ju­kan nama­nya untuk menyer­tai eks­pe­disi ini?

Mereka sen­diri sak­si­kan betapa geram pemim­pin­nya, Sena­pati Wirang­gal­eng. Dan orang meli­hat, tak seo­rang pun di antara kelu­arga Sena­pati datang meng­un­tap­kan kebe­rang­kat­an­nya. Orang pun menge­ta­hui: Idayu telah menya­ta­kan seumur hidup takkan sudi meng­in­jak­kan kaki di ibu kota negeri Tuban. Bahkan anak­nya mema­suki umur lima belas itu tidak meng­an­tar­kan – suatu hal yang diang­gap tidak patut bagi seo­rang anak Sena­pati. Dan ditam­bah lagi dengan sumpah Wirang­gal­eng sen­diri yang takkan kem­bali lagi ke Tuban sebe­lum Sang Adi­pati mati.

Setiap orang punya piki­ran­nya sen­diri. Juga Sena­pati. Ia masih sempat menge­nang­kan peris­tiwa manis sebe­lum berang­kat mening­gal­kan Awis Kram­bil. Anak-anak itu ber­sim­puh dan men­cium kaki­nya, ber­janji akan mene­mani, mem­bantu dan mem­bela ibu mereka. Dan Idayu, ah, wanita yang selalu diting­gal­kan­nya itu – ia tak bicara apa-apa. Hanya mata merah­nya menga­ta­kan segala-gala­nya; protes keras tak ter­u­cap­kan ter­ha­dap Sang Adi­pati. Dan selu­ruh pen­du­duk desa datang untuk meng­u­cap­kan sela­mat jalan. Wanita pada mena­ngis untuk Idayu, dan pria mene­kur meng­he­rani kepu­tusan Sang Adi­pati mondar-mandir ter­ha­dap anak desa yang per­wira itu. Ia naik ke atas ben­teng pen­du­duk: “Jaga Nyi Gede Idayu dan anak-anak­nya. Urus kese­la­matan dan kese­jah­te­raan mereka.”

Di Tuban Kota Sang Adi­pati meno­lak diha­dap. Dan seka­rang jung-jung, bukan kapal perang untuk berang­kat ke medan perang.

Lain lagi halnya dengan Pada. Ber­kali-kali ia meng­u­cap­kan syukur alham­dul­il­lah karena kebe­rang­kat­an­nya. Seti­dak-tidak­nya ia merasa men­da­pat­kan kem­bali kemer­de­ka­an­nya. Sema­kin jauh jung-jung ben­dera itu mening­gal­kan pantai, sema­kin mudah ia dapat menyu­sun piki­ran­nya.

Di Awis Kram­bil ia merasa otak dan hati­nya ter­be­lenggu. Salah seo­rang isi rumah di ping­gir hutan itu terus juga men­dayu-dayu memang­gil­nya. Kalau­lah tidak disu­ruh Wirang­gal­eng tak bakal ia dapat mening­gal­kan desa per­ba­ta­san itu untuk mene­mui Liem Mo Han.

Pada hari per­tama keda­tangan­nya di Lao Sam ia diajak Liem Mo Han ber­la­lan-jalan sepan­jang Dusun, menik­mati peman­dangan pantai yang dijaga oleh bukit-bukit rumah. Suara Gabah Liem tinggi menu­suk. Seka­li­pun dalam tiupan angin keras terus-mene­rus, sua­ra­nya tetap tak menye­nang­kan masuk ke pen­de­ng­ar­an­nya. Dan ia ingat sepa­tah demi sepa­tah. “Memang banyak bandar-bandar yang meno­lak ber­ga­bung, kira-kira takut pada pem­ba­lasan Peranggi bila serangan gagal. Memang sulit untuk dapat mera­mal­kan. Semes­ti­nya Malaka dengan mudah bisa dija­tuh­kan. Ada suatu kele­mahan umum pada mereka: pen­ja­ga­an­nya di bela­kang tidak serapi yang di depan. Penye­rangan dari barisan pung­gung­nya akan mem­bi­kin mereka kocar-kacir. Kita akan laku­kan itu.”

Dan ia ber­ta­nya: “Kita? Maksud Babah Tiong­kok juga akan ikut serta?”

Dan Liem Mo Han men­ja­wab: “Tidak, kami hanya peran­tauan buangan dari Tiong­kok. Kami hanya bisa mem­bantu dengan apa saja yang dapat kami ban­tu­kan. Kami hanya peda­gang, bukan pra­ju­rit. Aku sudah usa­ha­kan agar ada kesa­tuan Tiong­kok ikut ber­ga­bung. Mereka menyang­gupi dan akan ditu­run­kan dari Teluk Tonkin.”

“Siapa mereka itu?”

Liem Mo Han tak men­ja­wab, hanya ber­kata, “Aku sebe­nar­nya malu tak mampu menyer­tai di medan perang nanti. Sudah dise­ru­kan di mana-mana negeri supaya orang-orang Tiong­hoa punya per­ha­tian dan ikut ber­ga­bung dalam penye­rangan umum. Belum jelas apa jadi­nya nanti. Kesa­tuan Tiong­kok akan serta. Semoga ber­ha­sil.”

Kata-kata itu sama sul­it­nya untuk dapat ia pahami dengan ting­kah hati­nya sen­diri yang meng­im­pi­kan Idayu, istri dari seo­rang saha­bat Wirang­gal­eng, dan ber­harga bagi dir­i­nya sen­diri.

Selu­ruh awak jung yang tiga puluh buah itu tak ber­ba­hasa Jawa atau Melayu. Semua orang Tiong­hoa totok, dan nam­pak­nya semua mereka meng­hin­dari per­ca­kapan dengan para pra­ju­rit. Bila ter­paksa hanya bahasa gerak yang diper­gu­na­kan.

Seba­gian kecil dari awak kapal ber­a­gama Islam dan pada setiap kesem­patan ikut ber­je­maat.

Di Lao Sam armada jung itu ber­la­buh.

Liem Mo Han men­jem­put Wirang­gal­eng dan mene­mu­kan Pada ikut serta.

“Tak perlu lama-lama ber­la­buh di sini,” pesan Babah Liem. “Sena­pa­tiku bisa ter­ting­gal oleh armada Jepara.”

Semen­tara itu dari der­maga dipung­gah ke dalam jung-jung itu bahan makanan, pakaian dan sen­jata.

“Juga tidak perlu ber­ma­lam di Jepara. Bila sudah sampai di Seme­nan­jung, meman­tai sebe­lah barat Suma­tra, Sena­pa­tiku men­da­rat di mana saja di sebe­lah utara Malaka. Pasukan-pasukan Aceh sudah tahu di mana harus men­da­rat. Bila Sena­pa­tiku sampai di Aceh, pasukan gabungan Aceh-Bugis sudah menunggu di sana.”

Wirang­gal­eng ter­he­ran-heran meng­apa kata-kata saha­bat­nya begitu kacau, dan meng­apa dia yang mem­be­ri­kan petun­juk kemi­l­it­e­ran dan bukan Pang­lima Demak Fat­hil­lah. Ia tatap saha­bat­nya dengan pan­dang tidak meng­erti.

Meli­hat itu Liem Mo Han mene­rus­kan dengan gugup: “Ya, Sena­pa­tiku, sahaya hanya mene­rus­kan pesan Gusti Ratu Aisah, Ibunda Sultan. Tuban, Aceh dan Bugis akan meru­pa­kan satu kesa­tuan ter­sen­diri. Demak akan menye­rang dari sebe­lah selatan seba­gai kesa­tuan ter­sen­diri pula, dan akan mela­ku­kan pen­da­ratan dari sebe­lah timur Seme­nan­jung. Boleh jadi armada Demak sudah berang­kat ter­le­bih dahulu. Atau lebih kemu­dian.”

Wirang­gal­eng sema­kin ter­he­ran-heran. Bagai­mana bisa demi­kian? Ia tak ber­ta­nya lebih lanjut. Ia curiga. Ia anggap Liem Mo Han tak mem­pu­nyai sesu­atu hak untuk mem­be­ri­nya petun­juk barang sedi­kit pun di bidang ini. Dan ia mena­tap­nya dengan curiga.

Dan Liem Mo Han ber­u­saha untuk tidak bicara lagi, men­cari dalih untuk segera dapat meng­hin­dar­i­nya.

Sena­pati Tuban meng­u­cap­kan terima kasih atas usa­ha­nya men­da­pat­kan jung seba­nyak itu.

Pada ber­u­saha menyer­tai bicara, tetapi Liem Mo Han hanya meng­hor­mat­i­nya dengan sopan kemu­dian meng­un­dur­kan diri, dengan dalih yang tidak masuk di akal.

Armada jung mene­rus­kan pela­yaran. Sua­sana tetap: suram ber­ta­nya-tanya.

Walau telah dipe­san oleh Liem Mo Han agar tak ber­ma­lam di Jepara, Wirang­gal­eng memu­tus­kan untuk sing­gah dan men­cari kete­rangan yang benar. Ia ingin men­da­pat­kan petun­juk dan perin­tah lang­sung dari Fat­hil­lah. Ia meli­hat Pada nampak bingung, kha­wa­tir dibang­kit-bang­kit, maka ia sengaja tak hendak ber­ta­nya pada­nya.

Sedang Pada sen­diri pun tidak meng­erti meng­apa Liem Mo Han men­jadi begitu aneh. Ter­ha­dap dir­i­nya pun ia ber­si­kap seolah tak menge­nal, seakan bukan lagi seo­rang ayah angkat. Dan nampak oleh­nya orang itu gugup dan ingin segera pergi meng­a­khiri per­te­muan itu.

Armada jung itu ber­la­yar terus dalam sua­sana muram.

“Kosong!” seru Wirang­gal­eng waktu dari jung ben­dera ia meli­hat pela­buhan Jepara kosong.

Hanya sebuah kapal perang nampak, dan itulah kapal ben­dera Adi­pati Unus yang dipa­jang di pela­buhan.

“Tak keli­hatan barang sebuah pun kecu­ali yang satu itu!” seru­nya geram.

Bekas kapal ben­dera itu ber­ge­leng-geleng lemah. Ber­be­las tahun lama­nya men­ja­lan­kan perin­tah Unus untuk jadi ton­tonan ummat manu­sia seba­gai kapal yang pernah ber­tem­pur mela­wan Peranggi sile­lan­a­nging jagad. Seka­li­pun kalah dan dika­lah­kan dia pernah mela­wan!

Dan kapal pameran itu seakan dimak­sud­kan seba­gai lam­bang kapal mana pun bisa mela­wan Peranggi.

Adi­pati Unus telah mela­rang dia­da­kan­nya per­ba­ikan sete­lah 1513.

Tiang-tiang layar dibi­ar­kan patah, halu­an­nya ter­peng­gal, bahkan kaki cet­bang­nya ter­ba­lik dengan tubuh ting­gal seba­gian kecil. Din­ding­nya yang com­p­lak ting­gal menga­nga. Per­ba­ikan yang diper­ke­nan­kan hanya atas keru­sakan yang bisa mem­bi­kin kapal itu teng­ge­lam. Dan semua orang diper­ke­nan­kan naik ke atas­nya untuk menon­ton.

Sultan Treng­gono tak suka meli­hat­nya. Ia tak pernah meme­rin­tah­kan untuk meneng­ge­lam­kan­nya. Hanya peker­jaan pera­watan tak diper­ke­nan­kan dite­rus­kan.

Dengan demi­kian bekas kapal ben­dera itu dina­ma­i­kan satu itu.

Lima ratus pra­ju­rit laut Tuban yang ber­se­ma­ngat rendah sejak mancal, meli­hat keko­songan Jepara seperti meli­hat bekas pesta. Di mana-mana nampak daun bekas pem­bung­kus yang ber­se­baran dan ber­main-main ditiup angin. Dan kalau selama pela­yaran mereka banyak ter­me­nung-menung, seka­rang mereka mulai ber­te­riak-teriak: ”Kurang ajar! Tak tahu diun­tung!”

Wirang­gal­eng dapat meng­erti pera­saan anak buah­nya. Pera­saan mereka adalah juga pera­sa­an­nya sen­diri. Ia telah men­duga ada peng­khi­a­natan ter­se­m­bu­nyi dalam perin­tah pem­be­rang­katan ini. Ia belum tahu apa dan bagai­mana. Bahkan ia pun mulai men­cu­r­i­gai Pada. Bagai­man­a­pun saha­bat­nya itu bekas seo­rang musa­fir Demak, dan mung­kin masih tetap seo­rang musa­fir Treng­gono.

Jung ben­dera mulai mele­wati yang satu itu, mema­suki selat antara pulau Kelar dan pulau Pan­jang. Sena­pati Tuban itu memer­lu­kan meng­ang­kat sembah pada gam­baran gaib Adi­pati Unus. Dan jung menuju lang­sung ke pela­buhan.

Bandar itu sunyi walau­pun di mana-mana ter­pa­sang umbul-umbul segala warna. Galangan dan beng­kel sama sekali ber­henti bekerja. Bahkan Syah­ban­dar pun tak nampak men­jem­put, seba­lik­nya seo­rang wanita tua ber­pa­yung hitam, ber­diri, ber­sama seo­rang gadis, di sam­ping sebuah tandu yang ter­ge­le­tak di atas tanah. Para penandu nampak duduk-duduk di keja­uhan menon­ton ber­la­buh­nya armada aneh itu. Wirang­gal­eng men­da­rat dengan wajah merah padam.

“Anakku,” tegur wanita tua ber­pa­kaian serba hitam itu. “Sudah kami duga kau akan sing­gah.”

Sena­pati Tuban segera ter­i­ngat pada wanita tua itu. Ia ber­sim­puh dan menyem­bah: “Gusti Ratu, patik sing­gah.”

“Armada Jepara telah berang­kat men­da­hu­lui. Tentu Babah Liem sudah sam­pai­kan sega­la­nya padamu, Wirang­gal­eng, Sena­pati Tuban. Jangan ber­ke­cil hati, karena kau, anakku, akan mem­ben­tuk kesa­tuan sen­diri dengan Aceh dan Bugis. Teri­ma­lah ini, cincin yang pernah dibawa dan dike­na­kan almar­hum Unus waktu menye­rang Malaka, per­tanda kau diberi wewe­nang oleh Jepara dan Demak. Sri Baginda Sultan Treng­gono meres­tui kau. Sena­pati Tuban. Allah akan memim­pin dan mem­ber­kati dan melin­dungi kau dan semua anak buahmu, demi doa kami. Insya Allah sela­mat dan ber­ha­sil.”

Wanita tua itu minta Wirang­gal­eng meng­u­lu­r­kan tangan-kanan­nya, kemu­dian mema­sang­kan cincin. Dan Sena­pati mem­ba­las dengan sembah dan beribu terima kasih dengan keper­ca­yaan itu.

Ia mem­be­ra­ni­kan diri meng­ang­kat muka dan ber­ta­nya: “Ya, Gusti Ratu, apakah gerangan sebab­nya pasukan kami diang­kut dengan jung Tiong­hoa, bukan dengan kapal perang seba­gai­mana layak­nya?”

“Jangan ber­ta­nya, anakku, karena itulah kiriman Allah dan bukan seka­dar manu­sia yang meng­u­sa­ha­kan.”

“Bagai­man­akah jung-jung ini tanpa barisan pen­da­yung untuk bisa ber­ga­bung dengan armada Jepara-Demak?”

“Jalan dan tugasmu telah diten­tu­kan, anakku. Lepas­kan armada Jepara-Demak dari piki­ranmu.”

“Armada jung ini takkan dapat lari dari Peranggi, Gusti Ratu, tak dapat mela­wan sedi­kit pun di laut.”

“Kau takkan dike­jar Peranggi, juga tidak mela­wan di laut. Tugasmu mela­ku­kan pen­da­ratan.”

Wanita tua itu naik ke atas tandu ber­sama cucu­nya. Dan para penandu lari meng­ham­piri, menyem­bah, kemu­dian meng­ang­kat­nya, ber­ge­rak mening­gal­kan bandar.

Wirang­gal­eng ter­ting­gal ber­lu­tut di atas pasir. Ia makin tidak meng­erti. Ia perin­tah­kan para pera­tus untuk segera men­da­rat: “Sam­pai­kan pada anak buah kalian, jangan ber­ke­cil hati. Apa pun yang ter­jadi dan ter­se­dia, kita ber­te­kat untuk meng­gem­pur Malaka. Jangan pikir­kan yang lain.”

Orang mulai ber­da­tangan di pela­buhan untuk meli­hat armada aneh – armada jung ber­ben­dera Maja­pa­hit. Armada apakah ini gerangan? Armada dagang mem­bawa beras ke Pasai? Dan tidak lain dari Wirang­gal­eng juga yang merasa jeng­kel armada-aneh­nya jadi ton­tonan, diang­gap seba­gai kea­nehan zaman yang perlu disak­si­kan.

Dari suatu tempat yang ter­lin­dung. Ratu Aisah di atas tan­du­nya meng­an­tar­kan armada jung itu dengan pan­dang yang memen­dungi sela­put awan.

“Nenenda,” pang­gil cucu­nya, “ke mana mereka bela­yar?”

“Malaka, meng­u­sir Peranggi.”

“Meng­apa nenenda mena­ngis?”

“Kapal-kapal besar dan kuat dan mewah bikinan pamanmu. Upik, semes­ti­nya meng­ang­kut mereka.”

“Ya, nenenda, tapi meng­apa nenenda mena­ngis?”

“Upik, kadang ada guna­nya orang mena­ngis untuk meng­u­cap­kan syukur, kadang untuk meng­u­cap­kan doa dan diri merasa demi­kian ren­dah­nya di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Masih kau ingat paman­damu, Unus, penan­tang Peranggi?”

“Tentu, nenenda. Paman Adi­pati Unus, penan­tang Peranggi.”

“Dan ingat-ing­at­lah satu nama lagi: Wirang­gal­eng. Dia pun menan­tang Peranggi. Kau masih ter­lalu kecil untuk dapat meng­i­ngat wajah pamanmu almar­hum. Tapi Wirang­gal­eng kau sudah lihat sen­diri. Jangan sampai kau lupa seumur hidup.”

“Yang dika­ru­niai cincin tadi, nenenda?”

“Ya, yang tadi itulah. Lihat­lah ke sana seka­rang, antar­kan arma­da­nya dengan doa sela­mat, cucunda. Sertai nenenda meng­u­cap­kan doa untuk keme­nang­an­nya.”

Wanita itu meng­u­cap­kan seba­ris kali­mat doa dan cucu­nya meng­u­langi. Kali­mat demi kali­mat sehingga sele­sai. Kemu­dian dengan suara dalam karena pera­saan ter­te­kan ia mene­rus­kan: “Kelak kalau orang-orang seumur aku telah dipang­gil Tuhan, cucunda, orang-orang seu­murmu masih harus meng­i­ngat satu nama itu, dan satu lagi itu. Kalau kelak nege­rimu aman, makmur dan sen­ta­usa, adil dan sejah­tera, adalah karena mereka. Kalau yang seba­lik­nya yang ter­jadi mereka gagal. Ya-ya, kelak kau akan meng­erti, musuh negeri dan bang­samu bersaf-saf, ber­la­pis-lapis. Aaa, kau tidak deng­ar­kan.”

Tandu itu berang­kat lagi dengan mengir­im­kan doa pada armada jung dan ceri­cau cucu ten­tang umbul-umbul dan rom­bongan penon­ton di pela­buhan.

Sete­lah ber­se­m­bah­yang magrib Ratu Aisah berdoa sampai men­je­lang isya, doa ter­pan­jang yang pernah diu­cap­kan di dalam khal­wat. Dengan ber­li­nangan air mata ia memo­hon keda­maian dan kemam­puan untuk mema­af­kan put­ra­nya Sultan Treng­gono, karena armada Jepara-Demak telah dila­rang oleh put­ra­nya mene­rima peng­ga­bungan Tuban, dan berang­kat satu hari sebe­lum waktu yang dijan­ji­kan. Dan bukan seba­gian armada yang berang­kat, selu­r­uh­nya dan dengan selu­ruh pasukan laut ditam­bah dengan pasukan kaki. Ia sen­diri tak per­caya armada itu menuju ke Malaka. Maka ia berdoa agar Allah meng­ge­rak­kan put­ra­nya untuk meng­ge­rak­kan armada itu lang­sung ke sasaran. Tapi hati­nya tidak yakin.

Sete­lah ber­se­m­bah­yang isya ia mene­ngok cucu­nya yang ter­nyata belum lagi tidur, dan dir­e­bah­kan tubuh tuanya di sam­ping cucu­nya.

“Meng­apa nenenda begitu ter­lam­bat?” tegur cucu­nya.

“Seka­rang, cucunda baca­lah surah-surah yang kau sudah hafal.”

Cucu itu mulai meng­u­lang-ulang dari surah hafa­lan sambil ber­ti­dur-an. Sua­ra­nya sema­kin lama sema­kin lemah untuk kemu­dian ter­henti dan disam­bung dengan napas­nya yang ter­a­tur.

Ratu Aisah bang­kit dan keluar dari bilik.

Makan malam itu tak dija­mah­nya. Ia pergi ke taman, meman­dangi bin­tang-bin­tang ber­ta­buran di langit gelap. Jiwa yang telah tua itu mera­ung-raung pada anta­riksa, memang­gil-mang­gil, ber­seru-seru, ter­hi­sak-hisak dalam kekha­wa­tiran, dan men­jo­lak-jolak dengan harapan. Ia rasai bumi­nya tiada kete­guhan lagi, seta­pak tanah pun tak lagi kekuk­u­han untuk ber­pi­jak. Ambil­lah makh­luk-Mu ini, habis­i­lah kesia-sia­an­nya, seo­rang wanita, tua dan tanpa daya. Hidupi terus cucuku, dengan sema­ngat yang sudah dimu­lai oleh paman­nya. Segala sudah aku tempuh, aku usa­ha­kan. Jangan­lah datang­kan zaman seba­gai­mana aku dan orang-orang sebe­lum aku tiada meng­hen­daki, karena zaman yang itu akan mem­bi­kin sia-sia segala dan semua yang telah umat-Mu tabur­kan di bagian bumi ini. Ya Allah, ya Allah.

Tengah malam ia baru masuk ke dalam rumah. Para inang masih juga menung­gui. Makan malam telah diha­ng­at­kan lagi. Ia tak juga datang untuk men­ja­mah. Ter­de­ngar per­cikan air. Ratu Aisah meng­am­bil air wudhu, kemu­dian keli­hatan ia masuk ke dalam khal­wat kem­bali dan ber­se­m­bah­yang tahaj­jud sampai subuh.

Dengan susah-payah armada jung itu ber­la­yar ke arah utara untuk men­da­pat­kan angin yang lebih meng­un­tung­kan.

Dan Wirang­gal­eng masih juga teng­ge­lam dalam pem­bi­su­an­nya. Tak ada yang berani meng­gang­gu­nya. Orang meli­hat kete­rangan telah mem­per­kosa air muka­nya. Orang-orang yang datang untuk menunggu perin­tah ting­gal duduk-duduk menunggu dan menunggu Bahkan tak ada orang yang berani menyi­la­kan­nya makan.

Tempat kesu­ka­an­nya adalah lam­bung kiri. Di sana ia ber­diri dengan pan­dang dite­bar­kan pada pantai Jawa yang serasa tiada kan habis-habis-nya, siang dan malam.

Dan sekali ini ia sengaja menge­nang­kan kem­bali pidato Rama Clu­r­ing yang ter­a­khir itu, sewaktu ceng­kaman guru-pem­bi­cara pada hadirin mulai meng­en­dor, dan di sana-sini orang mulai ter­de­ngar men­de­hem dan ter­ba­tuk-batuk. Dan tiba-tiba semua pan­dang ter­a­rah pada Idayu yang angkat bicara: “Rama, aku tak begitu ter­ta­rik pada kata-katamu yang bela­kangan itu. Ceri­tai saja kami ten­tang zaman keja­yaan yang kau agung-agung­kan itu.”

Rama Clu­r­ing mene­ngok ke arah Idayu, ter­se­nyum dan meng­ang­guk: “Per­min­taan yang bijak­sana. Gadis, agar kalian tahu per­ban­dingan dengan zaman kalian sen­diri seka­rang ini. Deng­ar­kan, Gadis: “Dalam selu­ruh peng­em­ba­ra­anku, aku selalu meng­a­gung­kan zaman keja­yaan itu, biar orang tua-tua seka­rang ini tahu sampai di mana mereka sudah mero­sot, ya sampai ke lutut diban­ding­kan dengan nenek-moyang­nya sen­diri. Sayang sekali. Gadis, orang-orang tua itu kalau dice­ri­tai, hanya menga­ng­a­kan mulut seperti buaya ber­je­mur menunggu lalat. Penge­li­hat­an­nya dan pen­de­ng­ar­an­nya sudah tak peka lagi. Kau anak ber­ba­ha­gia, Gadis. Memang aku lebih suka mela­yani per­ta­nyaan dan per­min­taan gadis dan per­jaka, karena zaman ini adalah per­mu­laan dari zaman­nya, dan kalian sen­diri, bukan orang tua kalian yang sudah ber­le­ngah-lengah tak sang­gup mem­bi­ak­kan kelapa itu.”

“Kau sen­diri sudah menyia-nyi­a­kan zamanmu sen­diri, Rama,” sese­o­rang mem­pro­tes.

“Itu menu­rut kau. Soal­nya karena kalian sejak dulu tak mau men­de­ng­ar­kan aku. Sampai ber­bulu putih begini aku masih terus bicara dan kalian masih juga menga­nga menunggu datang­nya lalat.”

“Mulai­lah dengan cerita itu!” Idayu men­de­sak.

“Baik,” sambar Rama Clu­r­ing untuk mening­gal­kan per­teng­karan sece­pat mung­kin. “Dahulu adalah seo­rang anak desa, Nala nama­nya. Dia ber­a­sal dari sebuah kam­pung nela­yan di Tuban. Seo­rang bocah yang oleh para dewa dika­ru­niai dengan banyak cipta. Untuk Maja­pa­hit dia cip­ta­kan kapal-kapal besar dari lima puluh depa pan­jang dan sepu­luh depa lebar, bisa meng­ang­kut sampai dela­pan ratus o-rang pra­ju­rit dan dua ratus tawanan, kapal-kapal besar, ter­be­sar di dunia ini, di selu­ruh jagad ini. Pada tiang agung­nya selalu ter­pa­sang ben­dera merah-putih yang ber­ki­bar tak jemu-jemu­nya. Seperti ben­dera kapal-kapal kecil Tuban seka­rang ini, hanya lebih pendek.

“Bera­tus-ratus kapal sema­cam itu dibuat di galangan-galangan Maja­pa­hit di Tuban, Gresik, Kawal, Pana­ru­kan, Pasu­r­uan, Paci­tan, Juana… aku kira jum­lah­nya takkan kurang dari tiga ribu. Penuh­lah laut dengan armada Maja­pa­hit. Setiap di anta­ra­nya pasti akan kalian sangka istana Dewi lautan. Dan setiap kapal pim­pinan selalu ber­la­yar sutra kuning gemer­lapan.”

“Apakah Rama pernah meli­hat dan mena­ik­i­nya?” Idayu ber­ta­nya lagi.

“Waktu muda, ya, dari Gresik sampai ke Nala­ga­sari, dari Malaka sampai ke utara sana, memu­diki Kali Muti­ara. Tak ada yang menya­mai besar dan kela­ju­an­nya. Kapal-kapal Atas Angin itu, huh, apalah arti­nya, seperti kam­bing di sebe­lah kuda. Dan bila semua layar telah dikem­bang­kan, lak­sana elang ia melun­cur mening­gal­kan di bela­kang­nya semua bikinan manu­sia yang ter­a­pung di atas laut. Seribu bajak takkan dapat mem­buru apa­lagi menge­pung­nya. Ya, Gadis, aku pernah ikut ber­la­yar dengan sisa jenis kapal Maja­pa­hit ini. Tak ada lagi yang bisa mem­bi­kin­nya seka­rang.”

“Meng­apa tak bisa? Bukan­kah di bandar-bandar orang terus meng­ga­lang?” Idayu merang­sang. “Aku sen­diri pernah ber­kun­jung ke sebuah galangan Tuban seta­hun yang lalu.”

‘Tidak bisa. Gadis. Sudah lebih sera­tus tahun orang tak dapat mem­bi­kin­nya lagi. Orang yang dapat menge­ta­hui kayu lunas yang diper­gu­na­kan oleh Mpu Nala sudah tiada.

“Bocah dari kam­pung nela­yan Tuban itu bukan saja seo­rang Mpu kapal, ia pun seo­rang ahli kayu. Memang ia pernah ke kepu­lauan ceng­keh dan pala. Hanya sebuah saja kata­nya, yang meng­ha­sil­kan. Pulau itu tidak begitu besar dengan sebuah gunung berapi. Kira-kira sera­tus tahun sete­lah Mpu Nala wafat, orang memang masih mem­ba­ngun­kan kapal Maja­pa­hit, karena masih ada per­se­di­aan kayu lunas. Sete­lah habis, habis pula kemung­kinan.

“Pada suatu kali,” Rama Clu­r­ing mene­rus­kan. Air muka­nya nampak lunak, dan ia tidak mem­pe­du­li­kan kege­li­sahan yang masih juga ber­ku­asa di dalam hati sete­ngah orang, “Sebuah iring-iringan kapal datang ke sana, begitu menu­rut cerita guruku dulu. Ter­nyata gunung itu telah mele­tus, meng­han­cur­kan semua hewan, manu­sia dan tetum­buhan di atas­nya. Yang ter­ting­gal hanya seper­lima dari pulau itu, putih, ting­gal pasir dan karang semata.”

“Kalau begitu kayu itu seka­rang sudah tumbuh lagi di sana,” Galeng men­coba menyer­tai.

“Mung­kin kau tak salah, Per­jaka. Tapi orang sudah tak tahu lagi kayu yang mana, pada umur berapa baru bisa dite­ras dan dite­bang, bagai­mana mera­wat­nya sebe­lum dan sesu­dah dite­bang. Lagi pula orang datang ke sana bukan untuk men­cari kayu, tapi rempah-rempah semata.” Ia diam seben­tar untuk minum. “Memang tidak semu­dah itu. Mpu Nala telah mera­ha­si­a­kan­nya. Kalau setiap orang tahu, semua kera­jaan di dunia ini bisa juga, maka kapal-kapal Maja­pa­hit bukan lagi satu-satu­nya yang mengu­a­sai laut.”

“Meng­apa kau tak bicara lagi, Kang?” Idayu ber­bi­sik pada Galeng.

Dan Galeng hanya meng­ge­leng, teng­ge­lam dalam cerita guru itu.

“Berun­tung­lah aku pernah ikut ber­la­yar deng­an­nya. Lunas­nya masih tetap utuh, biar­pun badan­nya telah ber­kali diganti. Kata guruku, sebe­lum kayu diben­tuk jadi lunas, bebe­rapa bulan lama dir­en­dam dalam lumpur larutan sesu­atu. Orang tak tahu ramu­an­nya. Pewa­ris tung­gal ramuan adalah anak­nya, juga seo­rang Mpu kapal. Sayang,” ia meng­em­bus­kan napas keluh, “ia tewas dalam per­tem­puran laut di sebe­lah utara Singa­raja dalam perang Pare­greg. Ah, zaman silam! Kapal-kapal megah yang mampu mem­bawa ratusan pra­ju­rit begitu, dan per­leng­kapan, dan per­be­kalan, dan tawanan. Kalau kapal-kapal sema­cam itu masih ada, dan seba­nyak dulu, tak bakal ada kapal Parsi, Arab dan Beng­gala ber­ke­li­aran kemari.

Satu demi satu kapal itu binasa dalam Perang Pare­greg. Kapal dari satu jenis ber­ha­dap-hadapan, dengan sen­jata satu jenis: cet­bang. Teng­ge­lam ter­ku­bur di dasar laut akhir­nya semu­a­nya.

Sebuah kapal dari jenis ini pernah dila­ri­kan dari Tuban ke Malaka. Yang mela­ri­kan ialah suami kaisar Suhita. Dengan dii­ring­kan oleh bebe­rapa buah kapal kecil Pange­ran Bhre Para­mesy­wara itu marak jadi raja di Malaka, tetapi tak pernah dapat mem­ba­ngun­kan sen­diri kapal Maja­pa­hit. Apa yang dijan­ji­kan­nya tak pernah dite­pati. Kalau Maja­pa­hit tak mampu hidup di Selatan, kami akan hidup­kan dia di utara, kata Pange­ran Bhre Para­mesy­wara. Ter­nyata Malaka tidak pernah mela­hir­kan Mpu Nala. Ban­dar­nya tak lebih baik dan tak lebih besar atau­pun bagus dari­pada Tuban, namun meru­gi­kan bandar-bandar di bawah­nya, dan ting­gal jadi bandar dagang dan per­sing­gahan. Maja­pa­hit runtuh di selatan dan tak bangun di utara.”

“Rama,” sese­o­rang mene­gur, “sebe­nar­nya kau hendak bicara ten­tang apa? Bica­ramu tidak menentu. Kau meng­a­gung­kan keja­yaan Maja­pa­hit.

Yang kau agung­kan runtuh. Di mana pula keja­ya­an­nya? Bica­ramu melom­pat-lompat seperti katak diburu ular!

“Uah! kau benar,” Rama during meng­ang­kat dagu tinggi-tinggi, muka­nya telah ber­ki­lat-kilat karena keri­ngat. “Ada kala­nya katak ber­lom­patan dike­jar ular. Ada kala­nya dia mati kena terkam. Namun seba­gian ter­be­sar dari hidup­nya yang pendek dia meng­a­gung­kan hidup bukan mati. Hanya kau, yang dalam hidupmu meli­hat katak cuma dalam buruan ular. Meng­erti kau apa mak­sudku? Boleh jadi kau sedang menunggu-nunggu datang­nya kata-kataku yang bisa mem­per­luas hatimu. Puh! Rama Clu­r­ing bukan si peng­luas hati.”

“Tak ada yang ber­ke­be­ratan Rama seo­rang penge­luas hati atau tidak. Bukan­kah tahu juga kau, mayat orang baik-baik diba­kar, hanya orang-orang tak menentu dita­nam? Yang diba­kar nya­wa­nya ter­bang ke Sur­a­laya, yang dita­nam hancur dima­kan cacing dan nya­wa­nya jadi dede­mit. Kau bicara ten­tang yang sudah mati, Rama,” penyang­gah itu mene­tak gencar. “Kata­kan­lah, kau bicara ten­tang sur­a­laya atau kera­jaan dede­mit?”

“Sur­a­laya dan kera­jaan dede­mit dan nir­wana aku tak tahu. Itulah per­kara para­biksu, pan­dita dan pedanda. Aku tak bicara ten­tang kema-tian. – ten­tang kehi­dupan, ten­tang hidup dan ber­cipta dan men­cipta. Maja­pa­hit kehi­langan Mpu Nala, dan Malaka tidak mela­hir­kan­nya. Di Sur­a­laya dan di kera­jaan dede­mit dia tidak ada. Kalau ada kapal-kapal­nya sudah pasti akan datang di bandar-bandar selu­ruh dunia. Tetapi, deng­ar­kan, kau yang tak meng­erti ten­tang kebe­saran dan keja­yaan. Deng­ar­kan yang baik, kau pem­ban­tah, negeri dengan bandar begini,… orang cukup duduk seminggu di pela­buhan, meli­hat-lihat besar dan banyak­nya kapal sen­diri yang mondar-mandir pergi dan datang… orang akan tahu sampai berapa arti­nya negeri itu. Hanya orang hidup dari keke­cilan negeri ini yang tidak bakal meng­erti mak­sudku. Dan barang­kali karena kata-kataku ini bukan saja seo­rang tapi banyak Mpu Nala, karena pang­gilan ini, mem­be­nih dalam gua­garba pera­wan-pera­wan yang ada di dalam balai-desa seka­rang ini/’

Rama Clu­r­ing diam dan berdoa. Juga Galeng meng­ang­kat sembah. Kata-kata Rama yang ter­a­khir itu meng­ge­lora ber­seru-seru dalam hati­nya. Segera ia akan kawini Idayu. Dan kelak anak-anak­nya juga harus jadi Mpu peng­ga­lang kapal, pen­diri kebe­saran dan keja­yaan.

Ia sen­diri, seperti yang lain-lain, telah banyak men­de­ngar ten­tang kebe­saran dan keja­yaan Maja­pa­hit – Maja­pa­hit yang kini telah mati ting­gal jadi cerita itu. Doa Rama Clu­r­ing ia rasai seakan ter­tuju pada dir­i­nya semata: kau, kau mun­cul­kan dia dari gua­garba hari depan.

Ketika ia mene­ngok pada Idayu, pera­wan itu sedang ter­se­nyum meli­rik dari sam­ping. Ia betul­kan letak kain keru­dung pada bahu pacar­nya. Kemu­dian tangan­nya men­cari tangan Idayu, dan mereka ber­pe­gangan tangan seakan tiada kan lepas lagi untuk selama-lama­nya.

“Panas’ bisik Idayu.

“Mereka namai dia seo­rang dewa hari depan,” gumam­nya. Tanpa pikir pan­jang, hanya untuk menya­ta­kan peng­har­ga­an­nya, ia angkat kata: “Rama, kau tahu ten­tang zaman lewat, kau sen­diri hidup dalam zaman keme­ro­sotan ini seperti kau sen­diri telah kata­kan, maka kau ber­seru-seru pada zaman men­da­tang, seakan kau hendak mem­be­ri­kan pada kami tiga-tiga zaman itu tidak ber­pi­sahan seperti banyak orang ber­gan­deng-gan­de­ngan dalam suatu per­ma­inan.”

“Tidak pernah ber­pi­sahan, Per­jaka, ber­sam­bungan dan ber­gan­de­ngan tak putus-putus­nya.”

“Ya, ber­sam­bungan terus-mene­rus. Tapi tidak­kah kau keliru. Rama, atau sengaja mem­bo­dohi kami, atau memang mele­bih-lebih­kan, atau barang­kali kau seo­rang tua pem­bo­hong, waktu kau menga­ta­kan lunas kapal Mpu Nala jauh lebih tahan dari badan kapal yang ber­kali diganti, sampai kapal itu men­ca­pai umur lebih dari sera­tus tahun?”

“Indah sekali per­ta­nyaan itu, Per­jaka. Memang aku tak dapat mem­buk­ti­kan karena barang­nya sudah tidak ada. Kau boleh tuduh aku bodoh, bohong dan mele­bih-lebih­kan. Kau sen­diri pun takkan dapat mem­buk­ti­kan kebo­hong­anku. Di zaman jaya dulu memang seo­rang pem­bi­cara harus bisa buk­ti­kan kebe­naran omong­an­nya, kalau diminta. Itu aturan dulu. Dalam zaman keme­ro­sotan ini aturan itu hilang dengan sen­di­r­i­nya.”

Rama Clu­r­ing meng­ge­rak­kan tangan untuk melu­kis­kan bentuk lunas.

“Rama, kau tidak memang­gil kebe­saran pada gua­garba hari depan. Kau memang­gil balat­en­tara Tuban untuk menum­pas kami…,” sese­o­rang menu­duh.

Orang tua itu tidak peduli dan mene­rus­kan: “Mpu Nala bukan seka­dar hanya men­da­pat­kan kayu itu. Dia punya sumber cipta agung. Dia juga yang mem­buat aturan sehingga puluhan kapal yang ber­se­baran di per­mu­kaan laut dapat bicara satu-sama-lain seperti aku dan kalian seka­rang ini.”

“Rama, karena kau sudah bilang para guru-pem­bi­cara seka­rang ini tak dike­na­kan aturan mem­buk­ti­kan kebe­naran kata-kata­nya, ter­be­bas­lah kau, jadi kau boleh mem­bo­hong sekuat mulutmu. Kau hanya ngo­mong, ngo­b­rol, tak lebih.”

Orang tua yang serba putih itu ter­he­nyak. Mata­nya menyala-nyala. Muka­nya yang keri­put makin ber­ke­rut-kerut dalam, seakan sedang menyi­ap­kan ledakan. Dan ledakan itu ter­nyata tiada. Ia menu­ding pada para pen­de­ngar yang duduk ber­ban­jar-banjar. Ia mene­lan ludah. Tak ada keluar kata-kata dari mulut.

Dari bebe­rapa tempat mulai ter­de­ngar orang meng­e­jek. Dan mereka yang arif dapat segera meli­hat, guru-pem­bi­cara itu merasa ter­sing­gung. Mereka yang sudah menge­nal watak­nya tahu, sing­gungan ter­ha­dap kebe­saran dan keja­yaan Maja­pa­hit adalah juga sing­gungan ter­ha­dap kehor­matan pri­badi Rama.

“Meng­apa ter­diam? Meng­apa tidak meme­kik dan ber­jing­k­rak?”

“Jangan mena­ngis, Rama,” seo­rang dari banjar tengah meleng­king ria, “memang orang-orang muda wajib meng­hor­mati orang tua, tapi jangan kau kira kau boleh sem­bur­kan abab semau sen­diri.”

Rama Clu­r­ing belum juga men­ja­wab. Nampak benar ia sedang ber­gu­lat untuk menin­das pera­sa­an­nya.

Tak lain dari Idayu yang ber­u­saha menye­la­mat­kan Rama. Ber­seru ia keras-keras: “Aku meng­har­gai Rama.” Idayu ber­diri, seakan menan­tang semua orang. Sekali lagi Galeng mena­rik duduk. Pemuda-pemudi desa ber­seru-seru menyo­kong Idayu dan mem­be­nar­kan­nya.

Baru kemu­dian keluar kata-kata Rama yang berat dan sepa­tah-sepa-tah: “Kalian datang di hadap­anku untuk apa? Untuk men­de­ng­ar­kan aku. Peker­ja­anku memang bicara.” Suara itu ber­nada rendah memo­hon sim­pati…. “Seo­rang diri aku ber­seru-seru: Jangan biar­kan anak-anak kalian teng­ge­lam dalam keme­ro­sotan zaman. Bang­kit: Lawan keme­ro­sotan. Lebih dua puluh tahun aku bicara. Tetapi orang masih juga tak mau meng­erti.”

Seka­rang sua­ra­nya meng­am­bil nada semula, cepat dan ber­se­ma­ngat: “Tugasku adalah bicara agar kalian meng­erti, zaman sudah ber­a­lih dari keja­yaan pada keme­ro­sotan seka­rang ini. Kalau keme­ro­sotan tak dapat dita­han, yang bakal datang tak lain dari kebi­na­saan.”

“Kalau begitu. Rama,” Galeng memaksa bicara hanya untuk menun­juk­kan sim­pati. “Ceri­tai kami bagai­mana orang mem­bang­kit­kan keja­yaan, mena­han keme­ro­sotan. Jangan gubris mereka yang hanya tahu meng­e­jek, yang tak mampu meng­erti.” “Kau jadi panas, Kang?” Idayu ber­bi­sik mem­per­i­ng­at­kan. “Para peng­e­jek itu tak hanya seke­lom­pok buaya.” Sua­sana beru­bah waktu gadis anak kepala desa datang mem­bawa nampan berisi gendi, mele­tak­kan­nya di hadapan Rama, dan meng­am­bil cawan yang telah kosong, kemu­dian pergi lagi.

Guru itu nampak sangat haus. Ia ambil gendi dan minum dari kucuran cucuk­nya.

“Deng­ar­kan kalian yang ikut ber­sama keme­ro­sotan zaman ini! Orang bijak­sana menge­ta­hui beru­bah­nya zaman dari peng­er­tian-peng­er­ti­an­nya. Guru-pem­bi­cara seperti aku ini hanya menyam­pai­kan peng­er­tian. Orang yang tidak bijak­sana, yang bebal, baru tahu zaman sudah atau sedang ber­ganti kalau cam­bukan perang telah men­dera-dera pada pung­gung­nya. Tetapi darah dan keri­ngat yang diku­cur­kan­nya sudah sia-sia belaka bakal­nya. Dia akan mere­gang­kan nyawa di mana saja, di ladang, sawah, jalanan, laut atau darat, untuk kesia-siaan itu. Kesal­ah­an­nya hanya: bebal, tak punya kebi­jak­sa­naan.”

Tiba-tiba Rama Clu­r­ing meri­ngis. Tangan­nya mene­lu­suri perut­nya. Sakit perut! orang men­duga. Kemu­dian nampak Rama menge­rut­kan gigi. Dan begitu wajah­nya cerah kem­bali ia melan­jut­kan kata-kata­nya, cepat-cepat: “Deng­ar­kan, kau Per­jaka, bagai­mana orang telah mem­bang­kit­kan keja­yaan, dan itu lebih ber­arti dari­pada hanya seka­dar mena­han keme­ro­sotan.”

Kem­bali ia meri­ngis. Tangan­nya geli­sah mene­lu­suri perut.

“Ada seo­rang anak desa, seo­rang anak lurah,” kata­nya cepat-cepat. “Anak ini die­mong oleh bujang­nya, seo­rang pra­ju­rit pela­rian balat­en­tara Tatar Kublai Khan. Dari peng­e­mong­an­nya si bocah bel­a­jar mem­bi­kin sen­jata-api penang­kap rusa dan babi hutan. Bocah bukan sem­ba­rang bocah. Dia pun punya cipta dan daya cipta besar. Aku akan per­ba­iki sen­jata-api ampuh ini, dibuat seba­nyak-banyak­nya, dan balat­en­tara yang meng­gu­na­kan­nya akan men­jadi peme­nang tung­gal di atas bumi manu­sia ini.

Ia ber­te­kad men­jadi orang besar untuk dapat meng­gu­na­kan sen­ja­t­a­nya. Sete­lah dewasa ia ting­gal­kan desa dan orang tua dan peng­e­mong­nya, dan masuk ia ke pusat kera­jaan Maja­pa­hit. Dengan ilmu ber­ke­lahi dari peng­e­mong­nya dengan mudah ia dapat han­cur­kan kepala ban­teng dengan sebe­lah tangan, dan jadilah ia per­wira penga­wal Sri Baginda Jaya­ne­gara. Ia men­da­pat nama mil­iter: Gajah Mada.”

Wajah Rama keli­hatan pucat. Tapi ia ber­ku­kuh mene­rus­kan ceri­ta­nya: “Dengan daya cipta besar ia ber­ha­sil mening­kat jadi Maha­pa­tih. Uh, pem­be­ron­takan Kuti itu sangat ber­arti bagi seo­rang seperti dia. Pada waktu itulah ia kem­bang­kan sen­jata-api yang kini kalian kenal dengan nama cet­bang. Dan dengan kapal-kapal Mpu Nala yang diper­sen­ja­tai cet­bang armada Maja­pa­hit tak pernah mene­mui per­la­wanan. Bila pelu­ru­nya ber­le­dakan di udara, kera­jaan-kera­jaan bandar pada takluk dan menye­rah.”

Kem­bali ia meri­ngis dan mene­kan-nekan perut.

Idayu bang­kit untuk meno­long­nya.

Rama Clu­r­ing mene­rus­kan: “Tidak mene­mui per­la­wanan di mana pun. Di setiap bandar kera­jaan di sebe­rang, raja-raja pada turun dari sing­ga­sana, datang menyong­song armada di ban­dar­nya. Peluru-peluru cet-bang yang ber­le­dakan di udara, seperti kilat dan guruh seka­li­gus, mem­bi­kin Maja­pa­hit jadi pengu­asa tung­gal atas Nusan­tara – suatu yang pernah dica­pai oleh Sri­wi­jaya selama tiga ratus tahun. Di tengah laut peluru-pelu­ru­nya ber­lun­curan di atas per­mu­kaan air mem­bi­na­sa­kan armada-armada peram­pok dan bajak laut. Maka darat dan laut aman.

“Dalam sepu­luh tahun kemu­dian Maja­pa­hit mulai jadi kekai­saran. Kemu­dian selu­ruh Nusan­tara ber­satu di bawah ben­dera merah-putih­nya.”

Ia mengu­ruti perut, dan dada dan leher. Sua­ra­nya kehi­langan keku­at­an­nya, namun ia masih tetap mene­rus­kan: “Waktu itu hanya ada dua kaisar. Kaisar Tiong­kok di utara dan Kaisar Maja­pa­hit di selatan….”

Kebe­saran dan keja­yaan masa lalu, Wirang­gal­eng ber­gu­mam, kemu­dian meng­em­bus­kan napas dalam. Kapal besar, kapal peme­nang di selu­ruh jagad. Dan seka­rang aku hanya dengan jung… jung Tiong­kok pula….

Malam datang. Dingin mulai tak ter­ta­han­kan. Ia lepas kain penu­tup celana, selem­bar kain batik buatan istri­nya, dan dibu­at­nya jadi penu­tup dada.

Seka­rang ia ter­ke­nang pada rusa yang malam ini mung­kin pada ber­ba­ris menye­rang ladang-ladang petani. Entah sudah berapa puluh saja bina­tang itu telah mema­suki jebakan ran­jau­nya. Semua telah ia kuliti, ia potong-potong, diden­deng. Rusa-rusa itu – makh­luk yang tak ber­ba­ha­gia di nege­ri­nya sen­diri. Setiap ekor pada suatu kali meng­a­lami seperti itu. Ya, tidak ber­ba­ha­gia di negeri sen­diri. Sedang yang bijak­sana tak dapat ber­buat apa-apa, hanya bisa bicara di desa-desa. Yang dungu mem­pu­nyai segala-gala­nya dan dapat menge­rah­kan semua untuk ber­pe­rang dan mati buat kesu­ka­an­nya.

Makin malam makin riuh per­go­lakan dalam dir­i­nya. Bukan bayangan yang mem­buru-buru, bukan rusa bukan kijang, tapi tanya dan duga yang tiada putus-putus­nya. Bagai­mana mereka jadi­nya dalam sepu­luh tahun men­da­tang? Apakah serba keba­likan dari­pada impian Rama Clu­r­ing impi­anku pri­badi? Bagai­mana bakal­nya nasib Gelar dan Kum­bang? Apakah mereka akan lebih buta dan lebih tidak ber­daya, tidak ber­ke­mam­puan, dari­pada aku? Apakah mereka akan hanya jadi korban kesia-siaan raja-raja yang dungu?

Dan Pada yang terus men­dam­ping­i­nya men­jadi geli­sah meli­hat per­kem­bangan saha­bat­nya yang jadi aneh itu. Ia mem­be­ra­ni­kan diri ber­ta­nya: “Bukan­kah kita tetap menuju ke Malaka, Kang?”

“Jangan pikir­kan yang lain-lain,” ia ulangi perin­tah­nya pada para pera­tus di bandar Jepara. “Kita akan gempur Malaka.”

Tengah hari waktu itu. Pesi­sir pulau Jawa nampak dari keja­uhan seba­gai garis putih yang gemer­lapan, ber­sam­bung naik dengan hijau-kelam hutan dan gunung-gemu­n­ung, dengan puncak-pun­cak­nya yang sema­kin tinggi sema­kin cerah menan­tang laut.

“Kau ingat rumah, Kang?”

“Belum lagi kau sele­sai­kan ceri­tamu ten­tang Treng­gono dan Fat­hil­lah.”

“Jung-jung ini takkan mung­kin dapat mem­buru armada Fat­hil­lah,” Pada meng­a­lih­kan per­ca­kapan.

‘Treng­gono dan Fat­hil­lah, Pada,” Wirang­gal­eng mem­per­i­ng­at­kan.

“Ya, Treng­gono dan Fat­hil­lah. Apa lagi per­lu­nya kita pikir­kan, Kang. Hanya Malaka tujuan kita. Mereka hanya Sultan dan Pang­li­manya, lak­sa­m­an­a­nya, mereka hanya ipar dengan ipar. Kita bukan apa-apanya. Urusan kita tetap Malaka, Kang.”

“Meng­apa Liem Mo Han tak ramah ter­ha­dapmu?”

“Juga tidak padamu. Urusan kita tetap Malaka, Kang.”

Armada jung aneh itu tidak menying­gahi bandar-bandar kecil. Dan pra­ju­rit-pra­ju­rit laut ini ber­la­yar semata-mata dengan keku­atan angin. Setiap hari mereka tak mem­pu­nyai banyak kerja, dan men­coba melu­pa­kan tugas tidak menentu dengan meng­o­b­rol, ber­ce­rita men­da­lang atau ber­laku seba­gai seo­rang guru-pem­bi­cara. Ber­gu­rau pun tidak ter­jadi, kha­wa­tir bisa menim­bul­kan salah duga pada pemim­pin mereka.

Ketiga armada jung akan mela­lui bandar Banten, dari keja­uhan nampak armada Jepara-Demak seperti seba­risan camar yang sedang meng­a­pung di per­mu­kaan air, putih-kelabu dengan layar keper­akan, dan dua buah kapal ber­la­yar dengan layar kuning gemer­lapan.

Semua orang memer­lu­kan menin­jau. Dan mereka tidak ber­so­rak, seakan sedang meli­hat sesu­atu yang sama sekali tidak mereka harap­kan.

“Kem­bang­kan semua layar. Tambah kalau bisa!” perin­tah Wirang­gal­eng. Ia sen­diri malu meme­rin­tah­kan untuk menge­jar. Yang demi­kian-memang tidak mung­kin.

Orang meng­hin­dar­kan pan­dang dari bandar Banten dan mem­bu­ta­kan hati pada kerin­duan pada darat. Semua layar dipa­sang penuh, bahkan layar-layar tam­ba­han mulai dikem­bang­kan pula. Titik-titik ber­sa­yap keper­akan dan kee­masan itu makin lama makin kecil. Memang tak mung­kin dapat menyu­sul. Namun penge­jaran yang sia-sia dite­rus­kan juga, sedang hati mem­bisu dan hati digu­mul jeng­kel.

Dari jung paling bela­kang orang ber­seru-seru ber­sama: ”Aaaaa!” dan armada Jepara-Demak mem­be­lok ke kiri, meman­tai pesi­sir barat Banten menuju ke selatan, ke Ujung Kulon.

“Khi­a­nat! Benar ada peng­khi­a­natan,” gumam Wirang­gal­eng pada diri sen­diri. Tiba-tiba ia ter­se­nyum: begitu juga barang­kali yang dira­sa­kan oleh Adi­pati Unus waktu Tuban tidak juga muncul untuk ber­ga­bung.

Seka­rang ia telah dapat menang­kap gam­baran seleng­kap­nya: semua harapan ten­tang Jepara-Demak harus dile­pas­kan. Dan bahwa ia diki­rim­kan dari Tuban untuk mati di laut, atau di daratan orang, atau di mana saja, asal mati, ber­sama lima ratus orang yang tak ada merasa ber­sa­lah pada Sang Adi­pati. Gila!

Armada Jepara-Demak di bawah Pang­lima Lak­sa­m­ana Fat­hil­lah telah mem­be­lok ke kiri, meman­tai sepan­jang barat Banten.

Para pra­ju­rit laut Jepara ter­he­ran-heran: meng­apa tidak ke Utara? Mereka ber­ta­nya-tanya satu pada yang lain: apa sesung­guh­nya sedang ter­jadi? Tetapi semua isya­rat dari kapal-kapal yang ditu­ju­kan pada kapal ben­dera tidak ber­ja­wab.

Sampai di Ujung Kulon hanya bebe­rapa regu pra­ju­rit dari kapal ben­dera dipe­rin­tah­kan men­da­rat. Juga Pang­lima-Lak­sa­m­ana Fat­hil­lah men­da­rat dan sen­diri memim­pin anak buah itu men­ja­jagi darat. Tidak lama. Dan mereka naik lagi mem­bawa ter­lalu banyak kelapa muda.

Kemu­dian armada itu balik lagi ke utara, mema­suki selat Sunda, kem­bali ke Jepara.

Semua kebi­jak­sa­naan ten­tang armada rak­sasa ini dise­rah­kan kepada Fat­hil­lah oleh Sultan Treng­gono ber­da­sar­kan per­se­ku­tuan mil­iter untuk mene­rus­kan ren­cana mengu­a­sai Jawa bukan hanya dari darat, juga dari laut. Dengan demi­kian per­ti­kaian antara pasukan laut dan pasukan kuda dapat dipa­dam­kan – dua-duanya ditun­duk­kan pada kei­ng­inan Treng­gono sen­diri akan memim­pin gerakan dari darat. Dan per­se­ku­tuan mil­iter ini akan melan­car­kan gerak­an­nya bila pasukan gabungan Tuban-Aceh-Bugis telah mulai mela­ku­kan serangan di Malaka. Por­tu­gis akan sibuk mela­yani serangan, maka bahaya ter­ha­dap pelak­sa­naan per­se­ku­tuan mil­iter Demak tidak akan ada.

Maka itu armada rak­sasa harus berang­kat satu hari sebe­lum gugusan Tuban diper­ki­ra­kan akan datang ke Jepara. Jung-jung itu tak boleh menyu­sul. Demak harus bisa meng­gu­na­kan hasil per­se­ku­tuan raha­sia Aisah-Usup-Liem Mo Han.

Sete­lah armada ber­la­buh untuk bebe­rapa hari di bandar Banten dan berang­kat lagi ke Ujung Kulon, mereka tak tahu, bahwa jung-jung telah meli­hat mereka. Juga tidak menge­ta­hui, Tuban telah meli­hat mereka mem­be­lok ke kiri.

Sesam­pai­nya di Jepara kem­bali armada itu ber­is­ti­ra­hat selama tiga bulan, kemu­dian berang­kat lagi, menem­puh garis pela­yaran yang sama.

Dan tak lain dari Aji Usup yang giat mondar-mandir antara Jepara, Demak dan Lao Sam. Ia tahu urus­an­nya telah gagal. Armada rak­sasa itu tak dapat dibe­lok­kan ke utara. Dan selu­ruh pasukan laut Jepara tak dapat ber­buat sesu­atu pun ter­ha­dap Fat­hil­lah. Sejum­lah besar pasukan kaki yang diba­ur­kan dalam tubuh pasukan laut telah mem­bi­kin pra­ju­rit-pra­ju­rit Jepara itu tak dapat ber­buat sesu­atu pun dari­pada meng­i­kuti perin­tah.

Aji Usup insaf ia telah kehi­langan segala-gala­nya. Bahkan ia telah kehi­langan kebe­ra­nian ke luar lebih jauh dari tiga tempat ter­se­but. Ia merasa telah kehi­langan muka. Sete­lah kun­jung­an­nya ter­a­khir ke Lao Sam ia tak pernah lagi mening­gal­kan Jepara. Ia memi­lih mati dan ber­ku­bur di Jepara.

Pada suatu hari yang telah didu­ga­nya satu regu pasukan penga­wal ber­kuda Demak datang menge­pung rumah­nya. Tak seo­rang pun dapat meno­long­nya. Sepu­cuk tombak telah menem­busi dada hingga bahu­nya. Ia mati di atas anak­tangga rumah­nya sen­diri. Dua orang anak­nya yang ber­u­saha mela­ri­kan diri meng­a­lami nasib yang sama. Istri dan menantu-perem­puan mati di dalam bilik dengan tikaman keris. Cucu kesa­yang­an­nya yang cuma seo­rang ter­da­pat pecah kepa­la­nya ter­so­r­ong di kolong ambin.

Aji Usup telah dipu­nah­kan sampai ketu­run­an­nya.

Sejak hari itu Ratu Aisah tak pernah keli­hatan keluar dari rumah. Seo­rang saha­bat­nya telah ditum­pas beserta selu­ruh ketu­run­an­nya: Liem Mo Han tak pernah muncul. Ia menunggu dengan rela datang­nya regu penga­wal Demak untuk meng­ha­bisi jiwa­nya pula. Dan akan sele­sai­lah cerita ten­tang per­se­ku­tuan raha­sia itu. Akan sele­sai pula cita-cita Adi­pati Unus.

Treng­gono tetap pada niat­nya. Selu­ruh Jawa harus sujud di bawah kaki­nya, dari Blam­bangan sampai Banten, dari laut Jawa sampai lautan Kidul.

Ratu Aisah ber­sum­pah untuk tidak akan mene­mui siapa pun, kecu­ali seisi rumah sen­diri dan regu penum­pas dari Demak. Ia takkan meng­am­puni Sultan. Dan ia akan guna­kan sisa hidup­nya yang sedi­kit untuk meng­a­suh dan men­di­dik cucu­nya, dan meng­a­bdi pada Tuhan­nya, dan berdoa tak henti-hen­ti­nya untuk kese­la­matan dan keme­nangan pasukan gabungan Tuban-Aceh-Bugis….

Sepan­jang pela­yaran meman­tai pesi­sir barat Suma­tra armada jung itu dibantu oleh angin yang cukup baik. Tak pernah iring-iringan itu ber­pa­pasan dengan armada bajak dalam pemu­satan besar, tak pernah memer­goki kapal Peranggi, tak pernah diha­dang oleh taufan atau­pun badai.

Karena tak jadi menying­gahi Banten dan per­hi­tungan kare­na­nya jadi keliru, ter­jadi keku­rangan air dan per­be­kalan. Walau demi­kian pela­yaran ber­ja­lan damai dalam sua­sana gem­bira. Orang tak lagi memi­kir­kan armada Jepara-Demak. Mereka sudah ber­pi­kir dan ber­si­kap seba­gai kesa­tuan ter­sen­diri. Makin jauh dari Jawa, makin jauh juga dari peng­khi­a­natan! Mung­kin untuk per­tama kali dalam hidup mereka meli­hat nege­ri­nya sen­diri seba­gai sarang peng­khi­a­natan, sarang intrik, sejak Tuban sampai Ujung Kulon.

Orang ber­nya­nyi ria. Dan di malam hari orang mem­baca lontar kuno dan satu ling­karan duduk men­de­ng­ar­kan. Seo­rang lain lagi menaf­sir­kan. Atau orang ber­pan­tun-pan­tu­nan, sahut-menya­hut dii­kuti gelak tawa.

Puncak kegem­bi­raan ialah waktu mereka men­da­rat di bumi Banda Aceh. Bera­tus-ratus rebana menyam­but mereka. Pasukan Aceh yang ber­pa­kaian celana pan­jang dan baju serba hitam ber­i­kat ping­gang selen­dang merah atau kuning dan ber­des­tar hitam, pasukan Bugis yang ber­pa­kaian celana dan baju serba geng­gang dan pasukan Tuban yang ber­ce­lana ditu­tup dengan kain batik dan ber­te­lan­jang dada – semua ber­him­pun, ber­kam­pung dan ber­suka-ria. Mereka ber­ge­rak bebas dan di setiap rumah yang mereka masuki orang men­da­pat­kan segala penganan dan pela­yanan. Tari-tarian dihi­dang­kan setiap malam dalam ting­kahan gen­dang dan seru­ling. Setiap orang men­da­pat­kan kesu­kaan dan per­sa­ha­batan.

Untuk per­tama kali orang-orang Tuban itu ter­pe­luk dalam per­sa­ha­batan yang semesra ini.

Kemu­dian datang­lah hari kebe­rang­katan. Aceh menye­rah­kan tiga ratus pra­ju­rit, Bugis dua ratus. Jumlah selu­r­uh­nya seribu lebih dua orang: Wirang­gal­eng dan Pada. Pihak Bugis mena­war­kan diri untuk laku­kan peker­jaan perin­tisan dan peng­in­taian, yang disam­but dengan sorak-sorai semua orang.

Di tanah lapang dia­da­kan sem­bah­yang ber­sama untuk ummat Islam, memo­hon­kan kese­la­matan untuk mereka yang akan berang­kat ke medan perang.

Begitu mancal dari darat begitu pula mata Wirang­gal­eng ber­kaca-kaca meli­hat ribuan orang, laki dan perem­puan, tua dan muda, semua ber­pa­kaian serba hitam, celana, baju dan destar, ber­so­rak-sorak meng­u­cap­kan sela­mat ber­pe­rang. Uh! Tidak dili­hat­nya yang demi­kian di Tuban, pun tidak di Jepara. Di sana hanya ada peng­khi­a­natan dan intrik. Di tengah-tengah sau­dara-baru­nya ia merasa lebih aman, dan tak lagi merasa seo­rang hukuman yang sedang mene­mui algojo. Juga Aceh, juga Bugis tahu: Peranggi harus diha­lau. Apa pun yang akan ter­jadi, penye­rangan ter­ha­dap Malaka takkan sia-sia.

Mereka meli­hat tempat pen­da­ratan di sebuah kam­pung nela­yan sekira jarak tiga hari-tiga malam pela­yaran di sebe­lah utara Malaka.

Pen­du­duk kam­pung mela­ri­kan diri entah ke mana, menyangka keda­tangan peram­pok lanun. Kam­pung di atas tiang-tiang kayu itu ter­ting­gal kosong. Sebuah rumah ter­baik dise­di­a­kan bagi Wirang­gal­eng yang telah mereka angkat ber­sama seba­gai pang­lima gabungan dengan pang­gilan Hang Wira.

Tak ada bangku, meja atau­pun ambin di selu­ruh kam­pung ini. Gela­dak pelu­puh adalah segala-gala­nya. Di atas­nya dige­lari tikar pandan rawa. Hampir-hampir tak ada per­ka­kas rumah tangga kecu­ali pera­bot masak. Barang-barang gera­bah sangat sedi­kit. Dan bau busuk ikan dije­mur di atas para-para bambu sepan­jang kam­pung menye­sak­kan napas. Tiga hari lama­nya mereka ting­gal di kam­pung itu. Dan pen­du­duk tak juga muncul. Karena tak dapat mena­han kehe­ran­an­nya Wirang­gal­eng ter­paksa ber­ta­nya pada Pada: “Bukan­kah kau pernah dengar dari cerita Liem Mo Han pasukan Seme­nan­jung akan ber­ga­bung dengan kita? Mana batang hidung­nya? Semes­ti­nya mereka telah meli­hat kita datang dan meng­hu­bungi kita.”

“Benar Pang­li­maku. Aku pun belum meli­hat batang hidung­nya. Heran.”

“Dan manakah armada kecil Tiong­hoa dari utara itu?”

“Benar, Pang­li­maku. Aku pun belum lagi meli­hat kun­cir­nya.”

“Apa arti­nya semua ini?”

“Tahu, Pang­li­maku.”

“Ya, begini inilah jadi­nya.”

“Kita hanya memi­kir­kan Malaka ini saja, Kang.”

Seo­rang bocah pen­du­duk kam­pung telah ter­tang­kap oleh pra­ju­rit yang sedang menge­nali medan. Tak banyak yang dapat dike­ta­hui dari anak kecil itu kecu­ali, bahwa pen­du­duk sele­bih­nya sedang meng­ungsi ke dalam hutan. Anak itu dile­pas­kan sete­lah diberi makan dan per­be­kalan, dan dii­kuti dari keja­uhan. Per­se­m­bu­nyian pen­du­duk dapat dike­ta­hui, dan mereka dipe­rin­tah­kan kem­bali ke kam­pung.

Juga pen­du­duk tak tahu akan adanya pasukan Seme­nan­jung atau­pun Tiong­hoa. Mereka mene­rang­kan seba­lik­nya: justru Peranggi yang sering datang, baik dari darat maupun dari laut.

Perin­tah siaga dija­tuh­kan. Kapal dan jung-jung dipe­rin­tah­kan mening­gal­kan seme­nan­jung. Dan pasukan dari seribu orang lebih dua itu pun ber­ba­ris mening­gal­kan kam­pung dan mema­suki hutan belan­tara. Mereka mela­lui jalan seta­pak yang tampak sering dila­lui orang. Dan sema­kin mema­suki hutan sema­kin banyak dite­mu­kan bekas sepatu, samar-samar.

Pen­du­duk yang diting­gal­kan meli­hat semua pra­ju­rit pergi men­jadi ter­he­ran-heran. Lebih heran lagi meli­hat jung-jung dan kapal-kapal mereka sudah sama sekali tiada dan harta-benda mereka dan perahu-perahu mereka tak kurang suatu apa.

Pasukan gabungan itu ber­ge­rak terus dengan mele­pas­kan harapan akan ber­ga­bung­nya pasukan Demak, Tiong­hoa atau Seme­nan­jung. Mereka menuju ke arah selatan.

Perun­dingan antara kepala-kepala pasukan meng­ha­sil­kan kepu­tusan: Lang­sung menyerbu ke sasaran.

Dan mereka ber­ba­ris menuju ke selatan, mele­wati kam­pung-kam­pung yang ter­diri dari bebe­rapa rumah. Pen­du­duk­nya ber­la­rian entah ke mana.

Yang ter­ting­gal bia­sa­nya hanya orang tua-tua yang sudah tak kuat lari, atau orang sakit keras, dan ter­u­tama orang gila. Sama tak dapat dita­nyai. Satu-satu kete­rangan yang diper­o­leh: sekali-dua Peranggi pernah datang dan tak pernah mela­ku­kan gang­guan: Sete­lah dua hari menem­busi hutan, perun­dingan antar-sekutu menyim­pul­kan: penye­rangan lang­sung ke Malaka ter­nyata tidak mung­kin. Tak adanya pasukan seme­nan­jung telah memus­nah­kan kemung­kinan untuk men­da­pat­kan per­be­kalan. Tanpa per­be­kalan jangan­kan menye­rang, ber­ta­han pun tidak bisa. Maka dipu­tus­kan menunda penye­rangan lang­sung, ladang per­ta­nian harus dibuka ter­le­bih dahulu.

Pasukan gabungan itu mem­be­lok ke timur lebih dalam lagi dan mem­buka huma. Dan tidak lain dari Wirang­gal­eng yang menya­dari: pra­ju­rit-pra­ju­rit ini akhir­nya datang tidak untuk ber­pe­rang tapi untuk ber­tani. Ia tahu sudah sejak asal, eks­pe­disi mil­iter ini akan gagal.

Penge­nalan medan terus-mene­rus dila­ku­kan, ber­gan­tian antara tiga macam kesa­tuan. Tetapi pem­bu­kaan huma­lah yang meng­am­bil peker­jaan ter­po­kok. Pat­roli tak henti-hen­ti­nya diki­rim­kan. Namun per­si­apan penye­rangan tetap harus ditunda.

Sekali peris­tiwa kesa­tuan Bugis men­da­pat giliran untuk menge­nali medan. Mereka mene­mu­kan sebuah kam­pung jauh di dalam hutan. Rumah-rumah yang ber­si­rip tinggi di atas tiang-tiang itu telah diting­gal­kan oleh pen­du­duk­nya. Dan di bawah rumah-rumah itu Peranggi sedang sibuk mema­sak-masak.

Kesa­tuan Bugis serta-merta merun­duk dan mele­pas­kan tombak. Pekikan maut dan seruan ter­jadi: Ser­dadu-ser­dadu Peranggi yang tidak ter­kena tombak ber­la­rian mem­bawa musket masing-masing dan mulai menem­bak dari balik-balik pepo­honan. Mereka mem­bi­kin ling­karan per­ta­hanan dalam kepungan kesa­tuan Bugis. Tombak beter­bangan lagi. Korban di pihak Por­tu­gis jatuh lagi. Dan jatuh­nya tombak sede­mi­kian gencar sehingga musuh ter­henti itu tak sempat lagi mema­sang obat dan bubar mela­ri­kan diri. Seba­gian lagi tewas pula sewaktu mene­ro­bosi kepungan. Sisa­nya hilang-lenyap ke dalam hutan. Daerah penge­nalan dan pat­roli makin diper­luas ke sebe­lah selatan. Kam­pung bekas tempat per­tem­puran per­tama kini men­da­pat kehor­matan jadi tempat markas gabungan. Dan waktu pen­du­duk­nya datang kem­bali ber­sama-sama mereka mem­ba­bat hutan, menge­ring­kan dan mem­ba­kar­nya untuk dija­di­kan huma.

Tidak lebih dari seminggu kemu­dian di sebe­lah selatan nampak asap besar mem­bu­bung ke langit Asap itu ter­lalu kecil untuk diang­gap seba­gai hutan ter­ba­kar dan ter­lalu besar untuk diang­gap seba­gai rumah ter­ba­kar. Orang segera men­duga itulah Peranggi sedang mem­ba­kar sebuah kam­pung besar.

Selu­ruh keku­atan mulai ber­siap-siap karena tempat keba­karan itu tidak­lah begitu jauh.

Dengan sepa­ruh keku­atan kesa­tuan Tuban Wirang­gal­eng berang­kat untuk menyer­gap mereka. Seo­rang peng­in­tai telah diki­rim­kan ter­le­bih dahulu, dan ia pulang dengan laporan, benar yang mela­ku­kan pem­ba­karan tak lain dari Peranggi, dan mereka sedang ber­ge­rak ke jurusan kam­pung sebe­lah utara. Jumlah keku­atan mereka cukup besar.

Kesa­tuan Tuban segera disu­sun dalam bentuk jebakan.

Dari keja­uhan telah ter­de­ngar Peranggi menem­bak-nembak untuk meng­han­cur­kan sema­ngat lawan­nya.

Wirang­gal­eng meme­riksa tempat pen­je­bakan yang ditem­pat­kan­nya di daerah hutan dengan semak-semak di bawah­nya. Di hadapan jebakan adalah tempat ter­buka yang bakal di tempuh oleh ser­dadu-ser­dadu Peranggi. Ia telah banyak dengar ten­tang keam­puhan musket musuh­nya, dan hanya dengan jalan ber­lin­dung di balik-balik pepo­honan sem­protan pelu­ru­nya dapat dihin­dari. Di tempat ter­buka, sekali tem­bakan dapat melu­kai sepu­luh orang yang sedang ber­diri ber­ja­jar dalam jarak lima belas depa, sedang tombak hanya bisa menge­nai seo­rang, itu pun kalau kena.

Dan bunyi tem­bakan itu memang menge­cut­kan bagi mereka yang sudah menge­ta­hui keam­puh­an­nya.

“Kalian datang kemari untuk meng­ha­dapi mereka. Kita akan hadapi mereka. Kita belum pernah meng­a­lami per­tem­puran mela­wan musket. Seka­rang­lah wak­tu­nya. Lihat­lah kesa­tuan Bugis. Mereka telah ber­ha­sil. Kita akan juga ber­ha­sil.”

Mereka telah mema­sang perang­kap di tempat yang tidak ter­buka itu, di tempat yang dapat mena­han sem­protan peluru musket. Ter­nyata lain lagi yang ter­jadi. Ser­dadu-ser­dadu Por­tu­gis tidak meng­ge­rom­bol seba­gai­mana halnya dengan pra­ju­rit Tuban atau ten­tara Jawa pada umum­nya. Musuh itu pun tidak mema­suki jebakan yang dise­di­a­kan. Mereka ber­pe­cah-pecah, seo­rang-seo­rang sesuai dengan keam­puhan sen­jata dan daya tem­bak­nya, dan tiba-tiba saja kesa­tuan Tuban yang berada di atas-atas pohon ber­te­riak-teriak: “Peranggi telah menge­pung kita!”

Teri­ak­an­nya diba­rengi dengan letusan-letusan yang menye­sak­kan dada dan meng­ge­le­tar­kan jan­tung. Dari segala pen­juru, kecu­ali dari bela­kang anak-anak panah mulai ber­la­yangan dari atas-atas pohon dalam keri­u­han letusan. Bebe­rapa orang pra­ju­rit Tuban ter­jung­kal dari pan­ja­t­an­nya dii­kuti dengan geme­ra­tak tubuh­nya yang menyang­sang di atas semak-semak atau ber­ge­de­bug di atas tanah gundul.

Wirang­gal­eng meme­rin­tah­kan meng­u­bah hadap ke arah tiga pen­juru angin, tetap ber­se­m­bu­nyi di balik pepo­honan, menyi­ap­kan tombak atau panah, dan tetap mem­per­ha­ti­kan datang­nya musuh. Ia sen­diri hampir-hampir kehi­langan akal meng­ha­dapi per­tem­puran yang aneh itu. Dan belum lagi sampai ke Malaka!

Tem­bakan-tem­bakan sema­kin men­de­kat. Sem­protan musket yang rasa-rasa­nya tiada kan henti-hen­ti­nya mema­tah­kan ran­ting-ran­ting semak dan meng­gu­gur­kan deda­unan dan melu­bangi batang pohon dan tanah yang dike­na­i­nya, dan mero­bek kulit pohon, dan men­de­sing­kan bunyi bisikan maut seperti selaksa tawon datang menye­rang.

Satu sem­protan musket ber­lalu di atas kepala Wirang­gal­eng. Dan ia ber­gi­dik. Bulu roma­nya ber­diri.

”Tahan­kan!” seru­nya, “tahan­kan sampai muka mereka ber­temu dengan mukamu, dan sergap dia tanpa ragu-ragu.”

Per­tem­puran aneh. Pra­ju­rit-pra­ju­rit Tuban dalam jarak jauh tak bisa mela­ku­kan serangan atau­pun balasan, dan cuma harus diam-diam menunggu, dan menunggu, dalam sem­protan maut yang tak putus-putus­nya, ledakan dan desingan dan gemer­a­sak dan ran­ting-ran­ting ber­gu­gu­ran. Dua orang telah jatuh ping­san di tempat karena kejeng­kelan, kehi­langan kesa­baran dan kebi­ngungan. Begitu orang bering­sut dari tempat di balik pepo­honan, sem­protan peluru pun men­da­rat dan menge­ram di dalam daging.

Ini bukan per­tem­puran. Ini penyem­be­lihan! Dalam perang dengan musket begini tak ada pra­ju­rit, tak ada satria, yang ada hanya pem­bu­nuh dan kor­ban­nya.

“Mereka lebih hebat dari­pada kita,” seru Pang­lima mem­be­ra­ni­kan. Dengan muske­t­nya Perang­gi­lah yang justru menge­pung. Dan dengan muske­t­nya pula mereka tak mem­bu­tuh­kan ter­lalu banyak keku­atan. Di sana-sini per­ke­la­hian orang-orang mulai ter­jadi. Orang yang sudah kehi­langan kesa­baran melom­pat ke luar dari balik per­se­m­bu­nyi­an­nya dan meng­a­muk dengan tombak. Makin lama makin banyak yang ke luar. Tem­bakan men­jadi ber­ku­rang.

Per­ke­la­hian orang-seo­rang menye­bab­kan Por­tu­gis tak semu­dah itu lagi menem­bak dan mem­bi­kin ben­tengan peluru. Mereka mulai meng­gu­na­kan pedang.

Kesa­tuan Tuban ber­so­rak. Itulah yang mereka kehen­daki. Semua mening­gal­kan per­se­m­bu­nyian. Dan pemain-pemain tombak itu mem­per­li­hat­kan keung­gul­an­nya di setiap jeng­kal tanah di dalam hutan itu.

Orang meng­a­kui kebe­ra­nian Peranggi meng­ha­dapi lawan yang jauh lebih besar. Ayunan pedang mereka begitu mantap, kuat dan gesit, tak peduli pada ran­ting semak yang meng­ha­langi dan rotan ber­gu­gu­ran.

Hanya karena jatuh­nya malam saja mereka mulai mena­rik diri, meng­hi­lang ke dalam hutan dengan mening­gal­kan korban-kor­ban­nya.

Bebe­rapa pucuk musket telah kena rampas, bebe­rapa pedang, bebe­rapa per­al­atan makan dan pakaian. Juga kesa­tuan Tuban kehi­langan bebe­rapa pra­ju­r­it­nya.

Wirang­gal­eng menga­ta­kan: per­tem­puran sekali ini sama sekali tidak dime­nang­kan oleh Peranggi, juga tidak oleh Tuban. Namun selu­ruh pasukan gabungan telah men­da­pat­kan satu keme­nangan mutlak: keme­nangan atas keta­kutan ter­ha­dap Peranggi dan kehe­bat­an­nya. Dan itulah modal untuk dapat menga­lah­kan dan meng­u­sir mereka dari Malaka.

Malam itu juga dia­da­kan pengu­buran untuk teman-teman seper­ju­angan yang tewas dan pera­watan bagi mereka yang ter­luka. Sepa­ruh dari kesa­tuan Tuban meng­a­da­kan penge­jaran seperti halnya waktu ter­jadi per­tem­puran besar mela­wan Kiai Beng­gala. Mereka ber­mak­sud men­da­hu­lui keda­tangan musuh­nya di suatu tempat, meng­ha­dang­nya, dengan penge­ta­huan, di malam hari musket Por­tu­gis takkan ber­daya.

Wirang­gal­eng memim­pin penge­jaran. Tetapi hutan itu ter­lam­pau gelap dan jalan yang ter­se­dia hanya jalan seta­pak yang telah dila­lui Por­tu­gis. Jalan itu juga­lah yang ditem­puh. Mereka tak dapat mela­lui apa­lagi meng­ha­dang. Mereka hanya bisa meng­un­tit dan mene­mu­kan musuh­nya sedang ber­kam­pung di sebuah kam­pung yang habis diba­kar­nya.

Suatu serangan dalam kege­lapan. Dan sisa pasukan musuh mela­ri­kan diri.

Kesa­tuan Tuban dalam kege­lapan itu tidak tahu, bahwa dalam penge­jar­an­nya selan­jut­nya mereka sudah berada di dekat daerah pelu­aran kota Malaka.


Bab 32

Gelar Jadi Sandera

Kema­rin dulu Idayu masih ber­seru dari beranda gubuk pang­gung itu: “Gelar! jangan begitu. Bel­a­jar yang baik!”

Tapi Gelar tak peduli. Dengan mele­pas ken­dali ia meng­gan­tung­kan diri di sam­ping kuda, tangan meme­luk leher bina­tang­nya. Kuda itu lari terus, dan ia melom­pat mela­lui pung­gung kuda, ber­buat sema­cam itu di sam­ping lain. Kemu­dian ia ber­pacu di jalanan desa dengan memung­gungi arah. Tak lama kemu­dian ia ber­pe­gangan sang­gurdi dan meng­gan­tung di bawah badan kuda.

Ia tak mau dengar emak­nya meme­kik-mekik keta­kutan. Tubuh­nya dan tubuh kuda itu seakan telah jadi satu. Dan ber­la­tih mengu­a­sai kuda­lah kesi­buk­an­nya sehari-hari seha­bis kerja.

Dan seka­rang ia meng­ge­le­tak di atas ambin kayu. Mata­nya ter­buka tanpa meli­hat. Antara seben­tar sese­o­rang mema­suki bang­sal dan mene­ngok­nya, mener­ta­wa­kan­nya. Ada juga yang sengaja meng­e­jek, tajam dan mengirim: “Apa kau renung­kan, Buyung! Anak Sena­pati Tuban bukan seperti itu mes­ti­nya. Kalau tidak suka, mena­ngis­lah keras-keras, biar kami gen­dangi, biar semua orang tahu, anak Sena­pati punya sejam­bang air mata.”

Untuk meng­hin­dari semua gang­guan ia tutup muka­nya dengan bantal.

Sekali ter­jadi sese­o­rang mena­rik bantal itu dan men­je­lir­kan lidah pada­nya. Ia rebut kem­bali ban­tal­nya dan dite­kan­kan erat-erat pada muka­nya lagi. Seo­rang lain masuk dan menye­ret kaki­nya sampai ia ter­ja­tuh dari ambin dan segera merang­kak naik ke atas, di bawah sorak dan sorai tawa.

Pada mula­nya ia mera­ung-raung minta dika­sih­ani ter­ha­dap per­la­kuan kasar yang tak pernah dike­nal­nya sebe­lum­nya itu. Tak seo­rang pun akan ber­buat demi­kian di desa­nya. Ayah dan ibunya tidak, kepala desa pun tidak. Apakah salahku sampai diper­la­ku­kan demi­kian? Seka­rang ia tidak mera­ung lagi, walau ia tidak berani mela­wan atau mem­bela diri. Ia akan deri­ta­kan semua dengan sabar. Bahkan ia pun tidak tahu sedang berada di rumah siapa. Semua lelaki, pra­ju­rit, tak ada seo­rang wanita pun!

Di malam hari waktu kea­daan agak tenang, ter­de­ngar oleh­nya sese­o­rang bicara pada yang lain: “Jangan ganggu dia. Aku yang mela­rang. Ayah­nya sangat ter­hor­mat dan dihor­mati. Juga ibunya. Dia bukan seje­nis kalian. Yang tak tahu batas.”

Gelar men­coba meng­in­tip dari balik bantal. Ter­li­hat oleh­nya seo­rang pra­ju­rit penga­wal ber­ge­lang baja bicara pada bawah­an­nya. Ia merasa men­da­pat per­lin­dungan. Dada­nya tak begitu sesak lagi. Seo­rang demi seo­rang di antara mereka mulai mere­bah­kan diri di sam­ping-menyam­ping­nya dan segera kemu­dian ter­ti­dur dengan menyem­bur­kan bau tuak dari mulut.

Malam sema­kin tenang dan ia sen­diri pun men­jadi tenang. Baru ia berani turun untuk buang air. Kemu­dian merang­kak lagi ke tem­pat­nya.

Ia kenang­kan kem­bali per­ca­kapan antara Pra­ju­rit Tuban itu dengan ibunya: “Nyi Gede Idayu, jangan kaget. Gusti Adi­pati Tuban telah meni­tah­kan agar Gelar, putra Nyi Gede yang per­tama, dibawa ke Tuban.”

“Apakah salah­nya anakku? Bukan­kah sua­miku sudah juga dibawa ke Tuban?”

“Tak ada yang dapat men­ce­gah titah Gusti Adi­pati, Nyi Gede. Pang­gil­lah anak itu.”

Dan diha­dap­kan pada orang-orang yang ber­per­a­wakan kukuh ter­tu­tup dengan gum­palan otot.

“Gelar, kau akan kami bawa ke Tuban.”

“Bapak ber­pe­san untuk men­jaga dan mem­bantu emak dan adik.” Ia mem­ban­tah, dan mene­rang­kan tugas­nya seba­gai lelaki tertua dalam kelu­arga.

Dan pra­ju­rit-pra­ju­rit itu mener­ta­wa­kan­nya.

“Selu­ruh desa akan men­jaga dan mem­bantu Nyi Gede. Itulah yang jadi titah Gusti Patih.”

“Aku telah ber­janji pada bapak….”

Mereka ber­henti ter­tawa meli­hat pan­caran keben­cian dan amarah pada mata Idayu. Dan wajah Idayu itu tetap cantik seperti semasa masih berada di Tuban dulu, dan tubuh­nya tetap semam­pai berisi karena latihan-latihan. Cuping hidung wanita itu meng­ge­tar seperti cuping macan betina yang men­cium bahaya yang men­da­tangi.

“Dulu begini juga yang diper­buat oleh Kiai Beng­gala,” bentak Nyi Gede.

“Kami datang mem­bawa titah Gusti Patih.”

“Kita tak bisa ber­buat apa-apa, Nak. Biar aku siap­kan pakai­anmu.” wanita itu masuk ke dalam dan keluar lagi mem­bawa bung­kusan kecil dan selem­bar kain batik dika­lung­kan­nya pada leher­nya sambil ber­kata. “Dan ini, Gelar, kain mak, per­gu­na­kan kalau kau kedi­nginan. Kau harus ingat, bapakmu tidak bisa ber­buat apa-apa. Makmu pun tak bisa. Jangan kau mena­ngis. Nak sudah besar, hampir lima belas. Berang­kat­lah kau dengan doaku. Jadilah kau seo­rang lelaki.”

Meli­hat ibu yang dihor­mati dan dicin­tai itu tak dapat mem­per­ta­han­kan dir­i­nya, juga tak dapat mem­per­ta­han­kan pesan ayah­nya atau jan­ji­nya pada ayah­nya, ia pun mera­ung, men­ja­tuh­kan diri dan meme­luk kaki ibunya. Dengan pri­ha­tin ibunya meng­u­sap-usap kepa­la­nya. “Belum lagi kepala ini sempat ber­des­tar…” gumam ibunya. Kum­bang pun meme­kik, merang­kul leher abang­nya ter­cinta, mera­ung: “Tidak boleh. Kang Gelar jangan pergi!”

Pra­ju­rit-pra­ju­rit itu dengan hati-hati mele­pas­kan Gelar dari rang­kulan pada kaki ibunya dan dari pelukan adik­nya. Ia angkat Gelar dalam bopongan. Dan yang dibo­pong meronta dan mela­wan. Dengan demi­kian ber­mu­la­lah per­ja­lan­an­nya ke Tuban. Dalam hidup­nya yang semuda itu ia mulai dapat mera­sa­kan adanya keku­a­saan dan penga­ruh ayah dan ibunya ter­ha­dap kehi­dupan di Awis Kram­bil. Wirang­gal­eng Sena­pati, semua orang senang pada­nya, bahkan Sang Patih Tuban tidak tanpa hormat meng­ha­dap­i­nya. Ibunya seo­rang penari tanpa tan­dingan. Semua orang datang pada­nya bila ber­ta­nya sesu­atu ten­tang tari. Ayah dan ibunya yang sejuk dari panas dan kering dari hujan. Kehi­dupan seperti itu ber­ja­lan tanpa gugatan. Tapi apa seka­rang? Ter­nyata keku­a­saan ayah dan ibunya takluk pada yang lebih tinggi lagi. Dan ayah­nya dan ibunya tak dapat ber­buat sesu­atu pun. Bahkan mem­ban­tah pun tidak bisa. Dua macam keku­a­saan itu ia rasai ber­la­inan, ber­ten­tangan, ber­mu­suhan, tapi tak pernah ter­u­cap­kan.

Dan tanpa dike­ta­hu­i­nya kini ia telah dija­di­kan san­dera oleh Sang Adi­pati. Pengu­asa tua itu telah meni­tah­kan agar ia diku­rung di dalam peru­mahan pasukan penga­wal kadi­pa­ten, diper­si­ap­kan untuk jadi pra­ju­rit penga­wal.

Di dalam bang­sal itulah ia seka­rang. Piki­ran­nya terus-mene­rus diganggu oleh per­ta­nyaan bagai­man­akah ibunya seka­rang harus sele­sai­kan semua peker­jaan sehari-hari tanpa dir­i­nya? Siapa yang meng­am­bil rusa, atau celeng dari ranjau perang­kap? Siapa yang mengu­l­iti? Siapa pula yang menge­r­ja­kan sawah dan ladang? Dan siapa yang diajak adik­nya ber­main? Siapa pula yang men­ja­ga­nya? Betapa akan sunyi­nya rumah ter­pen­cil di ping­gir hutan itu, dan betapa sangat sibuk­nya emak­nya. Ia harus bel­a­jar mena­han kekha­wa­tiran ter­ha­dap yang diting­gal­kan dan kese­dihan ter­ha­dap nasib sen­diri. Yang diting­gal­kan adalah alam kasih-sayang, ten­te­ram dan damai, yang dima­suk­i­nya seka­rang adalah alam keke­ra­san tanpa belas kasihan.

Sampai sejauh itu para pra­ju­rit penga­wal men­duga, si bocah itu disan­de­r­a­kan karena Wirang­gal­eng pernah menya­ta­kan sumpah takkan kem­bali ke Tuban sebe­lum Sang Adi­pati mati. Dugaan yang kurang ber­da­sar, karena Sang Adi­pati tak pernah men­de­ngar sumpah itu. Yang dide­ng­ar­kan justru lain: Treng­gono telah menu­duh Sang Adi­pati Tuban ber­se­kong­kol dengan Wirang­gal­eng untuk menan­tang keku­a­saan Demak, dan Sultan meng­an­cam akan menang­kap Sang Adi­pati hidup-hidup di waktu dekat men­da­tang dan akan mem­be­lah­nya hidup-hidup jadi empat bagian besar. Ancaman itu disam­but dengan ter­tawa, namun ia tetap tidak rela Tuban ter­in­jak oleh balat­en­tara lain. Maka ia menye­sal telah mem­be­rang­kat­kan Wirang­gal­eng dan lima ratus pra­ju­rit laut, ia telah batal­kan harap­an­nya akan kema­tian Sena­pati. Ia mem­bu­tuh­kan­nya untuk mem­per­ta­han­kan Tuban. Dengan Gelar seba­gai san­dera ia meng­ha­rap anak desa itu sewaktu-waktu akan dapat dipang­gil­nya kem­bali.

Gelar meng­ge­ra­gap bangun. Tarikan kasar pada kaki­nya menye­bab­kan untuk kedua kali­nya ia ter­ja­tuh di lantai.

Matari ter­nyata telah tinggi.

Sepan­tun suara keras meng­ger­tak­nya: “Pema­las! Aturan mana orang bangun ter­ting­gal matari?”

Seka­rang Gelar meng­erti, tak ada seo­rang pun akan melin­dung­i­nya. Tak per­cuma emak­nya meng­ha­rap­kan akan jadi lelaki. Ia tak sudi diper­la­ku­kan lebih lama seka­sar itu. Di hadap­an­nya ber­diri seo­rang pra­ju­rit ber­tu­buh kekar. Kasih-sayang yang disam­pai­kan kelu­ar­ga­nya menu­kik mem­ba­lik men­jadi dendam yang mem­bun­cah dalam dada­nya. Dengan segala yang pernah dia­jar­kan dan dila­tih­kan oleh bapak­nya ia melom­pat dan mener­kam pra­ju­rit penga­wal yang tak siaga itu. Seperti seekor biawak ia meleng­ket pada tubuh peng­a­n­i­a­ya­nya, dan gigi­nya masuk ke dalam otot dada yang telan­jang ber­bulu itu.

Dengan dua belah tangan pra­ju­rit itu meno­lak­nya keras-keras. Gelar ter­ja­tuh di lantai sete­lah menub­ruk din­ding. Dan dada pra­ju­rit itu ber­lu­muran darah.

“Kucing kepa­rat!” sum­pah­nya sambil menyeka dada dengan lengan. “Sekali lagi, kuce­kik sampai mampus.”

“Dan kuti­kam kau sampai mampus!” balas Gelar, ber­diri dan ber­siap mem­bela diri ter­ha­dap segala peng­a­n­i­a­yaan yang mung­kin menyu­sul.

“Lan­cang, seperti bapak­nya! Kau tahu apa ten­tang dirimu? San­dera!”

“Ayoh, coba­lah sekali lagi.”

“Tak ada yang lebih hina dari­pada san­dera. Kalau aku jadi san­dera, lebih baik kuku­l­iti mukaku,” kata­nya sem­bari terus mem­ber­sih­kan dada­nya.

“Coba­lah sekali lagi,” ten­tang Gelar. “Tak bisa kuti­kam waktu jaga. waktu tidur pun kena.”

Kha­wa­tir akan ter­jadi geger, pra­ju­rit itu menga­lah dan pergi sambil mengu­rus dada­nya yang ber­da­rah dengan piji­tan dan ceng­kaman.

Seo­rang diri di dalam bang­sal ia mulai mere­nungi kata-kata pra­ju­rit itu san­dera, jadi san­dera! Dan ia meng­erti hidup­nya berada di ujung pedang. Setiap waktu, tanpa pem­be­ri­ta­huan, seo­rang san­dera dapat diha­bisi jiwa­nya tanpa tahu apa per­ka­ra­nya. Baik, aku jadi san­dera.

Sese­o­rang memang­gil­nya keluar dan kelu­ar­lah ia dengan siaga. Dili­hat­nya pemang­gil­nya seo­rang pra­ju­rit yang sedang duduk di atas kuda sambil menun­tun ken­dali kuda lain­nya. Ia mem­beri isya­rat dengan tangan.

“Naik!” perin­tah­nya.

Dan Gelar naik dari sang­gurdi ke atas kuda yang tinggi lagi besar itu. Kaki­nya tak dapat men­ca­pai sang­gurdi yang lain. Dan sebe­lum ia dapat mele­tak­kan diri dengan enak, sese­o­rang telah men­cam­buk bina­tang­nya. Kuda itu ter­ke­jut, melom­pat. Gelar ter­ba­lik di atas pung­gung ken­da­ra­an­nya dan jatuh ke sam­ping. Sece­pat kilat ia ber­pe­gangan pada sang­gurdi dan ter­se­ret oleh sang kuda. Ia tak dengar lagi orang ber­so­rak-sorai senang: Pegang­an­nya lepas. Ia jatuh meng­ge­le­tak dengan kaki ter­so­bek-sobek batu jalanan.

Pra­ju­rit yang meme­rin­tah­kan tadi men­de­kati dan dari atas kuda mem­ben­tak.

“Siapa perin­tah­kan kau turun? Dengar perin­tah baik-baik. Kejar aku, dan pukul aku sampai kena,” ia meng­ge­rak­kan kuda­nya dan mema­cu­nya menge­li­lingi alun-alun.

Gelar bangun ber­diri, meme­rik­sai kaki­nya yang sobek-sobek dan ber­da­rah, kemu­dian mem­ba­sah­i­nya dengan ludah­nya sen­diri. Bina­tang­nya ber­henti di suatu tempat tak jauh dari pada­nya. Kuda itu jinak dan lari­nya ken­cang, memang dise­di­a­kan untuk bisa menge­jar. Ia tak tahu nama­nya. Maka dipang­gil­nya dengan kata yang banyak dise­but-sebut bela­kangan ini: “Sultan! Sultan!” ia meng­ham­pir­i­nya sambil ber­pin­cang.

Kuda itu tak mau meng­ham­pir­i­nya, ia sen­diri yang harus datang pada­nya. Angkuh kau, Sultan! Dipe­gang­nya ken­dali dan dite­puk-tepuk bahu bina­tang itu, dipe­gang kepala dan diusap-usap­nya. Kepala bina­tang itu dita­rik­nya ke bawah pada kaki­nya, disu­r­uh­nya men­ji­lati darah­nya sampai bersih. Kemu­dian ia rang­kul leher Sultan dan melom­pat ke atas­nya.

“Lari, Sultan, lari, kejar dia, bikin aku jadi lelaki. Susul dia, biar aku gebuk kepa­la­nya.”

Gelar tak duduk di atas pelana. Ia meme­luk leher kuda yang tinggi besar itu dan mulai mem­buru.

Yang diburu lari, meng­e­lak, meliuk-liuk.

“Ayoh, Sultan, jangan kau beri aku malu,” bisik­nya pada kuping Sultan.

Meli­hat pra­ju­rit itu meng­e­lak-elak juga, ia men­jadi ber­se­ma­ngat. “Tubruk, Sultan, tubruk, biar dia men­jem­palit!”

Per­ke­ja­ran itu beru­bah dari suatu latihan men­jadi suatu per­ta­rungan. Pra­ju­rit-pra­ju­rit mulai turun ke alun-alun untuk menon­ton. Kemu­dian orang lalu-lalang pun memer­lu­kan meli­hat. Tanpa undangan dan tanpa peng­u­muman penon­ton sema­kin lama sema­kin banyak. Orang ber­jing­k­rak melom­pat-lompat, orang mena­han napas kete­gangan.

Pada suatu tub­ru­kan yang telah diren­ca­na­kan kuda­nya, tinju bocah itu meng­ge­da­bir menge­nai angin. Dan demi­kian bebe­rapa kali lagi ter­jadi.

Gelar naik pitam. Tak dira­sa­i­nya lagi perut­nya telah lapar, dan peluh kuda telah ber­cam­pur dengan peluh­nya sen­diri. Tidak, tidak mung­kin dia dapat kupu­kul dengan tangan. Lengan ini ter­lam­pau pendek. Ia ber­pacu mem­bung­kuk dengan dua belah tangan erat-erat meme­luk leher Sultan dan ia per­si­ap­kan diri untuk mela­ku­kan tub­ru­kan yang menen­tu­kan.

Pra­ju­rit penga­wal itu bukan­lah anak kema­rin. Dengan suatu elakan indah tub­ru­kan dapat dihin­dari untuk ke sekian kali­nya. Tetapi ia salah per­hi­tungan. Tangan Gelar tidak mela­yang. Ia ayun­kan badan dan meng­gaet leher pra­ju­rit itu dua belah kaki dan mem­bi­kin jepitan sila.

Dua ekor kuda itu ber­pacu ber­ja­jar. Leher pra­ju­rit itu tetap dalam jepitan Gelar. Sorak-sorai men­jadi riuh. Orang mulai menga­gumi ke-tang­kas­aan pengen­dara muda belia itu. Dan tangan Gelar tetap meme­luk Sultan.

“Jatuh­kan, orang muda! jatuh­kan!”

Ia tak dengar sorak-sorai dan seruan. Kedua belah tangan dan bahu­nya telah terasa kelu dan ia sen­diri bakal jatuh. Sece­pat kilat ia meng­am­bil kepu­tusan untuk men­ja­tuh­kan pra­ju­rit itu. Ia lepas­kan jepitan sila dan sece­pat itu pula mela­yang­kan tumit pada muka pra­ju­rit itu. Tak dike­ta­hu­i­nya tumit telah masuk ke dalam rongga mata. Ia pun ber­a­yun kem­bali ke atas pung­gung kuda­nya.

Penon­ton ter­diam ter­ke­jut.

Ia sen­diri masih siap­kan kuda­nya untuk tub­ru­kan yang ter­a­khir sete­lah dapat meli­hat pra­ju­rit itu duduk goyah di atas ken­da­ra­an­nya.

“Sudah! Sudah! Cukup!” orang ber­seru-seru.

Waktu tub­ru­kan hampir ber­lang­sung, men­da­dak Gelar meng­hen­ti­kan Sultan. Pra­ju­rit itu mulai miring. Tangan­nya yang sebe­lah meme­gangi mata­nya dan kepa­la­nya menun­duk miring dita­rik oleh daya berat. Kuda­nya ber­ja­lan pelan-pelan, kemu­dian ber­henti.

Gelar turun dan lari menyong­song. Dan orang-orang pun lari men­da­pat­kan­nya.

“Bodoh!” bentak pra­ju­rit ber­ge­lang baja yang sema­lam. “Tidak ada aturan meng­gu­na­kan kaki.”

Orang itu ditu­run­kan dari kuda dengan muka ber­lu­muran darah.

Gelar tak men­de­ng­ar­kan ben­takan. Ia ikut meno­long sambil memang­gil-mang­gil Sultan yang telah ia lepas.

Bina­tang itu meng­i­kut­i­nya, ber­ja­lan pelan-pelan di bela­kang­nya.

Bola mata pra­ju­rit itu telah keluar dari rong­ga­nya. Dan Gelar tak sampai hati meli­hat­nya. Ia ber­diri ter­pa­ku­kan pada tanah. Ia menye­sal. Selu­ruh den­dam­nya menung­ging, dan belas-kasih­an­nya muncul ke per­mu­kaan. Dan ia tak dapat ber­buat sesu­atu.

Hari itu kota Tuban digem­par­kan oleh berita ten­tang Gelar si muda belia, si penung­gang kuda tanpa tan­dingan, Gelar anak Sena­pati Tuban, calon pra­ju­rit penga­wal, calon Sena­pati, Gelar anak Nyi Gede Idayu. Temui dia dalam hidupmu: Dan pen­du­duk kota Tuban, ter­di­dik memu­li­a­kan kepah­la­wanan, datang ber­bon­dong-bon­dong mengun­jungi bang­sal pasukan penga­wal kadi­pa­ten untuk meng­elu-elukan sang per­jaka pah­la­wan, anak kema­rin yang bisa men­ja­tuh­kan seo­rang pra­ju­rit penga­wal pada hari per­tama jadi calon pra­ju­rit.

Sepan­jang hari tiada ber­ke­pu­tusan orang datang untuk menga­gum­i­nya.

Kepala-kepala regu men­jadi sibuk mengu­rusi para pengun­jung. Mereka tahu, datang­nya bon­do­ngan penga­gum tak dapat dan tak mung­kin dice­gah karena memang sudah jadi adat yang men­da­rah-daging. Gadis-gadis datang mem­bawa bunga-bungaan untuk dija­mah oleh si gagah-berani dan wanita-wanita bun­ting untuk men­ja­mah tangan­nya agar anak­nya kelak pun seperti itu juga gagah-bera­ni­nya.

Tiga hari lama­nya bang­sal pasukan penga­wal ramai dikun­jungi orang. Buah-buahan, penganan, ikan laut dan daging per­bu­r­uan, tuak, madu, telur datang ber­tum­puk di dalam dapur tanpa dike­ta­hui siapa pengir­im­nya. Dan tempat tidur Gelar tak pernah sunyi dari daun bunga yang dite­bar­kan.

Kemu­dian kea­daan pulih kem­bali seperti biasa. Gelar tak meng­erti meng­apa sebe­sar itu peng­har­gaan ditum­pah­kan kepa­da­nya. Yang dira­sa­i­nya hanya­lah pem­be­ron­takan di dalam hati ter­ha­dap semua per­la­kuan kasar ter­ha­dap dir­i­nya. Ia meno­lak semua keka­saran, dan ia ber­te­kad untuk mem­ba­las dengan setim­pal. Maka ia terus-mene­rus ber­si­kap was­pada, menye­dari tak ada lagi kasih-sayang di ling­kung­an­nya yang baru. Tidak ada seo­rang ayah, seo­rang ibu dan adik, tidak ada seo­rang guru, tiada pula pem­bim­bing. Yang ada hanya keka­saran, nafsu peng­a­n­i­aya dan penin­dasan.

Dan peng­a­gungan orang seba­nyak itu ter­ha­dap­nya? Ia tidak meng­erti. Ia bingung.Seo­rang pra­ju­rit lain yang ditu­gas­kan untuk mela­tih­nya mema­in­kan tombak, sebe­lum­nya telah mema­mer­kan keung­gul­an­nya, baik dalam melem­par maupun menye­rang dan ber­ta­han jarak dekat, untuk mema­tah­kan kebe­ra­ni­an­nya.

Dan anak muda desa manakah di Tuban tak tahu mema­in­kan tombak? Juga Gelar tahu. Hanya leng­an­nya belum cukup bero­tot Lem­par­an­nya kurang jauh dan per­ma­in­an­nya kurang cepat

Juga pela­tih­nya mem­pu­nyai kecen­de­rungan untuk menin­das dan meng­e­jek­nya, mener­ta­wa­kan dan meng­hi­na­nya. Dan ia dapat raba semua itu dari sikap pela­tih­nya yang angkuh ter­ha­dap­nya.

Pra­ju­rit pela­tih itu tak mampu meng­u­bah cara-cara Gelar yang diang­gap salah menu­rut dasar ajaran. Ia tun­juk­kan kele­mahan-kele­mahan yang mem­be­ri­kan pelu­ang bagi lawan untuk mema­suk­kan serangan. Gelar tetap meno­lak tak mau meng­i­kuti. Bukan ajaran itu yang dito­lak­nya, tetapi kea­da­an­nya seba­gai san­dera dan per­la­kuan ter­ha­dap dir­i­nya.

Pela­tih yang jadi jeng­kel tapi segan meng­am­bil tin­dakan itu meng­hen­ti­kan latih­an­nya, men­de­ngus: “Kepala kerbau!”

“Apa?”

“Lepas­kan cara lama. Salah semua.”

“Sena­pa­tiku lebih tahu dari­pada kau. Dia guruku.”

“Sena­pati tak pernah didi­dik jadi pra­ju­rit”

“Dia sudah pimpin kau dalam keme­nangan,” ban­tah­nya.

“Kalau terus mem­ban­tah, kau takkan jadi pra­ju­rit yang baik.”

“Dan siapa bilang aku harus jadi pra­ju­rit?”

“Ada, yang jauh lebih ber­ku­asa dari pra­ju­rit?”

“Peduli apa?”

“Dan siapa kau kira bapakmu?” pela­tih itu jadi jeng­kel.

“Siapa lagi?”

“Sena­pati Wirang­gal­eng? Bukan!” pra­ju­rit pela­tih itu meng­ge­leng-geleng dan ber­ke­cap. “Siapa bilang Sena­pati itu bapakmu?”

“Semua orang.”

“Pem­bo­hong! Tak ada orang pernah bilang begitu.”

Dan Gelar merasa kehor­matan kelu­ar­ga­nya telah dihi­na­kan. Ia pun merasa dir­i­nya sen­diri dihi­na­kan. Orang tuanya tak pernah bicara sema­cam itu, apa­lagi pen­du­duk Awis Kram­bil sele­bih­nya.

Pra­ju­rit itu ter­tawa dan Gelar sema­kin ter­sing­gung.

“Memang Nyi Gede pernah mela­hir­kan kau. Nyi Gede yang ter­hor­mat itu. Tapi Sena­pati bukan bapakmu. Tidak pernah! Coba kata­kan, apakah Wirang­gal­eng pernah menga­ta­kan kau anak­nya? Kau, pem­bo­hong!”

Meli­hat Gelar mulai mengu­kuh­kan pegangan pada tom­bak­nya segera ia ber­jaga-jaga sambil ter­se­nyum. Dan ia pun tahu telah meng­hi­na­kan­ke­lu­arga dan pri­badi yang sedang dila­tih­nya. Juga ia tahu yang dihina itu takkan melu­pa­kan hinaan itu untuk seumur hidup­nya.

“Jangan men­coba-coba gurumu, pela­tihmu,” kata pra­ju­rit itu. “Kalau bukan karena meng­hor­mati Sang Sena­pati dan Nyi Gede, kepa­lamu sudah pecah. Lepas­kan tombak itu!”

Cuping hidung beng­kung Gelar sudah kem­bang-kempis seba­gai halnya Idayu bila marah.

“Kau marah. Pada wak­tu­nya yang tepat kau akan tahu Sang Sena­pati sung­guh bukan bapakmu.”

Tetapi Gelar sudah tak men­de­ngar lagi. Darah yang telah menye­saki kepa­la­nya mem­bi­kin ia men­jadi kalap dan menye­rang dengan tom­bak­nya.

Pela­tih yang sudah sejak semula was­pada itu meng­e­lak­kan semua serangan. Ia tahu, Gelar ber­sung­guh-sung­guh hendak mem­bi­na­sa­kan­nya. Ia ber­sung­guh-sung­guh ber­ta­han.

Per­ke­la­hian dengan tombak adalah pere­butan kesem­patan untuk dapat melem­par­kan sen­jata pada tubuh lawan. Mata tombak hampir-hampir tidak dima­in­kan, tapi justru tang­kai dua ujung yang silih ganti menya­sar pada lengan untuk tidak dapat melem­par­kan mata sen­jata. Dua-duanya tidak meng­gu­na­kan tombak lempar, tapi tombak penga­wal. Dengan tang­kai­nya yang kuat dan pan­jang per­ke­la­hi­an­nya menye­ru­pai per­ma­inan sodor.

Gelar terus menye­rang dan pela­tih terus ber­ta­han. Dalam suatu serangan yang keras pela­tih itu mela­ku­kan tang­kisan silang. Tombak Gelar ter­le­pas dari tangan tanpa ia keta­hui sebab­nya. “Ambil lagi tom­bakmu!” perin­tah pela­tih.

Gelar melom­pat memu­ngut sen­ja­t­a­nya dengan mata tak lepas dari tangan pela­tih­nya. Ia takkan biar­kan dir­i­nya ter­kena tipu. Bocah itu ber­ki­sar dan dengan cepat melem­par­kan tom­bak­nya. Pra­ju­rit itu meng­e­lak lebih cepat dan menang­kap tang­kai­nya, kemu­dian melem­par­kan­nya kem­bali pada Gelar dan jatuh menan­cap di antara dua kaki. “Ambil tom­bakmu,” perin­tah­nya lagi.

Tanpa dike­ta­hui oleh Gelar, orang sudah datang meru­bung. Dan Gelar mulai mela­ku­kan serangan jarak pendek. Napas­nya telah ter­e­ngah-engah dan gerak-gerik­nya seperti kuti­lang menyam­bali bela­lang, cepat, sulit untuk dapat diduga. Dan pela­tih itu tetap tidak ber­ki­sar dari tem­pat­nya. Si penye­rang ber­pu­tar-putar mengi­tari, melom­pat dan meng­en­dap, ber­ke­lit dan men­juju.

Seo­rang kepala regu ber­gu­mam: “Bukan orang, iblis kela­paran itu,” kemu­dian meme­rin­tah­kan: “Sele­sai! Bubar!”

Ber­sa­maan dengan itu satu pukulan telah mem­bi­kin jari-jari Gelar tak dapat men­ce­kam. Tom­bak­nya ter­le­pas jatuh ke tanah. Cepat ia meng­am­bil­nya kem­bali.Tombak itu jatuh lagi. Jari-jari­nya seperti ter­buat dari kayu.

Ia dengar tawa di seke­li­ling­nya. Dan den­dam­nya serasa akan meme­cah­kan dada­nya.

“Pulang!” perin­tah kepala regu.

Semua bubar. Gelar ber­ja­lan paling bela­kang. Begitu ia mema­suki bang­sal ia disam­but oleh wajah-wajah yang ber­seri ber­suka-cita atas kega­gal­an­nya. Dan den­dam­nya ber­gu­mul ber­gu­lung-gulung dengan kemu­rungan.

Cepat-cepat ia naik ke atas ambin, menu­tup muka­nya dengan bantal dan mena­han tangis­nya. Ia rasai air mata­nya meng­a­lir hangat pada muka­nya. Ia marah pada diri sen­diri karena tak bisa mem­bi­na­sa­kan pela­tih itu. Dan ia ingin dekat lagi dengan emak­nya, dengan bapak­nya.

Dan ia dengar gelak-tawa ber­de­rai seperti takkan habis­nya meng­e­jek kega­gal­an­nya. Setiap kata yang mereka lepas­kan ia rasai gatal, panas dan meng­gi­git. Ia makin tidak meng­erti meng­apa semua orang memu­suh­i­nya, hanya karena tidak mampu men­ca­pai apa yang telah dica­pai oleh bapak­nya. Tak ada sesu­atu sen­jata di tangan­nya. Bila ada ia akan melom­pat dan meng­a­muk. Ia mena­ngis. Ia kerut­kan gigi karena amarah. Ia pang­gil-pang­gil emak­nya dalam hati­nya. Dan semua dewa yang pernah dike­nal­nya ia tuntut per­lin­dungan dan keku­at­an­nya. Ia tak dapat meneng­gang keka­lah­an­nya yang begitu mudah.

“Hari ini takkan datang penga­gum dan penyan­jung!” sese­o­rang meleng­king ria.

“Kalau bantal sudah ter­tu­tup mata….”

“Itulah tanda hujan deras mem­ba­sahi bumi….”

Dan ingin sekali ia mem­bu­ang bantal dan ber­te­riak ia tak takut pada siapa pun. Ingin – ingin – tapi selu­ruh tubuh­nya meno­lak mela­ku­kan kei­ng­in­an­nya.

“Siapa bilang habis penga­gum habis pula penyan­jung? Lihat, seo­rang wanita datang mem­bawa keran­jang….”

“Mana Gelar, anakku?” Gelar men­de­ngar suara wanita – suara lembut memang­gil-mang­gil.

“Itu, Bu, di ambin, sedang patah hati, tak mau makan.”

Ia rasai tangan halus seo­rang wanita mera­bai kaki­nya. Kemu­dian ter­de­ngar lagi sua­ra­nya: “Gelar, anakku, bangun.”

“Gelar! Bangun, kau!” kepala regu meme­rin­tah.

Gelar meng­hela napas pan­jang untuk men­da­mai­kan pera­sa­an­nya, bangun dan mene­mui wanita itu.

“Aduh, kau sudah besar begini, Gelar, sudah per­jaka.”

Dan Gelar ber­ha­dapan dengan seo­rang wanita ber­mata agak sipit.

“Per­jaka!” orang ber­so­rak-sorak senang.

Gelar duduk pada tepi ambin. Juga wanita itu.

“Aku baru dengar kau ada di sini. Nak. Lupa­kah kau padaku? Orang yang menyam­but keda­tanganmu yang paling mula, waktu kau dila­hir­kan?”

“Nyi Gede,” bisik Gelar, lupa pada pera­sa­an­nya yang kacau seben­tar tadi. Ia turun dari ambin, ber­su­jud dan menyem­bah.

Dan wanita itu meres­tu­i­nya dengan usapan tangan pada kepa­la­nya.

“Kau sudah ber­des­tar begini,” kata­nya. “Aku ikut meng­an­tar­kan Sena­pa­tiku berang­kat. Tapi tak ada aku lihat dia. Kau pun tak keli­hatan. Gelar. Meng­apa pakai­anmu begini buruk? Tak dibe­kali secu­kup­nya dari rumah? Keter­la­luan Idayu. Datang­lah ke kesyah­ban­daran, Gelar.”

“Tidak boleh, Ibu,” sese­o­rang men­cam­puri. “Anak yang luar biasa nakal­nya ini tak diper­ke­nan­kan mening­gal­kan asrama tanpa titah Gusti Adi­pati, kecu­ali kalau sedang latihan.”

“Tapi pra­ju­rit penga­wal lain­nya boleh,” bantah Nyi Gede.

“Ya, yang ini tidak.”

“Baik­lah,” sam­bung­nya. “Ini kuba­wa­kan penganan seka­dar­nya. Kalau begitu akulah yang harus sering datang kemari. Kau sudah punya keleng­kapan pra­ju­rit. Gelar?”

“Tak ada satu pun padaku kecu­ali itu,” ia menu­ding pada bung­kusan pakaian.

“Emakmu memang keter­la­luan.”

“Apalah guna­nya? Itu pun sudah cukup, Nyi Gede.”

“Di rumah masih ada pening­galan Sang Sena­pati, pakaian, pedang dan empat bilah tombak. Nanti aku bawa­kan.”

“Jangan. Ibu.” sese­o­rang men­ce­gah, “ia hanya san­dera, tak boleh punya sen­jata sen­diri.”

“San­dera!” pekik Nyi Gede Kati. “Siapa bilang dia san­dera? Tidak mung­kin!”

“Aku yang bilang. Ibu. Kebe­nar­an­nya tak dapat dir­a­gu­kan.”

“Apa kesal­ahan Wirang­gal­eng Sang Sena­pati?”

Per­ta­nyaan itu tak ter­ja­wab. Setiap orang tahu arti­nya san­dera: orang yang setiap waktu dapat diha­bisi bila yang dile­pas tak mene­pati tugas.

“Gelar! Gelar!” ratap­nya tiba-tiba. “Siapa yang menye­bab­kan semua ini?”

Men­da­dak ia ter­diam dan pan­dang­nya ter­pu­sat pada sesu­atu yang jauh. Ber­bi­sik mene­rus­kan: “Biar, Gelar. Sabar­lah dulu. Biar aku urus, Nak, semoga ber­ha­sil” ia men­de­hem. ‘Ting­gal­lah tenang-tenang di sini.”

Ia ber­siap-siap, kemu­dian pergi ber­ce­pat-cepat.

Tepat sebu­lan selama di dalam asrama datang­lah bebe­rapa orang dari Awis Kram­bil meng­an­tar­kan upeti. Mereka mampir untuk mene­mu­i­nya: kepala desa dan para pemi­kul. Mereka mem­ba­wa­kan untuk­nya pakaian dan per­leng­kapan pra­ju­rit: tiga bilah tombak lempar, sebi­lah pedang, sebuah peri­sai dari kayu sawo yang ber­u­ki­ran kala makara. Tetapi semua keleng­kapan itu harus dibawa pulang kem­bali karena tidak diper­ke­nan­kan. Bebe­rapa lembar lontar yang ter­i­kat pada benang pili­nan dan ber­u­jung jumbai adalah suara dari ibunya: “Gelar, anakku. Kau harus meng­erti kea­da­anmu. Kau dibuat jadi san­dera untuk men­ja­min kese­ti­aan Sena­pati pada Sang Adi­pati. Maka jangan kau pikir­kan emak dan adikmu. Jaga­lah dirimu sen­diri baik-baik, Gelar, jaga­lah kese­la­mat­anmu. Kau seka­rang sudah dewasa. Jangan titik­kan air mata untuk duka­ci­tamu, jangan kau per­ma­lu­kan Sena­pati dan emakmu. Bel­a­jar kau baik-baik, apa saja yang harus patut kau pel­a­jari. Seba­gai san­dera tak ada seo­rang pun yang dapat melin­dung­imu kecu­ali dirimu sen­diri. Begitu kau mema­suki asrama, kau sudah men­jadi pra­ju­rit dan sudah dewasa. Maka itu aku meminta padamu, Gelar untuk meng­erti satu hal. Satu hal saja, ialah, bahwa emakmu masih meng­ha­rap­kan dapat ber­temu deng­anmu, pada suatu kali, di mana saja. Emak tidak mene­ngokmu di Tuban, dan jangan kau harap­kan yang demi­kian akan ter­jadi. Demi sum­pahku, Gelar.”

Dan Gelar meng­erti benar apa yang ter­si­rat di dalam lontar itu. Ia rasai selem­bar sem­bilu menya­yat dalam hati­nya. Ia teguh­kan batin­nya. Aku akan ber­temu dengan emak! Pada suatu tempat. Ia tak punya per­se­di­aan lontar. Ia ber­u­saha men­da­pat­kan­nya dari tamu-tamu­nya.

“Kau tak ada hak untuk menu­lis surat!” tegah kepala regu­nya. “Jangan menu­lis.”

“Sam­pai­kan sembah sujudku pada emakku yang mulia,” kata­nya dengan suara keras menan­tang selu­ruh bang­sal, “telah kubaca lon­tar­nya dan meng­erti isinya,” dan ia per­si­la­kan tamu-tamu­nya pergi sambil bebe­rapa kali meng­u­cap­kan terima kasih.

Orang-orang sede­sa­nya meling­kung­i­nya dengan pan­dang belas kasih. Ia ber­ce­pat memung­gungi mereka, dan waktu mereka telah pergi semua ter­nyata para pra­ju­rit sedang ramai-ramai mem­baca lon­tar­nya.

Malam itu isi surat men­jadi ter­ta­waan selu­ruh bang­sal, bahkan dari bang­sal-bang­sal lain orang ikut meme­ri­ah­kan­nya.

Gelar diam saja, tak dapat ber­buat sesu­atu apa. Orang-orang ini mem­per­la­ku­kan aku seperti itu hanya karena aku san­dera, setiap waktu dapat mereka bunuh.

Surat itu sudah tak mung­kin jadi mil­ik­nya lagi. Dan ia tak ingat semua yang ter­tu­lis di dalam­nya, kecu­ali suara ibunya yang memang­gil men­dayu-dayu: ‘pada suatu kali, di mana saja’. Ia tahu, si ibunya meng­ha­rap­kan pada suatu kali nen­tu­kan ‘suatu kali’ itu dan ‘di mana saja itu? Jelas bukan emak­nya.

Aku sen­diri, ia menen­tu­kan, tak lain diriku sen­diri.

Pada bulan ber­i­kut­nya datang lagi pen­je­nguk dari desa. Sekali ini kepala desa tidak ikut serta. Juga bebe­rapa lembar lontar datang dan: “Aku dengar banyak ejekan ditim­pa­kan pada dirimu. Gelar, Aku sangat ber­pri­ha­tin. Kau dipang­gil-pang­gil si betet. Mereka mering­kus kau dan mem­per­main-main­kan hidungmu, seakan-akan anakku tidak lagi mem­pu­nyai kehor­matan dan harga diri, seakan-akan Sena­pa­tiku Wirang­gal­eng belum ber­buat apa-apa dalam hidup­nya, seakan-akan Idayu tak pernah men­ca­pai sesu­atu pun. Aku tahu kau merasa ter­hina, dan kau tahu tidak lain dari aku sen­di­ri­lah yang merasa lebih ter­hina lagi. Orang tua-tua kita meng­a­jar­kan ten­tang kehor­mat­an­j­dan harga diri. Itu di desa-desa, Gelar, di kota rupa­nya orang sudah tidak menge­nal lagi ajaran itu. Sudah sering kau kuce­ri­tai ten­tang Rama Clu­r­ing dan guru-guru lain­nya. Cerita-cerita itu tidak akan sia-sia. Lihat­lah bapakmu! Tak ada orang lain yang perlu kau lihat kecu­ali bapakmu. Sena­pati Wirang­gal­eng adalah bapak yang ter­baik untukmu. Tidak ada yang lebih baik. Tetap­lah hor­mati dan cintai dia seba­gai­mana emakmu meng­hor­mati dan men­cin­ta­i­nya, maka semua ejekan dan hinaan akan kalis. Kau lebih ber­harga untuk emakmu dari­pada seribu peng­e­jek­dan peng­hi­namu. Si peng­e­jek akan ting­gal jadi peng­e­jek Si peng­hina sema­kin men­jadi hina sen­diri untuk seumur hidup­nya. Tapi kau, Gelar, anakku, akan tumbuh lebih ber­harga dari­pada mereka dikum­pul­kan jadi satu. Kau tak perlu mem­ba­las surat emak ini, karena aku tahu kau tak diper­ke­nan­kan. Walau demi­kian Idayu tidak bicara pada si gagu-bisu, tanpa surat pun Gelar meng­erti pera­saan emak­nya. Banyak-banyak­lah ber­pri­ha­tin. Pada suatu kali di sesu­atu tempat entah di mana. Yakin­i­lah itu, dan jangan malas berdoa untuk bapakmu, jangan malas bel­a­jar untuk dirimu sen­diri.”

Gelar tak mem­ba­las surat itu. Ia sengaja tak mera­mahi para pene­ngok, yang tak ber­pe­san sesu­atu pun sampai mereka pulang. Satu hal yang dike­ta­hu­i­nya, ada seo­rang di dalam asrama yang suka mem­bu­ang-buang waktu mela­por­kan segala sesu­atu ten­tang dir­i­nya mela­lui orang lain atau­pun lang­sung pada emak­nya. Dan ia kadang merasa ber­te­rima kasih kadang pun merasa malu karena per­bu­atan orang tak dike­nal itu. Dan ia ber­mak­sud men­cari orang itu.

Ia kibar-kibar­kan lon­tar­nya dan ber­seru-seru menan­tang: “Ayoh, barang­si­apa mau meram­pas surat ini, ayoh sini!”

Ia seperti seekor jago yang sedang ber­ko­kok. Dan ia ter­se­nyum senang, senyum per­tama selama dua bulan ini.

Tak ada yang tampil untuk mere­but­nya. Maka ia mem­ba­ca­nya keras-keras, menge­ta­hui surat itu tidak sepe­nuh­nya ter­tuju pada dir­i­nya, teta-pi juga pada pasukan penga­wal pada umum­nya. Dan orang-orang yang men­de­ngar itu duduk mene­kur seakan sedang meng­ha­dapi taufan amarah dari Idayu sen­diri. Juga kepala regu itu menun­duk dalam.

Sesam­pai­nya di rumah Nyi Gede Kati dengan tak sabar­nya menunggu-nunggu keda­tangan sua­mi­nya. Dan begitu Tholib Sung­kar Az-Zubaid datang segera saja ia menye­rang: “Tak ada orang lain yang dapat ber­buat begitu kejam sejak semula dari­pada Tuan. Keji! Bahkan pada anak­nya sen­diri! Tuan malu punya anak seperti dia maka kau mau bina­sa­kan dia seba­gai san­dera,”

“Ada apa kau ini, Kati?” Tholib Sung­kar ter­he­ran-heran tak tahu sesu­atu apa.

“Hanya Tuan seo­rang yang sering meng­ha­dap Sang Adi­pati hanya kau!”

Tholib Sung­kar beru­bah air muka­nya dipang­gil kau dan bukan tuan. “Apa kau ini?” ulang­nya ter­sing­gung.

“Kau telah meng­ha­sut. Kau! Kau bikin Gelar, anakmu sen­diri, jadi san­dera,” tuduh Nyi Gede.

“Dari rumah utama ini, ke rumah Idayu sana, dan lahir­lah Gelar. Idayu sen­diri yang ber­kata. Selu­ruh Tuban tahu ceri­ta­nya, semua tahu, siapa Gelar, kecu­ali Gelar sen­diri barang­kali, dan kau yang pura-pura tak tahu.”

“Apa kau ini, Kati?”

“Tiga kali kau sudah ulangi per­ta­nya­anmu, menunda sampai datang kebo­hongan baru kau buat dalam hatimu.”

Tholib Sung­kar Az-Zubaid meng­am­bil tong­kat dan ber­u­saha meng­hin­dar. Wanita itu men­ce­gah­nya dengan ancaman hendak menye­rang­nya.

“Betapa kau hina­kan Idayu. Kau paksa dia mengan­dung­kan anakmu selama sem­bi­lan bulan….”

“Bohong! Tak ada cara begitu pada Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa. Kau kira siapa Idayu diban­ding­kan dengan bida­dari-bida­dari lain­nya?”

“Dan meng­apa mereka kau ting­gal­kan, dan meng­ham­ba­kan diri pada raja dan negeri kecil yang selalu kau hina­kan? Meng­apa kau diam saja? Biar aku pang­gil tukang kebun untuk deng­ar­kan per­teng­karan ini.”

“Stt. Meng­apa orang luar harus ikut dengar?”

“Deng­ar­kan kata Idayu? Kaulah pula yang mengir­im­kan Wirang­gal­eng ke sarang Kiai Beng­gala biar ter­bu­nuh.”

“Kati!”

“Kaulah yang meng­ada-ada mengir­im­kan­nya ke Malaka dengan hanya uang! Kaulah pula yang meram­pas Gelar dari ibunya yang sen­di­r­ian di desa, untuk disan­de­r­a­kan dan diha­bisi, biar kau ter­be­bas dari tuduhan umum dan ter­be­bas dari malu sen­diri. Kau, buaya darat! Pem­bu­nuh dengan meng­gu­na­kan keku­a­saan orang lain! Kata­kan kalau semua itu tidak benar!”

“Tak satu pun benar,” Tholib Sung­kar men­ja­wab tegas.

“Baik. Mari aku seret kau ke pela­buhan, biar aku tuduh kau di depan umum,” Nyi Gede Kati menang­kap tangan sua­mi­nya dan mulai menye­ret­nya.

“Jangan begini. Kati. Jangan bikin malu.” Wanita itu menye­ret­nya terus.

“Aku pukul kau,” Tholib Sung­kar Az-Zubaid, Syah­ban­dar Tuban itu mela­wan tarikan dan meng­a­mang­kan tong­kat.

Nyi Gede Kati men­da­dak mele­pas­kan seret­an­nya dan Syah­ban­dar itu jatuh ter­jeng­kang di lantai. Ia melom­pat meng­ang­kang? dan meng­in­jak kedua tela­pak tangan sua­mi­nya Syah­ban­dar itu ter­ka­ing-kaing kesa­kitan. Jari-jari tangan­nya dira­sai hampir remuk dan tak bisa mele­pas­kan diri.

“Hancur jari-jari ini,” pekik Syah­ban­dar,

“Biar remuk!”

“Aku tak bisa menu­lis lagi nanti,” pekik­nya.

Tukang­ke­bun ber­lari-lari masuk. Meli­hat tuan­nya sedang dikang-kangi istri­nya sen­diri ia tak mene­rus­kan niat­nya, tapi segera menyu­rut­kan lang­kah kaki­nya dan merun­cing­kan pen­de­ng­aran di luar rumah sambil pura-pura bekerja men­ca­buti rumput.

“Peduli apa? Aku sen­diri nanti meng­ha­dap Gusti Adi­pati.”

“Jangan, jangan, lepas­kan jari-jariku, Nyi Gede.”

“Jadi kau meng­aku meng­ha­sut, mem­fit­nah, men­ce­mar­kan kelu­arga sebaik itu? Kau takut pada Wirang­gal­eng, maka kau cari­kan kuburan bagi­nya di dalam jung. Kau kalah per­bawa dari Idayu, maka kau rampas anak dan sua­mi­nya. Supaya dia men­de­rita. Kau bagus, bagus sekali. Orang pandai dan tahu segala uang tak tahu tata susila!”

Nyi Gede Kati mele­pas­kan akan inja­k­an­nya dan menye­pak kepala sua­mi­nya.

Syah­ban­dar Tuban duduk dan memi­jit-mijit tangan. Dili­hat­nya tarbus merah­nya ter­pe­lan­ting jauh. Ia jang­kau tong­kat dan men­coba menga­it­nya.

“Pelin­dung kepala mulia!” Nyi Gede menye­pak topi itu dan jatuh ke atas pang­kuan sua­mi­nya.

“Dua kali kau aniaya aku. Nyi Gede.”

“Kaulah yang meng­a­n­i­aya mereka. Aku mau meng­ha­dap seka­rang juga.”

Tholib Sung­kar melom­pat ber­diri dan menub­ruk istri­nya.

“Jangan, jangan, Gusti Adi­pati sedang gering.”

”Meng­ha­dap Patih Tuban Sang Wira­bumi.”

“Jangan, Gusti Patih sedang ke Malaka.”

“Aku mau ke pasar dan sam­pai­kan semua ini pada semua orang,” ancam Nyi Gede.

“Jangan Kati, jangan. Kata­kan saja apa maumu. Aku akan penuhi, Nyi Gede.”

“Mulut tak pernah bisa diper­caya begini!”

“Baik. Usa­ha­kan dalam dua bulan ini agar Gelar bebas dari san­dera. Biar dia kemu­dian kem­bali ke desa dan ber­kum­pul dengan emak dan adik­nya.”

“Baik, baik, akan kuu­sa­ha­kan. Tapi bukan aku yang ber­ku­asa. Kau sen­diri tahu.”

“Usa­ha­kan, kataku. Aku tunggu hasil­nya. Kalau dia sampai diha­bisi dalam dua bulan ini, kaulah… awas, kau tahu apa bakal ter­jadi atas dirimu.”

Sejak hari per­teng­karan itu kedua orang suami-istri itu tidur dan hidup ber­pi­sahan. Tholib Sung­kar As-Zubaid ter­paksa makan di warung dan meng­ha­bis­kan hari-hari­nya yang men­je­mu­kan dengan minum arak. Ia pulang hanya di malam hari, apa pula kapal-kapal Atas Angin tak juga kun­jung ber­la­buh.

Dan Nyi Gede Kati tak lagi mene­gur­nya. Dipa­sang­nya selem­bar papan di ruang kerja sua­mi­nya, dan digu­rat­kan­nya satu cor­etan setiap hari.

Dan sudah bebe­rapa kali Syah­ban­dar meng­ha­dap untuk men­do­ng­eng. Ia tak juga per­se­m­bah­kan sesu­atu ten­tang nasib Gelar.

Nyi Gede tak pernah mena­nya­kan. Ia hanya menunggu cor­etan yang ke enam puluh, dan ia akan ber­tin­dak.

Dan Tholib Sung­kar Az-Zubaid memang tak ada maksud untuk mem­per­se­m­bah­kan sesu­atu kecu­ali mem­buai Sang Adi­pati dalam dong­engan….

Mema­suki bulan ke tiga Gelar diang­gap lulus dalam naik kuda dan mem­per­gu­na­kan tombak di atas tanah.ua pel­a­jaran yang harus ditem­puh­nya dalam dua bulan men­da­tang adalah mema­in­kan tombak di atas pung­gung kuda dan mem­per­gu­na­kan cambuk perang.

Dalam dua bulan itu ia belum juga mem­per­o­leh seo­rang saha­bat. Seo­rang san­dera men­du­duki tempat ter­hina dan teren­dah dalam tata hidup Tuban. Saha­bat seo­rang san­dera diang­gap pula orang hina dan dija­uhi. Dan kini ia ber­diam diri bila diejek. Dan siapa pula tidak meng­e­jek dan meng­hi­na­nya? Tam­pang­nya adalah lain dari pada yang lain. Bila kul­it­nya agak cerah, tua, dan tidak lima jari lebih rendah, orang akan ber­temu deng­an­nya seba­gai Syah­ban­dar Tuban Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa. Bila ia ter­i­ngat pada sesu­atu yang lucu di rumah dulu dan ter­se­nyum, bahkan senyum­nya pun sama dengan tuan Syah­ban­dar sewaktu dia masih bayi.

“Apakah beda­nya dibu­nuh seba­gai bayi dengan seba­gai san­dera?”

Darah Gelar ter­si­rat Ia tak ragu-ragu lagi seka­rang akan sin­diran orang, bahwa ia diang­gap seba­gai anak tuan Syah­ban­dar, bahwa emak­nya tidak mem­pu­nyai kese­ti­aan pada Sang Adi­pati, bahwa setiap waktu ia dapat dibu­nuh.

Suara ibunya ter­de­ngar sema­kin keras men­dayu-dayu: Emak­nya masih meng­ha­rap dapat ber­temu deng­anmu. ada suatu kali, di mana saja. Hanya ibunya dan hanya adik­nya yang seka­rang ini men­cin­ta­i­nya. Ia ragu-ragu pada cinta Sang Adi­pati. Mak, aku dengar sua­ramu, Mak! Aku dengar! Anakmu tidak­lah tuli. Tung­gu­lah aku, Mak.

Gelar meng­a­duh, meliuk-liuk ping­gang,, merin­tih, pura-pura sakit perut, Ia keluar untuk pergi ke bela­kang. Hari terang bulan. Bebe­rapa orang dipa­pasi­nya. Ia ber­lari-lari kecil sambil meng­a­duh. Makin jauh ber­ja­lan, makin sunyi

Di tempat pem­bu­angan air ia dapati masih ada seo­rang di sana. Ia menunggu sampai orang itu pergi. Kemu­dian seba­gai pen­curi ia meng­en­dap-endap men­de­kati kan­dang kuda.

“Sultan! Sultan!” bisik­nya memang­gil-mang­gil.

Bina­tang yang dipang­gil­nya bangun ber­diri dan mering­kik pelahan.

Gelar masuk ke dalam kan­dang, mena­riki palang-palang pintu, meme­luk kuda itu pada leher­nya, dan mem­ba­wa­nya keluar. Palang-palang ia pasang lagi. Sekali lagi ia peluk leher kuda itu, ber­bi­sik: “Bawa aku pulang. Sultan, jangan gusar, per­ja­lanan jauh, malam pula. Jangan tidur malam ini.” ia melom­pat ke atas, tanpa abah-abah, tanpa sang­gurdi.

Bocah dengan kuda­nya yang tinggi besar itu mulai ber­ja­lan lambat-lambat mening­gal­kan daerah kan­dang, mema­suki padang alang-alang. Sete­lah jauh dari daerah peru­mahan Gelar mema­cu­nya ke jurusan jalanan negeri

Malam terang bulan itu tiada angin meniup. Pepo­honan ber­diri tenang seperti tak tumbuh di atas bumi. Langit tiada ber­a­wan. Dan bin­tang-bin­tang redup ber­te­baran enggan di ang­kasa bening. Bulan itu seakan tidak akan pernah ber­ki­sar dari tem­pat­nya. Semua seperti batu. Yang ber­ge­rak hanya kaki kuda yang men­de­rap cepat dan debu yang menge­pul di bela­kang.

Dari suatu jarak ter­de­ngar gong-gongan anjing hutan. Gelar tak men­de­ngar. Yang ter­de­ngar hanya suara emak­nya dan napas Sultan. Ia tak perlu mene­ngok ke bela­kang. Yang di depan adalah hidup dan kebe­basan, yang di bela­kang adalah maut dan penin­dasan.

Dan Sultan akan jauh lebih cepat dari para penge­jar­nya, biar­pun ditam­bah dengan tiga lem­paran tombak.


Bab 33

Demak Mulai Bergerak

Begitu telah men­da­pat kepas­tian pasukan gabungan Tuban-Aceh-Bugis mulai menye­rang daerah pelu­aran kota Malaka, dan Por­tu­gis ter­paksa mem­ba­tasi ruang gerak­nya di dalam kota saja, Treng­gono meme­rin­tah­kan menye­rang.

Pasukan kuda dan kaki Demak dengan cepat mener­jang kabu­pa­ten-kabu­pa­ten sebe­lah timur nege­ri­nya. San­te­nan jatuh. Balat­en­tara itu ber­ge­rak tenis menge­jar bab ten­tara San­te­nan yang mela­ri­kan diri ke timur ber­ga­bung dengan ten­tara bupati Blora. Dan dua orang bupati yang seke­lu­arga itu tak punya pasukan kuda. Treng­gono mem­per­hi­tung­kan: juga Blora akan segera jatuh.

Semua orang lelaki kabu­pa­ten San­te­nan yang beru­mur di atas tujuh belas sampai tiga puluh dan tak sempat mela­ri­kan diri, di seret terus ke timur untuk jadi ser­dadu tam­ba­han.

Balat­en­tara gabungan Pesan­te­nan-Blora yang menye­dari kele­mah­an­nya mema­sang perang­kap-perang­kap kaki kuda dengan ranjau gam­bangan dari bambu, yang dija­jar reng­gang di atas lubang-lubang dang­kal dan ditu­tup dengan deda­unan dan tanah. Peker­jaan itu tidak sia-sia. Barisan ter­de­pan pasukan kuda Demak mema­suki semua perang­kap dan kuda-kuda celaka itu pada patah kaki­nya.

Treng­gono sangat marah meli­hat keru­sakan pada pasukan kuda kesa­yang­an­nya. Ia meng­an­cam bupati-bupati ber­sang­kutan akan mere­jam­nya hidup-hidup.

Maka pasukan kaki Demak yang diga­lak­kan oleh harapan men­ja­rah mele­wati pasukan kuda, menem­puh jalan hutan, dan menyerbu ke depan. Dua-dua pihak balat­en­tara yang ber­mu­suhan tidak lagi meng­in­dah­kan aturan perang. Mereka tak mesang­grah untuk kemu­dian ber­tem­pur pada kee­sokan hari­nya. Keku­atan Demak meng­a­lir deras tak sempat menunggu per­si­apan lawan­nya, mener­jang yang ter­kena ter­jang mem­bong­kar yang ter­kena bong­kar. Per­tem­puran sengit ter­jadi di desa dan kam­pung yang dile­wati.

Di sebe­lah utara, balat­en­tara Demak yang telah dipu­sat­kan Mfe­e­tum­nya di Juana, juga ber­ge­rak ke timur. Rem­bang tidak mengo­song­kan dae­rah­nya seperti halnya dengan Pesan­te­nan Satu per­tem­puran yang men­da­rah ter­jadi dengan sengit­nya di hutan bakau-bakau sepan­jang pesi­sir di mana peni­kan kuda Demak tak dapat ber­buat sesu­atu pun. Dan per­tem­puran itu ber­la­rut-larut hingga Treng­gono memer­lu­kan datang ke daerah pesi­sir itu dan sen­diri turun ke medan.

Pada hari Treng­gono meme­rin­tah­kan penye­rangan, armada Jepara Demak, armada ter­be­sar sete­lah jatuh­nya Maja­pa­hit, tujuh puluh kapal besar, dipim­pin oleh Pang­lima-Lak­sa­m­ana Fat­hil­lah. mening­gal­kan bandar Jepara untuk ke tiga kali­nya dan menem­puh garis pela­yaran yang sama: ke jurusan Banten.

Sama halnya dengan dua pela­yaran sebe­lum­nya di setiap bandar dika­ta­kan mereka sedang ber­la­yar untuk meng­ha­dap Peranggi.

Menge­ta­hui, bahwa balat­en­tara Demak ber­ge­rak ke jurusan timur dan mulai menak­luk­kan bupati-bupati tetangga sen­diri, orang men­jadi curiga dan ber­si­aga. Meng­apa armada yang diti­mang-timang Adi­pati Unus itu tak juga menuju ke Malaka. Maka di setiap bandar hanya dengan keke­ra­san bisa diper­o­leh air dan bahan makanan

Armada ber­ge­rak mele­wati Selat Sunda tanpa mampir ke Banten dan mem­be­lok ke kiri sampai Ujung Kulon, seakan memang sedang berja-ga-jaga agar Por­tu­gis tak masuk ke Jawa. Walau demi­kian selu­ruh Banten telah ber­si­aga. Keper­ca­yaan orang ter­ha­dap Treng­gono telah punah sama sekali.

Gerak-gerik armada dii­kuti oleh Banten dari pesi­sir Mereka meli­hat armada besar itu menu­run­kan bebe­rapa pasukan di Ujung Kulon. Dan di sana sudah menunggu pasukan Banten Per­tem­puran sengit segera ter­jadi. Armada menu­run­kan pasukan ban­tuan, kemu­dian meng­ang­kat sauh dan semua berang­kat mening­gal­kan Ujung Kulon. Pasukan-pasukan yang dida­rat­kan­nya terus ter­li­hat dalam per­tem­puran.

Tujuh puluh kapal itu kem­bali menuju ke Selat Sunda. Tiba-tiba mem­be­lok ke kanan, mema­suki bandar Banten sambil mele­pas­kan tem­bakan-tem­bakan cet­bang. Banten pun mele­pas­kan cet­bang­nya, tetapi pasukan-nya telah banyak dipa­sang di sebe­lah pesi­sir barat. Per­tem­puran cet­bang yang ber­ja­lan selama sete­ngah hari telah meng­ha­bis­kan peluru Banten.

Pen­da­ratan dimu­lai oleh para penyerbu. Dan per­tem­puran di atas pasir pantai meluas ke mana-mana, ditu­tup hanya oleh malam. Dan dalam malam itu juga Demak mene­rus­kan pen­da­rat­an­nya. Mereka tahu Perangi sedang sibuk di Malaka, dan mung­kin mela­ku­kan ser­gapan dari bela­kang.

Bandar besar di Jawa itu jatuh pada hari ber­i­kut­nya

Pada hari ketiga sete­lah pen­da­rat­an­nya keku­atan Demak mema­suki ke peda­laman Banten. Balat­en­tara Banten kalah dalam jumlah dan per­si­apan. Dan sete­lah seminggu ber­ta­han per­ta­han­an­nya pasukan Banten jatuh ke dalam keku­a­saan Demak.

Fat­hil­lah ber­ge­rak dengan cepat Ia duduk­kan orang-orang Demak jadi peme­gang keku­a­saan di Banten. Dengan keras ia meng­a­tur kem­bali pul­ih­nya kehi­dupan dan peng­hi­dupan untuk dapat ber­ta­han ter­ha­dap kemung­kinan datang­nya Por­tu­gis. Seba­gian dari kapal-kapal­nya mela­ku­kan pen­ja­gaan terus-mene­rus di sepan­jang pesi­sir barat dan utara Banten.

Taraf per­tama per­se­ku­tuan mil­iter Treng­gono-Fat­hil­lah telah ber­ha­sil. Dengan Banten seba­gai pang­kalan Demak, selu­ruh Jawa sebe­lah barat akan dapat dite­lan. Dan Demak harus jadi modal.

Dalam waktu hanya tiga bulan kehi­dupan sudah pulih kem­bali. Fat­hil­lah mulai memang­gili pen­du­duk dewasa untuk dija­di­kan pra­ju­rit. Dengan jalan demi­kian ia telah ganti keru­gian manu­sia selama per­tem­puran seminggu. Semua pandai besi dike­rah­kan untuk mem­bi­kin per­al­atan perang baru. Bandar dibuka kem­bali Dan negeri yang kaya akan lada ini siap menunggu kapal-kapal dari Atas Angin.

Banten adalah peng­ha­sil lada dan minyak kelapa. Dengan jatuh­nya Malaka dan Pasai, ia telah meng­gan­ti­kan kedu­dukan Gresik seba­gai bandar ter­be­sar di Jawa. Tetapi Banten sen­diri tidak mem­pu­nyai armada dagang atau­pun mil­iter, karena per­caya kegi­atan per­da­gangan takkan menye­bab­kan keku­a­saan lain akan ber­niat menyerbu selama dia sen­diri tak meng­hen­daki daerah orang lain. Per­ta­hanan dalam nege­ri­nya disia-siakan. Dan semua ini telah diper­hi­tung­kan oleh Fat­hil­lah

Dan seka­rang Fat­hil­lah akan meng­gu­na­kan peng­ha­silan bumi dan laut Banten untuk mem­per­luas gerakan mema­suki peda­laman sampai he Laut Kidul. Pen­du­duk bandar Banten sen­diri mem­bantu dan menyo­kong­nya. Mereka adalah Pri­bumi yang hidup dalam kam­pung-kam­pung ter­se­bar di seki­tar bandar. Seba­gian adalah pen­du­duk bangsa-bangsa Nusan­tara dan non-Nusan­tara dan mereka mengir­im­kan wakil­nya untuk menya­ta­kan takluk dan setia pada Demak. Tak bisa lain: balat­en­tara Fat­hil­lah seba­nyak lebih dari lima belas ribu orang itu takkan mung­kin dapat dita­han oleh keku­a­saan mana pun!

Fat­hil­lah sen­diri adalah seo­rang di antara sekian puluh orang di Banten yang telah naik haji, dan seo­rang di antara bebe­rapa belas orang yang tahu ber­ba­hasa Arab. Dengan penge­ta­hu­an­nya ten­tang agama Islam dalam waktu hanya bebe­rapa bulan orang mulai melu­pa­kan penyer­bu­an­nya dan melu­pa­kan tin­dak­an­nya yang keras. Ia sering ber­khot­bah di mesjid dengan bahasa Melayu, Ia pang­gili para ulama setem­pat, dan dipe­rin­tah­kan pada mereka men­di­r­i­kan maje­lis dakwah, yang bukan saja ber­tu­gas menye­bar­kan agama Islam secara ter­a­tur, juga mewa­jib­kan pada­nya mem­ben­tuk barisan musa­fir seba­gai­mana pernah dila­ku­kan oleh Demak, hanya seka­rang untuk memasy­hur­kan Guber­nur-Pang­lima-Lak­sa­m­ana Fat­hil­lah.

Bebe­rapa kali ia mela­ku­kan peme­rik­saan ke peda­laman. Bebe­rapa kali pula ia menge­rah­kan pasukan untuk meng­ha­lau pen­du­duk yang meno­lak Islam dalam segala isi dan ben­tuk­nya. Pada mula­nya orang mela­wan dengan sen­jata, tetapi keku­atan besar Demak yang mem­be­lu­dak itu tiada ter­la­wan. Kemu­dian mereka mela­wan dengan kata-kata – makin tidak ber­arti dan ter­tin­das. Dengan sikap pun tanpa makna. Mereka ter­paksa mela­ri­kan diri dan mencan daerah hidup baru tanpa Fat­hil­lah.

Jatuh­nya Banten dan Pesan­te­nan ke dalam keku­a­saan Demak sampai pada Wirang­gal­eng dua bulan kemu­dian: “Khi­a­nat” bisik­nya seo­rang diri dan pergi menyen­diri ke suatu tempat untuk memi­kir­kan­nya “Tepat seba­gai­mana kuduga. Semua telah ber­khi­a­nat! Semua hendak menari-nari dengan Peranggi di atas pundak si Wirang­gal­eng, anak desa ini: Treng­gono, Adi­pati Tuban, Fat­hil­lah Liem Mo Han, Kala Cuwil, Ratu Aisah,… Dan pasukan gabungan ini seka­rang men­jadi lola di negeri orang ”

Ia ber­pi­kir. Kesim­pul­an­nya hanya satu semua yang ter­jadi telah mela­wan cita-cita Rama Clu­r­ing, ber­ten­tangan dengan Adi­pati Unus.

Dico­ba­nya ber­pi­kir ter­le­pas dan semua ikatan dengan Jawa. Ia tak mampu. Semua punya ikatan dengan Jawa, justru ber­sang­kut-sang­kutan, ber­tali-temali.

Ia pulang ke mar­kas­nya. Dan Pada telah menung­gu­nya, juga dalam kea­daan geli­sah dan menun­duk menunggu teguran. Wirang­gal­eng tak mene­gur­nya.

Sena­pati itu duduk diam-diam di atas ambin. Waktu pim­pinan kesa­tuan Aceh dan Bugis datang. Seno­pati ber­ta­nya apakah tempat di mana pernah ter­jadi per­tem­puran per­tama antara kesa­tuan Bugis dan Peranggi, dapat diga­rap jadi daerah per­ta­nian tetap.

Meli­hat pim­pinan kesa­tuan Aceh tak mem­be­ri­kan jawaban ia ber­ta­nya apakah tidak atau kurang menye­tu­jui.

‘Tidak, Hang Wira,” jawab­nya, “bukan soal tidak atau kurang menye­tu­jui. Kami ada per­so­alan lain. Sete­lah Sultan Mugha­yat Syah, Sultan kami, Sultan Banda Aceh Darus­sa­lam, wafat, kesa­tuan kami dipe­rin­tah­kan dita­rik, dan kami harus pulang ke Aceh begitu jem­putan datang.” Berita itu lak­sana petir menyam­bar. Ia tahu Sultan Aceh yang baru telah kehi­langan keper­ca­ya­an­nya pada Treng­gono.

“Sembah sujudku ke bawah duli Baginda Sultan. Semoga penum­pasan ter­ha­dap Peranggi dari Malaka tetap jadi per­ha­tian. Kami yang ter­ting­gal akan ber­u­saha sebaik-baik­nya.”

Berita dari Jawa itu telah melum­puh­kan sema­ngat kesa­tuan Tuban. Di mana-mana tempat mereka meng­ge­rom­bol dan mem­bi­ca­ra­kan kemung­kinan ter­ja­di­nya penyer­buan Demak ter­ha­dap Tuban sen­diri

“Sedang kita ada di sini’ mereka menge­luh.

Dan keluhan itu adalah yang juga ada dalam hati Hang Wira. Armada sebe­sar itu! Ia perang tanpa daya, ter­nyata betul tidak untuk pem­be­basan Malaka, seba­lik­nya untuk melam­pi­as­kan nafsu keku­a­saan pri­badi.

‘Treng­gono!” sebut­nya di hadapan pemim­pin-pemim­pin kesa­tuan, “telah meng­u­bah kedu­dukan kita men­jadi badut yang lemah, tidak lucu, dan tidak ber­arti. Aku akui Peranggi ber­jum­lah kecil, keam­puh­an­nya hebat. Dan seka­rang keku­atan kita sema­kin ber­ku­rang dengan keper­gian kesa­tuan Aceh.”

“Akan kuu­sa­ha­kan meng­ha­dap ke bawah duli Baginda Sultan dan mem­per­se­m­bah­kan semua ini,” pim­pinan kesa­tuan Aceh menyam­pai­kan, “bebas­nya Malaka dari Peranggi juga jadi urusan Banda Aceh Darus­sa­lam.”

“Kami akan tetap ting­gal di sini,” pim­pinan kesa­tuan Bugis mem­be­ri­kan jaminan. “Jatuh­nya Malaka juga jadi urusan Bugis-Makasar. Mereka jatuh, dan jalan kami ke utara akan kem­bali ter­buka.”

Dua minggu sete­lah itu kesa­tuan Aceh minta diri untuk kem­bali. Kesem­patan itu diper­gu­na­kan Hang Wira untuk mengir­im­kan Pada pulang ke Jawa.

“Cari­lah berita yang benar, dan tengok mbo­ka­yumu dan keme­na­kan-keme­na­kan,” pesan Hang Wira. “Cari Liem Mo Han, cari kete­rangan ten­tang Kala Cuwil: jangan lupa meng­ha­dap Gusti Ratu Aisah.”

Dan dengan demi­kian berang­kat­lah Pada.

Sete­lah per­ta­hanan Rem­bang patah dan medan per­tem­puran di hutan bakau-bakau sele­sai, balat­en­tara Demak mema­suki Rem­bang, men­ja­rah-riah segala yang dapat dan dite­mu­i­nya.

Pen­du­duk mela­ri­kan diri ke hutan-hutan peda­laman.

Balat­en­tara peme­nang itu kemu­dian mem­be­lok ke selatan untuk mem­bantu meng­han­cur­kan per­se­ku­tuan mil­iter Pesan­te­nan Blora.

Per­se­ku­tuan, yang tak men­duga-duga akan datang­nya bala ban­tuan musuh dari utara, meliuk kena ter­jang dan mela­ri­kan diri ke selatan.

Balat­en­tara Demak, di bawah pim­pinan Treng­gono sen­diri, menang untuk ketiga kali­nya.

Sultan Demak sema­kin ber­be­sar hati. Seo­rang ke Banten dan mem­be­ri­kan perin­tah baru: Ambil Sunda Kelapa!

Dalam pada itu balat­en­tara Demak dari barat dan utara yang ber­temu di Blora, dengan mem­bawa ser­dadu baru dari tempat yang baru ditak­luk­kan, dipe­rin­tah­kan mene­ro­bos ke timur laut untuk menak­luk­kan Tuban dan Bojo­ne­gara.

Patih Tuban Kala Cuwil Sang Wira­bumi telah menye­bar­kan telik untuk meng­i­kuti gerak-gerik balat­en­tara Demak. Menge­ta­hui bahwa para penyerbu akan menye­rang dari jurusan barat daya Tuban, disi­ap­kan­nya pasukan gajah di per­ba­ta­san. Ia per­caya Demak takkan mung­kin dapat menem­bus pasukan gajah.

Telah ia pilih tanah lapang untuk mem­buka medan ini di mana ia ber­janji akan giling bonyok balat­en­tara musuh­nya. Ditung­gu­nya para penyerbu itu menye­ber­a­ngi tanah lapang itu. Dan per­hi­tung­an­nya tidak keliru.

Pada suatu hari, pagi-pagi benar, ujung pasukan kuda Demak yang ber­sen­jata tombak ber­jum­bai ber­warna-warni itu ber­so­rak-sorak menye­ber­a­ngi lap­angan untuk mengu­tip keme­nangan yang ke sekian kali­nya. Nyaris sampai ke ping­giran lap­angan, gajah-gajah Tuban pada ber­diri, ber­su­ling, lari ke depan mem­bawa ben­tengan kayu di atas pung­gung.

Kuda-kuda Demak ter­ke­jut Tombak-tombak mereka yang ber­diri con­dong menu­ding langit seka­rang men­da­tar siap untuk mela­yang. Tetapi mereka tak pernah ber­la­tih menom­bak pada sasaran tinggi. Dan kuda-kuda kaget itu menyu­l­it­kan pem­bi­dikan.

Seba­lik­nya panah dan tombak dari atas gajah ber­la­yangan bebas menuju ke sasaran.

Kuda-kuda Demak masih terus ber­la­rian gugup meli­hat gajah-gajah meng­gi­ling barang apa yang melin­tang di hadap­an­nya. Kegu­gupan Demak menye­bab­kan tub­ru­kan-tub­ru­kan antara mereka sen­diri. Dan kuda-kuda di bela­kang­nya lang­sung mem­be­lok meng­hin­dari tanah lapang.

“Lin­dungi Sultan!” sese­o­rang ber­seru.

Men­de­ngar Sultan ada dalam pasukan kuda itu Kala Cuwil men­jadi lebih ber­se­ma­ngat. Ia perin­tah­kan pasukan kaki menyerbu dengan ting-kahan canang dan gen­dang ber­talu, yang ter­de­ngar dari segala pen­juru. “Tang­kap Sultan!” ia ber­te­riak. Sua­ra­nya ber­gema-gema mela­lui ribuan mulut lain­nya. Panah dan tombak ber­ham­buran di medan per­tem­puran. Balat­en­tara Demak meng­a­lami banyak keru­sakan dan segera meng­un­dur­kan diri sebe­lum pasukan kaki Tuban dike­rah­kan mem­buru. Bagi Treng­gono sen­diri keme­nangan atas Tuban men­jadi peta­ruh untuk gerakan mil­iter selan­jur­nya. Dari Tuban­lah selu­ruh Jawa Timur akan dapat diku­a­sai. Dari sini akan dapat ditum­pas Blam­bangan seba­gai­mana halnya dari Sunda Kelapa akan ditum­pas Paja­jaran. Dan dengan tum­pas­nya dua kera­jaan Hindu ter­se­but selu­ruh Jawa akan men­jadi Islam atas nama­nya. Dan Islam, menu­rut Fat­hil­lah yang kemu­dian juga jadi pegang­an­nya, men­ja­min kebe­basan Jawa dari Peranggi.

Khusus untuk Treng­gono, Blam­bangan adalah gudang pening­galan Maja­pa­hit. Dengan benda-benda kera­jaan Maja­pa­hit itu Demak saja yang bakal jadi kera­jaan pewa­ris sah dan tung­gal dari Maja­pa­hit, dan selu­ruh Jawa akan sujud dengan badan dan mati­nya pada­nya, pada Demak.

Kega­gal­an­nya di per­ba­ta­san barat daya Tuban mem­bi­kin ia men­jadi beringas. Dita­rik­nya semua pasukan kaki ke utara untuk dapat mere­but Tuban dari pesi­sir. Seba­gian kecil pasukan kuda ia perin­tah­kan ting­gal untuk menyi­buki pasukan gajah.

Tetapi Kala Cuwil tidak dapat ditipu dengan siasat itu. Meli­hat balat­en­tara Demak mengu­rangi keku­at­an­nya ia pin­dah­kan semua pasukan gajah kem­bali ke kota. Pagar­desa dan seba­gian kecil pasukan kaki ia ting­gal­kan untuk menyi­buki pasukan kuda Demak.

Demi­ki­an­lah maka per­tem­puran kecil-kecilan ter­jadi terus-mene­rus di per­ba­ta­san ini dengan mem­bawa keru­sakan pada kedua belah pihak.

Induk pasukan Demak yang ber­ge­rak dari pesi­sir utara meng­hin­dari daerah koloni Tiong­hoa Lao Sam, kemu­dian meng­an­cam per­ba­ta­san timur Tuban.

Meriam Por­tu­gis di tangan Tuban menyam­but keda­tangan mereka.

Demak ter­te­gun mene­rima peluru-peluru besi itu sehingga gerak­an­nya ter­henti sama sekali. Kemu­dian mereka menem­puh jalan lain dan men­de­sak terus tiada ter­ta­han­kan. Cet­bang-cet­bang Tuban mulai ber­le­dakan. Demak meliuk lebih ke selatan dan mulai mem­buka medan per­tem­puran baru seba­gai­mana mereka ten­tu­kan sen­diri.

Balat­en­tara Tuban yang dipaksa ber­ta­han mele­pas­kan pasukan gajah. Dan Demak meliuk kem­bali ke utara. Sekali ini Demak ber­ha­sil men­je­bol per­ta­hanan Tuban dengan mening­gal­kan pasukan gajah.

Ban­teng Wareng dengan pasukan kuda­nya belum juga dike­lu­ar­kan oleh Kala Cuwil. Patih-Pang­lima Tuban itu punya ren­cana hendak meng­gu­na­kan­nya untuk menyer­gap dari bela­kang, bila Demak ber­ha­sil dengan desak­an­nya. Tidak dike­ta­hui peng­hu­bung­nya telah ter­tang­kap oleh musuh dan tewas di ping­giran medan per­tem­puran.

Di kota Tuban, kehi­dupan masih ber­ja­lan tenang. Tak ada orang per­caya Demak bisa menem­busi pasukan gajah Tuban. Dua ratus tahun lama­nya pasukan ini telah jadi tulang pung­gung Maja­pa­hit Demak hanya kera­jaan kema­rin! Tak tahu banyak ten­tang perang besar. Maka juga pasukan penga­wal kadi­pa­ten masih tenang-tenang di tem­pat­nya masing-masing. Kala Cuwil pun belum lagi mem­be­ri­kan perin­tah untuk siaga.

Meriam Por­tu­gis dan cet­bang tak ber­ha­sil mem­ben­dung desakan Demak. Sorak-sorai­nya kini mulai ter­de­ngar di Tuban kota. Pasukan penga­wal ter­pe­ran­jat dan tanpa perin­tah Patih-Pang­lima mulai disi­a­ga­kan untuk mem­per­ta­han­kan kadi­pa­ten dan kota.

Dengan gopoh-gopoh Braja mema­suki kadi­pa­ten untuk mem­per­si­ap­kan peng­ung­sian Sang Adi­pati. Bebe­rapa orang per­wira dipe­rin­tah­kan­nya mem­be­ri­ta­hu­kan pada pen­du­duk untuk meng­ungsi.

Di depan pintu per­a­duan Sang Adi­pati dida­pati Braja dua orang penga­wal ber­tom­bak itu masih ber­diri di tem­pat­nya. “Siap­kan tandu!” perin­tah­nya. Dua orang itu lari dan hilang dari peman­dangan. Braja belum juga masuk. Jan­tung­nya ber­de­baran dan piki­ran­nya sibuk untuk men­da­pat­kan kata-kata yang tepat. Ia menyem­bah, mena­rik tali untuk mem­be­ri­ta­hu­kan pada pen­jaga di dalam. Tetapi tarik­an­nya tak men­da­pat jawaban. Ia buka pintu. Dili­hat­nya Sang Adi­pati ter­golek tenang di atas per­a­duan. Dan tak ada seo­rang pen­jaga pun di dalam bilik itu.

“Braja!” pang­gil Sang Adi­pati.

Braja men­ja­tuh­kan diri, ber­lu­tut dan menyem­bah. “Ampun Gus­tiku, Gusti Adi­pati Tuban sese­m­ba­han patik.”

‘Treng­gono ber­khi­a­nat”

“Sorak-sorai­nya telah ter­de­ngar dari sini. Gusti.”

“Kami tak dengar. Sorak-sorai Demak?”

“Sorak-sorai Demak, Gusti.”

“Khi­a­nat! Khi­a­nat!” ia ulangi kata-kata itu dengan suara sema­kin lama sema­kin pelahan, kemu­dian tak ter­de­ngar lagi.

“Gusti, sudah datang wak­tu­nya untuk meng­ungsi.” Sang Adi­pati tak men­ja­wab. Braja men­de­kati untuk meng­u­langi. Sang Adi­pati sudah tak ber­na­pas lagi. Wajah­nya telah men­jadi begitu ciut dan ram­but­nya yang begitu putih selu­r­uh­nya ter­be­rai di atas bantal. Des­tar­nya ter­le­pas dan jatuh di sam­ping kepala. Ia ambil destar itu, ia tutup­kan pada wajah jena­sah itu. Kemu­dian ia lari keluar dan ber­te­riak-teriak: “Cepat! Meng­ungsi semua! Meng­ungsi! Gusti Adi­pati Tuban jangan ditunggu. Gusti telah mang­kat.”

Ia terus lari ke bela­kang, tak mem­pe­du­li­kan orang ber­la­rian silang-pukang. Dige­dor­nya harem. Waktu pintu itu ter­ki­rai, ia masuk di bawah protes Nyi Gede Dalu­darmi, ia tak peduli, ber­te­riak: “Pergi kalian! Pergi dari sini! Ke mana saja kalian suka. Sang Adi­pati mang­kat. Balat­en­tara Demak sedang meng­an­cam. Cepat pergi. Bawa semua barang kalian! Perem­puan-perem­puan itu pada men­je­rit kebi­ngungan.

“Diam!” bentak Braja. “Bawa harta-benda kalian. Lari sejauh-jauh­nya, jangan sampai ter­tang­kap.”

Ia ting­gal­kan kadi­pa­ten dengan bim­bang. Siapa dan apa seka­rang ia kawal? Jena­sah Sang Adi­pati? Harta-benda kadi­pa­ten? Ia lari masuk ke dalam asrama, memang­gil semua anak buah­nya, kemu­dian meme­rin­tah­kan semua ber­ge­rak ke selatan untuk men­da­pat­kan Kala Cuwil Sang Wira­bumi.

“Gila! Balik! Per­ta­han­kan Tuban Kota.”

“Apa yang diper­ta­han­kan? Sang Adi­pati telah mang­kat.”

Kala Cuwil ber­lu­tut. Kepa­la­nya menun­duk dalam. Mang­kat? Ia ter­ma­ngu-mangu. Apa lagi­kah yang harus diper­ta­han­kan?

Dan Tuban Kota jatuh jadi rayahan dan jarahan ten­tara Demak – tiga puluh ribu pra­ju­rit. Balat­en­tara Demak asli! Tam­ba­han dari daerah-daerah tak­lu­kan baru lima ribu!

Dalam kawalan barisan kuda Treng­gono turun dari ken­da­ra­an­nya di depan gedung kabu­pa­ten Tuban. Dengan lang­kah gugup ia naik ke atas dii­ring­kan oleh para penga­wal.

‘Takluk menye­rah kalian yang di dalam!” seru­nya, “Sultan Treng­gono Demak datang!”

Tiada seo­rang pun datang meng­elu-elukan. Putri-putri Tuban tidak, selir-selir pun tidak, apa­lagi pri­a­nya.

Ia ber­diri di tengah-tengah pen­dopo, gugup menunggu datang­nya para peng­elu. Sunyi senyap. Ia meno­leh ke kiri dan ke kanan. Kese­nyapan juga yang hadir. Ia mene­ngok ke bela­kang. Semua pra­ju­r­it­nya turun bela­kangan dari kuda masing-masing dan tak menyak­si­kan suatu penye­rahan.

“Bede­bah! Tumpas setiap yang hidup di dalam sini” perin­tah­nya. Pasukan kuda mulai mema­suki kadi­pa­ten, Treng­gono sen­diri dii­ringan regu peme­riksa gedung.

“Per­a­duan Adi­pati Tuban,” seo­rang per­wira mem­per­se­m­bah­kan. “Bede­bah! Keluar kau anjing Tuban!” pintu kamar itu ia ter­jang. Juga tak ada yang datang ber­su­jud pada kaki­nya, Ia masuk ke dalam, lang­sung pada Sang Adi­pati yang ter­bu­jur di per­a­duan. Ia cabut keris­nya. Dan tubuh ter­bu­jur itu tiada mem­per­du­li­kan-nya.

“Kaulah ini kira­nya,” ben­tak­nya murka, dan dica­but­nya destar itu dari wajah Sang Adi­pati Tuban.

Seka­li­gus ia tahu sedang ber­ha­dapan dengan mayat Dipung­gung­i­nya mayat itu sambil menya­rung­kan kem­bali keris­nya dan ber­gu­mam, “Sayang. Tak kau sak­si­kan bagai­mana keja­tuh­anmu sen­diri. Takkan lagi kau sak­si­kan bagai­mana Jawa sujud di bawah kaki Treng­gono. Sayang kau tak meli­hat pasukan gajah andal-anda­l­a­nmu ter­so­bek-sobek oleh pasukan kuda Demak!” Ia ber­ba­lik lagi dan melu­suhi mayat itu. Dengan demi­kian ia tak jadi ber­mar­kas di kadi­pa­ten.

Pasukan Tuban menying­kir ke selatan. Dan Kala Cuwil masih juga tak dapat memu­tus­kan apa harus diper­buat.

Tak lain dari Ban­teng Wareng yang sangat kecewa ter­ha­dap pim­pinan Kala Cuwil. Ia lebih suka mati di medan per­tem­puran dari­pada men­de­rita kan malu telah kalah tanpa ber­buat sesu­atu pun. Ia mela­wan tra­disi pasukan kuda Tuban, biar­pun tak banyak jum­lah­nya. Ia tak rela kalah sebe­lum ber­tem­pur

Pagi-pagi benar ia siap­kan selu­ruh pasuk­an­nya. Tanpa mem­be­ri­ta­hu­kan atau minta diri dan Kala Cuwil pasukan kuda itu mela­ku­kan serangan men­da­dak atas Tuban Kota yang telah jatuh ke tangan musuh­nya.

Tak pernah dalam tra­disi perang di Jawa sebuah pasukan yang telah kehi­langan raja mela­ku­kan serangan pem­ba­lasan Maka juga Demak tak pernah memi­kir­kan ter­ja­di­nya kemung­kinan itu

Tapi serangan adalah serangan. Dan pagi itu balat­en­tara Demak, yang masih lelah dari ber­pesta mer­a­yah dan men­ja­rah kema­rin dan sema­lam, masih aman tenang ber­se­m­bu­nyi di bawah seli­mut masing-masing. Dengan cambuk-perang dan pedang ter­hu­nus pasukan kuda Tuban menyam­bar-nyam­bar seperti elang

Balat­en­tara Demak lari kocar-kacir ke jurusan barat dengan mening­gal­kan jarah­an­nya

Treng­gono sen­diri belum lagi bangun waktu serangan ter­jadi. Pra­ju­rit penga­wal mem­ba­ngun­kan­nya dengan kasar dan mena­rik­nya pada kuda yang telah disi­ap­kan.

“Bede­bah!” pekik Treng­gono

“Mereka menye­rang, kem­bali. Gusti”

“Siapa menye­rang, bede­bah? Adi­pati Tuban sudah mampus.” Ia meno­lak naik ke atas kuda Tangan­nya men­cari pedang­nya, tetapi sen­jata itu belum lagi pada­nya. Bila ada, pra­ju­rit itu akan belah jadi dua.

Sorak-sorai dan gele­tar cambuk-perang pasukan Ban­teng Wareng meng­gu­ruh dan segala pen­juru.

Buru-buru Treng­gono melom­pat ke atas kuda­nya.

“Ke sini. Gusti,” seo­rang pra­ju­rit.

Ia hen­ti­kan kuda­nya dan masuk ke dalam apitan pasukan penga­wal, ber­pacu ke jurusan barat. Dada­nya serasa hendak mele­dak karena murka, merasa dihina dan diper­main-main­kan.

Dan dalam serangan men­da­dak itu Ban­teng Wareng ber­tin­dak meng­gi­ring musuh­nya keluar kota Tuban. Ia segera perin­tah­kan untuk mera­wat jena­sah Sang Adi­pati. Kemu­dian dike­rah­kan­nya pasuk­an­nya ke selatan kem­bali, mening­gal­kan Tuban Kota dalam kea­daan kosong.

Mening­gal­nya Adi­pati Tuban tak dide­ngar oleh Wirang­gal­eng. Dengan berita masuk­nya Demak ke negeri kela­hir­an­nya kem­bali ia ber­gu­lat dalam piki­ran­nya. Ia harus meng­u­bah pen­da­pat yang lama: tidak semua ber­khi­a­nat. Kalau Demak menye­rang Tuban, jelas Tuban tidak ber­khi­a­nat lagi pada cita-cita Adi­pati Unus. Tapi meng­apa Tuban mengir­im­kan armada jung? Di mana kapal-kapal­nya? Meng­apa tidak dise­rah­kan pada­nya? Dan meng­apa meri­am­nya dita­han­nya sen­diri? Ia belum dapat memu­tus­kan. Seti­dak-tidak­nya Demak harus dipi­sah­kan dari per­so­alan Tuban. Dulu Demak menye­rang Peranggi, dan Tuban meng­khi­a­nati. Seka­rang Demak tidak menye­rang Peranggi, tapi menye­rang Tuban, dan Tuban mengir­im­kan keku­at­an­nya ke Malaka. Dulu Tuban mengir­im­kan ten­ta­ra­nya ke Malaka dengan ragu-ragu, seka­rang pun masih tetap ragu-ragu.

Ten­tang kelo­laan pasukan gabungan lain pula soal­nya. Kelo­laan menye­bab­kan pasukan ini tiada mem­pu­nyai pusat peng­a­b­dian. Memang gerak­an­nya telah ber­ha­sil mem­ba­tasi ruang-gerak musuh­nya. Tetapi apakah arti­nya semua itu bila di Jawa sana kedu­nguan, nafcu keku­a­saan, sudah tak mau kenal lagi apa arti­nya peng­u­siran ter­ha­dap Peranggi?

Dan beban tam­ba­han yang tak kurang mem­be­rati piki­ran­nya adalah keme­ro­sotan sema­ngat pra­ju­r­it­nya. Dari pra­ju­rit yang berani dengan cepat mereka beru­bah jadi petani yang ber­sen­jata. Dari meng­u­sir Peranggi tugas mereka beru­bah jadi men­jaga tanaman ter­ha­dap gang­guan Peranggi dan celeng. Keter­tiban dan disip­lin mil­iter dengan cepat meruap jadi kecin­taan pada panen di atas tanah yang subur meng­hi­dupi itu.

Hanya dengan ancaman hukuman keras saja ia ber­ha­sil meme­rin­tah­kan telik-telik­nya mema­suki Malaka untuk men­da­pat­kan kete­rangan. Dan betapa kecewa hati­nya menge­ta­hui, Pri­bumi dalam negeri Malaka tidak mem­pu­nyai per­ha­tian ter­ha­dap pem­be­basan nege­ri­nya sen­diri. Bahkan mereka mulai ber­du­yun-duyun men­jadi Nas­rani, men­jadi Peranggi itu sen­diri.

Apa lagi­kah arti­nya segala usaha dan jerih-payah ini? Dan tak ada yang dapat mem­ban­tu­nya ber­pi­kir. Kadang-kadang ia menye­sali diri bodoh hanya karena ber­a­sal dari desa. Kemu­dian ia bantah kem­bali: apa kurang­nya Treng­gono? Dia Sultan memi­l­iki segala-sega­la­nya, namun dungu!

Dari peng­a­laman selama ini ia merasa hanya men­da­pat­kan satu pel­a­jaran: Peninggi tak akan datang untuk kedua kali­nya di tempat ia pernah dika­lah­kan. Dan pel­a­jaran ini takkan dilu­pa­kan­nya selama ia masih meng­ha­dap­i­nya.

Dan apa yang diang­gap­nya seha­gai pel­a­jaran itu ter­nyata tidak benar selu­r­uh­nya. Por­tu­gis hanya meng­u­ta­ma­kan bandar-bandar pang­kalan untuk dapat menye­la­mat­kan pela­yaran ke Maluku pulang balik. Ia tak meng­u­ta­ma­kan luas­nya daerah tak­lu­kan seperti Treng­gono.

Apa yang ter­jadi di dalam tubuh keku­a­saan Por­tu­gis sen­diri? Para telik tidak tahu. Wirang­gal­eng pun tidak.

Meli­hat serangan-serangan dari luar kota dapat dia­tasi, malah makin lama makin kendor keha­bisan gairah, menge­ta­hui pula armada Jepara-Demak tidak ditu­ju­kan pada Malaka. Por­tu­gis mulai memi­kir­kan kem­bali ren­cana lama untuk mengu­a­sai sumber lada dari selatan.

Jatuh­nya bandar Banten ke tangan musuh­nya yang lama, Fat­hil­lah, telah mem­bi­kin kering arus lada. Har­ga­nya di benua Eropa melon­jak tinggi tiada ter­ken­dali, dua-tiga kali lipat itu pun masih sulit dida­pat­kan. Por­tu­gis telah mem­beri pen­n­tah pada Goa, Goa pada Malaka agar segera meng­isi pasaran Eropa dengan lada baru, seba­nyak-banyak­nya.

Peda­gang-peda­gang sekong­kol Por­tu­gis mem­be­ri­ta­kan armada Demak kini mera­jai Selat Sunda, mela­ku­kan apa yang dila­ku­kan oleh Por­tu­gis di Selat Malaka, meng­a­wasi kapal dan perahu yang mening­gal­kan atau mema­suki bandar.

Malaka telah mengir­im­kan sekong­kol-sekong­kol­nya untuk menye­li­diki apa sesung­guh­nya sedang ter­jadi di daerah Selatan Dan Malaka men­da­pat berita: armada Demak mulai menu­tup lalu lintas laut dengan… bukan hanya Banten, juga Sunda Kelapa, sumber utama lada.

Bebe­rapa kali penye­li­dikan diki­rim­kan. Hasil­nya sama saja: Fat­hil­lah tetap tidak mem­buka blo­kade.

Wirang­gal­eng tidak tahu sama sekali ten­tang apa yang ter­jadi per­so­alan musuh­nya. Kesu­l­it­an­nya sen­diri sema­kin menum­puk: keku­rangan manu­sia dan per­al­atan. Kedua-duanya telah makin meme­ro­sot­kan kegi­atan kemi­l­it­e­ran, dan kedua-duanya tidak bisa dia­tasi. Betapa bisa menam­bah keku­atan manu­sia? Pra­ju­rit setem­pat tidak ada. Kam­pung-kam­pung hanya ter­diri dari empat-lima rumah dengan pen­du­duk­nya yang menyan­dar­kan peng­hi­dupan pada per­ta­nian dan per­tu­karan barang semata-mata. Mereka tak mem­pu­nyai kepen­tingan dengan peng­ha­lauan ter­ha­dap Por­tu­gis. Pemuda-pemuda kam­pung yang ikut ber­ga­bung meru­pa­kan kelu­ar­bi­a­saan. Dan pemuda-pemuda itu kemu­dian dibenci oleh orang-orang sekam­pung­nya. Soal­nya ber­ki­sar pada cem­buru. Kam­pung-kam­pung kecil itu kehi­langan daya dalam meng­im­bangi kebu­tuhan asmara dari para pen­da­tang yang seba­nyak itu dan para pen­da­tang yang dalam segala hal lebih unggul pula. Dengan duka­cita Hang Wira dapat ikut mera­sai pera­saan cem­buru. Makin banyak­nya berita yang datang ten­tang gerakan balat­en­tara Demak, sema­ngat para pra­ju­rit Tuban itu sema­kin mero­sot juga. Bila toh harus ber­tem­pur, lebih baik di Tuban, di negeri sen­diri. Dan sema­kin lama mereka ber­gaul dengan pen­du­duk setem­pat, sema­kin dalam mereka ter­li­bat dalam soal-soal asmara. Maka pra­ju­rit-pra­ju­rit mulai beru­bah jadi penge­lana asmara dari kam­pung ke kam­pung. Dan begitu seo­rang pra­ju­rit meni­kahi seo­rang pera­wan kam­pung, seperti wabah yang lain-lain pun meng­i­kuti. Habis­lah pera­wan-pera­wan kam­pung. Yang belum ber­ha­sil men­ja­uh­kan penge­la­na­an­nya sampai ke tepi-tepi pantai. Ke kam­pung-kam­pung nela­yan yang lebih jauh. Dan begitu per­ni­kahan ter­jadi, sele­sai­lah si jantan seba­gai pra­ju­rit. Ia men­jadi petani atau nela­yan saja.

Wirang­gal­eng tahu ia tak punya kemam­puan untuk mem­ben­dung keme­ro­sotan ini. Inti peng­i­kat­nya telah buyar karena Treng­gono. Ia tahu juga: Malaka takkan bakal jatuh ke tangan­nya.

Pada mening­gal­kan Banda Aceh Daru­sa­lam menum­pang kapal Bugis, dan tanpa sing­gah di Jawa men­da­rat di Makasar. Di sini ia menum­pang sebuah perahu Bali dan men­da­rat di Gresik. Dengan perahu Gresik ia menuju ke Tuban.

Bandar itu sunyi senyap. Tak ada seo­rang pun keli­hatan. Menara pela­buhan kosong tak ter­jaga. Kesyah­ban­daran pun sunyi. Pin­tu­nya ter­tu­tup dan dipa­sak silang dari luar. Warung Yakub ter­kunci dari dalam.

Dari keja­uhan ia dengar sorak-sorai perang. Ia men­de­ngar-deng­ar­kan. Jelas bukan sorak-sorai balat­en­tara Tuban, tapi Demak, Celaka! pikir­nya.

Kewas­pa­daan ter­ha­dap kemung­kinan ditang­kap pung­gawa Sang Adi­pati karena dosa-dosa lama lenyap, digan­ti­kan oleh kekha­wa­tiran kena sergap pasukan Demak. Ia rasai ke mana pun pan­dang dila­yang­kan hanya mulut maut juga yang menga­nga.

Dengan sisa piki­ran yang ter­ca­dang ia lari menuju ke Peci­nan: Ter­nyata semua jalan masuk ke kam­pung asing, yang tidak dike­na­kan hukum Pri­bumi, ter­jaga oleh pen­du­duk­nya dengan tombak aneh ber­jum­pai-jumpai. Juga Peci­nan menga­ng­a­kan mulut maut.

Ia batal­kan niat­nya dan lari ke menara pela­buhan. Cepat-cepat ia naik ke atas dan menyem­bu­nyi­kan diri, meng­ang­gap diri aman dan tak nampak oleh siapa pun. Dan siapa akan mene­ngok ke menara yang jelas tidak ada apa-apanya?

Ia depis­kan badan tipis-tipis pada gela­dak. Pada waktu itu ia merasa, setiap orang yang akan mene­mu­kan­nya di situ itulah calon pem­bu­nuh nya. Betapa beru­bah­nya manu­sia di masa perang! Semua yang mereka pela­yan di per­gu­r­uan dan pesan­tren, dan guru-guru, dari dong­engan dan wayang dari Tuban dan manu­sia, dari kehi­dupan dan orang tua sen­diri, ambyar tanpa makna.

Seba­gai seo­rang pri­badi, ter­le­pas dari hubungan orang lain, Kini ia merasa sama sekali tanpa daya. Ia menya­dari tak bisa mem­bela diri. Puluhan ribu pra­ju­rit yang ber­so­rak-sorak di keja­uhan itu hanya punya dua per­ha­tian: Jarahan dan korban. Mereka datang bukan untuk ber­ke­nalan atau anjang­sana tapi untuk mem­bu­nuh dan hanya mem­bu­nuh. Ter­le­pas dari pra­ju­rit yang satu orang akan jatuh ke tangan yang lain.

Pada alias Moham­mad Firman ber­seru-seru dalam teng­ku­rap­nya pada Tuhan­nya, memo­hon per­lin­dungan atas dir­i­nya untuk sekali ini saja, karena dalam kea­daan seperti itu ia merasa telah kehi­langan kemam­puan untuk dapet melin­dungi sesu­atu, jiwa­nya dan raga­nya.

Ia meng­in­tip dan meli­hat pasukan kaki Tuban ber­la­rian tanpa atau dengan sen­jata dan sebe­lah barat Seba­gian telah ber­lu­muran darah. Mata mereka tak terang dan ber­pen­daran ke mana-mana men­cari jalan paling dekat untuk melo­los­kan diri dari penge­jaran Antara seben­tar mereka mene­ngok ke bela­kang Dan sorak-sorai balat­en­tara Demak makin lama makin men­de­kat

Pasukan yang diburu itu mulai melem­par-lem­par­kan peri­sai yang meng­ganggu gerak. Ratusan orang yang diburu oleh kepulan debu­nya sen­diri itu meng­ha­dang ke jurusan timur lenyap dari peng­li­hatan Pada.

Ia rasai jan­tung­nya ber­de­bar-debar ken­cang dan keta­kutan yang amat sangat menu­suk seperti jarum pan­jang di dalam dada­nya Tuhan, sur­uh­lah balat­en­tara Demak menge­jar terus, terus, terus, dan melu­pa­kan aku. Sete­lah berdoa tanpa bunyi itu meruap dari piki­ran­nya tiba-tiba ia merasa tidak ter­ke­jar. Mereka juga masih ingin ber­temu dengan manu­sia ter­cinta dan ter­sa­yang. Siapa yang men­cin­tai dan menya­yangi aku? Bahkan piki­ran­nya sen­diri ogah men­ja­wab, Ia gigit leng­an­nya untuk mem­bu­nuh piki­ran­nya sen­diri. Tuhan men­ja­uh­kan aku dari piki­ran khi­a­nat.

Dan di depan mata­nya kini melela pasukan kuda Demak yang beter­bangan sambil ber­so­rak-sorai seperti sedang mem­buru tikus. Masing-masing mem­bawa peri­sai dan tombak yang telah siap di lempar atau dijo­joh­kan. Ya, seperti petani-petani sedang mem­buru tikus di sawah. Itukah wajah Demak yang selama itu kumasy­hur­kan? Itukah wajah­nya yang sesung­guh­nya?

Seba­gian kecil pasukan kuda itu mem­be­lok ke kiri, mema­suki daerah pela­buhan.

Pada meng­gi­gil dan pan­tat­nya ber­te­puk-tepuk keras tanpa sema­u­nya sen­diri. Ia sor­ong­kan tangan pada dubur agar tepukan ber­henti. Tetapi sesu­atu yang meram­bat pada tulang bela­kang memaksa pantat ini meng­ge­lom­bang, memu­kuli tangan­nya, gelom­bang demi gelom­bang. Detapa mema­lu­kan pantat ini. Betapa keta­kutan diri yang ter­le­pas dari keku­atan ini. Seka­rang, sen­di­r­ian dalam kepungan manu­sia yang sudah jadi lain Ini… aku hanya seekor cacing. Ya Tuhan, bila kau tamat­kan aku dari bahaya ini, aku akan lebih ber­bakti pada-Mu, lebih, lebih dari yang sudah-sudah.

Lima orang pra­ju­rit ber­kuda Demak menge­li­lingi tiang-tiang menara, meli­hat-lihat ke atas. Tangan Pada telah basah oleh air dan lumpur dir­i­nya sen­diri. Ia tutup mata­nya. Dan waktu dibu­ka­nya kem­bali, dari sela-sela gela­dak ia lihat mereka mulai mening­gal­kan daerah pela­buhan.

Sunyi-senyap seka­rang.

Pada ber­henti meng­gi­gil. Tangan dita­rik­nya dari dubur. Seluar dan kain­nya kotor. Dalam kea­daan seperti itu ia tak berani meng­u­cap­kan syukur pada Tuhan­nya. Sete­lah agak tenang dan didu­ga­nya tangan­nya agak bersih dan lebih kering ia gera­yangi semua bawa­an­nya dan mena­rik selem­bar kain baru dari bung­kusan. Ia jauh­kan pakaian kotor dan kaki

Dan sorak-sorai meng­ge­lom­bang lagi dari keja­uhan. Makin lama makin men­de­kat. Dari sebe­lah timur pasukan kuda ber­da­tangan lagi untuk kemu­dian ber­temu dengan pasukan kaki. Mereka menge­ru­mun seperti gerom­bolan semut.

Sorak-sorai kini padam. Keru­munan itu mem­bu­bar­kan diri. Semua ber­la­rian menyerbu masuk ke dalam rumah-rumah tak ber­so­rak-sorai. Pintu yang ter­pa­sak didob­rak. Dengan batu dan kayu dan gagang tombak semua yang tidak mem­buka diri dir­u­sak.

Rumah kesyah­ban­daran dilin­das oleh bon­do­ngan orang. Warung Yakub bedah hingga din­ding-din­ding­nya. Orang meng­am­bil apa saja yang dapat diam­bil, mema­suk­kan jarahan ke dalam kain peng­gen­dong. Sorak-sorai beru­bah jadi makian dan tawa bahak.

Ter­nyata tak ada yang ber­nafsu untuk meng­ge­ra­yangi menara yang keli­hatan jang­kung dan miskin, gundul dan kering keron­tang itu. Hanya tiang-tiang kurus dan gela­dak kering di atas­nya dengan din­ding rendah dan sebuah canang perunggu.

Gelom­bang pra­ju­rit Demak mulai menyerbu ke pela­buhan. Galangan kapal kemu­dian jadi api unggun, demi­kian juga gudang dan pasar pela­buhan. Orang riuh-rendah mening­gal­kan daerah pela­buhan dengan mem­bawa jarahan masing-masing.

Seka­rang Tuban Kota men­da­pat giliran.

Malam jatuh. Pen­ja­rahan dilang­sung­kan di tempat-tempat lain.

Pada alias Moham­mad Firman telah lama dingin di tempat.


Bab 34

Kekacauan di Jawa

Pada sadar. Kea­daan telah sunyi dan malam telah larut. Galangan dan bangu­nan lain­nya di pela­buhan telah runtuh men­jadi bara.

Di sana-sini api masih menyala rendah. Sekali lagi ia mem­ber­sih­kan diri.

Dije­pit­nya pakaian kotor itu dengan jari, disang­kut­kan bawa­an­nya yang lain pada lengan, dan ia turun ke bawah. Di sana ia ber­sih­kan dari kotor­an­nya sen­diri. Ia merasa kurang patut mening­gal­kan tempat itu begitu saja. Ia naik lagi. Belum lagi sepa­ruh tangga ia ter­i­ngat pada kese­la­mat­an­nya sen­diri. Tak jadi. Turun lagi.

Di bawah ia merasa resah karena belum merasa bersih. Ia pak­sa­kan diri ber­pi­kir seje­nak di mana kira­nya bisa men­da­pat­kan air. Satu piki­ran mene­gah­nya: Tuban telah jatuh, mereka sedang nye­nyak dalam keme­nangan dan kepu­asan seha­bis meng­ha­lau musuh­nya dan men­ja­rah-men­ja­rah. Cepat-cepat kau pegi seka­rang juga! Jangan pikir­kan keber­sihan.

Ia ber­ja­lan liar, mata tak tenang. Tak diper­ha­ti­kan­nya lagi bau yang meng­i­kuti dir­i­nya barang ke mana ia melang­kah. Tena­ga­nya mulai pulih seba­gai semula. Dan ia merasa sung­guh malu pada keta­kut­an­nya sen­diri seakan ia tidak per­caya pada keku­a­saan Tuhan­nya. Kalau peris­tiwa itu ter­jadi sekali lagi, aku takkan seta­kut itu, ia ber­janji pada dir­i­nya sen­diri.

Sesam­pai­nya di luar kota ia mema­suki peka­rangan rumah yang telah diting­gal­kan, lang­sung men­cari sumur dan mem­ber­sih­kan diri, men­cuci pakaian yang dike­na­kan­nya. Mandi sekali lagi dan sekali lagi, hati-hati, tanpa mem­bang­kit­kan bunyi.

Dengan menge­na­kan pakaian basah ia meng­am­bil wudhu dan ber­se­m­bah­yang di beranda rumah kosong yang telah dilanda para pen­ja­rah.

Sele­sai itu ia mene­rus­kan per­ja­lan­an­nya dalam pakaian basah. Dan malam itu dingin, perut­nya lapar. Angin men­jadi sik­saan yang tak ter­la­wan­kan. Untuk mena­han diri dari gigi­lan sengaja ia mem­per­ce­pat jalan, tubuh lari sampai ter­e­ngah-engah.

Ia meng­erti takkan mung­kin dapat mene­mui Sang Patih dalam keadan perang ini. Ia pun tak tahu ada di mana dia. Seperti dengan sen­di­r­i­nya kaki­nya ber­ge­rak ke sebuah titik: Awis Kram­bil – Idayu. Ah, benar ia meng­a­kui. Ida­yu­lah yang meni­up­kan kebe­ra­nian mene­ro­bos! Tuban. Kota dalam pen­du­dukan Demak, Ia ber­ja­lan cepat, lari, ter­e­ngah-engah.

Waktu matari pagi datang lagi ia menye­li­nap masuk ke dalam hutan, men­cari per­se­m­bu­nyian sambil menunggu datang­nya malam, dan sambil men­cari buah-buahan ia mema­kan­nya. Segala yang dapat dima­kan­nya peda muson kering itu dila­hap­nya: deda­unan muda, buah, dalam serangan nyamuk. di atas tim­bunan semak yang sebe­lum­nya telah di-injak-injak­nya men­jadi kasur.

Ia ber­mimpi ditub­ruk macan dan ter­ba­ngun. Darah­nya masih ber­de­buran ken­cang. Ia hendak segera lari. Suatu benda berat dan hangat terah mena­han­nya, Ia dengar napas hangat memu­puti muka­nya. Dan ia meronta. Kemu­dian ia dengar suara: “Bangun! Ya-ya, bangun,” suara wanita.

Dengan tangan ia meng­ga­pai-gapai. Ia berada dalam pelukan sese­o­rang.

“Tidak salah lagi. Pada Uh ini,” suara seo­rang wanita lain­nya.

Pada meron­tak bangun. “Mati, mati­lah aku seka­rang,” pikir­nya, “mereka sudah tang­kap aku.”

“Tidak salah lagi” ter­de­ngar wanita lain ber­seru lega, “memang Pada ini”

“Benar,” seru wanita lain meng­ga­rami dengan suara hati-hati. ‘Tahi lalat di puncak kuping kir­i­nya tak dapat dicuri. Memang dia.”

“Sudah jantan dia seka­rang,” suara wanita per­tama-tama menam­bahi dan peluk­an­nya dile­pas­kan.

Pada ber­ha­sil menge­bas­kan diri dan mela­ri­kan diri. Ter­nyata tangan ber­be­las orang wanita itu tak dapat dia­tasi­nya. Ia merasa sedang lari di atas hawa dengan kaki ter­pa­ku­kan pada tanah.

“Jangan lari Pada!” mereka mene­gah. “Kau harus tolong kami” Men­de­ngar kata tolong baru­lah Pada men­coba menge­ta­hui siapa o-rang-orang itu. Seka­rang ia dike­pung rapat oleh lebih dari dua puluh orang: Semua wanita. Ya. wanita. Meng­apa wanita? Tak ada seo­rang pun di anta­ra­nya ber­sen­jata. Dan tangan-tangan mereka tak ada yang kasar. Semua halus. Dan wajah mereka nampak tak pernah kena sinar matari, keme­rah-merahan, kul­it­nya meman­car­kan kese­hatan. Dan semua can-tik-rupa­wan. Tak seo­rang pun di antara mereka ber­gigi hitam, adalah tanda mereka semua tak ber­su­ami. Tetapi meng­apa tidak hitam? Adakah semua penari? Hanya seo­rang di antara mereka nampak lebih tua, dan seo­rang sangat muda, ber­mata sipit, jelas seo­rang gadis Tiong­hoa.

“Lupa­kah kau padaku, Pada? Pada kami? Jan­tanku?” sese­o­rang ber­ta­nya. “Meng­apa nampak takut pada kami?”

Lambat-lambat tapi pasti ing­atan Pada mulai bekerja dan men­ca­kup kenangan lama: para selir Sang Adi­pati! Ia ter­se­nyum. Seki­las saja. Tiba-tiba ia ber­gi­dik.

“Lepas­kan aku.” pin­ta­nya sopan. “Meng­apa Nyi Ayu seka­lian ada di sini?”

“Kau bela­gak bodoh. Pada. Dari mana saja kau, sampai tak tahu ada perang? Dan Gusti Adi­pati sudah mang­kat?”

“Meng­apa kau ter­se­nyum goblok begitu, Pada?” sese­o­rang ber­ta­nya, kemu­dian meng­ge­len­dot pada­nya.

Pada sedang ter­i­ngat pada sumpah Wirang­gal­eng. Dan seka­rang Hang Wira telah ter­be­bas dari sum­pah­nya: Sang Adi­pati telah mang­kat. Ia bisa pulang ke Tuban.

“Senang kau meli­hat kami ter­lan­tar seperti ini?”

“Mari aku antar­kan ke per­ba­ta­san. Semua dari per­ba­ta­san, bukan?”

“Tidak semua,” salah seo­rang menyang­kal.

“Aku pun tidak!” yang paling tua di antara mereka mem­be­nar­kan. Sua­ra­nya tegas dan mantap.

“Dan sahaya dari Lao Sam,” gadis Tiong­hoa itu mem­per­de­ng­ar­kan sua­ra­nya.

Pada mena­tap yang tertua dan termuda itu ber­ganti-ganti. Ia belum pernah menge­nal mereka. Yang tua ten­tu­lah pengu­rus keput­rian, yang muda tentu selir ter­baru.

“Nyi Gede?” ia ber­ta­nya pada yang tertua, dan orang itu men­ja­wab dengan sembah dada.

Pada merasa agak ber­be­sar hati. Seti­dak-tidak­nya ada di antara wanita-wanita cantik tak ber­daya ini seo­rang juara bela diri. Ia meli­hat keta­ba­han pada mata­nya, namun tak tahu apa harus diper­buat dalam kea­daan seperti itu.

“Mari ber­ja­lan,” Pada menyi­la­kan.

“Kakiku, Pada,” sese­o­rang menya­ta­kan protes sambil memi­jit-mijit kaki­nya.

“Kalau suka. Kalau tidak, ter­se­rah. Aku akan ber­ja­lan terus dan ber-cepat-cepat. Barang­si­apa ikut, mari. Jangan harap­kan aku mau meng­gen­dong.”

“Jan­tanku! Jan­tanku! Begitu kejam­nya kau seka­rang. Lupa kau pada Nyi Ayu Sekar Pin­jung?”

Pada ter­te­gun dan mene­ngok pada­nya.

“Barang­kali karena aku sudah jadi tua begini, Pada?”

Dan Pada merasa iba. Tapi cepat-cepat dibu­ang­nya pera­saan.

Ia mulai ber­ja­lan ber­ge­gas men­cari jalan seta­pak, menya­sak semak dan belu­kar. Selir-selir itu ber­la­rian meng­i­kut­i­nya seperti anak-anak ayam mem­bun­tuti induk­nya. Dan semua mem­bawa bung­kusan, di-sunggi di atas kepala, dibo­pong atau digen­dong. Dari ujung paling bela­kang wanita-wanita harem itu nampak seperti cen­da­wan yang sedang ber­ge­rak ber­pin­dah tempat.

Dan jantan yang seo­rang itu tak mau mene­ngok barang sekali, seakan ia sedang mem­per­li­hat­kan diri sudah memung­gungi masa lalu­nya untuk selama-lama­nya. Antara seben­tar ia dengar suara memang­gil-mang­gil minta ditunggu. Ia tak peduli. Bahkan untuk mau dii­kuti saja bagi­nya sudah pahala yang men­cu­kupi.

Seo­rang yang ter­cu­cuk duri ber­ja­lan ber­jing­kat-jing­kat, terus lari menge­jar, takut keting­galan. Dan kecu­ali Nyi Gede semua bere­butan untuk berada di dekat Pada.

Dan Pada merasa seo­rang yang paling berani di atas bumi ini.

Nam­pak­nya Nyi Gede Dalu­darmi telah banyak men­de­ngar ten­tang pada. Dari buntut barisan ia ber­seru-seru: “Pada, Pada, ber­henti dulu!” kata­nya seperti meme­rin­tah.

Dan Pada ber­henti, ber­pa­ling ke bela­kang. Wanita-wanita itu mulai mela­lu­i­nya, dan ia ber­ha­dapan dengan pengu­rus harem itu.

“Gusti Adi­pati sudah mang­kat,” kata­nya ber­sung­guh-sung­guh, “tapi aku masih mem­bawa tugas­nya, meng­e­mong wanita-wanita ini. Aku tak peduli apa hubung­anmu dengan mereka di masa-masa yang lalu. Aku pun tak peduli apa pera­sa­anmu seka­rang ini ter­ha­dap mereka. Aku minta, pan­dang­lah mereka seba­gai wanita tak ber­daya, yang mem­bu­tuh­kan per­lin­dungan.”

Seje­nak Pada mem­be­ron­tak ter­ha­dap kata-kata itu. Wanita seo­rang yang ada di hadap­an­nya itu nampak teguh pada tugas­nya.

“Aku ada kepen­tingan sen­diri’ Pada mene­rang­kan.

“Bila pasukan Demak mem­buru, kau pun tak bakal sela­mat sen­diri, kita tumpas ber­sama. Untuk apa mem­buru kepen­tingan sen­diri? Kepen­tingan kita semua sama: sela­mat’

Dan mereka yang telah mele­wat­i­nya kini pada ber­ba­lik meling­kung­i­nya. Tanpa bicara semua orang setuju: musuh paling ganas adalah pasukan yang sedang menang, bukan bina­tang buas hutan. Tapi hutan itu makin lama makin rapat juga.

Pada mulai ber­ja­lan pelan-pelan dan Dalu­darmi tetap berada di bela­kang barisan, mela­ku­kan tugas­nya seba­gai pen­jaga dan peng­e­mong. Di depan barisan Pada dapat mera­sa­kan, ia mena­ruh hormat pada­nya, tapi ia takkan meng­u­cap­kan­nya.

Bebe­rapa orang telah menge­luh kela­paran. Ia tak meng­gub­ris, Ia sen­diri lapar Dan wanita-wanita itu tak meng­erti dan tak mena­nya­kan lagi kapan si jantan itu akan ber­henti untuk ber­is­ti­ra­hat Ia dengar seo­rang-dua mulai mena­ngis manja. Akhir­nya ia tak tahan, ber­henti.

Senja telah mem­bi­kin hutan rapat itu jadi gelap. Per­ja­lanan memang sudah tak mung­kin dapat dite­rus­kan. Ia meme­rin­tah­kan menyi­ap­kan tempat tidur masing-masing di atas semak-semak yang diin­jak-injak. Bebe­rapa orang mulai meng­ge­lar apa saja yang patut diper­gu­na­kan jadi tilam.

Api unggun disi­ap­kan.

Ia kemu­dian menyi­ap­kan obor dari ran­ting-ran­ting dan pele­pah kering. Dengan itu ia memim­pin mereka men­cari umbi-umbian dan buah-buahan. Dan semua meng­i­kuti perin­tah­nya dengan diam-diam. Ia sengaja meng­hin­dari per­ca­kapan.

Dengan diam-diam pula orang mem­ba­kar dan mema­hami pen­da­patan mereka.

Waktu mereka ber­siap-siap hendak tidur, tilam mereka telah diram­bati oleh semut dan segala macam serangga, juga ulat ber­ba­gai macam. Orang men­jadi sibuk mem­ber­sih-ber­sih­kan.

Pada memi­sah­kan diri di tempat yang jauh, pura-pura tak menge­ta­hui sesu­atu. Meli­hat itu perem­puan-perem­puan itu bere­butan menyu­sul dan memi­lih tempat sede­kat-dekat­nya deng­an­nya. Dan dalam malam men­je­lang tidur demi­kian keta­kutan lebih banyak pada bina­tang buas dari­pada manu­sia buas.

Dalu­darmi meng­a­wasi semua itu dengan pri­ha­tin. Meli­hat Pada risi ter­ha­dap momong­an­nya ia pun merasa risi. Seo­rang diri ia pergi ke api unggun dan men­ja­ga­nya agar tak padam sampai tengah malam.

Dalam desakan wanita yang ter­ba­ring di sam­ping-menyam­ping­nya Pada memi­kir­kan soal lain: seki­ra­nya Sang Adi­pati masih hidup, apakah yang akan diper­bu­at­nya ter­ha­dap tubuh-tubuh pilihan yang seka­rang ini menge­pung­nya? Adakah dia akan melin­dungi mereka dari balat­en­tara Demak? Atau­kah dia akan mela­ri­kan diri sen­diri? Dalam kea­daan bahaya yang tak dapat dita­war-tawar ini? Dan dengan puas hati ia men­ja­wab per­ta­nya­an­nya sen­diri: dia akan hanya sela­mat­kan diri sen­diri. Dan ia merasa puas, bahwa seo­rang Pada yang telah lolos dari hukuman mati­nya, justru yang melin­dungi orang-orang peng­hi­bur­nya selama itu. Pada! tidak lain dari Pada!

Di tengah-tengah hutan, di tengah-tengah para selir ini, ia merasa seba­gai manu­sia yang lebih agung dari­pada seo­rang Adi­pati yang pernah ber­ku­asa atas hidup dan mati­nya. Dan telah mati ter­le­bih dahulu, dan wanita-wanita peng­hi­bur­nya ini kini jatuh dalam kese­di­a­an­nya.

Ia jadi iba hati.

Bukan hanya Sang Adi­pati, ia berani memas­ti­kan, seba­gian besar di antara mereka ini pernah ia gauli semasa ia masih kanak-kanak, dan mung­kin masih ada juga jantan lain. Tuhan, ampun­i­lah orang-orang ywg tak punya kema­uan sen­diri ini. Ampun­i­lah aku, ham­baMu ini, yang karena keda­ifan, tanpa ajar­anMu, telah melang­gar larang­anMu.

Selir-selir yang jauh dari­pa­da­nya, dan tak yakin akan kese­la­matan dir­i­nya, terus juga bere­butan dekat deng­an­nya, bere­butan meme­luk atau meme­gang­i­nya untuk men­da­pat­kan pera­saan ter­lin­dung dari bina­tang buas.

Dan Pada meronta bangun juga akhir­nya. “Lepas­kan aku!” pin­ta­nya lembut ‘Takut, Pada, kami semua takut.”

“Kalian tidur yang tertib, biar aku yang men­jaga. Ayoh, tidur, api itu pun harus kujaga.” Dari keja­uhan ter­de­ngar auman hari­mau. Semua ter­diam, juga Pada.

“Macan,” akhir­nya sese­o­rang ber­bi­sik mem­per­i­ng­at­kan. “Karena itu jangan geli­sah begini. Tidur, biar Pada bisa men­jaga kalian. Kalau tak mau tidur dengan tertib, biar aku pergi seo­rang diri malam ini juga.”

Dan per­gi­lah ia ke api unggun. Di sana dida­pat­i­nya Nyi Gede Dalu­darmi. Dari tem­pat­nya wanita itu mem­per­i­ng­at­kan para selir. “Kalau tak mau diatur, urus­lah sen­diri diri kalian. Biar macan pada ber­da­tangan.”

Dan Pada ber­ja­lan mondar-mandir seperti seo­rang kaisar yang paling ber­ku­asa, seo­rang pah­la­wan yang paling berani, seo­rang pang­lima yang keha­bisan musuh.

Wanita-wanita itu tak dapat ber­buat lain dari­pada meng­i­kuti perin­tah. Tiada antara lama kemu­dian mereka mulai ter­ti­dur. Pada men­de­ngar Dalu­darmi meng­em­bus­kan napas keluh. Boleh jadi ia sedang menye­sal­kan hari depan­nya yang gelap tanpa ada Sang Adi­pati dan tanpa ada harem. Tanpa bicara ia ber­diri, meng­ga­bung­kan diri dengan yang lain-lain, kemu­dian mem­ba­ring­kan badan­nya yang berisi itu di atas tilam semak-semak yang hitam keme­rahan oleh malam dan oleh api. Ia pun segera jatuh ter­ti­dur.

Pada meng­ham­piri mereka, meng­a­mati seo­rang demi seo­rang. Semua telah ter­ti­dur dalam kele­lahan. Dan tak ada seo­rang pun yang tidak rupa­wan, bahkan juga dalam tidur dengan mulut dan mata sete­ngah ter­buka. Ia masih dapat menge­nali seba­gian ter­be­sar dari mereka, Ia masih dapat meng­i­ngat mana-mana yang pernah diga­ul­i­nya semasa kanak-kanak dulu, dan semua bebe­rapa tahun lebih tua dari­pa­da­nya, kecu­ali Nyi Ayu Campa itu. Ya, kecu­ali yang seo­rang itu semua lebih tua dari­pada Nyi Gede Idayu. Kecu­ali yang seo­rang itu, mereka sudah lebih sepu­luh tahun jadi betina kurungan hidup dalam peman­tian kasih dan kesu­dian Sang Adi­pati. Dan Sang Adi­pati tidak jarang hanya ter­de­ngar melang­kah di depan pintu bilik. Dalam sepu­luh tahun, gadis-gadis tani yang paling cerdas dan paling gesit pun akan beru­bah jadi boneka, jadi kepom­pong yang hanya pandai ber­geol-geol. Uh, dan seka­rang mereka dile­pas­kan alam ter­buka begini, di tengah-tengah segala macam bahaya.

Dengan ber­ban­tal­kan bung­kusan masing-masing mereka tidur, lupa akan kea­daan. Uh! milik-milik hidup Sang Adi­pati. Kema­rin dulu orang bisa kehi­langan kepala bila keda­patan bicara dengan mereka, hanya bicara saja! Seka­rang mereka ber­ge­le­ta­kan tanpa harga. Berapa ratus per­jaka saja pernah meng­im­pi­kan kasih sayang dan tubuh dan hati mereka dulu­nya? Berapa saja di anta­ra­nya telah putus-asa, tak mampu mela­wan keku­a­saan mutlak Sang Adi­pati, dan lari mening­gal­kan desa dan harapan masing-masing?

Dan Pada meli­hat pada mulut-mulut yang sete­ngah menga­nga itu gigi yang putih nampak, biasa ter­go­sok dengan tepung arang setiap hari, dan liur yang pada mene­tes dan ber­le­leran seperti rang­kaian muti­ara dan pras­tika.

Sekali lagi ia umpani api dengan kayu bakar baru. Dengan tanah mentah yang habis diga­ruk­nya ia ber­ta­ya­mum, kemu­dian ber­se­m­bah­yang, ber­tak­bir, ber­tah­mid dan ber­is­tig­far. Dan ia memo­hon men­da­pat­kan keku­atan untuk tetap teguh dalam iman dan di dalam takwa. Dan ampun­i­lah mereka, ya Tuhan, seba­gai­mana Engkau ampuni orang-orang yang ter­da­hulu.

Api mulai men­jo­lak-jolak tinggi. Ia baring­kan dir­i­nya di bawah kaki mereka dan ter­ti­dur.

Pada kee­sokan hari sikap­nya ter­ha­dap mereka tiada keras lagi.

Dalam rem­bang rimba itu ia men­duga-duga mata­hari sudah lama terbit. Dan para selir yang ter­bi­asa bangun ter­lam­bat itu masih tidur di tem­pat­nya. Ia bangun­kan mereka, tanpa mem­beri pelu­ang untuk bisa ber­manja atau meng­gang­gu­nya. Ia suruh mereka men­cari makan. Dan ber­sama-sama mereka mengi­tari tempat seke­li­ling. Ia potong­kan mereka rotan muda untuk minum. Ia pan­jat­kan buah mlinjo, dan pung­ut­kan mereka madu lebah.

Kemu­dian mereka mene­rus­kan per­ja­lanan lagi. Seka­rang tidak sece­pat kema­rin. Ia pun mau mem­bantu memi­kul­kan bebe­rapa bung­kusan.

Sampai di depan Gowong Pada sengaja ber­henti untuk menge­nang­kan keba­ha­gi­aan lama dapat menye­la­mat­kan Idayu dan anak-anak­nya. Ia tahu, itulah detik keba­ha­gi­a­an­nya yang ter­tinggi: menye­la­mat­kan orang yang dipu­ja­nya. Memang hanya ada satu tubuh dan satu jiwa yang ber­sama Idayu. Tak ada tubuh dan jiwa lain di dalam­nya, apa lagi jiwa selir. Dan Idayu: ibu dari dua orang anak dan istri saha­bat­nya.

Dide­kat­i­nya wanita-wanita rupa­wan, nyata, dapat digeng­gam­nya setiap detik dia suka. Meng­apa ia justru men­cin­tai wanita bayangan, hak suami dan anak-anak­nya?

“Meng­apa ber­henti di sini?” Dalu­darmi ber­ta­nya. Burung-burung keluar dari gua seperti dahulu kala, dan rumput telah menu­tup seba­gian mulut gua. Pada mera­sai suatu dor­ongan untuk menya­ta­kan dukac-itanya dalam ber­cinta, agar orang lain tahu ten­tang kesa­kit­an­nya.

“Dahulu ada seo­rang dewi ting­gal di dalam­nya’ ia men­do­ng­eng, “dalam tawanan dru­biksa. Ya, dalam gua itu…. kemu­dian datang seo­rang satria… dan ia merasa diri satria yang dise­but­nya sen­diri, dan seka­rang ia pun merasa seba­gai satria gagah, dida­pat­i­nya kepala dru­biksa telah bunuhi bawah­an­nya karena ia ingin memi­l­iki Sang Dewi untuk dir­i­nya sen­diri. Tetapi Sang Dewi meno­lak­nya.”

Para selir mulai meru­bung­nya dengan khid­mat, tapi tak berani tebar­kan pan­dang pada mulut gua.

“Tulang-belu­lang dru­biksa masih beran­takan di dalam sana. Mari kita masuk,” dan kala dili­hat­nya tak seo­rang pun mau, ia heran pada dir­i­nya sen­diri. Dan lebih heran meng­apa tak ada seo­rang yang ber­ta­nya siapa satria itu dan siapa pula dewi itu. Ia kecewa. “Meng­apa kalian tak ber­ta­nya meng­apa Sang Dewi meno­lak?”

“Mari ber­ja­lan terus,” sese­o­rang yang kenge­rian memo­hon.

“Ya, mari ber­ja­lan terus. Satria itu mem­bu­nuh kepala dru­biksa itu dengan keris­nya, jauh kemu­dian hari ia merasa menye­sal meng­apa dru­biksa itu ia habisi dengan keris… oh, tidak, ia meng­ha­bis­i­nya dengan pisau dapur.”

‘Tentu satria itu sema­cam orang ling­lung.” Dalu­darmi menyela, “Tak ada seo­rang satria mem­bawa pisau dapur ke mana-mana.”

“Ya, barang­kali sema­cam satria ling­lung,” Pada men­ja­wab.

Dan orang mulai ber­diri. Bebe­rapa sudah mulai ber­ja­lan

Pada heran meng­apa tak ada orang menang­gapi dong­eng­nya. Dan ia pun mulai ber­ja­lan melu­pa­kan Gua Gowong. Dengan nada memaksa seka­rang ia ber­ta­nya: “Meng­apa Sang Dewi meno­lak­nya?”

“Mung­kin Sang Satria sudah ling­lung.”

“Mung­kin Sang Satria sudah tua,” sese­o­rang memak­sa­kan diri men­ja­wab.

“Sang Adi­pati adalah satria tua, kalian masih juga mau mene­ri­ma­nya. Itu bukan alasan.”

“Kalau begitu Sang Satria masih ter­lalu muda.”

“Pada waktu itu masih sangat muda, malahan bukan satria, dan kalian pernah juga mau mene­ri­ma­nya.”

Mereka semua ter­tawa ter­ki­kik-kikik.

“Karena Sang Dewi bukan manu­sia maka ia ber­pi­kir tidak seba­gai manu­sia, Ia hanya hendak kem­bali ke kayangan, ber­kum­pul lagi dengan para Dewa.”

Pada merasa bosan sen­diri dengan teka-teki­nya. Lagi pula apakah guna­nya orang lain harus meli­hat kega­gal­an­nya, kesa­kit­an­nya, dan hati­nya yang rong­kah? Ia kem­bali ber­diam diri.

Per­ja­lanan dite­rus­kan. Meng­i­nap lagi dan meng­i­nap lagi dalam hutan Mema­suki daerah alang-alang yang mena­kut­kan. Tak ada bekas bakar-bakaran. Tak ada nampak seekor rusa pun. Ia ragu-ragu untuk melin­tasi. Dan wanita-wanita itu meli­hat keragu-ragu­an­nya. Semua meng­erti belaka bahaya yang sedang mereka hadapi.

Kini semua ter­ma­ngu-mangu di tepi hutan. Pada masuk lagi ke dalam hutan, ber­ta­ya­mum, dan ber­se­m­bah­yang memo­hon kese­la­matan untuk selu­ruh rom­bongan. Ia berdoa dengan dua belah tangan ter­te­nga­dah tinggi ke langit, lebih tinggi dari bia­sa­nya. Beri­lah pada kami semua kese­la­matan, ya Tuhan, pengu­asa bumi dan langit.

Sen­jata yang ada pada­nya hanya sebi­lah pisau, dan padang alang-alang begitu luas­nya. Ia tetap­kan hati dan teguh­kan iman, Tuhan-lah semua yang menen­tu­kan.

“Mari berang­kat!”

Tak ada seo­rang pun meng­i­ng­in­kan tempat ter­de­pan atau ter­be­la­kang. Maka seka­rang Dalu­darmi ber­ja­lan paling depan dari­pada paling bela­kang. Tak ada seo­rang pun ber­bi­cara. Kaki seakan-akan tak meng­in­jak tanah lagi. Setiap lang­kah terasa berat dan tak juga maju. Per­mu­kaan alang-alang tak juga mau tenang, meng­im­bak-imbak seperti ombak laut setiap angin datang meniup, menye­sat­kan orang dari gerakan yang men­cu­r­i­ga­kan itu.

Tak ter­de­ngar orang menge­luh atau meng­a­duh, kha­wa­tir akan mem­ba­ngun­kan raja maut yang sedang meng­in­tip entah di mana. Keta­kutan pada mati telah menin­das pera­saan-pera­saan yang lebih kecil.

“Akhir-akhir­nya setiap keta­kutan adalah keta­kutan pada maut,” gumam Pada sete­lah sela­mat mela­lui padang alang-alang dan mema­suki hutan muda. “Alham­dul­il­lah, ya Allah, ya Robbi,” ia duduk ter­san­dar pada seba­tang pohon kluwih dan para selir duduk menge­li­lingi. “Mereka yang kalah perang pun mung­kin tak meng­a­lami keta­kutan sema­cam itu,” bisik­nya kemu­dian pada dir­i­nya sen­diri. Sua­ra­nya dike­ras­kan: “Kalau sudah ter­le­wati hutan muda ini, kita sudah men­de­kati desa, kita akan ber­pi­sahan di sana.”

‘Tidak, aku ikut sampai ke desaku sen­diri,” sese­o­rang mem­ban­tah.

“Siapa tahu perang masih ber­ke­c­a­muk di jalanan kita nanti? Kami akan tetap meng­i­kuti,” seo­rang lain mem­ban­tah juga.

“Baik, mari ber­ja­lan lagi. Sampai di desa per­tama mata­hari sedang teng­ge­lam dan kita meng­i­nap di sana.”

Ter­nyata desa per­tama itu sunyi tak ter­ki­ra­kan. Malam telah jatuh. Tak ada suara game­lan. Tak ada lampu menyala.

Rumah yang ter­jauh dari pusat desa mereka masuki. Masih ada orang ting­gal di dalam­nya: suami-istri dengan dua orang anak­nya yang masih kecil. Dengan segala kere­laan mereka beri­kan peng­i­napan dan hidangan dingin dalam kege­lapan itu. Dan hidangan itu sama sekali tidak men­cu­kupi untuk orang seba­nyak itu.

Dan tuan maupun istri­nya sama sekali tak ber­ta­nya, dari mana mereka datang dan ke mana mereka hendak pergi. Bahkan siapa mereka, mereka tak ber­ta­nya. Semua ber­ja­lan seperti rom­bongan semut yang satu ber­temu dengan rom­bongan yang lain.

“Hanya inilah yang ada. Hanya begi­ni­lah tem­pat­nya.”

Orang-orang yang menang­gung kela­paran dan kele­lahan dalam tin­di­san keta­kutan yang amat sangat itu seka­li­gus merasa aman di dalam ling­kungan manu­sia yang belum diubah pera­ngai­nya oleh perang.

Belum lagi lama mereka tidur, dan matari telah menyem­bul di timur.

Derap kuda memaksa semua orang melom­pat dari keti­duran masing-masing. Suami-istri dan anak-anak­nya telah lebih dahulu lari, dan nampak sedang menye­ber­a­ngi padang rumput menuju ke hutan.

Bagi Pada tak ada jalan lain dari­pada naik ke atas pohon nangka di sam­ping rumah: Pohon itu sangat rimbun tetapi tiada ber­buah.

Pra­ju­rit-pra­ju­rit ber­kuda itu mema­suki rumah dengan masih ber­ken­dara. Seo­rang pra­ju­rit, yang meli­hat bebe­rapa orang wanita lari ke padang rumput di bela­kang rumah, segera menge­jar dan menyam­bar salah seo­rang serta meng­ang­kat­nya ke atas kuda­nya. Yang lain-lain ter­paksa ber­henti dan kem­bali ke rumah meng­i­kuti perin­tah.

Dari tempat per­se­m­bu­nyi­an­nya Pada tak meli­hat cambuk-perang pada ping­gang pra­ju­rit itu. Bukan ten­tara Tuban, ia memu­tus­kan. Apakah beda­nya di masa perang, apakah dia ten­tara Demak atau Tuban? Ia men­de­kam meng­a­wasi. Dan ia tahu, ia tidak seta­kut di menara pela­buhan dulu.

Selir di atas kuda itu men­je­rit dan meronta-ronta keta­kutan. Pra­ju­rit itu meme­luk­nya sambil ter­tawa-tawa. Di dalam rumah selir-selir lain meme­kik-mekik pula. Dan pra­ju­rit itu memacu kuda­nya, meng­hi­lang entah ke mana.

Pekik-pekik sema­kin meriuh dalam rumah. Pada hanya bisa men­de­ng­ar­kan. Kemu­dian tak ter­de­ngar lagi per­la­wanan. Kea­daan kem­bali sunyi. Kesu­nyian yang menye­sat­kan.

Tiada antara lama kemu­dian men­da­dak serom­bongan pra­ju­rit kaki datang ber­so­rak-sorak. Mereka telah meli­hat bebe­rapa ekor kuda ter­can­cang di depan rumah itu.

Dari pintu bela­kang rumah nampak pra­ju­rit-pra­ju­rit ber­kuda dalam kea­daan telan­jang bulat atau sete­ngah bulat lari mem­bawa pedang masing-masing menuju ke hutan, melin­tasi padang rumput.

Pasukan kaki itu menge­jar­nya, seba­gian besar menge­pung dan mema­suki rumah. Dan Pada dapat meli­hat di antara deda­unan nangka itu tombak-tombak beter­bangan menge­jar. Yang dike­jar meng­gu­na­kan pedang­nya menang­kisi maut yang men­da­tangi. Tak peduli pada kete­lan­jang­an­nya di bawah surya. Mereka terus lari ke arah hutan. Yang menge­jar pun mem­per­ce­pat lari­nya. Bebe­rapa orang pra­ju­rit kaki Tuban melom­pat ke atas kuda-kuda yang ter­can­cang, menge­jar dengan meng­a­mang­kan tombak masing-masing. Dalam waktu pendek yang ter­ke­jar ter­su­sul. Per­ke­la­hian tak dapat dihin­dari Geme­rin­cing pedang beradu pedang dan tombak ter­de­ngar nya­ring dari tempat Pada.

Dan dalam dekam­an­nya di atas pohon dapat ia lihat seo­rang penge­jar jatuh dari atas kuda­nya dan dua orang yang dike­jar jatuh ke atas tanah untuk tidak akan bangun lagi buat selama-lama­nya, Ia dapat sak­si­kan dari balik deda­unan pra­ju­rit-pra­ju­rit yang telan­jang bulat itu ter­tub­ruk oleh kuda­nya sen­diri Mereka punah ter­tum­pas.

Dari tem­pat­nya pula ia meli­hat selir-selir itu keluar dari pintu depan, digi­ring dalam pakaian kacau mening­gal­kan rumah petani itu, hilang dari peman­dangan.

Empat orang ber­kuda dengan pedang atau tombak ber­lu­muran darah itu lewat pelahan-lahan di bawah per­se­m­bu­nyian Pada.

“Memang selir-selir Gusti Adi­pati,” sese­o­rang ber­kata.

“Bagai­mana bisa sampai kemari?”

“Meng­i­kuti orang ber­nama Pada, hendak kem­bali ke desa.”

“Di mana Pada seka­rang?”

“Kata­nya lari waktu orang-orang Demak datang.”

“Dia tidak melin­dungi selir-selir itu?”

“Melin­dungi bagai­mana? Dia tak ber­sen­jata, bukan pra­ju­rit. Kata­nya juga Gusti Adi­pati telah mang­kat”

Pasukan Tuban telah pergi. Ia belum juga turun dari tem­pat­nya. Kemu­dian nampak seekor gajah perang ber­ja­lan dii­ring­kan oleh pasukan kaki di bela­kang­nya. Seo­rang per­wira ber­diri dalam ben­tengan kayu, menya­nyi.

Ia masih harus menunggu sampai matari teng­ge­lam, baru ia turun. Dan suami-istri petani itu sudah pula kem­bali.

“Begitu sehari-hari,” tuan rumah memu­lai. Dike­lu­ar­kan ubi dan gem­bili kemu­dian diba­kar­nya. “Sudah­lah, tak perlu kita bica­ra­kan. Mari makan. Mana yang lain-lain?”

“Sudah dibawa ten­tara Tuban.”

“O,” ia tak mene­rus­kan.

Juga istri­nya tak bicara apa-apa. Anak-anak mereka tanpa bicara merang­kak ke tempat tidur masing-masing, kemu­dian tak ter­de­ngar lagi sua­ra­nya.

Dan malam itu juga ia minta diri dan meng­u­cap­kan beribu terima-kasih.

Pada subuh hari sam­pai­lah ia di rumah Idayu.

Pondok di ping­gir hutan itu kosong. Pintu rumah­nya telah dipa­lang silang dengan dua potong bambu belah seba­gai per­tanda: peng­hu­ni­nya sedang pergi untuk waktu yang tak dapat diten­tu­kan, orang tak diper­ke­nan­kan masuk ke dalam.

Hampir saja ia ter­le­lap begitu menyan­dar­kan badan pada daun pintu. Ingat pada fajar yang men­da­tang dan bahaya yang segera akan tiba, ia pun ber­diri lagi, menu­runi tangga, ber­ja­lan masuk ke dalam hutan. Tak sulit bagi­nya untuk mene­bak di mana Idayu berada. Dulu ia dan Wirang­gal­eng dan Gelar telah mem­buka huma di dalam hutan untuk tempat peng­ung­sian bila perang ter­jadi.

Jalan seta­pak itu hampir tak nampak lagi karena telah keja­tuhan lur­u­han daun selama ini. Dan ia ber­ja­lan dengan susah payah. Bebe­rapa kali ia ter­se­sat di jalanan babi, ter­pe­ro­sok dan ter­sa­sar.

Pada tengah hari sete­lah ber­pu­tar-putar dalam hutan sam­pai­lah ia di tempat yang dituju. Dari suatu jarak ia sudah dapat meli­hat huma di depan­nya tera­wat baik dan baru saja ber­pa­nen padi. Ia taksir sudah lebih lima bulan huma itu diga­rap. Sebuah gubuk yang sangat seder­hana ber­diri di tengah-tengah. Dan tentu Gelar ada di dalam situ.

Ia melang­kah hendak keluar dari hutan. Pan­dang­an­nya ter­pu­sat pada pintu gubuk yang ter­buka, meng­ha­rap wajah Idayu segera akan nampak. Tak dili­hat­nya lagi akar-jalar melin­tang di bawah kaki. Ia ter­ja­tuh diba­rengi bunyi tombak menyam­bar di atas kepa­la­nya. Dan tang­kai tombak itu meng­ge­le­tar dengan mata ter­tan­cap pada batang pohon tempat ia tadi ber­henti.

“Gelar! Aku di sini, aku, Pada,” ia meme­kik.

“Paman­kah itu?” ter­de­ngar suara Gelar, dan pemuda itu muncul dari balik semak-semak. “Beribu ampun, Paman, tiada ter­duga. Paman dari Malaka? Meng­apa keli­hatan lebih tinggi dan kurus? Mari, mari.”

Ia dapat­kan Idayu tiada kurang suatu apa. Nampak ia tera­wat baik. Wajah­nya segar dan tetap dalam kea­daan ber­so­lek seperti biasa. Mata­nya ber­seri-seri menyam­but­nya.

“Kau keli­hatan lebih tua. Pada.”

“Dan Mbo­kayu keli­hatan lebih muda lagi’ jawab­nya mene­gang. Kemu­dian ia lang­sung ber­ce­rita ten­tang Wirang­gal­eng dan pasukan gabungan yang ter­ting­gal lola di Seme­nan­jung.

Idayu men­de­ng­ar­kan dengan diam-diam. Dan Gelar men­de­ng­ar­kan dengan geli­sah; berita dari Seme­nan­jung itu mem­bi­kin ia ter­ba­kar oleh pera­saan tidak puas ter­ha­dap orang-orang besar yang mem­per­main main­kan Sena­pati.

“Dan kau, Gelar, kau keli­hatan lebih kukuh,” Pada lang­sung mema­suki per­so­alan pri­badi sete­lah ceri­ta­nya sele­sai. “Lem­paran tom­bakmu seperti pra­ju­rit sung­guh.”

Dan Gelar hanya ter­se­nyum senang men­de­ngar pujian itu. Ia malu ber­ce­rita telah lari dari pasukan penga­wal.

Pada mene­rus­kan ceri­ta­nya ten­tang per­ja­lan­an­nya dari Seme­nan­jung sampai ke Tuban dengan suara sema­kin lama sema­kin pelahan.

“Kau lelah. Pada.” tegur Idayu. “Dan matamu merah seperti itu. Sudah­lah, kau tidur dulu.”

Sete­lah bebe­rapa hari ber­is­ti­ra­hat ia ber­mak­sud kem­bali ke Malaka. Masih banyak yang harus diker­ja­kan Dan Idayu seakan meng­geng­gam­nya tanpa ingin mele­pas­kan­nya Ia sema­kin men­cin­tai istri saha­bat­nya ini. Dan justru karena itu ia harus segera pergi. Sebe­lum berang­kat ia ber­ta­nya pada Idayu dan dua orang anak­nya, pesan apa yang harus disam­pai­kan­nya pada Sena­pati. Dan dari tiga orang ibu-ber­a­nak itu ia hanya men­da­pat­kan satu pesan untuk yang ter­cinta di Malaka sana: pulang­lah, karena Sang Adi­pati telah mang­kat, dan tak ada orang yang menyo­kong pem­be­basan atas Malaka

Hati­nya sendu sayu meng­ha­dapi per­pi­sahan dan seo­rang wanita yang dicin­ta­i­nya dan tidak pernah mem­ba­las cin­ta­nya. Tapi juga gem­bira karena akan dapat mele­pas­kan dirii dari geng­gam­an­nya Memang ia ingin lebih lama berada di dekat wanita pujaan, men­de­ng­ar­kan sua­ra­nya, meman­dangi gerak-gerik­nya, menga­gumi senyum dan keta­ba­han­nya. Tetapi bila karena sesu­atu hal pan­dang­nya ber­ta­tapan dengan pan­dang­an­nya, ia rasai seribu panah mener­jang dada­nya, dan darah­nya mem­be­lu­dag seakan hendak mem­bi­kin jan­tung­nya mele­dak. Bebe­rapa kali saja ia memo­hon ampun pada Tuhan­nya karena telah men­cin­tai wanita yang bukan haknya. Ampun, ampun, ampun., tetapi hati­nya punya kema­uan dan hukum sen­diri

Waktu ia minta diri Idayu hanya mena­tap­nya, kemu­dian meng­ang­guk tanpa bicara, seakan hendak menga­ta­kan, bahwa sudah seha­rus­nya ia pergi lebih dahulu. Buru-buru ia menam­bahi:

“Ampuni aku telah menyu­sah­kan Mbo­kayu selama ini.” Ia meng­ha­rap­kan sesu­atu yang manis diu­cap­kan oleh wanita ter­cinta itu.

Gelar pergi untuk mengu­rus kuda. Ia akan meng­an­tar­kan tamu­nya sampai ke luar hutan. Dan Kum­bang sedang sibuk mem­be­lah kayu bakar.

“Ya, per­gi­lah kau dengan sela­mat. Dan kalau aku boleh ber­pe­san padamu pri­badi. Pada, jangan­lah kau pan­dangi aku dengan mata seperti itu. Kawin­lah kau dengan perem­puan yang per­tama-tama kau setu­jui, dan kau akan ter­be­bas dari sikap yang meng­ganggu hidupmu selama ini’

Pada mem­bu­ang muka. Ia ber­diri dan keluar dari gubuk, ia ham­piri Kum­bang dan minta diri pada­nya, kemu­dian ber­sama Gelar mene­ro­bos hutan ber­ken­dara dua ekor kuda.

“Meng­apa kau tak di medan perang. Gelar?” tanya Pada untuk melu­pa­kan kata-kata Idayu.

“Di pihak siapa. Paman?”

“Di pihak Tuban tentu.”

“Tuban? Apakah yang sudah diper­buat Adi­pati Tuban ter­ha­dap emak, ter­ha­dap bapak, dan ter­ha­dap diriku sen­diri? Kau lihat sen­diri Paman, bapakku. Sena­pati, telah dibu­ang­nya di negeri orang untuk ber­pe­rang.”

Ia dapat temu­kan kata-kata beron­tak dari Idayu, dari Sena­pati dan dari Rama Clu­r­ing. Kelu­arga ini nam­pak­nya benar-benar anak-rohani Rama during. Dan seki­las ia ter­i­ngat pada ajaran salah seo­rang guru­nya dulu bagai­mana seo­rang musa­fir Demak harus ber­si­kap dan ber­buat ter­ha­dap guru-pem­bi­cara kafir tumpas! Ter­nyata penga­ruh Rama Clu­r­ing sangat besar ter­ha­dap kelu­arga seo­rang yang dicin­ta­i­nya. Timbul dor­ongan dalam hati­nya untuk menge­ta­hui lebih banyak ten­tang guru-guru itu. Tapi ia tak jadi ber­ta­nya. Apa pula guna­nya seka­rang ini? Sudah bukan tugas­nya lagi.

“Gelar, kalau orang meli­hat gerak-gerik emakmu yang luwes, setiap orang akan dapat menge­ta­hui dia seo­rang penari ulung. Kalau orang meli­hat ketram­pil­anmu naik kuda dan melem­par­kan tombak, segera aku dapat menge­ta­hui kau pernah jadi pra­ju­rit.”

“Betul, Paman. Aku pernah jadi calon pra­ju­rit penga­wal Tuban,” Gelar meng­a­kui. “Kemu­dian seben­tar jadi Pra­ju­rit Demak.”

“Demak?”

“Betul.”

“Kau mondar-mandir tidak karuan.”

Gelar ter­tawa, kemu­dian mene­rus­kan: “Aku rasa, ting­gal ber­sama emak lebih tepat. Seti­dak-tidak­nya ber­guna untuk emak dan Kum­bang Apalah arti­nya peng­a­b­dian pada Tuban dan Demak? Sampai seka­rang aku tak tahu.”

Coba kau ceri­ta­kan, bagai­mana kau bisa mondar-mandir pada dua daerah yang saling ber­mu­suhan.”

‘Aku kira tadi­nya yang satu akan lebih baik dari yang lain.”

“Bagai­mana kau anggap dua-duanya buruk? Demak Islam, Tuban sete­ngah Warn.”

“Dua-duanya tidak ber­buat sesu­atu pun untuk pem­be­basan Malaka, apa­lagi sete­lah ter­nyata Sena­pa­tiku dibu­ang tidak menentu di sana. Orang bilang berang­kat hanya dengan jung!”

Sekali Pada meli­hat sema­ngat si Wirang­gal­eng di dalam kata-kata­nya. Dan ia mem­bi­ar­kan Gelar mene­rus­kan kata-kata­nya.

Begitu, paman, hanya di rumah aku merasa damai. Di Tuban orang selalu meng­e­jek dan meng­ganggu dan meng­hina. Benar­kah aku bukan anak Sena­pa­tiku?”

Kuda itu ber­ja­lan ber­i­ringan, dan Pada berada di bela­kang Gelar sehingga ia tak dapat meli­hat wajah bocah itu. Ia pun tak menyangka per­ca­kapan itu ber­be­lok begitu tajam ke jurusan lain.

“Kau diam saja, Paman. Nam­pak­nya juga Paman tak mau mene­rang­kan.”

“Tahu apa aku ten­tang itu?

Yang kuke­ta­hui selama mi kau anak Sena­pati dengan Idayu. Meng­apa justru ber­ta­nya padaku

“Emak selalu meng­e­lak-ngelak, dan bilang ‘tidak cukup baik­kah Wirang­gal­eng dan Idayu jadi orang tuamu?’ Aku tak sampai hati men­de­sak. Apa­lagi bila nampak olehku mata­nya mulai merah ber­kaca-kaca.. Tidak, Paman, aku tak bea. Pernah emak mengu­tip kata-kata seo­rang guru-pem­bi­cara, ia lupa nama­nya… ia meng­u­langi kutipan itu hanya untuk meng­e­lak­kan per­ta­nyaan. Aku justru sema­kin bim­bang”

“Apa kata­nya?”

“Tak ada seo­rang manu­sia pun,” kata­nya, “pernah meminta pada para dewa untuk dila­hir­kan di dunia mi. Setiap orang dila­hir­kan tanpa semau-nya sen­diri Orang dipaksa lahir, dan ibunya dipaksa mela­hir­kan.”

“Itulah guru-pem­bi­cara dungu.” Pada terang­sang. “Hidup adalah karu­nia tak ter­hingga, tak peduli siapa bapak atau ibunya.”

“Ya, tak ter­hingga, untuk jadi per­ma­inan para raja’

Pada ter­ke­jut, tetapi pura-pura tak mem­per­ha­ti­kan. Tak pernah ada orang bicara sema­cam itu. Sen­diri seo­rang guru-pem­bi­cara, bekas musa­fir Demak, dila­tih untuk mema­tah­kan penga­ruh guru-pem­bi­cara bukan golongan sen­diri, kafir, secara nalu­r­iah ia bang­kit untuk meng­o­b­rak-abrik penga­ruh itu.

“Gelar, mung­kin kau tak begitu benar. Setiap kela­hiran bukan saja mem­bawa rahmat, juga mem­bawa pesan pada dunia, agar manu­sia tidak men­jadi per­ma­inan para raja. Pesan itu juga dibe­ri­kan kepa­damu, padaku, juga untuk kita terus­kan Dari negeri Melayu sana datang bidai ‘Raja adil raja dise­m­bah, raja lalim raja disang­gah’”.

“Belum pernah emak ber­ce­rita ten­tang adanya raja yang kecu­ali oleh raja lain yang sama lalim­nya barang­kali. Dan perang pun ter­jadi, barang­kali. Maka kita ter­je­pit seperti pelan­duk di tengah dua gajah. Barang­kali itulah rahmat dan karu­nia?”

Betapa bocah ini sudah meno­lak kepa­hi­tan hidup, pikir Pada. Dan cepat-cepat ia mem­be­lok­kan: “Gelar, coba­lah sing­kir­kan dulu soal raja-raja itu. Seki­ra­nya kau tidak lahir, bukan­kah kau tak bisa ber­bakti pada emakmu seperti halnya seka­rang? Bukan­kah itu karu­nia?”

Suatu per­de­batan dari dua sikap yang ber­lain-lainan itu tak meng­ha­sil­kan kele­gaan pada kedua belah pihak. Dan Pada meng­a­kui tak dapat mR matah­kan penga­ruh para guru-pem­bi­cara yang telah ber­a­kar di dalam kelu­arga Wirang­gal­eng.

Akhir­nya mereka ter­diam kebo­sanan.

Tapi Gelar tak urung meng­u­langi per­ta­nya­an­nya: ‘Paman belum juga men­ja­wab, benar­kah aku bukan anak Sena­pa­tiku?”

“Sudah datang waktu bagiku untuk mene­rus­kan per­ja­lanan seo­rang diri, Gelar. Ten­tang itu, datang­lah pada emakmu. Tanya­kan baik-baik. Seka­rang kau sudah cukup dewasa untuk menge­ta­hui segala yang patut kau keta­hui. Aku tak tahu apa-apa, dan tidak punya hak apa-apa. Nah, teri­ma­lah kem­bali kudamu ini, dan pulang­lah kau pada emakmu, dan ber­bak­ti­lah lebih baik.”

Ia ulu­r­kan tangan untuk dicium Gelar, tetapi bocah itu tak menge­nal adat itu. Gelar meng­ang­kat sembah dada.

Keka­firan masih ber­ku­asa atas mereka, keluh­nya, kemu­dian ia ber­ja­lan kaki keluar dari hutan.

Begitu lepas dari ceng­ke­raman hutan ia ber­ha­dapan dengan rumah di ping­gir hutan itu. Ia memer­lu­kan naik ke atas­nya, menin­jau gubuk yang selama ini diting­gali oleh wanita yang dicin­ta­i­nya. Dili­hat­nya palang bambu telah ter­ge­le­tak jauh di beranda, dan pin­tu­nya telah ter­buka. Ia masuk ke dalam.

Semua per­ka­kas telah beran­takan di lantai: orang-orang Demak telah mema­suki rumah ini.

Cepat-cepat ia turun, lari, balik mema­suki hutan.


Bab 35

Lao Sam – Pajajaran – Sunda Kelapa

Perang di Tuban bolak-balik ke timur-barat. Usaha Pada untuk meng­ha­dap Patih Tuban Kala Cuwil Sang Wira­bumi gagal. Ia lepas­kan usa­ha­nya. Dengan meng­hin­dari daerah-daerah per­tem­puran ia mema­suki Lao Sam dari sebe­lah selatan.

Belum lagi mema­suki daerah per­kam­pungan Lao Sam ia telah meng­a­lami sesu­atu yang tidak beres. Ia telah ter­kena dilaso. Seutas tali telah men­je­rat kaki, mem­ban­ting­nya ke tanah dan meng­ang­kat­nya ke udara. Dan ter­ge­ong-geo­ng­lah ia dengan kepala ke bawah. Bung­kusan bawa­an­nya ter­lem­par entah di mana.

Kele­lahan dari per­ja­lanan menye­bab­kan ia tak mampu meng­ang­kat badan untuk mem­be­bas­kan kaki dengan tangan­nya. Darah dari kaki­nya ia rasai menyerbu ke bawah dan menye­sak dalam kepa­la­nya. Napas­nya ter­e­ngah-engah.

Dalam rem­bang malam itu dili­hat­nya tiga orang Tiong­hoa ber­sen­jata tri­sula besi dengan bagian tengah lebih tinggi. Mereka datang meng­ham­piri. Pada tahu ia telah jatuh ke dalam tangan Nan Lung, Naga Selatan.

Dengan bahasa Jawa yang kaku dan aneh seo­rang ber­ta­nya: “Tuban apa Demak?”

Dalam kea­daan ter­ge­ong-geong begitu ia men­ja­wab tabah: “Dua-duanya tidak.”

“Bukan­kah kau Pri­bumi?”

“Betul,” Pada telah mera­sai kesa­kitan pada bagian-bagian badan yang ter­se­kat oleh tali.

“Bukan­kah kau tahu, Pri­bumi tak boleh mema­suki Lao Sam di waktu perang?” orang itu ber­ta­nya lagi.

“Tahu, tahu betul.”

“Meng­apa berani-berani masuk kemari?”

“Turun­kan aku, biar kute­rang­kan pada kalian.”

Mereka menu­run­kan­nya, dan Pada mera­sai darah di kepa­la­nya turun, mem­bi­kin kaki­nya jadi semutan. Mereka meng­an­cam­nya dengan sen­ja­t­a­nya,

“Kau dalam bahaya. Jangan beri kete­rangan bohong.”

“Aku datang untuk men­cari Babah Liem Mo Han.”

“Ha! Siapa kau ini?”

Pada mulai ber­diri, men­ja­wab: “Siapa? Apa kalian tidak kenal aku? Aku anak angkat Babah Liem.”

“Tidak kenal.”

“Kalau begitu kalian orang baru di Lao Sam ini.”

Dan benar, mereka memang pen­da­tang baru. Sete­lah Demak menyerbu Tuban, ratusan orang Tiong­hoa dida­tang­kan ke Lao Sam dari bandar-bandar lain, ter­u­tama dari Sema­rang, untuk melin­dungi per­jan­jian Sema­rang-Demak dan Ceng He-Maja­pa­hit Dua macam per­jan­jian yang ter­sim­pan dalam kha­s­a­nah kelen­teng Sema­rang itu mereka rasai sedang ter­an­cam sete­lah Demak berada dalam keku­a­saan Treng­gono.

Mereka tidak menge­nal Pada.

Tetapi men­de­ngar kor­ban­nya ingin mene­mui Liem Mo Han mereka mele­pas­kan­nya dari ikatan dan meng­gi­ring­nya di bawah ancaman tiga tri­sula menuju ke tengah-tengah kota Lao Sam.

Ia dibawa masuk ke sebuah rumah besar yang sudah dike­nal­nya – rumah Babah Cia Mie An. Ia disu­ruh duduk di atas kursi bambu dalam kea­daan tetap ter­jaga. Salah seo­rang di anta­ra­nya menyo­r­ong­kan bung­kus­an­nya pada pang­ku­an­nya. Dan ia meng­u­cap­kan terima kasih dalam bahasa Tiong­hoa.

Bebe­rapa orang wanita mema­suki ruangan besar itu mem­bawa lampu tam­ba­han. Pada meng­o­cok mata­nya. Tidak salah. Ia menge­nal dua orang wanita itu. Dan mereka nampak ter­ke­jut meli­hat­nya. Mereka ber­siap-siap hendak mene­gur­nya, tapi Coa Mie An kebe­tulan sedang masuk, dan mereka pergi meng­hin­dar.

“Ah, saha­bat Pada Moham­mad Firman,” tegur tuan rumah sambil ter­tawa senang. Ia lam­bai­kan tangan menyu­ruh wanita-wanita itu menying­kir lebih jauh. “Saha­bat mau mene­mui Babah Liem, aku dengar.”

Pada meng­gang­guk. Piki­ran­nya masih tetap ter­paut pada perem­puan-perem­puan itu. Malah mata­nya masih ter­pan­cang pada pintu ke mana mereka tadi meng­hi­lang.

“Nam­pak­nya saha­bat punya per­ha­tian pada mereka. Atau suka barang­kali?”

Pada dipaksa untuk menyi­mak tuan rumah, Ia meng­ge­leng.

“Baru bebe­rapa hari ini aku beli mereka itu, yang lain-lain sudah aku bagi­kan. Yang dua ini aku mak­sud­kan untuk diriku sen­diri. Maaf, saha­bat, aku pun ingin punya anak. Tapi kalau saha­bat meng­hen­daki. ..”

Pada tahu dua orang itu tak lain dari Nyi Ayu Sekar Pin­jung dan Nyi Ayu Campa.

“Tidak, Babah, terima kasih. Dari siapa Babah mem­beli mereka?”

“Dari seo­rang per­wira, saha­bat, jarahan perang.”

“Per­wira mana? Demak atau Tuban?”

“Tuban.”

“Masya­al­lah,” sebut Pada. “Bukan­kah Babah tahu mereka selir-selir Sang Adi­pati? Bukan­kah yang seo­rang itu Nyi Ayu Sekar Pin­jung dan yang lain Nyi Ayu Campa?”

“Tidak salah, saha­bat. Dan per­wira Sang Adi­pati sen­diri yang men­ju­al­nya. Nam­pak­nya saha­bat begitu ter­ke­jut”

Dunia apakah semua ini, pikir Pada. Dan yang keluar dari mulut­nya: “Aku datang dari Malaka…’

“Ya, aku tahu, saha­bat.” “Untuk ber­temu dengan Babah Liem.”

“Ya, aku tahu. Begini, saha­bat, sudah­kah ada pasukan Tiong­hoa ber­ga­bung? Dan pasukan Seme­nan­jung sen­diri? Dan pasukan Demak?”

“Seo­rang pun tak ada,” Pada meng­ge­leng.

“Sudah aku duga. Dalam catatan dise­but­kan, Pasukan Tiong­hoa itu sedi­kit sekali kemung­kinan bisa datang. Mereka juga dibu­tuh­kan di per­a­iran Manado dan Kali­man­tan. Maaf, kami tak bisa ber­buat sesu­atu.”

“Biar aku men­cari Babah Liem’

“Koh… Gouw Eng Cu sudah ber­kali-kali mem­be­ri­ta­hu­kan pada Liem Mo Han agar jangan menyam­pai­kan janji pada siapa pun. Rupa­nya dia telah sam­pai­kan pada saha­bat. Ada kau ber­temu dengan Gouw Eng Cu sebe­lum berang­kat ke Malaka?”

‘Tidak.”

“Mes­ti­nya saha­bat mene­mui dia lebih dahulu. Sayang dia telah mening­gal, pada hari per­tama Demak masuk. Memang suatu ben­cana, kece­la­kaan yang tidak bisa dihin­dari. Perang, saha­bat.”

“Dibu­nuh?”

“Ya.”

Mereka ter­diam. Kemu­dian Coa Mie An mene­rus­kan: “Karena Babah Liem toh sudah menyam­pai­kan pada saha­bat, aku merasa perlu untuk meminta maaf pada Sena­pati mela­lui saha­bat, juga pada saha­bat sen­diri.”

Pada tak menang­gapi, dan ia mene­rus­kan: “Meli­hat penyer­buan Demak kemari boleh jadi dengan sengaja ia tak mengir­im­kan seo­rang pun ke Malaka.”

“Biar aku temui Babah Liem sen­diri.”

“Nanti dulu. Nam­pak­nya saha­bat sangat lelah. Per­lu­kah dila­yani wanita-wanita tadi?”

‘Tidak, aku sung­guh ter­buru-buru.”

“Lebih baik sam­pai­kan saja padaku, karena akulah seka­rang peng­gan­ti­nya.”

‘Tidak, Babah Liem sen­diri yang aku per­lu­kan.”

“Ah, saha­bat. Kalau begitu, biar kuce­ri­tai apa sesung­guh­nya telah ter­jadi: ayah angkat saha­bat sudah tiada.”

“Mati?”

“Ya. Dua bulan yang lalu. Ditang­kap oleh pasukan Demak dan dise­ret dengan kuda di atas jalanan sampai ajal­nya.”

Pada menye­but.

“Itu belum semua. Sewaktu mem­bu­nuh­nya, mereka ber­so­rak-sorak hendak juga menum­pas Wirang­gal­eng dan selu­ruh ketu­run­an­nya. Juga namamu dise­but-sebut. Kalian diang­gap ber­se­kong­kol mela­wan Demak.”

Pada minta diri.

“Nanti dulu, masih banyak yang harus diper­ca­kap­kan. Seperti saha­bat keta­hui. Babah Liem tidak punya sanak-kelu­arga. Ia mening­gal­kan rumah dan semu­a­nya. Barang tentu semua itu jatuh ke tangan saha­bat seba­gai warisan….”

Pada minta diri untuk kedua kali­nya dan meng­u­cap­kan terima kasih atas segala yang telah dike­ta­hu­i­nya. Malam itu juga ia ting­gal­kan Lao Sam kem­bali ke jurusan teng­gara. Ia ter­paksa balik ke Awis Kram­bil untuk mem­ba­wa­kan berita ancaman itu.

Dalam kea­daan keha­bisan tenaga ia sampai di Awis Kram­bil. Ia ter­paksa mene­mui lagi Idayu dan men­ce­ri­ta­kan sega­la­nya. Kee­sokan hari­nya ia ung­si­kan kelu­arga itu lebih ke dalam lagi mema­suki daerah kabu­pa­ten Bojo­ne­gara. Di sana ia ting­gal selama tiga bulan, mem­bantu menyi­ap­kan ladang dan huma. Dengan menyan­dar­kan keper­ca­yaan pada kebe­saran Tuhan­nya ia tak merasa merana lagi karena cin­ta­nya. Seba­lik­nya Gelar­lah yang mem­be­ri­nya kesu­l­itan. Ia selalu meng­a­jak ber­de­bat dan Idayu men­de­ng­ar­kan dengan diam-diam. Ia tahu Idayu takkan ber­pi­hak pada­nya.

Dari per­de­batan-per­de­batan itu Pada mena­rik satu kesim­pulan. Gelar mem­benci apa saja yang berbau raja. Bagi anak muda itu, di mana ada raja di situ ada kela­liman. Ia sen­diri ber­pen­da­pat lain: bagai­man­akah kehi­dupan dapat diatur tanpa ada seo­rang raja?

Per­de­batan yang tak habis-habis­nya dan tidak memu­as­kan kedua belah pihak, sampai rumah sele­sai diba­ngun dan ladang habis dita­nami dan ia harus pergi untuk mela­ku­kan tugas­nya.

Sekali lagi Gelar meng­an­tar­kan sampai ke per­ba­ta­san Tuban. Sebe­lum per­pi­sahan ia memer­lu­kan ber­ta­nya: “Apa jawaban emakmu?”

“Ten­tang apa, paman?”

“Anak Sena­pa­tiku kau ini atau bukan?”

Ter­nyata Gelar belum juga men­da­pat jawaban. Dan mereka ber­pi­sahan.

Ia meng­am­bil jalan darat. Jalanan negeri dila­lu­i­nya hanya di malam hari. Bung­kus­an­nya seka­rang dipi­kul­nya pada dua bilah tombak lempar. Pada ping­gang­nya seka­rang ter­gan­tung sebi­lah pedang.

Walau­pun ia tak pernah meng­a­lami masa kep­ra­ju­r­i­tan, dengan sen­jata-sen­jata itu ia merasa lebih aman.

Per­ja­lanan mela­lui daerah tandus yang meru­pa­kan sayan­nah dengan selang-seling rawa besar dan kecil itu sangat berat. Lebih-lebih lagi karena ia tahu balat­en­tara Demak yang meng­hen­daki jiwa­nya. Maka ia pilih jalan di luar keku­a­saan Demak.

Sete­lah sampai waktu harus mem­be­lok ke utara, ia ber­ja­lan hanya di malam hari melin­tasi daerah keku­a­saan bekas raja­nya. Dengan demi­kian ia sela­mat sampai di Jepara.

Ia sudah tak punya daya lagi untuk mene­rus­kan per­ja­lanan. Ia telah biar­kan kumis dan jeng­got­nya dan cam­bang­nya mele­bat pada muka­nya.

Dan ter­nyata tidak semu­dah itu ia bisa meng­ha­dap Ratu Aisah. Sama sul­it­nya dengan meng­ha­dap Kala Cuwil.

Seminggu sudah ia ber­je­mur din di depan pen­dopo rumah Ratu Aisah, dan tak seo­rang pun datang mene­gur­nya. Maka ia pun memu­tus­kan, bila pada hari yang ke tujuh ini tak juga men­da­pat tegur sapa, ia akan mene­rus­kan per­ja­lanan ke Malaka.

Matari sudah mulai con­dong dan badan­nya sudah sesi­ang tadi mandi keri­ngat.

Seo­rang gadis cilik, cucu Ratu, datang meng­ham­piri, ber­kata: “Sudah dihi­tung hari­nya. Seminggu sudah kau ber­sim­puh hendak meng­ha­dap Nenenda. Tidak bisa, Paman, Nenenda tak hendak mene­mui siapa pun. Siapa kau ini. Paman?”

“Sahaya utusan dari Malaka, Raden, utusan Sena­pati Wirang­gal­eng, datang untuk meng­ha­dap Gusti Ratu.”

“Wirang­gal­eng,” gadis cilik itu ber­seru riang. “Aku kenal nama itu!” Dengan kekanak-kanakan dan kera­mahan luar biasa ia mene­rus­kan, “Kalau begitu akan aku sam­pai­kan. Duduk saja di situ, Paman, biar kubi­sik­kan pada Nenenda Ratu.”

Ia lari ke sam­ping rumah dan meng­hi­lang. Pada meng­hela napas lega.

Dan matan sudah mulai teng­ge­lam. Ia masih menunggu. Gadis cilik itu keluar lagi mem­bawa sebuah bung­kusan dan pundi-pundi.

“Nenenda Ratu tak ber­ke­nan diha­dap oleh siapa pun,” kata­nya dan menye­rah­kan pundi-pundi itu. “Ini untuk Paman, dinar-dinar emas untuk per­ja­lan­anmu, dan ini,” ia menye­rah­kan bung­kusan, “untuk siapa saja yang mampu menge­na­kan­nya, kata Nenenda. Seka­rang Paman buru-buru saja ting­gal­kan Jepara. Ber­la­yar sampai Sema­rang, kemu­dian jalan darat sampai Banten baru kemu­dian menye­be­rang. Begitu pesan nenenda.”

Anak itu tak meng­u­langi kata-kata­nya dan menyu­r­uh­nya pergi dengan lam­baian tangan, seakan ia hanya seekor lalat tanpa harga

Dengan pri­ha­tin ia berang­kat ke pela­buhan. Sepan­jang jalan ia ber­pi­kir: dunia apakah semua ini? Dia pikul bung­kusan sen­diri dan pem­be­rian itu pada tombak dan pedang yang telah dibung­ku­a­nya dengan daun pisang.

Dengan sebuah perahu layar kecil ia menuju ke Sema­rang kemu­dian ber­ja­lan darat mema­suki peda­laman. Ia men­duga, pesan Ratu Aisah mem­pu­nyai hubungan dengan gerakan armada Jepara-Demak. Maka ia harus mema­tu­hi­nya. Dija­uh­i­nya daerah pesi­sir. Dan dengan demi­kian ia menem­puh jarak jauh menuju ke Paja­jaran.

Ia tahu tak mung­kin ia turun ke bandar Banten sete­lah tempat itu didu­duki oleh Demak, Ia harus turun ke bandar Sunda Kelapa. Ia pun sudah men­de­ngar armada Jepara-Demak mela­ku­kan garis penge­pungan ter­ha­dap Selat Sunda. Ia tak pasti dapat mene­ro­bosi kepungan itu atau tidak.

Setiap hari ia ber­ja­lan seo­rang diri atau dalam rom­bongan dengan orang-orang lain. Sepan­jang jalan ia ber­u­saha bel­a­jar bahasa Sunda. Dan hati­nya harap-harap cemas untuk meli­hat kera­jaan Hindu itu. Pasti sega­la­nya akan lebih buruk dari­pada Demak yang Islam atau Tuban yang sete­ngah Islam. Segala yang kafir pasti buruk.

Dan teman-teman seper­ja­lan­an­nya dengan senang hati meng­a­jar­i­nya bahasa Sunda. Ia sen­diri dapat bel­a­jar cepat.

Di per­ba­ta­san Paja­jaran ia meng­i­nap seminggu. Sudah lama ia ingin menge­ta­hui apa isi bung­kusan dari Ratu Aisah.

Dengan ragu-ragu ia mem­bu­ka­nya, menge­ta­hui bukan haknya ia mela­ku­kan­nya, maka ia meng­ang­kat sembah. Tetapi ia tetap ragu-ragu. Dan bagai­mana nanti kalau ada pung­gawa meme­rik­sa­nya dan ia tak tahu apa isinya? Pada Tuhan­nya juga ia serah­kan putus­an­nya.

Sinar matari yang mene­ro­bosi deda­unan itu jatuh di atas bung­kusan dan ber­dansa-dansa dalam bercak-bercak kepu­tihan. Bung­kus itu sen­diri adalah kain tenunan putih yang sudah agak tua. Di dalam­nya ada pem­bung­kus lagi dari kain putih yang dite­nun dengan benang sutra kuning, malang dan bujur. Dan pem­bung­kus itu ber­pu­tar-putar bebe­rapa kali, lebih dari dua depa pan­jang.

Benda per­tama yang keluar adalah selem­bar kain batik ber­gam­bar kupu-tarung.

“Lam­bang Jepara Adi­pati Unus almar­hum!” pikir­nya.

Kain itu dibu­ka­nya dan di dalam­nya ter­da­pat destar dengan gambar peming­gir kupu-tarung pula. Kalau begitu, kata­nya dalam hati, mung­kin pem­bung­kus kedua adalah tilam almar­hum.

Di dalam destar ter­da­pat sebuah pundi-pundi coklat dari kulit kepom­pong ber­i­sikan cincin emas dengan gambar itu pula, ter­u­kir pada bagian depan. Dalam pundi-pundi coklat lain­nya yang ber­se­lang-seling dengan warna jambu, juga dari kulit kepom­pong, hanya lebih besar, ter­da­pat seutas kalung dengan pem­be­rat selem­bar emas ber­u­kir dengan tengah-tengah­nya ter­da­pat lam­bang itu juga. Gambar kupu-kupu itu seperti ditem­pel di atas lem­baran emas itu, kaki dan bela­lai-nya dari perak dan mata­nya dari intan. Selan­jut­nya ter­da­pat dalam bung­kusan lain sebuah ikat ping­gang dari lem­baran perak dan emas ber­se­lang-seling, ber­u­kir indah dan pada bagian kepa­la­nya pun ter­da­pat gambar yang sama. Dalam sebuah kasut dari kulit ter­da­pat sebuah bung­kusan kulit kepom­pong kuning ber­i­sikan sebuah gelas emas ber­u­kir gambar yang sama. Ter­a­khir adalah keris yang ter­bung­kus kain biru nila. Sarung dan tang­kai­nya ter­buat dari emas ber­ta­tah­kan mutu mani­kam.

Ia per­ha­ti­kan barang-barang itu sebuah demi sebuah, menga­gumi indah­nya ukiran.

Tiba-tiba ia ber­seri-seri Suatu piki­ran datang pada­nya: ia akan mema­suki Paja­jaran seba­gai seo­rang pange­ran.

“Aku akan kena­kan barang-barang kera­jaan ini. Meng­apa tidak? Memang bukan hakku, hak orang yang dapat mene­rus­kan cita-cita Gusti Adi­pati Unus. Aku hanya akan memin­jam agar barang-barang bisa lebih cepat sampai pada yang berhak.”

Ia kemasi semua dan dengan girang mene­rus­kan per­ja­lanan, terus seo­rang diri.

Di ping­giran desa Bale­ug­bak di tepi Ctb­wung, ia mulai meng­u­bah din-nya jadi seo­rang pange­ran. Mula-mula ia mandi bersih-bersih. Ia gosok badan­nya dengan pasir kali, menge­ring­kan badan, dan menge­na­kan semua pakaian kera­jaan itu. Memang agak pendek dan long­gar, tapi apa salah­nya. Seo­rang pange­ran takkan dili­hat dengan sebe­lah mata karena pakai­an­nya kepen­dekan dan kelong­garan Dan ia harus ber­ja­lan hati-hati, kasut itu tidak cocok untuk kaki­nya yang tak pernah ber­alas, keke­cilan.

Dari keja­uhan dili­hat­nya orang-orang desa sedang meng­ang­kuti panen.

“Bis­mil­lah,” bisik­nya, dan dalam pakaian Adi­pati Unus ia meng­ang­kat sedi­kit kain­nya dengan tangan kiri sambil menjin-jing bung­kusan, dan dengan tangan kanan ber­leng­gang ber­gaya raja. Bung­kusan itu ia sem­bu­nyi­kan dalam sebuah rumpun semak di ping­gir kali.

Ia tahu betul gaya ning­rat bila ber­ja­lan. Bagi­nya tak ada sesu­atu kesu­l­itan. Dengan tabah, menye­rah­kan sega­la­nya pada Allah ia ber­ja­lan meleng­gang dengan tangan kanan, menin­jau ke sana-sini seakan sedang meme­riksa sawah sen­diri.

Orang per­tama yang dipa­pasi­nya adalah seo­rang gadis yang men­cari keja­uhan untuk buang air. Anak itu cepat-cepat menying­kir, mele­tak­kan bakul­nya di tanah, ber­lu­tut dan menyem­bah. Dan Pada menge­ta­hui benar anak itu sudah tak dapat mena­han desakan perut­nya. Ia lam­bai­kan tangan dan mene­rus­kan jalan­nya, ber­leng­gang bang­sa­wan dan ber­gaya, lambat-lambat ber­wi­bawa.

Tanpa meli­hat ke bela­kang ia pun tahu gadis cilik itu telah lari dari pan­dangan orang. Ia ber­henti di bawah pohon sambil ter­se­nyum-senyum menga­gumi kein­dahan dir­i­nya sen­diri yang bukan dir­i­nya sen­diri lagi.

Begi­ni­lah rasa­nya jadi pange­ran. Belum-belum sudah dapat satu sembah.

Tetapi gadis itu ter­lalu lama belum juga muncul, ia mulai memang­gil-mang­gil­nya. Anak itu muncul juga dengan kain basah. Ia merun­duk-runduk men­de­kat dan menyem­bah lagi.

Dua sembah, senyum Pada alias Moham­mad Firman.

“Hai, Upik!” perin­tah­nya, “pergi kau men­da­pat­kan kepala desamu. Sam­pai­kan Sang Pange­ran Adi­pati Pada agar dijem­put.”

Ia tak yakin gadis itu dapat menang­kap kata-kata Sun­da­nya, namun ia segera menyem­bah dan lari mening­gal­kan keran­jang­nya. Dan Pada menunggu di tengah jalan dengan satu tangan ber­to­lak ping­gang dan tangan lain meme­gangi ujung kain­nya.

Sawah-sawah di kiri-kanan jalan hampir selu­r­uh­nya telah ter­pa­neni, jalan itu sen­diri diapit oleh saluran air yang meng­a­lir­kan air jernih tanpa putus-putus­nya. Selama hidup di daerah utara Jawa Tengah dan Umur ia tak pernah meli­hat tanah sesu­bur itu, kaya akan air yang ter­ken­dali. Jelas daerah ini jauh lebih baik dari­pada Tuban, Jepara atau Demak. Uda­ra­nya sejuk dan nyaman.

Dari keja­uhan ter­de­ngar oleh­nya ken­to­ngan dita­buh ber­talu-talu, dan tampak oleh­nya orang ber­la­rian gugup. Seben­tar ia ragu-ragu adakah itu ken­to­ngan bahaya yang men­cu­r­i­gai dir­i­nya, atau­kah ken­tong suka untuk menyam­but keda­tangan Pange­ran Adi­pati Pada.

Ia ter­se­nyum baha­gia meli­hat orang ber­bon­dong-bon­dong datang tanpa mem­bawa sen­jata. Dan ia meng­u­cap syukur.

Orang-orang ber­pa­kaian lebih baik dari­pada umum­nya pen­du­duk nege­ri­nya sen­diri. Kulit mereka lang­sat. Cara menge­na­kan destar pun ber­la­inan, lebih ke bawah dan tak ada nampak sudut-sudut datar yang dika­ku­kan dengan kanji, semua jatuh layu di bawah teng­kuk.

Lelaki dan perem­puan datang ber­sama-sama seperti biasa ter­jadi di desa-desa peda­laman. Dan wajah mereka ber­seri-seri, mung­kin karena panen yang ber­ha­sil, mung­kin pula karena keda­tangan­nya.

Tidak, ban­tah­nya sete­lah ter­i­ngat pada kata-kata Gelar, tak ada orang desa ber­seri-seri ikhlas karena keda­tangan seo­rang pange­ran. Jangan bohongi dirimu.

Seo­rang lelaki sete­ngah tua ber­pa­kaian lebih baik, satu-satu­nya yang menye­lit­kan keris pada pung­gung­nya, menyem­bah­nya sekali, kemu­dian menyila kannya ber­ja­lan lebih dulu.

Dan Pange­ran Adi­pati Pada pun ber­ja­lan dengan satu tangan ber­leng­gang besar, tangan lain meng­ang­kat kain. Sese­o­rang mem­ba­wa­kan barang-barang­nya. Dan semua orang meng­iring­kan di bela­kang­nya.

Pela­taran kepala desa hampir-hampir penuh dengan tum­pukan padi seba­gai­mana halnya di pela­taran lain. Wanita-wanita ber­lu­tut di antara tum­pukan-tum­pukan itu dan menyam­but­nya dengan sembah.

Mela­lui tum­pukan padi pula ia dii­ring­kan mema­suki rumah.

Juga di tangga rumah ang­gota-ang­gota kelu­arga kepala desa ber­lu­tut menyem­bah. Bocah-bocah ber­sim­puh di tanah, juga menyem­bah.

Sela­mat, pikir Pada, semua takluk di bawah keku­a­saan Sang Pange­ran, insya Allah.

Ia naiki tangga dan masuki pen­dopo yang dige­la­daki dengan pecahan kayu sedang yang meng­ki­lat hitam. Sebuah meja rendah disi­ap­kan untuk kedu­dukan Sang Pange­ran. Tak ada bangku di selu­ruh desa itu. Dan semua orang, baik di gela­dak atau­pun tanah, meng­ha­dap pada­nya seakan mereka pung­gawa pada hari peng­ha­dapan.

“Betapa suka­cita seka­lian kawula di sini men­da­pat kun­jungan Gusti Pange­ran..”

“Pange­ran Adi­pati Pada!” Pada mem­ban­tu­nya sambil meng­ang­kat lengan mema­mer­kan gelang emas­nya.

“Dari manakah gerangan Gusti Pange­ran Adi­pati maka datang ke desa Bale­ug­bak tanpa pengiring?”

Pada mengum­pul­kan kata-kata Sunda yang dibu­tuh­kan­nya, tapi ia tak meng­erti betul apakah tepat untuk keper­luan resmi sema­cam ini. Ia men­ja­wab sejadi-jadi­nya: “Kami datang dari jauh, dari timur sana. Dari Jepara.”

“Jepara!” seru bebe­rapa mulut.

Orang tak mem­per­ha­ti­kan kea­nehan kata dan kali­mat­nya. Orang ter­sen­tak karena Jepara.

“Bagai­mana mung­kin, Gusti Pange­ran, sedang armada Gusti sedang mener­jang bandar Sunda Kelapa….”

Pada meng­ge­ra­gap. Ia menye­sal telah meng­gu­na­kan kata Jepara. Meng­apa ia tak meng­gu­na­kan tempat lain? Meng­apa mesti Jepara? Nama yang sedang dibenci di mana-mana. Ia tabah dada­nya untuk men­da­pat­kan keta­ba­han­nya kem­bali. Ia tak boleh lebih lama gugup. Ia harus segera men­ja­wab. Dibu­ka­nya senyum manis dan ber­kata meya­kin­kan, lebih pada diri sen­diri: “Keta­hu­i­lah, kau. Kepala Desa, kami Pange­ran Adi­pati Jepara tidak setuju armada Jepara-Demak melang­gar Sunda Kelapa. Maka itulah sebab­nya kami ber­se­li­sih dengan Sultan Treng­gono Demak, sau­dara kami, juga dengan Pang­lima-Lak­sa­m­ana-Guber­nur Fat­hil­lah.”

Ia hampir-hampir keha­bisan kata. Sedang kata-kata yang ter­ham­bur pun belum tentu betul. Waktu ia bel­a­jar bahasa Tiong­hoa, Liem Mo Han menga­ta­kan pada­nya: kalau kau sudah bisa menipu dengan bahasa ini, kau benar-benar sudah pandai Tiong­hoa. Dan seka­rang ia sedang menipu dalam bahasa Sunda, dan ia tahu benar sama sekali tidak pandai Sunda.

Semua orang menunggu kata-kata­nya selan­jut­nya. Dan ia mene­rus­kan ter­sen­dat-sendat: “Jadi lari­lah kami kemari untuk meng­a­bdi di bawah duli Sri Baginda Prabu Sedah. Barang­kali dite­rima dan dilu­lus­kan untuk dapat meng­ha­dapi Pang­lima-Lak­sa­m­ana-Guber­nur Fat­hil­lah.”

Pada diam dan mene­bar­kan pan­dang pada semua orang di hadap­an­nya. Ia tahu baha­sa­nya menub­ruk-nubruk, tak ada jalan lain yang dapat ditem­puh­nya.

Belum lagi kepala desa mem­buka suara ia meng­ge­ra­gap lagi, menye­dari bahaya baru yang mung­kin menimpa dir­i­nya dengan ser­buan Fat­hil­lah ter­ha­dap Sunda Kelapa. Ia ber­mak­sud hendak mene­ro­bos kepungan Demak dari Sunda Kelapa, seka­rang bandar ini justru jatuh ke tangan Demak. Dengan menan­tang Fat­hil­lah hanya karena hendak ber­ke­la­kar ia akan ter­ja­tuh dalam kesu­l­itan yang lebih parah.

“Patik semua di sini ber­ga­gama Hindu, Gusti, sedang Gusti Islam. Orang-orang Islam­lah yang menyerbu negeri kami dari laut, sedang Gusti mema­suki negeri kami dari darat.”

Ia sepe­nuh­nya meng­erti keti­dak-per­ca­yaan kepala desa itu. Dan sekali dimu­lai dengan kebo­hongan, kebo­hongan lain harus mem­ban­tu­nya. Celaka. Cepat-cepat ia mene­rang­kan: “Keta­hu­i­lah, Pange­ran Adi­pati Jepara ini masuk dari darat tanpa mem­bawa balat­en­tara. Ia datang seba­gai pela­rian.”

“Kalau begitu soal­nya, Gusti akan patik kirim­kan utusan untuk mem­per­se­m­bah­kan keda­tangan Gusti Pange­ran kepada Gusti Patih di Ibu kota.”

Pada men­jadi pucat. Dan kata-kata­nya tak juga mau datang ke otak­nya. Ia gerak-gerak­kan lengan untuk menu­tupi kegu­gup­an­nya. Dan keluar saja dari mulut­nya: “Keta­hu­i­lah, kami akan meng­ha­dap sen­diri. Sedi­a­kan untuk kami pengiring secu­kup­nya, sedi­a­kan untuk kami peng­i­napan untuk bebe­rapa hari….”

Armada Jepara-Demak mem­blo­kade bandar Sunda Kelapa dari laut dan darat. Per­da­gangan dan kesi­bukan bandar jatuh. Perahu-perahu kecil dari pantat jauh dari bandar, juga dari bandar kedua Paja­jaran, Cimanuk, ber­bon­dong-bon­dong mene­ro­bos ke Pan­jang di ujung selatan Suma­tra, melo­los­kan diri dari blo­kade.

Armada Fat­hil­lah tak mampu meng­a­tasi pene­ro­bosan di jarak sejauh itu, Maka ia jatuh­kan perin­tah untuk mengu­a­sai sama sekali Sunda Kelapa.

Pen­da­ratan seren­tak dimu­lai. Per­tem­puran yang tidak begitu ber­arti ter­jadi. Mula-mula di daerah seki­tar bandar, kemu­dian meluas ke daerah rawa-rawa di pelu­aran bandar.

Keku­atan Paja­jaran di Sunda Kelapa ter­lalu kecil dan lemah diban­ding­kan dengan belasan ribu balat­en­tara penyerbu. Pange­ran Sunda Kelapa sen­diri yang memim­pin per­ta­hanan. Dalam hanya satu hari per­tem­puran per­ta­hanan Sunda Kelapa dadal, pasukan Paja­jaran ter­de­sak mundur sampai ke peda­laman.

Pange­ran Sunda Kelapa dite­mu­kan tewas di tengah-tengah empat orang per­wira yang hendak menye­la­mat­kan­nya.

Fat­hil­lah, yang sen­diri memim­pin pen­da­ratan, ikut mela­ku­kan peng­ha­lauan dan pem­ber­sihan ter­ha­dap daerah bandar. Ia temu­kan tugu per­jan­jian Por­tu­gis-Paja­jaran yang ber­diri di atas sebi­dang tanah, yang dica­dang­kan untuk kantor dagang Por­tu­gis.

Ia meme­rin­tah­kan untuk mero­boh­kan­nya dan men­ce­bur­kan­nya ke dalam kali Cili­wung tanpa sesu­atu upa­cara.

Kee­sokan hari­nya Fat­hil­lah men­da­pat serangan pem­ba­lasan. Paja­jaran menu­run­kan balat­en­tara besar untuk mengu­a­sai kem­bali Sunda Kelapa. Per­tem­puran baru segera ter­jadi di rawa-rawa, riuh-rendah diting­kah sorak-sorak dan canang dari kedua belah pihak.

Demak meng­gu­na­kan cet­bang bikinan pandai Blam­bangan. Dan Paja­jaran tak pernah menge­nal sen­jata ledak yang melum­puh­kan syaraf ini. Mereka ter­ha­lau mening­gal­kan rawa-rawa dan naik ke darat dalam penge­jaran peluru cet­bang.

Meli­hat balat­en­tara Paja­jaran mena­rik diri Fat­hil­lah meme­rin­tah­kan peng­hen­tian penge­jaran. Selu­ruh bandar jatuh ke tangan Demak. Per­la­wanan Paja­jaran patah dan Sunda Kelapa ter­paksa dile­pas­kan.

Walau­pun Treng­gono-Fat­hil­lah ber­ko­kok-kokok untuk menum­pas kera­jaan Hindu di sebe­lah barat ini, namun Fat­hil­lah tidak ber­mak­sud mengu­a­sai peda­laman. Tanpa bandar, kata­nya pada suatu kali di dalam khot­bah­nya, Paja­jaran akan jatuh dengan sen­di­r­i­nya tanpa arti. Maka ban­dar­nya yang kedua, Cimanuk, juga harus dir­e­but. Selu­ruh pesi­sir harus dika­wal.

Dan itulah yang akan dike­na­kan­nya.

Ia kerah­kan pen­du­duk Sunda Kelapa yang telah ber­a­gama Islam, dipi­lih­nya yang muda-muda, dila­tih dan diper­sen­ja­tai, kemu­dian dina­ik­kan ke kapal dan diki­rim­kan ke Cimanuk

Pasukan kaki Demak diting­gal­kan di Sunda Kelapa seba­gai ten­tara pen­du­dukan. Ia sen­diri seka­rang ting­gal di Sunda Kelapa seba­gai Pang­lima Lak­sa­m­ana Guber­nur Banten dan Sunda Kelapa.

Pen­du­duk Sunda Kelapa tidak­lah banyak. Dalam banyak hal bandar ini tak mampu mela­wan bandar Banten. Daerah ban­dar­nya sen­diri pada umum­nya diting­gali oleh pela­rian dari Seme­nan­jung, ter­u­tama Malaka. Orang Paja­jaran sen­diri segan ting­gal di sini karena hebat­nya penya­kit demam-pem­bu­nuh. Pen­da­tang-pen­da­tang itu selu­r­uh­nya ber­a­gama Islam. Mereka lebih ber­pi­hak pada Demak yang Islam dari­pada Paja­jaran. Apa­lagi Demak­lah satu-satu­nya keku­atan yang dengan sunguh-sung­guh ber­u­saha meng­u­sir Peranggi dari negeri kela­hiran mereka. Maka jatuh­nya Sunda Kelapa ke tangan Demak ter­lalu mudah.

Fat­hil­lah tak meng­ha­dapi sesu­atu kesu­l­itan dalam meng­a­tur kem­bali kehi­dupan. Bahkan perin­tah­nya untuk men­di­r­i­kan mesjid keme­nangan di wila­yah bandar disam­but dengan ber­se­ma­ngat oleh pen­du­duk. O-rang-orang Hindu yang sedi­kit, yang tak dapat meneng­gang kerja untuk desa lain dan untuk mengu­a­sai lain pada mem­bang­kang atau mela­ri­kan diri, mening­gal­kan harta benda dan kam­pung-halaman. Mereka meng­hi­lang di balik-balik per­bu­kitan peda­laman. Yang ter­ting­gal kemu­dian ditang­kapi dan ditin­das dengan kerja paksa. Tak ada tempat lagi di bawah keku­a­saan Fat­hil­lah untuk mereka yang ber­a­gama Hindu.

Selama pem­bi­ca­raan di pen­dopo Pada dapat meli­hat hadir­nya seo­rang gadis yang selalu mem­per­ha­ti­kan gerak-gerik dan baha­sa­nya yang aneh, kaku dan dipaksa-pak­sa­kan. Dialah satu-satu­nya yang tidak menun­duk Mata­nya lak­sana sepa­sang bulan kembar, bulat, dengan bulu mata pan­jang dan leng­kung. Nam­pak­nya ia ber­sim­pati pada tamu agung yang jelas berada dalam kesu­l­itan dan sedang men­coba sekuat daya untuk keluar dari­pa­da­nya.

Ia adalah Sabar­ani, anak kepala desa.

Ia jatuh kasihan. Bagi­nya tamu itu sama sekali bukan tamu agung, bukan seo­rang pange­ran, hanya manu­sia biasa yang mem­bu­tuh­kan per­to­longan. Dalam gam­bar­an­nya, pasukan Paja­jaran yang diba­kar oleh dendam pada Jepara-Demak akan mere­jam­nya tanpa ampun. Dan gam­bar­an­nya itu pasti akan men­jadi kenya­taan dalam bebe­rapa hari ini.

Ia men­de­ng­ar­kan suara hati­nya yang memang­gil-mang­gil untuk meno­long­nya. Tapi bagai­mana? Ia belum lagi tahu. Ia harus meno­long­nya. Bagai­mana? Sedang dir­i­nya sen­diri pun mem­bu­tuh­kan per­to­longan?

Ia sen­diri harus mela­ri­kan diri dari desa­nya. Seo­rang ning­rat Pakuan dalam bebe­rapa bulan men­da­tang akan mereng­gut­kan­nya dari desa­nya.

Ia akan dise­lir oleh­nya. Orang tuanya tak dapat ber­buat sesu­atu. Selu­ruh desa pun tidak.

Ia menun­duk waktu orang tuanya menya­ta­kan ber­se­nang hati mene­rima Pange­ran itu seba­gai tamu­nya, sudi menye­di­a­kan peng­i­napan, dan ber­janji akan mengir­im­kan utusan ke Pakuan.

Sete­lah per­te­muan sele­sai, di ruang bela­kang ibunya ber­kata pada­nya: “Kau, Sabar­ini, putri ber­bangsa, hanya kau saja yang patut mela­yani Gusti Pange­ran.”

Dengan demi­kian ia mulai mela­yani tamu agung­nya, men­cuci kaki­nya dengan air hangat, mer­a­pikan tempat tidur dan menye­di­a­kan makan dan minum­nya. Sim­pati menye­bab­kan ia merasa lebih dekat pada orang asing ini dari­pada selu­ruh pen­du­duk desa.

Mung­kin per­pa­duan antara kesu­l­itan pri­badi dan kesu­l­itan tamu itu dapat meng­ha­sil­kan satu penye­le­saian bagi mereka berdua.

Selama ini tak ada pemuda sedesa berani menya­ta­kan kasih-sayang pada seo­rang calon selir ning­rat. Untuk itu jiwa bisa jadi tebus­an­nya. Maka seba­gai seo­rang gadis ia tumbuh seo­rang diri dalam kese­pian. Ia hanya dapat menyak­si­kan teman-teman­nya ria ber­gem­bira menik­mati kere­ma­ja­an­nya. Dengan diam-diam ia ber­janji dalam hati untuk mem­bantu tamu itu mela­ri­kan diri, dan ia akan meng­i­kut­i­nya kapan saja dan ke mana saja, asal tidak men­jadi selir sau­da­ra­nya sen­diri.

Dari cerita ibunya ia dan selu­ruh pen­du­duk desa sen­diri pun tahu, pada suatu kali dalam per­bu­r­uan kera­jaan, Patih Naro­gol men­da­pat peng­i­napan di rumah kepala desa. Oleh ayah­nya, ibunya dise­di­a­kan untuk Sang Patih buat jadi pela­yan­nya selama per­sing­gahan. Sejak itu sang ibu tidak diga­uli oleh ayah­nya, sampai si bayi dila­hir­kan. Dan si bayi itu dina­mai Sabar­ini. Selu­ruh desa meng­ang­gap­nya seba­gai putri Sang Patih. Dan tak ada seo­rang pun berani mem­per­se­m­bah­kan­nya pada Naro­gol.

Lima belas tahun kemu­dian suatu per­bu­r­uan sing­gah lagi di desa Bale­ug­bak. Putra Naro­gol yang meli­hat Sabar­ini seka­li­gus ter­ta­rik pada kecan­ti­kan­nya dan meminta pada kepala desa untuk menye­lir­nya. Ia akan meng­am­bil­nya barang tiga tahun kemu­dian. Diting­gal­kan oleh­nya seben­tuk cincin pada kelu­arga itu dan selem­bar destar seba­gai tanda peng­i­kat. Tak ada yang dapat mema­tah­kan ikatan ini kecu­ali Sri Baginda sen­diri atau Sang Patih. Pelang­garan ber­arti tebusan jiwa.

Sete­lah bebe­rapa hari meng­i­nap, dan sawah telah dituai selu­r­uh­nya, pesta panen untuk memu­li­a­kan Dewi Sri. Upa­cara-upa­cara telah sele­sai sedang pesta menunggu sete­lah itu.

Sebuah kalangan dibuka untuk menga­lah­kan juara tahun lalu. Mula-mula dia­da­kan per­tun­jukan demon­s­trasi per­ke­la­hian kanak-kanak yang diting­kah dengan game­lan seder­hana, gen­dang kemong dan banyak suling. Waktu game­lan ber­henti, anak-anak keluar dari kalangan. Muncul sang juara dengan sebi­lah tong­kat bambu meng­ki­lat seperti telah lama di gang­gang di atas api dan digo­sok ber­minggu-minggu. Bebe­rapa orang penan­tang menge­ro­yok­nya ber­ba­reng. Per­ta­rungan sengit ter­jadi, juara itu melom­pat dan mener­jang, ber­pa­ling dan ber­gu­lung-gulung seperti baling-baling lepas.

Penon­ton ber­so­rak-sorak gegap-gem­pita dalam sinar cempor-cempor besar di empat pen­juru.

Baik juara maupun para penan­tang ber­ki­lau-kilau ber­mandi keri­ngat dan debu. Dan sete­lah agak lama per­tun­jukan ber­ja­lan, sen­jata seo­rang penan­tang terung­kit lepas oleh tong­kat bambu sang juara, melam­bung ke atas dan ditang­kap oleh penan­tang lain. Penan­tang yang kehi­langan sen­jata keluar dari kalangan dalam iringan sorak pujian untuk sang juara.

Selang bebe­rapa bentar sebuah sen­jata lagi terung­kit lepas lagi. Dan demi­kian sete­rus­nya sehingga para penge­ro­yok ter­paksa mening­gal­kan kalangan.

Sang juara mem­per­ta­han­kan keju­a­raan desa­nya.

“Demi­ki­an­lah kebi­a­saan di desa patik sejak nenek-moyang­nya,” kepala desa mene­rang­kan pada tamu-agung­nya.

Seki­las terang­sang­lah Pada untuk ber­ce­rita ten­tang Tuban dan pes tatah unan­nya. Satu kesa­daran, bahwa ia seo­rang pange­ran Jepara, mema­ti­kan rang­sangan. Ia meng­ang­guk dan meng­ga­rami: “Bagus. Calon-calon pra­ju­rit ulung.”

“Bukan calon pra­ju­rit, Gusti. Perang soal lain lagi. Yang pandai ber­ke­lahi belum tentu pandai ber­pe­rang. Lagi pula negeri kami tak pernah ber­pe­rang seperti negeri Gusti. Kami lebih suka hidup dalam keda­maian.”

Pada meng­ge­ra­gap. Ia tahu telah salah menang­gapi. Dan ia merasa berun­tung kepala desa itu tidak melan­jut­kan per­so­alan.

Game­lan ber­talu lagi. Suling-suling meng­im­bau memang­gil juara baru. Dan tak ter­ki­ra­kan heran Pada meli­hat seo­rang gadis tampil ke gelang­gang mem­bawa dua batang bambu kecil sepan­jang lengan. Kain­nya dili­pat sede­mi­kian rupa sehingga men­jadi cawat, dan ram­but­nya ter­kon­dai ram­ping seperti destar.

Dan gadis itu adalah Sabar­ini.

“Juara?” Pada ber­ta­nya.

“Juara, Gusti,” jawab kepala desa yang duduk di bawah sebe­lah sam­ping. Mata­nya ber­ki­lau-kilau bangga.

Sabar­ini memu­tar-mutar­kan dua bilah tong­kat pendek itu ke udara dan menang­kap­nya kem­bali, melon­tar­kan dan menang­kap­nya lagi. Tong­kat-tong­kat itu ber­pu­tar seperti kiti­ran. Dan Pada baru sekali akan meli­hat per­ke­la­hian dengan dua tong­kat pendek.

Seo­rang gadis lain melom­pat ke gelang­gang dengan sebi­lah parang dan lang­sung menye­rang. Orang ber­so­rak-sorak, kemu­dian ter­diam meli­hat hebat­nya serangan. Han­ta­man-han­ta­man parang itu ter­tang­kis oleh bambu-bambu pendek yang melin­dungi lengan.

Pada meli­hat, dengan bambu-bambu pendek itu Sabar­ini ter­nyata juga bisa menye­rang. Satu di antara bambu itu mele­sit ber­pu­tar menge­nai tangan si penye­rang. Parang itu mele­set ke sam­ping, dan dengan bambu yang lain gadis itu memu­kul tangan ber­pa­rang sehingga sen­jata itu jatuh ke tanah tanpa daya.

Orang ber­so­rak-sorak riang. Penan­tang mening­gal­kan gelang­gang. Sabar­ini melon­tar-lon­tar­kan bam­bu­nya ke udara lagi seba­gai undangan untuk penan­tang baru.

Tak seo­rang pun tampil ke depan.

“Gusti Pange­ran!” sese­o­rang ber­te­riak.

“Ya-ya, Gusti Pange­ran,” yang lain-lain mem­be­nar­kan.

“Gusti,” kepala desa itu memo­hon, “itulah adat desa kami. Gusti diper­si­la­kan turun ke gelang­gang.”

“Kami!?” tanya Pada tak per­caya. Peluh dingin mulai mem­ba­sahi tubuh­nya.

Seumur hidup ia tak pernah ber­la­tih ber­ke­lahi. Seka­rang! Seka­rang akan ter­bong­kar belang­nya. Mana ada seo­rang pange­ran tak pernah ber­la­tih kep­ra­ju­r­i­tan dan ber­ke­lahi? Mana ada? Harus­kah diri diper­ma­lu­kan di depan umum oleh seo­rang gadis pula? Gadis desa Bale­ug­bag? Betapa dunia akan mener­ta­wa­kan ning­rat Jepara di kemu­dian hari.

“Sila­kan Gusti Pange­ran Adi­pati Jepara!”

Dan Pada menge­rah­kan piki­ran untuk mene­mu­kan akal. Lambat-lambat ia ber­ja­lan mema­suki gelang­gang. Memang tak ada jalan lain untuk menye­la­mat­kan muka.

Sabar­ini ber­lu­tut. Dua potong bambu pendek itu dige­le­tak­kan­nya di hadapan Sang Pange­ran, dan ia menyem­bah.

Aku hanya pernah bel­a­jar bicara, pilar Pada, itu pun belum tentu dapat dan bisa meya­kin­kan orang…. Lang­kah­nya gontai dan kaki­nya berat. Ia ambil dua bilah dari bambu di hadap­an­nya dan pura-pura menga­gumi.

Buat para penon­ton per­bu­at­an­nya ter­lalu lama. Orang sudah tak sabar. Tapi akal belum juga datang pada Pada. Seka­rang ia pura-pura menga­gumi Sabar­ini, ikut pula ber­lu­tut seakan-akan sedang meng­i­kuti adat gelang­gang, tetapi bibir­nya meng­ge­le­tar ber­bi­sik: “Sabar­ini, ah, Sabar­ini.”

Sabar­ini menyem­bah lagi, juga ber­bi­sik: “Gusti Pange­ran, patik di sini, Gusti,” sua­ra­nya lunak, bening dan ber­nya­nyi, menyi­r­ap­kan darah Pada.

Orang-orang ber­so­rak tak sabar. Pada ber­diri. Sabar­ini juga ber­diri sete­lah meng­am­bil jarak. Pada mengem­ba­li­kan bambu pada yang punya. Sambil ber­pa­ling pada kepala desa ia ber­kata dengan nada protes: ‘Tak pernah di tempat kami bambu begini diper­gu­na­kan untuk ber­ke­lahi.”

“Ambil­kan dua bilah pedang.” sese­o­rang ber­te­riak. Celaka, raung Pada dalam hati­nya, dari bilah bambu ber­a­lih ke pedang. Akal! Hei, kau, akal, meng­apa kau tak juga datang hei akal?

Sese­o­rang masuk ke gelang­gang mem­bawa dua bilah pedang lebar tapi pendek. Dan badan Pada telah basah kuyup oleh keri­ngat dingin sen­diri.

Pem­bawa pedang itu ber­jong­kok menyem­bah, kemu­dian mem­per­se­m­bah­kan dua-dua sen­jata itu untuk dipi­lih mana yang lebih cocok Dan Pada mene­rima dua-duanya dan meni­mang-nimang. Ber­do­a­lah ia di dalam hati memo­hon per­lin­dungan dan petun­juk dari Tuhan­nya. Kea­daan ini harus dia­tasi. Dan doa itu mem­be­ri­nya kete­nangan barang sedi­kit. Keluar lagi kata-kata ber­nada protes dari mulut­nya: ‘Tidak ada cara di negeri kami seo­rang satria meng­ha­dapi wanita dalam gelang­gang sema­cam ini/’

“Kang Acep, kau tampil, kang,” sese­o­rang ber­seru. Celaka, seka­rang juara lelaki yang akan tampil. Meng­ha­dapi Sabar­ini seka­rang harus diang­gap­nya seba­gai kesem­patan baik – sebaik-baik­nya. Ia tak mem­pro­tes lagi. Dengan mem­bawa dua-dua pedang ia meng­ham­piri Sabar­ini dan menye­rah­kan semua. Cepat-cepat ia ber­bi­sik “Lebih baik kupe­ris­tri kau dari­pada aku bina­sa­kan, Sabar­ini, manis.”

Sabar­ini meng­ang­kat mata dan meman­dang­nya. Tangan­nya salah mene­rima pedang dan sen­jata itu jatuh ke tanah. Dan Sabar­ini tak juga segera memu­ngut­nya.

Orang-orang ter­diam, heran meli­hat sese­o­rang juara luput mene­rima sen­jata.

Game­lan ber­henti menge­jut. Suling-suling mem­bisu. “Bagai­mana, Sabar­ini?” bisik Pada.

“Pedang itu jatuh, Gusti, dan tak ada keku­atan pada patik untuk memu­ngut­nya,” Sabar­ini ber­bi­sik men­ja­wab.

Pada men­da­pat kepri­ba­di­an­nya kem­bali dan ber­seru: “Ambil­lah pedangmu, Sabar­ini!”

Orang meli­hat gadis itu geme­tar. Sabar­ini mem­bung­kuk, tangan­nya layu meng­am­bil pedang­nya, tapi badan itu lambat sekali tegak­nya. Dan belum lagi badan itu ber­diri lurus, lutut­nya kemu­dian ter­te­kuk, pedang ter­ge­lin­cir dan nampak tak ada niat pada­nya untuk memu­ngut­nya.

“Sabar­ini!” ter­de­ngar bebe­rapa wanita ber­seru-seru. Seka­rang game­lan ber­bu­nyi lagi, pelan-pelan, tanpa suling.

Kepala desa masuk ke gelang­gang, menyem­bah Pada dan meng­ham­piri anak­nya, ber­ta­nya: “Meng­apa kau, anakku?” dan ber­pa­ling pada Pada.

“Dia telah menye­rah, Kepala Desa, menye­rah.”

Game­lan ber­henti sama sekali.

Kepala desa mem­bantu anak­nya ber­diri.

Sabar­ini meng­ang­kat sembah lagi pada tamu agung, mene­rima tangan bapak­nya dan ber­diri dengan susah-payah, ber­ja­lan geme­tar keluar gelang­gang.

Pesta malam itu bubar dengan kehe­ranan semua pen­du­duk.

Sesam­pai di rumah Pada segera pergi ke bela­kang dan kemu­dian ber­se­m­bah­yang di dalam bilik, meng­u­cap­kan syukur yang sebe­sar-besar-nya atas rahmat dan petun­juk yang dite­ri­ma­nya. Sele­sai ber­se­m­bah­yang ia lihat, seba­gai­mana biasa sebe­lum tidur, Sabar­ini masuk ke dalam bilik mem­bawa air hangat pen­cuci kaki.

Ia turun dari ambin dan menye­rah­kan kaki­nya.

“Gusti,” bisik Sabar­ini, “benar­kah yang patik dengar di gelang­gang tadi?”

“Meng­apa, Sabar­ini?”

“Karena, Gusti, ter­nyata orang tua patik telah mengir­im­kan utusan ke Pakuan begitu panen dan upa­cara panen sele­sai. Pas­ti­lah ten­tara Paja­jaran akan segera datang. Lari­lah, Gusti, dan bawalah patik.”

Suara ribut ter­de­ngar di luar rumah: “Kepala desa! Mana itu Pange­ran Adi­pati Jepara?”

“Mereka telah mulai datang, Gusti, mari patik antar­kan lari, mari….”

Sabar­ini mena­rik tangan Pada dan yang dita­rik menyam­bar bung­kusan-bung­kusan bawaan. Mereka lari sete­lah mema­dam­kan pelita, ke bela­kang, lang­sung menu­runi tangga bela­kang, melin­tasi ladang, kemu­dian sawah, sampai ke ping­gir Cili­wung.

“Naik, Gusti, naik ke atas rakit ini.”

Sabar­ini mena­rik tali rakit, dan rakit itu meming­gir. Mereka berdua melom­pat ke atas­nya, dan Sabar­ini menge­te­ngah­kan­nya dengan sor­ongan galah. Tanpa bicara gadis itu melun­cur­kan dan menge­mu­di­kan rakit­nya menuju ke hilir.

Pada sen­diri masih ter­longok-longok, kurang sema­ngat, belum juga sembuh dari ter­ke­jut­nya,

Dunia apakah semua ini, ya Tuhan, tanya­nya pada Tuhan­nya. Dan ia tak men­da­pat jawaban. Ia menong­k­rong di atas rakit bambu, meneng­ge­lam­kan kepala di antara dua belah lutut. Dan Sabar­ini, terus juga ber­ja­lan mondar-mandir menyo­r­ong rakit yang laju dibawa air deras.

“Sudah jauh, Sabar­ini, ber­hen­ti­lah kau.”

“Belum, Gusti, mereka masih bisa mem­buru dengan sampan,” dan ia bekerja terus.

Pada ber­diri, meng­ham­piri gadis itu, ragu-ragu seben­tar, kemu­dian ber­kata: “Sini, Sabar­ini, biar aku gan­ti­kan. Kau lelah.”

“Biar­lah, Gusti. Patik biasa mem­bawa rakit begini Sedang Gusti tidak pernah.”

“Aku biasa men­da­yung perahu.”

“Rakit bukan perahu, Gusti, lain.”

“Air cukup deras begini, dia akan ber­ja­lan sen­diri.”

“Kalau tidak dike­mu­di­kan akan menub­ruk-nubruk, Gusti. Patik kenal riam-riam Cili­wung ini.”

Sabar­ini tak dapat diham­pir­i­nya. Ia terus juga mondar-mandir men­do­r­ong rakit dengan galah­nya.

Pada tidak tahu sesu­atu ten­tang rakit. Ia ingin mem­buka pem­bi­ca­raan.

“Sudah­lah, biar rakit ber­ja­lan sen­diri.”

“Nanti ber­pu­tar-putar. Gusti.”

“Biar ber­pu­tar-putar,” dan ditang­kap­nya tangan gadis itu. Ia rasai tangan itu geme­tar. “Ke mana kau akan pergi malam-malam begini?”

“Ke mana saja asal Gusti sela­mat.” Pada mele­pas­kan tangan itu. Sejak kanak-kanak ia sudah ter­bi­asa ber­gaul dengan wanita-wanita harem. Ia laku­kan apa saja yang mereka ing­in­kan. Tapi gadis seo­rang ini mener­bit­kan hormat dalam hati­nya. Ia tidak ing­in­kan sesu­atu dari­pa­da­nya. Ia hanya ingin menye­la­mat­kan­nya.

“Dan kalau aku sudah sela­mat kau akan ke mana lagi?”

“Ke mana saja Gusti pergi.”

“Sabar­ini!” dan gadis itu tak menya­hut. “Terima kasih. terima kasih atas per­to­long­anmu. Nam­pak­nya kese­la­mat­anku men­jadi kepen­ting­anmu benar.”

“Bukan­kah Gusti sudah meng­u­cap­kan kata-kata itu? Bukan­kah Gusti seo­rang satria, seka­li­pun Islam?”

Malam itu gelap. Dan Pada tidak meng­erti bagai­mana gadis pen­de­kar ini dapat mengen­da­li­kan rakit tanpa petun­juk jalan. Nam­pak­nya ia sudah menge­nal alur Cili­wung. Ia per­ha­ti­kan arus kali per­mu­kaan air dan air-muka Sabar­ini dalam kege­lapan. Dan ia tak mampu men­duga. Ia tunggu gadis itu menya­ta­kan sesu­atu, dan Sabar­ini tidak mem­buka mulut.

Jauh di sebe­lah timur sana ada seo­rang wanita yang mem­bang­kit­kan keka­guman dan hor­mat­nya, menye­mai­kan cin­ta­nya yang tulus. Orang itu adalah Idayu. Di Paja­jaran ini ada juga seo­rang. Dan dia adalah Sabar­ini. Benar­kah lang­kahku, ya Tuhan? Adalah gadis asing ini Kau per­te­mu­kan padaku dengan cara seperti ini untuk jadi teman-hidupku yang tulus?

Dan ia tak men­da­pat jawaban dari Tuhan­nya. Tetapi dari lubuk hati­nya sen­diri ter­de­ngar suara lan­tang: Kau dungu kalau tetap meng­im­pi­kan Istri seo­rang saha­bat, ibu dari anak-anak­nya. Sabar­ini cukup baik untukmu. Suara dari lubuk hati­nya tak ber­u­lang lagi. Dan ia sen­diri merasa memang telah mem­bu­tuh­kan seo­rang istri.

“Sampai di mana kalau terus meng­hi­lir?” ia ber­ta­nya.

“Sunda Kelapa, Gusti.”

“Sunda Kelapa”, untuk ke sekian kali­nya Pada meng­ge­ra­gap. Mereka akan tang­kap dir­i­nya, juga Sabar­ini. Ia merasa tak patut ter­lalu sering meng­ge­ra­gap begini. Ia merasa keper­ca­ya­an­nya pada Tuhan­nya belum cukup sem­purna. Seo­rang yang ber­i­man tidak akan sering meng­ge­ra­gap, karena ada iman pada­nya, karena ada keper­ca­yaan pada Tuhan dan keku­a­sa­an­Nya.

“Ya, Sabar­ini. Kita akan sampai ke Sunda Kelapa, mema­suki daerah pen­du­dukan Demak. Mereka akan paksa kau masuk Islam. Bagai­mana kau?”

“Semua ter­se­rah pada Gusti. Patik hanya meng­i­kuti Gusti!”

”Tidak­kah kau akan takut pada hukuman dari dewa-dewamu?”

“Barang­tentu Gusti cukup bijak­sana untuk memi­l­ih­kan yang baik untuk patik,” jawab gadis itu sambil terus men­do­r­ong rakit dengan galah­nya.

“Baik. Jadi kau sudah sedia jadi istriku.”

Sabar­ini tak men­ja­wab. Sor­ongan pada rakit­nya ber­tam­bah keras, dan mondar-man­di­r­nya sema­kin cepat.

“Kau diam saja, Sabar­ini.”

Waktu mele­wat­i­nya Pada men­de­ngar napas gadis itu yang ter­e­ngah-engah karena men­do­r­ong sekuat tenaga dengan galah­nya. Bahkan dalam kege­lapan ia menge­ta­hui Sabar­ini sama sekali tidak mene­ngok pada­nya. Mata­nya ter­tuju pada per­mu­kaan air yang samar-samar.

“Kita akan kawin di Sunda Kelapa secara Islam, Sabar­ini, dan kau akan jadi istri-tung­galku.” Ia menunggu agak lama dan tetap tak men­da­pat jawaban. “Kau diam saja.”

“Apalah yang harus patik kata­kan lagi, Gusti? Semua Gusti yang menen­tu­kan. Kebi­jak­sa­naan Gusti tidak akan patik ragu­kan, Gusti.”

“Baik­lah. Jadi kau akan jadi istri-tung­galku.”

“Bagai­man­akah dengan selir-selir Gusti?”

“Selir? Seo­rang pun aku tak punya. Kaulah calon istriku per­tama-tama, calon istri-tung­gal.”

Dan Sabar­ini tak menang­gapi. Ia hanya men­ja­lan­kan rakit, tanpa pernah mene­ngok pada Pada.

Men­je­lang subuh rakit dihen­ti­kan di sebuah tempat per­sing­gahan. Gadis itu melom­pat turun ke darat dan men­can­cang rakit pada seba­tang pohon keta­pang. Galah ia letak­kan baik-baik di atas rakit, kemu­dian diu­lu­r­kan tangan­nya pada Pada untuk mem­ban­tu­nya turun.

Dua orang itu ber­gan­de­ngan men­daki tebing, menuju ke sebuah bang­sal bambu pada tubir tebing.

Bang­sal itu luas dan men­jadi peng­i­napan mereka yang pulang-balik mela­lui Cita­rum. Tak ada pen­jaga khusus. Pera­wat­an­nya dise­rah­kan pada setiap pera­kit atau pemi­lik perahu.

Dan pada subuh itu dalam bang­sal telah ada sebuah kelu­arga pela­rian dari Sunda Kelapa. Dari per­ca­kapan antara mereka dengan Sabar­ini Pada dapat menge­ta­hui, Sunda Kelapa benar-benar telah jatuh ke tangan balat­en­tara Demak.

“Mereka begitu berang­sangan,” salah seo­rang mem­be­ri­kan komen­tar­nya, “seperti orang tak pernah ber­temu nasi. Tak ada lagi bisa merasa aman, maka kami lari naik kemari. Juga orang Islam sen­diri tidak aman. Semua dipaksa menye­rah­kan batang bakau-bakau buat per­ben­tengan. Jangan turun, lebih baik naik kem­bali.”

Pada men­de­ng­ar­kan dengan diam-diam dari luar bang­sal sambil meng­gam­bar­kan ting­kah-laku pra­ju­rit-pra­ju­rit Demak yang dika­ta­kan berang­sangan itu. Ia belum berani ber­temu dengan orang, Ia masih ber­pa­kaian pange­ran.

“Masih mung­kin­kah turun ke sana dengan rakit?” Sabar­ini ter­de­ngar ber­ta­nya. Sua­ra­nya bening, merdu dan menya­nyi.

‘Tentu saja dapat. Meng­apa tak dapat? Tapi buat apa? Salah-salah jiwa tebus­an­nya. Paling tidak orang akan ter­bong­kok-bong­kok meng­ang­kuti bakau-bakau setiap hari sampai mati kena demam rawa.’

Pada meng­he­rani apa sebab­nya balat­en­tara Demak hendak men­di­r­i­kan per­ben­tengan. Seakan-akan mereka sedang ber­siap-siap menunggu datang­nya musuh. Dan musuh dari mana? Mung­kin­kah Peranggi akan mem­bantu Paja­jaran seba­gai­mana pernah diper­bin­cang­kan orang? Dan apa keun­tungan Peranggi dengan ban­tu­an­nya?

Tidak mung­kin. Peranggi takkan mem­bantu siapa pun tanpa men­da­pat keun­tungan. Boleh jadi Fat­hil­lah mem­ben­tengi dir­i­nya sen­diri dari serangan Demak. Dia akan mem­bang­kang dan ber­diri sen­diri jadi raja.

Ia tak dengar per­ca­kapan selan­jur­nya antara Sabar­ini dengan kelu­arga pela­rian itu. Hari telah terang tanah. Burung-burung dari hutan seki­tar menya­nyi ria menyam­but datang­nya sang surya. Pagi itu ia tidak ber­se­m­bah­yang, hanya meng­u­cap­kan doa sela­mat.

Tak lama kemu­dian Sabar­ini keluar dari bang­sal, menyem­bah dan ber­bi­sik pada­nya: “Lepas­kan semua pakaian Gusti, dan kena­kan pakaian tani.” Pada meng­ge­leng-geleng menye­dari betapa kikuk ia selama mema­in­kan peranan Adi­pati Jepara. Ia meng­a­kui memang tidak pandai men­jadi seo­rang penipu. Dile­pas­nya semua pakaian Pange­ran Adi­pati

Uitus dan dike­na­kan­nya pakaian sen­diri, pakaian santre. Waktu ia hendak lepas kasut kera­jaan itu, tahu­lah ia barang itu masih ter­ting­gal di rumah orang tua Sabar­ini.

Men­dung yang menu­tup puncak pegu­nungan itu kini beru­bah jadi hujan deras dan mem­be­ku­kan darah. Kelu­arga pela­rian itu menya­la­kan pedi­angan peng­ha­ngat kemu­dian naik ke ambin pelu­puh dan mene­rus­kan tidur­nya.

Pada dan Sabar­ini pun naik ke ambin, meng­gol­ek­kan badan ber­dam­pingan dan ter­ti­dur dalam kele­lahan dan kantuk.

Hujan makin deras dan makin deras.

Dan waktu matari dengan lemah­nya mewar­nai langit, dan sil­huet puncak pegu­nungan dan tajuk pepo­honan mulai muncul, hujan masih juga turun. Cili­wung telah meluap sejadi-jadi­nya.

Cili­wung adalah jalanan utama yang meng­hu­bung­kan Pakuan dengan Sunda Kelapa. Hasil bumi dari pegu­nungan turun ke bandar mela­lui kali ini pula. Seba­lik­nya barang-barang dari laut naik ke pegu­nungan mela­lui kali ini pula.

Tapi kali ini kini sunyi. Rakit dan perahu nampak segan melun­cur di atas­nya sete­lah Sunda Kelapa jatuh.

Waktu Pada ter­ba­ngun hujan belum juga ber­henti. Ia lihat Sabar­ini sudah tak ada di tempat. Peng­i­nap-peng­map dari Sunda Kelapa telah berang­kat mene­rus­kan pemu­di­kan.

Ia turun ke kali dan dili­hat­nya Sabar­ini dalam kea­daan telan­jang bulat sedang bere­nang menuju ke rakit yang kini sudah berada di tengah-tengah. Pohon keta­pang tempat men­can­cang berada barang sepu­luh depa dari tepi air. Ia lihat gadis itu menye­lam untuk men­da­pat­kan tali pada batang keta­pang. Kemu­dian ia muncul lagi dengan mem­bawa tali mena­rik rakit sambil ber­pe­gangan batang kayu itu, kemu­dian melom­pat ke atas­nya dan men­do­r­ong­nya ke tepian.

Pada menyem­bu­nyi­kan diri dan hanya bisa menye­but-nyebut meli­hat kein­dahan tubuh Sabar­ini: “Masya­al­lah… Allah Maha Besar… Kau karu­ni­a­kan kein­dahan sema­cam itu kepa­daku, ya Tuhan, kepada hamba-Mu yang justru tidak men­cari ini. Betapa pemu­r­ah­nya Engkau, ya Tuhan’

Ia sama sekali tidak per­ha­ti­kan air kali yang kini telah beru­bah kuning ber­lum­pur. Sinar matari yang jatuh ke bumi sete­lah mene­ro­bosi men­dung hanya samar-samar mene­ra­wang. Namun kesa­maran itu tidak mem­ba­tal­kan penge­ta­huan Pada, bahwa ia sedang menga­gumi tubuh cantik, indah, gesit – tubuh seo­rang wanita yang belum lagi jadi istri­nya.

Ia per­ha­ti­kan gadis itu menge­na­kan pakai­an­nya yang disang­kut­kan pada cabang batang gempol, dan dengan pan­dang­nya meng­i­kut­i­nya naik ke tebing. Dengan mem­bawa bung­kusan ia keluar dari per­se­m­bu­nyian dan turun ke atas rakit. Dan sekali lagi ia menga­gumi kebe­run­tung­an­nya dalam keper­ca­yaan pada kea­gungan dan kemu­r­ahan Tuhan­nya.

Ia mulai periksa rakit. Seben­tar-seben­tar ia menin­jau ke atas men­cari-cari Sabar­ini. Tapi gadis itu belum juga nampak. Ia ber­te­riak-teriak memang­gil, kemu­dian ia lihat gadis itu lari menu­runi tebing. Wajah merah dan napas­nya ter­e­ngah-engah. Tanpa bicara ia turun ke rakit, melom­pat lagi ke pantai dan mele­pas­kan tali pen­can­cang, lompat lagi ke rakit, meng­am­bil galah dan mulai men­do­r­ong.

“Kita belum lagi makan pagi, Sabar­ini.”

Ia tak men­ja­wab.

Dan Pada men­coba mere­but galah, dan Sabar­ini tidak meng­i­zin­kan.

“Patik tidak menge­nal air sejak dari sini sampai ke Sunda Kelapa, Gusti, apa­lagi Gusti sen­diri. Biar patik yang menge­mu­di­kan sen­diri-lebih baik Gusti ikat bung­kusan itu agar tak ter­lem­par kalau ada apa-apa.”

Pada merasa malu telah kalah wibawa, ia merasa dir­i­nya men­jadi begitu bodoh di dekat gadis luar biasa ini. Bia­sa­nya ia merasa cerdas dan dapat meme­cah­kan banyak per­kara yang pelik-pelik. Ia mengu­a­sai per­so­alan neraka dan surga, ia dapat meng­ha­fal nama dua puluh nabi, ajaran dan muk­ji­zat­nya. Tapi di dekat gadis ini ia seperti seo­rang tua yang pikun. Saking gemas­nya pada kepi­ku­nan­nya sen­diri akhir­nya ia menong­k­rong di buritan rakit Pada sebuah celah batang bambu ia lihat sebu­tir lada ter­je­pit sen­di­r­ian tanpa kawan. Ia korek dengan kuku, memu­ngut dan meng­gi­git­nya. Memang lada. Rakit hanya diper­gu­na­kan sekali ke Sunda Kelapa. Sampai di sana dijual atau diting­gal. Tentu sebe­lum ia dan Sabar­ini meng­gu­na­kan­nya, orang pernah memung­gah lada di sini, kemu­dian di bong­kar lagi dan lada di darat­kan kem­bali, tak jadi turun ke Sunda Kelapa.

Ia lihat air ber­ke­ci­bak di bela­kang rakit. Seekor kakap melom­pat ke atas air, bere­nang lari ke hulu. Di bela­kang­nya nampak sirip hiu cucut yang mem­buru, mem­ben­tuk garis lurus mem­be­lah air.

“Di sini ada hiu, Sabar­ini?”

“Kalau kali banjir, Gusti, kadang-kadang ada juga.”

Kalau kali banjir, kata Sabar­ini. Meng­apa kali ini banjir sebe­lum datang musim peng­hu­jan? Dan meng­apa di sini sudah mulai turun hujan? Dan meng­apa di Seme­nan­jung sana lain pula jatuh­nya musim peng­hu­jan?

“Gusti!” ter­de­ngar Sabar­ini meme­kik

Belum sampai ia sempat mene­ngok rakit telah menub­ruk sesu­atu. Pada jatuh dari cang­kung­an­nya, ter­te­len­tang pada gela­dak rakit. Dan belum lagi ia dapat ber­diri gadis itu datang pada­nya dan meno­long­nya ber­diri.

“Ampun, Gusti, patik tak lihat ada tong­gak di bawah air.”

”Tidak apa, Sabar­ini.”

”Tidak­kah Gusti ter­luka?”

”Tidak.”

“Rakit harus meming­gir. Gusti. Tali bagian depan putus.”

Gadis itu meng­am­bil lagi galah­nya dan meming­gir­kan­nya. Dengan cekatan ia melom­pat ke darat, meng­am­bil sebuah batu tajam, dan mena­riki kulit pohon warn.

Pada tak tahu apa sedang diper­buat gadis itu. Ia ber­diri di dekat­nya, ber­ta­nya: “Mem­bi­kin tali?”

“Ya, Gusti.”

“Sini, barang­kali aku lebih pandai dari­pada kau.”

”Tidak, Gusti, seba­ik­nya Gusti lihat-lihat kalau ada perahu balat­en­tara Paja­jaran mem­buru kita.”

Jeng­kel karena keki­ku­kan­nya Pada men­jauh, men­cari pohon yang seki­ra­nya dapat ia panjat. Tetapi pepo­honan hutan itu tak ada sebuah pun yang dapat dipan­jat. Semua besar-besar.

”Tak usah naik, Gusti,” seru Sabar­ini. “Semua pohon men­jadi licin habis hujan begini. Lihat-lihat di dekat patik sini saja, Gusti.”

Dan Pada men­jadi malu pada dir­i­nya sen­diri. Betapa gadis yang belum dike­nal­nya itu meng­u­ta­ma­kan kese­la­mat­an­nya – kese­la­matan seo­rang asing yang muka­nya penuh jeng­got dan kumis dan cam­bang bauk. Ten­tu­nya seo­rang gadis dengan pen­di­dikan baik.

Matari berada di atas kepala waktu tali-tali itu habis ter­pi­lin. Mereka berdua meng­i­kat bagian depan rakit dan mengen­cang­kan tali-temali dengan pasak bambu.

“Kita terus­kan meng­ilir, Gusti.”

Dan rakit mene­rus­kan pela­yar­an­nya.

Dengan seruan assa­la­mu­a­lai­kum pada pen­ja­gaan setiap tikungan kali rakit itu mema­suki Sunda Kelapa. Pra­ju­rit-pra­ju­rit Demak mem­bi­ar­kan mereka lewat.

Dan apa yang dibe­ri­ta­kan para peng­ungsi itu ter­nyata benar. Orang-orang sibuk memi­kuli batang bakau-bakau yang berat itu dari rawa-rawa ke bandar. Di sepan­jang bandar orang men­di­r­i­kan tong­gak-tong­gak untuk per­ben­tengan. Ribuan orang meng­ang­kuti pasir dan menim­bun tang­gul untuk men­jadi der­maga dan ben­teng seka­li­gus. Juga ribuan balat­en­tara Demak bekerja meng­ang­kuti batu. Dari keja­uhan mereka nampak seperti serum­pun semut yang sedang meng­ga­lang peru­mah­an­nya sen­diri.

Mereka berdua men­da­rat di tepi muara tanpa men­da­pat gang­guan.

Cukup hanya dengan assa­lamu alai­kum. Dan mereka tidak tahu, bahwa Fat­hil­lah meng­hen­daki agar orang-orang peda­laman turun seba­nyak-banyak­nya ke Sunda Kelapa, bukan saja untuk ber­tau­bat, juga agar jumlah pen­du­duk yang ter­lalu sedi­kit itu ber­tam­bah tiga sampai empat kali lipat Dengan pen­du­duk ter­lalu sedi­kit ia tak banyak dapat ber­buat. Maka setiap pen­da­tang dari peda­laman untuk semen­tara tidak dike­na­kan­nya per­a­turan apa pun.

Dan pen­da­tang-pen­da­tang baru memang ada, walau­pun tidak banyak. Seba­gian ter­be­sar dari yang tidak banyak datang dari sebe­lah barat Sunda Kelapa. Mereka adalah orang-orang Banten yang ber­mak­sud men­cari per­lin­dungan dari Paja­jaran sete­lah masuk­nya Jepara-Demak ke sana. Seren­tak mereka menge­ta­hui Sunda Kelapa juga telah diku­a­sai Fat­hil­lah, mereka mela­ri­kan diri ke barat kem­bali atau naik mema­suki peda­laman Paja­jaran. Seba­gian kecil dari mereka – orang tua-tua dan kanak-kanak yang tak mampu mene­rus­kan per­ja­lanan – ter­paksa ter­ting­gal. Di anta­ra­nya ter­da­pat juga wanita-wanita dengan bayi­nya. Fat­hil­lah mem­beri mereka tempat di bedeng-bedeng bandar yang paling jauh. Bedeng-bedeng ter­de­kat diper­gu­na­kan oleh asrama pra­ju­rit-pra­ju­r­it­nya.

Pen­da­tang dari selatan adalah lak­sana tetesan air, tidak sema­kin banyak, malah sema­kin tiada. Pada dan Sabar­ini adalah pen­da­tang ter­a­khir dari selatan.

Mereka melang­sung­kan per­ka­winan di mesjid, dengan dalih meng­u­langi per­ka­winan mereka yang telah mereka laku­kan secara Hindu. Sabar­ini ber­tau­bat masuk Islam dan Pada ber­tau­bat untuk kedua kali­nya.

Apa­bila mereka ting­gal sampai sebu­lan, Pada akan ter­kena wajib kerja seperti yang lain-lain. Bukan mak­sud­nya untuk jadi pen­du­duk Sunda Kelapa. Ia berada dalam per­ja­lanan tugas. Ia harus segera mening­gal­kan tempat ini.

Ia sempat menyak­si­kan sele­sai­nya tang­gul yang sangat pan­jang itu. Ia ikut meng­ha­diri pesta pem­bu­kaan kem­bali bandar. Fat­hil­lah telah menya­ta­kan Sunda Kelapa telah siap untuk mene­rima lalu­lin­tas laut. Tetapi seba­gai­mana halnya dengan bandar Banten, per­da­gangan lada diten­tu­kan oleh­nya. Harga yang men­jadi lebih tinggi karena ting­gi­nya pajak menye­bab­kan para sau­da­gar enggan sing­gah baik di Banten atau­pun Sunda Kelapa. Seba­lik­nya sumber lada kedua, Suma­tra ter­se­latan. Kini beru­bah jadi ramai. Bandar Pan­jang tiba-tiba men­jadi ramai dan pen­ting.

Di seki­tar mesjid orang pada mem­bi­ca­ra­kan per­a­turan-per­a­turan yang ber­le­bih-lebihan dari Fat­hil­lah. Maka Pada dapat menge­ta­hui, per­kem­bangan tidak ber­ja­lan seba­gai­mana dike­hen­daki Sang Pang­lima-Lak­sa­m­ana-Guber­nur itu. Orang telah men­de­ngar ancaman telah dinya­ta­kan­nya untuk meng­han­cur­kan bandar Pan­jang. Untuk keper­luan itu ia telah batal­kan per­si­ap­an­nya untuk mene­rus­kan penye­rangan dari Cimanuk ke Cir­e­bon. Ancaman itu tak jadi dilak­sa­nakan karena ter­su­sul datang­nya utusan dari Treng­gono yang tidak mem­be­nar­kan mak­sud­nya, karena itu menya­lahi per­se­ku­tuan mil­iter Treng­gono-Fat­hil­lah.


Bab 36

Blambangan

Bandar Banten dan Sunda Kelapa tetap sunyi. Bandar Pan­jang di ujung selatan Suma­tra men­jadi meriah.

Menge­ta­hui akan keke­li­ru­an­nya Fat­hil­lah ber­mak­sud mem­buka kem­bali Sunda Kelapa jadi pela­buhan bebas.

Pada hari keten­tuan itu dike­lu­ar­kan, Pada dengan ter­buru-buru mem­beli sebuah perahu layar kecil dengan dinar pem­be­rian Ratu Aisah. Dipung­gah­nya per­be­kalan dalam perahu itu ber­sama dengan Sabar­ini. Kee­sokan hari­nya pengan­tin baru itu ber­la­yar menuju Pan­jang.

Armada Jepara-Demak yang mela­ku­kan pen­ja­gaan itu tidak ter­lalu jauh dari pantai. Perahu layar kecil itu hanya sekali dita­han kemu­dian diper­ke­nan­kan mene­rus­kan pela­yaran.

Dan mereka ber­la­yar tenang mening­gal­kan pulau Jawa yang sedang kacau-balau. Mening­gal­kan Sunda Kelapa bagi Pada ber­arti juga mening­gal­kan kea­daan yang penuh keka­cauan per­tama-tama yang pernah ada dalam sepan­jang seja­rah Jawa.

Ia gem­bira. Dan Sabar­ini tak kurang gem­bi­ra­nya, ber­la­yar dengan seo­rang suami yang adalah untuk dir­i­nya sen­diri. Namun ia tetap mem­bisu bila tak dita­nyai….

Begitu men­de­ngar balat­en­tara Demak telah sampai di selatan Lao Sam, Tholib Sung­kar Az-Zubaid dengan ban­tuan para pekerja bandar meng­ang­kuti harta-ben­da­nya ke atas sebuah kapal Bali yang kebe­tulan sedang men­cari dagangan lada. Mun­cul­nya kapal itu sung­guh-sung­guh suatu kebe­tulan Bila tidak ia akan ter­paksa menyewa perahu layar.

Tak ia ting­gal­kan sesu­atu pun pada Nyi Gede Kati kecu­ali kata-kata ini: “Nyi Gede Kati, maaf­kan aku selama ini kita sudah tidak saling mene­gur. Sang Adi­pati sudah tidak dapat menya­ta­kan sesu­atu. Pen­de­ng­ar­an­nya sudah begitu mero­sot­nya, maka semua kata yang diper­se­m­bah­kan sia-sia saja… Seka­rang ini aku harus pergi untuk semen­tara dari Tuban. Ting­gal­lah kau di sini dalam lin­dungan Allah Yang Maha Penga­sih.”

“Ke manakah Tuan, biar sahaya tahu di mana tempat Tuan.”

Ia tak mem­beri jawaban, turun ke perahu dan bela­yar ke jurusan timur. Tujuan: Pasu­r­uan, bandar Blam­bangan Hindu untuk per­da­gang­an­nya dengan Maluku.

Nakhoda mena­si­hat­i­nya agar ia lang­sung saja ke Pana­ru­kan, karena bandar itu tidak ter­lalu sunyi, karena per­da­gang­an­nya dengan Nusa Teng­gara tetap ber­ja­lan baik. Pela­buhan Pasu­r­uan sen­diri hampir saja nasib­nya dengan Gresik atau Tuban. Memang Pana­ru­kan lebih kecil dari­pada Pasu­r­uan, tetapi adanya per­da­gangan yang ter­pe­li­hara menye­bab­kan kehi­dupan jauh lebih baik.

“Barang­kali ada baik­nya aku ikuti nasi­hat Tuan,” jawab­nya.

Dan demi­kian ia tidak men­da­rat di Pasu­r­uan Sejak mancai dari Tuban sebe­nar­nya ia ber­mak­sud ke Pana­ru­kan Ia hanya hendak menye­sat­kan nakhoda.

Syah­ban­dar Pana­ru­kan ter­nyata bukan Arab, juga bukan Beng­gala, bukan Koja dan bukan Keling, tetapi Pri­bumi sen­diri, yang ber­ba­hasa Jawa, Bali, Melayu dan sedi­kit Arab. Ia tetap ber­a­gama Hindu, Ia disam­but dengan bahasa Arab. Aturan bandar lebih long­gar dari­pada Tuban; Syah­ban­dar mem­pu­nyai wewe­nang mem­be­ri­kan izin ting­gal di dalam atau­pun luar wila­yah bandar tanpa meng­ha­dap bupati atau raja.

Sete­lah men­da­pat izin ting­gal dan mem­ba­yar bea untuk barang-barang­nya, ia kawal gero­bak peng­ang­kut harta-ben­da­nya menuju ke kantor dagang Por­tu­gis yang sedang dalam pem­ba­ngu­nan. Untuk meng­ha­dapi per­te­muan itu ia ber­pa­kaian Por­tu­gis dengan tetap ber­tar­bus dan ber­tong­kat.

Tubuh­nya sudah lebih bong­kok dari­pada tahun-tahun sebe­lum­nya. Kepa­la­nya tak henti-hen­ti­nya mene­ngok ke kiri dan kanan, mem­per­ha­ti­kan pagar-pagar dari susunan batu karang, dan arca-arca kayu di pojo­kan per­em­patan jalan, ber­diri megah di dalam bangu­nan per­segi, seakan-akan barang-barang dengan mata besar itu sedang meng­a­wasi per­em­patan. Gapura-gapura juga mena­rik per­ha­ti­an­nya, ter­buat dari­pada batu merah, dan kadang dihi­asi dengan relief. Pada pagar batu itu kadang-kadang ter­da­pat ceruk berisi arca pula. Dan kadang ia menin­das tawanya sen­diri meli­hat bentuk mata­nya yang seperti mata peda.

Ber­beda dengan di Tuban atau Malaka, pagar di sini menye­bab­kan rumah-rumah hanya keli­hatan sirap atau ijuk­nya. Dan tajuk nyiur sela­ma­nya mena­ungi pela­taran depan dan bela­kang setiap rumah.

Gedung kantor dagang itu belum lagi sele­sai sepe­nuh­nya. Pagar­nya ter­buat dari­pada tembok batu tinggi, tetapi gedung itu ter­buat dari kayu dengan nampak batu. Hampir semua tukang adalah Por­tu­gis. Di tempat mana pun mereka bekerja, pen­du­duk dewasa, pria atau wanita, ber­ke­ru­mun mem­per­ha­ti­kan.

Seo­rang Por­tu­gis yang ber­per­a­wakan tinggi besar meng­a­was­i­nya sejak gero­bak­nya mema­suki pela­taran. Dan Tholib dapat meli­hat orang itu menun­juk­kan tak senang hati­nya akan keda­tangan dan ker­mun­cul­an­nya.

“Oh, Tuan Tholib Sung­kar Az-Zubaid,” tegur­nya dalam Por­tu­gis, “tahu-tahu Tuan sudah ada di sini. Meng­apa tak kabar lebih dahulu?”

“Rupa-rupa­nya Tuan kurang senang men­da­pat kun­jungan ini.”

“Suatu kehor­matan,” jawab­nya dengan muka masam. ”Kebe­tulan sekali ada kamar yang baru saja siap. Tuan bisa segera masuk.”

“Apakah aku perlu mem­per­li­hat­kan suratku?” sambut Tholib menan­tang.

“Tidak, Tuan, bukan mak­sudku hendak meng­uji surat dari Malaka itu. Siapa tidak menge­nal Tuan?” kata­nya lagi men­coba agak ramah. “Mari aku antar­kan.”

Kamar itu baru saja sele­sai diber­sih­kan. Lan­tai­nya masih kotor. Seo­rang pria Pri­bumi yang masih muda datang mem­bawa sapu lidi dan mem­ber­sih­kan­nya, kemu­dian mema­suk­kan barang-barang­nya dan menum­puk­nya di sebuah pojo­kan. Tholib Sung­kar sen­diri mem­beri petun­juk bagai­mana harus ber­be­nah.

Sebuah peti ber­u­kir dipi­sah­kan dari yang lain-lain dan selalu berada di dekat bantal.

Syah­ban­dar Tuban itu sama sekali tak heran meli­hat Mar­ti­ni­que sengaja mem­per­li­hat­kan tak senang hati­nya. Ia sudah ter­bi­asa meli­hat pem­be­sar Por­tu­gis yang men­cem­bu­rui kedu­duk­an­nya, – suatu kedu­dukan tanpa peng­a­wasan, selalu men­da­pat­kan nafkah pokok dari Por­tu­gis dan men­da­pat tam­ba­han pula dari sang­kut-paut­nya. Lagi pula di dalam kawasan Por­tu­gis ia harus diper­la­ku­kan dengan baik, seka­li­pun di luar itu ia berada di bawah setiap orang Por­tu­gis. Seka­rang ia meng­gu­na­kan haknya untuk dila­yani sebaik-baik­nya. Tidak mau bisa men­da­tang­kan kesu­l­itan.

Dari dalam kamar­nya yang masih berbau kapur itu ia sudah dapat meli­hat roda kesi­bukan mulai ber­pu­tar. Dan semua dise­bab­kan karena keda­tangan­nya. Ia sengaja ber­lama-lama di kamar untuk mem­be­ri­kan kesem­patan pada Mar­ti­ni­que menyi­ap­kan ruang-tamu yang patut. Dari jen­dela ia dapat meli­hat kesi­bukan di dapur. Dan taman yang belum lagi siap itu seka­rang diker­ja­kan dengan tenaga Pri­bumi tam­ba­han.

Ia ter­se­nyum-senyum puas.

Ia lepas sepatu dan mulai ber­ti­duran, kemu­dian meran­cang-ran­cang apa yang harus ia ker­ja­kan. Tetap­lah sudah niat­nya hendak kem­bali ke Malaka dan meng­a­kui kega­galan Por­tu­gis di Tuban: bukan karena kesal­ah­an­nya pri­badi tapi karena kele­ngahan Por­tu­gis sen­diri, tak juga datang pada waktu ter­baik seba­gai­mana ia pernah saran­kan. Seka­rang jatuh­nya Tuban ke tangan Demak telah mele­nyap­kan arti bandar itu untuk mengu­kuh­kan keku­a­saan jalan laut di bagian selatan Nusan­tara. Tak ada yang dapat menya­lah­kan bila ia ting­gal­kan Tuban. Dengan ber­ku­a­sa­nya Demak di sana tempat itu kehi­langan arti­nya bagi Por­tu­gis. Pada pihak lain gerakan pengu­a­saan atas selu­ruh Jawa oleh Treng­gono telah mem­bantu Por­tu­gis dalam mengu­a­sai jalan laut di sebe­lah utara Jawa: hubungan antar Jawa dengan Maluku akan putus sama sekali dan rempah-rempah Maluku akan lebih sedi­kit datang ke Jawa.

Bukan salah dir­i­nya kalau tak ber­ha­sil. Per­kem­bangan telah ber­ge­rak ke jurusan yang lebih meng­un­tung­kan bagi Por­tu­gis tanpa ban­tu­an­nya. Pada akhir­nya ia akan bisa pulang ke Ispa­nya dan meng­ha­bis­kan hari-tuanya di Anda­lu­sia seba­gai orang berada tanpa keku­rangan suatu apa, kecu­ali, bila antara Por­tu­gis dan Ispa­nya ter­jadi per­ti­kaian ber­da­rah lagi. Dan di Anda­lu­sia, seba­gai seo­rang Moro, ia takkan dan tak pernah meng­a­lami kesu­l­itan selama ia meng­i­kuti segala yang ber­laku di ling­kungan hidup­nya. Memang ia harus mem­ba­yar pajak lebih tinggi, memang banyak, ter­lalu banyak yang meng­hi­na­kan­nya hanya karena ia seo­rang Moro, tapi apa salah­nya kalau ia bisa ber­te­nang-tenang pada hari tuanya?

Seba­gai orang muda ia telah ting­gal­kan seme­nan­jung Iberia. Ia telah ting­gal­kan anak dan istri­nya. Dan ia akan kem­bali seba­gai orang tua yang telah menye­le­sai­kan tugas mem­bantu kebe­saran yang sedang ber­kem­bang dan mem­bantu meneng­ge­lam­kan keker­dilan yang sedang meng­hi­lang. Itulah yang dina­ma­inya tin­dakan pene­ra­caan seja­rah pada masa­nya.

Waktu pela­yan orang Por­tu­gis datang ke kamar­nya dengan muka mem­be­re­ngut, mem­be­ri­ta­kan tuan Mar­ti­ni­que sudah menunggu di ruang duduk, ia pun kena­kan pakaian Por­tu­gis ter­baik. Terom­pah ia ganti dengan sepatu. Cela­na­nya putih dan baju­nya pun putih, dengan kemeja berenda-renda kecil pada leher­nya, namun ia tetap ber­tar­bus dan ber­tong­kat.

Ia pan­dangi tubuh­nya sen­diri pada cermin sambil mem­be­re­ngut juga, mem­pro­tes ketu­a­an­nya, mene­gak­kan bong­kok, kemu­dian ter­se­nyum senang, bahwa tanpa bong­kok ia keli­hatan lebih muda. dan ber­janji takkan mem­bi­ar­kan dir­i­nya mem­beng­kok lagi Ah, berapa tahun sudah diri tak ber­temu cermin! Maka dengan badan tegak ia kunci kamar dari luar dan ber­ja­lan menuju ke ruang duduk

Mar­ti­ni­que telah menung­gu­nya sambil meng­hi­sap sege­lin­tir kecil tem­ba­kau yang segera dima­suk­kan ke dalam kan­tong lagi.

“Nam­pak­nya Tuan ada keper­luan pen­ting,” Mar­ti­ni­que memu­lai, dan mem­per­li­hat­kan wajah cerah.

“Bukan hanya pen­ting, bahkan tak dapat ditang­guh­kan.”

‘Tentu saja. Barang­kali ada yang dapat kuper­ban­tu­kan ?”

“Pasti Tuan akan dapat mem­bantu aku dengan sebuah tempat yang sebaik-baik­nya, di kapal yang per­tama-tama menuju ke Malaka.”

Tentu itu suatu hal yang mudah, asal Tuan sudi menga­ta­kan dengan kapal Por­tu­gis atau bukan.” ia keli­hatan lega men­de­ngar itu, “Hanya soal tempat di kapal itu saja, Tuan?”

“Untuk semen­tara.”

“Kalau begitu Tuan punya tugas lain.”

Syah­ban­dar Tuban itu ter­tawa meng­an­cam.

“Kalau begitu ber­se­nang-senang­lah Tuan di Pana­ru­kan ini. Dalam bebe­rapa hari ini mung­kin akan tiba kapal dari Timor untuk terus ke Malaka,” ia mena­jam­kan kewas­pa­daan. Ber­ta­nya lagi, “Kata orang Demak terus men­de­sak ke timur. Benar­kah itu. Tuan?”

“Kira-kira berita itu ada benar­nya.”

“Mung­kin Tuban akan jatuh?”

”Ter­lalu sulit untuk bisa men­ja­tuh­kan Tuban. Kalau Tuban mau. Demak bisa dipu­kul dalam bebe­rapa minggu.”

“Oh.”

“Jadi Tuan men­duga aku datang kemari karena mela­ri­kan diri? Suatu dugaan yang jahat.”

“Tak ada aku punya dugaan seperti itu.”

Mata tua Tholib menem­busi mata bening tuan rumah dan men­coba menyu­supi otak­nya.

“Seperti matari yang teng­ge­lam seka­rang ini, demi­kian juga Demak akan teng­ge­lam di sebe­lah barat sana. Tuan Mar­ti­ni­que. Boleh jadi Tuban dalam per­tem­puran akan bisa ter­de­sak semen­tara belum dapat mene­mu­kan bentuk per­ta­hanan yang tepat, tapi sesu­dah itu keku­at­an­nya akan jadi ber­li­pat ganda dan tak dapat diben­dung lagi.”

“Seki­ra­nya yang seba­lik­nya yang ter­jadi?”

“Maksud Tuan kalau ramal­anku mele­set?”

“Bukan mele­set, Tuan Tholib. Tentu ramalan Tuan pasti tepat. Tapi seki­ra­nya, kataku, seki­ra­nya keja­dian justru tidak meng­in­dah­kan ramalan Tuan? Kalau Tuban yang jatuh?”

“Lihat, Tuan. Itu bisa saja ter­jadi. Jatuh­nya Tuban berani jatuh­nya selu­ruh bagian tempur Jawa ini. Dan kantor Tuan yang bagus ber­ge­la­dak tebal ini, belum juga sele­sai, akan segera kena landa juga. Laut dan darat Jawa akan ter­tu­tup bagi Por­tu­gis,” Tholib ter­tawa meng­gi­git. “Lagi pula. Tuan Mar­ti­ni­que, siapa sebe­nar­nya punya piki­ran mem­buka kantor di sini?”

‘Tentu ada,” jawab tuan rumah geli­sah, “aku hanya men­ja­lan­kan perin­tah.”

“Kira-kira tidak begitu, Tuan. Aku pun punya tenaga di kera­jaan Blam­bangan ini. Ber­da­sar­kan kete­rangan dia telah aku saran­kan ke Malaka, agar peker­jaan di sini tidak dite­rus­kan. Pana­ru­kan hanya baik untuk mengu­a­sai jalan laut Nusa Teng­gara, sedang untuk itu cukup di Timor. Tuan seba­gai bekas nakhoda bukan­kah dapat mem­ben­kan saran pada Malaka?”

“Apakah arti­nya aku ini?”

“Jawab­lah Tuan, itu menun­juk­kan Tuan ada kepen­tingan pri­badi dengan Pana­ru­kan.”

“Itu tidak benar.”

“Boleh jadi, tetapi aku akan bikin penye­li­dikan yang teliti. Tuan Mar­ti­ni­que. Siapa pun meli­hat betapa bagus­nya istana Tuan ini, rasa-rasa­nya Tuan sen­diri yang meng­u­sul­kan, agar Tuan dapat hidup ber­se­nang dan ber­te­nang di sini di luar segala peng­a­wasan.”

“Dan Tuan tidak mem­per­ha­ti­kan kera­jaan-kera­jaan Bali di sebe­lah sini.”

“Bali tidak akan menye­rang Jawa. Dia kasa menye­rang hanya ke sea­be­lah lebih timur, dengan pen­du­duk lebih sedi­kit. Maka itu untuk ke sekian kali­nya Timor juga yang lebih pen­ting dari Pana­ru­kan. Jadi bagai­mana Tuan usul­kan pada Malaka?”

”Tiada sesu­atu.”

“Mung­kin Tuan lupa, aku bukan hanya menuju ke Malaka, juga ke Luboa!”

“Itu ter­se­rah­lah pada Tuan Tholib sen­diri.”

“Jangan Tuan marah.”

“Pas­ti­lah setiap orang Por­tu­gis akan marah bila merasa dising­gung kebe­saran nege­ri­nya.”

“Apalah guna­nya marah karena merasa kebe­saran nege­ri­nya ter­sing­gung, semen­tara itu mem­bi­ar­kan din dungu dalam mengu­rus kebe­saran itu? Untuk apa marah kalau hanya hendak men­cari jalan mem­ba­las dendam?”

“Apalah guna­nya kita ber­teng­karan begini? Aku akan ber­u­saha keras meng­hin­dari usaha-usaha Tuan men­cari dalih untuk ber­teng­kar. Biar pun, ya, biar pun Tuan hanya seo­rang Moro.”

Dan Mar­ti­ni­que tahu benar, seba­gai­mana halnya dengan peja­bat-pe-jabat Por­tu­gis di per­a­iran selatan, bahwa Moro yang seo­rang ini adalah pela­por ulung yang jarang ban­dingan. Banyak di antara lapor­an­nya men­ce­la­ka­kan peja­bat, tak ada yang meng­un­tung­kan. Sedang Malaka juga mem­bu­tuh­kan dia untuk men­jaga agar peja­bat-peja­bat­nya di darat tidak lengah karena kemak­muran dan kese­nangan karena diman­jakan oleh raja-raja Pri­bumi.

“Justru hanya seo­rang Moro, Tuan Mar­ti­ni­que, dia lebih menge­ta­hui kebu­tuhan Por­tu­gis. Dia dapat meli­hat dan meng­erti lebih baik. Lihat, apakah per­lu­nya mem­bi­kin kantor di sudut dunia tanpa lalu­lin­tas besar ini? Tentu Tuan pernah meng­u­sul­kan, Tuan sen­diri, dari Pana­ru­kan Jawa bisa diken­da­li­kan dan timur, dari Sunda Kelapa dari Barat!”

“Jangan Tuan ber­la­rut-larut menying­gung pera­sa­anku. Tuan tidak punya wewe­nang untuk meme­riksa pri­ba­diku. Ada keku­a­saan lain. Seti­dak-tidak­nya bukan seo­rang Moro. Ter­lalu banyak orang Por­tu­gis yang pandai, sera­tus kali dari­pada Tuan.”

“Tentu saja. Tapi apa yang Tuan kata­kan padaku juga pen­ting untuk Malaka.”

“Kapal Tuan akan datang dan kata­kan semua itu di Malaka sana nanti apa yang jadi kemas­gu­lan Tuan. Aku tak suka Tuan cam­puri dalam soal Pana­ru­kan ini.”

”Tuan jangan salah meng­erti, Tuan Mar­ti­ni­que, bagiku tak ada guna men­cari kesu­l­itan dengan Tuan. Aku bicara hanya ten­tang kepen­tingan Por­tu­gis. Seba­gai orang Por­tu­gis ten­tu­nya Tuan ber­te­ri­ma­ka­sih ada orang bukan Por­tu­gis, malah orang Moro begini, punya piki­ran dan usaha untuk keba­ikan Por­tu­gis.”

Mar­ti­ni­que tak dapat lagi meneng­gang kata-kata yang penuh hukuman ter­ha­dap dir­i­nya itu. Dan ia memang tak dapat ber­buat sesu­atu apa ter­ha­dap Moro keper­ca­yaan Malaka ini. Justru karena dia bukan Por­tu­gis, kata-kata­nya dide­ng­ar­kan oleh Malaka, kese­la­mat­an­nya dijaga dan per­min­ta­an­nya dika­bul­kan, biar pun hanya berupa lima atau sepu­luh ons kopi.

Orang bisa mela­ku­kan sesu­atu keke­ra­san ter­ha­dap­nya. Mudah untuk mela­ku­kan­nya. Tetapi orang bisa takkan meli­hat tanah-air kem­bali dan salah-salah bisa tak meli­hat pepo­honan lagi. Ia tak dapat mela­ku­kan sesu­atu keka­saran. Keda­tangan­nya ber­arti ancaman ter­ha­dap kedu­duk­an­nya di Pana­ru­kan.

Mar­ti­ni­que sen­diri memang punya banyak kele­mahan di hadapan Tholib Sung­kar Az-Zubaid. Di pojok pulau Jawa yang tenang dan damai ini ia tak perlu meng­ha­dapi perang laut atau­pun darat. Ia lebih suka ber­sa­ha­bat dengan raja Blam­bangan Giri Daha­na­pura. Bahkan dengan Patih Udara ia mem­pu­nyai hubungan baik. Di sini, dapat sedi­kit menye­nang­kan raja, ia akan mem­per­o­leh yang ia ing­in­kan. Tak ada orang Por­tu­gis lain yang lebih tinggi kedu­duk­an­nya. Dari Sri Baginda Gir­in­dra War­d­hana yang telah tua itu, ia men­da­pat ban­tuan dua ratus orang untuk peker­jaan mem­ba­kar kapur dan batu bata dan mem­bantu pem­ba­ngu­nan kan­tor­nya. Dan semua dapat ia per­hi­tung­kan dalam nilai uang, dan Malaka harus mem­ba­yar­nya. Kelu­ar­ga­nya di negeri Por­tu­gis sana ter­ja­min. Dan benar sekali kata Tholib Sung­kar tak ada peng­a­wasan ter­ha­dap dir­i­nya di sini. Dan justru karena semua itu ia ter­sing­gung.

Tholib ini pasti akan ber­su­ara di Malaka sana. Ia pasti akan dita­rik dan Pana­ru­kan dan kem­bali mema­suki dinas lama. Mung­kin seo­rang baru akan datang meng­gan­ti­kan­nya. Mung­kin kantor ini akan diba­tal­kan sama sekali dan diting­gal­kan. Dalam hati ia mem­be­nar­kan cerita banyak teman-teman­nya: orang akan jadi jeng­kel, geli­sah, marah dan ingin mem­bu­nuh si hidung beng­kung ini, tapi tak berani. Seba­lik­nya si Moro yang seo­rang itu terus juga bawel, cere­wet, sikap­nya tenang-tenang dan tak malu-malu mem­per­li­hat­kan diri seba­gai seo­rang pen­jual jasa ter­baik bagi Peranggi. Dan Malaka dan Goa memang meng­a­kui jasa-jasa­nya dalam mem­ba­ngun­kan keku­a­saan atas jalan laut dan dalam mem­ba­ngun­kan mono­poli per­da­gangan rempah-rempah, baik dengan jalan keke­ra­san, per­sa­ha­batan, perang, meli­hat atau­pun dip­lo­masi, Ia ter­ma­suk salah seo­rang peran­cang­nya.

Mar­ti­ni­que telah mem­per­si­ap­kan jalan untuk mela­ku­kan pem­ba­lasan dendam atas nama seja­wat-seja­wat­nya, dan ia akan kaget! tamu­nya ini dengan den­dam­nya. Tholib takkan mung­kin akan bisa mem­ba­las.

Maka dalam bebe­rapa hari itu ia jamu tamu­nya dengan baik. Meng­ha­langi si Moro irri ber­la­yar ke Malaka adalah suatu per­bu­atan yang tidak mung­kin. Dia menge­ta­hui lalu­lin­tas kapal-kapal Por­tu­gis, dan Tholib pun ter­ke­nal punya kebi­a­saan menem­puh banyak jalan untuk meng­hu­bungi Malaka, surat-surat, utusan atau kun­jungan pri­badi. Dan bila ia ke Malaka bukan tidak ber­arti jalan-jalan lain tidak ditem­puh. Orang harus ber­pi­kir bebe­rapa kali bila toh hendak mem­bi­na­sa­kan­nya di laut, karena sua­ra­nya toh akan datang juga ke Malaka.

‘Tidak­kah Tuan ada kei­ng­inan untuk mengun­jungi Sau­dara Cortez?” pada suatu hari Mar­ti­ni­que mem­buka perang­kap­nya. “Ia telah ber­ha­sil mem­buka rumah pera­watan di pelu­aran Pana­ru­kan, suatu jarak yang patut ditem­puh untuk ber­ja­lan-jalan.”

Syah­ban­dar Tuban itu sama sekali tidak mem­pu­nyai kepen­tingan dengan segala macam rumah pera­watan di atas dunia ini. Per­ha­tian pun ia tak punya, Ia tak menang­gapi.

“Barang­kali ada juga baik­nya,” Mar­ti­ni­que menya­rani. “Tuan menge­nal baik Rodri­guez, bukan?”

Mata Tholib Sung­kar Az-Zubaid yang besar itu meman­car­kan pan­dang curiga pada tuan rumah.

“Tentu ada baik­nya,” Mar­ti­ni­que mene­mu­kan, “bukan saja karena Rodri­guez, rumah pera­watan itu patut juga dili­hat, lagi pula Sau­dara Cortez adalah paman Rodri­guez.”

“Rodri­guez yang mana?”

“Siapa lagi kalau bukan si pela­rian itu? Tuan justru yang lebih menge­nal­nya.”

‘Tidak, aku tak kenal.”

“Aa, nam­pak­nya Tuan sudah agak lupa. Bukan­kah Tuan sen­diri yang menyu­ruh Yakub mem­ba­wa­nya ke kapal dalam kea­daan ter­bius dan ter­i­kat?” Ia pura-pura tak meli­hat tamu­nya nampak agak gugup dan mem­be­tul­kan letak tar­bus­nya. “Mung­kin Tuan bisa mem­be­ri­nya sedi­kit kete­rangan ten­tang Rodri­guez. Ia dipe­san oleh adik­nya, ibu si pela­rian itu.”

Tamu yang ter­bend itu tidak meng­erti meng­apa ia menu­ruti saran tuan rumah, dan pada suatu pagi ia ting­gal­kan kantor pergi ke luar kota. Mar­ti­ni­que meng­an­tar­kan­nya sampai ke pintu ger­bang. Meli­hat tamu­nya agak ragu-ragu, ia mem­be­ra­ni­kan: “Tak ada yang perlu dikha­wa­tirkan di sini. Tuan. Selu­ruh Blam­bangan ini sama aman, mung­kin lebih aman dari­pada Lisboa atau Madrid. Tidak seperti di daerah-daerah Islam sana. Malahan di sini tak pernah ada pasukan peronda, tak ada her­man­dad yang nyinyir dan lan­cang tangan. Tuan bisa ber­ja­lan senang dan aman sampai ke luar kota sana ”

Syah­ban­dar Tuban itu ber­ja­lan, ter­tin­dih oleh bong­kok­nya sen­diri, ber­te­le­kan pada tong­kat. Sepan­jang jalan, pagar dari susunan batu karang itu juga yang keli­hatan, rapi mena­rik dilepa dengan tanah liat.

Arca-arca yang meng­a­wasi per­em­patan jalan itu ia tetap tak tahu nama­nya. Mar­ti­ni­que pun tidak tahu. Sekali ia memer­lu­kan mem­per­ha­ti­kan. Arca itu ber­diri di bawah atap ijuk dan semua bangu­nan di bawah­nya meru­pa­kan umpak tem­pat­nya ber­diri, setinggi barang lima meter. Sesa­jian bunga-bungaan dan beras ber­ser­akan pada ke empat pojok umpak.

Para gadis ber­ja­lan bebas ber­te­lan­jang dada seperti di peda­laman Tuban sana. Anak-anak kecil ber­la­rian di jalan-jalan telan­jang bulat seperti monyet. Dan hampir semua lelaki ber­te­lan­jang dada dengan keris ter­san­dang pada ping­gang.

Nam­pak­nya semua lalu-lalang menga­gumi tar­bus­nya yang ber­jum­bai lentur ke bawah, hidung­nya yang beng­kung, bong­kok­nya yang tidak indah dan terom­pah­nya yang berat.

Apa saja yang pernah dili­hat orang Blam­bangan ini dalam hidup­nya, pikir­nya.

Bebe­rapa kali ia meli­hat wanita tua ditandu atau seo­rang pemuda bang­sa­wan mem­per­a­ga­kan diri di atas kuda­nya. Dan ia ter­tawa dalam hati­nya meli­hat kuda mereka yang kecil lagi kurus dan tidak jarang ber­pe­nya­kit kulit.

Dengan pan­dang seki­las ia dapat mem­be­da­kan mana ning­rat mana bukan seka­li­pun sama-sama ber­te­lan­jang dada. Antara satria dengan petani ter­da­pat per­be­daan sikap dan ting­kah-laku ter­lalu besar. Dan sering ia meng­he­rani betapa per­be­daan bisa ter­jadi hanya karena kela­inan tempat dila­hir­kan dan dikan­dung­kan. Per­be­daan yang meng­ge­li­kan.

Sangat sedi­kit orang bisa Melayu di sini diban­ding­kan dengan di Tuban. Dan pada umum­nya orang ter­tawa men­de­ng­ar­kan ia ber­ba­hasa Jawa Tuban. Tetapi ia tidak peduli dan mene­rus­kan jalan­nya.

Rumah pera­watan yang dimak­sud­kan telah nampak dari jauh. Pela­taran depan­nya ter­buka tanpa pagar. Pada pintu depan dipa­sangi dengan salib besar dari kuningan, meng­ki­lat dengan paku-paku kuningan pula dengan kepa­la­nya yang sete­ngah bulat. Dan pintu itu nam­pak­nya selalu ter­tu­tup. Orang luar tak dapat meli­hat ke dalam­nya.

Ia ber­pa­ling ke bela­kang waktu men­de­ngar lang­kah orang yang sedang lari. Tak jauh di bela­kang­nya dili­hat­nya seo­rang wanita lari sambil meng­gen­dong anak yang kotor dan telan­jang. Kain­nya diang­kat­nya naik sampai ke paha. Wajah­nya keme­rah-merahan oleh kele­lahan. Ia mundur bebe­rapa lang­kah. Dan wanita itu tak mem­pe­du­li­kan­nya, lari terus dengan ken­cang. Di bela­kang­nya lagi serom­bongan kecil orang mem­bu­ru­nya sambil ber­seru-seru dalam bahasa Jawa setem­pat “Pogoh! Balik! Pulang Serah­kan dirimu pada para dewa. Pogoh! Jangan ke situ!”

Ia dengar napas wanita itu ter­e­ngah-engah dan mele­wat­i­nya. Ram­but­nya ter­u­rai jatuh dari sang­gul. Para penge­jar­nya sema­kin dekat juga. Dan nam­pak­nya mereka sudah lari menem­puh jarak yang tidak pendek. Bebe­rapa orang di anta­ra­nya sudah mulai tak mampu lari lagi. Semua lebih tua dari­pada perem­puan meng­gen­dong yang dipang­gil Pogoh, laki dan perem­puan.

Ia lihat Pogoh masuk ke pela­taran rumah pera­watan, lang­sung menuju ke pintu ber­sa­lib kuningan, ber­te­riak-teriak dan meng­ge­dor-gedor dengan kedua tangan­nya.

Pada salah seo­rang penge­jar Syah­ban­dar itu ber­ta­nya dalam Jawa: “Ada apa ini?”

Seo­rang lelaki meng­ham­piri dan melu­dahi muka­nya: “Kalian orang Peranggi busuk, di mana-mana meng­ganggu kami!” tuduh­nya.

Ia ber­henti meng­ha­dapi Tholib. Dan Tholib menyeka muka­nya dengan selem­bar seta­ngan putih.

“Jangan keliru!” raung Tholib, dan meng­ang­kat tong­kat. “Aku pen­da­tang baru.”

“Baru atau lama semua Peranggi sama saja!” ia melu­dah lagi dan lari mene­rus­kan penge­jaran, meng­ga­bung­kan diri pada yang lain-lain.

“Kepa­rat!” Syah­ban­dar meme­kik, meng­a­mang­kan tong­kat dan menyeka muka­nya.

Di sana pintu ber­sa­lib itu ter­buka. Seo­rang lelaki Por­tu­gis ber­pa­kaian pelaut memun­cul­kan kepala dari kira­ian pintu, meli­hat pada Pogoh, kemu­dian meli­hat pada para penge­jar­nya. Ia keluar dari pintu, mengem­bang­kan kedua belah tangan seakan sedang meng­ha­langi ser­buan para penge­jar. Dan Pogoh ber­lin­dung di balik pung­gung orang Por­tu­gis.

Para penge­jar tak berani menang­kap perem­puan itu.

Tholib Sung­kar mem­per­ce­pat jalan, dan tak lama kemu­dian juga sampai di depan pintu ber­sa­lib itu.

“Jangan sentuh dia, Pogoh,” pinta para penge­jar itu di hadapan orang Por­tu­gis itu.

“Jangan masuki rumah­nya. Jangan. Jang­a­a­a­aan!” pekik seo­rang wanita sete­ngah baya.

Syah­ban­dar ber­diri di bela­kang para penge­jar itu, ter­e­ngah-engah.

“Lin­dungi sahaya, Bapa,” pinta Pogoh dari bela­kang pung­gung Por­tu­gis ber­pa­kaian pelaut itu.

“Masuk cepat ke dalam,” perin­tah Por­tu­gis itu sambil sedi­kit mene­ngok pada­nya.

Tetapi Pogoh tak berani masuk. Por­tu­gis itu men­do­r­ong­nya dengan kaki­nya dan hilang di balik pintu.

”Ugh”

“Kem­ba­li­kan Pogoh kami. Bapa,” wanita sete­ngah baya itu mera­tap.

Tak ada di antara para penge­jar berani mema­suki pintu ber­sa­lib itu. Bahkan mela­lui Por­tu­gis yang seo­rang itu pun tak berani.

“Sahaya bapak­nya, Bapa, sahaya ber­we­nang menye­la­mat­kan dia,” lelaki yang melu­dahi Tholib itu mem­bela haknya.

“Kau takkan sela­mat­kan dia,” bantah Por­tu­gis itu dalam Jawa setem­pat. “Kau dan kalian hanya akan aniaya dan bunuh dia. Sudah kute­rima Pogoh dalam per­lin­dung­anku. Pergi kalian dengan damai. Jangan lewati pintu tanpa izin dan tanpa wewe­nang seperti dia­jar­kan oleh lelu­hur kalian sen­diri. Jangan ganggu ini rumah orang lain, yang ber­nyawa atau tidak, seperti ajaran lelu­hur kalian sen­diri juga. Pulang! Pulang­lah dengan damai.”

“Pogoh, Bapa,” wanita itu meng­u­langi ratap­an­nya.

“Pada suatu kali Pogoh akan kem­bali pada kalian, dalam kea­daan lebih baik dan lebih ber­ba­ha­gia.”

“Anak sahaya. Bapa,” wanita itu mere­ngek, “juga cucu sahaya. Bapa.”

“Pulang! Semua pulang! Jangan-jangan Sri Baginda menge­ta­hui ini dan meng­hu­kum kalian,” ancam Por­tu­gis itu.

Dengan ragu-ragu para penge­jar mening­gal­kan pela­taran, menyum­pah-nyum­pah. Meli­hat Tholib ber­diri di situ orang lelaki sete­ngah baya itu melu­dahi lagi ditam­bah dengan sum­pahan.

Syah­ban­dar meng­a­yun­kan tong­kat dan si pelu­dah tidak meng­gub­ris­nya, malahan melu­dah­i­nya lagi. Sekali ini ke tanah. Dan sekali lagi Tholib ter­paksa menge­lu­ar­kan seta­ngan dan menyeka muka.

Por­tu­gis ber­pa­kaian pelaut itu masih ber­diri di depan pintu di bawah salib kuningan waktu Syah­ban­dar itu datang pada­nya dan meng­u­lu­r­kan tangan.

“Sela­mat pagi, sau­dara Cortez,” kata­nya dalam Por­tu­gis.

Cortez meng­a­wasi Por­tu­gis kehi­taman itu seje­nak, meng­a­mat­i­nya dari kaki sampai ke tarbus, ter­se­nyum ter­paksa ber­kata: “Sela­mat pagi. Sia­pa­kah yang aku hadapi?”

“Syah­ban­dar Tuban, Sau­dara Cortez.”

“O-ya, Tuan Syah­ban­dar Tuban. Sudah bebe­rapa hari ini aku ingin mene­mui Tuan sebe­lum berang­kat ke Malaka. Mari masuk.”

Mereka masuk. Cortez menu­tup pintu dan ter­henti ber­diri. Kaki­nya dipe­luk oleh Pogoh yang ber­te­lut di lantai, sedang anak­nya sedang merang­kak-rang­kak.

“Lin­dungi sahaya, Bapa.”

“Apakah semua ini, Sau­dara?” tanya Syah­ban­dar dalam Por­tu­gis.

“Hanya keja­dian sehari-hari,” kemu­dian dalam Jawa pada Pogoh: “Kau sudah dalam kea­daan dilin­dungi di sini. Pogoh namamu, bukan?”

Syah­ban­dar mene­bar­kan pan­dang selin­tas. Ruangan besar itu dapat dika­ta­kan kosong dari per­ka­kas. Bebe­rapa orang wanita sedang bekerja mem­ber­sih­kan lantai dan din­ding, semua dari kayu. Mela­lui pintu dalam ia lihat wanita dan hanya wanita atau bayi.

“Semua perem­puan,” kata­nya kemu­dian.

“Bangun­lah kau, Pogoh,” kata Cortez dalam Por­tu­gis.

Pogoh yang mene­nga­dah­kan muka itu nampak ber­mandi air mata.

“Bangun, kau!” Tholib Sung­kar Az-Zubaid men­ja­wa­kan.

“Makh­luk celaka di nege­rimu sen­diri ini,” kata Cortez dalam Jawa pada Tholib Sung­kar. “Seperti Pogoh ini,” Ia menu­ding pada wanita itu. “Lari dari bang­sa­nya sen­diri. Yesus Maria! Celaka ber­tubi celaka, suami mening­gal dan seba­gai janda ia harus diba­kar untuk meng­i­kuti roh suami.”

“Bukan sahaya meno­lak meng­i­kuti suami sahaya,” Pogoh mem­pro­tes.

“Bangsa kafir, jahil celaka,” kata Syah­ban­dar dalam Por­tu­gis.

“Ada yang lari kemari dalam kea­daan bun­ting tua,” kata Cortez dalam Jawa. “Allah Bapa, melin­dungi.”

“Sahaya tidak bun­ting, Bapa,” protes Pogoh.

“Bang­kit kau ber­diri.” perin­tah Cortez pada Pogoh dalam Por­tu­gis.

Bayi yang merang­kak-rang­kak itu kem­bali pada ibunya dan mena­ngis minta dada.

Dan Pogoh meng­am­bil anak­nya dan menyu­su­i­nya. Ia ber­diri mem­bung­kuk, meng­a­wasi lantai dan mem­pro­tes dengan suara sangat lemah sehingga baik Cortez maupun Syah­ban­dar men­cang­kung untuk dapat menang­kap: “Bukan sahaya kurang atau tidak ber­bakti pada suami. Bukan­nya suami kurang kasih dan sayang pada sahaya. Cuma sahaya tak ada kebe­ra­nian melom­pat ke dalam api, meliuk-liuk dan menye­ri­ngai, kemu­dian jadi arang dan debu kelabu tiada bentuk. Sahaya selalu ingat pada anak sahaya yang seo­rang ini Siapa nanti akan menyu­sui dan mera­wat­nya.”

‘Takkan ada orang akan meng­am­bil kau dari sini tanpa sema­umu sen­diri,” Cortez meya­kin­kan. Kau berada di tengah-tengah sau­dara-sau­da­rimu sen­diri. Hidup dan bekerja dengan mereka.”

“Anak sahaya, Bapa.”

“Anakmu juga sela­mat di sini.”

“Sahaya lari dari api karena anak ini.”

“Ber­is­ti­ra­hat kau barang dua-tiga hari. Tenang-tenang­kan hatimu.”

“Kau masih akan punya anak lagi,” kata Syah­ban­dar.

Cortez meman­dangi Syah­ban­dar untuk men­ce­gah­nya ikut campur. Yang dipan­dangi merasa dibe­ra­ni­kan, dan mene­rus­kan: “Dan seo­rang lagi, dan seo­rang lagi….”

“Sahaya orang baik-baik. Bapa. Bukan untuk ber­a­nak dan ber­a­nak sahaya lari­kan diri dari suami-dewa sahaya.”

“Diam­lah Tuan,” kata Cortez dalam Jawa pada Syah­ban­dar.

“Diam­lah kau,” kata Tholib dalam Jawa pada Pogoh.

Cortez nampak tak ber­se­nang hati meli­hat campur-tangan tamu tak diun­dang itu dan menyo­r­ong Pogoh menyu­r­uh­nya masuk ke dalam. Kemu­dian pintu dalam itu ia tutup.

“Banyak yang dapat dituai di negeri jahi­liah begini,” Syah­ban­dar memu­lai.

“Bukan, Tuan Syah­ban­dar, kami baru mem­buka ladang. Menye­bar benih pun belum.”

“Bagai­mana ren­cana Tuan dengan mereka?”

“Ummat Nas­rani makin lama makin banyak datang dari segala pojok dunia untuk men­je­nguk Pana­ru­kan. Kapal-kapal Por­tu­gis meng­a­rungi semua samudra. Pada suatu kali barang­kali mereka akan kun­jungi juga tempat ini dan berang­kat dengan mereka seba­gai domba Kris­tus. Anak-anak yang dibe­sar­kan di sini akan meng­em­ba­rai bumi tumpah darah­nya mem­bawa terang pada bang­sa­nya….”

Tak ada sebuah kursi pun di dalam ruangan itu. Dan wanita-wanita pekerja itu telah masuk semua ke dalam.

Syah­ban­dar mem­be­lok­kan per­ca­kapan pada maksud keda­tangan­nya.

“Adapun ten­tang Rodri­guez, keme­na­kan Sau­dara Cortez, ten­tara Tuban telah mem­bu­nuh­nya. Mayat­nya dihan­cur­kan dan dibu­ang ke laut. Itulah yang dapat aku beri­ta­kan dengan duka­cita kepada Sau­dara.”

“Yesus Maria!” sebut Cortez dan mem­buat salib dengan jari­nya. “Benar­kah Tuan ini?”

‘Tidak ada yang lebih benar dari­pada itu, Sau­dara.”

“Tuan menge­ta­hui betul?”

‘Telah aku bikin penye­li­dikan yang teliti.”

‘Tentu Tuan menge­ta­hui betul. Manakah yang benar. Tuan. Di Pasai sana orang menga­bar­kan bukan ten­tara Tuban yang mem­bu­nuh­nya, walau­pun dia dan teman­nya memang dija­tuhi hukuman mati. Jelas ten­tara Tuban memang akan mem­bu­nuh­nya,” ia pan­dangi Syah­ban­dar itu seakan baru saja dili­hat­nya. “Tuan Syah­ban­dar Tuban, bukan?”

“Tidak keliru, Sau­dara.”

“Sayid Habi­bul­lah Al-Masawa, bukan?”

“Benar, Sau­dara Cortez, Sayid Habi­bul­lah Al-Masawa.”

“Alias Sayid Mahmud Al-Badaiwi, bukan?”

Syah­ban­dar Tuban ragu-ragu. Mata­nya menge­r­jap-nge­r­jap dan pegang­an­nya pada hulu tong­kat­nya diper­ku­kuh. Ia tak men­ja­wab. Per­ta­nyaan itu dira­sa­i­nya mengan­dung maksud buruk.

“Alias Tholib Sung­kar Az-Zubaid, bukan?” Cortez mene­rus­kan. “Ya, itulah kata orang di Pasai sana, orang-orang Por­tu­gis, mak­sudku. Meng­apa Tuan diam saja?” Meli­hat tamu­nya men­jadi curiga dan was­pada dan ber­siap-siap hendak mela­ku­kan sesu­atu, ia mera­mah­kan wajah dan ter­se­nyum ikhlas mene­rus­kan: “Mela­lui nakhoda kapal Lisboa – tentu Tuan masih ingat kapal itu, bukan? – mela­lui nakho­da­nya, Malaka telah mene­bus pada Tuan untuk harga keme­na­kanku dan teman­nya ber­nama Este­ban. Benar begitu, bukan?”

Napas Tholib Sung­kar ter­e­ngah-engah seperti habis men­daki gunung, sedang bong­kok­nya naik-turun kem­bang-kempis seperti insang ikan di darat.

“Meng­apa Tuan diam saja? Yesus Maria! Begi­ni­lah macam­nya seo­rang pem­bu­nuh? Keluar! Mengo­tori tempat ini dengan keha­dir­anmu? Pen­ja­hat paling hina yang pernah ada di atas bumi. Orang tak kenal azas!”

Dan Syah­ban­dar itu masih kehi­langan kepri­ba­di­an­nya. Mata­nya kelap-kelip meman­dangi penu­duh­nya yang keha­bisan kata-kata, menge-bas-nge­bas­kan jari-jari­nya dan masuk ke dalam mela­lui pintu dalam.

“Asta­ga­fi­r­ul­lah!” sebut Tholib kemu­dian. Dengan pera­saan kacau-balau ia keluar dari rumah peme­li­ha­raan dan lang­sung pulang ke kantor dagang Por­tu­gis.

Sampai di dalam bilik hati­nya masih juga pena­saran. Per­kara itu nam­pak­nya telah dike­ta­hui oleh orang-orang Peranggi di Pasai, dan barang tentu di Malaka juga, di Goa dan Mala­bar, di Madrid dan Lisboa juga, men­ja­lar juga kira-kira di Maluku: Tholib Sung­kar Az-Zubaid telah mene­rima uang tebusan buat dua orang Por­tu­gis pela­rian, kemu­dian ia sen­diri yang mem­bu­nuh­nya. Memang benar ada saksi yang menye­rah­kan pela­rian-pela­rian itu, ada saksi juga yang meli­hat ia mene­rima uang tebusan. Itu saja mung­kin belum begitu. Tapi berita ia telah mem­bu­nuh mereka? Mem­bu­nuh orang Por­tu­gis – Moro mem­bu­nuh orang Por­tu­gis? seka­li­gus dua?

Dan seka­rang ia merasa menye­sal tidak mem­ban­tah Sau­dara Cortez ber­de­pan-depan.

Kalau begitu Mar­ti­ni­que barang­kali juga menge­ta­hui. Tidak, Mar­ti­ni­que berada dalam keku­a­sa­anku karena sekan­dal Pana­ru­kan ini. Sekali kubuat laporan dia akan jatuh merang­kak-rang­kak seperti kepi­ting laut di debuan bekas keba­karan.

Ia dengar-dengar suara ramai di depan kamar­nya. Tak salah: suara Mar­ti­ni­que. Dan ia merasa kecut untuk keluar. Kalau semua orang Por­tu­gis tahu siapa pem­bu­nuh mereka, negeri Por­tu­gis dan Ispa­nya takkan mung­kin lagi dapat diin­jak­nya. Dengan senang hati baik pedang Peranggi maupun Ispa­nya akan ber­ja­tuhan pada tubuh seo­rang Moro ter­benci.

Akan run­tuh­lah sisa hidup di hari tua?

Ia merasa Mar­ti­ni­que memang sengaja mondar-mandir di depan kamar­nya. Maka ia sambar tong­kat dan pergi ke luar. Ia akan ber­ta­han, Ber­ta­han!

“Aa, Tuan Tholib Sung­kar!” seru Mar­ti­ni­que dengan suara ber­nada keme­nangan. “Mari duduk-duduk. Hari ini ada borongan, Tuan, lain dari yang lain. Satu partai kulit macan dari raja Klung­kung di Bali sana,” ia menu­ding ke arah pulau Bali. “Aku ada ren­cana untuk Malaka, Tuan. Biar mereka per­se­m­bah­kan kulit-kulit ini seba­gai per­ma­dani bawah per­a­duan, per­se­m­ba­han ke bawah duli Sri Baginda dan Sri Ratu. Tak bakal ada raja di selu­ruh Eropa ber­per­ma­dani kulit macan. Bayang­kan, Tuan.”

“Rupa-rupa­nya Tuan tak pernah dengar ten­tang istana Ispa­nya. Sudah sejak zaman kha­li­fah kulit singa Afrika dengan kepala utuh sudah diper­gu­na­kan untuk lapik ber­ceng­ke­rama, ber­dek­la­masi, ber­bi­cara ten­tang obat-obatan baru…”

“Seti­dak-tidak­nya bisa dijual ke Paris atau Wina.”

Tholib Sung­kar ter­tawa mere­meh­kan. Mar­ti­ni­que menu­tupi keka­lah­an­nya dengan mene­tak­kan per­so­alan baru: ‘Tentu Tuan disam­but dengan gem­bira oleh Sau­dara Cortez. Orang meng­ang­gap, bahwa Tuan­lah yang tahu betul ten­tang nasib Rodri­guez dan teman­nya itu. Siapa pula nama­nya? O, ya, Este­ban. Aneh, orang-orang Por­tu­gis dengan nama Spa­nyol. Ah-ya, mung­kin saja.”

“Aku tak tahu ten­tang itu.”

“Meng­apa Tuan ter­buru-buru ke rumah Sau­dara Cortez seperti men­da­pat pang­gilan dari seo­rang keka­sih? Dan meng­apa Tuan begitu buru-buru pulang seperti diburu macan?”

Syah­ban­dar Tuban megap-megap seben­tar. Ia raba dada­nya. Rupa­nya aku sudah tua, pikir­nya. Sya­rafku mulai begini lemah­nya.

“Baik­lah kalau Tuan tak suka mem­bi­ca­ra­kan soal pem­bu­nuhan itu. Ten­tang mene­rima tebusan itu mung­kin mau. Rupa-rupa­nya Tuan kurang periksa, tidak lain dari aku yang mengu­rus pela­rian-pela­rian itu waktu dise­rah­kan oleh Yakub ke kapal.” Tiba-tiba ia meng­a­lih­kan pem­bi­ca­raan. “Kapal Tuan akan datang lusa, dan akan berang­kat pada hari itu juga. Malaka akan ber­so­rak-sorai menyam­but Tuan. Bukan seba­gai pene­rima tebusan yang hina itu, lebih dari itu, seba­gai pem­bu­nuh dua orang Por­tu­gis!”

“Seo­rang peng­a­bdi Por­tu­gis takkan mem­bu­nuh Por­tu­gis,” bantah Tholib.

“Sia-sia, Tuan. Tuan kira waktu itu Tuan seo­rang diri di der­maga Tuban? Ada seo­rang saksi ketika kilat meman­car dan Tuan tikam­kan isi tong­kat Tuan itu,” ia menu­ding pada hulu gading tong­kat tamu­nya, “pada salah seo­rang di dalam krang­keng besi itu. Per­lu­kah saksi itu dipang­gil?”

‘Tidak, tidak ada saksi seo­rang pun. Der­maga sunyi!” bantah Tholib.

Mar­ti­ni­que ter­tawa ter­ba­hak. Dan Tholib men­jadi pucat sete­lah ucap-annya sen­diri yang ter­a­khir. Ia keta­hui tangan­nya geme­tar dan dalam hati ia mengu­tuki sya­raf­nya yang telah jadi begitu lemah.

“jadi betul Tuan ada di der­maga waktu itu. Dan Tuan mengira tak ada saksi. Meng­apa Tuan jadi pucat? Karena Malaka telah menunggu Tuan? Dengan tiang gan­tungan?”

“Coba Tuan terang­kan’ Syah­ban­dar itu ber­lu­nak-lunak, “bagai­mana Tuan sampai pada piki­ran aku mem­bu­nuh mereka?”

“Begini saja, Tuan, min­ta­lah kete­rangan itu di Malaka sana. Pasti Tuan akan merasa puas.”

“Baik!” jawab­nya untuk memu­tus­kan per­so­alan yang tak menye­nang­kan itu. “Ber­sama dengan kulit macan dari Bali itu.”

Tetapi Mar­ti­ni­que belum lagi puas dalam mem­ba­las­kan den­dam­nya. Ia masih harus mele­pas­kan anak panah­nya: “Ing­at­kah Tuan pada seo­rang pewa­rung di bandar Tuban yang ber­nama… ah, siapa pula nama­nya itu, oh, ya, Yakub,… bukan­lah dia juga yang meng­an­tar­kan pela­rian-pela­rian itu di kapalku dulu? Ya-ya, Yakub nama­nya. Deng­ar­kan Tuan, pada suatu kali dia ingin juga kem­bali meli­hat warung­nya. Dia ber­da­yung meman­tai dari timur, sampai di der­maga naik, kilat menyam­bar, dan meli­hat Tuan, tidak lain dari Tuan Syah­ban­dar Tuban ber­main pisau tong­kat…. Itulah dia si Yakub pela­rian. Dan tong­kat di tangan Tuan itulah yang Tuan main­kan. Berani ber­ta­ruh, dalam tong­kat Tuan itu ada pisau­nya,”

“Semua orang tahu, pewa­rung arak selalu menipu.”

“Dan Tuan selalu ber­se­dia mem­ba­yar tipu­an­nya, bukan? Aku juga mem­beli dari dia seperti Tuan.”

“Baik­lah, kita sama-sama korban penipu yang seo­rang itu, ia ber­diri dari tempat duduk pura-pura tidak men­de­rita cedera pada peda­laman dir­i­nya. “Siap­kan kulit-kulit macan Tuan, biar aku kawal ke Malaka.”

Ia melang­kah ke arah bilik­nya kem­bali.

Betapa hebat orang itu mena­kut-nakuti! Perin­tah penang­kapan tak pernah dia kelu­ar­kan. Uh, mudah benar aku dita­kut-takuti. Kalau dia merasa benar, dia tak perlu mena­kut-nakuti, dia akan biar­kan aku ber­la­yar ke Malaka.”

Dan sesung­guh­nya ia takut juga.

Pada hari yang telah diten­tu­kan Mar­ti­ni­que meng­an­tar­kan tamu­nya ke pela­buhan. Kulit-kulit macan telah dima­suk­kan ke dalam kapal. Barang-barang Tholib Sung­kar masih menum­puk di der­maga.

Syah­ban­dar itu nampak kurus dan geli­sah. Pipi­nya cekung ter­gan­tung dan mata­nya suram. Jalan­nya lambat-lambat seakan bong­kok­nya, men­jadi dua puluh kali lebih berat.

Keri­butan kecil tiba-tiba ter­jadi di der­maga. Lambat-lambat ia ber­ja­lan men­de­kati ber­sama Mar­ti­ni­que.

Dalam sebuah ling­karan ber­diri seo­rang pelaut Pri­bumi yang bicara lan­tang pada para pen­de­ng­ar­nya: “Pada hari ke dua, teman-teman. Ban­teng Wareng dari pasukan kuda Tuban meng­ha­lau Demak dari Tuban. Ia tidak rela pasuk­an­nya jadi ter­ta­waan umum. Bukan main Ban­teng Wareng. Demak mundur dan maju lagi lusa hari­nya, seperti air banjir mem­bong­kar tang­gul Ban­teng Wareng ter­de­sak ke timur. Tetapi sebe­lum sampai ke kota. Kala Cuwil Patih Tuban Sang Wira­bumi dengan pasukan gajah­nya memo­tong dari selatan. Air banjir Demak patah di tengah seperti saluran keja­tuhan seka­ten. Pasukan penga­wal Tuban men­ce­bur­kan diri di dalam kancah. Kemu­dian pasukan kaki Tuban memu­kul dari luar Tuban. Hampir-hampir Treng­gono ter­tang­kap hidup-hidup oleh pasukan kaki. Dengan kaki­nya sen­diri ia lari tung­gang-lang­gang mener­jang-ner­jang, hilang di dalam semak-semak. Hebat benar Tuban! Ban­teng Wareng! Kala Cuwil! Rang­kum! dan Braja! Tanpa raja! Kami akan balik ke Tuban hari ini. Hari ini juga. Siapa ikut boleh turut!”

“Aku ikut!” seru Syah­ban­dar Tuban. “Pin­dah­kan barang-barang ke dalam pera­humu!” perin­tah­nya.

‘Tuan tidak jadi ke Malaka?” tanya Mar­ti­ni­que.

Tholib Sung­kar Az-Zubaid tak men­ja­wab, dan orang mulai memin­dah­kan barang-barang­nya ke sebuah perahu layar Tuban.

“Bede­bah!” maki Mar­ti­ni­que.

Syah­ban­dar Tuban buru-buru turun ke perahu Tuban.


Bab 37

Panjang – Jayakarta

Bulan Juli 1527

Pengan­tin baru itu sengaja hendak menik­mati pela­yaran mela­lui kepu­lauan Seribu, gugusan pulau yang ter­se­bar antara Jawa dan Suma­tra. Layar mereka gulung dan kedu­a­nya men­da­yung dari pulau ke pulau. Tak ada bajak di daerah per­a­iran sini. Semua lari meng­hin­dar­kan diri dari armada Jepara-Demak.

Di hadapan mereka nampak gunung-gemu­n­ung pulau Suma­tra, di bela­kang mereka gunung-gemu­n­ung pulau Jawa, ber­la­pis-lapis ter­timpa sinar surya dari sebe­lah barat.

Kebe­tulan laut pun sedang tenang. Air nampak biru dengan ombak kecil-kecil yang riang ber­main pada per­mu­kaan. Kail yang dipa­sang pada buritan antara seben­tar meng­ha­sil­kan ikan ekor kuning, sedang yang dipa­sangi dengan baling-baling bulu ayam putih meng­ha­sil­kan layur.

Bila mereka lapar, sing­gah­lah mereka di salah sebuah pulau, ber­ta­nak nasi, ber­ka­sih dan ber­cumbu, tanpa seo­rang pun meng­ganggu. Untuk itu sengaja mereka pilih pulau kecil tanpa pen­du­duk. Dunia ber­i­sikan kesu­kaan semata.

Dan sampai sejauh itu Sabar­ini tak juga pernah ber­ta­nya hendak ke mana. Ia pun tak pernah mabuk laut Ia bicara hanya bila dita­nyai. Bila naik lagi ke atas perahu, tanpa diminta segera ambil dayung dan mulai meng­a­yuh.

Dengan demi­kian pulau demi pulau dising­gahi atau dile­wati. “Meng­apa kau tak pernah ber­ce­rita?”

Sabar­ini ber­henti men­da­yung, men­ci­duk air laut dengan tangan, meman­da­ng­i­nya sambil ter­se­nyum dan mem­bu­ang muka. Ia mulai men­da­yung lagi. Wajah­nya keme­rah-merahan seperti buah tomat men­je­lang matang.

“Tentu karena ingat pada rumah,” desak Pada. “Mereka seka­rang tak ada di rumah lagi, Gusti,” jawab­nya dengan suara dan lagu menya­nyi bening itu. “Mereka semua telah mela­ri­kan diri masuk ke hutan-hutan.”

“Ya, Gusti, karena kita lari. Mereka akan mene­rima hukuman dari Sri Baginda. Karena patik lari. Mereka akan dihu­kum oleh Sang Patih Naro­gol.”

“Mereka akan dapat menang­kap kasut kami.”

Sabar­ini men­de­ngus ter­tawa.

“Betapa besar dosaku pada mereka.”

Sabar­ini meng­a­yuh cepat-cepat.

“Bagai­mana harus kute­bus dosa kita?” Pada ber­ta­nya.

“Tidak perlu. Gusti. Bapak sahaya sen­diri yang ber­sa­lah. Jangan jadi piki­ran, Gusti. Mereka akan lari ke hutan-hutan, ber­kum­pul di sana dan men­cari tempat baru untuk hidup – tempat yang seki­ra­nya takkan dike­ta­hui oleh Sri Baginda. Kalau mereka tak suka mem­buka hutan, barang­kali mereka akan turun ke Sunda Kelapa.”

“Nam­pak­nya kau tak ber­pri­ha­tin.”

“Bukan­kah sudah cukup lama patik ber­pri­ha­tin?”

“Cukup lama. Coba ceri­ta­kan, istriku.”

“Ya Gusti,” Sabar­ini mulai suka bicara. “Di desa kami gadis-gadis dika­win­kan pada umur yang masih sangat muda. Kadang-kadang baru tiga tahun. Orang tuanya takut kalau-kalau anak-gadis­nya dir­am­pas para ning­rat dan dibawa ke Pakuan. Patik sen­diri tumbuh jadi gadis tua karena keten­tuan putra Sang Naro­gol. Per­jaka-per­jaka tak berani mela­mar patik. Orang meman­dang patik dengan belas-kasihan semata. Semua orang tahu nasib buruk seo­rang selir.”

Pada men­de­ng­ar­kan suara bening istri­nya yang ber­nya­nyi. Itulah untuk per­tama kali Sabar­ini bicara seba­nyak itu. Ia meng­ang­guk-angguk mem­be­ra­ni­kan. Sua­ra­nya ber­nya­nyi lagi. Ter­de­ngar oleh­nya jauh lebih indah dari­pada kebe­naran yang ter­kan­dung di dalam­nya: “Mereka akan ikut ber­ba­ha­gia dengan keba­ha­gi­aan kita, Gusti. Jangan­lah Gusti men­jadi risau. Semua akan ber­syu­kur bila ada seo­rang calon selir berani lari dengan sese­o­rang yang dicin­ta­i­nya. Semua akan ber­se­dia mem­bantu dan melin­dungi dan ber­kor­ban – tahu mereka bakal mati di ujung tombak. Gusti sama sekali tak ber­dosa pada mereka.”

“Sabar­ini, istriku, seki­ra­nya kau benar, meng­apa kau tak suka bicara seperti orang-orang lain?”

Mata gadis itu ber­si­nar dan bibir­nya ter­se­nyum. Kemu­dian menun­duk malu.

“Apa yang men­ja­di­kan kau malu pada suami sen­diri, di tengah laut tanpa saksi begini?”

“Ah, Gusti, Gusti tidak tahu bagai­mana pera­saan patik. Bagai­man­akah patik harus lewat­kan keba­ha­gi­aan ini dengan hanya bicara?”

“Stt. Mulai seka­rang, jangan pang­gil aku Gusti.” Sabar­ini meman­da­ng­i­nya ber­sung­guh-sung­guh. “Seka­rang ceri­ta­kan ten­tang keba­ha­gi­a­anmu.”

Dan ber­ce­ri­ta­lah gadis itu ten­tang asal-muasal kela­hir­an­nya, dan ten­tang kepala desa serta selu­ruh pen­du­duk desa yang tak berani mem­per­se­m­bah­kan duduk-per­kara kela­hir­an­nya pada Patih Naro­gol. Betapa ia men­de­rita seba­gai calon selir sau­da­ra­nya sen­diri. Maka ia ber­te­kad mela­tih ilmu ber­ke­lahi. Bila toh takkan ada orang yang berani mem­bela dan melin­dung­i­nya, ia akan mem­bela dan melin­dungi dir­i­nya sen­diri.

“Apa­bila patik ber­ha­sil dalam usaha patik,” Sabar­ini mene­rus­kan, “patik akan meng­em­bara jauh, jauh entah ke mana, asal keluar dari negeri Paja­jaran. Patik lulus, kemu­dian datang seo­rang pange­ran dari Jepara, yang seka­rang mem­per­is­tri patik. Pange­ran itu harus lari dari keja­ran ten­tara Paja­jaran. Patik pun akan jadi orang keja­ran. Meng­ap­a­lah patik takkan lari deng­an­nya?”

Pada ter­tawa senang dan ber­ba­ha­gia men­de­ngar cerita di mana kepu­tusan cepat dalam kea­daan ber­ba­haya harus diam­bil. Dan kepu­tusan itu juga diam­bil secara tepat Dan tidak lain dari Sabar­ini yang ber­jasa.

“Begi­tu­lah Allah mem­per­te­mu­kan kita. Segala puji-pujian untuk­Nya semata, Sabar­ini. Aku merasa ber­ba­ha­gia bila kau ber­ba­ha­gia, jangan­lah sebut dirimu Patik. Ter­ganggu pera­sa­anku men­de­ngar itu. “Aku sama sekali bukan seo­rang pange­ran”.

Pada mem­per­ha­ti­kan per­u­ba­han pada air muka istri­nya. Dan per­u­ba­han itu ter­nyata tak ada. Ia ter­he­ran-heran, diang­gap­nya perem­puan itu tak begitu men­de­ng­ar­kan.

“Aku sama sekali bukan seo­rang pange­ran,” ia meng­u­langi.

“Apakah beda­nya sua­miku seo­rang pange­ran atau tidak? Seo­rang pange­ran takkan meng­in­dah­kan istri­nya seba­gai­mana sua­miku meng­in­dah­kan diriku’

Pada agak kecewa meli­hat Sabar­ini tidak ter­ke­jut

“Sabar­ini lebih suka kalau sua­mi­nya seo­rang petani biasa, karena seo­rang petani hanya seder­hana, tidak diting­kah oleh seribu nafsu. Aku, dan kami semua tahu ting­kah kaum ning­rat. Maka aku tahu sua­miku tidak ber­ting­kah, tidak ber­ba­hasa seperti mereka. Sejak semula kul­i­hat, tamu agung itu, itu sudah aku lihat ia seo­rang orang biasa dalam pakaian kebe­saran.”

“Sabar­ini!” gumam Pada sete­lah men­de­ngar begitu banyak kata ter­cu­rah. “lihat, bandar Pan­jang sudah mulai nampak. Seben­tar lagi kita akan meng­in­jak­kan kaki di bumi Suma­tra.”

Matari mulai teng­ge­lam. Awan hitam ber­gum­pal-gumpal muncul dari balik-balik gunung di daratan Suma­tra. Angin ken­cang mulai ber­tiup seperti diem­bus­kan oleh mulut rak­sasa gaib. Alam yang tenang tiba-tiba beru­bah meng­an­cam. Guruh meng­aum dari keja­uhan dan kilat sam-bar-menyam­bar di cak­ra­wala.

Bebe­rapa noktah dengan puncak-puncak kepu­tihan ter­pan­cari sisa sinar matari nampak di keja­uhan, di ten­tang kaki langit.

“Armada Peranggi,” gumam Pada. “Ayoh, dayung cepat.”

Mereka men­da­yung cepat-cepat mema­suki pela­buhan Pan­jang. Dan ber­sa­maan dengan itu badai taufan mulai meng­a­muk seja­di­nya. Hujan jatuh men­da­dak ber­cam­pur angin seperti lang­sung dilem­par­kan dari langit.

Sete­lah men­can­cang perahu pengan­tin baru itu dengan mem­bawa barang-barang­nya yang sedi­kit lari masuk ke dalam sebuah bedeng yang telah penuh dengan tum­pukan kran­jang lada.

Seo­rang pen­jaga mem­beri tempat ber­te­duh pada mereka di antara dua tum­pukan kran­jang sehingga ter­lin­dung dari angin dan air.

Pada ter­he­ran-heran meli­hat tum­pukan kran­jang lada seba­nyak itu. Dan bedeng­nya bukan hanya sebuah. Tak kurang dari sepu­luh, ter­buat dari kayu selu­r­uh­nya, dan nampak belum lagi lama didi­r­i­kan.

Dari cerita pen­jaga ia menge­ta­hui, kapal-kapal Peranggi akan datang meng­am­bil­nya. Lada itu tidak selu­r­uh­nya di panen dari peda­laman. Lebih sepa­ruh dari Paja­jaran dan Banten sete­lah lolos dari blo­kade armada Jepara-Demak. Lada tetap datang seperti dicu­r­ah­kan. Pan­jang men­da­dak jadi bandar ramai. Sau­da­gar dari Sunda Kelapa, Banten dan Cimanuk ber­lomba-lomba memin­dah­kan kegi­at­an­nya di sini dan men­di­r­i­kan bedeng-bedeng gudang sen­diri dan rumah ting­gal yang bagus di daerah pela­buhan. Dalam kurang dari seta­hun Pan­jang akan telah sangat beru­bah. Kemak­muran telah mena­rik orang-orang dari peda­laman untuk bekerja di bandar sehingga peda­laman keku­rangan tenaga untuk mengu­rusi per­ta­nian dan panen lada. Beras pun ter­paksa dima­suk­kan dari tempat-tempat lain, dan minyak, dan kacang-kacangan, dan tenunan, dengan harga yang tinggi.

Pada tak habis-habis pikir men­de­ng­ar­kan betapa kemak­muran bisa ber­pin­dah-pindah dari bandar yang satu ke yang lain. Dan bila armada Jepara-Demak terus-mene­rus menin­das bandar-bandar lain dan mem­bi­kin­nya jadi bandar tak bebas, Pan­jang bisa meng­gan­ti­kan Malaka atau Pasai.

Sete­lah berun­ding dengan istri­nya mereka ber­se­pa­kat menunda pela­yaran ke Malaka untuk meli­hat-lihat Pan­jang lebih lama.

Armada Por­tu­gis itu tak mau ber­ki­sar dari tujuan semula, meno­lak ber­lin­dung di bandar Pan­jang.

Fran­cisco de Sa, pemim­pin armada, adalah seo­rang muda beru­mur tiga puluhan, ber­wa­tak keras, giat dan ber­nafsu untuk men­ja­bat kedu­dukan tinggi. Ia mening­kat dengan cepat dari kelasi men­jadi kepala set­ting, juru mudi, wakil kapten, kapten, dan ter­a­khir seka­rang ini: pemim­pin armada.

Menu­rut perin­tah yang dite­rima ia harus memu­lai pem­ba­ngu­nan kantor dagang seka­li­gus ben­teng di Sunda Kelapa selama sete­ngah tahun dengan menu­run­kan ser­dadu dan tukang. Kapal-kapal­nya harus segera balik kem­bali ke Malaka mem­bawa lada dari Pan­jang.

Tetapi ia juga punya ren­cana pri­badi. Ia akan sele­sai­kan peker­ja­an­nya dalam tiga bulan di Sunda Kelapa. Yang tiga bulan lagi akan diper­gu­na­kan­nya untuk mem­ba­ngun kebe­saran baru di Jawa, untuk diri sen­diri dan untuk Por­tu­gis. Tanpa jalan demi­kian dira­sa­i­nya sulit untuk bisa jadi pemim­pin Por­tu­gis di Asia yang ber­ke­du­dukan di Malaka.

Ia tak meng­in­dah­kan kekha­wa­tiran anak buah­nya sedang­kan hujan angin kian meng­ga­nas dan gelom­bang pun sema­kin meng­gu­nung. Satu mata taufan telah mener­jang armada dan menye­ret bebe­rapa kapal lang­sung ke jurusan teng­gara. Bebe­rapa tiang kapal telah patah dengan layar com­pang-cam­ping. Laut yang dite­kan taufan itu men­jom­pak naik jadi gunung-gumu­nung yang gulung-ber­gu­lung. Bebe­rapa kapal telah patah kemudi, dan tanpa daya dise­ret terus dalam ceng­ke­raman gelom­bang.

Taufan itu men­de­sak sampai sepa­ruh dalam laut, menim­bul­kan alun yang sema­kin tinggi juga. Pulau-pulau dari gugusan Seribu seben­tar hilang seben­tar timbul dari balik puncak ombak. Dengan teng­ge­lam­nya surya alam pun men­jadi kelabu hitam. Curah hujan menye­bab­kan orang tak bisa lagi meli­hat ke depan.

Semua layar telah digu­lung, tetapi deras angin meng­ha­lau mereka ke selatan.

Hanya len­tera-len­tera kapal sayup-sayup menan­da­kan adanya manu­sia yang hidup di tengah laut itu. Dan len­tera-len­tera itu nampak menyam­pai­kan perin­tah-perin­tah dari Fran­cisco de Sa pada kapal-kapal­nya yang tak ter­ken­da­li­kan lagi. Ia ber­te­riak-teriak, meng­han­tam-han­tam­kan kaki pada gela­dak, memaki dan menyum­pah. Tanpa guna. Taufan tak juga ber­henti. Hujan sema­kin tebal cur­ah­nya dan kilat sabung-menya­bung mera­jai alam.

Bagi Fran­cisco de Sa hanya peris­tiwa yang sekali ini saja ia harus bisa atasi. Ada satu tahyul di dalam hati­nya: bila sekali ini ia gagal, semua cita-cita­nya selan­jut­nya akan runtuh. Sekali ben­cana ini dapat dika­lah­kan, suatu kege­mi­l­angan tanpa batas sedang menunggu-nung­gu­nya di waktu dekat men­da­tang.

Tiga bulan! Hanya tiga bulan kerja di Sunda Kelapa! Tiga bulan sele­bih­nya adalah untuk kegi­atan pri­badi tapi atas nama Por­tu­gis: pem­ba­lasan dendam atas Tuban yang telah berani meng­hina bebe­rapa tahun yang lalu.

Dalam pan­caran kilat ia lihat arma­da­nya cerai-berai, dan dili­hat­nya juga kapal yang dikap­teni oleh Duarte Coelho telah menye­lo­nong paling depan, kadang ber­pu­tar dalam mata taufan, kadang men­do­r­ong per­mu­kaan laut, kemu­dian melun­cur ke teng­gara dengan buritan jadi haluan. Jelas kemu­di­nya telah patah dan tak ada satu tiang pun utuh.

Sebuah kapal lain­nya ber­diri dengan haluan di atas, kemu­dian dalam ker­ja­pan kilat nampak cepat menye­lam ke dasar laut dan tak muncul lagi. Bebe­rapa puluh anak kapal ber­a­pungan timbul-teng­ge­lam di puncak-puncak ombak.

Petir menyam­bar. Sebuah kapal pecah, miring, kemu­dian teng­ge­lam.

“Jesus Maria!” sebut­nya. “Pan­tang mundur! Maju terus! Badai taufan bukan­lah tang­gung­ja­wabku.”

Isya­rat-isya­rat­nya meme­rin­tah­kan: Maju terus!

Kapal yang dikap­teni oleh Duarte Coelho tak dapat keluar dari ceng­kaman mata taufan. Seperti dalam cakar kucing kapal itu kemu­dian ter­ang­kat ke udara dan ter­bang dengan cepat­nya. Waktu ceng­kaman agak kendor ia menu­run, mener­jang kege­lapan, mene­pis air dan ter­lem­par ke daratan, melin­das pohon-pohon nyiur pantai, kemu­dian jatuh di atas rawa-rawa dengan menum­bang­kan pepo­honan. Air rawa itu menyem­bur ke atas dan lunas kapal menan­cap pada dasar­nya.

Kapal itu tak ber­ge­rak lagi dengan din­ding pecah ber­en­takan, Manu­sia di dalam­nya keha­bisan daya, adalah lak­sana jam­b­lang kocok. Hanya seo­rang dua tak meng­a­lami cedera, itu pun hanya karena kebe­tulan.

Duarte Coelho sen­diri ter­ge­le­tak di gela­dak dengan lengan patah. Namun ia masih mampu mem­be­ri­kan perin­tah. Dan perin­tah­nya yang ter­a­khir ter­de­ngar adalah: “Periksa kapal! Periksa di mana kita berada!”

Dua orang yang masih jaya ter­longok-longok heran meli­hat kapal tak lagi berada di atas laut. Di seki­tar­nya hanya semak-semak rawa.

“Ter­dam­par jauh di darat!” seo­rang di anta­ra­nya ber­seru.

“Sayang kapal seba­gus ini.”

Dan mata taufan itu ber­ge­rak terus mening­gal­kan mereka di tengah-tengah daerah rawa, tak sudi mengem­ba­li­kan ke laut lagi, terus mener­jang daratan ke jurusan teng­gara.

“Ter­dam­par jauh di darat!” pekik kelasi itu.

Tak ada yang menang­gapi. Ia turun ke tanah. Matari baru saja terbit. Ia pung­uti dan periksa pecahan din­ding dan melem­par­kan­nya ke tanah. Kemu­dian ia ber­diri di atas batang pohon kelapa rebah dengan akar-akar­nya jadi peng­gan­jal kapal ber­sama dengan batang-batang pohon lain.

‘Ter­dam­par di tengah-tengah rawa!” seru­nya ke atas.

Juga tak ada sam­butan.

Mereka naik lagi ke atas, lang­sung men­da­pat­kan Duarte Coelho yang ping­san tak sadar­kan diri.

Pra­ju­rit-pra­ju­rit Demak yang ber­tu­gas men­jaga per­ben­tengan men­de­ngar seo­rang ber­te­riak-teriak di bela­kang­nya, di daerah rawa-rawa. Ia ber­henti dan men­de­ng­ar­kan. Teri­akan itu juga ber­henti.

Daerah itu tak pernah dima­suki orang selama ini. Orang gentar pada demam rawa yang mem­bu­nuh. Maka ia lari men­da­pat­kan teman-teman­nya. Dan semua ragu-ragu. Daerah itu juga men­jadi sarang buaya besar. Dalam rawa-rawa dang­kal demi­kian buaya sama saja ber­ba­ha­ya­nya baik di air atau­pun di darat. Monyet dari atas pohon yang tak ber­bi­lang banyak­nya mung­kin juga akan menyu­l­it­kan bila yang mema­suki hanya bebe­rapa orang saja. Sera­tus orang kemu­dian masuk ber­ba­reng dengan tombak di tangan dan pedang di ping­gang. Dan mereka men­da­pat­kan kapal Por­tu­gis yang telah com­pang-cam­ping tanpa tiang tanpa layar. Mereka ter­diam. Tak pernah meli­hat sebuah kapal sebe­sar itu dapat men­da­rat begitu jauh dari laut. Hanya seo­rang Por­tu­gis ia lihat ber­ge­rak di dalam kapal itu. Kemu­dian seo­rang lagi.

Monyet pada meme­kik-mekik dan burung-burung ber­nya­nyi seperti lima ratus tahun yang lalu. Tak ada buaya nampak di seki­tar.

Mula-mula para pra­ju­rit berun­ding ber­bi­sik-bisik, kemu­dian men­de­ngar-dengar kan lagi. Tapi di atas kapal itu sunyi saja. Seo­rang pra­ju­rit meng­am­bil batu dan melem­bar­kan pada kapal Seo­rang Por­tu­gis muncul dan men­je­nguk ke bawah, kemu­dian pergi lagi.

Pera­tus meme­rin­tah­kan menyerbu. Mereka turun ke air, lang­sung menuju ke kapal. Dan mereka tak dapat naik, semua men­do­ng­ak­kan kepala ke atas.

Barisan pra­ju­rit di bela­kang datang mem­bawa batang-batang pohon yang habis dite­bang­nya. Orang mulai naik. Dua orang Por­tu­gis dengan pedang di tangan meng­han­tam setiap orang yang paling atas naik pada batang kayu itu. Dan meli­hat sema­kin banyak orang datang mem­bawa batang, mereka pun meng­gu­na­kan musket dan menem­baki.

Dari darat dilem­par­kan bebe­rapa tombak, dan dua orang Peranggi itu jatuh ke gela­dak. Seo­rang di anta­ra­nya menu­kik dari atas dan kepa­la­nya menan­cap pada lumpur dasar rawa. Ting­gal kaki­nya meleng­kung di atas air. Sese­o­rang meng­han­tam­kan pedang­nya, dan tubuh itu kemu­dian rebah.

Penyer­buan tiada yang meng­ha­langi. Mereka mulai naik ke gela­dak, mene­ro­bosi bing­kahan din­ding ke dalam paikah dengan tombak dan pedang ter­hu­nus. Yang mereka dapat­kan hanya tubuh-tubuh Peranggi yang ber­ge­lim­pangan tanpa daya.

Tombak dan pedang meng­ha­bisi mereka tanpa per­la­wanan. Dalam bilik­nya orang mene­mu­kan Duarte Coelho dengan tangan­nya yang sehat men­coba mem­be­ri­kan per­la­wanan. Per­ta­rungan dengan pedang seben­tar ber­laku. Baja beradu baja ber­den­tingan seben­tar kemu­dian padam sama sekali. Sebi­lah tombak telah melum­puh­kan Duarte Coelho dari lam­bung. Ia jatuh ter­ka­par.

Pra­ju­rit Demak ber­so­rak-sorak di antara bang­kai-bang­kai ber­ge­lim­pangan.

Sebe­lum meng­em­bus­kan napas peng­ha­bisan Duarte Coelho masih sempat bicara dalam Melayu: “Kami datang untuk ber­sa­ha­bat.”

Ia sudah tak men­de­ngar lagi waktu pra­ju­rit Demak men­ja­wab­i­nya.

Tak antara lama sera­tus pra­ju­rit lagi datang. Selu­ruh kapal com­pang-cam­ping itu dipe­riksa. Semua benda dikum­pul­kan di gela­dak ter­ma­suk sem­bi­lan pucuk meriam, peluru dan mesiu, alat makan dan dapur, musket, per­ka­kas tukang, buku, per­se­di­aan bahan makanan, obat-obatan, alat kebak­tian, patung dan salib milik pri­badi awak kapal.

Pera­tus itu meme­rin­tah­kan menu­run­kan semua dan mem­per­se­m­bah­kan pada Fat­hil­lah. Demi­kian mereka meng­ang­kuti sambil ber­so­rak-sorai mela­lui jalan seta­pak yang baru dir­e­tas.

Seba­gian dari para pra­ju­rit men­da­pat perin­tah mem­bi­kin jem­batan untuk menu­run­kan meriam dan barang-barang berat lain. Seba­gian men­da­pat perin­tah mem­bi­kin tali. Tapi seba­gian besar mela­ku­kan peng­ang­kutan.

Daerah rawa yang bia­sa­nya tiada ber­ma­nu­sia itu kini riuh-rendah. Monyet dan mar­ga­satwa pun beter­bangan mela­ri­kan diri. Asap mulai menge­pul untuk men­je­rang­kan air minum dan makan siang.

Tengah hari Fat­hil­lah sen­diri memer­lu­kan datang dan mela­ku­kan peme­rik­saan ke selu­ruh kapal, sampai-sampai pada kamar mandi dan kamar kecil. Ia teng­ge­lam dalam renungan, dan tiada seo­rang pun tahu apa sedang ber­ge­rak dalam hati­nya. Ia turun dari kapal dalam kea­daan teng­ge­lam dalam piki­ran­nya dan kem­bali ke bandar.

Orang men­duga ia sedang meli­hat sen­diri akibat dari penang­gu­lan pesi­sir bandar yang meng­ha­langi pasang-surut air di rawa-rawa. Seba­gian ter­be­sar tak punya dugaan sesu­atu, mabok men­da­pat jarahan.

Tak berapa lama ia pergi datang sera­tus orang pra­ju­rit tam­ba­han untuk mela­ku­kan kerja peng­ang­kutan dan mele­bar­kan jalan seta­pak untuk dapat dila­lui oleh barang-barang besar.

Markas Fat­hil­lah ber­diri di atas tanah yang tinggi meng­ha­dapi tanah lapang.

Barang-barang jarahan ditum­puk di depan rumah ini. Dalam waktu pendek orang datang ber­du­yun-duyun untuk meli­hat-lihat barang aneh, seba­gian tak jelas apa guna­nya.

Fat­hil­lah ber­ja­lan mondar-mandir dalam mar­kas­nya menunggu datang­nya meriam-meriam ram­pasan. Tetapi barang-barang berat itu hanya dengan susah-payah saja bisa melin­tasi daerah rawa ber­ta­nah lunak ber­cam­pur han­curan lur­u­han deda­unan.

Waktu musket-musket datang ia keluar dari markas dan meme­rin­tah­kan mem­bong­kar­nya dari ikatan. Dipe­rin­tah­kan­nya datang pasukan penga­wal­nya dan mem­bagi-bagi­kan­nya pada mereka, kemu­dian sen­diri mem­be­ri­kan petun­juk bagai­mana meng­gu­na­kan­nya. Dua ratus pucuk telah dir­am­pas pada hari itu.

Seo­rang pra­ju­rit mem­per­se­m­bah­kan pada­nya sebuah bola dunia dan ia mene­rima per­se­m­ba­han itu dengan kaki dan menen­dang­nya. Dunia meng­ge­lin­ding dan ber­henti pada kaki seo­rang pra­ju­rit, tanpa jagang.

Pra­ju­rit, yang men­duga bola itu barang sihir, melom­pat kecut. Keta­kutan menye­bab­kan wajah­nya nampak jadi ungu.

‘Ten­dang!” perin­tah Fat­hil­lah.

Bola itu diten­dang oleh pra­ju­rit lain lagi, meng­ge­lin­ding dan meng­ge­lin­ding, diten­dang dan diten­dang. Waktu jatuh ke laut benda itu telah penyek.

Sebuah tero­pong yang diha­dap­kan segera diam­bil oleh Fat­hil­lah. Ia meme­rik­sa­nya seben­tar kemu­dian meng­gu­na­kan­nya untuk mene­ro­pong laut lepas. Benda itu ia pan­jang-pen­dek­kan. Ia lepas. Diko­cok­nya mata­nya. Meng­ge­leng dan mene­ro­pong lagi. Kem­bali benda itu dipe­rik­sa­nya, kemu­dian dipen­dek-pan­jang­kan. Mene­ro­pong lagi ke laut lepas. Kemu­dian meli­hat dengan mata telan­jang pada ke jauhan dan mene­ro­pong lagi.

Ia ber­pi­kir seben­tar. Kemu­dian ber­ta­nya pada pengiring yang ber­diri di bela­kang­nya; dalam Melayu: “Coba lihat sana, benar­kah yang aku lihat dengan tero­pong ter­ku­tuk ini?”

“Ada patik lihat, Gusti, tapi tidak jelas,” jawab pengiring itu, juga dalam Melayu.

“Apa yang kau lihat?”

“Bebe­rapa titik putih. Gusti.”

“Coba dengan ini.”

Pengiring itu menge­na­kan tero­pong, mele­pas dan menge­na­kan­nya kem­bali, mele­pas dan meme­riksa kaca-kaca tero­pong, kemu­dian menin­jau dengan mata telan­jang dan menge­na­kan­nya lagi.

“Apa kau lihat?”

“Tiga kapal asing, Gusti, dengan tero­pong ini.”

Fat­hil­lah meng­am­bil tero­pong itu dan menge­na­kan­nya. Kemu­dian dipang­gil­nya seo­rang lagi dan disu­r­uh­nya meli­hat ke keja­uhan, sete­lah itu disu­r­uh­nya dengan tero­pong.

“Dengan barang ini muncul tiga kapal asing, Gusti, sedang menuju ke Sunda Kelapa.”

“Peng­ang­kutan meriam supaya lebih cepat!” perin­tah­nya pada yang lain.

Dan meriam yang sudah ada ia perin­tah­kan dipa­sang di bela­kang ben­tengan kayu bakau-bakau.

“Dan peluru dan mesi­u­nya. Cepat! Tambah tiga ratus pra­ju­rit lagi untuk meng­ang­kut!” perin­tah­nya pada seo­rang pera­tus Demak.

Orang itu lari untuk men­ja­lan­kan perin­tah.

Lima pucuk meriam telah ter­pa­sang di balik ben­tengan. Fat­hil­lah sen­diri mem­beri petun­juk cara meng­gu­na­kan seba­gai­mana pernah dide­ngar-deng­ar­nya dari Arabia dan Mesir. Peluru dan mesiu di bagi-bagi­kan dari tangan ke tangan.

Fat­hil­lah mela­rang siapa pun mela­ku­kan serangan tanpa perin­tah, Ia meng­hen­daki per­tem­puran di darat untuk dapat meram­pas semua kapal Por­tu­gis yang datang dan meren­ca­na­kan penyer­gapan tapal kuda jarak bebe­rapa ratus depa.

“Hen­ti­kan peng­ang­kutan!” seo­rang pera­tus mene­rus­kan perin­tah Fat­hil­lah. “Siap­kan pedang dan tombak.”

Mon­cong-mon­cong meriam ram­pasan telah ditu­ju­kan pada sisa armada Fran­cisco de Sa yang men­da­tangi. Semua ter­lin­dung oleh semak-semak asli dan buatan. Dan semua orang ber­be­sar hati dengan adanya meriam.

Dengan tero­pong di tangan Fat­hil­lah mela­ku­kan peme­rik­saan di selu­ruh medan dengan ber­ja­lan kaki.

Seben­tar lagi, ya seben­tar lagi, hari ini juga, kapal-kapal itu akan teram­pas dengan selu­ruh isinya, dan anak buah­nya tumpas.

Pang­lima-Lak­sa­m­ana-Guber­nur mene­ro­pong dan mene­ro­pong. Betapa lama rasa­nya. Dan kapal-kapal itu sema­kin lama sema­kin mem­be­sar. Juga nyamuk sema­kin giat menye­rang mereka yang ber­si­aga dalam kea­daan diam. Betapa lama. Dan memang lama.

Kapal-kapal itu ter­nyata tidak mema­suki muara Cili­wung. Tiga-tiga­nya mem­bu­ang sauh jauh dari darat. Lama, lama sekali rasa­nya, baru kemu­dian mereka menu­run-nurun­kan sekoci. Mereka yang mela­yani meriam tanpa pernah ber­la­tih telah gatal tangan untuk segera menem­bak. Mereka yang men­da­pat pem­ba­gian musket juga tanpa pernah ber­la­tih telah geli­sah. Seti­dak-tidak­nya balat­en­tara Jepara-Demak sedang dalam sema­ngat tinggi.

Kapal-kapal mulai menu­ang­kan pra­ju­r­it­nya ke semua sekoci, dan ber­i­ringan seperti itik menuju ke muara Cili­wung. Setiap orang menyan­dang musket pan­jang. Duduk pada dasar sekoci musket mereka meng­ger­mang ke atas, lebih tinggi dari kepala mereka. Dari tem­pat­nya yang ter­lin­dung Fat­hil­lah mene­ro­pong. “Mereka turun ke sekoci dengan tangga tali’ ia mem­per­i­ng­at­kan. “Hati-hati. Mereka keli­hatan lelah. Biar­pun begitu, awas. Peranggi tetap Peranggi. Tak seo­rang pun bakal menye­rah tanpa ber­ke­lahi. Mereka lebih suka tewas dari­pada ber­te­kuk lutut. Jangan gega­bah. Kita akan sergap tepat pada wak­tu­nya’

Ser­dadu-ser­dadu Por­tu­gis itu ditu­run­kan di tepian muara Cili­wung. Sekoci-sekoci kem­bali lagi ke kapal untuk mene­rus­kan pen­da­ratan.

“Awasi setiap gerak-gerak­nya,” Fat­hil­lah mene­kan keke­ce­waan karena yang turun men­da­rat selu­r­uh­nya hanya ber­jum­lah dela­pan puluh orang. Kapal-kapal di sana itu tetap ter­jaga dari dalam.

Dari tero­pong­nya ia meli­hat meriam-meriam kapal ditu­ju­kan ke darat. Mereka meng­am­bil jarak di luar daya tembak cet­bang.

“Mereka yang men­da­rat harus ditum­pas. Kapal-kapal­nya kemu­dian ditem­baki, teng­ge­lam atau lan ter­sapu.”

Dari tero­pong itu juga nampak oleh­nya seo­rang tidak ber­se­na­pan serba putih. Ber­beda dari yang lain, topi­nya dihias dengan jumbai-jumbai kuning dan pada dada­nya ter­hias selem­pang merah Itulah Fran­cisco de Sa.

Ser­dadu-ser­dadu yang telah turun mulai diba­ris­kan. Fran­cisco de Sa ber­ja­lan dalam iringan tiga orang. Kemu­dian selu­ruh barisan itu meng­iring­i­nya. Mereka menuju ke lap­angan bandar. Dan barisan itu ber­henti.

Fran­cisco de Sa ber­henti, menin­jau ke segala pen­juru. Nam­pak­nya ia heran tak meli­hat seo­rang pun. Tak ada orang bekerja, tak ada yang jalan-jalan. Ia pun tak tahu sama sekali Sunda Kelapa sudah jatuh dan tangan Paja­jaran pada Demak, Ia ber­ja­lan bebe­rapa belas depa ke depan, ke sam­ping, kemu­dian kem­bali ke barisan.

Dengan iringan tiga orang ia kem­bali ke tepi Cili­wung, ke muara. Ia mulai per­ha­ti­kan perahu-perahu yang ter­tam­bat, semua tanpa manu­sia. Dan sekoci-seko­ci­nya ter­can­cang rapi seperti susunan ikan. Semua tanpa manu­sia.

Ia kem­bali lagi pada barisan.

Seo­rang pengiring mem­be­ri­kan piki­ran pada­nya, mung­kin pen­du­duk Sunda Kelapa masih keta­kutan pada taufan dan mela­ri­kan diri ke pegu­nungan. De Sa mem­ban­tah, karena bukan adat pelaut lari dari angin. Mung­kin sedang mera­ya­kan pesta di peda­laman.

Seo­rang pengiring lain menya­ran­kan untuk mem­bawa naik pasukan ke Paja­jaran. Ia meng­ge­leng. Ia tak mau kehi­langan ter­lalu banyak waktu. Ia hanya bisa mem­be­ri­kan jatah tiga bulan. Maka ia meng­hen­daki segera ber­temu dengan Pange­ran Sunda Kelapa, Guber­nur bandar, untuk segera bisa memu­lai peker­jaan. Dan bila per­te­muan tak mung­kin, peker­jaan akan dimu­lai tanpa sepe­nge­ta­huan Sang Guber­nur.

Dan di mana pula Syah­ban­dar?

Dari peng­a­laman di Tuban ia meng­erti, bila seo­rang Syah­ban­dar tak datang menyam­but sewaktu Por­tu­gis datang, pasti ada sesu­atu yang tidak beres.

Di mana Syah­ban­dar?

Bahkan jalan-jalan sampai yang seke­cil-kecil­nya pun ting­gal leng­ang tak ber­ma­nu­sia.

Tak tahan ter­ke­pung oleh kese­nyapan Fran­cisco de Sa men­jadi pena­saran. Ia ber­ja­lan cepat menuju ke kantor Syah­ban­dar dan ber­te­riak ken­cang; tangan dico­r­ong­kan pada mulut: “Syah­ban­dar! Syah­ban­dar!”

Hanya deburan laut jua yang men­ja­wab.

Ia mem­be­ri­kan perin­tah agar pasuk­an­nya ber­ge­rak maju. Dan maju­lah pasukan kecil itu. Semua ber­ba­ris menuju ke tempat kantor Syah­ban­dar, kemu­dian mem­be­lok ke kanan menuju ke tempat tugu per­jan­jian Por­tu­gis-Paja­jaran.

Fran­cisco de Sa men­jadi murka meli­hat tugu itu telah hancur dan ting­gal pun­tung­nya di atas lan­dasan batu segi empat. Ia seli­diki luka pada Ipa­tahan batu itu dan menge­ta­hui belum lama ber­se­lang suatu peru­sakan dengan sen­jata telah dila­ku­kan oleh orang: suatu keku­atan telah menan­tang per­jan­jian itu. Ia perin­tah­kan pasuk­an­nya siap tempur.

Semua yang ter­jadi dii­kuti oleh Fat­hil­lah dari tero­pong ram­pasan.

Pasukan kecil Por­tu­gis itu ber­siap-siap untuk balik ke laut sambil siaga ber­ba­ris mundur meng­ha­dap ke daratan menuju ke tempat sekoci.

Fran­cisco de Sa mena­rik pan­dang tinggi, meme­kik.

Dari balik semak-semak pasukan Demak ber­so­rak-sorak sambil melem­par­kan tombak. Musket Demak tak ada sepu­cuk pun mele­dak. Contoh peng­gu­naan yang dibe­ri­kan oleh Fat­hil­lah ter­nyata tidak kena.

Pra­ju­rit-pra­ju­rit Por­tu­gis memen­car barisan. Tem­bak­an­nya mulai ter­de­ngar. Mula-mula satu-satu, kemu­dian ber­ge­lom­bang-gelom­bang. Sem­buran pelu­ru­nya beter­bangan dan ber­ja­tuhan men­jadi hujan logam.

Meriam ram­pasan mulai ber­den­taman dari balik semak-semak dan tang­gul. Pelu­ru­nya beter­bangan ke arah kapal-kapal Por­tu­gis. Tangan-tangan tak ter­la­tih itu meng­ham­bur­kan peluru tanpa menge­nai sasaran.

Pra­ju­rit-pra­ju­rit Demak sudah mulai ber­ge­lim­pangan.

Fat­hil­lah segera meng­erti, per­tem­puran jarak jauh akan meng­un­tung­kan Por­tu­gis. Dengan jarak dekat mereka takkan segera dapat menyi­ap­kan sen­ja­t­a­nya. Ia perin­tah­kan pelem­paran tombak terus-mene­rus sambil mener­jang maju. Dengan pedang di tangan ia pimpin sen­diri penyer­gapan. Jubah putih dan ujung-ujung destar putih­nya ber­ki­bar-kibar dalam puputan angin seperti melam­bai-lambai pada baris­an­nya.

Pasukan Por­tu­gis menye­la­mat­kan Fran­cisco de Sa di tengah-tengah­nya sambil terus mundur ke jurusan Cili­wung. Mereka sama sekali tidak ber­so­rak-sorak. Hanya ter­de­ngar aba-aba dari seo­rang saja, dan sua­ra­nya nya­ring, keras, dan dengan pedang dilam­bai-lam­bai­kan ke udara. Mereka yang roboh ter­kena tombak diting­gal­kan dalam gerakan mundur. Tak seo­rang pun korban mereka bawa.

Dari sebe­rang Cili­wung ten­tara Demak mulai ber­so­rak-sorak menuju ke sasaran. Meli­hat sedang di tapal kuda pasukan Por­tu­gis mele­pas­kan tem­bakan sekali lagi dan buyar bere­but dulu turun ke sekoci masing-masing. Yang tak men­da­pat tempat melom­pat dalam sampan dan perahu pen­du­duk.

Dari sebe­rang ten­tara Demak mulai mena­iki biduk juga dan menge­jar, dan melem­par­kan tombak dan mele­pas­kan anak panah. Por­tu­gis mem­ba­las dengan tem­bakan-tem­bakan sehingga para penge­jar dipaksa ber­henti dan ting­gal hanya ber­so­rak-sorak seperti meng­ha­lau babi hutan.

Tak sebuah pun sekoci Por­tu­gis ter­ting­gal. Mereka men­da­yung ber­pen­caran mela­lui peluru meriam Demak yang ber­ja­tuhan di laut. Satu-dua di antara peluru-peluru itu telah menge­nai salah satu di anta­ra­nya, oleng, dan penum­pang­nya ber­lom­patan ke laut.

Dari tero­pong­nya Fat­hil­lah meli­hat Fran­cisco de Sa tetap ber­diri di atas biduk, ber­te­le­kun pada hulu pedang dan mata­nya ter­paku pada Sunda Kelapa. Wajah­nya merah padam karena murka. Dan nam­pak­nya ia tak tahu apa harus diper­bu­at­nya.

Meriam-meriam kapal tak dapat lelu­asa menem­bak, takut menge­nai teman-teman­nya sen­diri.

Fran­cisco de Sa menge­ta­hui usa­ha­nya gagal, Ia tak berani men­da­rat­kan pasuk­an­nya.

22 Juni 1527

Dengan masih mene­ro­pong Fat­hil­lah menga­ta­kan, seakan sudah seia dengan Wirang­gal­eng: “Mereka takkan datangi lagi tempat di mana mereka pernah dika­lah­kan.”

Biduk-biduk itu telah sampai di kapal masing-masing. Mereka bemai­kan dari tangga tali. Dan sesu­atu yang meng­he­ran­kan telah ter­jadi: Por­tu­gis tak mele­pas­kan satu peluru pun dari meriam-meri­am­nya.

Sauh-sauh diang­kat. Layar dipa­sang, dan ber­la­yar­lah sisa armada yang habis diter­jang taufan dan diha­lau Fat­hil­lah itu menuju ke timur, men­ja­uhi pesi­sir pulau Jawa.

Ten­tara Jepara-Demak ber­so­rak-sorai dalam kegem­bi­ra­an­nya. Walau banyak korban jatuh, mereka pun telah pernah meng­ha­dapi Peranggi le-lana­nging jagad dalam suatu per­tem­puran sesung­guh­nya. Pera­saan rendah takut pada Peranggi yang dah­syat itu tiba-tiba men­jadi pudar Peranggi ter­nyata memang hanya manu­sia biasa yang dapat juga diha­lau.

Di tengah-tengah pasuk­an­nya sen­diri Fat­hil­lah meng­u­mum­kan: “Dengan nama Allah yang Maha Pemu­rah dan Maha Penga­sih, pada hari ini dengan keku­atan yang dilim­pah­kan-Nya pada kita, kita telah halau Peranggi ke laut. Insya Allah mereka takkan meng­in­jak­kan kaki lagi di bumi kita ini. Seba­gai per­i­ng­atan atas peris­tiwa ini, aku nya­ta­kan bandar ini ber­ganti nama, dan men­j­a­dilah Jaya­karta. Jaya pada awal dan kemu­di­an­nya, karta untuk selama-lama­nya.”

Berita peng­ha­lauan Por­tu­gis dari Sunda Kelapa dan ter­dam­par­nya kapal­nya di rawa-rawa, segera ter­de­ngar di Pan­jang. Di mana-mana ter­ben­tuk gerom­bolan orang yang mem­bi­ca­ra­kan­nya dengan ber­se­ma­ngat.

Tetapi sau­da­gar-sau­da­gar lada ber­ka­bung: lada mereka tetap ter­tum­puk di bedeng-bedeng.

Untuk dapat mem­be­ri­ta­kan pada Wirang­gal­eng dengan lebih jelas Pada memu­tus­kan untuk sekali lagi menunda kebe­rang­kat­an­nya ke Malaka. Dan istri­nya menyam­but putus­an­nya tanpa bicara. Maka dengan istri­nya setiap hari ia ber­ge­lan­dangan di bandar kecil yang men­da­dak kehi­langan kegem­bi­ra­an­nya itu.

Berita Por­tu­gis akan meng­am­bil lada tak ter­de­ngar lagi.

Berita lain datang menyu­sul: sisa armada Por­tu­gis itu ber­la­yar terus ke timur dengan meng­hin­dari setiap per­te­muan dengan armada Jepara-Demak.

Maka waktu berita itu sampai ke Teluk Bayur, kapal-kapal Parsi, Arab, Beng­gala, yang masih ragu-ragu hendak mene­rus­kan pela­yar­an­nya ke selatan meng­ang­kat sauh, bere­but cepat men­da­pat­kan lada di Pan­jang.

Sau­da­gar-sau­da­gar lada di Pan­jang mele­pas barang­nya seda­pat ia jual.

Pada dan Sabar­ini bekerja memung­gah lada untuk peng­hi­dup­an­nya. Maka ia tahu har­ga­nya tidak setinggi bia­sa­nya. Mung­kin juga Peranggi ber­janji hendak meng­am­bil­nya dengan harga lebih mahal.

Waktu kapal-kapal berang­kat lagi, ter­nyata masih ter­lalu banyak tum­pukan lada yang belum ter­jual. Bandar kem­bali jadi senyap. Perahu-perahu layar Pri­bumi mulai mem­beli sisa itu dan meng­ang­kut­nya ke Pasai atau Malaka. Dengan lada bandar-bandar dalam keku­a­saan Por­tu­gis selalu ter­buka.

Dengan habis­nya lada dan kosong­nya bedeng-bedeng, kem­bali Pada dan Sabar­ini tak mem­pu­nyai suatu peker­jaan ter­tentu. Berdua mereka ting­gal di bandar dengan kegi­atan hanya men­de­ngar-deng­ar­kan berita. Pada suatu hari dalam kehi­dup­an­nya seperti ini datang sebuah perahu layar dari Madura, mem­bawa berita, bahwa bandar Banten dan Jaya­karta untuk ke dua kali­nya telah dinya­ta­kan seba­gai bandar bebas oleh Fat­hil­lah. Memang perahu-perahu mulai ber­da­tangan, tetapi tidak untuk ber­da­gang, hanya untuk men­da­pat­kan air dan beras dan sayuran.

Dan waktu orang ber­ta­nya bagai­mana kea­daan bandar Cimanuk seka­rang, nakhoda perahu Madura itu sambil melom­pat ke darat ber­kata dengan suara lan­tang: ‘Tetap, belum dinya­ta­kan bebas. Tak ada per­da­gangan di sana. Jangan kalian coba-coba ke sana. Bisa dir­a­yah oleh ser­dadu-ser­dadu itu.”

Orang-orang meru­bung­nya. Dan Pada ber­ta­nya: “Tidak ber­temu dengan armada Peranggi?”

“Alham­dul­il­lah, kami sela­mat Yang lain-lain tak dapat meng­hin­dar­kan diri. Mereka seperti kerbau gila, bede­bah ter­ku­tuk itu. Tidak puas hanya mem­ba­jak. Semua orang dari Tuban dan Demak dan Jepara dibu­nuh,” Nakhoda Madura itu men­ja­wab sambil memi­lin kumis­nya yang tebal.

“Di mana ber­temu dengan mereka?”

“Di atas Juana.”

“Jadi mereka tak men­da­rat di Jepara?”

“Tidak. Sete­lah Juana mereka mulai men­de­kati pantai. Tapi mereka terus ke jurusan timur.”

“Ke Blam­bangan barang­kali?”

“Boleh jadi. Seti­dak-tidak­nya mema­suki wila­yah Demak mereka tidak berani.” Berita itu tidak leng­kap dan belum tentu benar. Pada belum lagi puas. Ia masih harus menunggu.

Kapal-kapal dari Atas Angin ber­da­tangan lagi mela­lui barat Suma­tra. Dan Por­tu­gis tak kun­jung tiba. Lada yang dida­tang­kan oleh para penye­lun­dup dari luar bandar-bandar dalam keku­a­saan Demak memang terus ber­da­tangan, tetapi jum­lah­nya tidak men­cu­kupi untuk meme­nuhi per­min­taan. Harga men­jadi sangat tinggi. Memang pen­ju­alan ber­ja­lan sangat cepat, per­se­di­aan habis, tetapi kea­daan tidak meng­un­tung­kan Pan­jang. Kapal-kapal itu mene­rus­kan per­ja­lanan ke teng­gara, ke Jaya­kar-ta dan Banten sen­diri.

Nam­pak­nya Fat­hil­lah kini ber­ha­sil dengan pem­be­basan bandar-ban­dar­nya. Kapal-kapal Atas Angin mulai ter­se­dot ke sana. Aki­bat­nya bandar Pan­jang surut men­jadi sepi seperti semula. Akibat selan­jur­nya: pekerja-pekerja bandar tak punya peker­jaan lagi. Mereka kem­bali naik ke peda­laman untuk mengu­rus lada. Pada dan Sabar­ini ikut saja dengan arus, mema­suki peda­laman dan men­cari peng­hi­dupan seperti yang lain-lain.

Sebuah berita hebat telah pecah, menga­bar­kan Por­tu­gis akan datang meng­am­bil lada yang telah dijan­ji­kan. Orang pun ber­bon­dong-bon­dong turun ke bandar Pan­jang. Peda­gang-peda­gang lada sedang sibuk meng­ang­kuti barang-barang­nya untuk mela­ri­kan diri dari bandar. Tia­da­nya per­se­di­aan lada akan menye­bab­kan Por­tu­gis bakal mela­ku­kan pem­ba­lasan dendam ter­ha­dap selu­ruh bandar. Pen­du­duk lain­nya juga sedang siap-siap untuk meng­ungsi.

Waktu Pada dan Sabar­ini sampai, yang mereka dapat­kan adalah sebuah perahu layar Bali. Awak perahu segera dir­u­bung orang untuk men­da­pat­kan beri­ta­nya.

“Kami takkan dapat­kan lada di Tuban,” kata­nya. “Ke Jaya­karta dan Banten kami takut. Kami bukan Islam. Maka kami cari lada kemari. Lagi pula, kata orang, harga lada di sana ter­lalu tinggi, maka kami terus kemari.”

Men­de­ngar Tuban dise­but-sebut Pada men­de­sak ke depan dan ber­ta­nya: “Apakah Peranggi tidak men­da­rat di Tuban?”

“Takkan dida­pat­kan sesu­atu di Tuban. Mereka men­da­rat dan meng­a­muk di sana.”

“Siapa mereka? Mak­sudmu Peranggi?”

“Siapa lagi kalau bukan Peranggi?”

“Bukan­kah Tuban sudah jadi daerah Demak?”

‘Tidak. Hanya sehari Demak mema­suki Tuban. Mereka diusir keluar lagi oleh pasukan kuda dan gajah, jatuh lagi ke tangan balat­en­tara Tuban. Pada waktu itulah Peranggi masuk.”

“Jelas Peranggi sudah mengu­a­sai Tuban?”

“Seti­dak-tidak­nya begi­tu­lah yang kami dengar.”

“Jadi bagai­mana halnya dengan balat­en­tara Tuban dan Demak?”

“Tuban meng­un­dur­kan diri ke luar kota. Demak tidak mene­rus­kan serang­an­nya ke Tuban.”

“Jadi Tuban kena kero­yok?”

“Boleh jadi begitu jadi­nya.”

Pada mena­rik tangan istri­nya dan dia­jak­nya pergi. Mereka mema­suki bedeng kosong dan ber­diri diam-diam meng­a­wasi laut, mem­per­ha­ti­kan perahu mereka yang sudah lama tiada mereka per­gu­na­kan.

“Sabar­ini, sele­sai­lah sudah urusan kita di Pan­jang ini. Kita akan terus­kan pela­yaran.”

“Karena berita-berita itu?”

“Karena berita-berita itu, Sabar­ini.”

“Bukan­kah belum tentu semua itu benar?”

“Seo­rang nakhoda sela­ma­nya bicara benar. Kalau tidak dia akan jadi ter­ta­waan di setiap bandar, peng­hi­dup­an­nya akan mati.”


Bab 38

Yang Lola di Semenanjung

Hari itu Hang Wira ber­kun­jung ke kam­pung-kam­pung pen­du­duk. Kemu­dian juga mema­suki kam­pung-kam­pung para pra­ju­rit Tuban dan Bugis, yang kini telah men­jadi petani atau nela­yan sepe­nuh­nya. Mereka telah bel­a­jar melu­pa­kan negeri kela­hiran masing-masing.

Dan dengan men­jadi petani atau nela­yan sepe­nuh­nya, dengan wanita setem­pat yang kini jadi istri­nya, per­gu­latan untuk meme­nuhi kehi­dupan sehari-hari telah meng­gan­ti­kan per­ju­angan ber­sen­jata. Per­da­gangan dan per­tu­karan barang telah men­de­sak jiwa pra­ju­rit dan kebi­a­saan pra­ju­rit.

Bila setiap hari seo­rang suami-istri ber­ha­sil dapat mena­nam lima belas pohon pisang, sete­lah mem­ba­bat semak dan mene­bang hutan, ber­arti mereka telah menyim­pan lima belas hari bahan makanan untuk tahun yang akan datang. Dan bila mereka ber­ha­sil mena­nam jagung sele­bar dua puluh depa per­segi setiap hari, mereka telah menyim­pan sepu­luh hari makanan sehari untuk empat bulan men­da­tang, justru pada waktu pengan­tin baru mereka harus bekerja keras. Tahun depan seo­rang bayi akan lahir atas nama mereka, dan tenaga bakal ting­gal sang suami saja.

Wirang­gal­eng tahu, ia tak mampu meng­a­tasi keme­ro­sotan pra­ju­rit-pra­ju­rit. Dan dalam bicara dengan mereka ia ber­u­saha baik-baik menu­tupi keke­ce­wa­an­nya, apa­lagi bila meng­ha­dapi istri-istri mereka.

Dan di mana-mana suara mereka sama saja: “Apakah yang bisa diha­rap­kan lagi di Jawa? Kami dapat mati sia-sia untuk meng­a­bdi tidak menentu. Ampuni kami, Sena­pa­tiku.”

Ya, mereka lebih berhak atas diri masing-masing, lebih berhak dari­pada Treng­gono atau­pun Sang Adi­pati. Sete­lah Sultan Demak mene­rus­kan usa­ha­nya untuk mengu­a­sai Jawa, keper­ca­yaan orang pada­nya jatuh, dan pem­be­basan Malaka bukan saja ting­gal jadi impian di langit biru, malah telah jadi lelu­con yang mengi­ba­kan.

Wirang­gal­eng meng­har­gai pera­saan mereka. Ia tak mem­pu­nyai keku­atan atau hak apa pun untuk men­ce­gah keme­ro­sotan.

Kegi­atan keten­ta­raan ting­gal hanya kesi­bukan per­ta­hanan. Menye­rang mereka sudah tidak lagi. Lagi pula Por­tu­gis tidak lagi meronda keluar per­ba­ta­san kota Malaka. Suatu gen­ca­tan sen­jata ber­ja­lan dengan diam-diam tanpa per­se­tu­juan tanpa per­jan­jian.

Dan semua itu mem­bi­kin hati Wirang­gal­eng men­jadi leng­ang, Ia tak meli­hat adanya hari depan yang lebih baik dari­pada masa kini, baik untuk nege­ri­nya sen­diri maupun untuk diri sen­diri. Tak ada tanda-tanda kebe­saran dan keja­yaan yang bisa dipang­gil dari gua­garba hari depan. Hari depan itu sen­diri tidak ada. Yang ada hanya keko­songan yang menga­nga, bolong dan melom­pong.

Dalam salah satu per­te­muan malah ia pernah dengar kata-kata ini: “Sena­pa­tiku, apa sesung­guh­nya yang kita kehen­daki? Toh bukan kema­tian yang per­cuma?”

Demi­ki­an­lah ia ber­ja­lan dari gubuk ke gubuk, dari kam­pung ke kam­pung. Di mana-mana pisang dalam per­tum­buhan, dan pohon-pohon buah, dan pohon-pohon turi sepan­jang jalan baru, kecil sempit dan belum lurus.

Luas daerah per­ta­nian itu kini men­jadi ber­li­pat ganda, dan setiap bekas pra­ju­rit memi­l­iki jauh lebih luas dari­pada pen­du­duk asli. Bebe­rapa orang malah mulai mem­buka kebun kelapa, ceng­keh dan barus.

Kelengangan di dalam hati itu men­co­poti keku­at­an­nya untuk ber­pr­a­karsa. Jiwa­nya lung­lai meng­ga­pai-gapai. Setiap kali ia men­coba men­da­pat­kan pegangan baru, setiap kali pula luput. Gapaian ting­gal gapaian, dan piki­ran­nya mem­bun­cah murka bila ter­i­ngat pada peng­khi­a­natan dari segala pen­juru yang nam­pak­nya dicu­r­ah­kan pada dir­i­nya seo­rang. Dan keme­ro­sotan anak buah­nya melun­cur terus ke bawah.

Dengan seo­rang istri orang sudah ber­te­kad mene­tap di Seme­nan­jung ini, pikir­nya. Mereka telah men­da­pat­kan segala-gala­nya dalam hidup­nya: Istri, rumah, ladang, anak, keda­maian, peng­hi­dupan, tanpa gang­guan seo­rang raja atau sultan. Tanah di sini lebih subur dari­pada Tuban, Demak atau­pun Jepara. Air men­cu­kupi. Dan raja-raja di Jawa sana hanya sibuk cari kebe­saran dan keka­yaan dan mele­pas nafsu sen­diri. Ya, mereka berhak ber­pi­hak pada hidup dan dir­i­nya sen­diri.

Ia ber­ja­lan terus ke daerah yang jalan-jalan­nya belum lagi ter­a­tur, mema­suki kam­pung-kam­pung yang lebih baru. Dan setiap kelu­arga me nyam­but­nya dengan ramah. Itulah satu-satu­nya peng­hi­bur dir­i­nya. Dari seo­rang Sena­pati dan Pang­lima pasukan gabungan ia beru­bah jadi seo­rang tetua bagi mereka. Dan apa lagi yang ia bisa per­buat kalau sudah ada tam­ba­han bayi seba­gai tam­ba­han war­ga­nya? Bayi kela­hiran Seme­nan­jung? Tak menge­nal Tuban dan Jawa?

Memang tak ada yang diper­bu­at­nya. Keme­ro­sotan kep­ra­ju­r­i­tan me luncur terus menuju ke titik ter­da­lam.

Pada suatu sore ia mema­suki kam­pung pen­du­duk asli.

Seo­rang wanita ber­lu­tut di hadap­an­nya, menyem­bah dan mena­ngis: “Hang Wira, ampun­i­lah sahaya, tolong­lah sahaya.”

Kemu­dian datang juga sua­mi­nya, ber­diri angkuh meme­gangi hulu parang dan mena­tap­nya dengan pan­dangan meng­an­cam. Tak lama kemu­dian selu­ruh pen­du­duk kam­pung dari bebe­rapa rumah itu datang meru­bung.

“Apa aku bisa tolong­kan. Perem­puan?”

“Anak sahaya, Hang Wira, seo­rang Tuban telah men­cu­l­ik­nya, anak pera­wan sahaya. Kem­ba­li­kan dia pada sahaya.”

“Kalian datang kemari memang hanya mau bikin rusuh!” ter­de­ngar suara parau sua­mi­nya yang masih juga meme­gangi hulu parang. “Kem­ba­li­kan anakku!”

“Anakmu akan dika­wini dengan baik-baik, perem­puan. Bukan­kah semua pernah dengar sudah tiga orang pra­ju­rit Tuban dija­tuhi hukuman mati karena per­ko­saan?”

“Kem­ba­li­kan anakku!” suara parau sua­mi­nya sema­kin meng­an­cam. “Tak bisa kami diper­la­ku­kan begini lebih lama.”

“Hai, Perem­puan, anak itu anakmu atau­kah anak lelaki ini?”

“Anak sahaya sen­diri.”

“Mak­sudmu orang ini bapak-tiri­nya?”

“Betul, Hang Wira.”

“Baik. Anakmu akan dika­wini baik-baik. Kau akan men­da­pat­kan menantu yang baik. Apakah lamar­an­nya pernah kau tolak?”

“Suami sahaya yang meno­lak­nya, Hang wira.”

“Anak itu kube­sar­kan sejak kecil,” gumam sang suami sambil meng­ham­piri Wirang­gal­eng, “patut­kah mene­rima pinangan seo­rang petu­a­lang? Kem­ba­li­kan dia, atau kami akan perangi semua petu­a­lang Tuban di sini.”

Rubungan orang itu bubar meli­hat per­ke­la­hian akan ter­jadi.

“Jangan, Bang, jangan,” tegah perem­puan itu pada sua­mi­nya sambil meme­gangi tangan­nya. Tetapi lelaki itu meng­e­nas­kan­nya sehingga ia jatuh ter­pe­lan­ting dan masih tetap mene­gah: “Jangan, jangan!” meli­hat sua­mi­nya mulai mena­rik parang.

Wirang­gal­eng melang­kah ke sam­ping dan mene­gah: “Jangan. Lagi pula anak itu bukan anakmu. Meng­apa kau yang marah; sedang berhak tidak?”

Dan lelaki itu men­ja­wab dengan ayunan parang, meme­kik: “Rasa­kan parang Seme­nan­jung!”

Wirang­gal­eng melom­pat dan melom­pat. Dan lelaki itu menye­rang dan menye­rang. Para per­u­bung bubar. Pada suatu kesem­patan Sena­pati dapat menyam­bar potongan bambu untuk penang­kis. Dan bunyi parang beradu dengan bambu itu men­de­bar­kan orang yang menyak­si­kan.

“Jangan, Bang, jang­a­a­aan,” teriak istri­nya.

“Sudah, sudah cukup!” tegah Hang Wira.

Lelaki itu sudah men­jadi kalap. Sinar kepu­tihan telah meman­car dan pan­dang­an­nya, sehingga bola-bola mata­nya nampak seperti ter­ba­lik

Meli­hat itu Wirang­gal­eng mulai meme­kik menye­rang dengan bam­bu­nya. Pada suatu kesem­patan ia seram­pang kaki lawan­nya sehingga ter­pe­kik dan ter­pin­cang-pin­cang meng­en­dor­kan serangan. Namun ia masih juga menye­rang. Dengan han­ta­man luar biasa keras Hang Wira menye­ram­pang kaki­nya yang lain. Sekali lagi orang itu ter­pe­kik dan jatuh ter­du­duk kemu­dian meng­e­rang-nge­rang. Mata­nya melo­tot gusar.

“Bukan mak­sudku hendak meng­a­n­i­aya,” kata Hang Wira. Ia ting­gal ber­diri menung­gui lelaki itu kalau-kalau masih hendak menye­rang juga.

Lelaki itu telah kehi­langan gairah. Dan ia tetap juga duduk meraba-raba tulang-kering­nya. Mulu­r­nya ber­ko­mat-kamit dan meri­ngis. Tiba-tiba dengan gerak cepat ia lem­par­kan parang pada Wirang­gal­eng, menye­rem­pet pada betis, jatuh menan­cap ke tanah.

Hang Wira meli­hat pada betis­nya. Serem­petan itu tidak melu­kai, karena bukan mata parang yang telah menge­nai.

Kem­bali orang datang meru­bung. Istri­nya men­ca­but parang itu dari tanah dan menye­rah­kan pada orang lain. Kemu­dian ia meno­long sua­mi­nya ber­diri dan mema­pah­nya masuk ke rumah.

Juga Wirang­gal­eng ikut masuk. Ia duduk diam-diam.

“Tidak. Kaki itu tidak aku patah­kan. Perem­puan, biar­lah aku pergi men­cari menan­tumu itu. Dan kalian, pen­du­duk kam­pung, jangan­lah men­cari-cari seng­keta. Kami tak pernah bikin per­ce­de­raan dengan kalian. Kalau ada anak buahku yang tidak seno­noh, dan di antara kalian pun ada yang demi­kian, jangan­lah dija­di­kan seng­keta. Biar kita urus ber­sama semua dengan baik. Anak-buahku bukan hanya seka­dar teman dan tetangga; mereka telah mulai jadi sau­dara dan kera­bat kalian sen­diri. Assa­lamu….”

Ia keluar dari rumah, ber­ja­lan murung pulang ke markas, Ia sangat menye­sal. Bukan jadi kei­ng­in­an­nya untuk ber­ke­lahi dengan pen­du­duk. Ia datang untuk meng­u­sir Peranggi. Yang diusir tetap ber­diri di tem­pat­nya. Dan per­mu­suhan dari pen­du­duk adalah satu kutukan. Ia harus dapat meng­e­lak­kan. Kalau sekali mereka ber­se­kutu dengan Peranggi…

Dan ia meng­a­kui, per­so­alan wanita memang jadi masa­lah gawat seka­li­pun wajar. Bebe­rapa orang anak buah­nya ada yang telah mem­bi­kin perahu dan hanya untuk mem­ba­jak wanita di kam­pung-kam­pung nela­yan untuk dipe­ris­tri dan untuk bisa mene­tap di Seme­nan­jung. Lebih enam ratus lelaki! Dan lelaki memang dila­hir­kan oleh wanita. Ia pun diper­un­tuk­kan wanita! Tak perlu ia men­duga akan meng­ha­dapi masa­lah ini Ia datang untuk ber­pe­rang. Dan kini semua telah ber­ki­sar men­ju­rus ke arah yang sama sekali ber­la­inan.

Ia ber­henti waktu men­de­ngar jerit seo­rang bayi.

“Kela­hiran baru,” ia mem­be­lok ke sebuah pondok, men­je­nguk ke dalam.

“Lelaki!” sese­o­rang ter­de­ngar ber­seru girang.

Wirang­gal­eng ber­ja­lan terus. Kela­hiran baru. Anak itu tidak tahu negeri nenek-moyang­nya. Bila sudah besar, mung­kin Por­tu­gis bukan musuh dan bukan per­so­al­an­nya. Bukan­kah orang tuanya sen­diri sudah memung­gungi per­so­alan itu karena keke­ce­waan pada raja-raja­nya sen­diri?

Ia mena­rik napas pan­jang, meme­nuhi paru-paru­nya dengan udara malam yang segar.

Ya, aku telah dibe­bas­kan dari tugasku. Kea­daan yang telah mem­be­bas­kan aku….

Sesam­pai­nya di markas ia dapat­kan Pada sedang duduk ber­sama seo­rang wanita muda cantik, ber­mata bulat dengan bulu mata pan­jang. Dua-duanya sudah nampak lelah dan mengan­tuk, tetapi ber­te­kad menunggu sampai ia datang.

Waktu ia men­de­kat mereka tak menye­dari sedang ter­ta­rik ke alam mimpi, Ia men­de­ham dan mereka mem­buka mata.

“Kau datang, Pada,” tegur Hang Wira.

Pada melom­pat ber­diri dan merang­kul­nya. Ia mena­ngis gem­bira, ter-hisak-hisak seperti anak kecil. Sabar­ini meng­ang­kat sembah dari tem­pat­nya dan mem­per­ha­ti­kan dua orang lelaki yang berang­kulan seperti bocah itu.

“Ampuni aku bila ter­lalu lama.”

“Sudah tak ada beda­nya lama atau tidak. Pada. Kau baik dan sela­mat. Itu sudah cukup.”

“Banyak yang hendak kusam­pai­kan. Kang. Anta­ra­nya seo­rang ipar untukmu. Sini, Sabar­ini, inilah Kang Galeng, abangku.”

Hang Wira ter­tawa senang meli­hat Sabar­ini yang menun­duk dan meng­ang­kat sembah: “Anak dari mana kau, Upik?” tanya­nya dalam jawa.

“Bukan jawa, Kang.”

“Aceh? Jambi, Minang?”

“Sunda,” jawab Sabar­ini dengan sua­ra­nya yang menya­nyi.

Wirang­gal­eng meng­ang­kat tangan mem­be­ri­kan restu. Pada dan Sabar­ini ber­lu­tut. Pang­lima dari pasukan gabungan lola itu mele­tak­kan tangan sebe­lah pada tiap kepala: “Syukur pada Hyang Widhi, restu untuk kalian, semoga kekal­lah per­ka­winan ini dan dika­ru­niai keba­ha­gi­aan lumintu dan anak-anak yang sehat, dilim­pahi hen­dak­nya dengan kehi­dupan yang terang dan gilang-gemi­l­ang. Ber­di­ri­lah kalian.”

Mereka berdua ber­diri dan masih menyem­bah dada dan menun­duk.

“Pada, bawalah istrimu ber­is­ti­ra­hat.”

Mereka berdua ber­ge­rak mening­gal­kan­nya. Dari sinar lampu Sena­pati itu meli­hat kilau air mata baha­gia mereka berdua.

“Ya, ber­ba­ha­gi­a­lah kalian.”

Ia segera teng­ge­lam dalam kenangan pada per­ka­win­an­nya yang gilang-gemi­l­ang dulu. Ia ter­se­nyum sunyi. Tak ada duanya per­ka­winan besar sema­cam itu, penuh kea­gungan dan keja­yaan. Selu­ruh kota ikut mera­ya­kan. Ia diang­gap seba­gai Kama­jaya dan Idayu seba­gai Kama­ra­tih. Kemu­dian tan­du­nya jatuh. Seba­gai pengan­tin ia dan istri­nya ter­je­rem­bab di tanah. Ter­je­rem­bab! Mung­kin per­lam­bang keja­tuh­an­nya selama irii. Tahyul! pekik­nya meno­lak gagasan ten­tang per­lam­bang itu. Tahyul! Kega­galan hanya buah usaha yang memang gagal. Barang­si­apa tak pernah ber­u­saha dia pun takkan pernah gagal.

Kega­galan yang ber­i­sikan penye­salan – banyak penye­salan. Sang Patih Tuban telah tewas karena tangan dan keris­nya. Orang sebaik itu, sebi­jak­sana ini! seo­rang maji­kan dan seo­rang guru seka­li­gus! Dan kiai di Gresik itu – banyak nama­nya pun ia tak tahu. Dan Danu – santre ter­pan­dai itu. Tiga orang yang telah tewas karena tangan­nya – dan tidak karena perang!

Ia ting­gal­kan markas dan mema­suki malam.

Selama pela­yar­an­nya dari Pan­jang ke Seme­nan­jung meman­tai pesi­sir timur Suma­tra Pada telah ber­pi­kir keras untuk dapat mema­hami per­kem­bangan di Jawa. Dan ter­nyata tak semu­dah itu ia dapat meng­i­kuti keja­dian-keja­dian yang sim­pang siur seperti benang kacau itu.

Ratu Aisah – meng­apa wanita tua itu ber­kunci diri di dalam rumah? Meng­apa ia menye­rah­kan bing­kisan bekas Adi­pati Unus? Liem Mo Han meng­apa pula dibu­nuh oleh ten­tara Demak? Dan meng­apa pula kelu­arga Wirang­gal­eng ter­an­cam kebi­na­saan? Meng­apa Sena­pati ditu­duh ber­seng­kong­kol menen­tang Demak? Dan meng­apa pula dir­i­nya sen­diri disang­kut-paut­kan dengan semua itu?

Ia tak dapat men­ja­wab.

Gerakan Treng­gono ke jurusan timur dan barat Demak, penak­lu­kan atas kabu­pa­ten tetangga, penak­lu­kan atas Banten, Sunda Kelapa dan Cimanuk – semua pela­buhan pen­ting. Seka­rang Cir­e­bon dian­cam pula. Apakah Treng­gono sudah ber­te­kad mengu­a­sai semua bandar di Jawa seba­gai kera­jaan yang pada mula­nya tak punya bandar? Adakah hanya Tuban men­da­pat­kan bandar Jepara maka Treng­gono ber­nafsu meng­ga­gahi banyak bandar lain? Dan meng­apa lawan-lawan Sultan Demak tak ada yang mampu mena­han gelom­bang balat­en­ta­ra­nya? Meng­apa pula Tuban yang bera­tus tahun jadi andal-andal Maja­pa­hit dapat di tangan­nya, bahkan telah ter­ja­mah ibu kota­nya? Lagi pula apa sebab­nya balat­en­tara Tuban men­coba terus meng­ha­lau musuh­nya seka­li­pun Sang Adi­pati telah mang­kat. Dan meng­apa pula Peranggi lang­sung masuk ke Tuban sete­lah kega­gal­an­nya di Sunda Kelapa? Seakan-akan semua itu ber­pu­tar untuk keun­tungan Peranggi?

Dan di Jaya­karta dan Banten untuk kedua kali­nya Fat­hil­lah menya­ta­kan dua bandar itu jadi bandar bebas. Dan meng­apa armada Jepara-Demak meng­a­khiri blo­ka­de­nya? Dan meng­apa balat­en­tara armada itu tak mene­rus­kan penu­suk­an­nya lebih jauh ke peda­laman? Dan meng­apa bukan Banten dan Jaya­karta seba­gai bandar bebas dengan sekali pukul telah mema­ti­kan bandar Pan­jang?

Benang yang kacau itu sema­kin kacau.

Yang paling memu­sing­kan­nya adalah: Meng­apa Treng­gono menyia-nyi­a­kan kekha­li­fa­han ayah­an­da­nya almar­hum. Sudah sele­sai­kah riwa­yat kera­jaan Islam per­tama-tama di Jawa, dan ter­ja­tuh jadi kera­jaan kafir seba­gai semula?

Meng­apa justru Wirang­gal­eng yang harus meng­u­sa­ha­kan pem­be­basan Malaka dengan sekutu-sekutu yang dita­rik kem­bali dan yang tidak ada? Meng­apa ia men­da­pat­kan armada yang bukan kapal negeri, hanya jung? Meng­apa tidak boleh diper­leng­kapi dengan meriam Peranggi? Bahkan tak boleh dengan cet­bang? Dan bukan­kah Wirang­gal­eng itu sen­diri yang telah meram­pas sen­jata ampuh itu. Dan meng­apa Sena­pati yang paling ber­jasa pada Tuban itu justru diusir dari Tuban? Dan meng­apa ia seka­rang harus men­du­duki jabatan seba­gai pang­lima pula?

Dalam pela­yaran kem­bali ke Malaka ia men­jadi kurus dan nampak lebih jang­kung dari­pada sesung­guh­nya.

Ia tak mampu keluar dari teka-teki pulau Jawa. Lebih memu­sing­kan bagi­nya adalah masa­lah Tuban. Untuk siapa balat­en­tara Tuban ber­ke­lahi mati-matian mela­wan Demak? Dan meng­apa Tuban begitu mudah dima­suki Por­tu­gis?

Benar-benar ia tak mampu menyu­sun sang­kut-paut peris­tiwa yang susul-menyu­sul begitu cepat. Ia merasa diri sema­kin jadi bodoh. Mung­kin, pikir­nya mema­af­kan diri sen­diri, karena sedang dalam sua­sana pengan­tin baru maka diri men­jadi bebal.

Waktu mema­suki Pati ter­nyata tak ada gang­guan dari pihak Por­tu­gis. Mereka memang nampak kasar dan tidak tahu adat, tetapi tak selem­bar pun barang-barang­nya mereka rampas, apa­lagi perahu layar­nya.

Juga perahu-perahu lain tiada meng­a­lami sesu­atu kesu­l­itan. Bebe­rapa keran­jang lada yang dibong­kar­nya segera dibeli oleh Peranggi dengan uang perak. Dan ia tak meli­hat adanya per­mu­suhan ter­tuju pada­nya.

Ia pun dapat mening­gal­kan bandar tanpa dicu­r­i­gai.

Semua itu menam­bahi masa­lah dalam piki­ran­nya. Meng­apa Peranggi-Peranggi itu nampak begitu damai? Dan jarang di antara mereka mem­bawa sen­jata? Dan meng­apa di Tuban justru seba­lik­nya?

Waktu ber­ja­lan memi­kul beban menuju ke markas Wirang­gal­eng sedang istri­nya meng­gen­dong pada pung­gung, sam­pai­lah ia pada puncak kegu­gup­an­nya. Ia takan mampu menyu­sun laporan untuk pang­li­manya. Dan ia merasa akan men­de­rita aib seki­ra­nya Wirang­gal­eng menu­duh­nya hanya mengu­rusi soal bini semata dan tidak mela­ku­kan tugas­nya. Maka sam­butan Hang Wira yang ramah dan tidak menu­ding, bahkan meres­tui per­ka­win­an­nya, mele­nyap­kan selu­ruh keri­sau­an­nya. Galeng yang lama itu tampil lagi dalam hati­nya seba­gai seo­rang abang yang pemu­rah dan bijak­sana.

Kee­sokan hari­nya ia telah ber­niat hendak menyam­pai­kan berita-berita seba­gai­mana adanya. Ter­nyata ia tidak mampu menyu­sun­nya.

Ia temui Hang Wira sedang duduk ber­to­pang dagu di sebuah bangku kebun di bela­kang markas. Nam­pak­nya Pang­lima sedang ber­pi­kir keras. Mata­nya suram.

Pelahan-pelahan ia duduk di dekat­nya. Dan di luar duga­an­nya ter­nyata ia dite­gur lebih dahulu dengan suara lunak: “Coba ceri­ta­kan bagai­mana kau men­da­pat­kan istrimu,” ia ter­se­nyum.

Kete­gangan Pada hilang sama sekali

Mereka berdua ter­tawa-tawa dan ber­seri dan menye­but-nyebut dan ber­te­puk-tepuk kegi­rangan seperti dua orang bocah yang belum menge­nal dunia di sebuah dusun ter­pen­cil, aman dan damai.

“Jadi kau sudah tahu rasa­nya jadi pange­ran.”

“Mung­kin begitu juga rasa­nya anak-anak dewa di atas dunia ini, Kang.”

“Di mana kau per­o­leh per­al­atan badut itu. Dan Pada tak men­duga dengan begitu mudah ia men­da­pat­kan jalan untuk menyam­pai­kan segala yang telah dili­hat dan dide­ng­ar­nya sen­diri di Tuban, Lao Sam, Jepara, Paja­jaran, Sunda Kelapa dan Pan­jang, malah juga di Pasai. Peng­a­lam­an­nya dengan Coa Mie An dan cucu Ratu Aisah. Dan: “Seminggu tepat aku duduk di depan pen­dopo dalam terik matan dengan kekha­wa­tiran amat sangat kalau-kalau ten­tara Demak menyer­gap aku. Satu minggu penuh, Kang. Hanya seo­rang gadis kecil menyam­pai­kan sebuah bung­kusan. Aku tahu bung­kusan itu untuk Kang Galeng. Ampun­i­lah aku karena telah kuke­na­kan untuk men­da­pat­kan sedi­kit kese­nangan seba­gai pange­ran. Nanti sore akan kuse­rah­kan bung­kusan itu. Hanya saja kasut n ya ter­ting­gal di rumah kepala desa Bale­ug­bag, desa Sabar­ini, istriku.”

“Semua keta­kutan dan kele­lah­anmu telah dite­bus. Kau telah men­da­pat­kan seo­rang istri yang tiada duanya. Belum pernah aku dengar suara yang begitu bening dan indah dan mena­rik seakan hanya keluar dari mulut bida­dari, bukan manu­sia.”

“Kau mele­bih-lebih­kan, Kang.”

“Tidak mele­bih-lebih­kan. Kau saja yang pura-pura dungu. Ayoh, terus­kan ceri­tamu.”

Pada mene­rus­kan ceri­ta­nya ten­tang jatuh­nya Banten dan Sunda Kelapa ke tangan Demak. Bahwa Sunda Kelapa telah diubah jadi Jaya­karta. Bahwa Cimanuk kemu­dian juga dise­ibu oleh armada Jepara-Demak. Dan sete­lah itu armada ber­ge­rak dengan ban­tuan tenaga setem­pat men­du­duki Cir­e­bon.

Wirang­gal­eng diam ter­me­nung men­de­ngar bagai­mana Fat­hil­lah meng­ha­lau Por­tu­gis dan kapal-kapal­nya. Dan armada itu mening­gal­kan Sunda Kelapa tanpa mele­pas­kan sebu­tir pun peluru meriam. “Apakah kau tidak keliru. Pada?”

‘Tidak. Por­tu­gis tidak menem­bak. Mereka terus ber­la­yar ke timur, terus ke timur.”

“Dan mema­suki Tuban.”

“Ya, dan mema­suki Tuban.”

“Mung­kin mereka hendak sela­mat­kan pelu­ru­nya untuk Tuban.” Hang Wira mene­rang­kan. “Mung­kin karena itu mereka dapat menu­suk Tuban dengan mudah. Jadi kau tak dapat mene­mui Kala Cuwil?”

‘Tidak, Kang. Semua usaha gagal. Satu yang belum aku ceri­ta­kan: Sang Adi­pati mang­kat waktu Demak masuk.”

Wirang­gal­eng seperti ter­se­ngat kala­jeng­king. Dipan­da­ng­i­nya tajam-tajam akan Pada tanpa ber­ta­nya. Meli­hat air muka Pada tidak beru­bah, ia ber­ba­lik dan ber­ja­lan tanpa meno­leh.

Pada yang masih juga duduk menunggu akhir­nya ber­diri juga dan men­ca­ri­nya. Dida­pat­i­nya Sena­pati sedang ber­diri mere­nungi saluran yang berair bening. Tangan kanan­nya ber­ta­han pada seba­tang kayu. “Kau telah ter­be­bas dari sumpah. Kang.”

“Apakah hanya itu saja yang pen­ting?”

“Memang tidak. Ada yang lebih pen­ting: balat­en­tara Tuban ber­pe­rang tanpa raja. Untuk siapa mereka ber­pe­rang?”

“Itulah, Pada… itulah satu masa di mana raja lama mati, raja baru tidak ada. Dan tak ada anak desa tampil marak meno­bat­kan dir­i­nya sen­diri. Ada suatu zaman di mana seo­rang anak desa dapat tampil demi­kian. Tiga ratus tahun yang lalu. Pada.”

“Kau sudah ter­lalu sering men­ce­ri­ta­kan­nya: Ken Arok Raja­sa­na­gara.”

“Betul, Pada. Dan zaman itu takkan ber­u­lang. Tuban tidak mela­hir­kan Ken Arok. Kala Cuwil sesung­guh­nya bisa marak, atau Ban­teng Wareng. Mereka takkan bakal ada kebe­ra­nian untuk itu Mereka memang lain dari Ken Arok. Dia muncul ber­lan­das­kan per­ju­angan untuk kea­dilan. Kepala-kepala pasukan Tuban tidak. Mereka ber­lan­das­kan gengsi keten­ta­raan semata.”

Mereka berdua ter­diam, masing-masing sedang menge­rah­kan otak untuk mem­buat peni­laian. Dan memang mereka yakin Kala Cuwil dan Ban­teng Wareng tak ada kebe­ra­nian untuk itu. Seki­ra­nya ada boleh jadi wajah tanah Jawa akan beru­bah.

“Kang,” tiba-tiba Pada meng­ganggu, “kau sen­diri sebe­nar­nya bisa, Kang’

“Husy. Kau masih juga tidak meng­erti Galeng ini”

“Kau sudah begitu ber­peng­a­laman, semua orang menge­nal dan menga­sihi kau, Kang. Kau bisa, Kang.”

“Kau keliru.”

“Aku tidak keliru, Kang. Kau begitu senang ber­ce­rita ten­tang memang­gil keja­yaan dan kebe­saran pada gua­garba hari depan….”

“Bukan untukku, Pada. Bodoh­nya kau jadi petani tanpa tidak lebih dari Idayu, hanya meng­i­ng­in­kan jadi petani tanpa gang­guan siapa pun. Tanpa gang­guan siapa pun… itulah yang justru mem­bi­kin aku menya­sar-nyasar begini, mela­lui jadi Syah­ban­dar-muda sampai Sena­pati dan Pang­lima gabungan yang kapi­ran seka­rang ini” Sabar­ini muncul dan menyi­la­kan Hang Wira makan.

“Aah, adikku Sabar­ini,” tegur Sena­pati dalam bahasa Melayu. “Aku senang men­da­pat­kan seo­rang sau­dari seperti engkau. Jangan kau menye­sal datang ke tempat ini: hutan semata, tanpa sawah, tanpa ladang yang bagus dan tanpa kebun yang indah seperti di nege­rimu.”

“Sahaya akan tetap senang selama tidak diting­gal­kan oleh suami sahaya,” jawab Sabar­ini dengan sua­ra­nya yang menya­nyi.

“Nah, kau dengar sen­diri itu, Pada.”

“Ya, Kang Galeng. Selama aku tak meng­a­bdi pada seo­rang raja takkan dia bakal kuting­gal­kan.”

“Kau benar, Pada. Kau benar. Lihat Sabar­ini, sua­mimu ini. Dia sudah jenuh jadi abdi raja, apa­lagi raja itu begitu besar kua­sa­nya sehingga tak perlu ber­pi­kir lagi, dungu seperti kerbau dan bebal seperti bebek. Hanya celaka saja­lah yang menimpa diri. Kau dengar sen­diri, Sabar­ini, selama dia tak meng­a­bdi pada seo­rang raja, kau akan selalu dapat meng­i­kut­i­nya, dan dia takkan mening­gal­kan kau, barang­kali juga dialah yang meng­i­kuti kau.”

Sabar­ini malu keme­rah-merahan dan men­ci­bir­kan bibir. Wirang­gal­eng ter­se­nyum senang meli­hat­nya dan ber­seru: “Lihat Pada, istrimu itu. Pantas kau ter­gila-gila pada­nya. Aku tak salah­kan kau.”

‘Tidak bisa, Kang,” bantah Pada, “dialah yang ter­gila-gila padaku.”

“Benar, Sabar­ini?”

Dan Sabar­ini lari ter­sipu mening­gal­kan mereka.

“Jangan kau sia-siakan dia, Pada, kau! Kau bekas kutu harem! Anak itu sangat baik untukmu. Dia adalah lak­sana bunga yang kem­bang pada wak­tu­nya. Selama kau rukun dengan dia, kau akan tetap ber­ba­ha­gia. Begitu kau ber­ting­kah dan balik jadi kutu seperti dulu, sele­sai­lah riwa­yatmu.”‘

“Meng­apa begitu, Kang?”

“Ah, yang kau keta­hui ten­tang selir saja. Itulah salahmu. Per­ha­ti­kan dia baik-baik, resap­kan dan nilai sete­pat­nya ting­kah-laku­nya dan kecan­ti­kan­nya. Dengan mata ter­tu­tup aku akan dapat menge­ta­hui dari sua­ra­nya saja, dia seo­rang wanita pilihan, khusus dise­di­a­kan untukmu.”

“Kang.”

“Apa­lagi kau ber­tau­bat.”

“Sudah lama aku ber­tau­bat.”

“Mari makan.”

Dalam ber­ja­lan kem­bali Wirang­gal­eng teng­ge­lam dalam piki­ran­nya. Bagi­nya pun Tuban meru­pa­kan teka-teki. Atau barang­kali datang­nya waktu inilah yang dimak­sud­kan oleh Rama Clu­r­ing? Datang­nya memang­gil keja­yaan dan kebe­saran itu?

Rama Clu­r­ing keliru. Dua-duanya tak dapat dipang­gil datang ke Tuban. Kun­ci­nya tetap: Seme­nan­jung. Apalah arti Tuban tanpa Malaka? Tuban adalah negeri kela­hir­an­nya yang ter­ting­gal­kan oleh jalan laut dan per­da­gangan rempah-rempah. Rama Clu­r­ing keliru. Untuk mengu­a­sai kem­bali jalan laut dan per­da­gangan Malaka harus dibe­bas­kan. Dan Malaka tak dapat dibe­bas­kan karena kurang­nya per­sa­tuan antara raja-raja bandar. Atau harus timbul Maja­pa­hit kedua yang sama sekali mengu­a­sai Malaka. Dan itu tidak mung­kin. Untuk mengu­a­sai selu­ruh Jawa pun sampai seumur hidup­nya orang takkan ber­ha­sil. Harus ada sen­jata baru yang lebih ampuh dari cet­bang, baru orang ber­ha­sil. Dan cet­bang pun seka­rang telah dika­lah­kan oleh meriam. Sen­jata itu harus lebih ampuh dari meriam.

“Bagai­mana, Kang?”

”Ayoh makan.”

Dan malam itu Sena­pati Tuban ber­ja­lan ke ladang untuk bicara-bicara dengan para pen­jaga babi hutan. Ia mulai menya­la­kan api unggun, tetapi para pen­jaga belum juga datang. Yang datang justru Pada mem­bawa bung­kusan.

“Meng­apa kau ting­gal­kan istrimu?”

“Sudah tidur. Kang. Bukan­kah aku boleh mening­gal­kan­nya?”

“Kau mening­gal­kan seo­rang pengan­tin seo­rang diri. Itu tidak patut Apa kau bawa itu?”

“Sengaja aku tahan para pen­jaga babi di sana, biar dapat kusam­pai­kan padamu bing­kisan ini: dari Gusti Ratu Aisah.”

”Hmm. Pakaian pange­ran itukah, yang menye­bab­kan kau men­da­pat­kan Sabar­ini?”

“Benar. Hanya saja kasut­nya hilang seba­gai­mana pernah aku ceri­ta­kan,” ia mulai mem­bong­kar­nya.

Yang per­tama keluar adalah kain batik ber­gam­bar kupu-tarung. Seperti kena kejang Wirang­gal­eng men­ceng­kam kain itu kemu­dian mele­tak­kan pada dada­nya: “Aku pernah meli­hat ben­dera dengan lam­bang ini. Adi­pati Unus Jepara. Pulang mem­bawa luka dan keka­lahan dan Malaka. Seo­rang aulia!” Ia tutup­kan kain itu pada wajah­nya. Ia tenang untuk mengu­a­sai pera­sa­an­nya sen­diri, kemu­dian, “Dahulu aku men­cu­r­i­ga­i­nya, tidak mem­per­ca­ya­i­nya. Hampir lima belas tahun yang lalu. Waktu itu aku masih ter­lalu muda, sangat meng­a­gung­kan Gusti Adi­pati Tuban. Aku pernah men­ja­lan­kan tugas untuk memata-matai­nya. Aku pernah lapor­kan semua yang aku keta­hui pada Gusti Adi­pati Tuban. Aku pernah ikut meng­khi­a­nat­i­nya waktu menye­rang Malaka. Dan ter­nyata hanya Gusti Kan­jeng Adi­pati Unus yang benar. Betapa aku menye­sal telah pernah men­cu­r­i­gai, memata-matai dan meng­khi­a­nat­i­nya.”

“Semua itu sudah lewat seka­rang, kang.”

“Lewat saja tiada meng­apa, Pada, tetapi lewat dengan segala keti­dak­ber­e­san begini.”

“Kang Galeng, Raden Ajeng cilik yang menye­rah­kan bing­kisan padaku itu menyam­pai­kan pesan Gusti Ratu Aisah, bing­kisan ini untuk siapa saja yang mampu menge­na­kan­nya, Kang. Kaulah itu yang mampu. Tak ada orang lain. Kala Cuwil tidak, Ban­teng Wareng pun tidak. Hanya kau. Kaulah Ken Arok kedua. Kang.”

Wirang­gal­eng masih teng­ge­lam dalam emo­si­nya, pada masa lalu dan pada cita-cita Adi­pati Unus.

“Bung­kus kem­bali!” kata­nya pelahan dan parau.

Ia ber­ja­lan dan hilang di dalam kege­lapan. Moham­mad Firman men­coba meng­i­kut­i­nya dari bela­kang dan mene­mu­kan­nya sedang ber­diri di bawah seba­tang pohon dengan dua belah tangan dan kening pada batang itu.

“Aku tahu kau sedang ber­du­ka­cita, Kang.”

‘Temani istrimu. Pada.”

“Bagai­man­akah aku dapat meri­ng­an­kan duka­ri­tamu. Kang.”

“Per­gi­lah kau, jangan ganggu aku.”

“Aku akan tetap di bela­kang. Kang.”

“Per­gi­lah kau. Pada,” ia diam seben­tar. “Aku kata­kan sudah untuk kedua kati­nya.”

“Untuk kedua kali­nya aku bilang, aku tetap di bela­kangmu, Kang. Kata­kan semua padaku. Aku tahu kau kalah untuk kedua kati­nya untuk mere­but Malaka. Semua orang tahu. Kata­kan­lah, cur­ah­kan semua duka­ci­tamu, Kang.”

Lama Wirang­gal­eng tak bicara. Kemu­dian mulai ia bicara, lambat; berat, sepa­tah-sepa­tah: “Hampir-hampir aku tak dapat mena­han pera­sa­anku, Pada. Aku hanya si anak desa yang ter­sa­sar ke tempat Yang bukan tuju­an­nya. Hampir lima belas tahun yang lalu semes­ti­nya Peranggi telah ter­u­sir dari sini. Seka­rang mereka lebih kuat. Kita lebih lemah, Pada. Tak ada nama yang begitu ter­benci dalam hidupku kecu­ali yang satu itu: Treng­gono, Sultan Demak. Ia telah jeru­mus­kan Jawa dalam pepe­rangan mela­wan yang bukan musuh, dan mem­bi­ar­kan musuh sema­kin kuat begini. Ia telah per­hamba orang-orang seru­mah sen­diri sedang di luar­nya orang telah meram­pas dan mengu­a­sai sumber kehi­dupan.”

“Ya, Kang, keme­nangan di Sunda Kelapa memang tanpa makna, kecu­ali untuk Fat­hil­lah pri­badi.”

“Semua keme­nangan atas Peranggi tanpa mereka ter­u­sir dari Malaka hanya omong kosong, Pada.”

“Betul, Kang, hanya omong kosong.”

“Dan bagiku Jaya­kar­ta­nya Fat­hil­lah adalah nama untuk zaman keme­ro­sotan ini.”

“Ya, Kang untuk zaman keme­ro­sotan ini.”

“Rasa­nya tidak­lah akan begitu sakit seki­ra­nya pasukan gabungan kita tidak men­jadi lola. Lola pun tidak sebe­rapa kalau Demak tak memu­kul sema­ngat kita. Dita­rik­nya pasukan Aceh mung­kin juga tidak sebe­rapa. Tapi Treng­gono, betapa beda kau dari abangmu.”

“Ya, Kang, kea­daan sudah jadi begini.”

“Pasukan gabungan ini tak bisa dige­rak­kan lagi untuk menye­rang. Dan menye­rang apa? Untuk apa? Meng­a­bdi pada apa aku ini? Pada diriku sen­diri pun tidak. Pada­hal tak banyak yang kupinta dalam hidup ini. Barang­kali sama dengan kau: peng­a­b­dian pada hari depan barang­kali. Hari depan tidak ter­bina, yang dida­pat musuh, musuh di mana-mana. Kehi­dupan macam apa ini?”

“Ya, Kang, manu­sia hanya bisa meng­u­sa­ha­kan. Allah juga yang menen­tu­kan. Ter­se­rah­lah semua kepa­da­Nya.”

“Hiburan sema­cam itu aku tak butuh­kan. Pada. Murid-mur­idmu mung­kin memer­lu­kan lebih dari dirimu sen­diri. Bagiku lain. Bagimu aku seo­rang kafir, dan aku senang dalam keka­fir­anku. Aku tak mem­bu­tuh­kan kata-kata hiburan,” sua­ra­nya men­jadi ber­sung­guh-sung­guh disya­rati oleh per­gu­latan batin, “biar­lah hati ini patah karena sarat dengan beban, dan biar­lah dia mele­dak karena kete­gangan. Pada akhir­nya per­bu­atan manu­sia menen­tu­kan, yang menga­wali dan meng­a­khiri. Bagiku kata-kata hiburan hanya seka­dar mem­ba­suh kaki, seba­gai­mana Sabar­ini mem­ba­suh kakimu. Memang menye­gar­kan, tapi tiada arti. Jangan kau marah, Pada. Ambil­lah kata-kata hiburan untukmu sen­diri. Aku tidak memer­lu­kan. Barang­kali pada titik inilah kita ber­pi­sah.”

Ia ber­ja­lan lagi mema­suki kege­lapan dan hilang.

Pada sangat kecewa dengan jawaban yang tak diduga-duga­nya Ia tahu saha­bat­nya dihem­ba­lang oleh keke­ce­waan dan duka­cita. Ia meng­i­ng­in­kan sesu­atu yang berada di luar keku­a­sa­an­nya, di luar keku­at­an­nya. Dan itulah keke­ce­waan dan duka­cita itu sen­diri.

Tak ada yang dapat diper­buat Pada kecu­ali berdoa pada Tuhan­nya, memo­hon­kan ampun dan taufik-hida­yat untuk si kafir saha­bat­nya yang keras kepala itu. Kemu­dian ia pulang ke markas mem­bawa bung­kusan.

Pang­lima itu sedang mene­mui pemim­pin kesa­tuan Bugis-Makasar di pon­dok­nya.

Pem­bi­ca­raan adalah seki­tar keme­ro­sotan sema­ngat yang terus-mene­rus dan tiada ter­ken­da­li­kan. juga pemim­pin itu merasa tak dapat ber­buat sesu­atu. Semua dikem­ba­li­k­an­nya pada Wirang­gal­eng.

Ber­da­sar­kan kenya­taan itu mereka berdua memu­tus­kan untuk mem­buat per­te­muan ber­sama: pada minggu men­da­tang.

Pada siang hari ia pulang ke markas dalam kea­daan tenang seperti dahulu. Tapi Pada dapat meli­hat bagai­mana hati­nya meng­ge­le­tar, karena si kafir itu enggan menye­rah­kan kesu­l­it­an­nya pada Yang Maha Kuasa. Dan ia telah jarang ber­khot­bah di hadap­an­nya.

“Kau suka ting­gal di Seme­nan­jung sini, Sabar­ini?” tiba-tiba ia ber­ta­nya.

“Kalau Kang Pada suka, sahaya pun demi­kian.”

“Jangan dengan sahay a-saha­yaan,” ia meli­rik pada Pada, “nam­pak­nya sua­mimu suka ting­gal di sini. Itu baik, baik, selama orang sudah mulai ber­da­mai dengan tempat ting­gal­nya yang baru,” ia tak bicara lagi dan pergi.

Dalam per­te­muan seminggu kemu­dian ia menya­ta­kan, pasukan gabungan Tuban-Bugis-Makasar dalam kea­daan lola tanpa batas-Barang-siapa akan pulang kem­bali ke nege­ri­nya masing-masing kesem­patan dibe­ri­kan. Barang­si­apa lebih suka ting­gal, juga diper­ke­nan­kan. Di depan per­te­muan itu juga ia menya­ta­kan telah mele­pas­kan kepang­li­ma­an­nya, bukan lagi atasan mereka, hanya seba­gian dari mereka. Ia jelas­kan ten­tang peng­khi­a­natan Sultan Treng­gono yang menye­bab­kan semua ter­dam­par seba­gai pra­ju­rit di sini, tetapi untuk seba­ha­gian toh men­da­pat­kan keba­ha­gi­a­an­nya seba­gai petani dan nela­yan, ter­u­tama seba­gai suami di tengah-tengah alam yang indah dan subur.

”Nege­riku, Tuban, seka­rang didu­duki oleh Peranggi. Jadilah Itu bagiku pang­gilan untuk kem­bali meng­ha­dapi mereka di sana, karena Tuban nege­riku. Aku tak memaksa kalian ikut. Hanya mereka yang ikut serta kem­bali deng­anku untuk meng­u­sir Peranggi akan kute­rima dengan segala senang bati.”

Hanya dua puluh lima orang yang menya­ta­kan hendak kem­bali. “Aku mening­gal­kan Tuban mem­bawa lima ratus orang dan akan kem­bali dengan hanya dua puluh lima. Adi­pati Unus telah gagal. Bebe­rapa belas tahun kemu­dian juga Wirang­gal­eng gagal. Karena kega­galan ini dise­bab­kan oleh Treng­gono, kalau kalian menye­tu­jui, sebe­lum kebe­rang­kat­anku, nama­i­lah daerah ting­gal kalian ini dengan nama itu pula: Treng­gono.”

Pada hari yang telah diten­tu­kan, Wirang­gal­eng ber­sama dengan dua puluh lima orang peng­i­kut­nya dii­ring­kan bera­mai-ramai ke pantai.

“Jangan­lah gusar kalau aku memi­lih ting­gal di sini. Kang Galeng.”

“Kau berhak, Pada.”

“Bagiku Jawa hanya tum­pukan keka­cauan yang tiada habis-habis­nya.”

“Selama Malaka, Selat ini, berada di tangan mereka. Pada, selama itu Jawa akan tetap kacau.”

“Nam­pak­nya mereka akan tetap mengu­a­sa­i­nya, Kang ”

“Kita tidak tahu apa bakal jadi­nya. Jangan kau kece­wa­kan Sabar­ini Dan kau, Sabar­ini, aku masih ingin meli­hat anakmu laga­lah kese­hat­anmu. Kirim­kan anakmu kelak ke Jawa. Bagai­man­a­pun dia masih punya lelu­hur.”


Bab 39

Tuban Jadi Kancah Perang

Kali ini untuk per­tama ter­jadi Tholib Sung­kar Az-Zubaid tidak meng­a­wasi barang-barang­nya. Orang-orang meng­ang­kut­i­nya ke gedung kesa­yah­ban­daran dari der­maga, dan ia ber­ja­lan seo­rang diri men­da­hu­lui.

Begitu naik ke der­maga Tuban ia ber­su­jud, men­ca­kup tanah ber­pa­sir han­curan batu karang, men­ci­um­nya. Tak pernah ia men­cin­tai Tuban seba­gai­mana halnya dengan seka­rang.

Selama dalam pela­yaran ia tak henti-hen­ti­nya meng­u­cap­kan syukur karena tidak ter­bawa oleh kapal Por­tu­gis ke Malaka. Tempat yang indah dulu itu kini bisa men­jadi kubur­an­nya sete­lah peng­a­n­i­a­yaan berat akan men­da­hu­lui. Setiap Moro akan meng­a­lami itu di tangan Por­tu­gis bila ter­bukti pernah mem­bu­nuh seo­rang Nas­rani baik Ispa­nya atau­pun Por­tu­gis, seka­li­pun yang dibu­nuh­nya hanya seo­rang petu­a­lang tanpa arti. Ia telah menye­dari hari depan­nya di Anda­lu­sia telah musnah. Seme­nan­jung Iberia bukan lagi tempat yang menye­nang­kan untuk hari tua-nya. Bahkan semua negeri dalam keku­a­saan Por­tu­gis dan Ispa­nya kini tak lain dari sebuah peng­go­r­engan besar bagi dir­i­nya.

Pasir karang itu ia salut­kan pada pipi dan selu­ruh muka­nya. Kalau mung­kin ia hendak mene­lan­nya pula.

Akhir-akhir­nya jabatan Syah­ban­dar Tuban sudah cukup baik bagi­nya, biar­pun kurang peker­jaan dan kurang peng­ha­silan. Di Tuban sini ia akan hidup tenang dan senang sampai mati. Ia ber­sum­pah di dalam hati untuk mem­per­ba­iki kela­ku­an­nya dan ber­te­kad hendak mem­ba­las budi pada semua orang yang telah ber­buat keba­jikan pada­nya. Ia akan minta ampun pada Nyi Gede Kati, dan akan menem­pat­kan­nya seba­gai wanita yang semu­lia-mul­i­a­nya. Ia akan minta ampun pada istri­nya dan akan mem­ban­tu­nya dalam segala kesu­l­it­an­nya. Dan ia akan ambil Gelar seba­gai anak­nya sejati. Ia akan menye­rah­kan dir­i­nya pada Wirang­gal­eng bila ia sudah balik dari Malaka. Dan ia akan urus bandar Tuban sebaik-baik­nya. Ia akan pang­gil anak-istri­nya yang ada di Goa untuk mene­mani di hari tuanya dan kema­ti­an­nya kelak. Ia ber­te­kad untuk diku­bur­kan di Bumi Tuban.

Barang-barang­nya ber­ba­ris dalam peng­ang­kutan di bela­kang­nya, tong­kat­nya masih tetap setia di tangan­nya. Juga tar­bus­nya yang sudah kehi­langan banyak warna merah­nya. Pakaian Por­tu­gis telah ditang­gal­kan­nya di perahu, dan kini ia per­gu­na­kan pakaian Syah­ban­dar yang lama. Kaki­nya pun kem­bali ber­te­rom­pah.

Men­de­kati kesyah­ban­daran ia ber­henti, mem­bi­ar­kan para peng­ang­kut ber­ja­lan men­da­hu­lui. Ia ber­sih­kan muka, leher dan lengan dengan seta­ngan, kemu­dian men­jen­tik-jentik baju yang ter­kena pasir. Ia hendak temui Nyi Gede Kati dalam kea­daan seber­sih-ber­sih­nya: lahir dan batin. Ia tak ambil peduli ter­ha­dap bedeng dan galangan dan pasar yang telah runtuh jadi tum­pukan arang hitam. Aku tak ikut meru­sak­kan Tuban, pikir­nya. Tak ada tang­gungan dalam nura­niku. Ia pun tak per­ha­ti­kan jalan-jalan yang sudah mulai ditum­buhi rumput serta pepo­honan yang mati karena ter­gang­gang oleh panas keba­karan. Hitam, hitam saja barang ke mana mata­nya ditu­ju­kan. Dan ia ber­janji akan mem­ba­ngun kem­bali bandar ini dalam waktu pendek. Ia mem­bu­tuh­kan keper­ca­yaan dari semua orang. Sambil ber­ja­lan ia meren­ca­na­kan bagai­mana harus­nya mene­mui Nyi Gede Kati. Ya, ia akan cium tangan-nya dan segera minta ampun pada saat itu juga. Para peng­ang­kut itu telah mema­suki pela­taran kesyah­ban­daran. Paman Merta tak nampak dan taman depan rumah telah kehi­langan

Kein­dah­an­nya yang dulu. Juga itu akan ia bangun kem­bali. Dan gedung ini nampak rusak dan mesum. Pintu-pintu depan­nya sudah tiada ber-daun lagi. Itu pun ia akan per­ba­iki.

“Ia ter­ba­ngun dari semua piki­ran dan ren­ca­na­nya meli­hat Kesyah­ban­daran dijaga oleh pra­ju­rit-pra­ju­rit penga­wal, Seo­rang pra­ju­rit ber­la­rian datang pada­nya dan mem­beri tahu­kan dengan cepat-cepat: ‘Tuan Syah­ban­dar Tuban? Segera ting­gal­kan tempat ini”

“Inilah Syah­ban­dar Tuban baru tiba.”

“Segera ting­gal­kan tempat ini.”

“Jan­tung­nya ber­de­bar-debar. Barang-barang itu masih ter­tum­puk di tepi jalanan taman di depan rumah. Para peng­ang­kut masih pada ber­diri menunggu perin­tah. Sudah ada Syah­ban­dar lain­kah karena aku pergi tanpa minta diri tanpa izin? Semua yang diren­ca­na­kan goyah.

Dalam waktu pendek ia meng­am­bil sikap yang biasa: was­pada ter­ha­dap segala yang jelek. Otak­nya kem­bali bekerja keras. Ia balik kanan jalan keluar dari pela­taran kesyah­ban­daran dan para peng­ang­kut mulai meng­ang­kati barang-barang­nya. Dari bela­kang­nya ia dengar sese­o­rang ber­lari-larian. Ia ber­pa­ling dan meli­hat seo­rang pra­ju­rit datang menyu­sul­nya dan menyi­la­kan­nya masuk. Ia ter­se­nyum puas menge­ta­hui ia dike­nal dan diakui kem­bali oleh praja Tuban. Segala-gala­nya akan jadi baik kem­bali seperti dulu.

Ia masuki ruang depan. Kosong! Hanya sebuah bangku kayu kasar ber­diri di pojo­kan. Di atas duduk: ya, sia­pa­kah orang yang ber­ku­mis dan ber­jeng­got itu?

Orang itu diapit oleh dua orang penga­wal ber­tom­bak, melam­bai­kan tangan memang­gil­nya agar men­de­kat Ia tak ber­i­kat kepala. Rambut pan­jang­nya yang ikal jatuh ber­gu­lung-gulung di atas bahu, pung­gung dan seba­gian malah menu­tupi muka­nya.

‘Tuan Syah­ban­dar,” tegur­nya ramah tanpa meng­hor­mat­i­nya, bahkan tetap duduk di atas bangku.

Tholib Sung­kar Az-Zubaid men­de­kat, kemu­dian ber­henti dan ber­diri empat depa di depan­nya. Sia­pa­kah orang ini? Ia tak menge­nal­nya lagi Orang Demak­kah gerangan? Demak? Keri­ngat dingin mulai meng­u­cur pada pung­gung­nya. Ia hanya dapat mem­bung­kuk meng­hor­mat dan dengan tangan kanan ber­te­kuk di depan dada.

Dan orang yang duduk di depan­nya itu bicara tanpa meng­ge­rak­kan badan atau kepala atau­pun tangan. Kepa­la­nya masih juga menun­duk. Hanya mata sebe­lah­nya ter­tu­tup rambut meman­dang tajam pada­nya.

“Jadi Tuan Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa datang lagi.”

Baru­lah Tholib Sung­kar tahu ia sedang ber­ha­dapan dengan Patih Tuban Kala Cuwil Sang Wira­bumi.

“Tugas sahaya seba­gai Syah­ban­dar Tuban memang­gil, Gusti Patih,” jawab­nya.

Ia lihat tangan Kala Cuwil ber­ge­rak. Telun­juk­nya menu­ding ke arah muka Syah­ban­dar, dan sua­ra­nya ter­de­ngar pelahan dan parau: “Lihat­lah dia, hei kalian, ter­pang­gil kem­bali oleh tugas­nya.”

“Demi­ki­an­lah yang ditu­gas­kan oleh Gusti Adi­pati Tuban pada sahaya.”

Kala Cuwil men­ja­tuh­kan tangan pada pang­ku­an­nya. Ia keli­hatan sangat lelah. Kepa­la­nya tetap tak ber­ge­rak. Dan Syah­ban­dar itu sudah sangat ingin menge­ta­hui meng­apa Sang Patih berada di gedung kesyah­ban­dar­an­nya.

“Penga­wal!” kata Sang Patih. Sua­ra­nya lelah.

“Masuk­kan dia ke dalam krang­keng.”

“Krang­keng?” pekik Tholib Sung­kar.

“Ya, krang­keng orang-orang Peranggi dulu: “ Dan dua orang penga­wal itu menang­kap­nya.

“Apa dosa sahaya. Gusti?”

“Letak­kan di der­maga. Tabuh­kan canang untuk­nya. Peranggi biar tahu, Tuban tetap pada sikap­nya.”

“Sahaya Moro, Gusti, bukan Peranggi.”

Dengan suara dan tenaga tuanya Tholib Sung­kar meronta dan mem­bang­kang. Sia-sia. Ia dise­ret ke bela­kang kesyah­ban­daran dan dima­suk­kan ke dalam krang­keng besi, dikunci dari luar.

Ia pegangi jeriji krang­keng dan digun­cang-gun­cang­kan. Besi itu tak sudi takluk pada kema­u­an­nya. Mata­nya liar ber­pen­daran ke mana-mana. Dan tak ada dili­hat­nya Nyi Gede Kati. Paman Marta pun tidak. Yang ada hanya pra­ju­rit-pra­ju­rit penga­wal.

Orang mulai menyo­r­ong krang­keng beroda itu ke der­maga. Ia ber­seru-seru gila, memang­gil-mang­gil Sang Adi­pati, Nyi Gede Kati, Paman Merta, bahkan juga Wirang­gal­eng. Sua­ra­nya geme­tar sei­rama dengan gele­ta­ran krang­keng yang diso­r­ong.

Seo­rang penga­wal ber­lari-larian menyu­sul dan menye­rah­kan tarbus dan tong­kat­nya yang jatuh.

“Sudah, jangan ribut-ribut,” nasi­hat penga­wal itu.” Nyi Gede Kati nanti akan datang kalau dia tahu kau ada di sini.”

“Gusti Adi­pati—,” ia mera­ung.

“Apa yang kau raung­kan? Dia sudah lama mati.”

Syah­ban­dar itu ber­henti mera­ung. Ia meng­gi­gil. Tak ada lagi keku­atan yang seka­rang akan melin­dung­i­nya. Sang Adi­pati telah lama mati, kata­nya. Seo­rang pra­ju­rit takkan ber­kata seka­sar itu pada raja­nya. Tentu Sang Adi­pati memang sudah mang­kat. Ah-ah, maut ter­nyata lebih dekat dari­pada yang diduga. Ia ter­du­duk di pojo­kan dan tulang-tulang-nya terasa sakit ter­kena ruji-ruji. Seki­ra­nya ia ber­la­yar ke Malaka, pas­ti­lah tiada akan begini jadi­nya.

Dan krang­keng itu ber­henti di der­maga. Penga­wal-penga­wal itu telah pergi. Ia pan­dangi laut dengan perahu-perahu kecil yang ber­te­baran. Dan tak sebuah pun kapal pasukan laut Tuban yang nampak.

Apalah arti hidup sema­cam ini? Laut itu pun sudah kehi­langan arti. Langit di atas hanya menyik­sa­nya dengan panas­nya senga­ngar. Semua manu­sia hanya memu­suh­i­nya. Semua kata hanya menya­kit­kan hati­nya. Dari alun-alun ter­de­ngar canang dipu­kul ber­talu-talu memang­gil orang untuk men­de­ng­ar­kan peng­u­muman. Orang pun mulai ber­du­yun-duyun ber­la­rian, bere­but dulu untuk dapat meli­hat Syah­ban­dar Tuban dalam krang­keng. Orang ber­so­rak-sorak

Syah­ban­dar itu mem­bu­ang muka ter­ha­dap bon­do­ngan orang yang bakal menon­ton­nya. Ia tak tahu betapa orang seba­nyak itu sudah lama ter­lalu jeng­kel ter­ha­dap­nya, dan tak dapat ber­buat sesu­atu pun karena per­lin­dungan Sang Adi­pati. Ya, Allah apa lagi­kah yang akan menimpa diriku ini? Belum cukup­kah keta­kut­anku selama ini, yang telah Kau beri­kan jalan keluar? Tidak­kah aku Kau sela­mat­kan dari orang seba­nyak itu?

Ia telah dengar lang­kah kaki ber­la­rian meng­ham­piri. Dan ia tahu tak dapat mem­bela diri. Tak ada peno­long dalam bentuk manu­sia akan datang pada­nya, seka­li­pun sua­ra­nya sampai pada tepian langit, dan seka­li­pun kerong­kong­an­nya sampai pecah karena itu.

Mata­nya meng­em­bara dari ruji ke ruji, kemu­dian dile­pas­kan­nya ke laut, jauh, jauh, ke tempat tanpa manu­sia. Tetapi ing­atan, bahwa dalam krang­keng ini pula ia telah mem­bu­nuh Este­ban dan Rodri­guez, mem­bi­kin bulu badan­nya meng­ger­mang. Ia meli­hat jeruji atas di mana dulu salah seo­rang di antara kor­ban­nya meng­ge­lan­tung meng­e­lak­kan diri dari tikaman. Dan ia tikam dia waktu kilat menge­r­jap, dan ia rasai ujung pisau tong­kat ber­ta­rung oleh tulang, dan tubuh itu jatuh ber­gede-buk di tempat ia duduk seka­rang. Tidak, tidak ada seo­rang saksi waktu itu. Ia pan­dangi keli­ling­nya; mulut-mulut yang melu­dahi, lubang-lubang hidung yang menga­nga menyem­bur­kan napas pengap, mata yang menyala-nyala penuh dendam. Akhir­nya ke laut juga pan­dang­nya lebih aman, pada kaki langit, pada perahu-perahu yang sema­kin kecil juga. Tidak, tidak ada saksi! Tapi apa pula arti­nya saksi dalam pengu­rusan hukum Pri­bumi di Tuban? Mati. Mati juga yang akan diha­dap­i­nya.

Dan ia belum rela mati. Dengan peng­a­laman seba­nyak itu, dengan kelin­ca­han dan kefa­sihan seba­nyak dan sebaik itu… mung­kin­kah seo­rang manu­sia harus mati dalam kea­daan sehina ini? Tidak! Tidak layak! Hanya orang dungu tak ber­peng­a­laman, tak ber­ilmu, mati hina.

Orang makin banyak juga datang ber­du­yun. Dalam waktu pendek ia telah mandi air ludah dan keri­ngat sen­diri, basah-kuyup. Selu­ruh badan­nya berbau amis. Ia tak tahu tulisan apa yang ter­pa­sang di luar krang­keng.

Karena tak tahan ter­ha­dap per­la­kuan itu ia men­coba meng­u­sir mereka dengan tong­kat­nya. Dan mereka sama sekali tidak takut pada tong­kat itu. Ter­pi­kir oleh­nya untuk meng­gu­na­kan pisau tong­kat dan meng­a­muk. Tapi ia masih meng­ha­rap­kan peng­am­punan dan hidup. Dan ia tidak berani.

Ia tak dapat mem­bela diri apa lagi mela­wan orang seba­nyak itu, seka­li­pun mereka hanya melu­dah dan menyum­pah. Dica­ri­nya tempat paling tengah, men­ja­uhi tangan-tangan jahil yang mena­rik-narik rambut, tarbus dan bahu­nya, tepat seperti dia­lami Este­ban dan Rodri­geuz dulu. Dan di situ­lah ia duduk tak mem­pe­du­li­kan kata orang, duduk mem­bung­kuk meme­luk lutut, meneng­ge­lam­kan muka, dengan pantat sakit ter­kena ruji besi.

Ia men­coba ber­pi­kir dan ber­pi­kir. Jalan harus dite­mu­kan untuk dapat lolos dari krang­keng ini. Yah, Yakub harus datang meno­long. Atau,.... ter­ke­jut ia. Mung­kin dia takkan datang untuk meno­long, dia hanya akan meno­long dir­i­nya sen­diri dan takkan ragu-ragu menu­ding aku, bahkan mem­bu­nuh aku, presis seperti aku sen­diri telah laku­kan ter­ha­dap Rodri­guez dan Este­ban. Dia punya alasan, Yakub ter­ku­tuk itu. Dia sudah jual kete­rangan pada Cortez dan Mar­ti­ni­que, pada siapa saja yang mau men­de­ng­ar­kan dan mau mem­ba­yar­nya dengan uang – uang apa saja, asal emas atau perak. Di mana si ter­ku­tuk itu seka­rang? Pantas dia jarang keli­hatan lagi.

Hujan ludah terus ber­lang­sung. Suara bising melam­pi­as­kan dendam dan kejeng­kelan ter­ha­dap dir­i­nya ber­gu­lung tak bisa ditang­kap kata-kata­nya.

Ia mene­kun ruji-ruji besi di bawah­nya dan pasir der­maga yang seben­tar tadi telah dici­um­nya dengan penuh peng­ha­rapan. Wajah-wajah di seke­li­ling­nya menge­r­nyit dan meng­an­cam, meri­ngis dan merongos, mem­be­la­lak dim menge­dip-ngedip, mener­ta­wa­kan dan mele­dek, mera­ung dan meng­i­kik, menye­ngir dan menye­ri­ngai, memonyong dan men­je­bik.

Orang-orang semua ini akan tetap jadi iblis yang menari-nari di seki­tarku. Harus ada keku­atan yang mele­pas­kan diri dari semua ini. Hati-hati, kalian, sekali krang­keng ini jebol, dan keku­a­saan ada padaku kem­bali… kalian akan remuk di dalam tanganku. Aku bukan­lah bagian gerom­bolan dungu seperti kalian, hewan yang tak ber­pi­ki­ran sen­diri! Kalian hanya lalat per­u­bung bang­kai! Tidak lebih. Sekali pukul semua kalian akan binasa.

Ia diam saja dalam duduk­nya. Badan dan pakai­an­nya sema­kin basah. Ludah itu bukan lagi menem­pel pada pakaian dan badan, malahan sudah mulai meng­a­lir dan mene­tes. Dan udara pengap dan bau amis itu – betapa beda­nya dari udara segar di atas sana. Dan angin yang tak henti-hen­ti­nya meniup tak sampai pada­nya, ter­ha­lang oleh ratusan, ribuan orang yang menge­pung­nya.

Para penon­ton mulai lelah dengan ting­kah­nya. Mereka mulai meni­pis. Dengan liri­kan ia ikuti di antara keti­pisan penon­ton itu kanak-kanak pada pulang sambil ber­jing­k­rak mem­bawa berita gempar untuk di rumah. Ia tak tahu lagi berapa orang yang masih ting­gal. Per­ca­kapan antar-mereka mulai dapat ia tang­kap satu-dua patah kata, tapi tetap tak jelas.

Matari teng­ge­lam dan kea­daan mulai sepi Deburan laut kini men­jadi jelas men­ca­pai pen­de­ng­ar­an­nya.

Tidak, Yakub, kau tak perlu datang, apa lagi malam-malam begini.

Baru­lah ia meng­ang­kat kepala. Dan segera ia menun­duk lagi meli­hat masih ada seo­rang ber­diri dengan dua tangan ber­pe­gangan pada jeruji. Ia per­ha­ti­kan kaki­nya. Hanya seo­rang, dan tak ber­ge­rak-gerak. Meng­apa dia tak pulang seperti yang lain-lain? Anjing yang seekor ini?

Jan­tung­nya yang selama ini meriut kecil seka­rang ber­de­baran. Ia dengan tarikan napas orang itu. Sia­pa­kah kira­nya dia yang ber­jual sim­pati pada orang di dalam krang­keng maut ini?

‘Tuan Syah­ban­dar!” ia dengar pang­gilan pelahan.

Tholib Sung­kar ber­diri bangun dan menub­ruk penon­ton yang ter­a­khir itu. Ia tak rasa­kan kaki­nya kelu karena semutan.

“Kati, Kati! Nyi Gede!” desau­nya, “istriku yang setia. Aku tahu kau akan datang.”

“Bagai­mana, Tuan Syah­ban­dar, meng­apa jadi begini?”

“Bagai­mana? Bagai­mana aku tahu? Hanya kaulah yang bisa tolong aku. Kati, istriku yang setia, hanya kau!”

“Ah, Tuan, bagai­mana Tuan bisa tak tahu Gusti telah mang­kat?”

Syah­ban­dar itu ter­ba­tuk-batuk. Jadi benar juga kata orang. Mela­lui jeruji besi ia pengangi lengan Nyi Gede, ber­bi­sik: “Meng­ha­dap­lah pada Sang Patih.”

“Sahaya akan meng­ha­dap. Tuan.”

“Ya-ya, meng­ha­dap­lah kau, istriku yang setia, yang berani, yang mulia. Kati, Nyi Gede Kati….”

“Meng­ap­a­kah-Tuan kem­bali ke Tuban?”

Sema­ngat Tholib mulai bang­kit lagi. Dengan istri­nya ini ia merasa men­jadi kuat. Dengan suara ber­ke­ya­kinan dalam kegu­gupan ia men­ja­wab: “Allah mengir­im­kan aku kemari dan Allah­lah yang akan meng­hu­kum orang-orang zalim itu. Allah telah mem­bi­sik­kan padaku untuk meng­am­bil dan meme­li­hara istri­nya sebaik-baik­nya…”

“Sahaya bawa­kan makan seka­dar­nya, Tuan. Makan­lah. Juga air minum. Siapa pun tahu Tuan takkan suka makan dalam kea­daan seperti ini. Tapi Tuan harus makan, dan minum­lah banyak-banyak, karena hari besok akan punya kemung­kinan lain.”

Ia sor­ong­kan lodong bambu berisi air.

Syah­ban­dar itu merasa agak ter­hi­bur. Ia makan sedi­kit, dan Nyi Gede per­gi­lah tanpa mening­gal­kan sepa­tah kata.

Menge­ta­hui sua­mi­nya hanya mau makan dari kirim­an­nya Nyi Gede Kati meng­u­sa­ha­kan datang ke krang­keng pada setiap hari bila para penon­ton sudah tiada.

Pada hari ke tiga per­ca­kapan di antara jeruji besi ter­jadi seperti ini: “Orang datang padaku hanya untuk meng­e­jek, men­ce­mooh dan melu­dahi aku, Kati,” Tholib meng­adu. “Mereka meng­hina, men­ci­bir, mener­ta­wa­kan. Kalau tiada larangan mung­kin mereka telah bunuh aku. Hanya kau, istriku yang setia, yang meme­li­ha­ra­kan aku. Allah akan mem­ba­las semua keba­jik­anmu. Ampun­i­lah segala per­bu­at­anku yang pernah menya­kit­kan hatimu. Demi Allah, bila umur pan­jang akan aku mul­i­a­kan kau, Kati.”

“Terima kasih, Tuan. Suka atau tidak, sahaya adalah istri Tuan. Bagai­mana bisa mem­bi­ar­kan Tuan begini? Sahaya sudah meng­ha­dap Sang Patih.”

“Ya-ya, bagai­mana hasil­nya?” Tholib menyam­bar dengan rakus.

“Nanti, nanti! kata Gusti Patih, dan cuma itu. Tuan.”

Syah­ban­dar Tuban melengos dan meng­em­bus­kan napas pan­jang kemu­dian duduk tanpa daya.

“Ya Allah,” keluh­nya, “siang panas dan malam dingin, terus-mene­rus ter­kena angin. Siksa dan aniaya macam apa ini – sampai kap­an­kah ber­a­khir?”

“Sabar­lah, Tuan, baru tiga hari. Semua bakal ada akhir­nya juga.” Lama suami-istri itu ber­diam diri. Tholib menun­duk dan istri­nya meng­a­was­i­nya dengan duka­cita.

“Ampun­i­lah sahaya tak dapat ber­u­saha lebih baik.” Syah­ban­dar meng­ang­kat muka dengan harapan amat sangat pada kemu­r­ahan dan kesu­dian istri­nya: “Coba­lah meng­ha­dap kepala-kepala pasukan, Kati.”

“Semua telah sahaya usa­ha­kan. Tuan.”

Syah­ban­dar menun­duk lagi. Seka­rang ter­pi­kir oleh­nya akan kesu­l­itan Nyi Gede dan ber­ta­nya: “Bagai­mana hidupmu. Kati, istriku?”

“Seperti yang lain-lain. Tuan-”

“Tia­da­kah kau men­da­pat­kan kesu­l­itan dari mereka?”,

“Apakah salah­nya ber­su­lit-sulit untuk suami yang sedang men­de­rita?”

“Betapa mulia hatimu. Nyi Gede. Meng­apa baru aku keta­hui seka­rang? Betapa bodoh­nya aku ini.”

“Syukur kepada Allah, Tuan, bahwa akhir­nya Tuan menge­nal juga adanya kemu­li­aan dalam hati manu­sia. Sahaya ber­ba­ha­gia menge­ta­hui itu, Tuan.”

Dan per­gi­lah wanita itu pulang sete­lah menyo­r­ong­kan bebe­rapa lodong bambu air untuk mandi sua­mi­nya.

Ia menuju ke gubuk­nya di daerah bandar, sebuah pondok kecil tak ber­jen­dela, ber­pintu satu, dan semua ter­buat dari daun kelapa, bekas tempat ting­gal wanita gelan­dangan.

Kema­rin ia menge­ta­hui seo­rang-dua anak meng­i­kut­i­nya. Seka­rang lebih banyak lagi. Mereka ber­so­rak-sorak di bela­kang­nya, seperti sedang meng­iring­kan orang gila. Ia anggap ini juga bagian dari kesu­l­it­an­nya untuk mengu­rus sua­mi­nya. Maka ia harus meng­ha­dap­i­nya dengan tabah dan sabar.

“Sudah­lah, anak-anak, jangan ganggu juga nenek tua ini,” ia ber­henti di depan pintu dan mene­ngok pada mereka.

Anak-anak ber­seru-seru riang setiap ia mem­per­de­ng­ar­kan sua­ra­nya.

“Meng­apa cuma kau yang mau mengu­rusi Alma­sawa?”

“Hanya orang gila mau mela­yani dia!” yang lain menam­bahi.

“Kau gila, Nek?”

“Ya, ya, gila dia. Dulu di gedung bagus, seka­rang di gubuk. Bagai­mana takkan gila.”

Nyi Gede Kati mem­buka pintu, disam­but oleh kege­lapan di dalam dan menyi­la­kan anak-anak itu masuk.

Mereka hanya ber­so­rak-sorak senang. Salah seo­rang yang mem­bawa sebi­lah ran­ting men­coba meng­ge­li­tik­i­nya. Ia tang­kap ran­ting itu dan mena­rik­nya. Seje­nak anak itu ter­bawa dan Nyi Gede mele­pas kem­bali. Anak itu jatuh ter­du­duk. Yang lain-lain sema­kin ramai ber­so­rak-sorak

Kalau aku punya anak, pikir Nyi Gede, mung­kin ada dia di antara mereka. Ia ter­se­nyum.

“Masuk­lah kalau kalian suka. Biar kita ber­se­nang-senang di dalam gubuk. Mari aku nya­la­kan lampu. Mari masuk.”

Ia per­cik­kan batu api dan menya­la­kan­nya pada kawul. Kemu­dian pada batang kayu ber­be­le­rang. Waktu api telah jadi ia nya­la­kan pelita, menyi­la­kan: “Ayoh masuk, di dalam sini masih ada sedi­kit makanan.”

Dan anak-anak itu mulai jadi ragu-ragu. Seo­rang yang paling kecil dilam­bai­nya. Dan anak itu ber­ge­rak mundur-mundur dengan pan­dang meman­car­kan keta­kutan.

“Nah, pulang­lah kalau kalian tak suka masuk.”

“Meng­apa kau urus si Alma­sawa?” seo­rang yang ter­be­sar mem­be­ra­ni­kan diri ber­ta­nya.

“Meng­apa? Dia sua­miku.”

“Dia peng­khi­a­nat! Kalau tak jahat tak mung­kin di krang­keng.”

“Seki­ra­nya dia bapakmu, kau pun harus mengu­rus­nya, bukan? Walau dia pen­ja­hat?”

“Tidak bisa!” pekik anak paling besar itu. ‘Tidak mung­kin bapakku seperti dia!”

“Ah, Nak, siapa tahu bolak-balik­nya nasib?”

Tapi anak itu tak dapat meneng­gang kata-kata seperti itu. Ia ambil batu dan melem­par­kan­nya pada Nyi Gede. Wanita itu cepat-cepat menu­tup pintu, anak-anak yang lain mulai meng­hu­jani pondok daun kelapa itu dengan keri­kil dan ker­a­kal.

Seminggu Tholib Sung­kar Az-Zubaid alias Sayid Mahmud Al-Badawi alias Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa diku­rung di dalam krang­keng, kem­bali ter­jadi kera­maian. Ton­tonan baru telah ter­jadi untuk pen­du­duk Tuban Kota: Yakub, ter­i­kat tangan­nya, ber­ja­lan menun­duk dalam penga­walan pra­ju­rit-pra­ju­rit.

“Semua begun­dal Peranggi ter­tang­kap!” seo­rang pra­ju­rit ber­te­riak meng­u­mum­kan.

“Dulu dibi­ar­kan mera­ja­lela.”

Peng­u­muman itu seperti sam­ba­ran petir dalam dada Syah­ban­dar. Kini ia meng­erti per­ka­ra­nya. Dan ia harus ber­siap-siap meng­ha­dapi per­so­alan itu.

Orang ber­bon­dong-bon­dong turun ke der­maga, tak meng­gub­ris­nya lagi. Ia lihat semua orang ber­ja­lan cepat-cepat atau lari ke jurusan kesyah­ban­daran. Larangan masuk ke pela­taran rumah­nya sudah tidak ber­laku lagi.

Dari keja­uhan ia meli­hat Yakub ter­i­kat dalam giringan. Jan­tung­nya sema­kin ber­de­baran: peng­a­dil­an­nya akan segera dibuka. Ia telah dapat meng­am­bil sikap: ia akan lem­par­kan segala kesal­ahan pada si pewamng jaha­nam. Hanya kefa­sihan seka­rang yang akan bisa sela­mat­kan aku, ia memu­tus­kan dalam hati. Hanya kefa­sihan. Yakub tak kurang fasih­nya. Dia harus meng­a­kui keung­gul­anku sekali ini.

Dan ia lihat Yakub dibawa masuk ke kesyah­ban­daran. Ia menunggu sampai sore hari.

Seo­rang pra­ju­rit penga­wal datang pada­nya. Tholib mene­nang-nenang­kan hati­nya. Seka­rang­kah peng­a­dilan dimu­lai? Apa? Pra­ju­rit itu tidak mem­bu­ka­kan pintu krang­keng. Senyum ramah­nya untuk minta kete­rangan dija­wab dengan seri­ngai oleh pra­ju­rit itu. Dan seri­ngaian itu mema­tah­kan senyum­nya.

Pra­ju­rit-pra­ju­rit lain pada ber­da­tangan. Kemu­dian bon­do­ngan orang pun ber­da­tangan. Salah seo­rang yang baru datang menu­ding­nya dengan muka merah oleh murka: “Bede­bah! Jadi kau sudah sekong­kol jadi raja-muda Peranggi di Tuban? Bede­bah!”

“Tidak benar,” bantah Tholib.

“Dan Yakub akan jadi patihmu!”

”Bohong!” pekik Syah­ban­dar, men­duga begi­tu­lah peng­a­dilan atas per­ka­ra­nya mulai disi­dang­kan.

“Kau kirim­kan meriam pada si bran­dal Kiai Beng­gala buat tum­bang­kan Tuban. Semua kawula Tuban, deng­ar­kan jawab­an­nya.”

Keper­ca­yaan diri Syah­ban­dar mulai gun­cang. Kefa­sih­an­nya yang diper­si­ap­kan macet. Inikah macam­nya? Bagai­mana Tuban atas diri dan per­ka­raku? Inikah macam­nya? Bagai­mana aku mesti mem­bela diri di depan peng­a­dilan sema­cam ini? Siapa sesung­guh­nya penu­duh dan siapa pula hakim­nya?

“Kau suruh orang meng­am­bil meriam-meriam dari kapal Peranggi sambil meng­an­tar­kan dua orang Peranggi itu dalam kea­daan ter­be­lenggu dan ter­bius.”

“Bohong! Tidak benar! Fitnah!” raung Tholib Sung­kar dalam kegu­gup­an­nya.

“Yakub dan gerom­bol­an­nya yang kau suruh.”

“Yakub kepa­rat!” pekik tahanan itu. Ia tetap kehi­langan kese­im­bang­an­nya. Ia ber­diri tegang di tengah-tengah krang­keng dengan meme­gangi tong­kat. Semua yang telah diper­si­ap­kan dalam piki­ran bubar. Ia merasa tak ada sesu­atu pun yang bakal meno­long­nya. Tuhan tidak, kecer­dasan dan kefa­sihan sen­diri pun tidak. Piki­ran­nya tetap tak mau bekerja seba­gai­mana harus­nya. Dengan putus-akal ia tutup muka­nya dan hanya kata-kata itu juga yang keluar

“Yakub kepa­rat! Yakub kepa­rat!”

“Raja-muda Tuban!” orang-orang mulai ber­so­rak menu­duh.

“Syah­ban­dar! Syah­ban­dar! Syah­ban­dar! Syah­ban­dar!” ia meme­kik sejadi-jadi­nya, terus-mene­rus dalam gelora sorak-sorai menu­duh.

Mata­nya mem­be­liak tanpa meli­hat keluar, tapi ke dalam batin sen­diri. Dan batin itu kehi­langan kemam­puan untuk mem­bela nyawa sen­diri.

“Kiai Beng­gala ber­ki­rim surat padamu mela­lui Wirang­gal­eng.”

“Tidak! Tidak benar. Wirang­gal­eng keliru!” pekik­nya, kemu­dian men­de­sau-desau, “Wirang­gal­eng keliru!” pekik­nya, “sung­guh-sung­guh sesat, keliru.”

“Kau bunuh Este­ban.”

“Tidak, tidak, bukan aku mem­bu­nuh­nya. Bukan. Bukan.”

Krang­keng itu telah diling­kari oleh padatan manu­sia. Semua mata ter­tuju pada­nya. Dan setiap pan­dang meng­an­cam­nya.

“Siapa yang mem­bu­nuh dia?”

“Bukan aku. Yakub!”

“Pem­bo­hong!” pekik orang itu.

Dan orang-orang pun ber­seru-seru menyum­pah­i­nya, meng­an­cam, men­ce­mooh dan meng­hi­na­nya. Suara-suara itu ber­ga­lau men­jadi satu. Syah­ban­dar tak dengar kata-kata mereka. Hanya hati­nya dapat menang­kap ancaman yang ter­kan­dung di dalam­nya.

“Kau bunuh Rodri­guez!”

“Tidak. Tidak. Bukan aku. Yakub yang mem­bu­nuh­nya.”

“Pem­bo­hong.”

“Betul. Betul bukan aku. Bukan.”

“Kau khi­a­nati Sultan Mahmud Syah Malaka.”

“Bukan. Bukan aku. Sung­guh bukan aku. Yakub yang meng­khi­a­nati.”

“Kau racuni gajah-gajah Sultan Mahmud Syah.”

“Tidak. Bukan. Tidak kura­cuni gajah-gajah itu.”

Panas matari tak ter­ta­han­kan oleh semua orang. Baik para pra­ju­rit maupun rom­bongan penon­ton telah meni­pis mening­gal­kan der­maga. Angin men­de­sau pada teli­nga­nya, dan ter­de­ngar oleh­nya seakan melan­jut­kan tuduhan: “Kau bius Idayu!”

‘Tidak benar!” ia mera­ung melo­long. ‘Tak pernah aku bius Idayu atau siapa pun. Dan Gelar bukan anakku. Benar, tidak, tidak, tida­a­a­a­aak!”

“Kau nasi­hati Kiai Beng­gala untuk men­cu­lik Idayu anak-ber­a­nak,” desau angin mene­rus­kan tuduh­an­nya.

“Bohong! Semua bohong! Kiai Beng­gala yang men­cu­lik Nyi Gede Idayu. Bukan aku.”

“Kau tipu Gusti Adi­pati dengan cerita-cerita bohong.”

“Aku orang suci!” raung Tholib putus-akal.

Tiba-tiba ia merasa sangat haus. Ia cari-cari lodong air dari bambu dan mene­guk­nya puas-puas. Ia tebar­kan pan­dang­nya ke keli­ling. Tak ada seo­rang pun di dekat­nya, Ia menge­luh dan mena­ngisi keti­dak­mam­pu­an­nya sen­diri.

Aku sudah patah, ia menye­dari. Ya, Allah, Kau hukum aku sampai begini macam. Tak Kau biar­kan aku mem­bela diri. Kau telah tutup kefa­sihan dan kecer­das­anku. Kau telah rampas kese­im­bang­anku. Kau telah bikin aku jadi gila dan hina begini. Tak pernah piki­ran sebe­bal ini. Bahkan angin pun kukira menu­duh pula. Sudah hilang ing­at­an­kah aku ini?

Ia gigit jari­nya dan ia masih rasai nyeri. Mereka datang lagi, ia mem­per­i­ng­at­kan dir­i­nya, Kem­bali bon­do­ngan orang datang. Mereka tetap ber­so­rak-sorai dengan makian, hinaan dan ludah­nya. Bera­mai-ramai mereka men­do­r­ong krang­keng beroda itu mening­gal­kan der­maga. Badan Tholib meng­ge­le­tar karena gele­ta­ran krang­keng dan ber­a­yun-ayun mem­per­ta­han­kan kese­im­bangan.

“Besok krang­keng dan isinya akan dice­bur­kan ke laut!” sese­o­rang ber­seru.

“Besok, Ulas­awa, Raja-muda Peranggi, besok!” yang lain menam­bahi dengan gemas­nya.

Dan besok sele­sai­lah apa yang dina­mai hidup ini. Kiamat pun boleh jadi tidak akan sampai sehe­bat ini. Kepa­rat! Ia sudah tak peduli akan dibawa ke mana krang­keng itu, dan meng­apa dengan isinya sekali.

Men­da­dak per­ha­ti­an­nya ber­a­lih pada rom­bongan lain yang menyor­aki Yakub, menuju ke arah krang­keng­nya yang telah ber­henti di tengah-tengah lap­angan bandar.

Ia lihat Yakub ber­henti di dekat­nya, kemu­dian orang meng­i­kat­nya pada seba­tang patok barang tiga depa dari krang­keng­nya. Suatu padat-an manu­sia telah meling­kar lebar.

“Nah, kata­kan semua tadi, Yakub!”

“Dia itulah,” Yakub memu­lai dengan menu­ding Syah­ban­dar Tuban dengan dagu­nya, “dia itulah biang keladi segala-sega­la­nya. Sahaya seka­dar men­ja­lan­kan perin­tah­nya seba­gai bawahan.”

Tholib Sung­kar Az-Zubaid sengaja ber­diam diri. Ia ber­u­saha memu­lih­kan kemam­puan dan nilai-nilai pri­ba­di­nya. Tetapi tuduhan Yakub lebih kuat dari­pada usa­ha­nya. Sepa­rah dari semua tuduhan Yakub ter­tang­kap oleh­nya dan seper­em­pat dari usa­ha­nya men­da­pat­kan hasil. Sete­lah orang men­de­sak dan memaksa-maksa untuk men­ja­wab, keluar juga kata-kata­nya: “Demi Allah. Orang itu hanya penipu. Telah kuje­la­jahi bandar-bandar di dunia ini, dan semua, semua pewa­rung arak adalah penipu Tak pernah ada seo­rang pewa­rung arak diper­ca­yai omong­an­nya. Sia­pa­kah yang lebih diper­caya oleh Gusti Adi­pati Tuban yang bijak­sana itu? Aku atau­kah dia?” ia ter­tawa meng­hi­na­kan.

“Siapa yang jadi Syah­ban­dar Tuban? Aku atau­kah dia?” Ia ter­tawa meng­hi­na­kan. “Siapa yang jadi Syah­ban­dar Tuban? Aku atau­kah dia? Kata­kan, kau, Yakub, kau bukan penipu. Ayoh, buk­ti­kan.”

Seka­rang Yakub­lah yang tak mau bicara, Ia hanya menun­duk, sese­o­rang telah meng­am­bil­kan kopi­ah­nya dan menge­na­kan­nya pada kepala Yakub.

“Bicara, kau, Yakub!” bentak sese­o­rang.

“Semua telah sahaya per­se­m­bah­kan pada Gusti Patih Sang Wira­bumi,” jawab­nya. “Tak ada guna meng­u­langi lagi.”

“Apa telah kau per­se­m­bah­kan, penipu?”

“Kata­kan, Yakub,” seo­rang wanita memo­hon. Dan orang itu adalah Nyi Gede Kati yang ber­pa­kaian com­pang-cam­ping.

Yakub tetap pada sikap­nya.

Men­de­ngar suara istri­nya Tholib merasa men­da­pat sokongan keku­atan batin.

“Ayoh kata­kan, penipu, peng­ha­sut, pem­fit­nah, pem­bu­nuh! Kata­kan di depan semua orang ini bagai­mana kau menipu dan mem­bu­nuh!” ben­tak­nya.

“Sudah tua! meng­ha­dapi maut pun kau masih juga tak punya kehor­matan dan harga diri!” seo­rang pra­ju­rit mem­ben­tak Syah­ban­dar.

Orang pun ber­so­rak dan menye­rang Moro itu dengan ludah.

Kemu­dian ling­karan orang itu pecah. Bebe­rapa orang ter­i­kat dida­tang­kan lagi dan ber­diri beja­jar dii­kat­kan pada tong­gak-tong­gak yang telah ter­se­dia. Orang mulai menge­ru­muni mereka kecu­ali seo­rang: Nyi Gede Kati.

Kesem­patan untuk mem­bela diri hilang punah. Ben­takan ter­a­khir dari pra­ju­rit itu betul-betul menya­kit­kan. Hati­nya kem­bali meriut. Dise­ka­nya hidung­nya dengan lengan baju yang telah dekil.

“Hanya kau tidak per­caya aku ber­sa­lah, bukan, Kati? Meng­apa diam saja? Demi Allah, aku tak ber­sa­lah sedi­kit pun. Memang aku pernah ber­mak­sud meng­a­n­i­aya kau, dulu, tapi kaulah justru yang meng­a­n­i­aya aku, dan aku telah mema­af­kan. Bukan, Kati? Istriku?”

Kati meman­da­ng­i­nya dengan iba sambil menyo­dor­kan bung­kusan daun pisang dengan sepo­tong kelapa meng­in­tip dari celah-celah sobe­kan.

Dari alun-alun ter­de­ngar canang ber­talu-talu. Orang-orang pun ber­lari-lari dalam bon­do­ngan, pergi ke arah datang­nya pang­gilan. Dalam waktu pendek daerah pela­buhan men­jadi sunyi kem­bali.

Bebe­rapa depa dari krang­keng Yakub dan teman-teman­nya ber­diri tanpa daya memung­gungi tong­gak peng­i­kat­nya masing-masing. Tak ada di anta­ra­nya bicara.

“Tuan, biar­lah sahaya pergi dulu men­de­ng­ar­kan peng­u­muman di alun-alun,” Nyi Gede Kati minta diri.

Ia pergi tanpa menunggu jawaban. Syah­ban­dar Tuban hanya bisa meng­iring­kan dengan pan­dang­nya. Sobe­kan pada kain istri­nya itu mem­per­li­hat­kan sedi­kit dari betis­nya. Dan ia ber­pa­ling untuk tak meli­hat­nya.

“Ya, begi­ni­lah macam peng­a­dil­anku,” ia meya­kin­kan dir­i­nya sen­diri, “Sokrot pun lebih baik, ribuan kali lebih baik dari yang bisa diper­buat oleh orang-orang kafir jahil ini.”

Ia meli­rik pada mereka yang ter­i­kat pada tong­gak. Tak ada seo­rang pun di anta­ra­nya men­coba bicara….

Peng­u­muman dari pang­gung alun-alun itu tak kurang meng­gem­par­kan. Seo­rang peseru menyam­pai­kan: gerom­bolan Yakub telah dapat ditang­kap, diper­sa­lah­kan mem­bantu Sayid Habib Almasa wa dalam meng­ge­rak­kan pem­be­ron­takan Kiai Beng­gala, meng­ang­kut dua pucuk meriam dari kapal Peranggi ke pantai dan meng­an­tar­kan­nya ke Rajeg. Ber­sama dengan itu diki­rim­kan pula dua orang pela­yan meriam Peranggi ber­sama dengan meriam itu. Gerom­bolan ini akan men­ja­lani hukuman mati menu­rut perin­tah Gusti Patih Tuban Sang Wira­bumi. Sayid Habi­bul­lah Almasa wa telah dia­dili seba­gai biang keladi utama dan dija­tuhi hukuman krang­keng sampai mati untuk diper­ton­ton­kan pada dunia, ter­u­tama Por­tu­gis.

Peng­u­muman kedua lebih meng­gem­par­kan lagi, menyang­kut semua orang: ter­ke­cu­ali desa-desa dua lapis dari kota, ter­ma­suk Tuban Kota sen­diri, besok harus menyi­ap­kan pasukan pagar desa dan lang­sung ber­him­pun di tanah lapang sebe­lah barat kota sebe­lum matari terbit.

Habis­lah segala ria, habis segala sorak-sorai. Seka­li­gus orang meng­erti: perang baru akan kem­bali ber­ke­c­a­muk. Dan seka­rang Tuban tidak lagi ber­ta­han, tapi menye­rang. Orang kem­bali ke rumah masing-masing, tak meng­in­dah­kan lagi pada mereka yang dija­tuhi hukuman mati. Perang yang akan datang mung­kin mem­bu­nuh setiap orang. Apa pula beda mati pada hari ini atau lusa? Perang! Sekali lagi perang! kapan akan sele­sai semua ini?

Seminggu sete­lah peng­u­muman, perang besar telah ter­jadi di sebe­lah barat luar kota.

Demak sedang memu­sat­kan keku­at­an­nya. Treng­gono telah ber­te­kad bulat meng­gu­na­kan pukulan ter­kuat untuk dihan­tam­kan pada Tuban. Dan Tuban tetap jadi impi­an­nya untuk jadi pang­kalan mene­rus­kan penye­rang­an­nya ke Gresik dan Blam­bangan….

Pasukan gajah Tuban yang selama ini diun­dur­kan ke peda­laman seka­rang dike­rah­kan. Selu­ruh balat­en­tara dipang­li­mai oleh Ban­teng Wareng. Kala Cuwil ting­gal ber­ke­du­dukan seba­gai Patih Tuban merang­kap kepala pasukan gajah.

Balat­en­tara Demak selama ini mere­meh­kan pasukan gajah untuk mem­be­sar­kan hati ten­ta­ra­nya. Sete­lah meli­hat sem­bi­lan puluh ekor gajah ber­ba­ris dalam satu saf dengan iringan pasukan kaki yang mem­be­lu­dak dan pasukan kuda di sela-sela­nya, men­jadi gopoh-gapah dan gentar. Gajah-gajah itu maju terus tanpa meno­leh. Dari setiap ben­tengan kayu di atas­nya diti­up­kan hujan anak panah tanpa henti-hen­ti­nya. Canang perang Tuban ber­talu ber­ba­reng tiada jera-jera­nya, diting­kah oleh sorak pasukan kaki dan pagar desa yang dike­rah­kan.

Pasukan gajah itu ber­ja­lan maju, meng­gi­ling dan mener­jang barang apa yang ada di hadap­an­nya. Baju kubt-ker­bau­nya ber­jala-jala seperti jubah orang-orang Arab, tak mempan dipe­dang, di panah atau­pun ditom­bak. Barisan Demak telah gun­cang dan turun sema­ngat, bim­bang untuk terus maju, mundur pun ragu-ragu, takut tak ter­lin­dungi dari anak panah. Pasukan gajah itu maju terus seperti matari dari timur menyu­supi mega-mega lawan terus ke barat. Semua lari dengan bela­lai naik dan ber­su­ling ber­ba­reng.

Kuda-kuda Demak, meli­hat bukit-bukit pada ber­ja­lan men­da­tangi, lari beling­satan mener­jang-ner­jang barisan sen­diri, tiada ter­ken­da­li­kan.

Maka dari sela-sela gajah-gajah itu kelu­ar­lah pasukan kuda Ban­teng Wareng seperti air curah.

Medan per­tem­puran men­jadi kuning karena kepulan debu dan pasir. Pekikan maut teng­ge­lam dalam sorak-sorai dan canang.

Treng­gono pun gugup meli­hat balat­en­ta­ra­nya rusak dan tetap dalam penge­jaran. Dengan mur­ka­nya ia perin­tah­kan selu­ruh ten­ta­ra­nya mundur ke barat, ke daerah Rem­bang. Dan di sini­lah ia mesang­grah dan menyu­sun kem­bali keku­at­an­nya. Di sini pula ia meng­am­bil putusan untuk meng­hen­ti­kan gerakan mil­iter ke timur buat semen­tara.

Balat­en­tara Tuban sen­diri ber­henti di per­ba­ta­san dan men­di­r­i­kan pesang­grahan di lap­angan ter­buka.


Bab 40

Dan Portugis pun Memasuki Tuban

Kehi­dupan di Tuban agak pulih. Kala Cuwil telah meme­rin­tah­kan para pagar desa untuk pulang ke tem­pat­nya ma-sing-masing dan kem­bali mela­ku­kan peker­jaan sehari-hari.

Bandar Tuban Kota mulai berisi lagi dengan manu­sia.

Selama per­tem­puran di barat kota Nyi Gede Kati tetap mengir­im­kan makanan ke krang­keng, sekali dalam sehari. Dan sampai sebe­gitu jauh sua­mi­nya tak pernah ber­ta­nya bagai­mana ia men­da­pat­kan makan­nya.

Dan ter­j­a­dilah hari itu. Nyi Gede Kati datang pada waktu sore dengan mem­bawa bung­kusan dan lodong air. Dan bung­kusan itu bukan lagi daun pisang, tapi kain batik yang telah usang. Ia menyo­r­ong­kan­nya dari sela-sela jeruji besi, ber­kata: “Kain buruk itu, Tuan, barang­kali ber­guna untuk seli­mut di waktu malam dan ber­te­duh di waktu siang.”

Tepat pada waktu Tholib Sung­kar mene­ri­ma­nya canang pela­buhan ber­talu-talu.

“Ada kapal asing datang!” gumam Syah­ban­dar sambil menin­jau ke menara pela­buhan. “Dan Syah­ban­dar masih di sini,” gumam­nya lagi, seka­rang menin­jau ke ufuk.

“Kau lihat kapal­nya, Kati?”

“Lihat, Tuan.”

“Demi Allah, aku bebas, Kati, karena hanya akulah Syah­ban­dar. Kapal manakah gerangan? Aku tak lihat.”

“Nam­pak­nya kapal Peranggi, Tuan.”

“Peranggi? Masya­al­lah,” mata­nya ber­si­nar-sinar penuh harapan.

“Lihat baik-baik, Kati.”

“Peranggi, Tuan, tiga kapal.”

“Tiga kapal! Dia datang bukan untuk ber­da­gang, Kati,”

Ia men­coba meli­hat, tapi tak dapat. Kele­mahan badan selama ini mem­bi­kin mata­nya men­jadi rabun. Dan mata itu ber­henti pada tong­gak-tong­gak yang selama ini dita­kut­i­nya. Di sana Yakub dan teman-teman­nya telah men­ja­lani hukuman mati, seo­rang demi seo­rang, dipe­ras darah­nya, tetes demi tetes. Ia tak berani meli­hat lebih lama. Kuping batin­nya masih dapat men­de­ngar raungan mereka dan hati­nya meng­ge­le­tar ciut oleh seribu satu macam gam­baran dan pera­saan. Seka­rang: Por­tu­gis! Por­tu­gis datang! Mereka takkan lebih ber­ba­haya dari Kala Cuwil si pongah Tuban itu!

“Alham­dul­il­lah,” sebut­nya ber­kali-kali.

“Perang­gi­i­i­i­iii!” Pekik pen­jaga menara.

Baik Nyi Gede Kati maupun Tholib meli­hat pen­jaga menara itu lari menu­runi tangga. Lari lagi ke kesyah­ban­daran.

Bebe­rapa bentar kemu­dian tiga orang penung­gang kuda ber­pacu hilang di tikungan. Canang alun-alun seka­rang ber­tahi tiada henti-hen­ti­nya, titir tanda bahaya. Canang-canang desa kemu­dian pun ber­talu-talu, mem­be­ri­ta­kan akan datang­nya bahaya dari laut.

Dan balat­en­tara Tuban masih mesang­grah di per­ba­ta­san barat. Canang kemu­dian beru­bah irama, mem­be­ri­kan isya­rat agar semua perem­puan dan anak-anak mening­gal­kan kota dan pergi ke peda­laman.

“Mereka datang!” bisik Syah­ban­dar, “tak salah lagi.”

Nyi Gede Kati meman­dangi sua­mi­nya, men­ci­bir­kan bibir. Tangan sua­mi­nya yang meme­gangi leng­an­nya ia lepas­kan. “Aku akan sela­mat. Tum­pas­lah kau Kala Cuwil!” Dari keja­uhan mulai ter­de­ngar ledakan meriam mele­pas­kan peluru. Tak lama kemu­dian pelu­ru­nya beter­bangan di atas krang­keng. Riuh-rendah atap dan rumah yang bong­kar-bang­kir kena ter­jang.

Sebu­tir peluru meriam yang jatuh di jalanan pasir mem­bi­kin segi­tiga debu yang menyem­prot ke atas, mele­bar. Ditiup angin debu itu pun mengem­bang dan buyar ber­sama dengan angin sore.

Nyi Gede Kati melu­dah. Kemu­dian lari melin­tasi daerah tembak meriam ke sebe­lah timur.

Tholib Sung­kar Az-Zubaid men­de­kam sambil berdoa tiada ber­kepu-tusan. ia tahu peluru-peluru itu tidak menge­nal Syah­ban­dar Tuban. Ia hanya menge­nal sasaran. Dan ia tahu, ia tidak semes­ti­nya jadi sasaran. Ia adalah Tholib Sung­kar Az-Zubaid, tidak lebih dan tidak kurang. Dan Por­tu­gis belum lagi mem­ba­yar penuh untuk segala jasa­nya. Kalau ada peluru menge­nai dir­i­nya ia akan rugi, dan Por­tu­gis tak perlu melu­nasi hutang­nya. Tak patut ia tewas mening­gal­kan piu­tang. Tapi peluru-peluru itu buta, tak menge­nal hutang atau­pun piu­tang. Orang lari ber­se­ra­butan dari bandar. Mere­ka­lah yang lebih berhak men­da­pat peluru, bukan Syah­ban­dar Tuban. Perem­puan yang meng­gen­dong anak sambil mena­rik anak yang lebih besar. Lelaki yang memang­gul bung­kusan. Kakek atau nenek ber­tong­kat, ber­ja­lan lambat-lambat. Seo­rang nenek bong­kok ber­ja­lan tak menentu dengan dua kaki dan dua tangan­nya. Anjing-anjing yang ber­pu­tar-putar seki­tar maji­kan­nya yang sedang meng­ungsi. Dari keja­uhan ter­de­ngar cet­bang dan meriam Tuban mem­be­ri­kan tem­bakan balasan. Nam­pak­nya kapal-kapal Tuban sedang dalam per­ja­lanan kem­bali ke pang­kalan.

Tholib Sung­kar meng­in­tip dari sela-sela jari untuk menyak­si­kan per­tem­puran laut itu. Ia tak meli­hat kapal-kapal Tuban, hanya silang-siur dari peluru di udara, dan hanya tiga kapal Por­tu­gis itu juga yang sema­kin men­de­kat ke bandar.

Riuh-rendah peluru mener­jang bangu­nan. Mem­be­nar­m­kan suara manu­sia dan hewan. Nam­pak­nya kapal-kapal Tuban diang­gap tidak pen­ting oleh Peranggi. Peluru makin men­de­sak ke arah Kota. Dan tak ada seo­rang pun dapat menang­kis. Gedung kesyah­ban­daran telah roboh atap­nya. Dalam hanya seper­em­pat jam telah banyak bangu­nan kota beru­bah bentuk, ber­lu­tut, ber­jong­kok, sujud, atau atap­nya com­pang-cam­ping. Keba­karan mulai muncul di sana-sini. Dan asap hitam menge­pul ke langit senja yang biru itu.

Bandar telah mulai kosong.

Sisa armada Fran­cisco de Sa sete­lah lari dari Sunda Kelapa terus ber­la­yar ke timur. Di luar perin­tah Malaka ia ber­mak­sud melak­sa­nakan ren­cana kedua, men­du­duki bandar Tuban. Sunda Kelapa lepas, Tuban harus kena. Ia harus ting­gal­kan Sunda Kelapa karena tak menge­ta­hui benar per­u­ba­han yang telah ter­jadi. Dan kini, di luar penge­ta­huan Malaka sisa arma­da­nya telah siap untuk ber­la­buh.

Tetapi gang­guan kepal-kapal Tuban, di anta­ra­nya ada yang mele­pas­kan tem­bakan meriam telah menyen­dat­kan ren­ca­na­nya dengan bebe­rapa puluh bentar. Cet­bang-cet­bang itu memang tidak digub­ris­nya, tetapi meri­am­nya harus men­da­pat pela­yanan yang layak. Dengan salvo meriam selama lima bentar, empat buah kapal Tuban telah menye­ro­sok ke dasar laut. Awak kapal yang ber­a­pungan men­jadi isya­rat sal­vo­nya harus di arah­kan ke sasaran semula. Ia perin­tah­kan ber­la­buh dan mem­bu­ang sauh di luar jarak tembak cet­bang. Dan sekod-sekoci mulai ditu­run­kan Menyu­sul kemu­dian ser­dadu-ser­da­du­nya ber­sen­jata leng­kap. Meriam terus memun­tah­kan peluru untuk melin­dungi pen­da­ratan.

Den­dam­nya akan dilam­pi­as­kan­nya pada Tuban. Ia tak dapat mema­af­kan diri dengan kega­gal­an­nya di Sunda Kelapa. Dari nela­yan dan kapal-kapal yang diba­jak­nya baru ia menge­ta­hui, Sunda Kelapa telah jatuh ke tangan Demak. Ia takkan kem­bali ke sana. Dari tang­kapan-tang­kapan di laut itu pula ia menge­ta­hui, Tuban sedang kosong dari balat­en­tara yang sedang ber­pe­rang mela­wan Demak. Dengan jatuh­nya Tuban ke tangan­nya Demak akan putus hubung­an­nya dengan Maluku. Pucuk dicinta ulam tiba. Dengan men­du­duki bandar Tuban ia harus dapat sela­mat­kan muka dan nama­nya.

Adalah mema­lu­kan bagi seo­rang pem­be­sar Por­tu­gis dika­lah­kan oleh Pri­bumi, karena kalah­nya juga keka­lahan ras, keka­lahan agama, keka­lahan keya­kinan. Dan itu tidak boleh ter­jadi atas diri Fran­cisco de Sa.

Ia lihat dari gela­dak­nya sekod-sekoci sudah harus men­da­rat. Dayung ke arah bandar. Tak ada sebuah pun ter­ting­gal. Dalam lima belas bentar pra­ju­rit-pra­ju­r­it­nya sudah harus men­da­rat. Dan dari tero­pong­nya ia meli­hat regu per­tama telah mulai naik ke der­maga tanpa per­la­wanan.

Ia perin­tah­kan menu­run­kan sekoci pim­pinan, dan ia sen­diri tunin ber­sama dengan ajudan dan bebe­rapa orang penga­wal.

Pagar desa Tuban telah dike­rah­kan dengan kilat. Ber­sen­ja­ta­kan tombak, panah dan peri­sai mereka menyerbu ke bandar. Hanya ada bebe­rapa orang pra­ju­rit beserta mereka untuk memim­pin per­la­wanan.

Seperti semut mereka menyerbu ke bandar, ber­se­baran di setiap tempat dan ber­so­rak-sorak untuk mem­be­ra­ni­kan diri sen­diri. Meriam dari kapal telah ber­henti menem­bak. Mereka dite­rima oleh sem­protan peluru musket, mundur. Per­tem­puran tidak sempat ter­jadi. Sorak-sorai padam dengan sen­di­r­i­nya. Tombak peluru musket itu tak dapat ditem­bus, seba­lik­nya mem­bi­na­sa­kan, menyu­supi daging dan menum­pah­kan darah. Pasukan pagar desa mundur dan mundur terus.

Dider­maga Por­tu­gis tak henti-hen­ti­nya men­da­rat­kan balat­en­tara.

Pagar desa segera ber­la­rian mening­gal­kan bandar dan mena­rik diri ke kota yang juga telah kacau-balau dengan rumah-rumah yang binasa dan ter­ba­kar. Musket Por­tu­gis terus meng­u­sir dan mem­bi­na­sa­kan siapa saja yang ada di depan­nya, manu­sia dan hewan.

Begitu ser­dadu Por­tu­gis men­da­rat, mereka terus lari maju dan men­du­duki tempat di depan pasukan sebe­lum­nya. Dan demi­kian terus mene­rus.

Suara ledakan riuh-rendah seperti sedang ber­pesta.

Yang ter­a­khir men­da­rat adalah Fran­cisco de Sa.

Tholib Sung­kar tidur mene­lung­kup di atas ruji-ruji krang­keng­nya. Waktu tem­bakan meriam telah ber­henti dan tem­bakan musket makin lama makin mening­gal­kan bandar mema­suki kota, ia angkat kepa­la­nya dan ber­henti berdoa.

Ia lihat sudah tak ada pen­da­ratan baru. Sekoci-sekoci telah berang­kat lagi ke kapal dan meng­ang­kuti per­al­atan. Di der­maga ia lihat bebe­rapa orang Por­tu­gis. Dan ia dapat meli­hat mereka adalah para pem­be­sar.

Ia meng­u­cap­kan syukur untuk kese­la­mat­an­nya, dilu­pa­kan oleh peluru meriam dan musket.

Pem­be­sar-pem­be­sar itu masih juga ber­diri di der­maga menunggu peng­ang­kutan per­al­atan. Seka­rang peti-peti dan meriam dan roda­nya

“Bekas Syah­ban­dar Malaka?”

“Tepat. Alias Sayid Habi­bul­lah Al-Masawa.”

“Cukup!”

Ber­tiga mereka lari meng­ga­bung­kan diri dengan rom­bongan Fran­cisco de Sa yang sudah hampir mening­gal­kan wila­yah bandar.

Fran­cisco ber­henti, mene­ngok ke arah krang­keng, kemu­dian ber­ja­lan meng­ham­piri, dan meng­a­wasi Tholib yang ber­diri seperti burung kuti­lang di dalam sang­kar.

Syah­ban­dar itu mem­bung­kuk dan melam­bai­kan tangan, meng­hor­mat: “Sela­mat datang. Tuan, Tholib Sung­kar Az-Zubaid, Tuan.”

Fran­cisco de Sa tidak menang­gapi. Mata­nya tajam meng­a­was­i­nya.

Seka­li­gus Tholib meli­hat pada mata itu pera­saan dendam atas ter­bu­nuh­nya Este­ban dan Rodri­guez. Mata itu meng­an­cam dan jijik meli­hat­nya. Buru-buru keluar dari mulut­nya: ‘Telah lama kutunggu keda­tangan armada Por­tu­gis yang jaya. Betapa ber­ba­ha­gia seka­rang tiba.”

“Di mana kau, waktu aku men­da­rat di sini bebe­rapa tahun yang lalu dan orang-orang Tuban meng­hina aku?”

“Syah­ban­dar Tuban sedang mereka injak-injak. Di tempat ini juga. Tak bisa ber­buat apa-apa. Tuan.”

“Di mana orang-orang itu seka­rang?”

“Lari semua. Tuan. Jangan kha­wa­tir, akulah yang akan menun­juk­kan di mana mereka ber­se­m­bu­nyi.”

Fran­cisco de Sa men­de­ham. Ia per­ha­ti­kan kon­s­truksi krang­keng besi itu.

“Pem­be­sar sia­pa­kah yang diha­dapi oleh Syah­ban­dar Tuban seka­rang ini?” tanya­nya dengan kata Syah­ban­dar dite­kan­kan.

Fran­cisco de Sa tak men­ja­wab. Kemu­dian ia ber­pa­ling dan ber­ja­lan menuju ke gedung kesyah­ban­daran dalam penga­walan.

“Ya Allah, ya Allah!” sebut Tholib “Akhir­nya tanganmu juga yang ter­u­lur.”

Ia mena­ngis ter­sedu-sedu dalam ucapan ber­syu­kur. Dica­kup­nya pasir dari bawah jeruji besi dan dita­bur­kan­nya pada tar­bus­nya. Belum juga puas, dile­pas­nya topi itu dan ditu­ang­kan pasir pada ram­but­nya dan dika­cau­nya. Ingus­nya mele­leh dan diti­up­nya dengan sum­batan sebe­lah jari. Ia tahu, pem­be­basan telah tiba. Mung­kin hanya untuk bebe­rapa bulan saja ia bakal dibe­bas­kan. Itu pun tiada meng­apa. Dalam semen­tara itu kemung­kinan baru akan ter­pam­pang lagi di depan mata. Ting­gal memi­lih yang ter­baik di anta­ra­nya.

“Allah Maha Besar. Allah Maha Besar.”

Fran­cisco de Sa ber­ja­lan terus dan masuk ke kesyah­ban­daran yang atap­nya telah kempes. Dan matari sudah teng­ge­lam.

Seo­rang pengiring nampak lari ke der­maga, kemu­dian datang ber­sama teman­nya ke krang­keng mem­bawa martil besi besar dan ling­gis. Tanpa bicara mereka meng­a­yun­kan palu­nya pada lidah-lidah pasak sampai beng­kok, meli­pat-lipat­nya dengan pukulan, kemu­dian patah. Ling­gis tak ter­pa­kai Pintu besi itu pun ter­buka.

Tholib Sung­kar Az-Zubaid keluar dari krang­keng, meng­hi­rup udara sepe­nuh paru-paru­nya men­ja­tuh­kan diri di pasiran dan ber­su­jud. Ia terus­kan tangis­nya.

Pasukan pagar desa ber­ham­buran mela­ri­kan diri dari bandar. Di Tuban Kota pun mereka tidak aman. Di antara keba­karan yang men­jadi-jadi mereka tetap diburu oleh ser­dadu-ser­dadu Por­tu­gis yang terus maju. Mereka meng­in­safi tak dapat mena­han tembok sem­protan peluru musuh­nya, mema­suki kam­pung-kam­pung ping­giran kota, ter­le­pas dari ikatan apa pun kecu­ali dengan hidup masing-masing.

Para peng­ungsi meme­nuhi jalanan, gero­bak dan pemi­kul, peng­gen­dong dan penun­tun.

Dan peris­tiwa penyer­buan Por­tu­gis segera disu­sul oleh berita ten­tang ter­ja­di­nya per­se­li­sihan di antara kepala-kepala pasukan.

Kala Cuwil menya­lah­kan Ban­teng Waieng yang seba­gai Sena­pati atas selu­ruh pasukan Tuban telah mem­bi­ar­kan bandar tidak ter­jaga. Ban­teng Wareng menya­lah­kan Kala Cuwil karena seba­gai Patih kurang betul dalam mem­be­ri­kan kete­rangan ten­tang kea­daan bandar. Per­se­li­sihan sema­kin hari sema­kin merun­cing. Kepala-kepala pasukan yang lain ikut men­cam­puri bukan tanpa pemi­ha­kan. Balat­en­tara Tuban ter­an­cam bubar karena per­ti­kaian dari atas.

Serangan pem­ba­lasan ter­ha­dap Peranggi di Tuban Kota tak juga dilan­car­kan. Peng­ungsi yang menum­pang­kan hidup dan kese­la­matan di luar kota ter­nyata tak dapat hidup dengan ten­te­ram. Para petani yang telah bosan pada perang dan selalu men­jadi korban tak menang­gapi kegen­tingan nege­ri­nya. Mereka sudah masa bodoh. Siapa pun yang menang nasib mereka akan ting­gal jadi pem­ba­yar upeti dan jasa semata. Mereka tak suka lagi mem­bantu seperti dulu. Toh kalau pacek­lik menye­rang mereka pun tak bakal men­da­pat ban­tuan dari siapa pun.

Di Tuban Kota kea­daan lebih tidak ter­ta­han­kan bagi mereka yang tidak meng­ungsi. Syah­ban­dar Tuban dengan giat­nya men­jadi petun­juk jalan ser­dadu-ser­dadu Por­tu­gis menge­pungi kam­pung-kam­pung dan mena­kut-nakuti dengan tem­bakan. Semua lelaki ditang­kap dan digi­ring masuk ke bandar, dipe­rin­tah­kan men­di­r­i­kan bedeng-bedeng baru.

Pasukan-pasukan kecil pagar desa yang men­coba menyu­sup dan mela­wan selalu ter­ha­lau kem­bali oleh musket.

Lama kela­maan pat­roli Por­tu­gis juga berani mema­suki daerah luar kota dan menang­kapi lelaki siapa saja yang dapat ditang­kap­nya.

Bedeng-bedeng di bandar dalam waktu cepat telah bangun kem­bali, biar­pun tidak sebaik dan sekuat dahulu. Dan semua tang­kapan yang dipe­ker­ja­kan kemu­dian di sekap di dalam­nya. Pen­ja­gaan yang ketat tidak memung­kin­kan mereka men­je­nguk ke luar. Bebe­rapa orang yang men­coba mela­ri­kan din telah rebah men­cium tanah, baik karena peluru atau­pun karena pisau tong­kat Tholib. Ia sen­diri men­jadi begitu ter­ke­nal di dalam dan di luar kota dengan tong­kat­nya yang bera­cun dan men­da­pat­kan kenik­matan dalam meram­pas jiwa orang.

Berita ten­tang per­se­li­sihan antar kepala pasukan sama hebat­nya dengan tong­kat samber nyawa Syah­ban­dar Ulas­awa.

Orang berani meng­an­cam kepala-kepala pasukan yang pada naik pitam. Tetapi Syah­ban­dar dengan tong­kat­nya men­da­pat banyak julukan karena setiap hari paling tidak ia men­ca­but satu nyawa. Dan apa pun julukan yang dibe­ri­kan kepa­da­nya, Moro yang seo­rang ini adalah sumber ben­cana yang tak lagi bisa diam­puni. Ia tak segan-segan meni­kam­kan sen­ja­t­a­nya pada kanak-kanak atau­pun kakek-kakek, perem­puan atau­pun bayi. Ia juga mema­suki kam­pung-kam­pung meram­pasi segala apa yang berupa emas dan perak. Untuk itu ia selalu mem­bawa ser­dadu.

Dalam meni­kam­kan sen­ja­t­a­nya ia selalu ter­se­nyum sambil meme­kik senang: “Kafir!”

Ia pun men­jadi petun­juk ke arah pemer­ko­saan, di mana ia sen­diri tak jarang juga ikut mela­ku­kan­nya sen­diri.

Kam­pung nela­yan telah men­jadi senyap tanpa pen­du­duk. Dengan perahu dan kelu­ar­ga­nya mereka bera­mai-ramai pindah ke tempat lain di malam hari. Semu­a­nya menuju ke sebe­lah timur. Pasar Tuban tiada dida­tangi orang lagi. Jalan-jalan leng­ang. Yang mondar-mandir hanya ser­dadu Por­tu­gis. Mereka tak ber­te­kad tidak meng­ungsi ter­je­pit antara ber­ba­gai macam ancaman maut. Yang mati sakit atau tua ter­ting­gal meng­ge­le­tak tanpa pera­wat. Dan bila Por­tu­gis menge­ta­hui ini segera mereka mem­ba­kar rumah­nya seka­li­gus.

Sete­lah seminggu men­du­duki Tuban dan balat­en­tara Pri­bumi tak juga mela­ku­kan serangan pem­ba­lasan, Por­tu­gis mulai mem­be­ri­kan perin­tah pada Tholib Sung­kar Az-Zubaid untuk mem­bi­kin ben­teng bawah tanah di sebe­lah kiri kesyah­ban­daran.

Orang-orang yang diku­rung dalam bedeng-bedeng bandar dike­rah­kan di bawah peng­a­wasan dan perin­tah­nya lang­sung. Mulai­lah mereka yang lesu kela­paran dan keta­kutan itu bekerja keras sejak matari terbit sampai teng­ge­lam. Harga manu­sia Tuban dalam pen­du­dukan sudah tak ada, mero­sot jadi serum­pu­nan hewan yang tak boleh punya kema­uan sen­diri atau ber­sama, tak boleh punya harga diri dan kehor­matan, seba­gai pri­badi atau­pun seba­gai manu­sia. Kegen­taran dan keta­kutan setiap hari dita­nam­kan pada hati mereka mela­lui ancaman dan pengai­a­yaan untuk mem­bi­kin mereka jadi kecil di hadapan Tholib Sung­kar dan Por­tu­gis.

Seperti pen­du­duk Sunda Kelapa mereka harus bekerja meng­go­tongi balok-balok dari luar kota. Mereka meng­gali tanah dan menim­bun­nya tinggi ber­depa-depa di atas per­mu­kaan. Mereka menim­bun, menu­kang, men­cang­kul, mema­dat­kan tanah. Alat-alat per­tu­kangan baru mulai mereka kenal, alat-alat Eropa mulai mereka pegang: ger­gaji lem­pang, serut dan paku.

Hanya dalam dua minggu dan ben­teng bawah-tanah ber­diri. Lantai ter­la­pisi batu karang. Pada din­ding bagian atas tanah bagian luar dila­pisi batu dan kem­bali ditu­tup dengan tanah. Di situ juga dibi­kin lubang-lubang angin dan seka­li­gus lubang penem­bak. Di atas ben­teng ber­diri sebuah menara kayu, diper­leng­kapi dengan lon­ceng kuningan. Seo­rang penin­jau selalu nampak menyan­dang musket Meriam-meriam dipa­sang di bandar dan di seki­tar ben­teng. Semua meng­ha­dap ke peda­laman.

Gedung kadi­pa­ten telah dija­di­kan tangsi pula sete­lah bong­kar-bang­kir dan dite­mu­kan jalan dan rongga semasa bawah tanah serta sim­panan barang-barang ber­harga semasa Maja­pa­hit.

Peci­nan, tak ter­lin­dungi oleh hukum Pri­bumi, kosong men­jadi rayahan Por­tu­gis. Pen­du­duk­nya meng­ungsi lewat laut dan darat ke Lao Sam.

Kehi­dupan Pri­bumi di laut atau­pun darat serasa telah ber­henti.

Sete­lah ben­teng jadi orang-orang yang dita­han dan mela­ku­kan kerja-paksa diusir, dila­rang mema­suki wila­yah pela­buhan. Seba­lik­nya perem­puan gelan­dangan mulai ber­kam­pung lagi dalam gubuk-gubuk daun kelapa dan menam­pung penya­kit baru yang mulai dike­nal waktu itu raja­singa.

Di daerah bandar sen­diri orang pun mulai ber­ke­nalan dengan bina­tang baru: tikus.

Sete­lah mening­gal­kan sua­mi­nya dengan mem­bawa kemu­a­kan ter­ha­dap lelaki yang diu­rus­nya dalam kesu­l­itan selama ini, ia lari ke gubuk­nya. Tak tahu lagi ia apa harus diper­bu­at­nya. Di gubuk itu pun ia merasa tidak senang. Peluru itu bisa jatuh menge­na­i­nya. Ia lari terus ke timur mema­suki semak-semak yang dipa­yungi barisan nyiur pantai.

Tem­bakan-tem­bakan cet­bang menye­bab­kan ia mene­ro­bos semak-se-mak untuk menin­jau pantai. Di sana ia meli­hat bagai­mana empat buah kapal Tuban teng­ge­lam diha­jar oleh meriam Por­tu­gis. Ia jatuh ber­lu­tut, men­cium tanah, tahu bahwa bang­sa­nya tak mampu mela­wan – di darat kalah, dilaut pun kalah.

Bakal jadi apakah semua ini nan­ti­nya? Dan badan seo­rang diri di dunia ini? Sang Adi­pati meng­u­sir. Suami dik­rang­keng karena per­bu­at­an­nya yang hina dan memu­ak­kan. Seka­rang Peranggi datang dan menga­lah­kan semua-muanya. Apakah harus hidup dalam semak-semak begini dan men­jadi hewan liar?

Tiga hari ia ber­pu­tar-putar tak menentu di daerah semak-semak di timur bandar itu. Ia tak betah lagi dan kem­bali ia ke pon­dok­nya. Seo­rang perem­puan lain telah menem­pa­ti­nya, dan dengan keke­ra­san ia meng­u­sir­nya. Dengan ketang­kasan ber­ke­lahi ia usir orang lain lagi yang hendak mema­suki.

Dan makin lama makin banyak perem­puan ber­kam­pung. Gubuk-gubuk penuh, dan sepan­jang malam ramai dengan tawa kikik dan kekak. Perem­puan dan hanya perem­puan.

Di depan gubuk­nya itu juga pada suatu pagi ia ber­temu dengan sua­mi­nya yang dii­ring­kan oleh bebe­rapa orang ser­dadu Por­tu­gis. Ia lihat sua­mi­nya bicara dengan ser­dadu-ser­dadu itu yang kemu­dian menye­bar mema­suki gubuk-gubuk yang lain.

Tholib Sung­kar Az-Zubaid masuk ke dalam: “Begini tem­patmu seka­rang, Kati. Tidak patut untuk sem­ba­rang perem­puan semu­lia kau. Bawalah semua barangmu. Aku telah men­da­pat tempat di bekas warung Yakub.”

“Terima kasih, Tuan, tempat sahaya ada di sini.”

Mereka duduk di ambin bambu dan lelaki itu mem­bu­juk dan mem­bu­juk. Akhir­nya: ‘Tahu­kah kau, Kati, aku telah ber­sum­pah hendak meme­li­ha­ramu baik-baik, menem­pat­kan kau di tempat yang mulia….”

“Itulah sumpah Tuan sen­diri, bukan sahaya.”

“Jangan cela­ka­kan aku. Kati, beri aku kesem­patan meme­nuhi sum­pahku.”

“Sahaya tak perlu dipe­li­hara. Tuan, dapat meme­li­hara diri sahaya sen­diri.”

‘Tapi sini begini hina, Kati. Ada tempat yang lebih mulia, lebih patut untukmu.”

‘Terima kasih, Tuan terima kasih atas keba­ikan Tuan. Sahaya akan ting­gal di sini.”

‘Tapi kau istriku. Kati.”

“Kalau Tuan memer­lu­kan sahaya, datang­lah Tuan ke sini. Sahaya akan ting­gal di sini.”

“Kau tak ada sanak-kelu­arga, Kati?”

“Tidak, Tuan. Meng­ap­a­lah Tuan baru tanya­kan seka­rang?”

“Maaf­kan aku. Kati. Bukan­kah kau kela­hiran Tuban?”

‘Tidak, Tuan, Gresik. Waktu pera­wan sahaya dicu­lik oleh seo­rang perom­pak dan dijual ke Tuban pada seo­rang Tiong­hoa.”

“Apakah kau tak ingin pulang lagi ke Gresik?”

“Begini sudah baik, Tuan, sahaya telah mati untuk kelu­arga sahaya. Pada hari tua sahaya begini, sahaya ingin seo­rang diri, melu­pa­kan semua dan dilu­pa­kan oleh semua.”

“Juga olehku. Kati?”

“Kesu­dian Tuan datang kemari sudah keba­ikan untuk sahaya, begini sudah baik. Tuan.”

“Makanmu bagai­mana. Kati?”

“Meng­ap­a­lah Tuan tanya­kan itu? Burung-burung pun bisa mencan makan­nya sen­diri, masakan sahaya tiada bisa?”

Ser­dadu-ser­dadu itu men­jem­put Syah­ban­dar, dan mereka pun pergi mening­gal­kan daerah pondok daun nyiur.

Tak lama kemu­dian datang gelom­bang demi gelom­bang orang-orang Por­tu­gis. Bila mema­suki pondok Nyi Gede Kati mereka segera pergi lagi, karena perem­puan yang seo­rang ini sudah cukup tua untuk dihin­dari. Dan waktu matari teng­ge­lam, gelom­bang yang pergi dan datang tak kun­jung ber­henti.

Sekali ter­jadi seo­rang Por­tu­gis sete­ngah mabok mema­suki gubuk­nya dan tiga hari kemu­dian ia rasai saluran seni­nya hangat dan tegang. Ia tahu, seperti bebe­rapa orang wanita lain­nya ia telah ter­kena penya­kit Peranggi...

Berita ten­tang masuk­nya Por­tu­gis di Tuban telah ter­siar luas di peda­laman, mele­wati per­ba­ta­san, sampai ke tempat peng­ung­sian Idayu seke­lu­arga di daerah Bojo­ne­gara. Berita ten­tang meng­ga­nas­nya Syah­ban­dar Ulas­awa mener­bit­kan sesalan orang pada men­di­ang Adi­pati Tuban, yang ter­lalu mem­per­ca­ya­i­nya. Juga di tempat-tempat yang jauh orang men­jadi gemas karena kela­ku­an­nya.

Waktu itu tengah malam di pondok peng­ung­sian Idayu. Gelar baru saja pulang dari desa tetangga dan men­de­ngar berita itu. Sete­lah mema­suk­kan kuda ke kan­dang ia sorong pintu gubuk. Dalam rem­bang sinar pelita ia lihat ibu dan adik­nya, Kum­bang, telah tidur. Ia raba kaki ibunya, dan Idayu ter­pe­ran­jat bangun.

“Ada apa Gelar?”

Dan Gelar meman­da­ng­i­nya seperti orang bingung. “Tak pernah kau bangun­kan aku seperti ini,” Idayu duduk dan ia lihat sinar kege­li­sahan pada mata anak­nya. “Adakah kau habis ber­ke­lahi?”

Gelar meng­ge­leng lemah-lemah, dan dengan kasih­nya ia pimpin ibunya men­jauh dari Kum­bang yang tidur nye­nyak. “Ada apa kau ini? Kau begini aneh?”

Dan Gelar ber­ce­rita ten­tang masuk­nya Peranggi di Tuban dan men­di­r­i­kan ben­teng, dan mem­bu­nuhi banyak orang, dan mem­ba­kari rumah, dan memang punya banyak meriam. Kemu­dian mata­nya mere­dup waktu sampai pada titik ia harus ber­ce­rita ten­tang ting­kah-laku Syah­ban­dar Tuban. Kebe­ra­ni­an­nya hilang.

Semua ejekan, sin­diran, cemooh ter­ha­dap dir­i­nya mem­be­ri­nya dugaan, bahwa maksud mereka hanya hendak mem­be­ri­ta­hu­kan dengan cara dan jalan­nya sen­diri, ia memang bukan anak Wirang­gal­eng, tapi Syah­ban­dar celaka itu. Ia sen­diri sudah lama ber­pi­kir: ’kesa­maan rupa antara dir­i­nya dengan orang ter­benci itu bukan­lah suatu kebe­tulan. Dan keke­ce­waan bukan anak Sena­pati malahan hanya anak orang ter­ku­tuk itu makin lama makin jadi bisul dalam jiwa­nya. Kalau benar Syah­ban­dar Tuban bapakku, seo­rang bapak yang tak kuke­nal dan tak menge­nal aku, sia-siakah sembah dan sujud dan ketak­zi­manku pada Sena­pati? Dan betapa tak ada har­ga­nya diri ini jadi­nya. Tidak­kah aku jadi sema­cam kotoran bagi Sena­pa­tiku?

Berita itu juga yang datang, orang yang disi­n­dir­kan seba­gai bapak­nya, tampil seba­gai orang hina, kejam ter­ha­dap orang-orang tak ber­daya, men­jadi buah mulut yang meng­ganggu pen­de­ng­aran dan mengo­tori hati. Jangan, ya dewa, jangan bikin diriku jadi anak­nya. Dewa! Bahkan sampai-sampai tong­kat­nya pun dibe­ri­ta­kan orang, dan tar­bus­nya, dan bong­kok­nya, dan hidung beng­kung­nya yang seperti hidungku, dan gerak bibir­nya bila ia sedang mena­nam­kan mata pisau-tong­kat­nya pada tubuh sese­o­rang. Kalau benar Syah­ban­dar itu bapakku, meng­apa emak tak pernah sam­pai­kan padaku? Malu­kah emakku pada per­bu­at­an­nya sen­diri? Pada keti­dak­se­ti­a­an­nya pada Sena­pa­tiku? Dan adakah aku hanya anak yang tidak diha­rap­kan?’

Jan­tung­nya meriut kecil. Tapi justru seka­rang­lah waktu itu datang untuk mena­nya­kan. Ia men­jadi ragu-ragu meli­hat pan­caran mata ibunya yang men­duga dan meraba-raba hati­nya. Dan rang­sang ingin-tahu-nya sudah memun­cak sampai pada titik letus. Ia masih juga tak berani ber­ta­nya. Harus­kah emak melengos dan menyem­bu­nyi­kan muka seperti bebe­rapa kali pernah ter­jadi? Ah, emak, emakku, betapa kau men­de­rita, hanya karena per­ta­nyaan. Per­ta­nyaan belaka, mak!

“Ya, Nak, aku sudah dengar Peranggi mema­suki Tuban. Kalau hanya itu, bukan­kah bisa kau cerita besok? Meng­apa pula pan­dang matamu begitu aneh dan mena­kut­kan? Sakit­kah kau?”

“Mak,” Gelar ter­henti lagi. “Lama sudah aku ingin tahu.” dan ia ter­henti.

Dan betul saja seba­gai­mana ia duga, Idayu sudah mulai melengos mem­bu­ang muka.

“Mak, apakah Emak ber­ke­be­ratan punya Gelar ini seba­gai anakmu, Mak?”

Cepat-cepat Idayu mena­rik muka dan mena­tap­nya.

“Menye­sal­kah Emak punya anak aku?”

“Gelar!” Ia ceng­kam bahu anak­nya. “Kurang baik­kah aku mengu­rus kau, menga­sihi, meng­a­suh dan mem­be­sar­kan?”

“Hyang Widhi lebih tahu, Mak, eng­kau­lah ibu yang ter­baik yang pernah aku temui di antara semua perem­puan.”

“Meng­apa kau sampai hati meng­a­n­i­aya aku dengan per­ta­nyaan sema­cam itu?”

“Ampun­i­lah aku, Mak ampuni aku.”

Di luar dugaan Gelar emak­nya tiba-tiba merang­kul­nya, sua­ra­nya men­de­sis seperti angin mene­ro­bosi lubang din­ding: “Apa saja kata orang ten­tang emakmu. Nak, sampai kau men­tala bicara sema­cam itu? Apakah kau tidak suka punya emak sema­cam ini?”

Gelar mera­sai air mata emak­nya jatuh ke leng­an­nya. Ia bera­ni­kan diri: “Jangan mena­ngis begini, Mak,” ia ter­henti, “lama sudah aku ingin tahu sebe­nar­nya dari Emak sen­diri,” ia diam untuk men­da­pat kebe­ra­nian. “Kau selalu tak mau men­ja­wab. Entah sudah berapa kali.”

Idayu mele­pas­kan rang­kulan dan melengos memung­gungi anak­nya: “Ya, Nak. Aku meng­erti mak­sudmu. Karena itu aku ulangi lagi per­ta­nyaan lama itu: apakah seo­rang lelaki yang ber­nama Galeng itu kurang baik seba­gai bapakmu?”

“Demi para dewa, Mak, tak ada yang lebih baik, apa­lagi lebih ber­harga.”

Ia pan­dangi anak­nya dan ber­ta­nya: “Apakah itu tidak cukup, anakku?”

“Tidak cukup, Mak, ampuni aku,” ia ber­bi­sik pelan dan hati-hati. “Benar­kah sin­diran dan ejekan dan cemooh tak ter­tang­gung­kan itu, Mak, aku bukan anak Wirang­gal­eng?” dan tiba-tiba kebe­ra­ni­an­nya men­jadi utuh.

Idayu men­de­kat­kan bibir pada kuping­nya sua­ra­nya sendat-sendat: “Kau sedang meng­gu­gat aku, Gelar.”

“Emak!” ia meme­ro­sot­kan diri dari duduk­nya dan menyem­bah dan men­cium pang­kuan ibunya. “Para dewa mengu­tuki anakmu ini bila berani meng­gu­gatmu, Mak. Ampuni aku. Tak ada yang lebih baik dari Emak dan Sena­pa­tiku.”

“Meng­apa kau ulangi juga per­ta­nyaan sema­cam itu?”

Gelar ber­diri, kemu­dian duduk di sam­ping Idayu, tak berani mena­tap wajah ibunya. Dalam hati­nya ia menge­ta­hui emak­nya sudah basah karena air mata kese­dihan.

“Kau sudah dewasa. Nak. Kau sudah jadi tulang-pung­gungku selama ini. Kau sudah jadi anak yang baik untuk emakmu, bapakmu dan abang yang sangat baik untuk adikmu. Apa lagi­kah yang masih kurang?”

“Mak, pada suatu kali bukan­kah aku juga akan turun ke medan perang? Dan kalau aku tewas, Mak, tegakah kau meli­hat aku mati tanpa menge­ta­hui sesung­guh­nya siapa bapakku? Siapa akan aku cari di alam sana nanti?”

“Kau masih merasa kurang, anakku.”

“Benar, Mak, masih ada yang kurang. Kebe­naran itu, Mak, beri aku kebe­naran itu.”

“Apa guna­nya kebe­naran itu kalau semua sudah cukup padamu?”

“Hanya kebe­naran itu yang kurang, Mak. Apalah arti harga diri dan kehor­matan yang selalu Emak ajar­kan dan tun­juk­kan contoh-con­toh­nya kalau kebe­naran itu kurang men­cu­kupi?”

“Aku meng­erti kau. Perlu benar­kah diung­kap kebe­naran itu kalau dia akan mele­nyap­kan semua keba­ha­gi­a­anmu, dan apalah guna­nya bila demi­kian?” ia meng­hela napas dalam, kemu­dian meng­em­bus­kan ke luar seperti puputan.

“Jadi benar bapak bukan bapakku,” Gelar men­da­hu­lui.

Idayu melengos lagi. Ia hendak bicara tapi tak jadi.

“Kalau begitu siapa sesung­guh­nya dia, bapakku itu, Mak?” meli­hat ibunya tak juga men­ja­wab ia men­de­sak lembut, “orang bilang, emak sen­diri yang harus men­ja­wab, bukan orang lain, dan tak ada orang lain yang akan men­ja­wab­kan untukku.”

Sete­lah untuk ke sekian kali meng­em­bus­kan napas besar Idayu ber­kata sepa­tah-sepa­tah, hati-hati, dan pelahan: “Benar, Gelar. Kau sudah dewasa. Aku tahu, pada suatu kali aku harus juga sam­pai­kan. Memang aku takut menyam­pai­kan. Bukan karena takut pada kebe­naran. Aku takut pan­dang­anmu ter­ha­dap emakmu akan beru­bah. Kean­ta­anmu pada bapakmu akan men­jadi rusak, tak utuh lag? seperti sedia kala. Apalah guna­nya kalau semua itu yang ter­jadi? Kau memang berhak, dan kau menun­tut hakmu. Aku takkan ing­kari hakmu. Besok­lah, Nak, bila matari telah terbit, jangan dalam malam suram sema­cam ini. Tidur­lah kau.”

“Mak!”

“Tidur­lah. Tidak­lah semu­dah kau duga untuk dapat mem­be­ri­kan hakmu dengan sebaik-baik­nya. Aku masih mem­bu­tuh­kan kebe­ra­nian untuk menga­ta­kan. Kalau keliru bisa rusak semua-muanya. Soal­nya memang tidak seder­hana. Tidur­lah. Besok masih ada hari lagi.”

Tanpa meman­dang anak­nya Idayu kem­bali ke ambin dan mem­be­tul­kan letak seli­mut Kum­bang, kemu­dian ia, tidur miring meng­ha­dap ke din­ding.

Gelar masih tetap ber­diri meng­a­wasi adik dan ibunya. Ia sedang meng­a­tasi pera­saan iba. Ibunya nampak begitu men­de­rita dan ber­su­sah-payah. Hanya untuk dapat mem­be­ri­kan kebe­naran yang jadi haknya.

Keru­yuk per­tama ayam jantan sudah mulai ter­de­ngar. Baru ia bang­kit dan duduk­nya. Ia tak ingin tidur dan tidak dapat tidur. Piki­ran, bahwa ia anak Syah­ban­dar Tuban, mem­bi­kin semua yang dipan­dang­nya beru­bah nilai dan isi, dan semua serba tidak menye­nang­kan, meng­ge­li­sah­kan. Selu­ruh peng­a­b­dian, kasih-sayang dan kebang­gaan pada orang tuanya ter­gun­cang kea­gung­an­nya – hanya oleh yang seo­rang itu, satu nama yang mem­bu­suk­kan sega­la­nya.

Keru­yuk ke dua telah ber­henti. Ia keluar dari gubuk, meng­hi­sap udara pagi segar, kemu­dian pergi ke dapur. Ia bawa pelita, dan mulai ia menya­la­kan api. Inilah untuk per­tama kali ia mela­ku­kan­nya. Bia­sa­nya Idayu sen­diri yang menge­r­ja­kan seka­li­pun sedang dalam kea­daan sakit atau tak enak badan.

Ia tung­gui air sampai men­di­dih. Emak­nya belum juga turun. Jagung muda yang dite­bus­nya telah masak. Idayu belum juga muncul.

Ia pergi ke anak sungai dan mandi. Matari sudah meman­car­kan lem­ba­yung merah di ufuk timur. Waktu hendak masuk ke gubuk dite­mu­i­nya ibunya di pintu. Ia lihat mata wanita ter­cinta itu beng­kak.

Gelar meng­ge­le­tar. Hati­nya terasa disa­yat-sayat. Betapa ter­sa­yat-sayat dada ibu yang sebaik itu oleh­nya. Tapi hanya hati yang kuat saja akan dapat­kan kebe­naran. Maka ia sing­kir­kan pera­sa­an­nya.

“Mak!” ia mene­gur lebih dahulu.

“Ya, Gelar, mari pergi ke ladang.”

Dan di ladang­lah Idayu mulai ber­ce­rita ten­tang impian-impi­an­nya setiap habis menari di kadi­pa­ten waktu Wirang­gal­eng tak ada di Tuban. Sia­pa­kah dapat menga­ta­kan impian mengan­dung kebe­naran?

“Dan kau mem­bu­tuh­kan kebe­naran itu, dan kebe­naran itu belum pasti. Hanya bukti-bukti yang ter­ting­gal men­jadi petun­juk arah ke kebe­naran itu, anakku.”

Idayu mene­rang­kan pada Gelar ten­tang kehi­dupan sek­suil. Kemu­dian: “Dan bukti yang paling menen­tu­kan adalah kau sen­diri. Sejak kau kulah­ir­kan, sejak itu pula aku tahu kau bukan anak Wirang­gal­eng. Telah aku serah­kan diriku pada bapakmu, Nak, aku serah­kan diriku dengan sebi­lah cun­drik, tapi bapakmu tidak menan­cap­kan sen­jata itu pada tubuhku. Ia biar­kan aku hidup, Ia meng­am­puni emakmu ini.”

“Ah, Emakku, betapa kau men­de­rita karena kela­hir­anku.”

“Hanya Hyang Widhi juga menge­ta­hui, Nak, betapa pera­sa­anku waktu itu. Nyi Gede Kati telah siap meli­hat aku ber­mandi darah. Bapakmu tak juga mem­bu­nuh aku. Betapa men­de­rita dia, barang­kali dia pun telah lama jadi olok-olokan orang seba­gai lelaki Tuban yang tak ada har­ga­nya seba­gai lelaki….”

“Cukup­lah itu, Mak, jadi siapa dia, bapakku itu, Mak?

“Sete­lah kau lahir, dia masih men­coba lagi. Tidak dalam impian, dalam kenya­taan. Hanya cun­drik yang dapat mem­bela diriku. Bila sua­miku bukan Wirang­gal­eng, sudah lama emakmu ini tumpas dibu­nuh­nya, juga kau, juga orang itu. Dan justru karena per­co­ba­an­nya dalam kea­daan aku sadar dan dapat mem­bela diri, Gelar, aku dapat memas­ti­kan, apa yang dahulu itu hanya impian belaka bagiku, ter­nyata sesung­guh-sung­guh keja­dian. Kemu­dian orang ramai mem­bi­ca­ra­kan dia suka mem­bius orang untuk men­ca­pai mak­sud­nya, anta­ra­nya istri­nya sen­diri: Nyi Gede Kati.”

“Mak, jadi benar Syah­ban­dar Tuban Sayid Ulas­awa!” pekik Gelar.

“Kemu­dian dibi­us­nya juga pen­jaga-pen­jaga menara pela­buhan. Kabar­nya kemu­dian juga dua orang pela­rian Peranggi. Jadi aku tidak ber­mimpi. Kau bukan anak impian, anakku, aku telah kena bius. Obat bius­lah sen­ja­t­a­nya untuk melak­sa­nakan keja­hatan. Aku tak tahu bagai­mana cara­nya aku ter­kena bius­nya.”

“Cukup, Mak cukup, terima kasih, Mak.”

“Itulah ceri­ta­nya. Gelar. Aku takkan menun­tut padamu untuk per­caya. Ter­se­rah­lah bagai­mana kau menim­bang dan meni­lai, emakmu pem­bo­hong atau bukan, emakmu tak punya arti atau tidak. Seti­dak-tidak­nya kau sudah dengar dari emakmu sen­diri, bukan dari orang lain. Kalau kau anggap emakmu tidak setia pada Wirang­gal­eng, sudah­lah jadi nasibku, ter­se­rah padamu. Kalau kau men­jadi murka padaku, ter­se­rah­lah pula padamu….”

“Terima kasih, Mak, anakmu yang ber­nama Gelar ini lebih per­caya pada emak­nya dari­pada siapa pun. Seka­rang, Mak apakah orang itu, yang suka mem­bius itu—”

“Apalah guna­nya kau tanya­kan lagi? Aku tak sudi kau menye­but­kan nama­nya.”

“Baik­lah, Mak, kau tak sudi men­de­ngar nama­nya,” dan ia lihat duka-cita telah mem­be­nam wajah ibunya. Buru-buru ia ber­su­jud dan kata-ka-tanya keluar dengan gugup, “hanya kaulah, Mak, yang aku per­caya.”

Kemu­dian ia ber­diri. Kening­nya ber­ke­rut dan mata­nya menyala-nyala pada satu titik. Ia ber­ja­lan cepat-cepat menuju ke suatu tempat, mening­gal­kan ibunya seo­rang diri.

“Gelar!” pekik ibunya. “Gelar! Gela­a­aar!” ia lari mem­bu­ru­nya. Di dekat­nya ia ber­kata meng­hiba-hiba, “Aku telah kece­wa­kan kau. Maaf­kan aku. Gelar.”

Gelar ber­ja­lan menuju ke kan­dang kuda, mem­buka palang-palang dan menun­tun Sultan keluar.

“Kau mau ke mana, anakku? pagi-pagi begini?” tanya ibunya kha­wa­tir.

“Mari ke gubuk dulu, Mak.”

Mereka ber­ja­lan ber­tiga, ibu, anak dan seekor kuda, menuju ke gubuk. Gelar masuk ke dalam dan memang­gil adik­nya.

“Kau, Kum­bang, ting­gal di rumah ber­sama emak. Jangan pergi mening­gal­kan gubuk ini sebe­lum aku pulang. Gan­ti­kan­lah peker­ja­anku selama aku tak ada.”

“Kau mau ke mana. Gelar?” Idayu ber­ta­nya.

“Mak, ambil­kan pedangku.”

Tanpa mem­ban­tah Idayu pergi meng­am­bil­kan apa yang dipinta oleh anak­nya. Dan waktu ia datang Gelar segera ber­kata: ‘Tanganmu, Mak, pasang­kan itu dengan tanganmu sen­diri.”

“Kau mau ke mana. Gelar? Aku tak mau kehi­langan kau. Bapakmu tak ada. Adikmu masih kecil,” pohon­nya selama mema­sang­kan ikat ping­gang pedang pada tubuh Gelar.

“Kum­bang, ambil­kan tombak dan cambuk-perang.”

“Apa kataku kalau bapakmu datang?”

“Mak, pasang­kan des­tarku.”

Idayu pergi lagi dan datang mem­bawa destar ter­baik. Gelar ber­lu­tut di hadapan ibunya untuk dibe­nahi ram­but­nya sebe­lum dides­tari.

“Aneh benar ting­kahmu. Nak?”

“Keris bapak, Mak.”

“Kau seperti hendak berang­kat perang,” kata ibunya sambil menye­lit­kan keris yang telah mem­bu­nuh Sang Patih Tuban.

Gelar ber­diri tegak di depan ibunya, ter­se­nyum, ber­ta­nya: “Lihat­lah anakmu sebe­lum berang­kat, Mak, gagah­kah dia?”

“Tak ada yang lebih gagah.”

“Gagah manakah dengan orang itu sewaktu muda, Mak?”

“Jangan sakiti hati emakmu. Gelar.”

“Ampun, Mak, ampun. Pan­dangi anakmu baik-baik, Mak. Bila dia tak mampu pulang dengan kaki sen­diri, biar kau bisa kenang­kan dia dengan baik.”

“Gelar! Mau ke mana kau?” untuk ke sekian kali­nya Idayu memo­hon. “Kau takkan ting­gal­kan kami berdua, bukan?”

Seka­rang Gelar ber­lu­tut lagi dan menyem­bah ibunya. “Restui aku, Mak, anakmu akan berang­kat,” dan Idayu ter­paksa meres­tu­i­nya. Kemu­dian ia ber­ja­lan keluar dan memang­gil kuda­nya: “Sultan! Sultan!” Kuda itu datang meng­ham­piri. Ia melom­pat ke atas­nya.

“Kum­bang! Mana tombak dan cambuk-perang?” Ia selit­kan cambuk-perang yang selama ini diper­gu­na­kan­nya ber­la­tih pada ping­gang dan ia tan­cap­kan gagang-gagang tombak pada jang-ang kulit sehingga ber­diri tegak di bela­kang­nya. Ia ber­diri di atas sang­gurdi dan menin­jau langit. Kuda itu ber­ge­rak, ber­pacu.

Ia lam­bai­kan tangan pada yang diting­gal­kan, kemu­dian hilang di dalam hutan….


Bab 41

Setitik Busa di Samudera Kehidupan

Kuda itu ber­pacu keluar dari hutan, mema­suki padang alang-alang, mema­suki hutan lagi, ber­pacu dan ber­pacu. Pada suatu padang rumput baru­lah ber­henti. Gelar turun dan mem­bi­ar­kan Sultan merum­put Ia sen­diri duduk di tepian padang, makan rebus jagung muda.

Selama enam belas tahun benih jagung yang dibawa Syah­ban­dar Tuban ke Jawa telah menye­bar ke selu­ruh pulau Jawa tanpa dice­ri­ta­kan lagi siapa pem­ba­wa­nya. Juga Gelar tidak tahu. Tak ada yang pernah ber­ce­rita.

Sete­lah kuda diang­gap­nya cukup kenyang ia berang­kat pelahan-la-han men­cari sungai yang biasa dile­wat­i­nya. Dibi­ar­kan kuda itu minum secu­kup­nya. Kemu­dian ia melan­jut­kan per­ja­lanan kem­bali.

“Puh, puh, puh! lari, cepat Sultan, cepat. Lebih cepat! Awas, jangan kau lem­par­kan aku dari pung­gungmu.”

Padang rumput itu telah ter­la­lui dan kini ia mema­suki jalanan desa.

“Stt. Kau lari ini hendak ke mana? Tahu kau ke mana kau harus bawa aku?”

Sawah dan bebe­rapa rumah mulai dile­wati dan dipa­pasi­nya wanita-wanita yang sedang pergi mengir­im­kan makan sua­mi­nya di sawah atau ladang. Ia pelan­kan kuda­nya. Anak-anak kecil ber­so­rak meli­hat­nya sambil melam­bai-lam­bai­kan cambuk. Anak-anak babi pada ber­la­rian seakan jiwa­nya sen­diri yang ter­pen­ting di dunia ini.

“Ah-ah, kau memang cerdik, Sultan, tahu ke mana aku hendak pergi.”

Kuda telah mening­gal­kan desa dan kem­bali mema­suki per­sa­wa­han.

“Awas, jangan sampai kau per­gok­kan aku pada Peranggi,” ia mem­per­i­ng­at­kan. “Seki­ra­nya, Sultan, seki­ra­nya aku tak bisa kem­bali, kau harus bisa pulang sen­diri. Cari Emak, dan, kata­kan pada­nya, aku tak bisa kem­bali. Meng­erti? Apa? Kau sudah lelah lagi? Matari pun belum lagi ber­ge­ser sejeng­kal. Jangan manja.”

Kuda itu ber­lari tenang tidak ter­buru-buru mela­lui jalanan desa dengan hutan muda di kiri-kanan­nya. Derap kuda dan desau angin pada kuping menye­bab­kan ia tak banyak men­de­ngar sesu­atu di seling-kung­an­nya. Hanya mata­nya tajam meli­hat ke segala jurusan di depan. Dan ia pun tak men­de­ngar sese­o­rang ber­seru-seru dari atas pohon tinggi, menyu­r­uh­nya ber­henti.

Sayup-sayup mulai ter­de­ngar oleh­nya suara ken­to­ngan bambu dari atas pohon. Ia anggap itu suara burung.

Sampai di tikungan kuda­nya ber­henti, mering­kik. Gelar mene­bar­kan pan­dang ke keli­ling. Macan: Kuda itu tetap meno­lak maju dan terus juga mering­kik.

“Turun!” ter­de­ngar suara dari balik semak hutan.

Gelar meno­lak turun dan kuda meno­lak jalan. Ia men­ca­but tombak.

“Orang siapa? Demak?”

“Bukan.”.

“Peranggi?”

‘Tidak.”

“Tuban?”

“Tiga-tiga­nya tidak!”

“Turun! Kalau tidak, kau akan ber­bulu anak panah. Siapa kau?”

“Keluar kau dari semak, lelaki, inilah Gelar.”

Tiba-tiba ter­de­ngar orang ter­tawa-tawa dan bebe­rapa belas orang keluar meling­kar­i­nya. Gelar sen­diri duduk di atas kuda menyiap tombak dan merun­cing­kan kewas­pa­daan.

“Kau, Gelar!” mereka ber­seru senang.

“Ayoh, turun.” Gelar curiga. Tapi suara tawa mereka ramah. Pan­dang­nya ber­pen­daran pada wajah-wajah yang meling­kar­i­nya, dan ada salah seo­rang ia kenal: seo­rang pra­ju­rit penga­wal Tuban.

“Ayoh, Gelar, turun! Tak ada orang punya gaya ber­kuda seperti kau.”

“Siapa kalian,” Gelar ber­ta­nya curiga. “Demak atau Tuban?” ia ber­ta­nya kem­bali.

“Tuban. Sudah buta­kah matamu? Ayoh, minum tuak dulu! Semua ini teman-temanmu sen­diri sepa­sukan. Tidak, tak ada yang bakal tang­kap kau. Turun! Kau toh akan meng­ga­bung dengan kami dengan per­leng­kapan perang seperti itu?”

Gelar mengem­ba­li­kan tombak pada tem­pat­nya, ter­tawa was­pada dan turun.

“Awas kalau kalian coba-coba bikin per­teng­karan…’ ia awasi pra­ju­rit-pra­ju­rit penga­wal itu.

“Per­teng­karan apa? Ter­lalu banyak musuh untuk boleh ber­teng­kar Demak, Peranggi. Kau toh akan ber­ga­bung dengan kami?”

Dengan tetap meme­gangi hulu pedang ia hamp iri bekas tetangga tidur­nya dan ber­kata ber­sung­guh-sung­guh: “Aku mau ber­ga­bung hanya kalau ditu­gas­kan masuk ke Tuban. Dengar?”

“Beres. Ber­ga­bung dulu. Minum, ambil tuak itu. Tua­a­aak.” Mereka masuk ke dalam hutan, meru­bung ladang tuak.dan minum dari cang­kir bambu. Dan seben­tar kemu­dian mereka telah riuh-rendah dalam kegem­bi­raan.

“Kau sudah per­jaka gagah berani. Gelar!” seo­rang memu­lai. ‘Tahu­kah, kau. Gelar,” sese­o­rang menyam­bung, “Syah­ban­dar itu ter­nyata ter­le­pas dari tangan Sang Patih?”

Gelar tak jadi mene­guk tuak­nya. Mata­nya tajam menem­busi mata si pena­nya, kemu­dian mele­tak­kan cang­kir di tanah.

“Jangan kau gusar,” segera orang mere­da­kan. “Peranggi telah mem­be­bas­kan­nya. Seka­rang dia jadi biang keladi segala macam kece­la­kaan.”

Gelar mena­han diri. Ia men­coba mema­hami adakah ucapan itu dimak­sud­kan untuk meng­e­jek dan meng­hina atau­kah seka­dar mem­be­ri­ta­hu­kan, Belum lagi ia dapat memu­tus­kan ter­de­ngar derap kuda datang men­de­kati.

“Siapa itu?” Gelar ber­ta­nya curiga.

“Orang sen­diri. Jangan kha­wa­tir. Hei, Gelar, kau mau ke mana dengan keleng­kapan perang seleng­kap ini?”

Gelar tak ber­mak­sud men­ja­wab. Orang lain telah bicara: “Ingin kami lihat tam­pangmu kalau sudah ber­ha­dapan dengan Peranggi. Ter­ha­dap teman-temanmu sen­diri kami sudah cukup tahu. Gelar ”

“Ya-ya, betul. Kami ingin lihat bangai­mana kau men­de­ngar musket dan meriam. Pucat, kau. Gelar, mung­kin ping­san sewindu”.

Dari jalanan ter­de­ngar penung­gang kuda itu ber­seru-seru dan derap kuda­nya padam: “Kem­bali kalian! Semua! Sena­pa­tiku telah datang, Sena­pa­tiku yang lama. Ayoh kem­bali!”

Orang pun ber­la­rian keluar dari balik semak-semak ke jalanan. Seo­rang penga­wal yang masih duduk di atas kuda menyam­pai­kan perin­tah: ‘Tanpa kecu­ali, semua kem­bali. Sena­pa­tiku telah datang.”

“Ban­teng Wareng?”

“Bodoh. Wirang­gal­eng! Ber­so­rak­lah untuk Sena­pa­tiku.”

Orang pun ber­so­rak-sorai. Gelar menyem­bu­nyi­kan muka pada bulu suri kuda­nya. Ia mena­ngis. Ia tahu orang itu bukan bapak­nya lagi. Semua orang ber­bangga pada Sang Sena­pati Tuban. Ia merasa seumur hidup­nya telah jadi duri dalam daging­nya. Apakah lagi arti dir­i­nya bagi Sang Sena­pati?

“Sultan!” sebut­nya pada kuda­nya meminta sim­pati. Kuda itu mene­ngok pada­nya. Sorak-sorai itu telah ber­henti.

“Kau tidak ikut ber­so­rak. Gelar!” sese­o­rang mene­gur.

“Seumur hidupku aku telah ber­so­rak untuk­nya,” jawab­nya cepat-cepat dan menye­ka­kan muka pada pung­gung Sultan.

“Ayoh, semua berang­kat seka­rang juga.”

Orang pun menge­masi bawa­an­nya masing-masing dan naik ke atas kuda. Juga Gelar ber­ga­bung dengan sen­di­r­i­nya dan ikut berang­kat

Ia ber­ken­dara pelan-pelan dibun­tut barisan. Ujung depan telah hilang di balik tabir debu. Ia mem­bu­tuh­kan waktu untuk meman­tap­kan kem­bali hati­nya. Sena­pa­tiku! Sena­pa­tiku, masih­kah diri ini anakmu? Akan kau terima diri ini bila ikut datang men­jem­putmu? Meng­a­bdi padamu? Aku bangga ber­ba­pak kau. Ah, Sena­pa­tiku. Ia pacu kuda­nya. Semoga kau tak merasa hina ber­a­nak­kan aku. Bapak! Bapak, aku, Gelar datang.

Gelar dite­rima kem­bali oleh pasuk­an­nya.

Dan Sena­pati Tuban, Wirang­gal­eng, ter­nyata tak pernah dapat dite­mu­i­nya. Belum ada orang yang dapat ber­ce­rita ber­temu, apa­lagi bicara deng­an­nya. Namun demi­kian kewi­ba­wa­an­nya dapat dira­sa­kan oleh setiap pra­ju­rit. Per­se­li­sihan antara pemim­pin-pemim­pin pasukan lenyap seperti dihem­bus angin. Setiap saat orang menunggu dengan taat akan datang­nya perin­tah­nya. Dan dalam waktu pendek keti­dak-acuhan para petani di peda­laman dapat dila­wan­nya.

Pra­ju­rit-pra­ju­rit yang selama ini dibi­a­yai oleh praja Tuban, dan praja dari upeti, dan upeti dari keri­ngat petani, telah men­jadi penge­ta­huan umum setiap orang. Tanpa praja pra­ju­rit yang sepang­kat-pang­kat­nya hanya akan hidup dari peram­pokan lang­sung atas petani. Sena­pati telah tindas kecen­de­rungan jahat ini, dan meme­rin­tah­kan setiap pra­ju­rit men­jadi petani dan setiap petani men­jadi pra­ju­rit. Dan ter­nyata setiap pra­ju­rit bisa men­jadi petani dan setiap petani bisa men­jadi pra­ju­rit.

Dan Sena­pati Tuban masih juga tidak dili­hat oleh orang.

Gelar harus tahan kerin­du­an­nya untuk ber­temu, untuk men­da­pat restu, untuk men­da­pat izin isti­mewa mema­suki Tuban, mene­mui Syah­ban­dar Sayid Habi­bul­lah Alma­sawa. Idayu telah menga­ta­kan mela­lui jalan kelok, Syah­ban­dar itulah bapak­nya yang sebe­nar­nya, Ia harus mene­mu­i­nya dan menyem­bah­nya seba­gai seo­rang ayah. Biar semua orang mem­benci dan meng­e­jek­nya, dia adalah bapak­nya, orang yang suka mem­bius itu. Ia ingin tahu dengan mata dan kuping sen­diri bagai­mana macam­nya.

Dan kei­ng­inan itu tak juga ter­pe­nuhi.

Kem­bali men­jadi ang­gota pasukan penga­wal ia men­jadi pen­diam lagi seperti dahulu. Setiap hari ia ber­la­tih mema­in­kan sen­jata. Dan betapa ia ber­la­tih diri begitu fana­tik. Ia akan mele­wat­kan masa perang ini dengan sela­mat. Dan semua berita ten­tang bapak­nya yang sejati ia deng­ar­kan dengan hati-hati, tanpa pera­saan pri­badi. Dan betapa ia mulai meng­erti dengan sikap semua orang yang mem­benci orang Moro itu. Mereka berhak mem­ben­ci­nya dan ia merasa ia pun berhak men­jadi peme­nang dalam perang ter­a­khir nanti.

Kadang ia ber­pi­kir, meng­ap­a­kah kela­kuan satu orang saja bisa mem­bi­kin diri dan emak dan Sena­pati mene­lan kege­tiran begitu pan­jang. Meng­apa tidak Syah­ban­dar itu sen­diri yang harus menang­gung­kan­nya? Tidak adil! ia mera­ung sunyi.

Dan bukan­lah suatu kebe­tulan, waktu dia­da­kan pengir­iman seo­rang telik untuk mema­suki kota, ialah yang ter­pi­lih. Ia telah men­da­pat nilai seba­gai pemuda yang berani dan cakap. Ia terima tugas itu dengan pera­saan syukur pada Hyang Widhi. Dengan menyan­dang semua sen­ja­t­a­nya ia naik ke atas pung­gung Sultan dan ber­pacu ke utara.

Sampai di sebuah kam­pung nela­yan ia ber­henti. Ia nik­mati peman­dangan laut yang nampak tanpa batas, ber­sam­bung lang­sung dengan langit, sama-sama biru. Tak ada kapal, besar atau­pun kecil keli­hatan. Perahu nela­yan pun tidak. Semua yang bia­sa­nya dican­cang di pantai, kini diang­kat naik ke darat, di bawah lin­dungan pohon bakau-bakau.

Rumah-rumah itu nampak sangat miskin, suram, tak ada kegem­bi­raan, beda dari­pada pon­dok­nya dalam peng­ung­sian. Semua atap ter­buat dari ila­lang yang telah lusuh dan hancur-hancur lekang dan dipa­tah­kan oleh angin.

Ia masuki sebuah rumah, telah doyong, dan dua orang anak kecil sedang ber­main-main di dalam. Ter­nyata orang tuanya pergi ke daerah selatan, men­cari tanah per­ta­nian. Juga di rumah-rumah lain, yang ada hanya bocah-bocah. Semua nela­yan telah mening­gal­kan laut untuk ber­tani.

Di malam hari waktu mereka pulang ia men­da­pat cerita, penang­kapan ikan tidak lagi meng­hi­dupi. Tak ada lagi orang datang untuk ber­tu­kar dengan beras dari peda­laman. Mereka pun telah ber­henti mem­bi­kin ikan asin dan trasi. Hanya garam masih terus dibi­kin bila hari tidak hujan. Tetapi Gelar meli­hat, sawah-sawah garam mereka sudah tidak ter­pe­li­hara. Mereka dalam kesu­l­itan peng­hi­dupan yang amat sangat.

Walau begitu ia tak ragu-ragu meme­rin­tah­kan seo­rang laki-laki dewasa agar ting­gal di kam­pung untuk meme­li­hara kuda dan barang-barang titip­an­nya.

Dengan ber­lin­dung kege­lapan malam ia men­da­yung ke jurusan timur – peng­a­laman per­tama dalam hidup­nya seba­gai orang peda­laman.

Ia telah men­da­pat tugas untuk mene­mu­kan pemu­satan-pemu­satan keku­atan Peranggi, men­ca­tat adat-kebi­a­sa­an­nya di siang atau malam hari, dan sampai di mana saja daerah gerak­nya.

Dalam men­da­yung di kege­lapan ia meng­an­dal­kan diri pada keta­zaman mata­nya. Dan ia bangga hidup di tubir maut begini – suatu kehor­matan untuk­nya. Ia akan tun­juk­kan pada emak­nya, pada Sena­pati, pada semua yang menge­nal dan tidak menge­nal­nya, ia mampu laku­kan tugas ber­ba­haya tanpa teman, bahwa ia layak jadi anak Sena­pati Tuban. Dan Sena­pati akan bangga punya anak seperti dir­i­nya. Ia takkan mema­lu­kan orang tuanya.

Dengan modal kebang­gaan dan hati besar ia tak mene­mu­kan sesu­atu kesu­l­itan. Ia dapat men­da­rat dengan sela­mat di barat bandar kota, dan bandar itu pun ter­ben­tang di hadap­an­nya seperti sebuah cobek tua yang ting­gal pecah­nya. Dengan melu­muri badan yang hampir-hampir telan­jang itu dengan kotoran, rambut kacau dir­u­bung lalat, ber­ja­lan dengan kaki X, ber­pura-pura gila, ia menya­nyi dan ter­tawa tiada ber­ke­pu­tusan, bicara seo­rang diri, dengan mata mena­tap hanya pada satu titik. Rambut kacau­nya jatuh pada muka­nya dan menu­tup seba­gian dari wajah­nya, ter­u­tama hidung-beng­kung­nya.

Tanpa ragu-ragu ia men­de­kati pra­ju­rit-pra­ju­rit Por­tu­gis dan meng­a­jak bicara. Dan mereka meng­ha­lau­nya dengan cacian, dengan lem­paran batu. Ia merasa puas dengan per­mun­cul­an­nya. Ia tak takut pada kesi­a­lan. Sudah sejak kecil dia­jar­kan pada­nya, tak ada kesi­a­lan dalam hidup manu­sia, yang ada hanya akibat keke­li­ruan dan kesal­ahan.

Kepa­la­nya ter­lin­dungi oleh sisa destar yang meru­pa­kan tali sempit. Dengan demi­kian ia dapat kukuh­kan letak rambut yang harus dapat menu­tup hidung­nya. Kesu­l­itan satu-satu­nya adalah pangan, tapi justru itu yang menye­bab­kan ia mengu­rus dan nampak pucat. Dan itu lebih baik bagi­nya.

Untuk men­da­pat­kan pemu­satan-pemu­satan keku­atan bagi­nya tak meru­pa­kan kesu­l­itan. Meriam-meriam ia dapat menge­ta­hui ditu­ju­kan ke arah selatan sedang yang di seki­tar ben­teng ter­a­rah ke barat. Semua ber­diri di atas roda kayu. Ben­teng dan kadi­pa­ten meru­pa­kan pusat kehi­dupan Peranggi. Sedang bandar sen­diri nam­pak­nya tak begitu ter­jaga. Menara pela­buhan dan menara ben­teng memang meru­pa­kan bahaya awal bagi bela­ten­tara Tuban, tetapi di malam gulita menara-menara itu tidak akan ber­daya. Juga mata ten­tara Peranggi itu tidur di malam hari.

Ia lihat ser­dadu-ser­dadu ber­ke­li­aran di kam­pung-kam­pung dan meng­ga­uli wanita yang tak mampu mening­gal­kan kota. Tapi lebih banyak lagi adalah yang ber­ke­li­aran di gubuk-gubuk bandar. Dan di sini pula ia sekali meli­hat Syah­ban­dar Tuban keluar dari sebuah gubuk, tua, ber­ja­lan ter­bong­kok-bong­kok, ber­tong­kat dan ber­tar­bus tua. Kemu­dian ia lihat juga gubuk itu diting­gali oleh Nyi Gede Kati, yang juga sudah tua, dan badan­nya tak ter­pe­li­hara lagi seperti dulu.

Bebe­rapa hari lama­nya ia memata-matai Syah­ban­dar, Ia selalu meli­hat orang itu berada dalam kawalan ser­dadu dan setiap sore ber­kun­jung ke gubuk Nyi Gede Kati, seo­rang diri, dan pulang di waktu malam. Bila ta mema­suki gubuk itu penga­wal-penga­wal­nya kemu­dian pergi dan masuk ke tempat-tempat lain.

Sekali waktu ia tidur ber­go­lak-golak di pasiran ping­gir jalan ia lihat Syah­ban­dar lewat dalam penga­walan. Ia ber­henti, meng­a­was­i­nya seje­nak kemu­dian bicara sesu­atu dalam bahasa yang ia tak meng­erti. Sebe­lum berang­kat Syah­ban­dar itu memer­lu­kan untuk melu­dah­i­nya, dan Gelar ter­tawa ber­ba­ha­gia men­da­pat ludah itu dan menye­ka­nya dengan ram­but­nya. Ia ikuti orang ter­bong­kok-bong­kok itu dengan pan­dang­nya.

Itulah bapakmu yang sesung­guh­nya. Gelar, buruk seba­gai­mana hati­nya, busuk seba­gai­mana hati­nya dan jahat seba­gai­mana hati­nya. Meng­ap­a­lah kau ber­ba­pak­kan dia? Orang yang tak pernah ter­de­ngar ber­buat sesu­atu keba­jikan? Tak pernah ter­de­ngar sesu­atu yang mulia ten­tang­nya? Tapi itulah bapakmu. Semua orang tahu. Emakmu sen­diri menga­ta­kan dengan jalan dan cara lain.

Betapa emakku men­de­rita karena kau, menang­gung malu seumur hidup. Sekali waktu kau akan jatuh ke tanganku iblis tua! Inilah Gelar, anakmu, dia akan datang padamu. Hati-hati­lah. Dua puluh hari kemu­dian, pada suatu sore ia meli­hat Nyi Gede Kati meng­gen­dong bakul entah dari mana pulang ke gubuk­nya di daerah pela­curan, Ia nampak kurus. Mata­nya cekung dan jalan­nya telah goyah, tiada mantap seperti bia­sa­nya.

Ia kum­pul­kan keta­ba­han­nya meli­hat wanita itu mema­suki gubuk dan seben­tar kemu­dian juga Syah­ban­dar dalam iringan tiga orang penga­wal, Ia per­ha­ti­kan penga­wal-penga­wal itu men­jauh dan mema­suki gubuk lain.

Ia dekati gubuk itu dengan tong­kat kayu di tangan dan debaran deras di dalam jan­tung. Lang­kah masih menye­ret dengan kaki X. Ia makin men­de­kat sampai ter­de­ngar suara tawa Syah­ban­dar dan Nyi Gede.

“Kau sema­kin keli­hatan kurus, Kati.”

“Tidak, Tuan, sahaya hanya lelah.”

Seo­rang pela­cur yang lewat telah meng­gang­gu­nya dengan ludah dan mener­ta­wa­kan­nya. Ia pun ikut ter­tawa, men­de­kat­i­nya, dan orang itu lari. Pela­cur-pela­cur lain muncul, dan ia dekati mereka, dan mereka pun lari ber­ce­ki­kikan. Ia belok kanan jalan mem­buru mereka, kemu­dian kem­bali ke gubuk Nyi Gede.

Pintu daun kelapa itu ter­buka. Ia melom­pat masuk sambil ter­tawa bahak seperti gan­darwa di atas pang­gung. Tong­kat­nya ter­geng­gam, mata­nya melo­tot dan mulu­r­nya ternga-nga.

Seki­las ia dapat meli­hat dua orang itu ter­pe­ran­jat. Nyi Gede ber­diri di sam­ping tungku, ber­si­aga ter­ha­dap setiap serangan. Tholib Sung­kar Az-Zubaid naik ke atas ambin kedu­duk­an­nya, ber­si­aga dengan tong­kat­nya.

Perem­puan itu segera menge­nal­nya dan ber­seru dari tem­pat­nya: “Gelar!”

“Nyi Gede!” tiba-tiba saja Gelar lupa pada kegi­la­an­nya.

“Gelar! anakku, meng­apa kau jadi begini?” ia melang­kah men­de­kat.

Dan Gelar merasa agak ber­ke­cil hati karena wanita itu segera menge­nal­nya. Ia melengos meman­dangi Syah­ban­dar.

“Begi­ni­lah nasib anakmu, Nyi Gede.”

“Gelar?” Syah­ban­dar bengong dan turun dari ambin.

“Ya, inilah Gelar.”

“Sudah kucari Nyi Gede ke mana-mana. Beri aku makan,” perin­tah Gelar. Kasar.

“Gelar? Kau sudah bisa seka­sar itu? Ya, tung­gu­lah aku masak­kan. Nam­pak­nya kau sudah lapar.”

“Makan?” Gelar ter­tawa sin­ting. “Siapa yang cukup makan seka­rang? Siapa cukup pakaian?” ia melo­tot pada Tholib.

“Com­pang-cam­ping begitu,” gumam Syah­ban­dar, “mung­kin memang sudah gila.” Ia mengen­dur­kan kesi­a­ga­an­nya. “Kul­i­hat memang Gelar seperti celeng keluar dari jaring ikan. Hampir telan­jang bulat. Tunggu di luar, biar Nyi Gede sele­sai­kan masak­nya.”

“Di mana emakmu?” tanya Nyi Gede.

“Lari. Tak tahu aku ke mana.”

“Seperti gila, tapi bisa men­ja­wab,” Syah­ban­dar mene­rus­kan bicara pada diri sen­diri. “Busuk benar baunya, dan lalat meng­i­kuti begitu rupa.” Dan seka­rang ditu­ju­kan pada Gelar, “Baumu busuk, tak pernah mandi. Kau kan pra­ju­rit Tuban?”

“Minum, Nyi Gede!” Gelar meminta kasar, mem­be­la­lak.

Dan wanita itu menge­lu­ar­kan gendi, ber­kata meminta maaf dan meng­ham­piri: ‘Tuak aku tak punya, Gelar.”

“Air tawar?” gumam Gelar, kemu­dian mene­guk dan mele­tak­kan gendi di atas lantai tanah. “Aku kotor, lapar, tapi masih tetap Gelar, Nyi Gede,” ia ter­se­nyum di buat-buat. Tiba-tiba dengan suara mele­dek menu­ding pada Syah­ban­dar, “Siapa orang ini, Nyi Gede?”

Perem­puan itu meng­am­bil gendi dari tanah dan mena­ruh­nya kem­bali di dalam gan­tungan: “Masa kau lupa siapa dia?”

“Apa guna kau menge­nal aku?” Syah­ban­dar meno­lak untuk dise­but nama­nya. Ia ber­ge­rak hendak keluar dari pintu.

Gelar men­ce­gah­nya melang­kah lebih jauh.

“Siapa!” tanya­nya pendek dengan suara meng­ge­ram.

“Ting­kahmu mena­kut-nakuti orang Gelar. Dulu kau tidak begitu, tertib dan sopan. Jangan dekati dia, Gelar. Kau begitu kotor dan busuk.”

Dan kem­bali Syah­ban­dar ber­si­aga dan mundur men­jauh bebe­rapa lang­kah.

“Jangan mundur!” tegah Gelar. “Biar kui­ngat-ingat siapa kau;” ia raba-raba hidung­nya sen­diri. “Hidungku seperti hidungmu.” gumam­nya. “Aku lupa seakan pernah kul­i­hat kau dalam hidupku.”

“Kau pura-pura tak tahu siapa dia. Jangan dekat-dekat,” tegah Nyi Gede sambil mene­rus­kan masak.

“Bukan­kah itu Tuan Syah­ban­dar Tuban?”

“Dia sudah begini tua seka­rang, kau. Tuan Syah­ban­dar,” Gelar mene­rus­kan gumam­nya. “Kalau aku sudah men­jadi tua, semes­ti­nya akan seperti dia juga. Siapa kau?”

Tholib Sung­kar ber­u­saha hendak keluar dan gubuk, dan kem­bali gelar meng­ha­langi.

“Kupu­kul kau kalau merin­tangi jalanku,” ancam Syah­ban­dar.

“Syah­ban­dar, Tuan Syah­ban­dar,” bisik Gelar. “Tuan Syah­ban­dar Tuban. Tapi sia­pa­kah nama­nya? Sudah lama kur­in­du­kan waktu untuk ber­temu deng­an­nya. Tapi sia­pa­kah nama­nya?”

“Gelar! Kau meng­ganggu aku mema­sak. Jangan ganggu pula Tuan Sayid Habi­bul­lah Al-Masawa itu.”

“Benar, Sayid Habi­bul­lah Al-Masawa!” Gelar men­de­ngus. “Benar, ingat aku seka­rang.”

“Meng­apa kau nampak begitu mena­kut­kan?” tegur Nyi Gede yang kem­bali men­de­kat­i­nya. “Hor­mati dia seba­gai­mana kau meng­hor­mati orang tua.”

Gelar men­ci­bir. Dan Syah­ban­dar tetap siaga dengan tong­kat­nya.

“Gelar! Kau atau aku yang pergi dan situ!” bentak Syah­ban­dar. “Kau ini orang Demak atau Tuban, atau hanya main pura-pura gila?”

“Kau meng­ha­dapi Tuan Syah­ban­dar seba­gai meng­ha­dapi…,” Nyi Gede mem­per­i­ng­at­kan.

“Nyi Gede, ing­at­kah Nyi Gede semasa aku masih kecil?” tiba-tiba Gelar ber­ta­nya kekanak-kanakan. “Ini dia Tuan Syah­ban­dar Sayid Habi­bul­lah Al-Masawa. Kata orang. Nyi Gede, dia bapakku.”

“Penipu! Tak ada aku ber­a­nak­kan kau!” bentak Tholib Sung­kar Az-Zubaid, tak jadi pergi.

“Benar­kah itu, Nyi Gede?”

Wanita itu mene­liti wajah Gelar, mema­rahi: “Kau datang seperti petir di siang cerah, mem­bawa per­ta­nyaan tidak pada wak­tu­nya.”

Gelar ter­tawa pendek. Tong­kat dike­pit­nya pada ketiak: “Meng­apa begitu pucat. Tuan Syah­ban­dar? Jangan, jangan pergi. Anakmu ingin bicara,”

“Tak ada aku punya anak seperti kau.”

“Jadi kau bukan bapakku? Kaukah yang menipu atau­kah emakku Idayu?”

“Jelas Idayu penipu!” Syah­ban­dar memu­tus­kan.

Nyi Gede meme­gangi bahu anak muda itu, ber­ta­nya lunak: “Per­nah­kah Idayu bilang begitu?”

“Tak pernah Idayu meng­a­suh anak­nya jadi penipu, Nyi Gede, kau yang pernah mem­bi­dani emak waktu aku lahir. Apa katamu?”

Nyi Gede mena­rik Gelar agar duduk di ambin, tapi ia meno­lak. Ia sen­diri seka­rang yang duduk, men­te­lan­tar­kan masak­an­nya.

“Jangan mena­kut-nakuti begitu, kau, Gelar,” ia mem­per­i­ng­at­kan, “kalau kul­i­hat kau ber­diri di depan Tuan Syah­ban­dar, nam­pak­nya memang seperti dua orang kembar. Hanya kau tegak, muda belia, tinggi semam­pai. Tuan Syah­ban­dar….”

“Apa saja semua ini…,” protes Syah­ban­dar.

“… Jang­kung, tapi tua dan bong­kok. Memang sepan­tas­nya anak dan bapak. Kul­it­nya, hidung, mata, rambut….”

“Diam, kau, Kati,” bentak Tholib Sung­kar. “Gila kalian berdua ini. Aku pergi.”

Dan Gelar meng­ha­dang.

“Apa salah­nya Tuan deng­ar­kan sedi­kit kata dari kami? Nyi Gede, ceri­ta­kan pen­de­ri­taan emakku sete­lah mela­hir­kan.”

“Betul. Dia sangat men­de­rita. Dia merasa pasti akan ditu­duh oleh sua­mi­nya, Wirang­gal­eng. Si peri­ang itu, jadi pen­diam untuk selama-lama­nya sete­lah itu, jadi peme­nung. Dia tak tahan ter­ha­dap pera­sa­an­nya dan duga-dugaan sen­diri. Dia telah serah­kan diri pada sua­mi­nya untuk dicun­drik mati.”

“Kau dengar itu, Tuan Sayid, bapakku?”

“Jangan berani pergi sebe­lum kau dengar pen­de­ri­taan emakku karena ting­kahmu. Kau! Terus­kan, Nyi Gede.”

“Wirang­gal­eng tidak men­cun­drik emakmu. Dia tetap men­cin­ta­i­nya. Betapa agung cinta lelaki itu. Tetapi wanita itu, pera­sa­an­nya telah rusak binasa sejak itu, takkan dapat pulih kem­bali.”

“Dan semua dimu­lai dengan obat bius,” Gelar menam­bahi.

“Kemu­dian, baru kemu­dian itu dike­ta­hui,” Nyi Gede Kati mem­be­tul­kan.

“Tak perlu aku mem­bius seo­rang pun!” bantah Syah­ban­dar.

“Aku pun pernah kau bius, Tuan,” Nyi Gede menu­duh.

“Kau, Kati, kau juga menu­duh aku?”

“Dan pen­jaga-pen­jaga menara, dan dua orang Peranggi pela­rian,” Gelar mene­rus­kan, “korban obat bius.”

“Apalah arti­nya korban-korban itu diban­ding­kan dengan pen­de­ri­taan Idayu?”

Syah­ban­dar seperti kehi­langan kepri­ba­di­an­nya. Ia meno­leh-noleh pada setiap pem­bi­cara, Ia tak dapat memu­tus­kan sesu­atu untuk diper­bu­at­nya. Ia ingat pada sum­pah­nya untuk meng­a­kui Gelar seba­gai anak­nya. Dan anak itu kini begitu men­ji­jik­kan, sete­ngah gila dan tak tahu aturan.

“Setiap dia meli­hat kau. Gelar,” Kati mene­rus­kan, dia akan ingat pada kela­hir­anmu, pada gang­guan pera­saan yang meng­gun­cang­kan itu, karena dia sangat, sangat men­cin­tai bapakmu. Dia rela mati untuk bapakmu, rela apa saja. Karena besar­nya cin­ta­nya itu sebe­lum­nya dia telah hadapi maut, meno­lak jadi selir Sang Adi­pati, meno­lak segala bujukan. Tiba-tiba Tuan, Tuan Syah­ban­dar mem­bi­us­nya. Tangan Tuan yang kotor dan ber­lu­muran dosa telah meraba tubuh­nya, dan kau, Gelar, kau pun lahir­lah. Kau anak Tuan Syah­ban­dar ini. Tak salah lagi. Jangan pergi. Tuan, deng­ar­kan juga istrimu ini bicara.”

Tholib Sung­kar ber­diri ter­siksa tak dapat mening­gal­kan tem­pat­nya. Ia meri­ngis-ringis ber­u­saha tak men­de­ng­ar­kan, tapi justru men­de­ng­ar­kan.

“Mari­lah duduk sini di sam­pingku. Tuan,” tapi Syah­ban­dar tak meng­gub­ris seolah tak dengar. “Gelar! Akulah yang per­tama-tama menyam­but keda­tanganmu di dunia ini. Aku juga yang per­tama-tama meli­hat: kau tak lain dari anak Tuan Sayid ini Akulah juga orang yang per­tama-tama kaget. Sete­lah kau kuman­di­kan dan kuti­dur­kan di sam­ping emakmu, emakmu dengan diam-diam mena­ngis. Ia tak bicara apa-apa. Nah, Tuan Sayid, Tuan­lah seka­rang yang bicara.”

“Dia tak pernah menga­ta­kan aku anak­nya,” Gelar menu­duh.

“Meng­apa diam saja, Tuan. Malu­kah Tuan punya anak dia?”

‘Tak ada guna deng­ar­kan ceri­cau dua orang gila.”

Gelar makin meng­ha­dang dengan tong­kat pada ketiak. Syah­ban­dar ber­u­saha men­ca­but pisau-tong­kat­nya dengan suatu gerakan semu. Gelar meli­riki tangan­nya, ter­tawa, kemu­dian: “Sia-sia Tuan kelu­ar­kan pisau-tong­kat itu. Kalau aku mau, sudah sejak tadi kur­e­muk­kan kepa­lamu. Uh, siapa belum pernah dengar ten­tang tong­kat ajaib itu? Orang-orang tak ber­daya telah kau bunuhi, seakan hanya babi hutan. Sekali pisau itu nampak ter­hu­nus di hadap­anku, tangan yang meng­hu­nus­nya akan kur­e­muk­kan. Kalau tidak per­caya, ayoh coba.”

Tholib Sung­kar tak mene­rus­kan usa­ha­nya.

“Telah kau aniaya pera­saan emakku sejak kela­hir­anku. Telah kau hina­kan Sena­pa­tiku. Diam! Jangan bicara. Telah kau aniaya dan kau khi­a­nati pen­du­duk Tuban. Deng­ar­kan kalau Gelar bicara. Jangan gerak­kan bibirmu itu. Telah kau bikin aku jadi ejekan dan ter­ta­waan di mana-mana dan kapan saja. Tebus semua air mata dan kesa­kitan emakku! Tebus semua kesa­kit­anku. Bicara kau seka­rang!”

Untuk sekian kali Tholib Sung­kar ber­u­saha mengu­a­sai diri. Tapi sya­raf­nya sudah tak bisa diken­da­li­kan­nya. Kefa­sihan dan kecer­das­an­nya pun sudah tak sang­gup mem­ban­tu­nya mela­wan anak kema­rin yang tak ber­pe­nge­ta­huan ini. Ter­de­ngar “Kau sudah bikin bahaya untuk dirimu sen­diri.”

“Urus­anku. Aku tahu kau sangat ber­ku­asa.”

‘Tak rela­kah Tuan meng­a­ku­i­nya seba­gai anak?”

“Setiap saat ser­dadu Peranggi bisa datang dan bunuh kau, anak gila.”

“Biar­lah bapak dan anak mati ber­sama. Apalah beda­nya?”

“Tidak­kah pernah kau dengar? Sedi­kit saja tanganku melam­bai, dan ser­dadu Peranggi akan ter­go­poh ber­da­tangan?”

‘Tangan itu akan remuk sebe­lum melam­bai.”

“Bila jariku menu­ding, tewas­lah dia yang ter­tu­ding, dengan atau tanpa nama.”

“Jari itu akan patah sebe­lum menu­ding.”

“Itu benar, Gelar,” Nyi Gede meng­ga­rami.

“Aku telah datang padamu untuk dija­wab. Sekali lagi: adakah kau bapakku?”

‘Tak pernah aku punya anak seperti kau.”

“Bagus. Maha Buddha takkan mengu­tuk aku. Lebih mudah rasa­nya ber­ha­dapan deng­anmu seba­gai bukan bapak,” ia menu­ding. “Kau sumber seng­sara. Kau bukan bapakku, aku bukan anakmu.”

“Kau memang ter­lalu. Tuan, Gelar sudah marah begitu.”

“Dia kira mudah mem­bu­nuh Sayid Hab­bi­bul­lah Al-Masawa,” ejek Syah­ban­dar. ”Kau hadapi seribu Peranggi. Kau takkan lepas!”

“Apakah hina­nya meng­a­kui anak itu seba­gai anak sen­diri? Dia darah dan daging Tuan sen­diri!”

“Diam!” bentak Syah­ban­dar pada istri­nya. Dan pada Gelar, “Setan mana yang mem­bawa kau padaku?”

Syah­ban­dar tak dapat mengen­da­li­kan diri lagi. Cepat tong­kat­nya naik di ten­tang dada, pisau­nya yang pan­jang hitam telah ter­hu­nus dan dengan cepat maju-mundur mem­bi­kin gerak peni­ka­man yang mema­ti­kan.

Gelar ber­ke­lit ke sam­ping dan memu­tar tong­kat kayunya sambil men­de­sis cepat: “Nyi Gede, jangan sesali aku kalau kuper­la­ku­kan sua­mimu seperti ini.”

Nyi Gede meng­hin­dar­kan diri dari dua lelaki, ayah dan anak, yang sedang ber­ta­rung. Ia ber­te­riak men­coba mele­rai: “Tuan, jangan bunuh anak itu, anakmu sen­diri. Ter­ku­tuk kau!” tapi suara yang ber­seru-seru itu tak keluar dari mulut.

Tong­kat Gelar ber­pu­tar-putar. Dan tusukan-tusukan pisau pan­jang itu ber­tubi-tubi cepat seperti serangan seribu kobra. Baru pada waktu itu orang menyak­si­kan Syah­ban­dar dengan pisau-tong­kat­nya adalah lak­sana seekor ular ber­bisa. Ia dapat menye­rang cepat dan meng­e­lak dan ber­ke­lit, maju dan mundur dalam kesa­tuan dengan sen­ja­t­a­nya.

Ruangan yang sempit itu terasa sesak dengan dua manu­sia.

Nyi Gede melom­pat ke atas ambin. Seka­rang sua­ra­nya dapat keluar nya­ring.

‘Tuan, jangan bunuh anakmu sen­diri!”

“Kau mem­bela dan mem­be­ra­ni­kan dia!” jawab Syah­ban­dar sambil terus menye­rang.

‘Ter­ku­tuk si pem­bu­nuh anak!”

Pisau-tong­kat Syah­ban­dar ter­lon­tar dari tangan, mele­sit ke atas, mene­mui atap daun kelapa, ter­sang-sang dan tak turun lagi.

“Men­ji­jik­kan,” dengus Nyi Gede meli­hat Syah­ban­dar ber­diri tanpa bong­kok di hadapan Gelar tanpa ber­ge­rak, “men­coba mem­bu­nuh anak sen­diri. Memang patut men­da­pat gan­jaran setim­pal. Orang tua tak tahu diri.”

“Kau tidak mem­bela aku. Kati.”

Gelar ber­diri diam-diam dengan tong­kat di tangan di hadapan Syah­ban­dar. Nyi Gede Kati turun dari ambin dan men­de­kati sua­mi­nya, menu­ding­nya: “Dalam pen­de­ri­taan kau kubela. Dalam kebi­na­tangan kau kula­wan, ter­ku­tuk kau!”

Gelar mem­bi­ar­kan dua-duanya seba­gai suami-istri.

“Seba­gai istri kau tak patut memu­suhi aku.”

“Tutup mulutmu. Makin banyak bicara kau makin men­ji­jik­kan. Pang­gil semua ser­da­dumu. Tak ada seo­rang pun di antara mereka bisa dan mau meno­long­nya.”

“Kau pun akan binasa, Kati.”

“Aku tahu, tapi tidak tanpa kehor­matan seperti kau,” bentak Gelar dan mela­yang­kan tong­kat­nya pada kepala Syah­ban­dar.

Nyi Gede menu­tup mata dengan tangan, meme­kik: ‘Ter­ku­tuk, kau Gelar, pem­bu­nuh ayah sen­diri!”

Kepala Syah­ban­dar tua itu pecah, tong­kat itu patah, dan tubuh tua itu ter­gu­ling jatuh. Dari mata dan hidung­nya dan mulut­nya dan kuping­nya keluar darah.

Gelar mena­rik tangan Nyi Gede ke arah pintu.

“Jangan sentuh aku, ter­ku­tuk, pem­bu­nuh ayah sen­diri!”

“Peranggi akan aniaya kau!”

“Bina­tang! Pergi!”

Gelar keluar dari gubuk, dan mata­hari telah teng­ge­lam. Ia lari entah ke mana.

Nyi Gede Kati men­de­kati pintu, mene­ngok ke kiri dan ke kanan, kemu­dian pun lari entah ke mana….


Bab 42

Koma

Malam itu tenang dan ten­te­ram di pesang­grahan balat­en­tara Tuban di sebe­lah barat kota. Dari gubuk-gubuk dan bedeng-bedeng dari daun kelapa nampak sinar pelita suram. Angin laut tak henti-hen­ti­nya ber­tiup dan mem­bawa serta deda­unan kering dari hutan-hutan keli­ling.

Sudah sejak senja hari udara terasa dingin. Dan angin mem­bi­kin udara sema­kin dingin. Tetapi tak ada seo­rang pun mem­bi­kin pen­di­angan. Semua pra­ju­rit dipe­rin­tah­kan ber­is­ti­ra­hat dua minggu penuh tanpa boleh ber­di­ang di malam hari.

Isti­ra­hat sepan­jang itu mem­bi­kin mereka jadi geli­sah, men­duga sen­diri apa akan diper­buat oleh Sena­pati Wirang­gal­eng dalam meng­u­sir Peranggi.

Pada malam itulah Gelar datang ke pesang­grahan. Kuda­nya melang­kah pelan men­de­kati gubuk pera­tus­nya, kemu­dian ia turun.

“Seka­rang kau boleh ber­is­ti­ra­hat, Sultan,” bisik­nya.

Ia ber­henti, tak jadi masuk waktu men­de­ngar sese­o­rang bicara hati-hati: “Tunggu nanti bila bulan mulai tua. Pada waktu itulah kita akan mulai ber­ge­rak. Keme­nangan Sena­pa­tiku sejak dulu diper­o­leh dalam gerakan malam, ber­lin­dung­kan kege­lapan.”

Gelar men­de­ham dan per­ca­kapan ber­henti. Ia masuk dan men­da­pat­kan pera­tus­nya sedang duduk ber­sama pera­tus lain. Sua­ra­nya seka­rang ting­gal jadi bisikan, tak dapat ditang­kap­nya. Kemu­dian pera­tus lain itu pun pergi.

Ia mela­por­kan segala yang telah dili­hat­nya di Tuban, kecu­ali urusan pri­ba­di­nya dengan Syah­ban­dar dan Nyi Gede Kati. Dan pera­tus itu merasa puas. Ia menya­ta­kan peker­ja­an­nya baik.

‘Tetapi,” kata­nya lagi, “kalau kete­rangan-kete­rang­anmu ter­nyata isapan jempol, apa­lagi ter­nyata kau sama sekali tak pernah masuk ke Tuban Kota… kau tahu sen­diri gan­jar­an­nya.”

“Barang tentu, pera­tusku!”

“Siapa saja yang pernah kau temui di sana?”

“Nyi Gede Kati bekas pengu­rus keput­rian kadi­pa­ten, Ia ting­gal di gubuk daun kelapa di daerah pela­buhan.

“Mak­sudmu di gubuk-gubuk perem­puan gelan­dangan?”

“Benar, pera­tusku!”

“Tak pernah kau meli­hat… eh, eh. Syah­ban­dar?”

“Lebih dari meli­hat, pera­tusku.”

“Meng­apa tak kau sam­pai­kan sejak tadi?”

Dan Gelar dengan rikuh men­ce­ri­ta­kan segala yang telah ter­jadi di dalam gubuk Nyi Gede Kati.

“Gelar!” seru­nya, “bukan­kah kau didi­dik dalam Buddha?”

“Benar, pera­tusku.”

“Bukan­kah kau sen­diri tahu dia ayahmu?”

“Tahu, pera­tusku.”

“Bagai­mana bisa kau laku­kan….”

“Sudah ter­jadi, Pera­tusku, jalan lain tak ada.”

Pera­tus itu mena­tap pra­ju­r­it­nya dengan mata tajam. Pera­saan jijik ter­pan­car pada wajah­nya. Kemu­dian ia pergi tanpa bicara lagi.

Dalam salah sebuah gubuk di pesang­grahan balat­an­tara Tuban bebe­rapa orang menge­li­lingi pelita minyak yang ter­buat dari ruas bambu yang ber­diri dengan kaki-kaki. Mereka nampak ber­sung­guh-sung­guh. Bayang-bayang yang ber­ge­rak-gerak pada wajah mereka dise­bab­kan gerak api, mem­bi­kin mereka nampak seram. Mereka: Braja, Kala Cuwil, Rang­kum, Ban­teng Wareng dan Wirang­gal­eng.

Mereka menyim­pul­kan: Por­tu­gis jelas bisa diusir dari Tuban, tidak saja dengan penyer­buan dari laut, juga dan ter­u­tama dari darat. Mereka meng­a­kui: per­tem­puran malam, yang untuk per­tama kali dilan­car­kan oleh Wirang­gal­eng dalam seja­rah perang di Jawa, akan men­ja­min kemung­kinan itu. Dalam perang peng­u­siran tidak diper­lu­kan cet­bang, yang jelas tak dapat menan­dingi meriam musuh.

Masa­lah yang kemu­dian timbul: sampai berapa lama Peranggi dapat mena­han serangan? Ben­teng bawah-tanah mereka mem­be­ri­kan per­lin­dungan yang tak ter­tem­busi oleh tombak, panah atau­pun pedang, sedang­kan serangan harus kilat pada waktu mereka ter­lena atau ber­ha­sil dibi­kin lena. Serangan yang ter­su­sul oleh ter­bit­nya bulan atau matari akan menye­bab­kan meriam-meri­am­nya meng­ga­gal­kan semua usaha. Meriam ram­pasan telah teng­ge­lam di laut, tak bisa diha­rap­kan.

Kesim­pulan kedua: serangan harus meru­pa­kan sekali pukulan yang mema­ti­kan.

Masa­lah yang kemu­dian timbul: balat­en­tara Demak. Walau musa­fir-musa­fir­nya tak seba­nyak dan tak sefa­na­tik dulu, setiap waktu Treng­gono bisa tahu apa yang ter­jadi di mana-mana. Bila Demak tahu apa sedang diren­ca­na­kan Tuban, Treng­gono ting­gal menunggu ter­ja­di­nya perang peng­u­siran, dan tanpa ber­su­sah-payah ia akan meng­am­bil-alih semua usaha Tuban, bahkan mengu­a­sa­i­nya pula.

Kepu­tusan ter­a­khir: semua dise­rah­kan pada satu tangan. Dan yang dise­rahi adalah Sena­pati Tuban Wirang­gal­eng.

Dengan demi­kian per­si­dangan sambil ber­diri menge­li­lingi pelita itu ber­a­khir. Sebe­lum mereka bubar, Sena­pati masih sempat ber­ta­nya: “Bagai­mana berita telik ter­a­khir?”

“Tidak ber­beda dengan yang seminggu ter­da­hulu, dengan tam­ba­han, dia telah memer­lu­kan meng­ha­bisi jiwa Syah­ban­dar Tuban Sayid Ulas­awa,” jawab Kala Cuwil.

Wirang­gal­eng ter­diam.

“Dia telah ker­ja­kan lebih dari tugas­nya,” Patih Tuban itu menam­bah­kan.

“Beri­kan pada dia tiga ratus orang dari pasukan kaki.”

“Baik, Sena­pa­tiku.”

‘Tugas­kan dia men­cari minyak tanah. Ter­se­rah pada dia di mana dan cara dia men­da­pat­kan.”

Gelar telah ber­u­saha dengan ber­ba­gai cara dan jalan untuk dapat mene­mui bapak­nya. Selalu tak ber­ha­sil. Pera­tus­nya pun meno­lak menyam­pai­kan pada ata­s­an­nya.

Sena­pati sen­diri tak pernah keli­hatan pada umum. Orang-orang bilang: jiwa­nya harus dise­la­mat­kan dari intaian Demak.

Di mana saja Sena­pati berada, orang tak banyak tahu. Juga dan apa­lagi Gelar.

Ia ingin menyam­pai­kan sen­diri apa yang telah diper­bu­at­nya ter­ha­dap Syah­ban­dar ter­ku­tuk itu. Ia merasa telah ber­jasa besar pada emak dan bapak­nya. Ia berhak men­da­pat­kan peng­a­kuan seba­gai anak yang baik dan tahu meng­ha­pus aib orang tua. Ia telah merasa seba­gai pah­la­wan kelu­arga. Musuh segala orang itu telah tumpas, oleh tangan­nya sen­diri. Bukan­kah ia seo­rang anak yang tahu mem­ba­las budi? Tak kurang suatu apa? Bahkan ia pun abang yang baik untuk adik­nya dan pra­ju­rit yang baik untuk sena­pa­ti­nya? Untuk itu ia telah per­ta­ruh­kan jiwa­nya, sega-la-gala­nya? Mereka akan bangga pada dir­i­nya. Tuban pun akan bangga punya seo­rang pra­ju­rit seperti dir­i­nya. Siapa lagi bisa memus­nah­kan Syah­ban­dar Tuban yang selalu dalam kawalan Peranggi kalau bukan hanya Gelar?

Ia sen­diri merasa ter­be­bas dari keri­sau­an­nya. Sekali waktu ia akan datang pada emak­nya. Dan ia akan men­da­pat pujian dari­pa­da­nya. ingin segera pulang untuk ber­pa­nen pujian itu. Tapi tak mung­kin. Seki­ra­nya Sena­pati bukan bapak­nya sen­diri, pasti ia sudah ting­gal­kan balat­en­tara, kem­bali dalam ling­kungan kasih-sayang emak­nya. Ia merasa malu untuk pergi. Wirang­gal­eng akan malu pada umum punya anak yang mela­ri­kan diri dari kewi­ba­wa­an­nya. Ia ter­paksa ting­gal dalam pasukan.

Pada pera­tus­nya ia mena­war­kan diri untuk tugas-tugas yang lebih berat. Ia tak tahan harus diam-diam tanpa kegi­atan. Pang­gilan dari Sena­pati itu tak kun­jung datang. Ia harus dapat mena­rik per­ha­ti­an­nya dengan jasa-jasa yang lebih besar.

Atau­kah Sena­pati sengaja tak mau meli­hat­nya lagi? Tidak mung­kin. Jasa yang lebih besar meng­ha­rus­kan ia menge­nal Gelar. Dan pera­tus itu tak juga mem­be­ri­nya tugas pen­ting. Ia men­jadi geli­sah resah. Pada puncak keri­sauan ia telah siap untuk ber­buat sesu­atu – apa saja untuk mena­rik per­ha­tian Sena­pati. Dan perin­tah itu datang: memim­pin tiga ratus pra­ju­rit kaki, cari minyak tanah di mana saja, dengan cara apa saja. Dan pera­tus itu menyam­pai­kan pada­nya pri­badi: perin­tah lang­sung dari Sena­pati sen­diri. Waktu: tiga minggu.

Ia tak ber­ta­nya lebih lanjut. Ia anggap perin­tah itu seba­gai ujian dari seo­rang bapak sen­diri. Dan sete­lah mene­rima jumlah yang tiga ratus segera ia berang­kat. Semua ber­sen­jata leng­kap.

Mem­bawa keku­atan tiga kesa­tuan adalah peng­a­laman baru bagi seo­rang pra­ju­rit muda. Dan hanya pra­ju­rit luar biasa saja ada kemung­kinan men­da­pat kehor­matan seperti itu. Ia merasa lebih diper­caya dari­pada tiga orang pera­tus seka­li­gus. Piki­ran itu mem­be­sar­kan hati­nya.

Mereka semua sudah dan akan lebih bangga padaku, ia memu­tus­kan. Tanpa pikir pan­jang ia bawa pasuk­an­nya ke Bojo­ne­gara. Sena­pati tak dapat dite­mui. Baik. Ia akan meminta restu dari Ibunya. Dan yang lebih pen­ting lagi: mem­bawa berita pada Idayu ten­tang keda­tangan Sena­pati. Di sana nanti baru ia akan pikir­kan apa harus diper­buat.

Begitu turun dari kuda ia lang­sung men­da­pat­kan emak­nya dan ber­kata: “Mak, lihat, Mak, tiga ratus orang pra­ju­r­itku seka­rang.”

Dan Idayu dan Kum­bang menga­gumi pra­ju­rit seba­nyak itu, menga­gumi Gelar, semuda itu telah pimpin ratusan orang yang lebih tua dari­pada dir­i­nya sen­diri.

“Kau men­da­pat keper­ca­yaan besar, Gelar.”

“Tentu, Mak. Tahu kau, Mak, siapa yang mem­beri keper­ca­yaan ini?”

“Mana aku tahu, Nak?”

“Nanti aku bilangi. Seka­rang…,” ia ber­bi­sik pada Idayu dan emak­nya men­de­ng­ar­kan dengan mata ter­be­liak ber­pen­daran ber­pu­tar-putar ke sana-sini.

Tiba-tiba emak­nya meme­kik: “Gelar!” sambil menyo­r­ong­kan badan anak­nya. “Tidak mung­kin! Tidak mung­kin! Tidak mung­kin! Jangan ulangi kebo­hongan itu. Aku tak per­caya.”

Gejo­lak dan rang­sang girang dalam dada Gelar beru­bah jadi beku, kaku dan mem­batu. Untuk per­tama kali dalam hidup­nya ia lihat wanita itu beru­bah jadi orang lain yang tak dike­nal­nya, seperti bukan orang yang pernah mela­hir­kan, menyu­sui mem­be­sar­kan dan men­di­dik­nya.

Idayu ber­diri tegak seperti patung. Mata­nya masih mem­be­la­lak tidak ber­ge­rak dan tidak ber­ke­dip.

Gelar kehi­langan sema­ngat dan kepri­ba­di­an­nya.

Lambat-lambat Idayu meme­jam­kan mata, menun­duk. Suara seo­rang ibu keluar dari dada­nya yang sesak: “Memu­ak­kan! Tak ada seo­rang ibu pernah menyu­ruh atau meng­an­jur­kan per­bu­atan seperti itu. Aku tak per­caya ada anakku bisa ber­buat seperti itu!”

Gelar tetap tak meng­erti meng­apa ibunya menang­gapi berita keja­dian itu seperti orang kehi­langan akal. Meng­apa lenyap­nya seo­rang yang selama itu menye­dih­kan hati­nya, meru­sak kete­nangan batin­nya, ter­nyata tidak meng­gi­rang­kan hati­nya? Ia kehi­langan pegangan. Seo­rang ibu yang benar-benar dicin­ta­i­nya telah meno­lak per­se­m­ba­han bakti….

“Jadi apa harus kuker­ja­kan, Mak?”

“Kau! Kau! Meng­apa seka­rang ber­ta­nya padaku? Kau berang­kat tanpa mening­gal­kan kata. Meng­apa ber­ta­nya?” Kata­nya dengan suara pedih.

Kum­bang mem­per­ha­ti­kan ibu dan abang ber­ganti-ganti tanpa meng­erti duduk-soal­nya.

“Kau meres­tui kebe­rang­kat­anku, Mak.”

“Betul, tapi bukan untuk per­bu­atan seperti itu. Memu­ak­kan, memu­ak­kan.”

“Dia musuh, Mak, manu­sia ter­ku­tuk.”

“Itu saja yang agak meri­ng­an­kan kau. Hanya itu. Maha Buddha tidak. Memo­hon­kan ampun pun aku takkan sang­gup – seka­li­pun kau bohong!”

Ada juga keri­ngan­an­nya, pikir Gelar. Dan Idayu seka­li­gus telah demi­kian beru­bah, bukan emak­nya yang dulu, dan pondok peng­ung­sian itu tak lagi terasa ramah dan menyam­but seperti dulu. Bahkan Kum­bang pun sudah nampak lain. Ia dipaksa untuk juga meng­am­bil sikap lain, lebih ber­hati-hati. Semua dira­sa­i­nya telah jadi asing. Juga dir­i­nya sen­diri. Ia ber­lu­tut dan ber­kata dengan suara memo­hon: “Anakmu akan berang­kat terus, Mak. Beri­lah restu.”

“Berang­kat­lah,” kata Idayu seperti pada orang asing.

“Kau tak meres­tui aku, Mak?”

“Aku tak tahu apa lagi akan kau per­buat. Sejak seka­rang restui dirimu sen­diri dengan per­bu­atan baik. Gelar, berang­kat­lah.”

“Mak, tega kau mele­pas aku tanpa restu, Mak?”

Dan wanita yang diha­dap­i­nya itu memang sudah bukan emak yang dulu, men­jadi wanita yang tidak dike­nal­nya.

“Baik, Mak,” kata­nya sambil ber­diri. “Aku berang­kat lagi. Nam­pak­nya tak ada sesu­atu yang bisa kuper­buat lagi di sini. Sebe­lum berang­kat kusam­pai­kan padamu. Sena­pa­tiku Wirang­gal­eng sudah datang di Tuban.”

“Bapak!” seru Kum­bang.

Dan seruan itu terasa seperti hali­lin­tar di hati Gelar. Ia tahu, ia tak berhak lagi ber­seru seperti adik­nya.

Lambat-lambat wajah Idayu kem­bali seperti semula. Mata­nya lunak dan bibir­nya kehi­langan kete­gangan.

“Aku ting­gal­kan tiga orang pra­ju­rit untuk meng­an­tar­kan Emak dan Kum­bang. Tolong­lah, Mak, kalau kau sudi, Mak, sam­pai­kan sembah-sujudku pada Sena­pa­tiku, seba­gai pra­ju­r­it­nya.” Ia hendak menga­ta­kan kalau toh tak meng­a­kui aku seba­gai anak­nya, tetapi kata-kata itu ter­se­kat beku di dalam jakun.

Dengan hati bolong com­pang-cam­ping ia ting­gal­kan gubuk dan manu­sia-manu­sia ter­cinta yang sudah jadi asing itu, meng­ga­bung­kan diri dengan pasuk­an­nya, berang­kat lagi mema­suki lebih dalam wila­yah Bojo­ne­gara.

Dari seo­rang pra­ju­rit yang ber­peng­a­laman dalam hal minyak-tanah ia men­da­pat kete­rangan, minyak bisa dida­pat­kan di tengah-tengah pecahan bukit cadas yang patah atau belah. Mung­kin jarak pecahan itu sampai satu atau sete­ngah hari per­ja­lanan. Tengah-tengah jarak itu bia­sa­nya sumber minyak.

Ia tak tahu-menahu ten­tang itu. Dise­rah­kan­nya pim­pinan pen­ca­rian pada­nya.

“Pada mula­nya orang pada ber­ta­nya-tanya apa per­lu­nya minyak-tanah seba­nyak yang bisa diang­kut oleh tiga ratus orang, kalau guna­nya toh untuk mela­wan wabah beng­kak yang mem­bu­nuh itu dan sakit perut muntah-buang-air? Dan penya­kit demi­kian tak ada seha­bis perang mela­wan Kiai Beng­gala. Bila untuk pene­rangan, untuk apa pula pene­rangan ber­le­bihan di waktu perang? Bukan­kah cukup dengan minyak kelapa?

Orang tak juga meng­erti. Dan orang pun tak mem­per­so­al­kan­nya lagi. Soal yang lebih gawat seka­rang adalah: kemung­kinan ter­per­goki oleh pasukan Demak, dan itu ber­arti per­tem­puran. Dan tiga minggu yang dibe­ri­kan mung­kin akan ter­le­wati.

Kecom­pang-cam­pingan dan kebo­longan hati­nya segera ter­de­sak oleh tugas­nya seba­gai pra­ju­rit. Kewas­pa­daan dan kesi­a­gaan, peng­a­turan pasukan dan pengir­iman telik, semua jadi peker­jaan pokok untuk dapat meng­hin­dar ser­gapan musuh.

Bebe­rapa hari lama­nya pasukan itu men­je­la­jahi per­bu­kitan Ken­deng men­cari sumber minyak….

Wirang­gal­eng ber­sama dengan para pemim­pin pasukan sedang ber­diri meng­ha­dap pada sebuah bukit kecil yang dir­im­buni hutan. Di bela­kang mereka ber­diri bebe­rapa orang penga­wal ber­sen­jata tombak, pedang dan peri­sai. Seke­li­ling mereka sunyi-senyap. Dan di bela­kang mereka adalah per­bu­kitan rendah yang sete­ngah gundul.

Wirang­gal­eng ber­diri ber­to­lak ping­gang dengan pan­dang mere­nungi keja­uhan. Ia nampak lebih kukuh dan lebih tegap dari­pada tujuh belas tahun yang lalu. Hanya mata­nya nampak cekung masuk ke dalam rongga dan garis-garis kaki-ayam mulai meng­gu­rati sudut luar mata­nya. Kumis­nya yang kurang lebat dan pan­jang jatuh lung­lai di sam­ping bibir, sedang jeng­got­nya yang juga kurang lebat dipo­tong sepan­jang tiga jari dan ter­gan­tung pada dagu seperti seke­pal ijuk.

“Kalau mereka tak mampu datang dalam tiga minggu atau tanpa hasil, semua per­si­apan harus diper­pan­jang, bahkan diganti, semen­tara itu mung­kin lebih banyak lagi Peranggi datang.”

“Sena­pa­tiku!” sela Rang­kum, “telah kuma­suk­kan dalam pasukan itu seo­rang yang dahulu bekas pen­cari minyak-tanah. Mereka pasti ber­ha­sil. Hanya jum­lah­nya kita tak tahu. Bila ada halangan, pasti karena meng­hin­dari ten­tara Demak.”

“Sena­pa­tiku, nampak ada orang-orang datang dari celah-celah bukit,” penga­wal datang mem­per­i­ng­at­kan.

Semua ber­ba­lik ke bela­kang meng­i­kuti tudingan tangan seo­rang penga­wal. Dan seo­rang lain melom­pat ke atas kuda, menuju ke celah-celah bukit itu.

“Nampak seperti orang desa biasa,” Ban­teng Wareng ber­kata, “nam­pak­nya ada juga bebe­rapa orang pra­ju­rit.”

“Pra­ju­rit Tuban,” kata Braja.

“Seperti pra­ju­r­itku,” kata Rang­kum. “Seo­rang menun­tun anak. Perem­puan nam­pak­nya. Dan jalan itu jarang ditem­puh orang.”

Mereka menying­kir dari tempat ter­buka, meng­hin­dari di balik rumpun tele­kan, mene­rus­kan pem­bi­ca­raan.

Sena­pati mene­rang­kan ten­tang keya­kin­an­nya, bahwa sekali Peranggi dika­lah­kan di sesu­atu tempat, mereka takkan kem­bali untuk mem­buat per­hi­tungan, mereka akan pergi untuk selama-lama­nya. Bahwa alat dan cara perang mereka memang ampuh tidak menya­lahi kenya­taan, mereka tidak lebih dari siapa pun di antara orang Tuban. Mereka tak kalis dari sakit dan nyeri, mereka tidak lebih mulia, tapi memang lebih unggul karena cara ker­ja­nya. Mereka juga punya kele­mahan: takkan ber­daya di malam kelam. Mereka manu­sia biasa. Alat-alat perang­nya pun bikinan manu­sia biasa, bukan anu­ge­rah dari para dewa.

Ia meme­rin­tah­kan pada para kepala pasukan agar semua pra­ju­rit Tuban mema­hami itu, dan bahwa lelan­a­ngin jagad adalah dong­engan kanak-kanak semata.

Mereka dengar rom­bongan pen­da­tang itu men­de­kati dan ter­nyata memang ada bebe­rapa orang pra­ju­rit Tuban di anta­ra­nya.

Di dekat semak-semak tele­kan rom­bongan itu ber­henti, dan ter­de­ngar suara wanita memang­gil-mang­gil: “Kang Galeng, Kang, aku datang.”

Wirang­gal­eng kurang men­de­ngar.

Seo­rang penga­wal ber­kuda datang meng­ha­dap dengan masih meme­gangi ken­dali dan mela­por­kan: “Sena­pa­tiku, Nyi Gede Idayu datang meng­ha­dap.”

Selu­ruh pan­ca­in­dra Sena­pati seakan ber­henti bekerja. Mata-batin-nya ber­ha­dapan dengan pegu­nungan masa lalu, sam­bung-menyam­bung tiada habis-habis­nya: alam dan manu­sia, kesa­kitan dan keba­ha­gi­aan, harapan dan keke­ce­waan, cinta dan benci. Semua itu diwa­kili oleh hanya satu nama: Idayu.

Ia ber­ja­lan cepat keluar dari balik semak-semak. Yang lain-lain meng­i­kut­i­nya. Dan ia dapat­kan anak dan istri­nya ber­diri menanti. Ya, mereka adalah impian masa lalu. Dan ia jadi begitu kikuk.

“Kang Galeng,” pang­gil Idayu sekali lagi.

“Bapak!” teriak Kum­bang dan lari, men­ja­tuh­kan diri ke tanah, menyem­bah kemu­dian meme­luk kaki­nya.

“Kau datang, Idayu.”

“Ya, Kang, dan itu anakmu,” Idayu menu­ding pada Kum­bang dengan pan­dang­nya.

Sena­pati meng­am­bil anak itu dari kaki­nya dan meng­ang­kat­nya tinggi-tinggi seperti hendak melem­par­kan­nya ke langit.

“Sudah besar, kau Nak.”

“Kau tak juga datang, Kang. Mung­kin tak patut aku datang kemari. Biar begitu aku pak­sa­kan datang untuk meng­an­tar­kan anakmu. Dia berhak meli­hat bapak­nya dan ber­se­m­bah sujud pada­nya. Turun­kan anak itu, biar dapat memu­li­a­kan kau dengan sembah yang sem­purna.”

Sena­pati itu menu­run­kan anak­nya. Dan Kum­bang ber­lu­tut: “Sem­bah­lah bapakmu. Nak, dengan sembah yang tulus, biar­pun seki­ra­nya kau tak dite­ri­ma­nya.”

“Ada apa Idayu? Meng­apa kata-katamu begitu pahit?”

Idayu tak men­ja­wab, dan Sena­pati mem­be­lai rambut anak­nya untuk meres­tui. Kem­bali anak itu diang­kat­nya di atas sampai pasang-pasang mata anak dan ayah itu seja­jar.

“Betul, sudah besar kau. Di mana kau ting­gal seka­rang? Ah-ya, siapa pula namamu?”

Semua yang men­de­ngar ter­tawa.

“Keter­la­luan, kau, Kang anak sen­diri lupa nama­nya,” tegur Idayu.

“Hhh, hhh, ting­gal di mana kau, Nandi?”

“Huh-huh, namaku bukan Nandi, Bapak.”

“Nandi itu anakmu yang lain lagi, yang ada di Malaka sana,” sela Idayu.

“Kuna­ma­kan siapa kau dulu?” tanya Sena­pati. Kem­bali orang pada ter­tawa dan Sena­pati menu­run­kan Kum­bang ke tanah.

“Kum­bang, Bapak,” si anak mem­be­tul­kan. “Kami ting­gal jauh di desa sejak ter­jadi perang. Kang Gelar yang men­jaga kami. Seka­rang dia pergi.”

“Kum­bang. Benar, Kum­bang,” bisik Sena­pati, “bapak sudah mulai pikun rupa­nya, Ya-ya-ya, ke mana Gelar pergi?”

“Dengan pasukan, Bapak.”

Wirang­gal­eng ter­diam. Kening­nya ber­ke­rut. Mata­nya ditu­ju­kan para pemim­pin pasukan, pada para penga­wal, akhir­nya pada Idayu: “Pasukan mana?”

“Pasukan Sena­pati Wirang­gal­eng,” jawab istri­nya.

Mata Sena­pati cepat dia­lih­kan pada para pemim­pin pasukan, ber­ta­nya: “Pasukan siapa ber­ke­li­aran di sana?” tanya­nya tajam.

“Pasukan dengan tugas khusus,” jawab Braja, “dengan perin­tahmu. Sena­pa­tiku, men­cari minyak-tanah.”

“Dialah yang bilang Bapak sudah kem­bali,” Kum­bang menam­bah­kan. Idayu merasa perlu untuk mene­rang­kan, agar sua­sana yang mulai mengan­dung kete­gangan keten­ta­raan itu mengen­dur. Ia dekati sua­mi­nya dan ber­kata pelahan sete­ngah bisik: “Gelar meng­ga­bung­kan diri kem­bali pada ten­tara Tuban sete­lah Peranggi masuk. Diting­gal­kan­nya kami berdua di peda­laman. Kemu­dian dia datang lagi mem­bawa pasukan seba­nyak tiga ratus orang.”

“Dia yang mem­bawa?” tanya Sena­pati mem­be­la­lak. “Dia yang memim­pin pasukan?” kem­bali pan­dang­nya ber­pen­dar-pendar pada para pemim­pin pasukan. “Dewa Batara!” sebut­nya.

“Aku belum tahu tepat siapa nama pemim­pin pasukan khusus itu,” sela Braja.

Sena­pati meme­gangi kedua belah bahu istri­nya: “Tidak­kah dia ber­bo­hong waktu menga­ta­kan mem­bawa pasukan?”

“Tak pernah aku ajari dia ber­bo­hong,” jawab Idayu.

Wirang­gal­eng meno­leh pada Braja, ber­ta­nya: “Bukan­kah pemim­pin pasukan itu orang yang baru pulang dari Tuban Kota, Braja?”

‘Tepat, Sena­pa­tiku.”

“Ampun, Dewa Batara,” sebut Wirang­gal­eng.

“Apakah Sena­pa­tiku ingin segera menge­ta­hui orang itu Gelar atau bukan?” tanya Braja.

Sena­pati tak men­ja­wab. Ia melang­kah pelahan dii­kuti oleh semua orang.

“Gelar, Sena­pa­tiku, seo­rang pra­ju­rit yang gesit seperti elang, berani seperti hari­mau, patut jadi per­wira seki­ra­nya kela­kuan cukup baik,” Braja menya­rani.

“Maaf­kan kami,” Kala Cuwil menam­bah­kan, “bahwa tak ada di antara kami menge­ta­hui apakah kepala pasukan khusus itu Gelar’

“Bagai­mana kea­da­anmu, Idayu?” tanya Sena­pati.

“Kum­bang,” pang­gil Idayu. “Min­ta­lah gen­dong pada bapakmu. Belum cukup engkau digen­dong­nya dulu. Nak.”

Kum­bang dan Idayu belum pulang ke desa. Ber­sama dengan anak-anak dan perem­puan lain mereka ditem­pat­kan di sebuah desa pem­bi­kin grabah. Selu­ruh bocah dan wanita ditu­gas­kan untuk mengem­p­leng tanah liat untuk dibi­kin jadi gendi-gendi kecil tak ber­cu­cuk ber­ben­tuk lon­jong dan tak dapat ber­diri.

Mereka harus mem­bi­kin bebe­rapa ribu buah dalam waktu tiga minggu.

Gendi-gendi yang belum diba­kar dije­mur ber­de­ret di atas jerami, sedang pem­ba­karan bekerja tanpa henti-hen­ti­nya.

Dan pada suatu hari dalam kesi­buk­an­nya Idayu ber­ta­nya pada anak­nya: “Ada bapakmu mene­ngok hari ini?”

“Belum, Mak. Di sana orang lebih cepat mem­bi­kin, Mak.”

“Apakah kau kira kita kurang cepat? Kecu­ali malam saja kita bisa meng­aso, dan sudah lima hari. Meng­a­so­lah kau, Nak, biar aku balik sen­diri jemu­ran itu nanti.”

Tetapi Kum­bang meno­lak dan kem­bali ke tempat peker­jaan.

Dari keja­uhan ter­de­ngar Kum­bang ber­seru-seru: “Datang lagi, Mak. Mereka datang lagi.”

Semua orang yang sedang bekerja mene­ngok ke jurusan tudingan Kum­bang, dan mereka meli­hat serom­bongan kecil peng­ang­kut lodong bambu muncul di jalanan hutan. Mereka adalah rom­bongan ketiga dalam seminggu yang meng­ang­kuti minyak-tanah dari peda­laman.

Idayu ber­diri dan lari menyong­song. Tetapi ia tak dapat­kan Gelar di antara mereka. Uh, sudah ber­hari-hari ia ingin ber­temu. Ia ingin bicara ber­sung­guh-sung­guh dan tenang dan men­da­lam. Dan ia sangat menye­sal mela­yani anak­nya seperti yang telah ter­jadi. Kurang layak. Ia harus tetap ber­laku seba­gai seo­rang ibu yang bijak­sana, bukan seperti seo­rang penu­duh.

“Di mana yang lain-lain?” ia ber­ta­nya.

“Belum bisa pulang, ten­tara Demak menyer­gap, kami diung­si­kan lebih dahulu. Mereka masih terus ber­tem­pur.”

Idayu ber­lu­tut di ping­gir jalan memung­gungi rom­bongan yang lewat, Ia berdoa untuk kese­la­matan Gelar.

“Meng­apa Kang Gelar, Mak?”

“Ber­lu­tut­lah, Nak, dan ber­do­a­lah untuk kese­la­mat­an­nya.” Dan Kum­bang pun ber­lu­tut, mem­bi­kin sembah dada dengan kepala menun­duk.

“Nyi Gede,” sese­o­rang men­de­kati, “ada apa?”

“Anakku. Pasuk­an­nya diser­gap Demak. Anak semuda itu.”

Orang-orang pun ber­lu­tut dan ber­sama-sama mereka berdoa.

“Nyi Gede, tak usah kau ikut kerja. Jangan kha­wa­tir. Nyi Gede, semua akan sele­sai pada wak­tu­nya.”

“Mari bekerja lagi,” jawab­nya.

Dan ia bekerja lagi, seka­rang lebih keras dari­pada yang sudah-sudah. Ia menye­sal tak meres­tui kebe­rang­kat­an­nya. Anak manja itu. Dan bagai­mana ia berani meres­tui seo­rang yang telah… tak mung­kin. Dia patut mene­rima hukum­an­nya pada umur tuanya. Tapi meng­apa yang mela­ku­kan harus anakku? anak­nya? Meng­apa bukan orang lain? Meng­apa bukan Galeng? Bahkan Kang Galeng pun nampak ter­ke­jut dan tak senang. Bagai­mana jadi­nya anak ini bila perang sele­sai? Tak ada seo­rang pun mau dia­jak­nya ber­gaul. Anak-anak akan takut pada­nya dan orang-orang tua akan menying­kir­i­nya. Gadis-gadis akan lari dari­pa­da­nya. Bagai­mana akan jadi­nya? Harus­kah dia meng­em­ba­rai dunia ini seo­rang diri sampai mati­nya? Bahkan emak­nya sen­diri, aku, telah kehi­langan keper­ca­yaan ter­ha­dap­nya, tak mampu hidup di bawah satu atap deng­an­nya. Dan Kang Galeng, bagai­mana sikapmu? Betapa sulit bisa ber­temu deng­anmu.

Ia sadar sedang duduk mela­mun tak kerja waktu Kum­bang datang dan mene­gur­nya: “Emak tak bekerja?”

Ia ter­ba­ngun, tetapi matari sudah hampir teng­ge­lam.

Di keja­uhan nampak bebe­rapa dapur pem­ba­karan mulai menge­pul­kan asap tipis ke udara.


Bab 43

Tuban Dibebaskan

Kete­rangan ten­tang Peranggi di Tuban Kota telah leng­kap di tangan pim­pinan balat­en­tara Tuban. Sudah jelas ben­teng bawah tanah musuh ber­pintu hanya sebuah, sedang din­ding-din­ding ber­lu­bang untuk tempat menem­bak dan untuk jalan udara. Di dalam­nya ter­sim­pan obat meriam dan sena­pan. Satu regu tak henti-hen­ti­nya mondar-mandir meronda kota siang dan malam Gedung kadi­pa­ten diper­gu­na­kan seba­gai tempat meng­a­tur pat­roli, ke sana mereka pulang, dan dari sana mereka berang­kat.

Pat­roli-pat­roli tak jarang mema­suki luar kota dan meram­pasi ternak dan harta-benda. Tak ada per­la­wanan, dan mereka dapat ber­buat sesu­ka­nya.

Keku­atan Peranggi selu­r­uh­nya ditak­sir 450 orang, pra­ju­rit ber­peng­a­laman perang di mana-mana. Obat ledak­nya yang ber­ka­dar tinggi tak dapat diang­gap enteng. Tapi yang lebih meng­gen­tar­kan adalah sema­ngat tinggi dan ber­ko­bar mereka dari suatu bangsa muda yang sedang gairah menak­luk­kan dunia.

Dengan diam-diam Sena­pati meni­lai mesiu dan daya-ledak tinggi yang jadi sumber keam­puhan Peranggi itu harus tetap ber­daya-ledak tinggi untuk meng­han­cur­kan Peranggi sen­diri. Semua ren­ca­na­nya ber­ki­sar pada meng­gu­na­kan keku­atan yang ada pada lawan­nya sen­diri.

Seka­rang datang wak­tu­nya ia hendak mem­buk­ti­kan, bahwa juga lelan­a­nging jagad dapat dimus­nah­kan. Balat­en­tara Tuban akan dicoba keung­gul­an­nya.

Seribu lodong bambu minyak-tanah telah ditu­ang ke dalam beribu botol tanah buatan wanita dan anak-anak. Setiap pra­ju­rit yang akan maju ke medan perang adalah juga pem­ba­kar. Pada ping­gang mereka ber­ge­lan­tungan botol-botol. Laskar pem­ba­kar yang khusus diben­tuk untuk keper­luan itu dige­lan­tungi dengan dela­pan, sedang laskar penye­rang tiga di sam­ping per­leng­kapan yang biasa.

Men­je­lang senja balat­en­tara Tuban yang beribu-ribu jum­lah­nya mulai ber­ge­rak. Dan mereka berang­kat diam-diam tanpa sorak-sorai.

Barisan paling depan yang ber­gendi dela­pan sama sekali tidak ber­pe­ri­sai. Mereka hanya mem­bawa tombak. Beregu-regu di anta­ra­nya tidak ber­sen­jata sama sekali. Mereka hanya meng­ang­kuti peluru-peluru cet­bang. Dan laskar itu ber­ja­lan jauh di selatan Kota menuju ke timur. Mereka mema­suki hutan. Waktu keluar lagi mereka telah memi­kuli kayu kering. Keluar dari hutan malam gelap telah turun, dan dalam lin­dung­an­nya mereka terus ber­ja­lan sampai mele­wati selatan ping­giran ter­ti­mur Kota, mem­be­lok ke kiri, ke kiri lagi mema­suki Kota. Mereka meng­gu­na­kan waktu sebaik-baik­nya di kala pat­roli Peranggi sedang kem­bali untuk ber­ganti di gedung kadi­pa­ten.

Dengan gerak cepat mereka tumpuk kayu kering bawaan mereka lima ratus depa di sebe­lah timur kadi­pa­ten, menye­lang-nye­lingi bagian atas dengan peluru cet­bang dan mem­ba­sah­i­nya dengan minyak-tanah. Tum­pukan kayu itu men­jadi bukit kecil.

Laskar kedua hanya ber­sen­ja­ta­kan panah. Pada ping­gang mereka juga ber­ge­lan­tungan dela­pan gendi. Mereka berang­kat sete­lah yang per­tama. Pada waktu barisan per­tama mela­ku­kan penum­pukan kayu mereka menye­bar ke seki­tar tum­pukan dan di dekat sebe­lah timur kadi­pa­ten.

Laskar ketiga, yang meru­pa­kan laskar ter­be­sar, berang­kat bebe­rapa waktu kemu­dian, dari barat lang­sung ke kota mela­lui darat dan laut. Mereka ber­sen­jata tombak dan pedang dan peri­sai. Ping­gang mereka dige­lan­tungi hanya dengan tiga botol. Laskar keem­pat ber­ja­lan menyu­suri pantai, diper­hi­tung­kan akan tiba ter­a­khir.

Pada waktu yang telah diten­tu­kan tum­pukan kayu mulai ter­ba­kar. Api cepat menaik dan men­ji­lat-jilat langit. Tak lama kemu­dian peluru-peluru cet­bang ber­le­dakan, mele­sit, beter­bangan ke udara, memun­tah­kan bunga api dan mene­rangi bumi.

Pra­ju­rit-pra­ju­rit Por­tu­gis di dalam gedung kadi­pa­ten keluar. Pat­roli peng­ganti ber­lari-larian ke arah api dan ledakan. Mereka disam­but dengan hujan anak panah yang beter­bangan dari atas pepo­honan. Sama sekali tak men­duga adanya pen­ce­gatan. Mereka ber­ja­tuhan seperti jerami di babat. Tak ada satu orang pun yang tidak kena. Racun telah merem­bes ke dalam jan­tung mereka.

Lebih banyak lagi ser­dadu keluar dari kadi­pa­ten. Pen­ce­gatan dia­ju­kan lebih dekat lagi ke gedung. Panah ber­se­m­buran lagi dari atas pepo­honan. Sekali lagi ser­dadu-ser­dadu Peranggi ber­ge­lim­pangan. Yang sela­mat mela­ri­kan diri masuk lagi dalam penge­jaran anak-panah. Seba­gian yang dapat mela­ri­kan diri meng­ge­lim­pang pula sebe­lum men­da­pat per­lin­dungan.

Ledakan peluru cet­bang masih riuh. Lon­ceng menara ben­teng bawah-tanah dan kadi­pa­ten ber­talu tak putus-putus­nya. Ser­dadu dari ben­teng mulai keluar dan ber­la­rian dengan bedil dan pedang, ber­siap untuk men­da­tangi keri­butan. Aba-aba mereka ter­de­ngar ber­sa­hut-sahutan Semua ser­dadu di bandar telah dita­rik pula ke ben­teng. Dan tak lama kemu­dian mereka ber­pe­cahan dalam regu-regu dan menem­puh ber­ba­gai jalan, ber­se­baran, ber­la­rian.

Hujan anak panah ber­se­m­buran lagi. Por­tu­gis kemu­dian menge­ta­hui adanya pen­ce­gatan. Mereka tem­baki semua tajuk pepo­honan. Pra­ju­rit Tuban mulai ber­ge­de­bukan jatuh seperti buah nangka, binasa pada malam itu juga.

Dari bela­kang ser­dadu Por­tu­gis ber­mun­culan pasukan tombak Tuban. Mereka mulai menye­rang tanpa pekikan tanpa seruan seakan sepa­sukan ten­tara gagu. Tombak-tombak lempar ber­la­yangan, ber­tan­capan tepat pada sasaran oleh lem­paran tangan-tangan yang ahli dan ter­la­tih. Pekik-jerit kesa­kitan meme­nuhi udara dan merang­sang pen­de­ng­aran. Segel­om­bang pasukan Tuban dengan pedang ter­hu­nus menyapu lap­angan.

Dari atas ben­teng peluru musket ber­ham­buran seperti hujan, sedang dan dalam ben­teng sen­diri tem­bakan-tem­bakan tiada putus-putus­nya. Dan seka­rang ganti pra­ju­rit Tuban yang ber­ja­tuhan atau men­ja­tuh­kan diri.

Gelar men­da­pat tugas paling ber­ba­haya dari semua laskar. Petun­juk dan perin­tah dite­ri­ma­nya lang­sung dari Ban­teng Wareng seba­gai penye­la­ras selu­ruh balat­en­tara. Tugas­nya ialah mela­ku­kan penye­rangan dan peng­han­curan ben­teng bawah-tanah dengan jalan menyu­sun pantai dan menye­rang dari bela­kang.

Ia merasa, bahwa ia diki­rim­kan ke medan per­tem­puran bagian ter­be­rat ini untuk tidak dili­hat orang lagi dalam kea­daan hidup. Ia merasa telah ter­jadi per­se­ku­tuan di antara para pemim­pin pasukan untuk meng­ha­lau­nya dari muka bumi, seba­gai hukuman ter­ha­dap peris­tiwa anak-ayah di Tuban Kota. Ia telah merasa tak ada seo­rang pun yang akan meng­am­pun­i­nya. Tak seo­rang pun mem­be­ri­kan sokongan batin pada per­bu­at­an­nya, ter­ma­suk Sena­pati dan emak­nya sen­diri. Dan ia men­coba ber­da­mai dengan hukuman yang dibe­ri­kan pada­nya. Ia harus bel­a­jar rela mene­ri­ma­nya. Seba­gai anak Sena­pati ia masih akan tun­juk­kan dan buk­ti­kan pada selu­ruh Tuban, pada Wirang­gal­eng dan Idayu, pada bumi dan langit, ia masih memi­lih mati seba­gai pah­la­wan, Ia akan mati. Orang tuanya harus ada kebang­gaan pada­nya.

Mati! Mati! suara itu memang­gil-mang­gil meng­a­tasi tin­dasan hukuman batin yang tak menge­nal ampun itu, yang tak pernah diu­cap­kan kepa­da­nya, hanya disi­r­at­kan pada pan­dang mata dan sikap orang.

Ia bawa pasukan dari tiga ratus orang, meng­en­dap-endap dalam bayang-bayang api di balik pepo­honan. Tanpa suara seba­gai­mana telah dipe­rin­tah­kan.

Dida­pat­i­nya daerah pela­buhan sudah hampir tiada ber­pen­ja­gaan, menara pela­buhan telah kosong. Pra­ju­rit Tuban telah men­jo­lok pen­ja­ga­nya dengan sem­buran anak panah. Tetapi menara ben­teng masih terus meng­gi­gil dengan taluan lon­ceng. Bebe­rapa orang ser­dadu penin­jau sedang meli­hat ke arah api unggun di keja­uhan. Sem­protan anak panah menge­nai dua orang. Yang seo­rang tetap memu­kul lon­ceng.

Laskar Gelar datang ke ben­teng waktu ser­dadu-ser­dadu di dalam­nya telah dita­rik keluar untuk mena­dahi serangan umum Tuban di seki­tar kadi­pa­ten. Pen­ja­gaan yang tak sebe­rapa besar telah kena runduk. Bebe­rapa ser­dadu yang tidak men­duga akan datang gelom­bang musuh dari pesi­sir tak sempat lagi menem­bak mela­ri­kan diri dan mem­bu­ang sen­jata yang tak dapat diper­gu­na­kan. Dan sebe­lum mereka sempat meng­gu­na­kan pedang tombak lempar telah ber­la­yangan.

Di keja­uhan api sema­kin men­ji­lat-jilat langit Ledakan peluru cet­bang makin lama makin ber­ku­rang. Tem­bakan Por­tu­gis juga sema­kin kendor, sema­kin jauh dan ber­se­baran. Orang dapat men­duga lela­ni­ng­ing jagad sudah mulai ter­ha­lau.

Gelar ter­he­ran-heran: tugas­nya ter­nyata tidak sebe­rat yang ia duga. Ben­teng bawah-tanah itu hampir tak diper­ta­han­kan lagi. Pada waktu itu ia baru mema­hami: Peranggi telah ter­je­bak, ter­ta­rik keluar dari ben­teng dan telah diatur sede­mi­kian rupa sehingga tak dapat kem­bali ber­lin­dung ke ben­teng – jalan-jalan telah digun­ting dengan pen­ce­gatan.

Ia masuki ben­teng dengan pedang ter­hu­nus, dii­kuti oleh las­kar­nya. Bebe­rapa belas orang sedang ber­siap-siap untuk juga turun ke medan per­tem­puran. Gendi-gendi minyak dilem­par­kan pada mereka. Dihu­jani gendi mereka gugup dalam mem­bela diri, tak sempat menyi­ap­kan musket dan meng­hu­nus pedang. Baja beradu baja. Gerak tangan dan kaki telah menyem­pit­kan ruangan. Orang-orang Por­tu­gis yang sedi­kit itu ter­de­sak terus oleh tombak dan pedang dari musuh­nya yang ber­pu­luh kali lebih banyak. Mereka diso­r­ong ke ujung peng­ha­bisan ben­teng dan ber­lom­patan ke atas peti-peti mesiu. Hujan gendi mem­bi­kin mereka jadi basah kuyup.

Minyak mem­ba­sahi semua yang ada, bahkan telah mulai meng­a­lir di lantai.

“Keluar!” pekik Gelar.

Orang ber­la­rian keluar dan gendi-gendi terus juga dilem­par­kan ke dalam. Tombak berapi mela­yang mema­suki ben­teng. Benda-benda dari kayu mulai diram­bati api, makin lama makin lebar, makin tinggi, selu­ruh lantai mulai menyala.

Gelar mem­bawa pasuk­an­nya lari dari daerah ben­teng, mema­suki sebuah bangu­nan baru. Ia lihat seo­rang ber­ju­bah putih sedang ber­lu­tut di depan sebuah patung kayu. Sebe­lum ia dapat memas­ti­kan rumah­yang dima­suk­i­nya dan patung apa yang dilu­tu­ti­nya, ia men­duga orang itu tentu Syah­ban­dar Tuban ang­katan Peranggi, botol-botol minyak telah ber­la­yangan mem­ba­sahi jubah putih­nya. Orang itu tetap tidak ber­ge­rak dari sikap­nya. Sese­o­rang telah lari meng­ham­piri, menyam­bar­kan pedang pada tubuh­nya.

Gelar meme­rin­tah­kan keluar. Bangu­nan baru pun men­jadi ung­gu­nan api, tinggi men­ji­lat-jilat langit.

Di tengah-tengah kota balat­en­tara Tuban mengu­a­sai selu­ruh medan. Kadi­pa­ten mulai diserbu oleh gelom­bang besar pra­ju­rit. Gendi-gendi beter­bangan dan mem­ba­sahi segala yang dike­nal­nya.

Orang-orang Por­tu­gis yang ber­ha­sil melo­los­kan diri lari tanpa meno­leh lagi, masuk ke dalam kege­lapan, ke mana saja asal sela­mat.

Di atas setum­puk tanah yang keting­gian ber­diri wanita dan kanak-kanak meman­dangi api yang men­ji­lat-jilat di keja­uhan, di Tuban Kota. Mereka meli­hat unggun yang hanya sebuah, kemu­dian men­jadi dua, tiga, empat. Letusan dan ledakan dii­kuti sem­bu­rat bunga-api ke udara menye­bab­kan mereka mem­bisu ter­pu­kau. Tak seo­rang pun di antara mereka mem­buka suara. Mereka tahu maut sedang ber­jing­k­rak ber­pa­nen nyawa di Tuban Kota. Setiap di antara mereka tak meng­hen­daki orang-orang ter­cinta dan ter­sa­yang tumpas ter­pa­neni oleh sang maut.

Di antara mereka ter­da­pat Idayu. Ia ber­diri meme­gangi bahu Kum­bang. Langit men­jadi merah dan war­na­nya melem­ba­yung pada wajah. Letusan dan ledakan makin lama makin ber­ku­rang.

Idayu mene­kan bahu anak­nya, menyu­r­uh­nya ber­lu­tut. “Memo­hon, Nak, pada Hyang Widhi, sela­mat­lah hen­dak­nya bapak dan abangmu,” bisik­nya.

“Mak, aku sudah memo­hon sejak mereka berang­kat,” bisik kem­bali Kum­bang.

Ia cium anak­nya dan ber­bi­sik lebih ditu­ju­kan pada diri sen­diri: “Kau masih mem­bu­tuh­kan bapak dan abang. Nak.”

“Tak lama lagi aku pun akan besar, Mak.”

‘Tentu, tak lama lagi. Tapi besar saja belum cukup. Kau mem­bu­tuh­kan bapak seperti bapakmu. Aku sen­diri tak tahu dunia, Nak.”

Kemu­dian ter­de­ngar ledakan paling dah­syat di Tuban Kota sana. Di atas ledakan itu segala macam ber­warna merah menyala ter­ang­kat naik ke udara, mengem­bang­kan bunga-api. Hujan per­cikan ke bawah seperti ber­a­sal dari letusan gunung berapi. Sete­lah itu sunyi-senyap.

Keba­karan di keja­uhan makin lama makin surut, kemu­dian tak keli­hatan lagi, ter­tu­tup oleh puncak hutan.

Tak ada di antara mereka meli­hat, bahwa dengan pelan-pelan, tanpa bunyi, di sam­ping mereka, jauh di atas tajuk pepo­honan hutan, bulan tua sedang mem­per­li­hat­kan diri.

Semua orang ber­lu­tut dan mene­kur dengan mata ter­tu­tup.

“Memo­hon, Nak, memo­hon, untuk bapak dan abangmu.”

Idayu memo­hon lagi. Tetapi, bila doanya dipan­jat­kan­nya untuk kese­la­matan Gelar, dia macat. Ada suatu pera­saan melin­tang di dalam hati dan piki­ran­nya. Ia hen­ti­kan usa­ha­nya. Piki­ran­nya ber­gu­mul kacau, meng­apa hati tak rela berdoa untuk anak sen­diri. Dan mengunci kega­gal­an­nya ia ber­kata pada Kum­bang: “Ledakan ter­a­khir ber­arti perang sele­sai, Nak. Hanya kepu­nyaan Peranggi bisa mele­dak menan­dingi petir dewa. Bapak dan abangmu sela­mat.”

Tetapi Kum­bang telah ter­se­dat ke alam mimpi. Kepa­la­nya telah rebah pada pang­kuan emak­nya.

Ia ber­diri sambil meng­ang­kat bangun Kum­bang. Dan orang-orang lain meng­i­kuti con­toh­nya – ber­diri juga. Ber­sama-sama mereka ber­ja­lan pulang ke bedeng peru­mahan.

“Dia belum lagi ber­temu dengan bapak­nya,” gumam Idayu.

“Abangmu.”

“Seka­rang ke mana, Mak?”

“Pulang. Meng­aso. Menunggu bapakmu.”

“Ting­gal di kota lagi, Mak?”

“Tidak. Mak tak pernah suka di sana. Kau suka?”

Kum­bang sudah tak dengar. Dalam ber­ja­lan ia mela­yang-layang dalam alam impian. Ia telah ber­u­saha untuk tetap jaga, tapi kele­lahan dan kantuk sudah tak dapat dita­war­nya. Dalam seke­jap dari usa­ha­nya ia masih sempat ber­ta­nya: “Bapak akan ting­gal di desa lagi, Mak?”

“Mana emak tahu? Tanya­lah nanti pada­nya sen­diri.”

Kum­bang ter­se­dot sepe­nuh­nya dalam alam mimpi. Dan kaki­nya tetap ber­ge­rak ter­pim­pin oleh tangan emak­nya.

Seakan Idayu men­de­ngar suara anak­nya masih ber­ta­nya dengan suara sangat, sangat pelan: “Meng­apa tak suka ting­gal di kota?”

“Meng­apa?” jawab Idayu. “Emak lebih suka jadi orang biasa, orang desa biasa, tak meng­hen­daki sesu­atu yang ber­le­bih-lebihan dari apa pun dan siapa pun, bekerja seperti yang lain-lain.” Ia bicara terus, pelahan, sambil ber­bi­sik, tak menye­dari ia sedang bicara dengan diri sen­diri. “Menari, menya­nyi dan mena­ngis ber­sa­maan dengan yang lain-lain. Ber­suka dan ber­duka seperti dan dengan yang lain-lain. Tak pernah aku meng­im­pi­kan keka­yaan dan keku­a­saan. Sejak ada dua-duanya, bapakmu men­jadi jauh dari Emak, dan Emak jadi jauh dari dia, bukan hanya tem­pat­nya, juga hati­nya. Apakah arti kasih-sayang yang ter­pi­sah­kan oleh dua-duanya? Mana ada manu­sia suka dengan pecahan dan gum­pi­lan kasih-sayang?”

Sudah tak keluar bisikan kata dari mulut Idayu. Suara itu ber­gema-gema hanya dalam hati sen­diri: “Perang, keku­a­saan, keka­yaan, seperti api unggun dalam kege­lapan dan orang beter­bangan untuk mati tumpas di dalam­nya.”

Wanita dan kanak-kanak itu masuk ke dalam bedeng pem­bi­kin gera­bah.

Pem­ba­karan baru sudah tiada. Bebe­rapa hari yang lalu apinya sudah padam.

Idayu mena­ik­kan Kum­bang ke ambin. Ditu­tup­nya pintu. Ia pun rebah­kan diri di sam­ping anak­nya, di sam­ping wanita dan kanak-kanak yang lain.

“Menang­kah kita?” wanita di sam­ping­nya ber­ta­nya.

“Menang,” jawab Idayu.

“Bagai­mana Nyi Gede bisa tahu?”

“Kalau orang kalah di nege­ri­nya sen­diri, apa lagi­kah yang bisa diha­rap­kan?”

Sunyi-senyap di peru­mahan pem­bi­kin gera­bah itu.

Matari baru saja terbit. Pasukan kuda di bawah pim­pinan Ban­teng Wareng telah meme­nuhi jalanan kota. Mayat-mayat ber­ge­lim­pangan di mana-mana, Por­tu­gis dan Tuban. Dan mereka sama sekali tak mene­mu­kan musuh yang masih hidup.

Meriam-meriam tak sempat ditem­bak­kan ber­ja­jar-jajar di lap­angan kadi­pa­ten seperti mainan kanak-kanak tanpa dosa. Barang-barang itu ber­diri mati di atas roda masing-masing, mon­cong sedi­kit men­do­ngak.

Orang memer­lu­kan turun dari kuda untuk meli­hat-lihat dan mera­ba­nya. Dingin, tak ber­daya, mati. Lebih dingin dari­pada mayat yang ber­ge­lim­pangan di dekat-dekat­nya. Dan jari-jari peraba mening­gal­kan bekas pada embun. Peluru besi, bulat-bulat sebe­sar kepalan, ber­te­baran seperti batu hitam di tepi kali. Sung­guh tak masuk di akal benda-benda seperti itu sudah banyak meneng­ge­lam­kan kapal, meng­han­cur­kan dan mero­boh­kan rumah, dan men­jadi sendi keku­a­saan dan keku­atan Peranggi.

Seo­rang penung­gang kuda ber­ken­dara tenang-tenang di antara rerun­tuhan rumah dii­ring­kan oleh satu regu pra­ju­rit ber­kuda yang ber­si­aga dengan tombak. Antara seben­tar ia ber­henti, mene­bar­kan pan­dang ke mana-mana, bicara pada penga­wal­nya yang ter­de­kat sambil menu­ding-nuding. Ia ber­das­ter dengan ikatan long­gar. Ram­but­nya jatuh ber­u­rai di atas pung­gung. Muka­nya mesum oleh kumis dan jeng­got yang tak ter­pe­li­hara. Selem­bar kain batik meling­kari leher dan kedua ujung­nya jatuh di pung­gung pula. Bila ber­pacu baik ujung-ujung batik maupun ram­but­nya ber­ki­bar-kibar seperti ben­dera.

Seba­gai­mana halnya dengan para pengiring­nya ia pun menyan­dang pedang pada ping­gang. Ber­beda dari yang lain-lain, sebi­lah keris ter­se­lit melin­tang di bawah dada. Hulu keris itu dari emas ber­u­ki­ran gambar kupu-tarung. Juga sarung keris­nya ter­buat dari­pada emas. Itulah Sena­pati Tuban Wirang­gal­eng.

Kemu­dian Sena­pati ber­pacu ber­pacu ke pela­buhan. Ia periksa bekas ben­teng bawah-tanah, kini jadi lubang besar pan­jang, dengan kepulan asap di sana-sini. Di seki­tar­nya ber­ge­lim­pangan mayat pra­ju­rit Tuban di antara sejum­lah Por­tu­gis.

Bandar telah jadi tum­pukan arang, dengan asap yang masih ber­ke­pulan.

“Dengar semua kalian!” kata­nya pada para pengiring. “Mereka takkan men­coba datang kemari lagi. Untuk sepan­jang masa Tuban akan bebas dari Peranggi. Itulah berkah semua temanmu yang tewas pada malam tadi. Pada hari ini aku nya­ta­kan musuh telah kalah dan kita menang.”

Satu-dua tem­bakan masih ter­de­ngar sayup-sayup di keja­uhan.

‘Tem­bakan itu seben­tar lagi akan padam sama sekali. Kalian lihat: Tak ada kapal mereka nampak ber­la­buh. Masih ada di antara mereka yang sempat lari mening­gal­kan yang lain-lain dalam ceng­ke­raman maut. Ingat-ingat ini: juga lelan­a­nging jagad ini kenal takut dan dapat dige­bah punah dalam sema­lam.”

“Kami akan selalu meng­i­ngat-ingat. Sena­pa­tiku,” seo­rang pengiring ber­janji.

“Dan sam­pai­kan pada anak-anakmu, pada teman-temanmu, bahkan juga pada musuh-musuhmu.”

“Kami akan laku­kan. Sena­pa­tiku.”

“Tapi kalian jangan sampai lupa, keme­nangan di Tuban sangat kecil, belum ber­arti.”

“Kita sudah menang. Sena­pa­tiku, keme­nangan gilang-gemi­l­ang tiada tara.”

“Kau keliru. Kalian belum berhak ber­gi­rang-girang, deng­ar­kan aku baik-baik: selama Peranggi belum ter­u­sir dari Selat dan Seme­nan­jung, belum ter­u­sir dari Malaka dan Pasai, urat-nadi kehi­dupan Tuban, Jawa dan selu­ruh Nusan­tara, tetap berada dalam keku­a­saan mereka.”

“Kami akan selalu meng­i­ngat-ingat. Sena­pa­tiku.”

“Dan selama mereka masih mengu­a­sai Maluku, kemak­muran takkan lagi menying­gahi Tuban.”

“Sena­pa­tiku.”

‘Ter­se­rah pada kalian. Adakah Tuban akan bang­kit kem­bali atau tidak. Bila ya, perang masih pan­jang, peng­u­siran atas Peranggi dari selu­ruh Nusan­tara dan Seme­nan­jung.

“Demak tetap meng­an­cam. Sena­pa­tiku.’*

“Mela­wan Demak lain lagi. Itu perang mela­wan kebo­dohan.”

“Kami belum meng­erti. Sena­pa­tiku.”

“Musuh Demak sesung­guh­nya Peranggi. Treng­gono men­cari kebe­saran dengan men­cari musuh yang diang­gap­nya tidak kuat. Dengan begitu ia bisa bebas lari dari musuh­nya yang utama: Peranggi.”

“Bukan­kah Demak telah meng­u­sir mereka dari Sunda Kelapa, Sena­pa­tiku?” penga­wal ter­de­kat ber­ta­nya.

“Siapa saja dapat meng­u­sir Peranggi kalau jum­lah­nya hanya bebe­rapa gelin­tir, habis ditimpa ben­cana laut pula. Ayoh, jalan!”

Mereka ber­ge­rak mela­lui jalan raya negeri, kemu­dian mem­be­lok ke timur dan ber­pacu men­de­kati arah datang suara tem­bakan satu-satu. Sampai di suatu tempat bunyi tem­bakan itu padam sama sekali. Di jalanan mereka ber­pa­pasan dengan pra­ju­rit-pra­ju­rit Tuban yang ber­ja­lan dalam bon­do­ngan sedang kem­bali ke pusat Kota. Mereka meng­ang­kat tombak masing-masing, ber­so­rak-sorak menyam­but Sena­pati. Wajah mereka ber­seri-seri gem­bira penuh keper­ca­yaan pada pemim­pin­nya.

Mereka mene­rus­kan per­ja­lanan masing-masing. Pra­ju­rit-pra­ju­rit yang pulang itu sudah tak nampak lagi. Hanya sorak-sorai keme­nang­an­nya masih saja ter­de­ngar.

Wirang­gal­eng ber­henti meli­hat ke suatu jurusan. Di keja­uhan ia meli­hat seo­rang pra­ju­rit Peranggi sedang ber­lu­tut meng­ha­dap pada seba­tang pohon kayu, barang­kali sedang ber­se­m­bah­yang. Dua belah tangan­nya ter­ang­kat di ten­tang dada.

Ia jalan­kan kuda­nya dan men­de­kat­i­nya per­la­han-lahan.

Menge­ta­hui ada seo­rang musuh, para pengiring memacu kuda, menge­pung ser­dadu itu. Tombak-tombak pun teracu siap untuk dijo­joh­kan.

“jangan ganggu dia!” pekik Sena­pati mene­gah.

Orang pun mena­rik tom­bak­nya kem­bali tetapi tetap menge­pung­nya. Dan Wirang­gal­eng ber­pacu meng­ham­piri.

“jangan ganggu. Lihat baik-baik. Dia lagi ber­se­m­bah­yang pada dewa­nya. Tarik kem­bali semua tombak. Ingat-ingat kalian, pra­ju­rit Tuban, jangan sampai kalian mele­tak­kan mata sen­jata pada sese­o­rang yang takkan bisa mela­wan dan tak mampu mela­wan-Barang­si­apa sedang ber­se­m­bah­yang, dia tidak meng­ha­dapi manu­sia. Menying­kir kalian dari dia.”

Orang pun menying­kir. Dari bela­kang­nya sese­o­rang mem­ban­tah: dan Sena­pati meno­leh, ber­kata: “Dia musuh sewaktu memu­suhi kau. Sewaktu dia tiada ber­daya dan tenaga untuk ber­mu­suhan, sama­lah kea­da­an­nya dengan bayi atau istri yang sedang menyu­sui.”

“Kalau kemu­dian dia memu­suhi lagi, Sena­pa­tiku?”

“Kem­bali kau harus meme­rang­i­nya.” “Lebih baik dibu­nuh seka­lian, Sena­pa­tiku.”

“Kalau begitu kau bukan pra­ju­rit, tapi pem­bu­nuh,” ia mene­ngok ke kiri dan kanan. “Itu tak boleh ter­jadi. Maka kalian harus tetap was­pada. Arti­nya kalian harus selalu tegak dan tetap per­wira.”

Orang Peranggi itu telah sele­sai ber­se­m­bah­yang. Dengan kuda­nya Wirang­gal­eng makin men­de­kati. Orang itu pucat. Muka­nya penuh dengan jeng­got, kumis dan cam­bang. Ia tidak ber­diri dan tak nampak ber­mak­sud untuk ber­an­jak dari tem­pat­nya. Dite­nga­dah­kan wajah­nya yang pucat itu pada Sena­pati.

“Meng­erti Melayu?” tanya Wirang­gal­eng.

Seka­rang orang Por­tu­gis itu men­coba bangun, tapi jatuh ber­lu­tut kem­bali. Dan orang meli­hat darah pada kaki dan paha­nya. “Sedi­kit, ya. Tuan.”

“Meng­apa kau tak sela­mat­kan jiwamu?”

“Kaki tak bisa dibawa lari. Maut tak dapat dihin­dari. Telah kuse­rah­kan semua pada Tuhan,” jawab­nya sambil mem­buat salib.

“Bawa dia. Peli­ha­ra­kan dia sampai baik,” Sena­pati meme­rin­tah­kan. “Tak ada orang boleh ganggu atau sakiti dia. Bila sudah sembuh, sedi­a­kan perahu layar, per­se­di­aan makan untuk tiga minggu, dan bebas­kan dia.”

Orang Por­tu­gis itu sekali lagi men­coba bangun dan gagal untuk kedua kali­nya. Pakai­an­nya yang com­pang-cam­ping melam­bai-lambai ter­tiup angin. Ia angkat kedua belah tangan ke arah langit, meng­u­cap­kan syukur, dan sekali lagi mem­bi­kin gerakan salib. Kemu­dian dengan suara lemah: “Semoga keba­ikan Tuan akan ter­ba­las.”

“Semoga Dewa Batara melin­dungi kau, Peranggi. Siapa namamu seleng­kap­nya?”

“Syl­yes­ter da Costa, Tuan.”

“Kosta!” Sena­pati meng­u­langi dan Por­tu­gis itu meng­ang­guk. Sete­lah meng­ang­kat tangan mem­beri restu Sena­pati mena­rik ken­dali. Bina­tang itu mene­ngok dan ber­ja­lan ber­pu­tar kemu­dian mening­gal­kan Da Costa yang ter­luka. Seba­gian pengiring ter­ting­gal untuk men­ja­lan­kan perin­tah­nya.

Syl­yes­ter da Costa dito­long naik ke atas kuda. Sese­o­rang menun­tun bina­tang itu. Yang lain-lain tetap di atas kuda masing-masing. Dan mereka ber­ja­lan diam-diam penuh piki­ran, men­coba mema­hami maksud dan ucapan Sena­pati.

Waktu iring-iringan itu sampai di jalan raya negeri, baru ter­de­ngar sese­o­rang bicara: “Mung­kin­kah kira­nya Sang Sena­pati marak jadi raja?”

“Dengan dia kita selalu menang. Coba, menang mela­wan Peranggi!”

“Bisa­kah seo­rang anak desa jadi raja?”

“Meng­apa tidak? Raja-raja besar pun ketu­runan orang desa semata.”

“Sedang pada musuh yang tak ber­daya dia begitu penga­sih dan penya­yang, apa pun pada kawula sen­diri bila marak.”

“Mung­kin ada ren­cana baru ter­ha­dap Demak.”

“Uh, apakah kita masih akan ber­pe­rang terus-mene­rus begini? Bisa habis kita ini bakal­nya.”

“Bukan­kah kita harus meng­i­ngat-ingat selalu? Seme­nan­jung, Selat, Pasai, Malaka dan Maluku, selu­ruh Nusan­tara? Selama Peranggi masih ber­ku­asa….”

“Dan Demak tetap meng­in­tai.”

“Hei, Kosta, meng­apa kalian tak mau pergi dari Seme­nan­jung?” sese­o­rang ber­ta­nya dalam Melayu.

“Apakah aku ini? Hanya orang kecil tak menentu,” jawab Syl­yes­ter da Costa dalam Melayu pula.

“Semua orang kecil. Hanya satu-dua orang besar. Tapi yang besar kecil juga dulu-dulu­nya.”

“Kalau aku yang orang besar,” Da Casta mene­rus­kan.

“Kau caplok semua pulau Jawa ini.”

“Dan jadi kedo­doran sepan­jang zaman,” orang lain menam­bahi.

Iring-iringan ber­ja­lan terus dan kem­bali teng­ge­lam dalam kedi­a­man.

Di keja­uhan, di pusat Kota, kede­ngaran orang ber­so­rak-sorai, ber­de­rai-derai, dan meng­gu­ruh seakan hendak merun­tuh­kan langit. Waktu iring-iringan mulai meng­in­jak daerah Kota, mereka dapati mayat-mayat telah ter­sing­kir­kan. Selu­ruh balat­en­tara Tuban ber­kum­pul di alun-alun, di depan puing kadi­pa­ten dan ber­so­rak-sorak gem­bira.

Mereka menyam­but per­nya­taan Sena­pati: Por­tu­gis telah ditum­pas dari bumi Tuban; balat­en­tara Tuban keluar seba­gai peme­nang. Walau demi­kian kesu­l­itan masih tetap banyak: Selat, Seme­nan­jung, Pasai, Malaka dan Maluku, dan… Demak.

Sorak-sorai padam seke­tika dalam renungan umum. Ya, dalam renungan umum semata-mata….


Bab 44

Arus Balik

Sele­sai ucapan per­nya­taan keme­nangan rom­bongan Sena­pati ber­pacu ke selatan mening­gal­kan Kota. Mereka: Sena­pati dan para pemim­pin pasukan. Mereka lang­sung menuju ke sebuah bukit kecil, turun dari kuda masing-masing, duduk meng­ha­dap Sena­pati.

Tempat itu ter­lin­dung oleh semak-semak tele­kan dan dipa­yungi oleh pokok laban.

Bebe­rapa saat lama­nya mereka semua menun­duk diam-diam dalam ucapan syukur. Kete­nangan seki­tar­nya dan kece­rahan alam mem­bi­kin sua­sana men­jadi syahdu.

“Aku bawa kalian kemari,” Sang Sena­pati memu­lai, “karena ada sesu­atu yang kalian patut keta­hui. Kita telah kalah­kan Peranggi dengan penye­rangan cepat dan men­da­dak. Kalian harus keta­hui watak musuh yang sangat ber­ba­haya ini: mereka hendak mengu­a­sai urat nadi kehi­dupan – kehi­dupan hanya untuk diri mereka sen­diri, dan semua harus meng­a­bdi untuk kepen­tingan itu, dan: mereka tak sudi kalah untuk kedua kedi­nya. Mereka takkan datang lagi ke Tuban, bukan saja karena telah dika­lah­kan di sini, juga karena nadi-kehi­dupan telah dia­lih­kan dari Tuban ke tempat lain. Pegang­lah ini seba­gai keten­tuan.”

“Jangan bosan-bosan men­de­ngar kata yang sering kuu­lang ini: keme­nangan ini belum banyak arti­nya, selama Peranggi mengu­a­sai jalan rempah-rempah, mere­ka­lah yang mengu­a­sai dunia, dan kita hanya men­du­duki pojo­kan yang gelap,” ia ter­i­ngat pada kata-kata lama­nya.

Sena­pati meng­ang­kat telun­juk mem­beri per­i­ng­atan: “Makin kuat mereka mengu­a­sai jalan rempah-rempah, makin gelap pojo­kan kita. Apa­bila mereka tak diha­lau dari tempat-tempat mereka ber­ku­asa seka­rang ini, bahkan dibi­ar­kan sema­kin kuat juga, nasib Jawa dan Nusan­tara sudah dapat diten­tu­kan – ambruk entah sampai berapa ketu­runan.”

“Sena­pa­tiku!” Ban­teng Wareng angkat bicara sete­lah bebe­rapa saat Sena­pati ber­diam diri sambil mengu­nyah sirih. “Bagai­mana meng­ha­lau mereka?”

“Tunggu,” tegah Wirang­gal­eng, “biar aku ceri­tai kalian. Dahulu, di zaman keja­yaan Maja­pa­hit, arus ber­ge­rak dari selatan ke utara, dari Nusan­tara ke Atas Angin. Maja­pa­hit adalah kera­jaan laut ter­be­sar di antara bangsa-bangsa ber­a­dab di muka bumi ini. Kapal-kapal­nya, muat­an­nya, manu­si­a­nya, amal dan per­bu­at­an­nya, cita-cita­nya – semua, itulah arus selatan ke utara. Segala-gala­nya datang dari selatan. Maja­pa­hit jatuh. Seka­rang orang tak mampu lagi mem­buat kapal besar. Kapal kita makin lama makin kecil seperti kera­ja­an­nya. Karena, ya, kapal besar hanya bisa dibi­kin oleh kera­jaan besar. Kapal kecil dan kera­jaan kecil menye­bab­kan arus tidak ber­ge­rak ke utara, seba­lik­nya, dari utara seka­rang ke selatan, karena Atas Angin lebih unggul, mem­bawa segala-gala­nya ke Jawa, ter­ma­suk peng­han­curan, penin­dasan dan peni­puan. Makin lama kapal-kapal kita akan sema­kin kecil untuk kemu­dian tidak mem­pu­nyai sama sekali.”

“Tidak mung­kin. Sena­pa­tiku!” bantah Kala Cuwil. ‘Tidak mung­kin – asal kalian mengu­a­sai jalan laut lagi. Selama mereka yang mengu­a­sai, mereka takkan meneng­gang kapal kita, akan meng­han­cur­kan­nya sama sekali. Sampai kita dibi­kin tidak ber­an­jak dari dusun kita sen­diri di pesi­sir dan gunung.

“Aku telah ceri­ta­kan pada kalian jahat­nya arus balik dari utara ke selatan. Dalam hidup kita, ada seo­rang yang bukan hanya menye­dari ini, bahkan mem­ben­dung­nya. Bukan hanya mem­ben­dung, bahkan mela­wan. Orang itu adalah Gusti Kan­jeng Adi­pati Unus. Mul­i­a­lah beliau sepan­jang zaman. Beliau adalah per­pa­duan antara brah­mana dan satria, seo­rang aulia yang akan dihor­mati sampai akhir zaman. Itu sebab­nya bukan suatu kebe­tulan lam­bang­nya ber­ben­tuk kupu-tarung.”

“Meng­apa kupu-tarung? Dua ekor kupu ber­ta­rung adalah lam­bang dua keku­atan, dua arus yang sama-sama lebih yang sedang ber­ben­turan, bukan ber­ka­sih-kasihan, mem­per­e­but­kan kasih dan madu dari sang bunga, sari kehi­dupan. Kedua-duanya sama indah di hadapan sang surya, sama ter­gila-gila pada kemam­puan sayap sen­diri, sama lemah ter­ha­dap per­ki­saran angin, sama ber­a­sal dari ulat yang hina-dina.

“Sebe­nar­nya kupu yang satu, kita ini, sama sekali tak perlu kalah karena lawan­nya juga tidak kuat. Kalian telah dapat halau Peranggi dari bumi kalian. Bagiku, kita lebih banyak baru menang atas keta­kutan ter­ha­dap mereka, dari­pada menang atas Peranggi itu sen­diri. Kita belum menga­lah­kan­nya sama sekali dari jalan laut.

“Jangan sela aku. Biar dapat kute­rus­kan dengan tenang. “Kalau kupu yang satu itu, arus selatan itu, kalah, bukan­lah karena kupu Peranggi, arus utara itu, lebih kuat. Hanya­lah karena kupu yang satu itu dungu, tak tahu ten­tang diri dan per­so­al­an­nya. Dia hin­dari Peranggi, arus utara itu, dengan ber­ba­gai dalih dan kegi­atan. Dan bila kegi­atan itu justru seperti dila­ku­kan oleh Treng­gono, Jawa dan Nusan­tara akan teng­ge­lam. Surya akan segan mem­ber­kahi dengan sinar­nya yang meng­hi­dupi.”

“Benar­kah sikap dan per­bu­atan kita ter­ha­dap Demak?” Ban­teng Wareng ber­ta­nya.

“Itulah teka-teki buah si mala­kama, dima­kan ibu mati, tidak dima­kan bapak mati,” jawab Wirang­gal­eng sedih. “Kalian hadapi Demak, kalian men­jadi lemah di hadapan Peranggi, kalian tidak hadapi, kalian dilin­das oleh­nya dan jadi lemah juga di hadapan Peranggi”

“Memang per­so­al­an­nya tak lain dari meng­ha­dapi Peranggi,” Ban­teng Wareng mem­be­tul­kan per­ta­nya­an­nya.

“Bagai­mana harus meng­ha­dapi Peranggi, Sena­pati?” seka­rang Kala Cuwil ber­ta­nya.

“Maja­pa­hit telah mem­be­ri­kan jawaban pada kalian: kesa­tuan Nusan­tara. Singo­sari telah mem­be­ri­kan jawaban: kesa­tuan Nusan­tara. Bukan­kah Singo­sari telah mem­be­ri­kan jawaban ter­ha­dap ancaman kaisar dari utara dulu: kesa­tuan Nusan­tara! Dan diki­rim­kan Raden Wijaya untuk usaha penya­tuan itu? Memang pernah dulu ada seo­rang Gajah Mada yang dapat melak­sa­nakan cita-cita Sri Baginda Kar­ta­ne­gara dari Singo­sari dan Raden Wirang dari Maja­pa­hit…”

“Eng­kau­lah Gajah Mada!” Kala Cuwil ber­seru.

“Sena­pa­tiku, kaulah Gajah Mada!” Braja mem­per­kuat

“Kami semua sepen­da­pat!” Rang­kum menam­bahi.

“Tidak bisa lain,” bisik Ban­teng Wareng seperti doa.

Sang Sena­pati menun­duk. Orang meli­hat gelom­bang duka­cita menya­puti wajah­nya, dan semua men­jadi ter­diam.

Semua menun­duk seperti kem­bali meng­u­langi upa­cara syukur. Rasa-rasa­nya napas sen­diri pun dapat dide­ngar.

“Gajah Mada dimun­cul­kan tidak di zaman kita. Kalian wajib menge­ta­hui. Pada waktu itu hanya ada satu kera­jaan yang kuat, dan kera­jaan itu mem­pu­nyai cita-cita. Kera­jaan yang kuat seka­rang adalah Demak, mem­pu­nyai balat­en­tara dan armada yang hebat, dalam bilangan hari bisa menak­luk­kan bandar-bandar, dia pun punya cita-cita, hanya untuk tidak ber­ha­dapan dengan Peranggi sen­diri. Tanpa raja yang bijak­sana dan kuat tidak mung­kin lahir seo­rang Gajah Mada.”

“Sete­lah Treng­gono melan­car­kan gerak­an­nya yang dungu, tak seo­rang pun raja di Nusan­tara mena­ruh keper­ca­yaan pada­nya, tak ada keku­atan gabungan bisa dibina – karena zaman kita ini memer­lu­kan keku­atan gabungan seba­gai­mana dicita-cita­kan Gusti Kan­jeng Adi­pati Unus. Mul­i­a­lah nama beliau sepan­jang zaman.”

“Ing­at­kah kalian pada seja­rah lahir­nya armada Jepara-Demak? Bebe­rapa kera­jaan di Jawa dan sebe­rang telah ber­sum­bang untuk pem­ba­ngu­nan itu. Akhir­nya armada megah itu digu­na­kan Treng­gono bukan untuk kepen­tingan Nusan­tara, hanya untuk mengu­a­sai Jawa. Sejak itu tak akan ada lagi raja yang bisa diajak ber­se­kutu dan ber­ga­bung keku­atan. Nasib Jawa dan Nusan­tara telah diten­tu­kan.”

“Kaulah Gajah Mada!” ulang Kala Cuwil.

‘Tidak. Aku hanya seo­rang anak desa ber­nama Galeng-tahu takkan mampu mem­ben­dung per­kem­bangan keme­ro­sotan ini. Peng­a­laman Malaka yang ter­a­khir adalah bukti tak ter­ban­tah­kan. Boleh jadi akulah saksi hidup bagai­mana satu balat­en­tara telah jadi rusak dan mero­sot karena kehi­langan pegangan.”

Ia meng­ang­kat kepala dan meman­dangi Kala Cuwil: “Kau, Kala Cuwil, kau yang tertua di antara semua kepala pasukan, lepas­kan des­tarmu dan gelar di hadapan kita.”

Kala Cuwil ter­he­ran-heran dan meman­dangi Sena­pati dengan mata ber­ta­nya-tanya.

“Tidak, bukan untuk mengu­rangi kehor­mat­anmu.”

Dengan ragu Sang Patih mele­pas destar, meng­ge­lar­nya di hadapan Wirang­gal­eng dan mer­a­pikan ujung-ujung­nya yang keri­put.

“Hanya mele­pas destar pun kau ragu-ragu, Sang Wira­bumi,” tegur Wirang­gal­eng. “Lebih banyak lagi yang bakal dipinta dari dirimu.”

“Sena­pa­tiku.”

“Nah, deng­ar­kan baik-baik seka­rang. Jangan sampai sepa­tah kata pun ter­lupa atau tiada ter­de­ngar oleh kalian, karena aku takkan meng­u­langi lagi.”

“Sena­pa­tiku!” pekik Rang­kum.

“Deng­ar­kan!” perin­tah Sena­pati. ‘Telah aku bak­ti­kan masa mudaku dan tena­gaku dan kese­ti­a­anku. Biar pun hanya secauk pasir untuk ikut mem­ben­dung arus balik dari utara. Arus balik itu ter­nyata tak dapat diben­dung. Keku­atan untuk itu ada pada Treng­gono, dan Sultan Demak itu tidak bisa diya­kin­kan untuk meng­gu­na­kan­nya. Arus tetap datang dari utara, yang selatan tetap ter­tin­dih. Ya, Dewa Batara, kau tak beri aku keku­atan untuk menye­dar­kan raja dan sultan sehingga jadi gelom­bang rak­sasa, bukan seka­dar yang men­de­sak arus balik dan utara, bukan saja untuk zaman keme­ro­sotan ini, juga kelang­sung­an­nya untuk selama-lama­nya. Gajah Mada, anak desa itu telah ber­ha­sil. Ia gerak­kan tangan­nya dan semua jadilah yang dipe­gang­nya, semua bangun yang disen­tuh­nya. Per­gi­lah dia, pergi untuk selama-lama­nya, mening­gal­kan kebe­saran dan arus besar yang meng­im­bak-imbak megah ber­pen­daran damai ke utara. Aku bukan Gajah Mada. Tiada sesu­atu hasil apa­lagi kebe­saran kuting­gal­kan kecu­ali kesa­kitan dan keke­ce­waan dalam diri dan ter­ha­dap diri sen­diri.

“Zaman Gajah Mada, zaman anak desa dapat menge­de­pan­kan pen­da­pat­nya pada Kaisar, telah lewat. Kita tak pernah lagi punya Kaisar selama ini. Raja-raja sema­kin jadi kecil dan anak, anak desa jadi lebih kecil lagi.

“Aku menye­dari tak ada kemam­puan mem­ben­dung arus utara, arus balik yang sema­kin besar juga ini. Maka akulah orang yang paling men­de­rita karena kesa­daran ini. Zaman bukan hanya tak mem­bantu, bahkan mela­wan kita. Itu sebab­nya akan kuting­gal­kan pada kalian, dan semua kuse­rah­kan pada kalian.”

“Sena­pa­tiku!” Ban­teng Wareng menyela.

“Aku sadar tak ada kemam­puan untuk peker­jaan besar itu. Aku tak ada kemam­puan mem­per­sa­tu­kan raja-raja dan para sultan. Itu sebab­nya akan kuting­gal­kan kalian, dan semua kuse­rah­kan pada kalian. Sete­lah ini kalian harus atur dan urus semua tanpa aku. jangan ber­du­ka­cita, karena surya enggan meman­car­kan rah­mat­nya pada yang ber­du­ka­cita.”

Wirang­gal­eng mele­pas bung­kusan di pung­gung dan mele­tak­kan di hadap­an­nya. Semua mata meng­a­wasi bung­kusan itu.

“Lihat­lah ini,” kata­nya lagi dan mem­buka bung­kusan, dan mele­tak­kan isinya satu per satu di atas destar Kala Cuwil, “cincin, kalung, destar, kain, ikat ping­gang, tilam, semua ber­tanda kupu-tarung. Hanya kasut tidak ada, hilang karena kete­le­doran pem­ba­wa­nya. Nah, ini gelang,” kemu­dian Sena­pati mena­rik keris dari ping­gang, “dan ini keris ber­sa­rung dan ber­bulu emas dengan kupu-tarung pula. Kalian tahu lam­bang siapa ini. Jangan pegang. Lihat saja baik-baik.”

Dan semua men­ja­lan­kan apa yang dipe­rin­tah­kan.

“Kuting­gal­kan dan kuse­rah­kan semua ini pada kalian – pening­galan Gusti Kan­jeng Adi­pati Unus, mela­lui Gusti Ratu Aisah, mela­lui Pada alias Moham­mad Firman, mela­lui aku, Wirang­gal­eng, Sena­pati Tuban….

“Nah, kalian, empat orang, masing-masing pegangi sudut apa yang dipe­rin­tah­kan. Benda-benda itu meng­ge­lan­tung di tengah destar.”

“Pegangi terus dan jangan lepas­kan. Barang­si­apa di antara kalian,” ia pan­dangi para pemim­pin pasukan itu seo­rang demi seo­rang “dapat mema­hami kata-kataku, mema­hami arus utara dan selatan, dapat menye­lami arus balik dan pesan Gusti Kan­jeng Unus, ambil­lah dan per­gu­na­kan­lah semua pening­galan itu. Tegak­kan Tuban, usa­ha­kan meng­u­sir Peranggi dari jalan laut, Pasai, Selat, Seme­nan­jung, Malaka dan Maluku. Lepas­kan arus selatan ke utara ber­ge­lom­bang-gelom­bang sepan­jang zaman.

“Per­ha­ti­kan barang-barang itu dan jangan per­ha­ti­kan Wirang­gal­eng, Sena­pati kalian. Wirang­gal­eng seka­rang sudah tidak ada. Seka­rang dia hanya seo­rang petani ber­nama Galeng. Ting­gal­lah kalian dalam keru­kunan, karena per­pe­cahan adalah pem­bu­nuh kalian yang per­tama. Aku akan pergi dan jangan kalian cari. Hanya bila Peranggi datang lagi, Wirang­gal­eng akan datang untuk memus­nah­kan­nya.”

Sena­pati itu ber­diri. Ia ting­gal­kan kepala-kepala pasukan yang masing-masing meme­gangi ujung destar Kala Cuwil. Ia melom­pat ke atas pung­gung kuda, dan kuda itu melang­kah pelan-pelan menu­runi bukit, kemu­dian ber­pacu ke selatan.

Tiada antara lama seo­rang penung­gang kuda lain ber­pacu, lebih cepat lagi dan men­coba menge­jar­nya. Yang dike­jar terus ber­pacu tanpa mene­ngok. Sesam­pai di sebi­dang padang rumput tak sebe­rapa luas penge­jar itu ber­seru-seru.

Galeng meng­hen­ti­kan kuda dan mene­ngok. Dili­hat­nya seo­rang pra­ju­rit Tuban ber­kuda datang meng­ham­piri. Selu­ruh badan­nya telah ber­sa­lut debu.

Pra­ju­rit itu melom­pat turun, ber­ja­lan ber­jong­kok dengan cepat dan meng­ang­kat sembah men­de­kati kaki kuda Sena­pati. Sua­ra­nya geme­tar dan mele­tup-letup jadi pekikan tak ter­ken­dali: “Sena­pa­tiku! Bapak! Tia­da­kah aku patut lagi ber­su­jud padamu dan men­cium kakimu?”

“Siapa kau?”

“Gelar, Bapak, anakmu.”

“Kute­rima sujud dan sem­bahmu dari atas kuda ini, Gelar.”

“Sena­pa­tiku, Bapakku, adakah aku,” ia ter­hi­sak-hisak.

“Aku, aku, aku masih patut jadi…,” hisa­kan­nya sema­kin keras, “jadi, jadi, jadi anakmu?”

“Kube­ri­kan res­tuku padamu setiap saat kau ter­i­ngat padaku dan mela­ku­kan segala yang baik dan benar, yang tidak men­da­tang­kan kutukan dari Maha Buddha,” jawab Sena­pati dari atas kuda­nya dengan pan­dang ter­a­rah lurus ke selatan.

“Tidak patut­kah aku men­da­pat kata lebih banyak lagi, Sena­pa­tiku? Bapakku?” kem­bali ia ter­hi­sak dengan pung­gung ter­ang­guk-angguk ke atas.

“Segala yang telah kula­ku­kan selama ini sudah ber­su­ara dan ber­gema dan ber­ga­ung dalam hatimu. Engkau sudah tahu dan meng­erti.”

“Ya, Bapak.”

“Cium­lah kakiku, dan kem­bali kau pada pasuk­anmu. Patuh­lah pada suara dan gaung hatimu. Wirang­gal­eng bukan Sena­pati, dia hanya petani biasa. Kutunggu kau di desa, sete­lah segala yang kau cita­kan ter­ca­pai”

Gelar ber­diri mem­bung­kuk, mele­pas sembah, meme­luk kaki kiri penung­gang kuda itu dan men­ci­um­nya.

Bebe­rapa bentar kemu­dian Galeng mereng­gut­kan kaki, meng­ge­rak­kan kuda, ber­pacu terus ke selatan.

Gelar ter­ting­gal ber­su­jud di atas tanah dan mena­ngis-mera­ung seke­ras­nya sampai suara dan air mata­nya habis. Dengan pung­gung masih ter­ang­guk-angguk karena hisak ia bangun, ber­diri dan meme­luk leher kuda­nya.

“Sultan,” sebut­nya, “ting­gal kaulah seka­rang padaku. Seo­rang demi seo­rang telah pergi dari­pa­daku. Tak seo­rang pun meng­a­jak aku. Sultan, bawalah aku ke mana kau suka.”

Ia naik ke atas kuda tanpa meng­in­dah­kan sesu­atu. Ia turun lagi dan mele­pas ken­dali dan abah-abah, dan dibu­ang­nya ke rum­putan. Kuda itu telan­jang seperti bukan kuda balat­en­tara. Ia naik lagi. Dan kuda itu ber­ja­lan lambat-lambat seke­hen­dak hati­nya.

Mata Gelar ter­un­duk­kan ke bawah, bahkan meng­iring­kan Sena­pati dengan pan­dang­nya pun tidak.

Sena­pati itu sen­diri terus ber­pacu ke selatan. Di sebuah jalanan hutan ia ber­ha­sil menyu­sul Idayu dan Kum­bang dan turun dari kuda.

“Bapak!” seru Kum­bang.

Wirang­gal­eng meng­ang­kat­nya dan mena­ik­kan­nya di atas pung­gung bina­tang itu. Ia ber­ja­lan di sam­ping Idayu, pelan-pelan tanpa bicara.

“Bapak ikut pulang ke desa?” tanya Kum­bang.

“Ya, Nak, ikut pulang,” jawab­nya.

Idayu meli­rik pada sua­mi­nya. Hanya seki­las.

“Mak, Mak, Bapak ikut pulang.”

“Ya, Nak, biar sekali-sekali mene­ngok rumah,” jawab Idayu dan meli­rik pada sua­mi­nya lagi.

“Kau tak mem­bawa per­leng­kapan perang, Kang?”

‘Tidak.”

“Demak setiap waktu menye­rang lagi, Kang.”

“Seka­rang Galeng hanya petani, Idayu.”

Idayu ber­henti ber­ja­lan dan meme­gangi tangan sua­mi­nya, meman­da­ng­i­nya dengan mata ber­kaca-kaca. Mereka ber­bi­sik-bisik, kemu­dian ber­ja­lan lagi, makin lama makin jauh mema­suki daerah hutan dan hilang di balik kehi­jauan abadi….

Demi­ki­an­lah cerita ten­tang seo­rang anak desa lain yang meng­em­ban cita-cita mena­han arus balik. Ber­beda dari anak desa yang lain, yang seo­rang ini tidak ber­ha­sil, patah di tengah jalan, namun ia telah men­coba.

Penu­tup

Syl­yes­ter da Costa tak dapat melu­pa­kan peng­a­lam­an­nya. Di Tuban waktu balat­en­tara Por­tu­gis ter­je­bak oleh tipuan balat­en­tara Pri­bumi. Peranggi telah ter­pan­cing oleh api unggun rak­sasa dan ledakan, lengah kehe­ranan. Dan sebe­lum tahu pasti apa sedang ter­jadi, balat­en­tara Pri­bumi datang dari kege­lapan, menyam­bar-nyam­bar seperti elang raja­wali. Dalam satu malam itu juga ia ikut menyak­si­kan bagai­mana balat­en­tara tumpas. Ben­teng bawah-tanah sia-sia, bahkan dide­kati pun tak bisa. Mele­dak.

Fran­cisco de Sa kebe­tulan sedang ber­la­yar ke Maluku. Penga­walan meriam dari laut tak ada. Diban­ding­kan dengan di Banda, per­ta­hanan Peranggi di Tuban sung­guh-sung­guh lapuk.

“Ber­ba­ha­gi­a­lah de Britto,” tulis Syl­yes­ter da Costa, “ber­ba­ha­gi­a­lah Anto­nia Gal­yano. Cela­ka­lah kami.” Tulis­nya selan­jur­nya dalam buku hari­an­nya: Aku kira hanya bebe­rapa belas orang saja dapat mela­ri­kan diri ke timur, hanya untuk dapat men­cari kubur­an­nya sen­diri yang agak lebih jauh dari teman-teman­nya.

Pra­ju­rit-pra­ju­rit Pri­bumi mem­buru kami tanpa ampun. Aku sen­diri ter­gu­ling di ping­gir jalan, kemu­dian merang­kak men­jauh. Tak mampu mela­ri­kan diri lagi. Sepu­cuk anak panah telah menem­busi pahaku. Masih berun­tung tidak ter­kena nadi karangan maut. Setiap gerak men­da­tang­kan nyeri tak ter­ta­han­kan. Anak panah itu ter­buat dari­pada bambu, mata­nya dari tulang, entah babi entah­lah sapi. Entah bagai­mana kete­rang­an­nya, yang menem­busi pahaku itu tidak ber­bisa. Kaki kananku telah memar ter­tum­buk pada bong­kahan batu.

Satu-satu­nya jalan bagiku hanya ting­gal berdoa untuk kese­la­matan sen­diri. Di mana musket dan pedangku aku sudah tak tahu lagi. Pakai­anku com­pang-cam­ping seakan aku seo­rang peng­e­mis di depan salah sebuah gereja di Lisboa, bukan lagi pra­ju­rit Por­tu­gis kebang­gaan negeri, raja Por­tu­gis.

Lengan bajuku telah kupu­tus untuk meng­hen­ti­kan jalan darah pada lukaku. Rasa-rasa­nya, bila tak ada Tuhan, tak ada Kris­tus, ting­gal malam saja melin­dungi aku dari maut.

Ah, betapa meng­ge­le­tar keta­kutan hati ini waktu bulan muncul dengan pelan­nya. Suara pra­ju­rit Pri­bumi yang ber­so­rak-sorak mem­buru dan menum­pas masih kede­ngaran di mana-mana. Mereka akan temu­kan aku juga. Puji kepada-Mu, sorak-sorai kemu­dian sema­kin lama sema­kin men­jauh. Kesu­nyian menyu­sul.

Dalam kesa­kitan, keta­kutan, kegen­taran dan seba­tang kara di medan perang yang telah sunyi diting­gal­kan begini, ter­ke­nang aku pada orang-tuaku, pada sau­dara-sau­da­raku yang sudah sejak semula tak setuju aku ber­la­yar ke Umur. Ter­ke­nang aku pada malam sebe­lum mancal. Ayah mewe­jang: memang mulia cita-cita menak­lu­kan negeri-negeri kafir dan men­tau­bat­kan mereka sesuai dengan kepu­tusan Takhta Suci. Aku sen­diri bangga. Ibu tak henti-hen­ti­nya meman­dangi anak lela­ki­nya yang bungsu, aku inilah, anak ter­sa­yang dan ter­manja. Seakan mata itu ter­tuju pada Tuhan Kris­tus sen­diri dan ber­ta­nya bagai­mana nasib anak bung­su­nya kelak. Begi­ni­lah kea­da­anku seka­rang.

Pagi-pagi benar mereka temu­kan juga aku.

Mati­lah aku seka­rang, pikirku. Keta­kutan telah meng­hi­lang­kan rasa nyeri.

Satu regu ber­kuda balat­en­tara Pri­bumi, barang­kali sedang mela­ku­kan peme­rik­saan medan seha­bis serangan malam, telah mene­mu­kan aku yang sedang ber­se­m­bah­yang menye­rah­kan jiwaku kepada Tuhan, Bapak. Aku tahu, hanya itu jalan bagiku. Maka kuper­si­ap­kan diri untuk mati di dalam peng­am­punan-Nya.

Kafir-kafir itu menge­rah­kan tombak-tom­bak­nya padaku. Derap kuda­nya tak lagi ter­de­ngar. Jelas mereka sedang meling­kar menge­pung aku. Puji kepada Tuhan, karena berkah per­mo­hon­anku suatu muk­ji­zat telah ter­jadi. Pemim­pin regu Pri­bumi itu telah menun­juk­kan kemu­li­aan hati­nya. Ia perin­tah­kan agar aku dira­wat. Dira­wat­lah aku, mung­kin pera­watan ter­baik menu­rut setahu mereka.

Mereka naik­kan aku ke atas kuda sambil ber­ca­kap-cakap dalam baha­sa­nya sen­diri. Di sebuah rumah mereka bius aku dengan obat yang aku tak tahu nama­nya. Waktu aku siuman kem­bali anak panah itu telah ter­ca­but dari pahaku. Seba­gai gan­ti­nya kul­i­hat bebatan dari kain tenun ber­warna kuning. Kakiku yang memar telah ter­tu­tup dengan sela­pisan obat ber­warna putih yang mem­bu­bung­kan bau sedap. Bau yang mem­bi­kin aku selalu mengan­tuk.

Tiga bulan aku dira­wat. Selama itu mulai aku meng­erti sedi­kit Jawa. Walau tidak banyak, ada juga dapat kumeng­erti ten­tang cerita dan per­ca­kapan mereka.

Waktu aku sudah sembuh mereka beri­ta­hu­kan padaku: aku harus mening­gal­kan Tuban. Aku pun ber­siap-siap hendak pergi untuk men­cari bang­saku, entah di Malaka entah­lah di Maluku.

Seba­gai seo­rang Kris­ten, orang Por­tu­gis, orang Eropa, yang lebih tinggi per­a­dab­an­nya dari­pada kafir-kafir itu, tentu aku merasa ber­hu­tang budi, ter­u­tama pada pemim­pin regu yang menye­la­mat­kan jiwaku. Tanpa per­lin­dung­an­nya barang­kali aku sudah mati, biar pun tak ter­kena mata tombak. Jadi sebe­lum berang­kat aku per­lu­kan menyam­pai­kan terima kasih pada mereka. Juga aku uta­r­a­kan kei­ng­in­anku hendak meng­ha­dap pemim­pin regu yang dulu itu.

Dia sudah pergi, mereka bilang. Tak ada yang tahu. Baik­lah, barang­kali memang aku tak boleh ber­temu. Paling tidak aku harus keta­hui nama­nya. Siapa tahu, tidak seka­rang kelak pun mung­kin dapat aku laku­kan bila Tuhan meng­hen­daki.

Nama­nya Wirang­gal­eng, tanpa gelar. Bawah­an­nya memang­gil­nya Sena­pa­tiku. Aku ingat-ingat benar nama itu. Rasa-rasa­nya aku pernah dengar sebe­lum­nya.

Mereka sedi­a­kan untukku sebuah perahu layar kecil, leng­kap dengan per­be­kalan, kayu bakar, air tawar, baja, batu dan kaul, juga pakaian. Di tengah-tengah laut ada ter­i­ngat olehku sesu­atu: bukan­kah dia orang yang mem­bi­kin balat­en­tara Por­tu­gis tak dapat keluar lebih jauh dari kota Malaka? Kira-kira memang dia. Hang Wira Malaka itu. Hang Wira – Wirang­gal­eng. Barang­kali, aku tak tahu betul. Agak­nya ter­lalu jauh.

Sete­lah sampai di Maluku, kubuat ini jadi peker­jaan. Aku mulai ber­ta­nya-tanya. Kemu­dian tak lain kesim­pul­anku: Hang Wira memang Wirang­gal­eng itu juga, penum­pas kami di Tuban.

Seki­ra­nya dalam hidupku aku tak ada kesem­patan ber­te­ri­ma­ka­sih pada­nya…

Dalam tulisan yang sudah banyak rusak dan hampir-hampir tak ter­baca dise­but­kan ia telah dipe­cat dari dinas­nya, dan selan­jut­nya: Orang Por­tu­gis siapa pun akan lebih suka ting­gal di Banda dari­pada di mana saja di Maluku ini. Nam­pak­nya aku akan ter­pa­ku­kan di negeri ini dan jadi pen­du­duk sini sampai mati. Ber­ba­ha­gi­a­lah kau, Magel­haen, dapat men­da­rat dan mancal sesu­kamu, menge­li­lingi dunia, melak­sa­nakan impi­anmu. Sayang keka­saran Por­tu­gismu kau bawa ke mana-mana sehingga kau tewas oleh anak panah Pri­bumi Fili­pina. Aku sen­diri ter­se­kat dari pulau yang satu ke yang lain di Maluku, dan masih sela­mat sampai seka­rang ini.

Banda akhir­nya harus kuting­gal­kan juga. Begitu Ruy Yaz Pere­ira jadi pang­lima di Malaka tahun ini, 1544, aku harus mening­gal­kan Banda, ditun­juk jadi juru borong di Hal­ma­hera. Tetapi kea­daan di sini men­cu­r­i­ga­kan. Setiap waktu bisa ter­jadi Tuban kedua. Telah aku coba dekati Pri­bumi. Nam­pak­nya mereka tak suka pada orang kulit putih.

Aku minta pindah, dan dipe­rin­tah­kan ke Ter­nate, 1548. Istriku meno­lak kubawa serta. Ber­sama dengan anak-anak­nya, wanita Pri­bumi Ambon, mereka pulang ke kam­pung­nya di Ambon. Tak meng­erti aku meng­apa ia meno­lak ke Ter­nate, boleh jadi karena ia takut pada orang Islam.

Maka sudah sejak di kapal dapat kura­sai betapa kan sunyi kehi­dup­anku seba­gai juru borong di sana.

Waktu aku men­da­rat, penyam­butku hanya seo­rang Pri­bumi. Atau bukan Pri­bumi Ter­nate? Aku belum tahu pasti. Seti­dak-tidak­nya dialah yang meng­ang­kuti barang-barang ke loji. Ter­nyata dia tukang kebun, seo­rang Kris­ten yang keli­hatan saleh dan kemu­dian kuke­ta­hui tak pernah mele­wat­kan hari kebak­tian. Pakai­an­nya selalu rapi, bersih dan baik. Setiap ke gereja ia menge­na­kan setelan Por­tu­gis seka­li­pun tidak ber­se­patu dan hanya ber­ca­kar ayam. Ia mene­rima pakaian itu dari bekas tuan­nya, Gon­sal­yes Mateo, juru borong untuk Ter­nate.

Tukang kebun itu tidak ber­is­tri dan dengan sen­di­r­i­nya tidak ber­a­nak. Ia ber­nama Paulus. Tak ada saha­bat atau teman pada­nya. Nam­pak­nya ia pemu­rung dan peme­nung. Bila sudah sampai pada puncak kese­pi­an­nya ia memu­kul teta­bul­tan, yang di Maluku sini dise­but toto­bu­ang, sebuah alat musik yang biasa diper­gu­na­kan dan keli­hatan di Tuban.

Tukang kebun ini mena­rik per­ha­ti­anku. Bukan saja lagu yang dibu­nyi­kan­nya tidak sama dengan lagu pri­bumi sini, juga wajah­nya tidak ada kesa­maan dengan Melayu gereja dari­pada Pri­bumi. Aku men­duga dia seo­rang Moro.

Pada suatu malam sedang dia memu­kul toto­bu­ang aku datangi dia di kamar­nya di ujung gandok dekat dapur. Tak dili­hat­nya aku masuk. Wajah­nya murung seperti biasa. Betul, lagu yang dima­in­kan­nya pernah kude­ngar di Tuban sana. Maka sete­lah sele­sai ia kaget meli­hat aku. Nampak ia seperti… benar­kah dia seo­rang Moro?

“Aku pernah dengar lagu seperti itu,” kataku, “dulu di Tuban?”

Ia pucat dan pemu­kul­nya jatuh dari tangan. Ia menu­tup mulut seperti hendak menin­das jerit­nya sen­diri. Dan sejak itu ia selalu keta­kutan bila meli­hat aku.

Ber­hati-hati aku men­coba mera­mahi dia. Waktu kuu­langi per­ta­nya­anku dulu ia nampak tidak lagi ter­ke­jut.

“Ya, Tuan Besar. Semua telah kuse­rah­kan pada kan­dungan gereja. Sudah tak ter­sisa sesu­atu pun dari masa laluku.”

Seo­rang yang banyak meng­a­lami pen­de­ri­taan seperti aku ini segera dapat menang­kap, ia mem­pu­nyai beban pada pung­gung dan hati­nya. Duga­anku tidak salah. Sete­lah mulai bisa diajak bicara aku dapat menang­kap ia seo­rang pedosa besar, atau seti­dak-tidak­nya ia merasa demi­kian, seo­rang pem­bo­hong besar, yang hanya dalam Kris­tus saja dapat mem­per­o­leh damai.

Seta­hun kemu­dian baru dapat kukum­pul­kan kali­mat-kali­mat yang sedi­kit itu yang pernah dika­ta­kan­nya, yaitu sete­lah ia men­da­pat keya­kinan pihak Por­tu­gis takkan meng­hu­kum­nya.

Ia kela­hiran Tuban, meng­aku pernah mem­bu­nuh ayah­nya sen­diri. Mula-mula ia tak mau meng­aku meng­apa. Lama-kela­maan, dengan ragu-ragu ia menga­ta­kan, pem­bu­nuhan itu ia laku­kan dengan sengaja dan dengan ren­cana, karena ayah­nya menye­bab­kan pen­de­ri­taan ibunya, ter­u­tama sekali karena ayah­nya ber­pi­hak pada Por­tu­gis dan meng­khi­a­nati Tuban.

“Tidak ada Pri­bumi Tuban ber­pi­hak pada Por­tu­gis,” ban­tahku.

Ia mene­rang­kan ayah­nya bukan Pri­bumi, tetapi seo­rang Moro, Syah­ban­dar Tuban. Semua orang Por­tu­gis di Maluku tahu cerita gila ten­tang Moro gila ber­nama Tholib Sung­kar Az-Zubaid. Inilah rupa-rupa­nya anak­nya. Ibunya seo­rang Pri­bumi, seo­rang penari kena­maan, kata­nya. Ia ber­ce­rita ten­tang kela­hir­an­nya yang tak diha­rap­kan oleh siapa pun. Namun ibunya menga­sih­i­nya sampai ter­ja­di­nya pem­bu­nuhan itu. Sete­lah itu bukan hanya ibunya, selu­ruh masya­ra­kat mengu­cil­kan­nya. Mereka tak dapat meneng­gang dan mem­per­ca­yai seo­rang pem­bu­nuh orang-tua, peme­luk-peme­luk Buddha itu.

Ia meng­em­bara ke mana-mana. Sete­lah kuda­nya mati tua ia tak bisa ber­buat lain kecu­ali meng­ga­bung­kan diri dengan balat­en­tara Demak.

Dalam pasukan kuda ia ber­sa­ha­bat dengan seo­rang pra­ju­rit penga­wal yang cantik, lebih cantik dari seo­rang wanita, kata­nya, kela­hiran Treng­gono, sebuah tempat di Seme­nan­jung, anak paman Paulus sen­diri yang mene­tap di sana. Paman­nya itu juga kela­hiran Tuban. Dan anak cantik ini. Jafar, mung­kin karena kecan­ti­kan­nya dita­rik oleh Sultan Treng­gono jadi penga­wal pri­badi dan pela­yan. Karena keis­ti­me­waan kedu­duk­an­nya ia diju­luki Juru Taman, men­juru tamani Sultan.

Sekali peris­tiwa Paulus men­da­pat perin­tah untuk mela­ku­kan peker­jaan telik di Blam­bangan. Treng­gono telah sampai di batas kera­jaan Hindu Blam­bangan. Untuk dapat mela­ku­kan serangan gilang-gemi­l­ang dan mema­ti­kan. Sultan telah memang­gil Fat­hil­lah untuk memim­pin serangan umum atas Blam­bangan. Paulus – tentu saja waktu itu ia tidak ber­nama demi­kian, entah apa – men­da­pat perin­tah untuk mengum­pul­kan kete­rangan.

Dalam penyu­sup­an­nya di Blam­bangan pada suatu pagi ia men­da­pat­kan sebuah gubuk di tengah-tengah huma dalam kepungan rimba-belan­tara, daerah yang ter­lalu banyak macan­nya. Ia menga­gumi peng­huni, suami-istri yang sudah tua itu. Per­a­wakan lelaki itu tegap kata­nya. Ia men­de­kat­i­nya. Lelaki tua itu meng­a­was­i­nya dengan curiga.

Dua-duanya ber­ha­dap-hadapan. Paulus segera men­ja­tuh­kan diri pada kaki orang tua itu dan memang­gil-mang­gil: Sena­pa­tiku! Sena­pa­tiku!

Sampai pada bagian ini aku mena­jam­kan per­ha­tian. Pang­gilan Sena­pa­tiku itu segera kuke­nal.

“Wirang­gal­eng?” tanyaku.

Paulus ter­ke­jut. Dita­tap­nya aku lama-lama. Aku men­coba mere­da­kan­nya dan masih juga dita­tap­nya aku. Sua­ra­nya sangat pelan waktu ber­ta­nya: “Kenal­kah Tuan Besar pada nama itu?”

“Seo­rang kafir yang ber­budi,” jawabku.

Ia men­jadi sen­ti­men­til. Sua­ra­nya makin pelan dan muncul keka­fir­an­nya yang lama dalam ia mem­ban­tah: “Bukan, Tuan Besar, Sena­pa­tiku bukan kafir. Memang aku tak dapat menga­ta­kan apakah ia Islam, atau­kah Buddha, Syiwa atau Wisynu. Menu­rut cerita ibuku dia lulusan per­gu­r­uan Buddha. Jangan sebut dia kafir, Tuan Besar, karena itu menya­kiti hati barang­si­apa pernah menge­nal­nya. Dia seo­rang yang per­wira dalam keme­nangan dan keka­lahan.”

Paulus pernah ber­ce­rita bagai­mana ia men­cin­tai kuda­nya.

Waktu bina­tang itu telah keha­bisan tenaga karena tuanya dan men­je­lang kema­ti­an­nya, ia mera­wat­nya di tengah-tengah hutan. Bang­kai­nya ia tim­buni dengan ran­ting-ran­ting dan deda­unan, dan kayu-kayu kering kemu­dian diba­kar­nya dengan peng­hor­matan. Maka orang yang dapat begitu setia pada bina­tang­nya barang­kali dapat men­cin­tai manu­sia dengan seda­lam-dalam cinta.

Ter­nyata Wirang­gal­eng adalah ayah­nya yang resmi.

Ia ber­ta­nya pada ayah­nya meng­apa ia ting­gal di hutan menyen­diri seperti per­tapa.

“Aku ting­gal di luar zamanku. Dalam zaman ini tena­gaku ter­lalu kecil untuk mem­ben­dung keme­ro­sotan besar. Entah di zaman lain kelak. Di tengah hutan ini aku bisa meman­dang sampai batas-batas tebangan itu dengan bebas dan lega. Di luar batas itu, selama ada manu­sia, di situ­lah keme­ro­sotan. Aku tak perlu meli­hat. Kau datang kemari bukan­kah tidak dengan sengaja?”

Paulus men­ce­ri­ta­kan tugas­nya. Sena­pati meng­ang­guk-angguk.

“Betul duga­anku. Kalau begitu kau belum men­ca­pai cita-citamu, karena kau memang tidak mem­pu­nyai cita-cita. Bukan­kah aku dulu bilang akan menung­gumu di rumah kalau cita-citamu telah ter­ca­pai? Kau datang kemari seba­gai telik Demak!”

Sena­pati memang­gil istri­nya, seo­rang wanita yang juga sudah nampak tua tapi sehat.

“Inilah anakmu, datang untuk ber­su­jud padamu.”

Paulus ber­su­jud pada kaki ibunya. Ia tak dapat menga­ta­kan sesu­atu. Kata-kata yang keluar dari mulut­nya justru yang bukan dimak­sud­kan­nya: “Di manakah Kum­bang, Mak?”

“Kusu­ruh dia men­cari ilmu untuk menga­lah­kan musuh-musuh bapak­nya. Dia pergi ke Giri Daha­na­pura, kemu­dian di sana dia ikut dengan orang Peranggi. Ber­ta­hun-tahun dia sudah pergi. Ter­a­khir datang dia minta diri akan ber­la­yar dengan kapal Peranggi, ke negeri Peranggi. Sejak itu dia belum pernah datang lagi. Dan kau, seka­rang kau hanya hamba seo­rang sultan yang diji­jik­kan Sena­pati.”

Men­de­ngar itu Paulus meng­erti, Wirang­gal­eng, masih juga belum dapat ber­da­mai dengan per­so­al­an­nya, dan karena itu semes­ti­nya juga jijik ter­ha­dap dir­i­nya. Sete­lah menyem­bah ia minta diri dan mene­rus­kan per­ja­lanan tanpa sing­gah ke gubuk.

Sete­lah tugas­nya sele­sai dan ia kem­bali ke pesang­grahan ten­tara Demak tetap­lah sudah hati­nya: ia harus bunuh Sultan Treng­gono. Emak dan Sena­pati harus dapat meng­am­pun­i­nya. Mahluk yang men­ji­jik­kan mereka itu harus hapus dari muka bumi.

Pada saha­bat­nya, Jafar, ia ceri­ta­kan semua per­so­alan yang lalu. Jafar si Juru Taman pun sudah muak ter­ha­dap kela­kuan Sultan atas dir­i­nya. Suatu per­se­ku­tuan raha­sia ter­jadi. Jafar si Juru Taman akan menge­ris Sultan dan Paulus akan men­jaga kese­la­mat­an­nya.

Di depan pesang­grahan balat­en­tara Demak peris­tiwa itu ter­jadi. Jafar meni­kam raja­nya seba­gai­mana diren­ca­na­kan. Para pra­ju­rit penga­wal di seling­kungan Suitan ter­nyata lebih lincah. Treng­gono memang mati seke­tika. Tapi Jafar si Juru Taman juga ter­tem­busi tombak-tombak waktu hendak men­ca­but keris dari tubuh kor­ban­nya.

Karena, ya, karena seo­rang satria takkan mening­gal­kan keris pada tubuh kor­ban­nya.

Meli­hat itu Paulus lari. Ia melom­pat ke atas salah seekor dari dua kuda yang telah disi­ap­kan­nya, meng­hin­dari hujan tombak yang ter­a­rah pada­nya. Sekali ia sempat mene­ngok dan meli­hat pemuda cantik itu telah hancur ber­ke­ping-keping.

Jafar si Juru Taman seo­rang yang menga­lah­kan Demak. Balat­en­ta­ra­nya mundur, inti­nya pulang ke Demak, sisa­nya buyar ke tempat asal­nya masing-masing. Dengan mati­nya Treng­gono, juga Demak seba­gai kera­jaan runtuh dan tak bangun lagi!

Paulus masuk ke Blam­bangan dan mewar­ta­kan pada pen­du­duk: “Treng­gono sudah mati! Kubu­nuh dia dengan kerisku!”

Raja Blam­bangan meng­ang­kat­nya jadi per­wira. Dengan segala kebe­saran ia ber­kun­jung pada orang tuanya di tengah hutan. Dengan sorak-sorai penuh keme­nangan dalam hati ia war­ta­kan pada mereka di dalam gubuk: “Bapak, Emak, telah aku sele­sai­kan apa yang sudah sewa­jar­nya harus kuse­le­sai­kan untuk mem­ben­dung keme­ro­so­so­tan besar. Telah aku bunuh Sultan Treng­gono di Pasu­r­uan.”

Betapa luka hati­nya meli­hat kedua mereka hanya meman­da­ng­i­nya dengan iba. Suatu rang­sang marah tiba-tiba men­jom­pak seperti per­jaka ter­to­lak kasih oleh idaman hati. Tangan­nya meraba keris. Seki­las itu pula ia sadar, keluar dari gubuk dan kem­bali ke Blam­bangan. Hati­nya remuk-redam. Semua telah kehi­langan arti kem­bali.

Ia ting­gal­kan Blam­bangan dan ber­la­yar ke Maluku.

Menu­rut ceri­ta­nya, entah benar entah­lah bohong, ia pernah sempat men­ja­mah jubah Fran­cis­cus Xave­rius, dan sejak itu, ia meng­a­kui men­da­pat keda­maian hati….

Itulah Paulus, seo­rang yang bisa laku­kan per­bu­atan besar, tetapi, seperti dika­ta­kan oleh Sena­pa­ti­nya sen­diri, tidak mem­pu­nyai cita-cita, hidup di bawah kebe­saran orang tuanya. Suatu tra­gedi kehi­dupan.

Rupa-rupa­nya ia menye­sal telah men­ce­ri­ta­kan semua itu. Ia ingin hilang-lenyap tiada ber­be­kas. Seo­rang saja menge­ta­hui riwa­yat­nya, semua akan menge­ta­hui. Tidak, Paulus, takkan kuce­ri­ta­kan ini pada siapa pun.

Kem­bali ia tak dapat ber­da­mai dengan hati­nya. Pada suatu kali ia minta diri untuk meng­a­b­di­kan diri sepe­nuh­nya pada Kris­tus.

Ia ting­gal­kan Ter­nate, entah ke mana, mung­kin ke Sangir, mung­kin Manado, mung­kin juga ke pulau Kai.

Ia turun naik ke atas kapal Por­tu­gis dengan pakaian pem­be­rian Gon­sal­yes Mateo. Ia pergi sebe­lum aku sempat meng­u­cap­kan terima kasih untuk ayah­nya yang resmi, Sena­pati Tuban, Wirang­gal­eng….


Daftar Kata

bentar, satuan waktu yang pendek. Pram mema­kai­nya seperti menit, misal­nya tiga puluh bentar.

canang, gong kecil untuk mem­beri alamat atau meng­uar-uarkan peng­u­muman (KBBI).

cun­drik, badik; sikin (KBBI).

damar­sewu, pelita dengan banyak mata sumbu yang menyala ber­ja­jar.

destar, ikat kepala dari kain batik segi­tiga (KBBI).

Ispa­nya, Spa­nyol.

Kongso Dalbi, cara orang Tuban menye­but Afonso de Albu­qu­er­que.

Lao Sam, nama Tiong­hoa untuk Lasem, seba­gai­mana dije­las­kan dalam cerita.

matari, mata­hari. Bentuk ini dipa­kai Pram di selu­ruh buku.

patik, kata ganti diri bawahan ketika ber­bi­cara kepada raja atau pem­be­sar.

Peranggi, orang atau bangsa Por­tu­gis.

peseru, dalam cerita ini, para pem­bawa seruan ber­pa­kaian kuning yang mene­rus­kan per­ca­kapan di pen­dopo ke selu­ruh alun-alun.

sahaya, saya, ter­u­tama ketika ber­bi­cara kepada orang yang lebih tinggi.

Sampo Toa-lang, nama Tiong­hoa untuk Sema­rang, seba­gai­mana dije­las­kan dalam cerita.

sangar, dapat men­da­tang­kan bala atau ben­cana; angker (KBBI).

tarbus, kopiah tinggi dari laken merah, dise­but juga kopiah turki (KBBI).


Catatan tentang Edisi Ini

Teks Arus Balik dalam edisi ini ber­a­sal dari salinan teks digi­tal yang ber­e­dar di inter­net, ber­tanda dewi-kz. Salinan itu tidak menyer­ta­kan pin­daian halaman buku cetak, jadi kami tidak bisa mem­ban­ding­kan­nya dengan cetakan Hasta Mitra 1995 halaman demi halaman. Yang kami laku­kan adalah mem­baca selu­ruh teks dan mem­be­tul­kan salah baca mesin yang ter­se­bar di dalam­nya, dengan ber­pe­gang pada kon­teks kali­mat dan pada bentuk yang sama di bagian lain buku. Huruf yang ter­tu­kar (temyata, beisedia, bcnar) kami betul­kan, begitu pula kata yang ter­po­tong atau ter­ga­bung.

Salinan itu juga memuat dua blok halaman yang ter­u­lang di Bab 2 dan Bab 3. Satu salinan dari masing-masing blok kami buang.

Ejaan kami sesu­ai­kan dengan EYD Edisi V, misal­nya sedar men­jadi sadar, fikir men­jadi pikir, nafas men­jadi napas, tahta men­jadi takhta, dan mas men­jadi emas. Susunan kali­mat Pram tidak kami ubah. Kata-kata pilihan Pram kami biar­kan, antara lain matari, bentar, ukara, guagarba, marak, mancal, sangar, menyumambrahkan, menjelempah, ditunu, dan semangkin. Begitu pula sebutan dan lafal tokoh-tokoh­nya: Peranggi, Ispanya, Kongso Dalbi, Zhagung, Sayid Alusawa, Mameluk, Lao Sam, Sampo Toa-lang, dan seruan Haibat!.

Di sebe­las tempat, salinan digi­tal itu rusak sampai tidak bisa dibaca atau jelas kehi­langan kata. Di tempat-tempat itu kami menu­lis­kan bacaan yang paling sesuai dengan kon­teks: bantah Rodriguez, membikin tembikar ini, jalan laut antara Jawa dan Malaka, ajaran leluhur sendiri, untuk menyelirnya, setengah tahun mendatang, apa pun yang diperbuatnya, pasukan Mahmud Barjah, istana Eskorial, hendak bermain jadi satria, dan kapal-kapal dan perahu Pribumi. Per­ta­nyaan Di mana bisa didapatkan lagi? di Bab 6 juga kami tulis demi­kian, sedang­kan salinan digi­tal menu­lis­nya Di sana. Semua bacaan ini dugaan kami. Pem­baca yang meme­gang buku cetak­nya mung­kin mene­mu­kan bentuk yang ber­beda.

Ada lima catatan kaki dari Pram: ten­tang minyak katel, Adi­pati Kudus, Mame­luk, kuda Kore, dan cet­bang. Catatan ten­tang Mame­luk dalam salinan digi­tal ter­tu­lis di dalam kurung di tengah kali­mat, dan tanda nomor catatan cet­bang hilang. Kedu­a­nya kami kem­ba­li­kan men­jadi catatan kaki. Catatan yang dia­wali tulisan Catatan penyunting adalah tam­ba­han kami. Isinya hanya fakta yang bisa kami periksa dari sumber yang dapat diper­caya. Daftar kata di bela­kang juga tam­ba­han kami.

Kesal­ahan apa pun yang masih ter­sisa dalam penya­li­nan ini adalah tang­gungan kami.


Tentang Pengarang

Pra­mo­edya Ananta Toer (1925–2006) adalah rak­sasa sastra Indo­ne­sia yang kar­ya­nya lahir dari per­gu­latan seja­rah yang keras. Keluar-masuk pen­jara di masa Kolo­nial Belanda, Orde Lama, hingga peng­a­singan Pulau Buru pada masa Orde Baru tidak mem­buat nya­li­nya surut. Ia men­ja­di­kan sastra seba­gai monu­men per­la­wanan ter­ha­dap tirani. Diter­je­mah­kan ke lebih dari 40 bahasa dan ber­kali-kali dino­mi­na­si­kan untuk Nobel Sastra, Pram adalah bukti nyata bahwa kebe­naran tidak pernah bisa dipen­ja­ra­kan.


Daftar Karya Pramoedya Ananta Toer

  • Tulisan-tulisan semasa di SD, satu di anta­ra­nya pernah dita­war­kan pada pener­bit Tan Koen Swie, Kediri, dito­lak. Semua hilang.
  • Sepoeloeh Kepala Nica (1946), hilang di tangan pener­bit Balingka, Pasar Baru, Jakarta, 1947.
  • Kranji–Bekasi Jatuh (1947), frag­men dari Di Tepi Kali Bekasi.
  • Perburuan (1950). Peme­nang sayem­bara Balai Pus­taka, Jakarta, 1949.
  • Keluarga Gerilya (1950).
  • Subuh (1951), kum­pulan 3 cerpen.
  • Percikan Revolusi (1951), kum­pulan cerpen.
  • Mereka yang Dilumpuhkan I & II (1951).
  • Bukan Pasarmalam (1951).
  • Di Tepi Kali Bekasi (1951), sisa naskah yang dir­am­pas Mari­nir Belanda pada 22 Juli 1947.
  • Dia yang Menyerah (1951), kemu­dian dice­tak-ulang dalam kum­pulan cerpen.
  • Cerita dari Blora (1952), peme­nang karya sastra ter­baik dari Badan Musya­warah Kebu­da­yaan Nasi­o­nal, Jakarta (1953).
  • Gulat di Jakarta (1953).
  • Midah Si Manis Bergigi Emas (1954).
  • Korupsi (1954).
  • Cerita Calon Arang (1957).
  • Sekali Peristiwa di Banten Selatan (1958).
  • Panggil Aku Kartini Saja I & II (1963); III & IV diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Kumpulan Karya Kartini, yang pernah diu­mum­kan di ber­ba­gai media; diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Wanita Sebelum Kartini, diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Gadis Pantai (1962–65) dalam bentuk cerita ber­sam­bung, bagian per­tama tri­logi ten­tang kelu­arga penu­lis; terbit seba­gai buku, 1987, dila­rang Jaksa Agung. Jilid II dan III diba­kar Ang­katan Darat, 13 Okto­ber 1965.
  • Sejarah Bahasa Indonesia. Satu Percobaan (1964); diba­kar Ang­katan Darat pada 13 Okto­ber 1965.
  • Mari Mengarang (1955), tak jelas nasib­nya di tangan pener­bit di Jalan Kramat Raya, Jakarta.
  • Cerita dari Jakarta (1957).
  • Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (1963).
  • Lentera (1965), kum­pulan tulisan yang pernah diu­mum­kan oleh Lentera. Tak jelas nasib­nya di tangan pener­bit di Jalan Pece­nongan, Jakarta.

Semua kar­ya­nya dila­rang oleh Kemen­te­rian PPK/PDK, 1966.

  • Bumi Manusia (1980), bagian per­tama tet­ra­logi Buru. Dila­rang Jaksa Agung, 1981.
  • Anak Semua Bangsa (1981), bagian kedua tet­ra­logi Buru. Dila­rang Jaksa Agung, 1981.
  • Sikap dan Peran Intelektual di Dunia Ketiga (1981).
  • Tempo Doeloe (1982), anto­logi sastra pra-Indo­ne­sia.
  • Jejak Langkah (1985), bagian ketiga tet­ra­logi Buru. Dila­rang Jaksa Agung, 1985.
  • Hikayat Siti Mariah, (ed.) Haji Mukti (1987). Dila­rang Jaksa Agung, 1987.
  • Rumah Kaca, bagian keem­pat tet­ra­logi Buru, 1988. Dila­rang Jaksa Agung, 1988.
  • Sang Pemula (1985). Dila­rang Jaksa Agung, 1985.
  • Memoar Oei Tjoe Tat, (ed.) Oei Tjoe Tat, 1995. Dila­rang Jaksa Agung, 1995.
  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I, 1995. Dila­rang Jaksa Agung, 1995.
  • Arus Balik, 1995.
  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II, 1997.
  • Arok Dedes, 1999.
  • Mangir, 2000.
  • Larasati (Ara), 2000.

Penghargaan

1988 Fre­e­dom to Write Award dari PEN Ame­ri­can Center, Ame­rika Seri­kat.

1989 Anu­ge­rah dari The Fund for Free Exp­res­sion, New York, Ame­rika Seri­kat.

1995 Wer­t­heim Award, “for his meri­to­r­i­ous ser­vi­ces to the strug­gle for eman­ci­pa­tion of the Indo­ne­sian people”, dari The Wer­t­heim Foun­da­tion, Leiden, Belanda.

1995 Ramon Mag­say­say Award, “for Jour­na­lism, Liter­a­ture, and Cre­a­tive Arts, in recog­ni­tion of his illu­mi­nat­ing with bril­li­ant sto­r­ies the his­to­r­i­cal awa­ke­ning, and modern expe­ri­ence of the Indo­ne­sian people”, dari Ramon Mag­say­say Award Foun­da­tion, Manila, Fili­pina.

1996 Partai Rakyat Demo­kra­tik Award, “hormat bagi Peju­ang dan Demo­krat Sejati” dari Partai Rakyat Demo­kra­tik.

1996 UNESCO Madan­jeet Singh Prize, “in recog­ni­tion of his out­s­tan­ding con­tri­but­ion to the pro­mo­tion of tole­rance and non-vio­lence”, dari UNESCO, Paris, Pran­cis.

1999 Doctor of Humane Let­ters, “in recog­ni­tion of his remar­kable ima­gi­na­tion and dis­ting­u­is­hed liter­ary con­tri­but­i­ons, his exam­ple to all who oppose tyranny, and his highly prin­cip­led strug­gle for intel­lec­tual fre­e­dom”, dari Uni­ver­sity of Mic­hi­gan, Madi­son, Ame­rika Seri­kat.

1999 Chan­cel­lor’s Dis­ting­u­is­hed Honor Award, “for his out­s­tan­ding liter­ary arc­hi­e­ve­ments and for his con­tri­but­i­ons to etnic tole­rance and global unde­r­s­tan­ding”, dari Uni­ver­sity of Cali­for­nia, Ber­ke­ley, Ame­rika Seri­kat.

1999 Che­va­lier de l’Ordre des Arts et des Let­ters, dari Le Minis­tre de la Cul­ture et de la Com­mu­ni­ca­tion Répub­li­que Française, Paris, Pran­cis.

2000 New York Foun­da­tion for the Arts Award, New York, Ame­rika Seri­kat.

2000 Fuku­oka Cul­tu­ral Grand Prize, Jepang.


Terima Kasih

Kepada para rela­wan yang dulu menge­tik ulang dan menye­bar­kan salinan digi­tal Arus Balik. Tanpa kerja mereka, edisi ini tidak punya bahan.

Kepada Hasta Mitra, Joe­soef Isak, dan Hasyim Rac­h­man, yang mener­bit­kan Pram ketika itu ber­arti ber­ha­dapan dengan larangan.

Dan kepada Pram sen­diri.